Ceritasilat Novel Online

Si Pedang Tumpul 4

Eps 4 Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo

Baca online Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo

Cersil Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo.

"Locianpwe, perjuangan suci bukan hanya memerdekakan negara dan bangsa lalu disusul dengan usaha memakmurkan rakyatnya saja. Kalau melihat ada orang-orang yang tidak benar dan berambisi menyenangkan diri sendiri, berarti melihat tikus-tikus yang hendak menggerogoti sarana kemakmuran bagi rakyat. Melihat begitu dan mendiamkannya saja, bahkan menjauhkan diri, sudah benarkah itu? Bukankah berusaha dengan tindakan mencegah terjadinya semua penyelewengan itu, menghentikan semua permusuhan antara bangsa sendiri, antara golongan sendiri, membersihkan mereka yang menipu dan mencuri milik negara, menjamin keamanan bagi rakyat jelata, bukankah itupun merupakan perjuangan yang luhur pula?"

Kakek itu membelalakkan mata memandang kepada Sin Wan, akan tetapi tidak marah, melainkan tersenyum lucu.

"Ehh? Ehh, lanjutkan, lanjutkan!"

Katanya penuh gairah.

"Kehidupan di seluruh alam mayapada ini dikuasai oleh dua unsur, locianpwe, yaitu Im (negatif) dan Yang (positif). Keduanya ini yang memutar seluruh alam dan isinya, seluruh kejadian dan seluruh sifat. Bagaimana ada Yang tanpa Im? Bagaimana ada Terang tanpa Gelap, ada Kebaikan tanpa Keburukan dan sebagainya? Hidup ini merupakan tantangan, locianpwe, justeru di sini letaknya seni hidup. Kita harus hadapi setiap tantangan, menghadapinya dan mengatasinya! Bukan melarikan diri! Inipun perjuangan namanya, perjuangan hidup, yaitu menghadapi dan mengatasi semua tantangan, dengan landasan benar! Tidakkah demikian, locianpwe? Ataukah locianpwe hanya pura-pura saja tidak tahu karena saya yakin locianpwe lebih tahu dari pada kami orang-orang muda ini?"

"Siancai ........! Ini baru suara murid Sam-sian! Hei, orang muda yang baik, engkau menjatakan tadi tentang landasan benar! Nah, kata "benar"

Ini bagaimana?

Setiap orang akan menganggap dirinya benar!

Kalau aku sampai berkelahi denganmu, pasti aku akan merasa diriku benar dan engkaupun demikian.

Lain, kalau kita berdua merasa benar, lalu siapa yang tidak benar?"

"Locianpwee kalau locianpwe merasa benar dan sayapun merasa benar sehingga kita saling bermusuhan, maka jelaslah bahwa kita berdua sama-sama tidak benar! Kebenaran tak dapat diperebutkan, tidak dapat dimonopoli seseorang. Kebenaran yang dibela dengan kekerasan sehingga bermusuhan, jelas bukan kebenaran lagi."

"Heh..heh..heh, lalu apa maksudmu mengatakan dengan landasan benar tadi? Kebenaran yang mana yang kau maksudkan?"

"Maaf, locianpwe, kalau pengertian saya masih dangkal dan keliru, mohon petunjuk. Kebenaran mutlak, yang Maha Benar hanyalah Tuhan Yang Maha Esa, yang lainnya, yaitu kebenaran yang diaku oleh manusia hanyalah kebenaran semu yang setiap waktu dapat dinyatakan tidak benar, tergantung waktu, keadaan dan lingkungan. Yang saya maksudkan dengan landasan benar tadi, locianpwe, adalah apabila tindak kita tidak didasari pamrih demi kepentingan dan keuntungan diri pribadi. Yang penting itu pamrihnya, bukan perbuatannya. Betapapun baik dan indah nampaknya suatu perbuatan, kalau didasari pamrih yang mementingkan diri pribadi, maka perbuatan itu palsu adanya."

"Heh..heh..heh, engkau terlalu keras, orang muda ..... eh, siapa namamu tadi? Sin Wan? Aku mulai tertarik kepadamu. Di dunia ini mana ada manusia yang bebas dari pamrih? Setidaknya manusia membutuhkan sandang pangan dan papan, dan berhak menikmati hidupnya dan bersenang-senang!"

"Tentu saja, locianpwe. Tuhan tidak mungkin menciptakan manusia untuk bersengsara-sengsara. Akan tetapi sekali kebutuhan akan kesenangan itu menjadi majikan, kita akan diperhamba oleh nafsu dan kita akan dibawa ke jalan sesat."

"Ha..ha..ho..ho..ho, bagus sekali, Sin Wan. Dari Sam-sian kah engkau memperoleh semua pengetahuan akan kehidupan ini?"

"Kewaspadaan akan kehidupan bukanlah pelajaran yang harus dihafalkan dan diingat-ingat, locianpwe, melainkan timbul dari kesadaran akan rasa diri, akan seluruh isi alam dan terutama akan Penciptanya, yaitu Allah Yang Maha Tunggal, Maha Besar, dan Maha Kuasa."

Kakek itu tertawa bergelak, lalu menoleh kepada Kui Siang.

"Dan bagaimana dengan engkau, siapa namamu tadi, Lim Kui Siang? Bagaimana dengan engkau? Bukankah engkau juga murid Sam-sian dan digembleng dengan kebijaksanaan yang sama?"

Kui Siang tersenyum.

"Locianpwe, aku hanyalah seorang gadis bodoh, tidak dapat dibandingkan dengan suheng, baik dalam hal ilmu silat maupun pengetahuan tentang hidup dan filsafat. Dia memang pintar!"

Sin Wan tersenyum.

"Jangan percaya ucapannya, locianpwe. Sumoi hanya merendahkan diri. Ilmu silatnya hebat, saya sendiri belum tentu akan mampu menandinginya. Dan ia adalah puterl seorang bangsawan tinggi yang setia dan baik."

"Suheng ......!"

Gadis itu berseru hendak mencegah suhengnya bercerita tentang itu. Namun sudah terlanjur dan Sin Wan yang merasa bersalah segera berkata, suaranya menghibur.

"Maaf sumoi. Kurasa tiada halangannya locianpwe ini mengetahui tentang keadaanmu. Dia adalah sahabat baik dari guru-guru kita."

"Heh..heh..heh, nona Lim Kui Siang, tidak diberitahupun orang mudah saja menduga bahwa engkau tentulah mempunyai darah bangsawan! Hal itu dapat nampak pada sikap dan gerak-gerikmu yang anggun dan lembut. Bangsawan she Lim di kota raja yang setia? Hemm, aku pernah mengenal bangsawan Lim yang menjadi Jaksa Agung di kota raja. Itukah orang tuamu ?"

Kui Siang menggeleng. Sekarang sudah tidak perlu merahasiakan keluarganya yang sudah tiada.

"Bukan, locianpwe, dan harap locianpwe tidak menyebut nona kepadaku. Ayahku tidak menjadi jaksa, melainkan bertugas sebagai pengurus gudang pusaka di kota raja."

"Pengurus gudang pusaka? Ah, kalau begitu tentu seorang yang terpelajar tinggi! Ingin sekali-kali aku menemui orang tuamu dan berkenalan."

"Locianpwe, ayah ibu sumoi sudah meninggal dunia,"

Kata Sin Wan.

"Ahh!"

Senyum itu menghilang dari bibir si pengemis tua.

"Kiranya engkau sudah yatim piatu?"

"Ayahku terbunuh orang ketika melaksanakan tugasnya, locianpwe. Ketika pusaka-pusaka kerajaan dicuri orang, ayah menjadi korban, dibunuh oleh pencuri pusaka."

Kakek itu mengangguk-angguk.

"Aku pernah mendengar berita tentang hilangnya pusaka-pusaka itu, akan tetapi karena aku sudah tidak tertarik lagi akan urusan dunia ramai, akupun tidak memperhatikan. Siapa sih orang yang begitu berani mencuri pusaka dari kerajaan?"

"Pencurinya adalah Hui-ciang Se Jit Kong,"

Kata Kui Siang.

"Aha, Si Tangan Api yang tersohor itu? Ingin sekali-kali aku mencoba kelihaian tangan apinya. Kabarnya dia merajalela dan mengalahkan banyak tokoh besar dunia persilatan."

"Dia sudah tewas, locianpwe,"

Kata Sin Wan.

"Ketiga guru kami mendapat tugas dari Kaisar untuk mencari pusaka-pusaka itu dan berhasil merampasnya kembali dari Se Jit Kong yang tewas di tangan mereka."

"Wahai ...... sayang sekali! Nah, Sin Wan, engkau tadi menyalahkan tindakanku yang meninggalkan kai-pang. Nah, katakan, kalau menurut pendapatmu, apa yang harus kulakukan?"

"Maaf, sama sekali saya tidak berani menyalahkan tindakan locianpwe. Saya hanya mengingatkan dan mengajak locianpwe bertukar pikiran. Sekarang ini penjajah telah terusir pergi. Negara dan bangsa dipimpin oleh tangan bangsa sendiri yang berarti merupakan tindak lanjut dari perjuangan merebut kemerdekaan. Kalau dahulu, di waktu perjuangan merebut kemerdekaan, locianpwe dengan gigih ikut membantu. Kenapa sekarang tidak? Kiranya justeru sekarang ini, para kai-pang perlu disatupadukan untuk membantu pemerintah mengisi kemerdekaan."

"Heh.. heh, sudah kukatakan, aku muak dengan semua itu! Mereka itu palsu dan penyelewengan terjadi di mana-mana. Kalau aku terjun kembali, bukankah aku akan membiarkan diriku bergelimang dengan penyelewengan? Bermain dengan lumpur tentu kotor!"

"Belum tentu, locianpwe! Sekali emas, biar terpendam dilumpurpun akan tetap emas mengkilat. Sekali teratai, biar hidup di atas lumpurpun akan tetap indah dan bersih. Bahkan kalau locianpwe terjun kembali, locianpwe akan dapat menangani semua penyelewengan itu, membelokkan ke jalan benar. Kalau locianpwe melarikan diri dari kenyataan seperti ini, bukankah hal itu berarti locianpwe memembantu makin memburuknya keadaan? Locianpwe, selagi hidup, kalau tidak membuat tindakan yang bermanfaat bagi dunia, lalu apa artinya hidup?"

Sepasang mata itu terbelalak.

"Heii, orang muda! Enak saja engkau bicara. Orang bicara harus berani mempertanggung jawabkan ucapannya. Pendapatmu itu jangan kaujejalkan dan paksakan saja kepada orang lain untuk melaksanakannya, akan tetapi juga untuk dirimu sendiri! Kalau orang hanya memberi nasihat dan dorongan kepada orang lain akan tetapi diri sendiri tidak berbuat, perbuatan itu seperti sikap para pembesar korup yang menganjurkan ini itu kepada rakyat namun dia sendiri tidak melaksanakannya! Beranikah engkau membantuku kalau aku terjun kembali ke dunia ramai, menertibkan para kai-pang dan membantu pemerintah mengisi kemerdekaan?"

Sin Wan adalah seorang pemuda yang berwatak gagah dan bertanggung jawab. Mendengar pertanyaan itu, tanpa ragu-ragu lagi diapun menjawab.

"Tentu saja saya berani dan sanggup membantu locianpwe!"

"Bagus!"

Kakek itu terkekeh girang sekali. Sekarang kalian berdua bersiap-siaplah untuk melawan aku, heh..heh..heh!"

Tentu saja dua orang muda itu terkejut bukan main.

"Apa maksud locianpwe?"

Kui Siang berseru.

"Aku tidak ingin berkelahi denganmu!"

"Anak bodoh, siapa yang mau berkelahi dengan siapa? Setiap kali aku bertemu Sam-sian, tentu mereka akan kuajak berlatih silat. Kini mereka tidak berada di sini, dan yang kutemui adalah murid-murid mereka. Nah, sebagai murid, kalian harus mewakili Sam-sian untuk berlatih dengan aku. Bersiaplah, kita berlatih beberapa jurus!"

Sin Wan maklum akan isi hati kakek ini.

Setelah menerima kesanggupannya untuk membantu kakek itu terjun lagi ke dunia persilatan, tentu kakek ini ingin menguji kepandaiannya.

Dia tidak ingin sumoinya terilbat, karena maklum, betapa besar bahayanya berkecimpung di dunia persilatan di mana terdapat banyak tokoh yang menyeleweng seperti yang disesalkan kakek itu, Maka, diapun berkata.

"Locianpwe, biarlah saya mewakili ketiga orang guru kami. Sumoi adalah seorang wanita yang tidak semestinya terlibat dalam urusan ini, maka biarlah saya sendiri yang menghadapi locianpwe."

"Heh..heh..heh, kalau menghadapi Sam-sian, tentu aku minta mereka maju satu demi satu. Akan tetapi engkau hanya muridnya, bagaimana mungkin dapat menandingi aku? Majulah kalian berdua, baru akan seimbang, heh..heh!"

"Kita sama lihat saja, locianpwe. Kiranya tidak sia-sia ketiga orang guruku selama ini menggembleng dan mengajarkan ilmu-ilmu mereka kepada saya!"

Kata Sin Wan tenang.

"Ilmu kepandaian sumoi tidak banyak selisihnya dengan saya, maka dengan mengukur tingkat saya, locianpwe sudah akan dapat pula mengetahui kemampuan sumoi."

"Bagus! Melawan seorang di antara Sam-sian, sampai ratusan jurus belum ada yang kalah atau menang. Yang terakhir kalinya, ketika melawan Kiam-sian kami berdua menghabiskan gerakan hampir seribu jurus dan belum ada yang kalah atau menang. Kalau engkau ini muridnya mampu bertahan sampai seratus jurus saja sudah kuanggap bagus sekali. Nah, bersiaplah!"

Kakek itu menggerakkan sebatang tongkat dan caping lebarnya tergantung di punggung.

Tongkat itu bukanlah tongkat luar biasa, melainkan sepotong ranting yang baru saja dibersihkan daun-daunnya, masih basah dan besarnya hanya selengan wanita, panjangnya satu meter lebih.

Sin Wan maklum bahwa dia menghadapi seorang lawan yang amat lihai, yang mampu menandingi mendiang suhunya, Dewa Pedang, sampai beribu jurus!

Oleh karena itu, tanpa ragu-ragu lagi diapun mencabut pedangnya yang butut dari balik jubahnya.

Sinar hijau nampak berkelebat ketika pedang dicabut, akan tetapi biarpun mengeluarkan sinar hijau yang aneh, ketika pedang itu dipegang lurus menunjuk ke langit di depan mukanya, pedang itu hanya merupakan sebatang pedang yang jelek dan tumpul.

"Pedang tumpul ....??!!"

Kakek itu berseru kagum dengan mata terbelalak.

"Pedang pusaka yang pernah mengangkat nama besar Jenghis Khan! Bukankah itu menjadi pusaka kerajaan?"

"Ketiga orang suhu saya menerima hadiah dari Kaisar karena berhasil mengembalikan pusaka-pusaka yang hilang, dan pedang ini merupakan satu di antara hadiah-hadiah itu, locianpwe."

"Pedang tumpul .......! Bagus, aku ingin melihat apakah engkau patut menjadi majikannya. Nah, sambut seranganku ini!"

Tiba-tiba saja tongkat di tangan kakek itu lenyap, berubah menjadi gulungan sinar yang seperti ombak samudera menerjang ke arah Sin Wan.

"Ini Lam-hai-tung-hwat (Ilmu Tongkat Laut Selatan). Ilmuku terbaru yang belum pernah dilihat Sam-sian!"

Kakek itu berseru dari balik gulungan sinar kelabu yang menyelimuti bayangannya itu.

Maklum bahwa dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmunya yang paling tinggi, Sin Wan juga tidak membuang waktu lagi.

Langsung dia mainkan ilmu yang baru saja dipelajarinya dengan tekun selama setahun dari Dewa Arak, yaitu Sam-sian Sin-ciang!

Ilmu ini dapat dimainkan dengan tangan kosong sesuai namanya, yaitu Sam-sian Sin-ciang (Tangan Sakti Tiga Dewa), akan tetapi juga dapat dimainkan dengan menggunakan pedang!

Maka, begitu gulungan sinar kelabu dari tongkat kakek itu menyambar-nyambar dan tiba-tiba dari gulungan sinar itu mencuat sinar kecil meluncur ke arah dadanya dengan totokan yang cepat bagaikan kilat.

Sin Wan sudah menggerakkan pedangnya menangkis dan diapun langsung membalas dengan memainkan ilmu silat Sam-sian Sin-ciang.

Melihat pedang tumpul yang tadinya menangkis tongkatnya itu tiba-tiba saja berputar dan menyambarnya dengan gerakan melengkung, kakek itu terkejut dan kagum.

Anak ini telah menguasai tenaga sakti sepenuhnya sehingga dapat mengubah yang keras menjadi lemas seketika!

Dia mengelak dari sambaran sinar hijau pedang itu, lalu memainkan Lam-hai Tung-twat dengan hati-hati dan cepat.

Sin Wan mengimbangi kecepatan gerakan kakek itu sehingga Kui Siang yang menjadi penonton tunggal, tertegun dan kagum.

Dua orang yang sedang bertanding itu tidak nampak lagi, yang nampak hanyalah dua gulungan sinar kelabu dan hijau yang saling terjang, saling belit dan saling desak.

Dua orang itu mengandalkan ketangguhan ilmu silat yang aneh itu disertai ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang sudah mencapai tingkat tinggi.

Selama sepuluh tahun menjauhkan diri dari dunia persilatan, kakek itu sama sekali tidak pernah berkelahi, akan tetapi juga tidak pernah meninggalkan latihan.

Bahkan dia telah menyempurnakan ilmu-ilmunya, menggabung jurus-jurus terampuh menjadi satu dan menciptakan ilmu tongkat Lam-hai Tung-hoat.

Tadinya dia mengira bahwa tentu sebelum seratus jurus, dia akan mampu mengalahkan pemuda murid Sam-sian itu dengan llmu tongkatnya yang baru.

Akan tetapi ternyata, pemuda dengan Pedang Tumpul itu bukan saja mampu bertahan, bahkan mengimbangi semua kecepatannya dan membalas serangan tidak kalah gencarnya sehingga keadaan mereka dapat dikatakan seimbang!

Dan sudah hampir seratus jurus lewat dan dia sama sekali tidak mampu mendesak Diam-diam dia merasa girang sekali.

Mendapatkan seorang pembantu seperti ini sungguh menyenangkan dan menguntungkan!

Diapun tahu bahwa kalau dilanjutkan mengandalkan kecepatan yang dapat diimbangi pemuda itu, akhirnya dia yang malah kalah, yaitu kalah dalam hal pernapasan.

Napasnya akan habis sebelum pemuda itu terengah-engah!

"Hyaaaattt .....!"

Dia mengeluarkan bentakan nyaring dan kini tongkatnya digerakkan mengandung tenaga yang dahsyat, tenaga sakti dikerahkan dan dipusatkan pada gerakan menusuk itu.

Sin Wan dapat merasakan datangnya sambaran angin yang dahsyat dan tahulah dia bahwa kakek itu mengerahkan tenaga sakti yang amat kuat.

Maka diapun cepat mengerahkan tenaganya dan menangkis dengan kuat untuk mencoba sampai di mana kekuatan kakek itu.

"Crakkk .........!!!"

Pertemuan antara ranting dan pedang itu membuat tanah di sekelllingnya seperti tergetar hebat dan Sin Wan terdorong ke belakang sampai dua langkah sedangkan kakek itu sama sekali tidak, hanya merasakan tangannya tergetar saja.

Hal ini saja sudah menjadi bukti bahwa dalam hal tenaga sakti, pemuda itu masih kalah.

Namun, cukup membuat Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki kagum bukan main.

Jarang ada tokoh kang-ouw, biar datuk sekalipun, yang mampu bertahan terhadap pengerahan tenaga sin-kangnya tadi, dan pemuda ini hanya undur dua langkah saja!

"Bagus!"

Serunya dan kini kakek jembel itu menyerang lagi.

Serangannya nampak lambat, lama sekali menjadi kebalikan tadi.

Kalau tadi dia mengandalkan kecepatan, kini dia mengandalkan tenaga.

Sin Wan maklum akan hal ini dan diapun mengerahkan tenaga sakti dan menandingi kakek itu.

Pertandingan dilanjutkan dan beberapa kali kedua senjata itu bertemu menggetarkan tanah yang diinjak Kui Siang yang menonton dengan hati kagum.

Tak disangkanya bahwa kakek tua itu sedemikian lihainya, memang agaknya setingkat dengan kepandaian Sam-sian.

Kembali seratus jurus terlewat dalam pertandingan yang didasari tenaga sin-kang ini.

Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan seruan melengking dan tongkatnya menyambar dari atas ke bawah, memukul ke arah kepala lawan!

Sin Wan menggerakkan pedangnya dan menangkis dari bawah ke atas.

"Trakkk!"

Kembali kedua senjata bertemu akan tetapi sekali ini, Sin Wan tidak terdotong mundur.

Agaknya kakek itu mengurangi tenaganya, hanya kini pedang itu melekat pada tongkat!

Ketika Sin Wan hendak menarik pedangnya yang tertempel tongkat itu, tiba-tiba dia merasa betapa tongkat itu mengendur, kehilangan tenaga!

Sin Wan terkejut.

Tentu kakek itu kehabisan tenaga, pikirnya dan dalam keadaan seperti ini, ada dua jalan saja yang dapat dia lakukan.

Kalau dia menghendaki kemenangan, tentu dengan mudah saja dia dapat mengerahkan tenaga dan dari tempelan tongkat yang kini tanpa tenaga itu dia dapat langsung menyerang dengan tusukan atau bacokan dan dengan mudah memperoleh kemenangan.

Akan tetapi, Sin Wan adalah seorang yang sejak kecil dijejali kelembutan oleh ibunya, kemudian digembleng lahir batin oleh Sam-sian.

Dia tidak haus kemenangan, apa lagi terhadap kakek jembel yang dihormatinya ini.

Tidak, dia tidak mau mempergunakan kesempatan itu untuk menang.

Maka, diapun cepat mengendurkan tenaganya dan menarik kembali pedangnya yang menempel pada tongkat, untuk memberi kesempatan kepada lawan memulihkan.tenaganya.

Akan tetapi, pada saat dia mengendurkan tenaganya dan menarik pedangnya, tiba-tiba tongkat yang tadinya tidak bertenaga itu, secepat kilat telah meluncur dengan tenaga sepenuhnya dan tahu-tahu telah menempel di lehernya!

Tentu saja Sin Wan terkejut bukan main.

Ini berarti bahwa dia telah kalah mutlak!

Kakek itu terkekeh senang.

"Kau kalah, Sin Wan."

"Tapi, locianpwe tadi seperti kehilangan tenaga ......."

"Itu namanya menggunakan tenaga Mengalah Untuk Menang!"

"Kalau saya tidak menarik pedang dan pada kesempatan itu justeru mencari keuntungan dan menyerang ......."

"Kau juga akan kalah. Coba saja kita ulangi!"

Kata kakek itu sambil tersenyum.

Dia lalu memasang kuda-kuda seperti tadi, dengan tongkatnya di atas.

Sin Wan yang merasa penasaran juga memasang kuda-kuda seperti tadi, menempelkan pedangnya pada tongkat.

"AKU mulai!"

Kata Pek-sim Lo-kai dan tiba-tiba saja tongkat itu mengendor seperti kehilangan tenaga.

Sin Wan menggunakan kesempatan ini untuk menggerakkan pedangnya, menusuk ke depan, ke arah leher lawan, tentu saja dengan tenaga terkendali sehingga dapat dia hentikan kalau sudah menempel leher.

Akan tetapi, tiba-tiba sekali tubuh kakek itu merendah, kedua lututnya ditekuk dan sebelum Sin Wan dapat menyangkanya, perutnya sudah ditodong ujung tongkat!

Kembali dia kalah mutlak!

Kakek itu terkekeh.

"Heh..heh, ilmu Tenaga Mengalah Untuk Menang ini memang ampuh, merupakan satu di antara ilmu yang kudapatkan selama ini. Menghadapi ilmuku ini, menggunakan kesempatan untuk menang berarti kalah, dan kalau mengalah dan menarik pedangmu, berarti kalah juga!"

Sin Wan tertegun kagum.

"Wah, kalau begitu, apakah tidak ada cara untuk menghindarkan diri dari ilmu itu, locianpwe?"

"Tentu saja ada, akan tetapi tidak pernah diduga dan dipergunakan orang tentunya! Inilah letak keistimewaan ilmu ini. Tenagaku yang tiba-tiba mengendur itulah yang menjadi pancingan, menjadi umpan. Kalau lawan merasa bahwa tenagaku mengendur dan hendak mencari kemenangan seperti yang kaulakukan dalam pengulangan tadi, maka dengan mudah aku akan dapat mengalahkan, karena tentu dia mengira aku kehabisan tenaga dan tidak menduga akan seranganku ke arah perut tadi. Kalau dia sebaliknya hendak mengalah, dan menarik senjatanya, aku dapat menggunakan kesempatan itu untuk menyerangnya dengan tiba-tiba dan memperoleh kemenangan. Bagaimana untuk menghindarkan diri dari kekalahan menghadapi ilmuku ini! Heh..heh, namanya juga orang memancing, kalau umpannya tidak disambar ikan, namanya gagal! Kalau engkau tetap dengan sikapmu, tidak mengurangi tenaga menarik kembali senjata, tidak pula menggunakan kesempatan untuk menyerang, berarti aku tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menggunakan lain taktik!"

Kakek itu tertawa-tawa dan Sin Wan ikut pula tertawa. Ilmu yang aneh dan nakal, akan tetapi memang dapat berhasil baik, menunjukkan betapa cerdiknya kakek ini.

"Ada lagi ilmu baru yang kudapatkan dan belum pernah kucoba, satu di antara ilmu-ilmu yang kuanggap terbaik. Nah, mari kita coba! Engkau berhati-hatilah karena aku akan melancarkan serangkaian serangan yang dahsyat!"

Sin Wan sudah memasang kuda-kuda dengan hati-hati sekali.

Kedua kakinya terpentang dan tertekuk sedikit, kokoh kuat dan tangan kanan dengan jari terbuka di pinggang kiri, pedang melintang di depan dada.

Dalam keadaan seperti itu, diserang dari manapun dia akan mampu menjaga dirinya.

"Saya telah siap, locianpwe!"

Katanya gembira. Betapa hatinya tidak gembira. Dia akan melihat ilmu-ilmu yang aneh dan lihai. Sama saja dengan menerima pelajaran ilmu-ilmu baru yang ampuh dari kakek itu.

"Awas seranganku ini!"

Teriak kakek itu dan tiba-tiba tubuhnya berpusing seperti gasing!

Saking cepatnya, sukar diikuti dengan pandang mata, biar pandang mata terlatih seperti mata Sin Wan sekalipun.

Dan pusingan atau gasingan hidup itu berputar dan menggelinding ke arah Sin Wan.

Pemuda ini tidak dapat melihat mana tongkat lawan dan bagian tubuhnya yang mana yang diserang, maka untuk melindungi tubuhnya, dia memutar pedang menjadi perisai.

Terdengar suara berdentang beberapa kali dan gasing manusia itupun menggelinding pergi, lalu membalik dan menyerang kembali dalam keadaan masih berpusing.

Sin Wan sama sekali tidak mampu membalas.

Dia hanya melindungi diri setiap kali gasing manusia itu mendekat, dan ketika gasing itu menggelinding dekat untuk yang keempat kalinya, dan dia memutar pedang menjadi perisai, tiba-tiba gasing itu mencelat ke atas dan ketika dia memutar pedangnya ke atas, dia merasa rambutnya seperti ditarik dan gasing hidup itu telah melayang turun kembali dan nampak kakek itu terkekeh.

"Heh..heh..heh, kalau yang keempat kalinya itu aku gagal, dua kali serangan lagi aku tentu akan roboh sendiri. Siapa tahan sudah setua ini disuruh berpusing seperti gasing. Sekarangpun bumi seperti dilanda gempa hebat, ha..ha!"

Sin Wan meraba rambutnya dan ternyata kain pengikat rambutnya telah lenyap dan ketika dia memandang lagi, kain itu sudah terkait di ujung tongkat Pek-sim Lo-kai!

Tahulah dia bahwa kembali dia harus mengaku kalah karena kalau yang dihadapinya seorang musuh, tentu bukan kain pengikat rambut yang dikait!

"Hebat sekali gerakan aneh tadi, locianpwe.

Ilmu apakah itu tadi?"

"Itu namanya Langkah Angin Puyuh! Bukan saja dapat dipergunakan untuk menyerang, akan tetapi juga untuk menghadapi pengeroyokan banyak orang. Akan tetapi, harus kuat terhadap putaran itu, kalau tidak, kepala bisa pening dan baru beberapa putaran sudah roboh sendiri. Membutuhkan latihan!"

"Sungguh hebat sekali, locianpwe. Masih ada lagikah ilmu aneh yang boleh kami lihat?"

Kini Kui Siang berkata, merasa kagum bukan main karena dengan dua macam ilmu itu saja, demikian mudahnya suhengnya dikalahkan.

"Ha..ha..ha, masih banyak, nona ........"

"Kenapa locianpwe demikian sungkan menyebut nona kepadaku? Namaku Lim Kui Siang,"

Kata gadis itu ramah.

"Heh..heh, Kui Siang. Aku sudah tua. Terlalu lama bertanding, napasku bisa putus dan tenagaku habis. Sekarangpun aku sudah haus sekali dan lapar bukan main."

"Kalau begitu, mari kita lanjutkan perjalanan ke selatan, locianpwe. Bukankah kota Peking tidak jauh lagi?"

Kata Sin Wan.

"Di sana kita dapat makan di rumah makan."

"Kalian yang bayar? Aku seorang pengemis tua, mana bisa makan di rumah makan?"

"Kami akan membayar, locianpwe. Pilihlah makanan yang paling enak, dan kami akan membayar,"

Kata Kui Siang. Kakek itu bersorak.

"Ha..ha..ha! Hari ini engkau mujur, perut dan mulut. Mari kita berangkat!"

Dan diapun sudah berlari dengan cepat seperti terbang saja.

Sin Wan dan Kui Siang saling pandang, tersenyum dan merekapun segera mempergunakan ilmu berlari cepat mengejar kakek itu, menuju ke selatan, ke kota Peking.

Peking merupakan kota raja ke dua dari kerajaan baru Beng-tiauw.

Biarpun kota raja kini dipindahkan ke Nan-king di tepi Sungai Yang-ce, namun bekas kota raja Peking di utara itu masih dipertahankan sebagai pangkalan yang penting.

Kota ini selain memiliki bangunan-bangunan besar dan indah, mempunyai banyak penduduk dan menjadi kota yang ramai, juga merupakan benteng utama di utara untuk menentang para penyerbu dari utara.

Di Peking ini, Kaisar Thai-cu menempatkan seorang puteranya sebagai seorang raja muda.

Karena itu, kekuasaan Raja Muda Chu Hoan Ong cukup besar karena selain sebagai raja muda, dia juga putera Kaisar Thai-cu.

Bahkan balatentara kerajaan Beng sebagian besar berada di daerah utara ini untuk membendung bahaya yang mungkin datang dari Bangsa Mongol yang tentunya saja tidak rela membiarkan kekuasaannya di selatan digulingkan dan mereka selalu berusaha untuk berjaya kembali.

Ketika mereka tiba di luar pintu gerbang Peking, Sin Wan teringat akan sesuatu dan berkata kepada Pek-sim Lo-kai.

"Locianpwe sudah bertahun-tahun meninggalkan dunia persilatan, akan tetapi tentu setiap orang pengemis akan mengenal locianpwe sebagai pemimpin besar mereka. Kalau sudah begitu, tentu kami tidak mungkin lagi dapat mendekati locianpwe yang tentu akan disambut dengan meriah. Kami bukan segolongan, maka kami tidak ingin membuat locianpwe merasa kikuk."

"Heh..heh, siapa yang akan mengenal seorang jembel tua seperti aku? Dahulu, yang berjuluk Pek-sim Lo-kai adalah seorang tua gagah yang selalu mengenakan pakaian putih bersih dan membawa pedang, rambutnyapun belum putih dan selalu terawat rapi. Sekarang, aku hanyalah seorang tua she Bu yang berpakaian butut, rambut dan kumis jenggot tidak terawat dan putih semua, juga tidak membawa pedang. Takkan ada yang mengenalku, dan akupun tidak suka dikenal sebelum aku mengambil keputusan apa yang akan kulakukan terhadap para kai-pang itu, terdorong oleh percakapan kita tadi."

Merekapun memasuki pintu gerbang dan memang tidak ada yang memperhatikan Bu Lee Ki.

Juga tidak ada yang memperhatikan Sin Wan, akan tetapi hampir setiap orang pria yang berpapasan dengan Kui Siang, selalu memandang, bahkan menengok.

Hal ini tidak aneh bagi Sin Wan yang menyadari akan kecantikan sumoinya, dan diam-diam dia selain merasa bangga bahwa sumoinya dikagumi hampir setiap orang pria!

Juga merasa beruntung karena dialah yang dapat bergaul akrab dengan sumoinya.

Kota Peking memang besar dan megah, juga ramai.

Selain merupakan daerah pertahanan dan benteng utama terhadap musuh dari utara, juga Peking menjadi tujuan para pedagang yang datang dari utara untuk bertukar barang dagangan.

Semenjak jatuhnya pemerintah Mongol dan berdirinya Kerajaan Beng-tiauw.

Kaisar Thai-cu pendiri Beng-tiauw yang berkedudukan di Nan-king, mengangkat seorang di antara putera-puteranya untuk menjadi raja di Peking.

Kaisar Thai-cu memang cerdik dan bijaksana.

Dia tahu bahwa di antara semua puteranya, Yung Lo adalah seorang yang paling gagah perkasa dan ahli perang.

Maka, dia mengangkat Yung Lo menjadi raja muda di Peking dan bertugas membendung musuh yang berani menyerbu dari utara.

Raja Muda Yung Lo memang berbakat menjadi panglima.

Dia memimpin pasukan besar melakukan pembersihan di daerah utara, dan diapun pandai mengajak rakyat untuk bersama pasukannya mempertahankan kedaulatan pemerintahan bangsa sendiri setelah seabad lamanya dicengkeram penjajah Mongol.

Karena sikapnya ini maka para pendekar di dunia persilatan merasa suka dan hormat kepadanya dan mendukungnya.

Raja muda Yung Lo juga mengetahui bahwa golongan pengemis yang bergabung dalam kai-pang (perkumpulan pengemis) merupakan pejuang yang gigih ketika rakyat memberontak terhadap kerajaan Mongol.

Maka setelah dia menjadi raja muda di Peking, diapun merangkul kai-pang dan memberi banyak sumbangan untuk kemajuan perkumpulan-perkumpulan pengemis.

Dia pula, sejalan dengan politik ayahnya yaitu Kaisar Thai-cu di Nan-king, yang menganjurkan kepada para pimpinan kai-pang untuk mempersatukan seluruh kai-pang agar jangan sampai timbul persaingan dan bentrokan.

Persatuan rakyat merupakan syarat mutlak untuk kekuatan pemerintah, juga memungkinkan kehidupan rakyat yang tenteram sehingga memudahkan tercapainya kesejahteraan.

Pada waktu itu, perkumpulan pengemis terbesar dan yang paling kuat di daerah utara adalah Ang-kin Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah).

Pakaian para anggauta pengemis ini bermacam-macam warnanya, tentu saja dengan tambalan sebagai ciri khas pengemis.

akan tetapi setiap anggauta selalu memakai sabuk berwarna merah, sesuai dengan namanya, yaitu Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah.

Pada waktu sebelum penjajah Mongol dijatuhkan, Ang-kin Kai-pang merupakan perkumpulan pejuang yang gagah, akan tetapi ketika itu ketuanya tidak mau bekerja sama dengan pihak kerajaan baru.

Usaha Raja Muda Yung Lo untuk merangkul perkumpulan ini selalu gagal.

Akan tetapi, setelah ketua yang keras hati ltu diganti oleh ketua baru pilihan Raja Muda Yung Lo, kini perkumpulan itu benar-benar telah menjadi bawahan raja muda ini dan setia kepada pemerintah.

Ketua yang sekarang, yang baru dua tahun menjadi ketua Ang-kin Kai-pang, bernama Thio Sam Ki, berusia empatpuluh tahun dan terkenal dengan ilmu silatnya yang tinggi.

Berkat bimbingan Thio Sam Ki dan pengarahan Raja Muda Yung Lo, maka kini terjadi perubaban besar-besaran dalam perkumpulan itu, Tidak pernah lagi ada anggauta Ang-kin Kai-pang yang melakukan tindakan kekerasan.

Mereka bahkan tertib sekali, dan setiap orang anggauta kai-pang merupakan orang yang berwatak gagah sehingga disukai oleh rakyat karena mereka itu selalu turun tangan membela rakyat tertindas.

Sejak Ang-kin Kai-pang dipimpin oleh ketuanya yang baru, para anggauta kai-pang yang berkeliaran di kota Peking dan sekitarnya, seolah-olah menjadi petugas-petugas keamanan sehingga tidak ada penjahat yang berani melakukan aksinya.

Pasukan keamanan pemerintah mendapatkan bantuan yang besar sekali dari para pengemis itu.

Bahkan mereka ini mengemis atau mohon sumbangan dari rakyat sekedar untuk menyesuaikan keadaan mereka sebagai anggauta perkumpulan pengemis belaka.

Mereka mengemis kepada orang-orang yang mampu, dan diberi berapapun akan mereka terima dengan senang hati.

Mereka memang tidak perlu menggunakan kekerasan karena para hartawan dengan rela memberi sumbangan karena para pengemis itu menjaga ketenteraman.

Selain itu, Ang-kin Kai-pang juga tidak takut kekurangan biaya karena Raja Muda Yung Lo selalu mengulurkan tangan membantu.

Siang hari itu, amat ramai di sebuah restoran besar yang berada di pusat keramaian, yaitu di daerah pasar.

Rumah makan cat hijau itu memang terkenal dengan masakannya sehingga setiap hari hampir selalu penuh pengunjung.

Bahkan para pendatang dari luar kota Peking selalu makan di tempat ini.

Bu Lee Ki, Sin Wan, dan Kui Siang mendapatkan tempat duduk di luar, karena di sebelah dalam, juga di loteng, telah penuh tamu.

Maklum, waktu itu memang waktunya makan siang dan hawa udara amat dinginnya, maka semua tamu lebih senang mendapatkan meja di sebelah dalam.

Yang membuat hawa semakin dingin menusuk tulang walaupun tengah hari adalah angin yang bertiup dari utara.

Namun bagi tiga orang ini yang terlatih dan memiliki sin-kang kuat, hawa dingin itu tidak begitu mengganggu.

Tanpa sungkan lagi, dengan gembira dan wajahnya penuh senyum, Bu Lee Ki melihat menu makanan dan memesan masakan-masakan yang paling istimewa, tidak memperdulikan harganya.

Sin Wan dan Kui Siang ikut gembira.

Mereka memang sudah menjanjikan untuk menjamu kakek ini sepuasnya dan sekenyangnya.

Di luar rumah makan, di pinggir jalan dan di sekitar pertokoan di daerah pasar itu, nampak beberapa orang pengemis bersabuk merah berkeliaran.

Mereka itu rata-rata bersikap gagah, dengan tubuh yang kekar dan wajah lembut penuh senyum, sama sekali tidak menimbulkan kesan angker.

Kalau Bu Lee Ki sendiri sama sekali tidak memperdulikan mereka, sebaliknya diam-diam Sin Wan dan Kui Siang memperhatikan gerak gerik para pengemis bersabuk merah itu.

Ketika Bu Lee Ki sibuk memilih masakan dan yang diperhatikannya hanya susunan daftar harga masakan, Sin Wan memperhatikan beberapa orang pengemis yang berada di luar rumah makan.

Betapa beda jauhnya sikap mereka itu dengan apa yang didengarnya dari keterangan Bu Lee Ki.

Menurut keterangan kakek itu, kai-pang yang paling berpengaruh di Peking adalah Ang-kin Kai-pang yang cabang-cabangnya terdapat di seluruh daerah utara.

Dan menurut kakek itu, Ang-kin Kai-pang merupakan kai-pang yang paling keras, dipimpin oleh orang-orang yang suka mempergunakan kekerasan.

Biarpun bukan tergolong penjahat, namun mereka itu suka sewenang-wenang, memaksakan keinginan dan sama sekali tidak pernah mau tunduk terhadap pemerintah, walaupun mereka ikut pula berjuang melawan penjajah, Akan tetapi, melihat beberapa orang pengemis sabuk merah yang berada di luar rumah makan, sungguh berbeda dari gambaran kakek itu.

Memang beberapa orang, pengemis di luar itu masih muda dan bertubuh tegap dan kokoh, jelas menunjukkan bahwa mereka itu orang-orang yang kuat, dan tidak pantas menjadi pengemis, namun wajah mereka itu sama sekali tidak membayangkan kekerasan.

Bahkan mereka tersenyum-senyum dan juga orang yang berlalu lalang di situ nampak tidak takut kepada mereka, malah ada beberapa orang yang berhenti dan bercakap-cakap dengan mereka seperti layaknya sahabat yang akrab.

Ada pula wanita yang agaknya baru pulang berbelanja, sengaja memberikan bungkusan makanan kepada para pengemis itu dengan sikap wajar dan ramah, diterima dengan sikap sopan oleh para pengemis sabuk merah itu!

Dilihat dari keadaan itu dan sikap mereka, Sin Wan dan Kui Siang hampir yakin bahwa para pengemis itu tidak dapat digolongkan jahat.

Dan merekapun melihat betapa dua orang di antara mereka kini mendekati rumah makan dan seringkali mereka itu melirik ke arah Bu Lee Ki dengan alis berkerut!

Kakek itu sama sekali tidak perduli, apa lagi setelah hidangan yang mereka pesan datang.

Sambil tersenyum-senyum, tanpa malu-malu lagi, Bu Lee Ki menyerbu masakan-masakan itu seperti seorang yang kelaparan bertemu makanan enak.

Sepasang sumpitnya bergerak cepat dari satu ke lain masakan, dan mangkok demi mangkok nasi putih dilahapnya.

Mulut yang tidak bergigi lagi namun masih kuat mengunyah segala macam daging dan sayur itu tidak pernah berhenti bergerak sedetikpun.

Bercawan-cawan arak mendorong makanan ke dalam perutnya.

Melihat kakek itu demikian lahap dan nampak nikmat sekali, Sin Wan dan Kui Siang juga ikut bergembira.

Biarpun baru saja mereka berkenalan dengan Bu Lee Ki, namun mereka merasa suka dan sayang kepada kakek tua itu.

Kakek itu nampak demikian lembut, ramah dan selalu cerah wajahnya, halus gerak-geriknya dan bicaranya biarpun tanpa pura-pura namun selalu lembut dan tidak menyinggung perasaan.

Pada hal, mereka yakin bahwa di balik semua kelembutan dan kemiskinan itu, kakek ini memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat!

Ketika Kui Siang menuangkan lagi arak dari guci ke dalam cawan yang sudah kosong itu, Bu Lee Ki mengangkat kedua tangan ke atas.

"Wah, sudah, sudah cukup, Kui Siang. Apa kalian ingin melihat aku mabok dan harus digotong keluar?"

"Akan tetapi engkau belum kelihatan mabok, locianpwe,"

Kata Kui Siang.

"Heh..heh..heh, segala hal ada batasnya! Cawan ini yang terakhir dan kalau kalian sudah selesai makan, kita keluar dari sini,"

Katanya dan sekali tuang saja arak dari cawan itu sudah memasuki perutnya.

Pada saat itu, dua orang pengemis berpakaian kuning bersih dengan sabuk merah di pinggang, menghampiri meja mereka yang memang berada di bagian luar rumah makan.

Mereka berusia kurang lebih tigapuluh tahun, keduanya bertubuh kekar dan biarpun pakaian mereka dihias tambalan, namun dengan sabuk merah melilit pinggang, mereka bardua lebih patut menjadi ahli silat dari pada menjadi pengemis.

Dengan sikap hormat mereka mengangkat kedua tangan sebagai penghormatan kepada Sin Wan dan Kui Siang dan seorang di antara mereka berkata.

"Harap kongcu (tuan muda) dan siocia (nona) suka memaafkan kami. Bukan maksud kami menyinggung ji-wi (kalian), akan tetapi kami ingin bicara dengan jembel tua ini."

Alis di atas mata Kui Siang sudah berkerut karena hatinya tidak senang mendengar kakek yang duduk semeja dengannya itu disebut jembel tua, akan tetapi ia didahului Sin Wan yang berkata acuh.

"Silakan."

Dua orang anggauta Ang-kin Kai-pang itu lalu menghadapi Bu Lee Ki yang acuh sambil mengelus perutnya yang baru saja diisi penuh, matanya mengantuk karena kekenyangan.

"Orang tua,"

Kata seorang di antara mereka yang berjenggot pendek.

"Apa artinya kemunculanmu ini? Apakah engkau sengaja hendak menghina kami dari Ang-kin Kai-pang?"

Bu Lee Ki membuka mata, menggeliat seperti seekor kucing dengan kaki tangan terentang sehingga kakinya yang panjang dan telanjang itu hampir mengenai muka si jenggot pendek yang melangkah mundur dengan jengkel.

"Aaaahhh, apa ....? Apa kaubilang dan kau bicara kepada siapa?"

"Aku bicara kepadamu! Kalau engkau benar seorang pengemis, kenapa engkau bersikap royal, makan masakan mahal dan bersikap seperti hartawan? Dari golongan kai-pang manakah engkau? Dan kalau sebaliknya engkau seorang hartawan, apa perlunya pura-pura menjadi pengemis dengan pakaian butut dan kaki telanjang? Apakah engkau hendak mengejek dan menghina kami?"

Bu Lee Ki terbelalak, seperti orang bingung.

"Ehh ......? Ohhhh ........?"

Lalu dia menoleh kepada Sin Wan.

"Heh..heh, Sin Wan, mereka ini ........ heh..heh, aku malas menjawab. Engkau sajalah yang mewakili aku menjawab."

Setelah berkata demikian, kakek itu lalu menjulurkan kedua kakinya ke bawah meja, bersandar kepada kursinya dan tidur pulas, mulutnya yang terbuka mendengkur!

Kui Siang yang sejak tadi sudah marah mendahului Sin Wan dan menjawab sambil memandang marah dan suaranya ketus.

"Kalian berdua ini manusia lancang dan usil. Perduli apa kalian dengan orang tua ini? Apakah dia pengemis, ataukah dia jenderal ataukah raja, apa hubungannya denganmu dan ada urusan apa kalian ribut-ribut? Dia mau memakai pakaian rombeng, atau memakai pakaian kaisar, tidak ada sangkut pautnya pula dengan kalian. Yang penting, dia memakai pakaiannya sendiri, tidak mencuri dan di sini dia makanpun membayar! Hayo kalian pergi cepat dari sini!"

Si jenggot pendek dan temannya menoleh kepada Kui Siang dengan muka merah.

Mereka adalah orang-orang gagah, anggauta Ang-kin Kai-pang, sudah biasa disegani dan dihormati orang dan siang ini tiba-tiba saja dicaci maki seorang gadis!

Pada hal, semalam mereka tidak mimpi apa-apa!

Si jenggot pendek menjura kepada Kui Siang.

"Maafkan kami, nona. Kami tidak berurusan dengan nona, dan kalau andainya orang tua ini tidak berpakaian pengemis, kamipun tidak akan mencampuri urusannya, asal dia tidak melakukan kejahatan. Akan tetapi, siapapun yang berpakaian pengemis harus mentaati peraturan kai-pang! Kalau tidak, tentu kami yang akan menjadi bulan-bulan!"

Sin Wan khawatir kalau-kalau Kui Siang tidak mampu menahan kemarahannya dan terjadi perkelahian.

Dia cepat bangkit berdiri dan melangkah maju menghampiri dua orang pengemis itu lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai tanda menghormat.

Ini saja sudah luar biasa!

Seorang kongcu (tuan muda) memberi hormat kepada dua orang pengemis!

"Sobat, sudahlah maafkan kami.

Kami adalah pendatang dari jauh yang tidak tahu akan peraturan di sini.

Orang tua ini adalah menjadi tanggung jawab kami dan harap ji-wi (kalian berdua) tidak mengganggunya lagi."

"Kalau kalian menghendaki sedekah, katakan saja, tidak perlu mengganggu orang makan,"

Kata pula Kui Siang yang juga ikut bangkit berdiri dan mengambil dua keping uang dari dalam saku di pinggangnya, Nah, ini kuberi sedekah untuk kalian!"

Gadis itu melemparkan dua keping uang itu kepada mereka.

Karena ada benda menyambar ke arah mereka, dua orang anggauta Ang-kin Kai-pang cepat menyambut dengan tangan.

Mereka melihat ke arah benda yang berada di tangan mereka dan mata mereka terbelalak.

Sekeping uang tembaga yang berada di tangan mereka telah berubah bentuk, hampir tergulung bundar dan dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga jari-jari tangan yang dapat meremas kedua keping uang tembaga menjadi seperti itu.

Otomatis mereka, menurunkan pandang mata menuju ke arah tangan gadis itu.

Jari-jari yang lembut kecil-kecil itukah yang memiliki tenaga sehebat itu?

Mereka lalu menjura kepada Sin Wan dan Kui Siang.

"Maafkan kami, dengan ji-wi kami memang tidak mempunyai urusan. Dan biarlah sementara ini mengingat kehadiran ji-wi, kami tidak akan mendesak kepada pengemis tua itu dan hanya akan melapor kepada pimpinan kami."

Mereka lalu membalikkan tubuh dan pergi dari situ dengan langkah lebar.

Setelah mereka pergi, Sin Wan dan Kui Siang duduk kembali dan kakek Bu Lee Ki masih tidur mendengkur.

Sin Wan tidak menyetujui perbuatan sumoinya tadi, akan tetapi dia tidak mau menegur, takut kalau menyinggung perasaan Kui Siang.

Dia hanya berkata lirih agar tidak terdengar oleh para tamu lain yang tadi memperhatikan peristiwa itu dengan diam-diam saja.

"Kulihat mereka itu bukan orang jahat. Sikap mereka baik dan sopan."

"Akan tetapi mereka menghina Bu locianpwe. Mereka tinggi hati!"

Bantah Kui Siang. Kakek Bu Lee Ki menggeliat dan menguap, lalu membuka kedua matanya.

"Eh? Aku sampai tertidur. Wah, perut kenyang bikin orang mengantuk. Mari kita pergi. Sudah kalian bayar harga makanan?"

Sin Wan menggapai pelayan yang segera datang menghampiri.

Para pelayan memang sudah memperhatikan mereka sejak terjadinya keributan kecil dengan dua orang anggauta Ang-kin Kai-pang tadi dan merasa girang bahwa tiga orang tamu itu membayar harga makanan dan segera pergi dari situ agar tidak mendatangkan keributan lebih lanjut.

Mereka berjalan-jalan dan melihat betapa seluruh kota Peking dikuasai oleh para pengemis Ang-kin Kai-pang.

Tidak ada seorangpun pengemis yang tidak bersabuk merah.

Tidak mengherankan kalau setiap orang pengemis tentu melirik ke arah Bu Lee Ki yang berpakaian pengemis akan tetapi tanpa sabuk merah.

Dan di manapun mereka berada dan melihat anggauta Ang-kin Kai-pang.

selalu para pengemis itu bersikap baik dan sopan.

"Heh..heh, agaknya memang telah terjadi perubahan,"

Bisik Bu Lee Ki kepada dua orang anak muda itu.

"Sudah pasti terjadi perubahan pada Ang-kin Kai-pang. Mereka sopan dan tertib, hal yang sungguh menggembirakan hatiku."

"Akan tetapi dua orang tadi menghinamu, locianpwe, Mereka menyebutmu jembel tua. Hati siapa tidak akan menjadi panas?"

Kata Kui Siang.

"Kakek Bu Lee Ki terkekeh-kekeh.

"Heh..heh..heh, lucunya! Aku memang pengemis sejak muda, aku memang jembel tua. Sebutan jembel tua bahkan merupakan sebutan kehormatan bagiku, seperti seorang kaisar kalau disebut Sribaginda! Kenapa engkau malah yang menjadi panas hati?"

Kui Siang mengerutkan alisnya akan tetapi tidak mampu menjawab karena baru sekarang ia menyadari betapa janggal sikapnya!

Kakek ini memang seorang kakek pengemis, bahkan pemimpin besar seluruh kai-pang, berarti rajanya jembe!!

Bagi kakek itu, disebut kakek jembel tentu bukan merupakan penghinaan sama sekali, dan ia memandang dan mendengar sebutan itu sebagai seorang awam yang bukan golongan pengemis!

"Locianpwe, agaknya hal ini merupakan pertanda baik bahwa locianpwe memang sudah sepatutnya kalau kembali memimpin mereka.

Kalau mereka berdisiplin dan baik, bukankah akan lebih mudah untuk mempersatukan mereka dan membuat pembersihan sehingga tidak ada lagi kai-pang yang kotor?"

Kakek itu mengangguk-angguk. Melihat sikap para pengemis di Peking, dan mendengar ucapan Sin Wan, timbul semangat dan gairahnya.

"Engkau benar, Sin Wan. Apa sih artinya hidup ini kalau tidak ada guna dan manfaatnya bagi manusia lain? Bukti yang paling nyata dari kebaktian kepada Tuhan adalah berbuat baik terhadap manusia.

"Mari kalian ikut bersamaku mengunjungi pusat Ang-kin Kai-pang!"

Melihat semangat dari kakek itu yang kini wajahnya berseri, Sin Wan dan Kui Siang ikut bergembira.

Mereka berdua merasa amat suka kepada kakek itu dan ingin melihat perkembangan usaha kakek itu mempersatukan kembali seluruh kai-pang, sebelum mereka melanjutkan perjalanan menuju Nan-king.

Kakek Bu Lee Ki tertegun ketika dia berdiri di depan pintu gerbang markas Ang-kin Kai-pang.

Tentu saja dia tahu di mana markas itu karena dahulu, di waktu dia masih memegang kedudukan pemimpin besar kai-pang yang sampai kini belum diganti, dia pernah datang ke markas semua perkumpulan besar kai-pang.

Yang membuat dia tertegun adalah perubahan yang terjadi di situ.

Baru pintu gerbangnya saja sudah amat megah dan dari situ nampak bangunan yang biarpun sederhana, namun besar dan kokoh, bukan bangunan yang dahulu lagi.

Bangunan ini besar dan pekarangannya luas, bahkan tanaman di pekarangan itu nampak terawat dan teratur baik sehingga tempat yang bersih itu sungguh tidak pantas menjadi bangunan pusat perkumpulan pengemis!

Di atas pintu gerbang itu terdapat papan tulis yang gagah dan indah seperti papan nama perusahaan besar saja, berbunyi".

ANG-KIN KAI-PANG.

Melihat tiga orang itu berdiri di depan pintu gerbang, dua orang anggauta Ang-kin Kai-pang segera menghampiri mereka dari dalam.

"Siapakah kalian dan ada keperluan apa datang ke sini?"

Tanya seorang di antara mereka singkat, namun sikapnya cukup menghormat, Dengan sikap acuh dan suara sambil lalu kakek itu berkata.

"Aku ingin bertemu dengan pimpinan Ang-kin Kai-pang."

Agaknya, para anggauta Ang-kin Kai-pang sudah mendengar tentang tiga orang ini.

Hal ini nampak pada sikap mereka yang tidak merasa heran dengan ucapan kakek itu, bahkan dengan tegas mereka lalu membungkuk dan seorang di antaranya berkata.

"Silakan masuk. Pimpinan kami sudah menanti kunjungan sam-wi (anda bertiga)!"

Dengan wajah tersenyum Bu Lee Ki melangkah masuk ke dalam pekarangan itu, diikuti Sin Wan dan Kui Siang yang diam-diam merasa tegang karena mereka maklum bahwa mereka memasuki "sarang harimau".

Kini tampak dari kanan kiri banyak anak buah Ang-kin Kai-pang berlarian, juga dari dalam gedung besar itu bermunculan lebih banyak lagi.

Mereka itu membentuk pagar dan ketika Bu Lee Ki dan dua orang muda tiba di beranda, mereka sudah dihadang oleh pagar manusia yang mengepung mereka dengan setengah lingkaran.

Jumlah para anggauta Ang-kin Kai-pang tidak kurang dari tigapuluh orang dan karena mereka semua bersabuk merah walaupun pakaian mereka bermacam-macam.

maka mereka seperti sekelompok murid perguruan silat saja.

Melihat pagar manusia itu menghadang dan mengepung, Bu Lee Ki terkekeh.

"Heh..heh-heh, mana pimpinan kalian? Aku ingin bertemu!"

Daun pintu lebar yang menembus ke ruangan sebelah dalam terbuka, dan kini nampaklah belasan orang di sebelah dalam sedang duduk dan agaknya mereka sedang mengadakan pesta!

Mereka yang berada di dalam itu menoleh ke luar, kemudian merekapun bangkit berdiri.

Tujuh orang yang berpakaian sutera dengan sabuk merah berjalan di depan sedangkan di belakang mereka nampak lima orang berpakaian perwira tinggi, para pimpinan Ang-kin Kai-pang sedang menerima dan menyambut tamu-tamu mereka, yaitu para perwira itu, dan mereka sedang makan minum ketika kedatangan tiga orang itu mengganggu.

Tentu mereka semua sudah mendengar laporan dua orang anggauta perkumpulan mereka tentang peristiwa di rumah makan, maka kini tujuh orang pemimpin, bahkan lima orang tamu mereka yang agaknya sudah mendengar pula, merasa tertarik dan semua keluar meninggalkan meja hidangan!

Diam-diam, biarpun mulutnya tersenyum-senyum dan matanya menjadi sipit hampir terpejam, Bu Lee Ki memperhatikan wajah ketujuh orang pemimpin Ang-kin Kai-pang dan dia masih mengenal beberapa orang di antara mereka.

Sebaliknya, para pimpinan itu ada yang merasa kenal dengan kakek pengemis itu, juga di antara para anggauta Ang-kin Kai pang yang sudah tua, dia yang merasa tidak asing, akan tetapi mereka tidak dapat mengingat siapa adanya kakek pengemis itu.

Tujuh orang pimpinan itu berusia antara empatpuluh sampai limapuluh tahun dan sikap mereka berwibawa.

Seorang di antara mereka yang berjenggot panjang, berusia limapuluhan tahun, segera melangkah maju dan mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada tiga orang tamu yang tidak diundang itu.

"Siapakah anda bertiga dan ada keperluan apa berkunjung ke tempat kami ini?"

Karena Sin Wan dan Kui Siang datang ke tempat itu hanya sebagai pengikut Bu Lee Ki, maka mereka diam saja, menyerahkan jawabannya kepada kakek itu.

"Mana ketua Ang-kin Kai-pang? Suruh dia keluar menemuiku! Aku hanya mau bicara dengan ketua kalian,"

Kata kakek itu, karena dia bicara sambil tersenyum dan suaranya lembut, maka dalam ucapan itu tidak terkandung nada yang angkuh.

Biarpun demikian, tujuh orang pimpinan perkumpulan pengemis itu saling pandang dan wajah mereka berubah tak senang karena Mereka merasa diremehkan sekali oleh kakek pengemis asing ini.

Ketua mereka, Thio Sam Ki, memang tidak berada di situ pada saat itu, akan tetapi karena mendongkol, mereka tidak mau membiarkan kakek ini pergi begitu saja sebelum merasakan keangkeran Ang-kin Kai-pang agar nama dan kehormatan mereka tetap terjaga.

"Hemm, orang tua. Tidak begitu mudah untuk bertemu dengan ketua kami. Kalau engkau mampu melewati rintangan dan masuk sampai ke ruangan tamu di dalam, baru engkau berharga untuk bertemu dan menghadap ketua kami."

Setelah berkata demikian, tujuh orang pimpinan itu melangkah mundur dan si jenggot panjang memberi isyarat kepada anak buahnya.

Begitu tujuh orang pimpinan dan lima orang perwira tinggi yang menjadi tamu itu masuk kembali, pintu besar dibiarkan terbuka, akan tetapi kini di depan pintu, di tempat para pimpinan tadi berdiri, telah berdiri enam orang tinggi besar dengan tongkat merah di tangan.

Mereka menuruni anak tangga dan membuat gerakan menggeser kaki, membuat setengah lingkaran menghadapi tiga orang itu.

"Bolehkah aku yang menghadapi mereka?"

Tanya Kui Siang kepada Bu Lee Ki dan kakek ini mengangguk sambil tersenyum, dan diapun mundur agak jauh lalu duduk di bawah pohon nongkrong seenaknya dengan santai untuk menjadi penonton!

"Sumoi, kita tidak mempunyai permusuhan dengan siapapun, harap jangan sampai mencelakai orang!"

Kata Sin Wan yang khawatir kalau-kalau dalam kemarahannya, sumoinya akan membunuh atau melukai orang sampai parah. Kui Siang mengangguk.

"Jangan khawatir, suheng."

Lega rasa hati Sin Wan mendengar jawaban itu dan diapun mengundurkan diri bergabung dengan Bu Lee Ki di bawah pohon.

Melihat betapa mereka akan dilawan oleh seorang gadis, enam orang itu tetap dengan pengepungan mereka.

Mereka sudah mendengar akan kelihaian gadis ini maka tidak berani memandang ringan.

"Nona, keluarkan senjatamu. Kami akan menyerangmu dengan tongkat kami,"

Kata seorang di antara mereka yang bertubuh gendut sehingga tidak patut menjadi pengemis, patutnya menjadi seorang cukong.

Ucapan ini saja sudah menunjukkan bahwa mereka ini bukan orang.orang yang berwatak curang.

Sebagai jawaban, Kui Siang meraba pinggangnya dan begitu tangannya bergerak, nampak sinar yang menyilaukan mata berkelebat dan tahu-tahu tangan kanannya sudah memegang sebatang pedang yang tipis dan yang tadi ia lilitkan di pinggangnya.

Itulah Jit-kong-kiam (Pedang Sinar Matahari) yang ampuh!

Melihat ini, enam orang anggauta Ang-kin Kai-pang itu terbelalak kagum.

"Nona, sebetulnya nona tidak berhak mencampuri urusan di antara pengemis, akan tetapi karena nona datang bersama pengemis tua itu, terpaksa kami akan melayani nona. Harap nona memperkenalkan diri lebih dulu, siapakah nona dan apa hubungan nona dengan pengemis tua itu,"

Kata pula si perut gendut yang agaknya menjadi pemimpin dari barisan tongkat enam orang itu.

"Namaku Lim Kui Siang dan locianpwe itu adalah, paman guruku!"

Jawab Kui Siang. Bu Lee Ki adalah sababat baik guru-gurunya, maka sudah sepatutnya kalau ia mengakuinya sebagai paman guru.

"Heh..heh..heh, engkau memang murid keponakan yang baik, Kui Siang, hajar saja orang-orang yang tak tahu diri itu!"

Dari tempat dia menonton, Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki berseru.

"Bersiaplah nona, akan kami mulai!"

Si gendut berseru nyaring dan ini merupakan aba-aba bagi para temannya untuk mulai dengan serangan mereka.

Enam batang tongkat merah menyambar dari depan, kanan dan kiri.

Ada yang menusuk ke arah dada, ada yang menghantam ke arah kepala dari atas dan ada pula yang membabat ke arah kedua kaki.

Dan setiap batang tongkat mengeluarkan angin berdesing, tanda bahwa keenam orang itu memiliki tenaga yang cukup kuat!

Dengan tenang dan mudah saja Kui Siang melangkah mundur dan semua serangan itu pun luput.

Akan tetapi, enam orang itu melanjutkan serangan sambil menambah tenaga dan kecepatan sehingga enam batang tongkat berubah menjadi gulungan sinar merah yang menyambar dari semua jurusan.

Serangan itu datangnya tidak berbareng, melainkan susul menyusul dan bertubi-tubi sehingga tidak memberi kesempatan sedikitpun kepada Kui Siang untuk membalas.

Gadis ini masih bersikap tenang saja.

Dengan menggunakan langkah-langkah cepat dan aneh Hui-niau-poan-soan (Langkah Ajaib Burung Terbang) ia mampu mengelak dari semua serangan.

Bagi yang menonton pertandingan itu, nampak seolah-olah gadis cantik itu sedang menari-nari, mempergunakan enam helai selendang merah!

Tiba-tiba, enam orang yang mengepung itu mengubah gerakan tongkat mereka.

Kini mereka menyerang dengan berbareng.

Enam batang tongkat menyambar dari enam penjuru, dari sekeliling tubuh gadis itu.

Kui Siang memutar tubuh dan menggerakkan pedangnya.

Terdengar bunyi nyaring berdenting ketika enam batang tongkat itu bertemu pedang.

Enam orang itu berseru kaget karena tongkat mereka telah patah ketika bertemu pedang tipis dan pada saat mereka mundur, Kui Siang sudah menggerakkan kedua kakinya bertubi-tubi yang menyambar bagaikan kilat cepatnya, membuat orang-orang yang mengeroyoknya itu berpelantingan!

Mengerti bahwa mereka telah kalah, enam orang itu bangkit, memberi hormat kepada Kui Siang lalu mengundurkan diri.

Terdengar tepuk tangan dari dalam dan ketika Kui Siang mengangkat muka memandang, yang bertepuk tangan itu adalah lima orang perwira tinggi yang tadi melanjutkan makan minum sebagai tamu sambil menonton pertandingan silat.

Akan tetapi, tujuh orang pimpinan Ang-kin Kai-pang tidak bertepuk tangan, dan wajah mereka nampak muram dan penasaran.

Enam orang jagoan mereka telah tumbang semudah itu ditangan seorang gadis muda!

"Hebat, kepandaian li-hiap sungguh hebat, membuat kami merasa kagum!"

Kata seorang di antara lima perwira tinggi itu yang usianya limapuluh tahun lebih sambil mengangguk-angguk terhadap Kui Siang.

Akan tetapi gadis ini tidak memperdulikan pujian itu, melainkan memperhatikan gerakan dari sebelah dalam karena kini muncul sembilan orang laki-laki anggauta Ang-kin Kai-pang yang lain.

Mereka tidak memegang tongkat merah seperti enam orang tadi melainkan membawa sebatang pedang!

Agaknya, sembilan orang ini adalah ahli-ahli pedang dari Ang-kin Kai-pang!

Seorang di antara mereka yang tubuhnya tinggi kurus, mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada Kui Siang.

"Lim-lihiap telah memperlihatkan kepandaian dan memberi petunjuk kepada enam orang sute (adik seperguruan) kami, terima kasih. Akan tetapi, kami mohon sukalah lihiap mundur dan membiarkan pengemis tua yang tidak mau memperkenalkan nama itu untuk maju menghadapi kami."

Melihat sikap dan kata-kata itu cukup sopan, Kui Sian menjadi ragu. Pada saat itu, Sin Wan telah menghampirinya.

"Sumoi, mundurlah. Aku sudah mendapat perkenan dari su-siok (paman guru) untuk mewakilinya menghadapi barisan Sembilan Pedang Naga ini."

Kui Siang mengangguk dan pergi ke bawah pohon di mana kakek itu menyambutnya dengan senyum gembira.

Sembilan orang jagoan Ang-kin Kai-pang itu saling pandang, kemudian si tinggi kurus menghadapi Sin Wan dan memberi hormat.

"Orang muda, bagaimana engkau dapat mengetahui bahwa kami adalah barisan Sembilan Pedang Naga?"

Tanyanya sambil memandang, penuh perhatian.

"Dan siapakah anda?"

"Namaku Sin Wan, suheng dari nona Lim Kui Siang tadi. Kalian adalah jagoan-jagoan terkenal, tentu saja aku mengenal Kiu-liong Kiam-tin (Barisan Sembilan Padang Naga)."

"Bagus, kalau begitu, keluarkan senjatamu, Sin-sicu (orang gagah Sin), kami sudah siap untuk menguji kelihaianmu."

Sin Wan dapat menduga bahwa sembilan orang lawannya ini tentu lihai bukan main karena tadi, kakek Bu Lee Ki telah memberi tahu bahwa mereka adalah pasukan pedang yang amat tangguh dari Ang-kin Kai-pang.

Bahkan kakek itu membisikkan bahwa dia harus tidak membiarkan dirinya terkepung dan berusaha untuk berada di luar kepungan.

Maka, tanpa ragu lagi dia kini mengeluarkan pedangnya dari balik jubahnya, pedang yang biasanya tarsembunyi.

Begitu Sin Wan mencabut sebatang pedang yang butut, rupanya buruk dan pedang itu tidak tajam, juga tidak runcing, sembilan orang itu menahan kegelian hati mereka.

Agaknya pedang pemuda itu adalah senjata yang belum jadi!

Bagaimana dengan pedang buruk macam itu akan menghadapi pedang naga mereka?

Pedang mereka yang terhias ukiran naga itu terbuat dari baja yang amat kuat dan ampuh, juga amat tajam dan runcing!

Diam-diam mereka sebagai tokoh-tokoh tingkat tinggi, hanya di bawah tingkat para pimpinan yang menjadi pembantu-pembantu ketua, merasa ragu dan agak sungkan untuk mengeroyok seorang pemuda yang bersenjata semacam itu.

Akan tetapi, namanya saja kiam-tin (barisan pedang), maka kurang satu saja sudah menjadi tidak lengkap dan kacau.

Maka, mereka merasa ragu dan bingung.

"Sin-sicu, engkau masih muda dan kami merasa sayang sekali kalau sampai sicu terluka dalam pertandingan ini, karena pedang tidak mempunyai mata. Apakah tidak sebaiknya kalau sicu mundur saja dan membiarkan paman guru sicu yang maju?"

Kata pula si tinggi kurus.

Dari tempat ia menonton, di bawah pohon, Kui Siang bangkit berdiri.

Gadis ini tidak biasa memperlihatkan kemarahan dan ia bukan seorang gadis galak, akan tetapi sekarang ia tidak dapat menahan kemarahannya.

"He, kalian ini sungguh tidak tahu malu! Kalau sudah berani maju mengeroyok, kenapa pakai segala macam alasan lagi? Kalau tidak berani, mundur saja tidak perlu banyak cakap!"

Sin Wan merasa tidak enak mendengar ucapan sumoinya yang cukup pedas itu. Dia menjura kepada sembilan orang itu.

"Paman sekalian, aku sudah siap, segera mulailah dan jangan khawatir, aku tidak akan menyesal dan. tidak akan menyalahkan kalian kalau aku terluka atau mati dalam pertandingan ini."

Sembilan orang itu lalu membuat gerakan mengepung Sin Wan.

Mereka melangkah secara teratur mengelilingi pemuda itu yang berdiri di tengah dengan sikap tenang namun penuh kewaspadaan.

Dia selalu ingat akan pesan kakek Bu Lee Ki bahwa dia harus menghindarkan kepungan sembilan orang itu.

Kini sembilan orang mempercepat langkah mereka setengah berlari mengitarinya dan Sin Wan sudah memperhitungkan, bagaimana caranya untuk membobol kepungan atau keluar dari kepungan itu.

Dia tahu bahwa sekali dia bergerak menyerang ke satu arah, tentu dia akan disambut dengan serangan dari depan, kanan kiri dan belakang.

Maka diapun diam saja menanti sampai para pengeroyok membuat gerakan terlebih dahulu sebelum dia mengambil keputusan apa yang akan dia lakukan.

Tiba-tiba si tinggi kurus yang menjadi pemimpin dari barisan pedang itu mengeluarkan teriakan sebagai aba-aba serangan dan sembilan orang itupun serentak menggerakkan senjata mereka dan menyerang ke tengah.

Gerakan barisan pedang ini teratur sekali sehingga biarpun sembilan orang menyerang bersama dalam waktu yang berbareng, namun serangan itu tidak menjadi kacau.

Seluruh bagian tubuh Sin Wan dari kepala sampai ke kaki menghadapi serangan yang rata-rata amat cepat datangnya dan mengandung tenaga dahsyat sehingga terdengar bunyi berdesing-desing dan nampak sinar pedang menyambar-nyambar.

Namun, mereka melihat bayangan berkelebat dan pemuda yang tadi berada di tengah kepungan mereka.

tahu-tahu telah lenyap melompat ke atas dan melampaui kepala dua orang pengeroyok, pemuda itu telah berada di luar kepungan.

Mereka semua membalikkan tubuh dan melihat pemuda itu sudah berdiri dengan tenang seperti tadi.

Dengan pedang yang jelek itu di tangan, akan tetapi di luar kepungan.

Si tinggi kurus kembali mengeluarkan seruan nyaring dan barisan itu dengan cepatnya sudah mengepung kembali, gerakan mereka cepat dan teratur, tidak memberi kesempatan kepada Sin Wan untuk menghindarkan diri dari kepungan.

Kini, sembilan orang itu kembali berlari-lari mengelilinginya dan terkejutlah Sin Wan melihat betapa kepungan itu bergerak secara aneh, ada yang berlari dari kiri ke kanan dan ada yang dari kanan ke kiri!

Barisan sembilan orang itu berlari saling berlawanan menjadi dua susun, akan tetapi jumlah mereka masih tetap sembilan.

Tentu saja hal ini membuat Sin Wan bingung karena sukar baginya untuk menglkuti gerakan bersimpang siur itu dengan pandang matanya.

Namun dia masih bersikap tenang saja, menanti sampai pihak lawan melakukan serangan lagi.

Dia tahu bahwa sekali ini tentu para pengeroyok tidak akan membiarkan dia melakukan loncatan seperti tadi untuk keluar dari kepungan.

Dilihatnya bahwa lima orang yang berada di depan dan empat di belakang dan mengertilah dia.

Lima orang itu akan menyerangnya dan yang empat orang menjaga kalau dia melompat ke atas, tentu mereka akan menyambut dengan lompatan dari empat penjuru untuk menyerang selagi tubuhnya berada di udara.

Hal itu akan dapat membahayakan dirinya!

Serangan ke dua itu datang dan seperti yang diduganya semula, lapisan pertama yang di depan menyerangnya.

Lima orang menyerang dengan pedang mereka dari lima penjuru.

Sin Wan terpaksa memutar pedangnya menangkis.

Lima orang itu terkejut karena pedang mereka terpental begitu bertemu dengan pedang tumpul pemuda itu.

Akan tetapi begitu pedang mereka tertangkis dan terpental mereka melangkah mundur dan dari belakang mereka, empat orang kawan mereka menyusulkan serangan kilat dari empat penjuru.

Kembali Sin Wan menggerakkan pedangnya menangkis.

Akan tetapi, lima orang pertama sudah menerjang lagi sehingga dia dihujani serangan yang dilakukan serentak oleh empat orang dan lima orang.

Sin Wan maklum bahwa dalam menghadapi pengeroyokan banyak orang, kalau hanya melindungi diri saja tanpa balas menyerang akhirnya dia akan terkena juga atau setidaknya, dia terancam bahaya.

Biarpun dia sudah menduga sebelumnya, ketika lima orang menyerangnya lagi, dia sengaja melompat ke atas untuk menghindarkan diri dari kepungan.

Benar saja, empat orang yang mengepung di lapisan kedua, sudah berlompatan pula dan menyambutnya dengan serangan pedang selagi tubuhnya masih berada di atas!

Terpaksa Sin Wan turun kembali dan dia masih tetap berada di dalam kepungan!

Ketika diserang di atas tadi, diapun mamutar pedang menangkis, maka tubuhnya turun kembali ke bawah dan begitu turun, lima orang sudah menyambutnya dengan gelombang serangan baru.

Dia harus membalas, demikian pikirnya.

Itulah satu-catunya cara untuk membebaskan diri dari tekanan!

Sin Wan lalu bergerak cepat, memainkan pedang tumpulnya dan bersilat dengan ilmu silatnya yang baru dipelajarinya dari Ciu-sian, yaitu Sam-sian Sin-ciang yang dimainkan dengan pedang tumpul secara aneh dan dahsyat bukan main.

Ilmu ini mempergunakan langkah-langkah ajaib Hui-niau-poan-soan sehingga gerakannya seperti seekor burung walet saja.

Menghadapi serangan balasan Sin Wan yang gerakannya amat cepat ini, lima orang itu menjadi sibuk sekali dan gerakan mereka kacau.

Si tinggi kurus mengeluarkan seruan dan barisan itu kembali menjadi satu lapis dari sembilan orang dan kepungan melonggar akan tetapi Sin Wan kembali menghadapi sembilan batang pedang yang bergerak dengan berbareng dan serentak.

Melihat perubahan ini, Sin Wan melompat lagi dan diapun berhasil keluar dari kepungan seperti tadi, dan sekali ini dia tidak tinggal diam melainkan segera menyerang dengan membalik dari luar kepungan!

Barisan itu menjadi buyar dan dua orang pengeroyok terpelanting oleh dorongan tangan kiri Sin Wan.

Si tinggi kurus mengeluarkan, aba-aba dan sekarang, sembilan orang itu berbaris tiga-tiga!

Dan ketika mereka menyerang, maka serangan itu seperti datangnya gelombang samudera, pertama tiga orang menyerang dan disusul tiga orang lain, kemudian tiga orang lagi.

Menghadapi gelombang serangan ini, Sin Wan kembali terdesak.

Dia tahu bahwa kalau dia mengalah terus, dia akan selalu terdesak.

Begitu gelombang ke tiga dapat dia hindarkan dengan loncatan ke samping, diapun membalik dan kini dialah yang menyerang sebelum sembilan orang itu menyusun kembali barisan mereka.

Tubuh Sin Wan bergerak cepat, pedang tumpul mengeluarkan suara mengaung dan berubah menjadi gulungan sinar kehijauan yang besar dan dari mana kadang-kadang mencuat sinar hijau dari ujung pedang.

Setiap kali sinar itu meluncur, seorang pengeroyok roboh tertotok dan biarpun yang lain berusaha untuk menangkis dan mengelak, namun pedang tumpul itu selalu merobohkan sasaran, dibantu oleh tangan kiri Sin Wan yang mempergunakan ilmu Kiam-ciang (Tangan Pedang).

Akan tetapi, dia mengendalikan tenaganya sehingga dia hanya, menotok roboh para pengeroyoknya, sama sekali tidak melukai, apa lagi membunuh.

Kembali kemenangan Sin Wan ini disambut tepuk tangan riuh olah lima orang perwira yang menjadi tamu Ang-kin Kai-pang.

Sin Wan memberi hormat kepada tujuh orang pimpinan perkumpulan itu.

"Maafkan saya."

Dan diapun mundur mendekati sumoi dan kakek Bu Lee Ki yang mengangguk-angguk senang.

Tujuh orang pimpinan Ang-kin Kai-pang itu bangkit dari tempat duduk mereka, menghampiri sembilan orang pembantu mereka dan membebaskan mereka dari pengaruh totokan yang membuat mereka tak mampu bergerak.

Kemudian, dengan muka merah karena merasa penasaran melihat para pembantu utama mereka kembali mengalami kekalahan, mereka menghadap ke arah kakek Bu Lee Ki.

Kini sikap mereka lunak, bahkan hormat kepada kakek itu.

Si jenggot panjang yang kedudukannya sebagai wakil ketua dan memimpin enam orang sutenya, segera memberi hormat.

"Kiranya dua orang murid keponakan locianpwe adalah orang-orang yang amat lihai. Kami yakin bahwa locianpwe sendiri adalah seorang yang berilmu tinggi dan harap maafkan kalau anak buah kami bersikap kurang hormat. Sebagai persyaratan terakhir, kalau locianpwe mampu melewati kami bertujuh, kami akan mempersilakan locianpwe dan dua orang muda gagah ini untuk masuk sebagai tamu-tamu kehormatan kami."

Kakek itu bangkit berdiri dengan sikap ogah, menggeliat dan melangkah tertatih-tatih menghampiri tujuh orang pimpinan Ang-kin Kai-pang, akan tetapi mulutnya tersenyum dan dia mengomel.

"Aihh, anak-anak ini sungguh rewel, main-main dengan orang tua seperti aku. Sudah bertahun-tahun aku tidak pernah cekcok dengan orang, bertengkarpun belum pernah, apalagi sampai berkelahi. Sekarang begini saja. Kalau kalian bertujuh mampu merampas capingku ini, biar aku mengaku kalah dan sebaliknya aku akan mencoba untuk mengambil sabuk merah kalian!"

Tantangan kakek itu membuat tujuh orang pemimpin Ang-kin Kai-pang tertegun.

Si jenggot panjang yang bernama Ciok An dan menjadi wakil ketua Ang-kin Kai-pang, diam-diam terkejut.

Kalau kakek itu berani menantang seperti itu, jelas bahwa tentu kepandaiannya hebat.

Tidak akan mudah melindungi caping lebar yang tergantung di punggung dengan tali mengalungi leher itu dari sergapan tujuh orang, dan lebih sukar lagi merampas sabuk-sabuk merah mereka bertujuh yang mengikat pinggang.

Karena menduga bahwa kakek ini tentu sakti dan merupakan tokoh besar dunia persilatan yang belum dikenalnya, maka diapun tidak ingin kalau sampai dia dan kawan-kawannya kesalahan tangan.

Diapun menerima baik tantangan itu, dengan hati lega karena kemungkinan kesalahan tangan melukai lawan lebih kecil dibandingkan kalau bertanding dengan senjata.

"Baik, kami mohon petunjuk locianpwe, katanya merendah, kemudian dia memberi isyarat kepada enam orang sutenya untuk mulai bergerak. Begitu mereka bergerak, mudah saja dapat diketahui bahwa tingkat kepandaian tujuh orang ini jauh lebih lihai dibandingkan sembilan orang yang tadi mengeroyok Sin Wan. Gerakan mereka selain cepat juga mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat. Tujuh orang yang dipimpin Ciok An itu, merupakan pimpinan Ang-kin Kai-pang, dan Ciok An sendiri yang berjenggot panjang adalah wakil ketua. Tentu saja kepandaiannya dan enam orang sutenya itu sudah mencapai tingkat tinggi. Begitu bergerak, mereka itu masing-masing melancarkan serangan dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain berusaha merampas caping yang tergantung di punggung Bu Lee Ki. Akan tetapi tubuh kakek yang bertubuh sedang dan kurus itu seolah-olah berubah menjadi bayangan saja. Dia menggunakan langkah-langkah aneh dari ilmu Langkah Angin Puyuh dan tubuhnya yang hanya nampak seperti bayangan itu menyelinap di antara sambaran tujuh pasang tangan itu. Kadang dia menangkis dan setiap kali tangannya menangkis, orang yang tersentuh lengannya terhuyung ke belakang hampir roboh! "Heh..heh..heh, kalian anak-anak nakal! Caping butut seperti ini untuk berebutan! Nah, awas pegangi itu celana agar jangan merosot ke bawah kalau sabuknya kuambil,"

Kata kakek itu terkekeh.

Mendengar ini, tujuh orang itu bersiap siaga agar jangan sampai sabuk mereka dapat diambil kakek itu.

Sebetulnya, menurut pendapat mereka, hal ini tidak mungkin.

Pertama, mereka cukup tangguh, apalagi kalau hanya melindungi sabuk sutera, dan kedua, sabuk itu melilit pinggang mereka kuat-kuat.

Bagaimana mungkin dapat dirampas?

Tiba-tiba kakek itu membuat gerakan aneh.

Tubuhnya yang tadi berputar-putar itu semakin cepat dan tubuhnya seperti gasing saja, tidak tentu ke mana arahnya sehingga membingungkan para pengeroyoknya.

Dan tiba-tiba, terdengar teriakan susul menyusul karena seorang demi seorang harus memegangi celana mereka agar tidak merosot.

Entah bagaimana caranya, sabuk sutera merah yang melilit pinggang mereka itu tiba-tiba saja meninggalkan pinggang seperti berubah menjadi ular hidup saja dan telah berada di tangan kakek Bu Lee Ki!

Setelah semua sabuk terampas, tujuh orang itu berdiri terbelalak, memegang celana sambil memandang ke arah kakek itu yang berdiri dan tertawa-tawa memegang tujuh helai sabuk merah dan diangkatnya tinggi-tinggi.

Kembali lima orang perwira tinggi itu bertepuk tangan memuji dan sekali ini mereka agaknya benar-benar kagum karena mereka berlima bangkit berdiri dari tempat duduk mereka.

Pada saat itu, beberapa orang anggauta Ang-kin Kai-pang yang berada di luar berseru.

"Pangcu datang ......!!"

Suasana menjadi menegangkan bagi semua orang ketika mendengar bahwa ketua mereka datang, dan giranglah hati Ciok An dan para sutenya karena tentu ketua mereka yang lihai akan mampu menebus kekalahan mereka yang membuat mereka merasa penasaran dan malu Ternyata orang yang muncul dari luar ini malah lebih muda dibandingkan Ciok An dan para sutenya.

Usianya sekitar empatpuluh tahun dan wajahnya bersih dan tampan, tanpa ada kumis dan jenggot.

Tubuhnya tegap dam nampak gesit, pakaiannya juga sederhana, berwama biru muda dan seperti juga semua anggauta Ang-kin Kai-pang, di pinggangnya terlilit sehelai sabuk sutera, hanya warna merahnya yang berbeda karena warna merah sabuknya lebih tua dari pada yang lain.

Dari luar tadi ketua ini sudah mendengar dari anak buahnya bahwa ada seorang kakek pengemis asing dan dua orang murid keponakannya mengacau di situ dan mengalahkan semua pimpinan Ang-kin Kai-pang.

Mendengar ini, dia cepat melangkah maju dan dengan suara berwibawa dia berseru nyaring.

"Siapa yang berani mengacau di Ang-kin Kai-pang?"

Dengan tangan kiri masih memegangi celana agar tidak merosot, Ciok An segera menjawab.

"Pangcu, locianpwe ini memaksa hendak bertemu dengan pangcu dan kami semua telah dikalahkannya."

"Heh..heh..heh, jangan merengek! Nih ku kembalikan sabuk kalian!"

Dan begitu kakek itu melemparkan sabuk-sabuk merah itu, nampak tujuh sinar merah melayang ke arah tujuh orang pimpinan itu dan merekapun menyambut sabuk-sabuk mereka dengan tangan.

Akan tetapi mereka menyeringai karena ketika menangkap sabuk-sabuk yang melayang ke arah mereka itu, mereka merasa betapa telapak tangan mereka nyeri seperti dicambuk.

Dengan menahan rasa nyeri, mereka cepat melilitkan kembali sabuk mereka di pinggang.

Sementara itu, Thio Sam Ki, yaitu ketua Ang-kin Kai-pang, memandang ke arah kakek Bu Lee Ki dan dia mengeluarkan seruan heran, lalu bergegas menghampiri.

Mereka kini berhadapan.

Bu Lee Ki masih terkekeh sedangkan ketua Ang-kin Kai-pang terbelalak.

"Locianpwekah ini ......? Benarkah ...... locianpwe Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki ........?"

Kakek itu terkekeh.

"Heh..heh..heh, kiranya engkau yang menjadi ketua Ang-kin Kai-pang ini, Thio Sam Ki! Bagus, pantas saja kai-pang ini demikian maju dan baik, kiranya engkau yang menjadi ketuanya, ha..ha..ha..ha!"

"Ahh, locianpwe, semua ini berkat petunjuk yang pernah saya terima dari locianpwe. Betapa bahagia rasa hati saya melihat locianpwe ternyata masih dalam keadaan sehat. Locianpwe, terimalah hormat saya!"

Dan ketua Ang-kin Kai-pang itu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu!

Ketika tadi mendengar disebutnya nama Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki oleh ketua Ang-kin Kai-pang, semua orang telah terbelalak kaget.

Kini melihat ketua mereka berlutut memberi hormat, tanpa diperintah lagi seluruh pimpinan dan anggauta Ang-kin Kai-pang yang berada di situ menjatuhkan diri berlutut menghadap kakek itu!

Siapa yang tidak kaget mendengar bahwa kakek itu adalah Thai-pangcu (Ketua Besar) dari seluruh kai-pang?

Kakek itu adalah "datuk"

Seluruh pengemis yang dikabarkan menghilang selama bertahun-tahun. Bu Lee Ki mengangkat kedua tangannya ke atas.

"Wah .. wah, bangkitlah kalian semua. Aku datang untuk melihat-lihat keadaan dan dapat kunyatakan bahwa engkau telah berhasil, Thio Sam Ki. Ang-kin Kai-pang agaknya mampu mempertahankan namanya sebagai pejuang-pejuang yang gagah, tidak menyeleweng ke jalan sesat!"

Thio Sam Ki bangkit berdiri, diturut semua anggautanya dan wajahnya berseri.

"Semua ini berkat bimbingan locianpwe, dan berkat bantuan dari yang mulia Raja Muda Yung Lo!"

Lain dia memandang kepada tujuh orang pembantunya sambil tersenyum.

"Apakah kalian ini sudah buta, berani mencoba-coba kepandaian locianpwe Bu Lee Ki!"

Sementara itu, setelah melihat dan mendengar semua itu, lima orang perwira saling pandang dan mereka nampak gembira sekali.

Seorang di antara mereka yang berusia limapuluh tahun lebih, bertubuh-tinggi besar, segera maju memberi hormat kepada Bu Lee Ki.

"Kiranya locianpwe adalah Thai-pangcu yang terkenal itu. Kami merasa beruntung dapat bertemu locianpwe dan kami mengucapkan selamat atas berkumpulnya kembali seorang pemimpin besar dengan anak buahnya."

Dia lalu memberi hormat kepada Thio Sam Ki dan berkata.

"Kami mengucapkan selamat kepada Thio-pangcu yang telah dapat bertemu dengan pemimpin besarnya. Kami berlima mohon diri karena sudah cukup lama berada di sini dan terima kasih atas segala keramahan Ang-kin Kai-pang."

Lima orang perwira itu lalu keluar dari situ dan lima orang anggauta Ang-kin Kai-pang sudah mempersiapkan kuda tunggangan mereka.

Setelah mereka pergi, Thio Sam Ki memandang kepada Sin Wan dan Kui Siang, lalu bertanya kepada Bu Lee Ki.

"Saya mendengar bahwa kedua orang adik yang gagah ini adalah murid-murid keponakan locianpwe, harap suka memperkenalkan saya kepada mereka."

Bu Lee Ki tersenyum.

"Mereka adalah murid-murid dari Sam-sian, boleh dibilang murid keponakanku sendiri. Pemuda ini bernama Sin Wan dan nona itu bernama Lim Kui Siang dari Nan-king. Sin Wan dan Kui Siang, ini adalah ketua Ang-kin Kai-pang Thio Sam Ki, takkusangka bahwa dia yang menjadi ketua di sini."

Dua orang itu saling memberi hormat dengan Thio Sam Ki yang merasa kagum kepada mereka karena sudah mendengar betapa mereka ini telah mengalahkan dengan mudahnya.

Gadis cantik itu telah mengalahkan barisan Enam Tongkat Merah, bahkan pemuda itu mengalahkan barisan Sembilan Pedang Naga.

Hebat!

Apalagi ketika tadi mendengar keterangan Bu Lee Ki bahwa mereka adalah murid-murid Sam-sian, kekagumannya semakin bertambah.

"Dahulu saya hanya anggauta pengemis biasa di Ang-kin Kai-pang, namun berkat bimbingan locianpwe Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki maka akhirnya saya dapat menjadi ketua. Locianpwe, marilah kita bicara di dalam."

Ketua itu lalu memerintahkan para pembantunya untuk mempersiapkan pesta penyambutan kepada pemimpin besar para kai-pang itu.

Dalam perjamuan meja panjang di mana duduk Bu Lee Ki, Sin Wan dan Kui Siang sebagai tamu kehormatan, dan Thio Sam Ki bersama tujuh orang pembantunya sebagai tuan rumah.

Bu Lee Ki dengan tenang dan sabar mendengarkan semua keterangan yang diberikan Thio Sam Ki mengenai perkembangan dunia kai-pang semenjak penjajah Mongol diusir dan pemerintah Kerajaan Beng memegang kekuasaan.

Dahulunya Ang-kin Kai-pang juga, terbawa menyeleweng oleh ketuanya yang lama yang bernama Boan Kin.

Melihat situasi yang kacau akibat perang, Boan Kin bersama para pendukungnya yang menjadi kaki tangannya dan berjumlah duapuluh orang lebih, membawa Ang-kin Kai-pang keluar dari jalan benar dan mulai melakukan pemerasan dan penindasan terhadap masyarakat di Peking dengan dalih bahwa Ang-kin Kai-pang sudah berjasa dalam perjuangan menumbangkan penjajah Mongol dan karenanya sudah sepatutnva kalau mendapatkan imbalan jasa.

Boan Kin dan kaki tangannya merupakan gerombolan yang merajalela di Peking dan amat ditakuti rakyat karena mereka tidak segan-segan mempergunakan kekerasan dan kepandaian untuk memaksakan kehendak mereka.

Thio Sam Ki yang menjadi anggauta Ang-kin Kai-pang, dan para pengemis lain yang berjiwa bersih, tentu saja tidak menyetujui langkah yang diambil ketua mereka.

Biarpun Thio Sam Ki sendiri sudah memiliki ilmu silat yang tinggi dan kiranya tidak kalah oleh Boan Kin karena dia pernah dibimbing langsung oleh Pek-sim Lo-kai, namun dia tidak berdaya mengingat bahwa Boan Kin mempunyai duapuluh lebih kaki tangan yang tentu saja tidak mungkin dapat dia atasi.

Akhirnya, setelah Raja Muda Yung Lo mulai melakukan penertiban dengan tangan besi, melakukan pembersihan terhadap para penjahat, Thio Sam Ki mendapat dukungan dari raja muda ini.

Dengan bantuan pasukan, Thio Sam Ki berhasil membunuh Boan Kin dan kaki tangannya dan diapun diangkat sebagai ketua baru oleh semua sisa anggauta Ang-kin Kai-pang dan didukung sepenuhnya oleh Raja Muda Yung Lo.

"Demikianlah, locianpwe. Saya dipilih menjadi ketua baru Ang-kin Kai-pang. bukan karena saya berambisi untuk mencari kedudukan, melainkan semata-mata demi menolong Ang-kin Kai-pang dari cengkeraman orang jahat dan mengembalikan Ang-kin Kai-pang ke jalan benar."

Thio Sam Ki mengakhiri ceritanya.

"Bagaimana dengan kai-pang yang lain-lain? Apakah keadaan di empat daerah masih seperti dahulu?"

Tanya Bu Lee Ki yang merasa senang melihat keadaan Ang-kin Kai-pang dan mulai tertarik untuk mengetahui keadaan dunia kai-pang yang dahulu menjadi dunianya dan yang ditinggalkannya karena dia kecewa melihat penyelewengan para kai-pang.

"Setahu saya masih seperti dulu, tidak ada pergantian ketua kecuali Ang-kin Kai-pang, locianpwe. Ketika saya diangkat menjadi ketua, tiga orang ketua dari kai-pang terbesar di barat, timur dan selatan datang memberi selamat. Kalau di utara yang menjadi kai-pang terbesar adalah Ang-kin Kai-pang maka di selatan adalah Lam-kiang Kai-pang yang masih dipimpin oleh ketuanya yang dahulu, yaitu Kwee Cin. Di barat adalah Hek I Kai-pang dipimpin oleh Souw Kiat sebagai pangcunya, dan di timur Hwa I Kai-pang dipimpin Siok Cu."

Bu Lee Ki mengangguk-angguk.

Ternyata tidak ada perubahan di tiga daerah itu, dan dia mengenal mereka karena mereka adalah bekas bawahannya.

Dia pernah menjabat sebagai Thai-pangcu, yaitu ketua terbesar yang dianggap sebagai pengawas dan penasihat bagi keempat kai-pang yang berkuasa.

"Apakah mereka masih juga menjaga kebersihan nama kai-pang masing-masing itu?"

Tanyanya, alisnya berkerut karena dahulu dia melihat bahwa di antara mereka banyak yang terseret ke dalam kesesatan seperti halnya mendiang Boan Kin ketua Ang-kin Kai-pang yang lama, kecuali Kwee Cin ketua Lam-kiang Kai-pang yang seperti juga Thio Sam Ki, pernah menerima bimbingannya selama beberapa tahun.

"Yang saya ketahui, hanya Hwa I Kai-pang saja yang kabarnya banyak berubah. Perkumpulan itu kini menjadi kaya raya dan kabarnya memiliki kekuasaan besar sekali. Ketuanya masih Siok Cu dan menurut berita yang saya terima, terjadi persaingan antara Hwa I Kai-pang dan Hek I Kai-pang. Saya merasa yakin bahwa Souw-pangcu tetap mempertahankan Hek I Kai-pang sebagai kai-pang yang bersih dan gagah. Mengenai Hwa I Kai-pang, banyak berita yang tidak menyenangkan."

Bu Lee Ki mengelus jenggotnya yang kacau dan putih.

"Hemm, begitukah? Apakah Hwa I Kai-pang masih berpusat di Lok-yang?"

Thio Sam Ki membenarkan, lalu melanjutkan.

"Sebulan lagi akan diadakan pertemuan besar di Lok-yang antara pimpinan empat kai-pang itu, locianpwe, yaitu untuk membicarakan kepergian locianpwe dan kekosongan kedudukan Thai-pangcu. Di dalam pertemuan itu akan diadakan pemilihan Thai-pangcu yang baru dan hal ini didukung pula oleh pemerintah."

"Pemerintah?"

"Benar sekali, locianpwe. Tentu locianpwe tadi melihat pula lima orang perwira tinggi yang menjadi tamu di sini. Hubungan kami dengan para panglima baik sekali, bahkan Raja Muda Yung Lo amat memperhatikan kami. Demikian pula ayahanda beliau, Kaisar Thai-cu di Nan-king kabarnya amat memperhatikan kai-pang. Beliau tidak melupakan perjuangan para kai-pang dan pemerintah yang menganjurkan agar diadakan pemilihan Thai-pangcu lagi untuk kelak mewakili para kai-pang dalam pemilihan seorang Beng-cu. Pemerintah bermaksud untuk mempersatukan seluruh tokoh dunia persilatan agar tidak terjadi persaingan dan perpecahan dan kekuatan di dunia persilatan dapat dimanfaatkan untuk membantu pemerintah dalam menjaga keamanan dan ketertiban sehingga kehidupan menjadi tenteram."

"Bagus sekali!"

Bu Lee Ki mengangguk-angguk dan wajahnya berseri.

"Kalau kaisar dan pemerintahnya bijaksana dan baik, maka tidak sia-sia belaka bertahun-tahun rakyat ikut berjuang melawan penjajah mengorbankan nyawa dan harta benda. Perjuangan takkan berhasil tanpa bantuan rakyat karena yang berjuang adalah rakyat. Oleh karena itu setelah perjuangan berhasil, para pimpinan sekali-kali tidak boleh melupakan tujuan semula dari perjuangan, yaitu membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan agar rakyat dapat hidup dalam keadaan tenteram, adil dan makmur. Para pemimpin harus selalu menyadari bahwa tanpa rakyat, mereka bukan apa-apa, dan tanpa dukungan rakyat, setiap pemerintahan pasti akan rapuh dan jatuh."

"Betapa bahagianya kami kalau selalu mendapatkan bimbingan dari locianpwe yang bijaksana,"

Kata Thio Sam Ki terharu.

"Pemilihan Thai-pangcu akan diadakan. Akan celakalah para kai-pang kalau Ketua Besar dipegang oleh orang yang tidak bijaksana. Oleh karena itu, demi menjaga keutuhan para kai-pang dan dapat mengendalikan mereka asal tidak sempat terseret ke dalam kesesatan, kami mohon agar locianpwe suka kami calonkan kembali menjadi Thai-pangcu yang akan dipilih. Dan pula, selama ini Thai-pangcu masih dianggap pimpinan walaupun telah bertahun-tahun tidak muncul. Harap locianpwe tidak menolak."

"Aku akan menghadiri rapat besar itu di Lok-yang dan kita lihat saja bagaimana perkembangannya nanti, apakah aku masih harus menyibukkan diri dengan kai-pang ataukah tidak,"

Kata Bu Lee Ki lalu minum araknya.

Mereka bertiga tinggal di pusat Ang-kin Kai-pang sebagai tamu kehormatan dan pada malam harinya, dengan wajah berseri Thio Sam Ki memperlihatkan sebuah sampul merah terisi surat undangan dari Raja Muda Yung Lo!

"Raja Muda mengundang kita, Locianpwe.

Saya, locianpwe, Sin-taihiap dan Lim-lihiap diundang untuk makan malam di istana Raja Muda!"

Ketua itu nampak gembira dan bangga bukan main.

Hati siapa tidak akan merasa bangga menerima undangan makan malam dari seorang yang paling berkuasa di Peking, Raja Muda yang juga seorang putera kaisar itu?

Selama ini, dalam hubungannya dengan pemerintah, bahkan ketika dia didukung untuk menjadi ketua, wakil pemerintah hanyalah para perwira tinggi saja dan belum pernah Thio Sam Ki bertemu langsung dengan raja muda itu, apa lagi diundang makan malam!

Sin Wan dan Kui Siang merasa heran sekali mendengar bahwa merekapun ikut diundang raja muda, akan tetapi ketika Thio-pangcu memperlihatkan surat undangan itu, di situ jelas tertulis pula nama Sin Wan dan Lim Kui Siang!

Melihat keheranan dua orang muda itu, Thio-pangcu tersenyum.

"Tai-hiap dan Li-hiap tidak perlu merasa heran. Raja Muda Yung Lo adalah seorang pangeran yang sejak dahulu amat menghargai orang-orang gagah di dunia persilatan, bahkan beliau sendiri seorang panglima yang gagah perkasa dan biarpun belum pernah ada yang berani mencohanya, namun kami mendengar bahwa beliau memiliki dasar ilmu silat Siauw-lim-pai yang hebat. Tentu para ciangkun (perwira) yang tadi menyaksikan kelihaian ji-wi (anda berdua) telah melaporkan ke istana dan membuat Raja Muda Yung Lo tertarik dan mengirim undangan."

"Heh .. heh .. heh, memang nasib kita sedang mujur, Sin Wan dan Kui Siang. Begitu tiba di sini, kita selalu disambut dengan kehorrnatan dan terutama sekali dengan hidangan yang serba enak. Apa lagi kalau makan malam di istana, aduh, belum apa-apa aku sudah mengilar, walaupun tadi sudah makan kenyang, ha .. ha!"

Sin Wan yang selama hidupnya belum pernah melihat kemewahan dan keindahan yang luar biasa dari sebuah istana, tiada habisnya terkagum-kagum ketika dia bersama Kui Siang, kakek Bu Lee Ki dan Thio Sam Ki didahului pengawal memasuki istana Raja Muda Yung Lo.

Kui Siang sendiri adalah seorang puteri bangsawan, maka kemewahan gemerlapan itu tidak membuatnya merasa heran, demikian pula dengan kakek Bu Lee Ki yang sudah mempunyai banyak pengalaman itu.

Bahkan Thio-pangcu sendiripun terkagum-kagum.

Ketika mereka tiba di ruangan luas yang dipasangi banyak lampu sehingga keadaannya menjadi terang seperti siang itu, Raja Muda Yung Lo telah duduk di situ.

Agaknya raja muda ini sudah mendapat laporan dan telah menanti, ditemani oleh tiga orang panglimanya.

Sebuah meja besar berada di situ, meja bundar yang bersih mengkilap.

Ketika mereka berempat memasuki ambang pintu, seorang pengawal melapor dengan suaranya yang nyaring bahwa empat orang tamu undangan sudah tiba, dan terdengar perintah raja muda itu agar mereka dipersilakan masuk.

Thio Sam Ki yang berjalan di depan, begitu memasuki ruangan itu dan melihat sang raja muda duduk bersama tiga orang panglima besar yang sudah dikenalnya, cepat menjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada Raja Muda Yung Lo.

Akan tetapi, kakek Bu Lee Ki tidak berlutut, hanya memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada lalu membungkuk sampai dalam.

Sin Wan dan Kui Siang mengikuti perbuatan kakek itu, memberi hormat tanpa berlutut.

Melihat ini, Thio-pangcu merasa khawatir, akan tetapi sebaliknya, pangeran atau raja muda itu malah tersenyum dan menegurnya.

"Tidak perlu berlutut, mari bangkitlah dan silakan kalian duduk,"

Suaranya tegas dan nyaring, akan tetapi ramah.

Legalah hati Thio Sam Ki yang segera bangkit dan dengan sikap hormat mereka melangkah maju dan duduk di atas kursi menghadapi Raja Muda Yung Lo di seberang meja.

Sejenak mereka tidak bicara dan raja muda itu memberi isyarat dengan tangan kepada para pengawal agar keluar dari ruangan itu.

Para pengawal keluar dan di situ kini tinggal Raja Muda Yung Lo, tiga orang panglima, dan empat orang tamu itu.

KUI SIANG mengangkat muka untuk memandang kepada para bangsawan yang duduk di seberang meja bundar.

Tiga orang panglima itu berusia antara empatpuluh sampai limapuluh tahun, bertubuh kekar dan nampak berwibawa dalam pakaian panglima yang gemerlapan.

Akan tetapi raja muda itu sendiri nampak masih muda.

Tidak akan lebih dari tigapuluh tahun usianya dan wajahnya membayangkan kegagahan dan kecerdikan, wajah yang cukup tampan dan jantan.

Sepasang telinganya lebar dan panjang, merapat di kepala.

Wajahnya berbentuk persegi panjang, dengan sedikit kumis dan cambangnya bersatu dengan jenggot, terpelihara rapi sehingga wajah itu nampak bersih matanya lebar dengan ujung sipit ke atas, dengan alis yang berbentuk golok.

Hidungnya besar dan mancung, mulutnya membayangkan keramahan, akan tetapi dagunya menunjukkan bahwa dia seorang yang bersemangat dan keras hati.

Kepalanya tertutup topi dan pakaiannya ringkas walaupun gemerlapan, akan tetapi tidak terlalu mewah.

Sepasang matanya itulah yang amat menarik perhatian karena mata itu seperti mata burung elang rajawali yang amat tajam dan juga amat berwibawa.

Bahkan Kui Siang sendiri tidak dapat bertahan lama beradu pandang dengan mata itu dan iapun menunduk.

Pangeran atau Raja Muda Yung Lo adalah seorang pria yang gagah perkasa dan jantan.

Dia bukan seorang yang berwatak mata keranjang, walaupun sebagai seorang pria yang normal, dia tidak buta terhadap kecantikan wanita.

Dia lebih mementingkan urusan pemerintahan, lebih mementingkan kedudukan ketimbang wanita.

Sebetulnya, ketika dia menjadi pangeran, nama kecilnya adalah Pangeran Yen dengan julukan Pangeran Cang On.

Akan tetapi dia lebih suka mempergunakan nama Yung Lo, yaitu nama besar yang dipakainya setelah dia menjadi Raja Muda Yung Lo yang menguasai seluruh daerah utara.

Dia bukan seorang pemimpin yang hanya mengatur siasat di balik tembok benteng dan di kamar yang mewah dalam istana.

Dia adalah pemimpin yang maju sendiri memimpin pasukannya mengamuk kalau sedang dalam pertempuran sehingga namanya terkenal dan dia dipuja-puja oleh pasukan dan rakyat sebagai seorang panglima yang gagah perkasa.

Akan tetapi kini, melihat Lim Kui Siang, raja muda itu terpesona.

Bukan semata karena kecantikan Kui Siang, melainkan dia terkagum-kagum oleh kelihaian gadis itu.

Dia telah menerima laporan bahwa, seorang diri, gadis ini mampu mengalahkan enam orang tokoh Ang-kin Kai-pang yang mengeroyoknya, enam orang yang terkenal sebagai Barisan Tongkat Merah dari perkumpulan itu.

Dia sendiri sudah mempunyai seorang isteri yang cantik dan lima orang selir, yang manis-manis, akan tetapi belum pernah dia bertemu seorang pendekar wanita muda yang cantik dan lihay seperti Kui Siang.

Seketika hatinya tertarik dan timbul perasaan cintanya.

Kalau dia dapat menarik gadis ini sebagai pendamping hidupnya, dia bukan saja memperoleh seorang selir yang lain dari pada selirnya, melainkan juga mendapatkan seorang pengawal pribadi yang boleh diandalkan!

Setelah berpandangan sejenak, dan tahu bahwa para tamu itu tentu tidak akan berani bicara lebih dahulu sebelum ditegurnya.

Raja Muda Yung Lo berkata dengan suaranya yang nyaring dan tegas.

"Kami menerima laporan tentang locianpwe yang ternyata adalah Thai-pangcu, pemimpin besar para kai-pang yang selama bertahun-tahun menghilang. Kami sudah lama mendengar nama besar Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki yang telah berjasa besar membantu perjuangan kami merobohkan penjajah Mongol. Sayang bahwa selama ini locianpwe pergi tanpa meninggalkan jejak sehingga kami belum sempat memberi hadiah dan imbalan jasa kepadamu."

Dari tempat duduknya, kakek itu tersenyum dan memberi hormat kepada raja muda itu.

"Terima kasih atas kehormatan yang diberikan kepada hamba, Yang Mulia. Akan tetapi maafkan hamba bahwa hamba sama sekali tidak mengharapkan hadiah atau imbalan jasa. Tentu paduka sudah lebih mengetahui bahwa berjuang demi kemerdekaan tanah air dan bangsa, mengusir penjajah Mongol merupakan kewajiban setiap orang anak bangsa. Ketika hamba membantu perjuangan, memimpin seluruh Kai-pang untuk menentang pasukan Mongol, seujung rambut pun tidak ada pamrih dalam hati hamba untuk kemudian menuntut imbalan jasa."

Raja Muda Yung Lo tertawa dan Kui Siang melihat betapa pria itu nampak jauh lebih muda ketika tertawa dan semua bentuk kekerasan yang menggores di wajah yang perkasa itupun lenyap.

Tahulah ia bahwa pada dasarnya, raja muda itu seorang yang lembut hati dan ia merasa semakin kagum.

"Ha..ha..ha, ucapanmu itu sudah kami duga sebelumnya, locianpwe. Memang demikianlah watak seorang pendekar, seorang pahlawan, selalu menjunjung kebajikan, membela kebenaran dan keadilan, tanpa pamrih sedikitpun untuk diri sendiri. Akan tetapi ketahuilah bahwa pemimpin bangsa yang baik dan bijaksana harus menghargai dan menghormati para pahlawan bangsa. Dan bagi kami, penghargaan terhadap pahlawan yang masih hidup jauh lebih penting dari pada penghargaan terhadap pahlawan yang sudah tewas dan gugur dengan sekedar kenangan untuk menghormati jasa mereka. Oleh karena itu, kami selalu mencari para pendekar yang berjasa bukan sekedar untuk memberi penghargaan, akan tetapi juga mengajak mereka untuk bekerja sama demi kepentingan bangsa. Perjuangan masih jauh dari pada selesai, locianpwe. Oleh karena itu, kami ingin sekali mengajak locianpwe bekerja sama!"

"Hamba mengerti, Yang Mulia. Memang, sebelum mati, setiap orang takkan pernah terbebas dari pada perjuangan. Hidup ini perjuangan, yaitu menghadapi semua tantangan dan mengatasinya, bukan saja untuk diri sendiri, keluarga, bangsa bahkan manusia. Akan tetapi hamba sudah tua, Yang Mulia. Apakah yang dapat hamba lakukan untuk membantu paduka? Tentu saja hamba selalu siap membantu asal sesuai dengan kemampuan hamba yang sudah tua ini."

"Locianpwe, kami selalu merindukan melihat persatuan terjalin erat di antara seluruh tokoh dalam dunia persilatan. Dengan adanya, locianpwe sebagai Thai-pangcu, maka berarti bahwa seluruh kai-pang dapat dipersatukan. Ada gejala timbulnya perpecahan ketika locianpwe menghilang, dan dengan munculnya kembali locianpwe, kami harap agar seluruh kai-pang dapat dipersatukan kembali."

"Hamba memang bermaksud untuk mengunjungi rapat besar kai-pang yang akan diadakan di Lok-yang bulan depan, Yang mulia."

"Bagus sekali kalau begitu. Akan tetapi bukan hanya sekian, bukan hanya para kai-pang yang harus dipersatukan, melainkan seluruh dunia persilatan, seluruh tokoh kangouw. Oleh karena itu, Sribaginda Kaisar sendiri sudah menyetujui agar diadakan pertemuan besar di mana akan dilakukan pemilihan seorang Beng-cu yang akan memimpin seluruh dunia persilatan dan mewakili dunia persilatan untuk bekerja sama dengan pemerintah. Dan kami percaya bahwa locianpwe akan mampu menjadi calon Beng-cu, atau setidaknya, locianpwe dapat menjaga agar yang dipilih menjadi Beng-cu seorang yang benar-benar berjiwa pendekar dan pahlawan, bukan tokoh sesat yang akan menyelewengkan dunia kang-ouw. Mengertikah locianpwe akan maksud kami?"

"Hamba mengerti, dan tanpa perintah padukapun, hamba tentu akan melakukan pengawasan itu agar jangan sampai dunia persilatan diselewengkan ke arah kesesatan."

"Bagus, terima kasih, locianpwe. Kami percaya sepenuhnya kepada locianpwe. Kami akan memberi laporan kepada ayahanda Sribaginda Kaisar, dan akan memberi perintah kepada para pejabat tinggi di Lok-yang dan lain-lain agar mereka mempersiapkan bantuan kepada locianpwe. Kami dari pemerintah tidak akan mencampuri pemilihan itu, secara langsung, hanya akan menjaga dan mendukung pihak yang kami anggap benar. Dan locianpwe merupakan satu di antara golongan yang kami pilih."

"Terima kasih, Yang Mulia."

"Kami tidak mau menjanjikan hadiah kepada locianpwe karena hal itu akan meru pakan penghinaan bagi seorang yang berjiwa pahlawan, akan tetapi percayalah bahwa kami tidak akan melupakan jasa locianpwe yang besar bagi negara dan bangsa. Nah, sekarang kami ingin bicara dengan pemuda ini. Namamu Sin Wan, orang muda?"

Suara raja muda itu membuat Kui Siang merasa geli dalam hatinya karena seolah-olah raja muda itu sudah tua.

Pada hal, dibandingkan dengan Sin Wan, raja muda itu pantas menjadi seorang kakaknya saja.

Sin Wan memberi hormat.

"Benar, Yang Mulia."

"Dan engkau murid keponakan locianpwe Pek-sim Lo-kai?"

Sin Wan menoleh ke arah kakek itu.

Dia tidak ingin berbohong, akan tetapi di pusat Ang-kin Kai-pang, kakek itu telah mengakuinya sebagai murid keponakan.

Melihat pemuda itu menoleh kepadanya, kakek itu tersenyum.

"Maaf, Yang Mulia. Sesungguhnya, Sin Wan dan Kui Siang adalah murid-murid Sam-sian dan hamba akui sebagai murid keponakan karena hamba dengan Sam-sian akrab seperti saudara saja."

Raja Muda Yung Lo memandang terbelalak kepada Sin Wan, lalu kepada Kui Siang dan mulutnya tersenyum, wajahnya berseri.

"Aihhh .....! Murid-murid Sam-sian, Tiga Dewa yang telah berjasa menemukan kembali pusaka-pusaka istana yang hilang dicuri orang itu? Bukan main! Sam-sian adalah tiga tokoh besar yang telah berjasa. Jadi engkau ini murid mereka, Sin Wan! Akan tetapi, kami lihat bahwa engkau bukan seorang pribumi, bukan orang Han. Benarkah?"

Sin Wan kagum kepada raja muda itu yang berpenglihatan tajam.

Pada hal, baik cara dia bicara maupun pakaian dan sikapnya, tiada bedanya antara dia dan orang Han.

Sin Wan sendiri tidak menyadari bahwa terdapat perbedaan walaupun kecil pada matanya dan kulit wajahnya, dan dia memiliki ketampanan yang berbeda dengan orang Han.

"Benar sekali dugaan paduka, Yang Mulia. Sesungguhnya, mendiang ayah dan ibu hamba adalah orang-orang Uighur."

"Hemm, pantas kalau begitu. Jadi engkau telah yatim piatu?"

"Benar, Yang Mulia. Sejak berusia sepuluh tahun, hamba kehilangan ibu hamba, sedangkan ayah hamba telah meninggal sewaktu hamba masih dalam kandungan, dan sejak berusia sepuluh tahun hamba menjadi murid ketiga orang guru hamba."

"Kalau begitu, engkau seorang keturunan Bangsa Uighur, Sin Wan, dapatkah kami mengharapkan seorang Uighur untuk setia terhadap kerajaan dan Dinasti Beng? Setia terhadap negara dan Bangsa Han. Kepada tanah air?"

Sepasang mata itu mencorong dan mengamati wajah Sin Wan penuh selidik.

Ucapan yang menusuk hati itu diterima oleh Sin Wan dengan sikap tenang saja.

Batinnya sudah digembleng secara hebat oleh tiga orang gurunya, maka tidak mudah keseimbangannya terguncang.

Diapun menyambut pandang mata raja muda itu dengan sinar mata yang terang dan tenang.

"Yang Mulia, bagi hamba, di mana hamba hidup, di situlah tanah air hamba karena airnya hamba minum dan hasil tanahnya hamba makan. Bangsa hamba adalah bangsa di dalam mana hamba hidup dan bergaul, mengalami suka duka bersama. Sejak kecil hamba hidup di antara Bangsa Han, bergaul dengan Bangsa Han, sehingga hamba akan merasa asing kalau berada di antara orang-orang Uighur sendiri, bahkan hambapun hampir lupa akan Bahasa Uighur karena sejak kecil ibu bicara dalam Bahasa Han kepada hamba. Sejak kecil ketiga orang guru hamba mengajarkan kepada hamba untuk selalu menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan. Bagaimana mungkin hamba akan mengkhianati tanah air di mana hamba makan minum dan bangsa dengan siapa hamba bergaul dan mengalami suka duka bersama? Hamba tidak akan menyangkal bahwa hamba adalah keturunan orang Uighur, akan tetapi hamba akan menyeleweng dari pada kebenaran kalau hamba mengkhianati negara dan bangsa di mana hamba hidup!"

Ucapan itu penuh semangat dan sewajarnya karena keluar dari lubuk hati pemuda itu.

Dia sendiri akan merasa asing, aneh dan kehilangan tempat berpijak kalau dia harus bersikap lain dari pada apa yang telah dia katakan itu.

Diam-diam Kui Siang memandang kepada suhengnya dengan hati merasa heran bukan main.

Tiga orang suhu mereka tidak pernah bercerita tentang asal usul Sin Wan, dan suhengnya itu sendiripun hanya menceritakan bahwa dia yatim piatu.

Sama sekali ia tidak pernah mengira bahwa suhengnya adalah seorang Uighur!

Baginya, tidak ada sedikitpun sisa-sisa orang Uighur pada suhengnya, pada hal menurut pengakuannya tadi, ayah bunda suhengnya adalah Bangsa Uighur.

Suhengnya orang Uighur tulen!

Sungguh tak disangkanya sama sekali.

Mendengar ucapan itu.

Melihat sikap dan sinar mata pemuda itu, Raja Muda Yung Lo tersenyum girang.

Wajahnya berseri dan diapun berkata.

"Hemm, kami hanya ingin tahu isi hatimu, Sin Wan. Kalau kita semua mau mengakui secara jujur, kami sendiri tidak tahu siapakah yang asli dan siapa pula yang tidak asli di antara kita semua!"

Pangeran atau raja muda itu tertawa.

"Kita hanya mampu mengenal nenek moyang kita sampai kepada kakek buyut atau kakek canggah. Sebelum itu, siapa dapat yakin bahwa nenek moyang kita bukan keturunan suku lain? Siapa tahu di dalam tubuhku ini mengalir darah Uighur, atau darah Miauw, bahkan darah Mancu atau malah darah Mongol? Yang penting memang bukan keturunannya, melainkan sepak terjangnya dalam hidup. Bagaimanapun, darah manusia tetap darah manusia, apa bedanya? Keturunan apapun, kalau memang dia pengkhianat, tetap penghkianat, kalau dia pendekar atau pahlawan, tetap pahlawan. Nah, mengingat bahwa engkau murid Sam-sian, apa lagi kini datang bersama locianpwe Pek-sim Lo-kai, kami percaya sepenuhnya kepadamu. Kepadamu kami juga menawarkan kerja, sama demi kepentingan rakyat seperti yang kami tawarkan kepada locianpwe Pek-sim Lo-kai. Bagaimana kesanggupanmu, Sin Wan?"

"Hamba siap untuk bekerja sama, Yang Mulia."

"Bagus Kami sudah mendengar akan kemampuanmu, maka kami ingin engkau membantu kami sebagai seorang panglima pasukan keamanan yang khusus bergerak dalam usaha pemerintah mempersatukan dunia persilatan dan menjalin hubungan antara mereka dengan pemerintah. Maukah engkau menerimanya?"

Sin Wan terkejut.

Dia diangkat menjadi seorang panglima!

Sungguh merupakan hal yang mengejutkan dan tak pernah dia bermimpi untuk menjadi seorang perwira tinggi begitu saja!

Akan tetapi dia teringat akan kesanggupannya kepada kakek Bu Lee Ki untuk membantunya mempersatukan kai-pang.

"Hamba berterima kasih sekali dan tentu saja hamba mentaati perintah paduka. Akan tetapi kalau boleh hamba memohon agar pengangkatan itu, ditangguhkan dahulu karena hamba ingin membantu Bu-locianpwe untuk menghadiri pertemuan besar antara para pimpinan kai-pang di Lok-yang."

Tentu saja alasan ini mempunyai maksud yang lain, yaitu bahwa dia ingin lebih dahulu mengantar sumoinya pulang ke Nan-king! Raja Muda Yung Lo tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Bagus, kami setuju. Memang urusan itupun merupakan kepentingan kami dan masih dalam rangka tugasmu sebagai seorang panglima keamanan. Baik, engkau pergilah bersama Bu-locianpwe, sekalian melaporkan kelak kepada kami bagaimana hasil pertemuan itu. Sekarang kami ingin bicara dengan nona Lim Kui Siang."

Gadis itu mengangkat muka memandang kepada Raja Muda Yung Lo, akan tetapi melihat sinar mata yang amat tajam itu, iapun menunduk kembali dan menanti dengan jantung berdebar.

Apa yang dikehendaki raja muda itu darinya?

"Nona Lim Kui Siang, kami sudah mendengar pula laporan tentang kelihaian nona ketika bertanding melawan tokoh-tokoh Ang-kin Kai-pang dan kami merasa kagum sekali.

Nona masih begini muda sudah memiliki kepandaian hebat, walaupun keheranan kami kini terjawab ketika mendengar bahwa nona adalah murid Sam-sian."

Dengan sikap tenang dan sopan, Kui Siang memberi hormat dan menjawab.

"Paduka terlalu memuji, Yang Mulia. Berkat bimbingan tiga orang suhu, maka hamba memiliki sedikit kemampuan untuk menjaga diri."

Senang hati raja muda itu mendengar ucapan ini. Gadis ini selain lihai, juga berwatak pendekar, tidak suka menyombongkan diri bahkan jawaban itu menunjukkan sikap yang rendah hati.

"Nona, kebetulan sekali kami membutuhkan seorang wanita selihai nona untuk menjadi pengawal keluarga kami. Kami sendiri sering kali memimpin pasukan mengusir pengacau-pengacau dari luar Tembok Besar dan meninggalkan keluarga. Hati kami akan merasa tenang dan tenteram kalau nona suka membantu kami dengan menjadi pengawal pribadi keluarga kami, yang mengepalai semua pasukan pengawal istana. Maukah nona menerimanya?"

Wajah gadis itu menjadi kemerahan dan jantungnya berdebar, seperti juga Sin Wan, ia terkejut bukan main.

Begitu saja, secara mendadak dan amat mudah, ia diangkat menjadi kepala pengawal keluarga di dalam istana raja muda.

Ini kedudukan yang tinggi, bahkan lebih tinggi dari pada kedudukan mendiang ayahnya dahulu!

Kepala pengawal dalam istana adalah orang yang dipercaya sepenuhnya oleh raja muda untuk menjaga keselamatan keluarga!

Sejenak ia termangu.

Ia melirik ke arah suhengnya, akan tetapi suhengnya hanya menundukkan mukanya dan ketika ia mengerling ke arah Bu Lee Ki, kakek itu memandang kepadanya dengan senyum dan pandang matanya jelas tidak mau mencampuri dan menyerahkan keputusannya kepadanya sendiri.

"Bagaimana jawabanmu, nona Lim?"

Raja muda itu bertanya.

"Hamba ...... hamba ingin pergi ke Nanking dan menyembahyangi makam ayah bunda hamba ......!"

Akhirnya Kui Siang menjawab.

"Aihhh .... jadi seperti juga Sin Wan, engkau sudah yatim piatu, nona? Dan engkau berasal dari kota raja?"

Sin Wan maklum bahwa sumoinya merasa sungkan untuk memperkenalkan keluarganya. Mengingat bahwa ayah gadis itu seorang pembesar yang setia, diapun tidak ragu-ragu membantu sumoinya.

"Maafkan hamba, Yang Mulia. Sumoi Lim Kui Siang adalah puteri tunggal dari mendiang Lim-taijin (pembesar Lim) yang menjabat pengurus gudang pusaka istana."

Mendengar ini, Raja Muda Yung Lo terbelalak dan memandang tajam kepada gadis itu yang kini menundukkan mukanya.

"Ahhh! Jadi ayahmu adalah mendiang paman Lim Cun, nona!"

Kui Siang hanya dapat mengangguk.

"A-ha! Kalau begitu engkau puteri seorang pejabat tinggi yang setia sampai mati! Bukankah mendiang ayahmu tewas karena dibunuh penjahat yang mencuri pusaka istana?"

"Benar, Yang Mulia."

"Lim Kui Siang, ternyata engkau masih orang sendiri! Ayahmu dahulu adalah seorang pejabat yang setia dan kami mengenalnya walaupun kami belum pernah berkenalan dengan keluarganya. Kami menjadi semakin yakin dan percaya sepenuhnya kepadamu. Baiklah, engkau boleh pergi dulu ke Nan-king menyembahyangi makam orang tuamu, setelah itu engkau kembali ke sini dan mulai dengan tugasmu di istana. Bagaimana?"

Kui Siang tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyetujui tentu saja.

Ia memang tidak tahu bagaimana harus memulai hidupnya yang sebatang kara itu.

Biarpun ada dua orang pamannya dan seorang bibi dari ayah, juga seorang paman dari ibunya, akan tetapi ia tidak suka kepada mereka karena ia tahu benar bahwa dahulu mereka itu amat menginginkan peninggalan atau warisan harta dari orang tuanya.

Ia akan ke Nanking selain bersembahyang, juga akan mengurus harta peninggalan itu yang dahulu oleh Ciu-sian dititipkan kepada Ciang-Ciangkun, seorang perwira yang setia dan jujur, juga bahkan sahabat baik ayahnya.

"Baiklah, Yang Mulia Hamba akan mentaati perintah paduka."

Bukan main senang rasa hati Pangeran yang menjadi Raja Muda di Peking itu.

Dia lalu memerintahkan pelayan untuk mengeluarkan hidangan makan malam, kemudian dia mengajak empat orang tamunya untuk makan malam bersamanya, suatu kehormatan yang luar biasa, terutama bagi Thio Sam Ki.

Dia seorang ketua pengemis makan malam bersama yang mulia Raja Muda Yung Lo!

Peristiwa ini menjadi dongeng baginya yang tiada hentinya dia ceritakan dan banggakan kepada anak cucunya kelak!

Mendengar bahwa mereka akan segera berangkat ke selatan, Raja Muda Yung Lo memberi hadiah lima ekor kuda pilihan untuk mereka, karena wakil ketua Ang-kin Kai-pang, yaitu Ciok An, akan mengawani ketuanya menghadiri rapat besar pemilihan pemimpin besar kai-pang yang akan diadakan di Lok-yang.

Mereka lalu melakukan perjalanan cepat ke selatan.

Sementara itu, Raja Muda Yung Lo juga membuat surat laporan panjang kepada ayahnya, tentang rapat besar kai-pang, tentang Bu Lee Ki, Sin Wan dan Lim Kui Siang.

"Kalian tidak perlu banyak bertanya!"

Kata gadis itu sambil bertolak pinggang di depan pintu gapura pusat perkampungan Hwa I Kai-pang yang megah.

"Panggil saja ketua kalian keluar, katakan bahwa aku Tang Bwe Li ingin bertemu dan bicara dengan dia!"

Gadis yang galak itu sejak kemunculannya telah menarik perhatian banyak anggauta Hwa I Kai-pang.

Tadinya ia melangkah hendak memasuki gapura tanpa memperdulikan para penjaga, dan setelah para penjaga menghadang, ia marah-marah!

Tadinya para anggauta Hwa I Kai-pang hendak marah, akan tetapi ketika melihat bahwa gadis itu seorang dara jelita berusia duapuluh tahunan yang wajahnya manis sekali, timbul kegembiraan mereka untuk menggoda.

"Aduhai nona manis, kenapa sukar-sukar, mencari pangcu kami? Marilah bertemu dan bicara saja dengan aku di gardu sini, kan lebih asyik! Aku adalah kepala jaga, dan dapat kusuruh semua anak buahku ini menyingkir agar kita berdua dapat bicara tanpa gangguan."

Tentu saja ucapan ini disambut suara tawa para temannya.

Gadis itu memang Tang Bwe Li atau Lili.

Ia mendapat tugas dari Bi-coa Sian-li Cu Sui In, yaitu gurunya yang kemudian menjadi kakak seperguruannya untuk pergi melakukan penyelidikan kepada Hwa I Kai"pang yang menjadi saingan Hek I Kai-pang yang telah mereka kuasai.

Akan tetapi, Lili adalah seorang dara yang keras hati dan juga memandang rendah semua orang.

Perlu apa bersusah-susah mengadakan penyelidikan seperti seorang pencuri, pikirnya.

Lebih baik temui saja ketua Hwa I Kai-pang, taklukkan dia dan paksa dengan kekerasan agar dia mau mencalonkan sucinya sebagai pemimpin besar kai-pang, habis perkara.

Lebih mudah dan cepat, juga tidak harus menyelinap masuk seperti pencuri!

Tingkat kepandaian Souw-pangcu dari Hek I Kai-pang juga hanya sebegitu saja.

Tentu tingkat kepandaian ketua Hwa I Kai-pang juga tidak jauh selisihnya dan akan mudah dia kalahkan.

Mendengar ucapan yang kurang ajar itu, Lili menoleh dan melihat bahwa yang bicara adalah seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun yang bertubuh tinggi kurus berjenggot pendek jarang dan berkumis tipis.

Demikian kurusnya orang itu sehingga nampak seperti kerangka dibungkus kulit.

Matanya yang dalam.

menunjukkan bahwa dia seorang mata keranjang dan hidung belang.

Lili menggapai ke arah orang itu yang berada di depan gardu.

Tentu saja laki-laki anggauta Hwa I Kai-pang yang pada hari itu menjadi kepala jaga itu menjadi gembira bukan main dan diiringi tawa iri kawan-kawannya, diapun melangkah lebar menghampiri Lili.

Setelah berhadapan, dia semakin kagum.

Dara ini memang cantik sekali dan secara kurang ajar dia mengembang-kempiskan hidungnya, lalu memuji.

"Aduh, alangkah harum baunya! Mawar merah yang cantik jelita dan berbau harum! Adik manis, siapa namamu?"

Lili tak pernah meninggalkan seyumnya sejak muncul, senyum yang rnengandung ejekan, senyum sinis ketinggian hati.

"Sebaliknya aku, mencium bau busuk keluar dari mulutmu!"

Orang itu terbelalak dan kawan-kawannya yang tadi merasa iri, kini tertawa geli, mentertawakan rekan yang ceriwis itu.

"Apa kau bilang?"

Baru saja si tinggi kurus itu mengeluarkan pertanyaan ini, secepat kilat kaki Lili sudah menendang sebongkah batu sebesar kepalan tangan dan batu itu melayang dengan kuatnya ke atas, tepat menghantam mulut yang sedang terbuka karena bicara itu.

"Auppp .......!"

Batu itu menghantam keras sekali sehingga merobek bibir dan meruntuhkan gigi, memasuki mulut dengan paksa sehingga mulut itu terkuak lebar, lebih lebar dari pada kemampuannya karena tepi mulut itu terobek!

"Uhhh ......

ahhhh .......ahhhhh ......!"

Si tinggi kurus itu menekuk tubuhnya, mencoba dengan kedua tangan untuk mengeluarkan batu dari mulut dan merintih-rintih kesakitan.

Mulut yang robek itu berdarah dan teman-temannya yang tadinya tertawa-tawa, kini menjadi terkejut dan cepat menolong.

Batu itu akhirnya dapat dikeluarkan, dan akibatnya sungguh mengerikan karena mulut itu robek pada kedua pipinya, bibirnya pecah-pecah dan semua gigi depan, baik yang atas maupun yang bawah, patah-patah!

Si tinggi kurus itu tidak akan mati karena lukanya, akan tetapi dia akan menderita cacat pada mukanya.

"Nah, siapa lagi yang berani bermulut busuk? Majulah!"

Seorang anggauta Hwa I Kai-pang yang lebih tua segera melangkah maju, sedangkan kini banyak kawannya, tidak kurang dari duapuluh orang, sudah berada di pintu gapura itu "Nona siapakah dan ada keperluan apa hendak mencari pangcu kami?"

Orang ini lebih berhati-hati.

"Tidak perlu kalian tahu siapa dan mengapa aku ingin bertemu dengan pangcu dari Hwa I Kai-pang. Katakan saja aku Tang Bwe Li ingin bertemu dengan dia, sekarang juga! Dia yang keluar menemuiku atau aku yang akan masuk mencarinya!"

Biarpun para anggauta Hwa I Kai-pang itu dapat menduga bahwa gadis ini bukan orang sembarangan, terbukti ketika dengan sebuah batu yang ditendangnya ia mampu merobek mulut si tinggi kurus, namun mereka merasa penasaran juga.

Ia hanya seorang gadis muda dan mereka adalah para anggauta Hwa I Kai-pang yang rata-rata memiliki kepandaian silat.

Gadis itu memaksa hendak menemui ketua mereka yang sedang keluar, dan telah melukai si tinggi kurus rekan mereka.

Bagaimana mereka dapat membiarkannya saja tanpa membalas?

Akan rusak nama besar Hwa I Kai-pang dan akan menjadi buah tertawaan umum karena peristiwa itu dilihat pula oleh umum yang menonton dari jarak jauh di seberang jalan depan perkampungan Hwa I Kai-pang.

"Nona, engkau sungguh lancang. Pangcu sedang tidak berada di sini, dan engkau telah melukai seorang rekan kami tanpa sebab. Oleh karena itu, terpaksa kami harus menahanmu di sini dan menanti sampai pulangnya pangcu kami agar memberi keputusan kepadamu atas perbuatanmu ini."

Biarpun ucapan itu sopan dan tidak kasar, namun cukup membuat wajah Lili menjadi merah dan matanya terbelalak karena marah.

"Apa? Kalian hendak menahanku, hendak menangkap aku? Apakah kalian ini orang-orang Hwa I Kai-pang sudah gila? Suruh saja ketua kalian keluar. Kalian bukan lawanku!"

Ucapan ini tentu saja membuat banyak anggauta Hwa I Kai-pang menjadi marah sekali.

"Bocah sombong, kau berani melawan kami yang banyak ini?"

Tegur anggauta yang sudah berpengalaman itu.

"Tidak berani? Huh, suruh keluar seluruh anggauta Hwa I Kai-pang! Biar ada seratus orang, akan kuhajar semua kalau berani melawanku!"

Tentu saja para anggauta Hwa I Kai-pang menjadi marah sekali. Mereka segera bergerak maju mengepung Lili dan terdengar teriakan-teriakan marah.

"Tangkap bocah sombong ini!"

"Ia harus dihajar, berani menghina Hwa I Kai-pang!"

Beberapa orang serentak menubruk untuk menangkap gadis jelita itu, bukan hanya karena marah, akan tetapi juga karena ingin meringkus tubuh yang menggairahkan itu.

Akan tetapi, begitu tubuh Lili bergerak dan berkelebatan, ia sudah sibuk dengan kaki tangannya membagi-bagi tamparan dan tendangan, dan akibatnya, dalam segebrakan saja empat orang pongoroyok telah terpelanting ke kanan kiri, ada yang mukanya membengkak, ada yang tulang pundaknya patah, ada yang perutnya mulas dan sambungan lutut terkilir!

Yang lain menjadi semakin marah dan kini belasan orang sudah mengepung dan mengeroyok gadis itu.

Agaknya para anggauta Hwa I Kai-pang masih belum percaya bahwa mereka yang berjumlah banyak tidak akan mampu meringkus gadis itu, maka merekapun hanya mempergunakan tangan kosong, seperti segerombolan srigala mengeroyok seekor domba, berlomba untuk membekuk batang leher gadis jelita.

Akan tetapi, Lili mengamuk.

Sepak terjangnya menggiriskan, tubuhnya tidak dapat disentuh, apalagi ditangkap.

Bagaikan seekor burung walet menyambar-nyambar, ia menyelinap di antara tangan-tangan yang meraihnya, berloncatan ke sana sini dan kadang-kadang tinggi di atas kepala para pengeroyoknya dan setiap ada kesempatan, tangan atau kakinya merobohkan seorang pengeroyok.

Tubuhnya berlenggang-lenggok secara aneh, seperti gerakan ular saja, namun semua serangan lawan tak pernah menyentuh tubuhnya, dan setiap kali ia menggerakkan kaki atau tangan, pasti seorang lawan terpelanting.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kurang lebih dua puluh orang anggauta Hwa I Kai-pang telah terpelanting roboh!

Sekali meloncat, Lili sudah mendekati seorang di antara mereka dan kaki kirinya menginjak dada.

Orang itu terengah-engah, merasa dadanya seperti dihimpit benda yang ratusan kati beratnya, membuat dia sukar bernapas dan matanya terbelalak, mukanya merah seperti udang direbus.

"Hayo cepat katakan, di mana ketua Hwa I Kai-pang?"

Lili bertanya.

"Kalau engkau tidak mengaku, dadamu akan kuinjak sampai pecah!"

"Saya ..... uh-uhhh ..... saya tidak berani bohong ..... uhhh, pangcu pergi ke luar kota, entah ke mana.... saya hanya anggauta biasa....!"

Lili melepaskan injakannya dan orang itu megap-megap seperti ikan dilempar ke darat, meneguk udara dengan lahapnya seperti orang kehausan. Lili memandang kepada mereka yang bergelimpangan di tanah.

"Salah kalian sendiri yang mencarl penyakit! Katakan kepada ketua kalian bahwa besok pagi-pagi aku akan kembali untuk bicara dengan dia!"

Setelah berkata demikian, gadis itu membalikkan tubuhnya, mengebut-ngebutkan ujung pakaian dan melangkah pergi dari situ dengan santai.

Semua orang yang tadi melihat perkelahian itu, mengikutinya dengan pandang mata penuh kagum dan khawatir.

Akan tetapi tak seorangpun berani menegur Lili yang melenggang pergi seenaknya, menuju ke pintu gerbang barat.

Baru saja bayangan Lili lenyap di sebuah tikungan, serombongan orang datang ke tempat itu dari timur.

Mereka terdiri dari delapan orang dan begitu melihat keadaan para anak buah Hwa I Kai-pang, seorang di antara mereka cepat berlari menghampiri.

"Apa yang terjadi di sini?"

Tanya orang itu kepada mereka.

Para anak buah Hwa I Kai-pang yang masih kesakitan, girang melihat munculnya orang itu yang bukan lain adalah ketua mereka.

Orang itu berusia kurang lebih empatpuluh tahun, bertubuh pendek gendut dan namanya adalah Siok Cu.

Pakaiannya juga berkembang-kembang dengan tambalan dari kain yang baru.

Ketika dia mendengar keterangan para anak buahnya bahwa baru saja ada seorang gadis muda yang berkeras hendak bertemu dengan ketua Hwa I Kai-pang dan yang bersikap sombong lalu menghajar mereka semua, Siok-pangcu menjadi marah bukan main.

"Keparat!"

Serunya marah.

"Di mana gadis sombong itu sekarang?"

"Ia tadi pergi ke sana, pangcu,"

Kata anak buahnya sambil menunjuk ke barat.

"Aku harus mengejarnya!"

Akan tetapi sebelum Siok-pangcu lari mengejar, tujuh orang yang tadi datang bersamanya sudah berada di dekatnya dan seorang pemuda berusia duapuluh enam tahun yang bertubuh pendek, berlengan panjang, pakaiannya mewah dan pesolek, tampan dan tersenyum-senyum, segera menyentuh lengannya.

"Pangcu, ada aku di sini, kenapa pangcu hendak bersusah payah sendiri? Tinggallah saja di sini bersama suhu, aku yang akan menangkapkan gadis itu untukmu."

Kakek yang datang bersama mereka, yang tubuhnya besar perutnya gendut sekali dan kepalanya botak, terkekeh.

"Heh-heh, pangcu, apa yang dikatakan Maniyoko benar. Biarlah dia memperlihatkan jasanya yang pertama!"

Kakek ini adalah seorang datuk yang amat terkenal di sepanjang pantai timur, bahkan di Lautan Pohai, karena dia adalah Tung-hai-liong (Naga Laut Timur) Ouwyang Cin.

Kakek ini menjadi datuk para bajak laut dan semua golongan hitam di daerah pantai timur, bahkan terkenal sekali di kepulauan Jepang karena dia adalah seorang peranakan Jepang.

Adapun pemuda tampan itu adalah Maniyoko, seorang pemuda Jepang yang menjadi muridnya.

Senang hati Siok Cu mendengar kesanggupan tamunya itu.

Setelah Maniyoko mendengar keterangan para anggauta Hwa I Kai-pang tentang ciri-ciri gadis pengacau itu, dia lalu mengajak lima orang anak buah ayahnya untuk melakukan pengejaran dengan cepat menuju ke barat.

Lili sudah keluar dari pintu gerbang kota Lok-yang sebelah barat.

Ia merasa puas.

Besok pagi-pagi ia akan kembali ke Hwa I Kai-pang dan akan memaksa ketuanya agar menakluk kepada sucinya dan kelak memberi suara kepada sucinya untuk menjadi pemimpin besar para kai-pang!

Akan jauh lebih mudah begitu, pikirnya bangga.

Ia kini tiba di jalan raya dekat hutan yang sunyi, menuju ke perkumpulan Hek I Kai-pang yang berada di luar kota.

Tiba-tiba ia mendengar seruan dari sebelah kiri, dari hutan di tepi jalan raya itu.

Mula-mula ia tidak perduli, akan tetapi setelah ia dapat menangkap kata-kata yang diteriakkan suara itu, alisnya berkerut dan iapun menahan langkahnya.

"Heii, perempuan sombong! Kalau memang engkau berani, masuklah ke sini agar kita dapat bertanding sampai seribu jurus tanpa ada orang lain yang mengganggunya! Kalau engkau takut, cepat berlutut dan menyerah untuk kubawa sebagai tawanan ke Hwa I Kai-pang!"

"Jahanam busuk!"

Lili sudah menjadi marah sekali, dan tanpa memperdulikan peraturan kehidupan dunia kang-ouw bahwa tantangan dari dalam hutan seperti itu dapat merupakan jebakan dan amat berbahaya dan tidak sepatutnya dilayani, ia sudah melompat ke kiri dan memasuki hutan itu.

"Siapa takut kepadamu? Keparat, jangan lari kau!"

Teriaknya lagi.

Ketika ia tiba di tempat terbuka, di situ telah menanti enam orang laki-laki, dipimpin oleh seorang pemuda yang tubuhnya pendek tegap dan wajah yang tampan itu tersenyum-senyum secara kurang ajar.

Bentuk muka pemuda ini bundar seperti bulan, putih dan halus tanpa kumis jenggot, akan tetapi cambangnya tebal dan panjang, dari dekat telinga sampai ke dagu, kepala bagian depan sengaja dicukur botak sehingga nampak aneh, seperti seekor kepala burung yang ajaib.

"Engkaukah yang bernama Tang Bwe Li, nona?"

Tanya pemuda itu, sedangkan lima orang lainnya yang bertubuh tegap berdiri diam saja di samping, namun sikap merekapum dalam keadaan siap siaga dan menanti perintah.

"Kalau benar mengapa? Engkaukah yang berteriak-terlak menantangku tadi?"

Pemuda itu tertawa.

"Aku memang sengaja memancingmu masuk ke sini, nona. Kalau engkau takut, engkau boleh keluar lagi."

Maniyoko memang seorang pemuda Jepang yang sudah banyak pengalamannya dan amat cerdik.

Dia segera tahu apa kelemahan gadis jelita yang berdiri dengan gagahnya di depannya itu.

Gadis ini memiliki kelemahan, yaitu tinggi hati sehingga kalau gadis ini ditantang dan dikatakan takut, biar dipancing dengan ancaman bahaya bagaimana besarpun tentu akan nekat!

Sepasang mata Lili berapi-api.

"Tutup mulut busukmu. Siapa takut!"

"Heh..heh, memang aku tahu bahwa engkau tidak mengenal takut, nona. Karena itu, aku ingin sekali berkenalan. Namaku Maniyoko dan aku........"

"Persetan dengan namamu! Kalau engkau yang menantangku tadi, bersiaplah untuk mampus. Aku tidak sudi berkenalan denganmu!"

Kata Lili dan iapun sudah mencabut pedangnya karena sekali ini ia marah sekali dan ia harus membunuh orang yang tadi menghina, dan menantangnya. Begitu mencabut pedangnya, Lili berseru.

"Cepat keluarkan senjatamu dan bersiaplah untuk mati!"

Pemuda Jepang itu terkejut melihat pedang yang mengeluarkan sinar putih, berwarna putih seperti perak, akan tetapi begitu tercabut mengeluarkan bau harum yang amat aneh itu.

Sebagai orang yang sudah banyak pengalaman dan lama berkecimpung dalam dunia persilatan, pemuda Jepang ini dapat menduga bahwa pedang itu tentu ampuh sekali dan mengandung racun.

Maka, diapun memberi isyarat kepada lima orang anak buah ayahnya dan dia sendiri lalu mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya.

Sebatang pedang panjang melengkung, pedang samurai yang amat tajam dan yang bergagang panjang sehingga gagang itu dapat dipegang dengan kedua tangannya.

Sebetulnya, dengan kepandaiannya yang tinggi, Maniyoko memandang rendah kepada gadis itu.

Akan tetapi melihat pedang di tangan Lili, dia terpaksa mencabut pedangnya karena maklum bahwa pedang beracun itu cukup berbahaya.

"Nona manis, aku sudah siap. Mari kita bertaruh dalam pertandingan ini. Kalau engkau kalah, engkau akan menjadi mllikku dan harus menurut segala kehendakku, harus melayani aku dengan manis, heh-heh!"

"Jahanam kau! Kalau engkau yang kalah, lehermu akan kupenggal!"

Teriak Lili dan iapun sudah menyerang dengan dahsyatnya. Pedangnya menjadi sinar putih menyambar dan mengeluarkan suara berdesing. Maniyoko terkejut den cepat menangkis dengan samurainya.

"Traaggg ....!"

Bunga api berpijar dan keduanya merasa betapa tangan mereka tergetar hebat.

Keduanya cepat meloncat ke belakang dan memeriksa senjata masing-masing.

Akan tetapi baik pedang maupun samurai itu tidak rusak dan keduanya saling pandang.

Maniyoko baru tahu bahwa gadis itu benar-benar amat lihai, memiliki tenaga yang mampu menandinginya!

Pada hal tadi dia menangkis dengan pengerahan tenaga untuk membuat pedang lawan patah atau terlepas.

Siapa kira, tangannya sendiri tergetar hebat.

Sebaliknya, Lili juga maklum bahwa lawannya tidak boleh disamakan dengan orang-orang Hwa I Kai-pang tadi.

Ia menjadi semakin marah dan penasaran, lalu memutar pedangnya dan menyerang dengan ganasnya.

Berbeda dengan sucinya yang mempunyai Hek-coa-kiam (Pedang Ular Hitam), ia diberi Pek-coa-kiam (Pedang Ular Putih) oleh gurunya dan juga ilmu pedang yang amat dahsyat dan ganas.

Seperti juga pedang sucinya, pedang di tangannya itu walaupun nampaknya putih bersih seperti perak, namun pedang itu telah direndam racun ular yang amat berbahaya.

Sedikit saja tergores pedang itu, orang yang terluka sukar ditolong lagi nyawanya.

Akan tetapi lawannya, Maniyoko adalah murid tersayang dari Tung-hai-liong Ouwyang Cin, seorang datuk yang kedudukannya setingkat dengan kedudukan datuk See-thian Coa-ong Cu Kiat.

Tentu saja tingkat kepandaian pemuda Jepang itu juga sudah tinggi dan dia mampu mengimbangi permainan pedang Lili, bahkan membalas dengan tak kalah ganasnya dengan permainan samurainya yang aneh.

Permainan samurai yang kadang-kadang dipegang kedua tangan itu bagaikan gelombang samudera, susul menyusul dan selalu menyambar lagi kalau serangan pertama gagal dan dielakkan lawan.

Akan tetapi, Lili merasa girang bahwa pemuda Jepang itu dapat ia desak mundur sampai ke bawah pohon.

Ia sama sekali tidak mengira bahwa pemuda itu memang sengaja memancingnya ke bawah pohon besar itu, dan pada saat Lili menyerang dengan dahsyat, tiba-tiba pemuda Jepang itu melempar tubuh ke belakang dan bergulingan.

Pada saat itu, dari atas pohon meluncur sehelai jala yang lebar dan sebelum Lili maklum apa yang terjadi, tubuhnya telah ditimpa jala itu.

Ia terkejut dan menggunakan pedangnya untuk membabat tali-temali jala yang melibat dirinya.

Akan tetapi pada saat itu, Maniyoko telah melompat ke belakangnya dan sekali pemuda itu menggerakkan tubuh, Lili tidak mampu bertahan lagi dan roboh terkulai lemas.

Hal ini dapat terjadi karena ia tadi sibuk meronta untuk melepaskan diri dari jala dengan sia-sia, karena ke empat ujung jala dipegang oleh anak buah Maniyoko.

Mereka adalah bajak-bajak laut yang lihai dan ahli mempergunakan senjata jala itu.

"Ha-ha-ha, nona manis. Engkau kalah dan engkau akan menjadi milikku!"

Kata pemuda Jepang itu dengan girang sambil menyolek dagu gadis itu dari luar jala.

Lili hanya mampu memandang dengan mata penuh kebencian karena ia tidak mampu bergerak.

Sambil tertawa gembira pemuda Jepang itu berkata kepada kawan-kawannya.

"Biarkan ikan jelita ini di dalam jala dan kita bawa ke Hwa I Kai-pang. Siok-pangcu tentu akan girang sekali dan kalian akan menerima hadiah besar."

Karena tadi ia meronta, pangkal lengan kiri dan punggungnya terkena besi kaitan yang dipasang di dalam jala sehingga kini terasa nyeri.

Akan tetapi Lili menahan diri dan sama sekali tidak mau memperlihatkan penderitaan itu.

Lima orang anak buah itu lain melibatkan jala di sekitar tubuhnya, membuat Lili sama sekali tidak mampu bergerak lagi.

Andaikata totokan pada tubuhnya sudah lenyap pengaruhnyapun, sukar baginya untuk membebaskan diri dari jala yang melibat dirinya dengan kuatnya itu.

Pada saat itu, nampak bayangan berkelebat.

"Enam orang laki-laki menghina seorang wanita, sungguh jahat sekali!"

Lima orang anak buah Maniyoko segera menyerang bayangan itu yang ternyata seorang pemuda yang bertubuh tinggi tegap.

Akan tetapi begitu pemuda itu menggerakkan kaki tangannya, lima orang itu terlempar ke belakang seperti disambar angin badai!

Pemuda itu cepat membuka libatan jala, akan tetapi sebelum sempat membebaskan Lili dari totokan, Maniyoko telah menyerangnya dengan samurainya.

"Singgg.......!!"

Samurai itu meluncur dan mendesing nyaring ketika dielakkan oleh pemuda itu.

Samurai yang luput dari sasaran itu membuat gerakan melengkung dan membalik, kini menyambar lagi sebagai serangan susulan yang lebih dahsyat dari pada yang pertama tadi.

Kembali pemuda itu mengelak dengan gerakan cepat, lalu dari samping dia mendorong dengan kedua tangannya.

Dari kedua telapak tangan itu mengepul uap putih dan angin yang dahsyat membuat Maniyoko hampir terjengkang!

Pemuda Jepang ini mengeluarkan seruan kaget, meloncat ke belakang dan kesempatan itu dipergunakan oleh si pemuda jangkung untuk menyambar tubuh Lili yang masih berada dalam jala berikut pedangnya, memanggul tubuh itu dan melarikan diri ke dalam hutan!

Lima orang anak buahnya hendak mengejar akan tetapi Maniyoko segera menahan mereka.

"Jangan kejar! Mari kita lapor kepada suhu!"

Katanya dengan hati gentar.

Dari serangan kedua tangan yang mengeluarkan uap putlh itu saja dia tahu bahwa dia berhadapan dengan lawan yang amat tangguh dan mengejar lawan selihai itu di dalam hutan sungguh amat berbahaya.

Setelah berlari cepat bagaikan burung terbang saja sampai ke tengah hutan dan melihat bahwa tidak ada yang mengejarnya, pemuda itu berhenti berlari dan menurunkan tubuh yang dipanggulnya itu dengan hati-hati ke atas tanah berumput tebal.

Dia lalu mengulurkan tangan menekan punggung dan pundak gadis itu dan seketika Lili merasa dirinya terbebas dari totokan.

Ia marah sekali dan karena jala itu tidak ada yang memeganginya lagi, juga libatannya telah melonggar, ia menggerakkan pedang mengamuk dan jala itupun dicabik-cabiknya.

"Auhhh ......!"

Ketika ia merenggut jala itu, besi kaitan mengait punggungnya dan menimbulkan rasa nyeri, menambah kenyerian luka di punggung dan pundaknya.

"Engkau terluka, nona.......?"

Pemuda itu bertanya dan menghampiri gadis yang kini jatuh terduduk itu.

"Kaitan sialan ini mengait di punggung ..... aduhh .....!"

Lili mengomel.

"Diamlah dan jangan bergerak, nona. Biar kucabut kaitan itu Pemuda itu berlutut di belakang Lili. Akan tetapi setelah dia memeriksanya, ternyata besi kaitan itu menancap menembus pakaian dan kulit dan sukar mencabutnya karena tidak nampak. Dia lalu merobek baju di punggung itu agar dapat melihat besi kaitannya.

"Breettt .......!"

"Ihh! Apa yang kaulakukan itu, jahanam!"

Lili membentak, hendak meloncat, akan tetapi terduduk kembali karena kaitan itu tidak memungkinkan ia untuk banyak bergerak.

"Tenanglah, nona. Aku hanya ingin mengeluarkan besi kaitan itu dan tanpa merobek baju, sukar melakukannya karena kaitan itu tidak kelihatan."

Pemuda itu mengerutkan alisnya.

Betapa galaknya gadis ini, pikirnya.

Dengan hati-hati dia lalu mengeluarkan besi kaitan itu dari daging dan kulit yang ditembusinya.

Darah mengucur keluar dan pemuda itu melihat bahwa punggung itu menderita dua luka, sedangkan dipundak kiripun terluka.

"Diam dulu, nona. Pundak dan punggungmu terluka. Tiga buah luka yang cukup dalam dan kalau tidak segera diobati, bisa berbahaya. Siapa tahu besi kaitan itu mengandung racun."

Pemuda itu mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku bajunya, membukanya dan menaburkan bubuk putih pada tiga luka itu.

Lili merasa betapa jari-jari tangan pemuda itu menyentuh kulitnya di punggung dan pundak dengan lembut dan mengingat betapa selama hidupnya belum pernah ada tangan pria yang menyentuh kulitnya, bulu tengkuknya meremang.

Akan tetapi luka-luka yang tadi menimbulkan perasaan panas dan perih, kini terasa dingin dan nyerinya menghilang.

Setelah pemuda itu selesai mengobati lukanya, Lili meloncat berdiri dan pemuda itupun bangkit berdiri.

Pemuda itu kecelik kalau dia mengharapkan ucapan manis dan terima kasih dari Lili.

Sebaliknya malah, gadis itu memandang kepadanya dengan alis berkerut, muka marah dan mata melotot, bahkan tangan yang memegang pedang itu gemetar, siap untuk membacok atau menusuk!

"Kenapa engkau menyentuh pundak dan punggungku?

Kenapa?

Hayo katakan, kenapa engkau menyentuh pundak dan punggungku, keparat?"

Pemuda itu tertegun, bengong dan sampai lama tidak mampu menjawab.

"Hayo jawab, kenapa malah bengong seperti patung!"

Bentak Lili bertambah marah.

"Ehh? Aku .....eh, aku .... hanya ingin menolongmu, nona ......."

Akhirnya dia berkata gagap dan bingung karena selama hidupnya baru sekarang dia berhadapan dengan seorang gadis yang begini galak.

"Menolongku? Kenapa? Hayo jawab!"

Kembali Lili membentak marah.

Kini pemuda itu sudah dapat mengatasi kekagetan dan keheranannya.

Entah siapa orang tua dan guru gadis ini, pikirnya.

Kenapa tidak mampu mendidik anak ini sehingga menjadi seperti itu, manis, galak, sesat, seenak perutnya sendiri, dan tidak tahu sopan santun ditambah tidak mengenal budi?

Baru saja diselamatkan nyawanya, eh, bukannya berterima kasih bahkan memaki-maki dan membentak-bentak penolongnya!

"Nona, engkau .....

engkau ini seorang manusiakah?"

Lili terbelalak.

Pertanyaan itu datangnya begitu mengejutkan, seperti serangan tusukan pedang yang tiba-tiba dan tidak disangka-sangkanya, membuat ia sejenak kehilangan keseimbangan dan salah tingkah.

Kalau tadi ia memegang pedang dengan sikap mengancam, kini ia terlupa dan pedangnya ia pergunakan untuk bersandar seperti tongkat dengan ujungnya menekan tanah!

"Apa .....?

Apa maksudmu .....?"

Ia berbalik tanya, bingung.

"Kalau nona ini seorang manusia, kenapa begini aneh, baru saja diselamatkan orang, malah berbalik memaki-maki penolongnya? Kalau nona bukan manusia, tidak anehlah, hanya sungguh sayang. Nona begini muda dan cantik dan gagah, kelihatan baik budi, sayang kalau bukan manusia ........"

Tiba-tiba wajah yang tadinya bengis itu berubah sama sekali.

Kini nampak cerah, bahkan nampak gembira dan kalau tadi mulutnya mengandung senyum sinis mengejek, kini berubah menjadi senyum yang amat manis, membuat wajah itu seperti wajah kanak-kanak yang berhati bersih.

"Benarkah ucapanmu itu? Benarkah aku cantik dan gagah? Benarkah.....?"

Dalam ucapan ini terkandung harapan bahkan permohonan seperti seorang anak kecil yang mengharapkan sesuatu yang amat diinginkannya.

Hal ini tidaklah mengherankan kalau diingat bahwa sejak kecil Lili telah hidup bersama orang-orang yang wataknya aneh, bahkan keras dan dapat dikata sesat seperti Bi-coa Sian-li Cu Sui In, kemudian ia menjadi murid pula dari seorang datuk aneh dan sesat seperti See-thian Coa-ong Cu Kiat.

Dari kedua orang ini, tidak pernah ia merasakan cinta kasih yang sewajarnya, yang keluar dari hati dan perasaan yang murni.

Bahkan lebih sering ia mendengar caci maki dan celaan yang menyakitkan hati.

Kemudian, setelah ia remaja dan dewasa, kalau ada orang memuji kecantikannya, maka pujian itu selalu mengandung rayuan dan penjilatan, pujian penuh nafsu yang dapat ia rasakan dan yang membuat ia merasa jijik dan benci.

Kini, untuk pertama kalinya selama hidupnya, ia bertemu seorang pemuda yang memuji atau mengatakan bahwa ia cantik dan gagah dengan cara yang lain sama sekali, bukan rayuan, bahkan bukan pujian sehingga terasa olehnya bahwa ucapan itu mengandung ketulusan hati.

lnilah yang selama ini ia idam-idamkan, yaitu perhatian yang tulus dari seseorang!

Pemuda itu kembali tertegun.

Akan tetapi dia seorang yang jujur dan diapun mengangguk.

"Tentu saja! Semua orangpun dapat melihat bahwa engkau seorang gadis yang masih muda, cantik dan gagah, memiliki ilmu kepandaian tinggi. Akan tepat dan serasi sekali kalau semua keindahan itu dilengkapi dengan watak yang baik. Nona, aku tadi melihat engkau ditangkap secara curang oleh enam orang laki-laki itu yang tidak kukenal. Karena aku menganggap perbuatan mereka itu jahat, maka aku membantumu. Akan tetapi mereka itu ternyata lihai, apa lagi pemuda pendek itu. Maka, aku mengambil keputusan untuk membawamu lari agar kita dapat menyelamatkan diri dari pengeroyokan mereka. Akan tetapi, siapa, sangka, di sini engkau membalas perbuatanku untuk menolongmu itu dengan caci maki!"

Sejenak Lili tidak menjawab, akan tetapi sinar matanya mencorong dan mengamati wajah pemuda itu penuh selidik.

Sinar matanya yang tajam seolah-olah hendak menembus ke dalam dan menjenguk isi hati pemuda itu!

Akan tetapi pemuda itu menentang pandang matanya dengan tenang.

Baca Juga: Si Bangau Merah 8

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 13

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert