Ceritasilat Novel Online

Seruling Gading 1

Eps 1 Seruling Gading - Kho Ping Hoo

Baca online Seruling Gading - Kho Ping Hoo

Cersil Seruling Gading - Kho Ping Hoo.

Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 01 Puncak Argadumilah menjulang tinggi diselimuti awan putih bergerombol seperti sekelompok domba berbulu putih bergerak perlahan, berarak ke arah selatan.

Sinar matahari pagi mulai menerangi permukaan Gunung Lawu yang tanahnya subur dan hijau penuh pohon dan tumbuhan.

Kinar matahari pagi yang lembut dan hangat itu masih belum cukup panas untuk mengusir hawa udara yang amat dingin bagi manusia itu.

Di lereng-lereng dekat puncak tidak tampak pedusunan.

Dusun terakhir yang paling tinggi letaknya berada di lereng bawah.

Puncak Argadumilah dan puncak-puncak lain yang banyak terdapat di Gunung Lawu jarang dikunjungi manusia karena selain sunyi tidak ada dusun yang berdekatan, juga teramat dingin hawanya dan untuk mendaki sampai ke puncak amatlah sukarnya karena tidak ada jalan tertentu.

Selain itu, puncak-puncak itu, terutama sekali puncak Argadumilah dan Argadalem dikabarkan sebagai tempat-tempat yang angker.

Akan tetapi pada pagi hari itu, seorang laki-laki tua tampak sedang membasuh muka, lengan dan kakinya ditepi sebuah kolam yang dibentuk oleh sumber air.

Sungguh menakjubkan memang betapa di puncak gunung yang begitu tinggi dapat keluar sumber airnya.

Kekuasaan Yang Mahakuasa terjadi di mana-mana.

Kolam itu dikenal dengan sebutan Sendang Drajat yang terletak tidak begitu jauh dari puncak Argadalem.

Orang akan merasa heran dan kagum kalau melihat kakek itu membasuh muka dengan air sendang itu.

Hawa udara demikian dingin dan tajam menusuk dan menembus pakaian yang tebal sekalipun.

Namun kakek itu membasuh muka, lengan dan kakinya dengan wajah berseri gembira dan kelihatan menikmati air yang nyaris membeku oleh hawa yang amat dingin.

Kakek itu sudah tua.

Usianya tentu sudah ada tujuhpuluh tahun.

Rambutnya yang sepanjang pundak dibiarkan terurai di atas kedua pundak dan punggungnya.

Kumis dan jenggotnya, seperti juga rambutnya, sudah putih semua seperti benang perak, agak mengkilat tertimpa sinar matahari pagi.

Bahkan sepasang alisnya yang tebal itu sudah putih semua, akan tetapi kulit mukanya masih segar, belum keriput seperti muka orang muda dan sepasang matanya bersinar lembut namun tajam dan penuh wibawa yang amat kuat.

Hidungnya mancung dan mulut yang sebagian tertutup kumis itu tampak tersenyum selalu, senyum penuh kesabaran dan pengertian.

Tubuhnya tinggi kurus namun kakek itu bertulang besar dan tubuh yang tua itu masih tegap dan ketika dia bangkit berdiri dari jongkoknya, dia tampak kokoh.

Pakaiannya sederhana sekali.

Hanya terdiri dari kain putih bersih yang dilibat-libatkan di tubuhnya dari leher sampai ke lutut.

Kini dia menggunakan sehelai kain putih untuk mengeringkan muka, leher, kedua lengan dan kaki yang tadi dibasuhnya.

Setelah selesai, dia memeras air yang membasahi kain itu dan mengikatkan kembali kain putih itu sebagai ikat pinggangnya.

Diambilnya sebatang benda putih sepanjang setengah meter dari atas batu besar dan benda itu diselipkan kembali ke ikat pinggangnya.

Dia berdiri menghadapi sendang dengan bibir tersenyum dan pandang mata lembut seolah memberi ucapan terima kasih kepada sendang yang telah memberi kesegaran kepadanya.

Kemudian dia menoleh ke kanan kiri dan melihat sinar matahari sepenuhnya menimpa sebuah batu besar, dia lalu menggerakkan kedua kakinya melangkah perlahan menghampiri batu besar.

Dia membungkuk dan meniup-niup permukaan batu untuk membersihkannya dari tanah, kemudian dia duduk di atas batu, membiarkan matahari memandikannya dengan sinarnya yang gemilang.

Dia menghela napas panjang menandakan kelegaan hati.

Kebahagiaan sejati yang langka dirasakan orang memenuhi seluruh dirinya lahir batin.

Dia melayangkan pandang matanya ke tanah, ke sendang, ke langit dan ke matahari.

Dalam batinnya dia menghaturkan terima kasih dan syukur akan kemurahan Yang Maha Murah, yang telah menciptakan tanah, air, udara dan sinar matahari yang memberi kehidupan.

Dihisapnya hawa udara dalam-dalam memenuhi paru-parunya menembus ke bawah pusar.

Alangkah bahagia dan nikmatnya hidup!

Kakek itu memejamkan kedua matanya dan menarik kedua kakinya untuk duduk bersila.

Kemudian tangan kanannya mengambil benda putih yang terselip di pinggangnya.

Benda itu ternyata adalah sebatang suling yang warnanya putih kekuningan.

Sebatang suling terbuat daripada gading gajah.

Dengan gerakan lembut dan santai sambil memejamkan kedua matanya, kedua tangannya memegang suling, mendekatkannya ke mulutnya lalu ditiupnya suling itu.

Jari-jari kedua tangannya bermain-main.

di atas lubang-lubang suling dan terdengarlah lengkingan suara suling yang merdu.

Suaranya mengalun dan mengayun perasaan, naik turun dengan lembutnya dan terdengar aneh.

Tidak seperti tembang yang.

biasa dilagukan dengan suling bambu oleh para penabuh gamelan.

Suara suling itu mendayu-dayu, kadang terdengar seperti hembusan angin bermain di puncak pohon-pohon cemara, kadang seperti gemercik air anak sungai bermain dengan batu-batu, kadang terdengar seperti sorak-sorai dan tawa riang, kadang seperti tangis sedih.

Aneh akan tetapi indah!

Kakek itu memejamkan mata, tubuhnya bergoyang-goyang perlahan ke kanan kiri dan semangatnya seperti melayang-layang di antara nada-nada suara suling.

Kalau orang mendengarkan suara itu dengan hati akal pikiran yang bekerja, menilai dan mencoba untuk mengerti, tentu suara suling itu akan terdengar aneh.

Akan tetapi kalau didengarkan tanpa ikutnya hati akal pikiran, maka akan terasa bahwa suara suling itu sudah sewajarnya dan menjadi satu dengan alam sekitarnya, seolah suara itu memang sudah seharusnya dan sepatutnya terdengar di tempat itu.

Seperti suara, kicau burung, desah angin, gemercik air, kokok ayam dan suara alamiah yang lain.

Semua suara itu adalah puja-puji yang memuliakan nama Yang Maha Pencipta.

Bahkan tubuh kakek yang bergoyang-goyang perlahan ke kanan kiri itu merupakan doa yang tanpa suara dan yang tak kunjung henti.

Lima ekor burung sejenis jalak terbang melayang-layang, berputaran di atas sendang.

Kemudian mereka melayang turun dan hinggap di atas tanah dekat kakek itu.

Mereka tampak jinak dan diam seakan ikut mendengarkan dan menikmati suara suling itu.

Suara suling itu berhenti dengan lembut makin lama makin lirih dan akhirnya kakek itu menghentikan tiupannya.

Akan tetapi, suaranya seperti masih bergema di angkasa.

Kakek itu menyelipkan sulingnya di ikat pinggang, lalu dia turun darn atas batu.

Lima ekor burung jalak itu terbang tinggi dan kakek itu mengikuti mereka dengan pandang matanya sambil tersenyum.

Sejenak dia merasa seolah dia ikut terbang di antara lima ekor burung jalak itu.

Setelah lima ekor burung itu menghilang di balik pohon-pohon, kakek itu lalu memutar tubuhnya dan melangkah perlahan-lahan menuju ke puncak Argadumilah.

Matahari naik semakin tinggi dan awan yang tadi berarak sudah meninggalkan puncak.

Langit tampak biru bersih dan sinar matahari mulai terasa hangat di kulit, sungguhpun bayang-bayang pohon masih panjang.

Kakek tua renta itu adalah seorang pertapa yang sudah puluhan tahun meninggalkan dunia ramai.

Dia merantau dari puncak yang satu ke puncak yang lain, dari tepi laut di ujung barat Laut Kidul sampai ke ujung timur.

Dia suka menyendiri di tempat-tempat sunyi dan merasa bersatu dengan alam.

Kalau dia tanpa disengaja bertemu dengan penduduk dusun dan ditanyai namanya, dia mengaku bernama Resi Tejo Wening dan kalau ditanya di mana tempat tinggalnya dia selalu menjawab bahwa tempat tinggalnya adalah di mana kedua kakinya menginjak.

Kalau ditanya rumahnya, dia selalu menjawab bahwa rumahnya berlantai bumi, berdinding pohon-pohon dan beratap langit.

Resi Tejo Wening berjalan santai mendaki puncak Argadumilah dan setelah tiba di puncak, pada sebuah tanah datar di puncak itu dia melihat beberapa orang sedang berdiri berhadapan dan terdengar mereka bertengkar.

Resi Tejo Wening lalu duduk di atas batu yang terpisah sekitar dua puluh meter dari orang-orang itu.

Dia memandang ke arah mereka namun tidak mengenal mereka dan belasan meter dari situ dia melihat sedikitnya limapuluh orang yang berpakaian serba hitam bergerombol dengan senjata pedang atau golok siap di tangan dan sikap mereka seperti sedang menanti perintah.

Adapun yang sedang bertengkar itu adalah seorang laki-laki tinggi kurus yang berhadapan dengan tiga orang laki-laki lain.

Laki-laki tinggi kurus itu berusia sekitar enampuluh tiga tahun.

Pakaiannya juga serba hitam dengan kain pengikat kepala berwarna hitam pula, wajahnya gagah berwibawa dan kumisnya yang melintang itu tebal dan sudah berwarna dua.

Di pinggangnya tergantung sebatang pedang.

Lima puluh orang lebih itu berdiri di belakangnya dan agaknya mempunyai hubungan dengan orang tinggi kurus berkumis melintang itu!

"Ki Bargowo, engkau terkenal sebagai seorang pendekar, ketua perkumpulan Welut Ireng yang menjadi penghuni dan kawula Kadipaten Madiun.

Akan tetapi sikapmu seperti seekor bunglon yang suka berubah warnanya.

Engkau membela Mataram, berarti engkau mengkhianati daerahmu sendiri,"

Kata seorang di antara tiga orang yang berhadapan dengan Ki Bargowo.

Orang ini adalah seorang kakek yang usianya sudah enampuluh tahun lebih bertubuh tinggi besar dan tampak kokoh kuat.

Dari pakaian dan terutama kain ikat kepalanya mudah diketahui bahwa dia adalah seorang bersuku bangsa Madura.

Alisnya tebal dan seperti rambut, kumis dan jenggotnya, masih hitam dan kaku.

Sepasang matanya bundar lebar, terbelalak dengan pandang mata penuh semangat dan tantangan.

Kumis dan cambang bauknya lebat menutupi setengah mukanya bagian bawah.

Otot-otot menggelembung melingkari kedua lengan dan kakinya.

Sebelum Ki Bargowo menjawab, orang kedua berseru, suaranya jauh berbeda dengan suara orang pertama yang dalam dan parau.

Suara orang kedua ini kecil meninggi seperti suara perempuan.

"Ki Bargowo, tidak tahukah engkau atau pura-pura tidak tahu betapa angkara murkanya Sultan Agung? Dia selalu mengganggu daerah pesisir utara, bahkan baru saja dia mengerahkan pasukan dan menaklukkan hampir seluruh daerah Jawa Timur. Kalau engkau membela Mataram, apa sih yang kaudapatkan? Tidak urung engkau menjadi orang jajahan, daerahmu ditindas dan kekayaan daerahmu diangkut semua ke Mataram!"

Orang kedua ini bertubuh sedang.

Kulitnya hitam sekali seperti arang.

Pakaiannya agak mewah seperti seorang bangsawan.

Usianya juga sudah enampuluh tahun lebih.

Kedua pergelangan lengannya dihias akar bahar yang berwarna sama hitam dengan kulitnya.

Kumis, jenggot dan rambutnya sudah berwarna dua.

Kedua matanya agak sipit, hidungnya besar, bibirnya lebar dan tebal.

Baru saja orang kedua berhenti bicara, orang ketiga menyambung, suaranya lembut dan penuh daya pikat dan membujuk, ramah dan halus menyenangkan pendengarnya.

"Ki Bargowo, engkau adalah seorang ketua dari perkumpulan Welut Ireng yang terkenal sebagai pendekar. Tentu ucapan kedua orang kawanku tadi dapat menyadarkanmu. Karena itu, marilah engkau pimpin anak buahmu bergabung dengan kami membantu Kadipaten Surabaya yang agaknya akan menjadi sasaran Mataram berikutnya. Jangan khawatir, bantuanmu tentu akan mendapatkan imbalan yang pantas dari Kanjeng Adipati di Surabaya. Marilah, orang gagah, bergabunglah dengan kami."

Orang ketiga ini berusia enampuluh tahun, tubuhnya kecil kurus.

Kepalanya yang kecil itu botak.

Sedikit rambut yang tumbuh di bagian kanan kiri dan belakang kepalanya agak keriting dan masih hitam.

Mukanya halus tanpa kumis maupun jenggot.

Matanya yang kecil itu memiliki pandangan yang tajam sekali, penuh wibawa.

Hidungnya pesek dan mulutnya juga kecil.

Orang ini melihat tubuhnya seperti seorang kakek yang lemah saja.

Namun sepasang matanya yang bergerak-gerak cepat dan sinarnya tajam menusuk itu membuat orang tidak tahan berlama-lama menentang pandang matanya.

Ki Bargowo adalah seorang pendekar yang gagah perkasa.

Sebagai ketua perkumpulan Welut Ireng dia memimpin anak buahnya yang berjumlah kurang lebih enampuluh orang agar selalu bersepak terjang sebagai pendekar pembela kebenaran dan keadilan.

Juga dia terkenal sebagai seorang yang selalu membela Mataram, bahkan ketika pasukan Mataram melakukan penyerbuan ke Jawa Timur untuk menaklukkan para adipati yang tidak mau tunduk kepada Mataram, diapun memimpin anak buahnya untuk membantu.

Pada waktu itu dia memimpin anak buahnya menjelajahi Pegunungan Lawu untuk mencari tempat tinggal yang baru karena dia bermaksud untuk membuka perkampungan sebagai pusat perkumpulannya.

Akan tetapi ketika dia dan anak buahnya berhasil mendaki sampai ke puncak Argadumilah, dia bertemu dengan tiga orang kakek ini yang tiba-tiba saja menyerangnya dengan kata-kata dan membujuknya untuk bekerjasama membantu Surabaya yang hendak memberontak terhadap Mataram.

Dia mendengar ucapan tiga orang itu dengan sikap tenang.

Setelah mereka bertiga berhenti bicara, barulah dia menjawab, suaranya tenang namun tegas.

"Sebelum saya menjawab ucapan andika bertiga, karena andika bertiga sudah mengenal dan mengetahui nama saya, saya ingin tahu lebih dulu, siapakah gerangan ki sanak bertiga ini?"

"Ha-ha-ha, engkau belum mengenal kami? Tidak heran. Engkau ini seperti katak dalam tempurung, tidak pernah meninggalkan daerah Madiun sehingga tidak tahu luasnya dunia tingginya langit,"

Kata kakek pertama yang tubuhnya tinggi besar seperti raksasa.

"Engkau tidak tahu siapa aku? Tanyalah kepada setiap orang di Madura, laki-laki atau perempuan, dari kanak-kanak sampai kakek-kakek, mereka semua mengenal siapa Harya Baka Wulung, ha-ha-ha!"

Diam-diam Ki Bargowo terkejut.

Biarpun belum pernah bertemu, dia sudah lama mendengar akan nama besar Ki Harya Baka Wulung yang merupakan gegedug (jagoan) yang terkenal sakti dan digdaya dari Pulau Madura!

Akan tetapi sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa, dia tidak memperlihatkan rasa kagetnya dan sikapnya tenang dan biasa saja.

"Engkau tentu belum mengenalku karena aku datang jauh dari ujung timur Nusa Jawa. Di sana aku merupakan orang yang paling terkenal, paling ditakuti dan disegani oleh seluruh rakyat. Akulah Wiku Menak Koncar, orang kepercayaan Adipati Blambangan!"

Kata orang kedua yang berkulit hitam dan tampaknya bersikap kasar namun yang suaranya seperti suara seorang perempuan.

Kembali Ki Bargowo terkejut.

Nama Wiku Menak Koncar juga sudah amat kondang (terkenal), bahkan kalau dia tidak keliru, Wiku Menak Koncar ini masih ada hubungan saudara seperguruan dengan mendiang Resi Wisangkolo yang terkenal sebagai salah seorang jagoan yang membantu Kadipaten Wirosobo yang memberontak terhadap Mataram.

Kalau Wiku Menak Koncar ini memiliki kesaktian seperti mendiang Resi Wisangkolo, dia merupakan seorang lawan yang teramat tangguh.

Aka tetapi tetap saja Ki Bargowo tidak memperlihatkan perasaan khawatirnya dan wajahnya tetap tenang saja.

Kini orang ketiga yang sikap dan kata-katanya lemah lembut itu berkata.

"Ki Bargowo, kalau engkau belum mengenal dua orang sahabatku ini apalagi aku yang datang dari ujung barat Nusa Jawa. Aku tidak sehebat dua orang sahabatku ini dan sama sekali tidak terkenal. Namaku Kyai Sidhi Kawasa berasal dari Banten dan pernah menjadi senopati Kerajaan Banten ketika masih muda puluhan tahun yang lalu. Ki Bargowo memang belum pernah mendengar akan nama ini, akan tetapi melihat sinar mata yang mencorong serta sikap yang lembut itu dia dapat menduga bahwa orang ini tentu memiliki kesaktian yang tidak kalah dibandingkan dua orang yang lain.

"Kiranya andika bertiga adalah orang orang yang terkenal dari Madura, Blambangan dan Banten. Andika bertiga mengajak saya untuk bergabung membantu Kadipaten Surabaya untuk menentang Mataram, dengan berbagai alasan seperti yang andika bertiga kemukakan tadi. Sekarang perkenankan saya menjawab semua tuduhan andika terhadap Mataram itu. Agaknya andika bersikap memusuhi Mataram. Akan tetapi tuduhan andika bertiga itu keliru, para sahabatku yang baik. Lupakah andika bahwa sejak pemerintahan Sang Panembahoin Senopati Ing Alogo Saidin Panotogomo (1586 -1601) Madiun dan semua kadipaten di Jawa Timur telah menjadi bagian dari Mataram. Karena itu, kalau saya membela Mataram, hal itu sudah sewajarnya karena saya adalah kawula Mataram. Tentu saja saya tidak mau membantu pemberontak. Adapun tuduhan bahwa Kanjeng Gusti Sultan Agung di Mataram angkara murka, hal itupun tidak benar. Beliau menyerang para adipati yang memberontak dan usaha beliau ini sama sekali bukan karena angkara murka atau hendak meluaskan kekuasaan, sama sekali bukan. Beliau menghendaki agar semua kadipaten, semua daerah dapat bersatu dan tidak terpecah-belah. Karena hanya dengan bersatu-padu kita menjadi kuat untuk menghadapi bahaya yang mengancam kita, yaitu kekuasaan Belanda yang kini menduduki Jayakarta. Kalau kita tidak bersatu-padu, bagaimana kita akan mampu mencegah Belanda memperluas wilayah kekuasaannya? Itulah sebabnya maka sekarang saya terpaksa tidak dapat menerima ajakan andika bertiga untuk bergabung dan membantu Kadipaten Surabaya yang hendak menentang Mataram. Bagaimanapun juga, saya dengan semua anggauta Welut Ireng tetap setia kepada Mataram."

"Babo-babo, Ki Bargowo! Kami mengajakmu dengan baik-baik untuk menyadari kesalahanmu dan mengulurkan tangan mengajak bekerja sama agar engkau dapat menebus dosadosamu, akan tetapi engkau bahkan berani mengatakan kami sebagai pemberontak! Kami berjuang mempertahankan daerah kami dari cengkeraman Mataram dan engkau berani menentang kami Apakah nyawamu sudah ada cadangannya sehingga engkau tidak takut mampus?"

"Sesukamulah, Ki Harya Baka Wulung. Akan tetapi sekali lagi kutegaskan, kami semua tetap setia dan membela Mataram dan kalau andika bertiga tidak segera meninggalkan puncak ini, terpaksa kami akan menggunakan kekerasan untuk mengusir andika!"

Kata Ki Bargowo yang menjadi marah. Dia memberi isyarat dengan tangan kirinya dan limapuluh orang lebih anak buahnya itu bergerak maju dan berhenti di belakangnya dalam keadaan siap bertempur.

"Heh-heh-heh!"

Ki Harya Baka Wulung terkekeh sehingga perutnya yang besar itu terguncang-guncang.

"Engkau dan anak buahmu hendak mengusir kami? Dengan cara bagaimana engkau dapat mengusir kami?"

"Dengan cara ini!"

Ki Bargowo mengacungkan tinju kanannya.

"Hendak memukulku? Heh-heh, maju dan pukullah, Ki Bargowo. Hendak kulihat apakah tanganmu yang lunak itu mampu merobohkan aku!"

Ki Bargowo merasa ditertawakan dan ditantang.

Dia adalah seorang gagah, seorang pendekar bahkan ketua Perkumpulan orang-orang gagah.

Tak pernah dia mundur menghadapi tantangan siapapun juga.

Maka mendengar tantangan Ki Harya Baka Wulung, dia mengerahkan tenaga pada kedua tangannya lalu membentak nyaring.

"Sambutlah pukulanku ini!"

Tangan kanannya menyambar, memukul dengan jari tangan terbuka ke arah dada lawan yang bidang itu.

Pukulan ini kuat sekali dan dengan pukulan semacam itu, Ki Bargowo akan mampu membikin pecah sebongkah batu gunung atau menumbangkan sebatang pohon kelapa.

Akan tetapi, Ki Harya Baka Wulung tampaknya tidak menangkis ataupun mengelak menghadapi pukulan dahsyat itu, melainkan bahkan membusungkan dadanya untuk menerima pukulan lawan.

"Wuuuuttt bukkk....!!"

Ki Bargowo terkejut sekali ketika merasa betapa tangannya seolah bertemu dengan benda kenyal dan kuat seperti karet, membuat tangannya yang memukul mental.

"Heh-heh-heh-heh, ringan dan lunak sekali tanganmu, Ki Bargowo, seperti tangan tukang pijat, heh-heh-heh!"

Ki Harya Baka Wulung menertawakan dan mengejek.

Ki Bargowo menjadi penasaran bukan main.

Dia sudah sering bertanding lawan tangguh, akan tetapi aji pukulannya itu mampu aji kekebalan lawan.

Baru sekarang pukulannya itu terpental ketika bertemu dengan Ki Harya Baka Wulung.

Dia lalu memusatkan seluruh daya ciptanya, mengerahkan tenaga sakti sepenuhnya ke arah kedua tangannya, lalu berseru.

"Sambutlah pukulan ini!"

Kini kedua tangannya menyambar dengan jari-jari terbuka, meluncur dari kanan kiri menampar ke arah kedua pelipis kepala lawan.

"Wuuuuutttt plakk!"

Kedua tangannya itu tertahan dan ternyata telah dipegang pada pergelangan tangannya oleh sepasang tangan Ki Harya Baka Wulung yang besar.

Kedua pergelangan tangannya rasanya seperti dijepit alat penjepit dari baja.

Demikian kuatnya jari-jari yang panjang dan besar itu mencengkeram pergelangan kedua tangannya.

Seakan-akan remuk rasa tulang lengannya.

Ki Bargowo lalu mengerahkan aji Welut Ireng yang menjadi andalannya, bahkan aji itu dipergunakan untuk menjadi nama perkumpulannya karena semua anak buahnya mempelajari aji itu.

Tubuhnya menggeliat, kedua lengannya bergerak dan kedua lengannya itu bagaikan telah berobah menjadi belutbelut yang licin sekali tubuhnya sehingga terlepas dari cengkeraman kedua tangan Ki Harya Baka Wulung!

Ki Bargowo melompat ke belakang.

"Ehh??"

Ki Harya Baka Wulung terbelalak, akan tetapi lalu terkekeh.

"Heh-heh heh, itukah aji Welut Ireng? Bagus! Akan tetapi sekali lagi engkau terpegang oleh tanganku akan kuremas hancur dan hendak kulihat apakah engkau mempunyai cadangan nyawa!"

Ki Bargowo tahu benar bahwa lawannya adalah seorang yang sakti mandraguna dan dia tidak akan mampu menandinginya kalau hanya bertangan kosong.

Oleh karena itu dia melangkah tiga kali ke belakang dan mencabut pedangnya.

"Harya Baka Wulung, aku siap membela Mataram dengan taruhan nyawaku!"

Kata Ki Bargowo sambil memasang kuda-kuda, pedang di tangan kanan diangkat tinggi di atas kepala sedangkan tangan kirinya menyilang di depan dada.

"Heh-heh-heh, bagus sekali! Akupun siap membela Madura dan menentang Mataram dengan taruhan nyawaku!"

Kata Ki Harya Baka Wulung dengan sikap menantang.

"Pusaka telah siap di tanganku! Keluarkanlah senjatamu agar kita dapat mengadu nyawa!"

Kata Ki Bargowo. Sebagai seorang pendekar yang berwatak gagah dia tidak mau menyerang lawan yang belum memegang senjata.

"Heh-heh-heh, Ki Bargowo. Biarpun engkau memiliki enam buah tangan yang semua memegang senjata, aku tidak takut menghadapimu dengan tangan kosong. Maju dan bersiaplah untuk mati di tanganku!"

Mendengar ucapan ini, makin yakinlah hati Ki Bargowo bahwa lawannya memang tangguh sekali.

Hanya orang yang sakti sekali dan sudah penuh kepercayaan akan kesaktiannya itu yang akan berani menghadapi lawan bersenjata hanya dengan tangan kosong.

Karena ditantang, Ki Bargowo tidak merasa sungkan lagi.

Dia menggerakkan pedangnya di atas kepala lalu berseru nyaring.

"Sambut serangan pedangku!"

Pedang itu menyambar ke arah leher Ki Harya Baka Wulung dengan cepat sekali sehingga tampak sinar pedang menyambar seperti kilat.

Namun sambil tersenyum datuk dari Madura ini menggeser kakinya dan mengelak dengan mudah.

Baka Wulung tidak membual ketika dia mengatakan bahwa seluruh rakyat Madura mengenal namanya.

Dia bahkan merupakan orang kepercayaan Panembahan Lemah Duwur adipati di Aros Baya ketika dia masih muda.

Kadipaten Aros Baya adalah sebuah kadipaten yang kuat di Madura barat.

Dia seorang ahli ilmu silat dan ilmu sihir dan disegani, juga seorang yang amat setia terhadap Kadipaten Aros Baya pada khususnya dan Pulau Madura pada umumnya.

Melihat serangan pertamanya dapat dielakkan dengan mudah oleh lawannya, Ki Bargowo menyusulkan serangan kedua.

Kini pedangnya meluncur dan menusuk ke arah dada Baka Wulung.

"Heeeiiiiitt!"

Ki Harya Baka Wulung kembali mengelak dengan miringkan tubuhnya ke kanan.

Ketika pedang lawannya meluncur di samping kiri tubuhnya, tangan kirinya mencengkeram ke depan, ke arah lengan kanan Ki Bargowo.

Ketua Welut Ireng inipun bukan seorang lemah.

Dia tahu bahwa sekali ini apabila lengannya dapat dicengkeram tangan yang amat kuat itu, tentu akan remuk dan patah-patah tulang lengannya.

Maka diapun cepat menarik pedangnya dan memutar pedang itu sehingga kini keadaannya berbalik.

Pedangnya yang mengancam tangan kiri lawan!

"Tranggg....!"

Ki Bargowo terkejut dan melangkah mundur.

Ternyata pedangnya yang bertemu dengan tangan kiri itu terpental, seolah tangan itu terbuat dari baja yang amat keras dan kuat!

Tiba-tiba terdengar suara tawa meninggi seperti tawa perempuan.

"Hi-hi-hik, Ki Harya Baka Wulung, kenapa engkau masih bermain-main?"

Yang tertawa dan menegur ini adalah Wiku Menak Koncar.

"Ki Harya Baka Wulung, cepat bereskan dia dan jangan membuang banyak waktu!"

Kata pula Kyai Sidhi Kawasa dengan suaranya yang lembut. Mendengar ini, Ki Harya Baka Wulung terkekeh.

"Heh-heh-heh, engkau mendengar kata kawan-kawanku, Ki Bargowo? .Sekarang matilah engkau!"

Setelah berkata demikian, dia menekuk kedua lututnya hampir berjongkok dan kedua tangannya didorongkan ke arah dan mulutnya berseru dengan suara yang seolah keluar dari dalam perutnya.

"Aji Cantuka Sakti""

Kok-kok-kokkk!"

Berbarengan dengan bunyi kok-kok tadi, dari kedua telapak tangan itu menyambar angin pukulan yang amat dahsyat sehingga tanah dan pasir ikut beterbangan seperti dilanda angin lesus!

Ki Bargowo maklum bahwa dia diserang oleh pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sakti yang amat kuat.

Dia tahu bahwa dia tidak mampu mengelak, maka diapun mengerahkan tenaga saktinya untuk menyambut pukulan itu dengan mendorongkan kedua tangannya ke depan setelah melepaskan pedangnya yang jatuh ke atas tanah.

"Wuuuuttt blarrrr...!"

Hebat sekali pertemuan antara dua tenaga sakti itu Dan akibatnya, tubuh Ki Bargowo terlempar ke belakang seperti daun kering tertiup angin dan jatuh terbanting dengan kerasnya di depan para anak buahnya.

Para anak buah Welut Ireng cepat menghampiri dan berusaha membantu ketua mereka untuk bangkit.

Akan tetapi mereka melihat bahwa Ki Bargowo telah tewas dan darah segar mengalir keluar dari mulutnya!

Melihat ketua mereka tewas, para anggauta Welut Ireng yang setia itu terkejut sekali dan mereka menjadi marah.

Serentak mereka maju menyerang tiga orang., itu sambil berteriak marah.

Melihat limapuluh orang lebih itu menyerbu dengan golok atau pedang di tangan, tiga orang datuk itu lalu tertawa.

Suara tawa mereka berbeda nadanya.

"Heh-heh-heh-heh !!"

Ki Harya Baka Wulung tertawa.

"Hi-hi-hi-hik....!"

Tawa Wiku Menak Koncar terdengar seperti tawa seorang wanita.

"Ha-ha-ha-ha !"

Kyai Sidhi Kawasa juga tertawa, suara tawanya merdu dan halus.

Akan tetapi dalam suara tawa tiga orang itu, terkandung getaran yang amat hebat.

Gelombang getaran ini menerjang dan menyerang limapuluh lebih anak buah Welut Ireng dan mereka terhuyung-huyung.

Ada yang mendekap dada karena merasa jantung mereka tergoncang hebat.

Ada yang menutupi kedua telinga karena merasa telinga mereka seperti ditusuk-tusuk jarum.

Bahkan ada yang sudah bergulingan di atas tanah sambil merintih-rintih.

Mereka saling bertabrakan dan senjata golok atau pedang yang tadi mereka pegang terlepas dari tangan.

Tiga orang datuk itu tertawa dan tertawa terus dan puluhan orang itu menjadi semakin tersiksa.

Daya serang yang terkandung dalam suara tawa mereka itu iungguh dahsyat dan mengerikan.

Tiba-tiba terdengar lengkingan suara suling yang amat merdu.

Suaranya melengking-lengking, merdu dan mengalun, bergema di seluruh penjuru.

Anehnya, kalau lengking itu merendah, seolah mempunyai daya yang amat kuat yang menyeret tiga suara tawa itu dan kalau lengking itu meninggi seolah mempunyai daya yang amat kuat yang menarik tiga suara itu ke atas sehingga hilang daya serangnya.

Begitu suara suling itu melengking-lengking, puluhan orang itupun terbebas dari serangan suara yang dahsyat itu.

Mereka dapat bernapas lega, rasa nyeri pada telinga dan jantung mereka lenyap.

Mereka mulai memunguti senjata mereka akan tetapi tidak berani sembarangan bergerak, hanya menonton "pertandingan"

Yang amat aneh itu.

Pertandingan antara tiga suara tawa dan lengking suara suling!

Dan kini mereka melihat bahwa suara suling itu keluar dari sebatang suling putih kekuningan yang ditiup oleh seorang kakek tua renta yan duduk di atas sebuah batu besar.

Tiga orang datuk itu terkejut bukan main.

Ada daya kekuatan lembut yang bagaikan dinding yang kuat keluar dari suara suling itu, membendung dan menghalang sehingga daya serang suara tawa mereka membalik!

Mereka menjadi penasaran dan berusaha untuk memperkuat, suara tawa mereka untuk menembus dinding itu.

Akan tetapi makin kuat mereka tertawa, semakin kuat pula daya serang mereka sendiri yang membalik dan gelombang suara itu menghantam mereka sendiri.

Akhirnya ketiga orang datuk itu terhuyung dan menghentikan suara tawa mereka karena kalau mereka lanjutkan, mereka akan terserang daya kekuatan suara tawa mereka sendiri yang akan berakibat gawat bagi keselamatan mereka.

Begitu tiga gelombang suara tawa itu berhenti, suara suling juga semakin lirih akhirnya lenyap, hanya meninggalkan gaung yang seolah bergema di empat penjuru.

Resi Tejo Wening menyelipkan lagi seruling gading di ikat pinggangnya, kemudian perlahan-lahan turun dari atas batu besar.

Sementara itu, tiga orang datuk dengan marah melangkah dan menghampiri Resi Tejo Wening yang sudah turun dari atas batu dan berdiri tegak dengan sikap tenang dan mulut tersenyum, sepasang matanya memandang kepada tiga orang itu dengan sinar yang lembut dan penuh pengertian.

Semua anggauta Welut Ireng yang masih belum kehilangan rasa kaget dan ngeri, berdiri berkelompok dan hanya menonton tanpa mengeluarkan suara dengan hati tegang.

"Semoga Sang Hyang Widhi mengampuni kita semua"

Kata Resi Tejo W-ening kepada tiga orang datuk yang kini sudah berdiri di depannya dengan wajah mengandung penasaran.

"Tiga orang ki sanak yang bijaksana, kurasa kalian bertiga sudah membuang waktu berpuluh tahun mempelajari berbagai ilmu adalah dengan niat untuk dipergunakan guna menolong sesamamanusia, bukan untuk mencelakai manusia. Akan tetapi apa yang kulihat sekarang sungguh berlawanan. Andika bertiga telah membunuh seorang pendekar, bahkan nyaris membunuh puluhan orang anak buahnya. Mengapa begini, ki sanak?"

"Orang lancang, sebelum kita bicara, katakanlah dulu siapa engkau!"

Kata Ki Harya Baka Wulung yang memiliki watak keras dan terbuka sehingga mendatangkan kesan kasar.

Resi Tejo Wening memandang datuk dari Madura ini sambil mengelus jenggot putihnya dan mulutnya tersenyum.

"Aku sudah mendengar tadi bahwa andika adalah Ki Harya Baka Wulung dari Madura yang terkenal sebagai seorang satria yang gagah perkasa. Perkenalkan, aku biasa disebut orang Resi Tejo Wening, nama yang sama sekali tidak terkenal, maka andika bertiga tentu tidak mengenal aku."

"Resi Tejo Wening, katakan di mana tempat tinggalmu agar aku dapat mengetahui dari aliran mana andika berasal,"

Kata Wiku Menak Koncar dengan suaranya yang tinggi dan lantang.

"Andika adalah Sang Wiku Menak Koncar dari Blambangan yang amat terkenal itu. Andika bertanya di mana tempat tinggalku? Di mana kedua kakiku berdiri, di situlah tempat tinggalku. Rumahku berlantai tanah berdinding pohon dan beratap langit."

"Resi Tejo Wening, aku melihat bahwa andika adalah seorang yang bijaksana. Andika masih bertanya mengapa kami menewaskan Ki Bargowo dan menyerang puluhan orang anak buah perkumpulan Welut Ireng. Mengapa andika masih berpura-pura tidak mengerti? Perbuatan kami itu bukan tindak kejahatan yang sewenang-wenang melainkan hanya sebuah akibat belaka dan andika tentu tahu bahwa semua akibat tentu ada sebabnya. Dan sebabnya terletak pada sikap Ki Bargowo dan anak buahnya sendiri!"

Kata Kyai Sidhi Kawas dengan lembut namun penuh semangat sehingga kedua matanya mencorong menatap, wajah Resi Tejo Wening.

"Jagad Dewa Bathara! Semoga Sang, Hyang Widhi mengampuni kita semua! Andika adalah Kyai Sidhi Kawasa dari Banten. Sikap dan tutur sapa andika sesuai dengan nama besar andika sebagai mantan senopati Kerajaan Banten. Ucapanmu memang benar, ki sanak. Akan tetapi lupakah andika bahwa akibat yang mengandung kekerasan itu dapat menjadi sebab dari akibat lanjutannya pula? Mengapa seorang bijaksana seperti andika membiarkan diri terlibat dalam ikatan rantai karma? Kalau andika bertiga dan para anggauta Welut Ireng terlibat dalam perang dan masing-masing berjuang demi tanah air masing-masing, hal itu sudah sewajarnya. Akan tetapi kalian tidak sedang berperang dan andika bertiga hendak membunuh puluhan orang yang tidak berdosa. Kalau aku berdiam diri berarti aku juga ikut membantu kalian membantai puluhan orang itu."

"Resi Tejo Wening!"

Ki Harya Baka Wulung membentak marah.

"Kami bertiga adalah satriasatria sejati yang membela kerajaan dan kadipaten kami masing-masing! Kami siap untuk mengorbankan nyawa demi membela daerah kami masingmasing! Mataram telah menyerang dan menundukkan banyak kadipaten di Jawa Timur, dan kami merasa terancam. Karena itu kami menentang Mataram. Ki Bargowo dan anak buahnya membela Mataram dan tidak mau kami ajak bekerja sama, karena itu kami hendak membasmi mereka yang kami anggap sebagai musuh. Apakah andika hendak menyalahkan kami?"

"Aku tahu bahwa kalian semua berjuang untuk membela kadipaten masing-masing. Pihak kalian maupun pihak Mataram tentu memiliki alasan-alasan masing-masing yang kuat untuk membenarkan perjuangan masing-masing pula. Aku tidak akan mencampuri pertikaian antara sesama bangsa itu. Akan tetapi di atas segalanya masih terdapat kekuasaan Tuhan dan betapapun pandainya manusia, tidak mungki dia akan mengubah keputusan yang telah digariskan Hyang Widhi."

"Resi Tejo Wening,"

Kata Kyai Sid Kawasa.

"kamipun percaya akan kekuasaa Tuhan. Akan tetapi kita juga sudah diberi kewajiban untuk berikhtiar! Tuhan tidak akan menolong manusia yang tidak mau menolong dirinya sendiri. Sungguhpun keputusan terakhir berada dalam tangan Tuhan, namun berikhtiar sekuat tenaga merupakan kewajiban bagi kita. Perjuangan membela daerah dan kadipaten atau kerajaan kami masing-masing merupakan kewajiban bagi kami dan akan kami perjuangkan dengan taruhan nyawa!"

Resi Tejo Wening mengangguk-angguk.

"Bagus, andika bertiga memang satria-satria gagah perkasa. Akan tetapi jangan dilupakan bahwa baik buruk usaha itu tergantung sepenuhnya kepada caranya, bukan pada tujuannya. Caranyalah yang menjadi sebab dan tujuan hanyalah akibat. Cara yang baik akan menghasilkan akibat yang baik pula seperti pohon yang baik tentu menghasilkan buah yang baik."

"Omong kosong!"

Bentak Wiku Menak Koncar dengan suara tinggi.

"Kami mementingkan tujuan dan tujuan kami adalah baik!"

"Sayang sungguh sayang! Andika menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan? Kalau begitu kalian pasti akan memetik buah daripada pohon yang benihnya andika tanam sendiri."

"Sudahlah, Resi Tejo Wening. Kalau andika tidak membela Mataram, kami tidak akan memusuhi andika. Pergilah dan jangan campuri urusan kami dengan orangr-orang Welut Ireng,"

Kata Ki Harya Baka Wulung. Resi Tejo Wening menggeleng kepalarrya.

"Aku tidak akan mencampuri permusuhan dan pertikaian antara saudara sebangsa. Akan tetapi akupun tidak dapat berpeluk tangan saja kalau andika bertiga hendak membunuh semua orang yang tidak bersalah ini."

"Andika hendak melawan kami?"

Tanya Wiku Menak Koncar.

"Aku tidak hendak melawan siapa-siapa. Aku hanya ingin melindungi orang-orang ini dari ancaman maut."

"Resi Tejo Wening!"

Kata Kyai Sidh Kawasa.

"Kalau engkau melindungi orang orang yang menjadi musuh kami, berarti andika juga menjadi musuh kami. Terpaksa kami akan mengenyahkan andika dengan kekerasan kalau andika tidak mau membiarkan kami membasmi musuh-musuh kami."

"Terserah kepada andika sekalian,"

Kata Resi Tejo Wening dengan tenang.

Tiga orang datuk itu saling pandang dan mereka bertiga lalu berdiri dengan kepala menunduk, kedua lengan bersilang di depan dada lalu mengerahkan kekuatan batin mereka.

Ketiganya selain merupakan ahli-ahli silat yang digdaya, juga memiliki kelebihan menggunakan ilmu sihir untuk menyerang lawan.

Dari tubuh Ki Harya Baka Wulung mengepul asap hitam yang makin lama semakin tebal dan perlahan-lahan asap hitam itu bergerak ke arah Resi Tejo Wening Pada saat itu juga, dari tubuh Wiku Menak Koncar bertiup angin yang makin lama semakin kencang dan berpusing seperti angin ribut.

Sementara itu, dari tubuh Kyai Sidhi Kawasa muncul api berkobar yang juga menuju ke arah Resi Tejo Wening!

"Daya Kukus Langking"..!"

Bentak Ki Harya Baka Wulung dan asap hitam tebal itu kini nenyerbu ke arah Resi Tejo Wening.

"Daya Bayu Bajra".!"

Wiku Menak Koncar juga membentak dan angin ribut itu juga menyambar ke arah sang resi.

"Daya Analabani"..!"

Kyai Sidhi Kawasa berseru dan api berkobar itu menyerang pula ke arah sang resi.

Tubuh Sang Resi Tejo Wening tidak tampak lagi karena sudah tertutup asap hitam.

Angin ribut dan api juga menyerangnya.

Tiba-tiba terdengar bunyi seruling melengking-lengking, makin lama semakin nyaring dan asap hitam, angin ribut dan kobaran api itu seperti terdorong tenaga yang amat kuat sehingga membalik dan menyerang tiga orang itu sendiri!

Tiga orang datuk itu mengerahkan seluruh tenaga batin mereka untuk memperkuat daya serangan mereka, namun tetap saja asap, angin dan api itu membalik sehingga terpaksa mereka menghentikan ilmu sihir mereka kalau tidak ingin menjadi korban daya ciptaan mereka sendiri.

Mereka bertiga menurunkan kedua tangan dan asap, angin dan api itu pun lenyap.

Para anak buah Welut Ireng terbelalak dan bengong menyaksikan adu kekuatan yang aneh itu.

Karena Resi Tejo Wening melindungi mereka, tentu saja mereka berpihak kepada kakek tua renta ini.

Tadi ketika ada asap hitam, angin ribut dar kobaran api menyerang sang resi, mereka semua menjadi gelisah dan khawatir sekali.

Mereka maklum bahwa kalau sang resi kalah, tentu nyawa mereka terancam maut di tangan tiga orang sakti itu.

Akan tetapi ternyata, dengan suara sulingnya, Resi Tejo Wening dapat mengalahkan ilmu sihir ketiga orang penyerangnya.

Setelah tiga orang itu menghentikan serangan mereka, sang resi juga menghentikan tiupan sulingnya dan menyelipkan kembali seruling itu di ikat pinggangnya.

Melihat betapa ilmu sihir mereka, seperti juga suara tawa mereka tadi, dikalahkan dengan mudah oleh sang resi, tiga orang datuk itu menjadi penasaran dan marah sekali.

Mereka saling pandang dan mereka telah bersepakat untuk mempergunakan aji pukulan sakti mereka, pukulan yang mengandung tenaga sakti yang amat kuat.

Kalau resi yang tua renta itu mampu mengalahkan ilmu sihir mereka, belum tentu tubuh tua yang tampak ringkih itu akan mampu bertahan terhadap aji pamungkas mereka yang dilakukan berbareng!

Ki Harya Baka Wulung melakukan gerakan seperti tadi ketika dia merobohkan Ki Bargowo.

Dia menekuk kedua kaki sampai hampir berjongkok, kedua tangan mendorong ke depan dan berteriak nyaring.

"Aji Cantuka Sakti!"

Wiku Menak Koncar juga mengerahkan aji pamungkasnya.

Dia berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, punggungnya membungkuk dalam seperti seekor lembut hendak menanduk lalu mendorongkan kedua tangan sambil berteriak lantang.

"Aji Nandaka Kroda!"

Pada saat yang bersamaan, Kyai Sidhi Kawasa juga mengerahkan aji pamungkasnya.

Dia menekuk lutut kanannya dan menarik kaki kiri ke belakang lalu kedua tangannya didorongkan ke depan sambil berteriak pula.

"Aji Hastanala!"

Serangan tiga orang datuk itu dilakukan dengan berbareng.

Memang mereka sengaja melakukan serangan secara berbareng dan serangan itu bukan main dahsyatnya.

Baru Aji Cantuka Sakti (Katak Sakti) itu saja tadi telah menewaskan Ki Bargowo yang digdaya.

Aji Nandaka Kroda (Banteng Marah) itupun tidak kalah hebatnya.

Hantamannya dapat menghancurkan sebongkah batu besar dan menumbangkan sebatang pohon jati sebesar orang.

Aji Hastanala (Tangan Api) lebih hebat lagi.

Apa saja yang dilanda aji ini akan tumbang dan hangus seperti disambar petir!

Kini ketiga aji yang amat dahsyat itu menyambar secara berbareng ke arah tubuh kakek tua yang tampak ringkih itu!

Anehnya, Resi Tejo Wening tidak melawan sama sekali!

Kakek ini bahkan merangkap tangannya depan dada seperti menyembah.

Puluhan orang anak buah Welut Ireng memandang dengan mata terbelalak dan wajah pucat.

Mereka semua dapat menduga akan kedahsyatan serangan tiga orang itu.

Tiga orang anak buah Welut Ireng yang memegang tombak tidak dapat menahan kekhawatiran mereka.

Dengan nekat mereka lalu melompat dan menyerang tiga orang itu dengan tusukan tombak mereka.

"Aauugghhh !"

Tiga orang itu terpental dan terbanting roboh, hanya sempat mengeluarkan teriakan itu karena mereka bertiga telah tewas dan dari mulut mereka mengalir darah segar!

Mereka tidak tahu bahwa tubuh tiga orang datuk pada saat itu sedang mengeluarkan hawa yang mengandung tenaga sakti yang amat hebat sehingga sebelum tombak mereka menyentuh tubuh tiga orang datuk itu, ada hawa dahsyat membuat mereka terpental dan tewas seketika.

Kini hawa pukulan sakti tiga orang datuk itu sudah menghantam ke arah Resi 'I'ejo Wening.

Akan tetapi apa yang terjadi?

Tenaga sakti tiga orang itu seperti menghantam udara kosong, seolah tenggelam ke dalam air samudera.

Tiga orang itu merasa penasaran dan kini merek menerjang maju, hendak menyerang langsung dengan tangan mereka.

Akan tetapi ketika tangan mereka.

menyambar ke arah dada dan kepala Resi Tejo Wening, mereka bertiga seolah terdorong oleh hawa yang teramat kuat sehingga ketiganya mundur dan terhuyung-huyung.

Bertemu dengan hawa itu, tenaga pukulan merek membalik.Mereka bertiga saling pandang dengan muka berubah pucat.

Kini baru mereka bertiga yakin bahwa mereka berhadap; dengan orang yang sakti mandraguna, yang tanpa pengerahan tenaga sakti sudah terlindung oleh kekuatan yang maha dahsyat.

Melihat Resi Tejo Wening masih merangkap kedua tangan depan dada seperti sembah, tiga orang itupun menyembah dengan kedua tangan dirangkap depan dada dan Ki Harya Baka Wulung mewakili teman temannya berkata dengan suara rendah.

"Resi Tejo Wening, sekali ini ka mengaku kalah. Akan tetapi kami tidak akan berhenti berjuang sebelum kerajaan Mataram yang murka itu dapat dihancurkan."

"Kalau Hyang Widhi Wasa tidak menghendaki, kekuasaan apapun tidak mungkin dapat menghancurkan Mataram. Aku tidak akan mencampuri pertikaian antara saudara sendiri, akan tetapi aku akan selalu berupaya untuk membantu kehendak Hyang Widhi, berusaha menjadi alat yang baik dari Hyang Widhi."

"Babo-babo, kita sama lihat saja nanti siapa yang benar di antara kita,"

Kata Wiku Menak Koncar.

Setelah berkata demikian, Wiku Menak Koncar dan dua orang temannya membalikkan tubuh dan melangkah pergi menuruni puncak Argadumilah.

Entah siapa yang mendahului, limapuluh lebih anggauta Welut Ireng itu lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap Resi Tejo Wening dan memberi hormat dengan sembah.

"Bapa Resi, paduka telah menyelamatkan nyawa kami. Terima kasih kami ucapkan atas budi pertolongan paduka,"

Kata seorang di antara mereka yang mewakili semua temannya.

"Sudahlah, jangan berterima kasih kepadaku. Kalau hendak berterima kasih bersyukur dan berterima kasihlah kepad Sang Hyang Widhi karena hanya Dia yang kuasa menyelamatkan semua orang. Sekarang lebih baik kalian mengurus jenasa Ki Bargowo dan teman-teman kalian yang tewas. Setelah itu, susunlah kembali perkumpulan kalian dan kalian pilih sendiri siapa yang patut menggantikan mendiang Ki Bargowo dan menjadi ketua baru."

Setelah berkata demikian, Resi Tejo Wening mengangkat tangan kanannya seperti hendak memberi doa restu, kemudia dia melangkah pergi dengan santai.

Para anak buah perkumpulan Welut Ireng itu, lalu mengangkat jenasah Ki Bargowo dan tiga orang kawan yang baru saja menyerang tiga datuk itu dan tewas juga ada lima orang kawan lain yang telah tewas lebih dulu ketika tiga orang datuk itu menyerang mereka dengan gelombang suara tawa.

Mereka menggotong mayat-mayat itu turun dari puncak Argadumilah untuk dicarikan tempat yang baik di lereng bawah dan mengubur mayat-mayat itu.

Desa Pakis merupakan sebuah desa yang cukup besar.

Penduduknya banyak dan mereka semua hidup sebagai petani di lereng Gunung Lauw sebelah timur laut yang tanahnya subur.

Desa Pakis dikepalai seorang Demang maka daerah Pakis disebut Kademangan Pakis.

Demang itu Bernama Demang Wiroboyo, seorang lakilaki bertubuh tinggi besar, kumisnya sekepal sebelah sehingga tampak gagah dan inenyeramkan.

Usia Wiroboyo sekitar empatpuluh tahun.

Dia sebenarnya merupakan seorang kepala dusun yang baik dan bijaksana, tidak menindas rakyatnya, bahkan selalu berusaha untuk menyejahterakan kehidupan rakyat dusun Kademangan Pakis.

Dia disegani dan dihormati semua orang di daerah Kademangan Pakis.

Akan tetapi, di manakah terdapat anusia yang tanpa cacad?

Demikian pula Ki Wiroboyo, di samping kelebihannya, juga terdapat kekurangannya.

Kekurangannya itu adalah bahwa dia seorang laki-laki mata keranjangi Di dalam rumah besar kademangannya, dia sudah mempunyai tiga orang isteri.

Aka tetapi, matanya masih saja menjadi liar kalau dia melihat wanita cantik.

Hanya satu hal yang merupakan pantangan bagi Ki Wiroboyo.

Betapapun cantiknya seorang wanita sampai membuat dia tergila-gila dia tidak akan mengganggunya kalau wanita itu sudah mempunyai suami.

Dia tidak mau mengganggu isteri orang.

Yang diburu hanyalah wanita yang masih gadis atau janda.

Akan tetapi, kalau nafsu berahi sudah memenuhi kepalanya dalam mengejar seorang gadis atau janda, dia akan berupaya sekuat tenaga untuk mendapatkan wanita itu.

Tentu saja pertama-tama dengan cara memikat.

Harta dan kekuasaannya menjadi umpan ditambah janji-janji muluk.

Dan kalau sudah tergila-gila, timbullah kejahatannya.

Untuk mendapatkan seorang gadis atau janda yang membuatnya tergila-gila, dia tidak segan menggunakan kekerasan, mengandalkan kedudukannya sebagai orang yang paling berkuasa di Kademangan Pakis.

Karena tabiat Demang Wiroboyo ini, banyak orang tua yang memiliki anak gadis yang tergolong cantik, mengungsikan anak gadis mereka ke dusun lain atau terpaksa sekeluarga pindah tempat.

Lain lagi ulah sebagian besar para janda.

Mereka ini bahkan bersaing dan berlomba untuk dapat menarik hati sang demang.

Menjadi kekasih demang berarti datangnya uang dan kehormatan!

Di ujung Kademangan Pakis, dekat pintu gerbang dusun itu terdapat sebuah rumah pondok sederhana, namun dikelilingi taman yang terawat baik sehingga keadaan di situ menyenangkan.

Itu adalah rurnah dari seorang duda bernama Ronggo Bangak.

Telah sepuluh tahun dia tinggal di Pakis dan hidup sebagai ahli pembuat patung dari kayu yang diukir indah.

Penduduk dusun Pakis tidak mengenal riwayatnya, hanya mengetahui bahwa Ronggo Bangak adalah seorang yang masih berdarah bangsawan dan pendatang dari pesisir utara, dekat daerah Demak.

Dia hidup seorang diri di pondoknya, akan tetapi sejak lima tahun yang lalu dia mempunyai seorang murid yang hampir setiap malam datang berkunjung.

Muridnya itu seorang pemuda yang kini telah berusia delapanbelas dan bekerja sebagai pemelihara kuda.

Nama pemuda itu adalah Parmadi, seorang remaja putera yang sudah yatim-piatu sejak dia berusia sepuluh tahun.

Karena dia kematian kedua orang tuanya dan tidak mempunyai keluarga lagi, Demang Wiroboyo menerimanya sebagai seorang pekerja di rumahnya.

Mula-mula sebagai kacung dan pembantu serabutan.

Kemudian dia diangkat menjadi tukang mengurus kuda milik Ki Demang yang berjumlah tujuh ekor.

Sejak dia berusia tigabelas tahun, Parmadi mulai tertarik dengan pekerjaan Ronggo Bangak dan seringkali datang berkunjung.

Akhirnya dia diterima sebagai murid dan setelah semua kuda diberi makan dan dimasukkan kandang, Parmadi lalu pergi ke rumah Ronggo Bangak.

Dari lelaki seniman ini dia mempelajari banyak hal.

Belajar membaca dan menulis, mengukir dan membuat patung, meniup seruling dan tata-krama.

Lima tahun sudah dia berguru kepada Ronggo Bangak yang disebutnya paman, hubungan di antara mereka akrab sekali.

Pada suatu malam ketika Parmadi datang ke pondok Ronggo Bangak, laki-laki berusia sekitar limapuluh tahun itu berkata kepadanya.

"Parmadi, telah kurang lebih lima tahun engkau mempelajari sastra dan seni ukir di sini. Ternyata engkau berbakat dan rajin sekali sehingga aku senang sekali mengajarimu. Kini engkau memiliki modal kepandaian yang lumayan. Engkau pandai membaca dengan lancar, tulisanmu cukup indah dan engkaupun sudah pandai mengukir dan membuat patung. Aku ikut merasa bangga dan senang sekali, Parmadi."

Ronggo Bangak menatap wajah Parmadi dan diam-diam dia mengagumi remaja itu.

Parmadi, sungguhpun hanya seorang dusun pegunungan, namun memiliki wajah yang tampan dan ganteng, pantas menjadi pemuda bangsawan sekalipun.

Pakaiannya sebagai abdi yang sederhana itu tidak menyembunyikan ketampanannya.

Wajahnya tampan dan gagah, pandang matanya lembut, hidungnya mancung dan wajahnya selalu cerah dengan bibir yang membayangkan senyum.

Perawakannya sedang namun tegap karena dia sudah biasa bekerja keras sejak kecil di rumah Ki Demang.

Parmadi memandang wajah Ronggo Bangak dengan sinar mata mengandung rasa terima kasih.

Wajah orang setengah tua itu tampak bersih dan tampan, sepasasang matanya memiliki bulu mata yang panjang, lentik, ciri khas kaum bangsawan, tubuhnya jangkung agak kurus dan gerak-geriknya lembut.

"Berkat bimbingan paman maka saya dapat mempelajari semua itu. Saya amat berterima kasih kepada paman."

"Ah, sudah berulang kali kukataka engkau tidak perlu berterima kasih kepadaku, Parmadi. Berterima kasihlah kepada dirimu sendiri, kepada semangat dan ketekunanmu sendiri. Apa artinya bimbing. seorang guru kalau si murid tidak tekun belajar? Seorang guru hanya memberi petunjuk dan kemajuan si murid tergantung kepada murid itu sendiri. Aku hanya ingin mengingatkan kepadamu, Parmadi. Namamu mirip nama Permadi, yaitu nama kecil dari Janoko atau Harjuno ksatria panengah Pandowo. Tirulah sifat dan sepak terjangnya, Parmadi. Dia rendah hati, lemah lembut, dan bersusila. Akan tetapi untuk membela kebenaran dan keadilan, dia berjuang tanpa pamrih dan berani berkorban namun tidak kejam. Hormat dan tidak menjilat kepada atasan atau yang lebih tua, membimbing dan tidak menekan kepada bawahan atau yang lebih muda."

"Semua nasihat paman masih saya ingat semua dengan baik dan mudah-mudahan saya akan mampu melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari."

"Sekarang aku ingin memberi tahu kepadamu bahwa besok pagi-pagi aku hendak pergi meninggalkan Kademangan Pakis dan mungkin selama sepekan lebih aku baru pulang."

"Ah, paman hendak pergi ke manakah, kalau saya boleh bertanya?" 'Aku akan pergi ke Demak untuk menjemput anakku."

"Wah, paman mempunyai anak? Belum pernah paman ceritakan kepada saya. Berapakah usianya, paman? Laki-laki atau perempuan?"

Tanya Parmadi dengan nada gembira.

"Dahulu aku tinggal di pesisir utara bersama isteriku dan seorang anak perempuan kami. Akan tetapi sepuluh tahun yang lalu isteriku meninggal"."

Wajah K Ronggo Bangak tampak muram.

"Maafkan saya, paman, kalau pertanyaan saya mengingatkan paman akan hal-hal yang menyedihkan."

Mendengar ucapan Parmadi, wajah Ronggo Bangak menjadi terang kembali "Tidak mengapalah, Parmadi.

Bukan salahmu, melainkan karena kelemahanku sendiri.

Karena isteriku meninggal dunia, maka aku lalu menitipkan anak perempuan kam itu kepada neneknya dan aku lalu berpindah ke sini.

Ketika kutinggalkan kepada neneknya, Muryani berusia enam tahun.

Sekarang ia tentu telah menjadi seorang gadis remaja berusia enambelas tahun.

Aku mendapat kabar bahwa ibuku yaitu neneknya, menderita sakit, karena itu aku harus pergi ke sana dan mungkin Muryani akan kuajak pindah ke sini."

"Kalau begitu, selamat jalan, paman. Saya akan berkunjung ke sini setiap sore selepas kerja dan akan saya bersihkan halaman depan."

"Baik, dan terima kasih, Parmadi. Ini ada sebuah kitab Bhagawad Gita agar engkau baca dan renungkan isinya. Engkau akan memperoleh banyak pengertian tentang kehidupan dari kitab ini, Parmadi."

Ronggo Bangak menyerahkan sebuah kitab yang sudah tua kepada pemuda itu. (Lanjut ke

Jilid 02) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 02

"Terima kasih, paman."

Pada keesokan harinya, Ronggo Bangak meninggalkan dusun Pakis di lereng Lawu itu dan melakukan perjalanan ke utara.

Parmadi memenuhi janjinya.

Setiap petang selepas kerja dia tentu datang ke rumah gurunya itu dan membersihkan halaman dari daun-daun pohon yang rontok.

Dia membersihkan taman, menyirami dan merawat tanaman bunga, mencabuti rumput-rumput liar.

Akan tetapi Ronggo Bangak yang dia tunggu-tunggu itu tak kunjung pulang.

Sampai hampir sebulan Parmadi setiap hari datang membersihkan taman dan halaman dan pada suatu petang, ketika Parmadi sedang menyirami bunga, Ronggo Bangak datang bersama seorang gadis remaja.

"Paman sudah pulang?"

Seru Parma yang menyambut mereka dengan giran "Paman baik-baik saja dan tidak ada halangan dalam perjalanan, bukan?"

"Parmadi, engkau masih datang setiap petang di sini? Ah, engkau tentu menunggu-nunggu kembaliku. Sampai hampir sebulan aku baru pulang. Kenalkan ini anakku Muryani. Nini, ini adalah Parmadi seperti yang pernah kuceritakan padamu. Sebut dia kakang."

Cuaca petang itu sudah remang-remang Pemuda dan gadis itu saling pandang dan saling membungkuk.

"Kakang Parmadi...."

Terdengar lirih dari mulut gadis itu.

"Adi Muryani"."

Kata pula Parmadi dengan sopan.

"Mari kita masuk dan bicara di dalam kata Ronggo Bangak sambil membuka pintu rumah. Mereka masuk dan Ronggo Bangak mengajak anaknya membawa buntan masuk ke dalam sebuah kamar yang memang sudah dia sediakan untuk kamar anaknya. Kemudian dia keluar dan duduk berhadapan dengan Parmadi, terhalang meja.

"Engkau tentu tidak sabar menunggu kembaliku, Parmadi. Sampai hampir sebulan aku terpaksa belum dapat pulang."

"Saya merasa khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu yang menghalangi paman untuk pulang,"

Kata Parmadi.

"Tidak salah. Memang terjadi sesuatu yang memaksa aku menunda kepulanganku. Ibuku, nenek Muryani, telah meninggal dunia."

"Ah, saya ikut berbela sungkawa, paman."

"Kematian ibuku wajar, Parmadi. Beliau sudah tua dan sakit-sakitan. Karena aku harus mengurus dulu kematiannya, maka baru hari ini aku dapat pulang. Tentu saja Muryani ikut bersamaku karena di sana yang ada hanya neneknya itulah."

Ronggo Bangak menyalakan beberapa buah lampu gantung dalam pondok itu.

Tak, lama kemudian Muryani keluar dari dalam kamarnya.

Ia sudah mandi dan berganti pakaian.

Kesusilaan membuat Parmadi tidak berani memandang langsung dan dia hanya menunduk.

Akan tetapi keinginan tahu membuat dia melirik dan akhirnya tanpa disadarinya dia mengangkat muka.

Kebetulan Muryani juga memandang kepadanya.

Dua pasang mata bertemu pandang.

Di bawah sinar lampu gantung, mereka kini dapat saling pandang dan melihat jelas wajah masing-masing, tidak seperti tadi ketika bertemu pertama kali mereka terhalang oleh cuaca yang remang-remang.

Parmadi terpesona.

Belum pernah dia melihat yang seindah itu!

Yang secantik manis itu!

Betapa jelitanya gadis remaja Itu!

Rambutnya hitam agak berikal dan panjang sampai ke punggung, dibiarkan terurai karena habis keramas dan masih basah.

Sinom (anak rambut) yang halus melingkar-lingkar menghiasai bagian atas dahinya.

Wajahnya agak bulat dengan dagu runcing.

Sepasang alisnya tampak hitam di atas dasar dahinya yang putih mulus.

Kemudian sepasang matanya seperti bintang kejora, lebar dengan ujung meruncing dan agak berjungat, manik matanya jernih sekali, putihnya metah dan hitamnya pekat bersinar-sinar dan jeli.

Keindahan mata itu semakin manis karena dihias bulu mati yang panjang tebal dan lentik sehingga pelupuk mata itu seakan dilingkari garis hitam.

Hidungnya kecil mancung dan mulutnya!

Entah mana yang lebih indah mempesona antara matanya dan mulutnya!

Seperti juga matanya, mulut itu mengandung gairah yang memiliki daya tarik luar biasa.

Lengkung bibirnya begitu jelas seperti gendewa terpentang.

Sepasang bibir itu merah basah bukan karena pemerah bibi melainkan karena sehat, bibir bawah yang lembut penuh itu seperti mencebil akan tetapi tidak mengejek melainkan menggairahkan dan menggemaskan.

Kalau sepasang bibir itu agak terbuka maka tampak deretan gigi seperti mutiara berbaris, putih mengkilap.

Pipinya putih mulus dan halus agak ke belakang di depan telinga kult pipi itu kemerahan seperti buah tomat Lehernya panjang dan tegak, bagian belakang di belakang daun telinga terhias anak rambut melingkar-lingkar lembut.

Tubuh yang bagaikan bunga mulai mekar itu sudah membayangkan bahwa beberapa tahun lagi tubuh itu akan amat indah dengan lekuk-lengkung sempurna.

Pinggangnya ramping perutnya datar, dada dan pinggulnya padat.

Parmadi melongo, matanya tak pernah berkedip, mulutnya ternganga.

"Duduklah, nini!"

Kata Ronggo Bangak. Mendengar suara ini, Parmadi merasa seolah diseret kembali ke dunia sadar dan dia tersipu dan dengan gugup dia bangkit dan menyodorkan sebuah bangku kepada gadis itu.

"Ah, ya".. duduklah, Muryani."

Mereka duduk berhadapan, terhalang meja.

Akan tetapi setelah kini sadar sepenuhnya, tidak dicengkeram pesona oleh keayuan Muryani, Parmadi teringat akan sesuatu dan dia mengerutkan alisnya, hatinya dicekam kekhawatiran.

Ronggo Bangak yang sudah lima tahun menjadi guru Parmadi, sudah mengenal perasaan yang terbayang di wajah pemuda itu.

"Parmadi, engkau merisaukan sesuatu. Ada apakah?"

Parmadi tidak merasa terkejut ketika gurunya membaca isi hatinya.

Dia tidak pernah dapat menyembunyikan sesuatu dari pandang mata gurunya yang tajam waspada.

Dan diapun biasa berterus terang tidak menyimpan rahasia hatinya kepada Ronggo Bangak.

"Maafkan kalau saya lancang bicara, Paman. Akan tetapi, paman telah mengajak adik Muryani pulang ke sini. Apakah hal ini tidak menimbulkan bahaya?"

"Menimbulkan bahaya? Bahaya apakah yang kaumaksudkan, kakang Parmadi?"

Tanya Muryani sambil menatap wajah pemuqa itu dengan matanya yang jeli itu terbelalak.

Parmadi juga memandangnya dan ia tidak tahan untuk menentang pandang mata yang amat tajam itu dan menundukkan pandang matanya.

Akan tetapi pertanyaan gadis itu membuat dia gugup dan salah tingkah.

Dia menganggap bahwa hal itu terlalu kotor untuk dibicarakan dengan seorang dara seperti Muryani.

"Anu.... eh, di sini ada Ki Demang Wiroboyo.... dia.... dia itu orang jahat...."

"Hmm, apa yang kau maksudkan, kakang Parmadi? Bicaralah yang jelas, aku tidak mengerti ke arah mana tujuan kata-katamu. Apa hubungannya demang yang jahat dengan kehadiranku di dusun ini?"

Ki Ronggo Bangak sudah paham apa yang dikhawatirkan Parmadi dan dia tahu pula bahwa pemuda itu merasa rikuh untuk menceritakan bahaya yang dapat mengancam Muryani. Maka dia lalu berkata.

"Nini, aku mengerti apa yang dimaksudkan Parmadi."

"Nah, kalau begitu tolong jelaskan, Ayah. Apa yang dimaksudkan dengan bahaya itu?"

Tanya Muryani sambil memandang kepada ayahnya.

"Yang menjadi kepala Kademangan Pakis ini adalah Ki Demang Wiroboyo. Sebetulnya harus diakui bahwa dia seorang demang yang bijaksana dan baik terhadap para penduduk pedusunan. Akan tetapi dia mempunyai satu kelemahan atau cacad yaitu wataknya mata keranjang, tidak memembiarkan bathuk klimis (dahi mulus) lewat begitu saja. Dia seorang laki-laki yang haus wanita cantik. Setiap kali melihat seorang gadis atau janda cantik, pasti akan diganggunya sehingga para gadis cantik di dusun ini banyak yang diungsikan oleh orang tua mereka, pindah ke dusun lain. Nah, Parmadi agaknya khawatir kalau engkau akan diganggu oleh Ki Demang W iroboyo."

Mendengar keterangan ini, tiba-tiba Muryani meloncat dari atas kursinya, berdiri tegak dan mengepal kedua tangannya menjadi tinju kecil.

Matanya bersinar tajam dan keras, wajahnya berubah kemerahan, sepasang alis yang hitam melengkung indah itu berkerut, mulutnya yang menggairahkan itu kini ditarik membayangkan kemarahan.

"Jahanam keparat busuk!"

Ia mendesis marah.

"Kalau dia berani mengganggu aku, akan kuhancurkan kepalanya!"

Ia mengumangkan tinju kanannya ke atas.

Melihat ini, hampir Parmadi tidak dapat menahan tawanya.

Dara jelita itu sama sekali tidak tampak menakutkan kalau marah-marah seperti itu dan mengancam hendak mempergunakan kekerasan, melainkan tampak lucu sekali.

"Hushh, nini, jangan bersikap seperti itu. Tidak pantas seorang gadis bersikap seperti itu. Engkau bukan Srikandi atau Larasati,"

Ronggo Bangak menegur puterinya. Yang dia sebut Srikandi dan Larasati adalah dua orang dari isteri-isteri Harjuno yang merupakan wanita-wanita gagah perkasa dan digdaya.

"Paman Ronggo benar, adi Muryani. K Demang Wiroboyo adalah seorang yang kuat, tidak ada seorang pun di kademangan ini yang berani menentangnya dan dia mempunyai puluhan anak buah. Kita tidak akan mampu berbuat apapun untuk menentangnya."

Muryani menjadi semakin marah. Ia membanting-banting kaki kanannya dan berkata.

"Kenapa ayah dan kakang Parmadi menjadi laki-laki bersikap begini lemah dan penakut? Aku tidak takut menentang siapapun kalau dia jahat dan sewenang-wenang. Sampai di manakah kedigdayaan demang itu? Kalian lihat...!"

Gadis itu lalu melompat keluar dari rumah.

Gerakannya melompat tangkas sekali seperti seekor kijang.

Ketika Ronggo Bangak dan Parmadi hendak mengejarnya, ia sudah tumpak masuk kembali dan ia telah membawa sebongkah batu gunung sebesar perut kerbau!

Dua orang laki-laki itu terbelalak.

Bagaimana gadis itu mampu mengangkat batu sebesar itu dengan tangan kiri saja dan membawa batu itu masuk seolah-olah batu itu sebuah benda ringan saja?

Ketika Muryani meletakkan batu besar itu ke atas lantai, seluruh bangunan pondok kayu itu tergetar, menandakan bahwa batu itu berat sekali.

"Ayah dan kakang Parmadi, lihatlah batu ini dan katakan, apakah kiranya kepala demang hidung belang itu lebih kuat dan lebih keras daripada batu ini?"

Setelah berkata demikian, dara jelita itu mengambil sikap, kedua kakinya dipentang dan berdiri kokoh, kemudian ia meniup tangan kanannya, lalu tangan kanan itu diangkat ke atas kepalanya, lalu diayun ke bawah menghantam batu itu dengan jari-jari terbuka.

"Haiiiitttt blarrrr....!"

Batu sebesar perut kerbau itu hancur berantakan seperti tertimpa martil yang besar dan berat sekali.

Dua orang laki-laki itu melindung muka mereka dengan kedua tangan agar jangan terkena sambaran pecahan batu Kemudian mereka menurunkan kedua tangan dan memandang kepada Muryani, dengan mata terbelalak dan mulut ternganga!

"Nini Muryani "..kau".

kau...."

Kata Ronggo Bangak sambil memandang wajah puterinya.

Muryani merangkul pundak ayahnya dengan sikap manja.

Lenyap sudah kini kegarangan yang tadi membayang pada pandang mata dan tarikan mulutnya dan ia berubah menjadi seorang dara cantik jelita yang manja terhadap ayahnya.

"Ayah, ketika ayah berada di Demak menjemputku, aku sudah mengatakan bahwa aku telah mempelajari aji kanuragan sejak kecil. Bahkan aku menjadi murid utama dari Bapa Guru Ki Ageng Branjan ketua dari perguruan Bromo Dadali di puncak Gunung Muria. Akan tetapi agaknya ayah tidak begitu memperhatikan atau mungkin tidak percaya kepadaku. Nah, sekarang aku membuktikan kemampuanku dan kuharap ayah dan kakang Parmadi tidak takut lagi kepada Ki Demang Wiroboyo itu. Kalau dia berani kurang ajar, aku akan menghajarnya!"

"Bukan main! Nini, kukira tadinya engkau hanya sekedar mempelajari pencak silat untuk olah raga saja, tidak tahunya engkau telah memiliki kedigdayaan. Akan tetapi, kuharap engkau tidak akan mempergunakan itu dan membuat onar di dusun ini, nini. Kalau aku berani membawamu pulang ke sini, tentu sudah kuperhitungkan watak demang itu dan aku sanggup menghadapinya dengan kelembutan, bukan kekerasan. Ketahuilah bahwa jelek-jelek aku di kademangan ini dihormati orang, bahkan Ki Demang Wiroboyo juga menaruh rasa hormat kepadaku. Aku adalah seorang sastrawan dan seniman yang tidak pernah menggunakan kekerasan akan tetapi semua orang menghargai dan menghormatiku. Kalau Ki Demang Wiroboyo berani mengganggumu, aku dapat menasihatinya dan menyadarkannya."

"Paman Ronggo berkata benar, Muryani. Ada ajaran yang mengatakan. Surodhiro jayaningrat lebur dening pangastuti (Keberanian, kegagahan dan kejayaan dunia hancur oleh kerendahan hati)."

"Begitukah? Aku mendapatkan ajaran lain, kakang Parmadi. Guruku, Bapa Guru Ki Ageng Branjang mengatakan bahwa kita harus bersikap seperti domba terhadap orang yang baik akan tetapi bersikap seperti harimau terhadap orang yang jahat. Membalas kebaikan dengan kelembutan akan tetapi menghadapi kejahatan dengan keadilan yang tentu saja harus didukung oleh kekuatan!"

"Nini, sungguh aku tidak mengerti. Bagaimana aku yang sejak muda selalu menghargai keindahan dan kelembutan, mengutamakan pembangunan menjauhi pengrusakan, sekarang mempunyai anak yang hidupnya berlandaskan kekerasan?"

"Maafkan aku, ayah. Akan tetapi aku tidak hidup berlandaskan kekerasan, melainkan keadilan. Guruku menggemblengku untuk selalu membela kebenaran dan keadilan, membela yang lemah tertindas dan menentang yang kuat sewenang-wenang. Kita lihat saja perkembangannya nanti mengenai Ki Demang Wiroboyo, siapa yang lebih benar di antara pendapat kita."

Ucap Muryani.

Beberapa hari kemudian, pada suatu pagi selagi Parmadi memberi makan tujuh ekor kuda dalam kandang yang besar itu, muncullah Muryani.

Gadis ini bertanya kepada penjaga gedung kademangan di mana udanya Parmadi dan setelah diberi tahu bahwa Parmadi berada di kandang kuda, ia langsung memasuki bagian belakang gedung itu.

Kandang kuda itu berada di sudut kebun belakang, terpisah agak jauh dari gedung.

"Kakang Parmadi!"

Muryani memanggil ketika melihat pemuda itu sedang sibuk member makan kuda.

Parmadi menoleh dan dia terkejut melihat munculnya Muryani di tempat itu.

Betapa beraninya gadis itu!

Gadis jelita seperti ia sengaja datang ke kademangan seperti seekor domba mendekati guha harimau!

Akan tetapi dia segera teringat bahwa Muryani sama sekali bukan domba melainkan seekor harimau betina!

Betapa pun juga, Parmadi merasa khawatir juga.

Gadis itu seperti mencari perkara, mencari penyakit.

Akan lebih tenteram rasa hatinya kalau gadis itu tidak pernah bertemu dengan Ki Demang Wiroboyo.

"Muryani! Andika kenapa datang tempat ini?"

Mendengar nada pertanyaan pemuda itu dan melihat alisnya berkerut, Muryani bertanya.

"Kakang, apakah engkau tidak senang melihat aku datang mengunjungi dan melihat pekerjaanmu?"

Ditanya begitu, Parmadi menjadi bingung.

"Tentu.... tentu...! Aku senang sekali, Muryani. Akan tetapi...."

"Kalau sudah senang ya sudah, jangan pakai akan tetapi segala. Wah, kuda-kuda ini bagus-bagus! Guruku juga mempunyai tiga ekor kuda sebagus ini dan aku sering menunggang kuda. Kami para murid Bromo Dadali sering berlumba menunggang kuda dan engkau tahu siapa pemenangnya? Aku selalu menjadi juaranya, kakang!"

"Ah, benarkah, Muryani?"

Kata Parmadi sambil memandang ke kanan kiri karena hatinya khawatir kalau-kalau Ki Demang Wiroboyo muncul di situ.

"Agaknya engkau masih belum percaya kepadaku. Kaukira hanya laki-laki saja yang pandai menunggang kuda? Lihat ini!"

Gadis itu mengambil pelana kuda yang tergantung di luar istal, memasangnya di tas punggung kuda dengan terampil meunjukkan bahwa ia sudah terbiasa dengan pekerjaan itu.

Setelah mengikatkan pelana dengan baik, ia lalu berkata kepada Parmadi.

"Aku ingin mencoba sebentar kuda ini, kakang. Kebun di sini cukup luas!"

Tanpa menanti jawaban Parmadi yang seperti orang tertegun, dara itu lalu melompat ke atas punggung kuda.

Gerakan ini pun dilakukan dengan gesit sekali, tubuhnya seringan seekor dadali (burung walet).

Memang, ilmu meringankan tubuh merupakan ilmu andalan dari perguruan Bromo Dadali.

Kuda yang dipilih Muryani itu adalah kuda terbaik milik Ki Demang Wiroboyo, warnanya hitam pekat dan diberi nama Nogo Langking (Naga Hitam).

Begitu merasa punggungnya ditunggangi orang, Nogo Langking mengangkat kedua kaki depannya ke atas, meringkik seperti setan.

Parmadi khawatir kalau-kalau gadis itu akan terlempar dari punggung kuda.

Akan tetapi Muryani malah tertawa dan menyepak perut kuda.

Kuda itu melompat ke depan lalu membalap denga cepat sekali, dikendalikan oleh sepasang tangan yang mahir.

Parmadi memandang kagum.

Jangankan dia atau lain pembantu Ki Demang, bahkan Ki Demang sendiri yang terkenal tangkas berkuda, tidak akan mampu mengendalikan Nogo Langking yang terkenal liar itu seperti yang dilakukan Muryani.

Dia mengikuti larinya kuda dengan pandang matanya dan hanya menggeleng kepala dan menghela napas panjang melihat betapa kuda itu dibalapkan terus keluar dari kebun menuju keluar halaman gedung.

Apa yang dia khawatirkan, tak lama kemudian terjadi.

Ki Demang datang berkunjung ke istal.

Parmadi dengan jantung berdebar tegang pura-pura tidak tahu dan sibuk menambahkan makanan kuda.

Ki Demang menjenguk ke setiap kandang kemudian melihat kandang yang kosong di sebelah kiri.

"Parmadi!"

Dia menegur. Parmadi menoleh dan bersikap seperti orang terkejut.

"Ah, kiranya Paman Demang. Selamat pagi, Paman."

Dia memberi salam sambil membungkuk.

"Parmadi, di mana Nogo Langking?"

Tanya Ki Demang dengan suara membentak.

"No.... Nogo Langking....? Dia.... dia tadi makan rumput...."

Kata Parmadi dengan gagap.

"Jangan bohong engkau! Aku tadi mendengar ringkiknya dan derap kakinya! Karena itulah aku datang menjenguk ke sini. Siapa yang menunggangi Nogo Langking?"

Parmadi memberi hormat dengan membungkuk.

"Maafkan saya, paman Demang. Sesungguhnya yang menunggangi adalah putera paman Ronggo Bangak. Sebetulnya sudah saya cegah, akan tetapi dia hanya ingin merasakan menunggang Nogo Langking yang amat dikaguminya."

Ki Demang Wiroboyo memandang heran.

"Putera Ki Ronggo Bangak? Kapan dia mempunyai putera? Aku tidak pernah melihat dia beristeri atau berputera,"

"Benar, paman. Isteri paman Ronggo sudah meninggal dunia dan ketika dia pindah ke sini, puteranya dia titipkan kepada ibunya. Sekarang ibunya, meninggal dunia dan dia mengajak puteranya tinggal bersamanya di sini."

Parmadi merasa lega melihat bahwa demang itu tidak tampak marah.

"Sekali lagi harap paman suka memaafkan saya."

"Sudahlah, biar saja kalau putera Ronggo Bangak yang menunggangi Nogo Langking. Aku percaya bahwa putera Ronggo tentu baik dan sopan seperti bapaknya."

Pada saat itu terdengar bunyi derap kaki kuda.

Parmadi dan Ki Demang memutar tubuh memandang.

Nogo Langkin datang berlari cepat sekali ditunggang Muryani.

Gadis itu dengan tegak duduk atas punggung kuda dan dengan cekatan dia menarik kendali dan menghentikan larinya kuda di depan Parmadi dan Ki Demang Debu mengepul tinggi dan Muryani tersenyum manis sekali sambil menahan kendali.

Nogo Langking mengangkat kedua ka depan ke atas dan ia meringkik.

"Nogo Langking ini hebat, kakang Parmadi. Tubuhnya kuat dan larinya cepat. Aku suka sekali!"

Ia lalu melompat dengan gerakan yang ringan sekali dari atas punggung kuda.

Parmadi cepat-cepat menuntun kuda itu dan memasukkannya ke istalnya Jantungnya berdebar keras dan penuh ketegangan.

Ki Demang Wiroboyo tercengang dan memandang kepada dara itu dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.

Matanya bersinar-sinar dan dia terpesona.

Belum pernah selama hidupnya dia melihat seorang gadis yang begini cantik jelita, ayu dan kewes luwes.

Cantik jelita dan gagah perkasa ketika menunggang si Nogo Lang king, seperti Woro Srikandi!

"Inikah....

anak Ki Ronggo Bangak?

Puterinya....

Tanyanya kepada Parmadi yan masih sibuk melepaskan pelana dari punggung Nogo Langking.

"Benar, aku adalah Muryani, puteri Ki Ronggo Bangak. Engkau siapakah, paman?"

Tanya Muryani dengan suaranya yang merdu dan lantang.

Sikapnya ramah akan tetapi juga lincah, sama sekali tidak malu-malu atau takut-takut seperti sikap para gadis yang pernah dilihat Ki Demang Wiroboyo.

Hati Ki Demang menjadi kagum dan luga girang sekali.

Seketika dia telah tergila-gila kepada gadis itu.

Dia mengelus kumisnya yang sekepal sebelah dan tersenyum, merasa dirinya seperti Sang Gatutkaca.

Dia bergaya, menggerak-gerakkan alisnya yang tebal dan menjilat bibirnya dulu sebelum menjawab dengan senyum ramah.

"Jeng Muryani puteri Ki Ronggo Baiigak? Perkenalkan, aku adalah Ki Wiroboyo, Demang Pakis. Akulah pemilik kuda Nogo Langking itu."

Muryani memandang pria itu dengan penuh perhatian. Jadi orang inikah yang dianggap berbahaya oleh Parmadi? Ia tersenyum lalu berkata kepada Ki Wiroboyo.

"Kiranya paman yang menjadi demang di dukuh, ini? Aku sudah mendengar dari ayah dan dari kakang Parmadi bahwa paman adalah seorang demang yang baik hati dan bijaksana!"

Ki Wiroboyo menyeringai, hidungnya kembang kempis karena bangga. Lalu dia tertawa.

"Haha-ha, diajeng Muryani. Jangan sebut aku paman, sebut saja kakangmas. Kakangmas Wiroboyo begitu. Aku sendiri sudah menganggap ayahmu sebagai paman. Paman Ronggo Bangak. Heh-hehheh!"

Muryani memperlebar senyumnya.

"Kakangmas? Baiklah, kakangmas Wiroboyo, Andika seorang demang yang bijaksana dan baik. Akan tetapi aku mendengar berita di dukuh ini bahwa andika seorang yang mata keranjang, gila perempuan. Ah, aku tidak percaya itu!"

Parmadi terbelalak.

Betapa beraninya gadis itu!

Dia menjadi khawatir sekali.

Akan tetapi dia hanya mendengarkan, tidak berani mencampuri, menyibukkan diri dengan mengurus makanan Nogo Langking seolah-olah tidak memperhatikan mereka.

"Gila perempuan? Ha-ha-ha-ha! Diajeng Muryani, ketahuilah bahwa setiap orang laki-laki yang jantan dan gagah di seluruh jagad ini menyukai empat hal dan aku juga begitu. Pertama curigo (keris), kedua wanito (wanita), ketiga turonggo (kuda), dan keempat kukilo (burung). Biarpun sekarang aku sudah mempunyai tiga orang isteri, beberapa buah pusaka keris dan tombak yang ampuh, tujuh ekor kuda yang baik di antaranya Nogo Langking, dan belasan ekor burung perkutut yang suaranya kung, tetap saja aku akan selalu tertarik kalau melihat keris ampuh, wanita cantik, kuda yang kuat dan burung yang suaranya merdu. Itu menunjukkan sifat kejantanan seorang pria!"

Biarpun hatinya merasa mendongkol mendengar ucapan itu, namun Muryani tidak ingin berdebat.

Laki-laki di manapun sama saja, pikirnya.

Yang diutamakan hanya kesenangan dirinya.

Wanita dianggap sejajar dengan keris, kuda dan burung, sebagai suatu hiburan yang menyenangkan.

Akan tetapi keadaannya memang pada waktu itu demikian dan pendapat Ki Demang Wiroboyo itu akan dibenarkan oleh semua laki-laki!

Iapun mengalihkan percakapan.

"Kakangmas Wiroboyo, kudamu Nogo Langking ini hebat sekali."

"Andika suka, diajeng Muryani?"

Muryani memandang ke arah kuda h tam yang sedang makan itu dan menganguk.

"Aku suka sekali."

"Bagus! Kalau begitu, bawalah dia pulang. Kuberikan Nogo Langking kepadamu sebagai hadiah perkenalan kita ini!"

Parmadi terkejut mendengar ini dan tahulah dia bahwa seperti yang dia khawatirkan, Ki Demang sudah menyatakan bahwa dia jatuh cinta kepada Muryani sehingga begitu saja dia menghadiahkan kuda kesayangannya kepada gadis itu!

Ketika dia melihat gadis itu memandangnya Parmadi cepat menggeleng kepala memberi isyarat agar gadis itu jangan menerima pemberian itu.

Muryani tersenyum memandang kepada Ki Wiroboyo sehingga demang ini merasa betapa jantungnya berdebar-debar.

Perawan ini kagum dan suka kepadaku, pikirnya girang.

Pantas menjadi isteriku!

Dia kehilangan dua orang isteri mudanya kalau digantikan oleh gadis ini.

"Kakangmas Wiroboyo, beginikah caramu memikat seorang gadis? Dengan pemberian yang berharga?"

Kata Muryani dengan senyum mengejek.

"Ha-ha-ha! Kalau aku jatuh cinta kepada seorang wanita, apapun permintaannya akan kupenuhi. Semua harta bendaku pun akan kuserahkan kalau ia kehendaki! Bawalah si Nogo Langking, diajeng Muryani dan kalau andika masih membutuhkan sesuatu, katakan kepadaku dan aku yang akan memenuhi kebutuhanmu!"

Muryani menegakkan lehernya dan membusungkan dadanya, sepasang matanya mencorong dan suaranya terdengar lantang "Hei, Ki Wiroboyo, bukalah mata dan telingamu, pandang dan dengarkan baik-baik.

Seluruh harta bendamu, bahkan sekalian nyawamu kaukorbankan, masih belum cukup untuk memikat dan menundukkan hatiku.

Terima kasih atas kebaikanmu!"

Setelah berkata demikian, Muryani memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan tempat itu, terus keluar dari pekarangan dan menuju pulang.

Ki Wiroboyo berdiri bengong, tercengang melihat sikap dan mendengar ucapan gadis itu., Hampir dia tidak dapat percaya akan apa yang dilihat dan didengarnya.

Gadis itu demikian cantik jelitanya demikian gagah perkasanya ketika menungganggi Nogo Langking, kemudian demikian keras dan beraninya ketika bicara kepadanya.

Selama hidupnya belum pernah di bertemu dengan perawan yang begitu cantik, begitu gagah, dan begitu beraninya!

Setelah dapat menenangkan hatinya kembali, Ki Wiroboyo menghela napa panjang dan memutar tubuh menghadag Parmadi.

"Perawan yang hebat sekali. Parmadi, gadis puteri Ki Ronggo Bangak itu hebat bukan main. Aku harus mendapatkannya. Ia harus segera menjadi istriku. Parmadi, engkau yang menjadi murid Ki Ronggo Bangak, tentu banyak mengetahui tentang Muryani. Ia tentu belum mempunyai pasangan, bukan?"

Parmadi menggeleng kepalanya.

"Saya tidak tahu, paman."

"Sudah berapa lama ia tinggal bersama Ki Ronggo Bangak?"

"Sudah kurang lebih satu bulan,"

"Heran, mengapa baru sekarang aku melihatnya? Parmadi, engkau harus membantuku agar Muryani dapat menjadi isteriku."

Parmadi menatap wajah demang itu.

"Bagaimana saya dapat membantu paman?' "Engkau murid Ki Ronggo. Tentu engkau dekat dengan anak perempuannya. Bantulah aku membujuk gadis itu agar ia mau menjadi isteriku."

"Saya tidak berani, paman. Muryani dan paman Ronggo akan marah kepadaku dan menganggap saya lancang. Kenapa paman tidak langsung saja bertanya kepada wereka?"

Ki Wiroboyo mengelus kumisnya dan mengangguk-angguk.

"Hemm, engkau benar. Ya, aku harus datang sendiri dan melamarnya kepada Ki Ronggo Bangak! Bagaimana pun juga, Muryani harus menjadi isteriku."

Ki Demang meninggalkan tempat itu dan Parmadi termenung dengan hati diliputi penuh kekhawatiran. Terjadilah atau yang dia takuti semenjak pertama kali bertemu dengan Muryani.

"Selamat pagi, paman Ronggo Bangak!"

Ki Wiroboyo memberi salam dengan sikap hormat.

Ki Ronggo Bangak mengangkat muka dan terheran melihat bahwa yang memberi salam pagi itu adalah Ki Demang Wiroboyo.

Anehnya, Ki Demang itu menyebutnya "paman".

"Ah, kiranya anakmas Demang Wiroboyo."

Dia menjawab dan menyesuaikan sebutan demang itu maka diapun menyebut "anakmas".

"Tumben anakmas datang berkunjung. Silakan masuk!"

Ki Demang Wirosobo memasuki ruangan pondok kayu itu dan dipersilakan duduk oleh Ki Ronggo Bangak.

"Maafkan kalau saya mengganggu kesibukan paman,"

Kata Ki Demang Wiroboyo sambil melihat ukiran patung yang belum jadi, yang agaknya tadi sedang dikerjakan oleh tuan rumah.

"Ah, tidak sama sekali, anakmas. Nah, sekarang katakan apakah yang dapat saya lakukan untuk anakmas, maka sepagi ini nakmas telah datang berkunjung."

Ucapan Ronggo Bangak ini hanya untuk basa-basi saja.

Padahal dia sudah dapat menduga apa maksud kunjungan demang itu karena ia sudah mendengar dari Muryani tentang pertemuan puterinya dengan Ki Demang.

"Saya datang untuk beranjang-sana, Pamain. Sudah lama saya tidak bertemu dengan Paman dan kabarnya Paman baru saja pulang dari kepergian Paman ke pesisir utara selama sebulan lebih."

"Benar, anakmas. Saya pergi mengunjungi ibu saya dan tinggal di sana satu bulan lebih karena ibu saya meninggal dunia baru beberapa hari ini saya pulang."

"Ah, saya ikut berbela sungkawa paman."

"Terima kasih, anakmas. Ibu saya sudah tua sekali dan berpenyakitan. Kematian bahkan membebaskannya dari penderitaan penyakit usia tua."

Pada saat itu, dari dalam muncul Muryani membawa baki berisi poci teh panas dan jagung rebus yang masih mengepul pula.

Ketika ia bertemu pandang, dengan Ki Demang Wiroboyo, gadis itu tersenyum manis dan sambil menaruh hidangan di atas meja, ia berkata, suaranya lembut.

"Silakan minum dan makan hidangan kami seadanya, Paman Demang."

Alis Ki Wiroboyo berkerut mendengar gadis itu menyebutnya "Paman Demang". Dia ingin disebut kakangmas, bukan paman! "Ah, diajeng Muryani, harap jangan repot-repot!"

Katanya, menekankan suaranya ketika menyebut "diajeng". Akan tetapi Muryani sengaja berpura-pura tidak merasakan hal ini.

"Tidak repot, Paman. Hidangan ini sudah ada dan menjadi sarapan kami. Silakan. Saya masih mempunyai kesibukan belakang."

Gadis itu lalu meninggalkan ruangan itu menuju ke belakang.

Bagaikan tersedot besi sembrani mata Ki Wiroboyo mengikuti dan seperti hendak menelan sepasang buah pinggul yang bergerak lembut itu.

Melihat demang itu masih saja memandang ke arah dalam biarpun bayangan Muryani tidak tampak lagi, Ronggo Bangak berkata.

"Silakan, anakmas Demang, mencicipi jagung rebusnya. Masih muda dan baru dipetik, masih panas pula. Silakan."

"Oh ".. ya, terima kasih, paman."

Keduanya mengambil jagung rebus yang sudah dikupas dan makan jagung muda yang manis dan hangat itu.

"Saya pernah bertemu dengan diajeng Muryani.... eh, puteri Paman. Sungguh saya tidak pernah menyangka Paman yang selama ini saya kira hidup seorang diri dan tidak mempunyai keluarga, tahu-tahu mempunyai seorang anak perempuan yang sudah gadis dan.... jelita itu."

"Ah, Muryani hanya seorang gadis dusun yang bodoh,"

Ronggo Bangak merendah walaupun di dalam hatinya timbul juga kebanggaan mendengar puterinya dipuji orang.

"Tidak, paman. Ia cantik jelita seperti bidadari dan juga pandai menunggang kuda. Melihat diajeng Muryani, timbul kekhawatiran di dalam hatiku kalau-kalau ia akan mendapatkan jodoh seorang pria petani dusun yang bodoh dan hidupnya melarat. Itu akan merupakan hal yang sang patut disayangkan dan saya tidak rela melihat ia menjadi isteri petani dan hidup melarat."

"Maksud anakmas Demang bagaimana? Ronggo Bangak bertanya walaupun dalam hatinya dia sudah dapat menduga ke arah mana percakapan itu tertuju. Ki Demang Wiroboyo menghabiskan sisa jagungnya dan menaruh jagung di atas meja, kemudian mengguyur jagung yang masih tertinggal di dalam mulut dan kerongkongannya dengan air memasuki perutnya. Baru kemudian dia menjawab.

"Maksud saya". eh, Paman. Semenjak bertemu dengan diajeng Muryani, saya merasa sangat saying dan cocok dengannya. Sayang sekali kalau sampai ia dijodohkan dengan laki-laki petani dusun. Ia". ia pantas untuk menjadi". pendamping eh, maksud saya, menjadi isteri saya."

Ronggo Bangak tidak merasa kaget atau heran, dia mengangguk-angguk dan sikapnya tenang saja.

"Oo, jadi maksud anakmas Demang ini hendak meminang anak saya Muryani! Begitukah?"

"Benar dan tidak salah, paman. Saya ingin diajeng Muryani menjadi isteri saya, menjadi Nyi Demang. Saya ingin ia dihormati semua orang, ingin mengangkat derajatnya dan membahagiakan hidupnya, hidup mulia, dihormati dan serba kecukupan!"

"Hemm, akan tetapi, maafkan saya, anakmas. Bukankah anakmas sudah mempunyai seorang isteri dan dua orang isteri muda? Apakah masih juga kurang wanita yang melayani anakmas?"

"Ah, itu soal mudah, paman. Saya berniat untuk menceraikan dua orang isteri muda saya dan memulangkannya ke rumah orang tua mereka. Apalagi mereka belum mempunyai anak."

"Dan kelak anakmas juga akan menceraikan dan memulangkan Muryani kepada saya kalau anakmas mendapatkan seorang isteri baru yang lebih muda dan lenih cantik?"

"Ooo".. tidaaak ""

Tentu saja tidaaaak...!

Saya akan menaikkan derajat diajeng Muryani, bahkan kelak kalau mempunyai anak, ia akan saya jadikan isteri pertama!

Saya akan membangun sebuah gedung untuk paman, dan memberi beberapa petak sawah ladang untuk paman kehidupan paman dan diajeng Muryani akan menjadi mulia, terhormat dan terjamin!

Tentu paman menyetujui maksud saya yang amat baik ini, bukan?"

"Nanti dulu, anakmas Demang. Yang dipinang bukanlah saya, yang akan menjalani pernikahan bukan saya pula. Hal ini keputusannya berada dalam tangan orang yang berkepentingan, dalam hal ini anakku Muryani. Terserah kepadanya apakah ia dapat menerima pinanganmu ataukah tidak. Saya akan menanyakan pendapatnya dan keputusannya sekarang juga."

Tanpa menanti jawaban Ki Demang yang tertegun mendengar ucapannya, Ki Ronggo Bangak sudah menoleh ke arah dalam dan berseru memanggil anaknya.

"Nini Muryani! Ke sinilah sebentar!"

Terdengar jawaban gadis itu dari bagian belakang pondok itu dan tak lama kemudian Muryani muncul di ambang pintu memasuki ruangan itu, disambut pandang mata kelaparan dari Ki Demang.

"Duduklah, nini. Aku hendak membicarakan hal penting denganmu."

Muryani duduk di sebelah ayahnya, berhadapan dengan Ki Demang Wiroboyo terhalang meja.

"Ada apakah, ayah?"

Tanyanya lirih.

Ki Wiroboyo memandang gadis yang menoleh kepada ayahnya itu dengan hati berdebar tegang.

Gadis itu sedemikian dekat dengannya.

Sekali menjulurkan tangan saja dia sudah akan dapat menyentuhnya.

Dia dapat mencium keharuman bunga melati yang sedap.

Beberapa kuntum melati terselip di antara sanggul rambut yang hitam agak berombak itu.

Betapa manisnya!

"Begini, Muryani,"

Kata Ki Ronggo Bangak dengan sikapnya yang tenang.

"Kunjungan anakmas Demang ini adalah untuk meminang dirimu menjadi isteri mudanya. Aku tidak dapat memberi keputusan karena hal ini terserah kepadamu yang akan menjalani. Karena itu, aku memanggilmu ke sini agar engkau sendiri yang memberi jawaban dan keputusan kepada anakmas Wiroboyo."

Muryani mengembangkan senyum tipis dan ia menoleh kepada Ki Wiroboyo yang juga memandang kepadanya. Ki Wiroboyo cepat berkata.

"Diajeng Muryani, engkau akan kujadikan isteri mudaku yang tunggal karena dua orang isteri mudaku akai kuceraikan dan kupulangkan kepada orang tua mereka. Jangan khawatir, biarpun engkau menjadi isteri mudaku akan tetapi engkau yang akan berkuasa di rumahku. Engkau akan hidup mulia, terhormat, dan serba kecukupan. Juga ayahmu akan kubangunkan sebuah gedung."

"Ki Demang Wiroboyo,"

Kata Muryani dan suaranya terdengar lembut namun berwibawa.

"Aku telah berjanji kepada diriku sendiri bahwa pria yang akan menjad suamiku harus memenuhi tiga syarat. Satu saja di antara tiga syarat itu tidak dapat dipenuhi, aku tidak sudi menjadi isterinya; Kalau andika dapat memenuhi tiga buah syaratku itu, barulah aku bersedia untu menjadi isterimu."

"Katakan apa tiga syaratmu itu, diajeng Muryani. Jangankan baru tiga, biar ada sepuluh buah syarat tentu akan kupenuhi semua. Engkau hendak minta apapun, asalkan jangan minta matahari bulan dan bintang, tentu akan kupenuhi!"

Kata Ki Demang dengan girang. Apa sih permintaan seorang gadis dusun? Pasti dia akan mampu memenuhinya! Gadis itu tersenyum dan Ki Demang Wirosobo merasa tenggelam dalam senyuman itu.

"Aku tidak minta harta benda, tidak minta kedudukan. Syarat-syaratku adalah, yang pertama, calon suamiku harus dapat mengalahkan aku dalam menunggang kuda, dan dalam kanuragan bertanding kedigdayaan, kedua syarat ini harus dilakukan di depan umum yang menjadi saksinya. Adapun syarat ketiga baru akan kuberitahukan kalau dia mampu memenuhi kedua syarat pertama dan kedua itu!"

Ki Wiroboyo tercengang keheranan mendengar dua buah syarat yang aneh itu, akan tetapi mulutnya menyeringai lebar pertanda bahwa dia.

merasa girang sekali.

Dia adalah seorang ahli menunggang kuda terpandai di seluruh Kademangan Pakis.

Sepandai-pandainya Muryani menunggang kuda, seorang gadis mana bisa dibandingkan dengan dia?

Dan adu kanuragan, bertanding kedigdayaan?

Hampir saja dia tidak dapat menahan geli hatinya dan tertawa.

Dia adalah seorang yang dapat dikatakan otot kawat balung wesi, nora tedas tapa paluning pande sisaning gurindo (berotot kawat bertulang besi, tidak mempan senjata tajam buatan pandai besi).

Bagaimana seorang gadis remaja yang berkulit halus mulus dan tipis seperti itu, akan mampu menandingi kedigdayaannya?

Terkena sentilan telunjuknya saja akan terpelanting!

"Baik, aku terima kedua syarat iti Dan apa syaratnya yang ketiga?"

Kata Wiroboyo.

"Syarat ketiga baru akan kukatakan kalau andika dapat memenangkan dua buah syarat itu dan karena aku tidak memiliki kuda, maka untuk perlombaan menunggang dan membalapkan kuda, aku meminjam si Nogo Langking,"

Kata Muryani.

Ki Wiroboyo tidak merasa khawatir Nogo Langking memang kudanya yang terbaik akan tetapi dia memiliki kuda lain yang larinya juga hampir sama cepatnya dengan Nogo Langking.

Dan perlombaan balap kuda bukan hanya tergantung dari kudanya namun juga banyak ditentukan oleh kemahiran penunggangnya.

"Baik, engkau boleh menunggangi Nogo Langking, diajeng Muryani. Akan tetapi agar adil aku ingin bertanya lebih dulu. Karena syaratmu ada tiga dan yang dua dipertandingkan, bagaimana kalau hasilnya sama kuat, yaitu menang satu kali dan kalah satu kali?"

"Kalau begitu, syarat ketiga yang menentukan."

"Jadi berarti, siapa yang menang dua kali berarti keluar sebagai pemenang dan boleh menjadi suamimu?"

"Begitulah,"

Kata Muryani sambil tersenyum.

Ki Ronggo Bangak yang mendengarkan percakapan itu bersikap tenang saja karena dia sudah maklum akan kernampuan puterinya.

Hal ini memang sudah dibicarakan Muryani kepadanya.

Puterinya itu mempunyai rencana lain, bukan sekedar menolak pinangan, melainkan juga hendak memberi hajaran kepada Ki Wiroboyo agar sifat buruk Ki Demang yang sebetulnya adalah kepala dusun yang baik dan bijaksana itu dapat disembuhkan atau dihilangkan.

"Bagus, kapan pertandingan itu akan dilakukan?"

Tanya Ki Wiroboyo.

"Secepatnya, besok pagi juga boleh. Sekarang harap andika membuat persiapannya. Beritahukan kepada penduduk agar besok pagi menonton dua pertandingan itu. Lomba menunggang kuda dilakukan dengan mengitari dusun Pakis satu kali, mulai dari pintu gerbang sebelah selatan. Adapun pertandingan kanuragan diadakan di lapangan depan kademangan agar disaksikan oleh penduduk."

"Baik, akan kupersiapkan segalanya. Aku nanti akan menyuruh Parmadi mengantarkan Nogo Langking ke sini dan besok pagi kita bertemu di pintu gapura selatan. Sekarang aku akan pulang dulu mempersiapkan segalanya. Permisi, paman Ronggo Bangak."

"Silakan, anakmas Demang. Dan maafkan kalau anakku mengajukan syarat-syarat itu."

"Ah, tidak mengapa, paman. Memang sudah sepantasnya seorang gadis cantik jelita seperti diajeng Muryani memasang tinggi harga dirinya. Permisi, paman."

Setelah Ki Wiroboyo pergi, Ki Ronggo Bangak berkata kepada puterinya.

"Nini, engkau bermain dengan api. Biarpun aku belum melihat sendiri, namun aku sudah mendengar bahwa Ki Wiroboyo adalah seorang penunggang kuda yang mar dan juga seorang yang digdaya. Engkau malah menantangnya untuk berlomba menggang kuda dan bertanding kedigdayaan. Bagaimana seandainya engkau kalah dalam dua pertandingan itu?"

"Tidak mungkin, ayah. Andaikata aku kalah bertanding kedigdayaan, akan tetapi sudah pasti aku menang berlomba menungng kuda. Aku sudah biasa berlomba balap kuda di Muria dan aku tahu benar bahwa si Nogo Langking itu merupakan kuda terbaik dari tujuh ekor kuda yang dimiliki Ki Demang. Kalau dia menunggang kuda lain, pasti dia kalah."

"Akan tetapi kalau begitu berarti malam satu-satu, satu-satu, bagaimana kalau syarat ketiga dimenangkan olehnya?"

Muryani tertawa dan menutupi mulutnya dengan punggung tangan kiri.

"Syarat ketiga lni tidak mungkin dimenangkan oleh siapapun juga kecuali kalau aku menghendaki dia menang."

"Ehh? Apa sih syaratmu yang ketiga itu?"

"Syaratnya adalah bahwa pria yang akan menjadi suamiku haruslah orang ya kucinta! Dan aku sama sekali tidak mecintai Ki Wiroboyo!"

Ki Ronggo Bangak membelalakkan kdua matanya, kemudian dia tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, engkau nakal, nini! Itu bukan syarat, tapi engkau mengakalinya!"

Muryani juga tertawa.

"Kemenangan bukan hanya dapat dicapai oleh okol (kkerasan) melainkan juga oleh akal, bukankah begitu, ayah?"

Ki Ronggo Bangak mengangguk-angguk "Kuharap saja rencana usahamu untuk melenyapkan sifat buruk Ki Demang itu akan berhasil baik, nini.

Memang sayang sekali seorang pemimpin yang begitu baik memiliki cacad seperti itu, suka menggunakan kekerasan memaksa seorang wanita untuk menjadi isteri mudanya."

Tak lama kemudian terdengar derap kaki kuda. Ki Ronggo Bangak melanjutkan pekerjaannya mengukir patung.

"Kau lihat, Nini, itu mungkin Parmadi datang mengantarkan kuda."

Muryani berlari keluar dan benar saja, armadi sudah turun dan menuntun kuda berbulu hitam itu. Muryani menghampiri dan merangkul leher kuda itu.

"Nogo Langking, engkau harus membantuku sekarang....!"

Bisiknya dekat telinga kuda itu.

"Muryani, aku disuruh Ki Demang megantarkan Nogo Langking kepadaku,"

Kata Parmadi sambil menyerahkan kendali kuda itu kepada Muryani yang menerimaya.

"Terima kasih, kakang Parmadi."

"Muryani, benarkah apa yang kudengar dari Ki Demang? Engkau menantangnya bertanding balap kuda dan adu kanuragan sebagai syarat perjodohanmu?"

"Benar, kakang. Besok pagi dilakukannya pertandingan itu."

"Wah, celaka sekali! Bagaimana kalau engkau kalah? Benar-benar celaka kalau begitu!"

Kata Parmadi khawatir.

"Eh? Siapa yang akan celaka, kakang?"

"Aku""

Eh, engkau tentu saja! Engkau akan kalah dan engkau akan menjadi istri mudanya!"

"Kalau begitu kenapa? Aku yang menjalani kenapa engkau yang repot seperti kebakaran jenggot?"

Parmadi otomatis meraba dagunya yang tanpa jenggot selembarpun.

"Engkau puteri paman Ronggo Bangak. Aku tidask rela kalau engkau menjadi isteri muda Demang. Dia seorang yang mata keranjang, tiada henti-hentinya mengejar wanita."

"Jangan khawatir, kakang. Dia tidak akan mampu mengalahkan aku. Bukankah engkau sudah melihat sendiri kemampuanku?"

"Mungkin engkau akan menang dalam pertandingan kanuragan, akan tetapi engkau akan kalah dalam lomba balap kuda. Dia seorang yang pandai sekali menunggang kuda, Muryani."

"Aku lebih pandai daripada dia, kakang. Kau lihat sendiri saja besok pagi."

"Akan tetapi, kenapa kaulakukan semua ini? Tanpa mengajukan syarat inipun, engkau bisa menolak pinangannya. Mengapa mesti bertanding dan ribut-ribut disaksikan semua penduduk?"

"Aku mempunyai rencana, kakang. Mehurut ayah, Ki Demang Wiroboyo adalah seorang pamong yang baik dan bijaksana, akan tetapi dia mempunyai sebuah cacad."

"Benar, dia memang baik, akan tetapi sayang dia suka memaksa gadis atau janda untuk menjadi selirnya."

"Nah, itulah sebabnya maka aku sengaja mengajukan syarat ini kepadanya. Aku ingin membuat dia menyadari cacadnya itu dan bertaubat."

Parmadi menghela napas panjang.

"Maksudmu baik, akan tetapi sungguh berbahaya. Sudah delapan tahun aku bekerja pada Ki Demang dan aku sudah tahu benar akan wataknya. Kalau dia berniat mendapatkan seorang wanita, dia akan menggunakan segala cara, kalau perlu dengan kekerasan. Dan dia mempunyai pembantu belasan orang yang juga menjadi pasukannya untuk menundukkanmu, bagaimana?"

"Kalau begitu, aku akan hajar mereka semua sampai mereka jera dan tidak berani lagi memaksakan kehendak mereka kepada orang lain."

Pada saat itu Ki Ronggo Bangak keluar.

"Eh, engkau, Parmadi?"

Tegurnya.

"Benar, paman. Saya diutus Ki Demang untuk mengiringkan kuda Nogo Langking ini kepada adi Muryani,"

Jawab Parmadi. Muryani menuntun kuda itu ke pekarangan di belakang rumah dan menambatkannya di sana.

"Mari masuk dan duduk dulu, Parmadi."

"Terima kasih, paman. Saya harus segera kembali karena masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan. Saya juga harus membantu Ki Demang yang sibuk mengatur persiapan untuk pertandingan besok pagi."

"Kalau begitu pulanglah, jangan sampai ditunggu-tunggu Ki Demang."

"Baik, paman. Permisi."

Parmadi meninggalkan rumah gurunya dan bergegas pulang ke kademangan.

Berita tentang akan diadakannya pertandingan balap kuda dan adu kanuragan antara Ki Demang dan Muryani sebagai syarat perjodohan sudah tersiar di seluruh kademangan.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi banyak orang sudah berdatangan ke pintu gapura dusun Pakis sebelah selatan dari mana balap kuda akan dimulai.

Laki-laki perempuan, tua muda bahkan kanak-kanak memenuhi tempat itu.

Mereka ingin sekali menyaksikan pertandingan yang belum pernah mereka saksikan itu.

Betapa anehnya!

Bayangkan, Ki Demang yang terkenal pandai menunggang kuda dan digdaya kini hendak berlomba menunggang kuda dan mengadu kedigdayaan melawan seorang gadis remaja!

Ki Ronggo Bangak berada di antara orang banyak itu dan dia segera bertemu sngan Parmadi.

Tidak seperti Parmadi yang tampak gelisah, Ki Ronggo tenang-tenang saja.

Hal ini adalah karena dia merasa yakin bahwa puterinya tidak akan kalah karena adanya syarat ketiga itu.

Ketika terdengar derap kaki kuda, sema orang menengok dan mereka melihat Ki Demang menunggang seekor kuda berwarna coklat dengan kaki "pancal panggung", yaitu keempat ujung kakinya berwarna putih.

Seekor tkuda yang kuat dan baik pula walaupun tidak sebaik si Naga Langking.

Ki Demang tampak gagah.

Pakaiannya baru dan wajahnya berseri seolah dia sudah merasa yakin akan kemenangannya.

Setelah tiba di pintu gapura, dia memandang ke sekeliling dan melambaikan tangan kepada penduduk yang membungkuk sebagai penghormatan kepadanya.

Matanya mencari-cari Muryani yang belum datang.

Tiba-tiba terdengar derap kaki kud Semua orang menoleh dan mereka bergumam kagum ketika melihat Muryani datang membalapkan kudanya.

Gadis itu kelihatan ayu dan perkasa seperti Woro Srikandi!

Ki Demang juga kagum dan senang.

Alangkah akan bahagia dan bangganya mempunyai seorang isteri seperti Muryan Masih muda, cantik jelita dan gagah perkasa!

(Lanjut ke

Jilid 03) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 03 Debu mengepul ketika Muryani menghentikan kudanya di depan kuda Ki Demang. Ia tersenyum kepada laki-laki itu dan bertanya.

"Apakah andika sudah siap, Paman Demang Wiroboyo?"

Suaranya lantang sehingga terdengar oleh semua orang. Ki Demang Wiroboyo mengerutkan aisnya dan menegur lirih.

"Diajeng Muryai, jangan memanggil aku paman!"

Muryani tidak perduli seolah tidak mendengar teguran itu dan berkata lagi.

"Apakah andika sudah siap? Kalau sudah, mari kita segera mulai dengan perlombaan ini."

"Baik, aku sudah siap."

Lalu Ki Demang Wiroboyo memandang ke sekeliling dan berkata nyaring sehingga terdengar oleh semua orang.

"Saudara-saudara sekalian! Kalian menjadi saksi dari perlombaan ini. Aku dan diajeng Muryani akan berlomba balap kuda. Berangkat dari sini memutari Kademangan Pakis dan berakhir di sini lagi. Siapa yang datang di sini terlebih dulu setelah mengelilingi dusun satu kali putaran, dia yang menang. Kalian yang menjadi saksi siapa yang akan keluar sebagai pemenang nanti. Kalian bersedia menjadi saksi?"

Serempak para penduduk dusun itu menjawab dengan suara gembira.

"Bersedia.... !!"

"'Diajeng Muryani, kita berjajar di sini dan bersiap-siap. Parmadi, ke sinilah engkau. Engkau yang kutugaskan untuk menghitung sampai tiga. Pada seruan angka tiga, kita mulai perlombaan ini, diajeng."

"Baik, Paman Demang!"

Kata Parmadi, dan dia segera mendekati kedua orang yang sudah duduk di atas punggung kuda masing-masing dalam keadaan siap.

Kuda mereka berdiri berjajar dan mereka memegang kendali dengan tangan kiri.

Ki Demang Wiroboyo memegang sebuah cambuk kuda, akan tetapi Muryani tidak memegang apa-apa.

Melihat ini, Parmadi berkata lirih, hanya terdengar oleh Muryani dan Ki Demang Wiroboyo.

"Adi Muryani, mestinya engkau membawa sehelai pecut untuk memberi semangat kepada Nogo Langking."

Muryani tersenyum dan menggeleng ke palanya.

"Tidak perlu, kakang Parmadi Sejak pertama belajar menunggang kuda sampai sekarang, aku belum pernah mempergunakan pecut."

"Parmadi, jangan samakan diajeng Muryani dengan engkau! Ia seorang puteri sejati, mana ia tega mencambuki kudanya?"

Kata Ki Wiroboyo, akan tetapi dalam hatinya merasa girang karena dia semakin yakin akan kemenangannya.

Dengan pecutpun gadis itu tidak akan mampu menandingipya, apalagi tanpa pecut?

"Harap Paman Demang dan adi Muryani siap.

Saya akan mulai menghitung.

Satuuu".

dua"".tiga!!"

Dua orang itu membedal kuda mereka.

seperti biasa, sebagai tanda tinggal landas, Nogo Langking mengangkat kedua kaki depannya ke atas, meringkik dengan nyaring sekali, kemudian melompat jauh ke depan dan meluncur seperti kilat cepatnya mengejar kuda pancal panggung yang sudah dikebut lebih dulu oleh Ki Wiroboyo.

Para penduduk dusun bertepuk tangan dan bersorak dengan gembira.

Mereka menanti munculnya dua orang pembalap itu dari sisi lain pintu gerbang itu dan memberi jalan yang longgar.

Agaknya penyakit taruhan sudah pula melanda Kademangan Pakis karena di antara mereka banyak yang mulai bertaruh!

Ki Wiroboyo terkejut juga melihat betapa Nogo Langking melesat dengan kecepatan kilat.

Dia lalu mempergunakan pecutnya untuk mencambuki kuda yang tungganginya.

Kuda itu kesakitan dan melompat sekuat tenaga, berlari secepat keempat kakinya mampu bergerak.

Ki Wiroboyo tertawa ketika kudanya melewati Nogo Langking yang ditunggangi Muryani.

Gadis itu mengerutkan alisnya lalu membungkuk hampir menelungkup di atas punggung kuda sehingga mulutnya mendekati telinga Nogo Langking.

"Nogo Langking, engkau tidak ingin mengecewakan aku, bukan? Larilah, Nogo Langking. Lari dan kejarlah kuda di depan itu!"

Ia menggunakan kedua kakinya menendang-nendang perut kuda dengan tumitnya sambil berbisik-bisik memberi semangat Nogo Langking dengan suara yang merayu.

Terjadilah keanehan.

Nogo Langking seolah mengerti akan rayuan penunggannya, atau mengerti isyarat melalui tendangan tumit kaki yang halus itu.

Dia melompat dan berlari cepat sekali sehinga akhirnya dapat mengejar kuda yang ditunggangi Ki Wiroboyo, bahkan mendahuluinya!

Melihat ini, Ki Wiroboyo semakin kuat mencambuki kudanya sehingga terdengar bunyi berdetak-detak.

Kudanya mencoba untuk berlari lebih cepat lagi.

Napas kuda itu memburu dan dari hidungnya keluar uap, dari mulutnya keluar buih.

Ketika dua ekor kuda itu muncul, para penonton bersorak memberi semangat jago masing-masing.

Akan tetapi, Nogo Langking tiba di pintu gapura beberapa detik lebih cepat daripada kuda pancal panggung yang ditungganggi Ki Wiroboyo dan begitu demang ini menghentikan kudanya, kuda yang kehabisan tenaga dan napas itu terguling roboh.

Ki Wiroboyo dengan tangkasnya melompat turun sehingga dia tidak ikut terbanting jatuh.

Muryani sendiri turun dari atas punggung kuda Nogo Langking dan mengelus-elus leher kuda itu.

Sambil tersenyum menoleh kepada Ki Wiroboyo dan berka "Bagaimana, Paman Demang, apakah engkau kini mengakui kemenanganku berlomba balap kuda?"

Wajah Ki Demang Wiroboyo berubah merah Kumisnya yang tebal bergoyang-goyang, matanya terbelalak.

"Hemm, baiklah, dalam lomba ini aku mengaku kalah, diajeng Muryani. Akan teipi kita masih ada sebuah pertandingan in sebuah syarat lagi, bukan? Mari kita laksanakan pertandingan kedua, yaitu adu kanuragan dan sesuai perjanjian, kita lakukan di alun-alun depan kademangan."

Ucapan itu dilakukan dengan suara lantang sehingga terdengar oleh semua orang.

"Baik, paman. Mari kita pergi ke lapangan rumput di depan kademangan."

Muryani menyerahkan kuda Nogo Langking pada Parmadi.

Pemuda ini juga menuntun kuda pancal panggung yang sudah mampu berdiri lagi.

Muryani dan Ki Demang Wiroboyo berjalan beriringan memasuki pintu gapura ini langsung menuju ke kademangan.

Semua orang berbondong-bondong mengikuti mereka berdua.

Di lapangan rumput depan kademangan itu telah dipersiapkan sebuah panggung dari papan yang cukup kokoh kuat oleh KI Wiroboyo.

Memang sengaja dia membuat panggung itu agar semua penduduk dusun akan dapat melihat dengan jelas ketika dia bertanding dengan Muryani nanti.

Dia yakin benar, tidak ragu seperti ketika dia berlomba menunggang kuda tadi, bahwa dia pasti akan dapat mengalahkan Muryani.

Setelah tiba di bawah panggung, dia lalu menggerakkan kedua kakinya dan tubuhnya melayang ke atas panggung yung tingginya kurang lebih satu setengah meter itu.

Loncatan yang dilakukan dengan gaya yang cukup indah dan tangkas ini memancing tepuk tangan pujian dari penonton.

Ki Demang Wiroboyo berdiri di atal papan panggung, tangan kirinya bertolak pinggang, tangan kanan memelintir kumisnya yang seperti kumis Sang Gatutkaca itu, matanya mengerling ke sekelilingnya, mulutnya tersenyum bangga karena sambutan tepuk tangan para penduduk dusunnya dan dia sudah merasa setengah menang dalam pertandingan kanuragan yang akan diadakan ini.

Memang gagah pria berusia empatpuluh tahun ini.

Tubuhnya yang tinggi besar dan kokoh kuat itu mengenakan pakaian yang indah.

Sebatang keris tersedia di pinggang belakang.

Biarpun mereka sendiri sudah menyaksikan betapa ampuh pukulan tangan halus Muryani yang mampu memporakporandakan bongkah batu besar, namun di dalam hati mereka, Ki Ronggo Bangak dan Parmadi merasa tegang dan khawatir juga menyaksikan kegagahan Ki Demang Wiroboyo.

Bagi Ki Ronggo Bangak, kekhawatirannya hanya tertuju kepada keselamatan puterinya dalam adu kanuragan saja karena dia yakin bahwa puterinya tidak akan menjadi isteri Ki Demang dengan adanya syarat tiga yang belum disampaikan kepada lamaran itu.

Akan tetapi Parmadi yang belum mengetahuinya, merasa khawatir kali kalau-kalau gadis itu akan kalah sehingga terpaksa harus menjadi isteri Ki Demang Wiroboyo.

"Diajeng Muryani, hayo naiklah ke atas panggung. Kenapa andika masih belum naik? Kalau merasa takut, sudahlah kita tidak perlu bertanding, aku khawatir kalau-kalau kulitmu yang halus mulus itu akan lecet. Anggap saja aku menang dalam pertandingan kanuragan ini!"

Kata Ki Demang Wiroboyo kepada Muryani yang masih berada di bawah panggung.

Muryani tersenyum dan ia lalu mendaki anak tangga untuk naik ke atas panggung tidak meloncat seperti yang dilakukan penantangnya itu.

Biarpun gadis itu hanya naik melangkahi anak tangga namun penonton yang tadi sudah dibuat kagum akan kemenangannya berlomba menunggang kuda, menyambutnya dengan tepuk tangan Apalagi mereka yang bertaruh di pihaknya.

Akan tetapi taruhan kali ini tidak seimbang.

Para penonton yang bertaruh hanya memberi nilai setengahnya kepada gadis itu.

Sebagian besar dari para penduduk dusun Pakis, tentu saja sudah mengenal siapa Ki Demang Wiroboyo dan tahu akan kedigdayaannya.

Mana mungkin seorang gadis muda jelita seperti Muryani walaupun pandai dan tangkas menunggang kuda, akan mampu menandingi kedigdayaan demang itu?

Yang bertaruh memegang Muryani nekat karena mengharapkan kemlenangan sehingga mendapatkan bayaran ganda kalau gadis itu menang, sedangkan kalau kalah hanya membayar setengah jumlah itu.

Mereka inilah yang menyambut naiknya Muryani ke panggung dengan gegap-gempita, seperti hendak memberi dorongan semangat kepada gadis yang dijagokannya.

Mereka kini sudah berdiri saling berhadapan.

Muryani menatap tajam wajah deiang itu lalu berkata lantang dengan maksud agar terdengar oleh semua orang yang berada di sekeliling panggung dan yang kini diam untuk mendengarkan apa yang diucapkan oleh dua orang jagoan mereka.

"Ki Demang Wiroboyo!"

Sengaja Muryani tidak menyebut kakangmas atau paman.

"Aku mendengar bahwa andika sebagai demang bersikap adil dan bijaksana terhadap penduduk Pakis. Hal itu baik sekali dan aku merasa kagum dan berterima kasih kepadamu. Akan tetapi, andika mengandalan kekayaan dan kekuasaan untuk memperoleh setiap orang wanita yang kausukai dengan paksa. Hal inilah yang amat tidak baik dan karena watak andika inilah sekarang aku berdiri di sini untuk melawanmu, bertanding. Sekarang dengarlah baik-baik, biar disaksikan oleh semua penduduk Pakis ini, Kalau dalam pertandingan ini aku kalah olehmu, kemudian syaratku ketiga juga dapat andika penuhi, maka aku akan bersedia untuk menjadi selirmu. Akan tetapi kalau andika kalah dalam pertandingan ini, berarti andika sudah dua kali kalah dan andika harus mengubah watakmu yang mata keranjang dan suka memaksa wanita menjadi selirmu."

"Diajeng Muryani, bagaimana andika dapat melarang seorang pria, apalagi pria itu seorang demang seperti aku, untuk mempunyai selir, berapa banyakpun yang dia kehendaki?"

Bantah Ki Demang Wiroboyo penasaran.

Para pria penduduk Pakis yang mendengar ucapan ini juga merasa betapa anehnya sikap gadis itu.

Pada jaman itu, setiap orang pejabat, dari lurah ke atas, sudah pasti mempunyai selir.

"Ki Demang Wiroboyo, siapa yang melarang andika mempunyai selir? Biar andika mempunyai seratus orang selirpun, aku tidak akan ambil pusing! Yang kutentang hanyalah caramu memaksa para wanita untuk menjadi selirmu, dengan mengandalkan kekayaan dan kedudukanmu! Kalau ada wanita yang mau kaujadikan selir, silakan. Akan tetapi kalau andika mempergunakan paksaan, terpaksa aku akan menentangmu mati-matian!"

Mendengar ucapan gadis itu, para penduduk mengangguk-angguk setuju.

Tak seorang pun di antara mereka setuju kalau anggauta keluarganya dipaksa oleh demang itu.

Kecuali, tentu saja, mereka yang memang merasa senang kalau ada anggauta keluarganya menjadi selir Ki Demang Wiroboyo.

Mendengar ucapan Muryani itu, wajah Vi Demang Wiroboyo menjadi merah.

Kehormatannya tersinggung.

Akan tetapi karena dia sudah tergila-gila kepada Muryani, dia tidak menjadi marah, hanya tersenyum.

"Diajeng Muryani, aku berjanji bahwa kalau andika sudah menjadi selirku, Aku tidak akan mencari selir lain lagi! Nah, bagaimana kalau pertandingan ini ditiadakan saja dan andika menjadi selirku secara suka rela?"

"Enak saja! Andika sudah kalah satu kali, dan pasti akan kalah dalam pertandingan kanuragan ini dan tidak dapat pula memenuhi syarat ketiga. Hayo, mulai dan seranglah, kalau memang andika seorang laki-laki yang gagah!"

Panas juga rasa hati Ki Demang Wiroboyo mendengar tantangan ini.

Tantangan yang bernada meremehkannya itu diucapkan Muryani di depan hampir semua penduduk Pakis yang saat itu berkumpul di situ.

Dengan gaya yang gagah dia menggulung lengan bajunya yang panjang sampai ke atas siku, kemudian sambil tersenyun dia melangkah maju mendekati gadis itu dan berkata.

"Nah, andika mulailah lebih dulu, diajeng. Aku sudah siap menerima pukulanmu. Nih dadaku, andika boleh memukul sesuka hatimu. Aku tidak akar membalas, aku tidak sampai hati untuk memukulmu. Tidak tega melihat kulitmu lecet!"

Dan dengan gaya menantang dia membuka kancing bajunya sehingga kulit dadanya yang bidang itu tampak.

Dada itu memang tampak kokoh kuat dengan otot-otot yang menonjol.

Muryani mengerutkan alisnya.

Ia menjadi marah karena merasa dipandang ringan dan diejek.

Tentu saja ia tidak mau menerima tantangan seperti itu.

"Ki Demang Wiroboyo, kalau aku menyerang dan andika tidak melawan, itu bukan pertandingan adu kanuragan namanya! Kalau aku menang, hanya akan menjadi buah tertawaan orang! Aku tidak sudi menang karena andika mengalah, apalagi aku tidak ingin membunuhmu."

"Ha-ha-ha-ha! Membunuhku dengan pukulanmu? Aha, jangan khawatir, diajeng! Aku tidak akan mati, bahkan lecet sedikit pun tidak. Ketahuilah bahwa aku menguasai aji kekebalan yang membuat kulit dadaku tidak akan terluka oleh bacokan senjata tajam. Apalagi hanya pukulan tangan, lebih-lebih tanganmu, diajeng. Tentu akan nyaman sekali terasa oleh dadaku, seperti dipijati saja, ha-ha-ha!"

Ki Demang Wiroboyo tertawa dan banyak penonton ikut tertawa karena mereka percaya benar akan ucapan itu.

Pernah Ki Demang Wiroboyo itu, untuk menaklukkan hati para penduduk, memamerkan kekebalannya dengan menyuruh pembantunya membacokbacokkan golok kepada badan bagian atas yang bertelanjang.

Apalagi terluka, tergorespun tidak dada dan punggung itu!

Muryani menjadi semakin panas hatinya.

Akan tetapi ia menahan diri.

Bagaimanapun juga, ia tidak ingin membunuh orang itu, juga tidak ingin memperoleh kemenangan tanpa dilawan.

"Hemm, begitukah? Kalau begitu, aku ingin menguji sampai di mana hebatnya aji kekebalanmu. Kerahkan aji itu sekuatnya dan coba sambutlah pijatanku yang nyaman ini, Ki Demang! Nah, bersiaplah. Satu, dua, tiga ""

Hyat!"

Muryani sengaja memberi waktu kepada demang itu untuk mengerahkan aji kekebalannya.

Ki Demang Wiroboyo sudah mengerahkan aji itu dan menahan napas untuk menyambut jari-jari tangan mungil yang menotok ke arah dadanya itu.

Dadanya mengembang di menjadi sekeras besi.

Jari-jari tangan Muryani menotok perlahan saja, namun diam-diam Muryani mengerahkan Aji Bromo Latu (Pijar Api Bromo), suatu aji tenaga sakti dari perguruan silat Bromo Dadali.

Para penonton sudah siap untuk menerwakan apa yang dilakukan gadis itu.

Dada yang kebal dari Demang Wiroboyo itu hanya disentuh seperti itu oleh jari tangan yang mungil itu?

Menggelikan!

Paling-paling hanya akan terasa geli seperti digelik!

Akan tetapi mulut-mulut yang sudah siap untuk tertawa itu terbuka bersamaan dengan mata yang terbelalak.

Mereka melihat Ki Demang Wiroboyo itu menyeringai seperti menahan sakit dan tubuhnya terhuyung ke belakang, tangan kiri menekan bagian dada yang tadi tersentuh jari-jari tangan mungil itu!

Apa yang terjadi?

Apakah Ki Demang Wiroboyo itu sengaja melucu, pura-pura kesakitan?

Tak seorangpun mengetahui apa yang dirasakan pria itu.

Akan tetapi, Ki Demang Wiroboyo sama sekali tidak berpura-pura.

Dia merasa dadanya itu seperti ditusuk besi membara, panasnya menyusup ke dalam daging dadaya.

Nyeri dan panas bukan kepalang!

Tentu saja dia terkejut setengah mati dan diam-diam dia merasa heran akan tetapi juga mulai maklum bahwa gadis ayu merak ati yang berada di depannya ini sesungguhnya memiliki aji kesaktian yang sama kali tidak boleh dipandang ringan!

Dalam keheranan dan kekagumannya, dia menjadi semakin tergila-gila.

Inilah wanita yang patut menjadi sisihannya.

Bukan saja ayu manis merak ati, akan tetapi juga digdaya, tentu akan makin memperkuat kedudukannya dan mengangkat namanya!

Dia menahan rasa nyeri yang mulai menghilang itu dan memaksa diri tersenyum.

"Wah, ternyata andika benar-benar seorang gadis perkasa seperti Srikandi yang digdaya! Kalau begitu, aku tidak akan khawatir lagi untuk bertanding denganmu. Atau kita bermain-main sejenak, diajeng Muryani!"

"Maju dan mulailah, Ki Demang Wiroboyo!"

Tantang Muryani dan iapun sudah memasang kuda-kuda dengan gerakan Dadali Anglayang (Burung Walet Melayang).

Pasangan kuda-kuda itu dilakukan dengan berdiri di atas jari-jari kakinya, berjingkat dengan kedua kaki rapat, tubuh agak membungkuk dan kedua lengan dikembangkan ke kanan kiri seperti sepasang sayap tampak manis, lucu dan juga gagah.

Mulailah para penonton bertepuk tangan karena ucapan Ki Demang Wiroboyo tak membuat mereka dapat menduga bahwa pria itu tidak main-main dan gadis itu benar-benar seorang yang tangguh dan digdaya.

Ketika tadi Muryani menggunakan jari-jari tangannya untuk menotok dada lawan nya, Parmadi juga mengerutkan alisnya.

Kenapa serangan gadis itu hanya menyentuh dada lawan, seperti main-main saja?

Akan tetapi melihat Ki Demang Wiroboyo meringis seperti kesakitan dan terhuyung ke belakang, hatinya mulai lega.

Dia tahu bahwa gadis itu memiliki kesaktian dan kini dia memandang penuh perhatian, mengharapkan gadis itu akan memenangkan pertandingan itu.

Maka, melihat banyak orang menyambut pembukaan gerakan silat gadis itu, dia menjadi gembira dan ikut bertepuk tangan.

Sentuhan lembut pada pundaknya memuat Parmadi menengok dan melihat bahwa yang menyentuh pundaknya adalah Ki Ronggo Bangak yang mengerutkan alis, dia menghentikan tepukan tangannya.

Agaknya gurunya tidak bergembira melihat ulah Muryani di atas panggung arena pertandingan itu.

"Kenapa, paman?"

Tanyanya kepada gurunya itu.

Parmadi menyebut paman kepada gurunya itu, sesuai dengan kehendak Ronggo Bangak sendiri yang tidak bersedia disebut Bapa Guru.

Ronggo Bangak menghela napas pandang dan menjawab lirih.

"Aku khawatir kalau Muryani lupa diri, menewaskan Ki Demang Wiroboyo atau membuat dia terluka parah."

Parmadi memandang kepada gurunya dan bibirnya mengembangkan senyum.

Kalau orang lain mendengarkan ucapan guruya itu, dia tentu akan merasa heran sekali.

Ronggo Bangak tidak mengkhawatirkan puterinya terbunuh atau terluka, sebaliknya malah khawatir kalau anak itu menewaskan atau mencederai lawan!

Dia mengenal baik siapa gurunya dan bagaimana watak gurunya.

Seorang yang suka akan keindahan, penuh kedamaian, tidak ingin merusak, tidak menyukai kekerasan dan selalu berbaik hati kepada siapa saja!

"Harap paman tenangkan hati.

Saya percaya bahwa adi Muryani bukan hanya telah mempelajari aji kanuragan akan tetapi juga telah memiliki watak yang gagah dan adil, lagi bijaksana."

"Mudah-mudahan begitulah, Parmadi."

Keduanya memperhatikan ke atas panggung.

Melihat gadis yang menggairahkan hatinya itu telah membuat pasangan pembukaan yang indah, Ki Demang Wiroboyo tidak mau kalah gaya.

Dia berdiri dengan kedua kaki menyilang, lutut ditekuk, kepala ditundukkan akan tetapi kedua mata mengerling ke depan, kedua tangan mem.

bentuk cakar harimau, tangan kanan dia angkat ke depan muka dan tangan kiri menempel di perut, mulutnya tersenyum.

"Diajeng Muryani, hati-hatilah dan sambut seranganku ini. Haaiiiiittt""!!"

Tiba-tiba dengan gerakan yang tangkas, kaki kanannya melangkah ke depan, tangan kanannya menyambar dengan cengkeraman ke arah muka Muryani sedangkan tangan kiri mencengkeram ke arah dada gadis iu!

Tentu saja Ki Demang Wiroboyo sudah siap untuk mengubah cengkeraman itu menjadi belaian kalau berhasil tangannya nenyentuh muka dan dada!

"Hyaaaatt"..!"

Terdengar seruan nyaing keluar dari mulut gadis itu dan tubuhnya menggeliat Seruling Gading mundur, kedua tangan ligerakkan masuk menampar kedua tangan awan itu.

"Plak! Plak!"

Tangkisan itu membuat edua tangan Ki Demang Wiroboyo terasa tergetar dan dia mundur dua langkah degan kaget sambil memasang kuda-kuda lagi, berdiri tegak dengan kedua lengan menyilang di depan dada.

Muryani sudah kembali memasang kuda-kuda seperti pembukaannya tadi.

Kembali penonton bertepuk tangan kaena pertandingan segebrakan ini menunjukkan bahwa Muryani memang bukan wanita lemah dan ia tampak gagah sekali.

Pertemuan dua pasang lengan tadi saja sudah membuat Ki Demang Wiroboyo makin tahu bahwa gadis itu memang memiliki tenaga yang kuat.

Keduanya maklum bahwa mereka harus berhati-hati dan berusaha sekuat kemampuan mereka kalau ingin keluar sebagai pemenang.

"Eiiitt....!"

Kini Muryani balas menyerang.

Gerakannya cepat bukan main, bagaikan seekor burung walet tubuhnya menerjang ke depan, tangan kirinya menampar dengan jari terbuka ke arah pelip kanan lawan.

Sambaran tangan yang kecil mungil itu mendatangkan angin yang terasa benar oleh Ki Demang Wiroboyo mak diapun cepat menarik tubuh atas ke belakang sambil mengangkat lengan kanan ke atas untuk menangkis.

Akan tetapi pada detik berikutnya, Muryani menyusulkan tendangan.

Kaki kanan dengan betis mamadi bunting dan berkulit putih mulus tertutup celana hitam sebatas lutut itu mencuat menuju sasarannya, yaitu perut lawan!

"Ehh....!"

Ki Demang Wiroboyo terkejut dan cepat tangan kirinya bergerak ke bawah untuk menangkis, karena mengelak tidak akan dapat menghindarkan dirinya dari dari tendangan itu.

"Dukk...!"

Lengan itu bertemu kaki dan akibatnya, tubuh Ki Demang Wiroboyo terhuyung ke belakang.

Diam-diam pria ini terkejut dan penasaran sekali.

Dia tahu bahwa lawannya benar-benar tangguh.

Maka, dia segera mengerahkan tenaganya dan menubruk ke depan, menggerakkan kedua tangan untuk menyerang dari kanan kiri dengan gerakan menggunting ke arah kedua pundak gadis itu.

Kalau tadi dia menyerang hanya untuk meraba dan mengelus muka dan dada, kini serangannya benar-benar dimaksudkan untuk mengalahkan lawan.

Pukulannya itu cepat dan kuat, tidak lagi ditahannya karena dia maklum bahwa kalau dia tidak bersungguh-sungguh, besar kemungkinan dia yang akan roboh dan kalah.

Menghadapi serangan itu, Muryani bersikap tenang dan gerakan tubuhnya yang amat cepat itu membuat ia dengan mudah mengelak dengan mudah.

Ia melompat belakang dan ketika serangan kedua tangan lawan itu luput dan lewat, iapun nerjang maju dan membalas dengan serangan tangan kanan, menghantam dengan telapak tangan ke arah lambung lawan.

Demang Wiroboyo kembali menangkis dan kedua orang itu kini saling serang dengan serunya.

Pertandingan berjalan semakin sengit, saling pukul, saling tendang dan membuat para penonton menjadi tegang.

Melihat kenyataan betapa Muryani benar-benar dapat melakukan perlawanan dengan baik, kini pasar taruhan menjadi ramai.

Nilai Muryani naik pesat dan banyak penonton yang menjagoinya dengan taruhan tinggi!

Parmadi menonton dengan hati tegang dan penuh kekhawatiran karena dari cara Ki Demang Wiroboyo memukul dan menendang, dia dapat menduga bahwa pria itu menyerang dengan sungguh-sungguh.

Biarpun Parmadi biasa bekerja keras dan memiliki tubuh yang kuat, namun dia tidak pernah mempelajari ilmu silat.

Seperti juga para penonton yang berada di situ, dia merasa heran dan kagum bukan main melihat sepak terjang Muryani.

Gadis remaja itu, baru enambelas tahun usianya, belum dewasa benar, mampu menandingi dalam adu kanuragan seorang jagoan yang sudah matang dan terkenal digdaya seperti Ki Demang Wiroboyo?

Hal ini tentu saja merupakan keajaiban bagi mereka.

Adapun bagi Ki Demang Wiroboyo sendiri, kalau tadinya dia merasa heran, terkejut dan kagum sehingga hatinya semakin terpikat oleh gadis itu, kini dia merasa penasaran bukan main, juga khawatir.

Dia merasa betapa beratnya melawan gadis itu dan yang membuat dia penasaran setengah mati adalah kalau mengingat bahwa lawannya itu hanya seorang gadis remaja.

Padahal, sudah banyak jagoan kawakan yang kalah beradu tebalnya kulit kerasnya tulang olehnya.

Bahkan dia pernah mengobrak-abrik gerombolan maling dan kecu (perampok) yang dipimpin Darto Gento di hutan Cemoro Sewu sehingga karena jasanya itu dia diangkat menjadi Demang Pakis.

Masa sekarang dia harus kalah oleh seorang gadis remaja?

Kekhawatiran Ki Demang Wiroboyo menjadi kenyataan.

Saking cepatnya gerakan tangan Muryani, dia tidak sempat mengelak atau menangkis lagi ketika tangan kanan Muryani menyambar.

"Plakk!"

Tangan yang miring itu mengenai leher kiri Ki Demang Wiroboyo.

Biarpun hanya sebuah tangan mungil yang menghantam lehernya, namun Ki Demang Wiroboyo mengaduh dan merasa seolah kepalanya disambar petir.

Pandang matanya berkunang dan dia terhuyung ke belakang.

Muryani menyusulkan tendangan kaki kiri ke arah perut lawan.

"Bukk.... !"

Tak dapat dihindarkan lagi tubuh Ki Demang Wiroboyo terlempar ke belakang dan....

terjatuh ke bawah panggung!

Luapan kegembiraan membuat para penduduk itu bertepuk tangan menyambut kemenangan gadis itu sehingga mereka lupa bahwa yang kalah itu adalah demang dusun mereka yang biasanya mereka hormati karena demang itu, bagaimanapun juga, adalah seorang penguasa yang adil dan baik.

Akan tetapi, beberapa belas orang laki-laki yang biasa membantu Ki Demang Wiroboyo, segera menolong majikan mereka.

Ternyata Ki Demang Wiroboyo tida terluka parah, hanya lehernya terasa nyeri dan kaku dan perutnya terasa mulas Sebetulnya dia masih beruntung karena Muryani sengaja membatasi tenaganya ketika menampar dan menendang tadi sehingga nyawanya tidak direnggut maut.

Dari atas panggung Muryani menghadap ke arah Ki Demang Wiroboyo yang sudah bangkit berdiri di bawah panggung di mana dia tadi terjatuh.

"Ki Demang Wiroboyo, seperti kukatakan tadi, kalau andika kalah andika harus memenuhi permintaanku. Andika sudah kalah dalam lomba balap kuda, kalah pula dalam pertandingan adu kanuragan, disaksikan oleh semua penduduk, andika kalah dua kali. Karena itu, sudah sepatutnya andika mengaku kalah dan mulai saat ini kuminta agar andika tidak lagi mengulang perbuatan yang sudah-sudah, yaitu memaksa wanita untuk menjadi selirmu. Kala andika tidak memegang janji, berarti andika seorang laki-laki yang tidak jantan dan aku pasti akan turun tangan menentang dan memberi hajaran yang sekeras-kerasnya. Mudah-mudahan kekalahan ini menjadi suatu pelajaran yang baik yang akan menyadarkanmu dari kesalahan."

Ki Demang Wiroboyo hanya mengangguk-angguk dan semua orang yang mendengarkan ucapan gadis itu makin terheran dan terkagum-kagum.

Gadis remaja itu tidak hanya sakti mandraguna, namun juga bijak dan dapat memberi wejangan seperti seorang tua saja!

Muryani menuruni anak tangga panggung itu, menghampiri ayahnya dan menggandeng tangan ayahnya.

"Mari kita pulang, ayah."

Akan tetapi Ki Ronggo Bangak mengajak puterinya menghampiri Ki Demang Wiroboyo. Setelah berhadapan, Ki Ronggo Bangak lalu berkata dengan ramah.

"Anakmas Demang Wiroboyo, kalau anak saya Muryani dianggap bersalah, saya yang meinintakan maaf atas semua sikap dan kelakuannya terhadap anakmas tadi."

Ki Demang Wiroboyo yang masih tertegun menghadapi kenyataan pahit bahwa dia kalah oleh Muryani, memandang kepada Ki Ronggo Bangak, lalu kepada Muryani yang tersenyum, dan menggeleng kepala, menghela napas dan berkata.

"Tidak ada yang bersalah, paman, tidak ada yang perlu dimaafkan "

Ki Ronggo Bangak merasa lega dan berkata.

"Terima kasih, anakmas Demang Wiroboyo."

Dia membungkuk memberi hormat lalu menggandeng tangan puterinya dan pergi dari situ, diikuti pandang mata para penduduk yang merasa kagum sekali kepada Muryani..Semenjak hari itu, kehidupan di dusun Pakis berjalan seperti biasa.

Ki Demang Wiroboyo bersikap biasa, mengurus dusun dengan kepimpinannya, sehingga penduduk segera melupakan peristiwa dengan Muryani itu.

Karena Ki Demang Wiroboyo dia dan tenang-tenang saja, maka mereka mengira bahwa urusan itu telah selesai dan api itu telah padam.

Yang jelas, demang itu kini kehilangan kegarangann terhadap wanita, tidak lagi mengejar-ngejar wanita.

Agaknya memang sudah bertaubat dan mentaati nasihat gadis remaja, Muryani.

Akan tetapi benarkah api itu sudah padam seperti dugaan semua penduduk dusun Pakis?

Ataukah api itu masih membara dan ngureng (membara di bagian dalam) seperti api dalam sekam yang sewaktu-waktu dalam menyala dan berkobar kembali?

Pagi yang cerah dan indah.

Sinar matahari pagi yang masih lembut menggugah pohon-pohon cemara dari tidur lelap, menyulap butir-butir embun di ujung-ujung rumput dan daun menjadi mutiara-mutiara yang berkilauan.

Mutiara-mutiara di ujung daun-daun cemara itu berjatuhan ketika ranting pohon itu bergerak karena dihinggapi kaki-kaki burung yang beterbangan dengan riang gembira, berkicau ria sebelum menunaikan tugas hariannya, yaitu pergi mencari makan.

Lereng-lereng Gunung Lawu di luar dusun Pakis itu sunyi sekali.

Orang-orang yang bepergian ke pasar yang berada di dusun lain, melalui jalan raya, tidak melalui lereng-lereng itu.

Akan tetapi, seorang pemuda berjalan seorang diri.

Tangan kanannya memegang sebuah sabit dan pundak kirinya memikul dua buah keranjang kosong.

Pakaiannya sederhana sekali.

Baju tanpa leher berlengan pendek dan celana sebatas lutut.

Semua berwarna hitam.

Kepalanya dibelit kain ikat kepala dan kedua kakinya telajang.

Pemuda itu adalah Parmadi.

Seperti biasa, setelah pagi-pagi sekali tadi dia membersihkan istal kuda di belakang gedung tempat tinggal Ki Demang Wiroboyo, berangkatlah dia membawa pikulan keranjang rumput dan sebuah arit menuju ke lapangan rumput yang berada agak jauh di luar dusun Pakis, di sebuah puncak bukit.

Di sana tumbuh rumput yang segar dan subur, yang tak pernah habis walau dibabatnya setiap hari.

Agaknya pagi dibabat sore tumbuh kembali dan sore dibabat pagi tumbuh kembali.

Bukit itu lumayan jauhnya dari dusun Pakis, sejauh perjalanan selama setengah jam.

Akan tetapi tiada bosannya Parmadi berjalan melalui lereng-lereng itu setiap pagi karena pemandangan di situ amat indahnya, apalagi di waktu matahari baru muncul.

Hawanya sejuk segar dan tentu amat dingin bagi orang yang tidak biasa berada di situ, namun bagi Parmadi yang sudah terbiasa, terasa sejuk segar menyehatkan.

Akan tetapi pagi itu agaknya Parmadi tidak dapat menikmati keindahan dan kesejukan yang biasa dialaminya.

Bahkan dia seperti tidak mengacuhkan atau tidak meraskan itu semua.

Dia tenggelam dalam lamunannya sendiri.

Kedua kakinya bergerak melangkah otomatis ke arah yang menjadi tujuannya tanpa dia perhatikan lagi.

Mula-mula dia membayangkan Muryani dan Ki Ronggo Bangak.

Gadis yang luar biasa, selain cantik jelita, pandai, juga ternyata gagah perkasa.

Hidup berbahagia di samping ayah tercinta.

Dan dia?

Dia seorang pemuda, seorang laki-laki, akan tetapi tidak segagah gadis remaja itu.

Dia hanya seorang tukang mengurus kuda, tukang menyabit rumput, kedudukan yang paling rendah.

Diapun seorang laki-laki yang lemah, seperti bumi dengan langit dibandingkan Muryani.

Dan dia juga tidak seberuntung Muryani.

Dia sudah tidak beribubapa, sudah yatim-piatu.

Maka terkenanglah dia akan keadaan dirinya.

Dia membayangkan kembali keadaan dirinya.

Dahulu, sebagai seorang anak dia hidup berbahagia bersama ayah ibunya di dusun Pancot, di sebuah di antara lereng-lereng Gunung Lawu.

Seingatnya, ayahnya adalah seorang petani yang hidup sederhana namun mereka cukup berbahagia.

Walaupun mereka hidup miskin dan sederhana, namun mereka tidak pernah kelaparan dan kehidupan di lereng gunung itu tenteram dan penuh kedamaian.

Dia masih ingat, ayahnya pernah bercerita bahwa ayah dan ibunya berasal dari Pasuruan, membawanya pindah ke lereng Lawu ketika dia masih kecil.

Ayahnya tidak banyak bercerita tentang kehidupan ketika masih tinggal di Pasuruan.

Dan malapetaka itu menimpa keluarga mereka ketika dia berusia sepuluh tahun.

Ayahnya ketika itu berusia enampuluh tahun, akan tetapi ibunya masih muda, ketika itu berusia kurang lebih tigapuluh tahun.

Ayahnya pernah memberi pelajaran dasar-dasar ilmu pencak silat kepadanya.

Dia juga ingat bahwa agaknya ayahnya itu bersahabat dengan Ki Demang Wiroboyo dan dia melihat Ki Demang Wiroboyo itu sering berkunjung ke rumah mereka.

Ki Demang itu seingatnya amat baik dan ramah kepada mereka, terutama kepada ibunya.

Dan pada malam hari itu terjadilah bencana yang mengubah seluruh jalan hidupnya.

Dia hanya mendengar suara ribut-ribut dalam kamar orang tuanya.

Dia tidur dalam kamarnya sendiri.

Suara seperti terjadi perkelahian dan beradunya senjata tajam berkerontangan.

Dia tidak berani keluar kamar.

Kemudian terdengar suara mengerang kesakitan, kemudian sunyi.

Setelah agak lama, baru dia berani keluar kamarnya.

Kamar orang tuanya gelap, maka dia membawa lampu dari kamarnya dan menuju ke kamar orang tuanya.

Dan pintunya terbuka.

Dia melangkah masuk dan".

ayah ibunya sudah menggeletak di lantai kamar itu.

Dia menjerit dan menubruk ibunya.

Ibunya sudah tewas.

Dia menghampiri ayahnya.

Ayahnya juga tewas setelah berkata lirih.

""..membela Mataram sampai mati "

Parmadi menghentikan langkahnya, menurunkan pikulannya dan duduk di atas batu.

Renungannya terlalu mengasyikkan sehingga dia berhenti berjalan dan melanjutkan lamunan dan kenangannya sambil duduk di atas batu itu.

Dia tidak mengetahui siapa yang membunuh ayah ibunya dan mengapa mereka dibunuh.

Tidak ada tanda-tanda yang akan dapat membuka rahasia itu.

Jenazah ayah-ibunya dikubur.

Ki Demang Wiroboyo yang menjadi sahabat ayahnya juga datang melayat.

Kemudian, karena dia tidak mempunyai sanak-kadang lain, Ki Demang Wiroboyo mengajaknya ke Pakis dan bekerja kepadanya, sebagai kacung kemudian sebagai perawat kuda sampai sekarang.

Parmadi merasa prihatin sekali.

Merasa hidupnya tiada berguna.

Ucapan terakhir ayahnya selalu berdengung di telinganya.

"Membela Mataram sampai mati!"

Apakah maksudnya itu?

Apakah ayahnya telah membela Mataram sampai terbunuh orang?

Ataukah ayahnya memesan kepadanya agar dia membela Mataram mati-matian?

Akan tetapi, kalau dia diharuskan membela Mataram, apa yang dapat dia lakukan?

Dia hanya seorang perawat kuda, penyabit rumput.

Dia bodoh, lemah, miskin.

Apanya yang dapat dia andalkan untuk membela Mataram?

Kalau saja dia memiliki kepandaian seperti halnya Muryani, tentu dia akan dapat melaksanakan pesan terakhir ayahnya itu!

Sekarang, kebiasaannya hanyalah seni memahat, membaca menulis, bertembang dan meniup suling.

Apa gunanya itu untuk dapat membela Mataram?

Diapun belum pernah melihat Mataram.

Apa yang dia ketahui tentang Mataram hanya dari cerita ayahnya.

Mataram adalah kerajaan besar yang menguasai seluruh Nusantara.

Menurut ayahnya, yang menjadi raja Mataram adalah seorang raja yang sakti mandraguna dan berbudi bawa laksana, berjuluk Sang Panembahan Agung Senopati Ing Alogo Ngabdurrachman atau juga disebut Sang Prabu Pandito Cokrokusumo, bahkan ada juga sebutan untuknya, yaitu Sayidin Panotogomo Kalifatullah!

Ketika dia mengeluh kepada ayahnya bahwa nama itu terlalu panjang dan susah untuk diingat, ayahnya tertawa dan mengatakan bahwa pada umumnya Raja Mataram yang gelarnya amat panjang itu disebut Sultan Agung.

Dia harus mengabdi kepada Sultan Agung dan membela Mataram?

Hanya lamunan.

Takkan mungkin terjadi.

Tidak ada apapun padanya yang dapat diandalkan.

Dia hanya penyabit rumput makanan kuda.

Parmadi menghela napas panjang, teringat akan kewajibannya.

Dia lalu bangkit berdiri, mengambil aritnya, memikul keranjangnya dan melanjutkan langkah kakinya menuju ke bukit penuh rumput yang sudah dicapai hampir sampai di puncaknya.

Hatinya gundah, kecewa kepada diri sendiri.

Perasaan ini menimbulkan kemarahan kepada diri sendiri yang dianggapnya tiada berguna.

Untuk melampiaskan kemarahannya, ia menyabit rumput penuh semangat.

Seolah rumput-rumput itu yang menjadi musuh besarnya!

Sebentar saja dia sudah memenuhi dua keranjangnya dengan rumput hijau segar dan gemuk.

Dia tadi bekerja keras sepenuh tenaga sehingga muka dan lehernya basah oleh keringat.

Diusapnya keringat dari mukanya dengan bajunya.

Setelah dia berhenti menyabit dan berdiri di padang rumput puncak bukit itu, baru terasa olehnya betapa tiupan angin amat menyejukkan.

Tiba-tiba pendengarannya menangkap suara yang terbawa angin.

Suara yang tidak asing baginya.

Suara suling.

Jelas itu suara suling.

Dia mengenal benar suara tiupan suling.

Akan tetapi, lagu yang dimainkan suling itu aneh sekali, luar biasa.

Tidak ada di antara tembang-tembang vang dikenalnya seperti itu.

Bukan tembang Dandang-gulo, bukan pula tembang Pangkur, atau Kinanti.

Juga bukan Asmorodono, Megatruh, Sinom, Pucung atau tembang lain yang dikenalnya.

Suara suling itu mendayu-dayu mengeluarkan tembang yang aneh, mengandung berbagai macam perasaan, terkadang seperti merintih seperti Megatruh, terkadang indah menghanyutkan seperti Asmorodono.

Belum pernah dia mendengar suling ditiup orang seperti itu.

Mengandung getaran yang mengisap kalbu, membuat Parmadi kadang merasa terharu, kadang merasa seperti dibawa melayang-layang.

Dia tertarik sekali dan timbul keinginan kuat untuk bertemu dengan orang yang dapat memainkan suling sehebat itu.

Sambil memikul dua keranjang rumput dia menuruni puncak bukit padang rumput menuju ke timur, ke arah dari mana datangnya suara suling itu.

Ternyata suara itu datang dari jarak yang jauh juga.

Dia sudah menuruni bukit dan mendaki sebuah bukit lain.

Agak meremang bulu tengkuk Parmadi walaupun waktu itu masih pagi.

Dia tahu bahwa tempat itu disebut daerah Penggik dan Tamansari yang terkenal daerah angker.

Hanya penduduk daerah Lawu yang sudah biasa dan hapal benar aka keadaan daerah itu yang berani memasuki daerah ini sampai ke daerah Pringgondan karena menurut dongeng rakyat, orang sering kali kalap (tersesat) di daerah itu dan tidak bisa mendapatkan jalan keluar.

Banyak orang yang sudah menjadi korban mati kedinginan dan kelaparan, juga ketakutan, mayat mereka ditemukan di daerah itu.

Akan tetapi Parmadi sudah mengenal daerah itu, maka dia mendaki bukit yang rimbun itu dengan tenang walaupun hatinya agak berdebar karena suara suling itu amat aneh, apalagi terdengar keluar dari daerah yang dikeramatkan oleh penduduk pedusunan di daerah Pegunungan Lawu itu.

Setelah melalui hutan lebat, akhirnya dia tiba di sebuah tempat terbuka dan di tengahtengah tempat yang ditumbuhi banyak rumput hutan itu terdapat sebuah batu besar.

Dia berhenti, melangkah dan memandang ke arah batu itu seperti orang terpesona.

Setelah ditemukan orang yang memainkan suling seperti itu di tengah hutan yang terkenal angker itu, timbul keraguan dalam hatinya.

Manusiakah orang yang duduk di atas batu besar sambil ineniup suling itu?

Anehnya, setelah dia berada dekat, dalam jarak belasan meter, dia mendengar suara suling itu mendayu-dayu seperti tadi, tidaklah nyaring sekali.

Akan tetapi bagaimana dapat dia dengar dari puncak bukit lain yang jaraknya cukup jauh?

Dia berdiri mematung, masih memikul keranjangnya dan memegang sabitnya, seperti terpesona.

Kakek itu tidak mirip manusia biasa.

Manusiakah dia, ataukah sebangsa siluman makhluk halus?

Kalau manusia, usianya tentu sedikitnya tujuhpuluh tahun.

Rambut, alis, jenggot dan kumisnya sudah putih semua, putih mengkilap seperti benang sutera perak.

Rambut putih itu panjangnya sepundak.

Wajah tua itu masih tampak sgar.

Matanya bersinar lembut, namun tajam penuh wibawa dan penuh pengertian Pakaian yang menutupi tubuhnya yang sedang agak kurus itupun sederhana sekali.

Hanya merupakan kain putih yang membelit tubuhnya, diikat dengan ikat pinggang putih pula.

Suling yang ditiupnya merupakan sebatang seruling putih kuning yang panjangnya kurang lebih setengah meter.

Seruling itu mengkilap tertimpa sinar matahari yang mulai naik agak tinggi.

Perlahan-lahan suara suling itu berubah lirih dan akhirnya berhenti sama sekal namun Parmadi seolah-olah masih mendengar gemanya berdengung di telinganya.

Kakek itu kini memandang kepadanya mulut yang tersembunyi di antara kumis dan jenggot putih itu tersenyum, sepasang mata tua yang bersinar lembut itu berseri.

Senyum dan pandang mata kakek itu seolah memiliki daya kekuatan mengundang Parmadi sehingga pemuda ini seperti bukan kehendaknya sendiri, menggerakkan kakinya, perlahan melangkah maju menghampiri.

Setelah berada di depan batu besar yang diduduki kakek itu, Parmadi berhenti dan memandang kakek itu dengan jantung berdebar tegang.

Dia mendapat pendidikan cukup dari Ki Ronggo Bangak, maka dia menurunkan pikulan keranjang rumputnya, melepaskan sabitnya, lalu membungkuk sebagai penghormatan dan bertanya dengan sikap hormat.

"Maafkan pertanyaan saya, eyang. Apakah eyang ini seorang manusia ataukah bukan?"

Kakek itu mengangkat muka ke atas dan diapun tertawa. Suara tawanya halus dan wajar.

"Haha-ha, orang muda yang lucu. Dengan dasar bagaimanakah andika bertanya apakah aku manusia atau bukan?"

"Maafkan saya, eyang. Keraguan saya bahwa eyang seorang manusia adalah keadaan eyang yang amat aneh. Pertama, tiupan suling tadi. Selain suaranya dapat mencapai jauh sekali, juga tembang yang eyang mainkan dengan suling tadi terdengar aneh namun luar biasa indahnya. Selain itu, kakek yang sudah begini tua bagaimana dapat mendaki sampai ke sini dan berada seorang diri di hutan yang terkenal angker ini?"

Kakek itu turun dari atas batu.

Batu itu cukup tinggi, setinggi pundak Parmadi.

Akan tetapi kakek itu melompat turun dengan ringan sekali, seringan daun kering sehingga ketika kedua kakinya hinggap di atas tanah, tidak mengeluarkan suara.

Jubahnya berkibar ujungnya ketika dia melompat turun.

Ketika dia berdiri di depan Parmadi, pemuda itu mendapat kenyataan bahwa kakek tua renta itu berdirinya masih tegak dan ternyata bentuk tubuhnya cukup tinggi dan kurus.

"Orang muda, aku tidak menjadi heran akan keraguanmu. Akan tetapi yang mengherankan aku adalah sikap dan kata-katamu. Sebelum aku menjawab pertanyaanmu tadi, maukah andika lebih dulu menjawab pertanyaanku?"

"Tentu saja, eyang. Silakan bertanya dan saya akan menjawab sejujurnya dan sekuat kemampuan saya."

"Andika membawa sabit dan memikul dua keranjang rumput. Pakaianmu juga menunjukkan bahwa andika seorang pemuda dusun. Apakah andika penduduk dusun di Pegunungan Lawu ini?"

"Benar sekali, eyang. Saya penduduk dusun Pakis dan bekerja sebagai perawat kuda Ki Demang dari Pakis."

"Siapa namamu, kulup?"

"Nama saya Parmadi, eyang."

"Jagad Dewa Bathara....! Seorang pemuda desa yang miskin sederhana, penyabit rumput perawat kuda, namanya Parmadi dan tindak-tanduknya (pembawaaniya) penuh susila seperti Raden Permadi!"

Kata kakek itu. Wajah Parmadi berubah merah mendeIgar pujian itu dan dia cepat ingin mengalihkan perhatian dan percakapan tentang dirinya.

"Maaf, eyang. Eyang belum menjawab pertanyaan saya tadi."

"Engkau bertanya bagaimana seorang tua renta seperti aku dapat berada di hutan gunung yang angker ini? Ketahuilah bahwa selama ini aku memang selalu berada di hutan-hutan dan gunung-gunung. Tempat tinggalku adalah di mana kedua kakiku berpijak. Rumahku berlantai tanah berdinding pohon beratap langit. Maka tidak aneh sama sekali kalau hari ini aku berada di hutan gunung ini, Parmadi. Aku manusia biasa seperti juga andika, penuh kekurangan dan mungkin hanya sedikit kelebihan. Aku bukan makhluk halus, bukan kama wurung, bukan iblis atau siluman juga bukan dewa."

"Akan tetapi tembang dalam suara suling eyang tadi...."

Kakek itu tersenyum dan kalau dia tersenyum wajahnya tampak semakin segar.

"Heh-heh, kalau tiupan sulingku dikendalikan oleh akal pikiranku, tentu yang andika dengar adalah tembang yang dikenal umum. Akan tetapi tiupan suling tadi keluar dari bimbingan jiwaku yang hanya akan dapat dikenal oleh jiwa, bukan oleh akal pikiran."

Parmadi tertegun, tidak mengerti.

Akan tetapi dia merasa tidak sopan kalau harus minta penjelasan.

Dari jawaban tadi dia berkesimpulan bahwa kakek ini seorang kelana yang amat aneh dan penuh rahasia.

Dapat tiba di tempat itu dan pakaiannya masih putih bersih seperti tidak pernah menyentuh tanah dan tumbuh-tumbuhan.

Dia mulai menduga bahwa kakek itu tentu seorang yang.

memiliki kepandaan tinggi, seorang yang sakti mandraguna dan arif bijaksana.

"Eyang telah mengetahui nama saya. Bolehkah saya mengetahui nama eyang yang mulia?"

Tanya Parmadi hati-hati agar tidak berkesan tidak sopan.

"Tentu saja boleh, kulup. Orang-orang menyebut aku Ki Tejo Wening."

Kakek itu lalu duduk di atas sebuah batu yang tidak berapa besar.

"Duduklah, Parmadi, aku ingin bercakap-cakap denganmu. Kedatanganmu ke sini terpanggil oleh suara sulingku dapat kuanggap bahwa engkau berjodoh denganku. Nah, ceritakanlah keadaanmu. Siapakah nama ayahmu?"

Parmadi juga duduk di atas batu berhadapan dengan kakek itu.

"Ayah saya bernama Brojoketi, eyang."

"Brojoketi? Dari mana ayahmu berasal dan di mana dia sekarang?"

"Ayah berasal dari Pasuruan dan dia telah meninggal dunia di dusun Pancot, tidak jauh dari dusun Pakis. Ketika saya berusia sepuluh tahun saya tinggal di dusun Pancot bersama ayah ibu saya. Akan tetapi pada suatu malam ayah dan ibu saya tewas dalam kamar mereka, dibunuh orang, eyang."

"Ahh, semoga Hyang Widhi mengampuni kita semua!"

Seru kakek itu.

"Siapa pembunuh itu dan mengapa ayah ibu dibunuh?"

Parmadi menggeleng kepalanya.

"Saya tidak tahu, eyang. Yang saya ingat hanya ketika saya memasuki kamar ayah ibu, ibu telah tewas dan ayah juga tewas setelah meninggalkan kata-kata begini, 'membela Mataram sampai mati'."

"Hemm, ayahmu yang bernama Brojokerti itu tentulah seorang yang setia kepada Kerajaan Mataram. Setelah engkau di tinggal mati kedua orang tuamu, lalu bagaimana?"

"Saya dibawa oleh Ki Demang Wiroboyo ke rumahnya di dusun Pakis dan diberi pekerjaan. Sampai sekarang saya menjadi perawat tujuh ekor kuda milik Ki Demang Wiroboyo, eyang."

"Dan dia yang mengajarimu tentang tata-krama (tata susila)?"

"Bukan, eyang. Selama lima tahun ini saya diberi pelajaran tentang sastra, seni, budi pekerti dan tata susila oleh paman Ronggo Bangak yang tinggal di Pakis. Paman Ronggo Bangak berasal dari Demak, eyang. Eyang, pesan ayah dalam ucapan terakhir itu saya anggap sebagai pesan untuk saya agar saya membela Mataram. Akan tetapi, saya seorang pemuda lemah seperti ini, yang hanya mengerti sedikit tentang sastra dan seni, bagaimana mungkin saya dapat membela Mataram seperti dipesan mendiang ayah saya? Karena itu, eyang, saya mohon, sudilah eyang menerima saya sebagai murid eyang!"

Setelah berkata demikian, Parmadi lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah kepada kakek itu. Nalurinya mendorongnya untuk berguru kepada kakek aneh ini.

"Parmadi, apakah engkau mengira bahwa untuk berbakti kepada nusa bangsa itu hanya diperlukan jasmani yang kuat dan kanuragan? Siapa saja dapat berbakti kepada nusa dan bangsa yang sama nilainya dengan memanfaatkan segala kemampuan yang dimilikinya. Semua orang dapat berjuang untuk Mataram, dalam bidang dan dengan cara masing-masing. Perjuangan bukan berarti hanya bertempur melawan musuh negara. Mendidik rakyat, memajukan kebudayaan termasuk kesusastraan dan kesenian, juga merupakan perjuangan yang tak kalah besar nilainya."

"Akan tetapi, eyang. Saya mendengar dari penuturan paman Ronggo Bangak bahwa Mataram masih menghadapi berbagai ancaman. Banyak kadipaten memberontak terhadap Mataram. Padahal Mataram ingin menyatukan semua kadipaten untuk menghadapi musuh yang amat berbahaya, yaitu kaum kumpeni Belanda. Karena itu, saya pikir Mataram membutuhkan banyak orang yang memiliki kedigdayaan untuk menghadapi semua tantangan itu dan saya ingin sekali menyumbangkan tenaga saya untuk rnemenuhi pesan terakhir mendiang ayah saya, eyang,"

"Jadi engkau bertekad untuk menjadi rnuridku, Parmadi?"

"Benar, eyang. Saya bersumpah untuk rnentaati segala petunjuk dan perintah eyang, dan saya ingin ikut eyang ke manapun eyang pergi, melayani eyang, mengabdikan diri kepada eyang."

"Hemm, agaknya memang Sang Hyang Widhi sudah menghendaki demikian. Akan tetapi aku hanya dapat mengajarkan cara meniup dan memainkan seruling kepadamu, Parmadi."

"Apa saja yang eyang ajarkan, akan saya pelajari dengan taat dan tekun,"

Kata Parmadi dengan girang seolah dia sudah melihat terbukanya sebuah pintu lebar yang akan membawa dia ke dalam kehidupan baru.

"Saya akan mengikuti eyang ke manapun eyang mengajak saya pergi."

"Untuk sementara ini, aku akan tinggal di tempat ini, Parmadi. Karena itu, engkau tetaplah bekerja seperti biasa. Setiap hari, kalau ada kesempatan, engkau datanglah ke sini untuk belajar meniup seruling. Kelak, kalau tiba waktunya aku meninggalkan tempat ini, engkau boleh ikut bersamaku."

Biarpun hanya dijanjikan akan diberi pelajaran meniup seruling, kepandaian yang sudah dimilikinya karena diapun mahir sekali memainkan suling, namun hati Parmadi sudah sedemikian gembiranya sehingga berulang kali dia menyembah dan mengucapkan terima kasih.

"Sekarang, kalau engkau masih ada waktu, bantulah aku menebang beberapa pohon bamboo untuk kubuat sebuah gubuk tempat berteduh kalau hujan turun."

"Akan tetapi di sini tidak ada pohon bambu, eyang. Yang ada hanya pohon-pohon kayu."

"Baiklah, gubuk kayu juga tidak apa bahkan lebih kokoh."

Parmadi dengan gembira lalu menggunakan sabitnya untuk menebang beberapa batang pohon kayu.

Dia membantu kakek itu membangun sebuah gubuk sederhana sekedar untuk tempat berteduh kalau hujan turun.

Setelah selesai, haripun sudah menjebing sore dan Parmadi berpamit lalu bergegas pulang ke dusun Pakis.

Untung baginya, Ki Demang Wiroboyo sedang pergi keluar dusun sehingga dia tidak mendapat teguran atas keterlambatannya.

Segera dia werawat kuda-kuda dalam istal kademangan itu.

Demikianlah, sejak hari itu, Parmadi setiap hari menggunakan kesempatan untuk menghadap gurunya di hutan Penggik.

Di sana, sambil duduk di atas batu, Parmadi benar-benar menerima pelajaran meniup dan memainkan seruling!

Mula-mula, dia sendiri membawa sebatang suling bambu.

Ki Tejo Wening minta dia mainkan tembang-tembang Jawa.

Parmadi memainkan hampir semua tembang dengan baik.

Ki Tejo Wening mengangguk-angguk setelah muridnya menyelesaikan tiupan sulingnya.

"Semua itu bagus sekali, Parmadi. Akan tetapi, semua tembang yang kaumainkan dengan suling itu dituntun oleh akal pikiran. Aku akan mengajarkan engkau, atau lebih tepat menunjukkan engkau tiupan suling yang tidak dikendalikan oleh akal pikiran, melainkan oleh jiwa."

"Akan tetapi, bagaimana caranya itu eyang?"

"Caranya? Tidak ada caranya. Akan tetapi sang aku yang menguasaimu haruslah menyingkir lebih dulu. Sang aku ya mengaku-aku itu sesungguhnya bukan engkau yang sejati. Aku yang ingin ini ingin itu, ingin yang serba enak dan menyenangkan, hanyalah akal pikiran, badan dan nafsu berkumpul menjadi satu. Kalau semua nafsu tersingkir, kalau aku tidak lagi, maka jiwa akan bangkit, akan tersentuh kekuasaan Hyang Widhi seperti pada mula-mula kehidupan sebelum kekuasaan diambil alih oleh nafsu hati akal pikiran. Nah, tiupan suling yang digerakkan oleh jiwa yang bangkit itulah yang harus kaurasakan, Parmadi."

Parmadi yang sudah banyak membaca kitab-kitab Weda, pemberian Ki Ronggo Bangak, dapat menangkap maksud ucapan gurunya.

Dia tahu akan cara orang bersamadhi, mengosongkan pikiran, mengheningkan cipta, berkonsentrasi dan sebagainya.

"Apakah yang eyang maksudkan itu dengan cara bersamadhi?"

Kakek itu menggeleng kepalanya.

"Bukan, kulup. Bukan samadhi. Bersamadhi memang baik untuk menenangkan pikiran. Akan tetapi bersamadhi tidak meniadakan aku, karena masih ada aku yang bersamadhi dan ada aku yang ingin mencapai sesuatu dengan cara bersamadhi itu."

"Kalau bukan bersamadhi, apakah eyang maksudkan bersembahyang?"

"Juga bukan. Bersembahyang masih menujukan batin kepada Sesuatu dan ada permohonan dari si aku kepada Sesuatu itu. Bukan, kulup, bukan samadhi dan bukan pula sembahyang."

"Lalu apa dan bagaimana, eyang?"

"Anggap saja sebagai penyerahan. Menyerah kepada Hyang Widhi, berhentinya semua hati akal pikiran, seolah-olah mati di depan kekuasaan Hyang Widhi, penyerahan yang selengkapnya, lahir (Lanjut ke

Jilid 04) Seruling Gading (Seri ke 02 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04 batin, penyerahan dengan ikhlas dan tawakal, sepenuh iman, tanpa pamrih karena kalau ada pamrih berarti si aku masih bekerja.

Kalau sudah begitu, jiwa akan terbebas dari cengkeraman nafsu badani dan akan bangkit dan bertemu dengan kekuasaan Hyang Widhi, dan memegang kendali sepenuhnya atas raga."

Demikianlah, Parmadi digembleng oleh Ki Tejo Wening, dituntun untuk menyerahkan jiwa raga kepada Sang Hyang Widi sehingga kekuasaan Sang Hyang Widhi mulai bekerja dalam dirinya, membimbing dan memberi kehidupan baru kepada jiwa raganya.

Mulailah Parmadi dapat merasakan apa artinya meniup seruling tanpa dikendalikan oleh hati akal pikirannya.

Mula-mula yang keluar dari tiupan sulingnya hanya satu nada saja.

Akan tetapi lambat-laun gerak jiwanya menuntun raga menjadi lebih mantap, lebih teratur sehingga dari tiupan serulingnya terdengar lengking yang mulai berirama dan beraneka nada menjalin tembang yang aneh.

Dia sendiri menyadari dan mendengar tiupan sulingnya yang terjadi di luar kehendak hati atau pikirannya, tanpa dia tahu apa artinya itu.

Setelah lewat berbulan-bulan, gurunnya memberi penjelasan kepadanya.

"Angger Parmadi. Ketahuilah bahwa tiupan seruling bambumu itu dilakukan karena bimbingan jiwa yang mulai hidup dan dalam getaran suara sulingmu itu mengandung kekuatan yang amat dahsyat. Yang jelas saja, semua daya rendah, roh-roh jahat akan runtuh dan melarikan diri mendengar suara tiupan sulingmu yang mengandung getaran yang amat kuat bagi mereka."

Mendengar ini, Parmadi merasa terharu dan berterima kasih dan dia berlatih semakin tekun di bawah petunjuk Ki Tejo Wening.

Semenjak Ki Tejo Wening tinggal di lereng Lawu itu, daerah Penggik dan Tamansari semakin angker bagi seluruh penduduk di daerah pegunungan itu.

Dari daerah itu seringkali terdengar suara melengking-lengking, seperti seruling.

Akan tetapi suaranya aneh sekali dan tembang yang dimainkan asing bagi semua orang.

Karena itu muncul desas-desus bahwa suara itu tentulah para jin dan mahluk halus yang sedang menabuh gamelan!

Tiada seorang pun berani memasuki daerah itu.

Biarpun telah berguru kepada Ki Tejo Wening, walaupun hanya berguru meniup suling, namun Parmadi merahasiakan hal itu.

Dia maklum bahwa kakek itu tidak ingin kehadirannya diketahui orang banyak, maka diapun tidak pernah bercerita kepada siapapun juga.

Bahkan Muryani juga tidak tahu akan rahasia ini.

Sementara itu, sikap Ki Demang Wiroboyo selama hampir setengah tahun ini baik-baik saja.

Dia bertugas seperti biasa, mengatur kehidupan rakyat dusun Pakis dan selama itu belum pernah dia mengganggu seorangpun wanita.

Agaknya dia sudah bertaubat dan sikapnya terhadap Ki Ronggo Bangak dan Muryani, kalau dia bertemu dengan mereka, juga baik dan ramah seperti biasa.

Akan tetapi, tanpa diketahui bahkan tidak disangka oleh siapa pun juga, diam-diam api penasaran dan dendam itu masih membara di dalam hati Ki Demang Wiroboyo.

Dia adalah seorang laki-laki yang dikuasai nafsu birahinya.

Biasanya, wanita yang dipilihnya, tak perduli janda atau perawan, pasti akan dapat dimilikinya, baik dengan jalan halus maupun kasar.

Untuk urusan lain dia dapat bersikap adil, bahkan mengalah.

Akan tetapi untuk urusan yang satu ini, karena sudah terbiasa sejak muda bahwa setiap wanita yang ditaksirnya tentu akan didapatkannya, maka ketika dia bertemu Muryani dan tergila-gila kepada gadis itu, dia bertemu batunya.

Bukan saja dia gagal memilikinya, bahkan dia dibuat malu di depan penduduk Pakis.

Dikalahkan dalam lomba balap kuda dan adu kanuragan.

Dia merasa dipermalukan dan dia akan tetap penasaran sebelum mendapatkan gadis itu yang harus bertekuk lutut kepadanya dan rnenjadi miliknya!

Demikianlah, diam-diam dia mengutus seorang pembantunya untuk pergi ke Ponorogo dan mengundang Surobajul, seorang warok yang terkenal karena keberanian dan kesaktiannya.

Warok Surobajul ini adalah seorang yang mau melakukan apa saja asal diberi imbalan uang banyak.

Ki Demang Wiroboyo mengenal watak sahabatnya ini, maka ketika mengundangnya, tidak lupa dia mengirimi hadiah yang berharga.

Warok Surobajul tertawa bergelak dengan pongahnya ketika mendengar dari utusan Ki Demang Wiroboyo bahwa dia dimintai pertolongan untuk menundukkan seorang wanita!

Biarpun utusan itu menceritakan betapa digdaya gadis remaja yang telah mengalahkan Ki Demang Wiroboyo itu, Surobajul tidak menjadi gentar.

Apa lagi hadiah besar menantinya di dusun Pakis.

Melawan seorang jagoanpun dia tidak akan mundur kalau di sana ada imbalan yang besar dan dia tahu bahwa Ki Demang Wiroboyo adalah seorang kaya dan tahu pula akan kelemahan sahabatnya itu yang tidak akan sayang mengeluarkan harta bendanya untuk mendapatkan seorang wanita yang digandrunginya.

Pada suatu hari muncullah warok Surobajul di rumah Ki Demang Wiroboyo, disambut dengan gembira oleh kepala dusun itu.

Untuk menyenangkan hati sahabatnya dia menjamu sahabatnya itu dengan hidangan mewah.

Disembelihnya seekor kambing dan beberapa ekor ayam untuk menjamu tamu yang hanya seorang itu.

Malam itu mereka berdua berpesta-pora sekenyangnya dan sepuasnya.

Setelah selesai berpesta makan, keduanya duduk bercakap-cakap di ruangan tertutup sebelah dalam gedung Ki Demang Wiroboyo.

Mereka duduk berhadapan dan Ki Demang Wiroboyo memandang sahabat yang menjadi tamunya itu dengan mata bersinar gembira dan penuh harapan.

Rupa Surobajul menjanjikan keberhasilan niatnya karena wajah dan perawakan warok ini memang mendatangkan kesan seorang yang kokoh kuat dan menyeramkan lawannya.

Anggauta tubuh Surobajul ini serba besar, seperti raksasa.

Tubuhnya tinggi besar dengan otot melingkar-lingkar seperti tambang di seluruh tubuhnya.

Kaki dan tangannya panjang dan besar.

Kepalanya juga besar, dengan muka yang kulitnya kemerahan dengan bercak-bercak hitam.

Rambut, kumis dan jenggotnya yang pendek seperti kawat hitam, kaku dan keras.

Alisnya tebal melindungi seoasang mata yang melotot lebar, sepasang mata yang tampaknya selalu marah dan bersinar keras dan kejam.

Hidungnya juga besar dan mbengol bulat, mulutnya menyeringai dan tampak giginya yang besar-besar dan tidak rapi.

Usia raksasa berkulit hitam ini sekitar empatpuluh lima tahun, Pakaiannya serba hitam dan dia berkalung sarung.

Celananya terikat kolor (tali ikat pinggang) berwarna kuning sebesar ibu jari kaki dan panjangnya hampir menyentuh tanah.

Kolor inilah yang menjadi senjatanya yang amat ampuh.

Seperti kebanyakan para warok, kolor ini merupakan senjata pusaka bertuah yang sudah diisi tenaga sakti dengan bertapa.

Ki Demang Wiroboyo memandang kepada sahabatnya sambil tersenyum dan dia berkata.

"Sungguh aku merasa gembira sekali bahwa andika mau datang berkunjung memenuhi undanganku, kakang Surobajul!"

Surobajul tertawa dan ruangan itu setelah tergetar oleh suara tawanya yang ngakak (terbahak) dan parau.

"Ha-ha-ha. Seorang sahabat baik mengundang, kenapa aku tidak akan datang, adi Wiroboyo? Bukankah kita ini sahabat karib dan di antara kita berlaku ucapan. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing, susah sama tanggung, senang sama dinikmati?"

"Andika benar sekali, kakang Surobajul. Jangan khawatir, kalau andika dapat membantuku dalam urusan ini sehingga berhasil bagi kemenanganku, aku tidak akan pelit untuk membagi sebagian hartaku kepada andika."

"Ha-ha-ha, aku percaya dan tahu bahwa Ki Demang Wiroboyo adalah seorang yang tahu menghargai bantuan orang lain. Nah, katakanlah, kesukaran apa yang sedang andika hadapi dan bantuan apa yang andika harapkan dariku?"

"Apakah utusanku belum menceritakan kepadamu, kakang Surobajul?"

Baca Juga: Suling Naga 14

Baca Juga: Mutiara Hitam 20

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert