Ceritasilat Novel Online

Wanita Iblis Pencabut Nyawa 4

Eps 4 Wanita Iblis Pencabut Nyawa - Kho Ping Hoo

Baca online Wanita Iblis Pencabut Nyawa - Kho Ping Hoo

Cersil Wanita Iblis Pencabut Nyawa - Kho Ping Hoo.

"Aduh, kasihan sekali mereka! Suamiku, mengapa pada saat kau bertemu dengan mereka, kau tidak mengajak mereka pulang ke sini? Mereka berhak duduk di sampingmu dan hidup bersama kita serumah. Dia adalah ibu dari anakmu yang sulung dan aku adalah ibu dari anakmu yang bungsu. Kami dapat menjadi enci-adik dan hidup rukun di sini."

Kwee Siong menghela napas berulang berkali dengan penuh kemenyesalan.

"Aku berdosa besar... aku berdosa besar kepada mereka..."

Hanya inilah yang diucapkan berkali-kali dan hatinya penuh dengan pertanyaan bagaimana Sui Giok yang lemah lembut itu kini telah menjelma menjadi seorang pendekar wanita yang memiliki ilmu kepandaian hebat dan mengerikan.

Akan tetapi siapakah dapat menjawab pertanyaan ini?

Puterinya, Ling Ling yang dulu masih berada dalam kandungan Sui Giok ketika mereka terpaksa berpisah, ternyata demikian cantik jelita, demikian gagah berani, ah...

Tiada habisnya penyesalan menggerogoti hati Kwee Siong sehingga dalam beberapa bulan saja rambut kepalanya banyak yang menjadi putih, sikapnya makin pendiam dan seringkali ia duduk melamun.

Sungguhpun ia masih melakukan tugas pekerjaannya seperti biasa, namun ia tak pernah lagi nampak gembira seperti biasa.

Tentu saja isterinya juga ikut menjadi sedih.

Berkali-kali isteri yang bijaksana ini menghiburnya.

"Suamiku, kau tidak berdosa, sama sekali tidak berdosa. Kau bukan sengaja meninggalkan enci Sui Giok, dan kau menikah dengan aku karena mengira bahwa enci Sui Giok sudah meninggal dunia. Nasiblah yang menjadikan enci Sui Giok seperti itu dan yang telah merusakkan kebahagiaan rumah tanggamu bersama enci Sui Giok. Ada ujar-ujar kuno yang menyatakan bahwa perbuatan salah yang dilakukan tanpa disadarinya dan tanpa disengaja bukanlah perbuatan dosa. Lebih baik kita berusaha mencari mereka dan membawa mereka itu ke sini."

Terhibur jugalah jati Kwee Siong oleh ucapan isterinya yang bijaksana ini dan ia mulai menyuruh orang-orangnya untuk mencari di mana adanya ibu dan anak itu.

Jenderal Li Goan ternyata adalah seorang yang tidak saja pandai mainkan senjata dan memimpin barisan, akan tetapi ternyata ia pandai pula menghatur pemerintahan.

Ia mulai mengatur pemerintahan, mengangkat pembesar-pembesar, membagi-bagi tugas dan mulai mengatur pekerjaan, melanjutkan ketatanegaraan dengan adil dan baik.

Disamping ini, ia masih mengerahkan pasukan-pasukannya untuk terus mengejar kaisar dan sisa balatentaranya.

Sementara itu, di mana-mana masih saja berkobar api pemberontakan.

Sebagian besar para pasukan pemberontak yang bergerak menyendiri, dapat dibujuk dan dapat digabungkan dengan barisan di bawah pimpinan Jenderal Li.

Akan tetapi ada pula pemberontak-pemberontak yang mempunyai cita-cita sendiri dan yang bahkan memerangi pasukan Jenderal Li, oleh karena ini dipimpin oleh orang-orang yang sesungguhnya menginginkan kedudukan kaisar.

Oleh karena ini, di mana-mana terjadi pertempuran antara pasukan kaisar melawan para pemberontak dan antara pasukan-pasukan Jenderal Li melawan pemberontak-pemberontak yang tidak mau menggabungkan diri.

Keadaan negara menjadi rusuh sekali, pertempuran kacau balau terjadi di mana-mana.

Kedudukan Kaisar Yang Te makin lemah, sungguhpun kaisar ini masih melakukan perlawanan mati-matian.

Pemberontak-pemberontak yang paling hebat menggempur (Lanjut ke

Jilid 07) Wanita Iblis Pencabut Nyawa/Toat Beng Mo Li (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07 barisan Kaisar Yang Te adalah sepasukan pemberontak baru yang terdiri dari pendeta-pendeta dan anak buah perkumpulan agama Pek-sim-kauw.

Mereka ini berjuang tanpa maksud untuk keuntungan diri sendiri.

Mereka hanya bergerak untuk menumbangkan kekuasaan Kaisar Yang Te yang amat dibenci karena kelalimannya.

Tadinya anggauta-anggauta Pek-sim-kauw ini bangun dan menggabungkan diri dengan para pemberontak setempat, tidak memilih pihak mana dan siapa yang memimpin pemberontakan itu.

Akan tetapi, akhirnya terbuka mata mereka dan yang merasa bahwa barisan pemberontak di mana mereka menggabung diselewengkan pemimpinnya yang memberontak dengan maksud untuk menjadi kaisar, lalu keluar dari pasukan itu.

Akhirnya para anggauta Pek-sim-kauw ini agaknya mendapatkan seorang pemimpin baru dan mereka bersatu merupakan sebuah pasukan Pek-sim-kauw yang luar biasa kuatnya.

Tiap kali terjadi pertempuran antara barisan Pek-sim-kauw melawan barisan pelindung kaisar banyaklah perwira-perwira gagah perkasa dari kaisar yang roboh tewas oleh pasukan yang kuat ini.

Sesungguhnya pasukan Pek-sim-kauw ini tidak seberapa banyak jumlahnya, akan tetapi mereka rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi.

Apalagi pemimpin mereka yang baru, ternyata bahwa pemimpin ini amat tangguh dan tiap kali pasukan Pek-sim-kauw menghadapi perlawanan yang dipimpin oleh seorang perwira lihai selalu pemimpin Pek-sim-kauw inilah yang merobohkan perwira itu.

Siapakah pemimpn Pek-sim-kauw yang lihai ini?

Bukan lain adalah Ling Ling dan ibunya, Sui Giok.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, ibu dan anak ini melarikan diri dari tempat tahanan setelah dilepaskan oleh Sian Lun.

Karena Sui Giok merasa hancur hatinya dan habis binasa pengharapannya ketika mendengar bahwa suaminya yang kini telah menjadi seorang pembesar tinggi ternyata telah menikah lagi dan telah mempunyai seorang putera.

Kalau dulu di dalam setiap tindakan, Sui Giok selalu menjadi kemudi dan selalu mencegah puterinya berlaku ganas, adalah kini nyonya mempunyai sepak terjang mengerikan sekali.

Di dalam setiap pertempuran, Sui Giok mengamuk bagaikan kerbau luka, menghancurkan tentara musuh yang berani menghadapinya.

Ia berlaku nekad dan tidak memperdulikan lagi bahaya yang mengancamnya, seakan-akan ia tidak perduli lagi akan hidup matinya.

Memang nyonya ini telah putus harapan dan di dalam dadanya terdapat kedukaan besar sekali yang selalu disembunyikan dari mata orang lain, bahkan dari mata puterinya sendiri.

Ling Ling dan Sui Giok diangkat menjadi pemimpin oleh pasukan Pek-sim-kauw, ketika pada suatu hari serombongan pendeta Pek-sim-kauw terdiri dari belasan orang telah dikurung oleh sepasukan tentara kaisar di dalam sebuah hutan.

Belasan pendeta Pek-sim-kauw ini melawan mati-matian, akan tetapi karena pihak lawan amat banyak jumlahnya dan dipimpin oleh lima orang perwira kelas satu, agaknya rombongan pendeta Pek-sim-kauw itu tidak akan menang dan tidak mempunyai jalan keluar pula.

Tiba-tiba terdengar bentakan merdu dan nyaring dan dua bayangan orang yang luar biasa sekali gerakannya menyerbu masuk, mengocar-ngacirkan barisan kaisar ini dan dalam beberapa jurus saja telah berhasil merobohkan lima orang perwira kaisar.

Barisan kaisar menjadi kacau balau dan ketika melihat betapa pemimpin-pemimpin mereka gugur, mereka lalu melarikan diri.

"Toat-beng Mo-li dan Cialing Mo-li!"

Tiba-tiba terdengar seruan heran dan ketika kedua orang wanita yang telah membantu mereka itu menengok, Ling Ling dan Sui Giok mengenal bahwa di antara para pendeta itu, terdapat dua orang pendeta yang mereka kenal baik, yakni Pek Hong Ji dan Pek Thian Ji dua orang di antara Pek-sim Ngo-lojin di Cengtu.

Demikianlah, Ling Ling dan ibunya lalu diangkat menjadi pemimpin mereka dan ketika ditanya, Pek Hong Ji dan adiknya memberitahukan bahwa tiga orang di antara kelima kakek gagah itu, yakni Pek Im Ji, Pek Yang Ji, dan Pek Te Ji, telah gugur di dalam pertempuran-pertempuran yang lalu.

Dengan adanya pasukan Pek-sim-kauw ini, maka para anggauta dan pendeta Pek-sim-kauw yang tersebar di mana-mana lalu datang menggabungkan diri sehingga pasukan ini menjadi makin besar dan kuat.

Pasukan ini bermarkas di dalam sebuah hutan di luar kota Yang-kouw di mana Kaisar Yang Te membangun benteng sebagai tempat pertahanan terakhir.

Memang, karena dikejar-kejar dan sebagian besar barisannya telah dapat dipukul mundur hancur, Kaisar Yang Te dengan para pengikut dan pasukannya yang masih bersetia kepadanya, lalu bersembunyi di dalam kota Yang-kouw.

Sisa-sisa barisan dikumpulkan dan dipusatkan di tempat ini, membuat pertahanan yang cukup kuat.

Beberapa kali pasukan-pasukan pemberontak datang menggempur, akan tetapi pertahanan kaisar ini berhasil memukul mundur barisan penyerang sehingga sampai hampir setahun kaisar itu masih hidup selamat di kota Yang-kouw ini.

Pada suatu hari, ketika Ling Ling dan Sui Giok sedang duduk beristirahat di bawah sebatang pohon pek yang besar, datanglah seorang pendeta Pek-sim-kauw dan setelah dekat, ternyata bahwa yang datang itu adalah pendeta Pek Hong Ji.

Napasnya terengah-engah tanda bahwa pendeta yang sudah tua ini telah berlari-lari dari tempat jauh dalam keadaan yang tegang.

"Ada apakah, totiang?"

Tanya Ling Ling sambil bangun berdiri.

"Siocia, toanio, pertempuran besar telah dimulai! Penyerbuan besar-besaran telah terjadi, dilakukan oleh barisan Jenderal Li dari Tiang-an. Inilah saatnya benteng Yang-kouw dihancurkan."

Seakan-akan menjadi bukti dari laporan pendeta Pek Hong Ji ini, tiba-tiba terdengar sorak sorai yang riuh sekali dari jurusan kota Yang-kouw.

"Bagus, kita harus cepat menyerbu, membantu barisan Jenderal Li!"

Dengan sigap Ling Ling memberi perintah.

"Kumpulkan kawan-kawan kita dan kita menyerbu dari belakang kota. Biarkan barisan Tiang-an yang besar jumlahnya menggempur dari depan dan selagi para tentara kaisar mempertahankan dan mengumpulkan kekuatan di benteng depan, kita menyerbu dari belakang dan memasuki kota!"

Ketika pasukan mereka sudah berkumpul dan hendak berangkat, Sui Giok berkata kepada Ling Ling dan kepada kedua pendeta Pek-sim-kauw, yakni Pek Hong Ji dan Pek Thian Ji.

"Kalau kita sudah berhasil menyerbu masuk, jangan mengganggu kaisar, dia adalah bagianku dan pedang ini yang akan menamatkan riwayatnya!"

Pek Thian Ji tersenyum.

"Aduh, toanio bersemangat benar?! Jangan kuatir, toanio, kami takkan mendahului."

Berangkatlah pasukan istimewa ini keluar dari dalam hutan, berlari dengan cepat sekali tanpa mengeluarkan suara.

Mereka ini rata-rata memiliki ilmu lari cepat yang cukup baik.

Ketika mereka telah keluar dari hutan, suara sorak sorai peperangan makin terdengar ramai.

Ternyata bahwa barisan dari Tiang-an telah mulai menyerbu dan peperangan telah terjadi dengan hebatnya.

Pasukan dari Tiang-an ini mempergunakan anak panah yang menghujani tempat-tempat penjagaan di atas tembok benteng, sedangkan dari dalam benteng juga keluar anak panah dan batu dari atas tembok bagaikan hujan.

Ling Ling dan Sui Giok memimpin pasukan mereka ke belakang kota dan menghampiri tembok kota.

Akan tetapi ternyata perhitungan mereka meleset.

Serbuan balatentara dari Tiang-an yang amat besar jumlahnya dan amat kuat itu, membuat kaisar menjadi ketakutan sehingga kaisar ini bersiap-siap untuk lari mengungsi lagi.

Oleh karena itu, ketika pasukan Pek-sim-kauw tiba di luar benteng sebelah belakang dan hendak mendobrak pintu itu, tiba-tiba dari atas tembok yang nampaknya tak terjaga itu turunlah batu-batu dan anak panah bagaikan hujan lebatnya.

Dan selagi mereka menjadi terkejut dan kacau balau serta banyak anak buah yang menjadi korban hujan batu dan anak panah, tiba-tiba pintu benteng terbuka lebar-lebar dan sepasukan perwira istimewa, yakni barisan pelindung kaisar yang berkepandaian tinggi sekali, menerjang dan membabat mereka.

Ling Ling dan Sui Giok menjadi marah sekali.

Dengan nekad kedua ibu dan anak ini lalu menyerbu dan menghadapi keroyokan para perwira dengan gagahnya.

Akan tetapi, para perwira itu benar-benar tangguh sehingga ibu dan anak ini tidak dapat mencegah ketika kaisar dapat melarikan diri dengan sebuah kendaraan, dikawal oleh sepasukan pelindung yang nampak gagah dan kuat.

Ling Ling dan Sui Giok tidak dapat mengejar, karena para pengeroyok mereka amat banyak dan amat tangguh.

Adapun para pendeta Pek-sim-kauw juga sibuk menghadapi serbuan perajurit-perajurit bayangkari.

Sui Giok menjadi sengit sekali.

Ia memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga robohlah seorang lawan, kemudian ia berteriak keras.

"Tahan anjing-anjing ini! Aku hendak mengejar kaisar jahanam itu!"

Ia lalu melompat pergi, mengejar ke arah rombongan kaisar sambil menjerit-jerit.

"Kaisar lalim! Tunggulah pembalasanku! Kau telah menghancurkan hidupku, sekaranglah saatnya aku membalas dendam!!"

Jeritan ini disertai isak tangis sehingga Ling Ling menjadi terharu dan terkejut juga.

Amat berbahayalah kalau ibunya menyerbu rombongan kaisar itu seorang diri.

Ia maklum bahwa di antara rombongan kaisar itu terdapat banyak sekali pelindung yang ilmu silatnya tinggi.

Maka ia lalu menyerbu cepat, merobohkan dua orang pengeroyok dan berkata kepada Pek Hong Ji.

"Totiang, aku hendak menyusul ibu."

Ia lalu melompat cepat, menyusul ibunya.

Alangkah kagetnya ketika akhirnya ia dapat menyusul ibunya yang sedang dikeroyok oleh dua orang perwira yang amat gagah perkasa.

Rombongan kaisar tidak kelihatan lagi, agaknya telah melarikan diri ke atas bukit yang nampak dari situ, dan ibunya telah dilawan oleh dua orang perwira yang berkepandaian tinggi.

"Kaisar jahanam, tunggu ku penggal lehermu!"

Sui Giok masih menjerit-jerit sambil memutar pedangnya.

"Perempuan gila, kau ingin mampus!"

Seru seorang di antara kedua perwira yang mengeroyok dan dengan sebuah sabetan hebat goloknya berhasil merobohkan Sui Giok.

"Ibu...!"

Ling Ling yang tak keburu mencegah peristiwa itu melompat menerjang dengan hebat dan begitu pedangnya berkelebat, ia telah membabat kepala perwira yang bergolok itu bersama goloknya yang juga terbabat putus.

Tanpa dapat mengeluarkan suara, perwira itu roboh dengan kepala pecah.

Ling Ling menjadi marah sekali.

Perwira kedua yang bersenjata tombak hendak lari melihat kehebatan sepak terjang gadis ini, akan tetapi belum sepuluh langkah ia lari, tiba-tiba ia merasa ada sambaran angin dari belakangnya.

Cepat ia membalikkan tubuh dan memutar tombaknya, akan tetapi terdengar suara keras dan tombaknya terbabat putus oleh pedang Pek-hong-kiam di tangan Ling Ling.

Sebuah tusukan dengan gerak tipu Burung Hong Mematuk Jantung dan robohlah perwira bertombak itu dengan dada tertembus pedang.

Dalam kemarahannya, Ling Ling hendak mengejar terus ke atas bukit, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar keluhan ibunya yang memanggil namanya.

Ia cepat menghampiri ibunya dan berlutut lalu memeluk kepala ibunya.

Ternyata bahwa sebelum menerima bacokan golok tadi, Sui Giok telah menderita banyak luka dalam pertempurannya dengan dua orang perwira tadi.

"Ibu...!"

Sui Giok membuka matanya mendengar panggilan anaknya ini dan ia merangkul leher Ling Ling, menarik kepala puterinya itu, mendekat dan menciumi muka anaknya.

Ketika ia melepaskan pelukannya, muka Ling Ling penuh darah, darah yang mengalir keluar dari jidat ibunya.

"Ling Ling... dengarlah, hakim itu... pembesar yang bernama Kwee Siong, hakim yang memeriksa kita itu... dia adalah suamiku, dia adalah ayahmu!"

"Ibu..."

"Dia benar ayahmu, Ling Ling, ayahmu yang dulu dipaksa berpisah dariku, sewaktu kau masih dalam kandunganku... sekarang dia telah menjadi pembesar tinggi..."

Wajah Sui Giok berseri sebentar.

"Dan... dia sudah menikah lagi, sudah berputera..."

"Aku hendak mencari dan membunuhnya, ibu! Dia telah menyakiti hatimu!"

"Jangan, Ling Ling, dia ayahmu..."

"Aku tidak perduli! Kalau dia ayahku, mengapa dia melupakan ibu? Mengapa dia kawin lagi dan membiarkan ibu hidup sengsara? Aku harus membunuhnya!"

Wajah Sui Giok yang sudah pucat itu menjadi makin pucat. Inilah yang ia takutkan selama ini.

"Ling Ling, dengar... aku terluka parah dan takkan lama lagi hidup..."

"Ibu, jangan kau berkata demikian. Akan kubawa kau kepada Pek Hong Ji Totiang. Dia bisa mengobatimu."

Ling Ling mengangkat tubuh ibunya, memondongnya dan hendak membawanya kembali ke tempat pertempuran tadi, di luar pintu belakang benteng.

"Ling Ling... aku tak kuat lagi, nak... perhatikanlah kata-kataku terakhir. Jangan kau membunuh ayahmu, dia tidak bersalah. Dia mengira aku telah mati, Ling-ji, bersumpahlah bahwa kau takkan membunuh ayahmu! Yang berdosa dan bersalah besar adalah kaisar..."

"Aku akan bunuh mereka... akan kubunuh mereka semua..."

Kata Ling Ling bagaikan mabok sambil membawa lari tubuh ibunya.

"Ling-ji..."

Suara ibunya melemah dan tiba-tiba bagaikan tersentak kaget, Ling Ling menahan kakinya dan berdiri bagaikan patung.

Ia memandang ke depan, tidak berani memandang kepada ibunya, akan tetapi wajahnya menjadi pucat sekali.

Ia merasa betapa di dalam pondongannya, tubuh ibunya menegang sebentar lalu tiba-tiba menjadi lemas dan dingin...!

"Ibu..."

Bisiknya perlahan tanpa berani memandang ke bawah.

"Ibu...!"

Panggilannya mengeras. Tiada jawaban.

"Ibu...!!"

Kini ia memandang kepada wajah ibunya yang masih berada di dalam pondongannya.

Mata Ling Ling terbelalak, wajahnya makin pucat sekali, kedua kakinya menggigil sehingga ia jatuh berlutut dengan tubuh ibunya masih dipondongnya.

Ibu...!!!"

Ia menjerit keras sambil memeluk tubuh ibunya yang sudah menjadi mayat.

"Ibu, bicaralah, bukalah matamu, ibu..."

Bagaikan gila, Ling Ling membuka-buka pelupuk mata ibunya yang sudah tertutup, melihat betapa bola mata ibunya diam tak bergerak, menciumi mulut dan mata ibunya, memohon supaya ibunya hidup kembali.

Akhirnya gadis yang malang ini roboh pingsan sambil memeluk tubuh ibunya.

Ketika siuman kembali, ternyata Ling Ling telah ditolong Pek Hong Ji dan kawan-kawannya.

Dengan penuh penghormatan jenazah Sui Giok lalu dikubur, diiringi tangis dan ratap Ling Ling yang memilukan.

Dari Pek Hong Ji, Ling Ling mendengar betapa kota Yang-kouw telah terjatuh ke dalam tangan balatentara Jenderal Li Goan dan bahwa pasukan-pasukan kaisar telah dapat dihancurkan.

"Yang memimpin pasukan dari Tiang-an itu bukan lain adalah sute kami yang gagah perkasa!"

Pek Hong Ji menuturkan kepada Ling Ling dengan bangga.

"Memang benar-benar hebat sepak terjang sute kami Liem Sian Lun itu. Kegagahannya dapat disamakan dengan kau siocia."

Akan tetapi Ling Ling tidak tertarik. Di dalam kesedihannya ditinggal mati ibunya, yang teringat olehnya hanya balas dendam saja.

"Kumpulkan kawan-kawan, sekarang juga kita menyerbu ke bukit itu, menghabiskan sisa-sisa pengikut kaisar dan membunuh kaisar jahanam itu."

"Nona, kawan-kawan sudah lelah dan menurut Liem-sute, sudah disiapkan pasukan istimewa untuk menyerbu naik ke bukit dan menawan kaisar!"

Ling Ling memandang marah.

"Begitukah? Kalau demikian, biarlah aku sendiri naik ke atas dan melakukan penangkapan sendiri!"

Terpaksa Pek Hong Ji lalu menjawab.

"Baiklah, baiklah, tentu saja kami menurut perintahmu."

Maka dikumpulkanlah pasukan Pek-sim-kauw yang masih ada tiga puluh orang lebih jumlahnya itu dan menyerbulah mereka ke atas bukit.

Benar seperti yang dikatakan Pek Hong Ji, dari lain jurusan yakni dari jurusan kota Yang-kouw, nampak barisan yang panjang sedang menuju ke bukit di mana Kaisar Yang Te mengungsi.

"Cepat, jangan sampai terdahului oleh mereka!"

Ling Ling memberi perintah dan mereka bergerak lebih cepat lagi untuk mendahului barisan yang dipimpin oleh Liem Sian Lun.

Sementara itu, Liem Sian Lun yang memimpin pasukannya, juga melihat pasukan Pek-sim-kauw ini menaiki bukit.

Ia telah mendengar dari Pek Hong Ji bahwa pasukan itu dipimpin oleh Toat-beng Mo-li, wanita yang dicari-cari oleh pamannya, Kwee Siong itu.

Ia tidak tahu mengapa pamannya mencari mereka, akan tetapi hatinya merasa gembira ketika mendengar bahwa dua orang wanita itu ternyata membantu perjuangan menumbangkan kekuasaan kaisar.

Kini melihat pasukan Pek-sim-kauw mempercepat gerakannya, iapun lalu memberi aba-aba kepada pasukannya untuk bergerak lebih cepat lagi.

Maka bergeraklah dua pasukan itu dari lain jurusan, bercepat-cepat dan agaknya berlomba untuk dulu mendului menerjang pertahanan akhir dari kaisar di puncak bukit itu.

Bukan main sibuknya barisan pengawal kaisar menghadapi serbuan dua pasukan musuh ini.

Betapapun juga, barisan pengawal terakhir ini adalah barisan terkuat, yang terdiri dari pada pengawal-pengawal yang setia dan gagah berani.

Mereka melakukan perlawanan hebat sehingga tidak mudahlah bagi pasukan-pasukan penyerbu untuk membobolkannya.

Pertempuran hebat terjadi, di mana dari dua pihak jatuh korban-korban yang banyak sekali.

Di dalam kehebatan pertempuran ini, Ling Ling lalu memisahkan diri dan dengan cepatnya ia lalu mendaki bukit itu, menuju perkemahan kaisar yang berada di pinggir sebuah anak sungai.

Keadaan di puncak bukit itu indah sekali.

Ketika Ling Ling sudah tiba di atas, ia sendiri terpesona oleh keindahan pemandangan alam di tempat itu.

Suara pertempuran di lereng bukit hanya terdengar samar-samar saja dan keadaan di situ amat sunyi dan indah.

Burung-burung berkicau, mengiringi desiran anak sungai, kadang-kadang dihembus angin gunung yang membuat daun-daun dan kembang-kembang menari-nari.

Perkemahan yang dibuat di situ amat banyaknya.

Adapun kemah di mana kaisar berada merupakan kemah terbesar dengan bendera naga terpancang di atasnya.

Di situ nampak kosong dan sunyi, karena para penjaga semua dikerahkan ke lereng bukit untuk membendung serbuan para musuh.

Akan tetapi, ketika Ling Ling hendak menyerbu ke dalam kemah kaisar itu, tiba-tiba muncul lima orang perwira dengan pedang di tangan.

Lima orang ini adalah pengawal pribadi kaisar.

Mereka adalah lima orang siwi (pengawal kaisar) yang berkepandaian tinggi, karena tingkat kepandaian mereka bahkan masih sedikit lebih tinggi dari pada kepandaian perwira-perwira kelas satu dari kerajaan.

Mereka inilah yang menjadi perisai kaisar dan untuk dapat menawan atau membunuh kaisar, orang harus dapat merobohkan mereka terlebih dulu.

Bagaikan patung-patung batu, kelima orang siwi itu berdiri dengan pedang di tangan, menghadang di depan kemah dengan mata memandang penuh kemarahan.

"Nona, sekarang bukan waktunya bersenang-senang. Kalau kau hendak mencumbu Hong-siang, lebih baik mencari kesempatan lain waktu,"

Kata seorang di antara mereka dengan senyum sindir.

"Keparat jahanam! Aku datang untuk memenggal leher kaisar lalim!"

"Oho, mudah benar kau membuka mulut!"

Seru siwi kedua. Akan tetapi Ling Ling tidak mau banyak bicara lagi, pedang Pek-hong-kiam diputar cepat dan berobah menjadi segunduk sinar putih yang menerjang kelima orang siwi itu.

"Bagus, kau dapat juga mainkan pedang!"

Seru seorang siwi dan kelimanya lalu menyambut serbuan Ling Ling.

Gadis ini harus mengakui ketangguhan para lawannya, karena tangkisan pedang mereka membuat pedangnya terpental kembali, sedangkan kelimanya ternyata juga memiliki pedang pusaka yang kuat sekali.

Pertempuran terjadilah dengan hebatnya di tempat sunyi itu.

Dan betapapun Ling Ling mengerahkan tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya, namun sukar sekali baginya untuk merobohkan seorang di antara kelima pengeroyoknya.

Ilmu pedang para siwi itu amat kuatnya, karena mereka ini adalah murid-murid dari Bu-tong-pai yang sudah menamatkan pelajaran ilmu pedang Bu-tong-kiam-hoat.

Kalau saja mereka tidak maju berlima, agaknya Ling Ling masih akan dapat menang, karena sesungguhnya ilmu pedang Ling Ling yang luar biasa, yakni Kim-gan-liong-kiam-sut, masih lebih menang dan unggul daripada ilmu pedang Bu-tong-kiam-hoat.

Akan tetapi dengan majunya lima orang yang ilmu kepandaiannya setingkat ini, mereka merupakan lawan yang amat tangguh.

Mereka dapat bermain pedang dengan saling membela dan saling melindungi, dan melakukan serangan pembalasan yang tak kalah berbahayanya.

Ditambah lagi oleh kelelahannya, Ling Ling mulai terdesak dan terkurung hebat.

Akhirnya ia bermain pedang sambil mundur.

Selalu menangkis dan harus mempergunakan ginkangnya untuk menghindarkan diri dari bahaya maut yang disebarkan oleh pedang-pedang lawannya.

Ia menjadi marah dan penasaran sekali, Hanya keteguhan hati dan ketabahannya yang luar biasa saja membuat Ling Ling masih kuat bertahan selama itu.

Pertempuran telah berjalan hampir seratus jurus, namun tetap saja kelima orang siwi itu tidak mampu merobohkan gadis pendekar ini.

Bukan main kagum dan penasaran rasa hati para siwi ini.

Mereka telah berlatih hebat, dan ilmu silat mereka untuk di kotaraja, telah amat terkenal dan sukar dicari tandingannya.

Setelah melalui ujian yang amat berat dan mengalahkan banyak calon-calon, barulah mereka diterima sebagai yang terkuat dan diangkat menjadi pengawal-pengawal pribadi kaisar.

Akan tetapi sekarang, menghadapi seorang gadis muda saja mereka tidak berdaya merobohkannya.

Sungguh memalukan sekali.

"Kurang ajar!"

Seru seorang siwi yang berjenggot panjang.

"Rasakan hui-to (golok terbang) mautku!"

Setelah berseru demikian, ia melemparkan tiga batang golok kecil yang melayang cepat sekali ke arah tubuh gadis itu.

Hui-to ini benar-benar berbahaya sekali karena selain cepat sekali datangnya, juga mengeluarkan bunyi melengking yang dapat mengacaukan semangat lawan.

Tiga batang hui-to ini menyambar ke arah leher, dada, dan pusar Ling Ling.

Dan pada saat itu, empat orang siwi lain sedang menyerang Ling Ling dari kanan kiri.

Agaknya tidak ada jalan keluar lagi bagi gadis ini dan agaknya ia akan menjadi korban sambaran tiga buah hui-to tadi.

Akan tetapi ternyata Ling Ling memiliki ketabahan dan ketenangan yang luar biasa sekali.

Begitu melihat serangan hui-to dari depan dan serangan pedang dari kanan kiri, tiba-tiba ia berseru nyaring dan ia menjatuhkan tubuhnya ke belakang dangan gerak tipu Trenggiling Turun Dari Gunung.

Dengan amat cepatnya setelah tubuhnya rebah telentang sehingga tiga batang hui-to itu menyambar lewat di atasnya, ia lalu menggulingkan tubuhnya ke depan dan pedangnya menyambar cepat sekali ke arah kaki siwi yang melepaskan hui-to tadi.

Bukan main kagetnya siwi berjenggot panjang itu.

Serangan balasan ini sama sekali tak pernah disangkanya, demikian cepat dan kontan datangnya.

Ia cepat mengelak sambil melompat ke atas dan sebelum Ling Ling dapat melanjutkan serangannya, kawan-kawannya telah datang mengurung dan kembali Ling Ling dikeroyok lima.

Pada saat yang amat berbahaya bagi gadis itu, tiba-tiba terdengar seruan keras.

"Jangan khawatir, nona, aku datang membantumu membinasakan lima anjing penjaga ini!"

Dan Liem Sian Lun telah memutar pedangnya yang bersinar kuning itu untuk menggempur para pengeroyok Ling Ling.

Memang, dalam tugasnya ini, Sian Lun diberi pinjam pedang Oei-hong-kiam dari Jenderal Li Goan.

Biarpun tidak menjawab sesuatu dan berpura-pura tidak melihat Sian Lun, namun Ling Ling bertambah semangatnya ketika melihat pemuda yang pernah dikenal kelihaiannya ini.

Pedang Pek-hong-kiam diputar makin cepat dan dengan sebuah sabetan kilat, ia berhasil membacok roboh seorang pengeroyok.

Tadi ketika mengeroyok Ling Ling seorang saja, lima orang siwi itu masih belum dapat mengalahkannya dalam seratus jurus, apalagi setelah sekarang Ling Ling mendapat bantuan Sian Lun yang ilmu pedangnya bahkan lebih lihai dari pada nona itu.

Tentu saja kedua orang muda ini bukanlah makanan empuk bagi empat orang siwi itu dan tak lama kemudian, terdengar teriakan-teriakan susul menyusul dan kelima orang siwi itu semua telah tewas di ujung pedang Sian Lun dan Ling Ling.

"Nona, dimanakah ibumu?"

Tanya Sian Lun yang tidak tahu apa yang harus dikatakan terhadap nona itu.

Akan tetapi matanya memandang dengan amat kagum sehingga Ling Ling menjadi cemberut.

Ia menganggap pandang mata pemuda itu kurang sopan.

Tanpa menjawab sesuatu, Ling Ling lalu melompat dan menyerbu ke dalam kemah kaisar.

Akan tetapi, di dalamnya ternyata sunyi dan kosong.

Ling Ling berjalan terus dan keluar dari pintu belakang kemah itu, diikuti oleh Sian Lun yang merasa penasaran melihat sikap nona yang seakan-akan membencinya itu.

Ketika kedua orang muda itu sampai di belakang kemah itu, tiba-tiba mereka berhenti dan berdiri memandang ke depan dengan muka tertegun.

Apakah yang mereka lihat?

Kaisar Yang Te, masih nampak gagah dan berpakaian mewah, sedang berdiri di dekat anak sungai, dihadap oleh seorang kakek tua yang berpakaian sebagai pelayan.

Terdengar suara kaisar itu berkata sambil tersenyum-senyum.

"Tidak betulkah kata-kataku tadi, Lao Kwang? Seorang kaisar harus menghadapi kebangkitan atau keruntuhannya dengan senyum di mulut. Semua orang memberontak, tidak ingat bahwa aku adalah kaisar yang harus mereka hormati, kaisar yang dipilih oleh Thian sendiri untuk memimpin rakyat seluruh negara. Ha, ha, ha! Dan sekarang mereka mengejar-ngejarku untuk membunuhku. Bukankah ini lucu sekali? Lihatlah, laksaan orang saling membunuh hanya karena aku seorang! Bukankah hal ini hebat sekali? Apakah artinya aku mengorbankan nyawaku untuk kebesaran seperti itu? Ha, ha, Lao Kwang, kau bilang apa tadi? Kaupun ingin pula memberontak?"

Kakek itu sambil bercucuran air mata lalu mencabut sebilah pedang pendek dan setelah berlutut ia lalu berkata.

"Hong-siang, junjunganku, juga anak yang kutimang-timang semenjak masih bayi! Mengapa tidak dulu-dulu paduka mendengar nasehat seorang rendah seperti hamba? Mengapa paduka, hanya menurutkan kata nafsu hati, menurutkan bujukan para pembesar buruk? Mengapa paduka ingin memuaskan hati tanpa memperdulikan pengorbanan rakyat jelata? Ah, apakah yang akan menimpa diri paduka?"

Kaisar itu tertawa bergelak.

"Lao Kwang, kau seorang yang setia dan bersikap selalu merendah. Alangkah bodohnya kau ini! Kalau aku bertindak sebagai seorang kaisar yang bodoh dan mengalah, tdak mau memeras tenaga rakyat untuk membuat bangunan-bangunan besar, untuk menyerang negara timur, akan jadi kaisar apakah aku ini? Betapapun juga, akhirnya aku toh mesti mati. Kalau aku membiarkan keadaan negara tanpa memperkuatnya, biarpun dengan menekan rakyat, aku akan mati sebagai seekor semut, rakyat yang gendut dan senang akan lupa kepadaku dan negara sebentar lagi akan dirampas oleh orang asing. Sekarang, biarpun aku mati, lihatlah saluran air yang megah, lihatlah tembok besar yang jaya, semua adalah bekas tanganku. Orang takkan melupakan selama sejarah berkembang. Mati? Ha, ha, ha, siapa yang takut mati? Di dunia aku menjadi kaisar, mustahil di alam baka aku tidak diberi pangkat dan kedudukan? Aku adalah kaisar, tahu? Dalam keadaan bagaimanapun juga, kaisar tetap dihormati, menjadi tawanan pun berbeda dengan perajurit biasa. Tetap menjadi tawanan besar dan penting, diperlakukan penuh penghormatan!"

Pada saat itu, mereka melihat dua orang muda yang berdiri dengan pedang di tangan.

"Hong-siang, musuh telah datang menyerbu!"

Bisik Lao Kwang "Mereka itu?"

Kaisar membalikkan tubuhnya dan menudingkan telunjuknya ke arah Ling Ling dan Sian Lun.

"Hanya dua orang muda yang bodoh, yang menjadi alat dari pada keganasan perang! Apakah mereka ini akan dapat menggantikan kedudukanku? Ha, ha, ha!"

"Kaisar lalim, rasakan pembalasanku!"

Tiba-tiba Ling Ling berseru keras dan menyerbu.

Akan tetapi, ia kalah dulu oleh Lao Kwang.

Dari belakang, pelayan yang semenjak Yang Te masih kecil telah menjadi pelayannya itu, telah menusuk punggung Kaisar Yang Te dengan pedangnya.

Kaisar itu mengeluh berat dan tubuhnya roboh telentang, tak bergerak lagi.

"Hamba ikut, tuanku!"

Kata Lao Kwang dan sebuah tusukan ke arah dadanya dengan pedang yang dipegangnya membuat ia roboh di samping Kaisar Yang Te.

Tertegunlah Ling Ling dan Sian Lun menyaksikan peristiwa ini.

Untuk beberapa lama Ling Ling berdiri memandang ke arah tubuh kaisar itu.

Inikah musuh besarnya?

Inikah orang yang telah menghancurkan penghidupan ibunya?

Yang telah menghancurkan penghidupan rakyat banyak?

Sukar untuk dipercaya.

Kaisar ini hanya memerintah dan memberi petunjuk.

Yang menjadi pelaksana bukanlah dia sendiri dan mana kaisar ini bisa mengetahui cara pelaksanaan perintahnya?

Tahukah kaisar ini bahwa tenaga rakyat yang dikerahkan itu diperoleh dengan jalan yang curang dan keji oleh para petugasnya?

Siapakah yang salah?

Kaisarnya, atau para petugas yang nyeleweng, ataukah jamannya yang salah?

Setelah menarik napas panjang, Ling Ling lalu berpaling dan Sian Lun melihat betapa kedua mata gadis cantik itu basah oleh air mata.

Ling Ling lalu melompat pergi meninggalkan tempat itu.

"Nona, tunggu dulu!"

Ling Ling menahan tindakannya. Mereka telah berada jauh dari kemah kaisar itu.

"Kau mau apa?"

Tanyanya dengan tegas dan ketus. Sian Lun menggerakkan alisnya dan tersenyum pahit.

"Beginikah sikapmu kepada orang yang telah berusaha membantumu? Nona, kau agaknya benci kepadaku. Ada apakah dan apakah kesalahanku?"

"Tidak ada yang benci dan tidak ada yang salah! Aku hanya ingin tahu mengapa kau menyusulku?"

"Nona, aku hanya ingin menyatakan bahwa pamanku Kwee Siong telah mencari-cari dan menanti-nanti kau dan ibumu."

Berkerut kening Ling Ling mendengar nama Kwee Siong disebut-sebut.

"Aku tidak kenal pamanmu. Ada apa dia menanti-nanti kami?"

"Entahlah, hanya aku tahu bahwa paman sedang sakit dan seringkali menanyakan kau dan ibumu. Di manakah ibumu?"

"Ibu... ibu sudah meninggal dunia!"

Setelah berkata demikian Ling Ling melompat dan lari lagi dengan cepatnya.

"Nona, tunggu dulu...!"

Ling Ling berlari terus, akan tetapi Sian Lun mengejarnya dan karena ia sudah lelah sekali, Ling Ling terpaksa berhenti.

Sian Lun melihat kini betapa air mata telah mengalir turun di kedua pipi gadis itu yang agak pucat.

"Mengapa kau mengejarku? Apakah kau menagih budimu ketika kau menolongku tadi? Nah, biarlah aku mengucapkan terima kasih kepadamu, dan sekarang pergilah!"

Sian Lun memandang dengan penuh iba.

"Nona, aku menyesal sekali, yakni... tentang ibumu..."

"Jangan kau sebut-sebut akan hal ibuku. Ibu telah gugur dalam pertempuran, tidak ada hubungannya dengan kau."

Pada saat itu, terdengar bunyi derap kaki kuda dan dua orang perwira pembantu Sian Lun tiba di tempat itu.

"Liem-ciangkun, musuh telah dipukul habis. Sebagian besar telah menyerah. Menanti perintah!"

Demikian kata mereka sambil turun dan berdiri dengan sikap gagah.

"Bawa semua tawanan dan kembalikan ke Tiang-an. Kau mewakili aku memimpin pasukan. Seperti biasa, berlakulah keras, jangan biarkan anak buah kita meninggalkan barisan,"

Perintah Sian Lun dengan suara keren. Kedua pembantunya memberi hormat dan pergi lagi menunggang kuda.

"Aku harus pergi sekarang, selamat tinggal!"

Kata Ling Ling.

"Nanti dulu, nona. Kau telah banyak berjasa dalam perjuangan kami, apakah kau tidak mau bersamaku kembali ke Tiang-an? Sungguh, nona, pamanku amat mengharap-harap kedatanganmu."

"Memang aku mau ke Tiang-an, akan tetapi tidak bersama engkau!"

Berseri wajah Sian Lun mendengar ini.

"Bagus, kau tentu akan datang kepada pamanku Kwee Siong, bukan? Baik sekali."

"Memang aku akan mencari orang she Kwee itu, untuk membunuhnya dengan pedangku!"

Setelah berkata demikian, Ling Ling melompat dan berlari pergi.

Untuk sejenak Sian Lun berdiri bagaikan sebuah patung batu.

Ucapan yang dikeluarkan dengan sengit oleh gadis itu benar-benar telah membuatnya terheran-heran dan terkejut sekali.

Ada apakah antara pamannya dan gadis ini serta ibunya yang telah gugur?

Ah, ia harus mencegah maksud gadis itu.

Setelah melihat bayangan Ling Ling lenyap dibalik pohon-pohon barulah Sian Lun menjadi terkejut dan cepat ia lalu melompat dan berlari cepat mengejar.

Dengan hati yang amat berat karena masih berduka mengingat kematian ibunya, Ling Ling berlari dengan cepat sekali.

Kakinya telah terasa lelah dan lemahlah seluruh tubuhnya.

Ia telah bertempur melawan musuh-musuh yang tangguh dan telah sehari lamanya ia tidak makan.

Akan tetapi ia tidak mau berhenti mengaso karena maklum bahwa pemuda she Liem itu tentu akan mengejarnya.

Ketika ia tiba di sebuah dusun dan melihat, bahwa pemuda itu tidak dapat menyusulnya, ia lalu masuk ke sebuah restoran dan memesan makanan.

Setelah makan dan beristirahat sejenak, pulihlah kembali kekuatannya dan ia merasa tubuhnya sehat.

Kemudian ia melanjutkan perjalanannya dan alangkah mendongkolnya ketika tiba di luar dusun itu, pemuda she Liem itu telah menantinya sambil duduk di atas rumput seorang diri.

Ling Ling berpura-pura tidak melihatnya dan hendak berlari terus, akan tetapi Sian Lun berkata.

"Nona Ling Ling, mengapa tergesa-gesa? Akupun hendak menuju ke Tiang-an. Tidak sudikah kau melakukan perjalanan bersamaku?"

"Kau melakukan perjalanan, apa hubungannya dengan aku? Aku tidak melarang orang menuju ke Tiang-an,"

Jawab Ling Ling merasa marah kepada dirinya sendiri mengapa melihat pemuda ini hatinya berdebar girang. Sian Lun terpaksa mempercepat langkahnya agar dapat mengimbangi kecepatan lari gadis aneh ini.

"Nona, bukankah kau adalah nona yang dulu pernah menerima pedang Pek-hong-kiam dari Liang Gi Cinjin, ketua dari Pek-sim-kauw?"

"Memang akulah yang dimaksudkan oleh suhumu itu. Dia seorang yang baik hati, akan tetapi suhumu itu masih mempunyai hutang kepadaku yang harus dibayarnya!"

Setelah berkata demikian, kembali Ling Ling berlari pergi tanpa memperdulikan kepada Sian Lun lagi.

Pemuda ini segera mengejarnya.

Ling Ling mengerahkan kepandaiannya berlari cepat yang disebut Couw-sang-hui (Terbang Di Atas Rumput).

Ia sengaja mengeluarkan kepandaiannya karena ia hendak mencoba apakah pemuda itu akan dapat mengejarnya.

Sian Lun merasa penasaran sekali melihat betapa gadis itu berlari dengan amat cepatnya.

Iapun lalu mengeluarkan ilmunya berlari cepat yang disebut Keng-sin-sut dan setelah berlari-larian beberapa belas li, akhirnya dapat juga ia mengejar gadis itu.

"Nona, kau sungguh terlalu. Mengapa kita tidak berjalan perlahan saja menuju ke Tiang-an? Apakah yang membuat nona demikian terburu-buru?"

Ling Ling tidak menjawab, akan tetapi tiba-tiba lalu duduk di atas rumput di bawah sebatang pohon besar.

Enak sekali duduk di situ, ditiup angin sambil mendengarkan gemersiknya daun-daun pohon tertiup angin.

Peluhnya mengalir dari atas jidat, disapunya dengan sehelai saputangannya.

Sian Lun juga duduk di depannya, agak jauh dari nona itu.

Sungguhpun mereka duduk berhadapan, akan tetapi keduanya tidak berkata-kata dan bahkan tidak saling memandang.

Sungguh keadaan yang amat lucu dan ganjil.

"Mengapa kau mati-matian mengejarku dan hendak berjalan bersamaku?"

Tanya Ling Ling tiba-tiba dan sepasang matanya yang indah dan tajam itu menatap wajah Sian Lun.

Untuk sesaat, pemuda itu berusaha menahan serangan sinar mata ini, akan tetapi akhirnya ia menunduk karena pandangan mata gadis yang menyelidik ini benar-benar tajam sekali.

"Nona, aku tidak mempunyai niat buruk terhadapmu. Aku kagum sekali akan kegagahanmu, hanya aku merasa tidak enak mendengar ucapanmu tadi yang hendak membunuh pamanku Kwee Siong. Ketahuilah bahwa paman Kwee bagiku sama dengan ayahku sendiri. Tidak boleh kau mengganggunya. Dia orang yang baik-baik, semulia-mulianya orang, mengapakah kau begitu membencinya dan hendak membunuhnya?"

Ling Ling memandang tajam dengan kening berkerut.

Ia amat benci kepada ayahnya itu.

Seorang ayah yang telah menyia-nyiakan ibunya.

Ibunya menyatakan bahwa ayahnya itu tidak bersalah.

Kalau memang ayahnya itu orang baik-baik, mengapa tidak dicarinya ibunya yang hidup seperti seorang "iblis"

Di dalam hutan?

Mengapa ayahnya yang sudah menjadi seorang pembesar itu bahkan lalu menikah lagi dan telah memperoleh seorang putera?

Mengapa ketika bertemu di pengadilan dulu, ayahnya tidak menerima mereka sebagai isteri dan anak?

Kalau dipikir-pikir, bukan kaisar yang menjadi biang keladi kesengsaraan ibunya, melainkan Kwee Siong itulah!

Orang itu harus dibunuhnya, untuk membalas sakit hati ibunya.

Kini melihat sikap Sian Lun yang hendak membela Kwee Siong, mendengar ucapan pemuda gagah ini yang memuji-muji Kwee Siong sebagai seorang yang berhati mulia, hatinya menjadi perih dan gemas sekali.

"Paman Kwee amat baik kepadaku,"

Terdengar lagi Sian Lun berkata.

"Seakan-akan aku anaknya sendiri. Ia memperlakukan aku seperti anak sendiri, mengajarku membaca dan menulis, memberi nasehat-nasehat dan pelajaran filsafat dan budi pekerti. Orang sebaik dia tidak mungkin mempunyai musuh dan tak mungkin mengganggu orang lain. Mengapa kau hendak membunuhnya, nona?"

"Kau tak perlu tahu, Liem-ciangkun. Urusan ini adalah urusanku sendiri, orang luar tak berhak tahu. Betapapun juga, aku akan mencarinya di Tiang-an dan akan membunuhnya dengan tanganku sendiri."

Kata-kata ini diucapkan dengan tegas dan mengandung kemauan bulat.

"Tidak mungkin, nona. Perbuatanmu itu sebelum dapat kau lakukan, kau akan menghadapi seluruh penduduk Tiang-an, seluruh barisan di bawah pimpinan Jenderal Li Goan sendiri. Kwee-susiok adalah seorang yang dihormati dan dipandang tinggi oleh semua orang. Takkan mungkin mengganggu, lebih sukar dari pada mengganggu kaisar sendiri."

Makin tinggi orang memuji ayahnya makin banyak orang mengingatkan kepadanya akan kemuliaan ayahnya, makin teringatlah Ling Ling akan kesengsaraan ibunya dan makin panaslah hatinya.

Ia tersenyum mengejek dan menjawab sambil berdiri dan mencabut pedangnya.

"Kau kira aku takut menghadapi siapapun juga? Biarpun ada selaksa dewa hendak melindungi orang she Kwee itu, tetap aku hendak membunuhnya!"

Mulai panas darah Sian Lun.

Betapapun ia mengagumi gadis ini dan menaruh hati kasihan mendengar kematian ibu gadis ini, namun sikap gadis itu dianggapnya amat keterlaluan.

Iapun bangkit berdiri dan berkata.

"Dan dengarlah, nona. Orang pertama yang akan menghalangi kehendakmu yang kejam itu bukan lain orang adalah aku sendiri!"

"Kau...?"

Ling Ling memandang tajam sambil mengangkat alisnya yang berbentuk melengkung seperti bulan sabit itu.

"Ya, aku sendiri! Aku yang telah diperlakukan dengan baik oleh Kwee-susiok, yang telah dianggap sebagai anak sendiri, aku takkan membiarkan siapapun juga mengganggunya!"

"Manusia sombong! Siapa takut kepadamu? Apa kau kira dulu aku sudah kalah olehmu? Cabutlah pedangmu dan mari kita lanjutkan pertempuran yang dulu!"

Tantang Ling Ling.

"Nona, haruskah kita bertempur lagi? Mengapa kau begitu berkeras hendak membunuh pamanku? Berilah penjelasan agar aku ikut pula mempertimbangkan apakah niatmu itu benar atau salah."

"Bukan urusanmu, tak usah kau bertanya lagi. Pendeknya aku hendak membunuh Kwee Siong dan kalau kau menghalangiku boleh kau mencoba mengalahkanku!"

Terpaksa Sian Lun mencabut pedangnya Oei-hong-kiam.

"Menyesal sekali, nona. Aku tak ingin bertempur dengan kau..."

"Awas pedang!"

Teriak Ling Ling tanpa memperdulikan ucapan ini dan langsung menyerang dengan sebuah tusukan berbahaya.

Sian Lun cepat menangkis dan berpijarlah bunga api ketika dua pedang pusaka itu bertemu.

Ling Ling menyerang lagi dan mainkan pedangnya dengan hebat sehingga yang nampak hanyalah gulungan sinar putih yang menyilaukan mata.

Sian Lun terpaksa mengimbangi permainan pedang nona ini dan pedang Oei-hong-kiam segera diputarnya merupakan segulung sinar kuning yang tak kalah cepatnya.

Demikianlah, kedua orang muda yang lihai itu kembali mengadu kepandaian di dalam hutan, ramai dan seru, tanpa ada seorangpun yang menjadi saksi.

Sian Lun bertempur dengan hati-hati.

Ia maklum bahwa gadis ini amat lihai.

Ginkang dan lweekangnya berimbang dengan kepandaiannya sendiri dan ilmu pedang gadis itu luar biasa ganasnya.

Betapapun juga, ia tidak tega untuk melukai gadis ini, dan bertempur hanya dengan maksud menguji kepandaian saja dan kalau ia mencari kemenangan juga, bukan dengan cara merobohkan gadis itu dalam keadaan terluka.

Ia hanya akan merampas atau melepaskan pedang dari tangan nona itu.

Akan tetapi ia maklum bahwa hal ini bukanlah mudah saja.

Sebaliknya, Ling Ling yang sudah tahu pula akan kepandaian pemuda ini, kini berusaha untuk mengalahkan lawannya dan bertempur dengan amat sengitnya.

Dalam keadaan demikian, maka sedikit kelebihan permainan pedang Sian Lun menjadi tertutup dan pertempuran itu menjadi berimbang dan luar biasa ramainya.

Seratus jurus lewat tanpa terasa, dan belum juga di antara kedua orang muda ini ada yang kalah atau menang.

Mereka saling serang dan saling desak, mengeluarkan gerak-gerak tipu yang terlihai.

Betapapun juga, diam-diam Ling Ling harus mengakui keunggulan pemuda itu, karena setelah pertempuran berjalan seratus lima puluh jurus, ia mulai merasa lelah dan telapak tangan kanannya yang memegang pedang menjadi panas dan perih.

Adapun Sian Lun lawannya masih nampak kuat dan gerakan serta kecepatannya tidak berkurang.

Akhirnya Sian Lun merasa bahwa ia takkan dapat mengalahkan nona yang nekat ini tanpa melukainya.

Akan tetapi bagaimana ia sampai hati untuk melukai nona yang dikagumi dan dikasihinya ini?

Dan sedikit saja ia melamun, tiba-tiba ujung pedang Pek-hong-kiam di tangan Ling Ling sudah menyerangnya dengan gerak tipu Kim-gan-liong-hian-jiauw (Naga Bermata Emas Mengulur Kuku).

Sedangkan pada saat itu pedangnya masih tersembunyi di balik lengan ketika ia tadi bergerak dengan gerak tipu Burung Walet Menyembunyikan Ekor.

Melihat serangan maut ini, Sian Lun terkejut sekali dan cepat ia mempergunakan tenaga pergelangan tangan untuk memutar pedangnya yang segera meluncur ke depan melakukan tangkisan ke arah ujung pedang lawan yang menusuk ke arah dadanya.

"Traaang!"

Dua pedang itu beradu keras sekali.

Saking hebatnya tenaga keduanya yang dikeluarkan pada saat genting itu, ujung pedang Ling Ling meleset dan meluncur cepat ke arah tenggorokan Sian Lun sedangkan pedang Sian Lun sebaliknya kena terpukul dan melesat menuju ke arah pundak gadis itu.

Keduanya terkejut sekali.

Untuk mengelak sudah tiada waktu lagi.

Dengan cepat tangan kiri mereka bergerak.

Ling Ling melakukan gerakan Kwan-im-siu-kiam (Dewi Kwan-im Menyambut Pedang) sedangkan Sian Lun membuat gerakan Siauw-kin-na-jiu-hwat mencengkeram ke arah gagang pedang gadis itu.

Gerakan mereka begitu kuat dan cepat sehingga pada saat itu juga, pedang mereka telah pindah tangan.

Oei-hong-kiam telah terampas oleh Ling Ling sedangkan Pek-hong-kiam terampas oleh Sian Lun.

Mereka terhindar dari bahaya maut, akan tetapi tetap saja mereka menjadi pucat dan mengeluarkan keringat dingin Sian Lun cepat melompat ke belakang dan menjura.

"Nona, ilmu pedangmu benar-benar luar biasa sekali. Dan pedang inipun amat baiknya."

"Pedang itu adalah pedang suhumu, Liang Gi Cinjin. Biarlah kau kembalikan kepadanya. Adapun pedang ini..."

Ling Ling menggerak-gerakkan Oei-hong-kiam yang terasa lebih enak ditangannya, karena pedang ini gagangnya lebih kecil dan lebih cocok untuk jari-jari tangannya.

"Pedang ini adalah pedang dari Panglima Kam Kok Han, dan aku sebagai ahli waris ilmu pedangnya,... aku berhak mendapatkan pedang ini!"

Sambil berkata demikian, Ling Ling memandang kepada pemuda itu dengan sikap menantang. Sian Lun menjadi tertegun.

"Kau..., kau hendak merampas pedang itu? Kembalikan, nona. Pedang itupun boleh kupinjam dari Jenderal Li!"

"Bukankah kau dulu merampasnya dari seorang panglima kerajaan Sui? Pedang ini bukan pedangmu, bukan pula pedang Jenderal Li, akan tetapi adalah pedang dari mendiang Panglima Kam! Kalau kau ada kepandaian, boleh kau rampas kembali, pedang ini sekarang sudah berada di tanganku!"

Kembali Ling Ling memandang dengan sikap menantang.

Untuk sesaat teganglah semua urat dalam tubuh Sian Lun.

Ia hendak bergerak menyerang nona itu untuk merampas kembali pedangnya, akan tetapi ia mengurungkan niatnya dan kemudian bahkan duduk di atas rumput sambil tersenyum.

"Biarlah, ambillah... kalau kau kehendaki, asal saja kau jangan membunuh paman Kwee."

"Kau perduli apa dengan segala niatku? Kalau masih penasaran, hayo kau berdiri dan mari kita lanjutkan pertempuran kita!"

Akan tetapi Sian Lun menggelengkan kepalanya.

"Kau serang dan bunuhlah aku kalau kau mau. Aku tiada nafsu untuk bertempur mati-matian seperti orang gila, tanpa ada alasannya. Aku tidak percaya kau tidak akan malu menyerang seorang yang tidak melawan."

Karena iapun sudah merasa lelah sekali, Ling Ling lalu menyimpan pedangnya dan menjatuhkan diri di atas rumput dan bersandar pada pohon.

Kembali kedua orang muda itu duduk berhadapan di atas rumput seperti tadi sebelum mereka bertempur mati-matian.

Matahari telah mulai bersembunyi di balik pohon-pohon dan hawa mulai terasa dingin.

Setelah melepaskan penat, Ling Ling bangkit kembali, dan Sian Lun menegurnya.

"Hendak ke manakah, nona?"

"Ke mana lagi? Tentu ke Tiang-an!"

Jawaban ini terdengar penuh tantangan.

"Kalau aku jadi engkau, aku takkan melewati daerah seribu rawa di malam hari."

"Apa maksudmu?"

"Kalau kau keluar dari hutan ini, kau akan tiba di daerah yang penuh dengan rawa-rawa yang amat berbahaya. Tidak saja banyak sekali rawa-rawa yang tertutup rumput dan merupakan perangkap maut yang mengerihkan, bahkan di situ juga banyak sekali terdapat binatang-binatang berbisa. Tak mungkin ada orang dapat melalui tempat itu di waktu malam!"

Ling Ling adalah seorang gadis yang keras hati, keras kepala, dan bandel.

Apalagi yang mengeluarkan kata-kata tadi adalah seorang pemuda yang menjadi musuhnya, pemuda yang "Dibencinya", tentu saja ia tidak sudi untuk mentaati nasehatnya.

Ia teringat akan daerah berawa ini, karena dulu ia pernah lewat di daerah ini.

"Aku tidak takut!"

Katanya dan cepat ia berlari pergi.

Ketika ia keluar dari hutan itu, tibalah ia di daerah penuh rawa itu, nampak gelap, sunyi dan menyeramkan.

Matahari telah lenyap, terganti oleh malam yang remang-remang, dengan pohon-pohon besar menjulang dan jurang di sana-sini, seperti raksasa-raksasa setan menanti kedatangannya penuh ancaman.

Tak terasa lagi Ling Ling merasa ngeri juga dan ia menengok ke belakang.

Dari jauh, nampak sosok tubuh orang merupakan bayang-bayang yang bergerak ke arahnya.

Ia terkejut, akan tetapi setelah bayangan itu mendekat, ia mengenal itu sebagai bayangan Sian Lun.

Ling Ling merasa girang sekali, akan tetapi hanya untuk sebentar.

Siapa orangnya yang takkan merasa girang kalau melihat seorang yang telah dikenalnya dalam malam yang menyeramkan di daerah yang mengerihkan itu, sungguhpun orang itu seperti Sian Lun sekalipun.

Akan tetapi ia segera dapat mengusir rasa girangnya ini dan berganti merasa gemas.

Ia ingin berlari secepatnya, akan tetapi tidak mungkin melakukan hal ini dalam daerah yang demikian berbahaya.

Ia maklum bahwa tanah berlumpur yang membentang luas di depannya itu belum tentu tanah keras, dan kalau sekali kakinya terjeblos ke dalam rawa yang tertutup rumput, akan celakalah dia.

Sebentar saja pemuda itu dapat menyusulnya dan mereka berdua berjalan tanpa mengeluarkan sepatahpun kata, tanpa saling pandang, bagaikan dua bayangan setan berkeliaran di daerah menyeramkan itu.

"Gadis bandel!"

Tiba-tiba Sian Lun berkata perlahan.

Ia marah dan mendongkol sekali.

Akan tetapi Ling Ling tidak menjawab, hanya diam-diam tersenyum di dalam gelap.

Telah berkali-kali ia dibikin mendongkol dan marah oleh pemuda ini, dan kali ini ia merasa girang dapat membalas dendam dan membuat Sian Lun marah dan mendongkol.

Pemuda ini, sudah beberapa kali lewat di daerah ini, maka ia lebih hafal akan liku-liku jalan di situ, tahu di mana letaknya rawa-rawa yang berbahaya.

Akan tetapi ia diam saja dan hanya menurut ke mana Ling Ling memilih jalan.

Ia maklum bahwa gadis itu telah tersasar dan salah jalan, akan tetapi ia diam saja.

Setelah berjalan tersaruk-saruk dan bulan telah muncul, menambah keseraman tempat itu, belum juga mereka dapat keluar dari daerah liar ini, bahkan tiba-tiba Ling Ling menahan kakinya dan melompat mundur.

Hampir saja ia celaka, karena ketika kakinya menyentuh rumput di depannya, ternyata bahwa di bawah rumput itu terdapat lumpur.

Baiknya ia berlaku hati-hati, kalau tidak tentu ia akan terjeblos ke dalam lumpur dan berbahaya.

Ling Ling melompat ke belakang bagaikan diserang ular.

Ia berjalan ke kanan, akan tetapi baru beberapa belas tindak kembali ia menghadapi lumpur berumput.

Ke kiri tidak mungkin, karena di sana membentang jurang yang amat dalam.

Untuk kembali?

Ah, bagaimana ia harus kembali melalui jalan tadi yang demikian jauhnya?

Ia berdiri termenung dengan bingung.

"Kita telah salah jalan,"

Kata Sian Lun dengan suara tenang, akan tetapi mengandung kegembiraan, karena diam-diam ia mentertawakan gadis itu. Ling Ling cemberut.

"Kau sudah tahu dari tadi?"

"Tentu saja aku tahu,"

Jawab pemuda itu.

"Kurang ajar! Kalau sudah tahu mengapa diam saja? Mengapa kau membiarkan kita tersesat ke jalan buntu ini?"

"Kuberitahu juga kau takkan percaya omonganku, apa perlunya? Biarlah, gadis kepala batu seperti engkau perlu sewaktu-waktu mendapat hajaran."

"Tutup mulutmu! Siapa suruh kau mengikuti perjalananku? Kau pergilah dan biarkan aku sendiri!"

Suara yang marah ini mengandung isak yang ditahan.

Akan tetapi Sian Lun tidak menjawab, bahkan ia lalu mengumpulkan daun-daun kering dan memanjat pohon untuk mengambil ranting-ranting kering.

Ditumpuknya daun dan ranting itu di situ lalu ia membuat api unggun.

"Pergi!"

Seru Ling Ling.

"Mengapa kau tidak mau pergi? Aku tidak ingin ditemani!"

"Di sini bukan tempat milikmu, di sini daerah rawa, tiada pemiliknya. Siapa saja boleh bermalam di sini. Kau suruh aku pergi ke mana? Kembali ke jalan tadi, mungkin akan tersasar ke tempat yang lebih berbahaya lagi. Tahukah kau bahwa tak jauh dari sini terdapat daerah yang penuh dengan ular-ular kecil berbisa? Bagaimana kau dapat melawan ular-ular kecil yang tiba-tiba menyerang kakimu dari dalam gelap? Sekali saja kena gigitan seekor ular itu, tubuh kita akan menjadi kaku dan bengkak-bengkak, nyawa takkan tertolong lagi. Ke mana aku harus pergi? Aku akan bermalam di sini dan besok kalau sudah terang tanah, barulah dapat kita keluar dari neraka ini."

Meremang bulu tengkuk Ling Ling mendengar cerita tentang ular-ular berbisa itu.

Padahal cerita ini amat dilebih-lebihkan oleh Sian Lun.

Dengan jengkel sekali Ling Ling duduk di bawah pohon di mana Sian Lun mengambil ranting-ranting tadi dan ia memandang kepada pemuda itu yang mengatur ranting dan daun yang mulai bernyala.

Kemudian Sian Lun duduk menghadapi Ling Ling.

Untuk beberapa lama mereka diam saja dan agaknya di dalam cahaya api unggun yang suram itu, Sian Lun lebih berani memandang dan menatap wajah gadis itu lebih lama.

Karena di dalam keadaan yang agak gelap ini, sinar mata gadis itu yang luar biasa tajamnya tidak begitu menikam pandang matanya.

"Jadi kau adalah ahli waris dari Panglima Besar Kam Kok Han?"

Tanya Sian Lun kemudian.

"Ya,"

Jawab Ling Ling singkat.

"Jadi kau she Kam?"

"Bukan,"

Kembali jawaban yang singkat sekali.

Sunyi kembali sampai lama.

Sian Lun merasa heran melihat keadaan gadis yang menarik perhatiannya ini.

Seorang gadis yang keras hati dan galak, seakan-akan telah mengeras dalam rendaman air pengalaman yang pahit getir.

Siapakah dia ini?

Ada hubungan apakah dengan Kwee Siong?

Betapapun juga, ia seorang gadis patriot yang gagah perkasa, dan seorang yang berpribudi tinggi.

Buktinya, gadis yang pernah bermusuhan dengan Pek-sim-kauw ini, akhirnya di dalam perjuangan bahkan menjadi pemimpin pasukan Pek-sim-kauw yang amat terkenal dan ditakuti musuh.

"Nona, aku telah mendengar bahwa namamu Ling Ling, akan tetapi siapakah she mu?"

Hampir saja Ling Ling menjawab untuk mengaku terus terang, akan tetapi ia teringat bahwa pengakuannya ini akan membuka rahasianya bahwa ia adalah puteri Kwee Siong.

Ia tidak mau pemuda ini mengetahui bahwa dia adalah puteri Kwee Siong, maka ia lalu menutup kembali bibinya yang sudah hampir digerakkan.

"Nona, mengapa kau diam saja? Apakah terlalu kurang ajar pertanyaanku tadi?"

Setelah menanti agak lama Sian Lun berkata lagi.

"Sudahlah, jangan banyak tanya,"

Akhirnya Ling Ling menjawab juga.

"Aku lelah dan mengantuk, hendak tidur!"

Sambil berkata demikian, gadis itu berdiri dan hendak pergi menjauhkan diri dari tempat itu.

"Eh, nona, mengapa pergi? Mau tidur, tidurlah saja di sini, di bawah pohon dekat api unggun. Biarlah aku yang pergi menjauhkan diri kalau kau tidak ingin berdekatan dengan aku."

Akan tetapi Ling Ling menoleh sambil berkata.

"Aku tidak biasa tidur dalam terang api. Menyilaukan mata. Padamkanlah api unggunmu yang menyilaukan itu!"

"Mana bisa dipadamkan? Api ini mengusir binatang-binatang kecil yang mengganggu kita. Dan pula, hawa malam begini dingin."

Sian Lun membantah. Ling Ling membanting-banting kakinya.

"Kalau begitu, mengapa kau menawarkan tempat itu kepadaku? Kau selalu membantah dan membawa kehendak sendiri. Keras kepala!"

Gadis ini dengan marah lalu menjahui tempat itu, berjalan kembali ke jalan tadi, kemudian merebahkan diri di bawah pohon berikutnya, tak jauh dari tempat Sian Lun.

Ia dapat melihat pemuda itu berdiri di dekat api unggun sambil memandang ke arahnya.

Akan tetapi Ling Ling tidak perduli, membuka buntalan pakaiannya dan segera duduk bersandar ke pohon dan menyelimuti tubuhnya dengan sebuah mantelnya.

(Lanjut ke

Jilid 08) Wanita Iblis Pencabut Nyawa/Toat Beng Mo Li (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08 Gadis aneh, pikir Sian Lun sambil duduk bersandar pohon itu...

aneh, galak, akan tetapi amat manis dan menarik hati...

Pada keesokan harinya, Ling Ling bangun dari tidurnya dengan tubuh lemas.

Ia hampir tak dapat tidur malam itu karena benar saja, banyak nyamuk yang mengganggunya.

Ia telah menutupi seluruh tubuhnya, akan tetapi nyamuk di daerah rawa itu benar-benar bandel.

Binatang-binatang kecil itu dapat menggigitnya melalui mantelnya dan mukanya menjadi sasaran.

Bukan main marah dan mendongkolnya, akan tetapi ia merasa malu untuk membuat api unggun seperti Sian Lun.

Ketika pada pagi hari itu ia hendak melanjutkan perjalanan dengan diam-diam tanpa memberi tahu kepada pemuda itu, ternyata bahwa Sian Lun telah mendahuluinya dan datang mendekatinya.

"Enak tidur?"

Tanya pemuda ini sambil tersenyum.

Panas hati Ling Ling mendengar pertanyaan ini yang dianggapnya seperti olok-olok karena tidak tahukah pemuda itu betapa ia menderita gangguan nyamuk?

Ia sama sekali tidak tahu bahwa juga Sian Lun tidak tidur malam itu, sungguhpun bukan karena gangguan nyamuk, akan tetapi gangguan hati sendiri yang mulai jatuh cinta kepadanya."

"Kau yang enak tidur!"

Jawabnya mendongkol.

"Bagaimana aku dapat tidur di tempat seperti neraka ini?"

"Nona, harap kau jangan terlalu mencurigaiku. Kalau saja kau menurut kata-kataku, tentu kau tidak akan mengalami kekecewaan. Aku lebih hafal akan jalan-jalan di sini dan percayalah, aku akan membawamu ke Tiang-an, dan takkan kuhalangi segala tindakanmu kecuali kalau sudah sampai di kota itu."

Ling Ling tidak menjawab, akan tetapi ia tidak membantah dan mengikuti pemuda itu ketika Sian Lun mengajaknya keluar dari daerah rawa itu.

Mereka berjalan kembali ke jalan yang kemaren kemudian membelok ke kanan dan selanjutnya Sian Lun yang menjadi penunjuk jalan.

Mereka melakukan perjalanan bersama, merupakan pasangan yang amat sedap dipandang karena mereka sama-sama muda, gagah dan elok.

Akan tetapi, di sepanjang jalan mereka tidak pernah, atau jarang sekali bicara.

Ling Ling merasa betapa tubuhnya terasa tidak enak sekali dan kepalanya kadang-kadang pening.

Akan tetapi tentu saja ia tidak sudi memperlihatkan keadaannya kepada Sian Lun.

Ia mengira bahwa ia terlampau lelah dan kurang tidur, dan ia tidak mau menyatakan kelemahannya terhadap Sian Lun.

Padahal sebetulnya ia telah terserang oleh bisa gigitan nyamuk-nyamuk malam tadi.

Setelah matahari naik tinggi, mereka tiba di sebuah dusun dan Sian Lun yang melihat betapa gadis itu wajahnya pucat dan penuh keringat lalu berkata.

"Kita beristirahat dulu dan mengisi perut."

"Aku tidak ingin makan!"

Bantah Ling Ling.

"Ingat, nona. Aku yang menjadi penunjuk jalan dan sekarang aku merasa lapar dan lelah. Kau pun nampak lelah, mengapa berkeras kepala?"

"Kau yang keras kepala!"

Kata Ling Ling merengut, akan tetapi ia mengikuti pemuda itu yang melangkah masuk ke dalam sebuah restoran.

"Dua bubur, bebek tim dan air teh."

Sian Lun memesan kepada seorang pelayan yang menghampiri mereka. Pelayan itu mengangguk dan pergi ke belakang untuk menyediakan pesanannya.

"Aku tidak suka bubur dan bebek tim, apalagi air teh!"

Ling Ling membantah.

"Aku ingin daging dan arak!"

"Dalam keadaan seperti ini, tidak baik makan daging dan minum arak, nona. Kesehatanmu bisa terganggu."

Ling Ling dengan mata melotot, akan tetapi dalam pandangan Sian Lun, ia nampak makin cantik dan menarik kalau sedang marah.

"Kau kira aku anak kecil yang harus menurut segala omonganmu? Aku mau daging dan arak!"

Kata Ling Ling.

"Ssst, nona. Banyak orang di sini, tidak malukah kalau kita cekcok di sini?"

Kata Sian Lun berbisik perlahan.

Ling Ling mengerling ke kanan kiri dan melihat para tamu restoran yang duduk di meja lain memandang ke arah mereka sambil tersenyum-senyum.

Mereka disangka sepasang suami isteri yang sedang bertengkar.

Terpaksa Ling Ling mengalah, akan tetapi ia mendongkol sekali.

"Aku tidak sudi makan pesananmu!"

Bisiknya dengan gigi terkatup.

Sian Lun tidak menjawab.

Akan tetapi, ketika masakan yang dipesan tadi dihidangkan oleh pelayan, tanpa berkata sesuatu Ling Ling lalu makan bubur dan bebek tim itu, bahkan lebih lahap dari pada Sian Lun.

Pemuda ini diam-diam merasa geli sekali, akan tetapi ia tidak memperlihatkan perasaannya, hanya diam-diam memberi tanda kepada pelayan untuk menambah bubur.

Ling Ling tidak berkata dan makan sampai kenyang betul.

Ia merasa tubuhnya menjadi segar kembali dan diam-diam ia merasa bersyukur atas pilihan makanan pemuda itu.

Ia tahu bahwa permintaannya untuk makan daging dan arak tadi hanya timbul dari hatinya yang keras, karena sesungguhnya ia tidak begitu doyan minum arak yang membuatnya pening dan merasa muak.

Ketika mereka keluar dari restoran itu, tiba di depan mereka, di luar restoran, berdiri seorang tosu yang bertubuh tinggi besar dan bermata bundar.

Kedua orang muda itu memandang dengan mata curiga, akan tetapi tosu ini dengan tersenyum-senyum memandang kepada mereka, seakan-akan sedang menyelidik.

Tiba-tiba matanya yang bundar itu memandang ke arah gagang pedang yang tergantung di pinggang Ling Ling dan senyumnya menghilang.

Sinar matanya cepat dialihkan dan kini menatap wajah Ling Ling dengan pandang mata yang membuat gadis itu terkejut sekali, karena pandangan ini penuh dengan ancaman.

"Di mana kau peroleh pedang itu?"

Tanyanya kepada Ling Ling dengan suaranya yang mengguntur sehingga para tamu di dalam restoran itu memandang keluar dengan heran.

"Mau apa kau banyak tanya?"

Jawab Ling Ling dengan suara yang tak kalah keras dan nyaringnya.

Memang, untuk membuat ia jangan sampai kalah muka, gadis ini telah mempergunakan khikangnya sehingga suaranya terdengar nyaring dan bergema keras.

Tosu itu tertegun dan maklum akan demonstrasi khikang ini.

Ia merobah sikapnya dan berkata.

"Hm, kiranya kalian adalah orang-orang muda dari kang-ouw pula. Pinto bertanya bukan tiada alasan. Pedang itu tentu Oei-hong-kiam, bukan? Ketahuilah bahwa Oei-hong-kiam adalah pedangku, sudah sepuluh tahun berada di tanganku. Kemudian kuberikan kepada muridku dan kumendengar bahwa muridku telah tewas dan pedang itu telah terampas oleh lawannya. Karena itu, ku ulangi lagi, dari mana kau memperoleh pedang Oei-hong-kiam itu, nona?"

"Akulah yang memberi pedang itu kepadanya, totiang,"

Sian Lun mendahuluinya menjawab.

Pemuda ini maklum akan kekerasan hati nona itu, maka sebelum Ling Ling mengeluarkan ucapan kasar, ia mendahuluinya.

Mendengar ucapan ini, tosu itu lalu berpaling dan kini pandang matanya menatap wajah Sian Lun dengan tajam.

"Kau? Siapa kau? Darimana kau peroleh pedang itu?"

"Aku memperolehnya dari seorang lawanku yang tewas."

"Aha, jadi kaulah yang telah membunuh muridku Kwan Sun Giok? Bagus, kau berani sekali mengganggu murid dari Liang Hwat Cinjin? Kau mencari mampus!"

Bukan main kagetnya Sian Lun mendengar ucapan ini, apalagi ketika tiba-tiba sepasang tangan tosu itu yang tertutup oleh lengan baju yang panjang dan lebar, telah menyambarnya dengan kecepatan luar biasa sekali, melakukan totokan dengan ujung lengan baju ke arah jalan darahnya yang berbahaya.

Sian Lun cepat membuang tubuhnya ke belakang, berjungkir balik di udara beberapa kali, baru ia turun dan kini ia berdiri agak jauh dari tosu itu.

"Bagus, kau ternyata pandai juga. Pantas muridku kalah!"

Sambil berkata demikian, kembali ia mengebutkan kedua tangannya ke depan, tanpa melangkah maju.

Inilah pukulan Kim-kong-jiu yang dapat merobohkan lawan dari jarak jauh, sebuah pukulan yang dilakukan mengandalkan tenaga khikang yang amat tinggi.

Sian Lun semenjak tadi telah merasa ragu-ragu dan khawatir sekali.

Kalau benar keterangan Kwan Sun Giok dahulu, kakek ini sebetulnya masih supeknya (uwa gurunya) sendiri, maka bagaimana ia berani melawannya?

Ia tidak mengelak dari sambaran pukulan Kim-kong-jiu itu.

Sebaliknya ia lalu mengangkat kedua tangannya ke arah dada dengan telapak terbuka, mengerahkan khikang dan lweekang dan melakukan gerakan Raja Monyet Menyembah Buddha.

Gerakan ini adalah pelajaran dari ilmu silat Pek-sim-kun-hoat yang ia terima dari Liang Gi Cinjin dan karena telah lama pemuda ini mendapat gemblengan ilmu lweekang dari Beng To Siansu, maka tenaga dalamnya sudah cukup kuat sehingga ia berhasil menolak kembali pukulan Kim-kong-jiu itu.

Liang Hwat Cinjin terkejut bukan main, tidak hanya karena melihat pemuda itu dapat menolak pukulannya, akan tetapi terutama sekali melihat cara pemuda itu menolak pukulan tadi.

"He, dari mana kau memperoleh gerakan See-ceng-pai-hud tadi? Ada hubungan apakah kau dengan suteku Liang Gi Cinjin?"

Sian Lun adalah seorang pemuda yang terpelajar dan memegang keras peraturan kesopanan antara hubungan guru dan murid. Mendengar pertanyaan ini, terpaksa ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata.

"Maaf, supek. Teecu adalah murid dari suhu Liang Gi Cinjin."

Liang Hwat Cinjin tertegun.

"Apa? Kau murid dari Liang Gi? Dan kau yang membunuh muridku Kwan Sun Giok dan yang merampas pedangnya?"

"Teecu terpaksa, supek, karena dia menjadi panglima dari pasukan Sui, adapun teecu membantu perjuangan Jenderal Li Goan. Di dalam perang, tentu saja tidak ada hubungan antara saudara. Harap supek sudi mempertimbangkan dan memaafkan teecu."

"Bedebah!"

Tiba-tiba tosu itu memaki dengan kasar sekali sehingga mengejutkan semua orang yang mulai menonton pertengkaran itu.

"Kau sudah berani membunuh suhengmu sendiri, hendak kulihat apakah kau berani pula melawan supekmu?"

Sambil berkata demikian, ia melangkah maju dan hendak memukul Sian Lun yang tidak bergerak dari tempatnya berlutut. Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Tosu keparat! Sekarang kaulah yang harus menjawab dari mana kau mendapatkan pedang ini!"

Karena Ling Ling mengeluarkan kata-kata ini sambil menggerakkan pedangnya di depan tosu itu untuk menghalanginya memukul Sian Lun, Liang Hwat Cinjin terpaksa menarik kembali tangannya dan ia memandang kepada Ling Ling dengan marah dan mendongkol sekali.

"Gadis liar, siapakah kau? Berani sekali kau berlaku kurang ajar dihadapan Kim-kong Lo-koai (Setan Tua Sinar Mas)."

Mendengar tosu itu menyebutkan julukannya yang menyeramkan, Ling Ling tersenyum mengejek dan berkata.

"Aku adalah Toat-beng Mo-li (Iblis Wanita Pencabut Nyawa), mengapa harus takut berhadapan dengan setan tua yang sudah hampir mampus. Kau bilang tadi bahwa pedang Oei-hong-kiam ini adalah pedangmu, ternyata kau telah berkata bohong besar."

Sampai pucat wajah Liang Hwat Cinjin mendengar ucapan yang disertai makian ini. Belum pernah selama hidupnya ada orang yang berani bersikap demikian kurang ajar kepadanya.

"Bocah yang bosan hidup! Kau berani bilang aku membohong?"

"Tentu saja kau bohong, karena setahuku, pedang Oei-hong-kiam adalah pedang pusaka milik Panglima Besar Kam Kok Han!"

Berobahlah wajah Liang Hwat Cinjin mendengar nama ini disebut.

"Hm, dari mana kau tahu akan hal ini? Memang benar, Kam Kok Han telah mampus ditanganku dalam pemberontakannya dan pedang ini terjatuh ke dalam tanganku, bukankah itu berarti bahwa pedang Oei-hong-kiam menjadi pedangku?"

"Bagus, bangsat tua! Sudah lama aku mencari-cari kau untuk membalas dendam Sucouw (kakek guru)!"

Sambil berkata demikian, Ling Ling lalu menyerang dengan tusukan pedangnya.

Liang Hwat Cinjin terheran mendengar ini, akan tetapi ia cepat mengelak sambil mengebutkan ujung lengan bajunya.

Ketika ujung lengan baju itu mengenai pedang, terdengar suara gemericing nyaring dan tergetarlah tangan Ling Ling.

Gadis ini terkejut sekali maklum bahwa kepandaian kakek ini benar-benar amat lihai dan masih lebih tinggi dari pada tingkat kepandaiannya sendiri.

Akan tetapi Ling Ling tentu saja tidak merasa takut sedikitpun juga, apalagi karena pada saat itu ia sedang merasa marah dan sakit hati sekali melihat orang yang dimaksudkan oleh pesanan Bu Lam Nio.

Inilah pembunuh suami Bu Lam Nio, dan orang inilah yang harus ia tewaskan untuk membalas dendam Bu Lam Nio dan Kam Kok Han.

Maka ia lalu menyerbu lagi dan mengeluarkan ilmu pedang Kim-gan-liong-kiam-sut sebaik-baiknya.

"Hoho! Jadi kau sudah mewarisi Kim-gan-liong Kiam-sut dari Kam Kok Han? Bagus, bagus, mari pinto antar kau menyusul Sucouwmu si pemberontak itu!"

Setelah berkata demikian, Liang Hwat Cinjin lalu menggerakkan kedua lengan bajunya secara istimewa sekali.

Dari kedua ujung lengan bajunya keluar angin pukulan yang dahsyat, yang membuat pakaian para penonton yang berada di tempat jauh ikut berkibar dan yang membuat Ling Ling merasa seakan-akan menghadapi serangan angin ribut.

Biarpun gadis ini telah memiliki lweekang yang cukup tinggi sehingga ia tidak terpengaruh oleh hawa pukulan yang hebat ini, namun tetap saja kedua matanya terasa pedas dan hidungnya terasa sukar untuk bernapas ketika tertiup oleh hawa gerakan tosu yang lihai itu.

Inilah ilmu silat Soan-hong-kim-ko-jiu yang amat lihai dari Liang Hwat Cinjin.

Dulu ketika ia menghadapi Kam Kok Han di waktu mudanya, ia telah berhasil pula merobohkan panglima kosen itu.dengan Soan-hong-kim-ko-jiu ini.

Dan sekarang dengan ilmu pukulan ini pula ia telah membuat Ling Ling menjadi bingung sekali dan terdesak hebat.

"Supek, jangan celakakan dia!"

Terdengar Sian Lun berseru berulang-ulang, dan ketika supeknya tidak memperdulikan teriakannya, dan melihat betapa Ling Ling nampak makin lama makin lemah gerakan pedangnya, Sian Lun lalu mencabut pedang Pek-hong-kiam dan melompat maju, menyerbu ke dalam kalangan pertempuran yang hebat itu.

"Ha, ha, ha! Jadi kau membela gadis ini? Agaknya dia adalah kecintaanmu, baik... baik! Akan kuantar kalian berdua menjumpai Kwan Sun Giok muridku di alam baka!"

Kini pertempuran menjadi makin hebat.

Gerakan kedua ujung lengan baju tosu itu benar-benar hebat.

Biarpun ujung lengan baju itu hanya terbuat dari pada bahan kain yang tidak berapa tebalnya, namun karena digerakkan dengan tenaga lweekang yang tinggi dan menurut aturan dari ilmu silat luar biasa Soan-hong-kim-ko-jiu, maka lengan baju itu merupakan senjata yang luar biasa berbahayanya.

Biarpun, berkali-kali bertemu dengan pedang-pedang pusaka seperti Oei-hong-pokiam dan Pek-hong-pokiam, namun ujung lengan baju itu tidak menjadi putus bahkan tangan kedua orang muda itu terasa kesemutan seakan-akan pedang mereka bertemu dengan benda yang amat keras dan kuatnya.

Makin lama makin banyak orang yang menonton pertempuran ini, dan semua orang tidak berani mendekat, menonton dari jarak jauh sambil menahan napas.

Memang pertempuran itu amat indah dilihat.

Pedang di tangan Sian Lun menjadi segulung sinar putih yang cepat dan kuat, sedangkan pedang di tangan Ling Ling berobah menjadi segulung sinar kuning yang amat ganas.

Adapun lengan baju Liang Hwat Cinjin kadang-kadang terbuka lebar merupakan awan-awan putih yang bergulung-gulung tertiup angin, sehingga nampaknya karena tubuh ketiga orang itu tidak kelihatan lagi, seakan-akan yang bermain di situ adalah seekor naga kuning dan seekor naga putih yang bermain-main di antara mega-mega yang tertiup angin.

Liang Hwat Cinjin merasa penasaran sekali dan diam-diam ia mengagumi ilmu pedang Sian Lun.

Pantas saja Kwan Sun Giok, muridnya itu tidak dapat menang, tidak tahunya pemuda itu sudah hampir mewarisi seluruh kepandaian sutenya, Liang Gi Cinjin.

Seratus jurus telah lewat dan tosu itu tetap belum dapat mengalahkan kedua orang lawan mudanya, sungguhpun kedua orang muda itu telah terdesak hebat oleh kedua lengan bajunya.

Bahkan Ling Ling nampak pucat sekali dan keringat telah membasahi jidatnya.

Gadis ini memang telah merasa tidak enak badan dan kini karena ia mengerahkan seluruh tenaganya, ia merasa kepalanya pening dan tubuhnya panas bagaikan terbakar.

Hanya semangat dan keberaniannya yang luar biasa sajalah yang membuat ia masih kuat melakukan pertempuran hebat itu.

Pada saat itu terdengar seruan.

"Kim-kong Lo-koai, kau memang jahat sekali!"

Dan tiba-tiba seorang tosu tua berkelebat datang dan menggunakan sebatang tongkat bambu menyerbu dan menyerang Liang Hwat Cinjin.

"Beng Kui Tosu, kau mau ikut-ikut?"

Liang Hwat berseru marah, akan tetapi diam-diam ia mengeluh karena dengan adanya tosu tua yang amat tangguh ini, ia merasa tak sanggup melawan terus.

Tadipun menghadapi Ling Ling dan Sian Lun, biarpun ia selalu dapat mendesak, namun kegesitan tubuh kedua orang muda itu telah membuat kepalanya pening dan sukar baginya untuk merobohkan seorang di antara mereka.

Kini tertambah pula oleh Beng Kui Tosu, tokoh dari Kun-lun-san yang kepandaiannya tinggi juga, tentu saja berat baginya menghadapi keroyokan ketiga orang ini.

Biarpun tingkat kepandaian Beng Kui Tosu tidak lebih tinggi dari pada kepandaian Ling Ling atau Sian Lun, namun tosu ini telah banyak pengalaman dalam pertempuran dan oleh karenanya bambu di tangannya itu tidak kalah lihainya dari pada pedang pusaka di tangan Sian Lun atau Ling Ling.

Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan di antara para penonton.

"Dia Liem-ciangkun! Hayo keroyok tosu siluman itu!"

Dan banyak orang datang dengan senjata di tangan, siap mengeroyok Liang Hwat Cinjin.

Ternyata mereka itu adalah bekas pejuang-pejuang atau pemberontak-pemberontak yang mengenal Liem Sian Lun sebagai pemimpin mereka ketika dahulu menyerbu ke Tiang-an.

Melihat gelagat tidak baik, Liang Hwat Cinjin tertawa bergelak dan tubuhnya melompat cepat sekali dan lenyap dari pandangan mata.

Sian Lun lalu menghampiri Beng Kui Tosu dan berlutut.

"Suhu, terima kasih atas pertolongan suhu."

Akan tetapi Beng Kui Tosu setelah mengelus-elus kepala bekas muridnya ini lalu berkata.

"Lihat, Sian Lun, nona ini agaknya sakit."

Sian Lun terkejut sekali dan cepat menengok.

Alangkah kagetnya ketika ia melihat Ling Ling berdiri sambil meramkan mata.

Wajahnya pucat sekali dan tiba-tiba gadis itu menjadi limbung, pedangnya terlepas dari tangannya dan ia tentu sudah roboh kalau Sian Lun tidak cepat-cepat melompat dan memeluknya.

Sementara itu, beberapa belas orang bekas anak buahnya sudah merubungnya dan di antaranya berkata.

"Liem-ciangkun, marilah bawa nona itu ke rumahku untuk dirawat."

Beramai-ramai mereka lalu menuju ke rumah orang she Thio yang peramah itu.

Ling Ling dipondong oleh Sian Lun yang merasa amat gelisah karena tubuh gadis itu ternyata amat panas bagaikan api.

Untung sekali bahwa pendeta Kun-lun-pai ini, yaitu Beng Kui Tosu, paham akan ilmu pengobatan.

Setelah memeriksa nadi tangan Ling Ling dan merabah jidatnya, pendeta ini lalu berkata perlahan.

"Ah, dia tidak terkena pukulan dan tidak terluka, hanya menderita demam akibat gigitan nyamuk berbisa!"

"Memang malam tadi kami berdua bermalam di tepi rawa, suhu."

Beng Kui Tosu mengangguk-angguk maklum.

"Tidak apa, tak usah gelisah, ada obatnya untuk penyakit ini."

Ia lalu menulis resep dan minta seorang di antara bekas anak buah Sian Lun untuk mencarikan obat itu di toko obat.

Orang she Thio itu sendiri lalu pergi ke kota yang berdekatan untuk membeli obat di toko obat.

"Penyakitnya tidak berbahaya,"

Kata tosu itu kepada Sian Lun.

"Dengan rawatan dan istirahat, kau beri minum obat itu selama beberapa hari saja akan sembuh. Siapakah nona ini dan mengapa pula kau sampai bertempur melawan Kim-kong Lo-koai yang lihai?"

Dengan singkat Sian Lun menuturkan pengalamannya. Tosu itu mengangguk-angguk lalu berkata.

"Nona ini ilmu pedangnya hebat sekali. Agaknya cocok kalau bisa menjadi jodohmu, Sian Lun."

Pemuda itu hanya menunduk dengan muka merah.

Kemudian tosu itu lalu berpamit untuk melanjutkan perantauannya, karena tosu Kun-lun-pai ini memang seorang perantau yang tiada tentu tempat tinggalnya.

Dengan amat teliti dan sabar, Sian Lun merawat Ling Ling hingga empat hari kemudian setelah sembuh, gadis ini merasa amat terharu dan berterima kasih.

Akan tetapi, ia merasa malu untuk memperlihatkan perasaannya, hanya kini ia tidak marah-marah lagi kepada Sian Lun.

"Kau baik sekali, Liem-ciangkun. Mengapa kau sebaik itu kepadaku?"

Hanya inilah ucapannya ketika ia melihat betapa pemuda itu dengan kedua tangannya sendiri memberi obat minum kepadanya.

"Nona, kau adalah seorang gagah yang berbudi tinggi dan telah berjasa dalam perjuangan. Kita boleh dibilang orang-orang segolongan dan kebetulan sekali kita melakukan perjalanan yang sama, mengalami bahaya yang sama serta bertemu dengan Liang Hwat Cinjin yang berbahaya. Mengapa aku tidak akan merawatmu? Tak usah bicara tentang kebaikan, karena kalau aku yang tertimpa malapetaka, aku percaya penuh bahwa kaupun takkan tega meninggalkan aku begitu saja."

"Belum tentu,"

Kata Ling Ling sambil menghindari pandang mata pemuda ini.

"Aku,...aku keras hati dan keras kepala."

Sian Lun tersenyum. Dia sendirilah yang menyebut keras hati dan keras kepala kepada gadis itu.

"Apa kau kira aku tidak keras kepala? Kita sama saja, nona, dan... haruskah kita bersikap seperti orang yang belum saling mengenal? Tak enak sekali mendengar kau menyebut ciangkun kepadaku. Di dalam barisan mungkin aku seorang panglima, akan tetapi di luar barisan, aku hanyalah Liem Sian Lun, orang biasa saja."

Akan tetapi Ling Ling tidak menjawab, hanya melengoskan muka untuk menyembunyikan mukanya, akan tetapi pemuda itu telah melihat betapa air mata mengucur deras dari sepasang mata gadis itu.

"Nona... Ling Ling... kau mengapakah?"

Bisiknya perlahan.

Gadis ini dalam keadaan sakit teringat akan nasibnya, teringat akan ibunya yang sudah meninggal dunia, teringat pula akan ayahnya, Orang yang sesungguhnya akan menjadi orang satu-satunya yang dapat diminta tolong, menjadi tempat ia berlindung, akan tetapi, ayahnya telah menjadi ayah orang lain dan ia hanya akan menjadi anak tiri.

Selama hidupnya, baru dua orang yang menaruh hati kasih sayang kepadanya, yang memperhatikan dan mengurusnya, yakni neneknya dan ibunya.

Bu Lam Nio dan ibunya telah meninggalkannya.

Dan sekarang, dalam keadaan sebatang kara, seorang diri tiada orang lain yang dapat dimintai tolong, ia jatuh sakit dan mendapatkan perawatan yang demikian baiknya dari seorang yang "Dibencinya"

Mengingat akan hal ini dan mendengar pertanyaan pemuda itu yang diucapkan dengan penuh perhatian, tak terasa lagi Ling Ling menangis tersedu-sedu.

Baru kali ini dia menangis terisak-isak dengan hati serasa diperas-peras.

"Kau... kau terlalu baik padaku... Liem-ciangkun, keluarlah... keluarlah, tinggalkan aku sendiri..."

Tangis Ling Ling menjadi-jadi.

"Akan tetapi minumlah dulu obat ini, nona."

Sian Lun mendekatinya sambil memegang mangkok berisi obat.

"Biarkan saja, aku dapat minum sendiri. Keluarlah, Liem-ciangkun..."

Sian Lun menarik napas panjang. Sungguh ia tidak dapat mengerti akan sikap gadis ini.

"Kau masih lemah, nona. Tak dapat minum sendiri. Biarlah aku menyuruh enso Thio ke sini."

Setelah meletakkan mangkok obat itu ke atas meja, Sian Lun lalu keluar dan memanggil nyonya Thio. Nyonya rumah ini amat peramah seperti suaminya, dan ia segera masuk ke dalam kamar gadis itu.

"Nona, minumlah obat ini agar kau lekas sembuh."

Dibantu oleh nyonya Thio, Ling Ling bangun duduk dan minum obat ini.

"Terima kasih enci, kau benar-benar baik sekali. Aku berhutang budi kepadamu."

"Hush, mengapa bicara tentang budi? Kalau mau bicara tentang budi, kau harus ingat kepada Liem-ciangkun. Dialah yang merawatmu selama ini, dia lupa makan, lupa tidur mengkhawatirkan keadaanmu."

Ling Ling memandang kepada nyonya itu dengan air mata berlinang.

"Benarkah, enci?"

"Mengapa tidak benar? Liem-ciangkun setiap malam duduk di atas bangku di luar kamarmu, selalu menjagamu seperti seorang ayah menjaga anaknya. Ah, kau beruntung sekali mempunyai seorang calon suami seperti dia, nona."

Tertegun hati Ling Ling mendengar sebutan ini.

Ia hendak membantah akan tetapi cepat ditahannya.

Apa gunanya membantah?

Biarlah mereka mengira bahwa dia adalah calon isteri Sian Lun, apa salahnya?

Hatinya merasa perih sekali, karena bagaimana ia bisa berjodoh dengan Sian Lun, dengan seorang pemuda yang dibencinya?

Tak mungkin seorang pemuda yang telah menduduki pangkat sebagai panglima, seorang pemuda gagah perkasa, orang kepercayaan Jenderal Li, sudi berjodoh dengan gadis bodoh seperti dia.

Hatinya makin terasa perih, Sian Lun merawatnya tentu bukan karena cinta kasih, melainkan karena iba hati, terdorong oleh kebaikan budi pemuda itu.

Ah, kalau saja Kwee Siong yang menjadi suami ibunya itu tidak berhati sekejam itu.

Kalau saja Kwee Siong tidak melupakan ibunya, kalau saja ia bisa hidup sebagai puteri Kwee Siong, akan lain lagi halnya.

Tentu ia takkan merasa lebih rendah dari pada pemuda itu.

Pikiran ini membuat hatinya panas dan kemarahan serta kebenciannya terhadap Kwee Siong meluap.

Dan pada malam hari yang gelap itu, tanpa diketahui oleh siapapun juga, tidak diketahui pula oleh Sian Lun yang telah tertidur saking lelahnya, diam-diam Ling Ling meninggalkan rumah keluarga Thio itu, meninggalkan Sian Lun menuju ke Tiang-an.

Pada keesokan harinya, gegerlah dalam rumah itu.

Sian Lun yang diberi tahu tentang larinya Ling Ling, tanpa pamit lagi lalu melompat keluar dan berlari mengejar.

Akan tetapi, ia telah kalah dulu selama setengah malam, maka ia mempercepat larinya untuk menyusul gadis yang aneh, gadis yang berhati keras, yang manis dan yang dicintainya itu.

Biarpun tubuhnya masih lemas, akan tetapi penyakit yang diderita oleh Ling Ling telah sembuh sama sekali.

Aneh, ketika ia memaksa dirinya berlari pada malam hari itu, makin lama ia merasa makin sehat dan segar.

Tahulah dia bahwa kelemasan tubuhnya itu sebagian besar karena terlampau lama berbaring dan kurang bergerak.

Ia telah memiliki tubuh yang kuat, tubuh yang semenjak kecil digembleng dengan ilmu silat tinggi, sehingga sebentar saja tenaganya telah pulih kembali, sungguhpun ia masih merasa lemah pada kaki dan punggungnya.

Menjelang pagi, ia tiba di sebuah hutan dan beristirahat sambil mengatur pernapasannya dan melatih lweekangnya.

Kalau teringat kepada Sian Lun, ia menjadi berduka.

Entah mengapa, ia merasa sunyi dan sedih, berbeda sekali ketika ia mengadakan perjalanan bersama pemuda itu.

Ketika pemuda itu selalu berada di sampingnya, ia selalu hendak marah kepada Sian Lun, akan tetapi setelah kini berpisah dan melakukan perjalanan seorang diri, ia merasa rindu dan ingin sekali melihat pemuda itu berada di sampingnya.

Inikah yang disebut cinta??

Ia sendiri tidak mengerti, apakah ia merasa cinta atau benci kepada pemuda itu.

Ia melanjutkan perjalanannya, sebentar-sebentar berhenti dan pada senja hari ia tiba di luar kota Tiang-an.

Ia berhenti di sebuah dusun yang bersih dan nyaman hawanya, makan sedikit bubur dari sebuah warung nasi, lalu menuju ke Tiang-an.

Akan tetapi, malam telah tiba dan kembali Ling Ling bermalam di sebuah hutan, di mana ia melihat sebuah kelenteng tua yang kosong.

Pada kesokan harinya, ia melihat kelenteng itu ternyata indah sekali pemandangan sekitarnya, dikelilingi oleh tanaman-tanaman bunga liar yang beraneka warna dan di belakang kelenteng terdapat sebuah sungai kecil yang amat bening airnya.

Tempat yang amat indah, pikirnya dengan hati senang.

Akan senanglah ia kalau tinggal di tempat seperti ini, dekat dengan kota Tiang-an dan tak jauh dari hutan itu terdapat pula sebuah dusun yang bersih.

Ketika ia hendak berangkat ke Tiang-an untuk mencari Kwee Siong dan melakukan niatnya membalas dendam, tiba-tiba terdengar suara halus memanggil namanya.

"Ling Ling..."

Ling Ling menengok dan tiba-tiba wajahnya berobah menjadi merah. Ia melihat Sian Lun berdiri di depan kelenteng dengan pandangan mata sayu.

"Ling Ling, mengapa kau meninggalkan aku...?"

Pemuda ini nampak pucat sekali karena memang ia amat gelisah.

Ia telah mengejar Ling Ling dan tak dapat berjalan cepat-cepat karena ia harus mencari keterangan sepanjang jalan kalau-kalau ada orang yang melihat gadis itu.

Ia tidak begitu yakin bahwa Ling Ling akan mengambil jalan langsung ke Tiang-an.

Siapa tahu kalau gadis itu mengambil jalan lain?

Karena itulah, maka ia baru dapat menyusul gadis itu pada pagi hari ini.

Ia merasa amat khawatir kalau-kalau gadis yang baru saja sembuh dari sakit itu akan jatuh sakit pula di tengah jalan.

"Liem-ciangkun, mengapa kau menyusulku?"

Ling Ling menjawab dengan pertanyaan sambil menundukkan mukanya.

"Ling Ling, mengapa kau lari dariku? Mengapa kau selalu hendak menjauhkan diri dari padaku? Sudah sembuh benarkah engkau? Kau nampak begitu kurus dan lemah..."

Sian Lun melangkah maju mendekat dan tak terasa lagi ia memegang kedua tangan gadis itu.

Berdebar jantung Ling Ling ketika merasa betapa tangan pemuda itu memegang tangannya dengan mesra.

Debaran jantungnya membuat telapak tangannya dingin sekali.

"Tanganmu dingin sekali, Ling Ling. Kau masih belum sehat benar. Mengapa kau memaksa melakukan perjalanan dan pergi di malam hari? Aku benar-benar gelisah..."

"Liem-ciangkun, jangan kau perdulikan aku lagi! Aku... aku sebatangkara, pergi ke mana aku suka, bagaikan seekor burung di udara... jangan kau acuhkan aku lagi, Liem-ciangkun."

Akan tetapi dorongan cinta kasih di dalam hati Sian Lun tak dapat ditahan lagi. Ia memegang kedua tangan Ling Ling makin erat dan berkata dengan bibir gemetar.

"Ling Ling, tidak tahukah kau betapa aku menyintamu?"

"Apa...?"

Kedua mata Ling Ling terbelalak dan ia memandang tajam.

Sungguhpun ia telah dapat mengira akan hal ini dan telah mendengar penuturan nyonya Thio tentang rawatan pemuda ini, namun mendengar pengakuan itu dari mulut pemuda itu sendiri, ia menjadi terkejut juga.

"Memang, aku mencintamu, Ling Ling,"

Kata Sian Lun dengan ketetapan seorang perajurit, biarpun mukanya menjadi sebentar pucat sebentar merah dan keringat mengalir dari jidatnya di pagi hari yang dingin itu.

"Aku sendiri tadinya tidak mengira sama sekali, kukira hanya karena kagumku dan rasa iba hatiku kepadamu. Akan tetapi malam kemarin... pada pagi harinya ketika aku mendengar bahwa kau telah pergi meninggalkanku... aku yakin bahwa aku takkan dapat hidup bahagia tanpa kau disampingku!"

Ling Ling tak dapat menjawab, hanya menundukkan mukanya makin dalam dan ia menangis terisak-isak.

"Ling Ling..."

Sian Lun menarik kedua tangan gadis itu dan hendak memeluknya, akan tetapi Ling Ling merenggutkan kedua tangannya sehingga terlepas dari pegangan Sian Lun dan gadis ini melangkah mundur tiga tindak.

"Tidak, tidak... jangan sentuh aku...!"

"Ling Ling..."

Kata Sian Lun dengan suara sedih.

"Kau bilang bahwa kau hidup sebatangkara... tidak maukah kau ikut dengan aku dan menjadi mantu ibuku? Dia orang baik, Ling Ling, ibuku amat baik dan tentu kau akan suka sekali kepadanya, akan kau anggap sebagai ibumu sendiri."

"Tidak! Tidak! Kau seorang panglima, seorang berkedudukan tinggi, sedangkan aku... aku seorang wanita kasar, bodoh, dan telah disebut orang sebagai... siluman, sebagai iblis wanita! Tahukah kau aku siapa?"

"Kau seorang gadis yang gagah perkasa, budiman, dan cantik jelita... dan..."

"Aku disebut Toat-beng Mo-li, Iblis Wanita Pencabut Nyawa, juga disebut Cialing Mo-li, Iblis Wanita Sungai Cialing! Aku seorang wanita jahat, kejam, dan tidak mengenal prikemanusiaan!"

"Mereka itu bohong!"

Kata Sian Lun dengan sengit.

"Akan kutampar mulut setiap orang yang berani menyebutmu demikian, Ling Ling. Tidak dapatkah kau menerima cintaku...?"

"Tidak, tidak mungkin..."

"Apakah kau membenciku? Dan... tidak ada sedikit jugapun rasa cinta kasih di dalam hatimu terhadapku?"

Pertanyaan ini terdengar amat mengharukan sehingga kini gadis itu menutupi mukanya dan tangisnya membuatnya tersedu-sedu. Ia tak dapat menjawab.

"Ling Ling, jawablah. Jawabanmu merupakan keputusan bagi kebahagiaan hidupku."

Setelah tangisnya mereda, gadis itu menatap wajah pemuda itu dengan pandangan yang berani, pandangan yang menyelidik dan tajam sekali sehingga kembali Sian Lun merasa betapa sinar mata gadis itu tajam dan runcing bagaikan ujung pedang yang menembus hatinya.

"Sian Lun, katakanlah, mengapa kau menyintaku? Mengapa?"

Berdebar jantung pemuda itu mendengar Ling Ling menyebut namanya begitu saja. Satu perobahan? Akan tetapi ia harus menjawab.

"Sukar sekali mengatakannya, Ling Ling,"

Ia menatap gadis itu dari kepala sampai ke kaki.

"Entah apamu yang membuat aku jatuh cinta. Mungkin rambutmu, matamu, hidung atau mulutmu, mungkin pula kakimu... ah, aku tidak tahu. Mungkin pula watakmu yang keras, atau kegagahanmu, entahlah. Kenyataannya, kalau kau sedang marah, kau nampak makin menarik dalam pandangan mataku."

Ucapan ini terdengar bagaikan lagu dari tujuh sorga di dalam telinga Ling Ling, membuatnya menutupkan kedua mata untuk beberapa lamanya.

Alangkah merdu suara pemuda itu, ingin ia mendengar terus menerus ucapan itu, mendengar selama hidupnya.

Akan tetapi ia memaksa diri merenggutkan semangatnya yang sudah terayun oleh gelombang rayuan ini.

"Sian Lun, lihatlah kenyataan! Bukalah matamu! Aku bukan gadis yang tepat untuk menjadi jodohmu. Lupakah kau bahwa aku sedang menuju ke Tiang-an untuk mencari dan membunuh Kwee Siong pamanmu?"

Bagaikan pisau berkarat ucapan ini menikam ulu hati Sian Lun dan membuatnya menjadi pucat seketika.

Sakit rasa hati Ling Ling melihat keadaan pemuda itu.

Sesungguhnya Sian Lun menjadi limbung ketika ia melangkah mundur tiga tindak.

Kata-kata ini merupakan suara halilintar di siang hari yang menggugahnya dari mimpi indah.

Bagaikan air dingin yang diguyurkan di atas kepala seorang yang mengantuk.

"Ling Ling... kasihanilah aku, kasihanilah pamanku...! Sakit hati apakah yang membuatmu demikian kejam terhadap paman? Katakanlah, urusan apakah yang menyakitkan hatimu, yang diperbuat oleh Kwee siokhu kepadamu?"

"Kau tak perlu tahu! Ini urusan pribadi. Cukup kalau kuberitahukan kepadamu bahwa aku harus membunuh orang she Kwee itu!"

Setelah berkata demikian, Ling Ling memutar tubuh dan berdiri membelakangi Sian Lun.

"Ling Ling, tak dapat dirobahkah niatmu ini? Demi Tuhan, sekali lagi aku mohon padamu, jangan lanjutkan niatmu ini. Biarlah aku berlutut di depan kakimu, Ling Ling, jangan kau mengganggu dia!"

Dan Sian Lun benar-benar berlutut di depan gadis itu.

"Bodoh! Lemah!"

Tiba-tiba Ling ling berseru sambil terisak dan ketika Sian Lun mengangkat kepalanya, ternyata gadis itu sudah tidak ada di depannya pula.

Pemuda ini terkejut sekali dan cepat ia melompat dan mengejar.

Karena memang tubuh Ling Ling masih lemah, sebentar saja Sian Lun dapat menyusulnya.

Akan tetapi, Ling Ling telah mencabut pedangnya dan berkata menantang.

"Sian Lun, untuk satu hal ini, kalau terpaksa, aku akan menghadapimu dengan pedang!"

Bukan main bingung dan sedihnya hati Sian Lun.

"Ling Ling, aku tidak sampai hati untuk bertanding dengan engkau. Tidak lagi. Kalau kau mau, kau boleh penggal leherku, aku takkan melawan. Alan tetapi, jika aku melihat engkau mengganggu pamanku, terpaksa aku akan membelanya, biarpun aku harus mati di tanganmu."

Sambil berkata demikian, Sian Lun lalu berlari terus dengan amat cepatnya, mendahului gadis itu menuju Tiang-an.

Ling Ling maklum bahwa pemuda itu tentu akan pergi ke rumah Kwee Siong dan akan menjaga keselamatan orang she Kwee itu.

Akan tetapi ia tidak takut.

Kalau perlu, ia akan menyerang pemuda itu dengan pedangnya.

Sakit hati ibunya lebih penting untuk dibalaskan.

Ia belum pernah berbakti terhadap ibunya, dan ia telah menyaksikan sendiri betapa ibunya hidup bersengsara, semenjak muda hidup di dalam hutan dan dijuluki iblis wanita, sama sekali tidak diperdulikan oleh ayahnya yang kini menduduki pangkat tinggi dan hidup bersenang-senang dengan isteri dan puteranya yang baru.

Dengan pikiran penuh nafsu dan dendam, gadis ini lalu berlari cepat menuju ke kota Tiang-an yang temboknya telah nampak di depan.

Semenjak pertemuan dengan Sui Giok dan Ling Ling, Kwee Siong sembuh dari sakitnya dengan keadaan yang berobah sama sekali.

Ia kini nampak tua, selalu berwajah muram dan seringkali termenung.

Isterinya mencoba untuk menghiburnya, akan tetapi sia-sia.

Kwee Siong terganggu oleh pikiran dan perasaannya sendiri.

Ia merasa berdosa dan apabila ia teringat akan Sui Giok dan Ling Ling, ia menjadi amat terharu dan kasihan.

Ia dapat membayangkan betapa hebatnya penderitaan dan kesengsaraan isterinya yang terpisah darinya di dalam hutan liar itu dalam keadaan mengandung tua.

Dulu ia merindukan isterinya dan telah berusaha mencari isterinya itu.

Sampai lama, bertahun-tahun kemudian, baru ia mau menikah kembali atas bujukan saudara angkatnya, yakni Liem Siang Hong ayah Liem Sian Lun.

Dan sekarang, setelah penghidupannya dengan keluarganya yang baru ini mulai bahagia, tiba-tiba saja muncul Sui Giok yang dikira telah tewas itu dengan puterinya.

Alangkah malang nasibnya, alangkah hebat penderitaan ibu dan anak itu.

Ia menyesal sekali mengapa Sui Giok dan Ling Ling telah pergi.

Hiburan satu-satunya hanya Kwee Cun, puteranya yang telah berusia delapan tahun itu.

Kwee Cun ternyata menjadi seorang anak laki-laki yang amat cerdik.

Sukar bagi ibunya untuk menyembunyikan sesuatu dari anak ini karena Kwee Cun memiliki kecerdikan dan keluasan pandangan seperti orang dewasa.

"Ibu,"

Katanya setelah berkali-kali menanyakan keadaan ayahnya tanpa mendapat jawaban memuaskan dari ibunya.

"bagaimanapun juga ibu hendak menyembunyikan dariku, aku tahu bahwa tentu ada sesuatu yang menimpa diri ayah. Ia nampak begitu sedih. Ibu, ceritakanlah kepadaku, ibu."

"Cun-ji, kau masih kecil, tidak perlu mengetahui akan hal ini,"

Kata ibunya sambil mengelus-elus kepala anak itu.

"Ibu, kalau kau tidak mau menceritakan, aku akan selalu merasa sedih. Aku tidak mau belajar, tidak makan, tidak mau bermain-main. Ayah berduka sedangkan aku tahupun tidak urusannya. Ibu memperlakukan aku seperti orang luar saja."

Setiap hari Kwee Cun membujuk ibunya sehingga akhirnya ibunya merasa kewalahan dan diceritakannyalah tentang Sui Giok dan Ling Ling. Anak itu mengerutkan kening dan kontan berkata.

"Ayah tidak bersalah!"

Ibunya hanya memeluknya sambil mengalirkan air mata.

"Cun-ji, jangan kau ikut-ikut. Kau masih kecil, nak, belum tahu perasaan hati orang tua. Mari kita berdoa saja semoga ayahmu akan terhibur hatinya dan semoga ibu dan anak itu akhirnya akan dapat tinggal bersama kita dalam keadaan yang rukun dan damai."

Kwee Cun memandang kepada ibunya dengan mata penuh kasih sayang, lalu katanya.

"Ibu, kau seorang yang berhati mulia."

Demikianlah, anak kecil ini dengan cara pikiran dan pertimbangannya sendiri, telah dapat mengetahui keadaan ayahnya. Pada hari itu, menjelang senja, datanglah Sian Lun dengan wajah pucat dan lesu.

"Engko Sian Lun datang...!"

Kwee Cun berteriak berkali-kali dengan girang sekali.

Sian Lun mengangkat anak itu ke atas lalu menurunkannya kembali.

Ia menganggap Kwee Cun seperti adiknya sendiri.

Ibunya, yakni nyonya Liem Siang Hong, yang semenjak Kwee Cun lahir telah tinggal menjadi satu di gedung itu, menyambut kedatangan puteranya dengan girang.

"Lun-ji, pasukanmu telah lama tiba, mengapa baru sekarang kau datang? Kau membuat kami merasa gelisah saja. Kemanakah kau pergi?"

"Aku... aku mengurus sebuah hal yang penting, ibu. Mana Kwee siokhu?"

Tanyanya menyimpangkan pertanyaan ibunya itu.

"Di ruang belakang. Ah, Sian Lun, pamanmu itu akhir-akhir ini nampak selalu bersedih saja. Jumpailah dia, siapa tahu kedatanganmu akan menghibur hatinya."

Sian Lun lalu menuju ke ruang belakang di mana ia disambut oleh pamannya dan bibinya.

"Kwee siokhu, aku membawa sebuah berita yang amat penting."

Melihat sikap pemuda itu, Kwee Siong lalu mengajaknya masuk ke dalam kamar kerja.

Nyonya Kwee yang maklum bahwa sebagai seorang wanita ia tidak berhak mencampuri urusan pekerjaan suaminya.

Ketika melihat Kwee Cun hendak ikut ayahnya ke dalam kamar kerja, nyonya Kwee segera membetot tangannya dan mengajaknya ke belakang.

"Kau dan aku tidak boleh mengganggu ayahmu kalau sedang ada urusan pekerjaan,"

Katanya.

"Mengapa tidak boleh ibu?"

"Kita tidak dapat membantu, hanya akan merupakan gangguan saja. Kalau kakakmu Sian Lun ada pembicaraan penting dengan ayahmu, tentu mereka itu membicarakan tentang pekerjaan dan urusan negara."

Akan tetapi sesungguhnya yang dibicarakan oleh dua orang itu sama sekali bukanlah urusan negara.

"Siokhu, mulai saat ini sampai malam nanti, harap siokhu sekeluarga jangan keluar dari kamar dan biar aku menjaga di sini, di dekat siokhu sampai bahaya itu datang."

"Apa maksudmu, Sian Lun?"

Tanya Kwee Siong terkejut.

"Siokhu, nanti akan ada orang yang datang dan berusaha menyerang untuk membunuh siokhu."

Pemuda ini sengaja tidak mau menyebut nama Ling Ling, agar orang tua ini jangan menjadi kaget dan berduka.

"Orang mau membunuhku? Siapakah dia dan bagaimana kau bisa tahu?"

Kwee Siong adalah seorang yang telah lama melakukan pekerjaan sebagai hakim, maka mendengar tentang ada orang hendak membunuhnya, bukan merupakan hal yang aneh karena tentu banyak penjahat merasa dendam kepadanya.

Dan karena kebiasaan memeriksa pesakitan, kali inipun ia telah mendesak Sian Lun dengan pertanyaan-pertanyaan.

"Siokhu, tak perlu kiranya aku beritahukan siapa orangnya yang hendak melakukan hal itu. Tiada gunanya siokhu mengetahui."

Pemuda ini menundukkan mukanya.

Ia tidak bisa membohong dan juga bukan seorang ahli dalam memutar balikkan omongan, maka agar dapat bersembunyi dari pandangan mata pamannya yang luar biasa tajamnya, ia menundukkan mukanya.

Berat sekali rasa hatinya untuk memberitahukan siapa orangnya yang hendak melakukan perbuatan jahat ini.

Ia tidak ingin orang lain, terutama sekali pamannya, tahu akan maksud jahat dari Ling Ling.

Ia hendak menghadapi gadis yang dicintanya itu sendiri, hendak berusaha sedapat mungkin untuk mencegah gadis itu melanjutkan niatnya.

Kalau perlu ia akan mengorbankan nyawanya.

Untuk membiarkan Ling Ling membunuh pamannya, tak mungkin dapat ia lakukan.

Dan untuk memberi keterangan sejelasnya kepada pamannya sehingga orang tua ini memandang rendah dan marah kepada Ling Ling atau lalu bertindak untuk menghadapi gadis itu dengan kekerasan sehingga Ling Ling akan mendapat bencana, juga tak dapat dilakukan olehnya.

Ia menyinta dan berbakti kepada pamannya yang dianggap sebagai ayah sendiri, akan tetapi iapun amat menyinta Ling Ling.

Hening sejenak, Kwee Siong menatap tajam sedangkan Sian Lun menunduk sambil menahan napas.

"Tentu dia yang akan datang, bukan? Dia... gadis yang bernama Ling Ling dan dijuluki orang Toat-beng Mo-li, gadis yang dulu hendak membunuh jenderal Li, bukan?"

Tiba-tiba Kwee Siong berkata.

Serasa ambruk bangunan rumah di atas kepalanya ketika Sian Lun mendengar pertanyaan ini.

Ia cepat mengangkat kepala memandang pamannya dan melihat sinar mata itu menembus dadanya dengan pandang menyelidik, ia tidak berani mencoba-coba untuk menyangkal lagi.

"Siokhu, bagaimana kau dapat menduga demikian tepat?"

Tanyanya kagum.

Kwee Siong tersenyum pahit.

Tentu saja ia dapat menduga.

Kalau penjahat-penjahat biasa yang hendak mengarah nyawanya, tentu Sian Lun takkan menyembunyikan namanya.

Sui Giok dan Ling Ling adalah orang-orang yang selama ini tidak pernah meninggalkan ingatannya, dan ia maklum betapa gadis puterinya itu akan membencinya kalau mendengar dari ibunya betapa ia adalah ayahnya yang seakan-akan telah menyia-nyiakan kehidupan ibunya.

"Sian Lun, mengapa kau menyembunyikan namanya dariku?"

Kwee Siong menjawab pertanyaan pemuda itu dengan pertanyaan pula, pertanyaan yang dikeluarkan dengan suara menuntut dan penuh selidik.

Berdebar jantung Sian Lun.

Tentu saja tak mungkin baginya untuk berkata terus terang bahwa ia menyinta gadis itu.

Bahwa ia tidak ingin gadis itu tertangkap dan mendapat celaka, akan tetapi bahwa iapun tidak ingin melihat gadis itu membunuh pamannya.

"Dia... dia... adalah seorang dara perkasa, seorang pendekar wanita yang sudah berjasa, yang sudah membantu perjuangan kita, siokhu. Aku hendak mencegahnya melakukan perbuatan yang jahat ini. Siokhu, bolehkah aku mengetahui, mengapakah dia begitu benci kepadamu? Mengapa dia begitu berkeras hati hendak membunuhmu?"

Melihat wajah pemuda itu yang sedih dan ucapannya yang penuh penasaran dan kepedihan hati itu, mata Kwee Siong yang tajam sudah dapat menduga lebih mendalam lagi.

"Sian Lun,"

Katanya dengan lemah.

"jangan kau menghalanginya. Biarkan ia datang dan aku sendiri yang akan menghadapinya!"

"Siokhu! Dia... dia hendak membunuhmu!"

"Biarlah! Jangan kau ikut campur, Sian Lun. Dengarkah kau? Ini satu perintah dariku, mengerti? Jangan kau menghalangi dia dan biarkan dia turun menjumpaiku. Aku tidak mau dibantah oleh siapapun juga dalam hal ini. Tak seorangpun boleh mencampuri urusan ini, juga kau sendiri tidak!"

"Siokhu! Akan tetapi aku... bukankah kau kuanggap ayah sendiri? Bukankah aku sama dengan puteramu sendiri? Bagaimana aku dapat membiarkan orang mengancam keselamatanmu?"

Kwee Siong tersenyum sedih.

"Kau tahu bahwa kau lebih dari putera sendiri bagiku. Bahkan aku ingin sekali... mengambilmu sebagai mantuku!"

Bukan main herannya hati Sian Lun mendengar ini dan ia hendak bertanya, akan tetapi Kwee Siong mendahuluinya dengan kata-kata tegas.

"Sian Lun, kau malam ini keluarlah dari rumah ini. Ajak ibumu bermalam di rumah Jenderal Li. Biarkan aku sekeluargaku seorang diri di dalam gedung ini."

Ketika pemuda itu memandangnya dengan wajah pucat, ia menyambung cepat.

"Anakku yang baik, percayalah kau kepadaku. Aku hanya minta kau mentaati kata-kataku sekali ini. Jangan membantah, anakku..."

Dua titik air mata terlompat keluar dari mata pemuda ini. Sebutan "Anakku"

Membuatnya merasa terharu sekali.

Pamannya yang amat baik hati ini menghadapi bahaya maut, akan tetapi ia bahkan diminta keluar dari situ bersama ibunya.

Ia tahu bahwa Ling Ling bukanlah seorang gadis yang boleh dibuat main-main.

Ancaman yang keluar dari mulut gadis seperti Ling Ling adalah ancaman yang timbul dari dasar hatinya.

Akan tetapi ia tidak berani membantah kehendak pamannya yang tegas-tegas menyatakan bahwa ini adalah sebuah perintah, maka ia lalu mengajak ibunya keluar dari rumah gedung itu dan bermalam di rumah Jenderal Li Goan.

Sesosok bayangan hitam yang gesit sekali melompat ke atas genteng rumah gedung Kwee Siong.

Bayangan ini bukan lain adalah Ling Ling yang datang dengan maksud membunuh ayahnya sendiri.

Ia merasa heran karena melihat keadaan di luar gedung dan di atas genteng sunyi saja.

Benar-benar di luar dugaannya semula.

Di manakah Sian Lun?

Apakah pemuda yang mendahuluinya itu tidak melakukan penjagaan untuk mencegahnya?

Dan di mana pula para penjaga?

Apakah Sian Lun telah memperingatkan ayahnya dan keluarga itu telah pergi bersembunyi di lain tempat?

Ah, kalau rumah itu telah dikosongkan, tentu rumah itu merupakan perangkap baginya.

Akan tetapi Ling Ling tidak merasa takut sedikitpun juga.

Ia menganggap bahwa niatnya ini merupakan tugas terakhir.

Biarlah ia tewas dalam melakukan tugas ini, karena apakah artinya hidup baginya?

Ibunya tidak ada, ayahnya hendak ia bunuh, dan Sian Lun...

ah, dia tidak mau memikirkan pemuda itu dalam saat seperti itu.

Dengan amat ringannya ia melompat turun sambil mencabut pedang Oei-hong-kiam dari pinggangnya.

Ia masuk ke dalam ruangan yang terang dan sunyi.

Masuk terus dengan tindakan kaki ringan, makin ke dalam.

Sebuah pintu yang menuju ke ruang belakang tertutup, maka dibukanya perlahan.

Matanya silau karena di ruang itu amat terang, banyak lilin dipasang di atas meja.

Untuk beberapa lama Ling Ling menggosok matanya agar tidak begitu silau.

Ketika ia membuka matanya, ia memandang ke depan dan...

berdiri bengong seperti patung.

Kwee Siong dengan tenangnya duduk di atas sebuah kursi sambil memandangnya dengan mata tajam, akan tetapi wajahnya muram dan berduka sekali.

Seorang nyonya yang cantik duduk di sebelahnya, menundukkan muka dan wajahnya nampak amat pucat.

Seorang anak laki-laki yang tadinya menangis sambil menyembunyikan mukanya di pangkuan ibunya, kini serentak bangun berdiri, memandang kepada Ling Ling dengan matanya yang lebar dan bening.

"Ling Ling, kau baru datang, nak?"

Terdengar Kwee Siong berkata dengan suara seakan-akan seorang ayah menegur puterinya yang baru kembali dari perjalanan jauh.

"Sudah semenjak tadi aku, ibu tirimu dan adikmu menanti kedatanganmu!"

Naik sedu sedan dari dada gadis itu menuju kerongkongannya, akan tetapi ia cepat menekan perasaan keharuan ini dan membentak marah.

"Siapa anakmu? Kau orang jahat, manusia kejam berhati binatang. Kau telah membiarkan ibu hidup sengsara sampai bertahun-tahun. Ibu hidup bagaikan seekor binatang buas di dalam hutan, menjadi seorang yang dijuluki iblis wanita oleh orang lain. Semua karena kau! Laki-laki tidak tahu kewajiban, kau masih berani menyebut aku sebagai anakmu?"

"Ling Ling, kau boleh memaki sesuka hatimu, akan tetapi katakanlah, mengapa ibumu tidak ikut datang? Mana Sui Giok? Mana isteriku itu?"

Tak tertahan lagi air mata menitik keluar dari sepasang mata Ling Ling.

Kemudian ia mengangkat mukanya memandang wajah ayahnya dengan marah sekali.

Dengan jari telunjuk tangan kirinya ia menuding ke arah muka Kwee Siong sambil berkata keras.

"Manusia rendah! Kenapa tidak dulu-dulu kau menanyakan ibu dan mencarinya? Mengapa sekarang setelah kau membunuh mati ibu, kau masih berpura-pura bertanya lagi?"

Muka yang sudah pucat dari pembesar itu kini menjadi makin pucat seperti mayat. Ucapan Ling Ling itu benar-benar menusuk hatinya dan membuatnya terkejut sekali.

"Ling Ling!"

Ia bangun dari kursinya dengan kedua kaki menggigil.

"Apa kau bilang? Mana ibumu...? Mana...??"

"Ibu telah mati, dan kau tidak berhak bertanya-tanya lagi!"

Seru gadis itu dengan ganas sambil melangkah maju dengan pedang siap di tangan.

"Ya, Tuhan...!"

Hanya itulah yang dapat diucapkan oleh Kwee Siong. Ia terjatuh kembali ke atas kursinya dan menutupi mukanya dengan kedua tangannya.

"Sui Giok... Sui Giok... bagaimana dia mati...? Bagaimana? Ling Ling, katakanlah, bagaimana ibumu bisa mati...?"

"Tutup mulutmu yang palsu!"

Bentak gadis itu makin marah.

"Aku tidak kasihan kepadamu, seperti kau tidak kasihan kepada ibuku. Jangan pura-pura berduka atas kematian ibuku, karena sekarang aku datang hendak memaksa kau mati menyusul ibuku. Biar kau bisa bertemu dan minta ampun kepadanya!"

"Bunuhlah! Bunuhlah... ini dadaku, siapa takut mati? Aku akan merasa girang sekali dapat menyusul Sui Giok, aku merasa berdosa kepadanya, hanya... hanya aku merasa sayang sekali mengapa puteriku, puteri Sui Giok akan menjadi seorang anak durhaka yang membunuh ayah sendiri."

Lemaslah tangan Ling Ling mendengar ini, akan tetapi kekerasan hatinya membuat ia melompat maju dan mengangkat pedangnya, siap ditusukkan ke dada ayahnya.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar jerit mengerikan dan nyonya Kwee melompat maju, menghadang di depannya.

"Nona, suamiku tidak bersalah. Ayahmu tidak bersalah terhadap ibumu. Ketika ia mengawiniku, dia sudah putus asa dan menganggap bahwa ibumu telah meninggal dunia. Telah banyak usahanya untuk mencari ibumu, akan tetapi sia-sia. Jangan bunuh padanya, nona, bunuhlah aku kalau kau merasa bahwa aku yang merusak kehidupan ibumu!"

Dan nyonya ini lalu menangis terisak-isak, berlutut di depan Ling Ling. Tiba-tiba Kwee Cun berteriak marah.

"Tidak, ibu, tidak! Nona ini tidak boleh membunuhmu!"

Ia lalu menghampiri Ling Ling dengan sikap mengancam, kedua tangannya yang kecil terkepal.

"Kau... kau ganas dan kejam! Kau orang durhaka, mau membunuh ayah sendiri? Kupukul kau!"

Dan anak kecil itu lalu menyerang Ling Ling dengan kedua tangannya memukul.

Ling Ling tertegun melihat ini semua.

Sebetulnya ia tidak tega untuk membunuh ayahnya, untuk melukai orang tua yang sama sekali tidak nampak jahat dan kejam ini.

Ia tadi telah tertusuk oleh sikap dan kata-kata ayahnya, yang ternyata seorang laki-laki gagah dan budiman.

Ketika nyonya itu menangis dan bermohon kepadanya, ia sudah merasa makin lemah semangatnya.

Bagaimana ia bisa membunuh ayah sendiri dan membuat nyonya itu serta puteranya menjadi janda?

Kini melihat sikap Kwee Cun, ia makin pucat dan tak terasa pula ia melangkah mundur tiga tindak.

Sebagai seorang yang mempelajari ilmu silat dan menjunjung tinggi kegagahan, sikap dan keberanian anak ini membela ibunya telah membuat Ling Ling kagum sekali.

Ia tidak tahu harus menangis atau tersenyum.

Sedih dan girang tercampur aduk menjadi satu.

Sedih mengingat nasib ibunya, dan girang mendapat kenyataan bahwa ayahnya dan isteri serta puteranya yang baru ternyata adalah orang-orang (Lanjut ke

Jilid 09 -Tamat) Wanita Iblis Pencabut Nyawa/Toat Beng Mo Li (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09 (Tamat) yang patut dipuji.

Kenyataan bahwa ayahnya seorang laki-laki gagah membuatnya bangga.

Kalau seandainya ayahnya berlutut dan meminta-minta ampun, mungkin akan dilanjutkan niatnya membunuhnya.

Akan tetapi ayahnya bahkan menantang, memberikan dadanya.

"Nona insyaflah akan kesesatanmu!"

Terdengar nyonya itu berkata di antara tangisnya.

"Tidak ada kedosaan yang lebih besar daripada membunuh ayah sendiri. Menyakiti hatinya saja sudah merupakan perbuatan terkutuk, apalagi membunuhnya. Aku bersumpah, ketika ayahmu melihat kau dan ibumu masih hidup, tidak ada pengharapan yang lebih besar dalam hati ayahmu, dalam hatiku dan dalam hati adikmu yang masih kecil ini, melainkan melihat kau dan ibumu tinggal di sini bersama kami, hidup sebagai keluarga yang besar dan penuh damai. Sekarang... kalau benar-benar ibumu telah meninggal dunia, kuminta kepadamu, tinggallah di sini. Jadilah anakku, anak ayahmu, enci adikmu ini... Ling Ling, pergunakanlah kesadaranmu..."

Kembali Ling Ling tertegun. Akan tetapi sambil mengeraskan hatinya, ia berkata.

"Kau kira akan dapat membujukku dengan omongan manis. Kau tidak tahu betapa rasanya kehilangan ibu. Biarlah anakmu yang akan merasakan betapa sengsaranya hati seorang anak terpisah dari ibunya."

Setelah berkata demikian, secepat kilat Ling Ling menyambar tubuh Kwee Cun, dipondongnya dan dibawanya melompat keluar, menghilang di dalam gelap.

"Cun-ji...!"

Nyonya itu berteriak-teriak sambil menangis.

"Ling Ling... kasihanilah dia, kembalikan anakku..."

Akan tetapi Kwee Siong segera memegang tangan isterinya yang hendak berlari mengejar.

"Sabarlah, tenanglah! Aku tidak percaya bahwa Ling Ling akan mencelakakan Cun-ji. Dia pasti akan kembali membawa Cun-ji dengan selamat. Percayalah kepadaku."

Nyonya itu lalu menubruk dan menangis di dada suaminya.

Pada keesokkan harinya, pagi-pagi sekali Sian Lun sudah masuk ke dalam gedung keluarga Kwee.

Ibunya masih berada di rumah Jenderal Li Goan.

Wajah pemuda ini muram dan pucat penuh kekhawatiran.

Semalam suntuk ia tidak pernah tidur sedikitpun juga, penuh kegelisahan memikirkan keadaan pamannya dan juga memikirkan keadaan Ling Ling.

Baca Juga: Mutiara Hitam 18

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert