Ceritasilat Novel Online

Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia Persilatan 1

Eps 1 Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia Persilatan - Hong San Khek

Baca online Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia Persilatan - Hong San Khek

Cersil Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia Persilatan - Hong San Khek.

sumber. indozone.net

Karya.

Hong San Khek MCH 1.01.

Belajar Silat Untuk Kesehatan.

Di jaman Ahala Ceng, yaitu pada masa kaisar-kaisar Boan-ciu berkuasa di Tiongkok, di kalangan Kang-ouw 1 banyak terdapat jago-jago silat yang nama-namanya sangat masyhur di seluruh negeri.

Salah seorang antaranya adalah Sin-tui Lie Poan Thian, yang ilmu tendangannya sangat dimalui orang, sehingga ia memperoleh nama julukan Sin-tui tadi, yang dalam bahasa Indonesia berarti si Kaki Sakti.

Adapun Lie Poan Thian ini asalnya orang residensi Cee-lam dalam propinsi Shoa-tang, putera tunggal dari Lie Tek Hoat, seorang pabrikan beras yang kaya raya.

Nama Poan Thian yang sebenarnya ialah Lie Kok Ciang, tetapi dari sebab belakangannya ia telah menjagoi di daerah lima propinsi utara dari Tiongkok, yaitu Shoatang, Ho-lam, Ho-pak, Siam-say dan Shoa-say yang lazim disebut orang "Separuh Jagat" , (sedangkan seluruh Tiongkok disebut "Seluruh Jagat" ), maka nama aslinya lambat-laun telah dilupakan orang dan berganti menjadi Lie "Poan Thian", yang berarti orang she Lie yang menjagoi di separuh jagat Tiongkok.

Lie Poan Thian ini pada masa mudanya adalah seorang yang berbadan lemah dan kerap dihinggapi penyakit, oleh sebab itu ayahnya sangat masygul dan kuatir, kalau-kalau sang putera yang sebiji mata itu tak dapat berumur panjang.

Maka dari itu juga, Tek Hoat telah berikhtiar sedapat mungkin untuk membikin puteranya menjadi seorang yang kuat sehat dan tak berpenyakitan pula, biarpun untuk itu ia mesti keluar uang yang bukan sedikit jumlahnya.

Pada suatu hari ketika Tek Hoat sedang berjalanjalan ke pasar, tiba-tiba ia menampak banyak orang berkerumunan tengah menonton suatu pertunjukan.

Maka Tek Hoat yang juga tertarik oleh perhatian orang banyak itu, lalu ia sendiri pun iseng-iseng maju menghampiri dan kemudian menyelesup masuk di antara 2 mereka, agar supaya dapat menonton dari tempat yang lebih dekat.

Tatkala maju sampai ke baris penonton yang berdiri paling depan, di situ ia menampak seorang penjual silat yang sedang bersilat sendirian dengan amat asyiknya.

Perawakan si penjual silat ini tegap dan kuat, gerak geriknya sebat dan lincah, Tek Hoat sendiri tak mengerti ilmu silat, tetapi dengan menyaksikan sambutan tepuk tangan riuh dari pihak orang banyak yang berkumpul di situ, maka ia menarik kesimpulan, bahwa permainan silat orang itu tentunya cukup baik untuk mendorong rasa kagum orang.

Maka selama turut menonton, Tek Hoat jadi teringat kepada puteranya yang berbadan lemah itu.

"Jikalau anakku dapat diajarkan ilmu silat,"

Demikianlah pikirnya.

"tentulah lambat-laun ia akan menjadi seorang yang bertubuh sehat dan kuat seperti penjual silat itu."

Oleh karena mendapat pikiran begitu, maka timbullah di dalam hati orang tua itu suatu keinginan akan mengundang si penjual silat akan menjadi guru puteranya.

Tetapi karena pertunjukan itu masih berlangsung, maka ia pikir paling betul akan mengutarakan pikiran itu nanti saja, jikalau pertunjukan itu telah bubaran.

Maka sebegitu lekas pertunjukan berakhir dan para penonton bubaran dengan perasaan puas, barulah Lie Tek Hoat menghampiri si penjual silat itu sambil memberi hormat dan berkata.

"Tuan, aku ada suatu urusan yang hendak kurundingkan dengan dikau. Oleh karena itu, sudikah kiranya kau ikut aku mampir ke sebuah kedai arak, agar supaya kita dapat berunding di sana dengan secara leluasa?" 3 Si penjual silat yang mendapat tawaran begitu, sudah tentu saja jadi heran dan tak mengerti apa maksud Tek Hoat yang sebenarnya. Ia tak kenal Tek Hoat, seperti juga ia percaya Tek Hoat pun baru pernah bertemu padanya di saat itu. Tetapi karena ia melihat Tek Hoat orangnya manis budi dan sopan santun, lagi pula ia berpakaian pantas, maka ia lantas mengabulkan undangan orang tua she Lie itu. Begitulah kedua orang itu lalu mampir ke sebuah kedai arak yang terdekat. Di situ Tek Hoat lalu panggil seorang pelayan, yang lalu diminta akan menyediakan arak dan beberapa macam hidangan guna menjamu si penjual silat itu. Dalam pembicaraan yang berlangsung selama mereka makan minum itu, Tek Hoat baru mengetahui, bahwa si penjual silat itu berasal dari residensi Thaygoan dalam propinsi San-see, she An bernama Chun San. An Chun San ini sebenarnya ada seorang piauw-su atau pelindung kereta-kereta angkutan. Oleh karena kelanggar apes jatuh sakit di kampung orang sehingga sebulan lamanya, maka uang perbekalannya telah habis sama sekali, dari itu, ia terpaksa menjual silat guna mencari ongkos untuk pulang ke kampung halamannya. Akan tetapi karena ia bukan seorang yang biasa menuntut penghidupan demikian, sudah tentu saja segala caranya agak kaku dan canggung. Di waktu berbicara di hadapan para penonton, tak mampu ia memilih kata-kata yang indah-indah untuk menarik rasa simpati orang banyak, maka dari itu, hasil usahanya berkurang pula dan belum bisa mencukupi dipergunakan ongkos pulang ke kampung kelahirannya. Lie Tek Hoat yang mendengar penuturan itu, bukan 4 saja menjadi semakin simpati dan mengindahkan, tetapi juga ia semakin percaya, bahwa ilmu kepandaian silat An Chun San ini tentu cukup tinggi dan ada itu harga akan menjadi guru puteranya. Lebih-lebih karena ia ada seorang piauw-su, maka selanjutnya tak ragu-ragu pula akan ia mengutarakan maksud hatinya buat mengangkat si penjual silat itu sebagai guru puteranya. Pada hal ia tak tahu, bahwa An Chun San ini bukanlah seorang piauw-su utama yang biasa dipercayakan dalam hal melindungi kereta-kereta angkutan yang berharga mahal dan penting. Maka An Chun San yang mendengar tawaran yang dapat menjamin penghidupannya di kemudian hari itu, sudah barang tentu menjadi sangat girang dan bersyukur di dalam hati, untuk kemujuran yang sekarang terbayang di depan matanya. Tetapi buat bikin dirinya lebih diindahkan orang, maka sambil bersenyum ia lantas berkata.

"Lo-sianseng, mula-mula aku menduga kau mengalami peristiwa apa-apa yang agak sulit, tidak tahunya hanya urusan begitu saja. Soal ini mudah sekali untuk diaturnya. Pada beberapa waktu ini sebenarnya aku mesti kembali dahulu ke Thay-goan, akan tetapi karena mengingat atas kebaikanmu ini yang telah begitu sungguh-sungguh mengundang aku buat menjadi guru puteramu, maka aku suka batalkan keberangkatanku itu, agar dengan begitu, aku bisa bekerja banyak guna kebaikan dan kebahagiaan rumah tangga dan puteramu itu."

Mendengar jawaban itu, tentu saja Lie Tek Hoat jadi sangat girang dan berterima kasih atas kebaikan piauwsu yang baru dikenalnya itu.

Sedang Chun San yang penghidupannya agak sukar, juga tak luput berterima kasih pada Thian Yang Maha 5 Kuasa, karena penghidupan selanjutnya akan jauh lebih senang dan terjamin sebagai seorang guru silat di rumahan, daripada menjadi seorang pembantu piauw-su yang hidupnya selalu terancam bahaya maut dan sangat berat tanggung jawabnya.

Maka setelah membayar harga makanan dan minuman yang mereka telah dahar tadi, Tek Hoat lalu ajak Chun San berkunjung ke rumahnya.

Petang hari itu di rumah pabrikan beras yang kaya raya itu telah diadakan sedikit perjamuan sebagai tanda hormat atas diri An Chun San yang menjadi guru puteranya, sedang Poan Thian pun lalu dipanggil buat mengunjuk hormatnya kepada sang guru itu.

Demikianlah semenjak itu An Chun San telah menjadi gurunya Lie Kok Ciang, yang kemudian termasyhur sebagai Sin-tui Lie Poan Thian yang merupakan peranan utama dari cerita kita ini.

◄Y► Setahun telah lewat dengan tidak terasa pula.

Selama itu An Chun San telah mengajarkan segala macam ilmu silat yang ia paham kepada Lie Kok Ciang, yang ternyata ada seorang yang mempunyai bakat baik untuk meyakinkan ilmu silat.

Di waktu terluang Poan Thian sering membaca bukubuku cerita yang menuturkan tentang riwayat orangorang gagah yang gemar menciptakan ilmu-ilmu pukulan atas pendapat sendiri.

Oleh sebab itu, maka ia sendiripun jadi tertarik sekali oleh cara-cara mereka itu.

Demikianlah dengan memakai dasar-dasar pelajaran yang telah dapat diyakinkannya dari An Chun San, Poan 6 Thian telah mulai melatih diri dengan sebaik-baiknya, tanpa sang guru pernah pikir bahwa muridnya akan bertindak sekian jauhnya.

Di rumah keluarga Lie, Chun San tak mengajar dengan setengah hati.

Tetapi disamping itu, permintaannya pun banyak pula, karena buat sesuatu macam ilmu pukulan baru yang diajarkannya, Poan Thian harus membayar mahal sekali.

Syukur juga berkat pimpinan guru dan kegiatannya sendiri, sehari demi sehari Poan Thian telah berobah, dari seorang yang lemah menjadi seorang yang bertubuh tegap, kuat dan sehat, hingga ini membikin Tek Hoat jadi semakin girang dan berterima kasih, dan selalu bersedia akan keluar uang buat turuti segala permintaannya An Chun San itu.

Sementara Chun San yang melihat pekerjaannya telah berhasil baik, tidak jarang membanggakan dirinya di hadapan Tek Hoat dan muridnya.

"Dengan ilmu pukulan yang kuturunkan pada Kok Ciang sekarang,"

Begitulah katanya pada suatu hari.

"tidak kurang dari beberapa belas jagoan di kalangan Kang-ouw yang telah berhasil dapat kurobohkan. Maka jikalau kau juga suka yakinkan itu dengan segiatgiatnya,"

Ia menambahkan sambil melirik kepada Lie Poan Thian.

"niscaya dapat juga kau berbuat begitu. Tetapi kita yang mengerti ilmu silat, janganlah suka berlaku congkak kepada sesamanya, apalagi terhadap pada orang-orang yang lemah dan tidak pandai ilmu itu. Ada satu kali pernah kualami suatu kejadian yang agak menggelikan hati. Seorang jago silat termasyhur di kalangan Kang-ouw, yang di sini kukira tidak perlu disebutkan namanya untuk tidak mencemarkan nama baiknya, pernah menyombongkan diri di hadapanku, bahwa dialah "Thian Hee Tee It"— nomor wahid di 7 kolong langit — dan sesumbar akan pukul jatuh semua jagoan dari segala golongan. Kepada dia ini aku telah menasehatkan, agar supaya dia jangan membuka mulut begitu besar. Orang gagah di dunia ini bukan hanya kau saja seorang,"

Kataku.

"Tetapi nasihatku itu telah disambutnya dengan suatu ejekan yang dapat membikin seorang yang paling sabar meluap darah. Demikian juga telah kejadian dengan diriku sendiri, yang ketika itu masih muda dan berdarah panas, tetapi syukur juga aku masih dapat mengendalikan amarahku yang telah mulai berkobarkobar. Belakangan karena ia mengira aku takut kepadanya, lalu dengan tidak segan-segan pula ia menantang kepadaku untuk bertanding secara sahabat, hingga aku sendiri yang telah menjadi mual dengan tingkah-lakunya yang menengil itu, segera terima tantangan itu dengan perjanjian akan jangan saling mendendam, jikalau ada salah seorang yang luka atau bercacad. Ia terima baik syarat itu.

"Maka setelah kedua pihak memilih seorang wasit, kita lalu mulai bertempur di sebidang pekarangan yang agak luas, dengan disaksikan oleh jago-jago tua kenamaan di kalangan Kang-ouw, yang sekarang hampir semua telah meninggal dunia."

Tek Hoat dan Poan Thian pasang telinga mendengari "obrolan"

Sang guru itu.

"Dalam pertandingan persahabatan itu,"

An Chun San melanjutkan ceritanya.

"aku telah mengalah buat kasih ia menyerang dahulu kepadaku, biarpun sekalian Lo-enghiong mengatakan ini tidak adil!"

"Kau yang ditantang, maka haruslah kau dahulu yang berhak akan menyerangnya,"

Katanya. "Tetapi aku ini memang orangnya terlalu see-jie, maka aku lebih suka mengalah daripada mendahului memukul."

Begitulah pertempuran itu lalu dimulai. Sambil berkata begitu, dengan tidak terasa lagi Chun San lalu berbangkit dari tempat duduknya.

"Orang itu di sini kita katakan saja si A,"

Katanya.

"Lalu mulai menerjang dengan suatu pukulan untuk menjotos ulu hatiku." (Buat menutur dengan terlebih jelas, Chun San lalu menggerak-gerakkan badan, kaki, tangan dan kepalanya).

"Aku lalu mengegos sedikit, buat kasih lewat pukulan itu, tetapi berbareng dengan itu, aku lalu maju setindak, akan mendekati kepadanya.

"Sebelah kakinya tiba-tiba menyapu kakiku yang sedikit maju ke depan, tetapi tendangan itu luput, karena dengan mudah saja aku telah dapat hindarkan tendangan itu dengan mengangkat kakiku sedikit ke atas," (sambil Chun San menggerakkan kakinya sendiri).

"Ia jadi mendongkol karena tendangannya luput. Lantas ia mendesak dengan cepat. Untung juga pukulanpukulan dan tendangan-tendangan yang sehebat itu ditujukan kepada diriku, jikalau ini ditujukan pada orang lain, aku percaya orang itu akan kelabakan setengah mati. Sekalian Lo-enghiong mula-mula sangat kuatir atas keselamatan diriku. Tetapi ketika dengan mudah aku telah dapat singkirkan itu semua, ada beberapa orang yang berbisik, (tetapi ini dapat didengar olehku), bahwa A itu bukan tandinganku yang setimpal. Ini akupun memang telah ketahui, A itu memanglah bukan tandinganku yang setimpal! Malah kalau aku mau, aku bisa rubuhkan padanya dengan sekali gebrak."

Poan Thian yang mendengar penuturan itu jadi kelihatan tidak sabar dan lantas menanyakan.

"Suhu! Aku sungguh tidak bisa mengerti apa sebab kau tidak 9 segera memukul kepadanya, sedangkan kau tahu kau bisa berbuat begitu?"

"Suhu tentu ada kandung maksud lain,"

Kata ayahnya. Chun San tersenyum.

"Mula-mula aku tak mau berbuat begitu getas,"

Katanya.

"karena aku tahu, bahwa perbuatan itu akan mencemarkan nama baiknya di hadapan orang banyak."

"Nah, itulah sebabnya mengapa Suhu tidak segera merubuhkan kepadanya,"

Kata Tek Hoat sambil mengacungkan jempolnya.

"Itulah perbuatannya seorang budiman!"

"Tetapi kesabaran itu ada batasnya,"

Kata Chun San pula.

"Maka setelah melihat bahwa perbuatanku yang mengalah itu jadi berbalik dianggap pengecut, aku jadi sengit. Aku mulai menyerang dengan ilmu-ilmu pukulan yang ringan, tetapi semakin lama semakin berat, sehingga akhirnya aku telah keluarkan ilmu-ilmu pukulan sangat lihay seperti apa yang kupernah ajarkan kepadamu." (Sambil menggerakkan kaki tangannya, Chun San menoleh pada Lie Poan Thian).

"Paling belakang, pada sebelum ia keburu berteriak meminta ampun, jari tanganku yang menyamber seperti kilat cepatnya telah tiba di bagian geger kirinya. Ia berteriak dan jatuh pingsan dengan tiga buah tulang iganya patah!" (Chun San tertawa). Lie Poan Thian kelihatan bernapas lega, hingga sambil berbangkit dari tempat duduknya ia menyoja pada An Chun San dan berkata.

"Itulah justeru ada bagian paling setimpal yang ia harus dapatkan! Aku harus mengucap "Kiong-hie"

Atas kemenangan guruku." 10 Chun San yang dipuji-puji jadi semakin mangkak.

"Sebetulnya masih untung ia dirobohkan dalam cara begitu dan dengan disodok iganya,"

Ia berkata sambil pelembungi dada.

"Kalau ia kena kutendang, ia akan putus jiwanya di seketika itu juga!"

Mendengar penuturan itu, Poan Thian dan ayahnya jadi sangat kagum atas kepandaian sang guru yang maha dahsyat itu.

"Banyak jagoan-jagoan di kalangan Kang-ouw yang mendengar betapa lihaynya ilmu tendanganku,"

Chun San melanjutkan ceritanya dengan penuh semangat.

"telah sengaja mengunjungi kepadaku, dengan maksud buat minta diajarkan ilmu tendangan itu, tetapi aku menyatakan berkeberatan, berhubung kuatir nanti dipergunakan dengan sembarangan oleh mereka itu, hingga akhirnya aku sendirilah yang akan tanggung dosanya."

Poan Thian jadi heran dan berbalik tanya kepada sang guru itu.

"Suhu,"

Katanya.

"aku sungguh tidak mengerti dengan maksud omonganmu tadi. Cara bagaimanakah perbuatan orang lain bisa ditanggung olehmu, sedangkan kau sendiri ada kemungkinan tidak tahu-menahu tentang perbuatan sesuatu orang itu?"

"Ya, itu memang kelihatannya tidak menjadi soal penting,"

Kata An Chun San.

"tetapi sudah terang bahwa setiap orang yang menerima pelajaran ilmu menendang dari aku, dengan sendirinya berarti suatu kedosaan bagi diriku, apabila besok atau lusa ia menendang orang sehingga mati, karena ilmu tendangan itu adalah aku sendiri yang menciptakannya, bukan boleh meniru dari orang lain."

Lie Poan Thian mengangguk-anggukkan kepalanya 11 selaku orang yang berpikir, tetapi ia tak coba berdeging lebih jauh, meskipun di dalam hatinya ia merasa kurang puas dengan jawaban gurunya itu.

Sementara An Chun San yang melihat Poan Thian berdiam sejurus, ia kuatir kalau murid itu minta diajarkan ilmu tendangan yang dikatakan olehnya tadi, maka buat mencegah kejadiankejadian lain yang akan menunjuk "tembaga"

Kepandaiannya, lalu buru-buru ia tersenyum sambil mengatakan.

"Ilmu tendangan ini akan kuturunkan kepadamu nanti diakhir tahun pelajaran kedua."

Oleh karena Lie Poan Thian justeru hendak minta diajarkan ilmu tendangan itu, maka terpaksa ia tutup mulut dan mesti menunggu sampai lain tahun, dan itulah ada jalan pertama yang telah mendorong dia akan menciptakan ilmu tendangan baru, dengan mana dikemudian hari dia menjagoi di daerah lima propinsi utara.

Lie Poan Thian yang berotak sangat terang, disamping meyakinkan ilmu silat yang diajarkan oleh An Chun San, juga dengan diam-diam ia telah coba menyempurnakan sendiri ilmu-ilmu silat yang dirasanya masih terdapat bagian yang lemah dan mudah diserang oleh ilmu silat lain.

Pada suatu hari ketika Poan Thian minta diajarkan ilmu tendangan yang begitu diagulkan oleh An Chun San, dengan perasaan kurang enak sang guru itu telah berkata.

"Belum boleh, belum boleh, karena ilmu-ilmu pukulan yang sekarang kau belum dapat yakinkan sehingga paham betul, cara bagaimana bisa dicampur aduk dengan pelajaran-pelajaran lain yang sifatnya jauh lebih sukar daripada itu?"

Poan Thian dilahir tidak coba membantah omongan gurunya, tetapi di dalam hati ia merasa sangat kurang 12 puas, oleh sebab itu, selanjutnya ia belajar dengan terlebih giat, sehingga lama kelamaan Chun San jadi kuatir sekali, akan ilmu kepandaiannya sendiri akhirnya kena terdesak oleh sang murid.

Buat mengaku yang ia sudah hampir kehabisan "kunci"

Untuk mengajarkan pada sang murid, sudah tentu saja tak mau ia berbuat begitu.

Karena jikalau ia berhenti mengajar ilmu silat kepada Lie Poan Thian, ia kuatir tak akan mendapat pekerjaan lain yang terlebih menyenangkan.

Tetapi, apa akal sekarang?

Pikir punya pikir, akhirnya didapatilah suatu akal untuk memperpanjang tempo bekerjanya dengan jalan memberikan pelajaran lebih sedikit kepada muridnya.

Oleh karena itu, dapatlah Chun San berdiam enam bulan pula lamanya di rumah keluarga Lie itu.

Pada suatu hari di musim dingin, selagi orang enak berminum arak yang hangat di muka perapian, adalah Lie Poan Thian sedang asyiknya melatih ilmu silat ciptaannya di tengah pelataran halaman rumahnya.

Dalam pada itu An Chun San yang menyaksikan perbuatan muridnya dari kejauhan, diam-diam merasa heran dan menduga-duga, ilmu silat apa itu yang sedang diyakinkan oleh Lie Poan Thian.

Ia ingat pernah mengajarkan beberapa banyak macam ilmu pukulan pada sang murid itu, tetapi ini satu agak berlainan dengan apa yang ia telah pernah ajarkan.

Betul di beberapa bagian dari ilmu silat yang sedang diyakinkannya itu mirip dengan ilmu pukulan Song-congkoan, tetapi perubahan selanjutnya agak asing bagi pengetahuannya di kalangan itu.

"Apakah gerangan nama aslinya ilmu pukulan ini?"

An Chun San bertanya pada diri sendiri.

Tetapi biarpun ia berpikir bolak-balik, tidak juga ia ketahui apa namanya ilmu pukulan yang sedang diyakinkan oleh sang murid itu.

13 Ia sama sekali tidak menyangka bahwa semua itu adalah hasil daripada ciptaan Lie Poan Thian, yang telah didapat dengan berdasarkan pelajaran-pelajaran yang telah diberikan olehnya sendiri.

Lebih jauh ia telah menyaksikan bagaimana kerasnya di waktu Poan Thian menendang, hingga angin tendangan itu bersuara dan terdengar olehnya yang terpisah dari tempat berlatih kira-kira duaratus tindak jauhnya.

Chun San jadi sangat memuji di dalam hatinya.

Tetapi berbareng dengan itu, ia jadi kuatir juga akan mesti lekas berlalu dari rumah itu, jikalau nanti Poan Thian telah paham benar dalam pelajaran-pelajaran silatnya.

Sekarang ia telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, alangkah pesatnya Poan Thian telah peroleh kemajuan dalam pelajarannya.

Chun San menghela napas dengan berat, apabila ia memikirkan itu semua, tetapi tidak urung akhirnya ia memanggil-manggil juga kepada Poan Thian yang sedang bersilat itu.

Poan Thian lalu berhenti bersilat dan lekas menoleh ke belakang.

Ketika menampak gurunya berdiri dari kejauhan, buru-buru ia mengunjukkan hormatnya dan tersenyum sambil berkata.

"Oh, pada sangkaku siapa, tidak tahunya guruku sendiri. Belum tahu barusan Suhu memanggil aku ada petunjuk apakah yang hendak disampaikan kepadaku?"

"Ilmu silat Song-cong-koan yang telah kau pertunjukkan tadi,"

Kata Chun San.

"ternyata kurang benar dan banyak bagian yang masih perlu diperbaiki. Dalam waktu orang mempertunjukkan ilmu pukulan ini, 14 bukan saja tenaga yang dikeluarkan harus cukup kuat, tetapi juga segala gerakannya pun tidak boleh dilakukan menyimpang daripada ketentuan-ketentuan yang memangnya sudah ada sedari dahulu. Maka dari sebab itu juga, kau harus ketahui dan perhatikan dengan sebaik-baiknya, bahwa titik kepentingannya ilmu ini ialah untuk dipakai memukul saluran darah Kie-hun-hiat. Musuh yang kena terpukul dengan ilmu pukulan Songcong-koan ini, walaupun tidak mati seketika itu juga, akan tetapi sudah pasti dia akan menderita luka berat. Maka jikalau pemukulan itu dilakukan kurang tepat dan tidak cukup kuat, selain pihak musuh tidak sampai mengalami kesukaran apa-apa, malah diri kita sendiri bisa berbalik dicelakai olehnya. Kita pasti tak akan keburu menggunakan ilmu pukulan lain buat menjaga diri kita. Itulah bahayanya yang bisa diterbitkan oleh karena akibat kekeliruan-kekeliruan seperti apa yang telah ditunjukkan olehmu tadi."

Lie Poan Thian jadi melengak ketika mendengar keterangan begitu.

Karena menurut keteranganketerangan Chun San tadi, seolah-olah ia hendak mengatakan bahwa gerak-geriknya musuh harus mengimbangi jalannya ilmu pukulan Song-cong-koan itu, tetapi bukanlah ilmu pukulan itu yang harus disesuaikan jalannya untuk dapat merobohkan musuh.

Musuh itu bukan boneka, dan ia pasti tidak tinggal diam apabila pihak musuh mendadak mengganti taktik dengan mengajukan lain macam ilmu pukulan.

Tetapi dimanakah ada ilmu pukulan yang bisa dijalankan terusmenerus dari awal sehingga diakhir di dalam suatu pertempuran?

Keterangan itu memang agak bo-ceng-lie dan bisa menerbitkan buah tertawaan orang, tetapi Poan Thian 15 tidak berani berbantahan dan segera mengulangi pula ilmu Song-cong-koan tadi menuruti petunjuk-petunjuk Chun San yang sudah-sudah.

Dan setelah selesai menjalankan ilmu pukulan tersebut, barulah ia menanyakan pendapat gurunya tentang ilmu pukulan itu.

Tetapi Chun San lalu menggelengkan kepalanya sambil berkata.

"Belum sempurna, walaupun itu boleh dikatakan lebih baik daripada tadi."

Lebih jauh buat membenarkan kekeliruan-kekeliruan yang telah diperbuat Poan Thian itu, maka Chun San lalu memberikan segala petunjuk yang, perlu dengan lisan dan praktek.

Kemudian dengan menggunakan ilmu Song-cong-koan itu ia memukul sebuah pohon liu yang besar garis tengahnya sepelukan orang, hingga badan pohon yang bergoncang-goncang karena menerima pukulan Chun San yang begitu keras, telah menyebabkan juga banyak daunnya yang sudah tua jatuh terserak ke muka bumi.

"Nah, kau lihat itu,"

Kata guru silat itu dengan perasaan bangga atas kekuatan tenaganya sendiri.

"Dengan menyaksikan pada kejadian ini, tentulah kau bisa pikir sendiri berapa besarnya tenagaku. Maka biarpun musuh berotot besi atau bertulang tembaga juga, niscaya tak akan tahan dia menerima pukulan-pukulan semacam itu!"

An Chun San tertawa bergelak-gelak sesudah berkata begitu. Sementara Lie Poan Thian yang menyaksikan kekuatannya sang guru, juga kelihatan kagum dan memuji tidak sudahnya.

"Tetapi, Suhu,"

Kata sang murid.

"cara bagaimanakah kita harus menghindarkannya, apabila pihak musuh kita yang menggunakannya ilmu 16 Song-cong-koan itu?"

An Chun San lalu menjawab dengan sembarangan, karena ilmu kepandaiannya memang masih sangat terbatas.

"Oleh karena ilmu pukulan demikian pasti akan dilakukan dengan tenaga sepenuh-penuhnya,"

Kata sang guru.

"maka tidak boleh kita tangkis dengan sembarangan. Kita bisa celaka sendiri apabila kita berlaku kurang sebat untuk menghindarkannya, maka buat dapat meloloskan diri daripada pukulan itu, aku pujikan supaya kau pergunakan ilmu pukulan "

Gan-lokpeng-see " (burung meliwis jatuh di pasir rata). Ini harus kau perhatikan betul-betul. Bukankah ilmu.

"Gan-lokpeng-see"

Ini sudah pernah kuajarkan kepadamu?"

Chun San melanjutkan bicaranya. Poan Thian mengangguk.

"Ya,"

Sahutnya.

"Apakah engkau masih mempergunakannya?"

Ingat cara bagaimana "Masih ingat, masih ingat,"

Sahut sang murid. Selanjutnya karena merasa senang pasang omong tentang ilmu silat, maka Poan Thian lalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain kepada sang guru.

"Suhu, bagaimana kita harus memecahkan ilmu pukulan "Sian-jin-ciauw-ciang"?"

Tanyanya kemudian. (Sian-jin-ciauw-ciang artinya Sang dewa membentangkan telapak tangan).

"Pergunakanlah tipu "Hun-kim-siu" (Muslihat membagi emas),"

Sahut yang ditanya dengan tidak raguragu lagi.

"Sebab tipu silat yang kau katakan barusan itu, pada umumnya dipergunakan untuk menyerang dengan berturut-turut di waktu bertempur dengan musuh. Maka apabila orang menggunakan ilmu pukulan Hun-kim-siu 17 buat menimpalinya, niscaya pihak musuh akan mengalami lebih banyak celaka daripada selamat!"

"Tetapi Tee-cu sendiri telah mendapat suatu jalan lain yang agak berbedaan dengan pendapat Suhu tadi,"

Katanya.

"dan cara inipun dapat dipergunakan, untuk memecahkan tipu Sian-jin-ciauw-ciang itu."

An Chun San yang mendengar omongan sang murid, mendadak tampaknya jadi kurang senang.

"Kurang ajar benar anak ini,"

Demikianlah pikirnya.

"hingga baru saja belajar ilmu silat setahun lebih, ia sudah mengunjuk tingkah laku yang begitu sombong! Ia seolah-olah mau lebih menang daripadaku yang menjadi gurunya. Maka apabila aku tidak ajar sedikit adat, tentulah selanjutnya ia bisa khoa-bo (memandang enteng) kepadaku."

Oleh sebab itu ia berkata.

"Apakah yang kau katakan barusan itu benar-benar?"

Poan Thian menetapkan mengatakan.

"Ya, benar."

Perkataannya dengan An Chun San jadi semakin mendongkol mendengar jawaban itu, karena itu baginya boleh dianggap sebagai suatu tantangan.

"Kalau begitu, baiklah!"

Katanya.

"Aku hendak melihat cara bagaimana engkau akan menghindarkan dirimu, apabila aku menyerang kepadamu dengan tipu Sian-jinciauw-ciang!"

Lalu ia maju mendekati kepada sang murid.

Hampir dalam saat itu juga Chun San lalu mengayunkan tangan kirinya ke depan muka Lie Poan Thian, yang maksudnya untuk membikin terkesiap hati orang, sedang tangan kanannya yang menyusul dengan cepat, dimaksudkan untuk memukul jalan darah Thay-yang-hiat pada bagian 18 pilingan murid itu.

Serangan itu telah dilakukan oleh An Chun San dengan gerakan yang luar biasa cepatnya!

Dalam pada itu Chun San percaya, bahwa Poan Thian tidak akan mampu memecahkan seranganserangan itu, jikalau bukan menggunakan ilmu Hun-kimsiu yang pernah diajarkannya.

Tetapi dugaan itu ternyata meleset.

Poan Thian bukan saja tidak menggunakan tipu Hunkim-siu barang sedikit, malah gerakannya untuk menghindarkan diripun jauh berbeda daripada apa yang pernah diimpikan oleh An Chun San sendiri.

Sang murid ini ternyata tidak melakukan penangkisan menurut cara yang pernah diajarkannya itu!

Hal mana, sudah tentu saja, telah bikin Chun San jadi semakin mendongkol!

Buat menghindarkan pukulan itu, Poan Thian bukan berkelit atau mengegos, hanyalah segera membuang diri ke belakang, tetapi berbareng dengan itu, kedua kakinya lalu dikasih bekerja untuk menyapu ke arah kakinya An Chun San.

Sang guru jadi terkejut, ia tidak tahu dari mana Poan Thian dapat pelajarkan ilmu tendangan yang baginya masih agak asing ini.

Buru-buru ia berlompat buat mengasih lewat sebelah kakinya Poan Thian yang menyamber kepadanya itu.

Tetapi sebegitu lekas kakinya menginjak tanah, kaki Poan Thian yang menyamber balik telah bikin Chun San jadi gelagapan!

"Celaka!"

Ia berteriak di dalam hati.

Ia sama sekali tak menduga, bahwa muridnya dapat melakukan ilmu tendangan selihay itu!

19 Akan menghindarkan diri dari tendangan musuh dengan jalan melompat ke atas, itulah bukan pekerjaan yang terlalu sukar; tetapi buat menghindarkan tendangan musuh yang menyamber di waktu kita akan menginjak tanah, itulah sesungguhnya ada saat yang paling berbahaya bagi kita.

Dan itulah justeru ada di bagian ini yang Poan Thian telah mengambil ketika untuk menjajal kesebatan gurunya.

Maka sebegitu lekas saat yang tegang itu telah sampai, sekonyong-konyong An Chun San terdengar berteriak.

"Ayaah!"

Yang kemudian disusul dengan suarasuara "plak!" .,sret!"

"gedebuk!"

An Chun San yang telah terkena tendangan sang murid, tidak berbeda dengan daun-daun kering yang tertiup angin, ia terlempar jauh sekali dan jatuh jumpalitan di tanah dengan kepala benjut dan mengeluarkan darah!

Poan Thian sendiri tak pernah menyangka bahwa persoalan bakal terjadi begitu rupa, tak pernah ia impikan, bahwa akibat daripada tendangannya itu, sang guru bisa kejadian terlempar sejauh itu.

Dari itu, buruburu ia berlari-lari, menghampiri dan mengangkatnya bangun sambil meminta maaf berulang-ulang.

"Aku mohon beribu-ribu maaf atas kelancanganku itu,"

Kata Lie Poan Thian dengan laku gugup.

"Tendangan tadi ternyata telah dilakukan terlalu cepat, sehingga aku tak menyangka sama sekali bakal menerbitkan luka kepada guruku."

Sambil berkata begitu, Poan Thian cepat membungkukkan diri buat menolong kepada sang guru, tetapi Chun San yang telah keburu berbangkit, dengan muka merah karena malu dan gusar lalu menuding pada 20 sang murid sambil berkata.

"Bagus benar perbuatanmu ini! Engkau telah berani menyerang guru sendiri dengan sungguh-sungguh dan selagi aku tidak bersedia!"

Poan Thian yang mendengar omongan itu, dengan tak tertahan lagi jadi tertawa geli.

Sebab pada pikirnya, apakah gunanya orang meyakinkan ilmu silat, apabila dalam hal melakukan penyerangan orang mesti memberitahukan terlebih dahulu kepada pihak lain yang menjadi musuhnya?

Maka berhubung dengan peristiwa yang telah dialaminya pada kali ini, lambat-laun Poan Thian jadi mendusin, kalau-kalau kepandaian silat sang guru itu hanyalah terbatas sampai di situ saja, sedangkan omongan-omongan tekebur yang pernah diucapkannya dahulu, itulah melulu merupakan khayal-khayal yang tidak ada buktinya sama sekali.

Dari itu, tidaklah heran jika ia jadi tertawa geli.

Chun San yang ditertawai jadi sengit dan merasa sangat penasaran, biarpun Poan Thian meminta-minta maaf dan menyatakan penyesalannya telah kelepasan tangan, tetapi tidak urung dengan tidak pikir panjang lagi ia segera mengeluarkan suara bentakan keras yang dibarengi dengan serangan Go-houw-kim-yo (harimau lapar menubruk kambing) untuk menerjang kepada sang murid itu.

Syukur juga Poan Thian yang terlebih siang telah menduga peristiwa apa yang bakal dialami, sudah lantas mengerti tindakan apa yang harus diambilnya seketika itu.

Maka sebegitu lekas ia melihat gurunya menyerang, buru-buru ia mempergunakan siasat Pek-kee-tian-cie (Ayam putih membentangkan sayap) membentangkan kedua tangannya buat menyingkirkan pukulannya sang guru, sambil kemudian melanjutkan gerakannya dengan mengegos ke samping, hingga dengan cara ini ia bisa 21 terluput dan lompat ke suatu jurusan sambil mulutnya tidak berhenti-henti berkaok-kaok.

"Suhu, tahan dulu! Sabar! Maafkanlah atas kelancangan Tee-cu!"

Tetapi Chun San tidak menghiraukannya dan terus menggerakkan kaki tangannya buat memukul pada sang murid yang dianggapnya sangat kurang ajar itu.

Lama-lama peristiwa ini telah dapat dilihat oleh seorang bujang tua keluarga Lie yang bernama Ong Kiu, ia jadi sangat terkejut dan buru-buru berlari-lari masuk ke dalam rumah sambil tidak henti-hentinya berkaok.

"Celaka! Celaka! An Kauw-su berkelahi dengan tuan muda kita!"

Mula-mula Tek Hoat tidak mau percaya dengan keterangan itu, bahkan mengomel pada si bujang tua itu yang dikatakan "edan".

Tetapi ketika ia dikasih keterangan lebih jauh dengan sikap yang tergopohgopoh, orang tua itu jadi percaya juga dan terus berlarilari dengan diiringi oleh beberapa bujang yang lainlainnya.

Dan ketika Tek Hoat sampai di pelataran halaman rumah, betul saja ia melihat Chun San menerjang pada anaknya dengan berulang-ulang, tetapi syukur juga Poan Thian bisa meluputkan diri sambil berkaok-kaok minta dimaafkan atas segala kekhilafannya.

Tek Hoat yang merasa kuatir atas keselamatan diri anaknya, buru-buru berlari menghampiri kepada An Chun San sambil membujuk dan meminta maaf atas kelancangan dan kekhilafan anaknya itu.

Oleh karena mendengar omongan orang tua itu, Chun San jadi mendusin dari perbuatannya yang semberono dan lekas-lekas balas memberi hormat kepada Tek Hoat sambil memaksakan diri buat 22 mengunjuk muka manis.

"Semua ini sebetulnya cuma merupakan suatu permainan saja,"

Katanya.

"karena Kok Ciang memang perlu diajar tabah disamping dilatih dalam hal ilmu pelajaran silatnya. Karena jikalau ia tidak diajarkan berlaku tabah dari sekarang, bagaimanakah ia bisa berhadapan dengan musuh, jikalau di kemudian hari ia sampai benar-benar bertempur dengan orang lain?"

Tek Hoat mengangguk-angguk sambil membenarkan omongan guru silat itu, kemudian ia menanyakan mengapa dahi Chun San berlumuran darah dan tampak berjendul?

Atas pertanyaan ini.

Chun San lalu tuturkan segala sesuatu yang telah terjadi tadi, tetapi sifatnya ia sengaja perlunak buat menutup perasaan malunya.

Sementara Tek Hoat yang mendengar begitu, segera memberikan comelan pada sang anak.

"Kau ini sungguh amat tidak patut telah berani melukai guru sendiri,"

Katanya.

"Maka setelah melakukan perbuatan yang begitu kurang ajar, mengapakah kau tidak lekas berlutut di hadapan An Lo-suhu buat meminta maaf?"

Poan Thian menurut dan lekas menjura di hadapan An Chun San sambil menyoja dan meminta maaf hingga Chun San yang menerima permintaan maaf itu dengan perasaan hati tidak enak, lalu banguni Poan Thian sambil melanjutkan pembicaraannya dengan sang majikan tua.

"Perkara kecelakaan dalam waktu melatih ilmu silat,"

Kata guru silat itu.

"memanglah ada suatu hal lumrah yang tidak perlu banyak direcoki. Demikian juga dengan halnya kejadian sekarang ini. Perlu apakah Lo-ya mesti kuatirkan sampai begitu?" 23 Tek Hoat kelihatan puas dengan jawaban An Chun San itu. Tetapi karena melihat dahi sang guru bercucuran darah, maka ia telah tawarkan Chun San buat berobat dengan segala ongkos-ongkosnya ditanggung oleh orang tua itu. Tetapi Chun San yang merasa bahwa sendirinya ada seorang guru silat, ia pikir sangat memalukan apabila ia luka sedikit saja mesti diobati orang lain. Lagi pula ia sendiripun mengerti sedikit tentang obat-obatan, hingga dengan secara getas ia telah menampik tawaran Tek Hoat sambil berkata.

"Oh, itu tidak perlu, karena aku di sini pun ada sedia obat luka yang manjur sekali, yang akan dapat menyembuhkan segala macam luka-luka dalam tempo hanya beberapa saat saja lamanya."

Kemudian ia pergi mengambil obat yang dikatakannya itu, yang ternyata benar manjur dan telah dapat menahan darah yang mengucur di dahinya hampir di saat itu juga.

Ketika di hari esoknya Poan Thian bangun tidur dan hendak pergi melatih ilmu silat di halaman pelataran rumahnya seperti biasa, ia menampak keadaan di situ agak berlainan dengan hari-hari yang telah lampau, karena Chun San yang telah dapat malu oleh karena telah dirobohkan oleh muridnya sendiri, ternyata dengan tak meminta diri lagi telah meninggalkan rumah itu buat selama-lamanya.

Hal mana, sedikit banyak telah menerbitkan sesalan juga di dalam hati pemuda itu, yang tetap menghargai jasa-jasanya Chun San yang telah mendidiknya sehingga dapat membuka jalan akan ia menjadi seorang jago silat dan ahli menendang dengan ilmu Lian-hwan Sauw-tong-tui yang telah diciptakannya dan di kemudian hari sangat disegani oleh sekian orangorang gagah di kalangan Kang-ouw.

24 Maka seperginya Chun San dari rumah keluarga Lie, Poan Thian telah kerap meminta pada ayahnya supaya dicarikan guru silat lain untuk memberikan pelajaran kepadanya, tetapi orang tua itu selalu menolak dan memberikan comelan, hingga selanjutnya ia tidak bisa berbuat lain daripada melatih diri dengan ilmu-ilmu pelajaran yang telah didapatinya dari An Chun San, disamping memperbaiki ilmu tendangan ciptaannya, dengan mana ia telah berhasil dapat merobohkan gurunya sendiri.

Setiap hari di waktu Poan Thian berlatih dengan giat di halaman pelataran rumahnya, banyak orang yang kebetulan melewat telah pada berhenti menonton dengan sorot mata yang menandakan kagum atas kekuatannya pemuda itu.

Karena disaban waktu ia memukul atau menendang pohon liu yang sebesar pelukan itu, tentulah pohon itu bergoncang keras dengan daun-daunnya pada rontok dan jatuh terserak ke muka bumi.

Sedang Poan Thian sendiri yang sedikit demi sedikit telah menyaksikan tentang kemajuan dan kekuatan dirinya, sudah tentu saja jadi kagum dan sering berkata pada diri sendiri.

"Apabila pohon yang besar ini bisa bergoncang karena pukulan atau tendanganku, maka pastilah pukulan atau tendanganku ini akan bikin orang mati atau patah tulang, apabila nanti kucoba dalam pertempuran."

Demikianlah pada pikirnya anak muda itu, yang seolah-olah anak kerbau yang baru bertanduk itu, tak takut akan harimau, juga berani menghadapi segala sesuatu dengan sikap yang angkuh, sehingga ia lupa bahwa orang gagah di kolong langit ini bukan hanya dia seorang saja.

Itulah cacadnya orang yang baru mengerti ilmu silat 25 dengan serba sedikit!

Sebulan telah lewat semenjak meninggalkan rumah keluarga Lie.

An Chun San Pada suatu pagi hari selagi Poan Thian melatih diri seperti biasa, banyak orang telah berdiri menonton ia bersilat dari kejauhan.

Di setiap waktu ia selesai bersilat, mereka itu tentulah menyambut dengan tampik sorak yang riuh, hingga hatinya Poan Thian jadi sangat gembira dan lambat laun berpendapat bahwa dirinya "Thian He Tee It", nomor wahid di kolong langit.

Tetapi, apa mau, tengah orang banyak bertampik sorak, mendadak ia mendengar ada seorang yang mengejek kepadanya sambil tertawa-tawa, hingga Poan Thian yang mendengar begitu, sudah tentu saja merasa kurang senang dan lalu bercelingukan buat melihat siapa adanya orang yang telah mengejeknya itu.

Dan tatkala ia memandang kian-kemari sekian lamanya, akhirnya barulah diketahui bahwa orang itu kira-kira berumur tigapuluh tahun, pakaiannya sederhana.

Orangnya tidak besar, tetapi badannya tegap, ia berhidung mancung, bermulut lebar, dan apa yang terutama paling menarik perhatiannya Poan Thian, ialah sepasang matanya yang jeli dan seakan-akan mengeluarkan sinar yang bisa menusuk penglihatan orang yang diamat-amatinya.

Kepada ia ini Poan Thian lalu menghampiri, memberi hormat serta menanyakan sebagai berikut.

"Oleh karena barusan aku mendengar kau mengejek sambil tertawa-tawa, maka aku berpendapat bahwa kau ini tentulah ada seorang yang paham ilmu silat. Aku sendiri harus mengaku, bahwa ilmu kepandaianku belum sempurna dan masih perlu diperbaiki di bawah 26 pimpinannya seorang yang ahli. Maka apabila tuan sesungguhnya paham ilmu silat, sudikah kiranya tuan memberikan petunjuk-petunjuk yang berharga kepadaku?"

Orang itu kembali tertawa, tetapi mula-mula tidak mau berkata apa-apa. Ia bersikap "masa bodoh". Dan tatkala Poan Thian mendesak akan minta jawabannya, ia lalu menggelengkan kepalanya. Ia menjawab.

"Tidak, aku tidak pandai ilmu silat."

Poan Thian jadi semakin tidak senang mendengar jawaban itu.

"Apabila kau tidak pandai ilmu silat,"

Katanya.

"perlu apakah kau mesti mentertawai orang lain?"

"Semua orang adalah bebas buat tertawa,"

Sahut orang itu sambil bersenyum.

"Aku tertawa dengan mulutku sendiri, seperti juga kau bersilat dengan kaki tanganmu sendiri! Ada apakah hubungannya antara mulutku dan kaki tanganmu?"

"Ah, kurang ajar benar orang ini!"

Pikir Lie Poan Thian di dalam hatinya.

"Jikalau aku selalu mengunjukkan sikap yang mengalah, tidak mustahil orang menganggap aku pengecut. Maka buat mengunjukkan bahwa aku ini bukan seorang yang penakut, aku perlu ajar sedikit adat kepada si congkak ini."

Kemudian dengan sikap gusar dan mata mendelik, Poan Thian menuding pada orang itu sambil membentak.

"Hai, orang desa! Kau harus ketahui bahwa ejekan terhadap seorang yang mengerti ilmu silat, itulah berarti suatu hinaan yang bisa dipersamakan dengan suatu tantangan berkelahi! Tetapi karena mengingat bahwa kau tidak mengerti ilmu silat, maka aku mau sudahi saja urusan ini, apabila kau suka meminta maaf dengan 27 berlutut di tanah di hadapanku!"

"Apa, berlutut?"

Orang itu jadi tertawa tergelak-gelak. Suara tertawanya itu ada begitu nyaring, sehingga menerbitkan gema yang telah mendatangkan rasa herannya semua orang.

"Aku tidak biasa berlutut di hadapan sembarangan orang,"

Katanya.

"apalagi-anak yang baru lepas pupuk seperti kau ini!"

Mendengar omongan itu.

Lie Poan Thian bukan main marahnya, hingga dengan tidak banyak bicara lagi ia menjotos orang itu dengan menggunakan siasat Songtwie-ciang, hingga orang banyak yang setiap hari menyaksikan tenaga si pemuda yang begitu kuat, ratarata jadi pada kuatir atas nasibnya orang itu, dan pernyataan itu menjadi semakin kuat lagi, ketika orang banyak pada mengatakan.

"Celaka! Celaka! Orang itu sesungguhnya tak berbeda dengan seekor ular yang mencari pentungan!" ◄Y► Tetapi sikapnya orang itu tinggal tenang-tenang saja, walaupun Poan Thian menerjang bagaikan harimau kelaparan. Ia kelihatan tersenyum sedikit, dan sebegitu lekas kepalannya Lie Poan Thian mendekati dadanya, lalu ia merangkapkan kedua tangannya sambil menggunakan tipu-tipu Hun-sui-ciang, hingga ketika ia menggerakkan tangan itu dengan kecepatan seperti kilat, Poan Thian rasakan dari pihak orang itu telah keluar semacam tenaga penolak yang telah memaksa ia mundur ke belakang sehingga beberapa tindak jauhnya. Maka dengan adanya sedikit pengalaman ini, Poan Thian segera ketahui, bahwa orang ini tentunya ada seorang 28 ahli silat yang ilmu lweekangnya sangat tinggi, tetapi oleh karena sudah ketelanjuran ia memulai membuka penyerangan, apa boleh buat ia hendak menjajal juga sampai dimana kepandaiannya orang itu. Begitulah ketika ia maju menerjang buat kedua kalinya, Poan Thian telah berlaku jauh lebih hati-hati daripada tadi, karena selain ia tidak menggunakan kepalan lagi, iapun tidak mau "menyeruduk"

Dengan sekenanya saja.

Lalu ia menendang dengan menggunakan tipu Tan-hui-tui, semacam ilmu menendang yang ia biasa praktekkan setiap hari.

Maksud daripada mempergunakan ilmu tendangan ini, ialah untuk memancing supaya orang itu berkelit atau menghindarkan tendangan itu dengan jalan berjongkok, hingga di waktu orang itu berbuat demikian, ia segera akan merangsek dan menendang pula dengan ilmu tendangan yang sangat dibanggakannya itu, ialah ilmu tendangan Lian-hwan Sauw-tong-tui yang dahulu telah dipakai merobohkan gurunya sendiri.

Tetapi, lebih cepat daripada kilat yang menyamber, Poan Thian sama sekali tak menduga, kalau-kalau perhitungannya itu meleset semua.

Ia sendiri tidak melihat cara bagaimana pihak lawannya telah menyingkirkan diri dari tendangannya, seperti juga ia tidak melihat cara bagaimana pihak lawannya telah membalas menyerang kepadanya.

Karena tahu-tahu ketika ia menendang dengan sepenuhnya tenaga, ia merasakan dirinya seperti juga dilemparkan ke udara, hingga pada sebelum ia bisa mengucap sepatah kata "Celaka!"

Ia sudah terbanting ke suatu tempat yang terpisah kira-kira beberapa belas kaki jauhnya dari tempat ia semula melakukan penyerangan tadi!

Orang banyak jadi bertampik sorak dengan riuh 29 sekali.

Mereka sama sekali tak menyangka, kalau orang itu bisa merobohkan Poan Thian dalam tempo hanya sekejapan saja lamanya!

Tetapi Poan Thian yang lekas insyaf akan kekeliruannya, bukan saja tidak jadi gusar mengalami kekalahan itu, malah sebaliknya lekas berbangkit dan membungkukkan badan memberi hormat pada orang itu sambil berkata.

"Tuan, nyatalah bahwa aku ini ada seorang yang tak bisa mengenali seorang pandai, hingga jikalau kau tidak memberikan sedikit pengunjukkan ini, niscaya aku akan tetap buta buat menganggap bahwa diri sendiri "

Thian He Tee It", paling jago dan tidak ada lawannya di kolong langit ini!"

"Itu di muka adalah rumahku sendiri,"

Poan Thian melanjutkan omongannya.

"sudikah kiranya tuan mampir sebentar buat beromong-omong dan memberikan sedikit petunjuk berharga kepada diriku yang bodoh ini?"

Orang itu nampaknya tidak berkeberatan buat mengabulkan permintaan pemuda itu.

"Aku yang rendah bernama Lie Kok Ciang,"

Begitulah Poan Thian perkenalkan dirinya sendiri.

"Tetapi belum tahu apakah aku punya itu kehormatan akan mengetahui she dan nama tuan yang mulia?"

"Aku bernama Hoa In Liong,"

Menerangkan orang yang ditanya itu.

Poan Thian jadi girang dan lalu dengan berpimpin tangan ia mengajak sahabat baru itu akan berkunjung ke rumahnya.

Di sana In Liong telah diperkenalkan pada ayahnya Lie Poan Thian, yang telah menanyakan she, nama dan asal usulnya.

30 In Liong terangkan she dan namanya sendiri, tetapi tampak agak berkeberatan akan menerangkan asal usulnya.

Maka Tek Hoat yang seolah-olah telah dapat membaca pikiran tetamunya, lalu kesampingkan pertanyaan itu dengan pura-pura menanyakan.

"Tahun ini Cong-su masuk umur berapa?"

"Tigapuluh tahun,"

Sahut In Liong dengan pendek.

Kemudian Tek Hoat perintah orang-orang sebawahannya akan menyajikan makanan dan minuman yang paling baik untuk menjamu kepada tamu yang baru datang itu.

In Liong kelihatan agak see-jie (sungkan), tetapi Poan Thian lalu mendesak supaya ia suka duduk makan minum dahulu, pada sebelum mereka mengobrol lebih jauh.

"Kita semua adalah orang-orang sendiri,"

Tek Hoat bantu membujuk.

"buat apakah mesti berlaku sungkan?"

In Liong apa boleh buat meluluskan juga ajakan itu dan menyampaikan terima kasihnya.

Pada waktu mereka duduk makan minum, Poan Thian telah membicarakan banyak sekali tentang soalsoal yang bersangkut paut dengan ilmu silat.

"Ciang-jie (dimaksudkan Kok Ciang) telah beberapa lamanya meyakinkan ilmu silat,"

Kata Tek Hoat pula sambil bersenyum.

"tetapi hasilnya ternyata sangat menyedihkan."

"Meyakinkan ilmu silat itu memang meminta sangat banyak tempo, keuletan dan kesabaran,"

Kata Hoa In Liong.

"Banyak sekali orang yang meyakinkan ilmu itu telah jadi kandas karena kekurangan keuletan, takut 31 capai dan ingin lekas pandai. Oleh sebab itu, boleh dikata sudah bagus kalau ia kandas setengah jalan dengan tidak menderita kerugian apa-apa. Yang paling celaka adalah orang yang memaksakan diri sampai melewati batas, hingga oleh karenanya ia telah mendapat celaka atas perbuatannya sendiri. Badan rusak dan peryakinannya pun terbang sia-sia, itulah yang dinamakan menyedihkan, tetapi bukan sebagai keyakinan yang diperbuat saudara Kok Ciang ini, harap Loo-pek jangan salah paham."

Tek Hoat tertawa waktu mendengar omongan itu.

"Justeru karena aku sendiri hampir mirip dengan keadaan orang yang kau tuturkan itu,"

Poan Thian menyampuri berbicara.

"maka aku mohon supaya sudilah kiranya tuan memberikan pengunjukan-pengunjukan untuk memperbaiki cacat-cacatku itu. Aku ini memanglah sesungguhnya sangat ingin lekas pandai, lekas paham untuk mempergunakan segara macam ilmu pukulan yang aku praktekkan setiap hari. Tetapi karena pada beberapa waktu ini aku tidak mempunyai guru untuk memimpin dan menilik pelajaran silatku, maka aku bermaksud mengundang tuan akan menjadi guruku. Cuma belum tahu apakah tuan sudi meluluskan atau tidak permintaanku ini?"

In Liong tersenyum sambil kemudian berkata.

"Saudara, dalam hal ini aku sangat menyesal tidak dapat memenuhkan permintaanmu. Karena selain aku sedang melakukan tugas yang diberikan oleh guruku, ilmu silatku pun masih mentah-mateng dan belum mempunyai kecakapan buat mengajar pada orang lain. Maka buat tidak mensia-siakan pengharapanmu yang begitu sungguh-sungguh, aku bersedia buat memperkenalkan kau kepada guruku Kak Seng Siang-jin, Lo-suhu di 32 kelenteng Liong-tam-sie. Tetapi kau harus berjanji akan tidak menyebut-nyebut namaku di hadapannya, karena aku bisa digusari oleh karena berani berlaku lancang memperkenalkan dirinya kepada orang lain. Beliau ini adalah seorang tua yang tabiatnya agak luar biasa. Beliau tidak sembarangan menerima orang sebagai muridnya, maka dari itu muridnya pun tidak banyak. Beliau terlalu cerewet dalam hal memilih murid."

Tek Hoat mengangguk-angguk dengan tidak bicara barang sepatah katapun.

Tetapi Poan Thian yang mendengar keterangan begitu, sebaliknya jadi semakin bernapsu buat berguru pada gurunya Hoa In Liong yang dikatakan bertabiat aneh itu.

"Belum tahu apakah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh setiap orang yang hendak berguru kepada beliau itu?"

Tanya Lie Poan Thian dengan laku sungguhsungguh.

"Aku percaya tuan yang pernah berdiam lama di kelenteng Liong-tam-sie, tentulah mengetahui syaratsyaratnya itu."

Tetapi Hoa In Liong yang tidak mengerti maksud Lie Poan Thian, sudah tentu saja jadi heran dan balik bertanya.

"Saudara, pertanyaanmu itu sungguh mengherankan hatiku. Syarat-syarat apakah itu yang hendak kau minta keterangan dariku?"

Poan Thian yang merasa telah kelepasan omong, sudah tentu saja jadi gugup dan menjawab.

"Maafkanlah padaku, saudara. Yang aku maksudkan dengan katakata "syarat-syarat"

Itu, ialah selain syarat yang harus dipenuhi oleh setiap orang yang hendak minta berguru, juga berapakah setiap murid diharuskan membayar sebagai ongkos belajarnya?"

Mendengar omongan itu, wajahnya Hoa In Liong 33 mendadak jadi merah.

Ia kelihatan kurang senang dengan pertanyaan itu, yang mana dengan cara tegas dapat dilihat oleh Poan Thian dan ayahnya.

Tetapi akhirnya ia terpaksa bersenyum getir dan menjawab.

"Saudara! Pertanyaanmu itu sebenarnya merupakan suatu hinaan bagi nama baik guruku di Liong-tam-sie. Tetapi karena mengingat bahwa semua ini telah terjadi bukan karena disengaja, maka aku hendak memperingatkan supaya selanjutnya kau jangan menyebut-nyebut pula soal pembayaran. Guru kami betul bukan orang beruang, tetapi kami percaya beliau bukan seorang yang terlalu kemaruk dengan harta dunia! Beliau menerima murid dengan tidak mengharapkan pembayaran apa-apa. Barang siapa yang dianggap mempunyai bakat baik dan herharga buat dididik dengan mudah lantas diterima, tetapi barang siapa yang ternyata tidak berharga mendapat perhatiannya meski dia membawa "

Uang pembayaran"

Bergudang-gudang sekalipun, niscaya akan ditolaknya dengan secara getas!

Itulah syarat yang terutama buat orang berguru pada Kak Seng Siang-jin Lo-suhu, yang sama sekali tidak menitik beratkan pengajaran karena keuangan!"

Tek Hoat dan Poan Thian jadi terperanjat melihat In Liong menjadi gusar mendengar pertanyaan tadi. Buruburu mereka berbangkit dan meminta maaf atas kekeliruan dan kelancangan bicara itu.

"Ya, ya, itu aku mau percaya. Saudara Kok Ciang ini tadinya tentu menyangka, bahwa guruku itu boleh dipersamakan dengan guru-guru silat lain, yang mau mengajar silat apabila mendapat pembayaran baik. Hal ini aku harus maafkan, berhubung ia belum mengenal banyak tentang orang-orang pandai yang berkeliaran di kalangan Kang-ouw. Selain daripada itu, aku mohon 34 tanya, dahulu saudara Kok Ciang pernah berguru dengan siapa?"

Poan Thian lalu tuturkan lelakon ia berguru dengan An Chun San, dari bermula sehingga guru itu mabur setelah kena dirobohkan olehnya.

"Kalau begitu,"

Kata Hoa In Liong.

"teranglah sudah, bahwa gurumu itu bukan seorang guru silat yang baik. Aku bukan mencela orang karena menganggap diri sendiri lebih pandai daripada orang lain. Aku bukan menghinakan kepadanya ataupun kepada dirimu sendiri. Dalam hal ini rasanya aku tidak perlu berlaku see-jie buat mengeritik untuk kebaikanmu sendiri, juga tidak perlu kau merasa tersinggung oleh karenanya."

"Itu betul, itu betul,"

Menyambungi Tek Hoat.

"Touwgouw-ok-cia, sie-gouw-su. barang siapa yang menegur kesalahan kita, orang itulah guru kita. Harap Cong-su tidak usah merasa sungkan buat mengajukan keritik apaapa yang baik."

Sementara Hoa In Liong yang diberikan kesempatan untuk menyatakan pikirannya terhadap ilmu silat yang dipelajari Poan Thian dari An Chun San, dengan sabar lalu mulai membentangkan beberapa banyak kekeliruan tentang gerakan ilmu silat yang ia telah saksikan dipergunakan oleh Poan Thian ketika tadi ia menyerang kepadanya.

"Beruntung juga saudara Kok Ciang belum belajar terlalu lama di bawah pimpinannya An Chun San,"

Ia melanjutkan.

"hingga dengan begitu masih tidak begitu sukar untuk memperbaiki apa-apa yang telah keliru dipelajarinya."

Disamping mengunjukkan bagian-bagian yang keliru dalam pelajaran-pelajaran yang Poan Thian telah pelajari 35 dari An Chun San itu, In Liong pun tidak lupa memberikan petunjuk-petunjuk cara bagaimana Poan Thian harus merubah kekeliruan-kekeliruan itu sehingga jadi benar dan dapat dipergunakan sebaik-baiknya.

"Dari hal kau suka mencipta ilmu-ilmu pukulan baru dari apa yang memangnya sudah ada,"

In Liong kata pula.

"itu sudah tentu saja ada juga kebaikannya, tetapi cara itu bukannya mesti dilakukan olehmu sekarang, dimana ilmu kepandaianmu masih belum cukup mateng. Karena dengan mengambil cara yang melampaui kemampuanmu itu, dikuatir cara penciptaanmu itu akan jadi lebih kacau dan tidak keruan macam, sehingga itu lebih banyak mendatangkan kerugian daripada keuntungan yang diharapkan olehmu dari di muka."

"Itu betul, itu betul,"

Menimbrung Tek Hoat, walaupun ia kurang mengerti kemana maksudnya omongan itu.

Poan Thian jadi sangat berterima kasih atas pengunjukan-pengunjukan berharga dari Hoa In Liong, yang telah membentangkan semua itu dengan sejujurjujurnya.

Maka buat melaksanakan bakat baik yang dipunyai oleh si pemuda itu, In Liong memberi nasehat supaya sedapat mungkin Poan Thian berangkat ke kelenteng Liong-tam-sie, buat coba berguru pada Kak Seng Siangjin yang menjadi kepala kelenteng tersebut.

Poan Thian berjanji akan berbuat begitu, tetapi Tek Hoat merasa tidak mufakat, walaupun ia tidak menyatakan itu dengan secara terang-terangan.

Orang tua ini tampaknya berkeberatan, akan anaknya belajar ilmu silat di suatu tempat yang terpisah dari rumahnya sendiri, tetapi buat melarang dengan kekerasan di hadapan tamunya, iapun merasa sungkan dan tak 36 berani.

Begitulah tatkala matahari hampir selam ke barat In Liong lalu pamitan pada Tek Hoat dan Poan Thian sambil berkata.

"Hari untuk kita saling bertemu masih banyak, tetapi sekarang kiranya sudah cukup kita mengobrol sampai di sini saja dahulu."

Tek Hoat dan Poan Thian coba menahan supaya ia suka berdiam di rumah mereka sampai beberapa hari lamanya, tetapi In Liong cuma bisa menyatakan menyesalnya, tidak dapat mengabulkan permintaan mereka itu, berhubung ia masih ada urusan penting yang katanya perlu diurus selekasnya.

Maka disamping mengucapkan diperbanyak terima kasih atas kebaikannya kedua orang ayah dan anak itu, iapun tidak lupa bantu berdoa, agar supaya Poan Thian bisa diterima sebagai murid oleh Kak Seng Siang-jin di Liong-tam-sie.

Dan jikalau di suatu tahun ia kembali lagi dan mengunjungi mereka, ia percaya akan dapat menjumpai Poan Thian dengan sudah menjadi salah seorang ahli silat yang pandai dan termasyhur di kalangan Kang-ouw.

Pujian itu telah membikin Poan Thian jadi semakin besar hati dan bernapsu akan berguru pada Kak Seng Siang-jin di Liong-tam-sie.

Tetapi sebegitu lekas In Liong berlalu, Tek Hoat lalu menyatakan ketidak setujuannya akan sang anak mempelajari ilmu silat di Liong-tam-sie.

Karena jikalau semula ia telah mengundang An Chun San untuk mengajari ilmu silat kepadanya, bukanlah mengingini supaya Poan Thian menjadi ahli silat yang jempolan, hanyalah sekedar buat melatih diri sang anak sehingga menjadi seorang yang kuat dan sehat.

Maka setelah sekarang ia berhasil memperoleh kesehatan dan 37 kekuatan yang diharapkan itu, perlu apakah mesti capaikan hati lagi untuk memperdalam ilmu itu dengan meninggalkan rumah tangga sendiri?

Tetapi Poan Thian tetap pada pendiriannya dan hendak pergi juga, hingga kedua orang ayah anak itu akhirnya jadi bercekcokan dan berdeging untuk membelakan pendirian masing-masing.

Syukur juga selagi percekcokan itu hampir sampai di puncaknya ketegangan, tiba-tiba ada seorang tetamu yang datang berkunjung dan lalu memisahkan kepada mereka sambil berkata.

"Sabar, sabar! Kamu berdua ada soal apakah sehingga mesti bercekcokan satu sama lain?"

Tek Hoat merasa tidak enak buat bercekcokan lebih jauh dengan anaknya sendiri, karena orang yang baru datang itupun bukan lain daripada sahabat karibnya sendiri Cek Kong Giok, yang telah sekian tahun lamanya tidak tahu bertemu.

Maka orang tua itu yang melihat kunjungan sahabatnya yang sangat sekonyong-konyong itu sudah tentu saja lantas mengunjukkan roman yang girang sekali dan berkata.

"Eh, eh, angin manakah ini yang telah meniup kau datang ke Cee-lam?"

"Itulah sebab aku dari kejauhan telah petang-petangi akan menonton pertunjukkan bapak dan anak berebut pepesan kosong!"

Kata Cek Kong Giok sambil tertawa terbahak-bahak.

Sementara Tek Hoat yang kenal baik Kong Giok seperti saudara sekandung, bukan saja tidak menjadi gusar malah sebaliknya lantas jabat tangan sang sahabat buat dipersilahkan duduk.

38 Kemudian ia panggil Poan Thian buat memberi hormat pada Kong Giok yang memang dikenal baik oleh segenap keluarga Lie.

"Kau ini memang sedari masih anak-anak mempunyai kenakalan seperti Sun Go Kong,"

Kata Kong Giok pada pemuda itu sambil tertawa.

"Belum tahu hari ini ada soal apa yang telah membikin kau mengacau di Keraton Langit?" (Kong Giok yang suka memain sering menamakan Tek Hoat. Lie Thian-ong, karena pada dahi orang tua itu tampak bekas luka yang hampir menyerupai sebuah mata tambahan seperti matanya Tok-tha Lie Thian-ong yang ada tiga buah. Sedang Tek Hoat membalas "memoyoki"

Kong Giok. Bie Lek Hud, berhubung perawakannya Kong Giok tromok dan suka tertawa). Poan Thian jadi tertawa geli, karena dengan tiada angin atau hujan mendadak telah dinaikkan "pangkat"

Dengan gelaran Sun Gouw Kong. Kemudian ia tuturkan apa sebabnya ia telah bercekcok tadi.

"Ah, itulah ternyata ada suatu perkara kecil saja,"

Kata Cek Kong Giok.

"buat apakah mesti tarik urat sampai begitu? Engkau sebagai anak sebenarnya tidak patut berbantahan kepada perintah orang tua. Engkau belum kenal banyak tentang asam garam dunia, sehingga engkau belum bisa menjajaki bagaimana kesukarannya orang memelihara dan mendidik anak sebagai ayahmu ini. Ia sebenarnya sangat mencintai kau, maka dari itu ia kuatir kau mendapat kesusahan apa-apa jikalau mesti berdiam jauh dari rumah sendiri."

"Itu benar, itu benar,"

Mencampuri Tek Hoat.

"tetapi dia tak mau dengar omonganku. Dia mau bawa kehendaknya sendiri!" 39 "Bukan begitu,"

Akhirnya Poan Thian pun mencampuri bicara juga.

"bukan aku hendak membantah perintah orang tua. Aku cintai ayahku lebih besar daripada diriku sendiri. Tetapi orang jangan lupa, bahwa jaman pemerintahan Boan-ciu sekarang ini agak berlainan dengan pemerintah-pemerintah di jaman lalu. Aku bukan ahli nujum atau seorang yang pandai melihat gelagat, tetapi kenyataan mengunjukkan tegas sekali, bahwa barang siapa yang hidup di jaman ini dengan berada di pihak lemah, tidak mustahil ia akan ditindas oleh pihak yang kuat. Oleh sebab itu, aku telah mengambil suatu ketetapan untuk menjadikan diriku seorang kuat yang tak akan menyerah mentah-mentah ditindas orang! Sie-siok ada seorang yang sudah kenyang mencicipi asam garam dunia, maka dari itu tentu bisa menimbang dengan sebaik-baiknya omonganku ini."

Tetapi Tek Hoat lantas membantah dengan mengatakan.

"Salah, salah! Itu aku tidak mufakat. Kita orang baik-baik selalu memperlakukan orang lain dengan baik pula, cara bagaimanakah orang bisa menindas pada kita? Kau jangan lupa, bahwa di atas kita masih ada Thian yang melindungi kita, sedangkan di muka bumi ada pengadilan negeri yang akan menjamin dan mengurus urusan kita, apabila nanti kita sampai ditindas atau diperlakukan sewenang-wenang oleh orang lain!"

Mendengar omongan ini, Poan Thian jadi tersenyum. Tetapi pada sebelum ia membuka mulut buat membantah omongan itu, Kong Giok telah menyelak sambil berkata.

"Sudah, sudah, tidak perlu memperdebatkan segala urusan yang tiada herguna. Sekarang hanya ada satu pertanyaan yang aku hendak ajukan kepada Lauw-hia," (sambil menoleh pada Tek Hoat).

"apakah kiranya kau mufakat, apabila aku sendiri 40 yang mengantarkan Kok Ciang sampai di Liong-tam?"

Tek Hoat tarik muka kecut.

"Apakah kau sendiri memang tidak ada urusan apaapa, sehingga kau merasa perlu buat mengantarkan sendiri kepadanya ke sana? Kukuatir hal itu akan membuang waktumu dengan sia-sia."

Kong Giok mengerti, bahwa anjurannya itu tidak disetujui oleh Tek Hoat, tetapi ia sengaja berpura-pura tidak tahu dan menjawab.

"Itu tidak mengapa. Karena aku sendiri yang memang hendak pergi ke Cong-ciu, sekalian akan lewat juga di Liong-tam, di mana kelenteng itu terletak."

Tek Hoat tinggal membungkam saja, mengatakan "ya"

Atau "tidak"

Atas tawaran itu. tidak "Lauw-hia harus pikir baik-baik,"

Kata Kong Giok pula.

"Anak laki-laki itu tidak perlu dipingit seperti anak-anak perempuan, karena cara itu cuma akan bikin dia bodoh dan cupat pikiran. Aku sendiripun punya seorang anak laki, satu-satunya seperti Giok Ciang ini, tetapi aku tidak suruh dia "

Ngerem"

Di rumah, hanya kuanjurkan dia akan chut-gwa (merantau) dan berusaha di mana-mana, biar dia bisa rasakan bagaimana susah-payahnya orang mencari nafkah.

Karena disamping dia bisa berusaha dengan tiada mengandalkan terus tenaga orang tua, diapun bisa juga luaskan pemandangan dengan memperhatikan seluk-beluk penghidupan di tempattempat lain."

Sementara Poan Thian yang seolah-olah telah mendapat dorongan baru dari pembicaraan Kong Giok ini, sudah tentu saja diam-diam jadi sangat girang dan berkata dalam hati.

"Nah, kalau dilihat begini gelagatnya, nyatalah maksudku akan berguru pada Kak Seng Siang41 jin bakal bisa kesampaian juga."

"Kau ini si Bie Lek Hud memang pandai mengacau urusan!"

Kata Tek Hoat sambil menuding-nuding pada sahabatnya. Tetapi Kong Giok anggap sepi semua dampratan itu. Kemudian ia menoleh pada Poan Thian sambil, berkata.

"Hei, Ciang, mengapakah kau tinggal melongo saja dan tidak lekas pergi berkemas-kemas untuk berangkat ke Liong-tam besok?"

Poan Thian tampak tersenyum girang.

Tetapi buat tidak membelakangi kepada orang tua sendiri, ia tidak lupa akan meminta juga perkenan ayahnya, hingga Tek Hoat yang merasa tidak bisa menghalangi lebih jauh kehendak sang anak yang begitu sungguh-sungguh, dengan apa boleh buat telah mengabulkan juga sambil menggerutu.

"Dasar tidak boleh diurus orang! Pergilah kau kasih tahu pada ibumu."

Dan tatkala Poan Thian telah berlalu, Tek Hoat kembali telah menuding-nuding pada si tromok dan mengomel panjang pendek.

"Kau ini kelewat usil mulut!"

Katanya.

"Barusan sebenarnya aku sudah mau mengucapkan terimakasih kepadamu, karena kau telah mengajari supaya Ciang-jie jangan membantah kemauan orang tua, tetapi tidak kira buntutnya omonganmu jadi berbalik lain daripada apa yang aku harapkan. Bukannya pegang teguh pendirianmu, mendadak sontak kau menganjurkan dia pergi juga. Belum tahu ada hal apa sih yang bikin kau jadi berpikiran bolak-balik begitu rupa?"

Kong Giok tertawa.

"Dari tadi pun aku sudah lihat tegas, bahwa Giok Ciang yang keras kepala ini sukar digertak dengan segala omongan yang bersifat mengancam. Buktinya kau bisa saksikan sendiri, ketika 42 kau mengatakan apa-apa yang bermaksud melarang ia pergi, ia lantas memberikan segala alasan dengan sekenanya saja. Aku percaya jikalau aku juga memihak padamu dan melarang ia pergi, ia akan mabur dari sini buat bisa melaksanakan kehendaknya. Maka daripada ia mabur dengan secara diam-diam, kukira lebih baik kau berlaku sedikit lunak dan perkenankan kepadanya akan berguru ilmu silat di Liong-tam-sie. Karena selain letaknya Liong-tam tidak terlalu jauh dari sini, di kelenteng itu pun dia tentu mendapat penilikan yang baik dari guru dan kawan-kawannya. Buat apakah mesti jadi ribut mulut dengan anak kecil oleh karena urusan sebegitu?"

Tek Hoat pikir omongan itu memang ada juga kebenarannya, maka hatinya yang tadinya mendongkol jadi berkurang banyak oleh karenanya.

Keesokan harinya di waktu Poan Thian tengah berdandan dan menyediakan segala keperluan yang hendak dibawanya, Tek Hoat dan Kong Giok telah menantikan di halaman pertengahan sambil mengobrol dan minum air teh.

"Kepergianmu ini ke Cong-ciu,"

Tek Hoat bertanya.

"apakah berhubung dengan urusan dagang atau keperluan-keperluan lain?"

"Yang pertama memang berhubungan dengan urusan dagang,"

Sahut Kong Giok.

"tetapi aku pikir hendak sekalian menyambangi kawan dan sahabat di saban kota yang aku lewati. Kalau tidak begitu, dimanakah aku mau melewat ke Liong-tam?"

"Kalau begitu,"

Kata Tek Hoat.

"tolonglah kau sampaikan salamku pada kawan-kawan kita, kepada siapa kita memang mempunyai perhubungan yang baik." 43 Cek Kong Giok berjanji akan berbuat begitu. Tatkala seorang bujang keluar memberitahukan bahwa makanan sudah disajikan, Tek Hoat undang sahabat itu dahar dahulu pada sebelumnya berangkat. Sesudah dahar dan bermohon diri kepada Tek Hoat dan sekalian keluarganya, Kong Giok lalu ajak Poan Thian menuju ke Liong-tam dengan menunggang dua ekor kuda. Sesampainya di Liong-tam pada beberapa hari kemudian, barulah Kong Giok dan Poan Thian saling berpisahan, yang pertama melanjutkan perjalanannya ke Cong-ciu, sedang yang tersebut belakangan menuju ke Liong-tam-sie. Setelah menanyakan pada penduduk di situ, dimana letaknya kelenteng tersebut yang hendak ditujunya itu. Namanya kelenteng itu ternyata dikenal cukup baik oleh setiap orang, bahkan nama Kak Seng Siang-jin pun tidak asing pula bagi penduduk kota itu. Maka dengan adanya kegampangan-kegampangan ini, tidaklah heran kalau dalam waktu yang singkat Poan Thian telah dapat ketemukan kelenteng itu, dimana ternyata banyak dikunjungi orang, yang keluar masuk di situ buat memasang hio atau membayar kaul. Oleh sebab itu, keadaan di situ tidak berbeda dengan sebuah pasar kecil, dan ketika Poan Thian menanyakan pada salah seorang yang berjalan berpapasan dengannya, dimana tempat kediaman paderi kepala, orang itu lalu menunjuk ke sebuah ruangan sambil berkata.

"Tu, di sana. Apakah kau ini ada seorang yang baru pernah berkunjung ke sini?"

Poan Thian mengangguk sambil mengucapkan terima kasih, kemudian ia menuju ke ruangan yang 44 ditunjuk itu.

Di situ, karena melihat ada beberapa banyak orang yang duduk di bangku panjang, maka iapun lalu maju menghampiri, memberi hormat pada seorang yang berdekatan dan numpang duduk di dekatnya.

Tatkala orang-orang itu seorang demi seorang telah pada berlalu, tinggallah Poan Thian saja seorang diri yang duduk di situ.

Matahari sudah mulai silam ke barat, tetapi tidak tampak pula orang yang datang atau keluar menanyakan kepadanya.

Oleh karena kesal duduk sekian lamanya di situ, maka Poan Thian lalu letakkan pauw-hok yang dibawanya ke atas meja yang terdekat, sedang ia sendiri lalu berjalan mondar-mandir di halaman itu, untuk menghilangkan sedikit rasa kesalnya.

Tetapi setelah ditunggu-tunggu sampai hari petang, ternyata tidak juga tampak bayangannya barang satu manusia pun.

Bahkan di luaran hanya terdengar suara kutu-kutu saja yang memecah kesunyian di dalam kelenteng itu.

Poan Thian jadi heran dan tidak mengerti, apa sebab ia dijemur orang begitu rupa.

Padahal kunjungannya itu diketahui serta dilihat oleh setiap orang.

"Apakah barangkali aku disuruh menunggu dahulu beberapa saat lagi lamanya?"

Pikirnya ketika kemudian melihat beberapa orang paderi keluar memasang api lentera di serambi depan kelenteng.

Salah seorang antara paderi-paderi itu yang melihat Poan Thian berdiri di situ, lalu menghampiri sambil bertanya.

"Tuan, hari sudah hampir malam, tetapi 45 mengapakah tuan masih ada di sini?"

Poan Thian jadi kemekmek.

"Aku sedang menantikan paderi kepala,"

Sahutnya.

"Oh, kalau begitu,"

Kata sang paderi.

"bolehlah tuan menunggu saja dahulu."

Poan Thian mengucap terima kasih, kemudian ia duduk pula sambil menahan perutnya yang sudah mulai keruyukan minta diisi.

Beberapa jam kembali telah lewat.

Dan ketika paderi tadi balik kembali dan masih saja melihat Poan Thian menjublek di situ, ia segera menghampiri dan bertanya, apakah guru mereka belum juga memberikan perkenan akan ia masuk?

"Belum,"

Sahut Poan Thian.

"Apakah Lo-suhu ada di dalam?"

Paderi itu jadi heran. ,,Aku sungguh bisa mengerti apa maksudmu itu,"

Katanya.

"apakah barangkali kau belum memberi tahukan kepada paderi pengawas pintu, bahwa kau minta bertemu kepada guruku?"

Poan Thian menggelengkan kepalanya.

"Ti..... tidak,"

Sahutnya.

"Barusan aku melihat orang berkumpul di sini, dari itu, akupun lalu turut duduk di sini. Seorang demi seorang mereka masuk ke pintu sana," (sambil menunjuk pintu dihadapannya).

"tetapi tidak tampak seorang pun yang keluar kembali. Kukira aku mesti menunggu giliran di sini, maka aku menunggu dan menunggu. Sehingga hari sudah petang begini, belum juga ada orang memanggil masuk kepadaku."

Mendengar keterangan demikian sang paderi jadi 46 tertawa terbahak-bahak.

Kemudian ia memberitahukan bahwa di ruangan itu memang banyak orang yang menunggu giliran buat.....

menanyakan peruntungan atau perjodohan dengan jalan menarik ciam-sie, hingga Poan Thian jadi mengurut dada dan sesalkan kebodohan dirinya yang tidak mau menanyakan keterangan dari orang-orang yang berkumpul sehingga kejadian ia "nongkrong"

Di situ tanpa gawe dan dengan perut keruyukan! "Tadinya kusangka bahwa orang-orang itu sedang menunggukan panggilan dari paderi kepala,"

Kata Poan Thian kebogehan.

"Tetapi lantaran sudah terlanjur menunggu sampai seharian, sudikah kau memberitahukan kepada Lo-suhu, bahwa aku, Lie Kok Ciang, orang dari Cee-lam, mohon berjumpa kepadanya?"

Paderi itu mengabulkan sambil mengerendeng.

"Kasihan."

Tidak antara lama ia telah kembali dan memberitahukan, bahwa guru mereka sedang bersemadi.

"Kalau nanti ia sudah selesai bersemadi,"

Menjanjikan paderi itu.

"tentulah aku beritahukan kepadanya tentang kunjunganmu ini. Harap kau suka bersabar beberapa saat lagi lamanya."

Poan Thian menurut.

Selama menunggu panggilan, ia terpaksa rebahan di bangku panjang buat menghilangkan rasa pegalnya.

Tidak lama tampak seorang paderi yang berusia agak lanjut, hingga Poan Thian yang menyangka bahwa paderi itu akan memanggil dia masuk, buru-buru berbangkit sambil bertanya.

"Suhu apakah Lo-suhu 47 sudah selesai bersamedi?"

Paderi itu tersenyum.

"Ah,"

Katanya.

"sekarang Lo-suhu sudah masuk tidur! Kalau kau ingin berjumpa, baiklah kau kembali lagi besok saja pagi-pagi."

Poan Thian jadi menghela napas.

Ia pikir, Kak Seng Siang-jin sekarang justeru ada di kelenteng dan tidak bepergian ke mana-mana, oleh sebab itu, tentu mudah dijumpainya.

Jikalau ia sampai keluar bepergian sehingga bertahun-tahun lamanya (seperti apa katanya Hoa In Liong), tentulah tidak ada harapan lagi untuk ia bisa berguru.

Oleh karena ia berpikir begitu maka ia lantas menjawab.

"Tidak apa. Aku tunggu di sini sampai Lo-suhu bangun tidur di hari esok."

"Ya, kalau begitu sih tinggal sukamu sendiri,"

Kata paderi itu sambil berlalu.

Selama rebahan di atas bangku panjang di halaman itu, Poan Thian jadi tidak mengerti mengapa pelayanan paderi-paderi di situ ada begitu buruk.

Dari pagi tadi ia belum makan atau minum, tetapi tiada seorangpun antara paderi-paderi di situ yang menawarkan ia makan atau minum.

Dan setelah sekarang ia menyatakan hendak melewati malam (bukan bermalam) di situ, juga tidak tampak seorangpun yang memberikan kamar buat ia tidur.

"Aku sungguh tidak mengerti, apakah maunya mereka itu?"

Poan Thian bertanya kepada diri sendiri, sambil mendengari suara perutnya yang berkeruyukan tidak henti-hentinya!

Lama-lama ia jadi kepulesan.

Kira-kira hampir fajar ia telah tersadar karena 48 mendengar suara berketupraknya sepatu di atas jubin.

Ia buka matanya sedikit, tetapi ia lantas pejamkan lagi, karena orang yang mendatangi tidak melalui halaman dimana ia rebah.

Sesaat kemudian barulah ia bangun dan pergi buang air kecil.

Di waktu kembali ke halaman itu, Poan Thian berpapasan dengan seorang paderi yang ia baru lihat romannya di seketika itu.

Buru-buru ia memberi hormat dan bertanya.

"Suhu, apakah Lo-suhu sudah bangun tidur?"

"Wah, nyatalah kau datang terlambat,"

Sahut paderi tersebut.

"Barusan saja ia keluar, tetapi tidak lama lagi ia tentu kembali, karena ia tidak meninggalkan pesan apaapa kepadaku. Harap kau suka bersabar sedikit akan menunggukan kepadanya di sini."

Mau tak mau, Poan Thian terpaksa mesti menunggu lagi, hanya tidak diketahui kapan Kak Seng Siang-jin akan kembali.

Mulutnya Poan Thian sudah dirasakan kering, karena sehari semalam lamanya tidak minum, badannya letih karena kelaparan.

Tetapi ia tahan semua penderitaan itu dengan tidak mengeluh barang sepatah katapun.

Kira-kira berselang seperempat jam lamanya, seorang paderi telah keluar menghampirinya dengan paras muka yang berseri-seri.

Poan Thian lekas memberi hormat dan bertanya.

"Apakah Lo-suhu telah kembali?"

"Ya,"

Sahut paderi yang ditanya itu.

"sekarang ia panggil kau akan datang menghadap."

Poan Thian jadi girang, dan dengan tindakan lebar ia mengikuti paderi itu masuk, ke halaman pertengahan 49 kelenteng.

Di situ, setelah melalui beberapa banyak pintu, akhirnya sampailah ia ke sebuah ruangan, dimana Poan Thian menampak seorang paderi tua tengah duduk bersila di atas ranjang untuk paderi-paderi, sepasang matanya dipejamkan.

Walaupun usianya paderi itu sudah lanjut, tetapi potongan badannya tinggal tetap tegap.

Sepasang halisnya yang panjang sudah tercampur sedikit uban.

Wajahnya yang angker dan lebar, ditimpali oleh sepasang daun telinga yang lebar pula, ia tidak berjanggut ataupun bermisai.

Hidungnya mancung, mulutnya agak lebar, sedang sembilan Kay-khong atau noda bunder bagaikan bekas luka yang tampak di kepala tiap-tiap paderi, tampak dengan tegas di kepala paderi itu yang agak besar.

Maka setelah ia diberitahukan bahwa paderi tua itu bukan lain daripada Kak Seng Siang-jin, Poan Thian buru-buru jatuhkan diri menjurah di atas jubin beberapa kali.

Dan tatkala Kak Seng Siang-jin membuka mata dan mengamat-amatinya, Poan Thian jadi terperanjat bagaikan orang yang terkena getaran listrik, hingga ini telah membikin ia hampir tak berani memandang lagi sorotan mata itu, kalau saja sang paderi tak mulai bertanya.

"Apakah kau ini bukan Lie Kok Ciang yang baru datang dari Cee-lam?"

Poan Thian membenarkan apa kata paderi tua itu.

"Apakah maksudnya kau datang mencari aku?"

Bertanya Kak Seng Siang-jin pula. Poan Thian lalu tuturkan dengan sejelas-jelasnya, maksud apa yang dikandung di dalam hatinya.

"Kau ini ternyata mempunyai kesabaran yang lumayan juga,"

Kata sang paderi sambil tersenyum sedikit.

"Jikalau kau memangnya sudah pernah 50 meyakinkan ilmu silat, cobalah tuturkan itu, berapa lama dan siapa gurumu?"

Poan Thian lalu tuturkan segala keterangan yang diminta, dengan mana Kak Seng Siang-jin kelihatan merasa puas.

"Tetapi ini bukan berarti bahwa aku lantas bisa terima kau sebagai murid,"

Kata paderi tua itu.

"Karena disamping kau harus bisa memenuhi segala peraturanku, aku harus tahu juga sampai dimana keuletan dan kerajinanmu buat belajar dengan menurut sistim yang aku biasa kasihkan kepada murid-muridku di sini. Lebih jauh karena kau di sini telah dua hari dan semalam menunggu-nunggu akan berjumpa denganku, maka aku percaya kau tentu merasa capai dan lelah. Sekarang pergilah kau istirahat dahulu, supaya nanti sore aku bisa periksa segala pelajaran yang telah kau pelajari dari An Chun San itu."

Poan Thian lalu menyoja sambil mengucapkan terima kasih.

Kemudian Kak Seng Siang-jin perintah seorang murid kecil akan pergi mengantarkan Poan Thian pergi tidur.

Sebagaimana di bagian atas telah dikatakan, Poan Thian yang sudah merasa sangat lelah, tentu saja jadi girang, dan lalu pergi mengikut pada murid kecil itu.

Dan sebegitu lekas ia dapat "mencium bantal" , dengan lantas ia tidur pules dengan amat nyenyaknya, hingga tahu-tahu ketika ia tersadar dari tidurnya, ternyata haripun sudah hampir senjakala.

Buru-buru ia bangun pergi mencuci muka dan menukar pakaian kemudian murid kecil tadi muncul dan persilahkan ia akan sama-sama dahar nasi.

Poan Thian mengucap banyak terima kasih atas kebaikannya kawan baru itu.

51 Begitulah sambil duduk dahar ber-sama-sama, mereka berdua beromong-omong dan saling menuturkan asal-usul masing-masing, sehingga kemudian datang ke kelenteng Liong-tam-sie itu.

Dari penuturan si murid kecil itu, Poan Thian mengetahui bahwa ia itu adalah seorang anak desa yang sudah tidak mempunyai ayah bunda lagi.

Sanak saudaranya tidak mau mengakui kepadanya, berhubung ia ditinggalkan mati oleh ayah-bundanya dalam keadaan sangat miskin.

Maka Kak Seng Siang-jin yang pada suatu hari kebetulan melalui desa itu dan dapat dengar kejadian ini, ia jadi merasa kasihan dan lalu ajak anak itu datang berdiam di Liong-tam-sie untuk diberikan didikan dan pelajaran sebagaimana mestinya.

"Semenjak aku datang ke sini,"

Kata si murid kecil itu.

"tidak sedikit orang-orang yang bernasib buruk sebagaiku telah diajaknya datang ke sini oleh Kak Seng Siang-jin Lo-siansu."

Tatkala Poan Thian menanyakan she dan namanya, murid kecil itu lalu menjawab, bahwa ia orang she Song bernama Yong, di kelenteng itu sudah berdiam dua tahun lamanya.

Poan Thian kelihatan girang sekali mendapat kawan yang begitu ramah-tamah.

Kemudian ia perkenalkan diri sendiri dan tuturkan apa sebab ia berkunjung ke Liongtam-sie, tetapi dalam pembicaraan itu sama sekali ia tidak menyebut-nyebut atas perantaraannya Hoa In Liong.

"Murid-murid Lo-siansu di sini tidak berapa banyak,"

Kata Song Yong.

"tetapi hampir semua terdiri dari ahli silat yang jarang bandingannya, terutama Hoa In Liong Suheng, yang ilmu kepandaiannya boleh dikatakan 52 nomor satu di antara murid-murid Lo-siansu yang ada di sini."

Poan Thian yang mendengar Song Yong menyebutnyebut namanya Hoa In Liong, diam-diam ia jadi girang dan lalu coba menanyakan tentang asal-usulnya orang she Hoa itu, tetapi Song Yong lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan berkata.

"Tentang itu aku tidak tahu-menahu. karena baikpun Lo-siansu ataupun In Liong Suheng sendiri tak pernah mengatakan apa-apa tentang asal-usulnya."

Poan Thian mengangguk-angguk sambil menggerakkan sumpitnya menyomot lauk-pauk yang disajikan di hadapannya.

"Guru kita di sini orangnya kelewat aneh,"

Kata Song Yong pula.

"Ia amat cerewet dalam hal menerima orang sebagai muridnya. Tetapi aku harus memberi selamat kepadamu, berhubung dengan banyak kemungkinan akan kau diterima olehnya. Karena barang siapa yang kiranya tidak bakal diterima sebagai murid, bukan saja tidak diperkenankan masuk ke halaman ini, tetapi dengan getas lantas diberitahukan bahwa dengan sangat menyesal ia tidak bisa diterima dengan alasan ini atau itu. Sementara orang-orang yang sudah diterima sebagai murid, bisa disembarang waktu diusir dari sini, apabila berani melanggar peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh Lo-siansu. Banyak sekali anak-anak hartawan dan orang-orang berpangkat berkunjung ke sini untuk berguru dengan membawa bingkisan-bingkisan yang berharga mahal, tetapi tiada seorangpun yang diterima. Bahkan anak-anak jembel yang dianggap mempunyai bakat baik, telah dibawa dan dididik oleh Losiansu di sini. Demikianlah perbedaannya cara penerimaan murid antara Lo-siansu dengan kebanyakan 53 ahli silat lain yang kudapat dengar dari orang lain."

Lie Poan Thian saban-saban mengangguk-angguk sambil turut menyatakan keheranannya dengan caranya sang paderi tua itu.

Sebegitu lekas mereka habis makan, Poan Thian lalu permisi pada Song Yong akan pergi mengunjungi Kak Seng Siang-jin.

"Kita sekarang telah menjadi saudara dari satu golongan,"

Kata Song Yong sambil bersenyum.

"Oleh sebab itu, anggaplah bahwa kita semua ada sama dan tidak perlu berlaku sungkan lagi."

Poan Thian mengucapkan terima kasih. Kemudian ia pergi menjumpai Kak Seng Siang-jin.

"Aku di sini baru saja hendak surukan orang buat panggil padamu, tetapi kau telah mendahului datang ke sini,"

Kata paderi tua itu, setelah melihat Poan Thian datang menghadap.

"Sekarang cobalah kau tuturkan dahulu segala pelajaran silat yang telah kau dapat pelajari dari An Chun San, setelah itu, barulah kau jalankan itu dalam praktek, untuk disaksikan olehku."

Lie Poan Thian menurut.

Mula-mula ia tuturkan hal-ihwalnya ia berguru pada An Chun San, sehingga guru silat itu mabur karena dirobohkan olehnya.

Kak Song Siang-jin berdiam sejurus, mendengari penuturannya Lie Poan Thian.

Kemudian ia perintah pemuda itu perlihatkan kepandaiannya.

Poan Thian menjawab.

"Menurut perintah,"

Sambil lantas bersilat menurut apa yang ia tahu. Tetapi pada sebelum ia selesai bersilat. Kak Seng 54 Siang-jin lalu memberi tanda supaya ia lantas berhenti.

"Sudah, sudah cukup,"

Katanya.

"Sekarang aku telah lihat dengan tegas, bahwa selama hampir dua tahun kau telah belajar silat dengan secara sia-sia saja, karena segala pelajaran yang kau pertunjukkan itu, tidak lebih tidak kurang daripada hoa-couw belaka, atau ilmu silat untuk pertunjukan. Bagus kelihatannya, tetapi hampir tak berguna akan dipakai bertempur. Dan jikalau kau bertempur dengan seorang yang lebih pandai daripada dirimu, kau bisa dapat celaka atau mudah dirobohkan dengan tak usah memakai terlalu banyak tenaga lagi. Karena dengan tenagamu yang kau keluarkan itu, sudah cukuplah akan bikin kau sendiri jatuh terpelanting. Hal mana aku bisa saksikan bagaimana tadi kau telah menggunakan beberapa macam ilmu pukulan, yang berhubung keliru dijalankannya, maka menerbitkan beberapa titik kelemahan yang seolah-olah membuka jalan untuk memudahkan orang lain merobohkan kepadamu. Maka setelah sekarang kau berada di sini, kau harus lupakan segala pelajaran itu dan memulai pula dengan menurut sistim yang aku telah tetapkan sendiri. Tetapi apabila kau tidak sanggup menuruti sistim pelajaran ini, kau harus selekasnya memberitahukan kepadaku, agar supaya kau jangan sampai menyesal akan mengikuti pelajaran-pelajaran yang begitu berat dengan tiada mendapat hasil begitu cepat sebagaimana yang kau harapkan."

Poan Thian berjanji akan mentaati segala peraturan itu, kemudian ia diperintah akan kembali dihari esok untuk menerima pelajaran yang pertama.

◄Y► 55 Enam tahun telah lalu dengan tidak terasa lagi.

Oleh karena berkat dari kerajinan dan keuletannya, yang dibarengi juga dengan didikan seorang ahli yang tinggi ilmu pengetahuannya seperti Kak Seng Siang-jin, Lie Poan Thian akhirnya telah berhasil menjadi salah seorang murid Kak Seng Siang-jin yang paling pandai, sementara pelajaran ilmu menendangnya boleh dikatakan hampir tiada bandingannya di antara kawankawan seperguruannya.

Maka paderi tua itu yang melihat keistimewaan muridnya ini, dengan sengaja telah menurunkan semua ilmu kepandaiannya yang paling terahasia dan belum pernah diketahui oleh murid-murid yang lainnya.

Dan tatkala semua ini telah dapat dipelajari Poan Thian sebaik-baiknya, pada suatu sore Kak Seng Siangjin telah menganjurkan akan si pemuda coba menciptakan sendiri ilmu pukulan di bawah penilikannya, agar supaya jikalau ada apa-apa yang keliru diciptakan atau dijalankannya dalam praktek, disembarang waktu bisa dikoreksi oleh sang guru itu dengan cara yang sempurna.

"Karena jikalau penciptaan-penciptaan baru dapat dilakukan sekarang olehmu,"

Kata sang guru.

"memanglah tidak lebih dari pantas dan justeru tepat benar pada waktunya, yaitu setelah kau dapat mempelajari semua pelajaranmu dengan sesempurnasempurnanya."

Oleh sebab Poan Thian bukan seorang yang suka menganggur, sudah tentu anjuran itu diterima dengan baik olehnya, maka dengan tiada menunggu lagi sampai dihari esok, pada sore itu juga Poan Thian lalu mulai menyempurnakan ilmu tendangan Sauw-tong-lian-hwantui, yang dahulu pernah dipergunakan olehnya di waktu 56 merobohkan An Chun San.

Ilmu tendangan ini setelah dipraktekkan beberapa minggu lamanya dengan ditilik oleh Kak Seng Siang-jin sendiri, ternyata hasilnya ada begitu memuaskan, hingga sebuah patok Bwee-hoa-chung yang dipendam di tanah sampai tiga-empat kaki dalamnya, dengan mudah dapat diruntuhkan oleh tendangan baru yang diciptakan oleh si pemuda.

Sedang sebuah pohon yang dahulu ia cuma bisa bikin terguncang dengan tendangannya, sekarang ia bisa robohkan dengan hanya sekali tendang saja!

Di waktu ia berjalan di tanah dengan kaki telanjang dan menyalurkan khi-kangnya ke arah telapak kaki itu, maka ke mana saja ia menindak, segera tampak bekas kaki yang tercetak di tanah sehingga beberapa dim dalamnya!

Sementara Kak Seng Siang-jin yang menyaksikan kemajuan Poan Thian yang begitu pesat dalam ilmu pelajarannya, sambil menepuk tangan lalu berkata.

"Nah, jikalau semua murid-muridku bisa mempunyai kerajinan dan keuletan belajar seperti ini, pengharapanku tidak menjadi sia-sia dalam hal mempertahankan nama baiknya kelenteng Liong-tam-sie kita ini. Karena biarpun aku di sini tidak mempunyai begitu banyak murid seperti orang lain, tetapi sudah puaslah hatiku dengan mempunyai beberapa murid-murid saja seperti In Liong dan Kok Ciang ini!"

Oleh karena kemajuan-kemajuannya ini, maka muridmurid lain pun menghormati dan mengindahkan pada Lie Poan Thian, dan mereka satu per satu telah datang menyatakan kegirangannya dan mengucapkan banyak selamat atas sukses yang diperoleh pemuda kita itu.

Tetapi Poan Thian tidak jadi sombong karena diuruk 57 pujian-pujian dari pihak guru dan kawan-kawan seperguruannya, karena telah lama ia insyaf, bahwa orang-orang gagah di dunia ini bukan hanya dia seorang diri saja.

Dari itu, selanjutnya ia tidak berani menganggap dirinya "Thian He Tee It"

Seperti dahulu pula.

◄Y► Pada suatu hari Poan Thian menerima sepucuk surat yang terkirim dari rumahnya di Cee-lam, dan ketika surat itu dibuka dan dibaca bunyinya, ternyata berisikan kabar mengejutkan tentang dirinya Tek Hoat yang telah dihinggapi penyakit sangat berat, hingga lantaran itu, Poan Thian diminta supaya selekasnya kembali ke Ceelam.

Pemuda itu jadi bingung dan lalu pergi memberitahukan hal ini kepada Kak Seng Siang-jin, yang setelah turut juga membaca bunyinya surat itu, lalu menganjurkan supaya Poan Thian lantas berangkat ke kota kelahirannya dihari itu juga.

"Ayahmu sekarang sudah berumur enampuluh tahun lebih dengan hanya mempunyai kau seorang anak saja,"

Kata sang guru, maka buat memenuhkan kewajiban seorang anak kepada orang tuanya, memang tidak lebih dari pantas jikalau kau segera pulang buat mengurus orang tuamu yang sakit keras itu."

Sementara Poan Thian yang pikirannya sedang kalut oleh karena mendapat kabar celaka itu, dengan air mata berlinang-linang dan suara gemetar lalu berkata.

"Suhu, sebenarnya murid tak akan meninggalkan kelenteng ini, pada sebelum ilmu kepandaianku mencapai kepada puncaknya kesempurnaan, tetapi karena keadaan yang begini memaksa, maka mau tak mau murid mesti kembali 58 dahulu ke rumahku buat beberapa waktu lamanya. Tetapi ini bukan berarti, bahwa murid meninggalkan pelajaran setengah jalan. Maka paling cepat tiga bulan atau paling lama setengah tahun, murid tentu akan balik kembali buat menerima lagi pelajaran-pelajaran dari Suhu seperti biasa."

Tetapi dengan wajah yang tenang Kak Seng Siang-jin lalu berkata.

"Dari hal kau akan kembali lagi atau tidak ke kelentengku di sini, itulah bukan soal yang perlu diributi sampai begitu. Karena walaupun kau tidak balik kembali juga, aku tidak kuatir lagi akan kau mengalami kesukaran di luaran. Hanya kalau di suatu waktu kau kebetulan melewat ke Liong-tam dan ada waktu terluang akan mampir ke sini, sudah tentu saja aku akan merasa girang dan menerima kedatanganmu dengan tangan terbuka."

Sesudah berkata begitu, Kak Seng Siang-jin lalu perintah seorang murid pelayannya buat mengambil sebuah bungkusan yang memang telah disediakan untuk diberikan kepada Poan Thian, kalau nanti ia berlalu dari kelenteng Liong-tam-sie.

"Isinya pauw-hok kecil ini,"

Kata sang guru.

"bukanlah terdiri dari emas atau perak, hanyalah beberapa macam senjata dan pakaian yang kau mungkin butuhkan dalam perantauanmu di kalangan Kang-ouw nanti. Pakaian yang ada di dalamnya, aku telah sengaja suruh orang bikin dengan menurut ukuran pakaianmu sendiri, dari itu, aku percaya tentu akan cocok dipakai olehmu."

Sambil berkata begitu, paderi tua itu lalu membuka pauw-hok tersebut buat diperlihatkan isinya kepada Lie Poan Thian.

"Segala macam senjata rahasia,"

Kata sang guru pula.

"aku sengaja berikuti di sini untuk memudahkanmu 59 jikalau nanti perlu dipakai, apalagi di waktu ada serangan mendadak yang bisa membikin orang jadi gugup. Tiokyap-piauw, Kim-chie-piauw, Liu-seng-piauw dan senjatasenjata rahasia lain, semua aku telah sediakan di sini. Ini Joan-pian,"

Ia menganjurkan pada sang murid.

"baiklah kau libatkan saja di pinggangmu supaya bisa lantas dipergunakan di waktu kesusu."

Poan Thian menurut dan lalu berbuat apa yang diperintah oleh gurunya.

"Pedang ini agaknya terlalu panjang buat disoren, maka baik kau simpan saja dan boleh dibawa kalau nanti kau berjalan di waktu malam. Sementara pakaian Yaheng-ie (pakaian untuk berjalan di waktu malam) yang ada di sini, kau jangan pakai jikalau bukannya terlalu perlu. Sepatu ini,"

Melanjutkan sang paderi.

"sebenarnya memakai pisau yang disembunyikan pada bagian ujungnya, yang jikalau ditendangkan, lalu bisa keluar akan melukai orang. Tetapi karena melihat tendanganmu yang begitu sempurna dan cukup berbahaya, maka aku pikir tidak perlu lagi akan sepatu ini dipasangi pisau lagi, oleh sebab itu, maka pisau itu aku lalu suruh orang singkirkan."

Lie Poan Thian menyoja sambil mengucapkan terima kasih.

"Lain hal lagi yang hendak kupesan kepadamu,"

Kata Kak Seng Siang-jin lebih jauh.

"adalah kau di luaran jangan berlaku sombong dan menganggap bahwa diri sendiri paling jempol, karena orang-orang pandai di dalam dunia ini sukar dihitung berapa banyaknya. Pergunakanlah ilmu kepandaianmu untuk bantu menenteramkan masyarakat daripada gangguangangguan segala cabang atas yang gemar memeras dan berlaku sewenang-wenang kepada sesamanya yang 60 lemah dan tidak berpengaruh. Orang hidup harus mempunyai banyak kawan, tetapi jangan lupa buat memilih serta dapat membedakan, kawan mana yang boleh dicampur atau tidak. Kin Cu Cia, Cek; Kin Bak Cia, Hek, Barang siapa yang mendekati cet merah, pastilah ia akan bernoda merah, dan barang siapa yang mendekati bak, ada kemungkinan ia akan kecipratan hitam. Demikianlah ujarnya pujangga di zaman dahulu. Setiap orang harus berlaku budiman, kalau saja keadaannya bisa mengijinkan, tetapi tiada salahnya akan orang berbuat apa yang dinamakan "Kouw-kat-ie" , (mementingkan diri sendiri), karena menurut pendapatku, tidak semua perbuatan kouw-kat-ie berarti salah, kalau saja dengan berbuat begitu, kita tidak merugikan kepada orang lain. Karena buat menolong diri sendiri, sudah tentu saja kita harus berdaya dengan sekuat tenaga kita, dan sama sekali bukannya mesti selalu mengandalkan kepada tenaga orang lain. Tetapi terhadap perbuatan kouw-kat-ie yang terutama biasa menguntungkan kepada diri sendiri dengan tiada memperdulikan kepada kerugian yang diderita oleh orang lain, itulah suatu perbuatan keji yang aku selalu menganjurkan buat kau atau siapapun akan bantu memberantasnya dengan sekuat-kuatnya tenaga."

Dengan ini, Poan Thian mengucapkan terima kasih.

kembali menyoja Setelah itu, Kak Seng Siang-jin lalu perintah supaya ia lekas berangkat ke Cee-lam dihari itu juga.

Maka dalam keadaan yang begitu kesusu dan sekonyong-konyong.

tentu saja Poan Thian tidak sempat banyak pikir lagi, hingga sebegitu lekas ia dahar, lalu ia 61 bawa pauw-hoknya yang dijadikan satu dengan pauwhok pemberian gurunya, kemudian barulah ia berpamitan pada guru dan kawan-kawannya.

Dari situ, dengan tindakan yang tergopoh-gopoh, ia telah meninggalkan kelenteng Liong-tam-sie yang dicintainya itu.

Begitulah dengan menyewa sebuah kereta yang ditarik oleh seekor kuda yang dapat berlari cepat, Poan Thian lalu berangkat ke Cee-lam.

Pada suatu hari ketika ia sampai di Cee-lam, haripun telah hampir senja.

Di jalan-jalan raya tampak penuh sesak dengan kereta-kereta, kendaraan-kendaraan lain, pedagang-pedagang yang memikul barang dagangan dan orang-orang yang kembali dari luar kota.

Maka karena kereta yang dinaiki Poan Thian tak dapat melanjutkan perjalanannya karena kudanya mogok apa boleh buat pemuda itu lalu turun di situ, membayar uang sewaannya dan kembali ke rumahnya dengan berjalan kaki, sambil menggendong pauw-hok di punggungnya.

Mula-mula Poan Thian masih bisa berjalan dengan tindakan cepat.

Akan tetapi ketika ia melalui pintu Soanhoa-mui dan membelok kelereng Cay-hong-kee yang agak sempit, ia jadi tercegat oleh lautan manusia yang seolah-olah membendung dan memperlambat perjalanannya.

Meskipun dia saban-saban memohon pada orang banyak akan diberikan sedikit lowongan akan melewat, tidak urung ia mesti berjalan juga dengan pelahan, berhubung mulut lorong di bagian sana masih berjejal banyak orang.

Dalam pada itu sekonyong-konyong kelihatan mendatangi empat orang berkuda yang juga hendak melalui lorong itu.

Pemimpin dari penunggang-penunggang kuda itu 62 adalah seorang yang berbadan tegap, beroman angker.

Ia kelihatan tidak sabaran melihat orang-orang yang berjalan seperti merayap itu.

Sambil duduk terus di atas punggung kudanya, ia menyerukan supaya orang banyak membuka sedikit jalan untuk ia dan pengawalpengawalnya lewat di situ.

Dan ketika seruan itu seolah-olah tidak dihiraukan orang, si pemimpin jadi marah-marah dan mengancam akan menubrukkan kudanya pada orang banyak, apabila mereka tidak juga suka memperhatikan atas peringatan itu.

"Jalanan di sini memangnya amat sempit,"

Begitulah terdengar suaranya seorang orang yang menyomel.

"oleh karena itu, mengapakah tidak mengambil jalan lain saja yang lebih lebar dan leluasa, sehingga di situ orang boleh kaburkan kudanya dengan sesenang hati?"

"Hus! Sudah, jangan banyak bicara,"

Kata seorang yang lainnya.

"Apakah kau tidak tahu, bahwa dia itu adalah Teng Yong Kwie, komandan dari tangsi Tokpiauw-eng? Dia inilah seorang yang berjasa besar dalam hal melakukan pembasmian terhadap kaum Pek-liankauw, sehingga ia sangat dipercaya oleh pihak atasannya."

Tetapi orang pertama yang tadi bicara itu lalu mengeluarkan suara jengekan dari lubang hidung sambil berkata.

"Hm! Apakah mentang-mentang dia berjasa besar, sehingga orang banyak harus takut padanya seperti harimau?"

Pemimpin itu rupanya mendengar comelan dan jengekan itu, tetapi ia tidak tahu siapa yang menyomelnya, maka sambil bercelingukan ke sana ke sini, kembali ia sengaja berseru buat minta orang banyak 63 membuka jalan untuk mereka lewat.

Sementara Lie Poan Thian yang mendengar suara kuda dan orang yang berseru, lalu menoleh ke belakang buat coba melihat, sehingga dengan tidak disengaja sorot matanya jadi kebentrok dengan sorot mata orang itu.

Tetapi selanjutnya Poan Thian tidak sempat menaruh perhatian terhadap orang yang ia sama sekali tidak kenal itu, berhubung pikirannya terlalu kalut memikirkan penyakit ayahnya sendiri.

Tidak kira selagi berdesakan di antara orang banyak akan melalui lorong itu, mendadak si pemuda telah dibikin kaget oleh kepala kuda yang membentur pauwhok yang digendongnya, hingga ketika ia coba menoleh ke belakang, si penunggang kuda jadi tertawa bergelakgelak, seolah-olah perbuatan itu telah dilakukannya dengan sengaja.

Hal mana sudah barang tentu telah membikin Poan Thian jadi mendongkol, tetapi syukur juga ia masih mempunyai kesabaran akan menghindarkan persetorian dengan penunggang kuda itu.

Tetapi ketika perbuatan itu diulangkan buat kedua kalinya, Poan Thian lantas menganggap, bahwa cara itu betul-betul sangat terlalu, hingga ini tak boleh dibiarkan begitu saja.

Maka sambil mendorong kepala kuda itu dengan tangan kirinya, Poan Thian lalu bertindak maju dan mengangkat dada binatang itu dengan tangan kanannya, hingga pada sebelum orang mengeluarkan suara teriakan, binatang itu berikut penunggangnya telah jatuh terbanting ke muka bumi, bagaikan sebuah bola yang dilemparkan orang ke tengah lapangan!

Setelah itu, Poan Thian yang kuatir terbit rusuh terlebih besar, lalu menggunakan siasat Yan-cu-coanliam, atau burung kepinis menerobos tirai bambu, 64 menyingkirkan diri dari situ dengan jalan melayang di atas kepalanya orang banyak yang berjejal di lorong sempit tersebut.

Oleh sebab ini, dalam tempo sekejapan saja ia telah menghilang di antara orang-orang yang jalan berduyun-duyun di sebelah depan perjalanannya.

Sementara si pemimpin yang telah ditolong oleh ketiga orang pengawalnya, buru-buru ia menyerukan kepada Lie Poan Thian sambil berkata.

"Hai sahabat! Siapakah she dan namamu? Dan di manakah tempat kediamanmu?"

Tetapi Poan Thian yang diserukannya telah tidak kelihatan lagi mata hidungnya, hingga pemimpin itu pun tidak tahu ke mana mesti mencarinya, di antara orang banyak yang berdesakan di lorong yang sempit itu.

◄Y► Tidak lama kemudian Poan Thian telah sampai di rumahnya sendiri.

Dari pertanyaan-pertanyaan mengenai penyakit orang tuanya, Poan Thian mendapat kesan bahwa Tek Hoat bukan sakit karena usianya telah lanjut, hanyalah karena jengkel ditipu orang, yang duduknya perkara bisa dituturkan dengan singkat sebagai berikut.

Sebagaimana para pembaca tentu belum lupa, Lie Tek Hoat ini adalah seorang pabrikan beras yang kaya raya, dan di kota Cee-lam ia membuka perusahaan tersebut dengan memakai merek penggilingan Eng Tiang Chun.

Pada beberapa waktu Tek Hoat menerima pesanan duaribu pikul gandum dari seorang saudagar bernama Ma-cu Lie, atau Lie si Bopeng, yang sebenarnya 65 mempunyai juga perusahaan penggilingan yang memakai merek Ban Seng Mo Hong.

Oleh karena Tek Hoat dan Ma-cu Lie mempunyai perhubungan yang baik sekali, maka kejadian pesanan gandum tadi telah disanggupi oleh Tek Hoat dengan tidak membikin surat perjanjian apa-apa.

Tek Hoat tidak mengetahui, bahwa hatinya si bopeng itu terlalu busuk, bahkan maksud yang benar daripada pesanan gandum tersebut, adalah semata-mata akan membikin perusahaan Tek Hoat jadi bangkrut dengan suatu muslihat keji yang telah dipikirkan oleh Ma-cu Lie sejak beberapa waktu lamanya.

Maka setelah gandum yang duaribu pikul itu telah tersedia, Ma-cu Lie lalu pura-pura mengatakan belum dapat membayar harga barang itu, dari itu ia minta supaya Tek Hoat simpan saja dahulu gandum itu di dalam gudangnya, sehingga nanti ia sudah mendapat cukup uang untuk menebusnya.

Tek Hoat mula-mula mau percaya omongan itu.

Tetapi setelah gandum itu hampir rusak dan belum juga diambil atau dibayar harganya, ia jadi hilang sabar dan lalu pergi mengunjungi Ma-cu Lie, yang olehnya dikatakan telah menipu serta diancam akan diadukan kepada pembesar yang berwajib, apabila si bopeng tidak juga mau membayar harganya gandum tersebut.

Tetapi hal ini dianggap sepi oleh Ma-cu Lie, karena ia mempunyai banyak hubungan dengan pembesarpembesar negeri dan kepala-kepala polisi bangsa Boan dan Tionghoa, hingga selain ancaman itu tidak dihiraukannya, malahan ia sendiri lantas balas menjengeki pada Tek Hoat dengan mengatakan.

"Aku sama sekali tidak berhutang kepadamu, seperti juga kau tidak berhutang kepadaku. Gandum yang ada padamu, 66 itulah tinggal tetap menjadi milikmu, lain perkara jikalau gandum itu aku sudah angkat dan tidak membayar harganya, itulah memang patut kau adukan aku pada pembesar yang berwajib. Maka jikalau gandum itu sampai rusak di tanganmu sendiri, itulah sudah tentu bukan karena salahku. Cara bagaimanakah kau boleh persalahkan lain orang!"

Tek Hoat jadi sangat mendongkol dan semenjak itu ia jatuh sakit, hingga ibunya Poan Thian jadi sangat masgul dan lalu perintahkan orang mengabarkan peristiwa ini kepada sang anak yang berdiam di kelenteng Liong-tamsie.

Maka setelah Poan Thian mengetahui jelas duduknya perkara yang benar, sudah tentu saja ia jadi sangat gusar dan sesumbar, bahwa ia akan membalas dendam atas perbuatannya Ma-cu Lie yang amat busuk itu.

Tetapi ibu dan sanak saudara Poan Thian yang kuatir pemuda kita akan mengambil tindakan nekat, lalu dengan sabar memberikan nasihat, agar supaya dia jangan terburu napsu mengambil tindakan apa-apa, pada sebelum mengetahui seluk beluknya keadaan pihak sana, apapula kalau diingat bahwa Ma-cu Lie ini bukannya seorang dari golongan terhormat.

"Asal mulanya dia bisa membuka perusahaan penggilingan sendiri,"

Menerangkan salah seorang keluarganya Lie Poan Thian.

"adalah dengan jalan mengeret gundik kawannya sendiri, yang setelah si kawan itu mati dan semua miliknya terjatuh ke dalam tangan si gundik itu, lalu si bopeng "

Tolong"

Uruskan harta benda orang, berikut nyonya rumahnya sekali dibuat isteri olehnya.

Itulah riwayat permulaannya si bopeng jadi jaya dan hidup beruntung sehingga sekarang ini.

Maka disamping ia bisa "tempel"

Pembesar yang berpengaruh, 67 ia pun memelihara beberapa banyak tukang pukul yang biasa mengiringi padanya di waktu ia bepergian."

"Menurut kabar yang aku dengar di luaran,"

Melanjutkan seorang keluarganya pula.

"si bopeng ini dulunya pernah juga menjadi guru silat. Tetapi belum tahu apakah kabar itu benar atau tidak?"

"Itu benar,"

Kata keluarga Poan Thian yang pertama bicara.

"tetapi bukan seorang guru silat kelas satu, hanyalah guru silat biasa yang berbuat begitu untuk mencari sesuap nasi."

Oleh karena mendengar keterangan begitu, maka Poan Thian jadi mendapat pikiran akan menerbitkan persetorian dengan Ma-cu Lie, sebagai tindakan pertama akan minta penggantian kerugian atas gandum yang telah dipesan tetapi telah sengaja tidak diambil olehnya buat kerugian ayahnya sendiri.

Maka setelah sekian lamanya mencari tahu kemana biasanya si bopeng itu berkunjung di waktu siang hari, lalu Poan Thian pun datang juga ke tempat yang sama untuk sengaja mencari setori.

Begitulah ketika ia mendengar kabar bahwa si bopeng sering mengunjungi kedai dan rumah makan Cay-hong-lauw, maka iapun lalu sengaja juga datang ke tempat itu dan sambil berjalan ia memakan kwa-cie.

Tatkala naik ke loteng dan dikasih tahu oleh seorang pelayan yang mana satu ada Ma-cu Lie yang hendak dicarinya, Poan Thian lalu berjalan menghampiri sambil menyemburkan kulit kwa-cie ke meja orang, hingga Macu Lie yang sedang asyik makan minum dengan ditemani oleh lima atau enam orang gundalnya jadi marah, karena perbuatan Poan Thian yang dianggapnya sangat kurang ajar itu.

68 "Engkau dan pihak kami baru saja pada hari ini saling bertemu muka,"

Membentak Ma-cu Lie.

"mengapa kau telah berani berlaku begitu kurang ajar akan mengganggu kegembiraan Toa-ya yang sedang duduk makan minum di sini? Apabila kau bermaksud baik, marilah kau boleh bicara baik, apabila kedatanganmu ini memang bermaksud kurang baik, bolehlah kau bicara dengan secara terus terang. Apakah perlunya kau mesti berlaku begitu jail menyembur-nyemburkan kulit kwa-cie ke meja kami?"

Tetapi Lie Poan Thian yang berpura-pura tidak mendengar atas teguran itu, lalu mencari meja yang kosong di hadapan meja Ma-cu Lie, dimana ia memanggil.

"Pelayan,"

Bawakan aku sepuluh kati arak dan beberapa kati daging sapi yang baik!"

Ma-cu Lie jadi semakin marah dan lalu berbangkit dari kursinya sambil menuding pada pemuda kita dan mendamprat.

"Binatang! Apakah barangkali kau tuli, hingga tak mendengar omonganku tadi?"

Poan Thian melirik sambil balas membentak.

"Tutup bacotmu! Aku tidak ada urusan dengan kau!"

"Tetapi mengapa kau barusan telah menyemburnyemburkan kulit kwa-cie ke mejaku?"

Kata Ma-cu Lie pula dengan amat marahnya.

"Terhadap orang lain kau boleh berlaku menurut sukamu, tetapi terhadap diriku kau boleh dengar-dengar dulu. Tahukah kau aku ini siapa?"

"Aku tahu!"

Sahut Poan Thian juga lalu bangun berdiri.

"Jawabanku cukup ringkas, tetapi juga sampai cukup akan diingat olehmu seumur hidup. Ini dia, terimalah!"

Berbareng dengan habisnya ucapan itu, Poan Thian lalu tempiling mukanya Ma-cu Lie sehingga jatuh meloso 69 di atas lantai, hingga lima atau enam orang gundalnya si bopeng yang menyaksikan kejadian itu, segera pada berlompatan bangun mengepung pemuda kita.

"Kamu sekalian tidak ada sangkut pautnya dengan urusanku,"

Kata Lie Poan Thian dengan suara nyaring.

"maka itu, paling betul kamu jangan mencampuri urusan ini. Jikalau sesudah diberitahukan masih saja kamu berkepala batu hendak membela pihak yang keliru dan jahat, kamu sekalian harus terima segala akibatnya yang akan terjadi!"

Tetapi gundal-gundal itu yang setia pada majikannya, dengan serentak lalu maju mengepung pada Lie Poan Thian, hingga pemuda kita lalu menggerakkan kaki tangannya buat meladeni bertempur beberapa orang lawan itu.

Begitulah perkelahian yang maha dahsyat telah terjadi dengan satu melawan enam orang!

Ketika Ma-cu Lie telah bisa berdiri pula dengan kepala masih dirasakan pusing karena tempilingan tadi, lalu membentak dengan keras, sambil menerjunkan diri ke dalam kalangan pertempuran, buat mengeroyok pemuda kita yang ia tidak kenali ada puteranya Lie Tek Hoat.

Tetapi Poan Thian tidak mengunjukkan rupa takut atau jerih akan menghadapi musuh-musuh yang hampir semua berbadan tinggi besar.

Kursi-kursi telah dipakai menyambit dan memukul pada Lie Poan Thian oleh Ma-cu Lie dan gundalnya, tetapi semua itu telah dapat dielakkan dengan jalan dikelit atau dijaga dengan kursi-kursi lain yang dapat ia sembat dari kiri-kanan.

70 Salah seorang gundalnya si bopeng yang berani maju paling dekat, telah dibikin terpental dengan satu tendangan, hingga selanjutnya ia kapok akan mendekati pula Lie Poan Thian, dan hanya menganjurkan kawankawan yang lainnya akan maju bertempur dari kejauhan saja.

Sementara itu Ma-cu Lie yang merasa bahwa iapun pernah menjadi seorang guru silat beberapa tahun lamanya, sudah tentu menjadi penasaran telah ditempiling oleh seorang yang usianya jauh lebih muda daripada dirinya sendiri.

Maka setelah mengasih perintah akan gundal-gundalnya mundur dari kalangan pertempuran, ia segera menindak maju sambil menantang Poan Thian akan berkelahi satu lawan satu.

Poan Thian terima baik tantangan itu.

"Kalau tadi kau menyatakan hendak bertanding satu lawan satu,"

Kata pemuda kita.

"pastilah kursi meja di sini tidak sampai mengalami kerusakan begini hebat. Tetapi hal ini biarlah kita nanti bicarakan lagi belakangan. Sekarang aku ingin bertanya kepadamu, kau hendak bertanding dengan cara apa?"

Ma-cu Lie tidak mengatakan "ba"

Atau "bu" , hanya segera maju menerjang dengan menggunakan siasat Beng-houw-kim-yo (harimau buas menerkam kambing), hingga Poan Thian yang melihat tangannya si bopeng menyamber ke arah dadanya, buru-buru ia miringkan sedikit badannya sambil memasang bee-sie setengah jongkok, tangan kirinya ia pergunakan buat menolak ke samping tangan si bopeng yang menjotos itu, sementara tangan kanannya lalu dipergunakan buat membikin terkesiap hatinya sang lawan.

Seketika itu jikalau Ma-cu Lie sedikit saja berlaku kurang teliti, pastilah siang-siang ia sudah jatuh kena tertendang oleh kakinya Poan Thian 71 yang menyapu ke arah kakinya dengan secara yang amat mendadak.

Maka setelah Poan Thian menyaksikan si bopeng dapat juga menghindarkan diri dari tendangannya, lalu ia mengganti siasat penyerangannya dengan gerakangerakan yang lebih cepat dan sukar diduga, antara mana ia telah pergunakan ilmu-ilmu tendangan Lian-hwan Coan-sim-tui, Sauw-tong-tui, dan lain-lain, dengan hanya sedikit menggunakan ilmu pukulan dengan tinju atau telapak tangan.

Si bopeng yang pengertian ilmu silatnya sangat terbatas, sudah tentu jadi kelabakan dan tidak lama kemudian ia telah kena ditendang oleh Lie Poan Thian sehingga meringkuk di atas lantai dengan memuntahkan banyak darah yang tampak cerecetan di sana-sini.

Kemudian sambil menoleh pada gundalnya Ma-cu Lie yang sedang sibuk menolong majikannya, Poan Thian lalu memperingatkan sambil berkata.

"Kamu sekalian harus mengerti, bahwa tindakan ini aku terpaksa ambil berhubung dengan kecurangan-kecurangan yang telah dilakukan majikanmu terhadap pada Lie Tek Hoa, pemilik penggilingan Eng Chun Tiang, hingga dengan begitu, ia menderita kerugian uang tigaribu tail dan gandum sejumlah duaribu limaratus pikul yang tidak dibayar biaya menggilingnya untuk dijadikan tepung. Maka jikalau sekarang aku tidak mau pukul majikanmu sehingga mati, itulah berarti aku masih suka mengampuni kepadanya, kalau saja kerugian-kerugian itu segera diganti berikut pembayaran rentenya sebagaimana mestinya. Jikalau peringatan ini tidak juga dihiraukan oleh majikanmu, terpaksa aku nanti mengambil tindakan yang mungkin juga akan menerbitkan perkara jiwa! Itulah ada peringatanku yang paling penghabisan, buat mana aku 72 tunggu pelunasan penggantian kerugian itu selama tiga hari ini di penggilingan Lie Tek Hoat yang tersebut tadi!"

Sementara gundal-gundal Ma-cu Lie yang sekarang telah ketahui dengan orang macam apa mereka berhadapan, diam-diam merasa "seram juga"

Dan berjanji akan sampaikan peringatan itu kepada majikan mereka, jikalau nanti tersadar dari pingsannya.

Maka Poan Thian yang telah mendapat kesanggupan begitu dari gundal-gundalnya si bopeng, iapun segera berlalulah dari loteng Cay-hong-lauw dengan tidak banyak bicara lagi.

Dan tatkala si pemuda telah tidak kelihatan pula bayangan-bayangannya, barulah gundal-gundal itu angkut majikannya, dibawa pulang ke rumah untuk diobati luka-lukanya bekas bertempur tadi.

Selagi Ma-cu Lie rebah di pembaringan sambil memikirkan nasibnya yang amat malang itu, mendadak ada seorang sahabatnya yang bernama Couw Siu Chun datang menyambangi kepadanya.

Sahabat ini sama sekali tidak mengetahui peristiwaperistiwa apa yang telah dialami oleh si bopeng tadi, maka seperti seorang sahabat karib yang biasa keluar masuk di rumah sahabat itu, ia lantas saja masuk dan menghampiri pada Ma-cu Lie yang berbaring sambil berselimut di atas pembaringannya.

"Eh, eh,"

Kata sahabat itu.

"apakah kau sakit?"

Si bopeng mengangguk sambil menjawab.

"Ya."

"Ini berarti bahwa kau terlalu banyak keluar malam,"

Kata Siu Chun sambil tertawa. Tetapi ia tak coba menggoda lebih jauh, ketika melihat banyak darah mengumpyang dalam tempolong yang diletakkan di 73 bawah kaki pembaringan.

"Ah, apakah kau muntah darah?"

Si bopeng kembali mengatakan apa-apa.

mengangguk, tetapi tidak Dengan menyaksikan keadaan sahabatnya disaat itu, Siu Chun yang sudah kenyang mencicipi asam garam dunia lantas menduga kalau-kalau Ma-cu Lie telah mengalami peristiwa apa-apa yang agak hebat.

"Tampaknya itulah darah yang keluar dari paru-paru,"

Katanya dengan rupa kaget.

"apakah barangkali kau telah bertempur dengan orang lain, sehingga kau telah dilukai begitu rupa?"

Ma-cu Lie membenarkan atas dugaan sahabatnya itu.

Kemudian ia menuturkan duduknya perkara dengan sengaja guna kebaikan dirinya sendiri, tetapi ia tidak menyebut-nyebut tentang gandumnya Lie Tek Hoat yang hendak "disikutnya".

"Astaga! Kalau begitu kau harus berobat pada seorang tabib yang pandai,"

Kata Siu Chun pula.

"Aku kenal seorang sahabat yang paham mengobati orang, seorang ahli silat tua yang sekarang sudah tak mau mengajar silat lagi dan menuntut penghidupan sebagai sin-she dalam ilmu obat-obatan. Dia itu seorang she Louw bernama Cu Leng, yang aku percaya kau juga tentu kenal namanya." ,,Apakah dia itu bukannya berumah tinggal di jalan Hu-tong-toa-kee di pintu kota timur?"

Tanya Ma-cu Lie.

"Benar, benar, dia memang berumah tinggal di situ,"

Sahut Siu Chun.

"Penyakitmu ini tampaknya agak berat juga, dari itu, perlu sekali segera diperiksa hari ini juga. 74 Maka jikalau sekiranya kau sudi, aku bersedia buat pergi mengantarkan kau ke rumah Louw Cu Leng itu."

Ma-cu Lie mengucap terima kasih atas kebaikannya si sahabat.

Kemudian ia perintah seorang gundalnya buat pergi menyewa kereta, dengan mana ia berangkat ke jalan Hu-tong-toa-kee dengan diantar oleh Couw Siu Chun.

Sesampainya di tempat yang dituju, Siu Chun lalu ajak si bopeng turun dan mengetok pintu beberapa kali.

Tatkala seorang bujang keluar dan menanyakan she, nama dan maksud kedatangan mereka, lalu ia persilahkan mereka menunggu di kamar tetamu, sedang ia sendiri lalu masuk memberitahukan kedatangan mereka kepada majikannya.

Setelah mereka menunggu beberapa saat lamanya, lalu muncul seorang tua yang janggut dan misainya sudah hampir putih semua, tetapi gerakan-gerakannya masih tetap gagah seperti anak muda yang baru berusia tigapuluh tahun.

Orang tua ini ketika melihat Couw Siu Chun dan kawannya, lalu mengangkat tangan memberi hormat sambil bersenyum dan berkata.

"Ah, tidak kunyana hari ini kau datang ke sini. Belum tahu ada urusan apa sehingga tampaknya engkau begitu kesusu?"

Siu Chun lalu terangkan dengan sejelas-jelasnya maksud kedatangan mereka, yaitu akan minta supaya Cu Leng merawat dan mengobati pada Ma-cu Lie yang telah mendapat luka di dalam badan karena bertempur dengan seorang bajingan yang katanya hendak memeras kepadanya.

Louw Cu Leng mengangguk-angguk sambil 75 menyatakan kesediaannya akan menolong apa yang ia bisa.

Begitulah setelah minta si bopeng menanggalkan bajunya, orang tua itu lalu mulai memeriksa pada beberapa tanda biru yang disebabkan karena terpukul atau jatuh.

"Semua tanda-tanda luka ini tidak berbahaya,"

Kata Louw Cu Leng.

"kecuali ini satu," (sambil menunjuk pada tanda biru yang tampak di dadanya si bopeng).

"Syukur juga bekas tendangan ini tidak terlalu parah kenanya....."

"Ya, ya, sebab aku lekas membuang diri, ketika tendangan itu ditujukan ke dadaku,"

Kata si bopeng yang tidak mau mengaku dirinya pecundang.

"Juga harus dibuat girang yang tendangan itu dilakukan dengan telapak kaki, bukan dengan ujung kaki,"

Kata Lou Cu Leng pula.

"jikalau tendangan itu dilakukan dengan ujung kaki, nistiaja orang tak tahan hidup biarpun cuma empat atau lima jam saja lamanya. Dan jikalau tendangan itu kenanya parah, orang bisa lantas mati seketika itu juga. Inilah yang dinamakan ilmu tendangan Coan-sim-tui, yang tidak mudah dipelajari oleh sembarangan orang. Tetapi berkat kemurahan orang yang menendang kepadamu, maka aku masih sanggup buat menyembuhkan penyakitmu ini."

Kemudian setelah memberikan obat-obat yang perlu, Cu Leng lalu menasihati, agar supaya Ma-cu Lie jangan terlalu banyak bergerak dan harus istirahat di pembaringan.

"Nanti hari esok kira-kira pukul sepuluh,"

Katanya lebih jauh.

"aku tentu datang ke rumahmu buat coba melihat kemajuannya obat yang kau akan makan itu, kalau nanti ternyata masih ada apa-apa yang kurang, disembarang waktu bisa ditambah untuk mempercepat 76 kemajuan dalam penyembuhannya."

Ma-cu Lie dan Siu Chun kembali mengucap terima kasih, tetapi Cu Leng tidak mau menerima ang-pauw atau honorarium pada sebelum penyakitnya si bopeng sudah menjadi sembuh betul.

Dalam perjalanan pulang, si bopeng telah menanyakan asal-usulnya Cu Leng pada Siu Chun.

"Dengan Louw Cu Leng ini aku telah bersahabat kirakira duapuluh tahun lamanya,"

Memulai sahabat itu.

"Dia ini orangnya budiman, suka menolong kepada sesamanya. Di waktu mudanya pernah ia membuka piauw-kiok dan jalan malang melintang di kalangan Kang-ouw sebagai seorang pendekar yang tidak suka melihat perbuatan tidak patut yang biasa dilakukan oleh jagoan-jagoan setempat iang sering memeras dan mempermainkan rakyat yang lemah dan tidak berdaya buat bikin perlawanan. Setelah berhenti menjadi piauwsu, ia lantas membuka rumah perguruan silat dan rumah obat dengan berbareng. Tetapi karena ia kelewat cerewet dalam hal memilih murid, maka rumah perguruan silatnya kurang mendapat perhatian orang, sehingga selanjutnya ia lantas tutup dan hanya menuntut penghidupan dengan menjual obat-obat saja seperti sekarang, biarpun namanya di kalangan Kang-ouw masih tetap harum sebagai seorang ahli silat yang jarang didapat tandingannya. Itulah apa yang aku ketahui tentang dirinya Louw Cu Leng ini, hingga aku boleh pujikan supaya kau juga bersahabat dengan orang-orang semacam ia ini."

Tetapi dasar si bopeng ini ada seorang busuk yang banyak akal, sebegitu lekas ia mendengar tentang orang macam apa adanya Louw Cu Leng itu, segera dengan diam-diam ia menjadi girang dan berkata di dalam 77 hatinya.

"Nah, kalau begitu jalannya, tentulah tidak sukar akan kuatur suatu muslihat yang tidak sembarang orang bisa ketahui kelihayannya!"

Begitulah Ma-cu Lie perjalanannya pulang.

telah putar otak dalam Sesampainya di rumahnya sendiri, ia lantas diturunkan dari kereta dengan dipimpin tangannya dibawa masuk ke dalam kamar oleh Couw Siu Chun.

"Sekarang kau di sini boleh beristirahat dan jangan turun dari ranjang sebelum diperkenankan Louw Suhu,"

Kata Siu Chun.

"Aku sendiri karena masih ada urusan, maka hari ini tak bisa menemani kau lama-lama. Besok aku datang lagi ke sini buat menyambangi kepadamu."

Si bopeng mengucapkan terima kasih atas kecintaan sahabatnya itu, selain dari itu, ia memohon supaya si sahabat sering-sering datang menyambanginya, buat mana Siu Chun pun janji akan berbuat begitu, kalau saja ia tidak berhalangan apa-apa.

Tetapi sebegitu lekas Siu Chun berlalu, si bopeng segera panggil berkumpul sekalian konco-konconya.

"Sekarang aku dapat suatu akal yang baik,"

Kata Macu Lie.

"Kau, Ah Siok,"

Ia menoleh pada seorang gundalnya yang paham membaca dan menulis.

"cobalah tulis sepucuk surat kepada pengurus penggilingan Eng Tiang Chun, di dalam surat itu kau boleh katakan begini. berhubung penyakitku belum sembuh, maka tak dapat aku mengantarkan sendiri uang penggantian kerugian gandum yang telah dijanjikan akan dilunaskan dalam tempo tiga hari. Oleh sebab itu, kita minta supaya dia datang sendiri buat menerima uangnya di sini besok tengah hari. Kau mengerti?" 78 "Mengerti, mengerti,"

Sahut Ah Siok.

"Jikalau surat itu selesai ditulis,"

Kata si bopeng pula.

"kau boleh lekas perintahkan orang antarkan ke rumah keluarga Lie."

"Sekarang kau, Ah Chit,"

Kata Ma-cu Lie pada seorang gundalnya yang bertubuh tinggi besar.

"jikalau anak muda yang bertempur dengan kita di loteng Cayhong-lauw itu datang ke sini, katakanlah bahwa aku masih sakit, belum bisa melunaskan perhutanganku. Jikalau ia memaksa mau minta juga, aku serahkan buat kau dan kawan-kawanmu atur bagaimana saja yang kau rasa baik."

Ah Chit berdiam sejurus, suatu tanda ia masih raguragu buat lantas menyanggupi. Karena menurut sepanjang pengalamannya di Cay-hong-lauw pada beberapa hari yang lalu ia harus akui bahwa ia "seram"

Melihat sepak terjangnya Lie Poan Thian yang begitu gagah dan lihay.

Hal mana, pun bukannya tidak diketahui oleh Ma-cu Lie, yang sendirinya belum pernah menyaksikan ada seorang ahli silat yang mempunyai tendangan sebaik Lie Poan Thian itu.

Maka ketika melihat Ah Chit tinggal membisu saja, si bopeng lalu berkata.

"Kau jangan takut, karena kau dan kawan-kawanmu hendak kupergunakan sebagai pemancing saja, sedangkan orang yang akan "

Tangani"

Padanya adalah orang lain yang ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada si pemuda congkak itu. Kau mengerti?"

Ah Chit yang mendengar keterangan begitu, barulah mau menyanggupi akan menjadi pemancing, asalkan ia diperbolehkan memakai toya atau senjata tajam lain.

Ma-cu Lie menyatakan tidak berkeberatan.

79 Sekarang kita ajak pembaca kembali pada Lie Poan Thian, yang sesudahnya melabrak Ma-cu Lie dan kawankawannya sehingga terlentang tengkurup di loteng Cayhong-lauw, lalu kembali ke rumahnya dan kasih tahu peristiwa ini kepada ayah-bunda dan sekalian keluarganya.

Semua orang jadi kaget tercampur girang.

Yang menyebabkan mereka kaget, adalah mereka tidak nyana bahwa Poan Thian telah dapat melabrak musuhmusuhnya dengan cara yang begitu gampang, sedang kegirangannya adalah seluruh Cee-lam akan mengetahui, bahwa di antara kaum keluarga Lie telah muncul "harimau muda"

Yang tak boleh sembarangan dipermainkan orang.

Tatkala Tek Hoat yang mendengar kabar tentang kemenangan itu, dengan mendadak merasakan penyakitnya hilang hampir tiga-perempatnya, bahwa merasa sangat puas mendengar si bopeng telah dihajar oleh Poan Thian sehingga setengah mati.

"Pada si jahanam ini aku telah memberikan tempo tiga hari untuk melunaskan perhutangannya,"

Kata Poan Thian pula.

"jikalau ia berani mungkir satu perkataan saja, akan kuputar batang lehernya sehingga mampus!"

Dua hari telah lewat, tetapi ternyata tidak ada kabar ceritanya dari pihak si bopeng.

Poan Thian mulai tidak sabar, tetapi sanak saudaranya menasehati supaya ia suka menunggu sehari lagi.

Kira-kira hari hampir petang, mendadak ada seorang suruhan Ma-cu Lie yang membawa sepucuk surat, yang ketika dibaca bunyinya, Poan Thian lalu kasih tahu pada si pembawa surat itu, bahwa ia akan datang besok, tepat 80 pada waktu yang tersebut dalam surat itu.

Si pembawa surat itu mengatakan.

"Baik,"

Dan segera berlalu dengan tidak banyak bicara lagi.

"Maksudnya surat itu,"

Kata salah seorang keluarganya Lie Poan Thian.

"mungkin juga hendak memancing kau akan datang ke rumah si bopeng, dimana bukan mustahil ia akan menyediakan lebih banyak orang buat mengeroyok kepadamu. Oleh sebab itu, paling betul kau jangan pergi, karena itu berarti lebih banyak celaka bagimu daripada selamat."

Tetapi Poan Thian tidak mufakat dengan omongan itu.

"Si bopeng dan gundal-gundalnya telah kuhantam sehingga setengah mampus,"

Katanya.

"masalah mereka berani lagi berbuat begitu? Aku sebenarnya telah berlaku murah buat menendang si bopeng dengan hanya menggunakan telapak kakiku. Apabila aku tendang padanya dengan ujung kakiku, niscaya ia sekarang sudah tinggal namanya saja!"

"Itu betul. Tetapi kau jangan lupa, bahwa satru yang sembunyi itu adalah lebih berbahaya daripada satru yang kelihatan,"

Menasehatkan sanak saudaranya itu.

Poan Thian mufakat dengan omongan itu.

Maka ketika dihari esoknya ia pergi ke rumahnya Ma-cu Lie, di pinggangnya Poan Thian tidak lupa membekal joan-pian pemberian gurunya.

Sesampainya di rumah Ma-cu Lie, Poan Thian bertemu dengan Ah Chit yang ia kenali sebagai salah seorang yang pernah ia hantam di loteng Chay-honglauw.

Tetapi karena mengingat bahwa kedatangannya kali ini bukanlah hendak mencari setori, maka dengan 81 berbaik ia lantas bertanya.

"Sahabat, apakah tuan Lie Cong Tong ada di rumah?"

Lie Cong Tong itu adalah nama aslinya si bopeng.

"Ada,"

Sahut si Ah Chit.

"tetapi ia masih sakit dan tak dapat menerima tetamu."

"Aku di sini membawa surat dari tuan Lie sendiri,"

Kata Lie Poan Thian.

"yang bunyinya menyuruh aku datang buat menerima uang penggantian kerugian yang harus diterimakan pada pengurus penggilingan Eng Tiang Chun Mo Hong."

"Majikanku sekarang dalam keadaan sakit, cara bagaimanakah bisa melunaskan perhutangan itu?"

Kata Ah Chit.

"Surat itu kukira bukan dikirim dari sini."

"Itu tidak bisa jadi!"

Kata Lie Poan Thian dengan sengit.

"Habis ada siapakah lagi yang bernama Lie Cong Tong di daerah sekitar kita ini?"

"Mungkin juga ada orang lain yang hendak mengadu dombakan kau dengan majikan kami,"

Kata Ah Chit.

"Harap sekarang kau boleh pulang saja dahulu, nanti lain hari kau boleh kembali lagi buat berurusan dengan majikan kami."

Tetapi Lie Poan Thian tak mau mengerti dan lalu bentangkan surat yang ia bawa dengan dibubuhi tanda tangannya Ma-cu Lie.

"Ni, kau lihat!"

Katanya.

"Apakah ini bukannya tanda tangan majikanmu?"

Ah Chit yang memang ada seorang kasar yang buta huruf, tentu saja tidak dapat membaca walaupun telah dipaksa oleh Poan Thian begitu rupa, sehingga akhirnya ia lantas menggelengkan kepala sambil berkata.

"Oh..... Ah, aku tidak pandai membaca!"

"Kalau begitu,"

Poan Thian berkata dengan suara 82 memaksa.

"biarlah aku sendiri saja yang pergi ketemui padanya!"

"Oh, itu tidak mungkin!"

Kata Ah Chit pula dengan suara keras.

"Karena sebagaimana telah kukatakan tadi, majikanku hari ini tidak menerima tetamu!"

Lie Poan Thian jadi mendongkol dan lalu mengucap.

"Kurang ajar!"

Sementara Ah Chit yang telah kenal kegagahannya Lie Poan Thian, buru-buru berlari masuk untuk menyiapkan kawan-kawannya yang memang bersembunyi di sana-sini dengan masing-masing sudah menyediakan toya dan barang-barang tajam yang lainnya.

Tetapi Poan Thian yang melihat gelagat tidak baik, terlebih siang lantas berjaga-jaga untuk menghadapi segala kemungkinan.

Maka di waktu melihat ada berapa orang gundalnya Ma-cu Lie yang keluar dengan membekal senjata, dengan tertawa getir ia lantas menuding pada orangorang itu sambil berkata.

"Hai, apakah kamu sekalian hendak mengeroyok aku? Kalau maksud itu benar, kamu harus berjaga-jaga, karena senjatamu sendiri bisa di suatu saat berbalik makan tuan! Aku dan kamu sekalian tidak pernah tersangkut permusuhan atau urusan apaapa pun juga, dari itu aku merasa perlu buat memperingatkan kepada kamu sekalian. Sekarang pergilah beritahukan kedatanganku ini kepada majikanmu, bahwa aku di sini tengah menantikan uang penggantian kerugian yang ia telah janjikan akan lunaskan pada hari ini juga!"

Tetapi tiada seorangpun yang mau berlalu dari situ. Mereka tidak mengucap barang sepatah katapun. 83 Demikian juga tiada seorang pun yang berani "menyerobot"

Dengan secara membuta tuli, meskipun mereka semua membekal senjata dalam tangan masingmasing.

Oleh karena mendapat kesimpulan bahwa mereka masih ragu-ragu atau takut untuk mengambil tindakan yang tegas, maka Poan Thian pun lalu sengaja menggertak dengan berseru.

"Mundur tidak mau dan maju pun tidak mau, apa sih kehendak kamu sekalian yang sebenar-benarnya? Jikalau kamu pikir baik mengeroyok, ayolah kamu boleh coba keroyok aku, jikalau kiranya tidak berani, kamu sekalian boleh segera mundur dengan serentak!"

Sambil berkata begitu, Poan Thian lalu berpura-pura mengunjukkan sikap yang hendak menerjang masuk ke rumah si bopeng, hingga beberapa orang gundalnya Macu Lie yang berhati kecil dan pernah dihajar oleh Poan Thian di Cay-hong-lauw, dengan rupa gugup segera, lari terbirit-birit sambil berteriak.

"Celaka, celaka! Pemeras telah datang menyatroni kita! Tolong, tolong! Ia hendak mengamuk!"

Tidak disangka Louw Cu Leng yang kebetulan telah datang lebih pagi dan justeru tengah memeriksa penyakitnya Ma-cu Lie, jadi agak terkejut dan lalu menanyakan apa artinya suara ribut-ribut itu?

Ma-cu Lie yang sudah menghitung dengan matang bakal terjadi keributan itu, lalu pura-pura menanyakan salah seorang gundalnya sambil berkata.

"Di luar terjadi urusan apakah, sehingga menerbitkan suara begitu ribut dan mengganggu kepada Louw Suhu?"

Ia tidak mengatakan bahwa suara ribut-ribut itu mengganggu sekali bagi dirinya sendiri yang sedang menderita sakit, tetapi terhadap Louw Suhu yang tenaganya hendak 84 dipergunakannya itu.

"Itulah suara si pemeras yang pada beberapa waktu yang lalu telah mengatakan hendak datang sendiri ke sini, dan sekarang ternyata benar dia datang buat meminta uang kerugian, hanya tidak diketahui, kita telah menerbitkan kerugian apa terhadap pada dia itu?"

Kata si gundal, yang memang telah diatur buat berkata begitu di hadapannya Louw Cu Leng. Mendengar keterangan begitu, lalu si bopeng purapura menarik muka masgul dan takut sambil mengeluh.

"Oh Tuhan! Apakah kau tidak mengatakan, bahwa aku masih sakit dan belum bisa memenuhkan segala permintaannya? Aku bukan mau pungkir kesanggupanku yang telah dilakukan di bawah paksaan itu, tetapi cobalah minta keringanan kepadanya, agar supaya aku boleh menunda apa yang dia menamakan "

Uang penggantian kerugian"

Itu, setelah penyakitku sembuh."

"Itu juga telah diberitahukan tadi oleh Ah Chit-ko, tetapi temjata dia tidak mau mengerti,"

Kata si gundal itu pula.

"Dia minta supaya uang itu segera dibayarkan kepadanya hari ini juga, kalau tidak dia telah mengancam akan membakar rumah ini beserta semua pengisinya!"

Ma-cu Lie yang pandai "main komedi", lalu pura-pura menggebrak pembaringan sambil mengutuk.

"Ah! Sungguh kejam sekali manusia busuk itu!"

Sementara Louw Cu Leng yang dari setadian mendengari pembicaraan itu, lama-kelamaan jadi "panas perut"

Juga dan lalu campur berbicara dengan tak dapat dicegah pula.

"Aku orang she Louw amat tidak puas mendengar soal-soal ganjil seperti ini,"

Katanya.

"Aku suka mengalah jikalau orang suka berlaku manis dan mengenal 85 persahabatan, tetapi tak sudi terima berbaik segala sikap congkak yang mau menang sendiri saja. Maka jikalau orang yang baru datang itu memangnya benar mengandung maksud yang hendak menindas dan memeras orang, maka perbuatan itu tidak boleh dibiarkan dengan begitu saja. Ia harus dibasmi pada sebelum mendapat kesempatan akan memeras ke sanasini!"

Tetapi Ma-cu Lie lalu pura-pura mencegah sambil berkata "Louw Suhu, aku harap kau jangan berlaku semberono dalam berhadapan dengan anak muda ini.

Karena meski benar aku membencinya melebihi daripada segala apa, tetapi aku harus akui, bahwa ilmu silatnya sangat lihay dan tinggi sekali, hingga seumur hidupku belum pernah kulihat seorang ahli silat lain yang mempunyai ilmu kepandaian sebaik dia itu.

Ketambahan usia Louw Suhu sudah agak lanjut, hingga ini ada baiknya juga jikalau persoalan ini ditimbang dahulu semasak-masaknya, pada sebelum Louw Suhu mengambil tindakan apa-apa terhadap pada si pemeras yang congkak itu."

Tetapi bukan saja "nasehat"

Itu tidak digubris, malah sebaliknya Cu Leng jadi semakin mendongkol dan lalu menepuk dada sambil berkata.

"Tuan Lie, barangkali kau tidak kenal siapa sebenarnya aku ini. Aku telah berkeliaran di kalangan Kang-ouw sehingga beberapa puluh tahun lamanya, dengan tak pernah menemui barang seorang lawan yang mampu berkelahi denganku buat duapuluh jurus saja lamanya, jangankan buat mengalahkan aku. Setelah kemudian aku tidak campur lagi urusan di luaran, nama gelarku yang disebut Sin-kun atau Tinju Malaikat, lalu ditambahkan menjadi Sin-kun Bu-tek, atau Tinju Malaikat tanpa tandingan! Gelar ini orang telah berikan kepadaku berhubung mengingat, 86 bahwa sejak aku hidup di kalangan Kang-ouw sehingga aku mengasingkan diri, belumlah pernah aku dikalahkan orang. Apakah bukti itu belum cukup akan membikin kau percaya, bahwa aku tak akan dikalahkan orang mentahmentah, walaupun benar usiaku sekarang sudah bukan muda lagi?"

Ma-cu Lie lalu sengaja mengunjuk rupa kaget tercampur girang.

"Ah, kalau begitu,"

Katanya.

"nyatalah aku ini tidak bisa mengenali orang pandai! Sudah lama aku mendengar nama gelaran Louw Suhu yang begitu masyhur di kalangan Kang-ouw, tetapi baru sekarang aku dapat berjumpa dengan orang aslinya. Maka jikalau si pemeras itu mesti berhadapan dengan Sin-kun Bu-tek dari jaman yang lampau itu, niscaya ia akan jatuh bangun atau mati dalam pertempuran yang meminta waktu hanya beberapa jurus saja lamanya itu!"

Louw Cu Leng jadi merasa terhibur juga mendengar "umpakan"

Itu.

Tetapi pada sebelum ia keburu menuturkan sedikit riwayat hidupnya untuk bantu memperhebat kegagahan dan keberaniannya di waktu mudanya, mendadak beberapa orang gundalnya si bopeng berlarian masuk sambil berteriak-teriak.

"Ia mengamuk! Ia mengamuk! Saudara-saudara, ayolah lekas keroyok padanya!"

Tetapi Louw Cu Leng segera berbangkit sambil mencegah dan berkata.

"Jangan, jangan! Kamu sekalian boleh tidak usah turun tangan akan mengeroyok kepadanya, karena perbuatan itu bukanlah perbuatan seorang Tay-tiang-hu! Biarlah saja aku yang nanti layani padanya."

Hal mana, telah membikin gundal-gundal si bopeng 87 yang memang segan berurusan dengan Lie Poan Thian, dengan diam-diam jadi girang dan hanya bantu bersoraksorak buat menambahkan keangkeran pihak sendiri.

Sementara Louw Cu Leng yang hatinya telah kena "dibakar"

Oleh Ma-cu Lie, buru-buru ia berjalan keluar sambil mencincing ujung bajunya.

Dan tatkala sampai di depan pintu, ia melihat seorang muda yang bertangan kosong telah berhasil dapat merobohkan beberapa orang gundalnya si bopeng, tetapi, apa yang telah membikin Cu Leng tidak mengerti, adalah orang muda itu tidak mau menggunakan senjata yang telah dapat dirampas dari tangan musuh-musuhnya, hanyalah dia lantas melemparkan senjata-senjata itu, sebegitu lekas dia berhasil merampas itu dari tangan mereka.

Maka Cu Leng yang hendak menjajal sampai dimana ilmu kepandaiannya Lie Poan Thian, dengan tidak mengatakan "ba"

Atau "bu"

Segera maju menerjang dengan menggunakan salah satu semacam ilmu pukulannya yang tersohor berbahaya.

Dalam pada itu Lie Poan Thian yang sama sekali tidak menyangka bakal mendapat lawan yang begitu tangguh, sudah tentu saja menjadi kaget juga dan buruburu merubah taktik silatnya, agar supaya dengan cara itu ia bisa mengimbangi jalannya pertempuran yang makin lama makin menghebat itu.

Louw Cu Leng jadi terperanjat dan diam-diam berkata pada diri sendiri.

"Astaga! Ilmu kepandaian bocah ini benar-benar tak boleh dibuat gegabah! Dalam keyakinan bertempur di atas Bwee-hoa-chung, aku sendiri telah mempunyai pengalaman hampir empatpuluh tahun lamanya dengan tak mendapat lawan atau sateru yang dapat merintangi sepak terjangku. Tetapi tidak dinyana hari ini aku telah mendapat lawan yang amat tangguh 88 dan usianya terpaut begitu jauh dengan usiaku. Maka kalau aku sampai dikalahkan oleh bocah ini, niscaya hancurlah nama baikku yang telah mengharum sehingga berpuluh-puluh tahun lamanya di kalangan Kang-ouw!"

Oleh sebab memikir begitu, Louw Cu Leng jadi semakin hati-hati dalam hal melakukan penyerangannya atau menghindarkan diri daripada serangan-serangannya Lie Poan Thian, yang ternyata bukannya semakin kendor, tetapi semakin lama jadi semakin cepat sehingga akhirnya hanya tampak saja bayangannya yang menyerang ke atas, ke bawah, ke kiri dan ke kanan, tetapi sama sekali tak kelihatan tegas badan atau wajahnya si pemuda itu.

Banyak orang yang kebetulan melewat dan menyaksikan pertempuran itu, pada berkerumun merupakan kalangan, di tempat mana kedua orang itu telah bertempur buat menjajal keunggulan dan kegagahan masing-masing.

Tetapi karena matahari yang terang benderang telah mulai selam ke barat, maka Poan Thian yang kuatir ayah bunda dan sanak saudaranya akan menunggu kepadanya terlalu lama, buru-buru ia melompat keluar dari kalangan pertempuran sambil memberi hormat pada Cu Leng dan berkata.

"Lo-enghiong, aku harus memuji tinggi atas ilmu kepandaianmu yang begitu lihay dan jarang tandingnya! Duaratus beberapa belas macam ilmu pukulan telah kugunakan buat merobohkan kepadamu, tetapi semua itu telah dapat kau hindarkan dengan secara bagus sekali. Amat disayangi sekarang hari sudah mulai petang, hingga pertempuran ini terpaksa harus ditunda sampai di sini dahulu. Oleh sebab itu, biarlah kita lanjutkan pertempuran ini di kelenteng Tayseng-tian pada besok lohor, sehingga kita bisa 89 menentukan siapa antara kita berdua yang sebenarnya lebih unggul!"

Kemudian, sesudahnya mengucapkan.

"Selamat tinggal!"

Poan Thian lalu menggunakan siasat Yan-cucoan-liam buat melayang keluar dari kalangan pertempuran, dengan melewati kepala para penonton yang berkerumun di muka rumah si bopeng itu.

Sementara Louw Cu Leng yang seperti orang naik harimau yang tak mendapat jalan untuk turun, sudah tentu saja jadi bisa bernapas lega, tatkala melihat lawannya dengan sekonyong-konyong berlalu dari hadapannya.

Dan ketika ia masuk ke dalam rumah untuk memberitahukan jalannya pertempuran itu kepada Ma-cu Lie, para penonton pun lalu pada bubaran dan satu pada lain berjanji akan menyaksikan pertempuran lanjutannya yang akan diadakan di kelenteng Tay-seng-tian pada hari besok di waktu lohor.

"Anak muda itu,"

Kata Louw Cu Leng pada Ma-cu Lie.

"ternyata ilmu kepandaiannya tidak ada di bawah daripada aku. Ia berkelahi dengan memakai aturan, juga tingkah lakunya tidak bisa dicela. Oleh sebab itu, apakah tidak bisa jadi tuan telah keliru menyangka orang baik sebagai seorang jahat?"

Tetapi si bopeng yang cukup licin untuk menutup kesalahannya sendiri, bukan saja tidak menjadi gugup mendengar pertanyaan itu, malah sebaliknya jadi tertawa sambil berkata.

"Louw Suhu, dalam hal ini rasanya tidak perlu lagi kau merasa heran. Dia itu bukan seorang bodoh, maka dia mengerti cara bagaimana akan memperlakukan orang. Kepada siapa yang dia takut, dia berlaku baik dan hormat, dan terhadap orang yang dia 90 berani seperti aku ini, dia lantas unjuk "

Tembaganya"

Dan memeras orang dengan tiada mengenal kasihan. Apakah barangkali Louw Suhu tidak memikirkan sampai di situ?"

Louw Cu Leng yang ternyata kurang berakal jadi melengak ketika mendengar keterangan begitu. hingga akhirnya ia jadi menghela napas sambil berkata.

"Ya, ya, kalau katamu begitu, memanglah mungkin juga kau yang benar. Tetapi seperti beras yang sudah menjadi bubur, urusanmu itu sekarang telah berpindah ke bahuku. Besok lohor aku bakal bertempur pula dengan anak muda itu di kelenteng Tay-seng-tian, untuk menentukan siapa di antara kita berdua yang lebih unggul ilmu kepandaiannya."

"Tetapi aku percaya betul bahwa dia itu bukanlah tandinganmu yang setimpal,"

Kata Ma-cu Lie dengan maksud mengumpak.

"Malah bukan mustahil, karena dia takut, dia tak akan muncul di Tay-seng-tian, sedangkan tantangan itu hanya merupakan perpanjangan tempo untuk dia dapat meloloskan diri dari dalam tanganmu dengan tidak hilang muka."

Cu Leng menghela napas dan berdiam sejurus.

Kemudian ia berpamitan dan kembali ke rumahnya untuk menyediakan segala keperluan guna pertempuran yang bakal datang itu.

Berita tentang bakal terjadinya pertempuran antara Louw Cu Leng dan Lie Poan Thian di kelenteng Tayseng-tian pada besok lohor, dengan cepat telah tersiar ke sana-sini, hingga beberapa orang sahabat dan handai taulan Louw Cu Leng yang mendengar kabar begitu, lalu pada datang ke Hu-tong-toa-kee buat menanyakan bagaimana duduknya perkara yang benar pada jago silat tua itu.

Baca Juga: Rahasia Si Badju Perak 3

Baca Juga: Si Tangan Halilintar Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert