Ceritasilat Novel Online

Si Pedang Tumpul 3

Eps 3 Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo

Baca online Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo

Cersil Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo.

Sekarang, tingkat kepandaian Sui In sudah sejajar dengan kepandaian Kiam-sian (Dewa Pedang) atau Pek-mau-sian (Dewa Rambut Putih).

Hanya Ciu-sian Si Dewa Arak yang diam-diam telah merangkai sebuah ilmu yang dia ambil dari inti sari kepandaian mereka bertiga.

Biarpun nampaknya ugal-ugalan dan suka main-main, namun sesungguhnya Dewa Arak memiliki kecerdikan luar biasa.

Selama sepuluh tahun ini otaknya bekerja dan dia minta kepada dua orang rekannya untuk membuat dasar dari ilmu masing-masing, kemudian dia menggabung inti sari ilmu mereka bertiga, dijadikan sebuah ilmu yang setiap hari masih terus disempurnakannya.

Dua orang rekannya yang tidak serajin Dewa Arak, mengetahui akan hal itu akan tetapi tidak ada niat untuk ikut mempelajarinya.

Merekapun tahu bahwa Dewa Arak sengaja menciptakan ilmu yang diambil dari inti sari ilmu mereka bertiga digabung menjadi satu, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk dua orang murid mereka, yaitu Sin Wan dan Kui Siang.

Setelah berhasil menciptakan ilmu ini, diam-diam Dewa Arak memutuskannya menjadi sebuah kitab dan tahun demi tahun, dia menyempurnakan ilmu itu dan sampai saat itu belum mengajarkannya kepada Sin Wan maupun Kui Siang.

Hal ini adalah karena untuk dapat mempelajari dan melatih ilmu itu, harus memiliki dasar yang amat kuat, dan tenaga sin-kang yang cukup.

Kalau tidak, ilmu yang aneh ini bahkan dapat menimbulkan bahaya besar, dapat mengakibatkan luka dalam yang parah kepada yang melatihnya.

Akan tetapi, dengan sendirinya tingkat kepandaian Dewa Arak meningkat dengan dikuasainya ilmu baru itu.

Pertandingan antara Dewa Pedang dan Dewi Ular Cantik berjalan dengan semakin seru.

Dewa Rambut Putih dan Dewa Arak diam-diam menyayangkan bahwa rekan mereka telah memberikan Pedang Tumpul kepada Sin Wan dan Pedang Sinar Matahari kepada Kui Siang.

Kalau saja rekan mereka itu memegang satu di antara dua buah senjata pusaka itu, tentu akan lain keadaannya.

Akan tetapi, Dewa Pedang hanya bersenjatakan sebatang ranting pohon.

Kalau menghadapi lawan lain, mungkin sebatang ranting itu sudah cukup ampuh karena tangan Dewa Pedang yang mengandung tenaga sin-kang kuat itu dapat membuat ranting itu menjadi senjata yang cukup tangguh.

Akan tetapi yang dihadapinya kini adalah Dewi Ular Cantik yang ternyata memiliki kepandaian yang demikian tingginya.

Setelah lewat tigapuluh jurus, mulailah Dewa Pedang terdesak hebat oleh lawannya.

Dua kali ujung ranting yang dipergunakan sebagai pedang itu terbabat putus ujungnya oleh pedang di tangan Bi-coa Sian-li Cu Sui In yang makin lama semakin ganas mendesak lawannya itu.

Tiba-tiba Cu Sui In mengeluarkan suara mendesis seperti desis seekor ular cobra dan ia telah mengubah gerakan pedangnya dan mulai memainkan ilmu pedang baru yang amat dahsyat, yaitu Hek-coa Kiam-sut!

Dan begitu ia memainkan ilmu pedang ini, Dewa Pedang terkejut karena dia mengenal ilmu pedang orang amat aneh dan amat berbahaya!

Pedang lawan itu gerakannya seperti seekor ular cobra yang menyerang lawan.

Dia berusaha untuk membentuk parisai dengan sinar ranting yang diputarnya cepat, namun tetap saja pedang lawan dapat menerobos masuk dan biarpun dia sudah melempar tubuh ke belakang, tetap saja pundak kirinya tertusuk ujung pedang lawan.

Kiam-sian Louw Sun tidak mengeluh, akan tetapi dia terhuyung ke depan dan saat itu, Dewi Ular Cantik sudah menerjang lagi ke depan, pedangnya berkelebat menyilaukan mata dan terpaksa Dewa Pedang meloncat jauh ke atas untuk menghindarkan diri dari ilmu pedang yang seperti gerakan ular itu!

Untuk melindungi diri dari ilmu pedang yang seperti ular itu, satu-satunya cara terbaik adalah berloncatan ke atas seperti seekor burung rajawali kalau menghadapi ular.

Akan tetapi, Dewi Ular Cantik sudah dapat menduga taktik ini dan iapun ikut meloncat ke atas.

Mereka mengadu pedang dan ranting di udara ketika berlompatan.

Keduanya turun lagi dan kembali ujung pedang Cu Sui In telah dapat mencium pangkal lengan kanan Dewa Pedang sehingga bajunya terobek dan kulitnya terluka berdarah.

Keduanya kini sudah sampai ke puncak pertandingan, saling mengerahkan tenaga sekuatnya dan mereka lalu meloncat lagi seperti terbang, saling terjang di udara.

Namun, tiba-tiba dari gagang pedang Cu Sui In meluncur jarum-jarum hitam.

Serangan jarum-jarum ini merupakan rangkaian serangan pedangnya yang ganas.

Dewa Pedang sudah mencoba untuk memutar ranting melindungi dirinya, akan tetapi biarpun dia berhasil memukul runtuh semua jarum beracun, dia tidak mampu menghindarkan tusukan pedang lawan yang mengenai lambungnya.

Kembali mereka berdua melompat turun dalam jarak yang cukup jauh.

Dewa Pedang dapat turun dengan berdiri tegak, akan tetapi perlahan-lahan darah mengalir keluar dari celah-celah jari tangan ketika tangan kirinya mendekap lambung yang terluka.

"Hyaaaattt .......!"

Dia menggerakkan tangan kanan sambil membalik ke arah Dewi Ular Cantik.

Ranting di tangannya itu meluncur seperti anak panah ke arah lawan.

Cu Sui In terkejut, tidak menyangka bahwa lawan yang sudah terluka parah itu masih mampu menyerangnya sehebat itu.

Ia menggerakkan pedang menangkis dan ranting itu meluncur cepat ke arah pohon dan menancap ke batang pohon seperti anak panah yang dilepas dari dekat!

Akan tetapi itu merupakan serangan balasan terakhir dari Kiam-sian Louw Sun karena dia sudah terkulai roboh.

Dewa Arak cepat menghampiri rekannya dan menotok beberapa jalan darah untuk menghentikan darah mengalir keluar.

Akan tetapi setelah memeriksanya, tahulah Dewa Arak bahwa luka yang diderita rekannya itu terlampau parah dan tak mungkin dapat disembuhkan lagi.

Pedang Dewi Ular Cantik bukan hanya merobek kulit dan daging saja, melainkan melukai anggauta badan sebelah dalam sehingga tidak mungkin lagi Dewa Pedang dapat ditolong dan diselamatkan.

Sementara itu, melihat rekannya roboh, Pek-mou-sian Thio Ki meloncat ke depan wanita cantik itu.

"Siancai ....., hatimu sungguh ganas dan kejam, Bi-coa Sian-li. Kami dahulu mengalahkanmu tanpa melukai, akan tetapi sekarang engkau berusaha membunuh kami."

"Pek-mou-sian! Terluka atau tewas dalam pertandingan sudah menjadi resiko semua orang di dunia persilatan. Hal itu biasa dan wajar, kenapa banyak ribut lagi! Kalau tadi aku yang kalah, tentu aku yang terluka dan mungkin tewas. Nah, sekarang majulah, aku sudah siap!"

Tantang wanita cantik itu.

"Suci, engkau sudah lelah. Biarkan aku maju mewakilimu menghadapi dia!"

Tang Bwe Li melompat ke depan, akan tetapi, Cu Sui In mengerutkan alisnya dan membentak.

"Sumoi, mundur kau! Ingat, jangan mencampuri urusan ini. Ini urusan pribadiku, kau tahu? Biar andaikata aku terdesak dan terancam maut sekalipun, engkau tidak boleh turun tangan!"

Lili mundur.

Ia maklum akan watak kakak seperguruan, bekas gurunya ini.

Cu Sui In wataknya persis ayahnya, yaitu See-thian Coa-ong Cu Kiat.

Watak yang keras dan gagah, juga tinggi hati dan pantang dianggap curang atau penakut.

Karena itulah ia tidak menghendaki sumoinya mencampuri pertandingannya melawan Sam Sian, apalagi melihat betapa Tiga Dewa itu tidak mengeroyoknya.

Kalau tadi Lili mencoba untuk mewakili sucinya, hal itu adalah karena ia tahu benar betapa sucinya itu sudah lelah karena tadi harus mengerahkan tenaga sepenuhnya ketika melawan Kiam-sian, walaupun sucinya keluar sebagai pemenang.

Dan ia dapat menduga bahwa tingkat kepandaian kakek rambut putih itu tentu setinggi tingkat Dewa Pedang pula.

Dengan hati khawatir Lili melangkah mundur dan kembali menjadi penonton saja, tidak berani membantu karena kalau ia lancang melakukan hal ini, sucinya tentu akan marah bukan main karena perbuatannya itu dapat dianggap menghina dan merendahkan harga diri sucinya itu!

Pek-mou-sian Thio Ki maklum akan kelihaian lawan.

Tadi dia mengikuti pertandingan antara rekannya Dewa Pedang melawan wanita ini dengan teliti dan dia tahu bahwa yang amat berbahaya adalah ilmu pedang yang gerakannya seperti gerakan ular cobra tadi.

Rekannya saja, yang dijuluki Dewa Pedang dan ahli dalam ilmu pedang, tidak mampu menandingi ilmu pedang ular itu.

Akan tetapi, Dewa Rambut Putih tidak menjadi gentar sama sekali.

Bagi dia, hidup atau mati bukan hal yang paling penting.

Yang terpenting adalah bagaimana dia dapat selalu mengambil jalan yang benar.

Kalau sudah benar, mati atau hidup sama saja!

Mati karena membela yang benar jauh lebih baik dari pada hidup mempertahankan kejahatan!

"Siancai .....!"

Ingat, Bi-coa Sian-li, adalah engkau yang datang mencari dan menantang kami. Baik kalah atau menang, akibatnya adalah tanggunganmu. Kami hanya melayani permintaanmu."

"Aku datang bukan untuk berdebat. Keluarkan senjatamu, kalau memang engkau tidak takut menyambut tantanganku!"

Bentak Cu Sui In.

Dewa Rambut Putih mengeluarkan kipas dan sulingnya.

Kipas itu dipegangnya dengan tangan kiri, dan sulingnya dengan tangan kanan.

Dia bersikap tenang walaupun waspada, karena dia maklum bahwa orang seperti wanita ini tidak segan menggunakan siasat yang betapa ganaspun, seperti tadi ia menyerang Dewa Pedang dengan jarum beracun yang keluar dari gagang pedangnya.

"Bi-coa Sian-li, aku sudah siap, katanya. Baru saja kata-katanya habis, pedang ditangan Cu Sui In sudah menerjangnya dengan dahsyat bukan main. Dewa Rambut Putih me ngebutkan kipasnya dan menggunakan sulingnya menangkis.

"Tranggg ........!"

Suling menangkis pedang dan kipasnya mengebut ke arah muka lawan.

Cu Sui In cepat mengelak dari sambaran angin kipas itu, akan tetapi tiba-tiba kipas itu tertutup dan gagangnya menotok ke arah pundak Sui In.

Totokan dengan gagang kipas itu nampaknya lemah saja, namun sesungguhnya dibalik gerakan yang lernbut itu terkandung tenaga yang dahsyat.

Tahulah Cu Sui In bahwa lawannya amat lihai.

sesuai dengan filsafah Agama To yang selalu menekankan bahwa "yang kosong itu berisi", bahkan yang kosong itulah intinya karena segala hal baru dapat berarti kalau ada bagiannya yang kosong.

Lo-cu, nabi Agama To, membuka kesadaran manusia untuk menghargai yang kosong atau bahkan "yang tidak ada"

Dengan mengatakan bahwa sebuah roda baru dapat dipergunakan karena ada bagian kosong di antara jerujinya.

Sebuah cawan baru dapat berguna karena ada bagian kosong di dalamnya, dan sebuah rumah baru dapat berguna karena ada bagian yang kosong di dalamnya dan lubang-lubang di pintu dan jendelanya.

Inilah inti dari ilmu silat yang kini dimainkan Dewa Rambut Putih, nampak lembut namun sesungguhnya amat kuat!.

Karena maklum bahwa lawannya ini tidak kalah berbahaya dibandingkan Dewa Pedang, Cu Sui In tidak mau membuang banyak tenaga.

Ia sudah mulai merasa lelah karena tadi ketika melawan Dewa Pedang ia sudah mengerahkan banyak tenaga sin-kang.

"Ssssshhhhh ........!!"

Terdengar ia mendesis dan gerakan pedangnya kini berubah menjadi seperti gerakan ular cobra.

Pek-mau-sian Thio Ki sudah siap siaga dan begitu pedang lawan menusuk seperti gerakan ular mematuk, dia pun cepat menangkis dengan sulingnya sambil mengerahkan sin-kang.

"Cringgg .......!!"

Pek-mau-sian terkejut karena tenaga yang terkandung dalam ilmu pedang ular itu bukan main hebatnya, mempunyai tenaga seperti membelit dan menempel sehingga ketika dia menarik sulingnya lepas, dia terhuyung.

Namun, cepat kipasnya mengebut ke depan sehingga dia mampu menghalangi penyerangan susulan karena bagaimana pun juga, Cu Sui In tidak berani memandang ringan gerakan kipas itu.

Dewa Rambut Putih maklum bahwa ilmu pedang ular itu mengandung tenaga sin-kang yang dahsyat sekali, maka diapun segera mengerahkan tenaga sin-kang yang biasa dia pergunakan untuk ilmu sihirnya.

Dalam adu kepandaian ini, dia tidak mau mempergunakan sihir karena selain belum tentu seorang sakti seperti Dewi Ular Cantik itu dapat terpengaruh sihir, juga dia tidak mau berlaku curang dengan menggunakan sihir.

Bukankah mereka sedang mengadu ilmu silat?

Dia hanya membela diri, sama sekali tidak haus akan kemenangan, maka dia merasa malu kalau harus mempergunakan sihir.

Akan tetapi, dia mengerahkan tenaga sin-kang Pek-in (Awan Putih) dari kedua telapak tangan, juga ubun-ubun kepalanya, mulai mengepulkan uap putih!

Melihat ini, Cu Sui In mendesis-desis semakin keras dan gerakannya cepat sekali, pedangnya bagaikan seekor ular cobra, mematuk-matuk dan mengirim serangan bertubi-tubi!

"Siancai ....!"

Dewa Rambut Putih berseru kagum dan dia harus cepat memutar suling dan mengibaskan kipasnya untuk melindungi dirinya.

Wanita cantik itu memang berbahaya sekali.

Bukan saja pedangnya yang berbahaya, juga kuku-kuku jari tangan kiri ikut menyambar-nyambar dan dia maklum bahwa kuku yang kini berubah menghitam itu mengandung racun yang berbahaya, yaitu racun ular cobra hitam.

Sekali saja kulit tergores kuku sampai terobek dan berdarah, racunnya akan memasuki tubuh lewat jalan darah dan akibatnya sama saja dengan kalau orang digigit ular cobra hitam!

Karena memang tingkat kepandaian Dewa Rambut Putih sama tingginya dengan tingkat Dewa Pedang, maka kembali terjadi pertandingan yang amat seru dan hebat.

Bahkan bagi Cu Sui In, lawannya yang kedua ini lebih tangguh.

Hal ini karena tadi Dewa Pedang tidak memegang pedang, hanya mempergunakan ranting pohon sebagai senjata, sebaliknya Dewa Rambut Putih memegang sepasang senjatanya sendiri yang pernah membantunya membuat nama besar selama puluhan tahun.

Karena tidak mungkin membela diri hanya dengan mengelak atau menangkis saja kalau berhadapan dengan lawan yang tingkat kepandaiannya tidak berselisih jauh dengan tingkatnya sendiri, maka Dewa Rambut Putih juga menggunakan cara membela diri yang paling baik, yaitu dengan cara balas menyerang.

Bagi Tiga Dewa, kalau tidak terpaksa, mereka tidak akan mau menyerang orang, apa lagi membunuh atau melukai.

Kini, berhadapan dengan Dewi Ular Cantik, terpaksa dia melawan dengan pengerahan seluruh kepandaian dan tenaganya, balas menyerang dengan dahsyat.

Kalau saja dia tidak memiliki tenaga sakti Awan Putih, tentu Pek-mau-sian Thio Ki tidak akan mampu bertahan sampai puluhan jurus.

SUI IN yang memang sudah lelah, kini dipaksa untuk menguras tenaganya.

Wanita ini semakin lelah, leher dan dahinya basah oleh keringat, napasnya agak memburu walaupun permainan pedangnya tidak berkurang ganasnya dan gerakan tubuhnya tidak berkurang gesitnya.

Dibandingkan lawannya, seorang pertapa yang usianya sudah enampuluh dua tahun lebih, ia menang dalam beberapa hal.

Pertama, ia lebih muda, ke dua ia lebih terlatih dan ke tiga ia lebih bersemangat dan nekat!

Ketika untuk ke sekian kalinya pedang bertemu suling dengan amat kuatnya, membuat keduanya terdorong dan melangkah ke belakang, Sui In mengubah gerakan serangannya.

Ia tidak lagi menyerang dengan gerakan yang lincah seperti tadi, rnelainkan ia menyerang dengan gerakan yang lambat dan berat.

Hal ini bukan berarti bahwa ia telah kehabisan tenaga atau napas.

Sama sekali tidak!

Hanya, kalau tadi ia mengandalkan kecepatan untuk mencoba mengatasi lawan, kini ia mencurahkan seluruh daya serangnya dengan andalan tenaga sin-kang dari Ilmu Pedang Ular Hitam.

Pedangnya menyambar dengan gerakan lambat dan berat sekali, namun mengandung angin yang menyambar dengan dahsyat!

Dewa Rambut Putih maklum akan perubahan siasat lawan.

Diapun tidak berani lengah dan sambaran pedang itu, walaupun datangnya lambat, dia elakkan dengan loncatan jauh ke samping dan diapun membalas dengan serangan yang sama sifatnya, lambat dan berat.

Sulingnya menotok ke arah pergelangan tangan yang kehitaman itu, didahului oleh sambaran kipasnya ke arah muka.

Gerakannya mengandung sinkang yang kuat pula.

Sui In juga mengelak dan mereka serang menyerang dengan gerakan lambat sehingga bagi orang yang tidak paham limu silat tinggi, tentu akan menganggap bahwa keduanya hanya main-main dan tidak berkelahi sungguh-sungguh.

Akan tetapi Dewa Arak dan Lili maklum bahwa kini perkelahian itu telah tiba pada keadaan yang gawat dan mati-matian.

Ketika dalam pertemuan antara pedang dan suling yang mengandung tenaga sinkang sepenuhnya membuat Dewi Ular Cantik terhuyung ke belakang, Dewa Rambut Putih mendapatkan kesempatan untuk balas mendesak lawan.

Dia tahu betapa berbahayanya wanita ini dan dia harus mampu mengalahkannya kalau ingin dia dan Dewa Arak, mungkin juga dua orang murid mereka, selamat.

Melihat lawan terhuyung dalam posisi yang tidak menguntungkan, Pek-mau-sian lalu menerjang dengan suling dan kipasnya.

Kedua senjata ampuh ini menyambar dari atas, kipasnya rnenotok pergelangan tangan yang memegang pedang sedangkan suling di tangan kanannya menotok ke arah pundak untuk merobohkan lawan tanpa melukainya.

Akan tetapi pada saat itu, tubuh Dewi Ular Cantik yang terhuyung itu tiba-tiba tegak kembali dan ketika ia menggerakkan kepalanya, rambut yang hitam panjang itu bagaikan seekor ular telah menyambar ke arah suling, menangkis dan terus melibatnya, dan pedangnya bergerak menyambar arah kipas.

Pedangnya merobek kipas dan terjepit di antara gagang kipas!

Kedua senjata Dewa Rambut Putih tidak dapat digerakkan lagi dan pada saat itu, Dewi Ular Cantik yang tadi membuat gerakan terhuyung hanya sebagai siasat saja, menggerakkan tangan kirinya yang membentuk cakar dan kuku-kuku jari tangannya menyambar ke arah tenggorokan Pek-mau-sian Thio Ki!

Tentu saja Dewa Rambut Putih terkejut sekali.

Untuk menangkis tidak mungkin karena kedua senjatanya telah melekat pada rambut dan pedang, dan untuk mengelak, jaraknya sudah terlampau dekat.

Serangan itu amat ganas dan licik, sama sekali tidak disangkanya, maka satu-satunya jalan baginya hanyalah menarik tubuh atas ke belakang dan untuk menyelamatkan diri, dia mengangkat kaki menendang.

"Crokkk ....! Desssss ........"

Cengkeraman tangan kiri dengan kuku hitam itu memasuki dada Pek-mau-sian, pada detik yang sama dengan tendangan kaki Dewa Rambut Putih itu yang mengenai lambung Dewi Ular Cantik.

Tubuh Pek-mau-sian Thio Ki terjengkang pada saat tubuh Bi-coa Sian-li Cu Sui In terlempar ke belakang sampai dua meter jauhnya.

Dewa Arak lari menghampiri rekannya yang roboh terjengkang, sedangkan Lili meloncat menghampiri sucinya yang tidak roboh, akan tetapi ketika tubuhnya turun, ia terhuyung dan muntahkan darah segar!

Dewa Arak sekali pandang saja tahu bahwa rekannya, Dewa Rambut Putih, telah tewas seketika.

Dadanya menjadi hitam oleh pengaruh racun dari kuku tangan kiri lawan dan rekannya itu tewas tanpa menderita, lebih beruntung dibandingkan Dewa Pedang yang tewas setelah tadi menderita beberapa lamanya.

Dua rekannya telah tewas.

Dewa Arak menarik napas panjang dan sambil meneguk araknya dia memandang ke arah wanita cantik itu.

Wanita cantik itu mengibaskan tangan Lili yang hendak menolongnya, dan kini telah berdiri tegak walaupun wajah yang cantik itu kini pucat sekali.

Ia hendak bicara kepada Dewa Arak, akan tetapi yang keluar dari mulutnya hanya darah lagi, maka iapun segera duduk bersila, mengatur pernapasan untuk mengumpulkan hawa murni dan mengobati luka di bagian dalam tubuhnya yang terguncang akibat tendangan Dewa Rambut Putih tadi.

Tendangan itu mengandung hawa atau tenaga sakti Awan Putih, maka dapat mengguncang isi perut wanita itu.

"Suci, biar aku yang menghadapi tua bangka yang seorang lagi itu."

Kata Lili yang sudah siap untuk menyerang Dewa Arak yang masih enak-enak minum arak dari gucinya.

Wanita yang duduk bersila itu membuka matanya, memandang kepada sumoinya.

Sejenak ia tidak bicara karena sedang mengatur pernapasan, setelah agak reda, iapun berkata lirih.

"Sumoi, sudah kukatakan jangan kau ikut campur. Ini adalah urusan pribadiku. Sekarang aku tidak mungkin dapat menantang Dewa Arak, biarlah hari ini kubiarkan dia hidup. Lain hari akan kucari dia! Kecuali kalau dia hendak menuntut balas atas kematian dua orang rekannya!"

Mendengar ini, Dewa Arak tertawa bergelak.

"Ha .. ha .. ha, Dewi Ular, apakah engkau mulai merasa menyesal karena membunuh mereka? Ha .. ha, engkau sudah begitu berjasa terhadap dua orang sahabatku, dan engkau menyuruh aku membalas dendam kepadamu? Ha-ha-ha, sayang engkau terluka, nona. Kalau tidak, tentu akupun akan kaubebaskan dari pada kurungan hidup yang palsu ini. Masih untung ada arak, kalau tidak, betapa menjemukan, apalagi setelah dua orang sababatku pergi."

Cu Sui In bangkit berdiri. Napasnya tidak terengah lagi walaupun mukanya masih pucat.

"Kalau engkau hendak membalas dendam, biar terluka aku akan melayanimu, Dewa Arak. Kalau tidak, jangan kira bahwa aku melarikan diri takut oleh pembalasanmu."

"Ha .. ha .. ha, engkau memang wanita gagah Dewi Ular. Agaknya engkau hendak menutupi semua kesengsaraan hatimu dengan sikap gagah dan tidak mau kalah dengan mengangkat harga diri setinggi mungkin. Aih, aku kasihan kepadamu, Dewi Ular!"

Mendengar ini, Lili mengerutkan alisnya lalu menudingkan telunjuknya ke arah muka kakek itu.

"Hei, tua bangka pemabok! Jangan semnbarangan bicara engkau! Katakan kepada muridmu si Kerbau-sapi-kuda itu bahwa sekali waktu, aku akan mencarinya untuk membalas penghinaannya kepadaku sepuluh tahun yang lalu!"

"Sudahlah, sumoi. Dia pemabok akan tetapi ucapannya benar. Mari kita pergi!"

Kata Cu Sui In.

Lili tidak berani membantah dan dua orang wanita itu lalu menuruni lembah itu, diikuti pandang mata Dewa Arak yang menggeleng kepalanya.

Setelah matahari naik tinggi, dari lereng sebelah timur nampak dua orang muda mendaki puncak memasuki Lembah Awan Putih sambil membawa bermacam barang belanjaan.

Mereka adalah Sin Wan dan Kui Siang yang baru pulang dari kota Yin-coan mana mereka berbelanja bermacam barang untuk menyambut datangnya tahun baru seperti yang diusulkan guru-guru mereka.

Dengan gembira mereka berlari mendaki tebing yang curam itu.

Mereka membeli pakaian, bukan hanya untuk mereka berdua, juga untuk tiga orang suhu mereka.

Juga mereka membeli roti kering, daging kering, bumbu-bumbu masak, bahkan membeli pula lima ekor ayam dan telur asin.

Ketika rnereka tiba di lembah, mereka melihat suasana di situ sunyi sekali.

Biasanya, tiga orang guru mereka itu berada di luar pondok pada tengahari seperti itu dan ada saja yang mereka kerjakan.

Akan tetapi, kini suasana di luar pondok sunyi.

Ketika mereka menghampiri pondok, mereka mendengar suara Dewa Arak bicara dengan suara lantang.

"Aih, Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih, sungguh aku merasa iri kepadamu! Kalian mendapat kesempatan untuk lebih dahulu pergi meninggalkan dunia yang telah menjadi tempat kotor karena ulah manusia ini, terbebas dari sengsara badan dan batin. Kalian tewas sebagai orang-orang gagah, dan mendapat kehormatan tewas di tangan lawan yang berilmu tinggi. Kalian tidak kecewa, akan tetapi aku? Aihhh, siapa tahu kelak aku mati digerogoti kuman-kuman kecil. Ah, sungguh aku iri sekali kepada kalian!"

Mendengar ucapan itu, tentu saja Sin Wan dan Kui Siang menjadi heran, akan tetapi juga terkejut sekali.

Mereka lalu berlari masuk seperti berlomba dan mereka sejenak terpukau, berdiri saja memandang tubuh dua orang kakek yang terbujur kaku di atas pembaringan masing-masing!

Dua orang guru mereka itu telah menjadi jenazah!

"Suhuuu .....!!"

Kui Siang menjerit dan melompat, menubruk dua jenazah itu bergantian sambil menangis dan memanggil-manggil.

Gadis ini memang amat sayang kepada tiga orang guru mereka, yang seolah menjadi pengganti orang tuanya.

Dan kini ia mendapatkan dua orang di antara tiga gurunya tewas begitu saja.

pada hal ketika pagi tadi ia berangkat ke kota Yin coan bersama Sin Wan dua orang gurunya itu masih dalam keadaan sehat, tidak sakit apapun.

Sin Wan berdiri sambil menundukkan kepalanya, memejamkan matanya dan dengan suara lirih diapun berdoa.

"Ya Allah, mereka berasal dariMu dan kini Engkau berkenan memanggil mereka kembali kepadaMu. Semoga Allah Maha Kasih menerima mereka dan memberi tempat yang penuh bahagia abadi."

Kemudian dia menghampiri Kui Siang yang masih sesenggukan menangisi kematian dua orang gurunya, menyentuh pundaknya dan berkata.

"Sumoi, amat tidak baik menangisi dua orang guru kita yang sudah meninggal dunia. Tidak baik untuk mereka. Hentikan tangismu sumoi."

Kui Siang mengangkat mukanya yang basah air mata.

"Aduh, suheng ..... bagaimana aku tidak boleh menangis? Hatiku hancur melihat dua orang suhu meninggal dunia dengan mendadak ....... Tiba-tiba gadis itu meloncat berdiri dan membalik, memandang Dewa Arak yang masih menghadapi guci arak dan masih tersenyum-senyum itu.

"Aku harus membalas kematian mereka! Suhu, siapa yang membunuh mereka? Katakanlah, siapa yang membunuh mereka?"

Dewa Arab tersenyum memandang kepada muridnya itu.

"Kui Siang, kalau engkau tahu siapa yang membunuh mereka, lalu engkau mau apa?"

"Teecu (murid) akan membalas dendam kematian suhu berdua! Teecu akan mencari pembunuh itu dan kubunuh dia!"

Kata gadis itu sambil mengepal tinju dan meraba gagang pedang Jit-kong-kiam yang tergantung di pinggangnya.

"Kau mau tahu yang membunuh mereka? Yang membunuh adalah Tuhan."

Kui Siang memandang kepada gurunya itu dengan mata terbelalak "Tuhan? Suhu, apa maksud suhu? Teecu tidak mengerti......!"

"Ha..ha..ha..ha!"

Dewi Arak meneguk lagi arak dari gucinya, Sin Wan mendekati sumoinya.

"Sumoi, suhu berkata benar. Kematian kedua orang suhu, atau kematian siapapun juga di dunia ini, baru dapat terjadi kalau dikehendaki Tuhan! Tanpa kehendak Tuhan, siapa yang akan mampu membunuh siapa? Segala kehendak Tuhanpun jadilah, sumoi!"

"Ha..ha..ha, suhengmu benar, Kui Siang. Nah, kalau yang membunuh dua orang gurumu ini Tuhan, apakah engkau juga mendendam kepada Tuhan dan hendak membunuhnya untuk membalas dendam?"

Kui Siang tertegun dan menjadi bingung.

"Tapi ..... tapi ..... bagaimana Tuhan membunuh kedua guruku ini? Teecu bingung, suhu, tidak mengerti dan mohon penjelasan. Apa yang telah terjadi sampai kedua orang suhu ini meninggal dunia?"

"Duduklah dengan tenang, Kui Siang. Hentikan tangismu dan mari kita antar kematian Kiam-sian dan Pek-mau-sian dengan percakapan tentang kematian agar engkau mengerti. Sin Wan, kalau ada yang terlewat, kaulengkapi keteranganku kepada sumoimu. Nah, Kui Siang. Setiap manusia dilahirkan dan kemudian mengalami kematian. Kelahiran dan kematian setiap orang berada di tangan Tuhan, sudah dikehendaki oleh Tuhan! Tentu saja, seperti juga segala peristiwa di dunia ini, kelahiran dan kematianpun ada penyebabnya yang hanya menjadi jalan atau lantaran saja. Tentu saja Tuhan tidak mengulurkan tangan seperti kita untuk mencabut nyawa seseorang, melainkan melalui suatu sebab. Ada kematian karena penyakit, ada kematian karena bencana alam, ada kematian karena bunuh membunuh, dalam perang atau dalam perkelahian. Kita harus menghadapi setiap kematian sebagai suatu hal yang wajar, sebagai bukti bahwa hidup di dunia ini tidak abadi, dan bukti bahwa Tuhan Maha Kuasa dan tidak ada kekuatan apapun di dunia ini yang akan mampu menghindarkan kita dari kematian kalau Tuhan sudah menghendakinya. Sebaliknya, tidak ada kekuatan apapun di dunia ini yang dapat membunuh kita kalau Tuhan tidak menghendaki kita mati! Nah, kalau kematian itu ditentukan oleh Tuhan, maka setiap kematian, kalau ditanya pembunuhnya, maka pembunuhnya adalah Tuhan! Kalau, kita hendak mendendam, maka kepada Tuhanlah dendam itu ditujukan dan itu merupakan dosa yang teramat besar!"

"Tapi, suhu! Yang melakukan pembunuhan adalah manusia lain, walaupun kematian itu di tangan Tuhan!"

Bantah Kui Siang.

"Kalau ada orang membunuh orang lain yang tidak berdosa, maka si pembunuh itulah yang bertanggung jawab dan dia harus dihukum!"

"Ha..ha..ha, tentu saja! Dan kau bicara tentang hukum. Setiap dosa tidak akan dapat bebas dari hukuman Tuhan, dan ada pula hukuman manusia, yaitu hukum yang diadakan oleh negara, oleh masyarakat, oleh agama. Tapi, membalas dendam tidak termasuk dalam hukum apapun, kecuali hukum nafsu setan, hukum kebencian, Andaikata kedua orang gurumu ini mati karena penyakit, karena kuman, apakah engkau juga akan membalas dendam kepada kuman, kepada penyakit? Andaikata kedua orang gurumu ini mati karena banjir, apakah engkau akan mendendam kepada air? Kalau mati karena terbakar, apakah engkau akan mendendam kepada api? Dan masih banyak lagi penyebab kematian yang banyak menjadi lantaran saja."

Kui Siang tertegun dan bengong. Ia merasa bulu tengkuknya meremang, melihat kenyataan yang sama sekali tak pernah dipikirkan sebelumnya.

"Tapi ...... tapi ..... kalau dua orang suhu dibunuh orang jahat, apakah teecu harus mendiamkan saja orang jahat itu membunuh dua orang suhuku? Apakah teecu harus mendiamkan pula penjahat itu merajalela menyebar maut, membunuhi orang-orang yang tidak berdosa?"

"Sumoi, bukan begitu maksud suhu. Tentu saja kita harus menentang setiap perbuatan jahat. Kalau kita melihat penjahat yang telah membunuh dua orang guru kita, atau membunuh siapapun juga, atau penjahat lain yang manapun juga, kalau kita melihat dia melakukan kejahatan, sudah menjadi kewajiban kita untuk mencegah perbuatan jahat itu dilakukan. Akan tetapi, kita menentang dan memberantas kejahatan berdasarkan membela kebenaran dan keadilan, bukan demi membalas dendam karena kebencian atau sakit hati."

Kui Siang mengangguk-angguk. Baru sekarang setelah mendengarkan penjelasan suhengnya, ia teringat akan ajaran-ajaran dari dua orang gurunya yang kini telah rebah telentang, tanpa nyawa itu.

"Nah, engkau mulai mengerti agaknya, Kui Siang. Kita harus mengetahui bahwa budi dan dendam, keduanya merupakan belenggu pengikat kita kepada hukum karma. Hukum karma merupakan mata rantai yang tiada berkeputusan selama kita terikat oleh belenggu tadi."

"Suhu, mohon dijelaskan tentang karma."

"Hukum karma adalah hukum sebab akibat, Kui Siang. Ada akibat tentu ada sebabnya, dan akibat itu dapat menjadi sebab baru lagi sehingga mata rantai itu sambung menyambung tiada berkeputusan. Kalau engkau menendang sebuah batu dari puncak bukit, batu itu menjadi sebab tergelincirnya batu ke dua. Akibat ini menjadi sebab lain lagi karena batu ke dua menimpa batu ke tiga dari selanjutnya."

"Kalau begitu, kita tidak berdaya, suhu. Kita menjadi permainan karma, menjadi permainan hukum sebab dan akibat."

"Kalau kita membiarkan diri terikat, memang demikian, Kui Siang. Akan tetapi, Tuhan Maha Kasih kepada kita. Tuhan telah memberi alat yang serba lengkap kepada kita manusia, selain dengan nafsu-nafsu untuk mempertahankan hidup, dengan hati dan akal pikiran, juga menyertakan pula kesadaran jiwa. Kekuasaan Tuhan akan membimbing kita, Kui Siang, menyadarkan kita sehingga kita dapat mematahkan ikatan belenggu sebab akibat dan tidak terseret oleh berputarnya roda karma."

"Mohon penjelasan, suhu, berilah contohnya."

"Sin Wan, aku ingin mendengar apakah engkau sudah mengerti benar. Coba engkau yang menerangkan kepada sumoimu."

"Baik, suhu. Akan tetapi kalau ada kekeliruan harap suhu suka membetulkan dan memberi penjelasan. Sebelumnya, teecu harap suhu suka memberitahu, bagaimana kedua orang suhu ini sampai, tewas, agar dapat teecu pergunakan sebagai contoh tentang ikatan belenggu karma."

Dewa Arak menarik napas panjang.

"Ketika kalian turun dari lembah tadi, dan kami bertiga duduk di luar pondok menikmati sinar matahari pagi, muncullah Bi-coa Sian-li Cu Sui In bersama seorang gadis yang disebutnya sumoi.'' "Siapakah Bi-coa Sian-li Cu Sui In itu?"

Kui Siang bertanya.

"Sumoi, ia seorang tokoh kang-ouw wanita yang sepuluh tahun lalu pernah mencoba untuk merampas pusaka-pusaka istana dari tangan guru-guru kita."

Kata Sin Wan yang masih ingat kepada wanita galak itu, juga ingat kepada anak perempuan yang ketika itu mengaku sebagai murid Dewi Ular Cantik.

"Nah, wanita itu sepuluh tahun yang lalu gagal merampas pusaka dari kami, dan kekalahan sepuluh tahun yang lalu itu membuat ia menaruh dendam. Ia datang mencari kami dan menantang kami untuk bertanding satu lawan satu untuk menebus kekalahannya sepuluh tahun yang lalu. Tentu saja kami tidak menanggapi, akan tetapi ia memaksa dan akan membunuh kami kalau kami tidak mau menyambut tantangannya. Tentu saja kami tidak mau dibunuh begitu saja dan mati konyol. Maka Dewa Pedang lalu menyambut tantangannya."

"Tapi, Louw-suhu (guru Louw) sudah mengatakan tidak akan bertanding lagi, dan beliau menyerahkan Jit-kong-kiam kepada teecu dan Pedang Tumpul kepada suheng!"

Seru Kui Siang, lalu ia menoleh dan memandang ke arah wajah jenazah Kiam-sian Louw Sun. Dewa Arak tersenyum.

"Bagi seorang ahli pedang seperti Kiam-sian, setiap benda berbentuk pedang dapat saja menjadi senjata pengganti pedang. Dia melawan Dewi Ular itu dengan sebatang ranting pohon."

"Ahhh ......! Dan Louw-suhu melawannya dengan ranting, sedangkan lawan menggunakan pedang pusaka?"

Teriak Kui Siang.

"Bukan hanya karena itu. Akan tetapi memang harus kami akui bahwa ilmu kepandaian Dewi Ular Cantik tidak dapat disamakan dengan tingkatnya sepuluh tahun yang lalu. Ia lihai bukan main dan akhirnya, setelah melalui pertandingan yang seru dan hebat, guru kalian Kiam-sian Louw Sun tewas di tangan Dewi Ular Cantik."

Wajah Kui Siang menjadi merah, akan tetapi ia masih menahan kemarahannya.

"Apakah Thio-suhu (guru Thio) juga tewas oleh iblis betina itu, suhu?"

Dewa Arak mengangguk.

"Setelah Dewa Pedang roboh. Dewa Rambut Putih maju melawan Dewi Ular Cantik. Pertandingan antara mereka lebih seru dan sebetulnya Dewi Ular sudah kehabisan tenaga. Akan tetapi ia memang lihai dan mempunyai banyak siasat. Akhirnya, dengan menggunakan rambutnya sebagai senjata. Dewi Ular berhasil merobohkan dan menewaskan Dewa Rambut Putih walaupun ia sendiri terkena tendangan Pek-mau-sian dan menderita luka dalam yang cukup parah. Dalam keadaan terluka ia dan sumoinya pergi."

"Iblis betina keparat!"

Kui Siang bangkit lagi kemarahannya yang sejak tadi ditahannya.

"Hemm, mau apa engkau, Kui Siang?"

Bentak Dewa Arak, sekali ini tidak tertawa lagi. Kui Siang sadar, lalu membalik dan menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya sambil menangis.

"Suhu, ampunkan teecu ...."

Katanya di antara isaknya.

"Suhu, Maafkan sumoi,"

Kata Sin Wan.

"Teecu sendiri juga merasa panas di hati. Suhu, teecu berdua hanyalah manusia-manusia biasa yang tidak mungkin dapat begitu saja membebaskan diri dari pada nafsu perasaan. Teecu berdua amat menyayang Louw-suhu dan Thio-suhu, tentu hati ini sakit sekali mendengar ada orang membunuh mereka. Teecu sendiri mengerti bahwa perasaan ini hanya peranainan nafsu dan tidak benar menurutkannya, akan tetapi mungkin sumoi belum mengerti benar."

"Heh .. heh, karena itu, kaujelaskan padanya tentang karma tadi, Sin Wan."

"Begini sumoi. Kalau kita mau menelusuri, maka kematian dua orang guru kita yang tercinta hanya merupakan akibat dari pada sebab-sebab yang lalu. Kalau kita telusuri, maka sebab-sebab itu kait-mengait seperti mata rantai. Mereka tewas sebagai akibat pembalasan dendam Dewi Ular Cantik yang pernah mereka kalahkan, dalam perkelahian pertama. Perkelahian pertama itu menjadi sebab perkelahian ke dua ini. Dan perkelahian pertama itupun akibat dari pada sebab lain, yaitu karena guru-guru kita bertugas merampas kembali pusaka dari istana. Tugas itupun mempunyai sebab, yaitu karena guru-guru kita adalah tokoh-tokoh dunia persilatan yang dimintai tolong oleh kaisar dan ketua perkumpulan persilatan. Nah, kalau ditelusuri terus, sebab-sebab yang menjadi mata rantai itu tiada habisnya, sumoi."

"Ha..ha..ha, mungkin yang menjadi sebab pertama adalah karena ...... kami bertiga dahulu dilahirkan di dunia ini! Kalau kami tidak dilahirkan, mana akan terjadi semua itu? Ha..ha..ha!"

"Demikianlah, sumoi. Sebab akibat yang disebut karma ini merupakan mata rantai yang tiada putusnya, dan masih akan berkepanjangan kalau kita tidak menghentikannya agar mata rantai itu putus. Contohnya begini. Kematian kedua orang guru kita menjadi akibat yang dapat menjadi sebab lain, yaitu apabila kita menaruh dendam sakit hati. Mungkin kita lalu mencari Dew Ular Cantik dan kita berusaha membunuhnya untuk membalas dendam atas kematian,kedua orang guru kita. Katakanlah kita berhasil dan ia mati di tangan kita, mata rantai itu tidak akan habis. Mungkin ada saudaranya, gurunya, atau muridnya, yang menjadi sakit hati dan mendendam, lalu mencari kita untuk menuntut balas, demikian seterusnya."

"Heh..heh..heh, kemudian muridnya, atau anaknya, saling mendendam dan saling membalas. saling bermusuhan, maka timbullah perang! Nafsu itu seperti api, kalau dibiarkan merajalela, dari sepercik bunga api dapat menjadi lautan api yang membakar dunia ha..ha..ha!"

"Begitulah, sumoi. Biarpun hati kita panas, namun pengertian ini harus kita laksanakan, dalam kehidupan. Kita hentikan rangkaian karma ini sampai di sini saja. Kita patahkan mata rantai agar kita tidak terikat belenggu karma. Kita tidak seharusnya menaruh dendam kebencian kepada Dewi Ular Cantik."

"Aku mengerti. suheng."

Kata Kui Siang dan kini suaranya terdengar tenang.

"Akan tetapi apakah kita harus mendiamkan saja orang-orang jahat dan kejam seperti Dewi Ular Cantik itu berkeliaran begitu saja menyebar maut di antara orang-orang yang tidak berdosa? Kita berpeluk tangan begitu saja ?"

"Ha..ha..ha, anak manis. Tentu saja tidak! Kalau kalian diam saja, lalu untuk apa kalian menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari Ilmu dari Sam Sian? Kalian harus turun tangan, menegakkan kebenaran dan keadilan, membela yang benar dan yang lemah tertindas, menentang yang jahat dan yang lalim, akan tetapi, ingat. Yang kalian tentang bukanlah pribadinya, melainkan perbuatannya. Kalian menentang orang jahat berdasarkan jiwa pendekar, bukan karena sakit hati, bukan karena dendam, dan sama sekali bukan karena membenci seseorang karena perbuatan yang dasarnya kebencian adalah perbuatan yang.terdorong oleh nafsu, dan semua perbuatan yang terdorong nafsu tentu akan menjadi mata rantai hukum karma."

"Terima kasih, suhu, teecu mulai mengerti. Teecu juga masih ingat akan semua ajaran budi pekerti yang pernah teecu terima dari mendiang Louw-suhu dan Thio-suhu. Teecu harus menjadi seorang pendekar yang selalu mengambil jalan benar, taat kepada perintah Tuhan yang diperuntukkan manusia lewat agama dan ajaran-ajaran para budiman, teecu harus berprikemanusiaan, harus menjunjung keadilan, menolong sesamanya, berpribudi baik dan hidup rukun dan saling bantu, harus ........"

"Kui Siang, dan kau juga Sin Wan. Segala ajaran memang baik, akan tetapi kalian ingatlah baik-baik. Pokok dari pada semua ajaran itu adalah bahwa kita harus. berTUHAN! Ber Tuhan bukan hanya di mulut, melainkan ber Tuhan dengan seluruh jiwa raga, tercermin di dalam hati akal pikiran, dalam kata-kata dan dalam perbuatan. Ber Tuhan bukan berarti munafik, melainkan kita menyembah dan berbakti kepada Tuhan setiap saat, setiap detik ingat kepada Tuhan sehingga segala apa yang kita pikir, kita katakan, kita lakukan selalu dibimbing oleh kekuasaan Tuhan Yang Maha Kasih. Orang yang ber.Tuhan, benar-benar ber Tuhan, sudah pasti dia itu berprikemanusiaan, sudah pasti dia itu adil, berpribudi baik, tolong-menolong dan hidup rukun dengan sesama, sudah pasti dia itu tidak kejam. Pendeknya, orang yang ber Tuhan sudah pasti hatinya bersih dan baik! Sebaliknya, orang yang berbuat baik, yang mengaku berprikemanusiaan, mengaku adil, belum tentu ber Tuhan, Kalau demikian keadaannya, maka semua kebaikannya itu berdasarkan nafsu, semua kebaikannya itu munafik dan palsu, karena tentu didasari pamrih demi keuntungan dan kepentingan diri pribadi! Namun, seorang yang ber Tuhan, melakukan segala sesuatu demi baktinya kepada Tuhan, sebagai dharma sehingga semua perbuatannya itu tanpa dikotori pamrih demi keuntungan diri pribadi. Mengertikah kalian?"

"Teecu mengerti, suhu,"

Kata Sin Wan dan Kui Siang hanya mengangguk, karena pengertiannya belum mendalam, bahkan ia masih agak bingung.

Sejak kecil ia telah banyak menderita, yaitu sejek ia berusia sepuluh tahun.

Ayahnya dibunuh penjahat yang mencuri pusaka isiana, ibunya tak lama kemudian meninggal pula karena duka dan jatuh sakit.

Para paman dan bibinya hanyalah orang-orang yang berambisi untuk mengambil bagian dari haria warisan orang tuanya.

Sejak kecil ia menderita dan kecewa.

Dan kini, setelah selama sepuluh tahun ia hidup bersama tiga orang gurunya, menyayangi mereka seperti orang tua sendiri, dua di antara tiga orang gurunya kembali dibunuh orang!

Dan kalau ia menderita sakit hati dan mendendam, hal itu tidaklah benar!

Terjadi perang dalam batinnya yang membuat ia ragu dan bingung.

Tiba-tiba Dewa Arak tertawa.

"Ha..ha..ha..ha, sudah cukup kita bicara seperti pendeta-pendeta tua perenung! Kalian harus membuat persiapan. Kita kubur jenazah Kiam-sian dan Pek-mau-sian di lembah ini, kemudian kalian ikut dengan aku pergi meninggalkan Pek-in-kok."

"Meninggalkan Pek-in-kok? Kita akan pergi ke mana suhu?"

Tanya Sin Wan yang merasa heran.

"Kita pergi ke tempat lain yang tidak diketahui orang, agar Dewi Ular Cantik tidak akan dapat menemukan kita."

"Tapi, suhu!"

Kui Siang berkata dengan penasaran sekali.

"Kenapa kita harus melarikan diri dari iblis betina itu? Memang kita tidak perlu mendendam kepadanya, akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa kita takut kepadanya sehingga kita harus lari dan menyembunyikan diri!"

Sekali ini, Sin Wan juga berpihak sumoinya. Walaupun dia tidak berkata sesuatu, namun pandang matanya terhadap Dewa Arak juga menuntut penjelasan.

"Heh..heh, kaukira aku takut menghadapi Dewi Ular Cantik? Sama sekali tidak takut, juga aku tidak suka melihat kalian takut kepadanya atau kepada siapapun juga. Rasa takut kita harus kita tujukan hanya kepada Tuhan saja, takut kalau sampai kita terseret nafsu melakukan hal yang tidak benar dan tidak berkenan kepada Tuhan! Tidak, aku mengajak kalian pergi dari sini agar kalian dapat melatih ilmu kami secara tekun dan tenang tanpa ada gangguan selama satu tahun. Setelah kalian menguasai Sam-sian Sin ciang (Tangan Sakti Tiga Dewa), baru hatiku tenteram dan kalian boleh turun gunung."

"Sam-sian Sin-ciang ?"

Tanya Kui Siang.

"Belurn pernah teecu mendengarnya dari suhu bertiga."

"Itulah hasil ketekunanku selama beberapa tahun ini. Sayang Kiam sian dan Pek-mau-sian terlalu malas untuk mempelajari dan melatih ilmu itu. Andaikata mereka mengusainya, bagaimana mungkin Dewi Ular Cantik mampu mengalahkan mereka!"

Dewa Arak dan dua orang muridnya lalu mengubur dua jenazah itu di Lembah Awan Putih, kemudian menyembahyangi dua makam itu dengan hormat walaupun sederhana.

Setelah tiga hari mereka mengubur jenazah itu.

Pada hari ke empat mereka meninggalkan Pek-in-kok, menuju ke sebuah tempat yang hanya diketahui oleh Dewa Arak sendiri.

Di situ dia menggembleng dua orang muridnya, mengajarkan ilmu baru yang selama bertahun-tahun disusunnya dari inti sari ilmu Tiga Dewa.

Dalam Sam-sian Sin-ciang ini termasuk unsur-unsur dari llmunya sendiri seperti Ciu-sian Pek-ciang (Tangan Putih Dewa Arak), Thian-te Sin-kang (Tenaga Sakti Langit Bumi) dan Hui-nio Poan-soan (Langkah Berputaran Burung Terbang) dan dari ilmu silat Kiam-sian dia mengambil inti sari dari Jit-kong Kiam-sut (Ilmu Pedang Cahaya Matahari) dan ilmu menotok jalan darah Kiam-ci (Jari Pedang).

Dari Pek-mau-sian dia mengambil inti sari Pek-in Hoat-sut (Sihir Awan Putih) dan Sin-siauw Kun-hoat (Silat Suling Sakti).

Dari semua ilmu ini, yang diambil inti sarinya, dia menciptakan Sam-sian Sin-ciang dan ilmu inilah yang dia ajarkan kepada Sin Wan dan Kui Siang.

Kalau yang mempelajari ilmu Sam-sian Sin-ciang ini orang lain, betapapun pandainya dia, tentu akan makan waktu bertahun-tahun saking sulitnya.

Akan tetapi karena dua orang muda itu sudah mengenal semua ilmu yang digabungkan menjadi ilmu silat sakti itu, tentu saja lebih mudah bagi mereka dan dalam waktu setahun, setelah berlatih dengan tekun, mereka dapat menguasai ilmu itu sebaiknya.

Harus diakui oleh sejarah bahwa semenjak kekuasaan penjajah Mongol dienyahkan oleh pasukan rakyat yang dipimpin oleh pemuda petani Cu Goan Ciang yang kemudian mendirikan Dinasti Beng dan menjadi Kaisar Thai-cu, Cina dapat dipersatukan kembali.

Di bawah pimpinan Jenderal Shu Ta, tangan kanan Kaisar Thai-cu, sisa-sisa pasukan Mongol yang masih berada di wilayah Cina, dapat dipukul mundur sampai mereka kembali ke tempat asal mereka, di utara, yaitu daerah Mongol.

Setelah tiba di daerah mereka sendiri, barulah orang"orang Mongol dapat mempertahankan diri.

Daerah yang keras dan sukar itu menyulitkan pasukan yang dipimpin Jenderat Shu Ta sehingga dia hanya mampu membersihkan daerah kekuasaannya dari orang-orang Mongol, namun tidak mampu menumpas Bangsa Mongol di daerah mereka sendiri.

Kaisar Thai-cu, walaupun berasal dari keluarga petani, namun setelah menjadi kaisar, ternyata memiliki kemampuan memimpin yang mengagumkan.

Hal ini karena dia amat pandai mempergunakan tenaga orang-orang yang ahli dalam bidang masing-masing, menghargai para cerdik pandai sehingga dengan bantuan orang-orang yang ahli, dia mampu mengendalikan pemerinlahan dengan baik.

Yang membuat kedudukan kaisar ini kuat adalah karena dia merupakan orang yang telah mampu dan berhasil menghancurkan kekuasaan penjajah Mongol sehingga mengembalikan harga diri dan kedaulatan bangsa.

Jasa ini saja sudah membuat dia dikagumi dan dihormati seluruh rakyat, tidak perduli dari golongan maupun suku bangsa apa saja, karena bukankah dia yang telah membebaskan rakyat semua suku dan golongan itu dari penindasan penjajah Mongol?

Juga Kaisar Thai-cu yang dahulunya bernama Cu Goan Ciang ini memanfaatkan akar dari pohon pemerintahannya, yaitu balatentara dan rakyat jelata.

Dia merangkul keduanya.

Dia menghargai jasa balatentaranya, menjamin kehidupan keluarga mereka, menambah daya kekuatan mereka dengan menggembleng semua perajurit dengan ilmu-ilmu perang, tidak pelit membagi-bagi hadiah, pandai menghargai jasa setiap orang perajurit.

Juga kaisar ini merangkul rakyat, memperhatikan kehidupan rakyat jelata, menyuburkan perdagangan dengan membuka pintu selebarnya.

Dia membangkitkan semangat membangun dalam segala bidang karena semangat rakyat harus disalurkan dan penyaluran yang paling sehat dan menguntungkan bangsa hanyalah semangat membangun!

Di samping itu, Kaisar Thai-cu juga menggunakan tangan besi untuk menertibkan keamanan, menjaga ketenteraman kehidupan rakyat dan menumpas semua golongan yang sifatnya hanya menjadi perusak dan penghalang pembangunan.

Pada masa itu, gangguan yang terbesar bagi kerajaan baru Beng-tiauw adalah rongrongan orang-orang Mongol yang tentu saja masih merasa penasaran dan ingin menegakkan kembali kekuasaan mereka yang hancur.

Mereka melakukan gangguan di sepanjang perbatasan barat dan utara.

Di samping gangguan dari orang-orang Mongol ini, yang tidak segan-segan mempergunakan segala daya untuk bersekutu dan membujuk pejabat-pejabat daerah untuk memberontak, juga pemerintah menghadapi rongrongan dari para bajak laut yang merajalela di lautan timur.

Mereka ini kebanyakan adalah orang-orang Jepang yang terkenal sebagai bajak laut yang tangguh.

Karena sukar untuk membasmi bajak laut ini yang mempunyai daerah pelarian yang luas di lautan apabila dikejar, Kaisar Thai-cu bersama para penasihatnya memperlihatkan perhatian yang serius terhadap keadaan rakyat di pantai-pantai yang menjadi sasaran para bajak laut.

Para penduduk pantai itu ditampung dan dlpindahkan ke daerah pedalaman sehingga menyulitkan para bajak laut untuk mengganggu mereka.

Demikianlah, di bawah pimpinan Kaisar Thai-cu yang bijaksana, tentu saja sebagian besar rakyat mendukungnya dan Kerajaan Beng (Terang) menjadi benar-benar gemilang.

Tensu saja, tidak ada yang sempurna di dunia yang dwimuka ini.

Demikian pula dengan keberhasilan yang dicapai Kaisar Thal-cu.

Ada saja Golongan yang merasa tidak puas.

Mereka ini sebagian besar adalah mereka yang di waktu pemerintahan penjajah berhasil menduduki pangkat yang tinggi dan kehidupan yang mewah dan mulia.

Setelah Kerajaan Goan-tiauw, yaitu kerajaan penjajah Mongol runtuh, runtuh pula kedudukan mereka, bahkan banyak di antara mereka yang menjadi korban perang, sebagal pihak yang membela kerajaan penjajah yang kalah.

Ada pula golongan yang tidak puas kerena merasa tidak mendapatkan bagian dari hasil kemenangan pemerintah Beng-tiauw.

Ada pula golongan hitam dan kaum sesat yang merasa tersudut karena pemerintah menggunakan tangan besi menentang kejahatan dan memberi hukuman berat kepada para pengacau.

Adapula pejabat daerah yang merasa bahwa jasanya lebih besar dari pada kedudukan yang mereka peroleh sehingga mereka ini condong untuk merasa tidak puas dan mudah dihasut golongan yang tidak suka kepada pemerintah baru.

Golongan-golongan itulah, orang-orang yang lebih mementingkan diri sendiri dari pada kepentingan negara dan bangsa, yang mudah dibujuk oleh orang-orang Mongol untuk meagadakan persekutuan!

Akan tetapi, golongan rakyat yang menentang pemerintahan ini diimbangi dengan golongan para pendekar yang mendukung pemerintah!

Maka bermunculanlah perkumpulan-perkumpulan yang saling bertentangan, yaitu perkumpulan golongan sesat atau para penjahat yang dipergunakan oleh para pembesar yang berniat memberontak, dan golongan para pendekar yang membantu pemerintah untuk menjaga ketertiban dan keamanan.

Tentu saja golongan para pendekar ini mendapatkan dukungan rakyat jelata yang tidak ingin melihat kehidupan mereka dirusak kembali oleh para pengacau.

Juga mereka baru saja terbebas dari perang yang amat mengerikan dan menjatuhkan banyak korban, dan mereka tidak ingin timbul perang baru yang hanya akan menyengsarakan rakyat jelata belaka.

Pada suatu pagi, dua orang wanita cantik mendayung perahu mereka yang kecil mungil ke darat sungai Kuning di sebelah utara kota besar Lok-yang.

Mereka, menarik.

perahu ke darat.

memanggil seorang diantara para nelayan yang berada di pantai.

"Paman, maukah engkau menyimpan perahu ini untuk kami? Boleh paman pakai untuk keperluan paman, akan tetapi sewaktu-waktu kami datang membutuhkannya, paman harus mengembalikan kepada kami,"

Kata wanita yang muda. Nelayan itu memandang heran, akan tetapi karena perahu itu biarpun kecil cukup kokoh dan indah, dia mengangguk.

"Baiklah, nona. Biar anakku yang merawatnya dan dia pula yang menggunakan untuk sekadar mencari ikan, Namaku A Liok, nona. Kelak kalau nona hendak mengambilnya kembali, tanyakan saja kepada orang di sini."

Gadis itu mengangguk, kemudian dua orang wanita yang cantik itu pergi meninggalkan pantai sungai, menuju ke barat, melalui jalan raya yang menuju ke kota Lok-yang.

Dua orang wanita itu adalah Bi-coa Sian-li Cu Sui In dan Tang Bwe Li!

Setahun lebih yang lalu, mereka datang ke Pek-in-kok dan Si Dewi Ular itu telah berhasil membunuh Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih, walaupun ia sendlri juga terluka parah.

Namun, sekarang ia telah sembuh sama sekali dan biarpun usianya kini sudah empatpuluh tahun lebih, Cu Sui In masih nampak cantik jelita seperti belum ada tigapuluh tahun usianya.

Rambutnya masih digelung tinggi, dan rambut itu masih hitam panjang, gelungnya model sanggul para puteri bangsawan dengan dihias emas perrnata berbentuk burung Hong dan bunga teratai.

Pakaiannya juga indah, terbuat dari sutera mahal berkembang dan wajahnya yang cantik jelita itu bertambah cantik dengan olesan bedak tipis dan pemerah bibir dan pipi.

Alisnya kecil melengkung dan hitam karena ditata dengan cukuran dan penghitam alis, sepasang matanya, tajam dan mengandung sesuatu yang dingin dan menyeramkan.

Hidungnya mancung, akan tetapi yang paling menggairahkan hati pria adalah mulutnya.

Mulut itu memang indah bentuknya, bahkan tanpa pemerah bibirpun sebetulnya sepasang bibir itu sudah merah membasah karena sehat, sepasang bibir yang hidup dan dapat bergerak-gerak pada ujungnya, penuh dan tipis lembut.

Akan tetapi semua kecantikan itu menjadi keren dengan adanya sebatang pedang yang bergagang dan bersarung indah tergantung di punggungnya, tertutup buntalan pakaian dan sutera kuning.

Tang Bwe Li yang kini berusia duapuluh tahun, tidaklah secantik dan seanggun gurunya yang kini menjadi sucinya itu.

Namun, dara ini jauh lebih manis!

Lesung di pipinya, kerling tajam pada matanya, senyum sinis pada mulutnya, hidung yang dapat kembang kempis itu, ditambah gayanya yang lincah jenaka dan galak, membuat hati setiap orang pria yang melihatnya menjadi gemas-gemas sayang.

Beberapa bulan yang lalu, Tang Bwe Li atau yang biasa dipanggil Lili, pulang ke Bukit Ular di Pegunungan Himalaya di mana suhunya, See-thian Coa-ong Cu Kiat dan sucinya, Bi-coa Sian-li Cu Sui In, tinggal.

Dara ini telah melakukan perjalanan seorang diri untuk mencari Dewa Arak dan muridnya, anak laki-laki yang pernah menampari pinggulnya sampai panas dan merah, yang tidak diketahui namanya akan tetapi amat dibencinya itu.

Ia hendak mewakili sucinya yang sedang mengobati luka dalam karena tendangan Pek-mau-sian.

Akan tetapi, Lili tidak berhasil menemukan Dewa Arak di Pek-in-kok.

Ia hanya melihat dua buah makam, yaitu makam Kiam-san dan Pek-mau-sian.

Ia mencari ke sekitar lembah itu, namun sia-sia dan dengan marah-marah terpaksa ia kembali ke rumah suhunya dan melapor kepada sucinya.

Dewi Ular juga menjadi kecewa sekali, maka setelah ia sembuh sama sekali, ia mengajak sumoinya turun gunung.

Mereka berdua selain hendak mencari Dewa Arak dan muridnya, juga ingin memenuhi pesan See-thian Coa-ong Cu Kiat.

Datuk ini sudah mendengar Akan perubahan besar yang terjadi sejak penjajah Mongol diusir dari Cina.

Dia merasa sudah tua dan tidak semestinya mengasingkan diri di Pegunungan Himalaya.

"Sekarang tiba waktunya bagi kita untuk mencari kedudukan, karena kaisarnya adalah bangsa sendiri."

Katanya.

"Apakah ayah bercita-cita untuk menjadi seorang pembesar?"

Tanya Dewi Ular heran.

"Ha..ha..ha, siapa ingin menjadi pejabat? Kalau menjadi pejabat, aku harus menjadi kaisar! Ah, tidak, Sui In. Kita adalah orang-orang dunla persilatan. Aku mendengar bahwa sekarang para orang gagah di dunia kang-ouw, mendapat angin baik dari pemerintah yang baru. Aku ingin menjadi beng-cu (pemimpin) dari rimba persilatan!"

"Suhu, dalam perjalananku mencari Dewa Arak, akupun mendengar bahwa tahun ini, pada akhir tahun, akan ada pertemuan besar antara para pimpinan partai persilatan, dan mungkin dalam pertemuan itu akan dilakukan pemilihan ketua atau pemimpin baru,"

Kata Lili.

"Bagus! Akhir tahun masih lama, masih sembilan bulan lagi. Kalian berangkatlah lebih dulu, menyusun kekuatan dan sedapat mungkin membentuk sebuah perkumpulan yang kuat untuk menjadi anak buah kita. Kelak, pada saatnya, aku akan muncul di tempat pertemuan puncak itu. Bwe Li, di mana pertemuan itu diadakan? Biasanya, pertemuan semacam itu diadakan di Thai-san "

"Menurut yang kudengar memang akan diadakan di puncak Thai-san, suhu,"

Kata gadis itu.

"Nah, kalau begitu, kalian berangkatlah. Menurut sejarah, dahulu perkumpulan pengemis merupakan perkumpulan yang amat kuat dan memiliki anak buah paling banyak di antara semua perkumpulan. Bahkan partai pengemis di utara pernah menjadi penghalang bagi penjajah Mongol ketika hendak menyerbu ke selatan. Akan tetapi, karena adanya pengkhianatan di antara para pimpinan, partai pengemis dapat dikuasai orang-orang Mongol dan akhirnya diadu domba dan pecah belah. Bahkan ketika jaman penjajahan Mongol, partai itu dilarang sehingga anak buahnya cerai berai. Sekarang, setelah penjajah lenyap, kurasa mereka tentu membangun kembali partai pengemis. Kalau kalian dapat menguasai mereka, kalau kalian dapat menjadi pimpinan kai-pang (partai pengemis), tentu kedudukan kita akan menjadi kuat dan disegani."

Demikianlah, dua orang wanita itu melakukan perjalanan dan pada pagi hari itu, mereka turun dari perahu dan menuju ke Lok-yang.

Mereka mendengar dalam perjalanan mereka bahwa memang kini kai-pang mulai nampak kuat kembali, di mana-mana diadakan persatuan pengemis dan pusatnya berada di tiga tempat.

Pengemis utara berpusat di Pe-king, pengemis barat berpusat di Lok-yang dan pengemis timur dan selatan berpusat di Nan-king, kota raja.

Itulah sebabnya, dua orang wanita itu kini menuju ke Lok-yang.

Kalau saja mereka dapat menguasai cabang barat di Lok-yang ini, akan memudahkan mereka menuju kepada kedudukan puncak yang berpusat di Nan-king.

Ketika mereka memasuki Lok-yang, Lili yang jarang melihat kota besar, menjadi kagum.

Kota Lok-yang merupakan bekas kota raja, maka selain besar dan ramai, juga indah, banyak bangunan indah bekas istana di sana, juga gedung-gedung besar yang dahulu menjadi tempat tinggal para pembesar tinggi.

Toko-toko besar penuh barang dagangan, juga terdapat banyak rumah penginapan dan rumah makan yang besar.

Akan tetapi, setelah berjalan-jalan di kota itu, Sui In yang tidak heran melihat keramaian kota karena ia sudah sering berkunjung ke kota-kota besar, berkata.

"Sungguh luar biasa!"

"Apanya yang luar biasa, suci? Memang kota ini ramai dan indah......"

"Bukan itu maksudku. Coba kaulihat sumoi, tidak ada seorangpun pengemis nampak di kota ini. Pada hal, menurut keterangan, Lok-yang merupakan pusat dari para pengemis daerah barat."

"Ah, benar juga, suci. Tentu telah terjadi sesuatu, atau mungkin mereka itu sudah pindah ke kota lain?"

"Andaikata benar mereka pindahpun, kenapa di kota besar seperti ini tidak nampak seorangpun pengemis? Ini sungguh aneh!"

Kata Dewi Ular.

Mereka lalu mencari kamar di rumah penginapan.

Karena baru saja mereka melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, mereka beristirahat siang itu dan setelah mandi sore, Dewi Ular mengajak sumoinya untuk keluar mencari makanan dan juga untuk berjalan-jalan melihat keadaan dan menyelidiki tentang para pengemis.

Kota Lok-yang di malam hari memang makin semarak.

Toko-toko dibuka dengan lampu-lampu gantung yang terang, juga jalan raya diterangi lampu-lampu.

Banyak orang lalu lalang, berjalan-jalan atau berbelanja di toko, di warung-warung, bahkan di taman kota yang indah, yang di waktu jaman penjajahan hanya untuk kaum bangsawan atau pembesar saja, kini dibuka untuk umum dan ramai sekali.

Dua orang wanita itu ikut merasa gembira dengan ramainya suasana.

Langit cerah dan bulan mulai muncul membuat suasana semakin gembira.

Sui In dan Bwe Li kini duduk di sebuah kedai nasi, duduk di meja paling luar sambil menonton keramaian di jalan raya, memesan makanan dan air teh.

Selagi mereka makan, tiba-tiba Bwe Li menyentuh lengan sucinya dan dengan pandang mata ia memberi isyarat ke sebelah kanan.

Sui In menengok dan ia melihat seorang pengemis datang rnenghampiri kedai itu.

Seorang pengemis yang usianya sekitar tigapuluh tahun, tubuhnya tegap dan sehat, pakaiannya serba hitam, bahkan rambutnya yang panjang juga diikat dengan pita hitam.

Melihat perawakannya, sungguh tidak pantas seorang pria muda yang masih kuat dan tidak cacat itu menjadi pengemis!

Juga gerak-geriknya tidak seperti orang pemalas, melainkan sigap dan langkahnya lebar.

Akan tetapi, wajahnya membayangkan kekerasan dan matanya liar.

Dua orang wanita itu kini menunda makan dan mengikuti gerak gerik pengemis itu dengan pandang mata mereka.

Pengemis muda itu kini menghampiri sebuah meja paling depan dekat pintu kedai, di mana duduk tiga orang laki-laki yang sedang makan bakmi.

"Tuan-tuan, bagilah sedikit rejeki untukku dan, beri sedekah untukku."

Kata pengemis itu, sikap dan suaranya angkuh seperti orang menagih hutang saja.

Tiga orang yang sedang makan itu nampak terganggu, akan tetapi yang paling tua di antara mereka agaknya tidak ingin ribut-ribut, mengambil sepotong uang kecil dari saku bajunya dan menyerahkannya kepada si pengemis.

Pengemis baju hitam itu menerima uang kecil, mengamatinya dan diapun mengerutkan alisnya, memandang kepada tiga orang itu dengan marah.

"Kalian hanya memberi sekeping tembaga ini? Untuk membeli semangkok bakmi juga tidak cukup! Kalian berani menghinaku, ya?"

Pengemis itu membanting uang kecil itu ke atas meja. Uang itu menancap di meja depan tiga orang itu yang menjadi terkejut sekali. Pria yang tertua itu berkata.

"Engkau tidak mau diberi sebegitu? Lalu, berapa yang kauminta?"

Pengemis itu menggapai ke arah pelayan yang kebetulan berada di dekat situ, lalu dia bertanya.

"Coba hitung, berapa harga semua hidangan tiga orang ini."

Pelayan itu memandang heran. Benarkah pengemis ini hendak membayar makanan tiga orang itu maka menanyakan harganya? Dia menghitung-hitungkan lalu berkata.

"Semua sekeping uang perak,"

Jawabnya. Pengemis itu lalu menjulurkan tangannya ke arah tiga orang tamu itu.

"Nah, berikan sekeping perak kepadaku!"

Tiga orang itu saling pandang dengan mata terbelalak.

Mana ada pengemis minta sedekah sebanyak harga makanan mereka bertiga?

Dengan paksaan pula!

Dan pelayan itupun kini mengerti bahwa pengemis baju hitam ini mencari gara-gara.

Pada waktu itu.

keadaan kota Lok-yang aman dan hampir tidak pernah ada gangguan kejahatan.

Hal ini membuat pelayan itupun berani menentang, merasa bahwa ada pasukan keamanan di Lok-yang.

"Bung, harap jangan memaksa dan membuat ribut di kedai ini, jangan mengganggu tamu kami."

Bujuknya.

Pengemis baju hitam itu menoleh.

memandang kepada pelayan itu, lain tangannya meraih ujung meja, mencengkeramnya dan ujung meja dari kayu keras itu remuk dalam cengkeraman si pengemis!

"Apakah kepalamu lebih keras dari pada kayu meja ini?"

Katanya lirih namun penuh seram.

Pelayan itu mundur dengan muka pucat, dan tiga orang tamu juga menjadi pucat.

Tamu tertua segera mengambil sekeping perak dan menyerahkannya kepada pengemis itu.

Tanpa bicara lagi, pengemis itu menerima uang sekeping perak, lalu meninggalkan meja itu.

Ketika dia memandang kepada Sui In dan Bwe Li, matanya terbelalak dan mulut yang tadinya kaku dan kejam itu menyeringai, matanya bersinar secara kurang ajar.

Dia kini menghampiri meja Sui In dan Bwe Li.

Agaknya sikap pengemis muda itu semakin berani ketika dia melihat wanita cantik yang lebih tua memandang kepadanya dengan tenang dan tidak malu-malu, sedangkan gadis yang manis itu bahkan memandang kepadanya sambil tersenyum-senyum!

"Aih, nona-nona yang cantik manis seperti bidadari kahyangan, berilah sedekah kepadaku, kudoakan semoga kalian semakin cantik dan semakin menggairahkan!"

Kata pengemis itu.

Sikap dan suaranya sama sekali bukan lagi seperti seorang pengemis yang minta-minta, melainkan seperti seorang laki-laki mata keranjang menggoda wanita.

Sui In tidak sudi melayani orang itu dan melanjutkan makan dan seolah-olah pengemis itu hanya seekor lalat saja.

Akan tetapi Bwe Li yang diam-diam menjadi marah karena pengemis itu berani mengeluarkan ucapan kurang ajar terhadap ia dan sucinya, bertanya.

"Hemm apa yang kau minta, pengemis?"

Kalau tadi pengemis itu memperlihatkan kekerasan dan paksaan ketika minta kepada tiga orang tamu, Sui In dan Bwe Li hanya memandang saja dan sama sekali tidak perduli.

Mereka tidak ingin mencampuri urusan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.

Akan tetapi sekarang, pengemis itu langsung mengganggu mereka!

Pengemis itu tersenyum semakin lebar dan matanya bermain dengan kedipan penuh arti.

"Perhiasan di rambut enci itu indah sekali, berikan kepadaku sebagai sedekah."

Katanya sambil memandang kepada perhiasan burung hong dan teratai terbuat dari emas permata di rambut Sui In.

Bwe Li mendongkol bukan main.

Perhiasan sucinya itu adalah sebuah benda yang amat mahal harganya, apa lagi itu pemberian suhunya dan menurut sucinya, benda itu dahulu pernah menjadi perhiasan rambut seorang puteri kaisar Jenghis Khan dari Kerajaan Mongol.

Maka, selain mahal, juga benda itu merupakan benda pusaka yang tak ternilai harganya, dan kini seorang jembel minta benda ini begitu saja sebagai sedekah!

Ingin Bwe Li tertawa karena menganggap hal ini amat lucu.

Ia melirik kepada sucinya yang masih tenang dan enak-enak makan saja, maka ia tahu bahwa sucinya tidak sudi melayani pengemis itu.

"Kalau tidak kami berikan, lalu kau mau apa?"

Tanya Bwe Li, mengira bahwa pengemis itu tentu akan menjual lagak lagi dengan mempertontonkan kekuatan tangannya mencengkeram hancur ujung meja.

Akan tetapi, sekali ini pengemis itu agaknya tidak ingin menunjukkan kehebatannya.

Dia mendekatkan mukanya kepada Bwe Li dan berkata lirih.

"Kalau tidak kalian berikan, boleh sebagai gantinya engkau ikut dengan aku dan melayaniku semalam ini, nona manis."

Bwe Li terbelalak.

Mukanya berubah merah dan terasa panas bukan main.

Akan tetapi hanya sebentar.

Ia sudah menerima gemblengan seorang datuk besar seperti See-thian Coa-ong, maka tentu saja la sudah dapat menguasai perasaannya.

"Haii, kalian lihat ada monyet menari-nari!"

Teriaknya dan tiba-tiba saja tangannya sudah menggerakkan sisa kuah yang berada di mangkoknya.

Kuah itu mengandung saos tomat dan bubuk merica yang pedas.

Demikian cepatnya gerakan tangan Bwe Li sehingga sama sekali tidak disangka oleh si pengemis dan dia tidak sempat mengelak.

Kuah dengan sambalnya itu tepat mengenai mukanya, memasuki hidung dan matanya.

Dan seketika pengemis baju hitam itu berjingkrak-jingkrak seperti monyet menari-nari, persis seperti yang diteriakkan Bwe Li atau Lili tadi!

Semua orang menengok dan terdengar ada yang tertawa, terutama sekali tiga orang yang tadi kena diperas sekeping perak oleh si pengemis.

Hanya orang yang pernah terkena merica pada mata dan hidungnya yang dapat menceritakan bagaimana rasanya.

Pengemis itu berjingkrak-jingkrak, menggosok mata dan hidungnya, megap-megap seperti ikan dilempar ke darat, lalu berbangkis-bangkis dengan air mata bercucuran.

Makin digosok, makin pedas rasa matanya dan makin hebat "tangisnya".

Saking nyeri, pedih dan panasnya, dia membuat gerakan seperti monyet menari-nari, berlenggang-lenggok dengan kaki naik-turun, tubuh berputar-putar dan kedua lengan membuat gerakan yang lucu dan aneh-aneh.

Akhirnya, dibawah suara tawa para penonton, pengemis itu dapat membuka matanya yang menjadi merah, juga semua merica agaknya sudah keluar melalui bangkis-bangkis tadi, akan tetapi alr matanya masih bercucuran dari kedua mata yang masih terasa panas dan pedas!

Dia memandang kepada Lili dengan mata mendelik, walaupun harus sering berkedip menahan pedas!.

Lili dan Sui In masih melanjutkan makan, bahkan Sui In sudah selesai dan Lili juga sudah hampir selesai.

Pengemis itu mengeluarkan suara menggereng seperti seekor harimau marah dan para penonton sudah tidak berani tertawa lagi, dan kini memandang dengan hati tegang.

Apa lagi mereka yang tadi melihat betapa kuat tangan pengemis itu menghancurkan ujung meja.

Mereka mengkhawatirkan nasib dua orang wanita cantik itu.

Mendengar suara gerengan itu, Lili menoleh memandang.

"Ih, anjlng geladak ini sungpuh tak tahu aturanl"

Kata Lili sambil tersenyum mengejek.

"Sudah diberi kuah, masih tidak puas dan menggereng-gereng minta lagi. Cepat pergilah dari sini, memualkan perut dan mengurangi selera makan saja. Kau bau!"

Dapat dibayangkan betapa marahnya pengemis baju hitam itu.

Dia menggereng lagi dan dengan kedua lengan dikembangkan, kedua tangan terbuka, dia menubruk ke arah Lili, hendak menangkap wanita itu.

Lili tidak bangkit dari duduknya, hanya kakinya mencuat dengan kecepatan kilat ketika tubuh orang itu sudah dekat dan kedua tangan itu sudah hampir menyentuh pundaknya.

"Ngekkkl"

Ujung sepatu itu tepat memasuki perut di bawah ulu hati dan tubuh si pengemis baju hitam terjengkang, dan pantatnya terbanting keras ke atas tanah.

Sejenak dia hanya mampu bangkit duduk, tangan kiri menekan perut yang seketika terasa mulas, dan tangan kanan meraba-raba pantat yang nyeri karena ketika terbanting tadi, pantatnya menjatuhi sebuah batu sebesar kepalan tangan.

Dia menyeringai, akan tetapi seringainya tidak seperti tadi ketika dia menggoda dua orang wanita itu.

Dia menyeringai kesakitan, akan tetapi juga bercampur kemarahan.

Orang yang biasa mengagulkan diri sendirl memang tidak tahu diri, selalu meremehkan orang lain sehingga pelajaran yang diterimanya tadi tidak cukup membuat dia sadar, bahkan membuat dia semakin marah dan penasaran.

"Keparat, kubunuh kau ......!"

Bentaknya dan kini tangannya sudah memegang sebatang golok kecil yang tadi disembunyikan di bawah bajunya. Akan tetapi pada saat itu, nampak sinar menyambar dari samping, ke arah muka pengemis itu.

"Crottt ...... aughhhh .....!"

Pengemis itu terpelanting, goloknya terlepas dan kedua tangannya meraba mukanya dengan mata terbelalak.

Sebatang sumpit bambu telah menembus muka dari pipi kanan ke pipi kiri!

Sumpit itu memasuki kulit pipi, menembus geraham kanan sampai keluar dari kulit pipi yang lain sehingga muka itu seperti disate!

"Suci .....!"

Kata Lili memandang sucinya.

"Aku mendahului, agar engkau tidak membunuhnya. Kita butuh keterangan darinya ........."

Tiba-tiba dua orang wanita itu terkejut mendengar pengemis itu mengeluarkan suara aneh.

Ketika mereka memandang, tubuh pengemis itu berkelojotan dalam sekarat.

Tentu saja Sui In kaget.

Ia tadi menyerang dengan sambitan sumpit tidak dengan niat membunuh dan ia yakin bahwa orang itu hanya terluka dan tidak akan mati.

Kenapa kini tahu-tahu orang itu berkelojotan sekarat?

Tentu ada penyerang lain, pikirnya.

Akan tetapi pada saat itu, muncul dua orang pengemis berpakaian hitam.

Mereka adalah orang-orang yang berusia kurang lebih limapuluh tahun, sikap mereka berwibawa dan gerakan mereka ringan karena tahu-tahu mereka telah berkelebat dan muncul di situ.

Mereka memandang ke arah tubuh pengemis yang berkelonjotan, lalu mereka menghadapi Cu Sui In dan Tang Bwe Li, mengamati dua orang wanita itu sejenak, kemudian mereka menghampiri meja dua orang wanita itu.

"Siapakah di antara ji-wi (anda berdua) yang merobohkan dia?"

Tanya seorang di antara mereka yang tubuhnya tinggi kurus sambil menuding ke arah tubuh pengemis yang masih berkelonjotan.

"Aku yang melukainya dengan sumpit,"

Kata Sui In tenang dan suaranya acuh saja seolah-olah tidak ada sesuatu yang perlu diributkan. Lili yang galak segera berkata pula.

"Anjing geladak ini perlu dihajar. Apakah kalian pemeliharanya? Kenapa tidak kalian ajar adat kepadanya?"

Dua orang pengemis tua itu saling pandang, kemudian mereka melangkah maju mendekat.

Si tinggi kurus mengangkat kedua tangan depan dada, sedangkan orang ke dua yang bertubuh gemuk pendek juga mengangkat kedua tangan depan dada.

Mereka lalu memberi hormat kepada Sui In dan Lili.

"Kami dari Hek I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam) mohon maaf kepada nona,"

Kata si tinggi kurus.

"Kami berterima kasih atas pelajaran yang diberikan kepada anggauta kami,"

Kata si gemuk pendek.

Dua orang pengemis tua itu memberi hormat.

Sui In dan Bwe Li tersenyum mengejek.

Tanpa berdiri, sambil duduk, mereka.

pun mengangkat kedua tangan ke depan dada, membalas penghormatan itu.

Dua orang pengemis itu tadi bukan sembarang menghormat saja, melainkan mengerahkan tenaga sakti yang disalurkan melalui lengan mereka dan ketika mereka menggerakkan tangan memberi hormat.

Sebetulnya mereka telah melakukan penyerangan jarak jauh untuk menguji kepandaian dua orang wanita yang telah merobohkan anak buah mereka itu.

Akan tetapi, betapa kaget hati mereka ketika dari gerakan tangan kedua orang wanita itupun menyambar tenaga dahsyat yang menyambut tenaga mereka dan membuat tenaga mereka membalik dan merekapun terhuyung!

Pada saat itu, terdengar suara orang.

"Ciangkun lihat saja, di mana-mana anggauta pengemis Baju Hitam membikin kekacauan!"

Nampak serombongan orang datang ke tempat itu.

Pasukan yang terdiri dari belasan orang dikepalai seorang perwira datang bersama seorang laki-laki setengah tua yang juga mengenakan pakaian tambal-tambalan.

Akan tetapi pakaiannya bukan berwarna hitam seperti pengemis yang lain, melainkan berkembang-kembang!

Dialah yang tadi bicara dengan lantang kepada komandan pasukan kecil itu.

Melihat yang datang rombongan penjaga keamanan, dua orang pengemis baju hitam yang sudah dapat menguasai diri mereka karena terkejut mendapat sambutan dua orang wanita itu, lalu memberi hormat kepada komandan pasukan dan pengemis baju kembang.

"Sobat dari Hwa I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang), kenapa menuduh yang bukan"bukan kepada kami segolongan?"

Kata pengemis baju hitam yang tinggi kurus. Pengemis baju kembang yang tinggi besar dan bermuka hitam itu tersenyum mengejek.

"Sobat-sobat dari Hek I Kai-pang, aku bukan menuduh yang tidak-tidak kepada orang segolongan. Akan tetapi, semua orang di kedai ini tahu belaka betapa anggauta kalian ini tadi memaksa ketika minta sedekah, kemudian bahkan menggoda dua orang nona ini. Bukankah itu berarti bahwa para pengemis Hek I Kai-pang adalah orang-orang yang suka membuat kekacauan?"

Dua orang pengemis baju hitam memandang ke sekeliling dan melihat betapa semua orang mengangguk dan membenarkan ucapan pengemis baju kembang, mereka menghela napas dan pengemis tinggi kurus berkata.

"Anggauta perkumpulan kami telah membuat kesalahan. Akan tetapi dia sudah menebus dengan nyawanya, sudah terhukum. Biarlah ini menjadi peringatan bagi kami agar kami lebih ketat mengawasi anak buah kami. Ciangkun, maafkan, kami akan membawa pergi mayat anggauta kami."

Setelah berkata demikian, si gemuk pendek memondong tubuh pengemis yang telah mati itu, dan setelah keduanya memandang sejenak kepada Sui In dan Bwe Li, mereka lalu pergi dari situ dengan cepat.

"Ciangkun, seharusnya mereka berdua tadi ditangkap saja untuk dihadapkan ke pengadilan."

Kata pengemis baju kembang kepada perwira yang memimpin pasukan penjaga keamanan. Perwira itu menggeleng kepala.

"Yang bersalah sudah mati. Dua orang pengemis baju hitam itu tidak melakukan kesalahan apapun, bagaimana kami dapat menangkapnya? Sudahlah, selama ini tidak ada pengemis baju hitam yang membuat kekacauan."

Sui In segera membayar harga makanan, dan memberi isyarat kepada sumoinya untuk cepat meninggalkan tempat itu. Ketika sucinya mengajak ia berlari menyelinap dalam kegelapan, Bwe Li bertanya lirih.

"Ada apakah, suci?"

"Ssttt, kita membayangi para pengemis baju hitam itu,"

Kata Sui In.

Mereka berdua mempergunakan ilmu kepandaian mereka dan sebentar saja mereka telah dapat menyusul dua orang pengemis baju hitam yang memondong tubuh anak buah mereka yang telah menjadi mayat itu.

Dua orang baju hitam itu keluar dari kota melalui pintu gerbang sebelah barat dan kurang lebih tiga li kemudian dari kota, mereka memasuki sebuah perkampungan di mana terdapat rumah-rumah yang cukup besar.

Kiranya Hek I Kai-pang mempunyai perkampungan para pengemis baju hitam di situ, dan di tengah perkampungan berdiri sebuah gedung yang cukup besar dan cukup megah, dikelilingi rumah-rumah yang lebih kecil.

Ketika dua orang pengemis itu masuk memondong mayat seorang pengemis baju hitam, gegerlah perkampungan itu.

Mereka semua mengikuti dua orang pengemis itu menuju ke gedung besar dan memasuki ruangan yang luas di mana telah menunggu ketua mereka yang sudah lebih dulu dlberitahu.

Karena mereka semua mencurahkan perhatian kepada dua orang pengemis yang memondong mayat seorang rekan mereka, maka para pengemis baju hitam itu menjadi lengah.

Hal ini tentu saja memudahkan Sui In dan Lili yang mempergunakan ilmu kepandaian mereka menyelinap memasuki perkampungan itu dan mereka sudah mengintai ke dalam ruangan dari atas atap.

Lebih dari duapuluh orang berada di ruangan itu.

tentu mereka ini adalah tokoh-tokoh Hek I Kai-pang, pikir Sui In, karena ia melihat betapa lebih banyak lagi pengemis yang berada di luar ruangan itu.

Di sebuah kursi yang agak tinggi duduk seorang kakek pengemis yang usianya kurang lebih enampuluh tahun, bertubuh tinggi besar dan wajahnya membayangkan kegagahan, mukanya berbentuk persegi dan matanya lebar, kumis dan jenggotnya teratur rapi walaupun pakaiannya sederhana sekali, yaitu dari kain berwarna hitam.

Kalau ada perbedaan dengan para anak buahnya, perbedaan itu hanya karena di ikat pinggangnya terselip sebatang tongkat hitam yang panjangnya tiga kaki dan besarnya seibu jari kaki.

"Ceritakan apa yang terjadi,"

Kata ketua itu kepada dua orang pengemis yang tadi membawa mayat pengemis muda berbaju hitam ke dalam ruangan itu.

Mayat itu kini rebah telentang di depan mereka.

Si pengemis tinggi kurus bercerita singkat.

"Ketika kami berdua lewat di depan kedai nasi itu, kami melihat anak buah kita ini dirobohkan seorang di antara dua wanita yang sedang makan di kedai. Kami mendekat dan ternyata dia ini sudah berkelonjotan sekarat, kedua pipi ditembusi sebatang sumpit. Dengan hati"hati kami menguji kepandaian mereka dan ternyata mereka itu amat lihai. Dalam menguji dengan sin-kang (tenaga sakti), kami bukan tandingan dua orang wanita itu. Dan pada saat itu, sebelum kami bergerak lebih jauh, muncul Lui-pangcu (ketua Lui), seorang di antara tokoh Hwa I Kai-pang. Dia datang bersama sepasukan penjaga keamanan dan dia menuduh kita sebagai kai-pang yang suka membikin kacau. Bahkan kemudian dia mengatakan bahwa anak buah kita ini telah melakukan pemerasan di kedai itu, dan mengganggu kedua orang tamu wanita itu. Semua orang yang berada di sana membenarkan keterangan itu, maka kami segera minta maaf dan membawa jenazah ini ke sini untuk menerima petunjuk dari pangcu (ketua)."

Pengemis tinggi besar itu adalah ketua umum dari Hek I Kai-pang.

Namanya Souw Kiat dan dialah ketua umum yang menguasai seluruh anggauta Hek I Kai-pang di daerah barat dan merupakan seorang di antara empat pemimpin kai-pang terbesar di empat penjuru.

Sikapnya tenang dan berwibawa, dan mendengar laporan itu tidak timbul emosinya.

Dia tetap tenang, lalu memandang ke arah mayat yang rebah di atas lantai.

"Hemm, sumpit yang menembus kedua pipi itu tidak mungkin membunuhnya. Ji-pangcu (ketua Ji ), coba periksa, apa yang menyebabkan dia mati,"

Perintah ketua umum itu kepada seorang di antara ketua cabang yang dia tahu ahli dalam hal pengobatan.

Seorang pengemis tua bertubuh kurus kering segera berjongkok dan memeriksa jenazah itu.

Diperiksanya muka yang ditembusi sumpit dari pipi yang satu ke pipi yang lain itu dan dia membenarkan pendapat ketua umum bahwa sumpit itu bukan yang menyebabkan kematian.

Dia lalu merobek baju di bagian dada untuk memeriksa.

Dan, tepat di bawah, tenggorokan, di dada bagian atas, nampak tanda seperti tiga bintik kecil yang warnanya biru menghitam.

"Pangcu, yang menyebabkan kematiannya adalah tiga batang jarum yang menembus bajunya dan memasuki dadanya,"

Ji-pangcu melapor kepada atasannya.

"Hemm, melihat sumpit itu, jelas bahwa penyambitnya seorang yang berilmu tinggi, akan tetapi kenapa ia menggunakan jarum beracun pula untuk membunuhnya? Kalau sambitan itu dinaikkan sedikit saja, tentu orang inipun akan tewas seketika!"

Kata Souw-pangcu dengan alis berkerut.

Tiba-tiba nampak dua bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu dl tengah ruangan itu sudah berdiri dua orang wanita cantik.

Melihat Sui In dan Bwe Li, dua orang pengemis yang tadi membawa jenazah itu pulang, terkejut bukan main.

"Kami tidak menggunakan jarum beracun!"

Kata Sui In dengan suara lantang namun lembut.

"Pangcu..... mereka ..... mereka inilah dua orang tamu di kedai itu .......,"

Kata pengemis tinggi kurus.

Souw Kiat sejenak memandang kepada dua orang wanita itu penuh perhatian dan diam-diam dia kagum dan terkejut.

Dua orang wanita ini memasuki ruangan seperti siluman saja.

Dia sendiri yang biasanya amat peka dan hati-hati, sama sekali tidak tahu akan kedatangan mereka.

Dan mereka ini masih muda, wanita pula, akan tetapi telah memiliki kepandaian yang demikian luar biasa.

Dia lalu membentak para pembantunya yang nampak siap siaga dengan sikap menantang ketika mendengar bahwa dua orang wanita ini pembunuh anak buah mereka.

"Kalian semua mundur dan sediakan tempat duduk untuk kedua lihiap (pendekar wanita) ini!"

Setelah berkata demikian, Souw Kiat lalu memberi hormat kepada Sui In dan Bwe Li, memberi hormat dengan sungguh, bukan seperti dua orang pembantunya tadi yang memberi hormat untuk menguji kekuatan.

"Selamat datang di tempat tinggal kami, ji-wi li-hiap (pendekar wanita berdua). Saya Souw Kiat ketua Hek I Kai-pang, merasa girang sekali bahwa ji-wi sudi datang berkunjung. Tentu ji-wi akan memberi penjelasan tentang peristiwa yang terjadi di kedai nasi itu, bukan?"

Melihat sikap gagah dan sopan dari ketua itu, baik Sui In maupun Bwe Li merasa senang dan tidak jadi marah yang tadi tlmbul melihat sikap para pimpinan pengemis di situ yang memandang marah dan siap mepgeroyok itu.

Sui In mengangguk.

"Bukan hanya memberi penjelasan, juga kami minta penjelasan tentang kai-pang pada umumnya."

Suara Sui In tenang, lembut namun penuh wlbawa.

"Silakan duduk, ji-wi li-hiap,"

Kata Souw Kiat yang disambungnya setelah mereka duduk.

"Bolehkah kami mengetahui siapa nama ji wi dan dari partai mana?"

"Cukup kau ketahui bahwa aku she Cu dan ini sumoi ku she Tang. Souw-pangcu, seperti diceritakan dua orang pembantumu tadi, pengemis ini tadi mengganggu kami di kedai nasi ketika kami sedang makan. Karena dia kurang ajar sekali, maka aku telah melukainya dengan sumpit. Akan tetapi, bukan aku yang membunuhnya dengan jarum beracun walaupun aku memiliki pula jarum beracun, dan untuk membuktikan, dapat dibandingkan jarumku dengan jarum yang membunuh itu."

Tiba-tiba nampak tangan kiri Sui In bergerak, tidak terlihat ia melemparkan jarum, akan tetapi ketika semua orang memandang, di dada mayat yang bajunya masih terbuka itu nampak pula tiga titik baru di dekat tiga titik yang lama.

Akan tetapi kalau tiga titik yang lama itu dikelilingi warna kehitaman pada tltik-tltik yang baru itu nampak jelas betapa kulit dan daging yang tertembus jarum itu mencair seperti terbakar!

Tentu saja semua orang terkejut bukan main.

"Ahhh ..... jarum-jarummu mengandung racun yang lebih dahsyat lagi, Cu-lihiap!"

Seru ketua itu. Sui In tersenyum dingin.

"Ini hanya untuk membuktikan bahwa aku bukan pembunuh anak buahmu, pangcu. Dan sekarang, sebelum bicara lebih lanjut, aku ingin sekali mengetahui bagaimana pertanggungan jawabanmu kalau ada anak buahmu yang begini menjemukan, melakukan kekerasan ketika mengemis, dan mengganggu wanita, mengandalkan kepandaiannya yang masih amat dangkal itu!"

Wajah Souw Kiat berubah kemerahan.

Ucapan itu walaupun lembut, namun sungguh tajam seperti pedang menusuk ulu hatinya.

Sinar matanya menjadi keras dan marah ketika dia memandang ke sekeliling, ke arah para pembantunya.

"Kalian semua lihat baik-baik, anak buah siapa jahanam yang membikin malu nama Hek I Kai-pang ini!"

Duapuluh empat orang ketua cabang itu segera menghampiri mayat dan melakukan pemeriksaan dengan teliti.

Akan tetapi, satu demi satu mereka mundur lagi dan menggelengkan kepala.

Akhirnya, duapuluh empat orangi itu semua menyangkal dan tidak ada yang mengakui mayat itu sebagai bekas anggauta mereka.

Melihat ulah itu, Lili yang nakal dan galak lalu berkata kepada sucinya, cukup keras sehingga terdengar oleh semua orang.

"Suci, pernahkah engkau mendengar ada orang berani mengakui cacat cela dan kesalahannya? Aku sendiri belum pernah!"

Sui In menjawab dengan suara dingin.

"Yang berani melakukan pengakuan seperti itu hanyalah orang-orang gagah saja, sumoi."

Mendengar ini, wajah Souw Kiat menjadi semakin merah. Matanya melotot dan dia memandang kepada dua orang wanita itu.

"Ji-wi li-hiap, bukan watak kami untuk menyangkal kesalahan yang kami lakukan. Kalau para pembantuku ini mengatakan tidak, berarti memang tidak! Kami bukan pengecut! Akan tetapi kalau ji-wi tidak percaya, kamipun tidak dapat memaksa."

Cu Sul In adalah seorang tokoh persilatan yang sudah banyak pengalaman dan-ia terkenal amat cerdik.

Dengan tajam matanya tadi menatap semua wajah pimpinan para pengemis ketika mereka satu demi satu memeriksa mayat itu, dan iapun mengamati wajah Hek I Kai-pangcu dengan seksama.

Ia percaya bahwa mereka memang tidak berpura-pura, dan ia teringat akan peristiwa yang terjadi di kedai itu.

Sikap pengemis baju hitam yang tewas itu terlalu menyolok, terlalu berani dan tidak sesuai dengan kepandaiannya yang tidak berapa hebat, seolah-olah dia sengaja hendak menarik perhatian dengan perbuatan dan sikapnya yang jahat dan membuat kekacauan.

Kemudian muncul pengemis baju kembang dan sepasukan penjaga keamanan yang agaknya sengaja memburukkan pengemis baju hitam.

Dan pembunuhan rahasia terhadap pengemis yang mengacau itu!

Semua itu merupakan serangkaian peristiwa yang kait mengait dan pasti ada apa-apanya.

"Pangcu, apakah Hek I Kai-pang di Lok-yang mempunyai musuh-musuh?"

Tiba-tiba Sui In bertanya. Souw Kiat dan para pembantunya memandang wanita cantik itu dengan heran. SOUW KIAT lalu menggeleng kepala.

"Sepanjang yang kami ketahui, Hek I Kai-pang tidak mempunyai musuh. Musuh kami hanyalah orang-orang Mongol, akan tetapi setelah mereka diusir, kami tidak mempunyai musuh. Kenapa li-hiap bertanya tentang itu ?"

"Jawab sajalah,"

Kata Sui In berwibawa.

"Bagaimana dengan Hwa I Kai-pang? Apakah mereka bukan musuh Hek I Kai-pang?"

Souw Kiat saling pandang dengan para pimpinan cabang.

"Hwa I Kai-pang? Aih, lihiap, Hwa I Kai-pang adalah segolongan dengan kami. Mereka adalah rekan-rekan kami dan Hwa I Kai-pang adalah perkumpulan yang menguasai daerah timur, sedangkan kami menguasai daerah barat. Batasnya justeru di Lok-yang ini, maka di kota ini terdapat anggauta-anggauta kedua perkumpulan. Akan tetapi di antara kami tidak pernah ada permusuhan."

"Hemm, kulihat tadi sikap pengemis baju kembang itu tidak bersahabat terhadap pengemis baju hitam. Bahkan dia memburukkan Hek I Kai-pang di depan umum dan di depan perwira yang memimpin pasukan penjaga keamanan."

Sui In mendesak. Souw Kiat mengerutkan alisnya.

"Hemmm, terus terang saja, lihiap, memang ada persaingan di antara kami, maklum karena Lok-yang merupakan perbatasan. Kami sama-sama ingin agar hubungan kami lebih dekat dengan para penguasa, dan mendapat nama baik di kota sehingga banyak hartawan suka menderma kepada kami. Hanya persaingan, akan tetapi bukan permusuhan, tidak pernah terjadi bentrokan ...."

Dia berhenti dan mengamati wajah cantik itu.

"Akan tetapi kenapakah, lihiap?"

"Orang ini bukan anggauta Hek I Kai-pang akan tetapi dia memakai pakaian Hek I Kai-pang dan mengaku anggauta. Dia bersikap jahat dan membuat kekacauan di tempat umum yang ramai. Kemudian, dia dibunuh secara rahasia dan kebetulan sekali di sana muncul pasukan penjaga keamanan yang menyaksikan kejahatan yang dilakukan anggauta Hek I Kai-pang, diperkuat oleh pengakuan semua orang yang berada di sana. Nah, kalau orang ini benar bukan anggauta Hek I Kai-pang, kemungkinannya hanya satu, yaitu bahwa orang ini palsu sengaja dibayar oleh pihak yang ingin memburukkan nama Hek I Kai-pang, lalu membunuhnya agar dia tidak membocorkan rahasia itu."

"Ahhh ....."

Souw Kiat dan para pembantunya berseru kaget dan penasaran.

"Tapi ...... tapi ......."

"Souw pangcu, ceritakan, apakah di antara Hek I Kai-pang dan Hwa I Kai-pang terjadi perebutan sesuatu? Sekarang atau dalam waktu dekat ini?"

Souw Kiat mengerutkan alisnya.

"Tidak ada perebutan sesuatu atau ..... ah, mungkinkah? Dalam waktu dekat ini, sebulan lagi, seluruh kai-pang di empat penjuru memang sedang direncanakan mengadakan pertemuan besar dan kami semua sudah sepakat untuk mengangkat atau menunjuK seseorang untuk menjadi pemimpin besar kai-pang yang menjadi atasan atau penasihat dari semua ketua empat kai-pang terbesar di empat penjuru. Tapi .........."

"Souw-pangcu, ceritakan kepadaku tentang semua itu, tentang keadaan semua kai-pang dan apa yang akan dibicarakan dalam pertemuan itu, dan siapa pula sekarang yang menjadi pemimpin besar kai-pang."

Kini ketua Hek I Kai-pang mengubah sikapnya dan menatap tajam wajah Sui In. Kemudian, terdengar suaranya yang tegas.

"Maaf, Cu-lihiap. Semua itu adalah urusan pribadi kai-pang, tidak ada sangkut-pautnya dengan lihiap. Kami tidak boleh bicara tentang urusan dalam kai-pang kepada orang luar. Dan pula, untuk apa lihiap hendak mengetahui semua itu? Tidak ada manfaatnya bagi lihiap."

"Souw-pangcu. Ketahuilah bahwa aku telah mengambil keputusan untuk mendapat dukungan Hek I Kai-pang, bahkan mewakili Hek I Kai-pang dalam pemilihan pemimpin besar kai-pang nanti."

Tentu saja ketua itu terkejut, dan para pembantunya juga memandang heran dan kaget.

"Ah, apa maksud lihiap? Bagaimana mungkin lihiap sebagai orang luar dapat mewakili perkumpulan kami? Dan dukungan apa yang dapat kami berikan kepada lihiap?"

"Tentu saja mungkin kalau memang engkau sebagai ketua Hek I Kai-pang menyetujui, pangcu. Aku dan sumoiku dapat saja menjadi anggauta rombongan Hek I Kai-pang dalam pertemuan rapat besar itu. Adapun dukungan yang kuminta itu agar Hek I Kai-pang mendukung dipilihnya calon yang akan kuajukan dalam rapat itu, yaitu calon pemimpin besar kai-pang!"

Souw Kiat bangkit dari tempat duduknya, alisnya berkerut dan mukanya berubah merah. Juga para pembantunya banyak yang bangkit dan memandang kepada dua orang wanita itu dengan marah.

"Cu-lihiap, permintaanmu itu sungguh tidak mungkin! Pemimpin besar kai-pang kelak akan mewakili kai-pang untuk mengadakan pemilihan beng-cu di dunia persilatan! Bagaimana seorang yang bukan pangemis dapat menjadi calon pemimpin besar kai-pang? Dan juga lihiap tidak berhak untuk mencampuri urusan kai-pang!"

Sui In tersenyum dingin dan memandang kepada ketua itu dengan sinar mata tajam.

"Souw Kiat, mengapa orang seperti engkau dapat diangkat menjadi ketua Hek I Kai-pang? Tentu karena di antara semua tokoh Hek I Kai-pang, engkau yang paling lihai bukan?"

Souw-pangcu memandang tak senang.

"Kalau benar begitu, apa hubungannya denganmu?"

Sui In bangkit dengan tenang.

"Kalau begitu, aku akan merebut kedudukan ketua Hek I Kai-pang dari tanganmu dengan mengalahkanmu! Kalau aku yang menjadi ketua, tentu aku akan dapat mencalonkan pilihanku itu untuk menjadi pemimpin besar kai-pang."

Semua orang menjadi gaduh dan bicara sendiri-sendiri mendengar ucapan wanita cantik yang mereka anggap keterlaluan itu.

Souw-pangcu marah bukan main, akan tetapi sebagai orang yang sudah banyak pengalaman, dia dapat menahan diri dan berkata dengan suara yang tegas.

"Cu-lihiap, apakah sesungguhnya yang kaukehendaki! Tidak mungkin Hek I Kai-pang mempunyai ketua seorang wanita. Dan engkau juga bukan orang pengemis! Bagaimana mungkin Hek I Kai-pang mempunyai ketua seorang wanita yang bukan pengemis? Andaikata ada yang setujupun, seluruh anggauta yang jumlahnya ratusan orang tentu akan merasa berkeberatan!"

"Hemm, kalau begitu, jangan memaksaku untuk merampas kedudukan ketua! Akupun tidak suka menjadi ketua kaum jembel. Aku hanya menghendaki dukungan Hek I Kai-pang untuk memilih calonku menjadi pemimpin besar kai-pang."

"Hemm, lalu siapakah calon yang kaupilih untuk menjadi pemimpin besar kai-pang?"

Souw-pangcu bertanya, semakin penasaran.

Dengan wajah dingin namun bibirnya yang amat manis menggairahkan itu tersenyum mengejek, Sui In berkata, suaranya lantang terdengar semua anggauta kai-pang yang berada di situ.

"Calonnya adalah aku sendiri! Aku ingin menjadi pemimpin besar kai-pang agar kelak aku dapat mewakili seluruh kai-pang dalam pemilihan Beng-cu."

Semua orang terbelalak, lalu suasana menjadi gaduh.

Ada yang tertawa geli, ada yang mengomel panjang pendek, ada pula yang berseru kagum akan keberanian wanita cantik jelita itu.

Kalau Sui In tenang-tenang saja menghadapi sikap para pengemis itu, sebaliknya Lili menjadi marah melihat gurunya ditertawakan orang.

Biarpun sekarang Sui In telah menjadi kakak seperguruannya, namun dalam beberapa hal ia masih menganggapnya sebagai gurunya.

"Heiii, kalian ini jembel-jembel busuk dan bau! Suci ingin menjadi pemimpin besar kai-pang, kalian tidak cepat menyambutnya dengan baik malah mentertawakan! Hayo siapa yang berani menyatakan tidak setuju, boleh maju melawan aku!"

Sebetulnya karena melihat kedua orang wanita ini datang tidak untuk memusuhi mereka, ketua Souw Kiat tidak ingin memusuhi mereka dan menyambut mereka dengan sikap hormat.

Akan tetapi, mendengar permintaan mereka` untuk menjadi ketua Hek I Kai-pang dan kemudian bahkan ingin menjadi pemimpin besar seluruh kai-pang, dia terkejut dan merasa penasaran.

Oleh karena itu, ketika wakilnya yang bernama Lu Pi maju menghadapi gadis muda yang galak itu, diapun mendiamkannya saja.

Bagaimanapun juga, kedua orang wanita ini harus dihadapi dengan kegagahan kalau dia tidak ingin perkumpulannya menjadi buah tertawaan dunia kang-ouw.

Dipimpin oleh wanita muda yang cantik!

Bagaimana mungkin?

Lu Pi adalah seorang laki-laki berusia tigapuluh lima tahun yang bertubuh tinggi kurus, kelihatannya saja lemah dan berpenyakitan, akan tetapi sesungguhnya dia seorang ahii silat yang pandai.

Dia memiliki tenaga sin-kang yang kuat, juga memiliki gerakan yang cepat yang licin bagaikan belut.

Oleh karena kepandaiannya itu, maka dia dapat diangkat menjadi wakil ketua Hek I Kai-pang dan merupakan tangan kanan Souw Kiat.

Orangnya pendiam akan tetapi hatinya keras dan mendengar ucapan Lili tadi, mukanya berubah merah dan diapun sudah meloncat ke depan dara itu.

Dengan telunjuk tangan kiri ditudingkan ke arah muka Lili, diapun membentak.

"Bocah sombong, berani engkau menghina Hek I Kai-pang? Aku Lu Pi, wakil ketua Hek I Kai-pang yang akan menghajarmu!"

Dia melintangkan tongkat hitamnya, sama dengan tongkat hitam ketua Souw Kiat, di depan dada lalu menantang.

"Hayo cepat keluarkan senjatamu!"

"Untuk apa senjata? Melawan orang macam engkau ini, dengan tangan kosongpun sudah terlalu kuat!"

Kata Lili dan kembali ucapannya itu membuat banyak orang terkejut. Ada yang kagum akan keberaniannya akan tetapi lebih banyak yang marah karena, gadis ini dianggap terlalu sombong.

"Sumoi, jangan bunuh orang!"

Kata Sui In. Ia tidak menghendaki Hek I Kai-pang mendendam kepadanya karena ia membutuhkan bantuan dan dukungan perkumpulan pengemis ini.

"Jangan khawatlr, suci. Aku hanya ingin memberi hajaran kepada anjing kurus ini."

Mendengar ucapan kedua orang wanita itu Lu Pi menjadi semakin marah.

Mereka sungguh amat memandang rendah kepadanya.

Dia sudah memutar tongkat hitamnya sehingga benda itu berubah menjadi gulungan sinar hitam dan dia berseru lantang.

"Bocah sombong, lihat seranganku!"

Tanpa sungkan lagi dia menyerang gadis muda, yang tidak memegang senjata itu.

Wakil ketua ini adalah seorang tokoh kang-ouw yang berpengalaman.

Biarpun dia marah bukan main namun dia bersikap waspada dan hati-hati karena dia maklum bahwa sikap sombong gadis itu tentu ditunjang kepandaian yang tinggi.

Setelah membentak sebagai peringatan pembukaan serangan, gulungan sinar hitam itu semakin meluas dan tiba-tiba ujung tongkatnya mencuat dari gulungan sinar itu, menyambar dengan totokan ke arah pundak kiri Lili.

Bagaimanapun juga, Lu Pi agaknya masih teringat bahwa yang diserangnya adalah seorang gadis belasan tahun yang tidak bersenjata, maka serangannya pun masih lunak dan hanya ditujukan ke pundak orang untuk menotoknya.

Namun, yang diserang enak-enak saja berdiri santai, sama sekali tidak membuat gerakan untuk menghindarkan diri dari totokan itu.

Baru setelah ujung tongkat mendekati pundak, tangan kanannya bergerak ke atas dan jari tengahnya menjentik ke arah ujung tongkat yang orang menyambar pundaknya.

"Takkk!"

Lu Pi terkejut bukan main ketika merasa betapa tangannya tergetar dan hampir saja tongkat itu terlepas dari genggamannya.

Ujung jari tengah gadis itu membuat tongkatnya terpental keras!

Kini tahulah dia bahwa lawannya bukan sekedar membual belaka.

Gadis yang masih amat muda itu ternyata memiliki ilmu kepandaian hebat dan tenaga sin-kangnya lewat jentikan jari tadi saja sudah terbukti kekuatannya, Diapun tidak sungkan lagi dan serangan berikutnya dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Bertubi-tubi ujung tongkatnya mengirim serangkaian totokan maut!

Akan tetapi yang diserangnya tetap tenang dan bahkan enak-enak saja.

Lili telah dapat mengukur tingkat kepandaian lawan dan iapun bergerak dengan santai saja, bahkan kedua kakinya jarang digeser, hanya kedua lengannya saja yang bergerak seperti dua ekor ular.

Begitu lentur dan begitu aneh gerakan lengannya, sungguh mirip dua ekor ular menari-nari dengan kepala terangkat.

Dan ke manapun ujung tongkat menotok, selalu bertemu dengan "kepala"

Dua ekor ular itu yang setiap kali menangkis membuat tongkat terpental.

Ketika tongkat kembali meluncur, kini menusuk ke arah tenggorokan gadis itu, Lili menangkis dengan tangan kanannya, sekaligus menangkap ujung tongkat dengan tangannya, gerakannya seperti ular yang membuka moncongnya dan menggigit.

Ujung tongkat tertangkap dan sebelum Lu Pi dapat menarik kembali tongkatnya, pergelangan tangannya kena diketuk oleh jari tangan kiri Lili.

Seketika lengan kanan itu menjadi lumpuh dan dengan amat mudahnya, tongkat hitam itu sudah berpindah ke tangan Lili.

Gadis itu menggunakan tongkat rampasannya untuk menyerang.

Gerakannya aneh dan cepat dan tubuh Lu Pi menjadi bulan-bulan tongkatnya sendiri.

Biarpun dia berusaha untuk mengelak dan menangkis, tetap saja gerakannya kalah cepat dan terdengas suara bak-bik-buk ketika tongkat itu menggebuki kepala, punggung, dan pinggulnya.

Pukulan itu datang bertubi-tubi dan akhirnya tubuh Lu Pi terpelanting roboh.

Setelah lawannya roboh tanpa menderita luka parah, barulah Lili menghentikan pukulan tongkat.

Dia lalu meremas tongkat itu dengan kedua tangannya.

Bagian yang diremas itu menjadi hancur berkeping dan ia lalu melemparkan sisa tongkat dan remukannya ke arah tubuh Lu Pi yang mulai merangkak bangun, lalu ia menepuk-nepuk kedua tangannya membersihkan telapak tangan dari remukan kayu tongkat!

Sikapnya angkuh dan memandang rendah sekali.

Semua anggauta kai-pang memandang dengan mata terbelalak.

Hampir mereka tidak dapat percaya bahwa wakil ketua mereka yang amat lihai dengan tongkatnya itu, dalam beberapa gebrakan saja roboh, bahkan setelah dipermainkan oleh dara remaja ltu, seperti seorang dewasa mempermainkan seorang kanak-kanak saja!

Lu Pi juga tahu diri.

Dia maklum sepenuhnya bahwa dia bukanlah lawan gadis itu, maka dengan muka pucat dan kepala ditundukkan, diapun mundur ke sudut.

Kini Lili menghadapi Souw Kiat dan berkata dengan nada meremehkan.

"Nah, pangcu. Apakah engkau juga masih berkeras tidak mau menyerahkan kedudukan kepada suciku ini?"

Wajah Souw Kiat nampak suram.

Diapun sudah melihat sendiri kekalahan wakilnya dan diapun tahu bahwa melawan gadis remaja itu saja, dia tidak akan menang, Dia tidak sanggup mengalahkan Lu Pi seperti yang dilakukan gadis itu, sedemikian mudahnya!

Apa lagi kalau harus melawan kakak seperguruan gadis itu, seorang wanita yang tidak muda lagi walaupun masih nampak segar dan cantik, yang tentu lebih lihai lagi dibandingkan adik seperguruannya.

"Aku Souw Kiat menjadi Hek I Kai-pangcu mengandalkan kepandaian silatku. Kalau ada yang hendak merampas kedudukan ini, harus juga melalui adu kepandaian,"

Katanya akan tetapi dengan lemah seolah-olah tidak bersemangat.

"Kalau begitu bangkitlah dan mari kita mengadu kepandaian!"

Tantang Lili.

"Sumoi, apakah engkau ingin menjadi ketua Perkumpulan pengemis ini?"

Tanya Sui In. Lili terbelalak dan menggeleng kepala kuat-kuat.

"Aih, siapa ingin mengetuai para jembel ini, suci? Tidak, aku hanya mewakilimu merampas kedudukan ketua di sini!"

"Kalau tidak, mundurlah, sumoi. Aku yang ingin menjadi ketua, maka harus aku pula yang merampas kedudukan itu dari tangan Souw-pangcu."

Dengan tenang Sui In bangkit dan melangkah ke tengah ruangan itu, lalu memandang kepada Souw Kiat dan berkata.

"Souw-pangcu, aku Cu Sui In menantangmu untuk mengadu kepandaian untuk menentukan siapa yang lebih pantas menjadi ketua Hek I Kai-pang!"

Souw Kiat bangkit dan dengan lemas dia melangkah ke tengah ruangan menghadapi wanita cantik itu. Dia maklum bahwa kedudukannya terancam. Souw Kiat memberi hormat dan berkata.

"Cu-lihiap, sungguh sikap lihiap ini amat membingungkan hati kami. Bagaimana seorang wanita cantik seperti lihiap begitu ingin menjadi pemimpin besar kai-pang? Apakah alasannya? Dan sebelum kita bertanding, kalau boleh kami mengetahui, dari partai manakah lihiap datang? Kami Hek I Kai-pang selalu menghargai kegagahan dan ingin bersahabat dengan semua golongan."

"Sudah kukatakan tadi, aku ingin menjadi ketua Hek I Kai-pang agar aku mendapat dukungan kalau ada pemilihan pemimpin besar Kai-pang. Tujuanku bukan menjadi pemimpin besar kai-pang, melainkan agar aku dapat mewakili seluruh kai-pang untuk mengadakan pemilihan beng-cu."

Souw Kiat terbelalak.

"Apakah ..... apakah? lihiap yang semuda ini berkeinginan menjadi beng-cu?"

Sui In menggeleng kepala.

"Bukan aku calon beng-cu, melainkan ayahku."

"Siapakah ayah lihiap? Bolehkah kami mengetahui nama besarnya?"

"Ayahku adalah See-thian Coa-ong Cu Kiat."

Mendengar ini, terdengar seruan-seruan kaget dan Souw Kiat sendiri segera memberi hormat lagi kepada Sui In.

"Ah, kiranya lihiap puteri locianpwe See-thian Coa-ong!"

"Lu-siauwte, engkau tidak perlu merasa penasaran! Engkau telah dikalahkan seorang murid dari locianpwe See-thian Coa-ong!"

Seru ketua Hek I Kai-pang itu kepada wakilnya dan wajah Lu Pi yang tadinya muram kini berseri.

Kalau dikalahkan seorang murid dari datuk besar itu tentu saja lain halnya.

Namanya tidak akan rusak, berarti dia tidak dikalahkan oleh gadis sembarangan!

"Cu-lihiap, kalau begitu kiranya tidak perlu lihiap menjadi ketua Hek I Kai-pang.

Kelak kalau ada pemilihan pimpinan seluruh kai-pang, lihiap akan kami dukung sebagai calon."

"Souw-toako, bagaimana mungkin itu? Kalau Cu-lihiap bukan ketua kai-pang, bahkan bukan anggauta, bagaimana mungkin diajukan sebagai calon pemimpin seluruh kai-pang?"

Lu-pangcu mengingatkan ketuanya. Souw Kiat mengangguk dan mengerutkan alisnya.

"Benar juga ucapan Lu-siauwte. Bagaimana mungkin kami kelak mendukung kalau lihiap bukan seorang ketua ?"

Dia menghela napas panjang.

"Agaknya tidak dapat dihindarkan lagi, terpaksa aku mohon petunjukmu, lihiap. Kalau aku kalah, maka barulah lihiap berhak menjadi ketua Hek I Kai-pang."

"Hemm, silakan maju, pangcu,"

Kata Sui In dan dengan sikap tenang ia menanti ketua itu untuk bergerak menyerang.

Akan tetapi Souw Kiat nampak tidak bersemangat.

Begitu mendengar bahwa, wanita cantik ini puteri See-thian Coa-ong, dia sudah menjadi jerih.

Apa lagi tadi ia melihat wakilnya dengan amat mudah dikalahkan sumoi dari wanita ini.

"Cu-lihiap, dalam hal ilmu silat aku tidak akan menang melawanmu. Akan tetapi kalau lihiap mampu mengalahkan aku dalam hal tenaga sin-kang, aku akan mengaku kalah, dan akan merasa bangga mempunyai ketua baru seperti lihiap."

Sui In tersenyum.

"Baik, kau mulailah!"

Ketua Hek I Kai-pang yang bertubuh tinggi besar itu lalu berdiri tegak, kedua lengannya diangkat ke atas kedua tangan dikembangkan dan diapun mengerahkan tenaga, membuat gerakan seperti memetik buah-buah dari atas, kemudian kedua tangan diturunkan ke bawah dan terdengar bunyi tulang-tulang lengannya berkerotokan.

Kedua tangannya berkembang ke bawah dan kembali membuat gerakan seperti mencabuti rumput-rumput dari bawah, kemudian kedua tangan naik lagi.

dengan jari-jari terbuka menempel di kanan kiri pinggang.

Mukanya berubah merah, seluruh tubuhnya tergetar, terisi tenaga sin-kang yang dihimpunnya tadi.

Sui In maklum bahwa lawan telah mengumpulkan tenaga sakti dan siap menyerangnya, maka iapun mengangkat kedua tangan ke atas, lurus, lain kedua tangan itu turun membuat gerakan melengkung seperti membentuk lingkaran, berhenti di depan dada seperti memondong anak, perlahan-lahan kedua tangan itu diturunkan ke kanan kiri tubuh, tergantung lepas dan lurus seperti tidak bertenaga lagi.

Ia tersenyum dan berkata.

"Aku telah siap, pang-cu. Mulailah!"

Souw Kiat tidak menjawab, melangkah maju sampai dekat di depan wanita itu.

Hidungnya mencium keharuman yang keluar dari pakaian Sui In dan dengan cepat dia mematikan penciuman itu agar tidak mengganggu konsentrasinya.

Kemudian, sambil mengerahkan tenaga dari bawah pusar, disalurkannya ke seluruh kedua lengannya, diapun membuat gerakan mendorong dengan kedua tangan terbuka, ke arah dada Sui In.

Terdengar angin yang dahsyat menyambar keluar dari kedua tangan itu.

Sui In segera menyambutnya dengan kedua tangan pula yang diluruskan ke depan, dengan jari terbuka pula.

"Plakkkk"

Dua pasang telapak tangan itu saling bertemu, melekat dan mulailah keduanya mengerahkan tenaga sakti mereka untuk saling mendorong dan mengalahkan lawan.

Nampaknya kedua orang itu seperti main-main saja, namun semua orang maklum bahwa adu tenaga yang dilakukan secara diam tanpa bergerak ini bahkan lebih berbahaya dari pada adu silat yang penuh pukulan, tendangan, elakan dan tangkisan.

Souw Kiat memang cerdik.

Melihat ilmu silat Lili tadi saja, dia tahu bahwa dalam ilmu silat dia bukan tandingan wanita cantik ini.

Akan tetapi dia memiliki sin-kang yang terkenal kuat, maka dia hendak mencari kemenangan melalui adu tenaga sakti.

Ketika mula-mula kedua telapak tangannya bertemu dengan tangan wanita itu, dia merasa betapa telapak tangan itu lembut, lunak dan hangat.

Dia lalu mengerahkan tenaga untuk mendorong, akan tetapi bertemu dengan tenaga lunak itu, tenaganya seperti batu ditekankan ke air, tenggelam!

Kemudian, telapak tangan yang halus itu menjadi panas sekali.

Souw Kiat cepat mengerahkan tenaganya untuk melawan hawa panas yang seperti membakar telapak tangannya.

Namun, kedua telapak tangan halus itu makin lama semakin panas dan ada tenaga dorongan yang amat kuat keluar dari tangan itu.

Souw Kiat mengerahkan seluruh tenaga untuk bertahan dan tak lama kemudian, dahi dan lehernya sudah penuh keringat, dan dari kepalanya mengepul uap.

Merasa betapa kedua kakinya mulai goyah dan kuda-kudanya terbongkar, dia makin mempertahankan sekuat tenaga.

Semua orang yang menyaksikan pertandingan ini, walaupun tidak dapat merasakan, namun dapat melihat perbedaan antara kedua orang yang sedang bertanding sin-kang itu.

Kalau Souw Kiat berpeluh, kepalanya beruap dan mukanya sebentar merah sebentar pucat, wanita cantik itu masih tenang saja, nampak santai dan tersenyum mengejek.

Tiba-tiba Sui In mengeluarkan bentakan melengking dan tubuh Souw Kiat terangkat ke atas Kedua kakinya naik sampai satu meter dari tanah!

Biarpun Souw Kiat berusaha untuk membuat tubuhnya menjadi berat, tetap saja dia tidak mampu menandingi tenaga yang mengangkat tubuhnya itu.

Mukanya berubah pucat karena dia berada dalam bahaya maut!

Kalau dilanjutkan adu tenaga sin-kang ini, dia akan terpukul oleh tenaganya sendiri yang membalik dan akan terluka parah, mungkin tewas.

Dia berusaha melepaskan kedua tangan dari tangan lawan, namun dua pasang tangan yang bertemu itu seperti telah melekat dan tidak dapat dipisahkan lagi!

Mendadak, Sui In mengeluarkan bentakan nyaring, kedua tangannya mendorong dan tubuh Souw Kiat terlempar sampai empat lima meter jauhnya dan tubuhnya terbanting keras di atas lantai.

Dia menderita nyeri pada pinggul yang terbanting, akan tetapi tidak menderlta luka dalam.

Tahulah dia bahwa wanita itu selain sakti, juga tidak mempunyai niat buruk terhadap dirinya yang tadi sudah berada di ambang maut, Diapun bangkit, memberi hormat dengan hati kagum dan berkata.

"Saya mengaku kalah dan terima kasih atas pengampunan lihiap."

"Hemm, sekarang engkau membolehkan aku menjadi ketua Hek I Kai-pang? Atau masih ada anggauta kai-pang lainnya yang merasa tidak suka?"

Tanya Sui In.

Tidak ada seorangpun yang berani menjawab.

Bahkan mereka harus mengakui bahwa wanita cantik ini jauh lebih lihai dari pada pangcu mereka, dan sudah sepatutnya menjadi ketua baru.

Akan tetapi, merekapun tidak suka mendukungnya karena Hek I Kai-pang tentu akan menjadi bahan tertawaan para kai-pang yang lain kalau mereka mendengar bahwa Hek I Kai-pang diketuai oleh seorang wanita muda yang cantik.

"Cu-lihiap, saya dan seluruh anggauta Hek I Kai-pang, tentu akan suka sekali kalau lihiap memimpin kami. Akan tetapi saya khawatir justeru Cu-lihiap sendiri yang tidak mau menjadi ketua kami."

Lili bangkit dari tempat duduknya dan menudingkan telunjuk kanannya ke arah Souw Kiat.

"Heii, Souw-pangcu. Jangan kau plintat-plintut! Hek I Kai-pang selama ini dipimpin oleh orang-orang yang tidak becus, maka mudah saja menjadi permainan perkumpulan lain seperti Hwa I Kai-pang. Sekarang, suci dengan mudah mengalahkanmu, maka ia berhak menjadi pangcu. Kenapa engkau malah mengatakan bahwa suci tidak mau menjadi ketua? Omongan macam apa itu ?"

"Harap ji-wi lihiap (berdua pendekar wanita) tidak salah paham dan suka mendengarkan keterangan kami,"

Kata Souw Kiat.

"Hek I Kai-pang sejak puluhan tahun telah mempunyai suatu peraturan tertentu yang sama sekali tidak boleh dilanggar mengenai pengangkatan seorang ketua baru. Selain seorang ketua baru harus menjadi orang yang paling tinggi ilmu kepandaiannya di antara seluruh anggauta, juga sebagai ketua baru dia harus lebih dahulu melakukan sendiri pekerjaan mengemis selama satu bulan, dan dia tidak boleh mengenakan pakaian lain kecuali pakaian hitam. Nah, apakah Cu-lihiap suka memenuhi syarat dalam peraturan itu?"

Dua orang wanita itu saling pandang. Lili tertawa akan tetapi sucinya cemberut dan mengerutkan allsnya "Mengemis? Sebulan dan selalu berpakaian hitam? Wah, aku tidak suka melakukan itu, Souw-pangcul"

Katanya kemudian.

"Akan tetapi aku tetap ingin didukung oleh Hek I Kai-pang dalam pemilihan pemimpin besar kai-pang nanti!"

Kini ketua dan wakil ketua Hek I Kai-pang yang mengerutkan alis dengan bingung. Tiba-tiba Lu Pi memandang kepada ketuanya dengan wajah berseri.

"Ah, hal itu bisa diatur, Souw-toako! Dalam peraturan kita, tidak ada disebut tentang ketua kehormatan! Maka, kita dapat mengangkat Cu-lihiap dan Tang-lihiap sebagai ketua dan wakil ketua kehormatan. Karena tidak ada dalam peraturan, maka mereka tidak terikat oleh peraturan dan persyaratan itu. Dan kelak, dalam pemilihan, tentu kita dapat mendukung Cu-lihiap sebagai calon pemimpin besar kai-pang karena mereka telah kita terima sebagai ketua-ketua kehormatan!"

"Bagus sekali! Engkau benar, siauw-te. Nah, ji-wi lihiap mendengar sendiri usul Lu-siauwte yang amat baik. Apakah ji-wi juga setuju dengan usul itu?"

Sui In mengangguk.

"Teserah kepada kalian. Bagiku yang terpenting, kalian harus mendukung aku dalam pemilihan pemimpin kai-pang."

Untuk menghormati ketua dan wakil ketua kehormatan itu, Souw-Pangcu dan Lu-Pangcu lalu mengadakan penyambutan dengan pesta.

Dan dalam kesempatan ini, Souw Kiat menceritakan tentang keadaan kai-pang (perkumpulan pengemis) di empat penjuru dan tentang pemilihan pemimpin besar kai-pang yang akan diadakan sebulan lagi di kota Lok-yang.

Ada empat kai-pang terbesar yang menguasai empat daerah.

Di barat adalah Hek I Kai-pang dengan pakaian hitam, di timur Hwa I Kai-pang dengan pakaian kembang-kembang, di utara terdapat Ang-kin Kai-pang dengan tanda sabuk merah di pinggang para anggautanya dan yang berkuasa di selatan adalah Lam-kiang Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Sungai Selatan) yang ditandai dengan topi butut hitam yang dipakai para anggautanya.

"Masih banyak perkumpulan pengemis lainnya, akan tetapi mereka semua hanyalah perkumpulan-perkumpulan kecil yang bernaung di bawah panji kekuasaan empat perkumpulan pengemis yang besar itu,"

Souw Pangcu melanjutkan keterangannya.

"Empat perkumpulan besar itulah yang pada bulan depan nanti akan mengadakan pertemuan untuk memilih seorang pemimpin besar kai-pang yang menjadi penasihat dan sesepuh, yang berwenang memutuskan kalau terdapat pertikaian dan persaingan di antara keempat kai-pang."

"Aku pernah mendengar bahwa seluruh kai-pang sudah mempunyai seorang pemimpin besar yang amat sakti dan bijaksana. Ayahku mengenal baik tokoh ini, apakah sekarang dia tidak lagi memimpin para kai-pang!"

Tanya Sui In. Souw Pangcu mengangguk-angguk.

"Memang benar sekali, Cu-lihiap. Dahulu para kai-pang telah mempunyai seorang sesepuh yang sakti dan bijaksana, yaitu Pek-sim Lo-kai (Pengemis Tua Hati Putih). Selama ada beliau, para kai-pang tidak ada yang berani melakukan penyelewengan dan mereka hidup rukun dan saling bantu dengan kai-pang lainnya. Akan tetapi, semenjak beberapa tahun yang lalu, beliau menghilang dan tak seorangpun mengetahui di mana adanya, masih hidup ataukah sudah mati. Beliau dahulu memimpin kami untuk menentang penjajah Mongol dengan gerakan bawah tanah, bahkan membantu pergerakan Kerajaan Beng. Akan tetapi setelah penjajah Mongol berhasil digulingkan, beliau menghilang. Mungkin karena kini rakyat tidak terjajah lagi, negara berada di bawah pemerintahan Kerajaan Beng, bangsa sendiri, beliau menganggap tidak perlu lagi memimpin para kai-pang."

Sui In juga menceritakan rencananya.

"Kai-sar Thai-cu sendiri yang memerintahkan agar dunia persilatan memilih seorang beng-cu (pemimpin rakyat) agar pemerintah mudah mengadakan hubungan dengan para tokoh dunia persilatan. Nah, dalam rangka inilah aku ingin menjadi pemimpin para kai-pang. Aku ingin mewakili kai-pang dalam pemilihan beng-cu itu dan para kai-pang harus mendukung ayahku sebagai calon beng-cu."

Mendengar ini, para pimpinan pengemis itu merasa lega.

Kiranya, wanita ini sama sekali bukan menginginkan kedudukan ketua Hek I Kai-pang ataupun pemimpin besar kai-pang, melainkan menginginkan kedudukan beng-cu untuk ayahnya.

Tentu saja hal itu tidak ada sangkut-pautnya secara langsung dengan Hek I Kai-pang, maka dengan hati lega Souw-pangcu menyatakan kesanggupannya untuk membantu dan memberi dukungan.

Karena pemilihan permimpin besar kai-pang masih sebulan lagi, maka Sui In dan Lili meninggalkan perkumpulan itu, memasuki kota Lok-yang dan menghabiskan waktu untuk berpesiar ke seluruh daerah Lok-yang di mana terdapat banyak daerah wisata yang indah.

Dataran tandus di kaki pegunungan, di sebelah dalam Tembok Besar itu merupakan daerah yang amat sunyi.

Letaknya di sebelah utara kota Peking.

Daerah yang berbukit-bukit dan kadang diseling gurun pasir dan tandus itu merupakan daerah yang mati.

Akan tetapi, ketika pasukan rakyat mengejar tentara Mongol pada akhir perang yang meruntuhkan kekuasaan Mongol, daerah ini merupakan daerah pertempuran besar-besaran.

Banyak perajurit kedua pihak tewas di daerah ini.

Juga banyak pula para pengungsi dan penduduk dusun yang ikut pula dibantai di tempat ini.

Biarpun perang itu sudah berlalu selama belasan tahun, namun masih banyak ditemukan rangka-rangka manusia berserakan di situ, tengkotak-tengkorak dan bahkan senjata.senjata tajam yang sudah berkarat.

Pada siang hari itu, seorang kakek melintasi daerah tandus yang terakhir dan kini dia melepas lelah di hutan pertama, di bawah pohon besar yang rindang, berteduh dari terik matahari.

Di dalam perjalanan tadi dia memungut sebuah tengkorak yang bersih, dan kini dia duduk di bawah pohon sambil memegangi tengkorak itu, menghadapkan muka tengkorak kepadanya dan dia mengajak tengkorak itu bercakap-cakap!

Dia seorang pria tua, mungkin mendekati tujuhpuluh tahun usianya.

Pakaiannya jelek sekali, sudah robek di sana sini dan penuh tambalan.

Akan tetapi anehnya, pakaian yang butut itu nampak bersih, seperti habis dicuci.

Kedua kakinya telanjang tanpa alas kaki, dan celana yang robek dan buntung sebatas lutut itu memperlihatkan betis yang kecil kurus hampir tak berdaging.

Kakek ini tubuhnya sedang akan tetapi kurus, kepalanya besar dan mukanya seperti muka singa karena rambut, cambang, kumis dan jenggotnya tebal dan awut-awutan melingkari muka itu.

Rambutnya sudah banyak yang putih, demikian pula kumis dan jenggotnya, dibiarkan tumbuh liar tak terpelihara rapi.

Akan tetapi rambut dan kumis jenggotnya halus seperti kapas, juga bersih, tanda bahwa biarpun dia tidak pernah menyisir rambutnya akan tetapi rambut dan kumis jenggot itu sering dicuci bersih.

Sepasang matanya seperti mata kanak-kanak, nampak berseri gembira, mulutnya yang sudah tidak bergigi lagi itupun selalu tersenyum, bibirnya merah tanda bahwa dia sehat.

Kalau dikatakan dia seorang kakek jembel, kurang pantas karena pakaian dan seluruh tubuhnya nampak sehat dan bersih.

Akan tetapi kalau bukan jembel, kenapa pakaiannya penuh tambalan dan robek-robek.

Sebuah caping lebar tergantung di punggungnya, baru saja dilepas dari atas kepalanya ketika dia menjatuhkan diri duduk di bawah pohon itu.

Kini dia bicara kepada tengkorak yang dipegangnya, seperti orang bicara kepada seorang sahabatnya saja.

"Hayo jawablah!"

Dia mengulang.

"Selagi hidup engkau tentu cerewet bukan main, kenapa sekarang diam dalam seribu bahasa?"

Dia terkekeh. Suara kakek itu lirih dan ringan, seperti suara anak-anak.

"Hayo katakan, apakah engkau dahulu seorang wanita yang cantik jelita ataukah wanita yang buruk rupa? Seorang laki-laki yang jantan perkasa ataukah seorang laki-laki yang lemah berpenyakitan? Apakah engkau dahulu seorang panglima? Ataukah perajurit biasa ? Hartawan ataukah pengemis?"

Kalau ada orang lain melihat dan mendengatnya di saat itu, tentu kakek ini akan dianggap seorang yang tidak waras, seorang gila atau setidaknya sinting.

"Coba jawab. Engkau dahulu seorang pembesar yang jujur bijaksana, ataukah seorang pembesar yang korup dan penindas rakyat? Seorang hartawan yang dermawan ataukah yang pelit? Ataukah engkau seorang pendeta yang penuh kasih sayang dan arif bijaksana, ataukah seorang pendeta munafik yang pura-pura alim? Ha..ha..ha, apapun adanya engkau dahulu, sekarang tiada lebih hanya sebuah tengkorak! Mana itu kecantikan atau ketampananmu, mana hartamu, mana kedudukanmu? Ha..ha..ha, engkau kini hanya pantas untuk menakut-nakuti anak-anak saja!"

Kakek itu tertawa-tawa.

"Heii, tengkorak! Selagi hidup haruslah ada manfaatnya! Jadilah seperti para pemimpin yang membimbing rakyat dengan bijaksana dan adil menuju ke arah kehidupan yang makmur, seperti para cerdik pandai yang memberi pelajaran yang bermanfaat bagi orang lain, seperti para pendekar yang selalu menegakkan dan membela kebenaran dan keadilan, seperti para pendeta yang benar-benar mengabdi kepada Tuhan, memberi penyuluhan dan bimbingan kepada orang lain ke arah jalan benar. Mereka meninggalkan hasil karya dan nama baik mereka, sehingga matipun tidak menyesal karena sudah berjasa semasa hidupnya. Dan engkau, apa jasamu terhadap orang lain, terhadap negara dan bangsa, dan terutama terhadap Tuhan?"

Kini kakek itu tidak tertawa lagi, melainkan menghela napas panjang. Kemudian terdengar lagi dia berkata.

"Kuharap saja engkau dahulu bukan seperti para muda yang tidak jujur, yang suka mengintai orang dan tidak berani muncul secara berterang, tengkorak. Kalau begitu halnya, engkau tidak pantas kuajak bicara!"

Dia meletakkan tengkorak itu di atas tanah dan pada saat itu, dari balik sebatang pohon besar berloncatan keluar seorang pemuda dan seorang gadis.

Mereka tadi bersembunyi sambil mengintai dan mendengarkan ulah kakek jambel itu dengan terheran-heran, dan ucapan terakhir kakek itu yang menyindir mereka yang sedang mengintai, mengejutkan mereka dan keduanya segera berloncatan keluar.

Mereka menghampiri kakek itu dan memberi hormat.

"Kakek yang baik, harap maafkan kami yang tadi bersembunyi di sana."

Kata pemuda itu dengan sikap yang sopan.

Kakek itu terkekeh dan memandang kepada dua orang muda itu dan hatinya merasa senang.

Dia adalah seorang kakek yang sudah banyak makan garam, sudah luas sekali pengalamannya dan dia dapat menilai orang hanya dengan melihat sinar matanya saja.

Pemuda itu berusia duapuluh satu tahun, berkulit gelap, tubuhnya tinggi tegap dan wajahnya tampan dan gagah.

Dahinya lebar, sepasang alis tebal berbentuk golok melindungi sepasang mata yang lebar dan bersinar-sinar.

Akan tetapi mata yang bersinar tajam itu amat lembut dan ini saja sudah menyenangkan hati si kakek, apa lagi melihat pemuda itu begitu muncul sudah minta maaf kepadanya!

Dan gadis yang muncul bersama gadis itupun mengagumkan hatinya.

Dara itupun sebaya dengan si pemuda, wajahnya lonjong dengan dagu runcing.

Setitik tahi lalat menghias dagu kanannya.

Matanya juga tajam bersinar, namun lembut.

Bibirnya merah segar dan sikapnya halus dan anggun.

"He..he..heh!"

Kakek jambel itu terkekeh setelah mengamati wajah kedua orang muda itu. Wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar penuh kegembiraan.

"Kenapa kalian minta maaf kepadaku? Tempat ini bukan milikku. Siapa saja boleh datang dan pergi. Akan tetapi kenapa kalian main sembunyi-sembunyi? Kalian bukan sepasang kekasih yang melarikan diri dari orang tua kalian, bukan?"

Wajah dua orang muda itu berubah kemerahan, akan tetapi keduanya tersenyum dan tidak menjadi marah. Ucapan kakek itu wajar dan sebagai kelakar yang sopan, tidak bermaksud menghina.

"Sama sekali bukan, locianpwe (orang tua gagah)."

"Heii! Kenapa engkau menyebut aku seorang jembel tua dengan sebutan locianpwe! Aku hanya pandai makan dan minta-minta!"

"Harap locianpwe tidak merendahkan diri. Locianpwe tadi dapat mengetahui bahwa kami bersembunyi, hal itu saja sudah menunjukkan bahwa locianpwe memiliki penglihatan dan pendengaran yang tajam sekali,"

Kata pemuda itu. Kakek itu memandang dengan kagum.

"Haii, engkau cerdik juga. Nah, katakan mengapa kalian bersembunyi tadi."

"Kami melihat dan mendengar semua kata-katamu, locianpwe. Karena kami tidak ingin mengganggumu, maka kami bersembunyi. Ucapan locianpwe kepada tengkorak tadi sungguh menyentuh perasaan kami. Akan tetapi, locianpwe, mengapa locianpwe seperti orang yang berputus-asa dan melihat dunia ini dari seginya yang mengecewakan dan menyedihkan belaka? Bukankah masih banyak segi lain yang menggembirakan?"

Tiba-tiba sepasang mata yang lembut dan ramah itu mencorong, mengejutkan hati pemuda itu. Lalu kakek itu menghela napas panjang, pandang matanya melembut kembali.

"Aihhh, siapa yang tidak akan merasa kecewa dan bersedih, orang muda? Kalau aku mengenang semua peristiwa yang terjadi selama beberapa tahun ini, sejak perang yang meruntuhkan pemerintah penjajah Mongol. Aihh, sungguh menyedihkan ......"

Pemuda itu mengerutkan alisnya.

"Akan tetapi, locianpwe, bukankah peristiwa itu amat membahagiakan rakyat? Bukankah perang itu yang berhasil melepaskan rakyat dari pada cengkeraman penjajah? Kenapa locianpwe malah menyatakan kecewa dan sedih? Bukankah sudah selayaknya kalau kita bersyukur, bahkan kalau bisa membantu perjuangan rakyat mengusir penjajah?"

Kakek itu menatap wajah pemuda yang bicara dengan sikap penasaran itu beberapa lamanya, kemudian dia tertawa bergelak sambil memandang ke angkasa.

"Ha..ha..ha..ha, lucunya! Engkau memberi kuliah kepadaku tentang perjuangan? Ha..ha..ha, orang muda, ketahuilah bahwa selama perang melawan Mongol, aku selalu berada di garis terdepan!"

Pemuda dan gadis itu cepat memberi hormat.

"Kiranya locianpwe seorang pahlawan!"

Kata gadis itu, baru pertama kali bicara.

"Apa pahlawan? Apa artinya sebutan itu? Kalian tahu, ketika rakyat bergerak dan berjuang melawan penjajah Mongol, aku merasa bangga dan gembira bukan main. Hampir dapat dikatakan bahwa semua golongan, tidak perduli dari aliran mana, bersatu padu dan bekerja sama, bahu membahu dalam perjuangan, rela setiap saat berkorban nyawa. Akan tetapi, kegembiraan itu hanya sebentar! Aih, seperti awan tipis tertiup angin saja. Segera terganti kedukaan ketika aku melihat betapa perang itu mengakibatkan jatuhnya korban yang teramat besar. Banyak rakyat jelata yang tidak berdosa menjadi korban, Tidak perduli wanita, kanak-kanak, orang-orang jompo, semua tak terkecuali, banyak yang roboh dibantai orang! Perang itu mengakibatkan banjir darah!"

"Apa anehnya hal itu, locianpwe? Setiap peperangan tentu saja menjatuhkan banyak korban. Setiap perjuangan tentu saja membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan rakyat tidak sia-sia, locianpwe. Mereka yang tewas dalam perang itu. baik dia perajurit maupun rakyat, adalah pahlawan dan darah mereka yang membebaskan tanah air dari cengkeraman penjajah. Kematian mereka yang mendatangkan kebebasan dan kemakmuran .........."

"Kemakmuran siapa, orang muda? Inilah yang menyedihkan hatiku. Kami dahulu dengan senang hati membantu perjuangan yang dipimpin pendekar Cu Goan Ciang yang gagah perkasa, bahkan sampai sekarangpun, setelah menjadi Kaisar Thai-cu, kami masih menaruh rasa hormat kepada dia. Dia memang seorang pejuang sejati, seorang pemimpin sejati. Sekarang. pun dia menjadi kaisar yang bijaksana, yang tidak mabok kemenangan, tidak mabok kemuliaan dan kesenangan. Dia terus membangun yang rusak oleh perang, dibantu oleh para pejabat yang setia dan bijaksana .........."

"Nah, bukankah hal itu menggembirakan sekali, locianpwe?"

"Uhhh, engkau hanya tahu satu tidak tahu selebihnya yang jauh lebih banyak. Aku melihat hal-hal yang menyedihkan sebagai akibat perang, atau menyusul perjuangan yang luhur itu. Kalau dahulu, semua golongan bersatu padu menyerang penjajah, ehh, sekarang malah terjadi perpecahan antara kita dengan kita sendiri, karena saling berebutan! Saling memperebutkan pengaruh, kedudukan dan kekuasaan yang pada hakekatnya saling memperebutkan kesenangan duniawi! Orang-orang tidak mungkin akan memperebutkan pengaruh, kedudukan dan kekuasaan kalau di situ tidak terdapat kesenangan! Jadi, yang diperebutkan adalah kesenangan! Dan dalam perebutan ini, mereka tidak segan-segan untuk saling serang dan saling bunuh! Bukan itu saja, akan tetapi lihat keadaan para pembesar! Mereka tidak pantas disebut pemimpin, mereka adalah pembesar yang membesarkan perut sendiri. Mereka melakukan korupsi, mencuri dan menipu uang negara, menindas yang bawah menjilat yang atas, bahkan banyak yang lebih tamak dan lebih murka dibandingkan penjajah Mongol sendiri! Dan Kaisar yang bijaksana itu bagaimana mungkin dapat mengetahui semua yang terjadi di antara laksaan orang pejabatnya?"

"Akan tetapi, locianpwe, aku tidak setuju! Tidak semua pejabat seperti yang locianpwe katakan tadi! Masih banyak yang merupakan pejabat sejati, setia kepada pemerintah, jujur dan tidak mementingkan diri sendiri!"

Gadis itu kini berseru penasaran.

"Ha..ha..ha, hanya berapa gelintir orang saja yang seperti itu? Dan ..... eh, kenapa aku bicara dan berdebat dengan dua orang muda yang sama sekali tidak kukenal?"

Dia menepuk kepala sendiri dan mengomel, akan tetapi sambil tersenyum.

"Bu Lee Ki, engkau tua bangka pikun. Sekali waktu bisa celaka oleh celotehmu sendiri!"

Melihat kakek itu kini mengatupkan bibir kuat-kuat dan duduknya bahkan membelakangi mereka, pemuda itu saling pandang dengan si gadis dan keduanya tersenyum.

"Locianpwe, maafkan kami berdua yang masih muda dan lupa untuk memperkenalkan diri kepada locianpwe. Namaku Sin Wan dan ini adalah sumoiku bernama Lim Kui Siang. Kakek itu tidak menoleh, masih duduk membelakangi mereka, seperti acuh saja. Sin Wan dan Kui Siang kembali saling pandang. Mereka berdua baru saja meninggalkan guru mereka yang tinggal seorang, yaitu Ciu-sian (Dewa Arak) Tong Kui yang telah berhasil mengajarkan Sam-sian Sin-ciang kepada dua orang muridnya itu. Selama hampir setahun dua orang murid itu dengan tekun melatih diri dengan ilmu silat baru hasil ciptaan Tiga Dewa. Setelah Dewa Arak melihat bahwa dua orang muridnya sudah benar-benar menguasai ilmu silat sakti itu, diapun menyuruh mereka turun gunung.

"Aku hendak menghabiskan sisa hidupku di sini, menanti uluran tangan maut yang akan membawa aku menyusul dua orang gurumu yang sudah lebih dahulu meninggalkan kita. Kalian pergilah dan pergunakan semua kepandaian yang pernah kalian pelajarl dari kami demi keadilan dan kebenaran. Kui Siang, sebaiknya engkau kembali ke kota raja. Tentu semua harta peninggalan orang tuamu berikut rumahmu masih dirawat baik-baik oleh Ciang-Ciangkun. Dan engkau, Sin Wan, terserah kepadamu hendak ke mana, akan tetapi ..... biarlah sekarang kuceritakan kepada kalian suatu keinginan hati yang sudah kami sepakati bertiga ketika dua orang gurumu yang lain masih hidup. Kami ingin melihat kalian menjadi suami isteri ........"

"Suhu ....!"

Kui Siang berseru lirih dan mukanya menjadi merah sekali.

Ia hanya menunduk.

Juga wajah Sin Wan menjadi kemerahan, dan diapun tidak berani berkutik, hanya menunduk.

Sejak masih kecil, hatinya sudah penuh kasih sayang terhadap Kui Siang.

Dia menganggap gadis itu seperti adiknya sendiri, Demikian pula Kui Siang nampak sayang kepadanya.

Mungkin kebersihan hati mereka berdua saja yang belum sempat membiarkan panah asmara menembus hati mereka.

Karena itu, begitu Dewa Arak secara terang-terangan menyatakan keinginannya, juga keinginan dua orang guru mereka yang telah tiada, mereka menjadi tertegun dan malu.

"Aihhh, Sin Wan dan Kui Siang. Kalian sudah tahu akan watakku. Aku menjunjung tinggi kebebasan setiap orang dan dalam hal perjodohan, tentu saja tidak boleh ada penekanan dari orang lain. Aku hanya memberitahukan keinginan kami bertiga, hanya mengusulkan saja. Sama sekali tidak akan memaksakan. Terserah kepada kalian berdua. Hanya aku yakin, kedua orang gurumu yang sudah tiada, juga aku sendiri, akan merasa gembira dan puas sekali kalau kalian menjadi suami isteri. Nah, sekarang pergilah kalian, dan jangan mencari aku di sini karena mungkin aku tidak berada di sini lagi. Kalau aku ingin bertemu kalian, aku yang akan mencari kalian."

Demikianlah, dua orang murid itu lalu meninggalkan Dewa Arak dan karena ia tidak mempunyai tujuan lain, Kui Siang pergi ke kota raja, ditemani Sin Wan.

Pemuda inipun tidak mempunyai tujuan.

Dia hanya menemani sumoinya pulang ke kota raja, baru kemudian dia akan melanjutkan perjalanan, entah ke mana.

Mereka sengaja mengambil jalan memutar untuk mencari pengalaman dan pada hari itu, tibalah mereka di hutan dekat daerah tandus itu dan tertarik oleh ulah kakek tua jembe!

yang bicara dengan sebuah tengkorak.

Kini, kakek tua jembel itu masih duduk membelakangi mereka.

Karena Sin Wan dan Kui Siang menganggap bahwa kakek itu menjadi marah dan tidak mau lagi bicara dengan mereka, maka Sin Wan memberi isyarat dengan matanya kepada sumoinya.

Kalau orang tua ini tidak lagi mau bicara, merekapun tidak sepantasnya mengganggunya.

"Maafkan, locianpwe. Kami berdua telah lancang mengganggu locianpwe dan sekarang kami hendak pergi saja."

Akan tetapi baru saja keduanya bangkit berdiri, terdengar kakek itu bertanya tanpa menoleh.

"Nanti dulu, katakan dulu siapa guru kalian."

Sin Wan saling pandang dengan Kui Siang.

Mereka ragu-ragu.

Kakek jembel yang tadinya kelihatan amat ramah itu kini seperti orang yang angkuh.

Mereka sudah memperkenalkan diri, akan tetapi kakek itu tidak mengatakan siapa dia, dan kini malah menanyakan nama guru mereka.

Pada hal mereka tahu benar bahwa tiga orang guru mereka sama sekali tidak ingin nama mereka disebut-sebut kalau tidak penting sekali.

Agaknya, kakek itu dapat membaca isi hati mereka.

"Hemm, jangan kalian menaruh curiga kepadaku. Aku Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki tidak ingin banyak bicara dengan sembarang orang. Katakan siapa guru kalian agar aku dapat memutuskan untuk melanjutkan percakapan kita ataukah tidak."

Mendengar nama julukan Pek-sim Lo-kai (Pengemis Tua Berhatl Putih) itu, dua orang muda ini tercengang.

Mereka pernah mendengar disebut nama julukan itu oleh Dewa Arak, dan guru mereka itu mengatakan bahwa Pek-sim Lo-kai adalah seorang di antara tokoh-tokoh sakti yang tidak palsu dan amat dihormatinya.

"Aih, kiranya locianpwe adalah pemimpin besar seluruh kai-pang!"

Seru Sin Wan.

"Ketiga orang suhu kami. Sam-sian, pernah mencerltakan tentang locianpwe!"

Kata pula Kui Siang.

Tiba-tiba kakek itu meloncat berdiri sambil membalikkan tubuhnya, menghadapi dua orang muda itu, wajahnya berseri dan senyumnya melebar sehingga matanya menjadi sipit sekali, kemudian dia bahkan tertawa ha..ha..he..he seperti tadi lagi.

"Heh..heh..heh, kiranya kalian adalah murid-murid Sam-sian! Ha..ha..ha, kalau begitu kita bukan orang lain karena Sam-Sian sudah lama kuanggap sebagai sahabat-sahabat yang paling baik! Bagaimana kabarnya dengan mereka bertiga? Apakah Ciu-sian tetap mabok-mabokan dan ugal-ugalan, Kiam-sian masih suka berfilsafat dengan pelajaran To, Pek-mau-sian masih suka bersajak?"

Mendengar ini, terbayanglah di depan mata Kui Siang semua itu, wajah ketiga orang gurunya, terutama Kiam-sian dan Pek-mau-sian, dan semua sikap dan gerak-gerik mereka, dan tak tertahankan lagi, kedua matanya menjadi basah.

Biarpun tadi tersenyum dan matanya menyipit nyaris tertutup, ternyata penglihatan kakek itu tajam sekali.

Air mata itu belum sempat jatuh, masih tergenang di pelupuk mata, akan tetapi dia sudah cepat menegur.

"Heiiii? Kenapa engkau menangis? Apa yang terjadi dengan Sam-sian?"

Tanyanya kepada Kui Siang. Dangan muka ditundukkan karena ia tidak ingin memperlihatkan tangisnya, Kui Siang menjawab.

"Suhu Kiam-sian dan suhu Pek-mau-sian telah meninggal dunia lebih setahun yang lalu."

Mendengar ini, hanya sejenak saja kakek itu tertegun, lalu dia terkekeh lagi.

"Heh..heh..heh, enaknya kalian, Kiam-sian dan Pek-mau-sian! Tidak seperti aku yang masih terseok-seok mengikuti langkah kakiku yang sudah mulai lemah terhuyung ini. Heh..heh. Dan di mana sekarang Dewa Arak?"

Cara kakek itu membicarakan Sam-sian menunjukkan bahwa dia memang sahabat karib mereka, maka Sin Wan yang memberi keterangan.

"Suhu Ciu-sian menyuruh kami meninggalkannya dan suhu hendak merantau, entah ke mana karena tidak memberitahu kepada kami berdua."

"Aihh, masih enak dia dari pada aku. Dia bebas, dan aku? Terikat oleh kaipang-kaipang yang brengsek itu! Dahulu, di jaman perjuangan, mereka itu demikian setia, demikian gagah perkasa dan bersatu! Sekarang? Muak aku melihatnya. Saling bermusuhan, saling berebutan, bahkan banyak yang kemasukan kaum sesat! Sangguh memalukan. Karena itu, lebih baik aku merantau dan menjauhi semua tetek-bengek itu!"

Baru sekarang nampak wajah yang biasanya berseri itu digelapkan mendung kemurungan.

"Mereka itu munafik semua munafik! Segala kebaikan, segala kehormatan, segala keramahtamahan, semuanya munafik! Sama dengan bedak gincu saja, untuk menyembunyikan kulit yang buruk."

Dia menarik napas panjang dan memandang wajah Kui Siang.

"Tidak ada hubungannya dengan engkau, anak baik. Engkau memiliki wajah yang cantik dan bersih, tidak membutuhkan bedak gincu lagi!"

Diam-diam Sin Wan terkejut.

Menurut guru-gurunya, Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki adalah seorang sakti yang gagah perkasa dan ditakuti, juga disegani oleh kawan dan lawan.

Dia lihai akan tetapi berhati lembut, adil dan pandai mengatur sehingga seluruh perkumpulan pengemis dari empat penjuru memilih dia sebagai pemimpin besar yang disebut Thai-pangcu (Ketua Besar) dan ditaati seluruh pimpinan semua perkumpulan pengemis.

Akan tetapi, sekarang tokoh ini meninggalkan perkumpulan, melarikan diri dari semua hal yang membuatnya kecewa dan penasaran.

"Maaf, locianpwe. Sudah berapa lamakah locianpwe meninggalkan kai-pang?"

"Heh..heh, biar mereka tahu rasa. Biar mereka memilih sendiri pimpinan mereka, agar pimpinan yang baru itu mampus karena pusing kepala! Aku tidak sudi lagi, aku sudah meninggalkan kesemuanya itu sudah bertahun-tahun sedikitnya ada tujuh tahun!"

"Tapi, locianpwe. Menurut para guruku, hanya locianpwe seorang yang dipandang oleh seluruh pimpinan kai-pang di empat penjuru, hanya locianpwe yang dapat mengatur dan mengarahkan mereka agar mereka tetap berjalan di jalan yang benar. Bukankah locianpwe pula yang dahulu memimpin mereka semua membantu perjuangan menumbangkan pemerintah Mongol? Kenapa locianpwe sekarang malah meninggalkan mereka?"

"Biar! Heh..heh, siapa sudi mengurus orang-orang brengsek itu? Setelah perjuangan selesai, mereka ikut-ikut dengan orang-orang sesat untuk memperebutkan harta benda dan kedudukan, menuntut imbalan jasa atas perjuangan menumbangkan penjajah!"

"Maaf, locianpwe, bukankah itu wajar? Bukankah mereka yang telah berjasa dalam perjuangan memang berhak menerima imbalan?"

Sin Wan mengejar, hanya untuk memancing pendapat kakek itu karena dia sendiri sudah melihat betapa sesatnya perbuatan itu. Sepasang mata itu melotot.

"Hehh? Kau hendak menguji aku atau bersungguh-sungguh? Kalau sungguh-sungguh, tidak pantas engkau menjadi murid Sam-sian, apakah guru-gurumu hanya mengajarkan ilmu pukulan dan tendangan saja dan tidak membuka matamu melihat kenyataan hidup?"

"Maaf, saya mengharapkan petunjuk dan pelajaran yang amat berharga dari locianpwe."

Kata Sin Wan.

"Hemm, kalau berjuang mengharapkan imbalan jasa, maka itu bukan perjuangan namanya! Makna perjuangan yang luhur, pengabdian kepada nusa bangsa dengan taruhan nyawa, menjadi pudar dan diisi dengan pamrih demi keuntungan diri pribadi. Pejuang seperti itu dapat melakukan penyelewengan dengan mudah karena yang dipentingkan adalah pamrihnya. Berjuang hanya mempunyai satu tekad, yaitu menghalau penjajah dan membebaskan bangsa dan negara dari belenggu kekuasaan Mongol. Itu saja! Tentu saja setelah berhasil, dilanjutkan dengan mengisi kemerdekaan yang telah diperoleh dengan pengorbanan harta dan nyawa itu. Dan pengisiannya juga merupakan perjuangan yang sama luhurnya, yaitu demi negara dan bangsa, bukan demi penuhnya kantung sendiri, demi keuntungan dan kesenangan diri sendiri! Dan lihat, mereka mulai saling bermusuhan berebutan seperti segerombolan anjing kelaparan memperebutkan tulang-tulang yang berserakan. Memalukan!"

"Dan melihat hal seperti itu, locianpwe malah menjauhkan diri? Sudah benarkah tindakan locianpwe itu?"

Sin Wan menegur sambil mengerutkan alisnya yang tebal.

"Eh? Apa maksudmu?"

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 9

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert