Ceritasilat Novel Online

Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan 6

Eps 6 Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan - Chin Yung

Baca online Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan - Chin Yung

Cersil Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan - Chin Yung.

"Dengan mengembara, kita bisa memperoleh banyak pengalaman" , kata Kiang Bun sambil tersenyum, Ong Tiong Yang mengangguk. Selama itu Kiang Bun tidak pernah bicara sepatah perkataanpun juga mengenai ilmu silat, hal ini memang membuat Ong Tiong Yang jadi heran dan ber-tanya2 dalam hatinya. la yakin bahwa Kiang Bun tentu memiliki kepandaian yang tinggi untuk ilmu silat, disamping sinkangnya yang tentunya telah mencapai tingkat yang cukup sempurna, karena sinar matanya yang bersinar tajam sekali. Akhirnya Ong Tiong Yang tidak bisa menahan perasaan ingin tahunya, ia telah berkata dengan hati2.

"Sesungguhnya Kiang Siecu, apakah menurut pendapat Kiang Siecu seseorang itu penting dan berguna jika belajar ilmu silat ?"

Kiang Bun berhenti tertawa, ia mengawasi Ong Tiong Yang, lama sejenak kemudian baru menyahut .

"Apa maksud pertanyaan Ong Cinjin?"

"Sesungguhnya Pinto tertarik sekali pada ilmu silat, tetapi Pinto belum mengetahui apakah ilmu silat memiliki manfaat yang lebih besar jika kita mempelajarinya....... itulah yang telah membuat Pinto selalu ber-tanya2 pada diri sendiri dan belum lagi memenuhi jawabannya......!"

"Hemmm.....!"

Kiang Bun mendengus perlahan, wajahnya yang semula ber-seri2 telah berobah jadi agak muram. la menunduk dalam2 kemudian baru berkata dengan suara yang perlahan.

"Menurut pendapatku ilmu silat hanya mempersulit diri orang yang bersangkutan, semakin tinggi kepandaian silatnya, tentu semakin sulit lagi ia menempatkan diri dimasyarakat......."

"Mengapa begitu, Kiang Siecu?"

Tanya Ong Tiong Yang. Kiang Bun telah menghela napas lagi, katanya dengan suara yang mengandung hati-hati.

"Sesungguhnya Ong Cinjin, seseorang yang kebetulan telah terlanjur mempelajari ilmu silat, tentu akan membuat dirinya memikul tugas yang tidak ringan, yaitu tugas untuk membela yang lemah, demi peri kemanusiaan. Coba Ong Cinjin bayangkan, jika Ong Cinjin mengerti iilmu silat, Ialu kebetulan menyaksikan suatu peristiwa yang tidak adil, apakah Ong Cinjin bisa berdiam diri saja?'' Ong Tiong Yang juga merasa perkataan Kiang Bun ada benarnya, ia mengangguk.

"Benar...... tentu dengan memiliki kepandaian silat, dan dengan jiwa yang bersih dan tulus, tidak bisa kita saksikan kebathilan merajalela!"

"Itulah mengapa aku mengatakan jika seseorang rnempelajari ilmu silat akan membuat kedudukannya sulit didalam masyarakat... !"

"Hemm...., tetapi tidak semuanya, tentunya orang yang mengalami kesulitan seperti itu, ka ena tentu ada orang yang memang ber-cita2 buat melaksanakan cita2l uhur membela orang2 yang lemah dari tindasan si kuat yang jahat, maka mati2an ia mempelajari ilmu silat........!"

"Itu bagi orang yang memiliki jiwa yang baik dan hati yang bersih, tetapi jika seseorang yang memiliki jiwa jahat dan hati yang kotor apa yang terjadi? Bukankah kepandaian silat itu dipergunakannya untuk melakukan kejahatan?"

Ong Tiong Yang kembali mengangguk, katanya dengan sabar.

"Manusia2 seperti itulah yang memang harus disingkirkan........!"

"Tetapi untuk membatasi siapa yang harus mempelajari ilmu silat. dan siapa yang tidak bisa mempelajarinya karena memiliki jiwa yang jahat, hal ini cukup sulit...!"

"Mengapa begitu Kiang Siecu?"

Tanya Ong Tiong Yang tertarik.

"Karena banyak seseorang yang mempelajari ilmu silat sejak kecil. Waktu itu ia memperlihatkan kelakuan dan jiwa yang baik. Namun setelah ia dewasa dan memiliki kepandaian yang cukup tinggi, tiba2 muncul sifatnya yang tamak dan sombong, ia mempergunakan kepandaian ilmu silatnya itu untuk melakukan kejahatan. Jika terjadi hal itu, apa yang hendak dikata. Terlebih lagi jika orang tersebut juga mati-matian untuk dapat mempelajari semua ilmu silat agar mencapai tingkat yang tertingi, dan juga ber-cita2 untuk menjagoi rimba persilatan. dengan mengandalkan kepandaiannya, bukankah orang seperti itu membahayakan keselamatan orang banyak ?"

Ong Tiong Yang mengangguk sambil menghela napas.

"Sayangnya sulit sekali untuk membatasi orang2 seperti itu, karena sulit membedakan yang baik dan jahat, terlebih lagi banyak alasan2 tertentu yang meliputi diri orang seperti itu untuk mempelajari ilmu silat.......!"

"Maka dari itu, sebagai imbalannya, diperlukan sekali orang yang berjiwa putih bersih dan luhur untuk dididik agar memiliki kepandaian yang tinggi, agar bisa mengimbangi kepandaian orang2 yang busuk itu ........!"

Ong Tiong Yang membenarkan lagi.

Begitulah, mereka ber-cakap2 dengan asyik, karena keduanya sangat cocok satu dengan yang lainnya.

Disaat itu dari luar rumah makan telah melangkah masuk seseorang.

Ong Tiong Yang dan Kiang Bun menoleh, waktu melihat orang tersebut, Kiang Bun berobah wajahnya.

"Dia.... dia merupakan dedengkot iblis, kita harus berusaha mengelakkan bentrokan dengan orang itu !"

Kata Kiang Bun dengan suara yang berbisik dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

---oo~dwkz^Tah~oo---BAGIAN 39 .

SI WAJAH EMPAT ARWAH BIAN KIE LIANG ONG TIONG YANG jadi tertarik, ia memperhatikan orang baru masuk itu, ialah seorang lelaki yang berpakaian seenaknya dan tidak teratur, rambutnya walaupun dikonde, namun banyak anak rambutnya yang terurai.

Usia orang mungkin telah mencapai enam puluh tahun, tubuhnya kurus dan mukanya cekung dengan mata yang dalam dan bola mata yang bersinar tajam.

Waktu melangkah masuk orang ini tidak memperhatikan keadaan disekelilingnya, dengan seenaknya ia duduk di sebuah kursi dan menepuk meja cukup keras.

"Mana pelayan....?"

Tegurnya dengan suaro yang nyaring.

Seorang pelayan cepat-cepat menghampiri untuk menanyakan pesanan orang tersebut, orang itu memesan lima kati daging dan dua kati arak.

Kemudian sambil menantikan datangnya makanan yang dipesannya, orang tersebut telah ber-nyanyi2 perlahan, sikapnya memang seperti seenaknya dan tidak memandang sebelah mata pada sekelilingnya, tidak mengambil perhatian pada orang2 yang berada didalam ruang rumah makan tersebut.

Disamping itu juga tidak mengacuhkan keadaan tamu-tamu lainnya.

la seperti berada hanya seorang diri ditempat tersebut.

Ong Tiong Yang yang diam2 memperhatikan keadaan orang tersebut, dan Ong Tiong Yang memperoleh kesan tidak begitu menggembirakan, karena tampaknya orang tersebut memiliki sikap yang ugal-ugalan.

Sambil menundukkan kepala dan dengan suara yang perlahan, Ong Tiang Yang bertanya kepada Kiang Bun.

"Siapa orang itu?"

Kiang Bun tetap diam dengan menunduk dalam, karena dia seperti tidak ingin dilihat oleh orang tersebut.

"Dia she Bian bernama Kie Liang,"

Kata Kiang Bun dengan suara yang perlahan.

"Dan sifatnya sangat jahat sekali, aneh dan ugal2an. Tindakannya selalu sekehendak hatinya, jika ia tengah senang, ia tidak membinasakan orang, tetapi jika ia tengah marah dan mendongkol, dia akan membinasakan siapa saja tanpa memperdulikan siapa orang itu. Dia merupakan dedengkot iblis yang menguasai propinsi Hunan, kepandaiannya memang tinggi sekali dan sulit dicari tandingannya."

"Hemm...., jika memang demikian dia bukan manusia baik2,"

Kata Ong Tiong Yang.

"Tepat .., ia memang bukan manusia baik2 tidak ada urusan kejahatan yang tidak dilakukannya bahkan orang2 dari jalan hitampun merasa jeri untuk bertemu dia......!"

"Apakah kepandaiannya memang demikian tinggi sehingga tidak ada orang yang bisa menadinginya......?" , tanya Ong Tiong Yang.

"Itulah yang menjadi keheranan buatku, karena beberapa tokoh sakti dari rimba persilatan, seperti beberapa orang Cianpwe, dari Siauw Lim dan Bu Tong, pernah mengeroyok dan bertempur dengannya namun iblis ini bisa mololoskan diri dan tidak berhasil dirubuhkan........"

"Dia bergelar sebagai Sie Hun Bian atau Wajah Empat Arwah. Maka kepandaiannya memang seperti juga merupakan dari kepandaian empat orang tokoh sakti, seperti yang dibuktikannya walaupun dikeroyok beberapa orang Cianpwe dari Siauw Lim Sie dan Bu Tong, ia tidak berhasil dirubuhkan......!"

"Jika memang demikian halnya, tentu ia malang-melintang tanpa memperoleh tandingan selama ini... !"

Kata Ong Tiang Yang. Kiang Bun menganguk lagi.

"Benar.... dan selama itu pula ia tidak pernah memandang sebelah mata pada orang2 rimba persilatan, sikap maupun perbuatannya selalu seenak hatinya saja, ia tak perdulikan apakah perbuatannya akan disenangi atau dibenci orang tetapi jika ia merasa senang tentu akan dilakukannya segala apapun juga..........!"

"Ilmu dan kepandaian apa yang paling diandalkannya....?"

Tanya Ong Tiong Yang yang tertarik ingin mengetahui perihal diri Sie Hun Bian.

"Telapak tangannya yang mengandung maut, setiap kali telapak tangannya itu digerakkan, tentu lawannya bisa terluka parah atau terbinasa....... selama ini kesaktian telapak tangannya itu memang belum memperoleh tandingan!"

"Hemm..., sekarang ia berada disini tentu ingin melakukan sesuatu, bukan ?"

Tanya Ong Tiong Yang.

"Mungkin, karena biasanya ia jarang meninggalkan tempatnya dihutan.........?"

Baru saja Kiang Bun berkata begitu, disaat itulah tampak pelayan telah menghantarkan pesanan Sie Hun Bian.

Pelayan itu meletakkan pesanan tersebut diatas meja.

Kiang Bun berkata dengan suara yang perlahan.

"Ia memang sangat kuat minum arak dan makan daging bakar."

Dan Kiang Bun mengangkat kepalanya. Cepat sekali ia menundukkan kepalanya kembali. Waktu itu tampak Sie Hun Bian berkata dengan suara yang parau kepada si pelayan.

"Apakah engkau telah menimbangnya dengan benar bahwa berat daging ini lima kati?"

Pelayan itu tercengang sejenak, tetapi kemudian ia tersinggung.

"Kami telah membuka rumah makan ini puluhan tahun lamanya, dan selama itu kami memiliki nama yang baik. Untuk apa kami mencatuti timbangan daging ini, bukankah kelak jika kami menyebutkan harganya Toaya akan membayarnya?"

Muka Sie Hun Bian jadi berobah, dia mengawasi dengan bola mata yang merah kepada sipelayan.

"Aku hanya bertanya saja, mengapa engkau jadi tersinggung begitu?"

Bentaknya galak.

"Aku hanya menjelaskan kepada Toaya bahwa pesanan Toaya memang telah kami timbang dengan benar"

Kata si pelayan kemudian.

Tetapi Sie Hun Bian jadi tidak senang, ia telah memandang sekian lama pada pelayan itu tanpa mengucapkan sepatah katapun juga.

Tetapi waktu sipelayan hendak berlalu karena merasa tidak enak hati didiami begitu saja oleh Sie Hun Bian, mendadak Bian Kie Liang telah berkata dengan dingin.

"Diam ditempatmu, jangan pergi dulu.... !"

Pelayan itu jadi merandek, kemudian ia tertawa sinis sambil katanya .

"Aku tidak bisa melayani Toaya terus menerus, karena masih banyak yang harus kukerjakan dibelakang.... !"

Dan pelayan itu telah memutar tubuhnya untuk melangkah pergi.

Sie Hun Bian mengeluarkan suara dengusan yang dingin.

Tahu2 ia telah menggerakkan tangan kanannya, tanpa menyentuh pelayan itu ia berhasil menghentak rubuh pelayan tersebut yang terbanting diatas lantai.

Keruan saja pelayan tersebut jadi mengeluarkan suara teriakan kesakitan.

Dengan penuh kemarahan pelayan itu merangkak bangun.

Saat itu Sie Hun Bian telah berkata dengan suara dingin.

"Jika engkau bersikap kurang ajar lagi, akan kuambil jiwamu........!"

Dan Sie Hun Bian mulai memakan dagingnya, sambil sekali2 meneguk araknya.

Pelayan itu jadi berdiri dengan sikap serba salah.

la memang marah didalam hati, tetapi tidak berani memperlihatkan kemarahannya itu karena mengetahui bahwa tamunya ini galak sekali.

Untuk berdiri terus ditempatnya itu membuat si pelayan jadi tidak enak hati, karena ia mendongkol sekali dan memang tidak biasanya melayani terus menerus pada seorang tamu.

Banyak sekali pekerjaan yang harus dikerjakannya.

Tetapi untuk berjalan meninggalkan meja itu, ia kuatir dirinya akan dibanting pula oleh tamunya yang galak tersebut.

Waktu itu tampak Sie Hun Bian telah tertawa tawar, sambil mengunyah daging, ia telah berkata .

Engkau masih tersinggung ?"

Pelayan itu tersenyum pahit.

"Tidak !"

Katanya sambil menggelengkan kepala dengan sikap serba salah.

"Hemmm......., bagus.......! Jika memang engkau tidak merasa tersinggung lagi, sekarang engkau harus menuruti perintahku !"

Pelayar itu diam saja, mengiyakan dan juga tidak membantah.

"Minumlah arak ini........!"

Kata Sie Hun Bian sambil mendororg guci araknya.

"Toaya.....aku.... aku....!"

Pelayan itu benar benar jadi serba salah.

"Minum kataku.... atau engkau hendak kubanting lagi ?"

Muka pelayan itu jadi berobah.

"Ini... ini mana boleh... aku hanya pelayan disini... !"

"Tetapi aku yang perintahkan engkau meminum arak tersebut !"

"Tetapi Toaya..."

Namun belum lagi habis suara pelayan itu, justru tangan Sie Hun Bian telah, bergerak dan ......

Buk.

..!

tubuh pelayan itu terbanting lagi keras, walaupun Sie Hun Bian menggerakkan tangannya itu tanpa mengenai tubuh sipelayan, namun ia berhasil membanting pelayan itu dengan mengandalkan tenaga sinkangnya.

Keadaan demikian telah membuat pelayan itu tambah kesakitan.

Sambil merangkak bangun pelayan itu telah memaki-maki, karena ia sudah tak bisa menahan kemendongkolan hatinya lagi.

Sie Hun Bian berkata dengan suara yang tawar.

"Engkau berani memakiku'?"

Tanyanya dengan mata yang mendelik lebar-lebar. Pelayan itu tetap memaki, bahkan ia bilang .

"Hemmm......, engkau seenaknya saja mem-banting2 diriku. memangnya aku digaji olehmu ......?. Aku hanya bertugas melayani tamu, bukan untuk dijadikan barang bantingan."

Muka Sie Hun Bian jadi berubah, ia menggerakkan tangan kirinya, mengebut dengan gerakan yang seenaknya.

Tetapi akibat tenaga kebutan tangannya itu justru tubuh pelayan tersebut terbanting lagi sehingga hidungnya menghantam lantai dan darah juga mengucur deras dari hidungnya, giginya rontok satu, mulutnya jadi tebal membengkak akibat membentur lantai.

Keruan pelayan itu jadi kalap dan memaki kalangan kabut, tampaknya Sie Hun Bian tidak perduli, ia tertawa mengejek sambil mengunyah daging bakarnya lagi.

"Jika engkau masih memaki tidak keruan aku akan menyiksa engkau lebih berat lagi.........!"

Kata Sie Hun Bian dengan suara mengancam.

Pelayan tersebut sebetulnya bendak memaki terus, teapi waktu itu telah datang kasir rumah makan tersebut, yang membungkuk memberi hormat sambil perintahkan pelayan agar pergi masuk kedalam.

"Maafkan kekurang ajaran pelayan kami tuan!"

Kata kasir itu.

"Memandang mukaku, kiranya tuan mau memaafkan kekurang ajarannya itu......!"

Sie Hun Bian memang memiliki adat yang aneh, bukannya jadi senang, justru dia jadi tersinggung, karena melihat pelayan itu diperintahkan masuk oleh si kasir rumah makan itu.

Dengan menggerakkan tangan kanannya, tubuh kasir itu dipukul terpental ketengah udara.

Perbuatan Sie Hun Bian memang keterlaluan dan Ong Tiong Yang tidak bisa berdiam diri terus.

Ketika melihat tubuh kasir rumah makan itu meluncur akan terbanting, Ong Tiong Yang melompat bangun dari duduknya.

la menggerakkan hudtimnya mengibas, dan tenaga luncuran dari tubuh si kasir lenyap.

Dengan mempergunakan tangan kirinya, Ong Tiong Yang mencekal baju kasir itu, dan menurunkan ke lantai sehingga kasir itu tidak sampai terbanting.

Muka Sie Hun Bian jadi berobah waktu melihat seorang tojin muda mencampuri urusan nya, tetapi kemudian ia memperdengarkan suara tertawa dinginnya dan melan jutkan makan daging bakarnya.

Ong Tiong Yang setelah menolongi kasir rumah makan, duduk kembali ditempatnya seperti juga tidak terjadi sesuatu apapun juga.

Kasir rumah makan itu berdiri dengan kaki yang gemetar keras dan wajah yang pucat, karena tadi dia nyaris terbanting dilantai dengan keras kalau saja tidak ditolong oleh Ong Tiong Yang.

---oo~dwkz^Tah~oo---SAMBIL mengunyah daging bakarnya Sie Hun Bian menggumam perlahan .

"Sungguh berani......, sungguh berani.........luar biasa sungguh berani sekali...........!"

Menggumam sampai disitu, tahu-tahu potongan daging yang berada dimulutnya telah di semburkannya dengan keras, dan potongan-potongan daging itu menyambar kepunggung Ong Tiong Yang deras sekali.

Rupanya pada potongan daging tersebut disertai oleh dorongan tenaga sinkang yang kuat, berkesiuran keras menyambar kejaIan darah dipunggung Ong Tiong Yang.

Ong Tiong Yang yang mendengar suara samberan angin dari potongan-potongan daging itu, tidak bangkit dari duduknya, ia tidak berusaha berkelit, hanya mempergunakan hudtimnya mengebut kebelakang, sehingga beberapa potongan daging itu berhasil disampoknya jatuh kelantai.

Namun Ong Tiong Yang kaget sendirinya, karena ia merasakan telapak tangannya pedih sekali ketika hudtimnya itu memukul jatuh potongan2 daging tersebut.

Hal itu membuktikan bahwa tenaga Iwekang Sie Hun Bian memang tinggi, dan membuat Ong Tiang Yang harus bersikap lebih hati2.

Kiang Bun yang melihat cara Ong Tiong Yang meruntuhkan serangan potongan daging yang dilancarkan Sie Hun Bian jadi kaget sendirinya.

Dengan kepala yang masih tertunduk dalam2 Kiang Bun telah berkata perlahan.

"Ah......, rupanya Ong Cinjin memiliki kepandaian yang tinggi. Aku si tua yang memiliki mata lamur tak bisa melihat tingginya gunung Taisan.......!"

Ong Tiong Yang hanya tersenyum, sedangkan Sie Hun Bian yang penasaran karena serangan potongan daging yang dilancarkannya berhasil diruntuhkan oleh Ong Tiong Yang, duduk tertegun sejenak, kemudian ia berkata dengan suara yang cukup nyaring.

"Hemm, dengan demikian kepandaian yang tidak berarti seperti itu engkau hendak bertingkah dihadapan Sie Hun Bian."

Lalu dengan gerakan yang seenaknya tampak Sie Hun Bian melontarkan patahan sumpit itu keras dan kuat, dimana kedua sumpit menyambar lagi kepada Ong Tiong Yang.

Hanya sekarang samberan sumpit itu berbeda dengan samberan potongan daging, selain lebih kuat, juga tempat yang dijadikan sasaran merupakan bagian kepala dan pinggang.

Ong Tiong Yang tahu, ia tidak boleh berlaku ayal, karena jika terlambat sedikit saja salah satu dari patahan batang sumpit itu mengenai sasaran, niscaya ia bisa menderita luka yang tidak ringan.

Tanpa menanti serangan tiba, Ong Tiong Yang berdiri dari duduknya, tubuhnya dimiringkan tahu2 hudtimnya telah digerakkan memukul bergantian pada kedua batang potongan sumpit itu, sehingga potongan sumpit itu telah terjatuh kelantai kembali.

Menyaksikan ini, Sie Hun Bian kian meluap darahnya, ia telah memukul meja dengan keras, sampai piring dan mangkok araknya terpental keatas.

"To jin bau........ engkau benar2 hendak menantangku, heh ?"

Teriaknya dengan suara yang dingin, namun dalam suara bentakannya itu terdapat nafsu membunuh yang mengerikan sekali.

Ong Tiong Yang tersenyum sabar, la menghampiri Sie Hun Bian, kemudian merangkapkan kedua tangannya menjura memberi hormat.

"Maafkan, bukan se-kali2 Pinto hendak, mencari urusan dengan tuan.... tetapi tadi tindakan tuan keterlaluan dalam mencelakai kasir dan pelayan rumah makan ini, maka terpaksa Pinto tidak bisa berdiam diri.......!"

Sie Hun Bian tertawa dingin, ia berkata tawar.

"Hemm....., engkau rupanya memang merasa angkuh dengan kepandaian yang engkau mililiki itu....., apakah engkau menduga bahwa kepandaian mu itu sudah tidak ada tandingannya lagi? Baiklah, aku hari ini jika tidak bisa memperlihatkan kepadamu, bahwa Sie Hun Bian bukanlah orang yang mudah dipermainkan, untuk selanjutnya percuma aku malang melintang didalam rimba persilatan......!"

Setelah berkata begitu, Sie Hun Bian bangkit berdiri, ia memandang tajam kepada Ong Tiong Yang.

Melihat keadaan sudah demikian rupa, Ong Tiong Yang juga ber-siap2 penuh kewaspadaan karena ia tahu jika sampai dirinya lengah, niscaya ia bisa terluka ditangan Sie Hun Ban yang memang selalu turun tangan tanpa mengenal kasihan.

"Tuan jangan terlalu mengumbar kemarahan, karena itu tidak baik untuk tuan sendiri,"

Kata Ong Tiong Yang sabar.

"Hemm......., engkau tidak perlu menasehatiku, kerbau busuk...!"

Bentak Sie Hun Bian kian meluap darahnya.

la sebagai tokoh yang terkenal dari kalangan penjahat, yang setiap tingkah lakunya seenak hati dan belum pernah ada orang yang bisa melarang dan mengekangnya, justru sekarang ini ia hendak diberi nasehat oleh seorang tojin muda seperti Ong Tiong Yang, membuat ia jadi murka sekali.

"Engkau memang perlu dihajar.......!"

Kata Sie Hun Bian yang sudah tidak bisa menahan kemarahan hatinya. la juga bukan hanya berkata saja, karena tangan kanannya telah digerakkan dengan jurus.

"Menutup dengan terali besi" , tampak kelima jari tangannya itu terpentang lebar-lebar, ia berusaha menutup kepala Ong Tiong Yang dengan kelima jari tangannya. Sesuai dengan nama jurus itu, yaitu "Menutup dengan terali besi" , maka kelima jari tangan Sie Hun Bian seperti juga terali2 besi yang akan menutupi kepala Ong Tiong Yang. Yang luar biasa adalah tenaga menutup dari telapak tangan Sie Hun Bian, karena telapak tangannya itu menyambar kuat sekali dan kelima jari tangannya itu kaku dun keras telah dialiri oleh tenaga lwekang, jika sampai mengenai sasaran, niscaya akan membuat kepala Ong Tiong Yang remuk. Ong Tiong Yang tidak jeri, karena ia memang telah mempelajari ilmu dari aliran lurus, dimana ketiga orang gurunya memberi pelajaran ilmu yang bersih dan lurus padanya, berbeda dengan ilmunya Sie Hun Bian yang agak sesat tersebut. Ketika melihat telapak tangan Sie Hun Bian hampir mengenai kepalanya, tampak Ong Tiong Yang mengelak kesamping kanan, tetapi ia tidak berkelit begitu saja, hudtim ditangannya telah dikebutkannya, tangkisan yang dilakukannya itu membuat tangan Sie Hun Bian jadi tergetar keras disaat bulu2 hudtim Ong Tiong Yang membentur tangannya dan berusaha melibatnya. Keadaan demikian membuat Sie Hun Bian tambah marah, ia telah memusatkan tenaga lwekangnya lebih kuat pada kelima jari tangannya, sama sekali ia tidak berusaha menarik tangannya, hanya diteruskan untuk mencengkeram bahu Ong Tiong Yang. Bian Kie Liang yang bergelar Sie Hun Bian itu memang benar2 merupakan seorang tokobh sakti yang memiliki kepandaian tinggi sekali, karena disamping ia memiliki kepandaian yang aneh, juga kekuatan tenaga dalam yang dimilikinya sudah mencapai taraf yang tinggi, Ong Tiong Yang sendiri merasakan betapa telapak tangannya jadi sakit, dan ia juga merasakan hudtimnya seperti akan tertarik kena direbut oleh lawannya. Hal ini membuat Ong Tiong Yang harus mengerahkan seluruh tenaga lwekangnya, dimana tenaga murninya itu disalurkan untuk melindungi Hudtimnya, agar tidak sampai direbut oleh lawannya yang mempunyai tenaga dalam yang kuat dan jurus ilmu silat yang aneh. Kiang Bun melihat partempuran yang tengah berlangsung antara Ong Tiong Yang dan Bian Kie Liang jadi memandang dengan mata terpentang lebar2, ia mengawasi deagan penuh perhatian. Disaat itu Ong Tiong Yang merasakan jari tangan lawannya hanya terpisah beberapa dim saja dari bahunya, dan jika saja jari2 tangan Sie Hun Bian berhasil mencengkeram pundaknya, niscaya akan membuat tulang pie-pee nya terancam kerusakan yang cukup parah. Harus diketahui kalau sampai tulang pie-pee seseorang hancur atau remuk, ilmu silat orang yang bersangkutan akan punah, tenaga pada pergelangan tangannya, berarti tangannya akan menjadi lumpuh. Hal ini membuat Ong Tiong Yang tidak berayal, ia telah menekuk kedua kakinya, se hingga tubuhnya jadi rendah kebawah, kemudian sambil mengenalkan suara seruan perlahan Ong Tiong Yang menggerakkan Hudtimnya mengghantam kearah perut Sie Hun Bian. Kalau sampai ujung hudtim dari Ong Tiong Yang mengenai perutnya, niscaya akan membuat perut dari Sie Hun Bian terluka berat dan berarti juga tenaga dalamnya akan tergempur. Karena itu, Sie Hun Bian tidak berani berlaku ayal, dia menarik pulang tangannya membatalkan cengkeramannya, dan kemudian menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat kebelakang. Dengan cara demikian ia berhasil mengelakkan diri dan berkelit dari serangan yang dilancarkan oleh Ong Tiong Yang. Kiang Bun yang menyaksikan jalannya pertempuran kedua orang tersebut demikian rupa jadi kagum sekali. Semuanya terjadi begitu cepat, dan seperti tidak terjadi suatu perkelahian antara Ong Tiong Yang dan Sie Hun Bian, mereka seperti juga saling memberi hormat. Jika memang orang yang tidak mengerti ilmu silat, tentu tidak mengetahui bahwa dalam beberapa detik itu dua orang jago telah mengeluarkan kepandaian masing2 yang hebat, yang membuat salah seorang diantara mereka bisa terbinasa. Keadaan seperti ini benar2 membuat Kiang Hun jadi duduk bengong, karena ia yakin kepandaian yang dimilikinya tidak sehebat itu. Diam2 ia merasa malu tadi telah terlalu banyak bicara pada Ong Tiong Yang, dimana Ong Tiong Yang membawa sikap seperti juga tidak mengerti ilmu silat. Sie Hun Bian tertawa dingin, ia berkata tawar.

"Apakah kita akan meneruskan pertempuran kita?"

Tanyanya. Ong Tiong Yang tersenyum.

"Tetapi semua itu bukan atas kehendakku, justru Siecu yang telah melancarkan serangan beberapa kali kepada Pinto... memang bukan se-kali2 Pinto hendak bertempur denganmu. .. hanya Pinto mengharapkan agar Siecu dilain waktu tidak selalu cepat marah seperti itu dan menurunkan tangan kejam kepada seseorang yang tidak berdaya......!"

Muka Sie Hun Bian jadi berobah merah, ia marah tetapi ia tidak bisa melampiaskan kemarahannya itu, karena ia mengetahui bahwa pendeta yang ada dihadapannya ini merupakan lawan yang tidak ringan.

Maka dari itu, Sie Hun Bian yang bernama Pian Kia Liang tersebut menahan kemarahannya, ia memaksakan diri untuk tersenyum, katanya.

"Cinjin sebenarnya murid dari pintu perguruan mana ?"

Ong Tiong Yang kerutkan alisnya sejenak, kemudian sambil tertawa ia menyahuti .

"Pinto kira hal itu kurang begitu penting buat siecu!"

"Mengapa kurang penting? Bukankah jika memang Cinjin murid dari salah seorang sahabatku; urusan kita akan bisa diselesaikan sampai disini saja.......?"

"Jadi jika Pinto ini murid dari orang yang tidak dikenal oleh siecu, apakah Pinto tidak akan diberi ampun olehmu ?" . Ditanya begitu Sie Hun Bian tersenyum ngejek.

"Baiklah, jika memang engkau tidak bersedia menyebutkan siapa gurumu, sekarang jawablah pertanyaanku yang satu ini. Apakah Cinjin memang sengaja, hendak memusuhi diriku?"

"Mana berani aku memusuhi diri Siecu, bukankah kita tidak pernah saling berkenalan "

"Hem......., lalu kenapa Cinjin campuri urusanku!"

"Semua itu hanya disebabkan keadilan belaka, dimana Pinto tidak bisa menyaksikan perbuatan yang se-wenang2 dilakukan terhadap orang yang tak berdaya... l"

"Tetapi pelayan itu tadi telah berlaku kurang ajar kepadaku, bukankah pantas jika aku menghajarnya?"

Tanya Sie Hun Bian yang naik darah lagi. Tetapi justru Ong Tiong Yang, berkata dengan suara yang sabar .

"Cara untuk menegur pelayan hu bukan dengan hajaran, tatapi cukup dengan memberitahukan saja......kukira dengan diberitahukan saja ia akan mengerti.......!"

Sie Hun Bian mendengus, ia jadi serba salah.

Tetapi disamping tengah, mempertimbangkan kekuatan dan kepandaian Tojin muda ini, juga ia tengah memikirkan apakah akan diteruskannya untuk melancarkan serangan kepada Ong Tiong Yang, atau memang urusan itu dihabisi sampai disitu saja ?

Ong Tiong Yang merangkapkan sepasang tangannya, ia berkata ramah .

"Nah, kukira cukup, pinto hendak kembali kemeja pinto....... !"

Dan tanpa menantikan jawaban dari Sie Hun Bian, tampak Ong Tiong Yang telah memutar tubuhnya, ia kembali kemeja Kiang Bun, Waktu itu Kiang Bun berkata sambil memperlihatkan jari tangannya .

"Hebat kau Totiang........kepandaianmu luar biasa.... !"

Tetapi Ong Tiong Yang tersenyum lebar, ia bilang dengan suara yang merendah .

"Itu hanya kepandaian biasa saja, ilmu mengebut lalat....!"

Justru kata2 Ong Tiong Yang yang merendah diri itu telah didengar oleh Sin Hun Bian, membuat marah Bian Kie Liang jadi meluap lagi, tahu2 ia memukul meja dengan keras.

"Brakkk........!"

Meja itu telah dipukulnya kuat sekali.

"Hidung kerbau kurang ajar......!"

Bentaknya.

"Mari kita bertempur seribu jurus lagi....!"

Dia menantang sambil berdiri. Ong Tiong Yang jadi menoleh dan katanya dengan tawar.

"Mengapa harus berangasan seperti itu Siecu?"

"Engkau menganggap diriku sebagai lalat? Hayo buktikan, apakah aku seekor lalat yang begitu mudah dikebut oleh hudtimmu......!"

Ong Tiong Yang baru tersadar, bahwa perkataannya itu justru didengar oleh Sie Hun Bian. Cepat2 Ong Tiong Yang bangkit dari duduknya, ia merangkapkan tangan memberi hormat.

"Maaf, sama sekali aku tidak bermaksud menyindir Siecu, aku hanya mengatakan kepada sahabat Pinto ini, bahwa kepandaian yang dimiliki itu bukan kepandaian yang berarti..........!"

Waktu Ong Tiong Yang berkata sampai disitu.

tiba2 dari luar melangkah masuk seseorang.

Semua mata menoleh, dan ruangan rumah makan tersebut seketika tersiar bau harum semerbak, karena yang memasuki ruangan rumah makan itu tidak lain seorang gadis yang memiliki paras sangat cantik.

Ong Tiong Yang yang melihat gadis secantik itu, diam2 telah mengucapkan doa untuk dapat menenangkan goncangan hatinya.

Sebagai seorang pendeta muda, dengan sendirinya melihat seorang gadis yang begitu cantik, membuat hatinya tergoncang, benar2 merupakan suatu dosa buat Ong Tiong Yang.

Dan ia tidak berani memandanginya terlalu lama, walaupun dihatinya ia heran sekali bahwa didunia ini ternyata terdapat gadis secantik itu.

Sedangkan gadis yang baru datang tersebut, mengenakan pakaian warna biru dan memakai ikat pinggang berwarna merah, dengan di ujung satunya diganduli oleh sebuah ukiran kepala burung Hong, dan juga ujung yang satunya lagi diganduli oleh sebuah bentuk bola kecil yang berkilauan karena terbuat dari emas, telah melangkah menghampiri sebuah meja, dan memesan makanan kepada pelayan.

Sie Hun Bian sendiri yang melihat gadis cantik itu, untuk sejenak tidak memperhatikan Ong Tiong Yang, karena matanya memandang tidak berkedip kepada sigadis itu.

---oo~dwkz^Tah~oo---BAGIAN 40 .

LIE SIU MEI SI GADIS CANTIK SAMA SEKALI sigadis tidak memperlihatkan sikap yang canggung walaupun ia menjadi pusat perhatian dari orang2 didalam ruang rumah makan tersebut.

Waktu itu tampak Kiang Bun sudah berkata dengan suara yang setengah berbisik .

"Lihatlah Totiang, betapa cantiknya gadis itu..........!"

Pipi Ong Tiong Yang berobah merah, ia hanya mengangguk dan duduk kembali dikursinya.

Sedangkan Sie Hun Bian juga telah kembali duduk, tetapi matanya tidak lepas-lepas mengawasi gadis tersebut.

Disaat itu, sigadis telah berkata dengan suara yang merdu.

"Aku minta cepat disediakan dua kati teh dan dua buah bakpauw !"

Sipelayan dengan cepat melayani apa yang dipesan sigadis.

Pelayan itu yang menyaksikan kecantikan gadis tersebut juga seperti lenyap semangatnya, ia berjalan dengan tubuh yang terhuyung, seperti juga orang yang telah kehilangan semangat.

Sigadis kemudian memandang sekelilingnya, menyapu semua orang yang berada didalam ruangan itu.

Sedangkan saat itu tampak Ong Tiong Yang tengah mencuri pandang kearah sigadis.

KebetuIan sekali sigadis tengah memandangnya.

Dengan sendirinya mata mereka saling bertemu.

Tetapi sigadis tidak mengalihkan pandangannya ia terus memandangi Ong Tiong Yang.

Keruan saja Pipi Ong Tiong Yang jadi berobah merah, ia cepat membuang pandangannya kelain arah, sedangkan hatinya tergoncang cukup keras.

Sigadis tiba2 telah bangkit dari duduknya menghampiri Ong Tiong Yang.

Waktu telah dekat, ia merangkapkan kedua tangannya memberi hormat sambil kstanya.

"Totiang, bisakah aku meminta sedikit pertolongan darimu.......?"

Hal ini membuat Ong Tiong Yang jadi sibuk sekali, ia cepat2 bangkit dari duduknya. Dibalasnya hormat sigadis dengan merangkapkan kedua tangannya juga, katanya.

"Pertolongan apakah yang bisa kuberikan untuk nona?"

"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu kepada Totiang dan ingin memperoleh sedikit penjelasan.......!"

Sahut sigadis.

"Soal apakah itu, nona?"

Tanya Ong Tiong Yang dengan hatid yang mulai tidak tenang. Sigadis terlampau cantik, jarang sekali Ong Tiong Yang melihat ada gadis secantik gadis tersebut.

"Maukah Totiang duduk semeja denganku agar aku bisa menjelaskan urusan itu per-lahan2 ?"

Tanya sigadis.

Mendengar gadis itu memintanya untuk pindah kemeja sigadis, muka Ong Tiong Yang jadi berobah merah.

la melirik kepada Kiang Bun.

Waktu itu Kiang Bun tengah mengawasinya, dan ketika Ong Tiong Yang melirik kepadanya, ia mengedipkan matanya, membuat muka Ong Tiong Yang kian berobah merah.

"Maafkanlah Siecu, aku harus menemani nona ini dulu"

Kata Ong Tiong Yang. Kiang Bun mengangguk cepat sambil tertawa "Si!ahkan......silahkan, aku tidak keberatan !"

Katanya.

Mendengar Kiang Bun mengijinkan, maka Ong Tiong Yang mengikuti sigadis, pindah kemeja gadis itu.

Sedangkan gadis tersebut tampaknya girang sekali melihat Ong Tiong Yang tidak keberatan pindah kemejanya.

Tangan sigadis telah dilambaikan memanggil pelayan, ia memesan dua kati teh lagi dan dua buah bakpau yang tidak memakai isi.

Pesanannya itu akan disediakan untuk tamu undangannya ini.

"Urusan apakah yang hendak nona tanyakan ?"

Tanya Ong Tiong Yang yang jadi tidak enak hati kalau berdiam diri ber-lama2. Gadis itu tersenyum manis sekali.

"Waktu aku memasuki ruang rumah makan ini, aku melihat Totiang, maka diwaktu itu aku yakin Totiang tentu bisa memberikan keterangan kepadaku....... sedangkan orang2 lainnya yang berada dalam ruangan ini seperti bukan manusia baik?, hanya Totiang seorang pendeta yang beragama, tentunya bisa memberikan keterangan yang sejujurnya dan sebenarnya.......!"

Mendengar perkataan gadis tersebut, Ong Tiong Yang agak tenang.

"Katakanlah nona, apakah yang hendak ditanyakan nona ?"

Tanya Ong Tiong Yang.

"Sesungguhnya aku tengah mencari jejak seseorang,"

Menjelaskan gadis itu.

"Mencari jejak seseorang ?"

Gadis itu mengangguk.

"Tepat ! Tetapi ketika orang itu memasuki kota ini, justru ia telah lenyap tanpa meninggalkan jejak, sehingga aku kehilangan jejaknya, yang hendak kutanyakan kepada Totiang, apakah Totiang melihat orang itu.......?"

"Siapakah yang nona maksudkan ?"

"Seorang pemuda, berusia dua puluh tahun memakai baju berwarna kuning........!"

"Tetapi...... sulit Pinto memberikan keterangan, tentunya banyak sekali pemuda yang mengenakan pakaian serupa itu dikota ini........!"

"Namun pernuda itu memiliki tanda2 tersendiri, yaitu wajahnya sangat tampan, Disamping itu ia juga merupakan seorang pemuda yang memiliki kepandaian yang tinggi. Kulihat Totiang memiliki kepandaian yang tinggi, matamu memiliki sinar yang tajam, tentunya Totiang bisa melihat pemuda itu dengan baik, yaitu pemuda yang memiliki kepandaian atau yang tidak........!"

Ong Tiong Yang berpikir sejenak, berusaha mengingat-ingat.

Tetapi justru ia tidak berhasil untuk mengingat apakah ia pernah bertemu dengan orang yang dimaksudkan sigadis.

Maka ia berkata sambil menggelengkan kepalanya .

"Sayang sekali aku belum pernah bertemu dengan pemuda yang nona maksudkan itu.....!"

Kalau demikian kata gadis itu kemudian.

"Baiklah, terima kasih atas keterangan Totiang, sayang Totiang tidak bertemu dengan orang yang tengah kucari itu.......!"

"Apakah nona memiliki urusan yang cukup penting dengan pemuda itu ?"

Tanya Ong Tiong Yang. Muka sigadis jadi berobah merah, tetapi ia mengangguk cepat.

"Ya,"

Sahutnya.

"Kalau memang demikian, biarlah Pinto bantu mencari jejak pemuda itu. Apakah pemuda itu sahabat nona atau memang orang yang nona musuhi ?"

"Ia.., ia sahabatku. ....!"

"Baiklah, Pinto bersedia membantu nona untuk mencari jejak sahabat nona itu......!"

"Terima kasih Totiang..... siapakah gelaran Totiang ?"

Tanya sigadis. Ong Tiong Yang tersenyum sambil katanya.

"Pinto belum memiliki gelaran, karena Pinto masih muda dan belum berhasil mempelajari agama Pinto dengan baik. Sedangkan nama Pinto Ong Tiong Yang.........!"

"Ohhh..........!"

"Apakah ada sesuatu yang janggal pada nama Pinto ?7"

Tanya Ong Tiong Yang ketika melihat sigadis memperlihatkan wajah yang agak luar biasa dan sepasang alisnya itu mengerut dalam-dalam. Ditanya begitu, sigadis berkata dengan suara ragu2.

"Aku.... aku seperti pernah mendengar nama itu........!"

Ong Tiong Yang tersenyum.

"Di mana nona pernah mendangar nama Pinto........?"

Tetapi gadis itu telah menggeleng.

"Entahlah, aku tidak mengingatnya lagi."

Disaat itu Ong Tiong Yang hendak mengundurkan diri untuk kembali kemeja Kiang Bun. Namun pelayan justru telah mengantarkan makanan yang dipesan sigadis.

"Sayang jika totiang tidak memakannya, jika memang Totiang tidak menerima undanganku untuk menjamu totiang, berarti totiang tidak mau memberi muka kepadaku....!!' "

Tetapi.... !"

Suara Ong Tiong Yang ragu2.

Sigadis tersenyum sambil mengambil sebuah bakpauw dan mulai memakannya.

Sikapnya manis dan terbuka sekali.

Ong Tiong Yang tidak bisa menampik untuk menemani gadis itu bersantap.

Setelah menghabiskan sebuah bakpauwnya dan baru saja Ong Tiong Yang bermaksud meninggalkan meja gadis ini, justru sigadis telah memandang kearah pintu rumah makan itu.

Di waktu itu seseorang melangkah masuk, Ong Tiong Yang juga ikut meliriknya, ia melihat seorang pemuda berusia antara dua puluh tahun dengan memakai baju warna kuning melangkah masuk !

Seketika Ong Tiong Yang menduga pemuda inilah yang tengah dicari oleh gadis itu.

Tetapi waktu itu sigadis menundukkan kepalanya dalam-dalam, iapun berkata dengan suara yang perlahan .

"Biarkan saja dia, jangan sampai ia melihat diriku,"

Kata sigadis.

Melihat sikap sigadis, Ong Tiong Yang jadi heran.

la menatap dengan sorot mata tidak mengerti, sampai akhirnya setelah pemuda berbaju kuning itu memiliki bentuk tubuh tegap dan wajah tampan telah mengambil tempat duduk membelakangi mereka, Ong Tiong Yang bertanya dengan suara perlahan .

"Apakah pemuda itu yang tengah dicari oleh nona ?"

Sigadis mengangguk.

"Ya.... tetapi aku tidak mau memperlihatkan diri padanya ditempat ini,"

Sahut sigadis.

"Siapa nama pemuda itu ?"

Tanya Ong Tiong Yang jadi tertarik.

"Dia she Auwyang bernama Hong....!"

Menjelaskan gadis itu.

"Ohhhh ......!"

"Kepandaiannya tinggi sekali, kita harus, bicara perlahan, jangan sampai ia mendengar, karena pendengarannya sangat tajam .......!"

Kata gadis itu lagi.

"Siapa nona sebenarnya ?"

Gadis itu tersenyum, untuk sejenak ia tidak menyahuti pertanyaan Ong Tiong Yang.

Sedangkan Ong Tiong Yang yang telah terlanjur menanyakan nama gadis itu, jadi berobah mukanyanya, karena dia merasa lancang telah menanyakan langsung nama seorang gadis yang baru dikenalnya.

"Aku she Lie dan bernama Sin Mei,"

Menjelaskan sigadis akhirnya.

"Nona Lie,"

Kata Ong Tiong Yang.

"Apakah engkau tidak mau menemui sahabatmu sekarang saja? Bukankah kelak jika ia sempat pergi engkau akan sulit mencari jejaknya lagi?"

Tetapi sigadis telah menggelengkan kepalanya dan ia berkata.

"Tidak,"

Dan kemudian menghela napas dengan wajah yang berobah seperti juga, ia memiliki kesulitan. Ong Tiong Yang menyaksikan hal itu jadi heran, ia bertanya lagi.

"Apakah nona tengah ribut dengan pemuda itu?"

Ong Tiong Yang bertanya seperti itu karena ia menduga tentu sigadis adalah kekasih pemuda berbaju kuning yang katanya bernama Auwyang Hong tersebut. Kembali gadis itu telah menggelengkan kepalannya.

"Apakah ada alasan lainnya? tanya Ong Tiong Yang semakin tertarik ingin mengetahui.

"Aku benci akan sifatnya yang angkuh........."

Kata sigadis. Jawaban si gadis tersebut membuat Ong Tiong Yang tambah heran.

"Bukankah nona telah mencari jejaknya dengan bersusah payah ....... ? Mengapa nona harus membencinya? Bukankah dengan mencari jejaknya berarti nona mau bertemu dengannya?"

Ditanya begitu, muka sigadis she Lie itu jadi berobah merah lagi.

"Totiang, maukah engkau menolongi aku sekali lagi ?"

Tanya Lie Siu Mei, Ong Tiong Yang tidak segera menjawab pertanyaan sigadis, ia hanya mengawasi sigadis.

"Bagaimana Totiang ?"

Tanya Lie Siu Mei seperti tidak sabar.

"Baiklah,"

Sahut Ong Tiong Yang.

"Katakanlah nona, bantuan apa yang bisa kuberikan untuk nona ?"

Sigadis ragu2 sejenak, tetapi kemudian ia menyahuti juga, dengan suara yang perlahan .

"Totiang temui pemuda itu, kemudian belajar kenal dengannya...."

"Untuk apa ?"

Tanya Ong Tiong Yang terkejut dan heran memotong perkataan sigadis.

"Jika memang Totiang berhasil berkenalan dengannya, maka disaat itulah Totiang bisa me-mancing2 apakah ia menaruh perhatian.......perhatian kepadaku........!"

Waktu mengucapkaa kata-katanya yang terakhir itu, wajah sigadis berobah merah, tampaknya ia likat sekali. Ong Eiong Yang tersenyum, seketika ia mengerti maksud gadis ini.

"Baiklah,"

Kata Ong Tiong yang kemudian "Kalau begitu, tentu, persoalan yang tidak terlalu sulit........!"

Setelah berkata begitu, Ong Tiong Yang meneguk habis tehnya dan bangkit berdiri, Tetapi Lie Siu Mei telah berkata dengan suara yang perlahan .

"Tunggu du!u Totiang, ada yang perlu kujelasksn........ !"

Kata sigadis. Ong Tiong Yang duduk kembali.

"Apa yang hendak nona katakan ?"

Tanyanya kemudian.

"Totiang harus berusaha mencari jalan untuk dapat berkenalan dengannya dan mencari akal agar bisa membawa pembicaraan kearah diriku...!"

Pesan sigadis.

"Ya, itu tidak terlalu sulit,"

Kata Ong Tiong Yang.

"Tetapi Totiang, begitu Totiang tengah menghampiri pemuda itu, aku akan segera menyelinap keluar meninggalkan ruangan ini. Nanti hasilnya boleh totiang sampaikan kepadaku malam ini, akan kunantikan totiang dipintu kota sebelah berat."

Ong Tiong Yang mengangguk.

Gadis itu demikian cantik, dan tampaknya ia mencintai pemuda berbaju kuning yang katanya bernama Auwyang Hong itu.

Namun rupanya gadis tersebut memiliki kesukaran untuk menyampaikan isi hatinya, sehingga ia telah meminta bantuan Ong Tiong Yang.

Untuk pertolongan seperti itu tentu saja Ong Tiong Yang tidak akan menolaknya, yang tentunya akan mengecewakan si gadis, terlebih lagi memang urusannya pun merupakan urusan yang ringan sekali.

---oo~dwkz^^Tah~oo---BAGIAN 41 .

PEMUDA BERBAJU KUNING ONG TIONG YANG bangkit dari duduknya, kemudian melangkah kedekat meja pemuda berbaju kuning itu.

Sekilas ia melirik kepada Lie Siu Mie, ternyata sigadis tengah melangkah meninggalkan ruang rumah makan tersebut.

Ong Tiong Yang telah merangkapkan kedua tangannya memberi hormat kepada pemuda baju kuning itu, membuat pemuda itu jadi terkejut dan cepat2 melompat bangun dan membalas hormat dari pendeta ini.

"Maafkan Pinto mengganggu sebentar....!"

Kata Ong Tiong Yang. Pemuda itu mengangguk dengan ramah, kemudian katanya dengan suara yang sabar.

"Siapakah totiang........ apakah kita pernah bertemu ..... maafkan aku seperti lupa segalanya.......!"

Mendengar sampai disitu, Ong Tiong Yang tersenyum, ia berkata.

"Apakah Hengtai (saudara) yang bernama Auwyang Hong ?"

"Ihhh..... !"

Seru pemuda baju kuning itu mengandung keterkejutan. Sedangkan Ong Tiong Yang tetap yakin bahwa pemuda ini benar2 bernama Auwyang Hong.

"Bolehkah Pinto mengganggu Hengtai sejenak?"

Tanyanya.

"Ya....,ya boleh......!"

Sahut pemuda itu.

"Tetapi tunggu dulu, totiang darimana totiang mengetahui she dan namaku begitu jelas?"

"Pinto diberitahukan oleh seseorang"

Menjelaskan Ong Tiong Yang.

"Justru Pinto menemui Hengtai akan menyampaikan sesuatu.......!"

"Mengetahui dari seseorang ? Siapakah orang itu?"

Tanya Auwyang Hong tidak sabar.

"Sabar, nanti Hengtai akan lekas mengetahuinya!"

Kata Ong Tiong Yang.

"Bolehkah Pinto duduk bersama dengan Hengtai ?"

"Oh silahkan...., silahkan.....!"kata Auwyang Hong cepat.

"Maafkanlah, karena heran, sampai aku lupa untuk mengundang duduk pada Totiang...!"

Ong Tiong Yang duduk disebuah kursi yang berhadapan dengan pemuda itu, kemudian katanya dengan sabar.

"Beberapa waktu yang lalu Pinto bertemu dengan seseorang dan justru orang itu telah memberitahukan bahwa nama Hengtai adalah Auwyang Hong.

"Memang benar namaku Auwyang Hong, dan bolehkah Siauwte (adik) mengetahui siapakah nama orang yang memberitahukan Totiang mengenai namaku itu? Dan juga siapa& Totiang?"

Ong Tiong Yang tersenyum.

"Pinto bernama Ong Tiong Yang...!"

Menjelaskan pendeta ini.

"Ohh........!"

Dan Auwyang Hong mengawasi dengan penuh tanda tanya pada pendeta ini.

"Dan mengenai nama orang yang memberi tahukan prihal diri Hengtai, adalah......l"

"Siapa dia, Totiang?"

Tanya Auwyang Hong tidak sabar.

"Dia itu seorang gadis ......!"

"Seorang gadis?"

"Siapa dia?"

"Dia mengaku she Lie.....!"

Kedua alis Auwyang Hong jadi mengkerut dalam2, ia tampak berpikir keras.

"Siapakah namanya?"

Tanya Auwyang Hong kemudian.

"Aku rasanya tidak memiliki kenalan seorang gadis she Lie ........!"

"Oh ..."

Ong Tiong Yang mengawasi Auwyang Hong dengan sinar mata yang agak tajam, kemudian katanya.

"Apakah memang benar2 Hengtai tidak kenal seorang nona yang bernama Lie Siu Mei....?"

Disebut namanya Lie Siu Mei, wajah Auwyang Hong jadi berobah, dan kemudian berkata.

"Jika memang gadis itu.....kukira ........ ku kira aku memang mengenalnya...... tetapi itu terjadi baru beberapa saat yang lalu. Kapankah Totiang bertemu dengan gadis itu?"

"Ia .... ia tadi memberitahukan-ku, bahwa ia yang bernama Auwyang Hong tampaknya, nona itu terlalu memperhatikan keadaan anda........!"

Kembali Auwyang Hong berobah, agak memerah karena likat.

"Totiang jadi bergurau,"

Katanya kemudian.

"Justru ..!"

"Justru kenapa? tanya Ong Tiong Yang tertarik sekali.

"Justru beberapa waktu yang lalu kami telah bertemu dan bertengkar, malah gadis she Lie itu bermaksud untuk membinasakan diriku!"

"Ohhhh.......... !"

"Dan ia telah melancarkan serangan2 yang mematikan, untung saja aku bisa meloloskan diri dari tangannya dan berhasil melarikan diri.......!"

"Oh........!"

Sekali lagi Ong Tiong Yang tercengang, karena sama sekali ia tidak menyangka bahwa Lie Siu Mei merupakan lawan dari Auwyang Hong.

"Apakah gadis itu tidak menceritakan kepada totiang bahwa kami memang telah bertempur satu dengan yang lainnya ?"

Tanya Auwyang Hong. Ong Tiong Yang menggeleng.

"Pinto Pinto tidak tahu menahu hal itu......!"

Katanya agak gugup.

"Apakah totiang sahabatnya ?"

Tanya Auwyang Hong lagi sambil mengawasi tojin itu dengan sorot mata yang tajam. Kembali Ong Tiong Yang telah menggelengkan kepalanya."

"Bukan...."

Sahutnya.

"Dan maksud kedatangan totiang hendak menemuiku ?"

Tanya Auwyang Hong sambil tetap mengawasi pendeta itu.

Disaat itu Ong Tiong Yang sudah tidak bisa berdusta.

la murid dari sebuah pintu perguruan yang lurus selamanya belum pernah berdusta.

Maka kali inipun ia tidak bisa berdusta, tertebih lagi keterangan yang diberikan sigadis ternyata berlainan dengan kenyataan yang ada.

Maka ia segera menceritakan urusan itu sebenarnya.

Auwyang Hong yang mendengar hal ini jadi tertawa agak keras, rupanya ia menganggap urusan itu merupakan urusan yang lucu.

"Kalau memang demikian,"

Kata Auwyang Hong kemudian "Totiang telah diperalat oleh sigadis itu........!"

"Aku diperalat oleh gadis itu ?"

Tanya Ong Tiong Yang tidak mengerti.

"Ya, Totiang diperalat hanya sekedar untuk memperoleh keterangan dari mulutku.......!"

Sahut Auwyang Hong.

"Tetapi gadis itu memang sungguh2 menaruh perhatian kepada Auwyang. Hengtai....!"

Menegaskan Ong Tiong Yang.

"Mengapa Totiang bisa mengetahui hal itu dengan pasti ?"

Tanya Auwyang Hong. Ong Tiong Yang jadi gugup.

"Ini..... ini.....!"

Katanya dengan suara yang gugup.

"Bukankah menurut pengakuan totiang baru pertama kali bertemu dengan gadis itu?"

Tanya Auwyang Hong. Ong Tiong Yang mengangguk.

"Benar ....... tetapi dalam waktu yang singkat itu justru Pinto melihatnya betapa gadis itu memang benar2 menaruh perhatian kepadamu Hengtai........!"

Kata Ong Tiong Yang.

"Mengapa begitu ?'' "

Karena sebelum Hengtai datang kerumah ini, justru ia telah menjelaskan kepada Pinto bahwa ia tengah mencari jejak Hengtai, karena ia...., ia terlalu memperhatikan Hengtai, bahkan menurut pengakuannya, dia adaIah sahabat Auwyang Hengtai......!"

Mendengar perkataan Ong Tiong Yang seperti itu Auwyang Hung tersenyum, dan kemudian berketa dengan suara yang pasti.

"Aku tidak yakin gadis itu memperhatikan diriku, karena ia sebelumnya bersikeras hendak membinasakan diriku.......!'' "

Mengapa begitu ?, tentunya terdapat suatu kesalah pahaman ?"

Tanya Ong Tiong Yang.

"Gadis itu menuduh bahwa aku telah mencuri sesuatu barangnya, tetapi aku merasa tak pernah mencuri barangnya dan aku tentu saja membantahnya ........ tetapi justru gadis she Lie itu tetap dengan tuduhannya, bahkan ia tetah melancarkan serangan dengan ilmu pedangnya. Memang aku bisa memberikan perlawanan, namun jika aku mempergunakan kekerasan, jelas akan membuat gadis itu terluka bukankah jika memang hal ini terjadi harus dibuat sayang dimana gadis secantik itu harus terluka ditanganku ........... ?"

Ong Tiong Yang tidak segera menyahuti, ia berdiam diri sejenak, kemudian mengangguk.

"Ya.... memang tampaknya Hengtai memiliki kepandaian yang tinggi. Nona Lie Siu Mei juga mengatakan, disamping Hengtai memiliki kepandaian yang tinggi, juga memiliki watak dan sifat yang angkuh .......!" ---oo0oo---Tiba-tiba terdengar suara yang dingin mengandung ejakan .

"Hemmm......, meributi segala urusan wanita, pemuda tidak tahu malu dan imam hidung kerbau yang menyeleweng.........nah, tentu kena sekali dan cocok!"

Begitu terdengar suara dingin itu, ternyata suara Sie Hun Bian Bian Kie Liang, ia telah tidak sabar rupanya mendengar percakapan yang berlangsung antara Auwyang Hong dan Ong Tiong Yang.

Bian Kie Liang berkata lagi dengan dingin dan sikapnya yang ugal-ugalan.

"Kalian memang berusia masih muda, tapi tidak bisa kalian seenaknja membicarakan uruasan seorang gadis begitu saja.......!"

Setelah berkata, dengan cepat ia ulurkan tangannya, ia memegang tepi meja dan menjungkir balikan meja itu, membuat Auwyang Hong dan Ong Tiong Yang cepat-cepat menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat ringan sekali.

Dicaat itu Ong Tiong Yang berkata dengan perasaan tidak senang.

"Bian Sie-cu, mengapa kau begitu usil ?'' katanya begitu, tampak Bian Kie Liang mengeluarkan suara tawa dingin, ia berkata l.

"Hemm......, engkau tidak perlu berkata dan pura2 bertanya seperti orang tolol....... urusanmu denganku masih belum selesai........ mari, mari, mari; kita selesaikan.........!"

Ong Tiong Yang jadi semakin tidak menyukai laki2 ubal2an ini, ia juga tidak jeri walaupun mengetahui bahwa Bian Kie Liang memiliki kepandaian sempurna.

Namun belum lagi ia menyahuti, justru Auwyang Hong teIah mendahuluinya berkata .

"Lelaki tua bangka, terlalu kurang ajar, kita belum pernah saling kenal, tetapi mengapa mejaku kau balikan seperti itu ?"

Ban Kie Liang tertawa mengejek, ia mendengus dengan sikap yang sinis.

"Engkau tidak perlu banyak rewel anak muda, nanti mulutmu akan kurobek...!"

Auwyang Hong dengan suara bearnada tidak senang .

"Baik..., baik..., aku Justru jadi tertarik sekali ........ apakah engkau benar-benar bisa merobek Mululku ......?"

Dengan tidak membuang waktu lagi tampak Bian Kie Liang menggerakkan kedua tangannya; dan mengeluarkan suara seruan sambil melancarkan serangan, kedua tangannya itu bergerak disertai oleh kekuatan tenaga lwekang, maka angin serangan tersebut-berkesiuran dengan cepat sekali.

Tetapi Auwyang Hong juga bukan pemuda sembarangan, ia telah mengelakkan serangan yang dilancarkan Bian Kie Liang dengan gerakan lincah dan mudah.

Gerakan tangan Auwyang Hong secepat kilat itu memang tidak pernah diduga oleh Bian Kie Liang, mengingat bahwa usia pemuda tersebut mungkin baru dua puluh tahun.

Auwyang Hong memang berusia masih muda samun ia berani dan tabah sekali.

Disamping itu dengan gerakan yang aneh tangan kanannya diulurkan untuk menotok, dan tangan kirinya menghantam perut Bian Kie Liang.

"Ihhh........,"

Bian Kie liang mengeluarkan suara seruan tertahan. la telah melompat mundur sambil mengibaskan tangannya. Namun tidak urung tubuh Bian Kie Liang terhuyung oleh dorongan tenaga Auwyang Hong.

"Tahan........!"

Bentak Bian Kie Liang dengan suara nyaring. Auwyang Hong yang semula hendak melancarkan serangan berikutnya, jadi menahan gerakan tangannya.

"Hemmm......, engkau seorang tua keladi tidak tahu adat, apa yang hendak kau, katakan?"

Tegur Auwyang Hong.

"Apakah engkau murid dari pendekar tua Lo Sin ?"

Tanya Bian Kie Lang penasaran. Auwyahg Hong jadi terdiam sejensk, ia tertegun, tetapi kemudian mengangguk pula.

"Benar .....!"

Sahutnya. Tiba2 muka Bian Kie Liang jadi berobah, ia telah memandang dengan muka yang bengis.

"Dimana situa bangka Lo Sin itu?"

Tanyanya dengan suara mengandung ancaman. Auwyang Hong melihat sikap Bian Kie Liang, mengetahui bahwa orang itu bukan sahabat gurunya, maka ia menyahut dingin.

"Mau apa kau menanyakan guruku .....?"

"Aku bertanya, dimana kini beradanya situa bangka Lo Sin ?"

Bentak Bian Kie Liang.

"Hemmm..., enak saja kau bertanya dengan membentak seperti itu ......apa yang kau inginkan ? Jika memang aku tidak memberitahukan apa yang hendak kau lakukan ?"

Muka Bian Kie Liang telah berobah jadi bengis sekali, ia berkata dingin.

"Jika benar engkau tidak mau mengatakannya, aku akan memaksanya........!"

Auwyang Hong tertawa dingin, katanya tawar.

"Coba jika memang engkau bisa melakukannya. ..!"

Tantangnya.

Benar-benar Auwyang Hong seorang pemuda yang amat berani, karena ia telah menantang begitu dengan sikap tidak mengenal takut dan gentar.

---oo^dwkz0^Tah^oo---BAGIAN 42 .

PERTARUNGAN MELAWAN SI WAJAH EMPAT ARWAH BIAN KIE LIANG SEDANGKAN Bian Kie Liang mengeluarkan suara dengusan, tak mengucapkan sepatah kata.....

tiba2 tubuhnya melompat melancarkan serangan yang cepat dan kuat.

Tubuh Bian Kie Liang bergerak secara aneh seperti menyambar kearah kiri, tetapi serangan itu justru menuju kearah kanan.

Serangan yang dilakukannya itu membingungkan Auwyang Hong, karena ia sama sekali tidak mengetahui arah mana yang, hendak dijadikan sasaran oleh lawannya.

Sedangkan Ong Tiong Yang yang menyaksikan pertempuran itu, diam2 merasa kuatir akan keselamatan Auwyang Hong, karena ia mengetahui bahwa Bian Kie Liang adalah seorang jago tua yang memiliki kepandaian tinggi sekali.

Disaat itu Ong Tiong Yang menarik napas dalam-dalam, ia menyalurkan kekuatan lwekangnya pada hudtimnya.

Karena jika Auwyang Hong mengalami ancaman bahaya, ia akan segera mempergunakan hudtimnya itu untuk menyerang, guna menolongi Auwyang Hong.

Keadaan seperti itu memang cukup tegang, karena tampaknya Bian Kie Liang melancarkan serangan dengan kekuatan tenaga lwekang penuh tidak segan2 lagi Bian Kie Liang berkata dengan suara dingin.

"Jika engkau tidak mau mengatakan dimana sekarang ini Lo Sin situa bangka itu berada, biarlah aku akan membinasakan dirimu...........!"

Dan Bian Kie Liang ber-siap2 melancarkan serangan berikutnya, namun Ong Tiong Yang telah menghadang didepan Auwyang Hong menghadapi Bian Kie Liang, sambil katanya dengan suara yang sabar .

"Tahan.......!"

Mata Bian Kie Liang jadi berkilat tajam.

"Kau hendak mencampuri urusanku?"

Bentak Bian Kie Liang dengan suara yang tawar. Tetapi Ong Tiong Yang membawasikap yang tenang ia berkata dangan suara yang tetap sabar.

"Tahan dulu.... jika memang. Lopeh terus-terusan mendesak, berarti Lopeh tidak mengindahkan kedudukan Lopeh, bukankah dengan demikian sebagai orang golongan Ciapwe, maka Lopeh akan menampar muka sendiri .............?'' Ditegur begitu oleh Ong Tiong Yang, tampak Blan Kie Liang berkata tawar .

"Aku tidak maemperdulikan kedudukan dan gelaran, kalau rnemang anak muda itu tidak mau menurut perintahku, biarlah akan ku-potong2 tubuhnya, engkau tidak perlu mencampurinya.........!"

Mendengar ancaman Bian Kie Liang, Ong Tiong Yang tersenyum sabar, katanya .

"Sejak tadi Pinto melihat Lopeh selalu membawa sikap yang keras, walaupun berurusan dengan kaum Boanpwe, ternyata Cianpwe tidak mengindahkan kedudukanmu,..... tidakkah itu menimbulkan perasaan malu? '' Mendengar sampai disitu, rupanya Bian Kie Liang tidak bisa mempertahankan kesabarannya, dengan mata beringas ia membentak .

"Kau mau menyingkir atau tidak ?'' Tampak Ong Tiong Yang tertawa tawar. Bian Kie Liang sudah tidak bisa menahan kemarahan hatinya, ia mengeluarkan suara seruan nyaring, tahu2 kedua tangannya diulurkannya, maksudnya hendak mencengkeram Ong Tiong Yang. Ong Tiang Yang memiliki sinkang dari aliran putih dan lurus, maka serangan Hudtimnya merupakan serangan bisa menindih kekuatan sesat yang dimiliki, Bian Kie Liang. Terpaksa Bian Kie Liang melompat mundur dari tempatnya, karena jika tidak tentu perutnya akan tertotok oteh bulu2 hudtim tersebut. Diwaktu itu Auwyang Hong berkata deagan dingin kepada Ong Tiong Yang .

"Totiang, minggir, biar aku yang menghadapinya !"

Dan sambil berkta begitu, ia melompat kedepan melintang didepan Ong Tiong Yang.

Gerakan yang dilakukan Auwyang Hong membuat Ong Tiong Yang terkejut, cepat2 ia menarik pulang Hudtimnya.

Auwyang Hong telah menekuk kedua kakinya, ia mengambil sikap berjongkok.

Sikap yang diperlihatkan Auwyang Hong membuat Bian Kie Liang dan Ong Tiong Yang jadi heran.

Mareka tidak tahu entah apa yang hendak diiakukan Auwyang Hong.

Waktu itu tampak Auwyang Hong sambit berjongkok seperti itu telah mengeluarkan suara "Ngrokkkk....., ngroookkkk....."

Beberapa kali, dan tahu2 kedua telapak tangannya didorongkan kepada Bian Kie Liang.

Semula Bian Kie Liang hanya berdiri tertegun melihat kelakuan Auwyang Hong, namun akhirnya ketika melihat pemuda itu mempergunakan kedua telapak tangannya mendorong seperti itu, ia jadi terkejut sekali.

Karena gulungan angin yang kuat dan santer telah, menyambar kearah dirinya.

Cepat-cepat Bian Kie Liang, telah menangkis dengan mengibaskan tangannya.

Tetapi tidak urung waktu tenaga mereka saling bentur, tubuh Bian Kie Liang jadi ter-huyung2 tiga langkah kebelakang.

Sedangkan Auwyang Hong sendiri mengalami hal yang kurang menggembirakan.

Tubuh yang dalam keadaan berjongkok itu terpental dan terjengkang kebelakang.

Untung saja Auwyang Hong cukup gesit dan cepat sekali bisa mengerahkan tenaganya, Disaat itu, tampak Bian Kie liang telah berdiri dengan mata terpentang lebar2.

"Apakah ilmu silatmu seperti itu juga di ajarkan situa bangka Lo Sin kepadamu ?"

Auwyang Hng mengeluarkan suara tertawa "Engkau tiidak perlu menanyakau perihal guruku, karena percuma saja.

Jika memang guruku berada disini, tentu dengan mudah kau akan dihajarnya hingga babak belur..........!"

Mendengar ejekan Auwyang Hong, Bian Kie Liang meluap darahnya, dengan cepat menggerakkan kedua tangannya, berusaha mencengkeram batok kepala Auwyang Hong.

Namun Auwyang Hong berkelit dengan cepat, dan Ong Tiong Yang yang berada disamping Auwyang Hong mempergunakan Hudtimnya menyerang tubuh Bian Kie Liang.

Dengan demikian terpaksa Bian Kie Liang harus menarik kembali serangannya karena jika ia meneruskan serangannya kepada Auwyang Hong, jelas ia sendiri akan menjadi korban totokan Hudtim yang dilancarkan Ong Tiong Yang dimana jalan darah pada pinggangnya akan ter totok oleh bulu-bulu Hudtim tersebut.

Bian Kie Liang menggerakkan kedua tangannya yang diangkat keatas, ia memusatkan seluruh kekuatan lwakangnya pada kedua telapak tangannya dan melakukan serangan, serangan yang dilakukannya itu menimbulkan angin berkesiuran keras.

Tetapi Auwyang Hong dan Ong Tiong Yang telah bersiap sedia, cepat2 mereka melompat mengelakkan diri dengan gerakan yang gesit, sehingga serangan yang diiancarkan Bian Kie Liang jatuh ditempat kosong, dan yang menjadi korban pukulan tersebut adalah meja yang terdapat disitu.

Segera terdeogar suara "

Brakkkk......!'' keras sekali, dimana segera terlihat meja itu hancur terpukul oleh serangan Bian Kie Liang, bahkan kayu2 meja itu telah menjadi ber-keping2.

Hal itu merupakan peristiwa yang mengejutkan sekali, sebab bisa dibayangkan betapa hebat tenaga serangan yang dilakukan Bian Kie Liang.

Ong Tiong Yang tercekat hatinya, sedangkan Auwyang Hong tetap membawa sikap yang periang.

Melihat serangannya tidak berhasil mengenai sasaran, dengan tidak sabar Bian Kie Liang telah membentak.

"Ayo kita mulai lagi....!"

Auwyang Hong yang melihat sikap lawannya yang tidak sabar, telah mengeluarkan suara tertawa mengejek dia berkata dingin.

"Hmm, apakah engkau telah yakin bahwa kepandaianmu bisa dan sanggup menghadapi menandingi kepandaian kami?"

Ditanya begitu muka Bian kie Liang jadi berobah merah padam, memancarkan nafsu membunuh, ia juga berjingkrak sambil katanya dengan keras.

"Baik aku akan membuktikan kepada kalian, siapa adanya Bian Kie Liang."

Dan setelah berkata begitu, dengan cepat Bian Kie Liang menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat dengan gerakan yang sangat cepat, kedua tangannya telah melnncarkan serangan.

Tangan kanannya melancarkan serangan kepada Auwyang Hong, tangan satunya menyerang Ong Tiong Yang.

Waktu diserang, Auwyang Hong mengambil sikap berjongkok dan menekuk kedua kakinya seraya mengeluarkan suara seperti kodok menggerok, dan tahu-tahu kedua tangannya didorongkan menangkis serangan yang dilancarkan Bian Kie Liang.

Terdengar suara benturan yang kuat, tetapi kali ini tubuh Auwyang Hong tidak sampai terguling hanya ber-goyang2 saja.

Tubuh Bian Kie Liang juga tidak terpental, hanya tergetar sejenak.

Yang Iuar biasa, justru Bian Kie Liang sekarang menghadapi dua orang jago muda usia namun memiliki kepandaian tinggi sekali, dimana ia pun tidak berhasil merubuhkannya.

Hal ini membuat Bian Kie Liang jadi penasaran sekali.

Disaat itu, tampak Bilan Kie Liang dengan penasaran mengeluarkan suara bentakan yang nyaring dan melancarkan serangan yang lebih gencar lagi.

Setiap serangan dilakukannya merupakan jurus2 yang mengandung hawa mematikan.

Maka dari itu Ong Tiong Yang dan Auwyang Hong tidak berani terlalu ceroboh untuk menghadapi serangan Sie Hun Bian yang berangasan ini.

Begitulah, cepat sekali mereka telah bertempur beberapa puluh jurus dalam sekejap mata saja telah dilewatkan.

Auwyang Hong memperoleh kenyataan ilmu kodoknya, yaitu Ha Mo Kang tidak memberikan hasil.

Selanjutnya Auwyang Hong menghadapi lawannya ini dengan mempergunakan ilmu lainnya.

Dengan mengeluarkan suara siulan yang nyaring, tampak Auwyang Hong berdiri dikaki kanannya, sedangkan kaki kirinya diangkat, jadi ia berdiri dikaki tunggal Gerakan seperti itu adalah gerakan yang mirip dengan jurus Kim Kee Tok Pit atau Ayam Emas berdiri dengaa kaki tunggal.

Namun justru yang luar biasa, sambil berdiri dikaki tunggalnya itu, Auwyang Hong ber-putar2 tidak hentinya.

Tubuhnya seperti juga sebuah gasing saja.

Bian Kiit Liang yang melihat cara bertempur Auwyang Hong aneh, jadi tertegun kembali, iapun harus berpikir keras, berusaha mencari jalan untuk merubuhkan lawannya.

Pertempuran begitu serunya, mereka saling gempur dengan menggunakan tenaga yang besar karena harus saling mengimbangi serangan2 lawannya secara bergantian.

Pertempuran seru ini berlangsung dalam waktu yang panjang, akhirnya kedua jagoan muda inipun terdesak dan jatuh dibawah angin.

Bian Kie Liang teerus melancarkan serangan2-nya, tenaga serangan yang dilancarkan oleh Bian Kie Liang memaksa Ong Tiong Yang maupun Auwyang Hong selalu harus main mundur.

Namun Ong Tiong Yang dan Auwyang Hong tidak menyerah mereka selalu membarengi dengan melancarkan serangan balasan, walaupun setiap serangan mereka akhirnya selalu berhasil dipunahkan Bian Kie Liang.

Begitulah, ketiga orang ini bertempur hampir seratus jurus lebih, tetapi Bian Kie Liang hanya berhasil mendesak kedua lawannya tanpa sanggup untuk merubuhkannya.

Waktu pertempuran tengah berlangsnng dengan seru, tiba2 berkelebat sesosok bayangan biru.

Dan ditempat tersebut telah bertambah Iagi dengan seseorang.

Ong Tiong Yang telah mengelakkan diri dari serangan Bian Kie Liang, ia mempergunakan kesempatan tersebut untuk melirik, segera ia mengenali orang baru datang itu .....

yang tidak lain adalah sigadis she Lie.......!

Auw Yang Hong juga rupanya telah melihat kedatangan Lie Siu Mei, ia menyalurkan kekuatan tenaga lwekangnya untuk mendesak Bian Kie Liang, dan waktu lawannya itu melompat mundur, Auwyang Hong berkata .

"Nona Lie, tidakkah engkau ingin membantui kami menghajar kambing tua ini ?"

Lie Siu Mei yang berdiri tiga tombak dari gelanggang pertempuran itu mengeluarkan suara tawa yang nyaring, merdu sekali suara tertawanya, dan ia pun berkata dengan suara yang manis dan lembut .

"Sayang sekali aku tidak memiliki kepandaian yang berarti jika memang aku ikut bertempur, jangan2 nanti aku akan terluka dan terbinasa ditangan situa bangka itu !"

Mendengar dirinya pulang pergi disindir sebagai situa bangka, muka Bian Kie Liang jadi merah padam karena gusar, ia memperhebat serangannya kepada Auwyang Hong dan Ong Tiong Yang.

"Haya...., haya....., kalian harus huti-hati !"

Teriak Lie Siu Met sambil tertawa kecil.

Dan sambil berteriak begitu, seperti orang kaget, tangan kanannya juga ber-gerak2 seperti menunjuk.

Bian Kie Liang terkejut, karena ia merasakan menyambarnya angin serangan dari senjata rahasia dibelakangya.

Hal itu membuat Bian Nie Liang harus menunda serangannya kepada Auwyang Hong dan Ong Tiong Yang, untuk mengelakkan diri dari samberan senjata rahasia tersebut.

Sambil berjongkok memiringkan tubuhnya Bian Ki Liang mengibaskan lengan bajunya, maka samberan senjata rahasia itu ternyata adalah belasan batang jarum, telah gagal mengenai sasarannya dan runtuh keatas tanah.

Rupanya sambil meng-gerak2-kan tangannya Lie Siu Mei melancarkan serangan dengan senjata rahasianya itu untuk membantui Ong Tiong Yang dan Auwyang Hong, memecahkan perhatian Bian Kie Liang.

Se-konyong2 Bian Kie Liang menjejakkan kedua kakinya, tubuhnya seperti terbang cepat sekali melesat kesamping sigadis.

Belum lagi kedua kakinya menginjak tanah, justru ia telah membarengi melancarkan serangan dengan mempergunakan telapak tangan kanannya.

Lie Siu Mei yang tidak menyangka bahwa Bian Kie Liang akan melompat kedekatnya, telah berusaha mengelakkan diri.

Tetapi serangan datangnya begitu tiba-tiba sekali, membuat Lie Siu Mei walaupun ia berkelit dengan cepat, tidak urung pundaknya kena keserempet telapak tangan Bian Kie Liang.

Lie Siu Mei mengeluarkan suara jeritan yang cukup nyaring, sedangkan Bian Kie Liang tampak melompat lebih dekat lagi melancarkan serangan kepada sigadis yang telah berhasil diserangnya.

Kembali Lie Siu Mei menjerit kesakitan, ia berusaha menggerakkan kedua tangannya, untuk balas menyerang.

Tetapi Bian Kie Liang melancarkan serangannya begitu cepat, dengan sendirinya kembali Lie Siu Mei harus terpental oleh desakan tenaga serangan yang begitu keras dan kuat.

Ong Tiong Yang dan Auwyang Hong yang melihat keadaan Lie Siu Mei terancam bahaya tidak kecil, cepat2 melompat dan membantui sigadis, dengan melancarkan serangan yang berbareng kepada Bian Kie Liang.

Serangan yang dilakukan aleh Ong Tiong Yang dan Auwyang Hong memang bisa membendung tenaga serangan Bian Kie Liang, sebab jago tua itu terpaksa harus menghadapi serangan vang dilancarkan Auwyang Hong dan Ong Tiong Yang.

Mempergunakan kesempatan itu, tampak Lie Siu Mei menjejakkan kakinya menjauh dari Bian Kie Liang, wajah sigadis agak pucat, tubuhnya menggigil, tadi ia nyaris terluka ditangan si jago tua yang ganas dan berangasan itu.

Waktu itu Bian Kie Liang melimpahkan keganasan dan kemendongkolan hatinya kepada Ong Tiong Yang dan Auwyang Hong.

Dimana serangan2 yang dilacarkannya lebih dahsyat dari yang tadi.

Ong Tiong Yang dan Auwyang Hong jadi terdesak hebat.

Napas Ong Tiong Yang juga mulai memburu, sedangkan wajah Auwyang Hong mulai dikucuri oleh keringat yang deras sekali.

Mereka berdua sangat letih sekali.

Bian Kie Liang yang melihat keadaan kedua lawanya itu, jadi girang.

la te!ah memperdengarkan suara mendengus dan kemudian katanya dengan suara yang tawar.

"Hari ini jika aku Bian Kie Liang tidak bisa membinasakan dirimu, biarlah aku tidak akan mengembara lagi di dalam rimba persilatan...!"

Dan sambil berkata begitu, kedua tangannya berkesiuran lebih cepat dan kuat.

Lie Siu Mei yang tadi mengalami hal yang kurang menggembirakan, dimana dirinya nyaris terluka ditangan Bian Kie Liang, sekarang tidak berani terlalu dekat dan ia tidak berani menimpukkan senjata rahasianya lagi, sebab gadis itu melfhat tenaga dalam yang dimiIiki, Bian Kie Liang telah mencapai tingkat tinggi sekali.

Auwyang Hung dan Ong Tiong Yang diam2 telah mengeluh didalam hatinya, karena mereka tidak pernah menyangkanya bahwa Bian Kie Liang merupakan seorang jago tua yang benar2 memiliki kepandaian demikian tinggi.

Tetapi sekarang mereka telah terlibat dalam pertempuran seperti ini, memaksa Ong Tiong Yang maupun Auwyang Hong harus berusaha mengeluarkan seluruh kepandaian yang ada pada mereka untuk melindungi diri masing2.

Disaat itu, Auwyang Hong yang merasakan tenaganya telah banyak berkurang, tengah memutar otak, sampai akhirnya waktu ia merasa jika bertempur sepuluh jurus lagi dirinya akan rubuh ditangan Bian Kie Liang, dan tidak bisa meaghadapi serangan selanjutnya dari lawannya.

Auwyang Hong memikirkan sebuah daya.

Dengan mengeluarkan suara bentakan keras ia melancarkan serangan kearah dada Bian Kie Liang, waktu Bian Kie Liang meloncat mundur mengelakkan diri, kesempatan itu dipergunakan oleh Auwyang Hong itu untuk menyingkir.

la pun berkata dengan suara nyaring.

"Tahan, aku hendak bicara... !"

"Katakanlah!"

Seru Bian Kie Liang dengan suara yang tawar.

"Aku bersedia mengatakan dimana beradanya guruku sekarang ini........!"

Kata Auwyang Hong. Muka Bian Kie Liang berubah berseri sejenak, tetapi kemudian jadi ganas dan bengis kembali.

"Cepat kau katakan, dimana kini gurumu itu berada?"

Tergur Bian Kie Liang dengan suara yang keras dan mantap tajam sekali. ---oo~dwkz^0^Tah~oo---BAGIAN 43 . TIPU DAYA AUWYANG HONG AUWYANG HONG tersenyum.

"tempat yang dipergunakan oleh guruku untuk mengasingkan dirinya itu merupakan tempat yang sulit sekali untuk dicapai........."

"Yang perlu kau katakan, dimana kini gurumu itu barada!"

Bentak Bian Kie Liang degan suara tidak sabar.

"Cepat kau katakan, dimana Kim Hek Lo Sin itu"

Auwyang Hong sambil menaban diri, ia berusaba untuk dapat berdiam diri tanpa mendesak hanya matanya saja yang memancarkan sinar sangat tajam sekali.

Auwyang Hong tersanyum lagi, katanya dengan suara yang satu-satu dan hati-hati.

"Jika memang eagkau menghendaki aku membantumu memberitahukan dimana tempat sekarang ini guruku berada, maka kau juga harus mengerti, bahwa kau harus memberikan imbalannya untukku.............bagaimana? Kau setuju bukan?"

"Apa syaratnya ?"

"Yang kuharapkan adalah imbalannya....!"

"Imbalan apa yang engkau kehendaki ?"

"Tentunya barang yang tidak murah"

Bian Kie Liang tidak sabar, ia mendesak .

"Cepat katakan, imbalan apa yang eng kau kehendaki ?".

"Jika memang engkau bisa memberikan padaku pelajaran dari seluruh ilmu silatmu, maka aku akan memberitahukan tempat guruku berada."

Bian Kie Liang tampak jadi terkejut dan memandang tidak mengerti .

"Jika memang engkau bersedia mengajari aku seluruh ilmu silatmu, aku bersedia memberi tahukan dimana sekarang guruku berada!"

"Beritahukan dimana tempat gurumu berada .......!"

"Cepat katakan"

Bian Kie Liang tambah tidak sabar .

"Kelak jika engkau hendak mengangkat aku menjadi gurumu, aku tentu tidak keberatan ....!"

"Siapa Yang kesudian mengangkat Lelaki tua bangka seperti engkau menjadi guruku?"

Tanya Auwyang Hong dengan suara mengejek Muka Bian Kie Liang jadi berobah merah, tanyanya dengan tidak senang.

"Bukankah tadi engkau menginginkan aku mengajari engkau ilmu silat?"

"Benar, aku hanya menghendaki engkau mengajari aku seluruh dari ilmu silatmu dengan baik-baik ....... tetapi aku tidak sudi mengangkat manusia seperti kau ini untuk menjadi guruku.......!"

"Baiklah jika memang engkau menghendakinya begitu, akupun tidak keberatan...!"

Kata Bian Kie Liang kemudian dengan disertai tertawa mengejeknya.

"Ilmu apa yang hendak kau ajarkan dulu kepadaku?"

Tanya Auwyang Hong.

"dan berapa banyak ilmu yang engkau miliki?"

Bian Kie Liang tertawa dingin, katanya .

"Soal itu bisa kita urus nanti saja......!"

"Mengapa harus nanti.... bukankah aku telah. mengatakannya jika engkau telah mengajari aku seluruh ilmu silatmu, baru aku akan memberitahukan tempat guruku berada?'' Tetapi sejak tadi bercakap-cakap Auwyang Hong juga telah bersiap siaga, maka begitu melihat lawannya itu melancarkan serangan, cepat sekali ia mengelakkannya dengan melompat kesamping sambil memperdengarkan suara tertawa yang nyaring. Disaat itu, Ong Tiong Yang baru menyadari bahwa Auwyang Hong hanya ingin mempermainkan Bian Kie Liang, bukan bersungguh-sungguh hendak mengkhianati gurunya. Dan kesempatan ber-cakap2 seperti itu memang telah memberikan kesempatan buat Auw yang Hong dan Ong Tiong Yang ber-istirahat. Diam2 Ong Tiong Yang jadi memuji kecerdikan yang dimiliki Auwyang Hong. Namun sejauh itu, tetap saja Bian Kie Liang tidak bisa merubuhkan mereka. Lie Siu Mei telah berdiri diluar gelanggang memperhatikan jalannya pertandingan. Berulang kali Lie Siu Mei mengeluarkan suasa teriakan2 kecil seperti kaget, hal itu untuk mengalihkan dan memecahkan perhatian Bian Kie Liang. la juga sering mengejek dengan kata kata yang selalu membangkitkan kemarahan Bian Kie Liang. Sejauh itu nona Lie tidak ikut turun gelanggang dalam pertempuran im, karena ia merasakan bahwa kepandaian yang dimilikinya itu memang tidak bisa mengimbangi kepandaian yang dimiliki Bian Kie Liang. Jika ia memaksakan diri ikut bertempur, tentu hanya akan merepotkan Auwyang Hong dan Ong Tiong Yang guna melindungi dirinya. Hal inilah yang tidak dikehendaki oleh Lie Siu Mei. Dan ia hanya berdiri saja diluar gelanggang pertempuran itu sambil tidak henti2-nya ber-teriak2 untuk memecahkan perhatian Bian Kie Liang. ---oo~dwkz^0^Tah~oo---Bertempur lagi beberapa saat, Ong Tiong Yang yakin bahwa mereka tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh kemenangan, karena walaupun bagaimana memang kenyataannya Bian Kie Liang merupakan seorang lawan yang sulit sekali dihadapi, kepandaiannya juga sangat tinggi. Dalam suatu kesempatan. Ong Tiong Yang berseru kepada Auwyang Hong .

"Hengtai...., mari kita tinggalkan kambing tua ini .... tidak guna menghadapi dengan kekerasan !"

"Oh Tunggu dulu totiang.......kambing tua seperti ini seharusnya kita beri hajaran biar tahu rasa....!"

"Itu, kita lakukan nanti saja, sekarang yang terpenting kita berusaha meninggalkannya....... !"

Kata Ong Tiong Yang. Dan setelah berkata begitu Ong Tiong Yang juga berteriak menyampaikan kepada Lie Siu Mei .

"Nona Lie, engkau pergi dulu meninggalkan tempat ini, kami berdua akan segera menyusul."

Lie Siu Mie tertawa. kemudian katanya .

"Baik..., baik..., tetapi aku akan menantikan kalian dimana ?"

"Jangan kita bicarakan disini, karena kambing tua ini yang telah menjadi demikian jinak tentu akan membuntuti kita terus ........... kau pergi saja dulu, nanti juga kita akan bertemu ....... !"

Dan setelah berkata begitu, Ong Tiong Yang memperhebat serangannya.

Bahkan jurus2 ilmu pukulan yang dipergunakannya semakin lama semakin kuat, dimana ia telah mendesak Bian Kie Liang lebih gencar.

Sedangkan Auwyang Hong juga tidak tinggal diam, ia melancarkan serangan2 yang lebih kuat kepada Bian Kie Liang.

Disaat Bian Kie Liang tengah mengelakkan diri, justru kesempatan itu telah dipergunakan mereka untuk melompat kebelakang guna menjauhkan diri.

Bian Kie Liang mengeluarkan suara tertawa dingin, sambil bentaknya .

"Jangan harap engkau bisa meloloskan diri dari tanganku !"

Dan sambll berkata begitu, Bian Kie Liang mengejarnya.

Ong Tiong Yang dan Auwyang Hong seperti telah berjanji, mereka tidak mengambil satu jurusan, karena mereka telah membagi diri untuk melarikan ke dua jurusan.

Bian Kie Liang jadi terkejut sekali, karena justru kepada Auwyang Hong itulah ia memiliki kepentingannya untuk mengengetahui tempat tinggal nya Lo Sin.

Sedangkan dengan Ong Tiong Yang dia hanya benci karena tojin itu memang terlalu usil selalu mencampuri urusannya, tetapi selain itu tidak terdapat urusan pula.

Karena ini, akhirnya Bian Kie Liang mengerahkan tenaga melakukan pengejaran kepada Auwyang Hong.

Auwyang Hong mengerahkan seluruh kekuatan ginkangnya, namun kenyataannya dia tidak bisa meloloskan diri dari kejaran Bian Kie Liang.

Bian Kie Liang berhasil mengejarnya semakin cepat dan dekat.

Auwyang Hong mengempos semangatnya dan berusaha melarikan diri lebih cepat lagi.

Tapi jarak mereka semakin dekat, dan Bian Kie Liang menjejakkan kedua kakinya tubuhnya mencelat ketengah udara, tahu2 meluncur menubruk kearah Auwyang Hong.

Bian Kie Liang berhasil mengejar Auwyang Hong, langsung memperhebat serangannya, ia berusaha untuk menundukkan Auwyang Hong dalam waktu yang singkat.

Bertepatan dengan itu, dengan tak terduga tahu2 Ong Tiong Yang telah muncul pula ditempat tersebut.

Hal ini disebabkan Ong Tiong Yang melihatnya ketika Bian Kie Liang mengarahkan pengejarannya kepada Auwyang Hong, maka Ong Tiong Yang merasa kuatir sekali akan keselamatan Auwyang Hong.

Itulah sebabnya ia cepat2 berbalik arah kearah larinya Auwyang Hong.

Melihat Ong Tiang Yang kembali muncul disitu, Bian Kie Liang jadi mendongkol dan gusar, dengan munculnya Ong Tiong Yang berarti ia mengalami kesulitan untuk mencari tahu keberadaan Lo Sin ....

gurunya Auwyang Hong.

Disaat pertempuran itu tengah berlangsung dengan seru dan angin pukulan mereka telah berkesiuran keras sekali, justru terdengar suara langkah kaki yang ringan dan berkelebat sesosok bayangan, lalu tampak seseorang telah berdiri diluar gelanggang pertempuran.

Baik Ong Tiong Yang, Auwyang Hong maupun Bian Kie Liang, mereka telah melihatnya bahwa orang tersebut tidak lain dari seorang lelaki berpakaian Thungsia panjang dan memakai selubung penutup muka yang berwarna merah.

---oo~dwkz^0^Tah~oo---BAGIAN 44 .

DITOLONG SI ORANG BERTOPENG MERAH DENGAN memakai topeng seperti itu, Ong Tiong Yang bertiga dengan Auwyang Hong dan Bian Kie Liang tidak melihat wajah lelaki yang baru muncul itu.

Mereka juga telah melihat betapa orang itu datang dengan gerakan yang ringan dan gesit sekali, suara langkah kakinya hampir tidak terdengar jika memang bukannya mereka mempunyai pendengaran sangat tajam sekali.

Diwaktu itu tampak Auwyang Hong berusaha berteriak .

"Paman, inilah Bian Kie Liang yang perlu dibasmi........!"

Bian Kie Liang tertawa mergeiek.

"Hemm......., engkau tidak perlu menggertak aku.... orang itu bukan sahabatmu dan juga engkau tidak mengenalnya !"

Kata Bian Kie Liang. Sedangkan orang yang menutupi mukanya dengan secarik kain merah, telah mempererdengarkan suara dengusan mengejek sambil katanya dengan dingin .

"Memang aku tidak kenal dengan kalian bertiga !"

Setelah berkata begitu orang bertopeng merah tersebut berdiri ditempatnya tanpa bergerak, ia hanya menyaksikan jalannya pertempuran tersebut.

Auwyang Hong yang sesungguhnya hendak menggertak Bian Kie Liang, jadi kecele karena orang itu membuka maksudnya, ia jadi mendongkol sekali, maka katanya .

"Jika dilihat dari cara engkau berpakaian seperti itu, tentunya engkau seorang ........."

Dan Auwyang Hong tidak meneruskan perkataanya.

"Seorang apa ?"

Tanya orang bertopeng merah itu ingin mengetahuinya.

"Aku tidak berani mengatakannya.........!"

"Kenapa ?"

"Aku kuatir engkau akan marah ?"

"Apakah engkau ingin mengeluarkan kata kata yang kurang ajar ?"

"Tidak !"` "Lalu mengapa engkau kuatir aku nanti memarahimu ?"

Tanya orang itu lagi.

"Justru aku kuatir setelah hal yang sebenarnya kukatakan, engkau akan marah padaku"

"Jika memang demikian, katakanlah.......!"

Kata orang bertopeng merah itu.

"Hmmm........,"

Dengus Auwyang Hong, yang kemudian disusul dengan suara tertawa dinginnya.

"Aku tidak yakin engkau tidak akah marah......!"

Dan baru berkata sampai disitu ia harus mengelakkan diri dari serangan yang dilancarkan Bian Kie Liang.

"Jika bukan perkataan kurang ajar, aku ....... tentu tidak akan marah.......!"

"Baik, aku hendak mengatakan, jika dilihat dari cara engkau berpakaian seperti itu, tentunya atau se-tidak2nya engkau ini adalah seorang banci...!"

Orang bertopeng merah itu telah mengeluarkan suara seruan mengandung kemarahan, tubuhnya juga bergerak sedikit, rupanya tergetar menahann perasaan marahnya, tetapi ia telah memperdengarkan suara tertawa dinginnya dan katanya.

"Baiklah, nanti setelah engkau selesai bertempur dengan orang itu, aku hendak meminta pertanggungan jawabmu, apakah memang benar benar aku seorang banci.......!"

Setelah berkata begitu, orang yang memakai topeng warna merah itu telah berdiri ditempatnya mengawasi jalannya pertempuran tersebut.

Bian Kie Liang yang melihat bahwa orang yang bertopeng merah itu bukan kawan Auwyang Hong maupun Ong Tiong Yang, hatinya jadi tenang.

Orang bertopeng merah itu ber-ulang kali mengeluarkan suara dengusan, lalu katanya .

"Bian Kie Liang, apakah gelaranmu sebagai Sie Hun Bian masih bisa dipergunakan terus ......."

Bian Kie Liang jadi terkejut.

Mendengar dari kata-katanya, orang bertopeng merah itu rupanya kenal padanya.

Tampaknya ia memandang rendah padanya Auwyang Hong dan Ong Tiong Yang, namun sambil melancarkan serangannya, ia menegur .

"Siapa engkau "Aku ?"

"Ya...!"

"Aku adalah aku!"

"Aku ingin mengetahui nama dan gelarmu!"

"Sayang sekali aku tidak biasa memberikannya sekarang ini....!"

"Kenapa begitu?"

"Bukankah anak muda itu telah mengatakan aku seorang banci, aku ingin memperlihatkan kepadanya nanti, apakah aku ini memang sama seperti apa yang disebutkannya atau memang perkataannya itu yang salah se-tidak2nya aku ingin sekali untuk merobek mulutnya yang lancang itu.... !" . Bian Kie Liang tertawa tawar, katanya .

"Jika memang engkau merasa tidak seperti yang dikatakan pemuda itu, mengapa engkau tidak berani menyebutkan nama dan gelarmu?"

"Hemm....., nanti juga engkau akan mengetahuinya ......!"

Sahut orang bertopeng merah itu.

"Tetapi apa yang kusaksikan sekarang ini, justru memperlihatkan bahwa kepandaianmu tidak memperoleh kemajuan sama sekali di bandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu...!"

"Hemm......, nanti setelah aku membereskan kedua anak domba ini, aku ingin meminta pengajaran darimu.....!"

Kata Bian Kie Liang dengan suara mendongkol.

"Boleh..., boleh......, namun aku sangsi dan tidak yakin bahwa engkau bisa merubuhkan kedua bocah itu.......!"

Kata orang bertopeng merah itu.

"Mengapa begitu ?"

"Kepandaian mereka tinggi dan cukup liehay, sedangkan kepandaianmu tidak memperoleh kemajuan dalam sepuluh tahun belakangan ini, dengan demikian, aku yakin bahwa engkau tidak mungkin bisa merubuhkan kedua anak muda itu........!"

"Baik, baik, aku akin memperlihatkan kepadamu bagaimana caranya Bian Kie Liang memberikan pelajaran kepada mereka!"

Dan setelah berkata begitu, serangan2 yang dilancarkan oleh Bian Kie Liang jadi semakin kuat.

Angin serangan kedua telapak tangannya itu berkesiuran menderu-deru.

Tetapi orang bertopeng merah itu mengawasi jalannya pertempuran tersebut dengan berulang kali memperdengarkan suara tertawa dingin.

Disamping itu, juga terlihat betapa 0ng Tiong Yang dan Auwyang Hong melancarkan serangan lebih baik, karena setelah bertempur sekian lama diantara mereka telah terjalin hubungan kerja sama yang lebih baik, dimana mereka melancarkan serangan secara bergantian dan juga saling melindungi.

Orang bertopeng merah itu mengeluarkan suara tertawa mengejek berulang kali.

Bian Kie Liang merasakarn dadanya seperti juga ingin meledak mendengar ejekan yang dilontarkan oleh orang bertopeng merah tersebut.

Tetapi ia tengah melakukan pertandingan yang tidak bisa ditunda-tunda dengan Auyang Hong dan Ong Tiong Yang, dengan sendirinya tidak bisa ia memecahkan perhatiannya untuk melampiaskan kemendongkolannya kepada orang bertopeng itu.

Saat itu tampak orang bertopeng merah itu berkata dengan suara dan sikap tidak acuh .

"Ambil Iangkah tiga dim dikanan dan pukul disebelah atas Tan Tian dua dim......!"

Auwyang Hong dan Ong Tiong Yang waktu itu tengah melancarkan serangan mereka, tetapi mendengar perkataan orang bertopeng merah tersebut, mereka jadi merandek, dan dasarnya memang cerdas, maka cepat sekali mereka bisa menangkap maksud orang bertopeng merah itu, yang kata-katanya merupakan petunjuk yang ditujukan kepada mereka berdua.

Maka Ong Tiong Yang dan Auwyang Hong merobah kedudukan mereka, keduanya berusaha untuk melancarkan serangan menurut yang dikatakan oleh orang bertopeng merah itu.

Hasil yang diperoleh Auwyang Hong dan Ong Tiong Yang memang luar biasa, ketika itu terlihat betapa Bian Kie Liang berhasil didesak mundur oleh serangan mereka.

Keadaan demikian menggembirakan Auwyang Hong dan Ong Tiong Yang.

"Lalu apa yang harus kami lakukan lagi?"

Tanya Auwyang Hong cepat.

"Agar aku bisa segera berurusan dengan kau setelah membereskan kambing tua ini.....!"

Orang bertopeng merah itu telah memberikan petunjuk-petunjuknya pula.

Dan Auwyang Hong maupun Ong Tiong Yang menurutinya.

Bian Kie Liang kewalahan menghadapi serangan Auwyang Hong dan Ong Tiong Yang yang menuruti petunjuk2 dari orang bertopeng merah itu.

Dengan demikian membuat Bian Kie Liang jadi terkejut dan penasaran sekali.

Waktu suatu kali ia mengelakkan diri dari serangan yang dilancarkan Auwyang Hong dan Ong Tiong Yang, Bian Kie Liangtelah berteriak.

"Jika memang tanganmu gatal, silahkan engkau sendiri maju untuk main-main denganku, jangan mengambil sikap pengecut seperti itu .......!"

Orang bertopeng merah itu tertawa dingin, tetapi dia tetap memberikan petunjuk-petunjuknya kepada Auwyang Hong dan Ong Tiong Yang.

Semakin lama Bian Kie Liang jadi semakin terdesak dan sibuk mengelakkan diri kekiri dan kekanan, tidak jarang Bian Kie Liang harus melompat kebelakang sejauh beberapa tombak.

Hal ini disebabkan ia memang jadi kewalahan dan jatuh dibawah angin setelah Auwyang Hong dan Ong Tiong Yang melancarkan serangan mereka menuruti petunjuk2 yang diberikan oleh orang bertopeng merah tersebut.

Tampak Auwyang Hong dan Ong Tiong Yang bersemangat saja, terlebih lagi orang bertopeng merah itu terus juga memberikan petunjuknya.

Keringat memenuhi sekujur tubuh Bian Kie Liang, sampai akhirnya ia mengeluh juga, karena jika ia mempertahatakan keadaan seperti ini terus-menerus, tentu dirinya sendiri yang bisa celaka, disamping itu, jelas ia yang akan jadi pecundang.

Dalam suatu kesempatan, Bian Kie Liang melompat mundur menjauhkan diri, ia memutar tubuhnya sambil berseru .

"Nanti aku akan datang mencari kalian.......!"

Dan ia terus melarikan diri dalam sekejap mata lenyap dari pandangan.

Orang bertopeng merah itu tertawa keras.

Auwyang Hong dan Ong Tiong Yang menghampirinya, mereka merangkapkan sepasang tangannya mesnjura memberi hormat kepada orang bertopeng merah Itu, sambil mengucapkan terima kasih karena mereka telah memperolehlz petunjuk dari orang bortopeng merah ini.

Tetapi disaat Ong Tiong Yang dan Auw Yang Hong tengah menjura memberi hormat, justru orang bertopeng merah itu mengibaskan tangannya.

Hebat kesudahannya ......

Tubuh Auwyang Hong dan Ong Tiong Yang seperti disamprok oleh suau kekuatan yang tidak tampak, tahu2 tubuh mereka terjungkel sejauh empat tombak.

Untung saja Auwyang Hong dan Ong Tiong Yang memiliki ginkang yang tinggi dengan sendirinya mareka tidak sampai terbanting ......!

Saat itu Orang bertopeng meragh itu tertawa keras, dan berkata .

Disaat itu orang yang pakai topeng merah berkata.

"Monyet2-kecil, ternyata kalian tidak memiliki kepandaian apa2, selain memiliki mulut yang kurang ajar ...... dasar monyet2 kecil.......! Auwyang Hong melompat berdiri dan berkata .

"Kau ... kala tadi membantu kami, tetapi sekarang ini mengapa justru memaki kami?"

Ditanya begitu orang bertopeng mengeluarkan suara mengejek .

"hemm......., tentu saja aku membantu kalian agar kalian tidak tercelakakan ditangan Bian Kie Liang, sehingga aku bisa membuat perhitungan dengan kalian......!"

Mendengar perkataan orang bertopeng merah itu. Auwyang Hong tertawa dingin.

"Kalau begitu, apa yang kuduoa ternyata tidak salah !"

Katanya.

"Tidak salah apanya ?"

Bentak orang berrtopeng merah itu dengan sorot matanya bersinar tajam, yang terlihat dari kedua lobang topengnya itu.

"Tentu tidak akan meleset apa yang telah kuduga, bahwa engkau...... engkau.......!"

Dan Auwyang Hong tidak meneruskan ucapannya lagi.

"Aku kenapa ?"

Tanya orang bertopeng merah itu sambil menatap tajam sekali.

"Kau seorang banci... .!"

Sahut Auw yang -Hong dengan berani.

"Kau...?"

Suara orang bertopeng merah itu terdengar keras sekali, kemudian ia melancarkan serangan dengan tangan kanannya.

Auwyang Hong hanya melihat berkelebatnya tangan orang bertopeng itu, tahu2 muka-nya telah kena dihajar keras sekali oleh tempilingan telapak tangan orang itu.

Keruan saja Auwyang Hong jadi kesakitan tubuhnya melayang ketengah udara.

Tetapi Auwyang Hong berhasil turun ketanah dengan kedua kaki terlebih dulu.

Orang bertopeng merah itu berkata kepada Ong Tiong Yang, dengan suara yang dingin .

"Tadi dan sekarang, pemuda itu Yang berani bicara kurang-ajar engkau sebagai kawannya tentu juga seorang tojin yang tidak baik hatinya ....... !"

Dan sambil berkata begitu, tampak orang bertopeng merah itu menggerakkan tangannya dengan gerakan yang cepat sekali, akan melancarkan serangan kepada Ong Tiong Yang.

"Tunggu dulu locianpwe.....!"

Seru Ong Tiong Yang yang mencegah kehendak orang itu melancarkan serangan, karena Ong Tiong Yang yakin orang ini, adalah seorang tokoh tua yang memiliki kepandaian tinggi sekali.

"Apa, yang hendak kau katakan ?"

Tegur orang bertopeng merah itu dengan dingin.

"Aku hendak mengatakan babwa Locianpwe telah salah paham, Pinto dan sahabatku ini sesungguhnya bukan manusia2 rendah"

Tetapi....... orang bertopeng merah itu berkata dengan suara yang dingin.

"Hemmm.......alasan apapun yang engkau kemukakan, dalam hal ini janagan harap engkau bisa mengelakkan hajaranku.....!"

Sambil berkata begitu, tampak orang bertopeng merah itu mengerahkan tenaga dalamnya, dan ia melancarkan serangan dengan kuat, Ong Tiong Yang mengetahui hal itu karena angin serangan tersebut berkesiuran kuat sekali.

Sebagai seorang yang sejak kecil selalu berlatih diri dengan sinkang aliran lurus dan bersih, Ong Yang mengetahui bahwa tenaga Iwekang yang dipergunakan oleh orang itu merupakan ilmu tenaga dalam aliran lurus.

Dan juga disaat itu, Ong Tiong Yang melihat cara menyerang orang tersebut mirip2 seperti ilmu silat dari Siauw Lim Sie.

Tampak Auwyang Hong memaki dengan suara tidak senang .

"Manusia banci hanya berani menghina yang muda.......!"

Tepiaknya. Orang bertopeng merah itu jadi menahan telapak tangannya yang hendak menyerang Ong Tiong Yang, kemudian ia memutar tubuhnya menghadapi Auwyang Hong.

"Jika memang demikian, engkau rupanya hendak minta dihajar lagi ........."

Lalu belum lagi suaranya itu habis diucapkan tampak ia melompat dan melancarkan serangan pula kepada Auwyang Hong.

Sebenarnya Auwyang Hong telah bersiap sedia hendak menghadapi serangan orang bertopeng merah itu, tetapi gerakan orang tersebut cepat sekali, sehingga tanpa ampun lagi ia telah kena dihajar pundaknya, tubuhnya berguling-guling diatas.

Begitu cepat cara menyerang orang tersebut dimana ia melancarkan serangannya dengan gerakan yang sangat aneh sekali.

Hal ini benar2 membuat Ong Tiong Yang jadi berpikir dua kali untuk berurusan dengan orang tersebut.

Tetapi Ong Tiong Yang juga menyadarinya bahwa ia tidak bisa berdiam diri saja menyaksikan Auwyang Hong disiksa oleh orang bertopeng merah itu.

Maka ia melompat kedekat orang ber topeng merah tesebut, ia juga menggerakkan hudtimnya menyerang punggung orang itu, Angin serangan hudtimnya berkesiuran kuat orang bertopeng merah tanpa menoleh lagi mengibaskan tangan kanannya, menyampok hudtim Ong Tiong Yang.

Seketika Ong Tiong Yang merasakan betapa telapak tangannya itu, seperti pecah dan pedih sekali, tubuhnya juga tergetar keras.

Waktu itu, orang bertopeng merah menggerakkan tangannya yang satunya, melancarkan serangan kepada Ong Tiong Yang dengan tubuh agak dimiringkan.

Serangan itu di lakukannya sangat cepat sekali, Ong Tiong Yang hanya sempat melihat betapa serangan orang bertopeng merah itu meluncur kearah dirinya, belum lagi ia keburu berkelit, saat itu tampak tubuhnya meluncur ketengah udara terkena serangan yang menyampoknya dengan kuat sekali.

Tetapi disebabkan Ong Tiong Yang memiliki sinkang yang murni dan lurus bersih, la bisa mengendalikan tubuhnya tidak sampai terbanting.

"Lain kali jaga mulutmu yang kurang ajar itu, kali ini aku mengampunimu dengan tidak merobek mulutmu, aku memandang pada tojin muda itu....!"

Kata orang bertopeng merah, dan ia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat dengan gesit, dalam sekejap mata telah lenyap dari pandangan mata Ong Tiong Yang dan Auwyang Hong.

Setelah orang bertcopeng merah itu lenyap dari pandangan mereka, Ong Tiong Yang menghela napas.

"Orang itu memiliki kepandaian yang tinggi sekali......ilmunya sulit dijajaki, entah siapa dia..........?!"

Setelah berkata begitu, Ong Tiong Yang menghela napas panjang.

---oo~dwkz^0Tah~oo---BAGIAN 45 .

RENCANA AUWYANG HONG AUWYANG HONG tersenyum sinis, tampaknya ia tidak senang menerima perlakuan yang kasar dari orang bertopeng merah itu, maka ia telah berkata dengan suara mengandung kemen dongkolan .

"Hemm....., orang itu hanya memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari kita, karena usianyapun lebih tua dari kita, ia dari tingkatan tua. Coba kalau memang kita telah sempat berlatih dari sepuluh atau dua puluh tahun lagi, tentu kita bisa menghadapinya....!"

Ong Tiong Yang tersenyum.

"Salah jika memang kau memilki pandangan seperti itu, Hengtai,"

Katanya kemudian.

"Orang itu memiliki hati yang cukup baik, karena ia tidak menurunkan-tangan keras kepada kita, dan ia telah menolongi kita menghadapi Bian Kie Liang, setelah itu ia pergi begitu saja....."

Tetapi Auwyang Hong tampaknya kurang senang dan ia berkata dengan suara yang tawar.

"Hemm....., jika dilihat dari gerak geriknya, tentunya orang itu juga bukan manusia baik-baik,"

Katanya.

"Dan jika kelak aku telah berlatih diri lebih giat dan memiliki kepandaian yang lebih kuat, aku akan mencarinya, untuk meminta pengajaran lagi kepadanya, sayangnya aku tidak bisa melihat wajahnya yang disembunyikan itu, sehingga aku tidak mengetahui entah siapa adanya orang itu ..........?"

Ong Tiong Yang tertawa saja mendengar perkataan Auwyang Hong.

"Mari kita kembali kekota!"

Katanya mengajak. Auwyang Hong berdiam sejenak, tampak nya ia ragu-ragu.

"Apakah disana kita tidak akan bertemu dengan Bian Kie Liang ?"

Tanyanya. Ong Tiong Yang menganggap bahwa pertanyaan Auwyang Hong ada benarnya-juga.

"Jadi Hengtai ingin pergi kemana ?"

Tanyanya.

"Entahlah, aku masih belum tahu ......!"

"Lalu jika memang Bian Kie Liang kembali kekota dan nona Lie itu kebetulan kembali kesana, sehingga mereka bertemu, apa yang akan terjadi pada diri nona Lie itu ?"

Ditanya begitu, Auwyang Hong berdiam sejenak. Namun akhirnya ia mengguk-angguk.

"Baiklah, mari kita kembali kesana untuk melihat keadaan .....!"

Dan setelah berkata begitu, ia mendahului Ong Tiong Yang berlari dengan cepat.

Dalam waktu sekejap mata saja, Ong Tiong Yang dan Auw yang Hong telah tiba dirumah makan yang telah mereka tinggalkan tadi.

Setengah harian mereka mencari Lie Siu Mei, tetapi gadis itu tidak berhasil mereka jumpai .

Begitu juga halnya dengan Bian Kie Liang mereka tidak melihat Sie Hun Bian tersebut.

Waktu itu Auwyang Hong dan Ong Tiong Yang memutuskan untuk bermalam dikota tersebut, mereka telah bermalam disebuah rumah penginapaa yang tidak jauh dari rumah makan itu.

Kiang Bun, teman ber-cakap2 Ong Tiong Yang waktu pertama kali ia mendatangi kota ini, ternyata sudah tidak terlihat mata hidung nya.

Malam itu Ong Tiong Yang tidur dengan nyenyak, karena ia memang letih sekali setelah bertempur begitu lama dengan Bian Kie Liang.

Tetapi waktu menjelang tengah malam.

Ong Tiong Tang terbangun dari tidurnya.

la seperti mendengar sesuatu, suara yang perlahan sekali.

Namun sebagai seorang yang telah terlatih benar pendengarannya, segera ia bisa menangkap bahwa diatas genting kamarnya ada dua orang yang tengah berjalan, berlari ringan.

Ong Tiong Yang dengan ringan melompat dari pembaringannya, ia segera mengbampiri jendela dan memasang pendengarannya.

Tetapi orang yang tengah berlari diatas genting itu tidak melompat turun, malah suara larinya itu semakin menjauhi.

Ong Tiong Yang jadi curiga.

la mendengarkan lagi beberapa saat, sampai akhirnya ia melompat keluar dari jendelanya dan melompat naik keatas genting.

Gerakan yang dilakukannya itu sangat cepat, lalu iapun melakukan pengejaran pada orang yang telah berlari begitu jauh sekali.

Dalam keadaan demikian, tampak Ong Tiong Yang memang bersikap hati2 sekali.

Ia telah mengejar orang yang tengah berlari diatas genting itu.

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Ong Tiong Yang memang telah mencapai tingkat yang tinggi, sehingga ia bisa mengikuti sosok tubuh yang tengah berlari itu tanpa disadari oleh orang yang tengah diikutinya itu.

Saat itu tampak sosok tubuh yang mengenakan pakaian ringkas berwarna hitam itu telah berlari menuju kearah selatan.

Ketika sampai disebelah pintu Koa dan terpisah dua puluh tombak, orang itu telah melompat turun.

Gerakan orang itu gesit sekali, tetapi Ong Tiong Yang berhasil mengikuti terus dengan baik.

Selama menguntit orang itu, Ong Tiong Yang melihat bentuk tubuh orang itu seperti dikenalnya.

Setelah lewat sekian lama, tampak sosok bayangan itu berhenti didepan sebuah kuil tua yang telah banyak kerusakan disana-sini.

Waktu itu, orang tersebut segera menegur dengan suara yang perlahan .

"Mei-moay..!"

"Auwyang Koko.... engkau telah datang?"

Terdengar suara seorang wanita menyahuti dari dalam kuil itu, dan disusul munculnya seorang gadis.

Ong Tiong Yang yang tengah mengintai segera melihat, betapa gadis itu dan pria yang baru datang yang mengenakan pakaian ringkas berwarna hitam tersebut, saling bercekalan tangan, mulut mereka tersenyum dan sinar mata mereka memancarkan cinta kasih.

Yang membuat Ong Tiong Yang terkejut dan heran, dia segera mengenali bahwa wanita itu tidak lain dari Lie Siu Mei, sigadis yang telah bertemu dengannya beberapa kali.

Sedangkan orang yang mengenakan pakaian warna hitam itu, tidak lain dari pada Auwyang Hong!

Tentu saja Ong Tiong Yang jadi heran bukan main, sebelumnya Auwyang Hong maupun Lie Siu Mei selalu memperlihatkan sikap seperti juga diantara mereka terdapat jurang pemisah yang dalam.

Tetapi sekarang justru Ong Tiong Yang telah menyaksikan sikap mereka yang begitu mesra.

Dangan sendirinya hal ini membuat Ong Tiong Yang benar2 tidak mengerti.

Sedangkan Auwyang Hong tampak telah menarik tangan sigadis, katanya dengan suara yang lembut.

"Mei-moy... mengapa engkau selalu mempermainkan aku ?"

"Mempermainkan engkau ? Bukankah engkau sendiri yang mencari urusan seperti itu"

Sahut sigadis dengan suara yang manja. Auwyang Hong tersenyum.

"Kau selalu membuat susah hatiku, Mei-moy... tahukan engkau, selama beberapa hari lamanya aku selalu disiksa oleh perasaan rindu ingin bertemu denganmu...... ?"

Lie Siu Mei tertawa juga, manis sekali tertawanya itu.

"Akupun demikian, Auwyang Koko.......!"

Kata sigadis manja, bahkan ia telah merebahkan kepalanya didada sipemuda, dengan sikap yang mesra sekali.

Ong Tiong Yang yang menyaksikan ini, jadi tersenyum sendirinya, ia membuang pandangannya kelain arah dengan pipi yang berobah merah.

Baru saja Ong Tiong Yang ingin meninggalkan tempat tersebut, disaat itu ia mendengar Auwyang Hong berkata .

"Mei-moy........ apakah engkau berhasil menguasai pendeta muda itu ?"

"Maksudmu Tojin muda itu ?"

Tanya Lie Siu Mei.

"Yang bernama Ong Tiong Yang itu .........?"

Ong Tiong Yang jadi tercekat hatinya, ia memasang pendengarannya terus, karena ia jadi tertarik ingin mengetahui apa yang akan dibicarakan oleh kedua orang itu, bukankah nama nya telah disebut-sebut.

Auwyang Hong waktu itu mengiyakan, dan Lie Siu Mei juga terdengar membuka suara yang agak perlahan .

"Aku sebenarnya berhasil menguasainya, jika memang tidak timbul urusan dengan Bian Kie Liang, dimana engkau terlibat didalamnya, aku tentu sudah berhasil menguasai keseluruhannya !"

Ong Tiong Yang jadi heran, entah apa yang dimaksud kedua orang ini, karena ia tahu, bahwa kedua orang tersebut justru tengah mempergunjingkan dirinya.

Malah jika didengar dan dilihat sikap mereka yang begitu mesra, tampaknya mereka telah telah saling kenal lama sekali dan intim.

Waktu itu, Ong Tiong Yang mendengar pula perkataan Auwyang Hong .

"Benar, justru timbulnya urusan Bian Kie Liang membuat rencana kita berantakan ....!"

Katanja.

Lie Siu Mei menghela napas.

Kedua muda-mudi itu jadi berdiam ditempat persembunyiannya dengan hati yang berpikir keras , dan mereka tenggelam dalam kemesraan.

Sedangkan Ong Tiong Yang jadi berdiam, ia tidak tahu entah rencana apa yang tengah di laksanakan oleh Auwyang Hong dan Lie Siu Mei.

Tetapi didengar dari nada suara mereka, memperlihatkan bahwa mereka mengandung masksud tidak baik padanya.

"Auwyang Koko......!"

Terdengar suara berbisik Lie Siu Mei, ia berbisik dengan suara perlahan namun disebabkan Ong Tiong Yang memiliki pendengaran yang tajam, ia bisa mendengar suara sigadis dengan jelas.

"Hemm......?"

Sahut sipemuda sambil menundukkan kepala dan mereka te!ah menuju kebawah sebatang pohon liu yang tumbuh di samping kuil itu.

"Sekarang tojin muda itu berada dimana?"

Tanya si gadis.

"Masih dirumah penginapan, ia tentu tengah tertidur nyenyak sekali."

"Hemm......., jika memang demikian, besok saja kita mulai kembali dengan rencana kita, agar kita bisa menguasai dirinya........!"

"Baiklah Mei-moy tetapi engkau harus melakukannya dengan hati-hati, agar rencana kita, itu berhasil dengan baik,"

Kata Auwyang Hong.

Pasangan muda-mudi itu terus juga bercakap-cakap dengan mesra.

Sedangkan Ong Tiong Yang yang berada di tempat persembunyiannya diliputi oleh tanda tanya tidak mengerti, ia men-duga2 entah rencana apa yang dimiliki pasangan muda-mudi tersebut.

Dia tidak mengetahuinya dengan jelas, karena waktu justru memang Ong Tiong Yang belum mendengar apa rencana mereka.

Karena tertarik dan ingin sekali mengetahui rencana mereka, sebab urusan menyangkut dirinya.

GAMBAR 08 Pasangan muda-mudi itu terus juga, bercakap-cakap dengan mesra.

Ong Tiong Yang tetap bersembunyi ditempatnya.

Ia ingin mendenqarkan terus, rencana apakah yang tengah direncanakan oleh pasangan muda-mudi tersebut.

Hanya saja didengar dari percakapan antara Auwyang Hong dengan Lie Siu Mei, memang tampaknya mereka-tengah merencanakan sesuatu yang tidak benar.

Waktu itu, Ong Tiong Yang mendengar lagi Lie Siu Mai berkata .

"Auwyang Koko ...... coba kamu jelaskan, sesungguhnya kepandaian Tojin muda itu apakah lebih tinggi dari kau ?"

Tanya sigadis. Ong Tiong Yang mendengar Aauwyang Hong menghela napas.

"Mengenai kepandaian mungkin kami berimbang, tetapi justru ia merupakan murid dari aliran bersih, aku melihat dari sinar matanya dan tenaga lweekang yang dimilikinya, maka dari itu, alangkah menariknya jika kita bisa memperoleh keterangan mengenai pelajaran ilmu sinkang dari aliran putih dan lurus. Sedangkan aku sendiri merupakan murid dari pintu perguruan yang ilmunya agak sesat, seperti ilmu kodokku, yaitu Ha Mo Kang ....... jika memang aku bersih, terus tanpa berusaha mengalihkan kesesatannya itu, tentu akan mencelakakan diriku sendiri. Itulah sebabnva aku meminta bantuan Mei-moy untuk memancing tojin itu, agar ia bersedia memberikan penjelasan mengenai pelajaran sinkang dari aliran bersih, yaitu dari aliran pintu perguruannya ....!"

Lie Siu Mei menghela napas dalam2, untuk sejenak lamanya ia tidak membuka mulut, sampai akhirnya ia berkata dengan suara ragu-ragu .

"Tetapi jika gagal...........?"

"Aku mohon kau usahakan jangan sampai gagal.....!"

Kata Auwyang Hong.

Lie Siu Mei menghela napas lagi, kedua remaja itu tenggelam dalam kebisuan.

Sedangkan darah Ong Tiong Yang tengah bergolak dan hatinya tidak senang setelah mengetahui rencana pasangan muda-mudi itu.

Segera ia menyadari bahwa sigadis rupanya hanya pura2 hendak meminta pertolongannya untuk merujukkan dengan Auwyang Hong rupanya sigadis hanya ingin memancing pelajaran sinkang dari aliran murni lewat mulutnya.

Tentu saja Ong Tiong Yang sama sekali tidak menyangka bahwa Auwyang Hong dan Liu Siu Mei merupakan pemuda-pemudi yang tidak mengenal malu.

Disaat itu, tampak Lie Siu Mei telah melompat berdiri, ia berkata kepada Auwyang Hong .

"Baiklah Auwyang Koko, engkau kembali menemui pendeta muda itu, engkau harus membawa sikap agar pendeta muda itu tidak menaruh kecurigaan. Nanti setelah aku berhasil mengambil hatinya dan rasa kasihannya, iatentu tidak. keberatan untuk memberikan pelajaran sinkang yang dimilikinya!"

Auwyang Hong melompat, ia mengiyakan.

Pasangan muda-mudi itu berciuman dan kemudian berpisah.

Ong Tiong Yang menantikan sampai Auw yang Hong pergi lenyap dari pandangan matanya, baru ia keluar dari tempat persembunyiannya.

Dengan mempergunakan ginkangnya, Ong Tiong Yang kembali kerumah penginapan dan langsung masuk kekamarnya.

Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Ong Tiong Yang tersenyum dan memejamkan matanya untuk tidur.

---oo~Dwkz~0~Tah~oo---BAGIAN 46 .

KELICIKAN AUWYANG HONG KEESOKAN PAGINYA, ia bertemu dengan Auwyang Hong, dimana pemuda tersebut membawa sikap yang tetap manis kepadanya.

Ong Tiong Yang juga menyembunyikan perasaannya, ia melayani Auwyang Hong dengan sikap yang biasa saja, mereka telah makan bersama-sama pula.

Diwaktu itu tampak Auwyang Hong berkata dengan tersenyum manis.

"Totiang, aku sesungguhnya sangat berterima kasih kemarin Totiang telah berusaha merecoki kami, antara aku dengan gadis she Lie itu tetapi sayang nya gadis she Lie itu memiliki adat yang berangasan, sehingga kurang kusenangi."

Ong Tiong Yang tersenyum, ia tidak memperlihatkan sikap tidak senangnya, hanya hanya berpikir.

"Pemuda ini ternyata seorang licik sekali...... !"

Tetapi dimulutnya ia telah berkata.

"Jika memang bisa kubantu tentu akan kubantu, asal memang menurut kemampuan yang ada pada Pinto...... !"

Auwyang Hong tersenyum.

"Memang Totiang tampaknya seorang pendeta yang welas asih sekali.......!"

Kata Auwyang Hong kemudian sambil tersenyum. Ong Tiong Yang membalas senyumnya.

"Tetapi tentu saja tidak bisa dikatakan begitu, kalau saja Siecu (tuan) memerlukan baatuanku, dan aku tidak bisa memberikannya tentu Siecu akan menganggap bahwa diriku ini seorang pendeta yang sangat jahat........!"

Mendengar dirinya disindir, disaat itu juga segera Auwyang Hong terdiam, ia melirik kepada Ong Tiong Yang, tetapi ia tidak melihat sikap sinis dari pendeta itu, tetapi justru yang dirasakan bahwa adanya perobaban panggilan terhadapnya.

Ong Tiong Yang padanya, sebelummya panggilan terhadap dirinya adalah hengtay (saudara), justru hari ini Ong Tiong Yang memanggilnya dengan sebutan Siecu, yaitu tuan.

Kejanggalan inilah yang membuat Auwyang Hong jadi berpikir.

Sejenak lamanya mereka hanya bersantap, tanpa ber-kata2 lagi.

Setelah selesai bersantap, Ong Tiong Yang tertawa sambil katanya .

"Bagaimana pendapat Siecu mengenai nona Lie itu, apakah ia seorang gadis yang manis dun patut dijadikan kekasih atau memang ia seorang gadis yang memuakkan."

Auwyang Hong tersenyum.

"Memang parasnya cantik, jika ia memilihii sifat yang lembut, tentu senang sekali aku bisa mengambilnya menjadi kekasihku...!"

"Bagaimana jika gadis itu meminta agar Siecu menjadi kekasihnya, apakah kau akan menolaknya?"

Tanya Ong Tiong Yang. Auwyang Hong tertawa.

"Kukira aku tidak memiliki peruntungan sebesar itu,"

Katanya.

"Kenapa ?"

Tanya Ong Tiong Yang "bukankah Siecu juga seorang pemuda yang gagah, tampan dan menarik ?"

Auwyang Hong telah menghela napas.

"Gadis itu tampaknya tidak menyukai diriku,"

Kata Auwyang Hong. Mendengar ini, Ong Tiong Yang telah berpikir lagi.

"Pemuda ini memang seorang pemuda yang senang sekali berdusta, rupanya memang sudah menjadi sifatnya, di mana ia tak bisa menjadi seorang pemuda yang jujur dan baik........"

Tetapi dimulutnya Ong Tiong Yang berkata dengan sabar.

"Tetapi jika memang Siecu mau berusaha dengan sabar, tentu Siecu bisa mempersunting dirinya.... pernah Pinto bertemu dengannya dan bercakap-cakap dengannya, justru Pinto melihatnya bahwa ia seorang gadis yang menarik dan lembut sekali, disamping parasnya yang cantik...........!"

Auwyang Hong tartawa.

"Soal itu biarlah nanti saja kita lihat lagi, mungkin juga pendapat, Totiang benar, tetapi dalam hal ini jelas aku tidak berani terlalu ceroboh untuk mencari teman hidup........!"

Ong Tiong Yang mengangguk, tetapi ia berkata dengan sabar .

"Baiklah jika memang demikian. Dan semoga saja Siecu bisa memperoleh seorang kawan hidup yang baik,"

"Terima kasil Totiang."

"Nah, Pinto kira, kita telah berkumpul cukup lama, disamping itu juga, Pinto masih memiliki banyak urusan, maka dari itu kita berpisah sampai disini saja........"

Mendenger itu, muka Auwyang Hong jadi berobah, dia telah berkata dengan nada suara yang agak ter-gesa2 .

"Mengapa Totiang begitu kesusu hendak berpisah denganku, bukankah kita baru saja berkenalan dan bisa menggalang persahabatan beberapa saat lamanya? Jika memang Totiang tidak menolak, akupun bermaksud untuk mengikat tali persahabatan dengan Totiang" .

"Sayangnya Pinto masih memiliki banyak persoalan yang harus diselesai... menyesal sekali pinto harus berpisah dengan Siecu... dan kelak kitapun akan berjumpa kembali.......!"

Auwyang Hong jadi muram, ia memperlihatkan wajah yang mengandung penyesalan waktu mengangguk.

"Baiklah Totiang, selamat jalan, sampai jumpa dilain waktu .... !"

Ong Tiong Yang segera pamitan dan melangkah keluar dari rumah makan tersebut....... Auwyang Hong mengantarkan sampai dipintu luar. Justru waktu itu Auwyang Hong seperti teringat sesuatu.

"Tunggu dulu Totiang ...... !"

Katanya. Ong Tiong Yang menoleh.

"Ada apa lagi Siecu ...?"

Tanyanya.

"Apakah Totiang masih ingat orang yang mengenakan topeng merah pada kemarin hari ?"

Tanya Auwyang Hong. Ong Tiong Yang mengangguk sambil tersenyum.

"Tentu saja Pinto masih ingat dengan baik, bukankah orang bertopeng merah itu justru telah berurusan dengan kita juga ?"

Auwyang Hong mengangguk.

"Begini Totiang, justru semalam secara diam2 aku telah pergi menyelidiki dan aku berhasil mencari jejaknya ......!"

Kata Auwyang Hong.

"Mencari jejak orarg bertopeng merah itu?"

Tanya Ong Tiong Yang sambil memperlihatkan wajah keheranan. Auwyang Hong mengangguk.

"Benar Totiang, jika memang Totiang mau pergi bersama-sama denganku, mari kita datangi dia. ..!"

Ong Tiong Yang tersenyum sabar waktu mendengar pekataan Auwyang Hong.

"Sayangnya Pinto tidak merasa punya sakit hati pada orang bertopeng merah itu ...... dimanakah jejak orang bortopeng merah itu berhasil kau jumpai?"

Tanya Ong Tiong Yang.

"Disebuah kuil didekat pintu kota......!"

Sahut Auwyang Hong.

"Disebuah kuil rusak!"

"Ohhh... !"

Pikiran Ong Tiong Yang seketika teringat kepada Lie Siu Mei.

Segera Ong Tiong Yang juga dapat menduganya, tentunya Auwyang Hong ingin mempertemukan dirinya dengan Lie Siu Mei setelah ia melihat pendeta ini bermaksud pergi, dan tidak-bisa ditahan lebih dipertemukan dengan Lie Siu Mei, setidak-tidak nya kekasih Auwyang Hong itu memiliki jalan untuk melibat Ong Tiong Yang pula.

Menduga begitu, Ong Tiong Yang jadi tersenyum lebar, akhirnya ia, mengangguk.

"Baiklah,"

Ia menyanggupi ajakan Auwyang Hong, karena Ong Tiang Yang juga jadi tertarik untuk mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh Auwyang Hong bersama Lie Siu Mei Tampak Auwyang Hong jadi girang, ia telah merengkapkan sepasang tangannya memberi rormpt kepada Ong Tiong Yang, katanya .

"terima kasih....., terima kasih.....!"

Katanya berulang kali.

Begitulah, mereka berdua telah berangkat dalam waktu yang singkat mereka telah tiba di kuil yang rusak didekat pintu kota.

Ong Tiong Yang menduga dengan tepat.

Ia memang di kekuil rusak dimana semalam Auwyang Hong telah mengadakan pertemuan dengan Lie Siu Mei.

Waktu itu, Ong Tiong Yang hanya berdiam diri saja, karena ia ingin mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh Auwyang Hong.

Ia hanya mengikuti saja.

Sedangkan Auwyang Hong telah menunjuk kearah kuil rusak yang tampaknya sepi ini.

"Semalam aku melihat dia memasuki kuil itu...!'' katanya. Ong Tiong Yang tertawa.

"Apakah semalam kau hanya mengintai dan melihat orang bertopeng merah itu memasuki kuil tersebut?"

Tanyanya. Auwyang Hong mengangguk.

"Benar...!"

Dan ia menoleh memandang kepada Ong Tiong Yang, dilihatnya pendeta itu tengah tertawa mengawasi padanya.

"Siecu,"

Kata Ong Tiong Yang.

"Kau tentu mengerti, kemungkinan bahwa orang bertopeng merah itu hanya singgah dikuil ini untuk beristirahat saja... dan sekarang dia telah pergi lagi entah kemana...!"

"Muagkin juga ia masih berada didalam bukankah kuil ini merupakan kuil rusak""

Ong Tong Yang mengangguk.

"Baiklah, jika memang demikian, mari kita melihatnya kedalam.....!"

Mereka berdua telah mendekati kuil itu.

Hanya yang membuat,Ong Tiong Yang hampir tertawa justru melihat Auwyang Hong membawa sikap yang berhati-hati sekali, melangkah dengan hati-hati dan mementang matanya lebar lebar berwaspada sekali, padahal orang yang berada didalam kuil itu tentunya sigadis Lie Siu Mei, kekasihnya.

Ong Tiong Yang mengikuti dibelakang Auw yang Hong, dengan mulut hanya tersenyum-senyum saja.

Sedangkan Auwyang Hong telah berkata dengan suara perlahan .

"Mari kita menyergap nya dengan mendadak ........!"

Ong Tiung Yang dengan hati yang merasa geli telah mengiyakan, dan mereka telah melompat masuk kedalam kuil rusak itu.

Tetapi didalam ruangan kuil itu justru mereka tidak menjumpai seorang manusiapun juga.

Disaat itu, tampak Auwyang Hong telah mencari-cari kesana kemari.

"Jika dilihat keadaan demikian, tampaknya dugaan Totiang memang benar"

Katanya.

"Dan orang bertopeng merah itu rupanya telah berlalu.........!"

Ong Tiong Yang tersenyum.

"Tunggu dulu,"

Kata Ong Tiong Yang.

"Justru aku seperti mencium bau harumnya minyak wangi seorang wanita ....!"

Mendengar perkataan Ong Tiong Yang, wajah Auwyaug Hong jadi berobah merah.

"Apakah memang orang memakai topeng merah itu seorang yang memiliki sifat banci seperti yang kuduga ? Hmm......., mungkin dia yang memakai bau harum-haruman itu............!"

Ong Tiong Yang telah tersenyum lagi, tetapi sebelum ia sempat berkata, disaat itu telah muncul sesosok tubuh dengan gerak yang gesit, sesosok tubuh yang ramping dan seketika juga didalam ruangan itu tercium bau harum semerbak.

"Kau.........?"

Auwyang Hong memperlihatkan sikap terkejut, dan ia telah memandang kepada orang yang baru muncul, yang tidak lain dari Lie Siu Mei. Ong Tiong Yang tersenyum dan berkata .

"Jika tidak salah, nona tentunya adalah nona Lie Siu Mei, kekasih dari Auwyang Siecu ini" . Mendengar perkataan Ong Tiong Yang, Lia Siu Mei memperlihatkan sikap seperti orang yang kebingungan, tetapi cepat ia memandang kepada Auwyang Hong, seperti meminta isyarat dari kekasihnya itu. Auwyang Hong diam-diam mengedipkan matanya. Lie Siu Mei yang memperoleh isyarat kedipan mata dari Auwyang Hong, segera tersenyum memperlihatkan sikap seperti orang yang malu-malu.

"Totiang, rupanya rupanya engkau telah berhasil menolong aku !"

Katanya dengan su ara yang setenang mungkin, dan juga tidak lu pa melontarkan senyumnya. Ong Tiong Yang membalas senyumnya.

"Ya, apa yang telah nona pesankan telah kulakukan, dan aku memperoleh kenyataan bahwa Auwyang Hengtai ini mencintaimu, siang dan malam selalu merindukan nona !"

Muka sigadis berobah merah, ia memperlihatkan sikap seorang gadis yang sngat merasa malu. Hal ini membuat Ong Tiong Yang berpikir didalam hatinya ."Pandai sekali gadis ini bersandiwara !"

Dan iapun telah berkata dengan suara yang tawar .

"Dan sekarang, pinto kira urusan dan tugas pinto telah selesai, kalian telah saling bertemu, maka pinto bermaksud hendak pamitan untuk melanjutkan perjalanan...!"

Mendengar perkataan Ong Tiong Yang, tampaknya Lie Siu Mei jadi terkejut, ia segera menoleh kepada Auwyang Hong, namun secepat itu pula ia bisa memutuskan sendiri langkah-langkah apa yang perlu dilakukannya.

Maka segera ia merangkapkan sepasang tangannya menjura memberi hormat kepada Ong Tiong Yang.

Ong Tiong Yang tidak bersedia menerima pemberian hormat itu, ia menyingkir kesamping.

"Untuk apa pemberian hormat nona Lie ?"

Tanyanya. ter-sipu2. Lie Siu Mei segera berkata .

"Totiang, bukankah Totiang masih ingat ketika dirumah makan kemarin itu, aku pernah meminta pertolongan kepada Totiang, yaitu inginkan sesuatu bantuan dari totiang....... ?"

Ong Tiong Yang mepngangguk.

"Benar......!"

Sahutnya.

"Kalau memang demikian, tentunya Totiang membantuku tidak setengah jalan, dan Totiang tentunya akan memberikan pertolongan tidak tanggung2 dan akan melakukannya sampai selesai urusan itu ... !"

Ong Tiong Yang tersenyum.

"Maksud nona ?"

Tanyanya.

"Justru aku hendak meminta bantuan Totiang jangan setengah jalan,"

Kata Lie Siu Mei lagi."

"Kalau begitu, bantuan apalagi yang harus Pinto berikan ?"

Tanya Ong Tiong Yang.

"Bantuan apa, nona Lie ?"

Tanya Ong Tiong Yang lagi.

"Bantuan yang tidak begitu sulit, jika memang Totiang bersedia untuk membantu...!'' kata Lie Siu Mei dengan nada yang mana.

"Cobalah nona katakan dengan jelas........!"

"Sesungguhnya. .. aku akan menyampaikan hal itu hanya empat mata pada Totiang ........!"

Sahut Lie Siu Mei dengan suara sangat perlahan sekali. Ong Tiong Yang tersenyum lebar sambil menoleh kepada Auwyang Hong. Sedang Auwyang Hong cepat2 berkarta.

"Kalau memang ada sesuatu yang ingin dibicarakan empat mata, biarlah aku pergi saja dulu,"

Dan Auwyang Hong memutar tubuh, hendak keluar dari kuil tersebut Tetapi Ong Tiong Yang mengeluarkan tangannya mencekal tangan Auwyang Hong katanya "Tidak perlu Hengtai keluar, kita, ber-cakap2 disini saja...!"

Sengaja Ong Tiong Yang memanggil Auwyang Hong dengan sebutan Hengtai lagi, untuk menutupi kecurigaan Auwyang Hong, karena ia mengetahui Auwyang Hong adalah seorang pemuda yang memiliki otak encer dan sangat cerdas.

Auwyang Hong tersenyum katanya.

"Apakah dengan hadirnya aku di sini tidak akan mengganggu kalian ...?"

Tetapi Lie Siu Mei telah menggelengkan kepalanya perlaban, katanya lagi .

"Justru aku hendak membicarakan hal itu dengan Totiang dibawah empat mata .... !"

Ong Tiong Yang cepat2 merangkapkan tangannya memberi hormat, sambil tertawa kata nya .

"Maafkan hal itu tidak bisa Pinto luluskan, karena kurang pantas jika pinto berada bersama dengan nona hanya berdua saja..!"

Sigadis tersenyum.

"Tetapi kita bukankah tidak melakukan sesuatu yang melanggar hal-hal yang diluar dari kepantasan ?"

Tanyanya, Ong Tiong Yang tersenyum.

"Tetapi justru dalam anggapaon orang lain tentu tidak pantas, sebagai seorang Tojin, tidak bisa Pinto meluluskan permintaan nona !"

Dan setelah berkata begitu, tampak Ong Tiong Yang tersenyum sambil merangkapkan sepasang tangannya, ia menjura memberi hormat, katanya dengan suara yang seperti mengandung penyesalan .

"Maafkan ....!"

Ketika Ong Tiong Yang memberi hormat, Auwyang Hong telah beranjak dari tempat berdirinya, melangkah menuju kepintu kuil untuk keluar.

"Biarlah aku menyingkir saja, kalian tentu ber-cakap2 memakan waktu yang tidak lama bukan?"

Katanya sambil melangkah. Ong Tiong Yang cepat2 mengulapkan tangannya sambil katanya.

"Saudara Auwyang, kemarilah... jika memang hanya berdua dengan nona Lie ini, kekasihmu maka biarlah Pinto berlalu saja .......!"

Lie Siu Mei berusaha tersenyum lebar-lebar, katanya dengan sikap yang agak manja .

"Totiang, mengapa Totiang begitu sungkan?"

Ong Tiong Yang cepat-cepat merangkapkan tangannya lagi memberi hormat, lalu katanya.

"Pinto juga tidak bisa berdiam disini terlalu lama, maafkan pintu, Pinto akan segera pamitan ....... minta diri... .! "

Dan tanpa menantikan jawaban dari Lie Siu Mei, tampak Ong Tiong Yang telah memutar tubuhnya akan segera berlalu dari situ. Waktu itu Lie Siu Mei jadi sibuk sekali menghadang dihadapan Ong Tiong Yang.

"Totiang, apakah totiang tidak merasa kasihan padaku ? Apakah totiang tidak bersedia menolongku ?"

Tanya Lie Siu Mei. Ong Tiong Yang tersenyum sambil melangkah terus menuju kepintu kuil tersebut.

"Kita bicara diluar kuil saja. ..!"

Katanya kemudian.

Lie Siu Mei tidak berdaya menahan Ong Tiong Yang, yang waktu itu telah melangkah keluar din menghampiri Auwyang Hong.

Belum lagi ia tiba dihadapan Anwyang Hong, yang waktu itu tengah berdiri menjublek memandangi ke-arah jalan raya, disaat itu Ong Tiong Yang telah berkata dengan suara yang pasti.

"Saudara Auwyang ....... Pinto tidak bisa terlalu lama menemani kalian, karena masih ada urusan lainnya yang perlu Pinto selesaikan...!"

Dan taapa menantikan jawaban Auwyang Hong, Ong Tiong Yang telah melangkah lebar meninggalkan tempat tersebut. Auwyang Hong jadi terkejut, begitu juga Lie Si u Mei.

"Totiang, tunggu dulu.......!"

Panggil mereka hampir berbarengan.

Tetapi Ong Tiong Yang tidak memperdulikan mereka, dan telah melangkah terus meninggalkan mereka.

Auwyang Hong dan Lie Siu Mei jadi berdiri menjublek mengawasi kepergian imam itu.

Setelah berjalan agak jauh dan melihat Auwyang Hong dan Lie Siu Mei tidak mengikutinya, Ong Tiong Yang menghela napas dalam2 kemudian pikirnya .

"Sungguh licik pemuda she Auwyang itu. .......!"

Dan setelah dia berpikir demikian, Ong Tiong Yang mempercepat langkahnya, ia telah berlalu dengan cepat bermaksud meninggalkan tempat itu, karena ia menyadari jika terlalu lama disitu, jelas dirinya akan diganggu oleh Auwyang Hong dan Lie Siu Mei, yang licik itu.

Saat itu, tampak Auwyang Hong dan Lie Siu Mei yang menyadari bahwa rencana mereka gagal, hanya bisa menghela napas saja, menyesali bahwa rencana mereka diatur kurang begitu rapih, sehingga tojin itu bisa lolos dari tangan mereka, dan apa yang mereka harapkan tidak bisa tercapai.

---oo^dw~kz^0^Tah^oo---BAGIAN 47 .

ANG BIAN SI ORANG BERTOPENG MERAH ONG TIONG YANG ketika tiba diluar kota, memppergunakan ginkangnya untak berlari dengan cepat, dalam sekejap mata saja melewati belasan lie.

Setelah tiba disebuah persimpangan jalan, dimana dikiri kanannya terdapat banyak sekali pohon-pohon dan juga sawah ladang yang terbentang luas, Ong Tiong Yang baru menghentikan larinya, ia melakukan perjalanan perlahan-lahan menikmati keindahan alam yang terdapat disekitar tempat tersebut..

Ong Tiong Yang, berpikir keras didalam hatinya.

"Didalam dunia ini tampaknya terdapat banyak sekali manusia2 licik dimana kelurusan seperti ingin ditindih oleh kesesatan......"

Seperti yang terlihat pada si pemuda she Auwyang itu, yang rela berusaha dengan segala daya untuk mencapai maksud hatinya, dengan melupakan Gie (budi) dan Jin (kebijaksanaan) sehingga ia rela memperalat kekasihnya sendiri.

Berpikir begitu Ong Tiong Yang menghela napas dalam-dalam.

Ong Tiong Yang tiba2 menahan langkah kakinya, karena didengarnya dari arah belakang terdengar suara langkah kaki yang perlahan dan ringan sekali.

Ia melihat orang yang tengah berlari mendatangi adalah yang memakai penutup muka secarik topeng merah.

Waktu orang yang memakai penutup muka warna merah itu tiba dibadapannya, Ong Tiong Yang merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat, katanya dengan suara yang sabar .

"Siapakah sebenarnya Kiesu dan sudikah Kiesu memberitahukan apa keperluan Kiesu membuntuti aku.........?"

Setelah tiba dihadapan Ong Tiong Yang, orang bertopeng merah itu berkata.

"Sabar jangan mendesak aku dengan pertanyaan2 yang mengandung kecurigaan seperti itu......!"

Katanya sambil tersenyum. Ong Tiong Yang juga, tersenyum, katanya .

"Jika dilihat dari sepak terjang Kiesu, tampak nya Kiesu memang tidak hendak diketahui orang siapa adanya Kiesu, maafkan kelancangan Pinto yang telah lancang bertanya yang tidak-tidak."

Orang bertopeng merah itu tertawa lagi.

"Tojin muda, engkau demikian muda, tetapi telah memiliki kepandaian yang mengagumkan disamping itu engkaupun memiliki pikiran yang luas dan tindakan yang bijaksana. Seperti tadi, walaupun engkau telah mengetahui orang she Auwyang itu seorang pemuda yang licik, namun engkau tidak membuatnya malu atau engkau tidak menegurnya.......... hal itu menunjukkan bahwa engkau memang seorang imam yang memiliki pikiran yang sangat luas."

Cepat2 Ong Tiong Yang menjura memberi hormat, sambil katanya .

"Kiesu terlalu memuji.....!"

Katanya merendah. Orang bertopeng merah itu tertawa lagi.

"Aku tertarik sekali melihat sikapmu seperti itu, maka dalam hal ini, aku memang bersedia untuk menjadi sahabatmu."

Ong Tiong Yang terkejut.

"Kiesu ........?"

Tetapi belum lagi Ong Tiong Yang selesai dengan perkataannya, justru orang bertopeng merah tersebut telah memotongnya .

"Jangan kau memandang rendah kepadaku.... atau memang engkau menganggap aku tidak pantas menjadi sahabatmu ........?"

Ong Tiang Yang jadi gugup.

"Bukan begitu maksudku, Kiesu ...... bukan begitu ..... !"

Katanya cepat.

"Kalau demikian berarti engkau tidak keberatan mengikat persahabatan denganku, bukan ?"

Tanyanya. Ong Tiong Yang kemudian mengangguk.

"Baiklah Kiesu .......!"

"Siapa gelaranmu ?"

Tanya orang bertopeng merah tersebut.

"Aku belum memiliki gelaran, sedangkan namaku Ong Tiong Yang.....!"

"Baiklah Ong Cinjin, untuk selanjutnva engkau bisa memanggilnya dengan Ang Bian (Muka Merah)........!"

Katanya sambil tertawa.

"Dan sekarang engkau ingin melakukan perjalanan kemana ?"

Ong Tiong Yang menggeleng perlahan, katanya.

"Belum kuketahui... Pinto bermaksud mengembara kemana saja, untuk mencari pengalaman..........!"

Orang bertopeng merah itu, tampaknya kurang menyetujui pendapat dari Ong Tiong Yang.

"Kau mengembara untuk mencari pengalaman ?"

Tanyanya. Ong Tiong Yang mengangguk.

"Benar Kiesu ... !"

"Tentu saja seorang yang mengerti kepandaian mengembara bukanlah suatu hal yang sulit, namun jika engkau mengembara tanpa tujuan, itupun tidak benar,"

Kata Ang Bian. Ong Tiong Yang tertegun.

"Apa maksud Kiesu ?"

Tanyanya hati2.

"Pinto tidak mengerti maksud Kiesu .... !"

"Sesungguhnya, jika seseorang yang memiliki kepandaian tinggi dan melakukan pengembaraan hanya untuk mencari pengalaman diri sendiri, hal itu bukan berarti hal yang terpuji."

"Mengapa begitu ?"

"Justru jika seseorang memiliki kepandaian tinggi bermaksud melakukan pengembaraan, untuk dapat mengamalkan kepandaiannya menolongi orang2 yang tengah dalam kesulitan ......." . !"

Ong Tiong Yang tertawa sambil mengangguk.

"Memang itu tujuan Pinto...........dan setiap kali Pinto menyaksikan hal yang tidak pantas memang Pinto berusaha untuk menyelesaikan."

Orang bertopeng merah itu tersenyum.......

"Baiklah jika demikian,"

Katanya.

"Tentunya Ong Cinjin tidak akan keberatan untuk membantuku melakukan suatu pekerjaan besar yang mengandung kemuliaan ?"

Ong Tiong Yang jadi tertegun sejenak dan mengerutkan sepasang alisnya. la hanya melihat sepasang mata orang itu saja yang berkilat dan ia bertanya .

"Pekerjaan mulia apa yang dimakasudkan oleh Kiesu ?"

"Pekerjaan suci, kita menolongi orang-orang yang lemah dan dalam keadaan tertindas"

Sahuti orang bertopeng merah itu "Boleh Pinto mengetahui urusan itu ?"

Tanya Ong Tiong Yang.

"Tentu saja boleh,"

Katanya.

"Sesungguhnya aku tengah melakukan suatu pekerjaan untuk menegakkan keadilan, menolongi seseorang yang tengah berada dalam penasaran ........ !"

"Menolongi orang?"

Tanya Ong Tiong Yang.

"Benar.........!"

Sahutnya.

"jika Ong Cinjin tidak keberatan, aku minta bantuanmu untuk menyelesaikan persoalan tersebut."

"Jika memang urusan demi keadilan, tentu Pinto tidak keberatan untuk mengeluarkan tenaga,"

Sabut Ong Tiong Yang.

"Baikiah"

Kata Ang Bian.

"Tunggu dulu Kiesu, menurut Pinto justeru Kiesu memiliki kepandaian yang tinggi sekali, berada beberapa tingkat diatas kepandaian Pinto sendiri. Bantuan apakah yang bisa Pinto berikan ?"

"Memang aku memiliki kepandaian yang tidak rendah, tetapi justru lawan-lawan yang harus kuhadapi juga bukan lawan-lawan yang ringan, disamping itu mereka berjumlah banyak. Kita hendak menolongi seorang tokoh rimba persilatan, yang difitnah dan dicelakai orang yang tidak bertanggung jawab.... !"

"Jadi Kiesu hendak mengajak Pinto untuk menolong orang-orang itu ?"

Tanyanya. Orang bertopeng merah tersebut mengangguk.

"Siapakah orang itu Kiesu, bolehkah aku mengetahuinya?"

Tanya Ong Tiong Yang.

"Sahabat yang ditawan dan dicelakai itu adalah orang she Liong dan bernama It Hauw. Ia merupakan tokoh rimba persilatan yang memiliki nama sangat terkenal karena kapandaiannya yang tinggi, namun orangnya terlalu jujur, sehingga belum lama yang lalu ia telah dicelakai oleh lawan2 nya dengan mencampuri racun pada minumaanya. Dengan demikian ia berhasil ditawan dan kemudian dirusak seluruh tubuhnya, melenyapkan kepandaiannya, sehingga tidak bisa memberikan perlawanan apa2 lawan-lawannya."

"Hemmm......, jika memang demikian persoalan nya, Kiesu tentunya mengajak aku untuk menghadapi orang-orang yang telah menawan Liong It Hauw tersebut ?"

"Tidak salah........itulah maksudku .... dan orang-orang yang menawan Liong It Hauw itu sangat banyak jumlahnya. Apakah Ong Cinjin tidak ragu-ragu untuk melakukan hal ini ?"

Tanya orang bertopeng merah itu.

"Baiklah,"

Kata Ong Tiong Yang.

"Mari kita berangkat."

Orang bertopeng itu mengangguk, mereka meninggalkan tempat itu. ---oo^dwkz~0~Tah^oo---BAGIAN 48 . ORANG BERMUKA BURUK "KITA akan menuju kepegunungan Lauw-san!"

Kata uraog bertopeng itu sambil berlari kearah barat, dan Ong Tiong Yang mengikuti.

Mereka memang memiliki ginkang yang tinggi, sehingga mereka bisa melakukan perjalanan dangan cepat.

Setelah ber-lari2 hampir tiga puluh lie lebih mereka melihat sebuah rumah penduduk yang terpencil dari rumah2 lainnya.

Rumah tersebut berada ditempat yang begitu sepi.

Disebelah kanannya terdapat hutan rimba yang lebat, sedangkan disebelah kirinya terhampar sawah yang luas.

Bangunan rumah itu tidak begitu besar, namun pintu rumah itu pun tertutup.

Orang bertopeng merah itu menunjuk rumah tersebut, katanya .

"Mari kita beristirahat dirumah itu, tentu pemilik rumah tersebut tidak keberatan untuk memberikan seteguk air pelenyap dahaga !"

Ong Tiong Yang hanya mengiyakan dan mereka menghampiri rumah itu.

Orang bertopeng merah itu lalu mengetuk pintu rumah tersebut.

Agak lama mereka menanti, tapi tidak terdengar orang yang menyahut, bahkan tidak terdengar suara lainnya, bagaikan rumah tidak berpenghuni.

Diwaktu itu orang bertopeng merah tersebut mengetuk lagi agak keras.

Tetap tidak terdengar sahutan.

Akhirnya orang bertopeng merah mendorong pintu itu, ternyata tidak pintu segera terbuka lebar.

Tapi begitu pintu terbuka, Ong Tiong Yang maupun orang bertopeng merah itu jadi berdiri menjublek dengan tubuh yang kaku karena kaget.

Ditengah ruangan dalam rumah itu tampak duduk seorang lelaki dengan sikap yang kaku, matanya memandang lebar2 kepada orang bertopeng merah itu dan Ong Tiong Yang.

Sikapnya dingin sekali.

Yang luar biasa adalah keadaannya.

Wajahnya begitu buruk, sepasang matanya tjekung kedalam, seperti juga tak memiliki bola mata dan hidungnya sempoak separuh dengan tidak ada bibir, maka terlihat barisan giginya dan gusinya.

Sepintas orang itu lebih mirip tengkorak saja, jika ia tidak memeiibara rambut panjang yang terurai kebahunya.

---oo^Dwkz^0^TAH^oo---SAAT itu Ong Tiong Yang juga melihat pakaian orang tersebut merupakan pakaian yang tidak keruan, yaitu pakaian Thungsia yang ber-warna2 hanya tidak memiliki tali pengikat pinggang.

Kedua lengan baju yang lebar telah pecah disana sini, sehingga pecahan kain itu berseliwiran dan tampak tidak teratur merupakan seperangkat pakaian yang benar2 telah rusak sekali.

Tetapi sebagai seorang pendeta yang memiliki hati yang bersih, tidak bisa Ong Tiong Yang memperlihatkan sikap terkejut terus, sebab bisa menyinggung perasaan orang ini.

Ia merangkapkan sepasang tangannya, memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya.

"Maafkan kami meagganggu..... semula kami kira tidak ada penghuni rumah ini, sehingga kami lancang sekali membuka pintu rumah Siecu."

"Memang kalian mengganggu, aku sudah tidak mengacuhkan kedatangan kalian tetapi mengapa begitu lancang membuka pintu dan langsung masuk ?"

Tegur orang yang wajahnya seperti tengkorak mengerikan tersebut dengan suara yang sengau dan tidak sedap didengar.

Ditanggapi begitu, wajah Ong Tiong Yang jadi berubah merah.

Tetapi orang bertopeng merah itu justru telah memperdengarkan suara tertawa yang cukup nyaring, katanya .

"Bagus...! Bagus...! Aku tidak menyangka akan bertemu dengan seorang sahabat yang demikian menarik i"

"Hemm......., engkau tidak perlu menyindir diriku,"

Kata orang bermuka buruk itu.

"Engkau menutupi mukamu dengan sebelai topeng merah itu, tentu wajahmu tidak lebih menarik dari wajahku........!"

Orang bertopeng merah itu kembali memperdengarkan suara tertawanya, katanya .

"Jika memang senasib, nah perkenalkan aku Ang Bian, dan ini adalah Ong Tiong Yang Cinjin........! Bolehkah kami mengetahui siapakah tuan adanya?"

Orang bermuka buruk itu mendengus dingin dengan suara sengau, katanya .

"Kalian pergi keluar sebelum aku yang turun tangan melemparkan kalian !'' Didengar dari kata2nya menunjukkan bahwa ia tidak senang atas kehadiran Ong Tiong Yang dan orang bertopeng merah itu.

"Baiklah"

Kata orang bertopeng merah itu dengan suara mengejek.

"Jika memang kehadiran kami ini tidak disukai oleh tuan, kami akan pergi........!"

Ong Tiong Yang dengan sabar merangkapkan tangannya, katanya .

"Maafkan, memang kami mengakui kami sangat lancang, dan sekali lagi maafkan!"

Katanya. Ong Tiong Yang sambil berkata begitu telah memutar tubuhnya untuk berlalu. Tetapi orang bertopeng merah telah mencekal tangannya, kata orang bertopeng merah itu .

"Tunggu dulu Ong Cinjin....!"

Hingga Ong Tiong Yang terpaksa menahan langkah kakinya. Sedangkan erang bertopeng merah itu berkata kepada orang bermuka buruk tersebut .

"Kami tengah melakukan perjalanan kami sangat haus sekali, maka jika memang tuan tidak keberatan, kami hendak meminta sedikit air pelenyap dahaga !"

Tetapi justru orang Yang bermuka seperti tengkorak itu telah mengibaskan lengan bajunya yang rusak itu, sambil katanya tawar .

"Kalian pergilah...!"

Dari kebutan lengan bajunya itu, keluar serangkum angin serangan yang kuat dan tidak tampak, yang telah menerjang kepada OngTiong Yang dan orang bertopeng merah itu.

Ong Tiong Yang yang tidak bersiap sedia telah kena diterjang oleh angin tersebut, sehingga terhuyung, sedangkan orang bertopeng merah yang memang memiliki kepandaian lebih tinggi dari Ong Tiong Yang, telah balas mengebutkan tangannya, maka terdengar suara "Bruk"

Tentunya dua kekuatan tenaga yang hebat, hingga ruangan rumah itu seperti tergoncang.

Orang bertopeng merah itu terkejut, ia merasakan tubuhnya tergetar akibat terjangan tenaga kebutan lengan baju orang bermuka buruk itu.

Namun ia tidak sampai terpental.

Hanya dengan suara yang tawar orang bertopeng merah itu berkata dingin.

"Jika memang demikian halnya, engkau bukan seorang tuan rumah yang baik... !"

"Memang aku tidak mengharapkan pujian dari siapapun juga. Lekas pergi sebelum aku mengambil tindakan keras kepada kalian.....!"

"Tetapi justru kami tidak akan pergi jika diusir dengan cara seperti ini... !"

Kata orang brrtopeng merah itu dengan suara mengandung kesengitan.

Iapun telah mengibaskan tangannya lagi, dimana tangannya itu dikebut untuk mengeluarkan tenaga sinkangnya menerjang kepada orang bermuka busuk itu.

Kuat tenaga sinkang yang muncul dari tangan orang yang bertopeng merah itu, karena begitu ia mengebutkan tangannya, telah berseliweran angin yang kuat membuat pakaian orang bermuka tengkorak itu seperti juga diterjang topan.

Namun orang bermuka buruk itu tetap dududuk ditempatnya tidak bergerak, hanya mengeluarken suara.

"Hemm..., hemm....."

Berulang kali.

Orang bertopeng merah itu jadi terkejut, ia tidak menyangka kebutan tangannya yang mem pergunakan kekuatan sinkang yang tinggi, tidak berhasil membuat orang bermuka buruk itu berkisar dari tempat duduknya.

Rasa penasaran membuat orang bertopeng merah tersebut kembali mengebut tangannya, dan serangkum angin serangan yang lebih kuat menyambar kearah lelaki bermuka seperti tengkorak itu.

Lelaki bermuka buruk itu tidak berdiam diri, ia mengeluarkan suara dengusan "Hem...

Lagi, kemudian mengangkat tangan kanannya, ia mendorong kedepan, seperti juga menahan sesuatu.

Rupanya kekuatan kebutan tangan dari oring bertopeng merah itu telah ditahan dan dibendungoya dengan mempergunakan tangan kanannya.

Ang Bian kembali terkejut, karena orang bermuka tengkorak itu tetap tidak, mengalami suatu perobahan apapun juga.

Kembali ia menyalurkan kekuatan sinkangnya, kali ini ia menyalurkan lebih kuat.

Tetapi Ang Bian tidak berhasil mendorong rubuh orang tersebut.

Mereka jadi saling mengadu kekuatan sinkang, dengan saling mendorong, walaupun tangan mereka saling menyentuh.

Hal ini membuat Ong Tiong Yang jadi tertarik sekali, ia menyaksikan cara bertempur ke dua orang ini.

Sebagai seorang yang mempelajari tenaga sinkang aliran lurus Ong Tiong Yang mengetahui cara bertempur seperti ini bukan merupakan pertandingan dari jago2 tingkat tinggi.

Juga Ong Tiong Yang melihat bahwa hawa murni yang disalurkan oleh Ang Bian maupun orang yang bermuka seperti tengkorak itu, merupakan Iwekang kelas tinggi dan lurus, tidak terlihat kesesatannya.

Dengan demikian, Ong Tiong Yang jadi kagum.

Waktu itu, orang bermuka seperti tengkorak telah barkata tawar .

"Jika memang demikian halnya, kalian datang ingin mengacau..... pergilah.......!"

Dan berbareng dengan habisnya perkataannya itu, tampak orang bermuka seperti tengkorak tersebut telah menghentak tangannya dan diwaktu itu tenaga menghentak keluar dari telapak tangannya semakin kuat, dan tahu2 tubuh orang bertopeng merah itu terpental keluar dengan lontaran yang deras.

Inilah diluar dugaan sama sekali, bagi orang bertopeng merah itupun yang sama sekali tidak menyangkanya sampai mengeluarkan suara seruan.

Tubuhnya melayang diudara tinggi sekali.

Memang ia memliki kepandaian yang telah tinggi, tubuhnya tidak sampai terbanting dimana ........

Ang Bian berhasil mengendalikan tubuhnya dan meluncur turun tanpa kurang suatu apapun juga.

Orang yang mukanya seperti tengkorak itu jadi terkejut melihat hal tersebut, semula ia menyangka dengan mengebutkan tenaga sinkang nya seperti itu, tentu ia akan berhasil merubuhkan lawannya yang seorang itu.

Tetapi kenyataannya memang si topeng merah memiliki kepandaian yang luar biasa sekali.

Waktu itu diam2 Ong Tiong Yang juga telah memusatkan perhatiannya, karena ia kuatir kalau2 orang yang bermuka seperti tengkorak itu akan melancarkan serangan tiba2 kepadanya.

Dalam keadaan demikian jelas Ong Tiong Yang tidak bisa memandang remeh, sekali saja ia lengah dan dirinya diserang hebat oleh orang bermuka tengkorak itu, niscaya dirinva bisa terluka parah.

Tetapi orang bermuka tengkorak itu tidak melancarkan serangan kepada Oag Tiong Yang.

Iapun juga tidak melancarkan serangan lagi kepada orang bertopeng merah itu, hanya berkata dengan suara yang tawar .

"Apakah semua itu masih belum cukup dan kalian minta dihajar lagi ? Cepat lenyap dari mataku !" ---oo^Dwkz^0TAH^oo---BAGIAN 49 . PERTARUNGAN DUA JAGO TUA YANG ANEH MENDENGAR orang mengusir dengan cara demikian kasar, sitopeng merah mengeluarkan tertawa mengejek, katanya .

"Engkau memiliki kepandaian yang tidak rendah, tetapi engkau terlalu angkuh dan sombong .... apakah engkau beranggapan bahwa didalam dunia ini hanya engkau seorang diri yang memiliki kepandaian tinggi seperti itu, dan membuat engkau tidak mau memandang sebelah matapun juga kepada orang lain ?"

Ditegur begitu, orang bermuka tengkorak tersebut naik darahnya, yang dirasakan meluap sampai ke-ubun2 kepalanya, ia telah berkata dengan suara yang tawar mengandung ke marahan .

"Jika kalian masih rewel dan tidak cepat2 angkat kaki, jangan mempersalahkan diriku, jika kalian tidak bisa pergi dari tempat ini, walaupun kalian bermaksud untuk pergi !"

Sitopeng merah dan Ong Tiong Yang tahu bahwa gertakan yang dikatakan oleh orang bermuka seperti tengkorak itu memang bukan gertak sambel belaka, karena kemungkinan ia bisa mempergunakan kepandaiannya yang lebih tinggi untuk melancarkan serangan yang beruntun.

Sedangkan Ong Tiong Yang melihat hal ini telah merangkapkan kedua tangannya menjura memberi hormat, sambil katanya .

"Maafkan, kami memang sama sekali tidak mengetahui telah mengganggu Siecu, tetapi semua ini kami lakunkan tanpa kami sengaja, jika memang Siecu merasa keberatan menerima kehadiran kami, biarlah kami berlalu .......!"

Dan setelah berkata begitu, Ong Tiong Yang menoleh kepada orang bertopeng merah, katanya dengan sabar .

"Mari kita berangkat, janganlah kita mengganggu Siecu, itu, yang tidak senang menerima kehadiran kita.....!"

Ang Bian mendelik sejenak kepada orang bermuka tengkorak itu, ia berkata dengan suara yang dingin .

"Hemm.........., jika saja aku tidak memandang muka terangnya Ong Cinjin, mungkin aku tidak mau menyudahi urusan hanya sampai disini saja.......!"

Tetapi orang bermuka tengkorak itu telah mengeluarkan tertawa mengejek, tahu2 ia berkata tawar.

"Baik, baik, jika memang engkau, merasakan penasaran, mari, mari aku menemanimu untuk main2 ratusan jurus.....!"

Dan sambil berkata begitu, orang bermuka seperci tengkorak itu mengambil sikap menantikan serangan, tetapi ia tidak bangun dari tempat duduknya.

Ang Bian jadi semakin mendongkol ditantang berperang seperti itu, ia tertawa mengejek dan bukannya membalikkan tubuhnya untuk pergi, malah ia telah melangkah menghampiri mendekati orang bermuka tengkorak itu.

Ong Tiong Yang jadi bingung, karena ia yakin jika memang timbul keributan, justru yang bersalah adalah mereka yang telah datang mengganggu orang bermuka tengkorak itu.

la memang memiliki hak untuk menolak, bukankah rumah ini merupakan rumahnya, Waktu itu Ang Bian telah menghampiri cukup dekat, ia bilang .

"Mari kita coba-coba untuk main2.... !"

Dan An Bian menggerakkan kedua tangan nya yang diangkatnya dan ber-siap2 untuk bertempur.

"Kau berdirilah,"

Katanya. Orang barmuka seperti tengkorak itu berkata tawar .

"Menghadapi manusia seperti engkau, mengapa aku harus berdiri ? Menghadapi engkau dengan cara duduk seperti ini saja engkau tidak mungkin bisa menandingi kepandaianku........! Nah, kau majulah !"

Ang Bian telah berkata dengan suara yang nyaring.

"Maafkanlah .....!"

Dan ia menggerakkan kedua tangannya seperti menggunting, lalu ia melancarkan serangan serentak kepada lawannya itu.

Tetapi orang bermuka seperti tengkorak tersebut berlaku tenang sekali, ia telah mengeluarkan suara dengusan dan cepat sekali menggerakkan tangannya menangkis.

Ia berhasil membendung tenaga serangan yang dilancarkan oleh lawannya, malah orang bermuka tengkorak ini balas menyerang dengan gerakan yang aneh, karena kedua tangannya itu silang dan tutup tidak hentinya.

Begitulah dalam waktu sekejab itu saja telah terjadi pertempuran yang cukup aneh diantara kedua orang ini, dimana mereka bertempur dengan hanya mengandalkan tenaga sinkang yang kuat.

Pertempuran yang mereka lakukan itu merupakan pertempuran yang bukan sembarangan, walau pun Ang Bian telah menyerbu beberapa kali, namun selalu ia gagal untuk mendekati orang bermuka tengkorak itu.

Saat itu, tampak orang bermuka tengkorak beruntun menerkam dengan tangannya.

Tetapi karena mengambil sikap duduk seperti itu, membuat ruang geraknya tidak begitu bebas dan daya jangkaunya tidak terlalu luas beberapa kali cengkeraman tangannya berhasil dipatahkan oleh tangkisan Ang Bian.

Ang Bian juga tidak tinggal diam, beberapa kali ia berusaha mendesak lawannya.

Ong Tiong Yang yang menyaksikan pertempuran tersebut memandang dengan hati berdebar.

Harus diketahui, jika dua orang jago tingkat tinggi tengah melakukan pertempuran dengan menggunakan sinkang sejati, jika salah seorang diantara mereka terluka, tentu akan mendatangkan luka dalam yang berat sekali, yang sulit disembuhkan dengan obat lawannya itu.

Rupanya orang bermuka seperti tengkorak itupun menyadari akan ancaman seperti itu buat dirinya, jika saja ia berkepandaian yang tinggi, dengan sendirinya ia yakin bahwa dirinya tidak akan terjatuh ditangan lawannya.

Ang Bian jadi semakin penasaran, ia mengeluarkan suara seruan yang nyaring, tahu2 merobah cara bertempurnya, berulang kali ia menyerbu dan mendesak posisi kedudukan lawannya dengan maksud memaksa orang bermuka seperti tengkorak itu beranjak dari tempat duduknya.

Detik2 yang membahayakan adalah waktu Ang Bian melompat menyerbu kepada orang bermuka seperti tengkorak itu.

Ia menyerang dengan mempergunakan gerakan yang aneh sekali, yaitu dengan menggerakkan kedua tangannya silih berganti.

Setiap jurus yang dipergunakannya merupakan gerakan yang bisa menghancurkan ilmu lawannya.

Rupanya orang bermuka tengkorak itu jadi terkejut juga melihat perobahan cara menyerang lawannya.

Beberapa kali iapun berusaha untuk merobah cara menyerangnya.

Sehingga mereka telah terlibat lagi dalam pertempuran yang rumit dan tidak mungkin bisa memisahkan diri lagi, karena waktu itu kedua pihak telah mengeluarkan ilmu mereka yang menakjubkan dan saling melibat lawan mereka dengan gerakan yang aneh.

Akhirnya waktu orang bermuka tengkorak itu yakin bahwa dirinya tidak mungkin bisa menghadapi Ang Bian dengan cara berduduk terus seperti itu, ia melompat berdiri.

Tubuhnya bagaikan seorang kera bergerak lincah, melompat kesana kemari.

Kedua tangannya juga lalu menyerang ke-bagian2 yang berbahaya ditubuh Ang Bian.

Dalam keadaan seperti ini, membuat Ang Bian berulang kali harus mundur merenggangkan jarak mereka, karena jika tidak, jelas dirinya yang akan menjadi korban serangan yang dilakukan oleh orang bermuka seperti tengkorak itu.

Tubuh Ang Bian berkelebat kesana kemari tahu2 setelah menangkis serangan lawannya, ia melompat mundur.

"Hentikan....!"

Teriaknya. Orang bermuka seperti tengkorak itu menahan tangannya, ia mengawasi Ang Bian dengan sorot mata tajam.

"Kalian menyerah dan mau angkat kaki ?"

Ang Bian menggeleng.

"Tidak.....!,"

Sahutnya. Ia, berdiam diri sejenak, baru kemudian melanjutkan lagi .

"Kulihat kepandaian yang engkau miliki memang merupakan kepandaian yang tinggi, sayang sekali jika engkau mempergunakannya untuk mengumbar nafsu angkara murkamu belaka ....!"

Tetapi orang bermuka seperti tengkorak itu mengeluarkan suara tertawa tawar, ia bilang dengan suara yang dingin .

"Engkau tidak perlu menasehatiku yang pasti aku akan membawa caraku sendiri !"

Diwaktu itu, tampak Ang Bian telah berkata lagi .

"Tetapi engkau tidak bisa sembarangan begitu menuduh dan melancarkan serangan mematikan kepadaku, padahal kami hanya mengganggumu sebentar saja, yaitu ingin meneduh. Jika memang engkau keberatan, bukankah engkau bisa menyampaikan penolakanmu secara baik2.......?"

Ditanya begitu muka orang seperti tengkorak tersebut jadi berobah tidak enak dilihat ia berkata tawar .

"Aku tidak mau mendengar ocehanmu, sekarang katakan saja, engkau ingin pergi atau tidak ?"

"Kami hanya membutuhkan sedikit air pelenyap dahaga !"

Menyahuti Ang Bian.

"Ini kuberikan !"

Kata orang bermuka tengkorak itu sambil melompat dan menggerakkan kedua tangannya lagi, angin yang sangat kuat berseliwiran cepat sekali , yang memaksa Ang Bian harus melompat, karena tidak bisa ia menghadapi terjangan tenaga itu dengan kekerasan.

Sambil berkelit kesina kemari, Ang Bian berkata .

"Sebutkan namamu dan apa maksudmu dengan sikap yang keras seperti ini !"

"Ha....ha...ha...,"

Tertawa orang bermuka seperti tengkorak itu.

"Walaupun sekarang engkau bermarsud untuk pergi kukira sudah terlambat, tinggalkan sepasang tanganmu.......!"

Dengan berkata begitu, orang bermuka tengkorak tersebut bermaksud hendak menyatakan bahwa ia akan membuntungi kedua tangan dari lawannya. Ang Bian juga jadi naik darah, ia berkata dengan suara tawar .

"Baiklah, aku mau melihat berapa tinggi ilmumu, sehingga engkau berlaku congkak seperti itu!"

Berbareng dengan perkataannya itu, Ang Bian juga tidak tinggal diam. beberapa kali ia balas menerjang pada lawannya. Dalam keadaan demikian, Ong Tiong Yang tidak sabar lagi, katanya.

"Ang Bian Kiesu sudahilah pertempuran ini, mari kita pergi.....!"

Ang Bian tertawa "

Ong Cinjin, aku memang hendak menuruti keinginanmu itu, tetapi sayangnya justru orang ini tidak mau melepaskan aku....... ia memaksa aku dengan libatannya......!"

"Kiesu.........!"

Teriak Ong Tiong Yang kepada orang yang mukanya seperti tengkorak itu "Hentikan .............lah pertempuran itu, aku mohon hentikanlah........"

Namun orang bermuka seperti tengkorak itu justru telah berkta dengan suara yang dingin .

"Setelah aku membereskan dia, engkau juga akan kuselesaikan.......!"

Dan setelah berkata begitu, tampak orang bermuka seperti tengkorak itu melompat dengan cepat sekali, ia menyerbu kearah Ang Bian.

Sedangkan Ang Bian telah mengeluarkan seluruh kepandaian yang dimilikinya untuk memberikan perlawanan yaag gigih.

Begitu kedua jago tersebut terlibat dalam pertempuran yang tidak berkesudahan.

Untung saja didalam ruangan tersebut tidak terdapat barang2 berharga, sehingga tidak menjadi rusak oleh kuatnya angin berseliwiran saling sambar kesana kemari dangan cepat.

---oo^Dwkx^0^TAH^oo---BAGIAN 50 .

TOK CUN HOA SI ORANG BERMUKA BURUK SAAT, itu pula Ang Bian memusatkan seluruh kekuatan sinkang yang ada padanya, ia melancarkan totokan dan juga cengkeraman yang cepat, untuk merubuhkan lawannya.

Namun kepandaian Ang Bian masih terpaut sedikit dengan orang bermuka seperti tengkorak itu, yang lebih unggul sedikit tenaga sinkangnya, dengan demikian usaha dari Ang Bian yang berusaha mendesak lawannya selalu gagal.

Sedangkan orang bermuka seperti tengkorak itu, walaupun menang sedikit tenaga sinkangnya, tetapi ia tidak bisa berbuat banyak pada Ang Bian, karena mereka seimbang selalu saling tindih dan saling tekan bergantian dengan mempergunakan sinkang mereka.

Walaupun sinkangnya terpaut sedikit dengan orang bermuka seperti tengkorak tersebut, tokh Ang Bian memiliki iimu yang aneh-aneh, setiap serangan yang dilancarkannya memang tidak pernah dapat diduga.

Keadaan seperti ini membuat orang bermuka seperti tengkorak itu jadi penasaran sekali.

Suatu kali ia telah berteriak sambil berjingkrak.

"Jika aku Tok Cun Hoa tidak bisa merubuhkanmu, biarlah untuk selanjutnya aku akan meninggalkan rumah ini......!"

Berbareng dengan teriakannya, tampak Tok Cun Hoa atau orang bermuka seperti tengkorak itu, mulai dengan totokan dan juga tikaman jari tangan yang berlainan dibandingkan dengan yang semula, dimana kedua tangannya ber-gerak2 cepat sekali mengincar bagian2 tubuh lawannya yang lemah.

Keadaan demikian membuat mereka tenggelam semakin dalam, karena mereka terlibat dalam pertempuran yang tidak berkeputusan.

Detik-detik seperti itu membuat Ong Tiong Yang memandang dengan mata lebar, akhirnya jadi nekad.

Ketika melihat tangan Ang Bian saling tindih dengan kedua tangan Tok Cun Hoa, saat itu Ong Tiong Yang menjejakkan kakinya, tubuhnya melompat ketengah udara dengan gerakan yang gesit sekali.

Gerakan yang dilakukannya merupakan gerakan yang benar2 meyakinkan, karena ia tahu, ia harus menyelinap dibagian yang lemah dari kedua tenaga saling terjang itu.

Ong Tiong Yang bermaksud akan, mempergunakan setail merubuhkan seribu tail.

Dengan caranya seperti itu memang memaksa Ong Tiong Yang harus bertindak dengan tepat.

Yaitu harus menyelinap kebagian yang paling lemah.

Karena sekali saja ia meleset dan melompat ketempat yang salah, kebagian tenaga dalam yang saling berhimpitan, tentu dirinya bisa celaka.

Ang Bian dan Tok Cun Hoa saling menekan, tetapi mereka tidak berhasil merubuhkan lawan masing2, membuat mereka jadi hanya berdiri dengan tangan masing2 melekat satu dengan yang lainnya.

Justru disaat itu Ong Tiong Yang telah melompat ketengah gelanggang dan mempergunakan tangan kiri mendorong perlahan pada sikut tangan Ang Bian, sedangkan tangan kanannya menyentil sikut tangan dari Tok Cun Hoa tahu2 dua kekuatan tenaga lwekang yang tengah saling tindih itu buyar dan kedua tangan dari kedua orang yang tengah salting bertempur itu jatuh ditempat kosong.

Keadaan demikian yang terjadinya begitu tiba-tiba membuat Ang Bian maupun Tok Cun Hoa kaget bukan main, mereka mengeluarkan suara seruan tertahan, dan melompat mundur kebelakang.

Setelah berhasil memisahkan kedua jago yang tengah bertarung itu, yang semula seperti seekor gajah dengan seekor harimau, yang tengah saling terkam, Ong Tiong Yang menghela napas dalam-dalam.

"Sudahilah pertempuran ini....... sudahilah pertempuran yang tidak ada manfaatnya ini .........!"

Kata Ong Tiong Yang kemudian. Tetapi Ang Bian maupun juga Tok Cun Hoa telah berkata dengan tawar.

"Engkau tidak perlu mencampuri urusan kami........!"

Melihat kedua orang itu seperti juga memang telah nekad dan bersiap-siap hendak saling terjang lagi, Ong Tiong Yang cepat2 merangkapkan sepasang tangannya, ia membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada Ang Bian dan Tok Cun Hoa bergantian.

"Dengan memandang muka Pinto, maulah berhenti bertempur ............. janganlah meneruskan pertempuran yang tidak ada gunanya ini........!"

Tok Cun Hoa tertawa dingin.

"Kalian berdua merupakan maling2 kecil yang memasuki rumah orang dengan cara memaksa apakah perbuatan itu perbuatan terpuji........ ? Sedangkan aku sebagai pemilik rumah ini memang berhak untuk mempertahankan rumahku, mencegah agar tidak ada orang yang berbuat kurang ajar padaku .....!'' Ong Tiong Yang mengangguk sambil tersenym.

"Apa yang dikatakan oleh Tok Giesu memang benar, kami yang salah......!"

Kate Ong Tiong Yang.

"Ong Cin jin, kepada manusia monyet seperti dia, kita tidak perlu mempergunakan banyak aturan......... minggirlah engkau Ong Cinjin, biar aku menghajarnnya biar dia tahu rasa.......... agar dilain waktu ia tidak bersikap angkuh dan sekebendak bati seperti ini" . Tok Cun Hoa juga membentak .

"Ya, kau minggirlah tojin muda, karena jika tidak jangan menyalah aku jika nanti aku kesalahan tangan melukaimu......!"

Melihat keadaan tidak meggembirakan seperti itu, di mana kedua jago-jago ini siap bertempur lagi, Ong Tiong Yang jadi menghela napas dalam-dalam.

"Baiklah jika demikian,"

Katanya.

"Kalau kalian memang tidak mau saling mengalah. Pinto juga tidak bisa mengatakan apapun juga hanya sayangnya..........!"

Dan Ong Tiong Yang tidak mereruskan perkataannya.

"Sayang apa?"

Tanya Tok Cun Hoa dengan suara yang tawar.

"Ya, sayang apa ?"

Tanya Ang Bian, yang rupanya juga ingin mendengar kelanjutan dari perkataan Ong Tiong Yang. Ong Tiong Yang menghela napas, ia tertatawa sambil katanya .

"Pinto merupakan tojin muda yang tidak masuk dalam hitungan dimata jiewie Loci anpwe....., tetapi berilah kesempatan kepada Boanpwe untuk menyatakan isi hati boanpwe ........ jika memang dalam urusan ini Lo cianpwe berdua masih tetap melakukan pertempuran, jelas hal tersebut tidak menguntungkan untuk kalian berdua, disamping itu, bukankah sayang tenaga sinkang kalian dihamburkan begitu macam.......? Bukankah lebih baik jika kepandaian dan tenaga yang ada itu dipergunakan sebaik mungkin, yaitu disalurkan untuk melakukan perbuatan2 mulia dan luhur?"

Ang Bian tertawa mendengar perkataan Ons Tiong Yang.

"Benar Ong Cinjin, apa yang engkau kata kan memang benar !"

Katanya. Tetapi sebaliknya dengan Tok Cun Hoa, mukanya berubah jadi keras.

"Hemm.........., jika memang begitu, engkau ingin mengartikan bahwa aku tadi telah bertanding hanya melakukan kejahatan belaka ?"

"Bukan begitu maksudku,"

Kata Ong Tiong Yang sabar.

"Lalu apa maksudmu ?"

Tanya Tok Cun Hoa sambil memandang tajam.

"Pinto merasa sayang jika tenaga dan kepandaian dari kalian berdua dipergunakan untuk hal2 yang tidak memberikan manfaatnya apa2 bukankah lebih bijaksana jika kepandaian kalian dipergunakan untu perbuatan2 baik ?"

Ditanya begitu, Tok Cun Hoa berdiam diri sejenak, tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil katanya .

"Tidak.... tidak aku tadi melakukan apa yang bisa kulakukan buat menjaga hakku sebagai pemilik rumah ini."

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es Kho Ping

Baca Juga: Wanita Iblis Pencabut Nyawa 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert