Ceritasilat Novel Online

Wanita Iblis Pencabut Nyawa 3

Eps 3 Wanita Iblis Pencabut Nyawa - Kho Ping Hoo

Baca online Wanita Iblis Pencabut Nyawa - Kho Ping Hoo

Cersil Wanita Iblis Pencabut Nyawa - Kho Ping Hoo.

"Siapa takut menghadapi senjata rahasiamu? Aku tidak mengharapkan pendeta palsu seperti kau untuk berlaku jujur. Majulah dan berbuatlah curang dengan senjata gelapmu, aku akan menghadapimu dengan kaki dan kepalan tangan. Terus terang saja, aku tidak bisa menggunakan senjata gelap seperti kau. Aku tidak sudi berlaku seperti monyet yang tidak berani melawan manusia secara jujur, melainkan naik ke atas pohon dan melempari manusia dengan buah busuk! Hayo, majulah!"

Bukan main sakit hatinya Pek Hong Ji mendengar ucapan gadis muda yang cantik ini.

"Bocah bermulut jahat!"

Teriaknya sambil melempar kantong Pek-lian-ci ke atas tanah.

"Apa kau kira aku tidak dapat merobohkan kau dengan sepasang kepalanku?"

Setelah berkata demikian, ia lalu menyerang dengan tangan kosong.

Ling Ling menjadi girang melihat sindiran mereka berhasil dan dengan waspada ia lalu menghadapi dan menyambut serangan itu.

Ia tidak tahu bagaimana ia harus menghadapi lawan ini apabila pendeta ini benar-benar mempergunakan senjata rahasianya.

Dengan sengit sekali Pek Hong Ji lalu menyerang dan mengeluarkan ilmu silatnya Pek-sim-ciang-hoat yang lihai.

Kalau saja ia sudah mewarisi ilmu silat ini sepenuhnya, agaknya takkan mudah bagi Ling Ling untuk mendapat kemenangan.

Akan tetapi seperti juga empat orang saudaranya, pendeta ini baru mewarisi delapan bagian saja dari Pek-sim-ciang-hoat.

Betapapun juga, ilmu silatnya sudah lebih masak dari pada kepandaian Pek Yang Ji dan dua adik seperguruannya yang lain dan setiap pukulannya mendatangkan angin berdesir sedangkan gerakannya cepat sekali.

Juga di dalam tiap pukulan, ia mempunyai variasi lebih banyak dari pada adik-adiknya.

Pendeta ini biarpun bertangan kosong, akan tetapi ia seperti memiliki empat lengan.

Tidak hanya sepasang kepalannya yang menyerang, akan tetapi juga dua ujung lengan bajunya ikut menyambar-nyambar dengan dahsyatnya.

Kalau Sui Giok yang menghadapi Pek Hong Ji, nyonya ini tentu takkan dapat menang.

Hal ini diketahui baik oleh Sui Giok yang menonton pertandingan itu dengan hati berdebar.

Akan tetapi, menghadapi Ling Ling, Pek Hong Ji mendapatkan lawan yang amat berat.

Ilmu silat keturunan dari keluarga Kam sudah merupakan ilmu silat yang luar biasa kuatnya, apalagi ilmu silat Kim-gan-liong-ciang-hoat, bukan main hebatnya.

Gerakan-gerakan dua tangan Ling Ling sedemikian cepatnya sehingga nampak seakan-akan gadis ini mempunyai enam buah tangan.

Bagaimanapun juga, setelah bertempur selama lima puluh jurus, barulah Ling Ling berhasil mendesak lawannya.

Pada saat itu, Pek Hong Ji menyerang dengan gerak tipu "Harimau Sakti Menubruk Bulan", kedua tangannya dengan jari-jari terbuka menyerang ke arah kepala Ling Ling, sedangkan dua ujung lengan bajunya yang panjang meluncur ke arah leher gadis itu, melakukan totokan dari kanan kiri.

Bukan main berbahayanya serangan ini yang merupakan serangan maut.

Akan tetapi Ling Ling yang bersikap tenang, memperlihatkan kepandaiannya yang luar biasa.

Ia merendahkan tubuhnya sehingga serangan kedua tangan itu tidak mengenai kepalanya dan dengan gerak cepat, kedua tangannya bergerak ke depan mencengkeram ke arah ujung lengan baju itu.

"Brett!!"

Ketika Pek Hong ji yang serangannya gagal itu melompat ke belakang, ternyata bahwa ujung lengan bajunya telah terobek oleh cengkeraman tangan Ling Ling dan kini robekan baju itu berada di tangan gadis itu.

"Hebat, hebat!"

Kata pendeta itu sambil menghela napas.

"Kau cukup pandai untuk menghadapi twa-suheng, nona!"

Pendeta ini diam-diam berterima kasih atas kemurahan hati Ling Ling, oleh karena kalau gadis itu mau, bukan ujung lengan bajunya yang robek, akan tetapi bagian lain yang berbahaya dari tubuhnya.

Ling Ling sudah nampak lelah sekali, dan ibunya mengetahui akan hal ini.

"Ling Ling, biarlah rintangan terakhir ini aku yang menghadapinya. Kau perlu mengumpulkan tenaga untuk menghadapi Liang Gi Cinjin, ketua mereka!"

Ling Ling dapat menyetujui pendapat ibunya ini, akan tetapi ia merasa khawatir oleh karena dapat menduga bahwa ilmu kepandaian murid pertama itu tentulah lebih lihai lagi.

Pada saat itu mereka telah maju sampai di pintu ruangan dalam dan di situ telah menanti Pek Im Ji yang berdiri dengan gagah sambil memegang pedang.

"Totiang,"

Kata Sui Giok sambil maju menghadapi tosu itu.

"belum cukupkah kami mengalahkan empat orang saudaramu? Lebih baik kau mempersilahkan gurumu keluar agar dapat bertemu dengan kami."

Pek Im Ji terkenal paling sabar di antara semua saudaranya. Ia tersenyum dan memandang kagum.

"Sungguh sukar dapat dipercaya bahwa kalian dua orang wanita lemah ini dapat mengalahkan empat orang suteku. Ketahuilah bahwa kami telah diberi tugas oleh suhu untuk menjaga di sini, maka sebelum kau mengalahkan pedangku ini, jangan harap akan dapat bertemu dengan suhu. Aku telah mendengar bahwa kalian orang-orang yang dijuluki iblis wanita di lembah sungai Cialing, dan mengapakah kalian masih mendesak terus kepada kami? Suhu telah menganggap habis urusan dengan kalian berdua, mengapa kalian datang mencari penyakit? Seandainya kalian bisa menangkan aku, apakah kalian dapat melawan suhu?"

Mendengar ucapan ini, Sui Giok lalu berkata, (Lanjut ke

Jilid 05) Wanita Iblis Pencabut Nyawa/Toat Beng Mo Li (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05

"Totiang, kau keliru. Kami datang bukan hendak berlaku kurang ajar terhadap Liang Gi Cinjin, kecuali kalau orang tua itu masih merasa penasaran atas kematian murid-muridnya dan hendak menyerang kami, terpaksa kami takkan mundur demi membela kebenaran. Ketahuilah bahwa sampai saat inipun, kami tidak merasa salah dan bahkan kami hendak mengadukan perbuatan para pendeta Pek-sim-kauw kepada orang tua itu untuk minta pertimbangan yang adil. Kamipun bukan orang-orang yang mencari permusuhan, dan kami takkan mengganggu apabila tidak diganggu lebih dulu. Maka, kau mundurlah dan biarkan kami bertemu dengan suhumu."

"Enak saja kau bicara! Apakah kau suruh aku melalaikan kewajibanku menjaga di sini? Tidak bisa, kalian harus mencoba dulu pedangku!"

Pendeta itu berkeras.

"Baiklah, kau yang mencari perkara, bukan aku!"

Sui Giok lalu mencabut pedangnya dan sebentar kemudian kedua orang ini bertempur dengan sengit. Pada saat itu, seorang pendeta tingkat dua, kembali melaporkan kepada Liang Gi Cinjin.

"Sucouw, celaka, Ji suhu juga telah kalah dan sekarang iblis-iblis wanita itu bertempur melawan twa-suhu!"

Terbelalak mata kakek itu ketika mendengar disebutnya "iblis wanita".

"Apa katamu? Siapa yang datang?"

"Mereka adalah dua orang iblis wanita itu, Sucouw."

"Yang disebut Cialing Mo-li dan Toat-beng Mo-li?"

"Benar Sucouw. Mereka mengamuk hebat!"

Mendengar ini, Liang Gi Cinjin lalu bertindak keluar dan benar saja, ia melihat betapa muridnya yang tertua, yakni Pek Im Ji, sedang terdesak hebat oleh ilmu pedang yang dimainkan secara luar biasa sekali oleh seorang gadis muda yang cantik jelita.

Tadi ketika melihat gerakan Pek Im Ji, Ling Ling maklum bahwa ibunya takkan dapat menang, maka ia lalu mencabut pedangnya dan berseru.

"Ibu, silakan mundur, biar anak yang memberi rasa kepada pendeta ini!"

Sui Giok memang merasa betapa tangguhnya lawan ini, maka terpaksa ia melompat mundur, digantikan oleh anaknya.

Setelah Ling Ling maju dan mainkan pedangnya Pek Im Ji merasa terkejut sekali.

Ilmu pedang yang dimainkan oleh gadis ini masih sama dengan ilmu pedang yang dimainkan oleh nyonya cantik itu, akan tetapi jauh lebih cepat, lebih kuat, dan lebih aneh gerakannya.

Sebentar saja ia terdesak hebat dan terkurung oleh sinar pedang di tangan Ling Ling.

Melihat gerakan ilmu pedang gadis itu, Liang Gi Cinjin berdiri dengan mulut sedikit terbuka.

Hampir ia tidak percaya kepada pandangan matanya sendiri.

Ia memandang dengan penuh perhatian, dan mengikuti setiap gerakan ilmu pedang Kim-gan-liong-kiam-hoat dengan kening berkerut.

Tidak salahkah penglihatannya?

Dalam jurus keempat puluh dengan gerakan "Cam" (melibat) dan dilanjutkan dengan gerakan "Coan" (memutar), Ling Ling berhasil mengurung pedang lawan dan sekali ia berseru keras sambil menyontek dengan pedangnya, Pek Im Ji berseru keras dan melompat mundur sedangkan pedangnya terpental ke atas udara.

"Bagus sekali!"

Liang Gi Cinjin berseru dengan heran dan girang. Kakek ini menyambut pedang Pek Im Ji yang melayang turun kembali, kemudian sambil memegang pedang itu ia menyerang Ling Ling sambil berkata.

"Hayo ulangi lagi gerakan Kim-gan-liong-jio-cu (Naga Mata Emas merebut Mustika) tadi!"

Ling Ling terkejut sekali ketika kakek tua berambut putih ini menyebut nama gerakannya yang telah dipergunakan untuk mengalahkan Pek Im Ji tadi.

Melihat gerakan serangan pedang kakek ini, ia dapat menduga bahwa ini tentulah Liang Gi Cinjin.

Gerakan pedangnya demikian hebat dan kuat.

Akan tetapi ia tidak mau memperlihatkan kelemahannya.

Biarpun menurut suara di kalangan kang-ouw ketika ia dan ibunya keluar dari hutan, nama Liang Gi Cinjin dianggap sebagai tokoh tinggi dalam dunia persilatan, termasuk kaum locianpwe, namun kini kakek itu telah menyerangnya.

Ling Ling lalu mempergunakan ilmu gerakan Kim-gan-liong-jio-cu dan seperti tadi, ia berusaha menempel pedang lawan, melakukan gerakan memutar, lalu mengerahkan lweekangnya untuk membuat pedang lawannya terpental.

Akan tetapi, sungguh luar biasa sekali, biarpun dengan cara yang berbeda.

Ling Ling merasa betapa kakek itupun melakukan gerakan yang sama, menempel, memutar dan mengerahkan tenaga.

Dua tenaga bertemu, getaran pedang secara luar biasa beradu dan terdengar suara nyaring sekali.

"Traaang...! Krek!!"

Pedang di tangan kakek itu patah menjadi dua potong, akan tetapi pedang di tangan Ling Ling patah menjadi tiga potong.

"Ha, ha, ha!"

Liang Gi Cinjin tertawa.

"Tak salah lagi...! Eh, nona, apakah kau seorang she Kam?"

"Bukan,"

Jawab Ling Ling.

"Teecu she Kwee. Apakah teecu berhadapan dengan Liang Gi Cinjin yang terhormat?"

Kembali Liang Gi Cinjin tertawa.

"Aneh, aneh, kau she Kwee, akan tetapi telah mewarisi ilmu pedang dari Kam-ciangkun (Panglima she Kam). Mari kalian masuklah ke dalam, aku ada pembicaraan penting sekali!"

Tanpa ragu-ragu lagi Liang Gi Cinjin lalu memegang tangan Ling Ling dan membawa gadis itu bersama ibunya masuk ke ruang dalam.

Kakek itu berjalan sambil tertawa-tawa senang seakan-akan bertemu dengan seorang kawan lama.

Tentu saja para pendeta memandang peristiwa itu dengan melongo.

Juga Ling Ling merasa heran, sedangkan Sui Giok diam sambil mengerutkan kening.

Kelakuan kakek ini benar-benar aneh baginya.

Setelah berada di dalam, Liang Gi Cinjin mengubah sikapnya dan kini nampak keras dan marah.

"Hayo, katakan dari mana kalian mencuri ilmu pedang Kim-gan-liong Kiam-hoat, pusaka dari sahabat baikku Kam Kok Han itu!"

Mendengar bahwa kakek ini adalah sahabat baik Panglima Besar Kam Kok Han, suami dari Bu Lam Nio, Sui Giok lalu memegang tangan Ling Ling dan menjatuhkan diri berlutut di depan Liang Gi Cinjin.

"Memang teecu dua beranak telah mewarisi ilmu silat dari keluarga Kam, akan tetapi sekali-kali bukan dengan jalan mencuri."

Sui Giok lalu menuturkan bahwa dia dan puterinya menerima pelajaran dari Bu Lam Nio, pelayan dan juga bini muda Panglima Kam Kok Han. Liang Gi Cinjin mengangguk-angguk, kemudian ia berkata.

"Jadi demikianlah kalian dapat mewarisi kepandaian itu? Hm, aku sudah menduga bahwa kitab rahasia kawanku yang bernasib malang itu tentu dilarikan oleh seorang pelayannya yang setia. Syukurlah, kau mempunyai bakat baik sekali, nona kecil, dan patut menjadi ahli waris sahabatku Kam Kok Han yang malang. Dan di manakah adanya bini muda sahabatku itu? Apakah dia masih hidup?"

Mendengar pertanyaan ini, Sui Giok lalu menangis, teringat kepada Bu Lam Nio yang dikasihinya. Ling Ling memeluk ibunya dan menghiburnya.

"Locianpwe,"

Kata Ling Ling.

"Sungguh mengherankan sekali kalau locianpwe tidak mengetahui hal itu. Yang disebut iblis wanita dan yang dibunuh oleh anak murid locianpwe, sesungguhnya adalah Bu Lam Nio itulah!"

"Apa...!"

Liang Gi Cinjin merasa lemas tubuhnya dan ia menjatuhkan diri duduk di atas bangkunya.

Ia merasa menyesal sekali dan hendak marah kepada anak muridnya, akan tetapi apa hendak dikata?

Hal itu terjadi dan sesungguhnya bukan salah pihak murid-muridnya.

"Coba ceritakan tentang Bu Lam Nio itu, mengapa ia menjadi begitu galak dan menyeramkan keadaannya?"

Sui Giok lalu menceritakan tentang kesengsaraan Bu Lam Nio dan kakek itu mengangguk-angguk sambil mengelus-elus jenggotnya.

"Kasihan sekali wanita itu,"

Katanya.

"Akan tetapi sudahlah. Sesungguhnya semua peristiwa itu terjadi karena salah mengerti. Akan tetapi, yang amat mengecewakan hatiku adalah keadaanmu, terutama sekali puterimu yang masih muda ini. Ilmu silat keluarga Kam adalah ilmu silat dari keluarga patriot, dari keluarga pendekar besar yang rela mengorbankan nyawa demi nusa dan bangsa. Akan tetapi, sungguh harus disesalkan bahwa ilmu silat itu akhirnya jatuh kepada orang yang tidak tahu sama sekali tentang kepahlawanan. Kalian menuntut penghidupan liar di dalam hutan, sehingga oleh orang-orang disebut iblis-iblis wanita, bukankah ini amat merendahkan nama baik keluarga Kam? Negara sedang kacau balau, rakyat sedang sengsara mengalami penindasan dari kaisar yang lalim. Mengapa kau tidak mau membela rakyat? Rakyat di mana-mana sedang bergerak untuk maksud yang mulia, mengapa kalian bahkan menakut-nakuti rakyat? Ah, sayang sekali, kalau ilmu silat itu masih berada di tangan Kam Kok Han, tentu ia dapat berbuat banyak untuk kepentingan rakyat. Sayang ilmu itu berada di tangan seorang bocah perempuan yang masih hijau, bodoh dan bisanya hanya marah-marah saja."

Bukan main panasnya hati Ling Ling mendengar ucapan ini. Tiba-tiba ia bangkit berdiri dan berkata dengan mata terbelalak.

"Liang Gi Cinjin! Aku bersikap hormat terhadapmu, akan tetapi sebaliknya kau memaki-makiku sesuka hatimu! Kau kira aku ini orang macam apakah? Apa kau kira hanya orang-orang laki seperti kau saja yang bisa berjasa terhadap tanah air dan bangsa? Apakah kau kira hanya kalian saja yang telah merasai kesengsaraan akibat kelaliman kaisar? Aku sendiri, bersama ibuku ini, telah menjadi korban "Kelaliman kaisar"! Aku sendiri akan mengambil kepala kaisar! Kau dengar ini? Aku akan mengambil kepala kaisar! Dan kau harus menarik kembali omonganmu tadi, kalau tidak, aku akan menganggap kau sebagai musuh besarku dan pada suatu hari aku pasti akan membuat perhitungan denganmu!"

Aneh sekali, melihat gadis itu marah dengan muka merah dan mata terbelalak berdiri dengan mengangkat dada dan mengedikkan kepala sehingga Sui Giok menjadi kaget, malu, dan tidak enak hati, kakek itu bahkan menjadi terharu sekali.

Akan tetapi, ia tersenyum puas dan dari kedua matanya menitik air mata.

"Kau? Kau hendak mengambil kepala kaisar? Ha, ha! Kau hanya bisa membuka mulut besar! Menarik kembali omonganku? Gampang saja kau buktikan dulu kesombonganmu tadi! Kalau sudah terbukti bahwa kau adalah seorang dara perkasa yang benar-benar pendekar, barulah aku orang tua pikun hendak menarik kembali omongan tadi! Ha, ha, ha!"

Kakek ini lalu berjalan ke arah sebuah peti, mengeluarkan sebatang pedang berikut sarungnya, lalu berkata.

"Aku tidak main-main, benar-benar aku menantangmu untuk memenuhi ucapanmu yang sombong tadi. Kau hendak mengambil kepala kaisar? Nah, terimalah pedang ini. Aku mau bukti, bukan omongan besar yang kosong melompong! Pedang ini bernama Pek-hong-kiam, dulu menjadi saudara dari pedang Oei-hong-kiam yang dipegang oleh Kam Kok Han dan yang lenyap entah di mana adanya! Buktikan omonganmu tadi, dan baru aku percaya kalau tercium olehku darah kaisar pada pedang ini!"

Baik Sui Giok maupun Ling Ling terkejut dan terharu sekali mendengar bahwa pedang itu adalah pedang yang sejajar dengan Oei-hong-kiam, pedang yang dirampas oleh pembunuh Kam Kok Han sebagaimana yang dipesankan oleh Bu Lam Nio.

Nenek itu dulu berpesan agar supaya Ling Ling mencari pemegang pedang Oei-hong-kiam, karena pedang ini adalah pedang Kam Kok Han yang dirampas oleh pembunuhnya sehingga siapa saja yang memegang pedang Oei-hong-kiam tentu mempunyai hubungan dengan pembunuh Panglima Kam itu.

Ling Ling masih marah sekali, akan tetapi ia menerima pedang itu berkata.

"Baiklah kita sama lihat saja. Setelah selesai tugasku, aku akan mengembalikan pedang ini sebagai bukti, dan kau orang tua harus menarik kembali omonganmu yang amat menghina!"

Setelah berkata demikian, Ling Ling memegang tangan ibunya dan membawanya lari keluar dari tempat itu.

Kembali para pendeta memandang dengan melongo ketika melihat dua orang wanita ini berlari cepat sekali dari ruang Liang Gi Cinjin.

Adapun kakek itu, setelah Ling Ling dan ibunya pergi, berkata seorang diri.

"Mudah-mudahan ia berhasil! Ia seorang murid yang amat baik, bahkan... belum tentu kalah baik oleh Sian Lun!"

Tiba-tiba wajahnya berseri karena ia teringat akan sesuatu.

"Alangkah baiknya, alangkah cocoknya! Benar, bagus sekali! Ah, semoga keduanya akan dapat melewati masa kacau ini dengan selamat sehingga akan tercapai maksudku!"

Ucapan ini adalah akibat dari pikiran kakek itu yang melihat betapa baiknya apabila terikat tali perjodohan antara gadis tadi dengan Sian Lun.

Memang benar sebagaimana yang terdengar dalam percakapan antara Liang Gi Cinjin dan Beng To Siansu, kaisar Yang Te yang lalim dan hanya mengingat untuk melampiaskan nafsunya sendiri itu, telah membuat rakyat amat tergencet dan sengsara.

Mulailah timbul pemberontakan-pemberontakan di mana-mana.

Pertama-tama pemberontakan timbul di propinsi Santung dan Hopak, setelah kaisar memimpin balatentara menyerang Korea.

Seorang patriot besar bernama Wang Po telah menulis sajak yang membongkar semua keburukan pemerintah Sui, dan ia lalu memimpin barisan pemberontak yang terdiri dari para petani di pegunungan Cingpai di propinsi Santung.

Juga di sepanjang lembah Yang-ce-kiang dan sungai kuning, timbullah pemberontakan yang besar jumlahnya.

Makin lama barisan pemberontak ini makin meluas sehingga mereka mulai menduduki kota-kota dan dusun-dusun.

Seorang pemimpin pemberontak lain bernama Li Mi memimpin barisan pemberontak di Honan.

Memang tadinya para pemberontak yang terpisah-pisah dan berkelompok-kelompok ini seringkali kena pukul mundur oleh tentara kerajaan Sui akan tetapi mereka ini makin lama makin besar jumlahnya dan mulai bersatu dengan barisan lain.

Ketika tentara kerajaan dari utara hendak menyerang barisan pemberontak yang dipimpin oleh Li Mi, seorang pemimpin lain yang bernama Tou Cian Tek memimpin pasukan pemberontak yang besar bergerak dari Santung ke Hopak dan memotong pasukan kerajaan yang hendak menyerang barisan pemberontak Li Mi.

Demikianlah, mulai ada kerja sama antara barisan pemberontak sehingga tentara kerajaan dapat dipukul di sana sini.

Seorang pemimpin pemberontak lain yang penting untuk disebut adalah Tu Fu Wi, yang memimpin barisannya di sebelah selatan sungai Huai dan yang menyerang tentara Sui di Yangkou.

Masih banyak lagi jumlahnya barisan-barisan pemberontak yang dipimpin oleh orang-orang gagah dan pandai, semua dengan tujuan sama, yakni menumbangkan pemerintah korup dari kerajaan Sui di bawah pimpinan kaisar Yang Te yang lalim.

Akhirnya, seorang jenderal besar yang amat gagah perkasa dan terkenal, yakni jenderal kerajaan Sui yang bernama Li Goan, yang sudah lama merasa tidak suka dengan pemerintahan Kaisar Yang Te, memberontak pula.

Jenderal ini berkedudukan di Taigoan dan ia memimpin ratusan ribu tentara menyerang dan menduduki Tiang-an.

Hal ini terjadi pada tahun 617 (Masehi).

Sebelum Jenderal Li Goan memberontak, terjadilah peristiwa yang hebat di kota Taigoan.

Liem Siang Hong, panglima yang berkepandaian tinggi dan gagah perkasa itu, adalah seorang panglima kepercayaan Li Goan.

Biarpun Liem Siang Hong menjadi orang bawahan jenderal Li Goan, akan tetapi perhubungan mereka seperti sahabat-sahabat baik saja.

Mereka saling kunjung-mengunjungi dan dalam segala hal mereka sependapat.

Juga Kwee Siong, yang kini telah pindah ke kota raja, kenal baik dengan jenderal Li Goan dan panglima ini amat suka kepada Kwee Siong yang berotak cerdas dan berpemandangan luas.

Pada suatu hari, beberapa bulan sebelum Li Goan memberontak, jenderal ini memanggil Panglima Liem Siang Hong untuk mengadakan perundingan penting.

Ketika Liem Siang Hong sudah tiba, jenderal Li Goan membawanya ke kamar kerjanya dan menutup semua pintu dan jendela.

Liem Siang Hong merasa heran melihat sikap rahasia ini, dan ia tidak merasa heran lagi ketika mendengar jenderal itu berbicara.

"Saudara Liem, kau tentu sudah mendengar tentang keadaan yang makin buruk dari pemerintah Sui. Sungguh menggemaskan mengapa kaisar masih saja menulikan telinga terhadap semua nasehat para tiong-sin (menteri setia dan jujur), sebaliknya bahkan mendengarkan hasutan-hasutan para kan-sin (menteri durna)! Tenaga rakyat diperas habis-habisan, dan selagi keadaan negara masih kalut dan lemah, bahkan melakukan penyerangan mati-matian ke utara!"

Liem Siang Hong menarik napas panjang.

"Memang hal ini amat buruk dan patut disesalkan, Goanswe (bapak jenderal). Akan tetapi apakah yang harus dan dapat dilakukan oleh orang-orang militer seperti kita? Kita hanya menanti perintah, dan para menteri dorna yang lemah itu bahkan berkuasa untuk memegang kendali pemerintahan, mengatur segala urusan dengan maksud memenuhi kantong sendiri. Sungguh menyebalkan!"

"Kau, keliru, Liem ciangkun! Dalam keadaan seperti ini, biarpun kita tidak memegang jabatan sebagai pengurus-pengurus negara, namun kita harus menghadapi kenyataan dengan pikiran tenang dan matra waspada. Kalau negara terancam oleh barisan tentara asing, serahkanlah kepada kita yang akan menghancurkan mereka atau mengorbankan nyawa dalam perang. Akan tetapi, jangan menyuruh aku melakukan penyembelian terhadap tentara pemberontak yang sesungguhnya adalah rakyat jelata yang sudah tidak sudi lagi dijadikan landasan kaki para menteri dorna berikut kaisar yang lalim. Aku masih cukup setia dan selama ini aku mengendalikan nafsu agar jangan ikut memberontak. Akan tetapi, aku sekarang hendak menghadap kaisar dan memberi nasihat terakhir. Kalau beliau tidak menurut nasehatku, menarik mundur barisan dari timur dan memperbaiki keadaan rakyat yang sengsara, aku akan memihak kepada pemberontak!"

Liem Siang Hong mengerutkan alisnya.

"Berbahaya sekali tindakan ini, goanswe. Untuk memberi nasehat kepada kaisar, rasanya tidak perlu goanswe berangkat sendiri. Biarlah aku yang mewakili goanswe dan membawa surat untuk disampaikan kepada kaisar."

Jenderal itu memandang dengan mata tajam kepada Liem Siang Hong.

"Saudaraku, tahukah kau betapa bahayanya tugas ini?"

"Tentu saja aku tahu!"

Jawab panglima itu dengan gagah.

"Akan tetapi, perasaan takut merupakan pantangan besar bagi seorang perajurit seperti aku!"

"Bagus! Ketahuilah, memang terkandung maksud dalam hatiku menyuruh seorang mewakiliku menghadap kaisar, dan kalau ada orang itu, hanya engkaulah, saudaraku! Bukan aku tidak berani menghadap sendiri, akan tetapi kalau sampai di kota raja aku terkena malapetaka dari para dorna, habis siapakah yang akan dapat memimpin pasukan-pasukan untuk menyerbu dan meruntuhkan kerajaan yang sudah bobrok itu? Kau berangkatlah, bawalah surat nasehatku kepada kaisar dan jangan khawatir, aku telah siap dengan seluruh anak buahku. Kalau ada yang berani mengganggu selembar rambutmu di kotaraja, aku bersumpah untuk mengganti kerugian dengan menduduki Tiang-an dan membasmi para dorna!"

Demikianlah, setelah menerima surat dari jenderal itu, Liem Siang Hong lalu pulang ke rumahnya.

Ia tidak berani menceritakan tugasnya yang penting dan rahasia ini kepada isterinya, akan tetapi ia merasa terharu juga.

Pertemuan dengan isterinya ini mungkin sekali untuk yang terakhir.

Ia merasa rindu kepada puteranya yang masih berada di Kun-lun-san belajar ilmu kepada Beng To Siansu.

"Isteriku!"

Katanya pada malam hari itu.

"besok pagi aku akan pergi melakukan tugas pekerjaanku. Tak usah kau tahu ke mana, karena memang belum ada ketentuan. Akan tetapi mungkin sekali agak lama. Keadaan negara sedang kalut seperti ini dan siapa tahu kalau di kota inipun akan ada huru-hara yang besar. Pesanku kepadamu, kalau sampai terjadi sesuatu dan aku belum kembali, kau mintalah tolong kepada jenderal Li Goan dan apabila kelak kau berada dalam keadaan yang membutuhkan pertolongan, kau dan putera kita berlindunglah kepada saudara kita Kwee Siong. Hanya dia seoranglah yang akan dapat menerima kau dan anakmu sebagai keluarga sendiri!"

Isterinya memandang kepadanya dengan mata terbelalak dan suaranya gemetar ketika bertanya.

"Suamiku, mengapa kau berkata demikian? Seakan-akan kau berpamit untuk pulang ke alam baka saja. Apakah yang terjadi, dan kau hendak pergi kemanakah?"

Melihat wajah isterinya menjadi pucat, Liem Siang Hong lalu menghiburnya dan tersenyum untuk membikin tenang hati isterinya.

"Soal mati hidup, siapa yang tahu? Aku hanya bicara sebagai penjagaan dan persiapan saja. Siapa yang akan tahu perkembangan keadaan yang makin lama makin panas ini. Aku bukan maksudkan kalau aku mati, akan tetapi misalnya kalau perjalananku ini menjadi terputus oleh kerusuhan dan pemberontakan sehingga kita terpisah jauh. Nah, kepada Kwee Siong dan jenderal Li Goan saja kau boleh dan dapat berlindung."

Pada keesokkan harinya, pagi-pagi sekali, di antar oleh lima orang perwira, berangkatlah Liem Siang Hong ke kota raja.

Panglima yang gagah berani ini telah berhasil menghadap kaisar dan menyampaikan surat dari jenderal Li Goan yang isinya mengecam pedas kepada Kaisar, mengajukan tuntutan-tuntutan agar supaya kaisar suka insaf dan jangan menuruti bujukan dan hasutan para pembesar dorna.

Sebelum menghadap kepada kaisar, Liem Siang Hong menyuruh kelima orang perwira yang mengawaninya itu untuk bersembunyi di rumah gedung Kwee Siong dan kepada adik angkatnya ini ia memberi surat.

Kwee Siong menerima lima orang perwira dari Tai-goan yang sudah dikenalnya itu dan alangkah kagetnya ketika ia membaca surat Liem Siang Hong yang berbunyi singkat.

Adikku Kwee Siong yang baik, Aku sengaja tidak berhenti di rumahmu agar kau jangan ikut terbawa-bawa dalam perkara ini.

Aku sedang menjalankan tugas membawa surat Jenderal Li Goan kepada kaisar dan karena isi surat ini merupakan kecaman dan nasehat, tidak terlalu dilebihkan apabila aku mungkin takkan kembali dengan selamat dari dalam istana.

Hanya satu pesanku, apabila aku benar-benar sampai binasa oleh kaisar dan para pembesar dorna, kau peliharalah baik-baik isteriku dan puteraku.

Selamat Tinggal.

Kakakmu, Liem Siang Hong Bukan main sedihnya hati Kwee Siong.

Ia maklum dan telah yakin akan nasib kakak angkatnya itu, oleh karena pada masa itu.

"Menasehati"

Kaisar merupakan pantangan besar bagi mereka yang masih ingin hidup.

Telah banyak para pembesar jujur yang menasehati kaisar dan mereka ini dicap sebagai pemberontak dan hanya satulah hukuman bagi mereka yang berani lancang menasehati kaisar, yakni hukuman mati.

Kwee Siong lalu berkemas dan ia memerintahkan seorang perwira pengiring Liem Siang Hong untuk diam-diam membawa isteri dan puteranya, yakni Kwee Cun yang baru berusia sembilan tahun, untuk diam-diam melarikan diri ke Tai-goan.

Benar saja, tak lama sesudah Liem Siang Hong menyerahkan surat itu kepada kaisar, kaisar ini dan beberapa orang menteri dornanya menjadi marah sekali dan pada saat itu juga Liem Siang Hong ditangkap dan dihukum penggal kepala.

Empat orang perwira pengikut Liem-ciangkun, ketika mendengar akan hal ini, bersama Kwee Siong lalu melarikan diri secepatnya keluar dari kotaraja, kembali ke Tai-goan.

Ketika mendengar bahwa Kwee Siong melarikan diri, kaisar menjadi marah sekli dan menyuruh para pengawal mengejarnya, akan tetapi Kwee Siong dan empat orang perwira itu telah jatuh dan tidak dapat dikejar lagi.

Jenderal Li Goan mengepal-ngepal tinju, menggigit-gigit bibir dan air matanya tak tertahan lagi, terutama setelah mendengar laporan tentang dibunuhnya Liem Siang Hong.

"Kaisar lalim, pembesar-pembesar dorna! Kalian benar-benar telah buta dan telah kemasukkan iblis. Saudaraku Liem Siang Hong, jangan mati penasaran, lihat saja betapa tak lama lagi aku akan menghancur leburkan Tiang-an!"

Jenderal besar ini lalu menghimpun seluruh balatentaranya, ditambah pula dengan rakyat jelata yang menyokong pemberontakannya dan segera memimpin ratusan ribu balatentara menyerbu Tiang-an.

Kita tinggalkan dulu barisan Jenderal Li Goan yang mengamuk dan berusaha menggulingkan pemerintahan kaisar yang lalim itu, dan marilah kita mengikuti perjalanan Liem Sian Lun, putera tunggal dari Liem Siang Hong yang gugur sebagai seorang patriot bangsa yang gagah perkasa itu.

Setelah setahun melatih diri, dengan tekunnya dan telah dapat menguasai ilmu silat yang diajarkan oleh Liang Gi Cinjin dengan sempurna, Liem Sian Lun mendapat izin dari Beng To Siansu untuk turun gunung.

"Muridku, pertama-tama kau harus pergi menghadap suhumu Liang Gi Cinjin sebagaimana telah ia pesan dulu. Kemudian, kau harus membuka matamu baik-baik dan melihat keadaan dunia di sekelilingmu. Kalau aku tidak salah tafsir, kerajaan yang sekarang telah mendekati keruntuhannya dan sepanjang pendengaranku, di mana-mana telah timbul pemberontakan hebat. Ayahmu adalah seorang panglima, maka kau harus dapat mempertimbangkan keadaan ayahmu. Kemudian sudah menjadi tugasmu pula untuk membantu perjuangan, hanya harus kau berhati-hati dan dapat memilih pihak yang benar! Nah, kau berangkatlah."

Setelah menerima banyak nasehat dari gurunya, Sian Lun lalu turun dari Kun-lun-san dan langsung menuju ke kota Ceng-tu.

Tidak sukar baginya untuk mencari rumah perkumpulan Pek-sim-kauw, karena rumah ini merupakan sekelompok bangunan yang besar dan banyak, terkurung pagar tembok warna kuning yang tinggi.

Sian Lun maklum bahwa ia akan menghadapi ujian suhunya, akan tetapi ia tidak takut karena selama ini ia telah melatih diri dengan rajin dan sepanjang ingatannya semua pelajaran ilmu silat dan ilmu pedang dari Liang Gi Cinjin telah dipelajari dan dilatihnya dengan baik.

Dengan tabah ia melangkah memasuki pintu gerbang di depan dan ia melihat banyak sekali pendeta yang berpakaian dengan gambar hati putih di dada, akan tetapi semua pendeta ini seakan-akan tidak melihatnya sehingga ia menjadi heran dan melangkah terus.

Ketika ia tiba di tengah halaman yang luas itu, tiba-tiba dari dalam keluar lima orang pendeta tua yang berwajah angker.

Pendeta-pendeta ini menghadang di tengah jalan, lalu seorang di antara mereka bertanya garang.

"Saudara siapakah dan ada keperluan apakah masuk ke dalam rumah kami?"

Melihat lima orang pendeta yang memakai tusuk konde perak ini, Sian Lun yang sudah mendapat keterangan dari Beng To Siansu, dapat menduga bahwa mereka ini tentulah lima orang murid suhunya yang disebut Pek-sim Ngo-lojin.

Ia cepat memberi hormat dan menjawab.

"Siauwte adalah Liem Sian Lun dan siauwte datang mohon bertemu dengan suhu Liang Gi Cinjin."

Lima orang pendeta itu memang Pek-sim Ngo-lojin.

Mereka ini masih merasa amat penasaran dan marah karena telah dikalahkan oleh Ling Ling dan ibunya pada tiga hari yang lalu.

Mereka masih merasa mendongkol terhadap suhu mereka karena mereka telah mendapat marah dan teguran, akan tetapi suhu mereka masih memesan agar supaya mereka menjaga di tempat penjagaan masing-masing dan menyerang orang yang ingin menghadap Liang Gi Cinjin.

"Kalau ada orang datang mencariku, kalian harus mencoba dan menguji ilmu kepandaiannya, akan tetapi berhati-hatilah. Jangan sampai melukai orang itu sehingga kalian menanam permusuhan lagi dengan orang lain. Aku hanya ingin kalian menguji kepandaiannya saja."

Kini datanglah orang muda ini yang ingin bertemu dengan Liang Gi Cinjin.

Lima orang pendeta itu baru tiga hari yang lalu telah menderita kekalahan, maka kini setelah saling pandang dengan kawan-kawan sendiri, serentak mereka mencabut pedang dan berkatalah Pek Thian Ji yang galak.

"Mau bertemu dengan guru kami! Tidak mudah, anak muda. Kalau kau tidak dapat mengalahkan pedang kami, kau lebih baik pergi saja dan jangan mencoba untuk mengganggu suhu!"

Sian Lun tidak merasa heran mendengar ini dan ia memang telah bersiap untuk menghadapi ujian ini.

Hanya ia merasa heran pendeta-pendeta yang menjadi murid gurunya ini nampak galak dan agaknya hendak maju semua mengeroyoknya.

Ia lalu mencabut keluar pedang pemberian Beng To Siansu dan sambil memalangkan pedang di depan dada, ia berkata.

"Kalau ngo-wi hendak menghalangiku, terpaksa siauwte akan berlaku kurang ajar!"

Lima orang pendeta Pek-sim-kauw itu lalu maju mengepungnya dan berytempurlah mereka dengan ramai.

Akan tetapi baru saja mereka bertempur sepuluh jurus, bukan main kaget dan herannya Pek-sim Ngo-lojin ketika melihat bahwa ilmu pedang yang dimainkan oleh pemuda tampan ini bukan lain adalah ilmu pedang Pek-sim-kiam-hoat.

Kalau saja kelima orang pendeta itu menghadapi Sian Lun dengan ilmu silat lain, mungkin pemuda itu akan repot juga menghadapi keroyokan lima orang pendeta yang lihai itu.

Akan tetapi Pek-sim Ngo-lojin menyerangnya dengan ilmu pedang Pek-sim-kiam-hoat yang baru mereka miliki delapan bagian, sedangkan pemuda itu sudah mewarisi sepenuhnya, maka tentu saja Sian Lun dapat melayani mereka dengan baik sekali.

Bahkan ketika ia mainkan bagian akhir dari ilmu pedang itu, yang paling sulit dan paling lihai sehingga pedangnya berkelebatan bagaikan segulung awan putih menyelimuti tubuh kelima pengeroyoknya, murid-murid Liang Gi Cinjin ini menjadi terkejut dan bingung sekali.

Pada jurus ke dua puluh dengan gerak tipu Halilintar Menyambar Ombak, Sian Lun memperhebat gerakan pedangnya dengan sepenuh tenaga.

Terengar suara nyaring dan keras sekali dan tahu-tahu lima batang pedang dari pendeta-pendeta itu terlepas dari pegangan dan terlempar jauh.

Tentu saja lima orang pendeta itu berdiri dengan melongo saking herannya.

Hanya suhu mereka saja yang dapat mainkan ilmu pedang Pek-sim-kiam-hoat sedemikian hebatnya.

"Dari manakah kau mencuri ilmu pedang kami?"

Pek Im Ji berseru sambil memandang tajam. Akan tetapi, Sian Lun tidak menjawab, hanya lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap ke kiri sambil berseru.

"Suhu...!"

Lima orang pendeta itu terkejut dan cepat menengok ke kiri dan benar saja, Liang Gi Cinjin telah berdiri di situ sambil tersenyum.

Hal ini menunjukkan pula betapa tajam pemandangan mata dan pendengaran pemuda ini, jauh lebih lihai dari pada mereka yang tidak mengetahui bahwa suhu mereka telah berada di situ.

Cepat mereka lalu menjatuhkan diri berlutut pula dihadapan Liang Gi Cinjin.

"Kembali kalian berlima telah menurutkan nafsu untuk maju mengeroyok pemuda ini. Baiknya kalian ketahui bahwa tiada baiknya mempergunakan kekerasan karena di dunia ini masih banyak orang yang lebih pandai dari pada kita. Ketahuilah bahwa pemuda ini adalah muridku sendiri, atau juga sute (adik seperguruan) kalian yang jauh lebih berhasil dalam mempelajari ilmu silat daripada kalian berlima."

Sian Lun lalu berpaling kepada suheng-suhengnya dan berkata.

"Mohon suheng sekalian sudi memberi maaf kepadaku yang kurang ajar!"

"Tidak apa, sute, bukan salahmu karena kami berlimalah yang menyerangmu lebih dulu."

Liang Gi Cinjin menjadi girang sekali melihat kemajuan Sian Lun.

Ia benar-benar merasa puas dan tidak sia-sialah ia mewariskan ilmu kepandaiannya kepada pemuda ini.

Ia lalu mengajak semua muridnya masuk ke dalam dan berkatalah Liang Gi Cinjin kepada Sian Lun.

"Muridku, menururt berita yang sampai di sini, di kotamu, yakni Tai-goan, telah mulai ada pergelokan. Agaknya jenderal Li Goan telah bergerak pula dan menurut pendengaranku, jenderal ini adalah seorang bijaksana dan gagah perkasa. Kau pulanglah dan coba kau perhatikan sepak terjang para pejuang itu dari dekat. Kalau aku tidak salah, Li Goan inilah orangnya yang patut kita bantu."

Kemudian ia memberi perintah kepada Pek-sim Ngo-lojin untuk memberitahukan semua anggauta Pek-sim-kauw agar supaya di manapun juga cabang mereka berada, suka membantu pergerakan untuk menumbangkan kekuasaan kaisar dan kaki tangannya yang lalim dan kejam.

Maka setelah kakek sakti ini selesai memberi wejangan, bubarlah enam orang muridnya itu.

Sian Lun langsung melanjutkan perjalanan ke Tai-goan, sedangkan kelima orang pendeta itu lalu berpencar untuk menghubungi anak buah mereka di berbagai kota.

Kemudian ternyata bahwa bantuan para pendeta Pek-sim-kauw ini merupakan dorongan yang besar sekali, dan tenaga mereka benar-benar amat berjasa dalam perjuangan menumbangkan pemerintah Sui yang sudah tak disukai rakyat lagi.

Adapun Liem Sian Lun segera keluar dari kota Ceng-tu dan menuju ke timur.

Akan tetapi, baru saja ia keluar dari kota, tiba-tiba berkelebat bayangan yang gesit sekali dan tahu-tahu Liang Gi Cinjin telah berada di sampingnya.

Sian Lun cepat memberi hormat kepada gurunya ini sambil memandang heran.

"Sian Lun, sesungguhnya dalam keadaan kacau seperti ini, tidak semestinya aku memberitahukan ini. Akan tetapi sukarlah bagiku untuk menahan keinginan hatiku ini. Aku telah bertemu dengan seorang gadis yang ilmu kepandaiannya luar biasa sekali dan ia adalah ahli waris dari seorang yang dulu amat kuhormati. Ia telah mewarisi ilmu silat dari sahabatku, Panglima Besar Kam Kok Han dan tentang ilmu pedangnya, mungkin hanya dia yang akan dapat menghadapi Pek-sim-kiam-hoat. Melihat keadaan gadis itu, sebelum kau datang, telah timbul niat dalam hatiku untuk menjodohkan kau dengan dia. Hal ini tentu saja terserah kepadamu dan kepada orang tuamu, akan tetapi aku yakin bahwa kalau ayahmu mendengar bahwa gadis itu adalah ahli waris Panglima Kam Kok Han yang besar dan terkenal, pasti ia akan setuju juga. Nah, puaslah hatiku telah menyampaikan hal ini kepadamu, muridku. Ketahuilah bahwa aku telah memberikan pedangku Pek-hong-kiam kepadanya, maka mudah saja kau mengenalnya apabila kau melihat pedangnya."

Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban Sian Lun, kakek itu berkelebat pergi.

Sampai beberapa lama Sian Lun berdiri dengan muka merah, dan ia heran sekali melihat sikap suhunya ini.

Benar-benar orang-orang tua di dunia kang-ouw ini mempunyai watak yang luar biasa anehnya.

Kemudian Sian Lun melanjutkan perjalanan.

Ia melihat berbondong-bondong rakyat mempersatukan diri dan ikut dalam perjuangan menyerang tentara Sui yang berada di daerah mereka.

Di mana-mana orang memegang pedang dan tombak sehingga suasana menjadi panas sekali.

Hal ini membuat Sian Lun makin ingin lekas-lekas tiba di rumah dan ia mempercepat perjalanannya.

Apalagi setelah ia tiba di daerah Tai-goan dan mendengar bahwa kini Tai-goan sudah bergolak dan Jenderal Li Goan sudah mengumpulkan balatentara untuk menyerang kota raja.

Akan tetapi, bukan main kagetnya ketika ia tiba di depan pintu rumah keluarganya, ia melihat di depan tergantung kain putih dan di ruangan depan nampak duduk banyak sekali tamu.

Ibunya sedang bersembahyang, menyembayangi meja tanpa ada peti matinya.

Sian Lun melompat maju dan memeluk ibunya.

"Ibu..., ada apakah...? Siapa... siapa yang...?"

Nyonya yang sedang menangis itu menengok dan melihat Sian Lun, ia menubruk puteranya sambil menangis tersedu-sedu.

Di antara tangis dan sedu sedan, nyonya Liem menceritakan kepada anaknya betapa Liem Siang Hong telah dihukum mati oleh kaisar.

Bukan main seduh dan marahnya hati Sian Lun mendengar ini.

Dengan air mata bercucuran ia berlutut di depan meja sembahyang itu dan tanpa memperdulikan pandangan semua mata yang berada di situ, ia bersumpah keras-keras.

"Ayah, aku bersumpah untuk membalaskan sakit hati ini, untuk membantu perjuangan menumbangkan pemerintahan yang lalim dan untuk mencari serta membunuh kaisar jahat itu."

"Anak muda, bangunlah! Berlakulah tenang. Ucapanmu tadi lebih mudah dikeluarkan dari mulut dari pada dilaksanakan!"

Terdengar suara yang berpengaruh dan sebuah tangan yang amat kuat memegang pundaknya.

Sian Lun merasa terkejut sekali karena merasa betapa tangan ini telah mengerahkan tenaga menekan pundaknya dengan kekuatan yang sedikitnya ada delapan ratus kati beratnya.

Ia cepat mengumpulkan lweekang untuk menahan tekanan ini dan dengan gerakan pundak yang gesit ia berhasil melepaskan pundaknya lalu bangun berdiri.

Ternyata di depannya telah berdiri seorang laki-laki setengah tua yang bertubuh tinggi besar dan bersikap gagah sekali.

Orang ini berpakaian sebagai seorang panglima, seperti pakaian ayahnya dan untuk beberapa lama Sian Lun tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.

"Sian Lun, berilah hormat kepada Li-goanswe (Jenderal Li),"

Kata ibunya.

Mendengar ucapan ini, teringatlah Sian Lun bahwa ia sedang berhadapan dengan Jenderal Li Goan pemimpin besar yang gagah perkasa dan namanya telah terkenal di seluruh daratan Tiongkok itu.

Cepat-cepat ia memberi hormat dan mengusap air matanya, karena dihadapan seorang gagah, ia merasa malu untuk mengeluarkan air mata.

Jenderal itu lalu menarik tangan Sian Lun, diajak bicara di ruang dalam, diikuti oleh Nyonya Liem Siang Hong yang menggandeng tangan puteranya.

Ketika mereka berada di dalam, ternyata di ruang itu telah penuh dengan para orang-orang terkemuka, yakni pemimpin daripada pemberontakan yang dikepalai oleh jenderal Li Goan.

Ketika Sian Lun datang, di dalam ruang itu sedang diadakan pertemuan yang merundingkan tentang pergerakan mereka.

Di antara mereka terdapat juga Kwee Siong, yang segera menyambut dan memeluk Sian Lun sambil mengeluarkan airmata juga.

Sian Lun amat terharu dan girang melihat pamannya yang amat dikasihinya itu berada pula di tempat itu.

"Kebetulan sekali putera mendiang saudara Liem Siang Hong telah datang dan melihat keadaannya, aku percaya bahwa di antara kita semua, dia seoranglah yang paling boleh dihandalkan tenaganya!"

Kata jenderal itu kepada semua orang yang hadir.

"Kita amat membutuhkan tenaga seperti Liem Sian Lun ini dan alangkah bahagia rasa hatiku bisa mendapat bantuannya?"

"Aku akan membantu sekuat tenaga!"

Kata Liem Sian Lun dengan penuh semangat.

"Kalau perlu, sekarang juga hamba bersedia untuk menyerbu!"

Sambungnya sambil menghadapi jenderal yang gagah itu.

Jenderal Li Goan lalu melanjutkan siasat dan rencananya yang tadi tertunda oleh kedatangan Sian Lun.

Dengan singkat ia menceritakan tentang tugas yang dilakukan oleh mendiang panglima Liem Siang Hong dan betapa panglima itu tewas karena dihukum oleh kaisar.

"Sekaranglah waktunya bagi kita untuk bergerak dan menggempur Tiang-an,"

Katanya.

"Balatentara kaisar sedang dikerahkan ke berbagai daerah untuk membendung barisan-barisan petani yang sedang membanjir dari segala jurusan. Kalau kita melakukan serangan tiba-tiba, tidak akan sukar bagi kita untuk merebut dan menguasai Tiang-an. Jenderal yang pandai dan telah banyak pengalamannya tentang siasat peperangan ini lalu memecah barisannya menjadi dua rombongan dan mengatur siasat untuk menyerbu Tiang-an dari dua jurusan, yakni dari selatan dan barat. Barisan yang menyerbu dari selatan akan dipimpin sendiri, adapun yang dari barat akan diserahkan kepada Liem Sian Lun untuk dipimpin. Pengangkatan-pengangkatan diadakan, dan Kwee Siong dipilih sebagai penasehat dan sebagai hakim tertinggi yang memeriksa dan menjatuhkan hukuman kepada para tawanan. Orang she Kwee ini yang memiliki sifat lemah lembut dan jujur, dipercayai untuk membujuk para tawanan sehingga mereka itu mau tunduk dan membantu perjuangan mereka. Kalau tidak perlu, maka pertumpahan darah antara bangsa sendiri akan dicegah. Juga Kwee Siong mendapat tugas untuk memeriksa dan mengadili anggauta-anggauta sendiri yang menyeleweng. Pendeknya Kwee Siong mendapat kekuasaan penuh sebagai hakim tertinggi.

"Bahkan aku sendiri kalau dianggap menyeleweng dan tidak benar, saudara Kwee berhak untuk menangkap dan mengadili!"

Kata Jenderal Li yang gagah itu.

Semua orang setuju sekali dan demikianlah, pada keesokan harinya barisan yang ratusan ribu orang jumlahnya itu dikerahkan, lalu bagaikan air bah barisan ini menuju Tiang-an.

Makin dekat dengan Tiang-an, dua barisan yang bergerak dari selatan dan barat ini makin bertambah jumlahnya karena banyaknya rakyat yang menjadi suka rela dan membantu perjuangan ini.

Dengan girang Sian Lun melihat betapa di antara para sukarelawan ini banyak terdapat pendeta-pendeta Pek-sim-kauw.

Kwee Siong ikut pula dalam barisan Sian Lun, karena Kwee Siong ingin berjuang dekat dengan keponakannya yang tercinta ini.

Ketika kedua orang ini berangkat, mereka di antar oleh keluarga mereka, yakni nyonya Liem Siang Hong, nyonya Kwee Siong, dan Kwee Cun yang masih kecil.

"Kalau aku sudah besar, aku akan membantu engko Sian Lun bertempur!"

Kata Kwee Cun dengan gagah. Sian Lun memondong anak itu dan berkata.

"Kelak kau akan menjadi seorang yang lebih gagah dari pada semua pahlawan!"

Sian Lun memesan kepada ibunya agar baik-baik menjaga diri, sedangkan Kwee Siong yang sudah meninggalkan rumahnya di kotaraja, berpesan kepada isterinya agar isteri dan anaknya tinggal bersama dengan nyonya Liem Siang Hong.

Tepat sebagaimana telah diperhitungkan oleh Jenderal Li Goan, pertahanan barisan kerajaan di kota raja tidak kuat, karena balatentara kerajaan telah dipecah-pecah untuk memadamkan pemberontakan yang timbul di mana-mana.

Hanya pasukan-pasukan yang kecil jumlahnya saja yang melakukan perlawanan terhadap barisan yang dipimpin oleh Jenderal Li Goan dan oleh Liem Sian Lun.

Pasukan-pasukan kerajaan ini dengan mudah dihancurkan, sebagian besar ditawan dan bahkan ada yang menyerah dan menggabungkan diri dengan barisan pemberontak.

Liem Siang Hong memimpin pasukannya menyerbu kota raja dari barat, ketika sudah tiba di luar tembok kota, barisannya dihadang oleh sepasukan tentara kerajaan yang besar juga jumlahnya dan nampak kuat, teratur baik, dan dikepalai oleh seorang panglima berkuda putih yang tinggi besar.

Panglima yang bertubuh seperti seorang raksasa itu duduk di atas kudanya dan suaranya seperti geluduk ketika ia menantang.

"Barisan pemberontak! Apakah kalian sudah bosan hidup dan berani menghadapi tentara dibawah pimpinanku?"

Sambil berkata demikian, ia mencabut pedangnya dan memutar pedang itu di atas kepala sehingga nampaklah sinar yang kekuningan dan terdengar suara nyaring ketika pedang itu memecahkan hawa disekitarnya.

Melhat lagak panglima barisan kerajaan Sui ini, Sian Lun diam-diam kagum.

Pamglima itu benar-benar gagah dan amat pantas dalam pakaian perangnya.

"Siapakah dia, Kwee-siokhu (paman Kwee)?"

Tanyanya kepada Kwee Siong yang duduk di atas kuda, di sebelahnya.

"Dia adalah seorang jenderal muda yang amat gagah perkasa, bernama Kwan Sun Giok. Ia dulu mengepalai barisan penjaga tapal batas di sebelah selatan. Hati-hatilah, Sian Lun. Ia amat gagah dan berkepandaian tinggi,"

Jawab Kwee Siong sambil mengerutkan kening.

Memang ia sudah mendengar nama jenderal muda ini yang benar-benar amat terkenal gagah perkasa tak terlawan.

Sementara itu, jenderal muda Kwan Sun Giok sudah melihat Kwee Siong, maka ia menudingkan pedangnya dan membentak keras.

"Orang she Kwee! Kau benar-benar anjing tak mengenal budi! Kaisar telah memberi anugerah kepadamu, akan tetapi siapa kira kau sekarang bahkan menggabungkan diri dengan pemberontak. Mana anjing tua Li Goan? Suruh dia maju dan lekas berlutut minta ampun untuk ku bawa menghadap kepada kaisar!"

"Kwan Sun Giok!"

Sian Lun berseru marah sambil menggerakkan kudanya, maju menghadapi panglima itu.

"Alangkah besar mulutmu! Kaisar yang lalim dan membikin sengsara rakyat tidak patut memegang pemerintahan lagi, dan kau orang yang tolol dan buta agaknya hanya mabok oleh kesenangan dan harta benda kotor yang diberikan oleh kaisar kepadamu. Tahukah kau harta benda siapa yang menyenangkan hidupmu? Keringat dan darah rakyatlah yang kaupergunakan untuk berfoya-foya setiap hari bersama seluruh pembesar-pembesar jahat. Untuk menghadapi orang macam kau, tidak perlu Li goanswe yang maju, cukup dengan pedangku saja!"

Bukan main marahnya Kwan Sun Giok mendengar ini. Ia membuka lebar-lebar kedua matanya dan memandang kepada Sian Lun.

"Siapa kau?"

Tanyanya dengan suara keras sehingga mengejutkan kuda yang ditungganggi oleh Sian Lun.

"Aku tidak sudi berusan dan bicara dengan segala serdadu pemberontak. Suruh pemimpin barisan ini maju!"

"Akulah pemimpinnya,"

Jawab pemuda itu.

"Kau...!?? Kwan Sun Giok membelalakan matanya dan kemudian sambil berdongak, ia tertawa terbahak-bahak, memegangi perutnya yang besar penuh arak.

"Ha, ha, ha, ha! Agaknya anjing tua Li Goan sudah kehabisan panglima! Ia takut menghadapi aku dan menyuruh bocah ini mengantarkan nyawa. Ha, ha!"

"Sian Lun, jangan layani dia dan berilah perintah kepada barisan untuk menyerbu saja!"

Kata Kwee Siong perlahan, karena orang tua ini khawatir kalau-kalau Sian Lun tidak dapat menandingi perwira yang tangguh ini.

Akan tetapi Sian Lun tidak mau memperlihatkan kelemahannya dan bahkan menantang.

"Kwan Sun Giok, tak perlu banyak bertingkah dan menjual kesombongan. Kalau kau memang gagah, marilah kita bertempur mengadu kepandaian, disaksikan oleh barisan kita!"

"Baik, baik! Kalau kau dapat menangkan aku, biarlah semua tentaraku kau anggap kalah saja!"

Jenderal itu menantang sambil melompat turun dari atas kudanya.

Sian Lun juga melompat turun dari kudanya dan mencabut pedangnya.

Setelah berdiri di atas tanah, nampaklah oleh Sian Lun betapa panglima musuh itu benar-benar tinggi besar.

Akan tetapi sedikitpun pemuda ini tidak merasa jerih dan berpesan kepada Kwee Siong agar supaya jangan menggerakkan tentara lebih dulu sebelum selesai pertandingan ini.

"Bocah yang masih ingusan!"

Jenderal Kwan membentak sambil memutar pedangnya.

"Bersiaplah untuk terima binasa!"

Kemudian ia maju menyerbu dan mengirim bacokan dengan pedangnya.

Sian Lun melihat gulungan sinar kuning menyambar ke arahnya dan ia maklum bahwa selain pedang di tangan lawannya ini amat tajam dan berbahaya, juga tenaga lawannya benar-benar hebat.

Ia cepat mengelak ke kiri, lalu membalas dengan tusukan pedangnya ke arah perut lawannya.

Kwan Sun Giok tercengang juga melihat kegesitan lawannya yang masih muda ini, maka ia cepat menggerakkan pedang dengan sekuat tenaga untuk menangkis pedang lawan.

Akan tetapi Sian Lun bukanlah seorang pemuda yang bodoh.

Ia maklum akan tajamnya pedang lawan yang mengeluarkan sinar kuning itu, maka tentu saja ia tidak mau mengadu senjata.

Ia menarik kembali pedangnya dan cepat mengirim serangan-serangan lagi secara bertubi-tubi.

Pedangnya berobah menjadi segulungan sinar putih yang amat kuat, lebar dan cepat gerakannya, berputar-putar bagaikan seekor elang mengitari dan menyambar kurbannya.

Makin heran dan terkejutlah Kwan Sun Giok menyaksikan kehebatan ilmu pedang lawan.

Tak disangkanya sama sekali bahwa panglima pemberontak yang muda ini memiliki ilmu pedang yang demikian tingginya.

Panglima kerajaan Sui ini lalu membentak nyaring dan mainkan ilmu-ilmu pedang yang banyak dipelajarinya.

Jenderal muda ini memang amat tangkas, bertenaga besar dan telah mempelajari banyak macam ilmu pedang., di antaranya dari Go-bi-pai, Bu-tong-pai dan Siauw-lim-pai.

Sayang sekali, bahwa biarpun pengertiannya amat banyak, namun tidak sebuahpun dari pada ilmu-ilmu pedang itu ia pelajari sampai sempurna.

Betapapun juga, tidak mudah bagi Sian Lun untuk mengalahkan lawannya dalam waktu singkat.

Tidak saja gerakan jenderal itu cukup gesit dan tenaganya amat besar, akan tetapi terutama sekali karena ia tidak berani mencoba mengadu pedangnya dengan pokiam (pedang mustika) lawan.

Sian Lun hanya mengerahkan ginkangnya dan bergerak cepat sekali, mengirim serangan-serangan dengan ilmu pedang Pek-sim-kiam-hoat, dan kadang-kadang juga mengeluarkan ilmu pedang dari Kun-lun-pai yang dipelajarinya dari Beng To Siansu.

Akan tetapi ternyata bahwa jenderal itupun mengenal ilmu pedang Kun-lun Kiam-hoat, maka dapat mengimbanginya.

Terpaksa Sian Lun lalu mengerahkan ilmu pedang Pek-sim-kiam-hoat yang benar-benar hebat dan belum dikenal oleh jenderal ini.

Setelah bertempur lima puluh jurus belum juga berhasil mengalahkan Sian Lun, Jenderal Kwan Sun Giok lalu membentak sambil menahan pedangnya.

"Tunggu dulu, aku tidak suka bertempur melawan orang yang tidak bernama! Melihat ilmu pedangmu, kau tentu seorang murid dari guru yang pandai. Siapa namamu dan siapa pula gurumu?"

Sian Lun tersenyum mengejek.

"Butakah matamu bahwa aku tadi mainkan ilmu pedang Pek-sim-kiam-hoat? Kalau kau mengenal Pek-sim-kiam-hoat, tentu kau tahu bahwa aku adalah murid dari Liang Gi Cinjin, namaku Liem Sian Lun!"

Terkejut juga jenderal Kwan mendengar bahwa pemuda ini adalah murid dari Liang Gi Cinjin, maka ia cepat berkata.

"Kalau begitu, kau adalah suteku (adik seperguruan). Aku adalah murid dari Liang Hwat Cinjin yang menjadi suheng dari gurumu!"

Liang Gi Cinjin tidak pernah bercerita kepada Sian Lun bahwa kakek sakti itu mempunyai seorang suheng, maka Sian Lun belum pernah mendengar nama Liang Hwat Cinjin.

Akan tetapi, ia tidak berani menuduh jenderal itu membohong, hanya menjawab keras.

"Hubungan itu tidak menghalangi untuk aku memusuhimu, karena jalan kita berselisih. Kalau kau dan pasukanmu suka menyerah dan menggabung untuk bersama-sama melenyapkan kaisar lalim dan menolong rakyat jelata, tidak keberatan bagiku untuk mempercayai omonganmu tadi."

Jenderal Kwan Sun Giok menjadi marah sekali.

Ia memberi aba-aba untuk menyerbu kepada semua perwira pembantu dan barisannya.

Kemudian ia sendiri menyerang lagi kepada Sian Lun dengan sekuat tenaga.

Sian Lun juga memberi tanda kepada Kwee Siong yang segera memberi perintah kepada para perajurit untuk menyerbu, sedangkan serangan Kwan Sun Giok yang hebat sekali itu terpaksa ditangkis oleh Sian Lun dengan pedangnya.

Akan tetapi akibatnya membuat Sian Lun merasa terkejut sekali karena terdengar bunyi keras dan tahu-tahu pedang di tangannya telah putus menjadi dua.

"Ha, ha, ha! Mampuslah kau!"

Sun Giok tertawa bergelak, akan tetapi suara ketawanya ini ditutup oleh pekik mengerikan ketika Sian Lun menyerbu dengan gerak tipu Raja Monyet Merebut Mahkota, sebuah tipu gerakan dari ilmu silat Kun-lun-pai yang paling tinggi.

Gerakannya yang amat cepat itu tidak tersangka sama sekali oleh lawannya sehingga tahu-tahu tangan kirinya telah merampas pedang lawan sedangkan tangan kanannya mengirim pukulan yang tepat mengenai ulu hati Jenderal Kwan Sun Giok.

Pedang berpindah tangan dan tubuh Kwan Sun Giok yang tinggi besar itu terhuyung-huyung ke belakang, kemudian jatuh terjengkang dalam keadaan mati dan dari mulutnya mengalir darah merah.

Sementara itu, kedua pihak telah bertempur hebat sekali dan banyak nampak jatuh korban.

Tentara di bawah pimpinan Kwan Sun Giok ini adalah tentara pilihan yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian cukup terlatih.

Melihat ini, Sian Lun lalu mempergunakan pedang rampasannya tadi mengamuk bagaikan naga sakti menyambar.

Baru segebrakan saja, lima orang perwira musuh telah ronoh mandi darah.

Sepak terjang yang gagah dari Sian Lun ini membangunkan semangat anak buahnya dan melemahkan semangat lawannya.

Apalagi ketika pemuda itu melompat ke atas sebuah tempat yang tinggi, lalu menggerak-gerakkan pedang rampasannya sambil berseru keras.

"Dengarlah, para perajurit dari kerajaan Sui! Kalian sebagai anggauta rakyat jelata, tentu sudah maklum akan kelaliman raja! Kami datang bukan untuk memusuhi kalian, melainkan untuk membebaskan rakyat dari penindasan, untuk menumbangkan kekuasaan raja yang sewenang-wenang! Menyerahlah dan mari kita bersama menjadi pembela rakyat! Yang menyerah akan dianggap kawan, akan tetapi yang tetap berkeras kepala membela raja lalim pasti akan mampus di ujung pedangku!"

Ketika mengeluarkan ucapan ini, Sian Lun mengerahkan khikangnya dan suaranya terdengar keras sekali, menimbulkan gema yang terdengar sampai jauh.

Ucapan ini amat berpengaruh, karena pihak musuh menjadi ragu-ragu untuk melanjutkan perlawanan mereka.

Kalau jenderal Kwan Sun Giok yang demikian gagah perkasa masih roboh di tangan pemuda yang hebat itu, apalagi mereka.

Setelah melihat pihak-pihaknya banyak yang roboh, sebagian besar daripada tentara kerajaan itu lalu melepaskan senjata dan berlutut menyerah.

Dengan mendapat kemenangan besar serta dapat merampas sebatang pedang pusaka yang ampuh, Sian Lun lalu memimpin barisannya menyerbu kota raja yang tidak begitu kuat lagi penjagaannya.

Kalau barisan yang dipimpin oleh Sian Lun hanya menghadapi perlawanan yang ringan, dan hanya Jenderal Kwan Sun Giok saja yang merupakan penghalang yang disebut kuat, adalah barisan yang dipimpin oleh Jenderal Besar Li Goan mengalami perlawanan yang amat gigih daripada tentara kerajaan.

Barisan pemberontak ini yang bergerak dari selatan, Jauh sebelum tiba di pintu gerbang kota raja, telah mengalami perlawanan yang amat hebat dari tiga jurusan, yakni barisan-barisan kerajaan di bawah pimpinan panglima-panglima Song, Cia, dan Wong.

Tiga pasukan yang besar jumlahnya ini baru saja kembali dari tugas pembersihan di bagian timur dan melihat pergerakan barisan pemberontak dari Tai-goan, segera mengepung dan menyerangnya.

Panglima-panglima yang bernama Song Kian Hi, Cia Soan Kun, dan Wong Pak ini adalah panglima-panglima besar yang berkepandaian tinggi, baik dalam ilmu silat maupun dalam ilmu kemiliteran, mengatur barisan.

Jenderal besar Li Goan menjadi agak kewalahan menghadapi kepungan musuh ini, terutama sekali tiga orang panglima itu mengamuk dengan amat dahsyatnya, sukar sekali ditahan.

Banyak perwira pembantu Jenderal Li Goan tewas dibawah amukan tiga orang panglima musuh itu.

Jenderal Li Goan sendiri maju dan hanya dia seorang yang masih berhasil menahan desakan tiga orang lawan ini.

Song Kian Hi bersenjata tombak panjang, gerakan tombaknya luar biasa kuatnya.

Cia Soan Kun adalah ahli main golok yang tangguh sekali, sedangkan Wong Pak memiliki toyanya yang amat berbahaya karena ia pandai main ilmu toya Raja Kera Puti.

Dibantu oleh dua orang perwira lain, Li Goan bertempur hebat menghadapi tiga orang panglima kaisar ini, sedangkan barisannya yang terkepung dari tiga penjuru itupun mengadakan perlawanan mati-matian.

Tiba-tiba dua orang perwiranya yang menghadapi Cia Soan Kun dan Wong Pak berseru keras dan roboh mandi darah menjadi korban senjata lawan.

Kini Li Goan dikeroyok tiga oleh tiga orang panglima kosen itu.

Untung sekali bahwa Jenderal Li Goan adalah seorang peperangan kawakan yang tinggi ilmu silatnya.

Ia memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga seluruh tubuhnya terlindung oleh gulungan sinar pedang dan tidak mudahlah bagi tiga orang pengeroyoknya untuk merobohkan jenderal besar ini.

Pada saat itu, terdengar teriakan-teriakan ngeri dan beberapa orang tentara kerajaan roboh bagaikan rumput dibabat.

Ternyata dua orang wanita telah mengamuk menggerakkan pedang dan menyerbu masuk.

Dua orang wanita ini adalah Sui Giok dan Ling Ling.

Yang lebih menyeramkan adalah Ling Ling, karena dengan Pek-hong-kiam di tangan, ia merupakan halilintar yang menyambar-nyambar tanpa mengenal ampun lagi.

Akhirnya mereka berdua tiba di tempat Jenderal Li Goan dikeroyok.

Melihat pakaian tiga orang panglima itu, tahulah Sui Giok bahwa pengeroyok-pengeroyok itu adalah panglima-panglima tinggi dari kaisar, maka ia lalu berseru kepada anaknya.

"Kita basmi tiga orang panglima kaisar lalim itu!"

Sui Giok dan Ling Ling segera maju menolong jenderal yang sedang terdesak hebat itu, dan membuat tiga orang panglima itu marah sekali.

"Pemberontak rendah, kau sudah bosan hidup!"

Teriak Song Kian Hi sambil menyambut serbuan Ling Ling, Cia Soan Kun bertempur dengan Sui Giok dan kini Jenderal Li Goan hanya menghadapi serangan Wong Pak seorang.

Pertempuran menjadi lebih ramai lagi, akan tetapi kini keadaannya menjadi terbalik.

Betapapun hebat permainan tombak Song Kian Hi, orang terkuat di antara ketiga panglima itu, namun menghadapi permainan pedang dari Ling Ling, ia tidak berdaya.

Belum juga dua puluh jurus mereka bertempur, ujung pedang Ling Ling telah berhasil membabat putus ujung tombaknya dan dengan gerakan yang amat aneh, cepat dan tak terduga, pedang Pek-hong-kiam telah menembus dada panglima she Song itu.

Hampir berbareng dengan robohnya Song Kian Hi, panglima ke tiga Wong Pak juga roboh terkena tendangan yang berat dari Jenderal Li Goan.

Sui Giok tidak mau kalah dan ia mempercepat gerakan pedangnya, maka tak lama kemudian, Cia Soan Kun juga memekik keras dan tubuhnya terhuyung roboh dengan pundak kiri terbabat putus.

"Terima kasih, jiwi lihiap!"

Kata jenderal Li Goan dengan singkat oleh karena ketiganya harus bergerak pula mainkan senjata menghadapi perwira-perwira lawan.

Akan tetapi kini perlawanan pihak tentara kerajaan tidak bersemangat lagi.

Kemudian nampak Jenderal Li Goan dengan gagahnya melompat ke tempat tinggi sambil memegang rambut dari tiga kepala orang yang sudah putus lehernya.

"Lihat kepala siapa ini! Siapa menyerah akan diampuni nyawanya!"

Teriakannya keras sekali karena ia mempergunakan tenaga khikang dari dalam perut.

Ketika balatentara kerajaan berikut para perwiranya melihat bahwa kepala yang kini tergantung pada tangan jenderal besar itu adalah kepala tiga orang panglima, pemimpin mereka, semua orang menjadi ketakutan.

Ada yang melarikan diri, ada yang berlutut sambil melepaskan senjata.

Dengan demikian, Li Goan mendapat kemenangan besar dan segera memberi perintah untuk menyerbu masuk ke dalam kota raja.

Ketika jenderal ini memandang ke sana ke mari hendak mencari dua orang wanita yang tadi membantunya, ternyata bahwa kedua orang wanita gagah itu telah lenyap tak nampak bayangannya lagi.

Akan tetapi oleh karena perjuangan masih belum selesai dan jenderal Li Goan masih sibuk menghadapi penyerbuan ke dalam kota raja, maka ia tidak dapat mencurahkan perhatiannya kepada dua orang wanita gagah yang membantunya itu.

Ia memimpin tentaranya masuk ke dalam kota raja, setelah menyerbu para penjaga tembok benteng dan mendobrak pintu gerbangnya.

Pada saat hampir bersamaan, balatentara pemberontak yang dipimpin oleh Liem Sian Lun juga berhasil membobol pertahanan para penjaga benteng dan dengan sorak sorai yang ramai sekali barisan ini menyerbu masuk dari lain jurusan.

Dengan mudahnya barisan (Lanjut ke

Jilid 06) Wanita Iblis Pencabut Nyawa/Toat Beng Mo Li (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06 penjaga kaisar dipukul hancur dan Li Goan memimpin pasukannya menyerbu istana kaisar.

Akan tetapi ternyata bahwa siang-siang kaisar telah melarikan diri dan mengungsi ke Yang-kouw.

Liem Sian Lun bertemu dengan Jenderal Li Goan yang merasa girang dan memuji pemuda itu atas hasil serbuannya dan menyerahkan pedang rampasannya yang dapat dirampas dari tangan Panglima Sui yang bernama Kwan Sun Giok.

Ketika Li Goan menerima dan memeriksa pedang itu, terkejutlah dia.

"Aah...! Inilah pedang Oei Hong Kiam! Pedang ini adalah milik Panglima Besar Kam Kok Han yang gagah perkasa dan yang kemudian dibunuh secara mengecewakan. Pedang ini patut sekali dipergunakan sebagai pedang pusaka kerajaan baru, karena ia menjadi lambang kegagahan dan kepahlawanan seorang patriot besar. Dengan pedang ini pula menteri-menteri dorna yang telah mengacaukan negara dan memeras rakyat akan kupenggal lehernya!"

Sambil berkata demikian, Jenderal Li Goan lalu menggerak-gerakkan pedang itu sehingga nampaklah gulungan sinar kuning yang menyilaukan mata.

Sian Lun memandang kagum.

Jenderal itu nampak agung, gagah, dan berpengaruh sekali memegang pedang yang sakti itu.

Sebagai ganti jasa atas kemenangan Sian Lun, pemuda itu lalu menerima pengangkatan sebagai panglima muda dan menerima pula sebilah pedang pusaka, yakni pedang Gi-tiang-kiam, pedang mustika yang diwariskan turun-temurun oleh nenek moyang Jenderal Li Goan.

Jenderal Li Goan lalu mengumpulkan semua pemimpin barisan yang kini telah diangkatnya menjadi perwira-perwira, dan dengan kata-kata keras ia memberi perintah.

"Cuwi-ciangkun! Berkat kerja sama dan semangat kepahlawanan seluruh barisan, akhirnya kita berhasil menggulingkan tahta kerajaan Kaisar Yang Te dan menduduki Tiang-an! Sungguhpun kaisar sendiri berhasil mengungsi, akan tetapi kerajaan dan singgasana telah berada di tangan kita. Sekarang kita harus bertindak tegas, membuktikan kemauan kita yang baik dan perjuangan kita yang suci. Para pembesar yang kini masih berada di kota, tangkap dan tahan semua, akan tetapi jangan sekali-kali melakukan tindak hukum sendiri-sendiri. Semua tawanan baru harus diserahkan kepada Hakim Agung kita, saudara Kwee Siong. Hanya dialah seorang yang berhak memutuskan hukuman atau pembebasan seorang tawanan. Juga awaslah terhadap penyelewengan-penyelewengan para perajurit!"

Pada saat Jenderal Li Goan sedang berunding dengan para perwira, tiba-tiba datanglah seorang perwira yang bicara dengan gugup.

"Celaka, tai-goanswe! Di sebelah barat jalan raya terdapat orang mengamuk. Banyak perajurit dia tewaskan dan kepandaiannya amat tinggi!"

Mendengar ini, Sian Lun lalu melangkah maju dan berkata.

"Biarlah hamba diberi ijin menangkap perusuh itu!"

Li Goan memberi persetujuan dan berangkatlah Sian Lun keluar dari istana itu sambil membawa pedangnya Gi-tiang-kiam.

Sebetulnya apakah yang terjadi di tempat keributan itu?

Orang yang mengamuk itu bukan lain adalah Ling Ling bersama ibunya.

Kedua orang wanita gagah ini, terutama sekali Ling Ling, sedang mengamuk hebat, dikeroyok oleh sepuluh orang perajurit dan sudah banyak yang roboh tewas di bawah pedang Ling Ling yang digerakkan sedemikian rupa sehingga yang nampak hanya sinar merah yang menyilaukan saja.

Mengapa Ling Ling menjadi begitu marah dan mengamuk?

Hal ini diakibatkan oleh penyelewengan para perajurit.

Memang tidak mengherankan apabila di dalam suatu peperangan, pihak yang menang selalu tergoda oleh setan angkara murka dan bertindak sewenang-wenang.

Demikianlah, maka banyak juga anggauta tentara dari barisan Jenderal Li Goan yang menang perang itu, setelah memasuki kota, lalu melakukan perampokan dan penculikan terhadap kaum wanita.

Serombongan tentara terdiri dari tujuh orang dengan kurang ajar sekali melakukan perampokan dan menyeret keluar orang-orang wanita, keluarga dari para bangsawan.

Pekik orang-orang yang terbunuh, jerit wanita-wanita yang diculik keluar dari rumah, menarik perhatian Ling Ling dan ibunya yang juga diam-diam sudah ikut masuk ke dalam kota yang diduduki oleh barisan Jenderal Li Goan itu.

Ketika Ling Ling melihat tujuh orang perajurit merampok dan mengganggu wanita, ia menjadi marah sekali.

"Kurang ajar! Beginikah macamnya orang-orang yang menyebut dirinya sebagai patriot-patriot?"

Bentaknya dan sekali tubuhnya berkelebat, ia telah menjambak rambut kepala seorang tentara yang sedang menyeret seorang gadis bangsawan dan begitu ia mengerahkan tenaga, perajurit yang nyeleweng itu terlempar jauh, menjerit ketakutan dan ketika jatuh ke atas tanah ia tak dapat bergerak lagi.

Ling Ling yang dibantu pula oleh ibunya lalu bergerak cepat dan tujuh orang perajurit yang berlaku sewenang-wenang itu sebentar saja menggeletak semua dalam keadaan terluka hebat.

Tentu saja para anggauta tentara lainnya yang melihat kawan-kawan mereka dihajar oleh dua orang wanita itu, lalu beramai-ramai menyerbu dan mengeroyok.

Sebagian besar di antara mereka berlumba untuk dapat menangkap Ling Ling yang demikian cantik jelita.

Akan tetapi mereka itu kecele, karena gadis manis ini bukanlah sembarangan orang yang dapat ditangkap begitu saja.

Belum juga mereka dapat mengulur tangan, tubuh mereka telah roboh kena pukulan atau tendangan Ling Ling dan ibunya yang mengamuk bagaikan dua ekor naga betina yang marah.

Sudah menjadi lazim bahwa di antara anggauta tentara terdapat rasa setia kawan yang amat besar.

Mereka tentu saja selalu membantu kawan-kawan mereka tanpa memeriksa dulu apakah kawan-kawan itu bertindak salah atau bertindak benar.

Demikianlah, makin banyaklah perajurit-perajurit yang mengurung dan mengeroyok Ling Ling dan ibunya, bahkan kini mereka itu telah mencabut senjata dan kini tak seorangpun yang ingin menangkap dan memeluk Ling Ling, melainkan menyerang dengan maksud membunuh.

Ling Ling dan ibunya sudah terlampau banyak merobohkan kawan-kawan mereka, melukai bahkan membunuh.

Kini mereka mengamuk dan mengeroyok dua orang wanita itu untuk dibunuh.

Akan tetapi, keroyokan yang sungguh-sungguh ini bahkan membuat Ling Ling dan ibunya makin menjadi marah.

Kini Ling Ling dan tidak ragu-ragu lagi untuk mencabut pedangnya dan berkelebatlah sinar merah mengamuk dengan hebat sekali.

Para perwira yang mendengar keributan itu mulai tertarik dan datang ke tempat itu.

Akan tetapi mereka juga tidak berdaya menghadapi Ling Ling yang sudah menjadi amat marah itu.

"Tidak tahunya pemberontak-pemberontak yang menggulingkan pemerintahan lama adalah perampok-perampok jahat!"

Seru Ling Ling di antara amukannya.

"Sama halnya dengan mengusir harimau mendatangkan srigala! Ibu, mari kita basmi mereka semua ini!"

"Ling Ling!"

Teriak Sui Giok sambil memutar pedangnya.

"jangan sembarangan membunuh! Cukup asal kau menjatuhkan mereka dengan melukai kaki mereka saja. Tak perlu kita melakukan pembunuhan. Lebih baik kita melaporkan kepada panglima yang berkuasa!"

Betapapun juga, Sui Giok masih lebih sabar dan dapat menduga bahwa tidak semua perajurit berlaku sewenang-wenang terhadap penduduk kota itu yang sebagian besar terdiri dari para bangsawan.

Akan tetapi mana Ling Ling mau menaruh hati kasihan kepada para pengeroyoknya?

Pada saat itu, terdengar bentakan keras.

"Semua perajurit, mundur!"

Dan berkelebatlah bayangan yang gesit sekali menghadapi Ling Ling dan Sui Giok.

Perajurit-perajurit yang tadinya mengeroyok dua orang wanita itu, ketika melihat siapa orangnya yang datang, menjadi lega dan cepat melakukan perintah itu, dan melompat mundur menjauhi kedua orang wanita itu.

Ling Ling dan Sui Giok memandang dan mereka melihat seorang pemuda dengan pedang bersinar gemilang di tangan kanan berdiri dengan gagahnya.

Adapun Sian Lun ketika melihat Ling Ling, ia menjadi kagum sekali dan untuk beberapa lama tak dapat mengeluarkan suara.

Tak terasa lagi mereka berdua saling pandang sampai lama sekali dan akhirnya Sian Lun menjadi merah mukanya.

Bagaimana ia bisa tertarik kepada seorang gadis yang agaknya membantu kaisar dan telah merobohkan banyak sekali anak buahnya.

Akan tetapi, untuk menegur gadis itu, hatinya merasa berat sekali.

Ketika melihat wanita kedua, seorang nyonya setengah tua yang juga cantik sekali, ia lalu menegur.

"Toanio, mengapakah kau dan kawanmu mengamuk dan membunuh banyak perajurit? Apakah kalian ini menjadi pembela-pembela kaisar lalim?"

Akan tetapi sebelum Sui Giok sempat menjawab, Ling Ling sudah mendahului ibunya dan membentak.

"Kaukah yang mengepalai semua bangsat-bangsat perampok ini? Bagus, kalau begitu rasakan tajamnya pedangku!"

Sambil berkata demikian, Ling Ling lalu maju menyerang dengan pedangnya yang bersinar merah.

Sian Lun menjadi mendongkol dan marah sekali.

Nona ini ternyata amat galak dan telah berani memaki perajurit-perajuritnya sebagai bangsat perampok.

Tanpa banyak cakap iapun menangkis serangan itu dengan pedang Gi-tiang-kiam dan membalas dengan serangan yang tak kalah hebatnya.

Terkejutlah keduanya ketika pedang mereka bertemu, karena mereka merasa betapa telapak tangan mereka pedas dan tergetar, sedangkan kedua pedang itu mengeluarkan titik bunga api.

Pertempuran dilanjutkan dengan hebat dan makin lama keduanya menjadi makin heran, kagum dan kaget.

Ilmu pedang lawan benar-benar kuat dan tinggi sekali.

Mereka sama gesit, sama kuat dan sama pandai.

Betapun juga, lambat laun Ling Ling merasa betapa ilmu pedang pemuda itu benar-benar amat mengagumkan dan gerakannya lebih tenang dan kuat dari pada gerakan pedangnya sendiri.

Memang, sesungguhnya Sian Lun masih menang sedikit ilmu pedangnya, karena selain ia telah menerima gemblengan dari suhunya, Beng To Siansu, iapun telah mewarisi ilmu pedang Pek-sim-kiam-hoat dari Liang Gi Cinjin.

Seratus jurus telah lewat akan tetapi kedua orang muda itu masih saling serang dengan hebatnya.

Biarpun dalam keadaan terdesak, gadis yang tabah itu tidak menjadi gentar, bahkan ia lalu mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk merobohkan lawan.

Bagi Sian Lun, ia makin tertarik kepada gadis ini dan hatinya tidak tega untuk melukainya.

Maka ia berlaku hati-hati dan tidak mau melakukan serangan-serangan maut, sehingga keadaan mereka tetap berimbang.

Sui Giok merasa gelisah sekali.

Ia maklum bahwa kalau dilanjutkan, puterinya akan kalah.

Akan tetapi, bagaimana ia dapat membantu?

"Ling Ling, hayo kita pergi dari sini!"

Teriaknya berulang-ulang karena kini para perwira lainnya telah mengurung tempat itu dan keadaan mereka amat terancam.

"Tidak, ibu. Sebelum aku berhasil merobohkan cacing tanah ini, aku tidak mau pergi?"

Jawab Ling Ling yang merasa penasaran sekali.

Beberapa orang perwira hendak maju membantu Sian Lun, akan tetapi begitu Sui Giok memutar pedangnya menghadapi mereka, senjata tiga orang perwira telah terpental dan tubuh mereka kena disapu oleh kaki Sui Giok sehingga terguling-guling.

Melihat kehebatan nyonya ini, terkejutlah semua perwira dan mereka tidak berani lagi maju mendekati.

Pada saat itu, berkelebat bayangan orang tinggi besar dan terdengarlah seruannya yang menggeledek dan berpengaruh sekali.

"Sian Lun, tahan! Nona pedang merah, harap kau bersabar dulu!"

Mendengar seruan ini, Sian Lun lalu melompat mundur, karena yang datang adalah Jenderal Li Goan sendiri.

Juga Ling Ling ketika melihat jenderal besar ini, menahan pedangnya.

Akan tetapi ia berdiri tegak dan memandang kepada jenderal itu dengan pandangan mata tajam.

"Kau mau apa, goanswe?"

Tanyanya angkuh. Li Goan tersenyum dan berkata.

"Kau dan panglimaku ini bertempur bagaikan dua ekor naga sakti saja! Sungguh hebat, sungguh indah dilihat, akan tetapi amat berbahaya!"

Kemudian ia berpaling kepada Sui Giok dan mengangkat tangan memberi hormat, lalu berkata kepada ibu dan anak itu.

"Jiwi lihiap, baru kemaren jiwi membantu barisanku mengalahkan barisan kaisar, akan tetapi mengapa hari ini jiwi telah melakukan hal sebaliknya? Mengapa jiwi menyerang para perajuritku dan bahkan menyerang panglimaku? Sungguh aneh sekali jiwi ini, kemaren menjadi pembantu sekarang menjadi lawan!"

Jenderal ini bicara dengan suara yang jelas, tenang dan muka terang sehingga Sui Giok merasa malu.

Akan tetapi Ling Ling menudingkan pedangnya kepada semua perajurit yang menggeletak di situ sambil berkata keras.

"Kemaren yang kami bantu adalah barisan orang-orang gagah yang berjuang menumbangkan kekuasaan raja lalim. Akan tetapi hari ini kami menyerang barisan perampok yang berlaku sewenang-wenang, merampok, membunuh, dan menculik wanita. Apanya yang aneh dalam perbuatan kami? Kaulah orangnya yang aneh, goanswe! Kemaren kau memimpin pasukan pejuang, apakah hari ini kau hendak membela dan memimpin perampok-perampok jahat macam ini?"

Mendengar ucapan ini, bukan main malu dan marahnya jenderal itu.

Mukanya yang gagah itu menjadi merah sampai ke telinganya.

Tanpa menjawab kata-kata Ling Ling, ia memandang kepada seorang perajurit yang terluka, menghampirinya lalu menjambak rambutnya, dipaksa berdiri.

"Siapa yang memimpin perampokan ini?"

Tanyanya dengan suara bagaikan harimau mengaum. Perajurit yang terluka pahanya oleh pedang Ling Ling itu, menjadi pucat dan dengan bibir gemetar dan tubuh menggigil ia menjawab.

"Hamba..., hamba hanya terbawa-bawa, yang menjadi biang keladinya adalah Ciu-twako itu..."

Ia menuding ke arah seorang perajurit yang patah tulang pundaknya dan rebah merintih-rintih di atas tanah.

Jenderal Li Goan melepaskan jambakannya, akan tetapi ia menendang tubuh perajurit itu sehingga tubuh itu terpental jauh dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Kemudian menghampiri perajurit she Ciu yang kini memandang dengan mata terbelalak takut.

Semua orang, termasuk Ling Ling, Sui Giok, dan Sian Lun, memandang dengan diam tak mengeluarkan sedikitpun suara.

Demikian pula para perajurit dan perwira.

Keadaan menjadi sunyi sekali.

"Kau mengaku telah membawa kawan-kawanmu merampok dan menculik wanita-wanita?"

Tanyanya dengan suara mengguntur.

Perajurit itu tidak berani mengeluarkan suara, bahkan tidak berani pula menatap pandang mata pemimpin besar itu.

Ia menundukkan kepalanya dan tubuhnya menggigil seperti orang kedinginan.

"Jawab!"

Jenderal Li Goan membentak.

"Hamba... hamba hanya merampok... bangsawan-bangsawan... kaki tangan kaisar..."

"Bagaimana bunyi larangan ketiga dan kelima?"

Suara Jenderal Li mengguntur lagi.

"Ketiga... tidak boleh merampok..., kelima... tidak boleh mengganggu wanita..."

"Bedebah, kau masih ingat larangannya, namun tetap kau langgar!"

Srrrrt!

Pedang yang mengeluarkan cahaya kuning tercabut dari pinggang jenderal itu dan sekali ia ayunkan pedangnya, putuslah leher perajurit yang menyeleweng tadi.

Jenderal Li Goan lalu mengangkat pedang Oei Hong Kiam tinggi-tinggi, dan berkata dengan suara keras terhadap semua perwira dan perajurit.

"Dengarlah semua, hai patriot-patriot bangsa sejati. Kalian telah mencucurkan peluh, mengeluarkan darah, mempertaruhkan nyawa untuk membela bangsa dan mengusir penindas rakyat. Perjuanganmu itu baru disebut suci dan bermanfaat apabila tidak kalian kotori dan nodai sendiri dengan perbuatan-perbuatan jahat seperti yang telah dilakukan oleh manusia-manusia ini. Jangan menjadi pelindung rakyat hanya di mulut saja, akan tetapi dihati selalu mencari kesempatan untuk memeras rakyat jelata. Contohnya perajurit yang kupenggal lehernya ini, siapa saja yang berani melakukan pelanggaran seperti dia, pedangku ini akan memenggal lehernya."

Setelah berkata demikian, Jenderal Li Goan hendak memberi hormat kepada Sui Giok dan Ling Ling, akan tetapi ibu dan anak itu memandangnya dengan mata terbelalak.

Pandangan mata Ling Ling dan Sui Giok sebenarnya bukan tertuju kepada wajah jenderal itu melainkan kepada pedang Oei Hong Kiam yang diangkat tinggi-tinggi oleh Jenderal Li Goan.

"Oei Hong Kiam...!"

Berseru Ling Ling dan ibunya hampir berbareng dan tiba-tiba wajah mereka menjadi beringas.

Inilah pedang peninggalan Panglima Kam Kok Han yang telah dirampas oleh pembunuhnya.

Sebelum menarik napas terakhir, Bu Lam Nio telah berpesan agar mereka berdua mencari dan membunuh pemegang pedang Oei Hong Kiam!

Bagaikan mendapat komando, serentak Ling Ling dan Sui Giok menubruk maju dengan pedang mereka, menyerang Jenderal Li Goan yang sama sekali tidak menyangkanya.

Baiknya jenderal besar ini memiliki ilmu silat tinggi, maka ketika dua pedang itu menyambarnya, ia masih dapat menangkis pedang Sui Giok dan mengelakkan diri dari tusukan pedang merah di tangan Ling Ling yang menyambar lehernya.

Namun gerakan Ling Ling amat cepatnya sehingga biarpun jenderal itu berhasil menyelamatkan nyawanya masih saja ujung pundaknya terbabat sehingga baju dan kulit pundaknya terobek oleh ujung pedang.

"Eh, gilakah kalian?"

Jenderal Li Goan masih sempat berseru kaget, dan Sian Lun lalu menyerbu ke depan menghadapi amukan Ling Ling yang amat berbahaya ilmu pedangnya itu.

Juga semua perwira mengurung maju sambil berteriak-teriak.

"Tangkap pemberontak wanita! Bunuh mereka!"

Ada pula yang berseru.

"Mereka adalah siluman kejam! Bunuh!"

Ling Ling tertawa bergelak dan dengan suara yang menyeramkan ia berseru.

"Hayo, majulah! Keroyoklah Cialing Mo-li dan Toat-beng Mo-li! Kami tidak takut! Pemegang Oei Hong Kiam harus mampus di tangan kami!"

Ia terus mengejar Jenderal Li Goan, akan tetapi oleh karena Sian Lun menghalanginya, dengan sengit dan marah sekali ia lalu menyerang Sian Lun sehingga kembali ia bertempur dengan hebatnya menghadapi pemuda kosen itu.

Nama Cialing Mo-li dan Toat-beng Mo-li sudah terkenal sekali, karena nama ini telah banyak diceritakan orang.

Maka mendengar nama ini, terkejutlah semua orang, termasuk Sian Lun dan Jenderal Li Goan.

Akan tetapi jenderal yang berpengalaman ini tidak mau melihat wanita gagah itu terbunuh, karena ia pikir tentu ada apa-apanya di belakang yang mereka hendak membunuhnya.

Apalagi ucapan Ling Ling yang terakhir, yang menyatakan bahwa pemegang pedang Oei Hong Kiam harus mati di tangan mereka, amat menarik hatinya.

"Sian Lun, jangan bunuh mereka! Tangkap mereka hidup-hidup! Ini merupakan perintah!"

Katanya keras sehingga terdengar oleh semua perwira yang beramai-ramai mengurung ibu dan anak itu.

Para perwira ketika mendengar perintah ini lalu mengambil tambang dan jala, dan beramai-ramai mereka melemparkan jala dan tambang ke arah kedua orang wanita yang mengamuk bagaikan kerbau gila itu.

Dikeroyok demikian banyak orang, terutama sekali menghadapi pedang Sian Lun yang luar biasa, akhirnya Ling Ling dan Sui Giok dapat tertutup oleh jala.

Mereka memberontak dan dengan pedang mereka, banyak jala yang putus-putus dan banyak pula perwira yang terkena bacokan sehingga terluka.

Akan tetapi, selagi mereka meronta-ronta di dalam jala, Sian Lun lalu menghampiri Ling Ling dan dengan cepat sekali lalu menotok pundak gadis itu di jalan darah tai-hwi-hiat sehingga lemaslah tubuh Ling Ling.

Jenderal Li Goan juga melompat ke dekat Sui Giok dan jenderal yang berkepandaian tinggi ini menyontoh tindakan Sian Lun dengan tiam-hoatnya yang dipelajarinya dari ilmu totokan Siauw-lim-pai, maka robohlah Sui Giok dengan tubuh lemas pula.

"Tahan mereka dan hadapkan kepada pengadilan tertinggi untuk diperiksa!"

Jenderal itu memerintahkan kepada para perwiranya.

"Akan tetapi harus memperlakukan mereka baik-baik!"

Setelah berkata demikian, ia mengajak Sian Lun masuk ke dalam istana untuk melanjutkan usaha perkembangan selanjutnya agar pemerintahan yang baru dapat berjalan lancar.

Pada keesokan harinya, Kwee Siong dengan pakaian kebesaran telah duduk di belakang meja besar di dalam istana di ruang lebar bagian persidangan pengadilan kaisar.

Pembantu-pembantunya telah menduduki tempat masing-masing dan di kanan kiri siap menjaga empat belas orang perwira yang berpakaian indah dan bersikap gagah.

Empat orang algojo yang bertubuh tinggi besar bagaikan raksasa berdiri di kanan kiri pula, diam tak bergerak bagaikan patung.

Suasana di ruang pengadilan sepi sunyi, tidak ada seorangpun berani mengeluarkan suara.

Memang Kwee Siong terkenal amat memegang aturan dan melarang orang-orang membuat gaduh apabila ia sedang mengadakan pemeriksaan terhadap para pesakitan.

Ia amat manis budi akan tetapi memegang disiplin teguh sekali.

Di dalam pemeriksaan, ia amat jujur dan adil, pandai sekali memancing omongan pesakitan.

Pandai pula ia mengangkat dan menyanjung-nyanjung pesakitan untuk kemudian dibantingnya sehingga banyaklah para pesakitan yang tadinya mati-matian menyangkal perbuatannya, terkena bujuk dan masuk dalam perangkap sehingga tanpa diminta lagi mereka itu dengan sukarela telah mengakui semua perbuatannya.

Di dalam pekerjaan ini, sistim yang dipergunakan oleh Kwee Siong jauh berbeda dengan sistim pengadilan di masa itu.

Biasanya, seorang hakim mengandalkan alat penyiksaan untuk memaksa pesakitan mengakui perbuatannya.

Pendapat Kwee Siong lain lagi, karena menurut pendapatnya, pemeriksaan mengandalkan alat penyiksaan ini banyak sekali membuat orang-orang yang tidak bersalah terpaksa mengakui perbuatan pelanggaran yang sebenarnya tidak dilakukan, semata-mata karena tidak tahan terhadap siksaan-siksaan tadi.

Dengan demikian terkenal di zaman itu banyak sekali orang tidak berdosa terpaksa menjalani hukuman, karena terpaksa mengakui perbuatan kejahatan yang tidak dilakukannya, dipaksa oleh alat-alat penyiksa tadi.

Algojo-algojo atau tukang-tukang penyiksa yang seperti raksasa itu diadakan di situ oleh Kwee Siong hanya untuk menakut-nakuti saja, dan mereka berempat ini jarang sekali turun tangan.

Setelah memeriksa surat-surat tuduhan dan laporan dari para pesakitan yang banyak sekali jumlahnya, Kwee Siong lalu memanggil nama seorang pesakitan.

Dengan amat lancar dilakukan tanya jawab dan pemeriksaan terhadap para pesakitan, seorang demi seorang.

Cara memutuskan sesuatu perkara amat bijaksana dan kadang-kadang membuat para pembantunya diam-diam saling pandang dengan terheran-heran.

Sebagai contoh dari pada kebijaksanaan pemeriksaan dan keputusan Kwee Siong yang dianggap aneh oleh para pendengarnya, adalah dua hal sebagai berikut.

Seorang bangsawan tua yang dekat dengan keluarga kaisar, ketika dibawa menghadap di ruangan itu, tidak mau berlutut di depan meja pengadilan.

"Berlutut!"

Bentak seorang algojo sambil memaksanya untuk berlutut.

Karena tenaga algojo itu amat kuat, maka bangsawan tua itu terpaksa berlutut.

Akan tetapi, begitu ia berlutut dan tangan algojo yang menekan pundaknya dilepaskan, ia berdiri lagi dengan tegak dan memandang kepada Kwee Siong dengan mata menentang.

"Tua bangka kurang ajar! Kau harus berlutut!"

Alagojo itu berseru lagi dan mengangkat tangannya untuk mengancam bangsawan itu, akan tetapi terdengar Kwee Siong berkata.

"Biarkan saja!"

Kemudian ia memandang kepada bangsawan itu dengan sabar, dan ia mengenal bangsawan itu yang bukan lain adalah Cin Kui Ong, seorang yang berpangkat kepala urusan kebudayaan di zaman pemerintah Sui.

"Kiranya Cin Kui Ong taijin yang berdiri dihadapanku,"

Hakim ini berkata tenang.

"Kerajaan Sui telah musnah, apakah kau masih saja berkeras kepala dan hendak melakukan perlawanan dengan sikapmu yang angkuh?"

Cin Kui Ong meludah ke atas tanah dengan sikap yang menghina sekali.

"Cih! Kerajaan boleh musnah, akan tetapi kesetiaanku takkan musnah, biarpun kau akan memenggal leherku. Aku Cin Kui Ong tidak boleh dipersamakan dengan segala siauwjin (orang rendah) she Kwee yang tidak ingat budi. Kau dulu mendapat anugerah kaisar dan sekarang kau berbalik memihak pemberontak. Apakah kau tidak malu menghadapi nenek moyangmu?"

Seorang algojo hendak turun tangan membungkam mulut yang amat menghina itu, akan tetapi Kwee Siong memberi tanda agar bangsawan itu dibiarkan saja bicara.

"Orang she Kwee!"

Cin Kui Ong melanjutkan bicaranya dengan semangat membubung tinggi dan muka merah.

"Telah beberapa keturunan aku orang she Cin mengabdi kepada kaisar, mengalami jatuh bangunnya kerajaan, akan tetapi belum pernah keluargaku berlaku khianat. Kami adalah orang-orang setia yang tidak akan takut menerima datangnya hukuman dari pihak pemberontak keji. Bagi kami, lebih baik mati sebagai seorang pahlawan terhadap kaisar!"

"Bagus, Cin Kui Ong! Kau masih bisa bicara tentang kepahlawanan dan kegagahan. Memang tepat sekali ucapanmu bahwa orang harus menjunjung tinggi kesetiaan, akan tetapi lupakah kau bahwa diatasnya kesetiaan masih terdapat kebajikan, prikemanusiaan, dan keadilan? Apakah benar-benar kau tidak melihat betapa Kaisar Yang Te berlaku amat lalim dan tidak memperdulikan keadaan rakyat jelata? Lupakah kau betapa ratusan laksa jiwa rakyat kecil dikorbankan hanya untuk kesenangan dan nafsu dari kaisar yang angkara murka itu? Tidak tahu pulakah kau betapa pembesar-pembesar tinggi berlaku korup, memeras rakyat, menggendutkan kantongnya dan perutnya sendiri tanpa memperdulikan keluh kesah dan penderitaan rakyat?"

"Tak usah kau memberi petuah kepadaku, Kwee Siong! Dalam hal ini, kau yang masih muda mana dapat melampaui pengalamanku. Aku tahu, tidak buta mataku, aku tahu akan semua itu, akan tetapi aku orang she Cin tidak pernah melakukan hal-hal semacam itu. Betapapun juga, kami adalah orang-orang yang patuh akan kewajiban, tidak sudi memeras rakyat, tidak sudi berlaku korup, patuh dan setia dengan setulusnya hati!"

Kwee Siong tertawa.

"Kesetiaan membuta, ketulusan yang timbul dari hati lemah. Eh, orang she Cin, pernahkah kau yang melihat segala ketidak adilan itu menegur kaisar? Pernahkah kau turun tangan menghalangi kawan-kawan sejawatmu yang melakukan pekerjaan terkutuk itu?"

Untuk pertanyaan ini, Cin Kui Ong tak dapat menjawab. Akhirnya ia membela diri.

"Urusan orang lain bukanlah urusanku. Kewajibanku telah kuselesaikan dengan hati bersih. Perduli apa dengan urusan orang lain. Thian tidak buta dan semua orang yang berbuat jahat pasti akan mendapat hukumannya sendiri."

"Nah, itulah kelemahanmu, Cin-taijin! Kegagahan tanpa disertai keadilan dan kebajikan akan menjadi kegagahan yang merusak. Kesetiaan tanpa disertai pertimbangan dan prikemanusiaan akan menjadi kesetiaan yang palsu. Setialah orang-orang yang berani menegur dan memperingatkan junjungannya dari pada kesesatan. Setialah orang-orang yang berani melakukan hal itu, tanpa memperdulikan nasib sendiri, tidak takut menghadapi murka raja. Rakyat menderita hebat, yang makmur hanyalah orang-orang yang memegang pangkat, akan tetapi kau membutakan mata terhadap nasib rakyat jelata. Aku dapat melihat hal itu dan aku membantu perjuangan rakyat yang memang sudah seadil-adilnya. Pemimpin yang tidak pandai membawa rakyat ke arah kemakmuran sudah tak layak lagi disebut pemimpin. Kaisar diangkat bukan untuk menyenangkan diri sendiri, melainkan untuk berusaha ke arah kemakmuran rakyatnya, kekuatan negaranya!"

Mendengar uraian ini, diam-diam Cin Kui Ong menjadi kagum sekali.

Terbukalah matanya bahwa kesetiaannya terhadap pemerintah Sui itu sama halnya dengan mendorong dan membela kejahatan merajalela.

Akan tetapi, ia tetap mengangkat dada dan berkata.

"Kalau begitu, biarlah aku mengaku bahwa pemerintah Sui memang buruk. Dan sebagai seorang pembesar dari pemerintah yang buruk, aku siap untuk dihukum mati. Biarlah aku membayar kesalahan kerajaan Sui dengan kesetiaan dan nyawaku!"

Kwee Siong tersenyum girang. Ia memberi tanda kepada penjaga dan berkata.

"Bebaskan dia! Kembalikan gedungnya yang disita dan bebaskan pula semua keluarganya!"

"Kwee Siong, kau menghinaku!"

Cin Kui Ong berkata marah.

"Lebih senang hatiku kalau kau menjatuhi hukuman mati kepadaku!"

Akan tetapi Kwee Siong menggelengkan kepalanya.

"Tidak, Cin-taijin. Orang-orang bersemangat kesatria dan berjiwa pahlawan seperti kau amat dibutuhkan oleh rakyat yang perlu dipimpin. Pemerintahan baru membutuhkan tenagamu, dan kalau kau memang mencinta nusa dan bangsa, tentu kau akan suka menyumbangkan tenagamu!"

Demikianlah, Cin Kui Ong yang terheran-heran itu didorong keluar dari ruang sidang itu dan disuruh pulang.

Hal ini amat mengherankan semua orang, akan tetapi perhitungan Kwee Siong memang tepat.

Sebelumnya ia memang telah tahu bahwa pembesar ini termasuk di antara para pembesar yang jujur dan adil, dan setelah kini dikeluarkan, ternyata kelak Cin Kui Ong akan merupakan seorang pembesar yang amat baik dan membantu lancarnya roda pemerintahan yang baru.

Keputusan kedua yang dijatuhkan kepada seorang pembesar muda bernama Oei Lok Cun juga mengherankan semua orang.

Pembesar ini usianya baru tiga puluh tahun lebih dan tadinya ia berpangkat kepala bagian perbendaharaan.

Seperti juga Cin Kui Ong, ia ditawan sebelum sempat melarikan diri, karena ia tidak dapat pergi meninggalkan gedungnya yang penuh dengan harta bendanya.

Sebelum melakukan pemeriksaan, Kwee Siong sudah membuat catatan riwayat hidup dan keadaan seorang pesakitan, maka ia tahu bahwa pembesar muda she Oei ini dulunya terkenal sebagai seorang pembesar tukang korupsi.

Betapapun juga, ia hendak melihat sikapnya dulu, baru mengambil keputusan.

Begitu dihadapkan dengan Kwee Siong, Oei Lok Cun lalu menjatuhkan diri berlutut tanpa berani mengangkat mukanya.

Atas pertanyaan Kwee Siong, Oei Lok Cun menjawab bahwa dia adalah seorang bekas pembesar bagian perbendaharaan, mempunyai seorang putera dan tidak ikut mengungsi dengan kaisar karena katanya ia hendak tunduk terhadap pemerintah yang baru.

"Oei Lok Cun!"

Kwee Siong membentak dengan suara keras.

"Kau kini menyatakan hendak tunduk terhadap pemerintahan yang baru, apakah kau tahu siapakah para pemberontak yang kini menggulingkan kaisar?"

"Hamba tahu, hamba tahu!"

Jawab Oei Lok Cun cepat-cepat.

"Yang menggulingkan kaisar adalah Jenderal Li Goan yang gagah perkasa dan adil."

Marahlah Kwee Siong mendengar jawaban ini.

"Bodoh! Tidak terbukalah matamu bahwa Li-goanswe hanya menjadi pemimpin yang terpilih oleh rakyat? Rakyat jelatalah yang menggulingkan pemerintah kaisar lalim. Tahukah kau? Rakyat jelata yang telah lama terinjak-injak dan tercekik yang bangkit menggulingkan kaisar!"

"Betul... betul..."

Kata Oei Lok Cun gagap.

"Hamba tadi lupa, rakyat jelatalah yang gagah berani yang memberontak dan menggulingkan raja lalim!"

Kwee Siong tersenyum menyindir. Manusia yang tak dapat dipercaya, makinya di dalam hati. Anjing penjilat yang berbahaya.

"Hm, sekarang kau menyebut rakyat jelata yang gagah berani? Akan tetapi berapa banyak sudah uang suapan yang kau terima pada waktu rakyat diperas dan dipaksa menjadi pekerja paksa?"

Pucatlah muka Oei Lok Cun mendengar tuduhan ini. Dengan bibir gemetar dan tubuh menggigil, ia berkata.

"Itu... itu... hamba terpaksa..., taijin!"

"Terpaksa bagaimana?"

"Hamba... hamba hanya menurut perintah kaisar... hamba... hamba tidak memakai uang itu... kalau taijin kehendaki, sekarang juga hamba akan kembalikan semua uang itu... sungguh mati, hamba tidak menggunakan uang itu, hamba mau menyerahkan kembali kepada taijin..."

"Tutup mulutmu!"

Kwee Siong membentak marah karena merasa ia akan diberi suapan secara demikian berterang dan tak tahu malu.

"Kau kira aku semacam engkau? Kau bilang bahwa kau sekarang hendak menurut dan tunduk kepada pemerintah baru? Betul-betul kau bersumpah bahwa kau akan membantu kami?"

Gembiralah wajah Oei Lok Cun karena mendapat harapan baru.

"Tentu saja, taijin! Hamba bersumpah untuk membela dan bersetia, hamba suka membantu dengan jiwa raga hamba!"

Hampir saja Kwee Siong tertawa bergelak mendengar omong kosong ini.

"Nah, bagus kalau begitu,"

Katanya menahan senyum.

"Sekarang kaisar telah melarikan diri dan kami membutuhkan tentara untuk mengejar dan menawannya. Kau harus membantu dan berjuang di garis depan, menghadapi tentara penjaga kaisar."

Bukan main terkejutnya Oei Lok Cun mendengar ucapan ini.

"Ampun, taijin! Hamba seorang yang lemah, tak pernah memegang senjata! Biarlah hamba membantu dengan harta benda hamba saja, untuk membeli ransum. Hamba... hamba bersedia berjuang di garis paling belakang saja!"

Habislah kesabaran Kwee Siong. Ia memberi tanda kepada penjaga dan memutuskan.

"Masukkan pengecut dan penjilat ini ke dalam penjara. Hukumannya sepuluh tahun, harta bendanya disita, ditinggalkan sepuluh bagian untuk putera dan keluarganya!"

Oei Lok Cun menangis dan mengeluh panjang pendek ketika ia diseret keluar.

Seorang pembantu Kwee Siong yang duduk di sebelah kiri hakim itu dan yang tergerak hatinya oleh keluh kesah bekas pembesar kerajaan Sui itu memandang kepada Kwee Siong dengan mata memohon penjelasan.

"Orang macam itu,"

Kata Kwee Siong dengan sabar.

"Adalah orang yang amat berbahaya. Dalam keadaan negara aman, ia selalu berusaha untuk mengumpulkan kekayaan, tak perduli dengan jalan korupsi atau memeras rakyat. Kalau negara berada dalam bahaya, ia menyembunyikan diri, dalam persiapan perang ia selalu melepaskan diri mempergunakan uangnya. Kalau peperangan selesai, ia akan gembar gembor menonjolkan diri sebagai pahlawan terbesar dan menuntut jasa. Ia pengecut dan penjilat, berusaha menyuap pembesar atasannya dan mencekik pekerja bawahannya."

Penjelasan ini membuat semua orang menahan napas karena kagum dan takut.

Kalau ada di antara para pembantu itu yang bercita-cita seburuk kelakuan Oei Lok Cun, akan lenyaplah cita-cita itu bagaikan asap tertiup angin.

Demikianlah, Kwee Siong memeriksa semua tawanan dan pesakitan dengan caranya sendiri, penuh kebijaksanaan, kewaspadaan, dan keadilan.

Banyak yang dibebaskan, ada pula yang dihukum mati atau dihukum sampai bertahun-tahun.

Ketika tiba giliran dua orang pesakitan wanita yang di dalam laporan disebut sebagai Toat-beng Mo-li dan Cialing Mo-li, ia mengerutkan keningnya.

Disangkanya bahwa kedua orang wanita itu tentulah perampok-perampok jahat yang mempergunakan kesempatan dalam peperangan itu untuk melakukan kejahatan, Akan tetapi ketika ia membaca laporan itu mendapat kenyataan bahwa dua orang wanita itu menyerang dan melukai Jenderal Li Goan, ia menjadi terkejut sekali.

"Bawa ke sini seorang demi seorang!"

Perintahnya.

Tak lama kemudian dari luar terdengar suara ribut-ribut dan seorang gadis muda yang cantik jelita diseret masuk.

Gadis ini adalah Ling Ling yang diikat kedua kaki tangannya akan tetapi gadis itu masih berusaha meronta-ronta.

Kalau saja ia tidak dalam keadaan tertotok maka ia akan dapat membuat tali-tali yang mengikat kaki tangannya itu akan putus semua.

"Hati-hatilah, jahanam-jahanam biadab!"

Desisnya dengan suaranya yang merdu dan nyaring sekali.

"Kalau aku dapat bebas, aku akan patahkan lehermu seorang demi seorang."

Ketika ia diseret di depan Kwee Siong, Ling Ling berdiri tegak dan memandang kepada pembesar ini dengan mata tajam dan penuh kebencian.

Akan tetapi Kwee Siong memandangnya dengan senyum ramah dan pandang mata lembut, sehingga Ling Ling merasa heran dan juga jengah.

Dengan heran ia merasa betapa kemarahannya mencair menghadapi wajah pembesar yang bermata tajam dan bermuka ramah itu.

Pada saat itu, seorang perwira datang dan menyerahkan sepucuk surat kepada Kwee Siong.

Ketika Kwee Siong membaca surat itu, ternyata itu adalah surat dari Li Goan yang minta agar supaya Kwee Siong menyelidiki keadaan kedua orang wanita yang mengamuk itu dengan seksama dan teliti.

Dalam suratnya ini, Li Goan menceritakan betapa di dalam perjalanannya menyerbu kota raja, kedua orang wanita itu telah membantunya mati-matian dan jasa mereka amat besar.

"Nona, siapakah namamu?"

Tanyanya setelah membaca surat itu.

"Perlu apa bertanya lagi. Aku disebut Iblis Wanita dan aku sudah kalah karena keroyokan yang pengecut sekali. Aku sudah tertangkap, mau bunuh boleh bunuh, buat apa banyak tanya?"

"Kau gagah berani sekali, nona. Sayang sekali seorang gadis yang masih muda seperti kau, seorang yang masih banyak harapan di hari depan, yang seharusnya menjadi seorang calon ibu yang bijaksana, seorang berkepandaian tinggi yang seharusnya menjadi pejuang yang amat dibutuhkan oleh rakyat, kau ternyata telah tersesat sedemikian jauhnya. Sungguh sayang sekali kau menerima pelajaran ilmu kepandaian setinggi itu, kalau hanya kau pergunakan untuk membunuh Jenderal Li Goan, pemimpin besar dari rakyat jelata!"

Kata-kata pertama yang dikeluarkan oleh Kwee Siong mengharukan hati Ling Ling sehingga hampir saja ia mengeluarkan air matanya.

Akan tetapi ucapan terakhir itu memanaskan hatinya sehingga ia menjawab marah.

"Kau ini siapakah maka berani bicara tentang kegagahan? Siapa yang tersesat? Aku selamanya membela rakyat dan membenci kaisar lalim dan pembesar terkutuk. Aku mengamuk dan membunuh perajurit-perajuritmu karena mereka merampok dan menculik wanita!"

Kwee Siong tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Aku sudah tahu, nona. Aku sudah tahu pula betapa kau dan kawanmu yang seorang lagi telah membantu perjuangan Jenderal Li Goan. Akan tetapi, mengapa kau tiba-tiba menyerang Jenderal Li Goan? Mengapa kau dan kawanmu tiba-tiba berbalik pikiran dan berusaha mati-matian untuk membunuhnya?"

"Karena ia musuh besar Kam Kok Han! Karena dia yang memegang Oei Hong Kiam!"

"Apa maksudmu?"

Tanya Kwee Siong dengan heran sekali.

"Tak perlu aku banyak bicara. Pendeknya siapa saja yang menjadi ahli waris pedang Oei Hong Kiam, orang itu harus kubunuh!"

Tertarik sekali hati Kwee Siong mendengar ini.

Ia sudah hampir dapat membuka tabir rahasia tentang penyerangan itu.

Ia mendesak dan membujuk, akan tetapi benar saja, Ling Ling tidak mau menjawab lagi.

Ia tidak mau membuka rahasia Bu Lam Nio, dan hanya menyatakan bahwa ia harus membunuh Jenderal Li Goan, karena jenderal itu membawa pedang Oei Hong Kiam.

Kwee Siong menjadi kewalahan menghadapi gadis yang keras kepala ini.

"Bawa yang seorang lagi ke sini!"

Perintahnya kepada penjaga.

Berbeda dengan Ling Ling, Sui Giok masuk ke dalam ruangan itu dengan patuh dan tidak banyak memberontak.

Ketika ia dihadapkan kepada Kwee Siong, Sui Giok mengangkat mukanya dan memandang, juga Kwee Siong memandang tajam.

Dan...

keduanya menjadi pucat sekali.

Baik Sui Giok maupun Kwee Siong seakan-akan melihat setan di siang hari, mata mereka terbelalak, mulut celangap, bibir gemetar dan tubuh menggigil.

"Siapa namamu?"

Tanya Kwee Siong menahan getaran hatinya, akan tetapi tetap saja suaranya terdengar parau dan menggigil sehingga semua orang memandangnya dengan khawatir.

"Hamba bernama Liem Sui Giok, taijin..."

Menjawab Sui Giok sambil menundukkan mukanya untuk menahan keluarnya air mata dari sepasang matanya.

Ling Ling hampir saja berteriak saking herannya melihat sikap ibunya ini.

Belum pernah ia melihat ibunya bersikap demikian lemah lembut dan tunduk.

"Dan... dan ini... ini anakmu...?"

Wajah Kwee Siong makin pucat dan suaranya makin perlahan.

"Betul, inilah Ling Ling, puteri hamba..."

Terdengar teriakan keras dan ributlah semua orang di situ melihat betapa Kwee Siong roboh pingsan di atas bangkunya dengan kepala terkulai di atas meja.

Dan yang amat mengherankan hati Ling Ling, ibunya berlutut sambil menundukkan muka dan menangis.

Dalam keadaan ribut-ribut, ibu dan anak ini dibawa kembali ke kamar tahanan, sedangkan Kwee Siong lalu digotong masuk ke dalam istana.

Ia pingsan sampai lama sekali dan ketika siuman, ia menderita demam panas yang hebat.

Ia menderita pukulan batin yang hebat sekali ketika ia melihat isteri dan puterinya telah menjadi orang-orang yang disebut siluman-siluman wanita.

Begitu siuman, ia berteriak-teriak dan kemudian jatuh pingsan lagi.

Jenderal Li Goan cepat mencari ahli obat untuk memeriksanya dan memberinya obat.

Semua orang berpendapat bahwa Kwee Siong terlampau lemah dan setelah ikut dalam peperangan yang melelahkan, sekarang kelelahan membuatnya jatuh sakit berat.

Malam hari itu, Sian Lun dipanggil oleh Jenderal Li Goan.

"Kau pergilah ke tempat tahanan dan sedapat mungkin lanjutkan pemeriksaan pamanmu (Kwee Siong) atas diri dua orang wanita itu. Coba kau tanya dengan jelas, mengapa mereka itu membenci orang yang memegang pedang Peihk ini!"

Jenderal ini sudah mendengar tentang hasil pemeriksaan itu dan hatinya ingin tahu sekali. Kemudian Jenderal Li Goan lalu berpesan kepada Sian Lun agar supaya membebaskan kedua orang itu.

"Mengaku atau tidak, kau harus bebaskan mereka. Biarlah mereka datang lagi kalau masih penasaran hendak membunuhku!"

Jenderal ini tertawa.

"Aku sudah siap menantinya."

Demikianlah, malam hari itu sambil membawa surat perintah, Sian Lun menuju ke tempat tahanan.

Sebelum ia tiba di tempat itu, Ling Ling dan ibunya bicara dengan asyik sekali.

Berkali-kali Ling Ling membujuk ibunya agar suka menceritakan sikapnya yang aneh tadi, akan tetapi ibunya hanya menarik napas panjang.

"Tidak ada apa-apa, anakku, hanya bahwa dahulu aku pernah berkenalan dengan pembesar itu. Dia adalah kawan baik ayahmu dan... agaknya ia terharu melihat keadaan kita. Sudahlah, tak perlu kau tahu lebih banyak akan hal ini dan tak perlu pula kau bicara dengan siapapun juga. Biar aku yang akan menyelesaikan sendiri urusan ini apabila dia sudah dapat memeriksa lagi."

Ling Ling tak dapat mendesak ibunya yang nampak sedih dan selalu menangis itu.

Dan pada saat itu, Sian Lun telah memperlihatkan surat kuasa kepada kepala penjaga, karena tanpa adanya surat kuasa dari Jenderal Li Goan, biarpun Sian Lun cukup dikenal sebagai panglima muda, tak mungkin ia diperkenankan masuk untuk bercakap-cakap dengan para tawanan.

Demikianlah disiplin yang amat baik dan keras dari Jenderal Li Goan.

Ketika melihat ada orang berjalan mendekati kamar tahanan mereka, Sui Giok menghentikan tangisnya dan Ling Ling memandang dengan marah ketika melihat bahwa yang datang adalah pemuda lihai yang kemarin bertempur dengan dia.

"Mau apa kau datang?"

Ia menegur dengan marah sekali dan seluruh mukanya berobah merah.

Akan tetapi Sian Lun ketika melihat betapa kedua orang itu dibelenggu dan keadaan mereka masih lemah bekas totokannya dan totokan jenderal Li Goan, merasa amat kasihan.

Ia cepat membuka pintu kamar tahanan itu dan membuka pula belenggu kaki tangan mereka.

Bahkan tanpa ragu-ragu lagi ia lalu membuka totokan dengan menepuk dan menotok kedua pundak gadis dan ibunya itu.

Sesungguhnya totokan yang kemarin dilakukan olehnya dan oleh jenderal Li Goan telah lenyap pengaruhnya dalam waktu seperempat hari saja, akan tetapi kalau lenyapnya bukan karena dibuka dengan totokan lain, pengaruhnya masih ada dan masih membuat tubuh terasa lemas.

Bukan main herannya hati Ling Ling dan Sui Giok ketika mereka melihat perbuatan pemuda bekas lawan ini.

Lebih-lebih lagi rasa heran mereka ketika Sian Lun mengeluarkan dua batang pedang dari dalam mantelnya, yakni pedang Ling Ling dan pedang Sui Giok yang kemaren telah dirampas.

"Apa maksudmu dengan semua ini?"

Tanya Ling Ling masih ketus dan galak.

"Apakah kau hendak menyombongkan keberanianmu dan menantangku melanjutkan pertempuran kita satu lawan satu tanpa adanya pengeroyokan yang pengecut?"

Sambil berkata demikian, gadis ini sudah siap dan mencabut pedangnya. Akan tetapi ia dicegah oleh ibunya yang segera bertanya kepada Sian Lun.

"Orang muda, sesungguhnya mengapa kau melepaskan kami? Apakah kehendakmu?"

"Aku diperintah oleh Jenderal Li Goan untuk melepaskan kalian karena beliau menganggap kalian telah membantu perjuangan dan berjasa kepadanya."

Ucapan ini benar-benar di luar persangkaan kedua anak dan ibu itu.

Tadinya mereka mengira bahwa Sian Lun sendiri yang mempunyai maksud menolong mereka, akan tetapi Jenderal Li Goan?

Bukankah mereka telah menyerang dan hendak membunuhnya, bahkan Ling Ling telah berhasil melukai pundaknya?

Sian Lun dapat menduga apa yang mereka pikirkan, maka ia lalu berkata lagi.

"Sesungguhnya, Jenderal Li Goan merasa amat penasaran mengapa kalian hendak membunuhnya hanya karena kebetulan sekali ia memegang pedang Oei Hong Kiam. Padahal, ia memiliki pedang itu adalah atas pemberianku!"

Mendengar ucapan ini, baik Ling Ling maupun Sui Giok melompat bangun dan memandang kepada Sian Lun dengan mata tajam mengancam.

"Jadi tadinya pedang itu adalah milikmu??"

Tanya Sui Giok yang tiba-tiba berobah suaranya menjadi keren sekali sehingga Sian Lun merasa amat terkejut. Kemudian...

"Memang Jenderal Li menerima pedang itu dariku,"

Kata pula Sian Lun sambil memandang tajam.

"Kalau begitu kau harus mampus ditanganku!"

Seru Ling Ling dan ibunya hampir berbareng. Sian Lun makin terkejut dan cepat-cepat ia mengangkat kedua tangannya.

"Harap sabar dulu toanio, dan kau juga nona. Pedang itu bukanlah pedang yang kuwarisi dari nenek moyangku. Aku hanya kebetulan saja mendapatkan pedang itu!"

Sui Giok menunda serangannya dan memandang tajam penuh perhatian.

"Coba kau ceritakan bagaimana kau mendapatkan pedang itu? Siapa pemiliknya sebelum terjatuh ke dalam tanganmu?"

Melihat ketegangan pada muka kedua orang wanita itu, Sian Lun dapat menduga bahwa pedang Oei Hong Kiam itu tentu mempunyai riwayat yang hebat sekali.

Dengan singkat ia lalu menuturkan betapa ia mendapatkan pedang itu dari tangan seorang Panglima lawan, yakni Jenderal Kwan Sun Giok yang menjadi murid dari Liang Hoat Cinjin.

Mendengar penuturan ini, Sui Giok menarik napas panjang dan berkata kepada Ling Ling.

"Ah, mengapa buruk benar nasib kita? Jenderal Li Goan yang gagah perkasa hampir saja kita bunuh karena kecerobohanku. Anak muda, tolong kau sampaikan pernyataan maafku kepada Jenderal Li Goan, dan juga terima kasih kami bahwa dia telah begitu baik hati untuk melepaskan kembali kami, ibu dan anak yang berdosa."

Bangga hati Sian Lun mendengar ucapan ini dan pemuda yang tadinya merasa gelisah ini, kini dapat tersenyum kembali. Dengan mata berseri, ia memandang kepada Ling Ling dan ibunya lalu berkata.

"Jenderal Li Goan adalah seorang pemimpin besar yang bijaksana. Kalau saja jiwi sudi bertemu dengan dia dan menyatakan hendak bekerja sama menggulingkan kaisar lalim yang kini masih belum tewas, tentu dia akan menerima dengan kedua tangan terbuka."

Sui Giok menggelengkan kepalanya.

"Kami bukanlah orang-orang yang haus akan kedudukan dan pangkat."

"Betapapun juga, kaisar lalim itu akhirnya pasti akan mampus di ujung pedangku!"

Ling Ling menyambung kata-kata penolakan ibunya.

"Orang muda, sebelum kami pergi, dapatkah kau menerangkan padaku, siapakah gerangan hakim yang memeriksa kami siang tadi?"

Sian Lun tersenyum gembira ketika menjawab.

"Ah, dia? Dia adalah pamanku sendiri, bernama Kwee Siong, orang termulia di atas dunia ini!"

Wajah Sui Giok menjadi pucat sekali dan bibirnya gemetar. Untuk menyembunyikan kebingungan dan keharuan hatinya, ia berkata gagap.

"Jadi kau keponakannya, bukan anaknya...?"

Pertanyaan ini sebetulnya merupakan ucapan penutup keharuannya, asal keluar saja, akan tetapi dijawab oleh Sian Lun yang tidak menduga sesuatu.

"Bukan toanio. Aku bukan anaknya. Pamanku Kwee hanya mempunyai seorang putera yang bernama Kwee Cun, baru delapan tahun usianya."

Belum habis pemuda itu mengeluarkan ucapan ini, Sui Giok telah memegang tangan Ling Ling dan menariknya keluar.

"Hayo kita pergi!"

Tentu saja Sian Lun menjadi heran sekali.

Akan tetapi ketika ia menyusul keluar, ibu dan anak yang aneh itu telah lenyap ditelan malam gelap.

Terpaksa ia kembali ke tempat tinggal Kwee Siong dengan hati menduga-duga.

Adapun Ling Ling yang semenjak kecil belum diberitahu oleh ibunya akan nama ayahnya, juga sama sekali tidak pernah mengira bahwa hakim itu adalah ayahnya sendiri.

Tadinya Sui Giok menanti dengan hati penuh harapan ketika ia melihat betapa hakim itu adalah suaminya sendiri, akan tetapi dapat dibayangkan betapa hancur hatinya ketika mendengar dari Sian Lun bahwa suaminya yang kini telah menduduki pangkat tinggi itu ternyata telah menikah lagi dan telah mempunyai seorang putera.

Ia menyembunyikan hal ini dari Ling Ling, karena ia maklum akan kekerasan hati puterinya ini.

Ia tidak dapat menyalahkan pernikahan suaminya itu, karena sebagai seorang bijaksana, Sui Giok dapat mempertimbangkan keadaan suaminya yang tadinya seakan-akan menghidupkan jiwanya yang telah mati, kini api harapan itu padam lagi dan membuat ia merasa betapa kosongnya dunia ini.

Sementara itu, ketika siuman kembali dari pingsannya, Kwee Siong memandang ke kanan kiri, kemudian terdengar ia mengeluh.

"Mana... mana mereka...??"

Bisiknya berkali-kali dengan tubuh terasa panas bagaikan dibakar. Seorang tinggi besar mendekatinya dan memegang tangannya.

"Saudara Kwee, kau kenapakah?"

Suara ini halus sekali sungguhpun terdengar besar dan dalam. Kwee Siong memandang kepada wajah Jenderal Li Goan, dan tiba-tiba ia bangun dan duduk.

"Goanswe... tolonglah... keluarkan mereka. Ah, mereka itu adalah isteriku dan puteriku! Sui Giok... isteriku ternyata masih hidup dengan anaknya... anakku... Ling Ling!"

Tentu saja Li Goan menjadi terharu dan menggeleng-gelengkan kepala, mengira bahwa hakim ini telah menjadi kacau pikirannya karena terserang demam.

"Beristirahatlah, saudara Kwee, kau terserang penyakit panas. Mungkin kau terlalu lelah,"

Katanya lemah lembut sambil mendorong perlahan pundak Kwee Siong supaya berbaring lagi. Akan tetapi, dengan mata terbelalak Kwee Siong memegang tangannya dan berkata.

"Tidak, Goanswe, tidak! Dua orang wanita itu... yang katanya menyerangmu, mereka itu benar-benar isteri dan puteriku yang kukira tewas belasan tahun yang lalu!"

Barulah Jenderal Li Goan terkejut mendengar ucapan ini.

Ia lalu duduk di pinggir pembaringan Kwee Siong yang menceritakan riwayatnya ketika ia dibawa pergi oleh pasukan pengumpul tenaga rakyat untuk dipaksa bekerja.

Ia menuturkan pula bahwa telah beberapa kali ia menyuruh orang menyelidiki keadaan isteri dan anaknya, dan mendengar bahwa mereka itu tidak kelihatan bekas-bekasnya lagi, kemungkinan besar sudah tewas di dalam hutan.

"Dan sekarang mereka muncul... mereka berada di sini! Ah, tolonglah Goanswe, bebaskan mereka, biar mereka datang ke sini!"

Li Goan terkejut sekali dan cepat ia pergi keluar untuk memberi kabar kepada Sian Lun.

Akan tetapi ia mendengar dari pemuda ini bahwa kedua ibu dan anak itu telah pergi, entah ke mana.

Pemuda ini menuturkan pengalamannya dan dengan wajah lesu jenderal ini lalu masuk kembali ke kamar di mana Kwee Siong berbaring dengan penuh harapan.

Alangkah terkejut dan menyesalnya hati Kwee Siong ketika ia mendengar Li Goan berkata.

"Mereka sudah pergi, agaknya isterimu tidak mau bertemu dengan kau."

Ia lalu menuturkan kembali apa yang ia dengar dari Sian Lun tadi. Kwee Siong menutup mukanya dengan kedua tangan dan ia menangis terisak-isak seperti anak kecil.

"Ah, Sui Giok... Sui Giok... tentu kau marah dan membenciku... aku telah berdosa besar kepadamu! Sui Giok, mengapa kau tidak mau kembali kepadaku...?"

Dalam keadaan sakit keras Kwee Siong lalu diangkat pulang ke rumah sendiri.

Atas permintaannya, peristiwa itu dirahasiakan, hanya Kwee Siong dan Li Goan sendiri yang mengetahuinya.

Bahkan Sian Lun sendiri tidak diberi tahu bahwa ibu dan anak yang menyerang Li Goan itu sebenarnya adalah isteri dan puteri dari Kwee Siong.

Nyonya Kwee Siong dari keluarga Liok adalah seorang yang terpelajar.

Melihat keadaan suaminya dan mendengar betapa di dalam sakitnya, suaminya mengingau dan memanggil-manggil nama Sui Giok, ia menjadi curiga.

Ia telah diberitahu oleh suaminya bahwa suaminya dulu pernah menikah dengan orang yang bernama Sui Giok dan yang dikabarkan telah tewas, maka ketika ia melihat suaminya sudah menjadi agak sembuh, dengan halus ia mendesak dan membujuk kepada Kwee Siong untuk menceritakan keadaannya.

Kwee Siong maklum akan kebaikan hati isterinya, maka ia lalu berterus terang, menceritakan apa yang telah terjadi.

Nyonya Kwee menjadi sangat terharu dan dengan setulus hatinya ia mengucurkan air mata.

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 3

Baca Juga: Istana Pulau Es 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert