Eps 2 Wanita Iblis Pencabut Nyawa - Kho Ping Hoo
Baca online Wanita Iblis Pencabut Nyawa - Kho Ping Hoo
Cersil Wanita Iblis Pencabut Nyawa - Kho Ping Hoo.
Dalam hal tenaga dan kegesitan, keadaan Sui Giok boleh dibilang berimbang dengan lawannya, akan tetapi ilmu pedang Kim-gan-liong-kiam-sut memperlihatkan keunggulannya.
Dengan ilmu pedang ini, Sui Giok berhasil mendesak lawannya yang kini makin menjadi gelisah itu.
Ling Ling tidak mau membantu ibunya karena maklum bahwa tak lama lagi ibunya akan berhasil merobohkan lawannya.
Benar saja, setelah bertempur tiga puluh lima jurus, akhirnya dengan gerak tipu Kim-gan-liong-sin-yau (Naga Mata Emas Mengulur Pinggang), Sui Giok berhasil menipu dan memancing lawannya.
Tubuhnya membelakangi lawannya dengan gerakan yang lemas dan indah dan melihat kesempatan serta lowongan ini, pendeta itu segera menusuk dari belakang.
Ini hanya pancingan belaka untuk dapat mematahkan kekuatan pertahanan tosu itu.
Bagi setiap ahli ilmu silat tentu maklum bahwa serangan dan pertahanan adalah dua gerakan yang berlawanan.
Apabila orang menyerang maka berarti bahwa pertahanannya tentu berkurang satu bagian kekuatannya, sebaliknya di waktu bertahan, juga daya serangnya berkurang.
Ketika tosu itu menusukkan pedangnya ke arah dada kiri Sui Giok, tiba-tiba nyonya ini berseru keras, membalikkan tubuh, membuka lengan kiri sehingga pedang lawan meluncur di bawah pangkal lengan kirinya, kemudian pedang di tangan kanannya tak dapat dicegah lagi telah memasuki dada lawannya.
Pendeta Pek-sim-kauw ini menjerit dan ketika Sui Giok mencabut pedangnya sambil melompat kebelakang, tubuh pendeta itu terguling roboh tak bernyawa lagi.
Kedua anak dan ibu ini segera menghampiri Bu Lam Nio yang masih rebah mandi darah.
Ketika Sui Giok merobohkan pendeta lawannya, Ling Ling sudah berlutut dan memangku kepala neneknya maka kini keduanya hanya menangis sedih.
Keadaan Bu Lam Nio sudah jelas, tak dapat diobati lagi.
Kulit lambungnya telah terbuka dan isi perutnya bahkan ada yang menonjol keluar.
Darah membasahi rumput dan pakaiannya.
Wajahnya pucat dan makin mengerikan, akan tetapi Ling Ling dan ibunya tiada hentinya menciumi muka nenek itu sambil memanggil-manggil namanya.
Bagaikan dipanggil kembali nyawa nenek itu oleh tangisan Ling Ling dan Sui Giok, tiba-tiba mata yang telah tertutup rapat itu terbuka kembali dan melihat Ling Ling memangkunya, Bu Lam Nio tersenyum.
Bibirnya berbisik-bisik akan tetapi suara yang keluar sukar sekali ditangkap oleh telinga karena amat perlahan.
Ling Ling dan Sui Giok lalu mendekatkan telinga mereka untuk mendengar pesan terakhir itu.
"Oei-hong-kiam (Pedang Tawon Kuning) dari suamiku telah dirampas oleh pembunuhnya... carilah pemegang Oei-hong-kiam dan... bunuh dia untuk membalas sakit hati Kam-ciangkun (Panglima Kam)..."
Setelah berkata demikian, leher Bu Lam Nio menjadi lemas dan melayanglah nyawa nenek yang malang hidupnya ini meninggalkan raganya yang sudah rusak.
Dengan hati sedih, Sui Giok dan Ling Ling mengubur jenazah Bu Lam Nio, juga ketiga jenazah pendeta-pendeta Pek-sim-kauw itu mereka kubur baik-baik.
Hal ini menandakan bahwa budi pekerti Sui Giok memang halus dan baik.
Nyonya ini bersama anaknya masih merasa heran mengapa pendeta-pendeta yang jubahnya memakai gambar hati putih ini memusuhi Bu Lam Nio.
"Mereka ini tentulah pendeta-pendeta yang jahat, sebagaimana seringkali ibu menceritakan kepadaku!"
Kata Ling Ling.
"Maka kelak kalau kita bertemu dengan pendeta berpakaian seperti ini, kita harus membasmi mereka!"
Memang pada waktu itu kedudukan para tosu dan hwesio dirusak dan dicemarkan oleh orang-orang jahat yang sengaja menjadi "Orang suci"
Untuk menutupi perbuatan mereka yang jahat.
Dengan jubah pendeta, mereka ini lebih leluasa membodohi rakyat dan melakukan hal-hal yang amat mengecewakan.
Hal ini diketahui oleh Sui Giok maka seringkali ia memberi nasehat kepada anaknya agar berhati-hati menghadapi orang-orang yang berjubah pendeta, karena kalau mereka itu berhati jahat, sukarlah bagi kita untuk menyangkanya.
"Ibu, setelah kini nenek tidak ada, tentu ibu tidak berkeberatan untuk mengawani aku keluar dari tempat ini. Marilah kita pindah ke tempat ramai, ibu, dan hidup seperti orang-orang biasa. Ling Ling membujuk dua hari kemudian setelah peristiwa itu terjadi.
"Baiklah, Ling Ling. Akan tetapi aku masih merasa tidak tega meninggalkan makam nenekmu. Biarlah kita tinggal lagi di sini sampai sembilan hari, baru kita tinggalkan tempat ini."
Akan tetapi tujuh hari kemudian, terjadilah peristiwa hebat yang memaksa ibu dan anak itu pergi dari situ sebelum waktu yang mereka tetapkan.
Pada hari itu, pagi-pagi sekali, serombongan pendeta mendarat di hutan itu.
Mereka ini datang dengan perahu dan ternyata bahwa mereka adalah pendeta-pendeta Pek-sim-kauw sebanyak tiga belas orang.
Melihat tusuk konde mereka, ternyata bahwa mereka ini adalah pendeta-pendeta Pek-sim-kauw yang berkepandaian tinggi.
Sepuluh orang bertingkat dua dan yang tiga orang adalah pendeta-pendeta Pek-sim-kauw tingkat satu.
Bagaimanakah begitu banyak pendeta Pek-sim-kauw dapat menyerbu ke sini?
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, seorang pendeta dapat melarikan diri dari hutan itu dan langsung berlari ke kota Kong-goan.
Kebetulan sekali pada waktu itu, Pek Sui Cu, pendeta dari cabang Pek-sim-kauw di Kong-goan, didatangi oleh beberapa orang pendeta tingkat dua lain yang sengaja datang hendak merundingkan tentang keadaan perkumpulan mereka, ketika mereka ini mendengar tentang tewasnya Pek Kin Cu dan tangguhnya siluman-siluman di dalam hutan itu, bukan main marah dan terkejut mereka, (Lanjut ke
Jilid 03) Wanita Iblis Pencabut Nyawa/Toat Beng Mo Li (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 03
"Celaka, twa-suheng,"
Kata pendeta itu dengan muka pucat.
"Ji-suheng dan sam-suheng entah bagaimana nasibnya. Siluman-siluman wanita itu bukan main tangguh dan gagahnya."
Ia lalu menceritakan betapa dengan sekali tangkis saja "Siluman wanita"
Yang paling muda telah berhasil membuat pedangnya terampas. Pek Sui Cu dan kawan-kawannya lalu merundingkan hal ini.
"Terang bahwa mereka itu tentulah wanita-wanita jahat yang menyembunyikan diri dan berkepandaian tinggi. Kita harus minta bantuan dari pusat, dan sebaiknya kita berlaku hati-hati. Sedapat mungkin kita harus minta bantuan dari suheng-suheng kita yang bertingkat satu. Jangan sampai kita menyerbu dan gagal lagi."
Demikianlah, setelah menanti dua hari ternyata dua orang kawan mereka tidak kembali, lalu seorang pendeta disuruh memberi laporan ke pusat minta bantuan.
Pusat Pek-sim-kauw berada di kota besar Ceng-tu di sebelah selatan.
Liang Gi Cinjin sendiri jarang sekali berada di pusat, kesukaannya pergi merantau, mengunjungi sahabat-sahabatnya di puncak gunung-gunung seperti Kunlun-san, Gobi-san, dan lain-lain.
Orang tua yang sakti ini memang sudah bosan untuk mengurus semua persoalan dunia dan lebih suka ia mengunjungi ketua Kunlun-pai atau Gobi-pai untuk bermain catur, bercakap-cakap dan bertukar pikiran tentang ilmu batin dan ilmu alam.
Apabila dia sedang pergi, maka seluruh urusan Pek-sim-kauw diserahkan kepada murid-muridnya yang sudah bertingkat satu.
Jumlah muridnya ini hanya lima orang, masing-masing bernama Pek Im Ji, Pek Hong Ji, Pek Yang Ji, Pek Thian Ji, dan Pek Te Ji.
Kesemuanya adalah pendeta-pendeta yang sudah berusia lima puluh tahun lebih dan selain telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi karena telah mewarisi delapan puluh bagian lebih dari Pek-sim-ciang-hoat dan Pek-sim-kiam-hoat, merekapun telah mendapat pengertian yang mendalam tentang kebatinan.
Tidak mengherankan apabila sikap mereka halus dan lemah lembut serta memiliki sifat penuh welas asih.
Ketika ke lima orang murid Liang Gi Cinjin mendengar tentang siluman yang membunuh anak murid Pek-sim-kauw, mereka menjadi terkejut dan juga terheran-heran.
"Bagaimana bisa terjadi hal sehebat itu?"
Tanya Pek Im Ji, pendeta tertua atau murid kesatu daripada Liang Gi Cinjin yang juga mewakili suhunya.
"Kesalahan apakah yang sudah diperbuat oleh orang-orang kita sehingga mendapat marah dari orang gagah yang menyembunyikan diri di dalam hutan?"
Pek Im Ji tanpa ragu-ragu lagi mengetahui bahwa yang disebut siluman itu tentulah orang gagah yang pandai ilmu silat. Pendeta pesuruh dari Kong-goan itu lalu menceritakan awal mulanya.
"Penduduk dusun Tai-kun-an seringkali mendapat gangguan dari siluman wanita yang disebut Toat-beng Mo-li atau Cialing Mo-li bahkan seorang she Tan dari dusun itu bersama beberapa orang pengawalnya telah terbunuh mati. Ketika sute Pek Kin Cu mendengar laporan para penduduk dusun itu, segera dia mendatangi hutan tempat tinggal siluman tadi dan dalam pertempuran, ternyata sute Pek Kin Cu tidak dapat melawan seorang wanita tua yang seperti siluman mukanya. Sute Pek Kin Cu terkena pukulan, dan menjadi pingsan. Ketika siuman kembali, ia telah berada di luar hutan. Kemudian sute Pek Kin Cu minta bantuan ke Kong-goan. Bersama tiga orang saudara dari Kong-goan, ia lalu mendatangi dan menyerbu hutan itu. Tidak tahunya, siluman wanita tua itu masih mempunyai dua orang kawan, seorang wanita dan seorang gadis yang memiliki ilmu silat luar biasa sekali. Sute Pek Kin Cu tewas dalam pertempuran, dan ketika tiga orang saudara dari Kong-goan berhasil merobohkan siluman tua, datanglah dua orang wanita tadi. Saudara-saudara kita itu terdesak hebat, seorang saudara dapat melarikan diri, akan tetapi yang dua lagi agaknya tewas pula, karena sehingga kini belum kembali. Mohon bantuan dari twa-suhu!"
Pesuruh ini memang terhitung murid dari kelima pendeta kepala itu maka ia menyebut Pek Im Ji sebagai twa-suhu. Pek Im Ji menghela napas panjang.
"Terlalu gegabah!"
Celanya.
Pek Kin Cu terlalu sembrono.
Ia agaknya terpengaruh oleh dongeng orang-orang dusun yang tahyul dan mengira bahwa orang gagah itu benar-benar siluman.
Celaka, kita telah menanam permusuhan dengan mereka.
Sungguhpun pihak kita telah tewas tiga orang, namun pihak mereka juga tewas seorang.
Kalau diselidiki secara adil, tak dapat kita menyalahkan pihak mereka.
Kalau pihak kita tidak mengganggu dan kalau Pek Kin Cu tidak menyerbu ke dalam hutan, tak mungkin terjadi peristiwa ini."
"Akan tetapi, twa-suhu,"
Pesuruh itu membela saudara-saudaranya.
"Siluman itu telah membunuh orang-orang dusun Tai-kun-an, apakah kita harus diam saja?"
Pek Im Ji mengerutkan keningnya.
"Hm, pertanyaan bodoh yang kau ajukan ini. Apakah kau belum mengerti betul tentang hukum sebab dan akibat? Kalau memang orang-orang gagah di dalam hutan itu benar-benar siluman, mengapa mereka tidak membunuh semua penduduk? Pembunuhan terhadap orang she Tan itu hanyalah akibat dan seperti juga semua akibat yang terjadi di dunia ini, pasti ia bersebab. Apakah mendiang Pek Kin Cu sudah menyelidiki sebabnya? Tahukah dia mengapa orang she Tan itu sampai terbunuh oleh orang gagah yang disebut siluman?"
Pesuruh itu tidak dapat menjawab dan tidak berani membantah pula, hanya berkata perlahan.
"Terserah kepada kebijaksanaan twa-suhu, karena teecu sekalian memang tak berdaya."
Pek Im Ji biarpun mulutnya menyatakan demikian, namun di dalam hatinya merasa penasaran juga.
Sungguh hal yang amat memalukan nama Pek-sim-kauw.
Tiga orang pendeta tingkat dua dan seorang pendeta tingkat tiga tidak berdaya sama sekali menghadapi orang atau siluman yang hanya merupakan tiga orang wanita saja bahkan menurut cerita pesuruh ini, yang seorang hanya seorang gadis muda.
"Sam-sute, Si-sute, dan Ngo-sute, harap suka membereskan urusan ini. Ketemuilah orang-orang gagah di dalam hutan dekat Tai-kun-an itu dan tanyakanlah mengapa sampai terjadi pertumpahan darah dan pembunuhan yang tidak perlu. Kalau memang pihak kita yang salah, mintakan maaf atas nama Pek-sim-kauw. Akan tetapi kalau ternyata mereka itu orang-orang dari golongan hek-to (jalan hitam, orang-orang jahat), jangan sembarangan membunuh, akan tetapi usahakan agar mereka itu dapat ditangkap. Kita akan menanti keputusan suhu kalau dia sudah pulang."
Saudara ketiga, keempat dan kelima dari lima orang murid Liang Gi Cinjin itu segera menyatakan kesanggupannya dan berangkatlah mereka ke Kong-goan.
Mereka ini adalah Pek Yang Ji, Pek Thian Ji, dan Pek Te Ji, tiga orang dari kelima saudara seperguruan yang juga dijuluki Pek-sim Ngo-lojin (Lima Kakek Hati Putih).
Lima orang murid Liang Gi Cinjin ini bukanlah orang-orang sembarangan dan kelimanya memiliki ilmu kepandaian tinggi dan mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri.
Tiga orang pendeta yang menjadi murid ketiga, keempat dan kelima inipun memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa.
Tidak saja ilmu Pek-sim-ciang-hoat dan Pek-sim-kiam-hoat telah mereka pelajari sampai delapan puluh bagian, akan tetapi Pek Yang Ji memiliki tenaga lweekang yang disebut Tai-lek-kim-kong-jiu (Pukulan Halilintar).
Pukulan ini bukan main dahsyatnya dan dari jarak jauh saja ia dapat merobohkan seorang lawan.
Pek Thian Ji, murid keempat memiliki keistimewaan dalam kepandaian ginkang, sehingga tubuhnya dapat bergerak lebih cepat daripada angin.
Kalau berkelana seorang diri, ia dijuluki Bu-eng-cu (Tanpa Bayangan) karena demikian cepat gerakan tubuhnya sehingga jangankan melihat orangnya, melihat bayangannya pun sukar sekali.
Murid kelima, yakni Pek Te Ji, memiliki kepandaian ilmu menotok yang disebut Im-yang-tiam-hoat.
Cara menotoknya berbeda dengan ahli silat biasa, dan cara yang khusus ini membuat totokannya tak dapat dilawan oleh ilmu kekebalan yang bagaimanapun juga.
Ketika ketiga orang pendeta sakti ini tiba di rumah perkumpulan Pek-sim-kauw di Kong-goan, ternyata bahwa di situ telah berkumpul sepuluh orang pendeta tingkat dua, yakni kawan-kawan Pek Sui Cu yang telah mendengar tentang siluman itu dan datang untuk mencari kabar.
Mereka ini tadinya bertugas di dusun-dusun dan kota-kota yang berada di sekitar Kong-goan.
Semua pendeta segera menjatuhkan diri berlutut di depan tiga orang kakek dari Ceng-tu ini, karena mereka ini boleh dibilang masih terhitung guru mereka sendiri.
Biarpun pendeta-pendeta tingkat dua itu adalah murid-murid Liang Gi Cinjin juga, akan tetapi ilmu silat mereka sebagian besar terlatih oleh kelima Pek-sim-ngo-lojin, sedangkan Liang Gi Cinjin hanya sewaktu-waktu menguji mereka saja untuk mengetahui sampai di mana tingkat dan kemajuan mereka.
Ketika mendengar bahwa ketiga orang kakek ini hendak mencari siluman di hutan sebelah utara Tai-kun-an, serentak sepuluh orang pendeta tingkat dua ini lalu menyatakan hendak ikut dan melihat dengan kedua mata sendiri macamnya siluman-siluman wanita yang telah membunuh saudara-saudara mereka.
Di antara Pek-sim Ngo-lojin, sesungguhnya hanya Pek Im Ji saja yang amat keras dan berdisiplin.
Kalau kiranya Pek Im Ji yang hendak mencari siluman-siluman wanita itu, tentu dia akan melarang anak buahnya ikut, akan tetapi ketiga orang pendeta tingkat satu ini tidak melarang mereka, maka berangkatlah tiga belas orang pendeta itu beramai-ramai memasuki hutan di sebelah utara Tai-kun-an dengan perahu yang di dayung sepanjang sungai Cialing.
Ketika mereka telah mendarat dan menuju ke tempat tinggal Bu Lam Nio dengan diantar oleh seorang pendeta tingkat dua, yakni pendeta yang melarikan diri dulu itu sebagai petunjuk jalan, tiba-tiba mereka mendengar suara orang-orang perempuan menangis.
Mereka cepat menghampiri tempat itu dan melihat dua orang wanita tengah berlutut di depan sebuah makam baru sambil menangis.
Mereka ini adalah Sui Giok dan Ling Ling yang tiap hari tentu mengunjungi makam Bu Lam Nio dan menangis sedih.
Ibu dan anak ini memang amat menyinta nenek yang telah berjasa besar terhadap mereka itu.
Tanpa adanya Bu Lam Nio, takkan ada mereka pula.
Mendengar suara kaki mendatangi, Ling Ling dan ibunya lalu menengok dan melompatlah mereka ketika melihat bahwa yang datang adalah pendeta-pendeta itu lagi.
Sinar kemarahan bernyala-nyala di dalam mata ibu dan anak itu.
Inilah pendeta-pendeta yang telah merenggut nyawa Bu Lam Nio.
Sementara itu, pendeta yang pernah bertanding dengan mereka, lalu berkata kepada Pek Yang Ji.
"Sam-suhu, inilah dia dua orang siluman yang telah membunuh kawan-kawan kita."
Pek Yang Ji cepat mengangkat kedua tangannya memberi hormat, diturut oleh semua kawan-kawannya. Dengan senyum seorang alim ia lalu berkata.
"Toanio (nyonya) dan siocia (nona), maafkanlah kami apabila kami datang mengganggu. Kami adalah pendeta-pendeta dari perkumpulan Pek-sim-kauw dan pinto (aku) sebagai pemimpin rombongan ini bernama Pek Yang Ji. Bolehkah kiranya kami mengetahui nama toanio dan siocia yang terhormat?"
Melihat sikap dan mendengar ucapan yang menghormat ini, Sui Giok sudah menjadi agak sabar, akan tetapi tetap saja suaranya terdengar kaku ketika ia menjawab.
"Kami ibu dan anak selama hidup tidak pernah mempunyai urusan dengan segala macam pendeta, maka kedatangan cuwi (tuan-tuan sekalian) ini tak ada artinya bagi kami. Kami tak perlu tahu nama dan tidak perlu memperkenalkan nama."
Pek Yang Ji masih sabar dan tersenyumlah ia mendengar jawaban ini.
"Toanio, agaknya kau masih marah kepada kami, kemarahan yang sesungguhnya tidak kami mengerti sebabnya. Apakah Toanio dan siocia ini yang disebut Toat-beng Mo-li dan Cialing Mo-li?"
Marahlah hati Ling Ling mendengar pertanyaan ini. Ia melangkah maju dan menuding dengan jarinya yang runcing dan kecil sambil membentak.
"Kalau kami betul-betul siluman-siluman pencabut nyawa dan siluman sungai Cialing, kalian mau apakah? Jangan banyak cakap dan pergilah, kami tak ingin diganggu!"
Pek Yang Ji adalah pendeta yang paling sabar di antara mereka, karena yang lain-lain sudah menjadi merah mukanya karena marah melihat dua orang wanita yang telah membunuh kawan-kawan mereka dan yang bersikap kasar ini.
Bahkan Pek Yang Ji sendiri ketika melihat betapa sikap kedua orang wanita itu benar-benar sikap bermusuh dan menghina sekali, mulai berkurang senyumnya.
"Hm, jiwi agaknya tidak dapat menerima penghormatan kami. Baiklah, kami datang hanya untuk bertanya tentang kawan-kawan kami yang datang di sini tujuh hari yang lalu. Mereka itu adalah anggauta-anggauta Pek-sim-kauw, dimanakah adanya mereka sekarang?"
Sui Giok menggerakkan lengan tangannya, menunjuk ke arah kiri di mana terdapat gundukan tanah tiga gunduk sambil berkata.
"Jadi tiga orang penjahat berkedok pendeta yang datang mengacau tempat tinggal kami itu adalah kawan-kawan cuwi? Mereka sudah mati, kematian yang sudah sepatutnya dan yang mereka cari sendiri."
Semua pendeta memandang dengan mata marah, akan tetapi Pek Yang Ji masih berlaku tenang.
"Toanio, ketahuilah bahwa kami pendeta-pendeta Pek-sim-kauw bukanlah pendeta-pendeta jahat dan palsu. Perkumpulan agama kami mengutuk perbuatan-perbuatan jahat dan musuh-musuh kami hanyalah orang-orang jahat dan suka mengganggu orang lain!"
"Omong kosong!"
Tiba-tiba Ling Ling membentak keras.
"Kalau pendeta baik-baik mengapa datang mengganggu kami, bahkan telah membunuh nenekku? Siapa dapat percaya omongan itu?"
"Nona, kau agaknya tidak ingat bahwa kalian berdua juga telah membunuh tiga orang pendeta Pek-sim-kauw!"
Kata Pek Yang Ji memperingatkan.
"Tentu saja! Siapa yang membunuh lebih dulu? Orang-orangmu membunuh nenekku, apakah aku harus diam saja?"
"Pihakmu hanya seorang yang tewas, sedangkan pihak kami tiga orang, maka kiranya tidak perlu nona masih marah dan merasa penasaran."
"Enak saja kau bicara!"
Ling Ling membentak lagi.
"Kau kira nyawa nenekku cukup diganti oleh tiga orang pendeta palsu? Ketahuilah biar ditambah dengan tiga belas nyawa anjing kalian, aku masih belum puas!"
Melihat kemarahan puterinya, Sui Giok maju memegang tangan Ling Ling, berusaha menyabarkannya.
Adapun pendeta-pendeta Pek-sim-kauw itu menjadi marah sekali mendengar ucapan Ling Ling ini dan di antaranya sudah ada yang mencabut pedangnya.
Akan tetapi Pek Yang Ji mengangkat tangannya mencegah anak buahnya bergerak.
Ia menjura kepada Sui Giok dan berkata.
"Toanio, agaknya nona ini amat keras hati, sesuai dengan kemudaannya, maka lebih baik pinto bicara denganmu. Seperti telah pinto katakan tadi, di dalam peristiwa ini, seorang dari pihakmu tewas dan tiga orang dari pihak kami meninggal. Memang dipandang dengan sepintas lalu, seakan-akan pihak kami yang bersalah karena telah berani masuk ke sini mengganggu kalian. Akan tetapi, kedatangan kami ini dengan maksud menanyakan tentang gangguanmu terhadap orang-orang yang bertempat tinggal di dusun Tai-kun-an. Saudara-saudara kami yang datang di sini bukan semata-mata mengganggu toanio kalau tidak bersalah dan kalau tidak berdasarkan menolong orang-orang yang kalian ganggu. Oleh karena itu, harap toanio sudi menjelaskan mengapa beberapa tahun yang lalu toanio telah membunuh orang, penduduk she Tan di dusun Tai-kun-an dan membunuh beberapa orang pengawalnya pula?"
Sui Giok menjadi merah mukanya ketika nama Tan-wangwe disebut-sebut.
"Hal ini tak perlu orang lain mengetahuinya. Cukup kukatakan bahwa keparat she Tan itu sudah patut menerima hukumannnya!"
"Mengapa? Apa salahnya terhadap Toanio?"
Pek Yang Ji mendesak.
"Totiang, kau sebagai seorang pendeta, mengapa mencampuri urusan pribadi orang lain?"
"Pembunuhan kejam bukanlah urusan pribadi lain. Kami pendeta-pendeta Pek-sim-kauw memang berkewajiban untuk membereskan urusan kejahatan dan pembunuhan adalah soal kejahatan besar,"
Jawab Pek Yang Ji tenang.
"Kalau kami menolak untuk memberi penjelasan?"
Kata Sui Giok.
"Terpaksa kami anggap bahwa kalian yang bersalah dalam pertikaian dengan kami ini."
"Hm, kalau kalian sudah menganggap kami bersalah, lalu bagaimana?"
Ling Ling mendahului ibunya.
"Terpaksa kalian berdua harus ikut dengan kami untuk berhadapan dengan ketua kami dan menanti keputusan beliau!"
"Siapakah ketua kalian itu?"
Sui Giok yang sudah menjadi marah juga bertanya sambil memegang tangan anaknya agar gadis itu tidak berlaku lancang.
"Ketua kami atau suhu kami adalah Liang Gi Cinjin."
"Kalau kami tidak mau ikut?"
Tantang pula Sui Giok.
"Kami akan melakukan kekerasan!"
Akhirnya Pek Yang Ji menegaskan.
Bagaikan mendapat komando, semua pendeta kini telah menghunuskan senjata masing-masing.
Sui Giok dan Ling Ling saling pandang, kemudian mereka lalu melompat mundur kira-kira setombak dan telah mencabut pedang mereka.
Sui Giok mencabut pedang yang dulu dirampasnya dari Tan-wangwe, sedangkan Ling Ling mencabut pedang yang dirampasnya dari pendeta Pek-sim-kauw itu.
"Bagus, hendak kami lihat bagaimana kalian akan menangkap kami dengan kekerasan!"
Seru Ling Ling sambil maju menerjang dengan pedangnya.
"Semua jangan bergerak, biarkan pinto dan kedua sute menghadapi mereka!"
Kata Pek Yang Ji yang mencegah anak buahnya melakukan pengeroyokan. Iapun lalu menghadapi serbuan Ling Ling dengan pedangnya.
"Trang!"
Dua batang pedang beradu keras sekali dan diam-diam Pek Yang Ji merasa kagum dan terheran betapa gadis cantik yang masih amat muda itu telah memiliki tenaga lweekang yang amat hebat sehingga ketika tadi ia menangkis sambil mengerahkan tenaga, ternyata ia tidak mampu membuat pedang lawan terpental.
Kekejutannya makin menjadi ketika Ling Ling melanjutkan serangannya dengan amat cepatnya dan dengan gerakan yang luar biasa sehingga pedang itu merupakan sinar yang menyambar bagaikan kilat.
Sementara itu, Sui Giok telah maju pula, disambut oleh Pek Thian Ji, orang keempat dari Pek-sim Ngo-lojin.
Pertempuran berjalan amat serunya.
Pertempuran antara Sui Giok dan Pek Thian Ji masih dapat dikatakan seimbang, sungguhpun pendeta ini merasa bingung juga menghadapi permainan pedang dari nyonya itu.
Akan tetapi Ling Ling dengan cepat mendesak hebat lawannya sehingga dalam dua puluh jurus saja, Pek Yang Ji terdesak tak dapat membalas serangan lawannya.
Tidak saja pendeta ini merasa terkejut sekali, bahkan lain-lain pendeta juga memandang dengan mata terbelalak.
Tak pernah mereka sangka sama sekali bahwa gadis itu memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada nyonya yang lihai itu, bahkan agaknya Pek Yang Ji tokoh ketiga dari Pek-sim Ngo-lojin yang lihai ini, takkan dapat menang.
Hal ini dimaklumi pula oleh Pek Yang Ji.
Ia merasa penasaran dan juga malu.
Masa dia, seorang tokoh besar yang jarang sekali menderita kekalahan dalam pertempuran, kini harus mengaku kalah terhadap seorang gadis yang belum ada dua puluh tahun usianya?
Ia telah memandang dengan penuh perhatian untuk mengenal ilmu pedang lawannya, akan tetapi sungguhpun ilmu pedang gadis itu mirip dengan Kun-lun Kiam-hoat, namun banyak sekali perbedaannya.
Ilmu pedang itu amat luar biasa dan memiliki perobahan-perobahan gerakan yang aneh dan sulit diduga.
Juga pedang di tangan gadis itu dapat melakukan gerakan-gerakan yang amat sukar dan seakan-akan tidak mungkin, seperti juga pedang itu telah menjadi hidup dan menjadi anggauta tubuh penyambung tangan.
"Sam-suheng, biar aku membantumu menangkap gadis liar ini!"
Pek Te Ji yang semenjak tadi telah "gatal tangan", menggerakkan pedangnya hendak mengeroyok.
"Jangan dulu, ngo-sute, biarlah aku menangkapnya sendiri!"
Kata Pek Yang Ji.
Tosu ini merasa malu untuk melakukan pengeroyokan dan kini ia hendak mengeluarkan ilmu silatnya yang paling ampuh dan lihai, yakni pukulan Tai-lek-kim-kong-jiu.
Ketika mendapat kesempatan baik setelah ia berhasil membentur pedang lawannya, ia lalu melangkah ke belakang cepat sekali sejauh tiga tindak, kemudian ia merendahkan tubuhnya, mengerahkan lweekangnya, lalu berseru keras.
Lengan tangan kirinya diayun dari kiri menuju ke depan, mengirim pukulan Tai-lek-Kim-Kong-Jiu yang hebat itu.
Sebelum angin pukulan yang keras itu datang menyambar, Ling Ling yang berlaku waspada dapat menduga bahwa lawannya akan melakukan serangan dari jauh.
Maka cepat gadis inipun menggerakkan tangan kiri dan begitu angin pukulan Tai-lek-Kim-Kong-Jiu menyambar dengan kerasnya, Ling Ling melakukan gerakan menyampok dari kiri.
Dua tenaga raksasa bertemu sebelum kedua tangan itu bertemu dan akibatnya membuat kedua orang itu terhuyung mundur karena kembalinya tenaga pukulan sendiri.
Bukan main kaget dan herannya hati Pek Yang Ji.
Bagaimanakah boca ini dapat menahan pukulannya Tai-lek-Kim-Kong-Jiu?
Padahal, ia pernah mengalahkan banyak sekali tokoh-tokoh persilatan yang tinggi tingkat kepandaiannya.
Tidak saja gadis cilik ini dapat menahan, bahkan dapat pula membentur hawa pukulannya sedemikian rupa.
Sementara itu, Ling Ling dapat membereskan kuda-kudanya kembali dan tertawalah gadis itu dengan suara ketawanya yang merdu dan nyaring.
"Hm, serangan semacam itu, di tempat ini hanya dapat dilakukan oleh ekor buaya sungai Cialing!"
Ucapan ini sesungguhnya tidak disengaja oleh Ling Ling dan hanya diucapkan untuk menghina dan menyindir lawannya, karena memang gerakan tangan kiri Pek Yang Ji yang memukul tadi seperti gerakan ekor buaya..
Akan tetapi Pek Yang Ji yang mendengar ucapan ini, menjadi pucat sekali.
Tak disangka-sangkanya bahwa gadis itu telah dapat menebak sumber ilmu pukulannya itu.
Memang sesungguhnya, ilmu pukulan Tai-lek-Kim-Kong-Jiu yang dimiliki ini bersumber dari gerakan ekor buaya apabila sedang memukul ke depan.
Oleh karena itu, ketika ia hendak memukul tadi, ia merendahkan tubuh dan mengayun lengannya dari belakang ke muka, memperlipat ganda tenaga lweekang dalam pukulan itu ketika diayunkan.
Ucapan gadis itu membuat ia berpikir bahwa gadis ini tentu berkepandaian tinggi sekali sehingga dapat melihat dasar ilmu pukulannya.
Adapun Pek Tek Ji ketika melihat betapa pukulan suhengnya tidak saja tidak berhasil bahkan suhengnya terhuyung mundur lebih jauh daripada lawannya, maklum bahwa suhengnya takkan dapat menang.
Maka tanpa berkata sesuatu lagi ia menyerbu dengan pedangnya.
Ling Ling menyambutnya dengan tangkisan keras dan serangan balasan yang membuat Pek Tek Ji terpaksa bergerak sambil mundur.
Baru segebrakan saja pendeta yang tadinya memandang rendah ini telah terdesak hebat dan berada dalam keadaan berbahaya.
Untung baginya, Pek Yang Ji telah melompat maju kembali dan menahan desakan Ling Ling.
Gadis ini benar-benar gagah dan tabah sekali, biarpun dikeroyok dua, ia masih berhasil mendesak lawannya dengan permainan pedang yang selain indah, juga amat membingungkan kedua lawannya.
Biarpun Pek yang Ji mempunyai keahlian dalam pukulan Tai-lek Kim-kong-jiu, dan Pek Tek Ji memiliki ilmu totok Im-yang-tiam-hoat, namun kedua orang pendeta ini sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mempergunakan kepandaian mereka.
Adapun Sui Giok, biarpun ilmu pedangnya masih kalah jauh apabila dibandingkan dengan puterinya, Namun gerakannya cukup gesit dan gulungan sinar pedangnya cukup lebar dan kuat sehingga perlahan akan tetapi pasti, Pek Thian Ji mulai terdesak seperti keadaan kedua saudaranya, merasa penasaran sekali.
Dia yang telah mendapat julukan Bu-eng-cu (Tanpa Bayangan) dan memiliki ginkang yang sempurna, ternyata kini menemukan tandingan yang setimpal.
Dalam hal ginkang, nyonya cantik ini ternyata tidak berada di sebelah bawah tingkatnya.
Tentang ilmu pedang, diam-diam Pek Thian Ji harus mengaku bahwa ilmu pedang yang dimainkan oleh nyonya ini benar-benar belum pernah disaksikan seumur hidupnya dan jauh lebih kuat dan ganas daripada ilmu pedang Pek-sim-kiam-hoat yang dimainkannya.
Sepuluh orang pendeta tingkat dua yang tadinya dilarang oleh Pek Yang Ji untuk membantu, dan tinggal berdiri menonton saja, menjadi amat gelisah.
Mereka ini memiliki ilmu kepandaian yang hanya kalah sedikit saja oleh ketiga kawan mereka, paling banyak hanya kalah dua puluh bagian, maka mereka dapat melihat betapa ketiga orang pendeta tingkat satu itu terdesak hebat dan terancam jiwanya.
Sesungguhnya, biarpun tadi Pek Yang Ji melarang kawan-kawan dari tingkat dua ini maju membantu, kini ia merasa gelisah juga.
Pendeta-pendeta kelas satu dari Pek-sim-kauw ini sama sekali tidak takut terluka atau terbunuh dalam pertempuran ini.
Yang paling mereka takutkan hanyalah kejatuhan nama mereka.
Alangkah akan merosotnya keagungan nama Pek-sim-kauw apabila orang-orang kang-ouw mendengar bahwa tiga orang tokoh Pek-sim-kauw yang tertinggi kedudukannya, harus menyerah kalah terhadap dua orang wanita, bahkan yang seorang di antaranya masih merupakan gadis kecil.
Satu hal yang amat merendahkan nama dan memalukan sekali.
Oleh karena itulah, maka ketika sepuluh orang pendeta kelas dua itu serentak maju menyerang dan membantu, mereka tidak mengeluarkan suara sesuatu.
Bahkan Pek Yang Ji sendiri tidak melarang, sebaliknya menarik napas lega karena ia percaya bahwa dapat mengalahkan dua orang siluman wanita ini.
Memang amat berat bagi Ling Ling dan Sui Giok.
Menghadapi tiga orang pendeta tingkat satu itu saja sudah merupakan lawan yang harus dihadapi dengan hati-hati, apalagi setelah sepuluh orang pendeta tingkat dua itu maju mengeroyok.
Pedang para pendeta itu berkelebat-kelebat menyambar bagaikan hujan lebat dan terpaksa Sui Giok dan Ling Ling memutar pedang mereka untuk melindungi tubuh.
Mereka kini terdesak dan sama sekali tidak mendapat kesempatan membalas serangan para pendeta itu.
"Jangan bunuh mereka, tangkap!"
Pek Yang Ji masih sempat berseru memperingatkan kawan-kawannya.
Memang dia tidak ingin melihat kedua orang wanita itu sampai terbunuh, hanya ingin menangkap mereka dan menyeret mereka di depan suhunya untuk menanti keputusan.
Akan tetapi, hal ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, karena menangkap dua orang wanita ini lebih sukar daripada menangkap dua ekor naga sakti.
Agaknya hanya dengan kepala terpisah dari tubuh atau dengan pedang menancap di dada saja kedua orang wanita gagah ini akan menyerah.
Setelah pihaknya lebih kuat dan mendesak, Pek Tek Ji mendapat kesempatan untuk mengeluarkan kepandaiannya, yakni Im-yang-tiam-hoat, juga Pek Yang ji berusaha untuk memukul dengan Tai-lek Kim-kong-jiu untuk menghantam tangan lawan agar pedang mereka terlepas.
Repot juga Ling Ling dan Sui Giok menjaga diri, terutama sekali Sui Giok yang memang kalah jauh dari puterinya.
Pada saat yang baik, Pek Tek Ji berhasil mengirim serangan secara gelap, yakni dari belakang Sui Giok.
Ia menotok punggung nyonya itu dan dengan tepat jari tengah dan telunjuknyamenjepit urat dan menotok jalan darah thian-hu-hiat.
Sui Giok tak dapat mengelak dan sambil mengeluh nyonya ini melepaskan pedangnya dan roboh dengan tubuhnya lemas, sama sekali tak berdaya lagi.
Bukan main terkejutnya dan marahnya hati Ling Ling melihat betapa ibunya telah dirobohkan.
"Pengecut!"
Serunya marah dan ia cepat mempergunakan tangan kirinya untuk menepuk pundak ibunya yang menggeletak di atas tanah.
Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia tidak berhasil memunahkan totokan itu.
Ibunya tetap berbaring lemas dan totokan itu tidak dapat dibebaskan.
Padahal Ling Ling sudah mempelajari ilmu tiam-hoat cukup sempurna dan agaknya amat mustahil bahwa ia tidak dapat membebaskan seseorang dari pada pengaruh totokan.
Terdengar Pek Te Ji tertawa mengejek melihat usaha Ling Ling yang tidak berhasil ini.
Tahulah Ling Ling bahwa pendeta itu memiliki kepandaian istimewa dalam ilmu tiam-hoat, maka selain pendeta itu, agaknya sukarlah untuk membebaskan ibunya.
Ia berseru keras dan nyaring sekali dan belum juga habis suara ketawa Pek Te Ji, tahu-tahu ia telah kena dicengkeram pundaknya oleh tangan kiri Ling Ling.
Gerakan ini luar biasa cepatnya sehingga dua belas orang pendeta yang lain tidak menyangka-nyangkanya dan tidak dapat menolong Pek Te Ji.
Ling Ling telah mempergunakan sejurus ilmu silat Kim-gan-liong Ciang-hoat yang lihai untuk menangkap Pek Te Ji dalam saat orang-orang menertawakannya dan sebelum semua pendeta sadar.
Kini Pek Te Ji telah dicengkeram pundaknya dengan tangan kiri dan pedang di tangan kanan Ling Ling sudah menempel pada lehernya.
"Mundur semua!"
Teriak gadis gagah perkasa ini.
"Kalau tidak, kepala pendeta palsu ini akan menggelinding di kaki kalian!"
Melihat hal ini, bukan main kagetnya Pek Yang Ji. Ia maklum bahwa gadis seperti lawannya ini tidak akan bicara main-main dan akan sanggup membuktikan ancamannya, maka ia cepat berseru.
"Kawan-kawan, mundur semua!"
Ling Ling lalu berkata kepada pendeta yang telah berada di dalam cengkeramannya itu.
"Lekas kau bebaskan ibuku dari totokanmu kalau kau ingin hidup terus!"
Pek Yang Ji berkata kepada Ling Ling.
"Nona, apakah kami dapat mempercayai omonganmu? Kalau ibumu telah dibebaskan suteku itu?"
Ling Ling memandang dengan mata melotot.
"Kau kira aku ini orang macam kalian? Sekali aku berjanji, aku takkan melanggarnya. Kalau ibuku sudah bebas, kami berdua akan pergi dari sini, dan tunggulah, paling lama setahun aku akan mencari suhumu yang bernama Liang Gi Cinjin untuk membuat perhitungan!"
Pek Yang Ji lalu berkata kepada sutenya itu.
"Ngo-sute, lakukanlah seperti apa yang dimintanya. Tak perlu kita melanjutkan pertempuran yang berbahaya ini. Kalau dilanjutkan, tentu akan jatuh korban di kedua pihak."
Pek Te Ji lalu dilepaskan oleh Ling Ling dan dengan beberapa kali totokan dan urutan, Sui Giok dapat dibebaskan.
Nyonya ini mengambil kembali pedangnya dan tanpa banyak cakap lagi ibu dan anak ini lalu meninggalkan tempat itu setelah mengambil buntalan masing-masing dari dalam goa.
Di dalam bungkusan keduanya terdapat penuh batu mutiara yang amat berharga, yang sengaja mereka kumpulkan untuk bekal.
Para pendeta memandang bayangan mereka sampai lenyap dari situ.
Kemudian mereka lalu bersembahyang di depan makam ketiga pendeta Pek-sim-kauw yang telah menjadi korban di tangan Toat-beng Mo-li atau Cialing Mo-li.
"Sungguh lihai dan berbahaya!"
Pek Yang Ji berkata sambil menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Entah setan mana yang telah memberi pelajaran ilmu silat kepada mereka. Akan tetapi harus diakui bahwa ilmu pedang mereka tidak kalah hebatnya dengan ilmu pedang kita."
Maka pulanglah para pendeta itu beramai ke tempat masing-masing, dan ketika Liang Gi Cinjin pulang dari perantauannya lalu mendengar peristiwa ini, kakek sakti ini mengerutkan kening dan menggeleng kepalanya yang sudah penuh dengan rambut putih seperti benang perak.
"Salah, salah, kalian telah berlaku semberono sekali, menuruti hati dan perasaan. Sudah berkali-kali kukatakan bahwa untuk mengurus sesuatu, pergunakanlah otak dan jangan terlalu menuruti kata hati. Betapapun marah dan tersinggungnya hati seseorang, apabila ia masih dapat mempergunakan otaknya secara dingin dan sehat, ia akan menang juga akhirnya dalam sesuatu perselisihan, dan takkan sampai perselisihan itu menjadi pertempuran. Kalian ini mudah sekali menurunkan tangan, apakah kau kira bahwa ilmu silat kita ini yang tertinggi di dunia?"
Sampai di sini Liang Gi Cinjin menarik napas panjang dan para pendeta yang menjadi muridnya dan yang duduk dihadapannya, tak berani bergerak sedikitpun, hanya menundukkan kepala.
"Kalian keliru kalau mengira bahwa Pek-sim-kiam-hoat adalah ilmu pedang yang nomor satu di dunia. Apakah yang tertinggi di dunia ini? Di antara gunung-gunung yang menjulang tinggi, masih ada gunung Thai-san yang paling tinggi. Akan tetapi, di atas gunung Thai-san masih ada langit, dan di atas langit yang nampak oleh mata masih ada ruang lain yang tak terlihat oleh kita. Di antara sungai yang dalam, masih ada lautan yang paling dalam. Akan tetapi, di bawah lautan ini masih ada dasarnya dan di dalam dasar itu masih ada pula isinya yang lebhi dalam. Nah jangan sekali-kali kalian mengagulkan kepandaian sendiri, karena sesungguhnya kepandaian itu tiada batasnya. Mulai sekarang harap kalian berlaku hati-hati, jangan sekali-kali menyerang orang apabila tidak diserang. Boleh kita mempergunakan kepandaian hanya untuk menjaga diri, bukan untuk menyerang orang lain!"
Demikianlah, kakek sakti ini telah memberi banyak nasehat kepada murid-muridnya dan ia merasa amat menyesal bahwa murid-muridnya telah menanam bibit permusuhan dengan wanita-wanita yang mereka sebut Toat-beng Mo-li atau Cialing Mo-li.
Telah lama sekali, semenjak pada permulaan cerita ini, kita tidak mengetahui bagaimana dengan nasib Kwee Siong, suami dari Liem Sui Giok.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Kwee Siong telah ditangkap oleh Cong Hwat, komandan pasukan pengumpul tenaga rakyat dan langsung dikirim ke utara untuk dipaksa menjadi pekerja dalam usaha besar, yakni memperbaiki dan memperkuat tembok besar di tapal batas Tiongkok Utara.
Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan Kwee Siong dalam pekerjaan kasar ini.
Ia diharuskan membantu para pekerja dan termasuk dalam rombongan kuli kasar, mengangkut batu-batu, menggunakan pemukul besi memecah batu-batu besar, dan lain-lain pekerjaan kasar lagi.
Kwee Siong adalah seorang pelajar, selama hidupnya semenjak kecil yang dipegangnya hanyalah buku-buku dan pit (alat tulis), sehingga tubuhnya lemah dan tenaganya tidak besar, bagaimana ia dapat melakukan pekerjaan ini dengan baik.
Telapak tangannya yang berkulit halus dan tipis itu telah pecah-pecah, seluruh urat tubuhnya terasa sakit-sakit.
Penderitaan ini masih ditambah lagi dengan adanya mandor-mandor yang berupa serdadu-serdadu yang kejam sekali.
Sedikit saja pekerja-pekerja "Patriot"
Ini melakukan kesalahan atau nampak malas, ujung cambuk akan membuatnya menari-nari kesakitan.
Darah akan mengucur dari luka-luka cambukan di punggung mereka.
Akan tetapi, beberapa bulan kemudian, Kwee Siong menjadi biasa, tenaganya timbul dan ia tidak merasa terlalu menderita lagi.
Hanya apabila ia teringat kepada isterinya, diam-diam ia mengucurkan airmata yang turun mengalir melalui sepanjang pipinya untuk bercampur dengan peluhnya yang membasahi seluruh tubuhnya.
Kwee Siong adalah seorang yang beriman teguh, tidak mudah putus asa, tidak mudah menyerah kepada nasib.
Sebagai seorang pelajar dan orang yang berdarah seni, di dalam kepahitan penderitaan hidup ini, jiwanya mencari-cari sesuatu yang indah.
Kehausan jiwanya akan keindahan membuat ia dapat pula melihat dan mendapatkan keindahan dalam pekerjaan itu.
Ia melihat betapa hebatnya tenaga manusia dalam pekerjaan ini.
Mau tak mau, lepas daripada persoalan paksa atau tidak, diam-diam ia memuji kaisar yang telah sanggup melakukan pekerjaan besar ini.
Kagum ia menyaksikan tembok besar itu dan hatinya memuji kebesaran para kaisar yang dahulu membuat bangunan ini.
Untuk apakah tembok besar yang amat panjang itu dibangun oleh jutaan tangan manusia, sehingga pekerjaan besar itu telah mengorbankan ribuan, bahkan laksaan jiwa manusia?
Untuk kepentingan kaisar yang memerintahkan pembangunan ini?
Mungkin sebagian kecil saja, untuk melindungi kaisar.
Akan tetapi kaisar telah meninggal dunia dan tembok besar itu masih tetap berdiri kokoh kuat.
Kwee Siong adalah seorang yang berjiwa patriot, ia keturunan dari orang-orang penting, di antaranya keturunan dari Kwee Lo Seng yang terkenal sekali karena kesetiaannya kepada negara, seorang pembesar tinggi yang mengorbankan nyawa demi kepentingan negara ketika terjadi pemberontakan puluhan tahun yang lalu.
Dalam pandangan Kwee Siong, betapapun juga, pembangunan tembok besar itu adalah suatu usaha untuk tanah air dan bangsa.
Tidak hanya istana kaisar yang terlindung karena adanya tembok besar ini, tidak hanya rumah-rumah gedung para hartawan atau bangsawan, akan tetapi juga keselamatan rakyat jelata terlindung.
Dengan adanya tembok besar ini maka pihak asing di daerah utara tidak mudah menyerbu masuk, tidak mudah menyerang Tiongkok.
Karena pikiran ini, tergeraklah hati Kwee Siong untuk menulis sajak mengenai tembok besar itu.
Dan karena setiap hari ia melihat kawan-kawan sekerjanya tewas dalam pekerjaan itu, baik karena kelelahan, karena sakit, karena siksaan mandor-mandor atau hal-hal lain maka tentu saja ia tidak lupa untuk memasukkan mereka ini ke dalam sajaknya, bahkan kawan-kawannya yang sudah gugur inilah yang menjadi pokok utama dalam sajaknya.
Tembok besar, laksaan li panjangnya Megah, kokoh kuat, agung dan jaya Usaha besar Kaisar nan Mulia!
Lambang kekuatan Negara dan Bangsa!
Kawan-kawan, kau yang tewas dalam usaha Pengorbananmu takkan sia-sia Kaulah sebuah di antara jutaan batu Kecil bentuknya namun besar jasanya Di dalam tembok kau lenyap tak nampak oleh mata, Namamu tak pernah disebut-sebut, orang telah lupa, Namun tembok ini menjadi saksi utama Bahwa kaulah yang berjasa!
Seorang serdadu penjaga ketika menemukan tulisan ini di dalam saku bajunya, menjadi marah sekali dan hampir saja Kwee Siong disiksa sampai mati.
Ia dipukul, ditendang dan dicambuki oleh serdadu itu.
Sesungguhnya, serdadu itu adalah seorang setengah buta huruf yang tidak mengerti betul akan arti sajak itu, dan disangkanya bahwa Kwee Siong hendak "Memberontak", Sebuah istilah yang sudah populer sekali di waktu itu untuk mencelakakan seseorang yang agak membangkang.
Pada masa itu, jangankan memperlihatkan sikap menentang pembangunan atau politik pemerintahan, baru menyatakan pendapat sejujurnya dan berdasarkan kenyataan saja, apabila pernyataan yang berdasarkan kenyataan itu merugikan nama pemerintahan, ia akan dicap "Pemberontak"
Dan masih baik kalau dia sendiri yang masuk penjara atau dipenggal lehernya. Banyak para "Pemberontak"
Seperti ini menerima hukuman mengerikan, yakni seluruh keluarganya, sampai pada bayi-bayinya sekalipun, dijatuhi hukuman mati.
Untung saja bagi Kwee Siong bahwa pada saat ia dihujani cambukan, seorang perwira datang melakukan pemeriksaan.
Perwira itu segera bertanya mengapa Kwee Siong dihukum.
Biasanya perwira ini tidak memperdulikan pekerja-pekerja yang mendapat siksaan karena ia merasa pasti bahwa pekerja-pekerja yang dihukum itu tentu melakukan pelanggaran.
Tidak jarang ada pekerja yang mencuri, berkelahi dengan kawan-kawannya, memukul yang lemah, tidak mentaati perintah dan lain-lain.
Akan tetapi melihat wajah Kwee Siong yang tampan, dan melihat betapa Kwee Siong bergulingan di atas tanah tanpa mau mengeluh sedikitpun juga itu, timbul rasa kasihan dalam hati perwira ini.
Serdadu itu dengan bangga lalu mengeluarkan surat bersajak yang dirampasnya dari saku baju Kwee Siong dan memperlihatkannya kepada perwira itu.
Setelah membaca sajak itu berkali-kali, perwira ini lalu menghampiri serdadu itu dengan muka marah, kemudian ia bertanya.
"Mengapa kau pukul dia?"
"Karena dialah penulis sajak gila ini!"
Jawab serdadu itu. Tiba-tiba perwira itu memberikan surat bersajak itu kepada serdadu ini sambil bertanya lagi.
"Kau pandai membaca?"
Untuk memamerkan kepandaiannya, serdadu itu menjawab sambil menyeringai.
"Tentu saja dapat, ciangkun!"
"Nah, coba kaubacakan sajak ini untukku!"
Wajah serdadu ini menjadi pucat. Tak disangka-sangkanya sama sekali bahwa ia disuruh membaca sajak itu. Ia memandang kepada kertas itu dengan mata terbelalak dan mukanya sebentar pucat sebentar merah.
"Hayo, bacalah!"
Teriak perwira tadi sambil memandang tajam.
Terpaksalah serdadu itu membacanya, akan tetapi yang terbaca hanya beberapa huruf saja, yang lain dilewati saja karena memang tidak dikenal.
Sedikit huruf yang dapat dibacanya itupun dikeluarkan dengan susah payah, dan banyak yang keliru dibacanya.
"Bangsat, kaulah yang gila, bukan orang lain!"
Sambil berkata demikian, perwira itu mengayun kepalan tangannya.
"Buk!"
Dada serdadu itu terkena pukulan keras sekali karena perwira ini adalah seorang ahli gwakang, sehingga tubuh serdadu itu terlempar jauh dan jatuh bergulingan dalam keadaan pingsan.
Sementara itu, ketika memukul tadi, perwira ini telah merampas kembali kertas bersajak itu, kemudian ia lalu memberi perintah kepada para serdadu lainnya untuk mengangkut tubuh Kwee Siong yang sudah setengah mati.
Ketika sadar dari pingsannya, Kwee Siong mendapatkan dirinya berada di atas pembaringan di dalam kamar perwira tadi dan telah dirawat oleh ahli pengobatan yang ada di dalam markas.
Perwira muda itu duduk di situ dan segera menegurnya dengan manis ketika melihat Kwee Siong siuman.
"Saudara yang baik, bagaimana kau yang demikian terpelajar sampai berada di tempat seperti itu?"
Kwee Siong terheran dan merasa seakan-akan sedang mimpi.
Sudah matikah dia disiksa oleh serdadu-serdadu tadi?
Sampai lama ia tidak menjawab, hanya memandang wajah perwira yang tidak dikenalnya itu, wajah yang tampan dan gagah sekali.
"Aku bernama Liem Siang Hong,"
Perwira muda itu memperkenalkan diri.
"Ketika tadi melihat kau disiksa oleh serdadu gila itu, aku lalu mencegahnya dan membawamu ke tempat ini."
Kwee Siong menghela napas panjang. Tubuhnya masih terasa sakit-sakit namun ia memaksakan diri bangkit dan duduk di atas pembaringan itu.
"Saudara yang gagah,"
Katanya setelah menghela napas.
"Dari pakaianmu aku dapat menduga bahwa kau seorang perwira. Mengapa kau menolong aku, Kwee Siong yang bernasib celaka, dari jurang kematian? Pertolonganmu hanya mendatangkan dua hal yang selalu membuat hatiku menyesal."
Ia menghela napas kembali. Liem-ciangkun (perwira Liem) atau Liem Siang Hong itu terkejut dan merasa heran mendengar ucapan ini.
"Apakah maksudmu, saudara Kwee? Mengapa kau seakan-akan sudah bosan hidup dan merasa menyesal karena tertolong dari maut?"
"Pertama, karena biarpun sekarang aku terlepas dari bahaya maut, tetap saja aku akan kembali ke sana dan tentu serdadu itu akan memukulku lagi sampai mati, mungkin dengan siksaan yang lebih hebat. Kedua, dengan pertolonganmu, berarti aku telah hutang budi kepadamu, dan dalam keadaanku seperti sekarang ini, bagaimana aku dapat membalas budi? Mati dengan hutang budi jauh lebih buruk daripada mati dengan melepas banyak budi."
Liem Siang Hong tertawa, suara ketawa seorang yang bebas lepas dan gembira.
"Saudara Kwee, kekhawatiranmu itu tidak berdasar sama sekali. Dan aku dapat membebaskan kau dari dua macam kekhawatiran itu. Pertama, kau takkan kembali ke tempat itu. Orang seperti kau, yang pandai menulis sajak demikian indahnya, tidak pantas menjadi pekerja kasar, lebih-lebih tidak patut tewas di ujung cambuk seorang serdadu yang tak bertanggung jawab. Kedua, tentang budi, tak perlu kau memikirkannya, karena aku menolongmu bukan dengan maksud melepas budi. Tidak ada hutang piutang dalam hal ini. Sebagai seorang yang mengutamakan kegagahan, aku tidak dapat berpeluk tangan saja menyaksikan peristiwa yang tidak adil. Betapapun juga, kalau kau berkeras hendak membalas budi, dapat saja!"
Mendengar ucapan perwira yang gagah ini, terharulah hati Kwee Siong.
Ia segera turun dari pembaringan dan menjatuhkan diri berlutut di depan perwira itu.
Tak dapat dicegah lagi air mata mengalir disepanjang pipinya ketika ia berkata.
"Ah, sungguh tak pernah kusangka. Awan yang gelap dan tebal menutupi seluruh langit, akan tetapi masih dapat muncul bintang terang seperti kau, ciangkun. Katakanlah, bagaimana aku dapat membalas budimu?"
Liem Siang Hong cepat-cepat memegang kedua pundak Kwee Siong dan menariknya bangun, lalu menuntunnya duduk di atas pembaringan itu.
"Sabarlah, saudaraku yang baik, dan jangan berlaku seperti anak kecil. Tentu saja kau dapat membalas budi, yakni dengan kepandaianmu tulis menulis itu. Aku mempunyai seorang putera yang baru berusia dua tahun, dan aku mengharap kelak kau dapat mendidiknya dalam ilmu sastera."
Makin terharulah hati Kwee Siong.
Ia maklum bahwa ucapan ini hanya merupakan hiburan saja, agar ia tidak merasa berhutang budi pula.
Mana ada seorang ayah yang telah mencarikan guru sastera untuk seorang puteranya yang baru berusia dua tahun?
Akan tetapi ia menjawab juga dengan sepenuh hati.
"Tentu saja, Liem-ciangkun, aku bersedia mendidik puteramu itu."
Demikianlah, kedua orang itu bercakap-cakap sampai jauh malam dan makin lama mereka merasa makin cocok satu kepada yang lain.
Biarpun yang seorang ahli sastra, dan orang kedua ahli silat, namun jiwa dan watak mereka tak jauh berbeda.
Mereka menjunjung tinggi keadilan, kebajikan, dan kegagahan dalam cara masing-masing.
Dengan suara mengharukan, Kwee Siong menuturkan riwayatnya.
Ia telah setahun lebih berada di tempat itu, bekerja sebagai pekerja kasar, meninggalkan isterinya yang kini entah bagaimana nasibnya.
Mendengar penuturan ini, Liem Siang Hong merasa marah sekali.
Ia mengepal-ngepal tinjunya dan berkata.
"Sayang sekali kau tidak kenal siapa adanya komandan pasukan pengumpul tenaga pekerja itu, kalau kau tahu, tentu aku akan mencarinya dan memukul pecah kepalanya."
Kemudian ia menarik napas panjang.
"Akan tetapi, sesungguhnya hal semacam ini telah lama kudengar, dan aku merasa amat menyesal. Memang banyak sekali orang-orang jahat mempergunakan kesempatan, baik untuk memeras rakyat dan memperkaya diri sendiri, bagaikan anjing-anjing rendah yang memuaskan mulutnya dengan daging manusia yang gugur berserakan di dalam peperangan. Jangan khawatir, saudaraku, aku akan mencari isterimu itu agar kau dapat bertemu kembali dengan dia."
Saking terharu dan girangnya, Kwee Siong lalu menubruk dan memeluk Liem Siang Hong sambil mengalirkan air matanya.
Entah mengapa, hati Liem Siang Hong yang tadinya keras itu kini menjadi luluh dan ia merasa amat suka dan kasihan kepada orang muda yang tampan ini.
Bahkan, mereka lalu menanyakan usia masing-masing dan mengangkat saudara pada malam hari itu juga.
Liem Siang Hong ternyata lebih tua empat tahun sehingga Kwee Siong lalu menyebutnya Liem-twako dan Liem Siang Hong menyebutnya Kwee-te (adik Kwee).
Atas usaha Liem Siang Hong, diselidikilah leadaan isteri Kwee Siong di dusun Tai-kun-an, akan tetapi alangkah sedih dan terkejutlah hati Kwee Siong ketika ia mendengar berita bahwa isterinya, yakni Sui Giok, dikabarkan telah tewas di dalam hutan bersama dengan para serdadu, menjadi korban Toat-beng Mo-li yang marah dari dalam hutan yang menyeramkan itu.
Kwee Siong roboh pingsan ketika mendengar berita ini dan setelah ia siuman kembali, ia dihibur oleh Liem Siang Hong.
"Adikku, percayalah, aku sendiri merasa amat berduka karena adanya berita ini. Setelah aku tahu bahwa isterimu adalah seorang she Liem juga, maka makin eratlah perasaan hatiku terhadapmu. Anggaplah saja aku sebagai kakak isterimu sendiri, dan jangan kau terlalu berduka sehingga membahayakan kesehatan tubuhmu. Sekarang lebih baik kau turut kepadaku saja dan tinggal bersamaku di kota Tai-goan."
Sambil terisak-isak Kwee Siong berkata.
"Tidak, Liem-twako, aku sudah terlampau banyak berhutang budi kepadamu. Aku tidak dapat mengganggumu lagi dengan menumpangkan diriku yang amat sial dan selalu dirundung malang ini. Biarlah aku pergi merantau, entah ke mana saja, karena akhirnya aku toh akan mati juga. Lebih cepat lebih baik, karena hanya kematian saja yang akan membawa aku kepada isteriku..."
Tiba-tiba Liem Siang Hong berseru keras.
"Apakah kau ingin menjadi seorang yang Bong-im-pwe-gi (manusia tak kenal budi)??"
Biarpun ia sedang menangis sedih, mendengar tuduhan ini Kwee Siong mengangkat mukanya dan memandang wajah kakak angkatnya itu dengan heran dan penasaran.
"Kau sudah berkali-kali menyatakan berhutang budi kepadaku dan hendak membayar budi itu dengan mendidik puteraku, mengapa sekarang ikut tinggal di rumahku saja kau tidak mau?"
Biarpun ucapan Liem Siang Hong ini seperti orang marah dan terdengar kasar, akan tetapi Kwee Siong maklum sedalam-dalamnya bahwa itu adalah akal yang dipergunakan oleh perwira itu untuk menolongnya dan memaksanya tinggal di rumahnya.
Makin terharulah hatinya dan tangisnya makin menjadi, sehingga ia tidak dapat mengeluarkan kata-kata lain dan hanya menutupi mukanya dengan kedua tangan.
Akhirnya dapat juga Kwee Siong berkata.
"Thian Yang Maha Kuasa tahu betapa besar rasa terima kasihku kepadamu, Liem-twako, dan biarlah aku bersumpah bahwa semenjak saat ini, aku Kwee Siong akan selalu menurut segala kata-katamu."
Diam-diam Liem Siang Hong tersenyum puas dan demikianlah, perwira muda yang baik hati ini membawa Kwee Siong ke rumahnya, sebuah rumah gedung di kota Tai-goan, kota terbesar di propinsi Shansi.
Dalam usahanya untuk membahagiakan Kwee Siong dan membangun kembali rumah tangga yang telah roboh serta menghibur hatinya daripada kedukaan karena kematian isterinya yang tercinta, Liem Siang Hong diam-diam lalu menghubungi sahabat-sahabatnya yang bekerja dekat dengan kaisar.
Ia memperlihatkan sajak buatan Kwee Siong dulu itu dan semua orang bangsawan yang membaca sajak itu, menjadi kagum sekali.
Akhirnya, beberapa bulan kemudian, berhasillah Liem-ciangkun untuk menghaturkan sajak itu kehadapan Kaisar, setelah ia menghubungi pembesar-pembesar tinggi di kota raja.
Kaisar amat suka membaca sajak itu, bukan karena di dalamnya terdapat pujian untuk kaisar, akan tetapi karena sajak ini dapat dipergunakan untuk membangkitkan semangat rakyat dan untuk menggembirakan para pekerja yang tenaganya amat dibutuhkan.
Sajak itu lalu dibuat banyak sekali untuk ditempel-tempelkan di tempat kerja yang sedang dilakukan seperti pada tembok-tembok besar yang sedang dibangun kembali, di saluran besar, di tempat pembuatan kapal dan lain-lain.
Alangkah heran dan kagetnya hati Kwee Siong ketika pada suatu hari, Liem Siang Hong masuk ke dalam kamarnya sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan seperti seorang anak kecil mendapat hadiah yang amat menyenangkan.
Kwee Siong hanya memandang dengan mulut celangap dan mata melongo.
Gilakah kakak angkatnya ini?
"Adikku yang baik, kionghi, kionghi (selamat, selamat)!"
Kata perwira muda itu dengan wajah girang sekali.
"Eh, eh, kau ini kenapakah, Liem-twako?"
Tanya Kwee Siong sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Aku? Bukan aku, akan tetapi kaulah yang kenapa-kenapa. Kau telah menjadi pembesar negeri, adik Kwee. Kau diangkat oleh kaisar menjadi kepala kantor cabang di kota ini, kepala kantor urusan pengumpulan tenaga pekerja pembangunan."
Bukan main kaget dan herannya hati Kwee Siong mendengar ucapan ini.
"Eh, Liem-twako, harap kau jangan main-main!"
"Siapa main-main? Hayo, kau buktikanlah sendiri!"
Sambil berkata demikian, Liem-ciangkun lalu memegang tangan Kwee Siong dan ditariknya Kwee Siong keluar dari kamar, menuju ke ruang depan.
Ketika melihat bahwa di dalam ruang tamu itu duduk seorang pembesar yang membawa lengki (bendera tanda pesuruh kaisar), Kwee Siong merasa bulu tengkuknya berdiri dan cepat ia bersama Liem Siang Hong menjatuhkan diri berlutut.
Berhadapan dengan seorang pembesar pembawa lengki, sama halnya dengan berhadapan dengan kaisar sendiri, oleh karena pesuruh itu merupakan wakil kaisar.
Dengan suaranya yang parau, pesuruh tua itu lalu membacakan firman kaisar tentang pengangkatan Kwee Siong itu.
Liem Siang Hong menjamu pembesar pesuruh itu, lalu memberi bekal banyak barang berharga sambil mengantarkan orang itu keluar untuk pulang ke kota raja.
Dan semenjak saat itu, Kwee Siong telah menjadi pembesar.
Pakaian kebesaran dan cap kebesaran telah berada di atas meja dalam kamarnya.
Kwee Siong mendapatkan kembali kegembiraan hidupnya setelah ia diangkat menjadi kepala bagian pengumpulan tenaga rakyat, dan menjadi pembesar di kota Tai-goan.
Semenjak dia yang memegang jabatan itu, banyak terjadi perobahan.
Ia melarang keras menggunakan tenaga rakyat secara paksa dan serampangan saja.
Ia mengharuskan para serdadu memilih orang-orang muda yang kuat, mengerjakan orang-orang tua dan orang-orang lemah di bagian yang ringan.
Ia seringkali mengadakan gerakan mengumpulkan sumbangan dari para hartawan dan dermawan, dan sumbangan ini dipergunakan untuk menghibur para pekerja.
Ia mengadakan pemeriksaan dan membentuk barisan pemeriksa terdiri atas perwira-perwira pilihan Liem Siang Hong, perwira-perwira yang benar-benar gagah perkasa dan jujur, untuk memberantas segala kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang tak bertanggung jawab.
Uang-uang sogokan, ancaman, yang biasa diderita oleh rakyat, dihapuskan.
Tentu saja ini hanya meliputi daerah Tai-goan saja, karena daerah lain berada di bawah kekuasaan pembesar lain.
Tidak mengherankan apabila nama Kwee Siong sebentar saja jadi amat terkenal dan ia dihormati oleh rakyat jelata.
Para pembesar lain, biarpun ada yang merasa iri hati dan dengki terhadap Kwee Siong, namun seorangpun tidak ada yang berani mengganggu.
Mereka tahu bahwa Kwee Siong mempunyai hubungan erat sekali dengan perwira Liem Siang Hong yang gagah perkasa, maka tidak ada yang berani mencoba-coba untuk main-main.
Hubungan antara Kwee Siong dengan Liem Siang Hong amat eratnya.
Setiap hari mereka tentu bertemu, bercakap-cakap dan Kwee Siong memenuhi janjinya, yakni ia mendidik putera Liem Siang Hong.
Semenjak anak itu berusia lima tahun, mulailah Kwee Siong mendidiknya dengan sungguh hati.
Anak itu bernama Liem Sian Lun, putera tunggal dari perwira Liem.
Oleh karena Kwee Siong merasa amat sayang kepada anak itu, maka Sian Lun juga amat kasih kepada pamannya ini.
Boleh dibilang anak itu lebih banyak berdiam di dalam gedung Kwee Siong dari pada di dalam rumah ayahnya sendiri.
Dalam hal pendidikan, ternyata Kwee Siong lebih pandai dari pada Liem Siang Hong, karena perwira ini betapapun juga, memiliki kekerasan hati sebagai seorang perwira.
Berbeda sekali dengan Kwee Siong yang adatnya lemah lembut dan memperlakukan anak itu dengan sabar dan manis budi.
Terhadap ayahnya, Sian Lun merasa takut, akan tetapi terhadap Kwee Siong, ia merasa sayang dan menghormat.
Berkali-kali Siang Hong membujuk Kwee Siong untuk menikah lagi.
"Adikku yang baik,"
Katanya untuk kesekian kalinya.
"Kau masih muda dan sudah mempunyai kedudukan baik. Mengapa kau menyiksa diri dan hidup dalam kesepian? Kau harus sayang masa mudamu, dan apakah kau tidak ingin mempunyai keturunan? Siapakah kelak yang akan melanjutkan riwayat keluarga Kwee? Kau katakan saja dan percayalah, aku yang akan mencarikan seorang jodoh yang cantik lahir bathin untuk menjadi isterimu."
Akan tetapi Kwee Siong menggeleng-geleng kepala lalu berkata sedih.
"Tidak bisa, twako. Aku tidak dapat melupakan Sui Giok, isteriku, dan aku tidak sampai hati untuk mendekati lain wanita."
"Mengapa kau berpandangan demikian sempit dan bodoh, adik Kwee? Isterimu telah kembali ke alam baka, dan kalau memang benar dia amat menyintamu, aku yakin bahwa isterimu sekarang sedang bersedih dan kecewa pula melihat kau tidak mempunyai keturunan. Apakah kau kirah roh seorang isteri setia dan menyinta akan merasa suka melihat suaminya hidup sengsara, kesepian, dan kelak meninggalkan dunia tanpa ada keturunan? Pikirlah dengan otak yang sehat, adikku."
Akan tetapi, sukarlah membujuk Kwee Siong yang amat mencinta isterinya.
Lima tahun kemudian, setelah merasa yakin bahwa isterinya yang tiada kabar beritanya itu tentu telah tewas, barulah Kwee Siong menerima bujukan kakak angkatnya dan menikahlah ia dengan seorang gadis cantik dari keluarga bangsawan she Liok.
Ketika Kwee Siong menikah dengan gadis she Liok ini, maka sepuluh tahun telah berlalu semenjak ia meninggalkan Sui Giok dengan terpaksa itu.
Setahun kemudian, isterinya melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Kwee Cun.
Makin berbahagialah hati Kwee Siong dan akhirnya ia berhasil melupakan Sui Giok, isteri pertama yang dianggapnya telah mati itu.
Memang Kwee Siong sedang bernasib baik karena iapun telah menerima kenaikan pangkat dan dipindahkan ke kota raja.
Biarpun kini Kwee Siong telah bertempat tinggal di kota raja, namun hubungannya dengan Liem Siang Hong tetap baik.
Mereka seringkali kunjung mengunjungi, dan putera tunggal Siang Hong, yakni Liem Sian Lun, semenjak berusia delapan tahun oleh ayahnya telah dikirim kepada suhunya, yakni pendeta Tao dari Kun-lun-san yang untuk sementara tinggal di dalam sebuah gua di atas bukit di Pegunungan Luliang yang tak jauh dari Tai-goan letaknya.
Guru dari Liem Siang Hong ini bernama Beng Kui Tosu, seorang tokoh Kun-lun-pai yang berkepandaian tinggi sekali.
Tosu ini amat suka melihat Sian Lun dan berkatalah dia kepada muridnya itu setelah menatap seluruh tubuh Sian Lun.
"Muridku Siang Hong, kau beruntung sekali. Puteramu ini memiliki tubuh seorang sin-tong (anak ajaib), (Lanjut ke
Jilid 04) Wanita Iblis Pencabut Nyawa/Toat Beng Mo Li (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04 bakatnya luar biasa sekali."
Tentu saja Liem Siang Hong merasa girang dan bangga maka ia meninggalkan Sian Lun di pegunungan itu dengan hati besar.
Juga Kwee Siong ketika mendengar bahwa Sian Lun telah mulai belajar silat pada seorang berilmu tinggi, merasa amat girang.
Ia telah menganggap Sian Lun sebagai anaknya sendiri.
Dan oleh karena kini Sian Lun berada di atas gunung dan jarang sekali dapat bertemu dengannya, mulailah Kwee Siong merasa kesepian sekali sehingga akhirnya sebagaimana dituturkan di atas, ia menerima bujukan Liem Siang Hong dan menikah dengan Liok-siocia (nona Liok).
Waktu berjalan amat pesatnya dan delapan tahun semenjak Kwee Siong menikah, telah lewat tanpa terasa.
Kini Kwee Cun telah berusia tujuh tahun.
Anak ini cerdik dan lemah lembut seperti ayahnya.
Kwee Siong hanya mempunyai seorang anak ini karena isterinya tidak melahirkan anak lagi.
Hal ini mungkin karena kesehatan isterinya itu seringkali terganggu.
Akan tetapi, boleh dibilang bahwa hidup Kwee Siong beserta keluarganya amatlah bahagia.
Adapun Sian Lun yang tadinya berguru kepada Beng Kui Tosu, telah menamatkan pelajaran ilmu silatnya selama lima tahun dan melihat bakatnya yang luar biasa, Beng Kui Tosu, atas persetujuan Siang Hong, lalu mengirimkan anak muda itu ke puncak Kun-lun-san untuk berguru kepada guru besar Kun-lun-pai, yakni Beng To Siansu.
Kakek sakti ini adalah tokoh tertinggi dari Kun-lun-pai dan masih terhitung susiok (paman guru) dari Beng Kui Tosu, maka dapat dibayangkan betapa hebat dan tingginya ilmu kepandaiannya.
Ketika itu, Sian Lun telah berusia sembilan belas tahun dan telah menjadi seorang pemuda yang tampan, gagah dan berkepandaian tinggi, bahkan masih lebih tinggi dari pada kepandaian Beng Kui Tosu, bekas gurunya.
Pada suatu hari, di puncak pegunungan Kun-lun-san, tempat kediaman Beng To Siansu, datanglah seorang kakek yang rambutnya sudah putih semua.
Sungguhpun usia kakek ini sudah amat tinggi, dan agaknya tubuhnya sudah lemah tinggal menanti maut datang menjemput nyawanya, namun ternyata ia masih amat kuat.
Bukan hanya kuat, akan tetapi bahkan luar biasa sekali.
Ia mendaki gunung itu bagaikan terbang saja, biarpun kedua kakinya bergerak perlahan, namun ia maju dengan amat cepatnya, jurang-jurang lebar dilompatinya begitu saja.
Kakek ini bukan lain adalah Liang Gi Cinjin, pencipta dan pendiri Pek-sim-kauw, tosu yang tinggi sekali ilmu silatnya, terutama sekali ilmu pedangnya.
Seperti biasa, kakek ini melakukan perantauan dan datang mengunjungi Beng To Siansu yang menjadi sahabat baik dalam bercakap-cakap atau menjadi musuh besar dalam pertandingan catur.
Telah hampir sepuluh tahun Liang Gi Cinjin tidak mengunjungi Kun-lun-san, maka ia merasa amat rindu untuk bercakap-cakap atau main catur dengan ketua dari Kun-lun-pai itu.
Beng To Siansu yang memiliki pendengaran luar biasa tajamnya, biarpun ia tengah duduk dalam guanya, sebelum tamunya kelihatan, ia telah tertawa dan menyambut dari dalam gua dengan kata-kata gembira.
"Liang Gi Cinjin, setan catur. Apakah kau sudah berlatih cukup banyak untuk datang menghadapi papan catur dengan aku?"
Liang Gi Cinjin berdiri di depan goa dan tertawa bergelak, kedua tangan bertolak pinggang dan mukanya didongakkan ke atas.
"Beng To Siansu, setan tua! Orang yang selalu menyekap dirinya di dalam goa yang sempit seperti kau, bagaimana bisa sehat? Heran, orang seperti kau masih bisa panjang usia!"
Belum habis Liang Gi Cinjin bicara, dari dalam goa itu keluarlah seorang kakek lain yang bertubuh tinggi besar dan rambutnya juga putih semua seperti rambut Liang Gi Cinjin.
Usia kedua orang kakek ini memang sebaya, dan sukarlah dikatakan siapa yang lebih sehat di antara keduanya, karena muka mereka masih nampak merah dan segar sekali.
"Liang Gi Cinjin, biarpun aku tinggal di dalam gua yang sempit, namun hawa yang masuk di dalam gua adalah hawa pegunungan yang bersih, tidak seperti kau yang setiap hari mengisap hawa kota yang kotor, mengandung debu tahi kuda!"
Beng To Siansu menjawab sambil tertawa juga.
Sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa, kedua orang kakek ini lalu duduk bersila di depan gua, di atas rumput yang bersih.
Mereka menghadapi sebuah papan catur dan mulai bermain catur.
Kepandaian mereka dalam permainan ini seimbang dan juga dalam ilmu silat, kepandaian mereka setingkat.
Pernah mereka memperbincangkan tentang ilmu silat dan pernah pula pibu (mengadu kepandaian) akan tetapi ternyata mereka tak dapat saling mengalahkan lawan.
Sesungguhnya, Liang Gi Cinjin masih terhitung adik seperguruan, akan tetapi kakek ini cepat sekali memperoleh kemajuan sehingga tingkat mereka menjadi seimbang dan perhubungan mereka yang amat erat itu melenyapkan sebutan suheng dan sute.
Ketika bicara tentang keadaan negara, Liang Gi Cinjin menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya.
"Beng To Siansu, ramalanmu dahulu itu tepat sekali. Pemerintahan Sui yang sekarang ini memang telah mendekati keruntuhannya. Kaisar terlalu tamak dan tidak mengingat akan keadaan rakyat jelata. Baru saja rakyat diperas tenaganya untuk pembangunan besar-besaran, kini tentara kerajaan mulai dikerahkan untuk menyerang daerah timur (Korea). Ketika aku menuju ke sini, aku mendengar tentang pemberontakan-pemberontakan yang mulai timbul, mula-mula di pegunungan Cangpai di propinsi Santung. Entah bagaimana nanti jadinya dengan pemerintah ini."
"Biarlah, tak usah kita pikirkan urusan seperti itu,"
Jawab Beng To Siansu.
"Kalau sudah tiba masanya, di mana muncul calon pemimpin yang bijaksana, barulah kita memerintah anak murid kita untuk membantu pergerakan mulia itu."
Tak lama kemudian mereka menghentikan percakapan karena seluruh perhatian mereka tertuju kepada biji-biji catur yang mulai saling mengurung dan pertandingan berjalan seru sekali.
Telah dua kali mereka bermain dan hasilnya satu-satu.
Matahari telah condong ke barat ketika mereka hendak mulai dengan permainan ketiga.
Akan tetapi, pada saat itu, berkelebatlah bayangan orang yang gesit sekali dan tak lama kemudian seorang pemuda yang cakap dan gagah berdiri di depan mereka.
Pemuda itu memegang seekor ular besar yang ia gulung bagaikan sehelai tambang, dipegang pada leher dan ekornya.
Dalam keadaan tergulung tubuhnya dan leher serta ekor terpegang oleh jari-jari tangan yang kuat itu, ular ini tidak berdaya sama sekali.
"Suhu, teecu telah kembali!"
Kata pemuda itu sambil menjatuhkan diri berlutut di depan Beng To Siansu. Beng To Siansu menengok dan berkata girang.
"Hm, Sian Lun, agaknya kau telah berhasil menangkap pengacau itu."
"Inilah dia, suhu. Sukar juga menangkapnya, karena ia kuat dan ganas sekali."
"Coba ceritakan bagaimana kau dapat menangkapnya, akan tetapi sebelumnya beri hormatlah dulu kepada susiokmu ini."
Pemuda yang bukan lain adalah Sian Lun putera perwira Liem Siang Hong itu, cepat memberi hormat sambil berlutut kepada Liang Gi Cinjin.
"Maaf susiok, teecu tidak tahu sehingga telah berlaku kurang hormat."
"Anak baik, kauceritakanlah dari mana kau berhasil menangkap daging enak ini!"
Kata Liang Gi Cinjin sambil memandang wajah pemuda yang tampan dan gagah itu.
Sian Lun lalu menuturkan pengalamannya.
Sebuah dusun di kaki gunung Kun-lun telah berkali-kali diserang oleh seekor ular yang besar, ganas dan jahat.
Banyak sudah hewan piaraan para penduduk ditelan oleh ular itu dan ketika diserang, dua orang dusun telah tewas karena digigit dan disabet dengan ekornya.
Beng To Siansu yang mendengar akan hal ini, lalu menyuruh muridnya menangkap ular itu.
Sian Lun lalu berangkat turun gunung dan ketika ia berhasil mendapatkan ular itu melingkar di atas pohon, ia segera melompat dan menarik ekornya sehingga ular itu tertarik lalu jatuh ke bawah.
Akan tetapi ular itu ternyata kuat dan galak sekali.
Ia tidak menyerah dengan mudah, tiap kali dapat tercekik lehernya, ekornya lalu memukul dengan kuatnya dan ia mencoba untuk membelit leher pemuda itu.
Berkali-kali Sian Lun terpaksa melepaskan kembali cekikan itu, karena ular itu benar-benar berbahaya.
Sudah bergulat mati-matian, akhirnya ia berhasil mengirim totokan di belakang kepala ular itu yang merasa sakit dan setengah lumpuh.
Barulah Sian Lun dapat menangkap ular itu dan membawanya ke atas bukit.
Mendengar penuturan itu dan melihat potongan tubuh pemuda ini, Liang Gi Cinjin menghela napas panjang dan berkata kepada Beng To Siansu.
"Memang, agaknya karena setiap hari kau bertapa, maka peruntunganmu lebih bagus dari padaku. Ilmu pedangku Pek-sim kiam-hoat yang buruk itu saja belum ada yang cukup berharga untuk mewarisinya. Murid-muridku tidak ada yang dapat bertahan menghadapi seranganku Pek-sim Ciang-hoat lebih dari dua puluh jurus, mana mereka mampu mempelajari Pek-sim Kiam-hoat dengan baik?"
Kakek ini menghela napas lagi.
"Agaknya selama hidupku aku takkan dapat bertemu dengan seorang murid seperti muridmu ini dan Pek-sim Kiam-hoat akhirnya akan lenyap dari muka bumi tanpa meninggalkan nama."
Mendengar pujian ini, Liem Sian Lun menjadi merah mukanya karena jengah. Ia segera menganggukkan kepala dan berkata.
"Susiok, harap kau orang tua jangan terlalu memuji, teecu takut akan menjadi sombong dan..."
"Anak Goblok!"
Tiba-tiba suhunya membentak.
"Hayo, kau lekas menghaturkan terima kasihmu kepada susiokmu yang hendak menurunkan Pek-sim Kiam-hoat kepadamu. Sian Lun merasa terkejut, akan tetapi otaknya yang cerdas membuat ia maklum akan kehendak suhunya. Iapun merasa girang sekali karena dari ucapan ini ternyata bahwa suhunya tidak merasa keberatan kalau ia menerima pelajaran dari orang lain. Ia cepat-cepat menganggukan kepalanya di depan susioknya dan berkata.
"Banyak terima kasih teecu haturkan atas kemurahan hati susiok yang sudi memberi petunjuk kepada teecu yang bodoh."
Liang Gi Cinjin tertawa bergelak.
"Ha, ha, ha, memang si tua bangka yang pintar memancing ikan di air keruh. Anak muda, seperti kukatakan tadi, yang mampu mempelajari Pek-sim Kiam-hoat adalah orang yang mampu menghadapi seranganku selama dua puluh jurus lebih. Apakah kau berani menghadapi Pek-sim Ciang-hoat sampai lebih dari dua puluh jurus?"
Hampir saja Sian Lun menyatakan tidak berani, karena sebagai seorang terpelajar dan sopan, mana ia berani menantang susioknya? Akan tetapi suhunya membentak lagi.
"Gagukah kau, Sian Lun? Apakah kau hendak membikin malu suhumu yang telah melatihmu bertahun-tahun? Tentu saja kau berani, bukan? Sian Lun menjadi serba salah. Untuk menyatakan berani, ia takut kalau menyinggung perasaan susioknya yang tentu merasa seakan-akan ditantang, sebaliknya menyatakan tidak berani, ia takut suhunya akan marah. Maka ia diam saja dan akhirnya tanpa berani memandang kepada suhu atau susioknya, ia berkata.
"Teecu akan mencoba kebodohan sendiri menghadapi serangan itu sampai dua puluh jurus."
Beng To Siansu melompat berdiri dan bertepuk tangan gembira.
Ia merenggutkan ular itu dari tangan muridnya dan sekali ia mengetukkan jarinya pada leher ular, ia lalu melepaskan ular itu di atas tanah.
Ular itu dapat melepaskan tubuhnya yang tadi digulung oleh Sian Lun, akan tetapi ketika hendak menggerakkan tubuh untuk pergi, ternyata bahwa lehernya tak dapat bergerak.
Tentu saja, tanpa dapat menggerakkan leher, ular itu tidak dapat bergerak maju lagi.
"Hayo, kau layani susiokmu sampai dua puluh jurus lebih, Sian Lun!"
Kata Beng To Siansu. Adapun Liang Gi Cinjin menudingkan telunjuknya kepada kakek itu sambil berkata.
"Apakah kau kira aku seorang yang suka melanggar janji sehingga hal ini perlu dibuktikan sekarang juga?"
"Siapa takut kau melanggar janji? Dunia boleh jadi kiamat akan tetapi tak boleh jadi Liang Gi Cinjin melanggar janji. Aku hanya khawatir kalau-kalau kau lupa. Orang tua sudah pikun, takkan melanggar janji akan tetapi dapat lupa."
"Ha, ha, ha! Kau tuan rumah yang tidak tahu aturan, tamu datang-datang tidak diberi hidangan, bahkan dimintai sesuatu. Awas, kalau nanti sesudah aku mencoba muridmu ini kau tidak menghidangkan daging ular yang gemuk itu, selama hidupku aku akan menganggap kau seorang tuan rumah yang pelit dan jahat sekali."
Untuk sejenak Beng To Siansu diam saja, kemudian ia menjawab sambil menghela napas.
"Baiklah, manusia rakus! Sian Lun, setelah kau melayani susiokmu, jangan lupa, lekas potong ular itu dan panggang dagingnya untuk susiokmu."
Legalah hati Liang Gi Cinjin mendengar jawaban ini.
Dari jawaban ini, ia mengerti bahwa kakek tokoh Kun-lun-pai itu sudah merasa rela serarus persen bahwa pemuda itu menerima pelajaran ilmu pedangnya.
Ia tahu bahwa kakek Kun-lun-san ini adalah seorang yang pantang makan daging, maka apabila kini memperbolehklan ular itu dipotong dan dimakan dagingnya, itu menandakan bahwa ia sudah rela sekali.
Hanya Sian Lun yang mendengarkan percakapan kedua orang tua itu dengan terheran-heran dan ia tidak mengerti artinya.
Baginya, kedua orang kakek itu bicara seperti anak kecil yang suka bermain-main dan bertengkar mulut.
Iapun maklum akan pantangan makan barang berjiwa yang dilakukan oleh suhunya amat keras sehingga ia sendiripun diharuskan cia-cai (makan sayur, tidak boleh makan daging).
Akan tetapi mengapa sekarang suhunya menyuruhnya memanggang daging ular yang mengerikan ini?
Akan tetapi Liang Gi Cinjin yang nampak gembira sekali itu tidak memberi kesempatan kepadanya untuk banyak melamun.
"Hayo, Sian Lun, bangunlah dan mari kita main-main sebentar. Jagalah dirimu sampai dua puluh jurus dan berlakulah hati-hati. Di dunia ini, hanya sedikit saja orang yang sanggup menahan seranganku sampai dua puluh jurus!"
Sian Lun lalu memberi hormat kepada Liang Gi Cinjin dan setelah berkata.
"Maaf, teecu berlaku kurang hormat!"
Ia lalu memasang kuda-kuda dengan teguhnya.
Sebagai seorang pemuda yang sopan dan berotak cerdik, Sian Lun memasang kuda-kuda yang disebut Kera Sakti Menerima Buah, tubuhnya merendah, muka ditundukkan dengan kedua tangan di bawah dada, sepasang matanya ditujukan ke arah kedua pundak kakek itu dengan sikap menghormat.
Benar saja, menyaksikan sikap kuda-kuda ini, Liang Gi Cinjin merasa senang dan memuji pemuda yang pandai membawa diri ini.
Memang benar, ujar-ujar kuno yang menyatakan bahwa untuk dapat mencapai hasil gemilang dalam pengejaran cita-cita hidup, Senjata yang terutama adalah kerendahan hati dan penyesuaian sikap dengan keadaan yang dihadapinya.
Dengan sikapnya ini, tanpa terasa lagi Sian Lun telah dapat menyenangkan hati Liang Gi Cinjin.
Akan tetapi Liang Gi Cinjin tidak nanti mau memberikan ilmu pedangnya begitu saja kepada sembarang orang.
Ia harus mencoba dulu sampai di mana bakat pemuda ini.
Biarpun dengan ketajaman matanya ia telah dapat melihat kebagusan tubuh pemuda ini dan ia percaya bahwa pemuda ini memiliki bakat yang luar biasa, namun untuk dapat mempelajari ilmu pedang Pek-sim Kiam-hoat dengan sempurna sehingga dapat menguasai seluruhnya, orang harus memiliki dasar kepandaian yang cukup.
Melihat pemuda itu telah memasang kuda-kuda dan siap, ia lalu tersenyum dan berkata.
"Awas seranganku!"
Tubuhnya yang sudah tua itu ternyata dapat bergerak luar biasa cepatnya.
Sekali kakinya bergerak, tubuhnya telah menerjang maju dengan cepat mengagetkan.
Sian Lun berlaku waspada dan cepat mengelakkan diri dari sebuah tamparan, akan tetapi dalam jurus pertama itu ternyata Liang Gi Cinjin telah menyerangnya dengan tiga macam pukulan dari kedua tangan kiri dan kaki kiri.
Bukan main cepatnya datangnya serangan ini sehingga pemuda itu harus berlaku hati-hati dan cepat sekali.
Kalau tidak memiliki ketenangan, kecepatan dan ketajaman mata sukarlah menghadapi serangan yang sambung menyambung dan susul menyusul itu.
Ilmu silatnya sendiri tidak berbahaya bagi Sian Lun yang sudah berkepandaian tinggi, akan tetapi yang hebat adalah gerakan dan tenaga kakek ini.
Ginkang dan lweekang dari Liang Gi Cinjin memang tinggi sekali, dan biarpun Sian Lun telah melatih diri dengan hebat dalam kepandaian ini, didorong oleh bakatnya yang luar biasa, namun harus ia akui bahwa ia masih kalah setingkat.
Menurut pendapatnya, ginkang dan lweekang dari kakek ini hanya kalah sedikit saja dari suhunya, Beng To Siansu.
Akan tetapi diam-diam ia merasa lega, oleh karena kalau saja kakek ini melanjutkan serangannya dengan ilmu silat Pek-sim Ciang-hoat yang ternyata tidak berapa berbahaya ini baginya, pasti ia akan dapat menghadapinya sampai dua puluh jurus lebih.
Akan tetapi, setelah sepuluh jurus lewat dengan selamat, gerakan serangannya.
Sian Lun menjadi terkejut bukan main karena daya serangan kali ini luar biasa hebatnya.
Hawa pukulan yang keluar dari sepasang tangan kakek ini amat ganjil, tarik menarik dan tangan kiri amat berlainan dengan tangan kanan, bahkan boleh dibilang bertentangan.
Pemuda itu tiba-tiba merasa seakan-akan menghadapi dua orang lawan yang berlainan caranya bersilat, merupakan dua macam Liang Gi Cinjin, yang seorang bergaya lemas dan penuh keindahan, yang kedua bergaya kasar dan cepat bagaikan seekor iblis mengamuk.
Sian Lun memang tidak mengenal ilmu silat Pek-sim-ciang-hoat, dan tentu saja tidak tahu bahwa kakek yang menjadi lawannya ini sedang mengeluarkan ilmu silat itu di bagian Im-yang-sin-ciang-hoat, bagian yang amat sukar dipelajari karena memerlukan latihan tenaga lweekang dan gwakang yang dipergunakan berbareng.
Akan tetapi Beng To Siansu yang pernah berpibu dengan kakek itu, tahu akan hal ini dan melihat betapa muridnya menjadi sibuk sekali dan gugup.
Beng To Siansu mengerutkan kening.
Sesungguhnya, kalau saja Sian Lun tahu akan rahasia ilmu silat ini tak perlu pemuda itu menjadi gugup dan bingung.
Maka ia lalu berkata keras seperti orang bernyanyi.
"Im dan Yang selalu bertentangan, tarik menarik. Kalau orang dapat berada di tengah-tengah, tidak terpengaruh oleh tarikan kanan kiri, bebas dari Im Yang, itu barulah yang disebut Tiong-yong."
Kata-kata ini sesungguhnya adalah petikan dari ujar kuno, akan tetapi tepat sekali dipergunakan untuk memecahkan serangan Liang Gi Cinjin itu.
Tiong-yong berarti jejak, lurus, tidak condong ke sana ke mari, tidak terpengaruh oleh sesuatu, iman tetap tenang di tengah-tengah.
Mendengar ucapan suhunya ini, tiba-tiba Sian Lun menjadi sadar.
Memang otak pemuda ini cerdik sekali dan dapat menangkap maksud dan arti dari sesuatu hal yang ditunjukkan kepadanya.
Tadipun ia telah memutar otak untuk mencari tahu rahasia penyerangan aneh ini, dan begitu mendengar ucapan suhunya tentang Im dan Yang, hampir ia berseru saking girangnya.
Ia lalu bersilat dengan gerakan yang disebut Pai-bun-twi-hong (Mengatur Bintang Menolak Angin).
Kini ia tidak mengelak dengan gugup dan bingung lagi, tidak mau dipengaruhi oleh hawa pukulan lawan, akan tetapi hanya menjaga diri dengan waspada, dengan kuda-kuda yang kuat dan begitu pukulan datang, ia lalu menangkis dengan pengerahan tenaga lweekang atau gwakang, sesuai dengan datangnya serangan lawan.
Sampai lima jurus, serangan dengan Im-yang-sin-ciang-hoat dari Liang Gi Cinjin ini dapat digagalkan.
Kakek itu tertawa bergelak dan berkata.
"Setan sayur (untuk menyindir Beng To Siansu yang selalu makan sayur), kau sungguh terlalu membela muridmu."
Setelah berkata demikian, Liang Gi Cinjin lalu merobah lagi serangannya, tidak lagi mainkan Im-yang-sin-ciang-hoat, melainkan menggunakan ginkangnya yang luar biasa, bergerak cepat bagaikan seekor burung garuda menyambar mengelilingi Sian Lun.
Lagi-lagi Beng To Siansu berkata seperti orang bernyanyi.
"Kalau Toa-su-siang-hong-wi (kedudukan empat penjuru) dijaga baik-baik, maling yang bagaimana pandaipun takkan dapat masuk."
Memang tadinya Sian Lun selalu mengikuti gerakan lawannya, mengerahkan ginkangnya.
Akan tetapi oleh karena Liang Gi Cinjin kedudukannya di luar dan dia di dalam, maka dia harus berputar lebih cepat lagi dan karenanya kedudukannya menjadi lemah dan kepalanya pening.
Mendengar ucapan suhunya ini, Sian Lun lalu teringat akan penjagaan diri yang amat praktis, yakni ia menjaga kedudukan empat penjuru, dengan demikian, tanpa bersusah payah memutar-mutar diri mengikuti gerakan penyerang, ia dapat menjaga diri dengan baik sehingga ketika jurus ke dua puluh lewat, ia tetap dapat berdiri tak terkalahkan.
Liang Gi Cinjin melompat keluar dari kalangan pertandingan, lalu menuding ke arah Beng To Siansu dan berkata sambil tertawa.
"Kakek curang! Kau telah membela muridmu!"
Beng To Siansu tersenyum.
"Aku ingin sekali Sian Lun menerima warisanmu mempelajari Pek-sim Kiam-hoat yang luar biasa, maka aku khawatir kalau-kalau kau lupa diri dan merobohkannya. Bukankah sayang sekali?"
Liang Gi Cinjin tertawa bergelak.
"Dasar pemakan rumput! Lupakah kau bahwa orang yang menguji kekauatan cawan araknya takkan membanting sampai hancur cawannya itu? Aku suka anak ini dan tanpa kau membelanya, aku tak sampai hati untuk mengalahkannya. Ha, ha, ha, aku gembira sekali, kini aku dapat mati dengan mata meram, ilmu pedangku yang buruk sudah ada ahli warisnya, dan kalau toh kelak dicemarkan, yang rusak namanya bukan aku, melainkan Beng To Siansu. Ha, ha!"
Akan tetapi ketawanya lenyap seketika setelah ia melihat Sian Lun menjatuhkan diri berlutut di depan kakinya, sambil berkata.
"Suhu teecu berterima kasih atas budimu yang besar."
"Apa...? Siapa yang menjadi suhumu? Siapa yang menerimamu menjadi muridku?"
Tiba-tiba terdengar suara ketawa keras dan kini Beng To Siansu yang tertawa besar.
"Ha, ha, ha! Coba sekarang kau bilang, apakah kau masih bisa melepaskan tanggung jawabmu? Bukankah Sian Lun telah menjadi muridmu? Ha, ha, ha!"
Dengan mata terbelalak, Liang Gi Cinjin membanting-banting kakinya.
"Dasar guru dan muridnya sama, sudah bersekongkol. Sudahlah, Sian Lun, lekas kau panggang daging ular itu baik-baik. Jangan dibuang kepalanya, aku paling suka itu. Dan ekornya untuk kau, mengerti?"
Sian Lun menjadi bingung.
Telah bertahun-tahun ia tidak makan daging seperti suhunya, bagaimana sekarang ia harus makan.
Akan tetapi keheranannya lenyap dan ia bahkan merasa girang dan lega ketika Beng To Siansu berkata.
"Ketahuilah, Sian Lun. Ular ini bukanlah ular sembarangan, akan tetapi ular pohon yang jarang terdapat. Daging ular ini mengandung daya yang luar biasa sekali baik untuk membersihkan darah, menghangatkan perut dan menguatkan jantung. Daging ular ini dimakan orang yang mengerti bukan karena enak, akan tetapi dimakan sebagai semacam obat kuat. Kepalanya amat baik untuk orang tua sehingga Liang Gi Cinjin gurumu ini makan kepalanya mungkin dengan maksud agar usianya menjadi sepanjang mungkin. Adapun ekornya itu adalah semacam obat kuat yang keras sekali, baik untuk orang-orang muda!"
Tahulah kini Sian Lun mengapa suhunya suka ikut makan, karena suhunya dulu pernah berkata ketika melarang ia makan daging.
"Sesungguhnya makan daging mahluk bernyawa dengan maksud hanya untuk memuaskan selera mulut, termasuk perbuatan yang tidak sesuai dengan alam. Lain lagi halnya tubuh, sehingga kita memakannya bukan dengan maksud memuaskan lidah akan tetapi dengan maksud yang lebih luas dan baik dari pada itu."
Sehabis makan Liang Gi Cinjin lalu berkata dengan wajah sungguh-sungguh.
"Sian Lun, karena kau telah mengangkat aku sebagai gurumu yang kedua, maka kau harus menurut segala peraturan yang kuadakan."
"Memang demikianlah seharusnya,"
Beng To Siansu menyambung sambil bangkit berdiri.
"Nah, Sian Lun, sekarang aku serahkan kau kepada sahabat baikku ini untuk dididik. Belajarlah baik-baik, dan jangan menyia-nyiakan waktu."
Kakek ini lalu masuk ke dalam goa untuk bersamadhi, meninggalkan mereka berdua di luar goa.
Liang Gi Cinjin lalu menceritakan tentang Pek-sim-kauw dan bahwa sesungguhnya ia tidak mau menerima seorang murid yang tidak menjadi pendeta Pek-sim-kauw.
Akan tetapi oleh karena ia tidak bisa mendapatkan seorang pendeta yang berbakat baik, maka kini ia memilih Sian Lun sebagai ahli warisnya.
"Aku telah mendengar dari Beng To Siansu bahwa kau adalah putera seorang perwira yang gagah dan jujur. Tentu saja kau tidak bisa menjadi pendeta, kau tidak berbakat untuk menjadi seorang pendeta Pek-sim-kauw. Akan tetapi, di dalam sepak terjangmu, kau harus selalu ingat kepada hati putih, yakni hatimu sendiri. Putih berarti bersih dan apabila kau selalu menjaga kebersihan hatimu, maka jalan hidupmu takkan tersesat. Para pendeta Pek-sim-kauw, biarpun ilmu silatnya lebih rendah daripada tingkatmu, tetap harus kau anggap sebagai saudara-saudara tua. Kau mempunyai lima orang suheng (kakak seperguruan), dan biarpun kau lebih pandai dalam hal ilmu silat, namun tentang kebatinan, kau boleh mendengar dan mentaati nasehat mereka."
Demikianlah, Liang Gi Cinjin lalu memperkenalkan nama-nama kelima orang muridnya, pendeta-pendeta tingkat satu dari Pek-sim-kauw.
Kemudian ia mulai menurunkan ilmu pedang Pek-sim Kiam-hoat dan pokok-pokok atau dasar-dasar ilmu silat Pek-sim Ciang-hoat kepada muridnya ini.
Sian Lun mempelajari dengan penuh ketekunan dan perhatian.
Ia memang mempunyai kecerdasan dan bakat yang amat baik, maka sebentar saja sesuatu gerakan dapat dipelajari dan dilakukan baik-baik.
Hal ini membuat Liang Gi Cinjin menjadi girang sekali.
"Kalau kau melatih dirimu setahun saja dengan serajin ini, aku yakin ilmu pedang Pek-sim Kiam-hoat akan dapat kau miliki sepenuhnya."
Sampai dua bulan penuh ketua Pek-sim-kauw ini melatih dan menurunkan semua kepandaiannya kepada Sian Lun.
Pemuda ini menghafal semua gerakan dan jurus-jurus ilmu silat itu di luar kepala dan setelah dua bulan lewat, ia telah hafal betul-betul jalannya Pek-sim Kiam-hoat dan Pek-sim Ciang-hoat, tinggal melatih dan menyempurnakan gerakan-gerakannya saja.
Setelah itu, Liang Gi Cinjin lalu berpamit kepada Beng To Siansu.
"Aku harus turun gunung,"
Katanya kepada sahabat baik ini.
"Siapa tahu kalau-kalau terjadi perobahan hebat di dunia ramai. Setan sayur, terima kasih atas segala kebaikanmu, terutama sekali atas kerelaanmu memberi kesempatan kepadaku untuk meninggalkan sedikit kepandaianku kepada orang yang patut menerimanya."
Dan kepada Sian Lun ia berkata.
"Sian Lun, muridku, kau berlatih baik-baik sampai setahun, setelah itu kau kunanti di Cengtu. Jalan masuk untuk bertemu dengan aku dijaga oleh kelima orang muridku, maka sebagai ujian, jangan kau mundur menghadapi segala rintangan untuk bertemu dengan aku."
Setelah berkata demikian, pergilah Liang Gi Cinjin turun dari Kun-lun-san, Sian Lun berlatih dengan amat rajinnya, bahkan Beng To Siansu yang amat menyinta murid tunggalnya inipun membantunya memberi petunjuk-petunjuk.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, setelah Liang Gi Cinjin tiba kembali di kota Ceng-tu, yakni pusat perkumpulan Pek-sim-kauw, ia mendengar tentang permusuhan antara pendeta-pendeta Pek-sim-kauw dengan dua orang iblis wanita yang disebut Toat-beng Mo-li.
Kakek sakti ini merasa menyesal sekali dan menegur murid-muridnya.
Kemudian ia berpesan kepada para muridnya untuk menjaga tempat perkumpulan itu baik-baik dan apabila ada orang muda yang hendak bertemu dengan dia, supaya pemuda itu dicoba dulu kepandaiannya tanpa banyak cakap.
"Akan tetapi jangan main keroyok,"
Ia berpesan.
"Sungguh amat memalukan kalau murid-muridku mengeroyok lawan seperti yang kalian telah lakukan terhadap dua orang wanita dari hutan itu!"
Merahlah wajah Pek-sim Ngo-lojin mendengar teguran mereka ini.
Liang Gi Cinjin sebenarnya menantikan datangnya Sian Lun, muridnya yang baru, dan mempersiapkan lima orang pendeta itu untuk menguji kepandaian Sian Lun.
Akan tetapi kelima orang pendeta tingkat satu itu berpikir lain.
Mereka berjaga-jaga untuk menanti kedatangan Toat-beng Mo-li dan Cialing Mo-li yang dulu sudah berjanji hendak datang bertemu dengan ketua Pek-sim-kauw.
Dan memang benar mereka ini, yang pertama-tama datang bukanlah seorang pemuda, melainkan Ling Ling dan ibunya.
Pada suatu hari, baru saja matahari muncul di balik pohon-pohon dan baru saja kelima Pek-sim Ngo-lojin duduk di dalam gardu penjagaan masing-masing, masuklah dua orang wanita cantik dari pintu gerbang luar.
Mereka ini bukan lain adalah Liem Sui Giok dan puterinya Kwee Ling Ling atau yang sudah biasa disebut Ling Ling saja.
Penjagaan yang dilakukan oleh kelima murid Liang Gi Cinjin ini dimulai dengan gardu pertama di mana Pek Te Ji duduk bersamadhi sambil berjaga.
Gardu kedua dijaga oleh Pek Thian Ji, gardu ketiga oleh Pek Yang Ji, yang keempat oleh Pek Hong Ji dan yang terakhir atau yang kelima, di depan ruangan di mana Liang Gi Cinjin tinggal, dijaga oleh murid pertama, yakni Pek Im Ji.
Dengan demikian, maka penjagaan itu diatur makin ke dalam makin kuat.
Pendeta-pendeta tingkat dua dan tiga yang banyak tinggal di rumah perkumpulan amat besar dan luas itu, telah dipesan bahwa apabila terjadi pertempuran, mereka dilarang mengeroyok, hanya diharuskan memberitahukan kepada gardu-gardu penjagaan lain agar dapat bersiap siaga.
Sebelum memasuki rumah perkumpulan agama Pek-sim-kauw ini Sui Giok telah memesan kepada Ling Ling agar supaya jangan sampai membunuh orang.
"Anakku,"
Katanya.
"biarpun nenekmu telah tewas dalam tangan seorang pendeta Pek-sim-kauw, akan tetapi pembunuhnya telah pula kita tewaskan. Nyawa nenekmu telah ditebus oleh tiga orang musuh, ini berarti bahwa hutang telah terbayar lunas. Tak perlu kita membunuh orang-orang lain dan kedatangan kita ini hanya untuk memenuhi janji, satu persoalan kehormatan. Pendeta-pendeta ini memang jahat, akan tetapi sebelum kita membuktikan kejahatan mereka, tak perlu kita membunuh orang."
Demikianlah, ketika Ling Ling dan Sui Giok berdiri di gerbang pertama di mana terdapat sebuah gardu tempat penjagaan, mereka melihat Pek Te Ji duduk di situ, bersila sambil meramkan matanya.
Sungguhpun matanya meram, Pek Te Ji telah mengetahui akan kedatangan dua orang wanita ini, karena ia memiliki pendengaran yang amat terlatih dan tajam.
"He, orang Pek-sim-kauw!"
Ling Ling berseru nyaring sambil mengerahkan khikangnya sehingga suaranya itu bergema sampai ke dalam gedung besar itu.
"Kami telah datang, keluarkanlah ketuamu untuk bicara dan membereskan urusan lama, jangan berlaku pengecut main keroyokan!"
Setelah mendengar ini, barulah Pek Te Ji melompat keluar dan ia berdiri dihadapan Ling Ling dan Sui Giok dengan gagah.
"Kalian ini dua iblis wanita sungai Cialing datang ke sini mau apakah?"
Tanyanya dengan suara lantang.
"Pendeta palsu, kami telah berjanji hendak datang bertemu dengan Liang Gi Cinjin, ketuamu maka hari ini kami datang memenuhi janji. Minggirlah dan tunjukkanlah di mana adanya gurumu itu!"
Kata Ling Ling.
"Sukar!"
Kata pendeta itu sambil menggelengkan kepala.
"Jalan untuk menemui suhu memang melalui tempat ini, akan tetapi aku telah berada di sini dan tak mungkin kau dapat masuk sebelum Pek Te Ji kau kalahkan."
"Bagus,"
Teriak Ling Ling marah.
"Kau mau main keroyok lagi? Tidak malukah Liang Gi Cinjin mendengar murid-muridnya yang gagah mengeroyok wanita-wanita?"
"Jangan sembarangan membuka mulut!"
Kata Pek Te Ji.
"Siapa yang mau mengeroyokmu? Asal saja kau menurut aturan, kami takkan mengeroyokmu. Ketahuilah bahwa jalan masuk ke tempat suhu terjaga oleh kami lima saudara, dan kau harus dapat mengalahkan kami dulu seorang demi seorang dan menurut syarat-syarat yang kami tentukan dalam pertandingan."
"Boleh, boleh! Siapa takut menghadapai pendeta palsu?"
Tantang Ling Ling dengan tabah.
"Pertama-tama, kau atau ibumu lawanlah aku, tanpa senjata! Kalau aku kalah dalam ciang-hoat (ilmu pukulan), barulah kau boleh masuk untuk menghadapi suhengku."
"Hm, begitukah?"
Ling Ling tersenyum kepada ibunya.
"Ibu, ternyata pendeta-pendeta Pek-sim-kauw tidak securang yang kita duga!"
Kemudian ia berkata kepada Pek Te Ji.
"Pek Te Ji, ada aku anaknya di sini, bagaimana aku dapat membiarkan ibuku melelahkan diri turun tangan? Hayo, coba kauperlihatkan tiam-hoatmu (ilmu menotokmu) yang kau pamerkan kepada ibu dahulu itu!"
Memang Ling Ling masih ingat betapa ibunya dulu pernah menjadi korban totokan pendeta ini dan teringat pula bahwa totokan itu lihai sekali dan istimewa sehingga ia dahulu tidak dapat membebaskan ibunya dari pengaruh totokan.
Agaknya kini pendeta ini hendak mengandalkan totokannya yang lihai.
Mendengar sindiran Ling Ling, Pek Te Ji merah mukanya.
Ia menggulung lengan bajunya, lalu berkata.
"Kalau kau dapat menghadapi Im-yang-tiam-hoat, barulah aku takluk kepadamu!"
Tiba-tiba ia lalu menyerang dengan tangan kanannya, di susul oleh tangan kirinya.
Melihat betapa tangan pendeta itu menyerang dengan jari-jari terkepal, kecuali jari telunjuk yang dibuka lurus ke depan untuk menotok, Ling Ling berlaku hati-hati sekali.
Ia tahu bahwa itu adalah semacam It-ci-sian (ilmu totoksatu jari) yang lihai sekali.
Juga angin serangan dari kedua tangan pendeta itu amat berlainan, kalau yang kanan menotok dengan keras, yang kiri begitu lambat dan perlahan gerakannya dan demikian sebaliknya.
Ia maklum akan bahayanya ilmu totokan macam ini.
Dengan cara yang berubah-ubah itu kadang-kadang dengan tenaga lemas lalu disusul totokan tenaga kasar, tidak memungkinkan orang untuk menerima totokan itu sambil mengerahkan ilmu menutup jalan darah.
Tak mungkin mengerahkan tenaga yang berlawanan sama sekali secara bergantian demikian cepatnya, dan sekali terkena totokan pendeta ini, akan celakalah dia.
Untuk menghadapi Im-yang-tiam-hoat ini, Ling Ling lalu memperlihatkan kegesitan tubuhnya, mengerahkan ginkangnya yang memang luar biasa tinggi tingkatnya, kemudian iapun membalas dengan serangan tiam-hoat pula.
Di dalam ilmu silat keturunan keluarga Kam, memang terdapat ilmu totok yang cukup lihai, semacam Coat-meh-hoat (ilmu totokan cabang Bu-tong-pai) yang dilakukan dengan dua jari tangan, yakni telunjuk dan jari tengah.
Tingkat kepandaian Pek te Ji barang kali sama tingginya dengan tingkat kepandaian Liem Sui Giok, maka kalau dibandingkan dengan Ling Ling, ia masih kalah jauh.
Hal ini harus diakuinya ketika baru beberapa kali gebrakan saja ia sudah menjadi pening karena tubuh gadis cantik itu seakan-akan merupakan seekor burung walet yang gesit sekali, yang berterbangan mengelilinginya.
Bagaimana ia dapat mengirim totokan yang jitu?
Tubuh lawannya sukar diikuti dengan pandangan mata, dan ilmu totokannya adalah semacam tiam-hwe-louw yang membutuhkan ketepatan karena harus dilancarkan kepada jalan-jalan darah tertentu.
Belum juga dua puluh jurus Pek Te Ji sudah mandi peluh dan pandang matanya menjadi kabur.
"Sudah cukup?"
Ling Ling mengejek.
"Nah, kau rebahlah!"
Secepat kilat tangan kiri gadis itu meluncur dan menotok jalan darah tai-twi-hiat lawannya.
Pek Te Ji, seorang ahli tiam-hoat, tentu saja tahu akan bahayanya totokan ini, yang apabila mengenai tepat akan membuat seluruh tubuhnya menjadi kaku.
Cepat ia mengerahkan khikangnya dan menutup jalan darah ini dengan tenaga Yang, karena totokan membuat kaku pada jalan darah tai-twi-hiat ini termasuk serangan Yang.
Akan tetapi, sungguh tidak diduga sama sekali karena begitu jari tangan kiri Ling Ling tertolak oleh tenaga khikangnya, Jari tangan kanan gadis itu dengan kecepatan yang tak terduga-duga telah menotok pundaknya dengan mengambil jalan darah thian-hu-hiat.
Inilah serangan dengan tenaga Im dan seketika itu juga tubuhnya menjadi lemas, ia tidak kuat berdiri lagi dan robohlah ia ke bawah dengan lemas bagaikan sehelai kain.
Ternyata bahwa Pek Te Ji telah menjadi korban dari totokan yang menggunakan siasat Im dan Yang, menjadi korban ilmu totok yang timbul dari kecerdikan Ling Ling.
Gadis ini memperhatikan ilmu totokan dari lawannya dan dengan cerdik ia lalu dapat mempergunakannya untuk merobohkan lawan.
Ia maklum bahwa sebagai ahli totok, tentu saja Pek Te Ji mahir sekali akan penolakan segala macam serangan "Tiam-hoat", maka ia lalu meniru lawannya itu dan melakukan serangan yang berlawanan pada saat yang sama.
Berkat kecepatan gerakannya, maka ia dapat menipu Pek Te Ji yang kini rebah di tanah tanpa dapat bergerak, hanya kedua matanya saja memandang dengan penuh penyesalan atas kebodohannya sendiri.
Setelah berhasil merobohkan Pek Te Ji, Ling Ling bersama ibunya lalu maju terus, menuju ke dalam.
Pada gardu penjagaan kedua telah berdiri Pek Thian Ji menantikan kedatangan mereka.
Melihat keadaan pendeta ini, Ling Ling dan ibunya saling pandang sambil tersenyum karena mereka mengenal pendeta ini yang dulu pernah pula bertempur dengan mereka.
Akan tetapi ibu dan anak itu merasa heran melihat cara pendeta itu berdiri.
Pek Thian Ji telah memasang patok-patok bambu yang runcing ujungnya di depan gardu penjagaannya, sebanyak tiga puluh enam buah.
Patok-patok itu ditancapkan di atas tanah, agaknya secara sembarangan saja, akan tetapi apabila diperhatikan, patok-patok ini merupakan barisan yang berbentuk pat-kwa dan dipasang menurut perhitungan yang masak.
Betapapun juga, jarak antara satu dan lain patok sama lebarnya, yakni tiga kaki, tepat untuk pergerakan atau peralihan kaki dalam bersilat secara melompat-lompat.
Melihat kecilnya patok dan ujungnya yang runcing, dapat dibayangkan bahwa untuk dapat bersilat di atas patok-patok ini, maka dibutuhkan ilmu ginkang yang tinggi.
Pek Thian Ji yang terkenal sebagai ahli ginkang yang luar biasa, telah berdiri dengan satu kaki di atas patok, kaki kanan diangkat lurus ke depan dan kedua tangannya bertolak pinggang.
Ia menyambut kedatangan Ling Ling dan ibunya dengan kata-kata tidak ramah.
"Toat-beng Mo-li dan Cialing Mo-li! Sungguhpun kalian tidak mau mengaku nama, akan tetapi aku yakin bahwa tentulah kalian yang disebut sebagai dua iblis wanita yang jahat itu. Kalian telah dapat sampai ke sini, berarti bahwa kalian telah dapat melalui suteku. Nah, jangan banyak membuang waktu lagi, kalau ada kepandaian, naiklah ke sini dan kalahkan aku!"
Ling Ling dan ibunya sudah tahu akan kelihaian ilmu ginkang dari pendeta ini dan Ling Ling maklum bahwa pendeta ini secara licik hendak mempergunakan pengetahuannya tentang patok-patok itu untuk mengalahkannya.
Akan tetapi, gadis ini telah memiliki ginkang yang tidak kalah tingginya oleh pendeta ini dan dalam hal ketabahan, ia lebih menang beberapa kali lipat.
Tentu saja ia tidak takut menghadapi pendeta itu di atas patok.
Akan tetapi ibunya lebih hati-hati.
Betapapun tinggi kepandaian Ling Ling, akan tetapi oleh karena patok-patok itu yang memasang adalah pihak lawan, maka tentu saja pendeta itu lebih hafal.
Sui Giok lalu membisikkan sesuatu kepada Ling Ling dan puterinya itu tersenyum manis.
Ling Ling lalu melompat sambil berkata.
"Pendeta sombong, siapa takut menghadapi patok-patokmu yang bobrok ini?"
Akan tetapi, sesuai dengan bisikan ibunya, ia sengaja melompat ke atas patok kedua, mempergunakan ilmunya memberatkan tubuh yang disebut tenaga Jian-kin-cui (Tenaga Seribu Kati) sehingga ketika patok itu terinjak oleh kaki kirinya, patok bambu ini melesak ke bawah sampai rata dengan tanah.
Dari sini ia melompat ke patok keempat, membuatnya rata dengan tanah, lalu keenam dan seterusnya, melompati sebatang patok sehingga akhirnya patok-patok di situ tinggal delapan belas saja, berdiri pada jarak enam kaki.
"Ah, patok-patokmu ternyata terlampau lemah!"
Ling Ling berkata dan sebagai lanjutan kata-kata ini, ia mulai menyerang dengan sebuah lompatan tinggi.
Kedua tangannya diulur kearah pundak Pek Thian Ji yang cepat melompat ke patok lain.
Kini keduanya harus mengerahkan tenaga ginkang seluruhnya karena untuk bertempur sambil berlompatan dari patok ke patok yang jauhnya enam kaki, bukan hal yang amat mudah dilakukan.
Pek Thian Ji menjadi marah sekali.
Ia maklum bahwa gadis muda yang cantik jelita ini lihai sekali.
Demonstrasi tenaga Jian-kin-cui tadi saja sudah menunjukkan betapa hebatnya tenaga lweekang dari gadis itu dan kini setelah patok-patoknya diratakan tinggal separohnya, maka rencananya barisan patok ini menjadi gagal.
Mereka kini berdiri di atas patok-patok yang sama sekali asing bagi keduanya dan boleh dibilang keadaan mereka menjadi sama, hanya mengandalkan kepandaian dan ginkang.
Akan tetapi Pek Thian Ji tidak takut dan ia membalas dengan serangan hebat pula.
Pertandingan ini benar-benar seru dan indah ditonton.
Mereka tak dapat menyerang sambil berdiri di atas patok karena jarak mereka satu dengan yang lain terlalu jauh.
Maka untuk melakukan serangan, mereka melompat dan saling serang di tengah udara, pada saat mereka belum turun kembali ke atas patok lain.
Demikianlah mereka saling sambar bagaikan sepasang burung berkelahi, mengandalkan ginkang sepenuhnya, karena sekali saja kaki meleset menginjak patok, berarti yang terpeleset ini akan dianggap kalah.
Ilmu silat Ling Ling masih lebih tinggi dari pada Pek Thian Ji sungguhpun ginkang mereka hampir sama.
Sedikit saja bedanya, yakni bahwa Ling Ling lebih lincah dan gesit, hal ini karena memang tubuhnya lebih lemas dan ringan.
Ling Ling mengeluarkan ilmu silat Kim-gan-liong-na-hoat, yakni ilmu serangan yang dilakukan dengan pukulan, cengkeraman, dan tangkapan.
Pada saat Pek Thian Ji melompat dan menerkamnya, Ling Ling membarenginya dan melompat pula.
Dua tubuh bertemu di udara, dan Ling Ling berhasil mencengkeram pergelangan tangan Pek Thian Ji yang memukul tadi.
Pendeta itu merasa betapa lengannya sakit sekali dan ketika ia mengerahkan tenaga untuk membetot lengannya, Ling Ling sudah mendahuluinya turun dan berdiri di atas sebuah patok, Kemudian gadis ini berseru keras sambil melontarkan tubuh pendeta yang tangannya masih dipegangnya itu keluar dari lingkungan patok.
Saking beratnya tubuh pendeta yang mengerahkan lweekangnya, maka patok yang diinjak oleh Ling Ling sampai melesak ke dalam dan rata dengan tanah, akan tetapi tubuh pendeta itu terlempar ke atas dan agaknya akan jatuh di atas tanah.
Bukan main hebatnya kepandaian meringankan tubuh dari Pek Thian Ji.
Biarpun tubuhnya sudah terlempar dan melayang ke atas, namun terdengar ia memekik keras dan tahu-tahu tubuhnya itu sudah berpoksai (berjungkir balik) di udara dan dengan gerakan kaki tangannya yang dikembangkan seperti sayap burung, ia dapat mengatur tubuhnya dan kini ia melayang kembali ke bawah, tepat di atas patok yang paling pinggir.
Kalau Pek Thian Ji merasa amat terkejut dan keringat dingin membasahi jidatnya, adalah Ling Ling sampai mengeluarkan seruan memuji saking kagumnya menyaksikan pertunjukkan ginkang yang benar-benar hebat ini.
Diam-diam ia mengakui bahwa ilmu ginkang dari Pek Thian Ji ini hebat sekali.
Akan tetapi, gadis ini tidak mau memberi kesempatan kepada lawannya dan sebelum pendeta itu dapat melompat ke tengah, ia telah mendahuluinya dan menyerang sambil mengeluarkan serangan-serangan yang paling lihai dari Kim-gan-liong-na-hoat.
Pek Thian Ji berdiri di patok paling pinggir, tentu saja sukar baginya untuk mempertahankan diri lagi menghadapi serangan hebat ini dan untuk menjaga dirinya agar jangan sampai terkena cengkeram gadis yang lihai seperti iblis ini, terpaksa ia melompat ke belakang, turun di atas tanah dan dengan jujur ia mengaku sambil menjura.
"Kau lihai sekali, nona. Silakan terus masuk ke dalam!"
Ling Ling menjadi lega dan bersama ibunya ia berjalan masuk ke dalam.
Ia mulai merasa khawatir dan diam-diam ia mengakui kelihaian para pendeta Pek-sim-kauw ini.
Baru dua orang saja sudah sedemikian sukar dirobohkan, apalagi masih ada tiga orang lain yang tingkat kepandaiannya lebih tinggi.
Pek Yang Ji, murid ketiga dari Liang Gi Cinjin, pernah menghadapi Ling Ling, maka ahli lweekang ini maklum bahwa dalam hal ilmu silat atau ilmu pedang, sukarlah baginya untuk dapat menangkan iblis wanita ini.
Oleh karena itu, ia telah bersiap menghadapi gadis itu dalam pertandingan tenaga lweekang.
Ia telah berdiri di atas sebuah batu besar yang berat dan keras, sedangkan pada jarak satu tombak di depannya, terdapat sebuah batu yang sama besarnya.
Ia menyambut kedatangan Ling Ling sambil tersenyum dan berkata langsung.
"Nona, aku telah tahu betapa kau mengalahkan kedua suteku. Karena semenjak dulu aku tidak suka bertempur yang membahayakan jiwa orang, maka marilah kau mencoba mendorongku roboh dari batu ini. Kita saling memukul dengan hawa pukulan saja dan siapa yang turun dari batu, ia terhitung kalah!"
Ling Ling dan ibunya maklum akan kelihaian pendeta ini, karena pernah Ling Ling merasakan pukulan Thai-lek-kim-kong-jiu dari Pek Yang Ji.
Ia maklum bahwa pendeta ini tentu akan mempergunakan ilmu pukulannya ini untuk merobohkannya dari atas batu.
Pukulan Thai-lek-kim-kong-jiu yang mengandung tenaga lweekang luar biasa besarnya itu tidak perlu memukul dari dekat.
Tak usah kepalan tangan mengenai tubuh orang, baru mendorong dengan angin pukulan saja sudah dapat melukai tubuh orang bagian dalam.
Maka dapat dibayangkan betapa berbahayanya menghadapi angin pukulan ini dari jarak satu tombak, dengan berdiri di atas sebuah batu.
Akan tetapi, sebagai seorang gadis gagah, Ling Ling tidak mungkin mundur atau menolak.
"Ling Ling, biarlah aku yang maju menghadapinya!"
Kata Sui Giok kepada puterinya, karena nyonya ini khawatir kalau-kalau puterinya akan terluka oleh pukulan lawan yang lihai.
Dalam hal ilmu silat dan ilmu pedang, memang Sui Giok sudah tertinggal jauh oleh puterinya, juga dalam hal ginkang, ia sudah kalah setingkat.
Akan tetapi, tenaga lweekang nyonya ini agaknya tidak berada di sebelah bawah tingkat Ling Ling.
Betapapun juga, tentu saja hati Ling Ling tidak mengijinkan ibunya yang menghadapi lawan tangguh ini, akan tetapi, untuk menyatakan kekhawatirannya dihadapan lawan, ia merasa malu.
Ia lalu mendekati ibunya dan berbisik perlahan.
"Ibu, aku takut kau akan terpukul dan luka!"
Akan tetapi Sui Giok tersenyum dan berbisik kembali.
"Jangan khawatir, aku mempunyai akal untuk mengalahkannya!"
Sebelum Ling Ling dapat membantah, nyonya yang cantik itu telah melompat ke atas batu menghadapi Pek Yang Ji. Pendeta ini tertawa bergelak dan bertanya.
"Tidak tahu apakah toanio ini Toat-beng Mo-li ataukah Cialing Mo-li?"
"Apa sajapun boleh! Bagiku lebih baik disebut iblis daripada disebut seorang yang hanya kedoknya saja nampak sebagai pendeta namun hatinya busuk. Nah, silahkan kau mencoba untuk menurunkan aku dari batu ini!"
Pek Yang Ji tertawa mengejek, lalu ia menggerak-gerakkan kedua lengannya ke atas dan ke bawah, mengumpulkan tenaga lweekang.
Tulang-tulangnya sampai berbunyi berkerotokan dan kedua lengannya nampak berkilat penuh peluh, tanda bahwa seluruh tenaga telah berkumpul di kedua lengannya.
Kemudian, ia memandang dengan mata mencorong ke arah Sui Giok, lalu mendorongkan kedua lengannya dengan sekuat tenaga, memukul dengan tenaga Thai-lek-kim-kong-jiu.
Hawa pukulan yang luar biasa kuatnya menyambar ke arah dada Sui Giok, akan tetapi nyonya ini cepat berjongkok di atas batu dan berbareng mengirim dorongan dengan kedua lengannya ke arah lawan itu.
Ia bergerak dengan ilmu pukulan "Dewi Mendorong Batang pohon", mengumpulkan tenaga lweekangnya untuk mendorong roboh lawannya.
Inilah yang ia katakan sebagai akalnya untuk mengalahkan lawan.
Benar-benar Pek Yang Ji tidak mengira akan kecerdikan nyonya ini dan hampir saja ia terkena tipuan ini.
Hawa pukulannya sendiri tidak mengenai sasaran, sebaliknya pukulan Sui Giok dengan tepat menyambar dari bawah ke arah lambungnya.
Akan tetapi, ahli lweekeh ini mengerahkan tenaganya dan ketika hawa pukulan menyambar, tubuhnya hanya menjadi miring saja, tidak sampai terdorong roboh.
Sui Giok terkejut sekali.
Tadinya ia merasa girang karena akalnya telah berhasil, akan tetapi siapa kira lawannya demikian kuat sehingga dapat mempertahankan pukulannya yang dapat merobohkan sebatang pohon tadi.
Kembali Pek Yang Ji memukul, kini ke arah perut Sui Giok sehingga nyonya ini cepat melompat ke atas menghindarkan angin pukulan dan membalas dengan pukulan dari atas.
Berkali-kali mereka main pukulan, dan kalau Sui Giok selalu berusaha mengelak, adalah pendeta itu dengan beraninya menerima hawa pukulan lawan tanpa terpukul roboh.
Bahkan ia lalu mengirimkan serangan pukulan bertubi-tubi sehingga sukar bagi Sui Giok untuk mengelak di atas batu yang tidak berapa luas itu.
Hampir saja nyonya ini terpukul roboh dan hanya masih dapat menjaga keseimbangan badannya dengan melancarkan hawa pukulan dari samping untuk menolak dan mengurangi tenaga pukulan lawan.
Ling Ling memandang pertandingan ini dengan wajah pucat.
Ia merasa pasti bahwa kali ini ibunya akan kalah, maka ia memandang dengan jidat berkerut dan hati berdebar.
Akan tetapi, Sui Giok adalah seorang yang cerdik sekali dan telah banyak mempelajari ilmu dari Bu Lam Nio, di samping kesukaannya membaca buku-buku ketika dulu ia masih berada dengan suaminya.
Banyak buku-buku ilmu perang dibacanya sehingga ia menjadi cerdik dan penuh akal.
Kini ia memutar otaknya untuk mencari jalan mengalahkan lawannya yang benar-benar tangguh ini.
Tenaga lweekangnya sudah mulai lemah karena banyak dipergunakan dan kini peluh telah memenuhi jidatnya.
Tiba-tiba ia mendapat akal dan dengan keras sekali ia berseru.
"Pendeta busuk, kau rebahlah!"
Sambil berkata demikian, ia cepat mendorong dengan gerak tipu "Dewi Mendorong Batang Pohon"
Lawannya seperti tadi, akan tetapi pukulkannya ini bukan ditujukan ke arah tubuh pendeta itu melainkan ke arah batu besar yang diinjak Pek Yang Ji.
Sui Giok telah mengerahkan tenaga terakhir dan batu yang berat itu terkena dorongannya tak dapat bertahan dan bergerak lalu menggelundung ke belakang.
Serangan seperti ini sama sekali tak pernah terduga oleh Pek Yang Ji sehingga pendeta ini terkejut sekali.
Terpaksa ia lalu melompat turun kalau tidak mau ikut menggelinding dan jatuh terjengkang.
Merahlah mukanya dan dengan tersenyum pahit ia lalu menjurah ke arah Sui Giok sambil berkata.
"Toanio, otakmu yang cerdik telah membuat aku yang tolol tertipu! Aku mengaku kalah."
Akan tetapi Sui Giok tidak dapat membalas penghormatan ini karena nyonya ini telah menggunakan terlalu banyak tenaga dan setelah akalnya berhasil, ia berdiri sambil memeramkan mata dan menghatur napas.
Setelah ia membuka mata kembali, ternyata pendeta itu telah mengundurkan diri ke dalam pos penjagaannya dan Ling Ling telah membimbing tangannya.
"Ibu, kau hebat sekali!"
Gadis itu memuji.
"Kalau tadi aku yang maju, belum tentu aku dapat mengalahkan pendeta yang kuat itu."
Sementara itu, seorang pendeta tingkat dua dari Pek-sim-kauw menghadap Liang Gi Cinjin dangan wajah pucat.
"Sucouw, celaka, orang yang datang telah mengalahkan Sam-suhu, Si-suhu, dan Ngo-suhu!"
Akan tetapi Liang Gi Cinjin yang mendengar laporan ini tersenyum saja. Ia melambaikan tangannya menyuruh murid itu pergi sambil berkata.
"Pergilah keluar dan biarkan orang yang menang sampai ke sini!"
Kakek yang sakti ini lalu duduk bersila dan dengan hati gembira ia mengira bahwa "Orang yang datang"
Itu tentulah Liem Sian Lun, muridnya yang baru.
Kini Ling Ling dan ibunya telah berhadapan dengan penjaga keempat, yakni Pek Hong Ji.
Murid kedua dari Liang Gi Cinjin ani adalah ahli senjata rahasia dan ia memiliki kepandaian melepas senjata rahasia yang disebut Pek-lian-ci (Bijih Teratai Putih).
Begitu berhadapan dengan Ling Ling dan Sui Giok, pendeta ini menantang.
"Kalian baru boleh masuk menemui suhu apabila dapat menghadapi senjata rahasiaku!"
Ling Ling dan Sui Giok terkejut sekali.
Mereka belum pernah mempelajari tentang senjata rahasia, dan biarpun mereka tidak takut akan serangan senjata rahasia akan tetapi bagaimana mereka akan dapat mengalahkan lawan ini apabila mereka tidak mempunyai senjata rahasia?
Mungkin dengan ginkang dan gerakan mereka yang gesit, mereka dapat menghindarkan diri, akan tetapi itu bukan berarti menang.
Sui Giok yang banyak akal lalu berkata dengan suara penuh ejekan.
"Totiang, senjata rahasia hanya dipergunakan oleh penjahat-penjahat dan manusia-manusia curang, maka kata-katamu tadi amat mengherankan hatiku. Bagaimana seorang pendeta dengan hatinya yang putih tega hati untuk melakukan serangan kepada orang lain secara menggelap? Bukankah itu perbuatan curang yang termasuk perbuatan hitam, tidak sesuai dengan hati yang putih?"
Merahlah wajah Pek Hong Ji mendengar ejekan ini. Belum pernah ada orang mengejeknya tentang penggunaan senjata rahasianya, maka ia bertanya menyindir.
"Apakah kalian takut menghadapi Pek-lian-ci di tanganku?"
Kini Ling Ling yang melangkah maju dan menjawab.
Baca Juga: Mutiara Hitam 12
Baca Juga: Bu Kek Siansu 9