Eps 4 Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan - Chin Yung
Baca online Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan - Chin Yung
Cersil Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan - Chin Yung.
"Kita baru saja bertemu, bagaimana engkau begitu yakin bahwa aku memiliki kepandaian yang tinggi dan ingin mengangkat aku menjadi gurumu ?"
Tetapi Toan Hongya telah yakin dengan pendiriannya, maka ia berkata Iagi .
"Walaupun totiang mengatakan apa saja, tetap aku bertekad untuk berguru pada totiang, aku yakin bahwa totiang memiliki kepandaian yang tinggi!" .
"Hemm.......", tertawa pendeta itu sambil mengawasi tajam pada Toan Ceng.
"Rupanya engkau benar-benar gemar sekali mempelajari ilmu silat..... Tetapi mengapa engkau tidak berusaha untuk merantau saja kedaratan Tionggoan, bukankah disana banyak sekali akhli-akhli silat yang memiliki kepandaian tinggi, yang bisa kau angkat menjadi gurumu ?"
Mendengar perkataan tojin itu, muka Toan Hongya jadi berobah muram.
"Aku memiliki sedikit kesulitan, totiang........"
Katanya kemudian.
"Kesulitan apa ?"
"Sulit untuk aku jelaskan...!".
"Jika engkau tidak terbuka. dalam persoalanmu, bagaimana mungkin ada orang yang bersedia menjadi gurumu ?"
Tanya pendeta itu.
"Kesulitanku itu benar-benar sulit dijelaskan totiang. Tetapi yang pasti, aku ingin sekali mempelajari ilmu silat sebaik mungkin, maka jika memang totiang tidak mentertawakan aku, ingin sekali aku mengundang totiang menjadi guruku...!"
Tojin itu berdiam diri sejenak, kemudian dia baru berkata setelah lewat beberapa saat lamanya .
"Baiklah, siapa namamu ?".
"Seperti tadi telah kukatakan, aku she Toan dan bernama Ceng..,!"
"Apakah itu bukan nama samaran ?"
Tanya tojin itu lagi.
"Nama samaran ?"
Tanya Toan Hongya agak heran dan tidak mengerti. Tojin itu telah mengangguk.
"Ya, setahuku, bahwa marga she Toan itu adalah marga keturunan raja-raja Tailie....., apakah engkau benar-benar she Toan dan memiliki hubungan kekeluargaan dengan keluarga raja Tailie...?"
Mendengar pertanyaan tojin itu, Toan Hongya jadi terkejut juga.
Rupanya tojin ini memang memiliki pengetahuan yang luas, maka sampai ke-soal she dia mengetahui dengan jelas.
Tetapi waktu itu Toan Hongya tidak bisa berdiam diri terlalu lama, ia telah mengangguk.
"Benar, justru memang aku berasal dari kalangan istana Tailie...."
Mendengar, perkataan Toan Hongya yang terakhir, muka tosu itu jadi berobah.
"Engkau masih ada hubungan dengan orang istana negeri Tailie ini ?"
Tanyanya. Toan Hongya mengangguk.
"Benar", sahutnya.
"Apakah ada sesuatu yang tidak beres totiang...?" . Muka pendeta itu semakin tidak enak dipandang, tampaknya ia tengah memikirkan sesuatu, sampai akhirnya ia baru menyahutinya .
"Tahukah engkau, kedatanganku dari Tionggoan yang jaraknya begitu jauh, merupakan tujuan yang utama untuk mencari beberapa orang she Toan! " .
"Siapa totiang...?"
Tanya Tuan Hongya terkejut..
"Hemm........, justru aku tidak bisa menyebutkannya, sebab akupun memiliki kesulitan untuk menjelaskannya...!"
Menyahuti pendeta itu. Sedangkan Toan Hongya telah berkata dengan suara yang pasti .
"Jika memang totiang memiliki kesulitan, mungkin aku bisa membantu ?"
Pertanyaan itu merupakan tawaran jasa baik untuk sitosu. Tetapi tosu itu telah menggelengkan kepalanya.
"Engkau tidak mungkin bisa menolongku... ini menyangkut urusan penasaran...!"
Muka Toan Hongya jadi berobah.
"Urusan penasaran ?"
Tanyanya. Tosu itu mengangguk.
"Benar", sahutnya.
"Urusan ini adalah urusan penasaran, maka tanpa memperdulikan perjalanan yang jauh dari daratan Tionggoan, aku telah datang kemari...!"
Waktu berkata begitu, nada suara si tosu terdengar tidak begitu menyenangkan, tampaknya ia mulai tidak menyukai Toan Hongya setelah mengetahui bahwa Toan Hongya adalah orang she Toan dari pihak kerajaan Tailie ini.
Toan Hongya sendiri jadi diliputi tanda tanya.
Dilihat dari sikapnya seperti juga tosu itu tengah mengerjakan sesuatu.
Tetapi yang pasti tentu saja bukan urusan yang menggembirakan.
Sedangkan tosu itu setelah berpikir sejenak, ia berkata lagi .
"Apa kedudukanmu didalam istana Tailie ?" . Toan Hongya ragu-ragu sejenak, kemudian ia baru menyahuti pertanyaan tosu itu .
"Sesungguhnya......,aku Toan Hongya, kaisar dikerajaan ini......!".
"Apa ?"
Tanya tosu itu terkejut, ia sampai mementang kedua matanya lebar-lebar.
"Engkau yang dipermuliakan dikerajaan ini?"
Toan Hongya mengangguk.
"Benar...!"
Tetapi tosu itu seperti kurang mempercayainya.
"Usiamu masih demikian muda...!"
Katanya.
"Ya, aku baru beberapa tahun naik takhta...!"
Sahut Toan Hongya.
"Maka jika totiang tidak keberatan, justru aku hendak mengundang totiang untuk singgah diistana...!" . Pendeta itu jadi tidak bisa berkata-kata lagi, ia tampaknya ragu-ragu. Tetapi kemudian ia telah merangkapkan tangannya memberi hormat.
"Tidak kusangka bahwa Pinto memiliki rejeki yang besar, sehingga bisa bertemu muka dengan junjungan dinegeri Tailie ini!" .
"Sebetulnya totiang memiliki kesulitan apakah....... tampaknya totiang kurang begitu tenang. Dan juga orang she Toan mana yang telah mempersulit totiang...?"
Tanya Toan Hongya pula.
"Mungkin aku bisa membantu totiang menyelesaikan urusan ini ?" . Tosu itu menghela napas, sambil katanya.
"Sesungguhnya urusan ini merupakan urusan yang telah lebih dua puluh tahun yang lalu... mungkin waktu itu engkau belum dilahirkan...''.
"Jadi waktu itu ayahku yang berkuasa, karena selama empat puluh dua tahun ayah duduk disinggasana...!"
Kata Toan Ceng. Tosu itu mengangguk.
"Ya, memang waktu itu ayahmu, Toan Bun Liang, bukankah begitu namanya ?"
Tanya tosu itu. Toan Ceng mengangguk.
"Benar memang itulah nama ayahku...!"
Menyahuti Toan Hongya.
"Dan justru baru beberapa tahun ini aku menduduki singgasana setelah ayah wafat...!"
"Usiamu masib terlalu muda", kata tosu itu.
"Tetapi justru sekarang engkau telah menjadi orang yang paling mulia dinegeri ini...!" . Toan Ceng segera mengeluarkan kata-kata merendah, dan dia telah bilang lagi .
"Jika memang totiang memiliki kesulitan dengan orang-orang kami, katakan saja, siapa orang-orang itu, mungkin aku bisa menolongnya...!" . Tosu itu kembali menghela napas. Sampai akhirnya dia berkata juga .
"Aku datang kedaratan Tailie ini karena ingin mencari jejak isteriku...l"
Akhirnya ia memberitahukan juga.
"Mencari isteri totiang...?"
Tanya Toan Hongya agak heran. Pendeta itu rupanya mengetahui perasaan heran Toan Ceng, ia telah mengangguk.
"Ya... justru dua tahun yang lalu aku belum mensucikan diri, aku belum jadi seorang tojin...!"
Mengangguk pendeta itu.
"Hemm......., siapakah nama isteri totiang ?"
Tanya Toan Hongya lagi. Sipendeta tampak ragu-ragu, tetapi kemudian dia telah menyahutinya .
"Dia she Bian dan bernama Khuang Lie. Dua puluh tahun yang lalu telah dilarikan ke Tailie...!"
"Oh........ !"
"Dan orang-orang yang melarikan isteriku itu dua orang she Toan, masing-masing bernama Toan Liang dan Toan Bun. Mereka merupakan dua orang terdekat dari Kaisar Tailie saat itu..."
"Ohh......., mereka berdua itu adalah pamanku...!"
Kata Toan Hongya.
"Justru itu, engkau tidak mungkin bisa membantuku, malah engkau akan ikut memusuhiku. Tetapi biarlah, terlanjur aku telah menceritakannya, aku akan mengatakannya semua"
Kata tosu itu. Sedangkan Toan Ceng jadi sangat tertarik, dia telah menawarkan .
"Bagaimana jika kita bercakap-cakap didalam kamarku saja, totiang.....bukankah lebih tenang dan tidak perlu diterpa oleh angin malam ?" . Pendeta itu rupanya menyetujuinya, ia hanya mengangguk. Keduanya melompat turun dan masuk kedalam kamar Toan Ceng lewat jendela kamar. Sedangkan Toan Ceng telah menyediakan secawan teh kepada pendeta itu ---o^dw_kz~0~Tah^o---PENDETA tersebut mengawasi Toan Ceng beberapa saat lamanya, akhirnya ia bilang juga .
"Jika dilihat dari gerak-gerikmu, engkau tentunya seorang Kaisar yang baik budi......sekarangpun yang mengherankan justru engkau berpakaian seperti rakyat biasa, tanpa pengawal dan hanya berseorang diri saja.......! Yang mengherankan aku, sebagai seorang Kaisar, engkau bisa berkeliaran mencari jejakku........"
Toan Ceng tertawa.
"Sesungguhnya memang telah sering aku keluar dari istana dengan penyamaran seperti ini, hanya untuk mengetahui lebih-dekat dan lebih jelas kehidupan rakyatku!" .
"Engkau seorang raja yang baik...!"
"Tidak bisa aku mempercayai sepenuhnya begitu saja laporan-laporan yang masuk, karena umumnya manusia ingin menang sendiri, begitu pula dengan orang-orangku, terlebih lagi mereka memiliki kekuasaan, dengan sendirinya mereka akan membela kebenaran mereka sendiri, jika hal itu berhubungan langsung dengan persoalan pribadi mereka. Sedangkan urusan yang muncul antara rakyat negeri dengan para pembesar negeri, dimana mereka saling bentrok, bukanlah sedikit. Dengan cara menyamar seperti ini, aku jadi bisa melihat lebih jelas apa yang terjadi...!"
Setelah berkata begitu, Toan Ceng juga menjelaskan, bahwa ia telah cukup lama memerintahkan orang-orangnya untuk mencari orang pandai, karena Toan Hongya mengakui dirinya tertarik sekali untuk mempelajari ilmu silat yang tinggi, selain memang menggemarinya, juga ia sangat senang untuk melatih ilmu silat.
"Jika dilihat dari gerak-gerikmu dan juga sinar matamu, sekarang ini engkau telah memiiiki kepandaian yang tidak rendah...!"
Kata tojin itu.
Toan Hongya segera mengakuinya bahwa ia memang telah cukup banyak mempelajari ilmu silat, tetapi sejauh itu belum berhasil memperoleh guru yang baik, yang bisa mewarisi kepandaiannya ilmu yang tinggi.
"Sabarlah, kelak juga engkau akan memperoleh guru yang baik, terutama adalah keuletanmu untuk berlatih...!"
Kata pendeta tersebut.
"Dan, bolehkah aku mengetahui gelaran totiang yang mulia ?"
Tanya Toan Hongya lagi. Karena berhadapan dengan Kaisar, junjungan dari negeri Tailie, maka pendeta itu tidak berani bersikap sembarangan.
"Pinto bergelar Lam Siang Cinjin...!"
Dia menjelaskan.
"Dan persoalan isteri totiang itu bagaimana urusannya ?"
Tanya Toan Hongya lagi, tampaknya Kaisar dari negeri Tailie tertarik sekali ingin mengetahui kesulitan pendeta itu.
Lam Siang Cinjin telah menghela napas dan berkata dengan suara yang perlahan dan muka yang muram .
"Sesungguhnya dua puluh tahun yang lalu Pinto tidak menjadi seorang pendeta, pinto merupakan seorang rimba persilataan. Tetapi sayang, waktu terjadi peperangan Tailie dengan kerajaan di Tionggoan, dua orang panglimanya telah merampas isteri pinto. Waktu itu kepandaian pinto belum tinggi, tidak berdaya melindungi isteri pinto, sehingga isteri pinto itu telah dilarikan oleh kedua panglima Tailie itu........ pinto hanya mengetahui nama mereka, maka sekarang disaat pinto telah melatih diri dengan giat, pinto bermaksud untuk mencari isteri pinto, bukan untuk berumah tangga, tetapi untuk membalas dendam saja kepada kedua panglima Toan itu, untuk melampiaskan sakit hati pinto ......sekarang pinto telah mensucikan diri dan tidak mungkin kembali hidup bersama isteri pinto, hanya jika memang pinto berhasil, tentu akan dapat mengembalikan isteri pinto itu kedaratan Tionggoan, bukan hanya tawanan di Tailie ini."
Mendengar sampai disitu, Toan Hongya ikut berduka.
"Baiklah totiang, besok kita keistana dan kita tanyakan persoalan itu kepada kedua pamanku, semoga saja mereka bisa diberi pengertian dan isteri totiang bisa dikembalikan. Inipun belum lagi diketahui, entah,masih hidup atau telah meninggal isteri totiang itu...! Tetapi totiang percayalah, aku akan bertindak dengan seadil-adilnya, aku tidak akan memberatkan totiang..."
Tosu itu mengucapkan terima kasihnya, ia mau mempercayai perkataan Toan Hongya. Bahkan ia telah berkata .
"Jika memang Toan Hongya bersedia untuk menegakkan keadilan, tentu penasaranku itu akan lenyap...!"
"Nah totiang, sekarang aku ingin menanyakan sesuatu kepada totiang, entah totiang mau atau tidak menerima tawaran yang merupakan undanganku untuk totiang tinggal diistanaku menjadi guru pribadi dalam urusan ilmu silat ?"
Tanya Toan Hongya. Lam Siang Cinjin berdiam diri sejenak, tampaknya dia ragu-ragu, tetapi akhirnya ia menyahuti juga .
"Jika dilihat dari keadaan Toan Hongte, memang Hongte memiliki bakat dan kecerdasan yang baik mempelajari ilmu silat Tetapi sayangnya pinto justru tidak berbakat untuk menjadi guru Maka jika memang Hongte ingin mempelajari ilmu silat yang balk dari guru yang pandai, nanti pinto akan menunjukkan orangnya!" .
"Tetapi totiang tentu tidak keberatan untuk berdiam satu atau dua bulan diistanaku, untuk memberikan petunjuk-petunjuk kepadaku, bukan ?"
Tosu itu akhirnya mengangguk.
Begitulah, Toan Hongya telah mengajak tosu itu kembali keistananya.
Keesokan paginya, Toan Hongya segera membuka sidang dan memanggil kedua pamannya, yaitu Toan Liang dan Toan Bun.
Kedua orang itu merupakan jenderal angkatan perang dalam kerajaan Tailie dan merupakan dua orang kuat dikerajaan tersebut.
Dan sebagai dua orang yang memiliki kekuasaan besar, apa lagi memang merupakan dua orang yang masih memiliki hubungan yang intim dengan raja Tailie tersebut, membuat semua orang menaruh hormat dan segan padanya.
Tetapi ketika persidangan itu dibuka dan Toan Hongya dengan suara tegas menanyakan perihal urusan yang terjadi pada diri Lam Siang Cinjin, muka kedua orang itu jadi merah padam.
Mereka berusaha menyangkalnya.
Toan Hongya kemudian perintahkan Lam Siang Cin jin diundang keluar.
Setelah Lam Siang Cin jin muncul, kedua orang itu, Toan Bun dan Toan Liang, tidak bisa menyangkal lagi.
Malah mereka mengakui bahwa isteri dari Lam Siang Cin jin telah diambil oleh Toan Liang untuk diperisterinya.
Mendengar itu, Lam Siang Cin jin meminta isteri Toan Liang dimajukan juga dalam sidang.
Dan ketika nyonya pembesar negeri tersebut tampil dimuka sidang, yang sebelumnya, adalah isteri Lam Siang Cinjin, ia telah mengenali bekas suaminya, walaupun kini Lam Siang Cinjin telah berjenggot dan berkumis panjang.
Waktu Toan Hongya menanyakan pada nyonya Toan Liang, apakah selama menjadi isteri Toan Liang ia merasa bahagia, yaitu tanpa dipaksa dan memperoleh tekanan dari Toan Liang.
Nyonya Toan Liang menyatakan bahwa semuanya telah terjadi dan itu merupakan catatan nasibnya, maka ia menganggap urusan telah habis dan Toan Liang sebagai suaminya yang cukup dicintainya.
Lam Siang Cinjin menghela napas.
lapun kini telah menjadi pendeta dan mensucikan diri.
Jika tokh sekarang dia datang ke Tailie, karena ia menduga bahwa isterinya berada dalam tekanan orang she Toan itu, maka ia ingin membebaskannya dan kelak mengantarkannya kedaratan Tionggoan.
Tetapi kenyataannya sekarang bekas isterinya itu telah menjadi isteri Toan Liang, dengan sendirinya ia berada dalam posisi yang agak sulit.
Tidak bisa ia memaksa bekas isterinya itu meninggalkan Toan Liang, bukankah bekas isterinya itu menyatakan sekarang ia mencintai Toan Liang.
Akhirnya Lam Siang Cinjin yang mengalah.
la menyatakan, kalau memang bekas isterinya itu yang kini telah menjadi nyonya Toan Liang, senang pada suaminya itu dan tanpa tekanan, ia tidak akan mengganggu gugat lagi.
Persoalan dapat diselesaikan dengan baik.
Malam itu Toan Hongya telah menyelenggarakan pesta untuk menghormati pendeta ini.
Tetapi Lam Siang Cinjin hanya tinggal beberapa hari diistana kerajaan Tailie, karena ia akan segera melanjutkan perjalanannya kedaratan Tionggoan.
Ketika Toan Hongya memaksa agar Lam Siang Cinjin menetap beberapa lama lagi, pendeta itu hanya bersedia menghabiskan waktunya diistana selama satu minggu.
Dan selama satu minggu itu cukup banyak yang diturunkan Lam Siang Cinjin kepada Toan Hongya, baik ilmu tenaga dalam maupun ilmu silat.
Dan yang terpenting lagi, justru Toan Hongya telah menerima petunjuk bagaimana harus melatih tenaga sinkang, hawa murni yang dimiliki setiap manusia.
Dengan latihan tenaga sinkang seperti itu, Toan Hongya bisa membangunkan tenaga dan semangatnya, sehingga ia bisa mempertinggi Iwekangnya.
Selang seminggu, Lam Siang Cinjin pamitan dan minta diri untuk kembali kedaratan Tionggoan.
Dan diwaktu itu Toan Hongya menghadiahkan Lam Siang Cinjin berbagai benda dan harta.
Namun semua itu telah ditolak oleh pendeta tersebut.
la menyatakan, hatinya kini tenang dan senang, karena mengetahui bahwa bekas isterinya ternyata hidup tidak menderita disisi Toan Liang.
Sedangkan Toan Hongya telah perintahkan beberapa orang panglima kerajaan untuk mengantarkan tamunya ini sampai ditapal batas.
Namun Lam Siang Cin jin menolaknya, karena pendeta itu menyatakan bahwa ia lebih bebas melakukan perjalanan seorang diri.
Toan Hongya hanya berpesan, jika memang Lam Slang Cin jin kebetulan melakukan perjalanan dinegeri Tailie agar singgah diistananya, dan permintaan raja Tailie tersebut disanggupi oleh Lam Siang Cin jin, ia menyatakan jika memang kebetulan lewat disekitar daerah Tailie, ia akan singgah diistana Toan Hongya, untuk bertukar pikiran.
Begitulah, Toan Hongya dihari-hari selanjutnya telah melatih diri dengan giat.
---oo~dwkz^0^Tah~oo---BAGIAN 23 .
MAHLUK DALAM KOLAM TAMAN KERAJAAN DENGAN memperoleh petunjuk dari Lam Siang Cinjin, ia memiliki kepandaian yang lebih tinggi, karena dengan latihan-latihannya itu ia memperoleh kemajuan yang pesat sekali.
Sedangkan dihari-hari berikutnya, negeri Tailie juga banyak didatangi orang-orang rimba persilatan yang memiliki kepandaian tinggi, namun semua itu tidak ada yang cocok dihati Toan Hongya, dimana kepandaian jago-jago yang singgah dinegeri Tailie hanya merupakan jago-jago yang memiliki kepandaian tidak lebih tinggi dari Toan Hongya sendiri.
Padahal Toan Hongya tidak menyadari, bahwa kemajuannya yang pesat adalah berkat petunjuk yang diberikan Lam Siang Cinjin.
Banyak para jago-jago rimba persilatan yang diuji oleh Toan Hongya.
Setiap kali Toan Hongya menerima laporan dari para siewienya yang memiliki tugas istimewa itu, segera ia menyamar dan dimalam harinya bertempur dengan pendatang asing itu.
Dan umumnya Toan Hongya menang.
Tidak ada seorangpun dari pecundang-pecundangnya itu yang mengetahui bahwa yang menguji mereka adalah Kaisar negeri Tailie itu sendiri.
Mereka hanya menduga seorang pemuda rimba persilatan biasa saja.
Dengan kemenangan-kemenangan yang selalu diperolehnya itu, Toan Hongya juga menyadarinya bahwa ia sudah tidak bisa berguru pada jago-jago biasa saja, setidaknya ia harus mencari seorang guru yang benar-benar memiliki kepandaian tinggi, disamping itu juga ia harus benar-benar melatih diri untuk mencapai tingkat kesempurnaan, baik ilmu sinkang maupun ginkang dan jaga ilmu pukulannya.
Semua itu dilatih oleh Toan Hongya dengan giat.
---oo^dw-kz~0~Tah^oo----Tetapi pada malam itu, diwaktu kentongan pertama terdengar, Toan Hongya tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Hawa udara sangat panas.
Toan Hongya telah keluar, dari kamarnya ia berjalan ditamannya untuk mencari udara segar.
Udara benar-benar panas dan angin tidak ada sama sekali, pohon-pohon beku dan tidak bergerak sama sekali, walaupun rembulan tampak bersinar suram diatas langit.
Toan Hongya telah melangkah perlahan-lahan ketaman bunga istana, ia berdiri disisi kolam yang cukup besar itu, mengawasi air yang berkilauan tertimpah cahaya rembulan.
Disaat itu, entah mengapa Toan Hongya jadi berhasrat hendak melatih diri.
Dia telah bersilat dengan ilmu pukulan yang dimilikinya.
Karena sekarang sinkangnya memang telah memperoleh kemajuan, maka angin pukulannya itu menderu-deru keras dan kuat.
Sedang Toan Hongya melatih diri, tiba-tiba dia mendengar suara sesuatu.
Waktu Toan Hongya menoleh, ia jadi terkejut, karena dari dalam air kolam itu telah melompat keluar suatu mahluk yang berukuran panjang.
Mahluk itu menyerupai seekor ular yang besar dan panjang.
Namun mahluk itu kemudian telah lenyap menyelam kedalam air kolam lagi.
Toan Hongya jadi menghentikan latihannya, ia berdiri tertegun mengawasi kolam tersebut.
Tetapi mahluk yang tadi melompat kepermukaan air kolam, tidak muncul lagi.
Toan Hongya jadi heran dan ingin sekali mengetahui, sesungguhnya mahluk apa yang terdapat didalam kolam itu.
Maka keesokan paginya, ia telah memanggil beberapa orang pengurus taman dan menanyakan perihal mahluk yang menyerupai ular yang besar dan panjang itu.
Namun tidak ada seorangpun diantara pengurus taman itu yang mengetahui bahwa didalam koIam itu terdapat mahluk yang disebutkan oleh Toan Hongya.
Toan Hongya telah menegaskan bahwa ia melihat tegas mahluk itu, dan menyatakan juga mahluk itu memang melompat muncul dari dalam kolam.
Maka dua orang pembantu pengurus taman, yang biasanya mengurus kejernihan air kolam itu, telah memperoleh tugas untuk membersihkan kolam itu dan mencari mahluk tersebut.
Pagi itu juga, kedua orang pengurus taman itu telah mengeringkan kolam tersebut, yang airnya dikuras dan dikeringkan.
Tetapi mahluk yang dicari itu tidak berhasil mereka jumpai.
Bahkan waktu kolam itu telah dikeringkan, tokh tetap saja mahluk yang mereka cari itu tidak berhasil ditemukan.
Mereka hanya menemukan sebuah lobang yang cukup besar disebelah kanan dari dasar kolam itu.
Maka besar dugaan mereka mahluk tersebut bersembunyi dilobang itu.
Maka kedua orang pengurus kolam itu telah menutup lobang itu dan merapihkannya, agar mahluk yang dikatakan Toan Hongya tidak bisa muncul kembali.
Peristiwa mahluk yang menyerupai seekor ular itu akhirnya telah dilupakan, dua bulan telah lewat dan tidak pernah seorangpun yang melihat lagi mahluk tersebut.
Tetapi sore itu Toan Hongya merasakan tubuhnya panas sekali, ia bermaksud mandi dikolam itu.
Maka pergilah Toan Hongya dengan diiringi oleh tiga orang pelayan yang melayaninya, kekolam tersebut.
Dan dengan riang Toan Hongya berenang kesana kemari didalam kolam itu.
Waktu Toan Hongya tengah berenang dengan hati bersuka-cita dan riang gembira, saat itu Kaisar ini merasakan jari kaki kanannya sakit sekali, seperti digigit sesuatu.
Segera Toan Hongya menyelam kedalam air kolam itu, dan hatinya jadi terkejut.
Justru waktu itu ia melihat seekor mahluk yang panjang dan besar, yang menyerupai seekor ular.
Toan Hongya tidak menjadi gugup, ia berusaha untuk berenang naik kepermukaan air kolam dengan cepat.
Tetapi raja ini terlambat, sebab mahluk itu telah melibat tubuh Toan Hongya dengan kuat sekali.
Karena tidak ada jalan lain, Toan Hongya berusaha memberikan perlawanan terhadap libatan mahluk yang menyerupai seekor ular itu.
Dan mereka jadi bergumul didalam air.
Ketiga orang pelayan Kaisar jadi terkejut, mereka melihat Kaisar mereka seperti tengah bergumul dengan sesuatu mahluk.
Segera salah seorang diantara mereka memberitahukan pengawal Kaisar.
Tetapi karena Kaisar tengah dilibat oleh mahluk itu, dengan sendirinya sulit sekali memberikan pertolongan kepada Kaisar.
Toan Hongya sendiri yang pinggangnya dilibat mahluk yang menyerupai ular itu, merasakan kesakitan yang sangat, bahkan raja ini juga menyadarinya jika sampai ia lebih lama lagi dilibat demikian, tentu akhirnya tulang-tulang pinggangnya akan hancur berpatahan dan iapun akan terbinasa.
Karena itu, Toan Hongya telah berusaha mempergunakan seluruh tenaga yang ada padanya untuk membuka libatan itu.
Namun Toan Hongya tidak berhasil.
Napasnya juga telah menyesak, karena mahluk itu masih terus melibatnya.
Toan Hongya jadi mengeluh juga.
Namun dalam keadaan terdesak seperti itu, dimana jiwanya terancam, disaat itulah Toan Hongya teringat akan sesuatu, maka segera ia mendekati mulutnya keleher binatang itu, malah membuka mulutnya lebar-lebar dan mengigit leher binatang tersebut.
Binatang yang menyerupai ular itu seperti kaget dan kesakitan.
la telah meronta dan memperkeras lilitan dipinggang nya Toan Hongya.
Walaupun menderita kesakitan yang luar biasa, Toan Hongya tetap bertahan, ia terus mrnggigit keras leher binatang itu, dan mulutnya dirasakan dapat mencicipi sesuatu yang asin dan amis.
---oo^dw-kz~0~Tah^oo---KARENA telah nekad, Toan Hongya menghisap darah binatang tersebut, karena dipikir juga oleh Toan Hongya, jika darah binatang yang menyerupai ular itu dapat dihisapnya habis pasti binatang itu akan lemas dan akhirnya kehabisan tenaga serta mati.
Entah berapa banyak darah yang telah dihisap oleh Toan Hongya, Toan Hongya sendiri tidak mengetahuinya.
Sampai akhirnya Toan Hongya merasakan pandangan matanya gelap dan tenaganya seperti lenyap.
"Habislah aku kali ini........ tentu aku akan terbinasa oleh binatang celaka ini...!"
Pikir Kaisar tersebut, dan ia tidak bisa berpikir lebih jauh, sebab Toan Hongya telah tidak sadarkan diri......
pingsan.
Waktu Toan Hongya membuka matanya, ia memperoleh kenyataan dirinya berada diatas pembaringan yang empuk, pembaringannya.
Toan Hongya melompat duduk dipembaringannya tersebut sambil mengawasi keadaan disekitar kamar itu, dia mengeluh sakit pada pinggangnya dan cepat2 merebahkan dirinya kembali.
Seorang pelayan yang menunggui diluar pintu ruangan kamar kaisar tersebut, mendengar keluhan perlahan dari rajanya, segera ia melangkah masuk sambil memperlihatkan wajah yang ber-seri2.
"Hongya telah bangun ?"
Tanyanya dengaan sikap yang hormat. Toan Ceng mengeluh perlahan, kemudian tanyanya .
"Apa yang telah terjadi ?"
Pelayan itu menceritakan, waktu Toan Hongya tengah bergumul dengan ular itu, justru beberapa orang pengawal keselamatan raja itu telah terjun masuk kedalam kolam.
untuk memberikan pertolongan.
Namun disaat itu justru Toan Hongya telah tidak sadarkan diri.
Maka cepat2 para pengawal itu membawa Toan Hongya keatas, sedangkan binatang yang besar dan panjang menyerupai seekor ular atau seekor ular naga itu, mengambang, binasa juga, karena akibat gigitan Toan Ceng, binatang itu telah mengeluarkan darah yang sangat banyak sekali.
Para pengawal itu juga telah membawa bangkai binatang tersebut keatas, untuk nanti diperlihatkan kepada kaisar mereka.
Namun untuk segera menyadari raja mereka, yang tentunya menderita perasaan terkejut dan juga letih, dua orang tabib istana yang pandai telah dipanggil.
Setetah diperiksa, tabib itu menyatakan bahwa Toan Hongya tidak berada dalam bahaya, hanya pingsan karena letih saja.
Itulah sebabnya semua orang2 istana bisa bernapas lega, dan Toan Hongya telah direbahkan dipembaringan dalam kamarnya.
Mendengar cerita pelayan itu, Toan Hong ya telah bertanya .
"Mana binatang ajaib itu?"
Sambil bertanya begitu Toan Hongya berusaha untuk bangun, namun ia jadi mengeluh perlahan lagi karena kesakitan, pinggangnya dirasakan ingin patah, Itulah akibat libatan yang kuat dari binatang ajaib yang menyerupai seekor ular atau ular naga itu.
Pelayan itu cepat2 meminta Toan Hongya agar merebahkan diri saja dulu, sampai kesehatannya nanti pulih baru melihat binatang yang hampir mencelakainya dan nyaris membinasakan raja itu.
Setelah Toan Ceng rebah pula, pelayan itu segera memanggil tabib istana, yang datang memeriksa raja mereka.
Setelah melakukan pemeriksaan, tabib itu menyatakan bahwa Toan Hongya tidak terancam bahaya apa.
Begitu juga dengan pinggangnya tidak ada satupun tulangnya yang patah.
Jika raja itu merasa sakit2 pada pipggangnya, itu hanya bekas libatan yang kuat dari binatang yang menyerupai ular tersebut.
Tabib itu juga telah memberikan Toan Hongya obat godok, yang diminuminya sendiri membantu raja itu duduk sesaat lamanya.
Toan Hongya empat hari rebah diatas pembaringan, dan selama itu kesehatannya tampak memperoleh kemajuan dan tidak menderita sesuatu, selain pinggangnya yang sering dirasakannya sakit2 itu.
Lain dari itu, tidak ada yang menguatirkan.
Tetapi pada hari ketujuh, justru suhu tubuh dari Toan Hongya jadi panas sekali.
Dan raja ini juga telah mengigau.
Hal ini membuat para tabib istana jadi heran, mereka semuanya berjumlah enam orang dan tabib2 itu telah melakukan pemeriksaan.
Tidak ada yang istimewa pada kesehatan Toan Hongya, tidak terlihat gejala2 yang menguatirkan.
Tetapi justru panas tubuh Kaisar ini telah meningkat dan juga bibirnya telah kering, dimana kaisar ini juga sering mengigau.
Tabib2 itu jadi bingung.
Mereka tidak tahu entah penyakit apa yang diderita raja mereka.
Terlebih lagi hari kesepuluh Kaisar mereka mulai tidak sadarkan diri.
Pingsan terus menerus selama tiga hari.
Hal ini membuat orang2 istana jadi panik, mereka mendesak tabib2 itu untuk segera mengambil langkah2 yang diperlukan untuk menyelamatkan raja mereka.
Tetapi tabib2 itu benar2 bingung, mereka tidak melihat gejala apapun pada tubuh dan kesehatan raja mereka, hanya panas tubuh raja itu yang kian lama kian meningkat, seperti juga di dalam tubuh Toan Hongya terdapat kobaran api.
Yang membuat orang2 istana jadi panik dan berkuatir, karena raja mereka itu telah beberapa hari tidak sadarkan diri.
Malah selalu mengigau saja, menyebutkan hal-hal yang tidak-tidak.
Bahkan tidak jarang juga Toan Honya dalam pingsannya itu ber-teriak2, seperti tengah melatih ilmu pukulan.
Banyak orang2 istana yang telah menangis mengucurkan air mata.
Kerabat istana juga telah berkumpul dengan kekuatiran yang sangat.
Yang lebih menguatirkan lagi, beberapa hari kemudian ditubuh Toan Hongya terlihat bintik-bintik merah, yang merata pada kulit tubuhnya.
Hal ini diduga oleh tabib istana karena, tubuh Toan Hongya terlalu panas.
Tetapi keadaan Toan Hongya yang pingsan dan sadar tidak menentu itu, membuat para tabib itu menjadi bingung, mereka menduga-duga entah penyakit apa yang diderita Rajanya.
Sudah belasan hari lamanya Toan Hongya rebah dipembaringaanya, dan tubuhnya juga telah kurus kering, karena selama itu tidak ada makanan yang masuk kedalam perutnya selain hanya air belaka yang diteteskan kedalam mulutnya oleh pelayan-pelayannya.
Rakyat negeri Tailie sendiri telah bingung dan berkuatir, mereka ikut berduka mendengar raja mereka menderita sakit yang aneh seperti itu.
Mereka hanya bisa berdoa saja untuk kesembuhan Kaisar mereka, yang sangat mereka hormati dan cintai itu.
Tetapi penyakit yang diderita oleh Toan Ceng, raja Tailie itu, sangat aneh sekali.
Seluruh kulit tubuhnya telah berbintik-bintik merah, semakin lama semakin penuh, sehingga tampaknya kulit Toan Hongya menjadi merah seperti juga disekujur tubuhnya itu terdapat bintik-bintik merah yang mengandung darah.
Para tabib istana yang merawat Toan Hongya, jadi tambah bingung, begitu juga beberapa orang istana yang selalu mendampingi Toan Hongya jadi bingung dan gelisah.
Mereka tampaknya putus asa, sebab tabib2 yang merawat Toan Hongya seperti juga tidak sanggup untuk menyembuhkan Toan Hongya dari penyakit yang tengah dideritanya itu.
Semakin lama keadaan Toan Hongya semakin parah, raja Tailie itu sering mengigau dan mengoceh tidak keruan, juga sering bergerak gerak seperti tengah melatih ilmu silat.
Memang sering juga Toan Hongya dalam keadaan sadar, tetapi keadaannya lemah sekali, bicaranya juga satu-satu, suaranya tidak jelas.
Toan Hongya sendiri heran dan bingung menderita penyakit seperti itu, ia merasakan sekujur tubuhnya panas sekali, seperti juga dari dalam tubuhnya menguap semacam hawa yang panas seperti kobaran api, dan Toan Hongya merasakan kulitnya juga kering sekali, seperti juga kulit itu akan mengelupas.
Yang menyiksa Toan Hongya adalah perasaan panas itu, seperti juga bola api yang berputar-putar didalam perutnya itu naik kedadanya, Dan setiap kali bola api itu memutar bergerak, naik dari dalam perutnya kedadanya, Toan Hongya selalu merasakan napasnya jadi sesak dan dadanya jadi sakit bukan main.
Keadaan seperti ini telah membuat Toan Hongya sering jatuh pingsan tidak sadarkan diri, jika bola api didalam perutnya itu seperti berputar naik sampai ketenggorokan dilehernya, sehingga napasnya seperti tersumbat dan sulit sekali untuk menghirup udara segar.
Tetapi, setelah lewat lagi beberapa hari Toan Hongya berusaha untuk mengendalikan bola api yang didalam perutnya itu, agar berputar-putar didalam perutnya saja, tidak naik sampai kedadanya.
Keadaan seperti ini memang semula sukar sekali dilakukan oleh Toan Hongya, namun setelah teringat petunjuk2 dari tojin Lam Siang Cin jin yang pernah diterimanya dari pendeta itu untuk melatih sinkangnya, Toan Hongya mulai bisa menyalurkan sinkangnya dan menguasai bola api itu sehingga hanya berputar-putar didalam perutnya, tidak dapat naik lagi sampai kedadanya.
Dengan demikian Toan Hongya jadi tidak terlalu sering diserang oleh perasaan sesak dalam bernapas, ia juga tidak begitu tersiksa oleh perasaaan sakit pada dadanya.
Toan Hongya sendiri melihat hasil yang telah dicapainya itu, dimana sinkang yang dimilikinya bisa menguasai bola api yang sangat panas itu, jadi girang walaupun ia masih lemah dan tidak bertenaga, tokh bisa bertahan untuk beberapa saat lamanya, ia pun tidak terlalu sering jatuh pingsan lagi.
Melihat kemajuan yang dicapai oleh Toan Hongya, kerabat istana jadi girang dan bersyukur.
Begitu pula para tabib istana, walaupun mereka bingung dan belum mengetahui apa yang diderita raja mereka tokh, mereka ikut bergirang atas kemajuan yang dicapai olch raja mereka.
Bahkan tabib2 itu telah berusaha membuka kitab2 kuno pengobatan, untuk mencari sebab2 penyakit yang diderita raja mereka ini.
Beberapa orang tabib lainnya telah melakukan penyelidikan terhadap mayat ular yang berukuran besar itu, Ternyata ular itu bukan ular sembarangan, karena selain tubuhnya yang bersisik itu tidak bedanya seperti besi serta licin sekali, ular itu memiliki sebuah tanduk di tengah2 kepalanya.
Sekilas lihat saja ular itu menyerupai seekor naga kecil.
Dengan penuh ketelitian para tabib itu berusaha menyelidiki keadaan ular itu.
Bahkan mereka telah mengambil sedikit beberapa titik darah ditubuh ular itu, untuk diselidiki.
Namun para tabib tersebut tidak juga berhasil menemui sebab2 penyakit raja mereka.
Toan Hongya sendiri menyadari, bahwa dirinya terancam bahaya yang tidak kecil, ia berusaha untuk melatih terus sinkangnya yang pernah diperoleh dari Lam Siang Cinjin.
Dengan melatih lwekangnya itu, Toan Hongya merasakan tubuhnya jauh lebih segar, maka membangunkan semangat Kaisar ini untuk melatih diri terus, untuk menyalurkan sinkangnya kedalam perutnya, agar bola api yang sering ber-putar2 diperutnya itu bisa dikendalikannya.
Tetapi walaupun demikian Toan Hongya masih merasakan tenaganya lemah sekali, sulit sekali ia ingin bangun dari pembaringannya, dengan mengerahkan dan melatih sinkang yang ada padanya, Toan Hongya masih bisa bertahan diri, tetapi bukan berarti penyembuhan.
Justru penyembuhan itulah yang sangat di harapkannya.
Pelajaran Sinkang yang pernah di terimanya dari Lam Siang Cinjin merupakan pelajaran yang tinggi, namun itu hanya bisa mempertahankan diri agar tidak terlalu "terbakar"
Oleh kobaran bola api yang berada dalam perutnya.
Dengan dikerahkannya sinkang yang dimilikinya, Toan Hongya bisa memaksa bola api yang panas didalam perutnya itu tetap berdiam dan hanya ber-putar2 didalam perutnya saja.
Sedangkan pihak istana telah mengeluarkan pengumuman, siapa yang bisa mengobati luka atau penyakit yang diderita oleh Toan Hongya akan diberikan hadiah yang sangat besar.
Siapa saja yang bisa menyeiamatkan jiwa Toan Hongya dari penyakitnya yang aneh itu, akan dianugerahi kemuliaan.
Memang cukup banyak juga tabib2 disekeliling negeri tersebut yang berusaha untuk mengobati Toan Hongya, tetapi sejauh itu tidak seorangpun yang berhasil.
Bahkan banyak juga yang mengundang tabib2 dari pegunungan, yang semula telah hidup mengasingkan diri, untuk berusaha menyembuhkan Toan Hongya.
Namun usaha kearah itu ternyata gagal sama sekali.
Orang-orang istana jadi tambah berkuatir, telah sebulan lewat lamanya tanpa adanya tanda2 kesembuhan raja mereka.
Keadaan demikian menguatirkan sekali kerabat istana, begitu juga rakyat negeri Tailie yang sangat menciniai raja mereka ini, jadi ikut bersedih hati.
Mereka tahu, jika penyakit itu berlarut?, tokh akhirnya raja mereka akan kehabisan daya tahannya dan berarti akan menemui ajalnya.
Keadaan seperti ini berarti akan membuat raja mereka tidak akan tertolong lagi.
Dari hari kehari negeri Tailie semakin dirundung kabut kedukaan.
Terlebih lagi dipihak istana yang lebih banyak bermurung diri.
Pemerintahan negeri untuk sementara waktu diambil alih untuk diwakili oleh paman Toan Hongya, yaitu Toan Bun, tetapi kegiatan negeri itu tampak beku sama sekali, karena semua orang tengah berduka hati.
Toan Hongya yang dari hari ke hari terus menerus rebah dipembaringan juga jadi tidak puas serta berputus asa.
Toan Hongya maklum bahwa dirinya sulit sekali disembuhkan dari penyakitnya itu.
Walaupun keadaan demikian ber-larut2 dan dirinya tidak segera menemui ajalnya tokh suatu saat jika memang tenaga dan semangatnya telah habis, ia akan menemui ajalnya juga.
Sehingga Toan Hongya akhirnya suatu pagi memanggil pamannya, yang selama ini mewakilinya, pesannya jika ia menemui ajalnya, Toan Bun itulah yang harus meneruskan pemerintahan dinegeri Tailie, sebab memang Toan Ceng belum beristri dan tidak memiliki anak, maka tidak ada akhli waris dari takhta kerajaan dan hanya akan diwariskan kepada kerabat yang terdekat dengan pihak raja yang tengah menjelang maut itu, yaitu setelah dipertimbangkan Toan Ceng memilih Toan Bun.
Sambil menerima pengobatan terus menerus dari para tabib istana, dan juga menerima perawatan yang teliti sekali, Toan Hongya pun tidak pernah melalaikan untuk mengerahkan sinkangnya guna membendung bola api yang berada diperutnya.
Selama bola api itu masih bisa dibendungnya didalam perut, berarti ia masih bisa untuk bertahan tidak terlalu sering pingsan atau sesak napasnya.
Para tabib istana juga telah mengerahkan ber-macam2 obat2 yang langka dan mahal harganya, guna memberikan kekuatan kepada raja mereka ini.
Entah berapa banyak obat2 yang mahal harganya telah dipergunakan.
---oo^dw-kz~0~Tah^oo---BAGIAN 24 .
HEK WAN SI PENAMBAL MANGKOK NAMUN pada suatu pagi, diluar pintu istana terjadi keributan mendadak.
Waktu Toan Liang yang hari itu tengah memimpin pasukan pengawal mengadakan penjagaan diistana keluar untuk melihat keributan itu.
Ternyata keributan tersebut ditimbulkan oleh beberapa orang anak buahnya.
Dimuka istana tampak seorang laki2 yang keadaannya tidak keruan macam, berpakaian kebesaran dan juga tidak keruan bentuknya, dengan rambut yang terurai turun, tengah duduk sambil mengoceh seorang diri.
Mungkin usia orang itu lima puluh tahun, ia mengoceh seorang diri dengan sepasang mata yang terpejamkan.
Anak buah Toan Liang menimbulkan suara yang ribut karena mereka tengah mengusir orang tersebut agar tidak berdiam dimuka istana.
Toan Liang segera memanggil salah seorang anak buahnya, menanyakan apa sebabnya timbul keributan itu.
"Maafkan Goan (jenderal),"
Kata anak buah Toan Liang.
"Jangan Goanswe Tai jin gusar, sesungguhnya kami tengah mengusir orang liar itu agar tidak berdiam dimuka istana, tetapi orang itu, yang mengakui dirinya sebagai seorang penambal mangkok, tidak bersedia pergi. la mengatakan ingin bertemu dengan Toan Hongya untuk memperlihatkan keakhliannya menambal mangkok.....!"
Sepasang alis Toan Liang Jadi mengkerut karena justru orang itu yang mengakui dirinya sebagai akhli menambal mangkok itu tidak memiliki sangkut paut dan hubungan dengan penyakit yang diderita oleh Toan Hongya.
Dan saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk memperlihatkan kepandaiannya orang tersebut dihadapan Toan Hongnya, karena raja itu tengah sakit.
"Katakan kepadanya, agar datang dilain saat saja, karena Toan Hongya tengah sakit,"
Kata Toan Liang akhirnya.
"Sudah hamba katakan begitu, tetapi justru orang tersebut memaksa juga untuk bertemu dengan Toan Hongya......... ia mengatakan memang telah didengarnya Toan Hongya sakit, maka ia ingin menghibur Toan Hongya, agar raja kita itu terhibur sedikit oleh pertunjukan yang akan diadakan dihadapan Toan Hongya, menambal mangkok2 yang telah pecah.... !"
Mendengar keterangan anak buahnya itu, Toan Liang jadi marah, ia mengerutkan sepasang alisnya berpikir keras, tetapi diwaktu itu iapun berpikir juga bahwa selama ber-bulan2 Toan Hongya menderita penyakitnya itu dan selama itu hanya rebah dipembaringan, bukankah memang selayaknya jika Kaisar mereka itu diberi hiburan.
Mungkin orang yang mengakui dirinya sebagai penambal mangkok itu memiliki keakhlian yang unik, yang bisa menghibur Toan Hongya, karena ia begitu berkeras ingin bertemu dengan Toan Hongya.
"Baiklah, suruh orang itu masuk menghadap padaku" , kata Toan Liang akhirnya. Anak buah Toan Liang mengiyakan dan mempersilahkan orang yang aneh tersebut untuk bertemu dengan Toan Liang. Dengan sikap yang acuh tak acuh dengan kurang memperlihatkan sikap menghormat, orang tersebut telah duduk sembarangan dihadapan Toan Liang, ia menggumam dengan suara yang perlahan, namun cukup jelas didengar oleh Toan Liang .
"Sungguh celaka.....! Sungguh celaka.....! Raja tengah sakit, tetapi semua orang telah membiarkan raja dengan penyakitnya begitu saja............! Sungguh suatu hal yang menyedihkan sekali... aku yang ingin menghibur Toan Hongya agar tidak terlalu bersedih hati, namun justru sayangnya manusia2 yang mengelilingi Toan Hongya malah lebih senang melihat raja mereka menderita dan melarang aku memberikan hiburan.......!"
Toan Liang jadi tertarik, ia telah memandangi orang itu sejenak lamanya, kemudian ta nyanya .
"Siapa namamu, orang tua"
"Namaku.....? Aku tidak memiliki nama. Sudah terlalu lama aku tidak memakai nama apa pun juga. Hanya sahabat2ku banyak yang memanggilku dengan sebutan si Hek-wan (Kera Hitam)."
"Nama yang aneh"
Kata Toa Liang kemudian.
"Hmmm....., tidak terlalu aneh. Kau lihat, kulitku ini hitam, bukan? Dan juga wajahku memang buruk, tidak tertalu bagus seperti kau, maka cocok jika sahabat2ku itu mengatakan bahwa mukaku ini menyerupai muka seekor kera.........!"
Toan Liang sadi tertegun, aneh sekali orang ini, tetapi justru orang ini senang sekali tampaknya memiliki gelaran seperti Hek Wan itu, ia malah telah menekankan bahwa gelaran itu tepat sekali untuk keadaan dirinya yang sebenar-nya.
"Baiklah, lalu apa maksudmu memaksa untuk bertemu dengan Toan Hongya?"
Tegur Toan Liang lagi.
"Akh, Goanswe rupanya belum menerima laporan bahwa aku hanya sekedar ingin menghibur Toan Hongya. Bukankah Toan Hongya telah menderita sakit yang lama dan panjang sekali......? Maka jika memang aku bisa memberikan hiburan kepada Toan Hongya, jelas akan mengurangi sedikit penderitaaanya dan Hongya akan terhibur... .!"
"Hemm....., hiburan dalam bentuk apa yang hendak engkau berikan ?"
Tanya Toan Liang.
"Aku seorang akhli menambal mangkok, maka aku akan memperlihatkan kepada Toan Hongya, cara bagaimana menambal mangkok, agar Toan Hongya terhibur...! Bukankah menambal cawan atau mangkok yang telah pecah menjadi utuh kembali merupakan pertunjukan yang menarik sekali...?" . Toan Liang berdiam diri. la sebagai seorang Goanswe, tentu saja memiliki pandangan yang luas. Memang orang ini hanya menyatakan ingin memberikan hiburan kepada Toan Hongya dengan mengadakan pertunjukan menambal mangkok atau cawan yang pecah, suatu pertunjukan yang biasa saja. Namun tentunya orang ini mengandung maksud tertentu dengan memaksa seperti itu ingin bertemu dengan Toan Hongya. Walaupun masih ragu2 perihai keperibadian orang tersebut, Toan Liang akhirnya mengangguk.
"Baiklah, aku akan memenuhi keinginanmu, tetapi tentu saja engkau juga harus memenuhi syarat2 yang ada" , kata Toan Liang kemudian.
"Syarat2 apa itu ?"
Tanya orang tersebut sambil mengangkat kepalanya mengawasi Toan Liang.
"Engkau harus benar-benar memiliki suatu, pertunjukan yang baik untuk Toan Hongya, karena telah beberapa saat Hongya sakit, sehingga jika memang pertunjukanmu itu tidak berarti apa-apa, sia-sia saja hanya menambah keruwetan Hongya ...... maka jika engkau gagal menghibur. Hongya, dirimu akan menerima........!"
Orang itu mengangguk dengan pasti.
"Baik.......!"
Katanya kemudian "
Aku berani bertaruh, Hongya tentu akan menyukai pertunjukanku !'' Toan Liang perintahkan seorang pengawal untuk mempersiapkan keperluan orang itu mengadakan pertunjukan.
Orang itu tidak meminta apa-apa, ia hanya minta disediakan sepuluh cawan terisi penuh oleh arak.
Toan Liang dan beberapa orang pengawal mengiringi orang tersebut memasuki tempat peraduan raja, dan Toan Liang telah perintahkan agar para pengawal itu mengadakan penjagaan yang ketat, karena Toan Liang kuatir kalau2 orang tersebut, 'Hek Wan’, melakukan tindakan sesuatu yang bisa mencelakai raja mereka.
Begitu masuk kedalam ruang peraduan raja, Hek Wan melihat Toan Hongya tengah rebah di tempat peraduannya dengan tubuh yang kurus dan keadaan lemah.
Dan waktu Hek Wan memasuki kamar, Toan Hongya hanya melirik lesu.
Hek Wan telah memberi hormat sambil berkata .
"Toan Hongya, aku memiliki sedikit pertunjukan untukmu, entah kau akan senang melihatnya atau tidak........!"
Dan setelah berkata begitu, tanpa menantikan jawaban Toan Hongya, Hek Wan telah duduk numprah diatas lantai, ia meminta kepada Toan Liang agar kesepuluh cawan arak itu didekatkan padanya.
Seorang pengawal menuruti permintaan Hek Wan, dimana kesepuluh cawan arak itu telah diletakkan didekat Hek Wan, sebelah kanan.
Hek Wan mengambil sebuah cawan arak, meneguk isinya sampai kering, kemudian berkata .
"Toan Hongya, coba perhatikan kemari...........! Ini ada sebuah cawan yang masih utuh, dan aku akan merusaknya...........!"
Membarengi dengan perkataannya itu, Hek Wan telah membanting keras-keras cawan itu ke lantai, seketika cawan itu pecah berkeping-keping.
"Hongya telah melihat, cawan yang utuh itu hancur, dan sekarang aku Hek Wan sebagai penambal mangkok akan menambal cawan yang pecah itu. Ini bukan urusan yang sukar. Seperti diketahui, mangkok atau cawan dibuat dengan di-tengah2nya kosong, sehingga bisa dipergunakan untuk makan dan minum, dapat diisi oleh sesuatu didalamnya. Kekosongan bisa menimbulkan isi, bisa mendatangkan kepadatan dan keberisian yang dikehendaki........!"
Bagi semua orang yang mendengar perkataan Hek Wan menganggap itulah perkataan yang biasa saja, tetapi justru Toan Hongya yang dalam keadaan lemah seperti itu jadi terkejut dihatinya, karena ia mengetahui kata2 yang di ucapkan oleh Hek Wan adalah sebagian dari pelajaran ilmu sinkang, yaitu yang berisi menjadi kosong dan yang kosong jadi berisi.
Itulah sedikit kata dari pelajaran Sinkang yang memiliki arti yang luas.
Tanpa disadari, Toan Hongya menyahuti dengan suara yang lemah .
"Itu memang benar,"
Dan Toan Hongya menghela napas dalam2.
Semua orang yang berkumpul didalana ruangan itu jadi memandang heran, melihat Toan Hongya bersedia berkata2, malah membenarkan perkataan penambal mangkok itu.
Memang telah diketahui mereka, mangkok dan cawan selalu kosong-tengahnya dan tanpa dibicarakan mereka memang telah tahu.
Justru Toan Hongya tampaknya jadi memperhatikan apa yang akan dikatakan oleh penambal mangkok itu selanjutnya.
"Cawan yang telah pecah ber-keping2 ini, per-tama2 kita mengambil yang berada disebelah kanan, yang terkecil,"
Kata Hek Wan lagi.
"Pecahan2 yang kecil itu kita tambal dulu, baru kemudian memilih yang lebih besar, dan yang terakhir baru potongan dari pecahan yang paling besar........ jadi yang kecil itu menunjang yang besar. Tanpa mengumpulkan dulu yang kecil2, tentu tidak mungkin, bisa memperoleh hasil yang baik "
Muka Toan Hongya jadi ber-seri2, sebagai seorang yang mengerti pelajaran silat dan telah mempelajari sinkang, ia mengetahui makna yang terkandung dalam perkataan Hek Wan, malah dengan suara yang girang Toan Hongya berkata .
"Benar.......tepat sekali. Dan bagaimana selanjutnya ?"
"Selanjutnya jika cawan yang telah pecah ber-keping2 itu berhasil kita sambung, kita harus mengasahnya, sehingga menjadi licin dan tambalan itu tidak akan tampak lagi, menjadi utuh kembah seperti semula ..."
"Tepat.........!"
Seru Toan Hongya girang, entah mengapa, dihatinya jadi timbul semangat baru.
"Siapakah locianpwe yang telah memberikan petunjuk berharga ini kepadaku ?"
Hek Wan telah tertawa.
"Sahabat2 biasa memberikan julukan pada ku Hek Wan........itu saja namaku, dan Hongya bisa memanggil begitu juga.......!" , menyahuti Hek Wan. Toan Hongya telah menoleh kepada Toan Liang, ia berkata .
"Paman berikan sebuah kamar yang bersih dan baik untuk Hek Wan Lo cianpwe.......!"
Toan Liang benar2 heran, mengapa rajanya jadi begitu girang dan tertarik sekali atas kata2 yang diberikan oleh Hek Wan.
Padahal yang dibicarakan oleh Hek Wan hanyalah kata2 biasa saja perihal sebuah cawan, dan tentunya semua orang juga mengetahui apa itu cawan dan bagaimanaa jika pecah dan cara menyambungnya.
Tetapi malah Hongyanya itu seperti juga tertarik sekali.
Hek Wan tertawa lagi.
"Hari ini aku memberikan pertunjukan hanya 'sampai' disini, dua hari lagi aku akan melanjutinya, cobalah Hongya meresapi pertunjukanku ini selama dua hari, dan kesembilan cawan ini biarkan saja disini, karena aku masih memiliki sembilan pertunjukkan yang menarik mengenai cara menambal cawan yang telah pecah" .
"Terima kasih locianpwe, terima kasih........i"
Kata Toan Hongya, dan wajahnya yang pucat itu berobah seketika jadi berseri.
Toan Liang dan yang lainnya hanya memandang heran karena mereka tidak mengerti mengapa raja mereka bisa begitu tertarik dengan kata2 Hek Wan.
Hanya mereka tidak berani meremehkan Hek Wan lagi, sebab raja mereka sendiri tampaknya menghormati orang yang tampaknya sinting dan tidak beres pikirannya tersebut.
Bukankah Hongya mereka jadi begitu girang mendengar kata2 Hek Wan, bahkan menyatakan terima kasihnya ?
Begitulah Hek Wan telah diberikan sebuah kamar yang indah dan baik, juga diberikan perlengkapan makan dan minum yang lezat2.
Sedangkan Toan Hongya setelah Hak Wan berlalu dari kamarnya, jadi berdiam diri meresapi perkataan Hek Wan.
---o~dw.kz^0^Tah~o---MEMANG bagi Toan Liang dan yang lainnya, yang tidak mementingkan pelajaran silat, perkataan Hek Wan biasa saja.
Namun untuk Toan Hongya justru memiliki arti yang tersendiri.
Tanpa diketahui semua orang, bahwa Hek Wan sebetulnya tengah memberikan petunjuk kepada Toan Hongya untuk melatih tenaga sinkang kelas tinggi !
Bahkan dengan cara perumpamaan mangkok atau cawan yang pecah seperti itu, Hek Wan ingin mengartikan bahwa Toan Hongya yang tengah menderita sakit begitu aneh, sehingga penyakit Toan Hongya bisa disembuhkan jika memang melatih sinkang dari yang terkecil dulu, ditambah kemudian dengan tambalan dari pecahan kekuatan tenaga murninya yang cukup besar, dan kemudian baru mengerahkan hawa murni yang sesungguhnya.
Dengan demikian barulah penyakitnya itu bisa dikuasai dan diusir, tetapi sebaliknya, selama hari2 yang lalu justru Toan Hongya begitu saja telah mengerahkan lwekangnya, yang mengandung kekuatan penuh untuk menguasai bola api didalam perutnya.
Setelah rnerenungkan sejenak lamanya kata-kata Hek Wan, akhirnya Toan Hongya minta para pelayannya keluar meninggalkannya seorang diri.
Setelah semua orang keluar dari peraduannya, Toan Hongya melatih pernapasannya.
Raja ini melatih diri dengan cara yang paling bawah dulu untuk melatih sinkang, ia mempergunakan cara yang paling mudah.
Setelah ia melatihnya sekian lama, ia merasakan napasnya jauh lebih besar.
"Tepat sekali apa yang dikatakan Hek Wan Locianpwe tadi, memang harus menambalnya dari yang terkecil dulu....... dan aku harus menambal sinkangku ini dari yang paling terkecil dan terendah dulu, guna memupuk kekuatan inti yang paling besar untuk mengusir penyakitku ini............ !"
Sementara Toan Hongya jadi terbangun, ia telah menarik dan mengeluarkan napasnya.
dengan teratur dan juga melatih terus sinkangnya dari tingkat yang pertama, semakin lama Toan Hongya merasa tubuhnya semakin segar.
Begitulah dengan giat Toan Hongya melatih diri, selama dua hari ia terus memperbesar tenaga latihannya, setingkat demi setingkat.
Dalam dua hari itu wajah Toan Hoangya yang semula pucat pias, telah berobah jadi merah segar kembali.
Bahkan selama dua hari itu Toan Hongya dapat bersantap cukup banyak.
Kerabat istana jadi girang menyaksikan kemajuan yang dialami Toan Hongya, kesehatan raja tampak ber-angsur2 bertambah baik.
Hanya tabib-tabib istana yang menjadi heran dan bingung, mereka tidak tahu entah cara bagaimana kesehatan Toan Hongya bisa memperoleh kemajuan.
Waktu Toan Liang menanyakan pada rajanja, obat apa yang telah menyembuhkan sebagian dari penyakit Toan Hongya, raja itu menyatakan ia telah diobati oleh Hek Wan.
Toan Liang jadi terkejut.
"Apakah selama dua hari ini Hek Wan sering datang kekamar ini secara diam-diam, Hongya ?"
Toan Ceng menggeleng perlahan, ia telah berkata .
"Apa yang dikatakannya hari itu benar-benar merupakan obat yang paling mujarab dan Hek Wan Locianpwe telah berjanji bahwa hari ini ia akan memberikan petunjuknya lagi dalam hal menambal cawan pecah.......!"
Toan Liang mengangguk.
Segera Toan Liang sendiri yang pergi mengundang Hek Wan untuk datang kekamar peraduan Hongya.
Hek Wan telah menolaknya, Ia mengatakan sore ini ia baru akan mengunjungi Toan Hongya untuk memberikan pertunjukannya lagi.
Malah Hek Wan telah meminta makanan-makanan dan arak yang baik untuk menjadi santapannya.
Toan Liang tidak berani berayal, segera ia perintahkan pengawal istana untuk mempersiapkan permintaan Hek Wan.
la telah mengetahui dari Toan-Hongya, bahwa Hek Wan inilah yang memberikan semangat kehidupan, pada diri Toan Hongya, yang semula telah sekarat itu.
Maka dengan sendirinya Toan Liang sangat menghormati nya.
Disaat itu, Hek Wan telah memakan semua santapan yang ada dengan lahap.
Dan sore harinya ia baru datang kembali mengunjungi Toan Hongya dikamar peraduannya.
Cawan arak tinggal sembilan, setelah duduk bersimpuh disamping pembaringan, Hek Wan mengambil salah satu cawan itu, kemudian ia meneguk araknya, katanya lagi.
"Sekarang aku akan mulai dengan pertunjukan yang kedua silahkan Toan Hongya menoleh kemari lihatlah cawan ini 'masih utuh’ !"
Dan setelah berkata begitu Hek Wan membanting cawan itu lagi kelantai, sehingga cawan tersebut pecah berantakan. Toan Hongya memperhatikan dengan penuh minat dan perhatian. Lalu Hek Wan berkata lagi .
"Cawan yang pecah ini harus dikumpulkan, dari yang paling kecil, sampai pada kepingan yang terbesar. Dijadikan satu. Dibiarkan berkumpul. Dan kita yang harus memilihnya dengan cermat, menyalurkan pecahan itu satu persatu, sehingga bisa menyambungnya dan menambalkan kepingan itu satu persatu menjadi rata pula. Kesabaran harus dipergunakan sebaik mungkin, untuk menyusun bagian-bagian yang terkecil dari kepingan2 cawan ini. Nah, mengertikan Hongya ?"
Toan Hongya tersenyum, sahutnya.
"Terima kasih Hek Wan Locianpwe....... terima kasih, aku.... aku mengerti."
"Nah, sekarang telah selesai pertunjukan yang kedua, dan aku baru akan mamperlihatkan pertunjukan yang ketiga setelah lewat empat hari lagi, silahkan Hongya merenungkan perkataanku itu ......!"
Setelah berkata begitu, Hek Wan pamitan dan kembali kekamarnya, Sedangkan Toan Hongnya kembali merenungkan kata2 Hek Wan.
la yakin bahwa yang dikatakan oleh Hek Wan merupakan pelajaran ilmu sinkang tingkat tinggi.
Seperti katanya, kesabaran harus dipergunakan sebaik mungkin, untuk menyusun bagian2 terkecil dari cawan ini memiliki arti yang luas sekali.
Dan Toan Hongya tengah berusaha untuk memecahkan arti dari perkataan itu, karena memang ia bermaksud untuk dapat menarik kesimpulan yang sangat berharga yang tersembunyi dalam kata2 itu.
Seperti orang menggumam, Toan Hongya telah mengulangi perkataan itu .
"Kesabaran harus dipergunakan sebaik mungkin !"
Akhirnya Toan Hongya berhasil memecahkan arti perkataan itu, yaitu bahwa dalam menyalurkan lwekang untuk melatih singkang yang tinggi, ia harus berlaku sabar sekali dan teliti, yaitu harus menyalurkan seluruh hawa murni ditubuhnya kejalan darah dan urat yang terkecil diseluruh tubuhnya, guna mencapai hasil yang memuaskan.
Diam-diam Hongya telah mengeluarkan seruan gembira, sehingga mengejutkan seorang pelayan yang masih berada didalam kamar tersebut.
Pelayan itu tidak mengerti mengapa Hongyanya telah berseru begitu, maka ia memandang penuh keheranan, Namun melihat wajah Toan Hongya yang ber-seri2, pelayan itu jadi ikut girang.
Segera pelayan tersebut melaporkan kepada Toan Liang perobahan yang terjadi pada diri raja mereka, yang tampaknya telah bertambah maju kesehatannya.
Sedangkan Toan Hongya setelah berhasil memecahkan rahasia yang terdapat dalam kata kata Hek-wan, segera menyalurkan sinkangnya, melatihnya dengan sabar sekali, sampai hawa murni itu berhasil masuk kejalan-jalan darah yang terkecil sekalipun didalam tubuhnya.
Perasaan segar telah meliputi diri raja ini, sehingga ia merasa jauh lebih sehat.
Walaupun bola api yang panas masih ber-putar2 berdiam didalam perutnya, tokh bola api itu sudah tidak liar lagi.
Biarpun Toan Hongya tidak mengendalikan dengan sinkangnya, bola api itu telah menggelinding naik kedadanya.
Hal ini telah memperlihatkan kemajuan yang tidak kecil buat Toan Hongya, sehingga raja tersebut jadi girang bukan main.
Selama empat hari Toan Hongya melatih diri terus dengan mengerahkan sinkangnya.
Sedangkan kerabat istana jadi girang, kesembuhan yang dicapai oleh raja mereka benar2 menggembirakan, karena setelah lewat empat hari, Toan Hongya berhasil untuk duduk, dan tetap mau bersantap cukup banyak, sehingga mukanya yang semula pucat pasi itu kini jadi segar kembali.
Berita kesembuhan kaisar Toan itu, walaupun belum keseluruhannya, tokh telah tersiar luas diseluruh kerajaan, menggembirakan rakyatnya.
Banyak juga rakyatnya yang telah menyediakan meja sembahyang, serta bersembahyang menyatakan syukur mereka kepada Thian bahwa raja mereka telah memperoleh kesembuhan..........
berhasil melewati masa kritisnya.
Setelah empat hari sejak Hek Wan memecahkan cawan yang kedua, maka sore harinya Hek Wan kembali menghadap pada Toan Hongya, ia memecahkan kembali cawan yang ketiga dan mengucapkan kata-kata yang menjelaskan mengapa cawan itu jika dibanting jadi pecah.
Banyak sekali kata-kata yang diucapkatn Hek Wan, dan semua kata-katanya itu memiliki rahasia tertutup dari pelajaran sinkang yang sangat tingg.
Dengan demikian, Toan Hongya secara diam-diam telah memperoleh petunjuk-petunjuk melatih tenaga sinkang yang terpendam dalam dirinya.
Petunjuk2 yang diberikan oleh Hek Wan secara sembunyi seperti itu, memiliki khasiat yang jauh lebih hebat dibandingkan dengan petunjuk yang pernah diterima Toan Hongya dari Lam Siang Cin jin, karena palajaran melatih Sinkang yang diberikan oleh Hek Wan merupakan pelajaran Sinkang yang memilki keuntungan yang tidak kecil.
Disamping itu, setiap cawan arak yang dipecahkan oleh Hek Wan semakin banyak, semakin sulit pula arti yang harus ditembus oleh Toan Hongya dalam kata-kata yang teraembunyi itu.
Tetapi Hek Wan juga telah semakin mengundurkan waktunya.
Jika cawan pertama dipecahkan, ia meminta dua hari untuk pertunjukan keduanya, kemudian empat hari untuk cawan yang kedua, lalu dua minggu untuk cawan ketiga .......
dan begitu seterusnya, waktunya semakin diperpanjang.
Dengan demikian Toan Hongya dapat melatihnya dengan cukup luas.
Malah setelah Hek Wan memecahkan cawan vang ketujuh, Toan Hongya telah dapat turun dari pembaringan dan ber-jalan2 ditanah, walaupun tubuhnya masih lemah dan langkah kakinya masih per-lahan2.
Melihat kemajuan yang telah dicapai oleh raja mereka, kerabat istana jadi begitu girang dan memperlakukan Hek Wan dengan istimewa hormatnya.
Karena mereka menganggap bahwa Hek Wan merupakan tuan penolong jiwa raja mereka yang sebelumnya telah sekarat.
Tetapi Hek Wan tetap membawa sikap biasa, malah ia selalu mengoceh bahwa dirinya adaiah penambal mangkok, dan ia selama mempertunjukkan keakhliannya itu dihadapan Toan Hongya, ia girang juga, karena raja itu telah memperhatikan permainannya yang agak unik dan aneh ini.
Toan Liang sendiri telah dapat menerkanya bahwa Hek Wan tentunya seorang tokoh sakti, yang tengah menyamar sebagai seorang akhli menambal mangkok.
Maka dari itu, ia memperlakukan Hek Wan dengan sikap yang hormat sekali.
Sedangkan Toan Ceng sendiri memperoleh kemajuan yang pesat.
Iapun telah menerima petunjuk dari Hek Wan pula disaat penambal mangkok itu memecahkan cawan yang kedelapan.
Petunjuknya itu semakin sulit, tetapi sebagat seorang kaisar yang memiliki otak terang dan cerdas, Toan Ceng bisa menangkap petunjuk2 yang diberikan secara rahasia oleh Hek Wan itu.
Selama dua buIan lebih Toan Hongya telah memperoleh kemajuan yang pesat sekali untuk sinkangnya.
Dan diwaktu itu, yang masih mengganggu pikiran Toan Hongya adalah bola api yang masih teap berada didalam perutnya, walaupun bola api itu sudah tidak terlalu mengganggu dada dan napasnya.
Namun waktu Toan Hongya tengah mendengari petunjuk yang diberikan Hek Wan, disaat mangkok kesembilan dipecahkan, disaat itulah Toan Hongya mengeluh.
Ia merasakan sesuatu yang tidak enak pada perutnya, dan ia berusaha mempertahankan diri agar tidak memperlihatkan sikapnya pada Hek Wan.
Tetapi Hek Wan telah melihat perobahan pada wajah Toan Hongya.
la berhenti memberikan-petunjuknya dan bertanya pada Toan Hongya .
"Apa yang Hongya rasakan ?"
"Ti........tidak . , . !"
Menyahuti Toan Hongya.
"Jangan menutupi perasaan Hongya, silahkan Hongya beritahukan padaku mungkin aku bisa menambal mangkok atau cawan yang pecah ini lebih baik ........!'. Toan Hongya ragu2, tetapi kemudian ia menjelaskan apa yang dirasakannya, ialah bola api diperutnya yang terlalu menyiksanya.
"Hemmm........., hanya itu yang belum dapat ditembus oleh Hongya ... memang dalam menambal mangkok terkadang terdapat kesukaran juga, yaitu terselip debu dan kerikil itu harus dilenyapkan, tetapi justru yang terpenting kita harus mengetahui dari mana datangnya kerikil itu.........!" ---o~dw.kz^0^Tah~o---BAGIAN 25 . ULAR PUALAM EMAS (KIM GIOK COA) "AKU telah membunuh seekor ular yang aneh bentuknya dikolam istana .......!"
Menjelaskan Toan Hongya.."Seekor ular ?"
Tanya Hek Wan.
"Waktu itu aku tengah bermain dikolam, dan telah dililit oleh seekor ular, dan kemudian aku berhasil membinasakannya dengan menggigitnya."
"Dan darah ular itu telah dihirup oleh Toan Hongya ?"
Tanya Hek Wan. Toan Hongya mengangguk..........
"Ya, dan ular itu telah binasa..........!"
"Dan setelah membinasakan ular itu, barulah Toan Hongya menderita sakit yang aneh ini ?"
"Benar !"
"Nah kerikil itu telah kita dapat ketahui sumbernya.......! Justru penyakit Hongya disebabkun darah ular itu !"
"Penyakitku disebabkan darah ular itu ?"
Tanya Toan Hongya.
"Pasti karena ular itu !"
Mengangguk Hek Wan.
"Tentunya ular itu merupakan ular mustika......tetapi sayangnya setelah Hongya berhasil membinasakan ular itu, Hongya tidak memperoleh perunjuk yang baik, jika tidak malah darah ular yang telah Hongya minum itu merupakan mustika yang langka dan jarang sekali bisa diperoleh, malah bisa merupakan keberuntungan yang baik sekali.......!"
Toan Hongya menghela napas......
"Tetapi semuanya telah terlanjur terjadi, waktu itu aku tidak beruntung bisa bertemu dengan Hek Wan Locianpwe, sehingga, aku menderita sakit yang berkepanjangan seperti ini."
Hek Wan tertawa.
"Segalanya belum terlambat. Memang aku sendiri heran, biasanya jika aku memberikan pelajaran menambal mangkok sampai yang kelima, tentu segala hawa kotor dalam seluruh tubuh orang yang bersangkutan akan terbuang dan tubuh maupun darahnya menjadi bersih. Namun Hongya sampai mangkuk yang ketujuh masih juga menderita sedikit gangguan, walaupun memang terlihat juga kemajuannya...! Baiklah, bisakah aku Pergi memeriksa mayat ular yang telah Hongya binasakan?''. Toan Hongya mengangguk cepat.
"Tentu saja bisa Hek Wan Locianpwe...!"
Dan setelah berkata begitu, Toan Hongya menoleh kepada Toan Liang, ia perintahkan agar Toan Liang membawa mayat ular itu.
Bangkai ular tersebut telah dikeringkan, dan Hek Wan memeriksanya dengan teliti.
Waktu pertama kali ia melihat ular itu, ia telah mengeluarkan seruan heran .
"Binatang yang mujijat.......!'' dan ia asyik memeriksanya. Sampai akhirnya Hek Wan menoleh kepada Toan Hongya, sambil katanya .
"Beruntung sekali Hongya bisa menghirup darah ular ini, itulah suatu keberuntungan yang tidak kecil.."
"Tetapi Hek Wan Locianpwe, justru setelah menghirup darah, ular itu aku menderita sakit yang hebat dan nyaris binasa juga........! Lihatlah seluruh kulit ditubuhku juga masih berbintik-bintik merah........!"
Hek Wan tertawa.
"Itu disebabkan kesaktian darah ular ini tidak disalurkan ketempat-tempat yang semestinya...........!. Tetapi belum terlambat, aku bisa memanfaatkan darah ular itu untuk memberikan keberuntungan kepada Hongya............!"
Toan Hongya jadi memandang heran. Tetapi Hek Wan telah meneruskan perkataannya.
"Sekarang kita akan mulai. Dua pelajaran mengenai menambal mangkok kita tunda dulu...! tahukah Hongya apa nama ular ajaib ini ?"
Toan Hongya menggelengkan kepalanya.
"Tidak ........!"
Sahutnya.
"Inilah yang biasa disebut Kim Giok Coa (Ular Pualam Emas), seekor ular yang langka sekali. Usia ular ini mungkin telah mencapai seribu tahun, karena ukurannya yang besar dan juga telah hidup cukup panjang. Maka dengan menghirup darah ular iai, berarti Hongyaa telah menerima keberuntungan yang tidak kecil. Binatang ini sangat jarang sekali bisa dijumpai, karena didalam dunia mungkin hanya ada dua atau tiga ekor saja, itupun ditempat2 yang sulit dicapai oleh manusia. ...! Biasanya jika seekor ular Kim Giok Coa ini berhasil dibinasakan dan darahnya dihirup oleh seorang manusia, walaupun Kim Giok Coa yang berusia dua atau tiga tahun akan menyebabkan orang itu panjang umur dan selalu sehat ! Hebat tidak? Nah, sekarang Toan Hongya telah meminum darah ular yang mungkin berusia sampai seribu tahun ini... .!"
"Dari mana Hek Wan Locianpwe mengetahui bahwa ular itu adalah Kim Giok Coa?"
Tanya Toan Hongya.
"Apakah Hongya tidak memperhatikan tanduknya itu? Inilah tanduk yang mujijat sekali. Dan hanya Kim Giok Coa saja yang memiliki tanduk seperti itu pada kepalanya."
"Lalu.. apakah aku bisa disembuhkan dari penyakit yang aneh ini ?"
Hek Wan mengangguk.
"Pasti bisa! Seharusnya waktu Hongya meminum darahnya dan berhasil membinasakan ular ini, direndam dalam arak selama tiga hari, kemudian arak itu diminum, sehingga panas yang akan dipancarkan oleh darah ular itu bisa menurun, tetapi tidak mengurangi khasiat dari darah ular itu sendiri...........!"
"Hemm......., jika demikian tentu aku akan tertolong, Locianpwe.....?"
Tanya Hongya.
"Ya......!"
Menyahuti Hek Wan.
Kemudian Hek Wan bekerja dengan cepat, ia telah meminta sebilah pisau.
Toan Liang yang mendengar hal itu juga jadi girang.
la telah membawa sebilah pedang, dan diberikan kepada Hek Wan.
Sambil memotong tanduk ular itu, Hek Wan terus juga memberikan keterangannya "Daging ular inipun jika diolah, akan menjadi mustika yang besar artinya, karena setiap orang yang bisa memakan sepotong daging ular yang telah diramu oleh obat2 tertentu, akan bisa tambah usia sampai beberapa tahun dari usia, yang sebenarnya, disamping tubuh akan menjadi kuat!" .
Toan Hongya mendengarkan terus dengan penuh perhatian, sedangkan Hek Wan yang telah selesai memotong tanduk ular itu meminta secawan arak.
Kemudian dalam arak itu dimasukkan sepotong tanduk yang dipotong oleh Hek Wan.
"Biarkan tanduk ini direndam selama tiga hari, dan nanti Hongya meminumnya. Penyakit mu akan lenyap, tapi akan mengalami kegatalan yang hebat. Namun itu tidak apa2, hal ini di sebabkan keterlambatan Hongya menerima petunjuk ..........."
Toan Hongya tersenyum, katanya dengan sabar .
"Syukur ada Locianpwe yang telah memberikan petunjuk sehingga aku tidak sampai harus tersiksa oleh penyakitku ini !"
Selama tiga hari Toan Hongya diberikan arak yaag direndam tanduk ular itu. Setelah meminum arak itu, Hek Wan meminta Toan Hongya merebahkan tubuhnya dipembaringan untuk tidur.
"Sebentar lagi racun ular itu akan bekerja .......... dan jangan Hongya kaget jika mengalami sesuatu .......... !"
Kata Hek Wan.
Hongya dari Tailie itu hanya mengangguk saja, ia telah mempercayai sepenuhnya keselamatan jiwanya pada Hek Wan.
Sedangkan Toan Liang telah menerima perintah dari Hek Wan, untuk memotong-motong daging ular itu.
Kemudian Hek Wan bekerja meramu obat2an yang lalu dicampur dengan daging ular itu.
"Kalian masak daging ular ini, dan kemudian bagi2kan pada kerabat istana, sehingga mereka akan kuat dan sehat ..........!"
Toan Liang mengiyakan dan perintahkan juru masak istana untuk mengolah daging ular itu.
Karena ular itu sangat besar, maka daging nya juga sangat banyak.
Lebihnya telah diberikan kepada penduduk ibu kota, seorangnya mencicipi sepotong.
Perihal ular ajaib itu jadi tersebar luas dan menjadi pembicaraan orang2 diibu kota Takie tersebut.
Setelah memberikan petunjuk2 kepada Toan Liang bagaimana mengolah daging ular itu Hek Wan kemudian menguruti sekujur tubuh Toan Hongya.
Cara mengurut yang dilakukan Hek Wan bukan sembarangan urut.
Karena Hek Wan telah mengurut bagian jalan terpenting ditubuh kaisar itu.
Setiap jalan darah yang diurutnya jadi terbuka dan bisa dialiri darah yang mengandung kemujijatan tanduk ular itu.
Tetapi waktu Hek Wan mengurut tubuhnya, Hongya itu merasakan sekujur tubuhnya gatal2.
Perasaan gatal itu benar-benar menyiksanya, sampai Hongya sering mengeluh.
Namun sejauh itu Kaisar yang tabah dan gagah ini bertahan terus.
Hek Wan masih terus menguruti sekujur tubuh Hongya, dan akhirnya selesai setelah ia mengurut sampai dikepala.
Tetapi waktu itu Toan Hongya sudah tidak bisa bertahan dari perasaan gatal yang berkeremitan disekujur badannya, ia telah bangun dan duduk menggaruk kesana kemari sekujur tubuhnya, Hek Wan tidak mencegah, ia hanya bantu menggaruki tubuh Toan Hongya.
Dengan cara menggaruk seperti itu, jalan darah disekujur tubuh Toan Hongya tambah terbuka, sehingga darah lebih leluasa menyelusuri seluruh jalan darah terkecil ditubuh raja ini.
Sedangkan Toan Hongya sendiri semakin lama merasakan peracaan gatal itu semakin hebat menyerang dirinya, sehingga raja ini jadi sibuk sekali menggaruk kesana kemari, dan akhirnya raja ini tidak hentinya me-lompat2 karena menderita kegatalan yang luar biasa.
Kulit tubuhnya juga telah berobah merah, jika sebelumnya hanya titik-titik merah, yang memenuhi sekujur tubuhnya, kini titik2 merah itu telah merata, sehingga yang tampak hanyalah kulit sekujur tubuh Toan Hongya jadi merah, hanya pada bagian muka tidak terlihat warna merah itu, karena memang bagian muka tak terdapat titik2 tersebut.
Toan Liang dan orang2 istana jadi bingung dan kuatir.
Tetapi Hek Wak menenangkan mereka, dan Hek Wan juga telah menjelaskan, hal itu tidak apa2, hanya akan berlangsung sampai dua hari.
Justru yang sangat tersiksa sekali adalah Toan Hongya Sebetulnya Hek Wan bisa saja membantu mengurangi penderitaan raja ini, yaitu dengan menotok tidur raja tersebut.
Namun karena Hek Wan mengetahui benar bahwa dengan gatal2 seperti itu justru darah beracun dari ular yang telah dihirup oleh Toan Hongya harus disalurkan.
Maka jika Toan Hongya ditotok tidur, memang perasaan gatal itu tak akan membuat Toan Hongya tersiksa seperti sekarang ini, namun peredaran darahnya bisa menjadi lambat dan kemungkinan bisa mencelakai raja ini.
Maka Hek Wan menjelaskan kepada Toan Liang, walaupun Toan Hongya menderita gatal2 seperti itu, tidak akan mengganggu kesehatan dan keselamatan dirinya.
Maka sehari penuh Toan Nongya garuk sana dan garuk sini disekujur tubuhnya.
la melihat sekujur kulit ditubuhnya semakin berwarna merah, malah lama kelamaan berubah jadi kehitam-hitaman.
Sedangkan Hek Wan selalu mendampinginya.
Dan ketika Toan Hongya sudah tidak bisa bertahan dari perasaan gatalnya itu, raja ini ber-teriak2 sambil meng-garuk2 lebih kuat.
Sedangkan Hek Wan juga bantu menggaruki.
Toan Liang dan beberapa orang kerabat istana lainnya juga ikut menggaruki tubuh raja mereka, perasaan gatal yang menyiksa itu masih terus berlangsung, sampai akhirnya Toan Hongya tidak merasakan garukan dari orang-orang itu, ia hanya marasa gatal yang bukan main.
Sambil mengeluarkan keluhan2 dan jeritan2 kecil, Toan Hongya telah bergulingan.
Hek Wan menenangkan kepada orang-orang yang mulai panik.
Sedangkan Toan Liang dengan muka masam telah berkata pada Hek Wan .
"Bagaimana jika Hongya kami ini bercelaka akibat meminum arak yang telah direndam tanduk ular itu ? Bukankah ular itu sangat beracun ?"
Tetapi Hek Wan sangat tenang.
"Jangan kuatir, percayalah tidak akan terjadi suatu apapun yang tidak diinginkan didiri Hongya..........!"
Kata Hek Wan.
Melihat sikap Hek Wan yang bersungguh-sungguh seperti itu, orang-orang istana jadi agak tenang.
Tetapi yang tersiksa benar adalah Toan Hongya, karena disekujur tubuhnya menderita kegatalan yang semakin lama jadi semakin hebat.
Setelah sehari penuh bergulingan karena ke gatalan, akhirnya Toan Hongya pingsan.
"Biarkan Iebih baik ia pingsan begitu, sehingga tldak terlalu tersiksa oleh perasaan gatalnya. Dan kegatalan itu masih akan berlangsung satu hari lagi...........selewatnya itu, keadaan Hongya akan biasa lagi, malah Hongya akan menjadi manusia yang beruntung sekali...........!" ---o~dw.kz^0^Tah~o---SAMBIL menenangkan kepanikan orang istana, Hek Wan juga telah menguruti tubuh Toan Hongya. Karena dalam keadaan pingsan seperti itu jalan darah ditubuh Toan Hongya akan beredar lambat, dan itu tidak boleh. Maka Hek Wan mengurut membantu peredar darahnya ......., walaupun tidak bisa selancar beredarnya darah itu jika Toan Hongya dalam keadaan sadar, se-tidak2nya peredaran darah itu cukup baik jika diurut. Setelah lewat lagi beberapa saat, Toan Hongya kembali tersadar dari pingsannya, ia kembaIi meng-garuk2 kesana kemari.
"Gatal sekali........! Gatal.......!"
Teriak Toan Hong ya berulang kali.
Sedangkan Hek Wan ikut bantu mengurut dan menggaruk, Toan Hongya telah bergulingan lagi ditanah akibat tidak tertahannya perasaan gatal itu.
Setelah lewat sejenak lamanya, Toan Hongya kembali pingsan.
Di-saat2 seperti-itu, semua orang istana jadi berdiam diri dicekam oleh kekuatiran.
Lebih2 mereka melihat kulit disekujur tubuh Toan Hongya selain mukanya saja, telah berobah warnanya menjadi kehitam-hitaman.
Keadaan seperti ini tentu saja membuat Toan Liang lebih berkuatir.
"Jika kulit itu menjadi hitam, berarti Toan Hongya telah keracunan ...!'', pikir panglima ini. Maka ia berkata dengan tidak senang pada Hek Wan.
"Jika dilihat demikian Hongya kami telah keracunan kembali. ..!"
Hek Wan berusaha menjelaskan, tapi Toan Liang tetap dengan pendiriannya.
Maka tanpa memperdulikan nasehat Hek Wan agar Toan Liang tidak mengijinkan para tabib istana memasuki kamar Hongya, Toan Liang telah perintahkan pengawal memanggil beberapa orang tabib istana.
Kemudian tabib2 itu memeriksa tubuh Hongya, dan mereka memperhatikan wajah yang berkuatir sekali.
Setelah memeriksa dengan teliti, para tabib itu mengatakan bahwa Hongya mereka memang keracunan hebat.
Muka Toan Liang jadi merah padam.
"Tangkap orang itu!"
Bentaknya pada para pengawalnya. Segera beberapa orang pengawal menangkap Hek Wan, yang dibawa kesebuah kamar tahanan.
"Jika memang besok keadaan Hongya tidak lebih baik dari keadaan sekarang, maka kepala mu harus berpisah dari batang leher... !"
Ancam Toan Liang. Sedangkan Hek Wan tenang saja, ia tersenyum sambil katanya .
"Toan Tai jin engkau tidak perlu gugup begitu, percayalah Toan Hongya tidak mengalami ancaman bahaya apapun juga .......!"
Tetapi Toan Liang tidak mau mempercayai nya.
Waktu berjalan terus, dan sehari lagi telah lewat.
Benar saja apa yang dikatakan oleh Hek Wan, Toan Hongya sudah tidak menderita kegatalan lagi.
Namun kulit disekujur tubuhnya itu seperti bersisik, seperti pecah2 menjadi pecahan sisik yang terbuat dari tembaga.
Keadaan tubuh Toan Hongya seperti itu telah menggemparkan orang2 istana.
Malah waktu Toan Liang yang menerima laporan tersebut dan cepat2 datang kekamar rajanya, telah menekan sisik-sisik itu, keras seperti baja.
Diam-diam Toan Liang jadi heran dan benar-benar tidak percaya apa yang dilihatnya.
Hanya muka Toan Hongya yaag tidak bersisik, tetapi selebih dari bagian muka, sekujur tubuhnya telah bersisik.
Tentu saja keadaan ini membuat semua jadi heran dan tidak mengerti.
Begitu juga para tabib istana tidak mengerti mengapa tubuh raja mereka bisa bersisik seperti terjadi didalam dongeng belaka.
Cepat2 Toan Liang memanggil Hek Wan, yang dibebaskan dari kamar tahanannya.
Ketika Hek Wan datang dikamar peraduan Toan Hongya dan melihat sisik2 disekujur tubuh Toan Hongya, ia jadi tersenyum.
"Sudah kuduga sebelumnya........!"
Katanya.
"Apa yang telah kau duga?"
"Tentunya ular itu berusia seribu tahun lebih....... !"
Sahut Hek Wan.
"Mengapa begitu ?"
"Karena hanya Kim Giok Coa yang berusia ribuan tahun-saja yang bisa memberikan sisik pada orang yang meminum darahnya, karena darah ular itu benar2 telah mengandung mujijat yang hebat.... !"
"Tetapi mana mungkin, seorang manusia harus bersisik seperti itu...?"
Kata Toan Liang dengan hati yang bingung. Tetapi Hek Wan malah tersenyum.
"Sisik-sisik itu bukan sisik sembarangan"
Katanya.
"Sisik bagaimana?"
Tanya Toan Liang dalam kebingungannya itu.
"Sisik itu sangat ampuh, sehingga untuk selanjutnya Toan Hongya seperti memakai pakaian besi saja, tidak akan dapat dilukai oleh senjata tajam karena lindungan sisik itu, disamping itu tenaganya akan menjadi puluhan kali lipat lebih besar dari tenaganya yang semula........!"
Mendengar keterangan Hek Wan, Toan Liang tidak mau mempercayainya.
Hek Wan telah menghampiri pembaringan ia melihat Toan Hongya masih dalam keadaan pingsan diperaduannya.
Dengan tenang Hek Wan mengulurkan tangannya, ia mengurut beberapa bagian tubuh Toan Hongya.
Tidak lama kemudian Toan Hongya tersadar dari pingsannya akibat urutan itu.
Begilu membuka matanya, Toan Hongya segera melompat duduk, gerakannya gesit, berbeda dengan beberapa hari yang lalu ketika menderita sakitnya, yang selalu bergerak lemah sekali.
"Mana Hek Wan Locianpwe ?"
Tanya Toan Hongya begitu ia duduk.
"Aku berada disini, Hongya........ !"
Menyahuti Hek Wan cepat.
"Hek Wan Locianpwe, terima kasih atas pertolongan yang telah diberikan oleh Locianpwe........!"
Kata Toan Hongya Hek Wan tersenyum.
"Aku memberikan pertolongan karena memang didiri Hongya terdapat mustika yang sangat berharga sekali.....!"
Waktu itu Toan Hongya telah menunduk, ia melihat sisik-sisik yang terdapat ditubuhnya, Muka Toan Hongya jadi berobah dan ia mengeluarkan seruan tertahan, sambil mengusap dan berusaha mencabut salah satu sisik yang terdapat ditubuhnya.
Totapi ia tidak berhasil, sisik itu seperti telah menjadi satu dengan kulit tubuhnya.
"Ihhhhh......, mengapa tubuhku jadi bersisik seperti ini ?"
Tanyanya.
Hek Wan memberikan keterangan.
Toan Hongya telah menyedot napas dalam-dalam, dan ia merasakan tubuhnya jadi segar sekali.
Begitu juga Toan Hongya telah menyalurkan tenaga sinkangnya pada perutrya, ia bisa memutar bola api yang berada didalam perutnya.
"Tetapi Hek Wan Locianpwe........bola api itu belum juga lenyap dari perutku", katanya.
"Bola api itu tidak akan lenyap........!"
Menjelaskan Hek Wan.
"Kalau begitu...........kalau begitu...........!"
Melihat Toan Hongya gugup, Hek Wan tersenyum.
"Hongya tidak perlu bingung, bola api itu merupakan sebuah mustika yang tidak akan dimiliki orang sembarangan, itu merupakan sumber dari tenaga sinkang yang luar biasa hebatnya.........maka jika bola api itu memperoleh perawatan yang baik dengan cara yang benar, tentu Hongya akan memiliki sinkang yang luar biasa"
Toan Hongya jadi girang, ia telah berkata lagi .
"Kalau begitu...kalau begitu...aku akan bisa melatih bola api itu dengan sinkang, yang kumiliki...........!"
"Ya, bola api itu harus dilatih terus, sampai bisa memberikan hawa murni pada Toan hongya.......dan jika memang Hongya berhasil melatih diri dengan sempurna, tentu bola api itu merupakan sumber kekuatan yang hebat namun bisa dikendalikan oleh Hongya........!" . Toan Hongya tidak mengatakan apa2 lagi, ia hanya melompat turun dari pembaringannya dan tanpa memperdulikan orang-orang istana yang banyak berkumpul pada saat itu, Toan Hongya telah menggerakkan sepasang tangan dan kakinya, ia mulai bersilat. Cepat dan bertenaga sekali gerakan raja ini, dimana setiap tangannya bergerak, mendatangkan angin yang berkesiuran sangat kuat sekali. Hek Wan hanya menyaksikan sambil tersenyum. Disaat itu, setelah berbenti menggerakkan kedua tangan dan kakinya, Toan Hongya tiba2 menjatuhkan diri berlutut dihadapan Hek Wan.
"Hek Wan Locianpwe..........engkau telah menolong selembar jiwaku dari kematian, maka sekarang Locianpwe telah menghadiahkan kemujijatan seperti ini yang demikian hebat khasiatnya terima kasih Hek Wan Locianpwe maka jika memang Hek Wan Locianpwe tidak keberatan, aku ingin mengundang Locianpwe, untuk menetap diistana saja, dan kalau Locianpwe tidak mentertawai aku, aku ingin sekali mengangkat guru padamu siorang tua yang sakti..........!"
Hek Wan cepat-cepat mengangkat bangun raja itu, yang dimintanya untuk duduk ditepi pembaringan. Sedangkan Toan Liang yang menyaksikan semua ini, jadi ter-sipu2 menghampiri Hek Wan.
"Maafkan Aku, Locianpwe........ !"
Kata Toan Liang sambil menjura. Hek Wan tertawa.
"Itu hanya kesalahan paham belaka......... dengan demikian malah kalian telah memperlihatkan cinta yang besar dan mulia kepada raja kalian...........!"
Toan Hongya bingung melihat keadaan ini ia menanyakan apa yang terjadi.
Toan Liang cepat2 menceritakannya, dan.
Toan Hongya tidak menegur.
Mereka hanya tertawa, kini mereka bisa bergembira, karena menyaksikan raja mereka telah sembuh dari sakitnya.
Malah sekarang tampaknya Toan Hongya demikian gagah dan perkasa, dengan kemujijatan yang telah dimilikinya dari darah ular Kim Giok Coa itu....
Toan Hongya menoleh kepada Hek Wan, tanyanya-lagi .
"Bagaimana Locianpwe apakah locianpwe bersedia untuk menerima aku menjadi muridmu........?"
Hek Wan tidak segera menyahuti, ia seperti berpikir dulu beberapa saat lamanya, tetapi akhirnya ia menghela napas sambil katanya.
"Rupa nya, memang kita telah berjodoh untuk menjadi murid dan guru......! Baiklah, permintaanmu itu kuterima Hongya......!"
Bukan main gembiranya Toan Hongya, berulang kali ia menyatakan terima kasihnya.
Disaat itu, pihak istana menyelenggarakan sebuah pesta, untuk merayakan kesembuhan raja mereka.
Rakyat negeri Tailie Juga mengadakan pesta, semua orang merasa gembira raja mereka telah sembuh dari sakitnya, malah sekarang menjadi manusia yang luar biasa, dengan memiliki sisik mujijat......!
---o~dw.kz^0^Tah~o---BAGIAN 26 .
ILMU PUKULAN GELEDEK – PEK LUI CIANG BEBERAPA KALI Toan Hongya mencoba keampuhan sisik2 yang terdapat disekujur tubuhnya, ia telah perintahkan kepada beberapa orang pengawal istana untuk menusukkan tombak pada dirinya.
Memang per-tama2 para pengawal itu ragu-ragu dan tidak berani melaksanakan perintah itu dengan mempergunakan tenaga, mereka hanya menusuk perlahan.
Tetapi waktu melihat mata tombak itu tidak melukai raja mereka, barulah mereka berani menombaknya lebih keras.
Malah akhirnya menombak dengan sungguh2, tetapi tidak ada mata tombak yang bisa melukai Toan Hongya.
Kenyataan seperti ini telah membuat Toan Hongya jadi sangat girang.
Bukankah itu suatu keuntungan buat dirinya, yang tidak kecil nilainya ?
Terlebih lagi ia sebagai seorang raja, tentu dengan kekebalan tubuhnva seperti itu membuat ia menjadi seorang raja yang perkasa sekali...........!
Begitu juga Toan Hongya sering menguji tenaganya sendiri.
Ia telah memukul sebatang pohon yang cukup besar batangnya, tetapi pohon itu begitu dihantam, seketika patah dan tumbang ......!
Jelas itu akibat dari tenaga serangan yang kuat sekali, dimana Toan Hongya sekarang benar2 telah memiliki kekuatan Gwakang (tenaga luar) yang mempergunakan kekerasan dan tenaga Lwekang (tenaga halus) yang cukup ampuh, sebab baik ia menyerang dengan keras atau lunak, ia bisa menumbangkan batang pohon itu.
Hek Wan juga selalu memberikan petunjuk-petunjuk kepada Toan Hongya.
Ternyata Hek Wan adalah seorang tokoh sakti dari rimba persilatan, karena ia merupakan seorang pendekar yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali, hanya selama itu Hek Wan hanya menyembunyikan diri dengan menyamar sebagai seorang yang tidak mengerti apa-apa.
Hek Wan berasal dari daratan Tionggoan, dan secara kebetulan ia telah mengembara dan tiba dinegeri Selatan ini, di Tailie ia mendengar perihal sakitnya raja tersebut tetapi dari mulut penduduk Tailie, ia mendengar raja itu senang mempelajari ilmu silat.
Maka setelah mendengar banyak tabib-tabib istana dan tabib lainnya yang gagal mengobati kaisar tersebut, Hek Wan lalu memutuskan untuk coba mengobati raja itu dengan mempergunakan saluran tenaga sinkang.
Begitulah, ia telah datang menghadap Toan Liang dengan menyamar sebagai akhli menambal mangkok.
Ia telah memberikan kisikan halus pada Toan Hongya cara memperdalam latihan tenaga sinkang.
Tentu saja sinkang yang diturunkan oleh Hek Wan merupakan latihan sinkang dari tingkat tinggi.
Itulah sebabnya Toan Hongya cepat sekali memperoleh kepulihan dari kesehatannya yang terganggu.
Hek Wan semula jadi heran, karena ia telah memecahkan tujuh buah cawan, namun selama itu Toan Hongya mengalami kesembuhan yang lambat.
Ia menduga tentu terdapat sesuatu yang tidak beres pada diri Toan Hongya.
Untung saja Toan Hongya sendiri yang telah memberikan pengakuannya pada bola api yang dimilikinya, yang selalu berada diperutnya.
Dan juga Toan Hongya yang telah menceritakan perihal ular Kim Giok Coa itu, sehingga Hek Wan bisa segera mengambil tindakan2 yang diperlukan.
Sebagai tokoh sakti yang berpengalaman, Hek Wan mengerti benar apa artinya ular Kim Giok Coa itu.
Dengan perawatan yang teratur dan baik, Toan Hongya akhirnya bisa sembuh dari penyakitnya yang aneh, malah sekarang Toan Hongya telah menerima keberuntungan, sebab untuk hari2 mendatang Toan Hongya akan menjadi raja yang kebal terhadap serangan senjata tajam.
Keadaan seperti ini memang menggembirakan Toan Hongya.
Begitu juga kerabat istana, walaupun sisik2 yang terdapat ditubuh Toan Hongya merupakan urusan yang mengherankan, karena tubuh Toan Hongyg seluruhnya penuh oleh sisik, seperti sisik seekor ular.
Hek Wan yang menerima permintaan Toan Hongya untuk menjadi guru raja ini, telah menepati Janjinya, ia menurunkan berbagai ilmu yang hebat-hebat kepada Toan Hongya, sehingga dalam dua tahun saja Toan Hongya telah memperoleh kemajuan yang sangat pesat sekali.
Dalam waktu yang sangat singkat itu Toan Hongya menjadi seorang jago yang mempunyai kepandaiannya, sinkang maupun ginkangnya sangat lihay.
Dengan memperoleh didikan Hek Wan, Toan Hongya bisa memiliki kepandaian yang begitu tinggi, raja ini bertambah semangat melatih diri untuk mempertinggi ilmu silatnya.
Hampir setiap sore hari Toan Hongya selalu melatih diri dengan giat, terkadang sampai menjelang tengah malam.
Sedangkan perhatiannya pada soal pemerintahan semakin berkurang.
Sesungguhnya Toan Hongya bermaksud untuk mengundurkan diri sebagai seorang kaisar, ia bermaksud untuk manjadi rakyat biasa, meninggalkan kekuasannya yang akan diberikan kepada salah seorang akhli waris Tailie, tetapi justru semua kerabat Istana Tailie mendesak agar Toan Hongya tetap memangku jabatannya itu, jangan meninggalkan mereka.
Hal inilah yang memaksa Toan Hongya harus tetap berkuasa penuh di Tailie, yang setiap hari selalu disibuki dengan mengurus persoalan masalah kerajaan dan pekerjaan rutinnya sebagai seorang kaisar.
Sejauh itu Toan Hongya tetap tidak melalaikan latihan2nya untuk memperdalam ilmu silatnya.
Ia terus juga melatih diri.
Yang diutamakan adalah latihan tenaga sinkangnya.
Suatu hari Hek Wan telah berkata kepada muridnya tersebut ;
"Muridku, sekarang engkau telah memiliki kepandaian yang tinggi, baik ilmu pedang dan juga tenaga lwekangmu telah cukup sempurna. Sinkangmu juga telah cukup tinggi. Yang tinggal hanyalah latihan belaka dan pengalaman bertempur. Sekarang ini engkaupun telah memiliki sisik-sisik yang kuat dan ampuh, yang membuat tubuhmu menjadi kebal. Maka dari itu, kini aku ingin menurunkan semacam ilmu kepadamu.......!"
Mendengar perkataan gurunya tersebut, Toan Hongya cepat2 menekuk lututnya, ia telah memberi hormat kepada gurunya itu.
"Tecu menantikan penjelasan dari suhu,"
Katanya. Hak Wan tersenyum, dan perintahkan muridnya itu untuk berdiri.
"Dengarlah muridku, aku hendak menurunkan semacam ilmu kepadamu....... ilmu itu merupakan ilmu pukulan biasa, tetapi hanya latihannya saja yang berlainan dan akan membuat engkau bertambah liehay dan kukira ilmu pukulan yang baru kuciptakan itu memang hanya sesuai untuk dirimu yang telah memiliki sisik sehingga tubuhmu menjadi kebal........... !'' "
Ilmu apakah itu, suhu ?"
Tanya Toan Hongya.
"Pek Lui Ciang ?"
Tanya Toan Hongya. Hek Wan mengangguk.
"Ya.... !"
Mengangguk Hek Wan membenarkan pertanyaan muridnya.
"Benar, pukulan Geledek itu tentu akan membuat engkau lebih liehay lagi......!"
Kemudian Hek Wan mengajak muridnya ketaman.
---o^dw..kz^0^tah^o---TAMAN ISTANA itu sangat besar, tetapi taman sebelah barat memang khusus telah diberikan kepada Hek Wan, sejak orang tua itu menjadi guru Toan Hongya.
Dengan demikian jarang sekali ada orang Yang mendatangi taman sebelah barat, karena selama itu Toan Hongya juga telah melarang pasukan istana mendekati gedung dari Hek Wan.
Waktu tiba ditaman sebelah barat, Toan Hongya melihat sesuatu tergantung diatas cabang pohon yang cukup besar.
Toan Hongya telah membuka matanya lebar2 dan ia jadi heran, karena dilihatnya justru benda itu merupakan enam buah bola yang tergantung dicabang pohon itu.
Yang lebih luar biasa lagi justru disetiap bola2 itu terdapat puluhan duri2 yang tajam sekali.
Tentu saja bola itu bukan bola biasa, dan sangat berbahaya jika mengenai tubuh seorang manusia.
Toan Hongya memandang heran pada gurunya, seperti minta penjelasan.
Hek Wan telah tertawa.
"Inilah benda yang dipergunakan melatih ilmu pukulan istimewa yang akan kuajari ... ilmu Pukulan Geledek itu memiliki keistimewaan dan kehebatan, karena setiap pukulan akan memiliki tenaga yang mematikan... !"
Mendengar keterangan gurunya, Toan Hongya jadi girang.
Dengan adanya benda2 yang aneh seperti bola berduri itu, Toan Hongya jadi terbangun semangatnya untuk melatih diri.
Bukankah ia akan memperoleh ilmu yang baru dari gurunya ?
"Baiklah suhu, tolong suhu menjelaskan cara bagaimana aku melatih diri....!"
Kata Toan Hongya.
"Sabar,"
Kata Hek Wan. Kemudian guru itu telah mendorong salah satu bola berduri itu, sehingga bola tersebut terayun bergerak, karena bola itu memang tergantung oleh seutas tali yang besar dan kuat.
"Nah kau lihat muridku, bola itu akan bergerak jika didorong oleh suatu kekuatan, bisa engkau memukulnya, sehingga bola itu akan terpental. Namun bola itu akan menyambar lagi dengan kuat dan cepat, dan yang berbahaya sekali adalah duri2 pada bola2 berduri itu......... setiap kali bola itu menyambar, engkau harus mengelakkan diri dan melancarkan serangan. Kepalan tanganmu kebal karena memiliki sisik, maka engkau tidak akan kuatir terluka oleh duri bola itu ........engkau bisa memukulnya. Tetapi yang diutamakan adalah cara menghadapi samberan-samberan bola2 tersebut, engkau harus mengelakkan sambil melancarkan serangan. Dengan latihan seperti ini, selain kepalan tanganmu akan terlatih lebih kuat, juga akan melatih kegesitannya........!"
Mendengar penjelasan gurunya sampai disitu, Toan Hongya telah mengiyakan, ia bersiap-siap untuk melatih diri.
Tetapi saat itu Hek Wan minta Toan Hong ya memperhatikan dulu penjelasannya.
Hek Wan telah memberitahukan cara mengerahkan tenaga kepalannya, sehingga memiliki inti tenaga.
yang kuat sekali, itulah sebabnya ilmu pukulan tersebut diberi nama pukulan Pek Lui Ciang, atau Pukulan Geledek.
Jelas ilmu pukulan ini bukan merupakan ilmu pukulan biasa, mengandung kekuatan yang bisa mematikan jika memang seorang lawan terserang kepalan tangan Toan Hongya.
Disaat itu Toan Hongya telah mengangguk-angguk menyatakan ia bisa menangkap dan mengerti keterangan yang diberikan oleh gurunya.
Sejurus demi sejurus Toan Hongya telah mulai melatih diri.
Setiap bola berduri yang terkena pukulannya, bola itu akan melayang dan menyambar lagi.
Toan Hongya selalu mengelakkan diri dengan gesit.
Tapi sambil berkelit, ia telah mengayunkan kepalannya melancarkan serangan pada bola kedua, sehingga bola itu terpental lagi.
Begitu seterusnya, sehingga keenam bola itu telah terkena pukulan tangan Toan Hongya secara bergantian.
Dengan keenam bola itu yang ber-ayun2 tidak hentinya, Toan Hongya harus berkelit kesana kemari dengan gesit.
Memang Hek Wan telah sengaja menciptakan latihan seperti ini.
Selama dua bulan Hek Wan mencurahkan seluruh perhatiannya menciptakan bola-bola besi berduri tersebut, untuk di pergunakan melatih ginkang muridnya, disamping itu juga untuk melatih Pukulan Tangan Geledek muridnya.
Sehingga Toan Hongya telah menerima lagi semacam kepandaian ilmu tangan kosong yang hebat sekali.
Dan Toan Hongya juga memang merasakan bahwa sejak berguru pada Hek Wan, ia teiah memiliki kepandaian yang tinggi dan memperoleh kemajuan yang pesat sekali.
Disamping ilmu pukulannya yang semakin mantap, Toan Hongya juga memiliki sinkang yang semakin kuat saja.
Dalam usia belum dua puluh lima tahun, Toan Hongya telah menjadi seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi sekali, mungkin jarang sekali ada pemuda sebayanya yang bisa manandingi kaisar yang memiliki kepandaian silat demikian hebatnya itu.
Dua bulan Hek Wan telah melatih Toan Hongya ilmu pukulan Pek Lui Ciang tersebut, dengan mempergunakan keenam bola berduri itu sehingga Toan Hongya akhirnya berhasil menguasai ilmu pukulan tersebut dengan baik.
Suatu hari, Hek Wan menyatakan pada Toan Hongya, bahwa seluruh ilmu yang dimilikinya telah diturunkan pada raja ini.
Maka ia hanya menganjurkan Toan Hongya sering2 berlatih diri, sebab pengalaman bertempurlah yang masih kurang pada diri Toan Ceng.
Hek Wan juga menyatakan keinginannya untuk meninggalkan istana guna berkelana lagi, karena merasa tugasnya telah selesai.
Toan Hongya jadi terkejut, ia membujuk gurunya agar berdiam lagi beberapa saat diistananya.
Tetapi Hek Wan justru menyatakan ia sesungguhnya tidak betah berdiam terus menerus disebuah tempat, bahkan ia senang sekali merantau dari tempat yang satu ketempat yang lainnya.
Jika ia tinggal cukup lama diistana Toan Hongya, itu memiliki alasan tersendiri.
Hek Wan melihat Toan Hongya memiliki bakat yang baik disamping itu juga telah berhasil menghirup darah ular Kim Giok Coa yang sakti, maka merasakan bahwa Toan Hongya memiliki rejeki yang begitu besar dan membutuhkan petunjuknya, Hek Wan bersedia untuk berdiam diistana Toan Hongya begitu lama.
Namun sekarang tugasnya telah selesai, maka ia bermaksud akan pamitan.
Toan Hongya jadi berduka, ia menyatakan ingin ikut serta gurunya merantau.
Hek Wan telah menolaknya, guru itu mengingatkan pada Toan Hongya bahwa raja ini memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang berat pada kerajaannya, dimana rakyatnya memburtuhkan sekali pimpinannya itu.
"Engkau boleh melatih terus ilmu silat yang telah engkau miliki, tetapi engkau tidak boleh melupakan kewajibanmu untuk mengatur negaramu...... maka dari itu, engkau tidak bisa ikut denganku keluar dari kerajaanmu ............"
Toan Hongya menghela napas dalam2, dan kemudian dia berkata dengan suara berduka .
"Baiklah suhu... terima kasih atas pesan2 yang telah diberikan oleh suhu........ disamping itu, memang tecu juga kelak bermaksud akan mengundurkan diri sebagai raja, dan jika memang telah ada akhli waris yang tepat, tecu akan menyerahkan pimpinan padanya, sedangkan tecu bermaksud akan berkelana dalam rimba persilatan, terutama sekali yang menarik hati tecu adalah daratan tionggoan, dimana tecu sering mendengar bahwa didaratan tionggoan itu terdapat banyak sekali jago2 yang memiliki kepandaian silat sangat tinggi... !"
Gurunya telah mengangguk membenarkan.
Dan Hek Wan segera menceritakan perihal keadaan didalam rimba persilatan daratan Tionggoan, juga banyak sekali yang diceritakan guru itu mengenai siapa2 saja yang menjadi tokoh rimba persilatan didaratan Tionggoan.
"Jika kelak engkau telah berhasil melatih diri dengan sempurna, barulah engkau pergi berkelana dalam daratan Tionggoan. Jika tidak, lebih baik jangan, karena didaratan Tionggoan terlalu banyak sekali akhli-akhli silat yang merupakan tokoh2 sakti yang memiliki kepandaian sangat tinggi........... !"
Toan Ceng mengiyakan.
Begitulah, Hek Wan dua hari lagi tinggal diistana Toan Hongya.
Setelah itu, dipagi hari yang sejuk, guru itu telah pamitan, ia ingin kembali kedaratan Tionggoan.
Sejak kepergian Hek Wan, Toan Hongya diliputi rasa kesepian.
Untuk melenyapkan kesepiannya itu, Toan Hongya terus melatih diri dengan giat.
Setiap malam hari dipergunakan untuk melatih ilmu2 yang telah diperolehnya, maka cepat sekali ia memperoleh kemajuan.
Tanpa disadarinya bahwa kepandaian yang dimilikinya itu sudah merupakan kepandaian yang bukan sembarangan lagi, dan mungkin jarang ada tokoh persilatan yang bisa menandingi kepandaiannya tersebut!
Toan Hongya juga bertekad, jika kelak ia telah berhasil mencari penggantinya untuk menjadi kaisar di Tailie, dan menyerahkan kekuasaannya pada penggantinya itu, ia ingin merantau kedaratan Tionggoan .......................
---o^dw..kz^0^tah^o---BAGIAN 27 .
MENGHAJAR PENCOPET SEBAGAI kerajaan yang berada didaerah selatan, yaitu In-lam, yang memiliki pemandangan yang sangat indah sekali, disamping suasana yang selalu sejuk dan nyaman, Tailie merupakan karajaan yang sangat terkenal.
Walaupun kerjaan itu memiliki daerah yang tidak begitu luas, namun Toan Ceng, bisa mengatur rakyatnya hidup makmur dan sejahtera.
Terlebih lagi dibawah pempinan Toan Ceng yang sangat bijaksana dan adil, maka rakyat semakin hidup aman dan tenteram.
Setiap peristiwa penasaran yang dihadapi oleh rakyat kecil, boleh dilaporkan langsung kepada Toan Hongya dan akan dilayani dengan sebaik mungkin.
Dengan demikian, di Tailie tidak ada pembesar negeri yang mempergunakan kekuasaannya dengan tindakan sewenang-wenang.
Sedangkan rakyat negeri Tailie juga hidup dengan tahu diri, tidak ada orang yang melakukan kejahatan, mereka telah hidup dengan rukun dan tidak melakukan perbuatan tercela, maka boleh dibilang kerajaan Tailie yang kecil itu hidup aman dan sentosa.
Memang orang2 didaratan Tionggoan juga telah banyak mendengar perihal keindahan negeri Tailie, sehingga banyak yang bermaksud untuk pesiar kesana.
Tidaklah mengherankan jika Tailie juga kebanjiran pengunjung2 yang hendak menikmati keindahan negeri tersebut, yang mendatangkan penghasilan tidak sedikit untuk kerajaan itu.
Dari banyaknya pengunjung negara lain yang berdatangan ke Tailie, maka rakyat Tailie bisa hidup dengan makmur dan tenteram, karena banyak sekali yang memiliki pekerjaan untuk membuat kerajinan tangan yang dijual kepada para pengunjung negeri Tailie itu.
Pagi itu, diwaktu udara pagi yang sejuk masih menyelimuti Tailie, disebuah jalan raya yang cukup besar, tampak berjalan dua orang pria, yang seorang adalah seorang pemuda yang bertubuh sehat dan berparas tampan, dengan kulit yang putih bersih, selalu memperlihatkan sikap riang dan ber-seri2.
Sedangkan yang seorang lagi adalah seorang laki2 setengah baya yang cukup lanjut usianya.
lapun mengenakan pakaian yang agak aneh, hanya terbuat dari kulit binatang buas, sebagian tubuhnya juga terbuka.
Maka telah memasuki Tailie sambil menikmati keindahan alam yang terdapat dinegeri tersebut.
Disaat itu, mereka tidak hentinya memuji akan keindahan panorama dari negeri Selatan tersebut.
Kedua orang laki2 itu tidak lain dari Lu Liang Cwan dan Oey Yok Su.
Mereka yang tidak tahu harus pergi kemana dan tidak memiliki tujuan, akhirnya telah melakukan perjalanan kemana saja dibawa oleh kaki mereka, dan akhirnya mereka telah tiba dinegeri Tailie.
Banyak penduduk Tailie yang heran melihat cara berpakaian Lu Liang Cwan, tetapi mereka tidak usil dan menyambut kedua tamu asing dinegeri mereka dengan anggukan ramah dan senyum bersahabat.
Lu Liang Cwan yang biasanya mempunyai tabiat aneh dan berangasan, jadi kuncup nyalinya menerima sikap yang sopan dan.
ramah di negeri Tailie ini.
Suatu waktu Lu Liang Cwan bergumam pada Oey Yok Su.
"hemmm........., mereka semuanya tampak sopan dan ramah tamah ........! Aku jadi malu dengan cara berpakaianku seperti ini........!"
Oey Yok Su tertawa mendengar perkataan Lu Liang Cwan, dalam perjalanan Oey Yok Su melihat Lu Liang Cwan memiliki tabiat yang baik, walaupun memang sering, membawa sikap yang ugal2an.
"Siapa yang minta engkau tidak mengganti pakaian? Bukankah aku, telah menganjurkan lebih baik engkau mengganti pakaian dengan baju biasa saja, tetapi engkau keras kepala dan menyukai pakaian yang memancarkan bau yang tidak sedap itu. Sekarang disaat kita tiba ditempat orang2 tersebut seperti penduduk tempat ini, engkau sendiri yang jadi canggung dan malu."
Lu Liang Cwan menyeringai, tetapi ia menyahuti.
"Tetapi mereka telah menyambut kedatangan kita dengan senyum dan anggukan kepala, tanpa memperlihatkan bahwa mereka merasa heran oleh pakaianku seperti ini, rupanya mereka bisa menghargai hak seseorang, yang terserah mau mengenakan pakaian bagaimana bentuknya, asalkan tiidak mengganggu ketentraman mereka. Betul tidak begitu ?"
Oey Yok Su tersenyum, ia mengangguk dan berkata .
"Benar, tetapi kita juga harus dapat menyesuaikan diri dengan berpakaian yang pantas, tidak asal jadi sembarangan saja!" .
"Hemmm........., engkau seperti tua bangka yang hendak menasehati seorang anak kecil saja !"
Kata Lu Liang Cwan sambii tertawa. Sedangkan Oey Yok Su pun ikut tertawa.
"Bukan memberikan nasehat, hanya memberikan saran,"
Kata Oey Yoak Su.
"Baiklah, jika nanti kita bertemu dengan penjual pakaian, aku akan membeli seperangkat pakaian, jangan sampai engkau ngocehkan terus ......."
"Bagus........!"
Seru Oey Yok Su.
"Jika memang Locianpwe hendak mengganti pakaianmu yang agak aneh itu dengan pakaian yang wajar, itu memang baik sekali, sehingga kita tidak akan mendatangkan perhatian yang terlalu besar dari orang2 yang berjumpa dengan kita...!"
Lu Liang Cwan tertawa lagi..
"Kau ini, si muda yang cerewet... jika kita menjadi perhatian orang, itu namanya bagus sekali, karena kita akan menjadi orang terkenal....... !"
"Tetapi Locianpwe harus ingat,"
Kata Oey Yok Su lagi.
"Jika kita terkenal dengan keadaan yang kurang enak, tentu akan menyebabkan kita sendiri kurang begitu tenang, karena kita hanya akan menjadi sasaran dari sindiran dan cemoohan orang lain! Jika kita marah, memang sesungguhnya kita ini berpakaian tidak baik... jelas kita tidak boleh marah pada orang yang menyindir kita, bukankah memang kita berpakaian dengan cara yang kurang begitu pantas ?"
Lu Liang Cwan tidak tertawa lagi, iapun tidak menyahutinya. Untuk sejenak lamanya ia berdiam diri, sampai akhirnya ia bilang juga .
"Engkau benar, sudahlah, kita tidak perlu memperdebatkan soal itu.. .!"
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan kemudian tiba dijantung kota, ditengah-tengah pasar yang sangat ramai. Oey Yok Su telah menunjuk kesebuah kota, katanya.
"Disana dijual ber-macam2 pakaian, kita bisa membelinya pakaian untuk Locianpwe......!"
"Hemmm........, engkau saja yang pergi kesana membelikan pakaian untukku. jika aku yang pergi kesana, tentu pemilik pakaian itu akan cerewet bicara mengenai pakaianku yang kupakai ini..........!"
Oey Yok Su tahu bahwa Lu Liang Cwan merasa malu, maka ia tidak membantahnya dan telah pergi menghampiri toko pakaian itu untuk membeli seperangkat pakaian buat Lu Liang Cwan.
Setelah berganti pakaian, Lu Liang Cwan tampak lebih gagah, dan yang terutama ia tidak akan menarik perhatian orang-orang yang bertemu dengannya.
Pakaian kulit binatang buasnya telah di simpan dalam buntalannya.
Merekapun menikmati keramaian yang ada dikota Tailie itu.
Tiba2 Lu Liang Cwan melihat sesuatu, ia mencubit tangan Oey Yok Su.
"Kau lihat, orang itu ingin mencopet korbannya !"
Bisik Lu Liang Cwan.
Oey Yok Su memandang seseorang yang ditunjuk oleh Lu Liang Cwan.
Dilihatnya seorang lelaki berusia empat puluh tahun tengah beraksi mencopet saku seorang wanita, gerakannya begitu cepat.
Tetapi disebabkan Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan memang memiliki mata yang tajam dalam melatih senjata rahasia, maka mereka bisa melihat dengan teliti apa yang terjadi di sekitar mereka.
Oey Yok Su bekerja cepat.
Sebelum copet itu sempat berlalu, ia menjejakkan kakinya, tubuhnya dengan cepat telah mencelat mendekati pencopet itu, yang tangan kanannya tetah dicekalnya, dan kemudian menarik jatuh pencopet itu.
Lelaki yang jadi pencopet itu tanpa bisa menahan keseimbangan tubuhnya, telah terjerunuk mencium tanah, ia ber-teriak2 memaki Oey Yok Su.
Oey Yok Su berdiri tenang ditempatnya.
Banyak orang2 yang segera berkerumun untuk menyaksikan peristiwa itu.
"Hemmm........, engkau rupanya memang telah biasa jadi pencopet, ya.....?!"
Kata Oey Yok Su dengan suara yang tawar. Pencopet itu telah melompat berdiri, ia mementang kedua matanya lebar2, malah ia membentak .
"Bocah ingusan, jangan sembarangan engkau menuduh orang....... tahukah engkau, jika engkau bicara sembarangan mulut bisa dirobek ?"
Galak sekali sikap orang itu, tetapi Oey Yok Su tidak jeri, ia berdiri ditempatnya. Malah sambil tertawa jek Oey Yok Su telah berkata .
"Cepat kau keluarkan hasil copetanmu itu dan serahkan kembali pada nyonya itu....!"
Sambil berkata begitu, Oey Yok Su telah menunjuk kepada wanita yang tadi menjadi mangsa pencopet ini.
Keruan saja wanita itu yang semula tertarik menyaksikan keramaian, jadi berobah pucat wajahnya.
Ia merogoh sakunya, dan seketika ia telah berteriak .
"Akhhh......, celaka ! Aku telah kena di copet........!"
Tetapi pencopet itu rupanya tabah sekali, ia bukannya memperlihatkan perasaan takut, malah telah berkata dengan suara yang bengis .
"Engkau jangan bicara sembarangan ! Engkau sendiri yang mungkin mencopet nyonya itu, lalu sekarang engkau hendak menimpahkan kesalahanmu itu kepadaku..........!"
Namun tangan kanan Oey Yok Su telah bergerak cepat sekalil.
"Plakkkkk........!"
Muka pencopet itu telah kena ditempiling.
Tempilingan yang dilakukan Oey Yok Su bukan tempilingan biasa, karena pada telapak tangannya itu mengandung kekuatan tenaga lwekang, maka tidak ampun lagi orang itu mengeluarkan jerit kesakitan dan tubuhnya berputar akan rubuh terguling ditanah.
Untung saja pencopet itu telah cepat2 berusaha mengendalikan tubuhnya, sehingga tidak sampai mencium tanah lagi.
Waktu itu Oey Yok Su telah berkata lagi .
"Apakah engkau masih tidak mau mengakui perbuatanmu itu dan menyerahkan kembali hasil copetanmu itu pada pemiliknya ?"
Orang tersebut rupanya telah jadi nekad.
Dengan mengeluarkan suara erangan, ia telah melompat menubruk Oey Yok Su.
la melihat Oey Yok Su berusia masih muda, paling tidak baru dua puluh tahun, maka ia menduga tentunya pemuda ini tidak berarti apa2 baginya.
Ia melakukan pukulan serentak dengan mempergunakan kedua tangannya sekaligus.
Tetapi Oey Yok Su melihat orang telah melancarkan serangan, dia memperdengarkan suara tertawa dingin, kedua tangannya disilangkan seperti gunting, dan sekali dia menjepit tangan orang itu, si pencopet itu menjerit kesakitan dan krakkk......!
tulang tangan kanan pencopet itu telah kena dipatahkannya, sampai ia menjerit keras sekali dan me-raung2.
Oey Yok Su juga tidak bertindak hanya sampai disitu saja.
Dengan kecepatan yang sulit dilihat, tampak Oey Yok Su telah menggerakkan tangan kanannya, maka muka pencopet itu telah kena ditempilingnya dengan keras, tubuh orang itu berputar dan jatuh terjerembab ditanah, dengan hidung yang berdarah dan gigi yang copot dua.......!"
Jika engkau tidak hendak menyerahkan kembali hasil copetanmu itu, maka aku akan menyiksa engkau lebih keras lagi sampai engkau mengakui perbuatanmu itu... !"
Pencopet itu rupanya jadi ketakutan, ia telah berkata dengan suara tergagap.
"Aku akan kembalikan. .. aku akan kembalikan. .. jangan menyakiti aku lagi........!"
Kemudian tangan kanannya telah morogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah tas kecil, diberikan kepada wanita yang jadi korban kecopetan itu.
Wanita itu telah cepat2 menyambutnya, karena ia mengenali tas itu adalah miliknya, iapun telah memeriksa isinya, belum berkurang suatu apapun juga.
Pencopet itu setelah menyerahkan tas copetannya itu telah mementang kakinya untuk berlalu.
Tetapi Oey Yok Su bekerja cepat, ia telah menyambar tangan pencopet itu dan membantingnya dengan keras, sehingga pencopet itu ter-aduh2, karena ia merasakan pinggulnya sakit luar biasa.
"Jika kelak engkau berani melakukan pencopetan lagi dan kebetulan aku melihatnya, hemm......... waktu itu aku bukan hanya mematahkan tulang tanganmu, tetapi kakimu juga akan kupatahkan ........."
Ancam Oey Yok Su.
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com Tanpa berani menyahuti, pencopet itu dengan menahan perasaan sakit, telah merangkak bangun dan cepat2 meninggalkan tempat itu.
Wanita yang nyaris kecopetan itu, telah menyatakan terima kasihnya kepada Oey Yok Su.
Tetapi Oey Yok Su tidak mau menerima penghormatan wanita itu, ia telah pergi meninggalkan keramaian tersebut bersama Lu Liang Cwan.
"Bengis sekali kau turun tangan memberikan ganjaran kepada pencopet itu.. ..!'' kata Lu Liang Cwan pada Oey Yok Su.
"Hemm, itu untung aku hanya mematahkan lengannya saja...... seharusnya aku mesti mematahkan juga kedua kakinya..... Masih bagus ia mau menyerahkan kembali hasil copetan nya itu........!"
Lu Liang Cwan tertawa.
"Bagus!"
Katanya "Dengan demikian pencopet itu tentu akan kapok dan tidak berani melakukan pencopetan lagi.....!"
"Mudah2an saja begitu.....!"
Sahut Oey Yok Su.
Pemuda ini memang paling benci perbuatan rendah seperti itu, maka waktu turun tangan ia tidak bertindak tanggung-tanggung dan telah mematahkan tulang lengan pencopet itu, agar kelak nanti ia tidak bisa melakukan pekerjaan rendah itu, setidaknya, jika lengan pencopet itu sembuh, tentu tangannya tidak bisa bergerak segesit semula.
Begitulah, Lu Liang Cwan dan Oey Yok Su telah berkeliling kota Tailie.
Mereka akhirnya mengambil sebuah rumah penginapan untuk bermalam.
---o^dw'kz~0~tah^o---TETAPI menjelang tengah malam, didepan rumah penginapan terdengar suara ribut2.
Lu Liang Cwan dan Oey Yok Su memang telah mendengar suara ribut2 itu, tetapi mereka tidak tahu entah apa yang telah terjadi.
Sampai akhirnya ada seorang pelayan yang mengetuk pintu kamar mereka, mereka dicari oleh beberapa orang yang dan ganas galak.
Lu Liang Cwan dan Oey Yok Su jadi saling pandang waktu mendengar keterangan pelayan itu.
Mereka tidak tahu entah siapa yang mencari mereka.
Bukankah mereka baru saja tiba ditempat ini dan mereka tidak memiliki sahabat?
tentunya orang2 yang mencarinya itu adalah orang yang bukan sahabat.
Malah Oey Yok Su telah mengemukakan pikirannya pada Lu Liang Cwan.
"Atau kawan2nya pencopet itu yang tadi kuhajar ?"
Lu Liang Cwan tertawa.
"Kita lihat saja nanti tentu nanti juga kita akan mengetahuinya.......!"
Menyahuti Lu Liang Cwan.
Dengan tenang kedua orang ini telah turun dari undakan tangga dan menuju kepintu luar dari rumah penginapan itu, yang masih juga terdengar suara ribut2, bentakan2 galak dan bengis.
Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan segera melihat sepuluh orang lelaki bertubuh tinggi besar dan tampaknya memiliki tenaga yang kuat tengah berdiri membentak-bentak dua orang pelayan, yang tampaknya ketakutan sekali.
"Siapa yang mencari aku ?"
Tanya Oey Yok Su dengan suara yang nyaring.
Kesepuluh orang itu jadi menutup mulut, lenyap keributan itu, dan semua pria yang bermuka bengis dan bertubuh tegap itu memandang kearah Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan dengan wajah yang bengis.
"Siapa yang telah melukai mematahkan lengan kawan kami tadi pagi ?"
Tegur salah seorang di antara mereka dengan suara yang galak. Oey Yok Sn tertawa.
"Pencopet yang tadi pagi ?"
Tanya Oey Yok Su. Orang itu mengawasi mendelik, katanya .
"Engkau jangan kurang ajar! Jawab pertanyaanku, siapa yang telah mematah kan lengan kawan kami tadi pagi ? Tentunya engkau, bukan ? Kawan kami itu mengatakan yang mencelakainya itu adalah seorang pemuda berusia dua puluhan tahun !"
Oey Yok Su mengangguk.
"Benar, memang aku ! Lalu apa yang kalian kehendaki ?"
Tanyanya.
"Kami juga ingin mematahkan kedua tanganmu dan kedua kakimu !"
Sahut lelaki itu.
"Cepat kau keluar, untuk melakukan perhitungan.......!"
Tetapi Oey Yok Su telah tertawa mengejek.
"Apakah kalian tidak kuatir akan mengalami nasib seperti kawanmu itu ?"
Tanya Oey Yok Su.
"Hemmrn, pemuda kurang ajar dan sombong.....!"
Kata orang itu tambah marah.
"Cepat keluar, jangan sampai kami yang memaksa kau untuk keluar.....!"
Lu Liang Cwan tertawa.
"Keluarlah, mengapa engkau seperti mengulur waktu menghadapi manusia seperti dia.......?'' kata Lu Liang Cwan. Oey Yok Su tertawa lagi.
"Hemmm....., jika memang demikian halnya, tentu kalian juga perlu dihajar .......!"
Dan setelah berkata begitu, Oey Yok Su melangkah dengan tenang.
Orang2 yang masing2 memiliki tubuh yang tegap dan kuat itu, telah memandangi Oey Yok Su dengan sikap bernafsu sekali untuk menyerbu melancarkan serangan.
Namun Oey Yok Su sama sekali seperti tidak memperdulikan mereka, ia melangkah dengan tenang dan juga saat itu Oey Yok Su telah melirik sambil berkata.
"Jangan menyesal jika kalian mengalami nasib seperti kawanmu tadi........!"
Rupanya orang yang menjadi pemimpin dari kesepuluh orang tersebut sudah tidak bisa menahan diri, ia telah mengeluarkan seruan nyaring, dan tubuhnya melompat akan mencekik leher Oey Yok Su yang tengah berjalan tidak jauh dari tempatnya berada, kedua tangannya telah diulurkannya untuk mencekik leher Oey Yok Su.
Dengan tenang Oey Yok Su mengebutkan lengan bajunya.
Seketika itu juga tubuh orang itu telah terpental dan melambung seperti bola, lalu terbanting diatas tanah dengan keras.
Orang itu mengeluarkan jeritan kesakitan.
Lu Liang Cwan hanya berdiri menyaksikan saja.
Kesembilan orang yang dirubuhkan Oey Yok itu tidak membuang waktu lagi, mereka telah menjejakkan kakinya meloncat untuk melancarkan serangan kepada Oey Yok Su dengan cara mengeroyok.
Tetapi Oey Yok Su tidak memperlihatkan perasaan jeri, ia telah berkata dengan suara yang tawar.
"Kalian mencaci penyakit sendiri....... !"
Dan sepasang tangan Oey Yok, Su telah ber-gerak2 dengan cepat.
Gerakan yang dilakukan oleh Oey Yok Su bukan gerakan sembarangan, karena setiap kali menggerakkan tangannya itu Oey Yok Su juga menyalurkan tenaga lwekangnya.
Maka setiap kali ada salah seorang diantara pengeroyoknya itu berada dekat padanya tubuh orang itu telah terpental keras kena sampokan tangan Oey Yok Su, orang itu tentu terpental sambil mengeluarkan jerit kesakitan.
Namun orang2 itu sangat bandel, mereka telah bangun dan bermaksud melakukan pengeroyokan lagi.
Oey Yok Su yang kuatir kalau pertempuran terjadi dipenginapan itu, akan merusak barang2 yang berada i itu, maka dengan gerakan yang ringan dia melompat keluar rumah penginapan.
"Mari...., mari...., kalian akan kuberi hadiah satu orangnya lima kali tempilingan.....!"
Kata Oey Yok Su sambil tertawa.
Sedangkan kesepuluh orang itu, yang rupanya sekarang telah mengetahui bahwa Oey Yok Su bukan pemuda sembarangan, tidak berani ceroboh dalam melancarkan serangannya.
Dua orang diantara mereka dengan hati-hati melancarkan pukulan.
Menyusul dua orang lagi kawan mereka melancarkan serangan berikutnya.
Begitulah, Oey Yok Su menerima empat serangan sekaligus.
Tetapi dengan mudah Oey Yok Su membuat keempat orang itu jatuh terpelanting tunggang langgang.
Disaat itu, enam orang lawan Oey Yok Su telah mengeluarkan suara seruan sambil meluruk melancarkan serangan.
Mereka semuanya adalah manusia-manusia kasar, yang mengandalkan kekuatan tenaga kasar mereka.
Melihat terjangan orang-orang itu, Oey Yok.
Su tertawa lagi mengejek lawan lawannya.
Kemudian dengan gerakan yang lincah sekali ia telah bergerak kesana kemari.
Cepat bukan main kedua tangannya telah bergerak kesana kemari melancarkan serangan.
Tubuh keenam orang itu telah berhasil dibuat terpental bergulingan ditanah.
Begitu kesepuluh orang tersebut dapat bangun kembali, mereka tidak berani segera melancarkan serangan.
"Pemuda jahat, ilmu siluman apa yang kau pergunakan ?"
Tegur orang yang menjadi pemimpin dari kesepuluh orang tersebut.
"Ilmu siluman.....? Hemmm....., aku tidak memiliki ilmu siluman ! Aku hanya memiliki ilmu untuk menghajar pencopet........ !"
Mendengar ejekan yang diberikan Oey Yok Su, mereka jadi gusar lagi.
Dengan serentak mereka mengeluarkan seruan dan menyerang Oey Yok Su lagi.
Diserang sekaligus dengan terjangan kesepuluh orang itu, Oey Yok Su berlaku agak hati-hati.
Kesepuluh orang itu adalah manusia2 kasar dan memiliki tenaga seperti seekor kerbau.
Walaupun menang Oey Yok Su tidak memandang sebelah mata kepada mereka, tetapi jumlah mereka yang bersepuluh itu tentu saja telah membuat Oey Yok Su harus ber-hati2 juga.
Ketika melihat ketiga orang yang melancarkan serangan paling dekat dengannya, la teiah mengibas dengan sampokan kedua tangan Seketika terdengar suara "Plok........!"
Beberapa kali, disusul dengan teriakan kesakitan dari orang-orang itu.
Seketika itu juga tubuh mereka telah terpental keras.
Sisanya tidak berani terlalu mendesak, mereka hanya mengurung Oey Yok Su saja.
Tetapi waktu itu Oey Yok Su telah habis sabar, ia berpikir jika memang tidak menurunkan ganjaran yang cukup keras, tentu ia akan diganggu terus menerus oleh kesepuluh orang ini.
Dengan mengeluarkan suara siulan panjang tubuh Oey Yok Su telah melompat dengan gesit, tahu2 tangannya bekerja menempiling terus menerus kesepuluh lawannya itu, mukanya telah kena dihajar berulang kali.
Kemudian Oey Yok Su mencengkeram punggung lawannya yang menjadi pemimpin itu.
"Engkau masih berani membuat kerusuhan atau tidak ?"
Tanyanya bengis.
"Jika memang engkau masih ingin memimpin orang2mu melakukan kejahatan, hemmm....., aku akan turun tangan tidak kepalang-tanggung ........ !"
Sambil berkata begitu, Oey Yok Su telah memijit jalan darah Tai-cie-hiat orang itu, seketika itu juga orang tersebut yang memiliki potongan tubuh sangat besar dan kuat, merasakan disekujur tubuhnya sakit-sakit seperti disayat pisau, maka ia menjerit-jerit.
"Ampun..... ampun...... jangan menyiksa aku !"
Kata orang tersebut.
Tetapi Oey Yok Su tidak memperdulikannya, ia terus rnemijit jalan darah orang itu.
Keruan saja kawan-kawan orang tersebut, yang mendengar kawan mereka merintih kesakitan dan minta2 ampun, jadi tidak berani maju lagi, dan hanya berdiri diam mengawasi saja.
Oey Yok Su telah mengerahkan sedikit tenaganya, ia mengangkat tubuh orang i.tu yang dibantingnya keatas tanah.
Seketika orang tersebut menjerit kesakitan dan ketika bangun berdiri, tanpa berani menoleh kepada Oey Yok Su, dia mengajak kawan-kawannya untuk berlalu.
Oey Yok Su tidak menahan mereka, dia hanya mengeluarkan suara tertawa mengejek.
Waktu terjadi keributan itu, dirumah penginapan tersebut telah berkumpul cukup banyak orang yang ingin menyaksikaa keramaian.
Pelayan rumah penginapan itupun telah bisik-bisik memuji pemuda yang tangguh ini, namun Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan tak memperdulikan mereka, keduanya telah kembali kekamar mereka, untuk tidur dengan nyenyak.
---o^dw'kz~0~tah^o---BAGIAN 28 .
MENJALIN SEBUAH PERSAHABATAN KEESOKAN paginya, Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan bermaksud akan melanjutkan perjalanan mereka.
Tetapi waktu itu, dirumah penginapan tersebut telah datang seorang pemuda berusia dua puluh tahun lebih, sikapnya gagah, memakai baju lebar, sehingga tampaknya ia merupakan putera bangsawan.
Kepada seorang pelayan ia menanyakan perihal Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan.
Kebetulah saat si pelayan tengah menceritakan pertempuran yang terjadi tadi malam, antara Oey Yok Su dengan para pencopet itu, Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan tengah menuruni undakan anak tangga, sehingga pelayan itu jadi berhenti bercerita.
Sedangkan si pemuda yang tampak agung sikapnya itu, telah menghampiri Oey Yok Su dan merangkapkan kedua tangannya, ia memberi hormat kepada Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan bergantian.
"Siauwte telah mendengar kehebatan Kiehiap (orang gagah) yang telah memberikan hajaran kepada para pencopet itu... !"
Katanya dengan ramah.
"Maka Siauwte telah sengaja datang kemari menemui Jiewie Kiehiap berdua untuk mengikat tali persahabatan"
Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan memandang curiga pada pemuda ini, karena mereka menduga pemuda ini tentunya orangnya pencopet2 itu, atau juga pimpinannya.
Maka Oey Yok Su berlaku waspada, ia melihat-pemuda itu seperti memiliki ilmu yang tinggi, gerak geriknya begitu tenang dan agung, matanya memancarkan sinar yang tajam sekali, menandakan tenaga lwekangnya telah tinggi.
"Siauwte Toan Ceng ingin berkenalan dan mengikat tali persahabatan dengan jiewie mau menerimanya atau tidak?"
Tanya pemuda itu, yang tidak lain dari Toan Ceng.
Toan Hongya ini seperti biasa memang telah memberikan tugas pada kelima belas orang siewie istana untuk mengawasi orang2 asing yang datang berkunjung ke Tailie, kalau2 diantara mereka terdapat yang berilmu tinggi.
Mengenai perihal peristiwa Oey Yok Su menghajar pencopet dan menghadapi sepuluh kawan pencopet itu, cepat sekali telah sampai ditelinga Toan Ceng.
Maka pagi ini, dengan menyamar berpakaian biasa, Toan Ceng telah menemui kedua orang itu, untuk dia jak mengikat tali persahabatan.
"Dan bolehkah aku mengetahui nama Kiehiap berdua yang mulia.......?"
Oey Yok Su ragu-ragu, tetapi Lu Liang Cwan telah tertawa, katanya.
"Aku she Lu dan bernama Liang Cwan, dan ini kawan kecilku bernama Oey Yok Su, dia she Oey......!"
"Apakah jiewie berdua tidak keberatan jika aku mengundang kalian untuk makan2 .....?"
Tanya Toan Ceng lagi. Oey Yok Su masih ragu-ragu, tetapi Lu Liang Cwan telah menyahutinya.
"Diundang makan siapa yang mau menolak ?"
Katanya.
Toan Ceng girang, ia telah memanggil pelayan dan memesan satu meja untuk perjamuan, lengkap dengan makanan-makanan yang lezat.
Waktu mereka tengah bersantap, Oey Yok Su sering mengawasi sahabat baru ini.
la akhirnya tidak bisa menahan perasaan ingin tahunya, ia telah bertanya.
"Siapakah sebetulnya engkau, sahabat......? Apakah engkau sahabatnya orang-orang yang semalam mengeroyokku ?"
Toan Hongya telah tersenyum, sikapnya sabar sekali.
"Sama sekali aku tidak memiliki hubungan apapun dengan mereka...... aku hanya mendengar kehebatan Kiehiap berdua, maka bermaksud mengikat tali persahabatan..... dan untung saja Kiehiap berdua tidak keberatan. Tentu orang2 Tailie akan berterima kasih sekali kepada Kiehiap yang telah menumpas kejahatan...... sebetulnya di Taille ini aman, namun entah bagaimana akhir-akhir ini bisa juga muncul orang2 tidak benar, seperti pencopet2 itu, mereka tentunya orang asing yang hanya melancong kemari saja."
Oey Yok Su tersenyum, tetapi baru saja ia ingin berkata, Lu Liang Cwan telah bilang.
"Dimana saja sama......,"
Katanya.
"Tidak di Tailie ini ataupun didaerah Tionggoan, orang jahat selalu terdapat dimana saja......!"
"Apa yang dikatakan oleh kau itu memang benar, sahabat,"
Kata Toan Ceng.
"Senang sekali aku bisa bersahabat dengan kalian orang2 yang memiliki kepandaian luas....... .!"
"Kami hanya orang kelana yang tidak memiliki rumah dan tempat tinggal, kamipun manusia2 kasar yang hanya mengerti sedikit ilmu silat.... dimana kami hidup hanya mengembara dari kota yang satu kekota yang satunya lagi........!"
Toan Ceng tertawa.
"Justru sejak kecil Siauwte selalu senang mempelajari silat, maka dari itu Siauwte memang ingin meminta petunjuk2 kalian, untuk bertukar pikiran dalam membicarakan ilmu silat........!"
Oey Yok Su mengawasi Toan Ceng sejenak lamanya, kemudian baru berkata .
"Jika memang hanya ingin merundingkan ilmu silat, kami tidak berani, karena kami memiliki kepandaian rendah......malah mungkin kami mungkin yang harus menerima petunjuk2 dari kau sahabat !"
Tetapi Toan Ceng telah tertawa sabar.
"Terima kasih atas pujian yang diberikan olehmu sahabat....... ! Saudara Oey, engkau kulihat memang memiliki kepadaian silat yang tinggi, dan kalian berdua datang dari daratan Tionggoan. Maka bolehkah aku mendengar sedikit cerita kalian mengenai keadaan didaratan Tionggoan, agar pengalaman Siauwte menjadi bertambah. Senang sekali jika aku bisa mendengar cerita keadaan didaratan Tionggoan, khususnya mengenai orang2 persilatan .......!"
Oey Yok Su yang baru saja meninggalkan Tho Hoa To mana memiliki pengalaman yang luas mengenai rimba persilatan didaratan Tionggoan.
Memang gurunya sering menceritakan perihal keadaan dunia persilatan didaratan Tionggoan, tetapi cerita itu hanya sarinya belaka.
Tetapi Lu Liang Cwan yang memang telah berpengalaman, segera mewakili Oey Yok Su, ia menceritakan keadaan dunia persilatan didaratan Tionggoan.
Tampaknya Toan Ceng mendengarkan dengan penuh perhatian dan serius sekali.
Diwaktu itu, Oey Yok Su melihat bahwa Toan Ceng memang ber-sungguh2 ingin mendengarkan cerita perihal keadaan rimba persilatan.
Oey Yok Su juga telah melihatnya bahwa Toan Ceng bukan seorang pemuda yang sembarangan, ia tentu memiliki kepandaian yang tinggi sekali, kepandaian yang tidak boleh dipandang remeh.
Sinar matanya yang memancar sangat tajam, menunjukkan bahwa Toan Ceng memiliki sinkang yang tidak berada dibawahnya.
Karena penasaran dan ingin mengetahui sampai dimana tingginya kepandaian Toan Ceng, Oey Yok Su telah sengaja menuangkan secawan arak, yang diangsurkan kepada Toan Ceng mempergunakan kedua tangannya.
"Silahkan Toan Sieheng meminum arak ini untuk menghormati persahabatan kita,"
Kata Oey Yok Su.
Toan Ceng cepat2 berdiri dan mengulurkan kedua tangannya menerima cawan arak itu.
Tetapi ketika kedua tangan Toan Ceng memegang cawan itu....., ia jadi terkejut, karena ia merasakan dari kesepuluh jari tangan Oey Yok Su yang memegang cawan itu seperti mengeluarkan serangkum angin yang menyerang diri-nya kuat cekali, Namun sebagai raja yang memiliki kepandaian tinggi, Toan Ceng tidak menjadi gugup.
Segera ia sadar bahwa Oey Yok Su ingin mengujinya.
Maka Toan Ceng telah menyalurkan kekuatan pada kesepuluh jari tangannya, sinkangnya telah tersalurkan cepat, dan dengan mudah ia memunahkan tenaga terjangan Oey Yok Su.
Kemudian sambil membawa sikap seperti tidak terjadi sesuat apapun juga, Toan Ceng telah menerima cawan arak itu sambil katanya.
"Terima kasih.......!"
Oey Yok Su terkejut, ia melengak kaget karena tenaga serangannya yang mempergunakan lwekang sangat kuat itu tidak memberikan hasil.
Bahkan dilihatnya Toan Ceng telah meneguk arak itu dengan sikap yang tenang.
Tenaga serangan Oey Yok Su seperti lenyap tidak meninggalkan bekas, Lu Lian Cwan yang diam2 mengawasi, mengetahui Oey Yok Su telah gagal menguji orang she Toan itu.
Maka hati Lu Liang Cwan juga jadi tertarik.
"Ternyata ia pemuda yang luar biasa, memiliki kepandaian yang tinggi....!"
Pikir Lu Liang Cwan.
"Biar aku mencobanya juga........ !'' Dan setelah berpikir begitu, Lu Liang Cwan berdiri dari duduknya, diapun telah menuang satu cawan arak lagi, kemudian dibawa kedekat Toan Ceng. ---o~dwkz^0^tah~o---"
AKUPUN ingin memberi penghormatan terhadap persahabatan kita,"
Katanya.
Seperti tadi Toan Ceng telah menyambuti cawan arak itu.
Tetapi tadi merupakan pelajaran buatnya, maka ia telah bersiap sedia.
Benar saja, ia merasakan betapa dari kedua tangan Lu Liang Cwan mangalir keluar suatu kekuatan tenaga lwekang vang tidak tampak.
Toan Ceng kaget, karena tenaga itu jauh lebih kuat dari tenaga yang dilancarkan tadi oleh Oey Yok Su, malah tenaga yang menerjangnya itu bergelombang, sehingga membuat Toan Ceng jadi kagum.
Tenaga itu bergelombang, jika Toan Ceng melawan dengan kekerasan, tentu dirinya akan terjerembab, sebab tenaga itu seperti lenyap dan seperti itu ada, bergelombang tidak hentinya.
Namun Toan Ceng tidak kehabisan akal, dengan cepat ia telah mempergunakan ilmu sinkang yang paling tinggi, yaitu yang kosong menjadi ada dan yang ada menjadi kosong, yaitu ilmu sinkang dari kalangan lunak.
Begitu tenaga Lu Liang Cwan menerima pahlawan seperti ini, dia jadi membentur tempat yang kosong, tetapi berisi kekerasan, maka tenaga serangan Lu Liang Cwan jatuh ditempat kosong dan lenyap.
Muka Lu Liang Cwan jadi berobah ketika merasakan tenaganya yang itu seperti lenyap.
Sebagai seorang tokoh sakti yang memiliki kepandaian tinggi, ia penasaran.
Karena mustahil seorang pemuda seperti Toan Ceng bisa menghadapi ilmunya itu.
Maka belum lagi Toan Ceng menyambuti arak itu dan cawan belum berpindah tangan, Lu Liang Cwan telah manyalurkan lagi kekuatannya.
Kali ini ia menyalurkan tenaga serangan berbentuk Im, yang hawanya dingin sekali.
Toan Ceng kembali terkejut.
Tenaga serangan itu telah menerjang dengan cepat, sehingga memaksa Toan Ceng harus berusaha memberikan perlawanan untuk membendung tenaga lawannya.
Tepat bersamaan dengan itu, justru tenaga Lu Liang Cwan seperti lenyap, dan berganti dengan datangnya tenaga serangan yang bersifat Yang, panas, dimana udara disekitar Toan Ceng jadi panas.
Toan Hongya kaget bukan main.
Jarang sekali orang bisa mempergunakan tenaga Im dan Yang dengan berbareng, karena dengan cara demikian orang harus benar-benar mahir menguasai dua macam kekuatan yang berlainan sifat itu, sebab tanpa kemahiran tentu malah akan mencelakai diri sendiri, senjata makan tuan.
Tenaga lm adalah tenaga yang bersifat lunak dingin, sedangkan tenaga Yang adalah tenaga yang memiliki sifat keras panas.
Maka dari itu Lu Liang Cwan bisa melancarkan serangan seperti itu dengan waktu yang singkat, dan kedua macam tenaga serangan yang berlainan sifatnya itu telah bisa dipergunakannya berbareng, membuat Toan Ceng kagum bukan main.
Namun Toan Ceng tidak berani berlaku ayal, dengan menggerakkan tangan kanannya menyilang, ia telah menyambuti cawan itu, kemudian ia memiringkan sedikit tubuhnya, sehingga kedua macam gelombang tenaga serangan Lu Liang Cwan telah berhasil dipunahkannya.
Kembali Lu Liang Cwan jadi terkejut, tetapi waktu itu cawan arak telah berpindah tangan.
"Hebat kau, orang she Toan !"
Memuji Lu Liang Cwan.
"Kepandaianmu tidak rendah !' Toan Ceng cepat2 mengeluarkan kata2 merendahkan diri. la juga bersikap wajar sekali, tidak memperlihatkan sikap bangga dan sombong. Malah dengan rendah hati ia memuji kehebatan tenaga serangan Lu Liang Cwan. Melihat sikap Toan Ceng yang sabar dan ramah tamah, dengan sendirinya lenyap sikap curiga pada diri Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan. Lu Liang Cwan yang memang memiliki tabiat agak berandalan, tanpa memperdulikan basa basi, ia telah bertanya .
"Siapa gurunya, nak ? "
Toan Ceng bimbang mendengar ditanyakan gurunya, akhirnya ia telah menyahuti jujur.
"Guruku itu bisa dipanggil oleh sahabat-sahabat dengan sebutan Hek Wan.
"Apa ....?"
Tanya Lu Liang Cwan terkejut. Oey Yok Su yang memang belum begitu berpengalaman dalam rimba persilatan tidak mengetahui siapa itu adanya Hek Wan, namun buat Lu Liang Cwan lain halnya.
"Hek Wan....... gurumu itu Hek Wan?"
Tanya Lu Liang Cwan seperti tidak mempercayai pendengarannya. Toan Ceng membenarkan.
"Hanya itu saja yang kuketahui, karena menurut guruku ia memang telah lama tidak memiliki nama, dan hanya mempergunakan julukan yang diberikan oleh sahabat-sahabatnya, yaitu Hek Wan..........!"
"Sekarang ia berada dimana ?"
Tanya Lu Liang Cwan lagi. Muka Toan Ceng jadi berobah merah tetapi kemudian dengan suara perlahan ia berkata .
"Sudah cukup lama juga kami guru dan murid berpisah.....menurut keterangan yang diberikan Insu, bahwa guruku itu ingin pergi kedaratan Tionggoan lagi....... !"
Lu Liang Cwan menghela napas dalam2, dan duduk terpekur sambil mengerutkan sepasang alisnya. Mulutnya juga menggumam perlahan .
"Aku tidak menyangka bahwa Hek Wan masih hidup.......!"
Oey Yok Su yang sejak tadi hanya mendengari saja, jadi tertarik.
"Lu Locianpwe, siapakah sebenarnya Hek Wan itu.?"
Tanya Oey Yok Su.
"Dialah seorang tokoh sakti yang memiliki kepandaian hebat sekali... aku sendiri belum tentu bisa menandingi kepandaiannya itu...!"
Menjelaskan Lu Liang Cwan kemudian. Oey Yok Su terkejut.
"Hek Wan merupakan pendekar aneh,"
Kata Lu Liang Cwan lagi.
"Dan kami didaratan Tionggoan pernah mendengar bahwa ia merupakan seorang jago yang tidak pernah mau memperhatikan kepandaiannya, kelakuannya juga sangat aneh, tetapi sesungguhnya ilmu silat yang dimilikinya itu bermacam ragam dan aneh sekali, sulit untuk dijajaki sampai berapa tinggi kepandaian yang dimilikinya."
Oey Yok Su mendengarkan saja.
Toan Ceng juga mendengarkan dengan penuh perhatian, karena memang Toan Hongya ini sama sekali tidak mengetahui asal usul gurunya itu.
Ia hanya mengetahui bahwa Hek Wan memiliki kepandaian yang tinggi dan gurunya itu memang agak aneh sifatnya.
Sekarang Lu Liang Cwan mengetahui perihal gurunya itu, maka ia ingin mendengar lebih banyak lagi.
"Dan, siapakah sebenarnya nama guruku itu, Locianpwe?"
Tanya Toan Ceng kemudian.
"Ohhh....., engkau sendiri tampaknya tidak begitu jelas dengan keadaan gurumu...!"
Kata Lu Liang Cwan.
"Kami sendiri tidak mengetahui nama sebenarnya, kami hanya mengetahui bahwa ia biasa dipanggil sebagai Hek Wan, tentu saja panggilan itu disesuaikan dengan keadannya, yaitu kulitnya yang hitam dan bentuk mukanya yang mirip........ kera......!"
Toan Ceng tidak marah. Memang Hek Wan sendiri pernah menyatakan sendiri perihal namanya itu.
"Dimanakah biasanya guruku itu berdiam?"
Tanya Toan Ceng lagi.
"Itupun tidak jelas, karena gerak geriknya seperti bayangan setan saja, ia tidak memiliki tempat yang tetap dan selalu mengembara, namun bisa muncul dengan tiba2 disuatu tempat, maka tidak ada seorangpun dirimba persilatan yang mengetahui dimana Hek Wan berada, dan sulit sekali jika hendak mencari dia... disamping tempatnya yang tidak menentu, juga memang Hek Wan selalu menyamar, sehingga banyak orang2 rimba persilatan yang tidak mengenal wajahnya yang sesungguhnya dan hanya sering dengar kebesaran namanya saja sebagai tokoh sakti......!"
Toan Ceng menghela napas.
Semula ia ingin mengetahui dari Lu Liang Cwan dimana gurunya biasa menetap.
Karena ia bermaksud untuk pergi menemuinya, namun mendengar perkataan Lu Liang Cwan, putuslah harapan Toan Ceng, sebab gurunya itu sulit diketahui jejaknya.
Lu Liang Cwan melihat perobahan wajah Toan Ceng, ia tertawa sambil tanyanya .
"Sekarang tentu Hek Wan tengah berkeliaran didaerah Tionggoan lagi.. .!"
Toan Ceng mengangguk.
"Mungkin guru memang miliki kegemaran merantau dan berkelana, ia tidak betah untuk tinggal terlalu lama disebuah tempat...!"
Oey Yok Su telah melihat kepandaian Toan Ceng tidak rendah, mungkin tidak berada disebelah bawah kepandaiannya.
Maka ia jadi menyukai juga pemuda yang ramah ini.
---o~dwkz^0^tah~o---BAGIAN 29 .
SI NENEK CANTIK WAKTU mereka tengah ber-cakap2 seperti itu dari luar rumah makan terdengar langkah kaki.
Mereka bertiga menoleh, karena orang yang baru datang itu telah mengetuk meja agak keras.
Ketika melihat orang yang baru masuk kedalam ruang rumah penginapan ini, Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan jadi terkejut, karena itulah seorang wanita yang cantik sekali, tidak lain dari Bong Kim Lian, wanita cabul yang pernah mengganggu Oey Yok Su.
Sedangkan Kim Lian memandang mereka sejenak, kemudian berkata kepada pelayan yang telah menghampirinya,.
"Sediakan aku makanan dan tiga kati air teh, lalu kau siapkan sebuah kamar untukku....... !"
Pelayan itu mengiyakan cepat, dan Kim Lian telah duduk dikursi yang terpisah empat meja dengan Oey Yok Su.
Toan Ceng sendiri heran melihat wanita secantik itu, yang memakai baju yang reboh dengan perhiasan, berkeliaran seorang diri.
Memang Tailie merupakan kerajaan yang aman, namun tetap saja tidak terlepas dari pria2 hidung belang yang biasa mengganggu wanita.
"Rupanya wanita itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi, sehingga ia berani berkelana seorang diri,"
Kata Toan Ceng perlahan pada Lu Liang Cwan. Lu Liang Cwan tertawa, ia menyahuti .
"Wanita itu wanita cabul, hampir saja saudara kecil she Oey ini diganggu olehnya."
Muka Oey Yok Su jadi berobah merah, ia malu sekali teringat apa yang pernah dialaminya. Toan Ceng jadi terkejut dan heran, ia bertanya lagi .
"Dia wanita cabul ...?!"
"Kau lihat, apakah ia cukup cantik?"
Tanya Lu Liang Cwan. Toan Ceng tidak mengerti maksud pertanyaan Lu Liang Cwan, ia hanya mngangguk dan mengawasi Lu Liang Cwan.
"Ya, memang ia sangat cantik,"
Kata Lu Liang Cwan.
"Akupun melihat wanita itu memang cantik. Tetapi tahukah engkau berapa usia-nya ?"
Toan Ceng melirik kepada Kim Lian, yang waktu itu juga duduk sambil mengawasi kearah mereka.
"Mungkin dua puluh lima tahun.....!"
Sahut Toan Ceng kemudian dengan suara yang perlahan.
"Salah ......!"
"Mungkin belum sampai dua puluh lima tahun ?"
"Salah.....Salah......lebih dari dua puluh lima tahun !"
"Atau ia berusia tiga puluh tahun ?, tetapi wajahnya masih begitu muda dan cantik tentu usianya belum sampai tiga puluh tahun !"
Kata Toan Ceng ragu2.
"Juga lebih dari tiga puluh tahun ...!'' kata Lu Liang Cwan. Kembali Toan Ceng jadi heran.
"Tetapi tidak mungkin wanita secantik dan semuda dia berusia lebih dari tiga puluh tahun.. ....!"
Katanya.
"Atau memang ia seorang wanita yang awet muda ?"
"Benar,"
Mengangguk Lu Liang Cwan.
"Ia memang seorang wanita yang awet muda ! Tetapi usianya lebih dari tiga puluh tahun....!"
"Atau wanita itu telah berusia empat puluh tahun ?"
Tanya Toan Ceng lagi.
"Juga lebih.....lebih dari ernpat puluh tahun!"
Sahut Lu Liang Cwan. Toan Ceng jadi tidak mempercayai, ia memandang ragu pada Lu Liang Cwan, kemudian melirik pada wanita itu lagi, pada Kim Lian.
"Tidak mungkin orang itu berusia lebih dari tiga puluh tahun.....!"
Katanya seperti menggumam.
"Engkau tidak percaya ? Tahukah engkau berapa usia sesungguhnya ?"
Toan Ceng menggeleng.
"Hampir delapan puluh tahun.......!"
Sela Oey Yok Su yang ikut bicara. Mendengar itu Toan Ceng jadi heran.
"Hampir delapan puluh tahun?"
Tanya nya tidak percaya.
"Ya! hampir delapan puluh tahun.......ia memang seorang nenek-nenek tua.....!'' Toan Ceng tersenyum sambil menggeleng2-kan kepalanya beberapa kali.
"Tidak mungkin......, tidak mungkin.......!"
Katanya beberapa kali.
"Mengapa tidak mungkin.......?"
Tanya Lu Liang Cwan kemudian sambil tertawa.
"Wanita itu cantik selain kulit mukanya belum ada keriput.... atau memang ia memakai kedok ?'' Melihat Toan Ceng ragu-ragu seperti itu dan tidak mempercayai keterangannya, Lu Liang Cwan tersenyum lagi. la melirik kepada Bong Kim Lian, dilihatnya wanita itu tengah mengawasinya dengan mata mendelik. Lu Liang Cwan tertawa lagi.
"Biar tua-tua dia juga galak sekali"
Kata Lu Liang Cwan.
"Kau tidak percaya usianya telah mencapai delapan puluh tahun?"
Toan Ceng mengangguk.
"Tidak mungkin, ia, masih begitu muda dan cantik, potongan tubuhnya saja masih padat dan berisi,"
Kata Toan Hongya.
"Kau mungkin beranggapan aku berguyon, tetapi engkau sendiri telah dengar bahwa itu dikatakan oleh saudara Oey ini, ia yang hampir menjadi korban wanita cabul itu... saudara Oey ini yang mengetahui dengan pasti... usia wanita itu rnemang hampir delapan puluh tahun!"
"Bagairnana itu bisa terjadi, berusia hampir delapan puluh tahun, tetapi memiliki wajah yang begitu cantik dan tubuh yang begitu padat berisi?"
Tanya Toan Ceng sambil mengawasi Lu Liang Cwan dan Oey Yok Su bergantian dengan tatapan mata tidak percaya.
"Justru ia melatih semacam ilmu...!"
"Melatih semacam ilmu untuk awet muda?"
Tanya Toan Ceng. Lu Liang Cwan mengangguk.
"Ya, ia melatih semacam ilmu....... ilmu untuk awet muda, yaitu ilmu Im Yang Hun......!"
Menjelaskan tokoh sakti she Lu itu.
"Kepandaian silatnya juga tinggi sekali, hampir berimbang dengan kepandaianku, tetapi yang celaka lagi, nenek tua itu yang berparas cantik, memiliki akal yang licik dan selalu melakukan kelicikan2 dan kecurangan dengan tipu muslihatnya..... aku sendiri nyaris menjadi korban kecabulannya...... !"
Menjelaskan Oey Yok Su.
Toan Ceng benar2 tidak bisa mempercayai keterangan yang diberikan oleh Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan.
Bagaimana ia bisa mempercayainya, sedangkan wanita itu cantik sekali dan masih muda, paling tidak usianya belum sampai dua puluh lima tahun.........!
Namun walaupun begitu, Toan Ceng tidak bisa tidak mempercayai keterangan Lu Liang Cwan dan Oey Yok Su, karena kedua orang itu tampaknya ber-sungguh2.
"Lalu... semacam ilmu apakah Im Yang Hun itu?"
Tanya Toan Ceng kemudian.
"Ilmu itu jahat dan sesat, ia membutuhkan banyak sekali sari keperjakaan pemuda, untuk membikin dirinya awet muda...!"
"Hemm......., jika demikian wanita itu seorang wanita yang jahat.. .!"
"Tetapi wanita yang cabul itu selalu mencari korbannya tidak sembarangan!"
Kata Lu Liang Cwan lagi.
"Apa maksud Locianpwe ?"
Tanya Toan Ceng, yang tertarik ingin mengetahui.
"Korban2 yang dikehendakinya bukan manusia biasa, tetapi justru seorang pemuda perjaka yang telah memiliki sinkang. Semakin tinggi sinkang yang dimilikinya, maka sari keperjakaan yang diperolehnya itu akan membuat ia bertambah muda saja...... dengan awet muda begitu, ia selalu mempergunakan sari keperjakaan pemuda2 yang telah menjadi korbannya. Justru ia sangat setuju sekali adik she Oey ini, untuk dijadikan korban. Bukankah saudara Oey ini memiliki sinkang yang cukup tinggi. Maka nilai saudara Oey ini sepuluh kali lipat dari pemuda biasa.........! Itulah sebabnya, mati2an wanita cabul itu telah menguntit kami, ia terus juga mengikuti kami .... !"
Toan Ceng menghela napas.
"Aku tidak menyangka ada wanita cabul seperti dia ...... sungguh ..... !"
Kata Toan Ceng kemudian sambil memperlihatkan wajah muram.
"Ya, justru itu, aku sendiri tidak menyukainya .. .!"
Kata Oey Yok Su?
"Hanya untuk membunuhnya, sulit juga, sebab ia memiliki kepandaian yang tinggi.
Selama hidupnya yang delapan puluh tahun itu ia telah melatih diri cukup lama ......
maka dari itu tidak mengherankan kepandaiannya juga sangat tinggi....l"
Lu Liang Cwan mengangguk.
"Benar apa yang dikatakan oleh saudara Oey itu. Yang penting kita harus dapat menjaga diri dari gangguannya ... dan juga jika memang wanita itu terlalu ganas, terpaksa kita harus berusaha merubuhkannya, se-tidak2nya memunahkan kepandaian yang telah dimilikinya ........" ---o^dw.kz~0~tah^o---WAKTU itu Kim Lian telah batuk2 beberapa kali, malah kemudian terdengar dia menggumam perlahan.
"Hemmm......, anak muda yang baik. Hanya sayangnya bercampur gaul dengan tua bangka itu seperti monyet itu ........!"
Dan setelah menggumam begitu, wanita tersebut mulai bersantap lagi.
Sedangkan Lu Liang Cwan jadi mendongkol bukan main mendengar perkataan Kim Lian.
Orang tua ini tahu yang dimaksudkan Kim Lian dengan sebutan tua bangka seperti monyet itu adalah dirinya sendiri.
Muka Lu Liang Cwan jadi berobah merah karena gusar.
Tetapi Oey Yok Su telah berbisik padanya.
"Kita lihat saja apa yang hendak dilakukannya .... !"
Lu Liang Cwan mengangguk, Toan Ceng tersenyum juga, lucu juga urusan yang dihadapinya ini.
Wanita itu menurut ketcrangan kedua sahabat barunya ini adalah seorang wanita cabul yang memillki sifat sesat.
"Baiklah, sekarang kita lebih baik tak membicarakan urusan wanita cabul itu. ..kita bicarakan soal-soal lainnya saja.......!"
Lu Liang Cwan setuju.
Mereka segera ber-cakap2 dengan asyik, Malah Toan Ceng sebagai raja dari kerajaan Tailie ihi mengetahui jelas keadaan didaerah tersebut, itulah sebabnya ia bisa bercerita banyak mengenai keadaan kerajaan Tailie ini, Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan jadi senang mendengarkannya, karena mereka memang rnerasa asing dikerajaan ini, kerajaan di Selatan.
Bahkan Oey Yok Su telah menanyakan, apakah di Tailie ini terdapat jago2 yang memiliki kepandaian yang tinggi.
Toan Hongya menjelaskan bahwa jago2 yang memiliki kepandaian tinggi dimana saja tentu terdapat, hanya sampai berapa tinggi mereka itu, masing2 tidak bisa ditentukan.
Dan menurut Toan Hongya, di Tailie memang terdapat cukup banyak jago2 silat, namun mereka umumnya memiliki ilmu silat yang aneh sekali, berbeda dengan ke pandaian silat dari jago2 didaratan Tionggoan.
Waktu itu rupanya Bong Kim Lian telah selesai makan, ia segera meninggalkan mejanya untuk menuju kekamarnya Waktu lewat didekat meja Oey Yok Su, wanita cantik ini melirik Oey Yok Su sambil melontarkan senyumnya.
Dan juga kemudian melirik kepada Toan Ceng, malah Bong Kim Lian telah menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis.
Toan Ceng mengawasi dengan sorot mata tidak menyukai wanita itu, karena ia telah mendengar keburukan wanita tersebut dari Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan.
Setelah wanita itu lenyap dalam kamarnya, Toan Ceng berkata .
"Baiklah, aku pamitan dulu, besok aku akan mengunjungi kalian lagi untuk ber-cakap2 ...!"
Dan Toan Ceng telah berdiri dari duduknya memberi hormat kepada kedua sahabatnya tersebut.
Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan berdua masih meneruskan makan minum mereka, sampai akhirnya merekapun kembali kedalam kamar mereka.
Tetapi didalam kamar Lu Liang Cwan betkata dengan suara yang perlahan .
"Tampaknya wanita cabul itu masih berat hendak melepaskanmu.... ia masih terus membuntuti kita maka kau harus hati-hati........!"
Oey Yok Su mengangguk. Dia merinding bulu tengkuknya ketika teringat beberapa saat yang lalu nyaris ia menjadi korban dari kecabulan wanita itu. Disaat itu, Lu Liang Cwan telah tertawa.
"Aku sendiri sebagai situa bangka seperti monyet, yang disebut oleh wanita cabul itu, ia sama sekali tidak tertarik padaku maka dari itu, aku boleh tenang2 untuk tidur, karena jelas ia sama sekali tidak berselera padaku !"
Mendengar gurau Lu Liang Cwan, Oey Yak Su tertawa masam. la tahu dirinya yang disindir. Sedangkan Lu Liang Cwan telah melanjutkan perkataannya lagi.
"Dan hanya engkau yang harus berhati-hati dan tidak boleh tidur terlalu lelap........karena sekali saja engkau lengah dan terjatuh ditangan wanita cabul itu, sulit engkau meloloskan diri lagi. Peristiwa yang lalu telah menjadi pengalaman wanita cabul itu. jelas ia akan mempergunakan tipu muslihat yang lebih masak dan terperinci serta teratur baik, maka dari itu, engkau jangan sekali2 terjatuh ditangannya, aku tentu tidak bisa menolongi engkau lagi ....... !"
Setelah berkata begitu, Lu Liang Cwan tertawa sambil merebahkan tubuhnya dipembaringan.
Oey Yok Su sendiri jadi merasa tidak enak.
la tahu, dengan munculnya Bong Kim Lian di Tailie ini juga, hanyalah untuk membuntuti dirinya, hal itu membuat bulu tengkuk Oey Yok Su jadi merinding.
Hati pemuda itu jadi tenang, karena Oey Yok Su menyadarinya bahwa ia harus berlaku hati2.
Keesokan harinya, kembali Toan Ceng telah mengunjungi mereka.
Begitulah hubungan mereka bertiga telah terjalin dengan baik.
Sedangkan selama itu Bong Kim Lian tidak melakukan sesuatu.
la seperti membayangi Oey Yok Su saja.
Diperlakukan seperti itu, justru Oey Yok Su jadi tambah tidak tenang.
Bong Kim Lian tidak melakukan suatu tindakan apapun juga, maka merekapun tidak memiliki alasan untuk ribut dengan wanita cabul itu.
Tetapi dengan dibuntuti terus oleh wanita cabul seperti itu telah membuat Oey Yok Su selalu dikejar, perasaan ngeri dan takut, tidak jarang ia jadi merinding sendirinya.
Memang Oey Yok Su memiliki kepandaian yang tinggi, tetapi wanita itu juga memiliki kepandaian yang pasti tidak rendah, terutama sekali justru wanita cabul itu tidak segan2 untuk mempergunakan tipu daya yang sesat dan jahat.
Maka kewaspadaan memang diperlukan sekali, karena Oey Yok Su tidak mau kalau sampai dirinya jatuh ditangan wanita cabul itu.
Sedangkan, Toan Cang yang tidak mengetahui urusan itu keseluruhannya, hanya menertawakan sikap Oey Yok Su yang terlalu teliti dan berwaspada terthadap wanita itu.
"Jika memang saudara Oey tidak menyukainya dan tidak melayani sikapnya itu, tentu wanita cabul itu tidak bisa memaksamu.......!"
Kata Toan Ceng.
"Memang seharusnya begitu, tetapi saudara Toan tidak mengetahui bahwa wanita Cabul itu memiliki kepandaian yang tinggi, tampaknya ia juga tidak akan puas jika keinginannya belum lagi tercapai........., maka selama ia masih membuntuti aku, jelas hal itu akan membuat aku tidak tenang.......! "
Toan Ceng mengajak kedua sahabatnya ini ber-cakap2 perihal lainnya.
Dan yang menjadi perhatian Toan Ceng justru adalah cerita Lu Liang Cwan mengenai perkembangan dunia persilatan didaerah Tionggoan, menceritakan perihal2 tokoh2 rimba persilatan didaerah Tionggoan yang memang banyak jumlahnya.
Sedangkan Toan Ceng sendiri telah menceritakan keadaan dan kehidupan para jago2 silat di Tailie, hanya sekedar untuk dijadikan pertimbangan dan perbandingan.
Namun setelah banyak juga mendengar cerita Lu Liang Cwan, maka Toan Ceng segera memperoleh kenyataan banyak sekali urusan di dalam rimba persilatan yang tidak diketahuinya.
Malah dengan mendengar perihal kehidupan tokoh2 sakti didaratan Tionggoan, membuat Toan Ceng menyadari bahwa didaratan Tionggoan memang terdapat banyak sekali orang ber ilmu.
Terutama Toan Ceng melihat Lu Liang Cwan sendiri memiliki kepandaian yang tinggi.
Dan Oey Yok Su walaupun berusia masih muda, tokh ia telah memiliki kepandaian yang tinggi juga.
Begitulah, mereka selalu, ber-cakap2 mengenai keadaan dipersilatan, karena memang sejak kecil Toan Hongya ini senang sekali pada urusan silat dan tertarik setiap kali mendengar cerita perihal jago2 rimba persilatan.
Lu Liang Cwan selama beberapa hari telah memperhatikan keadaan Toan Ceng.
la melihat usia Toan Ceng masih muda, tokh kepandaiannya telah tinggi sekali.
Maka jika memang Toan Ceng memperoleh bimbingan yang lebih jauh, tentu ia akan memiliki kepandaian yang lebih hebat lagi.
Disamping itu.
yang menarik perhatian Lu Liang Cwan adalah sikap Toan Ceng yang tampaknya ramah, namun disinar matanya terlihat sikapnya yang agung, setidaknya Toan Ceng bukan pemuda biasa.
Empat hari Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan berdiam di Tailie, dan Toan Ceng telah menjanjikan mereka, di-hari2 berikutnya ia akan mengajak Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan untuk mengelilingi Tailie, guna mengenal daerah Tailie lebih dalam.
---o^dw.kz~0~tah^o---BAGIAN 30 .
TOAN HONGYA LENYAP DARI ISTANA MALAM itu rembulan tergantung tingg'i diatas langit, dan sinarnya yang guram menerangi genting2 bangunan dalam isiana Toan Hongya.
Waktu itu Toan Hongya belum naik keperaduannya.
la tengah memikirkan keterangan Lu Liang Cwan mengenai tokoh2 sakti dalam rimba persilatan.
Sering Toan Hongya membayangkan betapa senangnya jika ia bisa datang kedaratan Tionggoan, untuk berkenalan deagan tokoh2 sakti itu, guna meminta petunjuk dari mereka.
Dan untuk mengisi kesepiannya, Toan Hongya telah menuju ketaman istana, untuk melatih diri, melatih ilmu silat pukulan tangan kosong yang pernah diterimanya dari Hek Wan gurunya.
Toan Hongya begitu asyik melatih ilmu pukulannya itu, tanpa disadarinya ada sepasang mata yang berkilat tajam tengah mengawasinya.
Dan sinar mata itu agak luar biasa karena memancarkan kegairahan........
Toan Ceng masih terus berlatih dan setelah selesai menjalan jurus terakhir dari ilmu pukulannya, raja ini kembali kekamarnya.
Ia membasuh tubuhnya dan naik keperaduannya.
Dua orang pelayan wanita yang melayaninya diperintahkan keluar, karena Toan Hongya ingin beristirahat.
Diluar tahu Toan Hongya justru sepasang mata tengah mengintai diluar kamarnya.
Lewat jendela kamar Toan Hongya, sepasang mata mengawasi dengan sinar bergairah sekali.
Sesosok tubuh telah berada disisi jendela.
Dilihat dari pakaiannya ia seorang wanita.
Dan waktu rembulan bersinar karena awan yang menutupinya itu bergeser, maka terlihat wanita tersebut memiliki paras yang cantik.
la, tidak lain dari Bong Kim Lian.
Setelah mengawasi sejenak larnanya, Bong Kim Lian melihat Toan Hongya mulai lelap dalam tidurnya.
Per-lahan2 dan hati2 Bong Kim Lian merogoh sakunya mengeluarkan sesuatu.
Lalu ia juga menyalakan bibit api, dibakarnya benda itu.
Asap segera bergulung cukup tebal, dengan menggunakan tenaga lwekangnya Bong Kim Lian meniup asap itu, sehingga asap itu bergulung masuk kedalam kamar lewat jendela.
Lama juga Bong Kim Lian melakukan perbuatannya itu, sampai akhirnya ia merasa telah cukup, dan melihat Toan Hongya juga tidak ber-gerak2.
Ia telah berhenti meniup asap yang keluar dari sebatang kayu ditangannya.
Lalu ia memadamkan api dikayu tersebut dan memasukkan kembali potongan kayu kecil itu kedalam sakunya.
Dengan hati2 dan per-lahan2 Bang Kim Lian mencongkel daun jendela.
la membuka daun jendela.
Sebutir batu telah dilemparkan nya, sehingga batu itu mengenai tepi pembaringan Toan Hongya.
Tetapi kaisar itu tidak terbangun, masih terus tertidur nyenyak.
Bong Kim Lian tersenyum, rupanya asap pulasnya bekerja dan membuat Toan Hongya tertidur lelap sekali.
Dengan gesit Bong Kim Lian telah melompat masuk kedalam kamar.
Gerakannya itu ringan sekali, tidak menimbulkan suara.
Cepat bukan main Bong Kim Lian menghampiri pembaringan, ia bekerja sangat cepat, dan tubuh Toan Hongya telah diangkatnya, ditotoknya beberapa jalan darah raja itu, lalu menggotongnya keluar dengan melompati jendela.
Dalam waktu sekejap mata saja Bong Kim Lian telah lenyap dikegelapan malam, tanpa kesulitan apapun ia telah meninggalkan istana Toan Hongya, dengan mengandalkan ginkangnya yang tinggi, ia tidak sampai berpapasan dengan pengawal istana.
---o^dw.kz~0~tah^o---PAGI2 sekali istana telah digemparkan dengan lenyapnya Toan Hongya.
Kerabat istana jadi sibuk sekali melakukan pencarian.
Tetapi ada beberapa orang menduga mungkin Toan Hoagya tengah-pergi menyamar keluar dari istana, melakukan penyelidikan sesuatu.
Orang2 istana memang mengetahui bahvwa raja mereka memiliki kepandaian yang tinggi, seharusnya mereka tidak berkuatir.
Tetapi disebabkan dua orang semalam melayani Toan Hongya mengatakan bahwa raja mareka telah masuk tidur, mengatakan dan dipagi itu tidak terlihat lagi, membuat mereka jadi kuatir juga.
Maka Toan Liang, sebagai panglima yang memimpin angkatan perang Tailie, telah menyebar beberapa orang2nya untuk melakukan pencarian jejak raja mereka karena kuatir kalau2 raja mereka Toan Liang mengalami sesuatu yang tidak diinginkan.
Walaupun para pengawal istana telah melakukan pencarian disekitar Tailie, Toan Hongya tidak berhasil mereka jumpai.
Malah telah dua hari lewat begitu saja, Toan Hongya tidak berada di istana, hal ini membuat semua orang di istana tambah panik.
Tidak biasanya Toan Hongya keluar istana sampai ber-hari2.
Sebab setiap kali akan keluar istana, Toan Hongya paling lama hanya menghabiskan waktu satu hari dan kembali ke istana.
Maka orang2 istana Tailie menduga tentu ada sesuatu yang telah terjadi.
Keadaan ini telah membuat Toan Liang, dan Toan Bun jadi sibuk sekali menyebar orang orang istana untuk mencari jejak raja mereka.
Tetapi keadaan seperti itu berlangsung sampai beberapa hari lamanya tanpa memperoleh hasil, karena Toan Ceng telah lenyap tanpa meninggalkan jejak.
Pihak istana jadi tambah panik, malah telah mengerahkan beberapa pasukan untuk menggeledah rumah2 penduduk.
Mereka sangat -menguatirkan sekali keselamatan raja mereka.
Banyak juga orang yang mereka curigai telah ditangkap, namun sejauh itu tetap saja mereka tidak berhasil menemui jejak raja mereka.
Pihak istana jadi begitu panik dan berduka, mereka jadi bersedih karena berkuatir sekali kalau2 raja mereka itu menemui bahaya.
Usaha pencarian terus juga dilakukannya.
Tetapi urusan yang terjadi itu, yaitu lenyapnya sang raja dirahasiakan ketat, sebab pihak kerajaan kuatir kalau-kalau akan menimbulkan kegoncangan dihati rakyatnya, kalau saja berita lenyapnya raja mereka diketahui dan didengar oleh rakyat Tailie..........
---o^dw.kz~0~tah^o---BAGIAN 31 .
AKSI SI NENEK PENGUASA IM YANG HUN BONG KIM LIAN yang telah menculik Toan Hongya, lalu membawa pulang kekamar rumah penginapannya.
Tetapi sesampai dikamar rumah penginapan itu, ia teringat Liu Liang Cwan dan Oey Yok Su masih menginap disana, jika terjadi keributan dikamarnya tentu akan memancing perhatian kedua orang tersebut.
Akhirnya ia menjejakkan kakinya melocat meninggalkan penginapan tersebut sambil menggendong Toan Hongya, ia teringat suatu tempat.
Ternyata Bong Kim Liam membawa Toan Hongya kesebuah kuil kuno yang terletak dipinggiran kota, yang pernah dilihatnya saat dia datang pertama kali ke Tailie.
Kuil itu diurus oleh tiga orang pendeta yang telah berusia pertengahan baya.
Tetapi hal itu tidak membuat rintangan atau kesulitan bagi Bong Kim Lian.
la mengetuk pintu kuil yang tertutup dan seorang pendeta yang berusia pertengahan baya yang tampaknya masih mengantuk sambil mengusap-usap matanya, telah membuka pintu kuil.
Waktu melihat tamunya adalah seorang wanita cantik yang menggendong seorang pemuda yang tampaknya tengah tertidur nyenyak, pendeta itu jadi heran.
"Ada urusan penting apakah dimalam buta seperti ini nona datang berkunjung kekuil kami?"
Tanya pendeta itu. Bong Kim Lian tersenyum manis.
"Kami tengah melakukan perjalanan dan kemalaman ditengah jalan, malangnya sahabat ku ini juga terserang semacam penyakit, sehingga ia perlu memperoleh perawatan. Apakah Taisu bersedia memberikan sedikit tempat untuk kami benaung melewati malam yang dingin ini?"
Pendeta itu tidak memiliki alasan untuk menolaknya.
Kalau memang wanita itu datang seorang diri, tentu bisa saja ia menolaknya dengan alasan dikuil itu memang tidak terdapat wanita dan tentu tidak akan baik jika dilihat orang luar.
Baca Juga: Sepasang Naga Penakluk Iblis Kho Ping
Baca Juga: Rajawali Lembah Huai 6