Ceritasilat Novel Online

Lembah Selaksa Bunga 5

Eps 5 Lembah Selaksa Bunga - Kho Ping Hoo

Baca online Lembah Selaksa Bunga - Kho Ping Hoo

Cersil Lembah Selaksa Bunga - Kho Ping Hoo.

Akhirnya Lian Hong mau mengalah dan tinggal di rumah, sedangkan mereka bertiga, Siang Lan, Tek Kun, dan Hong Bu, menemani lima orang perwira tinggi memimpin sekitar tujuhratus orang perajurit melakukan penyerbuan ke hutan itu pada pagi-pagi sekali.

Setelah berhasil melakukan pembunuhan terhadap enam orang pejabat tinggi yang setia kepada Kaisar, Pangeran Bouw Ji Kong menghentikan aksi itu, bahkan segera menyelundupkan tiga orang sakti yang menjadi sekutunya dan yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu keluar dari kota raja.

Mereka adalah Hwa Hwa Hoat-su, datuk Pek-lian-kauw, Hongbacu, tokoh Mancu utusan Nurhacu pemimpin bangsa Mancu, dan Tarmalan, datuk atau dukun bangsa Hui yang menjadi utusan bangsa Hui yang mendukung gerakan Pangeran Bouw Ji Kong yang ibunya juga puteri kepala suku bangsa Hui.

Pangeran Bouw Ji Kong tidak mengadakan gerakan, maklum bahwa Jenderal Chang yang diserahi tugas menangkap para pembunuh mengadakan penjagaan yang amat ketat.

Akan tetapi diam-diam Pangeran Bouw masih mengadakan hubungan dengan pihak Pek-lian-kauw dan Ngo-lian-kauw, dan persekutuan ini mengadakan pemusatan kekuatan baru di dalam hutan di Bukit Cemara yang terletak di sebelah barat kota raja.

Bukit Cemara itu penuh dengan hutan lebat, maka amat baik dijadikan markas dan tempat persembunyian.

Apalagi di bukit itu terdapat banyak guha-guha yang oleh para anggauta Pek-lian-kauw telah dibuat terowongan-terowongan.

Juga di situ dibuat perangkap dan jebakan yang berbahaya karena para anggauta Pek-lian-kauw dan Ngo-lian-kauw memang ahli dalam membuat jebakan-jebakan dan penyebaran racun.

Menurut Pangeran Bouw Ji Kong, pihak Pek-lian-kauw sudah dipesan agar jangan membuat gerakan lebih dulu karena pertahanan di kota raja amat kuat.

Dianjurkan agar pihak pemberontak itu menanti tanda darinya karena dia hendak menyusun siasat baru agar keadaan di kota raja kacau dan dalam keadaan kacau di mana pertahanannya melemah, barulah pasukan Pek-lian-kauw akan melakukan penyerbuan.

Akan tetapi pangeran Bouw Ji kong terlalu memandang remeh kecerdikan Jenderal Chang Ku Cing.

Secara diam-diam jenderal yang pandai dan berpengalaman ini mengalihkan perhatiannya ke luar kota raja, menyebar para penyelidik yang pilihan sehingga akhirnya dia mendapatkan keterangan bahwa bukit Cemara menjadi sarang para gerombolan pemberontak.

Bahkan tanpa adanya kebocoran gerakan pembersihan yang dilakukan pagi hari itu berjalan dengan sempurna.

Para pemberontak baru tahu setelah bukit itu dikepung pasukan kerajaan!

Bukit Cemara itupun geger!

Terjadi pertempuran di seluruh permukaan bukit.

Pertempuran mati-matian yang amat dahsyat, campur aduk sehingga kedua pihak tidak mungkin dapat mempergunakan senjata anak panah karena besar kemungkinan akan mengenai kawan sendiri.

Banyak perajurit kerajaan terjebak perangkap dan berjatuhan, ada pula yang terkena ledakan dari alat-alat peledak yang dipasang orang-orang Ngo-lian-kauw.

Akan tetapi karena jumlah pasukan kerajaan hampir dua kali lipat besarnya maka di pihak pemberontak lebih banyak lagi yang jatuh korban.

Apalagi di situ ada Hwe-thian Mo-li, Sim Tek Kun, Chang Hong Bu yang membantu para perwira, mengamuk seperti tiga ekor naga sakti.

Pangeran Bouw Ji Kong terkejut mendengar bahwa pasukan kerajaan menyerbu tempat yang dijadikan sarang kaum Pek-lian-kauw dan Ngo-lian-kauw di Bukit Cemara.

Dia tentu saja mengetahui bahwa mereka itu adalah sisa para anak buah Pek-lian-kauw cabang Liauw-ning yang berada di sebelah timur Peking, dan sebagian lagi sisa anak buah Ngo-lian-kauw di Po-teng.

Dia cukup cerdik sehingga pangeran itu tidak menaruh orang-orangnya di hutan itu, sehingga tidak perlu khawatir rahasianya bersekutu dengan mereka akan diketahui pemerintah.

Kang-lam Jit-sian yang menjadi para jagoannya hanya dikenal sebagai para pengawal pribadinya.

Bagaimanapun juga, Pangeran Bouw Ji Kong masih mengharapkan pertempuran itu akan merugikan pasukan kerajaan karena dia tahu bahwa di antara para pimpinan Pek-lian-kauw, terdapat beberapa orang pendeta Pek-lian-kauw yang sakti, di antaranya terdapat dua orang tokoh yang dikirim dari pusat Pek-lian-kauw, yang berjuluk Thian-te Lo-mo (Iblis Tua langit dan Bumi) terdiri dari dua orang kakek pendeta Pek-lian-kauw.

Seorang berjuluk Thian Lo-mo (Iblis Tua langit) yang bermuka putih seperti kapur dan Tee Lo-mo (Iblis Tua bumi) yang bermuka hitam seperti arang.

Sepasang kakek berusia sekitar enampuluh tahun ini merupakan pasangan yang amat hebat, selain memiliki ilmu silat tinggi juga mereka berdua mahir menggunakan ilmu sihir.

Memang dua orang pendeta Pek-lian-kauw ini lihai bukan main.

Ketika pasukan kerajaan datang menyerbu, mereka berdua mengamuk dan sepak terjang mereka menggiriskan semua orang.

Bukan saja golok besar mereka itu bergulung-gulung seperti seekor naga mengamuk di angkasa, akan tetapi juga mereka berdua dapat mengadakan awan dan halilintar dari sihir mereka yang membuat para perajurit gentar dan banyak yang roboh oleh mereka.

Akan tetapi tiba-tiba muncul tiga orang muda itu!

Hwe-thian Mo-li sudah berkelebat dan pedang Lui-kong-kiam (Pedang Kilat) di tangannya menyambar bagaikan halilintar, menangkis golok besar di tangan Thian Lo-mo.

"Tranggg......!"

Thian Lo-mo yang sedang mengamuk dan sudah membunuh delapan orang perajurit itu terkejut bukan main ketika tiba-tiba ada halilintar menyambar dan goloknya terpental, tangan kanannya terasa panas sehingga hampir saja dia melepaskan gagang golok yang dipegangnya itu.

Ketika dia melompat ke samping dan cepat memutar tubuh, dia berhadapan dengan seorang gadis cantik yang gagah perkasa.

Gadis berusia sekitar duapuluh tiga tahun, tubuhnya padat ramping dan indah menggairahkan, rambutnya hitam panjang ikal mayang dengan anak rambut berjuntai lembut di dahi dan kedua pelipisnya.

Matanya bagaikan sepasang bintang kejora.

Hidungnya mancung kecil dan mulutnya merupakan daya tarik yang amat menggairahkan.

Seorang gadis yang benar-benar jelita namun juga tampak gagah berwibawa.

Thian Lo-mo sudah mendengar akan nama besar Hwe-thian Mo-li, maka begitu berhadapan dengan Siang Lan dan merasakan tangkisan pedang Lui-kong-kiam tadi, dia membentak.

"Engkaukah yang berjuluk Hwe-thian Mo-li?"

"Benar, aku Hwe-thian Mo-li yang telah datang untuk membasmi pemberontak jahat macam kalian!"

"Perempuan hina! Engkau telah membunuh sahabat-sahabat kami Ngo-lian Heng-te dan beberapa orang saudara kami dari Pek-lian-kauw sekarang rasakan pembalasan kami! Tee Lo-mo, ini musuh kita Hwe-thian Mo-li!"

Teriak Thian Lo-mo dengan marah sekali.

Pada saat itu, seorang kakek lain yang bermuka hitam arang datang menerjang dengan golok besarnya.

Hwe-thian Mo-li cepat mengelak dan ia pun segera menggerakkan pedangnya, menghadapi pengeroyokan dua orang pendeta Pek-lian-kauw itu.

Ternyata mereka berdua itu tangguh sekali setelah maju bersama.

Bukan hanya ilmu golok mereka yang amat kuat, namun juga tangan kiri mereka seringkali melancarkan pukulan dorongan jarak jauh yang mendatangkan angin kuat dan menghembuskan uap.

Uap putih keluar dari telapak tangan Thian Lo-mo dan uap hitam keluar dari tangan Tee Lo-mo!

Betapa pun lihainya, Siang Lan terdesak oleh pengeroyokan dua orang tokoh Pek-lian-kauw itu.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan dua orang pemuda sudah menerjang maju membantu Siang Lan.

Mereka adalah Sim Tek Kun dan Chang Hong Bu yang tadi mengamuk merobohkan banyak anak buah Pek-lian-kauw dan melihat betapa Siang Lan menghadapi pengeroyokan dua orang pendeta Pek-lian-kauw yang lihai, mereka berdua menerjang maju dan menyerang Thian Lo-mo!

"Trang-cringgg......!"

Thian Lo-mo terhuyung ke belakang ketika dia menangkis dua sinar pedang itu dengan goloknya.

Dia terkejut sekali akan tetapi segera menghadapi serangan dua orang pemuda yang memiliki gerakan pedang amat hebat.

Diam-diam dia mengeluh karena dia benar-benar menghadapi dua orang lawan yang amat tangguh.

Melawan seorang saja dari mereka sudah cukup berat apalagi mereka itu maju bersama.

Sim Tek Kun adalah seorang murid Kun-lun-pai, sedangkan Chang Hong Bu adalah seorang pendekar Siauw-lim-pai!

Tentu saja Thian Lo-mo terdesak hebat dan hanya dapat melindungi diri dengan putaran golok besarnya sambil terus bergerak mundur.

Sementara itu, ditinggalkan seorang diri melawan Hwe-thian Mo-li yang memiliki ilmu pedang amat dahsyat itu, Tee Lo-mo juga segera terdesak hebat.

Pengerahan tenaga sihir dan permainan goloknya semua dikeluarkan namun sia-sia belaka, dia tidak mampu menghindarkan semua sambaran kilat halilintar dari pedang gadis itu dan setelah lewat duapuluh jurus, pedang Siang Lan menyambar lehernya dan Tee Lo-mo roboh dan tewas seketika!

Siang Lan tidak mempedulikannya lagi dan cepat ia mencari dua orang pemuda yang tadi bertanding mengeroyok Thian Lo-mo.

Tak jauh dari situ ia melihat dua orang itu baru saja merobohkan Thian Lo-mo yang tewas terkena sambaran pedang jago-jago muda dari Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai itu.

Pertempuran berlangsung seru, akan tetapi setelah dua orang tokoh besar Pek-lian-kauw itu tewas, semangat para pemberontak menjadi lemah.

Mereka masih melawan mati-matian dan bertahan sampai tengah hari, akan tetapi ketika satu demi satu para pimpinan mereka roboh dan banyak rekan-rekan mereka berjatuhan, mereka menjadi panik.

Akhirnya, tak dapat mereka pertahankan lagi dan mulailah mereka melarikan diri cerai-berai.

Ada yang mencoba untuk bertahan dalam terowongan-terowongan, ada pula yang melarikan diri menggunakan alat peledak yang mengeluarkan asap tebal.

Akan tetapi, akhirnya paling banyak hanya seratus orang saja dari mereka yang berhasil lolos dan melarikan diri.

Lainnya roboh tewas atau luka dan tertawan.

Biarpun di pihak pasukan pemerintah ada pula yang gugur, namun pasukan pemerintah memperoleh kemenangan dalam pertempuran itu dan mereka bersorak gembira ketika membakar bekas-bekas sarang gerombolan di Bukit Cemara itu.

Hampir semua pemimpin gerombolan tewas dalam pertempuran itu.

Akan tetapi, diam-diam Hwe-thian Mo-li dan dua orang pemuda perkasa, Sim Tek Kun dan Chang Hong Bu, tiga para perwira tinggi yang memimpin pasukan pemerintah, kecewa karena mereka tidak menemukan para pembunuh yang dicari-cari oleh Jenderal Chang.

Tadinya Siang Lan menduga bahwa dua orang Thian-te Lo-mo adalah pembunuh-pembunuh itu, akan tetapi setelah ia bersama Tek Kun dan Hong Bu menewaskan mereka, Ia menduga bahwa para pembunuh itu bukan mereka dan agaknya tidak ikut dalam gerombolan yang telah dibasmi itu.

Biarpun demikian, Jenderal Chang Ku Cing merasa gembira akan keberhasilan operasi pembasmian gerombolan pemberontak itu.

Hal ini setidaknya membuat para pemberontak menjadi jerih dan tidak berani main-main di kota raja.

Dan dia pun tetap meningkatkan penjagaan karena siapa tahu, para pemberontak akan melakukan kekacauan seperti itu pula, ialah membunuhi para pejabat tinggi.

Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan ditahan oleh Ong Lian Hong untuk sementara agar tinggal di rumah mereka.

Selain Lian Hong merasa rindu kepada enci angkatnya itu, iapun mempunyai niat yang kuat untuk mendekatkan dan menjodohkan Nyo Siang Lan dengan Chang Hong Bu.

Ia merasa bahwa pemuda keponakan Jenderal Chang itu merupakan jodoh yang tepat sekali bagi Nyo Siang Lan.

Maka ia membujuk suaminya untuk menyetujui kalau mereka mengundang Hong Bu untuk datang bertamu dan bermain di rumah mereka agar memberi kesempatan sebanyaknya kepada dua orang muda itu untuk saling berkenalan lebih akrab lagi.

Bahkan Sim Tek Kun terpaksa memenuhi permintaan yang sangat dari isterinya untuk diam-diam menghubungi Jenderal Chang Ku Cing dan mengajukan usul mereka untuk menjodohkan Chang Hong Bu dengan Nyo Siang Lan.

Jenderal Chang Ku Cing dengan sendirinya merasa setuju sekali karena dia memang pengagum besar Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan.

Dia menyatakan persetujuannya dan berjanji untuk membicarakan hal itu kepada keponakannya.

"Enci Lan, aku ingin mengajakmu untuk mengunjungi Ibu kandungku dan kakek serta Nenekku. Maukah engkau?"

Pada pagi hari itu Lian Hong berkata kepada Siang Lan setelah mereka sarapan pagi.

"Kalian berdua pergilah, aku sendiri harus menghadap Paman Jenderal Chang yang kemarin memesan agar aku pagi ini berkunjung kepadanya karena ada urusan penting yang akan dibicarakan."

Lian Hong tersenyum, maklum bahwa yang akan dibicarakan suaminya dan Jenderal Chang Ku Cing adalah urusan perjodohan antara Chang Hong Bu dan Nyo Siang Lan seperti yang mereka rencanakan.

Akan tetapi ia diam saja karena hal itu masih mereka rahasiakan terhadap Siang Lan sendiri.

Mereka masih khawatir kalau-kalau Siang Lan akan merasa tersinggung dan marah.

Mereka menghendaki agar hubungan antara Siang Lan dan Hong Bu terjadi secara wajar dan timbul keakraban dan kasih sayang di antara mereka.

Kalau sudah begitu keadaannya, maka mudahlah bagi mereka untuk mengusulkan perjodohan tanpa menyinggung perasaan gadis yang keras hati itu.

Siang Lan terkejut akan tetapi juga gembira dan tegang hatinya mendengar disebutnya ibu kandung Lian Hong.

Ibu kandung Lian Hong berarti isteri mendiang gurunya, Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri!

"Ah, aku akan merasa senang dan terhormat sekali bertemu dengan ibu kandungmu atau isteri mendiang Guruku, Hong-moi!"

Katanya.

"Di mana beliau tinggal?"

"Ibuku tinggal di rumah Kakekku, yaitu Jaksa Ciok Gun. Dahulu Kakekku adalah Jaksa di Hun-lam, akan tetapi sudah lama beliau pindah ke kota raja dan menjadi jaksa di daerah bagian selatan kota raja."

Demikianlah, dengan gembira dua orang wanita itu lalu menuju ke bagian selatan kota raja, ke rumah Jaksa Ciok yang menjadi kakek Ong Lian Hong.

Seperti kita ketahui, Ciok Bwe Kim, yaitu ibu kandung Ong Lian Hong, kini tinggal bersama ayahnya, Jaksa Ciok Gun itu.

Mereka naik kereta karena Ong Lian Hong adalah mantu Pangeran Sim Liok Ong, jadi ia kini termasuk seorang wanita bangsawan yang tentu saja tidak pantas kalau melakukan perjalanan dengan jalan kaki!

Dua orang wanita cantik itu disambut dengan gembira bukan main oleh keluarga Ciok.

Jaksa Ciok sudah lama mendengar dan mengagumi nama besar Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan, apalagi gadis perkasa itu adalah murid mantunya, mendiang Ong Han Cu.

Juga Nyonya Ciok Bwe Kim yang kini telah berusia empatpuluh tahun lebih dan masih tampak cantik itu, merasa girang dan terharu sekali.

Ia pun sudah banyak mendengar tentang Nyo Siang Lan, sebagai murid tersayang mendiang suaminya.

Siang Lan dihormati dan disanjung, diterima dengan pesta makan keluarga sehingga gadis itu merasa senang dan berterima kasih.

Ternyata bukan hanya mendiang gurunya saja yang baik terhadap dirinya, melainkan juga isteri gurunya dan keluarganya.

Baru lewat tengah hari mereka berdua naik kereta meninggalkan gedung tempat tinggal Jaksa Ciok Gun untuk kembali ke rumah Pangeran Sim Liok Ong.

Ketika kereta tiba di dekat lapangan terbuka di depan pasar, di seberang jembatan besar, Siang Lan melihat banyak orang berkerumun dan terdengar suara tambur dan canang dipukul seperti biasa dilakukan para penjual obat yang biasa mendemonstrasikan ilmu silat untuk menarik minat penonton agar suka membeli obat yang mereka tawarkan.

Mendengar pukulan tambur dan canang yang berirama gagah dan mengandung tenaga, Siang Lan tertarik dan menyuruh kusir kereta menghentikan keretanya.

Lian Hong tertawa melihat encinya seperti kanak-kanak hendak menonton penjual obat, akan tetapi ia pun ikut turun dan bergembira bersama Siang Lan menghampiri kerumunan orang banyak itu.

Beberapa orang penonton memberi tempat kepada dua orang gadis itu di depan.

Mereka menyingkir dengan sopan ketika melihat bahwa dua orang gadis jelita yang hendak menonton itu turun dari kereta dan melihat sikap mereka seperti gadis-gadis bangsawan.

Siang Lan dan Lian Hong kini melihat dengan hati tertarik.

Ternyata yang dijadikan tontonan itu adalah seorang gadis muda belia dan seorang kakek yang rambutnya sudah putih.

Gadis itu cantik manis, usianya kitar tujuhbelas atau delapanbelas tahun, pakaiannya sederhana dan rapi serba ketat sehingga menonjolkan lekuk lengkung tubuhnya yang laksana bunga sedang mulai mekar.

Adapun kakek tentu sudah berusia sekitar enampuluh tiga tahun, wajahnya tampak ada garis-garis penderitaan, rambutnya putih semua, tampaknya lemah dan pakaiannya juga sederhana seperti pakaian petani.

Kakek itulah yang menabuh canang, sedangkan gadis itu dengan gerakan gagah dan mengandung tenaga, menabuh tambur yang bunyinya seperti derap kaki pasukan atau seperti permainan barong-sai.

Setelah melihat betapa banyak orang mengerumuninya, kakek itu memberi isyarat kepada si Gadis dan mereka menghentikan bunyi-bunyian itu.

Kakek itu lalu memberi hormat sambil membungkuk ke empat penjuru.

Mulailah orang-orang ramai bicara sendiri dan terdengar suara.

"Mana obat yang dijualnya?"

Setelah memberi hormat ke empat penjuru, terdengar suara kakek itu, suaranya lemah dan tidak lantang.

"Cu-wi (Saudara Sekalian) yang terhormat. Sebelumnya kami berdua kakek dan cucu mohon maaf kepada Cu-wi. Kami bukan penjual obat, kami tidak mempunyai sesuatu untuk ditawarkan dan dijual. Akan tetapi karena dalam melakukan perjalanan ini kami kehabisan bekal, maka kami hanya mohon kedermawanan Cu-wi untuk memberi sumbangan dan kami hanya dapat menyuguhkan beberapa permainan silat dari cucu kami yang masih bodoh. Sekali lagi, kalau pertunjukan cucu kami tidak berharga, mohon Cu-wi memaafkan kami."

Setelah berkata demikian, kakek itu mengambil tambur dari tangan cucunya, lalu mulai menabuh tambur itu dengan pukulan yang lemah.

Siang Lan dan Lian Hong melihat bahwa pukulan tambur kakek itu sama sekali berbeda dengan pukulan cucunya yang mengandung tenaga cukup kuat sehingga mereka berdua sudah mengetahui bahwa agaknya hanya Sang Cucu itu yang mahir ilmu silat sedangkan sang Kakek adalah seorang petani biasa yang lemah.

Kini gadis manis itu berdiri tegak lalu memberi hormat keempat penjuru dengan merangkap kedua tangan depan dada.

Setelah itu ia mulai bersilat.

Gerakannya cukup ringan, cepat dan mengandung tenaga.

Bagi Siang Lan dan Lian Hong, gerakan silat gadis itu biasa saja dan belum cukup tinggi, akan tetapi keduanya terkejut dan tertarik sekali karena mengenal bahwa ilmu silat yang dimainkan gadis itu adalah ilmu silat Kun-lun-pai!

Gadis itu memiliki ilmu silat aliran Kun-lun-pai, satu perguruan dengan Sim Tek Kun!

Tentu saja hal ini amat menarik perhatian mereka, terutama sekali perhatian Lian Hong karena gadis itu masih memiliki hubungan seperguruan dengan suaminya.

Akan tetapi ketika ia hendak menyapa, lengannya dipegang Siang Lan dan Hwe-thian Mo-li memberi isyarat agar adik angkatnya itu diam dan melihat saja perkembangannya.

Setelah gadis itu selesai bersilat selama belasan jurus dan berhenti bergerak, terdengar tepuk tangan memuji dari para penonton.

Bagi para penonton, terutama yang tidak mahir ilmu silat, permainan silat itu cukup mengagumkan, apalagi karena memang gadis itu cukup cantik dan terutama sekali memiliki bentuk tubuh yang denok menggairahkan hati pria, terutama yang memiliki watak mata keranjang.

Pada saat itu Sang Kakek membawa sebuah caping lebar yang ditelentangkan dan dia berjalan menghampiri para penonton dan mengelilingi tempat itu sambil mengacungkan caping mohon sumbangan.

Hampir semua orang melemparkan sepotong atau sekeping uang ke dalam caping, yang diterima dengan wajah berseri dan muka mengangguk-angguk oleh kakek itu.

Setelah berputar sekeliling dan sudah cukup banyak uang terkumpul dalam caping, kakek itu lalu melangkah ke tengah lapangan, meletakkan capingnya di atas tanah lalu dia memberi hormat lagi ke empat penjuru.

"Banyak terima kasih atas sumbangan Cu-wi. Sudah sering kami mendengar bahwa para penghuni kota raja adalah orang-orang dermawan, dan baru siang hari ini kami melihat buktinya. Terima kasih banyak, sumbangan Cu-wi dapat menyambung hidup kami selama beberapa hari."

Tiba-tiba muncul seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dari kerumunan penonton.

Dia seorang laki-laki berusia sedikitnya tigapuluh lima tahun, wajahnya bopeng (bekas cacar) dan matanya lebar, tubuhnya kokoh kuat dan wajahnya bengis.

Dia sudah berdiri dekat kakek itu dan berkata dengan suaranya yang lantang.

"Enak saja engkau orang tua mengumpulkan uang orang tanpa memberi sesuatu! Ini namanya penipuan! Orang menerima uang harus memberi sesuatu, akan tetapi kalian tidak memberi apa-apa, obat juga tidak. Bagaimana mau enaknya saja mengambil uang orang-orang? Engkau penipu!"

Kakek itu memandang dengan kaget.

"Tuan, maaf, kami memang tidak mempunyai apa-apa untuk diberikan. Akan tetapi cucu saya tadi sudah menghibur dengan permainan silatnya......"

"Huh, apa artinya menonton gerakan silat yang begitu saja? Biasanya untuk menghibur orang-orang diadakan pertunjukan yang lebih ramai, setidaknya untuk permainan silat diadakan pertunjukan pi-bu (adu ilmu silat). Kalau ada pi-bu, nah, itu baru namanya pertunjukan dan kami semua akan senang mengeluarkan uang. Akan tetapi kalian ini tidak memberi pertunjukan apa-apa. Kalau mau mengemis, lakukan saja seperti biasa, duduk berjongkok di tepi jalan dan mengacungkan tangan mohon sedekah!"

Di antara para penonton, terdapat pula banyak orang muda yang biasa bersikap berandalan.

Mendengar ucapan itu mereka bersorak dan mentertawakan kakek yang tampak bengong ketakutan itu.

Lian Hong sudah hendak maju, akan tetapi kembali Siang Lan menahan lengannya can menggelengkan kepalanya.

Kini gadis manis itu menghampiri kakeknya dan berkata.

"Kong-kong, minggirlah, biarkan aku yang bicara dengan Tuan ini."

Mendengar ini, kakek itu minggir dengan wajah pucat dan tampaknya dia gelisah sekali akan keselamatan cucunya.

"Tuan, kami tidak mengenal Tuan, juga kami tidak mempunyai urusan denganmu, apalagi mengganggumu. Akan tetapi mengapa sekarang engkau hendak mengganggu kami yang hanya sekedar minta bantuan kepada para budiman ini karena bekal kami telah habis. Apa sih kesalahan kami kepadamu?"

Si Tinggi Besar muka bopeng itu kini memandang kepada gadis itu sambil menyeringai.

Mulutnya yang lebar terbuka dan dia memperlihatkan giginya yang besar-besar dan banyak yang rusak hitam, seperti seekor orang utan menyeringai.

"Nona, engkau seorang gadis yang masih muda dan begini cantik, sungguh sayang Kakekmu membiarkan engkau mencari uang dengan menjadi tontonan. Akan tetapi karena engkau sudah memperlihatkan ilmu silatmu, aku menjadi tertarik dan aku menantangmu untuk melakukan pi-bu."

"Tuan, kami datang di sini bukan untuk mencari permusuhan, juga bukan untuk pamer kepandaian apalagi untuk pi-bu. Aku tidak mau melakukan pi-bu dengan siapapun juga,"

Jawab gadis itu dengan sikap tenang.

"Ha-ha, kalau engkau yang sudah berani memperlihatkan ilmu silat menolak pi-bu, maka berarti engkau mengaku kalah. Sekarang begini saja, aku juga bukan orang yang mau menang sendiri. Disaksikan oleh semua penonton di sini, mari kita membuat pertaruhan begini. Kita bertanding pi-bu dengan tangan kosong.

"Kalau aku kalah, maka uang sumbangan dalam caping itu akan kutambah lagi dengan lima tail perak dan engkau boleh bebas mencari sumbangan di sini. Akan tetapi kalau engkau kalah, uang dan ditambah lima tail perak tetap kuberikan kepadamu, akan tetapi engkau harus mau menjadi kekasihku selama satu bulan! Ha-ha, adil sekali, bukan?"

Wajah gadis itu berubah merah sekali, akan tetapi ia masih tenang walaupun kakeknya tampak pucat dan gemetaran.

"Hemm, begitukah keinginanmu? Dan bagaimana tandanya kalah atau menang?"

Tanya Si Gadis, sedangkan para penonton menjadi tegang dan memandang penuh perhatian.

Sudah biasa bagi penonton, suka sekali mereka menyaksikan ketegangan, apalagi akan menyaksikan pi-bu dan di antara mereka bahkan sudah banyak yang diam-diam ikut bertaruh!

"Tentu saja siapa yang roboh dianggap kalah!"

Kata laki-laki itu.

"Ha-ha-ha, aku Si Tinju Maut Koan Sek kalau sampai kalah oleh Nona manis ini, mau mencium kakimu yang mungil, Nona!"

Dia tertawa diikuti banyak pemuda yang tertawa secara kurang ajar. Melihat Lian Hong marah-marah, Siang Lan berbisik.

"Kita lihat saja dulu. Simpan marahmu, kalau engkau marah dan benci, jangan-jangan anakmu kelak bisa seperti dia."

Diingatkan demikian, Lian Hong terkejut dan segera menenangkan diri karena ia merasa ngeri kalau sampai anaknya kelak keluar seperti si Bopeng itu.

Diam-diam ia mengelus perutnya!

Gadis itu memberi isyarat kepada kakeknya untuk menyingkirkan caping itu ke pinggir, kemudian ia mengikat sabuknya sehingga ketat melingkari pinggangnya yang ramping, menggulung lengan bajunya sampai ke siku.

Kemudian ia berdiri dengan tenang, menanti lawannya dan setelah berhadapan, ia lalu menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka orang itu dan berkata dengan suara lantang dan tegas.

"Koan Sek, buka telingamu dan dengarkan baik-baik, disaksikan oleh semua penonton di sini, nonamu she Siauw akan mengucapkan pendirianku! Boleh jadi kakekku dan aku adalah orang-orang miskin berasal dari dusun, tidak memiliki kekayaan dan tidak memiliki kepandaian, melainkan orang-orang sederhana dan bodoh. Akan tetapi, ketahuilah, hai orang yang menjadi budak nafsu, kami adalah manusia-manusia yang masih memiliki kesusilaan, kesopanan, jalan kebenaran, yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, tidak sudi melakukan hal-hal yang rendah dan hina! "Engkau memaksa aku untuk pi-bu, kalau aku menolak tentu aku akan dianggap pengecut. Tidak, aku tidak menolak. Guruku mengajarkan aku selain ilmu silat juga tentang kegagahan dan harga diri. Kalau aku bisa menangkan pertandingan ini, aku tidak butuh uangmu, tidak butuh apa-apa darimu. Akan tetapi kalau aku kalah darimu, aku pun tidak sudi menuruti semua keinginanmu yang hina dan rendah. Kalau kau hendak bunuh aku, silakan, aku tidak takut mati membela kehormatan diriku!"

Ucapan itu membuat Siang Lan dan Lian Hong tertegun dan terkagum-kagum.

Bukan main gadis remaja ini.

Demikian gagahnya seolah ia seorang pendekar besar saja!

Dan agaknya banyak pula para penonton yang merasa kagum karena tepuk tangan riuh menyambut ucapan itu, membuat Koan Sek yang berjuluk Si Tinju Maut itu menjadi salah tingkah dan mukanya yang bopeng tampak hitam karena semua darah berkumpul di sana.

"Gadis sombong, rasakan pukulan mautku!"

Dia berseru dan mulai menyerang dengan pukulan yang amat kuat ke arah dada yang membusung itu.

Baru pukulan ke arah dada gadis itu saja sudah merupakan cara serangan yang tidak mengenal sopan, padahal pertandingan itu hanyalah sebuah pi-bu.

Jelas bahwa Koan Sek ini adalah golongan orang yang kasar dan kejam.

"Wuuttt......!"

Pukulan itu luput ketika gadis yang mengaku she Siauw itu mengelak dengan gerakannya yang cukup ringan.

Akan tetapi tamparan ke arah dada yang luput itu dilanjutkan oleh Koan Sek dengan mencengkeram ke arah dada!

Gadis itu menggerakkan tangan kanan dari luar dan menangkis.

"Plakk!"

Ia berhasil menangkis walaupun ia merasa betapa kuatnya lengan besar laki-laki itu sehingga tubuhnya agak condong ke samping ketika lengan mereka bertemu.

Akan tetapi gadis itu dengan sigapnya lalu menggerakkan kakinya menendang ke arah lambung lawan.

"Wuuuttt...... plakk!"

Koan Sek dapat, menangkis tendangan ini dan mereka segera saling serang dengan seru.

Siang Lan dan Lian Hong melihat betapa gerakan gadis itu sudah baik dan aseli merupakan ilmu silat Kun-lun-pai, akan tetapi agaknya ia masih belum menguasai ilmu silatnya dengan matang.

Gerakannya cukup lincah dan tubuhnya ringan, akan tetapi tenaganya masih kurang kuat sehingga tiap kali tangan atau kaki mereka berbenturan, tubuh gadis itu terhuyung mundur.

Melihat ini, Koan Sek sudah tertawa-tawa mengejek.

Sikap sombong dan memandang rendah lawan merupakan sikap yang dipantang oleh seorang ahli silat yang sudah mendalami ilmunya karena sikap ini mendatangkan kelengahan kepada dirinya sendiri.

Hal ini terbukti ketika perkelahian itu telah berlangsung belasan jurus di mana Koan Sek terus mendesak gadis itu sambil tertawa-tawa dan mengeluarkan ucapan yang tidak senonoh.

Pada saat dia berhenti menyerang untuk tertawa bergelak, tiba-tiba tubuh gadis itu menyambar dengan cepat sekali sambil menendang dengan tubuh melompat tinggi!

Koan Sek terkejut dan cepat ia menangkap kaki kiri gadis itu yang menyambar ke arah mukanya.

"Plakk!"

Dia berhasil menangkap pergelangan kaki kiri gadis itu, akan tetapi tiba-tiba kaki kanan gadis itu menendang dengan pengerahan seluruh tenaganya bertekankan kepada kaki kirinya yang ditangkap.

"Wuuttt...... desss......!"

Sepatu kaki kanan gadis itu tepat mengenai ulu hati Koan Sek sehingga tubuhnya terjengkang dan dia terbanting jatuh demikian kuatnya sehingga sejenak dia menjadi nanar dan matanya melihat segala sesuatu berputar-putar.

Ketika mendengar sorak-sorai dan tepuk tangan penonton, dia menyadari keadaannya.

Cepat dia melompat berdiri, menggoyang kepalanya mengusir kepeningan dan di lain saat dia telah mencabut sebatang golok dari pinggangnya!

Para penonton ada yang menjerit-jerit ketika melihat Koan Sek dengan golok telanjang kini menerjang dan menyerang gadis itu membabi buta!

Gadis itu mencoba untuk berloncatan ke kanan kiri mengelak dari sambaran golok, akan tetapi tiba-tiba kaki kiri Koan Sek menendang, mengenai pahanya dan gadis itu pun terpelanting.

Bagaikan binatang buas, Koan Sek yang marah dan malu karena tadi dirobohkan gadis itu, mengejar dengan loncatan dan mengayun goloknya ke atas untuk dibacokkan ke arah gadis itu.

Gadis itu sudah terjatuh miring dan agaknya ia tidak akan mampu menghindarkan dirinya dari bacokan, akan tetapi ia sama sekali tidak tampak takut, bahkan memandang kepada penyerangnya dengan mata mencorong penuh kemarahan!

Golok di tangan Koan Sek terayun turun dan......

"Desss......!!"

Tubuh Koan Sek terpental dan dia terbanting jatuh di atas tanah.

Dia hanya merasa dirinya disambar halilintar sehingga tidak dapat melihat jelas bahwa sesungguhnya tadi ada seorang pemuda gagah perkasa melompat dan menendangnya sambil melompat.

Pemuda itu bukan lain adalah Chang Hong Bu.

Pemuda yang kebetulan sedang lewat di situ dan melihat rame-rame itu lalu datang menonton dan melihat Koan Sek hendak menyerang seorang gadis dengan goloknya, dia menjadi marah dan sekali terjang, tubuh Koan Sek terlempar!

Pada saat itu, muncul dua orang laki-laki yang usianya sekitar empatpuluh tahun.

Mereka ini adalah kakak-kakak seperguruan dari Koan Sek.

Mereka bertiga pada hari itu memasuki kota raja untuk pelesir dan bersenang-senang.

Karena mereka adalah tiga orang seperguruan yang biasa memaksakan kehendak melakukan kekerasan dan merasa diri mereka jagoan, maka tadi melihat gadis manis itu, Koan Sek menjadi iseng dan ingin memamerkan kepandaiannya, juga ingin mempermainkannya karena dia termasuk seorang laki-laki hidung belang yang suka mempermainkan wanita.

Kini, melihat adik seperguruan mereka ditendang seorang pemuda, dua orang kakak seperguruan Koan Sek menjadi marah dan mereka sudah melompat memasuki kalangan sambil mencabut golok masing-masing.

"Keparat, jangan main keroyokan!"

Bentak orang yang bertubuh tinggi kurus dan mukanya pucat seperti berpenyakitan.

Akan tetapi orang kedua, yang bertubuh pendek gemuk dan matanya sipit sekali seperti terpejam, sudah menyerang Chang Hong Bu dengan goloknya.

Permainan golok Si pendek Gendut itu ternyata cepat dan kuat sekali, jauh lebih cepat dibandingkan gerakan Koan Sek.

Akan tetapi dengan mudah saja Hong Bu mengelak.

Sementara itu, Si Tinggi kurus muka pucat juga sudah menggerakkan goloknya hendak mengeroyok, akan tetapi Lian Hong sudah melompat ke dalam lapangan itu dan membentak.

"Jahanam-jahanam busuk dari mana berani mengacau di sini?"

Melihat wanita yang cantik jelita muncul di depannya, Si Tinggi kurus menyeringai.

"Ah, kalau harus melukaimu, aku tidak tega, Nona manis! Minggirlah jangan sampai golokku melukai kulitmu yang lembut dan mulus!"

Lian Hong marah sekali.

"Keparat busuk!"

Dan ia pun sudah menerjang dengan tamparan tangan kirinya yang mendatangkan angin dahsyat sehingga Si Tinggi kurus terkejut bukan main dan melompat ke belakang.

Kini Koan Sek yang melihat kedua suhengnya maju, mendapat hati dan dia pun sudah bangkit berdiri lalu melangkah lebar menghampiri gadis pemain silat tadi dengan golok masih di tangan.

Akan, tetapi tiba-tiba tampak sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan sudah berada di depannya.

Koan Sek yang mata keranjang sampai bengong melihat gadis yang cantik ini berdiri di depannya.

"Manusia busuk, mampuslah kau!"

Siang Lan berseru, tubuhnya berputar dan kaki kirinya mencuat dalam tendangan berputar.

"Syuuttt...... desss......!!"

Tubuh Koan Sek terkena tendangan tepat di dadanya sehingga tubuhnya terlempar dan dia jatuh terbanting dengan keras!

Sebelum dia dapat merangkak bangun, sekali tubuh Siang Lan melayang ia sudah tiba di depan laki-laki muka bopeng itu dan kembali kakinya menendang.

Kini yang menjadi sasaran adalah pergelangan tangan kanan Koan Sek yang memegang golok.

"Wuuttt...... krekk!"

Tulang pergelangan tangan itu patah-patah dan goloknya terlempar jauh.

"Aduhh......!"

Koan Sek menjerit dan memegangi pergelangan tangan kanan dengan tangan kirinya.

Sementara itu, pertandingan antara si Tinggi kurus melawan Lian Hong juga berat sebelah.

Baru tiga kali membacok dan selalu luput, tangan kiri Lian Hong menampar dan tepat mengenai pipi kanan si Tinggi kurus.

"Wuutt...... krekk......!"

Tulang rahang pipi kanan si Tinggi kurus patah-patah dan tendangan kedua membuat goloknya terlempar.

Si Tinggi kurus menjerit kesakitan dan terpelanting keras, memegangi rahangnya yang pecah-pecah berdarah.

Demikian pula, si Gendut Pendek bukan lawan Hong Bu.

Baru dua gebrakan saja dia pun sudah roboh tertendang dan goloknya juga terpental jauh.

Si Tinggi kurus yang mencoba bangun, kembali harus terbanting oleh tendangan susulan Lian Hong.

Demikian pula Si pendek Gendut dijadikan bola ditendang ke sana sini oleh Hong Bu sehingga dia berkaok-kaok kesakitan.

Pada saat itu, banyak orang mengenal tiga orang muda perkasa ini.

Melihat Siang Lan, ada yang berteriak.

"Ah, ia adalah Hwe-thian Mo-li! Mampuslah orang-orang jahat ini!"

Mendengar disebutnya nama Hwe-thian Mo-li, Koan Sek dan dua orang suhengnya terkejut setengah mampus.

Nyali mereka terbang dan mereka bertiga segera menjatuhkan diri berlutut menghadapi tiga orang itu, menyembah-nyembah dan membenturkan dahi mereka ke atas tanah berulang-ulang seperti tiga ekor ayam sedang makan beras.

"Ampunkan hamba...... ampunkan hamba...... ampunkan hamba......"

Berulang-ulang mereka bergumam dan tentu saja suara si Tinggi kurus muka pucat itu tidak karuan karena rahangnya yang pecah-pecah membuat dia tidak dapat mengeluarkan suara dengan jelas.

Si Pendek Gendut saking takutnya mengeluarkan suara seperti seekor babi gendut disembelih dan yang lucu dan mengherankan adalah Koan Sek sendiri.

Orang tinggi besar berwajah menyeramkan ini saking takutnya kini menangis, mengguguk seperti anak kecil dan melihat betapa di bawah tubuh mereka basah, sukar diketahui siapa di antara mereka yang mengompol saking takutnya.

Mungkin ke tiganya!

Para penonton melihat betapa jauh bedanya sikap tiga orang ini dengan sikap gadis manis tadi.

Dalam keadaan terancam maut, gadis tadi bersikap gagah perkasa dan sama sekali tidak gentar menghadapi ancaman maut, sedangkan tiga orang yang sombong dan tampak gagah ini, begitu terancam maut menjadi ketakutan seperti orang-orang yang berjiwa pengecut!

Kini Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan telah dapat mengenal gadis manis itu.

Melihat kakek itu dan gadis ini, ia tidak ragu lagi bahwa gadis itu adalah Siauw Kim, gadis yang pernah ditolongnya dari tangan Hartawan Siong Tat yang hendak memaksa gadis itu menjadi pemainannya.

Ia berhasil membunuh Siong Tat dan menghajar para jagoannya, membebaskan Siauw Kim dan kakeknya itu yang bernama Lim Bun, seorang petani dari dusun Kang-leng.

Siang Lan masih sangsi karena setahunya, tiga-empat tahun yang lalu Siauw Kim adalah gadis remaja yang lemah dan tidak pandai silat.

Sekarang, walaupun ilmu silatnya belum matang, namun jelas ia memiliki dasar ilmu silat aliran Kun-lun-pai!

Mengingat akan nasib Siauw Kim dan melihat kegagahannya, hati Siang Lan menjadi panas sekali kepada tiga orang laki-laki jahat itu.

Diambilnya golok mereka yang tergeletak di atas tanah, lalu ia berseru.

"Sebetulnya tiga orang jahanam macam kalian tidak berhak hidup di dunia ini karena hanya akan menimbulkan kekacauan dan kejahatan. Akan tetapi aku, Hwe-thian Mo-li tak pernah memberi ampun kepada jahanam laki-laki yang memandang rendah wanita tanpa memberi hukuman yang setimpal."

Setelah berkata demikian, golok di tangannya berkelebat tiga kali bagaikan halilintar menyambar dan tiga orang penjahat itu menjerit kesakitan, bukit hidung mereka terbabat buntung dan darah muncrat membasahi muka mereka!

"Nah, pergilah kalian anjing-anjing keparat!

Kalau aku melihat muka kalian muncul di kota raja lagi, kepalamu yang akan kubuntungi!"

Setelah berkata demikian, kaki Siang Lan menendang tiga kali dan tubuh mereka terpental dan jatuh bergulingan.

Sambil menangis kesakitan tiga orang itu lalu terhuyung-huyung setengah merangkak, melarikan diri dari tempat itu.

Para penonton merasa senang akan tetapi juga merasa ngeri sehingga satu demi satu mereka membubarkan diri meninggalkan tempat itu.

Ketika Siang Lan memandang dan mencari gadis tadi, ternyata gadis itu bersama kakeknya kini sedang berlutut di depan kaki Chang Hong Bu.

Agaknya gadis itu menangis dan terdengar suaranya yang penuh keharuan.

"Kalau tidak ada Tai-hiap yang menolong saya dan kong-kong, kami berdua tentu telah tewas di tangan orang-orang jahat itu. Kami berhutang budi dan nyawa kepada Tai-hiap, dan kami bersedia mengorbankan jiwa raga kami untuk membalas kebaikan Tai-hiap. Kalau kami tidak mampu membalasnya, kami akan bersembahyang setiap hari mohon kepada Thian (Tuhan) agar Dia yang membalas budi kebaikan Tai-hiap kepada kami."

Melihat gadis itu dan kakeknya berlutut di depan kakinya, Hong Bu menjadi serba salah.

Untuk membangunkan gadis itu, dia harus menyentuhnya dan hal ini dia tidak mau melakukannya karena tentu dianggap kurang sopan.

Kalau tidak dibangunkan, dia merasa rikuh sekali dua orang kakek dan cucu itu berlutut seperti itu di depan kakinya.

"Nona dan engkau, Kakek yang baik, bangkitlah dan jangan berlutut seperti ini!"

Katanya, akan tetapi gadis itu tidak mau bangkit dan kakeknya pun agaknya hanya ikut-ikutan tidak mau bangkit berdiri.

Melihat Siang Lan dan Lian Hong memandang ke arah mereka, Hong Bu lalu berseru kepada Siang Lan.

"Lan-moi, tolonglah, bangkitkan mereka......"

Siang Lan menghampiri dua orang yang masih berlutut itu sedangkan Hong Bu sudah mundur menjauhkan diri sehingga mereka tidak lagi berlutut di depan kakinya.

"Siauw Kim, engkaukah ini? Dan bukankah ini kakek Lim Bun yang dulu tinggal di Kang-leng?"

Gadis itu memang Siauw Kim adanya dan kakeknya adalah Kakek Lim Bun.

Tiga empat tahun yang lalu ketika dalam keadaan miskin, terpaksa untuk mengobati cucunya Kakek Lim Bun menggadaikan cucunya, Siauw Kim, kepada Hartawan Siong Tat, hampir saja Siauw Kim menjadi korban kejahatan Siong Tat yang mata keranjang dan hampir Kakek Lim Bun bunuh diri.

Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan menolong mereka, bahkan membunuh Hartawan Siong Tat dan menghancurkan rumah tangga gadai, menghajar para anak buah pegadaian itu.

Ketika Siauw Kim memandang dan melihat Siang Lan, segera ia teringat maka ia pun menubruk kaki Siang Lan sambil menangis.

Juga Kakek Lim mengenal Siang Lan.

"Ah, kiranya engkau juga yang menolong kami, Li-hiap!"

Katanya. Siang Lan menarik bangun Siauw Kim dan memandangi gadis itu dengan kagum. Gadis remaja dahulu itu kini telah dewasa dan cukup cantik manis dan gagah.

"Bagaimana kalian dapat berada di kota raja dan mengapa kalian tadi mencari sumbangan?"

"Aih, Li-hiap. Panjang ceritanya......"

Kata Siauw Kim.

"Enci Lan, tidak baik bicara di sini. Mari kita ajak Adik ini dan kakeknya ke rumah dan kita bicara di sana! Kakak Chang Hong Bu, karena sudah saling bertemu di sini secara kebetulan, mari engkau ikut dengan kami."

Ajakan Lian Hong ini diterima senang oleh Hong Bu karena memang tadinya Hong Bu bermaksud pergi mengunjungi Siang Lan, gadis yang telah memikat hatinya.

Setelah tiba di rumah Pangeran Sim Liok Ong, mereka disambut oleh Sim Tek Kun dan mereka semua mengajak Siauw Kim dan kakeknya ke dalam ruangan tamu.

Lian Hong menceritakan dengan singkat kepada suaminya tentang Siauw Kim dan kakeknya.

Kemudian tiba giliran Siang Lan untuk bercerita kepada mereka tentang Siauw Kim dan Lim Bun yang ditolongnya sekitar tiga tahun lebih yang lalu di Kang-leng.

Setelah itu, Siang Lan memegang tangan Siauw Kim dan bertanya.

"Nah, sekarang tiba giliranmu, Siauw Kim. Ceritakan keadaan dirimu sejak kita saling berpisah. Bagaimana engkau kini dapat menjadi murid Kun-lun-pai dan bagaimana pula engkau sampai tiba di kota raja."

Siauw Kim lalu menceritakan riwayatnya.

Setelah dulu ditolong Siang Lan, gadis remaja itu masih mengalami banyak kesengsaraan lagi.

Ibunya dan tiga orang adiknya mati satu demi satu karena wabah penyakit yang mengamuk.

Kakek Lim Bun terpaksa membawa cucunya yang tinggal seorang itu pergi meninggalkan dusun Kang-leng yang diserang wabah.

Akan tetapi di tengah perjalanan yang sengsara itu, tiba-tiba Kakek Lim Bun jatuh sakit pula.

Agaknya wabah itu telah menular kepadanya juga.

Mujur baginya, dalam keadaan setengah mati di lereng sebuah bukit, mereka berdua bertemu dengan seorang pertapa miskin sederhana yang dapat mengobati kakek Lim Bun sampai sembuh.

Mendengar riwayat Siauw Kim yang penuh kesengsaraan, pertapa itu lalu mengijinkan Siauw Kim dan kakeknya tinggal di bukit tempat dia bertapa, hidup sederhana dan Siauw Kim lalu dilatih ilmu silat olehnya.

"Akan tetapi sungguh nasib kami amatlah buruknya, Li-hiap,"

Kata Siauw Kim dan tiba-tiba gadis itu menangis. Lim Bun juga menundukkan mukanya yang telah keriputan dan menghela napas berulang-ulang.

"Nanti dulu, Nona!"

Tiba-tiba Sim Tek Kun berkata.

"Siapakah pertapa yang melatih silat kepadamu itu? Apakah dia seorang tokoh Kun-lun-pai?"

Dia tadi sudah mendengar dari isterinya bahwa Siauw Kim tadi memperlihatkan ilmu silat Kun-lun-pai. Siauw Kim menyusut air matanya.

"Nama Suhu hanya saya ketahui julukannya saja karena beliau tidak pernah menceritakan nama aselinya. Julukannya Kim-gan-liong......"

Tentu saja Tek Kun, Lian Hong, dan Siang Lan terkejut sekali mendengar ini.

"Ah, kiranya gurumu itu adalah Susiok Kim-gan-liong!"

Seru Tek Kun.

"Dan di mana beliau sekarang?"

Siauw Kim menangis lagi.

"Itulah, nasib kami sungguh selalu buruk. Setelah hidup tenang dan tenteram bersama Suhu, walaupun dalam keadaan sederhana sekali, selama hampir tiga tahun, Suhu...... meninggal dunia......"

"Beliau meninggal......?"

Tek Kun berseru kaget.

"Akan tetapi kenapa? Bagaimana beliau yang belum tua benar sampai meninggal?"

Siauw Kim menggelengkan kepala dengan sedih.

"Sejak hidup bersamanya, kami melihat Suhu seperti hidup dalam timbunan duka. Beliau tidak pernah tampak gembira, bahkan seringkali tampak gelisah dan berduka, dan kesehatannya sering terganggu. Akhir-akhir ini beliau sering batuk-batuk dan...... kalau batuk terkadang mengeluarkan darah...... dan pada suatu malam, sekitar empat bulan yang lalu, Suhu meninggal dunia......"

"Aih, kasihan susiok......"

Sim Tek Kun menghela napas panjang.

Lian Hong dan Siang Lan juga menundukkan muka mereka.

Dahulu, mereka menganggap bahwa Kim-gan-liong merupakan seorang di antara musuh besar yang mengeroyok dan membunuh guru mereka, Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu ayah kandung Ong Lian Hong.

Akan tetapi kemudian Siang Lan mengetahui bahwa Kim-gan-liong sama sekali tidak ikut mengeroyok, melainkan dia mengajak pi-bu Pat-jiu Kiam-ong karena memang pi-bu merupakan kesukaan Kim-gan-liong.

Agaknya peristiwa itu, walaupun dia tidak ikut mengeroyok namun menjadi penyebab tewasnya Pat-jiu Kiam-ong yang diracuni dan dikeroyok banyak orang.

Hal itu meracuni hatinya sehingga dia sakit-sakitan, menjadi pertapa dan dalam usia yang belum tua, baru sekitar limapuluh empat tahun, telah meninggal karena digerogoti penyakit yang timbul dari penyesalan dan duka!

"Siauw Kim, setelah gurumu meninggal, lalu engkau dan kakekmu pergi ke kota raja?"

Siang Lan bertanya.

Seperti yang telah dilakukan sejak tadi dan ini tidak luput dari perhatian Siang Lan, Siauw Kim mengerling ke arah wajah Chang Hong Bu, kerling tajam yang mengandung penuh kekagumanan terima kasih!

"Sebelum meninggal dunia Suhu memesan kepada saya, karena saya sudah tidak mempunyai keluarga lain kecuali kong-kong, Suhu memerintahkan saya untuk pergi ke kota raja.

Kami orang miskin, Suhu juga tidak mempunyai apa-apa.

Setiap hari kami hanya makan dari tanaman di lereng bukit.

Maka ketika kami berangkat kami tidak membawa bekal uang, hanya membawa bahan makanan.

"Akan tetapi setelah bahan makanan habis, terpaksa kami...... minta sumbangan dan untuk balas jasa, saya memperlihatkan ilmu silat yang pernah saya pelajari dari Suhu selama tiga tahun ini. Saya dan kong-kong tidak tahu bagaimana harus mencari uang untuk sekedar makan dan kami hanya mengharapkan belas kasihan dan kedermawanan orang.

"Setiba kami di sini, kami kehabisan uang dan terpaksa tadi saya dan kong-kong minta sumbangan sekadarnya. Sama sekali tidak kami sangka akan muncul tiga orang jahat itu. Ah, kalau saja tidak ada...... In-kong (Tuan Penolong) ini...... ah, tentu kami kakek dan cucu telah menjadi korban......"

"Nanti dulu, Siauw Kim. Kenapa gurumu menyuruh engkau dan kakekmu pergi ke kota raja? Apa tujuan kalian datang ke kota raja ini?"

Tanya Siang Lan.

"Suhu berpesan agar kami mencari seorang murid keponakan suhu yang berada di kota raja dan suhu mengharapkan agar murid keponakannya itu dapat membantu dan memberi jalan demi kebaikan hidup kami kakek dan Cucu." (Lanjut ke

Jilid 12) Lembah Selaksa Bunga (Seri ke 02 Serial Iblis dan Bidadari) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12

"Siapakah murid keponakan Gurumu itu, Siauw Kim?"

Tanya Siang Lan sambil mengerling kepada Sim Tek Kun.

Sim Tek Kun dan isterinya juga memandang Siauw Kim dengan hati tegang karena mereka berdua sudah menduga siapa yang dimaksudkan Siauw Kim sebagai murid keponakan Kim-gan-liong itu.

"Kata Suhu, murid keponakannya itu adalah putera seorang pangeran dan bernama Sim Tek Kun,"

Kata Siauw Kim yang sama sekali tidak pernah mengira bahwa orang yang disebut namanya itu berada di depannya.

"Hemm, Siauw Kim, apakah engkau pernah bertemu dengan murid keponakan Gurumu itu?"

Desak Siang Lan. Siauw Kim menggelengkan kepalanya dan lagi-lagi ia mengerling kepada Chang Hong Bu yang ikut mendengarkan.

"Nah, kalau begitu kuperkenalkan. Dia inilah putera pangeran yang bernama Sim Tek Kun dan ini adalah isterinya, Ong Lian Hong adikku,"

Kata Siang Lan sambil menudingkan telunjuknya kepada Tek Kun. Tentu saja Siauw Kim terkejut bukan main dan ia pun cepat menjura dengan hormat kapada Sim Tek Kun dan Ong Lian Hong.

"Ah...... kiranya Paduka......"

"Hushh, jangan menyebut Paduka kepada suamiku, Siauw Kim,"

Kata Lian Hong.

"Bagaimanapun juga, engkau masih merupakan adik misan seperguruan dari suamiku. Engkau dan suamiku satu perguruan, sama-sama murid Kun-lun-pai, maka engkau adalah Sumoinya (Adik Perempuan seperguruan) dan suamiku adalah Suhengmu (Kakak laki-laki Seperguruanmu)."

"Ah, mana saya pantas menjadi adik seperguruan beliau......?"

Bantah Siauw Kim dengan sungkan.

"Sumoi Siauw Kim, jangan bersikap begitu. Isteriku benar, bagaimanapun juga engkau adalah murid mendiang Susiok Kim-gan-liong, berarti engkau adalah Sumoiku dan aku adalah Suhengmu."

Siauw Kim merasa terharu bukan main. Sambil mengusap air matanya, ia berkata.

"Ah, engkau sungguh seorang yang berbudi mulia dan isterimu juga seorang yang baik sekali, Suheng. Ternyata benar seperti yang diceritakan mendiang Suhu, bahwa Suheng seorang bangsawan tinggi akan tetapi berwatak seorang pendekar sejati."

"Pangeran...... terimalah hormat dan terima kasih kami!"

Kata Kakek Lim Bun sambil menjura dengan hormat.

"Cukup, Kakek Lim Bun, tidak perlu memakai banyak peradatan,"

Kata Sim Tek Kun.

"Akan tetapi, Sumoi, aku masih merasa heran dan tidak mengerti, apa maksud mendiang Susiok Kim-gan-liong menyuruh engkau dan kakekmu datang kepadaku. Apa yang dapat kami lakukan untukmu?"

Mendengar pertanyaan ini, Siauw Kim tampak bingung dan ia saling berpandangan dengan kakeknya, lalu dengan suara lirih ia berkata.

"Suheng...... Suhu hanya berpesan agar kami menghadap suheng dan...... dan mohon petunjuk dan menolong kami...... ah, saya...... saya tidak tahu harus bilang apa......"

Kakek Lim Bun segera membantu cucunya.

"Pangeran, saya mohon dapat diberi pekerjaan. Pekerjaan apa saja, yang penting kami berdua mendapatkan tempat tinggal dan dapat makan setiap hari......"

Siauw Kim memotong ucapan kakeknya.

"Suheng, kami berdua tidak membutuhkan yang berlebihan. Kami hanya butuh pekerjaan yang tetap agar kami berdua tidak perlu lagi merantau tanpa tempat tinggal yang tetap dan minta-minta sumbangan untuk biaya hidup kami sehari-hari. Saya siap untuk membantu keluarga dan rumah tangga Suheng, menjadi pelayan misalnya...... dan kakek saya juga dapat membantu, menjadi tukang kebun atau apa saja. Kami tidak takut bekerja keras......"

Semua orang terharu mendengar ucapan gadis yang lugu dan bersemangat itu.

Chang Hong Bu yang sejak tadi mendengarkan dengan penuh perhatian merasa kasihan akan tetapi juga kagum.

Baru sekali ini dia bertemu seorang gadis dusun sederhana yang demikian gagah berani, jujur dan bersemangat tinggi menjaga nama dan kehormatannya, juga tidak segan untuk bekerja keras agar dapat menghidupi dirinya sendiri dan kakeknya.

Benar-benar seorang gadis yang walaupun belum terlalu tinggi ilmunya, namun sudah memiliki jiwa pendekar!

"Aih, kebetulan sekali!"

Tiba-tiba Siang Lan berseru.

"Hong-moi, sebentar lagi engkau akan membutuhkan bantuan orang yang dapat kaupercaya sepenuhnya. Tiga-empat bulan lagi saja engkau sudah harus menjaga dirimu baik-baik. Bagaimana kalau kalian menerima Siauw Kim membantumu di sini? Adapun kakek Lim Bun tentu saja dapat membantu mengawasi para pelayan di gedung ini!"

Lian Hong tersenyum dan memandang suaminya.

"Bagaimana pendapatmu dengan usul Enci Siang Lan, Kun-ko?"

Sim Tek Kun tersenyum.

"Terserah kepadamu, aku sih setuju saja dan kurasa Ayah dan Ibu akan menyetujuinya pula."

Mendengar ini, Siauw Kim dengan girang menjatuhkan diri berlutut lagi di depan Tek Kun dan isterinya.

"Terima kasih, Suheng berdua sungguh telah membangkitkan gairah hidup baru kepada kami!"

Kakek Lim Bun juga berlutut, akan tetapi Tek Kun cepat membangunkannya dan Lian Hong juga mengangkat bangun Siauw Kim yang berlutut di depannya.

"Sumoi, kami menerima bantuanmu untuk mengatur rumah tangga di sini dan membantu pekerjaan isteriku, akan tetapi kami tidak suka kalau engkau bersikap sebagai seorang pelayan. Engkau kuterima sebagai Sumoiku, maka kalau engkau bersikap merendahkan diri sebagai seorang pelayan, hal itu berarti merendahkan kehormatanku sebagai Suhengmu. Mengertikah engkau?"

Kata Sim Tek Kun dengan suara tegas.

"Baik Suheng dan maafkan sikap kami tadi,"

Kata Siauw Kim.

"Bagus, urusan ini sudah dapat diselesaikan dengan baik. Engkau bekerjalah dengan baik, Siauw Kim, dan kakek Lim Bun, kalian berdua menerima budi kebaikan adikku Ong Lian Hong dan suaminya, maka kuharap kalian berdua mampu membalas budi kebaikan mereka itu dengan menjadi orang-orang yang dapat dipercaya dan setia. Seandainya kelak engkau tidak ingin bekerja di sini, engkau boleh ikut denganku ke Lembah Selaksa Bunga dan membantu aku di sana. Akan tetapi karena lembah Selaksa Bunga merupakan tempat tinggal khusus untuk wanita, maka tentu saja Kakekmu tidak mungkin dapat ikut tinggal di sana."

Tiba-tiba Siang Lan teringat akan sesuatu dan ia berkata kepada Siauw Kim.

"Siauw Kim, tahukah engkau siapa penolongmu ini?"

Ia menuding kepada Chang Hong Bu. Siauw Kim memandang wajah Hong Bu dan menggelengkan kepalanya.

"Saya tidak berani menanyakan nama In-kong,"

Katanya lirih.

"Ketahuilah bahwa dia ini bernama Chang Hong Bu, pendekar muda murid Siauw-lim-pai yang amat lihai dan dia adalah keponakan dari Jenderal Chang Ku Cing yang terkenal."

Mendengar ini, Siauw Kim terkejut sekali dan cepat ia memberi hormat sambil menjura kepada pemuda yang amat dikaguminya itu.

"Maaf kalau saya bersikap kurang hormat kepadamu, Chang In-kong!"

Disebut Chang In-kong (Tuan Penolong Chang) Hong Bu menjadi merah mukanya dan dia cepat berkata.

"Nona, jangan sebut aku In-kong karena bukan aku saja yang tadi mengusir tiga orang jahat itu, akan tetapi terutama sekali Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan dan Adik Ong Lian Hong. Pula tentu sebagai murid Kun-lun-pai engkau juga mengetahui bahwa menentang orang-orang jahat merupakan kewajiban bagi seorang murid perguruan silat yang baik. Jadi, dalam peristiwa tadi tidak ada hutang budi maupun tuan penolong."

"Terima kasih dan maafkan saya, Chang Tai-hiap,"

Kata Siauw Kim.

Dengan hati merasa bahagia sekali Siauw Kim lalu dengan rajin mulai membantu pekerjaan rumah tangga di gedung Pangeran Sim Liok Ong.

Pangeran itu dan isterinya menerima Siauw Kim dan kakeknya dengan senang hati karena dua orang itu sungguh merupakan orang-orang yang tahu diri dan rajin bekerja.

Malam itu, Nyo Siang Lan tak dapat tidur.

Ia gelisah rebah di atas pembaringan dalam kamarnya, memikirkan tentang dirinya.

Ia sungguh merasa bingung dan gelisah.

Keadaan dirinya sendiri sudah ternoda dan ia merasa dirinya tidak berharga dan membawa aib.

Ia merasa benar bahwa Chang Hong Bu jatuh cinta kepadanya.

Rasanya tidak akan sukar untuk jatuh cinta kepada seorang pendekar muda seperti Chang Hong Bu.

Masih muda, gagah dan tampan, keponakan seorang jenderal besar yang terkenal bijaksana dan pandai, memiliki ilmu silat yang cukup tinggi.

Ah, tidak banyak pemuda sehebat Hong Bu.

Ia merasa kagum dan suka kepada pemuda yang sopan itu.

Akan tetapi cinta?

Ia meragukan dirinya sendiri.

Rasanya sulit ia dapat jatuh cinta kepada seorang laki-laki setelah ia menjadi korban kebuasan dan kekejian laki-laki, yaitu Thian-te Mo-ong!

Tiba-tiba wajah Bu-beng-cu terbayang depan matanya.

Wajah seorang laki-laki yang matang dan sudah dewasa benar.

Usia Bu-beng-cu tentu sudah sekitar empatpuluh empat tahun.

Wajah yang lembut penuh pengertian, sinar mata yang mengandung kebijaksanaan dan senyumnya yang penuh kesabaran.

Kepada Bu-beng-cu ia menaruh kepercayaan besar sekali, bahkan Bu-beng-cu merupakan satu-satunya orang di samping Kui Li Ai yang telah ia ceritakan tentang dirinya yang sudah dinodai orang.

Dan apa kata Bu-beng-cu?

Bahwa kalau dapat ia harus memaafkan pemerkosanya atau kalau tidak dapat mengampuninya, bunuh saja!

Siang Lan terkenang akan pengalamannya yang aneh.

Ketika dia ditangkap Hoat Hwa Cin-jin dan nyaris diperkosa orang lagi, muncul Bu-beng-cu menyelamatkannya bahkan ia berhasil membunuh Hoat Hwa Cin-jin.

Pada saat itu, rasa haru dan juga lega karena terhindar dari nasib diperkosa orang lagi, ia merangkul gurunya dan pada saat itulah ia merasa betapa perasaan hatinya dekat sekali dengan Bu-beng-cu.

Baru ia menyadari bahwa tanpa ia ketahui ia telah jatuh cinta kepada Bu-beng-cu.

Sungguh aneh dan mengherankan hatinya.

Mengapa bertemu dengan pemuda-pemuda yang tampan dan gagah perkasa ia tidak jatuh cinta?

Bahkan cintanya kepada Sim Tek Kun dahulu tidaklah sedalam apa yang ia rasakan terhadap Bu-beng-cu!

Apakah karena laki-laki itu teramat baik kepadanya, berkali-kali membela dan menolongnya, melindunginya bahkan dengan sungguh-sungguh menurunkan ilmu-ilmunya kepadanya agar kelak dapat membalas dendam sakit hatinya kepada Thian-te Mo-ong?

Ia sendiri tidak tahu.

Akan tetapi awan gelap menyelubungi hati gadis itu ketika ia teringat betapa sikap Bu-beng-cu seolah tidak menyambut cintanya!

Hal ini memang juga dapat diterimanya karena bagaimana mungkin seorang gadis yang sudah ternoda seperti dirinya pantas menjadi pasangan hidup seorang pendekar besar yang bijaksana seperti Bu-beng-cu?

Siang Lan teringat lagi kepada Chang Hong Bu.

Tidak, ia tidak akan membiarkan dirinya terjerat cinta dengan pemuda itu!

Tidak mungkin!

Kalau ia menerima dan membalas cinta pemuda itu, ia harus bersikap jujur, harus berani mengaku kepadanya bahwa dirinya bukan perawan lagi, bahwa ia telah diperkosa seorang penjahat.

Dan ia sudah dapat membayangkan.

Bibir pemuda yang murah senyum itu akan berjebi mengejeknya, sedangkan matanya yang bersinar tajam berwibawa itu tentu akan memandang rendah!

Ah, kalau sampai demikian, ia tentu akan berubah amat membenci pemuda itu!

Ah, tidak!

Lebih baik ia tidak melibatkan diri dalam cinta dengan seorang laki-laki.

Ia sudah tidak layak untuk menjadi isteri orang karena tidak akan tahan melihat suaminya kelak memandang rendah dan hina kepadanya!

Ia lalu teringat akan Siauw Kim!

Gadis itu jauh lebih layak menjadi jodoh Chang Hong Bu.

Biarpun gadis itu seorang gadis dusun namun ia memiliki watak gagah seorang pendekar tabah dan berani menjaga kehormatannya yang lebih dihargainya daripada nyawa.

Dan ia melihat sinar mata penuh kagum dari sepasang mata gadis itu kepada Chang Hong Bu!

Lebih baik ia segera kembali ke Lembah Selaksa Bunga.

Mendadak saja hatinya merasa rindu kepada gurunya?

Bu-beng-cu, gurunya pernah mengatakan bahwa setahun lagi belajar dengan tekun, ia pasti akan mampu menandingi Thian-te Mo-ong!

Baru sekarang ia merasa betapa setelah berada di kota raja, jauh dari Bu-beng-cu, ia merasa kehilangan dan hidupnya terasa tidak lengkap!

Dengan pikiran mengambil keputusan ini akhirnya Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan dapat tidur pulas.

Malam hari itu terjadi peristiwa yang penting di istana Pangeran Bouw Ji Kong.

Pangeran itu telah menyuruh para datuk yang membantunya, yaitu Hongbacu tokoh Mancu, Tarmalan tokoh suku bangsa Hui, dan Hwa Hwa Hoat-su datuk Pek-lian-kauw, untuk sementara keluar dari kota raja dan bersembunyi.

Sejak malam itu, Pangeran Bouw Ji Kong lebih banyak termenung dalam kamarnya dalam keadaan murung.

Dia melihat betapa perkembangan usahanya untuk merebut tahta kerajaan tidak berjalan mulus.

Pihak pemerintah terlampau kuat, bukan saja di sana ada Jenderal Chang Ku Cing yang gagah perkasa dan pandai, juga masih ada Menteri Yang Ting Ho yang bijaksana dan yang merupakan pembantu terpercaya dari kaisar Wan Li selain itu juga dihormati dan disegani para pejabat tinggi.

Bukan kenyataan ini saja yang membuat hati pangeran Bouw Ji Kong menjadi risau, akan tetapi juga melihat betapa para sekutunya dari Mancu dan Pek-lian-kauw, terutama sekali para pendukungnya, merupakan orang-orang yang memerasnya.

Banyak sekali permintaan mereka berupa uang dan harta benda lain sehingga dia sudah mengeluarkan banyak harta simpanannya untuk menyenangkan hati mereka agar mereka tetap mendukungnya.

Adapun hal yang paling menyakitkan hatinya adalah lenyapnya putera tunggalnya, Bouw Cu An!

Puteranya hanya seorang itu, anak-anaknya yang lain adalah perempuan.

Tentu saja dia merasa amat sayang kepada puteranya itu yang sejak kecil sudah dia panggilkan ahli-ahli sastra dan tata negara, dia persiapkan agar kelak puteranya itu pantas menjadi seorang pangeran mahkota calon kaisar!

Bahkan juga puteranya telah dilatih ilmu silat yang cukup memadai.

Biarpun akhirnya Bouw Cu An memperlihatkan sikap menentangnya dalam urusan melaksanakan rencananya merebut tahta kerajaan, namun kemarahannya kepada puteranya hanyalah di luarnya saja agar terlihat oleh para pendukungnya.

Di dalam hatinya, tetap saja ayah ini amat sayang kepada puteranya.

Maka, mendengar laporan Hongbacu bahwa puteranya telah diculik Ouw-yang Sianjin dan sampai sekarang belum juga dapat ditemukan, hati pangeran Bouw Ji Kong menjadi gelisah sekali.

Dia melihat rencana pemberontakannya, selain kurang maju perkembangannya, juga amat merugikannya.

Tentu saja selama ini, tindakan dan rencana pemberontakan Pangeran Bouw Ji Kong dia anggap sebagai "perjuangan", demi rakyat demi mengubah pemerintah sang korup menjadi pemerintah yang bersih, dan sebagainya yang muluk-muluk lagi.

Akan tetapi sesungguhnya, Pangeran Bouw Ji Kong mempunyai jiwa dan watak pedagang!

Watak pedagang membuat dia dalam segala tindakannya mendasari dengan untung rugi.

Kalau tindakannya itu menguntungkan, hal ini memperkuat semangatnya untuk melanjutkan apa yang dia perjuangkan, akan tetapi kalau kenyataannya merugikan, dia kehilangan semangat dan mulai memikirkan tindakan apa yang harus dia lakukan untuk menghindarkan dirinya dari kerugian.

Pemimpin seperti ini, dan sebagian terbesar seperti yang tercatat dalam sejarah memang demikian, selalu akan mabok kemenangan dan menyelam ke dalam lautan kesenangan kalau usahanya berhasil, melupakan rakyat yang tadinya dijadikan tulang punggung untuk mendukung "perjuangannya".

Malam yang dingin itu Pangeran Bouw Ji Kong duduk termenung seorang diri di dalam kamarnya, tidak dapat tidur memikirkan kegagalannya, terutama sekali dengan hati rindu dan sedih memikirkan puteranya yang hilang.

Semua penghiburan yang diberikan isteri dan para selir ditolaknya dan dia malam itu tidak mau diganggu, duduk termenung seorang diri dalam kamarnya yang besar.

Angin malam yang berhembus memasuki kamar melalui celah-celah dinding bagian atas membawa hawa dingin menyusup tulang.

Tiba-tiba daun jendela kamar itu terkuak dari luar, menimbulkan suara berderit.

Pangeran Bouw Ji Kong terkejut dari lamunannya, menoleh ke arah jendela dan cepat dia melompat berdiri sambil menyambar pedang yang diletakkan di atas mejanya.

Pangeran ini memang memiliki ilmu silat yang cukup tangguh dan ilmu silatnya itulah yang pernah dia ajarkan pula kepada Bouw Cu An, putera tunggalnya.

Jendela itu terbuka dan sesosok tubuh melayang memasuki kamar.

Pangeran Bouw Ji Kong siap untuk menyerang, akan tetapi pemuda yang telah berada di depannya itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Sang Pangeran.

"Ayah......!"

Pedang yang sudah diangkatnya itu turun kembali dan bahkan dilemparnya di atas meja. Dalam suaranya terkandung kemarahan dan kerinduan serta kegembiraan sekaligus.

"Cu An......! Ke mana saja selama ini engkau pergi?"

"Maafkan saya, Ayah. Selama ini saya memperdalam ilmu silat saya. Maafkan saya yang pergi tanpa pamit kepada Ayah."

"Tidak perlu minta maaf, Anakku. Bangkit dan duduklah, dan ceritakan apa yang terjadi! Apakah pendeta jahanam itu yang telah menculikmu, tidak mengganggumu?"

Bouw Cu An bangkit, duduk di depan ayahnya dan memandang dengan mata terbelalak heran.

"Pendeta jahanam yang menculik saya, Ayah? Apa dan siapa yang Ayah maksudkan?"

"Siapa lagi kalau bukan pendeta jahat Ouw-yang Sianjin yang telah menculikmu!"

Cu An menjadi semakin heran.

"Ayah, darimana Ayah mendengar bahwa saya diculik oleh Ouw-yang Sianjin?"

"Ketika malam itu engkau pergi, Hongbacu datuk Mancu itu mengejarmu dan dialah yang melaporkan bahwa engkau diculik Ouw-yang Sianjin dan dia tidak berhasil menolongmu."

"Aduh! Makin ketahuan sekarang betapa Ayah telah bekerja sama dengan orang-orang jahat. Hongbacu menolong saya? Ayah telah dibohongi dan ditipu. Hongbacu bukan menolong saya melainkan mencoba untuk membunuh saya!"

"Hahh......?"

Pangeran Bouw Ji Kong terbelalak.

"Benarkah? Apa...... apa yang terjadi, Cu An......?"

"Ayah agaknya telah mendengarkan fakta yang diputarbalikkan. Begini kejadiannya, Ayah. Malam itu saya merasa kesal dan terus terang saya tidak dapat menyetujui rencana Ayah hendak merebut tahta kerajaan, apalagi Ayah bersekutu dengan orang-orang Mancu dan perkumpulan-perkumpulan pemberontak jahat seperti Pek-lian-kauw, Ngo-lian-kauw dan lain-lain. Karena hati saya kesal dan tidak setuju, maka malam itu saya meninggalkan rumah ini dengan hati sedih. Tiba-tiba muncul Hongbacu yang hendak membunuh saya karena saya dianggap merintangi niat Mancu untuk memanfaatkan Ayah dan merebut tahta kerajaan. Saya tentu sudah mati karena tidak mampu melawan Hongbacu, kalau saja pada saat itu tidak muncul Suhu Ouw-yang Sianjin. Dialah yang telah menyelamatkan saya, mengalahkan dan membuat Hongbacu melarikan diri. Sungguh saya tidak mengerti, mengapa Ayah begitu tega untuk menyuruh Hongbacu membunuh saya, Ayah......"

Suara pemuda itu mengandung isak kesedihan.

"Ah, tidak......! Sama sekali tidak, Cu An! Aku sama sekali tidak menyuruh untuk membunuhmu, hanya menyuruh dia memanggilmu kembali. Dia kembali dan mengatakan bahwa engkau diculik Ouw-yang Sianjin......"

"Karena saya mengira bahwa Ayah benar-benar tega untuk menyuruh membunuh saya, maka saya tidak berani pulang dan saya lalu ikut Suhu Ouw-yang Sianjin, memperdalam ilmu silat saya."

Pangeran Bouw Ji Kong mengepal tangan kanannya.

"Keparat busuk Hongbacu! Dia membohongiku! Berani dia hendak membunuh puteraku!"

Sang Pangeran yang marah itu merasa tidak terdaya karena pada saat itu Hongbacu tidak berada di situ, sudah menyembunyikan diri keluar kota raja menanti berita darinya.

"Sekarang engkau pulang, lalu apa kehendakmu, Cu An?"

"Ayah, setelah saya menjadi murid Ouw-yang Sianjin, saya semakin menyadari bahwa Ayah telah mengambil jalan yang keliru sama sekali. Saya pulang ini untuk menyadarkan Ayah. Orang-orang yang mendukung niat Ayah memberontak itu semua bukan orang baik-baik dan mereka itu hanya ingin membonceng dan memanfaatkan Ayah demi keuntungan mereka sendiri. Harap Ayah menyadari benar hal ini."

Tiba-tiba terdengar suara lembut dari luar kamar itu, suara lembut namun beribawa dan terdengar jelas seolah pembicaranya berada di dalam kamar itu.

"Semua yang diucapkan Bouw Cu An itu benar dan bijaksana. Masih belum terlambat bagi orang yang bertindak salah untuk memperbaiki tindakannya! Mengubah langkah dan bertaubat sebelum terlambat, itulah tindakan yang bijaksana."

"Suhu......"

Kata Bouw Cu An lirih.

Pangeran Bouw Ji Kong menoleh ke arah jendela yang masih terbuka.

Wajahnya agak pucat ketika mendengar bahwa Ouw-yang Sianjin berada di luar kamarnya.

Tentu saja anggapan bahwa Ouw-yang Sianjin merupakan seorang musuh yang berbahaya masih menguasai perasaannya.

Akan tetapi dia percaya kepada puteranya, maka dia berseru ke arah jendela.

"Ouw-yang Sianjin, kalau engkau sudah berada di sini, masuklah dan beri penjelasan kepada kami!"

Sesosok bayangan yang ringan dan cepat berkelebat.

Ouw-yang Sianjin sudah berada dalam kamar itu, berdiri menghadap Pangeran Bouw Ji Kong dan mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan.

Pangeran Bouw melihat seorang berpakaian sebagai tosu, pakaian sederhana serba kuning, usianya sekitar empatpuluh delapan tahun, bertubuh tinggi kurus dan punggungnya tergantung sebatang pedang terbuat dari bambu!

Tosu sederhana namun sikapnya lembut dan berwibawa.

Dia segera bangkit berdiri dan membalas penghormatan tosu itu.

"Pangeran, maafkan kalau pinto datang tanpa diundang karena pinto memenuhi permintaan puteramu, Bouw Cu An."

Kata Ouw-yang Sianjin.

"Duduklah, Totiang. Kami senang Totiang suka datang ke sini karena pada saat ini kami membutuhkan penjelasan. Semua orang sudah mengetahui bahwa jalan yang kita ambil masing-masing tidak sama bahkan berlawanan, akan tetapi mengapa Totiang menolong putera kami dan suka datang ke sini malam ini?"

Ouw-yang Sianjin duduk berhadapan dengan Pangeran Bouw dan Bouw Cu An.

"Pangeran, pinto menjadi saksi akan kebenaran apa yang diceritakan puteramu Bouw Cu An tadi. Secara kebetulan dan agaknya Yang Maha Kuasa sudah menentukan demikian. Pada malam itu pinto (saya) melihat puteramu sedang diserang dan akan dibunuh oleh Hongbacu tokoh Mancu itu. Pinto segera turun tangan membelanya dan berhasil menggagalkan usaha Hongbacu yang jahat itu dan mengusirnya. Pada waktu itu juga, pinto minta kepada Bouw Cu An untuk kembali ke rumah orang tuanya, akan tetapi dia tidak mau pulang dan ingin memperdalam ilmu silatnya, juga menceritakan tentang cita-cita Pangeran yang ditentangnya. Nah, hari ini, dia pulang dan minta kepada pinto untuk membantu dia menyadarkan Pangeran agar kembali ke jalan benar."

Pangeran Bouw Ji Kong yang tadinya mengalami kekecewaan, bahkan kemerosotan semangat itu kini menatap wajah tosu itu dengan penuh selidik.

"Totiang, engkau mengatakan hendak menyadarkan kami agar kami kembali ke ja1an benar? Hemm, dalam hal apakah totiang menganggap kami melalui jalan yang salah? Anak kami mungkin belum mengetahui benar akan keadaan pemerintah dan bangsa, maka dia bisa menyalahkan kami. Akan tetapi Totiang adalah seorang yang berpengalaman. Bagaimana totiang dapat menganggap bahwa kami salah jalan?"

"Siancai, agaknya Pangeran mendasarkan sikap dan perbuatan Pangeran kepada apa yang dianggap benar! Pangeran, dipandang dari sudut mana pun, perbuatan kekerasan dengan maksud untuk mengadakan pemberontakan jelas perbuatan yang salah sama sekali. Yang sudah jelas Pangeran adalah anggauta keluarga dekat Sribaginda Kaisar, bahkan telah diberi kedudukan tinggi dan terhormat sebagai penasihat Kaisar di bidang hubungan dengan luar negeri. Maka, pemberontakan yang Paduka lakukan itu merupakan suatu pengkhianatan terhadap pemerintah dan keluarga sendiri. Pinto yakin Paduka tidak mau disebut sebagai seorang pengkhianat, bukan?"

Wajah Pangeran Bouw berubah merah dan alisnya yang tebal dikerutkan.

"Ouw-yang Sianjin, tahu apa engkau tentang perjuangan? Siapa orang-orang yang telah berkhianat terhadap nusa dan bangsa? Mereka itulah, para penguasa, para pembesar dan pejabat tinggi, yang melakukan kecurangan, korupsi, mencuri uang negara, menindas rakyat untuk memperkaya diri sendiri, mereka adalah pengkhianat-pengkhianat bangsa dan negara. Kalau sekarang ada orang yang berusaha untuk menghancurkan mereka dan mengubah keadaan, mendirikan pemerintahan yang sehat dan bersih, yang dikelola para pejabat yang benar-benar berjiwa patriot yang lebih mementingkan kesejahteraan bangsa daripada kemakmuran diri sendiri dan keluarganya, bukankah hal itu merupakan perbuatan yang gagah perkasa dan mulia? Orang-orang yang memegang kekuasaan boleh menamakannya pemberontak dan pengkhianat, namun sesungguhnya mereka itu pejuang sejati demi kesejahteraan rakyat dan menentang kelaliman para penguasa!"

Ouw-yang Sianjin tersenyum tenang dan sabar, membiarkan Pangeran itu menumpahkan segala kemarahan hatinya. Setelah Pangeran Bouw Ji Kong berhenti bicara, dia bertanya.

"Sudah cukupkah Pangeran bicara? Pinto akan menjawab semua pernyataan Paduka tadi. Agaknya Paduka hanya memandang dari segi baiknya dan untungnya, akan tetapi lengah bahkan mengabaikan segi buruknya dan kerugiannya bagi rakyat. Mari kita telaah bersama. Kita mulai dari segi baik dan untungnya sebuah pemberontakan. Kebaikan dan keuntungannya itu hanya baru bayangan dan harapan belaka, yaitu akan terjadi kesejahteraan bagi rakyat kalau. Satu, kalau pemberontakan itu berhasil seperti yang diidamkan, dan dua, kalau kelak para pejabat dari pemerintahan baru benar-benar terdiri dari orang-orang bijaksana yang patriotik dan tidak suka korupsi atau menyeleweng atau lalim mengandalkan kekuasaan mereka! Hanya dua itu keuntungannya, itupun kalau keduanya berhasil seperti yang diharapkan. Padahal untuk dapat berhasil bukanlah hal semudah dibicarakan. Pertama, amat sukar untuk mengalahkan pemerintah yang memiliki balatentara kuat, memiliki panglima-panglima lihai seperti Jenderal Chang Ku Cing dan lain-lain, masih dukung para pendekar pula. Harapan menang dalam perebutan tahta kerajaan amatlah tipis. Kemudian yang kedua, andaikata pemberontakan berhasil dan dibentuk pemerintahan baru, apakah Paduka kira sudah pasti akan menemukan orang-orang bijaksana yang akan menduduki kursi jabatan? Bagaimana kalau mereka malah lebih berengsek daripada pejabat yang sekarang? Nah, dua segi baik dan untungnya itu masih amat diragukan. Sekarang segi buruk dan ruginya yang tidak dapat diraguan lagi pasti timbul. Pertama, kelak nama Paduka akan tercatat dalam sejarah sebagai seorang pemberontak dan anggauta keluarga yang mengkhianati keluarga sendiri. Kedua, dalam perang pemberontakan sudah pasti akan jatuh banyak sekali korban orang-orang yang sama sekali tidak berdosa, perajurit-perajurit biasa yang kalau kalah mereka tewas kalau menangpun mungkin hanya mendapat sekadar pujian kosong belaka. Ketiga, kalau terjadi perang maka kehidupan rakyat akan menjadi kacau, para penjahat akan bermunculan untuk mengail di air keruh, melakukan kejahatan tanpa ada yang merintangi karena semua petugas pemerintah sibuk dengan perang. Keempat, Paduka akan menanam bibit permusuhan, dendam-mendendam dan balas-membalas yang tiada hentinya. Dan bukan hanya itu, sekarang orang-orang yang mendukung Paduka itu sudah bertindak keji, diam-diam hendak membunuh putera Paduka tanpa setahu Paduka. Nah, pikirkanlah baik-baik, Pangeran, sebelum mengambil keputusan apakah Paduka hendak melanjutkan langkah yang keliru atau tidak."

"Ouw-yang Sianjin, ingin sekali kami mengetahui, bagaimana sikap para pendeta, pendekar atau tokoh kang-ouw yang mengutamakan keadilan dan kebenaran, bersikap kalau melihat para pimpinan pemerintahan, dari kaisar sampai pejabat tinggi dan rendah, bertindak sewenang-wenang, curang dan korup, tidak adil dan hanya mementingkan kekayaan diri dan keluarganya sendiri? Bagaimana kalian akan bersikap? Memberontak tidak baik katamu, lalu apakah kita rakyat ini harus tinggal diam saja, menerima keadaan dengan segala penderitaannya, hanya mengeluh kepada Tuhan dan sama sekali tidak berusaha untuk memperbaiki keadaan? Coba jawab pertanyaanku itu dengan jelas. Totiang!"

Suara Pangeran Bouw Ji Kong penuh teguran dan sekaligus tantangan. Ouw-yang Sianjing tersenyum dan memandang kepada Bouw Cu An.

"Cu An. kita sudah membicarakan urusan yang ditanyakan Ayahmu itu secara panjang lebar. Harap engkau saja yang menjawab pertanyaan Ayahmu itu."

Pangeran Bouw Ji Kong kini menatap wajah puteranya dengan alis berkerut.

Dia merasa penasaran akan tetapi juga ingin sekali mengetahui pendapat puteranya yang dianggapnya masih kanak-kanak dan kurang pengalaman.

"Ayah, harap Ayah memaafkan saya kalau jawaban saya dianggap tidak benar dan lancang, akan tetapi sesungguhnya pengertian akan hal ini telah saya bicarakan dengan semasak-masaknya dengan suhu Ouw-yang Sianjin dan saya merasa yakin bahwa semua pendapatnya itu benar. Begini, Ayah, Suhu dan saya, tentu tidak dapat membenarkan kalau para pejabat dari kaisar sampai bawahannya melakukan penindasan, bertindak sewenang-wenang, korup dan bersaing memperkaya diri dan keluarganya sendiri. Juga adalah tidak benar kalau kami sebagai warganegara, terutama para pejabat yang menyadari akan ketidakbenaran itu tinggal diam dan tidak ada usaha untuk mengubahnya. Tidak, kita memang harus bertindak! Akan tetapi bukan dengar cara memberontak! Kita dapat saja melakukan kritik dan protes, sebagai wakil rakyat yang tidak berani bicara sendiri, dan kita himpun kekuatan suara kita melalui persatuan para pejabat pemerintah yang setia kepada bangsa dan negara. Kalau kita dapat memperlihatkan dengan bukti-bukti bahwa tindakan para pejabat tinggi, terutama Kaisar itu tidak benar, akhirnya Kaisar dan para pembantunya pasti lambat laun akan merasa malu dan sadar. Kita patut mencontoh sikap Menteri Yang Ting Ho dan Panglima Chang Ku Cing yang bijaksana, adil dan jujur, yang tangannya bersih dari kotoran korupsi dan menyalah-gunakan kekuasaan. Siapakah yang meraguan kesetiaan dan kebijaksanaan mereka? Nama mereka kelak pasti akan tercatat dalam sejarah dengan tinta emas, akan menjadi pujaan bangsa sebagai patriot-patriot sejati yang berjuang benar-benar demi kesejahteraan rakyat, bukan untuk menumpuk harta bagi keluarga sendiri atau untuk mengangkat nama dan kekuasaan mereka sendiri. Kalau saja Ayah mau bertindak mencontoh kedua orang pejabat tinggi yang bijaksana itu, saya siap membantu ayah dan rela berkorban nyawa sekalipun."

Pangeran Bouw Ji Kong termenung, diam-diam dia terharu karena jalan pikiran puteranya itu ternyata membayangkan budi pekerti yang luhur.

"Hemm, kau kira begitu mudahnya? Kurang bagaimana pemerintah mengadakan peraturan dan hukum untuk menjadikan para pembesar itu setia kepada negara dan bangsa, akan tetapi apa buktinya? Mereka bukan berlumba membuat jasa yang baik untuk negara dan bangsa, melainkan berlumba menumpuk kekayaan pribadi!"

"Suhu dan saya mengerti, Ayah. Akan tetapi apa artinya diadakan seribu satu macam peraturan dan hukum kalau semua itu tidak dilaksanakan dengan tertib, bahkan dilanggar sendiri oleh si pembuat hukum? Seolah hukum itu dibuat demi kepentingan mereka yang berkuasa dan diberlakukan kepada rakyat kecil. Suhu mengingatkan saya akan apa yang diajarkan Guru Besar Khong Cu dalam Kitab Tiong-yong Pasal 21 ayat 12. Ada sembilan syarat untuk dapat memimpin negara dan bangsa, yaitu. 1. Memperbaiki diri sendiri lahir batin. 2. Menghargai orang-orang bijaksana dan pandai. 3. Mencinta sanak saudara dan keluarga. 4. Menghargai pejabat-pejabat tinggi. 5. Tenggang rasa terhadap para pejabat biasa. 6. Mencinta rakyat seperti anak sendiri. 7. Mengkaryakan sebanyak mungkin ahli pembangunan. 8. Ramah tamah terhadap para tamu negara. 9. Mengikat hubungan baik dengan negara lain."

"Hemm, apakah semua itu akan menjamin para pejabat dari yang tinggi sampai yang rendah akan dapat mentaati apa yang dikehendaki pemimpin besar mereka, yaitu Kaisar? Bicara memang mudah, akan tetapi pelaksanaannya tidaklah semudah itu!"

"Suhu dan saya menyadari akan hal itu, Ayah. Memang semua teori itu mudah dan sama sekali tidak ada gunanya kalau tidak dipraktekkan. Akan tetapi kita benar-benar jujur dan ingin menjadi hamba Tuhan, menjadi manusia yang utama, dan kita laksanakan semua teori itu, sudah pasti akan berhasil. Sekarang bukan jamannya lagi untuk menjejali rakyat dengan slogan-slogan, dengan pelajaran-pelajaran, dengan hukum-hukum kalau semua itu hanya omongan kosong belaka dan tidak dilaksanakan dengan tertib dari yang paling atas sampai yang paling bawah. Rakyat tidak butuh nasihat tentang kebaikan lagi, melainkan membutuhkan TAULADAN, membutuhkan CONTOH dari mereka yang mengeluarkan slogan, pelajaran, dan nasihat itu. Para pimpinan negara merupakan Bapak bagi rakyat dan menjadi suri tauladan. Apa artinya Sang Bapak menasihatkan anak-anaknya untuk hidup sederhana dan hemat kalau Si Bapak sendiri hidupnya serba mewah, royal dan menghamburkan uang? Akan tetapi rakyat sebagai anak melihat Pemimpinnya sebagai bapaknya hidup sederhana, tidak usah disuruh lagi mereka tentu akan hidup sederhana pula! Jadilah tauladan, jangan hanya penasihat tanpa tanggung jawab. Kalau seorang pejabat tinggi bertangan bersih, para bawahannya otomatis tidak berani bertangan kotor karena atasannya yang bertangan bersih tentu akan menindaknya. Sang bawahan ini setelah dia sendiri mencontoh atasan bertangan bersih, tentu akan menjaga agar bawahannya sendiri juga bertangan bersih. Demikian pula seterusnya, terus dari atas memberi contoh dan menindak bawahan sehingga petugas yang paling bawah pun disegani rakyat karena bertangan bersih. Otomatis rakyat pun akan patuh dan taat karena semua yang dikerjakan pemerintah demi kesejahteraan rakyat, termasuk diri dan keluarga mereka sendiri yang juga sebagian dari rakyat. Akan tetapi kalau atasannya bertangan kotor, bagaimana mungkin dia dapat mencegah bawahannya bermain kotor pula? Bahkan dia akan dijadikan tauladan, tauladan berbuat buruk dan korupsi, oleh bawahannya tanpa dia berani menegur karena dia sendiri bertangan kotor, kemudian bawahannya juga "bertoleransi"

Kepada bawahannya lagi, demikian terus menurun menjadi budaya korupsi yang turun menurun sampai rakyat menjadi terbiasa dengan keadaan semacam itu."

"Maafkan saya, Ayah, pandangan ini bukan sekadar teori, akan tetapi dapat dibuktikan dan dipraktekkan dalam kelompok yang paling kecil seperti sebuah keluarga dalam sebuah rumah tangga. Kalau Sang Ayah menghendaki anak-anaknya tidak menjadi penjudi, apa artinya kalau dia hanya menegur dan marah akan tetapi dia sendiri menjadi penjudi? Bukan teguran atau nasihat yang dibutuhkan sang Anak dari orang tuanya, atau rakyat dan bawahan dari atasannya, melainkan tauladan yang baik! Rakyat sudah kenyang bahkan muak dengan slogan-slogan dan petuah-petuah, akan tetapi rakyat rindu akan para pemimpin rakyat yang bersih dan patut dijadikan panutan. Kalau para pemimpin kerajaan bersih dan bijaksana, maka kekayaan negara tidak akan bocor dan digerogoti tikus-tikus berpakaian pembesar sehingga negara menjadi kaya dan kekayaan ini dapat dimanfaatkan demi kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya, di mana dicukupkan sandang pangan papan dari SETIAP warga negara kerajaan ini. Alat-alat negara yang bersih dapat bertindak tertib dan melaksanakan semua hukum tanpa pandang bulu, tidak dapat dipengaruhi suap dan hubungan sahabat atau keluarga. Kalau sudah begini, kami kira para pejabat akan kehilangan keberaniannya, apalagi karena mencari sandang pangan papan menjadi mudah. Rakyat akan menjadi senang dan taat kepada pemerintah, dan tidak mungkin lagi ada rakyat yang mau diajak memberontak terhadap pemerintah yang dicinta rakyat karena keadilan dan kebijaksanaannya."

Mendengar ucapan yang panjang lebar penuh semangat dari puteranya itu, Pangeran Bouw Ji Kong terkagum-kagum dan terheran-heran, akan tetapi dia mulai dapat menangkap intinya yang berlandaskan kepada kebenaran.

Ucapan puteranya itu sama sekali bukan didasari perasaan iri, dengki ataupun benci, melainkan membuka kenyataan bukan sekedar teori yang muluk-muluk.

Melihat pangeran itu termenung, dengan harapan bahwa pangeran itu akan dapat menyadari kesalahannya, Ouw-yang Sianjin segera berkata dengan suaranya yang lembut penuh kesabaran.

"Pangeran, maafkan puteramu kalau bicaranya terlampau tegas, akan tetapi di jaman seperti ini kita seluruh rakyat hanya menggantungkan harapan kepada kaum mudanya. Hanya para mudanya yang memiliki semangat dan keberanian, memiliki pandangan yang kritis, untuk membawa kita semua keluar dari kemelut keadaan yang tidak sehat ini. Kalau kita orang-orang tua masih berpegang kepada peraturan lama, menjadi lemah dan tidak berdaya, lalu para mudanya juga kehilangan semangat dan hanya mengejar kesenangan dan foya-foya belaka, apa akan jadinya dengan tanah air dan bangsa kita tercinta ini! "Para arif bijaksana di jaman dahulu berkata bahwa pembangunan di atas segala bidang tidak akan berhasil kecuali kalau pembangunan dasar manusia, yaitu pembangunan jiwanya dilaksanakan lebih dulu sampai berhasil. Manusia yang sudah terbangun jiwanya berarti manusia yang mengenal jati dirinya sebagai mahluk hamba Tuhan yang memiliki tugas di dunia ini, yaitu menyejahterakan dunia dan semua isinya. Jiwanya terbangun kalau seorang manusia selalu dekat dengan Tuhannya, taat dan cinta akan perbuatan bajik dan takut serta pantang akan perbuatan jahat.

"Hanya manusia-manusia yang sudah terbangun jiwanya sajalah yang akan mampu menjadi pemimpin-pemimpin rakyat karena kebajikannya akan menjadi tauladan bagi rakyat. Kalau sudah begitu, kemakmuran bagi suatu bangsa bukan hal yang langka lagi karena bangsa yang sudah terbangun jiwanya pasti dikasihi Tuhan dan apa yang dinamakan kemakmuran adalah suatu keadaan dan perasaan yang merupakan karunia dari Tuhan, tidak mungkin dibuat manusia."

Mendengar semua ini, tanpa disadarinya kedua mata Pangeran Bouw Ji Kong menjadi kemerahan dan basah air mata.

Teringat dia akan semua nafsu keinginan dan perbuatannya, betapa dia sudah bersekutu dengan para golongan sesat pemberontak seperti Pek-lian-kauw dan Ngo-lian-kauw, dengan suku ibunya, yaitu suku Hui, dan bahkan dengan bangsa Mancu yang jelas merupakan musuh dan ancaman bagi kerajaan Beng.

Dia teringat pula betapa dia telah menyuruh bunuh enam orang pejabat tinggi yang sama sekali tidak bersalah, hanya karena mereka adalah orang-orang atau pejabat-pejabat yang setia kepada Kaisar!

Dan yang lebih lagi, dia tidak tahu bahwa puteranya sendiri, nyaris dibunuh seorang sekutunya, yaitu Hongbacu datuk Mancu.

Belum tercapai keinginannya, dalam keadaan masih berjuang saja sekutunya dari Mancu sudah tega untuk membohonginya dan hampir membunuh puteranya!

Apalagi kalau mereka sudah berhasil, dapat dia bayangkan betapa para sekutunya itu tak dapat diragukan lagi akan saling berebut, memperebutkan hasil pemberontakan mereka!

Teringat pula dia bahwa sekarang, kedudukannya sudah terhormat sebagai penasihat Kaisar.

Kalau perjuangannya memberontak yang penuh resiko itu gagal, bukan hanya dia yang celaka, melainkan seluruh keluarganya!

Makin dikenang dan dipikir, makin jelas Pangeran Bouw Ji Kong dapat melihat segala isi hati, pikiran, dan semua yang mendorong perbuatannya.

Kini dia mulai melihat bahwa semua apa yang dia anggap sebagai "perjuangan"

Untuk menyejahterakan rakyat dengan mengambil alih tahta kerajaan itu sesungguhnya hanyalah merupakan ambisi pribadi belaka.

Nafsu keinginan untuk mendapatkan yang lebih daripada apa yang dimilikinya sekarang, ya kekuasaan, ya kemuliaan, ya harta kekayaan.

Semua ambisi pribadi itu tertutup oleh apa yang dianggapnya sebagai perjuangan suci demi kemakmuran rakyat!

Kini dia merasa dirinya seperti ditelanjangi oleh ucapan puteranya sendiri dan Ouw-yang Sianjin.

Maka dia teringat akan seorang hwesio yang pernah mengajarkan ilmu silat dan juga tentang budi pekerti kepada dia dan para murid lain.

"Pinceng (aku) tidak ingin melihat murid-muridku menjadi orang-orang pintar, berkuasa, atau kaya raya kalau kalian tidak memiliki kebenaran! Orang pintar yang jiwanya tersesat dan jahat hanya akan menggunakan kepintarannya untuk menipu orang-orang yang bodoh. Orang kuat berkuasa yang tidak benar hanya akan menggunakan kekuatan dam kekuasaannya untuk menindas orang-orang yang lemah. Orang kaya raya yang jahat dan tidak benar hanya akan menggunakan kekayaannya untuk memuaskan nafsu-nafsunya mengejar kesenangan dan menghina orang yang miskin.

"Pinceng hanya menginginkan murid-murid yang menjadi orang-orang benar! Orang-orang yang benar, berjiwa bersih, baik budi, hatinya penuh dengan rasa cinta sesama dan berbelas kasihan, baik dia itu miskin atau kaya, bodoh atau pintar, kuat kuasa atau lemah, orang yang begini adalah kekasih Yang Maha Kuasa. Semua prilaku dan tindakannya mendatangkan berkat bagi sesama dan dialah yang pantas menjadi pembantu dan penyalur berkat Tuhan, dan hanya orang-orang begini yang berhasil sebagai manusia dan selalu disinari kebahagiaan."

Demikianlah antara lain hwesio yang menjadi gurunya itu berkata.

Dan dia telah membuktikan bahwa dia sama sekali tidak termasuk orang-orang yang seperti dikehendaki gurunya itu!

Dia penuh keinginan, penuh ambisi dan untuk mencapai keinginan itu, dia tidak pantang menggunakan cara apa pun, bahkan cara yang jahat!

Bouw Cu An diam saja dan hanya memandang ayahnya yang menutupi muka dengan kedua tangan itu.

Ayahnya menangis!

Dia merasa terharu akan tetapi juga lega.

Tangis ayahnya itu mungkin sekali timbul dari penyesalan dan mudah-mudahan ayahnya akan sadar bahwa pemberontakan itu adalah salah!

Ouw-yang Sianjin tersenyum dan dia duduk bersila di atas kursi sambil memejamkan kedua mata.

Tosu ini melakukan samadhi sambil menanti tuan rumah memulihkan gejolak hatinya.

Baru setelah menjelang pagi, Pangeran Bouw Ji Kong menurunkan kedua tangannya.

Dia menggunakan ujung lengan baju mengusap sisa air mata yang membasahi kedua pipinya, lalu dia menoleh dan memandang Bouw Cu An yang masih duduk menunggui ayahnya.

"Ayah!"

Pemuda itu memanggil dengan lirih.

Mendengar ini, Ouw-yang Sianjin juga membuka matanya dan memandang kepada pangeran itu.

Pangeran Bouw Ji Kong kini berkata kepada mereka dengan suara serak dan lirih.

"Ouw-yang Sianjin dan Cu An, sekarang aku menyadari akan semua kekeliruanku dan aku merasa menyesal sekali telah menuruti hati yang dipenuhi iri dan nafsu kemurkaan. Sekarang, beritahu aku, apa yang seharusnya kulakukan?"

"Ayah, saya tidak berani memberi nasihat kepada Ayah. Sebaiknya Suhu Ouw-yang Sianjin yang menjawab pertanyaan Ayah itu......"

Kata pemuda itu dengan suara terharu karena dia merasa lega dan girang bahwa akhirnya ayahnya dapat menyadari kesalahannya.

"Siancai! Apa yang sepatutnya dilakukan oleh seorang yang telah menyadari akan kekeliruannya? Pinto kira hanya dua, yaitu pertama menghentikan perbuatan yang keliru itu dan bertaubat."

"Bertaubat dengan cara bagaimana?"

Tanya Pangeran Bouw Ji Kong.

"Pangeran, Paduka bersalah terhadap Sribaginda Kaisar, maka sewajarnyalah kalau Paduka bertaubat dengan pengakuan kesalahan di depan Sribaginda dan mohon pengampunan,"

Kata pula pendeta itu. Pangeran Bouw Ji Kong mengerutkan alisnya lalu menggelengkan kepalanya.

"Tidak, Totiang, itu terlalu mudah bagiku, terlalu ringan bagi kesalahanku yang besar. Kalau aku hanya mohon pengampunan, andaikata Kaisar mengampuniku, juga namaku akan tercoreng dalam sejarah dan rakyat akan mengutuk namaku. Aku harus melakukan aksi balik yang tepat untuk menebus kesalahanku dan aku hanya dapat mengharapkan Totiang untuk membantu rencanaku sehingga akan berhasil baik."

"Apa yang Paduka maksudkan, Pangeran?"

"Begini, Totiang. Kesesatanku telah mengakibatkan jatuhnya korban. Aku harus membalas semua kejahatan yang dilakukan para sekutuku itu atas rencanaku yang jahat. Maka, aku ingin menjebak mereka, mengundang mereka berkumpul kemudian engkau dan Cu An mengatur dan mengumpulkan para pendekar, juga para panglima dan pasukannya dan tentu saja engkau dapat minta bantuan Panglima Chang Ku Cing untuk keperluan itu. Nah, setelah aku berhasil membasmi mereka yang tadinya bersekutu denganku, para pengkhianat yang sama dengan aku, orang-orang Pek-lian-kauw, wakil Mancu, dan suku Hui, barulah aku akan menyerah dan akan menerima hukuman apa pun yang dijatuhkan kaisar kepadaku. Dengan demikian, setidaknya aku telah melakukan sesuatu untuk menghancurkan mereka yang memusuhi kerajaan. Aku tidak takut namaku sendiri kotor karena memang apa yang kulakukan itu salah, akan tetapi aku merasa sedih kalau sampai nama keturunanku menjadi ternoda karenanya."

Ouw-yang Sianjin mengangguk-angguk dan dapat menerima usul itu.

Demikianlah, Pangeran Bouw Ji Kong mengajak Ouw-yang Sianjin berunding dan mengatur rencana untuk menjebak mereka yang tadinya mendukungnya untuk memberontak.

Baru setelah pagi, Ouw-yang Sianjin meninggalkan istana Pangeran Bouw Ji Kong, Cu An sendiri tetap berada di rumah orang tuanya karena dia akan membantu ayahnya dalam rencana menjebak dan membasmi para pemberontak.

Sepekan kemudian, di sebuah bukit kecil yang penuh hutan, berdatanganlah banyak orang.

Karena bukit di sebelah timur kota raja itu berada di daerah yang tandus dan sunyi dan di daerah itu tidak terdapat dusun, maka mereka yang berdatangan di situ tidak diketahui umum.

Sejak pagi, tokoh-tokoh besar yang berilmu tinggi, berdatangan di tempat tersembunyi itu, di mana telah dibangun tenda-tenda besar yang disediakan oleh Pangeran Bouw Ji Kong.

Di antara mereka yang datang berkumpul di situ terdapat Hwa Hwa Hoat-su, datuk Pek-lian-kauw, Hongbacu, tokoh Mancu utusan istimewa Nurhacu pemimpin besar Mancu, Tarmalan datuk suku Hui yang dukun ahli sihir.

Selain tiga orang sakti yang dulu melakukan pembunuhan terhadap enam orang pejabat tinggi, juga tampak beberapa orang panglima yang sudah dipengaruhi pangeran Bouw Ji Kong dan mendukung rencana pemberontakan dengan janji imbalan kedudukan yang lebih tinggi apabila pemberontakan itu berhasil.

Pangeran Bouw Ji Kong memang hanya mengundang para komandannya saja dan mereka diminta agar tidak mengerahkan pasukan.

Setelah semua undangan berkumpul di tempat itu, muncul Pangeran Bouw Ji Kong.

Sekitar tigapuluh orang, para pendukung pemberontakan yang lengkap, telah berkumpul dan setelah Pangeran Bouw Ji Kong datang, semua berkumpul di tenda besar di mana telah dipersiapkan meja yang disambung-sambung memanjang dan kursi-kursi berhadapan terhalang meja.

Pangeran Bouw Ji Kong menempati kursi kehormatan yang berada di ujung deretan meja sehingga semua orang duduk di depannya di kanan kiri meja dan memandang kepadanya.

Wajah Pangeran Bouw Ji Kong tidak cerah seperti biasa, melainkan tampak seperti orang marah.

Semua orang yang hadir memandang heran, apalagi ketika pangeran Bouw Ji Kong bangkit berdiri dan berkata nyaring, tangannya menuding ke arah Hongbacu, tokoh Mancu yang duduk di deretan terdepan bersama Tarmalan dukun suku Hui dan Hwa Hwa Hoat-su tokoh Pek-lian-kauw.

"Saudara-saudara para panglima dan pejabat, kita telah dikhianati oleh orang-orang yang datang dari luar dan mengaku sebagai pendukung kita! Hongbacu orang Mancu ini telah berusaha hendak membunuh puteraku! Kita telah disesatkan oleh golongan Mancu, suku Hui, dan golongan Pek-lian-kauw. Mereka itu masing-masing hendak menguasai kita dan kalau gerakan berhasil, mereka tentu akan berusaha menyingkirkan kita dan menguasai negara!"

Hongbacu terkejut dan marah, demikian pula Tarmalan dan Hwa Hwa Hoat-su.

"Pangeran!!"

Bentak mereka bertiga.

"Pangeran, bukan aku yang berkhianat, melainkan puteramu sendiri! Dia menentang gerakan dan perjuangan kita, tentu saja seorang pengkhianat yang berada di antara kita amat berbahaya. Akan tetapi dia melarikan diri dan diculik Ouw-yang Sianjin......"

"Bohong!"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan muncul Bouw Cu An.

"Hongbacu berusaha membunuhku, dan suhu Ouw-yang Sianjin bahkan yang menyelamatkan aku dari tangan keji Hongbacu!"

"Nah, Saudara-saudara para panglima dan pejabat, kita selama ini telah bertindak keliru. Kita dipengaruhi oleh gerombolan bangsa Mancu, gerombolan Hui, dan gerombolan pemberontak Pek-lian-kauw. Padahal mereka itu hanya akan memanfaatkan kita dan kalau pemberontakan berhasil, pasti mereka itu akan saling memperebutkan kekuasaan seperti tiga anjing kelaparan memperebutkan tulang. Dan kita yang menjadi korban berikutnya.

"Cita-cita kita adalah untuk mendirikan pemerintahan yang sehat dan adil, kesejahteraan rakyat. Untuk itu, kalau ada pejabat tinggi yang bertindak sewenang-wenang, kita dapat mengajukan protes keras. Bukan dengan cara memberontak, karena kalau begitu kita tidak ada bedanya dengan tiga gerombolan itu!"

Tempat itu menjadi gaduh karena semua orang, terutama para panglima dan pejabat, terkejut bukan main mendengar ucapan Pangeran Bouw Ji Kong.

"Pangeran Bouw Ji Kong sudah menjadi gila!"

Teriak Hwa Hwa Hoat-su.

"Saudara-saudara, kita maju terus! Tanpa Pangeran Bouw Ji Kong kita masih dapat merebut tahta kerajaan ini. Pangeran pengkhianat ini dan puteranya sudah sepatutnya dihukum mati!"

Setelah berkata demikian, Hwa Hwa Hoat-su maju menyerang Pangeran Bouw Ji Kong dengan pedang di tangan kanan dan kebutan di tangan kiri.

Hongbacu tokoh Mancu juga sudah menggunakan golok gergajinya untuk menyerang Bouw Cu An.

"Tranggg......!"

Pangeran Bouw Ji Kong menangkis serangan pedang Hwa Hwa Hoat-su dan cepat mengelak dari sambaran kebutan.

Akan tetapi Hwa Hwa Hoat-su terus mendesaknya dengan serangan yang gencar dan dahsyat.

Sebentar saja pangeran itu terdesak karena memang tingkat kepandaian dan tenaganya masih kalah jauh dibandingkan lawannya.

"Cringg......!"

Bouw Cu An juga menangkis golok gergaji dengan pedangnya.

Hongbacu tokoh Mancu ini memang lihai sekali sehingga sekali menangkis saja Bouw Cu An sudah terhuyung ke belakang.

Ketika Hongbacu melompat dan menerjangnya kembali, tiba-tiba berkelebat bayangan kuning.

"Trakk!"

Golok gergaji di tangan Hongbacu terpental ketika bertemu dengan pedang bambu di tangan Ouw-yang Sianjin yang melindungi muridnya.

Sementara itu, ketika Pangeran Bouw Ji Kong terdesak, tiba-tiba tampak sinar kilat menyambar dan menangkis pedang tokoh Pek-lian-kauw itu.

"Cringg......!"

Hwa Hwa Hoat-su terkejut sekali dan melihat bahwa yang membuat pedangnya terpental adalah tangkisan Lui-kong-kiam (Pedang halilintar) di tangan Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan!

Dia terkejut dan melangkah ke belakang untuk siap siaga menghadapi lawan tangguh.

Pada saat itu terdengar bentakan nyaring.

"Tahan senjata!"

Dan kini muncullah seorang panglima yang berusia sekitar limapuluh dua tahun, tinggi tetap dengan kumis jenggot pendek rapi dan pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang panglima besar.

Semua panglima dan pejabat yang berada di situ terkejut mengenal bahwa dia adalah Panglima Besar Chang Ku Cing dan bersama panglima ini tampak pula Sim Tek Kun, Ong Lian Hong, Chang Hong Bu dan di belakang mereka tampak ratusan orang perajurit dengan belasan orang perwira tinggi.

"Para pemberontak, kalian sudah terkepung rapat! Menyerahlah atau terpaksa kami akan membasmi kalian semua!"

Para panglima dan pejabat tinggi yang tadinya mendukung pemberontakan, segera melepaskan senjata mereka dan membuangnya sebagai tanda menaluk karena mereka tahu akan percuma saja melakukan perlawanan.

Apalagi tadi mereka sudah mendengar ucapan Pangeran Bouw Ji Kong yang jelas menghentikan pemberontakannya, bahkan menentang para wakil dari Mancu, Hui, dan Pek-lian-kauw.

Sementara itu, Hwa Hwa Hoat-su, Hongbacu, dan Tarmalan yang melihat betapa tempat itu sudah dikepung ratusan orang perajurit dan di situ terdapat pula pendekar-pendekar muda yang mereka tahu memiliki ilmu kepandaian yang hebat, terutama sekali Hwe-thian Mo-li, mereka merasa bahwa melawan sama saja dengan membunuh diri.

Hwa Hwa Hoat-su yang tampak tenang, tidak seperti wakil suku Hui dan Mancu yang agak pucat, segera membuang senjata tanda takluk.

Dia bahkan tersenyum karena dia merasa yakin bahwa Pek-lian-kauw tidak akan membiarkan dia dihukum mati.

Melihat Hwa Hwa Hoat-su menyerah, Tarmalan dan Hongbacu juga merasa percuma saja kalau melawan, maka mereka juga menyerah.

Demikianlah, para gembong pemberontak itu menyerah tanpa perlawanan.

Mereka semua digiring sebagai tawanan dan dijebloskan penjara.

Kalau para panglima dan pejabat tinggi menjadi tawanan biasa, adalah tiga orang pimpinan itu, ialah Hwa Hwa Hoat-su, Hongbacu, dan Tarmalan, dimasukan dalam tempat tahanan istimewa.

Pangeran Bouw Ji Kong yang sebelumnya sudah melepaskan pemberontakannya, atas jaminan puteranya, Bouw Cu An dan Ouw-yang Sianjin, oleh Panglima Besar Chang Ku Cing diperbolehkan pulang.

Akan tetapi bukan berarti dia bebas dari tuntutan.

Panglima besar yang tegas dan adil itu tetap saja akan menuntutnya di depan pengadilan kelak, dan dia harus mempertanggung jawabkan kesalahannya.

Malam itu gelap dan sunyi.

Seminggu sudah lewat sejak pemberontak-pemberontak itu ditangkapi dan ditahan oleh Panglima besar Chang Ku Cing dengan bantuan yang diatur oleh Pangeran Bouw Ji Kong yang tadinya menjadi pimpinan pemberontak namun kemudian dapat disadarkan oleh puteranya sendiri, Bouw Cu An.

Penduduk kota raja, terutama sekali para pejabat pemerintah dapat bernapas lega setelah tadinya mereka dicekam ketakutan karena adanya banyak pembunuhan terhadap para pejabat tinggi.

Para pejabat, juga para penduduk, seolah berpesta atas dibasminya pemberontak.

Selama seminggu mereka berpesta dan bergembira ria, dapat tidur nyenyak kalau malam.

Malam ini, semua orang tidur setelah seminggu lamanya berpesta dan bersenang-senang.

Bahkan para perajurit yang bertugas jaga di istana malam itu lengah karena mereka semua yakin bahwa setelah semua pimpinan pemberontak ditangkap, tidak ada lagi bahaya yang mengancam.

"Siapa berani mengganggu istana?"

Malam yang gelap dan sunyi.

Setelah lewat tengah malam, tidak ada lagi suara orang di istana.

Para petugas jaga juga duduk mengantuk di tempat penjagaan, malas meronda.

Apalagi malam itu mendung tebal menutupi langit.

Sebuah pun bintang tidak tampak dan udara teramat dingin.

Setelah lewat tengah malam, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan di lingkungan istana.

"Kebakaran! Kebakaran!"

Teriakan itu berulang-ulang dan segera disambut teriakan banyak orang.

"Kebakaran! Kebakaran!"

Anehnya, api yang berkobar dengan asap tebal yang mengepul ke angkasa bukan terjadi di satu tempat saja, melainkan di empat penjuru sekeliling bangunan induk istana!

Berkobarnya api susul-menyusul dan seisi istana menjadi gempar.

Semua orang terbangun dan segera berlari-larian, ada yang karena panik berlari-lari kebingungan, akan tetapi sebagian besar lari ke arah kebakaran untuk membantu memadamkan api.

Ada yang menggunakan air, ada pula yang menggunakan tongkat panjang.

Teriakan mereka semakin menggegerkan seluruh istana.

Sesungguhnya empat tempat kebakaran itu tidaklah seberapa besar, akan tetapi karena kegaduhan dan teriakan-teriakan panik itu menimbulkan kegemparan.

Semua perajurit pengawal membantu untuk memadamkan api.

Tiga tempat yang terbakar tidak begitu sukar dipadamkan, akan tetapi gudang dekat istal di mana terdapat banyak jerami kering dan tumpukan kayu berkobar besar dan agak lama baru dapat dipadamkan.

Sebelum semua kebakaran dapat dipadamkan, Panglima Chang Ku Cing yang menerima laporan, malam itu juga sudah tiba di istana.

Juga Sim Tek Kun, Ong Lian Hong, Nyo Siang Lan, dan Chang Hong Bu bermunculan di istana setelah mendengar berita bahwa istana kebakaran.

Ouw-yang Cin-jin tidak tampak karena setelah pemberontakan diatasi, dia segera meninggalkan kota raja.

Melihat bahwa empat tempat kebakaran itu sudah hampir dapat dipadamkan, tinggal bagian gudang yang masih berkobar, Panglima besar Chang Ku Cing lalu memerintahkan para pendekar muda dan para perwira yang berada di situ untuk tenang.

"Hati-hati, mungkin ini siasat orang jahat. Mari kita cepat memeriksa ke dalam istana!"

Ketika mereka semua memasuki istana, mereka terkejut bukan main.

Tidak kurang dari duapuluh orang perajurit pengawal yang bertugas di dalam istana, juga para Thai-kam (sida-sida) menggeletak malang-melintang dalam keadaan tewas!

Ada yang tewas tanpa luka, dan ternyata mereka itu ada yang mengisap hawa beracun semacam gas, ada yang terluka dalam karena pukulan sakti, ada yang retak (Lanjut ke

Jilid 13) Lembah Selaksa Bunga (Seri ke 02 Serial Iblis dan Bidadari) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13 kepalanya.

Pendeknya mereka semua tewas oleh orang atau orang-orang yang memiliki kesaktian tinggi.

Didahului oleh Hwe-thian Mo-li, para pendekar muda cepat berlari ke bagian paling dalam, ke tempat di mana terdapat kamar-kamar pribadi kaisar dan keluarganya.

Panglima Chang Ku Cing yang berlari di samping Siang Lan, menemukan lagi beberapa orang Thai-kam penjaga di bagian itu sudah menggeletak tewas.

Padahal, para Thai-kam ini adalah orang-orang yang memiliki ilmu silat yang lumayan.

Jelas bahwa pembunuhan dilakukan orang-orang yang lihai sekali.

Mereka memasuki kamar tidur Kaisar dan melihat beberapa dayang dan pelayan wanita yang menggeletak malang-melintang, akan tetapi mereka itu ternyata hanya tertotok, tidak dibunuh seperti para penjaga.

Mungkin karena mereka tidak melakukan perlawanan.

Ketika Siang Lan membebaskan totokan mereka, mereka menangis dan mengatakan bahwa Kaisar telah diculik orang!

"Cepat katakan, apa yang telah terjadi!"

Bentak Panglima Chang Ku Cing, terkejut dan marah sekali mendengar bahwa Kaisar diculik orang. Dengan tubuh dan suara gemetar, seorang pelayan wanita setengah tua sambil berlutut memberi laporan.

"Tadi hamba para dayang dan pelayan terkejut dan terbangun dari tidur ketika mendengar ribut-ribut orang berteriak kebakaran dan sebagian dari para perajurit pengawal berlari keluar. Tiba-tiba hamba melihat beberapa orang Thai-kam penjaga berkelahi melawan seorang bertubuh kurus yang berpakaian serba hitam dan mukanya ditutupi kain. Akan tetapi para Thai-kam itu roboh satu demi satu.

"Orang bertopeng itu lalu memasuki kamar tidur Sri Baginda Kaisar dan keluar lagi sambil memondong Sribaginda. Kami berteriak akan tetapi penjahat itu lalu menepuk kami satu demi satu dan kami tak mampu bergerak lagi. Dia lalu melompat keluar dengan amat cepat seperti terbang. Demikianlah apa yang hamba ketahui, Thai-ciangkun!"

Panglima besar Chang Ku Cing cepat memerintahkan para komandan pasukan untuk mengerahkan pasukan masing-masing, melakukan penjagaan di empat penjuru kota raja, memeriksa semua orang-orang keluar masuk melalui pintu-pintu gerbang kota raja dan melakukan penggeledahan ke dalam setiap rumah di kota raja!

Juga dia minta bantuan para pendekar muda, yaitu Nyo Siang Lan, Ong Lian Hong, Sim Kun Tek, dan Chang Hong Bu untuk bantu mencari jejak penculik yang melarikan kaisar.

Putera Bouw Ji Kong, pangeran yang memberontak kemudian sadar itu, tidak ikut karena pemuda itu yang merasa terpukul dan malu atas perbuatan ayahnya, setelah pemberontakan gagal dan dia berhasil menyadarkan ayahnya, lalu nekat meninggalkan kota raja dan ikut dengan gurunya, Ouw-yang Sianjin.

Bagi Bouw Cu An memang serba salah.

Kalau dia tidak membela ayahnya di pengadilan tidaklah pantas karena dia putera tunggal Pangeran Bouw Ji Kong.

Kalau membelanya, apanya yang harus dibela karena jelas ayahnya telah melakukan kesalahan besar, yaitu pemberontakan.

Maka dia memilih lebih baik pergi dan dia hanya mengharapkan kebijaksanaan Panglima Chang Ku Cing untuk meringankan hukuman terhadap ayahnya yang pada akhirnya menyadari akan kesalahannya dan membantu pemerintah menjebak para pemberontak.

Penjagaan yang dilakukan para komandan dengan pasukan mereka amat ketat.

Bukan hanya di pintu gerbang saja diadakan penjagaan dan penggeledahan pada setiap orang yang keluar masuk, akan tetapi juga di sekeliling tembok kota raja diadakan perondaan yang ketat sehingga agaknya tidak mungkin ada orang dapat membawa Kaisar yang terculik keluar dari kota raja!

Juga para pendekar muda mencari dengan teliti, akan tetapi sampai beberapa hari lamanya tidak ada jejak ditinggalkan penculik itu.

Penculik dan kaisar yang diculiknya bagaikan lenyap ditelan bumi!

Ketika Panglima Chang Ku Cing sendiri, ditemani Nyo Siang Lan, mengunjungi gedung tempat tinggal Pangeran Bouw Ji Kong untuk bertanya kepada pangeran bekas pemberontak itu, mereka disambut wajah duka dari Nyonya Bouw.

"Thai-ciangkun, kami sekeluarga di sini sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan Sribaginda Kaisar karena suami saya sendiri juga menghilang dan kami tidak tahu ke mana perginya."

Panglima Chang Ku Cing mengerutkan alisnya.

"Pangeran Bouw Ji Kong menghilang? Sejak kapan dia menghilang?"

"Sudah tiga hari."

"Tiga hari? Kalau begitu bersamaan waktunya dengan diculiknya Sribaginda Kaisar?"

"Begitulah, Thai-ciangkun. Kami khawatir sekali......"

"Hemmm......!"

Panglima Chang Ku Cing tentu saja menjadi curiga dan menduga bahwa tentu terculiknya Kaisar itu merupakan perbuatan pangeran itu pula.

Agaknya Nyonya Bouw memaklumi isi hati panglima itu karena ia sambil menangis berkata.

"Thai-ciangkun, mohon jangan curigai suami saya. Sungguh, saya berani bersumpah bahwa suami saya pasti tidak terlibat dalam penculikan Sribaginda Kaisar itu! Suami saya sudah benar-benar menyadari kesalahannya. Ahh, saya bingung sekali, Thai-ciangkun. Kalau saja Cu An berada di sini......"

Nyonya itu menangis sedih.

Tiga orang wanita pelayan yang berada di situ ikut menangis walaupun tanpa suara melihat nyonya majikan mereka menangis sedih.

Terdengar suara batuk-batuk dan ketika Panglima Chang Ku Cing dan Siang Lan menengok, mereka melihat di sudut ruangan itu seorang kakek sedang membersihkan perabot dalam ruangan itu dengan sehelai kain.

Melihat panglima itu menoleh kepadanya, kakek yang usianya sudah sekitar tujuhpuluh tahun itu segera membungkuk.

"Mohon maaf, Thai-ciangkun, hamba sekalian para pelayan merasa ikut berduka dengan Hu-jin...... ugh-ugh......"

Dia kembali terbatuk-batuk kecil.

Panglima Chang Ku Cing memandang kakek itu pernuh perhatian, demikian pula Siang Lan.

Kakek yang sudah tua itu bertubuh kurus dan lemah, akan tetapi bekerja dengan teliti, dan sikapnya menghormat.

"Bouw Hujin, siapakah dia?"

Tanya Panglima Chang kepada Nyonya rumah sambil menunjuk ke arah kakek itu.

"Dia itu Kakek A-kui, pelayan kami yang setia,"

Jawab Nyonya Bouw lirih namun suaranya jelas mendukung sehingga kecurigaan panglima itu dan Siang Lan lenyap.

"Apakah tidak ada tanda-tanda akan hilangnya Pangeran Bouw? Apakah sebelumnya dia mengatakan sesuatu kepadamu?"

"Tidak ada yang aneh, Chang Thai-ciangkun. Semua biasa-biasa saja dan tiba-tiba, ketika saya bangun pagi, dia sudah lenyap dan tidak ada yang tahu ke mana dia pergi, sampai sekarang tidak ada beritanya. Akan tetapi sekali lagi, mohon jangan menyangka bahwa dia terlibat dengan terculiknya Sribaginda Kaisar, Thai-ciangkun. Saya yakin bahwa dia tidak bersalah......"

Panglima Chang yang tadinya mencurigai pangeran Bouw Ji Kong, percaya kepada nyonya itu.

Pula, apa perlunya Pangeran Bouw melakukan penculikan terhadap kaisar setelah dia sadar akan kesalahannya, bahkan telah membantu pemerintah membasmi para pemberontak?

Kalau dia melakukannya, sama sekali tidak ada untungnya baginya, yang ada hanya kerugian besar karena selain dia menjadi buronan dan kalau tertangkap akan dihukum berat, juga keluarganya akan ikut menderita karena dihukum.

Bukan, pasti bukan Pangeran Bouw Ji Kong yang melakukannya atau yang mendalangi diculiknya kaisar.

Panglima Chang dan Siang Lan pamit dan pergi.

Setelah mereka pergi, Nyonya Bouw Ji Kong menjatuhkan diri di atas kursinya dan menangis.

Tiga orang pelayan wanita itu mencoba menghiburnya.

Kakek A-kui, pelayan tua itu, berkata lirih.

"Bagus, Hujin. Sikap dan tindakan Hujin tepat dan bagus sekali."

Setelah berkata demikian, karena semua perabot di situ sudah dibersihkannya, dia meninggalkan ruangan tamu untuk bekerja di ruangan lain.

Biarpun Panglima Chang Ku Cing sudah melarang mereka yang berada dalam istana agar jangan menceritakan tentang terculiknya kaisar, tetap saja berita itu bocor dan membuat rakyat menjadi gempar, khawatir dan ketakutan.

Hal ini dapat dirasakan ketika Panglima Chang dan Siang Lan berjalan keluar dari gedung Pangeran Bouw.

Di jalan raya dia melihat sikap rakyat yang rata-rata berwajah muram dan gelisah.

Dia tidak dapat menyalahkan siapa-siapa karena berita seperti itu tentu segera tersiar, bahkan mungkin sampai jauh di luar kota raja.

Kaisar diculik orang!

Berita ini tentu amat mengguncangkan hati rakyat.

Mengingat belum diperolehnya hasil dari semua penjagaan ketat dan pencarian yang amat teliti, wajah Panglima Chang Ku Cing menjadi murung.

Biarpun pencarian terhadap kaisar yang hilang itu menjadi tanggung jawab semua pejabat, namun dia merupakan pucuk pimpinan sehingga di tangannyalah terletak pertanggungan jawab itu.

"Paman Bu-beng-cu......!"

Tiba-tiba Siang Lan berseru girang ketika seorang laki-laki berusia sekitar empatpuluh dua tahun, bertubuh sedang, wajahnya bersih dan tampan, sepasang matanya mencorong namun senyumnya penuh kelembutan, berada di depannya.

Laki-laki itu adalah Bu-beng-cu, yang menggembleng Siang Lan dengan ilmu-ilmu yang lihai.

Panglima Chang Ku Cing memandang penuh perhatian dan Siang Lan segera memperkenalkan.

"Paman, ini adalah Panglima Chang Ku Cing! Paman Chang ini adalah Paman Bu-beng-cu yang membimbing saya untuk memperdalam ilmu silat."

Bu-beng-cu (Si Tanpa Nama) segera memberi hormat kepada panglima yang sudah lama dia kenal namanya dan amat dikaguminya itu. Panglima Chang membalas penghormatan itu.

"Paman Panglima, kebetulan sekali paman Bu-beng-cu berada di sini. Kalau dia membantu kita, tentu lebih besar harapan kita untuk dapat menemukan Sribaginda Kaisar!"

Panglima Chang menatap wajah Bu-beng-cu penuh perhatian.

"Saudara Bu-beng-cu, apakah engkau sudah mendengar peristiwa itu?"

"Tentang hilangnya Sribaginda Kaisar? Saya sudah mendengarnya, Thai-ciangkun. Justeru karena itulah saya berada di sini karena saya tahu bahwa Nona Nyo Siang Lan ini pasti sedang sibuk untuk ikut mencari. Saya ingin membantunya sedapat mungkin."

"Bagus! Marilah ikut dengan kami dan di sana kita bicarakan bersama apa yang harus kita lakukan."

"Maaf, Thai-ciangkun. Saya lebih suka bekerja sendiri karena dengan cara diam-diam si penculik tidak akan mengenal saya dan tidak akan tahu bahwa saya juga ikut mencari Sribaginda. Saya akan minta penjelasan dari Hwe-thian Mo-li saja."

Panglima Chang mengangguk-angguk setelah dia memandang Siang Lan dan melihat gadis itu mengangguk kepadanya.

"Hemm, kami kira gagasan itu baik sekali. Selama ini kami mencari beramai-ramai dan tentu saja si penculik, kalau memang dia masih berada di dalam kota raja, akan mudah melihat gerak gerik kami. Baiklah, kalau begitu, engkau yang memberi keterangan kepadanya, Siang Lan. Aku akan mengadakan rapat dengan para perwira pembantuku."

Panglima itu lalu meninggalkan mereka berdua.

Siang Lan merasa gembira bukan main melihat Bu-beng-cu muncul di kota raja.

Semua kekecewaan dan kemurungannya karena tidak berhasil menemukan kaisar yang diculik orang, lenyap terganti harapan dan kegembiraan.

Diam-diam ia merasakan perubahan pada perasaannya ini dan kembali hampir merasa yakin bahwa sesungguhnya ia telah jatuh cinta kepada orang yang selama ini bersikap demikian baik, membelanya dan bahkan mau menggemblengnya dengan sungguh-sungguh agar ia kelak dapat membalas dendamnya kepada musuh besarnya yaitu Thian-te Mo-ong!

"Paman, mari kucarikan tempat menginap untukmu."

"Tadi begitu memasuki kota saja aku langsung mencari rumah penginapan dan sudah menyewa sebuah kamar di rumah penginapan Hok An di ujung selatan kota, Siang Lan,"

Kata Bu-beng-cu.

"Kalau begitu, mari kita ke sana dan kita bicara di sana agar lebih leluasa, Paman."

Mereka berdua lalu pergi ke rumah penginapan yang tidak berapa besar itu.

Bu-beng-cu membuka pintu kamarnya dan membiarkan pintu itu terbuka lebar sehingga tidak akan tampak janggal atau tidak sopan kalau seorang gadis seperti Siang Lan memasuki kamarnya.

Melihat daun pintu dibuka lebar sehingga tampak dari luar, Siang Lan juga tidak ragu ragu lagi memasuki kamar itu bersama Bu-beng-cu.

Di atas meja terdapat buntalan pakaian dan juga segulung kain seperti sebuah lukisan.

Karena ingin tahu, Siang Lan menghampiri meja.

"Ini lukisan apakah, Paman?"

Ia merasa heran sekali karena tiba-tiba laki-laki itu menyambar gulungan lukisan itu dan melemparkannya ke atas pembaringannya.

"Jangan, Siang Lan. Gambar itu tidak kuperlihatkan kepada orang lain!"

Siang Lan menjadi penasaran. Aneh, sebuah lukisan saja mengapa dirahasiakan? "Aih, lukisan apakah itu maka aku tidak boleh melihatnya, Paman?"

"Lukisan...... seorang wanita!"

Siang Lan merasa seolah-olah ada batu besar menghimpit hatinya dan ia merasa betapa mukanya menjadi panas. Hatinya merasa tidak enak sekali.

"Seorang perempuan, Paman?"

Tanya Siang Lan sambil mengerling ke arah gulungan kain bergambar itu.

"Akan tetapi paman pernah bilang bahwa Paman tidak mempunyai isteri, tidak mempunyai keluarga. Apakah itu gambar isteri paman?"

Bu-beng-cu menggelengkan kepalanya.

"Bukan, aku belum pernah beristeri."

Kembali Siang Lan merasakan suatu perasaan lega yang baginya kini tidak aneh lagi karena ia hampir yakin bahwa ia sesungguhnya mencinta laki-laki ini dan tentu saja merasa cemburu.

"Lalu siapakah yang berada di gambar Paman? Kalau gambarnya Paman bawa ke mana-mana, tentu ia seorang yang...... penting bagimu."

"Ya...... ia memang seorang yang amat penting bagiku."

"Siapakah ia, Paman?"

Siang Lan bertanya penuh ingin tahu, akan tetapi ia menyadari bahwa tidak sepantasnya ia mendesak karena hal itu sama saja dengan memperlihatkan kecemburuannya, maka cepat-cepat disambungnya.

"Ah, sudahlah, kalau engkau tidak ingin mengatakan dan ingin merahasiakannya dariku, Paman."

"Siang Lan, lebih baik sekarang kauceritakan yang jelas tentang penculikan atas diri Sribaginda Kaisar itu."

Siang Lan teringat akan tugasnya, lalu ia menceritakan tentang kebakaran di istana sehingga menggegerkan seisi istana lalu setelah api dapat diatasi ternyata para pengawal dalam istana dan seberapa orang Thai-kam terbunuh dan Sribaginda Kaisar lenyap.

"Menurut para pelayan wanita yang pingsan, mereka hanya melihat seorang berpakaian serba hitam dengan muka tertutup kain, bertubuh tinggi kurus, menculik kaisar dan seperti terbang meninggalkan istana."

"Bagaimana ciri-ciri para perajurit yang terbunuh?"

"Pada mayat-mayat itu tampak bekas tangan seorang yang memiliki kesaktian tinggi. Mereka semua tewas tanpa luka senjata tajam, agaknya semua terbunuh oleh pukulan jarak jauh yang amat kuat."

"Mungkinkah penculik itu membawa lari kaisar ke luar kota raja?"

"Agaknya tidak mungkin, Paman, karena selain penjagaan di pintu gerbang ketat, malam itu juga Panglima Chang memerintahkan para komandan untuk mengerahkan pasukannya melakukan penjagaan dan perondaan sehingga betapa pun tinggi ilmu kepandaian penculik itu, rasanya tidak mungkin kalau dia dapat membawa Kaisar keluar dari kota raja."

"Dan apakah ada tanda-tanda berapa kiranya jumlah mereka dan apakah meninggalkan tanda bahwa mereka itu terdiri dari pria atau wanita?"

"Menurut pelayan istana, penculik itu hanya seorang saja. Akan tetapi mereka tidak dapat mengatakan apakah penculik itu pria atau wanita karena memakai pakaian hitam dan penutup muka hitam, tubuhnya kurus, mungkin pria dan mungkin juga wanita."

"Hemm, kalau dia dapat melakukan pembakaran di empat penjuru lalu melakukan penculikan, membunuh banyak perajurit, jelas dia memiliki ilmu silat yang amat tinggi dan tentu dia mengenal keadaan dalam istana. Jadi menurut pendapat Panglima Chang dan pendapatmu, penculik itu masih berada di dalam kota raja dan menyembunyikan Sribaginda Kaisar di suatu tempat?"

"Kami memang mengira demikian, Paman. Akan tetapi selama tiga hari ini kami menggeledah hampir semua rumah dan hasilnya nihil. Kami tidak menemukan jejak penculik itu. Sribaginda Kaisar seolah lenyap ditelan bumi. Kami khawatir sekali kalau-kalau, entah dengan cara bagaimana, penculik itu berhasil membawa Kaisar keluar dari kota raja. Kalau benar demikian, maka akan sulit untuk dilacak."

Bu-beng-cu mengerutkan alisnya dan berpikir sejenak, kemudian menggelengkan kepalanya.

"Aku kira dia belum membawa Kaisar keluar dari kota, Siang Lan. Resikonya ketahuan besar sekali kalau dia melakukan hal itu. Tentu dia mempunyai tempat persembunyian rahasia yang amat baik dan sukar ditemukan. Dan aku hampir yakin orang itu menyamar seperti orang biasa sehingga tidak dicurigai.

"Dan agaknya dia melakukan pekerjaan amat berbahaya bagi dirinya itu sudah pasti dia mempunyai pamrih. menculik dan membunuh Kaisar sekalipun, apa untungnya bagi dia? Tentu ada apa-apanya di balik perbuatannya yang nekat ini. Bagaimana dengan Pangeran Bouw Ji Kong? Apakah Panglima Chang tidak mencurigainya?"

"Inilah yang aneh, Paman. Panglima Chang dan aku memang mencurigainya karena dia merupakan bekas pemberontak yang menunggu diadili. Kami pergi ke sana dan apa yang kami temukan? Keluarganya menangis dan mengatakan bahwa Pangeran Bouw lenyap pada saat terjadinya penculikan terhadap Kaisar itu."

"Hemm, mencurigakan sekali! Pasti ada hubungannya antara terculiknya Kaisar dan hilangnya Pangeran Bouw!"

Kata Bu-beng-cu.

"Kami juga berpikir demikian, akan tetapi Nyonya Bouw merasa yakin bahwa suaminya tidak terlibat dalam penculikan itu dan wanita itu tampak khawatir sekali. Entah ke mana hilangnya Pangeran Bouw, Paman, diliputi rahasia seperti juga terculiknya Kaisar."

"Hemm, aku juga berpendapat bahwa Kaisar tentu disembunyikan di suatu tempat dalam kota raja. Sekarang kita berbagi tugas. Sebaiknya engkau menyelidiki ke gedung Pangeran Bouw......"

"Akan tetapi panglima Chang dan aku sudah ke sana tadi, Paman."

"Maksudku, kau datangi tempat itu malam ini secara rahasia. Kau tadi mengatakan bahwa Nyonya Bouw tampak khawatir atau ketakutan, mungkin ia berbohong atau karena tertekan dan terancam maka ia terpaksa berbohong. Selidiki malam nanti, siapa tahu akan ada kebocoran kalau keluarga itu menyimpan rahasia. Sedangkan aku sendiri, tolong mintakan surat dari panglima Chang untukku agar aku dapat memasuki tempat di mana mereka ditawan. Aku akan menanyai mereka dan aku punya cara untuk memaksa mereka mengaku kalau mereka tersangkut dan mengetahui akan penculikan ini."

"Baiklah, Paman. Sekarang juga akan kumintakan surat itu. Paman tunggu saja di sini, sehingga sebentar akan kuantarkan ke sini."

Siang Lan lalu pergi ke kantor Panglima Chang dan segera mendapatkan surat yang diinginkan Bu-beng-cu, kemudian menyerahkan surat itu kepada Bu-beng-cu yang menanti di rumah penginapan Hok An.

Bu-beng-cu menanti sampai malam tiba, baru dia pergi ke penjara di mana Hwa Hwa Hoat-su ditahan.

Dia tidak ingin mengunjungi para tawanan lain seperti Kang-lam Jit-sian bekas pengawal Pangeran Bouw yang juga ditawan, atau Hongbacu tokoh Mancu dan Tarmalan dukun suku Hui.

Dia menduga bahwa kalau ada kawan-kawan dari para pemberontak yang menculik kaisar, tentu datang dari golongan Pek-lian-kauw yang memiliki banyak orang sakti.

Maka dia sengaja malam itu mengunjungi Hwa Hwa Hoat-su.

Karena berbekal surat perintah Panglima besar Chang Ku Cing, dengan mudah saja tanpa dihalangi Bu-beng-cu dapat memasuki penjara dan langsung menuju ke kamar tahanan Hwa Hwa Hoat-su yang kokoh kuat.

Atas permintaannya, para perajurit penjaga menjauhkan diri dan tidak ada yang dapat melihat atau mendengarkan percakapannya dengan Hwa Hwa Hoat-su.

Hwa Hwa Hoat-su sedang duduk bersamadhi dalam kamar tahanan itu.

Sebuah lampu yang cukup terang tergantung dalam kamar yang tidak memiliki perabotan lain kecuali sebuah bangku panjang yang menjadi tempat duduk dan tempat tidur.

Dindingnya tebal dan dilapisi baja, bagian depannya merupakan jeruji baja yang sebesar lengan orang, amat kokoh.

Biasanya, di depan kamar tahanan ini masih terdapat lima orang perajurit jaga yang menjaga secara bergiliran, siap dengan senjata tombak dan panah.

Akan tetapi malam ini, para penjaga itu pun menjauhkan diri atas permintaan Bu-beng-cu.

Suara terbukanya pintu membuat Hwa Hwa Hoat-su membuka mata dan memandang ke arah pintu.

Pintu kamar tahanannya terbuka dan di ambang pintu tampak seorang laki-laki yang dengan sinar mata mencorong menatapnya.

Mula-mula Hwa Hwa Hoat-su merasa girang sekali karena dia mengira bahwa tentu Pek-lian-kauw telah mengirim seseorang untuk membebaskannya dari tahanan.

Akan tetapi dia mengerutkan alisnya karena tidak mengenal laki-laki itu.

Bagaimanapun dia melihat kesempatan meloloskan diri.

Kalau yang datang ini bukan kawan yang hendak membebaskannya, mudah saja baginya untuk membunuhnya dan menggunakan kesempatan selagi kamar tahanan terbuka dan tidak tampak ada penjaga, untuk melarikan diri.

Maka dia cepat melompat turun dari atas bangku panjang dan kini berdiri berhadapan dengan Bu-beng-cu yang sudah melangkah masuk.

Sejenak kedua orang ini saling berpandangan dan Bu-beng-cu berkata tenang.

"Hwa Hwa Hoat-su, apakah keadaanmu baik-baik saja di tempat ini?"

Hwa Hwa Hoat-su memandang penuh selidik, lalu bertanya.

"Siapakah engkau dan apa perlumu memasuki kamar tahanan ini?"

"Siapa adanya aku tidaklah penting, Hwa Hwa Hoat-su. Aku datang mewakili panglima besar Chang Ku Cing dan minta agar engkau mau berterus terang mengaku siapa yang melakukan penculikan atas diri Sribaginda Kaisar!"

Sepasang mata Hwa Hwa Hoat-su, terbelalak, lalu dia tertawa bergelak.

"Kaisar diculik? Ha-ha-ha-ha! Bagus, bagus sekali!"

"Hwa Hwa Hoat-su, dengarlah baik-baik. Kalau penculikan itu dilakukan seorang temanmu, hal itu sama sekali tidak menguntungkan engkau atau Pek-lian-kauw. Seratus orang kaisar boleh kalian culik dan binasakan, akan tetapi seratus orang kaisar lain akan bermunculan dan pemerintah Kerajaan Beng akan masih tetap berdiri teguh. Akibatnya, engkau dan teman-temanmu tidak mungkin akan mendapatkan pengampunan lagi, bahkan pemerintah pasti akan berusaha keras untuk membasmi Pek-lian-kauw. Karena itu, katakan saja siapa yang telah menculik Sribaginda Kaisar!"

"Ha-ha-ha, orang macam engkau dapat memaksa aku mengaku?"

Tiba-tiba tokoh Pek-lian-kauw itu menyerang dengan dorongan kedua telapak tangannya.

Sejak tadi dia memang diam-diam sudah mengumpulkan sin-kang (tenaga sakti) dan kini dia bermaksud sekali serang membuat orang di depannya itu tewas agar dia dapat melarikan diri keluar dari tempat tahanan.

Angin bagaikan badai menyambar ketika dia menyerang Bu-beng-cu dengan pukulan jarak jauh yang dahsyat itu.

Akan tetapi tentu saja Bu-beng-cu bukan seorang yang bodoh dan lengah.

Sejak semula dia sudah tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang yang selain lihai, juga terkenal licik.

Maka sejak masuk kamar tahanan itu, dia sudah membekali dirinya dengan pengerahan sin-kang.

Maka begitu lawan menyerang, dia sudah siap dan dia pun mendorongkan kedua telapak tangannya menyambut serangan dahsyat itu.

"Syuuuuttt...... blaarrrr......!"

Tubuh Hwa Hwa Hoat-su terlempar ke belakang dan membentur dinding lalu terjatuh.

Dia terbelalak dan cepat bangkit berdiri, heran dan terkejut bukan main.

Dipandangnya lawannya.

Hanya seorang laki-laki yang belum tua benar, baru sekitar empatpuluh dua tahun usianya, akan tetapi bagaimana mungkin dia bukan hanya mampu menandingi tenaga saktinya, bahkan membuat dia terlempar?

Kemudian teringatlah Hwa Hwa Hoat-su.

"Keparat! Kiranya engkau yang dulu membantu dan melindungi Hwe-thian Mo-li!"

Dia merasa penasaran sekali dan menyesal bahwa kedua senjatanya, yaitu pedang dan kebutan putih, telah dirampas sehingga dia tidak dapat menggunakan senjata untuk melawan orang yang dia tahu amat tangguh ini.

"Siapakah engkau?"

Bu-beng-cu tersenyum.

"Hwa Hwa Hoat-su, bukan baru sekali itu saja kita bertemu. Lupakah engkau ketika sekitar enam-tujuh tahun yang lalu kita saling bertemu di See-ouw dan ketika itu engkau tidak kubunuh dan kubebaskan setelah engkau bersumpah untuk tidak melakukan kejahatan lagi?"

Tiba-tiba wajah Hwa Hwa Hoat-su yang biasanya pucat itu menjadi semakin pucat sehingga kehijauan dan sinar matanya menjadi redup kehilangan semangat.

"Kau...... kau...... Thai-lek-sian (Dewa bertenaga besar) Sie Bun Liong?"

Sie Bun Liong atau Bu-beng-cu (Si Tanpa Nama) mengangguk.

"Sekarang terserah kepadamu, Hwa Hwa Hoat-su. Kaukatakan siapa penculik Sribaginda Kaisar dan aku tidak akan mengganggumu, atau kalau engkau tidak mau mengaku, terpaksa aku tidak akan mengampunimu lagi."

Terbayanglah dalam benak Hwa Hwa Hoat-su akan peristiwa enam tahun lebih yang lalu.

Ketika itu dia atas nama Pek-lian-kauw bersama belasan orang anak buahnya mengadakan kegiatan di sekitar See-ouw (Telaga barat), seperti biasa membujuk rakyat untuk mendukung gerakan Pek-lian-kauw, lalu minta kepada rakyat di dusun-dusun untuk menyerahkan sumbangan untuk biaya "perjuangan".

Mereka yang membantah atau tidak menaati lalu disiksa, bahkan ada yang ibunuh.

Pada waktu itu, Sie Bu Liong yang mendengar akan hal ini, apalagi mendengar betapa beberapa orang pendekar yang mencoba menentang Hwa Hwa Hoat-su semua dikalahkan datuk Pek-lian-kauw itu, segera datang ke tempat itu.

Dia mengobrak-abrik semua anak buah Pek-lian-kauw dan akhirnya bertanding dengan Hwa Hwa Hoat-su.

Akhirnya Hwa Hwa Hoat-su roboh dan dia tertotok dengan Ilmu Penghancur Tulang yang membuat dia menderita kesakitan yang amat hebat.

Seluruh isi tubuhnya seperti ditusuk-tusuk pisau, nyeri, panas dan pedih yang hampir tak tertahankan.

Celakanya, dia tidak pingsan atau tewas sehingga siksaan itu membuat dia mohon ampun dan bersumpah untuk tidak melakukan kejahatan lagi.

Demikianlah kenangan itu dan kini kembali dia berhadapan dengan Thai-lek-sian Sie Bun Liong yang tadi sudah membuktikan bahwa tingkat kepandaian pendekar itu masih tetap lebih tinggi daripada tingkatnya.

Dia merasa ngeri sekali.

"Thai-lek-sian, aku tidak mungkin dapat memenuhi permintaanmu, lebih baik kau bunuh saja aku!"

Katanya. Bu-beng-cu menggelengkan kepala.

"Kalau engkau tidak mau mengaku, terpaksa aku akan memukulmu dengan Ilmu Penghancur Tulang lalu meninggalkanmu di sini. Engkau akan tersiksa selama empatpuluh hari baru akan mati."

Ancaman itu membuat Hwa Hwa Hoat-su mati kutu. Dia merasa ngeri sekali dan akhirnya dia mengaku setelah menghela napas berulang-ulang.

"Biarpun aku sendiri tidak dapat membuktikan, namun aku yakin bahwa satu-satunya orang yang mampu melakukan penculikan terhadap Kaisar, kalau orang itu dari Pek-lian-kauw, adalah suhengku (kakak seperguruanku) Cui-beng Kui-ong (Raja Setan Pengejar Arwah). Dialah yang memiliki ilmu kepandaian paling tinggi di antara kami."

"Hemm, bagus engkau mau mengaku. Sekarang katakan di mana dia berada dan di mana pula dia menyembunyikan Sribaginda Kaisar!"

Hwa Hwa Hoat-su menggelengkan kepalanya.

"Thai-lek-sian, aku telah tertawan dan ditahan di sini, sama sekali tidak mendapatkan hubungan luar penjara. Bagaimana aku dapat mengetahui di mana dia berada dan di mana pula Kaisar disembunyikan? Tadinya pun aku hanya menduga saja bahwa Suhengku yang melakukannya. Biar engkau paksa bagaimana pun, mana mungkin aku dapat mengetahui keadaan yang sebenarnya?"

Bu-beng-cu berpikir sejenak.

Alasan Hwa Hwa Hoat-su ini tak dapat disangkal kebenarannya.

Bagaimana dia bisa tahu kalau dia berada dalam tahanan?

Tentu sebelum dia tertawan, tidak ada rencana untuk menculik kaisar karena Pek-lian-kauw tadinya hanya mendukung dan membantu pemberontakan Pangeran Bouw Ji Kong!

Pangeran Bouw!

Agaknya dia mengetahui akan rahasia ini maka dia menghilang!

Mudah-mudahan Siang Lan dapat menemukan sesuatu, demikian Bu-beng-cu berpikir.

"Baiklah, Hwa Hwa Hoat-su. Aku percaya keteranganmu!"

Setelah berkata demikian, Bu-beng-cu keluar dari kamar itu dan mengunci lagi pintu tahanan lalu memanggil para penjaga.

Dia pun keluar dari penjara itu.

Bagaimanapun juga, dia tidak gagal sama sekali.

Dia dapat mengetahui siapa kiranya yang menculik kaisar.

Cui-beng Kui-ong, datuk terbesar Pek-lian-kauw.

Dia belum pernah bertemu dengan datuk itu, akan tetapi pernah mendengar kebesaran namanya dan kehebatan ilmu kepandaiannya.

Dia harus segera lapor kepada Panglima Chang Ku Cing.

Dia kembali ke rumah penginapan menanti datangnya pagi.

Dia akan menanti sampai Siang Lan datang berkunjung, baru bersama gadis itu akan mengunjungi panglima Chang.

Malam itu, sesuai dengan hasil perundingan dengan Bu-beng-cu, Siang Lan mengunjungi gedung Pangeran Bouw Ji Kong.

Ia menanti sampai lewat tengah malam.

Setelah suasana amat sepi ia melompati pagar tembok gedung yang mewah seperti istana itu, lalu dengan gerakan ringan ia melompat ke wuwungan rumah.

Ia mulai mengintai dari atas genteng, berpindah-pindah, mendengarkan mereka yang masih belum tidur bicara.

Akan tetapi ia hanya dapat mendengar mereka yang sedang melakukan penjagaan saja, dan para penjaga itu tidak membicarakan sesuatu yang penting mengenai Pangeran Bouw Ji Kong, juga tidak ada yang bicara tentang hilangnya kaisar yang terculik orang.

Sampai menjelang fajar ia menyelidiki namun tidak berhasil menemukan sesuatu yang penting.

Ketika ia mengambil keputusan untuk meninggalkan atap gedung itu, tiba-tiba ia mendengar suara wanita menangis.

Cepat ia melayang turun dan menghampiri kamar dari mana terdengar suara tangis itu.

Cuaca masih gelap sehingga ia dapat bersembunyi di balik jendela, melubangi daun jendela dan mengintai ke dalam kamar.

Ia melihat Nyonya Bouw, isteri pangeran Bouw Ji Kong sedang duduk di kursi dan menangis tersedu-sedu.

Ia merasa tertarik sekali.

Pasti nyonya ini mengetahui sesuatu, mungkin mengetahui di mana suaminya berada dan mengapa suaminya menghilang.

Ia ingin masuk dan mendesak agar nyonya itu mau mengaku.

Akan tetapi ia menahan gerakannya karena tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dengan suara keras, agaknya didorong dari luar dan masuklah seorang kakek tua yang kurus berpakaian pelayan.

Kakek tua itu adalah kakek pelayan yang pernah ia lihat dan menurut Nyonya Bouw bernama A-kui, seorang kakek yang tampak lemah.

Akan tetapi sekarang ia sama sekali tidak tampak sebagai pelayan yang taat dan lembut karena ia membentak dengan suara bengis.

"Sudah berapa kali aku melarang engkau menangis! Apa kau ingin melihat kepala suamimu kupenggal dan kubawa di depanmu?"

Wanita itu menahan jeritnya dan ia meratap.

"Ampuni aku...... ampuni suamiku...... ah, jangan bunuh suamiku......!"

"Kalau begitu, diam dan jangan menangis. Sekali lagi aku mendengar engkau menangis, kepala suamimu akan kulempar di depan kakimu!"

Setelah berkata demikian.

"pelayan"

Itu keluar dari kamar meninggalkan Nyonya Bouw yang menjatuhkan diri di atas pembaringan dan menyembunyikan mukanya di bantal untuk menahan suara tangisnya.

Cepat sekali Siang Lan lalu melompat dan memasuki kamar itu melalui pintu yang terbuka tanpa mengeluarkan suara.

Ia menepuk tengkuk Nyonya Bouw sehingga wanita itu terkejut dan mengangkat mukanya memandang Siang Lan akan tetapi tidak dapat mengeluarkan suara karena Siang Lan telah menotoknya.

Ia memberi isyarat agar wanita itu tidak terkejut dan mengeluarkan suara, kemudian setelah membantu wanita itu duduk, ia membebaskan totokannya dan berkata lirih.

"Bouw Hujin, cepat katakan di mana suamimu berada?"

Dengan tubuh gemetar nyonya itu menuding ke arah bagian belakang rumah.

"Di ruangan bawah tanah...... ruangan rahasia suamiku......"

"Di mana letaknya?"

"Di kamar suamiku, dua pintu dari sini...... akan tetapi ruangan itu tersembunyi...... putar arca singa di sudut kamar dan ada pintu rahasia di belakang almari terbuka......"

"Jangan khawatir, aku akan menolong suamimu. Apakah Sribaginda Kaisar juga berada di situ?"

Wanita itu mengangguk dan Siang Lan segera meninggalkan kamar itu.

Hatinya berdebar tegang karena selain merasa girang sekali telah menemukan di mana Kaisar disembunyikan, juga amat khawatir akan keselamatan Sribaginda Kaisar.

Ia segera mencari kamar Pangeran Bouw Ji Kong seperti yang ditunjukkan Nyonya Bouw tadi dan mudah saja menemukan kamar yang besar itu.

Melihat pintunya saja sudah lain karena pintunya terhias ukir-ukiran indah.

Akan tetapi tiba-tiba daun pintu itu terbuka dari dalam.

Secepat kilat Siang Lan menyusup ke belakang pot tanaman yang besar dan bersembunyi sambil mengintai.

Ia melihat kakek kurus tadi memegang sapu dan di pundaknya tersampir sehelai kain yang biasa dipergunakan untuk membersihkan perabotan rumah.

Kakek itu berjalan dengan langkah terseok lemah menuju ke bagian depan sambil menyeret sapunya.

"Jahanam busuk!"

Siang Lan mengutu dalam hatinya.

Siapa dapat menyangka kakek yang tampak seperti seorang pelayan tua lemah itu yang telah menculik kaisar, bahkan telah menyekap Pangeran Bouw Ji Kong ke dalam ruangan bawah tanah!

Kalau menurutkan kemarahannya, ingin Siang Lan langsung menyerangnya.

Akan tetapi ia bukan seorang gadis yang bodoh.

Sebelum menghajar penculik itu, ia harus lebih dulu melihat keadaan kaisar dan menolongnya.

Menyelamatkan Sribaginda Kaisar harus didahulukan dan ini lebih penting daripada menghajar penculik itu.

Maka ia diam saja sampai kakek itu memasuki ruangan lain yang cukup jauh dan tidak tampak lagi.

Baru ia memasuki kamar tidur Pangeran Bouw.

Mudah saja menemukan arca singa di atas meja di sudut kamar.

Cepat didekati meja itu lalu diputarnya arca itu.

Terdengar bunyi berderit perlahan dan sebuah almari yang menempel pada dinding tiba-tiba bergerak dan bergeser.

Di belakang almari itu kini terbuka pintu menuju tangga ke bawah!

Dengan jantung berdebar tegang namun penuh kewaspadaan Siang Lan menuruni tangga itu.

Setelah tiba di bawah ia memasuki lorong dan tiba di sebuah ruangan bawah tanah.

Dilihatnya Sribaginda Kaisar dan Pangeran Bouw Ji Kong duduk di atas lantai dalam keadaan terikat kaki tangan mereka.

Mereka berdua tampak pucat namun dalam keadaan sehat dan masih hidup!

"Yang Mulia!"

Siang Lan berseru dengan gembira dan terharu.

Cepat ia melepaskan ikatan kaki tangan kaisar, lalu melepaskan pula ikatan kaki tangan Pangeran Bouw karena kini ia yakin bahwa pangeran itu tidak bersalah dalam hal penculikan kaisar, bahkan dia sendiri juga ditawan.

Sementara itu, setelah Siang Lan meninggalkannya, Nyonya Bouw Ji Kong menjadi khawatir sekali.

Ia lalu menyelinap keluar gedung melalui pintu belakang, membangunkan kusir dan memerintahkan kusir cepat menyiapkan kereta.

Kemudian, Nyonya ini menunggang kereta dan minta kusirnya membalapkan kereta keluar halaman gedung.

"Bawa aku cepat ke rumah Panglima Chang Ku Cing!"

Perintahnya dengan tubuh dan suara gemetar.

Para pelayan yang terbangun tidak ada yang berani bertanya dan kusir itu biarpun menjadi keheranan tidak berani bertanya pula.

Setelah tiba di pintu gerbang halaman gedung Panglima Chang, para penjaga menghentikan kereta itu.

Akan tetapi mereka mengenal Nyonya Bouw dan ketika wanita itu mengatakan hendak menghadap Panglima Chang karena urusan penting sekali mereka membuka jalan.

Pada waktu itu, hari masih pagi sekali.

Akan tetapi sepagi itu, Panglima Chang Ku Cing sudah bangun dan bahkan pada saat itu sudah menerima seorang pengunjung yang diterima di kamar tamunya.

Pengunjung itu bukan lain adalah Bu-beng-cu.

Seperti kita ketahui, Bu-beng-cu berhasil memaksa Hwa Hwa Hoat-su mengaku bahwa mungkin sekali yang menculik kaisar adalah seorang datuk Pek-lian-kauw bernama julukan Cui-beng Kui-ong, akan tetapi Hwa Hwa Hoat-su tidak tahu di mana datuk itu menyembuyikan kaisar.

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 12

Baca Juga: Pusaka Pulau Es 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert