Eps 1 Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo
Baca online Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo
Cersil Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo.
Si Pedang Tumpul (Seri ke 01 -Serial Si Pedang Tumpul) Karya .
Asmaraman S.
Kho Ping Hoo PEGUNUNGAN yang berderet sepanjang sembilan puluh kilometer itu memang patut dengan namanya yang diberikan orang sejak ribuan tahun kepadanya, yaitu Gunung Api.
Mentakjubkan kalau melihat pegunungan yang berkilauan merah seperti api membara itu.
Baru melihat bentuk dan warnanya saja sudah menimbulkan perasaan panas, seperti orang melihat gunung yang terbakar membara.
Apalagi kalau mengingat bahwa di kaki pegunungan itu sebelah selatan adalah daerah Turfan, daerah yang dikenal sebagai daerah yang paling panas di seluruh daratan Cina.
Daerah Turfan merupakan daerah berlekuk seperti mangkuk yang amat rendah letaknya.
Kalau para musafir kelana atau rombongan pedagang yang melawat ke atau datang dari See-thian (dunia barat, yang dimaksudkan India) lewat di daerah Turfan yang mereka takuti ini dan memandang ke utara, mereka semua selalu menganggap bahwa hawa panas itu tentu datang dari Gunung Api itu!
Sesungguhnya tidaklah demikian.
Pegunungan ini tidak mengandung api, bukan pula gunung berapi.
Akan tetapi pegunungan ini terdiri dari batu padas yang warnanya merah seperti api membara.
Tingginya sekitar lima ratus meter dari permukaan laut dan tidaklah begitu panas hawanya, sungguhpun pegunungan padas itu nampak gundul karena jarang ada tumbuh-tumbuhan yang dapat hidup di sana.
Hanya binatang unta dan kuda dari daerah itu yang sanggup membawa rombongan kafilah melintasi daerah Turfan.
Kadang-kadang, di tengah hari hawanya demikian panas menyengat, bahkan lebih panas dari pada hawa di Gurun Gobi.
Namun, tanpa memikirkan hal-hal yang merugikan dan membahayakan manusia, pemandangan alam di daerah itu memang amatlah indahnya, keindahan yang tidak bisa didapatkan di daerah lain.
Pantaslah kalau tempat ini oleh penduduk sekitar daerah yang lebih subur di wilayah itu, daerah Turfan dianggap sebagai tempat tinggal Dewa Api dan keluarganya.
Menurut dongeng, Dewa Api telah melakukan kesalahan di kahyangan dan oleh Yang Maha Kuasa lalu dibuang ke Gunung Api, menjadi penunggu pegunungan itu.
Indah dan agung, pegunungan membara yang melintang tiada putusnya, seolah menjadi benteng penghalang bagi para pedagang dari timur dan barat.
Di sepanjang jalan yang dibuat oleh kafilah, terdapat tulang rangka manusia dan binatang berserakan, tanda bahwa sudah banyak korban jatuh ketika melewati daerah Turfan.
Maka timbullah kepercayaan bahwa Dewa Api telah menyuruh anak buahnya untuk membantai orang-orang berdosa yang kebetulan melewati daerah itu.
Makin jarang kafilah melalui daerah ini, dan kalau ada yang berani, tentu rombongan itu dikawal oleh sepasukan pengawal yang gagah berani dan berkepandaian tinggi.
Matahari telah menggeser ke barat ketika rombongan yang cukup besar itu memasuki daerah Turfan.
Sepuluh ekor unta, limabelas ekor kuda, membawa tujuhbelas orang dan banyak barang dagangan.
Mereka datang dari timur, hendak menuju ke barat.
Dua orang yang bertubuh gemuk dan menunggang unta-unta terbesar, adalah dua orang pedagang berbangsa Han.
Lima belas orang berkuda adalah orang-orang Kasak yang terkenal gagah perkasa dan pandai menunggang kuda dan pada jaman itu, orang-orang Kasak yang terkenal jagoan mendapat banyak keuntungan dari pekerjaan mereka sebagai pengawal-pengawal yang boleh diandalkan.
Dua orang pedagang Bangsa Han itu berusia kurang lebih lima puluh tahun.
Mereka adalah pedagang-pedagang yang sudah berpengalaman, akan tetapi biasanya mereka berdagang ke Tibet, Bhutan dan Nepal.
Baru sekali ini mereka menuju ke See-thian untuk berdagang dan membawa barang dagangan yang amat berharga, antara lain sutera dan batu-batu mulia yang mempunyai harga tinggi di dunia barat.
Begitu memasuki Turfan, mereka disambut sengatan matahari yang membuat mereka mengeluh dan mereka beberapa kali menoleh kepada pasukan pengawal untuk mencari tempat teduh dan beristirahat.
Kepala pasukan pengawal, seorang Kasak yang usianya sudah lima puluh tahun lebih dan bertubuh tinggi kurus, mengangkat tangan dan menggoyangnya sebagai tanda tidak setuju.
"Kita harus dapat melewati Turfan sebelum malam tiba!"
Dan diapun membunyikan cambuknya di belakang dua ekor onta itu, membuat dua ekor onta itu terkejut dan melangkah lebih cepat.
Dua orang pedagang di atas punggung onta terangguk-angguk dan tidak berani membantah karena dalam perjalanan yang berbahaya itu, mereka harus tunduk kepada kepala pasukan pengawal yang mengatur keamanan perjalanan itu.
Mereka hanya dapat minum air teh jeruk untuk melarutkan ketidaksenangan hati mereka.
Setelah hati mereka sejuk kembali, dua orang saudagar itu terangguk-angguk melenggut di atas unta, sengatan matahari membuat mereka mengantuk.
Tiba-tiba dua orang pedagang itu dikejutkan oleh suara ribut-ribut.
Ketika mereka membuka mata, mereka melihat betapa sepuluh orang pengawal berkuda sudah mengelilingi mereka dengan sikap siaga, sedangkan lima orang lain, dipimpin kepala pengawal berhadapan dengan seorang laki-laki asing yang berdiri dengan sikap angkuh.
Laki-laki itu berusia hampir enam puluh tahun, tubuhnva tinggi tegap dengan dada yang bidang.
Kedua lengan baju yang digulung sampai siku membuat sepasang lengan itu nampak, kekar dan dihias otot melingkar-lingkar.
Rambutnya sudah bercampur uban, diikat ke atas dan tertutup sebuah caping lebar yang melindungi wajahnya dari sengatan matahari.
Telinganya yang lebar, bukit hidung yang tinggi, mata sipit yang kedua ujungnya menurun, bentuk pakaiannya, jelas menunjukkan bahwa pria itu adalah Bangsa Uighur.
Suku Uighur dan suku Kasak merupakan dua suku bangsa yang paling banyak berada di daerah Sin-kiang atau daerah barat ini.
Dua orang saudagar itu melihat betapa kepala pengawal marah-marah, dan mengusir orang Uighur itu, agar tidak menghalang di jalan.
Akan tetapi, orang Uighur itu banya tertawa saja, suara ketawanya lantang dan bernada meremehkan.
Kepala pasukan makin marah dan bersama empat orang anak buahnya, dia lalu berloncatan turun dari atas kuda mereka dan menyerang orang Uighur tinggi besar itu dengan golok mereka.
Penghadang itu tidak bersenjata, namun tubuhnya berkelebatan di antara sinar lima batang golok yang menyambar-nyambar.
Mengherankan dan mengagumkan sekali melihat tubuh yang tinggi besar itu dapat bergerak seringan itu, dengan kecepatan gerak seperti.
seekor burung walet saja.
"Siapa dia dan mengapa mereka berkelahi?"
Saudagar gendut yang kepalanya botak bertanya kepada seorang anggauta pengawal terdekat.
"Orang itu perampok."
"Ahhh ...".!"
Dua orang saudagar memandang terbelalak dan muka mereka berubah pucat sekali.
"Tidak perlu khawatir. Sebentar lagi dia tentu dapat dibunuh,"
Pengawal itu menghibur.
Akan tetapi, melihat betapa perampok itu belum juga dapat dirobohkan dan gerakannya seperti seekor burung walet saja, sepuluh orang pengawal yang bertugas melindungi dua orang pedagang itu sudah berloncatan turun dari atas kuda dan mereka semua telah mencabut senjata golok melengkung.
Setelah belasan jurus lewat tanpa ada sebatangpun golok mampu menyentuhnya, perampok tinggi besar itu tertawa bergelak, kemudian kaki tangannya bergerak cepat dan dia mulai membalas serangan para pengeroyoknya.
Dia memainkan ilmu silat yang aneh, kakinya berloncatan ke sana sini dan kedua tangannya diputar-putar, seperti gerakan seekor burung.
Akan tetapi akibatnya bukan main!
Empat orang pengeroyok roboh berpelantingan dan tidak mampu bangkit kembali karena di kepala mereka terdapat luka berlubang bekas ditembusi jari tangan perampok itu!
Bahkan kepala pengawal juga hanya mampu menghindarkan maut setelah dia melempar tubuh ke belakang dan bergulingan menjauh.
Kepala pengawal meloncat berdiri dan mukanya menjadi merah saking marahnya.
Dia menudingkan goloknya ke arah perampok itu.
"Siapakah engkau? Orang Uighur biasanya tidak saling mengganggu dengan kami Bangsa Kasak. Kenapa engkau hendak mengganggu pekerjaan kami?"
"Ha ha ha! Kalian orang-orang Kasak yang pelit! Aku hanya menghendaki batu-batu giok (kemala) itu. Serahkan kepadaku dan kalian boleh ambil semua sisa barangnya. Dua ekor babi gemuk ini kita sembelih saja!"
Kata si perampok yang tinggi besar itu.
"Orang rendah! Kami adalah orang-orang Kasak yang gagah! Kami bukan sahabat orang Han, akan tetapi sekali kami menerima tugas dan tanggung jawab, akan kami bela sampai mati! Jangan harap engkau akan dapat mengambil sepotongpun benda yang kami lindungi sebelum kami menggeletak sebagai mayat!"
Pimpinan pengawal Kasak itu berteriak lantang dengan sikap gagah. Kemudian dia menoleh ke arah anak buahnya.
"Bentuk barisan pedang bintang!"
Sepuluh orang pengawal yang telah melindungi dua orang pedagang, kini berloncatan mengepung perampok itu bersama kepala pasukan, dan mereka membentuk barisan pedang bintang yang memiliki gerakan teratur, mengelilingi si perampok sambil berlarian dan sambil memainkan golok yang digerak-gerakkan dari atas ke bawah, lalu diputar ke atas kembali.
Gerakan ini mendatangkan sinar berkilauan karena tertimpa sinar matahari.
Akan tetapi, perampok tinggi besar itu tidak menjadi gentar, bahkan tertawa.
Kemudian dia mendengarkan suara melengking nyaring, menggerak-gerakkan kedua lengannya dan semua perampok melihat betapa kedua lengan yang berkulit kecoklatan terbakar sinar matahari itu kini berubah menjadi merah seperti api membara!
Melihat ini, kepala pengawal terkejut bukan main.
"Kau ...... kau ...... Datuk Besar Tangan Api?"
Dia tergagap.
"Bukankah engkau sudah mengundurkan diri bahkan tinggal di daerah kami Bangsa Kasak dan diterima dengan baik?"
"Ha ha ha, matamu masih awas. Nah, serahkan kemala-kemala itu dan aku akan mengampuni kalian!"
Si Tangan Api itu berkata.
"Bukan watak kami Bangsa Kasak untuk menyerah tanpa melawan!"
Kepala pengawal itu berseru.
"Kami adalah orang-orang yang setia kepada tugas sampai mati!"
"Bagus, kalau begitu kalian akan mati!"
Bentak Si Tangan Api.
Barisan bintang yang terdiri dari sebelas orang itupun sudah menggerakkan golok mereka dan melakukan penyerangan dengan serentak dan teratur.
Yang mereka sebut Barisan Pedang Bintang itu sesungguhnya adalah barisan pedang yang teratur rapi dan mereka mempelajarinya dari seorang perwira Bangsa Mongol ketika pasukan Mongol menyerbu ke Barat.
Akan tetapi karena mereka biasa menggunakan senjata golok, maka mereka bukan memainkan pedang, melainkan golok.
Melihat senjata-senjata tajam itu menyambar-nyambar dengan ganas dan teratur.
Si Tangan Api bersikap tenang saja, bahkan senyumnya tak pernah meninggalkan bibir.
Dia menggunakan kedua tangannya yang telanjang sampai ke siku, kedua lengan yang kulitnya kemerahan seperti api membara, seperti Gunung Api yang nampak dari situ.
Ketika dia menggerakkan kedua lengan menangkis, maka terdengar suara berdenting seolah-olah kedua lengan itu terbuat dari pada baja!
Dan setiap kali lengannya menangkis, pada saat golok lawan terpental, secepat kilat tangan kedua menyambar.
"Bukk!"
Yang terpukul berteriak, tubuhnya terjengkang dan tak mampu bergerak lagi.
Bagian tubuh yang terkena pukulan tangan terbuka itu seperti terbakar dan ada bekas telapak tangan di bagian itu, dan orangnya tewas seketika!
Teriakan susul menyusul dan sebelas orang pengeroyok itu roboh satu demi satu!
Si Tangan Api menyapu dengan pandang matanya.
Melihat lima belas orang Kasak itu sudah roboh semua dan tidak ada yang bargerak lagi, diapun mengangkat muka ke atas lalu tertawa bergelak, suara ketawanya bergema sampai jauh.
Dua orang saudagar yang menjadi ketakutan, sudah merosot turun dari onta mereka dan melihat seluruh pengawal mereka tewas, mereka lalu melarikan diri.
Perut mereka yang gendut bergayutan dan karena tidak biasa bekerja keras apa lagi lari, mereka jatuh bangun dan belum ada seratus langkah, mereka sudah terengah-engah kehabisan napas.
Melihat mereka lari, Si Tangan Api mengangkat tangan kanan ke atas dan dia berteriak lantang, suaranya berpengaruh.
"Heiii ....! Kalian berdua, berhenti .....!!"
Mendadak saja dua orang yang lari terhuyung-huyung itu berhenti, seolah kaki mereka mendadak melekat pada tanah yang mereka injak.
"Kembalilah kalian ke sini!"
Teriak pula Si Tangan Api.
Teriakan itu membuat mereka semakin ketakutan.
Mereka ingin melarikan diri secepatnya, ingin meninggalkan tempat itu sejauhnya.
Akan tetapi sungguh aneh.
Kaki mereka bukan saja tidak mau diajak berlari, bahkan kini kaki itu membawa mereka membalik dan berlawanan dengan kehendak mereka, kedua kaki mereka melangkah menghampiri perampok yang telah membunuh semua pengawal mereka.
Tentu saja kedua orang ini menggigil ketakutan ketika berdiri di depan perampok yang memandang kepada mereka sambil tersenyum itu.
Mereka merasa bingung dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.
Mereka merasa seperti dalam mimpi dan tidak dapat menguasai lagi tubuh mereka.
"Berlututlah kalian!"
Teriak pula Si Tangan Api.
Kini kedua orang itu menjatuhkan diri berlutut.
Bukan saja karena kaki mereka menghendaki demikian, akan tetapi juga karena rasa takut yang menghantui hati.
Si Tangan Api menggunakan kakinya menendang dua batang golok yang banyak berserakan di situ, ke arah dua orang saudagar itu.
"Kalian ambil golok itu!"
Sungguh aneh. Perintah ini tak mungkin dapat dibantah. Dua orang pedagang itu, di luar kemauan mereka, menjulurkan tangan mengambil golok pada gagangnya.
"Nah, sekarang kalian bunuh diri dengan golok itu! Penggal leher kalian sendiri!"
Perintah yang aneh.
Tentu saja dalam hati kecil mereka, dua orang saudagar ini menentang dan tidak mau, akan tetapi, kekuatan yang amat besar mendorong dalam benak mereka, dan tanpa dapat dicegah lagi, tangan yang memegang golok itu mengayun golok dan dua orang pedagang itu menebas leher sendiri dengan golok di tangan masing-masing.
Mereka tak sempat mengeluarkan suara, roboh mandi darah yang bercucuran keluar dari luka parah di leher mereka!
"Ha ha ha, bagus!
Ilmu silatku, tenagaku, dan ilmu sihirku, semua masih ampuh, ha ha ha!"
Sambil tertawa-tawa dia lalu memeriksa semua barang bawaan, mengambil kantung terisi perhiasan emas permata dan terutama sekali ukiran batu giok (kemala), memilih tiga ekor kuda, meloncat ke atas punggung seekor kuda dan menarik tali kendali dua ekor yang lain lalu dia melarikan kuda meninggalkan tempat itu.
Sunyi senyap di tempat pembantaian manusia itu.
Sunyi yang mencekam dan mengerikan.
Tiga ekor burung semacam rajawali terbang lalu dan mereka mengeluarkan bunyi mencicit panjang.
Agaknya tiga ekor burung itu ikut merasa ngeri dan prihatin menyaksikan akibat ulah manusia yang dikenal sebagai mahluk paling mulia dan paling tinggi derajatnya di seluruh permukaan bumi.
Bagi burung-burung itu, tidak ada mahluk yang lebih ganas dari pada manusia.
Manusia membunuhi mahluk lain hanya demi mengejar kepuasan dan kesenangan, bukan karena kebutuhan mutlak.
Hawa udara yang biasanya memang amat panas itu menjadi semakin panas.
Nafsu adalah api yang paling panas, yang dapat membakar segala dengan liar, apabila tidak terkendali.
Bahkan matahari bersembunyi di balik segumpal awan, seolah merasa malu melihat apa yang terjadi di daerah Turfan itu.
Hanya untuk sekantung emas permata, seorang manusia tega membunuh tujuh belas orang manusia lain dengan hati dan tangan dingin.
Hanya untuk merampas sekantung benda mati, karena benda itu dianggap akan dapat mendatangkan kesenangan dan kepuasan bagi gairah nafsunya.
Kurang lebih sejam setelah Si Tangan Api pergi, muncul tiga orang pria lain di daerah yang panas itu.
Usia mereka sekitar lima puluh tahun dan mereka berpakaian seperti pendeta atau pertapa, pakaian yang amat sederhana dari kain kasar berwarna putih dan kuning.
Di daerah barat ini, di mana terdapat banyak pertapa yang mengasingkan diri dari kehidupan ramai, kehadiran tiga orang ini tentu bukan merupakan hal yang aneh lagi.
Akan tetapi kalau mereka berada di timur, dunia persilatan akan mengenal mereka dengan baik karena mereka ini merupakan tiga orang manusia sakti yang dijuluki Sam Sian (Tiga Dewa)!
Biarpun mereka bertiga itu tidak pernah muncul berbareng selama ini di dunia persilatan, namun karena ketiganya merupakan orang-orang sakti yang sukar dicari bandingnya, maka mereka mendapat julukan Sam Sian.
Mereka juga jarang sekali muncul di dunia ramai semenjak mereka mengundurkan diri belasan tahun yang lalu.
Ciu-sian (Dewa Arak) diberikan sebagai julukan Tong Kui yang bermuka selalu kemerahan seperti orang mabok.
Wataknya ugal-ugalan seperti mabok, perutnya gendut walaupun tubuhnya tidak terlalu gemuk sehingga dia nampak seperti kanak-kanak bertubuh besar yang berpenyakit cacingan.
Pakaiannya penuh tambalan.
Dilihat sepintas lalu, tidak ada apa-apanya yang mengesankan.
Namun, orang ini memiliki ilmu kepandaian silat tangan kosong yang sukar ditemukan keduanya, dan diapun memiliki sin-kang (tenaga sakti) dan ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang dahsyat.
Orang ke dua bersama Louw Sun.
Dia dijuluki Kiam-sian (Dewa Pedang) karena memang ilmu pedangnya sukar dikalahkan, bahkan belum pernah ada yang mampu menandinginya selama ini.
Mukanya kekuningan tubuhnya tinggi kurus.
Biarpun julukannya Dewa Pedang, namun tidak nampak dia membawa pedang seperti para pendekar lainnya yang menaruh pedang di punggung atau di pinggang.
Selain ilmu pedang dia juga ahli banyak macam ilmu silat, ahli pula tentang filsafat Agama To, kepalanya dilindungi sebuah caping lebar dan pakaiannya yang juga sederhana itu nampak bersih.
Orang ke tiga bernama Thio Ki dan dia dijuluki Pek-mau-sian (Dewa Rambut Putih).
Entah mengapa, sejak berusia tigapuluh tahun rambutnya telah berubah putih semua.
Wajahnya tampan dan dia selalu tersenyum ramah sehingga rambut yang kesemuanya putih itu tidak membuat dia nampak tua.
Tubuhnya kurus sedang dengan pakaian yang terbuat dari kain sederhana akan tetapi potongannya rapi walaupun tetap longgar seperti pakaian pendeta.
Di pinggangnya terselip sebuah kipas bergagang gading, lagak dan bicaranya menunjukkan bahwa dia seorang sasterawan atau setidaknya terpelajar.
Penampilannya menunjukkan seorang yang lemah.
Akan tetapi justeru penampilannya ini yang menyembunyikan kepandaian hebat.
Selain ahli silat yang tingkatnya tidak di bawah dua orang rekannya.
Dewa Rambut Putih inipun memiliki ilmu sihir yang cukup kuat!
Tiga orang sakti itu segera melibat beberapa ekor kuda yang berlarian liar.
Kuda-kuda itu masih dipasangi kendali.
Tentu saja mereka merasa penasaran, bahkan mereka dapat menduga bahwa para penunggangnya tentu akan kehilangan.
Dan peristiwa ini membuktikan adanya kejadian yang tidak wajar.
Merekapun tanpa bicara lagi lalu menggunakan ilmu berlari cepat, menuju ke arah dari mana datangnya kuda-kuda itu.
Tak lama kemudian mereka sudah tiba di tempat pembantaian tadi.
Mereka menghampiri dan sejenak mengamati mayat-mayat itu dan tahu bahwa mereka itu menjadi korban pembantaian.
"Siancai (damai) .....! Di mana-mana nafsu menguasai manusia sehingga terjadi kejahatan keji! Sungguh menyedihkan sekali, siancai......!"
Kiam-sian Louw Sun menarik napas panjang.
"Pek-mau-sian, engkau pernah bilang bahwa seluruh alam mayapada ini berputar karena keseimbangan antara Im (negatif) dan Yang (positif). Kalau tidak ada malam, mana ada siang? Kalau tidak ada kejahatan, mana ada kebajikan? Yang disebut baik baru ada kalau ada keburukan. Nah, kenapa sekarang engkau merasa bersedih?"
"Ha ha ha ha!"
Ciu-sian Tong Kui tertawa sambil berjalan di antara mayat-mayat yang berserakan dan barang-barang dagangan yang serba mahal juga berserakan, di antaranya gulungan sutera-sutera indah.
"Mati bukan persoalan, semua manusia mesti mati. Hanya, cara kematian itulah yang penting! Mereka semua ini mati konyol namanya, mati penasaran dan roh-roh mereka menjadi setan penasaran!"
Tiba-tiba Dewa Arak itu berhenti tertawa.
"Ihhh ....! Dia ini belum mati,"
Teriaknya.
Dua orang rekannya berkelebat cepat dan kini mereka bertiga sudah berjongkok dekat tubuh kepala pengawal.
Dia memiliki tubuh yang lebih kuat dari pada kawan-kawannya, maka kalau semua anak buahnya mati seketika terkena hantaman lawan, dia roboh dan masih dapat bertahan.
Setelah tiga orang sakti itu memeriksanya sejenak, tahulah mereka bahwa orang ini tidak mungkin dapat diselamatkan pula.
Ciu-sian Tong Kui menotok jalan darah di tengkuk dan kedua pundak, mengurut dada dan kepala pengawal itu mengeluh lirih, membuka kedua matanya dan memandang tiga wajah di atasnya itu dengan mata kuyu.
"Apa yang terjadi ? Siapa yang membunuh kalian?"
Tanya Dewa Pedang.
Si kepala pengawal memejamkan mata, mengerahkan tenaga terakhir, membuka matanya lagi dan dengan sukar mulutnya bergerak mengeluarkan suara yang parau setelah dia muntah darah menghitam.
"Si ...... Tangan ....... Api ....."
Dia terkulai dan matanya terpejam.
Tiga orang itu terbelalak dan kelihatan bersemangat ketika mendengar disebutnya nama Si Tangan Api.
Melihat keadaan orang yang terluka parah itu, Dewa Rambut Putih segera mengerahkan kekuatan batinnya, mengusap muka dan dada orang itu.
Dan, sungguh aneh, kepala pengawal yang tadi kelihatan sudah putus napasnya itu membuka matanya yang sudah kosong sinar, seperti orang mimpi saja.
"Cepat katakan, di mana Si Tangan Api?"
Kata Dewa Rambut Putih, suaranya tidak wajar, melengking dan penuh getaran yang berwibawa.
Kiranya orang sakti ini sedang mempergunakan seluruh tenaga dan kekuatan sihirnya untuk memberi dorongan semangat sehingga pada saat terakhir orang yang sudah sekarat itu masih akan dapat memberi keterangan yang diinginkannya.
"......... di ..... Yin-ning .... Yi-li ......"
Hanya sekian orang itu dapat bicara.
Dia terkulai dan tewas.
Akan tetapi, disebutnya Yin-ning dan Yi-li itu saja sudah cukup bagi Tiga Dewa.
Sudah berbulan-bulan mereka berkeliaran di daerah barat ini, bahkan menjelajahi Tibet dan Sin-kiang untuk mencari satu orang saja, yaitu Si Tangan Api!
Mereka tahu bahwa Yin-ning adalah sebuah kota yang terdapat di daerah Yi-li, daerah yang menjadi pusat tempat tinggal orang-orang Kasak.
Siapakah Tiga Dewa dan apa hubungan mereka dengan Si Tangan Api?
Seperti telah kita ketahui, Tiga Dewa adalah tiga orang tokoh persilatan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Akan tetapi sebetulnya sejak belasan tahun yang lalu, mereka telah menarik diri dari dunia persilatan, tekun bertapa untuk memajukan perkembangan jiwa mereka.
Akan tetapi, akhirnya mereka keluar juga ketika mereka mendengar bahwa di dunia persilatan terjadi kegemparan.
Di dunia persilatan muncullah seorang jagoan, seorang datuk kaum sesat yang berjuluk Si Tangan Api.
Bukan saja datuk ini menguasai dunia kang-ouw (sungai telaga atau dunia persilatan), akan tetapi juga dia menggunakan ilmu kepandaiannya yang hebat untuk menalukkan para pimpinan perguruan perguruan silat besar seperti Kun-lun-pai, Bu-tong-pai, Kong-thong-pai, bahkan berani menghina pimpinan Siauw-lim-pai!
Mendengar akan hal ini, Tiga Dewa terpaksa keluar dart tempat pertapaan mereka dan memenuhi permintaan para pimpinan perguruan-perguruan silat itu untuk menghadapi Si Tangan Api!
Akan tetapi, mereka terlambat.
Si Tangan Api telah melarikan diri setelah melakukan hal yang amat menggemparkan, yaitu dia telah memasuki gudang pusaka dari istana kaisar dan mencuri belasan buah benda pusaka!
Tentu saja Kaisar Thai-cu, yaitu kaisar pertama Dinasti Beng menjadi amat marah dan melalui para jagoan-jagoan istana dan penasihatnya, Kaisar Thai-cu juga minta bantuan Tiga Dewa untuk menangkap Si Tangan Api dan merampas kembali benda-benda pusaka itu.
Demikianlah, Tiga Dewa lalu melakukan penyelidikan dan mereka mengikuti jejak Si Tangan Api yang memboyong keluarganya ke barat.
Akan tetapi, di barat, mereka kehilangan jejak.
Mereka mencari-cari sampai berbulan-bulan lamanya, namun belum juga berhasil menemukan datuk sesat yang mereka cari itu.
Kalau di timur, dunia persilatan mengenal Si Tangan Api sehingga akan mudah mencari jejaknya.
Akan tetapi di daerah barat ini, agaknya tak seorangpun mengenal namanya.
Akhirnya, tibalah mereka di Turfan, dan secara kebetulan saja mereka melihat korban keganasan tangan Si Tangan Api dan kebetulan pula seorang di antara para korban itu masih sempat memberi keterangan kepada mereka sebelum mati.
Setelah mendengar keterangan dari kepala pengawal itu, tiga orang sakti saling pandang, kemudian Ciu-sian Tong Kui tertawa bergelak-gelak.
"Ha ha ha ha, akhirnya Tuhan berkenan mengulurkan bantuan kepada kita!"
"Hwe-siang-kwi (Iblis Tangan Api), sekali ini engkau tidak akan lolos dari tanganku!"
Kata pula Kiam-sian Louw Sun sambil meraba gagang pedang yang tak pernah meninggalkan pinggangnya.
Tidak nampak dari luar dia membawa pedang, namun sesungguhnya, sebatang pedang yang aneh, pedang yang lentur tipis, melilit pinggang dalam sarung pedang dari kulit ular.
Pek-mou-sian Thio Ki tersenyum lebar dan menengadah memandang langit.
"Pohon yang buruk, cepat atau lambat, pasti akan menghasilkan buah yang buruk pula. Setiap kejahatan membawa hukumannya sendiri, seperti setiap kebaikan membawa pahalanya sendiri. Tuhan Maha Adil dan Maha Kuasa."
"Bagaimana dengan mayat-mayat ini? Kita tidak mungkin dapat meninggalkan mereka begini saja,"
Kata Dewa Arak.
"Engkau benar, Ciu-sian. Akupun tidak tega membiarkan mereka seperti itu,"
Dewa Pedang membenarkan.
"Entah bagaimana pendapat Pek-mou-sian,"
"Tentu saja kita harus mengubur mayat-mayat itu lebih dulu."
Jawab Dewa Rambut Putih.
"Kenapa tidak dibakar saja, Pek-mou-sian?"
Tanya Ciu-sian Si Dewa Arak.
"Sama saja. Jasmani kita terdiri dari empat unsur, api, air, tanah, dan udara. Setelah jasmani ditinggalkan jiwa, dia kembali ke asalnya, empat unsur Air kembali kepada sumbernya. Dalam keadaan seperti ini, paling mudah dan tepat kalau kita mengubur mereka. Untuk membakar mereka, kita kekurangan bahan bakar dan akan makan waktu, sedangkan kita perlu segera mencari Si Tangan Api ke daerah Yi-li."
Dua orang yang lain mengangguk setuju.
Di antara mereka bertiga, memang Dewa Rambut Putih yang paling pandai mengeluarkan pendapat dan mengambil keputusan.
Tiga orang sakti itu lalu bekerja dengan cepat menggali lubang yang besar, menggunakan golok-golok yang berserakan di situ.
Sebelum senja tiba, mereka sudah selesai mengubur tujuh belas mayat itu ke dalam sebuah lubang yang besar dan menimbuni lubang itu.
Kemudian merekapun meninggalkan tempat itu untuk melakukan pengejaran terhadap Si Tangan Api.
Dewa Arak tidak lupa untuk mengambil beberapa meter sutera putih dan kuning untuk pengganti pakaian mereka kelak kalau ada kesempatan untuk membuatnya.
Daerah Yi-li adalah nama yang diberikan kepada daerah subur di lembah Sungai Yi-li yang letaknya di perbatasan Cina bagian barat laut.
Lembah itu amat subur.
Terbentang luas padang yang hijau dan subur, indah permai.
Padang inilah yang disebut daerah Yi-li, termasuk daerah Sin-kiang dan di daerah ini menjadi pusat tempat tinggal Suku Bangsa Uighur dan Kasak.
Dua suku bangsa ini merupakan penghuni yang paling besar jumlahnya dan yang sudah turun-temurun tinggal di daerah itu.
Masih banyak lagi terdapat suku-suku bangsa yang kecil-kecil jumlahnya, seperti Suku Mongol, Hui, Mancu, Usbek, Tatar, Sipo, dan lain-lain.
Bahkan ada pula Suku Han yang merupakan suku terbesar dan mengaku sebagai pribumi di Cina.
Namun di daerah Yi-li, Bangsa Han merupakan kelompok kecil saja walaupun tentu saja mereka terpandang karena setelah kekuasaan Mongol jatuh, kini Cina kembali dikuasai oleh kerajaan baru yang disebut Dinasti Beng (Terang), dipimpin oleh orang-orang Han.
Pada hal, kalau ditelusur benar-benar silsilah seseorang, sukarlah dipastikan bahwa seseorang itu benar-benar aseli!
Pernikahan antar suku sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu, apa lagi dalam sebuah negara yang daerahnya luas dan memiliki suku yang puluhan banyaknya.
Akan tetapi, rupa-rupanya kaum peranakan, keturunan dari hasil kawin campuran itu tetap mempertahankan kelas mereka dan mengaku sebagai Suku Han, karena agaknya cap pribumi mendatangkan semacam perasaan unggul dan bangga.
Mereka lupa atau sengaja lupa bahwa di dalam tubuh mereka mengalir darah bermacam suku, hasil pernikahan nenek moyang mereka dengan suku-suku lain, baik dari pihak nenek moyang ayah maupun ibu.
Di daerah Yi-li, yang paling kuat karena terbanyak jumlahnya adalah Suku Kasak dan Suku Uighur.
Mereka hidup berkelompok dan berpisah, namun dalam kehidupan sehari-hari.
karena kebutuhan, mereka bergaul.
Di dalam pasar mereka bersatu, juga warung-warung teh dan rumah-rumah makan menjadi tempat pertemuan dan pergaulan antar suku yang tidak membeda-bedakan.
Kota Yin-ning adalah sebuah kota di daerah Yi-li yang dihuni sebagian besar oleh orang-orang Kasak.
Namun di kota inipun tinggal banyak orang dari suku bangsa lain, terutama Suku Bangsa Uighur yang sebagian besar beragama Islam.
Biarpun ada kemiripan pada wajah dan kulit mereka, namun mudah membedakan mereka dari pakaian mereka, terutama pelindung kepala.
Orang-orang Uighur yang beragama Islam yang pria hampir semua mengenakan semacam peci berwarna putih atau hitam atau juga belang-belang seperti kulit harimau, sedangkan wanitanya sebagian besar berkerudung dengan warna-warni indah.
Suku Kasak ada pula yang berpeci, akan tetapi banyak yang memakai kain pembungkus kepala.
juga pakaian mereka berbeda, dan topi para wanitanya terbuat dari bulu.
Para prianya, banyak pula yang mengenakan topi bulu domba, dan Suku Kasak ini terkenal tangkas dan pandai menunggang kuda.
Sebaliknya Suku Uighur lebih ahli memelihara ternak domba dan bertani.
Selain kota Yin-ning, di daerah Yi-li terdapat banyak kota lain seperti Cau-su, Capu-cai, Sui-ting dan lain-lain.
Akan tetapi kota Yin-ning terletak di lereng bukit yang indah pemandangan alamnya dan sejuk hawanya.
Pegunungan di sana menghasilkan rumput yang baik dan padang-padang rumput terbentang luas di lereng-lereng bukit, di antara pohon-pohon cemara yang rimbun dan menjulang tinggi.
Sungguh merupakan tempat yang menguntungkan sekali bagi para pemelihara ternak.
Maka, terkenallah bulu-bulu domba yang gemuk dan halus dari daerah Yi-li, sehingga bulu domba merupakan hasil besar yang dikirim ke barat dan ke timur.
Juga hasil panen gandum dari sawah ladang, dan buah-buahan dari kebun-kebun, membuat penduduk daerah Yi-li pada umumnya dan kota Yin-ning pada khususnya, hidup berkecukupan, bahkan boleh dibilang makmur untuk ukuran kehidupan di daerah pegunungan.
Penghuni pegunungan tidak dikejar banyak kebutuhan.
Bagi mereka, asalkan keluarga dalam keadaan sehat cukup makan dan pakaian, mempunyai rumah yang kokoh, mereka merasa kecukupan.
Untuk bergembira, mereka secara berkelompok seringkali mengadakan pertemuan, menikmati hasil panen, makan hidangan berupa masakan sendiri dan buah-buahan dari kebun sendiri, minuman buatan sendiri, dan mereka menari dan bernyanyi di bawah sinar bulan.
Apa lagi yang dikehendaki seseorang dalam hidupnya?
Keluarga Si Tangan Api tinggal di sudut kota Yin-ning, memiliki pekarangan dan kebun yang luas.
Si Tangan Api datang kurang lebih setahun yang lalu, bersama seorang isteri dan seorang anak laki-laki, dan dia membeli rumah besar dengan pekarangan besar itu, lalu tinggal di situ sebagai orang yang dianggap kaya.
Si Tangan Api ini adalah keturunan Uighur yang belum beragama Islam, melainkan Agama Hindu karena sejak muda dia merantau ke India dan berguru kepada orang-orang sakti di India.
Namanya Se Jit Kong dan setelah pulang dari India, dia langsung mengembara ke daratan Cina sebelah timur dan muncul sebagai seorang jagoan, seorang datuk!
Dia malang melintang di sepanjang perjalanan dari daerah barat ke timur, bahkan namanya terkenal sampai di kota raja Nan-king.
Dia bukan saja terkenal dengan ilmu silatnya dan juga tenaganya yang dahsyat, akan tetapi terkenal pula dengan ilmu sihirnya.
Kemenangan demi kemenangan membuat dia tekebur dan sombong, bahkan dia mengangkat diri menjadi jagoan nomor satu di dunia.
Dia bahkan berani mendatangi partai-partai persilatan besar seperti Go-bi-pai, Kun-lun-pai, Bu-tong-pai bahkan Siauw-lim-pai untuk menantang para pimpinan perguruan silat, dan telah membunuh beberapa orang tokoh penting di dunia persilatan.
Para pendekar menjadi marah, namun sebegitu jauh belum ada seorangpun pendekar yang mampu menandingi Si Tangan Api.
Akhirnya, karena maklum bahwa dia dimusuhi para pendekar dia mengambil keputusan untuk kembali ke barat.
Apa lagi dia sudah mulai tua, sudah hampir enam puluh tahun usianya dan dia ingin hidup tenang di kampung halamannya, yaitu di daerah Yi-li.
Akan tetapi, bukan Si Tangan Api kalau dia pergi begitu saja tanpa meninggalkan nama besar dan perbuatan yang menggemparkan.
Dia menyelundup ke dalam gudang pusaka milik Kaisar dan mencuri belasan buah benda pusaka yang amat berharga.
Gegerlah kota raja, dan berita tentang perbuatan Si Tangan Api ini segera terdengar di seluruh dunia kang-ouw.
Di Yin-ning, Se Jit Kong terkenal sebagai seorang hartawan, bahkan dia segera memperlihatkan kepandaiannya dan ditakuti orang.
Nama julukannya Si Tangan Api segera dikenal orang di seluruh Yi-li.
Akan tetapi, berkat permintaan isterinya, di Yi-li dia tidak pernah melakukan kejahatan dan hidup tenang tenteram seperti yang diidamkannya.
Isteri Se Jit Kong adalah seorang wanita, yang jauh lebih muda, berusia duapuluh delapan tahun dan memiliki kecantikan yang khas Suku Uighur.
Wanita Uighur memang memiliki kecantikan yang khas, manis dan anggun.
Se Jit Kong amat sayang kepada isterinya ini, dan hal ini nampak dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Bahkan datuk itu memanjakan isterinya, membelikan banyak pakaian sutera yang indah-indah, juga perhiasan yang mahal-mahal.
Dan wanita itupun kelihatan mencinta suaminya, walaupun ia pendiam dan tidak pernah mau bercerita tentang keadaan keluarganya.
Suami isteri ini mempunyai seorang anak laki-laki yang berusia sepuluh tahun, diberi nama Sin Wan oleh ayahnya.
Datuk besar itu amat sayang kepada Sin Wan dan sejak berusia lima tahun, anak itu telah digembleng oleh ayahnya sehingga kini dalam usia sepuluh tahun dia telah menjadi seorang anak yang bertubuh kuat dan pandai bersilat.
Akan tetapi sungguh jauh bedanya dengan watak ayahnya.
Kalau ayahnya seorang datuk yang keras hati dan suka mencari musuh, ingin menonjol dan paling jagoan, sebaliknya Sin Wan seorang anak yang pendiam dan sama sekali tidak bengal, bahkan penurut sekali, terutama terhadap ibunya.
Mungkin dia mewarisi watak ibunya yang juga pendiam dam lembut, wanita yang tidak pernah kelihatan marah, dan tidak pernah pula kelihatan ribut dengan suaminya.
Tentu saja sebagai suami isteri, pernah Ju Bi Ta ribut dengan suaminya.
Hanya karena ia seorang wanita yang sopan dan lembut, ia tidak pernah mau ribut di depan orang lain, bahkan tidak mau ribut dengan suaminya di depan anak mereka.
Kalau sudah di kamar berdua, barulah wanita yang lembut ini menegur dan memprotes suaminya dan kalau sudah begitu, biasanya datuk besar yang keras hati dan keras kepala ini selalu tunduk dan mengalah!
Setelah setahun tinggal di Yin-ning dan hidup dengan tenteram, pada suatu hari Se Jit Kong pergi meninggalkan rumahnya.
Dia berpamit kepada isterinya bahwa dia hendak pergi mengunjungi sahabat-sahabat lamanya di daerah Turfan, di sekitar pegunungan Api.
"Ilmuku Tangan Api kudapatkan di pegunungan itu pula. Aku ingin melihat apakah guruku masih berada di sana, dan aku ingin menjenguk teman-temanku."
Se Jit Kong pergi selama sebulan dan ketika dia kembali, dia disambut oleh isteri dan puteranya dengan gembira.
Akan tetapi malam hari itu, setelah Sin Wan tidur di kamarnya sendiri dan suami isteri itu tinggal, berdua saja di kamar mereka, Ju Bi Ta nampak marah-marah kepada suaminya.
"Bukankah engkau sudah berjanji bahwa engkau akan cuci tangan, tidak lagi melakukan kejahatan di sini? Lupakah engkau akan janjimu kepadaku? Di timur engkau telah mengganas dan terkenal sebagai seorang datuk besar, tidak pantang melakukan segala bentuk kekejaman. Akan tetapi di sini, kita berada di antara bangsa sendiri. Aku akan merasa malu sekali kalau di sini aku dikenal sebagai isteri seorang penjahat besar!"
"Ah, kekasihku, isteriku yang manis. Kenapa engkau marah-marah? Lihat, kepergianku untuk mencarikan benda-benda yang amat indah untukmu. Lihat emas permata dan batu-batu giok ini. Tak ternilai harganya. Semua ini kuserahkan kepadamu, semua untukmu, sayang."
"Tidak sudi aku!"
Ju Bi Ta yang biasanya kelihatan pendiam dan lembut itu, kini benar-benar marah, mukanya kemerahan dan matanya bersinar-sinar menatap wajah suaminya, lalu melihat ke arah peti hitam terbuka yang berisi emas permata dan batu kemala itu.
Ia menuding ke arah peti itu.
"Dari mana engkau mencuri atau merampok benda-benda ini? Aku seperti melihat barang-barang itu bergelimang dan berlepotan darah! Kembalikan, aku tidak sudi menerimanya!"
"Bi Ta, isteriku yang kucinta, jangan begitu. Sungguh mati, aku tidak merampasnya dari orang-orang di sini. Aku sudah memenuhi janji, tidak membikin ribut di sini. Aku merampasnya dari kafilah orang Han di dekat Gunung Api sana, tidak ada orang tahu."
Wanita cantik itu mengerutkan alisnya.
"Tidak ada orang tahu? Apakah engkau ini bukan orang? Iblis barangkali? Dan bagaimanapun juga, Tuhan melihat dan mengetahuinya! Ya Allah! Sampai kapankah engkau akan menyadari semua kesalahanmu? Sampai kapankah engkau akan bertaubat dan minta ampun kepada Allah?"
"Sudahlah, kalau engkau belum mau menerimanya, maafkan aku, isteriku. Biar kusimpan dulu benda-benda ini, akan tetapi jangan kau marah kepadaku. Aku hanya merampas benda-benda ini untuk menyenangkan hatimu, sayang,"
"Se Jit Kong, kalau engkau ingin menyenangkan hatiku, jangan lakukan kejahatan lagi, bertaubatlah kepada Allah, bahkan pergunakan kepandaian yang kaumiliki untuk melakukan darma bakti kepada Allah, untuk menolong sesama umat manusia, menderma kepada fakir miskin, menentang yang jahat dan membela yang lemah tertindas. Kalau engkau mau bersikap seperti itu, sungguh hatiku akan senang sekali."
"Baiklah ........ baiklah, aku berjanji. Isteriku manis, coba kauingat saja, bukankah selama sepuluh tahun ini aku selalu memegang janjiku terhadap dirimu? Bagaimana sikapku terhadap dirimu, dan terhadap anak kita Sin Wan? Pernahkah aku melanggar janji?"
Wanita itu termenung di tepi pembaringannya dan beberapa kali ia menarik napas panjang.
"Kalau engkau tidak memegang janji, apakah kaukira aku masih suka hidup sampai sekarang? Engkau memang memenuhi janjimu itu, akan tetapi di luaran, engkau tiada hentinya menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendakmu. Bahkan di sinipun, biar engkau tidak melakukan kejahatan, akan tetapi engkau memamerkan kepandaian sehingga sebentar saja semua orang Kasak tahu belaka bahwa engkau adalah Si Tangan Api yang ditakuti itu."
Se Jit Kong menarik napas panjang dan menyimpan kembali peti hitam itu.
Dia sendiri seringkali merasa heran mengapa terhadap isterinya ini, dia seperti kehilangan semua kekerasan hatinya, kehilangan semua keangkuhannya, bahkan kehilangan semangat.
Dia tahu bahwa tanpa Ju Bi Ta, hidupnya tidak ada artinya.
Bahkan dia harus mengakui dalam hati bahwa semua perbuatan yang dia lakukan, untuk menjadi orang gagah nomor satu di kolong langit, mengumpulkan benda-benda pusaka dan benda berharga, semua itu dia lakukan demi isterinya, dan menyenangkan hati isterinya!
"Baiklah, isteriku yang baik.
Mulai saat ini aku akan mentaati semua kehendakmu.
Engkau lihatlah, mulai sekarang, harimau yang ganas ini akan berubah menjadi domba yang lemah dan jinak."
Dia menghampiri isterinya dan merangkul.
Ju Bi Ta memejamkan matanya dan seperti biasa, ia tidak pernah menolak menerima tumpahan kasih sayang suaminya.
Ia seorang isteri yang baik, yang tidak pernah mengurangi kewajibannya, dan biarpun baru saja ia menegur dan marah kepada suaminya, kini ia siap melayani suaminya dengan pasrah.
Malam itu, Sin Wan asyik dengan oleh-oleh ayahnya, yaitu sebuah kitab dongeng sejarah.
Sejak kecil, oleh ibunya Sin Wan diharuskan mempelajari ilmu sastera, sehingga dalam usia sepuluh tahun, dia sudah pandai baca tulis.
Ketika mereka tinggal di timur, ibunya mengundang sasterawan untuk mengajarnya.
Selain itu, Ju Bi Ta juga mengharuskan dia membaca kitab-kitab Agama Buddha, kitab-kitab guru besar Khong Cu, juga ibu yang bijaksana ini mengajarkan pembacaan ayat kitab Al Quran.
Ibunya mengajarkan budi pekerti, sehingga biarpun sejak kecil anak itu digembleng ilmu silat oleh ayahnya, namun dia tetap berwatak lembut, percaya dan memuja Tuhan Allah, pencipta seluruh alam mayapada berikut isinya.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali muncul belasan orang di pekarangan rumah keluarga Se Jit Kong.
Mereka adalah belasan orang laki-laki yang berusia antara tiga puluh sampai lima puluh tahun dan semua kelihatan gagah perkasa.
Dari sikap, pakaian dan senjata yang ada pada mereka mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang biasa bertualang di dunia kang-ouw (sungai telaga) orang-orang yang sudah biasa hidup keras mengandalkan kepandaian silat, ketebalan kulit dan kekerasan tulang.
"Hwe-ciang-kwi (Iblis Tangan Api) Se Jit Kong, keluarlah dari tempat persembunyianmu!"
Teriak seorang di antara tiga belas orang itu yang usianya sudah lima puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan bermata satu karena mata kirinya buta.
Se Jit Kong masih tidur pada pagi hari itu karena dia memang masih lelah karena habis melakukan perjalanan jauh.
Isterinya sudah sejak pagi subuh tadi bangun dan sibuk di dapur mempersiapkan sarapan untuk suami dan anaknya, sedangkan Sin Wan juga sudah tekun melanjutkan pembacaan kitabnya.
Mendengar teriakan yang melengking lantang sekali karena didorong kekuatan khi-kang, baik Sin Wan maupun ibunya terkejut bukan main.
Teriakan yang melengking itu menebus sampai ke seluruh bagian rumah itu, bahkan terdengar ke seluruh kota Yin-ning.
Ju Bi Ta berlari keluar dari dalam dapur, hampir bertabrakan di ruangan tengah dengan puteranya kemudian mereka berdua cepat menuju ke pintu depan.
Ketika mereka membuka pintu depan, mereka melihat tiga belas orang yang sikapnya bengis dan mengancam itu.
Sin Wan adalah seorang anak yang lembut hati dan pendiam, akan tetapi sejak kecil oleh ibunya ditekankan tentang susila dan sopan santun.
Oleh karena itu, melihat sikap tiga belas orang itu, dia merasa tak senang.
"Cuwi (anda sekalian) adalah orang-orang tua yang kelihatan gagah, akan tetapi kenapa datang sebagai tamu tak diundang yang bersikap kurang ajar! Bersikaplah sopan kalau menjadi tamu!"
Tiga belas orang itu memandang kepada Sin Wan dan ibunya, dan tiga belas pasang mata itu memandang kepada Ju Bi Ta dengan kagum dan pandang mata liar, dan mereka memandang kepada Sin Wan dengan marah.
Seorang di antara mereka, yang bertubuh pendek dan berkepala botak memaki.
"Bocah setan, jaga mulutmu itu, aku akan merobeknya!"
Berbareng dengan kata terakhir, si botak pendek itu sudah menggerakkan tangan kirinya dan meluncurlah sinar menyilaukan sebatang hui-to (pisau terbang) ke arah mulut Sin Wan!
Kalau anak lain yang menghadapi serangan ini, tentu pisau itu benar-benar akan merobek mulutnya.
Namun, sejak kecil Sin Wan sudah digembleng ilmu silat oleh ayahnya.
Menghadapi serangan itu, dia sama sekali tidak menjadi gugup.
Tangan kanannya bergerak dan dia telah menangkap pisau itu diantara jari-jari tangan yang menjepitnya kemudian tanpa banyak cakap lagi.
Sin Wan melontarkan pisau itu ke arah penyambitnya!
"Ehhh ......?"
Si pendek botak terkejut, akan tetapi diapun lihai, dan dapat menangkap lagi senjata rahasianya. Pada saat itu terdengar suara lantang dari dalam rumah.
"Anjing-anjing dari mana sudah bosan hidup dan ingin menjadi bangkai?"
Muncullah Hwe-ciang-kwi Se Jit Kong dari dalam rumah dengan pakaian dan rambut yang sudah rapi.
Agaknya dia tadi mendengar pula kedatangan tiga belas orang itu, akan tetapi dia tidak tergesa-gesa dan berganti pakaian, mencuci muka dan menyisir rambut lebih dahulu.
Melihat suaminya muncul dan mendengar suaranya yang mengancam, isteri datuk itu segera berkata dengan nada suara yang serius.
"Berjanjilah bahwa engkau tidak akan membunuh orang!"
Sin Wan melihat ayahnya menatap wajah ibunya dan tampak ragu-ragu, dan belum juga menjawab ucapan isterinya itu.
"Berjanjilah!"
Desak pula Ju Bi Ta kepada suaminya. Datuk besar itu menghela napas lalu mengangguk.
"Baik, aku berjanji tidak akan membunuh orang. Kalau anjing-anjing ini kurang ajar, aku hanya akan memberi ajaran kepada mereka agar tidak berani datang mengganggu lagi."
Ju Bi Ta kelihatan lega dan iapun memegang tangan puteranya.
"Sin Wan mari kita masuk. Biar ayahmu yang menghadapi mereka itu."
Sin Wan juga mengenal ketegasan dan perintah dalam suara ibunya yang lembut.
Dia mengangguk dan mereka berdua lalu masuk kembali ke dalam rumah.
Wanita itu melanjutkan pekerjaannya di dapur, sedangkan Sin Wan mencoba untuk melanjutkan bacaannya, akan tetapi sia-sia karena ingatannya melayang ke luar rumah.
Akhirnya dia tidak dapat menahan perasaan hatinya dan diapun keluar dari ruangan itu, menuju ke depan dan mengintai dari balik pintu depan, melihat bagaimana ayahnya menghadapi tiga belas orang kasar dan tidak sopan itu.
Agaknya ketika dia masuk tadi, tiga belas orang itu telah memperkenalkan diri kepada ayahnya karena kini dia melihat ayahnya tertawa bergelak sampai perutnya terguncang dan mukanya menengadah.
Betapa gagahnya sikap ayahnya menghadapi tiga belas orang kasar yang nampak bengis mengancam itu.
"Ha ha ha ha, kiranya kalian ini yang di daerah pantai Pohai dikenal dengan julukan Bu-tek Cap-sha-kwi (Tiga belas Iblis Tanpa Tanding)? Ha ha ha, sungguh tekebur, mempergunakan julukan seperti itu. Dahulupun aku sudah mendengar akan nama kalian, akan tetapi setelah mendengar bahwa kalian hanyalah penjahat-penjahat kecil yang menjadi antek para bajak laut Jepang, akupun tidak perduli. Sekarang kalian datang mencari aku, ada urusan apakah?"
Kalau saja tidak ingat akan pesan isterinya, tentu datuk besar ini tidak sudi banyak cakap lagi dan sejak tadi dia sudah turun tangan membunuh mereka ini!
Seorang di antara mereka, yang tinggi kurus dan nampak tenang, usianya lima puluh tahun lebih dan di punggungnya terdapat sepasang pedang, melangkah maju dan agaknya dialah pemimpin rombongan itu.
Sepasang matanya tajam mencorong, sikapnya angkuh dan dia memandang tuan rumah itu seperti seorang atasan memandang bawahan.
"Hwe-ciang-kwi, ketika engkau merajalela di timur sana, kami masih mendiamkan saja karena kita dari satu golongan dan seperti kami, engkau juga memusuhi para pendekar. Kami menganggap engkau orang segolongan maka kami tidak mencampuri. Akan tetapi, engkau telah mencuri pusaka istana. Engkau seorang Suku Bangsa Uighur yang liar telah berani melarikan pusaka-pusaka istana. Hemm, kami sebagai orang-orang Han tidak bisa membiarkan saja perbuatanmu ini. Kembalikan pusaka-pusaka itu kepada kami"
"Wah ... wah, sungguh bebat. Kalau aku tidak mau mengembalikan, kalian mau apa?"
Tantang Se Jit Kong sambil tersenyum mengejek.
"Terpaksa kami tidak akan memandang segolongan lagi, dan kami akan menangkap dan menyeretmu ke istana agar menerima hukuman sebagai pencuri!"
Kembali So Jit Kong tertawa bergelak.
"Ha ha ha, sungguh lucu sekali! Bu-tek Cap-sha-kwi sudah biasa membantu para bajak laut Jepang, sekarang tiba-tiba ingin menjadi pahlawan? Kamu yang berjuluk Bu-tek Kiam-mo (Setan Pedang Tanpa Tanding) itu, dan yang memimpin gerombolan tigabelas orang ini? Katakan saja bahwa kalian menginginkan pusaka-pusaka itu untuk kalian sendiri, bukan untuk dikembalikan kepada Kaisar! Bukankah begitu, Cap-sha-kaw (tiga belas ekor anjing)?"
Sengaja datuk besar itu mengubah julukan Cap-sha-kwi (Tiga belas Iblis) menjadi Tiga belas Anjing!
Si pendek botak yang tadi menyerang Sin Wan, menjadi marah sekali.
Dia melangkah maju dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Se Jit Kong.
"Iblis sombong, berani kau menghina kami? Sekarang, bukan saja semua pusaka harus kau serahkan kepada kami, juga wanita cantik tadi. Ia isterimu, bukan? Iapun harus diserahkan kepadaku, sebagai hukuman atas sikapmu ini!"
Seketika wajah Se Jit Kong menjadi merah.
Dia sudah biasa mendengar ucapan kasar menghina, dan hal itu dianggap lumrah.
Akan tetapi ada suatu pantangan baginya.
Siapapun juga di dunia ini tidak boleh menghina isterinya tersayang!
Sinar matanya seperti berapi dan panas ketika dia menatap wajah si pendek botak itu.
Si botak ini memang berwatak mata keranjang.
Dia merupakan seorang di antara tiga saudara berjuluk Bu-tek Sam-coa (Tiga Ular Tanpa Tanding) yang masuk menjadi anggauta kelompok Tigabelas Iblis Tanpa Tanding.
Semua anggauta gerombolan ini menggunakan julukan Bu Tek (Tanpa tanding) yang menunjukkan kesombongan watak mereka.
Dan di daerah Po-yang, di sepanjang pantai laut timur, mereka memang amat ditakuti, apalagi setelah mereka bergabung dengan para bajak laut Jepang yang selalu mengganggu keamanan di perairan laut timur dan di sepanjang pantai.
"Jahanam busuk, aku harus menghancurkan mulutmu,"
Bentaknya dan tiba-tiba saja tubuh Se Jit Kong yang tinggi tegap itu sudah melayang ke depan, ke arah si pendek botak.
Biarpun dia pendek, namun si botak ini terkenal dengan kecepatan gerakannya dan juga tenaganya yang besar.
"Engkau yang akan mampus di tanganku!"
Bentaknya dan diapun sudah melolos rantai yang kedua ujungnya dipasangi pisau seperti pisau terbang yang biasa dia pergunakan sebagai senjata rahasia.
Begitu Se Jit Kong meloncat dekat, dia sudah menyambut dengan serangan rantainya.
Dua batang pisau itu menyambar-nyambar dahsyat dan terdengar suara bersiutan nyaring.
Diam-diam Se Jit Kong menilai gerakan lawan dan tahulah dia bahwa lawannya ini tidak boleh dipandang remeh.
Apa lagi ketika dua orang saudara si botak juga maju mengeroyoknya.
Mereka bersenjata golok besar dan gerakan merekapun dahsyat.
Se Jit Kong yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah tinggi tingkatnya, mempergunakan kelincahan gerakannya untuk mengelak, berloncatan menyelinap di antara gulungan sinar rantai dan golok.
Namun, dia tidak membalas kepada dua orang yang lain, karena perhatiannya dia tujukan kepada si botak pendek untuk melaksanakan ancamannya.
Dia harus menghancurkan mulut yang telah berani menghina isterinya itu!
Setelah lewat belasan jurus dikeroyok tiga orang yang berjuluk Tiga Ular Tanpa Tanding itu.
Se Jit Kong melihat kesempatan baik.
Ketika kedua ujung rantai yang dipasangi pisau itu menyambar kepadanya dengan berbareng, satu dari atas dan satu lagi dari samping, dia tidak mengelak melainkan menyambut kedua batang pisau yang amat tajam berkilauan itu dengan kedua tangannya.
Dia berhasil menangkap dan mencengkeram kedua batang pisau itu, menangkap rantainya dan sebelum si botak tahu apa yang terjadi, kedua lengannya telah terbelit rantai dan tubuhnya terangkat dari atas tanah lalu diputar-putar menyambut golok kedua orang saudaranya.
Tentu saja dua orang itu, terkejut dan menarik kembali golok mereka, bahkan meloncat ke belakang karena khawatir kalau golok mereka akan melukai saudara sendiri.
Se Jit Kong menghentikan putaran tubuh si pendek botak yang kedua lengannya telah terbelit rantai, menurunkannya dan sekali dia menggerakkan tangan kiri, jari-jari tangannya yang panjang dan besar, yang kuat bagaikan baja mentah, sudah menampar ke arah mulut si botak.
"Prakkk.....!"
Tubuh si botak terpelanting dan diapun roboh dengan muka mandi darah karena mulutnya telah remuk.
Tulang rahang berikut semua giginya hancur dan biarpun dia tidak akan tewas dengan luka itu, namun sukar dibayangkan bagaimana dia akan mampu bicara dan bagaimana pula dia akan mengirim makanan ke dalam perutnya!
Se Jit Kong selalu teringat akan janjinya kepada isterinya, maka ketika tangannya menampar tadi, dia membatasi tenaganya agar jangan membikin hancur kepala botak itu.
Melihat betapa si botak itu roboh dengan muka bagian bawah remuk, tentu saja duabelas orang lainnya menjadi marah sekali.
Bu-tek Kiam-mo yang memimpin gerombolan itu segera mengeluarkan bentakan dan mencabut sepasang pedangnya, kemudian bersama rekan-rekannya dia lalu mengepung Se Jit Kong yang berdiri dcngan tenang dan tegak di tengah-tengah, tanpa memegang senjata apapun.
Biarpun demikian, dia tetap waspada karena dia maklum bahwa tingkat kepandaian para pengepungnya ini samasekali tidak boleh disamakan dengan kepandaian limabelas orang Kasak yang dibunuhnya baru-baru ini ketika dia merampas barang berharga dari kafilah itu.
Kini yang mcngeroyoknya adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang terkenal dan rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi dan tenaga yang besar.
Sin Wan yang menonton perkelahian itu, memandang dengan hati bangga dan kagum.
Biarpun dia sendiri berwatak lembut dan ibunya selalu menekankan bahwa mempergunakan kekerasan untuk melukai, apa lagi membunuh orang lain, merupakan perbuatan yang jahat dan tidak baik, namun kini melihat ayahnya dikeroyok dan ayahnya menghadapi orang-orang yang jahat itu, dia merasa bangga.
Apa lagi ketika melihat ayahnya bergerak sedemikian cepatnya sehingga tubuhnya tak nampak lagi.
Yang nampak hanya bayangan berkelebatan di antara sambaran banyak senjata, kemudian terdengar teriakan-teriakan disusul robohnya para pengeroyok seorang demi seorang.
Dalam waktu tidak lebih dari setengah jam, tigabelas orang tokoh sesat yang terkenal di dunia kang-ouw itu telah roboh semua.
Tidak ada seorangpun di antara mereka yang tewas.
Ada yang patah tulang pundaknya, patah tulang kaki atau lengan, ada yang bocor kepalanya, ada yang pingsan, akan tetapi tidak ada yang tewas.
"Cap-sha-kwi, dengar baik-baik. Kalian harus berterima kasih kepada isteriku, karena kalau tidak ada dia, kalian sekarang sudah menjadi bangkai semua! Nah, pergilah dan jangan injak lagi daerah ini!"
Bu-tek Kiam-mo sendiri hanya patah tulang pundak kanannya.
Dia masih dapat berjalan dan menggerakkan lengan kiri.
Karena maklum bahwa dia dan kawan-kawannya tidak akan mampu menyerang lagi, dia lalu memimpin kawan-kawannya untuk saling bantu dan dengan terpincang-pincang, ada yang memapah kawan, ada pula yang menggotong teman yang pingsan, mereka meninggalkan kota Yin-ning diikuti sorak dan ejekan dari para penghuni Kota yang tadi sempat menyaksikan pertempuran di pekarangan rumab Si Tangan Api itu.
Sin Wan lari ke dalam menemui ibunya di dapur.
Dengan gembira dia menceritakan kepada ibunya betapa ayahnya dengan gagah perkasa berhasil mengusir tigabelas orang kasar itu.
"Ayah hebat sekali, ibu,"
Kata Sin Wan.
"Mereka itu rata-rata memiliki ilmu kepandaian yang hebat, dan mereka semua bersenjata, sedangkan ayah yang dikeroyok tidak memegang senjata. Namun, mereka semua roboh dengan luka-luka. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang dibunuh ayah."
Ibunya mengangguk, akan tetapi wajahnya tidak kelihatan gembira.
Bagaimana ia akan dapat menikmati hidup tenteram kalau setelah pindah begini jauh, masih saja suaminya didatangi orang-orang yang memusuhinya?
Semua ini adalah akibat cara hidup suaminya yang lalu, cara hidup yang penuh kekerasan, penuh perkelahian dan permusuhan.
"Sin Wan, kuharap kelak setelah dewasa, engkau tidak mempunyai banyak musuh seperti ayahmu."
"Aku tidak suka bermusuhan, ibu, akan tetapi di dunia ini banyak orang jahat. Kalau aku diserang orang, seperti tadi, tentu aku harus membela diri. Ayah tadipun hanya membela diri. Orang-orang itulah yang datang mencari perkara dan menyerang ayah."
Wanita itu diam-diam mengeluh dalam hatinya.
Puteranya itu tidak tahu orang apa sebenarnya ayahnya itu.
Sin Wan tidak tahu bahwa ayahnya adalah seorang datuk besar dunia sesat yang terkenal amat kejam dan tidak pantang melakukan kejahatan bagaimanapun juga.
Dia hanya tahu bahwa ayahnya seorang yang sakti, memiliki banyak ilmu yang dahsyat, dan bahwa ayahnya amat mencinta ibunya dan amat sayang kepadanya!
"Sudahlah.
Sin Wan, Aku sedang sibuk masak, dan aku tidak ingin bicara tentang perkelahian itu."
Sin Wan meninggalkan dapur dan mencari ayahnya.
Se Jit Kong berada di kamarnya dan sedang mengagumi benda-benda yang dikeluarkan dari dalam sebuah peti hitam besar.
Ketika Sin Wan memasuki kamar, dia menoleh dan tersenyum.
"Masuklah, dan mari kaulihat benda-benda pusaka ini, Sin Wan. Benda-benda ini tak ternilai harganya!"
Benda-benda itu ada yang indah, ada yang aneh pula bagi Sin Wan.
Ada patung Dewi Kwan-Im yang amat indah, terbuat dari gading terukir halus.
Ada pula mainan dari batu giok yang juga diukir indah sekali, berbentuk naga, ada pula yang seperti bentuk burung Hong.
Juga terdapat dua batang pedang.
Yang sebuah memiliki sarung dan gagang yang terbuat dari pada mas terukir indah sekali, bahkan sarung dan gagang itu dihias intan permata yang berkilauan.
Akan tetapi ada pula sebatang pedang yang sarungnya terbuat dari kulit yang kasar, dan gagangnya juga sederhana sekali.
"Sudah pergikah semua orang kasar tadi, ayah?"
Sin Wan bertanya sambil duduk di kursi dekat ayahnya, mengamati benda-benda indah dan aneh itu.
"Ha ha ha, engkau melihat mereka tadi? Dan engkau sudah menghalau serangan hui-to (pisau terbang), ya? Bagus! Mereka sudah kuusir pergi, pencoleng-pencoleng cilik tak tahu diri itu. Kalau bukan ibumu yang melarangku, tentu mereka semua itu sudah kubunuh!"
"Mengapa mereka itu datang memusuhi ayah?"
"Tikus-tikus tak tahu diri itu ingin merampas benda-benda pusaka ini, Sin Wan."
Kini perhatian Sin Wan tertarik kepada benda-benda itu.
Memang ada yang indah, banyak yang aneh, akan tetapi mengapa orang-orang datang memusuhi ayahnya untuk merampas benda-benda ini?
"Apa sih hebatnya benda-benda ini sampai mereka datang hendak merampasnya darimu?"
"Ha ha ha ha, anak bodoh! Kau tahu, semua orang kang-ouw siap mempertaruhkan nyawa untuk dapat memiliki sebuah saja dari benda-benda pusaka ini!"
"Hemmm, alangkah anehnya,"
Sin Wan memperhatikan benda-benda itu satu demi satu.
"Memang ada yang indah menarik, akan tetapi seperti pedang ini, apa sih bagusnya? Sebuah pedang yang sarungnya butut, gagangnya juga kasar, seperti pisau dapur saja. Kenapa ayah menyimpan pedang macam ini?"
"Ha ha ha ha, engkau tidak tahu, anakku. Bagiku, di antara semua benda pusaka ini, yang paling bernilai adalah pedang butut yang kauremehkan itul"
"Ah, benarkah itu, ayah? Boleh aku mencabut dan melihatnya?"
"Lakukanlah. Tidak banyak orang di dunia, ini yang pernah melihatnya, dan seluruh pendekar di dunia ini ingin sekali mendapat kesempatan untuk melihatnya."
Dengan hati tertarik sekali Sin Wan lalu menghunus pedang yang gagangnya dan sarungnya butut itu.
Dia menduga bahwa biarpun sarung dan gagangnya butut, tentu pedang yang dianggap sebagai pusaka amat bernilai oleh ayahnya itu tentu merupakan pedang yang amat baik, tajam dan berkilauan, terbuat dari pada baja terbaik.
Akan tetapi, setelah pedang itu dia hunus, Sin Wan mengerutkan alisnya dan hatinya kecewa.
Pedang itu sama sekali tidak menarik, bukan saja buatannya kasar seperti tempaan yang belum jadi, akan tetapi juga pedang itu tidak tajam dan tidak runcing.
Pedang yang tumpul!
Warnanya gelap kehijauan seperti pedang dari semacam batu karang yang warnanya hijau saja.
Dan pedang itupun tidak panjang, merupakan pedang pendek yang tumpul dan tidak menarik!
"Aih, ayah mempermainkan aku!
Pedang ini hanyalah pedang yang belum jadi, tumpul dan jelek, bagaimana ayah sampai memuji-mujinya seperti itu?"
"Ha ha ha ha, engkau tidak tahu, Sin Wan! Pedang ini terbuat dari pada Batu Dewa Hijau, dan tidak ada senjata di dunia ini yang mampu mengalahkan keampuhannya! Pedang ini mempunyai kisah yang amat menarik, Sin Wan, dan kalau engkau sudah tahu riwayatnya, tentu akan kauhargai pula sebagai sebuah pusaka yang langka dan ampuh."
Sin Wan memasukkan kembali pedang itu ke dalam sarungnya dan memasukkan ke dalam peti.
"Ayah, ceritakanlah kisah itu, aku ingin sekali tahu riwayatnya."
"Kau tahu, kurang lebih seratus tahun yang lalu, pedang ini adalah milik Kaisar Jenghis Khan, pendiri dari Kerajaan Goan-tiauw yang baru saja jatuh. Dan jatuhnya Dinasti Mongol itupun sebagian gara-gara tidak menghargai pusaka ini!"
Tentu saja Sin Wan menjadi semakin tertarik. Dia memang suka sekali membaca atau mendengar riwayat-riwayat kuno yang menarik.
"Ketika Jenghis Khan belum menjadi kaisar, dia telah menemukan batu mustika yang disebut Batu Dewa Hijau atau Batu Asmara, dan batu bintang itu lalu dibikin menjadi sebatang pedang yang diberi nama Pedang Asmara. Semenjak memiliki pedang itu, bintang nya terus menjadi terang sampai akhirnya dia berhasil menjadi kaisar. Walaupun pedang itu pernah lepas dari tangannya, terjatuh ke tangan orang jahat, namun akhirnya dapat kembali kepadanya sehingga dinasti Mongol menjadi semakin jaya. Akan tetapi, keturunan Jenghis Khan tidak dapat menghargai pedang yang bernama Pedang Asmara itu karena mereka menganggap pedang itu melemahkan, membuat orang menjadi budak nafsu asmara. Pedang itu lalu dibawa ke seorang pembuat pedang yang paling ahli di seluruh daratan Cina, dan akhirnya, dengan susah payah pedang itu dilebur lagi dan dihilangkan sarinya yang mempunyai pengaruh berahi pada pemiliknya. Akhirnya, sisa leburan itu dibuat lagi dan menjadi pedang ini. Tidak bisa ditajamkan dan diruncingkan saking kerasnya. Karena buruk, pedang ini tidak dihargai dan hanya menjadi penghuni gudang pusaka saja. Nah, bukankah menarik sekali riwayatnya?"
Sin Wan mengangguk-angguk.
Memang amat menarik dan entah bagaimana, dia merasa kasihan dan sayang kepada pedang yang seolah disia-siakan itu.
Dia juga tidak bertanya dari mana ayahnya memperoleh pedang yang tadinya milik Kaisar Jenghis Khan yang amat terkenal dalam sejarah yang pernah dibacanya itu.
Baginya, ayahnya adalah seorang sakti dan tidak aneh kalau benda-benda pusaka yang ampuh dan amat besar nilainya itu terjatuh ke tangan ayahnya.
Tiga hari kemudian, pada suatu pagi yang cerah, tiga orang pria memasuki pekarangan rumah Se Jit Kong.
Mereka itu bukan lain adalah Tiga Dewa, Ciu-sian Tong Kui, Kiam-sian Louw Sun, dan Pek-mau-sian Thio Ki.
Kemarin mereka bertemu dengan rombongan Cap-sha-kwi dan dari rombongan inilah mereka mendapat kepastian babwa orang yang mereka cari, yaitu Hwe-ciang-kwi Se Jit Kong memang benar berada di Yin-ning.
Setelah memperoleh keterangan ini, Tiga Dewa mempercepat perjalanan menuju ke kota Yin-ning dan pada pagi hari itu, mereka bertiga memasuki pekarangan rumah datuk yang mereka cari-cari selama hampir setahun ini.
Kepada seorang pelayan yang sedang menyapu pekarangan, mereka bertanya dengan sikap halus apakah tuan rumah berada di rumah, dan kalau ada, mereka minta agar pelayan itu memberitahukan majikannya tentang kedatangan mereka.
Karena sikap tiga orang itu lembut, si pelayan tidak menaruh curiga.
Sikap mereka ini tidak seperti sikap tigabelas orang yang datang tiga hari yang lalu.
Pelayan itu lalu memberi laporan ke dalam.
Akan tetapi, pada saat itu Se Jit Kong sedang bersamadhi, maka dia memberi laporan kepada nyonya majikannya.
"Nyonya, di depan ada tiga orang tamu yang ingin bertemu dengan tuan majikan,"kata pelayan itu. Ju Bi Ta mengerutkan alisnya, hatinya merasa tidak enak.
"Mereka siapakah?"
Pelayan itu menggeleng kepala.
"Mereka tidak memberitahukan nama, akan tetapi mereka adalah tiga orang laki-laki setengah tua yang bersikap ramah dan lembut, dan pakaian mereka seperti pakaian pendeta atau pertapa."
"Tuan majikan sedang bersamadhi, aku tidak berani mengganggunya. Biar kutemui mereka,"
Kata Ju Bi Ta.
Sin Wan yang juga berada di situ segera bangkit dan menemani ibunya.
Ketika mereka tiba di luar, mereka melihat tiga orang berpakaian tosu (pendeta Agama To) berdiri di luar pintu.
Tiga orang itu begitu melihat yang muncul seorang wanita cantik dan seorang anak laki-laki, segera memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada dan membungkuk.
"Nyonya muda, harap maafkan kami bertiga kalau kami mengganggu nyonya dengan kedatangan kami,"
Kata Pek-mau-sian Thio Ki yang menjadi juru bicara mereka karena dia yang paling pandai bicara, juga sikapnya halus dan sopan, tidak seperti Ciu-sian yang biarpun pandai bicara pula, namun ugal-ugalan dan terbuka.
Melihat sikap mereka yang sopan, Ju Bi Ta juga membalas penghormatan mereka.
"Tidak mengapa, akan tetapi siapakah sam-wi to-tiang (bapak pendeta bertiga) dan ada keperluan apakah dengan kami?"
"Kami datang berkunjung untuk bertemu dengan saudara Se Jit Kong karena kami mempunyai urusan penting untuk dibicarakan dengan dia. Adapun saya bernama Thio Ki, dua orang saudara ini bernama Tong Kui dan Louw Sun. Kami datang dari jauh, dari timur, dari kota raja Nan-king."
Kata pula Dewa Rambut Putih.
"Hemm, apakah sam-wi (anda bertiga) datang untuk merampas benda-benda pusaka milik ayah ?"
Taiba-tiba Sin Wan bertanya dengan suara lantang dan terlambatlah ibunya untuk mencegah dia mengajukan pertanyaan yang dianggapnya tidak sopan itu.
"Ha ha ha ha, anak baik. Apakah engkau putera Se Jit Kong?"
"Benar, aku puteranya, namaku Sin Wan."kata anak itu dengan tabah.
"Kalau sam-wi datang untuk merampas pusaka, lebih baik sam-wi segera pergi lagi saja, jangan sampai dihajar oleh ayahku seperti tigabelas orang tempo hari,"
"Ha ha ha ha, sungguh hebat. Engkau jujur dan juga lembut, menyenangkan sekali, Sin Wan. Anak baik, apakah kaullhat kami bertiga ini seperti perampok-perampok?"
Kata pula Dewa Arak sambil tersenyum lebar, perutnya yang gendut terguncang dan mukanya menjadi semakin merah dan cerah.
Sin Wan memandang wajah si gendut itu, juga wajahnya yang penuh tawa dan nampak gembira dan lucu.
"Terus terang saja, totiang (bapak pendeta), kalau melihat totiang ini bukan seperti perampok, lebih mirip seperti seorang pemabok."
"Sin Wan ......!"
Ibunya menegur lagi. Heran ia mengapa puteranya yang biasanya lembut itu kini nampak seperti orang yang tidak sabaran. Hal ini ditimbulkan karena peristiwa tiga hari yang lain.
"Wah, ha ha ha! Engkau ini kecil-kecil sudah pandai melihat sampai ke dasarnya! Memang aku pemabok, memang aku tukang minum arak, ha ha!"
Kata pula Ciu-sian Tong Kai sambil tertawa bergelak.
Suara ketawanya yang lepas itu setengah disengaja, mengandung khi-kang sehingga suaranya bergema sampai ke dalam rumah.
Akalnya ini berhasil.
Suara ketawa yang amat nyaring ttu menyusup sampai ke dalam kamar dan ke dalam telinga Se Jit Kong, menggugahnya dari samadhi.
Se Jit Kong mengerutkan alisnya, merasa terganggu oleh suara tawa bergelak itu dan diapun tahu bahwa kembali ada orang yang datang hendak mengganggunya.
Mukanya menjadi kemerahan dan dia pun segera bangkit, berganti pakaian baru dan keluar dari dalam kamar, langsung menuju keluar.
Dan begitu melihat pria tinggi besar yang gagah perkasa itu keluar.
Tiga Dewa yang belum pernah berjumpa dengan Si Tangan Api itu, segera memberi hormat kepadanya.
"Hemm, apa yang terjadi di sini ?"
Tanya Se Jit Kong tanpa memperdulikan penghormatan yang diberikan tiga orang tosu itu.
Dia tidak membalas penghormatan mereka dan mengajukan pertanyaan yang mengandung teguran itu.
Isterinya berkata dengan nada lembut dan menyabarkan.
"Tiga orang totiang ini datang dari timur, dari Nan-king dan mereka mempunyai urusan untuk dibicarakan denganmu. Harap kau sambut tamu-tamu jauh ini dengan baik-baik."
Se Jit Kong mengerutkan alisnya dan mengangguk.
Hatinya masih mendongkol karena merasa terganggu, akan tetapi diam-diam dia, terkejut juga mendengar bahwa mereka datang dari Nan-king, dan segera dia dapat menduga bahwa tentu kedatangan mereka ini ada hubungannya dengan benda-benda pusaka yang dicurinya dari gedung pusaka kaisar di Nan-king.
"Aku tidak mengenal sam-wi (anda bertiga) ......."
Katanya dengan setengah hati.
"Ayah, mereka bilang tidak datang sebagai perampok yang hendak merampas benda-benda pusaka milik ayah,"
Tiba-tiba Sin Wan berkata.
"Sebaiknya kalau ada urusan dibicarakan di dalam Sam-wi to-tiang, mari silakan masuk ke ruangan tamu,"
Kata Ju Bi Ta dengan sikap ramah. Tiga orang tosu itu memandang kepada tuan rumah.
"Terima kasih, nyonya, kami suka sekali kalau saja sicu (orang gagah) Se Jit Kong memperbolehkan,"
Kata Thio Ki ragu-ragu.
"Hemm, isteriku sudah mempersilakan kalian masuk, kenapa masih bertanya lagi? Masuklah dan cepat ceritakan apa maksud kedatangan kalian."
Tiga orang tosu itu mengikuti tuan dan nyonya rumah memasuki ruangan tamu yang berada di sebelah kiri depan.
Ruangan yang cukup luas, di mana terdapat meja kursi yang nyaman.
Ji Bi Ta sengaja tidak meninggalkan suaminya sekali ini, karena ia tidak ingin suaminya membuat ribut dan perkelahian Iagi.
Ia merasa yakin bahwa kalau ada terjadi keributan, hanya ia seoranglah yang akan mampu mengendalikan suaminya dan mencegah terjadinya keributan.
Karena ia tetap di ruangan tamu, Sin Wan juga mendapatkan kesempatan untuk ikut pula hadir dan mendengarkan.
Dan biarpun Se Jit Kong merasa tidak senang dengan kehadiran isteri dan puteranya, dia tidak berani mengusir isterinya dan kemarahannya dia tumpahkan kepada tiga orang tamunya.
"Nah, cepat bicara. Siapa kalian dan mau apa kalian mencariku!"
Katanya ketus.
Sikap Se Jit Kong ini berwibawa sekali, dan biasanya para calon lawannya sudah merasa gentar dibuatnya, seperti wibawa seekor harimau kalau mengaum dan dengan wibawa auman itu sudah mampu melumpuhkan korbannya.
Akan tetapi, tiga orang tosu itu nampak tenang saja.
Dewa Arak bersikap acuh, memandang ke sekeliling seperti mengagumi keindahan hiasan ruangan Itu, lalu mengambil guci arak yang diselipkan di gendongannya dan mengguncangnya untuk mengetahui isinya.
Diteguknya arak dari mulut guci dan wajahnya nampak gembira sekali seperti menikmati araknya yang sedap.
Si Dewa Pedang nampak tenang, menatap wajah tuan rumah dan diam saja, karena seperti juga Dewa Arak, dia menyerahkan pembicaraan kepada rekannya, yaitu Dewa Rambut Putih.
PEK-MAU-SIAN THIO Ki tersenyum ramah.
"Sicu (orang gagah), maafkan kalau kunjungan kami mengganggu. Saya bernama Thio Ki, dan kedua orang teman saya ini bernama Tong Kui dan Louw Sun. Kami bertiga datang berkunjung dengan dua tugas."
"Aku tidak mengenal kalian, tidak mempunyai urusan dengan kalian. Persetan dengan tugas kalian, tidak ada sangkut pautnya dengan aku!"
Se Jit Kong memotong dengan ketus pula.
"Justeru kedua tugas kami ini mempunyai hubungan erat denganmu, sicu, sebagai akibat dari apa yang telah sicu lakukan."
Sepasang mata yang seperti mata harimau itu berkilat.
Tak salah dugaannya, mereka ini tentu datang karena urusan pusaka-pusaka dari istana!
Marahlah dia dan kalau saja di situ tidak ada isterinya, tentu sudah diterjangnya tiga orang itu tanpa banyak peraturan lagi.
Akan tetapi, ketika dia melirik ke arah isterinya, dia melihat isterinya memandang kepadanya dan dalam pandang mata itu seperti dilihatnya isterinya menggeleng kepala melarang dia membuat keributan.
"Perduli apa kalian dengan apa yang kulakukan? Cepat katakan, apa urusan itu, tidak perlu bicara berbelit-belit seperti nenek-nenek yang bawel!"
Bentaknya.
"Heh-heh, Dewa Rambut Putih, menghadapi seorang kasar seperti Se Jit Kong ini, percuma engkau menggunakan segala macam tata-susila. Katakan saja dengan singkat dan padat apa yang menjadi keperluan kita!"
Si Dewa Arak mencela sambil tertawa.
Pek-mau-sian Thio Ki juga memperlebar senyumnya dan seperti seorang yang kegerahan, dia membuka kipasnya dan mengipasi tubuh bagian leher.
Pada hal, sesungguhnya dia bukan hanya mengipas untuk mencari angin, melainkan gerakan itu disertai kekuatan batin untuk menolak sihir yang diam-diam dilancarkan oleh Se Jit Kong untuk menyerangnya.
Tuan rumah ahli silat dan ahli sihir itu ingin memaksanya bicara menurut kehendak hati Se Jit Kong yang tidak ingin mereka bicara sesukanya di depan isterinya!
Se Jit Kong merasa betapa kekuatan sihirnya buyar seperti asap yang disambar angin dari kipas.
"Hayo bicara, jangan seperti kanak-kanak!"
Bentaknya semakin penasaran dan marah.
"Dengarlah baik-baik, Se Jit Kong. Tugas kami yang pertama merupakan tugas yang kami terima dari Kaisar Kerajaan Beng-tiauw, dan inilah tanda kekuasaan yang diberikan kepada kami."
Dewa Rambut Putih mengeluarkan sebuah tek-pai (bambu tanda kuasa) dan memperlihatkannya kepada Se Jit Kong yang memandang sambil lalu saja.
Dewa Rambut Putih menyimpan kembali tek-pai itu di saku bajunya.
"Adapun tugas itu adalah untuk mencari dan merampas kembali benda-benda pusaka yang hilang dari gudang pusaka istana. Maka kami datang berkunjung dan minta kepada sicu untuk menyerahkan benda-benda pusaka itu kepada kami."
Ju Bi Ta memandang kepada suaminya dengan kedua mata terbelalak.
"Ya Allah! Engkau mencuri pusaka dari istana kaisar? Kalau benar, kembalikan barang-barang haram itu!"
Se Jit Kong memandang kepada isterinya dan sungguh aneh, ketika dia bicara, lenyap semua kekerasannya dan suaranya terdengar lembut.
"Ju Bi Ta, harap engkau tidak mencampuri urusan ini."
Cepat dia menoleh kepada tiga orang tamunya.
"Cepat katakan, apa tugas kedua agar aku dapat segera memberi keputusan dan jawaban!"
Si Dewa Rambut Putih Thio Ki memandang dengan wajah cerah.
Datuk besar yang amat jahat ini ternyata mempunyai kelemahan yang sama sekali tidak disangkanya, yaitu takut dan tunduk kepada isterinya yang muda dan cantik!
Mungkin kelemahan datuk ini akan membuat tugas mereka semakin mudah dan ringan, kalau bisa bahkan tanpa kekerasan!
"Tugas kedua datang dari para ketua partai persilatan, di antaranya dari Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Go-bi-pai dan Bu-tong-pai yang minta bantuan kepada kami untuk mengundangmu menghadiri pertemuan yang akan mereka adakan, di mana sicu diminta untuk mempertanggung jawabkan kematian dan terlukanya banyak tokoh mereka."
Se Jit Kong mengepal kedua tangannya, mukanya menjadi merah sekali dan matanya seperti memancarkan api, bahkan kedua tangannya perlahan-lahan berubah menjadi merah seperti baja membara dan mengepulkan uap putih!
Akan tetapi, begitu melirik kepada isterinya, kemarahannya menurun seperti api yang tidak mendapat udara, akan tetapi suaranya masih ketus ketika dia berkata kepada tiga orang tamunya.
"Untuk kedua urusan itu, jawabanku hanya satu. Benda-benda pusaka itu kudapatkan dengan kepandaian. Kalau kalian ingin mendapatkannya, kalian harus mampu merampasnya dariku! Dan kedua, kalau kalian ingin membawa aku ke timur, kalian harus mampu meringkusku. Pendeknya, kalian bertiga harus dapat mengalahkan aku!"
"Heh, heh, sudah kuduga. Berurusan dengan datuk sesat tak mungkin menggunakan cara damai,"
Kata pula Dewa Arak dan tiga orang tosu itu sudah bangkit berdiri. Juga Se Jit Kong bangkit berdiri.
"Aku tidak menghendaki kalian membikin ribut di dalam rumah ini!"
Kata Ju Bi Ta dengan suara mengandung kekhawatiran.
Sedangkan Sin Wan hanya memandang saja.
Diam-diam dia terkejut mendengar bahwa ayahnya telah mencuri benda-benda pusaka dari istana kaisar.
Kini tahulah dia bahwa benda-benda pusaka yang demikian dibanggakan ayahnya itu adalah barang-barang curian.
Pada hal, ibunya selalu mengharamkan barang curian!
Tentu hal itu dilakukan di luar tahu ibunya.
Dan ayahnya telah membunuh dan melukai para tokoh partai-parta persilatan besar sehingga kini mereka mengutus tiga orang tosu ini untuk menangkap ayahnya.
Pek-mau-sian Thio Ki menarik napas panjang.
"Tidak ada jalan lain, Se Jit Kong. Terpaksa kami menuruti keinginanmu dan kami akan mengalahkanmu agar engkau suka mengembalikan pusaka-pusaka istana itu dan ikut dengan kami menghadap para pimpinan partai persilatan. Akan tetapi, kami menghormati isterimu dan kami tidak ingin membikin ribut di rumah ini, bahkan tidak ingin membikin ribut di kota ini. Kami akan menantimu di luar kota sebelah timur. Kami percaya bahwa Si Tangan Api bukan seorang pengecut yang melanggar janji dan melarikan diri."
Dia memberi isyarat kepada dua orang rekannya.
Mereka memberi hormat kepada tuan rumah dan isterinya, kemudian meninggalkan ruangan itu, keluar dari rumah dan terus keluar dari kota itu pula, berhenti menanti di luar kota sebelah timur yang sunyi.
"Biar kubereskan mereka. Aku pergi takkan lama."
Kata Se Jit Kong kepada isterinya dan diapun melangkah pergi.
"Se Jit Kong, jangan bunuh mereka!"
Ju Bi Ta berseru dan suaminya berhenti, menengok dan mengangguk, kemudian sekali berkelebat diapun lenyap.
"Ibu, aku ingin nonton pertandlngan itu,"
Kata Sin Wan yang ingin sekali melihat bagaimana ayahnya akan melawan tiga orang tosu itu.
"Jangan, Sin Wan. Untuk apa nonton orang berkelahi? Berkelahi merupakan perbuatan jahat. Di antara sesama manusia harus saling mengasihi, bukan saling bermusuhan. Bermusuhan dan berkelahi hanya pekerjaan Iblis."
Sin Wan merasa kecewa sekali, akan tetapi dia tidak berani membantah ibunya.
Dia selalu taat kepada ibunya, seperti juga ayahnya.
Hanya bedanya, kalau dia mentaati Ibunya karena dia sayang dan kasihan kepada ibunya, tidak ingin menyebabkan hati ibunya, sedangkan Se Jit Kong taat kepada isterinya karena takut isterinya marah kepadanya.
"Ibu, kalau ibu tidak berada di sana, bagaimana kalau nanti ayah lupa diri dan membunuh tiga orang tosu yang kelihatan sopan dan baik itu?"
Tiba-tiba Sin Wan berkata.
"Ah, engkau benar juga! Mari kita melihat ke sana, aku harus mencegah ayahmu melakukan pembunuhan lagi!"
Ju Bi Ta menggandeng tangan puteranya dan Sin Wan diam-diam tersenyum girang.
Mereka berjalan secepatnya menuju ke timur, keluar dari kota Yin-ning.
???
"Tosu-tosu lancang, sombong dan busuk.
Apakah kalian sudah bosan hidup?
Tidak tahukah kalian siapa aku?"
Kini, setelah seorang diri saja berhadapan dengan tiga orang tosu itu, Se Jit Kong menumpahkan seluruh kemarahannya. Isterinya tidak ada iagi di situ untuk mengendalikannya.
"Heh ... heh ... heh, Se Jit Kong. Tentu saja kami tahu benar siapa engkau. Engkau adalah Se Jit Kong, peranakan Uighur yang berhasil mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi, akan tetapi menjadi hamba iblis dan tidak pantang melakukan segala macam kejahatan demi mencari nama besar dan harta kekayaan. Engkau berjuluk Si Tangan Api, Iblis Tangan Api karena engkau memiliki ilmu yang membuat kedua tanganmu mengandung panasnya api. Engkau telah mengacau di timur, membunuh banyak tokoh pendekar, mengalahkan para pimpinan partai persilatan, mengaduk-aduk dunia persilatan dengan kekejaman dan kecongkakanmu,"
Kata Ciu-sian Tong Kui.
"Engkaupun ahli pedang yang sukar dikalahkan. Entah berapa ratus orang roboh oleh tangan dan pedangmu. Entah berapa banyak darah yang telah diminum pedangmu. Engkau bukan manusia, melainkan ibiis sendiri, karena itu engkau harus bertanggung jawab terhadap para pimpinan partai-partai persilatan besar,"
Kata Kiam-sian Louw Sun.
"Se Jit Kong, engkau menggunakan sihir untuk mencuri pusaka dari gudang pusaka istana. Engkau berdosa besar, bukan saja terhadap kaisar, akan tetapi juga terhadap negara dan bangsa. Baru saja Kaisar Thai-cu telah membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah Mongol. Sepatutnya kita berterima kasih dan bergembira. Akan tetapi engkau bahkan mengganggu dengan pencurian pusaka. Engkau memang keturunan bangsa biadab yang tidak tahu terima kasih."
Pek-mau-Sian Thio Ki yang biasanya halus itupun kini mencela dengan kata-kata yang keras.
Hal ini tidaklah mengherankan.
Pemimpin rakyat Cu Goan Ciang yang berasal dari rakyat petani biasa, telah berhasil memberontak terhadap pemerintah Mongol, bahkan kemudian berhasil menghancurkan dan menghalau penjajah Mongol yang telab menguasai Cina selama seratus tahun.
Tentu saja Cu Goan Ciang dianggap pahlawan besar ketika dia mendirikan Kerajaan Beng-tiauw dan menjadi kaisarnya yang pertama berjuluk Kaisar Thai-cu (1368-1398).
Kini Se Jit Kong yang tertawa bergelak dan suara tawanya itu amat dahsyat, karena bukan saja mengandung tenaga khi-kang yang hebat, juga mengandung kekuatan sihir yang membuat tiga orang tosu itu harus mengerahkan sin-kang (tenaga sakti) mereka untuk melindungi diri agar tidak terpengaruh.
"Ha-ha-ha, kalian tiga orang tosu jahanam. Sudah tahu betapa semua pimpinan partai persilatan besar tidak ada yang mampu menandingiku, dan kalian tiga orang tosu tak ternama berani mencariku sampai ke sini? Ha-ha-ha, kalau mencari mampus, kenapa susah-susah dan jauh-jauh sampai ke sini?"
Tentu saja Se Jit Kong tidak tahu bahwa dia berhadapan dengan tiga orang sakti yang selama puluhan tahun memang tidak pernah muncul di dunia persilatan sehlngga ketika dia merajalela di timur, dia tidak pernah mendengar nama mereka.
Akan tetapi, dia merasa terkejut juga ketika melihat betapa tiga orang tosu itu tenang-tenang saja dan sama sekali tidak terpengaruh oleh suaranya yang dahsyat tadi.
Pada hal, tidak banyak orang yang akan mampu bertahan, baik terhadap pengaruh khi-kang maupun ilmu sihir yang terkandung dalam tawanya tadi.
"Se Jit Kong, ketahuilah bahwa kami tidak biasa dan tidak suka membunuh orang. Oleh karena itu, mari kita membuat perjanjian. Kalau kami kalah bertanding denganmu, terserah kepadamu mau diapakan kami ini. Kalau engkau hendak membunuh kamipun terserah. Kami tahu akan resiko tugas kami. Akan tetapi, kalau engkau yang kalah, engkau harus menyerahkan kembali semua pusaka istana, dan engkau harus dengan suka rela mengikuti kami untuk menghadap para pimpinan partai persilatan."
Kata Pek-mau-sian Thio Ki.
"Bagus! Kalian memang sudah bosan hidup. Nah, kalian hendak main satu demi satu atau dengan keroyokan? Bagiku sama saja!"
Ucapan ini saja sudah menunjukkan watak yang takbur dari datuk itu, akan tetapi di balik itu juga mengandung kecerdikan, karena ucapan itu, kalau diterima oleh orang-orang yang merasa diri mereka memiliki ilmu kepandaian tinggi, tentu akan mendatangkan rasa malu dan tidak enak untuk maju bersama dan melakukan.
pengeroyokan.
"Kami bukan orang-orang pengecut yang suka melakukan pengeroyokan, Se Jit Kong,"
Jawab Dewa Rambut Putih.
"Kami mendengar bahwa engkau memiliki tiga ilmu yang hebat. Pertama ilmu silat tangan kosong, gin-kang dan sin-kang yang sukar dicari bandingnya. Kedua, engkau ahli pedang yang hebat pula. Dan ketiga, engkau memiliki Ilmu sihir yang kuat. Nah, kau akan kami imbangi dengan ilmu-ilmu itu. Pertama, engkau akan ditandingi Dewa Arak dalam ilmu silat tangan kosong. Kedua, engkau akan dihadapi Dewa Pedang dalam ilmu pedang, dan terakhir, aku sendiri yang akan mencoba kekuatan sihirmu.
"Bagaimana pendapatmu ? Kalau dua orang di antara kita kalah, biarlah kami mengaku kalah."
Tentu saja syarat ini amat menguntungkan bagi Se Jit Kong. Dia tidak dikeroyok, dan kalau dapat mengalahkan dua orang, biarpun andaikata yang seorang menang, dia tetap keluar sebagai pemenang.
"Bagus! Nah, majulah kau, tosu pemabok! Aku akan membuat perut gendutmu menjadi kempis!"
Ejeknya sambil menghadapi Ciu-sian Tong Kui.
"Heh-heh-heh, perut ini berisi hawa arak, bagaimana engkau akan mampu membikin kempis tanpa terkena gasnya? Heh .. heh .. heh!"
Biarpun dia membadut, namun Dewa Arak tidak pernah lengah karena dia maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang datuk sesat yang amat lihai dan licik.
Benar saja, belum habis dia tertawa, tubuh tinggi besar itu telah menyerangnya secara curang dan dahsyat sekali.
Kalau saja dia lengah dan belum siap, siaga, setidaknya serangan itu tentu akan membuat Dewa Arak kelabakan!
Namun, dia telah siap siaga dan dengan cepat kakinya bergeser secara aneh dan cepat sekali, dan dia telah berhasil menghindarkan diri dari terkaman lawan, bahkan sambil memutar tubuh dia membalas dengan totokan ke arah lambung lawan.
Se Jit Kong menangkis sambil mengerahkan.
sin-kang untuk mematahkan tulang lengan lawan, juga untuk mengukur sampai di mana kekuatan sin-kang lawannya yang gerakannya aneh dan seperti ugal-ugalan itu.
Dewa Arak justeru mengharapkan tangkisannya karena diapun ingin mengadu sin-kang.
Bukankah mereka berdua memang bertanding mengadu sin-kang dan gin-kang (ilmu meringankan tubuh ) sambil menguji pula ilmu silat tangan kosong masing-masing?
"Dukkkk!!!"
Keduanya terdorong ke belakang.
Se Jit Kong terdorong sampai tiga langkah, sedangkan Dewa Arak terdorong mundur dua langkah.
Dari akibat adu tenaga ini saja sudah dapat diketahui bahwa Dewa Arak masih lebih kuat sedikit!
Tentu saja Se Jit Kong menjadi terkejut bukan main.
Tak disangkanya bahwa lawan yang cacingan perutnya ini memiliki tenaga yang demikian kuatnya.
Dia tidak tahu bahwa Ciu-sian Tong Kui adalah seorang ahli sin-kang yang telah menguasai Thian-te Sin-kang (Tenaga Sakti Langit Bumi)!
Dia mangeluarkan teriakan marah dan kini dia mengandalkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) untuk menyerang lawan.
Gerakannya amat cepat sehingga tubuhnya lenyap berubah menjadi bayangan yang menyambar-nyambar.
Namun, kembali Dewa Arak mengeluarkan suara tawanya yang nyaring dan diapun mengimbangi dengan gerakan kaki yang berloncatan, bergeseran dan semua serangan lawan dapat dielakkannya.
Kalau gerakan lawan amat cepat, gerakannya sendiri amat aneh, seolah-olah setiap gerakan kaki yang bergeser ke sana sini dan berloncatan itu seperti sepasang kaki burung yang amat lincahnya.
Dan memang si gendut ini menguasai ilmu meringankan tubuh atau ilmu langkah ajaib yang diberi nama Hui-niauw-poan-soan (Burung Terbang Berputaran).
Pada saat itu, Ju Bi Ta dan Sin Wan sudah berada tak jauh dari situ, menjadi penonton pertandingan Hanya mereka berdualah yang menjadi penonton karena tempat itu sepi dan tidak ada orang lain yang berada disitu.
Ju Bi Ta sengaja berdiri di tempat terbuka agar suaminya dapat melihatnya, karena dia ingin agar suaminya tahu akan kehadirannya sehingga suaminya tidak akan bertindak keterlaluan, tldak akan melakukan pembunuhan seperti yang telah dipesannya tadi.
Dan memang Se Jit Kong tentu saja sudah melihat kehadiran isterinya dan puteranya.
Hal ini membuat dia kurang leluasa bergerak.
Biasanya, kalau bertanding, apa lagi melawan seorang yang demikian lihainya, dia akan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian untuk membunuh lawan.
Akan tetapi sekarang, isterinya hadir dan tadi isterinya berpesan agar dia tidak membunuh tiga orang tosu itu!
Hal ini membuat serangannya tidak begitu ganas.
Dia hanya ingin merobohkan dan mengalahkan lawan, tidak mau membunuhnya karena kalau hal ini terjadi, isterinya tentu akan marah.
Sejak dia memperisteri Ju Bi Ta, dia begitu sayang kepada isterinya.
Dia merasa amat berbahagia kalau isterinya bersikap manis kepadanya, akan tetapi sorga berubah menjadi neraka baginya kalau isterinya marah dan tidak menyambutnya dengan manis.
Setiap orang pria yang normal, siapapun dia, kaya atau miskin, pandai atau bodoh, dari kaisar sampai buruh kecil, yang sudah dewasa, pasti mempunyai suatu kerinduan akan seorang wanita yang dapat dicintanya sepenuh hati.
Seorang wanita yang akan membangkitkan kejantanannya, yang akan berbahagia oleh cintanya, seperti tanah subur bagi benih cintanya yang akan bersemi dan tumbuh dengan suburnya.
Pria akan selalu merasa bangga kalau ada wanita yang menghargai cintanya, membuat dia merasa jantan, perkasa dan mampu membahagiakan wanita.
Demikian pula dengan Se Jit Kong.
Biarpun dia seorang datuk besar kaum sesat, diapun seorang pria normal.
Sudah kerap kali dia menikah, namun selalu pernikahannya gagal, walaupun kegagalan ini disebabkan oleh wataknya sendiri yang kasar dan kejam.
Akan tetapi, sejak dia memperisteri Ju Bi Ta kurang lebih sebelas tahun yang lalu, atau sepuluh tahun lebih, dia benar-benar menemukan seorang wanita yang memenuhi segala keinginannya.
Karena itu, diapun takut akan kehilangan sikap isterinya, dan ini membuat dia menjadi taat karena takut kalau isterinya marah kepadanya.
Tentu saja keadaan Se Jit Kong yang demikian itu menguntungkan Dewa Arak.
Memang ilmu silat tangan kosong, ilmu meringankan tubuh dan tenaga sakti mereka berimbang, atau Dewa Arak lebih menang sedikit.
Kini dengan hadirnya Ju Bi Ta yang membuat Se Jit Kong tidak leluasa bergerak, membuat Dewa Arak lebih unggul.
Akan tetapi sebaliknya, Dewa Arak juga tidak ingin membunuh datuk besar itu.
Biarpun dia seorang yang berwatak riang gembira dan ugal-ugalan seperti orang yang selalu mabuk arak, namun dia adalah seorang pertapa yang sudah melepaskan nafsu-nafsunya, terutama sekali nafsu ingin menang dan nafsu membenci dan ingin mencelakai orang lain.
Dia tidak mau membunuh, bahkan kalau bisa hanya menangkan pertandingan itu tanpa membuat lawan terluka parah.
Limapuluh jurus telah lewat dan pertandingan tangan kosong itu masih berlangsung semakin seru dan hebat.
Biarpun mereka berdiri agak jauh.
Ju Bi Ta dan Sin Wan dapat merasakan sambaran angin pukulan yang membuat ranting-ranting pohon dl sekeliling tempat itu seperti diamuk angin kuat, bahkan daun-daun kering yang berserakan di bawah beterbangan ketika dua pasang kaki itu bergerak dan berloncatan dengan amat cepatnya!
Sukar bagi Ju Bi Ta untuk membedakan mana suaminya dan mana orang lain dari dua bayangan yang berkelebatan itu.
Sin Wan yang sejak berusia lima tahun sudah digembleng ilmu oleh ayahnya, sudah dilatih siu-lian (samadhi) sehingga memiliki ketajaman pandangan, biarpun dapat mengikuti gerakan mereka, tetap saja dia tidak dapat menilai siapa yang mendesak dan siapa yang terdesak.
Gerakan mereka terlalu cepat.
Akan tetapi diam-diam Se Jit Kong mengeluh.
Kedua lengannya sudah berubah merah seperti baja membara, dan dia sudah mengeluarkan ilmu silatnya, namun lawannya sungguh tangguh.
Lengannya yang mengandung hawa panas membakar itu bertemu dengan sepasang lengan yang kadang keras, kadang lunak.
akan tetapl selalu dingin dan tidak terbakar oleh tangan apinya!
Tahulah dia bahwa kalau diianjutkan, andaikata dia tidak kalahpun dia akan kebabisan tenaga, pada hal dia masih harus bertanding melawan dua orang lagi yang tentu juga amat lihai seperti Si Dewa Arak ini.
Mulailah dia ragu-ragu.
Dewa Arak melihat keraguannya ini dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
Dia mengerahkan llmu gin-kangnya dan kakinya bergeser aneh ke depan, bahkan seolah hendak menerima tamparan tangan kanan Se Jit Kong yang melayang dari atas ke arah kepalanya.
Namun, secepat kilat tubuhnya menyelinap ke bawah dan tiba-tiba Se Jit Kong terhuyung ke belakang karena lambungnya telah didorong oleh telapak tangan Dewa Arak.
Kalau Dewa Arak menghendaki, dorongan itu dapat saja menjadi pukulan maut yang akan merusak isi perut lawan.
Akan tetapi dia hanya mendorong, membuat lawan terhuyung untuk membuktikan bahwa dia menang dalam pertandingan itu.
Akan tetapi Se Jit Kong bukanlah orang yang mau mengaku kalah begitu saja.
Bahkan selama hidupnya, dia belum pernah mengaku kalah!
Sejak dia berguru kepada seorang pertapa sakti di India, dia merasa dirinya tak terkalahkan, bahkan dia tidak pernah mau percaya bahwa dia dapat dikalahkan!
Kesombongan merupakan penyakit yang selalu menyeret kita ke alam pikiran sesat.
Nafsu daya rendah yang mencengkeram hati dan akal pikiran kita mendorong kita untuk merasa bahwa kita ini yang paling pandai, paling benar, paling baik dan paling segala!
Kalau kita pandai, kita membanggakan pikiran kita, kalau kita kuat, kita membanggakan tubuh kita.
Kita selalu lupa bahwa kita ini hanya alat!
Seluruh tubuh dan hati akal pikiran ini hanya untuk hidup sebagai manusia, alat yang semula dimaksudkan untuk mengabdi kepada jiwa yang menjadi penghuni diri kita.
Akan tetapi sayang, alat-alat itu kemudian digelimangi nafsu daya rendah sehingga kita dibawa menyeleweng.
Alat-alat yang seharusnya dipergunakan oleh jiwa, diambil alih oleh nafsu, diperalat oleh nafsu sehingga apapun yang dilakukan tubuh dan hati akal pikiran, selalu ditujukan untuk memuaskan nafsu daya rendah.
Nafsu daya rendah atau setan selalu mengejar kesenangan, memperalat dan menyelewengkan kita sehingga membawa pula kita kepada kesombongan diri, kebencian, iri hati, ketakutan, kemurkaan, dan sebagainya.
Kalau kita melakukan sesuatu, kita menjadi bangga dan menganggap bahwa kita yang pandai!
Kita lupa bahwa kepandaian yang berada di dalam kepala kita itu hanya alat-alat belaka, terdiri dari sel-sel otak, darah dan syaraf.
Ada sedikit saja kerusakan pada alat itu, ada satu saja syaraf lembut itu yang putus, maka akan sirnalah semua kepandaian yang kita banggakan semula!
Demikianpun kekuatan pada tubuh.
Kita membanggakan tubuh kita yang kuat.
Padahal, tubuhpun hanya alat dan ada sedikit saja kerusakan pada tubuh, kekuatan yang dibanggakan itupun sirna.
Jelas bahwa kita pandai karena kita diberi kepandaian, kita kuat karena diberi kekuatan!
Kita lupa bahwa ADA yang memberi!
Setan membisikkan kesombongan kepada kita sehingga kita lupa kepada SANG PEMBERI.
Orang.
yang sadar akan hal inl, tidak akan berani memuji diri sendiri yang hanya alat, melainkan memuji kepada SANG PEMBERI yang telah memberi semua itu kepada kita sebagai alat, memuji kepada SANG PEMBERI atau Tuhan Yang Maha Kasih, Allah Yang Maha Esa!
Karena merasa terdesak, sebelum dia dirobohkan, Se Jit Kong sudah meloncat lagi dan kini tangannya memegang sebatang pedang terhunus yang mengeluarkan sinar berkilauan.
saking tajamnya.
Itulah Gin-kong-pokiam (Pe-dang Pusaka Sinar Perak), sebuah di antara benda pusaka yang dicurinya dari gudang pusaka istana.
"Tranggg....l"
Sebatang pedang lain menangkis pedang bersinar perak yang menyambar ke arah Dewa Arak.
Ternyata Dewa Pedang telah meloncat dan menangkis pedang yang menyambar ke arah rekannya itu.
Kini, Dewa Pedang dan Se Jit Kong berhadapan, dengan pedang di tangan.
Pedang di tangan Dewa Pedang juga mengeluarkan cahaya kekuningan.
Pedang ltupun sebuah pedang pusaka ampuh yang bernama Jit-kong-kiam (Pedang Sinar Matahari).
"Heh .. heh .. heh, Hwe-ciang-kwi Se Jit Kong, engkau sudah kalah dalam pertandingan pertama denganku! Lihat saja baju lambungmu,"
Kata Dewa Arak yang sudah meloncat jauh ke belakang, mengambil guci araknya dan minum arak dari gucinya beberapa teguk.
Se Jit Kong maklum akan kebenaran ucapan itu dan dia tidak mau lagi melirik ke arah baju di lambungnya yang berlubang sebesar telapak tangan lawan.
Diapun maklum bahwa kalau Dewa Arak menghendaki, tentu bukan hanya bajunya yang berlubang, melainkan lambungnya dan tentu dia telah tewas.
Akan tetapi dia tidak mau bicara tentang itu, hanya diam-diam dia merasa heran mengapa ada orang setolol itu, mendapat kesempatan baik tidak mau mempergunakannya!
Karena merasa kalau dalam pertandingan pertama, dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk memenangkan dua pertandingan yang lain.
Dia merasa yakin akan menang karena dia memiliki ilmu pedang yang hebat, campuran dari ilmu pedang Bangsa Kazak yang ahli bertempur itu, dan ilmu pedang dari India.
Dia telah mengolah ilmu-ilmu yang dikuasai itu menjadi ilmu pedang yang ampuh sekali, yang.
selama ini belum terkalahkan.
Biarpun ketika dia mengadu ilmu pedang dengan tokoh Kun-lun-pai, kemudian tokoh Bu-tong-pai, dia tidak dapat menang dan hanya dapat mengimbangi ilmu pedang lawan, namun diapun tidak dikalahkan.
Dan dia menang dalam perkelahian itu dengan bantuan ilmu sihirnya dan ilmu pukulan Tangan Api.
"Hyaaaatttt ......!"
Dia mengeluarkan bentakan lantang dan pedangnya sudah menyerang dengan dahsyatnya.
Karena dia sudah kalah dalam pertandingan pertama, kini Se Jit Kong melupakan pesan isterinya, lupa bahwa isterinya berada tak jauh dari situ menjadi penonton.
Dia tidak perduli lagi karena kalau dia tidak mampu menang berarti dia kalah dan dia harus menepati janjinya.
Menyerahkan kembali pusaka-pusaka itu tidak begitu besar artinya bagi dia, akan tetapi kalau dia menyerah untuk ditangkap dan dibawa ke timur hal, itu sungguh merupakan penghinaan besar dan juga belum tentu para tokoh partai persilatan itu akan suka memaafkannya.
Dia pasti akan dihukum mati oleh mereka.
Oleh karena itu, dia harus memenangkan dua pertandingan berikutnya dan dia akan mamaksakan kemenangan itu, kalau.
perlu membunuh lawannya!
Dari gerakan serangan itu tahulah Kiam-sian Louw Sun bahwa lawannya nekat dan mengirim serangan maut.
Maka, diapun memutar Jit-kong"kiam untuk melindungi tubuhnya, kemudian membalas dengan tidak kalah dahsyatnya.
Dua orang ahli pedang itu segera terlibat dalam pertandingan yang lebih menegangkan dari pada tadi, karena kini dua pedang itu berkelebatan, lenyap bentuknya menjadi gulungan dua sinar yang menyilaukan mata, saling belit dan merupakan kilat yang membawa maut.
Ilmu pedang yang dimainkan Se Jit Kong memang aneh sekali dan juga amat berbahaya, Akan tetapi sekali ini dia menghadapi seorang ahli pedang yang sakti, yang bahkan mempunyai julukan Dewa Pedang.
Dari julukan ini saja mudah diketahui bahwa tentu Dewa Pedang memiliki ilmu pedang yang sudah mencapai tingkat yang amat tlnggi.
Apalagi pedang di tangan tosu yang sakti itupun merupakan pedang pusaka ampuh.
Kalau Se Jit Kong tidak memegang pedang pusaka dari gudang istana kaisar, pedang lain tentu akan mudah patah kalau bertemu dengan Jit-kong-kiam.
llmu pedang yang dimainkan Dewa Pedang itu selain cepat, juga mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat, dapat menekan, membelit dan menempel.
Itulah Ilmu pedang Jit-kong-kiam-sut (Ilmu Pedang cahaya Matahari) yang selama ini belum terkalahkan.
Dua orang itu memang setingkat.
Pedang mereka sama-sama kuat dan ampuh sebagai pedang pusaka pilihan.
Ilmu pedang mereka pun dahsyat dan aneh, sedangkan ,dalam hal tenaga, merekapun seimbang.
Sampai seratus jurus lebih, belum juga ada yang nampak kalah atau menang.
Mereka saling serang sambil mengerahkan segala kemampuan mereka.
Sinar pedang menyambar-nyambar dengan suara berdesing-desing dan kadang bercuitan dan daun-daun pohon di dekat mereka berhamburan seperti disayat-sayat.
Sejak tadi, Ju Bi Ta dan Sin Wan melihat pertandingan dengan hati tegang.
Sin Wan mulai merasa khawatir.
Tiga orang yang menjadi lawan ayahnya itu, walaupun tidak main keroyokan seperti belasan orang beberapa hari yang lalu, namun masing-masing memiliki ilmu kepandaian tinggi, tidak kalah oleh ayahnya.
Tadipun ketika selesai bertanding tangan kosong dengan tosu berperut gendut, dia melihat betapa baju ayahnya di bagian lambung berlubang sebesar telapak tangan.
Dia mengerti bahwa hal itu menjadi pertanda bahwa ayahnya teiah kalah, dan diapun kagum bahwa si pemenang itu tidak membunuh ayahnya, bahkan melukainya.
pun.
tidak.
Dan kini, orang kedua dapat memainkan pedang sedemikian cepatnya, mengimbangi permainan ayahnya.
Se Jit Kong mulai merasa lelah.
Uap putih mengepul keluar dari ubun-ubun kepalanya dan napasnya mulai terengah-engah.
Tentu saja daya tahannya kalah dibandingkan Dewa Pedang.
Kiam-sian Louw Sun adalah seorang pertapa yang sejak duapuluhan tahun hidup bersih, tubuhnya tidak terlalu diperalat nafsu sehingga tubuhnya menjadi kuat, tidak seperti Se Jit Kong yang hidupnya bergelimang nafsu.
Karena dia merasa lelah sedangkan lawannya masih nampak segar.
Se Jlt Kong tahu bahwa kalau dilanjutkan.
akhirnya dia kalah karena kehabisan napas dan tenaga.
Maka, diam-diam dia mengerahkan kekuatan sihirnya, matanya mencorong tajam dan tiba-tiba dia membentak dengan suaranya yang mengandung kekuatan sihir.
"Robohlah kau .........!!"
Kiam-sian Louw Sun terkejut sekali karena tiba-tlba tubuhnya seperti terdorong kuat dan biarpun dia sudah mempertahankan diri, tetap saja dia terhuyung-huyung dan hampir saja terjengkang jatuh kalau saja tidak dengan cepatnya Pek-mau-sian Thio Ki menangkap lengannya.
"Tangan Api, engkau kembali menggunakan kecurangan! Engkau bertanding pedang dengan Dewa Pedang, bukan bertanding sihir. Kalau engkau hendak memamerkan ilmu sihirmu, akulah lawanmu. Dalam hal ilmu pedang, engkaupun tadi kalah, buktinya engkau hampir putus napas dan kau menggunakan ilmu sihir dengan curang!"
Tegur Dewa Rambut Putih.
Dalam keadaan terhimpit Se Jit Kong berusaha untuk mencapai kemenangan dengan satu kali pukulan.
Dia mengerahkan seluruh tenaga ilmu sihirnya, matanya mencorong, tubuhnya menggigil dan dia membentangkan kedua lengan lalu berkata dengan suara yang lantang dan menggetar.
"Kalian semua belum mengenal siapa aku! Lihatlah baik-baik, aku adalah Naga Api yang datang untuk membasmi kalian semua!!"
Dia memekik, suara pekikannya melengking nyaring menggetarkan seluruh orang yang berada di situ.
Sin Wan yang belum pernah melihat ayahnya bersikap seperti itu, terkejut dan ketika dia memandang dengan penuh perhatian, dia terbelalak.
Ayahnya telah lenyap dan di tempat dia berdiri tadi nampak seekor naga yang mengeluarkan api dari mulutnya.
Naga itu sebesar orang dewasa, dan panjangnya puluhan kaki!
Matanya mencorong, lidahnya yang terjulur keluar itu seperti api membara dan dari mulutnya keluar api bernyala-nyala bercampur asap, juga dari hidungnya keluar api.
Sungguh merupakan mahluk yang mengerikan sekali.
Naga Api!
Ketika dia menoleh kepada ibunya, agaknya ibunya juga melihatnya, akan tetapi ibunya tidak nampak heran, hanya ngeri dan takut.
Melihat ibunya ketakutan, Sin Wan lalu memegang tangan ibunya dan merasa betapa jari-jari tangan ibunya mencengkeram tangannya dan tangan ibunya itu amat dingin.
Dewa Arak dan Dewa Pedang sudah duduk bersila dan memejamkan mata seperti orang melakukan samadhi.
Mereka mengerahkan tenaga dan batin agar tidak terpengaruh dan terseret oleh ilmu sihir yang kuat itu, dan dengan memejamkan mata mereka melawan getaran sihir.
Akan tetapi, Dewa Rambut Putih berdiri berhadapan dengan Se Jit Kong yang sudah "berubah"
Menjadi naga api itu.
"Ha-ha-ha, Se Jit Kong, permainan kanak-kanak ini tidak ada artinya bagiku!"
Dewa Rambut Putih lalu mengeluarkan sulingnya dan dia meniup sulingnya.
Terdengar lengking suara yang turun naik, terdengar aneh dan mengandung getaran kuat sekali.
Sin Wan memandang dengan mata terbelalak, dan biarpun hatinya tegang, namun dia ingin tahu kelanjutannya bagaimana terjadinya pertandlngan adu ilmu sihir yang aneh ini.
Naga Api itu menggereng-gereng dan suara suling melengking-lengking.
Akan tetapi, gerengan naga api itu semakin lemah dan akhirnya, nampak asap mengepul dan lenyaplah naga jadi-jadian itu, dan nampak tubuh Se Jit Kong.
Suara sulingpun terhenti dan muka Se Jit Kong menjadi merah sekali saking marahnya.
"Pek-mau-sian, aku atau engkau yang mampus!"
Bentaknya dan dia mengangkat pedangnya tlnggi-tinggi di atas kepala, mulutnya berkemak kemik dan dia berseru lantang.
"Pek-mau-sian, nagaku ini akan membunuhmu!"
Dan dia melontarkan pedang itu ke atas.
Terdengar suara keras seperti ledakan dan pedang itu lenyap, berubah menjadi seekor naga lagi, walaupun tidak begitu menyeramkan seperti naga api tadi, namun naga ini bergerak dengan lincahnya seperti burung terbang dan berputaran di atas, seperti sedang mengintai korban.
Melihat ini, Pek-mau-sian Thio Ki tertawa lagi.
"Udara jernih menjadi keruh, langit terang menjadi gelap, munculnya naga jadi-jadian yang jahat perlu diberantas!"
Ucapannya terdengar seperti bernyanyi dan diapun melontarkan serulingnya ke atas.
Terdengar lengkingan suara meninggi dan suling itupun berubah bentuknya menjadi seekor naga putih kekuningan seperti warna suling bambu itu.
Kedua naga itu bertemu di udara dan terjadilah pertandingan dan pergulatan yang hebat.
Namun, tidak lama, karena terdengar suara Pek-mau-sian lantang.
"Pedang curian harus kembali ke pemiliknya!"
Dan kedua "naga"
Itupun meluncur ke bawah, ke arah Dewa Rambut Putih dan lenyap berubah menjadi suling dan pedang yang kini berada di kedua tangan tosu itu.
Wajah Se Jit Kong menjadi pucat.
Dia maklum bahwa dalam ilmu sihirpun dia tidak mampu menandingi Pek-mau-sian Thio Ki.
Dalam ilmu pedang dia kewalahan melawan Kiam-sian Louw Sun, dan dalam ilmu silat tangan kosong dan tenaga sin-kang, diapun terdesak oleh Ciu-sian Tong Kui.
Tiga orang lawan itu memang tangguh sekali dan kalau dilanjutkanpun akhirnya dia akan mendapat malu dan akan roboh.
Dia mencabut sebatang pisau dari pinggangnya.
Melihat ini, tiga orang tosu yang kesemuanya sudah bangkit berdiri itu siap siaga, mengira bahwa Se Jit Kong akan mengamuk dan melawan mati-matian.
Akan tetapi Se Jit Kong memandang kepada mereka penuh kebencian dan suaranya terdengar kaku penuh kemarahan.
"Sam Sian (Tiga Dewa), kalian sudah mampu menandingi dan mengalahkan aku, akan tetapi jangan harap aku akan sudi mengembalikan benda-benda pusaka itu dan menyerah untuk kalian tangkap. Tidak ada seorangpun manusia di dunia ini yang boleh membuat aku menyerah dan memaksaku! Ha .. ha ... ha .. ha!"
Sambil tertawa bergelak, Hwe-ciang-kwi Se Jit Kong lalu menggerakkan pisau itu.
Tiga orang tosu terbelalak keget.
Mereka tidak mengira sama sekall bahwa Tangan Api itu akan mengambil keputusan demikian nekad.
Pisau itu, di tangan ahli Se Jit Kong, telah menyelinap di bawah tulang iga dan langsung menembus jantungnya sendiri!
Dia masih tertawa bergelak ketika roboh dengan mata terbelalak dan begitu suara tawanya terhenti, diapun sudah menghembuskan napas terakhir!!
"Ayaaaahhhh .......!"
Sin Wan menjerit dan lari menghampiri tubuh ayahnya yang menggeletak telentang tak bernyawa lagi itu.
"Ayah ........! Ayah .....!"
Dia menubruk dan merangkul tubuh yang sudah menjadi mayat akan tetapi masih hangat itu.
Dia tidak perduli tangan dan bajunya terkena darah yang bercucuran keluar dari lambung ayahnya.
Setelah mengguncang-guncang tubuh ayahnya dan memanggil-manggil akan tetapi ayahnya tetap tak bergerak, mati dengan mata melotot, Sin Wan maklum bahwa ayahnya telah tewas.
Dengan terisak dia lalu menggunakan jari-jari tangannya untuk menutup kedua pelupuk mata yang terbelalak itu sehingga sepasang mata itu kini terpejam.
Lalu, perlahan-lahan dia bangkit berdiri, memutar tubuh menghadapi tiga orang tosu yang memandang dengan sikap tenang.
"Kalian .... tiga orang pendeta yang kelihatannya saja alim dan baik, akan tetapi kalian telah membunuh ayahku! Aku bersumpah kelak aku akan ......."
"Sin Wan, diam kau .......!!"
Tiba-tiba ibunya membentak dan ternyata ibunya telah berada di sisinya.
Sin Wan tidak melanjutkan ucapan sumpahnya yang hendak membalas dendam, dan dia menoleh kepada ibunya, lalu merangkul pinggang ibunya.
"Ibuuuu....... ayah telah tewas .....!"
Isaknya.
"Aku tahu, anakku."
"Ayah telah dibunuh oleh tiga orang jahat itu ......." ''Hushh, diam kau, Sin Wan. Bukan mereka yang membunuh. Ayahmu bunuh diri, kita juga melihatnya tadi."
"Tapi, dia bunuh diri karena tersudut oleh mereka, ibu. Kenapa ibu tidak menyalahkan mereka, dan tidak membela ayah?"
"Sin Wan, ayahmu tewas karena ulahnya sendiri ......"
Wanita itu lalu berlutut dan menggunakan kedua tangan untuk mencabut pisau yang masih menancap di lambung suaminya.
Pisau itu berlumuran darah, akan tetapi kini tidak banyak lagi darah mengucur keluar dari luka di lambung.
"Ibuuu ........!"
Sin Wan berseru kaget melihat ibunya mencabut pisau yang berlumuran darah, dan dia melihat ibunya bercucuran air mata, menangis.
Diapun merasa terharu dan sedih, mengira ibunya menangisi kematian ayahnya.
"Ibu, ayah mati karena mereka, bagaimana kita tidak menjadi sakit hati? Ibu, jangan menangis, kelak anakmu yang akan ...."
"Husssh, Sin Wan, jangan blcara sembarangan,"
Kata ibunya sambil menghentikan tangis dan menghapus air matanya.
"Ibumu bukan menangisi kematian ayahmu."
Sepasang mata anak itu terbelalak.
"Ibu ..... Apa maksudmu, ibu? Bagaimana mungkin ibu berkata demikian? Ayah amat mencinta ibu dan menyayangku, dan ibupun mencinta ayah. Kenapa ibu mengatakan bukan menangisi kematian ayahku?"
"Sin Wan, dia ini bukan ayahmu."
"Heeeii .....! Ibu ....! Apa ....... apa maksudmu?"
Wajah anak itu berubah pucat dan dia memandang ibunya dengan mata terbelalak.
Tiga orang tosu itupun saling pandang dan mereka diam saja, hanya kini mereka duduk bersila, untuk memulihkan tenaga dan juga, untuk tidak mengganggu ibu dan anak itu.
"Sin Wan, anakku, sekaranglah saatnya ibumu membuka semua rahasia ini, di depan jenazah Se Jit Kong ini. Dengarkan baik-baik dan ingat semua kata-kataku, anakku. Sepuluh tahun lebih yang lalu, ketika itu usiaku baru delapanbelas tahun, namaku Jubaidah dan aku hidup berbahagia di samping suamiku yang baru setahun lebih menjadi suamiku. Suamiku. bernama Abdullah dan dia putera seorang kepala dusun di perkampungan bangsa kita, yaitu bangsa Uighur. Ketika itu, engkau telah berada di dalam kandunganku, Sin Wan, berumur tiga empat bulan."
"Aahhhhh ....., jadi ayahku ..... ayah kandungku, yang bernama Abduilah itu .......?"
Suara Sin Wan berbisik lirih dan dia menoleh ke arah wajah Se Jit Kong, orang yang selama ini dianggap ayahnya.
"Mendiang Abdullah, anakku. Pada suatu hari, Se Jit Kong ini datang ke dusun kami dan dia .... dia menginginkan diriku, dia membunuh ayah kandungmu, mendiang Abdullah suamiku itu ........."
"Ya Tuhan .......!!"
Sin Wan menjadi lemas, wajahnya semakin pucat dan matanya seperti tidak bersinar lagi mengamati wajah Se Jit Kong.
Orang yang menyayangnya dan disayangnya seperti ayah ini kiranya bahkan pembunuh ayah kandungnya!
"Tenanglah Sin Wan.
Engkau harus mendengarkan penuh perhatian dan ingat baik-baik semua keteranganku ini.
Suamiku, Abdullah dibunuh oleh Se Jit Kong ini, dan aku diculiknya.
Aku adalah seorang wanita beragama yang taat.
Aku sudah bersuami dan biarpun suamiku tewas, aku tidak akan sudi menyerahkan diri kepada pria lain, apalagi kalau pria itu pembunuh suamiku.
Menurut suara hatiku, semestinya aku membunuh diri pada saat suamiku dibunuh itu.
Akan tetapi, semoga Tuhan mengampuni aku, aku ....
aku tidak tega karena engkau berada di dalam perutku, anakku.
Kalau aku bunuh diri, berarti .aku membunuhmu pula.
Aku ingin engkau terlahir dan hidup, anakku.
Aku ingin engkau menjadi saksi tunggal bahwa aku sama sekali bukan wanita yang begitu saja mudah melupakan suami dan menyeleweng dengan penyerahan diri kepada pria lain ......"
Wanita itu memejamkan mata dan menahan agar tangisnya tidak datang lagi.
Sin Wan tidak mengeluarkan suara, hanya memegang tangan ibunya, menggenggam tangan itu seolah memberi kekuatan kepada ibunya.
Tangan kiri ibunya dingin sekali, sedangkan tangan kanan wanita itu masih memegang gagang pisau yang berlumuran darah Se Jit Kong.
Agaknya sentuhan tangan puteranya memberi kekuatan kepada Ju Bi Ta atau Jubaidah ini dan ia melanjutkan bicaranya.
"Dia ini memaksaku menjadi isterinya. Dia tidak memaksa dengan kekerasan, melainkan membujuk dengan lembut dan dia nampaknya amat sayang kepadaku. Aku lalu menyerah, akan tetapi, demi Tuhan, semua ini kulakukan untuk menyelamatkan anak dalam kandunganku. Aku menyerah dengan syarat bahwa dia harus menanti sampai anak dalam kandungan terlahir, kemudian syarat kedua adalah bahwa dia harus menganggap anakku seperti anak sendiri, menyayangnya, dan kalau sampai kelak dia melanggar Janji, aku akan membunuh diri. Dan dia ..... ya Tuhan ampunkan hamba, dia begitu sayang kepadaku, dia memenuhi semua permintaanku, tak pernah melanggar syarat-syaratku. Setelah engkau terlahir, dia begitu sayang kepadamu dan akan merasa benar bahwa dia amat cinta padaku. Maka, terpaksa sekali, walaupun di dalam hati aku menangis dan mohon ampun dan pengertian dari mendiang suamiku, aku menyerah dan menjadi isterinya ......."
Kembali wanita ini menghentikan ceritanya, berulang kali menarik napas panjang seperti hendak mengumpulkan kekuatan.
Sin Wan memandang bingung.
Dia belum cukup dewasa untuk dapat menyelami keadaan ibunya, menjadi bingung dan tidak dapat mempertimbangkan baik buruknya keadaan itu.
"Akan tetapi, betapapun besar cintanya kepadaku dan sayangnya kepadamu, bagaimana aku dapat mencinta seorang seperti dia, anakku? Bukan saja dia telah membunuh suamiku dan menculikku, akan tetapi dia ..... ohh, dia jahat sekali. Dia seorang datuk besar dunia hitam, dia tidak pantang melakukan kejahatan dalam bentuk apapun juga. Hanya satu yang tidak pernah dia lakukan, yaitu mengganggu wanita setelah dia mempunyai aku sebagai isterinya. Hal inipun karena permintaanku. Aku berulangkali membujuk, namun dia melakukan segala macam kejahatan secara diam-diam, di luar pengetahuanku. Bahkan kabarnya dia menjadi jagoan nomor satu dengan mengalahkan semua tokoh di timur. Dia jahat sekali, anakku, ahh, bagaimana mungkin aku dapat membalas cintanya? Aku hanya ingin mati, akan tetapi, aku khawatir bahwa kalau aku mati dia lalu bersikap jahat terhadap dirimu. Aku harus menjagamu ..... dan untuk melindungimu, aku rela menderita lahir batin ........"
"Ibu ......!"
Sin Wan kini merangkul ibunya, dapat merasakan benar betapa besar pengorbanan ibunya terhadap dirinya.
"Akhirnya aku dapat membujuk dia untuk kembali ke barat sini. Aku tidak tahu bahwa dia telah mencuri benda-benda pusaka dari istana. Aku hanya Ingin agar engkau menjadi remaja dan cukup kuat untuk meninggalkan dia, melarikan diri dan selamat dari jangkauannya. Aku baru mau mati kalau engkau benar-benar terbebas dari tangannya, Sin Wan. Dan sekarang, karena ulahnya sendiri, akhirnya dia tewas. Kita bebas, Sin Wan. Engkau bebas, tidak terancam bahaya lagi, dan aku bebas ...... aku bebas menebus dosaku selama ini, aku bebas untuk pergi menyusul suamiku, untuk mengadukan semua ini kepadanya. Ya Allah, ampunilah dosa hamba ....... Abdullah suamiku, tunggulah aku ........."
Tiba"tiba saja wanita itu lalu menggunakan pisau yang masih berlumuran darah itu untuk menusuk dadanya sendiri sekuat tenaga.
"Ibuuuuuu ......!"
Sin Wan menjerit dan menangkap tangan ibunya, akan tetapi karena tadinya dia tidak menduga sama sekali bahwa ibunya akan senekad itu, dia lerlambat.
Pisau itu sudah menancap di dada ibunya, sampai ke gagang dan ibunya terkulai datam rangkulannya, mandi darah.
'Ibuuu .......
ibuuuu ......
ya Allah, tolonglah ibu ......"
Sin Wan meratap dan menangis, Wanita itu membuka mata, dan senyum lemah menghias bibir yang pucat, kedua tangannya bergerak lemah ke atas, mengusap air mata dari pipi Sin Wan.
"Sin Wan ...... anakku ..... biarkan ibumu menebus dosa ....... engkau berjanjilah ....... akan menjadi mamusia yang baik ..... taat kepada Allah ..... tidak jahat, jangan seperti Se Jit Kong ....."
Suaranya semakin lemah sehingga berbisik-bisik. Di antara tangis sesenggukan, Sin Wan mengangguk, .....
"aku ...... berjanji ........, ibu ........"
Kemudian, melihat ibunya terkulai lemas dia pun menjerit dan pingsan di atas dada ibunya.
Tiga orang tosu yang duduk bersila itu membuka mata mereka.
Pek-mau-sian Thio Ki, Si Dewa Rambut Putih, menghela napas panjang dan diapun bersanjak dengan suara lembut.
"Sependek suka sepanjang duka sejumput manis setumpuk pahit ada gelap ada terang ada senang ada susah yang tidak mengejar kesenangan takkan bertemu kesusahan !"
Tiga orang tosu itu lalu menyadarkan Sin Wan, dan membantu anak itu mengangkat jenazah Se Jit Kong dan Ju Bi Ta, dibawa ke rumah keluarga mereka.
Kepada para tetangga, tiga orang tosu itu mewakill Sin Wan untuk memberitahu bahwa kematian suami isteri itu karena terbunuh musuh yang tidak mereka ketahui siapa.
???
Dua buah peti mati Itu berada di ruang depan, namun terpisah jauh, seperti yang dikehendaki Sin Wan.
Peti mati Se Jit Kong berada di sudut kiri ruangan itu, sedangkan peti jenazah Ju Bi Ta berada di sudut kanan.
Sin Wan berlutut di depan peti mati ibunya, kadang menangis lirih, kadang termenung Seperti kehilangan semangat.
Hanya karena peringatan dari tiga orang tosu yang membantunya mengurus jenazah.
Sin Wan memaksa diri untuk membalas penghormatan para pengunjung, yaitu para tetangga yang memberi hormat terakhir kepada suami isterl yang tewas secara aneh itu.
Mereka hanya mendengar bahwa suami isteri itu tewas di tangan musuh mereka, akan tetapi mereka tidak tahu siapa musuh itu dan merekapun tidak ingin mencampuri urusan itu.
Setelah yang datang melayat berkumpul, dua peti jenazah lalu diangkut ke tempat pemakaman.
Juga atas permintaan yang sangat dari Sin Wan, dua peti jenazah itu dikubur secara terpisah pula, di kedua ujung yang berlawanan dari tanah pekuburan itu.
Para pelayat pulang meninggalkan dua gundukan tanah kuburan yang baru, dan yang tinggal kini hanya Sin Wan bersama tiga orang tosu Sam Sian (Tiga Dewa), masih menunggu karena mereka belum selesai dengan tugas mereka.
Mereka belum mengambil kembali benda-benda pusaka, dan mereka menanti sampai Sin Wan selesai berkabung dan sudah tenang kembali.
Sin Wan kini menangis di depan makam ibunya, merasa kesepian, merasa khawatir karena secara tiba-tiba dia dihadapkan dengan kenyataan yang amat pahit.
Pertama, melihat ayahnya bunuh diri dan tewas, lalu mendengar keterangan ibunya bahwa orang yang dianggap ayahnya itu sama sekali bukan ayahnya, bahkan seorang datuk penjahat besar yang telah membunuh ayah kandungnya dan memaksa ibu kandungnya menjadi isteri.
Berarti bahwa sebenarnya Se Jit Kong adalah musuh besarnya!
Kemudian disusul pula dengan kematian ibunya yang membunuh diri pula.
Kini dia kehilangan segalanya!
Perubahan mendadak yang membuat anak berusia sepuluh tahun itu menjadi nanar dan gelap, tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Suara tangis Sin Wan tidak keras lagi karena dia sudah kehabisan suara dan tenaga, akan tetapi masih sesenggukan dan penuh kesedihan.
Makin diingat keadaan dirinya yang sebatang kara di dunia ini, makin pedih hatinya, dan makin mengguguk tanglsnya.
Sunyi senyap di tanah kuburan itu.
Hanya tangis Sin Wan merupakan satu-satunya suara yang hanyut dalam kesunyian.
Bahkan pohon-pohon di sekitar tanah kuburan itu tidak ada yang bergerak.
Angin berhenti bertiup, entah sedang beriatirahat di mana.
Agaknya segala sesuatu ikut pula prihatin melihat duka nestapa yang dltanggung remaja itu.
Tiba-tiba suara tangis lirih itu ditimpa suara tawa bergelak.
Suara tawa yang lepas dan tidak ditahan-tahan sehingga terdengar janggal karena suasana berkabung itu menurut umum tidak sepantasnya diisi suara tawa sebebas itu!
Aneh sekali mendengar suara tangis yang kini dibarengi suara tawa itu.
Dewa Rambut Putih Thio Ki mengerutkan alisnya dan menengok ke arah rekannya, Dewa Arak Tong Kui yang mengeluarkan suara tawa itu.
"Dewa Arak, apa yang kautawakan ini?"
Tegurnya dengan alis berkerut.
"Ha ... ha ... ha ... ha, apa yang kutawakan ? Dan apa pula yang ditangiskan anak itu? Apa pula yang membuat kalian berdua berwajah demikian serius dan muram? Ha ... ha ... ha, tangis dan tawa sama-sama menggerakkan mulut, kenapa tidak memilih tawa dari pada tangis? Tangis itu tidak sehat dan membuat wajah kelihatan buruk, sebaliknya orang berwajah jelekpun akan menjadi menarik kalau tertawa, juga menyehatkan. Ha-ha-ha-ha!"
Si Dewa Arak tertawa lagi, kemudian meneguk arak dari gucinya.
"Aku mentertawakan semua kepalsuan ini. Kenapa kalau ada kematian lalu ada tangisan? Apa yang ditangisi? Bukankah yang bersangkutan, yang mati malah tidak menangis dan wajahnya nampak tenang dan penuh damai! Sebaliknya, kelahiran disambut tawa gembira, sedangkan yang bersangkutan, begitu terlahir menangisi kelahirannya sampai menjerit-jerit. Ha .. ha .. ha ..!"
Mendengar ucapan itu, seketika Sin Wan berhentl menangis.
Semua ucapan itu memasuki benak dan hatinya dan berkesan sekali.
Dia memang suka sekali membaca kitab-kitab kuno, sejarah, dongeng dan filsafat, juga pelajaran tentang hidup dalam kitab-kitab agama.
Belum pernah dia mendengar orang bicara tentang kematian seperti yang diucapkan Dewa Arak itu, apa lagi mendengar ada orang tertawa-tawa menghadapi kematian, seolah-olah kematian merupakan peristiwa yang menyenangkan, bukan merupakan peristiwa duka.
Dia merasa penasaran sekali dan setelah menghentikan tangisnya, dia lalu memandang kepada Dewa Arak.
"Maaf, lo-cianpwe (orang tua gagah). Lo-cianpwe mencela saya menangis. Salahkah saya kalau menangisi kematian ibu saya yang tercinta?' suaranya lantang dan menuntut. Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih diam-diam tersenyum. Dewa Arak memang pintar sekali, dapat mengalihkan kesedihan anak itu.
"Ha .. ha .. ha ..ha, kulihat dulu mengapa kau menangis? Coba katakan, mengapa engkau menangis, anak baik? Namamu Sin Wan, bukan? Nah, katakan, Sin Wan, kenapa engkau menangis, maka aku akan tahu apakah tangismu itu wajar ataukah palsu."
"Saya menangis karena ibu saya meninggal dunia, lo-cianpwe. Bukankah itu wajar?"
"Ya, akan tetapi kenapa kalau ibumu mati engkau menangis? Yang kautangisi itu ibumu ataukah dirimu sendiri?"
"Apa ...... apa maksud lo-cianpwe?"
"Katakan saja, bagaimana isi hatlmu. Jenguk isi hatimu dan katakan sebenarnya yang membuat engkau menangis. Karena engkau kehilangan orang yang kausayang? Karena engkau ditinggal seorang diri dan merasa kesepian? Karena meninggalnya orang kau sayang itu mendatangkan kesedihan karena engkau tidak akan menikmati lagi kesenangan dari orang yang meninggal?"
Sin Wan mengerutkan alisnya, berpikir-pikir lalu mengangguk.
"Memang demikianlah, lo-cianpwe. Hati siapa yang tidak akan bersedih ditinggal mati ibunya yang tercinta? Apa lagi setelah mendengar bahwa ayah kandung saya telah tiada. Saya hanya hidup berdua dengan ibu, dan sekarang, ibu meninggalkan saya seorang diri."
"Bagus, jadi engkau menangisi keadaan dirimu sendiri, bukan? Nah, itu namanya jawaban jujur. Air matamu itu kaucucurkan karena engkau merasa kehilangan, karena engkau merasa iba kepada diri sendiri. Air mata itu air mata karena iba diri, karenanya air mata seorang yang lemah! Lemah sekali hatinya, cengeng dan penakut!"
Sejak kecil Sin Wan digembleng oleh seorang datuk besar seperti Tangan Api.
Biarpun ibu kandungnya selalu menekannya dan mengharuskan dia menjauhi kekerasan, namun bagaimanapun juga, dia digembleng sikap pemberani dan watak gagah seorang ahli silat oleh gurunya yang tadinya dianggap ayahnya sendiri itu.
Kini, dicela sebagai orang yang hatinya lemah, cengeng dan penakut, tentu saja mukanya yang tadinya pucat itu berubah kemerahan, matanya mengeluarkan sinar tajam dan hal ini membuat tiga orang sakti itu memandang dengan wajah berseri.
"Lo-cianpwe, kenapa lo-cianpwe begitu kejam? Lo-cianpwe mengetahui bahwa baru saja saya kehilangan ibu, bahkan kehilangan ayah yang ternyata tak pernah saya lihat itu, kehiiangan segalanya dan lo-cianpwe malah mentertawakan saya. Saya bukan lemah, cengeng apa lagi penakut!"
"Ha .. ha .. ha, bagus sekali!"
Dewa Arak itu tertawa.
"Aku tidak mentertawakan engkau, melainkan mentertawakan kepalsuan yang dilakukan oleh sebagian besar orang di dunia ini. Kalau engkau tidak cengeng dan lemah, hapus air matamu dan jangan tenggelam ke dalam iba diri. Dan tidak perlu engkau menangisi ibumu yang sudah tiada. Bahkan kalau bisa tertawalah, tertawa gembira karena ibumu baru saja terbebas dari pada kedukaan hidup. Ingat betapa ibumu menderita lahir batin sejak kematian ayah kandungmu, dan baru sekarang ibumu terbebas dari himpitan penderitaan. Kenapa harus ditangisi?"
"Saya tidak menaagisi kematiannya itu sendiri, melainkan terharu dan kasihan kalau mengenang betapa selama ini ibu telah menderita hebat dan mengorbankan diri karena saya."
"Heii, Dewa arak, apakah engkau masih mabuk?"
Teriak Dewa Pedang Louw Sun.
"Anak itu belum juga dewasa, sudah kau ajak bicara tentang hal-hal yang begitu mendalam. Dia bersedih, itu manusiawi, karena dia manusia yang memiliki perasaan. Tidak seperti engkau yang sudah tidak lumrah lagi. Semua orang di dunia ini kalau kematian menangis, apa salahnya dengan itu? Akan tetapi engkau menganjurkan anak ini agar tertawa-tawa ketika ibunya mati. Apa kau ingin dia dianggap orang gila? Kalau mau gila, engkau sendiri saja, jangan ajak-ajak anak kecil."
"Ha .. ha .. ha, lebih baik mabuk dan bicara secara terbuka dari pada tidak mabuk dan bicaranya selalu palsu, bersembunyi di balik kedok sopan-santun dan peraturan yang pada hakekatnya hanya menonjolkan diri sendiri. Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih, kalian sendiri bukan orang-orang yang dicengkeram nafsu, kenapa nampak murung seperti orang berduka? Benarkah kalian berduka karena kematian Se Jit Kong dan ibu anak ini? Terharu setelah mendengar pengakuan ibu Sin Wan?"
"Aih, Dewa Arak, bagaimana orang-orang seperti kita masih terpengaruh perasaan hati dan mudah diombang-ambingkan antara suka dan duka? Tidak, Ciu-sian, pinto (aku) tidak murung, tidak berduka, hanya termenung heran mengapa orang-orang seperti mereka ini dengan cepat terbebas dari kurungan, sedangkan kita masih harus terhukum entah untuk berapa lama lagi,"
Dia menghela napas panjang. Dewa Arak memandang Dewa Pedang yang baru saja bicara itu dengan heran.
"Siancai (damai) ......! Engkau ini tosu (pendeta To) macam apa? Baru sekarang aku mendengar pendeta To bicara sepertl ini! Bukankah biasanya para pendeta To bahkan berlumba mencari obat ajaib untuk membuat kalian berusia panjang sampai seribu tahun atau bahkan tidak akan mati selamanya?"
"Pinto tidak termasuk mereka yang suka berkhayal dan bermimpi yang muluk-muluk. Pinto juga tidak menyesal, hanya merasa heran akan rahasia alam yang amat gaib ini, saudaraku."
"Bagaimana dengan engkau, Dewa Rambut Putih? Engkaupun tidak nampak tersenyum seperti biasanya. Di mana perginya senyum simpulmu yang manis itu? Apakah engkau juga ikut prihatin dan berkabung?"
Suara Si Dewa Arak mengandung ejekan. Pek-mau-sian Thio Ki menggerakkan bibir ke arah senyum, matanya menatap wajah rekannya dengan tajam dan dia menggerakkan telunjuknya menuding muka rekan itu.
"Dewa Arak, engkau selalu ugal-ugalan, akan tetapi terbuka hati dan mulutmu. Seperti juga kalian, aku tidak mau terbelenggu nafsu dan perasaan, tidak mau terikat oleh apapun. Aku hanya termenung memikirkan kebodohan wanita itu. Ia telah mengambil jalan sesat. Bagaimana mungkin ia menebus dosa dengan cara membunuh diri? Itu namanya bukan menebus dosa, melainkan menambah dosa menjadi semakin besar lagi!"
Sejak tadi Sin Wan mendengarkan dengan hati tertarik sekali.
Tiga orang tua itu mempunyai pandangan yang aneh-aneh, yang berbeda dengan umum, namun diam-diam dia menemukan kebenaran dalam ucapan mereka yang janggal itu.
Akan tetapi.
mendengar ucapan Pek-mau-sian Thio Ki, dia merasa terkejut dan penasaran, juga ingin sekali tahu.
"Maaf, lo-cianpwe. Kenapa lo-cianpwe mengatakan bahwa dengan membunuh diri, ibuku berdosa? Bukankah ibuku seorang wanita yang berhati bersih, yang tidak akan sudi diperisteri pembunuh suaminya kalau saja tidak ingin menyelamatkan aku? Setelah aku tidak terancam lagi, ibu menebus semua aib itu dengan membunuh diri, kenapa lo-cianpwe menganggap ia berdosa?"
"Ha .. ha .. ha .. ha!"
Dewa Arak tertawa.
"Anak baik, aku tidak tahu apakah dia berdosa atau tidak, hanya Tuhan yang tahu! Akan tetapi aku tahu bahwa ia bodoh. Picik sekali orang yang membunuh diri! Kita tidak mampu menghidupkan, bagaimana boleh mematikan? Mati hidup di tangan Tuhan, akan tetapi bunuh diri merupakan kematian yang dipaksakan, karena itu, rohnya akan menjadi penasaran! Bodoh sekali ibumu, Sin Wan, tidak boleh kau. tiru perbuatannya itu."
Sin Wan masih penasaran dan dia menoleh kepada dua orang pendeta yang lain. Dewa Pedang mengelus jenggot dan menggeleng kepala, menarik napas panjang.
"Bunuh diri merupakan perbuatan sesat. Bagaimana mungkin persoalan dapat diselesaikan dengan bunuh diri? Bunuh diri adalah perbuatan yang penuh nafsu dan nafsu akan melekat terus merupakan pengganggu yang tiada habisnya selama dalam kehidupan ini kita tidak mampu membebaskan diri dari ikatan dan cengkeraman nafsu, ibumu patut dikasihani, anak baik."
Sin Wan merasa semakin sedih.
"Sejak muda sekali, sejak berusia delapanbelas tahun, baru saja setahun mengecap kebahagiaan bersama suaminya, ibumu direnggut dari kebahagiaan dan sejak itu menderita siksaan lahir batin, dan sekarang setelah mati masih menanggung dosa!"
Dia masih penasaran dan menoleh kepada Dewa Rambut Putih yang pertama kali mengatakan bahwa ibunya telah melakukan dosa karena membunuh diri.
"Lo-cianpwe, mendiang ibuku adalah seorang wanita yang saleh, selalu taat kepada Allah, dan juga tak pernah melakukan kejahatan terhadap orang lain. Ia menyerahkan diri kepada pembunuh suaminya dengan hanya satu tujuan mulia, yaitu menyelamatkan nyawa anaknya. Apakah itu dapat dikatakan salah dan dosa?"
Karena anak itu bicara sambil memandang kepadanya, Dewa Rambut Putih tersenyum.
"Sin Wan. ibumu telah terjebak ke dalam kekeliruan pendapat yang disilaukan oleh tujuan sehingga ia menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Tujuannya adalah menyelamatkan anak dalam kandungan, kemudian menyelamatkan anaknya setelah terlahir Memang hal itu merupakan kewajiban seorang ibu, memelihara anaknya! Akan tetapi, baik buruk dan benar salahnya bukan terletak dalam tujuan, melainkan dalam caranya atau pelaksanaannya. Karena silau oleh tujuannya, ia memejamkan mata dan menempuh cara yang tidak selayaknya ia lakukan. Bagaimana mungkin cara yang salah dapat mencapai tujuan yang benar, cara yang kotor dapat mencapai tujuan yang bersih? Cara merupakan pohonnya, dan tujuan merupakan buahnya. Pohon yang buruk, mana dapat menghasilkan buah yang baik?"
Sin Wan tertegun.
Ucapan kakek rambut putih ini merupakan tusukan yang paling dalam dan membuka mata hatinya.
Kasihan ibunya.
Ibunya tidak sengaja melakukan perbuatan yang kotor dan salah.
Dia harus sedapat mungkin membela lbunya!
"Akan tetapi, lo-cianpwe, bukankah ibu telah berhasil menyelamatkan aku?
Andaikata ibu menolak kehendak pembunuh suaminya, bukankah hal itu berarti ibu membunuh aku pula?
Padahal, yang terutama baginya adalah menyelamatkan anaknya!"
"Sian-cai ....! Anak baik, mati hidup berada di tangan Tuhan. Kalau Dia menghendaki engkau mati, siapa yang akan sanggup menyelamatkanmu? Sebaliknya, kalau Dia menghendaki engkau hidup. siapa pula yang akan dapat membunuhmu?"
Kalimat terakhir ini segera disambar dan dipegang oleh Sin Wan sebagai bahan pembelaan terhadap lbunya dan juga hiburan dalam hatinya.
"Kalau begitu, lo-cianpwe, kematian ibuku tentu juga telah dihendaki oleh Tuhan. Benarkah?"
"Tentu saja!"
Jawab Pek-mau-sian Thio Ki dengan pasti.
"Kalau tidak dikehendaki Tuhan, tentu ia tidak akan mati."
"Nah, kalau begitu, ibu tidak berdosa! Ibu hanya melakukan sesuatu yang telah dikehendaki Tuhan!"
Kata anak itu dengan nada penuh kemenangan. Tiga orang pertapa itu saling pandang dan ketiganya lalu tertawa. Sin Wan memandang kepada mereka bergantian dengan heran.
"Mengapa samwi (anda bertiga) tertawa? Apakah aku mengeluarkan kata-kata yang tidak benar?"
"Siancai ...... engkau ini seorang anak yang berpemandangan luas dan memiliki bakat baik untuk mempelaiari ilmu tentang kehidupan, Sin Wan,"
Kata Dewa Pedang.
"Tidak keliru memang bahwa hidup dan mati berada di tangan Tuhan karena memang Tuhan yang menentukan segalanya. Adapun sikap menyerah dan pasrah kepada Tuhan merupakan sikap yang sudah sepatutnya dilakukan manusia. Akan tetapi, bukan berarti menyerahkan segalanya kepada Tuhan tanpa kita melakukan apa-apa! Bukan berarti mempersekutu Tuhan, atau bahkan menuntut agar Tuhan bekerja demi kepentingan kita! Tuhan menciptakan kita terlahir di dunia ini lengkap dengan semua alat untuk hidup, untuk bekerja, untuk berihtiar mempertahankan hidup, untuk memuja Tuhan melalui segala perbuatan kita. Kalau kita tidak berbuat apa-apa, itu berarti kita melalaikan tugas hidup kita. Karena kita diberi hati akal pikiran, diberi pengertian tentang baik buruk, tentu saja menjadi tugas kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik di dunia ini. Berarti kita membantu pekerjaan Tuhan! Bagaimana Tuhan dapat membantu kita kalau kita tidak berusaha membantu diri kita sendiri?"
"Maksud lo-cianpwe?"
"Contohnya, untuk dapat hidup kita harus makan dan untuk kebutuhan itu, Tuhan telah menyediakan tanah, air, udara, bahkan bibit tanaman pangan untuk kita. Akan tetapi, untuk dapat mempertahankan hidup dengan makan, kita harus mengolah tanah, menanam, memelihara, memetik hasilnya. Bahkan setelah itu, tugas kita belum selesai. Kita masih harus memasaknya dan kalau sudah menjadi masakan terhidang di depan kita, kita masih harus mengunyah dan menelannya! Kalau kita diam saja, Tuhan tidak akan melakukan semua itu untuk kita! Dan kita diberi pula akal budi sehingga kita dapat mengerti bagaimana cara yang terbaik untuk mendapatkan makanan, yaitu dengan bekerja, bukan dengan jalan mencuri atau merampok misalnya. Dalam pelaksanaannya itulah menjadi tugas kita. Tuhan tiada hentinya bekerja. Kitapun harus bekerja. Bukankah segala sesuatu di alam mayapada ini, baik yang bergerak maupun yang tidak hidup tumbuh dan bekerja ? Pohonpun tiada hentinya bekerja, akarnya, daunnya, kembang dan buahnya. Mengertikah engkau, Sin Wan ?"
Anak itu mengangguk, lalu menundukkan kepalanya.
Tiga orang pertapa itu seperti menguak kesadarannya, membuka hatinya dan mengisinya dengan kebenaran-kebenaran yang Dapat dia rasakan.
Ibunya telah meninggal.
Musuh besarnya juga telah meninggal.
Semua itu sudah dikehendaki Tuhan, Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa ibuku, demikian pikirnya dan teringat akan ajaran ibunya tentang agama Islam, yaitu agama ibunya, diapun menggumam lirih.
"Innalilahi wainna illahi rojiun ......"
"Hemm, apa artinya ucapan itu, Sin Wan?"
Tanya Pek-mau sian Thio Ki.
"Berasal dari Tuhan dan kembali kepada Tuhan, demikianlah yang diajarkan ibu kepadaku dalam menghadapi kematian."
"Berasal dari Tuhan dan kembali kepada Tuhan! Ha .. ha .. ha .., bagus sekali itu, Sin Wan!"
Kata Dewa Arak.
"Itu merupakan penyerahan yang mutlak atas kekuasaan Tuhan. Bagus sekali!"
"Siancai, semua agama mengajarkan kebenaran dan kebaikan, semua agama mengajarkan bahwa ADA SESUATU YANG MAHA KUASA, yaitu yang kita sebut Tuhan. Sekarang, setelah engkau mengerti, kami ingin mengajak engkau pulang ke rumahmu karena ada sebuah urusan penting yang akan kami bicarakan denganmu, Sin Wan."
Kata Pek-mau-sian Thio Ki. Sin Wan memandang kepada pertapa rambut putih itu.
"Lo-cianpwe tentu maksudkan benda-benda pusaka yang dicuri .... ayah tiriku dari gudang pusaka istana kaisar itu bukan?"
"Hemm, engkau memang anak yang cerdik,"
Kata Dewa Pedang dengan kagum.
"Memang benar, kami adalah utusan dari Sribaginda Kaisar untuk membawa kembali benda-benda pusaka yang dicuri Se Jit Kong itu."
"Sebentar Lo-cianpwe. Aku belum memberi penghormatan terakhir kepada ayah tiriku."
Sin Wan lalu berlari menuju ke makam Se Jit Kong yang berada di ujung yang berlawanan dari tanah kuburan itu, dan dengan sikap hormat dia memberi penghormatan di depan makam itu.
Tiga orang tosu mengikutinya dan memandang perbuatan Sin Wan itu dengan slnar mata yang kagum dan mereka mengangguk-angguk.
Setelah selesai, Sin Wan menghadapi mereka.
"Mari, sam-wi lo-cianpwe, akan kuserahkan peti terisi benda-benda pusaka itu kepada sam-wi."
Mereka berjalan meninggalkan tanah kuburan, dan karena tidak dapat menahan keinginan tahunya untuk mengenal isi hati Sin Wan, Dewa Arak lalu bertanya.
"Sin Wan, kenapa engkau tadi memberi hormat kepada makam Se Jit Kong? Bukankah dia telah membunuh ayah kandungmu dan juga telah menculik dan memaksa ibumu?"
Sambil melangkah Sin Wan menundukkan kepalanya dan menggelengnya, lalu menjawab.
"Aku harus menghormatinya karena aku teringat akan kebaikannya. Dia selalu baik kepadaku, dan kulihat dia baik pula kepada ibuku."
"Ha .. ha .. ha .. ha, engkau sama juga dengan yang lain, Sin Wan, menilai kebaikan dari keadaan lahir saja. Kebaikan macam itu palsu adanya."
"Ehh? Bagaimana lo-cianpwe mengatakan palsu? Aku yang merasakan sendiri dan memang dia amat baik kepada ibu dan aku. Dia lembut dan mentaati ibu, dia menyayangku dan mengajarku dengan sepenuh hati."
"Ha .. ha .. ha, tentu saja! Tentu saja dia baik kepadamu karena dia harus berbaik, kalau tidak, tentu ibumu tidak akan sudi menyerahkan diri kepadanya. Kebaikan macam itu datangnya dari nafsu, hanya merupakan akal-akalan saja karena kebaikan macam itu berpamrih. Itu bukan kebaikan namanya, melainkan cara yang licik untuk mendapatkan hasil sesuatu, ha .. ha .. ha!"
Baca Juga: Pusaka Pulau Es 3
Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 10