Ceritasilat Novel Online

Si Pedang Tumpul 5

Eps 5 Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo

Baca online Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo

Cersil Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo.

"Aku masih belum tahu apakah engkau memang seorang yang benar-benar jujur dan pantas menjadi sahabatku, apakah engkau tadi benar-benar menolongku tanpa pamrih, ataukah engkau hanya ingin pamer kepandaian untuk menarlk perhatianku agar aku suka kepadamu?"

Ia berhenti sebentar, kemudian mengangkat pedangnya dan memegang pedang itu melintang di depan dada.

"Kalau engkau palsu, keluarkan senjatamu karena aku ingin mengujimu sampai berapa tinggi kepandaianmu maka engkau memamerkan kepandaianmu kepadaku! Akan tetapi kalau engkau memang jujur, kau ...... kau maafkan sajalah sikapku tadi. Aku bukan tidak mengenal budi, hanya ..... ah belum pernah aku bertemu dengan orang yang tidak palsu hatinya, maka sukar bagiku untuk percaya kepada siapapun juga di dunia ini."

Pemuda itu menarik napas panjang dan nampak terharu karena ucapan dan sikap gadis itu agaknya amat mengena pada perasaannya.

"Engkau memang benar, nona. Dunia ini penuh kepalsuan sehingga aku sendiri hampir tidak pernah melihat kebenaran yang sejati. Mungkin aku sendiripun sama palsunya dengan yang lain. Kita sudah terseret kedalam pusaran kepalsuan dalam kehidupan manusia di dunia. Sudahlah, nona. Lebih baik aku pergi saja. Aku tidak mempunyai pamrih lain ketika membantumu, akan tetapi akupun tidak berani mengaku bahwa aku bukan orang yang palsu seperti orang-orang lain. Selamat tinggal!!"

Pemuda itu membalikkan tubuh melangkah pergi.

Akan tetapi tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu gadis itu telah meloncat dan melewatinya, menghadang di depannya dan tanpa banyak cakap lagi Lili sudah menyerangnya dengan pukulan ke arah dada.

Cepat dan kuat sekali serangan itu!

Pemuda itu mengelak dengan gesit, lalu meloncat ke belakang.

"Heiiii ...! Kenapa pula engkau menyerangku?"

Lili tertawa.

"Hi..hik, aku hanya ingin mengajak engkau berlatih silat, sobat. Sambutlah ....!"

Tanpa memberi waktu lagi kepada si pemuda untuk menjawab Lili sudah menyerang kalang kabut dengan kedua kaki tangannya, cepat dan aneh gerakannya karena ia yang ingin menguji kepandaian pemuda yang menarik hatinya itu telah mengeluarkan jurus-jurus simpanannya!

Pemuda itu terheran-heran, akan tetapi juga timbul kegembiraannya.

Dia seorang yang berilmu tinggi dan tentu saja merasa senang kalau mendapatkan kesempatan untuk berlatih dengan lawan yang pandai seperti gadis aneh itu.

Maka, sambil mengelak atau menangkis, diapun membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah dahsyatnya!

Lili telah terluka.

Biarpun luka-luka di punggung dan pundak itu telah diobati, akan tetapi begitu dipakai bergerak, terasa nyeri lagi, bahkan ia tidak mampu mengerahkan seluruh tenaganya, terhalang oleh perasaan nyeri.

Akan tetapi Lili adalah seorang gadis yang keras hati dan yang tidak pernah mau memperlihatkan kelemahannya.

Biarpun rasa nyeri menusuk-nusuk, ia tidak mau mengaku dan masih tetap mengerahkan seluruh tenaganya sambil menahan nyeri sampai seluruh tubuhnya berkeringat dan napasnya mulai memburu!

Pemuda itu maklum akan hal ini dan tiba-tiba saja dia bergerak terlalu lambat ketika tangan kiri Lili mencengkeram ke arah dadanya.

Akan tetapi begitu jari tangan gadis itu menyentuh dadanya, tangan itu tidak jadi mencengkeram, bahkan dibuka dan hanya telapak tangannya yang membentur dada pemuda itu.

"Plakk .......!"

Pemuda itu terhuyung kebelakang.

"Nona lihai sekali, aku mengaku kalah,"

Katanya.

Tentu saja Lili bukan seorang gadis bodoh.

Dalam hal ilmu silat, kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi sehingga ia dapat membedakan gerakan kalah atau mengalah.

Dan ia tahu benar bahwa pemuda jangkung ini sengaja mengalah kepadanya, pada hal ia sudah hampir kehabisan napas!

Ia tersenyum girang dan lega.

Kalau pemuda itu tidak mengalah, tentu ia akan kalah dan hal ini akan menyakitkan perasaannya.

Kekalahan merupakan hal yang ia anggap amat menyakitkan dan bahkan merendahkan!

Dengan napas terengah Lili mengusap keringat dari leher dan dahinya, menggunakan sehelai saputangan merah muda, dan ia menatap wajah pemuda itu dengan senyum.

Diam-diam ia merasa kagum.

"Engkau lihai, aku suka padamu. Siapakah namamu?"

Tanyanya dengan terus terang dan sikap ini kembali membuat pemuda itu tertegun, akan tetapi juga kagum.

Gadis ini amat terbuka dan jujur, tidak banyak dipengaruhi tata cara sopan santun yang biasanya hanya sebagai bedak penutup isi hati yang sebenarnya saja.

Gadis seperti ini tidak akan menyimpan perasaannya sebagai rahasia, apa yang tercermin dalam sikap dan pada wajahnya menunjukkan keadaan perasaan hati yang sebenarnya.

Tidak seperti orang awam yang demi sopan santun palsu, suka memperlihatkan sikap yang menjadi kebalikan dari keadaan hatinya.

"Namaku Sin Wan, nona. Dan siapakah engkau?"

Pemuda itu memang Sin Wan.

Seperti kita ketahui, bersama Kui Siang dan kakek Bu Lee Ki, juga ketua dan wakil ketua Ang-kin Kai-pang, dia pergi ke Lok-yang untuk menemani Bu Lee Ki dalam usaha kakek itu untuk mempersatukan dan memimpin kembali para kai-pang.

Setelah tiba di luar kota Lok-yang mereka berpencar seperti sudah direncanakan semula oleh kakek Bu Lee Ki.

Dua orang pimpinan Ang-kin Kai-pang berpisah karena mereka akan langsung berkunjung kepada Hwa I Kai-pang dan menjadi tamu perkumpulan pengemis itu.

Kakek Bu Lee Ki sendiri bersama Kui Siang memasuki kota Lok-yang sebagai tamu pesiar.

Sin Wan sendiri diberi tugas oleh Bu Lee Ki untuk memasuki Lok-yang melalui pintu gerbang barat untuk melakukan penyelidikan terhadap Hek I Kai-pang.

Demikianlah, ketika dia tiba di jalan raya dekat hutan yang sunyi, dia mendengar suara orang bertempur di dalam hutan.

Perkelahian itu, tidak nampak dari jalan raya, akan tetapi karena dia memiliki pendengaran yang tajam terlatih, dia dapat menangkap suara mereka dan karena tertarik, dia lalu memasuki hutan itu dan melihat betapa seorang gadis sedang dalam bahaya, ditawan oleh enam orang menggunakan jala dan dia segera turun tangan menolongnya.

"Nama Sin Wan tidak dikenal oleh Lili walau sebelas tahun yang lalu mereka sebagai anak-anak berusia sepuluh dan sembilan tahun, pernah berkelahi. Juga wajah dan keadaan mereka sudah berubah sama sekali, dari kanak-kanak menjadi dewasa, maka tentu lain tidak saling mengenal. Maka, dengan wajah masih dihias senyum manis Lili menjawab.

"Namaku Tang Hwe Li, akan tetapi engkau boleh memanggil aku Lili saja, seperti semua orang yang akrab denganku."

"Lili? Nama yang bagus."

"Hemm, dan namamu amat jelek."

"Hemm ...."

Sin Wan tersenyum walaupun dia merasa heran akan kekasaran gadis ini.

"Akan tetapi biar namamu jelek, engkau seorang yang amat baik dan aku suka padamu, Sin Wan. Aku belum pernah mempunyai seorang kawan yang baik, dan aku senang sekali mendapatkan seorang kawan seperti engkau. Aku ...... ahhh ........."

Melihat gadis itu terkulai dan jatuh berduduk di atas rumput sambil menekan kepalanya dengan tangan kiri, Sin Wan terkejut dan diapun cepat berlutut di dekatnya.

"Lili, kau kenapakah .......?"

Tanyanya khawatir.

"Tidak apa-apa ........"

Lili yang tidak pernah mau kelihatan lemah itu mengerahkan tenaganya dan ia mencoba untuk bangkit berdiri.

Akan tetapi begitu ia berdiri, tubuhnya terkulai dan ia tentu sudah roboh kalau saja tidak cepat dirangkul Sin Wan.

"Lili, engkau kenapa? Tubuhmu panas sekali ....!"

Sin Wan yang merangkulnya terkejut karena gadis itu nampak pucat dan menderita nyeri, dan tubuhnya panas seperti terbakar.

Dan Sin Wan merasa betapa tangan dan lengannya yang merangkul menjadi basah oleh keringat gadis itu.

"Sin Wan, aku ...... aku ..... ahhhh......."

Gadis itu terkulai dan pingsan dalam rangkulan Sin Wan! "Lili, ah, kenapa kau?"

Sin Wan cepat memondong tubuh itu dan membawanya ke tempat yang kering, di mana tanahnya tertutup daun-daun yang kering dan dengan hati-hati dia lalu merebahkan gadis itu di atas tanah.

Setelah itu, dia melepaskan kancing dekat leher untuk melonggarkan dada gadis itu karena dia melihat napasnya terengah.

Setelah itu, mulailah dia memeriksa denyut jantung melalui nadi dan pernapasannya.

Pemuda ini telah mewarisi ilmu pengobatan mendiang Pek-mau-sian Thio Ki, seorang di antara Sam-sian.

Setelah melakukan pemeriksaan sejenak, dia terkejut karena mendapat kenyataan bahwa gadis itu telah keracunan!

Tahulah dia bahwa racun itu tentu masuk melalui tiga buah luka di punggung dan pundaknya tadi, Ternyata obatnya tidak cukup kuat untuk melawan racun itu dan kini ada hawa beracun menguasai gadis itu.

Terpaksa dia mendorong tubuh gadis itu miring, merobek baju di punggung untuk memeriksa luka-lukanya.

Dan benar saja, luka-luka itu nampak membiru, baik yang di pundak kiri maupun yang di punggung.

Nampak betapa dua buah luka kecil di punggung itu nampak buruk sekali di permukaan punggung yang berkulit halus dan putih mulus.

Dia tahu bahwa tanpa mengeluarkan racun itu dari luka-lukanya akan sukar mengobati Lili.

Dia mendorong tubuh itu menelungkup dengan muka miring, merobek baju di punggung itu semakin lebar sehingga nampak semua permukaan punggung dan pundak, kemudian tanpa ragu-ragu lagi diapun membungkuk dan menempelkan mulutnya pada luka pertama!

Dia mengerahkan sin-kang dan mulai mengisap, perlahan-lahan dan mengatur tenaga isapannya sampai mulutnya merasakan darah.

Dia meludahkan darah yang diisapnya, dan seperti dugaannya, darah itu berwarna kehitaman!

Setelah tiga kali mengisap, barulah yang terisap ke mulutnya darah merah dan dia menghentikannya, lalu menaburkan bubuk putih lagi kepada luka yang sudah bersih dari racun.

Dilakukan isapan pada luka ke dua seperti tadi, kemudian pada luka di pundak sampai ke tiga luka itu bebas dari racun.

Pernapasan gadis itu tidak seperti tadi walaupun tubuhnya masih terasa panas.

Baru saja dia selesai mengisap luka dipundak, tiba-tiba gadis itu merintih dan bergerak.

Sin Wan melepaskan mulutnya dan pada saat itu, Lili sudah bangkit duduk.

Mata gadis itu mencorong dan kedua tangannya meraba punggung dan pundak yang terbuka karena baju di bagian punggung terbuka lebar.

"Jahanam kau, Sin Wan! Kau ...... kau ...... berani ......."

Tangan kiri Lili menyambar ke arah kepala Sin Wan dengan cengkeraman maut. Akan tetapi Sin Wan menangkap pergelangan tangan itu, lalu meludahkan darah terakhir tadi baru berkata.

"Tenanglah, Lili. Aku mengobatimu, aku menyedot racun dari luka-luka, dan untuk itu, terpaksa aku membuka bajumu di punggung. Maaf, tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan nyawamu. Lihat itu ......."

Sin Wan menunjuk ke tanah di mana nampak darah hitam yang diludahkannya tadi. Lili terbelalak dan kebingungan.

"Jadi aku ...... keracunan .........?"

Sin Wan mengangguk.

"Benar. Racun itu jahat sekali sehingga pengobatanku pertama tadi gagal. Akan tetapi aku telah mengisap keluar semua racun dari tiga luka itu, dan kini hanya hawa beracun di tubuhmu yang harus kita bersihkan. Percayalah kepadaku, Lili. Aku hanya ingin menolongmu, bukan berniat kotor dan tidak sopan. Nah, duduklah bersila, aku akan membantumu mengusir hawa beracun dari tubuhmu."

Lili mengangguk, tidak bicara lagi dan iapun duduk bersila, bahkan membiarkan saja punggung dan pundaknya yang terbuka.

Sin Wan dengan hati-hati menaburkan obat bubuk putih di luka terakhir, yaitu di pundak, kemudian dia menutup kembali punggung dan pundak yang terbuka dengan mengikatkan ujung kedua baju yang tadi dia robek.

Setelah itu, diapun duduk bersila di belakang gadis itu dan menempelkan kedua telapak tangannya di punggung yang kini sudah tertutup kembali, perlahan-lahan dia mengerahkan tenaganya, disalurkan dari pusar melalui kedua lengannya, membuat telapak tangan yang menampung tenaga itu tergetar.

Lili duduk bersila dengan hati yang tidak karuan rasanya.

Ada marah, ada malu, ada pula rasa girang, ada terharu sehingga kedua matanya menjadi basah!

Sejak menjadi murid Bi-coa Sian-li sampai sekarang, ia tidak pernah menangis.

Tangis merupakan pantangan baginya.

Akan tetapi saat ini ingin ia menjerit-jerit menangis.

Ketika perasaan itu ditahannya, matanya menjadi panas dan basah dan perlahan-lahan, beberapa tetes air mata jatuh ke atas kedua pipinya.

Ia merasa betapa dari kedua telapak tangan pemuda yang menempel di punggungnya itu, keluar hawa yang hangat bergelombang memasuki dirinya.

Ia tidak melawan dan pasrah saja, akan tetapi perlahan-lahan, ia merasa betapa hawa panas yang membakar di dalam dadanya, berangsur mengurang.

Uap mengepul dari kepalanya dan tidak sampai sejam lamanya, kesehatannya telah pulih kembali, hawa panas itu menghilang dan ia merasa tubuhnya demikian nyaman, akan tetapi juga amat lemah.

"Nah, engkau sudah sembuh sekarang, Lili,"

Kata Sin Wan lirih sambil melepaskan kedua tangan yang menempel di punggung gadis itu.

Akan tetapi karena lemah, dengan lemas Lili terkulai dan jatuh bersandar pada dada Sin Wan yang cepat merangkulnya "Eh, kenapa, Lili?"

"Lemas sekali ..... Sin Wan, biarkan aku bersandar begini ...... biarkan ......."

Kata Lili dengan suara yang lemah dan lirih.

Tentu saja Sin Wan membiarkan gadis itu duduk bersandar pada dadanya dan diapun merangkul dengan kedua lengan agar gadis itu tidak sampai terguling ke samping.

Dia tahu bahwa akibat racun tadi, Lili yang sudah sembuh itu tinggal merasa lemas saja.

Dan sekarang, setelah bahaya yang mengancam gadis itu lewat, baru dia merasa betapa lembut dan hangat tubuh yang bersandar di dadanya itu.

Betapa halus dan harum rambut kepala itu, dan betapa cantik raut wajah yang kini bersandar miring di dadanya.

Betapa indah dan lembut lengan yang dipeluknya.

Sin Wan adalah seorang pemuda dewasa yang normal, maka wajarlah kalau dia merasa jantungnya berdebar penuh gairah.

Namun, dengan kekuatan batinnya yang kokoh dia menekan perasaan yang timbul ini, perasaan alami seorang pria dengan keyakinan bahwa menuruti dorongan perasaan mesra itu amatlah berbahaya dan tidak baik, dan dapat membuatnya lupa dan melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dia lakukan.

Diapun memejamkan kedua matanya.

Dia baru sadar dengan kaget ketika merasa betapa tubuh yang bersandar di dadanya itu terguncang perlahan dan ketika dia membuka mata dan menundukkan muka memandang, dia melihat betapa gadis itu menangis lirih!

Tangis tanpa bunyi, akan tetapi jelas bahwa gadis itu menangis karena kedua pipinya basah dan pundaknya terguncang perlahan.

"Lili, kau .... kau ...... menangis, ........?"

Tanyanya lirih, khawatir, dengan berbisik saja di dekat telinga gadis itu.

"Siapa menangis?"

Jawaban itu mengandung bantahan dan cepat, akan tetapi segera disusul ucapan lirih dan lemas.

"Biarkan aku .... Sin Wan, biarkan aku begini sebentar ......"

Sin Wan diam saja dan gadis itu bersandar miring.

Makin lama, pernapasan gadis itu makin halus dan panjang, dan akhirnya tahulah Sin Wan bahwa Lili telah tertidur di atas dadanya!

Diapun merasa kasihan dan tidak ingin mengganggu, hanya merangkul agar gadis itu tidak terguling jatuh.

Diam-diam dia merasa iba sekali.

Gadis ini pasti mengalami kepahitan hidup, agaknya haus akan kelembutan, haus akan kasih sayang.

Kasihan sekali gadis secantik ini, pikirnya dan diapun duduk bersila dengan kokoh seperti dalam samadhi, membiarkan dirinya kokoh kuat sebagai sandaran gadis yang pulas itu, sambil mendengarkan pernapasan yang panjang dan lembut.

Sementara itu, matahari telah mulai condong ke barat, senja menjelang tiba.

Sesosok bayangan yang gerakannya amat ringan memasuki hutan itu dan menyelinap di antara pohon dan semak.

Akhirnya, bayangan itu berhenti di belakang pohon, mengintai ke arah Sin Wan yang duduk diam disandari gadis yang tidur pulas di dadanya.

Ikatan rambut Lili terlepas dan rambutnya yang hitam panjang itu menyelimuti dada dan perut Sin Wan.

Bayangan itu adalah Lim Kui Siang!

Karena sampai lama Sin Wan tidak muncul di kota Lok-yang, ia menyatakan kekhawatirannya dan memberi tahu kakek Bu Lee Ki bahwa ia hendak mencari dan menjemput suhengnya itu melalui pintu gerbang barat.

Bu Lee Ki yang maklum akan perasaan gadis itu terhadap Sin Wan, menyetujui dan memesan agar gadis itu pulang sebelum malam tiba.

Kui Siang keluar dari pintu gerbang barat, akan tetapi tidak bertemu dengan Sin Wan.

Hatinya merasa khawatir, apa lagi matahari mulai condong ke barat dan jalan raya itu sunyi.

Ketika ia melihat sebuah hutan di kiri jalan, ia mengerutkan alisnya.

Apakah yang telah terjadi dengan suhengnya?

Ia merasa khawatir dan iapun melangkah memasuki hutan.

Siapa tahu, suhengnya sedang menyelidiki sesuatu dan berada di dalam hutan ini.

Akhirnya, setelah tiba di tengah hutan, ia melihat Sin Wan duduk bersila di atas tanah yang ditilami daun-daun kering, dan di depan pemuda itu nampak seorang gadis cantik sedang tidur pulas di atas pangkuan Sin Wan, dengan kepala miring bersandar di dada suhengnya.

Mesra bukan main!

Seketika Kui Siang merasa betapa seluruh tubuhnya gemetar, kedua kakinya menggigil dan dadanya seperti akan meledak!

Benarkah itu suhengnya?

Akan tetapi kenapa?

Siapa gadis itu?

Bagaimana mungkin suhengnya melakukan hal seperti itu, bermesraan dan berpacaran dengan seorang gadis asing di tengah hutan?

Setahunya, suhengnya bukankah pria macam itu!

Bahkan terhadap dirinya sendiri sebagai su-moipun, suhengnya tak pernah bersikap terlalu mesra, tak pernah menyentuh sedikitpun, selalu menjaga jarak dan kesopanan.

Akan tetapi sekarang, di tempat sepi ini, tahu-tahu suhengnya merangkul seorang gadis yang tidur pulas di atas pangkuannya, dengan kepala bersandar mesra di dadanya!

Entah mengapa, Kui Siang ingin menjerit, ingin mengamuk, ingin membunuh gadis itu dan memaki suhengnya, ingin menangis!

Sebelum ia tidak kuat lagi menahan semua dorongan amarah itu Ia cepat pergi dari situ, setelah sekali lagi memperhatikan dan yakin bahwa pemuda itu adalah Sin Wan, suhengnya!

Kui Siang berlari cepat meninggalkan tengah hutan itu, akan tetapi setelah tiba di tepi hutan, tak jauh dari jalan raya akan tetapi tidak nampak dari sana, ia tidak dapat menahan lagi guncangan hatinya dan iapun menjatuhkan diri di bawah sebatang pohon dan menangis sejadi-jadinya!

Setelah banyak air mata mengalir keluar, baru agak ringan rasa hatinya, seolah semua beban yang menyesak dada tadi mendapatkan jalan keluar.

Dengan mata masih merah dan muka basah, Kui Siang termenung.

Kesadarannya menimbulkan pertanyaan yang membuat ia sendiri merasa sungkan dan heran.

Kenapa ia menangis?

Kenapa ia harus marah-marah dan merasa bersedih seperti itu?

Sin Wan bermesraan dengan seorang gadis, walaupun hal itu baru baginya dan aneh, akan tetapi wajar sekali.

Sin Wan seorang pemuda dewasa dan gadis itu cantik!

Kenapa ia harus marah-marah dan bersedih?

Kui Siang termangu-mangu.

Biar pikirannya merasa heran dan penasaran mengapa ulah dirinya seperti ini, namun hatinya berbisik lirih, jelas sekali.

"Aku cinta padanya ..... aku mencinta suheng, aku tidak ingin dia dimiliki wanita lain!"

Menyadari kenyataan yang dibisikkan hatinya ini, Kui Siang bangkit dan mukanya menjadi kemerahan.

Nampak jelas kini, ia sejak dahulu jatuh cinta kepada suhengnya.

Bukan cinta seorang sumoi terhadap suhengnya, bukan cinta kanak-kanak karena sejak berusia sembilan tahun ia bergaul dengan Sin Wan, bukan pula cinta saudara, melainkan cinta seorang gadis dewasa terhadap seorang pemuda.

Cinta seorang wanita terhadap seorang pria.

Dan ia dilanda cemburu!

"Ihhh ......!"

Ia mencela diri sendiri.

Cemburu?

Sin Wan hanya suhengnya, bukan apa-apanya, bukan pula kekasihnya.

Inilah salahnya!

Kalau saja mereka saling mengaku bahwa mereka saling mencinta, kalau Sin Wan tahu bahwa ia mencintainya, kiranya belum tentu Sin Wan mau bermesraan dengan gadis lain.

Ada pendapat dan perbantahan dalam hati dan kepalanya ini membuat Kui Siang merasa pening dan iapun perlahan-lahan melangkah keluar menuju ke jalan raya.

Kemudian seperti orang yang kehilangan semangat, iapun kembali ke rumah penginapan di mana ia dan Bu Lee Ki menyewa dua buah kamar.

Dengan hati-hati agar tidak terdengar oleh Bu Lee Ki, ia memasuki kamarnya dan melempar tubuh ke atas pembaringan, menelungkup dan membenamkan mukanya pada bantal agar isaknya tidak sampai terdengar orang!

Cuaca sudah mulai remang-remang.

Sin Wan, mulai khawatir.

Tidak mungkin dia mendiamkan saja Lili pulas di atas dadanya sampai cuaca menjadi gelap.

Dia harus melaanjutkan perjalanan memasuki kota Lok-yang, mencari kakek Bu Lee Ki dan Kui Siang.

Sudah cukup lama Lili tertidur, lebih dari satu jam.

Perlahan dan lembut ia memegang pundak kanan gadis itu, pundak yang tidak terluka, mengguncangnya dan berbisik lirih.

"Lili .....! Lili ..........., bangunlah ........."

PERNAPASAN yang lembut itu berubah dan tubuh yang lembut hangat itu menggeliat perlahan.

Lili membuka matanya dan agaknya ia terheran melihat dirinya duduk tertidur di dalam hutan yang cuacanya mulai remang.

Ia melihat ke atas.

Ketika ia melihat wajah Sin Wan yang menunduk dan memandang kepadanya, iapun teringat akan semua yang telah terjadi dan ia tersenyum!

Ia tidak bangkit, bahkan membalikkan mukanya, dibenamkan ke dada yang bidang itu dan belum pernah selama hldupnya ia merasa begitu tenang tenteram penuh damai seperti seekor anak ayam berilndung di bawah selimutan sayap induknya!

"Aihh ...., Sin Wan ......

aku .....

sudah lamakah aku tertidur?"

Bisiknya.

"Ada sejam lebih. Malam hampir tiba dan kita harus segera keluar dari hutan ini, aku harus melanjutkan perjalanan ....."

Kata Sin Wan tanpa nada mengusir.

"Sin Wan, aku tidak mau pergi ......"

Lili malah merangkul leher.

"Sin Wan, aku tidak sudi berpisah darimu, aku ingin kita terus berdampingan, tak terpisah lagi, ....... seperti ini ....."

Sin Wan mengerutkan alisnya.

Ini sudah keterlaluan namanya.

Dia merasa kasihan sekali kepada Lili, akan tetapi kemanjaan yang berlebihan ini juga amat mengganggunya.

Rasa iba membuat dia mengelus rambut kepala yang hitam panjang itu, seperti seorang kakak menghibur adiknya.

"Lili, tidak mungkin begitu. Kenapa engkau seaneh ini?"

Suaranya lembut tidak bernada teguran. Lili bangkit duduk, membalik dan kini mereka duduk berhadapan. Gadis itu memandang dengan sinar mata tajam dan nampak penasaran.

"Kenapa aneh? Aku cinta padamu, Sin Wan! Ya, aku jatuh cinta padamu dan aku tidak ingin berpisah darimu!"

Sin Wan terkejut bukan main, matanya membelalak.

Bukan main gadis ini!

Begitu saja menyatakan cinta, begitu terbuka, begitu jujur, begitu berani!

Dia sendiri menjadi salah tingkah, mukanya menjadi merah sekali dan jantungnya berdebar.

Lili menjulurkan kedua tangannya dan menangkap tangan pemuda itu.

Jari-jarl tangan mereka saling genggam.

"Sin Wan, aku cinta padamu dan engkaupun cinta padaku, bukan? Engkau telah menyelamatkan aku, engkau telah begitu baik kepadaku, engkau telah melihat punggung dan pundakku yang telanjang. Bahkan engkau telah mengalahkan aku dalam latihan tadi ........"

"Aku yang kalah, Lili ........"

Kata Sin Wan karena tidak tahu harus berkata apa.

"Tidak, engkau mengalah, kaukira aku tidak tahu? Engkau amat baik kepadaku, itu tandanya engkaupun cinta padaku!"

Kedua tangan Lili menggenggam kuat-kuat.

Sin Wan menghela napas panjang, tidak berusaha melepaskan kedua tangannya walaupun hatinya merasa tidak enak sekali.

Dia memang amat kagum kepada gadis ini, juga merasa kasihan, akan tetapi dua macam perasaan itu belum menjadi tanda bahwa dia jatuh cinta!

Bagaimana mungkin cinta dapat ditentukan sedemikian cepatnya?

"Lili, kita tidak boleh begini.

Kita baru saja bertemu dan berkenalan, bagaimana mungkin kita bicara tentang cinta?

Pula, aku harus menyelesaikan tugasku lebih dulu, dan aku melakukan perjalanan bersama locianpwe Pek-sim Lo-kai.

Dia menantiku di dalam kota, aku harus cepat pergi ke sana."

Sepasang mata yang indah itu melebar, penuh kagum.

"Ah, Jadi engkau murid Pek-sim Lo-kai yang kabarnya amat lihai itu, Sin Wan? Pantas saja kepandaianmu hebat. Aku makin cinta padamu!"

"Bukan, Lili. Locianpwe itu bukan guruku!"

Jawab Sin Wan cepat, semakin bingung karena gadis itu tiada hentinya mengaku cinta.

"Bukan muridnya? Lalu, siapa gurumu Sin Wan?"

Kalau saja Sin Wan tidak menjadi panik dan bingung, merasa disudutkan oleh pengakuan cinta yang bertubi dari gadis itu, tentu dia akan berhati-hati dan tidak sembarangan saja memperkenalkan nama guru-gurunya.

Akan tetapi, dia sedang panik, apalagi kedua tangan gadis itu, terasa demikian hangat dan, penuh getaran aneh, membuat jantungnya semakin berdebar.

"Guruku adalah Sam Sian ....."

Jawaban ini keluar begitu saja.

Dia merasa betapa jari-jari tangan itu makin kuat menggenggam kedua tangannya, dan karena salah tingkah dia tidak berani menatap wajah Lili sehingga tidak melihat perubahan yang terjadi pada wajah gadis itu.

"Tiga Dewa? Engkau murid Tiga Dewa ....?"

Dan kini teringatlah Lili akan anak laki-laki yang pernah menghinanya sebelas tahun yang lalu!

Bahkan setahun yang lalu, ketika ia dan sucinya menyerbu Pek-In-kok dan sucinya berhasil menewaskan dua di antara Tiga Dewa walaupun sucinya sendiri terluka, ia tidak berhasil mencari anak laki-laki yang dulu menghinanya itu.

Dan kini teringatlah ia bahwa Dewa Arak pernah menyebutkan nama muridnya, Sin Wan?

Mungkin, ia sudah lupa lagi.

"Kau ..... kau ..... murid Sam Sian .....?"

Bibirnya komat-kamit dan suaranya tidak jelas. Perasaannya terguncang, penuh kebimbangan, penuh penasaran dan kemarahan.

"Lili, kau kenapa ......?"

Sin Wan dengan khawatir memegang kedua pundak gadis itu karena tubuh itu menggigil.

Akan tetapi pada saat itu, kedua tangan Lili bergerak dan sebelum Sin Wan tahu apa yang terjadi, dia sudah tertotok dan roboh terkulai, tak mampu bergerak lagi karena tubuhnya menjadi lemas!

"Lili, kau .....?"

Sin Wan berkata lemah, lebih heran dari pada penasaran.

Gadis yang tadi mati-matian mengaku cinta, yang begitu lembut dan hangat membenamkan muka di dadanya, tiba-tiba menyerang dan merobohkannya dengan totokan!

"Sin Wan, katakan, sejak kapan engkau menjadi murid Sam-sian?"

Lili bertanya dan kini suaranya terdengar galak, lenyap semua kemanisan dan kemesraan dalam suaranya itu.

"Kenapa? Sejak kecil ........"

"Sebelas tahun yang lalu?"

"Ya begitulah, kurang lebih."

"Ketika Sam-sian mengantarkan pusaka-pusaka istana yang hilang, menggunakan sebuah kereta, engkau juga berada di kereta itu?"

"Ya ...... ya ....."

Sin Wan semakin heran. Bagaimana gadis ini mengetahui soal itu? "Bagus! Engkau kiranya kuda-sapi-kerbau-anjing itu?"

Sin Wan terbelalak.

Kata-kata dan sikap yang galak ini menggugah ingatannya.

Seorang anak perempuan yang galak sekali, seperti setan!

Anak perempuan yang mengambil pakaian dan merobek-robek pakaiannya ketika dia sedang mandi.

Kemudian anak perempuan yang bersama gurunya hendak merampas pusaka istana dan berkelahi dengan dia, kemudian dia berhasil menangkapnya dan memukuli pinggulnya seperti seorang ayah menghajar anaknya yang nakal.

"Lili, kau ....... kau ......."

"Engkau seorang manusia yang kejam, jahat dan, kurang ajar!"

Kini Lili memaki-maki dengan marah sekali.

"Engkau pernah menghinaku habis-habisan, tahukah engkau? Dahulu pernah aku bersumpah untuk membalas penghinaan itu, ingatkah? Engkau memukuli pinggulku! Sampai sekarangpun masih terasa olehku! Hemm, engkau harus membayar berikut bunganya!"

Sin Wan tidak bicara lagi.

Dia tahu bahwa dia terjatuh ke tangan seorang gadis yang seperti iblis.

Murid Bi-coa Sian-li yang telah menewaskan dua di antara tiga orang gurunya.

Dia sudah tidak berdaya.

Kematian di depan mata tanpa dia mampu melakukan perlawanan.

Dan dia tidak mau membuka mulut karena dia tidak ingin mendengar suaranya sendiri minta dikasihani dan diampuni.

Tidak, dia bukan seorang pengecut.

Kalau memang Tuhan menghendaki dia mati di tangan gadis ini, tiada kekuatan atau kekuasaan di dunia ini mampu menyelamatkannya.

Sebaliknya, kalau memang Tuhan tidak menghendaki dia mati sekarang, biarpun dia sudah berada di ambang maut, pasti akan terdapat jalan baginya untuk terhindar dari maut.

Kalaupun dia harus mati, dia harus mati sebagai seekor harimau yang tidak pernah memperlihatkan kelemahan sedikitpun juga sampai mati, bukan seperti matinya seekor babi yang akan disembelih dan merengek-rengek minta hidup.

Tuhan Maha Besar, Tuhan Maha Kuasa, dia hanya menyerahkan jiwa raganya kepada kekuasaan Tuhan.

Kaki gadis itu mendorong dan tubuh Sin Wan terguling menelungkup.

Kemudian terdengar gadis itu menghardik.

"Engkau pernah memukuli pinggulku sampai sepuluh kali! Sekarang rasakan pembalasanku dengan pukulan seratus kali!"

Setelah berkata demikian, tangan kiri Lili terayun dan sambil berjongkok ia menamparkan tangan kirinya ke arah pinggul Sin Wan bertubi-tubi.

"Plak..plak..plak..plak....!!"

Ia menampari sambil menghitung dengan tangan kirinya.

Akan tetapi karena ia tidak bermaksud membunuh, hanya untuk menghajar dan membalas penghinaan melalui pemukulan pada pinggul, ia mengatur tenaga, tidak mempergunakan tenaga sakti, melainkan tenaga otot biasa.

Karena itu, Sin Wan tidak menderita luka dalam, tulangnya tidak patah bahkan kulitnya tidak pecah.

Namun karena dia sendiri tertotok dan tidak mampu mengerahkan tenaga, maka tamparan-tamparan itu terasa nyeri, panas dan perih.

"Plak..plak..plak....!!"

Belum sampai limapuluh kali, tangan kiri Lili sudah terasa panas dan lelah sekali sehingga pukulannya makin lama semakin lemah, ia menggantikannya dengan tangan kanan dan kembali tamparannya menjadi kuat.

Tentu saja Sin Wan menderita nyeri.

Panas dan pedih rasa kedua pinggulnya, akan tetapi, dia menerimanya dengan bibir terkatup kuat, tidak pernah dia mengeluh atau merintih.

Hal inilah yang membuat Lili merasa penasaran.

Kalau pemuda itu mengeluh, tentu hatinya akan terasa puas sekali.

Akan tetapi, pemuda itu sama sekali tidak merintih seolah-olah semua pukulannya itu tidak terasa sama sekali.

Pada hal kedua tangannya sudah panas dan lelah karena ia hanya mempergunakan tenaga otot.

Belum sampai seratus kali, paling banyak baru tujuhpuluh kali, ia sudah menghentikan tamparannya!

"Hemm, engkau bandel, ya?

Engkau tidak minta ampun, tidak mengeluh, engkau merasa gagah, ya?

Pembalasanku belum lunas, pukulanku belum ada seratus kali, sisanya akan ku lakukan dengan cara lain!"

Ia melolos sabuknya yang panjang, membikin putus sebagian, kemudian ia menyeret tubuh Sin Wan ke sebatang pohon, memaksanya bangkit berdiri dengan menariknya, lalu ia mengikat Sin Wan pada batang pohon itu.

Diikatnya kaki dan tangan pemuda itu ke belakang, bersandar pohon.

Setelah selesai, ia memandang kepada Sin Wan dengan senyumnya yang khas, senyum sinis mengejek.

Kemarahannya memuncak ketika ia melihat wajah pemuda itu tenang-tenang saja, bahkan pemuda itupun tersenyum, seperti seorang dewasa merasa geli melihat ulah yang nakal seorang kanak-kanak!

"Aku akan meninggalkanmu di sini, biar engkau dimakan binatang buas di hutan ini!

Nah, apa yang akan kaukatakan?"

Sin Wan merasa nyeri sekali di pinggulnya piut-miut rasanya berdenyut-denyut seperti mau pecah, panas dan pedih menusuk jantung, dan tubuhnya masih lemas tak mampu bergerak karena totokan.

Akan tetapi wajahnya tidak membayangkan semua penderitaan itu, dan dia bahkan tersenyum, senyum yang oleh Lili dianggap menantang dan menyakitkan hati.

Kemudian, Sin Wan berkata dengan suara lirih dan lembut tanpa kemarahan.

"Aku hanya ingin berkata bahwa sayang sekali engkau yang begini cantik dan gagah, yang berkepandaian tinggi, telah dibikin gila oleh dendam sehingga menjadi kejam seperti setan."

Sepasang mata itu terbelalak dan tangan kanannya melayang.

"Plakk !!"

Keras sekali telapak tangan itu menghantam pipi kiri Sin Wan sehingga kepala pemuda itu terdorong ke kanan dan seketika pipi itu menjadi merah membiru dan membengkak.

"Kau maki aku seperti setan? Engkaulah yang setan, iblis, siluman! Kau .... kau ....., huh, aku benci padamu. Benciiii...!"

Dan gadis itu mengeluarkan suara aneh, seperti tawa akan tetapi juga mirip tangis, atau suara antara keduanya itu.

"Biar kau dimakan binatang buas!"

Dan sekali melompat, gadis itu menghilang di antara pohon-pohon dalam cuaca yang mulai gelap itu.

Sin Wan termenung, pipinya berdenyut deyut keras, nyerinya bisa mengalahkan rasa nyeri di pinggul.

Betapa galaknya gadis itu dan dia membayangkan Lili.

Aneh, yang terbayang olehnya bukan prilaku yang menyiksanya tadi.

Terbayang olehnya ketika gadis itu tertidur pulas di dadanya!

Yang terngiang di telinganya bukan caci makinya, melainkan ucapan gadis itu yang mengaku cinta padanya.

Malam tiba.

Sinar bulan yang menggantikan matahari tidak cukup kuat mengusir kegelapan malam, akan tetapi setidaknya mendatangkan cahaya menembus daun-daun pohon sehingga cuacanya tidak gelap benar, melainkan remang-remang.

Dia belum mampu menggerakkan tubuhnya.

Totokan Lili ternyata lihai sekali.

Agaknya dia harus menanti satu dua jam lagi agar pengaruh totokan itu membuyar dan baru dia akan dapat mengerahkan tenaga untuk membikin putus tali sabuk yang mengikat kaki dan tangannya pada pohon.

Sebelum dia mampu mengerahkan tenaga, dia tidak berdaya.

Terdengar suara gerengan di sana-sini.

"Harimau,"

Pikir Sin Wan, atau sebangsa itu, binatang hutan yang liar!

Kalau dia belum mampu menggunakan tenaga dan ada binatang buas datang, dia akan mati konyol!

Dia akan menjadi mangsa binatang buas, kulit dagingnya akan digerogoti, dia akan dimakan hidup-hidup!

Bukan main ngeri rasa hatinya membayangkan semua itu, akan tetapi perasaan ngeri dan takut itu segera lenyap seketika setelah dia teringat akan keyakinan hatinya terhadap kekuasaan Tuhan!

Dia sebagai manusia hanya sekedar alat.

Hidup dan matinya milik Tuhan!

Kenapa harus takut?

Dia menyerah penuh kesabaran, penuh ketawakalan, penuh keikhlasan!

Kalau Tuhan menghendaki dia mati, setiap saatpun dia siap dengan hati yang rela dan ikhlas.

Bukan berarti-putus asa!

Penyerahan dengan ikhlas tidak berarti putus asa.

Saat itu dia hidup dan selama dia masih hidup, dia akan menggunakan segala daya kemampuannya untuk bertahan hidup, untuk menjaga dan mempertahankan kehidupannya.

Akan tetapi kalau Tuhan menghendaki dia mati, dia tidak akan menyesal karena penyerahan seikhlasnya berarti ikhlas untuk hidup dan ikhlas untuk mati, menyerah kepada kekuasaan Tuhan!

Keyakinan dan penyerahannya ini mengusir semua rasa takut, bahwa Sin Wan dapat menghadapi keadaannya saat itu dengam senyum di bibir.

Betapa amat menarik kehidupan dengan segala liku-likunya ini, dan dia sudah siap untuk menjadi saksi, mengikuti setiap pengalaman hidup sampai akhlr.

Tiba-tiba terdengar gerengan keras dan Sin Wan menengok ke kiri.

Lehernya sudah dapat dia gerakkan, akan tetapi ketika dia berusaha menggerakkan tangan dan kaki, kedua pasang anggauta tubuh itu masih lemas dan tidak dapat dia gerakkan!

Dan dia melihat sepasang mata mencorong di dalam cuaca yang remang-remang itu.

Nampaknya bayangan itu seperti seekor anjing yang berindap-indap menghampirinya.

Akan tetapi jelas gerengan ini bukan gonggong atau salak anjing, melainkan auman harimau!

Sin Wan merasa betapa bulu tengkuknya meremang.

Bagaimanapun juga, nalurinya untuk mempertahankan hidup mendatangkan kecemasan ketika dia sadar bahwa di depannya hadir seekor harimau yang mengancamnya dia yang sedang tak berdaya itu.

Dia benar-benar akan mati konyol!

Akan tetapi, kembali kepasrahan yang mutlak menenangkan hatinya dan dia memandang ke arah harimau itu dengan tajam.

Dia pernah mendengar bahwa harimau takut bertemu pandang mata dengan manusia, dan kalah wibawa.

Bahkan ada kemungkinan binatang itu setelah bertemu pandang, akan merasa takut dan pergi tanpa mengganggunya.

Akan tetapi dia lupa bahwa cuaca remang-remang dan mata manusia berbeda dengan mata harimau.

Kekuasaan Tuhan adalah bijaksana dan adil, maka semua makhluk dan benda ciptaan Tuhan selalu dibekali sesuatu yang amat dibutuhkan oleh masing-masing.

Harimau tidak berakal, tidak pandai membuat alat penerangan, hidup di dalam hutan gelap, maka memiliki mata yang penglihatannya dapat menembus gelap sehingga matanya mencorong!

Manusia mampu membuat alat penerangan untuk mengatasi kegelapan malam.

Maka, betapapun tajam dia memandang, binatang itu tidak menjadi undur, bahkan menggereng semakin keras dan menghampiri semakin dekat.

Perlahan-lahan, dengan hati-hati, binatang itu mendekati Sin Wan dan pemuda ini merasa betapa hidung binatang itu mengendus dan menyentuh kakinya.

Dia memejamkan mata, menyerah kepada Tuhan, maklum bahwa, kalau harimau itu menyerang, dia tidak akan mampu melindungi dirinya.

Harimau itu mengaum keras, kaki depan kiri bergerak cepat ke arah paha Sin Wan.

"Brettt ........!!"

Celana Sin Wan terobek dengan mudah dan kulit pahanya terkena cakaran sehingga terobek dan berdarah!

Dia berusaha mengerahkan tenaga, namun tidak berhasil, Harimau itu kini undur, bukan untuk pergi, melainkan untuk mengambil ancang-ancang.

Darah yang mengalir dari paha Sin Wan yang tergores kuku itu membuat dia semakin liar.

Kini binatang itu merendahkan tubuh, mengambil ancang-ancang untuk meloncat.

Mati aku sekarang, pikir Sin Wan.

Binatang itu meloncat ke atas, menubruk ke arah Sin Wan.

"Cratttt ......!! Bukkk!"

Tubuh binatang itu terhenti di udara ketika sebatang pedang menyambutnya dengan tusukan memasuki perutnya, kemudian sebuah tendangan kilat membuat tubuh binatang itu terlempar.

Biarpun telah terluka parah dan dari perutnya bercucuran darah, harimau itu tidak roboh atau takut, bahkan menjadi semakin nekat.

Kini dia menubruk ke arah orang yang menyakitinya, yang berdiri di depan Sin Wan.

"Sratttt .......!"

Tubuh harimau terpelanting dan matilah dia dengan leher hampir putus terbabat pedang!

Lili membersihkan pedangnya dengan menggosoknya pada kulit bangkai harimau.

Dalam cuaca yang remang-remang, Sin Wan terbelalak ketika mengenal bahwa yang membunuh harimau itu dan yang menyelamatkan dirinya adalah Lili.

Hatinya merasa senang bukan main, bukan saja senang karena dia tidak mati konyol menjadi mangsa harimau, akan tetapi karena ternyata gadis itu tidaklah sejahat yang ingin diperlihatkannya.

Ternyata gadis itu tidak meninggalkannya seperti ancamannya tadi, melainkan bersembunyi dan menjaganya, bahkan menyelamatkannya.

"Terima kasih, Lili ......"

Katanya lirih.

Lili menyisipan pedangnya, lalu membalik dan menghadap pemuda itu.

Alisnya berkerut karena ucapan Sin Wan yang lembut itu, wajah pemuda itu yang tersenyum penuh syukur kepadanya, seolah menusuk jantungnya.

"Aku telah memukulimu, menghinamu, memakimu dan menyiksamu, dan engkau tidak mendendam kepadaku?"

Tanyanya penasaran. Sin Wan sudah dapat menggoyang kepalanya.

"Kenapa aku harus mendendam? Sebelas tahun yang lalu aku juga pernah memukuli pinggulmu, dan sekarang aku hanya membayar hutangku. Aku dahulu terlampau keras kepadamu Lili dan sudah sepatutnya engkau membalas."

Sepasang mata itu tertegun, senyum sadis itu perlahan-lahan berubah seperti orang hendak menangis.

Semua ini dapat dilihat Sin Wan karena kebetulan sinar bulan dapat menerobos celah-celah daun dan menerangi mereka.

Lili memandang wajah pemuda itu, menatap ke arah pipi kiri Sin Wan yang membengkak.

Ia menghampiri lebih dekat, tangan kanannya diangkat ke atas.

Sin Wan tidak siap menerima tamparan lagi, akan tetapi sekali ini, tangan itu tidak menampar, melainkan mengusap dan membelai pipi yang membengkak itu.

"Sin Wan ...."

Suara itu seperti rintihan tangis dan mulut gadis itu mendekati pipi yang bengkak, menyentuh telinga dan terdengar ia berbisik.

"Sin Wan aku cinta padamu...... ah, aku benci padamu ......!"

Dan iapun menggerakkan tangan menotok, membebaskan Sin Wan dari pengaruh totokannya, tadi dan sekali berkelebat iapun lenyap dari situ.

Sin Wan dapat menggerakkan kembali kaki tangannya.

Sejenak dia diam saja, membiarkan jalan darahnya pulih kembali dan sikap Lili tadi masih membuat dia tertegun.

Gadis itu cinta padanya dan juga benci padanya!

Bagaimana ini?

Bagaimana mungkin ada orang mencinta sekaligus membenci?

Dia menggeleng kepalanya, lalu mengerahkan tenaga Sin-kang dan dengan mudah saja dia melepaskan tali pengikat kaki dan tangannya.

Dia memegangi potongan kain sabuk sutera itu, mengamatinya dan menggeleng-geleng kepala lagi.

"Lili ...., Lili ....., sungguh aku tidak mengerti."

Dia lalu meninggalkan tempat itu, keluar dari hutan dan memasuki kota Lok-yang.

Kakek Bu Lee Ki sudah memberitahu kepadanya bahwa kakek itu dan Kui Siang akan menyewa kamar di losmen Ho-peng yang berada di ujung barat kota itu.

Tidak sukar untuk menemukan losmen di sebelah barat dalam kota itu dan ketika Sin Wan minta keterangan dari pelayan losmen tentang kakek Bu Lee Ki dan Kui Siang, pelayan itu ternyata telah mendapat pesan dari Bu Lee Ki dan segera mengantar pemuda itu ke kamarnya.

"ltulah dua kamar kakek dan nona itu,"

Kata pelayan.

Sin Wan mengetuk pintu kamar Bu Lee Ki dan kakek itu membukakan pintu.

Dia agak terkejut melihat celana Sin Wan yang robek, pahanya yang terluka goresan memanjang, langkahnya yang agak pincang dan pipi kirinya yang merah membengkak.

"Ehh ? Apa yang terjadi?"

Tanyanya ketika mereka masuk kamar dan pintunya ditutupkan kembali oleh Bu Lee Ki.

Sin Wan merasa serba salah.

Kalau dia bercerita tentang Lili, tentu dia harus menceritakan segalanya dan dia merasa malu, tidak ingin peristiwa di hutan tadi diketahui siapapun.

Akan tetapi kalau tidak diceritakan, bagaimana pula karena keadaannya seperti itu.

Dia teringat akan harimau itu lalu berkata.

"Locianpwe, saya tersesat ke dalam hutan dan diserang seekor harimau yang besar dan ganas. Saya berhasil membunuhnya, akan tetapi saya juga terluka, dicakar paha saya dan........ begitulah."

Dia tidak banyak bicara lagi, lalu membersihkan diri di kamar mandi dan bergantl pakaian.

"Di mana sumoi?"

Tanyanya setelah berganti pakaian.

Kakek itu nampak termenung setelah mendengar ceritanya.

Jelas bahwa kakek itu tidak puas, dan agaknya tahu bahwa dia menyembunyikan sesuatu dan tidak mau berterus terang.

Akan tetapi kakek itu tidak mendesak dan mendengar pertanyaan itu, diapun tersenyum.

"Kalian ini orang-orang muda memang petualang-petualang yang aneh. Tadi Kui Siang pulang dan tidak bicara apa-apa kepadaku. Ia langsung memasuki kamarnya dan aku mendengar betapa ia gelisah di kamarnya, bahkan aku seperti mendengar ia terisak menangis. Ahhh, sungguh lucu dan aneh. Dan engkau datang-datang seperti ini, baru saja berkelahi dengan harimau! Kalian orang-orang muda yang aneh?"

Kakek itu tidak mendesak dan Sin Wan lalu merebahkan diri di pembaringan kecil di sudut kamar yang mempunyai dua buah pembaringan itu.

Dan tak lama kemudian dia sudah tidur pulas karena dia memang merasa lelah, lemas dan terutama sekali pinggulnya masih berdenyut-denyut, berlumba dengan denyut jantungnya.

Pada keesokan harinya, setelah mandi pagi dan merasa tubuhnya lebih segar walaupun rasa nyeri di pinggulnya masih terasa, Sin Wan yang tidak melihat Kui Siang bertanya kepada Bu Lee Ki di mana adanya gadis itu.

Kakek itu mengerutkan alisnya, lalu menggeleng kepala.

"Entah apa yang telah terjadi dengan Kui Siang. Semalam ia pulang langsung ke kamarnya, dan setelah semalam gelisah, pagi ini ia juga tidak keluar dari dalam kamar. Aku tadi sudah mengetuk daun pintu kamarnya dan bertanya. Ia membuka pintu dan mengeluh tidak enak badan, lalu rebah kembali. Pergilah engkau melihatnya. Sin Wan, aku khawatir ada apa-apa terjadi dengan sumoimu. Biasanya ia tidak seperti itu."

Sin Wan merasa khawatir. Dia lalu menghampiri kamar sumoinya dan mengetuk daun pintu kamarnya. Beberapa kali dia mengetuk. Tidak ada jawaban.

"Sumoi, harap buka pintu. Ini aku, Sin Wan ingin menjengukmu,"

Katanya.

Juga tidak ada jawaban, akan tetapi pendengarannya yang tajam dapat menangkap isak tangis tertahan.

Tentu saja dia menjadi semakin khawatir dan didorongnya daun pintu itu perlahan.

Ternyata tidak dikunci dari dalam dan diapun memasuki kamar itu.

Dilihatnya sumoinya duduk di pembaringan sambil menutupi mukanya dan menangis menyembunyikan tangisnya di balik bantal yang ditutupkan pada mukanya.

"Sumoi ......! Engkau kenapakah?"

Tanya Sin Wan dengan kaget dan dia cepat menghampiri gadis itu, berdiri di depannya dan dengan lembut tangannya menyentuh pundak gadis itu.

Mendengar ucapan itu dan merasa pundaknya disentuh tangan Sin Wan, tangis Kui Siang semakin mengguguk dan pundaknya sampai bergoyang-goyang.

Tentu saja Sin Wan menjadi semakin khawatir.

"Sumoi, katakanlah. Apa yang telah terjadi denganmu?"

Perlahan-lahan Sin Wan menurunkan bantal itu dari muka sumoinya dan dia terkejut melihat muka yang pucat dan basah air mata, sepasang mata yang menjadi merah dan agak bengkak karena terlalu banyak menangis itu.

"Sumoi, engkau kenapakah, sumoi? Kenapa engkau berduka seperti ini?"

Tanya pula pemuda itu dengan suara yang penuh kegelisahan, tangan kiri masih memegang pundak, jari tangan kanan menyingkap rambut yang menutupi sebagian muka yang basah itu.

"Suheng .......!"

Kui Siang mengeluh dan iapun menjatuhkan diri ke depan, merangkui pinggang suhengnya dan menjatuhkan kepalanya di dada pemuda itu.

Sin Wan semakin kaget.

Dia merangkul sumoinya yang kini menangis di dadanya, dan sejenak dia membiarkan sumoinya menumpahkan kedukaannya, membiarkannya menangis di dadanya.

Perlahan-lahan, terasa olehnya air mata yang hangat membasahi kulit dadanya, menembus bajunya.

"Tenangkan hatimu, sumoi dan katakanlah, apa yang telah terjadi, yang membuatmu sesedih ini?"

Setelah tangisnya terhenti, hanya tinggal sesenggukan jarang, sisa isak yang melepas sisa ganjalan di hatinya, akhirnya dengan muka masih disembunyikan di dada Sin Wan, Kui Siang berkata lirih.

"Suheng, betapa tega hatimu menghancurkan kebahagiaanku, memusnahkan semua harapanku .........."

"Ehh ? Apa maksudmu, sumoi? Aku tidak mengerti ......!"

"Tidak kusangka bahwa engkau mempunyal seorang kekasih, suheng, mempunyai seorang pacar ......"

Suara itu bercampur isak. Sin Wan membelalakkan matanya.

"Heiiii! Apa pula ini, sumoi? Aku tidak mempunyai pacar!"

Kui Siang mengangkat mukanya dari dada Sin Wan, sepasang matanya yang merah membendul itu mengamati wajah Sin Wan dan mulutnya cemberut.

"Tidak ada gunanya menyangkal lagi, suheng. Semalam engkau berpacaran dengan seorang gadis cantik! Siapa gadis yang tertidur di pangkuanmu itu?"

Sin Wan terkejut bukan main.

"Kau ....... kau tahu itu? Bagaimana engkau bisa tahu, sumoi?"

Akan tetapi dia segera menyadari bahwa pertanyaannya ini sama saja dengan pengakuan bahwa dia benar-benar berpacaran dengan seorang gadis, maka cepat disambungnya.

"Aku tidak berpacaran, sumoi. Ia bukan kekasihku, bukan pacarku."

Mata yang kemerahan itu mengeluarkan sinar marah.

"Suheng, selama ini aku mengenalmu sebagai seorang laki-laki sejati, seorang jantan yang tidak berwatak pengecut dan berani mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Akan tetapi sekarang kenapa engkau menyangkal? Suheng, dengan mataku sendiri aku melihat gadis cantik itu tertidur di pangkuanmu, bersandar pada dadamu dan engkau memeluknya, dan engkau masih berani menyangkal ........?"

Mengertilah Sin Wan bahwa sumoinya semalam telah menyaksikan peristiwa yang terjadi antara dia dan Lili, dan sayangnya, sumoinya hanya melihat ketika Lili tertidur di pangkuannya, tidak melihat yang lain, tidak melihat ketika Lili menyiksanya, hampir membunuhnya.

"Sumoi, aku tidak menyangkal semua itu, yang kusangkal adalah bahwa ia itu pacarku. Sama sekali tidak, sumoi. Dengarlah ceritaku ini. Sebelas tahun yang lalu, ketika tiga orang suhu kita mengantarkan pusaka-pusaka istana bersama aku dengan kereta menuju ke kota raja, di tengah perjalanan kami bertemu Bi-coa Sian-li dan seorang muridnya. Bi-coa Sian-li hendak merampas pusaka, akan tetapi gagal dan ia dikalahkan tiga orang guru kita. Dan anak perempuan itu, yang berusia sembilan tahun, murid Bi-coa Sian-li, berkelahi denganku dan aku menghajarnya, kuhukum seperti anak kecil dengan tamparan pada pinggulnya sampai sepuluh kali."

Kui Siang mengerutkan alisnya.

"Apa hubungannya cerita itu dengan kemesraan di hutan itu?"

Suaranya jelas mengandung kemarahan.

Diam-diam Sin Wan merasa heran.

Kenapa sumoinya kelihatan marah sekali melihat Lili tertidur di pangkuannya dan kelihatan seolah dia dan Lili bermesraan dan berpacaran?

Hubungannya erat sekali, sumoi.

"Dengarlah ceritaku selanjutnya. Sore tadi aku melihat seorang gadis dikeroyok oleh orang-orang lihai sebanyak enam orang. Gadis itu juga lihai, akan tetapi enam orang lawannya itu selain lihai juga amat licik dan gadis itu akhirnya tertawan dalam sehelai jala yang ada kaitannya beracun. Melihat gadis itu dalam ancaman bahaya, aku lalu menolongnya dan enam orang penjahat itu melarikan diri. Gadis itu keracunan, maka aku lalu mengobatinya dan mengusir racun dari tubuhnya. Mungkin karena kepayahan, gadis itu bersandar dan tertidur dan agaknya saat itulah engkau melihat kami dan menyangka bahwa kami bermesraan dan berpacaran. Pada hal tidaklah demikian. Bahkan kelanjutannya sayang sekali engkau tidak melihatnya, karena kalau engkau melihatnya, tentu akan lain sekali sikapmu."

Sinar mata itu mulai terang dan tertarik, karena bagaimanapun juga, Kui Siang amat menghormati dan percaya kepada suhengnya itu.

"Lanjutannya bagaimana?"

Tanyanya, suaranya masih parau karena tangis semalam suntuk, akan tetapi matanya tidak sesayu tadi.

"Setelah gadis itu sembuh dan terbangun, kami bicara dan setelah aku mengaku sebagai murid Sam-sian, gadis itu terkejut dan tiba-tiba saja ia menotokku sehingga aku tidak mampu bergerak lagi. Kiranya ia adalah anak perempuan yang sebelas tahun lalu pernah kuhajar itu!"

"Murid Bi-coa Sian-li, pembunuh kedua orang guru kita?"

Sin Wan mengangguk.

"Benar, ia bernama Lili dan ia lihai sekali. Aku ditotoknya dan aku menjadi lumpuh."

"Lili ........?"

Sin Wan teringat.

"Eh, nama lengkapnya Tang Bwe Li."

"Engkau sudah memanggilnya demikian akrab, suheng? Teruskanlah, bagaimana selanjutnya."

Kata pula Kui Siang dan suaranya terdengar kaku.

"Ia membalas dendamnya sebelas tahun yang lalu. Ia membalas memukuli pinggulku sampai puluhan kali. Kemudian ia mengikatku pada pohon dan meninggalkan aku agar dimakan binatang buas."

Gadis itu membelalakkan matanya.

"Betapa kejamnya! Gadis keparat!"

"Setelah ia pergi dan aku belum mampu menggerakkan kaki tanganku, muncullah seekor harimau besar, sumoi. Binatang itu menghampiri aku, mengendus dan sempat mencakar robek celanaku dan melukai paha. Kemudian ia menerkam dan aku sudah pasrah karena tidak mampu bergerak melawan ......."

"Lalu bagaimana, suheng? Lalu bagaimana?"

Kini Kui Siang bangkit berdiri dan memegang kedua lengan suhengnya, nampak khawatir bukan main.

"Pada saat harimau menerkam aku, ketika tubuhnya meloncat di udara, ia disambut tusukan pedang dan tewas seketika, sumoi. Aku telah ditolong dan diselamatkan ........"

"Siapa yang menolongmu, suheng?"

Tanya Kui Siang, ingin sekali tahu siapa penolong yang telah merenggut nyawa suhengnya dari ancaman maut.

"Gadis itu, sumoi. Lili yang menyelamatkan aku."

"Ahhhhh .......!"

Kedua tangan yang tadi memegang lengan Sin Wan dengan kuat, tiba-tiba menjadi lemas dan terlepas.

Jelas bahwa Kui Siang nampak terpukul dan kecewa bukan main mendengar bahwa yang menyelamatkan suhengnya adalah gadis itu pula.

"Aku sendiri terheran-heran, sumoi. Tadinya ia demikian kejam dan ganas, menyiksaku, hampir membunuhku, sengaja mengikatku agar dimakan binatang buas, akan tetapi ketika aku nyaris dimakan harimau, ia pula yang menolongku."

"Itu hanya berarti ..... ah, suheng. Apakah engkau cinta padanya?"

Tiba-tiba gadis itu kembali menatap tajam wajah suhengnya. Sin Wan menggeleng kepala.

"Tidak, sumoi. Kami baru bertemu beberapa jam saja, bagaimana aku dapat mencintanya? Apa lagi ia hampir saja membunuhku, dan ia menyiksaku, sampai sekarangpun rasa nyeri di pinggulku masih berdenyut-denyut. Tidak, aku tidak dapat cinta kepadanya, sumoi."

Aneh sekali. Sumoinya, yang masih marah matanya, kini memandang kepadanya dengan senyum tipis! "Benarkah, suheng?"

Sumoinya bertanya. Sin Wan memegang kedua pundak sumoinya.

"Aku tidak pernah bohong, sumoi. Sekarang aku ingin bertanya dan harap engkau tidak berbohong pula. Aku bersumpah bahwa aku tadi tidak berpacaran dengan Lili, akan tetapi andaikata benar demikian, lalu kenapa engkau menjadi begitu bersedih? Kenapa?"

Wajah itu berubah merah dan sampai sejenak lamanya Kui Siang tidak mampu menjawab. Kemudian, dengan muka ditundukkan, iapun berkata lirih.

"Suheng, aku tahu bahwa aku tidak berhak mencampuri urusan pribadimu, aku tahu bahwa tidak sepantasnya aku menjadi marah dan bersedih melihat engkau dan gadis itu di hutan ......."

Suaranya menjadi gemetar dan ia menangis lagi.

"Sumoi, kenapa? Katakan, kenapa?"

Sin Wan mengguncang kedua pundak sumoinya itu.

"Karena ..... karena hatiku dibakar dan ditusuk-tusuk oleh rasa cemburu yang hebat, Suheng, maafkan aku ........"

"Sumoi .....!"

Sin Wan terkejut dan Kui Siang menangis sambil merangkul pinggang pemuda itu, menangis di dadanya seperti tadi.

"Maafkan aku, suheng ........ karena aku tidak ingin kehilangan engkau, aku takut kehilangan engkau, aku tidak ingin berpisah darimu selama hidupku, suheng ..... aku cinta padamu ....,"

Dan iapun menangis tersedu-sedu.

Sin Wan tertegun dan diapun merangkul.

Sejenak dia bengong.

Dalam waktu semalam saja, dua orang gadis mengaku cinta padanya.

Lili mengaku benci akan tetapi cinta.

Kui Siang mengaku cemburu akan tetapi cinta!

Haruskah cinta seorang wanita itu disertai cemburu dan dapat berubah menjadi benci?

Apakah cinta itu mengandung cemburu dan benci?

Dia merasa bingung.

Akan tetapi tidak bingung kalau harus memilih di antara keduanya.

Kui Siang telah bergaul dengan dia selama sepuluh tahun lebih dan ia sudah mengenal benar watak yang baik dari sumoinya ini.

Kui Siang cantik, gagah perkasa, berbudi dan lembut, pasti akan menjadi seorang isteri dan seorang ibu yang baik.

Lili juga sama cantiknya, sama gagah perkasanya, akan tetapi gadis itu liar dan ganas, berhati keras bahkan dapat menjadi kejam.

Mudah saja memilih di antara keduanya.

Tentu saja dia memilih Kui Siang!

Memang jauh sebelum dia bertemu dengan Lili, dia sudah merasa amat sayang kepada sumoinya, rasa sayang merupakan tunas cinta.

Kini sumoinya berterus terang menyatakan cinta kepadanya!

"Sumoi, akupun cinta padamu,"

Bisiknya sambil merangkul dan sejenak mereka saling peluk dengan ketatnya seolah tidak ingin melepaskan lagi.

Suara batuk-batuk di luar kamar itu membuat mereka berdua terkejut dan cepat saling melepaskan rangkulan.

Muncullah kakek itu setelah membuka daun pintu dan dia tersenyum lebar.

"Wah, engkau sudah tersenyum lagi, Kui Siang? Ha..ha..ha, peristiwa ini patut dirayakan dengan makan enak. Mari keluarlah kalian, kita rnakan pagi yang istimewa, heh ..Heh..heh!"

Wajah Kui Siang menjadi merah sekali.

Hatinya penuh bahagia karena bukankah di telinganya tadi suara Sin Wan berbisik menyatakan cinta?

la sudah menyatakan perasaan cintanya dan ternyata dibalas oleh suhengnya!

Peristiwa semalam dengan Lili sudah seketika lenyap dari ingatannya.

"Nanti dulu, locianpwe, saya ingin mandi dan bertukar pakaian lebih dulu."

"Heh..heh, baiklah. Kita tunggu di luar, Sin Wan."

Dua orang pria itu keluar dan Kui Siang segera mandi dan bertukar pakaian.

Sekali ini, ia berdandan dan menyisir rambutnya agak lebih teliti dari pada biasanya.

Ia harus selalu nampak rapi dan cantik di depan kekasihnya!

Sementara itu, ketika mereka duduk menanti Kui Siang, kakek Bu Lee Ki berkata kepada pemuda itu.

"Sin Wan, engkau dan Kui Siang memang cocok sekali menjadi suami isteri. Kalian berjodoh, kenapa setelah saling mencinta tidak segera menikah saja. Kulihat usia kalian sudah cukup dewasa."

Wajah Sin Wan berubah kemerahan dan dia tersenyum.

"Aih, locianpwe, bagaimana mungkin kami menikah! Saya seorang yatim piatu yang miskin dan tidak ada yang mewakili saya, sedangkan Kui Siang, biarpun yatim piatu pula, ia bangsawan dan kaya raya, dan masih mempunyai banyak keluarga di kota raja."

"Hemm, apa salahnya itu? Yang penting, kalian saling mencinta. Tentang wakilmu, biar aku yang mewakilimu, mengajukan pinangan kepada keluarga Kui Siang di kota raja kelak setelah urusan pemilihan pemimpin kai-pang di sini selesai. Bagaimana pendapatmu?"

"Terima kasih atas kebaikan hati locianpwe. Marilah nanti saja hal itu kita bicarakan karena selain urusan di sini belum beres, juga saya sendiri masih ragu-ragu untuk membangun rumah tangga. Keadaan saya masih begini, locianpwe, kehidupan diri sendiri saja masih belum menentu, tiada pekerjaan dan tiada rumah tinggal, bagaimana dapat memikirkan pernikahan?"

"Heh..heh, justeru pernikahan yang akan memaksamu untuk mendapatkan tempat tinggal dan mata pencaharian yang tetap. Tanpa adanya kebutuhan itu, tentu akan selalu hidup bebas seperti seekor burung di udara."

Kakek itu terkekeh, lalu melanjutkan.

"Kalau kalian sudah saling mencinta, hal itu menunjukkan bahwa kalian sudah siap untuk membangun keluarga bersama, hidup bersama sebagai suami isteri. Cinta asmara merupakan tali pengikat yang paling kuat dalam hubungan itu dan kalian sudah saling mencinta. Mau tunggu apa lagi? Cinta berarti hidup bersama dalam keadaan apapun juga, dalam suka dan duka, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, suka sama dinikmati, duka sama ditanggung."

"Tapi ...... tapi saya sendiri masih belum mengerti benar tentang cinta, locianpwe. Mohon petunjuk, apakah cinta harus disertai dengan cemburu? Apakah cinta dapat berubah menjadi benci?"

Kakek itu tertawa.

"Cinta adalah suatu keadaan yang mulia dan suci, Sin Wan. Cinta adalah sifat dari Tuhan Yang Maha Kasih. Akan tetapi, kita manusia merupakan mahluk yang lemah terhadap nafsu-nafsu kita sendiri. Cinta kita selalu diboncengi nafsu, dan nafsu inilah yang mendatangkan perasaan cemburu, benci dan sebagainya. Nafsu sifatnya selalu mementingkan diri sendiri, menyenangkan diri sendiri. Oleh karena cinta kita diboncengi nafsu, maka biar orang yang kita cinta, kalau melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan atau merugikan kita, maka dapat saja berubah menjadi benci dan dapat menimbulkan cemburu. Nafsu membuat kita ingin memiliki dan menguasai orang yang kita cinta seluruhnya, sehingga sekali saja terdapat kecenderungan kekasih kita kepada orang lain, timbullah cemburu. Nafsu membuat kita ingin memperalat orang yang kita cinta itu sebagai sumber kesenangan diri kita sendiri."

"Kalau begitu, locianpwe, nafsu menjadi biang keladi sehingga cinta menjadi kotor dan buruk, dapat mendatangkan kejahatan dan malapetaka. Kalau begitu, antara suami isteri seharusnya ada cinta tanpa nafsu ........"

"Ha..ha..ha..ha, tidak mungkin, Sin Wan. Nafsu memang berbahaya kalau ia menguasai kita, kalau ia menjadi majikan yang kejam kalau ia memperalat kita. Akan tetapi sebaliknya, tanpa nafsu kita tidak mungkin dapat hidup. Nafsu yang membonceng dalam cinta antara pria dan wanita merupakan suatu keharusan, karena nafsu yang menimbulkan daya tarik antar kelamin, nafsu pula yang memungkinkan manusia berkembang biak. Kalau pernikahan dilakukan tanpa adanya nafsu berahi, suami isteri akan hidup bersama seperti kakak beradik dan tidak akan ada anak, terlahir dan perkembangan biakan manusia akan terhenti."

Sin Wan menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal.

Dia sudah banyak membaca kitab tentang kehidupan, akan tetapi baru sekarang dia mendengar tentang hubungan antara pria dan wanita, tentang bekerjanya nafsu berahi dalam cinta kasih!

"Lalu bagaimana baiknya, locianpwe?

Nafsu amat berbahaya bagi kehidupan batin kita, akan tetapi juga teramat penting bagi kehidupan bahkan tidak mungkin dapat kita lenyapkan."

"Segala macam nafsu yang berada pada kita merupakan anugerah pula dari Tuhan kepada kita, Sin Wan. Nafsu-nafsu itulah peserta jiwa dalam badan, untuk kepentingan kehidupan di dunia ini. Nafsu merupakan alat, merupakan pelengkap, merupakan pembantu yang teramat penting. Dalam hal perjodohan, nafsu bekerja sebagai berahi yang menimbulkan perasaan saling suka dan saling tertarik. mungkin melalui keindahan bentuk wajah dan tubuh yang menyenangkan dan cocok, mungkin melalui sikap dan prilaku yang sesuai dengan selera. Pendeknya nafsu berahi selalu ada di dalam cinta antara pria dan wanita yang ingin hidup bersama. Akan tetapi, karena nafsu mendatangkan pula cemburu yang mungkin menimbulkan kebencian, maka kita harus ingat bahwa sekali nafsu berahi yang menjadi majikan, yang menguasai kita, keutuhan perjodohan terancam retak. Nafsu berahi juga mendatangkan bosan."

"Lalu bagaimana kita dapat menguasai nafsu kita sendiri, locianpwe? Dapatkah dikuasai dengan samadhi, dengan latihan pernapasan, dengan bertapa?"

Kakek itu tersenyum dan menggeleng kepala.

"Semua usaha itu juga masih berada dalam lingkungan atau ruang pekerjaan akal budi, pada hal akal budi kita sudah dicengkeram nafsu. Usaha itu juga terbimbing oleh nafsu. Karena kita melihat kerugian yang diakibatkan oleh pengaruh nafsu, maka kita ingin menguasai nafsu. Siapa yang rugi? Kita si akal budi, dan siapa yang ingin menguasai nafsu. Juga kita sendiri, si akal budi yang sudah bergelimang nafsu. Jadi, nafsu menguasai nafsu, menguasai hasilnya tentu masih nafsu pula, hanya berbeda nama, akan tetapi pada hakekatnya sama, yaitu nafsu yang ingin menyenangkan diri sendiri, ingin menjauhkan diri dari kesusahan, ingin ini dan ingin itu yang pamrihnya pementingan diri. Usaha itu hanya akan mendatangkan hal yang nampaknya berhasil, namun pada luarnya saja. Kalau sekali waktu kebutuhan mendesak, nafsu yang nampaknya dapat "ditidurkan"

Melalui semua usaha itu, akan bangun kembali bahkan lebih kuat dari pada yang sudah!

Satu-satunya kekuasaan yang akan mampu mengatur nafsu dan mendudukkan kembali nafsu di tempat yang sebenarnya sebagai abdi-abdi jiwa dalam kehidupan manusia, hanyalah kekuasaan Sang Pencipta, yang menciptakan nafsu itu.

Karena itu, kita hanya dapat menyerahkan diri kepada Tuhan Maha Kasih, penyerahan total yang penuh kesabaran, ketawakalan dan keikhlasan.

Kekuasaan Tuhan yang akan bekerja dalam diri kita.

Nafsu-nafsu, termasuk nafsu berahi, akan tetap bekerja, namun sebagai pembantu yang setia, bukan sebagai majikan yang kejam."

Sin Wan mengangguk-angguk.

"Kalau sudah begitu, maka perjodohan akan menjadi indah dan penuh kebahagiaan, locianpwe?"

"Ho..ho..heh..heh, nanti dulu, orang muda! Perjodohan adalah suatu segi kehidupan yang paling rumit! Bercampurnya dua orang manusia yang berbeda watak dan selera, berbeda keturunan, untuk hidup bersama selamanya, dalam sebuah pernikahan, dimaksudkan untuk bersama-sama membangun keluarga, terutama sekali bersama-sama merawat dan mendidik anak-anak yang lahir dari pernikahan itu. Dan mempertahankan kebersamaan selama puluhan tahun antara kedua orang manusia ini membutuhkan kepribadian yang luhur dan kesadaran serta kebijaksanaan yang tinggi. Apakah cukup dengan cinta kasih saja? Memang itulah dasarnya, akan tetapi tidak cukup dengan itu, Sin Wan. Di samping kasih sayang, harus pula terdapat kebijaksanaan, kesetiaan, bertanggung jawab dan memenuhi kewajiban masing-masing. Kewajiban sebagai seorang suami atau isteri kemudian kewajiban sebagai seorang ayah atau ibu. Dan semua itu baru akan berjalan mulus kalau didasari penyerahan kepada Tuhan sehingga kekuasaan Tuhan yang akan menjadi penuntun dan pembimbing."

Percakapan terhenti karena munculnya Kui Siang.

Gadis itu nampak segar walaupun kedua matanya masih kemerahan.

Wajahnya tidak pucat lagi dan bibirnya tersenyum manis, wajahnya cerah.

Gadis itu membelalakkan mata terkejut gembira melihat meja penuh hidangan yang masih panas.

"Aih, benar-benar locianpwe mengadakan pesta!"

Serunya sambil duduk di sebelah Sin Wan seperti biasanya menghadapi meja makan.

"Tentu saja! Peristiwa menggembirakan harus disambut dan dirayakan!"

"Peristiwa menggembirakan yang manakah locianpwe?"

"Heh..heh, Kui Siang, masih pura-purakah engkau? Tentu saja peristiwa menggembirakan antara kalian, pertunangan kalian!"

Wajah gadis itu berubah merah sekali dan ia menundukkan muka sambil mengerling ke arah Sin Wan.

"Sumoi, locianpwe telah mengetahui apa yang terjadi antara kita. Beliau seperti guru kita sendiri, tidak perlu lagi kita bersungkan kepadanya."

"Heh-heh, benar sekali itu, Kui Siang. Bahkan aku kelak ingin mewakili Sin Wan mengajukan pinangan atas dirimu kepada keluargamu di kota raja."

Kui Siang bangkit dan memberi hormat kepada kakek itu.

"Terima kasih atas kebaikan budimu, locianpwe. Akan tetapi, sebaiknya hal itu tidak usah kita bicarakan sekarang."

Gadis yang bijaksana, pikir Sin Wan bangga.

"Ha, engkau benar. Mari kita makan minum dan bergembira."

Mereka makan minum dan saling memberi selamat melalui cawan arak. Setelah selesai makan, mereka bercakap-cakap dan Sin Wan berkata.

"Locianpwe, saya kira pertemuan yang akan diadakan untuk memilih pimpinan kai-pang ini akan menjadi ramai. Apakah locianpwe sudah mendapatkan keterangan tentang tempat dan waktunya?"

Tanya Sin Wan.

"Sudah, akan diadakan nanti lewat tengah hari, dan tempatnya di gedung milik pemerintah, yaitu di gedung pertemuan bagian dari bangunan gedung kepala daerah Lok-yang."

Sin Wan memandang heran.

"Di gedung pemerintah?"

"Tentu saja, dan aku girang sekali dengan itu, Sin Wan. Agaknya pemerintah mencampuri dan pemerintah benar-benar ingin melihat para kai-pang menggalang persatuan. Hal ini membangkitkan semangatku, karena dengan bantuan dan kerja sama dengan pemerintah, maka persatuan itu akan lebih mudah dipulihkan seperti jaman perjuangan melawan penjajah Mongol."

"Akan tetapi, saya kira tidak akan semudah itu, locianpwe,"

Kata Sin Wan.

"Saya kira Bi-coa Sian-li akan hadir, dan saya melihat pula seorang muda, mungkin berkebangsaan Jepang, yang memiliki kepandaian lihai sekali. Anak buahnya pandai menggunakan jala sebagai senjata."

"Ahhh? Bi-coa Sian-li muncul, mungkin ia mewakili ayahnya, yaitu See-thian Coa-ong, dan kalau muncul pemuda Jepang lihai dan orang-orang yang pandai menggunakan jala, tentu mereka itu mewakli golongan bajak yang dikepalai oleh datuk timur Tung-hai-liong! Wah, akan ramai kalau datuk barat dan datuk timur itu muncul. Kita harus bersiap-siap dan mari engkau matangkan latihan ilmu-ilmu yang sudah kuajarkan kepadamu, Sin Wan."

Memang selama ini, hampir setiap kesempatan dipergunakan oleh kakek Bu Lee Ki untuk mengajarkan ilmu-ilmu simpanannya kepada pemuda yang sudah lihai itu.

Ruangan yang luas itu telah penuh orang yang pakaiannya aneh-aneh.

Demikian banyaknya orang yang hadir, tidak kurang dari limapuluh orang, dan mereka semua memakai pakaian yang pasti ada tambalannya!

Ada pakaian kembang-kembang, ada pakaian warna-warni yang kainnya masih baru, akan tetapi tetap saja ada tambalan pada pakaian itu.

Inilah tandanya bahwa mereka itu adalah orang-orang kai-pang (perkumpulan pengemis).

Tentu saja yang hadir hanyalah para pimpinan, maka mereka yang berada di ruangan itu adalah orang-orang yang lihai.

Di antara semua kai-pang yang diwakili pimpinan masing-masing, yang menonjol penampilannya hanya empat rombongan, yaitu rombongan Ang-kin Kai-pang yang menjadi pimpinan seluruh kai-pang di daerah utara dan dipimpin oleh Thio Sam Ki dan Ciok An, Lam-kiang Kai-pang perkumpulan terbesar dari selatan yang dipimpin oleh ketuanya yang bernama Kwee Cin, lalu perkumpulan terbesar di timur Hwa I Kai-pang yang dipimpin oleh ketuanya yang bernama Siok Cu yang diikuti beberapa orang, di antaranya seorang pemuda Jepang yang pakaiannya menyolok karena berbeda dengan pakaian para pimpinan kai-pang, kemudian dari barat Hek I Kai-pang yang dipimpin ketuanya, Souw Kiat yang ditemani pula oleh dua orang wanita yang tentu saja amat menarik perhatian semua orang karena dua orang wanita itu selain cantik jelita, juga pakaian mereka sama sekali tidak menunjukkan bahwa mereka adalah golongan pengemis!

Selain para pimpinan empat kai-pang itu, semua adalah pimpinan para kai-pang yang lebih kecil dan yang dalam banyak hal mengekor saja kepada empat kai-pang besar itu.

Karena rapat besar itu diadakan di Lok-yang, di mana yang berkuasa adalah Hwa I Kai-pang, maka perkumpulan inilah yang bertindak sebagai tuan rumah, bahkan kepala daerah Lok-yang meminjamkan gedung pertemuan itupun kepada Hwa I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang).

Siok-Pangcu (Ketua Siok) yang bertubuh pendek gemuk, yaitu Siok Cu ketua Hwa I Kai-pang, duduk di bagian tuan rumah, ditemani lima orang pembantu ketua dan pemuda Jepang yang menjadi tamu kehormatan.

Pemuda itu bukan lain adalah Maniyoko, murid Tung-hai-liong yang mewakili gurunya untuk merebut pimpinan para kai-pang agar kelak dalam pemilihan Beng-cu (pemimpin rakyat) Tung-hai-liong Ouwyang Cin memperoleh dukungan dari para kai-pang.

Menghadapi datuk timur itu, Siok Cu dan para pimpinan Hwa I Kai-pang tidak mampu melawan dan terpaksa diapun menyerah, walau dalam hati para pimpinan kai-pang tentu saja tidak suka melihat para kai-pang dipimpin oleh seorang yang bukan golongan pengemis, apa lagi seorang Jepang!

Mereka setuju setelah mendengar bahwa Tung-hai-liong dan muridnya sama sekali tidak menginginkan pimpinan kai-pang, melainkan hanya membutuhkan dukungan kai-pang agar kelak dapat menjadi calon beng-cu yang memimpin seluruh dunia persilatan seperti dikehendaki pemerintah.

Kalau kedudukan beng-cu sudah diperoleh, tentu saja Tung-hai-liong dan muridnya tidak suka menjadi pemimpin para pengemis!

Siok Cu sebagai tuan rumah bangkit berdiri dan dia memperkenalkan dua orang yang berpakaian perwira tinggi dan yang duduk di tempat kehormatan dekat rombongannya.

"Kedua orang ciang-kun ini adalah wakil dari pemerintah, dikirim oleh kepala daerah untuk menyaksikan pemilihan pimpinan para kai-pang agar berjalan dengan tertib. Sekarang kami harap saudara sekalian suka mengajukan calon masing-masing, setelah semua calon diajukan, baru kita akan mengadakan pemilihan dan pemungutan suara."

Souw Kiat, ketua Hek I Kai-pang yang mewakili para kai-pang dari daerah barat bangkit berdiri.

"Kami mengajukan usul agar pemilihan seorang pemimpin besar kai-pang bukan hanya berdasarkan banyaknya suara pemilih karena hal itu dapat saja diatur lebih dahulu. Yang penting, seorang pemimpin baru dapat kita hormati dan taati kalau dia berwibawa dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka dia harus lebih lihai dari para calon lainnya. Jadi, harus diadakan adu kepandaian untuk menentukan pemenangnya!"

Siok Cu yang sudah mendapat perintah dari Maniyoko, bangkit dan menyatakan persetujuan.

"Kami dari Hwa I Kai-pang dan para kai-pang di daerah timur setuju dengan usul dari Hek I Kai-pang. Bagaimana dengan para saudara dari selatan dan utara?"

Kwee Cin, ketua Lam-kiang Kai-pang dari selatan, bangkit.

"Sebelum dilakukan pemilihan, kami ingin bertanya, mengapa diadakan pemilihan lagi kalau kita dahulu sudah mempunyai seorang pimpinan? Bukankah semua kai-pang sudah mempunyai pimpinan, yaitu locianpwe Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki? Bukankah beliau yang dahulu memimpin kita semua membantu perjuangan mengenyahkan penjajah Mongol? Biarpun sudah bertahun-tahun beliau tidak aktip, akan tetapi beliau belum berhenti atau diperhentikan sebagai pimpinan, kenapa sekarang kita melakukan pemilihan pimpinan baru?"

Mendengar ini, Thio Sam Ki bangkit berdiri pula dan mengacungkan tangan.

"Kami dari utara juga setuju dengan pendapat ketua Lam-kiang Kai-pang tadi. Kami mempertahankan locianpwe Pek-sim Lo-kai sebagal pimpinan para kai-pang!"

Ucapan kedua orang ketua itu disambut meriah dan ternyata sebagian besar para pangcu yang hadir menyetujui pendapat itu. Souw Kiat yang sudah ditekan oleh Bi-coa Sian-li, membantah.

"Sudah bertahun-tahun sejak penjajah kalah, Pek-sim Lo-kai menghilang. Kita tidak tahu apakah beliau masih hidup ataukah sudah mati. Bagaimana kita dapat bersatu tanpa pimpinan? Kita harus mengadakan pemilihan pimpinan baru."

"Kami setuju! Andaikata Pek-sim Lo-kai masih hiduppun, jelas dia telah meninggalkan kewajibannya, telah mengacuhkan kita semua. Tidak pantas dia dipertahankan,"

Kata Siok Cu dari Hwa I Kai-pang yang sudah terpengaruh oleh Maniyoko.

Diam-diam Thio Sam Ki dan wakilnya, Ciok An, memandang ke sekeliling dengan gelisah.

Kenapa orang yang mereka tunggu-tunggu tidak muncul?

Bagaimana mungkin mereka dapat mempertahankan dan menjagoi Pek-sim Lo-kai kalau orangnya tidak hadir?

Akan tetapi, ketika semua pangcu dipersilakan mengajukan nama calon masing-masing, Ang-kin Kai-pang tetap mengajukan nama Pek-sim Lo-kai sebagai calon.

Juga Kwee Cin ketua Lam-kiang Kai-pang berkeras menjagoi dan mempertahankan Pek-sim Lo-kai.

Siok Cu sebagai tuan rumah dan penyelenggara rapat, lalu mengumumkan dengan suara lantang bahwa yang diajukan oleh para peserta rapat ada enam calon.

Pertama adalah Pek-sim Lo-kai yang tidak hadir akan tetapi ketika nama ini diumumkan, lebih dari separuh jumlah yang hadir menyambut dengan tepuk tangan.

Calon kedua adalah Maniyoko murid dari Tung-hai-liong Ouwyang Cin, datuk timur yang namanya sudah dikenal semua orang."

"Kami tidak setuju!"

Seru Thio Sam Ki.

"Bukan kami memandang remeh kepada locianpwe Tung-hai-liong Ouwyang Cin, akan tetapi beliau dan muridnya bukan golongan pengemis, bagaimana mungkin menjadi pemimpin kita?"

"Thio-pangcu, pengemis atau bukan hanya ditandai oleh pakaiannya, apa sukarnya bagi calon kami untuk mengenakan pakaian pengemis? Yang penting bukan pakaiannya, akan tetapi kepandaiannya dan kemampuannya! Kami melanjutkan dengan calon-calon yang lain,"

Kata Siok Cu dengan lantang.

"Calon ke tiga adalah Bi-coa Sian-li Cu Sui In puteri dari locianpwe See-thian Coa-ong Cu Kiat."

"Wah, kami keberatan! kini Kwee Cin ketua Lam-kiang Kai-pang.

"Bagaimana mungkin kita akan dipimpin seorang wanita? Kami semua sudah mengenal nama Bi-coa Sian-li, apalagi See-thian Coa-ong, akan tetapi mereka adalah golongan lain, tidak ada sangkut-pautnya dengan para kai-pang!"

Souw Kiat bangkit dan membela calonnya, tentu saja karena dia ditekan oleh Sui In.

"Seperti juga calon kedua tadi, calon ketiga pun pantas menjadi pemimpin karena kemampuannya. Untuk apa dipimpin seorang berpakaian pengemis kalau dia tidak mampu? Siok Pangcu, lanjutkan dengan nama para calon lainnya!"

Ada tiga orang calon lainnya yang diajukan oleh para kai-pang.

Mereka adalah tiga orang pengemis berusia enampuluhan tahun yang merupakan tokoh-tokoh dalam dunia pengemis, dihormati karena mereka adalah orang-orang yang gagah walaupun mereka tidak pernah mau menjabat kedudukan ketua.

Mereka adalah orang-orang yang hanya dikenal julukan mereka saja di dunia para pengemis, yaitu Koai-tung Lo-kai (Pengemis Tua Tongkat Aneh), Hek-bin Lo-kai (Pengemis Tua Muka Hitam) dan Ta-kau Sin-kai (Pengemis Sakti Pemukul Anjing).

Mereka adalah pengemis-pengemis petualang yang tidak tergabung dalam salah satu kai-pang, nama mereka dikenal dan dihormati semua pengemis.

Para calon dipersilakan naik ke panggung yang sudah dipersiapkan diruangan itu dan begitu mereka berdiri berjajar, nampaklah perbedaan yang menyolok.

Tiga orang calon yang berpakaian butut adalak kakek-kakek tua yang nampak buruk sekali diapit dua orang muda yang elok.

Maniyoko yang berdiri di ujung kiri nampak tampan walaupun agak pendek, dan gagah dengan cambang tebal sampai dagu dan pedang samurai tergantung di belakang punggung.

Sedangkan di ujung kanan berdiri seorang gadis yang amat cantik, yang bukan lain adalah Lili!

Begitu maju, ia tadi berkata dengan suara lantang kepada semua yang hadir.

"Aku Tang Bwe Li mewakili suci (kakak seperguruan) Cu Sui In untuk mengalahkan semua calon!"

Sambil berkata demikian, ia memandang kepada Maniyoko dengan sinar mata mencorong penuh kebencian, dan sinar mata itu jelas menyatakan betapa Lili ingin membalas dendam karena ia pernah dicurangi, dikeroyok dan ditangkap oleh pemuda Jepang itu!

Pemuda itu tersenyum saja, senyum tenang mengejek karena dia sama sekali tidak gentar menghadapi gadis cantik itu.

Melihat ini, Thio Sam Ki segera bangkit dan berteriak.

"Ini sudah menyalahi peraturan! Calonnya sendiri yang harus maju, tidak boleh diwakili orang lain!"

Lili memandang kepada ketua Ang-kin Kai-pang itu dan tersenyum manis, lalu berkata lantang.

"Pangcu, engkau sendiri mengajukan Pek-sim Lo-kai sebagai calon, mana orangnya? Suci terlalu tangguh untuk dihadapi calon-calon ini. Akupun sudah cukup. Nanti kalau Pek-sim Lo-kai sendiri muncul, barulah ada harganya untuk menandingi suciku!"

Siok-Pangcu menengahi dan mengijinkan Lili mewakill sucinya, dengan catatan bahwa kalau Lili kalah, berarti sucinya dinyatakan gagal.

Kemudian dia membuat undian dan memang sudah diaturnya, yang keluar sebagai orang-orang yang harus bertanding pertama kali adalah Maniyoko melawan Koai-tung Lo-kai.

Sebelum pertandingan pertama dimulai, dia mengumumkan.

"Karena seorang calon tidak hadir, maka namanya dicoret dari daftar calon terpilih!"

"Nanti dulu, kami tidak setuju!"

Teriak Thio Sam Ki.

"Kami yang menanggung bahwa Pek-sim Lo-kal pasti akan hadir. Kalau pertandingan ini selesai dan beliau belum hadir, boleh saja beliau dinyatakan gagal!"

Para pendukung Pek-sim Lo-kai memberikan suara setuju mereka dan terpaksa Siok Cu mengalah dan menerima usul itu.

Pertandingan antara Maniyoko dan Koai-tung Lo-kai segera dimulai dan para calon lain kembali ke tempat duduk masing-masing.

Maniyoko bertangan kosong saja menghadapi Koai-tung Lo-kai yang mempergunakan tongkatnya.

Sebetulnya, Koai-tung Lo-kai, seperti dua orang kakek pengemis lainnya, tidak berambisi untuk menjadi pimpinan kai-pang.

Akan tetapi orang yang mereka pandang dan harapkan, yaitu Pek-sim Lo-kai, tidak hadir.

Terpaksa mereka maju, bukan saja untuk memenuhi pilihan para kai-pang, juga untuk mencegah agar dua orang muda itu tidak sampai merebut kedudukan pemimpin kai-pang!

Akan tetapi ternyata tingkat kepandaian Koai-tung Lo-kai yang hanya lebih sedikit dibandingkan tingkat para ketua kai-pang, bukan lawan Maniyoko yang lihai itu.

Dalam waktu kurang dari duapuluh jurus saja, tongkat di tangan Koai-tung Lo-kai telah dapat dirampas Maniyoko dan sebuah tendangan kilat membuat kakek itu terlempar turun panggung!

Maniyoko tertawa dan melemparkan tongkat itu ke bawah panggung, di mana Koai-tung Lo-kai dibantu bangkit oleh para pengemis yang mencalonkannya.

"Ha..ha..ha, hanya sebegitu saja kepandaian seorang calon yang hendak memimpin para kai-pang di seluruh negeri? Sungguh lucu! Orang begitu lemah bagaimana akan mampu memimpin seluruh kai-pang? Hayo, silakan calon lain maju karena pertandingan yang tadi sama sekali tidak membuat aku berkeringat!"

Kata Maniyoko dengan nada dan lagak sombong.

Hek-bin Lo-kai yang menjadi sahabat baik Koai-tung Lo-kai dan yang memiliki watak keras, mendengar ucapan Maniyoko menjadi marah dan diapun meloncat ke atas panggung.

"Engkau ini orang Jepang berani mencampuri urusan kai-pang dan berlagak sombong! Aku yang akan menghadapimu, keparat!"

Kalau saja tidak ingat bahwa di situ hadir dua orang panglima dari pemerintah dan disitu berkumpul pula seluruh pimpinan kai-pang, tentu Maniyoko sudah menjadi marah dan membunuh kakek bermuka hitam di depannya.

Akan tetapi dia sudah mendapat pesan gurunya agar tidak menimbulkan kekacauan, maka dia tersenyum menghadapi kakek bermuka hitam itu.

"Hek-bin Lo-kai, orang lain boleh merasa gentar melihat mukamu yang hitam menakutkan, akan tetapi aku tidak. Majulah dan perlihatkan kepandaianmu!"

Maniyoko menantang.

Hek-bin Lo-kai mengeluarkan bentakan nyaring dan diapun sudah menyerang dengan tangan kosong.

Dia terkenal sebagai seorang kakek yang memiliki tenaga besar.

Namun, Maniyoko menyambut dengan gerakannya yang amat ringan dan gesit sehingga semua terkaman, hantaman dan tendangan kakek bermuka hitam itu tak pernah menyentuh tubuhnya.

Kembali belasan jurus lewat dan ketika Hek-bin Lo-kai kembali memukul ke arah kepala lawan, Maniyoko merendahkan tubuhnya dan begitu tangan kakek itu meluncur lewat di atas kepalanya, dia menangkap pergelangan tangan kanan kakek itu dan sekali dia membuat gerakan merendah, membalik dan membanting, tubuh kakek itu terlempar keluar panggung dan jatuh terbanting ke atas lantai di bawah panggung!

Terdengar sorak sorai dari para pimpinan Hwa I Kai-pang dan para kai-pang pengikutnya di daerah timur yang menjagoi Maniyoko.

Maniyoko tertawa.

"Masih ada lagikah?"

Teriaknya dengan lagak semakin sombong.

"Orang Jepang, akulah lawanmu!"

Terdengar bentakan dari Ta-kau Sin-kai, kakek pengemis ketiga, meloncat naik ke atas panggung sambil memutar tongkatnya.

Akan tetapi dari lain jurusan, nampak berkelebat bayangan lain dan tahu-tahu di situ telah berdiri Lili!

"Nona, biarkan aku menghajar orang Jepang sombong ini!"

Teriak Ta-kau Sin-kai. Lili tersenyum.

"Kakek pengemis, engkau berjuluk Ta-kau Sin-kai (Pengemis Sakti Pemukul Anjing). Memang dia ini seperti anjing yang layak dipukul, akan tetapi engkau tidak akan menang dan engkau bahkan akan digigit olehnya. Dia ini anjing gila, kalau menggigit berbahaya. Biarlah aku yang akan menghajarnya!"

"Tidak, nona!"

Kata Ta-kau Sin-kai yang merasa penasaran melihat dua orang rekannya tadi dikalahkan, dan dia sudah memutar tongkatnya menyerang Maniyoko.

Akan tetapi, Lili menghadangnya sehingga kini di atas panggung terdapat tiga orang dan suasana menjadi agak kacau.

Kakek itu ingin menyerang Maniyoko, akan tetapi gadis itu selalu menghalanginya.

Tiba-tiba terdengar seruan lantang dari seorang panglima yang hadir di situ.

"Tidak boleh seperti itu! Calon dari daerah timur harap turun karena sudah dua kali bertanding dan biarkan calon dari barat, nona itu bertanding melawan Ta-kau Sin-kai!"

Mendengar ini Maniyoko tertawa dan diapun kembali ke tempat duduknya sehingga Lili berhadapan dengan Ta-kau Sin-kai. Gadis itu cemberut memandang kepada kakek pengemis itu.

"Kek, engkau hanya menghalangi aku untuk menghajar manusia sombong tadi. Kenapa engkau tidak cepat kembali saja ke tempatmu semula dan mengaku kalah!"

Kalau tadi Ta-kau Sin-kai marah kepada Maniyoko, kini menghadapi Lili dia tersenyum.

"Nona, aku biarpun tua telah dipilih oleh beberapa pimpinan kai-pang, bagaimanapun juga, aku harus menghargai mereka dan berusaha untuk memenangkan pemilihan ini. Nah, marilah kita menguji kepandaian masing-masing nona."

"Hemm, engkau mencari penyakit. Lihat seranganku!"

Kata Lili dan tubuhnya sudah bergerak cepat, bagaikan seekor ular saja tangan kirinya sudah meluncur ke depan, tangannya membentuk kepala ular dan tangan itu menyambar ke arah muka Ta-kau Sin-kai.

Kakek itu mengelak dengan kaget, akan tetapi tangan kanan gadis itu menyusul dan serangannya bertubi-tubi, seperti dua ekor ular yang menyerang bergantian, semua serangan ditujukan ke arah jalan darah, merupakan totokan yang amat cepat.

Saking cepatnya gerakan kdua tangan Lili, kakek itu sama sekali tidak mampu membalas, hanya mengelak dan akhirnya terpaksa dia menangkis dengan tongkatnya.

Tidak mungkin dia menggunakan ilmunya memukul anjing karena yang dihadapinya adalah lawan yang gerakannya seperti ular!

Dan ketika dia menangkis, itulah kesalahannya karena memang Lili menghendaki lawan menangkis.

"Plakkk!"

Tongkat bertemu tangan yang membentuk kepala ular dan seperti seekor ular, pergelangan tangan gadis itu memutar dan tahu-tahu tongkat itu telah terbelit pergelangan dan tangan, lalu tangan kirinya menotok ke depan.

Ta-kau Sin-kai terkejut karena tahu-tahu tubuhnya menjadi kaku tak mampu bergerak, sedangkan tongkatnya berpindah tangan!

Dia menjadi pucat, maklum bahwa dia akan menderita malu, akan tetapi gadis itu berseru.

"Terimalah kembali tongkatmu!"

Dan tongkat itu bergerak cepat memulihkan totokannya dan telah berada di tangannya kembali!

Tentu saja dia menjadi kagum dan maklum bahwa tingkat kepandaian gadis ini luar biasa tingginya, dan sama sekali bukan lawannya.

Dengan muka merah dia lalu memberi hormat.

"Aku mengaku kalah!"

Diapun melompat turun dari panggung dengan hati bersyukur karena gadis itu telah menghindarkan ia dari malu.

Kalau bukan orang yang berniat baik, tentu dia telah dibunuh atau setidaknya dilukai, demikian pikir Ta-kau Sin-kai.

Pada saat Lili hendak menantang Maniyoko sebagai lawan tunggal, tiba-tiba suasana menjadi kacau dan semua orang berdiri memandang ke arah tiga orang yang baru masuk.

"Pek-sim Lo-kai telah tiba!"

"Hidup Thai-pangcu ( Ketua Besar)!"

"Pimpinan kita telah kembali!"

Teriakan-teriakan penuh kegembiraan menyambut munculnya Bu Lee Ki yang diiringkan Sin Wan dan Kui Siang.

Ketika Lili melihat munculnya Sin Wan, wajahnya berubah merah.

Tadi ia sudah menyatakan bahwa ia mewakili sucinya yang hanya pantas keluar turun tangan sendiri kalau Pek-sim Lo-kai muncul, maka kini ia menjadi bingung dan ia segera meloncat mendekati sucinya yang juga memandang tajam ke arah kakek yang memasuki ruangan itu sambil tersenyum-senyum penuh keharuan.

Memang hati Bu Lee Ki terharu melihat penyambutan itu, tanda bahwa dia masih dihargai dan diharapkan kepimpinannya.

Sementara itu, melihat munculnya orang yang tidak disangka-sangkanya itu.

Maniyoko sudah meloncat ke tengah panggung.

"Tadi Pek-sim Lo-kai dicalonkan menjadi pemimpin baru, sekarang aku menantangnya untuk tampil ke depan mengadu kepandaian!"

Teriakan ini disambut oleh para pendukungnya.

Para pendukung adalah mereka yang merasa telah melakukan penyelewengan sehingga mereka khawatir bahwa kalau Pek-sim Lo-kai yang terkenal keras berdisiplin menduduki jabatannya kembali, tentu mereka akan dihukum atau setidaknya, tidak akan bebas melakukan apa yang mereka suka.

Melihat pemuda Jepang yang pernah dihadapinya untuk menolong Lili yang tertawan, Sin Wan berbisik kepada Bu Lee Ki.

Kakek itu mengangkat muka memandang dan dia mengangguk.

Dengan tenang Sin Wan lalu menghampiri panggung dan melompat ke atasnya, berhadapan dengan Maniyoko.

Sin Wan menghadap ke arah rombongan tuan rumah, lalu memberi hormat ke sekeliling.

Dia bersama sumoinya dan kakek Bu Lee Ki sejak tadi mengintai dan sudah mendengar dan melihat apa yang terjadi, dan baru muncul setelah kakek itu memberi isarat.

"Cu-wi (anda sekalian) hendaknya mengenal saya sebagai wakil locianpwe Pek-sim Lo-kai menghadapi pemuda Jepang ini! Beliau terlalu tinggi kedudukannya untuk melayani segala macam pengacau seperti ini."

Mendengar ini, Maniyoko menjadi marah sekali.

"Singgg ......!!"

Nampak sinar menyilaukan mata ketika pedang samurai di punggung itu dicabutnya.

"Keparat sombong, keluarkan Senjatamu!"

Bentak Maniyoko sambil mengelebatkan pedangnya yang amat tajam menyeramkan itu.

Sin Wan yang sudah tahu akan kedahsyatan ilmu pedang lawan, mencabut pedangnya dan semua orang tertegun.

Sebatang pedang yang buruk dan tumpul.

Melihat ini, para pendukung Maniyoko tertawa dan ada yang berteriak mengejek.

"Pedang Tumpul! Pedang Tumpul yang buruk!"

Kakek Bu Lee Ki yang sudah disambut dengan hormat oleh Thio Sam Ki dan Kwee Cin ketua Lam-kiang Kai-pang, dipersilakan duduk, kini berseru dari tempat duduknya.

"Ha..ha, memang dia itu Pendekar Pedang Tumpul, dan jangan pandang rendah pedangnya itu heh..heh!"

Akan tetapi Maniyoko sudah mempergunakan kesempatan yang menguntungkan itu, selagi para pendukungnya mengejek dan mentertawakan lawan, dengan cepat berteriak.

"Sambut pedangku!"

Dan diapun menyerang dengan dahsyatnya.

Sin Wan cukup waspada dan diapun mengelak dengan geseran kakinya.

Maniyoko sudah pernah menyerang Sin Wan dan tahu akan kecepatan gerakan pemuda ini, maka dia tidak mau memberi kesempatan kepada lawan.

Samurainya menyambar-nyambar, sambung menyambung dan setiap kali samurainya luput menyambar lawan, pedang itu sudah membalik dengan serangan yang lebih hebat.

Dia mempergunakan kedua tangannya dan mengerahkan seluruh tenaga sehingga terdengar bunyi berdesing-desing ketika samurai itu berubah menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar.

Karena dia belum mengenal ilmu pedang lawan yang aneh Sin Wan lalu mempergunakan ilmu langkah ajaib yang baru-baru ini dipelajarinya dari kakek Bu Lee Ki, yaitu Langkah Angin Puyuh, membuat tubuhnya berputar-putar dengan cepat akan tetapi selalu dapat menghindar dari sambaran pedang samurai itu.

Setelah lewat belasan jurus, Sin Wan dapat melihat jalannya ilmu pedang lawan, bahkan mengetahui bagian-bagiannya yang lemah.

Setelah yakin bahwa dia dapat mengetahui ilmu pedang lawan, barulah pedang tumpul di tangannya menyambar dari samping.

"Tangggg .......!!!"

Nampak bunga api berpijar dan nampak pula betapa tubuh Maniyoko hampir terpelanting.

Dia terhuyung, akan tetapi dengan cekatan dia dapat berjungkir balik tiga kali sehingga tidak sampai terbanting roboh.

Cepat dia memeriksa samurainya dan matanya terbelalak melihat betapa ujung samurainya patah beberapa sentimeter!

Samurainya dapat patah!

Hanya oleh pedang tumpul dan buruk saja!

Kalau tidak mengalaminya sendiri, pasti dia tidak akan percaya.

Akan tetapi di samping kekagetan dan keheranan ini, Maniyoko menjadi marah bukan main.

"HYAAAATTT "".!!"

Dia mengeluarkan pekik melengking panjang dan tubuhnya sudah menerjang dengan cepat, menyerang dengan samurainya yang menyambar ke arah leher Sin Wan.

"Singgg ""

Singgg ""

Singgg ""..!!"

Pedang samurai itu menyambar-nyambar dan biarpun ujungnya sudah patah, namun senjata itu masih berbahaya sekali.

Jangankan tubuh seorang manusia, biar sebatang pohon yang kokohpun, sekali terkena sambaran samurai ini tentu akan tumbang!

Namun, Sin Wan yang sudah waspada, menggunakan kecepatan gerakannya mengelak dan ketika dia berhasil berkelebat ke samping kiri Maniyoko, pedang tumpulnya menusuk dan karena pedang itu tumpul, maka dapat dia pergunakan untuk menotok punggung lawan.

"Dukkk!"

Maniyoko merasa betapa tubuhnya kejang-kejang.

Dia berusaha untuk membuyarkan pengaruh totokan itu dengan bergulingan.

Tubuhnya bergulingan dan akhirnya dia jatuh ke bawah panggung dan samurainya terlepas ketika dia terjatuh, dan tubuhnya masih lemas sehingga dia perlu dibantu oleh para anak buahnya, dipapah kembali ke tempat duduknya.

Matanya melotot dan mukanya berubah merah, apalagi ketika terdengar suara sorak dan tepuk tangan meledak, menyambut kemenangan pemuda yang mewakili Pek-sim Lo-kai itu.

"Hidup Pendekar Pedang Tumpul "".!!"

Teriak mereka.

Pada saat itu, nampak bayangan berkelebat dan Lili telah berdiri di depan Sin Wan.

Semua orang memandang dengan hati berdebar penuh ketegangan.

Mereka tadi sudah melihat kelihaian gadis cantik itu yang dengan amat mudahnya mengalahkan kakek pengemis Ta-kau Sin-kai yang terkenal.

Sementara itu, Sin-Wan menghadapi Lili dengan alis berkerut pula.

Sama sekaii tidak disangkanya bahwa gadis ini terlibat pula dalam urusan pemilihan pimpinan kai-pang, dan diapun melihat Bi-coa Sian-li hadir di sana.

"Hemm, kiranya engkau Pendekar Pedang Tumpul yang ingin menjadi pemimpin kaum jembel, ya?"

Lili berkata mengejek.

"Lili, mungkin kehadiranku sama dengan kehadiranmu, hanya menjadi wakil. Kuharap engkau tidak menentangku, karena kiranya kurang pantas kalau seorang gadis seperti engkau ikut terlibat dalam pemilihan pemimpin kai-pang seperti ini."

"Sin Wan, tidak perlu banyak cakap lagi!"

Kata Lili dengan muka merah.

"Ada tiga perkara yang mengharuskan aku menentangmu dan di sinilah kita akan menentukan siapa lebih unggul. Pertama, engkau tadi lancang maju melawan si Jepang itu sehingga aku kehilangan kesempatan menghajarnya. Ke dua, engkau dan aku sama-sama mewakili calon pemimpin kai-pang, dan ke tiga, karena aku ...... aku benci padamu! Nah, cabutlah pedangmu!"

Gadis itu sudah mencabut sebatang pedang dan nampak sinar putih berkelebat menyilaukan mata.

Sin Wan tadi telah menyarungkan kembali pedangnya setelah mengalahkan Maniyoko, sekarang dia ragu-ragu untuh mencabut pedang melawan Lili, gadis yang mendatangkan kesan mendalam di hatinya itu.

Melihat keraguan Sin Wan sedangkan gadis itu sudah mencabut pedang dan siap siaga, Kui Siang yang sejak tadi memandang penuh perhatian karena ia mengenal gadis itu sebagai gadis yang pernah dilihatnya tertidur di pangkuan Sin Wan, segera berseru dari tempat duduknya.

"Suheng, kalau engkau lelah, biar aku yang mewakilimu menghadapinya!"

Sin Wan terkejut.

Dia teringat betapa sumoinya pernah melihat Lili, bahkan sampai cemburu, maka kalau sumoinya yang maju, tentu akan terjadi pertandingan mati-matian.

Tidak, dia tidak boleh membiarkan dua orang gadis itu berhadapan sebagai lawan, maka cepat dia mencabut pedangnya dan menoleh ke arah Kui Siang.

"Sumoi, tidak perlu engkau turun tangan. Aku yang mewakili Bu-locianpwe,"

Katanya sambil menghadapi Lili dengan sikap tenang.

"Kalau engkau mendesak, apa boleh buat. Majulah, aku sudah siap."

"Sin Wan, sekali ini engkau akan mati ditanganku!"

Gadis itu berseru penuh kemarahan.

Akan tetapi aneh, suaranya lirih dan mengandung suara serak seperti isak tertahan!

Akan tetapi pada saat itu, sinar putih menyambar-nyambar dan sinar itu bergulung-gulung dengan dahsyat sekali.

Sin Wan bersikap waspada dan diapun berloncatan ke belakang sambil mengatur langkah untuk menghindarkan diri.

Diapun kagum dan terkejut.

Pedang putih yang dimainkan gadis itu memang hebat bukan main, seperti gerakan seekor ular yang amat ganas!"

Itulah Pek-coa-Kiam-sut (Ilmu Pedang Ular Putih) yang biarpun pada dasarnya sama dengan Ilmu pedang Hek-coa Kiam-sut (Iimu Pedang Ular Hitam) yang dikuasai Cu Sui In, akan tetapi ilmu pedang ciptaan See-thian Coa-ong ini dapat berkembang sesuai dengan watak orang yang menguasainya.

Dasarnya adalah gerakan ular cobra dan setelah dikuasai Lili, maka gerakan itu mengandung keganasan yang terbuka, sebaliknya Sui In mempunyai gerakan yang penuh tipu muslihat.

Bagaimanapun juga, karena diciptakan seorang ahli yang amat lihai, maka ilmu pedang itu dahsyat sekali dan mengejutkan hati Sin Wan.

Namun, pemuda ini telah menerima gemblengan yang masak dari Sam-sian, apalagi setelah mengusai Sam-sian Sin-kun, maka Sin Wan seolah-olah kini teiah menguasai kepandaian ketiga orang gurunya digabung menjadi satu!

Ini semua masih disempurnakan oleh gemblengan kakek Bu Lee Ki yang walaupun hanya mengajarnya selama beberapa hari saja, namun jurus-jurus simpanan yang ampuh telah diajarkan kepada Sin Wan.

Dengan bekal kepandaian yang hebat itu, ditambah sebatang pedang mustika seperti Pedang Tumpul, maka tentu saja tingkat kepandaian Sin Wan sudah mencapai ketinggian yang tidak dapat ditandingi oleh Lili.

Akan tetapi, hati Sin Wan gelisah juga.

Dia harus menangkan pertandingan ini demi kakek Bu Lee Ki.

Dia harus dapat menangkan Lili, akan tetapi dia tidak ingin menyinggung perasan gadis itu, apa lagi melukainya!

Dia merasa kasihan kepada gadis ini, dan dia dapat merasakan bahwa pada dasarnya, Lili bukanlah seorang gadis yang berhati jahat.

Dia gagah dan baik.

Akan tetapi sikapnya ganas dan hal ini mudah dimengerti kalau gadis itu sejak kecil bergaul dengan seorang datuk sesat seperti Bi-coa Sian-li!

Dia harus memenangkan pertandingan ini tanpa melukai badan dan perasaan hati Lili, dan inilah yang sukar!

Maka, dia lalu memutar pedangnya untuk membuat pertahanan sekuatnya sehingga sinar pedang putih bergulung-gulung itu tidak akan mampu mengenai dirinya sambil diam-diam dia memutar otak menanti kesempatan dan mencari cara yang sebaiknya agar dapat menang tanpa melukai.

Semua orang menonton dengan hati kagum.

Yang nampak hanya dua gulungan sinar, yaitu sinar putih yang gerakannya amat lincah, menyambar-nyambar, dan gulungan sinar kehijauan yang membentuk lingkaran.

Indah sekali, akan tetapi juga menegangkan hati.

Akan tetapi yang merasa gemas sehingga hampir menangis adalah Lili!

Ia sudah memainkan Pek-coa-kiam dengan pengerahan tenaga sekuatnya, akan tetapi ia merasa seperti menghadapi benteng baja yang amat kuat, dan ke manapun sinar pedangnya menyambar, selalu bertemu dengan benteng itu dan pedangnya membalik setelah terdengar suara berdencing dan ia merasa betapa telapak tangannya panas dan lengan kanannya tergetar hebat!

Tahulah ia bahwa pemuda itu hanya bertahan diri, tidak membalas serangannya, namun ia kehabisan akal karena pedangnya tidak mampu menembus gulungan sinar kehijauan yang membentuk benteng itu.

Ia tidak akan merasa begitu gemas dan ingin menangis kalau saja Sin Wan mau membalas serangannya.

Memang ia sudah tahu bahwa pemuda ini amat lihai, dan ia tidak akan merasa penasaran kalau kalah, akan tetapi sikap Sin Wan yang hanya bertahan dan membuat ia tidak berdaya itu sungguh dianggapnya terlalu merendahkannya!

Telah hampir limapuluh jurus lewat dan belum juga ujung pedang Lili mampu menyentuh ujung baju Sin Wan!

"Keparat, balaslah!"

Lili menghardik dengan suara berbisik, mendongkol bukan main.

Tubuhnya sudah basah oleh keringat dan napasnya agak memburu karena ia terus menerus melakukan penyerangan dengan nafsu menggelora, penuh kemarahan.

Sejak tadi Sin Wan sudah mempelajari Gerakan yang seperti ular itu, dan dia tahu bahwa hanya dengan gerakan seperti seekor burung dari udara sajalah dia akan mampu mematahkan serangan gadis itu dan membalas dengan serangan yang akan mengalahkannya tanpa melukainya.

Maka, ketika pedang bersinar putih itu menyambar lagi, tubuhnya melayang ke atas, lalu menukik ke bawah dan dia menyerang dengan dahsyat.

Pedang Tumpul di tangannya itu mengeluarkan suara mengaung nyaring.

Lili terkejut sekali dan cepat la memutar pedangnya ke atas, seperti seekor ular cobra yang mengangkat tubuh atas untuk melawan musuh dari atas.

"Trakkkk!"

Pedang di tangan Lili bertemu dengan Pedang Tumpul dan ia tidak dapat menggerakkan pedangnya yang seolah menempel dan tersedot oleh pedang buruk itu, dan pada saat itu, tangan kiri Sin Wan bergerak cepat ke arah kepalanya dan rambut gadis itu yang panjang dan hitam, terlepas dari sanggul dan ikatannya, terurai riap-riapan menutupi kedua pundak dan punggung!

Lili menjerit dan melompat ke belakang, meraba kepalanya.

Ternyata tusuk sanggul batu kemala berikut tali suteranya telah lenyap dan berada di tangan kiri Sin Wan yang sudah meloncat turun dan berdiri tegak di depannya.

Demikian cepat gerakan pemuda itu sehingga jarang ada yang dapat melihat bahwa pemuda ltu telah mencabut tusuk sanggul dan pita.

Mereka yang menonton pertandingan itu hanya melihat betapa rambut gadis itu tiba-tiba saja terurai lepas sehingga pertandingan terhenti.

"Maafkan aku, Lili ......."

Kata Sin Wan lirih.

Wajah gadis itu tadi berubah pucat karena ia tahu apa yang terjadi, kini wajah itu menjadi merah sekali dan ia sudah memutar pedangnya hendak menyerang lagi.

Akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan orang, seperti seekor burung saja bayangan itu melayang ke atas panggung.

"Sumoi, mundurlah .........!"

Dan tahu-tahu di situ telah berdiri Bi-coa Sian-li Cu Sui In.

Lili memandang sucinya, tahu bahwa sucinya memaklumi apa yang telah terjadi, maka dengan alis berkerut ia menatap wajah Sin Wan, lalu terdengar suaranya lirih namun ketus.

"Kelak akan kutebus semua ini!"

Dan iapun meloncat turun dan kembali ke tempat duduknya dengan wajah muram.

"Sin Wan, engkau turunlah!"

Kakek Bu Lee Ki berjalan perlahan menuju ke panggung itu dan Sin Wan mengangguk, lalu mengundurkan diri.

Kini kakek Bu Lee Ki berdiri berhadapan dengan Sui In.

Akan tetapi pada saat itu, dua orang panglima tadi bangkit berdiri dan seorang di antara mereka berseru nyaring.

"Hentikan semua pertandingan!"

Tentu saja Sui In merasa penasaran dan ia memandang kepada mereka itu. Juga kakek Bu Lee Ki memandang kepada mereka. Panglima yang bertubuh tinggi kurus lalu berkata dengan suara lantang.

"Baru saja kami menerima berita bahwa menurut keputusan yang merupakan perintah dari Raja Muda Yung Lo di Peking, kedudukan pemimpin kai-pang diserahkan kembali kepada Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki. Hal itu mengingat bahwa dia yang dahulu menjadi pemimpin, bahkan dia pula yang memimpin seluruh kai-pang menbantu perjuangan mengusir penjajahan Mongol. Dan melihat hasil pertandingan adu kepandaian, ternyata wakil dari Bu-Locianpwe yang menang. Oleh karena itu, kami sebagai wakil pemerintah memutuskan dan menganjurkan agar pertandingan dihentikan dan locianpwe Bu Lee Ki diangkat kembali menjadi pemimpin para kai-pang!"

Terdengar sorak sorai menyambut ucapan ini. Panglima itu mengangkat kedua tangan ke atas dan semua orang berdiam diri.

"Agar pemilihan ini adil, maka kami minta pendapat empat buah kai-pang yang terbesar, yang mewakili seluruh kai-pang di empat penjuru. Ang-kin Kai-pang wakil utara, bagaimana pendapat kalian?"

Thio Sam Ki bangkit berdiri dan mengangkat tangan kanannya.

"Kami setuju sepenuhnya kalau locianpwe Bu Lee Ki menjadi pemimpin kai-pang!"

"Lam-kiang Kai-pang wakil selatan, bagaimana pendapat kalian?"

Kwee Cin bangkit dan dengan wajah berseri berkata.

"Kami setuju!"

"Bagaimana dengan Hek I Kai-pang wakil barat?"

Souw Kiat bangkit dia dengan suara lantang yang mengejutkan Sui In dan Lili, ketua Hek I Kai-pang ini berkata, ''Kami juga setujui"

Ketua Hek I Kai-pang ini bangkit semangatnya dan tidak takut lagi terhadap Sui In setelah melihat munculnya Pek-sim Lo-kai dan Sin Wan yang lihai itu.

"Dan bagaimana dengan Hwa I Kai-pang wakil timur?"

Biarpun dengan terpaksa, Siok Cu juga berseru.

"Kami setuju!"

Dia tadi telah melihat kekalahan Maniyoko, maka biarpun dia takut terhadap guru pemuda itu, akan tetapi di situ ada Pek-sim Lo-kai yang tentu akan melindungi Hwa I Kai-pang kalau diganggu oleh Tung-hai-liong dan anak buahnya.

"Bagus, kalau begitu, dengan suara bulat locianpwe Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki ditetapkan menjadi pemimpin besar para kai-pang kembali!"

Kata panglima itu.

Semua orang bersorak.

Wajah Sui In menjadi merah karena marahnya.

Akan tetapi, ia maklum bahwa kalau sekarang ia menyatakan tidak setuju, maka bukan saja ia akan dimusuhi oleh seluruh kai-pang, bahkan pemerintah juga akan menetapnya sebagai pengacau.

Hal ini tentu saja tidak dikehendaki gurunya.

Maka iapun berkata kepada Bu Lee Ki dengan suara lirih namun penuh tantangan.

"Pek-sim Lo-kai, lain kali aku akan membuat perhitungan denganmu!"

Setelah berkata demikian, iapun melompat turun dan memberi isyarat kepada Lili untuk meninggalkan tempat itu.

Para kai-pang menyambut pengangkatan kembali Bu Lee Ki sebagai pemimpin mereka dengan gembira dan Hwa I Kai-pang yang kini sepenuhnya mendukungnya, mengadakan pesta untuk merayakan peristiwa ini.

Dan baru sekaranglah, semua ketua kai-pang berkumpul dan makan minum bersama dalam suasana yang akrab.

Dua hari kemudian, kakek Bu Lee Ki menemani Sin Wan mengantar Kui Siang ke Nan-king, di mana gadis itu akan menemui keluarganya sebelum kembali ke Peking untuk memenuhi permintaan Raja Muda Yung Lo, yaitu menjadi pengawal keluarga raja muda itu.

Mereka semua berkumpul di gedung yang dahulu menjadi tempat tinggal pembesar Lim Cun.

Tiga orang paman dan dua orang bibi dari ayah dan ibu Kui Siang datang bersama isteri dan suami mereka, bahkan anak-anak mereka sehingga di situ berkumpul tidak kurang dari duapuluh lima orang anggauta keluarga Kui Siang!

Ketika gadis ini menghadap Ciang-Ciangkun dan memperkenalkan diri, Ciang-Ciangkun yang sebelas tahun lalu diserahi oleh Dewa Arak untuk menjaga dan mengurus rumah dan harta peninggalan Lim-Taijin (pembesar Lim) untuk Kui Siang, menyambut gadis itu dengan gembira bukan main.

Dia seorang perwira yang jujur dan amat menghormati Dewa Arak, maka selama sebelas tahun ini dia menjaga rumah keluarga Lim dengan baik, bahkan mempertahankan pelayan-pelayan yang lama di rumah itu, dan menyimpan semua harta peninggalan keluarga itu untuk Kui Siang.

Ciang-Ciangkun pula yang memberi kabar kepada keluarga Kui Siang tentang pulangnya gadis itu sehingga pada malam hari itu, mereka semua datang berkunjung dan berkumpul di rumah gedung yang kini menjadi milik Kui Siang.

Selain para anggauta keluarga, hadir pula di situ Ciang-Ciangkun yang menerima undangan Kui Siang sebagai tamu kehormatan yang telah berjasa besar, dan hadir pula Sin Wan dan kakek Bu Lee Ki.

Kui Siang menyuruh para pelayan yang juga menyambutnya dengan gembira untuk mengatur sebuah pesta untuk merayakan perjumpaan kembali ini.

Gadis yang kini menjadi dewasa dan cantik itu dihujani pertanyaan oleh para paman dan bibinya yang dalam pandangan Sin Wan jelas menunjukkan sikap kebangsawanannya!

Mereka itu rata-rata bersikap angkuh, penuh sopan santun dan semua gerak gerik mereka terkendali dan teratur, membuat dia merasa sungkan dan rikuh.

Tidak demikian dengan Bu Lee Ki yang bersikap biasa saja, minum sesenangnya dan tersenyum-senyum mengacuhkan mereka.

Kui Siang yang merasa kewalahan menghadapi hujan pertanyaan, akhirnya berkata dengan suara lantang kepada mereka semua.

"Para paman dan bibi dan saudara sepupu, saudara misan, aku sampai lupa untuk memperkenalkan dua orang tamu yang datang bersamaku, bahkan yang mengantar aku sampai ke rumah. Perkenalkan, locianpwe ini adalah Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki. Beliau seperti guruku sendiri dan beliau ini adalah pemimpin besar seluruh perkumpulan pengemis di empat penjuru!"

Bu Lee Ki yang diperkenalkan, senyum-senyum saja, mengangkat cawan arak kepada mereka semua lalu minum tanpa memperdulikan kenyataan bahwa tidak ada seorangpun yang menyambutnya.

"Pengemis ........!?"

Terdengar seruan-seruan tertahan dan semua anggauta keluarga itu memandang ke arah Bu Lee Ki dengan alis berkerut dan mereka kelihatan jijik kepada kakek yang berpakaian tambal-tambalan itu.

Diam-diam Sin Wan memperhatikan mereka dan dia merasa perutnya panas.

Betapa sombongnya keluarga ini, pikirnya.

Kakek Bu Lee Ki bahkan pernah menjadi tamu yang dijamu makan minum oleh Raja Muda Yung Lo, pangeran dan putera kaisar!

Akan tetapi orang-orang ini, yang mungkin hanya merupakan bangsawan-bangsawan kecil, bersikap demikian angkuh dan tinggi hati!

Apakah selalu demikian sikap orang yang tanggung-tanggung?

Yang sedikit mempunyai kedudukan menjadi besar kepala, yang mempunyai sedikit kepandaian menjadi sombong dan merasa diri paling pintar, dan seterusnya?

Tentu saja Kui Siang juga melihat dan mendengar sikap dan ucapan para keluarganya itu, akan tetapi ia tidak perduli.

"Dan ini adalah suhengku bernama Sin Wan. Dialah yang telah banyak membantuku selama ini."

Berbeda dengan Bu Lee Ki yang ketika diperkenalkan tetap duduk saja hanya mengangkat cawan ke arah mereka semua, Sin Wan bangkit berdiri, mengangkat ke dua tangan memberi hormat kepada mereka semua.

Hal ini dia lakukan terutama sekali untuk menghargai Kui Siang yang memperkenalkan dia kepada keluarga gadis itu.

Akan tetapi, hanya beberapa orang saja yang membalas penghormatan Sin Wan, itupun hanya dengan anggukan kepala atau senyum.

Bahkan Sin Wan melihat banyak pasang mata pria-pria muda yang menjadi saudara misan Kui Siang memandang kepadanya dengan tak senang.

"Adik Kui Siang,"

Kata seorang pemuda yang usianya sekitar duapuluh lima tahun, tampan dan pesolek.

"kulihat suhengmu ini seperti bukan orang Han, benarkah?"

Kui Siang tersenyum.

"Penglihatanmu tajam, toako (kakak). Memang suheng seorang bersuku Bangsa Uighur."

Kembali banyak di antara mereka saling pandang dan terdengar seruan tertahan seperti tadi, dan terdengar pula kata penuh ragu.

"Uighur .....!?"

Tiba-tiba kakek Bu Lee Ki tertawa bergelak sehingga semua orang memandang kepadanya dengan alis berkerut.

"Ha..ha..ha..ha, aku sudah makan dan minum kenyang, Kui Siang. Karena kini semua keluargamu berkumpul, aku ingin bicara dengan mereka tentang urusanmu dengan Sin Wan."

Tiba-tiba wajah Kui Siang berubah kemerahan dan iapun menundukkan mukanya, mengangguk dan suaranya terdengar lirih.

"Silakan, locianpwe."

Ia melirik ke arah suhengnya dan melihat betapa Sin Wan juga menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan, akan tetapi sepasang alis Sin Wan berkerut karena pemuda ini merasa khawatir sekali.

Bagaimana kakek itu berani membicarakan urusan perjodohan kepada keluarga yang jelas sekali memperlihatkan sikap angkuh dan tidak suka kepada dia dan kakek itu?

Kini Bu Lee Ki bangkit berdiri dan setelah mengamati wajah mereka yang duduk di ruangan itu, lalu tersenyum dan suaranya terdengar lantang.

"Heh.. heh.. heh, tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang merasa menjadi wakil orang tua Lim Kui Siang yang sudah tiada, aku dalam hal ini menjadi wali dari Sin Wan muridku, untuk mengajukan pinangan, yaitu kami ingin menjodohkan Kui Siang dengan Sin Wan. Kami mengharap persetujuan anda sekalian sebagai pengganti keluarga Kui Siang."

Suasana menjadi gaduh sekali setelah kakek itu selesai bicara. Mata dibelalakkan, seruan-seruan protes dan bahkan kemarahan terdengar.

"Gila betul! Berani melamar keponakan kita?"

"Tak tahu diri!"

"Kui Siang dijodohkan dengan seorang Uighur? Tidak!"

Kakek itu terkekeh.

"Heh..heh..heh, begini kacau balau! Aku minta jawaban diwakili seorang saja, kalau mungkin paman tertua dari Kui Siang, agar tidak simpang siur seperti dalam pasar!"

Seorang laki-laki berusia limapuluh tahun lebih bangkit dari duduknya dan sejenak dia memandang ke arah Kui Siang dengan alis berkerut, lalu menghadapi kakek Bu Lee Ki.

Dia seorang laki-laki tinggi kurus yang pakaiannya mewah dan sikapnya seperti bangsawan tulen, dahinya lebar dan ketinggian hatinya nampak pada lekuk bibir dan gerakan cuping hidungnya.

"Kami seluruh keluarga nona Lim Kui Siang menyatakan sepenuhnya menolak pinangan ini!"

Kui Siang mengangkat muka dengan alis berkerut, akan tetapi ia tidak dapat mengeluarkan suara karena tidak ingin memancing keributan di depan Sin Wan dan kakek Bu. Pek-sim Lo-kai terkekeh lagi.

"Heh..heh..heh, tegas dan jelas penolakan itu, akan tetapi setiap penolakan sepatutnya disertai alasannya. Kenapa anda sekalian menolak pinangan kami? Ingat, kedua orang muda itu saling mencinta dan telah bersepakat untuk hidup bersama sebagai suami isteri."

"Tidak!"

Kata laki-laki itu dengan angkuh.

"Kami menolak. Pertama, keponakan kami Kui Siang telah kami jodohkan dengan seorang keponakan kami yang lain. Ke dua Kui Siang tidak akan menikah dengan seorang yang tidak sederajat dengannya. Ke tiga, muridmu, itu adalah seorang Suku Bangsa Uighur, suku asing yang tentu tidak mengenal peradaban Bangsa Han kami! Dan masih banyak lagi alasan kami menolak, akan tetapi sudah cukuplah dan harap jangan bicarakan lagi urusan pinangan yang tak masuk akal itu!"

"Cia-Supek (Uwa Ciu), engkau sungguh melewati batas!"

Tiba-tiba Kui Siang berteriak marah.

"Aku tidak pernah minta engkau atau siapapun mewakili orang tuaku!"

"Sumoi ......!"

Sin Wan memperingatkan sumoinya agar tidak bersikap kasar kepada keluarga sendiri. Teringat akan hal ini, Kui Siang lalu menghadapi Sin Wan dan kakek Bu Lee Ki.

"Harap locianpwe dan suheng suka meninggalkan kami. Malam ini aku akan berurusan dengan mereka ini, dan besok pagi aku akan menemui kalian di rumah penginapan Lok-an."

"Baiklah, sumoi, akan tetapi harap engkau bersabar. Mari, locianpwe, kita pergi mencari kamar di hotel Lok-an!"

Sin Wan mengajak kakek yang tersenyum-senyum itu keluar dari tempat itu, diikuti pandang mata penuh kebencian oleh para keluarga Kui Siang.

Setelah dua orang itu pergi, Kui Siang menyuruh semua pelayan keluar dari dalam ruangan itu.

Kemudian ia menutupkan daun pintu ruangan itu dan dengan mata, mencorong ia memandang kepada semua keluarga yang berkumpul di situ.

"Kalian ini sungguh orang-orang yang tidak sopan! Apakah hak kalian untuk menentukan jalan hidupku? Aku masih menghargai kalian dan malam ini mengumpulkan kalian di sini sebagai keluarga dan tamu yang kuhormati. Akan tetapi ternyata kalian menyia-nyiakan itikad baikku dengan bersikap lancang dan tidak sopan terhadap orang yang kuhormati seperti Bu-locianpwe dan orang yang kucinta seperti suhengku! Kalian tidak berhak mewakili aku menolak secara kasar pinangan mereka terhadap diriku!"

Kui Siang yang biasanya pendiam dan halus itu kini menjadi galak karena merasa sakit hati dan marah, timbul dari perasaan iba terhadap Sin Wan yang mengalami penghinaan dari mereka ini.

"Tapi, Kui Siang! Engkau adalah puteri tunggal mendiang kakanda Lim Cun yang berkedudukan tinggi, seorang bangsawan yang berdarah bersih! Bagaimana kami tidak marah mendengar engkau dilamar seorang pemuda dusun Bangsa Uighur? Itu suatu penghinaan namanya! Suku Uighur tiada bedanya dengar suku-suku liar dan biadab lainnya seperti Mongol, Kasak dan lain-lain. Bukankah ayahmu juga dibunuh oleh si Tangan Api, orang Kasak?"

"Paman Lui!"

Bentak Kui Siang kepada adik ayahnya itu.

"Baik buruknya seseorang bukan ditentukan oleh bangsanya, kedudukannya, kepintarannya atau kekayaannya! Bangsa atau suku apapun berdarah sama, darah manusia, kotor dan bersihnya ditentukan oleh sepak terjangnya dalam hidup! Jangan kalian menghina seorang manusia karena keadaan, lahiriahnya! Banyak sekali bangsawan yang terhormat, pintar dan kaya raya, busuk hatinya, sebaliknya rakyat kecil yang dianggap bodoh dan miskin, berhati mulia!"

Para paman dan bibi itu menjadi ribut-ribut dan suasana menjadi gaduh sekali.

Mereka menganggap Kui Siang seorang gadis yang menyeleweng dan merendahkan keluarga bangsawan sendiri.

Melihat ini, Ciang-ciangkun yang menjadi tamu kehormatan dan bukan anggauta keluarga, segera bangkit berdiri dan berkata dengan nyaring, mengatasi semua kegaduhan.

"Kami mohon diri karena tidak mempunyai sangkut paut dengan urusan keluarga. Banyak terima kasih atas undangan dalam pesta kekeluargaan ini, dan sebagai ucapan selamat tinggal, harus kami nyatakan bahwa kami amat menghormat semua pendapat dalam ucapan nona Kui Siang. Mendiang ayahnya, sahabat baikku Lim Cun, tentu akan merasa bangga kalau mendengar ucapannya tadi, Selamat malam!"

Perwira tinggi itu lalu memberi hormat dan meninggalkan ruangan tamu itu.

Keluarga itu masih terus ribut.

Tak seorangpun di antara mereka yang dapat menyetujui pendapat Kui Siang dan mereka semua berkeras menolak kalau Kui Siang akan berjodoh dengan pemuda Uighur itu.

Satu demi satu para paman dan bibi itu memberi nasihat panjang lebar kepada Kui Siang.

Gadis ini merasa penasaran, sedih dan juga marah.

Ia membiarkan mereka itu bicara sampai habis yang memakan waktu berjam-jam.

Kemudian, setelah semua orang merasa lelah, Kui Siang berkata kepada mereka dengan suara yang tenang karena ia berusaha menguasai hatinya, namun suaranya tegas dan nyaring.

"Paman dan bibi, terima kasih atas semua nasihat dan anjuran kalian yang tentu dilakukan karena rasa sayang kalian kepadaku. Akan tetapi maaf, aku tidak mungkin dapat menyetujui. Bagiku, perjodohan haruslah didasari cinta dan suheng Sin Wan mencintaku seperti juga aku mencintanya. Dan cinta tidak mengenal suku, tidak mengenal bangsa, tidak mengenal derajat dan pangkat, kaya atau miskin, pintar atau bodoh. Tentu para paman dan bibi yang sudah lebih tua dan berpengalaman, maklum akan hal itu."

"Budak Uighur itu mengaku cinta? Hemm, Kui Siang, cintanya itu palsu! Dia tentu saja cinta padamu karena engkau cantik dan terutama karena engkau seorang gadis bangsawan yang kaya raya. Dia mengaku cinta untuk dapat menguasai hartamu!"

Perlahan-lahan Kui Siang bangklt berdiri, wajahnya berubah pucat dan matanya mencorong.

Tak mungkin ia dapat menahan kesabarannya lagi.

Orang-orang ini terlalu menghina Sin Wan!

"Paman, hentikan ucapan kotor itu!"

Bentaknya dan ia memandang kepada mereka semua, satu demi satu dengan sinar mata mencorong.

"Kalian mengukur watak orang lain dengan watak kalian sendiri! Apakah kalian tidak menyadari bahwa sejak dahulu aku telah tahu benar bahwa sesungguhnya kalianlah yang mengincar harta kekayaan warisan orang tuaku? Kalianlah yang menginginkan harta warisan ayahku, bukan suheng Sin Wan!"

"Kui Siang!"

Pamannya membentak dam menudingkan telunjuknya ke arah muka gadis itu.

"Pendeknya, apapun yang terjadi, kami tidak sudi menyetujui perjodohanmu dengan budak Uighur itu. Kalau kami tidak sudi menjadi walimu, hendak kami lihat apakah engkau akan melakukan pernikahan secara liar, tanpa direstui keluarga? Engkau berarti akan mencemarkan nama baik mendiang orang tuamu!"

"Tidak perduli! Aku tidak membutuhkan restu kalian!"

Kui Siang menjerit dan kini ia tidak dapat menahan berlinangnya air matanya.

"Pergi kalian dari sini! Pergi!"

Ia menuding ke arah pintu. Semua paman dan bibinya tertegun dan seorang paman menghampiri Kui Siang dengan marah.

"Kui Siang! Berani engkau mengusir kami, paman-paman dan para bibimu sendiri Beginikah yang kaudapatkan dalam mengejar ilmu selama ini?"

"Kenapa tidak berani? Kalian bukan manusia! Pergi kataku!"

Tangan Kui Siang menyambar sumpitnya yang tadi terletak di atas meja dan sekali tangan itu bergerak, sepasang sumpit itu meluncur dan menancap pada dinding, amblas hampir seluruhnya.

Semua orang terbelalak.

Kalau sambitan itu mengenai tubuh mereka, tentu akan tembus!

Bergegaslah mereka berlari keluar dari ruangan itu, meninggalkan Kui Siang yang duduk seorang diri bertopang dagu.

Akhirnya ia hanya dapat menangis, kemudian ia pergi ke kamar sembahyang di mana terdapat meja abu ayah dan ibunya, dan iapun berlutut di depan meja itu dan menangis, dalam hati ia melaporkan nasibnya kepada orang tuanya.

Akhirnya gadis itu menggeletak tertidur di atas lantai depan meja sembahyang.

Seorang pelayan wanita tua yang merasa kasihan kepada nonanya, tidak berani membangunkan, hanya mengambil selimut dan menyelimuti tubuh nonanya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kui Siang sudah keluar dari rumahnya, pergi ke rumah penginapan Lok-an.

Pagi itu masih gelap, cuaca remang-remang.

Ketika ia tiba di jalan raya luar rumah penginapan itu, ia melihat Sin Wan berhadapan dengan belasan orang dan agaknya mereka bercekcok.

Hatinya tertarik dan cepat Kui Siang menyelinap dekat dan mengintai.

Dilihatnya Sin Wan berdiri tegak dan bersikap tenang, dihadapi tigabelas orang pria berusia antara empatpuluh sampai limapuluh lima tahun lebih yang kelihatan menyeramkan.

Tigabelas orang itu dipimpin oleh seorang kakek tinggi kurus yang usianya tentu sudah mendekati enampuluh tahun.

Di punggung pria ini nampak sepasang pedang dan yang lainpun semua membawa senjata di punggung atau pinggang.

"Hemm, kiranya kalian ini adalah kaki tangan pemuda Jepang Maniyoko itu, ya? Nah, katakan, apa maksud kalian pagi-pagi begini mencariku di sini,"

Kata Sin Wan dengan sikap tenang.

"Eh, toa-ko (kakak)! Aku seperti pernah melihat bocah ini!"

Tiba-tiba seorang di antara tigabelas orang itu, yang berkepala botak dan bertubuh pendek, di kanan kiri mulutnya terdapat bekas luka seolah mulut itu pernah terobek, maju dan menuding ke arah Sin Wan.

"Tidak salah lagi, ini tentu bocah itu, anak Iblis Tangan Api Se Jit Kong!"

"Ah, benar dia! Kita mana bisa melupakan iblis kecil ini?"

Teriak yang lain. Si tinggi kurus yang memimpin gerombolan itu memandang Sin Wan dengan penuh perhatian.

"Benarkah engkau putera Iblis Tangan Api Se Jit Kong?"

Tanyanya.

Klni Sin Wan teringat.

Dahulu pernah ada tigabelas orang menyerbu rumah ayah tirinya itu untuk merampas pusaka istana yang dicuri ayah tlrinya.

Dialah yang pertama kali menyambut kunjungan mereka ini, bahkan si pendek botak itu menyerangnya dengan sambitan pisau terbang, kemudian si botak ini karena menghina ibunya, dihancurkan mulutnya oleh ayah tirinya.

"Ah, kiranya kalian Bu-tek Cap-sha-kwi (Tigabelas Iblis Tanpa Tanding) itu? Tidak salah penglihatan kalian. Aku Sin Wan adalah putera mendiang Se Jit Kong. Habis, kalian mau apa?"

Di tempat sembunyinya, wajah Kui Siang mendadak menjadi pucat dan jantungnya berdebar keras.

Sin Wan, suhengnya itu, putera Se Jit Kong?

Tidak mimpikah ia?

Sin Wan itu putera dari musuh besarnya, yang telah membunuh ayahnya dan menyebabkan kematian ibunya pula?

Se Jit Kong yang menghancurkan keluarganya, dan selama ini ia bergaul dengan putera musuh besarnya itu?

Sin Wan, suhengnya yang dicintanya!

Hampir ia tidak percaya.

Suhengnya memang tidak pernah menceritakan riwayat hidupnya atau asal usulnya dengan jelas, hanya menceritakan bahwa ayah ibunya adalah Bangsa Uighur dan keduanya sudah meninggal dunia.

Kiranya dia putera Iblis Tangan Api Se Jit Kong!

Menggigil rasanya kedua kaki gadis itu, dan tubuhnya gemetar.

"Bagus!"

Si tinggi kurus mencabut sepasang pedangnya.

"Kalau begitu, kami bukan hanya akan membalaskan kekalahan Maniyoko darimu, akan tetapi juga karena ayahmu sudah mampus, kami dapat membalas kekalahan kami dahulu kepadamu, puteranya!"

Tigabelas orang itu sudah mencabut senjata mereka masing-masing dan mengepung Sin Wan.

Pemuda ini maklum bahwa dia berhadapan dengan tokoh-tokoh sesat yang lihai dan amat kejam, yang mungkin sejak kalah dari Se Jit Kong telah memperdalam ilmu mereka sehingga menjadi lihai sekali, maka diapun segera menghunus senjatanya.

Melihat sebatang pedang yang buruk dan tumpul, si botak pendek tertawa.

"Ha..ha..ha..ha, lihat, bocah setan ini mempergunakan sebatang pedang buruk dan tumpul. Ha..ha..ha!"

"Bodoh!"

Bentak si tinggi kurus yang berjuluk Bu-tek Kiam-mo (Setan Pedang Tanpa Tanding).

"Itulah pedang pusaka yang disebut Pedang Tumpul, sebuah mustika yang langka, satu di antara benda-benda pusaka istana!"

"Wahhh .....? Kalau begitu kita harus merampasnya!"

Kata si botak dan diapun sudah menyerang dengan ganas, mempergunakan goloknya.

Namun, dengan mudah Sin Wan mengelak dan kini para pengeroyoknya menyerbu serentak sehingga Sin Wan dihujani senjata yang rata-rata digerakkan dengan kuat dan ganas sekali.

Namun Sin Wan tidak menjadi gentar atau gugup, dengan tenangnya diapun menggerakkan Pedang Tumpul dan nampak sinar kehijauan bergulung-gulung.

Pemuda yang pantang membunuh ini mengerahkan sin-kangnya dan memainkan ilmu Sam-Sian Sin-kun.

Gulungan sinar hijau itu menyambar-nyambar dan terdengarlah suara berkerontangan disusul teriakan-teriakan kaget ketika tigabelas orang itu terpaksa melepaskan senjata masing-masing.

Tidak kuat mereka menahan getaran tenaga dahsyat yang membuat tangan mereka, terasa nyeri, dan banyak pula senjata mereka yang patah begitu bertemu dengan pedang di tangan Sin Wan!

Mereka terkejut sekali karena selama ini mereka sudah memperdalam ilmu kepandaian mereka.

Siapa kira, pemuda itu bahkan kini tidak kalah lihainya dibandingkan Iblis Tangan Api Se Jit Kong sendiri!

"Lari!"

Teriak si tinggi kurus memberi aba-aba dan tigabelas orang yang tidak terluka itu, segera melarikan diri cerai berai karena takut kalau sampai dirobohkan.

Sin Wan tidak mengejar, bahkan cepat menyimpan kembali pedangnya.

Untung pagi itu masih sunyi sehingga agaknya tidak ada orang yang melihat perkelahian singkat itu.

Akan tetapi, langkah-langkah yang lembut membuat dia menengok.

"Sumoi .....!"

Sin Wan berseru dan lari menghampiri. Akan tetapi ketika dia hendak memegang tangan gadis itu, Kui Siang menarik tangannya dan pandang mata gadis itu membuat Sin Wan undur selangkah.

"Sumoi, kau kenapakah?"

"Jadi engkau adalah putera Iblis Tangan Api Se Jit Kong?!?"

Mendengar pertanyaan itu, Sin Wan terkejut dan mengertilah dia bahwa tadi Kui Siang telah mendengar percakapan antara dia dan Cap-sha-kwi.

"Sumoi, aku ........"

Tiba-tiba terdengar suara orang di depan rumah penginapan itu.

"Orang muda, sebaiknya engkau berterus terang! Apakah engkau putera Se Jit Kong?"

Sin Wan menoleh dan terkejut melihat bahwa yang mengajukan pertanyaan itu bukan lain adalah Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki!

Dan suaranya itu!

Sungguh berbeda dari biasanya yang lembut, kini suara itu tegas dan ketus.

"Locianpwe, sumoi, agaknya perlu aku memberi penjelasan. Marilah kita bicara di dalam saja agar tidak terdengar orang lain,"

Kata Sin Wan dan sikapnya masih tetap tenang karena dia tidak merasa bersalah atau menyembunyikan sesuatu.

Kakek itu mengangguk dan tanpa bicara mereka bertiga memasuki rumah penginapan dan rnenuju ke kamar Bu Lee Ki.

Setelah mereka masuk kamar, kakek itu menutupkan daun pintu dan merekapun duduk menghadapi meja dan Sin Wan menghadapi kedua orang itu, merasa seperti seorang tertuduh dihadapkan kepada dua orang hakim!

"Maaf bahwa selama ini aku tidak berterus terang karena aku ingin melupakan semua pengalaman hidup yang teramat pahit itu."

Sin Wan memulai.

"Katakan, benarkah engkau putera Se Jit Kong!?"

Bu Lee Ki bertanya, sinar matanya tajam penuh selidik menatap wajah Sin Wan.

"Bukan anak kandung, melainkan anak tiri. Harap locianpwe dan sumoi dengarkan baik-baik, aku akan menceritakan segalanya. Se Jit Kong bukan ayah kandungku, bahkan dialah yang membunuh ayah kandungku yang bernama Abdullah. Kemudian ibuku menjadi isteri Se Jit Kong dan sejak terlahir sampai berusia sepuluh tahun, aku dirawatnya dan aku menganggap dia ayah kandungku sendiri."

"Ayahmu dibunuh dan ibumu malah menjadi isteri Se Jit Kong?"

Tanya Bu Lee Ki dengan muka membayangkan kejijikan. Wajah Sin Wan berubah merah.

"Harap locianpwe tidak salah sangka dan kasihanilah ibuku. Ibu pasti membunuh diri begitu ayah kandungku dibunuh Se Jit Kong. Akan tetapi, ketika hal itu terjadi, aku berada dalam kandungan ibu. Demi untuk menyelamatkan diriku, anak tunggalnya, maka ibu terpaksa mengorbankan diri. Dengan batin menderita, ibu menjadi isteri Se Jit Kong dengan syarat bahwa Se Jit Kong tidak akan menggangguku, bahkan menganggap aku anaknya sendirl. Dia sayang kepadaku dan ketika itu akupun sayang kepadanya yang kuanggap ayah kandung sendiri."

"Hemm, lalu bagaimana engkau dapat mengetahui bahwa dia bukan ayah kandungmu dan dia bahkan membunuh ayahmu?"

Bu Lee Ki mendesak.

"Ketika Se Jit Kong tewas di tangan Sam-sian, ibuku yang merasa bahwa aku tidak terancam lagi dengan kematian Se Jit Kong, lalu menebus dosa dan membunuh diri, sehabis membuka rahasia itu kepadaku. Ketika Cap-sha-kwi menyerang Se Jit Kong, ketika itu aku masih merasa sebagai anak Se Jit Kong. Nah, demikianlah riwayatku. Ketika Sam-sian mengetahui riwayatku, maka Sam-sian lalu mengambilku sebagai murid. Terserah kepadamu, sumoi, dan kepadamu locianpwe, bagaimana kalian akan menilai diriku."

"Ya Tuhan, siapa sangka ......?"

Bu Lee Ki bangkit, mondar-mandir di kamar dan berulang kali menggeleng kepala dan menghela napas panjang.

Kemudian dia berhenti dan duduk kembali di depan Sin Wan, memandang pemuda itu dengan sinar mata tajam dan suaranya terdengar sungguh-sungguh.

"Aku percaya bahwa Sam-sian tidak akan salah memilih engkau sebagai murid, Sin Wan. Akan tetapi bagaimanapun juga, engkau dikenal sebagai putera Se Jit Kong, berarti namamu sudah tercemar lumpur kejahatan. Cap-sha-kwi tentu tidak akan tlnggal diam dan akan menyiarkan bahwa Sin Wan adalah putera Se Jit Kong! Engkau akan dimusuhi seluruh pendekar. Hanya ada satu jalan bagimu, yaitu sebagai Pendekar Pedang Tumpul, engkau harus mencuci kecemaran namamu itu dengan perbuatan-perbuatan yang nyata. Engkau harus dapat membuktikan bahwa dirimu tidak jahat seperti Se Jit Kong walaupun engkau anaknya atau anak angkatnya. Adapun aku ....... ah, engkau tahu bahwa aku dipercaya menjadi pimpinan para kai-pang, kalau diketahui bahwa aku bergaul dengan putera Se Jit Kong, sebelum engkau mencuci nama, aku akan kehilangan muka. Terpaksa kita akan berpisah di sini, sekarang juga. Nah, kalian jaga diri kalian baik-baik, aku akan pergi."

Kakek itu lalu menyambar buntalannya dan meninggalkan kamar itu dengan cepat. Sin Wan bangkit berdiri seperti juga Kui Siang, mukanya pucat ketika dia memandang kepada Kui Siang.

"Sumoi, bagaimana dengan engkau?"

Tanyanya, penuh harap. Kui Siang mengusap kedua matanya untuk menghapus beberapa butir air mata yang tadi jatuh di atas pipinya.

"Engkau tahu bahwa keluargaku hancur oleh kejahatan Se Jit Kong. Dan ternyata engkau ...... puteranya, walaupun putera tiri. Aku ..... aku ...... bagaimana mungkin berdekatan denganmu? Suheng, maafkan aku ini ..... aku .... aku akan ke Peking dan aku ..... ahhh ....."

Gadis itu terisak dan cepat berlari keluar. Sin Wan berdiri seperti patung. Mukanya pucat sekali. Jantungnya seperti diremas-remas rasanya. Kedua tangannya menekan meja dan dia memejamkan matanya.

"Engkau benar, sumoi, engkau benar. Aku hanyalah seorang suku biadab Uighur, keturunan orang jahat, aku hanya seorang dusun yang pandir dan miskin, berlepotan nama busuk Iblis Tangan Api Se Jit Kong. Memang sebaiknya engkau menjauhkan diri dariku, sumoi, agar jangan ikut tercemar ......"

Dia menjatuhkan diri duduk di atas kursi dan merebahkan kepala di meja, sampai lama dia berdiam dalam keadaan seperti itu.

Sesosok bayangan berkelebat masuk kamar itu, ringan sekali gerakannya.

Namun tidak cukup ringan bagi Sin Wan untuk tidak mengetahuinya.

Dia menoleh dan ternyata seorang gadis cantik telah berdiri di kamar itu.

Timbul harapannya ketika dia mengira bahwa gadis itu sumoinya.

Akan tetapi ketika dia memandang lebih jelas, ternyata gadis itu adalah Lili!

"Lili, kau ........?"

Lili tersenyum, lalu duduk di atas kursi yang tadi diduduki Kui Siang.

Memang ada persamaan antara kedua orang gadis itu.

Sama cantiknya!

"Sin Wan, kenapa engkau harus berduka!

Seorang gagah tidak akan mudah membiarkan diri terbenam dalam duka.

Kalau mereka pergi meninggalkanmu, biarkanlah.

Di sini masih ada aku, Sin Wan.

Aku akan siap menerimamu sebagai sahabatmu.

Marilah kita berdua bertualang di dunia yang luas ini.

Dengan kepandaian kita berdua, kita akan dapat berbuat banyak!"

Sin Wan bangkit, kemarahannya timbul.

Dia akan diajak oleh gadis ini ke dalam dunia sesat?

Dia akan diajak mengikuti jejak ayah tirinya?

Sebelum mati, ibunya berpesan agar dia tidak mengikuti jejak Se Jit Kong.

"Tidak!"

Bentaknya kepada Lili dan dia menuding ke arah pintu.

"Pergilah kau, jangan bujuk aku. Pergi .....!"

Lili bangkit berdiri, tersenyum manis.

"Engkau sedang dalam keadaan kacau dan berduka. Baiklah, aku pergi, akan tetapi aku selalu menantimu di Puncak Bukit Ular, di Pegunungan Himalaya. Datanglah ke sana kalau engkau teringat kepadaku dan suka menerimaku sebagai sahabat. Selamat tinggal! Jangan terlalu bersedih, Sin Wan. Orang berduka cepat menjadi tua! Gadis itu terkekeh lalu pergi dari situ. Sin Wan kembali menjatuhkan diri duduk di atas kursi. Habislah sudah! Kakek Bu Lee Ki yang dihormatinya sebagai gurunya, sumoinya yang dicintanya dan dianggap sebagai calon isteri, kini memisahkan diri, meninggalkannya dan menjauhinya. Dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Lili! Tidak, dia tidak mau terseret ke dalam dunia sesat. Tiba-tiba dia meloncat berdiri.

"Suhu Ciu-sian!"

Dia berseru.

Ah, kenapa dia sampai melupakan gurunya itu?

Di dunia ini masih ada gurunya, Si Dewa Arak.

Dia akan pergi ke Pek-in-kok, lembah Gunung Ho-lan-san itu.

Diapun teringat akan pesan Raja Muda Yung Lo di Peking.

Akan diterimakah kedudukan panglima yang ditawarkan raja muda itu!

Kenapa tidak?

Dengan kedudukannya itu, dia akan dapat berbuat banyak untuk bangsa dan negara sehingga dia akan dapat mencuci noda yang dicemarkan oleh nama busuk Se Jit Kong.

Akan tetapi, di sana ada Kui Siang!

Sungguh tidak enak kalau harus bekerja dekat sumoinya, juga kekasihnya yang telah menjauhkan diri darinya itu.

Dia akan menghadap dulu gurunya, Si Dewa Arak yang periang, dan mohon nasihatnya.

Yang pasti, dia akan menunjukkan kepada dunia, bahwa hldupnya tidak sia-sia.

Tuhan telah menciptakan dia, menurunkan dia ke dunia bukan hanya untuk menjadi permainan nasib, bukan untuk membenamkan diri dalam duka.

Dia harus menjadi seorang manusia yang berguna agar tidak sia-sia Tuhan menciptakannya.

Dia harus mengabdi kepada Tuhan kalau ingin membuktikan penyerahannya yang tulus ikhlas dan tawakal.

Dan mengabdi kepada Tuhan hanya dapat dibuktikan dengan pengabdian kepada manusia, kepada dunia, dengan membela kebenaran dan keadilan.

Dia akan membuktikan kepada dunia bahwa dia adalah putera ibunya yang dia tahu berhati mulia, bahwa dia tidaklah sama dengan Se Jit Kong yang menjadi hamba nafsu-nafsunya dan menjadi tokoh sesat, bahkan datuk sesat!

"Suhu Ciu-sian, tunggulah teecu (murid) yang akan menghadapmu!"

Sin Wan berteriak lalu dia meninggalkan kamar itu.

Malam telah berganti pagi.

Kegelapan mulai ditembusi cahaya terang.

Sinar matahari menjanjikan hari yang cerah bagi mereka yang pagi-pagi telah terbangun dari tidurnya.

TAMAT Penerbit .

CV.

GEMA, Solo Cetakan Tahun .

1995 andu,

http.//indozone.net

/literatures/literature/650

Baca Juga: Istana Pulau Es 10

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert