Ceritasilat Novel Online

Si Pedang Tumpul 2

Eps 2 Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo

Baca online Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo

Cersil Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo.

Biarpun masih kecil, Sin Wan sudah membaca banyak macam kitab, maka dia dapat mengerti apa yang menjadi inti ucapan Dewa Arak.

Dia menjadi semakin kagum kepada tiga orang tua itu dan dia ingin sekali dapat menjadi murid mereka.

Kalau dia berguru kepada mereka, dia dapat mempelajari banyak macam ilmu.

Bukan saja ilmu silat, akan tetapi juga lima pengetahuan tentang hidup.

Mereka melanjutkan perjalanan memasuki kota Yin-ning karena tanah kuburan itu berada di luar kota.

Matahari sudah condong rendah ke barat.

???

Ketika tiga orang pertapa dan Sin Wan tiba di pekarangan rumah itu, mereka terkejut melihat seorang di antara para pelayan mereka rebah di ruangan depan dalam keadaan terluka parah.

Sin Wan cepat berlutut dekat pelayan itu.

"Apa yang terjadi?"

Tanyanya dan Pek-mau-sian Thio Ki yang pandai ilmu pengobatan segera menolong pelayan itu.

"Celaka .... tuan muda .... lima orang datang dengan kereta, kami kira tamu ..... mereka menyerbu dan melarikan peti hitam."

"Itu peti benda-benda pusaka!"

Kata Sin Wan kaget.

"Mari kita kejar mereka !"

Kata Ciu-sian dan dia lalu menyambar tubuh Sin Wan dan berlari cepat seperti terbang saja.

Di antara mereka bertiga, memang Dewa Arak ini yang paling tinggi.tingkat ilmu gin-kang (meringankan tubuh) yang dimilikinya, maka dia yang memondong tubuh Sin Wan.

Dua orang tosu lainnya juga lari mengejar dan sebentar saja mereka sudah keluar dari kota Yin-ning mengikuti jejak kereta yang meninggalkan jalur rodanya di tanah yang agak basah.

Karena tiga orang itu melakukan perjalanan cepat sekali, mengerahkan ilmu berlari cepat mereka yang membuat tubuh mereka seperti terbang saja, maka tak lama kemudian mereka sudah dapat menyusul sebuah kereta yang berada tak jauh di depan, di luar sebuah hutan.

Agaknya kereta itu hendak memasuki hutan dan bersembunyi sambil melewatkan malam di tempat gelap itu.

Dapat dibayangkan betapa kaget hati lima orang yang berada di kereta ketika tiba-tiba mereka melihat tiga orang dan seorang anak laki-laki berdiri menghadang di depan kereta.

Seorang di antara mereka, yang menjadi kusir segera membentak dan mencambuki dua ekor kudanya.

Dua ekor kuda itu meringkik dan meloncat ke depan, menubruk ke arah Tiga Dewa dan Sin Wan!

Dewa Arak tertawa, menyambar tubuh Sin Wan dan dia sudah meloncat tinggi melewati kuda dan hinggap di atas kereta, sedangkan Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih menyambut dua ekor kuda itu dengan menangkap kendali di dekat mulut dan sekali tarik, dua ekor kuda itupun jatuh berlutut dengan kaki depan mereka dan tidak mampu berkutik lagi!

Lima sosok bayangan hitam berloncatan dari kereta itu dan ternyata mereka adalah lima orang berpakaian hitam yang rata-rata nampak kokoh dan menyeramkan, berusia antara empatpuluh tahun sampai limapuluh tahun.

Sebatang golok besar terselip di punggung mereka.

Dewa Arak meloncat turun lagi dan kini tiga oraag kakek itu berdiri menghadapi lima orang berpakaian hitam.

Sin Wan berdiri agak di belakang Sam Sian, memandang penuh perhatian kepada lima orang itu.

Seorang di antara mereka, yang kumisnya melintang sekepal sebelah, melangkah maju dan dengan sikap gagah dan suara menggeledek dia mengajukan pertanyaan sambil menudingkan dua jari tangan kiri ke arah tiga orang kakek.

"Siapa kalian, berani mati menghadang perjalanan kami Hek I Ngo-liong (Lima Naga Baju Hitam)?"

Ciu Sian Si Dewa Arak tertawa.

"Ha .. ha .. ha, banyak benar naga di jaman ini! Sekali muncul sampai ada lima ekor! Pada hal, di jaman dahulu, naga merupakan mahluk dewa, dipuja sebagai penguasa lautan dan penguasa hujan! Hek I Ngo-liong, nama kami tidak ada harganya untuk kalian ketahui. Yang penting kami harap kalian mempertahankan julukan naga sebagai mahluk sakti yang membantu pekerjaan Tuhan dan kembalikanlah peti yang kalian curi dari rumah Se Jit Kong!"

Lima orang itu otomatis menoleh ke arah kereta sehingga mudah diduga bahwa peti itu tentu disimpan di dalam kereta.

Si kumis melintang mengerutkan alisnya mendengar olok-olok kakek yang mukanya merah dan sikapnya seperti pemabukan itu.

"Agaknya kalian bertiga adalah orang-orang yang mengenal peraturan di dunia kangouw. Se Jit Kong mencuri pusaka, dan kami mencurinya dari dia. Semua itu menggunakan kekerasan. Dan kalian ingin minta begitu saja dari kami?"

"EH .. HEH .. HEH, gagahnya! Lalu apa yang harus kami lakukan untuk dapat menerima peti terisi pusaka-pusaka istana itu?"

Tanya pula Dewa Arak.

"Kalian harus dapat mengalahkan golok kami!"

Setelah berkata demikian, lima orang itu menggerakkan tangan kanan ke belakang.

"Sing-sing-sing-sing-sing "..!!"

Nampak lima sinar berkelebatan dan Hek I Ngo-liong telah mencabut golok besar mereka.

Golok di tangan mereka itu lebar dan putih berkilauan saking tajamnya, ujungnya melengkung ke belakang dan runcing, gagangnya dihias ronce-ronce kuning.

Dari gerakan mereka mencabut golok saja sudah dapat diketahui bahwa mereka berlima adalah ahli-ahli golok yang tangguh.

Kini lima orang itu berbaris setengah lingkaran menghadapi tiga orang kakek, tubuh agak direndahkan, kaki kiri di depan kaki kanan di belakang, lengan kiri lurus dengan jari telunjuk menuding ke arah lawan, golok di tangan kanan diangkat di belakang kepala dengan lengan melengkung dan golok itu lurus menunjuk ke arah lawan di depan pula.

Gagah sekali kuda-kuda mereka ini, dan melihat pasangan itu, Dewa Pedang mengangguk-angguk.

"Agaknya ini yang dikenal dengan sebutan Ngo-liong To-tin (Barisan Golok Lima Naga) itu, ya? Bagus, tentu cukup baik untuk pinto (aku) berlatih pedang!"

Tidak terdengar suara apa-apa, hanya ada kilat menyambar dan tahu-tahu Kiam-sian Louw Sun yang tinggi kurus itu, yang tadi tidak nampak membawa pedang kini telah memegang sebatang pedang yang tipis, pedang yang tali melilit pinggangnya.

Itulah Jit-kong-kiam (Pedang Sinar Matahari)!

Kakek ahli pedang ini bahkan tidak melepas jubahnya, tidak melepas capingnya yang menutupi kepala dan menyembunyikan mukanya.

Dewa Arak dan Dewa Rambut Putih juga sudah siap membantu Dewa Pedang, namun Kiam-sian Louw Sun berkata.

"Kalian berdua menjadi penonton sajalah. Aku ingin sekali berlatih dan kebetulan ada mereka yang menjadi teman berlatih baik sekali!"

Mengertilah Ciu-sian dan Pek-mau-sian bahwa rekan mereka ltu sedang ketagihan bermain pedang sehingga timbul kegembiraannya menghadapi Barisan Golok Lima Naga itu, untuk melatih dan menguji ilmu pedangnya tentu saja.

Maka, merekapun mundur ke belakang dan hanya menjadi penonton saja.

Sin Wan juga berdiri menonton dengan hati agak tegang.

Dia mulai melihat kenyataan betapa kehidupan orang-orang yang menjadi ahli silat selalu terisi penuh pertentangan.

Ayahnya sendiri selain dimusuhi orang dan kini tiga orang pendeta inipun demikian.

Dan kalau bentuk kehidupan sudah sedemikian rupa, agaknya orang harus mengandalkan kepandaian silatnya untuk dapat bertahan, untuk dapat menang, bahkan untuk dapat hidup lebih lama.

Dia mulai penasaran!

Dia teringat akan cerita ibunya.

Ayahnya, atau orang yang tadinya dianggapnya sebagai ayahnya, adalah seorang jahat.

Dan tiga orang pendeta ini adalah orang-orang yang baik.

Akan tetapi kenapa sama saja?

Baik ayahnya maupun tiga orang kakek ini, selalu dihadapi musuh yang setiap kali siap mengadu nyawa!

Tak dapat dia menahan perasaan penasaran di hatinya.

Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, dia tidak mempunyai kesempatan untuk melontarkan perasaan ini menjadi pertanyaan kepada mereka.

Hek I Ngo-liong menjadi marah sekali karena mereka merasa diremehkan.

Mereka adalah Hek I Ngo-liong yang sudah membuat nama besar di dunia kang-ouw (sungai telaga, daerah persilatan), sehingga orang-orang kangouw yang tidak memiliki tingkat yang tinggi jarang ada yang berani menentang mereka.

Akan tetapi sekarang laki-laki berpakaian pendeta ini, melarang kawan-kawannya untuk membantunya dan hendak menghadapi Barisan Golok Lima Naga mereka seorang diri saja!

Ini namanya penghinaan!

"Tosu sombong, engkau memang sudah bosan hidup!"

Bentak si kumis melintang dan dia mengelebatkan goloknya.

Gerakan ini merupakan isyarat atau aba-aba kepada empat orang rekannya dan merekapun bergerak secara aneh.

berputaran dan membentuk lingkaran mengepung Kiam-sian Louw Sun.

Setelah mengepung, mereka terus berlari mengitari Si Dewa Pedang, hanya berhenti untuk berganti posisi kedua tangan dan lari lagi.

Dewa Pedang yang berada di tengah-tengah, berdiri tegak lurus dengan kedua kaki terpentang dan ditekuk.

Dia membuat kuda-kuda yang disebut Menunggang kuda.

Kedua lengan, bersilang depan dada, pedang di tangan kanan, berada di luar dan pedangnya tegak lurus pula.

Dia tidak bergerak, hanya kedua matanya saja yang bergerak, melirik ke kanan kiri dengan tenang namun tak pernah berkedip mengikuti gerakan lima orang lawannya.

Tiba-tiba si kumis melintang mengeluarkan bentakan nyaring dan pada saat itu dia berada di belakang Dewa Pedang.

Bentakannya disusul menyambarnya golok besar di tangannya ke arah tengkuk Dewa Pedang.

"Syuuuuttt ""..!"

Namun, biarpun golok menyambar dari belakang ke arah tengkuk, tubuh belakang Kiam"sian Louw Sun seolah mempunyai mata.

Dengan tenang saja dia merendahkan tubuhnya sehingga golok menyambar lewat di atas kepalanya.

Pada detik berikutnya, seorang lawan dari kiri sudah membacokkan goloknya pula, kini golok itu menyambar dengan babatan ke arah kedua kakinya!

Dewa Pedang, dengan tubuh masih ditekuk rendah, melompat ke atas menghindarkan babatan pedang, hanya untuk menerima bacokan susulan dari kanan.

Dia menggerakkan pedang menangkis.

"Tranggg ""..!"

Bunga api berpijar. Dewa Pedang memutar tubuh, kini pedang yang menangkis tadi menggunakan tenaga pentalan tangkisan, melindungi tubuhnya dari dua serangan lain dari golok berikutnya secara beruntun.

"Singgg "".. trang-tranggg........!"

Lebih banyak lagi bunga api berpijar.

Kiranya barisan lima batang golok itu menggunakan jurus yang mereka namakan Lima mRajawali Mengepung Ular.

Sang lawan diibaratkan ular dan mereka mengepung lalu mengirim serangan bertubi-tubi dan beruntun secara teratur sekali.

Setiap serangan yang dihindarkan lawan, disusul serangan dari orang kedua, ketiga dan selanjutnya"

Sehingga lawan yang dikepung tidak diberi kesempatan sama sekali untuk membalas!

Kiam-sian Louw Sun adalah seorang tokoh dunia persilatan yang sudah kenyang dengan pengalaman.

Sebelum dia menjadi pertapa dan tidak pernah atau jarang lagi terjun di dunia persilatan, dia sudah menjadi petualang dan menghadapi lawan yang tangguh dengan bermacam ilmu yang aneh-aneh.

Oleh karena itu, dalam segebrakan saja, tahulah dia bahwa dia dalam keadaan yang berbahaya dan tidak menguntungkan.

Biarpun dia mampu melindungi dirinya dengan gulungan sinar pedangnya, namun lima orang lawannya bukan orang lemah dan mereka memegang golok yang tidak.

mudah dirusak oleh pedang pusakanya.

Kalau dia harus selalu mengelak dan menangkis, tanpa dapat membalas, berarti dia terdesak dan terancam bahaya.

Tiba-tiba Dewa Pedang mengeluarkan suara melengking tinggi, pedangnya lenyap berubah menjadi gulungan sinar yang menyilaukan mata, tubuhnya tertutup benteng sinar pedang sehingga lima orang lawannya sukar untuk menembus sinar pedang itu dan tubuhnya lalu meloncat ke atas, lalu berjungkir balik membuat salto sampai tujuh kali baru dia turun dan sudah berada di luar kepungan!

Dengan cara demikian, Dewa Pedang berhasil membuyarkan kepungan barisan golok itu.

Dia tidak mau dikepung lagi dan untuk mencegah hal ini terjadi, dia mendahului mereka dengan serangannya!

Karena pedangnya memang lihai bukan main, orang yang diserang menjadi terhuyung dan baru dapat terhindar dari ciuman ujung pedangnya kalau dibantu oleh satu doa orang rekan.

Begitu gagal menyerang, Dewa Pedang sudah membalik dan meloncat untuk menyerang pengeroyok lain!

Dengan demikian, lima orang itu sama sekali tidak sempat untuk melakukan pengepungan seperti tadi.

Barisan golok itu kembali membuat bentuk barisan lain atas isyarat si kumis melintang.

Mereka menggunakan siasat Dua Golok Tiga Perisai untuk menghadapi gerakan Dewa Pedang itu.

Mereka berkelompok dan setiap serangan Dewa Pedang, selalu dihadapi oleh tiga orang pengeroyok yang saling bantu untuk menghalau serangan pedang, seolah-olah tiga orang itu membentuk tiga perisai melindungi diri dan pada saat itu, dua orang pengeroyok lain sudah menyerang Dewa Pedang dari belakang atau kanan kiri!

Siasat ini akhirnya merepotkan Kiam-sian Louw Sun pula.

Serangan-serangannya selalu gagal karena dihadapi tiga orang sekali gus, sedangkan dua orang yang lain selalu membalas dengan cepat sehingga dia tidak mungkin dapat melanjutkan serangan tanpa membahayakan diri sendiri.

Sin Wan melihat betapa dua orang kakek lain kini malah duduk bersila dan menjadi penonton.

Sedikitpun tidak bergerak membantu kawan yang nampaknya terdesak dan terancam bahaya itu.

Hal ini membuat Sin Wan penasaran.

"Kenapa ji-wi lo-cianpwe (dua orang tua gagah) tidak cepat membantu lo-cianpwe yang terancam bahaya itu, malah enak-enak menonton dan tersenyum-senyum?"

Tegurnya sambil memandang kepada Dewa Arak yang kini bahkan meneguk arak dari guci sambil tersenyum senang seperti orang yang menikmati pertunjukan wayang di panggung saja!

"Heh ..

heh ..

heh.

Sin Wan, apa kau ingin melihat Dewa Pedang marah-marah kepada kami?

Kalau kami membantunya.

Dia akan menganggap itu suatu penghinaan dan dia bahkan akan menyambut bantuan kami dengan sambaran pedangnya yang lihai!

kata si Dewa Arak.

"Ah, kenapa begitu?"

Sin Wan bertanya, tak percaya. Dewa Rambut Putih yang kini berkata seperti orang bersajak.

"Seorang bijaksana memperhitungkan dengan matang sebelum bertindak. Seorang pendekar menaruh kehormatan lebih tinggi dari pada nyawa. Seorang gagah memegang janjinya sampai mati dan selamanya takkan menyesali perbuatannya!"

"Ha-ha. ha, dan si Dewa Pedang adalah seorang bijaksana dan seorang pendekar yang gagah!"

Dewa Arak menyambung.

Sin Wan mengerti, mengangguk kagum dan diapun memandang kembali ke arah pertandingan.

Dia kini mengerti bahwa ketika maju menghadapi lima orang itu, pertapa berpedang itu telah memperhitungkan bahwa dia akan mampu menandingi mereka, dan tindakannya melawan mereka itu merupakan suatu keputusan bahwa dia akan menghadapi segala akibatnya seperti sebuah janji yang takkan dijilatnya kembali dan tidak akan menyesal andaikata dia kalah dan tewas.

.Karena itu, kalau dia dibantu, dia tentu akan menjadi marah karena bantuan kawan-kawannya itu sama dengan merendahkan dia!

Begitu memandang ke arah pertandingan, Sin Wan menjadi kagum.

Kiranya kini pertapa itu sama sekali tidak terdesak lagi.

Gerakannya demikian cepatnya seperti seekor burung walet dan pedangnya menjadi gulungan sinar menyilaukan mata dan karena dia terus berloncatan ke sana sini, maka lima orang pengeroyoknya mendapatkan kesukaran untuk rnenyudutkannya.

Terpaksa merekapun mengejar ke sana sini dengan kacau dan tidak mempunyai kesempatan lagi untuk membentuk atau mengatur barisan.

Menghadapi seorang lawan seperti ini, mereka merasa seperti menghadapi lawan yang lebih banyak jumlahnya.

Memang benar seperti yang dikatakan Dewa Arak dan Dewa Rambut Putih tadi.

Sebelum menghadapi lima orang itu seorang diri saja, Kiam-sian Louw Sun memang sudah memperhitungkan bahwa dia akan mampu menandingi mereka.

Dari gerakan mereka ketika meloncat turun dari kereta, ketika mereka mencabut golok dan memasang barisan, dia sudah dapat mengukur sampai di mana kira-kira kekuatan mereka.

Kini, setelah dia berhasil keluar dari himpitan barisan golok, Dewa Pedang meloncat jauh ke kiri, ke lawan yang paling ujung dan begitu lawan ini menyambutnya dengan bacokan golok, dia menangkis sambil mengerahkan sin-kang (tenaga sakti) disalurkan lewat pedang sehingga ketika pedang bertemu golok, pedang itu seperti mengandung semberani yang amat kuat, menyedot dan menempel golok.

Si pemegang golok terkejut ketika tidak mampu melepaskan goloknya dari tempelan pedang dan pada saat itu, tangan Kiam-sian Louw Sun meluncur ke depan.

"Cratt ""."

Orang itu berteriak kesakitan, goloknya terlepas dan dia meloncat ke belakang, memegangi lengan kanan dengan tangan kiri karena lengan kanan yang tercium tangan kiri Kiam-sian tadi terluka dan berdarah seperti ditusuk pedang!

Ternyata dengan tangan kirinya si Dewa Pedang mempergunakan ilmu Kiam-ciang (Tangan Pedang) dan kalau dia menggunakan ilmu itu, tangan kirinya seperti pedang saja, dapat melukai lawan!

Empat orang pengeroyok lain maju serentak, namun Dewa Pedang sudah menghindarkan diri dengan gerakannya yang amat cepat, meloncat ke samping, lalu meloncat ke atas membuat salto tiga kali dan ketika tubuhnya melayang turun, dia sudah menyerang orang yang berada di paling ujung!

Bagaikan seekor garuda menerkam dari atas, pedangnya meluncur dan orang yang diserangnya cepat mengangkat golok menangkis.

Akan tetapi, pada saat golok bertemu pedang, orang itu berteriak dan roboh, pundaknya berdarah terkena tusukan tangan kiri Kiam-sian Louw Sun.

Berturut-turut Dewa Pedang melukai lima orang lawannya, bukan luka berat, akan tetapi cukup untuk membuat mereka jerih karena yang terluka adalah tangan, lengan atau pundak kanan mereka.

Mengertilah Hek I Ngo-liong bahwa mereka berhadapan dengan orang yang jauh lebih tinggi tingkat ilmunya.

Tentu saja mereka merasa kecewa dan menyesal bu.

tan main.

Peti terisi pusaka-pusaka istana telah terjatuh ke tangan mereka dengan mudah dapat mereka curi dari rumah Si Tangan Api selagi pemilik rumah tidak berada di rumah.

Mereka lari ketakutan, takut kalau sampai Iblis Tangan Api dapat menyusul mereka.

Kiranya bahkan tiga orang pertapa ini yang mengalahkan mereka dan yang akan merampas pusaka-pusaka itu.

Baru melawan seorang saja dari tiga pertapa itu, mereka tidak mampu menang.

Apa lagi kalau mereka bertiga itu maju semua!

Si kumis melintang mewakili teman-temannya, membungkuk ke arah tiga orang itu dan berkata.

"Kami Hek I Ngo-liong mengaku kalah. Harap sam-wi (anda bertiga) suka memperkenalkan nama agar kami tahu oleh siapa kami dikalahkan."

"Ho .. ho .. ho, kami tidak perlu memperkenal diri, tidak ingin dikenal. Hanya ketahuilah bahwa kami yang berhak atas pusaka-pusaka itu, maka kami melarang kalian mencurinya,"

Kata Dewa Arak.

"Lo-cianpwe (orang tua gagah), berlakulah adil antara sesama orang kang-ouw. Pusaka itu cukup banyak dan kami akan berterima kasih sekali kalau lo-cianpwe memberi kepada kami seorang sebuah saja."

"Hemm, tidak boleh, tidak boleh """

"Kalau begitu empat buah saja ".. atau tiga buah """

Melihat Dewa Arak masih menggeleng kepala, si kumis melintang menurunkan permintaannya.

"Sudahlah, dua buah saja, lo-cianpwe .... atau sebuah saja untuk kami berlima!"

Dewa arak menghentikan tawanya dan memandang dengan mata melotot.

"Kami adalah utusan Sribaginda Kaisar untuk mendapatkan kembali pusaka pusaka itu! Semestinya kalian kami tangkap dan kami seret ke kota raja agar dihukum. Sekarang kalian masih berani rewel minta bagian?"

Mendengar ucapan itu, Hek I Ngo-liong terkejut dan ketakutan. Tanpa banyak cakap lagi mereka mengambil golok masing-masing dan hendak berloncatan ke kereta mereka. Akan tetapi Dewa Arak berseru.

"Berhenti! Kami telah memaafkan kalian dan tidak menangkap kalian, dan untuk itu kalian harus dihukum sebagai penggantinya. Kereta dan kuda itu kami butuhkan. Nah, kalian pergilah......, eh, nanti dulu. Kami harus memeriksa dulu apakah pusaka itu masih lengkap!"

Dewa Arak lalu sekali berkelebat meloncat ke dalam kereta dari jarak yang cukup jauh sehingga mengejutkan lima orang itu.

Peti itu berada di dalam kereta dan setelah membuka tutup peti dan melihat bahwa isinya masih lengkap, dia menjenguk keluar.

"Kalian berlima boleh pergi sekarang dan sekali lagi bertemu dengan kami, tentu kalian akan kami tangkap dan seret ke kota raja agar dihukum."

Lima orang itu saling pandang, dalam batin menyumpah-nyumpah, akan tetapi karena maklum bahwa mereka tidak mampu berbuat sesuatu, merekapun segera lari meninggalkan tempat itu.

Sam Sian mengajak Sin Wan naik kereta rampasan itu lalu mereka kembali ke rumah anak itu.

Para pelayan yang terluka oleh Hek.

I Ngo-liong mendapat pengobatan dari Sam Sian.

Untung mereka tidak terluka parah dan setelah mendapat pengobatan, mereka tidak menderita lagi.

Sam Sian selalu membawa bekal obat-obat luka yang amat manjur.

Malam itu, Sam Sian mengajak Sin Wan bercakap-cakap di ruangan tamu.

Mereka merasa suka dan juga kasihan kepada anak itu yang kini sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini.

Ayah kandungnya telah lama tewas oleh Se Jit Kong, ibunya dan ayah tirinya juga tewas.

Tidak ada sanak kadang, tidak ada handai taulan, hidup sebatang kara di dunia dalam usia sepuluh tahun!

Mereka sudah sepakat untuk menolong anak itu.

"Sin Wan, besok kami akan pergi mengantar pusaka ke kota raja. Kami ingin sekali mengetahui, apa rencanamu sekarang?"

Tanya Pek-mau-sian Thio Ki dengan suara lembut.

Pertanyaan ini seperti menyeret Sin Wan kembali kepada kenyataan hidup yang pahit, menyadarkannya dari lamunan.

Sejak tadi dia.

memang sedang memikirkan keadaan dirinya.

Besok tiga orang kakek ini meninggalkannya, lalu apa yang harus dia lakukan?

Tetap tinggal di rumah besar peninggalan Se Jit Kong dengan segala harta kekayaaanya itu?

Bagaimana dia akan mampu mengurus rumah tangga seorang diri saja, mengepalai tujuh orang pelayan itu?

Dan dia tahu betapa di dunia ini lebih banyak terdapat orang jahat dari pada yang baik.

Pengalamannya dalam beberapa hari ini saja sudah membuka matanya betapa orang-orang yang kelihatannya baik, ternyata adalah orang yang amat jahat.

Seperti ayah tirinya itu!

Seperti Bu-tek Cap-sha-kwi, tigabelas orang yang mencoba untuk merampas pusaka, kemudian Hek I Ngo-liong.

Pertanyaan Dewa Rambut Putih itu justeru merupakan pertanyaan yang sejak tadi mengganggunya.

"Lo-cianpwe, saya ..... saya tidak tahu. Kalau sam-wi lo-cianpwe mengijinkan, saya ingin ikut saja dengan sam-wi (anda bertiga) ."

Tiga orang pertapa itu saling lirik.

"Kami bertiga hanyalah orang-orang yang tidak biasa berada di tempat ramai, kami hanya pertapa-pertapa Mau apa engkau ikut kami, Sin Wan?"

Dewa Arak memancing.

"Kalau sam-wi sudi menerima saya, saya akan bekerja sebagai apa saja, sebagai bujang, kacung atau apa saja. Sam-wi lo-cianpwe adalah orang-orang yang sakti, pandai dan budiman. Saya akan dapat memetik banyak pelajaran kalau menghambakan diri kepada sam-wi. Hanya sam-wi yang saya percaya di dunia ini "

Senang hati tiga orang kakek itu mendengar ucapan anak itu.

Seperti yang telah mereka duga, anak ini selain memiliki bakat yang baik untuk belajar silat juga mempunyai budi pekerti yang baik menurut didikan mendiang ibunya, sama sekali tidak mirip ayah tirinya, Iblis Tangan Api yang kejam dan jahat itu.

"Siancai ".!"

Kata Kiam-sian.

"Agaknya sudah dikehendaki Tuhan engkau berjodoh dengan kami, Sin Wan. Bagaimana kalau engkau ikut kami sebagai murid kami?"

Anak itu tertegun, matanya terbelalak, lalu wajahnya menjadi cerah gembira dan dengan gugup dan gemetar dia lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap tiga orang itu.

"Terima kasih kalau suhu bertiga sudi menerima teecu (murid) sebagai murid. Sebetulnya, tidak ada yang lebih teecu inginkan daripada menjadi murid sam-wi suhu (guru bertiga), akan tetapi teecu tentu saja tidak berani minta menjadi murid "

"Hemm, kenapa tidak berani, Sin Wan? Kukira engkau bukan seorang anak penakut!"

Cela Dewa Arak.

"Maaf, suhu, bagainanapun juga, sam-wi mengetahui bahwa teecu adalah anak tiri mendiang Se Jit Kong dan semenjak bayi teecu telah dididik olehnya. Teecu khawatir kalau sam-wi suhu menganggap teecu bukan anak yang terdidik baik-baik. Akan tetapi siapa kira, sam-wi suhu yang mengambil teecu sebagai murid. Terima kasih kepada Allah Yang Maha Kasih ....."

Tiga orang pertapa itu mengangguk-angguk.

Anak ini tidak berani minta dijadikan murid bukan karena merasa takut, melainkan karena merasa rendah diri sebagai putera seorang datuk besar yang kejam seperti iblis "Bangkit dan duduklah, Sin Wan.

Kalau engkau ikut dengan kami, lalu bagaimana dengan rumah dan harta peninggalan Se Jit Kong ini?"

Tanya si Dewa Arak.

"Teecu tidak menginginkan sedikitpun dari harta peninggalan Se Jit Kong. Ayah kandung teecu sendiri tidak meninggalkan apa-apa ketika tewas, demiklan pula ibuku. Teecu akan meninggalkan rumah dan seluruh harta ini kepada para pelayan. Teecu akan pergi mengikuti suhu bertiga tanpa membawa apa-apa kecuali pakaian teecu."

Kembali tiga orang pendeta itu saling pandang dan mereka menjadi semakin kagum.

Baru berusia sepuluh tahun akan tetapi Sin Wan tidak terikat oleh harta benda!

Ini membuktikan bahwa anak itu memiltki keberanian dan harga diri.

Anak seperti ini kelak kalau sudah dewasa tidak akan mudah dicengkeram dan dipermainkan nafsu yang timbul oleh daya benda yang amat kuat.

Harta benda yang mendorong sebagian besar manusia menjadi lupa diri, dan dalam pengejaran terhadap harta benda, manusia terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan jahat.

Mencuri, merampok, menipu dan lain macam perbuatan jahat lagi demi mengejar harta benda.

Harta benda pula yang membuat manusia yang memilikinya menjadi sombong, merasa berkuasa dan merendahkan orang lain.

"Bagus! Kalau begitu malam ini juga harus dilakukan penyerahan harta benda itu agar besok pagi kita dapat berangkat,"

Kata si Dewa Arak.

Tujuh orang pelayan itu lalu dipanggil dan dikumpulkan di ruangan tamu, juga kepala kampung yang mengepalai daerah tempat tinggal Se Jit Kong diundang menjadi saksi.

Di depan kepala kampung, Sin Wan menerangkan bahwa dia akan pergi merantau dan seluruh harta kekayaan yang berada di rumah itu, berikut rumahnya, dia berikan kepada tujuh orang pelayan.

Tentu saja semua orang merasa terkejut dan terheran, akan tetapi tujuh orang pelayan itupun menjadi gembira bukan main.

Mereka menjatuhkan diri berlutut di depan Sin Wan .dan berulang-ulang menghaturkan terima kasih mereka.

Biar dibagi tujuh sekalipun, mereka akan mendapat bagian yang akan membuat masing-masing pelayan menjadi orang yang kaya!

Juga kepala kampung terkejut dan terheran, akan tetapi ketika si Dewa Arak yang mewakili Sin Wan mengatur semua urusan itu mengatakan bahwa sebagai saksi dan pengawas agar pembagian dilakukan seadil-adilnya, kepala kampung mendapat pula upah yang cukup layak, kepala kampung menjadi gembira pula.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sin Wan dan tiga orang gurunya meninggalkan rumah Se Jit Kong di Yin-ning itu dengan kereta rampasan mereka.

Tujuh orang pelayan mengantarkan sampai di luar pintu gerbang, dan setelah kereta membalap di luar kota.

Sin Wan menghela napas panjang, seolah dia terlepas dari belenggu yang amat tidak menyenangkan hatinya.

Belenggu itu terasa olehnya, sejak dia mendengar keterangan ibunya bahwa Se Jit Kong bukan ayah kandungnya, bahkan pembunuh ayah kandungnya, dan bahwa ibunya menjadi isteri Se Jit Kong karena terpaksa untuk menyelamatkannya!

Sejak saat itu, rumah dan harta milik Se Jit Kong itu seperti sebuah penjara baginya, lantai rumah terasa seperti api membara, harta kekayaan itu seperti lintah-lintah bergayutan di tubuhnya.

Kini dia merasa bersih dan ringan, dan dia dapat memandang ke depan dengan wajah cerah penuh harapan.

Akan tetapi teringat akan penderitaan ibunya, kedua matanya menjadi basah dan cepat dia menghapus air matanya.

Ibunya sudah meninggal dunia, berarti sudah terbebas dari penderitaan hidup di dunia yang penuh kepalsuan.

Dia hanya dapat berdoa dengan diam-diam semoga Allah Maha Pengampun sudi mengampuni semua dosa ibunya.

Semua keindahan pemandangan alam yang terbentang luas disekelilingnya menghilangkan semua kenangan sedih tentang ibunya.

Baru sekarang Sin Win melakukan perjalanan jauh, melalui daerah yang sama sekali tidak dikenalnya.

Dan tiga orang pendeta itupun merupakan pencinta alam.

Setiap kali terdapat pemandangan yang amat indah, si Dewa Arak yang duduk di tempat kusir bersama Dewa Pedang, menghentikan kuda penarik kereta dan mereka berhenti, menikmatl keindahan alam.

Sin Wan memperhatikan mereka dan segera melihat perbedaan di antara mereka kalau menghadapi keindahan alam yang mempesona itu.

Dewa arak menikmati keindahan alam sambil meneguk araknya, Dewa Pedang melihat ke sekeliling seperti orang terpesona dan termenung, sedangkan Dewa Rambut Putih, kalau tidak meniup sulingnya tentu bersajak!

Belasan hari lewat tanpa ada gangguan diperjalanan dan pada suatu senja, kereta berhenti di puncak sebuah bukit.

Puncak itu datar dan dari tempat itu, pemandangan alam amatlah indahnya.

Apalagi mereka dapat melihat matahari senja mengundurkan diri di atas kaki langit di barat, hampir menyembunyikan diri di balik bayangan gunung-gunung.

Melihat matahari senja memang merupakan suatu pengalaman yang mempesonakan.

Langit di barat berwarna kemerahan, diseling warna perak, biru dan ungu, ada sebagian yang warnanya keemasan.

Matahari sendiri berwarna merah cerah namun tidak menyilaukan, seperti tersenyum memberi ucapan selamat berpisah, seperti hendak mengucapkan selamat tidur.

Matahari menjadi bola merah yang besar, perlahan namun pasti makin menyelam ke balik bukit-bukit.

Angin senja semilir menggoyang pucuk-pucuk ranting pohon, membuat pohon itu seperti kekasih"kekasih yang ditinggal orang yang dicintanya dan melambai-lambai mengucapkan selamat jalan untuk bersua kembali esok hari.

Burung-burung terbang melayang, berkelompok sambil mengeluarkan bunyi hiruk-pikuk, sekelompok mahluk yang setelah sehari rajin bekerja.

kini pulang ke sarang mereka yang hangat, atau berlindung di ranting-ranting pohon berselimutkan daun-daun yang melindungi.

Tanpa diperintah lagi, setelah mendapat pengalaman selama beberapa hari dan tahu apa yang harus dilakukannya, Sin Wan mencari kayu dan daun kering dan menumpuknya di atas tanah, tak jauh dari kereta.

Dia harus mengumpulkan cukup banyak kayu bakar untuk membuat api unggun malam ini.

Kalau mereka tidur di tempat terbuka, harus ada api unggun yang selalu dapat memberi penerangan, juga dapat mengusir nyamuk dan binatang lain.

Dapat pula mengusir hawa dingin yang dibawa angin malam.

Tiga orang pendeta itupun turun dari kereta, duduk bersila untuk memulihkan tenaga setelah kelelahan melakukan perjalanan dengan kereta sehari penuh.

Sin Wan mengambil sebuah buntalan yang berisi bekal makanan dan minuman yang dibeli tiga orang suhunya di dusun yang mereka lewati siang tadi.

Tanpa banyak bicara, mereka lalu makan malam di dekat api unggun yang sudah dibuat oleh Sin Wan.

Tiga orang kakek itu makin suka kepada murid mereka.

Biarpun sejak kecil hidup sebagai putera orang kaya raya, ternyata Sin Wan tidak manja, tidak cengeng, berani menghadapi kesukaran dan rajin, tidak canggung melakukan pekerjaan kasar.

Setelah makan malam, mereka duduk dekat api unggun dan Dewa Arak berkata kepada Sin Wan.

"Sin Wan, sekarang engkau sudah menjadi murid kami. Kami ingin melihat apa saja yang pernah kaupelajari dari Iblis Tangan Api. Nah, cobalah engkau mainkan ilmu-ilmu silat yang pernah kaupelajari darinya."

Sin Wan mengerutkan alisnya.

Sebetulnya dia tidak suka memainkan ilmu-ilmu yang pernah dipelajarinya dari pembunuh ayahnya.

Akan tetapi, untuk membantah perintah gurunya dia tidak berani.Melihat keraguan anak itu, dan kerut di alisnya, Kiam-sian bertanya.

"Kenapa, Si Wan? Engkau kelihatan tidak suka memainkan ilmu yang pernah kaupelajari dari Se Jit Kong?"

"Maaf, suhu, Se Jit Kong adalah seorang datuk sesat yang amat kejam dan jahat. Teecu ingin melupakan saja semua yang pernah teecu pelajari darinya karena kalau orangnya jahat, ilmunya pasti juga jahat."

"Siancai, engkau tidak boleh berpendapat seperti itu, Sin Wan. Ilmu adalah ilmu pengetahuan dan merupakan alat bagi manusia dalam kehidupannya. Ilmu, seperti alat-alat hidup yang lain, tidak ada sangkut pautnya dengan sifat jahat atau baik. Jahat atau baiknya ilmu, seperti jahat atau baiknya alat, tergantung dari pada orang yang menggunakannya. Kalau orang itu berniat jahat, segala macam alat apa saja, ilmu apa saja, dapat dia pergunakan untuk berbuat jahat, Yang jahat bukan ilmunya, melainkan orangnya! Andaikata di waktu hidupnya Se Jit Kong mempergunakan semua ilmunya untuk menentang kejahatan, membela kebenaran dan keadilan, apakah engkau akan mengatakan bahwa ilmu-ilmunya jahat?"

Mendengar ucapan Kiam-sian ini, Sin Wan segera menjadi sadar dan diapun memberi hormat kepada Dewa Pedang itu.

"Maafkan teecu, suhu, Pandangan teecu tadi memang keliru dan picik. Baiklah, teecu akan memainkan semua ilmu silat yang pernah teecu pelajari dari Se Jit Kong."

Anak itu lalu bersilat, diterangi sinar api unggun, dan ditonton ketiga orang gurunya.

Se Jit Kong memang seorang datuk besar yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Sejak Sin Wan berusia empat tahun, anak itu telah digemblengnya.

Bahkan tubuh anak itu telah dibikin kuat dengan obat-obat gosok maupun minum.

Sejak berusia enam tahun, Sin Wan sudah diajar melakukan siulian (semadhi) dan latihan pernapasan untuk menghimpun teraga sakti.

Tidak mengherankan ketika berusia sepuluh tahun.

Sin Wan telah menjadi seorang anak yang cukup lihai, yang tidak akan dapat dikalahkan oleh orang dewasa biasa, betapapun kuatnya orang itu.

Sin Wan tidak hendak menyembunyikan sesuatu.

Dia bersilat sepenuh hatinya, memainkan semua ilmu yang pernah dipelajarinya, bahkan mengerahkan tenaga sin-kang seperti yang pernah diajarkan Se Jit Kong kepadanya.

Dan perlahan-lahan, dari kedua tangan anak itu mengepul uap panas!

Tiga orang pertapa itu mengangguk-angguk.

Dalam usia sepuluh tahun, Sin Wan telah dapat mencapai tingkat seperti itu.

Sungguh hebat, walaupun dia belum sepenuhnya menguasai ilmu Tangan Api, namun kedua tangannya telah mengepulkan uap panas, dan pukulan-pukulannya mengandung hawa panas.

Setelah anak itu selesai bersilat dan mengatur kembali pernapasannya yang agak terengah, Kiam-sian bertanya.

"Pernahkah diajari ilmu pedang?"

Sin Wan mengangguk dan Dewa Pedang menggerakkan tangan kirinya ke arah pohon yang berada di dekat rnereka.

Diam-diam dia mengerahkan Kiam-ciang (Tangan Pedang), ilmu pukulan yang mengandung sin-kang amat kuat, dan terdengar suara gaduh ketika dua batang cabang pohon itu runtuh.

Dia mengambil dua batang cabang itu, membersihkan daunnya dan menyerahkan sebatang kepada muridnya.

"Nah, pergunakan pedang ini dan serang aku!"

Katanya dan diapun memegang kayu cabang yang kedua.

"Baik, suhu."

Kata Sin Wan dan anak ini lalu memutar-mutar kayu itu bagaikan sebatang pedang, dan mulai melakukan serangan-serangan dengan sepenuh hati kepada gurunya.

Sambil mengamati gerakan muridnya, Kiam-sian menangkis dan balas menyerang.

Dengan cara mengajak muridnya bertanding seperti ini, lebih mudah baginya untuk mengukur dalamnya ilmu yangng telah dimiliki muridnya, dari pada kalau hanya melihat anak itu bersilat pedang seorang diri saja.

Setelah semua jurus dimainkan habis dan Sin Wan meloncat ke belakang menghentikan serangannya, Kiam-sian mengangguk-angguk.

"Duduklah kembali, Sin Wan."

Sin Wan duduk bersila lagi menghadapi api unggun. Tiba-tiba Dewa Arak telah berada di belakangnya, juga duduk bersila dan gurunya ini berkata sambil tersenyum.

"Sin Wan, coba kau kerahkan seluruh tenaga sin-kang yang pernah kau latih."

Setelah berkata demikian, tangan kirinya ditempelkan di pundak, tangan kanan melingkari perut dan menempel di pusar.

Sin Wan tidak membantah.

Dia mengangkat kedua tangannya ke atas, dengan telapak tangan tengadah.

Gerakan ini oleh mendiang Se Jit Kong dinamakan "Menyambut Api Dari Langit".

Kedua tangan yang tengadah itu menggetar kemudian perlahan-lahan turun ke bawah, kini kedua telapak tangan menempel dengan tanah.

Ini yang dinamakan "Menyedot Api Dari Bumi".

Dia menghimpun tenaga seperti yang diajarkan Se Jit Kong, merasakan betapa ada hawa panas memasuki pusarnya, berputaran dan seperti yang biasa dilatihnya, dia mencoba untuk menguasai hawa yang berputaran itu agar dapat dia salurkan ke arah kedua lengannya.

Akan tetapi, tiba-tiba ada hawa sejuk masuk ke dalam pusar, dan ketika tenaga panas yang disalurkan ke lengan tiba di pundak, hawa itu terhenti dan kembali ke pusar.

"Cukup, hentikan latihanmu,"

Terdengar suara lembut dan baru dia teringat bahwa Dewa Arak bersila di belakangnya.

"Siancai, murid kita ini telah mewarisi ilmu-ilmu yang sifatnya ganas. Akan tetapi, jangan dilupakan begitu saja ilmu-ilmu itu, Sin Wan. Engkau berhak menguasainya, dan kalau pandai mempergunakannya untuk berbuat kebaikan, maka ilmu-ilmu itu akan hilang keganasannya dan berubah menjadi ilmu yang amat bermanfaat bagimu,"

Kata Dewa Rambut Putih.

"Teecu akan mentaati semua nasihat dan petunjuk suhu bertiga,"

Jawab Sin Wan dengan kesungguhan hati.

Malam itu mereka beristirahat dan pada keesokan harinya, ketika mereka hendak melanjutkan perjalanan.

Sin Wan minta ijin tiga orang gurunya untuk mencari sumber air atau anak sungai untuk mandi.

Tiga orang pertapa itu tersenyum dan Dewa Arak berkata sambil tertawa.

"Ha .. ha .. ha, kami sudah biasa bertapa tanpa mandi tanpa makan tanpa tidur sampai berbulan, maka pagi hari ini kamipun tidak membutuhkan air. Akan tetapi engkau terbiasa mandi setiap hari dan kemarin engkau sudah mengeluh karena sehari tidak mandi. Pergilah, kurasa di sebelah kiri sana ada anak sungai yang airnya cukup jernih, Sin Wan."

Pemuda kecil itu berterima kasih, membawa ganti pakaian dan lari ke kiri.

Benar saja, tak lama kemudian, dia melihat sebuah anak sungai yang airnya cukup jernih karena seperti anak sungai di pegunungan, dasar sungai terdapat banyak pasir dan batunya sehingga airnya tersaring jernih.

Dengan girang Sin Wan menanggalkan pakaiannya, menaruhnya di tepi anak sungai bersama pakaian bersih yang dibawanya tadi, kemudian dengan bertelanjang bulat Sin Wan memasuki sungai kecil yang airnya jernih itu.

Airnya sejuk segar dan Sin Wan memilih bagian yang dalamnya mencapai dadanya, mandi dengan gembira.

Tubuhnya terasa nyaman bukan main ketika berendam di air itu.

Dia menggunakan sebuah batu halus untuk menggosok-gosok kulit tubuhnya dan membersihkan debu-debu yang menempel.

Dia tidak melihat atau mendengar betapa dua orang lain yang juga sedang mandi tak jauh dari tempat dia mandi akan tetapi tidak nampak dari situ karena berada di balik belokan sungai, menjadi marah sekali ketika mendengar ada orang turun ke sungai dan mandi di hulu tak jauh dari mereka.

Perbuatan itu dengan sendirinya mengotorkan air yang mengalir ke arah mereka.

Dengan bersungut-sungut, keduanya naik ke tepi sungai dan cepat mereka mengeringkan tubuh dan mengenakan pakaian.

Mereka itu adalah dua orang wanita, yang seorang berusia sekitar tigapuluh tahun akan tetapi masih nampak seperti gadis duapuluh tahun saja, cantik jelita dan anggun akan tetapi sinar matanya keras dan tajam, dan seorang anak perempuan yang usianya kurang lebih baru sembilan tahun akan tetapi sudah kelihatan cantik manis!

"Subo (ibu guru), mari kita lihat siapa orangnya.

Dia harus dihajar!"

Kata anak perempuan itu dengan wajah bersungut-sungut.

Wajah yang manis itu kulitnya kemerahan karena digosok-gosoknya ketika mandi tadi dan ia memang seorang anak perempuan yang manis.

Rambutnya hitam dan gemuk sekali, dibiarkan panjang sampai ke punggung dan diikat pita merah.

Wajahnya yang bentuknya bulat itu memiliki mata yang seperti sepasang bintang, hidungnya mancung dan mulutnya kecil, dagunya meruncing.

Wanita cantik itu tersenyum dan nampak lesung di kedua pipinya melekuk manja.

Yang paling mempesona pada diri wanita ini adalah mulutnya.

Mulut itu berbentuk demikian indah, dengan bibir yang merah membasah, penuh dan seperti gendewa terpentang, kalau tersenyum nampak kilatan gigi yang berderet putih seperti mutiara, kalau bicara kadang nampak rongga mulut yang merah dan ujung lidah yang jambon.

Bibir yang bawah dapat bergerak-gerak hidup, penuh gairah dan memiliki daya pikat yang kuat sekali.

"Li Li, jangan terburu nafsu. Kita lihat dulu apakah sikapnya buruk. Dia mandi di sana disengaja ataukah tidak. Kalau sikapnya buruk, baru kita hajar dia!"

Dan di dalam suaranya yang merdu itu tersembunyi ancaman yang akan membuat orang yang mendengarnya menjadi ngeri.

Wanita itu memang cantik sekali.

Rambutnya yang halus dan hitam panjang digelung seperti model rambut seorang puteri bangsawan dan dihias dengan tusuk sanggul emas permata berbentuk burung Hong dan bunga teratai.

Ketika mandi tadi, walaupun ia hanya mengenakan pakaian dalam, ia membenamkan dirinya sampai ke leher dan menjaga agar rambutnya tidak sampai basah, tidak seperti anak perempuan yang mencuci rambutnya.

Kini setelah berpakaian, wanita itu makin nampak seperti wanita bangsawan.

Pakaiannya serba indah dan mewah.

Lehernya memakai kalung dan kedua lengannya dihias gelang emas.

Alisnya melengkung hitam di atas sepasang mata yang bersinar tajam dan Kadang amat keras sehingga nampak galak.

Hidungnya juga mancung dan manis, namun daya tarik yang paling memikat adalah mulutnya.

Di dahinya nampak anak rambut halus berjuntai ke bawah, dan di depan telinga terdapat untaian rambut yang melengkung indah.

"Mari kita ke sana, subo!"

Anak perempuan itu nampak tergesa karena ia sudah marah sekali, merasa mandinya terganggu orang.

Ia juga mengenakan pakaian yang terbuat dari sutera mahal, walaupun bentuknya sederhana, tidak ada kesan mewah seperti pakaian wanita cantik yang disebutnya subo.

Anak ini hanya memakai sepasang gelang batu giok (kumala) sebagai perhiasannya.

Guru dan murid itu lalu mengitari semak-semak belukar di belokan sungai dan tak lama kemudian mereka melihat Sin Wan yang sedang mandi.

Anak laki-laki itu dengan gembiranya membenamkan kepalanya ke air berulang kali.

"Kiranya hanya seorang bocah. Tentu dia anak nakal sekali,"

Anak perempuan yang disebut Li Li tadi mengomel.

"Dia harus diberi hukuman atas kelancangannya yang sudah mengganggu kita."

Dengan gerakan yang cepat sekali ia meloncat ke arah tumpukan pakaian Sin Wan.

la menyambar tumpukan dua stel pakaian kotor dan bersih itu, meninggalkan sebuah celana pendek saja dan meloncat kembali ke belakang semak-semak di mana subonya menunggu.

Biarpun gerakan anak perempuan itu cepat sekali, bagaikan seekor kelinci, namun Sin Wan masih dapat melihat bayangan orang berkelebat.

Dia menengok dan melihat bayangan itu lenyap ke balik semak belukar.

Akan tetapi yang membuat dia terkejut, ketika dia menengok ke arah tumpukan pakaiannya, tumpukan itu telah lenyap, hanya tinggal sepotong baju atau celana di sana.

"Heiiiii "".!"

Dia berteriak dan hendak keluar dari sungai itu. Akan tetapi dia ingat bahwa dia bertelanjang bulat, maka dia meragu, lalu kembali dia berteriak.

"Heii, siapapun yang berada di daratan! Aku akan keluar dari sungai dalam keadaan telanjang bulat. Kembalikan pakaianku!"

Akan tetapi tidak terdengar suara dari balik semak, juga tidak ada gerakan apapun.

Tentu pencuri pakaian itu telah melarikan diri jauh-jauh, pikir Sin Wan.

Dia lalu melompat ke atas daratan, dan menyambar celana dalamnya yang masih tertinggal di tempat tumpukan yang lenyap tadi.

Dipakainya celana dalam itu, sebuah celana yang hanya menutup dari pinggang sampat ke paha, dan larilah dia ke belakang semak untuk mengejar orang yang mencuri pakaiannya.

Dan dia hampir saja menabrak seorang wanita cantik dan seorang anak perempuan manis yang berdiri di belakang semak belukar itu.

"Eh, maaf!"

Kata Sin Wan dan cepat dia melempar diri ke kanan sehingga bergulingan akan tetapi dia tidak sampai menabrak orang.

Ketika dia bangkit berdiri lagi, dia melihat bahwa pakaiannya masih dipegang oleh anak perempuan yang manis itu, yang kini berdiri di situ memandang kepadanya dengan senyum mengejek dan pandang mata penuh kemarahan.

Guru dan murid itupun memandang kepadanya.

Kalau anak perempuan itu memandang dengan senyum geli dan mengejek, wanita itu wajahnya berubah kemerahan dan ia membuang muka sambil berkata ketus.

"Anak laki-laki tak tahu malu!"

Sin Wan merasa penasaran.

Tentu saja dia pun merasa canggung dan malu harus berdiri dalam keadaan tiga perempat telanjang di depan dua orang wanita yang tidak dikenalnya ini.

Akan tetapi, yang membuat dia hampir telanjang itu adalah anak perempuan ini!

Bukan dia yang tidak tahu malu atau kurang ajar, melainkan anak perempuan itu yang telah mencuri pakaiannya selagi dia mandi.

Biarpun dia menjadi marah dan ingin memaki, ingin menampar anak perempuan itu, namun pendidikan mendiang ibunya membuat dia mampu menahan diri.

Dia menekan perasaannya yang marah dan penasaran, lalu membungkuk depan anak perempuan itu dan berkata.

"Nona, harap dikembalikan pakaianku itu!"

Katanya, biarpun kata-katanya dan sikapnya sopan, namun suaranya keras mengandung kemarahan yang tertahan. Akan tetapi, anak perempuan itu membelalakan matanya.

"Apa kaubilang? Engkau tidak cepat berlutut minta ampun atas kesalahanmu. malah menuntut dikembalikanya pakaianmu? Hemm, engkau memang anak yang kurang ajar, nakal dan tak tahu diri!"

Sikap dan ucapan anak perempuan itu bagaikan minyak bakar yang disiramkan kepada api bernyala.

Sin Wan marah bukan main.

Dia malah dimaki-maki oleh anak yang mencuri pakaiannya!

Aturan apa macam ini?

"Nona sungguh tak tahu diri!"

Katanya, biarpun marah masih menjaga kata-katanya.

"Nona telah mencuri pakaianku, sedangkan selama hidupku, aku tidak pernah bertemu denganmu, tak pernah mengganggumu. Dan sekarang dengan hormat aku minta dikembalikan pakaianku yang nona curi, nona malah memaki-maki aku!"

"Siapa bilang engkau tidak mengganggu kami? Guruku dan aku sedang enak-enak mandi di situ,"

Ia menuding ke sebelah hilir.

"dan engkau mengotori air dengan mandi di sebelah atas! Setan kurang ajar, sepatutnya engkau dihajar. Akan tetapi cukup engkau minta maaf kepada kami dan kehilangan pakaian ini!"

Anak perempuan itu lalu merobek-robek semua pakaian Sin Wan yang berada di tangannya!

Saking marahnya, Sin Wan sampai tidak menyadari bahwa sungguh merupakan hal yang luar biasa sekali bagi seorang anak perempuan dapat merobek-robek pakaiannya seolah-olah pakaian itu terbuat dari pada kertas saja!

Dia terlalu marah untuk ingat akan hal itu.

"Engkau sungguh tidak tahu aturan!"

Bentaknya.

"Andaikata benar tuduhanmu tadi bahwa aku mandi di sebelah hulu dan membuat air menjadi keruh, hal itu kulakukan tanpa kusadari. Aku sama sekali tidak tahu bahwa ada orang mandi di hilir. Dan engkau kini malah merobek-robek pakaianku. Sungguh engkau kurang ajar. Kalau tidak ingat engkau ini anak perempuan, tentu hemmm """"

Anak perempuan itu melangkah, maju sampai berdiri dekat sekali di depan Sin Wan, hanya dalam jarak kurang dari satu meter.

"Hemmm apa? Hemmm apa? Hayo katakan, mau apa kau?"

"Kalau bukan anak perempuan. tentu kupukul kau agar tahu aturan!"

Sin Wan terpaksa melanjutkan ancamannya karena diapun merasa penasaran dan marah sekali. Selama hidupnya belum pernah dia melihat seorang anak perempuan senakal dan segalak ini!"

"Apa? Kamu? Mau memukul aku? Pukullah "., hayo pukullah ".!"

Anak perempuan itu maju lagi sehingga dadanya membentur dada Sin Wan dan kedua tangannya bertolak pinggang, sikapnya menantang sekali.

"Aku bukan pengecut yang suka memukul anak perempuan cengengl"

Sin Wan menghardik. Anak perempuan itu menjadi semakin marah. Kedua matanya yang lebar itu terbelalak, hidungnya mendengus-dengus seperti seekor kuda marah.

"Kau bilang aku cengeng? Setan iblis jahanam keparat kamu, ya? Hayo pukul, kalau kau tidak mau pukul, aku yang akan memukulmu!"

Akan tetapi Sin Wan tidak perduli lagi dan melangkah mundur untuk pergi saja dari situ, tidak mau melayani anak perempuan yang galaknya melebih ayam bertelur itu.

Melihat dia tidak mau memukul dan malah mundur, anak perempuan itu makin marah.

"Kau tidak mau pukul, kaulihat pukulanku ini "."

Dan iapun menerjang maju dan tangannya memukul ke arah dada Sin Wan, juga kakinya bergerak menyambar dari pinggir, menyapu kedua kaki Sin Wan.

Tadinya Sin Wan menganggap bahwa pukulan seorang anak perempuan tentu tidak ada artinya.

Apa lagi dia kebal dan tubuhnya sudah terlatih.

Dia bahkan ingin diam-diam membuat anak perempuan itu menderita karena kegalakannya dan dia mengeraskan dadanya yang terpukul untuk menyambut pukulan dan membuat tangan yang memukul itu kesakitan.

"Dukk ".. bressss ""!"

Sin Wan terpelanting dan terjengkang!

Terpelanting karena kedua kakinya disapu dari pinggir oleh sebuah kaki kecil yang amat kuat, dan pukulan pada dadanya membuat dia terjengkang!

Pukulan itu ternyata mengandung tenaga yang kuat sekali dan biarpun dia tidak terluka dan juga tidak menderita nyeri terlalu hebat, namun dia terjengkang sampai terguling-guling!

Dia meloncat bangkit kembali dan melihat betapa orang yang dipukulnya tidak menderita apa-apa, bahkan mampu bangkit dengan cepat, anak perernpuan itu merasa penasaran dan meloncat memberi serangan yang lebih hebat lagi.

Gerakannya cepat dan kedua tangannya mengandung tenaga sehingga tiap kali digerakkan, terdengar suara angin.

Tahulah Sin Wan bahwa dia berhadapan dengan seorang anak perempuan yang sama sekali tidak lemah, bahkan pandai ilmu silat dan memiliki tenaga yang kuat.

Maka, begitu melihat anak perempuan itu menerjangnya, diapun cepat mengelak dan menangkis.

Tangkisannya yang disertai tenaga membuat lengan anak perempuan itu terpental dan hal ini membuatnya semakin galak dan ganas lagi.

Serangan datang bertubi-tubi, bahkan kini kakinya juga menyambar-nyambar.

Sin Wan sama sekali tidak ingin membalas, karena dia tetap berpendapat bahwa amat memalukan bagi seorang anak laki-laki untuk memukul perempuan.

Biarpun dia terdesak, dia hanya menangkis dan mengelak saja.

Akan tetapi, anak perempuan itu ternyata bukan hanya mengerti sedikit ilmu silat.

Sama sekali tidak!

Bahkan andaikata dia sungguh-sungguh melawan dan membalas, belum tentu dia akan mampu mendapatkan kemenangan dengan mudah!

Anak ini telah mendapat gemblengan dari seorang yang sakti, mungkin seperti mendiang Se Jit Kong saktinya!

"Desss """

Kembali dia terjengkang ketika sebuah tendangan yang tak disangka-sangka memasuki pertahanannya dan menghantam perut yang untung dapat dia keraskan sehingga tidak terluka.

Ketika dia meloncat bangkit kembali, dia melihat anak perempuan itu membuat gerakan dengan kedua tangan, mirip gerakan menghimpun sin-kang seperti yang pernah dilatihnya, yaitu "Menyambut Api Dari Langit", akan tetapi ketika turun, lanjutannya berbeda.

Kedua tangan anak itu melengkung ke kanan kiri, kemudian ketika kedua tangan itu membuat gerakan mendorong terdengar suara yang seperti ular mendesis.

Kedua tangan itu seperti kepala dua ekor ular menghantam ke arah dadanya.

Sin Wan cepat mengumpulkan tenaga sin-kang dari pusarnya dan menyambut pukulan yang dia tahu merupakan pukulan berbahaya itu dengan kedua tangannya sendirl.

"Desss ......!!"

Kini tubuh anak perempuan itu yang terpental dan terhuyung, bahkan ia tentu akan roboh kalau saja lengannya tidak disambar oleh wanita cantik yang menjadi gurunya.

"Kau tidak apa-apa?"

Wanita cantik itu bertanya sambil meraba dada muridnya. Ailsnya berkerut ketika ia merasakan ada suatu ketidakwajaran pada muridnya.

"Subo, tangannya panas sekali "".!"

Kata anak perempuan itu yang segera duduk bersila dan mengatur pernapasan.

Wanita itu memandang kepada Sin wan dan melihat betapa kedua tangan anak laki-laki itu masih mengeluarkan uap tipis.

Sekali tubuhnya bergerak, wanita itu sudah meloncat dan berada di depan Sin Wan, membuat anak ini terkejut sekali.

Gerakan wanita itu seperti menghilang saja!

"Katakan, apa hubunganmu dengan Iblis Tangan Api?"

Wanita itu kini membentak, suaranya tetap halus namun mendesis seperti ular, dan dingin seperti salju, dan ketika Sin Wan memandang, sepasang mata itu mencorong seperti mata naga dalam dongeng.

"Tidak ada hubungan apa-apa,"

Jawabnya singkat dan dia memutar tubuh hendak pergi dari tempat itu.

"Tunggu! Engkau tidak boleh pergi begitu saja setelah memukul muridku."

Sin Wan menghadapi wanita itu dengan penasaran.

"Bibi, aku sama sekali tidak memukulnya."

"Hemm, coba kaupukul aku seperti-gerakanmu tadi."

"Sungguh, aku tidak memukulnya, aku hanya menangkis pukulannya!"

Sin Wan memrotes.

"Kalau begitu, kau tangkis pukulanku ini!"

Wanita itu lalu menggerakkan kedua tangan, cepat sekali, seperti yang dilakukan muridnya tadi, ke arah dada Sin Wan.

Terpaksa, untuk menjaga diri, Sin Wan menyambut dengan dorongan kedua tangannya seperti tadi.

"Desss ....... !!"

Kini tubuh Sin Wan yang terjengkang, bahkan terbanting keras dan dia merasa betapa dadanya sesak dan sukar bernapas.

Ketika dia bangkit duduk, dia muntahkan darah segar dan merasa betapa dadanya nyeri.

Dengan terhuyung Sin Wan bangkit berdiri memandang kepada wanita itu dan bertanya.

"Bibi, kenapa engkau memukulku ? Apakah engkau akan membunuhku?"

Pertanyaan itu mengandung keheranan dan penasaran, sama sekali tidak membayangkan perasaan takut sedikitpun.

"Aku belum membunuhmu agar engkau dapat memberitahu kepada Se Jit Kong bahwa aku akan membunuhnya!"

Mendengar bahwa wanita ini musuh Se Jit Kong, berkurang rasa tak senang dalam hati Sin Wan.

"Bibi siapakah?"

"Katakan saja bahwa Bi-coa Sian-li (Dewi Ular Cantik) yang memukulmu!"

Sin Wan lalu membalikkan tubuhnya dan terhuyung-huyung pergi dari tempat itu dalam keadaan hampir telanjang, hanya memakai celana dalam yang pendek.

Tentu saja tiga orang kakek itu terkejut dan heran melihat murid mereka kembali ke situ dalam keadaan hampir telanjang, bahkan terluka dalam sehingga mukanya pucat dan bibirnya berlepotan darah.

"Siancai ...... apa yang terjadi padamu?"

Tanya Dewa Pedang, sedangkan Dewa Arak tanpa bicara lagi segera memeriksa tubuh muridnya.

Melihat betapa muridnya terluka dalam karena guncangan tenaga sin-kang yang kuat, dia lalu menyuruh muridnya duduk bersila, dan diapun bersila di depannya dan menempelkan telapak tangan kirinya ke dada muridnya, Sementara itu, Pek-mau-sian si Dewa Rambut Putih membantu dengan beberapa kali totokan dan tekanan pada punggung dan kedua pundak Sin Wan.

Dalam waktu singkat saja kesehatan Sin Wan pulih kembali.

"Nah, sekarang ceritakan pengalamanmu,"

Kata Dewa Pedang. Sin Wan menarik napas panjang dan memakai pakaian yang diambilkan oleh Dewa Rambut Putih, kemudian menjawab.

"Teecu sendiri masih merasa bingung dan heran, suhu. Ketika teecu mandi di anak sungai, ada seorang anak perempuan mencuri pakaian teecu, hanya meninggalkan sebuah celana pendek. Teecu naik ke darat, mengenakan celana pendek dan mengejar anak perempuan yang mencuri pakaian itu. Kiranya ia seorang anak perempuan berusia sembilan tahun yang nakal dan lihai. Ia merobek-robek pakaian teecu dan menuduh teecu mengotorkan air karena mereka tadi mandi di sebelah hilir. Teecu tidak melihat mereka karena terhalang belokan sungai. Anak itu kemudian menantang. Teecu tidak melayani, akan tetapi ia menyerang bertubi-tubi sampai beberapa kali teecu jatuh. Ketika ia menyerang dengan pukulan yang mengandung sin-kang, teecu terpaksa menangkis dan iapun terhuyung. Lalu gurunya memukul teecu ........"

"Hemm, sungguh sewenang-wenang memukul anak kecil. Siapa gurunya itu?"

Tanya Dewa Arak dengan alis berkerut.

"Akulah yang memukulnya. Kalian mau apa?"

Mendengar suara merdu itu, tiga orang pertapa segera memutar tubuh dan memandang.

Mereka tertegun, sama sekali tidak mengira bahwa guru anak perempuan seperti yang diceritakan Sin Wan tadi adalah seorang gadis cantik yang nampaknya baru berusia duapuluh tahun walaupun sikapnya menunjukkan bahwa ia jauh lebih tua dari pada nampaknya.

Seorang gadis yang berpakaian mewah seperti wanita bangsawan.

"Siancai ....! nona, kenapa engkau memukul seorang anak kecil yang tidak berdosa?"

Dewa Arak berseru.

"Pertama, karena ia mengotori air tempat kami mandi. Kedua, karena dia telah membuat muridku terhuyung hampir jatub. Ketiga, karena dia mempunyai ilmu pukulan Tangan Api! Di mana Se Jit Kong? Apakah kalian anak buahnya? Suruh dia keluar untuk menerlma kematian!"

Wanita itu berkata dengan suara galak. Tiga orang pertapa itu saling pandang, Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih tersenyum, akan tetapi Dewa Arak tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha, sungguh engkau memandang remeh kepada kami kalau menganggap kami anak buah Se Jit Kong! Anak ini memang pernah belajar ilmu dari Se Jit Kong, akan tetapi sekarang dia menjadi murid kami dan Se Jlt Kong telah meninggal dunia!"

Wanita cantik itu mengerutkan sepasang alisnya yang melengkung panjang dan hitam itu.

"Mati? Dia sudah mampus? Hemm ........ akan sia-sia sajakah perjalananku ini?"

Tiba-tiba terdengar suara anak perempuan yang nyaring.

"Subo, pusaka-pusaka itu berada di dalam peti, di kereta ini!"

Semua orang menoleh ke arah kereta! Sebuah kepala terjulur keluar dari tirai kereta, kepala anak perempuan yang dipanggil Li Li.

"Ihhh! Kiranya kalian telah membunuhnya dan merampas pusaka-pusaka istana? Kalau begitu, serahkan nyawa dan pusaka!"

"Heiii, nona! Ketahuilah bahwa kami adalah utusan kaisar dan kami akan membawa kembali pusaka itu ke istana di kota raja!"

Dewa Arak berteriak.

"Pusaka dan nyawa kalian harus diserahkan!"

Wanita itu membentak dan tiba-tiba ia sudah bergerak maju, jari tangannya meluncur dengan membentuk kepala ular menotok ke arah leher Dewa Arak.

"Haiii .... ah, sungguh berbahaya dan galak!"

Dewa Arak melempar tubuh ke belakang ketika melihat datangnya serangan yang amat berbahaya itu.

Dari gerakan tangan itu saja dia tahu bahwa lawannya ini, biarpun masih muda, namun ganas dan lihai sekali.

Benar dugaannya, begitu dia melempar tubuh ke belakang, wanita itu sudah menerjangnya lagi dengan serangan susulan.

Gerakan kedua lengannya seperti dua ekor ular yang menyambar-nyambar, menimbulkan suara bercuitan, dan diam-diam Dewa Pedang terkejut karena dia mengenal ilmu pukulan yang tidak kalah dahsyatnya dibandingkan ilmu pukulan Kiam-ciang (Tangan Pedang) yang dikuasainya.

Dewa Arak juga tahu akan hal ini, diapun kini mengerahkan tenaga dan kelincahannya untuk menghadapi desakan itu dan balas menyerang.

Wanita itupun kelihatan terkejut melihat betapa lawannya tidak seperti yang disangkanya semula.

Lawannya memiliki gerakan yang amat lincah biarpun perutnya gendut, dan ketika menangkis, ia mendapat kenyataan bahwa orang itupun memiliki sin"kang yang kuat!

Melihat dua orang lain berdiri di pinggir, ia lalu mendapat akal.

Ia harus merobohkan mereka yang paling lemah lebih dahulu karena kalau mereka itu keburu mengeroyoknya, mungkin ia akan kewalahan!

Tiba-tiba saja tubuhnya menyambar ke kiri.

ke arah Dewa Rambut Putih, dan begitu ia menggerakkan tangan kiri, tujuh batang jarum secara bertubi-tubi menyambar ke arah tiga orang kakek itu, dan yang dijadikan sasaran adalah dada dan tenggorokan, tempat-tempat yang paling lemah!

"Siancai ....!"

Dewa Rambut Putih berseru dan seperti dua orang rekannya, diapun berhasil mengebut jarum-jarum itu sehingga runtuh.

Kembali wanita itu terkejut.

Serangan jarumnya dapat diruntuhkan dengan mudahnya oleh tiga orang kakek itu!

"Mampuslah!"

Ia menubruk ke kiri, menyerang Dewa Rambut Putih dengan dahsyatnya, mulutnya mendesis dan kedua tangan yang membentuk kepala ular itu kini terbuka dan mencengkeram, seperti ular-ular yang menggigit, sedangkan kuku-kuku jari tangannya berubah menghijau!

"Hemmm, sungguh ganas ........!"

Dewa Rambut Putih melompat ke belakang menghindar, kemudian kipas di tangan kirinya mengebut.

Angin keras menyambar ke arah wanita itu yang menjadi gelagapan dan terkejut karena ia mendapat kenyataan betapa kakek rambut putih ini tidak kalah lihainya dibandingkan kakek perut gendut.

"Wirrr ..........!"

Tiba-tiba saja tangannya merenggut ke kepalanya sendiri dan semua tusuk sanggul telah direnggut dan dimasukkan saku, rambutnya yang panjang sampai ke pinggul itu terlepas dan begitu ia menggerakkan kepala, gumpalan rambut hitam yang harum dan panjang menyambar ke arah Si Dewa Rambut Putih.

"Hebat .......!"

Kembali Pek-mau-sian Thio Ki berseru dan kebutan kipasnya ternyata tidak mampu menangkis rambut yang terus meluncur ke arah lehernya!

Terpaksa dia melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik lima kali baru berhasli terhindar dari sergapan rambut panjang.

Wanita itu marah bukan main.

Wajahnya yang cantik berubah kemerahan, matanya mencorong, mulutnya mendesis-desis dan dengan rambut riap-riapan, biarpun ia masih amat cantik, namun ada sesuatu yang menyeramkan karena ia seperti berubah menjadi iblis yang cantik, atau siluman ular yang cantik namun berbahaya sekali.

Ia memang marah karena begitu tangan kanannya bergerak, ia telah mencabut sebatang pedang dari balik bajunya.

Pedang itupun aneh gagang dan pedangnya menjadi satu, gagangnya merupakan ekor ular yang melingkar tebal, ujung pedangnya berbentuk kepala seekor ular yang menjulurkan lidahnya.

Lidah itu yang amat runcing, dan sisik-sisik ular itu tajam.

Sebatang pedang mirip ular!

Dengan pedang aneh ini ia menyerang ke arah Kiam-sian!

Si Dewa Pedang tentu saja maklum akan kelihaian lawan.

Diapun sudah mencabut pedang Jit-kong-kiam (Pedang Sinar Matahari) dan menangkis sambaran pedang ular.

"Cringgg .......!!"

Nampak banyak bunga api berpijar dan berhamburan.

Keduanya terkejut dan memeriksa pedang masing-masing.

Kiranya kedua pedang itu sama kuatnya dan tidak menjadi rusak.

Wanita itu menjadi semakin penasaran.

Tadinya ia mengira bahwa di dunia ini tidak ada atau jarang sekali terdapat orang yang akan mampu menandinginya, maka dengan penuh keyakinan diri ia memastikan bahwa Iblis Tangan Api pasti akan tewas ditangannya, dan pusaka istana akan terjatuh ke tangannya.

Akan tetapi, siapa sangka, kini bertemu dengan tiga orang pendeta ini, ia tidak mampu mengalahkan seorang saja di antara mereka walaupun ia sudah mencoba menyerang dengan ilmu pukulan beracun yang ampuh, jarum-jarum beracun, rambutnya, dan bahkan pedangnya!

Ia lalu mengamuk dengan pedang dan rambutnya dan sepak terjangnya memang menggiriskan sekali.

Kalau bukan Sam Sian yang diamuknya, tentu sudah jatuh korban di antara mereka.

Tiga orang pendeta itu membela diri dan sengaja tidak mau merobohkan wanita itu, apa lagi membunuh atau melukainya.

Sementara itu, ketika melihat betapa anak perempuan yang nakal dan galak itu sudah berada di kereta, agaknya ketika subonya muncul tadi, kesempatan itu dipergunakan oleh si anak perempuan untuk menyusup ke atas kereta, cepat lari menghampiri kereta.

"Engkau pencuri kecil! Engkau hendak mencuri apa lagi di situ? Hayo cepat turun atau ......"

"Atau apa, hah?"

Anak perempuan itu kini membuka tirai dan berdiri di dalam kereta sambil bertolak pinggang dan memandang galak.

"Atau apa? Mau apa kamu kalau aku tidak mau turun?"

Sin Wan memandang gemas.

Sesabar-sabar orang tentu ada batasnya.

Anak ini keterlaluan sekali.

Akan tetapi, Sin Wan masih teringat bahwa dia adalah seorang anak laki-laki.

Tidak pantas seorang anak laki-laki menyerang dan memukul anak perempuan.

Bagaimana sikapnya andaikata anak itu adiknya yang nakal?

"Akan kuseret kau turun dari kereta dan kupukul pinggulmu lima kali biar kau tahu rasa!"

Sin Wan mengancam, menganggap anak perempuan itu adik sendiri yang perlu dihajar.

Hal ini menolong meredakan kemarahannya, karena kalau dia tidak menganggap anak perempuan itu adik sendiri, tentu akan timbul kemarahan yang melahirkan kebencian.

Akan tetapi jawaban itu bahkan membuat si anak perempuan membelalakkan mata saking kaget dan marahnya.

"Apa .....? Kamu ..... kamu ......, kurang ajar, berani hendak menyeretku dan memukuli pinggulku? Engkau agaknya sudah bosan hidup, ya?"

Teriaknya dan iapun meloncat turun, bukan sembarang meloncat, melainkan meloncat sambil menerkam seperti seekor burung garuda yang menyerang seekor domba!

Sin Wan mengelak dan ketika tubuh anak itu lewat, dia mencoba untuk menangkap lengan anak itu.

Dia berhasil menangkap lengan kiri anak itu dengan tangan kanannya dan selagi dia hendak meringkusnya, tiba-tiba anak itu membalik tangan kanan yang membentuk kepala ular meluncur ke arah matanya dan lengan yang dipegangnya tadi, licin bagaikan ular, sudah dapat melepaskan diri dan mencengkeram ke arah lehernya!

Sungguh merupakan serangan yang amat hebat, biarpun dilakukan dua tangan anak perempuan!

"Ihh, kau ular kecil!"

Sin Wan memaki sambil meloncat ke belakang. Gerakan kedua lengan anak itu mengingatkan dia akan gerakan ular. Dimaki ular kecil, anak perempuan itu semakin marah.

"Kuhajar kau, kubunuh kau!"

Dan ia lalu mengamuk, menyerang bertubi-tubi dan saking marahnya, serangannya banyak ngawur dan tidak menurut gerakan silat lagi, melainkan gerakan seorang perempuan yang marah, mencakar, mencengkeram, menampar dan menjambak!

Menghadapi anak perempuan yang mengamuk itu, Sin Wan menjadi kewalahan bahkan pipi kirinya sudah kena dicakar kuku jari tangan anak itu sehingga lecet dan berdarah!

Namun akhirnya dia dapat menangkap kedua pergelangan tangan anak itu.

Anak itu meronta, kemudian menggigit lengan Sin Wan.

"Aduh!"

Sin Wan merenggut lengannya lepas dan kulit lengannya juga lecet berdarah.

"Kau anak liar!"

Bentaknya dan berhasil menelikung kedua lengan anak itu ke belakang.

Ditariknya anak itu mendekati kereta.

Dia lalu duduk di anak tangga kereta dan memaksa anak perempuan itu menelungkup melintang di atas pahanya, kemudian, dengan tangan kanan memegang kedua pergelangan tangan anak itu sehingga tidak mampu bergerak lagi, dia menggunakan telapak tangan kirinya untuk menampari pinggul yang menonjol ke atas itu.

"Engkau mencakar dan menggigit, hukumannya kutambah menjadi sepuluh kali pukulan!"

Dan tangan Sin Wan menampari pinggul anak perempuan itu, berulang-ulang.

"Plak .. plak .. plak .......!"

Anak perempuan itu menjerit-jerit, bukan karena sakit pada pantatnya, melainkan sakit pada hatinya. Ia merasa dihina bukan main oleh anak laki-laki itu.

"Plak .. plak .. plak ......"

Setelah sepuluh kali, baru Sin Wan menghentikan tamparannya. Telapak tangannya terasa panas setelah sepuluh kali menampar itu.

"Subo ..... tolong .....!"

Anak perempuan itu menjerit-jerit dan menangis! "Hemm, engkau bersalah, pantas dihukum, kenapa menangis?"

Sin Wan melepaskan anak itu dan memandang dengan hati mulai merasa kasihan.

Bagaimanapun galaknya, ia hanya seorang anak perempuan kecil.

Dia mulai merasa malu atas perbuatannya sendiri, akan tetapi ketika melihat lengan dan pipinya berdarah, penyesalannya menghilang dan dia bahkan merasa geli melihat anak itu menggunakan kedua tangan mengusap-usap pinggulnya yang ditampari tadi.

Anak perempuan itu menoleh kepada subonya untuk minta bantuan.

Akan tetapi, ia tertegun melihat subonya terlempar dan jatuh terjengkang!

Wanita itu bangkit, maklum bahwa ia tidak akan menang melawan mereka bertiga, lalu mengebut-ngebutkan pakaiannya yang kotor, kedua tangan mulai menyanggul rambutnya yang awut-awutan, tiada hentinya memandang kepada tiga orang itu dan bertanya.

"Siapakah kalian bertiga?"

Suaranya tetap merdu akan tetapi mengandung kemarahan tertahan. Dewa Arak mewakili rekan-rekannya berkata.

"Hemmm, kepandaianmu hebat sekali, nona, akan tetapi sayang, engkau sungguh ganas dan kejam! Kami adalah tiga orang tua yang tidak suka mencari permusuhan. Aku Si Tukang Mabuk, dia ini Si Tukang Pedang dan yang itu Si Rambut Putih!"

Mereka bertiga tidak pernah menganggap diri mereka sebagai dewa seperti yang dikatakan orang-orang kang-ouw untuk menghormati mereka, walaupun kadang-kadang untuk mengejek mereka saling menyebut dewa!

Wanita itu terbelalak.

Kini ia telah selesai menyanggul rambutnya, walaupun masih kasar dan kacau kusut.

"Aih, kiranya aku berhadapan dengan Huang-ho Sam Sian (Tiga Dewa Sungai Kuning)? Baiklah Sam Sian, sekali ini aku mengaku kalah. Akan tetapi akan tiba saatnya aku mencari kalian untuk menebus kekalahan ini!"

"Hei, kamu! Siapa namamu agar kelak aku membalas penghinaan ini!"

Anak perempuan itupun bertanya kepada Sin Wan.

"Aku tidak punya nama,"

Jawab Sin Wan yang tidak ingin anak itu mengingat namanya sebagai musuh dan kelak mencarinya seperti yang dikatakan wanita itu terhadap ketiga orang gurunya.

"Kau tidak bernama? Kau kerbau sapi kuda babi anjing kucing ......! Yang mana di antara itu namamu?"

Anak perempuan yang galak itu memaki saking marahnya.

"Semua itu namaku,"

Jawab Sin Wan sambil tersenyum.

"Kau jahat .......!"

Anak perempuan itu mengepal tinju dan hendak menyerang lagi.

"Li Li, mari kita pergi!"

Kata gurunya, dan wanita cantik itu berkelebat, menyambar lengan muridnya dan iapun lari sepertl terbang cepatnya meninggalkan tempat itu.

"Siancai ..... seorang gadis yang amat berbahaya!"

Kata Pek-mau-sian Thio Ki.

"Benar, ilmu pedangnyapun hebat. Kelak ia pasti akan merupakan lawan yang amat sukar dikalahkan,"

Sambung Kiam-sian Louw Sun.

"Sayang, kita tidak tahu siapa wanita itu,"

Kata pula Ciu-sian Tong Kui.

"Suhu, teecu tahu siapa namanya .....!"

Sin Wan menghampiri tiga orang gurunya, akan tetapi pada saat itu terdengar suara ringkik kuda dan dua ekor kuda di depan kereta itu roboh!

Tiga orang pendeta itu cepat meloncat ke dekat kereta, untuk menjaga agar peti pusaka tidak diambii orang, dan mereka masih melihat berkelebatnya bayangan wanita tadi yang kini melarikan diri amat cepatnya.

Mereka memeriksa dan dua kuda itu sudah mati.

Leher mereka ditembusi pisau kecil yang beracun, tepat mengenai jalan darah besar sehingga racun cepat membunuh dua ekor binatang itu.

"Hemm, ia membunuh kuda kita,"

Kata Dewa Arak.

"Pinto tahu maksudnya. Tentu ia bermaksud agar perjalanan kita ke kota raja membawa pusaka"pusaka itu menjadi lambat,"

Sambung Dewa Pedang.

"Siancai ......!"

Benar sekali.

Ini berarti bahwa wanita ganas itu masih ingin mencoba untuk merampas pusaka.

Ia lihai, kalau ia membawa teman"teman yang banyak, bisa berbahaya.

Kita harus mencari jalan agar dapat menyelamatkan pusaka-pusaka ini.

Kalau sampai terjatuh ke tangan golongan sesat, akan sukarlah merampasnya kembali,"

Kata Dewa Rambut Putih.

"Aku tahu jalannya!"

Dewa Arak berseru sambil tersenyum gembira.

"Tidak jauh dari sini terdapat benteng pasukan penjaga keamanan tapal batas. Kalau kita datang ke sana dan memperlihatkan tek-pai (bambu tanda kuasa) tentu komandan pasukan itu akan suka memberi pasukan untuk mengawal keamanan pusaka untuk dikirim kembali ke kota raja."

"Itu bagus sekali!"

Kata Kiam-sian.

"Kalau begitu, mari kita cepat bawa pusaka itu ke sana!"

Mereka lalu membuka peti pusaka, mengambil isinya dan membagi belasan buah benda pusaka itu menjadi tiga bagian, menyimpan dalam bungkusan masing-masing dan menggendongnya di punggung.

"Kau tadi mengatakan bahwa engkau mengetahui nama wanita itu. Siapakah namanya, Sin Wan?"

Tanya Dewa Rambut Putih.

"Ketika ia memukul teecu, ia mengatakan bahwa ia tidak membunuh teecu agar teecu dapat memberitahu Se Jit Kong bahwa wanita itu yang bernama Bi-coa Sian-li akan membunuh Se Jit Kong!"

"Bi-coa Sian-li (Dewi Ular Cantik)?"

Dewa Arak berkata sambil tertegun.

"Belum pernah aku mendengar julukan itu. Akan tetapi melihat kelihaiannya, mungkin sekali masih ada hubungannya dengan See-thian Coa-ong (Raja Ular Daerah Barat)!"

"Siancai ......"

Dewa Pedang berseru.

"Raja Ular itu memang memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Akan tetapi dia bukanlah golongan sesat, bukan orang jahat walaupun dia merupakan datuk yang memiliki watak luar biasa."

"Wanita tadipun belum tentu jahat walaupun ia ganas dan kejam. Buktinya, ia mencari Se Jit Kong untuk dibunuhnya. Siapa yang memusuhi Se Jit Kong, agaknya tidak dapat digolongkan sesat."

Tiga orang kakek itu lalu melakukan perjalanan cepat.

Bahkan Sin Wan digendong bergantian oleh mereka agar perjalanan dapat dilakukan secepat mungkin.

Hal ini dilakukan agar mereka dapat segera tiba di benteng pasukan penjaga keamanan, sebelum tiba serangan dari orang-orang yang hendak merampas pusaka istana.

Perhitungan mereka memang tepat.

Setelah dilakukan perjalanan sehari penuh, pada sore harinya mereka tiba di benteng itu.

Dan komandan benteng menyambut mereka dengan penuh kehormatan ketika tiga orang itu mem perlihatkan tek-pai dan memberi keterangan bahwa mereka adalah utusan kaisar untuk mencari dan merampas kembali pusaka yang hilang dari gudang pusaka istana.

Setelah bermalam satu malam di benteng itu, pada keesokan harinya, mereka berangkat melanjutkan perjalanan.

Akan tetapi sekali ini, perjalanan dilakukan dengan kereta dan dikawal oleh seratus orang perajurit!

Tentu saja orang-orang golongan sesat yang tadinya hendak menghadang dan merampas pusaka, menjadi mundur teratur melihat pengawalan yang ketat itu.

Menghadapi Sam Sian saja adalah merupakan usaha yang berbahaya dan berat, apa lagi ditambah pasukan seratus orang perajurit!

Andaikata mereka memberanikan diri menyerbu pasukan itu, mereka akan dicap pemberontak dan selanjutnya kehidupan mereka tidak akan aman lagi, menjadi orang-orang buruan atau musuh pemerintah!

Tiga orang pertapa itu bersama Sin Wan merasa tenang dan mereka dapat tiba di Nan-king, kota raja yang baru dari Dinasti Beng-tiauw dengan selamat.

Pada waktu itu, yang manjadi kaisar dari Kerajaan Beng adalah Kaisar Thai-cu, yaitu kaisar pertama atau pendiri dari Dinasti Beng-tiauw.

Pendiri Kerajaan Beng (Terang) ini berasal dari keluarga petani.

Dia dilahirkan dalam tahun 1328 di dusun yang terletak antara Sungai Huai dan Sungai Kuning, di daerah pertanian, dari keluarga petani biasa.

Ketika dia berusia enam tahun, di dusun tempat tinggalnya berjangkit wabah yang membunuh banyak keluarga para petani di dusun itu.

Keluarga anak yang kini menjadi Kaisar Thai-cu, dan yang dulu bernama Chu Goan Ciang ini pun terbasmi habis.

Ayah ibunya, saudara-saudaranya, mati semua oleh wabah.

Hanya tinggal Chu Goan Ciang seorang diri yang tinggal.

Dia menjadi seorang anak berusia enam tahun yang yatim piatu dan hidup sebatang kara!

Riwayat kaisar pertama Dinasti Beng ini ketika masih kecilnya memang amat menarik, hidupnya selain miskin juga penuh dengan kesengsaraan!

Setelah hidup seorang diri, sebatang kara, dia lalu bekerja sebagai penggembala kerbau.

Kemudian dia bahkan mengikuti seorang hwesio tua ke kuil dan menjadi seorang hwesio kecil berkepala gundul.

Bertahun-tahun dia mempelajari ilmu bun dan bu (sastera dan silat) di kuil itu, berguru kepada para hwesio (pendeta Buddha) sehingga dia menjadi pandai, bukan saja bertubuh kuat dan pandai ilmu silat, bersemangat, juga pandai dalam hal ilmu membaca dan menulis.

Namun, kehidupan sebagai pendeta di kuil tidak memuaskan hatlnya.

Dia meninggalkan kuil, hidup terlunta-lunta dan dalam usia belasan tahun itu, dia bahkan pernah mengikuti seorang pengemis sakti, hidup sebagai seorang pengemis!

Akhirnya, karena kegagahan dan kepandaiannya, karena bakatnya menjadi pemimpin, setelah bertualang di dunia kang-ouw, dia berhasil diangkat menjadi seorang beng-cu (pemimpin rakyat).

Dia telah menjadi dewasa, berpengalaman dan berpengetahuan luas, sudah lenyap sama sekali bekas-bekas kehidupan petani di pedesaan.

Dia memperkuat kedudukannya, memperkuat para pengikut yang dihimpunnya menjadi pasukan, melatihnya dan dalam usia duapuluh delapan tahun, dia sudah demikian kuatnya dan memperoleh dukungan dari rakyat jelata, dari golongan rendah sampai menengah, memberontak terhadap kekuasaan Kerajaan Mongol yang telah menjajah Cina selama hampir seratus tahun.

Dia memimpin pasukan rakyatnya menyerbu dan menguasai Nan-king yang kemudian menjadi pusat kekuasaannya, bahkan kemudian menjadi kotarajanya.

Dan dalam tahun 1368, dalam usia empatpuluh tahun, dia telah berhasil menguasai seluruh wilayah kekuasaan Mongol di daratan Cina.

Dia lalu mendirikan dinasti baru, yaitu Dinasti Beng dan dia menjadi kaisar pertamanya yang bernama Kaisar Thai-cu.

Semenjak itu, Kaisar Thai-cu terus mengadakan pembersihan, mengirim pasukan di bawah pimpinan Jenderal Su Ta, yaitu seorang panglima yang menjadi tangan kanannya, jauh ke utara dan barat untuk mengejar sisa-sisa pasukan Mongol dan bahkan membakar kotaraja Karakorum, kota raja lama yang dulu menjadi pusat kekuasaan pendiri Kerajaan Mongol, yaitu Jenghis Khan.

KETIKA Sam Sian dan Sin Wan diperkenankan menghadap kaisar untuk menyerahkan pusaka-pusaka yang berhasil ditemukan kembali oleh Tiga Dewa itu, Kaisar Thai-cu telah tujuh tahun menjadi kaisar (1375).

Tentu saja Kaisar Thai-cu gembira bukan main ketika menerima Sam Sian dan melihat betapa semua pusaka yang dicuri maling itu telah dapat ditemukan kembali.

Kaisar yang sebelum menjadi kaisar sudah banyak bertualangan di dunia kang-ouw ini tahu benar bahwa mengandalkan pasukan saja, akan sulit untuk dapat menemukan kembali pusaka-pusaka yang hilang.

Oleh karena itulah maka dia mengutus Sam Sian untuk mencari dan membawa kembali pusaka-pusaka itu.

Ular Saking gembiranya Kaisar Thai-cu menawarkan kedudukan kepada mereka bertiga.

Ketika Sam Sian menolaknya dengan halus, Kaisar Thai-cu yang sudah mengenal watak-watak para tokoh dan datuk persilatan, tidak menjadi marah.

"Kalau begitu, kalian pilih sebuah di antara pusaka-pusaka yang dapat ditemukan kembali ini. Pilihlah sebuah yang paling disukai, dan kami hadiahkan pusaka itu kepada kalian."

Karena seorang demi seorang yang ditawari, Dewa Arak berkata.

"Hamba tidak membutuhkan pusaka, karena kesukaan hamba hanyalah minum arak."

Kaisar Thai-cu tertawa dan dia lalu mengutus seorang petugas untuk mengambilkan sebuah guci arak yang merupakan benda pusaka pula karena guci itu terbuat dari semacam batu kumala yang berkhasiat.

Bukan saja arak yang disimpan dalam guci itu akan menjadi semakin lezat, juga kalau ada racun terkandung dalam minuman atau makanan, begitu dimasukan ke dalam guci yang warnanya putih kebiruan itu akan menjadi hitam!

Tentu saja Dewa Arak merasa gembira sekali menerima guci arak yang ada gantungannya itu, apalagi guci itu diisi arak yang paling tua di istana.

Dia cepat menghaturkan terima kasih.

Ketika tiba giliran Dewa Rambut Putih, dia memberi hormat.

"Hamba juga tidak membutuhkan pusaka, karena kesukaan hamba hanyalah membaca kitab dan meniup suling membuat sajak."

Kaisar Thai-cu mengangguk-angguk senang dan memandang kagum.

Lalu dia mengutus petugas lain untuk mengambilkan sebuah kitab kumpulan huruf-huruf (semacam kamus) dan sebuah suling yang terbuat dari perak dan mempunyai suara yang amat nyaring dan merdu.

Mendapatkan hadiah yang baginya lebih bernilai dari pada segala macam pusaka.

Dewa Rambut Putih menghaturkan terima kasih dengan hati gembira.

Tinggal Dewa Pedang yang ditawari memilih sebuah di antara pusaka yang ditemukan kembali.

Bagi seorang ahli pedang seperti Kiam-sian, tentu saja ia mengincar pedang yang dianggapnya paling hebat di antara pusaka-pusaka itu, yaitu Gin-kong-kiam (Pedang Sinar Perak) yang pernah dipergunakan mendiang Se Jit Kong melawan pedangnya, yaitu Jit-kong-kiam dan ternyata pedang pusaka kerajaan itu tidak kalah ampuhnya dibandingkan pedangnya sendiri.

Akan tetapi, dia teringat akan Sin Wan.

Pernah Sin Wan bercerita kepadanya tentang Pedang Tumpul, yaitu pedang buruk yang pernah dilihat anak itu dan bahkan Se Jit Kong pernah menceritakan riwayat pedang itu kepada Sin Wan.

Sin Wan mengatakan kepadanya bahwa anak itu amat suka dengan Pedang Tumpul.

Ketika ditanya mengapa menyukai pedang tumpul yang tentu kurang bermanfaat sebagai pedang, anak itu membantah.

"Suhu, teecu sudah bersumpah kepada ibu bahwa teecu tidak akan menjadi jahat dan kejam seperti mendiang Se Jit Kong. Bahkan teecu di depan makam ibu bersumpah tidak akan melakukan pembunuhan. Pedang tumpul itu cocok sekali untuk teecu. Karena tidak tajam, dan tidak runcing, maka pedang itu tidak berbahaya bagi nyawa lawan, akan tetapi cukup baik untuk dipakai membela diri. Apa lagi menurut mendiang Se Jit Kong, pedang itu dahulunya bernama Pedang Asmara yang sudah dirombak, pedang yang menjadi lambang kasih sayang."

Kini, ketika Kaisar Thai-cu menawarkan sebuah di antara pusaka-pusaka itu untuk dipilihnya, diapun memberi hormat.

"Kalau paduka mengijinkan, hamba mohon diberi hadiah Pedang Tumpul ini."

Dia menunjuk ke arah pedang di antara tumpukan pusaka itu.

"Apa? Pedang yang buruk ini pilihanmu, totiang (bapak pendeta)?"

Kaisar bertanya sambil mengangkat pedang yang amat buruk itu, kemudian menghunusnya.

"Aih, pedang ini bukan saja gagang dan sarungnya amat sederhana, akan tetapi pedangnya sendiri tumpul dan buruk!"

"Ampun, Sribaginda. Keburukan melahirkan kebaikan, dan kebaikan melahirkan keburukan, keduanya tak terpisahkan. Akan tetapi hamba memilih yang buruk kulitnya akan tetapi baik isinya, daripada yang baik kulitnya akan tetapi buruk isinya."

Kaisar Thai-cu tertawa senang.

"Ha-ha-ha, totiang benar. Pedang ini memang gagal pembuatannya sehingga nampak buruk, akan tetapi kabarnya pedang ini terbuat dari pada batu bintang hijau. Nah, terimalah, totiang, dan mudah-mudahan bukan saja isinya yang baik, akan tetapi juga kegunaannya."

Kiam-sian menerima pedang itu dengan gembira dan menghaturkan terima kasih.

Kemudian mereka mendapat ijin untuk mengundurkan diri.

Diam-diam Sin Wan yang diajak guru-gurunya menghadap kaisar, kagum bukan main.

Selama hidupnya, belum pernah dia melihat gedung yang demikian indah seperti istana itu, dan melihat perabot-perabot dan barang"barang yang luar biasa sehingga dia merasa seperti dalam mimpi saja.

Ketika Sam Sian dan Sin Wan keluar dari pintu gerbang istana yang terakhir dan menghadap ke jalan umum, di luar pintu gerbang itu terdapat seorang anak perempuan yang ditemani seorang wanita setengah tua.

Begitu melihat Sam Sian, anak perempuan itu segera menjatuhkan diri berlutut di atas tanah di tepi jalan.

"Sam-wi lo-cianpwe (tiga orang tua gagah), saya Lim Kui Siang mohon agar diterima sebagai murid sam-wi."

Tentu saja tiga orang kakek itu saling pandang dan merasa heran.

Mereka mengamati anak perempuan itu.

Seorang anak perempuan yang usianya sembilan atau sepuluh tahun, wajahnya yang cantik manis dengan kulit putih mulus itu nampak berduka, pakaiannya menunjukkan bahwa ia seorang anak bangsawan atau hartawan.

"Nona kecil, jangan begitu. Kami tidak menerima murid, dan jangan berlutut di tepi jalan, nanti menjadi tontonan orang."

Kata Dewa Arak dan menghampiri anak itu hendak mengangkatnya bangun.

"Sam-wi lo-cianpwe, sebelum sam-wi menerima saya sebagai murid. Saya akan tetap berlutut di sini sampai mati!"

Tentu saja ucapan ini membuat tiga orang kakek itu terkejut bukan main, akan tetapi mereka lalu tersenyum dan di dalam hati mereka tidak percaya bahwa anak perempuan yang jelas anak seorang bangsawan ini akan benar-benar senekat itu.

"Nona, sudah kami katakan bahwa kami tidak menerima murid. Bangkitlah dan pulanglah, nona,"

Kata pula Dewa Arak dan kepada wanita setengah tua yang berpakaian pelayan itu diapun berkata.

"Ajaklah nonamu pulang. Tidak baik membiarkan ia bersikap seperti ini di tempat umum."

Akan tetapi wanita pelayan itu memberi hormat dan berkata dengan suara sedih.

"Sudah sejak di rumah tadi saya mencoba untuk membujuk siocia (nona), bahkan paman-paman dan bibi-bibinya membujuk. Akan tetapi siocia berkeras hati."

"Kalau begitu, biarkan sajalah kalau ia ingin berlutut di sini sampai mati,"

Kata pula Dewa Arak dan diapun memberi isyarat kepada dua orang rekannya untuk meninggalkan pintu gerbang itu, tidak mau menoleh lagi.

Sin Wan yang beberapa kali menoleh!

Melihat betapa anak itu masih tetap berlutut, tidak bergerak sama sekali, dia merasa kasihan sekali.

"Kenapa suhu bertiga membiarkan ia berlutut di sana terus? Bagaimana kalau ia benar-benar tidak mau bangkit lagi dan akan berlutut terus di sana sampai mati seperti yang ia katakan tadi?"

"Ha .. ha .. ha!"

Dewa Arak berkata.

"Ia anak bangsawan yang tentu sejak kecil dimanja dan setiap keinginannya harus dipenuhi. Ia hanya menggertak saja."

"Siancai ..... pinto (aku) belum pernah mendengar, apalagi melihat ada anak sekecil itu demikian teguh hati akan berlutut terus sampai mati kalau tidak dipenuhi permintaannya,"

Kata Kiam-sian si Dewa Pedang.

"Ia tentu dibuai khayal, mendengar bahwa kita telah berhasil menemukan kembali pusaka-pusaka itu, dan ia bermimpi untuk kelak menjadi seorang pendekar wanita. Seorang anak bangsawan yang biasa hidup mewah dan senang, mana mungkin dapat menghadapi kehidupan sulit di pertapaan?"

Kata pula Si Dewa Rambut Putih.

Akan tetapi Sin Wan tidak setuju dengan pendapat tiga orang gurunya.

Dia tadi melihat betapa anak perempuan itu nampak bersedih dan sinar matanya seperti orang yang putus harapan.

Dalam keadaan seperti itu tidak akan aneh kalau anak itu berlaku nekat dan benar-benar akan berlutut di sana sampai mati!

"Suhu, hati teecu merasa tidak enak.

Bagaimana kalau ia benar-benar berlutut di sana sampai mati?

Kalau hal itu terjadi, apakah suhu bertiga tidak akan merasa berdosa dan menyesal?"

Tiga orang kakek itu berhenti melangkah.

Pintu gerbang istana itu sudah tertinggal jauh dan tidak nampak lagi, akan tetapi mereka menengok ke belakang seolah hendak melihat apakah anak perempuan itu masih berlutut di sana.

"Hemmm, Sin Wan., Apakah engkau hendak mengatakan bahwa kami harus menerima anak itu menjadi murid?"

Tanya Dewa Pedang sambil menatap tajam wajah Sin Wan. Wajah Sin Wan menjadi kemerahan dan dia menjawab.

"Tentu saja keputusan itu terserah kepada suhu bertiga. Teecu hanya hendak mengatakan bahwa anak itu bersikap seperti tadi tentu ada alasan dan sebabnya yang kuat. Setidaknya, alangkah baiknya kalau suhu bertiga mengetahui sebabnya, dan sebelum kita meninggalkannya, kita dapat membujuk agar ia tidak bersikap nekat seperti itu."

Tiga orang kakek itu saling pandang.

Mereka bukanlah orang-orang yang bersikap acuh dan kejam.

Merekapun tertarik melihat sikap anak perempuan itu, akan tetapi mereka tadi bersikap seolah-olah mereka acuh justeru untuk menguji dan mengetahui bagaimana Sin Wan menghadapi peristiwa itu.

"Ha .. ha .. ha, kalau begitu, biar kita tunggu dan lihat nanti. Kalau ia hanya berlutut selama semalam ini saja, kurasa ia tidak akan mati karena itu. Besok pagi-pagi baru kita lihat apakah ia masih berada di sana. Ha .. ha .. ha agaknya memang sudah takdir bahwa kita harus tinggal semalam lagi di kota raja."

Mereka tidak mau bermalam di rumah penginapan.

Berita tentang mereka yang berhasil menemukan kembali pusaka istana yang hilang tentu sudah tersiar dan kalau mereka bermalam di tempat umum, tentu hanya akan menarik perhatian orang.

Dewa Arak yang banyak pengalamannya di kota raja lalu mengajak dua rekannya dan Sin Wan melewatkan malam itu di sebuah kuil tua yang sudah tidak terpakai lagi, terletak di daerah pinggiran yang terpencil.

Kuil tua itu kini menjadi tempat bermalam para pengemis dan mereka yang tidak mempunyai rumah, atau pendatang dari luar kota raja yang tidak mampu membayar sewa kamar yang mahal.

Malam itu Sin Wan gelisah tidak dapat pulas.

Bukan karena tempatnya yang buruk.

Semenjak mengikuti tiga orang gurunya, dia sudah terbiasa hidup seadanya, tidur di mana saja, bahkan di tempat terbuka.

Bukan karena tempat itu yang membuat dia tidak dapat tidur, melainkan dia selalu teringat kepada anak perempuan itu!

Akan tetapi, tiga orang gurunya tidur dengan nyenyaknya!

Dia tidak bermaksud melakukan sesuatu di luar tahu guru-gurunya.

Akan tetapi mereka sudah pulas dan dia tidak ingin mengganggu mereka.

Maka, dengan hati-hati Sin Wan meninggalkan ruangan di bagian belakang kuil itu, mengambil jalan dari samping agar tidak mengganggu mereka yang tidur di ruangan tengah dan depan, lalu meninggalkan kuil itu, pergi menuju ke arah istana!

Begitu dia keluar, hujan turun rintik-rintik, akan tetapi Sin Wan melanjutkan perjalanannya melalui pinggir rumah ke rumah sehingga tidak basah kuyup pakaiannya.

Akhirnya, dia tiba di depan pintu gerbang istana yang menghadap jalan raya.

Anak perempuan itu masih di sana!

Jantungnya seperti ditusuk karena haru dan iba.

Anak perempuan itu masih berlutut seperti tadi siang!

Pelayan wanita setengah tua tadipun masih di belakangnya, kini memegang sebuah payung terbuka untuk memayungi anak perempuan itu, melindunginya dari air hujan rintik-rintik.

Akan tetapi, anak perempuan itu tidak perduli, masih berlutut pada hal air hujan telah menggenangi tempat ia berlutut sehingga kaki dan pakaiannya menjadi basah dan kotor oleh lumpur.

"Siocia marilah kita pulang dulu. Hari sudah malam, hujan turun. Besok, boleh siocia lanjutkan lagi,"

Berulang kali pelayan itu membujuk dengan suara hampir menangis.

Akan tetapi anak perempuan itu sama sekali tidak bergerak atau menjawab.

Sebuah kereta berhenti di dekat tempat itu dan empat orang turun dari kereta.

Mereka adalah dua pasang suami isteri yang berusia antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun, berpakaian seperti hartawan.

Empat orang itu menghampiri si gadis kecil dan merekapun membujuk-bujuk, mengajak anak perempuan.

itu pulang.

Akan tetapi anak itu tetap tak bergerak dan tidak menjawab.

Ketika dua orang pria yang menyebutkan diri sendiri sebagai paman kepada anak perempuan itu hendak memaksanya, menarik lengannya untuk dipaksa pulang, pelayan wanita ini mencegah dengan suara memohon.

"Harap siocia jangan dipaksa. Tadi siocia mengatakan kepada saya bahwa kalau ia dipaksa pulang, sampai di rumah siocia akan, membunuh diri!"

Mendengar ucapan itu, dua orang pria itu terkejut dan melepaskan tangan anak perempuan itu yang terus berlutut dan menundukkan mukanya.

Akhirnya, karena hujan turun semakin deras, dua pasang suami isteri itu naik ke dalam kereta dan kereta itupun meninggalkan tempat itu.

Anak perempuan itu masih, berlutut dan pembantunya masih berdiri di belakangnya sambil memayunginya.

Sin Wan tak dapat menahan keharuan hatinya dan diapun nekat menempuh hujan, menghampiri anak perempuan itu.

Dilihatnya anak itu masih berlutut seperti arca, sama sekali tidak bergerak dan mukanya menunduk.

Biarpun wanita itu memayunginya, namun angin membuat air hujan menyiram dari samping dan pakaian anak itu sudah basah kuyup, demikian pula rambutnya dan air menetes-netes dari dagunya yang hampir menempel dada.

"Nona, kenapa engkau berkeras hendak menjadi murid tiga orang lo-cianpwe itu?"

Anak perempuan itu diam saja, mengangkat mukapun tidak, apa lagi menjawab.

"Nona, tidak baik menyiksa diri seperti ini. Engkau bisa masuk angin dan jatuh sakit. Kalau hanya ingin belajar ilmu silat, bukankah di kota raja ini terdapat banyak guru silat? Kenapa nona berkeras hendak belajar dari tiga orang lo-cianpwe itu?"

Sin Wan kembali bertanya, suaranya lembut. Namun yang ditanyanya tidak menjawab, bergerakpun tidak.

"Orang muda, harap jangan ganggu siocia. Siapapun yang mengajaknya bicara, ia tidak akan mau menjawab, kecuali kalau tiga orang kakek tadi yang datang bicara dengannya,"

Kata pelayan yang memayungi.

Akhirnya Sin Wan meninggalkan anak itu, di dalam hatinya mencela tiga orang gurunya yang dianggap kejam dan acuh terhadap seorang anak yang mempunyai tekad sedemikian hebatnya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Sin Wan yang sama sekali tidak tidur malam itu, sudah menyambut tiga orang gurunya yang baru bangun dengan permintaan agar mereka segera menengok anak perempuan yang berlutut di depan pintu gerbang istana!

"Marilah, suhu.

Kasihan anak perempuan yang berlutut semalam suntuk di sana, pada hal semalam hujan turun ....."

Dewa Arak tertawa.

"Ha .. ha .. ha. bagaimana engkau tahu bahwa ia masih berada di sana, Sin Wan ? Siapa tahu semalam ia sudah pulang dan tidur nyenyak di kamarnya yang indah dan hangat."

"Tidak suhu. Ia memang semalam suntuk berlutut di sana, Maaf, semalam teecu menengok ke sana. Teecu tidak dapat memberi tahu kepada suhu bertiga karena suhu sudah tidur pulas. Teecu bahkan membujuknya agar ia menghentikan kenekatannya, namun sia-sia. Ia tidak akan mau bangkit sebelum suhu bertiga datang dan mengajaknya seperti yang dikatakannya kemarin."

Tentu saja tiga orang sakti sudah mengetahui akan semua ini.

Semalam mereka mempergunakan kepandaian mereka untuk membayangi murid mereka, dan merekapun melihat semuanya.

Kalau kini mereka berpura-pura, hal itu mereka lakukan untuk menguji sampai di mana kejujuran murid mereka.

"Hemm, baiklah. Mari kita pergi ke sana,"

Kata Dewa Rambut Putih dan Sin Wan ingin bersicepat, bahkan berjalan paling dulu untuk segera tiba di pintu gerbang itu.

Benar saja.

Anak perempuan itu masih berlutut di situ!

Pelayan wanita juga masih di sana, menangis!

Dan mulailah banyak orang datang merubung karena tentu saja amat menarik melihat seorang anak perempuan bangsawan berlutut di situ, apa lagi mendengar bahwa anak itu berlutut disitu sejak kemarin siang, dan semalam bahkan berhujan-hujan di situ!

Sam Sian menghampiri anak itu dan Dewa Arak menyentuh kepala anak perempuan itu.

"Hemm, engkau sungguh keras hati, anak baik. Marilah kita bicara tentang dirimu sebelum kami mengambil keputusan. Mari, bangkitlah!"

Dewa Arak memegang tangan anak itu dan menariknya berdiri.

Anak itu sudah lemas dan tentu akan roboh kalau tangannya tidak digandeng Dewa Arak.

Wajahnya yang manis itu agak pucat, akan tetapi matanya bersinar cerah ketika ia memandang kepada tiga orang kakek itu.

Ia menurut saja ketika dibimbing menuju ke sebuah rumah makan yang buka pagi-pagi menjual sarapan bubur ayam dan teh panas.

Dewa Arak memesan bubur ayam untuk dia, Sin Wan, anak perempuan itu dan pelayan wanita yang terus mengikuti nonanya, sedangkan Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih memesan bubur tanpa daging ayam.

"Makanlah dulu, baru kita bicara,"

Kata Dewa Arak kepada anak perempuan itu yang tanpa membantah segera makan bubur ayam.

Sarapan hangat ini penting sekali bagi kesehatannya, setelah ia berlutut sejak kemarin, semalam berhujan-hujan di tempat terbuka, tidak makan tidak minum.

Setelah mereka makan, barulah Dewa Arak bertanya.

"Nah, sekarang katakan mengapa engkau bersikap seperti itu? Siapakah engkau dan mengapa pula engkau ingin menjadi mu-rid kami?"

Anak itu ingin menjawab, akan tetapi hanya bibirnva yang bergerak gemetar dan iapun menundukkan mukanya, menangis!

Pelayannya yang duduk di sebelahnya merangkul nonanya dan iapun mewakili nonanya menceritakan riwayat anak itu.

"Siocia (nona) bernama Lim Kui Siang, berusia hampir sepuluh tahun. Saya adalah pelayan dan pengasuhnya sejak ia masih bayi. Siocia ini puteri dari keluarga Lim, bangsawan dan pejabat tinggi yang tadinya menjabat sebagai pengurus gudang pusaka istana. Ketika terjadi pencurian pusaka-pusaka itu, Lim-taijin (pembesar Lim) tewas pula dibunuh pencuri. Ibunya, yang sedang menderita sakit, terkejut mendengar akan tewasnya suaminya, apalagi keluarga Lim harus bertanggung jawab mengenai kehilangan itu. Maka, kedukaan akhirnya membuat ibu siocia ini meninggal pula."

"Hemm ......, apa hubungannya semua itu dengan kenekatannya untuk menjadi murid kami?"

Dewa Arak bertanya.

"Saya tidak tahu ...... nona, ceritakanlah sendiri mengapa nona bersikeras untuk belajar ilmu dari mereka ......."

Arak perempuan itu, Lim Kui Siang, sudah dapat menguasai kesedihannya dan iapun mengangkat muka memandang kepada tiga orang pendeta itu.

Wajahnya tidak begitu pucat lagi dan sinar matanya penuh harapan.

"Saya telah menjadi yatim piatu. Kedua orang paman saya, adik dari ibu saya, bersikap baik, akan tetapi saya tahu bahwa mereka itu berbaik kepada saya karena menghendaki harta warisan orang tua saya. Saya muak dengan kepalsuan mereka semua itu. Kematian ayah dan ibu membuat saya kehilangan sagala-galanya. Saya mendendam kepada pembunuh ayah yang menjadi pembunuh ibuku pula. Saya mendengar bahwa Sam-wi lo-cianpwe telah berhasil menemukan kembali pusaka-pusaka itu. Ini berarti bahwa sam-wi lebih pandai dari pada pencuri itu. Maka saya bertekad untuk berguru kepada sam-wi!"

Katanya dengan suara mantap dan tegas.

"Ho .. ho .. ha .. ha .. ha !"

Dewa Arak tertawa.

"Kalau engkau ingin bersusah payah mempelajari ilmu untuk membalas dendam, jerih-payahmu itu akan sia-sia belaka, nona. Ketahuilah bahwa orang yang kau musuhi itu, pencuri yang membunuh ayahmu itu, dia telah mati!"

Akan tetapi anak perempuan itu tidak kelihatan kaget.

"Biarpun dia telah mati, saya tetap ingin mempelajari ilmu dari sam-wi lo-cianpwe,"

Katanya tegas.

"Ehh? Untuk apa seorang anak perempuan bangsawan seperti engkau mempelajari ilmu silat, sedangkan orang yang kau musuhi itu sudah tidak ada?"

Tanya Dewa Arak, tertarik oleh kekerasan dan kesungguhan hati anak itu.

"Ayahku tewas karena dia tidak pandai ilmu silat, ibuku juga meninggal dunia karena tubuhnya lemah. Saya ingin menjadi orang yang pandai silat sehingga saya dapat membela diri, melindungi orang-orang yang tidak bersalah, menentang penjahat-penjahat keji, dan saya ingin mempunyai tubuh kuat tidak seperti ibu. Nah, saya mohon sam-wi sudi menerima saya sebagai murid."

Dan kembali anak perempuan itu menjatuhkan diri berlutut.

"Sekali ini saya tidak akan nekat berlutut seperti kemarin, akan tetapi kalau sam-wi menolak, selamanya saya akan menganggap sam-wi tidak mempunyai belas kasihan kepada seorang anak yatim piatu seperti saya."

Tiga orang kakek itu saling pandang.

Anak ini memang lain dari pada yang lain.

Kecuali keras hati dan bersemangat, juga pandai bicara!

"Siancai .....!

Kami suka saja menjadi gurumu, akan tetapi bagaimana dengan keluargamu?

Bagaimana dengan rumah peninggalan orang tuamu?

Tentu banyak sekali harta peninggalan orang tuamu.

Kalau kau tinggalkan, bagaimana dengan semua warisan itu?"

"Saya tidak perduli! Paman-paman saya dan keluarga mereka sudah selalu mengincar harta itu. Biarlah mereka bagi-bagi. Saya tidak butuh harta, saya butuh ilmu dari sam-wi suhu (guru bertiga)!"

"Ha .. ha .. ha, sungguh aneh mendengar ucapan itu keluar dari mulutmu, nona kecil. Kalau bagi kami bertiga, memang kami tidak membutuhkan harta karena kami suka hidup di tempat sunyi, tldak membutuhkan apa-apa lagi. Akan tetapi, engkau adalah seorang anak perempuan, puteri seorang bangsawan. Kelak engkau akan membutuhkan untuk keperluan hidupmu. Kebetulan aku mempunyai seorang kenalan di kota raja, yaitu Ciang-ciangkun. Biar kutitipkan semua harta peninggalan orang; tuamu itu kepadanya untuk dilindungi, agar kelak engkau dapat menerimanya kembali darinya."

Anak perempuan itu memandang kepada tiga orang kakek itu dengan wajah berseri.

"Ini berarti bahwa sam-wi suhu menerima saya sebagai murid!"

Tiga orang itu saling pandang dan tersenyum, lalu mengangguk.

Jarang ditemukan seorang anak perempuan seperti itu.

Mereka sudah mengambil Sin Wan sebagai murid, tidak apa ditambah seorang murid perempuan lagi.

"Suhu .......!"

Anak perempuan itu lalu memberi hormat kepada mereka bertiga secara bergantian. Lalu ia bangkit dan merangkul wanita setengah tua yang menjadi pengasuhnya sejak ia masih kecil.

"Kiu-ma, engkau sudah mendengar sendiri. Aku diterima menjadi murid ketiga orang suhu ini dan aku akan pergi mengikuti mereka. Kiu-ma, engkau pulanglah dan kalau engkau masih suka, tinggallah di rumah keluargaku. Kalau tidak, engkau boleh pulang ke dusun dan semua yang kuberikan kepadamu itu dapat kaubawa pulang."

"Siocia .....ah, siocia ......!"

Wanita itu merangkul dan menangis sedih.

"Sudahlah Kiu-ma. Peristiwa ini amat membahagiakan hatiku, kenapa engkau sambut dengan tangis? Jangan mendatangkan kesedihan bagiku, Kiu-ma. Kalau aku sudah selesai belajar ilmu kelak, tentu kau akan kucari dan kita akan dapat bertemu kembali."

Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya pelayan yang setia ini meninggalkan nonanya dan menyerahkan buntalan pakaian yang memang sudah dipersiapkan lebih dulu oleh Kui Siang.

Anak perempuan ini memang sudah mengambil keputusan tetap, maka ketika meninggalkan rumah untuk menghadang tiga orang kakek itu di depan pintu gerbang, ia telah membawa bekal, bahkan sudah meninggalkan banyak emas kepada Kiu-ma, pelayannya yang setia.

Pada keesokan harinya, Dewa Arak mengajak Kui Siang pergi ke gedung Ciang-ciangkun (perwira Ciang), seorang komandan pasukan yang terkenal gagah perkasa.

Perwira ini pernah ketika terjadi perang menumbangkan kekuasaan Mongol, dan dia sedang memimpin pasukannya, dia terjepit dan terkepung musuh.

Dia dengan belasan orang pengawalnya saja dikepung ratusan orang perajurit Mongol dan kalau tidak muncul Dewa Arak yang menyelamatkannya, sukarlah bagi perwira itu untuk menghindarkan diri dari kematian.

Inilah sebabnya mengapa Dewa Arak mengenal perwira Ciang itu.

Kunjungannya pada pagi hari itu diterima oleh Ciang-ciangkun yang kini berusia empatpuluh tahun itu dengan penuh kehormatan dan kegembiraan.

Biarpun kini dia sudah memperoleh kedudukan tinggi, panglima ini tidak melupakan orang yang pernah merenggutnya dari cengkeraman maut.

Ketika Dewa Arak menerangkan bahwa Lim Kui Siang, puteri dari mendiang bangsawan Lim akan ikut dengan dia menjadi muridnya, dan bahwa Dewa Arak menitipkan harta kekayaan anak itu sebagai peninggalan orang tuanya dalam pengawasan Ciang-ciangkun, perwira itu menerimanya dengan penuh kesungguhan hati.

"Jangan khawatir, totiang. Saya mengenal baik mendiang Lim-taijin, seorang pembesar yang baik dan jujur. Memang amat malang nasibnya, akan tetapi sungguh beruntung puterinya dapat menjadi murid totiang. Saya akan menjaga semua harta milik nona Lim Kui Siang dan kelak, kalau ia sudah kembali ke sini tentu akan saya serahkan semua hak miliknya kepadanya."

Anak perempuan itu lalu disuruh membuat pernyataan tertulis mengangkat perwira Ciang menjadi kuasanya untuk mengurus dan menguasai seluruh harta peninggalan orang tuanya Setelah itu, Dewa Arak mengajak muridnya meninggalkan perwira Ciang dan mereka bergabung dengan Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih, bersama Sin Wan meninggalkan kota raja.

Ketika Kui Siang dan Sin Wan saling bertemu dan saling pandang, Sin Wan tersenyum dan berkata.

"Sumoi, aku girang sekali kita dapat menjadi saudara seperguruan."

"Aku juga girang sekali, suheng."

Hanya itulah ucapan mereka karena mereka belum saling mengenal.

Kelak kalau mereka sudah akrab, keduanya semakin merasa suka karena memiliki nasib yang sama, yaitu keduanya sudah yatim piatu.

Akan tetapi ketika menceritakan riwayatnya kepada sumoi (adik seperguruan) itu, Sin Wan tidak pernah menyinggung tentang Se Jit Kong, hanya menceritakan bahwa ayahnya bernama Abdullah dan ibunya Jubaedah, keduanya Bangsa Uighur dan sudah meninggal dunia.

Sam Sian atau Tiga Dewa membawa dua orang murid mereka ke sebuah puncak yang diberi nama Pek-ln-kok (Lembah Awan Putih), satu di antara lembah Pegunungan Ho-lan-san yang terletak di pantai barat Sungai Kuning.

Pek-in-kok inilah yang menjadi tempat Sam Sian mengasingkan diri selama ini.

Lembah yang berada dekat puncak ini berhawa sejuk dan bertanah subur.

Akan tetapi untuk mencapai tempat itu merupakan hal yang amat sulit karena melalui dinding karang yang terjal dan sulit didaki orang biasa.

Ini sebabnya maka tempat itu tidak pernah dikunjungi orang luar dan menjadi tempat pertapaan yang benar-benar amat tenang dan tenteram.

Di sebeIah timur kaki Pegunungan Ho-lan-san terdapat sebuah kota di tepi Sungai Kuning.

Kota ini cukup besar dan ramai, yaitu kota Yin-coan dan sedikitnya sebulan sekali, Sin Wan dan Kui Siang mendapat kesempatan turun gunung dan berkunjung ke kota ini untuk membeli keperluan untuk mereka berlima.

Selain itu, mereka tidak pernah berhubungan dengan orang luar dan setiap hari, kedua orang anak itu menerima gemblengan ilmu-ilmu silat yang tinggi dari tiga orang guru mereka.

Waktu merupakan suatu kenyataan yang amat aneh.

Segala sesuatu di dalam kehidupan manusia di dunia ini, akhirnya menyerah kepada sang waktu kesemuanya, satu demi satu akan menyerah untuk ditelan habis oleh Sang Waktu!

Waktu merupakan bukti akan kekuasaan Tuhan, merupakan bahwa segala sesuatu di permukaan bumi ini tidak abadi adanya.

Hanya Tuhan yang abadi, tanpa awal tanpa akhir.

Segala sesuatu akan berubah menjadi permainan sang waktu.

Apabila tidak diperhatikan, sang waktu melesat cepat melebihi cahaya, melebihi kecepatan apapun juga sehingga seorang kakek yang mengenang masa kanak-kanaknya akan merasa betapa sang waktu lewat sedemikian cepatnya sehingga puluhan tahun bagaikan baru kemarin dulu saja!

Sebaliknya, kalau orang menanti sesuatu dan memperhatikan sang waktu akan merangkak atau merayap seperti seekor siput.

Waktu juga mempermainkan pikiran dengan pembagiannya sebagai kemarin, hari ini dan esok atau masa lalu, saat ini dan masa depan.

Pikiran yang mengenang masa lalu hanya mendatangkan dendam, duka den penyesalan.

Sedangkan pikiran yang membayangkan masa depan hanya mendatangkan rasa malu, rasa takut dan khayalan muluk.

Masa lalu sudah lewat, hanya kenangan, masa depan belum ada, hanya khayalan.

Menghadapi saat ini, detik demi detik, berarti menghadapi kenyataan dan itulah hidup.

Hidup merupakan tantangan setiap saat yang harus kita hadapi, yang hanya kita tanggulangi.

Bagi yang hidup, dari saat ke saat bebas dari masa lalu dan masa depan.

Saat ini adalah pelaksanaan hidup, saat ini adalah cara hidup, jalan hidup, sedangkan besok hanyalah ambisi, khayalan.

Yang lalu sudah mati, yang kelak belum datang.

Sekarang benar, nantipun benar.

Benar dan tidak terletak pada saat sekarang ini!

Tuhan sudah menciptakan kita dalam keadaan sempurna, serba lengkap dengan perabot dan alat yang dapat kita pergunakan untuk menghadapi dan menanggulangi hidup, lengkap dengan jasmani yang serba lengkap, panca indera, hati dan akal budi.

Semua itu masih ditambah lagi dengan kekuasaan Tuhan yang meliputi diri kita luar dan dalam, kekuasaan Tuhan yang melindungi, membimbing, asal kita mendasari semua ikhtiar dengan penyerahan kepada Tuhan Maha Kasih dengan sabar, tawakal dan ikhlas!

Semua kehendak Tuhan jadilah!

Tanpa terasa lagi sepuluh tahun telah lewat sejak terjadinya peristiwa-peristiwa yang telah diceritakan di bagian depan.

Pagi itu udara amat cerah di Pek-in-kok (Lembah Awan Putih) biarpun sinar matahari pagi masih terlampau lunak untuk dapat mengusir hawa yang dingin sejuk dan terasa menusuk tulang bagi mereka yang tidak biasa tinggal di tempat yang berhawa dingin.

Sudah sejak subuh tadi Sin Wan dan Kui Siang meninggalkan lembah dan pergi ke kota Yin-coan.

Tahun baru tinggal sebulan lagi dan tiga orang guru mereka menyuruh mereka pergi ke Yin-coan untuk membeli pakaian baru untuk kedua orang murid itu.

"Akan tetapi, suhu. Untuk apa teecu berdua harus membeli pakaian baru?"

Tanya Sin Wan yang kini telah menjadi seorang pemuda berusia duapuluh tahun.

Pemuda ini bertubuh tegap dan sedang, dengan dada lebar dan kaki tangan kokoh kuat.

Dahinya lebar, rambutnya hitam panjang digelung ke atas, alisnya tebal berbentuk golok melindungi sepasang mata yang besar dan bersinar cerah.

Hidungnya mancung agak besar, dan mulutnya membayangkan keramahan dengan dagu yang berlekuk membayangkan keteguhan hati.

Seorang pemuda yang gagah dan ganteng, dengan kulit yang agak gelap.

"Teecu juga heran. Kenapa teecu berdua diharuskan berbelanja pakaian baru? Pakaian teecu masih baik dan masih cukup banyak."

Kui Siang juga membantah.

Dewa Arak yang mewakili dua orang rekannya menyuruh dua orang murid itu, tersenyum.

Tiga orang pertapa yang di juluki Sam Sian (Tiga Dewa) itu kini telah tua.

Usia mereka sudah enampuluh tahun lebih, akan tetapi mereka masih nampak sehat dan kuat.

Terutama sekali Ciu-sian Tong Kui.

Dewa Arak yang memiliki pembawaan gembira ini nampak lebih muda dari dua orang rekannya.

Usianya yang enampuluh dua tidak meninggalkan bekas.

Nampaknya dia belum ada limapuluh tahun!

"Sin Wan dan Kui Siang, kalian adalah orang-orang muda.

Kalian sudah sepatutnya hidup penuh gairah, mengenakan pakaian yang bersih dan rapi.

Menjelang tahun baru ini, kalian harus mempunyai pakaian baru untuk dipakai pada hari-hari tahun baru!"

"Tapi, suhu. Teecu sudah sepuluh tahun berada di sini dan teecu tidak pernah mengikuti tahun baru seperti para penduduk di bawah lembah,"

Bantah Sin Wan.

"Dan pula, untuk apa teecu mengenakan pakaian baru di hari tahun baru? Hendak dipamerkan kepada siapa? Teecu tidak saling berkunjung dengan keluarga,"

Bantah pula Kui Siang.

"Siancai, murid-muridku yang baik,"

Kata Dewa Pedang. Kiam-sian Louw Sun ini termasuk orang yang berpakaian paling bersih di antara Tiga Dewa itu.

"Mengenakan pakaian baru di hari tahun baru bukan sekedar untuk berpamer, melainkan mempunyai arti yang mendalam. Tahun baru mengingatkan kita bahwa usia kita bertambah setahun lagi. Kita wajib mawas diri, menyadari semua kesalahan di tahun yang lewat, mengubur semua kenangan masa lalu sehingga tidak ada tertinggal dendam di hati. Hati harus bersih, seolah tahun baru membawa pula kehidupan baru yang ditandai dengan pakaian baru. Jadi, pakaian baru melambangkan hati yang baru, cara hidup yang baru, yang bersih seperti juga pakaian yang baru. Bersih itu pangkal sehat, bukan? Nah, siapa bilang mengenakan pakaian baru di hari tahun baru hanya untuk pamer belaka?"

Karena alasan yang dernikian kuat, dua orang murid itu tidak mampu membantah lagi.

Pula, di sudut paling dalam di hati mereka, harus mereka akui bahwa pakaian baru juga menarik dan menyenangkan hati mereka.

Hal itu menandakan bahwa memang ada gairah dalam hati dua orang muda ini, hal yang wajar bagi orang muda.

Ketika Sin Wan dan Kui Siang pertama kali naik ke Pek-in-kok, mereka baru baru usia kurang lebih sepuluh tahun.

Kini mereka telah dewasa.

Sin Wan telah menjadi seorang pemuda dewasa yang gagah dan ganteng, sedangkan Kui Siang juga telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan manis.

Tubuhnya sedang dan langsing berisi mengarah montok, kulitnya putih mulus.

Wajahnya bulat telur dengan dagu runcing dan di dagu kanan terhias tahi lalat hitam kecil.

Matanya lembut akan tetapi kadang sinarnya mencorong.

Bibirnya merah segar.

Mata dan mulutnya merupakan daya tarik terbesar pada diri gadis ini.

Sikapnya halus dan anggun dan pembawaan ini mungkin karena ia adalah puteri bangsawan yang ketika kecilnya terbiasa melihat sikap yang demikian.

Pada waktu dua orang muda kakak beradik seperguruan itu menuruni lembah di bagian timur, di luar tahu mereka tentu saja, dari barat terdapat dua orang yang mendaki lembah bukit itu dengan gerakan yang ringan dan cepat sekali.

Mereka itu adalah seorang wanita cantik berpakaian mewah yang kelihatan baru berusia tigapuluhan tahun, dan seorang gadis berusia sembilan belas tahun yang lebih cantik lagi.

Wanita itu bukan lain adalah Bi-coa Sian-li (Dewi Ular Cantik) Cu Sui In.

sedangkan gadis manis itu adalah muridnya yang bernama Tang Bwe Li dan yang biasa dipanggil Lili oleh gurunya.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, guru dan murid yang keduanya galak ini pernah mencoba untuk merampas pusaka-pusaka istana yang dibawa oleh Sam Sian, namun Dewi Ular Cantik itu tidak mampu mengalahkan Sam Sian.

Terpaksa ia mengajak muridnya pergi dengan marah dan hatinya penuh dendam kepada Sam Sian yang telah mengalahkannya.

Apalagi ketika ia mendengar bahwa pusaka-pusaka itu oleh Sam Sian telah dikembalikan kepada kaisar.

Ia segera mengajak muridnya pergi ke barat untuk mengunjungi ayahnya, yaitu seorang datuk besar bernama Cu Kiat dan berjuluk See-thian Coa-ong (Raja Ular Dunia Barat).

Datuk besar ini tinggal di puncak Bukit Ular di Pegunungan Himalaya ujung timur dan sudah belasan tahun dia tidak lagi terjun ke dunia ramai.

Namun nama besar See-thian Coa-ong pernah menggemparkan dunia persilatan karena wataknya yang aneh dan ilmunya yang tinggi.

Dia seorang datuk aneh, tidak condong kepada golongan sesat, tidak pula condong kepada para pendekar.

Dia berdiri di tengah-tengah dan menentang siapa saja yang tidak cocok dengan seleranya.

Kepada ayahnya yang juga menjadi gurunya, Bi-coa Sian-li Cu Sui In mengadukan kekalahannya terhadap Sam Sian dan ia ingin memperdalam ilmunya agar dapat menebus kekalahannya itu.

Kakek yang tinggi kurus itu mengelus jenggotnya dan mulutnya yang biasanya selalu dibayangi senyum mengejek itu kini tertawa.

Matanya yang sipit dengan lindungan alis hitam tebal itu semakin sipit ketika dia tertawa, matanya yang tajam bersinar-sinar gembira.

"Ha .. ha .. ha, engkau dikalahkan Sam Sian bertiga? Ha .. ha .. ha, Sui In, engkau tidak perlu penasaran. Ayahmu sendiripun tidak akan menang kalau maju sendiri menghadapi pengeroyokan mereka bertiga. Mereka itu masing-masing memiliki ilmu yang khas dan lihai sekali. Pusaka-pusaka itu telah dikembalikan kepada kaisar. Sudahlah, tak perlu dibuat kecewa."

"Tapi, ayah. Aku merasa terhina sekali. Aku harus membalas kekalahan itu, dan aku ingin memperdalam ilmuku. Karena itulah aku datang menghadap ayah!"

Kata wanita cantik itu dengan tegas.

"Teecu juga harus membalas penghinaan yang teecu alami dari Si Kerbau-sapi-kuda-anjing-kucing anak setan sialan itu!"

Kata pula Tang Bwe Li atau Lili, tak kalah marah dan galaknya dibanding gurunya.

Datuk yang usianya sekitar limapuluh lima tahun itu memandang kepada Lili dengan mata terbelalak, kemudian mengerutkan alisnya dan bertanya.

"Siapakah bocah ini?"

"Ia muridku bernama Tang Bwe Li, ayah."

"Sukong (kakek guru), aku Lili menghaturkan hormat kepada sukong!"

Kata Bwe Li atau Lili sambil menjatuhkan diri berlutut di depan ayah dari subonya itu.

"Hemm, Sui In! Kalau engkau akan mengambil murid, kenapa tidak memilih seorang murid laki-laki? Anak perempuan seperti ini, mana mampu mewarisi ilmu kita yang tinggi?"

Tegur kakek itu sambil memandang kepada Lili dengan alis berkerut dan mulut mengejek.

Sebelum Dewi Ular Cantik menjawab, Lili sudah mengangkat muka memandang kepada kakek itu dengan mata bersinar penuh kemarahan, kemudian terdengar jawabannya lantang.

"Kenapa sukong berkata begitu? Lupakah sukong bahwa subo, puteri sukong, juga seorang wanita? Apakah sukong hendak mengatakan bahwa subo juga tidak mampu mewarisi ilmu dari sukong?"

Cu Sui In tenang saja mendengar bantahan muridnya kepada ayahnya itu.

Ia sudah mengenal benar watak muridnya.

Justeru watak yang keras, berani dan jujur itulah yang membuat ia suka sekali kepada Lili.

Akan tetapi tidak demikian dengan datuk besar See-thian Coa-ong Cu Kiat.

Kakek ini terbelalak, mulutnya masih tersenyum mengejek, akan tetapi sinar matanya membayangkan perasaan kaget, penasaran dan juga kagum.

"Hemm, hendak kulihat apakah engkau benar bernyali naga, ataukah hanya berlagak saja!"

Katanya dan dari mulutnya keluar suara mendesis, tak lama kemudian, terdengar suara desis yang sama dari dalam rumah dan muncullah seekor ular yang besar sekali.

Ular itu panjangnya ada lima meter, besarnya sepaha orang dewasa.

Ular itu keluar sambil mendesis-desis.

See-thian Coa-ong si Raja Ular itu terus mengeluarkan desis yang makin meninggi seperti bersiul dan tiba-tiba ular itu lalu bergerak maju menyerang Lili!

Anak perempuan berusia sembilan tahun itu tidak nampak terkejut ataupun takut.

Ia sudah meloncat berdiri dan begitu ular menyerangnya, ia sudah melompat ke samping dan ketika kepala ular meluncur lewat, ia menggerakkan kaki menendang ke arah kepala ular dari samping belakang.

"Plakkl"

Kepala ular kena ditendang, akan tetapi kepala ular itu keras sekali sehingga Lili merasa kaki di dalam sepatunya nyeri.

Ular itu terkejut, membalik dan dengan moncongnya yang dibuka lebar dia menerjang lagi.

Dengan gesit, Lili meloncat lari ke samping.

Akan tetapi la tidak sempat menendang lagi karena kepala ular itu sudah membalik dan melanjutkan serangannya yang bertubi-tubi.

Bukan hanya kepalanya saja yang menyerang, juga ular itu menggerakkan ekornya untuk menyambar kaki anak perempuan itu.

Lili terpaksa harus meloncat ke sana sini dan ia menjadi marah sekali.

"Ular keparat, kaukira aku takut padamu?"

Bentaknya dan ketika ular itu menyerang lagi dengan moncongnya.

ia mengelak ke kiri, kemudian ia meloncat dan menerkam leher ular itu dari belakang, mencengkeram leher itu dengan kedua tangannya!

Gerakan ini selain tangkas, juga berani sekali.

Hal ini tidak begitu mengherankan.

Lili adalah murid Dewi Ular Cantik, seorang yang biasa bermain dengan ular.

Sejak kecil Lili sudah dibiasakan oleh gurunya untuk bermain dengan ular yang menjadi dasar dari ilmu-ilmunya, maka Lili tidak pernah takut berhadapan dengan ular.

Hanya belum pernah berkelahi dengan ular sebesar itu!

Biarpun dua buah tangan itu kecil saja, dengan jarl-jari yang mungil dan tidak panjang, namun cekikan kedua tangan pada leher ular itu cukup kuat.

Ular itu meronta-ronta hendak melepaskan leher yang dicekik.

Demikian kuat ular itu meronta sehingga tubuh Lili terbawa dan terbanting, terguncang ke kanan-kiri.

Namun, bagaikan seekor lintah, anak perempuan itu tak pernah mau mengendurkan, apa lagi melepaskan cekikannya.

Ular itu kini menggerakkan ekornya dan tubuh ular yang panjang besar dan licin dingin itu membelit-belit tubuh Lili!

Lilitan ular itu kuat sekali.

Seorang laki-laki dewasapun takkan dapat tahan kalau dililit ular itu, akan patah-patah dan remuk tulang-tulangnya.

Akan tetapi, desis yang keluar dari mulut Raja Ular merupakan isyarat atau perintah yang amat dipatuhi ular besar itu.

Lilitannya bukan untuk membunuh, melainkan untuk membuat anak perempuan itu tidak mampu bergerak.

Seluruh tubuh anak itu dililit ular, kedua kaki dan kedua lengannya pula.

Akan tetapi, kedua tangannya masih tetap mencekik leher ular, walaupun tenaganya banyak berkurang karena kedua lengannya dililit ular.

Lili tidak mampu bergerak lagi.

"Subo!"

Ia memandang subonya, akan tetapi wanita cantik itu acuh saja seolah muridnya tidak terancam bahaya. Lili hanya satu kali memanggil, tanpa berkata minta tolong.

"Ha .. ha .. ha, anak bandel! Menangislah, minta ampunlah, dan ular ini tentu akan melepaskanmu,"

Kata See-thian Coa-ong Cu Kiat penuh kemenangan.

Akan tetapi, biarpun lilitan ular itu semakin kuat dan membuat dadanya terasa sesak, Lili bertahan dan memandang kepada kakek gurunya dengan mata bersinar-sinar.

"Sukong, subo tidak pernah mengajarkan aku untuk merengek dan menangis dengan cengeng! Aku tidak bersalah apa-apa, aku tidak akan menangis, tidak akan minta ampun!"

"Hemm, kalau begitu, ularku akan membunuhmu!"

"Aku tidak percaya. Subo akan melarangnya, dan sukong juga tidak mungkin membunuh cucu murid sendiri. Andaikata dibunuh juga, aku tidak takut!"

Kembali kakek itu mengeluarkan suara mendesis dan lilitan ular itu semakin kuat.

Lili sudah tidak mampu menggerakkan kaki tangan.

Akan tetapi ia tidak mau menyerah begitu saja.

Ia masih dapat menggerakkan lehernya.

Melihat betapa dadanya semakin sesak, ia lalu menunduk dan membuka mulutnya, dan menggigit leher ular yang berada di dagunya, menggigit dengan mengerahkan seluruh tenaganya.

Giginya yang kuat itu menembus kulit ular dan lidahnya segera merasakan darah yang asin amis!

Ular itu terkejut kesakitan dan lilitannya mengendur.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Lili untuk meronta, melepaskan diri dan meLoncat keluar dari lilitan ular itu.

Ia rneloncat ke dekat subonya.

"Subo, tolong teecu (murid) pinjam pedangnya sebentar untuk membunuh ular keparat itu teriaknya kepada subonya.

"Hushh!", bentak Cu Sui In.

"Kalau ayah menghendaki, sudah sejak tadi engkau mati, tulang tulangmu remuk dalam lilitan ular. Atas perintah sukongmu, ular itu hanya mengujimu, bukan hendak membunuhmu, dan engkau malah menggigit dan melukai lehernya!"

Mendengar keterangan gurunya, Lili terkejut.

Ia memandang dan melihat kakek itu dengan penuh sikap menyayang, memeriksa luka di leher ular dan mengobatinya dengan obat bubuk putih.

Ia merasa bersalah dan segera ia menjatuhkan diri berlutut di depan See-thian Coa-ong Cu Kiat.

"Sukong, aku bersalah. Kalau sukong hendak menghukum dan membalas dengan menggigit leherku, silakan!"

Raja Ular Itu memandang kepadanya, lalu tertawa bergelak.

"Ha ha ha, Sui In. Sekarang aku mengerti mengapa engkau memilih setan cilik ini sebagai murid. Ia memang pantas menjadi muridmu. bahkan patut menjadi muridku, ha ha ha!"

Mendengar ini, Cu Sui In tersenyum.

"Lili, cepat kau menghaturkan terima kasih kepada suhumu. Mulai saat ini engkau menjadi murid ayah, dan aku menjadi sucimu (kakak seperguruanmu)!"

Lili adalah seorang wanita yang cerdas sekali.

Ia segera memberi hormat dan menyebut suhu kepada Si Raja Ular yang tertawa bergelak karena girangnya memperoleh seorang murid yang menyenangkan.

Dan mulai saat itu, Lili menyebut suci kepada bekas ibu gurunya.

Hal itu amat menyenangkan hati Sui In, wanita yang selalu nampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya, dan yang selalu ingin dianggap muda.

Dengan tekun See-thian Coa-ong Cu Kiat menggembleng Tang Bwe Li atau Lili dengan ilmu-ilmunya, dan juga Sui In memperdalam ilmunya di bawah bimbingan ayahnya.

Sepuluh tahun kemudian, dalam usia sembilanbelas tahun dan menjadi seorang dara yang cantik manis, Lili telah menguasai ilmu-ilmu dari Si Raja Ular.

Bahkan dibandingkan dengan tingkat kepandaian bekas guru yang kini menjadi sucinya, ia hanya kalah pengalaman saja dan selisihnya tidak jauh!

Demikianlah, pada saat Sin Wan dan Kui Siang menuruni lembah Pek-in-kok di bagian timur, di pagi hari itu, Bi-coa Sian-li Cu Sui In dan bekas murid yang kini menjadi sumoinya (adik seperguruannya) mendaki lembah bukit dari barat.

Sui In dan Lili mempergunakan ilmu berlari cepat dan bagaikan melayang saja mereka mendaki lembah bukit yang bagi orang biasa merupakan daerah yang amat sukar dilalui itu.

Mereka mendaki Pek-in-kok hanya dengan satu tujuan, yaitu untuk membalas atau membalas kekalahan mereka sepuluh tahun yang lalu.

Dewi Ular Cantik Cu Sui In memiliki watak seperti ayahnya, yaitu tidak pernah dapat menelan kekalahan dari orang lain.

Oleh karena itu, ketika dalam usaha memperebutkan pusaka-pusaka istana ia kalah oleh Sam Sian, ia merasa terhina dan hatinya sakit sekali.

Urusan pusaka sudah tidak diingatnya lagi, akan tetapi kekalahan yang dideritanya selalu menghantuinya dan ia tidak akan merasa tenang sebelum dapat membalas dan menebus kekalahannya itu.

Dan agaknya Lili yang kini menjadi sumoinya, juga tidak pernah dapat melupakan penghinaan yang dialaminya dari anak laki-laki yang agaknya murid Sam Sian itu.

Anak laki-laki yang tidak dikenal namanya itu, yang dinamakannya Si Kerbau-sapi-kuda-anjing-kucing-babi itu, telah menangkapnya, memaksanya menelungkup di atas pangkuannya dan menampari pinggulnya sepuluh kali seolah-olah seorang ayah yang menghukum anaknya yang nakal saja!

Sampai mati ia tidak akan dapat melupakan penghinaan itu!

Ia akan membalas penghinaan itu dengan pukulan sampai seratus kali biar pantat orang itu hancur menjadi bubur!

Setiap kali membayangkan peristiwa itu, muka Lili menjadi merah sekali dan kemarahan seolah-olah membuat matanya berkilat dan napas yang keluar dari hidung dan mulutnya mengandung api!

Ketika dua orang wanita cantik itu tiba di depan pondok-pondok bambu yang sederhana namun rapi dan bersih itu, Sam Sian sedang duduk bersila di depan pondok, menikmati sinar matahari pagi yang hangat dan udara pagi yang segar.

Mereka duduk bersila di atas batu-batu datar yang halus, menghadap ke timur, ke arah matahari pagi yang masih lembut sinarnya.

Ketika dua orang wanita itu muncul dan berloncatan ke depan mereka, tiga orang kakek itu memandang dengan heran.

Melihat mereka dapat naik ke Pek-in-kok saja sudah dapat mereka ketahui bahwa dua orang wanita itu bukanlah orang-orang lemah, dan yang membuat mereka heran adalah sikap dan wajah mereka, terutama sinar mata mereka yang membayangkan kemarahan besar.

Tiga orang pertapa itu adalah orang-orang yang sudah dapat membebaskan diri dari kekuasaan nafsu, maka tiada lagi dendam atau ganjalan dalam hati dan pikiran mereka.

Tidak ada lagi kenangan yang hanya menimbulkan suka duka, dendam dan budi.

Maka, tentu saja mereka tidak ingat lagi siapa adanya dua orang wanita cantik ltu.

Bahkan Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih sudah memejamkan mata dan menundukkan muka, tidak memperdulikan dua orang wanita yang muncul sebagai pengganggu ketenteraman mereka.

Hanya Dewa Arak yang memandang mereka dengan mulut tersenyum ramah.

Seperti biasa, dalam menghadapi urusan apa saja, Ciu-sian Tong Kui ini selalu mengandalkan araknya.

Dia meneguk arak dari guci yang selalu berada di dekatnya, guci arak pusaka pemberian kaisar yang isinya tentu saja sudah habis karena arak yang diterima dari kaisar sepuluh tahun yang lalu itu sudah dihabiskannya dalam waktu kurang dari seminggu!

Kini tinggal gucinya yang diisi arak biasa.

"Heh .. heh .. heh, angin apakah yang meniup kalian dua orang wanita cantik ke Pek-in-kok ?"

"Angin dari Bukit Ular Pegunungan Himalaya."

Jawab Sui In dengan singkat dan ketus.

"Bukit Ular di Himalaya? Wah ..wah .. wah, bagaimana kabarnya dengan sobat See-thian Coa-ong Cu Kiat? Kalian diutus oleh Raja Ular itu, bukan?"

Dewa Arak meneguk kembali guci araknya.

"Ayahku tidak ada sangkut-pautnya dengan kedatanganku ini. Aku datang untuk urusan pribadi dengan Sam Sian!"

"Ho .. ho .. ho, kami tiga orang tua bangka tidak pernah mempunyai urusan pribadi, apa lagi dengan wanita muda dan cantik."

Kata Dewa Arak dengan sikapnya yang seenaknya.

"Mudah-mudahan saja Sam Sian yang terkenal sebagai pinisepuh dunia persilatan itu bukan hanya pengecut-pengecut yang pura-pura melupakan apa yang mereka lakukan. Sam Sian, ingatkah kalian peristiwa sepuluh tahun yang lalu? Aku, Bi-coa Sian-li Cu Sui In pernah kalian kalahkan. Nah, inilah aku, datang untuk menantang kalian, untuk membalas kekalahanku yang dulu. Sekali ini, mudah-mudahan saja Sam Sian bukan tiga orang laki-laki licik dan curang yang main keroyokan terhadap lawannya seorang wanita. Aku tantang kalian untuk main satu demi satu mengadu kepandaian!"

"Wah ..wah .. wah, engkau terlambat nona. Dahulu engkau menantang kami untuk merebut pusaka-pusaka istana itu, bukan? Sekarang, pusaka-pusaka itu telah kami kembalikan kepada kaisar. Kalau engkau menginginkannya, datanglah ke kota raja dan minta saja kepada kaisar. Kami tidak tahu menahu lagi ......"

"Aku tidak butuh pusaka! Aku datang untuk menebus kekalahanku sepuluh tahun yang lalu. Aku sudah cukup kaya, akan tetapi kalian telah menghinaku sepuluh tahun yang lalu, meruntuhkan nama dan kehormatanku. Hari ini kalian harus membayarnya!"

"Siancai ..... , kalau ada yang terang, mengapa memilih yang gelap? Ada yang jernih mengapa memilih yang keruh? Ada yang tenang, mengapa memilih kekacauan?"

Yang berkata itu adalah Dewa Pedang. Kemudian terdengar Dewa Rambut Putih juga bicara dengan suaranya yang lembut sambil tersenyum ramah.

"Nona, sepuluh tahun yang lalu, ketika berhadapan denganmu, kami adalah petugas-petugas utusan kaisar untuk mendapatkan kembali pusaka yang tercuri. Setelah pusaka itu kami kembalikan, kami sudah mencuci tangan dan mengundurkan diri, dan bagi kami, perlstiwa dengan nona sepuluh tahun yang lalu sudah tidak ada lagi,"

Kata-katanya lembut, lalu disusul kakek ini menyanyikan ayat-ayat yang diambilnya dari kitab To-tik-keng, yaitu kitab suci Agama To.

"Tariklah tali gendewa anda sepenuhnya gendewa dapat patah dan sesalpun tiada guna. Asahlah pedang anda setajam-tajamnya mata pedang dapat aus dan takkan bertahan lama. Tumpuklah emas permata di kamar anda dan anda akan bersusah payah menjaganya. Membanggakan kekayaan dan kehormatan harga diri hanya menyebar benih kehancuran pribadi. Undurlah sesudah tugas terlaksana demikian cara Langit bekerja."

"Hemm, apa yang kaumaksudkan dengan nyanyianmu itu?"

Dewi Ular Cantik bertanya dengan suara mengejek.

"Aku datang kesini bukan untuk mendengarkan khotbah!"

Dewa Arak tertawa.

"Nona, Dewa Rambut Putih telah menyanyiken ayat suci dari Agame To, kenapa nona tidak mengerti? Maksudnya adalah bahwa dalam kehidupan ini, seyogyanya kita tidak berlebihan dalam segala hal, memenuhi tugas dan kewajiban dan tidak mabok kemenangan atau keberhasilan. Mengenai batas dan tahu diri. Nona agak berlebihan, terburu nafsu sehingga peristiwa sepuluh tahun yang lalu disimpan dalam hati sebagai dendam. Bukankah berarti nona meracuni diri sendiri selama sepuluh tahun ini? Dan semua itu untuk apa? Hanya untuk menebus kekalahan! Hanya untuk menang! "Sudahlah, tak perlu berkhotbah. Aku datang untuk menantang kalian. Mau atau tldak kalian harus menerima tantanganku, karena kalau kalian tidak mau menandingiku, aku akan menyerang dan kalian akan mati konyol!"

"Nanti dulu, suci!"

Kata Lili.

"Jangan bunuh dulu mereka ini sebelum memberitahu kepadaku. Hei, ketiga totiang. Aku mencari anak setan kurang ajar itu. Di mana dia?"

"Anak setan yang mana? Di sini tidak ada anak setan, yang ada hanya anak manusia, nona,"

Kata Dewa Arak.

"Aku mencari Si Kerbau-sapi-kuda-anjing-kucing-babi itu!"

Kata pula Lili sambil mengepal tinju. Dewa Arak melongo, memandang kepada gadis cantik itu dan hatinya berkata.

"Sungguh sayang, nona begini cantik otaknya miring!"

Melihat kakek itu bengong saja, Lili membentak marah.

"Jangan pura-pura! Aku mencari anak laki-laki yang sepuluh tahun lalu bersama kalian. Dia tentu murid kalian! Di mana si keparat itu?"

"Ooohhh, kaumaksudkan Sin Wan? Dia sedang pergi."

"Sudahlah, sumoi. Nanti kita cari musuhmu itu, sekarang aku akan membereskan dulu tiga orang ini!"

Kata Si Dewi Ular dan ia sudah mencabut pedangnya, lalu berkata kepada tiga orang pertapa itu.

"Sam Sian, aku Bi-coa Sian-li Cu Sui In menantang Sam Sian maju satu demi satu, tidak main keroyokan seperti pengecut-pengecut liar!"

Tiga orang kakek itu saling pandang dan jelas nampak bahwa mereka itu merasa enggan untuk berkelahi walaupun sedikitpun tidak merasa takut.

Bagi mereka, melayani tantangan Dewi Ular Cantik itu sama saja dengan ikut menjadi gila.

Di antara mereka dan wanita itu sebetulnya tidak ada permusuhan apapun.

Dahulu mereka memang memperebutkan pusaka, akan tetapi sekarang pusaka itu telah kembali kepada pemiliknya, dan tentang kalah menang dalam pertandingan, bagi orang-orang dunia persilatan adalah hal biasa dan tidak pernah mendatangkan sakit hati dan dendam.

"Suci, percuma menantang pengecut. Mereka takut!"

Kata Lili mengejek. Sui In mengerutkan alisnya.

"Sam Sian, kalau kalian takut, kalian harus berlutut minta ampun kepadaku, baru akan kupertimbangkan untuk mengampuni nyawa kalian!"

Ucapan ini sengaja dikeluarkan Sui In untuk menyudutkan mereka.

Tentu saja ia tahu bahwa orang-orang seperti Tiga Dewa itu tidak akan merasa takut menghadapi tantangan siapapun.

Ia sengaja memanaskan hati mereka agar mereka segera menyambut tantangannya.

Dan usahanya berhasil.

Pantangan bagi semua tokoh dunia persilatan kalau dikatakan takut.

"Siancai ....! Bi-coa Sian-li memaksa orang. Baiklah, karena engkau telah mencabut pedang, pinto (aku) akan melayanimu sejenak."

Kata Kiam-sian Louw Sun sambil meraba pinggangnya.

Akan tetapi, alisnya berkerut dan dia segera teringat bahwa tidak ada lagi pedang di pinggangnya.

Pedang Jit-kong-kiam (Pedang Sinar Matahari), yang biasanya dililitkan di pinggang, kini tldak terdapat lagi di pinggangnya karena sudah dia berikan kepada muridnya, Lim Kui Siang!

Sedangkan Pedang Tumpul yang diterimanya dari Kaisar, telah dia berikan kepada Sin Wan.

Tadinya, pedang-pedang itu hanya dipergunakan oleh kedua orang murid itu untuk latihan ilmu pedang, akan tetapi kemudian Si Dewa Pedang memberikan pedang-pedang itu kepada mereka karena dia sendiri tidak membutuhkan pedang.

Baru sekarang dia teringat, akan tetapi dia tersenyum dan sama sekali tidak menjadi panik.

"Bi-coa Sian-li, maaf, aku tidak mempunyai pedang. Biarlah kupergunakan sebatang ranting pohon saja untuk melayanimu bermain pedang,"

Katanya dan diapun menghampiri sebatang pohon dan mematahkan ranting yang panjang dan besarnya seperti pedang.

Dia kembali menghadapi wanita itu dengan pedang kayu di tangan!

Wajah wanita itu berubah merah dan ia marah sekali.

"Dewa Pedang, engkau sungguh menghina dan berani memandang rendah kepadaku. Baik, kau akan menebus penghinaan ini dengan nyawamu!"

Cu Sui In sudah menggerakkan pedangnya sambil mengeluarkan bentakan nyaring.

Sinar pedang menyambar ganas dan Dewa Pedang cepat meloncat untuk menghindarkan diri, sambil mengelebatkan pedang kayunya, menusuk atau menotok ke arah pergelangan tangan lawan yang memegang pedang.

Namun, Dewi Ular Cantik itu cepat menarik kembali tangannya, memutar pergelangan pedang dan pedang itu sudah meluncur lagi dengan tusukan dahsyat yang membuat Dewa Pedang terkejut dan terpaksa meloncat lagi ke samping untuk menghindarkan diri.

Dewi Ular mendesak terus, pedangnya berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang menyilaukan mata dan dari gulungan sinar itu terdengar suara bercuitan melengking.

Dewa Pedang yang memutar pedang kayunya sambil mempergunakan keringanan tubuhnya untuk mengelak ke sana sini, diam-diam terkejut bukan main.

Dari gerakan pedang lawan, tahulah dia bahwa wanita ini sama sekali tidak dapat disamakan dengan sepuluh tahun yang lalu.

Kini ilmu pedangnya matang dan mantap, gerakannya cepat dan ringan sekali sedangkan tenaga sin-kang yang terkandung dalam pedang itu kuat bukan main, membuat pedang kayunya selalu terpental dan tangannya tergetar.

Tahulah Dewa Pedang bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan yang amat tangguh!

Penglihatan Dewa Pedang memang tidak keliru.

Selama sepuluh tahun ini, Cu Sui In telah menggembleng diri di bawah bimbingan ayahnya sehingga selain ilmu-ilmunya menjadi matang, juga gin-kang dan sin-kang yang dikuasainya menjadi semakin kuat.

Selain ini, ayahnya mengajarkan ilmu pedangnya yang baru saja diciptakannya, yang diberi nama Hek-coa Kiam-sut (Ilmu Pedang Ular Hitam).

Si Raja Ular Cu Kiat menciptakan ilmu pedang ini berdasarkan gerakan seekor ular hitam beracun, yaitu seekor Cobra hitam, kalau binatang itu marah dan menyerang.

Untuk menyempurnakan ciptaannya, dia telah mengorbankan entah beratus ekor cobra hitam dan musang yang diadunya untuk dia tangkap inti sari gerakan ular hitam itu.

Akhirnya, dia berhasil menciptakan Hek-coa Kiam-sut yang terdiri dari delapan belas jurus yang ampuh sekali.

Dan ketika puterinya menggembleng diri selama sepuluh tahun, dia mengajarkan ilmu pedang ini kepada puterinya dan kepada muridnya, yaitu Tang Bwe Li.

Sepuluh tahun yang lalu, tingkat kepandaian Sui In masih kalah setingkat dibandingkan tingkat seorang di antara Sam Sian.

Akan tetapi sekarang keadaannya sudah berubah sama sekali.

Kalau Sui In selama sepuluh tahun menggembleng diri dan tekun berlatih, sebaliknya Tiga Dewa jarang berlatih kecuali hanya kalau mengajar dua orang murid mereka.

Baca Juga: Bu Kek Siansu 1

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert