Ceritasilat Novel Online

Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan 5

Eps 5 Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan - Chin Yung

Baca online Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan - Chin Yung

Cersil Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan - Chin Yung.

Namun sekarang yang membuat dia sulit menolaknya justru wanita itu menyatakan sahabatnya itu tengah terserang semacam penyakit, maka pendeta itu telah membuka pintu lebih lebar, ia mempersilahkan tamunya itu untuk masuk.

Bong Kim Lian girang melihat tipu daya nya telah berhasil.

Setelah pendeta itu menutup pintu kuil, ia mengajak Bong Kim Lian kesebuah kamar yang tidak begitu besar, dan hanya dilengkapi oleh sebuah pembaringan.

"Dikamar ini nona bisa beristirahat ......., kalian boleh mempergunakan kamar ini"

Kata pendeta itu.

"Terima kasih Taisu ...... !"

Kata Bong Kim Lian sambil meletakkan Toan Hongya dipembaringan.

"Dikuil ini terdapat beberapa orang pendeta yang mengurus kuil ini, Taisu,"

Tanya Kim Lian lagi. Pendeta itu tertegun sejenak, tetapi tokh ia menyahuti juga.

"Tiga orang, termasuk Lolap ......!"

Sahut pekdeta itu.

"Bisa kami meminta sedikit air hangat ?"

Tanya Bong Kim Lian lagi. Pendeta itu mengangguk.

"Tunggu, Lolap akan mengambilkannya!"

Katanya, dan ia telah menuju kedapur.

Sedang kan Bong Kim Lian diam2 telah mengikutinya, diluar tahu pendeta itu sendiri.

Ketika pendeta itu telah mengambilkan air hangat dari dapur dan akan menuju kekamar Bong Kim Lian, justru wanita cantik itu telah berada dihadapannya, mengejutkan pendeta itu.

Waktu itu Bong Kim Lian telah berkata .

"Terima kasih Taisu, maaf kan mengganggu tidur Taisu, silahkan tidur lagi.......!"

Dan Bong Kim Lian menyambuti tempat air hangat itu, ia mengulurkan tangan kanannya dengan cepat, dan ternyata pendeta itu telah tertotok jalan pulasnya.

Pendeta itu hanya merasakan dada sebelah kirinya sakit, kemudian sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya terkulai rubuh dilantai.

Dia telah tertidur dengan keadaan tertotok.

Bong Kim Lian bekerja cepat.

Sambil membawa tempat air hangat itu ia tidak kembali kekamar dimana Toan Hongya berada, tetapi dikelilinginya kuil-itu, ia melihat dua orang pendeta yang berusia pertengahan baya tengah tertidur nyenyak disebuah kamar.

Cepat sekali Bong Kim Lian mendorong daun pintu kamar yang tidak terkunci itu, ia menotok jalan darah pulas pendeta yang tengah tidur .......

kedua pendeta itu akan terus tidur sampai dua hari dua malam karena totokan tersebut.

Cepat2 Bong Kim kembali kekamar dimana Toan Hongya tergeletak, ia menuangkan sedikit air hangat kedalam sebuah cawan, kemudian dicampur sedikit bubuk putih, yaitu bubuk pelemas seperti yang diminum oleh Oey Yok Su beberapa saat yang lalu.

Bong Kim Lian kemudian menghampiri pembaringan, ia duduk ditepi pembaringan.

Dilihatnya Toan Hongya tertidur nyenyak sekali akibat asap pulas yang dibakar beberapa waktu yang lalu.

Ditekan kedua rahang Toan Hongya kemudian waktu mulut Toan Hongya terbuka, Bong Kim Lian memasukan air bercampur bubuk putih obat pelemas itu, ia tuangkan kedalam mulut Toan Hongya, dan menekan tenggorokkan raja itu sehingga cairan itu masuk kedalam kerongkongannya.

Bong Kim Lian tersenyum puas.

Dengan tidak sabar ia duduk menantikan Toan Hongya terpengaruh obat pelemas itu, yang akan bekerja selama sepeminuman teh, maka Bong Kim Lian harus menanti dulu sebelum menyadari pemuda itu dari pulasnya.

Bong Kim Lian tersenyum, ketampanan yang dimiliki Toan Hongya tidak kalah jika dibandingkan dengan Oey Yok Su, juga tubuhnya yang tegap disamping juga Kim Lian mengetahui pemuda ini memiliki kepandaian yang tinggi.

Setelah yakin obat pelemasnya bekerja, Bong Kim Lian menotok jalan darah Toan Hongya.

Toan Ceng terbangun dari tidurnya.

la heran sekaii ketika pertama kali membuka matanya melihat dirinya berada ditempat asing.

Yang lebih mengejutkan batinya justru ia melihat wanita cantik dihadapannya.

Dan yang lebih membuat ia tertegun adalah wanita itu Bong Kim Lian, yang diketahuinya dari Oey Su dan Lu Liang Cwan sebagai wanita cabul.

"Siapa... siapa kau.... mengapa kau membawaku kemari ?, mengapa aku berada di sini ?"

Tanya Toan Ceng dengan suara gagap. Bong Kim Lian tersenyum manis sekali.

"Hongya,"

Katanya dengan suara yang merdu, ia memanggil Hongya, karena Kim Lian telah mengetahui asal usul pemuda ini, yang merupakan Kaisar negeri Tailie ini.

"Engkau mengingau dalam mimpimu, engkau berjalan diluar sadarmu ......, engkau keluar istana dan keluyuran seorang diri dalan keadaan tidur aku kuatir Hongya mengalami sesuatu yang tidak diinginkan, telah mengikuti sampai dikuil ini."

Mendengar perkataan Bong Kim Lian bukan main herannya Toan Ceng.

"Apakah benar2 telah terjadi begitu?"

Tanyanya heran. Kim Lian, mengangguk.

"Ya....., Hongya telah mengalami mimpi yang membuat Hongya jadi jalan dalam keadaan tidur .......!"

Sahut wanita cantik ini.

Tetapi Toan Hongya yang otaknya terang dan cerdas mana bisa mempercayai parkataan wanita ini.

Ia mengetahui, selama hidupnya belum pernah mengalami peristiwa seperti itu.

Dan juga saandainya ia bermimpi berjalan dalam keadaan tertidur, jelas ia akan di lihat oleh para pengawal istana.

Tetapi mengapa tahu2 ia telah berada diruang yang asing seperti ini ?

Apa lagi mernang Toan Hongya telah mengahui dari Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan, bahwa wanita cantik ini adalah seorang wanita cabul yang menyukai anak muda, untuk diambil sari keperjakaannya, Toan Ceng jadi bergidik.

la, berusaha untuk bangun duduk, tetapi dirasakana tubuhnya lemas sekali, ia seperti tidak memiliki tenaga, dan tangannya yang menunjang berat tubuhnya, jadi gemetaran, sehingga akhirnya Toan Hongya telah rebah kembali, Bong Kim Lian berkata dengan suara yang manis .

"Hongya jangan terlalu banyak bergerak dulu,"

Katanya.

"Hongya perlu istirahat, biarlah aku yang merawatmu ......!"

"Siapa engkau sebenarnya ?"

Tanya Toan Ceng kemudian. Kim Lian tersenyum lagi.

"Siauwmoy she Bong dan bernama Kim Lian,"

Kata Kim Lian memperkenalkan dirinya.

"kebetulan Siauwmoy tengah berke ana dinegeri Hongya.........!"

"Hemm.......,"

Tertawa tawar Toan Hongya, dan kemudian berkata dengan tidak senang.

"Baiklah, jika memang benar apa yang telah engkau ceritakan itu, aku berterima kasih atas pertolonganmu, tetapi aku akan segera kembali ke istana, agar orang2 istana tidak menjadi bingung atas kepergianku ini.........!"

Sambil berkata begitu, Toan Hongya berusaha untuk bangun. Tetapi tenaganya habis, ia sama sekali terlalu lemah untuk bangun dari pembaringan itu.

"Jangan terlalu banyak bergerak Hongya, percayalah...... Hongya masih terlalu lemah."

Kata Kim Lian.

Toan Ceng jadi kaget, karena ia benar2 merasakan tenaganya seperti lenyap sama sekali.

Seketika itu juga Toan Ceng menduga, pasti semua ini adalah perbuatan main gila perempuan cabul ini.

Tetapi sebagai seorang yang cerdas Toan Hongya tak mau menunjukan kemarahannya, ia hahya berkata .

"Terima kasih atas pertolongan yang telah engkau berikan ... dan maukah engkau, menolongku lagi ?"

"Katakanlah Hongya, dengan senang hati aku akan menolong dan membantu, jika memang aku bisa melakukannya ........!"

Kata Kim Lian cepat.

"Dapatkah engkau pergi keistana untuk rnemberitahukan keadaanku ini, agar orang2 istana datang menjemput diriku ?"

Kim Lian tertawa.

"Mana bisa Hongya ? Hari telah larut malam....... sedangkan aku seorang wanita, mana berani aku berke!uyuran seorang diri dimalam buta seperti ini ?"

Toan Ceng semakin keras dugaannya bahwa dirinya memang dikerjakan oleh wanita ini diculiknya.

Maka hatinya jadi mendongkol.

Tetapi Toan Hongya tidak memperlihatkan kegusaran hatinya, ia hanya berkata .

"Baiklah jika begitu, tetapi kuharap pagi engkau tolong memberitahukan pada orang istana mengenai keadaan diriku ini dan minta mereka menjemputku......! "

Bong Kim Lian tersenyum sambil mengangguk.

"Dengan senang hati aku akan melaksanakan perintah Hongya.....!"

"Aku tentu tidak berani rnenolak perintah Toan Hongya, tetapi jika aku menolongi Hongya, aku akan menerima hadiah, bukan? Maksudku hadiah dari Hongya."

Toan Ceng jadi ragu2, tetapi akhirnya ia mengangguk juga.

"Tentu...., tentu.... pihak istana akan memberikan hadiah yang cukup banyak atas pertolongan yang engkau berikan padaku. Engkau tentu akan diberikan uang dan harta perhiasan yang cukup banyak atas jasa2mu ini........ !"

Kata Toan Hongya. Tetapi Bong Kim Lian telah menggelengkan kepalanya.

"Bukan itu yang kukehendaki, Hongya,"

Kata Bong Kim Lian kemudian. Hati Toan Ceng tercekat.

"Lalu apa yang kau kehendaki?"

Tanyanya, walaupun Toan Ceng mulai merinding ..... karena dapat menduga apa yang diminta wanita ini, yang menurut Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan merupakan wanita cabul.

"Aku menghendaki hadiah dari Hongya.......!"

Sahut Kim Lian tertawa.

"Mengharapkan hadiah dariku?"

"Ya, aku hendak tolongi Hongya, tetapi aku juga menginginkan,agar Hongya sendiri yang memberikan hadiah itu kepadaku.........!"

"Hadiah apa yang engkau kehendaki dariku?"

Tanya Toan Hongya.

"Tidak banyak..... entah Hongya akan merasa atau tidak jika aku mengatakannya?"

Kata Kim Lian sambil mengawasai Toan Hongya disertai senyuman2nya.

"Katakanlah........!"

"Aku....... aku hendak......!"

Tetapi Kim Lian tidak meneruskan perkataannya itu, ia ter-senyum2 memperlihatkan sikap seperti malu2.....

"Katakanlah......"

Bentaknya.

"Baiklah Hongya, harap Hongya tidak marah."

Kata Kim Lian.

"Sesungguhnya aku hendak menyerahkan diri kepada Hongya...... menyerahkan bulat2 ....... betapa bangganya jika aku bisa tidur semalaman saja bersama Hongya, karena itu berarti merupakan kenangan yang sangat berharga, dimana aku telah bisa tidur bersama seorang Kaisar seperti Hongya !"

Mendengar perkataan Kim Lianitu, tubuh Toan Hongya jadi merinding .....

seketika ia teringat perkataan Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan bahwa wanita cantik ini sesungguhnya seorang nenek tua yang telah berusia hampir delapan puluh tahun, yang tengah meyakinkan ilmu Im Yang Hun, ilmu sesat yang membutuhkan banyak sekali sari keperjakaan pemuda .......

Teringat begitu, muka Toan Hongya jadi berobah pucat.

Apa lagi teringat bahwa dirinya dalam keadaan lemas tidak bertenaga.

Disaat seperti inilah barulah Toan Hongya mau mempercayai keterangan Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan.

Tetapi segalanya telah terlambat ........

Bong Kim Lian melihat perobahan wajah raja ini, ia tersenyum sambil katanya .

"Hongya, tentu engkau tidak keberatan mengabulkan permintaanku itu ?"

Toan Hongya diam.

"Bagaimana Toan Hongya"

Desak Kim Lian. Hongya itu berdiam terus. Kim Lian mendesak terus, akhirnya Toan Hongya bisa mengambil keputusan.

"Baiklah....., aku akan menerima usulmu itu setelah aku berada diistana kembali. Engkau beritahukan dulu orang istana, agar mereka menjemputku kemari, dan setelah aku berada diistana, aku mengirim orang untuk menjemputmu masuk istana.......!"

Tetapi Bong Kim Lian bukan orang bodoh ia melihat Toan Hongya seperti ragu2 dan memandang dia dengan sorot mata jijik, maka Bong Kim Lian yakin bahwa Toan Hongya ini tentu telah mengetahui keadaan dirinya lewat Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan.

la yakin bahwa permintaan Toan Hongya itu hanyalah untuk memperdayakan dirinya, agar bisa meloloskan diri dari keadaan sekarang.

"Mengapa tidak sekarang saja, Hongya ? Bukankah sekarang ini merupakan kesempatan yang baik ?"

Tanya Kim Lian.

"Bukankah disini hanya kita berdua saja ?"

Mendengar perkataan Kim Lian yang mendengung nada mendesak seperti itu, Toan Hong ya jadi bingung juga. Sedangkan Kim Lian berkata .

"Jika memang aku nanti di jemput masuk kedalam istana, hal itu akan diketahui banyak orang jelas hal ini tidak menggembirakan, tentu akan menimbulkan kecurigaan mereka yang akan menjadi bahan pembicaraan mereka. Menurut pendapatku alangkah baiknya jika kita ini dapat segera melakukannya sekarang saja .. karena inilah kesempatan yang paling baik......I"

Toan Hongya cepat2 menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak........tidak bisa.......!"

Katanya agak gugup.

"Mana bisa dilakukan sekarang.......seperti engkau lihat kesehatanku sekarang ini agaknya terganggu, semangat dan tenagaku seperti lenyap ..... aku tidak memiliki tenaga, berarti dalam satu-dua hari aku harus beristirahat dulu memulihkan semangatku ........!"

Bong Kim Lian tersenyum.

"Hongya jangan salah paham, itu bukan berarti tenaga lenyap.......justru tadi Siauwmoy telah lancang tangan memberikan sedikit obat penenang, obat yang bisa membuat Hongya tenang sehingga tidak menimbulkan keributan bagi orang2 disekitar tempat ini, obat itu memang mendatangkan rasa lemas dan tenaga seperti lenyap dari tubuh. Tetapi setelah lewat satu hari lagi, semuanya itu akan lenyap....... dan tenaga Hongya akan pulih kembali. Bukan berarti bahwa sekarang ini Hongya tidak bisa melaksanakan tugas untuk tidur bersama Siauwmoy ......!"

Genit sekali waktu Kim Lian berkata begitu, tubuhnya juga di-gerak2kan dengan gerak gerik yang menggiurkan, sehingga Toan Hongya jadi muak melihatnya.

Tetapi yang, mengejutkan Toan Hongya justru Kim Lian mengakui bahwa lemasnya dia disebabkan oleh semacam obat yang diberikan oleh wanita ini.

Maka perasaan marah, mendongkol dan penasaran telah berkecamuk menjadi satu didalam hati raja ini.

Waktu itu Bong Kim Lian telah tertawa manis, sambil menggeliatkan tubuhnya untuk menimbulkan rangsangan, dia juga berkata .

"Apakah aku terlalu jelek, Hongya ?"

Toan Ceng berdiam diri saja, ia jadi tergetar hatinya diliputi oleh perasaan jijik dan ngeri, diam2 ia jadi merinding. Bong Kim Lian berkata .

"Tentu Hongya tidak keberatan untuk mengabulkan permintaanku ?"

Toan Ceng menghela napas.

"Tetapi jika sekarang aku keberatan.......!"

Kata Toan Hongya kemudian.

"Lalu kapan?"

"Setelah aku berada diistana."

"Itulah urusan yang tidak enak untuk pihakku,"

Kata Kim Lian.

"Tetapi untuk melakukan segalanya ditempat yang kotor seperti ini aku tidak bersedia,"

Toan Ceng mencari alasan.

"Hemm, Toan Hongya terlalu men-cari2 alasan", kata Kim Lian.

"Sungguh, tentu tempat yang sekotor ini tidak akan mendatangkan kegairahan dan kegembiraan,"

Menyahuti Toan Ceng tetap dengan pendiriannya.

"Tetapi justru aku menghendakinya sekarang saja, Hongya .......!"

Toa Ceng terdiam. Jika dilihatnya keadaan seperti ini memang agak sulit juga ia bisa mengelakkan diri dari tangan wanita cabul tersebut. la jadi memutar keras pikirannya.

"Bagaimana Hongya?"

Didesaknya begitu Toan Ceng berusaha untuk tersenyum.

"Engkau demikian cantik dan manis, maka jika kita hanya sekedar melakukan apa yang kau kehendaki itu disini, engkau sendiri yang rugi ....... !"

Kata Toan Ceng.

"Memang mudah, aku bisa saja tidur bersamamu disini, tetapi......tentu itu tidak berarti apa2. Tetapi jika aku telah kembali keistana, dan aku perintahkan orang menjemputmu, bukankah engkau lebih bahagia. Jika mungkin, malah aku bersedia mengambil kau menjadi permaisuri, engkau sangat cantik, tentu orang2 istana akan menyetujui keinginanku itu .... !"

Kim Lian telah berpengalaman. Mana bisa di bujuk seperti itu Maka wanita cantik, ini teleh melontarkan senyumnya sambil menggeliat genit.

"Hongya, kita tidak perlu berpikir terlalu jauh........ yang terpenting sekarang saja kita tidur bersama. Bukankah kita akan sama2 senang ? Soal pengangkatan diriku untuk menjadi permaisuri Hongya, itu terserah nanti saja akupun tidak berpikir sejauh itu. Asal aku tidur bersama Hongya yang agung dan memiliki kekuasaan penuh di Tailie ini, sudah merupakan suatu kebanggaan buatku... !"

"Tentu aku tidak bisa melakukannya, ditempat seperti ini, engkau harus ingat bahwa aku adalah raja dinegeri ini,"

Kata Toan Ceng. Kembali Kim Lian senyum.

"Hongya, dengarlah,"

Katanya kemudian.

"Aku tidak mengharapkan apapun juga. Jika memang Hongya telah meluluskan untuk tidur bersamaku dihari ini, maka begitu fajar menyingsing aku akan keistana untuk -memberitahukan orang2 istana agar menjemput Hongya. Bukankah itu merupakan pikiran yang bagus ?"

Toan Ceng jadi terdesak, dan ia bingung sekali.

Sebagai seorang akhli silat yang telah memiliki kepandaian tinggi, memang Toan Hongya bisa saja pura2 menuruti keinginan wanita cabul ini.

Dan kelak jika, mereka tengah bercumbu Toan Hongya bisa mempergunakan kesempatan untuk mencelakai Kim Lian.

Namun yang membuat Toan Hongya ragu2 justru disaat itu ia tengah dipengaruhi obat pelemas yang membuat seluruh tenaganya seperti telah lenyap, disamping itu juga memang Kim Lian pun memiliki kepandaian yang tinggi, tidak mungkin ia bisa mencelakai wanita itu disaat mereka bercumbu, malah kemungkinan dirinya yang akan lebih dalam terlanjur jatuh kedalam cengkeraman wanita itu.

Hal ini membuat Toan Hongya jadi ragu2 sampai ia berdiam diri saja.

Bong Kim Lian melihat sikap raja itu, jadi tersenyum lagi.

Kim Lian yakin kali ini tidak mungkin gagal menguasai Toan Hongya, seperti yang dialaminya ketika ia berusaha menguasai Oey Yok Su.

Karena waktu itu tidak diduga telah muncul Lu Liang Cwan yang mengagalkan rencananya, tetapi sekarang mereka justra berada disebuah kuil, yang tentu jauh dari perhatian siapapun juga, terlebih lagi ketiga orang pendeta pengurus kuil tua ini telah dibuat tidak berdaya, sehingga tidak akan menimbulkan kegaduhan.

Memang Bong Kim Lian sekarang telah melakukan segala apa yang hendak dilaksanakannya dengan penuh perhatian, ia tidak mau kalau sampai kali ini harus menemui kegagalan lagi.

Sedangkan Toan Ceng sendiri tengah bingung bukan main, diam2 ia berdoa dihatinya, untuk memperoleh jalan keiuar, agar ada orang yang bisa bantu meloloskan ia dari cengkeraman Bong Kim Lian.

Sebagai seorang raja yang memiliki kekuasaan besar, belum pernah Toan Hongya dicekam oleh perasaan takut seperti sekarang.

Namun sekarang, Toan Ceng baru mengetahui apa yang disebut takut .........

Bong Kim Lian telah tertawa lagi, dia menggeliat-geliat sambil mendekati dirinya pada Toan Ceng yang masih rebah dipembaringan.

Waktu itu, Toan Ceng telah memusatkan seluruh kekuatan sinkang yang ada padanya, untuk disalurkan pada dirinya.

Namun Justru Toan Hongya merasakan betapa napasnya agak memburu, hatinya juga tidak tenang.

Bong Kim Lian mendekati mukanya pada raja itu, ia berbisik dengan suara yang lirih sekali .

"Tentu Hongya tidak keberatan jika kita melakukannya sekarang ........ !"

Jari2 tangan Bong Kim Lian, yang lentik itu telah meng-usap2 dada Toan Hongya, sehingga membuat raja itu tambah jijik saja.

---o^dw.kz~0~tah^o---TIBA-TIBA Bong Kim Lian merasakan dada raja ini keras sekali.

Wanita cantik ini jadi heran, segera ia menarik tangannya..........

"Dadamu keras sekali, Hoogya ?"

Tanyanya ingin mengetahui.

Toan Ceng diam saja.

Sedangkan Bong Kim Lian telah tertawa lagi, sambil mengulurkan tangannya, dia membuka tali pengikat pinggang Toan Hongya, dimana dia hendak melepaskan pakaian luar raja ini.

Toan Ceng jadi gugup.

Segera juga Toan Ceng berusaha mempergunakan kedua tangannya untuk mencegah perbuatan wanita itu.

Namun tenaganya telah habis, ia tidak memiliki kekuatan untuk mencegah keinginan dari Bong Kim Lian, sehingga pakaian luarnya telah kena dibuka.

Mata Kim Lian jadi terpentang lebar2.

Wanita itu telah menyaksikan sesuatu yang aneh dan tidak diduganya.

Tubuh dan dada Toan Hongya bersisik "Kau.....?"

Katanya dengan suara tersendat dan ia jadi tertegun. Toan Hongya seketika memperoleh akal, tetapi la berdiam diri saja.

"Mengapa tubuhmu bersisik seperti itu ?. Kau manusia atau binatang?"

Tanya Bong Kim Lian saking heran dan takjubnya. Toan Hongya menyahuti, karena ia menganggap inilah satu-satunya kesempatan yang dimilikinya untuk meloloskan diri dari cengkeraman Bong Kim Lian.

"Aku sesungguhnya telah minum serupa racun, sehingga seluruh darahku keracunan, dan tubuhku juga telah timbul sisik2 ini. Hanya bisa lenyap jika memang aku dapat tidur bersama seratus perawan yang masih gadis. Maka itu nona, aku bukan tidak mau tidur denganmu......., justru darahku itu telah mengandung racun. Setiap gadis yang tidur denganku akan terbinasa karena keracunan, dimana racun yang mengendap ditubuhku akan berpindah kepadanya. Dan...... aku melihat engkau demikian cantik, sayang kalau sampai binasa dengan cara begitu penasaran."

Rupanya kata2 Toan Hongya ini berpengaruh juga untuk Kim Lian.

Tetapi tokh akhirnya Kim Lian tersenyum juga ia merupakan seorang wanita yang telah hidup didunia ini hampir delapan puluh tahun ia sangat berpengalaman sekali.

Iapun diam2 menduga didalam hatinya .

"Tampaknya raja Tailie ini adalah seorang raja yang luar biasa ia memiliki sisik2 pada, tubuhnya tentu sari keperjakaannya itu lebih hebat dari pemuda2 lainnya aku sangat beruntung telah berhasil menculiknya."

Karena berpikir begitu, Kim Lian jadi girang, ia telah berkata .

"Baiklah Hongya, aku tetap dengan pendirianku, yaitu ingin tidur dengan Hongya berdua hari ini juga..... biarlah, jika memang Hongya benar2 memiliki darah yang mengandung racun jahat yang bisa mencelakai diriku, aku akan puas dan senang hati menerima akibatnya itu ....... !"

Toan Ceng jadi tambah bingung.

Gertakan yang diberikan oleh raja ini ternyata tidak dihiraukan oleh Kim Lian, dan tidak mendatangkan hasil yang diinginkannya.

Diam2 Toan Ceng jadi mengeluh.

Waktu itu Kim Lian telah mengulurkan tangannya mengusap dada raja ini.

Toan Ceng jadi menggidik.

"Tungguh dulu ....... !"

Katanya gugup. Kim Lian menarik tangannya, ia telah mengawasi Toan Hongya.

"Kenapa Hongya ?"

Tanyanya.

"Janganlah kita berbuat mesum ditempat ini,"

Kata Toan Ceng akhirnya merasa putus asa.

"Mesum....? Mengapa mesum....? Bukankah engkaupun tertarik oleh kecantikanku? Bukankah kita sama2 senang ?"

"Tetapi aku tidak rela jika melakukannya ditempat seperti ini ...... !"

Kim Lian tersenyum lebar.

"Pemuda ini tampaknya sulit ditundukkan, ia juga rupanya memang telah mengetahui perihal diriku dari mulutnya Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan. Maka lebih baik aku memaksanya saja, merayunya hanya akan sia2 membuang2 waktu belaka."

Karena berpikir begitu. Kim Lian bermaksud akan mempergunakan cara paksaan saja. Maka Kim Lian tersenyum.

"Baiklah, jika memang Hongya tidak bersedia untuk melakukannya sekarang, aku akan sabar menunggu ! Kalau memang Hongya hendak pulang dulu keistana, akupun bersedia mengantarkannya, asal Hongya tidak mendustai aku dan kelak menjemputku keistana .......!"

Mendengar perkataan Kim Lian yang sudah tidak mendesaknya, agak lega hati Toan Hongya.

"Tentu.....aku akan menepati janjiku ...!"

Kata Toan Hongya.

"Jika engkau mau mengerti dan tidak melakukannya disini, kelak aku akan menjemputmu untuk tinggal diistana........!"

Kim Lian pura2 memperlihatkan sikapya, gembira, katanya.

"Baiklah....., tunggulah sebentar aku hendak mengambilkan sesuatu untuk Hongya...... !"

Toan Ceng mengangguk.

Dihatinya raja men-duga2, entah barang apa yang hendak diambil oleh Kim Lian.

Sedang menanti begitu, Toan Hongya juga memutar otak mencari akal untuk dapat meloloskan diri dari wanita cabul itu.

Waktu itu Kim Lian telah kembali, ditangannya membawa dua buah cawan.

Cawan yang satunya diberikan kepada Toan Hongya, sambil katanya.

"Mari kita rayakan pertemuan kita ini dengan minum bersama secawan teh....... dikuil ini tidak terdapat arak, kukira teh pun cukup pantas untuk mengikat tali persahabatan kita.......!"

Muka Toan Hongya jadi berobah lagi, ia memang pernah mendengar dari Oey Yok Su bahwa wanita ini sangat cabul sekali, maka ia bersikap hati2 Tetapi Toan Hongya tidak mau memperlihatkan kecurigaannya itu.

la menyambuti cawan yang diberikan kepadanya, diliriknya, air teh itu tidak memperlihatkan sesuatu yang mencurigakan.

"Mari kita minum ajak Kim Lian.

"Tunggu dulu... !"

Kata Toan Hongya.

"Apa lagi yang ingin ditanyakan Hongya?"

"Tadi aku mengatakan kita berada dikuil, apakah kamar ini merupakan salah sebuah kamar dari sebuah kuil?"

Tanya Hongya itu ..... mengulur waktu. Kim Lian mengangguk.

"Ya, aku telah meminjamnya dari pendeta yang mengurusnya.....!"

Sahutnya sambil melontarkan senyuman manisnya kepada raja itu........ genit sekali. Toan Hongya baru saja ingin bertanya lagi, Kim Lian telah meneguk teh didalam cawannya, kemudian katanya.

"Silahkan Hongya meminum teh itu......!"

"Aku tidak haus.......!"

Hongya tersebut memberikan alasan.

"Apakah Hongya tidak mau memberikan sedikit muka terang padaku sehingga teh untuk mengikat tali persahabatan saja tidak di minum oleh Hongya ?"

Toan Ceng bingung, ia melihat Kim Lian memperlihatkan wajah yang kurang puas. Maka akhirnya Toan Ceng berusaha mengalihkan perhatian wanita itu.

"Aku lapar sekali......!"

Katanya. Kim Lian mengerutkan alisnya.

"Dimana aku harus mencari makanan untuk mu ?"

Tanya Kim Lian.

"Pergilah kau mencarikan dulu, aku kuatir jika perutku kosong akan bisa masuk angin....!"

Kata Toan Ceng, karenaa ia hendak mempergunakan jika Kim Lian meninggalkannya, untuk membuang teh dicawannya dan membohongi wanita itu bahwa ia telah minum teh itu.

Tetapi Kim Lian tersenyum sambil katanya .

"Sekarang engkau minum dulu teh itu, nanti aku akan pergi mencarikan makanan untukmu........!"

Toan Ceng terpojokkan lagi. Dalam keadaan demikian benar-benar Toan Hongya jadi gugup sekali. Ia tidak tahu alasan apa lagi yang bisa diberikannya untuk mengulur waktu. Waktu itu Kim Lian berkata .

"Minumlah Hongya !"

Toan Ceng diam saja.

Kim Lian mengulurkan tangannya, dia mendorong cawan ditangan raja itu kedekat mulut Toan Hongya, agar raja itu meminumnya.

Toan Hongya jadi tergoncang keras hatinya, ia jadi merinding.

Tetapi sekarang Toan Hongya sudah tidak memiliki jalan keluar lagi, dan dia merasakan air teh itu memasuki mulutnya mengalir melewati tenggorokannya.

Gelisah sekali hati raja ini, ia juga telah mengeluh didalam hatinya.

Air teh itu dirasakan agak sepat dan pahit2 maka Toan Hongya tetah yakin bahwa didalam air teh itu dicampuri oleh semacam obat, hati raja ini jadi dingin sendirinya, dan ia tahu dirinya semakin dalam terlanjur kena dicengkeram oleh wanita cabul ini, cengkeraman yang bisa menghancurkan hidupnya sebagai seorang pemuda.

Kim Lian melihat cawan ditangan Toan Hongya telah kosong, kemudian dengan gerakan yang gesit sekali, tangan Kim Lian memegang kedua rahang bawah mulut Toan Hongya sehingga mulut Kaisar itu jadi terbuka.

Ternyata mulut itu telah kosong, air teh yang tadi diminum Toan Hongya telah tertelan.

Kim Lian tersenyum, sedang matanya melirik genit sekali.

"Bagus!"

Katanya manja sekali.

"Engkau telah meminum air teh persahabatan itu.......! Engkau jangan kuatir, aku akan memberikan makanan yang paling lezat untukmu, melebihi lezatnya dari makanan yang mana saja didunia ini !"

Terkesiap hati Toan Hongya, ia mengerti apa makna perkataan wanita cabul itu.

Jelaslah kini, bahwa didalam air teh itu tentu terdapat semacam ramuan yang bisa mempengaruhi dan membahayakan diri.

Toan Hongya jadi mengeluh, ia memejamkan matanya.

Tiba2 Toan Hongya jadi terkejut, karena pipinya telah dicium oleh Kim Lian.

Raja itu membuka matanya, ia mempergunakan kedua tangannya mendorong keras sekali tubuh Kim Lian.

Namun disebabkan tenaganya lenyap akibat pengaruh obat pelemas, maka dorongan Hongya itu tidak berarti apa-apa buat Kim Lian, tubuh wanita itu sama sekali tidak bergeming.

Toan Hongya tambah gugup.

Tetapi Kim Lian dengan sikapnya yang genit telah berbisik .

"Hongya, aku sangat mencintaimu, begitu aku melihatmu, hatiku telah tergoda........!"

"Akhhhh........!"

Keluh Toan Hongya. Kim Lian mendengar keluhan itu, ia mengangkat kepalanya dan memandang Toan Ceng.

"Ada apa Hongya, tampaknya engkau begitu gugup dan muram?"

"Tidak apa2 aku hanya kecewa mengapa aku tidak bisa kembali keistana dan menikmati kehangatan tubuhmu didalam istanaku..!"

"Soal tempat tidak berarti apa2 .. justru kehangatan tubuhku ini bisa Hongya cicipi di sini saja. Menyenangkan juga bukan?"

Toa Ceng berdiam diri saja. Saat itu Kim Lian telah berkata lagi dengan suara yang perlahan berbisik manja .

"Bagaimana jika sekarang saja kita lakukan Hongya"

Toa Ceng jadi gugup sekali .

"Jangan ..!"

"Kenapa ?"

"Darah sangat beracun ..... seperti engkau lihat betapa tubuhku seluruhnya telah tumbuh sisik ........!"

Kata Toan Hongya. Kim Lian telah tersenyum.

"Hemmm........., itu tidak berarti apa2.... jusru aku akan senang sekali bila telah berhasil tidur dengan Hongya, biarpun aku akan menerima kematian akibat keracunan dari darah Hongya, aku puas ........!"

Benar2 kewalahan Toan Hongya menghadapi wanita cabul ini, ia telah berusaha untuk menggeser tubuhnya, tetapi tenaganya sangat lemah.

Diwaktu itulah Toan Hongya merasakan terjadi sesuatu perobahan pada dirinya, didalam tubuhnya seperti terdapat semacam uap panas.

Toan Hongya terkejut.

Bong Kim Lian telah tersenyum.

"Mengapa Toan Hongya membawa sikap seperti seorang gadis malu2 kucing ?"

Tanyanya dengan sikap yang manja sekali. Toan Hongya mendongkol bukan main.

"Jangan kau menggangguku,"

Katanya.

"Aku tidak akan mengganggu Hongya, aku hanya ingin menghadiakan sesuatu kegembiraan pada Hongya .... !"

"Tetapi ...!"

Toan Hongya tidak bisa meneruskan perkataannya, sebab wanita telah merangsek terus.

Tangan Toan Hongya bisa menyentuh lengan wanita cabul itu, halus sekali.

Hati raja ini tergoncang keras sekali, dan ia merasakan hawa yang panas beruap didalam tubuhnya kian mendesak dirinya, hatinya ber-debar2.

Toan Hongya berusaha mengerahkan sisa lwekang yang ada padanya, untuk menguasai goncangan hatinya.

Namun hawa panas didalam tubuhnya itu tetap mengganggu dan mempengaruhi dirinya.

Bong Kim Lian juga mengetahui bahwa obat yang diberikan kepada raja ini telah mulai bekerja, ia tertawa manja.

"Hongya, engkau tidak perlu menolak hadiah yang kuberikan ...!"

Katanya dengan manja.

"Engkau tidak perlu sulit2 bisa memperoleh sesuatu yang menggembirakan........!"

"Jangan ......... jangan menggangguku...... !"

Berulang kali Toan Hongya berkata begitu.

Tetapi Kim Lian tertawa, wanita ini berkata begitu.

Sepotong demi sepotong ia melepaskan pakaiannya, sehingga tertarik tubuhnya yang putih halus.

Toan Ceng memejamkan matanya, ia tidak mau menyaksikan apa yang ada dihadapannya.

Tetapi justru waktu itu Kim Lian telah mendekatinya.

"Toan Hongya, apakah aku perlu membantuimu untuk melepaskan pakaianmu?"

Tanyanya.

Toan Hongya jadi tambah gugup.

Waktu itu Kim Lian telah bekerja untuk melepaskan pakaiannya Toan Hongya.

Raja Tailie itu berusaha untuk memberikan perlawanan.

Namun mana dia sanggup?

Tenaganya seperti telah lenyap semuanya.

Terlebih lagi waktu ia tengah dikuasai oleh obat yang baru diminumnya.

Toan Hongya jadi mengeluh.

"Celakalah aku kali ini.........!"

Pikirnya. Tetapi dalam keadaan terdesak seperti itu Toan Hongya telah teringat sesuatu.

"Tunggu dulu....!"

Katanya.

"Kenapa ?"

"Kau lihat, sinar matahari pagi mulai tampak.....!"

Kata Toan Hongya.

"Apa hubungannya antara matahari dengan kegembiraan kita?"

Tanya Kim Lian, yang jadi tidak mengerti atas perkataan Toan Hongya.

"Tentu saja kita tidak bisa melakukannya sekarang, nanti hwesio2 penghuni kuil ini akan terbangun dari tidurnya........!"

Kim Lian tertawa.

"Mereka telah kubereskan !"

"A. ., apa? kau telah membunuhnya?"

"Tidak...!"

Katanya.

"Aku hanya menotok mereka, membuat mereka tertidur untuk dua hari dua malam..!"

Toan Hongya jadi mengeluh lagi, gagal pula akalnya kali ini.

"Nah Toan Hongya, lebih baik engkau tidak terlalu banyak mempersulit aku... l"

Kata Kim Lian.

"Terus terang saja, aku memang membutuhkan sekali tidur dengan kau saat2 aekarang ini...!"

"Tetapi. aku tidak sudi."

"Kenapa ? Apakah aku terlalu jelek?"

"Bukan itu sebabnya..."

Kim Lian tertawa.

"Engkau telah meminum obatku, engkau tentu akan dikuasai oleh obat itu !"

"Aku akan bunuh diri... ."

"Mengapa begitu? "

Tanya Kim Lian lagi dengan suara yang perlahan dan tertawa manja..

"Engkau tidak mungkin bisa membunuh dirimu sendlri.., karena tenagamu telah lenyap... !"

"Tetapi jika memang engkau bermaksud memaksa aku, biarlah aku akan benar-benar bunuh diri.......! "

"Itulah perbuatan tolol, engkau diberikan makanan yang enak dan kegembiraan, tetapi engkau menolak rejeki.......!"

"Tetapi engkau wanita sesat.....!"

"Apa kau bilang?"

Muka Kim Lian berobah.

"Engkau seorang wanita cabul.........!"

Muka Kim Lian jadi berobah lagi.

"Hemmm..... tentunya engkau telah mendengar ocehan dari pemuda she Oey dan si-tua bangka seperti monyet Lu Liang Cwan itu?"

"Bukan......!"

"Lalu dari mana kau bisa mengeluarkan,a kata-kata seperti itu ?"

"Aku telah menyaksikan engkau bukan manusia baik-baik, engkau wanita sesat....!"

"Mengapa begitu ?"

"Engkau telah memaksa aku melakukan perbuatan mesum.......!"

"Tetapi semua itu untuk kegembiraanmu, bukan ?"

"Cisss, aku tidak sudi......! Engkau seorang wanita nenek2 yang telah tua dan tersesat, yang melatih ilmu Im Yang Hun, bukankah begitu ?"

Mendengar perkataan Toan Hongya yang terakhir, Kim Lian tertawa bergelak.

"Tampaknya engkau memang mengetahui banyak soal diriku!"

Katanya.

"Baiklah......, baik...... lah, aku berterus terang "

Dan setelah berkata begitu, Kim Lian mengawasi Toan Hongya tajam2. Kemudian katanya lagi.

"Terus terang memang aku mempelajari ilmu Im Yang Hun. Maka jika engkau mau menuruti secara baik2 keinginanku untuk memberikan kegembiraan padaku hari ini, tidur bersamaku, besok aku akan membebaskan engkau tanpa kurang suatu apapun juga, hanya untuk memperlengkapkan syarat dari ilmu yang tengah kulatih ini! Ini tentu tidak akan merugikan dirimu juga...!"

Tetapi Toan Hongya telah menggelengkan kepalanya keras-keras, saat itu sebetulnya Toan Ceng tengah mati-matian menindih perasaan nafsu yang berkobar didirinya akibat pengaruh obat yang telah diminumnya.

"Engkau menuruti keinginanku jika memang engkau ingin selamat..."

Kata Kim Lian.

"Tidak.....!"

Sahut Toan Hongya.

"Kenapa.......?"

"Aku tetap tidak akan memenuhi kenginanmu..........!"

"Tetapi engkau telah minum obat perangsang yang kuberikan, akhirnya engkau tetap akan terpengaruh juga oleh bekerjanya obat itu.........!"

Toan Ceng berdiam diri.

la juga menyadari, walaupun bagaimana kuatnya ia berusaha menghindarkan diri dari pengaruh nafsu yang berkobar akibat obat itu, tokh ia terbatas sekali, dan akhirnya tentu, akan terjatuh ditangan wanita ini.

Hal ini telah membuat Toan Hongya jadi tambah panik dan gugup.

Sinar matahari menyorot masuk kian panas, menunjukkaa hari telah naik tinggi.

Sedangkan Toan Hongya sendiri sedang men-duga2, entah orang2 istananya mengetahui atau tidak dirinya telah diculik dan berada dikuil ini.

Kim Lian tertawa menyeringai, ia bilang dangan suara yang mengancam.

"Jika engkau tidak mau menuruti dengan sukarela, biarlah......... setelah engkau dipengaruhi bekerjanya obat itu, maka semuanya, akan terjadi, dan setelah itu akan kubinasakan engkau.......agar engkau tidak menimbulkan mulut2 usil lagi !"

"Lebih baik engkau membunuhku sekarang saja ..........!"

Kata Toan Hongya, karena ia memang tidak rela jika dirinya harus terjatuh ditangan wanita cabul itu.

"Enak benar kata mu itu ?"

Kata Kim Lian mengejek.

"Hemmm........, lihatlah, beberapa lama lagi engkau bisa menahan diri.........?"

Kim Lian dalam keadaan polos tanpa berpakaian itu telah duduk diam, menantikan bekerjanya obatnya itu didiri Toan Hongya.

Dilihatnya Toan Hongya berusaha mati-matian menguasai dirinya.

Tetapi raja itu tidak berhasil untuk menguasai dirinya, karena setelah berjuang sekian lama, tiba2 Toan Hongya melompat dan memeluk Kim Lian.

Bong Kim Lian jadi girang, usahanya kali ini akan berhasil, karena Toan Hongya jadi demikian liar, memeluki Bong Kim Lian kuat.

Kam -Lian juga membalas-mencumbunya.

Kali ini Kim Lian tentu akan memperoleh kemenangan dengan tercapai maksudnya, maka ia girang bukan main.

Tetapi yang tersiksa adalah Toan Hongya karena walaupun tangannya memeluk Kim Lian, dan ia tampaknya terangsang sekali, pikiran jernihnya masih ada.

Raja dari Tailie ini berusaha untuk memberikan perlawanan terhadap nafsu yang dimilikinya, tetapi gagal dan selalu tidak berhasil.

Disaat itu Toan Hongya seperti seorang yang binal.

Tetapi waktu Kim Lian tengah gembira karena akan berhasil, tiba2 terdengar suara pintu kuil diketuk seseorang.

---o^dw.kz~0~tah^o---BAGIAN 32 .

DI TOLONG SIAN HO LAUW CIE LAN SI DEWI API KETUKAN itu keras sekali, muka Kim Lian jadi berobah.

Didorongnya Toan Hongya dan dia cepat2 mengenakan pakaiannya, kemudian dengan hati yang kesal, ia telah melangkah keluar.

Dibukanya pintu luar untuk menjelaskan kepada tamu bahwa kuil tidak menerima tamu.

Toan Hongya yang tinggal didalam kamar benar2 tersiksa sekati ia jadi begitu resah dan keringat telah membanjiri sekujur tubuhnya.

Di-saat2 seperti itu memang Toan Hongya masih berusaha untuk mengandalkan kokuatan sinkangnya bertahan dari nafsunya.

Namun karena hebatnya cara bekerja obat itu, akhirnya Toan Hongya telah berjingkrak-jingkrak sambil mengeluarkan suara teriakan2.

Dengan berbuat seperti itu memang Toan Hongya bisa mengurangi desakan nafsunya.

Sedangkan Kim Lian Yang keluar membukakan pintu kuil itu jadi tertegun sejenak.

Diluar kuil, dihadapannya berdiri seorang wanita agak lanjut usianya yang memandang kearah Kim Lian dengan heran.

"Eh, apakah dikuil ini ada seorang wanita secantik engkau? Tidak kusangka........!"

Gumam wanita. Kim Lian sudah tidak sabar.

"Ada urusan apa kau datang kekuil ini?"

Tegurnya dengan suara tidak senang.

"Aku hendak bersembahyang ........!"

"Kuil ini tidak menerima tamu, karena ada beberapa orang pengurus kuil kami yang tengah sakit."

Jadi engkau juga pengurus kuil ini ? tanya wanita itu sambil mengawasi tajam. Muka Kim Lian jadi berobah merah.

"Benar,"

Akhirnya ia mengangguk juga.

"Aneh.....!"

Kata wanita setengah baya itu.

"Apanya yang aneh.....?"

Tanya Kim Lian tidak sabar lagi melihat tamu ini tidak juga mau pergi.

"Dikuil seperti ini bisa terdapat seorang pengurus terdiri wanita yang sangat cantik, apakah ini tidak akan menggoyahkan iman-iman pendeta itu?"

Muka Kim Lian jadi berobah merah pula, ietapi cepat sekali ia bisa mencari alasan .

"Sesungguhnya aku bukan pengurus tetap dikuil ini, hanya disebabkan beberapa orang Taisu di kuil ini tengah menderita sakit, maka aku telah datang untuk mengurusinya.........!"

"Bolehkah jika aku melaksanakan niatku untuk sembahyang ?!"

Tanya wanita sete ngah baya itu.

"Sayang sekali hari ini kami tidak menerima tamu,"

Kata Kim Lian.

Diwaktu itulah, wanita setengah baya tersebut mendengar suara jeritan Toan Hongya, suara jeritan yang aneh sekali, dan ribut2 didalam kuil.

Wanita setengah baya itu jadi mengerutkan alisnya, iapun sempat melihat wajah Kim Lian yang berobah luar biasa, seperti ada sesuatu yang disembunyikan.

"Suara apa itu ?"

Tanya wanita setengah baya tersebut.

"Itu hanya suara seorang Taisu yang menderita sakit pada perutnya.........!"

Kembali Kim Lian berdusta.

Sedangkan didalam hatinya ia berpikir.

jika memang wanita setengah baya ini memaksa hendak masuk, maka ia terpaksa akan mempersilahkanhya, tetapi nanti di dalam, ia akan menotoknya agar wanita itu tidur dua hari dua malam.

"Aneh sekali, suara jeritan itu begitu menakutkan dan mengerikan, seperti orang yang hendak dipotong........!"

Kata wanita setengah baya tersebut. Semula tamu ini, hendak berlalu, namun setelah mendengar suara jeritan seperti itu, ia berkata .

"Aku mengerti sedikit sedikit ilmu pengobatan, maka jika kau tidak menolak, aku bersedia mengobati hwesio-hwesio yang sedang sakit itu...........!"

Muka Kim Lian jadi berobah.

"Tidak usah....... mereka akan segera sembuh kembali, penyakit mereka tidak terlalu parah.......!"

Kata Kim Lian menolak. Namun wanita setengah baya itu justru jadi tambah curiga saja.

"Biarlah aku menengok kesehatan mereka.......!"

Katanya memaksa.

Kim Lian sudah tidak memiliki jalan lain untuk menolak keinginan wanita ini.

Akhirnya ia membiarkan wanita setengah baya tersebut melangkah masuk kedalam kuil, dan di saat itu Kim Lian cepat2 menutup dan mengunci pintu kuil itu.

Wanita setengah baya itu melangkah cepat sekali sampai diruang tengah kuil tersebut tanpa menaruh kecurigaan pada Kim Lian.

Hal ini membuat Kim Lian lebih mudah untuk menurunkan tangan jahatnya menotok wanita tersebut.

la menghampiri cepat sekali, setelah jarak mereka berdekatan.

Kim Lian mengulurkan tangan kanannya.

Maksud Kim Iian hendak menotok jalan darah Tu-liang-hiat yang berada ditengkuk wanita tersebut.

Namun luar biasa gesitnya wanita itu menundukan bahunya, totokan yang dilancarkan Kim Lian jatuh ditempat yang kosong!

"Kau?"

Seru Kim Lian yang jadi heran. Wanita setengah baya itu membalikkan tubuhnya, mukanya memandang tidak sedap pada Kim Lian.

"Hemmm......, engkau hendak melancarkan serangan membokong padaku? Apa maksudmu?"

Sebelum Kim Lian menyahut, justru disaat itu terdengar lagi suara jeritan yang keras dari Toan Hongya berasal dari ruangan dalam. Wanita setengah baya itu telah menatap tajam pada Kim Lian.

"Tentu terjadi sesuatu yang tidak beres di dalam kuil ini, wanita cantik berada didalam kuil dan dengan sikap yang mencurigakan, disamping itu juga terjadi sesuatu yang mengherankan hweshio sakit perut dengan men-teriak2 begitu keras, tentu ada sesuatu yang terjadi kuil ini.......! "

Kim Lian yang melihat dirinya sudah tak bisa mendustai wanita itu, jadi berbalik marah.

"Siapa kau? bentaknya. Jika engkau hendak sembahyang cepat engkau sembahyang, setelah itu pergi ........! jangan kau usil dengan urusan kami........!"

Tetapi wanita setengah baya itu tersenyum.

"Aku hanya seorang pengembala yang berkelana dari kota yang satu, kekota yang lain, dan akupun bukannya seorang manusia usil Aku she Lauw bernama Cie Lan" .

"Hemmm...... jika demikian pergi kau memasang hio, aku akan memberikan pertolongan dulu kepada hwesio yang tengah sakit perut itu .....! "

"Biar aku ikut serta ......!"

Kata Lauw Cie Lan sambil mengikuti dibelakang Kim Lian.

Kim Lian jadi mendongkol dan marah sekali, ia telah ber-siap2 hendak melancarkan serangan jika tokh Lauw Cie Lan hendak memaksa masuk.

Waktu itu Lauw Cie Lan juga telah berlaku waspada-sekali, karena tadi ia telah melihat Kim Lian berusaha membokongnya, maka dia bersiap2, kuatir kalau sampai nanti Kim Lian melancarkan serangan menggelap lagi.

Kim Lian sendiri jadi serba salah.

la melihat wanita ini merupakan wanita yang memiliki kepandaian tinggi.

Tadi ia telah melancarkan totokan dengan gerakan yang sangat cepat sekali, namun wanita setengah baya berhasil mengelakkan dirinya.

Kim Lian yang memang memitiki kepandaian tinggi tidak merasa takut, ia yakin akan bisa merubuhkan wanita ini.

Sedangkan wanita setengah baya itu, yang tidak lain dari Sian Ho Lauw Cie Lan, sahabatnya Lu Liang Cwan, si Dewi Api telah meninggalkan pulau dan kembali kedaratan melakukan pengembaraan.

Tanpa dikehendakinya ia telah tiba di Tailie ini.

Memang telah menjadi kebiasaannya, setiap kali bertemu dengan kuil, ia akan singgah untuk bersembahyang memasang hio.

Selama berada didalam pulau ia sangat kesepian sekali maka nekad dengan mempergunakan sebatang pohon yang ditebangnya, melakukan pelayaran.

Dan telah berhasil mencapai daratan.

Kim Lian sendiri tidak menyangka bahwa wanita setengah baya ini merupakan pendekar wanita yang menjadi tokoh sakti dalam rimba persilatan.

la hanya menduga Lauw Cie Lan memiliki ilmu yang cukup tinggi dan harus hati2 untuk merubuhkannya.

Suara teriakan2 Toan Hongya semakin terdengar jelas karena Toan Hongya masih terus berjinghrak2 dan ber-teriak2 keras.

Kim Lian tidak mau kalau sampai Lauw Cie Lan melihat Toan Hongya, maka ia telah memutar tubuhnya menghadapi Lauw Cie Lan katanya dengan suara yang berang .

"Sekarang juga aku perintahkan engkau pergi jika engkau sudah tidak memiliki urusan penting, jika memang hendak bersembahyang pergi bersembahyang, tetapi jangan mau mencampuri urusan kami........!"

Lauw Cie Lan jadi tertegun. Tetapi kemudian dia tertawa.

"Ha..., ha.... jika dilihat glagatnya, seperti ini, tampaknya dikuil ini terjadi urusan yang tidak baik......apakah dikuil ini telah terjadi urusan mesum anatara seorang wanita cantik dengan para pendeta mesum ........ ?"

Disindir begitu, Kim Lian jadi mendongkol.

"Engkau jangan bicara sembarangan, nanti kurobek mulutmu........!"

Ancamnya. Lauw Cie Lan tertawa.

"Aku tidak bicara sembarangan, jika memang tidak terjadi sesuatu dikuil ini, mengapa engkau tampaknya gugup dan mati2an berusaha mencegah aku masuk.......!"

Balik tanya Lauw Cie Lan. Muka Kim Lian jadi berobah merah.

"Engkau tidak perlu ambii tahu apa yang kami lakukan sekarang katakan saja, engkau ingin bersembahyang atau tidak ?"

Bentaknya. Lauw Cie Lan tertawa, sikapnya sabar sekali, iapun telah menyahut dengan ucapan kata-kata yang tenang sekali .

"Jika memang aku ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya didalam kuil ini, apakah engkau melarangnya ?"

"Ya "

Sahut Kim Lian.

"Hemmm...., dengan cara bagaimana.....!"

"Melemparkan engkau keluar .......!"

Dan berbareng dengan sahutannya itu, Kim lian telah menerjang kedepan, kedua tangannya diulurkan untuk mencengkeram Lauw Cie Lan.

Gerakan itu dilakukan sangat cepat, karena Kim Lian memiliki kepandaian tinggi, maka cengkeraman tangannya juga mengandung kekuatan yang tidak lemah.

Jika orang biasa yang kena dicengkeram olehnya, tentu akan remut tulang2nya.

Tetapi justru sekarang ini Kim Lian berhadapan dengan Sian Ho Lauw Cie Lan, pendekar wanita yang memang memiliki kepandaian tinggi sekali, cengkeraman tangannya itu telah jatuh ditempat kosong, dengan mudah Lauw Cie Lan berhasil mengelakkan diri.

Kim Lian jadi penasaran.

Puluhan tahun ia mempelajari ilmu silat dari berbagai macamin golongan, bahkan iapun mempelajari.

ilmu yang aneh2.

Seperti sekarang ia tengah menyempurnakan latihan Im Yang Hun-nya.

Jika memang Im Yang Hun itu berhasil dilatih dengan sempurna, tentu jarang sekali orang bisa menandinginya.

Dengan berhasil menguasai Im Yang Hun, seseorang akan memiliki kekuatan tenaga yang bukan main besarnya, bisa dipergunakan untuk menyerang secara kekerasan dan juga bisa menyerang dengan cara yang lunak.

Disamping itu tenaga sinkang yang dimilikinya telah mencapai puncaknya, sehingga lwekangnya itu bisa dipergunakan dengan cara yang diinginkan dan seenaknya.

Tetapi justru sekarang ini Bong Kim Lian baru melatih beberapa tingkat saja, masih kurang sempurna sebab ia belum berhasil benar benar memperoleh bibit perjaka yang hebat dari pemuda-pemuda yang menjadi korbannya.

Di samping itu, iapun lebih memusatkan Im Yang Hun untuk kecantikan wajahnya.

Maka ilmu yang hebat itu hanya separoh saja yang bisa di kuasainya.

Mati2an Bong Kim Lian berusaha menguasai Oey Yok Su dan Toan Hongya, untuk memperoleh sari keperjakaan kedua pemuda yang hebat itu.

Dengan harapan kelak ia bisa menguasai, ilmu Im Yang Hun itu lebih tinggi, karena dengan diperolehnya sari keperjakaan kedua pemuda itu, berarti ia seperti juga telah memperoleh seratus orang pemuda yang biasa saja.

Tetapi justru, kedua kalinya dari usahanya tersebut selalu menemui rintangan dan halangan.

Waktu Oey Yok Su, ia telah digagalkan rencananya oleh tingkah laku Lui Liang Cwan, dan sekarang diwaktu ia akan berhasil menguasai Toan Hongya, saat mana Toan Hongya terpengaruh obat perangsangnya, muncul Lauw Cie Lan, yang merintanginya.

Yang membuat Kim Lian jadi mendongkol dan gusar sekali, justru tampaknya Lauw Cie Lan memiliki kepandaian yang tinggi sekali.

Dengan cepat Lauw Cie Lan berkata dingin.

"Hemmm....., engkau rupanya bukan wanita baik-baik, kukira perlu dihajar ....... !"

Tetapi Bong Kim Lian sudah tidak memberikan kesempatan kepada Lauw Cie Lan memaki ia terus, sebab Bong Kim Lian yang sudah habis sabarnya, kembali melancarkan serangan.

Tadi sesungguhsya ia hampir berhasil dengan usahanya untuk menguasai Toan Hongya, tetapi siapa tahu datang rintangan dari Lauw Cie Lan ini.

Tentu saja telah membuat Bong Kim Lian jadi tidak sabar.

Kim Lian bermaksud untuk merubuhkan lawannya ini cepat2, karena jika ia ber-lama2 dan mereka terjalin dalam suatu pertempuran yang panjang, jelas hanya, akan mem-buang2 waktu.

Kim Lian Kuatir kalau2 nanti daya.

kerja oat perangsangnya akan berkurang, disamping it juga akan membuat Toan Hongya kembali sadar pada keadaan dirinya yang sebenarnya.

Berarti jika terjadi begitu, Bong Kim Lian akan menemui kesulitan lagi.

Dengan sengit Bong.

Kim Lian berulang ka li melancarkan serangan kepada Lauw Cie Lian, tetapi sejauh itu Bong Kim Lian tidak berhasil mencapai sasarannya, Lauw Cie Lian selalu mengelakkan diri dengan gesit.

Tentu saja hal ini membuat Bong Kim Lian kian penasaran.

Beberapa kali ia telah mendesak dengan serangan2 berikutnya.

Namun Cie Lian benar2 memiliki kepandaian yang tinggi sekali, dimana ia seperti tidak pandang sebelah mata terhadap serangan2 Bong Kim Lian.

Ketika suatu kali Bong Kim Lian tengah melancarkan serangan dengan gerakan tubuh seperti seekor capung dan kedua tangannya telah dipergunakan untuk menyerang dengan kuat sekali, Lauw Cie Lian telah mengeluarkan suara tertawa dingin, tahu2 tangan Lauw Cie Lian berhasil mencengkeram tangan kanan Kim Lian, dibarengi dengan suara bentakan yang keras, ia telah menghentaknya.

Seketika itu juga tubuh Bong Kim Li an terapung, tetapi ia memiliki ginkang yang tinggi tubuhnya tidak sampai terbanting, ditengah udara ia telah berpoksay, berjumpalitan seperti itu, Kim Lian juga tidak tinggal diam, tangan kanannya telah bergerak, ia telah melepaskan sepuluh batang jarum yang mengandung racun.

Lauw Cie Lan melihat menyambarnya titik titik hitam kearah dirinya, sehingga menimbulkan angin serangan yang menderu, walaupun jarum2 itu kecil ukurannya.

Lauw Cie Lan tidak terkejut mengbadapi serangan ini, ia tertawa dingin.

Tubuhnya cepat berkelit.

Sambil memiringkan tubuhnya sedikit, pergelangan tangan bajunya telah dikebutnya maka kesepuluh batang jarum yang dilepaskan Bong Kim Lian jadi mental dan berbalik menyambar kepada majikannya sendiri .........!"

"Celaka ... !"

Seru Kim Lian, karena saat itu tubuhnya tengah berada diudara dan berjumpalitan, maka dengan berbaliknya jarum jarum itu menyambar dirinya, memaksa ia harus melompat turun dengan memberatkan tubuhnya dengan cara demikian ia bisa menghindar dari samberan jarumnya sendiri.

Lauw Cie Lan tertawa mengejek, sambil katanya .

"Hemmm...., ilmu kodok seperti itu hendak dipertontonkan padaku.........! Nah, sekarang giliranmu yang menerima seranganku.........!"

Sambil berkata begitu, Lauw Cie Lan telah merogoh sakunya, ia mengeluarkan semacam bubuk, dan kemudian sebagian dibantingkan di atas tanah.

Seketika mengepul asap dan api yang cukup tinggi.

Setiap kali Lauw Cie Lan membanting lagi bubuk putih itu, api semakin besar.

Semula Kim Lian jadi heran dan menduga duga entah apa yang hendak dilakukan oleh Lauw Cie Lan.

Namun Kim Lian jadi tertegun kaget waktu melihat api itu telah berkobar cukup tinggi, justru Lauw Cie Lan melompat terjun masuk kedalam kobaran api itu!

Itulah pemandangan yang tidak pernah di saksikan oleh Kim Lian, walaupun didalam mimpinya, ia sampai mengeluarkan suara seruan tertahan karena kagetnya.

Yang membuat ia jadi takjub justru pakaian Lauw Cie Lan sedikitpun tidak terbakar oleh kobaran itu.

Lauw Cie Lan telah tertawa dingin, katanya.

"Mari..., kemari.......! mari aku akan perlihatkan kepadamu, bagaimana ber-main2 dengan api .......!"

Muka Lauw Cie Lan waktu itu tampak memerah oleh cahaya api, dan sikapnya gagah sekali.

Hanya mengherankan Kim Lian sekujur tubuh Lauw Cie Lan tidak termakan oleh kobaran api.

Waktu itu Lauw Cie Lan telah mengejek lagi .

"Mengapa engkau bengong disitu ? Mari kemari !"

Kim Lian juga jadi penasaran sekali, ia mengeluarkan suara seruan dibarengi dengan tubuhnya melompat kedekat kobaran api.

Namun Kim Lian jadi kaget.

Udara disekitar tempat itu panas sekali, terlebih lagi didekat kobaran api itu.

Jadi api yang berkorbar itu bukan api main2an dan sungguh api yang bisa membakar musnah sesuatu.

Namun mengapa justru Lauw Cie Lan tidak terbakar oleh api itu ?

Pikiran seperti itu telah membuat Kim Lian jadi ragu2 dan cepat2 melompat mundur lagi, sebab ia tidak tahan melawan hawa panas tersebut.

Anehnya lagi justru setiap kali Lauw Cie Lan melangkah, kobaran api itu berpindah tempat mengikuti kearah mana Cie Lan berpindah tempat.

Waktu itu Lauw Cie Lan memonyongkan mulutnya ia telah menghirup lidah2 api itu.

Seketika itu pula api tersebut menyambar kearah Kim Lian.

Serangan hawa panas tersebut membuat Kim Lian harus cepat2 mengelakkan diri.

Tetapi Lauw Cie Lan tidak berhenti hanya sampai disitu dengan ringan sekali ia melompat kian kemari dan gumpalan api itu terus ikut seperti menempel pada kedua kakinya.

Kim Lian jadi sibuk sekali mengelakkan diri dari sambaran api yang me-nyambar2 itu karena ia tidak berdaya mengadakan serangan balasan kepada Lauw Cie Lan yang berada dalam kobaran api itu sedangkan berada didekat kobaran api itu seperti tubuhnya terpanggang oleh kobaran api tersebut.

Maka Kim Lian benar2 seperti terdesak hebat sekali oleh menyambarnya lidah2 api tersebut membuat ia jadi sibuk melompat kesana kemari.

Tiba2 Lauw Cie Lan telah menggerakkan telapak tangannya berbareng juga mempergunakan mulutnya yang kerap kali meniup lidah api itu menyambar kepada Kim Lian.

Akhirnya Kim Lian jadi berpikir.

"Nenek tua ini tampaknya memiliki kepandaian yang luar biasa, tidak bisa aku menghadapi terus, karena jika aku memaksakan diri untuk melawan sambaran angin serangannya yang mengandung api, bisa2 aku yang celaka....... lebih baik aku menghindarkan diri dari dia......... !"

Tetapi berpikir sampi disitu, justru Kim Lian teringat Toan Hongya.

Kebetulan sekali memang waktu itu Toan Hongya telah menjerit lagi dengan keras, suara jeritan itu bisa didengarnya.

Maka Kim Lian jadi ragu2 lagi.

Apakah calon korbannya yang semula hampir bisa dikuasainya itu harus ditinggalkan begitu saja ?

Karena keraguan seperti itu telah membuat Kim Lian jadi mengeluarkan suara yang nyaring, dan dia telah melancarkan serangan yang cepat dan kuat sekali kepada Lauw Cie Lian.

Gerakan yang dilakukan oleh Kim Lian merupakan serangan yang beruntun dan juga agak nekad, sehingga untuk sejenak lamanya Sian Ho Lauw Cie Lan tidak bisa mendesaknya.

Begitulah, mereka telah bertempur dengan mempergunakan cara yang agak aneh itu.

Disaat itu tampak Lauw Cie Lan telah berusaha untuk mendesak Kim Lian lagi.

Namun usaha Lauw Cie Lan tidak segera tercapai, Kim Lian memberikan perlawanan yang gigih.

Kim Lian memang bertekad untuk mempertahankan diri agar ia tetap bisa menguasai calon korbannya jika lawannya ini telah berhasil diusirnya.

Namun serangan2 selanjutnya dari Lauw Cie Lan membuat Kim Lian jadi kelabakan juga karena lidah api telah me-nyambar2 dengan cepat sekali kearah dirinya begitu panas memanggang.

Kim Lian jadi mengeluh.

"Tidak bisa aku melayani terus ...........!"

Pikir nya kemudian.

Dan akhirnya Kim Lian tidak bisa mempertahankan diri terus menerus dari samberan kobaran api yang begitu panas.

Jika memang dia berkeras kepala dan memberikan perlawanan terus niscaya akan membuat dirinya bercelaka saya.

Disaat itu Lauw Cie Lan telah melancarkan serangan yang gencar dan ber-tubi2 kepada lawannya dan akhirnya benar2 membuat Kim Lian tidak berdaya.

"Engkau wanita tua yang tidak tahu diuntung, kelak aku akan mencarimu untuk mengadakan perhitungan..........!"

Teriak Kim Lian dengan suara yang bengis, karena dia gusar bukan main dan sambil membentak begitu, ia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya cepat sekali melompat menjauhi Lauw Cie Lian.

Lauw Cie Lian tidak mengejarnya ketika Bong Kim Lian menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat menjauhi diri dari musuhnya.

Dalam sekejap mata saja Bong Kim Lian telah molompati dinding dan lenyap diluar.

Lauw Cie Lian telah membuang bubuk hitam, maka api segera padam kembali.

---o^dw'kz~0~Tah^o---"HMMM......, PEREMPUAN CANTIK itu tampaknya bukan wanita baik2.....

kepandaianya juga tidak rendah, memang ia bisa menandingi kepandaiannya, kalau saja kami bertempur dengan cara biasa untung saja aku mempergunakan api mustikaku ini, sehingga ia kewalahan..........!'' Cepat-cepat Lauw Cie Lan masuk keruangan dalam kuil itu.

la melihat dilantal tiga orang pendeta yang tengah rebah tertidur nyenyak.

Setelah di periksanya ternyata ketiga orang pendeta itu merupakan korban totokan.

Setelah diteliti sejenak Iamanya, Lauw Cie Lan membuka totokan pendeta itu, ia menguruti tubuh pendeta tersebut.

Selang beberapa lama, ketiga orang hwesio itu telah berhasil disadarkannya.

Saat itu ketiga orang hweshio tersebut memandang heran pada Lauw Cie Lan.

"Apa yang telah, terjadi ?"

Tanyanya dengan bingung.

"Kalian telah ditotok !"

Menjelaskan Lauw Cie Lan.

"Kalian bertiga tidak sadarkan diri dan tertidur lelap sekali.......!"

Salah seorang diantara ketiga hweshio itu talah berkata .

"Kalau tidak salah kami telah menerima kedatangan seorang tamu......dia seorang wanita cantik yang membawa seorang pemuda yang tengah pingsan.........!"

"Perempuan cantik itu seorang wanita yang tidak baik, dialah yang telah menotok diri kaIian.......sekarang coba kalian tunjuki kepadaku, dimana pemuda yang dibawanya dalam keadaan pingsan itu ?"

Hweshio yang seorang itu cepat-cepat membawa Lauw Cie Lan kesebuah kamar.

Ketika mereka membuka pintu dan melihat apa yang terdapat didalam kamar itu, mereka jadi tertegun.

Begitu juga Lauw Cie Lan telah cepat-cepat memalingkan mukanya kearah lain sambil mundur menjauhi diri dari kamar itu.

Apa yang mereka lihat ?

Ternyata didalam kamar itu Toan Hongya tengah ber-jingkrak2 sambil mengeluarkan sua ra teriakan-teriakan.

Yang membuat Lauw Cie Lan cepat2 mundur tidak mau melihatnya, karena seluruh pakaian Toan Hongya telah dilepas dan dia dalam keadaan polos.........

Lauw Cie Lan telah menghela napas.

"Ternyata wanita itu memang bukan wanita baik2, ia tentu telah memberikan semacam obat beracun kepada pemuda ini,"

Kata Lauw Cie Lan pada salah seorang hweshio yang menghampirinya.

Sedangkan muka hweshio itu berubah hebat.

la telah mengenali siapa pemuda itu.

Itulah raja mereka, karena dengan tubuh bersisik seperti Toan Hongya siapakah rakyatnya yang tidak mengenalinya bahwa ia adalah raja dari kerajaan Tailie ini.

Dengan muka muram, hweshio itu telah mengangguk sambil memberitahukan pada Lauw Cie Lan siapa adanya pemuda itu.

"Hemmm......., sungguh jahat wanita itu, tentu ia hendak melakukan suatu perbuatan mesum di kuil ini dengan menguasai raja kalian itu, untung saja aku mengerti sedikit ilmu ketabiban, dan ini adalah obat penawar racun itu........ nah, kalian berikan pada rajamu itu, agar racun yang mempengaruhi dirinya itu lenyap.......!"

Pendeta itu menuruti perintah Lauw Cie Lian, ia membawa obat itu masuk kedalam kamar.

Tetapi ketika ia mendekati Toan Hangya, di.........

saat itu Toan Hongya tengah melompat sambil mengibaskan tangannya, tidak ampun lagi bahu pendeta itu kena terhajar, sehingga ia berguling-guling diatas tanah.

Rupanya obat pelemas yang semula menguasai Toan Hongya telah lanyap, dan yang masih menguasainya kini adalah obat perangsang.

Itulah sebabnya kibasan tangan Toan Hongya sangat kuat.

Pendeta itu tidak berarni mendekati lagi, ia hanya melemparkan obat bungkusan itu kedekat kaki Toan Hongya sambil katanya dalam keadaan berlutut.

"Hongya itu adalah 'obat' penawar dari racun yang kini tengah mempengaruhi Hongya, silahkah Hongya memakannya.......!"

Walaupun Toan Hongya tengah dikuasai oleh racun sesat, namun pikiran jernihnya masih ada.

Jika ia me-lompat2 dan ber-jingkrak2 seperti itu adalah disebabkan usahanya untuk dapat mengurangi tekanan nafsu birahinya yang dipengaruhi oleh racun tersebut.

Sebetulnya ia tidak ingin mengebutkan lengan bajunya kearah sipendeta, namun tangan itu telah bergerak sendirinya diluar kekuasaannya.

Dia menyesal sekali melihat pendeta itu ter guling-guling.

Tetapi mendengar bahwa bungkusan obat yang dilemparkan pendeta itu adalah obat penawar dari racun yang tengah mempengaruhi dirinya.

Toan Hongya mengulurkan tangannya, mengambil dan membawa kemulutnya yang segera memakannya.

Dengan bantuan ludahnya ia telah menelan obat tersebut.

Memang khasiat obat itu berhasil juga terlihat dengan segera karena seketika nafsu berahi Toan Hongya menurun dengan cepat.

Setelah lewat lagi beberapa saat, lenyaplah pengaruh obat perangsang itu.

Napas Toan Hongya memburu keras, tetapi walaupun sangat letih dia cepat-cepat menyambar pakaiannya dan mengenakannya kembali.

Ketiga orang pendeta itu telah berlutut memberi hormat kepada raja mereka.

Mereka juga minta diampuni karena tak bisa melindungi raja mereka.

Hweshio2 itu telah menceritakan apa yang telah terjadi, dimana mereka bertiga telah ditotok tidak berdaya oleh Kim Lian.

Toan Hongya tidak memarahi ketiga pendeta itu, ia malah berterima kasih sekali, sebab dirinya telah tertolong......

"Yang menolong Hongya mengusir wanita siluman cabul itu adalah Lauw Liehiap yang berada diluar...........!"

Kata hweshio itu.

Toan Hongya cepat2 keluar dan melihat seorang perempuan tua tengah mengawasi dirinya dengan tajam, Toan Hongya segera merangkapkan sepasang tangannya menjura mengucapkan terima kasihnya.

Lauw Cie Lan telah tertawa.

"Jangan berterima kasih kepadaku, karena hanya secara kebetulan saja aku bisa mengusir wanita cabul itu ..........?"

Toan Hongya segera menceritakan apa yang telah dialaminya. Lauw Cie Lan jadi terkejut.

"Ia melatih ilmu Im Yang Hun?"

Tauyanya.

"Pantas dia memiliki kepandaian yang begitu tinggi dan wajahnya juga awet muda. Aku semula heran juga, dalam usia semuda itu ia telah memiliki kepandaian yang tinggi, tidak tahunya ia telah berusia hampir delapan puluh tahun....!"

Toan Hongya bergidik ketika teringat hampir saja ia menjadi korban wanita itu.

Sedangkan Lauw Cie Lan setelah bercakap cakap sejenak lamanya, meminta diri.

Toan Hongya mengundangnya untuk pergi ke Istananya, untuk dijamu disana, tetapi Lauw Cie Lan menolaknya, ia mengatakan iagin melanjutkan perjalanannya.

Toan Hongya tidak bisa menahannya, maka setelah Lauw Cie Lan melanjutkan perjalanannya, Toan Hongya mengucapkan terima kasihnya pada ketiga pendeta itu.

Ke tiga orang pendeta ini ingin mengantarkan Toan Hongya sampai keistananya, tetapi Toan Hongya mengatakan ia bisa kembali sendiri.

Begitulah Toan Hongya telah meninggalkan kuil tersebut.

Tetapi berjalan belum begitu jauh, hatinya jadi berdebar keras.

la melihat sesuatu.

Rupanya seseorang membuntuti dirinya!

Yang lebih mengejutkan lagi hati Toan Hongya, dia segera mengetahuinya yang mengikuti dirinya itu tidak lain dari Bong Kim Lian wanita cabul yang hampir dapat menguasainya, Toan Hongya jadi mendongkol sekali tetapi juga jeri.

Karena dia tahu bahwa Bong Kim Lian memiliki banyak tipu muslihat.

Toan Hongya mempercepat langkah kakinya namun baru empat langkah, telah didengarnya suara teriakan dari Bong Kim Lian.

"Toan Hongya, tunggu dulu!"

Hati Toan Hongya jadi terkesiap, tetapi ia menghentikan jalannya walaupun hatinya ingin sekali berlari secepatnya meninggalkan perempuan cabul itu.

Malah mengingat bahwa dirinya hampir saja menjadi korban kecabulan wanita itu, ia jadi merinding.

"Apa lagi yang kau hendaki?"

Tegar Toan Hongya mendongkol waktu wanita cabul itu teah berdiri dihadapannya. Kim Lian telah tertawa manis sekali ia membawa sikap biasa saja.

"Apakah Hongya benar2 akan meninggalkan aku begitu saja ? Bukankah Hongya telah berkata bahwa aku sangat cantik dan Hongya ingin mengambil aku menjadi permaisurimu ?"

Tanya Kim Lian dengan sikap yang manja sekali. Muka Toan Hongya merah padam karena gusar.

"Wanita cabul, engkau benar-benar tidak tahu mati, apakah engkau tidak takut kalau aku perintahkan pengawalku untuk menangkapmu dan menghukum mati ?"

Gertak Toan Hongya. Tetapi justru Kim Lian telah tersenyum manja.

"Sudah berapa kali aku katakan, aku senang menerima kematian ditangan Hongya......!'' katanya. Muka Toan Ceng jadi tambah merah.

"Cepat engkau pergi sebelum aku marah.....!"

Katanya.

"Hemmm......... justru aku ingin melihat bagaimana jika Hongya tengah marah.......!"

Melihat kebandelan wanita itu, Toan Hongya jadi tambah gusar.

"Perempuan cabul, engkau sudah tidak ku hukum sesungguhnya telah lebih dari bagus tetapi engkau, mencari penyakit sendiri........! Baiklah, sekarang apa yang kau inginkan dariku ?"

"Aku menginginkan Hongya menemaniku pergi pesiar......!"

Sahut Kim Lian berani. Muka Toan Hongya jadi berobah marah, ia telah berkata keras.

"Cepat engkau menyingkir dari hadapanku.........!"

Bentakan itu d'isusul dengan sikap seperti jaga ingin melancarkan serangan. Tetapi Kim Lian berani sekali, ia tetap berdiri ditempatnya.

"Aku tidak akan pergi ...... kemana Hongya pulang keistana........!"

Habislah sudah kesabaran Toan Hongya, dengan bentakan marah tangan kanannya meluncur melancarkan serangan.

Kim Lian memang liehay, kepandaiannyapun tinggi sekali.....

dengan mudah Kim Lian selalu berkelit dari serangan Toan Hongya.

Namun serangan yang dilancarkan Kim Lian semakin lama jadi semakin cepat.

Ketiga orang pendeta dikuil yang pernah Toan Hongya dikurung, kebetulan telah menyaksikan pertempuran itu.

Malah mereka melihat yang menganggu Toanu Hongya mereka itu adalah wanita cabul yang pernah membawa Toan Hongya kekuil mereka.

Tanpa pikir panjang lagi, ketiga pendeta itu telah berlari, untuk menuju keistana guna memberikan laporan mengenai keadaan diri Toan Ceng.

Cepat sekali ketiga pendeta itu telah sampai diistana, memberikan laporannya.

Toan Liang dan Toan Bun maupun kerabat istana jadi terkejut.

Mereka segera menyiapkan pasukan dan ikut ketiga hweshio itu ketempat peristiwa dimana Toan Hongya tengah diganggu wanita cabul Bong Kim Lian itu.

Namun ketika mereka tiba ditempat tersebut, mereka tidak menjumpai siapapun juga, tidak terlihat Bong Kim Lian dan juga tidak terlihat Toan Hongya.

Mereka semua jadi bingung.

Ketiga orang pendeta itu berkeras bahwa memang tadi belum lama yang lalu Toan Hongya bertempur dengan Bong Kim Lian ditempat itu.

Segera Toan Liang dan Toan Bun mengambil tindakan mengatur pasukannya mencari raja mereka disekitar tempat tersebut.

Tetapi hampir satu harian mereka telah me rgubek-ubek mencari raja mereka disekitar tempat itu, tetapi saja mereka tidak berhasil menemui jejak Toan Hongya.

Begita juga jejak dari Kim Lian tidak berhasil mereka temui.

Sedangkan Toan Liang telah perintahkan pintu kota ditutup dan akan diadakan pemeriksaan diseluruh kota tersebut.

Waktu orang2 istana mendengar perihal peristiwa yang telah menimpah diri raja mereka itu dan dimana Toan Hongya telah dikuasai oleh seorang wanita cabul, mereka jadi terkejut sekali.

Yang membuat mereka berkuatir adalah keselamatan dari raja mereka itu.

Namnn kereta tidak berhasil untub mencari jejak Kaisar mereka.

Toan Liang dan Toan Bun terus juga mengadakan pencarian dengan ketat Toan Hongya dan Bong Kim Lian seperti lenyap tertelan bumi.

Berita lenyap Toan Hongya memang telah didengar oleh Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan.

Hal itu membuat Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan jadi ikut bingung juga.

Disamping itu mereka tidak melihat lagi Bong Kim Lian, maka mereka mau menduga bahwa yang menculik Toan Hongya pasti Bong Kim Lian.

Segera Lu Liang Cwan dan Oey Yok Su ikut mehyelidiki dan mencari raja Tailie yang telah lenyap itu.

Namun sehari penuh mereka berkeliling kota tanpa memperoleh hasil.

Ketika malam harinya mereka ingin kembali kerumah penginapan, justru mereka telah berpapasan bertemu dengan Lauw Cie Lan.

Lu Liang Cwan dan Oey Yok Su jadi girang.

Yang membuat mereka lebih girang lagi justru Lauw Cie Lan telah menceritakan diri nya yang menolongi Toan Hongya, dan berhasil mengusir Bong Kim Lian, sehingga raja itu batal menjadi korban wanita cabul tersebut.

Lu Liang Cwan memuji Lauw Cie Lan sebagai seorang pendekar yang baik hati, tetapi justru Lauw Cie Lan merasakan bahwa itu sindiran buat dia.

Mereka bertengkar sejenak, namun akhirnya Oey Yok Su bisa menengahinya.

Waktu Lu Liang Cwan mengundang Lauw Cie Lan untuk singgah dirumah penginapan mereka untuk dijamu, Lauw Cie Lan telah menolaknya.

Wanita gagah itu telah melanjutkan perjalanannya lagi, berpisah dari Lu Liang Cwan dan Oey Yok Su.

Sedangkan Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan telah kembali kerumah penginapan mereka.

Malam itu mereka dapat tidur nyenyak, karena mereka telah tenang mendengar Toan Hongya berhasil dibebaskan Lauw Cie Lan dari tangan nya Bong Kim Lian dan tentunya Kaisar itu telah berada diistananya lagi dan besok mungkin akan mengunjungi mereka pula.

Namun yang mengejutkan Lu Liang Cwan dan Oey Yok Su ketika keesokan paginya mereka terbangun dari tidur, mereka mendengar cerita pelayan rumah penginapan mengenai Toan Hongya yang telah lenyap kembali.

Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan jadi berkuatir, karena menurut cerita ketiga pendeta yang diceritakan oleh pelayan itu Toan Hongya telah bertempur dengan Bong Kim Lian dan waktu pasukan istana sampai, mereka telah lenyap.

Keadaan seperti ini membuat Lu Liang Cwan menduga bahwa Toan Hongya telah berhasil ditawan oleh Bong Kim Lian lagi.

Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan cepat2 santapan pagi setelah itu mereka berdua keluar dari rumah penginapan untuk pergi melakukan penyelidikan dan mencari jejak Bong Kim Lian dan Toan Hongya.

Namun sejauh itu, sampai menjelang sore hari mereka tidak berhasil menemui jejak Toan Hongya.

Lu Liang Cwan dan Oey Yok Su bertekad jika mereka berhasil mencari jejak Kim Lian, akan sekalian dibinasakannya, agar tidak menimbulkan bibit kerusuhan dikelak kemudian.

---o^dw'kz~0~Tah^o---BAGIAN 33 .

TOAN HONGYA TERCULIK LAGI TERNYATA Toan Hongya berhasil ditawan oleh Bong Kim Lian kembali.

Waktu itu Toan Hongya tengah menyerang Bong Kim Lian.

Serangan Toan Hongya selalu dengah gesit den lincah berhasil di-elakkan Bong Kim Lian.

Lewat beberapa jurus, waktu Bong Kim Lian melihat ketiga pendeta dari kuil itu telah ber-lari2 pergi dari tempat tersebut, segera wanita cabul ini menduganya bahwa ketiga, orang pendeta itu tentu akan memberikan laporan kepada alat negara.

Maka ia berpikir untuk segera menghabiskan saja pertempuran itu secepat mungkin.

Sambil tertawa, Bong Kim Lian telah berkata .

"Toan Hongya, rupanya engkau memang ingin tidur sekali lagi !"

Dan tahu2 tangannya telah mengibaskan selembar sapu tangan, seketika itu juga Toan Hongya mencium bau harum sekali, yang menyambar keras hidungnya.

Hati Toan Hougya terkesiap, ja tahu apa artinya kebutan sapu tangan yang menyiarkan bau harum itu.

Cepat-cepat Toan Hongya menahan napasnya, agar tidak tersedot hawa wangi itu.

Namun terlambat, Toan Hongya telah mencium bau harum itu.

Tidak ampun lagi tubuhnya terhuyung-huyung rubuh.

Bong Kim Lian juga tidak membuang buang waktu pula, ketika tubuh Toan Hongya tengah terhuyung-huyung, ia telah melompat maju dan menotok beberapa jalan darah Kaisar itu.

Tidak ampun lagi Toan Hongya terkulai, dan ia tidak bisa berkutik.

Walaupun Toan Hongya tidak pingsan atau tertidur, namun tenaganyah telah lenyap dan tidak bisa menggerakkan sepasang tangan dan kakinya, dimana tenaganya lenyap akibat totokan yang dilakukan Bong Kim Lian.

Hati Toan Hongya jadi mencelos.

Kaisar Tailie iai menyadari bahaya yang mengancam dirinya dengan kembali jatuh ditangan perempuan cabul seperti Kim Lian.

Sedangkan Bong Kim Lian telah bekerja cepat sekali begitu Toan Hongya rubuh segera ia memanggul meninggalkan tempat tersebut.

Kim Lian telah menggendong Toan Hongya keluar kota dan ia berlari terus dengan mempergunakan ginkangnya yang mahir.

Setelah berlari lagi sekian lama, merasa telah cukup jauh meninggalkan kota, dilihatnya tidak jauh dari tempatnya berada terdapat sebuah rumah.

Kim Lian segera mcnghampirinya.

Diketuknya daun pintunya.

Tidak ada sahutan, tampaknya rumah itu kosong.

Kim Lian tidak melihat seorangS manusia pun juga didalam rumah itu.

Kim Lian jadi girang, inilah kesempatan yang baik untuknya.

Diletakkannya Toan Hongya dipembaringan kayu disebuah kamar di rumah itu.

Kemudian Kim Lian telah menotok lagi beberapa jalan darah Toan Hongya, baru ia melepaskan totokan pada jalan darah gagu Toan Hongya.

Toan Hongya menatap Kim Lian dengan sorot mata gusar, bentaknya.

"Engkau wanita tidak tahu malu .......!"

"Ya, terserah apa saja yang hendak engkau katakan, aku sangat menyukaimu dan hanya mengingini satu kali saja tidur denganmu. Itu telah lebih dari cukup dan selanjutnya aku tidak akan menggangggumu lagi......!"

Toan Hongya berkata.

"Sekarang engkau bebaskan aku, kelak apa saja yang kau minta pasti akan kuberi...... permata2, harta benda lainnya........!"

Bong Kim Iian menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

"Aku tidak menghendaki apapun, selain ingin tidur satu kali saja dengan engkau.....!"

Kata Kim Lian dengan suara yang manja dan sikap yang genit.

Tampaknya memang sudah tidak ada alasan lagi buat Toan Hongya untuk meloloskan diri dari Kim Lian.

Saat itu Bong Kim Lian mendekati pembaringan dengan sikap yang sungguh2, akan segera memberikan lagi obat perangsang.......!

Toan Hongya berkata-kata-untuk mengulur waktu, juga telah berpikir keras, ia teringat bahwa dirinya sekarang tengah dipengaruhi obat pelemas dan juga memang ia hanya dalam keadaan tertolok saja.

Maka teringatlah ia akan suatu akal yang bisa dipergunakannya, mungkin akan memberikan hasil yang baik untuk dirinya.

"Baiklah,"

Kata Toan Hongya kemudian sambil mengangguk.

"Sekarang saja kita mulai ?"

Kim Lian jadi memandang heran, ia sepeti tidak menpercayai bahwa Toan hongya akhirnya mau juga menuruti keinginannya.

"Benar2 engkau mau menuruti keinginanku dengan cara baik2."

Toan Hongya rnengangguk.

"Telah kupikirkan juga, jika aku selalu menolak dan berkeras, tentu hanya akan membuat diriku yang celaka, akhirnya tetap terjatuh dalam tanganmu, dan yang lebih tidak menggembirakan jika aku jatuh ketanganmu hanya disebabkan oleh paksaan. Maka bukankah lebih baik jika kita melakukannya dalam keadaan sehat dan tidak ada paksaan? Bukankah kita bisa tidur jauh lebih mesra.?"

Bong Kim Lian tersenyum "Soal mesra atau tidak itu bukan menjadi persoalan", pikir wanita ini.

"Yang terpenting aku bisa tidur bersamamu dan memperoleh sari keperjakaan......."

Toan Hongya telah mengangguk.

"Bebaskan dulu aku dari totokanmu!"

Kata Toan Hongya kemudian. Bang Kim Lian jadi ragu-ragu.

"Apakah engkau bisa dipercaya? Kalau nanti aku bebaskan engkau dari totokanku, engkau akan berusaha melarikan diri........ !"

Toan Ceng cepat2 menggelengkau kepalanya.

"Tidak..., tidak......, percayalah padaku, aku tidak akan melarikan diri. ..!"

Katanya meyakin kan. Bong Kim Lian masih ragu2 sejenak, tapi kemudian ia mengangguk.

"Baiklah,"

Katanya.

"Aku bebaskan engkau dari totokanku, tetapi ingat, jangan se kali2 engkau berusaha melarikan diri............!"

Toan Ceng mengiakan Kim Lian membuka totokan Toan Ceng, kemudian katanya.

"Sekarang kau telah bebas dari totokanku, engkau bisa bergerak dengan leluasa kembali"

Toan Ceng melompat turun dari pembaringan itu kemudian menggeliat beberapa kali untuk melancarkan peredaran darahnya yang tadi telah membeku beberapa saat akibat totokan itu.

"Sudah siap?"

Tanya Bong Kim Lian sambil menggeliat dengan sikap menggairahkan. Toan Ceng mengiyakan.

"Sekarang melakukannya?"

Tanya Kim Lian.

"Boleh . .!"

Sahut Toan Ceng, .

Kim Lian peluk pemuda itu dari belakang.

Toan Ceng merinding, tetapi dia menahan perasaan muaknya itu, karena ia ingin berusaha memberikan keyakinan kepada wanita ini sampai saat wanita tersebut lengah ia akan melarikan diri.

Kim Lian melepaskan petukannya.

Wanita ini menuju kedepan Toan Ceng, dia berdiri sambil meliuk-liukkan tubuhnya, tangannya membuka satu persatu pakaiannya sendiri, .......terlihat apa yang dimilikinya.

Toan Ceng memandangi tubuh Kim Lian, tetapi bukan tertarik atau terangsang malah ia merasa sangat muak dan jijik sekali.

"Mengapa belum mulai ?"

Tanya Kim Lian.

"Mengapa pula engkau belum melepaskan pakaianmu... ?"

"Sabar,"

Kata Toan Ceng sambil berusaha untuk tersenyum.

"Mengapa kita harus tergesa gesa, bukankah sekarang ini aku telah menuruti keinginanmu secara baik-baik?"

Kim Lian mengangguk, dia menggelilat menjatuhkan tubuhnya dipembaringan.

"Baiklah, tetapi aku tidak sabar, kemarilah pemuda tampan....!"

Kata Kim Lian lirih.

"Tubuhmu harum sekali kata Toan Ceng," ............ Senang hati Kim Lian. Sedangkan Toan Ceng mengambil pakaian wanita itu, dibawa kedekat hidungnya.

"Hemmm......, engkau mempergunakan air wangi yang harum sekali.......!'' katanya. Kim Lian tambah senang, ia melihat pemuda itu telah jinak.

"Cepatlah kemari pemuda tampan, aku sudah tidak sabar lagi...........!"

Toan Ceng yakin tibalah saatnya yang baik untuk melarikan diri. Maka ia me-lipat2 pakaian Kim Lian, kemudian memasukkan ke dalam pakaiannya sendiri. Kim Lian melihat apa yang dilakukan oleh Toan Ceng.

"Eh, mengapa pakaianku engkau simpan........ !"

Tegurnya heran. Tetapi waktu itu -Toan Ceng telah tertawa .

"Hemmm......., sudah kukatakan, aku tidak ingin menuruti keinginanmu sekarang ini, sampai jumpa dilain waktu ........ !"

Dan Toan Ceng telah menjejakkan kakinya menerobos akan keluar dari dalam kamar itu.

Hati Kim Lian jadi mencelos, sambil mengeluarkan suara bentakan tubuhnya telah melambung ketengah udara, kedua tangannya digerakkan untuk melancarkan serangan pada Toan hongya.

Tetapi Toan Ceng tidak takut, dia malah menangkis dengan kekerasan.

"Hemm.., engkau sekarang dalam keadaan tidak berpakaian, tidak mungkin engkau mengejarku,"

Pikir Toan Ceng.

"Semua obat biusmu berada dalam pakaianmu, telah berhasil aku rampas ini, maka selanjutnya aku tidak perlu jeri menghadapimu........!"

Maka dari itu Toan Ceng telah menangkis serangan.

"Ha...ha...ha...ha... selamat tinggal....!"

Kata Toan Ceng sambil memutar tubuhnya dan berlari secepatnya............

Kim Lian gusar bukan main, ia berusaha mengejarnya, tetapi ia teringat bahwa dirinya dalam keadaan bertelanjang bulat tidak berpakaian.

Segera Kim Lian masuk kedalam rumah itu, untuk mencari pakaian yang bisa dipergunakan menutupi tubuhnya, ditemukan juga beberapa perangkat pakaian yang telah tua dan banyak tambalannya.

Namun disebabkan tidak memiliki pakaian lagi, terpaksa Kim Lian mengenakan pakaian itu.

Dan dia telah berlari keluar lagi untuk mengejar Toan Ceng ..........

Kim Lian penasaran, ia mengejar terus sampai belasan lie.

Namun tetap saja jejak Toan Ceng tidak berhasil ditemukannya.

Kim Lian hanya menduga bahwa Toan Hongya itu jelas telah kembali keistananya, dan mempersiapkan penjagaan yang kuat.

Maka kim Lian menyadarinya untuk mementara waktu tidak mungkin ia bisa mendatangi istana raja yang telah lolos dari tangannya itu !"

Dengan jengkel Kim Lian telah membanting-banting kakinya sambil memaki-maki.

Kegagalannya kali ini disebabkan kecerobohannya, dimana Toan Hongya justru berhasil mempergunakan kecerobohan Kim Lian untuk meloloskan diri.

Sekarang untuk mengharapkan lagi bahwa ia akan dapat menculik Toan Hongya, sulit sekali.

Karena selain Toan Hongya akan bersiap sedia setiap waktu, juga akan diadakan penjagaan yang ketat disekeliling istana nya.

Waktu itu Toan Ceng telah melarikan diri cukup jauh.

Raja ini berlari seperti terbang saja.

Dalam waktu yang singkat telah belasan lie dilewatinya tetapi.

Toan Hongya masih berlari dengan langkah2 lebar, mempergunakan ginkangnya dan mengerahkan seluruh tenaga yang ada padanya.

Setelah berlari sekian lama dan yakin diri nya telah berhasil meninggalkan Kim Lian cukup jauh, barulah Toan Hongya berlari pelan untuk mengatur pernapasannya yang memburu keras.

Setelah berlari sekian lamanya akhirnya Toan Hongya melihat didepannya terdapat rumah penduduk, terdiri beberapa buah rumah.

Maka cepat2 Toan Hongya menghampiri sebuah rumah penduduk itu, dan ia mengetuk pintu rumah.

Seorang lelaki tua telah membukai pintu, Toan Hongya segera memperkenalkan diri sebagai Kaisar Tailie dan lelaki tua itu memang mengenali rajanya, maka ia cepat2 mempersilahkan Toan Hongya masuk dengan sikap yang hormat sekali, Toan Hongya menjelaskan bahwa dirinya tengah dalam kesulitan dikejar oleh seorang wanita.

Maka Toan Hongya berpesan jika nanti ada seorang wanita yang menanyakan perihal dirinya lelaki tua itu harus memberikan penjelasan bahwa Toan Hongya telah melarikan diri kembali keistananya.

Tetapi sampai dua hari Toan Hongya menginap dirumah penduduk tersebut, tidak ada orang yang mencarinya dan Kim Lian juga tidak muncul.

Dihari ketiganya barulah Toan Hongya pamitan dan dia kembali keistanya tanpa menemui kesulitan apa-apa.

Seluruh penghuni istana jadi girang, melihat raja mereka telah kembali tanpa kurang suatu apapun juga.

Toan Hongya menceritakan apa yang dialaminya itu pada Toan Liang dan Toan Bun.

Maka segera dibentuk pasukan pengawal istana untuk mengawal istana dengan ketat, karena kuatir Kim Lian akan datang menyatroni istana pula.

Toan Hongya telah memerintahkan agar seluruh pasukan istana mengadakan penjagaan yang ketat, sebab Toan Hongya kuatir kalau ia tengah tertidur nyenyak dan Kim Lian datang pula sambil mempergunakan obat biusnya untuk menculiknya.

Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan yang gagal mencari Toan Hongya, jadi jengkel sekali.

Tetapi justru dihari keempatnya, dipagi hari waktu mata hari pagi mulai memperlihatkan dirinya, mereka telah dikunjungi lagi oleh Toan Hongya.

Tentu saja hal ini membuat Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan jadi girang bukan main.

Toan Hongya menceritakan apa yang telah dialaminya itu, dan dengan cara bagaimana akhir nya ia bisa-menipu Kim Lian dan meloloskan diri.

Mendengar cerita itu, Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan jadi tertawa ber-gelak2.

"Sudah kukatakan bahwa wanita itu wanita cabul... hemm.., sekarang terbukti perkataanku itu bukan?"

"Tetapi jika dilihat dari keadaan wajahnya yang begitu cantik dan bentuk tubuhnya yang begitu mulus dan indah, apakah memang ia sebenarnya seorang nenek keriput yang sebetulnya berusia hampir delapan puluh tahun?"

Tanya Toan Hongya kemudian dengan suara ragu2. Lu Liang Cwan tertawa lagi.

"Aku tahu.......tentunya engkau tertarik melihat kecantikan dan keindahan bentuk potongan tubuh wanita cabul itu, kalau memang engkau tertarik, mengapa engkau harus melarikan diri ?"

Digoda seperti itu, muka Toan Hongya berobah merah, ia malu sekali.

Sekarang karena Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan telah mengetahui siapa dirinya sebeharnya, yaitu seorang raja yang berkuasa penuh dinegeri Tailie ini, maka Toan Hongya telah mengundang kedua orang sahabatnya ini keistananya, untuk dijamu.

Menurut Toan Hongya dengan melakukan percakapan didalam istananya adalah lebih aman, mereka tidak perlu kuatir lagi diganggu oleh Kim Lian wanita cabul itu......

Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan menyetujuinya dan menerima undangan yang diberikan Kaisar tersebut.

Senang sekali mereka bisa menjalin persahabatan dengan Toan Hoagya seorang raja yang ramah dan baik hati itu.

Malah yang menarik perhatian Oey Yok Su raja ini memang mengerti ilmu silat yang tidak lemah, maka mereka jadi tenggelam dalam percakapan yang membicarakan berbagai masalah ilmu silat.

Didalam istana Toan Hongya, Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan telah diberikan sebuah kamar yang besar dan mewah, di mana Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan menerima perlakuan yang hormat sekali dari seluruh pegawai istana.

Lu Liang Cwan sendiri yang senang sekali diperlakukan seperti itu, dapat makan dan minum arak yang enak dan bagus merupakan arak pilihan, membuat dia selalu tertawa senang.

Oey Yok Su juga tertawa, tetapi bagi Oey Yok Su, yang terpenting adalah Toan Hongya mengerti ilmu silat kelas tinggi, mereka jadi bisa bertukar pandang dan pikiran membicarakan serta merundingkan ilmu silat, untuk menambah pengalaman...

---oo0oo---BAGIAN 34 .

RENCANA MEMBASMI PENGUASA IM YANG HUN SELAMA seminggu lebih Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan telah berdiam diistana Toan Hongya, sampai akhirnya keduanya telah pamitan minta diri, karena Lu Liang Cwan dan Oey Yok Su bermaksud untuk mengembara.

Jika saja memang Toan Hongya tidak memikul tanggung jawab dan kewajiban mengatur negara, Toan Hongya bermaksud untuk pergi ikut mengembara bersama kedua orang sababatnya ini.

Namun sayang sekali, justru urusan negara meminta perhatian Toan Hongya, ia hantar kepergian kedua sahabatnya itu dengan hati dan perasaan yang berat.

Hanya Toan Hongya berjanji, jika memang kelak ia memiliki kesempatan, pasti akan mengunjungi daratan Tionggoan, untuk mencari mereka.

Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan telah dibekali oleh raja ini cukup banyak uang dan harta perhiasan, disamping itu perbekalan meraka cukup banyak, untuk dipergunakan disepanjang perjalanan mereka.

Walaupun Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan menolaknya, tokh Toan Hongya telah memaksanya, sehingga akhirnya mereka menerima juga ....Sepanjang perjalanan, Lu Liang Cwan dan Oey Yok Su jadi membicarakan soal diri Kim Lian.

Dimana sekarang wanita cabul ini berada ?"

Hemm......., hampir saja kau dan Toan Hongya jadi korban kecabulan wanita itu, untung saja kalian masih bisa lolos dari tangannya !

Jika memang kita bertemu dengannya lagi, kita tidak boleh mengampuninya, ka rena kita harus berusaha membasminya, agar kelak tidak menimbulkan gangguan pula pada pemuda lainnya ...!

Tentu pemuda2 yang lemah tidak berdaya, akan menjadi korban wanita cabul ini.

Bukankah hal itu jika dibiarkan akan menyedihkan sekali ?"

Oey Yok Su mengiyakan berulang kali.

Tetapi ketika siang itu mereka tiba dikam pung yang terpisah beberapa ratus lie dari ibu kota Tailie, justru mereka mendengar perihal petualangan seorang wanita cantik yang banyak meminta korban pemuda2 yang jadi lumpuh kakinya setelah kena terpicuk oleh ke cantikannya dan bersedia tidur dengannya.

Keadaan seperti itu membuat Lu Liang Cwan jadi gusar sekali, Oey Yok Su sendiri jadi merinding ngeri memikirkan betapa hampir saja ia menjadi korban wanita cabul itu.

Oey Yok Su diam2 jadi bersukur bahwa ia tidak jadi korban dari wanita cabul itu.

Lu Liang Cwan sendiri menduga keras, tentu wanita yang telah menimbulkan kehebohan dikalangan rakyat Tailie, yang menyebutnya sebagai wanita siluman itu, adalah Bong Kim Lian, karena hanya wanita itu saja yang melatih ilmu Im Yang Hun, ilmu yang membutuhkan banyak sekali sari keperjakaan pemuda !

Hanya Lu Liang Cwan telah menyarankan pada Oey Yok Su, karena mereka tidak memiliki urusan yang penting, lebih baik waktu2 mereka dipergunakan untuk mencari jejak wanita cabul itu, dan jika mereka berhasil mencari jejaknya, mereka harus berusaha untuk membinasakannya, melenyapkan bibit bahaya untuk orang2 banyak.

Oey Yok Su menyetujui saran dari Lu Liang Cwan, begitulah mereka melakukan penyelidikan untuk mencari jejak Bong Kim Lian.

Tetapi Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan tetap belum berhasil mendapatkan jejak Bong Kim Lian.

Telah banyak kampung dan kota yang mereka telusuri diwilayah kerajaan Tailie itu, tetapi sejauh itu mereka hanya mendengar keluhan-keluhan dari keluarga pemuda yang lumpuh menjadi korban Bong Kim Lian.

Namun Lu Liang Cwan dan Oey Yok Su tidak putus asa, mereka bertekad, waIau bagaimana harus mencari jejak Bong Kim Lian.

Sore itu waktu Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan tiba dikampung Pat-tiang-cung, justru disaat mereka tengah berada disebuah rumah makan, mereka berjumpa lagi dengan Sian Ho Lauw Cie Lan si Dewi Api yang liehay itu, mereka bertiga jadi asyik ber-cakap2.

Saat Lu Liang Cwan bertemu dengan Sian Ho Lauw Cie Lan, tidak sempat ber-bincang2 karena nampak Lauw Cie Lan ter-gesa2.

Sekarang Lauw Cie Lan tampaknya tidak ter-gesa2 untuk meninggalkan perkampungan itu, jadi mereka bisa ber-cakap2 lebih lama dan asyik.

Bahkan Lu Liang Cwan menanyakan pada Sian Ho Lauw Cie Lan, mengapa tidak mengajak saja Pek-jie biruang putih yang semula menjadi sehabatnya Lu Liang Cwan, semasa mereka masih berada dipulau.

"Bagaimana mengajaknya?"

Tanya Lauw Cie Lan tertawa lebar.

"Justru binatang itu hanya jinak padamu saja, jika aku yang mengajaknya tentu tidak bisa ... ia mana mau menuruti perintahku ...?"

Lu Liang Cwan menghela napas, tampaknya ia begitu rindu dan terkenang akan kebaikan Pekjie, yang selama berada dipulau terasingitu mendengar setiap perintahnya dengan baik disamping juga dapat melakukan tugas dengan baik.

"Jika memang na ti aku memiliki kesempatan, tentu aku kembali kepulau untuk menjemput Pekjie, kasihan jika ia ditinggal terlalu lama seorang diri dipulau itu, tentu hanya membuat ia berduka tanpa hiburan... jika dulu masih ada kita berdua, Pek-jie tentu tidak kesepian, sekarang? la hanya berada seorang diri...!"

Lauw Cie Lan tersenyum.

"Engkau menyayangi dan memanjakan Pek-jie seperti juga binatang itu adalah istrimu yang tercinta ...!"

Godanya. Lu Liang Cwan tidak marah, ia hanya tertawa saja. Oey Yok Su sendiri telah berkata kepada Sian Ho Lauw Cie Lan .

"Lauw Cianpwe, bagaimana caranya melatih ilmu api yang engkau miliki, sehingga engkau bisa berada didalam kobaran api tanpa tubuhmu termakan oleh api itu sendiri........?"

Lauw Cie Lan tersenyum.

"Itulah semacam ilmu mujijat, yang baru berhasil kulatih setelah mengasingkan diri selama sepuluh tahun dipulau itu...... jika engkau ingin mempelajarinya, nanti jika kita ada kesempatan, tentu aku akan mengajarinya, aku tidak akan menjadi seorang nenek yang kikir, dan aku bersedia untuk memberitahukan cara melatih diri guna menguasai api itu...!"

Oey Yok Su cepat2 mengucap terima kasih.

la memang paling suka mempelajari ilmu aneh.

Lu Liang Cwan sendiri telah memberitahukan pada Lauw Cie Lan mengenai sepak terjang Bong Kim Lian akhir2 ini, di mana diberbagai kota dan kampung telah banyak pemuda menjadi korban kecabulan perempuan itu.

Lauw Cie Lan mendengar keterangan Lu Liang Cwan jadi menghela napas dalam2 wajahnya jadi muram.

"Sebagai seorang wanita juga aku jadi malu mendengar sepak terjang wanita cabul yang tidak tahu malu itu ! Tetapi kita harus ingat juga ia melatih ilmu sesat Im Yang Hun yang dengan lewatnya sang waktu ia bisa menelan korban yang semakin banyak, ilmu Im Yang Hun yang dilatihnya itu jadi semakin hebat dan tinggi ... terlebih lagi jika ia telah berhasil sempurna, jelas kita tidak bisa menandinginya lagi ... !"

Mendengar perkataan Lauw Cie Lan, Lu Liang Cwan mengiyakan.

la juga menyadarinya, sekarang saja kepandaian Bong Kim Lian telah mencapai tingkat yang tinggi sekali, hampir berimbang dengan mereka.

Padahal lm Yang Hun yang dilatihnya itu belum mencapai kesempurnaannya.

Tetapi jika kelak Bong Kim Lian berhasil melatih ilmu Im Yang Hun itu sampai sempurna, bukankah hal itu merupakan bahaya yang tidak kecil ?

Karena berpikir begitu, Lu Liang Cwan menoleh kepada Lauw Cie Lan, tanyanya.

"Lalu menurut pendapatmu, tindakan apa yang sebaiknya kita lakukan ?"

"Kita harus mencari jejak wanita cabul itu .!'' kata Lauw Cie Lan dengan tegas.

"Mencari jejak wanita cabul itu?"

Tanya Lu Liang Cwan mengawasi Lauw Cie Lan. Lauw Cie Lan mengangguk.

"Ya, kita harus mencari jejaknya, walaupun sampai dimana kita harus bisa menemuinya, untuk menghajarnya dan membinasakannya. Dengan mambiarkan ia hidup terus, tentu bahaya yang mengancam kita cukup besar, terutama para pemuda yang bisa menjadi korbannya!"

Lu Liang Cwan telah mengangguk sambil tertawa.

"Aku bersama dengan Oey Yok Su juga berpikir begitu, beberapa hari kami mencari-cari jejaknya, namun sejauh itu kami belum berhasil menemui jejaknya. ..!"

"Tetapi kita harus mencari terus.......I"

"Bagaimana jika aku menggabungkan diri dengan kalian untuk mencari jejak Bong Kim Lian itu ?"

Tanya Lauw Cie Lan lagi.

Lu Liang Cwan dan Oey Yok Su jadi girang rnendengar Lauw Cie Lan bersedia menggabungkan diri dengan mereka.

Keduanya mengangguk dengan cepat.

Sedangkan Lauw Cie Lan telah menghela napas, sambil katanya .

"Tugas mencari wanita cabul itu bukan tugas yang ringan... kita akan banyak menemui rintangan..... Tetapi dalam hal ini kita harus dapat membagi diri jika telah menemuinya, yaitu kita tempur dia dengan bergiliran, sampai tenaganya habis dan disaat itu kita pergunakan kesempatan tersebut untuk menghabisi nyawanya ..........!"

Saran Lauw Cie Lan ini disetujui oleh Lu Liang Cwan dan Oey Yok Su.

Mulai dari saat itu, mereka bertiga berusaha mencari jejak Bong Kim Lian.

Beberapa kota dan kampung telah dikelilinginya, namun jejak Bong Kim Lian belum juga berhasil ditemuinya.

Hal ini telah membuat Lauw Cie Lan, Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan tambah penasaran.

Karena hampir setiap kali mereka tiba disebuah kota, tentu mereka akan disuguhi oleh cerita lumpuhnya seorang pemuda akibat terpicuk oleh kecantikan paras seorang wanita siluman, dan memang Lu Liang Cwan bertiga telah menduganya bahwa yang dimaksudkan oleh penduduk dengan sebutan wanita siluman itu adalah Bong Kim Lian.

Dengan sendirinya mereka yakin bahwa Bong Kim Lian masih berkeliaran disekitar daerah kerajaan Tailie.

---oo~!dw'kz^0^Tah~oo---BAGIAN 35 .

OEY YOK SU DI JADIKAN UMPAN HARI-HARI lewat terus dengan cepat.

Pagi itu, Lu Liang Cwan bertiga dengan Oey Yok Su dan Lauw Cie Lan telah berada disebuah rumah penginapan.

Sejak malam tadi mereka menginap disitu dan pagi ini tengah menikmati santapan pagi mereka.

Tetapi secara kebetulan Oey Yok Su menoleh melalui jendela, dan ia melihat seseorang di jalan raya.

"Lu Cianpwe......, Lauw Cianpwe......, lihat........,"

Seru Oey Yok Su dengan suara seperti terkejut.

Hal ini telah membuat Lu Liang Cwan dan Lauw Cie Lan menghentikan makan mereka ke duanya telah melongok dari jendela kejalan raya.

Dan hati mereka jadi girang bercampur kaget melihat yang berjalan dijalan raya itu.

Siapakah orang itu?

Tidak lain dari Bong Kim Lian, orang yang tengah mereka cari2.

Waktu itu Bong Kim Lian tampak berjalan seorang diri, ia mengenakan pakaian yang cukup indah.

Wajah Lauw Cie Lan telah ber-seri2, bilangnya pada Oey Yok Su.

"Pergi engkau memancingnya, kami akan mengikuti, jangan kuatir kami tidak mungkin membuat kau terjerumus,"

Tetapi Oey,Yok Su ragu-ragu.

"Aku harus menemuinya?"

Tanyanya.

"Tetapi kau harus bersikap seperti tidak melihat dia, jangan sampai menimbulkan kecurigaan padanya."

"Dan jika memang engkau telah dihadang olehnya, engkau harus memperlihatkan sikap berkuatir dan takut, jangan tenang2 saja. Karena jika engkau bersikap tenang2, ia akan mengetahui dibelakangmu masih ada orang lain yang ingin melindungimu...... wanita cabul itu sangat licik, maka harus dihadapi dengan hati2"

"Ya", kata Lu Liang Cwan.

"Kali ini kita tidak boleh gagal menangkapnya, karena jika gagal sulit untuk menanakapnya dilain waktu."

Oey Yok Su mengerti, Oey Yok Su cepat2 keluar dari rumah makan itu.

Oey Yok Su mempercepat jalannya, tetapi kepalanya tetap tertunduk, dia membawa sikap menurut anjuran Lauw Cie Lan.

Karena jika memang Oey Yok Su berjalan sambil memandang sskelilingnya, tentu akan membuat Bong Kim Lian rnenduga dirinya yang tengah dikuntit dan diikuti oleh pemuda itu.

Tetapi dengan cara jaIan itu Ocy Yok Su tidak memperhatikan siapa pun juga dan membiarkan Bong Kim Lian justru memiliki kesempatan untuk mengikutinya.

Maka dari itu, berjalan tidak berapa jauh lagi, Oey Yok Su telah melihat Kim Lian.

Pemuda ini telah mempercepat langkah kakinya, dan setelah jarak mereka agak dekat, Oey Yok Su memperlahan langkahnya.

Sedangkan Kim Lian kebetulan, suatu kali menoleh kebelakang, dan ia melihat Oey Yok Su.

Hati Bong Kim Lian jadi tercekat kaget dan bercampur girang, hampir saja ia mengeluarkan suara tertahan, untung ia bisa mempertahankan diri, dan cepat-cepat menepi.

Dilihatnya Oey Yok Su tengah melangkah dengan kepala tertunduk, seperti juga pemuda itu tidak memperhatikan keadaan disekitarnya.

Dan juga tampaknya Oey Yok Su tidak me lihat Kim Lian, sehingga membuat Kim Lian jadi girang.

"Inilah kesempatan yang baik sekali........!"

Pikir Kim Lian setelah menoleh kejalan yang bekas dilalui Oey Yok Su dan tidak melihat orang lainnya.

"Pemuda ini rupanya telah berpisah dengan tua bangka seperti monyet Lu Liang Cwan! Hemmm......., bagus ! Bagus! Inilah rejekiku, memang rupanya sari keperjakaan pemuda ini akan berhasil kuperolah!"

Setelah berpikir begitu Kim Lian mengikuti Oey Yok Su dengan hati2, agar Oey Yok Su tidak mengetahui dirinya tengah diikuti oleh Kim Lian.

Tetapi sesungguhnya Oey Yok Su mengetahui bahwa Kim Lian telah melihatnya dan mulai mengikutinya, Oey Yok Su sengaja mengambil jalan yang agak sepi dan melangkah terus dengan kepala yang tertunduk, Setelah mengikuti sejenak lamanya Kim Lian melihat keadaan dilorong jalan yang tengah mereka lalui itu sepi sekali ia jadi girang.

"inilah kesempatanku untuk menguasai ppmuda ini!"

Berpikir Kim Lian.

Dan dengan gerakan yang ringan dia melompat kedekat Oey Yok Su sambil tangannya merogoh sakunya dan mengeluarkan sapu tangan yang telah dicampur dengan obat bius.

la menghadang Oey Yok Su.

"Engko ..... Oey tunggu dulu........!"

Kata Kim Lian dengan suara yang cukup nyaring. Oey Yok Su pura2 terkejut, ia memandang Kim Lian bengong sejenak dan ia berkata dengan suara yang sengaja dibuat gugup .

"Kau ....., Kau ....., Kau .....?"

Kim Lian tertawa.

"Engkau masih mengenali aku?"

Tanyanya.

"Mana mungkin aku melupakan seorang wanita cabul seperti engkau ?"

Tetapi Kim Lian telah bergerak cepat, ia tidak mau membuang-buang waktu lagi.

"Terimalah usapanku ini......!"

Kata Kim Lian sambil mengibaskan tangan kanannya.

Oey Yok Su kaget, ia menyangka Kim Lian melancarkan serangan.

Dengan mengangkat tangan kanannya Oey Yok Su bermaksud menangkis.

Kim Lian tidak menarik tangannya itu, memang tangan mereka masing2 telah saling bentur dan mengeluarkan suara benturan yang cukup keras.

Namun justru yang membuat Oey Yok Su jadi kaget, begitu tangan Kim Lian saling bentur dengan tangannya, ia mecium semacam bau harum.

Hati Oey Yok Su mencelos.

la tahu apa artinya bau harum itu.

Tetapi telah terlambat buat Oey Yok Su, walaupun ia berusaha untuk menutup jalan pernapasannya.

Seketika itu tenaganya seperti telah lenyap, ia jadi terhuyung mengantuk akan rubuh diatas tanah.

Waktu itu Kim Lian telah mengeluarkan suara tertawa nyaring, ia menyambar tubuh si pemuda, dibawa lari dengan cepat.

Oey Yok Su tidak pingsan, ia masih mengingat segalanya dengan pikiran yang jernih.

Hanya disebabkan terlanjur mencium bau harum itu, membuat Oey Yok Su merasakan tubuhnya lemas dan seperti mengantuk.

Waktu itu, Kim Lian terus juga berlari dehgan cepat, sambil berlari Kim Lian memutar otak dengan keras.

Korbannya kali ini merupakan calon korban dari bibit yang bagus, yang sejak beberapa saat lalu di idamkan, dan sekarang terjatuh kedalam tangannya, maka biar bagaimanaa Kim Lian tidak mau kalau calon korbannya seorang ini sampai terlepas lagi.

Dengan gesit ia telah berlari menuju sebuah rumah di luar kota.

Tubuh Oey Yok Su telah diletakkan dipembaringan, dan Kim Lian tidak berayal lagi telah membuka seluruh pakaiannya.

"Hemmm......, kita mulai sekarang tanpa banyak basa-basi,"

Kata Kim Lian sudah tak sabar.

Dalam keadaan polos seperti itu Kim Lian telah naik keatas pembaringan dan ia telah memeluk Oey Yok Su.

Tetapi justru Oey Yak Su walaupun dalam keadaan tertotok seperti itu, juga tidak bertenaga, tokh pikirannya masih jernih.

Tentu saja melihat Kim Lian begitu cepat dalam melepaskan pakaian, membuat Oey Yok Su jadi berkuatir, ia berkuatir kalau2 kedua perolongnya, Lu Liang Cwan dan Lauw Cie Lan tidak keburu datang.

Dengan tangan yang sebat sekali Kim Lian telah melucuti pakaian Oey Yok Su.

Oey Yok Su jadi mandi keringat dingin, karena disaat pakaian dalamnya tengah dilucuti oleh Kim Lian, waktu itu Lu Liang Cwan dan Lauw Cie Lan belum juga muncul.

---o^dwkz^)(^Tah^o---Lu Liang Cwan dan Lauw Cie Lan yang mengikuti Kim Lian dari jarak jauhan itu, mengikuti terus dengan hati2 dan waspada.

Mereka berdua memang rnembiarkan jarak mereka terpisah cukup jauh, agar Kim Lian tidak curiga.

Tetapi waktu Kim Lian berlari pesat sekali menuju keluar kota, dan Lu Liang Cwan bersama Lauw Cie Lan tengah berlari cepat juga, diwaktu itu dari balik semak2 belukar melompat empat sosok tubuh, dengan masing2 ditangan mereka tercekal sebatang golok.

Keempat orang itu telah mengancam dengan golok mereka sambil menghadang.

"Berhenti, serahkan barang kalian......!"

Salah seorang diantara mereka membentak garang, karena melihat kedua orang yang di hadang mereka adalah seorang kakek2 dan nenek2, menutut dugaan mereka tentunya tidak memiliki kekuatan apa-apa lagi.

Lu Liang Cwan menahan larinya, ia menoleh kaadan Lauw Cie Lan yang telah berhenti, dari iarinya, katanya .

"Inilah empat, empat ekor anak kura tidak takut dengan ikan paus....!l Aku serahkan padamu untuk membereskannya!"

Lauw Cie Lan tersenyum.

"Anak-anak, lebih baik kalian menyingkir jangan cari penyakit......!"

Kata Lauw Cie Lan sabar, karena menduga keempat orang ini tentu nya perampok biasa saja,dan jika tidak terlalu memaksa Lauw Cie Lan tidak ingin turun ta tangan menghajarnya.

Tetapi siapa sangka justru keempat orang perampok itu malah tertawa.

Salah seorang diantara mereka, dengan mengacungkan golok ditangannya, telah mengancam .

"Jika kalian tidak menyerahkan harta benda kalian, kepala kalian akan berpisah dari batang leher kalian itu......!"

Habis kesabaran Lauw Cie Lan, karena jika mereka melayani keempat perampok ini, tentu akan membuat mereka kehilangan jejak dari Kim Lian.

Dengan gerakan yang gesit sekali tampak Lauw Cie Lan telah menggerakkan kedua tangannya.

Seketika itu juga tubuh keempat perampok tersebut telah terpental keras, mereka mengeluartan suara jeritan dan kemudian tidak bisa bangun lagi dari tanah, keempatnya telah pingsan tidak sadarkan diri !

Hal itu disebabkan Lauw Cie Lan waktu menggerakkan kedua tangannya itu, telah menggunakan tenaga lwekang yang cukup besar........

Walaupun keempat perampok itu tidak sampai terbinasa, namun mereka jadi pingsan.

Sedangkan Lu Liang Cwan telah melompat dengan gesit sambil katanya.

"Mari kita harus mengejar wanita cabul itu, jika terlambat tentu kita kehilangan jejaknya dan bahaya untuk Oey Yok Su........!"

Lauw Cie Lan mengiakan, mereka berdua cepat2 berlari lagi.

Naasnya justru memang mereka kehilangan jejak Kim Lian.

Lauw Cie Lan dan Lu Liang Cwan ber-lari2 belasan lie, namun mereka tidak melihat Kim Lian yatig membawa lari Oey Yok Su.

Keadaan seperti ini telah membuat Lu Liang Cwan clan Lauw Cie Lan jadi kaget dan bingung karena mereka tahu jika sampai mereka tidak berhasil menemui jejak Kim Lian, nicaya keselamatan Oey Yok Su terancam.

Dengan cepat mereka telah membagi diri dan men-cari2 disekitar tempat itu.

Tetapi Lauw Cie Lan dan Lu Liang Cwan tetap tak memui jejak wanita cabul itu.

Akhirnya Lu Liang Cwan menganjurkan Lauw Cie Lan untuk memperhatikan setiap rumah penduduk, yang harus mereka periksa dan mengintai.

Begitulah, rumah demi rumah telah mereka periksa.

Dengan mengandalkan kelincahan dan ginkang mereka, keduanya bisa melompat masuk kedalam rumah2 penduduk dengan mudah.

Tetapi sejauh itu tetap saja mereka tak berbasil menemui jejak Kim Lian.

Lu Liang Cwan dan Lauw Cie Lan jadi tambah panik dan bingung ...

Dan yang lebih bingung serta panik lagi adalah Oey Yok Su, karena justru Oey Yok Su tengah dibukai bajunya, bahkan pakaian dalam nya telah dilucuti oleh Kim Lian.

"Tunggu dulu !"

Kata Oey Yok Su akhirnya waktu Kim Lian baru saja melucuti pakaian dalamnya dan melihat kedua orang sahabatnya, Lu Liang Cwan dan Lauw Cie Lan tidak juga muncul.

"Tunggu apa lagi.......?"

Tanya Kim Lian sambil tertawa mengejek.

"Apakah engkau mengharapkan bisa meloloskan diri seperti dulu ?"

"Bukan begitu........tetapi terus terang saja, aku sedang.....sedang.......!"

Dan Oey Yok Su tidak bisa meneruskan perkataannya, karena ia tidak bisa segera mencari alasan yang tepat. Sedangkan Kim Lian telah tertawa mengejek.

"Sedang apa ?"

Tanyanya dengan suara yang dingin, malah sambil bertanya begitu Kim Lian telah menjatuhkan tubuhnya ketubuh Oey Yok Su yang sudah tidak tertutup oleh pakaian nya lagi.

Hal ini membuat Oey.

Yok Su jadi tambah gugup saja, sehingga ia jadi mengeluh.

Kim Lian mempergunakan kedua tangannya menekan pergelangan tangan Oey Yok Su, ia menindihkan tubuhnya ke tubuh Oey Yok Su..

Namun bersamaan dengan itu .

"Brakkk.......!"

Daun pintu kamar menjeblak terbuka, dimuka pintu berdiri seseorang dengan wajah yang angker.

Kim Lian terkejut sampai melompat duduk, dan ia lebih kaget lagi waktu mengenali yang berdiri diambang pintu itu tidak lain dari Lauw Cie Lan.

Ternyata waktu menyelidiki rumah2, penduduk dan Lauw Cie Lan bersama Lu Liang Cwan tengah dalam keadaan panik dan bingung karena tidak berhasil menemui jejak Kim Lian disaat itulah, waktu Lauw Cie Lan tengah melompati sebuah rumah penduduk, sekilas ia melihat sesosok tubuh rebah diruang depan rumah itu, tampaknya seperti dalam keadaan tertotok.

Lauw Cie Lan jadi curiga dan samar2 mendengar suara orang bercakap-cakap.

Cepat-cepat Lauw Cie Lan memasuki rumah itu, terkejut waktu melilhat Kim Lian bersiap hendak melakukan perbuatan mesumnya dan Oey Yok Su dalam keadaan tidak berdaya, di mana pakaian pemuda itu telah dilucuti semuanya.

Tanpa memperdulikan rasa malu lagi.

Lauw Cie Lan telah menghantam pintu dengan telapak tangan kanannya.

Muka Kim Lian merah padam karena gusar, katanya dengan sengit.

"Kau...? Engkau lagi yang menggangguku !"

Lauw Cie Lan tidak membuang waktu lagi, tubuhnya mencelat dan menghantam Kim Lian dengan mempergunakan kedua tangannya.

Kim Lian menangkisnya, tetapi sambil menangkis, ia kemudian menyingkirkan dirinya.

Tangan kirinya diulurkan menyambar gundukan pakaiannya.

Pengalamannya yang telah kehilangan pakaiannya yang di bawa Toan Hongya membuat ia jadi lebih mementingkan pakaiannya itu.

Tetapi Lauw Cie Lan telah melancarkan serangan lagi.

Sekali iagi kim Lian menangkis.

Sambil menangkis begitu, ia melompat kedekat pintu.

Belum lagi kedua kakinya menginjak lantai waktu itu dari luar justru berkelebat sesosok tubuh menghantam padanya tanpa mengucapkan sepatah kata.

Kim Lian terkejut bukan main, ia melihat serangan tiba dengan cepat sekali.

Mati2an Kim Lian menangkis dengan mengerahkan tenaganya.

Memang serangan tangan s sok tubuh itu bisa ditangkis, tetapi tangan kiri orang tersebut berhasil menghantam dada Kim Lian, sehingga tubuh Kim Lian terhuyung dan wanita cabul ini telah memuntahkan darah segar beberapa kali keatas lantai, mukanya pucat...

Yang berdiri diambang pintu tak lain dari Lu Liang Cwan.

Sedangkan Lauw Cie Lan sudah melompat sambil melancarkan totokan pada Bong Kim Lian.

Totokan itu bukan totokan biasa, karena ia melancarkan totokan tersebut sambil mengerahkan tenaga sinkang pada jari tangannya.

Namun Bong Kim Lian yang kembali terganggu pekerjaan mesumnya itu, sudah tidak memiliki selera untuk bertempur, tanpa memperduIikan tubuhnya masih bertelanjang bulat, ia membawa pakaiannya melompati jendela, dan berlari dengan cepat sekali.

Lauw Cie Lan dan Lu Liang Cwan tidak mengejarnya, karena yang perlu buat mereka saat itu adalah menolongi Oey Yok Su.

Lauw Cie Lan melompat keluar, karena waktu itu Oey Yok Su dalam keadaan tidak mengenakan sehelai benangpun juga.

Sedangkan Lu Liang Cwan menolongi Oey Yok Su, dengan membuka totokan pada pemuda itu.

Setelah bebas dari totohan, Oey Yok Su segera mengenakan pakaiannya dan mengucapkan terima kasih kepada Lu Lang Cwan.

Mereka pun lalu keluar dari rumah itu.

Lauw Cie Lan tertawa sambil katanya .

"Kini engkau kembali telah terjatuh ditangan wanita itu, untung kami tepat waktunya datang menolongi dirimu. Jika tidak, hemmm....., jelas engkau akan menjadi kambing kebiri dari wanita cabul itu........!"

Muka Oey Yok Su jadi berobah merah, tetapi ia mengucapkan terima kasih juga.

Pertolongan yang diberikan kedua orang ini memang tepat pada waktunya.

Hanya sayang sekali Bong Kim Lian justru telah berhasil meIarikan diri, sehingga penjahat wanita yang cabul itu tidak berhasil diringkus atau dipunahkan ilmunya.

Dengan demikian, berarti masih banyak korban-korban yang terancam oleh kejahatan Bong Kim lian.

Begitulah, Oey Yok Su jadi melakukan perjalanan bertiga dengan Lauw Cie Lan dan Lu Liang Cwan.

Mereka memang cocok satu sama lain.

Terlebih lagi Oey Yok Su bisa menyesuaikan diri dan pandai melihat situasi, sehingga ia disenangi oleh Lauw Cie Lan maupun Lu Liang Cwan.

Kedua tokoh sakti itu tidak segan2 memberitahukan kelemahan yang dimiliki Oey Yok Su, sahingga pemuda itu bisa memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas lagi untuk melatih ilmu silatnya.

Selama melakukan perjalanan dengan Lu Liang Cman dan Lauw Cie Lan, Oey Yok Su juga menyaksikan betapa kedua orang tokoh ini selalu mengulurkan tangan menolongi orang2 yang tengah dalam kesulitan.

Memang selama belasan tahun Lu Liang Cwan dan Lauw Cie Lan bertentangan, selama puluhan tahun berada di pulau kosong itu.

Namun sekarang, justru mereka bisa bekerja sama dengan baik, untuk memberikan pertolongan dan bantuan kepada orang2 yang tengah tertindas.

Dalam hal turun tangan kepada para penjahat, Lu Liang Cwan dan Lauw Cie Lan tidak pernah merasa kasihan, karena mereka memang bermaksud membasmi kejahatan.

Dangan ikut serta mengembara bersama kedua tokoh itu, mambuat Oey Yak Su dapat tambah pengalaman yang tidak sedikit.

Hari2 berlalu dengan cepat sekali, tanpa merasa mereka telah berkelana selama tiga bulan.

Dan selama itu memang Oey Yok Su telah mendapat petunjuk yang cukup banyak dari kedua tokoh sakti tersebut.

Bahkan mereka juga telah menurunkan beberapa jurus ilmu simpanan mereka.

---o^dwkz^)(^Tah^o---BAGIAN 36 .

KISAH CIE THIO SI ANAK YATIM PIATU KOTA Ko-bun-kwan, adalah merupakan kota yang tidak begitu besar, namun penduduknya padat sekali.

Kota Ko-bun-kwan juga merupakan kota simpang lalu-lintas dari orang2 yang melakukan perjalanan dari Selatan kearah Utara.

Sehingga menjadikan kota ini penting dan banyak dikunjungi orang-orang yang melakukan perjalanan dari Barat ke Utara dan sebaliknya, termasuk tujuan untuk pesiar.

Disebuah rumah yang terletak disudut dari persimpangan dipintu kota sebelah barat tampak seorang lelaki setengah baya duduk terpekur.

Wajahnya murung sekali, memperlihatkan bahwa ada suatu kesulitan yang tengah melanda dirinya.

Barulang kali lelaki baya itu menghela napas, tampaknya memang ia bersedih hati, samar-samar terdengar keluhannya .

"Mengapa aku harus menerima cobaan seperti ini ?"

Dari dalam rumah saat itu terdengar suara seorang anak yang menangis.

Lelaki setengah baya tersebut melompat dari duduknya, ia melangkah masuk dengan wajah yang tetap murung.

Didalam ruangan itu tampak seorang anak lelaki tengah menangis sambil duduk dilantai.

Sedangkan disampingnya tampak sepiring kuwe-kuwe kering.

"Ibu mana ibu, ayah ?"

Tanya anak itu kemudian dengan suara yang terisak dalam tangisnya.

Lelaki setengah baya tersebut menghela napas dalam2, wajahnya kian murung saja.

Iapun berkata dengan suara yang sabar tetapi di dalam nada suaranya mengandung kedukaan .

"Ibu telah pergi nak kau makanlah, nanti engkau masuk angin....!"

Tetapi anak itu telah menggelengkan kepala nya berulang kali, sambil katanya.

"Tidak mau aku mau ibu, aku ingin ibu .... aku hendak ibu mana ibu .....!"

Dan tangan anak itu jadi semakin keras tubuhnya sampai tergoncang. Orang tua setengah baya itu, yang rupanya menjadi ayah anak tersebut, jadi sibuk membujuk anak itu agar tidak menangis terus.

"Diamlah nak.......diamlah Thio-jie jangan engkau tambah kedukaan hati ayah!"

Bujuknya. Namun anak itu justru telah meng-geleng2 kan kepalanya berulang kali sambil ber-seru2.

"Aku mau ibu, mana ibu..... mana ibu ....?'' Lelaki setengah baya itu menghela napas berulang kali, katanya dengan suara yang datar.

"Baiklah nak, nanti ibu akan pulang, kita akan berkumpul kembali, tetapi sekarang engkau makanlah dulu, makanlah nak, nanti engkau masuk angin.......!"

Namun anak itu tetap tidak bisa dibujuk, bahkan dia telah menangis terus.

Lelaki setengah baya ini jadi sibuk sekali membujuk anak itu menghentikan tangisnya.

Namun anak itu memang tidak juga mau menghentikan tangisnya.

Malah tangisnya semakin keras.

"Thio-jie...... !"

Bentak sang ayah itu, yang rupanya telah habis kesabarannya.

"Engkau jangan membawa sikap seperti itu. Tahun ini engkau telah berusia lima tahun, seharusnya engkau telah mengerti urusan. Jangan menangis terus menerus, diamlah dan makanlah.......!"

Anak itu yang dibentak demikian oleh ayah nya, jadi terdiam, dan ia menahan isak tangis nya.

Tetapi anaknya tersebut, yang dipanggil dengan sebutan anak Thio itu, tetap tidak mau makan, ia hanya menundukkan kepalanya saja dalam2 menahan isak tangisnya.

Melihat sikap anaknya itu, lelaki setengah baya itu jadi runtuh hatinya, ia memeluk anak nya tersebut, dan mereka ayah dan anak jadi saling tangis bertangisan.

Tetapi selang tidak lama, lelaki setengah baya itu telah berkata lagi dengan suara yang lembut .

"Anakku, ibumu telah pergi ....pergi untuk se-lama2nya dan tidak akan kembali lagi, karena ibumu telah meninggal dunia. Maka dari itu, jangan engkau sering2 menanyakan soal ibumu lagi."

"Meninggal dunia ?"

Tanya anak itu dengan suara tidak mengerti, ia menatap ayahnya dengan mata digenangi air mata. Sang ayah mengangguk.

"Benar.... ibumu meninggal dunia dan tidak akan kembali lagi, maka engkau jangan menanyakan lagi, Nanti setelah engkau besar dewasa, engkau akan mengerti hal itu."

Menyahuti ayahnya. Anak she Thio tersebut tidak mengerti apa yang dimaksudkan ayahnya. Dia hanya berkata dengan suara perlahan.

"Tetapi ibu telah pergi cukup lama dan belum kembali, ayah maka dari itu saya heudak meminta ayah menyusul ibu dan mengajaknya pulang ....... !"

Ayah itu telah tersenyum perlahan mengandung kedukaan.

"Mana bisa hal ini terjadi?"

Tanyanya.

"Mana mungkin?"

Namun anak itu telah meng-geleng2kan kepalanya berulang kali, sambil katanya.

"Tetapi aku hendak ibu .. aku menginginkan ibu ......!"

Ayah itu jadi berdiam diri.

Memang kasihan anak ini karena ibunya telah meninggal dunia.

Disamping itu juga dia menikah ketika usianya telah meningkat tinggi.

Maka disaat usia anaknya baru lima tahun seperti ini, ia berusia hampir lima puluh tahun.

Tetapi oleh sebab suatu penyakit, maka ibu dari anak She Thio itu telah meninggal dunia dan memang tidak akan kembali lagi.

Maka dari itu, walaupun hatinya tengah berduka mengenangkan kematian isterinya, juga lelaki setengah baya itu merasa iba melihat nasib anaknya.

"Thio-jie dengarlah....... !"

Kata lelaki setengah baya itu berselang sesaat.

"Kita akan segera meninggalkan tempat ini. Sekarang engkau makanlah makananmu itu, dan jika telah selesai kita akan segera berangkat ......!"

Anak itu berhenti menangis.

"Kita hendak kemana, ayah?"

Tanyanya.

"Apakah .. akan pergi menyusul ibu ........ ?"

Ayah-anak itu hanya bisa mengangguk dengan hati yang pedih karena ia yakin anaknya ini memang belum mengetahui urusan dan juga memang tengah membutuhkan kasih sayang seorang ibu.

Lelaki setengah baya itu berkeputusan akan meninggalkan kota kelahirannya.

Dibujuknya agar anaknya tersebut menghabiskan makanannya.

Setelah itu dia membereskan barang2 yang hendak dibawanya.

Lelaki setengah baya ini memang berkeputusan uniuk pergi berkelana untuk menghibur hatinya yang tengah digeluti oleh kedukaan.

Mungkin membawa anaknya pergi mengembara, anak itu tidak akan terlalu bersedih hati.

Setelah membereskan segala sesuatunya, lelaki setengah baya itu dengan tangan kanan membawa buntalan yang membungkus barang2nya, dan tangan kiri menggendong anaknya.

Sehari penuh lelaki setengah baya itu melakukan perjalanan dan ia telah meninggalkan kota tersebut cukup jauh........

Pria setengah baya tersebut she Wang dan bernama Pie An.

Sedangkan anaknya bernama Cie Thio.

Biasanya dipanggil dengan sebutan Thio-jie atau anak Thio.

Setelah melakukan perjalanan satu hari penuh, mereka tiba dikampung Po-an-cung, sebuah perkampungan yang cukup besar dan ramai.

Wang Pie An mengajak anaknya bermalam disebuah rumah penginapan yang tidak begitu besar.

Mereka telah bersantap malam didalam kamar.

Namun waktu itu justru pintu kamar mereka telah diketuk oleh seseorang dan ketukan itu agak keras.

Wang Pie An mengernyitkan alisnya ia heran siapakah yang mengetuk pintu kamarnya dengan kasar seperti itu, karena dikampung ini dia memang tidak memiliki sanak famili, dan jika peIayan rumah penginapan yang mengetuk pintu kamarnya, tentu tidak kasar itu.

"Siapa ?"

Tegunya tawar.

"Aku, buka pintu ..... !"

Terdengar suara orang menyahuti dengan suara yang kasar.

Wang Pie An jadi mengerutkan alisnya lagi, ia tidak kenal suara orang itu, suara seorang lelaki yang parau.

Maka dipesan agar anaknya meneruskan makannya dulu, sedangkan ia menghampiri pintu dan membukanya.

Diluar kamarnya tampak berdiri seorang lelaki yang lebat dengan berewok dan kumis yang kaku, muka orang itu tampak kasar dan keras sekali, malah dari mulutnya berhamburan bau arak yang memuakkan.

"Siapa kau ?"

Tanya Wang Pie An. Lelaki itu tertawa menyeringai.

"Tidak perlu engkau mengetahui siapa ada nya aku, tetapi sekarang cepat serahka uangmu ... aku hari ini butuh uang sebesar 5000 tail!" ' Muka Wang Pie An jadi berobah, karena ia memang tidak kenal lelaki itu, dan juga tidak memiliki uang sebanyak itu. Wang Pie An juga tersadar bahwa lelaki tersebut bermaksud memeras dan merampoknya. Dengan muka yang memancarkan perasaan tidak senang. Wang Pie An telah berkata .

"Aku tidak memiliki uang, engkau pergilah ....!"

Dan sambil berkata begitu, Wang Pie An bermaksud akan menutup pintu kamarnya.

Namun lelaki yang bertubuh dan berwajah kasar itu telah mendorong keras pintu kamar bahkan tangan kanannya bergerak cepat sekali, tahu-tahu dia telah memukul muka Wang Pie An.

Pukulan yang datangnya begitu deras dan keras tidak diduga sebelumnya oleh Wang Pie An, sehingga ia terkejut bukan main dan telah terhuyung mundur, kemudian bergulingan diatas lantai.

Lelaki bermuka kasar itu telah melangkah masuk kedalam kamar, kemudian ia menutup pintu kamar.

Katanya dengan suara yang mengancam .

"Serahkan uang atau nyawamu akan melayang.........!"

Wang Pie An menduga orang ini tengah mabok, karena dari mulutnya terpancar bau arak.

Dengan sendirinya hal itu membuktikan bahwa orang tersebut telah terlalu banyak meneguk arak.

Ia telah memandang dengan sorot mata yang tajam, sambil katanya .

"Aku tidak memiliki uang pergilah kepada orang lain, aku sungguh2 tidak memiliki uang..........!"

Namun lelaki bermuka kasar itu justru telah mencabut pisau yang berukuran cukup panjang ia telah menggerakkan pisaunya itu sambil mengancam .

"Jika memang engkau tidak mau menyerahkan uangmu, hemmm......., jiwamu akan me layang........!"

Dan setelah berkata begitu lelaki bermuka kasar tersebut melangkah menghampiri Wang Pie An.

Melihat sikap orang yang sangat mengancam tampak Wang Pie An berusaha bangkit.

la ingin memberikan perlawanan.

Namun kaki kanan dari orang tersebut telah melayang menyambar muka Wang Pie An, membuat tubuh Wang Pie An ter-guling2 dilantai.

Wang Cie Thio yang melihat apa yang terjadi pada diri ayahnya, jadi mengeluarkan suara jeritan sambil menubruk tubuh ayahnya.

"Ayah ....!"

Panggil Cie Thio. Dan waktu itu ia menoleh kepada pemabok itu sambil membentak .

"Engkau ...... engkau mempersakiti ayahku ........ !"

Tetapi orang jtu justru telah tertawa terkekeh dengan suara yang mengerikan, sambil katanya dingin .

"Engkau menyingkir bocah, jika tidak perutmu akan kurobek dengan pisauku ini !"

Sambil berkata begitu, orang tersebut telah menggerakkan pisau tajam ditangannya, ia me bawa sikap mengancam sekali.

Wang Pie An mendorong tubuh anaknya, yang diperintahkan menyingkir.

Waktu anaknya menyingkir kesamping, secepat kilat Wang Pie An melompat berdiri sambil menggerakkan tangannya yang diulurkan untuk merebut pedang kecil lawannya.

Pemabok itu ruparya bisa melihat gerakan yang dilakukan oleh Wang Pie An, segera ia menggerakkan pedangnya menikam perut Wang Pie An.

Gerakari seperti itu datangnya cepat sekali, sehingga Wang Pie An tidak bisa mengelakkan lagi........

perutnya telah tertusuk oleh pisau tersebut.

Seketika itu juga terdengar suara jeri yang keras dan kuat dari Wang Pie An, dimana ia telah terhuyung mundur dengan darah berlumuran dari perutnya.

Kedua tangannya juga memegangi perutnya.

Cie Thio yang melihat keadaan ayahnya berlari menghampiri dan memeluk ayahnya.

"Ayah ....ayah ....!"

Panggilnya berulang kali.

Pemabok itu sendiri kaget tidak terkira, karena ia tidak menyangka akan menikam terkena sasarannya.

Semula ia hanya menggertak belaka.

Maka ia segera memutar tubuhnya dan berlari keluar kamar guna melarikan diri.

Suara ribut2 seperti itu telah menyebabkan pelayan datang kekamar tersebut.

Pelayan itu terkejut melihat keadaan Wang Pie An yang berlumuran darah.

Segera ia memberikan pertolongan dan meminta kepada kawannya untuk memanggilkan tabib.

Namun sayang, jiwa Wang Pie An tidak tertolong, rupa-nya luka yang dideritanya itu memang cukup parah.

Setelah menjelang tengah malam, Wang Pie An menghembuskan napas nya yang terakhir.

Cie Thio rnenangis sedih sekali.

Sedangkan pelayan itu bersama dengan kawan2nya melaporkan hal tersebut pada yang berwajib.

Setelah diadakan pengusutan, maka pemabok yang membinasakan Wang Pie An ditangkap sedangkan jenazah Wang Pie An dikebumikan pada keesokan harinya.

Cie Thio yang masih kecil dan tidak memiliki sanak famili dikampung itu, telah diserahkan pada sebuah kuil, untuk dirawat oleh para pendeta kuil itu.

Para pandeta yang merawat Cie Thio melihat bahwa anak ini memiliki kecerdasan yang mengagumkan, dimana daya tangkap anak ini cepat sekali.

Maka Cie Thio digundulkan rambutnya, ia telah diberi didikan agama Buddha.

Sedangkan Cie Thio yang telah yatim piatu, sudah tidak memiliki pilihan lain, hanya berdiam baik2 dikuil tersebut, mempelajari agama Buddha, sebagai seorang pendeta kecil.

---o~dw'kz^0^Tah~o---BAGIAN 37 .

TIGA DEWA DARI GUNUNG KAUW (SAM SIAN KAUW SAN) SUATU PAGI, disaat Cie Thio tengah bermain dipekarangan depan kuil, saat itu pintu kuil di ketuk keras oleh seseorang.

Cie Thio membukakan pintu dan dia melihat tiga orang Tojin (pendeta yang memeluk agama To) tengah berdiri dimuka pintu dengan mulut tersenyum lembut.

"Mana gurumu.......?"

Tanya salah seorang tojin itu dengan suara yang sabar, Cie Thio menanyakan siapa ketiga tamu tersebut, yang dijawab bahwa mereka adalah Sam Sian (tiga dewa) dari gunung Kauw.

Ketika perihal kedatangan ketiga orang pendeta agama To itu diberitahukan kepada gurunya, pendeta yang menjadi ketua kuil tersebut, menyambutnya dengan manis kedatangan ketiga orang tojin tersebut.

Rupanya antara guru Cie Thio dengan ke tiga tojin itu mengikat tali persahabatan.

Ketiga tojin itu masing2 bergelar Sam Kie Cinjin, Sam Lu Cinjin dan Sam Pie Cinjin.

Mereka merupakan pendekar-pendekar sakti yang memiliki kepandaian ilmu silat tinggi sekali.

Memang telah cukup lama ketiga pendeta agama To itu berkelana dalam rimba persilatan dan selama itu mereka melakukan perbuatan2 mulia, sehingga nama mereka jadi terkenal dan memperoleh julukan Sam Sian Kauw San.

Saat itu tampak Cie Thio yang tengah mempersiapkan minuman untuk ketiga tamu gurunya telah di-usap2 kepalanya oleh Sam Kie.

Kata Sam Kie dengan suara yang sabar.

"Anak ini balk sekali untuk mempelajari ilmu silat, dia memiliki tulang yang baik dan bakat yang bagus, savang sekali engkau Hwee Liang Siansu tidak memiliki kepandaian silat, sehingga muridmu ini tak mungkin memperoleh petunjuk mengenai ilmu silat."

Guru Cie Thio yaitu Hwee Liang Siansu tersenyum manis, sambil katanya.

"Tidak selamanya ilmu silat memegang peranan penting. Jika memang anak itu mau mempelajari agama Budha dengan baik, itupun baik dari segalanya, karena jiwanya telah terdidik dengan baik dan juga menyebabkan dia bisa mengenal dunia sebagaimana adanya" . Namun Sam Kie telah menggelengkan kepalanya ia berkata perlahan.

"Bukan hanya itu saja. Ilmu silat bukan hanya terbatas pada ilmu untuk berkelahi, tetapi justru ilmu silat membutuh latihan dan semangat murni untuk menggembleng orang yang bersangkutan memiliki Sinkang yarg sejati. Dengan memiliki ilmu silat yang murni maka orang itu akan bisa menjaga diri dari segala gangguan yang tak baik bahkan bisa memanfaatkan ilmu silatnya untuk banyak melakukan perbuatan2 mulia menolong silemah yang tertindas....... .!"

Hwee Liang Siansu tersenyum lebar, ia menyahuti.

"Tetapi dengan agama Buddha, anak inipun bisa banyak melakukan perbuatan2 luhur. .....!"

Sam Kie menggeleng cepat.

"tidak mungkin.......!"

Katanya berulang kali.

"Mana mungkin jika menghadapi seorang penjahat, hanya mengandalkan kelihayan lidah untuk ber-kata2 saja kurang begitu kuat untuk mengembalikan manusia jahat itu kejalan yang ...... maka justru ilmu silat yang tinggi bisa membuat para penjahat seperti itu menjadi jera dan kapok. .....!"

Hwee Liang Siansu mengangguk perlahan.

"Ya apa yang dikatakan oleh Cinjin benar adanya,"

Katanya.

"Dan juga memang anak ini memiliki bakat ilmu silat, sayangnya justru Lolap tidak memiliki kesanggupan untuk mendidiknya dibidang itu. Jika memang Sam-wie Cinjin bersedia untuk bermurah hati, membantu mendidik anak ini untuk berlatih iimu silat tentu hal ini merupakan sesuatu yang menggembirakan sekali, bukan?"

"Namun ketiga pendeta agama To itu telah menggeleng hampir berbareng sambil katanya.

"Tak mungkin........sayangnya hal itu tak mungkin."

"Kami hanya diperbolehkan menurunkan kepandaian kami kepada murid2 kami yang memeluk agama To....... diluar dari itu, kami tidak diijinkan untuk menurunkan kepandaian kami kepada siapapun juga ........!"

"Sayang sekali,"

Kata Hwee Liang Siansu.

"Itulah nasib si Cie Thio yang buruk dan tidak memiliki keberuntungan yang baik !"

Semuanya tertawa.

Sedangkan Cie Thio kembali kekamarnya.

Namun kata2 Sam Kie tadi telah dipikirkannya, mengganggu sekali hati nya.

Ia tertarik sekali memikirkan kata2 Sam Kie Cinjin.

Memang hati Cie Thio ingin sekali mempelajari ilmu silat, karena ia juga jadi terpikir mengenai kematian ayahnya.

Jika saja ia memiliki kepandaian ilmu silat, bukankah ia bisa melindungi ayahnya dan ayahnya itu tidak sampai meninggal dunia, sehingga kini ia hanya hidup seorang diri?

Itulah pemikiran dari seorang anak yang mash kecil, dan ia belum bisa berpikir lebih luas lagi.

Tetapi walaupun demikian, Cie Thio memang telah tertarik sekali ingin mempelajari ilmu silat.

Maka dari itu, ia telah mengambil keputusan, jika Hwee Liang Siansu gurunya untuk mempelajari agama Buddha itu mengijinkan ia mempelajari ilmu silat, maka ia bermaksud untuk mempelajari ilmu silat.

Sayangnya justru saat sekarang ini Sam Kie Cinjin mengatakan, pandeta itu tidak bisa menurunkan kepandaiannya kepada orang yang bukan dari penganut agamanya.

Tetapi Cie Thio yakin, disamping Sam Kie Cinjin sebagai seorang yang mengerti ilmu silat tentu banyak terdapat jago2 silat lainnya, yang bisa diangkat menjadi gurunya.

Maka tekadnya semakin bulat, ia ingin berusaha untuk dapat mempelajari ilmu silat.

Keesokan malamnya sengaja Cie Thio menemui Hwee Liang Siansu.

Ia mengemukakan keinginannya itu.

Dan iapun menyatakan maksudnya hendak mengangkat seseorang menjadi guru silatnya.

"Siapa ?"

Tanya Hwee Liang Siansu dengan sabar. Tetapi Cie Thio menggelengkan kepalanya.

"Sampai sekarang ini tecu masih belum mengetahui, tetapi jika memang suhu mengijinkan, kelak jika tecu cari itu, yang memang memiliki kepandaian tinggi, tentu tecu telah mengetahui bahwa suhu tidak menentang kalau saja tecu mengangkat orang itu menjadi guru tecu untuk mempelajari ilmu silat .........!"

Hwee Liang Siansu tersenyum, iapun berkata dengan sabar .

"Cie Thio, engkau ketahuilah bahwa mempelajari ilmu silat itu tidak mudah, karena biasanya, setiap orang yang mempela jari ilmu silat, tentu akan memiliki watak dan sifat yang berlainan dengan kita-kita yang menekuni pelajaran agama. Maka dari itu, aku belum bisa memutuskan menerima atau tidak keinginanmu itu. Engkau berpikirlah dua hari lagi coba engkau renungkan, apakah memang engkau ber-sungguh2 hendak mempelajari ilmu silat atau memang itu hanya dorongan nafsu belaka untuk memiliki kepandaian silat........!"

Cie Thio mengiyakan dan dia pamitan mengundurkan diri dari hadapan gurunya.

Kemudian didalam kamarnya ia memikirkan dengan baik2 keinginannya itu.

Malah Cie Thio telah berpikir jauh sekali, jika memang ia masih menjadi murid Hwee Liang Siansu, sulit baginya untuk keluar dari kuil ini dan mengangkat orang lain menjadi gurunya untuk mempelajari ilmu silat.

Maka dari itu ia telah mengambil keputusan, yang nekad, yaitu hendak melarikan diri dari kuil.

Tetapi, waktu itu justru Cie Thio juga berpikir, jika ia melarikan diri dari kuil, lalu ia hendak pergi kemana ?

Inilah yang menyusahkan hatinya.

Maka ia tidak bisa mengambil keputusan yang cepat.

Setelah mempertimbangkan selama tiga hari tiga malam, keputusan Cie Thio jadi bulat, ia akan meninggalkan kuil ini secara diam2.

Tanpa pamitan lagi dari Hwee Liang Siansu dimalam yang dingin dan gelap, Cie Thio meninggallkan kuil secara diam2.

Apa yang dilakukannya itu hanya merupakan sebuah kenekadan dari seorang anak kecil belaka.

la rela mempelajari agama yang diajarkan oleh gurunya, namun justru hatinya malah hendak mempelajari ilmu silat.

Maka keinginannya yang terakhir itu lebih kuat, yang mendorongnya melakukan tindakan nekad seperti itu.

Dan dengan nekad, walaupun masih berusia belum enam tahun, Cie Thio telah meninggalkan kuil-itu, dan ia menyerahkan pada nasib apa yang akan terjadi Setelah melakukan perjalanan empat hari, maka Cie Thio tiba disebuah perkampungan yang tidak begitu besar.

la tidak memiliki uang, maka ia tidur di-kuil2 rusak atau juga bermalam diemperan rumah penduduk.

Cie Thio tidak mengetahui harus pergi kemana, karena ia melarikan diri dari kuil Hwee Liang Siansu tanpa mempunyai arah tujuan.

Keadaan seperti itu memang membingungkan Cie Thio, apalagi dihari keempat itu ia mu lai tersiksa oleh rasa lapar, sedangkan disakunya sama sekali tidak memiliki uang pembeli makanan.

Untung saja ada seorang pengemis kecil, yang melihat keadaan Cie Thio, jadi merasa kasihan dan telah mengajaknya untuk mengemis sisa makanan pada sebuah rumah makan.

Dan dari hasil mengemis itu, Cie Thio tidak sampai terlalu menderita oleh lapar.

---o~dw.kz^0^Tah~o---TETAPI KEESOKAN HARINYA justru Cie Thio tidak melihat pengemis kecil yang kemarin mengajaknya mengemis dirumah makan, ia terpaksa mengemis seorang diri, sebab perutnya kembali lapar.

Waktu Cie Thio mengemis sisa makanan di rumah makan itu, justru ia melihat Sam Kie Cinjin bertiga dengan Sam Pie dan Sam Lu, ketiga tojin itu baru saja keluar dari rumah makan tersebut dan mereka tampaknya, terkejut waktu melihat Cie Thio, yang datang dalam keadaankeadaan kotor dan mesum.

"Apakah engkau Cie Thio, murid dari Hwee Liang Siansu ?"

Tegur Sam Kie Cinjin kepada anak itu yang dirasanya memang dikenalnya.

Sam Kie rupanya memiliki ingatan yang tajam sekali, walaupun pakaian dari Cie Thio sudah tidak keruan, tokh ia masih kenal anak itu.

Disamping itu, Cie Thio juga telah mengakuinya dengan terus terang.

la mengatakan dirinya telah melarikan diri dari kuil Hwee Liang Siansu.

Dan kini ia tidak memiliki arah dan tujuan yang tetap.

Maka dari itu, sekarang ia telah melakukan pekerjaan mengemis dan tidak tahu harus pergi kemana.

"Jika begitu, ayo, kami akan segera mengantarkan engkau kembali kepada gurumu ...!"

Kata Sam, Kie Cinjin, namun Cie Thio telah menolakya, karena ia memang telah bertekad tidak akan kembali pada Hwee Liang Siansu.

Melihat sikap anak itu, Sam Kie Ciujin bertiga jadi heran.

Mereka menanyakan sebab2nya mengapa Cie Thio melarikan diri dari sisi gurunya.

Dengan polos dan berterus terang Cie Thio menceritakan keinginannya untuk mempelajari ilmu silat.

la juga mengatakan bahwa mempelajari ilmu agama Buddha tidak cocok dengan hatinya, dan ia lebih condong untuk mempelajari ilmu silat.

Keinginannya itulah yang telah membuat ia melarikan diri.

Sam Kie Cinjin yang mendengar pengakuan dari anak tersebut jadi menghela napas dalam2.

Wajahnya jadi muram.

"Akhhh....., disebabkan mulutku, maka engkau telah melarikan diri dari gurumu.....!"

Kata Sam Kie Cinjin kemudian.

"Walaupun bagaimana, engkau harus kembali kegurummu....... !"

Cie Thio menggelengkan kepalanya, berulang kali, berkata dengan suara yang agak keras.

"Jangan Cinjin memaksa aku untuk kembali kekuil guruku, karena aku tentu tidak akan dapat mempelajari agama yang diajarkan oleh guruku sebab ak lebih cocok untuk mempelajari ilmu silat.......!"

Melihat kekerasan hati anak itu, Sam Kie Cinjin, Sam Lu dan Sam Pie jadi menghela napas dalam2. Mereka bingung juga menghadapi sikap Cie Thio. Akhlrnya Sam Kie Cinjin telah menegur.

"Apakah kau memiliki uang dan perbekalan?"

Cie Thio menggeleng.

"Hemm........ engkau seorang anak yang terlalu nekad"

Kata Sam Kie Cinjin.

"Ayo kembali kegurumu bukankah dengan merantau tidak keruan seperti ini kau akan menderita dan sengsara."

Tetapi justru Cie Thio telah menggelengkan kepalanya berulang kali sampai akhirnya ia berkata dengan suara yang tetap.

"Walaupun aku harus manderita dan binasa, tetapi aku tetap akan pergi merantau untuk mencari guru yang bisa mengajarkan padaku ilmu silat.........!"

Melihat kekerasan hati si bocah, Sam Kie Cinjin jadi tertarik juga.

"Bagaimana jika engkau ikut bersama kami?"

Tanya Sam Kie Cinjin. Cie Thio jadi girang bukan main cepat2 ia telah menekukan kedua kakinya berlutut dan menyatakan terima kasih. Waktu Sam Kie Cinjin menoleh kepada Sam Lu dan Sam Pie katanya.

"Biarlah anak itu ikut bersama kita jika tidak tentu dia akan terlantar.........!'' Sam Pie dan Sam Lu hanya menyetujui keinginan Sam Kie Cinjin. Begitulah Cie Thio telah diajak mereka untuk mengembara bersama-sama. Memang sudah menjadi keinginan Cie Thio untuk belajar ilmu silat dari Sam Kie Cinjin bertiga, namun sayangnya justru ia mendengar, sendiri bahwa Sam Kie Cinjin bertiga tidak akan menurunkan kepandaiannya pada orang yang bukau beragama To. Maka Cie Thio tidak pernah mengajukan permintaan berguru pada ketiga imam tersebat ia hanya ikut mengembara agar tidak terlantar. Secara iseng iapun telah menanyakan kepada Sam Kie Cinjin apakah pendeta itu memiliki seorang kawan yang memiliki kepandaian yang tinggi agar bica diangkat menjadi guru sibocah. Namun Sam Kie Cinjin bertiga menanyakan mereka tidak bisa menunjukkan orang yang, dikehendaki Cie Thio. Tapi Sam Kie Cinjin berkata, jika Cie Thio mau kembali pada gurunya, yaitu Hwee Liang Siansu, dan jika gurunya itu meluluskan, tentu Sam Kie Cinjin akan menunjukkan seseorang yang memiliki kepandaian tinggi agar bisa diangkat menjadi guru, sibocah. Namun kenyataannya Cie Thio tidak bersedia kembali ke Hwee Liang Siansu, karena memang telah bertekad hendak mengembara. Sam Kie Cin jin bertiga tidak berdaya lagi untuk membujuk bocah tersebut. Maka kemana mereka pergi, tentu diajaknya Cie Thio ikut mengembara bersama mereka. Setahun lebih Cie Thio ikut bersama dengan Sam Kie Cinjin bertiga, dan selama itu, imam2 tersebut telah melihat bahwa kepandaian yang dimiliki anak tersebut dalam hal pelajaran agama Buddha masih belum mendalam, terlebih lagi memang Cie Thio mempelajarinya baru beberapa bulan saja dari Hwee Liang Siansu. Maka tersirat dalam hati Sam Kie Cinjio untuk minta Kepada Hwee Liang Siansu agar merelakan muridnya diambil oleh mereka bertiga. Itulah sebabnya, suatu hari Sam Kie Cinjin bertiga mengajak Cie Thio kembali menemui gurunya, yaitu Hwee Liang Siansu. Dengan berterus terang, Sam Kie Cinjin menceritakan segala apa yang telah terjadi. Dan juga Sam Kie Cinjin telah mengemukakan bahwa mereka bertiga bermaksud mengambil Cie Thio menjadi murid mereka, kalau saja Hwee Liang tidak merasa keberatan, ternyata Hwe Liang Siansu memang menerima tawaran tersebut dengan senang hati, menurut Hwee Liang Siansu tidak baik ia memaksa Cie Thio, jika memang anak itu tidak berminat untuk belajar padanya. Sam Kie Cinjin mengucapkan terima kasihnya atas pengertian dari Hwee Liang Siansu. Sejak saat itu Cie Thio telah resmi menjadi murid dari Sam Kie Cinjin, Sam Lu dan Sam Pie. Ketiga tojin itu telah mendidik Cie Thio dalam hal segala macam kepandaian dan ilmu silat. Tetapi sejak saat itu, Cie Thio harus memelihara rambut lagi dan selanjutnya masuk kedalam agama To, menjadi murid resmi ketiga imam itu. Karena mengetahui Sam Kie Cinjin bertiga memang memiliki kepandaian yang tinggi, maka Cie Thio tidak keberatan untuk menjadi pemeluk agama To. la selain mempelajari agama To juga mempelajari ilmu silat dari ketiga gurunya yang ternyata memang memiliki ilmu yang luar biasa. Setelah belajar selama enam tahun, Cie Thio telah berusia dua belas tahun, kepandaian yang dimiliki anak ini ternyata cukup tinggi, setiap pelajaran yang diturunkan oleh ketiga orang gurunya itu bisa dipelajarinya dengan mudah. Selama enam tahun Cie Thio juga ikut mengembara dengan ketiga gurunya dimana Cie Thio sering menyaksikan betapa ketiga orang gurunya itu memang selalu bertindak diatas keadilan, dan membela yang lemah dari tindasan yang jahat. Pengalaman selama mengembara bersama ketiga orang gurunya itu, membuat Cie Thio memiliki pengalaman yang tidak sedikit, ia mulai mengerti dunia persilatan dan juga mulai dapat membedakan mana yang jahat dan mana yang baik, disamping itu juga ia bisa membedakan mana yang putih dan mana yang mengambil aliran hitam, alias para penjahat yang perlu di basmi. Ketika berusia dua belas tahun, Cie Thio telah sering merubuhkan beberapa orang penjahat yang memiliki kepandaian tanggung2, ketiga orang gurunya itu menyerahkan kepada Cie Thio untuk menghajarnya. Dan biasanya Cie Thio memang bisa memenuhi harapan gurunya, dimana ia bisa memberikan ganjaran yang cukup keras pada para penjahat itu. Disamping itu, Cie Thio juga mulai menerima pelajaran Sinkang, yaitu ilmu sakti dari ke tiga orang gurunya. Sam Kie Cin jin bertiga dengan Sam Lu dan Sam Pie Cinjin jadi girang melihat perkembangan yang diperlihatkan muridnya. Dan juga memang mereka telah melihat selain cerdas, Cie Thio juga mudah sekali menerima pelajaran yang mereka berikan. Hal itu disebabkan memang anak ini memiliki bakat yang baik untuk mempelajari ilmu silat. Begitulah, Sam Kie Cinjin bertiga selalu mengajak Cie Thio untuk mengembara. Empat tahun telah lewat lagi, usia Cie Thio telah enam belas tahun, dia telah menjadi seorang tojin muda yang memiliki kepandaian tidak rendah. Tetapi ketiga orang gurunya masih juga menghendaki Cie Thio mengembara bersama mereka, karena masih ada tiga tahun lagi yang harus dilaksanakan oleh Cie Thio untuk merampungkan kepandaiannya. Maka dari itu, selama tiga tahun itu Cie Thio tetap mengembara bersama gurunya. Ketika usianya telah sembilan belas tahun. Sam Kie Cinjin meminta Cie Thio untuk pergi mengembara seorang diri, karena kepandaian yang dimiliki ketiga orang gurunya itu memang telah diturunkan semuanya termasuk ilmu simpanan mereka. Cie Thio memang merasa telah memiliki kepandaian yang bisa diandalkan, menuruti perintah gurunya, untuk berkelana seorang diri, guna melakukan perbuatan mulia membela orang2 yang lemah. Waktu itu Cie Thio telah menjadi seorang pendeta To yang tegap dan gagah. la merupakan Tojin muda yang tampan. Disamping itu dengan memiliki kepandaiannya yang tinggi, ia benar2 merupakan seorang pendekar muda yang sulit dicari tandingannya. Apalagi ilmu pedangnya, hasil ciptaan ketiga orang gurunya, yang telah menggabung kepandaian mereka bertiga menjadi satu dan diwariskan kepada Cie Thio. Dan yang menonjol sekali pada diri tojin muda ini adalah kekuatan sinkang yang dimilikinya, murni dan bisa diandalkan. Dalam waktu sekejap mata saja, Cie Thio telah bisa mengangkat nama. Dan ia telah merupakan seorang jago rimba persilatan yang di segani, karena kepandaiannya tinggi dan perbuatannya yang baik, selalu berdiri diatas jalan keadilan. Cie Thio juga telah mengganti namanya menjadi Ong Tiong Yang, atas saran yang diberikan oleh ketiga orang gurunya. ---o~dw.kz^0^Tah~o---BAGIAN 38 . ONG TIONG YANG ONG TIONG YANG merupakan seorang tojin yang cukup ditakuti oleh para penjahat dari kalangan hek-to, karena ia walaupun selalu membawa sikap yang sabar, namun bertindak dengan tegas kepada orang2 yang melakukan kejahatan. Seperti terlihat pada pagi itu, Ong Tiong Yang tengah berada disebuah kaki gunung dipropinsi Hopei, ia tengah duduk dibawah sebatang pohon sambil beristirahat menghilangkan lelah, seharian penuh Tojin muda ini melakukan perjalanan yang jauh, dan ia belum lagi bertemu dengan rumah penduduk yang bisa ditumpangi ataupun kuil2 yang bisa dimintai bantuannya guna menginap. Maka untuk melenyapkan letihnya Ong Tiong Yang telah ber-istirahat dibawah pohon itu. Angin pagi yang bersilir dingin membuat Ong Tiong Yang atau Cie Thio jadi mengantuk, karena semalaman ia melakukan perjanan terus. Ia duduk bersemadhi untuk meluruskan pernapasan dan sinkangnya, sehingga dalam sekejap mata saja perasaan letihnya lenyap. Disaat Ong Tiong Yang tengah duduk bersemadhi begitu, tiba2 dia mendengarkan suara ramai2, disusul oleh suara bentak dan jerit kesakitan. Sebagai seorang tojin telah tinggi sinkangnya, Ong Tiong Yang memiliki pedengaran yang tajam. Walaupuna suara ramai2 dan suara jerit kesakitan itu masih terpisah jauh, namun ia telah berhasil mendengarnya. Maka Tojin muda ini telah melompat berdiri dan memandang kesekelilingnya. Dari arah selatan tampak berlari beberapa sosok tubuh dengan gerakan yang cepat sekali, seperti juga terbang dan kaki2 mereka seperti tidak menginjak bumi. Dengan cepat orang2 itu tiba dihadapan Ong Tiong Yang. Ternyata orang2 tersebut merupakan orang2 rimba persilatan. Dilihat dari pakaiannya yang serba singset, menyatakan mereka merupakan orang2 rimba persilatan yang biasa hidup mengembara. Dibelakang orang2 itu, yang semuanya berjumlah empat orang, tampak mengejar belasan orang, semuanya membekal senjata, ada juga senjata yang dicekal ditangan. Pengejaran itu dilakukan dengan cepat, tampaknya memang orang2 itu bermaksud untuk dapat mengepung keempat buruan mereka. Saat itu Ong Tiong Yang mengerutkan alisnya, ia memperdengarkan suara "

Hmmm.....,"

Tidak senang, karena-dilihatnya tidak adil belasan orang itu mengejar dan bermaksud mengeroyok keempat orang tersebut, yang tampaknya telah terluka cukup parah disebagian tubuhnya.

Keadaan demikian memang membuat darah muda Ong Tiong Yang terbangkit, ia tak bisa menyaksikan keadaan yang tidak adil seperti Itu.

Sedangkan keempat orang tersebut saat itu telah tiba didekat Ong Tiong Yang, mereka tidak bisa menyingkirkan diri lebih jauh dari belasan orang pengejaran.

Waktu itu belasan orang pengejar tersebut melompat dan mengurung ke empat orang buruan mereka.

Sikap mengancam yang mereka perlihatkan menunjukkan bahwa belasan orang itu menaruh kebencian yang sangat kepada keempat orang tersebut.

"Kalian menyerah saja baik2 kami tidak akan menganiaya dirimu.....!"

Bentak salah seorang diantara belasan orang tersebut dengan suara yang tawar, ditangannya tampak tercekal sebatang pedang pendek, yang digerakan mengancam, Tetapi keempat orang itu memperdengarkan suara tertawa dingin, salah seorang diantara mereka berkata.

"Kami tidak akan menyerah sampai titik darah kami yang terakhir..........!"

Orang yang memimpin belasan orang kawan nya berteriak memberikan anjuran agar kawan2 nya menyerang.

Sedangkan ia sendiri dengan pedang pendeknya telah melancarkan serangan yang gencar.

Keempat orang itu, yang masing2 bersenjata pedang, telah memutar senjata mereka memberikan perlawanan.

Dalam sekejap mata saja mereka bertempur dengan seru.

Namun keempat orang itu memiliki jumlah yang jauh lebih sedikit dari lawannya, walaupun dilihat dari gerakan ilmu pedangnya mereka memang memiliki kepandaian yang tidak rendah, tokh mereka telah terdesak.

Dua kali salah seorang dari keempat orang itu terluka oleh tabasan golok dari salah seorang lawannya, sehingga mengeluarkan suara jeritan dengan tubuh terhuyung.

Ketiga orang kawannya jadi terkejut dan berusaha untuk melindungi kawan mereka.

Namun belasan lawan mereka telah memperhebat serangan-serangannya, sehingga angin serangannya menyambar-nyambar tidak hentinya.

Ong Tiong Yang menyaksikan keadaan demikian, merasa waktunya telah sampai.

la mengeluarkan suara bentakan nyaring, tubuhnya melompat ketengah gelanggang dengan gerakan yang ringan, dan Hudtim (kebutan kependetaannya) digerakan dengan melintang kekiri dan ke kanan, maka senjata belasan orang tersebut berhasil dibuat terpental.

Dan waktu itu keempat orang yang dikurung itu mempergunakan kesempatan tersebut untuk mengundurkan diri, mereka menyingkir agak jauh.

Belasan orang pengepung itu jadi penasaran dan mendongkol melihat seorang imam telah mencampuri urusan mereka.

Orang yang memegang pedang pendek itu telah membencak dengan suara yang tawar.

"Hidung kerbau, apa maksudmu mencampuri urusan kami.........?"

Mendengat pertanyaan orang tersebut yang kasar, Ong Tiong Yang yakin belasan orang tersebut tentunya bukan manusia baik? Apalagi ia melihat mereka tanpa kenal malu mengeroyok keempat orang itu.

"Pinto harap kalian tidak mendesak keempat orang Siecu itu, jumlah mereka lebih sedikit dari kalian, maka tidak pantas kalian main keroyok seperti itu tanpa kenal malu. Pinto harap kalian tidak mendesak lebih jauh !"

Tetapi orang yang bersen jata pedang pendek itu tertawa mengejek, kemudian katanya .

"Hemm......., enak saja kau berkata, kami mengeroyok mereka karena justru mereka merupakan manusia2 tidak tahu diri yang harus kami ringkus..........!"

"Apa kesalahan mereka ?"

Tanya Ong Tiong Yang tawar.

"Mereka merupakan manusia2 kurang ajar yang besar mulut, bahkan telah lima orang kawan kami yang terluka ditangan mereka, maka itu kami harus dapat membalaskan sakit hati kawan kami itu !"

"Tetapi kata kalian yang hendak menuntut balas kepada keempat orang tersebut merupakan cara pengecut !"

"Akh....... hidung kerbau, engkau terlalu banyak bicara, cepat nenyingkir.........!"

"Kalau memang Pinto tidak mau menyingkir.......?"

Tanya Ong Tiong Yang dengan suara yang sabar.

"Tentu kami tidak akan segan untuk menurunkan tangan keras kepadamu ......!"

Tetapi Ong Tiong Yang tidak jeri.

"Pinto kira kalian tidak akan memiliki kesanggupan untuk merubuhkan Pinto.....!"

"Oh..... pendeta sombong, engkau jangan bicara tekebur seperti itu .....!"

Dan sambil berkata begitu, salah seorang dari belasan orang tersebut, yang bersenjata Poan Koan Pit melompat melancarkan totokan dengan ujung Poan Koan Pitnya.

Namun Ong Tiong Yang mengelakkan dengan cepat, dalam waktu sekejab mata saja ia telah berhasil mengelakkan diri dari lima kali totokan Poan Koan Pit orang tersebut.

Rupanya kawan2 orang tersebut yang melihat usaha kawan mereka gagal, telah melompat maju dan melancarkan serangan mengeroyok.

Gerakan mereka memang cepat dan gesit sekali disamping itu merekapun memiliki kepandaian yang tinggi.

Mereka melompat menggunakan senjatanya masing2 melancarkan serangan kepada Ong Tiong Yang.

Satelah beberapa jurus menyaksikan lawannya, Ong Tiong Yang sudah lebih dari ia mengalah.

Ia mengeluarkan suara siulan sambil katanya kemudian.

"Siecu harus ber-hati2.....!"

Sambil berkata begitu, Hudtimnya meluncur kearah lawannya.

Dan bulu Hudtimnya yang dialiri tenaga sinkang jadi kaku dan keras, dipergunakan untuk menotok Iawannya itu.

Dan Tubuh lawannya langsung saja terjungkal.

roboh tidak bergerak lagi .........

terbujur kaku karena telah tertotok.

Belasan kawanya jadi terkejut, belum lagi mereka menyadari apa yang terjadi .......

tiba2 datang serangan dari Ong Tiong Yang, Hudtimnya ber-gerak2 melancarkan totokan ke sana kemari dengan cepat.

Dalam sekejap mata saja, tujuh orang telah terjungkal dalam keadaan tertotok.

Sisanya yang enam orang lagi jadi ngeri dan takut2 waktu menyaksikan bahwa Ong Tiong Yang memang benar2 memiliki kepandaian yang sulit dilawan mereka.

Keadaan demikian membuat keempat orang yang ditolong Ong Tong Yang jadi berdiri tertegun karena kagum, kemudian mereka berlutut dan menyatakan terima kasih mereka kepada imam tersebut.

Ong Tiong Yang menanyakan kepada keempat orang itu, apa sesungguhnya yang terjadi.

Salah seorang dari keempat orang yang ditolong Ong Tiong Yang berkata, bahwa mereka sesungguhnya hanya terlibat dalam suatu keslahan pahaman belaka.

Justru keempat orang ini dari keluarga Khut telah salah tangan melukai dua orang dari keluarga Cien dan juga beberapa orang pengawal mereka.

Dengan demikian pihak keluarga Cien telah mengutus puluhan orang untuk membasmi keluarga mereka.

Keempat orang ini bisa melarikan diri tetapi tetap dikejar dan bendak dibinasakan, untung saja Ong Tiong Yang yang menolongi mereka.

Mendengar itu.

Ong Tiong Yang menghela napas, katanya dengan suara mengandung sesal.

"Begitulah keadaan dunia, selalu dendam yang diributkan. Apa keuntungan dari hasil yang diperoleh karena dikendalikan oleh dendam ?"

"Nah, untuk selanjutnya kalian berempat pergilah menyingkir kesuatu tempat yang jauh, menghindarkan diri dari lawan2 kalian, tetapi selanjutnya kalian harus berusaha agar tidak menimbulkan bentrokan dengan pihak keluarga Cien itu."

Keempat orang tersebut mengiyakan, dan setelah menanyakan siapa adanya tojin muda yang gagah ini, merekapun pamitan untuk pergi mencari tempat persembunyian.

Seperginya keempat orang keluarga Khui itu, Ong Tiong Yang membebaskan belasan orang dari keluarga Cien itu dari totokannya.

Tojin ini berusaha memberikan pengertian kepada mereka, dikendalikan dendam bukanlah suatu hal yang baik.

Hal itu berusaha dikupas oleh Tojin muda ini, memberikan pengertian disamping menyadari orang-orang tersebut.

Dan belasan orang itu walaupun penasaran, mereka mengiyakan, karena mereka tahu percuma jika mereka bersikeras dan melawan Tojin itu, karena mereka bukan menjadi tandingan Ong Tiong Yang.

Tetapi mereka menanyakan nama Ong Tiong Yang, kemudian baru berlalu.

---oo~dwkz^Tah~oo---SEPERGINYA orang2 itu, Ong Tiong Yang menghela napas panjang, ia menggumam seorang diri .

"Peristiwa-peristiwa seperti inilah yang sering terjadi didalam rimba persilatan. Hai.........! Untung saja aku memilih jalan untuk mempelajari ilmu silat, sehingga aku bisa membantu pihak yang lemah. Selama dunia masih berputar selalu akan terjadi pertempuran antara orang-orang yang bertentangan paham."

Setelah berpikir begitu, Ong Tiong Yang menghela napas dalam-dalam.

Dalam keadaan demikian tampak soseorang tengah berjalan dari arah yang berlawanan dengan Ong Tiong Yang.

Tojin muda tersebut memperhatikan keadaan orang itu, yang berpakaian sebagai seorang pelajar berusia diantara lima puluh tahun.

Sambil berjalan pelajar ini bersenandung tidak hentinya.

Sikapnya masa bodoh terhadap keadaan disekelilingnya, Waktu melihat Ong Tiong Yang, pelajar itu tersenyum dan wajahnya berseri-seri tampaknya ia girang sekali.

"Akhhh........ tojin muda, kebetulan sekali aku bertemu dengan kau ....!"

Katanya kemudian dengan suara yang mengandung kegembiraan.

"Mari......mari .......mari kita ber-cakap2........!"

Ong Tiong Yang melihat orang bersikap manis seperti itu, ia juga membalas tersenyum sambil merangkapkan kedua tangannya, katanya .

"Siapakah Siecu, dan bolehkah Pinto mengetehui nama Siecu yang mulia ?"

"Aku she Kiang dan bernama Bun, engkau tojin muda, apa gelarmu.....?"

"Aku belum memiliki gelaran, Pinto she Ong dan bernama Tiong Yang.....! itulah nama yang diberikan oleh guruku. Sedangkan nama Pinto yang sebenarnya Wang Cie Thio."

"Oh, enkau tampaknya seorang tojin muda yang jujur dan polos, karena engkau selalu bicara dari hal yang sebenarnya. Engkau telah memberitahukan kepadaku perihal nama yang diberikan gurumu, dan juga namamu yang sebenarnya, itupun telah cukup menunjukkan bahwa engkau merupakan seorang tojin muda yang memiliki jiwa yang jujur.......!"

Ong Tiong Yang tersenyum sambil merangkapkan sepasang tangannya, ia telah merendah. Tetapi pelajar itu tertawa sambil mengawasi Ong Tiong Yang, katanya .

"Dengarlah tojin muda, kita baru saja bertemu. Sekarang kutanyakan kepadamu, maukah engkau bersahabat denganku ?"

Ong Tiong Yang mengawasi Kiang Bun sejenak, akhirnya pendeta muda ini me nyahuti.

"Mengapa tidak? Pinto selalu hendak bersahabat dengan semua orang, dan jika memang siecu hendak mengajak Pinto bicara dari niat yang baik, tentu Pinto tidak keberatan.......!"

"Baiklah Ong Cinjin, sekarang ini kita melanjutkan perjalanan ber-sama2. Kemanakah tujuan Ong Cinjin?"

Tanya Kiang Bun lagi.

"Belum tahu, Pinto tidak memiliki tempat tujuan, karena Pinto mengembara kemana saja sebawanya kedua kaki Pinto ini,,,,,,,!"

"Bagus....., dengan melakukan perjalanan bersama, tosu menggembirakan sekali, karena kita memiliki kawan biecara bukan?"

Tanya Kiang Bun lagi. Ongr Tiong Yang menganggukkan kepalanya kemudian katanya dengan suara yang sabar.

"Didalam persoalan bersahabat, memang siecu tentu berhak untuk menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi kawan siecu.......'' "

Hemm......, engkau pandai bicara, Ong Cinjin!"

Kata King Bun tertawa.

"Baiklah, aku ingin menuju kekota Sun-ciang, dan engkau mau turut denganku atau tidak?"

Ong Tiong Yang mengangguk.

la tertarik sekali pada pelajar ini, karena dilihatnya bahwa Kiang Bun seperti bukan pelajar biasa.

Dari matanya yang bersinar tajam menunjukkan bahwa pelajar ini selain tentunya menguasai ilmu surat, juga pasti memiliki tenaga sinkang yang kuat.

Waktu itu hari mulai mendekati siang dan kedua orang ini melakukan perjalanan bersama, Ong Tiong Yang hanya ikut saja kemana Kiang Bun akan pergi, karena memang kebetulan Ong Tiang Yang tidak memiliki arah tujuan yang tetap, dan ia tidak mengetahui harus pergi kemana.

Maka dengan melakukan perjalanan bersama Kiang Bun bukankah merupakan hal yang menggembirakan, karena bisa memiliki seorang kawan bicara, sehingga dalam perjalanan ini tidak menimbuikan kesepian?

Kiang Bun ternyata seorang pelajar yang memiliki pengetahuan sangat luas.

la selalu bicara dari hal2 yang menarik.

Tetapi apa yang dibicarakannya itu seluruhnya bukan urusan dunia persilatan, yang sama sekali tidak pernah disentuhnya.

Kiang Bun hanya bicara dari soal ilmu surat dan keadaan masyarakat pada saat itu.

Namun Ong Tiong Yang memang memiliki hati yang welas asih, justru cerita Kiang Bun mengenai keadaan di masyarakat menyenangkan hatinya.

Maka ia menimpali percakapan itu dengan gembira.

Sedangkan Kiang Bun ternyata senang sekali bicara, mulutnya tidak pernah berhenti bicara.

Setelah melakukari perjalanah sekian lama, dan hari hampir menjelang sore, mereka tiba dikota Sun Ciang, sebuah kota yang tidak begitu besar.

Kiang Bun mengajak Ong Tiong Yang singgah disebuah rumah makan, mereka mengisi perut.

Ong Tiong Yang memesan makanan yang tidak berjiwa.

Mereka masih berakap-cakap juga dengan asyik, tertampaknya mereka merasa cocok satu dengan yang lainnya.

Kiang Bun juga menceritakan perihal dirinya, dimana ia mengatakan bahwa ia berasal dari Souwciu, dan telah mengembara selama puluhan tahun, karena Kiang Bun memang seorang yang tidak senang berdiam terus menerus disebuah tempat.

Baca Juga: Seruling Gading 1

Baca Juga: Jaka Lola Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert