Eps 6 Lembah Selaksa Bunga - Kho Ping Hoo
Baca online Lembah Selaksa Bunga - Kho Ping Hoo
Cersil Lembah Selaksa Bunga - Kho Ping Hoo.
Bu-beng-cu menceritakan kepada Panglima Chang betapa lihai dan berbahayanya datuk berjuluk Cui-beng Kui-ong itu.
Dia juga menceritakan bahwa dia berbagi tugas dengan Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan yang kini menyelidiki gedung Pangeran Bouw.
Tiba-tiba percakapan mereka terhenti ketika seorang pengawal melaporkan bahwa Nyonya Bouw datang berkunjung.
Ketika wanita itu diijinkan masuk, ia lari memasuki ruangan tamu dan menjatuhkan diri di atas lantai sambil terengah-engah dan tubuhnya menggigil saking tegang dan takutnya.
Panglima Chang segera menghampiri dan membantu nyonya itu bangkit dan dipersilakan duduk.
"Bouw Hujin, apakah yang terjadi......?"
Tanyanya.
"Celaka, Chang Thai-ciangkun...... celaka......"
Nyonya Bouw bicara gemetar dan bercampur tangis.
"...... suamiku...... Sribaginda Kaisar...... mereka...... mereka ditawan......"
Wanita itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena tangisnya mengguguk. Panglima Chang berkata penuh wibawa.
"Tenanglah, Nyonya. Katakan, di mana Sribaginda Kaisar ditahan? Dan oleh siapa?"
"Yang menculik Sribaginda...... dan menawan suamiku...... dia adalah...... pelayan kami...... kakek A-kui...... mereka ditawan dalam ruangan bawah tanah...... di bawah...... kamar suamiku......"
Suaranya semakin lemah dan nyonya itu mengerahkan seluruh kekuatannya untuk terus memberi keterangan.
"...... tadi...... tadi...... ada seorang nona...... ia hendak menolong...... akan tetapi...... ahh, saya...... saya...... khawatir sekali......"
Ia pun terkulai lemas dan pingsan! "Thai-ciangkun, saya pergi menyusul Hwe-thian Mo-li!"
Bu-beng-cu berpamit dan sekali berkelebat tubuhnya lenyap dari ruangan tamu itu.
Panglima Chang cepat memanggil perwira pembantu dan memerintahkannya agar segera mempersiapkan pasukan dan mengepung rumah gedung Pangeran Bouw Ji Kong.
Perwira itu cepat melaksanakan perintah dan sebentar saja sepasukan perajurit terdiri dari duaratus orang sudah berlari-larian dalam barisan menuju rumah Pangeran Bouw.
Panglima Chang Ku Cing memanggil pelayan setelah mereka menyadarkan kembali Nyonya Bouw, wanita itu diminta untuk bercerita kepada Panglima Chang.
Nyonya Bouw bercerita dengan suara gemetar.
Ternyata tiga hari yang lalu, pada suatu malam A-kui, pelayan tua mereka itu memasuki kamar tidur suami isteri ini.
Ketika Pangeran Bouw terbangun dan melihat A-kui dalam kamar memutar arca singa sehingga pintu rahasia terbuka, dia terkejut.
Apalagi ketika melihat A-kui memanggul tubuh Kaisar di pundak kirinya.
Tentu saja dia merasa heran dan terkejut bukan main.
"Mengapa Pangeran Bouw terkejut dan heran? Apakah dia tidak tahu bahwa kakek itu seorang yang lihai dan telah menculik kaisar?"
Tanya Panglima Chang.
"Dia tidak tahu, Panglima, kami semua dahulu menerima A-kui sebagai pelayan, sama sekali tidak tahu bahwa dia seorang yang demikian sakti dan jahat. Suamiku mencoba untuk merampas Sribaginda Kaisar, akan tetapi dengan sebelah tangan saja A-kui telah mendorong dan memukul suamiku sehingga roboh dan pingsan.
"Kemudian dia membawa Sribaginda Kaisar dan suamiku ke dalam ruangan bawah tanah dan mengancam bahwa kalau saya membuka rahasianya, dia akan membunuh Kaisar dan suamiku. Karena itulah, Thai-ciangkun, saya sama sekali tidak berani menceritakan hal itu kepada siapapun juga, bahkan seisi rumah selain saya tidak ada yang mengetahuinya.
"Akan tetapi ketika Nona pendekar tadi datang dan bilang hendak menolong, saya memberitahu kepadanya di mana Sribaginda Kaisar disembunyikan.. Setelah ia pergi, saya menjadi ketakutan. Bagaimana ia, seorang gadis muda, akan dapat mengalahkan A-kui? Sedangkan suami saya sendiri begitu mudah dirobohkan!"
Panglima Chang lalu menyuruh isteri dan para pelayan untuk mengurus Nyonya Bouw dan menghiburnya, sedangkan dia sendiri segera membawa pasukan pengawal menyusul ke gedung Pangeran Bouw Ji Kong.
"Yang Mulia, harap Paduka tenang dan menanti di sini dulu. Pangeran Bouw Ji Kong, harap engkau suka menjaga Sribaginda Kaisar di sini, aku akan mencari dan menangkap penculik jahanam itu!"
Kata Siang Lan. Kaisar mengangguk, akan tetapi pangeran Bouw berkata.
"Nona, berhati-hatilah. A-kui itu ternyata adalah seorang yang amat sakti sekali."
"Jangan khawatir!"
Kata Siang Lan.
Tidak bisa terlalu disalahkan kalau Siang Lan memandang ringan A-kui karena memang penampilan kakek itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Bahkan sebaliknya, dia tampak lemah dan lugu.
Setelah mencabut Lui-kong-kiam, Siang Lan lalu berlari keluar dari ruangan bawah tanah melalui tangga yang menembus kamar tidur Pangeran Bouw Ji Kong.
Akan tetapi begitu keluar dari pintu rahasia di balik almari yang terbuka sejak tadi, dia melihat A-kui memasuki kamar itu dan sekali ini wajah A-kui tidak lagi lemah dan lugu, melainkan beringas dan sepasang matanya mencorong seperti mata setan, mengeluarkan sinar yang mengejutkan.
"Jahanam busuk!!"
Siang Lan memaki dan tanpa banyak bicara lagi ia sudah menyerang dengan dahsyat, menusukkan Lui-kong-kiam yang berubah menjadi sinar kilat itu ke dada kakek yang hanya dikenalnya sebagai A-kui.
Serangan Siang Lan ini hebat sekali, serangan mematikan karena ia langsung menyerang dengan jurus Kiam-sian-sia-ciok (Dewa Pedang Memanah Batu).
Pedangnya meluncur seperti anak panah menuju ulu hati kakek itu.
Akan tetapi kakek yang tampak lemah itu ternyata lihai bukan main.
Dia memutar tubuh, mengelak sambil membalikkan tubuhnya dan tangan kanannya bergerak memutar dari samping, dengan jari terbuka menangkis pedang dengan jurus Sin-liong-kian-wi (Naga Sakti Sabetkan Ekor).
Tangkisan dengan tangan kosong seperti ini terhadap sebatang pedang pusaka seperti Lui-kong-kiam, apalagi yang dimainkan oleh seorang gadis yang memiliki sin-kang luar biasa kuatnya seperti Siang Lan, amatlah berbahaya.
Kalau Si penangkis tidak memiliki tenaga amat dahsyat, mungkin saja tangannya akan terbabat putus.
"Tinggg......!"
Pedang Lui-kong-kiam itu berbunyi seperti dipukul baja. Siang Lan terkejut karena tangkisan itu membuat tangannya tergetar hebat. Namun, gadis yang tak mengenal takut ini sudah siap menyerang lagi.
"Tahan, agaknya engkau ini yang berjuluk Hwe-thian Mo-li?"
Tiba-tiba A-kui berseru. Siang Lan menahan pedangnya.
"Benar, aku orangnya!"
"Jadi, engkau yang telah membunuh murid keponakanku Hoat Hwa Cin-jin?"
"Benar pula! Dan kalau engkau tidak menyerah, engkau pun akan kupenggal batang lehermu!"
"Heh-heh, gadis sombong dan liar! Justeru engkau yang akan kutawan menambah jumlah sandera!"
"Kalau begitu mampuslah kau!"
Siang Lan menyerang lagi dengan bacokan dari samping ke arah leher lawan dengan jurus Hun-in-toan-san (Awan Melintang Memotong Gunung).
Pedangnya yang menjadi sinar kilat saking cepatnya digerakkan itu menyambar dahsyat.
Akan tetapi tahu-tahu di tangan kiri kakek itu telah terpegang seuntai tasbeh hitam dan tasbeh itu berubah menjadi gulungan sinar hitam ketika menangkis sabetan pedang Lui-kong-kiam yang mengarah lehernya.
"Cringgg!"
Kembali Siang Lan merasa tangannya tergetar ketika tasbeh hitam itu menangkis pedangnya.
Tiba-tiba ada sinar merah menyambar dari depan ke arah matanya.
Itu adalah sehelai kain merah di tangan kakek itu yang meluncur ke arah mukanya sehingga membuat pandang matanya silau.
Akan tetapi Siang Lan tidak menjadi gugup.
Gerakannya yang amat ringan karena kini gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang dikuasainya sudah mencapai tingkat tinggi berkat bimbingan Bu-beng-cu, membuat gadis itu dapat menghindar dengan lompatan ke belakang.
Kemudian tanpa melewatkan sedetik pun, tubuhnya sudah berkelebat lagi ke depan, pedangnya menyerang dengan gerakan Liu-seng-kan-goat (Bintang Cemara Mengejar Bulan).
Jurus ini amat dahsyat karena terdapat serangan beruntun enam kali yang amat berbahaya dan susul-menyusul.
Namun kakek itu benar-benar sakti.
Kini bukan hanya tasbehnya yang menangkis sehingga mengeluarkan bunyi berkencringan berulang-ulang, akan tetapi juga sabuk merahnya menangkis dan sekaligus berusaha membelit pedang Lui-kong-kiam.
Siang Lan tentu saja tidak membiarkan pedangnya terampas, maka ia membantu pedangnya dengan pukulan telapak tangannya yang membuat sabuk merah itu tertiup dan tidak dapat membelit pedang.
Serang menyerang terjadi dalam kamar tidur Pangeran Bouw yang luas itu.
Meja kursi terlempar oleh tendangan kedua orang yang sedang bertanding.
Ternyata dalam hal ilmu silat, kedua orang ini memiliki tingkat berimbang.
Siang Lan memang sedikit lebih menang dalam hal kecepatan gerakan, namun ia kalah kuat dalam penggunaan tenaga sakti.
Apalagi karena kakek itu mencampur sin-kang dengan Hoat-sut (sihir), maka sering kali Siang Lan terhuyung oleh pengaruh sihir melalui bentakan kakek itu.
Bagaimanapun juga, kakek itu merasa penasaran sekali.
Dia adalah datuk nomor satu di Pek-lian-kauw dan mungkin tingkat kepandaiannya hanya kalah sedikit dibandingkan para pemimpin jajaran tingkat atas dari Pek-lian-kauw pusat.
Masa kini melawan seorang gadis saja dia tidak mampu mengalahkannya?
Setelah bertanding lebih dari tigapuluh jurus dan mereka saling menyerang dan belum ada yang tampak terdesak, tiba-tiba kakek itu berteriak seperti bunyi seekor burung gagak dan kain merah di tangan kanannya melayang dan ujungnya menyambar ke arah ubun-ubun kepala Siang Lan.
Serangan ini berbahaya sekali karena kalau sampai ubun-ubun kepala terkena patukan atau totokan ujung kain merah, Siang Lan pasti akan tewas.
Gadis ini cepat mengelak ke kiri sambil menyabetkan pedangnya ke arah ujung kain merah itu.
"Pratt!"
Ujung kain merah itu putus, akan tetapi tiba-tiba ujung itu mengeluarkan uap berwarna merah yang menyerang dan mengenai muka Siang Lan.
Gadis itu tidak keburu menahan napasnya sehingga ada uap merah yang terhisap olehnya.
Seketika kepalanya pening, pandang matanya kabur dan ia pun terhuyung ke belakang, ke arah pintu rahasia terbuka!
Cui-beng Kui-ong atau A-kui, kakek itu, tertawa dan dia sudah menyambar tubuh Siang Lan yang pingsan, lalu membawanya turun ke ruangan bawah tanah.
Dia marah sekali karena rahasianya ketahuan.
Dia teringat kepada Nyonya Bouw dan memaki.
"Anjing perempuan itu pasti yang membocorkannya. Ia pantas mampus!"
Dia lalu menotok punggung Siang Lan dan melemparkan tubuh gadis itu ke atas lantai, tidak mempedulikan pedang Lui-kong-kiam yang ikut terlempar, dan seolah tidak melihat bahwa Kaisar dan Pangeran Bouw telah lepas dari ikat mereka.
Dia terlalu memandang rendah tiga orang tawanannya, apalagi setelah Siang Lan dia buat tidak berdaya dengan totokannya.
Nafsu amarah membuat dia lengah dan kakek itu cepat melompat keluar dari ruangan bawah tanah, lalu menutupkan kembali pintu rahasia yang hanya dapat dibuka dengan memutar arca singa itu.
Setelah pintu tertutup, dia lari mencari Nyonya Bouw.
Akan tetapi dia tidak dapat menemukannya, maka bagaikan gila dengan kejam dia membunuhi siapa saja yang ditemukannya.
Kegilaannya itu membuat tujuh orang pelayan, lima wanita dan dua pria, yang bertahan di situ ketika yang lainnya sudah pergi meninggalkan keluarga Pangeran Bouw, dibantai Cui-beng Kui-ong!
Dengan kemarahan masih meluap-luap, kini Cui-beng Kui-ong yang kedua tangannya berlepotan darah karena membantai para pelayan dengan tangan kosong, memecahkan kepala, menusuk dada dengan tangan dan jarinya, berlari memasuki kamar tidur Pangeran Bouw Ji Kong.
Sementara itu, melihat Siang Lan roboh dan tidak mampu bergerak, Pangeran Bouw Ji Kong yang memiliki tingkat ilmu silat cukup tinggi, segera memeriksanya.
Dia tahu bahwa gadis itu masih pingsan dan dalam keadaan tertotok.
Cepat ia mengambil air yang disediakan untuk minum di ruangan itu dan membasahi muka Siang Lan dengan air.
Gadis itu mengeluh dan siuman, akan tetapi tidak mampu menggerakkan kaki tangannya.
Pangeran Bouw berusaha untuk membuka totokan itu, akan tetapi dia selalu gagal.
"Nona, tahukah engkau bagaimana membuka totokan pada tubuhmu ini?"
"Totokan ini rasanya aneh, aku sendiri tidak tahu,"
Jawab Siang Lan lirih.
Pada saat itu, terdengar suara gerengan dan kakek A-kui yang kini tampak menyeramkan seperti orang gila, sudah menuruni tangga.
Melihat ini, Pangeran Bouw cepat memungut pedang Lui-kong-kiam milik Siang Lan yang ikut terlempar ke lantai dan dia sudah berdiri melindungi kaisar.
Dengan pedang di tangan Pangeran Bouw menghadang lalu berkata dengan suara garang.
"Kakek A-kui, siapakah sebenarnya engkau dan mengapa engkau menculik Sribaginda Kaisar?"
"Heh-heh-heh, mau tahu aku siapa? Aku adalah Cui-beng Kui-ong, datuk dari Pek-lian-kauw! Aku memang diselundupkan menjadi pelayanmu untuk bertindak kalau-kalau pemberontakanmu gagal. Siapa kira, engkau malah mengkhianati perjuangan sendiri sehingga suteku Hwa Hwa Hoat-su terjebak dan tertawan. Kalian semua akan kubunuh, kucincang agar dendam kami Pek-lian-kauw terbalas......"
Tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring memasuki ruangan bawah tanah itu.
"Cui-beng Kui-ong......!"
Suara itu terdengar jelas sekali, menandakan bahwa suara itu diteriakkan orang yang menggunakan tenaga khi-kang sehingga mengandung getaran yang amat kuat, dapat terdengar dari jauh.
"Rumah ini sudah terkepung ratusan perajurit! Engkau menyerahlah dan bebaskan Sribaginda Kaisar!!"
Kakek itu terkejut dan sekali tubuhnya berkelebat, dia sudah meluncur seperti terbang keluar dari ruangan bawah tanah, kemudian dari dalam kamar tidur Pangeran Bouw Ji Kong dia menjawab dengan suara yang sama nyaringnya karena dia juga mengerahkan tenaga dari dalam pusarnya.
"Hai kalian yang berada di luar! Bebaskan dulu Hwa Hwa Hoat-su dan semua kawan kami yang tertawan, baru kami akan membebaskan kaisar!"
Beberapa saat lamanya tidak terdengar jawaban karena Bu-beng-cu yang tadi mengeluarkan teriakan itu berunding dengan Panglima Chang Ku Cing lebih dulu sebelum menjawab.
Kemudian dia mengerahkan khi-kang dan menjawab dengan suara melengking.
"Cui-beng Kui-ong, dengar baik-baik! Kalau engkau sekarang membebaskan Sribaginda Kaisar dan mempersilakan beliau keluar menemui kami, maka kami berjanji akan membebaskan Hwa Hwa Hoat-su dan teman-temannya yang kami tawan."
"Tidak? Harus kalian yang lebih dulu membebaskan Hwa Hwa Hoat-su dan teman-temannya, baru Kaisar akan kubebaskan!"
Terdengar jawaban kakek itu.
"Dengar, Cui-beng Kui-ong! Syarat kami tidak dapat ditawar lagi! Kalau engkau mengganggu Sribaginda Kaisar apalagi sampai membunuhnya, kami akan menyiksa semua temanmu di penjara sampai mati dan engkau juga akan kami hukum mati dan kepalamu akan kami gantung di depan pintu gerbang agar semua orang dapat melihat dan menghinamu!"
"Ha-ha-ha? Kalian kira aku takut akan ancaman itu? Aku akan membawa Kaisar keluar dan siapa berani menentangku dan tidak mau membebaskan kawan-kawanku, aku akan membunuh Kaisar di depan hidung kalian!!"
Setelah berkata demikian, Cui-beng Kui-ong lalu memasuki pintu rahasia dengan niat membawa Kaisar keluar sebagai sandera.
Dia percaya bahwa kalau dia mengancam nyawa kaisar di depan semua panglima itu, pasti tidak ada yang berani menyerangnya dan dia dapat memaksa mereka membebaskan semua tawanan.
Akan tetapi begitu dia menuruni anak tangga untuk membawa kaisar keluar, Pangeran Bouw Ji Kong sudah menghadangnya dengan pedang Lui-kong-kiam di tangannya!
Siang Lan masih dalam keadaan tertotok dan ia merasa lemah sekali.
Gadis perkasa ini maklum bahwa ia telah keracunan berat oleh uap merah dan juga totokan yang dilakukan kakek itu bukan totokan biasa, melainkan sejenis pukulan yang membuat ia terluka oleh hawa beracun yang amat berbahaya.
"Hemm, Pangeran Bouw, aku hendak membawa Kaisar keluar. Engkau berani mencegah aku?"
Seru Cui-beng Kui-ong dengan marah dan juga heran akan sikap pangeran ini.
Seorang yang tadinya hendak memberontak, hendak membunuh kaisar dan merampas tahta kerajaan, kini berbalik malah hendak melindungi kaisar!
"Jangan engkau berani menyentuh Sribaginda Kaisar!
Aku siap membelanya dengan taruhan nyawaku untuk menebus dosa-dosaku!"
Kata Pangeran Bouw Ji Kong dengan sikap tegas. Siang Lan hanya dapat memandang dengan hati panas dan khawatir, akan tetapi tidak mampu menggerakkan kaki tangannya.
"Heh-heh-heh, pangeran tolol, memang engkau akan mampus lebih dulu!"
"Hyaaatt!!"
Pangeran Bouw Ji Kong menyerang dengan pedang Lui-kong-kiam sambil mengerahkan seluruh tenaganya dan menggunakan jurus paling ampuh.
Begitu menyerang, dia menggunakan ilmu silat pedang simpanannya, yaitu Kan-seng-sin-kiam-hoat (Ilmu Pedang Sakti mengejar Bintang).
Namun, tingkat ilmu pedangnya masih jauh di bawah tingkat kepandaian kakek itu.
Cui-beng Kui-ong hanya mengelak dan menangkis dengan tangan dari samping sambil berusaha menangkap pedang dan merampasnya.
Akan tetapi dia tahu bahwa pedang Lui-kong-kiam adalah sebatang pedang pusaka yang ampuh, maka dia juga berhati-hati agar tangannya jangan sampai terluka.
Hal ini membuat Pangeran Bouw dapat bertahan sampai belasan jurus.
Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan tasbehnya dan melontarkan ke atas.
Tasbeh itu bagaikan hidup (Lanjut ke
Jilid 14) Lembah Selaksa Bunga (Seri ke 02 Serial Iblis dan Bidadari) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14 berputar-putar dan melayang di udara, mengeluarkan suara berkeritikan dan menyambar ke arah kepala Pangeran Bouw.
Pangeran ini berusaha membacok dengan pedangnya, akan tetapi tasbeh itu seperti seekor burung hidup, dapat mengelak dan menyambar-nyambar, membuat Pangeran Bouw mencurahkan perhatiannya ke atas untuk menangkis serangan tasbeh.
Pada saat itu, Cui-beng Kui-ong mengeluarkan sabuk merahnya dan sekali sabuk itu meluncur seperti sinar merah, leher Pangeran Bouw tepat tertotok oleh ujung sabuk.
Pangeran itu roboh seketika, pedangnya terlepas dari tangannya dan dia tewas karena totokan ujung kain merah itu selain dahsyat sekali mengenai tenggorokannya, juga dari ujungnya keluar hawa atau uap beracun.
Kaisar yang juga melihat perkelahian itu duduk dengan sikap tenang di atas lantai sambil bersila.
Agaknya dia memang pantas menjadi seorang kaisar, sama sekali tidak tampak takut biarpun dia tahu bahwa kini dirinya tidak mempunyai pelindung lagi.
Sementara itu, Siang Lan sudah hampir tidak dapat menahan rasa nyeri di dadanya dan pernapasannya juga sesak terengah-engah.
Ia menyadari bahwa semakin ia berusaha untuk mengerahkan sin-kang (tenaga sakti), rasa nyeri dalam dadanya makin menghebat.
Maka kini ia hanya diam menahan diri menenangkan hatinya namun ia masih dapat melihat sikap kaisar dan diam-diam ia merasa kagum dan juga terharu.
"Hayo, engkau ikut denganku keluar dan perintahkan mereka untuk membebaskan semua temanku yang ditawan!"
Kata Cui-beng Kui-ong sambil melangkah menghampiri kaisar. Siang Lan memaksa diri berseru.
"Keparat busuk, jangan ganggu Sribaginda!"
"Heh-heh, engkau iblis betina Hwe-thian Mo-li! Engkau juga harus mati untuk menebus dosamu membunuhi banyak orang Pek-lian-kauw. Terimalah ini!"
Kakek itu melemparkan tasbehya yang berputar dan melayang ke arah kepala Siang Lan.
"Wirrr...... pyarrrr......!!"
Tiba-tiba sebuah benda sebesar kepala orang menyambar ke arah tasbeh dan begitu bertemu dengan tasbeh, benda itu pecah berkeping-keping, akan tetapi tasbeh itu sendiri juga putus untaiannya dan biji-biji tasbeh jatuh berhamburan di atas lantai.
"Paman......!"
Sian Lan berseru gembira akan tetapi segera terkulai pingsan lagi.
Ia tadi menggunakan terlalu banyak tenaga sehingga lukanya di dalam dada semakin parah.
Sementara itu, Cui-beng Kui-ong marah dan terkejut bukan main melihat tasbehnya putus berhamburan.
Dia melihat bahwa benda yang dilontarkan orang menangkis tasbehnya adalah arca singa di dalam kamar tidur Pangeran Bouw yang kalau diputar menjadi pembuka pintu rahasia ruangan bawah tanah itu.
Cepat dia memutar tubuhnya dan berhadapan dengan Bu-beng-cu.
"Keparat, siapa engkau?"
Cui-beng Kui-ong bertanya dengan suara galak karena dia marah sekali telah kehilangan tasbehnya.
"Cui-beng Kui-ong, engkau tidak perlu tahu aku siapa. Yang jelas aku adalah orang yang menentang perbuatanmu yang kejam dan jahat! Karena itu, engkau lebih baik menyerah agar diadili, daripada engkau mati konyol. Engkau tidak mungkin dapat melarikan diri keluar dari gedung ini!"
Diam-diam Bu-beng-cu menjadi terkejut dan merasa khawatir sekali ketika dia melihat Siang Lan rebah di atas lantai, dekat tubuh Pangeran Bouw Ji Kong yang biarpun tidak kelihatan terluka namun melihat keadaan wajahnya jelas sudah tewas.
Dia melihat Siang Lan masih bernapas, akan tetapi pernapasannya tersendat-sendat dan wajahnya pucat sekali.
Bu-beng-cu yang sudah lama dapat menguasai nafsu-nafsunya itu, melihat keadaan Siang Lan, tidak dapat menahan kemarahannya.
"Jahanam busuk engkau, Cui-beng Kui-ong!"
Bentaknya dan bagaikan seekor naga mengamuk, Bu-beng-cu menerjang dengan pukulan tangan kanannya.
Angin menyambar seperti badai ke arah Cui-beng Kui-ong, membuat kakek itu terkejut bukan main karena dari pukulan ini saja maklumlah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang yang lihai bukan main, yang memiliki pukulan seperti halilintar menyambar dan mengandung tenaga yang amat kuat.
Dia tidak berani menyambut pukulan dahsyat ini dan cepat melompat ke belakang mengelak.
"Blarrr......!"
Dinding di belakangnya yang disambar angin pukulan itu tergetar hebat dan kalau tidak dilapisi baja, tentu akan jebol.
Demikian hebatnya pukulan yang dilontarkan Bu-beng-cu!
Karena ruangan bawah tanah itu kurang luas, Cui-beng Kui-ong yang mulai merasa gentar, cepat melompat ke anak tangga dan melesat keluar, ke dalam kamar tidur Pangeran Bouw Ji Kong yang lebih luas.
Niatnya kalau ada kesempatan, dia akan meloloskan diri.
Akan tetapi begitu tiba di dalam kamar, dari daun pintu dan jendela yang telah terbuka, dia melihat ratusan orang perajurit dipimpin belasan orang perwira tinggi sudah mengepung kamar itu.
Tidak mungkin dapat melewati barisan yang demikian banyak.
Maka dia menjadi nekat.
Ketika mendengar gerakan Bu-beng-cu yang sudah mengejarnya, dia membalik dan sinar merah meluncur dari tangannya ketika dia menggerakkan kain merah yang ujungnya sudah terbabat putus oleh pedang Siang Lan tadi.
Bu-beng-cu dapat menduga bahwa seorang datuk besar golongan sesat seperti Cui-beng Kui-ong pasti tidak menggunakan senjata sembarangan seperti sehelai kain merah biasa.
Tentu kain itu mengandung racun.
Akan tetapi dia tidak merasa gentar dan dia bahkan menyambut serangan itu dengan menggerakkan tangannya secepat kilat dan tahu-tahu kain merah itu telah dapat dia cengkeram!
Bu-beng-cu mempertahankan ketika Cui-beng Kui-ong berusaha menarik lepas kain itu.
Terjadi tarik menarik dan adu tenaga sakti melalui kain merah yang panjangnya tinggal sekitar lima kaki itu.
"Prettt......!!"
Tiba-tiba kain merah itu putus bagian tengahnya dan uap merah mengepul.
Akan tetapi Bu-beng-cu yang sudah waspada meniup dengan mulutnya sehingga uap merah itu menyambar ke arah muka Cui-beng Kui-ong sendiri!
Akan tetapi tentu saja Raja Iblis ini sudah menggunakan obat anti racun sehingga uap merah yang mengenai mukanya tidak mempengaruhinya.
Dia semakin marah.
Kedua senjatanya telah rusak.
Setelah membuang potongan kain merah itu, dia lalu menerjang ke arah lawan dengan kedua tangan kosong.
Bu-beng-cu menyambut dan kini kedua orang yang sama-sama lihainya itu bertanding dengan tangan kosong.
Seru dan hebat bukan main perkelahian di antara mereka.
Para perwira tinggi yang nonton dari luar, termasuk Panglima besar Chang Ku Cing yang datang kemudian, terbelalak menyaksikan perkelahian tingkat tinggi yang membuat gedung itu seolah tergetar hebat.
Biarpun kedua orang itu memiliki tingkat kepandaian yang sama, Cui-beng Kui-ong memiliki kelemahan dibandingkan dengan lawannya.
Dia sudah berusia hampir tujuhpuluh tahun sedangkan lawannya baru berusia empatpuluh dua tahun, dan selama ini, Cui-beng Kui-ong hidup lebih banyak menuruti hawa nafsunya, berbeda dengan Bu-beng-cu yang hidup bersih mengendalikan nafsunya sehingga keadaan jiwanya lebih bersih daripada Cui-beng Kui-ong.
Hal ini didukung oleh tenaga saktinya yang murni dan datang dari kekuasaan Tuhan, tidak seperti Cui-beng Kui-ong yang telah banyak mengandalkan tenaga sihir atau ilmu hitam yang datang dari kekuasaan setan atau daya-daya rendah yang memperhambanya.
Kekejaman dan pembunuhan yang sering dia lakukan membuat jiwanya semakin bergelimang kekotoran.
Maka, setelah mereka bertanding sekitar limapuluh jurus, Cui-beng Kui-ong semakin panik.
Dia tahu benar bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan lawannya, maka timbul akalnya yang memang selalu siap untuk bertindak curang dan licik.
"Tahan dulu, aku mau bicara!"
Cui-beng Kui-ong berseru.
Mendengar ini, untuk tidak melanggar etika dunia persilatan, Bu-beng-cu menahan gerakannya, siap mendengarkan.
Akan tetapi tiba-tiba, begitu dia menghentikan gerakan dan menahan tenaga saktinya, tanpa diduganya, Cui-beng Kui-ong menerjang dengan amat cepat dan kuat!
Bu-beng-cu terkejut dan berusaha mengelak, akan tetapi sebuah pukulan telapak tangan kiri Cui-beng Kui-ong tetap mengenai pundaknya sehingga tubuhnya terjengkang.
Dia masih dapat mencegah tubuhnya terbanting, dengan berjungkir balik dan dia dapat berdiri, walaupun terhuyung ke belakang.
Cui-beng Kui-ong tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
Lawannya sudah terluka, maka dia pun menubruk maju sambil mendorongkan kedua telapak tangannya.
"Mampus kau!"
Bu-beng-cu menyambut dengan kedua telapak tangannya dan kini kedua telapak tangan mereka bertemu dan melekat.
Mereka saling dorong dan saling serang melalui kedua tangan mereka dengan mengerahkan tenaga sakti mereka.
Kalau dilihat begitu, seolah-olah dua orang itu sedang main-main.
Mereka berdiri dengan kedua lutut agak ditekuk, kedua tangan dijulurkan ke depan dan dua pasang telapak tangan itu saling menempel, mata mereka mencorong saling pandang dan tubuh mereka sama sekali tidak bergerak.
Dua orang perwira tinggi yang berdiri paling dekat di ambang pintu, melihat keadaan demikian itu, segera melompat maju dan menyerang Cui-beng Kui-ong dari belakang.
Seorang menusukkan pedangnya ke punggung dan seorang lagi membacokkan pedangnya ke tengkuk kakek itu.
"Trak-trakkk!"
Pedang-pedang itu seperti bertemu baja yang amat kuat dan bukan hanya dua batang pedang itu patah, akan tetapi dua orang perwira itu terpental ke belakang dan roboh pingsan!
Kiranya pada saat itu, Cui-beng Kui-ong sedang mengerahkan seluruh tenaga sin-kang (tenaga sakti) sehingga ketika dua orang perwira itu menyerangnya, tenaga dua orang perwira itu membalik dan selain pedang mereka patah, juga tenaga mereka yang membalik itu menghantam diri mereka sendiri sebelah dalam, membuat mereka roboh pingsan.
Masih baik bahwa mereka memiliki tenaga yang tidak begitu besar karena semakin besar tenaga serangan itu, semakin parah pula kalau tenaga itu membalik dan menghantam diri sendiri!
Akan tetapi, gangguan ini membuat perhatian Cui-beng Kui-ong terbagi dan pada saat yang bersamaan, Bu-beng-cu mengerahkan seluruh tenaga dan serangannya.
"Wuuuttt...... desss......!!"
Tubuh Cui-beng Kui-ong terdorong ke belakang seperti disambar angin badai, menabrak dinding kamar itu yang menjadi jebol dan dia pun roboh dan tewas!
Tanpa mempedulikan orang lain Bu-beng-cu segera melompat masuk ke pintu rahasia, menuruni tangga dan tak lama kemudian dia sudah keluar lagi sambil memondong tubuh Siang Lan yang pingsan.
Dia tidak lupa membawa pedang Lui-kong-kiam milik gadis itu.
"Bu-beng-cu Tai-hiap (Pendekar Besar), kenapa Siang Lan itu dan hendak kaubawa ke mana?"
Panglima Chang Ku Cing bertanya dengan khawatir melihat keadaan Siang Lan terkulai lemas dengan muka sepucat muka mayat.
"Thai-ciangkun, ia terluka parah dan akan saya bawa untuk saya obati. Maafkan saya!"
Dia melompat sambil memondong tubuh gadis itu dan cepat menghilang.
Panglima Chang diikuti para perwira tinggi lalu memasuki ruangan bawah tanah dan menemukan kaisar dalam keadaan selamat dan sehat.
Dengan girang mereka lalu memberi hormat dan mengantarkan kaisar kembali ke istana.
Tinggal keluarga Pangeran Bouw Ji Kong yang setelah tahu bahwa sang pangeran itu tewas dalam ruangan bawah tanah, menangis sedih dan berkabung.
Siang Lan membuka kedua matanya.
Ia agak bingung melihat betapa ia rebah di atas sebuah pembaringan, dalam sebuah kamar yang tidak dikenalnya.
Ia hendak bangkit walaupun tubuhnya terasa lemas.
"Jangan bangkit dulu, engkau masih lemah, Siang Lan."
Terdengar suara yang amat dikenalnya.
Ia menoleh dan melihat Bu-beng-cu duduk bersila di atas lantai, yang ditilami tikar.
Ada bantal pula di situ, menunjukkan bahwa gurunya itu agaknya tidur di situ karena pembaringannya ia pakai tidur.
"Paman...... di mana aku? Apa yang telah terjadi......?"
Ia bertanya, masih bingung.
"Tenanglah, Siang Lan. Bahaya maut yang mengancam dirimu telah lewat. Hawa beracun dalam tubuhmu telah lenyap, hanya engkau masih lemah. Engkau berada dalam kamar penginapan Hok An yang kusewa, ingat?"
Siang Lan teringat. Ia pernah berkunjung ke kamar ini.
"Akan tetapi, apa yang terjadi, Paman? Seingatku, aku rebah tertotok oleh A-kui, kakek setan yang lihai itu, dalam ruangan bawah tanah gedung Pangeran Bouw Ji Kong. Ahh, kasihan Pangeran Bouw! Dia telah mengorbankan nyawa demi membela Sribaginda Kaisar......"
"Benar, Siang Lan. Engkau terluka yang mengandung hawa beracun dan engkau pingsan ketika kubawa ke sini. Tiga hari engkau tidak sadarkan diri di sini dan baru pagi ini engkau sadar."
"Tiga hari? Aih, setelah aku pingsan di ruangan bawah tanah itu, lalu apa yang terjadi, Paman? Bagaimana engkau dapat menemukan aku di sana dan membawaku ke sini? Ceritakanlah, Paman!"
"Baiklah, aku akan bercerita lebih dulu, nanti giliranmu menceritakan pengalamanmu. Tiga hari yang lalu, kita berpencar. Engkau menyelidiki gedung Pangeran Bouw Ji Kong dan aku akan menemui Hwa Hwa Hoat-su di penjara membawa surat perintah Panglima Chang yang kau dapatkan untukku. Nah, aku menemui Hwa Hwa Hoat-su dan aku berhasil memaksanya untuk mengaku siapa yang telah menculik Sribaginda Kaisar. Dia tidak tahu pasti akan tetapi dapat memastikan bahwa yang dapat melakukannya tentu Cui-beng Kui-ong, datuk paling terkenal di antara para tokoh Pek-lian-kauw. Akan tetapi dia tidak tahu di mana Cui-beng Kui-ong bersembunyi dan di mana pula Sribaginda disembunyikan. Aku lalu cepat pergi menjelang pagi itu ke gedung Panglima Chang dan membicarakan hasil penyelidikanku. Selagi kami berdua bicara, datang Nyonya Bouw yang menceritakan bahwa yang menculik Sribaginda Kaisar adalah pelayannya yang bernama A-kui dan bahwa suaminya, Pangeran Bouw, juga ditawannya. Ia menceritakan bahwa engkau datang pula hendak menolong Sribaginda. Mendengar itu, aku segera menyusulmu ke sini karena aku tahu bahwa yang disebut A-kui itu tentu Cui-beng Kui-ong yang amat lihai dan aku mengkhawatirkan dirimu."
"Hemm, jadi setan tua yang mengaku A-kui itu adalah Cui-beng Kui-ong?"
Kata Siang Lan.
"Benar, dengan cerdiknya orang-orang Pek-lian-kauw dapat menyelundupkan dia ke kota raja, bukan itu saja, bahkan berhasil membuat dia diterima sebagai seorang pelayan yang kelihatan setia kepada Pangeran Bouw Ji Kong. Ketika aku tiba di sana, aku melihat dia hendak membunuhmu dengan senjata tasbehnya......"
"Ah, aku ingat sekarang! Seperti dalam mimpi saja! Aku melihatmu datang, Paman, aku memanggilmu dan...... selanjutnya entah aku tidak ingat lagi."
"Agaknya engkau jatuh pingsan, Siang Lan. Lukamu parah karena mengandung hawa beracun yang amat jahat. Aku lalu berkelahi dengan Cui-beng Kui-ong. Dia lari keluar dari ruangan bawah tanah, kukejar dan kami berkelahi di kamar Pangeran Bouw. Akhirnya dengan susah payah aku berhasil merobohkannya. Dia tewas terkena pukulannya sendiri yang membalik.
"Aku lalu memasuki ruangan bawah tanah dan membawamu ke sini. Kudorong keluar hawa beracun dari dalam dadamu dengan pengerahan sin-kang dan setelah dua hari dua malam, barulah aku berhasil membersihkan hawa beracun dari dalam tubuhmu. Begitulah ceritanya, Siang Lan."
Dengan hati terharu Siang Lan memegang kedua tangan Bu-beng-cu yang menghampiri pembaringan ketika ia memberi isyarat agar laki-laki itu mendekat.
"Paman, berulang kali engkau menyelamatkan nyawaku. Kalau tidak ada engkau, sudah lama Nyo Siang Lan tidak berada di dunia ini lagi."
"Hushh, jangan bicara begitu, Siang Lan. Mati hidupnya setiap orang berada di tangan Tuhan. Kalau Tuhan tidak menghendaki seseorang itu mati, siapa dan apa pun tidak mungkin dapat membunuhnya. Sebaliknya kalau Tuhan menghendaki seseorang mati, siapa dan apa pun tidak akan mampu mencegahnya! Jadi kalau kebetulan aku datang menolongmu, itu adalah kehendak Tuhan."
"Bukan kebetulan, Paman. Akan tetapi memang engkau selalu membela dan melindungi aku. Aih, budimu sudah bertumpuk-tumpuk, Paman. Entah bagaimana aku akan dapat membalas budi kebaikanmu itu."
Wajah Bu-beng-cu menjadi merah.
"Sudahlah, sekarang ceritakan pengalamanmu ketika menyelidiki gedung Pangeran Bouw."
Siang Lan lalu menceritakan apa yang dialaminya di gedung itu sampai ia melihat sikap A-kui terhadap Nyonya Bouw sehingga akhirnya Nyonya Bouw memberitahu kepadanya bahwa A-kui telah menawan Sribaginda Kaisar dan Pangeran Bouw di dalam ruangan bawah tanah.
Ia menceritakan betapa ia bertanding melawan A-kui dan roboh terkena hawa beracun dan totokan kakek yang amat lihai itu.
"A-kui melihat sendiri betapa Pangeran Bouw membela Sribaginda dengan mati-matian. Dia bukan lawan kakek itu akan tetapi aku tidak dapat bergerak. Aku melihat dia terbunuh."
"Ah, sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Bagaimanapun juga, Pangeran Bouw telah menerima hukuman dari pengkhianatan dan pemberontakannya dan perbuatannya yang terakhir itu sedikit banyak telah menebus dosanya terhadap Sribaginda Kaisar. Aku yakin bahwa setelah peristiwa itu, Sribaginda akan mengampuni keluarganya dan mereka akan dibebaskan dari hukuman akibat pemberontakan Pangeran Bouw."
"Kuharap begitu, Paman."
Siang Lan hendak bangkit duduk, akan tetapi kembali Bu-beng-cu mencegahnya.
"Jangan bangkit dulu, Siang Lan. Engkau sudah sembuh, akan tetapi badanmu masih lemah. Engkau perlu minum obat penguat badan. Tinggallah di sini dulu, aku akan membelikan obat itu di toko obat."
Setelah berkata demikian, Bu-beng-cu keluar dari kamar itu dan menutupkan daun pintu kamar dari luar.
Siang Lan rebah telentang dan termenung memikirkan Bu-beng-cu.
Laki-laki itu terlalu baik kepadanya dan kini ia semakin yakin bahwa ia mencintai Bu-beng-cu.
Dan melihat semua perlindungan dan pembelaan yang diberikan pria itu kepadanya, juga pemberian latihan ilmu silat yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, ia hampir yakin bahwa sebenarnya Bu-beng-cu juga mencintanya.
Akan tetapi gambar wanita yang selalu dibawa-bawa Bu-beng-cu itu!
Siapakah itu?
Pria itu mengakui bahwa itu adalah gambar seorang wanita yang teramat penting baginya.
Walaupun dia tidak mengaku bahwa dia mencinta wanita dalam gambar itu, namun Siang Lan sudah dapat menduganya.
Bu-beng-cu tidak pernah menikah, jadi gambar itu bukanlah gambar isterinya.
Apakah itu gambar seorang kekasihnya dan dia merasa malu untuk mengaku?
Timbul keinginan yang besar sekali dalam hatinya untuk melihat gambar wanita itu.
Ia menenangkan jantungnya yang berdebar, lalu menguatkan hati dan badannya, bangkit dan biarpun dengan lemah, ia menghampiri almari yang berada di sudut kamar.
Dibukanya almari itu.
Tidak banyak benda yang berada di dalamnya.
Hanya buntalan pakaian dan......
gulungan gambar itu!
Dengan jari-jari tangan gemetar karena merasa bahwa ia mencuri, Siang Lan mengambil gambar itu lalu membuka gulungannya.
Ia memandang gambar seorang wanita dan sepasang matanya terbelalak, kedua tangan yang memegang gambar menggigil sehingga gambar itu terlepas dari tangannya, bergulung kembali dan menggelinding ke bawah meja.
Ia menjatuhkan diri duduk di atas kursi, jantungnya berdebar penuh kejutan dan perasaan bahagia memenuhi hatinya.
Kemudian, setelah ia dapat menenangkan jantungnya yang berdebar, ia memungut lagi gulungan gambar itu dan dibentangkannya, dipandangnya dengan teliti seolah ia belum percaya akan penglihatannya sendiri.
Gambar itu adalah lukisan seorang wanita, lukisan dirinya!
"Paman Bu-beng-cu!"
Bibirnya berbisik dan senyum penuh kebahagiaan mengembang di bibirnya.
Tidak salah dugaannya.
Bu-beng-cu mencinta dirinya!
Ia adalah wanita yang amat penting itu, wanita yang gambarnya selalu dibawa ke mana pun Bu-beng-cu pergi!
Bu-beng-cu mencintanya!
Pengetahuan ini membuat cintanya terhadap pria itu semakin mendalam.
Ia lalu teringat bahwa Bu-beng-cu hendak menyembunyikan rahasia hatinya itu.
Maka ia segera mengembalikan gulungan gambar itu ke dalam almari, lalu ia merebahkan diri lagi, telentang di atas pembaringan dengan perasaan yang demikian bahagianya sehingga ia lupa akan semua perasaan lemahnya dan ingin rasanya ia menari dan bernyanyi!
Tak lama kemudian Bu-beng-cu membuka daun pintu kamar dari luar dan masuk.
Dia melihat Siang Lan merintih lirih, mengaduh sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya.
"Aduh...... aduh......!"
Gadis itu mengerang kesakitan. Bu-beng-cu melompat dekat pembaringan, duduk di tepi pembaringan dengan wajah kaget dan khawatir.
"Kenapa Siang Lan?"
"Kepalaku...... ah, kepalaku...... sakit sekali......"
Bu-beng-cu cepat memeriksa kepala gadis itu dengan kedua tangannya, meraba seluruh kepala, merasakan denyutnya dengan ujung jari-jarinya dan terheran-heran karena dia tidak menemukan sesuatu yang tidak beres.
"Bagaimana rasanya? Di bagian mana yang nyeri?"
Bu-beng-cu bertanya penuh perhatian, sambil memijit-mijit kepala itu dengan sentuhan lembut.
"Ah...... semua sakit...... akan tetapi sekarang mendingan, terasa enak kalau dipijit-pijit......"
Kata Siang Lan manja, namun suaranya masih terdengar seperti merintih.
Mendengar ini, Bu-beng-cu lalu memijati kepala Siang Lan dengan kedua tangannya, membuat gadis itu membuka dan memejamkan matanya karena nikmat.
"Aduhh...... aduh......"
Siang Lan mengerang dan kini ia menggerak-gerakkan kaki kirinya seolah kaki itu kesakitan.
"Ah, apanya lagi yang nyeri?"
Bu-beng-cu bertanya heran.
"Kakiku yang kiri...... aduh...... kakiku sakit sekali......"
Gadis itu merintih. Bu-beng-cu cepat mengalihkan kedua tangannya, dari kepala kini pindah ke kaki kiri Siang Lan, memeriksa dengan teliti. Akan tetapi, dia tidak menemukan sesuatu yang tidak wajar.
"Maaf, harus kuperiksa dengan teliti!"
Katanya dan dia menggulung celana kiri itu ke atas sampai lutut.
Jari-jari tangannya memijat dan mengurut, merasakan betapa lembut dan putih mulus betis kaki itu.
Akan tetapi lagi-lagi dia tidak menemukan apa-apa yang tidak beres.
Dia memijat-mijat dan mengurut dengan lembut dan perlahan-lahan Siang Lan berhenti mengeluh.
"Apa sekarang sudah tidak nyeri lagi?"
Dia bertanya.
"Sekarang sudah sembuh karena kau pijit dan urut, Paman. Terima kasih......"
Kata Siang Lan menyembunyikan kegirangannya.
Tentu saja ia tadi hanya berpura-pura untuk melihat bagaimana reaksi pria itu kalau ia merintih kesakitan.
Ternyata Bu-beng-cu memperhatikan dengan penuh kekhawatiran dan ini membuatnya bahagia sekali.
Ingin rasanya ia bangkit dan merangkul pria itu yang tidak ia ragukan lagi cintanya.
Akan tetapi ia tidak mau melakukannya.
Pertama, ia tidak mau membuat Bu-beng-cu menjadi malu karena rahasianya ketahuan olehnya dan kedua, ia masih mempunyai ganjalan dalam hatinya, yaitu belum dapat membunuh musuh besarnya, yaitu Thian-te Mo-ong.
Kalau ia sudah dapat membunuh jahanam itu, baru ia akan mencurahkan seluruh perhatiannya akan hubungan cintanya dengan Bu-beng-cu!
Bu-beng-cu menurunkan lagi gulungan celana Siang Lan itu dan karena dia merasa penasaran, sekali lagi dia memeriksa keadaan tubuh Siang Lan akan tetapi dia mendapat kenyataan bahwa kesehatan tubuh gadis itu sudah pulih dan tidak ada lagi gangguan apa pun kecuali masih lemah.
Bu-beng-cu merasa aneh akan tetapi sedikit pun dia tidak menaruh curiga atau menduga gadis itu berpura-pura.
Biarpun terkadang Siang Lan memperlihatkan perhatian kepadanya dan terkadang ada terpancar dalam matanya kekaguman dan rasa suka, dia tetap tidak percaya dan tidak dapat menerima dalam akalnya bahwa gadis itu dapat jatuh cinta kepadanya.
"Tunggu, aku masakkan obat ini untukmu, Siang Lan,"
Kata Bu-beng-cu, lalu dia pergi ke dapur rumah penginapan itu untuk minta kepada pelayan memasakkan obat yang dibelinya dari toko obat.
Setelah dia meninggalkan kamar, Siang Lan rebah telentang sambil tersenyum bahagia.
Pria itu sungguh amat sayang kepadanya, begitu penuh perhatian dan tampak khawatir sekali ketika ia beraksi pura-pura merasa sakit di kepalanya dan di kakinya.
Pijatan dan belaiannya masih terasa olehnya, begitu lembut dan hangat!
Ketika Bu-beng-cu memasuki kamar membawa semangkok obat, dengan taat Siang Lan meminumnya sampai habis.
Selama dua hari Siang Lan tinggal di kamar itu memulihkan tenaganya.
Kalau malam Bu-beng-cu tidur di atas lantai bertilam tikar sehingga Siang Lan merasa tidak enak sekali.
Diam-diam ia semakin kagum karena Bu-beng-cu sedikit pun tidak memperlihatkan sikap kurang sopan terhadap dirinya.
Padahal ia sudah tidur sekamar selama lima malam!
Pada keesokan harinya setelah selama dua hari minum obat penguat dan merasa kekuatannya pulih kembali, Bu-beng-cu tahu-tahu tidak berada dalam kamarnya.
Sepucuk suratnya berada di atas meja dengan pemberitahuan bahwa dia hendak pulang lebih dulu karena Siang Lan sudah sembuh dan tidak ada urusan lagi baginya di kota raja.
Siang Lan termenung duduk di atas kursi sambil memegangi surat itu.
Tiba-tiba saja ia merasa begitu kesepian sehingga rasanya ingin ia berteriak dan menangis!
Segala sesuatu tampak demikian hambar dan tidak menyenangkan setelah Bu-beng-cu tidak berada didekatnya!
Ia pun mengambil keputusan tegas.
Hari itu juga ia harus pulang agar dapat berada di tempat yang dekat dengan Bu-beng-cu.
Apalagi Bu-beng-cu sudah berjanji akan menurunkan ilmunya yang terakhir, memperkuat tenaga sakti dan mengajarkan pukulan Thai-lek-sin-ciang (Tenaga Sakti Tenaga besar).
Menurut keterangan Bu-beng-cu, kalau ia sudah menguasainya, besar kemungkinan ia akan mampu mengalahkan musuh besarnya, yaitu Thian-te Mo-ong.
Ia harus segera pulang ke Ban-hwa-kok, Lembah Selaksa Bunga yang menjadi tempat tinggalnya itu dan mempelajari ilmu yang dijanjikan Bu-beng-cu kepadanya.
Setelah berkemas dan mendapat penjelasan pelayan rumah penginapan bahwa sewa kamar telah dibayar oleh Bu-beng-cu, Siang Lan lalu pergi ke rumah gedung Pangeran Sim Liok Ong, ayah Sim Tek Kun.
Ia berpamit kepada Sim Tek Kun dan Ong Lian Hong yang merasa gembira melihat gadis itu dalam keadaan sehat dan selamat.
Setelah berpamit, Siang Lan lalu berangkat pulang, meninggalkan kota raja menuju ke Lembah Selaksa Bunga.
Akan tetapi, di tengah perjalanan sebelum meninggalkan kota raja, Panglima besar Chang Ku Cing menghadangnya dan menyampaikan perintah kaisar yang mengundang Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan agar datang menghadap Sribaginda Kaisar!
Biarpun tidak ingin menghadap, terpaksa Siang Lan tidak berani menolak dan ia ditemani panglima Chang menuju ke istana menghadap Sribaginda Kaisar Wan Li.
Kaisar menerimanya dengan ramah dan memuji-muji kegagahan Siang Lan yang begitu berani berusaha menyelamatkan Sribaginda dari sekapan Cui-beng Kui-ong sehingga mengorbankan diri sendiri roboh dan terluka oleh kakek iblis itu.
Juga Kaisar berterima kasih dan hendak memberi hadiah yang boleh dipilih sendiri oleh Siang Lan, yaitu pangkat tinggi atau harta benda.
Siang Lan yang cerdik tidak menginginkan hadiah pangkat tinggi atau harta benda.
Ia hanya mohon kepada Kaisar agar diberi hak memiliki Bukit Ban-hwa-san di daerah Pegunungan Lu-liang-san.
Kaisar memenuhi permintaannya dan memerintahkan Menteri Urusan Tanah untuk membuatkan pernyataan hal milik itu kepada Siang Lan.
Di samping itu, juga Kaisar memberi sekantung emas yang tidak dapat ditolak oleh Siang Lan.
Setelah meninggalkan istana, Panglima Chang Ku Cing minta kepada Siang Lan untuk singgah di gedungnya dan di sini panglima Chang bersama isterinya secara langsung meminang Siang Lan untuk dijodohkan dengan keponakan panglima itu, ialah Chang Hong Bu.
"Keponakan kami itu, Chang Hong Bu. sudah berusia duapuluh lima tahun dan sudah cukup dewasa untuk berumah tangga. Kami lihat engkau juga sudah cukup dewasa dan engkau sudah mengenal baik keponakan kami itu. Hong Bu juga dengan terus terang mengaku kepada kami bahwa dia mencintamu, Siang Lan. Karena itu, dalam kesempatan ini kami berani mengajukan usul perjodohan ini kepadamu, sekiranya engkau belum......"
"Thai-ciangkun, saya sudah mempunyai seorang calon suami!"
Siang Lan memotong singkat.
"Ah......?"
Suami isteri itu terkejut dan kecewa.
"Mengapa Hong Bu tidak menceritakan kepada kami?"
"Dia memang tidak mengetahui, Paman."
"Hemm, kalau boleh kami mengetahui, siapakah calon suamimu yang berbahagia itu?"
"Dia...... dia adalah Bu-beng-cu."
Siang Lan berkata demikian bukan hanya karena memang benar ia dan Bu-beng-cu saling mencinta, akan tetapi terutama sekali agar panglima dan isterinya tidak bicara lagi tentang perjodohan yang mereka usulkan itu.
Panglima Chang Ku Cing dan isterinya tampak kecewa sekali, akan tetapi tentu saja mereka tidak berani lagi menyinggung urusan pinangan mereka yang otomatis tidak mungkin dilanjutkan.
Setelah meninggalkan kota raja, Siang Lan melakukan perjalanan cepat.
Dalam perjalanan itu ia melamun.
Ia memang sudah tahu bahwa Chang Hong Bu jatuh cinta kepadanya.
Sebetulnya, memiliki calon suami seperti Chang Hong Bu amatlah menyenangkan dan membanggakan.
Pemuda itu tampan gagah dan berbudi baik, seorang pendekar sejati.
Selain itu, juga dia keponakan Panglima Chang Ku Cing yang terkenal bijaksana.
Gadis mana yang tidak akan bangga mempunyai suami seperti Chang Hong Bu?
Akan tetapi kalau ia mengingat keadaan dirinya yang sudah bukan perawan lagi, ia merasa ngeri membayangkan Hong Bu menolaknya setelah mengetahui keadaan dirinya!
Dan penolakan itu akan membuat ia merasa terhina dan mungkin ia akan membunuh Hong Bu kalau pemuda itu menolaknya karena ia bukan perawan lagi!
Lebih baik dari sekarang menolak pinangan itu daripada kelak ada kemungkinan terjadi hal itu.
Sebaliknya, Bu-beng-cu telah tahu bahwa ia bukan perawan lagi.
Ia telah menceritakan kepadanya, namun biarpun sudah mengetahui keadaan dirinya, tetap saja Bu-beng-cu mencintainya.
Dia melindunginya, membelanya, mengajarkan ilmu-ilmunya kepadanya, bahkan merawatnya dengan penuh kasih sayang.
Ia tidak meragukan lagi cinta Bu-beng-cu kepadanya, bukan hanya terbukti dari sikapnya, melainkan juga dari gambarnya yang dibawa ke mana pun dia pergi!
"Paman Bu-beng-cu......!"
Ia berbisik, sama sekali tidak merasa janggal bahwa ia jatuh cinta kepada seorang laki-laki yang jauh lebih tua daripadanya sehingga ia menyebutnya paman.
Ia segera mempercepat larinya agar dapat segera tiba di Ban-hwa-san atau lebih tepat lagi, agar dapat segera bertemu dengan Bu-beng-cu.
Kui Li Ai duduk seorang diri di antara ratusan bunga di taman yang diatur dan dipeliharanya sendiri di bagian belakang rumah induk di perkampungan Ban-hwa-kok.
Biasanya, kalau ia duduk seorang diri sambil menikmati keindahan bunga-bunga itu, ia merasa berbahagia sekali.
Akan tetapi pagi hari ini ia tampak tidak gembira, bahkan sejak tadi termenung.
Ia teringat akan keadaan dirinya dan merasa betapa kesialan menimpa dirinya secara bertubi-tubi.
Gadis yang usianya baru kurang dari duapuluh tahun itu, yang tubuhnya tinggi ramping, dengan kulit putih mulus, wajahnya manis sekali dengan bentuk bulat dan sepasang matanya lebar bersinar seperti sepasang bintang, kini tampak agak murung.
Betapa ia tidak akan sedih kalau mengingat masa lalunya.
Ayahnya membunuh diri untuk menebus kesalahan telah membebaskan orang-orang Pek-lian-kauw yang ditawan pemerintah.
Baru saja ayahnya membunuh diri karena kesalahan yang terpaksa dilakukan untuk membebaskan dirinya yang ditawan orang-orang Pek-lian-kauw, ia sendiri diperkosa oleh dua orang Pek-lian-kauw.
Peristiwa kedua ini saja sudah membuat ia putus asa dan tentu ia telah membunuh diri kalau tidak dicegah oleh Hwe-thian Mo-li yang menolongnya dan yang membunuh dua orang Pek-lian-kauw yang memperkosanya.
Kemudian, dua peristiwa yang menghancurkan hatinya ini disambung dengan sikap ibu tirinya yang menghina dan menyalahkannya, dikatakan bahwa ia penyebab kematian ayahnya.
Sikap ibu tirinya ini yang kemudian dihajar oleh Hwe-thian Mo-li membuat ia tidak mungkin dapat tinggal di rumah ayahnya yang kini dikuasai oleh ibu tirinya.
Ia lalu ikut Hwe-thian Mo-li dan tinggal di Ban-hwa-kok.
Kemudian menyusul lagi peristiwa yang menyakitkan hatinya.
Bong Kongcu atau nama lengkapnya Bong Kim, pemuda hartawan di kota raja, yang sejak dulu tampak mencintanya, oleh Hwe-thian Mo-li didesak untuk melamarnya.
Biarpun ia tidak bisa mengatakan cinta kepada pemuda itu, hanya rasa suka karena pemuda itu amat memperhatikannya, bersedia menerima lamarannya.
Ketika Bong Kim datang melamar dan ia mengaku bahwa dirinya telah diperkosa orang, pemuda itu berbalik menghinanya dan hanya akan mengambilnya sebagai selir.
Hwe-thian Mo-li menghajar pemuda itu dan kembali Li Ai menderita tekanan batin yang hebat.
Berturut-turut dan bertubi-tubi kesialan hidup menimpa dirinya.
Sekarang ia merasa terhibur dan senang hidup di Ban-hwa-san bersama Hwe-thian Mo-li dan anak buah Ban-hwa-pang.
Akan tetapi muncul Bouw Cu An, putera seorang pangeran yang jatuh cinta kepadanya.
Dan, baru sekali ini selama hidupnya Li Ai juga jatuh cinta kepada seorang pemuda.
Ia mencinta Bouw Cu An dan mereka berdua sudah saling mengetahui bahwa mereka saling mencinta.
Bahkan ketika Bouw Cu An hendak meninggalkan Lembah Selaksa Bunga, mereka sudah saling menukar tanda mata.
Bouw Cu An memberi sebuah kantung bersulam kupu-kupu yang indah, sedangkan pemuda itu memilih tusuk sanggul rambutnya berupa bunga teratai sebagai tanda mata.
Biarpun tidak terucapkan, pemberian tanda mata itu bagi mereka mempunyai arti yang khusus, yaitu bahwa mereka saling mencinta dan secara batiniah saling terikat satu sama lain!
Li Ai menghela napas panjang dan membelai kantung bersulam kupu-kupu indah yang sejak tadi dipegangnya, Bagaimana mungkin ia dapat berjodoh dengan putera pangeran itu?
Ia sudah ternoda.
Kalau kelak Bouw Cu An mendengar bahwa ia bukan perawan lagi, apakah pemuda itu dapat menerimanya?
Apakah dia tidak akan memandangnya rendah dan menghinanya seperti yang pernah dilakukan Bong Kim, pemuda hartawan dari kota raja itu?
Penghinaan dari Bong Kim itu hanya membuatnya marah, akan tetapi kalau sampai Bouw Cu An menolak dan menghinanya, ia tidak akan sanggup menerimanya.
Hatinya akan hancur dan hidup tidak ada artinya lagi baginya karena ia sungguh mencinta pemuda itu!
Tidak, lebih baik hubungan itu diputuskan sekarang yang hanya mengakibatkan kecewa dan duka.
Kalau putus karena pemuda itu mengetahui keadaannya, menolak dan menghinanya, akibatnya akan terlalu berat dan hebat baginya.
"Tidak ini tidak boleh terjadi. Tidaaakk......!"
Ucapan "tidak"
Yang terakhir itu keluar sebagai jeritan hati yang terucapkan oleh mulutnya.
"Heii, apanya yang tidak, Moi-moi?"
Tiba-tiba terdengar suara laki-laki.
Li Ai terkejut dan cepat menoleh ke belakang dan......
ia melihat Bouw Cu An melangkah menghampirinya!
Cepat ia menyelipkan kantung bersulam itu ke ikat pinggangnya dan bangkit berdiri, menyongsong kedatangan pemuda itu.
"Koko!"
Li Ai berseru dan girang bukan main.
"Eh, bagaimana engkau dapat tiba-tiba muncul di sini? Bagaimana dapat melalui jebakan-jebakan rahasia kami?"
Cu An tersenyum.
"Untung sekali di bawah sana aku bertemu dengan seorang anggauta Ban-hwa-pang yang telah mengenal aku maka ia mau menjadi penunjuk jalan sehingga aku dapat naik ke sini, Ai-moi."
"Mari kita masuk dan bicara di dalam rumah, An-ko."
"Tidak, Moi-moi. Keadaan di sini sungguh indah dan hawanya begini sejuk dan cerah. Aku ingin bicara denganmu di sini saja."
"Duduklah, An-ko."
Li Ai mempersilakan pemuda itu duduk di atas bangku panjang dan ia duduk di sebelahnya, agak jauh.
"Ada apakah, An-ko? Aku melihat ada sesuatu yang membuatmu seperti orang bersedih."
Memang gadis itu melihat biarpun mulut pemuda itu tersenyum namun pandang matanya seperti orang sedang berduka, sinar mata itu sayu.
Cu An menghela napas panjang.
Dia lalu dengan terus terang menceritakan tentang pemberontakan ayahnya sampai akhirnya ayahnya berhasil dibujuknya dan berbalik menjebak para sekutunya sehingga pemberontakan itu dapat dihancurkan.
"Aku merasa malu sekali, Moi-moi, mengapa Ayahku sampai melakukan pengkhianatan dan pemberontakan, padahal dia sudah mendapatkan kedudukan tinggi sebagai penasihat Kaisar dalam hubungan pemerintah dengan suku-suku asing dan luar negeri."
Suasana menjadi hening setelah Cu An menceritakan keadaan ayahnya dengan panjang lebar. Ketika Li Ai memandang wajah pemuda itu yang kini tampak sedih sekali, ia merasa terharu dan berkata menghibur.
"An-ko, sudahlah jangan terlalu bersedih. Setidaknya ayahmu telah menyesal dan menyadari kesalahannya, bahkan memperlihatkan penyesalannya dengan membantu pemerintah menjebak para sekutu pemberontak sehingga dapat dihancurkan. Hal itu merupakan hiburan besar bagimu, Koko."
"Benar memang, Moi-moi. Akan tetapi apa artinya perbuatan Ayahku itu kalau dibandingkan dengan dosa-dosanya? Dialah yang mendalangi terbunuhnya enam orang pembesar yang baik dan setia kepada Sribaginda Kaisar. Ah, aku malu sekali, Moi-moi.'' "Sudahlah, An-ko. Setelah Ayahmu berhasil membantu pemerintah menumpas pemberontak dan seperti kauceritakan tadi, engkau dan gurumu Ouw-yang Sian-jin membantu pula, mengapa sekarang engkau meninggalkan kota raja dan datang ke sini? Bukan aku tidak senang engkau datang berkunjung, akan tetapi kenapa Enci Siang Lan belum pulang?"
"Hwe-thian Mo-li tentu masih banyak urusan di sana dan aku sengaja datang ke sini untuk menemuimu, Ai-moi. Aku ingin menceritakan semua ini kepadamu dan sekalian mengucapkan selamat tinggal dan selamat berpisah untuk selamanya......"
Suaranya gemetar. Mendengar ini, saking kagetnya, wajah Li Ai menjadi pucat dan tanpa disadarinya ia memegang lengan pemuda itu erat-erat sambil menatap wajahnya.
"Koko, mengapa engkau mengucapkan selamat tinggal? Apa maksudmu......?"
Gadis itu memandang dengan khawatir sekali. Bouw Cu An diam sejenak, agaknya seperti mengumpulkan kekuatannya karena dia tenggelam dalam kesedihan. Kemudian dengan suara lirih dan gemetar dia berkata.
"Moi-moi...... aku...... aku sungguh malu sekali kepadamu. Engkau puteri seorang pahlawan yang patriotik sedangkan aku...... aku hanya anak seorang pengkhianat, seorang pemberontak......"
Cu An bangkit berdiri dan memutar tubuhnya untuk menyembunyikan air matanya yang menitik turun ke atas pipinya.
"Aku...... aku...... tidak pantas berdekatan denganmu, tidak pantas menjadi sahabatmu...... apalagi ...... menjadi...... ah, aku tidak boleh mencintaimu......"
Li Ai merasa terharu sekali.
Ia maklum bahwa pemuda itu menangis dan hendak menyembunyikan tangisnya.
Hal dapat ia ketahui dari suaranya dan pemuda itu mengangkat tangan ke muka, tentu untuk menghapus air matanya.
Li Ai merasa terharu dan tanpa terasa lagi ia pun mencucurkan air mata.
"Tidak, Koko...... mendiang Ayahku juga melakukan kesalahan! Ayahku juga pernah membebaskan tawanan......"
"Akan tetapi beliau melakukannya untuk menyelamatkanmu dan telah ditebusnya dengan nyawanya. Sedangkan Ayahku...... dia memberontak untuk mencari kedudukan, untuk dirinya sendiri......"
"Akan tetapi Ayahmu juga sudah insaf dan membantu pemerintah membasmi para pemberontak."
"Jangan membela Ayahku, Moi-moi, aku...... aku merasa rendah dan hina sebagai anak pengkhianat yang akan selalu dikutuk. Aku tidak berhak dan tidak boleh mendekatimu...... engkau akan ikut tercemar...... aku tidak layak menjadi...... menjadi......"
Cu An tidak dapat melanjutkan, lalu menjatuhkan diri duduk di atas bangku dengan tubuh lemas dan dia menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mukanya.
Li Ai tidak dapat menahan keharuan dan kesedihannya mendengar ucapan itu.
Ia memegang lengan pemuda itu dan memaksanya berputar sehingga mereka saling berhadapan.
Dengan air mata membasahi sepasang matanya dan mengalir menuruni sepasang pipinya yang agak pucat, Li Ai berkata.
"Koko, jangan berkata begitu. Aku tetap menghormatimu karena engkau memang layak dihormati. Jangan bilang engkau tidak pantas. Akulah yang tidak pantas mendekati. Akulah gadis yang hina......"
"Moi-moi!"
Cu An berseru kaget.
"Benar, Koko...... dengarlah baik-baik, akulah yang tidak layak mendapat cintamu, tidak pantas mencintamu...... aku sama sekali tidak berharga untuk menjadi sisihanmu...... aku adalah seorang gadis yang sudah ternoda, aku...... aku bukan perawan lagi...... aku telah diperkosa orang......"
Tiba-tiba Cu An bangkit berdiri, mukanya merah karena marah sehingga Li Ai merasa hancur hatinya karena ia mengira bahwa seperti juga Bong Kim dahulu, pemuda itu pun akan memandang rendah dan menghinanya, maka ia menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu.
"Siapa dia? Katakan, Ai-moi, siapa laki-laki yang melakukan perbuatan biadab itu? Cepat katakan, sekarang juga akan kuhancurkan kepalanya si jahanam terkutuk itu!!"
Mendengar betapa pemuda itu marah kepada si pemerkosa dan tidak memandang rendah atau menghinanya, Li Ai menahan tangisnya dan berani memandang muka pemuda itu dengan muka pucat yang basah air mata, lalu berkata lirih diseling isak.
"Mereka...... adalah dua orang...... Pek-lian-kauw...... akan tetapi mereka...... sudah dibunuh oleh Enci Siang Lan......"
Cu An menarik napas panjang, tampak lega mendengar ini.
"Aah, kalau begitu, dendam sakit hatimu telah terbalas impas, Ai-moi. Mengapa engkau masih juga bersedih?"
"...... akan tetapi...... aku...... aku sudah ternoda...... terlalu hina untukmu, An-ko......"
"Uhh, siapa bilang? Engkau sama sekali tidak bersalah. Engkau dipaksa dan engkau sama sekali tidak hina bagiku!"
"Tapi...... tapi...... aku...... bukan perawan lagi......"
Li Ai menangis.
Cu An bergerak maju dan merangkul gadis itu.
Meledaklah tangis gadis itu sehingga terisak-isak dan ia tidak mampu bicara lagi.
Cu An mendekap muka gadis itu ke dadanya sehingga air mata Li Ai membasahi dada bajunya, menembus baju bahkan seolah menembus kulit dadanya dan menyejukan hatinya.
"Li Ai, kaukira aku ini laki-laki macam apa? Aku bukan hanya mencintai keperawananmu. Aku sayang kamu, aku cinta kamu lahir batin, bukan hanya mencinta badanmu melainkan engkau seluruhnya. Engkau sama sekali tidak hina bagiku, engkau tetap bersih, tetap murni dan aku bahkan semakin mencintamu. Li Ai, jawablah, maukah engkau menjadi teman hidupku selamanya, menjadi isteriku, isteri seorang anak pangeran pemberontak?"
"Koko Bouw Cu An......!"
Saking bahagia dan terharunya mendengar ucapan itu, Li Ai tiba-tiba terkulai dan cepat ia merangkul pinggang pemuda itu.
Kalau Cu An tidak memeluknya erat, mungkin ia akan jatuh terguling.
Ia hampir pingsan dan menjadi lemas dalam pelukan Cu An.
"Moi-moi, jangan khawatir, aku akan melindungimu dan menyayangmu selamanya,"
Bisik Cu An sambil mendekap kepala itu erat-erat seolah hendak memasukan gadis itu ke dalam dirinya sehingga mereka tidak akan dapat saling berpisah lagi.
Cinta sejati memang indah karena cinta seperti ini merupakan kasih sayang yang murni, sebagai pijar dari api kasih yang datang dari Tuhan.
Cinta kasih seperti ini bebas dari keinginan untuk menyenangkan diri sendiri.
Semua diperuntukkan orang yang dikasihi, demi kebahagiaan orang yang dikasihi, dan cinta seperti ini baru dapat dirasakan kalau diri sendiri tidak diperbudak oleh nafsu dan pementingan diri sendiri.
Sebaliknya, cinta yang sepenuhnya didorong oleh nafsu hanya mementingkan diri sendiri, hanya bertujuan untuk menyenangkan diri sendiri.
Kalau diri sendiri tidak lagi mendapat kesenangan dari orang yang dicintai, maka cinta itu akan berubah, lenyap atau bahkan berbalik menjadi benci.
Bukan berarti bahwa cinta sejati tidak mengenal nafsu berahi.
Seperti juga nafsu-nafsu lain, nafsu berahi sudah ada pada setiap orang manusia yang sehat dan wajar.
Hanya bedanya, dalam cinta kasih sejati itu nafsu berahi menjadi pelayan kita.
Sebaliknya dalam cinta nafsu, nafsu berahi menjadi majikan kita.
Cinta kasih yang berada dalam diri Bouw Cu An dan Kui Li Ai adalah contoh cinta sejati.
Cinta seperti ini adanya hanya keinginan untuk saling membahagiakan.
Sampai lama mereka saling rangkul dengan ketat seolah telah menjadi satu, lupa tempat dan waktu, bahkan lupa akan diri sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara batuk seorang wanita.
Suara ini cukup untuk menarik kedua orang yang sedang asyik-masyuk itu ke dalam sadar.
Mereka menengok dan melihat bahwa di situ telah berdiri seorang wanita dengan sikap hormat dan ragu.
Wanita itu adalah Bwe Kiok Hwa, kepala pembantu dan murid tertua di Ban-hwa-kok yang usianya sudah tigapuluh satu tahun.
Melihat Bwe Kiok Hwa, kedua orang muda itu saling melepaskan rangkulan dan wajah keduanya berubah kemerahan.
"Eh, Enci Bwe Kiok Hwa......"
Kata Li Ai. Bwe Kiok Hwa tampak ragu dan sungkan.
"Nona Kui Li Ai...... saya kira engkau sudah tahu akan peraturannya......"
Li Ai mengangguk.
"Aku tahu dan mengerti, Enci kiok Hwa. Jangan khawatir, aku yang akan laporkan kepada Enci Nyo Siang Lan kalau ia pulang."
Bwe Kiok Hwa mengangguk.
"Maaf, bukan maksud saya untuk mengganggu."
Setelah memberi hormat kepada sepasang orang muda itu, ia lalu pergi.
"Ai-moi, apa sih artinya ucapanmu kepadanya tadi?"
Tanya Bouw Cu An.
"Begini, An-ko. Setelah Enci Siang Lan menjadi pemimpin Ban-hwa-pang yang anggautanya semua wanita, yang tidak menikah, ia mengadakan peraturan bahwa siapa yang menikah harus keluar dari Ban-hwa-kok. Setiap orang anggauta Ban-hwa-kok tidak boleh bergaul dengan pria kalau tidak akan menjadi suami isteri, dan kalau ada pria yang berani mempermainkan anggauta Ban-hwa-pang, akan dibunuh. Maka setelah tadi Enci Bwe Kiok Hwa melihat kita, ia peringatkan padaku tentang peraturan itu. Akan tetapi, kita tidak perlu khawatir, bukan, An-ko?"
Cu An tersenyum dan memegang kedua tangan kekasihnya.
"Tentu saja tidak, Moi-moi. Kita berdua tidak main-main, dan aku akan memberitahu orang tuaku agar mengajukan pinangan secara resmi. Akan tetapi, karena...... Ayah dan Ibu kandungmu telah tiada, kepada siapakah orang tuaku harus mengajukan lamaran? Menurut ceritamu, tentu engkau tidak ingin orang tuaku melamar kepada ibu tirimu, bukan?"
"Aih, jangan! Aku tidak sudi dinikahkan oleh wanita berengsek itu! Kalau orang tuamu datang melamar, kuminta agar melamar kepada Enci Nyo Siang Lan, karena ialah yang kini menjadi waliku, kakak angkatku, juga guruku."
"Bagus, kalau begitu, aku akan menanti di sini sampai ia datang. Bolehkah aku bermalam di sini, Ai-moi?"
"Tentu saja boleh, An-ko, akan tetapi di kamar tersendiri, kamar tamu."
"Tentu saja! Aku belum gila untuk minta sekamar denganmu, Moi-moi!"
"Aih, bukan begitu maksudku."
Li Ai tertawa senang karena kelakar itu menunjukkan penghormatan dan penghargaan yang tersembunyi.
"Akan tetapi sebetulnya ini melanggar peraturan, akan tetapi......"
"Kalau begitu, biar aku bermalam di kaki bukit saja, Ai-moi. Jangan sampai engkau mendapat marah dari Hwe-thian Mo-li!"
"Tidak, An-ko. Kalau aku membiarkanmu bermalam di kaki bukit, di tempat terbuka, aku malah pasti akan ditegur Enci Siang Lan. Engkau boleh bermalam di sini atas tanggunganku, hanya saja, engkau tidak boleh keluar dari rumah induk, paling jauh engkau hanya boleh memasuki tempat ini."
Cu An tersenyum.
"Baiklah, aku akan menaati peraturan Ban-hwa-pang. Tidak apa dikeram dalam rumah asal setiap hari dapat melihatmu!"
Demikianlah, dengan hati berbunga-bunga sepasang kekasih itu lalu memasuki rumah induk dan Li Ai lalu mempersiapkan kamar tamu yang berada di bagian belakang untuk Bouw Cu An.
Kepada Bwe Kiok Hwa dan para anggauta Ban-hwa-pang lainnya Li Ai mengaku terus terang bahwa pemuda itu adalah tunangannya calon suaminya yang menanti kembalinya ketua mereka dan akan sementara tinggal di situ sampai Hwe-thian Mo-li pulang.
Ia yang akan bertanggung jawab kalau ketua mereka marah.
Karena baik Li Ai maupun Cu An bersikap wajar dan sopan, menjaga sikap mereka satu sama lain tetap sopan dan tidak memperlihatkan cinta mereka secara mencolok, maka para anggauta Ban-hwa-pang merasa tenang dan tetap menghormati sepasang kekasih ini.
Kasih yang mendasari satu saja keinginan yaitu membahagiakan orang yang dikasihi sungguh mendatangkan perasaan yang luar biasa.
Melihat kebahagiaan terpancar pada sinar mata dan senyum di wajah kekasihnya membuat mereka merasa luar biasa senang dan bahagianya.
Karena itu, dengan hanya saling pandang tanpa ungkapan dengan sentuhan atau kata-kata cinta karena hendak menjaga kesopanan dalam pandangan para anggauta Ban-hwa-pang, bagi mereka berdua lebih dari cukup.
Senyum di bibir sang kekasih seolah menambah keindahan segala sesuatu yang tampak, menambah hangat dan cerahnya sinar matahari, menambah indah dan harum bunga-bunga di taman dan hati mereka diliputi kebahagiaan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Dua minggu kemudian Siang Lan pulang.
Ketika para anggauta Ban-hwa-pang menyambut di lereng bukit, tak seorang pun dari mereka berani memberitahu akan kehadiran Cu An yang sudah dua minggu menjadi tamu di rumah induk yang menjadi tempat tinggal Ketua Ban-hwa-pang itu.
Ketika Siang Lan tiba di rumah dan disambut oleh Li Ai dan Cu An, ia agak terkejut dan merasa heran karena ia mengenal pemuda itu yang telah menjadi murid Ouw-yang Sianjin.
Ia pun tahu bahwa pemuda itu adalah putera Pangeran Bouw Ji Kong.
"Hei, bukankah engkau Bouw Cu An putera Pangeran Bouw Ji Kong? Setelah pemberontakan dapat dipadamkan berkat bantuan Ayahmu, mengapa engkau pergi menghilang dan kini tahu-tahu berada di sini?"
Siang Lan bertanya, suaranya mengandung teguran karena pemuda itu menjauhkan diri sehingga tidak tahu akan malapetaka yang menimpa keluarga ayahnya.
"Aku...... aku ikut dengan suhu Ouw-yang Sianjin......"
Kata Cu An, agak canggung mendengar teguran Hwe-thian Mo-li.
"Enci Siang Lan, sebelum engkau nanti mengetahui dan marah-marah kepada Koko Bouw Cu An, sebaiknya aku lebih dulu mengaku kepadamu bahwa dia sudah tinggal di sini selama dua minggu untuk menunggumu pulang dan akulah yang menanggung dan bertanggung jawab, yang minta dia tinggal di sini selama ini, maka akulah yang melanggar peraturan dan aku siap menerima hukuman."
"Aih-aih, mengapa engkau begini nekat, Li Ai?"
Siang Lan bertanya heran karena setelah ia mengalami perkosaan kemudian dihina oleh Bong Kim, Li Ai seolah menjadi pembenci laki-laki.
"Karena...... karena kami berdua ahh......"
Sukar bagi Li Ai untuk mengaku saling mencinta dengan Cu An. Melihat kekasihnya kebingungan, Cu An segera membantu.
"Pang-cu......"
Siang Lan tidak merasa aneh dipanggil Pang-cu (ketua) karena ia memang merupakan Pang-cu dari Ban-hwa-pang.
"Terus terang saja, Adik Kui Li Ai dan aku saling mencinta dan kita merencanakan perjodohan. Karena yang menjadi walinya, menurut pengakuan Adik Li Ai adalah engkau, maka aku sengaja menanti engkau pulang agar kalau engkau sudah setuju, aku akan minta kepada orang tuaku untuk mengirim lamaran resmi kepadamu."
Siang Lan membelalakkan kedua matanya, bukan marah melainkan heran dan juga ragu. Ia memandang kepada Li Ai yang menundukkan mukanya sambil tersenyum malu-malu.
"Akan tetapi engkau, Li Ai......"
"Jangan khawatir, Enci Siang Lan. Aku telah menceritakan dan mengaku terus terang kepada An-ko tentang malapetaka yang menimpa diriku, bahwa aku telah diperkosa dua orang Pek-lian-kauw yang kaubunuh itu."
Kini wajah Siang Lan berseri karena ia merasa gembira sekali mendengar keterangan Li Ai itu. Ia memandang kepada pemuda itu dengan kagum dan bertanya.
"Bouw Kongcu, benarkah engkau rela dan mau menerima Li Ai sebagai calon isterimu setelah ia......"
"Pang-cu, aku bahkan merasa kasihan dan semakin cinta kepada Li Ai, sama sekali tidak memandang rendah. Yang kucinta adalah manusianya, pribadinya bukan hanya jasmaninya. Cinta itu bagiku urusan hati, bukan sekedar urusan jasmani. Pula, kalau mau bicara tentang kerendahan dan kehinaan, akulah yang rendah dan hina, tidak sepadan dengan Adik Li Ai. Ia puteri seorang pahlawan, sebaliknya aku hanya anak seorang pengkhianat dan pemberontak."
"Hushh! Jangan sekali-kali kau ulangi kata-katamu itu, Bouw Cu An!"
Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan membentak sehingga Cu An dan Li Ai memandang kaget.
"Biarpun pernah melakukan kesalahan besar, namun akhirnya mendiang Pangeran Bouw Ji Kong adalah seorang pahlawan besar!"
Wajah Cu An berubah pucat sekali. Biarpun hatinya merasa lega dan ada sinar kegirangan mendengar Siang Lan memuji ayahnya sebagai pahlawan, namun ayahnya disebut mendiang oleh gadis itu.
"Mendiang......? Apa...... apa maksudmu...... Pang-cu?"
Tanyanya dengan muka pucat dan suara tergagap. Baru Siang Lan teringat bahwa pemuda ini belum mengetahui bahwa ayahnya telah tewas, maka ia menghela napas panjang dan mengajak mereka berdua duduk.
"Bouw Kongcu, setelah engkau pergi meninggalkan kota raja, terjadi peristiwa yang amat besar dan gawat. Para pemberontak itu, seperti kau ketahui karena yang membujuk Ayahmu adalah engkau dan susiok (Paman Guru) Ouw-yang Sianjin, dapat dibasmi atas bantuan Ayahmu. Akan tetapi urusannya bukan hanya berhenti sampai di situ. Tiba-tiba saja Sribaginda Kaisar diculik orang dan banyak pengawal dan pelayan istana terbunuh. Penculiknya tidak ketahuan siapa dan tidak diketahui pula ke mana Sribaginda Kaisar disembunyikan. Kemudian setelah melakukan penyelidikan, kiranya yang menculik Sribaginda dan juga Ayahmu yang hilang pula, adalah seorang pelayan di gedung Ayahmu, seorang pelayan tua yang tampak lemah......"
"Ah...... Kakek A-kui?"
Tanya Cu An yang masih pucat.
"Dia adalah Cui-beng Kui-ong yang menyamar dan berhasil menyusup menjadi pelayan di rumah (Lanjut ke
Jilid 15 -Tamat) Lembah Selaksa Bunga (Seri ke 02 Serial Iblis dan Bidadari) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 15 (Tamat) Pangeran Bouw Ji Kong.
Dia menyembunyikan Sribaginda yang diculiknya ke ruangan bawah tanah di bawah kamar tidur Ayahmu.
Karena Ayahmu hendak menentangnya, maka dia pun menangkap Ayahmu dan menahannya di ruangan bawah tanah itu."
"Aduh...... semua ini salahku. Kalau aku tidak meninggalkan rumah, tentu aku dapat mencegahnya......"
"Tidak, Bouw Kongcu, bahkan mungkin engkau pun terancam bahaya maut. Cui-beng Kui-ong itu sakti bukan main. Dengarkan ceritaku selanjutnya. Aku mendengar dari Ibumu bahwa Sribaginda dan Ayahmu disembunyikan di ruangan bawah tanah itu. Aku terlalu memandang rendah Kakek A-kui, maka aku segera menyerbu. Akan tetapi A-kui muncul di kamar Ayahmu dan kami berkelahi. Akibatnya, aku sendiri tertawan olehya, tertotok dan dimasukkan dalam ruangan bawah tanah itu. Ibumu lalu melarikan diri dari rumah dan melapor kepada Panglima Chang Ku Cing tentang A-kui. Kebetulan ketika itu panglima Chang kedatangan Paman Bu-beng-cu. Paman Bu-beng-cu segera menuju ke rumah Ibumu dan Panglima Chang mengerahkan pasukan mengepung rumah itu. Ketika itu, Cui-beng Kui-ong alias A-kui tahu bahwa Ibumu pergi meninggalkan rumah. Dia menjadi marah dan tahu bahwa tentu tempat persembunyian itu akan ketahuan dan akan diserbu, maka dia membunuh tujuh orang pelayan di rumahmu dan pada saat itu terdengar teriakan Paman Bu-beng-cu dari luar yang minta kepada Cui-beng Kui-ong untuk menyerah. Cui-beng Kui-ong menjawab dan berteriak minta agar para tawanan pemberontak dibebaskan. Kalau tidak dia akan membunuh Sribaginda Kaisar. Ketika permintaannya ditolak, dia hendak membunuh Sribaginda, akan tetapi Ayahmu, Pangeran Bouw Ji Kong yang memungut pedangku yang terjatuh, membela Sribaginda Kaisar dengan gagah berani. Akan tetapi Cui-beng Kui-ong terlalu lihai sehingga Ayahmu kalah dan tewas di tangan Cui-beng Kui-ong. Setelah membunuh Ayahmu, kakek sakti itu juga hendak membunuh aku yang tidak mampu bergerak karena tertotok dan luka dalam. Untung pada saat yang amat gawat bagi keselamatanku itu muncul Paman Bu-beng-cu dan setelah melalui perkelahian yang amat hebat, akhirnya Cui-beng Kui-ong roboh dan tewas."
"Nah, bukankah Ayahmu telah menebus kesalahannya dengan dua hal yang amat hebat. Pertama, membantu pemerintah membasmi para pemberontak dan kedua, telah mengorbankan nyawa demi melindungi Sribaginda Kaisar? Maka jangan kau berani mencaci Ayahmu dengan kata-kata yang keji, Bouw Kongcu!"
"Ayah......!"
Bouw Cu An lalu menjatuhkan diri berlutut dan menangis! "Maafkan aku, Ayah!"
"An-ko, jangan terlalu bersedih......!"
Li Ai juga berlutut di dekat pemuda itu dan memegang pundaknya, akan tetapi kedua matanya juga basah air mata.
Ia ikut merasa terharu dan sedih melihat kekasihnya menangis.
Melihat ini, Siang Lan tersenyum, diam-diam merasa berbahagia sekali bahwa Li Ai telah menemukan laki-laki yang benar-benar mencintainya walaupun dia sudah tahu akan keadaan Li Ai yang telah ternoda.
Cu An merupakan calon suami yang baik sekali bagi Li Ai dan ia merasa ikut berbahagia!
Maka, melihat keduanya bertangisan, ia lalu meninggalkannya, memasuki kamarnya.
Dalam kamar, Siang Lan termenung.
Ia teringat kepada Bu-beng-cu.
Bu-beng-cu juga amat mencintanya, seperti cinta Cu An kepada Li Ai.
Bu-beng-cu juga sudah tahu bahwa ia telah dinodai orang, akan tetapi tetap mencintanya!
Akan tetapi, sebelum ia membuka perasaan hatinya kepada pria yang juga menjadi gurunya itu, ia harus menyelesaikan dulu masalah yang teramat penting bagi hidupnya, yaitu membalas dendam kepada Thian-te Mo-ong (Raja Iblis Langit Bumi) yang telah memperkosanya itu.
Setelah ia berhasil membunuh Thian-te Mo-ong, barulah ia akan menyatakan hubungan cintanya dengan Bu-beng-cu?
Pinangan terhadap Kui Li Ai yang dilakukan oleh utusan Nyonya Bouw Ji Kong kepada Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan segera tiba setelah Bouw Cu An kembali ke kota raja.
Pinangan itu diterima dengan baik dan tiga bulan kemudian, pernikahan antara Bouw Cu An dan Kui Li Ai dirayakan di kota raja dengan meriah, dihadiri para perwira dan pejabat tinggi, dan juga hadir pula Nyo Siang Lan, Ong Lian Hong dan suaminya, Sim Tek Kun.
Panglima Chang Ku Cing juga hadir bersama keponakannya, Chang Hong Bu.
Mengingat akan pembelaan terakhir Pangeran Bouw Ji Kong terhadap Sribaginda Kaisar, maka keluarganya selain mendapat pengampunan juga mendapatkan kehormatan dari para pejabat tinggi.
Bahkan Menteri Yang Ting Ho juga memerlukan hadir dalam pesta pernikahan itu.
Setelah tinggal di kota raja selama beberapa hari, Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan segera kembali ke Ban-hwa-kok dan langsung saja ia menemui Bu-beng-cu yang tinggal di guhanya, tak jauh dari Bukit Ban-hwa-pang.
Bu-beng-cu bersikap biasa saja seperti biasa, namun kini tampak jelas oleh Siang Lan betapa besar kasih sayang laki-laki itu kepadanya yang dapat ia rasakan melalui pandang matanya, kata-kata yang keluar dari mulutnya, dan gerak geriknya.
Akan tetapi ia pura-pura tidak tahu dan ia sendiri juga bersikap biasa.
Bahkan ia kini berlatih semakin tekun karena hari yang ditentukan oleh Thian-te Mo-ong yang akan datang mengunjungi setahun sekali untuk mengadu kepandaian tinggal beberapa bulan lagi.
Sekali ini ia harus dapat membunuh musuh besar itu.
Setelah musuh besar dapat dibunuhnya untuk membalas dendam, barulah ia akan mengaku kepada Bu beng-cu bahwa ia sudah tahu dan yakin benar akan rasa cinta pria itu terhadap dirinya!
Demikian tekun, rajin dan keras Siang Lan berlatih sehingga diam-diam Bu-beng-cu merasa terharu.
Dia maklum benar betapa besar semangat dan keinginan Siang Lan untuk mengalahkan dan membunuh musuh besarnya yang bukan lain adalah dirinya sendiri!
Dapat dibayangkan betapa hal ini menghancurkan perasaan hatinya.
Bu-beng-cu bukanlah seorang bodoh.
Dia pun dapat merasakan bahwa sesungguhnya Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan mencintainya, seperti juga dia mencinta gadis itu, cinta yang timbul mula-mula karena penyesalan dan kasihan.
Kemudian setelah bergaul dengan gadis itu, dia benar-benar jatuh cinta secara mendalam.
Akan tetapi dia tidak tega untuk mengakui cintanya walaupun dia tahu benar cintanya sudah pasti akan diterima oleh Siang Lan yang juga jelas mencintainya.
Ngeri dia membayangkan betapa hati gadis yang dicintanya itu akan hancur kalau kemudian mengetahui bahwa pria yang saling mencinta dengannya itu adalah juga musuh besarnya, laki-laki yang amat dibencinya karena telah memperkosanya?
Tidak, dia akan menebus kesalahannya yang membuat hancur kebahagiaan gadis itu dengan nyawanya.
Biarlah gadis itu berhasil membalas dendam dengan adil dan sesungguhnya, bukan karena dia mengalah.
Karena itu, dia pun menurunkan semua ilmunya kepada Siang Lan dan tidak akan berhenti sebelum gadis itu mampu mengalahkannya.
Setelah dengan tekun penuh perhatian menurunkan semua ilmunya kepada Siang Lan, pada suatu sore setelah mereka berlatih dan bertanding selama puluhan jurus, Bu-beng-cu menghentikannya dan mereka duduk di bawah pohon depan guha melepaskan lelah dan menyusut keringat.
Siang Lan memandang Bu-beng-cu dengan pandang mata penuh rasa syukur dan mesra.
Bu-beng-cu semula juga menatap wajahnya dan biarpun mulut mereka tidak mengucapkan sesuatu, sinar mata mereka seperti mengandung seribu bahasa menyinarkan kasih sayang yang mendalam.
Akan tetapi Bu-beng-cu segera menundukkan mukanya, menghela napas panjang lalu berkata dengan suara lirih dan tenang.
"Siang Lan, semua yang kuketahui tentang ilmu silat telah kuajarkan kepadamu. Dalam latihan bertanding tadi aku mendapat kenyataan bahwa aku tidak lagi dapat mengalahkanmu. Karena itu, hari ini merupakan hari terakhir. Aku tidak dapat mengajarkan apa-apa lagi kepadamu dan kuharap dengan kepandaianmu sekarang, engkau akan mampu mengalahkan musuh besarmu."
Diingatkan tentang musuh besarnya, bangkit semangat Siang Lan dan pandang matanya yang tadinya mengandung kasih sayang seketika berubah.
Dia memandang ke atas, membayangkan wajah bertopeng Thian-te Mo-ong dan matanya mengeluarkan sinar kebencian yang mendalam.
"Hemm, sekali ini akan kulawan dia mati-matian, Paman! Karena aku tidak mungkin mendapatkan tambahan ilmu lagi, maka pertandingan nanti merupakan yang terakhir. Dia atau aku yang akan mati! Biasanya, dia muncul di hari ke limabelas, pada saat bulan purnama di waktu malam. Dan hari itu kalau tidak salah tinggal tiga hari lagi. Aku akan menantinya!"
Ia berkata dengan kedua tangan dikepal dengan marah.
"Semoga sekali ini engkau akan menang dan dapat membalas dendammu kepada musuh besarmu, Siang Lan. Akan tetapi apakah engkau tidak bisa memaafkan perbuatannya kepadamu itu?"
"Tidak mungkin, Paman! Jahanam itu telah merusak hidupku dan hanya kematiannya yang akan dapat mencuci bersih aib yang dijatuhkan kepadaku. Noda itu harus dicuci dengan darahnya!"
"Terserah kepadamu, Siang Lan. Sekarang aku hendak mengucapkan selamat berpisah...."
"Selamat berpisah....?"
Siang Lan terkejut dan menatap wajah Bu-beng-cu dengan pandang mata penuh selidik.
"Apa maksudmu, Paman? Engkau... hendak pergi ke mana?"
"Aku berada di sini hanya untuk memenuhi janjiku mengajarkan ilmu silat kepadamu, Siang Lan. Sekarang, semua ilmuku sudah kuajarkan, maka aku hendak pergi merantau."
"Ke manakah engkau hendak pergi, Paman?"
Tanya Siang Lan dengan gelisah.
"Ke mana......?"
Bu-beng-cu menerawang ke arah langit.
"Ke mana saja nasib membawa diriku......"
Hening sejenak.
Siang Lan merasa betapa jantungnya berdebar.
Ia ingin sekali menahan Bu-beng-cu dan mengatakan apa yang berada di dalam hatinya, apa yang dirasakannya terhadap pria itu.
Akan tetapi ia menahan diri.
Ia sudah mengambil keputusan untuk tidak membicarakan urusan itu sebelum ia dapat membunuh musuh besarnya, yaitu Thian-te Mo-ong.
Kalau hal itu belum terlaksana, maka dendamnya akan selalu menjadi penghalang kebahagiaannya.
Tidak mungkin ia dapat hidup tenang dan bahagia apabila ia masih dihimpit dendam sakit hati yang teramat besar itu.
Ia akan membunuh dulu musuh besarnya, barulah ia akan memikirkan hidup selanjutnya dan kebahagiaannya.
"Paman Bu-beng-cu......"
"Ya......?"
"Paman, kuharap engkau jangan meninggalkan tempat ini dulu, Paman. Tunggu sampai tiga hari lagi! Berjanjilah padaku bahwa engkau tidak akan pergi sebelum aku bertemu dan bertanding melawan musuh besarku. Aku ingin Paman melihat hasil pertandingan itu, baik kalau aku menang dan berhasil membunuhnya atau sebaliknya aku mati di tangannya. Biarlah kalau aku sampai kalah, aku yang mengucapkan selamat tinggal padamu, Paman, bukan engkau yang meninggalkan aku."
Ucapan itu keluar dari mulut Siang Lan dengan suara gemetar mengandung keharuan dan kesedihan. Bu-beng-cu dapat merasakan ini dan dia pun menundukkan kepalanya, menghela napas panjang dan menjawab.
"Baiklah, Siang Lan. Aku akan menunggu sampai engkau berhasil membalas dendammu."
Setelah meninggalkan Bu-beng-cu, Siang Lan membuat persiapan di Ban-hwa-kok.
Setiap hari ia tekun berlatih menghimpun tenaga saktinya untuk menjaga agar tubuhnya tetap dalam keadaan sehat dan siap.
Ia yakin bahwa Thian-te Mo-ong pasti akan muncul.
Jahanam itu amat sakti sehingga jebakan-jebakan yang menghalangi orang luar naik ke puncak Ban-hwa-san tidak akan mampu mengganggunya.
Jahanam itu pasti akan muncul di Ban-hwa-kok seperti tahun-tahun yang lalu.
Maka ia pun selalu siap siaga dan pedang Lui-kong-kiam tidak pernah terpisah darinya.
Ia pun sudah berpesan kepada semua anggauta Ban-hwa-pang agar jangan ada yang menyerang apabila musuh besar yang bertopeng itu muncul di Ban-hwa-kok.
Selain itu ia tahu bahwa para anggauta Ban-hwa-kok sama sekali bukan lawan Thian-te Mo-ong dan kalau menyerangnya sama dengan bunuh diri karena jahanam itu tentu dengan mudah akan mampu membunuh mereka semua, juga ia memang tidak ingin orang lain mencampuri urusannya dengan Thian-te Mo-ong.
Bahkan kepada Bu-beng-cu saja ia tidak mau minta bantuannya untuk menghadapi musuh besar itu.
Urusannya dengan Thian-te Mo-ong adalah urusan pribadi, orang lain tidak boleh mencampuri.
Para anggauta Ban-hwa-pang juga mengetahui akan saktinya musuh ketua mereka.
Mereka tahu bahwa beberapa kali ketua mereka kalah melawan orang bertopeng itu.
Maka, maklum bahwa sewaktu-waktu musuh besar itu akan muncul, hati mereka semua diliputi ketegangan dan kekhawatiran.
Apalagi ketika pagi hari tadi ketua mereka mengumpulkan mereka semua dan berkata dengan suara tegas.
"Dengarkan baik-baik kalian semua! Sekali lagi kutegaskan, kalau terjadi perkelahian antara aku dan musuh besarku, jangan ada di antara kalian yang mencampuri. Syukurlah kalau aku mampu merobohkan dan membunuh musuh besarku. Akan tetapi seandainya terjadi sebaliknya, aku yang kalah dan tewas, maka Ban-hwa-pang harus dibubarkan. Kalian boleh membagi-bagi semua harta milik kita di antara kalian dan boleh hidup dan tinggal di mana pun sesuka kalian."
Demikianlah pesan ketua mereka dan tentu saja mereka menjadi gelisah karena pesan itu seolah merupakan pesan terakhir orang yang akan mati!
Malam itu bulan purnama bersinar dengan indahnya karena udara bersih dan langit tidak tertutup awan.
Siang Lan menanti sampai tengah malam, namun musuh besarnya tidak muncul.
Ia lalu tidur untuk menyimpan tenaga karena ia merasa yakin bahwa besok pagi musuhnya tentu akan muncul.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi ia sudah mandi dan bertukar pakaian.
Hari itu merupakan hari yang amat penting baginya, maka ia mengenakan pakaian baru yang indah walaupun ringkas dan ketat membungkus badannya agar ia dapat bergerak dengan leluasa.
Rambutnya yang telah dicuci bersih itu disisir dan digelung rapi.
Pedang Lui-kong-kiam tergantung di punggungnya.
Ia tampak cantik jelita.
Setelah rambutnya yang panjang ikal mayang itu digelung, anak rambut yang halus lembut melingkar dan berjuntai di kedua pelipis dan di dahinya.
Matanya bersinar-sinar penuh semangat.
Tak seorang pun akan menyangka bahwa gadis ini sedang menghadapi sebuah perkelahian mati-matian menyabung nyawa melawan musuh yang amat sakti.
Kalau mereka melihatnya seperti itu, ia lebih pantas sebagai seorang gadis yang menyongsong kedatangan kekasihnya, demikian cantik, rapi dan penuh semangat!
Suasana di Ban-hwa-pang sunyi sekali.
Padahal hari itu, tidak ada seorang pun anggauta Ban-hwa-pang yang keluar dari perkampungan mereka.
Tidak ada yang bekerja seperti biasa.
Mereka semua berkumpul, duduk di lapangan tempat berlatih tak jauh dari rumah induk, memandang ke arah halaman depan rumah itu dengan hati tegang.
Tak seorang pun mengeluarkan suara sehingga suasana menjadi sunyi.
Bunyi yang ada hanya gemercik air di belakang perkampungan, desah angin membelai daun-daun pohon, dan ayam biang berkotek memanggil anak-anaknya.
Bahkan burung-burung tidak berbunyi lagi karena karena mereka semua telah pergi menuju ke sawah ladang mencari makan.
Setelah sinar matahari mulai mengusir sisa kabut di puncak Ban-hwa-san itu, sinarnya yang hangat seakan membangunkan bumi yang tidur semalam, menggugah ribuan bunga di lembah itu, datanglah orang yang dinanti-nanti oleh Siang Lan, dan juga oleh para anggauta Ban-hwa-pang.
Kedatangannya saja membuat para anggauta Ban-hwa-pang merasa ngeri.
Mula-mula berhembus angin lalu disusul suara yang menggelegar.
"Hwe-thian Mo-li, aku datang......!!"
Sesosok bayangan berkelebat dan Thian-te Mo-ong sudah tampak di pekarangan depan rumah induk yang menjadi tempat tinggal Siang Lan.
Pakaiannya yang dari kain kasar dan agak terlalu besar itu membuat tubuhnya tampak besar menyeramkan.
Mukanya tertutup sebuah topeng dari kulit batang pohon, bentuknya seperti muka setan.
Muka itu sama sekali tertutup dan yang tampak hanya sepasang mata mencorong yang sinarnya keluar dari lubang di depan kedua mata itu.
Mendengar suara itu, Siang Lan melompat dari dalam rumah.
Hanya tampak bayangan berkelebat dan gadis itu sudah berhadapan dengan musuh besarnya.
Sepasang mata yang indah itu seolah menyinarkan api ketika ia menatap wajah bertopeng itu, topeng yang selalu muncul mengganggu dalam mimpi, topeng yang amat dibencinya.
"Thian-te Mo-ong, hari ini kalau tidak engkau, akulah yang menggeletak kehilangan nyawa. Aku tidak akan berhenti berkelahi sebelum salah seorang di antara kita mati!"
Setelah berkata demikian, Siang Lan lalu mengerahkan seluruh tenaga saktinya, menekuk kedua lututnya dan mendorongkan ke arah lawan.
"Hyaaaattt......!"
Pukulan ini hebat sekali. Angin dahsyat menyambar ke arah Thian-te Mo-ong. Orang bertopeng itu menyambut dengan dorongan kedua tangannya pula.
"Wuuuuttt...... blaarrr......!"
Keduanya terpental ke belakang sejauh tiga langkah!
Ternyata tenaga mereka seimbang dan Siang Lan merasa girang sekali.
Timbul semangatnya karena kini ia sudah mampu mengimbangi sin-kang lawan yang dulu membuatnya kewalahan.
Ia lalu nencabut Lui-kong-kiam dan jiwa kependekarannya membuat ia menahan serangannya melihat lawan bertangan kosong.
"Cabut senjatamu! Aku tidak mau menyerang orang yang tak memegang senjata, tidak sudi menjadi pengecut macam engkau!"
Siang Lan memaki, teringat betapa orang ini dulu memperkosanya selagi ia tidak berdaya.
Thian-te Mo-ong tidak menjawab, hanya tertawa bergelak lalu tubuhnya melompat ke atas, ke arah pohon.
Terdengar suara dahan patah dan ketika dia turun, tangannya sudah memegang sebatang ranting pohon sebesar lengan dan panjangnya seperti sebatang pedang.
Sekali dia menggetarkan ranting itu, daun-daunnya terlepas dan meluncur jauh!
Hal ini saja sudah menunjukkan betapa dia mampu menyalurkan tenaga saktinya kepada ranting itu sehingga daun-daun yang menempel pada ranting itu terlepas dan bahkan terpental kuat sehingga meluncur jauh!
Akan tetapi Siang Lan tidak menjadi gentar.
Setelah kini musuh besarnya memegang tongkat ranting pohon, ia lalu mengeluarkan pekik melengking dan menyerang dengan dahsyatnya.
Pedang Lui-kong-kiam itu berubah menjadi sinar kilat menyambar ke arah dada lawan.
Thian-te Mo-ong menggerakkan ranting itu menangkis.
"Trangg......!"
Pertemuan antara pedang pusaka dan pedang kayu itu menimbulkan suara nyaring seolah Lui-kong-kiam itu bertemu dengan pedang lain yang sama ampuhnya!
Kemudian terjadi perkelahian ilmu silat pedang yang amat hebat.
Gerakan nnereka sama gesitnya dan dalam gin-kang (ilmu meringankan tubuh) mereka memiliki tingkat seimbang.
Juga agaknya sin-kang (tenaga sakti) mereka tidak berselisih jauh, mungkin tenaga Thian-te Mo-ong lebih kuat sedikit, namun hampir tidak terasa oleh Siang Lan.
Kini mereka mengadu ilmu silat dan dalam hal ini ternyata Siang Lan lebih untung.
Perlu diingat bahwa Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan adalah murid terkasih dari Pat-jiu Kiam-ong (Dewa Pedang Lengan delapan) Ong Han Cu dan dewa Pedang yang kini telah tiada itu telah menurunkan semua ilmu pedangnya kepada Siang Lan yang amat dikasihinya.
Maka, setelah kini Siang Lan mendapat gemblengan dari Bu-beng-cu sehingga gin-kang dan sin-kangnya maju pesat, ilmu pedangnya menjadi semakin dahsyat.
Para anggauta Ban-hwa-pang hanya berani menonton.
Biarpun mereka merasa gelisah sekali dan juga tegang, namun mereka tidak berani mendekat, apalagi membantu ketua mereka.
Kalau saja Siang Lan tidak memesan kepada mereka, tentu mereka sudah maju mengeroyok dan mereka tidak takut kalau sampai roboh dan tewas.
Mereka rela berkorban nyawa demi ketua mereka yang mereka sayang dan hormati.
Akan tetapi Siang Lan telah melarang mereka sehingga kini mereka hanya berani menonton dari jauh dengan jantung berdebar-debar.
Perkelahian itu sudah berlangsung delapanpuluh jurus lebih!
Akan tetapi belum juga ada yang terdesak.
Mereka masih saling serang dan matahari mulai naik tinggi sehingga panasnya mulai menyengat, tubuh kedua orang yang bertanding mati-matian itu mulai basah oleh keringat.
Tubuh Siang Lan melompat ke atas, berjungkir balik di udara lalu meluncur turun, pedangnya menyambar ke arah kepala Thian-te Mo-ong.
Thian-te Mo-ong menggerakkan ranting menangkis, akan tetapi tanpa diduga, tangan kiri Siang Lan menghantam dengan pukulan tenaga sakti ke arah muka.
Ini merupakan serangan yang amat dahsyat dan berbahaya sekali.
Thian-te Mo-ong menggeser tubuh ke kanan sehingga dia dapat menyambut dorongan tangan kiri gadis itu dengan tangan kirinya pula dan begitu kedua telapak tangan bertemu, Siang Lan menggunakan kesempatan itu untuk menggerakkan pedangnya menusuk dada!
Thian-te Mo-ong mengelak ke kiri, akan tetapi agak kurang cepat sehingga Lui-kong-kiam sempat menusuk pundaknya.
"Cappp......!!"
Siang Lan cepat mencabut pedangnya yang menembus pundak dari depan ke belakang.
Tubuh Thian-te Mo-ong terpelanting dan dia rebah telentang, rantingnya terlepas dari tangan kanan yang terasa lumpuh karena pundaknya terluka parah.
Bagaikan seekor burung cepatnya, tubuh Siang Lan sudah turun di depan tubuh lawan dan pedangnya sudah menodong leher lawan.
Ujung pedang Lui-kong-kiam yang runcing tajam itu menempel pada kulit leher bagian tenggorokan.
"Hwe-thian Mo-li, aku sudah kalah. Bunuhlah aku untuk menebus kesalahanku!"
Terdengar Thian-te Mo-ong berkata.
Siang Lan meragu, karena ia merasa heran.
Thian-te Mo-ong yang biasanya bersikap sombong dan tekebur, akan tetapi sekarang sikapnya berubah, tidak sombong lagi, juga tidak ketakutan, melainkan dengan tenang dan gagahnya minta dibunuh untuk menebus kesalahannya!
Timbul keinginan tahunya dan ia berseru.
"Sebelum kubunuh engkau, ingin aku melihat macam apa rupanya jahanam keji seperti engkau ini!"
Pedangnya digerakkan ke atas dan topeng kayu itu terbuka dan terlempar.
Pedang itu sudah diangkat, siap untuk memenggal leher.
Tiba-tiba Siang Lan melepaskan pedangnya yang jatuh ke atas tanah, sepasang matanya terbelalak lebar, mukanya pucat sekali.
Ia kini menatap muka yang tidak lagi tertutup topeng itu, muka yang dagu bawahnya robek oleh ujung pedangnya ketika ia membuka topeng dan yang pundaknya bercucuran darah, muka yang memandang kepadanya dengan sedih dan pasrah, muka yang pucat karena kehilangan banyak darah.
"Paman Bu-beng-cu......!"
Ia menjerit sambil berlutut dekat tubuh Thian-te Mo-ong yang kini telah kehilangan topengnya dan berubah menjadi Bu-beng-cu itu.
"Paman...... ahhh...... apa artinya ini......? Mengapa begini......?"
Akan tetapi Bu-beng-cu terkulai lemas tak sadarkan diri, bukan hanya karena lukanya melainkan terutama sekali karena kesedihan dan terguncangnya hatinya.
"Paman......!!"
Siang Lan lalu mengangkat tubuh pria itu, mengerahkan tenaga dan memondongnya, lalu membawanya lari memasuki rumahnya.
Para anggauta Ban-hwa-pang terkejut sekali melihat bahwa laki-laki bertopeng yang menakutkan itu ternyata adalah Bu-beng-cu yang telah mereka kenal sebagai guru ketua mereka.
Mereka ikut kebingungan karena sama sekali tidak tahu mengapa guru ketua mereka itu menyamar sebagai orang bertopeng dan menjadi musuh besar ketua mereka.
Melihat Siang Lan membuang pedangnya dan juga melepaskan ikatan sarung pedang, Bwe Kiok Hwa lalu mengambil pedang Lui-kong-kiam dan sarung pedangnya, memasukan pedang itu ke sarungnya lalu membawanya ke dalam rumah induk.
Hanya Bwe Kiok Hwa yang berani memasuki rumah itu akan tetapi ia pun hanya menunggu di ruangan luar, tidak berani memasuki ruangan dalam di mana Siang Lan membawa Bu-beng-cu, bahkan gadis itu merebahkan Bu-beng-cu di atas pembaringannya dalam kamar.
Siang Lan benar-benar terpukul.
Hatinya diliputi keresahan dan kebingungan akan kenyataan yang sama sekali tidak pernah disangkanya ini.
Ia memang membenci setengah mati kepada Thian-te Mo-ong yang telah memperkosanya dan menantangnya bertanding setiap tahun.
Akan tetapi bagaimana mungkin ia membenci Bu-beng-cu, pria yang dicintanya, pria yang dengan tekun melatih silat kepadanya selama ini dan berulang-ulang menyelamatkannya dari ancaman maut, yang selalu membela dan melindunginya?
Akan tetapi mengapa Bu-beng-cu menjadi Thian-te Mo-ong?
Ia tidak percaya kalau laki-laki sebijaksana Bu-beng-cu melakukan perkosaan atas dirinya itu?
Melihat luka pada pundak kanan yang cukup parah dan terus mengeluarkan darah, juga bawah dagunya berlepotan darah, Siang Lan menjadi panik dan cepat ia mengambil obat luka.
Setelah menotok jalan darah di dekat pundak untuk menghentikan terbuangnya darah, ia lalu mengoleskan obat luka berupa bubukan itu kemudian ia membalut luka di pundak Bu-beng-cu.
Kemudian ia mengenakan lagi baju pada tubuh bagian atas laki-laki itu menggunakan sehelai jubahnya berlengan panjang karena baju Bu-beng-cu tadi robek dan berlepotan darah.
Ia melakukan semua ini dengan air mata terkadang menetes dari kedua matanya karena merasa terharu dan kasihan.
Akan tetapi ia tidak khawatir karena setelah diperiksanya, maka luka tusukan pedangnya yang menembus pundak itu tidak merusak otot besar dan tidak mematahkan tulang.
Setelah mengobati luka dan mengganti pakaian atas Bu-beng-cu dan melihat pria itu masih pingsan, sepasang matanya terpejam dan mulutnya terkatup, pernapasannya agak lemas.
Siang Lan lalu duduk bersila di atas pembaringan, menempelkan kedua telapak tangannya di dada Bu-beng-cu lalu mengerahkan tenaga sakti untuk membantu pria itu memulihkan tenaganya.
Akhirnya setelah beberapa lamanya pernapasan Bu-beng-cu mulai normal kembali, hanya mukanya masih agak pucat dan dia masih belum siuman.
Siang Lan lalu mengambil saputangan yang bersih, mencelupkannya ke dalam air minum dan memberi minum Bu-beng-cu melalui perahan air di saputangannya.
Akhirnya Bu-beng-cu membuka kedua matanya dan begitu dia siuman dan melihat dirinya di atas pembaringan dan Siang Lan duduk di dekatnya, dia segera bangkit duduk.
Akan tetapi Siang Lan memegang pundaknya dan dengan lembut mendorongnya agar rebah kembali.
"Paman, jangan bangkit dulu. Engkau masih lemah dan perlu beristirahat dulu. Engkau kehilangan banyak darah...... ah, Paman, mengapa semua ini harus terjadi......?"
Siang Lan tak dapat menahan tangisnya.
Ia tidak tahu harus berkata apa, bahkan tidak tahu harus berpikir bagaimana.
Semua serba membingungkan.
Bu-beng-cu memejamkan kedua matanya dan ketika membukanya kembali, kedua matanya itu basah.
"Siang Lan...... kenapa...... kenapa engkau tidak...... membunuhku......?"
"Paman......!"
Bu-beng-cu menjadi semakin sedih melihat gadis itu kini menangis tersedu-sedu.
"Jangan menangis, Siang Lan. Engkau membikin hatiku semakin pedih dan hancur......"
Siang Lan menguatkan hatinya dan memandang wajah pria itu melalui genangan air matanya.
"Paman Bu-beng-cu, apa artinya semua ini? Benarkah Paman ini Thian-te Mo-ong yang telah...... ah, aku tidak percaya! Dan mengapa Paman menyamar sebagai Thian-te Mo-ong? Berilah penjelasan, Paman, aku bingung sekali dan hal ini bisa membuat aku menjadi gila! Kalau paman ini Thian-te Mo-ong, mengapa Paman selalu membela dan melindungiku, bahkan menurunkan ilmu paman kepadaku agar aku dapat mengalahkan dan membunuh Thian-te Mo-ong? Akan tetapi kalau paman ini benar-benar Bu-beng-cu seperti yang kukenal, bagaimana mungkin menjadi Thian-te Mo-ong yang demikian jahat?"
Bu-beng-cu menghela napas panjang.
"Ahh...... aku telah melakukan dosa besar kepadamu, dosa yang akan menggangguku seumur hidup dan yang hanya dapat ditebus kalau aku tewas di tanganmu. Akan tetapi ternyata Thian (Tuhan) agaknya tidak menghendaki aku mati di tanganmu. Sekarang dengarkanlah pengakuanku yang akan menjelaskan semua pertanyaanmu tadi.
"Sesungguhnya, Thian-te Mo-ong dan Bu-beng-cu bukanlah namaku. Namaku adalah Sie Bun Liong yang sejak muda merantau di barat dan selatan dan dijuluki orang sebagai Thai-lek-sian (Dewa bertenaga besar). Aku adalah kakak tiri dari Siangkoan Leng, Ketua Ban-hwa-pang yang menyeleweng dan yang telah kaubunuh itu."
"Kakak tiri Siangkoan Leng yang jahat itu......?"
Siang Lan bertanya heran.
"Benar, telah bertahun-tahun aku tidak pernah berhubungan dengan adik tiriku itu sehingga tidak tahu bahwa dia telah mengambil jalan sesat. Ketika aku datang berkunjung, engkau menjadi tawanannya dan dia hendak memaksa engkau menjadi isterinya. Agaknya dia takut melihat kedatanganku karena kalau aku tahu tentang dirimu yang ditawan, pasti dia akan kularang dan kumarahi. Maka, ketika dia menjamu aku dalam pesta, agaknya dia mencampurkan obat perangsang yang amat kuat dalam minumanku.
"Aku seperti terbius dan dalam keadaan mabok kehilangan kesadarannya dia merebahkan aku di dekatmu, maka...... terjadilah hal terkutuk itu di luar kesadaran dan kemampuanku untuk mencegahnya. Setelah sadar aku merasa menyesal sekali dan pergi seperti telah menjadi gila. Kemudian aku baru tahu bahwa engkau mengamuk, membunuh Siangkoan Leng dan anak buahnya. Memang hal itu patut kusesalkan, akan tetapi semua itu terjadi karena kesalahannya sendiri telah mengambil jalan sesat."
Siang Lan memejamkan matanya, mengenang kembali semua peristiwa itu dan ia masih kadang-kadang terisak.
"Aku lalu membayangimu dan melihat betapa kesedihanmu membuat engkau putus asa, aku mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu agar engkau tidak bunuh diri, agar engkau dapat memuaskan hatimu untuk balas dendam dan agar aku dapat menebus dosaku. Maka aku lalu memakai topeng menemuimu, mengaku bahwa aku sebagai Thian-te Mo-ong yang melakukan perbuatan terkutuk atas dirimu.
"Sengaja engkau kukalahkan dan kutantang untuk bertanding setiap tahun agar engkau menjadi penasaran dan marah, memberimu semangat untuk memperdalam ilmu silatmu agar dapat mengalahkan Thian-te Mo-ong. Kemudian aku muncul sebagai Bu-beng-cu untuk memberikan semua ilmuku kepadamu.
"Akhirnya terjadi seperti yang kuharapkan, engkau dapat mengalahkan Thian-te Mo-ong, akan tetapi sayang, engkau tidak jadi membunuhnya, tidak membunuhku sehingga dendammu belum impas dan aku pun belum dapat menebus dosaku. Karena itu, Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan, inilah aku, Sie Bu Liong yang dulu telah melakukan perbuatan keji dan terkutuk kepadamu. Sekarang bunuhlah aku untuk membalas dendam sakit hatimu dan untuk memberi kesempatan kepadaku menebus dosaku padamu......"
Tangis Siang Lan kini mengguguk kembali. Ia menutupi mukanya dengan kedua tangannya, tubuhnya bergoyang-goyang karena sedu-sedannya.
"Paman...... bagaimana..... bagaimana aku..... dapat membunuh orang...... yang mencintaku demikian mendalam...... sepertimu......?"
"Apa maksudmu? Aku...... aku tidak......"
"Tidak perlu menyangkal lagi, Paman. Aku sudah melihat lukisan wanita yang selalu kaubawa-bawa itu?"
Kini suara Siang Lan lancar walaupun masih parau karena tangisnya.
"Engkau membawa lukisan diriku ke mana-mana......"
"Ah...... engkau melihatnya......"
"Paman, bagaimana aku dapat membunuhmu? Kalau sejak dulu aku tahu bahwa engkau yang melakukan hal itu, kaulakukan di luar kesadaranmu, aku...... aku tidak mungkin akan menaruh dendam......"
"Akan tetapi aku telah merusak kebahagiaan dan harapan hidupmu, Siang Lan."
"Tidak, Paman. Engkau bukan hanya dapat menebusnya dengan membiarkan aku membunuhmu, akan tetapi engkau dapat menebusnya dengan...... dengan cintamu. Paman, belum yakinkah hati paman bahwa, aku juga...... mencintamu? Kalau kita saling mencinta, peristiwa yang lalu itu tidak ada artinya lagi, bukan? Kalau kita menjadi suami isteri...... maka tidak ada masalah lagi. Apalagi aku tidak dapat menyalahkanmu karena apa yang kaulakukan itu terjadi di luar kesadaranmu."
"Siang Lan...... kau...... kau benarkah engkau bersedia menjadi jodohku?"
"...... Sudah lama aku mengharapkannya, Paman......"
"Paman? Bagaimana mungkin seorang paman berjodoh dengan keponakannya? Jangan menyebutku paman, Lan-moi (Dinda Lan)!"
"Kanda Sie Bun Liong...... Liong-ko......!"
Bu-beng-cu atau Sie Bun Liong mengangkat kedua lengannya merangkul.
Siang Lan membalas dan kedua orang itu berangkulan.
Mata mereka basah karena mereka menangis karena haru dan bahagia.
Sampai lama Siang Lan merebahkan kepalanya di dada Sie Bun Liong.
Mereka tidak bicara karena kata-kata pada saat yang asyik masyuk seperti itu memang tidak ada gunanya lagi.
Detak jantung masing-masing seolah telah bicara dalam seribu bahasa.
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar.
Mendengar ini, keduanya seperti baru tersentak sadar dari pesona yang membahagiakan dan membuat mereka lupa segala itu.
Siang Lan bangkit duduk dan ia cepat mencegah Sie Bun Liong yang hendak bangkit pula.
"Kau rebahlah saja di sini, Liong-ko. Biar aku yang melihat apa yang terjadi di luar."
Setelah berkata demikian, dengan gerakan ringan dan cepat, seringan hatinya yang penuh bahagia, Siang Lan berkelebat keluar dari dalam kamarnya.
Setibanya di luar, Bwe Kiok Hwa menyambutnya sambil menyerahkan Lui-kong-kiam dengan sarung pedangnya.
"Pang-cu, di luar ada seorang kakek mengamuk dan menantang Pang-cu!"
Siang Lan menerima pedangnya dan segera berkelebat keluar dari rumahnya.
Di halaman rumah itu ia melihat seorang kakek sedang dikeroyok puluhan orang anak buahnya.
Sai-kong itu membawa sebatang tongkat ular, akan tetapi ia hanya mengebut-ngebutkan tangan kirinya ke sekelilingnya dan para anggauta Ban-hwa-pang yang mengepung dan mengeroyoknya itu roboh berpelantingan seperti sekumpulan daun kering dihempas angin badai.
"Berhenti berkelahi!"
Siang Lan berseru.
"Kalian semua mundurlah!"
Ia memerintahkan anak buahnya.
Para wanita Ban-hwa-pang itu pun menjauhkan diri, saling tolong dengan mereka yang tadi terbanting roboh.
Melihat tidak ada di antara mereka yang tewas atau terluka parah, dapat diketahui bahwa kakek itu bukan seorang yang ganas dan kejam.
Siang Lan cepat melompat dan berdiri berhadapan dengan kakek itu.
Kakek itu tentu sudah sekitar tujuhpuluh tahun usianya.
Rambut, jenggot dan kumisnya sudah putih semua.
Rambutnya digelung ke atas dan diikat kain.
Baju di dadanya bergambar simbol Im-yang.
Pakaiannya gaun panjang berwarna putih dengan sabuk merah, berlengan panjang.
Di bagian luarnya dia memakai jubah kebiruan dengan renda kuning emas di tepinya.
Pakaian yang cukup mewah bagi seorang pertapa atau pendeta.
Matanya mencorong tajam dan tangan kanannya memegang sebuah tongkat ular kering.
Kakek itu pun memandang dengan penuh perhatian.
Gadis yang muncul di depannya sungguh cantik.
Mukanya kemerahan dan sepasang matanya masih agak sembab oleh tangis.
Hidungnya kecil mancung dan bibirnya merah sekali, juga sebagai akibat tangisnya tadi.
Kedua pipinya kemerahan.
Rambut yang hitam panjang itu digelung ke atas dan diikat dengan pita sutera merah.
Baju dan celananya dari sutera putih dan jubahnya berwarna biru dengan ikat pinggang kuning.
Gadis cantik jelita itu memegang sebuah pedang bersarung di tangan kirinya dan memandang kepadanya dengan alis berkerut.
"Hemm, kulihat engkau orang tua berpakaian sebagai seorang pendeta. Mengapa seorang pendeta yang sepatutnya hidup bersih kini datang membuat kekacauan di tempat kami perkumpulan wanita Ban-hwa-pang? Siapakah engkau?"
Tanya Siang Lan, tidak begitu galak karena ia melihat bahwa tidak ada anak buahnya yang terluka parah atau tewas. Kakek itu tersenyum lebar.
"Heh-heh, pinto (aku) adalah Im Yang Hoat-su. Pinto datang hendak mencari Hwe-thian Mo-li, akan tetapi anak-anak perempuan tadi menghalangi pinto!"
"Akulah Hwe-thian Mo-li! Im Yang Hoat-su, ada keperluan apakah engkau mencariku?"
"Bagus! Kiranya Hwe-thian Mo-li adalah seorang gadis cantik yang masih muda. Sungguh mengherankan bagaimana sahabatku Cui-beng Kui-ong dapat terbunuh oleh seorang anak perempuan sepertimu?"
"Hemm, kiranya engkau sahabat Si Jahat Cui-beng Kui-ong? Jadi kedatanganmu ini hendak membalaskan kematiannya?"
Siang Lan bertanya dengan suara menantang.
"Hemm, kiranya tidak pantas kalau pinto seorang tua menantang engkau yang sepatutnya menjadi cucuku. Akan tetapi karena pinto adalah sahabat baik Cui-beng Kui-ong dan karena engkau telah membunuhnya, pinto tentu akan dikecam dunia kang-ouw kalau pinto tidak membela kematiannya oleh seorang gadis muda yang sudah dapat membunuh sahabatku itu."
"Im Yang Hoat-su, sahabat dari Cui-beng Kui-ong yang jahat sudah tentu bukan manusia baik-baik. Sambut pedangku!"
Siang Lan mencabut Lui-kong-kiam dengan tangan kanannya lalu ia maju menyerang kakek itu dengan sarung pedang di tangan kiri dan pedang Lui-kong-kiam di tangan kanan.
Serangannya hebat sekali karena sarung pedang itu pun bukan benda lemah, apalagi digerakkan dengan tangan kiri yang mengandung tenaga sakti.
Ketika sarung pedang itu menyambar ke arah dadanya, kakek itu mundur dan miringkan tubuhnya sambil mengangkat tongkat ular kering lurus di belakang lengan kanannya ke atas.
"Trakk!"
Tongkat ular kering itu menangkis sarung pedang. Akan tetapi Siang Lan dengan cepat menusukkan Lui-kong-kiam ke lambung kanan lawan.
"Wuuutt...... tranggg!"
Kembali tongkat ular menangkis pedang dan tangkisan itu membuat tangan Siang Lan tergetar dan dari pertemuan tongkat dan pedang tampak bunga api berpijar.
Mereka segera bertanding, saling serang dengan dahsyat.
Kakek itu ternyata lihai bukan main.
Sebetulnya Siang Lan tidak kalah lihai, akan tetapi karena gadis itu baru saja menghamburkan banyak tenaga sakti untuk mengobati Sie Bun Liong, maka ia menjadi jauh lebih lemah daripada biasanya.
Ia segera terdesak ketika Im Yang Hoat-su memainkan tongkatnya secara dahsyat sekali.
Pada saat itu terdengar bentakan dari depan rumah.
Bentakan yang menggelegar dan menggetarkan tempat itu.
"Im Yang Hoat-su! Apa yang kaulakukan di sini?"
Kakek itu terkejut dan cepat melompat ke belakang.
Siang Lan juga kaget dan khawatir melihat Sie Bun Liong yang ia tahu masih lemah itu telah keluar dari rumah.
Im Yang Hoat-su kini memandang kepada Sie Bun Liong dan dia terbelalak.
"Thai-lek-sian Sie Bun Liong! Engkau di sini? Aku...... aku menantang bertanding Hwe-thian Mo-li karena ia telah membunuh sahabatku Cui-beng Kui-ong!"
"Kalau engkau membela Cui-beng Kui-ong, berarti engkau membela penjahat besar!"
"Dia bukan penjahat. Dia hanya berusaha untuk membebaskan para sahabatnya yang ditawan di kota raja."
"Ya, dan dia menculik Sribaginda Kaisar, bahkan hendak membunuh Beliau!"
"Ahh......!"
Im Yang Hoat-su terkejut sekali mendengar ini.
"Pula, bukan Hwe-thian Mo-li yang membunuhnya, melainkan aku! Akulah yang membunuh Cui-beng Kui-ong untuk melindungi Sribaginda Kaisar! Nah, engkau hendak menuntut balas? Tuntutlah aku!"
Hati Im Yang Hoat-su menjadi gentar.
Dia sudah mengenal Thai-lek-sian dan tahu benar akan kelihaian pendekar ini.
Tadi, melawan Hwe-thian Mo-li saja dia sudah menemukan lawan seimbang.
Kalau kini Thai-lek-sian maju, berarti dia mencari penyakit atau bahkan mencari kematiannya.
Apalagi dia tadi mendengar bahwa Cui-beng Kui-ong menculik dan hendak membunuh Kaisar, ini merupakan dosa tak berampun dan yang membunuhnya adalah Thai-lek-sian.
"Aih, kalau begitu persoalannya, sudahlah, pinto tidak akan menimbulkan permusuhan Akan tetapi, Thai-lek-sian, mengapa engkau mati-matian membela Hwe-thian Mo-li? Apamukah gadis ini?"
Sie Bun Liong tersenyum.
"Engkau ingin mengetahui, Im Yang Hoat-su? Perkenalkan, ini adalah Nyo Siang Lan, calon isteriku!"
Sambil berkata demikian, dengan tangan kirinya Sie Bun Liong merangkul pundak Siang Lan yang berdiri di sebelah kirinya. Siang Lan juga tersenyum penuh kebahagiaan.
"Ah, begitukah? Kalau begitu, kiong-hi (selamat) untuk kalian berdua! Pinto mohon pamit!"
Tosu itu lalu berlari cepat menuruni puncak Bukit Selaksa Bunga.
Dengan hati dipenuhi kebahagiaan, Nyo Siang Lan dan sie Bun Liong bergandeng tangan memasuki rumah induk di mana Sie Bun Liong tinggal selama beberapa hari dalam perawatan Siang Lan sampai dia sembuh benar dan tenaganya pulih kembali.
Beberapa bulan kemudian, sepasang kekasih ini melangsungkan pernikahannya di Lembah Selaksa Bunga, mengundang semua kenalan para pendekar.
Bahkan Panglima Chang sendiri juga menghadiri perayaan pernikahan itu.
Selama perayaan, semua jebakan yang menghalangi orang naik ke puncak bukit itu disingkirkan.
Ban-hwa-kok yang indah penuh bunga itu dikagumi semua tamu dan nama Ban-hwa-pang menjadi semakin terkenal.
Apalagi setelah menjadi suami isteri, Sie Bun Liong dan Nyo Siang Lan memperbesar Ban-hwa-pang yang menjadi perkumpulan besar, bukan hanya mempunyai anak buah kaum wanita, akan tetapi juga kaum pria.
Ban-hwa-pang menjadi sebuah perkumpulan besar dan terkenal karena para anggautanya mendapat pendidikan silat yang khas dari suami isteri itu.
Sekianlah, pengarang mengakhiri.
kisah ini dengan harapan semoga selain merupakan bacaan hiburan, juga mengandung manfaat bagi para pembaca sekalian.
Lereng Lawu, medio Mei 1993 T A M A T andu0396,
http.//indozone.net
/literatures/literature/1674 10 Februari jam 7.13pm
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 7
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 7