Ceritasilat Novel Online

Pendekar Pendekar Negeri Tayli 4

Eps 4 Pendekar Pendekar Negeri Tayli - Jin Yong

Baca online Pendekar Pendekar Negeri Tayli - Jin Yong

Cersil Pendekar Pendekar Negeri Tayli - Jin Yong.

Dalam pada itu Wan-djing djuga melihat wanita djahat nomor dua didunia ini sudah menggondol kembali seorang anak ketjil kira2 berumur 3-4 tahun.

Tahulah dia sekarang, kiranja wanita djahat itu turun gunung tadi jalah pergi mentjari korban baji lain jang akan diisap darahnja.

Dengan pulangnja Yap Dji-nio, terang pertarungan Lam-hay-gok-sin dan In Tiong-ho tidak bisa berlangsung terus.

Ketika melihat sorot mata wanita djahat itu bersinar aneh, Bok Wan-djing mendjadi mengkirik sendiri dan lekas2 berpaling, tidak berani memandangnja lagi.

Dalam pada itu terdengar anak dipondongan Yap Dji-nio itu sedang ber-teriak2 menangis.

Ajah!

Dimana ajah?

Diamlah, San-san sajangku!

Ajah sebentar lagi akan datang, diamlah, djangan menangis, manisku!

demikian Yap Dji-nio me-nimang2 dengan kasih-sajang seorang ibu.

Pabila teringat pada majat2 baji jang dilihatnja ditengah semak2 itu, lalu dibandingkan dengan suara halus jang penuh rasa kasih-sajang Yap Dji-nio ini, bulu roma Bok Wan-djing seketika menegak semua.

Kemudian terdengar In Tiong-ho berkata dengan tertawa.

Dji-tji, Losam telah berhasil melatih ilmu gunting tjongor buaja dan petjut buntut buaja jang lihay.

Barusan aku telah bergebrak beberapa djurus dengan dia dan aku merasa sulit melawannja.

Selama sepuluh tahun ini, Dji-tji sendiri berhasil mejakinkan ilmu apa?

Dapatlah menandingi kedua matjam sendjata Losam jang aneh ini?

Ternjata sama sekali ia tidak menjinggung tentang Lam-hay-gok-sin menuduh setjara ngawur bahwa dirinja telah mentjelakai tjalon muridnja, sebaliknja ia sengadja mengutjapkan pantjingan halus itu untuk mengadu-dombakan Yap Dji-nio bergebrak dengan Lam-hay-gok-sin.

Yap Dji-nio sendiri ketika naik keatas puntjak tadi, dari djauh ia sudah lihat tjara bagaimana kedua kawannja itu lagi saling hantam, maka dengan tertawa tawar sadja ia mendjawab.

Ah, selama sepuluh tahun ini aku hanja mengutamakan melatih Lwekang, soal ilmu pukulan dan main sendjata mendjadi sudah asing malah bagiku, tentu aku bukan tandingan Losam dan kau lagi.

Djawaban sederhana ini membikin Lam-hay-gok-sin dan In Tiong-ho terkesiap djuga.

Pikir mereka.

Selamanja dia unggul dalam hal kegesitan dan kelemasan, soal Lwekangnja malah biasa sadja.

Tapi selama 10 tahun ini dia djusteru giat melatih Lwekang, apa barangkali dia ketemukan guru kosen atau beruntung menemukan sesuatu kitab pusaka ilmu Lwekang dan sebagainja?

Dan selagi Lam-hay-gok-sin hendak menanja, tiba2 dipinggang gunung sana ada suara bentakan orang.

Perempuan bangsat, untuk apa kau mentjulik anakku?

Lekas kembalikan!

--Baru lenjap suaranja, tahu2 orangnja djuga sudah melajang naik keatas puntjak dengan tjekatan sekali.

Waktu Bok Wan-djing menegasi, ternjata orang ini tak-lain-tak-bukan adalah Tjo Tju-bok, itu ketua Bu-liang-kiam.

Ia terkedjut, tapi segera mengerti djuga duduknja perkara.

Ja, tentu Yap Dji-nio tidak mendapatkan anak ketjil disekitar Bu-liang-san ini, achirnja anak ketua Bu-liang-kiam jang diketemukan olehnja terus digondol lari!

Maka terdengar Yap Dji-nio sedang mendjawab.

Tjo-siansing, puteramu ini sungguh lintjah menjenangkan, aku membawanja kesini untuk memain, besok tentu akan kupulangkan padamu, tak usah kau kuatir!

~ sembari berkata, ia mentjium sekali dipipi San-san jang ketjil itu, lalu meng-usap2 kepala anak itu dengan sajangnja.

Tjo San-san, anak jang bernasib malang itu, segera ber-teriak2 demi nampak datangnja sang ajah dan minta digendong.

Tjo Tju-bok mendjadi terharu, ia ulur tangan dan melangkah madju sambil berkata.

Anak ketjil jang nakal, tiada apa2nja jang menarik, silahkan engkau kembalikan padaku sadja!

Haha!

tiba2 Lam-hay-gok-sin tertawa, Sekali anak ketjil sudah djatuh ditangan Bu-ok-put-tjok Yap Sam-nio, biarpun anak radja djuga tidak mungkin dikembalikan olehnja.

Tjo Tju-bok tergetar mendengar utjapan itu, dengan suara gemetar ia tjoba menanja.

Kau....

kau bernama Yap Sam-nio?

Habis, pernah...

pernah apakah engkau dengan Yap Dji-nio?

--Rupanja sudah lama ia mendengar nama djahatnja Yap Dji-nio jang setiap hari mesti mengisap darah segar seorang baji, maka ia mendjadi kuatir djangan2 Yap Sam-nio jang dikatakan ini adalah saudara atau ipar daripada Yap Dji-nio serta mempunjai kesukaan jang sama, kan anaknja itu bisa tjelaka?

Ia tidak tahu bahwa Lam-hay-gok-sin jang sengadja menurunkan urut2an wanita djahat itu dari Dji atau kedua mendjadi Sam atau ketiga, supaja bertukar urut2an dengan dirinja dalam kedudukan Su-ok itu.

Namun Yap Dji-nio tidak gusar, sebaliknja ia mengikik tawa, lalu menjahut.

Ah, djangan kau pertjaja pada otjehannja.

Aku sendirilah Yap Dji-nio!

Didunia ini mana ada lagi Yap Dji-nio jang lain atau Yap Sam-nio segala?

Sekedjapan air muka Tjo Tju-bok mendjadi putjat bagai majat.

Semula waktu dia mengetahui anaknja ditjulik orang, sepenuh tenaga ia terus mengedjar, meski ditengah djalan ia sudah merasa ilmu silat pentjulik itu masih djauh diatas dirinja, namun ia masih menaruh harapan semoga wanita pentjulik jang tak dikenal dan tiada punja permusuhan apa2 dengan dirinja ini mungkin takkan bikin susah puteranja.

Siapa duga wanita ini djusteru adalah Bu-ok-put-tjok Yap Dji-nio, siwanita djahat nomor dua dari dunia ini.

Karuan seketika mulut Tjo Tju-bok ternganga seakan2 tersumbat.

Lihatlah betapa mungilnja anakmu ini, kulitnja halus, dagingnja montok, warnanja ke-merah2an, sungguh pintar sekali kau memiaranja, tentu banjak kau memberi makan djamu kuat padanja.

Ja, betapapun memang berbeda anak orang terkemuka daripada anak orang desa jang kurus kurang makan!

demikian Yap Dji-nio berkata sembari me-megang2 dan mengangkat tangan sibotjah kearah sinar matahari, mulutnja tiada hentinja ber-ketjak2 memudji pula, se-olah2 seorang njonja rumah jang lagi memilih sajur atau ajam daging bila sedang belandja dipasar.

Melihat sikap wanita djahat jang hampir2 mengiler oleh karena bakal korbannja jang pilihan itu, Tjo Tju-bok mendjadi kuatir dan gusar sekali.

Walaupun insaf bukan tandingan orang, tapi mengingat sekedjap lagi puteranja bakal dimakan, tanpa pikir lagi pedangnja terus menusuk kedepan dengan tipu serangan Yu-hong-tiau-gi atau ada burung Hong datang menghadap, kontan ia tusuk ketenggorokan Yap Dji-nio.

Namun Yap Dji-nio ganda tersenjum sadja, sedikit ia geser badan Tjo San-san kedepan, kalau tusukan Tjo Tju-bok itu diteruskan, pasti akan menembus badan puteranja sendiri.

Sjukur ilmu pedangnja sudah mentjapai puntjaknja, belum sepenuhnja pedang ditusukkan, tjepat ia tarik sedikit, udjung pedang menjendal, sekali putar, segera tipu serangannja sudah berganti dengan Thian-ma-hing-kong atau kuda langit terbang diangkasa, tahu2 pundak kanan Yap Dji-nio jang diarahnja sekarang.

Tapi Yap Dji-nio tetap tidak berkelit, kembali tubuh Tjo San-san digeser kesampaing untuk didjadikan tameng lagi.

Hanja sekedjap sadja ber-turut2 Tjo Tju-bok sudah menusuk lima kali, tapi Yap Dji-nio hanja melajani dengan seenaknja sadja, selalu ia geser badan Tjo San-san kearah datangnja tusukan Tjo Tju-bok, sudah tentu, terpaksa ketua Bu-liang-kiam itu urung menjerang.

Dalam pada itu, sesudah diudak Lam-hay-gok-sin, rasa dongkol In Tiongho lagi belum terlampiaskan, kini melihat kelakuan Tjo Tju-bok, ia mendjadi gemas, mendadak ia melompat madju, tjakar badja sebelah kiri terus mentjengkeram keatas kepala Tjo Tju-bok.

Namun Tju-bok sempat menangkis dengan pedangnja, trang kedua sendjata saling beradu, pikir Tjo Tju-bok sekalian hendak mendorong udjung pedangnja ketenggorokan lawan dengan gerakan sun-tju-tui-tjiu atau mendorong perahu menurut arus air, tapi mendadak djari tjakar badja lawan bisa mentjakup hingga batang pedangnja kena digenggam dengan kentjang.

Kiranja sendjata In Tiong-ho itu terpasang alat djeplakan jang sangat praktis, asal tekan pegasnja, segera djari badjanja mentjengkeram menurut keinginan pemakainja, hingga mirip benar dengan djari manusia.

Sebagai seorang ketua sesuatu aliran persilatan dalam hal ilmu pedang, Tjo Tju-bok mempunjai peladjaran jang sangat mendalam, meski kepandaiannja masih kalah tinggi daripada In Tiong-ho, tapi djuga tidak sampai keok hanja dalam satu-dua gebrakan sadja.

Dalam kagetnja tadi, ia tidak rela kalau lepaskan pedangnja begitu sadja, tjepat ia kerahkan tenaga dalam untuk menarik sekuatnja.

Tapi pada saat itu djuga, tjret tjakar badja In Tiong-ho jang lain telah mentjengkeram pula kepundaknja.

Masih untung baginja karena djari tjakar itu sebelumnja sudah terkutung dua oleh gunting tjongor buajanja Lam-hay-gok-sin, maka lukanja mendjadi lebih enteng, namun darah segera bertjutjuran djuga, sedang ketiga djari tjakar badja itu masih tetap mentjengkeram kentjang ditulang pundaknja.

Terus sadja In Tiong-ho melangkah madju menambahi sekali depakan hingga Tjo Tju-bok ditendang roboh.

Hanja sekali-dua gebrakan sadja, ternjata seorang ketua dari suatu aliran persilatan terkemuka itu sedikitpun tak bisa berkutik.

Segera Lam-hay-gok-sin berseru.

Hebat, Losi!

Dua djurusmu barusan ini tidak djelek, tidak sampai bikin malu kawanmu ini!

Sebaliknja Yap Dji-nio terus berkata dengan ketawa2.

Tjo-tay-tjiangbun, ingin kutanja padamu, apakah kau melihat Lotoa kami atau tidak?

Siapakah Lotoa kalian?

Aku tidak melihatnja!

sahut Tju-bok dengan meringis menahan sakit karena tulang pundaknja masih ditjengkeram oleh tjakar badja.

Kau bilang tidak tahu siapa Lotoa kami, kenapa mendjawab tidak melihatnja?

tiba2 Lam-hay-gok-sin menjela.

Hm, Sam-moay, lekas kau makan sadja anaknja!

Pagi hari ini aku sudah sarapan, sekarang masih merasa kenjang, sahut Yap Dji-nio.

Tjo-tay-tjiang-bun, bolehlah kau pergi sadja, kami takkan tjabut njawamu!

Djika demikian, Yap .......

Yap Dji-nio, harap kembalikanlah puteraku itu, biar kutjarikan 3-4 anak lain untukmu.

Sungguh aku Tjo Tju-bok, merasa terima kasih tak terhingga.

Ehm, baik djuga!

seru Yap Dji-nio dengan ber-seri2.

Pergilah kau mentjarikan delapan anak jang lain.

Kami berdjumlah empat orang, masing2 membopong dua, tjukup untuk makananku selama delapan hari.

Nah, Losi, bolehlah kau lepaskan dia!

Segera In Tiong-ho kendorkan djari tjakarnja melepaskan Tjo Tju-bok.

Dengan menahan sakit, Tjo Tju-bok berbangkit, lalu memberi hormat kepada Yap Dji-nio sambil ulur tangan hendak terima kembali puteranja.

Eh, sebagai tokoh kalangan Kangouw, kenapa Tjo-tay-tjiang-bun tidak kenal aturan?

udjar Yap Dji-nio dengan tertawa.

Tanpa ditukar delapan orang anak, masakah demikian gampang aku lantas serahkan kembali puteramu?

Melihat puteranja berada dirangkulan wanita itu, walaupun dalam hati sebenarnja seribu kali tidak rela, tapi apa daja, kepandaian sendiri djauh dibawah orang, terpaksa Tjo Tju-bok memanggut dan mendjawab.

Baiklah, biar kupergi mentjarikan delapan anak jang putih gemuk untukmu, harap engkau mendjaga baik2 anakku.

Yap Dji-nio tak mau menggubrisnja lagi, kembali ia ber-njanji2 ketjil menimang anak dalam pangkuannja itu.

San-san anakku jang baik, sebentar ajah akan datang lagi untuk membawa kau pulang kerumah!

seru Tju-bok kemudian.

Tjo San-san menangis keras2 minta ikut sang ajah sambil me-ronta2 dipangkuan Yap Dji-nio.

Dengan rasa berat Tjo Tju-bok pandang beberapa kali pada sang putera, sambil memegangi luka dipundak, segera ia putar tubuh hendak berangkat.

Apa jang terdjadi itu dapat diikuti Bok Wan-djing.

Ia pikir, maksud Tjo Tju-bok tentu akan perintahkan anak muridnja pergi mentjulik anak ketjil keluarga petani disekitar Bu-liang-san untuk menukar puteranja sendiri.

Walau hal itu dapat dikatakan demi tjinta-kasih ajah dan anak, soalnja terpaksa, tapi betapapun djuga adalah terlalu egoistis, terlalu mementingkan diri sendiri, sebaliknja delapan anak keluarga orang lain jang tak berdosa jang akan mendjadi korban.

Tanpa pikir lagi, segera ia melompat keluar dan menghadang didepan Tjo Tju-bok, bentaknja.

Orang she Tjo, kau kenal malu tidak, hendak merebut anak orang lain untuk menukar djiwa puteranja sendiri?

Apakah kau masih ada muka buat mendjadi ketua suatu aliran persilatan?

Pertanjaan nona memang tepat, sahut Tju-bok dengan kepala menunduk.

Tjo Tju-bok selandjutnja tiada muka buat tantjap kaki dikalangan Bu-lim lagi, segera aku akan simpan pedang dan tjutji tangan mengasingkan diri.

Aku melarang kau turun gunung!

bentak Wan-djing pula dengan pedang terhunus.

Pada saat itulah, se-konjong2 dari djauh sana berkumandang suara suitan orang jang njaring.

Dengan girang Lam-hay-gok-sin dan In Tiong-ho berseru.

Itu dia, Lotoa sudah datang!

Berbareng kedua orang terus melompat pergi sambil bersuit sahut-menjahut kearah datangnja suara njaring tadi, hanja sekedjap sadja keduanja sudah menghilang dibalik batu karang sana.

Sebaliknja Yap Dji-nio masih atjuh-tak-atjuh sambil me-nimang2 anak dipangkuannja, bahkan ia melirik sekedjap kepada Bok Wan-djing, lalu katanja dengan tertawa.

Nona Bok, ternjata kau masih mempunjai djiwa kesatria pula.

Kontan Wan-djing mengkirik ketika sinar matanja kebentrok dengan pandangan Yap Dji-nio jang tadjam itu, tjepat ia tenangkan diri sambil genggam pedangnja kentjang2.

Maka dengan tersenjum Yap Dji-nio berkata pula.

Sepasang matamu ini sungguh sangat djeli, aku pingin sekali bisa bertukaran dengan dikau.

Kemarilah kau biar kutjungkil dulu kedua bidji matamu itu!

Ingin tukar?

Boleh djuga!

Silahkan kau tjungkil dahulu matamu sendiri, sahut Wan-djing.

Ada lebih baik korek dulu matamu, udjar Dji-nio.

Tjo-tay-tjiang-bun, hendaklah kau membantu aku, tjungkillah bidji mata nona tjilik itu.

Sebenarnja Tjo Tju-bok tidak bermaksud memusuhi Bok Wan-djing, tapi putera sendiri berada dibawah tjengkeraman orang, terpaksa ia menurut perintah.

Begitu pedang bergerak, segera ia membentak.

Nona Bok, lebih baik kau turut pada perintah Yap Dji-nio sadja, supaja tidak lebih banjak menderita siksaan.

~ Sambil berkata, terus sadja ia menusuk.

Manusia hina!

damperat Bok Wan-djing sambil menangkis.

Trang, kedua pedang saling beradu, tapi udjung pedang sigadis tahu2 menjelonong terus kebahu kiri musuh.

Tipu serangannja ini sebenarnja hanja pura2 belaka, maka sesudah tiga djurus, ia sengadja geser tubuh sedikit, se-konjong2 tiga panah berbisa terus dibidikkan kebelakang mengarah Yap Dji-nio.

Serangan itu sangat kedji dan diluar dugaan, Bok Wan-djing mengharap bisa mengenai sasarannja dalam keadaan musuh tidak ber-djaga2.

Djangan melukai puteraku!

demikian Tjo Tju-bok, jang mendjerit kuatir.

Diluar dugaan, walaupun meluntjurnja ketiga panah itu tjepat luar biasa, tapi hanja sekali Yap Dji-nio kebas lengan badjunja, sekaligus panah2 itu sudah disampok djatuh kesamping.

Berbareng itu, sekenanja ia tjopot sebelah sepatu ketjil jang dipakai Tjo San-san, terus ditimpukkan kepunggung Bok Wan-djing.

Mendengar samberan angin dari belakang, Wan-djing ajuh pedangnja menangkis kebelakang, namun dengan menjerempet diatas batang pedang, sepatu ketjil itu tetap meluntjur kedepan, plak, tepat pinggang Bok Wan-djing tertimpuk.

Ternjata Yap Dji-nio telah memakai daja efek dalam sambitannja.

Dalam keadaan sudah terluka, tjepat Bok Wan-djing mengerahkan tenaga dalam untuk bertahan.

Dalam pada itu, sepatu kedua sudah disambitkan lagi oleh Yap Dji-nio, sekali ini dengan tepat mengenai punggung Bok Wan-djing.

Mata Wan-djing mendjadi gelap, tak tertahan lagi ia djatuh mendoprok ketanah.

Kesempatan itu segera akan digunakan Tjo Tju-bok, udjung pedangnja mengantjam didada sigadis, sedang tangan lain terus diulur hendak mentjukil bidji mata Bok Wan-djing.

Dalam keadaan tak berdaja, Wan-djing hanja mendjerit tertahan sekali.

O, Toan-long!

~ se-konjong2 ia menubruk madju memapak udjung pedang lawan.

Njata ia sudah bertekad daripada menderita siksaan ditjungkil matanja, lebih baik mati diudjung pedang orang.

Sjukurlah pada saat itu, se-konjong2 datang sinar berkilat sekali, tahu2 pedang jang dipegang Tjo Tju-bok itu mentjelat keudara, begitu hebat daja pental itu sampai ketua Bu-liang-kiam itu ikut sempojongan kebelakang hampir2 terdjungkal.

Karuan ketiga orang diatas puntjak itu kaget semua.

Berbareng mereka menengadah kearah pedang jang mentjelat keatas itu.

Kiranja pedang itu kena terlilit oleh seutas tali pantjing ikan jang pandjang, udjung tali pantjing itu adalah sebatang galah bambu, pemegangnja adalah seorang nelajan jang memakai tjaping dan bermantel idjuk.

Usia nelajan itu kira2 30 tahun, gagah berwibawa dan sedang tertawa2 dingin.

Segera Yap Dji-nio dapat mengenalnja sebagai orang jang tempo hari bertempur dengan In Tiong-ho, ilmu silatnja tidak lemah, tapi kalau dibanding dirinja masih katjek setingkat, maka ia tidak perlu takut.

Tjuma tak diketahui, apakah seorang kawannja jang lain telah ikut datang atau tidak?

Ketika ia melirik, benar djuga segera tampak seorang laki2 berbadju pendek, bersepatu rumput, sudah berdiri disebelah kiri sana.

Pada pinggang laki2 ini terikat seutas tali rumput jang kasar, ditengah tali itu terselip sebatang kapak pendek.

Sedang Yap Dji-nio hendak buka suara, tiba2 terdengar pula ada suara keresek pelahan dibelakangnja.

Tjepat ia berpaling.

Maka tertampaklah disana-sini masing2 djuga sudah berdiri pula seorang.

Jang disisi sana berdandan sebagai sastrawan, tangan kanan membawa kipas lempit, tangan kiri menggenggam segulung buku.

Dan jang berdiri disebelah sini adalah seorang laki2 berkaki telandjang, alisnja tebal, matanja besar, pundaknja memanggul sebatang garuk bergigi lima.

Empat orang itu terbagi diempat djurusan hingga berwudjut mengepung.

Diam2 Yap Dji-nio memikir.

Djika ilmu silat keempat orang ini setarap, seorang diri mungkin aku tak sanggup melawan mereka.

Baiknja Lotoa kami berada disekitar sini, kalau mendengar suaraku, tentu segera datang.

Biarlah orang2 ini kubereskan dahulu, agar kelak kalau menjerbu keraton Tayli bisa banjak menghemat tenaga.

Tapi sebelum ia bertindak, tiba2 terdengar Tjo Tju-bok bereru.

Eh, keempat tokoh Hi-djiau-keng-dok dari keraton telah datang semua, terimalah hormatku Tjo Tju-bok dari Bu-liang-kiam ini!

~ sembari berkata ia terus memberi hormat kepada empat laki2 itu.

Hanja sisastrawan tadi jang membalas hormat dengan sopan, sedang ketiga laki2 lainnja tinggal diam sadja tak menggubris.

Tiba2 sinelajan tertawa dingin sambil gojang2kan alat pantjingnja, hingga pedang Tjo Tju-bok jang masih tergantung dililit tali pantjing itu ber-kilat2 oleh sinar sang surja.

Lalu edjeknja.

Huh, Bu-liang-kiam toh terhitung djuga suatu aliran persilatan terkemuka dinegeri Tayli ini, sungguh tidak njana bahwa Tjiangbundjinnja djusteru adalah seorang jang begini rendah memalukan.

Bagaimana dengan Toan-kongtju?

Dimana dia?

Dalam keadaan putus asa dan sudah bertekad untuk mati, tapi tiba2 datang penolong, memangnja Bok Wan-djing sudah girang, kini mendengar pula orang menanjakan Toan-kongtju, karuan sadja ia lebih menaruh perhatian.

Maka terdengarlah djawaban Tjo Tju-bok.

Toan-kongtju?

Ja, beberapa hari jang lalu aku memang pernah melihat Toan-kongtju, dia .......

dia berada bersama dengan ....

dengan nona ini.

Segera pandangan sinelajan beralih kepada Bok Wan-djing dengan penuh tanda tanja.

Maka kata Wan-djing.

Tadinja Toan-kongtju berada diatas puntjak karang sana, tapi selama beberapa hari ia telah menghilang, mati-hidupnja tidak diketahui.

Nelajan itu meng-amat2inja sedjenak, lalu membentak.

Djadi engkau inilah Hiang-yok-djeh Bok Wan-djing jang terkenal djahat itu?

Dimanakah Kongtjuya kami?

Lekas katakan!

Semula sebenarnja Bok Wan-djing rada suka pada sinelajan karena kata2nja tadi sangat memperhatikan dirinja Toan Ki.

Tapi kini mendadak dirinja di-bentak2 dan ditanja seperti pesakitan, se-akan2 dirinja dituduh membikin tjelaka Toan Ki.

Dasar watak Bok Wan-djing memang djuga angkuh, mana ia sudi terima hinaan seperti itu.

Kontan ia balas tertawa dingin dan mendjawab.

Siapakah kau?

Berani kau tanja aku dengan sikap demikian?

Nelajan itu mendjadi gusar, katanja.

Kau malang-melintang diwilajah Tayli, membunuh orang se-mena2, memang sudah lama kami ingin mentjari kau.

Maka sekarang kebetulan bisa bertemu disini, djika kau mengaku terus terang dimana beradanja Toan-kongtju, urusan dapat diachiri dengan mudah, kalau tidak, hm, hm!

Toan Ki sudah dibinasakan oleh kawan perempuan itu, seru Wan-djing tiba2 sambil menudung Yap Dji-nio, lalu menjambung.

Orang itu katanja bernama Kiong-hiong-kek-ok In Tiong-ho, tubuhnja tinggi kurus bagai galah bambu.....

Nelajan itu sangat terkedjut, bentaknja memotong.

Apa benar2 katamu ini?

Benar2 orang itu jang membunuh Toan-kongtju?

Diantara empat laki2 itu, sipetani jang membawa patjul garuk itu, wataknja paling berangasan.

Demi mendengar Toan Ki sudah mati, seketika ia menangis keras2, serunja.

Toan-kongtju, biarlah kubalaskan sakit hatimu!

~ berbareng garuknja terus mematjul keatas kepala Yap Dji-nio.

Namun sekali egos, Yap Dji-nio dapat menghindar, tanjanja dengan tertawa.

Apa engkau inilah Tiam-djong-san-long diantara Hi-djiau-keng-dok itu?

Benar!

Rasakan dulu garukku ini!

sahut petani itu sambil menjerampang pula dengan sendjatanja jang chas itu.

Beberapa hari jang lalu Yap Dji-nio pernah menjaksikan sinelajan dan situkang kaju menempur In Tiong-ho, kini berhadapan sendiri dengan Tiam-djong-san-long atau sipetani dari pegunungan Tiam-djong, njata memang hebat kedua kali serangannja tadi.

Mendadak Yap Dji-nio ketawa ter-kekeh2.

Tapi hanja beberapa kali tertawa, tiba2 suara tawa itu berubah mendjadi menangis sambil sesambatan.

Aduh, Hi-djiau-keng-dok keempat anakku dari Negeri Tayli, kalian telah mati semua dalam usia pendek, sungguh ibumu ini sedih tak terhingga!

O, anak2ku, tunggulah ibumu Yap Dji-nio ini diachirat!

Padahal tokoh2 Hi-djiau-keng-dok atau sinelajan, situkang kaju, sipetani dan sisastrawan, semuanja berusia setarap dengan Yap Dji-nio.

Tapi kini ia sendiri menjebut sebagai ibu mereka, sambil sesambatan.

O, anak2ku sajang dan sebagainja.

Karuan Tiam-djong-san-long mendjadi gusar, ia mainkan patjul garuknja terlebih kentjang hingga berwudjut segulung kabut putih jang mengurung rapat lawannja.

Namun Yap Dji-nio sekalipun tidak balas menjerang, ia tetap peluk Tjo San-san sambil berkelit kian kemari, betapapun kentjang Tiam-djong-san-long memutar garuknja, tetap tak bisa menjenggol udjung badju lawannja.

Sebaliknja ratap tangis Yap Dji-nio masih tetap berkumandang dengan sedih memilukan, suaranja makin lamapun makin keras.

Tiba2 hati Bok Wan-djing tergerak, serunja segera.

He, dia sedang memanggil kawan2nja.

Kalau Thian-he-su-ok (empat durdjana didunia) datang semua, mungkin kalian tak sanggup melawannja.

Pada saat itulah, sekonjong2 dari balik gunung sana berkumandang datang suara seruling jang njaring merdu hingga suara tangisan Yap Dji-nio jang memilukan itu terpengaruh se-akan2 paduan suara dari dua nada jang tinggi dan rendah.

Diam2 Bok Wan-djing terkedjut.

Djangan2 orang djahat nomor satu didjagat ini sudah datang sekarang.

Dalam pada itu situkang kaju sudah tjabut kapak pendek dari pinggangnja terus membentak.

Bu-ok-put-tjok Yap Dji-nio memang kau tidak bernama kosong, biarlah aku Djay-sin-khek (situkang pentjari kaju) beladjar kenal dengan kepandaianmu.

~ Habis berkata, segera ia membuka serangan dengan tjepat.

Ternjata ilmu kepandaian tunggal situkang kaju itu adalah Boan-kin-tjho-tjiat-tjap-peh-poh atau 18 djurus ilmu permainan kapak pembabat akar, terus sadja ia mengampak kesini dan kesana, jang diintjar selalu bagian bawah musuh.

Ha, botjah ini hanja mengganggu sadja, ini, boleh kau batjok mati dia!

udjar Yap Dji-nio dengan tertawa sambil sodorkan Tjo San-san kearah datangnja kapak.

Karuan Djay-sin-khek terkedjut, lekas2 ia tarik kembali sendjatanja.

Tak terduga, sedikit ajal itulah dia sendiri harus telan pil pahit, mendadak Yap Dji-nio ajun kakinja mendepak hingga tepat kena pundaknja.

Sjukur perawakan Djay-sin-khek kekar kuat, hingga depakan itu hanja membuatnja ter-hujung2 dan tidak sampai terluka.

Dan dengan memperalat anak itu sebagai tameng, Tiam-djong-san-long dan Djay-sin-khek mendjadi rada repot, diwaktu menjerang mereka mendjadi ragu2.

Apalagi dari samping Tjo Tju-bok bergembar-gembor.

Awas anakku!

Djanganlah melukai anakku!

Sedang pertarungan itu berlangsung dengan sengit, terdengar suara seruling tadi semakin mendekat.

Dari balik karang sana telah muntjul seorang laki2 berdjubah longgar dan bertali pinggang kendor.

Kedua tangannja memegang sebuah seruling kemala sedang ditiup dengan asjiknja.

Bok Wan-djing melihat orang ini berdjenggot tjabang tiga, paras mukanja tampan, kulit badannja putih bagai saldju, djari2nja jang memegang seruling itu tampak sama putihnja dengan kulit mukanja.

Nampak datangnja orang itu, dengan langkah tjepat sisastrawan tadi terus mendekati dan bisik2 berbitjara dengan sikap sangat menghormat.

Tapi orang itu masih terus meniup serulingnja, hanja sinar matanja jang tampak mengerling kearah Bok Wan-djing.

Kiranja orang ini adalah segolongan dengan keempat tokoh Hi-djiau-keng-dok ini, demikian Bok Wan-djing membatin.

Dalam pada itu, sambil masih meniup seruling, pelahan2 orang itu lantas mendekati Yap Dji-nio bertiga jang masih bertempur dengan seru itu.

Meski situkang kaju ajun kapaknja begitu keras dan Tiam-djong-san-long putar garuknja begitu kentjang, namun orang itu se-akan2 tidak melihatnja sadja, mendadak suara serulingnja meninggi keras hingga anak telinga semua orang serasa pekak.

Dan sekali djari2 orang itu menutup rapat lubang2 serulingnja dan meniupnja dengan keras, tahu2 dari udjung seruling itu menjembur keluar serangkum angin tadjam kemukanja Yap Dji-nio.

Dalam kagetnja, Yap Dji-nio tjepat berpaling menghindar, namun pada saat lain, udjung seruling lawan tahu2 sudah mengantjam tenggorokannja.

Dua kali serangan itu dilakukan dengan ketjepatan dan kegesitan jang mengedjutkan orang, biarpun Yap Dji-nio dapat berkelit dengan tjepat, tidak urung ia merasa kerepotan djuga.

Dalam seribu kerepotannja itu, ia paksakan diri mendojongkan badan bagian atas kebelakang untuk menghindari tutukan seruling jang mengantjam tenggorokan itu.

Tak tersangka, mendadak Koan-bau-khek atau sidjubah longgar itu, gunakan tenaga dalam terus lepaskan serulingnja menimpuk keulu hati Yap Dji-nio jang sedang mendojong tubuh itu.

Dalam keadaan demikian, Yap Dji-nio tidak berani sembrono lagi, segera ia lemparkan Tjo San-san ketanah terus ulur tangan hendak merampas seruling orang.

Namun sekali Koan-bau-khek kebas lengan badjunja jang longgar itu, anak itu kena digulung olehnja, katanja.

Serahkan sini!

~ sambil berkata, iapun angsurkan tangan kirinja.

Saat itu tepat Yap Dji-nio baru sadja dapat memegang seruling jang diluntjurkan pemiliknja itu, seketika ia merasa seruling itu panas seperti habis dibakar, hal ini benar2 diluar dugaan Yap Dji-nio, pikirnja.

Djangan2 diatas seruling ini dipoles ratjun?

~ maka tjepat ia lepas tangan tak djadi merampasnja.

Dalam pada itu tangan kiri Koan-bau-khek jang diulur tadi tepat dapat merebut kembali serulingnja itu, sekalian ia terus sodokkan sendjata itu ke bahu Yap Dji-nio, berbareng lengan badjunja jang menggulung Tjo San-san itu dikipatkan hingga botjah itu terlempar enteng kearah Tjo Tju Bok.

Dengan ter-sipu2 tjepat Tjo Tju Bok menjanggapi puteranja itu.

Dua gerakan Koan-bau-khek, merebut anak dan menjerang musuh itu, dilakukan dengan tjepat dan sewadjarnja sadja, tanpa dipaksakan, gajanja indah, sasarannja djitu, sampai Bok Wan-djing ternganga saking kagumnja.

Yap Dji-nio sendiri, ketika orang menangkap kembali serulingnja tadi, sekilas ia dapat melihat telapak tengah Koan-bau-khek itu merah membara, ia mendjadi kaget.

Djangan2 dia sudah berhasil mejakinkan Tju-se-djiu (tangan pasir merah) jang sudah lama menghilang dikalangan Bu-lim itu?

Djika demikian, terang diatas serulingnja bukan dipoles dengan ratjun, tapi adalah tenaga dalamnja jang lihay itu telah membakar serulingnja hingga panasnja mirip habis dikeluarkan dari tungku.

Maka tjepat ia mundur beberapa tindak dengan gesit, lalu katanja dengan tertawa.

Wah, ilmu silat saudara sungguh hebat.

Tidak njana bahwa diwilajah Tayli ini masih ada tokoh lihay begini.

Numpang tanja siapakah namamu jang terhormat?

Sidjubah longgar hanja tersenjum sadja, sahutnja.

Atas kundjungan Dji-nio kewilajah kami ini, harap maaf kami tidak datang menjambut sebelumnja.

Biarpun negeri Tayli ini hanja negeri ketjil dan rakjatnja miskin, tapi sepantasnja harus memenuhi djuga sekedar kewadjiban sebagai tuan rumah.

Dalam pada itu Tjo Tju Bok jang sudah mendapatkan kembali puteranja dengan selamat, dalam girang dan herannja itu, tiba2 teringat seorang olehnja, pikirnja.

Dilihat dari wadjahnja, orang ini memang mirip benar dengan tokoh jang sering dibuat tjerita itu, tapi beliau mengapa bisa berketjimpung dikalangan Kangouw lagi?

~ Namun begitu, tak tertahan djuga rasa ingin tahunja, segera ia menanja.

Apakah tuan adalah ....

adalah Ko-houya?

Sidjubah longgar itu tidak mendjawab apa benar atau tidak, tapi lantas berkata kepada Yap Dji-nio.

Dimanakah Toan-kongtju kami, bagaimana keadaannja, harap sukalah memberitahu?

Aku tidak tahu, sahut Dji-nio dengan tertawa dingin.

Andaikan tahu djuga takkan kukatakan.

Habis itu, se-konjong2 ia melesat pergi dan melajang turun kebawah gunung.

Nanti dulu!

seru sidjubah longgar terus mengudak.

Tapi mendadak pandangannja mendjadi silau, sendjata2 resia musuh bagai hudjan menghambur kearahnja.

Tjepat ia putar serulingnja, sebagian sendjata2 gelap itu dapat dihindari, sebagian lagi kena dipukul djatuh dengan seruling.

Namun tangannja terasa pegal djuga terbentur oleh sambitan sendjata2 gelap jang kuat itu, diam2 ia membatin .

Sungguh hebat perempuan ini.

Sementara itu Yap Dji-nio sudah sempat melajang pergi bagai hantu tjepatnja, untuk mengedjarnja terang tak keburu lagi.

Ketika sendjata2 gelap tadi ditegasi, ternjata terdiri dari matjam2 bentuknja, semuanja adalah barang2 mainan anak2 ketjil buatan dari logam.

Segera Koan-bau-khek teringat.

Ja, barang2 ini tentu diperolehnja dari anak2 jang telah mendjadi korbannja.

Penjakit ini tak dibasmi, entah betapa banjak anak ketjil dinegeri Tayli ini akan ditjelakai pula!

Disebelah sana, sinelajan lantas ajun pantjingnja hingga pedang jang tergubet oleh tali pantjingnja itu mendadak mentjelat kearah Tjo Tju-bok dengan garan pedang didepan.

Dengan gugup, tjepat Tjo Tju-bok menangkap pedangnja sendiri itu dengan wadjah merah malu.

Lalu nelajan itu berpaling kepada Bok Wan-djing dan membentaknja dengan bengis.

Sebenarnja bagaimana keadaan Toan-kongtju?

Apa benar2 telah ditjelakai oleh In Tiong-ho?

Walaupun dalam hati Bok Wan-djing rada mendongkol karena di-bentak2, tapi pikirnja.

Ilmu silat orang2 ini sangat tinggi, tampaknja mereka adalah kawannja Toan-long.

Biarlah kukatakan apa jang sebenarnja pada mereka agar ber-sama2 mereka bisa mentjari kesekitar djurang sana.

Tapi belum lagi ia membuka suara, tiba2 dibawah gunung sana ada suara teriakan seorang.

Bok-kohnio......

Bok-kohnio......

apakah engkau berada disini?........

Lam-hay-gok-sin, aku sudah datang, djangan engkau bikin susah Bok-kohnio!

Mendengar suara itu, Koan-bau-khek dan kawan2nja itu tampak kegirangan luar biasa.

Berbareng mereka berkata.

Itulah Kongtjuya!

Memang benar itulah suaranja Toan Ki.

Dengan susah-pajah Bok Wan-djing sudah menanti selama tudjuh-hari-tudjuh-malam, kini mendadak mendengar suara orang jang diharapkan itu, saking girang dan kedjutnja, se-konjong2 pandangannja terasa gelap, ia terus djatuh pingsan..........

Dalam keadaan sadar-tak-sadar, ia dengar ada suara orang meneriaki namanja.

Bok-kohnio, Bok-kohnio!

Aku sudah berada disini, lekaslah engkau siuman!

Pelahan2 Bok Wan-djing siuman kembali, ia merasa dirinja berada didalam pelukan orang, seketika ia ingin melompat bangun, tapi lantas teringat olehnja.

Ah, Toan-long jang memeluk aku ini.

Dengan rasa manisnja madu tertjampur masam getir, pelahan2 ia membuka matanja, segera tampak sepasang mata djeli jang ber-kilau2 sedang memandang padanja, siapa lagi dia kalau bukan Toan Ki.

Hura, achirnja kau siuman djuga!

demikian Toan Ki berseru girang.

Sementara itu Bok Wan-djing tak bisa menahan lagi air matanja jang bertjutjuran bagai hudjan.

Mendadak ia baliki tangannja, plok, kontan ia persen Toan Ki sekali tamparan.

Meski ia menggampar Toan Ki sekali, tapi badannja masih tetap berada dipangkuan pemuda itu, sesaat itupun tiada tenaga untuk melompat bangun.

Sedjenak Toan Ki melongo sambil me-raba2 pipi jang ditampar itu, kemudian katanja dengan tertawa.

Kenapa engkau selalu suka memukul orang?

Sungguh tiada wanita se-wenang2 seperti kau ini!

~ Habis ini, segera wadjahnja berubah muram dan menanja.

Dimanakah Lam-hay-gok-sin?

Kenapa dia tidak menunggu aku disini?

Orang sudah menunggu selama tudjuh-hari-tudjuh-malam apa masih belum tjukup?

sahut Wan-djing.

Dia sudah pergi sekarang!

Seketika wadjah Toan Ki berubah girang, serunja.

Bagus, bagus!

Aku djusteru lagi kuatir setengah mati.

Pabila dia paksa aku mengangkat guru padanja, bukankah bisa berabe?

Dan kalau engkau tidak suka mendjadi muridnja, kenapa datang lagi kesini?

tanja Wan-djing.

Eh, lalu engkau bagaimana?

sahut Toan Ki.

Bukankah engkau berada dibawah tjengkeramannja.

Kalau aku tidak datang kemari, dia tentu akan bikin susah padamu, mana bisa aku tega tinggal diam?

Rasa Wan-djing mendjadi nikmat, katanja pula.

Hm, hatimu ini benar2 djahat, sungguh aku ingin sekali tusuk membinasakan kau.

Tjoba katakan, sebab apa tidak lambat tidak telat kau djusteru datang pada saat sesudah mendapat bala bantuan dan musuh sudah pergi, lalu pura2 berlagak kesatria hendak menolong aku?

Kenapa selama tudjuh-hari-tudjuh-malam engkau tidak datang mentjari daku?

Toan Ki menghela napas gegetun, sahutnja.

Sudah tentu engkau tidak tahu bahwa selama itu aku berada dibawah pengaruh orang dan tak bisa berkutik.

Padahal siang dan malam aku selalu merindukan dikau, sungguh aku kuatir setengah mati, tjoba kalau dalam itu aku bisa melepaskan diri, tentu siang2 aku sudah datang.

Nona Bok, apakah lukamu sudah sembuh?

Orang djahat itu tidak....

tidak menganiaja engkau bukan?

Pernah apa aku dengan engkau?

Kenapa masih sebut nona apa segala terus-menerus?

omel Wan-djing.

Melihat paras sigadis jang ke-marah2an itu mendjadi menambah tjantiknja malah, perasaan Toan Ki terguntjang hebat.

Sesungguhnja selama tudjuh hari ini ia memang sangat merindukan gadis itu.

Tak tertahan lagi ia terus merangkul lebih kentjang dan berkata.

Baiklah, Wan-djing, Wan-djing!

Kupanggil demikian padamu, suka tidak engkau?

~ Habis itu, terus sadja ia tundukkan kepalanja kebawah hendak mentjium bibir sigadis.

Karuan Bok Wan-djing kaget, ia mendjerit sekali sambil melompat bangun dengan wadjah merah, serunja.

Ada orang luar berada disini?

Mana boleh engkau.....

engkau?

He!

Dimanakah orang2 itu?

Waktu ia memperhatikan, ternjata disekitar situ sudah tidak kelihatan lagi bajangan Koan-bau-khek alias sidjubah longgar bersama keempat djago Hi-djiau-keng-dok itu.

Siapakah jang berada disini?

Apakah Lam-hay-gok-sin?

tanja Toan Ki dengan wadjah menampilkan rasa takut pula.

Sudah berapa lama engkau berada disini?

tanja Wan-djing.

Barusan sadja, belum lama, sahut Toan Ki Begitu aku naik kesini, lantas kulihat engkau rebah tak sadarkan diri disini, ketjuali itu, tiada lagi bajangan seorang lain.

He, Wan-djing, marilah kita lekas pergi, djangan2 nanti akan tertawan pula oleh Lam-hay-gok-sin jang djahat itu!

Baiklah!

sahut Wan-djing.

Lalu ia berkomat-kamit sendiri.

Aneh, hanja sekedjap sadja mengapa sudah menghilang semua?

Saat itulah tiba2 dari balik batu karang sana terdengar seorang sedang bersenandung, lalu muntjul seorang jang membawa kipas dan buku, itulah dia sisastrawan dari empat tokoh Hi-djiau-keng-dok.

Tju-heng!

seru Toan Ki bergirang.

Tjepat sastrawan itu masukkan kitab dan kipasnja kedalam badju, lalu memburu madju dan mendjura kehadapan Toan Ki sambil berkata dengan girang.

Kongtjuya, sjukur engkau dalam keadaan selamat, tadi ketika mendengar utjapan nona ini, sungguh kami kuatir tak terhingga!

Dengan ramah Toan Ki membalas hormat orang, sahutnja.

Djadi kalian sudah bertemu tadi?

Ken....

kenapa baru sekarang kau muntjul?

Sungguh sangat kebetulan!

Kami berempat saudara diperintahkan mendjemput Kongtjuya pulang dan bukannja setjara kebetulan, udjar sisastrawan.

Kongtjuya, engkau djuga terlalu gegabah, seorang diri merantau Kangouw, untunglah kami dapat mentjari kerumah Be Ngo-tek, lalu menjusul ke Bu-liang-san sini, selama beberapa hari kami benar2 teramat kuatir.

Banjak djuga penderitaan jang kurasakan, sahut Toan Ki tertawa.

Paman dan ajah tentu marah2 bukan?

Sudah tentu, sahut sisastrawan.

Tjuma diwaktu kami berangkat, kedua djundjungan sudah reda marahnja, sebaliknja merasa sangat kuatir atas diri Kongtjuya.

Belakangan Sian-tan-hau djuga mendapat berita kedatangan Su-tay-ok-djin ke Tayli sini, beliau kuatir kalau Kongtjuya dipergoki mereka, maka ia sendiripun ikut datang mentjari engkau.

Su-tay-ok-djin apa?Djadi Ko-sioksiok djuga ikut datang mentjari aku?

Ah, aku mendjadi tak enak, dimanakah beliau sekarang ?

Barusan kami berada disini semua, sahut sisastrawan.

Ko-houya telah berhasil mengusir seorang wanita djahat, dan ketika mendengar suara datangnja Kongtjuya, mereka mendjadi lega dan suruh aku menunggu engkau disini, sedang mereka pergi menguber si wanita djahat itu.

Kongtjuya, marilah sekarang djuga kita pulang istana agar tidak dibuat pikiran lebih lama oleh kedua tuan besar.

Kiranja sedjak tadi kau....

kau sudah berada disini, udjar Toan Ki kikuk.

Teringat olehnja apa jang dia bitjarakan dengan Bok Wan-djing jang meresap tadi, tentu telah didengar djuga oleh sastrawan itu, tak tertahan lagi wadjahnja merah djengah.

Tadi aku lagi asjik membatja sjair indah gubahan Ong Djiang Ling jang penuh semangat itu, maka tanpa sadar bahwa Kongtjuya sudah lama berada disini, demikian kata sisastrawan dengan maksud menghilangkan rasa malu Toan Ki.

Maka dengan masih rada kikuk2 Toan Ki kemudian berpaling kepada Bok Wan-djing dan berkata.

Bok....

Bok-kohnio, ini adalah Tju Tan-sin, Tju-siko, dia adalah kawanku jang paling karib.

Segera Tju Tan-sin melangkah madju dan memberi hormat kepada sigadis, katanja.

Terimalah hormat Tju Tan-sin ini, nona!

Dengan ramah Wan-djing membalas hormat, ia mendjadi senang melihat orang begitu merendah pada dirinja, sahutnja.

Tju-siko, engkau sungguh sangat ramah-tamah, tidak seperti kawan2mu tadi jang kasar bengis itu.

Tju Tan-sin tertawa, katanja.

Ketiga saudaraku itu tentunja sedang kuatir karena mendengar berita buruk atas diri Kongtjuya, maka utjapannja rada kurang sopan, harap nona suka memaafkan.

Dalam hati diam2 Tju Tan-sin heran djuga, kedjahatan Hiang-yok-djeh paling achir ini sering didengar olehnja, tak terduga olehnja bahwa tokoh itu ternjata adalah seorang gadis djelita sedemikian tjantiknja.

Ia mendjadi kuatir pula Kongtjuya jang masih muda dan belum berpengalaman itu akan tenggelam dalam pengaruh ketjantikan sigadis hingga achirnja merusak nama baik sendiri.

Tju Tan-sin adalah seorang jang lihay, biarpun diam2 ia sudah waspada kepada Bok Wan-djing, tapi lahirnja ia tidak mengundjukkan sesuatu tanda, bahkan dengan ketawa2 ia berkata.

Kedua tuan besar sangat menguatirkan diri Kongtjuya, maka sukalah Kongtjuya lekas2 pulang sadja.

Pabila Bok-kohnio djuga tiada urusan lain, silahkan djuga ikut bertamu kerumah Kongtju barang beberapa hari.

Ia menduga melulu kekuatan sendiri mungkin tak bisa mengatasi Bok Wan-djing, tapi kalau nona itu djuga diadjak pulang, Toan Ki tentu akan merasa senang.

Maka dengan ragu2 Toan Ki menjahut.

Tapi tjara bagaimana aku......

aku harus berkata pada paman dan ajah?

Wadjah Bok Wan-djing mendjadi merah, tjepat ia berpaling kesana.

Tjayhe mendengar bahwa ilmu silat Su-tay-ok-djin itu sangat tinggi, tadi meski Sian-tan-hou dapat mengenjahkan Yap Dji-nio jang djahat, itu djuga berkat serangan diluar perhitungan musuh.

Demi keselamatan Kongtjuya, marilah kita lekas berangkat sadja, demikian kata Tju Tan-sin pula.

Bila ingat betapa buasnja Lam-hay-gok-sin, kembali Toan Ki merinding.

Ia manggut dan berkata.

Baiklah, mari kita berangkat.

Tju-siko, djika musuh terlalu lihay, lebih baik engkau pergi membantu Ko-sioksiok sadja, biar aku pulang sendiri bersama nona Bok Tidak, sahut Tju Tan-sin.

Dengan susah pajah achirnja Kongtjuya dapat diketemukan, sepantasnja biar Tjayhe mengawal engkau pulang.

Betapa tinggi kepandaian nona Bok, memang sudah lama djuga Tjayhe mengagumi.

Tjuma melihat keadaannja, agaknja lukanja masih belum pulih sama sekali, pabila ditengah djalan nanti kepergok musuh lagi, tentu akan susah, maka lebih baik Tjayhe mengawal pulang sadja.

Sebenarnja Toan Ki tidak ingin terus pulang, tapi sekali sudah diketemukan Tju Tan-sin, untuk minggat lagi terang tidak gampang.

Terpaksa ia menurut dan bertiga lantas turun kebawah gunung.

Dalam hati Bok Wan-djing ingin sekali menanja Toan Ki kemana perginja selama tudjuh-hari-tudjuh-malam, tjuma Tju Tan-sin berada disamping mereka, untuk bitjara rasanja kurang leluasa, terpaksa ia bersabar sebisanja.

Tan-sin membawa rangsum kering, ditengah djalan ia keluarkan untuk dibagikan kepada Toan Ki dan Wan-djing.

Sampai dibawah gunung, tertampaklah dibawah pohon tertambat lima ekor kuda bagus, itulah kuda2 tunggangan rombongan Djay-sin-khek.

Segera Tan-sin membawakan tiga ekor diantaranja, ia silahkan Toan Ki dan Wan-djing naik dulu, kemudian ia sendiri barulah mentjemplak keatas kuda, terus mengikuti dari belakang.

Malamnja mereka bertiga menginap disuatu hotel ketjil dan masing2 mendiami sebuah kamar.

Setelah tutup pintu kamarnja, Bok Wan-djing duduk ter-mangu2 bertopang dagu menghadapi api lilin diatas medja, pikirannja timbul tenggelam, girang tertjampur kuatir, pikirnja.

Tanpa menghiraukan keselamatan sendiri Toan-long sudi datang kembali mentjari aku, suatu tanda tjintanja jang mendalam padaku.

Sebaliknja selama beberapa hari ini dalam hatiku selalu menjumpahi dia berhati palsu segala, njata aku telah keliru menjalahkan dia.

Melihat sikap Tju Tan-sin jang sangat menghormat padanja, agaknja Toan-long kalau bukan putera keluarga bangsawan, tentu adalah angkatan muda dari tokoh persilatan terkemuka.

Seorang nona seperti aku meski sudah bertunangan dengan dia, tapi begini sadja aku lantas ikut pulang kerumahnja, betapapun aku merasa likat.

Tampaknja ajah dan pamannja djuga sangat bengis padanja, pabila nanti akupun dihna olehnja, lantas bagaimana baiknja?

Hm, hm, paling2 kulepaskan panah beratjun untuk membunuh mereka semua, hanja Toan-long seorang jang kubela.

Selagi memikir kelak akan mengganas, tiba2 terdengar suara kelotakan pelahan dua kali didaun djendela.

Tjepat Bok wan-djing kebas tangannja hingga api lilin tersirap.

Maka terdengarlah suara Toan Ki lagi berkata pelahan diluar djendela.

Akulah, nona Bok!

Mendengar pemuda itu tengah malam mendatangi kamarnja, hati Wan-djing mendjadi ber-debar2, dalam kegelapan ia merasa wadjahnja merah membara.

Dengan bisik2 ia lantas tanja.

Ada urusan apa?

Bukalah djendelamu, biar kukatakan padamu, sahut Toan Ki.

Tidak, aku takmau buka, udjar sigadis.

Sungguh aneh, dengan ilmu silatnja jang sangat tinggi itu, biasanja ia tidak gentar pada siapapun djuga, tapi kini ia merasa djeri hanja kepada seorang peladjar jang lemah, sungguh ia sendiripun tidak tahu apa sebabnja.

Toak Ki heran djuga mengapa sigadis takmau membukakan djendelanja, segera ia membisiki lagi.

Djika begitu, lekaslah engkau keluar, kita harus segera berangkat.

Mendengar itu, tjepat Wan-djing bertanja lagi.

Sebab apa?

Tju-siko sedang tidur njenjak, djangan kita bikin mendusin dia, aku tidak ingin pulang!

demikian kata Toan Ki.

Wan-djing mendjadi girang.

Memangnja ia sedang kuatir tjara bagaimana nanti kalau bertemu dengan ajah-bunda pemuda itu.

Kini diadjak minggat, tentu sadja ia akur tanpa sjarat.

Terus sadja ia membuka djendelanja pelahan2, lalu melompat keluar.

Sssssst!

Pelahan2, djangan sampai diketahui Tju-siko!

demikian Toan Ki membisik.

Kau tunggu disini, biar kupergi membawakan kuda.

Tapi Wan-djing lantas gojang2 tangannja, sekali ia rangkul pinggang Toan Ki, ia terus endjot keatas rumah dan melompat keluar tembok sana.

Katanja kemudian.

Djangan kita naik kuda, suara derapan kuda akan mengedjutkan Tjo-sikomu.

Benar djuga, tjermat sekali engkau, sahut Toan Ki dengan tertawa.

Maka dengan bergandengan tangan mereka lantas berdjalan kearah timur.

Setelah beberapa li djauhynja tidak mendengar ada orang mengedjarnja, mereka baru merasa lega.

Kata Wan-djing.

Sebab apa kau tidak suka pulang!

Begitu pulang, tentu paman dan ajah akan menjekap aku dan dilarang keluar lagi, sahut Toan Ki.

Dan untuk bertemu lagi dengan engkau tentu akan susah pula.

Senang sekali hati Bok Wan-djing mendengar pernjataan itu, katanja.

Kau tidak suka pulang, itulah lebih baik, biarlah sedjak kini kita akan merantau, bukankah kita bisa hidup bebas tenteram?

Dan sekarang ktia harus pergi kemana?

Pertama kita harus menghindari pengedjaran Tju-siko, Ko-siok-siok dan lain2, sahut Toan Ki.

Lalu kita harus menghindari Lam-hay-gok-sin jang buas itu.

Benar, kata wan-djing memanggut.

Paling baik kita menudju kebarat-laut, kita mondok dulu dirumah seorang desa untuk menghindari penguberan, lewat belasan hari kemudian, kalau luka dipundakku sudah sembuh sama sekali, tentu kita tak usah kuatir lagi terhadap apapun.

Segera mereka bedua membiluk kearah barat-laut dengan jtepat, ditengah djalan merekapun tak berani berhenti dan banjak bitjara, harapan mereka adalah semakin djauh meninggalkan Bu-liang-san, semakin baik.

Sampai fadjar menjingsing, sudah berpuluh li djuga mereka tempuh.

Kata Wan-djing.

Musuhku terlalu banjak, kalau kita berdjalan siang hari, tentu akan menarik perhatian orang.

Lebih baik kita mentjari suatu tempat mengaso, siang hari kita makan-tidur, malam hari meneruskan perdjalanan.

Terhadap urusan2 Kangouw, sedikitpun Toan Ki tidak paham, maka sahutnja.

Baiklah terserah pada keputusanmu.

Nanti sehabis kita sarapan, kau harus mentjeritakan kemana engkau telah pergi selama tudjuh-hari-tudjuh-malam ini, kata sigadis pula.

Tapi kalau kau membohong, hm, awas............

berkata sampai disini, mendadak ia berseru heran sambil menunding kedepan.

Ternjata dibawah satu pohon jang rindang, tampak tertambat tiga ekor kuda, diatas sebuah batu besar berduduk seorang jang sedang membatja kitab sambil gojang2 kepala asjik bersjair.

Siapa lagi dia kalau bukan Tju Tan-sin.

Wah, tjelaka!

Segera Toan Ki tarik tangan sigadis hendak diadjak lari kedjurusan lain.

Namun Wan-djing tjukup paham bahwa rentjananja melarikan diri semalam tentu sudah didengar semua oleh Tju Tan-sin.

Sastrawan itu menduga Toan Ki takbisa Ginkang, tentu larinja takbisa tjepat, maka setelah menentukan arah larinja mereka, lalu naik kuda mengitar djalan lain untuk menghadang didepan.

Maka dengan mengkerut kening Wan-djing berkata.

Tolol, sudah diketahui orang, masakan masih bisa lari lagi?

~ Terus sadja ia mendekati Tju Tan-sin dan menegur.

Wah, pagi-pagi buta sudah asjik membatja disini, senang benar tampaknja!

Tan-sin manggut-manggut sambil tertawa, katanja kepada Toan Ki.

Kongtju, tjoba terkalah sjair apa jang sedang kubatja?

~ Lalu ia keraskan suaranja bersenandung sebait sjair.

Selesai mendengar, segera Toan Ki mendjawab.

Bukankah ini bisikan kalbu gubahan Gui Tin?

Tan-sin tertawa, katanja.

Pengetahuan Kongtjuya benar-benar sangat luas dan dalam, sungguh Tan-sin merasa sangat kagum!

Toan Ki dapat memahami maksud sjair orang jang mengatakan sebabnja malam-malam bersedia menjusul dan mentjari engkau, soalnja karena merasa utang budi dari ajah dan pamanmu, maka tidak berani mengetjewakan kepertjajaan jang kuterima dari beliau-beliau itu.

Maka Toan Ki mendjadi rikuh untuk minggat lagi, segera ia adjak Bok Wan-djing ikut pulang.

Entah djalan jang kami arah ini benar tidak menudju ke Tayli?

dengan likat Bok Wan-djing menanja.

Toh tiada urusan penting jang lain, ketimur atau kebarat serupa sadja, achirnja tentu djuga akan sampai di Tayli, sahut Tan-sin.

Kalau kemarin ia memberi Toan Ki menunggang seekor kuda jang paling bagus, adalah sekarang kuda bagus itu ia tunggangi sendiri untuk mendjaga-djaga kalau pemuda itu melarikan diri lagi dan dirinja tentu akan dapat mentjandaknja.

Segera Toan Ki mentjemplak keatas kudanja dan berangkat ke djurusan timur.

Kuatir kalau pemuda itu dongkol padanja, sepandjang djalan Tan-sin berusaha membikin senang hatinja dengan mengadjak bitjara tentang sjair dan sandjak.

Saking asjiknja Toan Ki dibuai oleh sjair dan sandjak, hingga Bok Wan-djing jang berada disampingnja itu tak terurus.

Karuan gadis itu mendongkol, pikirnja.

Peladjar tolol ini, kalau sudah asjik bitjara tentang sjair segala, ia mendjadi lupa daratan.

Tidak lama, sampailah mereka didjalan raja.

Kemudian mereka berhenti disuatu kedai ditepi djalan untuk sarapan pagi sekedarnja.

Baru selesai mereka pesan makanan, tiba-tiba dari luar melangkah masuk pula seorang jang bertubuh tinggi kurus.

Begitu ambil tempat duduk, segera sidjangkung itu menggebrak medja sambil membentak.

Lekas bawakan lima kati arak, tiga kati daging masak, lekas, tjepat!

Mendengar suara orang, tak usah melihat, segerak Bok Wan-djing dapat mengenali sidjangkung itu pasti In Tiong-ho adanja.

Sjukur ia menghadap kedalam hingga tidak dilihat oleh orang djahat keempat itu.

Segera ia gunakan djarinja mentjelup air kuah untuk menulis namanja In Tiong-ho diatas medja.

Tan-sin terkedjut, segera iapun menulis diatas medja.

Lekas berangkat, tak perlu menunggu aku!

Terus sadja Wan-djing berbangkit, ia tarik badju Toan Ki dan diadjak menudju keruangan belakang.

Sedjak masuk tadi, In Tiong-ho lantas duduk menghadap keluar seperti sedang mengintjar orang lewat.

Tapi dia sangat tjerdik, begitu mendengar ada suara orang bergerak dibelakangnja, ia lantas menoleh dan masih keburu melihat bajangan Bok Wan-djing menghilang dibalik pintu, segera ia membentak.

Siapa itu?

Berhenti!

~ Berbareng ia terus berbangkit dan memburu kebelakang.

Saat itu Tju Tan-sin sedang memegangi semangkok bakmi kuah panas, ia sengadja mendjerit keras sekali seakan-akan orang kaget, terus sadja semangkok bakmi panas itu disiramkan kemuka orang.

Memangnja djarak kedua orang sangat dekat, gerakan Tju Tan-sin itu sangat tjepat pula, tambah lagi sama sekali In Tiong-ho tak menjangka sisastrawan jang lemah itu mendadak bisa menjerang, pula ruangan kedai itu terlalu sempit untuk menghindar, masih mendingan djuga ilmu Ginkangnja sudah mentjapai tingkat tiada taranja, dengan tjepat luar biasa ia masih sempat memutar sedikit tubuhnja hingga semangkok bakmi panas itu dapat dielakkan sebagian, tinggal isi setengah mangkok jang tetap menggebjur kemukanja hingga pandangannja seketika mendjadi kabur.

Dalam gusarnja segera In Tiong-ho mentjakar kedada Tju Tan-sin dengan niat sekaligus binasakan orang.

Tak tersangka, begitu Tan-sin gebjurkan mangkok bakminja tadi, menjusul ia lantas angkat medjanja hingga mangkok pirng berhamburan kearah In Tiong-ho.

Tjrat, kelima djari In Tiong-ho jang mentjakar itupun menantjap dimuka medja.

Betapapun tinggi ilmu silatnja In Tiong-ho, mendadak diserang ia mendjadi kalang kabut djuga kerepotan.

Lekas-lekas ia kerahkan tenaga dalam untuk melindungi tubuh sendiri hingga mangkok piring jang menghambur kebadannja itu semuanja terpental djatuh dan tak melukainja.

Namun begitu, badjunja mendjadi basah lepek djuga oleh siraman kuah bakmi godok itu.

Pada saat lain, terdengarlah ada derapan kuda jang ramai diluar kedai, ada dua penunggang kuda telah kabur keutara.

Tjepat Tiong-ho mengusap mukanja jang tersiram bakmi tadi, tapi pada saat itu djuga sekonjong-konjong angin tadjam terasa menjambar, suatu benda keras telah menutuk kearah dadanja.

Lekas-lekas ia tarik napas dalam-dalam hingga dadanja tertarik mundur belasan senti, berbareng telapak tangan kiri lantas memotong dari atas, dua djarinja akan dipakai mendjepit kipas orang.

Rudji kipas milik Tju Tan-sin itu terbuat dari badja murni dan merupakan sendjata jang telah dijakinkan sedjak ketjil, ia dapat memainkannja dengan tjepat dan sesuka hati.

Maka ia menduga dalam keadaan kelabakan terkena siraman bakmi panas tadi, sekali serang dapatlah merobohkan In Tiong-ho jang lihay itu.

Tak tersangka, bukan sadja In Tiong-ho dapat menghindarkan serangan itu dengan baik, bahkan kipasnja hendak didjepit pula.

Karuan Tan-sin terkedjut, tjepat ia tarik kembali kipasnja.

Bitjara tentang tenaga dalam, Tju Tan-sin masih kalah setingkat daripada lawannja, tapi kipas itu adalah sendjata kesajangannja, maka sekuatnja ia menarik, untung djuga tangan In Tiong-ho jang djuga basah oleh kuah bakmi, djarinja mendjadi litjin hingga kurang kentjang djepitannja, maka dapatlah Tan-sin merebut kembali kipasnja itu.

Dalam keadaan demikian, mendadak Tan-sin mendapat akal, tjepat ia berteriak-teriak.

Hai, kawan-kawan jang memakai pantjing dan kapak, lekas kalian tutup pintu, sidjangkung ini takkan mampu lari lagi!

Kiranja Tan-sin pernah mendengar tjeritanja Bu-sian-tio-to atau situkang pantjing dari danau Bu-sian, sertai Djay-sin-khek, bahwa malam itu mereka telah kepergok dengan seorang jang djangkung bagai galah bambu, dengan tenaga mereka berdua barulah sekedar bisa menangkan lawan.

Sebab itulah, sekarang ia sengadja main gertak, ia menggembor pura-pura memanggil kawan untuk menakutkan lawan itu.

In Tiong-ho tidak menjangka kalau itu hanja gertakan belaka, ia pikir bisa tjelaka kalau benar-benar sinelajan dan situkang kaju itu muntjul, tentu dirinja susah untuk meloloskan diri.

Ia mendjadi gugup dan tidak mau bertempur lebih lama, terus sadja ia terdjang keruangan belakang dan melarikan diri melitnasi pagar tembok.

Wah, sudah lari, sidjangkung sudah lari!

Lekas kedjar, lekas kedjar!

demikian Tan-sin masih berteriak terus berlari keluar kedai sambil mentjemplak keatas kudanja, tapi bukan mengedjar sidjangkung, melainkan menjusul Toan Ki berdua.

Saat itu Toan Ki dan Wan-djing sudah melarikan kuda mereka beberapa li djauhnja, lalu melambatkan kudanja pelahan-pelahan.

Tidak lama, terdengar derapan kuda jang tjepat dari belakang, waktu menoleh, kiranja Tju Tan-sin sudah menjusul datang.

Mereka memberhentikan kuda untuk menunggu, setelah dekat, belum lagi mereka sempat menanja kawan itu, sekonjong-konjong Wan-djing berseru.

Tjelaka, orang itu sedang mengedjar kemari!

Maka tertampaklah sesosok tubuh jang djangkung sedang memburu datang dengan tjepat luar biasa, saking tinggi tubuh orang itu hingga mirip galah bambu dalam permainan Djaylangkung jang tergontai-gontai sempojongan kekanan dan kekiri.

Kedjut Tan-sin tak terhingga, sungguh tak terduga olehnja bahwa Ginkang sidjangkung bisa begitu hebat.

Tjepat ia menjabet beberapa kali dibokong kuda-kuda tunggangan Toan Ki dan Wan-djing, dalam kagetnja, kuda-kuda itu meringkik sekali terus membedal kedepan dengan kerasnja.

Maka hanja sekedjap sadja In Tiong-ho sudah djauh ketinggalan dibelakang.

Kira-kira beberapa li lagi, Bok Wan-djing mendengar napas kudanja sudah megap-megap, terpaksa ia lambatkan larinja membiarkan binatang itu sempat bernapas.

Tapi karena sedikit ajal itu, kembali In Tiong-ho sudah menjusul datang.

Biarpun ketjepatan lari dalam djarak pendek In Tiong-ho tidak bisa memadai kuda, tapi tenaga djangka lama ternjata tidak terputus-putus, ia masih bisa mengedjar terus.

Tju Tan-sin insaf akal menggertaknja tadi sudah diketahui orang, untuk menakut-nakuti lagi terang takkan mempan lagi, tampaknja dalam djarak belasan li pula tentu akan kena disusul olehnja.

Padahal asal bisa sampai dikota Tayli, betapapun besarnja urusan tentu tidak perlu takut.

Soalnja tjuma ketiga ekor kuda mereka, jang sudah pajah, makin lama makin lambat, keadaanpun makin lama semakin berbahaja.

Beberapa li lagi, sekonjong-konjong kuda Toan Ki keserimpet hingga pemuda itu terbanting djatuh kebawah.

Sjukur Bok Wan-djing dapat bertindak tjepat, belum lagi tubuh Toan Ki menempel tanah, tangan sigadis sudah sempat mendjambret tengkuk badjunja terus diangkat keatas kuda sendiri.

Terhadap gadis itu sebenarnja Tju Tan-sin mempunjai kesan djelek, tapi ketika Toan Ki terdjungkal dari kudanja, ia sendiri masih ketinggalan dibelakang untuk merintangi musuh bila perlu, untuk menolong terang tidak keburu.

Sjukur gadis itu sempat turun tangan dengan tjepat, melihat gerakan Bok Wan-djing jang sebat itu, mau-tak-mau ia memudji djuga.

Bagus!

Belum lenjap suaranja, sekonjong-konjong dari belakang ada angin menjamber, sepotong sendjata sudah menjerang kearahnja.

Tjepat Tan-sin putar kipasnja untuk menangkis, trang, tjakar badja In Tiong-ho tersampok kesamping, tapi sendjata aneh itu tidak lantas ditarik kembali oleh In Tiong-ho, sebaliknja ia terus menggaruk kebawah hingga pantat kuda tertjakar dan terluka.

Saking kesakitan, kuda itu meringkik sekali terus mentjongklang terlebih tjepat malah, hingga lagi-lagi In Tiong-ho dapat ditinggalkan dibelakang.

Tjelaka!

Orang itu sudah mengedjar kemari lagi!

demikian seru Bok Wan-djing dengan kuatir.

Waktu Toan Ki menoleh, benar djuga tertampak sesosok tubuh jang tinggi kurus bagai galah bambu sambil bergentajangan kekanan-kiri sedang mengedjar dengan tjepat.

Namun demikian, kini Toan Ki dan Wan-djing harus bersatu kuda, sedang kuda Tju Tan-sin terluka pula, dengan sendirinja mereka sangat kuatir.

Hanja Toan Ki jang sama sekali tidak kenal bahaja, ia masih tanja.

Wan-djing, apakah orang itu sangat lihay?

Dapatkah Tju-siko melawan dia?

Tidak, biarpun aku bersama dia mengerojokinja djuga takbisa menang, sahut sigadis.

Tiba-tiba timbul suatu akal dalam hatinja, katanja pula.

Eh, aku dapat pura-pura djatuh dari kuda dan merebah ditanah, nanti kalau dia mendekati aku, dalam keadaan tak tersangka-sangka aku lantas lepaskan panahku, tentu dapat merobohkan dia.

Nah, lekas kau larikan kuda sendirian, tak usah tunggu aku!

Karuan Toan Ki gugup, tanpa pikir lagi sebelah tangannja terus memeluk leher sigadis dan tangan lain merangkul pinggangnja sambil berkata.

Djangan, djangan!

Aku tak membiarkan kau menempuh bahaja itu!

Wan-djing mendjadi djengah, tjepat omelnja.

Tolol, kenapa main pegang-pegang?

Lekas lepaskan aku!

Kalau dilihat Tju-siko, matjam apa kelakuanmu ini?

O, ja!

Maaf, djangan engkau marah!

seru Toan Ki kedjut sambil lepaskan rangkulannja.

Engkau adalah suamiku, masakah pakai minta maaf segala?

udjar sigadis.

Tengah bitjara, dari djauh tampak In Tiong-ho sedang mendatangi lagi dengan gajanja jang gentajangan.

Sekilas Toan Ki melihat wadjah Wan-djing mengundjuk rasa kuatir, seketika timbullah rasa kasih-sajangnja.

Saat itulah tiba-tiba sigadis mendjerit tertahan, tertampak Tju Tan-sin sudah melompat turun dari kudanja dan sedang memberi tangan suruh mereka lari tjepat.

Lalu ia pentang kipasnja menghadang ditengah djalan hendak menempur In Tiong-ho.

Tak terduga maksud tudjuan In Tiong-ho jalah ingin menawan Bok Wan-djing jang tjantik itu.

Sekonjong-konjong ia membiluk kepinggir sehingga Tju Tan-sin dilalui, terus mengedjar lebih tjepat kearah Toan Ki berdua.

Terus-menerus Bok Wan-djing mentjambuk kudanja agar berlari lebih tjepat, mulut binatang itu sudah berbusa, napasnja megap-megap, tapi masih tetap lari mati-matian.

Wan-djing, udjar Toan Ki dengan gegetun, tjoba kalau kuda jang kita tunggangi ini adalah simawar hitam milikmu itu, djangan harap orang djahat itu mampu mentjandak kita.

Tentu sadja, sahut Wan-djing.

Dan setelah kuda itu membiluk kesuatu bukit, tiba-tiba didepan tampak sebuah djalan lapang dan lurus, ditepi djalan djuga tanah datar jang luas tanpa sesuatu tempat jang dapat dibuat sembunji, hanja diudjung barat djalan sana tampak tetumbuhan rindang menghidjau mengelilingi sebuah telaga ketjil, disisi telaga sana tampak menongol sebagian dinding berwarna kuning.

Melihat itu, terus sadja Toan Ki bersorak.

Hura, lekaslah kita menudju kesana!

Disana adalah djalan buntu, apa tjari mampus menudju kesana?

sahut Wan-djing.

Turutlah kataku, tentu kita akan selamat, udjar Toan Ki sambil keprak kudanja lebih tjepat menudju kesemak-semak pohon jang rindang itu.

Sesudah dekat, ketika Bok Wan-djing menegas, ia lihat dinding tembok jang kuning itu kiranja adalah sebuah bangunan kuil, diatas papan kuil itu tertulis Djing-hoa-koan, njata itulah sebuah To-koan atau kuil pemeluk agama To (Tao).

Hanja sepintas sadja Wan-djing memandang kuil itu, sedang dalam hati ia sedang memikir.

Sitolol ini adjak lari kesini, tapi terang menghadapi djalan buntu, bagaimana baiknja sekarang?

Ah, biarlah kusembunji dulu untuk menjerang In Tiong-ho itu dengan panahku.

Saat itu kuda mereka sudah berlari sampai didepan kuil dan sedang Wan-djing hendak menoleh kebelakang, sekonjong-konjong sudah terdengar suara ketawa orang jang terbahak-bahak dibelakang, terang itulah In Tiong-ho adanja.

Sekonjong-konjong Bok Wan-djing merasa kudanja berhenti serentak sambil berdiri menegak dan meringkik keras, hendak melangkah madju setindak lagi djuga takbisa.

Dalam keadaan hampir merosot dari pelana kuda, tjepat Wan-djing berpaling kebelakang, ia lihat kedua tangan In Tiong-ho sedang memegangi ekor kudanja, pantas binatang itu berdjingkrak dan meringkik sebab ekornja diganduli dari belakang.

Tenaga Kiong-hiong-kek-ok ini sungguh mengedjutkan, kuda jang lagi membedal dengan tjepat itu, ekornja ditarik begitu sadja lantas tak bisa berkutik sama sekali.

Segera terdengar djuga Toan Ki lagi berteriak-teriak.

Ibu, Ibu!

Lekas kemari, lekas!

Sungguh mendongkol sekali Bok Wan-djing oleh gembar-gembor Toan Ki jang mentertawakan seperti anak ketjil itu, bentaknja gusar.

Tutup mulut, tolol!

In Tiong-ho mendjadi geli djuga, ia terbahak-bahak dan mengedjek.

Hahaha, biar kau panggil nenek-mojangmu djuga pertjuma!

Mendadak Bok Wan-djing ajun tangan kanan kebelakang, sebatang panah terus menjamber ketenggorokan In Tiong-ho.

Tapi sedikit mengegos, dapatlah Tiong-ho hindarkan serangan itu.

Dari demi nampak Wan-djing hendak melompat pergi dari pelana kuda, tjepat tjakar badja ditangan kirinja terus mentjengkeram kepundak gadis itu.

Tapi Bok Wan-djing sangat tjerdik dan tjekatan, sekonjong-konjong ia merosot kebawah terus menjelusup kebawah perut kuda.

Dan selagi Tiong-ho melepaskan ekor kuda jang diganduli tadi dengan maksud hendak melabrak sigadis lebih djauh, ia mendjadi tertegun ketika tiba-tiba dilihatnja dari dalam kuil itu berdjalan keluar seorang To-koh (imam wanita) setengah umur dan berparas sangat tjantik, wadjahnja bersenjum-simpul, tangan kanan membawa sebuah kebut pertapaan.

Melihat To-koh itu, tjepat Toan Ki berlari mendekatinja.

Terus sadja To-koh itu merangkul bahu pemuda itu sambil berkata dengan tertawa.

Kembali kau bikin onar lagi, ada apa bergembar-gembor!

Melihat To-koh setjantik itu sedemikian mesranja terhadap Toan Ki, bahkan tampak pemuda itupun gunakan tangan kanan memeluk pinggang si Tokoh dengan wadjah kegirangan, seketika timbul rasa tjemburunja Bok Wan-djing, tak terpikir algi olehnja bahwa musuh masih berada disitu, ia terus menubruk madju, telapak tangan lantas membatjok keatas kepala si To-koh sambil membentak.

Kau...

kau pernah apanja?

Djangan kurang sopan, Wan-djing!

tjepat Toan Ki berseru.

Mendengar pemuda itu membela si To-koh, rasa dongkol Wan-djing semakin berkobar, batjokannja tadi dilontarkan lebih keras lagi.

Tapi dengan tenang sadja To-koh itu angkat kebutnja keatas, sedikit memutar, tahu-tahu pergelangan tangan Bok Wan-djing kena tergubet oleh benang kebutnja.

Seketika Wan-djing merasa tenaga gubetan kebut itu kuatnja tidak kepalang, tapi lunak pula, sedikit To-koh itu kebas kebutnja, kontan Wan-djing terhujung-hujung kesamping.

Dalam gugup dan kalapnja, terus sadja Wan-djing memaki.

Engkau adalah Tjut-keh-lang (orang beragama), kenapa demikian tidak tahu malu!

Semula, ketika tiba-tiba melihat muntjul seorang To-koh jang tjantik, diam-diam In Tiong-ho sangat girang, pikirnja harini aku benar-benar lagi dirubung dewi amor, sekali tangkap dua wanita tjantik, biar nanti kugondol pulang semuanja.

Tapi kemudian demi menjaksikan tjara bagaimana To-koh itu mematahkan serangan Bok Wan-djing dengan mudah.

Sebagai seorang djago berpengalaman, hanja sedjurus itu sadja ia lantas tahu ilmu silat To-koh itu sangat hebat.

Segera ia mentjemplak keatas kudanja Toan Ki tadi, tapi tidak lantas turun tangan.

Terdengar To-koh tadi sedang berkata dengan gusar.

Kau sembarangan omong apa, nona tjilik?

Kau kau sendiri pernah apanja?

Aku...

aku adalah isterinja Toan-long!

demikian Wan-djing mendjawab.

Lekas engkau melepaskan dia!

To-koh itu tertjengan sedjenak, tiba-tiba air mukanja berubah senang berseri-seri, ia djewer kuping Toan Ki, tanjanja dengan tertawa.

Apa betul katanja tadi?

Dapat dikata betul, boleh dibilang tidak pula, sahut Toan Ki.

To-koh itu lantas tjubit sekali dipipi pemuda itu sambil mentjomel.

Huh, suruh kau beladjar silat tidak mau, tapi lebih suka meniru tabiat ajahmu jang senang roman, ja?

Hm, lihatlah kalau aku tidak hadjar kau.

~ Lalu ia berpaling mengamat-amati Bok Wan-djing, kemudian katanja pula.

Ehm, nona ini djuga sangat tjantik, tjuma terlalu liar, perlu dididik pula.

Liar atau tidak peduli apa?

semprot Wan-djing dengan gusar.

Djika engkau tidak lekas lepaskan dia, djangan salahkan aku menjerang dengan panah.

Djika kau suka, boleh djuga kau tjoba-tjoba, udjar si To-koh tertawa.

Djangan, Wan-djing!

demikian Toan Ki menjela.

Kau tahu tidak siapakah beliau?

Namun Bok Wan-djing sudah kadung minum tjuka (tjemburu), ia tak tahan lagi, begitu ajun tangan, ser-ser, dua panah ketjil terus menjamber kearah si To-koh.

Melihat bidikan panah berbisa sigadis itu, wadjah si To-koh jang tadinja berseri-seri itu seketika berubah hebat.

Sekali kebutnja mengebas, setiap benang perak dari kebut itu seakan-akan bertenaga zemberani, kedua panah itu kena dibungkus semua oleh hulu kebut.

Kau pernah apanja Siu-lo-to Tjin Ang-bian?

tiba-tiba To-koh itu membentak.

Apa itu Siu-lo-to Tjin Ang-bian segala?

Aku tak pernah dengar!

sahut Wan-djing.

Melihat wadjah si To-koh jang putjat pasi saking marahnja itu, tjepat Toan Ki menghiburnja.

Engkau djanganlah marah, ibu!

Apa katamu, dia ibumu?

djerit Wan-djing terkedjut oleh utjapan Toan Ki itu.

Sungguh ia tidak pertjaja akan telinganja sendiri.

Emangnja tadi aku sudah memanggil-manggil ibu, masakah kau tak dengar?

sahut Toan Ki tertawa.

Lalu ia berpaling pada si To-koh dan berkata.

Mak, inilah nona Bok Wan-djing, selama beberapa hari ini anak banjak menghadapi bahaja dan ketemukan orang djahat, tapi berkat pertolongan nona Bok ini, djiwa anak masih selamat sampai sekarang.

Pada saat itulah tiba-tiba dari sana terdengar seorang lagi berteriak-teriak.

Yau-toan-siantju, Ya-toan-siantju!

Engkau harus hati-hati, ini adalah satu diantara Su-ok!

Kiranja jang datang ini adalah Tju Tan-sin jang ketinggalan dibelakang tadi.

Sesudah dekat dan melihat wadjah si To-koh rada aneh, ia sangka orang telah ditjederai oleh In Tiong-ho, dengan kuatir segera ia menanja.

Yau-toan-siantju, apa engkau engkau sudah bergebrak dengan dia?

Tiba-tiba In Tiong-ho bergelak ketawa, serunja.

Sekarang dimulai djuga belum terlambat!

~ Habis berkata, ia terus berdiri diatas pelana kuda.

Dasar perawakan In Tiong-ho sudah djangkung, berdiri lagi diatas kuda, karuan mirip tiang bendera menegak.

Sekonjong-konjong tubuhnja mendojong kedepan, ia gantol pelana kuda dengan kaki kanan, kedua tjakar badjanja terus menggaruk kearah si To-koh alias Yan-toan-siantju.

Tjepat Yan-toan-siantju berkelit dan mengisar kesisi kiri kuda, sekali kebutnja menjabet, segera kaki kiri In Tiong-ho diintjar.

Sama sekali In Tiong-ho tidak menghindar, sebaliknja ia masih ulur tjakar badja sebelah kiri untuk mentjengkeram punggung si To-koh.

Tapi tjepat sekali To-koh itu mendak tubuh terus menerobos lewat dibawah perut kuda, menjusul kebutnja mengebas, beratus ribu benang perak jang kemilauan terus menantjap kekaki kanan lawan.

Namun kaki kanan In Tiong-ho segera melangkah madju, ia berdiri diatas kepala kuda dengan enteng, dari tempat jang lebih tinggi itu kembali ia menjerang, tjakar badja kanan terus menjerampang.

Turun!

tiba-tiba Tju Tan-sin membentak terus ikut menerdjun kekalangan pertempuran.

Mendadak iapun melompat keatas bokong kuda, dari situ ia lantas memukul pinggang lawan dengan kepalan kiri, sedangkan kipas ditangan kanan berbareng menutuk kaki.

Sendjata jang dipakai Tju Tan-sin sangat pendek dan sangat menguntungkan untuk bertempur dari djarak dekat.

Tjepat In Tiong-ho menangkis dengan tjakar sebelah kiri, berbareng tjakar badja jang lebih pandjang itu ditjengkeramkan kedepan.

Namun dengan tjepat Yan-toan-siantju sudah tarik kembali kebutnja terus menjabet pula kekaki lawan.

In Tiong-ho benar-benar sangat lihay, biarpun dikerojok dua, ia masih dapat memainkan sepasang tjakar badannja dengan kentjang, sedikitpun tidak terdesak dibawah angin.

Melihat orang berdiri diam diatas kuda, kedudukannja lebih menguntungkan.

Segera Bok Wan-djing bidikan sebatang panah ketjil hingga menantjap dimata kiri kuda itu.

Ratjun panahnja itu sangat lihay, begitu masuk dimata, seketika binatang itu roboh binasa.

Pada saat itu djuga kebut Yan-toan-siantju sudah dapat menggubet sebelah tjakar badja lawan, berbareng Tju Tan-sin ikut merangsang madju dan menjerang tiga kali be-runtun2.

Huh, bangsat2 Tayli hanja pintar main kerojokan sadja!

damperat In Tiong-ho sambil menjerang kekanan dan kekiri, lalu ia melajang keatas pagar tembok dan melarikan diri.

Karena kedua sendjata tergubat mendjadi satu, Yau-toan-siantju dan In Tiong-ho saling betot sekuatnja.

Meski tenaga dalam In Tiong-ho lebih kuat dari lawannja, tapi karena sebagian tenaganja harus dipakai menangkis serangan kipas badja Tju Tan-sin, pula mesti ber-djaga2 serangan panah beratjun dari Bok Wan-djing, maka ia tak kuat lagi memegangi sendjatanja itu, sekali tergetar, tjakar badja dan kebut pertapaan mentjelat keudara berbareng.

Namun sekali tangan kiri Yau-toan-siantju mengajun, tahu2 seutas selendang sutera jang melibat dipinggangnja telah ditarik dan disabetkan pula.

Huh, bangsat2 dari Tay-li-kok hanja pintar main kerojok sadja!

damperat In Tiong-ho.

Ia insaf takkan bisa menang lagi, sekali tutul kakinja diatas pelana kuda, setjepat panah orangnja terus melesat keluar, sekali tjakar badja jang masih ketinggalan itu menggantol pagar tembok, orangnja terus mengapung keatas dan sekali berdjumpalitan, menghilanglah keluar.

Pada waktu jang sama Bok Wan-djing telah membidikkan pula sebatang panah, tapi toh masih kalah tjepat, plok, panah itu menantjap diatas pagar tembok, sedang In Tiong-ho sudah lenjap bajangannja.

Menjusul mana terdengarlah suara gemerantang jang njaring, kebut dan tjakar badja djatuh ketanah bersama.

Diam2 Yau-toan-siantju saling pandang dengan Tju Tan-sin dan Bok Wan-djing, mereka terpesona oleh ketjepatan In Tiong-ho jang luar biasa itu.

Selang sedjenak, barulah Tju Tan-sin membuka suara.

Yau-toan-siantju, kalau bukan engkau turun tangan, hari ini Tan-sin pasti sudah tewas ditangannja.

Yau-toan-siantju tersenjum, sahutnja.

Sudah belasan tahun tidak pakai sendjata, sudah kaku rasanja.

Tju-hiati, siapakah sebenarnja orang tadi ini?

Kabarnja Su-tay-ok-djin (empat orang maha djahat) telah datang ke Tayli semua, orang tadi adalah nomor empat dari Su-tay-ok-djin itu.

Tapi ilmu silatnja sudah begini tinggi, maka tiga orang jang lain tak usah ditanja lagi, demikian sahut Tan-sin.

Maka lebih baik engkau menghindarinja sementara ke Onghu sadja sampai nanti kalau keempat durdjana itu sudah dibereskan.

Wadjah Yau-toan-siantju rada berubah, sahutnja kurang senang.

Guna apa aku pulang ke Onghu (istana pangeran)?

Kalau Su-tay-ok-djin datang semua dan aku tak bisa melawannja, biarlah aku terima nasib sadja.

Tju Tan-sin ternjata sangat menghormat pada paderi wanita itu, ia tidak berani bitjara lagi, sebaliknja berulang kali mengedipi Toan Ki agar pemuda itu ikut membudjuk.

Maka berkatalah Toan Ki.

Mak, keempat durdjana itu benar2 terlalu djahat dan kedjam, djika kau tidak mau pulang, marilah kita pergi ketempat Pekhu (paman) sadja!

Tidak, aku tidak mau sahut Yau-toan-siantju sambil menggeleng, matanja lantas memberambang se-akan2 meneteskan air mata.

Kalau ibu tidak mau pulang, biarlah aku menemani engkau disini, udjar Toan Ki.

Lalu katanja pada Tju Tan-sin.

Tju-toako, harap kau suka laporkan pada Empek dan ajahku, katakan bahwa kami ibu dan anak tetap tinggal disini untuk melawan musuh bersama.

Yau-toan-siantju mendjadi tertawa, katanja.

Tidak malu, kepandaian apa jang kau miliki, berani bilang akan melawan musuh bersama aku?

~ walaupun ia tertawa geli karena kelakuan Toan Ki itu, namun tidak urung air matanja jang mengembeng dikelopak matanja itu menetes djuga, lekas2 ia berpaling dan mengusap air matanja dengan lengan badju.

Diam2 Bok Wan-djing heran.

Kenapa ibu Toan-long adalah seorang paderi?

Dan dengan perginja In Tiong-ho itu, tentu selekasnja akan datang pula bersama tiga orang kawannja, lalu ibunja apa sanggup melawannja?

Tapi dia sudah bertekad tak mau menjingkir pergi.

Ah, tahulah aku!

Memang laki2 didunia ini berhati palsu semua, pasti ajahnja Toan-long punja kekasih baru lagi, hingga ibunja marah, terus tirakat menjutjikan diri.

~ Berpikir demikian, ia mendjadi solider pada Yau-toan-siantju, katanja segera.

Yau-toan-siantju, biar aku membantu kau melawan musuh.

Yau-toan-siantju meng-amat2i paras Bok Wan-djing sedjenak, mendadak ia menanja dengan suara bengis.

Kau harus mengaku terus terang, sebenarnja 'Siu-lo-to' Tjin Ang-bian itu pernah apamu?

Bok Wan-djing mendongkol djuga oleh sikap orang, sahutnja.

Bukankah sudah kukatakan bahwa selamanja aku tidak pernah kenal nama itu.

Apakah Tjin Ang-bian itu laki2 atau perempuan, manusia atau chewan, sama sekali aku tidak tahu.

Baru sekarang Yau-toan-siantju mau pertjaja, sebab kalau gadis ini adalah sanak keturunan Siu-lo-to, tidak mungkin berkata tentang chewan segala.

Maka sikapnja berubah ramah kembali, katanja dengan tersenjum.

Nona djangan marah, soalnja karena tadi aku melihat tjara kau melepaskan panah sangat mirip seorang wanita jang kukenal, parasmu djuga rada memper, maka timbul rasa tjurigaku.

Nona Bok, siapakah nama kedua orang tuamu?

Ilmu silatmu sangat bagus, tentu djuga keluaran perguruan ternama!

Bok Wan-djing menggeleng kepala, sahutnja.

Sedjak ketjil aku sudah piatu, Suhu jang membesarkan aku.

Maka aku tidak tahu siapa2 ajah-bundaku.

Djika begitu, siapakah gerangan gurumu itu?

tanja Yau-toan-siantju lagi.

Guruku bernama 'Bu-beng-khek' sahut Wan-djing.

Namanja Bu-beng-khek?

Yau-toan-siantju mengulangi nama itu sambil merenung sedjenak, kemudian ia pandang Tju Tan-sin dengan maksud menanja apakah kenal akan nama itu.

Tapi Tju Tan-sin menggojang kepala, katanja.

Tan-sin tinggal terpentjil didaerah selatan, sempit pengalamannja, maka banjak kaum kesatria gagah di Tionggoan tidak dikenalnja.

Tjianpwe 'Bu-beng-khek' itu tentunja seorang kosen jang mengasingkan diri dipegunungan sunji.

Tengah berbitjara, tiba2 diluar sana ramai dengan suara derapan kuda, dari djauh ada seorang sedang berseru menanja.

Site, Kongtjuya baik2 bukan?

Ja, Toako, Kongtjuya tidak kurang suatupun apa!

sahut Tan-sin.

Hanja sebentar sadja, empat penunggang kuda sudah berhenti didepan Djing-hoa-koan, Bu-sian-tio-to, Djay-sin-khek dan Tiam-djong-san-long bertiga tampak masuk, terus menjembah kehadapan Yau-toan-siantju.

Sedjak ketjil Bok Wan-djing dibesarkan dipegunungan sunji, ia mendjadi heran melihat tata-krama jang ber-tele2 itu, pikirnja.

Orang2 ini sangat hebat ilmu silatnja, mengapa melihat seorang wanita lantas menjembah semua?

Melihat keadaan ketiga orang itu rada runjam, muka Tiam-djong-san-long, sipetani dari pegunungan Tiam-djong, tampak terluka pula hingga perlu dibalut, Djay-sin-khek, situkang kaju, badannja djuga berlepotan darah, sedang alat pantjing Bu-sian-tio-to, situkang pantjing dari danau Busian, sudah terkutung sebagian, maka tjepat Yau-toan-siantju menanja.

Bagaimana, apa musuh terlalu hebat?

Parah tidak lukanja Su-kui?

Tang Su-kui adalah nama Tiam-djong-san-long, sipetani.

Mendengar pertanjaan itu, matanja se-akan2 berapi saking penasarannja, sahutnja keras2.

Su-kui pertjuma beladjar, sungguh memalukan hingga Onghui mesti ikut berkuatir.

Kau sebut aku Onghui apa segala?

kata Yau-toan-siantju dengan pelahan.

Rupanja ingatanmu begitu djelek, ja Seketika Tang Su-kui menunduk, sahutnja.

Ja, harap Onghui memaafkan!

Walaupun mengaku salah tapi mulutnja tetap menjebut Onghui atau isteri pangeran.

Rupanja panggilan itu sudah terlalu biasa diutjapkan hingga susah disuruh berubah.

Dimanakah Ko-houya?

Kenapa tidak ikut datang ?

demikian Tan-sin menanja.

Houya berada diluar, ia terluka dalam sedikit, tidak leluasa untuk turun dari kudanja, sahut Bu-sian-tio-to, sinelajan, jang bernama Leng Djian-li.

Ah, djadi Houya djuga terluka?

Ap ...

apa parah?

seru Yau-toan-siantju terkedjut.

Ko-houya tadi mengadu tenaga dengan Lam-hay-gok-sin, dalam keadaan tak terpisahkan, se-konjong2 Yap Dji-nio menjerangnja dari belakang hingga punggungnja kena digablok sekali, tutur Leng Djian-li.

Setelah ragu2 sedjenak, mendadak Yau-toan-siantju menarik Toan Ki dan mengadjak.

Marilah, Ki-dji, kita keluar mendjenguk Ko-sioksiok.

Segera mereka berdua mendahului keluar diikut empat tokoh Hi-djiau-keng-dok atau sinelajan, situkang kaju, sipetani dan sipeladjar.

Begitu pula Bok Wan-djing mengikut keluar.

Benar djuga segera nampak Sian-tan-hou Ko Sing-thay tengkurap diatas kudanja, badju dibagian punggung tampak robek dan djelas kelihatan bekas telapak tangan.

Tjepat Toan Ki memburu madju dan menanja.

Ko-sioksiok, bagaimanakah keadaanmu?

Waktu Ko Sing-thay mendongak dan nampak Yau-toan-siantju berdiri didepan pintu, tjepat ia meronta turun dari kuda untuk memberi hormat.

Ko-houya, kau terluka, tidak perlu banjak adat lagi, kata Yau-toan-siantju.

Namun Ko Sing-thay sudah menjembah ditanah dari djauh serta berkata.

Sing-thay menjampaikan salam bakti kepada Onghui!

Ki-dji, lekas kau memajang bangun Ko-sioksiok!

seru Siantju segera.

Diam2 Bok Wan-djing bertambah tjuriga, pikirnja.

Ilmu silat orang she Ko ini sangat lihay, dengan serulingnja jang pendek itu, hanja beberapa gebrak sadja sudah kalahkan Yap Dji-nio, tentu dia sangat terkemuka didunia persilatan, tapi kenapa melihat ibunja Toan-long, ia mendjadi begitu menghormat serta menjebutnja Onghui?

Apa mungkin Toan-long adalah .....

adalah Ongtju (putera pangeran) segala?

Tapi, ah, seorang peladjar ke-tolol2an seperti dia masakah mirip seorang Ongtju apa?

Dalam pada itu terdengar Yau-toan-siantju lagi berkata.

Djika Ko-houya terluka, silahkan segera pulang Tayli untuk merawat dirimu.

Ko Sing-thay mengia sambil berbangkit.

Tapi segera katanja pula.

Sutay-ok-djin telah datang ke Tayli semua, keadaan sangat berbahaja, harap Onghui suka pulang istana untuk menghindarinja sementara.

Yau-toan-siantju menghela napas, sahutnja.

Selama hidupku ini takkan pulang kesana lagi.

Djika begitu, biarlah kita tinggal mendjaga diluar Djing-hoa-koan ini, udjar Sing-thay.

Lalu ia berpaling pada Tang Su-kui dan berkata.

Su-kui, kembalilah kau dan lekas laporkan pada Hongsiang dan Ongya.

Su-kui mengia terus mentjemplak keatas kudanja.

Meski lukanja tidak ringan, tapi gerak-geriknja masih sangat tjekatan.

Nanti dulu !

tiba2 Yau-toan-siantju mentjegah.

Ia menunduk memikir.

Sorot mata semua orang terpusatkan pada dirinja, tapi dari air muka Siantju jang ber-ubah2 itu, terang dia lagi menghadapi pertentangan batin jang serba sulit.

Selang agak lama, mendadak ia menengadah dan berkata.

Baiklah, marilah kita pulang ke Tayli semua, tidaklah patut kalau melulu untuk diriku mesti bikin semua orang tinggal disini.

Karuan Toan Ki berdjingkrak saking girang, terus sadja ia peluk sang ibu dan berkata.

Beginilah memang ibuku jang baik!

Biar kupergi memberi kabar dulu!

seru Su-kui terus keprak kudanja.

Dalam pada itu Leng Djian-li sudah lantas bawakan kuda untuk Yau-toan-siantju, Toan Ki dan Bok Wan-djing.

Begitulah be-ramai2 mereka lantas berangkat ke Tayli.

Yau-toan-siantju, Toan Ki, Wan-djing dan Sing-thay berempat menunggang kuda, sedang Busian-tio-to Leng Djian-li, Djay-sin-khek Siau Tiok-sing dan Pit-bek-seng Tju Tan-sin mengikuti dengan djalan kaki.

Tidak djauh, dari depan tampak datang seregu pasukan berkuda negeri Tayli.

Leng Djian-li memberi tanda kepada komandan pasukan itu serta berkata beberapa ketjap padanja.

Segera komandan pasukan itu memberi perintah, semua peradjurit melompat turun dari kuda serta menjembah ditanah.

Toan Ki memberi tanda dan berkata.

Silahkan berdiri, tak usah banjak adat!

Segera komandan pasukan itu membawakan tiga ekor kuda lain untuk Leng Djian-li bertiga.

Lalu ia pimpin pasukannja mendahului membuka djalan.

Melihat suasana jang luar biasa itu, Bok Wan-djing menduga Toan Ki pasti bukan orang biasa, tiba2 ia mendjadi kuatir.

Semula kusangka dia hanja seorang peladjar jang miskin, makanja aku pasrahkan diriku padanja.

Tapi melihat gelagatnja ini, kalau bukan sanak-keluarga keradjaan, tentu dia adalah pembesar negeri, bukan mustahil aku akan dipandang hina olehnja.

Suhu pernah berkata bahwa semakin laki2 itu kaja dan berpangkat, semakin tidak punja Liangsim, tjari isteri djuga mesti minta jang sederadjat.

Hm, hm, sjukurlah bila dia tetap memperisterikan daku dengan baik, kalau tidak, ragu2 dan matjam2, ha, lihatlah kalau aku tidak batjok kepalanja, peduli apakah kau keluarga radja atau pembesar negeri!

Dan karena berpikir begitu, ia takbisa tahan perasaannja lagi, segera ia keprak kudanja mendjadjari Toan Ki terus menanja.

He, sebenarnja siapakah kau?

Apa jang kita tetapkan diatas gunung itu masih tetap berlaku tidak?

Melihat didepan umum sigadis terang2an menegur padanja tentang urusan perdjodohan, keruan Toan Ki mendjadi kikuk, sahutnja dengan tersenjum.

Setelah sampai dikota Tayli, pelahan2 tentu akan kudjelaskan padamu.

Awas kalau kau mengingkari aku...............

aku.........

berkata sampai disini, suaranja mendjadi ter-guguk2 dan takbisa diteruskan lagi.

Melihat wadjah sigadis ke-merah2an menahan isak tangis, air matanja mengembeng ber-kilau2 hingga makin menambah tjantiknja, rasa tjinta Toan Ki mendjadi ber-kobar2, katanja dengan lirih.

Wan-djing, djanganlah kau kuatir, lihatlah, ibuku djuga sangat suka padamu.

Seketika dari menangis Bok Wan-djing berubah tertawa, sahutnja pelahan.

Ibumu suka atau tidak suka padaku, aku tidak urus!

~ dibalik kata2nja ini se-akan menjatakan.

asal kau suka padaku, sudahlah tjukup.

Tentu sadja perasaan Toan Ki terguntjang, waktu ia berpaling kearah ibunja, ia lihat Yau-toan-siantju lagi memandang kepada mereka dengan paras jang tertawa-tidak-tertawa.

Karuan Toan Ki medah djengah.

Mendjelang petang, kira2 masih 30 li diluar kota Taylil, tiba2 kelihatan debu mengepul tinggi didepan sana, sepasukan tentera jang berdjumlah beberapa ratus orang mendatangi dengan tjepat.

Dua buah pandji kuning djingga tambak ber-kibar2, jang sebuah tertulis dua huruf sulam Tin-lam dan jang lain Po-kok (menduduki selatan dan membela negara).

Segera Toan Ki berseru.

Mak, ajah sendiri datang memapak engkau!

Yau-toan-siantju hanja mendengus sekali terus memberhentikan kudanja.

Ko Sing-thay dan lain2 lantas turun dari kuda dan berdiri dipinggir djalan.

Sedang Toan Ki segera keprak kudanja kedepan.

Bok Wan-djing ragu2 sedjenak, tapi tjepat iapun keprak kudanja menjusul.

Tidak lama, pasukan itu sudah dekat, segera Toan Ki berseru.

Tiatia (ajah), ibu telah kembali!

Maka tampaklah dari tengah pasukan itu muntjul seorang berdjubah kuning menunggang seekor kuda putih jang tinggi besar sekali, datang2 terus membentak.

Ki-dji, kau terlalu bandel hingga Ko-sioksiok ikut terluka parah, lihatlah nanti kalau aku tidak hadjar patah kedua kakimu!

Bok Wan-djing mendjadi kaget, pikirnja.

Hm, kedua kaki Toan-long hendak kau patahkan?

Tidak bisa, pasti aku akan merintangi, biarpun kau adalah ajahnja!

~ Ia lihat orang berdjubah kuning itu bermuka lebar, sikapnja sangat gagah keren, alis lebat, mata besar, mempunjai wibawa sebangsa radja atau pangeran.

Meski utjapannja tadi kedengarannja bengis, tapi melihat sang putera telah pulang dengan selamat, air mukanja lebih banjak girangnja daripada gusarnja.

Diam2 Wan-djing membatin.

Untung paras Toan-long lebih banjak mirip ibunja, kalau matjam kau jang garang bengis begini, tentu aku takkan suka.

Ia lihat Toan Ki sudah memapak madju sambil berkata dengan tertawa.

Tia, engkau baik2 sadja bukan?

Baik, hitung2 tidak mati gusar oleh perbuatanmu!

sahut orang berdjubah kuning itu dengan marah.

Tapi kalau bukan anak keluar rumah, ibu tentu djuga takbisa diadjak pulang.

Djasa anak ini rasanja bolehlah mengimbangi kesalahanku, harap ajah djangan gusar lagi, demikian kata Toan Ki dengan tertawa.

Seumpama aku tidak hadjar kau, Empekmu pasti djuga tidak bisa mengampuni kau, udjar sibadju kuning.

Dan sekali ia kempit kudanja, setjepat terbang kuda putting ia lantas mentjongklang kearah Yau-toan-siantju.

Melihat peradjurit pasukan itu semua berlapis badja jang mengkilap dengan sendjata lengkap, 20 orang dibaris depan membawa pandji dan papan jang bertjat emas bentuk naga dan harimau, diatas salah sebuah papan merah itu tertuliskan tanda pangkat ajah Toan Ki sebagai Po-kok-tay-tjiang-kun atau panglima besar pembela negara dan papan lain tertulis gelar bangsawannja sebagai Tin-lam-ong she Toan dari negeri Tayli.

Meski biasanja Bok Wan-djing tidak takut langit dan tak gentar pada bumi, tapi menjaksikan perbawa barisan jang angker itu, mau-takmau ia harus prihatin djuga.

Tiba2 tanjanja pada Toan Ki.

He, apakah Tin-lam-ong, Po-kok-tay-tjiang-kun ini adalah ajahmu?

Toan Ki mengangguk, sahutnja dengan lirih.

Dan adalah ajah mertuamu pula.

Sesaat itu Bok Wan-djing mendjadi ter-mangu2 diatas kudanja dengan rasa hampa.

Habis itu, ia keprak kudanja mendjadjari Toan Ki pula.

Disekitar djalan besar itu penuh dengan orang, tapi ia merasa hampa dan sepi tak terkatakan, ia mendjadi lega bila berdampingan dengan Toan Ki.

Sementara itu Tin-lam-ong tampak sudah berhadapan dengan Yau-toan-siantju, kedua orang saling pandang kian-kemari, tapi tiada satupun jang mulai bitjara.

Mak, ajah sendiri datang menjambut kau, seru Toan Ki segera.

Kau pergi katakan pada Pekbo (bibi) bahwa aku akan tinggal beberapa hari ditempatnja, sesudah mengundurkan musuh, aku lantas kembali ke Djing-hoa-koan, demikian kata Yau-toan-siantju.

Maka dengan mengiring tawa, Tin-lam-ong membuka suara.

Hudjin, apakah kau masih marah padaku?

Marilah pulang dulu, nanti akan kuminta maaf padamu.

Yau-toan-siantju menarik muka, sahutnja.

Tidak, aku tidak pulang, aku akan keistana.

Bagus, seru Toan Ki tertawa, kita keistana dulu untuk mendjumpai Pekhu dan Pekbo.

Mak, anak telah keluar kelujuran tanpa permisi, Pekhu tentu akan marah, ajah terang tidak mau membela aku, maka mohon ibu suka mintakan ampun pada Pekhu.

Tidak, semakin besar semakin bandel kau, biar Pekhu memberi hadjaran setimpal padamu, sahut Yau-toan-siantju.

Tapi kalau anak dihadjar, jang merasa sakit tentu ibu, maka lebih baik djangan sampai dihadjar, kata Toan Ki dengan tjengar-tjengir aleman.

Yau-toan-siantju tertawa, katanja lagi.

Tidak, semakin keras kau dihadjar, semakin senang aku.

Begitulah, suasana pertemuan kembali Tin-lam-ong dengan sang isteri itu sebenarnja serba runjam, tapi karena banjolan Toan Ki itu, perasaan suami-isteri itu seketika berasa bahagia.

Tia, tiba2 Toan Ki berseru pula, kudamu lebih bagus, kenapa tidak bertukar kuda dengan ibu?

Tidak, kata Yau-toan-siantju, terus keprak kudanja kedepan.

Segera Toan Ki memburunja dan menahan kuda sang ibu.

Sementara itu Tinlam-ong sudah turun dari kudanja serta menjusul.

Dengan tertawa2 Toan Ki terus pondong sang ibu keatas kuda putih ajahnja dan berkata.

Mak, wanita setjantik engkau mendjadi lebih aju lagi bila menunggang kuda putih ini.

Nonamu she Bok itu barulah benar2 tjantik tiada bandingannja, kau sengadja mentertawai ibumu jang sudah nenek2 ini ja?

sahut Siantju tertawa.

Baru sekarang Tin-lam-ong berpaling kearah Bok Wan-djing, tanjanja pada Toan Ki.

Ki-dji, siapakah nona ini?

Ia adalah ......

adalah nona Bok, ia adalah .....

adalah kawan baik anak, sahut Toan Ki gelagapan.

Melihat sikap puteranja itu, segera Tin-lam-ong tahu apa artinja itu.

Ia lihat Bok Wan-djing tjantik-molek, putih halus, diam2 ia harus memudji djuga kepandaian puteranja jang pintar pilih pasangan itu.

Tapi demi nampak sifat liar Bok Wan-djing itu, sama sekali tidak memberi hormat atau menjapa, diam2 katanja dalam hati.

Kiranja adalah seorang gadis desa jang tidak kenal peradaban.

~ Ia kuatirkan keadaan luka Ko Sing-thay, segera ia mendekatinja serta menanja dan memeriksa urat nadinja.

Hanja terluka sedikit, tidak apa2, djangan kau buang tenaga.................

demikian kata Ko Sing-thay.

Namun Tin-lam-ong sudah lantas ulur djari telundjuk kanan dan menutuk tiga kali dipunggung dan tengkuknja, berbareng telapak tangan kiri menahan dipinggangnja.

Lambat laun tampak asap putih mengepul dari ubun2 Tin-lam-ong, selang sedjenak lagi, barulah ia lepaskan tangan kirinja.

Sun-ko, bakal menghadapi musuh tangguh, buat apa kau membuang tenaga dalam dirimu?

udjar Ko Sing-thay.

Lukamu tidak enteng, lebih tjepat disembuhkan lebih baik, kalau dilihat Toako, tanpa menunggu aku tentu dia akan turun tangan sendiri, sahut Tinlam-ong alias Toan Tjing-sun.

Melihat wadjah Ko Sing-thay jang tadinja seputjat majat itu, hanja dalam sekedjap sadja sudah bersemu merah, lukanja sudah disembuhkan, diam2 Bok Wan-djing sangat terkedjut.

Kiranja ajah Toan-long memiliki Lwekang jang maha tinggi, tapi kenapa.............

kenapa dia sendiri tak bisa ilmu silat?

Sementara itu Leng Djian-li sudah bawakan seekor kuda lain untuk Tinlam-ong serta meladeni pangeran itu naik keatas kuda.

Tin-lam-ong keprak kudanja berdjadjar dengan Ko Sing-thay dan mengadjaknja bitjara tentang kekuatan musuh.

Toan Ki djuga pasang omong dengan senangnja dengan sang ibu, ber-bondong2 pasukan tentara negeri Tayli itu berangkat kembali, hanja Bok Wan-djing jang merasa kesepian karena tiada jang adjak omong.

Petangnja, rombongan sudah memasuki kota Tayli.

Dimana pandji2 bertuliskan Tin-lam dan Po-kok tiba, disitu rakjat djelata lantas bersorak-sorai memudji kebesaran panglima itu.

Tin-lam-ong balas memberi tangan kepada rakjat jang meng-elu2kannja itu, tampaknja ia sangat disukai oleh rakjat djelata.

Bok Wan-djing melihat kota Tayli itu sangat ramai, gedung berdiri disana-sini dengan megah, djalan raja jang berlapiskan batu hidjau besar rata penuh rakjat jang berlalu-lalang.

Setelah melalui sebuah djalan kota, kemudian tampak didepan mendatar sebuah djalan batu jang lempeng lebar, diudjung djalan itu tampak berdiri beberapa istana berwarna kuning jang indah dengan katja jang kemilauan tersorot oleh tjahaja matahari diwaktu sendja.

Rombongan itu sampai didepan sebuah gapura, semuanja lantas turun dari kuda.

Bok Wan-djing melihat diatas papan gapura itu tertulis empat huruf Tjip-to-kiong-tju, artinja djalan menudju istana bidjaksana.

Bok Wan-djing pikir.

Tentu inilah istana radja negeri Tayli.

Pamannja Toan-long tinggal didalam istana, agaknja kedudukannja sangat tinggi, kalau bukan pangeran, tentu sebangsa panglima besar dan sebagainja.

Setelah lewat gapura itu, sampailah didepan istana radja Seng tju-kiong.

Tiba2 seorang Thaykam (dajang kebiri) berlari keluar dengan tjepat, katanja sambil menjembah.

Lapor Ongya, Hongsiang dan Nionio (baginda radja dan permaisuri) sedang menunggu di Onghu, silahkan Ongya dan Onghui pulang ke Tin-lam-onghu untuk menghadap Hongsiang!

Tin-lam-ong mengia dengan girang.

Begitu pula Toan Ki lantas berseru.

Bagus, bagus!

Apanja jang bagus?

omel Onghui dengan melototi sang putera, Biarlah aku tunggu Nionio didalam istana sini.

Tapi Nionio memesan agar Onghui diharuskan menghadapnja sekarang djuga, beliau ingin berunding sesuatu jang penting dengan Onghui, demikian segera Thaykam tadi menutur.

Ada urusan penting apa?

Huh, tipu muslihat belaka!

Yau-toan-siantju menggerundel pelahan.

Toan Ki tahu djuga, itulah rentjana jang sengadja diatur oleh Honghou (permaisuri), sebab menduga ibunja tentu tak mau pulang istana pangeran, maka sengadja menunggu di Tin-lam-onghu untuk mempertemukan kembali ajah-bundanja disana.

Maka iapun tidak banjak bitjara lagi, tjepat ia bawakan kuda untuk sang ibu serta menaikkannja keatas kuda.

Rombongan segera putar balik keistana pangeran.

Disana suasana tampak sangat angker, pasukan pengawal berdiri dengan radjin memberi hormat atas pulangnja Tin-lam-ong dan permaisuri.

Tin-lam-ong mendahului masuk kepintu istana, tapi Yau-toan-siantju masih ogah2an, begitu naik keatas undak2an, segera matanja memberambang basah.

Namun dengan setengah mendorong dan setengah menjeret Toan Ki dapat mengiringkan sang ibu kedalam istana, lalu katanja.

Tia, anak telah mengadjak ibu pulang kerumah, djasa anak sebesar ini, hadiah apa jang akan ajah berikan padaku?

Saking senangnja, Tin-lam-ong menjahut.

Kau boleh tanja ibumu, ibu bilang hadiah apa, segera kuberikan.

Kubilang paling tepat beri hadiah gebukan, kata Yau-toan-siantju dengan tertawa.

Toan Ki melelet lidah dan tak berani bitjara lagi.

Setelah ikut masuk ruangan pendopo, Ko Sing-thay dan lain2 tidak ikut masuk lebih djauh.

Kata Toan Ki kepada Wan-djing.

Bok ....

Bok-kohnio, silahkan kau menunggu sebentar disini, setelah kuhadap Hongsiang, segera kudatang lagi.

Terpaksa Wan-djing mengangguk, walaupun dalam hati sangat berat ditinggal pemuda itu.

Tanpa peduli lagi ia terus duduk diatas kursi pertama jang tersedia disitu.

Sebaliknja Ko Sing-thay dan lain2 tetap berdiri, setelah Tin-lam-ong bertiga masuk keruangan dalam, barulah Ko Sing-thay ambil tempat duduk, jang lain2 tetap berdiri dengan tangan lurus tegak.

Bok Wan-djing tidak ambil pusing mereka itu, ia lihat didalam pendopo itu penuh terhias pigura lukisan dan seni tulis, begitu banjak hingga dia bingung sendiri melihatnja, apalagi memang banjak djuga huruf jang tak dikenalnja.

Maklum gadis gunung jang tak banjak makan sekolahan.

Tidak lama, seorang dajang membawakan teh, sambil setengah berlutut, dajang itu angkat nampan tinggi2 menjuguhkan minuman itu kepada Bok Wan-djing dan Ko Sing-thay.

Diam2 sigadis mendjadi heran mengapa hanja dirinja dan Ko Sing-thay jang mendapat minum, sedang Tju Tan-sin dan lain2 tidak.

Padahal djago2 itu ketika menghadapi musuh dipuntjak gunung, perbawanja tiada terkatakan kerennja.

Tapi sampai didalam Tin-lam-onghu, mereka mendjadi begitu prihatin, sampai bernapaspun tak berani keras2.

Sesudah lama ditunggu, ternjata Toan Ki belum djuga keluar, Wan-djing mendjadi tak sabar, teriaknja tak peduli.

Toan Ki, Toan Ki, kerdja apa kau didalam, lekas keluar!

Ruangan itu hening sunji, bahkan setiap orang berdiam dengan menahan napas, tapi mendadak Bok Wan-djing menggembor, karuan mereka kaget.

Tapi segera mereka merasa geli djuga.

Kata Ko Sing-thay.

Harap nona Bok suka sabar, sebentar Siauongya tentu akan keluar Siauongya apa katamu?

tanja Wan-djing.

Toan-kongtju adalah putera Tin-lam-ong, bukankah Siauongya (putera pangeran) namanja?

sahut Sing-thay.

Bok Wan-djing mendjadi heran, katanja kemak-kemik.

Siauongya?

Huh, peladjar ke-tolol2an begitu masakah memper seorang Ongya segala?

Apakah engkau inilah kaisar negeri Tayli?

tanja Bok Wan-djing setjara blak2an tanpa berlutut dan tidak menjembah.

Sedjenak kemudian, dari dalam keluarlah seorang Thaykam dan berseru.

Titah baginda.

Sian-tan-hou dan Bok Wan-djing diperintahkan masuk menghadap!

Waktu melihat keluarnja Thaykam itu, Ko Sing-thay sudah lantas berdiri dengan sikap menghormat.

Tapi Bok Wan-djing sama sekali tak peduli, ia tetap duduk ditempatnja dengan enaknja.

Dan demi mendengar namanja disebut begitu sadja, ia mendjadi kurang senang, omelnja pelahan.

Masakan menjebut nona djuga tidak, apakah namaku boleh sembarangan kau panggil?

Ko Sing-thay tersenjum, katanja segera.

Marilah nona Bok, kita masuk menghadap Hongsiang Biarpun Bok Wan-djing tidak pernah gentar pada siapa dan apapun djuga, tapi mendengar akan menghadapi radja, tanpa merasa ia djadi merinding.

Terpaksa ia ikut dibelakang Ko Sing-thay, setelah menjusur serambi pandjang dan menerobos beberapa ruangan lagi, achirnja sampailah disebuah ruangan besar jang indah.

Segera Thaykam tadi berseru sembari menjingkap kerai.

Sian-tan-hou dan Bok Wan-djing datang menghadap Hongsiang dan Nionio.

Ko Sing-thay mengedipi Bok Wan-djing agar mengikut tjaranja, lalu ia mendahului masuk keruangan terus berlutut kehadapan seorang laki2 dan wanita agung jang berduduk ditengah situ.

Sebaliknja Wan-djing tidak ikut berlutut, bahkan ia meng-amat2i laki2 jang berdjubah sulam kuning dan berdjenggot pandjang itu, lalu menanja.

Apakah engkau ini adalah Hongte (kaisar)?.

Memang laki2 jang duduk di-tengah2 dengan agungnja ini adalah Toan Tjing-beng, kaisar negeri Tayli sekarang jang bidjaksana dengan gelar Poting-te.

Tay-li-kok atau negeri Tayli itu berdiri sedjak djaman Ngotay, sudah bersedjarah lebih 150 tahun.

Po-ting-te sudah belasan tahun naik tachta, tatkala itu seluruh negeri aman sentausa, rakjat hidup sedjahtera, negara makmur, rakjat subur.

Melihat Bok Wan-djing tidak berlutut, sebaliknja menanja apakah dirinja kaisar atau bukan, Po-ting-te mendjadi geli malah, maka sahutnja.

Ja, akulah kaisar.

Bagaimana, senang tidak pesiar dikota Tayli ini?

Begitu masuk kota aku lantas datang kemari, belum ada tempo untuk pesiar, sahut sigadis.

Biarlah besok Ki-dji mengadjak kau pesiar menikmati keindahan Tayli ini, udjar Po-ting-te dengan tersenjum.

Baiklah, kata Wan-djing.

Dan kau apa akan mengiringi kami djuga?

Mendengar itu, semua orang ikut tertawa geli.

Namun Po-ting-te menoleh kepada permaisurinja dan menanja.

Honghou, dara ini minta kita mengiringi dia, kau bilang bagaimana?

Dengan tersenjum belum lagi permaisuri itu mendjawab, Bok Wan-djing sudah lantas buka suara pula.

Apakah engkau Honghou-nionio?

Sungguh tjantik benar!

Po-ting-te ter-bahak2, serunja.

Ki-dji, nona Bok ini sungguh polos dan ke-kanak2an, sungguh menarik.

Kenapa kau panggil dia Ki-dji?

tiba2 Wan-djing menanja lagi.

Empek (paman) jang sering dia sebut itu apakah engkau adanja?

Kali ini dia berkelujuran keluar, dia sangat takut dimarahi olehmu.

Harap kau djangan menghadjar dia, ja?

Sebenarnja aku akan persen dia 50 kali rangketan, sahut Po-ting-te dengan tertawa.

Tapi kau telah minta ampun baginja, baiklah kuampuni dia.

Nah, Ki-dji, tak lekas kau menghaturkan terima kasih pada nona Bok?

Melihat Bok Wan-djing membikin baginda sangat senang, Toan Ki bergirang djuga, ia tjukup kenal watak sang paman jang suka turut permintaan orang, maka tjepat ia berkata pada Wan-djing.

Terima kasih atas kebaikanmu, nona Bok.

Sigadis membalas hormat serta menjahut dengan pelahan.

Tak usah kau berterima kasih, asal kau tak dihadjar pamanmu aku sudah lega.

~ Lalu ia berkata pula kepada Po-ting-te.

Semula kusangka seorang kaisar tentu sangat bengis menakutkan, siapa tahu engkau .....

engkau sangat baik!

Sebagai kaisar, umumnja orang hanja djeri dan menghormat padanja, tapi belum pernah ada orang memudjinja engkau sangat baik, karuan Po-ting-te sangat senang terutama melihat sifat sigadis jang polos ke-kanak2an itu, maka katanja pada permaisurinja.

Honghou, barang apa akan kau hadiahkan padanja?

Segera Honghou tanggalkan sebuah gelang kemala dari lengannja dan disodorkan pada Bok Wan-djing dan berkata.

Ni, dihadiahkan padamu!

Wan-djing tidak menolak, ia terima hadiah itu dan dipakai ditangan sendiri, katanja kemudian dengan tertawa.

Terima kasih, ja!

Lain kali akupun akan mentjari sesuatu barang bagus untuk dipersembahkan padamu.

Honghou tersenjum dan belum lagi mendjawab, se-konjong2 diluar beberapa rumah sana, kedengaran atap rumah berbunji keresek sekali.

Segera Honghou berpaling pada Po-ting-te dan berkata.

Itu dia, ada orang menghantar hadiah padamu!

Belum selesai utjapannja, kembali suara keresekan berbunji pula diatas rumah sebelah.

Bok Wan-djing terperandjat, ia tahu musuh jang datang itu berilmu Ginkang jang maha tinggi, entengnja laksana daun djatuh, bahkan tjepatnja luar biasa.

Dalam pada itu segera terdengar djuga ada beberapa orang telah melompat keatas rumah, menjusul terdengar suara Bu-sian-tio-to Leng Djian-li lagi menegur.

Siapakah tuan ini, ada urusan apa malam2 mengundjungi Onghu?

Aku ingin mentjari muridku!

Dimana muridku jang sajang itu, lekas suruh dia keluar!

demikian djawab suara seorang jang menjerikan mirip logam digesek.

Itulah dia suaranja Lam-hay-gok-sin.

Diam2 Bok Wan-djing berkuatir, meski iapun tahu pendjagaan dalam istana itu sangat keras dan kuat, Tin-lam-ong sendiri dan Yau-toan-siantju serta tokoh2 Hi-djiau-keng-dok sangat tinggi ilmu silatnja, tapi Lam-hay-gok-sin itu sesungguhnja teramat lihay, tambahan pula dibantu Yap Dji-nio dan In Tiong-ho, belum lagi orang djahat nomor satu didunia jang belum muntjul itu, sekaligus Su-ok bersatu untuk merampas Toan Ki, mungkin tidak mudahlah untuk melawannja.

Sementara itu terdengar Leng Djian-li lagi menanja.

Siapakah gerangan muridmu?

Didalam Tin-lam-onghu ini darimana ada seorang muridmu?

Se-konjong2 gerubjak sekali, tahu2 dari udara menjelonong turun sebuah tangan besar hingga kerai didepan pintu tersempal separoh, menjusul suatu bajangan orang berkelebat, Lam-hay-gok-sin sudah berdiri ditengah ruangan dengan matanja jang mirip kedelai itu lagi meng-amat2i setiap orang jang hadir disitu, ketika melihat Toan Ki, segera ia ter-bahak2.

Haha, memang benar apa jang dikatakan Losi, muridku sajang ternjata ada disini.

Hajolah lekas ikut pergi padaku untuk beladjar.

~ sembari berkata, tangannja jang mirip tjakar ajam itu terus mentjengkeram bahu pemuda itu.

Mendengar samberan angin dari tjengkeraman Lam-hay-gok-sin itu sangat keras, Tin-lam-ong mendjadi kuatir sang putera dilukai, tanpa pikir lagi iapun memapak dengan sebelah telapak tangannja.

Plak, kedua tangan saling beradu dan sama2 merasakan getaran tenaga masing2.

Diam2 Lam-hay-gok-sin terperandjat, tanjanja.

Siapakah kau?

Aku hendak mengambil muridku, peduli apa dengan kau?

Tjayhe Toan Tjing-sun, sahut Tin-lam-ong.

Pemuda ini adalah puteraku, bilakah dia mengangkat guru padamu?

Dia jang paksa hendak menerima aku sebagai murid, demikian Toan Ki menjela dengan tertawa.

Sudah kukatakan padanja bahwa aku sudah punja guru, tapi dia djusteru tidak mau pertjaja.

Lam-hay-gok-sin pandang2 Toan Ki, lalu perhatikan Tin-lam-ong Toan Tjing-sun pula, kemudian berkata.

Jang tua ilmu silatnja sangat hebat, tapi jang muda sedikitpun tidak betjus, aku djusteru tidak pertjaja kalian adalah ajah dan anak.

Toan Tjing-sun, sekalipun dia benar anakmu, namun tjara adjaran silatmu tidak tepat, anakmu ini terlalu geblek.

Sajang, hehe, sungguh sajang.

Apanja jang sajang?

tanja Toan Tjing-sun.

Bangun tubuh puteramu ini lebih mirip diriku, boleh dikata adalah bahan beladjar silat jang susah ditjari didunia ini, asal dia beladjar 10 tahun padaku, tanggung dia akan djadi seorang djago muda kelas satu di Bu-lim, sahut Gok-sin.

Sungguh geli dan mendongkol Toan Tjing-sun.

Tapi dengan gebrakan tadi, iapun tahu ilmu silat orang sangat hebat.

Selagi hendak buka suara pula, tiba2 Toan Ki telah mendahului.

Gak-losam, ilmu silatmu masih terlalu tjetek, tidak sesuai untuk mendjadi guruku.

Silahkan kau pulang Ban-gok-to di Lam-hay untuk berlatih lagi 10 tahun, habis itu barulah kau ada nilainja buat bitjara tentang ilmu silat.

Karuan Gok-sin mendjadi gusar, bentaknja.

Kau botjah ingusan ini tahu apa?

Kenapa aku tidak tahu?

sahut Toan Ki.

Tjoba, ingin kutanja padamu, apa artinja.

Hong-lui-ek, kun-tju-ih-kian-sian-tjek-ih, yu-ko-tjek-kay.

Hajo, djawab lekas!

Lam-hay-gok-sin mendjadi melongo tak bisa mendjawab, tapi segera ia mendjadi gusar, bentaknja.

Ngatjo belo!

Apakah artinja itu?

Artinja kentut!

Hahaha!

Toan Ki ter-bahak2.

Hanja sedikit kalimat jang tjetek artinja sadja kau tak paham, tapi kau masih bitjara tentang ilmu silat segala?

Semua orang ikut geli mendengar Toan Ki menggunakan isi kitab I-keng untuk mempermainkan Lam-hay-gok-sin itu.

Meski Bok Wan-djing djuga tidak paham apa jang diuraikan Toan Ki itu, tapi ia dapat menduga tentu sipeladjar tolol itu lagi putar lidah.

Sebaliknja Lam-hay-gok-sin lantas insaf dirinja tentu lagi dipermainkan demi nampak wadjah semua orang mengundjuk sikap mentertawai dirinja.

Dengan menggerung sekali, segera ia hendak menjerang.

Namun Toan Tjing-sun telah melangkah kedepan sang putera.

Maka dengan tertawa Toan Ki dapat berkata lagi.

Apa jang kukatakan tadi adalah istilah2 ilmu silat jang maha mudjidjat, kalau tjuma engkau ini, terang takkan paham.

Haha, katak didalam sumur matjammu ini djuga ingin mendjadi guru orang, sungguh gigi orang bisa tjopot tertawa geli.

Padahal semua guruku, kalau bukan kaum terpeladjar, tentu adalah paderi saleh.

Sebaliknja matjam kau, biar beladjar 10 tahun lagi djuga belum tentu sesuai untuk angkat guru padaku.

Lam-hay-gok-sin menggerung murka, teriaknja.

Siapa gurumu, hajo suruh dia keluar undjukkan beberapa djurus padaku!

Melihat Lam-hay-gok-sin hanja datang sendirian, untuk melawannja tidaklah sulit, maka Toan Tjing-sun tidak mentjegah kelakuan Toan Ki, apalagi hari ini suami-isteri bisa berkumpul kembali, ia pikir biar puteranja menggoda orang djahat ketiga itu sekedar bikin senang hati sang isteri.

Karuan Toan Ki bertambah berani, segera ia berkata pula.

Baiklah, djika kau berani, tunggulah sebentar, biar kupanggil guruku dulu, kalau djantan sedjati, djangan kau lari!

Gok-sin mendjerit murka.

Aku Gak-lodji selama hidup malang-melintang diseluruh djagat, pernah takut pada siapa?

Hajo lekas panggil sana, lekas!

Benar djuga Toan Ki lantas pergi keluar.

Tinggal Lam-hay-gok-sin jang memandangi setiap orang jang hadir disitu dengan sikap menantang, sama sekali ia tidak djeri biarpun seorang diri berada di-tengah2 lawan sebanjak itu.

Tiada lama, terdengarlah suara tindakan orang, dua orang kedengaran sedang mendatangi.

Ketika Gok-sin mendengarkan, langkah orang2 jang datang itu katjau tak bertenaga, terang orang2 jang tak paham ilmu silat.

Maka terdengarlah suara seruan Toan Ki dari luar.

Mana itu Gak-losam, dia tentu sudah lari ketakutan?

Tia, djangan kau biarkan dia lolos, ini, Suhuku sudah datang!

Buat apa aku lari?

bentak Gok-sin dengan aseran.

Kurang adjar Siautju ini, bikin gusar padaku melulu.

Belum selesai utjapannja, tertampak Toan Ki sudah melangkah masuk sambil menjeret satu orang.

Melihat itu, seketika semua orang bergelak ketawa.

Ternjata orang jang dibawa datang Toan Ki itu kurus ketjil, bertopi bentuk kulit semangka, berdjubah pandjang longgar, berkumis tikus, kedua matanja merah sepat se-akan2 kurang tidur selalu, kepalanja mengkeret takut2, sikapnja lutju menggelikan.

Segera Yau-toan-siantju dapat mengenal orang ini sebagai djurutulis dikantor Tin-lam-onghu.

Djurutulis she Ho ini setiap hari suka kantuk sadja dan kerdjanja berdjudi dengan para pelajan didalam istana.

Dalam keadaan setengah mabuk, ia diseret Toan Ki kedalam ruangan, dengan takut, tjepat djurutulis itu berlutut dan menjembah kehadapan Po-ting-te dan permaisuri.

Sudah tentu Po-ting-te tidak kenal siapa djurutulis ketjil itu, ia perintahkan dia berbangkit.

Segera Toan Ki gandeng Ho-sinshe itu kehadapan Lam-hay-gok-sin, katanja.

Nah, Gak-losam, diantara guru2ku, Suhuku inilah ilmu silatnja paling rendah.

Maka lebih dulu kau harus menangkan dia, baru kau ada harganja buat menantang guru2ku jang lain.

Gok-sin ber-kaok2 murka, teriaknja.

Matjam begini gurumu?

Haha, dalam tiga djurus sadja kalau aku tak bisa bikin dia remuk seperti bergadel, biar aku angkat guru padamu.

Seketika sinar mata Toan Ki terbeliak terang mendengar itu, tanjanja tjepat.

Utjapanmu ini benar2 atau tidak?

Seorang laki2 sedjati, sekali bitjara harus bisa pegang djandji, kalau ingkar djandji, itu berarti anak kura2 haram djadah!

Baik, mari, mari!

segera Gok-sin ber-teriak2.

Dan kalau tjuma tiga djurus sadja, tidak usah guruku turun tangan, biarlah aku sendiri sudah lebih tjukup untuk melajani kau, udjar Toan Ki.

Mendengar pemuda itu hendak madju sendiri, karuan Lam-hay-gok-sin bergirang.

Datangnja keistana pangeran ini atas berita In Tiong-ho jang menjatakan, tjalon muridnja jang hilang, diketemukan didalam istana situ, maka tudjuannja melulu ingin djemput Toan Ki untuk mendjadi ahliwarisnja dari Lam-hay-pay.

Tapi ketika tadi bergebrak sekali dengan Toan Tjing-sun, ia mendjadi kaget oleh kepandaian pangeran itu.

Apalagi disamping itu masih banjak pula djago2 lainnja, kalau hendak menggondol Toan Ki begitu sadja, rasanja tidaklah mudah.

Maka ia mendjadi girang mendengar pemuda itu sendiri jang akan bergebrak dengan dirinja, sekali ulur tangan, ia jakin sudah dapat menawan pemuda itu.

Maka katanja segera.

Bagus, djika kau jang madju aku pasti takkan gunakan tenaga dalam untuk melukai kau.

Kita djandji dulu dimuka, dalam tiga djurus kalau kau tak bisa djatuhkan aku, lantas bagaimana?

tanja Toan Ki.

Lam-hay-gok-sin ter-bahak2, ia tahu pemuda itu adalah seorang peladjar lemah jang ibaratkan memegang ajam sadja tidak kuat, apalagi hendak bertanding tiga djurus dengan dirinja, mungkin setengah djurus sadja tidak tahan.

Maka sahutnja segera.

Dalam tiga djurus kalau aku tak bisa menangkan kau, aku lantas angkat kau sebagai guru!

Nah, semua hadirin disini sudah mendengar semua, djangan kau mungkir nanti!

seru Toan Ki.

Gok-sin mendjadi gusar, teriaknja.

Aku Gak-lodji selamanja kalau bilang satu ja satu, bilang dua tetap dua!

Gak-losam!

seru Toan Ki.

Gak-lodji!

bentak Gok-sin.

Gak-losam!

Toan Ki mengulangi.

Sudahlah, kau tjerewet apa lagi, hajo lekas mulai!

teriak Gok-sin tak sabar.

Segera Toan Ki melangkah madju hingga berhadapan dengan tokoh ketiga dari Su-ok.

Diantara hadirin itu, dimulai Po-ting-te dan permaisuri kebawah, setiap orang menjaksikan dewasanja Toan Ki, semuanja tahu kalau pemuda itu gemar sastra dan tidak suka ilmu silat, selama hidupnja tidak pernah beladjar silat sedjuruspun.

Malahan ketika dipaksa oleh Po-ting-te dan ajahnja supaja beladjar silat, ia lebih suka minggat dari rumah.

Djangankan bertanding melawan djago kelas wahid matjam Lam-hay-gok-sin, biarpun melawan seorang peradjurit biasa djuga kalah.

Semula semua orang mengira pemuda itu sengadja menggoda Lam-hay-gok-sin, siapa duga sekarang benar2 akan bertanding.

Sebagai seorang ibu jang sangat sajang pada puteranja itu, segera Yau-toan-siantju membuka suara.

Ki-dji, djangan semberono, orang liar matjam begitu djangan kau gubris padanja.

Tjepat Honghou djuga memberi perintah.

Sian-tan-hou, lekas kau perintahkan tangkap perusuh ini!

Sian-tan-hou Ko Sing-thay mengia dan segera berseru.

Leng Djian-li, Tang Su-kui, Siau Tiok-sing dan Tju Tan-sin berempat dengarkan perintah, atas titah Nionio, lekas tangkap perusuh kurangadjar ini!

Bu-sian-tio-to Leng Djian-li berempat membungkuk menerima perintah itu.

Melihat dirinja hendak dikerojok, segera Lam-hay-gok-sin membentak.

Biarpun kalian madju semua djuga Lotju tidak gentar.

Hajo, Hongte dan Honghou djuga silahkan madju sekalian!

Nanti dulu, nanti dulu!

demikian Toan Ki mentjegah dengan gojang2 kedua tangannja.

Biarlah aku selesaikan tiga djurus dengan kau dulu.

Po-ting-te kenal keponakannja itu tindak-tanduknja sering2 diluar dugaan orang, boleh djadi diam2 dia sudah atur perangkap untuk mendjebak musuh, apalagi ada dirinja berdua saudara mendjaga disamping, kalau Lam-hay-gok-sin hendak bikin susah pemuda itu, rasanja djuga tidak bisa.

Dengan tersenjum ia lantas berkata.

Mundurlah kalian, biarkan perusuh ini beladjar kenal betapa lihaynja Ongtju dari Tay-li-kok, supaja dia tahu rasa!

Mendengar perintah itu, Leng Djian-li berempat jang sudah ber-siap2 mengerubut madju itu lantas undurkan diri pula.

Gak-losam, segera Toan Ki berkata lagi, marilah kita djandji sebelumnja setjara lebih tegas.

Kalau dalam tiga djurus kau tak bisa robohkan aku, kau harus angkat guru padaku.

Tapi meski aku mendjadi gurumu, melihat kau terlalu tolol begini, aku merasa pertjuma kalau mengadjarkan ilmu silatku padamu.

Djadi aku tak mau adjarkan apa2 padamu, kau harus berdjandji.

Siapa pingin beladjar silat padamu?

bentak Gok-sin gusar.

Huh, ilmu silat kentut andjing apa jang kau miliki?

Baik, baik!

Tak perlu banjak tjerewet lagi, hajo, lekas mulai!

bentak Lam-hay-gok-sin dengan tak sabar, segera ia mentjengkeram dengan djari tangannja jang mirip tjakar itu.

Baik, itu artinja kau sudah terima sjaratku, udjar Toan Ki.

Dan sesudah kau menjembah guru, segala perintah guru selandjutnja harus kau turut.

Kalau membangkang, itu berarti durhaka dan akan dikutuk oleh setiap orang Bu-lim.

Kau terima tidak sjarat kedua ini.

Hahaha, sudah tentu, Gok-sin ter-bahak2 malah.

Dan begitu pula bila kau nanti angkat guru padaku.

Ja, namun kalau kau ingin menerima aku sebagai murid, kau harus kalahkan dulu setiap Suhuku untuk membuktikan bahwa kepandaianmu memang lebih tinggi dari guru2ku itu, barulah aku merasa ada harganja mengangkat guru padamu.

Baik,baik, tak perlu tjerewet lagi, hajo lekas madju!

sahut Gok-sin tak sabar.

Buat apa buru2?

Lihatlah seorang guruku sudah berdiri dibelakangmu.....

kata Toan Ki dengan tersenjum sambil menuding kebelakang Gok-sin.

Lam-hay-gok-sin tidak merasa kalau dibelakangnja ada orang, namun begitu toh dia menoleh djuga.

Kesempatan itu lantas digunakan Toan Ki dengan baik, mendadak ia melangkah miring kekiri, dengan tjepat dan lutju ia terus mentjengkeram To-to-hiat dipunggung Gok-sin.

Gerak-gerik Toan Ki sama sekali tidak mirip seorang jang bersilat, tapi Hiat-to jang dipegangnja itu adalah salah-satu djalan darah penting ditubuh manusia.

Begitu tertjengkeram, seketika Lam-hay-gok-sin merasa dadanja sesak.

Sementara itu tangan Toan Ki jang lain sudah lantas tahan di Ih-sik-hiat bagian pinggangnja, djari djempol tepat menekan ditengah Hiat-to itu.

Dalam kagetnja tjepat Lam-hay-gok-sin meronta dengan tenaga dalam.

Tapi dua Hiat-to penting sudah diatasi orang, sekali tenaga dalam dikerahkan, bukannja terlepas dari tjengkeraman Toan Ki, sebaliknja kedua tenaga itu saling terdjang hingga seketika ia mendjadi lemas pegal tak bisa berkutik.

Terus sadja Toan Ki angkat tubuh Lam-hay-gok-sin dan dibanting kelantai.

Untung lantai diruangan pendopo itu digelari permadani hingga kepalanja jang botak itu tidak sampai bendjut.

Walaupun begitu, dengan nama besar Lam-hay-gok-sin, setjara begitu sadja ia kena dibanting Toan Ki, tentu sadja ia malu.

Dalam murkanja, sekali melompat dengan gerakan Le-hi-tah-ting atau ikan lele meledjit, begitu berdiri, ia terus mentjengkeram kearah Toan Ki.

Semua hadirin jang berada diruangan itu adalah djago2 terkemuka semua, tapi tiada seorangpun jang menjangka Toan Ki jang diketahui sama sekali tidak pernah beladjar silat dan lemah itu, ternjata bisa membanting Lam-hay-gok-sin dengan begitu mudah.

Dalam kesiap mereka, sementara itu Lam-hay-gok-sin sudah melantjarkan serangan tadi kepada Toan Ki.

Toan Tjing-sun mendjadi kuatir, tapi belum sempat turun tangan melindungi sang putera, tahu2 tampak pemuda itu sudah menggeser miring kekiri, langkahnja aneh gesit, hanja satu langkah itu sadja sudah dapat menghindarkan serangan kilat Lam-hay-gok-sin.

Bagus!

seru Toan Tjing-sun memudji.

Menjusul mana serangan Gok-sin jang kedua sudah dilontarkan lagi.

Tapi Toan Ki tetap tidak membalas, hanja melangkah madju malah dua tindak dan kembali serangan itu sudah luput.

Dua kali menjerang tidak kena sasaran, Lam-hay-gok-sin mendjadi gusar dan kedjut.

Ia lihat Toan Ki hanja berdiri satu meter didepannja, sekonjong2 ia menggerang keras2, kedua tangannja mengulur berbareng terus mentjengkeram dada dan perut pemuda itu.

Ini adalah salah satu ilmu silat tunggal maha lihay jang sudah dilatihnja selama sepuluh tahun ini, namanja Tok-liong-djiau atau tjakaran naga berbisa.

Ilmu ini sebenarnja disediakan untuk melawan Yap Dji-nio guna merebut gelar runner up dari Thian-he-su-ok atau empat orang maha djahat dari dunia.

Tapi kini, karena telah dibanting, pula menjerang berulang tidak kena, Gok-sin sudah kalap, tak terpikir lagi olehnja apakah tjakarannja itu bakal membinasakan tjalon ahliwarisnja itu atau tidak.

Dalam pada itu Po-ting-te, Honghou, Toan Tjing-sun, Yau-toan-siantju dan Ko Sing-thay mendjadi kuatir djuga, berbareng mereka memperingatkan Toan Ki.

Awas!

Namun dengan enteng sadja pemuda itu melangkah kekanan setindak, menjusul menggeser pula kekiri selangkah, tahu2 ia sudah memutar sampai dibelakang Lam-hay-gok-sin.

Plok, ia terus keplak sekali diatas kepala Gok-sin jang botak itu.

Sungguh sedikitpun Gok-sin tidak menduga bahwa pemuda itu bisa menabok kepalanja setjara demikian adjaibnja.

Ketika meras tangan orang sudah sampai diatas kepala, diam2 ia mendjerit.

Matilah aku!

~ Tapi demi kepala sudah kena ditabok, segera ia tahu serangan Toan Ki itu sedikitpun tidak bertenaga dalam.

Tanpa ajal lagi ia angkat tangan kiri keatas, tjret, kontan punggung tangan Toan Ki tertjakar lima djalur luka oleh kuku djari.

Waktu Toan Ki tarik kembali tangannja dengan tjepat, serangan Gok-sin itu masih belum bisa direm, tjakarannja masih merosot kebawah hingga djidatnja sendiri djuga ikut tertjakar.

Sebenarnja sesudah berhasil menghindarkan tiga djurus serangan lawan, Toan Ki sudah menang dan dapat mengachiri pertandingan itu.

Tapi dasar sifat botjahnja masih belum hilang, biarpun dirinja tak bisa Lwekang, namun ketika nampak ada kesempatan untuk menabok kepala orang, terus sadja ia keplak sekali kepala Lam-hay-gok-sin jang gundul itu, akibatnja hampir2 dirinja kena tertawan.

Karuan kedjutnja bukan buatan, buru2 ia mengumpet kebelakang sang ajah dengan muka putjat ketakutan.

Yau-toan-siantju melotot sekali kearah puteranja itu, katanja dalam hati.

Bagus, djadi selama ini diam2 kau telah beladjar ilmu sehebat itu kepada ajah dan pamanmu, tapi aku sama sekali tak diberitahu.

Dalam pada itu Bok Wan-djing terus berseru.

Nah, Gak-losam, sudah tiga djurus kau tak mampu merobohkan dia, sebaliknja kau sendiri jang kena dibanting olehnja.

Sekarang lekas kau menjembah dan panggil Suhu padanja.

Muka Lam-hay-gok-sin mendjadi merah, ia garuk2 kepalanja jang tak gatal itu dan menjahut.

Dia toh belum bergebrak sungguh2 dengan aku, kedjadian tadi tak bisa dihitung.

He, tidak malu?

seru Bok Wan-djing.

Kau tidak mau mengaku guru padanja, itu berarti kau terima mendjadi anak kura2.

Sebenarnja kau mau mengangkat guru sadja atau terima mendjadi anak kura2?

Tidak semua, sahut Gok-sin.

Aku ingin mengulangi bertanding dengan dia.

Melihat gerak langkah puteranja tadi sangat hebat dan bagus luar biasa, sampai dirinja djuga tidak paham dimana rahasia kepandaian itu, segera Toan Tjing-sun membisiki Toan Ki.

Kau boleh madju lagi.

Djangan pukul dia, tapi tjari kesempatan mentjengkeram Hiat-tonja.

Tapi anak mendjadi takut sekarang, mungkin tak berhasil, sahut Toan Ki lirih.

Djangan kuatir, aku mengawasi kau dari samping, kata Tjing-sun.

Njali Toan Ki mendjadi besar lagi karena mendapat dukungan sang ajah.

Segera ia melangkah kedepan dan berkata pada Lam-hay-gok-sin.

Sudah tiga djurus kau tak mampu merobohkan aku, kau harus menjembah guru padaku!

Tapi tanpa mendjawab lagi, Gok-sin menggerung sekali terus menghantam dengan telapak tangannja.

Lekas Toan Ki melangkah miring kekiri, dengan enteng sadja ia hindarkan serangan itu.

Brak, pukulan Gok-sin itu telah menghantjurkan sebuah medja.

Toan Ki pusatkan pikirannja sambil mulutnja pelahan2 mengutjapkan istilah2.

San-ta-pak, hwe-te-tjin....

dan seterusnja, jaitu istilah2 didalam kitab I-keng.

Sama sekali ia tidak pandang datangnja serangan Lam-hay-gok-sin, tapi ia urusi langkahnja sendiri jang kekanan, kekiri, madju dan mundur sesukanja.

Dalam pada itu semakin lama semakin tjepat dan keras pukulan2 Lam-hay-gok-sin hingga terdengarlah suara gedubrakan dan gemerantang jang riuh didalam ruangan pendopo, medja-kursi dan mangkok tjangkir sama petjah berantakan kena pukulan2 Gok-sin.

Tapi dari mulai sampai achir, sedikitpun dia masih belum mampu menjenggol udjung badjunja Toan Ki.

Hanja sekedjap sadja lebih 30 djurus sudah berlangsung.

Selama itu Poting-te Toan Tjing-beng dan Tin-lam-ong Toan Tjing-sun sudah dapat melihat tindakan Toan Ki enteng kaku, sedikitpun memang tak bisa ilmu silat.

Tjuma entah darimana pemuda itu mendapat adjaran seorang kosen dalam sedjurus ilmu gerak langkah jang adjaib dengan mengikuti filsafah Pat-kwa tjiptaan Hok-hi didjaman baheula, jaitu jang mempunjai hitungan 8 x 8 = 64 segi.

Padahal kalau dia benar2 bertempur dengan Lam-hay-gok-sin, mungkin tidak lewat sedjurus pemuda itu sudah bisa dibinasakan orang.

Tapi dia djusteru mengurusi gerak langkahnja sendiri sambil mulut mengutjapkan istilah2 jang bersangkutan, dan sebegitu djauh pukulan Lam-hay-gok-sin tetap tak bisa menjenggolnja.

Diam2 Toan Tjing-beng dan Toan Tjing-sun berdua saudara saling pandang sekedjap, sekilas mereka mengundjuk rasa kuatir djuga.

Dalam hati mereka sama2 berpikir.

Pabila Lam-hay-gok-sin itu menjerang dengan pedjamkan mata misalnja, hakikatnja dia tak perlu melihat kemana Ki-dji melangkah, sekenanja ia lontarkan sedjurus pukulan dan tidak susah2 lagi tentu pemuda itu akan dirobohkannja.

Tapi Lam-hay-gok-sin ternjata tidak mempunjai pikiran seperti mereka.

Sebaliknja wadjahnja makin lama semakin beringas, matanja djuga semakin mendelik hingga bidji mata jang tadinja sebesar katjang, kini melotot sebesar gundu, ia masih tetap memukul sedjurus demi sedjurus dan tetap tak bisa mengenai sasaran biarpun ia telah berganti tipu serangan dengan tjepat.

Toan Ki selalu dapat menghindarkan diri ketempat jang sama sekali diluar perhitungannja.

Namun pertarungan demikian itu kalau diteruskan, sekalipun Toan Ki tidak sampai dirobohkan, tapi untuk mengalahkan lawan djuga tidaklah mungkin.

Setelah melihat lagi sebentar, tiba2 Po-ting-te berkata.

Ki-dji, melangkah pelahan sedikit, papak dari depan dan tjengkeram Hiat-to didadanja.

Toan Ki mengia sambil melambatkan tindakannja, segera ia memapak Lam-hay-gok-sin dari depan.

Tapi ketika sinar matanja kebentur dengan sorot mata Gok-sin jang beringas itu, ia mendjadi djeri, sedikit kakinja merandek, tempat kedudukannja mendjadi rada mentjeng.

Sekali tjakar Lam-hay-gok-sin menjamber, kebetulan menjerempet turun disamping kuping kirinja hingga letjet berdarah.

Pabila tjakaran itu sedikit geser kekanan, tentu Toan Ki sudah mendjadi majat disitu.

Dan karena kupingnja berasa kesakitan, Toan Ki semakin djeri, ia pertjepat langkahnja menjingkir kesamping, terus mundur kebelakang sang ajah sambil berkata dengan menjengir.

Pekhu, aku tak sanggup!

Tjing-sun mendjadi gusar, serunja.

Keturunan keluarga Toan dari Tayli mana ada jang mundur ketakutan digaris depan?

Hajo, lekas madju lagi, apa jang diandjurkan Pekhu tadi memang tidak salah!

Yau-toan-siantju terlalu sajang pada sang putera, tjepat ia menjela.

Ki-dji sudah bergebrak hampir 60 djurus dengan dia, keluarga Toan mempunjai keturunan sehebat ini, apakah kau masih belum puas?

Ki-dji, sedjak tadi kau sudah menang, tak perlu diteruskan lagi.

Tidak, kata Toan Tjing-sun, puteraku tak perlu kau ikut tjampur, aku tanggung dia takkan mati.

Sedih dan dongkol rasa Yao-toan-siantju, air matanja terus ber-kilau2 akan menetes.

Melihat itu, Toan Ki mendjadi tak tega.

Dengan beranikan diri, segera ia melangkah madju dengan membusungkan dada, bentaknja.

Marilah kita teruskan bertempur!

~ sekali ini ia sudah nekad, ia berputar kian kemari dengan teratur, makin lama makin lambat, ketika berhadapan dengan Gok-sin, ia tidak mau beradu sinar mata lagi, tapi kedua tangan diulur terus mentjengkeram kedada lawan.

Melihat tangan Toan Ki jang diulur itu lemas tak bertenaga, Lam-hay-gok-sin ter-bahak2 geli, ia miringkan tubuh terus angkat tangannja hendak pegang bahu pemuda itu malah.

Tak terduga gerak langkah Toan Ki ternjata bisa berubah dengan susah diraba, kedua orang berbareng menggeser tubuh hingga kebetulan dada Lam-hay-gok-sin tepat se-akan2 dipapakkan kedjari tangan Toan Ki.

Tanpa ajal lagi Toan Ki intjar Tan-tiong-hiat dan Gi-ko-hiat dengan tepat, sekaligus tangannja terus mentjengkeram.

Sama sekali Toan Ki tidak punja tenaga dalam, meski berhasil memegang dua tempat Hiat-to dibadan lawan, tapi kalau Lam-hay-gok-sin anggap sepi sadja, tidak menggunakan tenaga dalam, tapi pelahan2 meronta melepaskan diri setjara biasa, sebenarnja Toan Ki djuga tak bisa apa2kan dia.

Namun karena merasa Hiat-to penting dibadan kena ditjengkeram lawan, dalam kagetnja, tanpa pikir Lam-hay-gok-sin kerahkan tenaga dalam untuk menutup kedua Hiat-to itu, berbareng kedua tangannja balas menjerang kemuka Toan Ki.

Serangan Gok-sin ini mengarah kedua mata Toan Ki, sebenarnja sangat tepat pemakaiannja, jaitu apa jang disebut menjerang tempat musuh jang terpaksa mesti menolong diri sendiri lebih dulu , betapapun lihaynja musuh, kalau menghadapi serangan demikian, terpaksa harus tarik kembali tangannja untuk melindungi diri sendiri.

Dan bagi Lam-hay-gok-sin akan dapatlah terhindar dari malapetaka.

Tak tersangka olehnja bahwa Toan Ki sedikitpun tidak paham tentang menjerang atau diserang segala, ketika djari Gok-sin mentjolok kearah matanja, hakikatnja ia tidak memikir harus tjepat tarik kembali tangannja untuk menangkis, sebaliknja kedua tangannja masih tetap mentjengkeram kentjang ditempat Hiat-to tadi.

Dan kesalahan ini ternjata malah membawa kebetulan baginja.

Ketika Lam-hay-gok-sin mengerahkan Lwekang tadi, se-konjong2 ketemu rintangan ditempat kedua Hiat-to itu, seketika hawa murni dan darah bergolak hebat dalam badannja, kedua tangannja jang sudah mendjulur kira2 belasan senti didepan mata Toan Ki, tahu2 terasa lemas tak mau turut perintah lagi.

Ia masih belum terima, ia kerahkan tenaga dalam lebih kuat.

Tapi lebih tjelaka lagi baginja, sekali tenaga dikerahkan, ia merasa dua arus tenaga maha hebat saling terdjang didalam tubuhnja hingga aliran darah ikut katjau dan mogok, seketika matanja ber-kunang2.

Sebaliknja mendadak Toan Ki djuga merasakan dua arus tenaga maha kuat membandjir ketangannja hingga tubuhnja ikut sempojongan.

Ia sadar akan keadaan waktu itu, asal kedua tangannja melepaskan Hiat-to lawan, segera djiwanja akan terantjam.

Sebab itulah meski rasanja menderita sekali, sedapat mungkin ia tjoba bertahan.

Djaraknja waktu itu dengan Toan Tjing-sun hanja satu meteran sadja.

Ketika melihat air muka sang putera makin lama makin merah, terang pemuda itu lagi menahan rasa derita, segera Tjing-sun ulur djari telundjuknja untuk menahan Tay-tjui-hiat dipunggung Toan Ki.

It-yang-tji atau ilmu djari betara surja dari keluarga Toan dinegeri Tayli sudah tersohor diseluruh djagat.

Maka begitu djari Toan Tjing-sun menempel punggung Toan Ki, seketika suatu arus hawa hangat jang halus menjalur kebadan pemuda itu.

Kontan badan Lam-hay-gok-sin tergetar, pelahan2 ia roboh dengan lemas.

Segera Toan Tjing-sun pajang sang putera sambil kerahkan tenaga djarinja lebih kuat.

Hanja sebentar sadja, lambat-laun air muka Toan Ki sudah pulih kembali, tapi untuk sedjenak iapun belum sanggup bitjara.

Bagaimana diam2 Toan Tjing-sun memakai ilmu It-yang-tji untuk membantu sang putera, hingga Lam-hay-gok-sin dapat dirobohkan, hal ini dapat diketahui setiap orang jang diruangan itu.

Namun begitu, toh Lam-hay-gok-sin tetap djatuh dibawah tangannja Toan Ki, betapapun hal ini tak bisa dibantah.

Hiong-sat-ok-sin itu benar2 lihay djuga luar biasa.

Begitu tangan Toan Ki melepaskan Hiat-to dibadannja, seketika ia melompat bangun.

Ia pandang Toan Ki dengan kedua matanja jang bundar ketjil itu, sikapnja penuh rasa heran, gemas dan sedih pula.

Nah, Gak-losam, demikian Bok Wan-djing lantas menteriaki, sekarang kau sudah kalah lagi, kulihat engkau lebih suka mendjadi anak kura2 daripada mengangkat guru, bukan?

Tidak, aku djusteru ingin berbuat diluar dugaanmu, seru Gok-sin murka.

Angkat guru ja angkat guru, malu2 apa?

Aku Gak-lodji sekali2 tidak sudi mendjadi anak kura2 ~ Habis berkata, benar djuga ia terus berlutut dan menjembah empat kali kepada Toan Ki sambil berteriak.

Suhu, ni, Tetju Gak-lodji memberi hormat padamu!

Untuk sedjenak Toan Ki terkesima, dan belum lagi sempat mendjawab, mendadak Lam-hay-gok-sin sudah melompat bangun terus mentjelat keatas wuwungan rumah.

Tiba2 terdengar suara djeritan sekali diatas rumah itu, menjusul suara gedebukan sekali, dari atas terbanting kebawah tubuh seorang.

Waktu semua orang menegas, kiranja adalah seorang pengawal istana pangeran, dadanja sudah berlumuran darah dan berlubang, buah hatinja telah kena dikorek oleh Lam-hay-gok-sin untuk dimakan.

Wi-su atau pengawal itu masih berkelodjotan belum lantas mati, keadaannja sangat mengerikan.

Sebenarnya kepandaiannja pengawal itupun tidak rendah, walaupun tidak setingkat dengan empat tokoh Hi-djiau-keng-dok, tapi hanja dalam segebrakan sadja ternjata hatinja sudah kena dikorek orang.

Karuan semua orang saling pandang dengan terkedjut.

Longkun, muridmu itu benar-benar kurangadjar, lain kali kalau ketemu, kau harus hadjar dia sampai minta ampun, seru Bok Wan-djing dengan gusar.

Kemenanganku tadi hanja setjara kebetulan sadja berkat bantuan Tiatia, sahut Toan Ki tersenjum.

Tapi lain kali kalau ketemu lagi, mungkin buah hatiku sendiri djuga bisa dikorek oleh dia, kepandaian apa jang kumiliki untuk hadjar dia lagi?

Dikala bitjara itulah, Leng Djian-li dan Siau Tiok-sing sudah gotong keluar majat pengawal tadi.

Toan Tjing-sun memberi perintah agar diberi pensiun pada keluarganja dan suruh Ho-sinshe tadi undurkan diri.

Ki-dji, kata Po-ting-te kemudian.

Poh-hoat (ilmu gerak langkah) jang kau mainkan tadi berasal dari filsafah Pat-kwa tjiptaan Hok-hi, kau bolehnja beladjar dari siapa?

Anak mempeladjarinja setjara ngawur dari dalam sebuah gua, entah tepat atau tidak, masih mengharapkan petundjuk dari Pekhu, sahut Toan Ki.

Dari sebuah gua tjara bagaimana, tjoba tjeritakan, tanja Po-ting-te.

Maka bertjeritalah Toan Ki tentang pengalamannja.

Kiranja tempo hari waktu dia ditinggal diatas puntjak karang, Wan-djing digondol pergi oleh Lam-hay-giok-sin, dalam keadaan bingung Toan Ki terus mengudak.

Tapi baru beberapa tindak, tiba-tiba ia mengindjak diatas badan seekor ular sawa jang besar.

Bundar dan litjin badan ular itu penuh lendir jang basah-basah.

Toan Ki terpeleset dan tergelintjir kepinggir djurang.

Dalam keadaan bahaja, untung tangannja jang menggagap-gagap serabutan itu dapat memegang sebatang akar pohon hingga badannja tidak terdjerumus lebih djauh kebawah, mati-matian ia pegang kentjang akar pohon itu tak mau melepaskan lagi demi keselamatannja.

Dalam keadaan badan setengah terguntai, kaki Toan Ki merasa mengindjak diatas suatu batu karang, telinganja mendengar pula suara gemuruh, air sungai mendebur-debur hebat dibawah sana.

Ia tjoba tenangkan diri dan mengawasi sekitarnja, ternjata dirinja berada ditengah tebing jang terdjal sekali, untuk merambat keatas terang tidak mampu, kalau turun kebawah akan ketjebur kesungai.

Terpaksa merembet kekiri sana, disitu masih ada tempat untuk berpidjak.

Begitulah segera ia menggeremet kesana dengan hati2.

Setelah merajap sebentar, ia mengaso sedjenak.

Kalau ketemukan tempat jang tjuram, terpaksa tabahkan diri dan achirnja dapat merajap lewat djuga dengan selamat.

Sampai hari sudah magrib, ia lihat didepan masih tetap tebing djurang jang terdjal, sedikitpun belum ada tanda2 akan sampai ditempat datar, diam2 Toan Ki sudah putus asa.

Ia tjoba merajap lagi sebentar, se-konjong2 pikirannja tergerak, pemandangan didepan matanja, ini lapat2 seperti sudah dikenalnja.

Waktu ia perhatikan lebih djauh, tak tertahan lagi ia berteriak.

Aha, ingatlah aku!

Ketika aku keluar dari dalam gua didasar danau itu, pemandangan jang kulihat tak-lain-tak-bukan adalah seperti ini!

Toan Ki senang sekali demi mengenal keadaan sekitar itu, ia masih ingat bila dia merajap lagi lewat beberapa tebing tjuram, ia akan sampai disuatu djalan ketjil dan kalau djalan terus belasan li pula, ia akan tiba didjembatan Sian-djin-toh.

Djadi terang mulut gua itu berada tidak djauh dari tempatnja sekarang ini.

Pabila teringat pada patung dewi didalam gue jang tjantik tiada bandingannja itu, perasaannja mendjadi bergolak, ia tak tahan lagi, betapapun ia ingin pergi mendjenguk patung aju itu.

Maka tanpa pikir lagi segera ia merangkak terus.

Tiada belasan meter djauhnja, benar djuga ia sudah sampai dimulut gua tempat keluarnja dari djalan dibawah danau tempo hari.

Terus sadja ia menjusup kedalam gua, mengikut djalan lama achirnja ia dapat mentjapai kamar batu jang dulu.

Sementara itu hari sudah gelap, tapi didalam kamar batu itu tetap terang benderang oleh tjahaja mutiara mestika jang menghiasi seputar dinding kamar.

Toan Ki ter-mangu2 memandangi patung dewi itu, pikirnja.

Untung ini hanja patung belaka dan bukan manusia.

Pabila didunia benar2 ada gadis setjantik ini, aku Toan Ki bukan mustahil rela mati asal dapat mempersuntingkannja.

Begitulah ia terus kesima dihadapan patung aju itu sampai kakinja sudah terasa lemas, toh dia masih belum merasa tjapek, njata, saat itu segala Bok Wan-djing, Lam-hay-gok-sin dan lain2 sudah dibuang olehnja keawang-awang.

Sampai achirnja ia benar2 tidak tahan lagi, lalu ia mendeprok rebah dibawah kaki patung itu dan terpulas.

Dalam mimpi, patung itu telah bisa bergerak dan memberikan Toan Ki sebilah pisau serta menjuruh dia membunuh 36 orang laki2 dan wanita jang tak berdosa.

Tanpa membantah, Toan Ki terima pisau itu dan membunuh serabutan hingga sekedjap lebih dari 50 orang telah dibunuhnja hingga majat bergelimpangan dan darah bertjetjeran.

Patung itu tersenjum senang seakan-akan memudji akan perbuatan Toan Ki, lalu menjuruhnja pergi membunuh ajahnja sendiri.

Tapi Toan Ki tetap tidak mau, patung itu mendjadi marah, katanja.

Kau tidak turut perintah, lebih baik kau membunuh diri sadja!

~ Tanpa ragu2 lagi Toan Ki terus angkat pisaunja dan menikam ulu hatinja sendiri.

Dalam kagetnja ia terus mendjerit hingga tersadar dari tidurnja dengan keringat dingin membasahi djidatnja, hatinja masih berdebar2 dengan kerasnja.

Ia lihat didalam kamar sudah terang-benderang oleh tjahaja matahari, njata ia sudah tertidur semalam.

Ia pandang2 patung itu pula dengan matjam2 pikiran berketjamuk, tiba2 teringat olehnja.

He, kamar ini berada didasar danau, darimana datangnja sinar matahari itu?

Ia tjoba memandang kearah datangnja sinar sang surja, ia lihat diudjung kanan atas kamar itu tergantung sebuah tjermin perunggu, sinar matahari itu menjorot balik dari tjermin itu.

Ketika tjermin perunggu itu diperhatikannja lebih djelas, lapat2 ternjata diatas tjermin itu ada ukirannja.

Tergerak pikirannja.

Didalam kamar ini penuh terdapat tjermin seperti ini, bukan mustahil ada udang dibalik batunja?

Segera ia ambil tjermin tadi, ia kebut debu diatasnja serta diusap lebih bersih, maka tertampaklah diatas tjermin itu memang terukir banjak sekali garis2 jang tegak dan miring, disamping garis2 itu terukir pula huruf It-poh, Liang-poh, Poan-poh (satu langkah, dua langkah, setengah langkah) dan seterusnja.

Dan ditiap2 udjung garis itu terukir pula pendjelasan Tong-djin, Tay-yu, dan matjam2 huruf2 ketjil lain.

Toan Ki pernah membatja I-keng, maka tahu Tong-djin, Tay-yu dan sebagainja itu adalah nama2 dari segi2 Pat-kwa jang seluruhnja berdjumlah 8 X 8 = 64 segi itu.

Waktu tjermin itu ia balik, dipunggung tjermin terukir pula empat huruf kuno Leng-po-wi-poh atau Langkah lembut dewi tjantik.

Kalimat ini mengingatkan Toan Ki pada sjair Tjo Tju-kian, itu puteranja Tjo Tjho didjaman Sam-kok, jaitu sjair jang memudja wanita tjantik.

Tapi bagi Toan Ki, ia merasa sjair itu masih belum tjukup untuk melukis betapa tjantiknja patung didepan matanja ini.

Untuk sekian lamanja ia ter-mangu2 disitu sambil memegang tjermin perunggu.

Kemudian teringat pula olehnja tulisan dipapan perunggu dibawah kaki patung jang pernah dibatjanja itu.

Kata tulisan itu.

Sesudah kau genap mendjura seribu kali padaku, itu berarti sudah mendjadi muridku.

Pengalamanmu selandjutnja akan sangat mengenaskan, hendaklah kau djangan menjesal.

Ilmu silat perguruan kita jang tiada bandingannja didjagat ini berada didalam ruangan batu ini, harap kau melatihnja dengan tekun.

Malah tempo hari waktu dia berpisah dari patung itu pernah mengatakan.

Entji Dewi, aku tidak mau mendjadi muridmu, ilmu silatmu jang tiada bandingannja itu djuga aku tidak mau mempeladjarinja ~ Tapi kini sesudah memandang lebih mesra terhadap patung itu, pikirannja mendjadi kabur tak terkendali, pikirnja sekarang.

Dimanakah beradanja ilmu silat tiada bandingannja itu?

Apa barangkali terukir diatas tjermin2 perunggu ini?

Entji Dewi suruh aku beladjar silat, takbisa tidak aku harus mempeladjarinja sekarang.

Berpikir begitu, segera ia balik tjermin perunggu tadi dan mengapalkan segi2 hitungan dari 64 segi Pat-kwa itu, lalu setindak demi setindak mulai berdjalan.

Semula ia hanja melangkah mengikuti petunjduk jang terukir diatas tjermin itu tanpa mengetahui dimana letak keadjaibannja, terkadang tulisan ditjermin itu sangat aneh, setelah melangkah setindak, langkah selandjutnja mendjadi buntu rasanja.

Tapi ketika kemudian mesti melompat sambil memutar tubuh,djalan selandjutnja terbuka lagi dengan lantjar.

Sering pula harus disertai dengan melompat madju dan mundur untuk bisa tjotjok dengan petundjuk diatas tjermin itu.

Dasar peladjar seperti Toan Ki memang sudah biasa tekun beladjar, maka sekali sudah mau, biarpun ketemukan persoalan sulit, ia harus memetjahkannja dengan peras otak baru mau sudah.

Dan bila kemudian sudah paham, ia lantas berdjingkrak girang seperti orang gendeng.

Pikirnja.

Elok benar!

Djadi dalam ilmu silat djuga bisa membikin orang senang, bahkan tidak kurang menariknja daripada orang membatja kitab.

~ Lalu pikirnja pula.

Aku tidak suka bikin susah atau membunuh orang, makanja selama ini aku tidak sudi beladjar silat.

Tapi Poh-hoat (ilmu gerak langkah) ini tak bisa dipakai membunuh orang, sebaliknja dapat menghindarkan maksud djahat musuh, kalau dipeladjari, ada manfaatnja tiada djeleknja.

Seumpama ilmu silat lainnja kalau melulu digunakan untuk menolong sesamanja, sebenarnja djuga tidak djelek.

Begitulah, sekali dia sudah suka, ia lantas merasa tiada salahnja beladjar silat.

Dan dengan demikian, ia lantas beladjar terlebih giat.

Hanja dalam satu hari sadja, Poh-hoat jang tertulis diatas tjermin itu sudah 2-3 bagian dapat dipahaminja.

Sambil membatja ukiran2 jang tertulis diatas tjermin perunggu, selangkah demi selangkah Toan ki mengapalkan Leng-po-wi-poh jang adjaib itu.

Malamnja, ia merasa sangat lapar.

Segera ia keluarkan Bong-koh-tju-hap dan biarkan binatang itu bersuara untuk memanggil ular, la pilih seekor ular jang gemuk, lalu menjembelihnja, ia keluar ketepi sungai itu untuk mentjari kaju bakar dan memanggang daging ular untuk dimakan.

Selama beberapa hari, ketjuali makan ular dan tidur, senantiasa Toan Ki terbenam dalam peladjarannja Leng-po-wi-poh jang aneh itu.

Terkadang kalau sudah malas, begitu mendongak dan memandang patung dewi itu, ia lantas merasa wadjah patung' tjantik itu lagi mengomeli dia, ia terkesiap dan kembali beladjar lagi dengan tekun.

Hari keempat, seluruh peladjaran ilmu melangkah itu sudah dapat diapalkannja.

Selama itu, sering djuga teringat olehnja.

Akan diri Bok Wan-djing jang tak diketahui bagaimana nasibnja selama digondol Lam-hay-gok-sin itu, tentu gadis itu lagi menunggu dirinja pergi menolongnja, demikian pikirnja.

Tapi bila sinar matanja kebentrok dengan pandangan patung tjantik itu, ia mendjadi seperti keselurupan dan lupa daratan.

Tapi kini ia telah ambil ketetapan jang tegas.

ku harus pergi menolong nona Bok dulu kemudian baru aku kembali lagi kesini!

Segera ia kembalikan tjermin perunggu itu ketempat asalnja, sekilas ia dapat melihat pula bahwa diatas tjermin perunggu lain jang berada dilantai djuga lorang-loreng penuh terukir tulisan dan garis2.

Ia tahu bila terus melatih ilmu diatas tjermin itu, tentu akan makan waktu beberapa hari lagi, padahal nona Bok masih berada dibawah tjengkeraman orang djahat dan sedang menantikan kedatangannja untuk menolong.

Namun begitu, dalam hati ketjilnja timbul djuga sematjam rasa berat untuk meninggalkan patung tjantik itu Kalau dia pergi, toh djelas dirinja takkan mampu mengalahkan Lam-hay-gok-sin dan terpaksa mengangkat guru padanja baru nona Bok mau dibebaskan.

Padahal untuk suruh dia angkat orang sedjahat itu mendjadi guru, Toan Ki merasa lebih suka mati daripada mesti menurut.

Sebab itulah, pertentangan batinnja mendjadi hebat, ia ragu2 sampai lama sekali.

Achirnja merasa bila dirinja tidak pergi menolong Bok Wan-djing, itu bcrarti tidak berbudi dan takbisa dipertjajai, seorang laki2 sedjati tidak nanti berbuat demikian, sekalipun achirnja dirinja mesti tjelaka, kalau sekali sudah djandji harus ditepati.

Karena itu, segera ia mendjura kepada patung dewi itu, katanja.

Entji Dewi, pabila aku bisa meloloskan diri dari Lam-hay-gok-sin jang djahat itu dengan ilmu Leng-po-wi-poh adjaranmu, kelak tiap2 tahun aku pasti akan tinggal bersama engkau disini setengah tahun lamanja.

Habis itu, segera ia bertindak keluar gua dengan gaja berlenggang menurut gerak langkah Leng-po-wi-poh itu.

Tak tersangka, baru sadja ia mengindjak sudut Thay dan menggeser kesegi Koh, se-konjong2 suatu arus hawa panas menerdjang keatas dari dalam perutnja.

Seketika badannja terasa lumpuh, kontan ia ambruk kelantai.

Dalam kagetnja tjepat Toan Ki bermaksud menahan lantai dengan tangannja untuk merangkak bangun.

Tak terduga semua anggota badannja djuga terasa kaku pegal tak mau turut perintahnja lagi, bahkan untuk menggerakkan sebuah djari sadja terasa susah.

Kiranja Leng-po-wi-poh jang tertera diatas tjermin perunggu itu adalah sematjam ilmu silat maha tinggi, kalau orang melatihnja sudah mempunjai dasar ilmu silat jang baik, maka setiap gerak-geriknja akan selalu disertai dengan tenaga dalam jang kuat.

Sebaliknja Toan Ki sedikitpun tidak mempunjai dasar Lwekang, djalannja tergantung ingatannja melulu, melangkah sekali, pikir sekali dulu, lalu berhenti, kemudian melangkah pula, tjara demikian tidak mendjadi halangan karena pergolakan darah jang disebabkan gerak langkah itu mendapat tjukup waktu untuk berhenti.

Tapi kini sesudah dia apal, lalu sekaligus djalan begitu sadja, seketika djalan darahnja berontak dan menerdjang balik, seketika ia lumpuh dilantai, hampir2 tersesat atau apa jang disebut Tjau-hwe-djip-mo dalam ilmu silat.

Untung dia baru melangkah dua tindak dan tidak terlalu tjepat pula, maka urat nadinja tidak sampai petjah atau putus.

Dalam keadaan kaget itulah, Toan Ki tjoba hendak meronta bangun, tapi semakin bergerak semakin kaku, rasanja ingin muntah2, tapi toh tidak muntah.

Achirnja ia menghela napas pasrah nasib.

Aneh djuga, setelah dia pasrah masabodoh, rasa muaknja malah hilang lambat-laun.

Dan sekali dia sudah menggeletak tak berkutik, keadaan itu berlangsung hingga esok paginja masih tetap begitu.

Diam2 ia pikir.

Papan perunggu dibawah kaki Entji Dewi itu tertulis bahwa pengalamanku selandjutnja akan sangat mengenaskan, suruh aku djangan menjesal.

Namun kalau aku tjuma mati kelaparan begini sadja, rasanja masih belum termasuk terlalu mengenaskan.

Kira2 sampai pukul 10 pagi itu, sinar matahari menjorot miring dari luar hingga persis menerangi diatas sebuah tjermin perunggu.

Mata Toan Ki mendjadi silau oleh repleksi tjahaja matahari itu.

Pikirnja ingin egos kepala menghindari sinar menjilaukan itu, tapi apa daja, antero badannja tak bisa bergerak.

Tiba2 ia melihat diatas tjermin itu lapat2 seperti terukir huruf2 Bi-the, Siau-ko dan lain2.

oleh karena kepalanja toh tak bisa bererak, sekalian ia lantas batja tulisan2 itu setjara tjermat, lalu direnungkan dalam2.

Dari tjermin pertama tadi ia hanja dapat beladjar 32 segi daripada 64 segi itu.

Kebetulan apa jang terukir diatas tjermin sekarang ini adalah sisa 32 segi jang lain.

Segera ia mempeladjarinja lebih djauh.

Meskipun kakinja takbisa bergerak, tapi pikirannja dipusatkan se-akan2 kakinja lagi bergerak menurut langkah2 jang ditundjukkan diatas tjermin itu.

Sampai petang, sudah ada belasan langkah dapat dipahami, rasa muaknja ternjata djauh berkurang.

Sampai besok paginja lagi, ke-32 langkah itu sudah dapat dipetjahkan seluruhnja.

Diam2 ia mengapalkan lagi seluruh 64 segi itu dari awal sampai achir.

Dan njatanja memang berdjalan dengan lantjar.

Ibaratnja orang jang mogok ditengah djalan karena menghadpai djalan buntu, kini mendadak djalan itu dapat ditembus.

Karuan Toan Ki sangat girang, terus sadja ia melontjat bangun sambil bertepuk tangan dan berseru.

Bagus, bagus!

~ Dan ia mendjadi tertegun heran ingat dirinja mendadak sudah dapat bergerak lagi tanpa merasa.

Kedjut dan girang Toan Ki tidak terkira, ia kuatir kalau lupa, maka ke-64 gerak langkah itu diulanginja beberapa kali hingga apal benar2, ia melangkah pelahan2 setindak demi setindak hingga achirnja tertjapai dengan bulat, ia merasa semangatnja mendjadi kuat dan seger.

Meski sudah beberapa hari tidak makan, tapi toh tidak terasa lapar.

Ia memberi hormat kearah patung dan mengutjapkan terima kasih, lalu tjepat berlari keluar dari gua itu.

Dengan mengikuti djalan jang pernah dilaluinja, ia melintasi Sian-djin-toh dan kembali ke Bu-liang-san, achirnja berdjumpa pula dengan Bok Wan-djing.

Demikianlah ia tjeritakan pengalamannja itu kepada sang ajah dan paman, hanja mengenai patung tjantik itu ia tidak tjeritakan, ia bilang menemukan dua buah tjermin perunggu dan dari ukiran tulisan diatas tjermin2 itulah dapat diperoleh ilmu gerak langkah jang adjaib itu.

Ia merasa dihadapan orang sebanjak itu tidak pantas kalau mentjeritakan dirinja kesemsem oleh sebuah patung aju, apalagi Bok Wan-djing tentu akan marah besar dan bukan mustahil dirinja bisa digampar pula.

Selesai Toan Ki bertjerita, Po-ting-te lantas berkata.

Ke-64 gerak langkah itu terang mengandung sematjam ilmu Lwekang jang maha tinggi, tjobalah kau melakukan sekali lagi dari awal sampai achir.

Toan Ki mengia, lalu mulai berdjalan selangkah demi selangkah menurut perhitungan Pat-kwa.

Po-ting-te, Toan Tjing-sun dan Ko Sing-thay adalah ahli2 Lwekang semua, tapi terhadap keadjaiban ilmu langkah itu, mereka tjuma bisa menangkap satu-dua bagian sadja, selebihnja merekapun merasa bingung.

Selesai Toan Ki melangkah ke-64 segi itu, persis ia memutar suatu lingkaran besar dan tiba kembali ditempat semula.

Po-ting-te sangat girang, serunja.

Bagus sekali!

Poh-hoat ini tiada bandingannja diseluruh djagat, sungguh beruntung sekali Ki-dji dapat memperolehnja, harap Ki-dji melatihnja lebih masak.

Sekarang silakan kau omong2 dengan ibumu jang baru pulang istana.

~ Lalu ia berpaling pada permaisurinja.

Marilah kita pulang keraton!

Honghou mengia sambil berbangkit.

Segerak Toan Tjing-sun dan lain2 menghantar Hongte dan Honghou keluar gapura istana Tin-lam-ong.

Setelah berada didalam istana sendiri, segera Toan Tjing-sun mengadakan perdjamuan untuk menjambut pulangnja sang isteri dan datangnja Bok Wan-djing.

Satu medja hanja empat orang, jaitu Toan Tjing-sun suami isteri, Toan Ki dan Wan-djing, tapi dajang jang melajani hampir 20 orang banjaknja.

Sudah tentu selama hidup Bok Wan-djing belum pernah melihat kemewahan demikian, begitu pula semua masakan jang disuguhkan disitu djangankan melihat, bahkan mendengar djuga tidak pernah.

Tapi demi nampak ajah-bunda Toan Ki memandang dirinja sebagai anggota keluarga sendiri, diam2 iapun sangat lega dan senang.

Ketika melihat sikap ibunja terhadap ajahnja tetap dingin sadja, tidak mau minum arak dan tidak makan daging, hanja dahar sedikit sajuran sadja, segera Toan Ki menuangi satu tjawan arak dan berkata.

Mak, marilah anak menghormati engkau setjawan!

Tidak, aku tidak minum arak, sahut Yan-toan-siantju.

Tapi Toan Ki menuang lagi setjawan dan mengedipi Wan-djing, katanja pula.

Minumlah, mak, nona Bok djuga ingin menjuguh engkau setjawan!

Segera Bok Wan-djing mengangkat tjawan jang diangsurkan Toan Ki itu dan berdiri.

Yan-toan-siantju mendjadi tidak enak kalau bersikap dingin juga terhadap Bok Wan-djing, maka katanja dengan tersenjum.

Nona, puteraku ini terlalu nakal, ajah-bundahnja susah mengendalikan dia, selandjutnja kau perlu membantu aku mengawasi dia lebih keras.

Tentu, sahut Wan-djing.

Kalau dia tidak menurut, kontan kudjewer dia!

Yan-toan-siantju mengikik keli oleh djawaban itu sambil melirik sang suami.

Dengan kikuk Toan Tjing-sun djuga tertawa, udjarnja.

Memang harus begitu!

Lalu Yan-toan-siantju ulur tangannja menerima tjawan arak suguhan Bok Wan-djing itu.

Dibawah sinar lilin jang terang-benderang, Wan-djing melihat lengan njonja pangeran itu putih halus bagaikan saldju.

Tiba2 dapat dilihatnja pula dipunggung tangan dekat pergelangan terdapat sebuah andeng2 merah sebesar mata uang (tembong).

Seketika badang Wan-djing tergetar, tjepat ia tanja dengan suara gemetar.

Apa ...

apakah engkau ber ...

bernama Si Pek-hong?

Darimana kau tahu namaku?

sahut Yan-toan-siantju dengan tertawa.

Engkau benar...

benar2 Si Pek-hong?

Wan-djing menegas pula dengan terputus2.

Bukankah dahulu engkau memakai sendjata...

sendjata petjut?

Melihat gadis itu rada aneh, namun Yan-toan-siantju alias Si Pek-hong masih belum tjuriga, sahutnja pula dengan tersenjum.

Sungguh Ki-dji sangat baik kepadamu, sampai nama ketjilku djuga diberitahu padamu.

Mendadak Bok Wan-djing terus berteriak.

Budi guru maha tinggi, perintah guru susah dibangkang!

~ bebareng tangannja bergerak, dua batang panah beratjun lantas menjamber kedada Yan-toan-siantju.

Dalam perdjamuan jang diliputi suasana riang gembira diantara anggota keluarga sendiri itu, sudah tentu siapapun takkan menjangka bakal terdjadi penjerangan mendadak dari Bok Wan-djing.

Biarpun ilmu silat Yan-toan-siantju djauh lebih tinggi daripada Bok Wan-djing, tapi djarak kedua orang sangat dekat, pula terdjadinja setjara tiba2, tampak kedua panah itu segera akan menantjap didada sasarannja.

Toan Tjing-sun duduk disebelah kiri Bok Wan-djing, begitu melihat gelagat djelek, tjepat djarinja menutuk, tapi It-yang-tji jang lihay itu djuga tjuma dapat membikin Bok Wan-djing takbisa berkutik, sedang kedua panah masih tetap menjamber kedepan.

Sebaliknja Toan Ki duduk disisi kanan, sudah beberapa kali ia pernah menjaksikan Bok Wan-djing menjerang dan panahnja jang berbisa lihay itu.

Maka begitu nampak gadis itu ajun tangannja, segera ia tahu bakal tjelaka.

Ia takbisa ilmu silat, tapi diengan Leng-po-wi-poh jang tjepat luar biasa, tahu2 ia dapat menjelinap menghadang didepan sang ibu sehingga kedua panah berbisa tepat menantjap didadanja.

Bebareng itu Bok Wan-djing djuga merasa badannja mendjadi kaku dan takbisa berkutik karena ditutuk Toan Tjing-sun.

Betapa tjepatnja Tin-lam-ong itu hingga menjusul sekaligus ia tutuk pula, beberapa kali disekitar luka Toan Ki jang terpanah itu agar ratjun tidak terus menjerang lebih dalam.

Habis itu, ia baliki tangan memuntir lengan Bok Wan-djing hingga terlepas dari ruasnja, dengan demikian supaja gadis itu takbisa melepaskan panahnja pula.

Lalu ia lepaskan Hiat-to jang ditutuk dan membentak.

Lekas keluarkan obat penawarnja!

Aku ...

aku tidak bermaksud memanah Toan-long, aku ingin ...

ingin membunuh Si Pek-hong!

demikian djerit Wan-djing setengah emratap.

Dengan menahan sakit lengannja jang keseleo, tjepat ia keluarkan dua botol ketjil obat penawar ratjun, katanja.

Jang merah minumkan, jang putih bubuhkan dilukanja, lekas, harus lekas!

Kalau terlambat tidak keburu tertolong lagi!

Yan-toan-siantju melotot sekali kearah gadis itu, melihat begitu perhatiannja terhadap puteranja jang timbul sungguh2 dari hati murninja.

Diam2 ia sudah dapat membade sebab-musabab kedjadian ini.

Segera ia rebut obat penawar itu dan mengobati Toan Ki menurut petundjuk Bok Wan-djing tadi.

Terima kasih kepada langit dan bumi bahwa...

bahwa djiwanja dapat diselamatkan, kalau...

kalau tidak...

demikian Bok Wan-djing tak sanggup meneruskan lagi ratapannja.

Sementara itu setelah terpanah, Toan Ki sudah djatuh pingsan dipangkuan sang ibu.

Suami-isteri Toan Tjing-sun terus memperhatikan luka Toan Ki, melihat darah jang mengalir keluar dari luka itu dari hitam sudah berubah ungu, lalu mendjadi merah kembali, mereka baru merasa lega karena tahu djiwa sang putera sudah dapat diselamatkan.

Segera Yan-toan-siantju pondong puteranja kedalam kamar, lalu ia keluar lagi keruangan makan itu.

Tidak apa2, bukan?

Baca Juga: Mustika Gaib 2

Baca Juga: Jaka Galing 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert