Ceritasilat Novel Online

Mustika Gaib 2

Eps 2 Mustika Gaib - Buyung Hok

Baca online Mustika Gaib - Buyung Hok

Cersil Mustika Gaib - Buyung Hok.

Setelah memperhatikan lubang atap rumah, ia menghampiri keempat perempuan di atas pembaringan, satu persatu didudukkannya.

Sambil menggeleng kepala Siong In berkata.

"Semua telah dicekok oleh obat pemunah ingatan."

Setetah berkata demikian, ia berjalan keluar, meninggalkan keempat perempuan tadi, tak lama si nona baju merah sudah kembali membawa seember air dingin, dengan itu, ia membasahi muka setiap perempuan tadi.

Empat perempuan tadi begitu, mukanya tersiram air dingin, mendadak mereka pada tersentak kaget, kemudian mereka pada memandang diri sendiri yang telah tak mengenakan pakaian, lalu memandang si nona baju merah.

"Aaaaa....."

Teriak berbareng empat orang perempuan itu, mereka cepat mengenakan pakaian masing-masing.

"Kalian cepatlah keluar!"

Seru Siong In.

"Rumah ini akan kubakar."

Empat gadis tadi telah disadarkan, cepat-cepat mengenakan pakaian mereka lalu pada lari keluar rumah.

Siong In membawa pelita di atas meja, diluar ia melempar pelita tadi ke atas atap rumah itu, dan sebentar saja di sana terjadi kebakaran.

Api melanda rumah itu, keadaan malam menjadi terang benderang.

"Lie-enghiong,"

Tiba-tiba salah seorang perempuan bertanya.

"Mereka masih berada di sini, bagaimana kami bisa pulang?"

"Hmmm, Kalian jangan kuatir, aku akan usir tiga orang itu dari sini. Kalian boleh kembali ke rumah masing-masing!"

Belum lagi ucapan Siong In selesai, ia telah melejit ke arah utara, dimana ketiga seragam hitam tadi masih pada berdiri memandang markas mereka yang dimakan api.

Tiga orang seragam hitam itu menampak berkelebatnya sinar merah ke arah mereka, mereka pada lari kabur.

Siong In yang sengaja hendak menguntit jejak mereka, memperlambat gerakannya, ia tidak mengejar terus.

Tapi matanya selalu memperhatikan gerak gerik keempat bayangan hitam itu.

Mulai dari tempat itulah si nona baju merah Siong In mengikuti jejak mereka, dan ketika tiba di kota Kun-san, ia memesan pada tukang besi untuk dibuatkan beberapa piauw besi yang bentuknya serupa dengan piauw yang dimilikinya, piauw-piauw tersebut dipesannya agar dibuat berwarna hitam.

Tindakan Siong In itu berdasar dua pertimbangan.

Pertama, karena ia merasa sayang menggunakan piauw pemberian suhunya yang terbuat dari emas, untuk menyerang orang-orang seperti mereka, bukankah bilamana piauw tadi telah menembusi badan orang maka piauw tersebut akan terkena cairan biru dari mayat mereka.

Hal itu tidak diharapkan Siong In.

Pertimbangan kedua dengan menggunakan piauw besi berwarna hitam, ia bisa melakukan serangan tanpa diketahui lawan.

Meskipun pertimbangan kedua ini sedikit curang.

Boleh dikata si nona ingin menggunakan senjata gelap untuk menyerang lawan.

Empat hari telah dilewatinya, ia masih terus menguntit, gerak-gerik keempat orang seragam hitam itu dan akhirnya pada malam bulan sabit, di dalam rimba Siong In menampak lagi sinar merah, yang pecah di udara bagaikan kembang api.

Melihat itu si nona cepat lari mengejar, lalu ia lompat ke atas dahan pohon memperhatikan kelakuan orang-orang seragam hitam.

Begitu pula tiga orang seragam hitam, mereka menampak tanda api di udara telah pada berkumpul.

Waktu itu, kawanan seragam hitam berselubung yang melepas tanda api ke udara mereka sedang mengurung si pemuda Kang Hoo, saat-saat kematian Kang Hoo telah di ambang pintu.

Dan ketika Kang Hoo berteriak menyebutkan kebesaran nama Tuhannya, Siong In di atas dahan mendengar suara itu, ia tidak mengerti apa arti ucapan pemuda tadi tapi mengingat pihak pengurung terdiri dari orang-orang seragam hitam yang ia tahu adalah komplotan jahat, maka mendadak saja ia lompat turun dan berteriak menyebut nama Budha.

Lalu berdiri di pihak Kang Hoo.

Walaupun baru pertama kali ini Siong In melihat Kang Hoo, tapi keadaan si pemuda yang sudah mandi darah tahulah ia kalau pemuda tadi dalam keadaan berbahaya di bawah pengeroyokan orang-orang berseragam hitam, yang ia ketahui mereka adalah orang-orang jahat.

Selanjutnya Siong In telah menolong Kang Hoo melarikan diri ketika rembulan sabit tertutup awan.

Dengan menggunakan senjata piauwnya, ia berhasil merobohkan beberapa orang seragam hitam.

Dan begitu rembulan kembali memancarkan sinarnya bayangan Kang Hoo sudah lenyap.

Sebagaimana kita telah ikuti di bagian depan, begitu awan beriring kembali menutupi rembulan sabit, orang-orang seragam hitam yang takut menghadapi senjata gelap si nona baju merah pada lompat bersembunyi di balik batang pohon.

Dan ketika itu digunakan oleh si nona baju merah Siong In kabur meninggalkan mereka.

Kaburnya Siong In dari dalam kurungan orang-orang itu, bukanlah dikarenakan ia takut menghadapi keroyokan mereka, tapi ia merasa kuatir atas diri pemuda yang telah terluka parah, mana mungkin pemuda itu bisa lari jauh.

Sementara itu para seragam hitam yang menyaksikan si nona gagah Siong In melesat kabur, mereka pada bernapas lega.

Dan secara diam-diam mereka melakukan gerakan penguntitan.

Kemanakah kaburnya Kang Hoo, maka mari kita ikuti kejadian-pada bab berikutt.

KANG HOO mengucap "Bismillah..........."

Lari kabur menerobos semak-semak belukar dalam rimba itu di bawah sinarnya rembulan sabit.

Meskipun ia melarikan diri dari kepungan orang-orang seragam berselubung muka hitam itu, bukanlah berarti ia seorang pemuda pengecut, sebenarnya sebelum munculnya si nona baju merah dari aliran Budha itu, ia telah nekad untuk adu jiwa dengan musuh-musuhnya, tapi entah bagaimana mendengar suara halus nyaring bernada bambu pecah dari bibir mungilnya si nona baju merah, hati Kang Hoo jadi lemah, dan seperti ia kena hipnotis menurut saja apa yang diucapkan nona baju merah tadi.

Ia lari kabur meninggalkan mereka.

Dalam melarikan diri di dalam semak belukar itu, hati kecil Kang Hoo yakin kalau nona baju merah dari aliran Budha itu dapat mengatasi keroyokan orang-orang seragam hitam, mengingat kalau ilmu silat nona itu memang lebih tinggi beberapa kali lipat dari dirinya sendiri, dengan matanya sendiri ia menyaksikan hanya dalam beberapa gerakan tangan saja nona itu berhasil merobohkan lawan.

Kang Hoo tidak mengerti, dengan senjata apakah nona itu merobohkan lawan.

Dalam hatinya juga menuji kecerdikan otak nona baju merah.

Sambil lari itu otak Kang Hoo, berputar terus mengenang peristiwa-peristiwa yang menimpa diri dan keluarganya.

Di samping itu ia juga merasakan betapa seluruh tubuhnya dirasa sakit.

Dan napasnya juga mulai tersengal sengal.

Akhirnya, ketika ia memasuki gerombolan rumput alang-alang, langkah larinya tak secepat semula, ia sudah seperti orang mabuk, sempoyongan diantara tingginya rumput alang-alang.

Kemudian dirinya ambruk di tanah.

Meskipun keadaan jasmaniahnya sudah begitu lemah, tapi otak si pemuda masih bisa berpikir, ia harus bisa menyembunyikan dirinya dari kejaran lawan.

Dengan menggulingkan dirinya, ia berusaha menyesapkan badannya di bawah alang-alang yang tumbuh lebat di tengah hutan itu.

Dan tak lama kemudian Kang Hoo pingsan karena lelahnya.

Haripun berganti pagi, sinarnya sang surya menguning keemas-emasan di ufuk timur, siliran angin basah berembun menyegarkan badan.

Embun-embun masih terotolan di atas batang-batang rumput alang-alang digoyang angin.

Tubuh Kang Hoo menggeletak di dalam semak-semak alang-alang.

Sinar matahari pagi dan angin basah sejuk berbareng menerpa wajah si pemuda dalam timbunan batang alang-alang.

Mendapat siraman sinarnya matahari pagi dan hembusan angin basah pada wajahnya mendadak Kang Hoo membuka matanya, ia sadar dari pingsannya, tapi keadaan tubuh itu masih lemah.

Belum bisa digerakkan.

Begitu sepasang mata si pemuda terbuka, ia belum bisa melihat apa-apa, karena keadaan sekelilingnya tertutup oleh rumput alang-alang yang tinggi, tapi sepasang telinganya mendadak mendengar suara gerengan-gerengan bina-tang buas, dan suara mendesisnya binatang berbisa, mengurung tempat dimana ia menggeletak rebah.

"Ya Allah, mati aku...."

Keluh Kang Hoo.

Rupanya nasib sial selalu membawa diri Kang Hoo, baru saja malam tadi ia berhasil lari dari kepungan orang-orang seragam hitam, kini mendadak di sekitar hutan itu sudah dipenuhi oleh suara gerengan binatang buas dan binatang-binatang berbisa.

Meskipun keadaan dirinya masih sangat lemah, ia berusaha bangkit duduk, untuk melihat dari arah mana munculnya suara gerengan binatang buas itu.

Begitu ia berhasil duduk di dalam timbunan rumput alang-alang itu, matanya melihat tetesan darah beku berceceran di tanah itulah darah beku yang semalam keluar dari luka-luka di badannya.

Melihat darah tadi, kembali ia merasakan betapa perihnya bekas luka-luka bacokan pedang lawan, bahkan pundak tangan kanan tampak mulai membengkak, tangan itu sudah tak bisa digerakkan.

Setelah memperhatikan di sekitar rimba alang-alang itu, ternyata di sana tak tampak seekorpun binatang buas.

Tapi suara binatang itu masih terdengar menggereng-gereng di telinganya.

Kang Hoo menengadahkan kepala ke atas, di sana tampak lima ekor burung besar, sayapnya selebar beberapa tombak terpentang-lebar, burung-burung itu terbang berputaran, seekor tampak kecil bagaikan tilik hitam di atas langit.

Melihat pemandangan itu hatinya tambah heran.

Selagi ia terheran-heran, mendadak Kang Hoo mendengar suara bentakan-bentakan diantara suara gerengan binatang buas itu.

Suara tadi ternyata datangnya dari arah belakang.

Maka cepat ia menoleh ke belakang, dan di belakang sana merupakan bukit pegunungan.

Di lereng bukit itu tampak bergerak beberapa bayangan berseragam hitam, bayangan-bayangan tadi laksana berlompatan, mereka rupanya sedang melakukan pertempuran.

Entah mereka sedang bertempur dengan siapa?

"Gila ..."

Pikir Kang Hoo "Dimana-mana selalu ada itu manusia-manusia berseragam dan berselubung hitam. Apakah isi dunia ini sudah dihuni oleh manusia-manusia biadab?"

Kang Hoo berusaha bangkit bangun ia ingin melihat apa yang sedang dikerjakan oleh orang-orang seragam hitam berselubung muka itu.

Tapi begitu badan Kang Hoo berhasil berdiri dengan lemahnya, mendadak ia jatuh kembali duduk di atas semak belukar.

Matanya terbelalak lebar, badannya jadi gemeteran.

"Aneh mengapa hutan ini mendadak penuh binatang buas dan binatang berbisa?"

Pikir Kang Hoo.

"Bukankah malam tadi aku datang ke tempat ini tak tampak seekorpun binatang buas. Tapi bagaimana pagi ini di sekitar gerombolan rumput alang-alang penuh dengan binatang buas? Dan itu gadis baju merah, yang semalam menolong diriku juga sedang menghadapi tiga orang seragam hitam berselubung muka. Melihat gerakan ilmu silat tiga orang seragam hitam tadi, mereka rupanya memiliki kepandaian lebih tinggi dari kawan-awan mereka semalam. Dan aneh, mengapa di dada kiri mereka mengenakan lukisan Kalong Kuning, mengapa tidak mengenakan lukisan Ka-long Putih? Apakah di sini telah muncul lain golongan."

Ternyata begitu Kang Hoo berdiri, ia menampak sekeliling gerombolan rumput alang-alang dimana ia mendekam, sudah dikurung oleh binatang-binatang buas, dan diluar kurungan binatang-binatang buas, di sana terjadi satu pertempuran antara si nona baju merah dengan tiga orang seragam hitam berlambang Kalong Kuning.

Rupanya ketika malam tadi Kang Hoo lari menerobos hutan, ia tidak sempat memperhatikan medan sekelilingnya lebih-lebih keadaan badannya yang sudah penuh luka, hingga ketika ia memasuki gerombolan rumput alang-alang, ia tidak mengetahui kalau rumput alang-alang itu, hanya seluas beberapa tombak saja, karena diluar gerombolan rumput alang-alang itu merupakan dataran rumput hijau.

Di sana tumbuh beberapa batang pohon kayu.

Sedang di sebelah utara terdapat itu bukit pegunungan, dimana beberapa orang seragam hitam berlompatan melakukan gerak-gerak serangan.

Sedang di bawah bukit, si nona baju merah menghadapi keroyokan tiga orang Kalong Kuning.

Lama Kang Hoo duduk terpekur, kemudian ia kembali menengadahkan kepala memandang ke atas, di atas udara sana, lima ekor burung-burung besar masih berputar melayang layang.

Mata Kang Hoo yang sayu itu terus memandang burung-burung yang berputaran di atas kepalanya, saat itu mendadak saja dari arah atas bukit dimana orang orang berseragam hitam berlompatan, terdengar suara halus merdu.

"Ui-jie, kau bawa orang itu!"

Kang Hoo mendengar jelas suara tadi, lagi-lagi suara seorang perempuan, tapi nada suara itu berbeda dengan suara gadis baju merah yang sedang bertempur dengan tiga orang seragam hitam.

Entah kini jago perempuan dari mana lagi yang muncul?

Kang Hoo membalik badan memandang ke arah bukit lereng gunung dari mana suara perempuan tadi datang.

Di sana tampak orang-orang berseragam hitam sedang mengeroyok seorang gadis.

Itulah seorang gadis berkulit hitam manis.

Selagi Kang Hoo memandang heran atas munculnya gadis yang sedang menempur orang-orang berselubung hitam itu, mendadak terdengar suara bentakan dari salah seorang Kalong Putih yang membentak si gadis hitam manis tadi.

"Perempuan Biauw, jangan kau turut campur urusan ini!"

"Hmmm. Kalian minggirlah, aku ingin membawa anak itu, ia telah mengganggu usahaku. Akan kubawa dirinya ke perkampungan suku bangsa Biauw."

Seru si gadis hitam manis yang rupanya gadis dari suku bangsa Biauw. Terdengar lagi suara teriakan si gadis Biauw.

"Ui-jie, cepat bawa anak itu!"

Kang Hoo bisa melihat dan mendengar pembicaraan tadi, tapi tidak mengarti apa yang dimaksud dengan kata Ui-jie, (kuning).

Ia jadi heran.

Selagi Kang Hoo terheran-heran, mendadak saja, dari sebelah kirinya mendatangi seekor orang hutan berbulu kuning, tubuh orang hutan itu hampir setinggi dirinya, penuh bulu, matanya bersinar kuning, dengan lenggang lenggok menghampirinya.

Kang Hoo kebingungan, ia menyelusup mundur masuk ke dalam rumput alang-alang, tapi di belakangnya terdengar suara ular mendesis.

Dalam keadaan demikian rupa, maju menghadapi binatang hutan, di belakang bertemu ular berbisa, Kang Hoo jadi timbul nekadnya, beberapa hari ini ia selalu mengalami penderitaan dan gangguan-gangguan dari manusia, kini binatang-binatang ini hendak berbuat apa terhadap dirinya.

Maka dengan nekat, ia mengempos seluruh sisa tenaganya bangkit menerjang si orang hutan.

Orang hutan bulu kuning tadi mengetahui kalau orang di depannya datang menyerbu, ia merentangkan kedua kaki depannya, dan sekali pukul saja tubuh Kang Hoo yang sudah kehilangan tenaga itu, roboh terguling, dan jatuh pingsan.

Setelah orang hutan merobohkan Kang Hoo dengan tangannya yang penuh bulu mengangkat tubuh si pemuda, lalu dipanggulnya pergi.

Binatang-binatang buas yang mengurung gerombolan rumput alang-alang, sejak tadi mengerang-erang, begitu mereka melihat si orang hutan berbulu kuning memondong Kang Hoo, mereka pada seliweran meninggalkan tempat itu, lari ke arah orang hutan bulu kuning, dengan sikap melindungi orang hutan bulu kuning, mereka pada berlalu dari tempat itu.

Berbarengan mana lima burung-burung besar yang terbang di atas udara melayang meninggalkan udara dimana tadi Kang Hoo bersembunyi, burung-burung itu melayang ke arah lereng gunung.

Dan salah seekor menukik ke bawah, menghampiri si perempuan Biauw.

Sedang yang lainnya dengan cekatan melakukan serangan udara pada orang-orang berseragam hitam berselubung muka tadi.

Si perempuan Biauw menunggu burung besar itu menukik ke arahnya, ia mengenjot badannya dan lompat ke atas, kemudian duduk di atas punggung burung besar itu, lalu sang burung kembali terbang naik ke atas, melayang terbang ke arah rombongan binatang-binatang buas yang mengurung melindungi orang hutan bulu kuning.

******0dwkz0lynx0mukhdan0******** SIONG IN sedang menghadapi keroyokan tiga orang seragam hitam, orang-orang itu berselubung muka dan berlambang Kalong Kuning di dada, merasa kewalahan menghadapi mereka, kenyataan orang-orang ini memiliki kepandaian jauh lebih tinggi dari mereka yang mengenakan lambang Kalong Patih.

Ketika Siong In mendengar suara teriakan dari perempuan Biauw memerintahkan orang hutan bulu kuningnya untuk membawa Kang Hoo, hati si nona lebih bingung lagi, ia coba lompat untuk menerjang barisan binatang-binatang buas yang mengurung Kang Hoo, tapi gerakan Siong In tidak leluasa, karena di depannya ia mesti menghadapi keroyokan tiga orang berlambang Kalong kuning dan juga ia mesti menghadapi barisan kurungan binatang-binatang buas.

Waktu itu dilain bagian pertempuran antara si perempuan Biauw dengan enam orang seragam hitam berselubung muka masih berlangsung, perempuan Biauw itu mendapat keroyokan dari mereka yang mengenakan lukisan kalong Hitam dan Kalong Kuning, Dan ketika seekor burung raksasa meluncur datang mengangkat terbang perempuan Biauw tadi.

Mereka pada melempar pedang ke atas untuk membunuh burung tadi, tapi senjata-senjata pedang itu tak dapat mendekati sang burung, karena angin kipasan sayap burung yang besar itu berhasil membuat pedang-pedang tadi kembali jatuh ke tanah.

Di atas punggung burung raksasanya di tengah udara, gadis Biauw bersiul panjang.

Berbarengan dengan suara siulannya dari atas udara, melayang satu titik hitam mendatangi, ternyata itulah seekor burung aneh yang turun meluncur ke bawah, burung tadi turun mendapatkan oraug hutan bulu kuning yang sedang memondong Kang Hoo.

Menampk seekor burung aneh mendatangi, si orang hutan mendongakkan kepala ke atas, kemudian mengeluarkan suara jeritan.

Burung aneh itu memiliki bulu berwana hijau biru, berbuntut panjang, lebar sayapnya beberapa tombak, kedua sinar matanya memancarkan warna kuning emas meluncur terus merendah.

Begitu terkena sambaran angin dari bulu burung aneh itu, rumput alang-alang bergoyang-goyang keras, sedang itu binatang orang hutan bulu kuning yang membawa Kang Hoo merundukkan kepala, seperti tak tahan menerima sambaran angin bulu burung tadi.

Begitu burung aneh tadi tiba di atas kepala si orang hutan bulu kuning, sepasang kakinya bagaikan capitan besi, diluruskan kebawah, ke arah kepala si orang hutan bulu kuning, sambil mengeluarkan suara pekikan.

Orang hutan bulu kunng terus menunduk ke bawah, sepasang tangannya yang penuh bulu mengangkat tubuh Kang Hoo ke atas.

Rupanya ia mengerti kalau gadis Biauw, memerintahkan burung tadi mengambil tubuh Kang Hoo, kini tangannya berbulu itu ia menyerahkan Kang Hoo pada sang burung.

Burung tadi melongok ke bawah, matanya bermain memperhatikan keadaan Kang Hoo, kemudian sepasang kakinya mencapit tubuh Kang Hoo, lalu meluncur ke atas.

Setelah sang burung aneh warna hijau biru meluncur ke atas, baru orang hutan bulu kuning berani berdiri tegak, ia mendongakkan kepala.

Saat itu kembali terdengar suara siulan dari atas udara, maka seluruh binatang buas mundur dan meninggalkan tempat tadi.

Orang-orang seragam hitam berselubung muka, berdiri melongo, memandang berlalunya si gadis Biauw yang telah membawa kabur Kang Hoo.

Sementara itu Siong In yang menghadapi serangan tiga orang berlambang Kalong Kuning, ia masih berkutet.

Menggerakkan pedangnya.

Diiringi berkelebatnya sinar-sinar hitam menyerang jalan darah orang-orang seragam hitam tadi.

Tapi mereka ternyata dengan mudah dapat mengelakkan serangangan senjata piauw si nona.

Siong In semakin penasaran, ia mempergencar serangannya, sekali-sekali mata si nona juga mendongak ke atas, melihat lenyapnya bayangan burung yang membawa Kang Hoo.

Pertempuran telah berlangsung empat puluh jurus, belum ada tanda-tanda siapa yang akan kalah dan menang.

Waktu itu, orang-orang seragam hitam yang tadi bertempur di atas bukit menghadapi si gadis Biauw, sudah pada berlari ke arah pertempuran antara Siong In, dan tiga kawan mereka yang mengenakan lukisan Kalong Kuning, tapi mereka tidak berani turun tangan, dengan sikap mengurung memperhatikan jalannya pertempuran tersebut.

Sampai matahari naik tinggi pertempuran belum juga berakhir.

Bagaimanapun tingginya ilmu silat si nona baju merah, tapi ia masih kurang pengalaman tempur.

Saat itu napasnya sudah tersengal-sengal, sedang senjata piauw besinya sudah habis terbuang tanpa mengenai sasaran, kini masih tinggal piauw-piauw pemberian suhunya itulah piauw emas Kim chi-hui-piauw, tapi ia merasa sayang untuk menggunakan piauw itu.

Kalao tidak terpaksa si nona tidak akan menggunakan senjata tadi.

Selagi Siong In kewalahan menghadapi keroyokan tiga orang tadi, mendadak di tengah udara terdengar suara batuk-batuk serak.

Tiga orang seragam hitam yang berlambang Kalong Kuning masih menempur Siong In, begitu mereka mendengar suara batuk-batuk, mereka lompat mundur menarik serangan, memandang ke arah datangnya suara batuk tadi.

Begitu pula orang-orang seragam hitam berlambang Kalong Putih mereka juga pada lompat mundur mengikuti gerakkan kawan-kawan mereka, memandang pada orang yang datang.

Siong In mulai kewalahan, begitu serangan tiga orang lawannya mengendur dan mereka lalu pada lompat mundur ia juga memperhatikan ke arah datangnya suara batuk-batuk tadi.

Dan begitu ia melihat orang yang mengeluarkan suara batuk-batuk serak itu, ia berdiri melengak mulutnya menganga, lalu Siong In lari memburu dan berteriak.

"Ayah ... Ayah ....!"

Orang tadi masih terus terbatuk-batuk, usianya empat puluh lima tahunan, rambutnya sudah banyak yang putih.

Wajahnya klimis tak selembar rambutpun tumbuh di sana.

Siong In terus berlari ke arah orang tua itu, sedang si orang tua dengan langkah kalem menyambut datangnya Siong In.

"Oh...... Ayah ..... Ayah.....!"

Seru Siong In menubruk sang ayah. Orang tua tadi dipeluknya erat-erat, ia menangis sesenggukan.

"Ayah.....! Kemana saja kau selama ini ... Ibu ... Ibu ..... Menunggu di rumah ..."

Orang tua itu terbatuk-batuk kemudian katanya serak.

"Anak ... Aiii....."

Hanya itulah yang keluar dari mulut si orang tua. Tangan orang tua itu terus mengelus-elus rambut Siong In.

"Ayah, mari pulang .... Ibu menunggu di rumah, ia kesunyian ..."

Kata Siong In sedih.

"Anak...... Anak ..."

Seru si orang tua tadi.

Air mata si nona meleleh membasahi kedua pipinya, ia menangis sedih, perpisahan sepuluh tahun itu membuat hati si nona begitu sedihnya.

Keadaan orang tua itupun tak ubahnya seperti keadaan Siong In, tampak kedua matanya menggenang air mata.

Tapi ia berusaha menahan jatuhnya air mata itu, katanya.

"Anak ... Kau sudah besar ... Waktu ayah meninggalkan rumah kau masih kecil, itu waktu kau masih ingusan ... Hari ini sepuluh tahun sudah lewat, kau sudah menjadi seorang gadis cantik jelita lagi gagah, eh, kau sudah mewarisi ilmu silat ibumu, tak kusangka kau sanggup menghadapi mereka."

Begitu mendengar ucapan sang ayah yang terakhir itu, hati si nona jadi kaget, ia melepaskan pelukannya, kemudian membalik badan, pedangnya siap di depan dada.

Tapi begitu ia melihat ke tempat mana tadi terjadi pertempuran, di sana sudah tak tampak lagi seorangpun seragam hitam.

Mata Siong In masih basah digenangi air mata, pipinya licin mengkilap digenangi lelehan air mata itu, biji mata si nona membelalak, ia jadi heran, kemana perginya orang-orang seragam hitam tadi?

Setelah menggosok wajahnya dengan lengan baju, Siong In bertanya pada sang ayah.

"Ayah, apakah melihat mereka tadi?"

Sang ayah mengangguk, katanya.

"Bukan saja aku lihat, tapi juga sudah menyaksikan bagaimana tadi kau menempur keroyokan mereka!"

"Eh, aneh, bagaimana mereka takut kepadamu?"

Seru Siong In.

"Anak ...."

Seru si orang tua menghela napas.

"Kau jangan campuri urusan mereka. Lebih-lebih tentang anak muda itu. Jangan sekali-kali kau mau tahu urusannya, dan ingat jangan sampai kau jatuh cinta padanya...!"

"Ayah!'' potong Siong In.

"Mengapa? Pemuda itu tokh tidak berbuat jahat padaku, juga itu orang-orang seragam hitam bukan orang baik. Aku telah melihat sendri, perbuatan terkutuk mereka!"

"Diam!!!"

Bentak sang ayah.

Mendapat bentakan tadi Siong In kaget ia lompat mundur, matanya memandang wajah si orang tua, kembali air mata menetes turun di pipinya.

Kesedihan itu datang bertambah, mengapa sang ayah setelah sepuluh tahun tidak bertemu, kini berubah sikap terhadap dirinya, bukankah tempo dulu belum pernah ayahnya membentak demikian rupa.

Ia sangat dimanja oleh ibu dan ayah itu, tapi setelah sepuluh tahun tidak jumpa dan pada perjumpaan pertama kali dalam sepuluh tahun itu, sang ayah telah membentaknya.

Orang tua itu, yang menampak keadaan putrinya demikian sedihnya, ia menghela napas, katanya.

"Anak, kau jangan salah mengerti, ayahmu sangat sayang padamu, karena memikir keselamatan dirimu maka aku larang kau mencampuri urusan mereka!"

"Ayah ... Tapi ..."

"Sudahlah, sudahlah, mereka tokh telah berlalu. Jangan bicarakan lagi."

Seru sang ayah sambil berjalan maju menghampiri Siang In. Kedua tangan orang tua tadi, diletakkan di atas pundak Siong In, katanya.

"Kau sudah besar, nah, pulanglah, beritahukan pada ibu, aku masih hidup, tidak kurang suatu apa, waktu ini aku belum bisa pulang ke rumah ...."

"Ayah, mengapa?"

Tanya Siong In.

"Apa tidak bisa ayah pulang sebentar, menengok ibu?"

"Anak, sampaikan pesanku padanya, tenang tenanglah ia, suatu hari pasti aku akan segera pulang,"

Jawab sang ayah.

"Tapi.... Sebaiknya ayah pulang dulu,"

Kata Siang In.

"Bukankah ayah tadi mendapat serangan penyakit batuk-batuk?"

Orang tua itu mendadak seperti kaget, serunya.

"Eh ... Akh ... Ya..."

Katanya sambil terbatuk-batuk.

"Batuk ini tidak berbahaya, ayahmu bisa mencari obat untuk menyembuhkannya."

Setelah berkata begitu sang ayah batuk-batuk terus menerus.

Siong In yang melihat ayahnya mendadak kumat penyakit batuknya, ia jadi menyesal mengucapkan kata-kata tadi, bukankah dengan ucapannya itu telah membuat sang ayah teringat akan penyakit batuknya?

Hingga si orang tua mesti terbatuk-batuk terus.

"Ayah, maafkan anakmu,"

Kata Siong In sedih.

"Seharusnya aku tidak mengingatkan ayah tentang penyakit batuk itu."

Sang ayah teras batuk-batuk serak katanya.

"Penyakit ini memang aneh, kalau sekali batuk, terus-terusan saja, tapi kalau ia berhenti maka lama tak akan kumat. Kau jangan kuatir, nah pulanglah, beritahu ibumu kalau aku dalam keadaan sehat walafiat."

Siong Ia jadi bingung, mengapa sang ayah ini bersikap begini aneh, maka dengan manjanya ia bertanya.

"Ayah sebenarnya sedang menghadapi urusan apa?"

"Anak tidak ada urusan apa-apa yang mesti dikuatirkan, beritahukan saja pada ibumu, ia akan mengerti. Dan dalam perjalanan pulang kau jangan bertindak sembarangan. Sebaiknya jangan mencampuri urusan orang lain!"

"Tapi . , . Bagaimana kalau orang-orang seragam hitam itu mengejar dirku, memusuhi aku."

Tanya Siong In. Orang tua tadi terbatuk-batuk, kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam saku baju, dari sana mengeluarkan sebuah benda, katanya sambil menunjukkan benda itu pada Siong In.

"Kau pakailah benda ini di dadamu. Dan selanjutnya kau tidak perlu kuatir terhadap orang-orang seragam hitam."

Mata Siong In terbelalak, memperhatikan benda di tangan sang syah.

Itulah sebuah perhiasan emas berbentuk buah Tho, di atas buah itu terdapat dua lembar daun.

Selagi Siong In memperhatikan dengan terheran-heran benda tadi, tangan sang ayah telah menusukkan benda tadi di baju dada kiri Siong In.

Siong In membiarkan saja ayahnya menyematkan benda tadi, matanya memperhatikan bagaimana tangan sang ayah memasukkan peniti emas ke bajunya.

"Nah, perhiasan ini banyak gunanya,"

Kata sang ayah setelah selesai menyematkan benda tadi.

"Kau pulanglah, ayahmu tak bisa lama-lama di sini."

Setelah berkata begitu, orang tua tadi membalikkan badan, tanpa menambah ucapannya ngeloyor pergi.

Siong In bengong terlongong-longong menyaksikan sikap aneh sang ayah itu.

Mulutnya ingin berteriak memanggil, hatinya ingin mengejar berlalunya sang ayah, tapi sang mulut dan sang kaki tidak menurut perintah hatinya.

Ia berdiri di situ terbengong-bengong, melihat belakang tubuh sang ayah, yang lenyap di balik lebatnya gerombolan pohon.

Begitu orang tua itu telah lenyap di balik pohon, mendadak saja badan Siong In melejit, ia lari mengejar ke arah lenyapnya sang ayah.

Di dalam gerombolan pohon, si nona mencari bayangan ayah itu, tapi di sana sudah tak terdapat bayangan orang tua tadi.

Siong Io terus ubek-ubekan mencari di dalam rimba.

Tapi tetap saja ia tak menemukan jejak ayahnya "Heran!"

Pikir Siong In.

"Bagaimana ayah bisa bergerak begitu cepat? Bukankah gerakannya tadi sangat lemah? Ia seperti tidak bertenaga, tapi bagaimana kini bisa lenyap mendadak?"

Di dalam hutan itu Siong In dibuat heran atas lenyapnya sang ayah.

Ia tidak mengerti bagaimana ayahnya bisa bergerak begitu cepat.

Dan saat itu mendadak saja ia teringat pada orang-orang seragam hitam berselubung muka.

Ketika orang-orang itu mendengar suara batuk-batuk sang ayah, mendadak mereka pada tersentak kaget, menghentikan serangan.

Dan meninggalkan Siong In yang menubruk ayahnya.

Kejadian-kejadian itu membuat hati si nona tambah bingung.

Manusia-manusia yang ia temui semua serba misterius.

Kini kemana harus mengejar ayah itu, apakah ia harus kembali ke kampungnya memberitahukan pada sang ibu, kalau ayah itu masih hidup, dan pernah ia jumpai di dalam rimba ini.

Tapi bagaimana ia mesti menceritakan pada ibunya tentang sikap ayahnya yang berubah misteri itu?

Setelah berpikir bolak-balik, akhirnya Siong In mengambil keputusan.

Katanya dalam hati.

"Dalam dunia ini ternyata banyak sekali orang-orang aneh, baru saja belum lama aku mengembara dalam rimba persilatan, telah menemukan tiga macam keganjilan, yang pertama, munculnya pemuda aneh yang mengucapkan kata-kata yang aku tidak mengerti apa maksudnya, ketika ia melarikan diri dari keroyokan orang-orang seragam hitam dimalam kemarin. Kedua dari hasil penguntitan terhadap orang-orang berseragam hitam lambang Kalong itu, aku mendapat kesimpulan, rupanya mereka terdiri dari dua tingkatan, tingkatan yang rendah itulah mereka yang mengenakan lambang Kalong Putih, ilmu kepandaian mereka tidak ada artinya. Dan tingkatan yang lebih tinggi mereka yang pada pagi ini kuhadapi, mereka cukup tangguh, di dada mereka terlukis lambang Kalong warna Kuning, selanjutnya, itu perempuan Biauw mau apa lagi dengan membawa lari pemuda itu. Ia juga memiliki kepandaian sangat aneh, binatang-binatang buas dan binatang-binatang berbisa begitu pula burung-burung aneh, mengapa bisa tunduk dibawah siulannya? Ilmu kepandaian yang sangat luar biasa!"

Setelah hatinya berkata begitu, Siong In, meraba itu perhiasan buah Tho terbuat dari emas yang disematkan di dada kirinya oleh sang ayah, kemudian, katanya lagi.

"Ini lagi ... urusan ayah, mengapa aneh begitu, aku disuruh pulang memberi tahu pada ibu, dan dilarang mencampuri urusan orang. Apa maksud benda emas ini? Apakah ini pemberian ibu? Kalau begini, sebaiknya aku pulang dulu ke gunung Hong-san memberi tahu sama ibu. Baru kemudian dengan diam-diam aku menyelidiki kemisteriusan ayah."

Setelah berpikir demikian, ia masukkan pedang ke dalam serangka. Lalu melesat dari gerombolan pohon. Tapi baru berlari beberapa tombak, mendadak pikiran si nona berubah lagi, pikirnya.

"Aku tokh janji pada ibu paling lama setengah tahun, sedang aku meninggalkan rumah belum cukup dua bulan. Baiknya aku menyelidiki itu perempuan Biauw, apa maksudnya membawa lari pemuda aneh itu?"

Pikiran nona baju merah Siong In jadi kacau tidak keruan, ia dibingungkan dengan keanehan-keanehan yang baru saja dihadapinya.

Berdiri mematung di antara lebatnya pohon dalam hutan tadi Sementara kita tinggalkan dulu keadaan, si nona baju merah Siong In yang kebingungan, maka marilah kita mengikuti pengalaman Kang Hoo yang dibawa terbang oleh burung aneh mengikuti si perempuan Biauw.

HARI MULAI GELAP, lima ekor burung aneh meluncur menembusi kegelapan awan.

Ratusan binatang buas dan binatang berbisa saling menggereng dan mendesis, berlompatan maju ke muka, mengikuti arah meluncurnya lima ekor burung menembusi awan.

Kang Hoo yang tercapit di kedua kaki burung warna hijau biru bermata emas, masih belum sadarkan diri, angin langit menderu-deru membawa hawa dingin, mengibar-ngibarkan bajunya yang sudah pada robek.

Beberapa tetesan darah masih jatuh menetes.

Lambat laun haripun menjadi gelap.

Tak tampak lagi kegiatan di atas dunia.

Begitu pula kelima burung aneh di langitpun tak kelihatan bayangan tertelan oleh kegelapannya suasana.

Suara gerengan binatang buaspun lenyap tiada terdengar.

Begitu sang surya kembali memancarkan sinarnya di timur, di atas alam raya terjadi keramaian, burung-burung bernyanyi menari berterbangan kian kemari.

Binatang-binatang hutan berlompatan kian kemari mencari makan.

Terotolan embun di atas daun menguap tersedot hangatnya sang surya pagi.

Di bawah kaki gunung, di dalam rimba belantara, di dalam sebuah goa, menggeletak sesosok tubuh berdarah.

Wajahnya pucat pasi, pakaiannya merah dinodai darah, tubuhnya penuh luka-luka bacokan.

Tubuh berdarah itu seorang pemuda, bukan lain Kang Hoo adanya, keningnya yang lebar mengkilat ditimpa sinar matahari pagi yang menerobos masuk ke dalam goa.

Diantara kesiuran angin gunung dan suara keresekannya daun pohon bergoyang keras, terdengar langkah kaki ringan memasuki goa.

Itulah langkah kaki seorang gadis berkulit hitam manis.

Di tangan kiri gadis tadi membawa sebuah timba kayu, di tangan lainnya membawa bermacam-macam dedaunan.

Gadis hitam manis itu melangkah tenang memasuki goa, mendatangi Kang Hoo yang masih rebah pingsan di atas kasur rumput di lantai goa.

Begitu berada di samping pemuda tadi, gadis itu meletakkan timba kayu yang berisi air, disamping begitu pula bermacam-macam warna daun di tangan lainnya diletakkan di samping timba.

Dengan bantuannya sinar matahari pagi yang menerobos masuk ke dalam goa itu, gadis hitam manis memeriksa keadaan luka-luka Kang Hoo.

"Delapan luka ringan, satu luka berat,"

Gumam gadis hitam manis tadi setelah memeriksa keadaan Kang Hoo.

Setelah bergumam begitu, ia mengambil itu tumpukan daun-daun berwarna warni, lalu dipilihnya batu persatu, yang tidak perlu disingkirkan, kemudian kumpulan daun-daun yang telah dipilih tadi, dibasahi dengan air dalam timba kayu, setelah mana daun-daun tadi diremas-remasnya dengan kedua tangan hingga menjadi hancur dan mengeluarkan busa.

Kalau melihat dari cara meremas daun-daun tadi nyatalah gadis hitam itu memiliki ilmu kepandaian tinggi, karena beberapa daun masih terdapat duri-duri pada rantingnya, tapi gadis tadi seperti tidak mendapat gangguan dari duri-duri itu, ia terus menggilas daun-daun hingga hancur mengeluarkan busa.

Busa-busa yang keluar dari remasan gilingan campuran daun itu, diolesinya pada luka-luka di tubuh Kang Hoo, hingga semua luka tadi tertutup rata oleh busa-busa itu.

Luka terberat yang diderita Kang Hoo, di bagian punggung kanan, hingga tangan kanannya lumpuh tak dapat digerakkan, pada bagian luka itu, gadis tadi seteliti memeras daun-daun itu, busa-busanya diteteskan pada luka tadi, kemudian luka itu ditutupi oleh ampas daun-daun remasan.

Setelah selesai mengobati luka Kang Hoo dengan daun-daun itu.

Kembali ia melakukan pilihan pada daun-daun yang tadi dipisahkan, daun itu terdiri dari tiga warna, kemudian dimasukkan ke dalam timba kayu, di sana daun-daun tadi dihancurkannya.

Daun-daun yang sudah dihancurkan dalam timba kayu tadi, dibawanya keluar goa, di luar goa itu, ia menuangkan air timba yang sudah bercampur dengan ramuan daun-daun itu ke dalam kuali tanah, yang terletak di atas dua buah batu.

Setelah menuang air ramuan daun ke dalam kuali tanah, ia menjejalkan ranting-ranting kering ke dalam dapur batu tadi, lalu, menggosokkan dua ranting kayu, tak lama kemudian kedua ranting kayu kering yang digosok itu mengeluarkan api.

Di dalam dapur itulah gadis hitam manis itu menggodok daun-daun ramuannya.

Tak lama berselang air dalam kuali tadi mendidih, dari sana keluar bau wangi ramuan daun-daun itu.

Hidung si nona hitam kembang kempis menyedot-nyedot bau wangi godokan tadi.

Setelah sekian lama hidungnya kembang kempis, ia lalu mengangkat kuali tanah, isinya dituang ke dalam timba kayu lalu dibawanya kembali ke dalam goa.

Di dalam goa itu Kang Hoo masih rebah, ia belum sadarkan diri.

Gadis tadi meletakkan timba kayu, kemudian ia memeriksa denyut-denyut nadi tangan Kang Hoo.

Setelah memeriksa denyut-denyut nadi Kang Hoo, gadis itu menggeleng kepala.

Lalu mengambil selembar daun, daun tadi digosok-gosoknya sebentar pada bajunya, lalu dengan daun tadi, ia menyendok air godokan ramuan dari dalam timba kayu.

Lalu ditiup-tiupnya beberapa kali agar air itu menjadi dingin.

Dengan menggunakan daun itu, tetes demi tetes air godokan ramuannya dimasukkah ke dalam mulut Kang Hoo.

Karena mulut Kang Hoo tertutup rapat tetesan-tetesan ramuan tadi, meleleh di bibir si pemuda mengalir ke pipinya dan jatuh ke atas kasur rumput.

Gadis hitam manis itu kembali menyendok air godokan dalam timba kayu, ia mengulangi perbuatannya.

Hasilnya kembali seperti apa yang semula ia kerjakan.

Nihil.

Air obat godokan itu meleleh ke atas tanah.

"Hmmm....."

Gadis itu kembali menyedok air obat dalam timba kayu, tapi kali ini tangan kirinya menjepit kedua rahang si pemuda, hingga mulut Kang Hoo terbuka bibirnya sedikit menganga.

Setelah itu baru ia meneteskan cairan godokan ramuan itu ke dalam mulut Kang Hoo.

Berulang ulang ia melakukan demikian, hingga dalam mulut Kang Hoo sudah dipenuhi oleh cairan obat itu, sampai luber ke bibirnya.

Tapi Kang Hoo masih juga belum siuman.

Jangankan siuman, air obat itu rupanva belum bisa masuk ke dalam perut si pemuda.

Seakan di dalam tenggorokan si pemuda terdapat benda yang menyumbat.

Si gadis jadi heran, pikirnya.

"Bukankah, air dalam mulut bisa masuk dalam perut, tapi mengapa ini bisa tertahan lama tidak mau masuk? Apakah kau sudah mau mampus?"

Setelah berpikir begitu gadis hitam manis tadi, menepuk-nepuk pipi Kang Hoo, tapi air dalam mulut tidak mau turun juga ke dalam perut si pemuda.

"Harus kutiup ke dalam."

Pikir gadis hitam manis tadi.

Setelah berpikir demikian, kemudian ia menundukkan kepalanya ke muka Kang Hoo lalu menempelkan kedua bibirnya di bibir si pemuda.

Ia meniup mulut Kang Hoo mendorong air obat itu masuk ke dalam perut.

Begitu ia meniup mulut Kang Hoo, mendadak saja air godokan dalam mulut si pemuda kembali nyemprot keluar, dibarengi dengan suara batuk-batuk si pemuda.

Gadis hitam yang mendadak mendapat semprotan jadi kaget, mengangkat mukanya, wajah hitam manisnya basah dengan cairan obat godokannya sendiri yang menyembur wajah manis itu.

Dengan menggunakan tangannya, ia mengusap cairan yang memenuhi wajahnya.

Sepasang mata gadis itu memperhatikan wajah Kang Hoo.

Kang Hoo masih diam tertelentang, matanya tetap meram, hanya dadanya tampak bergerak lebih keras dari semula.

Menyaksikan perobahan itu, perempuan hitam manis tadi tersenyum.

Lalu kembali ia memasukkan cairan obat sodokannya ke dalam mulut Kang Hoo tetes demi tetes.

Kali ini usaha si gadis berhasil, karena begitu tetesan air godok dedaunan itu masuk ke dalam mulut Kang Hoo tampak tenggorokan si pemuda bergerak, seakan ia menelan cairan yang masuk ke dalam mulutnya.

Setelah beberapa kali gadis itu meminumkan obat godokannya, tampak bulu-bulu mata Kang Hoo mulai bergerak-gerak, kemudian sepasang mata itu perlahan-lahan terbuka.

Berbarengan terbukanya mata Kang Hoo, mulut si pemuda berkata.

"Ya Allah... ."

Gadis hitam manis itu kembali jadi kaget, ia tidak mengerti apa yang diucapkan Kang Hoo, bahasa apakah itu? Seumur hidup gadis itu belum pernah mendengar.

"Apakah ini anak gila?"

Pikir si gadis akhirnya.

Setelah berpikir demikian gadis hitam manis itu dibikin kaget lagi.

Karena Kang Hoo, kembali sudah jatuh pingsan lagi.

Cepat-cepat gadis hitam manis itu memeriksa jalan nadi si pemuda.

"Kau memang banyak mengeluarkan darah."

Gumam si gadis hitam manis.

"Mungkin karena banyak mengeluarkan darah itu otakmu jadi rusak, hingga kau berkata yang bukan-bukan. Ramuan daun ini berkhasiat luar biasa, ia bisa mengembalikan tenaga dan menambah darah, tapi kalau kau terus-terusan pingsan begitu, bagaimana aku bisa mencekok kau dengan jamu ramuanku. Inilah ramuan obat mujarab orang Biauw. Dan sebagai gadis Biauw aku telah menyentuh bibirmu, ini berarti aku telah jadi istrimu. Kalau tidak, aku tidak ada muka untuk hidup di atas dunia ini. Aku juga tidak mau jadi janda kembang aku harus menyembuhkanmu."

Setelah berguman begitu, kembali si gadis Biauw memasukkan cairan godokan obat ke dalam mulut Kang Hoa, karena ia ingin cepat menyadarkan si pemuda, maka dengan mulutnya gadis Biauw tadi kembali menempelkan bibirnya di bibir si pemuda ia meniup mulut Kang Hoo.

Tapi cepat ia mengangkat mukanya dari sana kuatir kalau Kang Hoo batuk lagi dan menyemburkan godokan obat ke wajah hitam manisnya.

Tapi kali ini Kang Hoo tidak menyemburkan godokan tadi.

Air ramuan tadi berhasil didorong masuk ke dalam perut si pemuda.

Mengetahui kalau usahanya berhasil kembali, ia memasukkan air godokan ke dalam mulut si pemuda dan membantu mendorong dengan tiupan mulutnya.

Karena mengetahui kalau Kang Hoo tidak lagi menyemburkan godokan tadi, si gadis Biauw tidak segera menarik mukanya dengan menempelkan bibirnya di bibir si pemuda perlahan-lahan ia meniup.

Selagi bibir gadis Biauw hitam manis tadi masih menempel d bibir si pemuda, mendorong ramuan obat ke dalam tenggorokan pemuda itu dengan perlahan-lahan, mendadak saja ia merasakan bibir Kang Hoo bergerak, terasa bagaimana bibir itu menyedot, membantu menelan godokan obat ke dalam tenggorokannya.

Si gadis Biauw merasakan sedotan bibir Kang Hoo, ia kaget, matanya terbelalak ke atas menatap mata Kang Hoo, tapi mata si pemuda masih meram, sedotan bibir Kang Hoo terasa lembut menyedot-nyedot bibir si gadis, mendapat sedotan demikian rupa gadis tadi menghentikan meniupnya, ia menarik bibirnya dari bibir Kang Hoo, tapi tiba-tiba saja entah bagaimana, mendadak ia juga menyedot bibir Kang Hoo, melakukan satu kecupan.

Berbarengan kecupan gadis tadi, mata Kang Hoo terbuka, dan si gadis Biauw jadi merah wajahnya, cepat ia menarik mukanya dari atas wajah Kang Hoo.

Kang Hoo terbelalak kaget, seluruh badannya dirasa sakit, lengan kanannya masih belum bisa digerakkan, ia memperhatikan sekujur tubuhnya, tubuh itu penuh diolesi ramuan terasa luka pada badannya berdenyut-denyut menerima pengaruh ramuan yang melekat pada tubuhnya.

Lebih-lebih keadaan pada luka di bahu kanan, luka mana terasa berdenyut keras.

Mulut dan tenggorokannya terasa sepat-sepat manis asam, rasa itulah tadi yang membuat Kang Hoo menggerakkan kedua bibir menyedot rasa asam manis sepat tadi, begitu ramuan obat itu didorong oleh tiupan si gadis Biauw.

"Eh ......Kau...... Siapa?"

Tanya Kang Hoo lemah.

"Mengapa berbuat begitu?"

Dengan wajah merah gadis Biauw itu, menyendok lagi ramuan dalam timba kayu, kemudian dimasukkan ke dalam mulut Kang Hoo. Kang Hoo mengelak, ia memiringkan kepala ke kiri.

"Minumlah!"

Seru si gadis Biauw.

"Inilah ramuan obat guna mempercepat penyembuhan luka-lukatmu."

Mendengar kata-kata tadi, mata Kang Hoo memandangi wajah gadis hitam manis yang duduk di sampingnya, katanya.

"Kau? Apa maksudmu?"

Si gadis Biauw tidak menjawab, ia menjejalkan itu ramuan godokan ke dalam mulut Kang Hoo.

Kang Hoa merasakan bagaimana cairan ramuan tadi menyentuh bibirnya, terasa asam sepat manis.

Mengetahui kalau ramuan itulah yang tadi ia rasakan dalam tenggorokkannya, maka ia membiarkan gadis Biauw itu mencekok dirinya dengan obat godokannya.

"Cukup!"

Seru Kang Hoo.

"Hmmm. Lukamu belum sembuh. Kau jangan bergerak dulu "

Kata gadis Biauw.

Tapi Kang Hoo mana mau mengerti, perlahan-lahan ia bangkit duduk.

Rupanya luka-luka pada badannya sudah mulai sembuh, hanya luka pada pundak kanannya yang agak parah itu, masih terasa sakit luar biasa.

Setelah berhasil duduk, ia mencoba menggerakkan tangan kanannya perlahan-lahan.

Tampak wajah si pemuda meringis menahan sakit.

Tapi ia sudah bisa menggerakkan tangan kanan itu.

Gadis Biauw itu menyaksikan gerakan Kang Hoo, ia memandangi dengan penuh perhatian, ketika si pemuda menggerakkan tangannya dengan meringis, gadis tadi berkata.

"Luka pada punggungmu tidak ringan, memerlukan waktu dua hari untuk menyembuhkannya, baru kau bisa leluasa bergerak."

SETELAH berkata demikian, si gadis Biauw berjalan keluar pintu goa, di sana ia bersiul. Kemudian terdengar berkata.

"Ui-jie, kau bawa makanan kemari."

Setelah berkata begitu, kembali si gadis Biauw menghampiri Kang Hoo, dan berkata.

"Aku sudah perintahkan Ui-jie untuk mencari makanan untukmu."

"Ui-jie? Siapa Ui-jie? dan kau siapa, di mana ini?"

Tanya Kang Hoo keheranan memperhatikan sekeliling ruangan goa. Kemudian memandang si gadis.

"Tempat ini daerah Thiat-gan-tong, tidak jauh di belakang bukit terdapat perkampungan Biauw."

Jawab si gadis.

"Hmmm. Jadi kau gadis Biauw?"

Tanya Kang Hoo. Si gadis mengangguk, ia menyendok lagi godokan ramuan di dalam timba kayu, diserahkan pada Kang Hoo, katanya.

"Kau minumlah ramuan ini, kugodok dari berbagai tumbuh-tumbuhan yang banyak mengandung khasiat bisa menyembuhkan luka dan menambah darah."

Kang Hoo merasakan bagaimana keadaan lukanya yang begitu berat sudah hampir sembuh sebagian, ia percaya akan ucapan gadis Biauw tadi, tanpa banyak tanya lagi, ia menerima sodoran daun yang terisi air obat itu, lalu ditenggaknya sekaligus.

Baru saja Kang Hoo meminum air obat yang terasa sepat asam manis, dari pintu goa, berjalan masuk seekor orang hutan berbulu kuning.

Melihat orang hutan berbulu kuning tadi, Kang Hoo kaget, ia menggeser badannya ke belakang.

Gadis Biauw menoleh ke arah pintu goa, katanya.

"Dia adalah Ui-jie , nah kau jangan takut."

"Ui-jie ....Ui-jie ..... Ui-jie ..."

Gerutu Kang Hoo. Orang hutan berbulu kuning mendengar disebut namanya be-ulang-ulang oleh Kang Hoo menggaruk-garuk pinggangnya.

"Ui-jie, mana makanannya?"

Tanya gadis Biauw pada si orang hutan bulu kuning.

Orang hutan tadi melempar sebuah benda ke depan gadis Biauw.

Luncuran benda itu disambut oleh gadis tadi, kemudian diserahkan pada Kang Hoo.

Kang Hoo masih bengong, memandangi orang hutan bulu kuning itu, otaknya mengingat beberapa hari yang lalu, ketika ia sudah terluka parah, mendadak saja di sekitarnya dikurung oleh puluhan binatang buas.

Dan bagaimana orang-orang berseragam hitam bertempur dengan si gadis baju merah, dilain bagian di atas bukit juga terdapat kelompok pertempuran yang terjadi antara orang-orang seragam hitam dengan gadis hitam manis.

Kini gadis hitam manis itu berada di samping dirinya, ia juga ingat, bagaimana gadis itu berteriak "Ui jie, cepat bawa anak itu,"

Dan kemudian muncullah ini binatang orang hutan bulu kuning, tapi setelah itu ia tak ingat lagi.

"Hei, ini, makanlah,"

Seru si gadis Biauw. Kang Hoo tersentak kaget, ia menerima pemberian buah tadi, tanyanya.

"Apakah, kau yang memerintahkan orang hutan ini? Dan bagaimana membawa aku kemari."

Gadis Biauw tersenyum, katanya.

"Namaku Goat Khouw, orang-kampungku menyebut aku dengan sebutan putri binatang, itulah disebabkan karena kepandaianku menundukkan binatang-binatang buas. Waktu kau dikejar oleh orang-orang berselubung muka, malam itu, aku kebetulan sedang menunggu munculnya seekor binatang aneh, yang jarang sekali terdapat di muka bumi ini, kami orang-orang Biauw percaya binatang itu mengandung khasiat luar biasa, siapa yang bisa meminum darah dan memakan nyali binatang itu, ia akan menjadi awet muda, dan memiliki tenaga besar. Tempat dimana binatang itu akan muncul tidak jauh dari tempat kau mendapat keroyokan, karena waktu itu kau lari lewat dimana binatang aneh itu akan keluar, hingga kau telah menyebabkan binatang itu jadi terkejut. Maka gagallah cita-cita ku itu. Tapi aku masih tetap menunggu munculnya binatang tadi!"

"Binatang apa?"

Tanya Kang Hoo memotong pembicaraan Goat Khouw.

"Kuya bumi!"

Kata Goat Khouw.

"Karena gerakanmu membuat berisik hutan alang-alang itu hingga mengejutkan binatang tadi, dan selanjutnya ia tak mau muncul lagi. Semula aku hendak membunuhmu. Dan ketika aku hendak turun tangan membunuhmu, mendadak datang itu perempuan baju merah ia mencegah gerakanku. Maka terjadi pertempuran aku dengan ia hanya dalam beberapa jurus, aku tidak mengenal perempuan baju merah itu, ia juga tidak mengenal diriku, kami bertempur dengan berlainan tujuan, ia mempertahankan kau agar kau lolos dari kematian di tanganku, dan aku akan menghabiskan nyawamu. Selagi kami bertempur, muncul itu orang-orang seragam hitam, begitu mereka muncul mereka sudah mengeluarkan kata-kata kotor, membuat hatiku panas. Dan kami berbalik menyerang mereka. Pertempuran berlangsung sampai fajar, dan kami memencar menjadi dua kelompok pertempuran, sedang binatang-binatang buasku kuperintahkan untuk menjaga dirimu, karena aku masih penasaran dan ingin membetot nyawamu dengan tanganku sendiri.........."

"Mengapa kau tidak bunuh aku?"

Potong Kang Hoo. Goat Khow memandang wajah Kang, Hoo, lalu katanya.

"Umurku sudah tujuh belas tahun, sudah waktunya aku menikah, maka .....mengingat itu aku telah memilih dirimu untuk calon suamiku, dengan adanya pikiran itu, aku batal membunuhmu dan kau kubawa ke tempat ini, kurawat dan kuobati dengan obat-obat ramuan bangsa kami."

Mendengar keterangan gadis Biauw hitam manis itu, hati Kang Hoo jadi berdebaran. Wajahnya merah matang.

"Hmmm. Kau malu."

Seru Goat Khouw.

"Gadis-gadis Biauw, memiliki sifat polos dan terus terang, dan ia boleh mencari jodohnya sendiri, kini pilihan jodohku terhadap dirimu, meskipun kau seorang pemuda Han, tapi mengingat kalau aku telah melepas budi padamu, apakah kau bisa menolak kehendak hatiku?"

"Aku tidak menolak,"

Seru Kang Hoo.

"Tapi mana mungkin, aku nikah denganmu."

"Jangan banyak putar lidah!"

Seru si gadis Biauw.

"Kalau kau bersedia, jawab yang tegas. Kalau tidak itu berarti dagingmu akan kuserahkan pada binatang-binatang buas."

"Soal kawin bisa diurus belakangan,"

Kata Kang Hoo.

"Aku masih punya banyak urusan, ayahku dibunuh orang, dan aku di kejar-kejar golongan pembunuh-pembunuh itu. Lagi pula aku harus mencari isteri yang seagama dengan diriku."

"Agama?"

Tanya Goat Khouw membelalakkan mata.

"Apapun agamamu aku tidak perduli yang penting kau harus bersedia kawin denganku."

"Tidak mungkin!"

Sela Kang Hoo.

"Seorang perempuan yang menjadi isteriku harus seagama denganku. Kalau tidak mana mungkin."

"Kalau begitu, aku bersedia menganut agamamu."

Kata Goat Khouw tegas. Mendengar kesediaan si gadis Biauw, hati Kang Hoo dibuat kebingungan, bagaimana seseorang bisa dengan mudah memeluk agama yang dipeluknya. Maka katanya.

"Itu juga tidak gampang."

"Kalau begitu kau memang memilih jalan kematian, dikoyak binatang buas,"

Seru Goat Khouw marah.

"Jika Tuhan menghendaki aku binasa di tempat ini, tak seorangpun bisa menghalangi. Begitu pula sebaliknya, bila Ia menghendaki aku berumur panjang, apa artinya segala macam binatang buas, kau boleh suruh binatang-binatang buasmu itu membunuh diriku, aku ingin lihat apa yang mereka bisa kerjakan."

Mendengar kalau Kang Hoo berkeras hati pada pendiriannya. Biauw Kouw mengkerut kening, kemudian katanya.

"Kau memiliki hati keras. Lebih keras dari pada batu. Tapi mau atau tidak kau mesti jadi suamiku."

"Perempuan setan! Kau gila!"

Seru Kang Hoo.

"Bagaimana seorang perempuan memaksa laki-laki menjadi suaminya?"

Goat Khouw tertawa cekikikan.

"Hatiku telah memilih kau menjadi suamiku, hidup atau mati,"

Katanya.

"Tentang cara untuk menundukkanmu, itu bukan urusan susah, tunggu sampai luka-lukamu sembuh benar, baru kau akan tahu bagaimana kau merayap mencariku......"

Mendengar ucapan itu, sebenarnya Kang Hoo ingin memaki gadis liar bangsa Biauw ini, tapi mendadak otaknya berpikir.

Tidak guna ia panjang lebar tarik urat di tempat itu tunggu setelah luka-lukanya sembuh, ia akan segera mencari daya untuk dapat lolos dari cengkeraman gadis Biauw liar ini.

Mendapat pikiran begitu, Kang Hoo tersenyum katanya.

"Seseorang yang menjadi isteri dari golongan agamaku, ia juga mesti menganut agama yang kuanut. Pertama ia harus melakukan upacara khitanan. Kemudian mempelajari ayat demi ayat ajaran agama. Mentaati Hukum dan Rukun agama....."

"Aku bersedia,"

Potong Goat Khouw.

"Kau tunjukkan saja bagaimana harus mempelajari agamamu, upacara khitanan atau apa saja aku sanggup menjalankannya....."

"Tidak begitu gampang,"

Seru Kang Hoo "Lebih-lebih, untuk mengkhitankanmu .... itu ......"

Kang Hoo tidak bisa meneruskan ucapannya, ia menahan rasa geli yang mendadak timbul di hatinya.

"Hei, kenapa?"

Tanya Goat Khouw.

"Kau boleh segera khitan aku."

"Gila ... ."

Seru Kang Hoo.

"Tabiblah yang melakukannya!"

"Kau bilang saja, apa itu khitan? nanti aku bisa cari tabib bangsa Biauw, menyuruh mengkhitankan diriku!"

Kang Hoo jadi gelagapan mendengar ucapan gadis itu, bagaimana ia menerangkan bagian anggota tubuh si gadis yang mesti dikhitan.

Ia jadi melongo memandangi wajah ketololan gadis Biauw yang liar.."Bagaimana?"

Tanya Goat Khouw.

"Apa kau juga sudah menjalani upacara itu?"

"Tentu,"

Jawab singkat Kang Hoo.

"Bisa kau tunjukkan."

Pinta Goat Kouw.

Kang Hoo tersenyum, bagian tubuh yang dikhitankan itu adalah anggota rahasianya yang amat vital.

Bagaimana ia mesti menunjukkannya di depan gadis ini, sambil menggeleng kepala ia berkata.

"Mana bisa, mana bisa, urusan bisa jadi lebih berabe lagi."

"Bilang saja kau tidak menerima kehendakku!"

Bentak gadis Biauw.

"Jangan lagi banyak bicara bertele-tele. Huh! Macam agama apa yang kau anut itu?"

"Nggg....."

Dengus Kang Hoo.

"Kau dengar baik-baik aku menganut ajaran Islam!"

Mendengar disebutnya agama tadi, wajah Goat Khouw sedikit mengkerut, seumur hidupnya baru pertama kali ini ia mendengar nama aliran agama itu. Setelah sekian saat memandang Kang Hoo iapun bertanya.

"Dari mana kau dapatkan ajaran agama itu?"

"Ayahku, almarhum berikan aku ajaran agama tersebut."

Jawab Kang Hoo.

"Dan ayahmu, mendapat darimana?"

Tanya lagi Goat Khouw.

"Eh, untuk apa kau banyak bertanya tidak keruan, kalau kau hendak menganut agamaku, aku bisa memberikan kau pelajaran tapi......"

"Tapi apa pemuda Islam?"

Seru Goat Khouw.

"Sudahlah, kau jangan banyak bicara tentang urusan agama, karena aliran agama ini kemungkinan besar yang menyebabkan terjadinya teror terhadap ayahku. Ada suatu golongan melakukan teror!!!"

"Siapa menteror kalian?"

Tanya gadis Biauw.

"Orang-orang seragam berselubung hitam,"' jawab pemuda Islam Kang Hoo.

"Mereka juga manusia-manusia aneh,"

Gerutu Goat Khouw, lalu ia bangkit keluar goa meninggalkan Kang-Hoo.

Kang Hoo memandangi belakang tubuh Goat Khouw, berlenggak-lenggok keluar goa, bibirnya tersungging senyum.

Entah apa yang dipikirkan si pemuda.

TANPA DIRASA dua hari telah dilewati.

Luka di punggung Kang Hoo sudah sembuh, tangan kanannyapun sudah bisa digerakkan dengan leluasa.

Hanya pakaiannya masih itu juga, pakaian robek-robek penuh noda darah.

Selama dua hari itu dalam rawatan gadis liar bangsa Biauw, ia merasakan bagaimana gadis tadi begitu telaten dan telitinya menjaga dirinya.

Hingga bagaimanapun kuatnya hati seorang pemuda, mendapat pelayanan demikian rupa, maka goyanglah pendiriannya.

Ia tidak bisa menolak dengan ketus permintaan gadis Biauw itu untuk menjadi suaminya, juga ia tidak bisa menerima begitu saja lamaran yang diajukan gadis tersebut.

Teringat bagaimana dirinya sampai berada di dalam goa dalam daerah perkampungan suku bangsa Biauw, Kang Hoo terkenang pada gadis baju merah yang pertama kali ia temui, dan gadis itupun pernah melepas budi menolong dirinya dari cengkeraman orang-orang seragam hitam.

Dua orang gadis sekaligus membayang dalam otaknya, ia membanding-bandingkan kecantikan kedua gadis itu.

Mereka hampir memiliki perawakan dan potongan tubuh yang sama, berkepandaian silat sama tinggi, mereka hanya beda dari asal keturunan, satu dari suku bangsa Biauw, berkulit hitam manis dan masih liar, dan satu keturunan bangsa Han berkulit putih kekuningan.

Kecantikan kedua gadis itu boleh dibilang masing-masing punya kelebihan dan punya kekurangan.

Tapi keduanya cukup menarik dan membuat hati Kang Hoo terkenang dan terbayang-bayang.

Begitu kenangan wajah kedua gadis tadi berlalu dari rongga otaknya, Kang Hoo meneteskan airmata, ia terkenang akan ayah tercinta, tewas di bawah keganasan orang-orang berseragam hitam berselubung muka misterius.

Dan yang lebih mengenaskan, kematian ayahnya mengalami proses pelumeran daging, akibat terkena cairan mayat seragam orang seragam hitam yang berhasil dibunuh sang guru.

Teringat akan suhunya Beng Cie sianseng yang selama sepuluh tahun lebih mengajarkan ia ilmu surat dan juga memberikan pelajaran ilmu silat secara diam-diam pada dirinya, Kang Hoo jadi menghela napas.

Karena tak disangkanya suhunya itu seorang jago rimba persilatan yang menyembunyikan diri.

Dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana ia melihat gerakan suhunya memainkan tongkat bambu tujuh ruas menghadapi orang seragam hitam, bahkan dengan bengis sang suhu menyuruh ia membunuh orang berseragam hitam, yang telah membunuh ayahnya.

Kemanakah suhunya itu, siapakah sebenarnya Beng Cie Sianseng?

Pertanyaan itu berkecamuk dalam rongga otak Kang Hoo.

Karena terlalu memikirkan keadaan dirinya, Kang Hoo lupa ia sedang berada di tempat apa, ia melangkah keluar goa, ternyata hari sudah mulai sore.

Di luar sana, Goat Khouw dan binatang buas berbulu kuning itu tidak kelihatan di sana, suasana sore di depan goa sangat sunyi, hanya daun-daun pohon yang terus bergoyang tiada hentinya ditiup angin.

Kang Hoo maju ke depan dan berada di depan goa ia memperhatikan keadaan medan di sana, itulah sebuah hutan di bawah kaki gunung yang sunyi disaaa sini hanya tumbuhan lebat.

Lereng gunung ditumbuhi pohon-pohon lebat, jauh di atas puncak gunung, tampak kepulan awan mengambang memotong tengah-tengah gunung, hingga tak tampak sampai dimana tingginya puncak gunung itu, di utara dan timur masih terdapat puncak gunung yang menjulang tinggi.

Tanpa disadari, Kang Hoo melangkah mendaki lereng gunung, tubuhnya menerobos rimbunnya ranting-ranting pohon.

Selagi ia mendaki lereng gunung tanpa arah tujuan itu, mendadak di belakangnya terdengar suara orang memanggil.

"Kang Hoo....!"

Kang Hoo terkejut, ia menoleh ke belakang, suara itu sudah ia kenal, bagi telinganya suara tadi tidak asing lagi.

"Suhu ........"

Teriak Kang Hoo berlari datang.

Orang yang berteriak memanggil ternyata adalah si orang tua Beng Cie Sianseng, di punggungnya tersembul ujung bambu tujuh ruasnya.

Ia cepat menghampiri Kang Hoo serunya.

"Ayo berangkat! Gadis liar itu sedang mengadakan persiapan pesta besar di kampung Biauw."

"Aaaaah......jadi, ia benar-benar ingin melaksanakan niatnya?"

Tanya Kang Hoo.

"Ayo berangkat! Jangan banyak tanya lagi!"

Seru Beng Cie sianseng.

"Belum waktunya kau mengurusi perempuan!"

"Suhu....."

Seru Kang Hoo, sambil jalan terus ke atas lereng gunung.

"Gadis itu meskipun liar, tapi ia telah melepas budi menolong diriku."

"Aku tahu! Ia juga cukup cantik!"

Kata Beng Cie sianseng, menarik tangan Kang Hoo, mempercepat jalannya.

"Berhari-hari aku mencari jejakmu, beruntung di tengah jalan aku bertemu dengan gadis baju merah, ia menceritakan bagaimana kau di bawa terbang oleh perempuan Biauw, maka dari keterangannya, aku menyusul ke daerah ini."

"Suhu pernah berjumpa dengannya?"

Tanya Kang Hoo sambil mempercepat langkah kakinya.

"Nggg ..... apa benar, ia pernah menolong dirimu dari kurungan orang-orang seragam hitam?!"

Tanya sang suhu.

"Benar. Dia penganut ajaran Budha."

Jawab Kang Hoo.

"Jangan bicara soal Budha atau apapun, kau lupakan semua itu, yang perlu selamatkanlah dirimu."

Kata Beng Cie sianseng dengan suara agak marah.

"Selama ini aku hanya menurunkan ilmu silat kosong, tiada artinya untuk menghadapi manusia-manusia kukuai rimba persilatan. Itu karena aku menghormati ayahmu, yang tidak menghendaki kau mempelajari ilmu silat. Bila kita berhasil keluar dari tempat ini, maka kau harus memperdalam ilmu silatmu. Dan kau juga harus berusaha membasmi perkumpulan Kalong itu guna membalas sakit hati ayahmu."

Sambil lari menerobos semak-semak belukar mereka bicara perlahan.

"Suhu, tapi agama melarang aku membunuh!"

Kata Kang Hoo setelah ia mendengar perkataan suhunya agar membalas dendam.

"Anak tolol. Dalam agama yang kau anut itu, memang dilarang membunuh, tapi untuk melakukan Darul dan mempertahankan serta menegakkan agama kalau perlu melakukan perang."

"Perang?"

Tanya Kang Hoo kaget.

"Dari mana suhu tahu."

"Lama aku mengikuti jejak ayahmu, aku juga pernah mendengar ketika ayahmu mendapat pelajaran agama itu dari seorang tua bersorban, ketika itu usiamu masih tiga tahun. Orang tua itu bercita-cita untuk melakukan Darul Islam!"

"Jadi suhu sudah lama mengenal ayah,"

Tanya Kang Hoo.

"Dan apa itu Darul Islam?"

"Mengembangkan agama. Kalau perlu dengan perang!"

Jawab Beng Cie sianseng "Seberarnya ayahmu seorang pembesar negeri yang bijaksana. Aku senang dengan dirinya. Dan aku bersedia menjadi budaknya."

"Hmm kemana kita?"

Tanya Kang Hoo sambil terus lari menerobos ranting-ranting pohon.

"Meninggalkan daerah ini sejauh mungkin,"

Jawab sang suhu sambil menoleh ke belakang.

"Gadis liar itu telah melepas budi padamu, dan bilamana kehendaknya tidak kau penuhi, ia bisa membunuh kau. Dari kalau sampai terjadi demikian itulah kejadian yang sangat membingungkan, kita tidak bisa melukai dirinya, lebih-lebih membunuhnya, orang yang telah melepas budi, kita harus ingat atas budi itu."

Tanpa dirasa mereka menyusuri bukit-bukit pegunungan penuh gerombolan pohon itu, hari pun sudah mulai gelap. Sambil lari menerobos hutan Kang Hoc berkata.

"Sebentar lagi malam tiba."

"Dalam keadaan gelap, menguntungkan kita."

Jawab Beng Cie Sianseng.

Angin malam berhembus, hawa udara yang mulai dingin, bertambah dingin lagi, lebih-lebih keadaan Kang Hoo yang sebagian besar bajunya telah robek akibat serangan pedang orang-orang seragam hitam, siliran angin tadi menusuk-nusuk bekas luka-lukanya.

Dalam cekaman hawa dingin tadi, mendadak saja terdengar suara tetabuhan alat musik sayup terdengar mengumandang ke seluruh lereng gunung.

Beng Cie sianseng mendengar suara tetabuhan alat musik itu, ia jadi melengak, begitu pula Kang Hoo, ia menatap wajah sang suhu.

"Eh, suara musik apa?"

Tanya Kang Hoo.

"Gadis liar tadi rupanya telah menyiapkan pesta kawin untukmu. Ia sudah kembali ke goa untuk menyambut pengantin laki-laki, Kau lihatlah, di bawah sana bukankah di depan goa dimana kau tinggal, itu nyala-nyala api obor menerangi keadaan. Kau kira betapa marahnya gadis itu, begitu melihat kau tak ada di dalam goa!"

Hoo tertawa.

"Dia liar tapi lucu sekali. Bagaimana membikin pesta kawin tanpa menunggu persetujuan laki-laki."

"Kau jangan banyak bicara! Cepat jalan!"

Bentak Beng Cie sianseng.

Sementara itu, rombongan musik yang telah disiapkan oleh Goat Khouw untuk menyambut pengantin laki telah berbondong-bondong datang ke depan goa.

Obor-obor membuat keadaan gelap di depan goa jadi terang benderang.

Empat orang laki-laki Biauw berwajah hitam menggotong sebuah joli yang terhias bunga-bunga serta lukisan khas suku bangsa Biauw, di belakang penggotong tandu berbaris rombongan seni musik.

Di belakang barisan rombongan alat musik, tampak berlerot barisan binatang-binatang buas peliharaannya Goat Khouw.

Di depan pintu goa, Goat Khouw sudah dandan demikian rupa, ia memerintahkan beberapa orang pelayan laki-laki membawa satu perangkat pakaian kemantin baru.

Agar mereka menggantikan pakaian Kang Hoo di dalam goa.

Sementara itu, Goat Khouw dan rombongannya menunggu berdiri di depan pintu goa.

Tiga orang laki Biauw memasuki goa, mereka membawa sebuah obor, tugas mereka menggantikan pakaian Kang Hoo yang sudah robek-robek itu, dan meriasi si pemuda menjadi kemantin laki-laki kemudian membawa si pemuda keluar lalu dengan tandu ia akan dibawa ke perkampungan Biauw untuk me-lakukan pesta perkawinan.

Lama Goat Khouw menunggu di luar, hatinya sudah gelisah benar.

Ingin lekas memandang wajah sang kekasih yang sudah dandan rapi.

Suara musik tetabuhan bangsa Biauw terus mengumandang dimalam hari, rembulan yang mulai bundar sudah nongolkan dirinya, mengintip peristiwa malam di atas dunia.

Tak lama tiga orang laki-laki Biauw sudah jalan keluar, salah seorang membawa obor, wajah mereka agak cemas.

Dan dua orang lainnya, dengan masih membawa buntalan pakaian lari mendekati Goat Khouw, katanya perlahan.

"Di sana tak ada orang!"

"Hah!"

Goat Khouw kaget, ia lari mengambil sebuah obor, lalu memasuki goa. Begitu berada di dalam goa mendadak saja ia membanting-banting kaki, gerutunya.

"Laki-laki terkutuk! Dengan baik hati aku merawatmu. Kini kau kabur meninggalkan aku hmmm. Rupanya kau telah terpincuk dengan perempuan baju merah itu. Biar kelak akan kubunuh ia agar kau bisa tahu siapa aku!"

Goat Khouw yang mendapatkan goa sudah kosong, ia jadi marah tidak kepalang, karena kemarahannya itu, telah terbetik rasa cemburunya, bukankah di dalam hutan rumput alang-alang itu, si nona baju merah Siong In juga berusaha untuk menolong diri Kang Hoo dari tangan maut.

Maka berpikir begitu kemendongkolannya merembet diri Siong In.

Setelah menggerutu di dalam goa, Goat Khouw lari keluar, ia melempar obor di dalam goa.

"Kalian balik ke perkampungan."

Teriak Goat Khouw pada rombongannya.

"Pesta dibatalkan."

Semua orang-orang laki perempuan jadi terheran-heran mendengar perintah si nona, mereka melompongkan mulutnya, suara musikpun sirap seketika.

Goat Khouw tidak memperdulikan rombongan kesenian itu, dengan wajah merah penuh kemarahan ia bersiul.

Suara siulan si nona liar mengumandang angkasa malam.

Dan tak lama di atas udara di bawah sinar rembulan, tampak meluncur lima titik bayangan hitam menukik ke bawah, lima titik bayangan hitam tadi kian lama kian jelas bentuknya itulah lima ekor burung aneh.

Mereka berterbangan di atas kepala Goat Khouw.

Goat Khouw mendongak kepala ke atas kemudian, ia bersiul lagi, suara siulan itu panjang pendek seperti suara burung.

Lima ekor burung aneh, mendengar suara siulan itu mereka terbang berpencaran ke setiap pelosok rimba.

Setelah memerintahkan kelima burung-burungnya, Goat Khouw bersiul lagi, suara siulannya disusul dengan terdengarnya suara gerengan-gerengan binatang buas, memenuhi hutan di depan goa.

"Ui-jie,"

Seru Goat Khouw begitu ia menampak binaiang orang hutan bulu kuning jalan menghampiri.

"Kau panggil Toa sian-seng."

Mendengar perintah si nona, orang hutan bulu kuning mengeluarkan suara pekikan, lalu ia lompat lari memasuki hutan.

Dan tak lama kemudian sudah balik kembali dengan seekor orang hutan hitam berbadan besar, tubuh orang hutan itu dua kali lebih tinggi dan lebih besar dari pada orang hutan bulu kuning.

Ternyata yang dimaksud dengan Toa sian-seng adalah itu orang hutan hitam besar.

Di depan si nona Biauw, orang hutan besar Toa sianseng mulutnya cengar cengir, kepalanya miring ke kiri ke kanan memandang Goat Khouw.

"Kurang ajar, kau jangan cengar cengir!"

Bentak Goat Khouw.

"Ayo ikut aku, kalian harus bekuk itu laki-laki Han. Kalau ia tidak mau kawin denganku, biar kuserahkan padamu. Rupanya ia lebih suka memilih kau dari pada menikah dengan aku."

Toa sianseng yang baru datang mendengar ocehan Goat Khouw lompat kegirangan, mulutnya mengeluarkan suara pekik-pekikan.

"Jalan!"

Bentak Goat Khouw.

Maka kedua orang hutan itu tak berani membantah perintah majikan perempuannya, mereka pada jalan mendaki lereng gunung.

Rupanya si toa sianseng itu adalah orang hutan betina, ia jadi girang mendengar akan diberi seorang laki-laki untuk menghiburi dirinya.

Sebenarnya sifat orang hutan perempuan besar itu sangat buas, ia tidak boleh melihat laki-laki cakep, pasti laki-laki itu diterkam.

Maka jika tidak perlu betul menggunakan tenaga orang hutan yang diberi nama Toa sianseng itu, ia jarang mengajaknya bepergian.

Karena diantara sekalian binatang-binatang, Toa siansenglah yang paling susah diatur.

DENGAN menarik tangan Kang Hoo, menerobos gerombolan-gerombolan pohon di lereng gunung itu Beng Cie sian-seng berkata.

"Cepat perempuan itu sudah mengetahui kau tidak berada di dalam goa."

Kang Hoo yang lari terseret-seret oleh suhunya, berkata.

"Suhu, jarak yang telah kita lalui cukup jauh, dalam keadaan malam begini kukira tak mungkin dengan mudah ia menemui jejak kita. Untuk apa mesti menyeret-nyeret diriku. Duri-duri semak belukar telah melukai tubuhku. Jangan-jangan aku bisa mengalami luka bernanah."

"Kau mana tahu, jarak dan waktu untuk gadis liar itu tidak ada artinya, Kau lihat di atas sana. Kau lihat dengan teliti."

Kang Hoo menengadah ke atas, memandang langit yang bening bercahayakan sinar rembulan.

"Bintang bertebaran!"

Seru Kang Hoo.

"Tolol."

Bentak Bersg Cie sianseng.

"Aku bukan suruh kau lihat bintang! Itu binatang yang terbang di atas kepalamu,"

"Aaa, burung itu."

Seru Kang Hoo.

"Anak tolol."

Kata Beng Cie siansent.

"Itulah sejenis burung aneh, diwaktu malam matanya dapat melihat apapun dengan jelas. Itulah tentunya piaraannya gadis liar bangsa Biauw. Ia diperintah mencari jejak kita!"

Mendengar keterangan suhunya, Kang Hoo jadi kaget, ia mendongak terus ke atas memperhatikan burung yang terbang di angkasa, tampak burung tadi terbang berputaran di atas kepala mereka.

"Eh, suhu, melihat gerakan terbang burung sial itu, ia sudah tahu kita berada di sini."

"Hmmm ..."

Gumam Beng Cie sianseng.

"Nah kau lihat ia menukik rendah."

Berbarengan dengan ucapannya, Beng Cie sianseng, memotong sebatang ranting pohon dijadikan tiga potong, lalu menunggu burung tadi menukik rendah, ia melempar ketika potongan ranting pohon itu ke udara menyambar burung yang sedang terbang menukik.

Di bawah sinarnya rembulan, tampak tiga batang warna hitam meluncur ke atas, menuju burung aneh yang sedang menukik terbang turun.

Kang Hoo terus memandang ke atas, ia bisa melihat bagaimana tiga batang ranting kayu yang dilempar oleh suhunya itu meluncur ke atas, sedang dari atas udara, tampak itu burung hitam meluncur ke bawah.

Dan buah benda luncuran itu saling mendatangi.

Burung tadi seperti tidak melihat adanya serangan yang datang dari bawah, ia masih terus terbang menukik turun, sedang tiga batang potongan kayu yang dilempar ke udara oleh Beng Cie sianseng seperti tiga buah titik hitam yang meluncur ke atas menuju satu titik sasaran.

Tampak jelas bagaimana semakin tinggi tiga potongan kayu itu seakan bergerak melancip mengarah pada burung aneh.

"Heheheheheeee ...... burung itu segera mampus,"

Kata Kang Hoo.

"Badannya segera akan ditembus tiga potong ranting pohon,"

Berbarengan dengan akhir ucapan Kang Hoo, terdengar suara pekik burung di atas langit.

Burung tadi kembali mencelat ke udara, kemudian terbang miring, mengelakkan datangnya serangan tiga ranting pohon.

Kang Hoo jadi melengak kaget, tiada disangka, kalau burung tadi berhasil mengelakkan sambaran tiga potong ranting kayu.

"Huhhh!"

Seru Beng Cie sianseng.

"Ayo cepat lari. Burung itu pasti balik memberitahukan majikannya, Kalau saja ia berhasil mengejar jejakmu, itulah membuat kepalaku pusing tidak keruan macam."

"Mengapa harus pusing-pusing?"

Kata Kang Hoo.

"Anak tolol! Kau kira perempuan liar itu mau mengerti begitu saja atas kaburnya kau dari goa tadi. Pastilah ia akan membalas dendam sakit hatinya. Entah rencana apa yang telah ia siapkan untuk menyiksa dirimu. Kalau saja ia belum pernah menolong dirimu, itu bukan persoalan. Tapi gadis liar itu bukankah pernah memberikan rawatan dan pengobatan. Kita mesti bertindak bagaimana menghadapi sifat-sifat aneh gadis liar itu, juga kau harus tahu suhunya .... suhunya .... aih .... urusanmu ini mengapa begitu banyak keruwetan ..."

"Suhu jangan kuatir,"

Kata Kang Hoo.

"Serahkan aku untuk menyelesaikan urusan ini dengan gadis liar itu. Atau suhunya."

"Hmmm. Suhunya lebih gila lagi."

Kata Beng Cie Sianseng.

"Nah, di atas sana ada sebuah goa, sebaiknya kita tunggu kedatangan mereka di dalam goa itu."

Kang Hoo mengikuti arah yang ditunjuk sang suhu, di atas lamping batu terdapat sebuah goa kemudian katanya.

"Kita lari saja terus."

"Mana mungkin, burung itu akan membawa gadis liar itu ke tempat kita, ia akan terus mengejar, dan dalam kejar mengejar ini, pastilah akan banyak menghabiskan tenaga, sedang ia sendiri, di belakang gadis itu masih banyak terdapat binatang-binatang buas. Bagaimana kau kira untuk menghadapi mereka setelah kita kehabisan tenaga. Maka lebih baik kita menunggu saja kedatangan mereka di dalam goa itu. Dengan begitu kita tidak membuang tenaga percuma. Juga keadaan goa sangat menguntungkan, mereka bisa menyerang dari depan, tapi tak bisa melakukan serangan bokongan dari be-lakang."

Mendengar keterangan sang suhu, Kang Hoo diam-diam memuji kecerdikan gurunya, langkah kakinya dipercepat merambat naik ke atas lamping batu di mana terdapat lubang goa.

Baru saja mereka tiba di atas lamping batu di depan lubang goa, mendadak dimalam rembulan itu terdengar sayup-sayup suara seruling.

Di depan lubang goa Beng Cie sianseng menahan langkah, ia memegang lengan Kang Hoo, katanya.

"Kau dengar suara seruling itu?"

Kang Hoo mengangguk.

"Suara itu datangnya dari atas puncak gunung,"

Guman Beng Cie sianseng "Entah manusia aneh mana lagi yang muncul di tempat begini sunyi."

Setelah bergumam begitu, ia menarik ujung tongkat bambu yang tersembul di belakang gegernya.

"Eh,"

Kang Hoo heran melihat tongkat bambu itu, karena kini suhunya bukan memegang sebuah tongkat bambu tujuh ruas seperti ia pernah lihat.

Itulah sebilah pedang.

Gagang pedang terbuat dari ruas bambu.

Sedang sarung pedang terbuat dari kulit.

"Kau minggir!"

Seru Beng Cie sianseng menarik pedang dari serangkanya.

Kang Hoo melangkah mundur, menyaksikan sang suhu, dengan pedang terhunus memasuki lubang goa.

Dan tak lama kemudian terdengar dari dalam goa sang suhu berteriak memanggil.

"Masuklah!"

Kang Hoo melangkah masuk, ternyata goa tadi sempit, karena sinar bulan tak dapat memasuki lubang goa, maka dalam goa itu sangat gelap.

Berbarengan dengan masuknya Kang Hoo ke dalam goa, di tengah udara terdengar suara pekikan burung memecahkan suara irama seruling.

Mendengar suara pekikan itu Kang Hoo menoleh ke arah sang suhu, kemudian ia jalan ke mulut lubang goa, mendongakkan kepala ke atas.

Di tengah udara melayang lima ekor burung besar, di bawah sinarnya bulan, bulu-bulu burung yang lebar, berkilauan memantulkan cahaya bulan.

Berputaran terus di atas udara di depan lubang goa dimana Kang Hoo dan suhunya ngelepot di dalamnya.

"Aneh, mengapa ia tidak segera turun,"

Kata Kang Hoo "Bukankah burung kecil itu sudah mengetahui kita berada di sini."

Beng Cie sianseng memegang pedangnya, memandangi ke atas angkasa, dari kelima burung tadi, tampak seekor yang terbesar, di atas punggung burung itu duduk seorang gadis.

Itulah Goat Khouw dengan rambutnya yang riap-riapan ditiup angin.

"Suhu, dia mau tunggu apa lagi."

Tanya Kang Hoo "Eh, suara seruling itu masih terus mengumandang!"

"Lihat saja, permainan apa yang diperlihatkan perempuan Biauw itu."

Kata Beng Cie sianseng.

Kang Hoo terus memandang ke angkasa di mana burung-burung itu beterbangan terus, dan mendadak saja terdengar suara teriakan dari gadis Biauw di atas punggung burung yang melayang berputaran.

"Pemuda dungu! Dengar! Kau mengkhianatiku. Kau tidak suka kawin denganku. Nah, binatang-binatang buasku akan segera membuat kau menjadi pengantin dari seekor orang hutan perempuan!"

Kang Hoo mengenali suara itu, itulah suaranya Goat Khouw.

Ia memandang sang suhu.

Tapi suhu itu hanya menggeleng kepala saja.

Tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Dari atas angkasa, terdengar suara tertawa cekikikan gadis Biauw, disusul dengan ucapannya.

"Hai, mengapa kalian terlambat. Ayo, tangkap orang itu, bikin upacara perkawinan. Hai Toa sianseng......"

Berbarengan dengan suara ucapan dari angkasa, di bawah lereng gunung terdengar suara gerengan-gerengan binatang buas, sedang di atas angkasa suara suling masih terdengar terus.

Mendengar suara gerengan-gerengan binatang buas itu, Beng Cie sianseng, menoleh ke arah Kang Hoo, katanya.

"Kau tunggu di dalam!"

Belum lagi Kang Hoo mengerti maksud kata-kata suhunya, sang suhu sudah lompat turun ke bawah tebing memasuki semak belukar.

Dari atas lobang goa Kang Hoo memandangi kepergian suhunya itu.

Ia menunggu selama awan beriring menutupi rembulan, begitu sinar rembulan memancar kembali, sang suhu sudah lari datang, di tangan kirinya membawa dua batang kayu.

"Kau gunakan pedang ini."

Kata Beng Cie sianseng ia lompat naik masuk dalam lubang goa.

"Bunuh saja setiap binatang yang coba menerjang masuk."

Setelah berkata begitu, orang tua tadi, menggunakaa dua potong kayu di tangan kanan dan kiri sebagai senjata Baru saja Kang Hoo menerima pemberian pedang bergagang bambu itu, dari dalam gerombolan pohon di bawah lubang goa keluar dua sosok tubuh orang hutan, satu berbulu kuning.

Itulah orang hutan yang bernama Ui-jie.

Dan satu lagi berbulu hitam, badannya tinggi besar, dua kali lebih besar dari orang hutan bulu kuning.

Pada kedua dadanya tampak mendoyot dua buah susunya.

Di belakang kedua orang hutan tadi terdengar suara gerengan-gerengan binatang-binatang buas yang terus menggereng, membuat suasana malam dalam rimba itu jadi berisik, mereka seperti mengurung medan di bawah lamping batu di depan lubang goa.

Sedang itu dua binatang orang hutan dengan lenggak lenggok, jalan mendatangi.

Inilah gaya Toa sianseng yang khas!

Kang Hoo melihat kedua orang hutan itu, hatinya sudah bergidik, meskipun tangannya mencekal pedang, mengingat kekuatan terjangan seekor orang hutan bulu kuning saja ia sudah tak sanggup hadapi.

Apalagi kini mesti menerima serangan dari dua orang hutan.

"Kau hadapi yang kuning."

Seru Beng Cie Sianseng.

"Dan yang betina ini serahkan padaku."

Baru saja, Beng Cie sianseng berkata sampai di situ, mendadak saja, dari atas udara meluncur tiga batang sinar emas menyerang ke arah dadanya.

Beng Ce sianseng kaget, ia tidak tahu dari mana munculnya tiga batang sinar emas itu, panjangnya hanya sejengkal meluncur ke arah dada.

Berbarengan dengan luncuran tiga sinar emas menyerang dada Beng Cie sianseng, dari atas angkasa terdengar suara tertawa cekikikannya gadis Biauw di atas punggung burungnya, disusul dengan suara kata-katanya.

"Tua bangka, kau turut campur urusanku hehihihiheeee........"

"Perempuan liar."

Gerutu Beng Cie sianseng sambil mengelakkan datangnya serangan tiga batang sinar keemasan itu.

Kalau saja gerakan Beng Cie sianseng kurang cepat, pastilah ketiga serangan batang sinar emas tadi akan membentur dadanya.

Tapi dengan ringannya ia telah berhasil mengelakkan datangnya serangan luncuran sinar emas itu dengan memiringkan badannya ke samping.

Berbarengan mana batang kayu di tangannya diayun membentur ketiga batang sinar emas itu.

Tapi benturan kayu itu tidak mengenai sasaran.

Karena ketiga sinar emas itu sudah meluncur lewat, dan membentur dinding batu belakang goa.

Sementara itu dua ekor orang hutan yang juga melihat adanya serangan sinar emas tadi mereka tak meneruskan langkahnya.

Berdiri di bawah pohon menyaksikan gerakan ketiga batang sinar emas itu.

Tampaknya mereka seperti takut menghadapi tiga batang sinar emas tadi.

Tampak dari keadaan diri mereka yang pada merengket di bawah pohon.

Kang Hoo juga melihat adanya itu serangan tiga batang sinar emas.

Semula ia ingin berteriak memperingatkan sang suhu, tapi gerakan suhunya lebih cepat, mengelakkan datangnya serangan tadi.

Ketika ia melihat ke arah kedua orang hutan di bawah sinar bulan, kedua orang hutan itu seperti merengket.

Ketakutan di bawah pohon.

Hingga mereka tidak berani maju mendekati.

Sementara itu, Beng Cie Sianseng baru berhasil mengelakan serangan tiga batang sinar emas ke arah dadanya.

Dan ketika serangan batang kayunya tidak berhasil membentur tiga batang sinar emas itu.

Ia jadi tersentak kaget.

Di dalam goa itu keadaannya gelap, sedang sinarnya rembulan tidak dapat menembusi ruangan goa itu, tapi senjata sinar emas yang membentur batu goa dinding itu begitu membentur lantas melekat, tampak sinar emas tadi seperti hidup, bergerak perlahan.

Beng Cie sianseng melihat kejadian itu, melangkah mundur setindak, serunya.

"Ular mas!!!!"

"Suhu, biar kubunuh binatang melata itu."

Seru Kang Hoo melangkah maju.

"Diam! Jangan bergerak!"

Kata Beng Cie sianseng mendorong mundur badan Kang Hoo dengan tongkat kayu.

"Tiga binatang ini sangat berbisa. Tinggalkan goa."

Berbareng dengan ucapan Beng Cie sianseng, tubuhnyapun sudah lompat turun keluar goa.

Diikuti lompatan Kang Hoo.

Begitu mereka lompat keluar, dua orang hutan yang sejak tadi merengket di bawah pohon, mendadak mengeluarkan pekikkan, seekor orang hutan besar bersusu lari ke arah Kang Hoo, dan yang berbulu kuning menerkam Beng C e Sianseng.

Beng Cie sianseng telah siap dengan dua potong kayu pohon itu, ia segera menyambut dengan kemplangan kedatangan orang hutan bulu kuning.

Tapi orang hutan bulu kuning juga cerdik, ia tidak mau kepalanya terkena kemplangan orang.

Sambil memekik lompat mundur.

Sementara itu, si orang hutan raksaksa dengan cengar cengir memandangi Kang Hoo.

Di tangan si pemuda mencekal pedang ia menuding-nuding orang hutan itu dengan ujung pedang.

Dari atas angkasa kembali terdengar suara tertawa gadis Biauw di atas punggung burungnya, disusul dengan ucapannya.

"Hai! Pemuda, percuma pedangmu menghadapi orang hutan betina itu, tangan-tangan berbulunya keras bagaikan baja, beruntung ia begitu melihat wajahmu sudah jatuh cinta, heeeeeheheeeeeee.... bukankah ia saat ini sedang memandangmu sambil tersenyum girang. Nah kau nikmatilah kemantin perempuan itu. Heeeheee....."

Mendengar suara si gadis Biauw, hati Kang Hoo mendongkol, teriaknya.

"Gadis liar. Hmmm....."

Tapi hanya itulah yang bisa keluar dari mulut Kang Hoo, karena mendadak saja ia melihat mulut orang hutan besar itu sedang cengar cengir mendatanginya, dan kedua tangan orang hutan perempuan itu menggaruk-garuk selangkangannya.

"Kang Hoo!"

Seru Beng Cie sianseng yang terus menempur orang hutan bulu kuning.

"Gunakan pedang itu, tusuk matanya dan kau lari kabur!"

Mendengar teriakan sang suhu, Kang Hoo sadar, ia tidak boleh bertindak ayal, kalau tidak tentunya keadaannya akan lebih runyam lagi.

Lebih-lebih melihat bagaimana orang hutan besar bersusu itu, tidak henti-hentinya cengar cengir terus sambil menggaruk-garuk selangkangannya yang penuh bulu lompat-lompatan di depan dia, rupanya si orang hutan perempuan tidak pandang mata dengan pedang yang diarahkan pada dirinya, ia lebih tertarik dengan ketampanan wajah Kang Hoo, hingga sifat nafsu binatangnya telah memuncak ke otak sampai ia tak henti-henti terus menggaruk-garuk selangkangan.

Entah benda yang digaruk-garuk itu terasa gatal ataukah bagaimana Kang Hoo tidak mengerti.

Yang mengerti hanyalah si orang hutan perempuan itu sendiri yang nafsu sexnya sudah mengalir dalam darah binatangnya.

Begitu Kang Hoo mendapat teguran sang suhu pedangnya cepat ditusukkan ke arah biji mata si orang hutan yang mengkilat berputaran.

Orang hutan itu mendapat serangan tusukan ujung pedang, ia tidak mengelak dengan tangannya.

Tangan itu masih terus menggaruk-garuk, ia hanya memiringkan kepala ke samping, lalu lompat maju ke depan.

Dengan gerakan itu orang hutan tadi berhasil mengelakkan tusukan ujung pedang.

Serangan tusukan pedang begitu dapat dielakan oleh orang hutan perempuan itu, Kang Hoo menarik pedangnya, ia hendak mengulang serangannya, tapi mendadak saja, orang hutan yang baru saja berhasil me-ngelakkan serangan pedang, menubruk maju ke arah batang pedang, lalu dengan dagunya ia menjepit batang pedang itu, kemudian badannya lompat ke atas.

Kang Hoo jadi kaget, ia membetot pedang tadi, tapi jepitan leher orang hutan betina itu sangat keras, belum lagi ia berhasil menarik pedangnya, mendadak saja orang hutan tadi sudah lompat ke atas.

Karena gerakan lompatan itu, maka pedang yang masih terjepit pada leher orang hutan tadi juga turut terbawa naik.

Dan saat itu Kang Hoo sudah dibuat bingung dengan gerakan aneh orang hutan perempuan tadi, ia melepaskan cekalan pedang dan lompat mundur.

Berbarengan dengan gerak kaki Kang Hoo yang lompat mundur, mendadak saja sepasang kaki orang hutan perempuan yang lompat ke atas tiba-tiba menendang ke muka Kang Hoo.

Si pemuda yang sedang kebingungan, mendapat tendangan kaki orang hutan perempuan tadi ia tak dapat mengelak, dan keningnya terhajar tendangan kaki berbulu itu.

Kang Hoo mundur sem-poyongan lalu jatuh terguling.

SEMENTARA itu dari angkasa kembali terdengar suara tawa, gadis Biauw, memecahkan suara irama suling yang masih terus terdengar bercampur aduk dengan suara gerengan-gerengan binatang buas disusul suara teriakan Goat Khouw.

"Toa-sianseng, kau kawinilah! Ia masih perjaka ......"

Orang hutan perempuan yang sudah mabok kepingin kawin, mendengar suara perintah dari majikannya, begitu ia kembali lompat turun ke tanah, mengeluarkan pekik kegirangan.

Lalu ia menghampiri Kang Hoo yang sudah rebah terlentang.

Sedang kedua tangannya masih menggaruk-garuk terus.

Dan pedang yang tadi dijepit di lehernya, telah terlempar jatuh ke tanah.

Saat itu Kang Hoo, sedang merasakan bagaimana sakit kepalanya ditendang oleh kaki orang hutan* perempuan itu begitu pula punggungnya terasa perih karena tertusuk beberapa duri rumput.

Dengan masih terlentang ia dapat melihat bagaimana sikap orang hutan tadi mendatanginya sambil cengar cengir menggaruk-garuk.

Beng Cie sianseng menghadapi orang hutan bulu kuning, begitu ia melihat sang murid sudah roboh terkena tendangan kaki orang hutan tadi, ia juga jadi kaget.

Sebenarnya kepandaian Beng Cie sianseng juga tidak rendah, tapi menghadapi orang hutan berbulu kuning ini, ia agak kewalahan, karena beberapa kali pentungan batang kayunya berhasil menggebuk badan orang hutan bulu kuning itu, hanya bisa membuat si kuning memekik mundur, kemudian dengan gesit binatang itu kembali melakukan serangan.

Dan ketika ia menampak orang hutan berbulu hitam sedang mendatangi Kang Hoo yang masih menggeletak, cepat-cepat ia menggunakan satu potong kayu, diluncurkan ke arah Toa sianseng!

Orang hutan betina tadi tidak mengetahui datangnya serangan dari Beng Cie sianseng, lebih-lebih ia telah terbenam dalam arus nafsu kebinatangannya, hingga tidak mau memperhatikan keadaan sekelilingnya lagi, terus melangkah maju.

Kang Hoo bergulingan di atas tumput menjauhi langkah kaki orang hutan hitam itu.

Berbarengan mana, potongan kayu yang dilempar oleh Beng Cie sianseng berhasil membentur iga kiri si hitam.

Orang hutan itu kaget, ia memekik, dan ketika ia melihat yang membentur itu adalah sebatang kayu, ia tidak mau memperdulikan, rupanya benturan tadi tidak dirasakannya.

Kang Hoo juga melihat bagaimana suhunya melemparkan itu potongan kayu, ke arah orang hutan betina, ia juga melihat bagaimana sang suhu di bawah sinar bulan itu kewalahan menghadapi serangan-serangan Ui-jie yang memiliki gerakan sangat gesit, Meskipun sang suhu telah berhasil menggebuk beberapa kali badan si kuning, tapi sang binatang masih memiliki kegesitan yang luar biasa.

Kalau saja suhunya menggunakan pedang pastilah, binatang itu sudah sejak tadi berhasil dirobohkan.

Sewaktu luncuran potongan kayu itu berhasil membentur iga kiri si hitam yang kenyataannya tak digubris oleh orang hutan besar itu, hati Kang Hoo mencelos.

Betapa tebalnya kulit orang hutan ini.

Tapi Kang Hoo tidak sempat berpikir banyak, karena telinganya kini sudah mendengar suara garukkan orang hutan perempuan itu pada selangkangannya yang penuh bulu.

"Kraosss .... kraos, kraos, kraas ..."

Mendengar suara garukan itu Kang Hoo mengeluarkan keringat dingin, karena sambil rebah demikian ia dapat melihat jelas apa yang sedang digaruk-garuk oleh orang hutan bulu hitam tadi, sampai mengeluarkan suara keraosan.

Kembali Kang Hoo menggeser badan ke belakang menjauhi binatang hutan perempuan dan akhirnya ia terpojok pada lamping batu di bawah goa dimana tadi ia lompat turun.

"Ya Allah!"

Keluh Kang Hoo dalam hati, kini ia melihat orang hutan bulu hitam itu melangkah sambil membungkukkan badannya, dari mulut binatang orang hutan itu menetes air liur.

Beng Cie sianseng melihat kejadian itu jadi menggeram, mempercepat gerakan serangannya.

Seluruh kepandaiannya dikeluarkan untuk menghajar binatang yang bulu kuning.

Bertempur tiga jurus kemudian, barulah ia berhasil menghajar batok kepala belakang Ui-jie.

Membuat si orang hutan bulu kuning terhuyung ke depan, lalu ambruk di tanah.

Begitu ia berhasil merobohkan orang hutan bulu kuning, Beng Cie sianseng lompat ke tempat dimana si Hitam akan menerkam Kang Hoo.

Tapi baru saja kakinya melompat ke depan, mendadak di depannya meluncur lagi sinar kuning emas.

Menampak sinar kuning emas itu Beng Cie sianseng yang sedang lompat jadi kaget, cepat ia menjatuhkan dirinya rebah di tanah.

Dan tepat ketika itu, sinar kuning emas tadi lewat di atas badannya.

Si orang hutan betina yang sudah mengeluarkan air liur dari mulutnya, dengan sekali lompat ia sudah berada di atas tubuh Kang Hoo.

Kang Hoo jadi gelagapan, ia berusaha berdiri, tapi perut berbulu dari orang hutan itu mendadak menggencet mukanya dan ia kembali jatuh duduk.

Dan orang hutan betina berhasil duduk di atas paha Kang Hoo.

Begitu Kang Hoo jatuh duduk, tangan si orang hutan perempuan berbulu yang terus-terus menggaruk itu, mendadak diangkat keatas, tangan berbulu tadi meraba pipi Kang Hoo.

Kang Hoo jadi kelenger dibuatnya.

Betapa tidak, tangan bekas menggaruk-garuk tadi, berbau tidak enak, jari-jari orang hutan itu terasa gemeteran di pipi si pemuda.

Setelah Kang Hoo merasakan bagaimana baunya tangan orang hutan betina yang bergemetaran mengelus wajahnya Kang Hoo jatuh pingsan.

Tubuhnya menggeloso ke bawah.

Berbarengan dengan pingsannya Kang Hoo di bawah perut orang hutan itu, mendadak saja suara seruling yang sejak tadi terdengar di dalam hutan berubah iramanya.

Suara seruling yang semula terdengar sayup-sayup halus itu mulai terdengar sangat aneh, dan suaranya terdengar keras, pantulan suara suling tadi seperti membuat keadaan hutan dimalam hari jadi bergetar keras.

Di atas angkasa malam si gadis Biauw yang duduk di punggung burungnya memandang ke atas, ia memperhatikan dari mana munculnya itu suara seruling.

Kemudian gadis itu mengeluarkan siulan panjang, memerintahkan burungnya terbang tinggi ke atas, untuk melihat siapakah yang meniup suling di puncak gunung.

Tapi sang burung mendadak tidak mau terbang tinggi, begitu telinganya mendengar suara seruling tadi, Malah burung itu telah merosot terbang turun semakin rendah.

Mengetahui kalau suara seruling itu telah membuat semangat burungnya jadi kuncup, si gadis Biauw berteriak.

"Toa sianseng, Ui-jie, kau bunuh orang peniup seruling di atas sana."

Toa sianseng, itu orang hutan betina yang sudah mabok perjaka, bulu-bulunya meriap bangun, ia belum berhasil melampiaskan napsu binatangnya pada diri Kang Hoo, mendadak mendengar suara perintah itu ia jadi melengak kaget.

Sebenarnya ketika orang hutan perempuan itu mendengar suara suling aneh, mendadak saja ia juga jadi kaget, dan nafsu birahinya mendadak buyar, begitu mendengar suara perintah sang majikan maka ia cepat lompat ke atas merambat tebing, Begitu pula si kuning Ui-jie, saat itu baru saja bangkit berdiri, begitu mendengar suara perintah sang majikan ia berlompatan ke arah atas gunung.

Setelah memberi perintah pada kedua orang hutan itu, gadis Biauw tadi lompat turun dari atas punggung burung, sambil mengeluarkan siulan dan desisan.

Maka di dalam hutan itu terdengar suara gerengan-gerengan binatang buas semakin santer, begitu pula suara desisan ular-ular berbisa semakin ramai, mereka pada bergerak maju mengurung Beng Cie sianseng dan Kang Hoo.

Saat mana Beng Cie sianseng sudah lari mendatangi Kang Hoo dan baru saja memeriksa keadaan Kang Hoo yang pingsan, begitu ia mendengar suara gerengan binatang buas dan suara desisan ular berbisa semakin ramai mengurung mereka berdua, hatinya mencelos kaget, ia lompat ke arah mana pedangnya menggeletak di tanah, dengan menggenggam pedang itu, ia lompat lagi ke samping Kang Hoo.

Sementara itu gadis Biauw yang sudah berdiri di tanah berada di luar kurungan binatang-binatang buas dan ular-ular berbisa ia mendongakkan kepala ke atas puncak gunung menyaksikan kedua orang hutannya menyatroni si peniup seruling dan dengan suara keras ia berteriak.

"Manusia darimana berani menganggu ketenangan di sini? Ayo hentikan suara suling yang membuat burungku jadi terkejut!"

Suara suling masih terus menggetarkan isi rimba. Sejenak kemudian setelah men dengar suara teriakan si gadis Biauw, suara suling itu sirap, dan terdengar suara orang berkata.

"Terhadap kedua belah pihak, aku tidak ada permusuhan apa-apa, maka akupun tidak bermaksud untuk mencelakai salah satu pihak, tetapi karena aku telah datang lebih dulu ke tempat ini, dan binatang-binatang buas dan ular berbisa yang terus-terusan menggereng dan mendesis membuat ketenanganku jadi terganggu, karena mengingat binatang-binatang itu ada yang menggerakkan, maka aku tak dapat sembarang membunuh. Kalau saja mereka itu tak ada pemiliknya, maka sejak tadi-tadi tentu aku sudah bunuh semua. Tapi memandang dirimu aku tak sampai membunuh mereka, begitu pula aku tak berhak mengusirmu dari hutan ini karena gunung adalah kepunyaan bersama bukan milik seseorang, oleh karena sifat manusia itu tidak mau mengalah satu sama lain, maka akupun merasa tak baik untuk menyuruh orang lain mengalah padaku, tapi suara-suara binatang buas dan ular-ular berbisa sangat memuakkan, mengganggu ketenanganku, maka terpaksa aku meniup seruling dengan irama yang aneh guna menekan suara gerengan-gerengan binatang buas dan desisan-desisan ular berbisa. Maka bila kau suruh binatang-binatang itu berlalu dari tempat ini, dan tidak mengganggu keindahan rembulan malam di atas gunung, akupun akan meniup seruling dengan irama yang enak didengar."

Setelah kata-kata dari atas ganung itu berakhir, suara seruling kembali terdengar lagi suara itu lebih santer, sehingga seluruh gunung memperdengarkan suara nyaring, seolah-olah menggetarkan udara.

Sementara itu, si gadis Biauw bersiul dan mendesis kembali, maka sekalian binatang-binatang buas itu mengeluarkan suara gerengan yang lebih buas lagi, begitu pula ular-ular mendesis-desis tiada hentinya.

Begitu suara gerengan binatang buas dan desisan ular berbisa terdengar semakin hebat, suara seruling dari atas gunung itupun terdengar lebih hebat lagi, iramanya berobah-obah, dan yang lebih aneh lagi akibat suara seruling itu, keadaan hutan yang tenang mendadak seperti digulung oleh badai angin yang datang tiba-tiba ranting, pohon bergoyang keras, daun terbang ber-guguran, begitu pula, suara-suara gerengan binatang buas dan ular-ular berbisa seolah-olah mereka tidak sanggup menahan serangan suara suling, suara gerengan-gerengan mereka semakin lama jadi semakin lemah.

Macan, binatang buas dan ular-ular berbisa jadi pada lesu, suara gerengan mereka tidak begitu ramai lagi.

Beng Cie sianseng sedang terkurung oleh binatang-binatang buas dan ular-ular berbisa, ia mendengar bagaimana suara seruling itu menundukkan gerengan-gerengan binatang buas juga merasakan bagaimana di dalam hutan itu mendadak timbul angin topan, hatinya jadi heran.

Tokoh manakah yang telah muncul di atas puncak gunung ini?

Ketika itu kedua orang hutan yang mendaki ke atas, sudah tak tampak bayangannya, sedang suara seruling terdengar semakin lama semakin aneh, sebentar mengeluarkan suara seperti bumi ambles, sebentar lagi terdengar seperti suara ombak laut mengamuk, sebentar lagi suara seruling itu berubah seperti naga malaikat berkelahi mengeluarkan gerengan di angkasa, dan men-dadak berubah lagi seperti suara ratusan ribu tambur yang dipukul santer.

Perobahan suara seruling itu, membuat binatang-binatang buas yang pada mengurung Beng Cie sianseng dan Kang Hoo, pada serabutan mundur ke belakang, mereka seperti diusir pergi oleh suara seruling tadi.

Sedang suara gerengannya sudah tak terdengar lagi.

Sedangkan Beng Cie sianseng yang mendengar suara seruling tadi hatinya juga jadi berdebaran keras, begitu pula si gadis Bauw yang berdiri di dalam gerombolan pohon ia tidak kalah kagetnya, mendengar suara suling itu, terasa jantungnya hampir mau copot.

Lain halnya keadaan Kang Hoo yang sedang pingsan, ia tidak terpengaruh oleh suara seruling tadi.

Sementara itu suara seruling terus terdengar, mendadak saja terjadi lagi keanehan, angin besar yang menggoyang-goyangkan ranting-ranting pohon tambah kuat, kalau semula hanya daun-daun pohon yang berguguran, kini pasir dan batu-batu gunung berterbangan, cabang-cabang pohon bergoyang-goyang keras mengeluarkan suara kerosokan, sehingga daun-daunnya terus terbang berguguran tiada hentinya, sedangkan itu binatang-binatang buas dan ular-ular berbisa yang pada lari menjauhkan diri, mendadak saja jatuh lemas di atas tanah, ular-ular berbisa meringkel, masing-masing melepotkan kepalanya.

Keganasan binatang-binatang buas dan ular-ular berbisa mendadak lenyap, bahkan kini tampak badan mereka gemetaran keras, seperti minta dikasihani.

Keadaan gadis Biauw tidak berbeda seperti juga keadaannya binatang-binatang peliharaannya, tubuhnya sudah gemetaran, dan mulutnya terkancing rapat, wajahnya seperti tidak sanggup menahan penderitaan, tapi wajahnya masih menunjukkan sikap tidak mau kalah.

Tidak terkecuali keadaan Beng Cie sianseng, dengan lemas ia bersandar di lamping tebing di bawah lubang goa.

Dan Kang Hoo masih terus melingkar pingsan.

Saat itu mendadak suara seruling jadi sirap, dan keadaan hutan yang diamuk badai jadi tenang kembali kemudian terdengar lagi suara orang bicara dari atas gunung.

"Kau, membawa ini binatang-binatang buas untuk mencelakai orang, itu sebenarrya urusanmu sendiri, tapi bagaimana ketika aku sedang meniup seruling kau perintahkan dua orang hutanmu untuk menyerang diriku. Kalau melihat kelakuanmu ini, seharusnya aku menurunkan tangan kejam membunuhmu, tapi karena urusan disebabkan karena kau ingin mendapatkan suami, dan hatimu terlalu pendek serta kurang pikir, maka aku hanya memberi peringatan padamu, dan kalau kau tahu gelagat, cepatlah bawa ini binatang-binatang buas menyingkir dari tempat ini!"

Berbarengan dengan akhir ucapan orang itu di atas udara terdengar suara jeritan halus terbawa angin dari dua orang hutan yang diperintah gadis Biauw menyerang si peniup seruling, kedua orang hutan itu mengeluarkan suara jeritan, lalu badannya terpental dan jatuh menggelinding ke bawah.

Kemudian terdengar suara mendebuk dari dua badan orang hutan yang jatuh di tanah.

Kedua orang hutan itu jatuh di tanah tidak berkutik lagi.

Menyaksikan jatuhnya kedua orang hutan dari atas tebing, Beng Cie sianseng jadi kaget bercampur kagum, ia sendiri tadi telah melakukan pertempuran sampai beberapa puluh jurus menghadapi serangan seorang hutan bulu kuning.

Dan dari hasil pertempuran itu, ia juga tahu kalau orang hutan ini memiliki ketebalan kulit yang luar biasa dan kekuatan sangat hebat, tapi bagaimana orang peniup seruling itu sambil bicara sanggup merobohkan dua ekor binatang hutan sekaligus hingga jatuh mampus ke bawah.

MATAHARI mencorong tepat di tengah langit.

Suara angin menderu.

Puncak-puncak gunung menjulang tinggi ke angkasa.

Diantara suara deruan angin dan mencorongnya sinar matahari, melesat sesosok bayangan putih menembusi awan ke atas puncak gunung paling tinggi.

Begitu kepulan awan mengambang di tengah lereng gunung dilewati, bayangan tadi melesat terus bagaikan anak panah terlepas dari busurnya memasuki sebuah goa.

Di dalam goa, bayangan putih itu mengembangkan tangannya, dan dari dalam balik jubah putihnya, keluar terhuyung-huyung mundur seorang pemuda tampan.

"Hmmm."

Gumam bayangan putih tadi.

"Di sini goa Hoa-ie-tong di atas puncak gunung Hong-tong-san, kau istirahatlah!"

Pemuda tadi bukan lain adalah jago muda kita Kang Hoo, begitu ia terlepas dari kempitan orang tua jubah putih sudah lantas terhuyung-huyung, kemudian begitu ia berhasil mengendalikan dirinya, ia memandang pada orang tua berjubah putih.

Di tangan orang tua itu masih memegang sebuah seruling peraknya.

"Kau...... aki-aki....... siapa?"

Tanya Kang Hoo heran.

"Bocah,"

Seru si orang tua jubah putih.

"Kau istirahatlah, setengah hari lebih kau dalam kempitan jubahku. Nah! makanlah buah-buah yang tersedia. Goa ini tempat pertapaanku."

"Mana suhuku?"

Tanya Kang Hoo.

"Si tua tak berguna itu, ketika kau kubawa ke tempat ini ia masih tidur di bawah kaki gunung. Mungkin saat ini ia sudah meninggalkan tempat itu."

"Dan gadis Biauw itu?"

"Eh, kau mencintai gadis liar itu?"

Tanya si orang tua.

Kang Hoo menundukkan kepala, ia tidak bisa menjawab tegas pertanyaan orang tua itu.

Hatinya bingung, dan tiba-tiba saja ia bertanya lagi "Bagaimana binatang buas dan ular-ular berbisa dan mereka itu bisa pada tidur kepulasan?"

"Kau makan dulu."

Kata orang tua jubah putih, kemudian ia membalikkan tubuh lalu keluar goa.

Meskipun waktu itu perut Kang Hoo sudah dirasa lapar, tapi karena menghadapi persoalan aneh itu, ia tidak segera mencari makan, lari keluar goa.

Di lubang goa angin dingin santer meniup dari sobekan-sobekan bajunya terasa angin itu menusuk bekas luka-luka di badan Kang Hoo bahkan mata Kang Hoo sendiri terasa perih.

Sejauh mata memandang, di sana hanya tampak beberapa buah puncak gunung tinggi, sedang kaki gunung tak kelihatan, karena diantara celah-celah gunung di bawah sana tampak mengambang awan putih menebal bagaikan kapas.

Badan Kang Hoo sedikit gemetaran memandang ke bawah, ia menyurutkan langkahnya masuk kembali ke dalam goa.

Sedang itu bayangan si orang tua bersuling entah sudah kemana lenyapnya.

Di dalam goa, Kang Hoo memperhatikan sekitarnya, ternyata bagian itu terdiri dari dua ruangan, ruangan depan dan ruangan belakang, di bagian belakang terdapat sebuah pembaringan terbuat dari kayu, keadaannya lebih luas dari bagian luar.

Meskipun keadaan di dalam goa itu agak gelap remang-remang tapi Kang Hoo sudah bisa melihat kalau dalam goa itu keadaannya bersih.

Di sudut pojok goa depan terdapat sebuah paso berisi beberapa butir buah kemerah-merahan.

Kang Hoo mengambil sebutir buah, dicium-ciumnya sebentar, buah itu wangi seperti buah apel maka segera juga digigitnya.

Terasa garing manis.

Baru saja ia menghabiskan sebutir buah, si orang tua berambut putih sudah balik kembali.

Datang dan perginya orang tua berambut putih tadi sangat cepat, membuat Kang Hoo kagum, kalau dibandingkan dengan Beng Cie sianseng, orang tua ini tentunya lebih tua dua kali lipat.

Tapi gerakannya sungguh gesit luar biasa.

Orang tua itu, begitu berada di dalam goa, ia memandang sejenak pada si pemuda, kemudian dengan melangkah ringan ia berjalan ke goa belakang.

Sambil jalan orangtua itu berkata.

"Setelah selesai makan kau masuklah ke goa belakang, aku hendak bicara!"

Sebenarnya perut Kang Hoo masih dirasa lapar, tapi mendengar kata orang tua rambut putih itu, ia segera berjalan mengikuti langkah si orangtua memasuki goa belakang di mana terdapat pembaringan kayu.

Begitu Kang Hoo tiba dalam kamar goa itu, si orang tua telah duduk bersila di atas pembaringan, dan begitu ia meiihat Kang Hoo sudah menyusul datang, tangannya menunjuk ke arah sudut goa, katanya.

"Kau ambillah tikar di pojok sana, gelar di bawah, lalu duduk bersila."

Kang Hoo menuruti kehendak orang tua baju putih itu.

berjalan ke pojok goa, dan sana ia mengambil sebuah tikar anyam, kemudian dibawanya ke depan pembaringan kayu dimana si orang tua duduk bersila, tikar anyam itu digelarnya, ia lalu duduk bersila menghadapi si orang tua.

"Aku tidak kenal padamu!"

Seru si orang tua rambut putih.

"Tapi karena kelakuan liarnya si gadis Biauw dan suhunya, aku merasa tertarik pada kekukuhan hatimu. Nah sekarang kau ceritakan, bagaimana kau sampai terlihat urusan asmara dengan gadis liar bangsa Biauw itu, dan siapakah orang tuamu?"

Mendapat pertanyaan demikian, dengan rasa sedih, Kang Hoo menceritakan asal usul dirinya, dan bagaimana sang ayah telah dibunuh mati oleh orang-orang seragam hitam yang tak dikenal.

Hingga akhirnya ia berada di dalam hutan di lereng gunung itu, bersama gadis liar bangsa Biauw yang menuntut ia agar bersedia menjadi suaminya.

Semua peristiwa itu diceritakan dengan jelas dan panjang lebar.

Oang tua berambut putih manggut-manggut kemudian katanya.

"Jadi kau menganut agama baru itu? Hmmm, tak kusangka! Tak kusangka! Agama itu masih bisa merembes masuk ke dataran Tionggoan, dan orang golongan aneh itu juga tidak mau berhenti menumpas, belum bisa menerima kehadirannya agama baru."

"Cianpwee,"

Potong Kang Hoo "Apakah mengetahui tentang agama baru itu?"

"Islam!"

Kata si orang tua tegas.

"Aku bukan saja tahu, bahkan aku pernah mengembara ke negeri asal dimana agama itu muncul, dan aku juga telah mempelajari agama itu boleh dikata sempurna."

"Aaaaaa......jadi cianpwe ini beragama Islam."

Seru Kang Hoo kaget.

"Heee, heee ... ."

Orang tua rambut putih tertawa riang.

"Sejak kecil aku mendapat didikan agama Budha, aku anak yatim piatu hidup dan dibesarkan dalam vihara, setelah dewasa aku mengembara mencari guru silat, dan pada beberapa tahun aku berhasil mendapatkan nama daerah utara dan selatan sungai Hong-ho, orang-orang memberi aku julukan Pek kut Ie-su, dan namaku sendiri Kong sun But Ok hampir kulupakan karena tenggelam oleh nama julukanku yang menakutkan itu. Memang keadaan manusia itu sewaktu-waktu bisa berubah. Setelah aku berusia tigapuluh lima tahun, mendadak kembali aku rindu akan ajaran Budha maka kembali aku mengasingkan diri bertapa mempelajari agama, sejak itu aku tidak mau turut campur lagi urusan dunia. Tambah lama aku mempelajari agama Budha itu, bertapa di tempat sunyi hatiku tambah tenang, keadaan jiwakupun tambah kuat. Entah bagaimana pada suatu hari terbetik satu pikiran, bukankah Budha itu di bawa oleh sarjana kita diantaranya sarjana Hwei Hseng dan Sung Yud dari negeri India, kedua sarjana itu membawa bermacam-macam buku Budha Mahayana, semua itu aku telah pelajari. Mengingat akan asal agama itu timbul niatku untuk mengunjungi India. Maka segera juga aku berangkat mengambil jalan darat, tapi di tengah jalan aku mendengar tentang adanya agama baru yang merembes di perbatasan Tiongkok, asal agama baru dari negeri Arabia. Men-dengar itu, hatiku berubah, ingin aku mengunjungi negara Arabia dan mempelajari seni bentuk dan ragamnya agama itu, lalu niat itu kulaksanakan. Tanpa memperdulikan penderitaan. Aku akhirnya mengembara ke negeri orang, itulah benua Arabia asal dari agama yang kau anut. Hampir dua puluh tahun aku di sana, mengembara dari pojok ke pojok dunia Arab. Dan kini kau boleh panggil aku Haji ..."

Berkata sampai di situ, si orang tua menghela napas, memandangi Kang Hoo yang duduk bersila mendengarkan dengan penuh perhatian. Kongsun But Ok berkata lagi.

"Setelah aku kembali ke negeri kita, aku bertapa di tempat ini, menghubungkan kedua macam agama yang pernah aku pelajari. Dari penyelidikanku, aku dapat menyimpulkan bahwa dari kedua agama itu mengandung inti sari kejiwaan yang sangat dalam dan kalau saja manusia berhasil menguras inti sari ilmu kejiwaan dari dua ajaran agama itu digabung menjadi satu. Maka akan timbul satu kekuatan tenaga bathin yang sangat luar biasa dan aneh. Sejak berpikir begitu aku memperdalam kedua ajaran agama itu dalam segi kerohanian. Dan akhirnya setelah memakan waktu belasan tahun kemudian berhasillah aku menciptakan satu ilmu kekuatan bathin yang bersumber dari kemurnian jiwa!"

Sampai di situ, Kongsun But Ok Pek-kut Ie-su menatap wajah Kang Hoo yang duduk bersila di bawah pembaringannya.

Kang Hoo sendiri yang mendengarkan cerita si orang tua, ia mendengarkan dengan melompongkan mulut, dan takkala si orang tua menatap wajahnya, ia bertanya.

"Jadi cianpwe, adalah Kongsun But Ok Pek-kut Ie-su yang pernah menggemparkan rimba persilatan pada tiga puluhan tahun yang lalu?"

"Nnnggg, kau jangan sebut lagi julukan Pek kut Ie-su, julukan itu sudah tidak cocok dengan keadaanku sekarang. Kau boleh panggil saja aku Haji Kong-sun But Ok, aku lebih senang mendengar sebutan itu, bukan?"

Kang Hoo mengangguk-angguk katanya.

"Hamba, pernah mendengar nama itu dari suhu. Harap cianpwe jangan gusar."

"Anak tolol!"

Seru Kong-sun But Ok.

"Kau panggil aku Haji Kong-sun But Ok apa, sudah paham."

"Hamba paham."

Seru Kang Hoo.

"Paham apa?"

Tanya Haji Kong-sun But Ok.

"Hamba sedang berhadapan dengan Pak Haji Kong sun But Ok."

Kata Kang Hoo.

"Ha, ... ha ... haaaaa, haaaaaa ...hua ... a....."

Tertawa berkakakan Kong sun But Ok.

"Begitu, begitu, kau mesti panggil aku Haji Kong-sun But Ok. Hua haa ... haaaaa .... aaaa bocah apa kau sudah sembahyang Dhuhur, hmmm, ehe heee.....heee....."

Mendengar pertanyaan itu, Kang Hoo kelabakan, hatinya berdebar keras, bukankah sembahyang itu wajib bagi dirinya tapi selama ini ia tidak pernah melakukan sembahyang itu, maka dengan gugup ia berkata.

"Pak ... haji , ..selama ini ......hamba tidak lagi melakukan sembahyang, ini karena keadaan hamba yang terus-terusan dikejar-kejar orang jahat, tapi hati sanubari hamba tetap yakin kepada Nya dan utusan Nya Nabi besar Nuhammad!"

"Heheee ... he ..heeee ... heeeees ... ..."

Kong-sun But Ok tertawa terke-keh.

"Mengapa kau mesti takut mengakui kenyataan, aku sendiri tidak pernah melakukan sembahyang . ..."

"Eh, tapi .... tapi ... bukankah pak Haji wajib melakukan lima waktu itu, itulah wajib dalam rukun agama", tanya Kang Hoo.

"Heheee ... aku tahu."

Kata Kong-sun But Ok.

"Karena sejak aku kembali dari negeri Arabia, aku sibuk dengan menyelidiki persamaan dan perbedaan antara agama yang lama dan agama yang baru, hingga aku tak sempat melakukan sembahyang tapi aku yakin Allah itu Pemurah dan Pengasih. Semoga Ia mengampuni dosaku, dan hal yang wajib itu, bukanlah hanya sembahyang lima waktu, kau tentunya juga tahu mencari ilmu dan menolong orang sengsara itu juga wajib. Nah aku telah menjalankan kewajiban mencari ilmu itu, selama ini waktu kuhabis untuk mencari ilmu. Dan akhirnya aku berhasil, heeehee heeee ... heeee ... ..."

Kembali si orang tua tertawa berkakakan.

Mendengar dan menyaksikan sikap orang tua itu hati Kang Hoo jadi kebingungan, mengapa ucapan orang tua ini agak melantur, dan suara tertawanya tadi, bukankah seperti suara tertawa orang gila.

Maka pikir Kang Hoo dalam hati.

"Apakah aku ini berhadapan dengan seorang Haji gila?"

"Eheee .... heeee ..."

Kong sun But Ok terus tertawa melihat perobahan wajah Kang Hoo, lalu katanya.

"Mungkin hatimu mengatakan aku ini seorang gila. Heeeheee ... ..."

"Ah. Mana berani,"

Seru Kang Hoo terkejut.

"Hmmm, huaaheeeee......."

Kembali Kong-sun But Ok tertawa lagi.

"Nah mulai hari ini kau akan kujadikan muridku, aku akan menurunkan ilmu bathin yang selama puluhan tahun ini kuciptakan, nanti setelah kau menerima ilmu itu kau bisa malang melintang di atas dunia ini. Tapi sebelumnya kau harus membaca dulu surat Al-faatihah, sebanyak tujuh kali di hadapanku. Apa kau bisa?"

Kang Hoo mengangguk kepala, lalu ia mulai membacakan apa yang diminta oleh orang tua itu.

Tapi setelah Kang Hoo membaca surat Al Faatihah, sebanyak satu kali, mendadak Haji Kong-sun But Ok mengerutkan kening, katanya dingin.

"Aku tidak butuh lagu suara itu. Kau baca dengan bahasa kita!"

"Tafsirnya?"

Tanya Kang Hoo.

"Ya. Tafsirnya, tidak guna kau melagukan ayat demi ayat, bila kau tidak mengerti bagaimana bunyi tafsirnya."

Kata Haji Kong-sun But Ok.

Maka setelah memandang sang guru, Kang Hoo membacakan tafsir dari Al Faatihah di depan sang guru.

Ucapnya dengan pemusatan pikiran ke hadapan Tuhan, 1.

Dengan nama Allah yang Pemurah dan Pengasih..Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam..Yang Maha Pemurah dan Pengasih, 4.

Yang memerintah di hari Qiamat..Engkaulah yang kami sembah dan Engkaulah yang kami minta tolong..Tunjukkanlah kami ke jalan yang benar.

Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalannya orang-orang yang Engkau murkai, dan bukan pula jalannya orang yang sesat.

Terimalah ya Tuhanku.

Sambil duduk bersila di atas pembaringan kayunya, Kong-sun But Ok mendengarkan terus Kang Hoo membacakan tafsir dari ayat Al Faatihah sebanyak tujuh kali.

Setelah selesai Kang Hoo membacakan ayat itu, Haji Kong-sun But Ok, manggut-manggut, ia tersenyum.

"Bagus, bagus ....mulai detik ini kau kuangkat jadi muridku, menerima gemblengan lahir bathin. Nah kau bangkitlah."

Mendenpar perintah itu, Kang Hoo segera bangkit berdiri di depan sang guru agamanya. Kong-sun But Ok masih duduk bersila di atas pembaringannya. Ia memandang Kang Hoo, lalu katanya,'"

"Pelajaran pertama. Pusatkan seluruh perhatianmu! Ciptakan hawa amarahmu!"

Mendapat perintah latihan pertama yang demikian rupa Kang Hoo, jadi berdiri bengong memandang sang guru.

"Ah, Ayo! Jangan mematung begitu,"

Bentak Kong-sun But Ok.

"Guru, .... ini mana mungkin,"

Kata Kang Hoo memandang gurunya.

"Menciptakan hawa amarah, bukankah itu bertentangan dengan ajaran agama. Kita harus menjauhkan sifat-sifat jelek, melenyapkan perasaan sirik dengki, menciptakan situasi damai pada jiwa kita. Hari ini guru memerintah aku menciptakan hawa amarah. Mana bisa."

Mata Kong-sun But Ok, berputaran memperhatikan Kang Hoo, yang berani membantah perintahnya, tampak begitu pipi tuanya yang keriput itu bergerak-gerak, entah perasaan apa yang dikandung dalam dada si orangtua aneh itu.

Sementara itu Kang Hoo masih terus berdiri mematung, hatinya sedikit bergidik menyaksikan sikap gurunya yang demikian rupa.

Tanpa disadari, kakinya bergeser mundur ke belakang dua tindak.

"Nggg ..."

Menggereng Kong-sun But Ok menyaksikan sang murid mundur ke belakang, lalu katanya.

"Kau maju dua langkah!"

Mendengar perintah maju dua langkah, sepasang kaki Kang Hoo, bergerak maju lagi dua langkah, mendekati sang guru.

"Apakah kau masih ingin mengangkat aku menjadi guru?"

Tanya Haji Kong-sun But Ok. Kang Hoo mengangguk kepala. Tapi mulutnya bungkam. Kong-sun But Ok masih duduk bersila di atas pembaringan kayunya, ia mengangguk angguk kepala lalu katanya.

"Dengarlah! Pusatkan perhatianmu! Ciptakan hawa amarah."

Kembali Kang Hoo mendapat perintah latihan demikian, hatinya jadi gelisah mengapa gurunya ini memerintahkan ia menciptakan hawa amarah Bukankah itu bertentangan dengan ajaran agama.

Meskipun ia mesti melanggar ajaran agama itu.

Tapi bagaimana secara mendadak tanpa hujan tanpa angin bisa timbul hawa amarahnya.

Maka cepat-cepat ia berkata.

"Guru. sebenarnya...... hamba bagaimana bisa menciptakan bawa amarah itu. Ini sulit."

Mendengar jawaban Kang Hoo demikian rupa, Kong-sun But Ok tertawa terbahak-bahak, lalu sambil menunjuk-nunjuk dengan suling peraknya, ia berkata.

"Aku tahu, aku tahu, jawabanmu ini benar nah, begitulah harusnya kau menjawab, jangan sok pintar soal agama. Aku ini Haji, bertahun-tahun mengembara di tanah suci Mekah, aku lebih tahu darimu. Hmm. Untuk menciptakan hawa amarah, sebenarnya itu mudah kulakukan dengan meniup seruling ini, aku bisa membuat kau marah seperti kerbau gila. Tapi itu tidak sempurna, ilmu yang akan kuturunkan harus dipupuk dari semangatmu sendiri tanpa bantuan suara suling. Apa kau mengerti maksudku?"

Meskipun ia tidak mengerti akan apa yang diucapkan sang guru. Kang Hoo menganggukkan kepala, jawabnya.

"Ya."

Jawaban singkat Kang Hoo itu terpaksa, ia kuatir kalau gurunya nanti menunjukkan wajah seperti tadi, Wajah itu sangat menakutkan.

Maka meskipun ia sendiri kurang mengerti apa maksud kata gurunya tadi la menjawab saja "Ya."

Urusan belakang bagaimana nanti saja.

"Apa kau sudah mulai memusatkan pikiranmu?"

Tanya Haji Kong-sun But Ok.

"Teecu akan mulai."

Jawab Kang Hoo tergetar.

"Nah cobalah,"

Seru sang guru.

Kang Hoo memejamkan sepasang matanya, ia memusatkan pikirannya mengumpulkan hawa amarah.

Otaknya diperas guna menciptakan hawa marah tadi.

Pikirannya diarahkan pada lawan-lawan yang pernah melukainya.

Dibayangkannya manusia-manusia seragam hitam beselubung muka yang membunuh ayahnya serta melukai dirinya.

Tapi yang timbul bukanlah hawa amarah sebaliknya, rasa sedih yang mempengaruhi jiwanya, sedih ia teringat bagaimana sang ayah binasa di tangan musuh gelap, dan bagaimana ia melihat sendiri mayat ayah itu mencair.

Tanpa dirasa matanya yang dipejamkan itu mulai membasah.

Kong-sun But Ok memperhatikan keadaan Kang Hoo, ia melihat sepasang mata si pemuda yang terpejam itu mengembang air, cepat ia membentak.

"Anak tolol! Aku bukan suruh kau bersedih hati."

Mendengar suara bentakan sang guru, Kang Hoo jadi kaget, ia tersentak, matanya dibuka, dengan lengan bajunya ia menggosok air mata tadi. Katanya gemetar.

"Teecu teringat akan ayah."

"Hmm. Kalau kau tidak mampu memusatkan pikiranmu,"

Kata Kong-sun But Ok.

"Baiklah aku akan mengambil cara lain. Nah sekarang kau robek baju rombengmu itu."

Kembali Kang Hoo dibuat bingung mendengar perintah sang guru.

Tapi ia tidak mau banyak pikir, cepat ia merobek bajunya yang sudah rombeng.

Maka di dalam goa itu terdengar suara memberebet yang panjang.

Dan berbarengan dengan sirapnya suara koyakan baju itu, di tangan Kang Hoo sudah memegang sobekan kain bajunya.

"Kurang lebar."

Seru sang guru.

"Kurang lebar?"

Kang Hoo berkata dalam hatinya.

Lalu ia membuang sobekan itu di lantai goa.

Kemudim membuka bajunya dan baju yang telah dibuka itu, dirobek-robeknya menjadi beberapa lembar.

Lalu ditunjukkan di depan sang guru.

Menampak kelakuan gila Kang Hoo.

Dengan masih duduk bersila di atas ranjang kayu Kong sun But Ok tersenyum, katanya.

"Berikan aku salah satu sobekan itu."

Kang Hoo memberikan selembar koyak-koyakan kain bajunya yang terlebar pada sang guru, sedang sisa yang lainnya masih dipegangnya di tangan kiri.

Sambil manggut-manggut, Kong sun But Ok menerima sobekan baju Kang Hoo, lalu ia meletakkan suling peraknya di atas pangkuan, sobekan baju tadi, diperas-perasnya berulang kali.

Tampak wajah Haji Kong sun But Ok serius, seperti ia sedang mengerahkan tenaganya untuk menghancurkan sobekan kain tadi, Tapi sobekan kain tadi bukan dihancurkan setelah diperas-perasnya, lalu ia membuat tiga buah ikatan simpul.

Setelah itu baru ia memandang Kang Hoo katanya.

"Perhatikan!'' Berbarengan dengan kata-katanya, Kong-sun But Ok melemparkan sobekan baju Kang Hoo, ke atas langit-langit goa, maka sobekan baju itu meluncur terbang ke atas, berbareng mana, setelah ia melemparkan sobekan baju tadi, tangannya cepat mengambil itu seruling perak, lalu seruling tadi dilempar ke atas menyusul meluncurnya sobekan kain baju. Luncuran suling perak yang cepat itu membentur sobekan baju di tengah udara, kemudian terangkat naik ke atas lalu membentur langit-langit goa. Kang Hoo yang terus memperhatikan kelakuan gurunya, ia mempelototkan sepasang matanya, hatinya tidak mengerti, tapi ia tidak sempat bertanya apa maksud gurunya berbuat demikian, jelas sekali bagaimana suling perak itu meluncur menerjang sobekan kain bajunya lalu menancap membentur langit-langit goa batu. Dan sobekan baju tadi ditembusi suling, tiga simpul ikatan pada kain baju itu terjuntai ke bawah.

"Hmm. Dengar!"

Seru Haji Kong-sun But Ok. Mendengar seruan sang guru, Kang Hoo memandang wajah gurunya dengan penuh perhatian.

"Untuk melatih menciptakan hawa amarah. Kau pukullah tiga simpul kain itu di atas langit-langit goa."

Mendengar keterangan gurunya demikian rupa Kang Hoo menengadah ke atas, ia memperhatikan tiga simpulan sobekan kain baju itu di atas langit-langit goa.

Meskipun langit-langit goa itu tingginya lebih dari tiga meter, tapi dengan mengandalkan latihan lompat tinggi yang ia pernah latih di bawah asuhan Beng Cie sianseng, baginya tidaklah sulit untuk dapat melakukan serangan di atas tadi.

Tapi ia masih bingung, apakah dengan cara demikian benar bisa menciptakan hawa amarahnya.

Sesaat ia masih memandangi ke atas langit-langit goa batu, gurunya sudah berkata lagi.

"Sebelum kau berhasil melakukan latihan ini, kau dilarang meninggalkan goa, kecuali waktu makan dan waktu kau sembahyang, selainnya kau harus terus berlatih memukul tiga simpulan kain di atas sana."

"Sembahyang?"

Seru Kang H o o.

"Ya."

Jawab sang guru tersenyum.

"Lima waktu. Ingat jangan kau lalaikan. Sebenarnya, latihan ini harus diiringi dengan latihan semadhi, tapi semadhi itu mirip dengan ajaran Budha. Maka dengan jalan melakukan sembahyang lima waktu, itu sama saja kau bersemadhi memusatkan pikiran pada Tuhan Yang Maha Esa. Inilah ciptaan ilmuku. Kau nanti akan tahu bagaimana hasil dari latihan ini. Di bawah goa ini terdapat sebuah goa merupakan mata air, kau boleh turun ke sana menggunakan akar rotan untuk kau membersihkan dirimu, dan mengambil wudlu (air sembahyang). Ingat goa ini menghadap ke timur, jika kau hendak melaksanakan lima waktu kau harus menghadap ke barat. Mengerti?"

Kang Hoo nengangguk.

"Ayo mulai!"

Perintah sang guru.

Kang Hoo memandang ke atas langit-langit goa lalu ia melempar sisa sobekan bajunya di lantai kemudian ia mengempos tenaganya lalu lompat melambung ke atas memukul sobekan kain bersimpul tiga itu.

Gerakan pukulan pertama tadi berhasil dengan baik, Kang Hoo dengan mudahnya memukul sasarannya, kemudian tubuhnya kembali turun ke bawah.

Lalu ia memandang sang guru.

"Lihat apa?"

Tanya Kong-sun But Ok, ketika melihat muridnya itu memandang dirinya.

"Kau pukul benda di atas itu, pusatkan perhatianmu, anggap benda itu musuhmu. Ingat jangan berhenti kalau aku tidak memberi perintah. Kalau kau masih bego saja, kulempar kau keluar goa. Anak tolol!"

Mendengar makian sang guru, Kang Hoo tidak berani membantah, ia cepat melakukan serangan lagi pada simpulan kain di atas langit-langit goa.

Kali ini gerakannya dilakukan berulang-ulang, bila ia telah tiba kembali di lantai goa, kembali melejit memukul ke atas.

Latihan berlangsung terus, mataharipun mulai doyong ke barat, hari menjadi sore.

Kang Hoo yang melakukan latihan aneh itu, napasnya sudah tersengal, badannya sudah mandi keringat, bahkan pada badannya sudah terdapat luka-luka.

Karena dalam latihan itu, tidak jarang Kang Hoo mesti jatuh terguling di lantai dan membuat badannya yang sudah tak berbaju itu mesti merasakan bagaimana tajamnya batu-batu gunung di dalam goa.

Tapi ia tidak mau memperdulikan itu semua, tambah ia mendapat luka tambah semangatnya terbangun.

Untuk mengulangi menyerang sobekan kain di atas langit-langit goa.

Ketika napasnya sedang memburu melakukan gerakan latihan aneh itu, mendadak saja terdengar sang guru berkata.

"Berhenti! Waktu Ashar! Kau harus sembahyang empat raka'at."

Mendengar perintah suhunya, Kang Hoo cepat menghentikan latihan.

Tubuhnya sudah basah mandi keringat!

Melihat kalau Kang Hoo sudah basah kuyup dengan keringat juga napasnya tersengal-sengal Kong-sun But Ok berkata.

"Kau makan dulu buah di dalam kuali batu itu di luar sana. Setelah itu kau boleh merambat turun mencuci dirimu mengambil wudhu. Kau harus melakukan sembahyang di tempat ini."

Kang Hoo tidak berani membantah perintah gurunya, ia berjalan keluar mengambil buah di atas kuali tanah.

Dengan napas ngos-ngosan ia melahap buah tadi.

Setelah itu baru dengan menggunakan akar rotan ia merosot lurun ke arah goa dimana terdapat mata air.

Tak lama Kang Hoo sudah merambat kembali naik ke atas goa.

Lecet-lecet pada kulit badannya sudah dicuci bersih.

Ia menghadap sang guru.

Kong-sun But Ok mengetahui kalau sang murid sudah kembali ke dalam goa.

Dengan masih duduk bersila ia berkata.

"Nah, tunggu apa lagi, ini waktu Ashar jangan sampai terlambat!"

"Ya, ya, teecu tahu,"

Jawab Kang Hoo, ia memperhatikan letak tempat dalam goa itu, pintu goa menghadap ke timur jadi ia harus menghadap ke barat ke arah qiblat.

Yang berarti ia mesti menghadapi gurunya yang masih duduk bersila di atas pembaringan kayu.

Selagi Kang Hoo memperhatikan keadaan tempat itu, sang guru sudah bertanya lagi.

"Apa celanamu sudah kau cuci bersih?"

Kang Hoo mengangguk.

"Nah sembahyanglah, gunakan tikar anyam itu!"

Mendapat perintah itu, Kang Hoo tidak berani membantah ia mulai berdiri tegak menghadap qiblat lalu hatinya berniat.

Sementara itu Kong-sun But Ok masih terus duduk di atas pembaringan kayunya memperhatikan Kang Hoo yang mulai melakukan sembahyang.

Kang Hoo tahu kalau gurunya Haji itu masih duduk di depannya, tapi ia tidak mau perduli terus melakukan sembahyang hingga selesai empat rakaat.

Setelah mana barulah ia berdiri.

"Bagus!"

Kata Kong sun But Ok.

"Guru,"

Seru Kang Hoo.

"Mengapa guru tidak sembahyang?"

"Anak setan?"

Bentak haji Kong-sun But Ok.

"Kau jangan banyak cerewet turut saja perintahku. Nah sekarang mulai kau berlatih lagi, nanti waktu Magrib kau mesti melakukan sembahyang lagi. Kalau kau masih berani banyak mulut akan kucekik batang lehermu."

Mendengar kalau sang guru menjadi marah besar. Kang Hoo jadi merengket ia cepat membalik badan memulai latihannya, dalam hati Kang Hoo berkata.

"Haji gila! Orang dipaksa sembahyang ia sendiri duduk nongkrong di atas tempat tidur!"

Hatinya berkata demikian, tangan dan kaki Kang Hoo bergerak melakukan latihan mengerahkan hawa amarah.

Latihan tadi berlangsung sampai malam, waktu Maghrib dilewati.

Menyusul mana waktu Isya berlalu.

Kang Hoopun tidak lupa pada setiap waktu itu melakukan sembanyang tapi sang guru, haji Kong-sun But Ok masih terus saja duduk nongkrong di atas pembaringan kayunya ia tidak pernah melakukan sembahyang.

Pengalaman satu hari itu di bawah didikan guru barunya, Kang Hoo mendapatkan pengalaman baru yang sangat aneh, karena di dalam goa pada malam hari itu, keadaan tampak terang, sinar terang mana ternyata keluar dari suling perak sang guru di atas langit-langit batu.

Siang tadi Kang Hoo tidak melihat adanya cahaya pada suling perak itu, tapi ketika hari memasuki waktu Magrib, pada batang seruling tampak titik-titik mengkilat yang memantulkan cahaya.

"Beginilah setiap hari kau mesti melatih,"

Kata Kong-sun But Ok.

"Setelah lewat waktu Isya kau baru boleh berhenti berlatih. Dan itu suling perak mengandung titik sinar di malam hari. Kau jangan heran di dataran Tiongkok negeri kita ini, bukankah banyak benda mustika seperti itu. Tapi suling ini kudapatkan dari negeri Bagdad. Rupanya dunia ini sangat luas, dan sangat banyak dengan keanehan-keanehan, bukan saja negeri kita yang memiliki banyak benda-benda aneh, tapi negeri lain juga tidak kurang terdapat benda-benda' antik. Nah, seperti suling itu, ku dapat hadiah dari seorang Arab di tanah Bagdad. Negeri dari seribu satu malam,"

Kang Hoo mendengar cerita gurunya yang pernah mengembara ke benua Arabia itu.

Meskipun telinganya mendengarkan semua kata-kata gurunya, tapi pikirannya masih di buat bingung.

Bukankah gurunya ini seorang Haji?

Mengapa ia tidak melakukan sembahyang lima waktu?

Terus-terusan duduk nongkrong di atas ranjang kayunya.

Juga Kang Hoo sedikit heran, sang guru itu setahunya sejak ia berada dalam goa belum pernah makan barang sedikitpun apa ia tidak merasa lapar?

Berpikir bolak-balik akhirnya hati kecil Kang Hoo berkata.

"Apakah aku benar-benar telah mendapatkan seorang guru otak miring? Apakah ia ini seorang Haji gila?"

Tapi kata hati kecilnya itu ia tak berani utarakan di depan gurunya. Kuatir kalau sang guru timbul marahnya.

"Nah, kau istirahat di goa depan, besok subuh, setelah kau melakukan sembahyang dua rakaat, kau mulai lagi melatih mengerahkan hawa amarahmu. Ingat diwaktu malam jangan ganggu aku!"

Mendengar perintah gurunya, Kang Hoo membalikkan badan ia jalan keluar goa depan, lalu karena lelahnya terus saja membaringkan diri dan tak lama kemudian ia sudah tidur menggeros.

HARI PAGINYA.

Sehabisnya sembahyang subuh, Kang Hoo memulai lagi latihannya.

Haji Kong-sun But Ok masih duduk bersila di atas ranjang kayu, memperhatikan sang murid yang lompat ke atas memukul-mukul ikatan simpul sobekan baju di atas langit-langit goa.

Gerakan lompatan Kang Hoo, dalam melakukan serangan pukulan ke atas itu begitu indahnya, ia menggunakan jurus-jurus ilmu silat yang pernah ia pelajari dari Beng Cie sianseng.

Tapi pagi ini setelah beberapa kali, ia melakukan serangan pukulan itu, ia tidak dapat berdiri tegak lagi begitu turun di bawah, badannya seringkali terguling roboh di atas lantai batu goa.

Begitu ia jatuh roboh, terasa bagaimana kulit badannya dibikin lecet oleh benturan pada lantai goa tadi.

Tapi mendadak saja semangatnya terbangun, ia bangkit berdiri lagi dan melakukan serangan pukulan ke atas.

Berulang kali gerakan itu dilakukannya, berulang kali pula tubuhnya terguling jatuh di lantai.

Sementara itu Kong-sun But Ok terus memperhatikan dari atas pembaringan kayu.

Sang matahari di timur menggelusur naik mengikuti putaran bumi.

Dan ketika sinar matahari berada empatpuluh derajat di timur keadaan Kang Hoo sudah demikian rupa.

Ia seperti tidak sanggup lagi untuk melakukan serangan pukulan ke atas.

Begitu kakinya lompat dan tangannya bergerak memukul, mendadak badannya roboh terguling.

Kang Hoo merasakan keanehan itu muncul tiba-tiba, ia mengerutkan kening, pikirnya.

"Apakah aku sudah kehabisan tenaga?"

Setelah berpikir begitu, kembali ia lompat menerjang ke atas, tapi gerakkannya kini tak dapat lompat tinggi, begitu ia bangun dan mengayun tangan tubuhnya mendadak terguling lagi.

Kong-sun But Ok yang menyaksikan kalau muridnya terus-terusan jatuh terguling, ia tersenyum-senyum sambil mengangguk kepala.

Sementara itu Kang Hoo tambah sengit, begitu ia roboh terguling, tanpa merasakan lagi sakitnya luka-luka pada kulit, ia segera meletik, menggunakan jurus Ikan Gabus Meletik ia lompat ke atas.

Tapi sungguh aneh, jurus Gabus meletik yang biasanya begitu hatinya bergerak lantas badannya bisa meletik lompat bangun, kini tak berguna, karena begitu sang hati ingin menggunakan jurus itu, begitu keadaan tubuhnya menjadi kaku tak dapat digerakkan hingga ia hanya berkutetan di lantai goa.

"Cukup!"

Mendadak Haji Kong-sun But Ok berseru.

Waktu itu Kang Hoo masih rebah di atas lantai goa, ia baru saja berkutetan ingin meletik bangun, begitu mendengar perintah sang suhu, maka dengan tersengat ia bangkit duduk.

Kini terasa bagaimana seluruh badannya terasa perih karena lukanya.

"Bangun!"

Perintah sang guru.

"Latihanmu sudah selesai!"

Mendengar kalau latihan Kang Hoo sudah selesai, ia jadi heran, bukankah tambah lama Kang Hoo tambah tak becus untuk melakukan serangan pada tiga ikatan simpul sobekan baju.

Mengapa kini sang suhu mengatakan latihannya sudah selesai, dengan membawa rasa herannya, ia bangun berdiri menghadapi gurunya, lalu tanyanya.

"Guru, apa maksudnya?"

"Anak tolol!"

Seru Haji Kong-sun But Ok.

"Dengan latihanmu yang terakhir itu kau telah berhasil menciptakan hawa amarah!"

"Aaaaaa....."

Teriak Kang Hoo, ia memandang ke atas langit goa dimana terdapat sobekan kain bersimpul tiga yang menancap di batang suling perak gurunya.

"Nah, kau dengarlah,"

Kata Kong sun But Ok. Kang Hoo kembali memandang gurunya dengan sinar mata heran. Sementara itu sang guru sudah berkata lagi.

"Bukankah pada akhir-akhir latihanmu, begitu kau niat hendak melakukan serangan, seperti ada sesuatu yang membuat badanmu menjadi kaku hingga kau tak dapat melakukan gerakan serangan. Bukankah begitu?"

Mendengar pertanyaan sang guru Kang Hoo mengkerutkan kening, kemudian ia mengingat-ingat kejadian selama ia melakukan latihan, lalu mengangguk kepala, katanya perlahan.

"Benar, memang aneh, pertama kali dengan mudah aku bisa memukul tiga simpul sobekan kain di atas ini, tapi mengapa tambah lama seperti ada sesuatu kekuatan yang membuat gerakanku jadi kaku dan aku roboh terguling. Bagaimana bisa jadi begitu?"

Mendengar ocehan sang murid, Kong-sun But Ok tersenyum, katanya.

"Itulah karena kau telah berhasil menciptakan hawa amarahmu."

"Jadi?"

Tanya Kang Hoo masih tidak mengerti.

"Sulit untuk kau pahami."

Kata sang guru di atas pembaringan kayu.

"Karena inilah dasar ilmu tenaga dalam yang akan kuturunkan padamu. Ilmu itu kuambil dari dua intisari kekuatan bathin, yang diambil dari kekuatan ilmu bathin Islam dan kekuatan ilmu bathin Budha."

"Guru."

Potong Kang Hoo.

"Guru mengatakan kalau guru seorang haji, tentunya menganut agama Islam itu, tetapi bagaimana selama dua hari ini teecu tidak pernah melihat guru melakukan sembahyang lima waktu. Tapi menyuruh teecu melaksanakannya, sedang guru sendiri hanya nongkrong di atas pembaringan."

"Nggg ..."

Kong-sun But Ok menggereng.

"Sudah kubilang, kedua ajaran agama itu telah kupelajari matang, Budha sudah menjadi darah dagingku. Islam sudah mengelotok dalam kepalaku, hingga aku tak perlu mesti bersusah payah melaksanakan ajaran agama itu. Kalau aku mati tentunya aku juga bisa memilih masuk sorga atau masuk nirwana? Dengan hasil penyelidikanku selama bertahun-tahun aku telah berhasil menemukan sesuatu. Itulah perpaduan dari intisari kekuatan bathin. Itulah suatu ilmu yang sangat luar biasa. Tentunya ilmu itu adalah ilmu dari aliran putih. Selama kau dalam didikanku, kau harus melakukan sembahyang lima waktu menurut agama yang kau anut, sebenarnya latihan itu bisa juga diiringi dengan latihan semadhi, tapi dengan melaksanakan sembahyang lima waktu itu, itu lebih dari cukup. Bersemadhi dan berolah raga melancarkan jalan darah di tubuhmu. Bukankah setiap rakaat yang kau lakukan dalam sembahyang itu, melakukan gerakan dan pemusatan pikiran, dengan demikian, berarti sekaligus kau sudah melakukan semadhi dan mengatur membuka jalan darahmu yang beku."

Kang Hoo mendengarkan penuturan sang guru aneh itu, dengan penuh perhatian, sementara sang guru masih terus berkata.

"Latihan pukulanmu pada sobekan kain di atas langit-langit goa ini, adalah merupakan latihan pertama, kau sendiri merasakan bagaimana pada hari ini mendadak badanmu terasa tertekan oleh sesuatu kekuatan, bila kau melakukan serangan. Nah aku tanya, apakah dalam kau melakukan pukulan itu hatimu marah, penuh angkara murka?"

Mendengar pertanyaan sang guru, Kang Hoo mengangguk, katanya.

"Benar, tambah lama, teecu jadi tambah sengit, lebih-lebih setelah hamba jatuh mendapat lecet, mendadak kemarahan teecu muncul tiba-tiba, dan ketika itu mulainya adanya keanehan tambah teecu bernafsu tambah tak dapat bergerak."

"Hehebeeeheeeeeee......"

Kong sun But Ok tertawa terkekeh.

Baca Juga: Lembah Selaksa Bunga 5

Baca Juga: Dewi Ular Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert