Eps 3 Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan - Chin Yung
Baca online Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan - Chin Yung
Cersil Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan - Chin Yung.
"Dengarlah...., jika memang engkau masih mempergunakan api untuk menarik keuntungan dirimu sendiri, aku tidak bersedia bertanding denganmu...!"
Kata Lu Liang Cwan.
"Dan yang terpenting, untuk selanjutnya kita tidak akan mengetahui siapa yang paling liehay diantara kiat? ...!"
"Sudah tentu aku yang liehay, jauh lebih liehay dari kau...!"
Menyahuti si Dewi Api.
"Hemm, enak saja engkau bicara"
Kata Lu Liang Cwan.
"Tanpa api jahatmu itu, tidak mungkin engkau bisa merubuhkan diriku...!"
"Pasti bisa...! Pasti bisa...!"
Menyahuti Dewi Api.
"Singkirkan apimu, mari kita bertanding lagi", menantang Lu Liang Cwan.
"Kalau memang engkau kuatir menghadapi apiku, lebih baik kitau bertempur dengan cara lain...!"
Kata Dewi Api mengajukan sarannya.
"Bagaimana ?"
"Kitu pergunakan anak itu sebagai orang penengah, ia harus membawakan satu demi satu jurus-jurus kita, dan nanti kita memecahkannya. Dengan demikian, kita bisa melihat, siapa yang lebih liehay diantara kita......."
Mendengar saran Lauw Cie Lan, Lu Liang Cwan telah menganggukkan kepalanya.
"Baik...., baik....", katanya cepat.
"Sekarang ini kita mulai !"
Sambil berkata begitu Lu Liang Cwan telah menoleh kepada Oey Yok Su, dia melambaikan tangannya..
"Kemari mendekat, engko kecil..... engkau merupakan kunci yang menentukan siapa diantara kami yang lebih tinggi kepandaiannya" . Oey Yok Su heran, ia tidak mengerti entah apa keinginan kedua orang ini terhadap dirinya. Tetapi ia telah mendekati Lu Liang Cwan.
"Jangan curang ........!"
Tiba-tiba Lauw Cie Lan telah berteriak.
"Aku dulu yang memperlihatkan ilmuku, nanti engkau yang memecahkannya...!"
"Baik..., baik.., aku mau menghormati seorang wanita ! Nah, silahkan engkau mengajari anak itu jurus yang engkau kira hebat......!"
Lauw Cie Lan segera melompat keluar dari kobaran api, dia telah mendekati Oey Yok Su dan menarik tangan anak itu. Mereka agak menjauh dari Lu Liang Cwan, yang berdiri mengawasi saja.
"Engko kecil, engkau harus memperhatikan baik-baik, aku akan mengajarimu satu jurus dari ilmuku, engkau harus membawakannya nanti dihadapan si tua bangka she Lu itu....., coba nanti dia mau memecahkannya dengan gerakan bagaimana...!"
Oey Yok Su bingung bukan main, dia bilang.
"Tetapi...aku mana bisa membawakan jurus-jurus yang kau miliki ?"
"Aku akan mengajarimu...!"
Kata Lauw Cie Lan.
"Nah kau perhatikanlah...!"
Setelah berkata begitu, Lauw Cie Lan mengajari gerakan dari jurus yang nanti harus dibawakan oleh Oey Yok Su.
Oey Yok Su seorang anak yang cerdas, cepat sekali daya tangkapnya, ia bisa menerima apa yang diajari padanya dengan cepat.
Dua kali Lauw Cie Lan memberikan petunjuk dan Oey Yok Su sudah bisa menangkap semuanya dengan baik.
Hanya hati Oey Yok Su jadi bimbang, bukankah dengan demikian ia menerima pelajaran yang diberikan Lauw Cie Lan ?
Inilah yang tidak menggembirakan hatinya.
Tetapi disebabkan kini ia tengah tersesat dipulau tersebut, dimana hanya terdapat Lu Liang Cwan berdua dengan Lauw Cie Lan, ia tidak berani terlalu membantah, sebab dirinya yang bisa celaka.
Bukankah kedua orang itu merupakan tokoh-tokoh sakti yang memiliki kepandaian tinggi ?
Dan merekapun mempunyai sifat yang kukoay (aneh).
"Nah, sekarang segera kau bawakan gerakan jurus yang kuajari padamu dihadapan si tua bangka she Lu itu...!"
Perintah Lauw Cie Lan.
"Coba nanti ia ingin memecahkannya dengan jurus bagaimana".
"Tetapi Lauw cianpwe......., mana mungkin aku bisa menang menghadapi Lu cianpwe ?"
Tanya Oey Yok Su ragu-ragu.
"Engkau bukan bertempur dengan dia, hanya memperlihatkan jurus yang tadi kuajari nanti ia akan mamberitahukanmu pula, jurus yang akan dipergunakannya untuk memecahkan jurus tersebut...!" . Oey Yok Su menghampiri Lu Liang Cwan, kemudian dia telah berkata.
"Lu cianpwe, kuharap engkau tidak turunkan tangan keras padaku......!"
"Tentu saja tidak, aku hanya ingin melihat gerakan jurus yang diberikan si Dewi bangsat itu, ....... ayo kau mulai !"
Kata Lu Liang Cwan.
"Hemm.......", mendengus Lauw Cie Lan dari tempat yang terpisah cukup jauh.
"Tidak mungkin engkau bisa memecahkan jurusku itu!"
Oey Yok Su telah mulai bergerak, pertama-tama ia merangkapkan kedua tangannya, tubuhnya agak dibungkukkan, kemudian sepasang kakinya ditekuk, dan tahu-tahu menendang, diapun melakukan pemutaran setengah lingkaran, kedua tangannya tahu-tahu menyambar.
Gerakan itu memang merupakan satu jurus yang hebat, yang bisa dipergunakan menyerang lima bagian anggota.
tubuh lawan.
Lu Liang Cwan mengawasi gerakan yang dibawakan oleh Oey Yok Su dengan sepasang alis yang mengkerut dalam-dalam, dan ia tampaknya tengah mernikirkan pcmecahannya.
Setelah tertegun sejenak, dan Lauw Cie Lan sempat menyindirnya dengan berkata.
"Ayo coba kau pecahkan, aku yakin engkau akan menyerah kalah...!"
Lu Liang Cwan terlawa bergelak, katanya kemudian.
"Baik aku sudah rnemperoleh jurus yang bisa memecahkan jurusmu itu...... mari engko kecil, aku akan mengajarimu jurus itu...."
Dan Lu Liang Cwan telah menarik tangan Oey Yok Su, agak menjauh dari Lauw Cie Lan.
Lu Liang Cwan kemudian menerangkan gerakan-gerakan dari jurus yang bisa memunahkan jurus Lauw Cie Lan.
Oey Yok Su memang cerdas, kembali ia bisa menerima pelajaran itu hanya dalam waktu yang singkat, sehingga menggembirakan Lu Liang Cwan.
"Nah sudah.....!"
Kata Lu Liang Cwan setelah dia melihat Oey Yok Su berhasil menguasai jurus yang diajarinya.
"Pergi kau perlihatkan kepada Dewi bangsat itu.......!"
Oey Yok Su mengiyakan, ia menghampiri Dewi Api Lauw Cie Lan, membawakan gerakan yang tadi diajari oleh Lu Liang Cwan.
Muka Lauw Cie Lan jadi merah, rupanya rnemang jika bertempur, dengan mempergunakan jurus itu Lu Liang Cwan bisa memunahkan serangannya.
Maka segera Dewi Api Lauw Cie Lan seperti berpikir keras, lalu mengajari Oey Yok Su dengan jurus lainnya.
Kemudian disuruhnya mempraktekkannya dihadapan Lu Liang Cwan.
Sedangkan orang she Lu itu balas mengajari Oey Yak Su jurus lainnya.
Begitulah, mereka telah menurunkan terus menerus jurus-jurus ilmu silat kelas wahid kepada Oey Yok Su.
Tanpa disadari oleh Oey Yok Su sendiri, justru ia telah menerima pelajaran ilmu silat kelas tinggi, sehingga tanpa disadari juga olehnya ia telah memiliki tambahan ilmu yang luar biasa.
Ratusan jurus telah diajari oleh kedua tokoh sakti itu padanya secara bergantian, namun tidak ada kesudahannya, tampaknya kedua orang itu sama sekali tidak mau menyerah.
Karena hari telah malam, mereka berhenti untuk beristirahat.
Padahal Lauw Cie Lan menghendaki pertandingan yang aneh seperti itu diteruskan saja, tetapi Lu Liang Cwan menyatakan bahwa kesehatan Oey Yok Su bisa terganggu karenanya.
Tetapi keesokan paginya, mereka telah meIanjutkan pertandingan yang aneh itu.
Kedua tukoh sakti tersebut sama-sama memeras otak mencari jurus-jurus yang paling liehay dari ilmu silatnya, masing-masing.
Mereka sama-sama tidak mau mengalah.
Dan semua itu berlangsung sampai empat hari lamanya.
Oey Yok Su.
memang memiliki otak yang sangat terang, maka ia bisa menangkap semua inti dari jurus-jurus tersebut, yang tidak disadarinya telah dimilikinya dengan sempurna, sebab disaat dia membawakan gerakan itu selalu jago-jago sakti itu memberikan petunjuk-petunjuknya dimana kelemahan yang ada pada diri pemuda ini.
Setelah berhari-hari menjadi orang perantara seperti itu, Oey Yok Su jadi girang juga dan senang dengan "permainan"
Seperti itu, ia juga tidak pernah mengeluh.
Sampai akhirnya, dipagi itu, waktu Oey Yok Su membawakan satu jurus dari Lu Liang Cwan dihadapan Lauw Cie Lan, wanita tua yang bergelar sebagai Dewi Api tersebut telah duduk termenung lama sekali, ia tengah mencari jurus yang bisa memunahkan jurus Lu Liang Cwan.
"Kau menyerah saja, tidak ada jurusmu yang bisa memecahkan jurusku itu ......kepandaianku memang jauh lebih tinggi dari kepandaianmu, jika selama ini kita berimbang, engkau hanya mengandalkan apimu belaka.......!"
Ejek Lu Liang Cwan. Muka Lauw Cie Lan jadi berobah merah, ia mendongkol sekali.
"Nah...., coba engkau perlihatkan jurus ini. kepadanya !"
Kata wanita itu kepada Oey Yok Su sambil mengajarinya sebuah jurus pula kepadanya.
Begitulah, jurus demi jurus selalu dilewati dengan saling tindih, dan akhirnya pertempuran yang aneh sekali ini berlangsung sampai sepuluh hari lebih.
Oey Yok Su mulai bosan, karena kedua orang tokoh sakti itu tampaknya tidak pernah mau mengalah.
"Aku sudah tidak mau lagi menjalani jurus-jurus kalian.......!"
Kata Oey Yok Su pada pagi itu, waktu kedua jago aneh tersebut bersiap-siap akan mengajari padanya lagi ilmu silat mereka.
"Mengapa.......?"
Tanya Lu Liang Cwan.
"Ya!, kenapa ..... ?"
Tanya Lauw Cie Lan juga.
"Aku lihat, kalian berimbang.......bukankah Aku sebelumnya memang telah diangkat menjadi saksi? Maka sekarang aku kemukakan keputusanku, bahwa kalian masing-masing memiliki kepandaian yang berimbang........!"
"Hemm......., engkau menyatakan kami berimbang ?"
Tanya Lauw Cie Lan kurang senang. Oey Yok Su mengangguk cepat.
"Ya, jika memang kalian bertempur terus sampai seratus tahun lagi, kalian tetap tidak mungkin dapat saling merubuhkan, karena memang kalian memiliki kepandaian yang berimbang....... tidak mungkin salah seorang diantara kalian akan rubuh..........!"
Lu Liang Cwan tidak membantah, dia telah mengangguk beberapa kali, bahkan menggumam perlaaan .
"Ya...jika memang dipikir-pikir apa yang dikatakan oleh saksi ini merupakan hal yang benar...! Bukankah kita selama sepuluh tahun telah puluhan kali bertanding, dan selama itu kita hanya berimbang tanpa bisa merubuhkan salah seorang diantara kita ?"
Lauw Cie Lan tadinya masih mau mengotot, tetapi akhirnya setelah menatap Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan bergantian, ia mengangguk juga.
"Ya, benar juga...! Lalu bagaimana keputusannya......?"
Tanya Lauw Cie Lan, seperti juga ia bertanya kepada dirinya sendiri.
"Ya, kita sudah tidak perlu bertempur lagi, bukankah saksi kita sudah mengatakan, walaupun kita bertempur lagi seratus tahun lamanya, tetap saja, tidak mungkin ada yang menang dan kalah diantara kita berdua........!" ---oo^DewiKZ~0~Tah^oo---BAGIAN 16 . MENOLAK DIJADIKAN MURID Lauw Cie Lan berdiam diri lagi sejenak lamanya, sampai akhirnya, muka wanita tua ini berobah berseri-seri gembira.
"Bagus.......! Bagus.........! Kalau begitu bagaimana jika kita mengambil anak ini menjadi murid kita... ?"
Lu Liang Cwan telah mengangguk cepat.
"Tepat.......! Akupun memang berpikir begitu!"
Lauw Cie Lan telah menoleh kepada Oey Yok Su, tanyanya .
"Engko kecil, nasibmu memang baik sekali", dan dia telah menatap tajam, sambil katanya lagi.
"Engkau memiliki bakat yang baik, juga sangat cerdas sekali, kami bermaksud akan mengambil kau menjadi murid kami.......!"
Oey Yok Su jadi berdiri tertegun, hatinya bimbang bukan main.
"Mengapa engkau tidak cepat-cepat mengucapkan terima kasihmu kepada kami ?"
Tegur Lauw Cie Lan waktu melihat anak itu berdiam diri saja. Oey Yok Su menggelengkan kepalanya perlahan, kemudian katanya.
"Kukira hal itu tidak mungkin.......!"
"Tidak mungkin......?"
Tanya Lauw Cie Lan sambil menatap tajam.
"Kenapa.......?"
"Aku telah memiliki seorang guru dan tidak mungkin aku akan mengangkat guru lagi pada orang lain........!"
"Siapa gurumu........?"
Tanya Lauw Cie Lan.
"Dialah si tua bangka Tang Cun Liang.....!"
Menyelak Lu Liang Cwan.
"Yang menjadi tocu dari Tho Hoa To........!"
"Hemm, si tua bangka she Tang itu ?"
Tanya Lauw Cie Lan.
"Pantas.....! Pantas.....!"
"Kenapa pantas.....?"
Tanya Lu Liang Cwan sambil mengawasi si Dewi Api, bekas lawannya itu.
"Pantas anak ini memiliki kepandaian yang lumayan tingginya, rupanya dia murid dari tua bangka she Tang itu !"
Kata Lauw Cie Lan.
"Dan sekarang bagaimana ? Apakah kita tetap akan mengangkat anak ini mendjadi murid kita ?"
Tanya Lu Liang Cwan.
"Terserah kepada anak itu, karena jika kita tetap bermaksud mengambilnya menjadi murid kita, namun dia keberatan dan menolaknya, tentu hal itu juga akan sia-sia belaka, maka tidak mungkin kita memaksanya.......!"
"Oh, itu mudah saja diatasi.......!"
Kata Lu Liang Cwan cepat.
"Anak ini harus mau dan bersedia menjadi murid kita, jika dia menolak, beginikan saja, ngokkk.......!"
Sambil berkata begitu, tangan Lu Liang Cwan diletakkan melintang dilehernya, dia memperlihatkan sikap seperti potong leher.
"Kita potong lehernya.......!"
Tambah Lu Liang Cwan lagi. Hati Oey Yok Su jadi tercekat kaget, karena ia tidak menyangka Lu Liang Cwan akan berkata begitu.
"Hemm.....", mendengus Lauw Cie Lan dengan suara mendesis.
"Jika kita membunuh anak itu, memang itu merupakan urusan yang mudah. Tetapi bagaimana nanti kita bisa menentukan bahwa kepandaian kita merupakan kepandaian yang tertinggi diantara jago-jago lainnya ? Bukankah jika anak ini menjadi murid kita, dan dia pergi mengembara, lalu mempergunakan kepandaian kita untuk menempur para jago-jago dalam rimba persilatan, akan memperlihatkan bahwa kepandaian kita berdua merupakan kepandaian yang tertinggi........?"
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Lauw Cie Lan, Lu Liang Cwan telah berdiam diri sejenak lamanya, tampaknya dia bingung mencari jawabannya. Sedangkan Oey Yok Su telah berkata .
"Aku tidak bisa mengangkat kalian menjadi guruku, karena sebelumnya aku telah mengangkat insu Tang Cun Liang menjadi guruku, maka walaupun bagaimana aku tidak bisa melanggar peraturan yang ada dan menjadi murid yang durhaka.........! "
"Ah, itu hanya peraturan yang tidak ada artinya buat kami, bukankah engkau sendiri rnengatakan bahwa Tang Cun Liang telah mampus."
"Memang suhu telah meninggal dunia, tetapi aku tidak bisa mendurhakainya...!"
Menyahuti Oey Yok Su.
"Hemm....., memang demikian halnya, baiklah! Kami akan mengajari engkau segala macam ilmu yang kami miliki, tetapi tidak perlu, kau mengikat guru kepada kami...... cukup asal engkau mempelajari semua ilmu kami itu baik-baik....... bagaimana tua bangka she Lu, apakah engkau setuju dengan saranku ?"
Lu Liang Cwan tampak tengah berpikir sejenak lamanya, dia sulit sekali menjawab.
"Mengapa engkau bengong-bengong begitu saja seperti orang tolol ?"
Tanya Lauw Cie Lan yang jadi tidak senang melihat sikap Lu Liang Cwan.
"Aku tidak rela jika mengajari dia ilmuku, karena dia tidak bersedia mengangkat kita menjadi gurunya ! Bukankah jika nanti ada orang yang bertanya siapa gurunya, maka anak itu akan menyahutinya bahwa gurunya adalah Tang Cun Liang, dan kepandaiannya yang dimilikinya itu sebagai kepandaian yang diwarisi oleh Tang Cun Liang!" .
"Benar juga apa yang kau katakan itu, tua bangka she Lu !"
Kata Lauw Cie Lan.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan ?"
"Jiewie cianpwe (orang tua berdua), sesungguhnya akupun tidak mengharapkan bisa menjadi murid kalian, dan tidak berhasrat pula ingin memiliki kepandaian kalian...!"
Memotong Oey Yok Su waktu kedua orang tokoh sakti itu seperti jadi bingung oleh keadaan seperti itu.
"Jadi kau memang benar-benar menolak keinginan kami ?"
Tanya Lu Liang Cwan, suaranya meninggi dan matanya memancarkan sinar yang tajam.
"Terpaksa locianpwe.......aku bukan tidak ingin memiliki kepandaian locianpwe, tetapi justru hal itu membuat kedudukanku jadi sulit !'' "
Jika memang demikian, engkau jangan harap bisa meninggalkan pulau ini.....
dan juga, jika engkau tetap tidak bersedia menjadi murid kami, kami berdua akan meninggalkan engkau seorang diri berdiam dipulau ini.
Aku mau lihat apakah engkau akan menjadi kakek-kakek yang memiliki ilmu atau tidak nantinya........!"
Mendengar perkataan Lu Liang Cwan tubuh Oey Yok Su jadi tergetar.
Sebelumnya, waktu pertama kali ia tiba dipulau ini, bukankah Lu Liang Cwan memang telah bermaksud merampas kapalnya ?
Dan jika memang Lu Liang Cwan dan Dewi Api Lauw Cie Lan meninggalkannya dipulau ini seorang diri, bukankah itu merupakan siksaan baginya ?
Memang sebelumnya dia telah biasa hidup menyendiri dipulau Tho Hoa To, tetapi lain keadaannya dengan pulau ini.
Di Tho Hoa To segalanya telah terliwat dan teratur, tetapi pulau ini justru merupakan pulau yang tidak teratur dan juga begitu penuh oleh hutan-hutan dan tempat tempat yang tidak terawat.
Maka diam-diam Oey Yok Su jadi berpikir keras.
"Engkau masih tetap dengan keputusanmu ?"
Tanya Lu Liang Cwan dengan suara yang tajam, sambil mengawasi anak itu dengan mata yang berkilat. Oey Yok.Su tidak bisa menyahuti. Lauw Cie Lan telah tertawa.
"Tua bangka she Lu, engkau jangan menakut-nakuti anak itu, tentu saja dia semakin tidak bersedia menjadi murid kita......!"
"Lalu kita harus mempergunakan cara apa untuk memaksa dia menjadi murid kita...?'' tanya Lu Liang Cwan kemudian.
"Kita biarkan saja dia memikirkan hal ini selama beberapa hari, mudah-mudahan saja pikirannya berobah dan bersedia menjadi murid."
Lu Liang Cwan sudah tidak memiliki jalan lain, maka dia hanya mengangguk saja mengiyakan.
Begitulah, Oey Yok Su masih menetap dipulau tersebut selama beberapa hari bersama-sama dengan Lu Liang Cwan dan Lauw Cie Lan.
Saat itu, Oey Yok Su selalu tertekan perasaannya.
Dia mana bersedia menjadi murid dari kedua tokoh sakti yang aneh adatnya ini?
Memang ia melihatnya bahwa kedua tokoh sakti ini memiliki kepandaian yang luar biasa, jika ia menjadi muridnya tentu ia bisa memperoleh tambahan kepandaian yang luar biasa, tetapi justru perangai dari kedua orang tersebut yang telah membuat Oey Yok Su jadi tidak bersedia menjadi muridnya.
Selang dua hari, Lu Liang Cwan tampaknya sudah tidak sabar, dia mendesak lagi pada Oey Yok Su.
Tetapi Oey Yok Su tetap dengan pendiriannya, tidak mau menjadi murid kedua orang itu.
"Baiklah jika memang demikian", kata Lu Liang Cwan yang habis sabar.
"Aku akan membinasakan engkau saja.......!"
Dan setelah berkata begitu, ia mengayunkan tangannya akan menempeleng kepala Oey Yok Su. Namun Oey Yok Su mana mau tinggal diam ? Dengan cepat dia telah menangkisnya dengan mempergunakan tangan kanan.
"Dukk.... !"
Dua kekuatan telah saling bentur keras sekali.
"Ihh.......!"
Kembali Lu Liang Cwan mengeluarkan seruan kaget, seperti waktu pertama kali ia bertemu dengan Oey Yok Su dan mereka bertempur.
Dia memperoleh kenyataan selain gerakan Oey Yok Su lebih gesit, juga tenaga dalamnya telah jauh lebih matang dan lebih........tinggi dari sebelumnya.
Sedangkan Oey Yok Su sendiri merasakan pergelangan tangannya yang tadi digunakan untuk membentur tangan Lu Liang Cwan sakit sekali, namun pemuda ini tidak meringis memperlihatkan perasaan sakitnya itu, dia hanya berdiam diri saja.
"Kau masih tetap membandel dan tidak mau menerima kami menjadi gurumu ? Tahukah engkau, bahwa penolakanmu itu merupakan penghinaan besar buat kami?"
Bentak Lu Liang Cwan lagi.
"Tetapi sayangnya diantara kita memang tidak ada jodoh !"
Sahut Oey Yok Su.
"Karena aku telah menjadi murid Tang Cun Liang Insu.......!"
"Hemm......., aku tidak mau memperdulikan siapa itu Tang Cun Liang ....... yang terpenting. sekarang engkau bersedia menjadi murid kami atau tidak ?"
Oey Yok Su jadi serba salah.
Untuk menghadapi Lu Liang Cwan saja dia belum tentu bisa menandinginya, apa lagi jika memang harus menghadapi dengan serentak dua orang lawan yang sakti seperti Lu Liang Cwan dan Lauw Cie Lan.
"Bagaimana ....... ?"
Tegur Lu-Liang Cwan lagi.
"Sudahlah ........, jika memang dia tidak mau menjadi murid kita, untuk apa kita paksa-paksa...!"
Kata Lauw Cie Lan. Waktu itu tampak Oey Yok Su telah menghela napas sambil berkata.
"Jiewie locianpwe, aku sangat menghormati kalian...... dan walaupun tidak menjadi murid kalian, tetapi memang aku akan mengingatnya bahwa aku pernah menerima ilmu dari kalian. Bukankah selama belasan hari kalian berdua telah mengajari aku segala ilmu silat yang terhebat dari kalian..."
Mendengar perkataan Oey Yok Su, Lu Liang Cwan berdua dengan Lauw Cie Lan jadi heran.
"Kapan kami pernah mengajari kau ilmu silat ?"
Tanya Lu Liang Cwan.
"Waktu kalian bertanding......!"
Sahut Oey Yok Su. Kedua orang itu seperti baru tersadar, dan kemudian Lu Liang Cwan dengan sorot mata setengah tidak percaya telah bertanya .
"Apakah engkau telah berhasil menguasai semua ilmu yang kami ajarkan itu ?"
Oey Yok Su mengangguk.
"Ya...!"
Sahutnya.
"Aku telah berhasil menguasai semua jurus itu...tidak satu juruspun yang terlupa !"
"Coba kau bawakan dihadapan kami......!"
Minta Lu Liang Cwan penasaran dan tidak mau mempercayai apa yang dikatakan oleh Oey Yok Su.
"Ya, coba kau bawakan dihadapan kami jurus-jurus kami yang telah berhasil engkau kuasai itu...!"
Kata Lauw Cie Lan juga.
Oey Yok Su mengiyakan, dan dia mulai bersilat, dengan bergantian mempergunakan jurus-jurus ilmu silat Lauw Cie Lan dan Lu Liang Cwan.
Kedua tokoh sakti itu jadi berdiri tertegun saja menyaksikan betapa sepasang tangan dan kaki Oey Yok Su bergerak-gerak dengan cepat membawakan gerakan dari jurus-jurus mereka, tidak satu juruspun yang lewat dan salah dilakukannya itu.
Lu Liang Cwan telah menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Sedangkan Lauw Cie Lan telah mendesis beberapa kali.
Disaat-saat seperti itu memang tampaknya Lu Liang Cwan sudah tidak bisa membantah, karena setiap gerakan yang dilakukan oleh Oey Yok Su tidak sejuruspun yang salah.
"Itulah menunjukkan bahwa otak anak ini memang cerdas sekali" , kata Lauw Cie Lan berselang sejenak, disaat Oey Yok Su masih membawakan terus jurus-jurus ilmu silat mereka.
"Sayang sekali justru dia tidak bersedia untuk menjadi murid kita...!"
Lu Liang Cwan menganggukkan kepalanya, dan ia masih memandangi terus Oey Yok Su yang tengah bersilat, sampai akhirnya ia berkata.
"Sudah.... ! Sudah...... ! Hentikan...!"
Dan tahu-tahu dia telah menjatuhkan tubuhnya duduk numprah diatas tanah, menangis menggerung-gerung, sambil tangannya tldak hentinya mencabuti jenggot kumisnya.
Lagaknya persis seperti sikap seorang anak kecil yang menangis karena tidak memperoleh barang mainan yang dikehendaki.
Lauw Cie Lan jadi memandang bengong pada kelakuan Lu Liang Cwan, sedangkan Oey Yok Su yang memang pernah menyaksikan kelakuan orang tua ini, disaat pertemuan pertama mereka, hanya mengawasi tenang-tenang saja.
la telah membiarkan Lu Liang Cwan menangis.
Selang sesaat lagi, Lu Liang Cwan berhenti menangis, ia menghapus air matanya.
Lauw Cie Lan yang sudah tidak bisa menahan perasaan herannya, segera bertanya.
"Mengapa engkau menangis begitu seperti seorang bocah ?".
"Aku jadi sedih, mengapa aku dilahirkan tidak seperti bocah itu...?"
Kata Lu Liang Cwan sambil menunjuk Oey Yak Su.
"Apa hubungannya antara kelahiranmu dengan bocah itu ?"
Tanya Lauw Cie Lan tambah tidak mengerti.
"Bodoh kau...!"
Bentak Lu Liang Cwan tiba-tiba dengan suara yang keras. Muka Lauw Cie Lan jadi berobah merah dibentak begitu, ia telah bertanya sengit.
"Engkau yang bodoh atau aku ? Engkau sendiri membawa lagak lagu seperti seorang anak kecil sinting, tidak keruan-keruan menangis begitu......!"
"Sudah kukatakan aku menyesal mengapa dilahirkan tidak seperti bocah itu!"
Sahut Lu Liang Cwan.
Karena tadi dibentak waktu menanyakan apa hubungan antara kelahiran Lu Liang Cwan dengan diri Oey Yok Su, maka kini Lauw Cie Lan berdiam diri saja, dia tidak menanyakan sesuatu lagi.
Sedangkan Lu Liang Cwan telah berkata lagi.
"Aku benar-benar menyesal, kalau saja aku dilahirkan seperti anak itu...!".
"Kenapa ?"
"Tentu dengan rnudah aku bisa rnerubuhkan kau !"
"Merubuhkan aku ?"
Tanya Lauw Cie Lan tambah tidak senang. Baru saja ia ingin memaki lagi, telah didahului oleh Lu Liang Cwan yang berkata.
"Ya, kalau saja aku dilahirkan dengan otak secerdas bocah itu, tentu dengan mudah aku bisa memiliki kepandaian yang tinggi, tidak sampai perlu puluhan tahun aku melatih diri sia-sia seperti ini, jangankan merubuhkan Tang Cun Liang, sedangkan merubuhkan dirimu saja belum pernah, kita selalu berimbang saja...!"
Dan sehabis berkata begitu, Lu Liang Cwan telah mementang mulutnya dan menangis keras lagi.
Pekjie yang sejak tadi berdiri diam mengawasi majikannya saja, jadi ikut mengeluarkan suara pekik seperti menangis !
Rupanya biruang peliharaan Lu Liang Cwan ikut merasa bersedih hati menyaksikan majikannya menangis begitu sedih.
Oey Yok Su jadi tidak enak dalam hatinya menyaksikan Lu Liang Cwan masih menangis terus, maka akhirnya ia mendekati tokoh sakti tua itu, ia berjongkok disampingnya sambil katanya menghibur .
"Sudahlah locianpwe, bukankah sekarang engkau telah memiliki kepandaian yang tinggi sekali dan, jarang ada orang seliehay locianpwe ?"
"Diam kau tolol !"
Bentak Lu Liang Cwan.
"Bukankah tadi aku telah menjelaskan jika aku memiliki otak seperti engkau, tentu kepandaian seperti sekarang ini bisa kumiliki disaat usiaku belum setua ini ?"
Dan Lu Liang Cwan telah menangis lagi. Sedangkan Lauw Cie Lan telah tertawa, dia merasa lucu dan geli.
"Memang otakmu yang tumpul dan bodoh, rnengapa harus menyesal seperti itu ?"
Katanya menyindir.
"Kau...?"
Bentak Lu Liang Cwan sambil melompat marah dengan sikap berang, tampaknya ia ingin melancarkan serangan.
Tetapi Lauw Cie Lan memang tidak jeri untuk bertanding dengan jago tua itu, ia malah bersiap-siap untuk menerima serangan.
Tetapi rupanya Lu Liang Cwan tidak meIancarkan serangan, dia hanya mementang mulutnya lebar-lebar dan menangis lagi.
Tangannya juga telah mencabuti jenggot dan kumisnya pula.
Setelah lewat lagi sekian lama, Oey Yok Su dan Lauw Cie Lan hanya berdiam diri, sebab mereka tidak tahu, apa yang harus dilakukannya menghadapi kakek yang berperangai aneh ini, maka keduanya hanya membiarkan Lu Liang Cwan menangis terus.
Tetapi karena didiami begitu, Lu Liang Cwan jadi menghentikan tangisnya.
Dengan mata yang masih dipenuhi air mata ia telah mendelik pada Oey Yok Su dan Lauw Cie Lan.
"Mengapa kalian memandangi aku seperti tengah menonton seorang anak kecil menangis?"
Teriaknya dengan suara keras. Lauw Cie Lan tidak bisa menahan perasaan gelinya, ia anggap sikap orang bukan hanya jenaka, tetapi lucu bukan main menggelitik hatinya.
"Jika anak kecil yang menangis tentu tidak aneh, tetapi justru sekarang ini kami menyaksikan suatu hal yang aneh sekali, seorang tua bangka yang akan masuk lobang kubur justru dapat menangis seperti seorang anak kecil saja...!"
Setelah berkata begitu, Lauw Cie Lan tertawa bergelak-gelak dengan.suara yang keras.
Lu Liang Cwan rupanya mendongkol sekali dia bermaksud melancarkan serangaun.
Melihat sikap urang, Lauw Cie Lan telah berkata menantang.
"Mari, mari kita bertanding lagi....., engkau rupanya memang masih penasaran dan ingin sekali bertanding......!"
Tetapi Lu Liang Cwan tidak melayani tantangan Lauw Cie Lan, dia menoleh kepada Oey Yuk Su, tanyanya.
"Engkau sebagai saksi, apa yang hendak engkau katakan...... apakah kepandaianku yang lebih kau senangi atau memang kepandaian si Dewi Bangsat itu......?"
Oey Yok Su jadi serba salah ditanya begitu, tetapi akhirnya tokh ia menyahuti juga .
"Cianpwe berdua memang memiliki kepandaian yang sama tingginya, masing-masing memiliki kepandaian yang tersendiri...... maka dalam hal ini siapa yang lebih tinggi, boanpwe tidak bisa menyebutkannya.......!"
"Hemm...., cerdik kau, tidak berati kau menunjuk salah seorang diantara kami mana yang lebih liehay, justru engkau mengelakkan diri dengan kata-katamu itu.....!"
Kata Lu Liang Cwan. Tetapi Oey Yok Su berkata dengan sungguh-sungguh.
"Apa yang boanpwe katakan tadi memang sebenarnya, karena locianpwe berdua memiliki kepandaian yang sama tingginya. Boanpwe mana berani berdusta ?"
Mendengar perkataan Oey Yok Su, Lu Liang Cwan menghela napas dalam-dalam, kemudian dia menoleh kepada Lauw Cie Lan, tanyanya .
"Bagaimana.....? Apakah kita akan memaksa terus anak ini untuk menjadi murid kita?"
Lauw Cie Lan menggelengkan kepalanya perlahan, katanya.
"Tidaktidak mau aku mengambil murid yang tidak bersedia berguru kepadaku, karena akan sia-sia belaka!" .
"Jika demikian, akupun membatalkan saja niatku untuk mengambilnya menjadi muridku...!"
Kata Lu Liang Cwan kemudian.
---oo^DewiKZ~0~Tah^oo---BAGIAN 17 .
BERUSAHA MELARIKAN DIRI "SUDAHLAH, biarlah bocah ini kita tinggalkan saja dipulau ini.
Aku ingin meninggalkan pulau ini dengan mempergunakan perahunya, dan kau Dewi Bangsat, apakah engkau mau ikut bersamaku ?"
"Hemmm......., enak saja kau bicara, apakah engkau kira aku ini isterimu ?"
Tanya Lauw Cie Lan dengan suara yang dingin.
"Dengan seenaknya engkau mengajak aku untuk naik perahu bersamamu......!"
Muka Lu Liang Cwan jadi berobah merah, tetapi dia tidak marah oleh teguran Lauw Cie Lan, hanya tertawa dengan suara yang keras.
"Memang engkau bukan isteriku, jika engkau berkeras dan memaksa ingin menjadi isteriku, tentu aku akan lari terbirit-birit ketakutan...!"
"Apa kau bilang ?"
Tanya Lauw Cie Lan mendongkol.
"Kukatakan tadi, jika engkau sendiri yang memaksa aku menjadi suamimu, aku akan lari terbirit-birit ketakutan...siapa yang kesudian mengambil seorang Dewi Bangsat seperti kau menjadi isteriku...?"
Dan puas berkata begitu, Lu Liang Cwan telah tertawa bergelak-gelak.
Disaat itu, muka Lauw Cie Lan berobah merah padam, dia tersinggung sekali dan mendongkol, maka begitu kata-kata Lu Liang Cwan selesai diucapkan dan dia tengah tertawa, Lauw Cie Lan telah membarengi dengan menggerakkan tangan kanannya, dia melancarkan serangan yang kuat sekali.
"Eh, tunggu dulu, apa yang kau lakukan?"
Teriak Lu Liang Cwan sambil melompat berkelit.
Oey Yok Su yang menyaksikan kelakuan kedua orang tokoh sakti itu jadi tertawa bergelak, karena walaupun, bagaimana ia merasa lucu sekali menyaksikan sepak terjang kedua orang tokoh sakti ini.
Maka setelah melihat Lauw Cie Lan ingin melancarkan serangan lagi, ia hanya berdiam diri, bahkan Oey Yok Su mengharapkan kedua orang itu terlibat dalam pertempuran lagi, sehingga ia bisa melarikan diri.
Tetapi Lu Liang Cwan selalu mengelakkan diri dari serangan Lauw Cie Lan, tampaknya ia sama sekali tidak berselera untuk bertempur lagi dengan jago betina itu.
Tepat bersamaan dengan mengelaknya Lu Liang Cwan, Lauw Cie Lan kembali menyerang pula saling susul.
Lu Liang Cwan walaupun tidak bermaksud untuk bertanding lagi dengan wanita tua yang liehay itu, tokh ia harus melayani, juga lawannya.
Semakin lama Lauw Cie Lan menyerang semakin keras dan kuat.
Tetapi Lu Liang Cwan juga tidak kurang gesitnya berkelit kesana kemari seperti juga tubuhnya itu telah berobah menjadi bayangan saja, berkelebat kesana kemari tidak hentinya.
Begitulah, mereka berdua telah terlibat dalam pertempuran lagi.
Oey Yok Su tidak mau membuang kesempatan yang ada, diam-diam dia menjauhi diri.
Dan disaat jarak mereka telah terpisah jauh, Oey Yok Su berlari meninggalkan tempat itu, ia bermaksud menuju kepantai untuk mencapai perahunya dan meninggalkan pulau ini.
Memang selama beberapa hari dipulau ini Oey Yok Su telah kenal dengan keadaannya, itulah yang membuat Oey Yok Su tidak memperoleh kesulitan waktu melarikan diri dan cepat sekali ia tiba ditepi pantai.
Dilihatnya perahunya masih tertambat ditempatnya semula.
Cepat sekali tanpa berani membuang waktu lagi Oey Yok Su membuka tali tambatannya dan mendorong perahunya, lalu dia segera melompat kedalamnya.
Dengan mempergunakan tenaga lwekangnya Oey Yok Su telah menggerakkan kayu pengayuhnya untuk mendayung perahu itu.
Tetapi rupanya Lu Liang Cwan dan Lauw Cie Lan yang tengah bertempur itu juga memiliki mata yang celi.
Lu Liang Cwan lebih duIu melihat Oey Yok Su tidak berada ditempatnya, dia segera melompat mundur sambil mengeluarkan suara seruan menjauhi Lauw Cie Lan.
"Anak itu melarikan diri...!"
Teriaknya.
Sebetulnya Lauw Cie Lan ingin melancarkan serangan lagi, tetapi mendengar teriakan Lu Liang Cwan, dia jadi menunda keinginannya itu.
Dia telah menoleh kesekelilingnya, dan memang dia tidak melihat Oey Yok Su.
Hatinya jadi tercekat.
"Dia tentu lari kepantai untuk mengambil perahunya guna melarikan diri. Ayo kejar...!"
Teriak Lu Liang Cwan waktu melihat tapak-tapak bekas kaki Oey Yok Su.
Kedua orang itu memiliki ginkang yang telah mahir, maka mereka dapat berlari seperti terbang saja, dengan cepat mereka tiba dipantai.
Waktu itu mereka masih sempat melihat Oey Yok Su telah berada diatas perahunya dan tengah mendayung untuk menjauhi pulau itu.
Dengan mengeluarkan suara teriakan keras, tubuh Lu Liang Cwan melompat dan berlari diatas pasir dipantai tersebut, dengan segera kakinya juga menerobos air laut dipantai.
Waktu itu jarak yang terpisah antara perahu Oey Yok Su belum begitu jauh, dengan mudah ia telah mengulurkan tangannya, seperti tengah membetot sesuatu.
Anehnya perahu Oey Yok Su seperti kena digenggam suatu kekuatan yang hebat dan telah meluncur kembali kearah pantai!
Hati Oey Yok Su terkejut, ia mengerahkan sinkangnya dan menampar kearah belakang perahunya, maksudnya untuk menghalau kekuatan tenaga sinkang Lu Liang Cwan yang menguasai perahunya.
Sedangkan Lu Liang Cwan sambil berusaha menguasai perahu itu dengan mempergunakan kekuatan tenaga lwekangnya, juga melangkah terus mendekati, dan ketika jarak mereka sudah tidak ada setombak lagi, Lu Liang Cwan melompat keatas perahu.
"Kembali kedarat...!"
Teriak Lu Liang Cwan dengan suara mengancam.
Oey Yok Su menghela napas, dia tidak berani membantah perintah Lu Liang Cwan, karena pemuda ini menyadari orang tua ini memang liehay sekali ilmu silatnya.
Dia mendayung kembali perahunya menuju kedarat.
Lu Liang Cwan girang bisa mernbatalkan maksud Oey Yok Su melarikan diri.
Begitu juga Lauw Cie Lan telah menjejakkan kakinya beberapa kali, dalam sekejap mata tubuhnya telah berada didalam perahu.
Namun diwaktu itulah Oey Yok Su telah mendorong tubuh Lu Liang Cwan.
Hal itu tidak disangka sama sekali oleh jago tua she Lu, sehingga tidak ampun lagi tubuhnya terjungkel dari dalam perahu, dan tercebur kedalam air laut.
Lauw Cie Lan terkejut, ia telah mengeluarkan suara seruan keras.
Oey Yok Su tidak memperdulikan Lauw Cie Lan, dia mendayung perahunya kuat-kuat dengan maksud menjauhi perahunya dari daratan.
Tetapi Lu Liang Cwan begitu kecebur, karena air laut ditepi pantai memang tidak dalam hanya selutut saja, cepat bisa bangun kembali dan mengejar perahu itu.
Waktu ia menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat ketengah perahu lagi.
Oey Yok Su sudah tidak berusaha untuk melakukan apa-apa lagi, dia hanya mendayung terus sambil menggumam.
"Biarlah kita berangkat bertiga meninggalkan pulau itu...!"
Memang yang ditakuti oleh Oey Yok Su justru kalau perahunya ini dirampas oleh Lu Liang Cwan dan Lauw Cie Lan, ia sendiri yang akan ditinggal oleh kedua orang itu, untuk jadi penjaga pulau kosong-tersebut.
GAMBAR 07 Hal itu tidak disangka sama sekali oleh jago tua she Lu, sehingga tidak ampun lagi tubuhnya terjungkel dari dalam perahu, dan tercebur kedalam air laut.
Tetapi Lu Liang Cwan telah berteriak-teriak dengan suara nyaring .
"Cepat kembali kedaratan...... kembali !" . Tetapi Oey Yok Su tidak memperdulikannya, ia mendayung terus, sehingga perahu telah meluncur cukup jauh. Sedangkan Lauw Cie Lan memandang ngeri kearah air taut. la tidak bisa berenang, kalau sampai perahu itu terbalik, niscaya yang akan menerirna bencana adalah dirinya.
"Jangan timbulkan goncangan terlalu keras.......!"
Lauw Cie Lan memperingati pada Lu Liang Cwan, karena orang tua itu menghentak-hentak kakinya dengan jengkel, membuat perahu itu tergoncang keras sekali, Oey Yok Su melihat hal ini, karena dia cerdas, dia telah mengetahui kelemahan Lauw Cie Lan.
Sengaja Oey Yok Su berkata.
"Lauw Cianpwe..... jika memang Lu Cianpwe bergerak-gerak terus, perahu akan karam terbalik.......!"
Kata-kata Oey Yok Su membuat Lauw Cie Lan tambah ketakutan, sehingga dia mengawasi mendelik kepada Lu Liang Cwan sambil menghardik.
"Engkau mau diam atau tidak? Jika sampai perahu ini terbalik, dan aku tercebur dicialam air laut, untuk seterusnya aku tidak akan memaafkanrnu, kepalamu akan kuhantam hancur.........!" . Lu Liang Cwan tertawa mengejek.
"Justru aku hendak memaksa dia untuk mengembalikan arah perahu kepantai...!"
Sahutnya. Dan Lu Liang Cwan telah melangkah ingin mendekati Oey Yok Su. Melihat bahaya yang mengancam, Oey Yak Su telah berkata.
"Berhenti disitu Lu Cianpwe, jika masih Lu Cianpwe melangkah maju, selangkah saja, kayu pengayuh ini akan kulemparkan ketengah laut, biarlah kita akan berlayar dengan perahu tanpa kayu pengayuh!" .
"Hemm......!"
Merah padam muka Lu Liang Cwan, ia mengawasi Oey Yok Su dengan sorot rrrata yang tajacn, sampai katanya kemudian .
"Baiklah ! Baiklah ! Sekarang kau putar haluan kembali kepantai......!"
"Tidak mau........!"
Menggeleng Oey Yok Su.
"Mengapa tidak mau ?"
Tanya Lauw Cie Lan dengan cemas.
"Aku tidak mau kembali kepantai, karena kalian ingin merampas perahu ini dan lalu meninggalkan aku digulau itu !"
Menyahuti Oey Yok Su.
"Kami tidak akan merampas perahumu"
Kata Lauw Cie Lan memberikan keyakinan kepada Oey Yok Su.
Oey Yok Su tetap menggelengkan kepalanya dan selama mereka berkata-kata seperti itu Oey Yok Su terus juga mengayuh, sehingga perahu meluncur terus menjauhi pantai.
"Dua kali Lu Cianpwe pernah mengatakan ia ingin merampas perahuku ini, dan ingin meninggalkan aku hidup seorang diri dipulau kosong itu...!"
Menjelaskan Oey Yok Su.
"Jika nanti dia berani merampas perahumu, biar aku yang hantam kepalanya sampai hancur...!"
Janji Lauw Cie Lan. Tetapi Oey Yok Su tetap menggelengkan kepalanya, katanya.
"Lebih baik kita berlayar bertiga..... bukankah tidak lama lagi kita bisa sampai didaratan dan disaat itu barulah kita berpisah...! " . Lauw Cie Lan lelah berkata lagi dengan sikap yang agak gugup.
"Bagaimana kita hendak melakukan perlayaran jika kita tidak membawa perbekalan ? Bukankah kita tidak membawa air dan makanan? Bagaimana kalau perjalanan kita ini memakan waktu beberapa hari lamanya ?"
Ditanya begitu, Oey Yok Su mengakui kebenaran perkataan jago wanita she Lauw tersebut.
Tetapi untuk kembali kepulau tentu saja Oey Yok Su tidak mau, karena pemuda ini menyadarinya jika sampai ia kembali kepulau, tentu dirinya terancam bahaya yang tidak kecil, dimana ancaman dari Lu Liang Cwan dan Lauw Cie Lan ini, kedua tokoh sakti tersebut yang belum tentu bisa dihadapinya.
Namun jika mereka berlayar juga, tokh mereka akan kehausan dan kelaparan jika dalam beberapa hari mereka tidak berhasil menemui daratan.
Inilah yang membuat Oey Yok Su jadi di agak bingung.
Pemuda ini memang otaknya cerdas, segera ia bisa mengambil keputusan, maka tanyanya.
"Apakah locianpwe berdua dapat dipercaya kata-katanya ?"
"Tentu saja.....!"
Sahut Lu Liang Cwan yang menyelak cepat.
"Kami akan memegang perkataan kami, kau tidak perlu kuatir......!".
"Tunggu dulu, aku mau mengantarkan Locianpwe berdua kembali kedaratan dipulau itu, tetapi terus terang aku tidak bersedia untuk menginjak kembali pulau tersebut Maka jika jarak pantai darl pulau tersebut terpisah lima tombak, kalian harus melompat turun saja dan aku akan berlayar lagi Jika memang locianpwe setuju, itupun ada syaratnya!" .
"Syarat apa ?"
Tanya Lauw Cie Lan.
"Setelah locianpwe berdua sampai didaratan pulau itu, kalian harus melemparkan perbekalan air dan makanan kepadaku...!" . Kedua orang tua itu berdiam diri, tetapi Lauw Cie Lan yang memang ingin cepat-cepat kembali kedaratan, telah tidak sabar, cepat ia mengangguk, katanya.
"Baiklah, syaratmu itu akan kupenuhi...!".
"Dan bagaimana dengan Lu cianpwe ?"
Tanya Oey Yok Su.
"Aku ingin meninggalkan pulau itu...!"
Sahut Lu Liang Cwan.
"Maka yang terpenting kita kembali kepulau untuk mengambil air minum dan makanan. Setelah itu kita berlayar lagi...!.
"Kita......?"
"Ya.... !".
"Jadi Lu Cianpwe akan mengajakku, tidak akan meninggalkan aku dipulau itu ?"
Tanya Oey Yok Su menegasi.
"Ya.... !".
"Baiklah kalau begitu, lalu bagaimana dengan Lauw Cianpwe ?"
"Aku lebih senang tinggal dipulau itu, jika memang kalian mau pergi, pergilah...... aku masih senang tinggal dipulau yang tenang itu.......!'' Setelah memperoleh kepastian seperti itu, Oey Yok Su memutar haluan perahunya, menuju kepantai pulau tersebut lagi. ---oo^Dewi-kz~0~Tah^oo---BAGIAN 18 . MENINGGALKAN PULAU TERPENCIL RUPANYA Lu Liang Cwan memang menepati janjinya, ia telah turun kedarat bersama Lauw Cie Lan. Kemudian Lu Liang Cwan kembali lagi dengan membawa perbekalan air minum dan makanan. Sedangkan Lauw Cie Lan sudah tidak kelihatan lagi, rupanya dia telah kembali kegoanya. Waktu itu, dengan ringan Lu Liang Cwan melompat kedalam perahu.
"Mari kita berangkat...!"
Ajaknya.
Oey Yok Su girang, sekarang dia tidak perlu kuatir untuk ditinggal seorang diri dipulau itu.
Dengan bersemangat dia mengayuh perahunya yang laju sekali.
Sekarang dia juga sudah tidak perlu kuatir akan kehausan dan kelaparan, karena Lu Liang Cwan telah membawa perbekalan minuman dan makanan.
Tetapi justru yang mengejutkan Oey Yok Su ketika perahu berlayar jauh, sekali, berada ditengah laut Lu Liang Cwan membuka buntalan perbekalannya dan mengambil tempat air yang diteguknya beberapa kali, kemudian disimpannya lagi.
Oey Yok Su hanya memandangi saja kelakuan orang tua she Lu, itu dengan leher yang kering, karena iapun mulai haus.
Namun Lu Liang Cwan, tidak membaginya, bahkan telah meminum seenaknya sambil berdahak tidak hentinya.
"Bagi aku airnya Lu Cianpwe...!"
Pinta Oey Yok Su.
"Membagimu ?"
Tanya Lu Liang Cwan tiba-tiba.
"Aku haus sekali, locianpwe...!"
"Itu urusanmu, tidak ada urusan denganku......!"
"Locianpwe......!"
"Ini airku dan makanan ini adalah makananku.... mengapa engkau tadi tidak mau membawanya juga ?"
Balik tanya Lu Liang Cwan. Pertanyaan jago tua yang perangainya aneh itu membuat Oey Yok Su jadi dingin hatinya, dia kaget bukan main.
"Locianpwe..... bukankah kita akan bersama-sama berlayar...?"
Tanyanya kemudian.
"Ciss......, siapa yang kesudian berlayar bersamamu ? Bukankah sejak dulu aku telah mengatakan, aku lebih senang -berlayar sendiri dan meninggalkan engkau dipulau itu ? Siapa yang perintahkan engkau begitu bandel dan keras kepala, memaksa hendak turut berlayar ! Maka jika engkau kehausan dan kelaparan dalam perjalanan ini, engkau tidak boleh menyesali aku.......!"
Oey Yok Su merasakan punggungnya jadi tambah dingin.
"Locianpwe.........?"
"Sudah jangan terlalu banyak bicara lagi, jangan rewel, dayung terus...!"
Kata Lu Liang Cwan.
"Aku ingin melihat kau mampus dilaut.......!"
Hati Oey Yok Su jadi semakin tidak enak, sampai akhirnya ia mengeluh sendirinya.
Perangai, orang tua ini benar-benar aneh dan agak kejam.
Dengan dibiarkannya dia kehausan dan kelaparan, tentu akan membuat dia mati dengan sendirinya, mati lemas.
Atau juga jika Lu Liang Cwan ingin mencelakainya disaat mereka berada ditengah laut, bukankah pemuda ini tidak bisa berbuat banyak ?
Karena berpikir begitu, Oey Yok Su jadi mengayuh dengan pandangan mata memandang jauh kosong tidak mengandung perasaan apapun juga.
Lu Liang Cwan telah tertawa bergelak, sambil katanya kemudian.
"Baiklah.......! Baiklah........! Jika memang engkau tidak mau mampus kehausan dan kelaparan, lebih baik sekarang saja engkau menceburkan dirimu dilaut ini..........!"
"A......apa ?'' tanya Oey Yok Su dengan suara tersendat karena kaget.
"Serahkan kayu pengayuh itu padaku, dan kau boleh menceburkan dirimu dilaut...!"
Menyahuti Lu Liang Cwan.
"Akhh......., locianpwe seorang yang kejam sekali !"
Kata Oey Yok Su yang sudah tidak bisa menahan kemendongkolan hatinya.
"Terserah engkau mau mengatakan apa saja pada diriku, ayo serahkan kayu pengayuh itu padaku...!"
Kata Lu Liang Cwan. Disaat itulah Oey Yok Su telah mengambil keputusan.
"Aku tidak akan menyerahkan kayu pengayuh ini padamu........!"
Katanya tegas, dengan muka yang merah karena marah.
"Eh, apa kau bilang ? Tidak mau menyerahkan kayu pengayuh itu padaku ?"
Tanya Lu Liang Cwan menegasi dengan membuka matanya lebar-lebar mengawasi mendelik kepada Oey Yok Su. Oey Yok Su mengangguk pasti, entah mengapa, sekarang hatinya jadi agak-tenang.
"Benar, tidak salah !"
Katanya.....
"Aku tidak akan menyerahkan kayu pengayuh ini kepadamu... jika engkau berani mendekati aku selangkah saja, aku akan membuang kayu pengayuh ini kelaut, biar engkau berlayar tanpa memiliki kayu pengayuh, sehingga engkau sendiri akan terombang-ambing ditengah laut, dan akhirnya air dan makananmu akan habis, dan engkau akan mati dengan disiksa haus dan lapar...!" . Mendengar perkataan Oey Yok Su, muka Lu Liang Cwan jadi berobah, dia memandang bengong pada Oey Yok Su sampai sekian lama. Tetapi Oey Yok Su sudah tidak memperdulikan sikap jago tua yang perangainya sangat aneh itu.
"Kau...kau berani melakukannya itu ?"
Tanya Lu Liang Cwan dengan suara tidak lancar.
"Mengapa tidak berani ? Bukankah aku bisa saja membuang kayu pengayuh ini ?"
Tanya Oey Yok Su.
"Hemm........., jangan harap engkau bisa mencapai daratan.........!"
"Kau bersungguh-sungguh.........?"
Tanya Lu Liang Cwan lagi.
"Mengapa tidak ?"
Balik tanya Oey Yok Su.
"Aku sudah tidak memiliki kesempatan hidup karena berada bersama-sama dengan manusia jahat dan busuk seperti engkau, maka biarlah engkaupun nanti akan mampus haus dan kelaparan...........l"
Muka Lu Liang Cwan telah berobah lagi, namun akhirnya ia berkata .
"Engkoh kecil, engkau jangan marah, aku tidak bersungguh-sungguh, aku hanya bergurau saja Engkau jangant cepat marah seperti itu jika engkau ingin minum, minumlahaku tidak akan melarangnya bukankah air dan makanan itu untuk kita berdua ?" .
"Hemm........, engkau licik sekali", berpikir Oey Yok Su. Tetapi pemuda ini telah berkata.
"Sekarang engkau pergi keujung perahu, aku akan minum Aku tahu, jika engkau berada disini, begitu aku memegang kantong air itu, tentu engkau akan melancarkan serangan padaku! Maka dari itu, engkau pergilah kekepala perahu!" .
"Engkau terlalu bercuriga, anak muda......!"
Kata. Lu Liang Cwan kurang senang.
"Justru karena perbuatanmu sendiri !"
Menyahuti Oey Yok Su.
Lu Liang Cwan sudah tidak memiliki pilihan lain lagi, ia menuju kearah kepala perahu, dan setelah Lu Liang Cwan berdiri dikepala perahu, barulah Oey Yok Su mendekati kantong air dan meminumnya.
Disamping itu Oey Yok Su juga bersiap-siap untuk melemparkau kayu pengayuh kalau saja Lu Liang Cwan melompat padanya melancarkan serangan.
Lu Liang Cwan juga bukannya tolol, dia telah melihat persiapan Oey Yok Su, maka dia tidak berani bertindak ceroboh, hanya mengawasi pemuda itu yang telah meneguk air dari kantong airnya dengan bernafsu sekali.
Setelah puas meminum air itu, dan telah lenyap hausnya, Oey Yok Su kembali ketempat duduknya dan mulai mengayuh lagi.
Tetapi tiba-tiba Lu Liang Cwan tertawa bergelak dengan suara yang keras.
Melihat kelakuan orang tua itu Oey Yok Su jadi heran, dia mengawasinya.
"Apa yang engkau tertawakan?"
Tanyanya kemudian dengan perasaan tidak senang.
"Engkau........! Kau yang kutertawakan...!"
Sahut Lu Liang Cwan.
"Kenapa ?"
Tanya Oey Yok Su.
"Engkau bersikap seperti itu, tetapi justru persiapanmu kurang bagus......kita bersama-sama berada diperahu ini.......!"
"Benar, lalu mengapa kau tertawa seperti itu ?"
Tanya Oey Yok Su lagi.
"Apakah engkau akan mengayuh terus siang dan malam tanpa tidur ?"
Balik tanya Lu Liang Cwan.
Di tanya begitu, pucatlah wajah Oey Yok Su, dia baru tersadar.
Bukankah jika dia letih dan malamnya tertidur, Lu Liang Cwan dengan mudah akan mencelakainya ?
Tetapi sebagai seorang pemuda yang memiliki otak sangat cerdas dan cerdik sekali, dia tidak memperlihatkan perasaan gugupnya.
Sambil tertawa Oey Yok Su telah berkata lagi .
"Justru akupun telah memikirkan-nya, maka aku bertekad, untuk membalikkan perahu ini sekarang saja, biar kita mampus bersama-sama...!"
Tubuh Lu Liang Cwan jadi terjengkit dan melompat berdiri.
"Apa ? Apa kau bilang ?"
Tanyanya dengan suara yang gugup.
"Aku sudah tidak bermaksud untuk hidup terus, maka aku ingin membalikkan perahu ini agar kita mati berdua tenggelam dilaut......! Bukankah itu cara yang bagus ? Memang jika aku terus mengayuh, tentu aku tidak akan kuat, dan akupun tentu akan tertidur, maka bisa saja engkau mencelakai aku........karena engkau seorang golongan tua yang jahat dan kejam..........maka dari itu aku berpikir alangkah baiknya jika sekarang saja kita mati bersama........!"
Sambil berkata begitu, Oey Yok Su telah berdiri dari duduknya, kaki kanannya diinjaknya pada tepian perahu.
Sekali saja Oey Yok Su menekan, tentu perahu itu akan miring dan terbalik.
Hati Lu Liang Cwan tercekat, dia mengeluarkan seruan kaget.
"He, apa yang kau lakukan Gila kau ?"
Teriaknya gugup sekali.
Waktu itu mereka berada ditengah laut, jika perahu mereka terbalik, tentu mereka akan tenggelam dilaut tersebut, dan akan menjadi santapan ikan-ikan ganas dilautan ini.
Tetapi Oey Yok Su tetap meletakkan kaki kanannya ditepi perahu itu sambil berkata dengan tenang.
"Sekali saja aku mengerahkan tenaga menekan injakanku ini pada tepian perahu ini, maka perahu ini akan karam......walaupun engkau hendak mengimbanginya ditepian lain dengan kekuatan lwekangmu, namun dengan mengulur kedut tenaga injakan ini, perahu akan bergoyang-goyang dan akhirnya akan tenggelam juga...!"
Muka Lu Liang Cwan jadi pucat, dia bilang .
"Aku belum mau mati, jika memang engkau telah bosan hidup, silahkan engkau terjun sendiri kedalam laut untuk mampus...!"
"Yang aku kehendaki justru kita mati bersama-sama, hingga nanti aku tidak akan kesepian melakukan perjalanan untuk menghadapi Giam-lo-ong" . Muka Lu Liang Cwan jadi tambah pucat.
"Jangan kau lakukan perbuatan gila seperti ini !"
Katanya kemudian dengan gugup.
"Aku minta, engkau jangan berpikiran nekad seperti itu...!".
"Hemm........, kalau memang memiliki kepentingannya dengan keselamatan jiwamu, maka engkau jadi begitu sibuk !"
Kata Oey Yok Su.
"Engkau golongan tua yang jahat, yang tidak bisa memberikan kepercayaan pada golongan muda! Lalu apa yang engkau kehendaki ? Engkau mengancam akan membinasakan aku, maka jika memang demikian, lebih baik sebelum aku dibinasakan oleh engkau secara penasaran, biar!ah aku yang membinasakan diri kita berdua!" . Bukan main gugupnya Lu Liang Cwan, dia sambil berseru .
"Jangan......! jangan.....!"
Kakinya melangkah ingin mendekati Oey Yok Su.
"Selangkah lagi kau maju, aku akan mengerahkan tenaga untuk menenggelamkan perahu ini...!"
Mengancam Oey Yok Su.
"Engkau percayalah, aku tidak bermaksud mencelakaimu, aku hanya bergurau saja, tadi aku hanya ingin main-main menggertakmu, untuk melihat sampai berapa jauh keberanian yang engkau miliki...!"
Kata Lu Liang Cwan kemudian dengan suara yang sabar.
"Hemm, mulutmu yang manis seperti itu sulit bisa dipercayaaku telah melihat beberapa kali engkau selalu mencari, jalan untuk mencelakai diriku Maka sekarang, sebelum engkau sempat mencelakai aku, lebih baik kita berdua celaka bersama!" .
"Sungguh, aku tidak akan mencelakaimu..."
Bersumpah Lu Liang Cwan.
"Aku berani bersumpah pada langit dan laut, bahwa aku tidak akan mencelakai kau, engko kecil. Jika aku melanggar sumpahku ini, biarlah tubuhku ditelan oleh keganasan laut.......rusak dimakan ikan dan tidak diterima tanah.......biarlah aku mati dengan keadaan yang paling mengerikan...!" . Oey Yok Su tersenyum, dia melihat bahwa orang tua she Lu itu memang sudah mulai bisa dikuasainya, maka dia bilang.
"Kita berlayar berdua, jika memang engkau tidak bermaksud mencelakai aku, lebih baik kita mengadakan suatu kerja sama untuk dapat mencapai daratan... Baiklah, aku batal untuk membalikkan perahu ini.......... Tetapi engkau harus berjanji, walaupun sampai kapan engkau tidak akan mencelakai aku.......! Engkau harus berjanji......!"
"Aku berjanji, aku berjanji seribu janji, tidak akan mencelakaimu, walaupun sampai kapan.!"
"Apakah kata-katamu itu bisa dipegang?"
Tanya Oey Yok Su.
"Apakah engkau ingin membuktikannya setelah aku menangis ?"
Tanya Lu Liang Cwan yang tidak mengetahui kata-kata apa lagi yang bisa diucapkannya.
"Tidak perlu menangis, engkau bukan anak kecil !"
Kata Oey Yok Su.
"Yang terpenting adalah hatimu jangan diliputi oleh nafsu membunuh........... Jika kita bisa mencapai daratan, bukankah itu menggembirakan buat kita berdua Dengan adanya kawan, kita bisa melakukan perjalanan. dengan gembira !'' "
Ya, ya, aku menerima salah!"
Mengangguk Lu Liang Cwan.
"Bagus........! Tetapi terus terang, aku tidak bisa mempercayai sepenuhnya perkataanmu itu...!"
Kata Oey Yok Su lagi.
"Habis bagaimana yang kau kehendaki ?"
Tanya Lu Liang Cwan.
"Tidak banyak, kejujuranmu saja...!"
Sahut Oey Yok Su sambil tersenyum.
Lu Liang Cwan tertawa bergelak-gelak, tampaknya ia mendongkol sekali, tetapi karena mengetahui mereka bisa celaka bersama-sama ditengah laut jika ia mempergunakan kekerasan, Lu Liang Cwan telah menindih kemendongkolannya itu, ia bertanya lagi setelah puas tertawa untuk mengurangi kemendongkolannya itu.
"Lalu sekarang apa yang engkau kehendaki ?"
"Tidak banyak...!"
Sahut Oey Yok Su.
"Tunggu dulu, aku hendak memikirkan dulu dengan cara apa kita bisa menyelesaikan urusan ini" . Dan setelah berkata begitu, Oey Yok Su seperti berpikir sejenak, kemudian ia berkata lagi dengan suara yang pasti .
"Aku menghendaki kita berpisah...!"
"Boleh! Memang akupun sebal melihat wajahmu terus-terusan Tetapi bagaimana caranya berpisah, sedangkan kits berada-ditengah Laut?" .
"Inilah yang jadi persoalan Jika kita bukan berada ditengah laut, tentu aku tidak perlu memberitahukan kepadamu bahwa kita harus berpisah, aku bisa saja meninggalkanmu secara diam-diam" .
"Engkau saja yang terjun kelaut dan berenang. Bukankah kita jadi berpisah ?"
Tanya Lu Liang Cwan sambil tertawa tawar.
Oey Yok Su tambah mendongkol, ia tahu bahwa biar bagaimana mereka sulit sekali berpisah, karena berada ditengah laut didalam sebuah perahu.
Dan sulitnya lagi ia tidak mengetahui entah berapa lama mereka akan terkatung-katung ditengah laut, sehingga dengan demikian berarti ia memerlukan penjagaan yang ketat untuk dapat menyelamatkan jiwanya dari Lu Liang Cwan yang liehay itu, yang bisa saja membokongnya dengan melancarkan serangan mematikan.
Keduanya jadi berdiam diri, perahu berlayar perlahan sekali, dipermainkan oleh riak gelombang air laut.
Oey Yok Su tampak berpikir keras, sedangkan Lu Liang Cwan berdiri menantikan apa yang ingin dikemukakan oleh Oey Yok Su.
Tetapi yang jelas Lu Liang Cwan tidak berani mengambil tindakan keras dengan ceroboh, sebab ia tidak mau jika Oey Yok Su nekad dan benar-benar membalikkan perahu mereka, sehingga mereka akan celaka bersama-sama ditengah laut ini.
Tetapi disaat Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan berdiam diri, tiba-tiba Oey Yok Su melihat burung laut.
Seketika mukanya berobah jadi berseri-seri.
Begitu juga halnya dengan Lu Liang Cwan, ia telah menunjuk kearah burung-burung laut yang tengah beterbangan tinggi dan rendah tidak menentu.
"Kita akan sampai didaratan...!"
Katanya.
"Lihatlah, burung itu menunjukkan bahwa disekitar kita ini terdapat daratan...!"
Oey Yok Su mengangguk girang, tetapi sambil menunjuk Lu Liang Cwan ia telah berkata.
"Dengan pakaianmu seperti itu bagaimana engkau akan berkeliaran didaratan, tentu engkau hanya menjadi tontonan yang menarik......!" . Lu Liang Cwan menundukkan kepala mengawasi pakaiannya, kemudian dia tertawa sambil katanya.
"Biarlah, aku justru ingin melihat apa yang akan dibicarakan oleh orang-orang yang melihat aku berpakaian demikian !"
Oey Yok Su sudah tidak melayani Lu Liang Cwan, ia telah menggerakkan kayu pengayuhnya nembali untuk mendayung, perahunya meluncur cepat sekali.
Memang tidak lama kemudian, dihadapan mereka tampak daratan yang luas, pantai yang lebar, dimana tampak banyak para nelayan yang tengah membereskan perahu mereka.
Rupanya dipesisir pantai tersebut terdapat perkampungan nelayan.
Oey Yok Su mengayuh lebih cepat, sehingga perahu mereka telah berhasil mencapai pantai.
Waktu perahu masih terpisah beberapa tombak dari pantai, Lu Liang Cwan telah melompat turun dengan gesit dari perahu.
Sedangkan Oey Yok Su juga telah turun dari perahu itu setelah tiba dipesisir pantai tersebut.
Beberapa orang nelayan telah mengawasi mereka dengan tatapan mata heran, apa lagi mereka melihat cara berpakaian yang dikenakan oleh Lu Liang Cwan.
Tetapi nelayan-nelayan itu tidak usil, mereka telah meneruskan lagi pekerjaan mereka, ada yang tengah membersihkan perahu mereka, ada yang tengah menambal jala dan mereka tidak begitu mengacuhkan kedatangan kedua orang asing tersebut.
Oey Yok Su melihat Lu Liang Cwan telah berlari cepat sekali, sekejap mata saja telah lenyap dari pandangan matanya.
---oo~DewiKZ^0^Tah~oo---BAGIAN 19 .
ILMU ARWAH DINGIN DAN PANAS (IM YANG HUN) OEY YOK SU menghela napas, karena dengan berpisahnya ia dari Lu Liang Cwan, berarti dirinya sudah tidak akan diganggu oleh kelakuan orang she Lu itu, yang tua-tua tetapi memiliki perangai seperti anak kecil.
Oey Yok Su menghampiri seorang nelayan berusia agak lanjut yang tengah merajut jalanya, ia memberi hormat sambil tanyanya.
"Lopeh (paman), dimanakah kampung terdekat dipesisir sini"
Orang tua itu, yang telah menunda pekerjaannya merajut jalanya, telah mengawasi Oey Yok Su sejenak, lalu ia berkata .
"Anak muda, dipesisir ini hanya terdapat sebuah perkampungan, yaitu perkampungan kami, yang bernama Kuang-cie"
Oey Yok Su menyatakan terima kasihnya, sedangkan nelayan tua itu telah memberikan petunjuknya agar Oey Yok Su mengambil jalan kearah barat.
Setelah beberapa lama ia terkurung dipulaunya Lu Liang Cwan dan Sian Ho Lauw Cie Lan, Oey Yok Su sekarang jadi girang bisa kembali berada dialam bebas tanpa kekangan.
Bahkan Oey Yok Su mengharapkan Lu Liang Cwan pergi jauh dari tempat itu dan tidak perlu bertemu lagi.
Karena orang she Lu itu sangat berandalan sekali, walaupun usianya telah lanjut, tokh ia masih merupakan seorang tua yang tidak kenal aturan.
Saat itu hari belum begitu sore, dan Oey Yok Su telah mengikuti petunjuk nelayan tua itu, akhirnya ia tiba diperkampungan Kuang-cie, sebuah perkampungan yang tidak begitu besar.
Penduduk kampung itupun tidak begitu banyak, hanya terdiri dari dua puluhan lebih keluarga.
Umumnya mereka memiliki mata pencarian sebagai nelayan.
Oey Yok Su setelah mengelilingi perkampungan itu melihat hanya ada sebuah warung teh yang kecil dan kurang begitu terawat, dan juga sepi.
Waktu Oey Yok Su memasuki warung teh tersebut, ia tidak melihat seorang tamupun juga, sedangkan pemilik kedai teh itu tengah duduk termenung saja, sambil matanya meram melek.
"Lopeh......!"
Kata Oey Yok Su, mengejutkan orang tua itu, sampai dia melompat berdiri.
"Aku minta teh...!" . Segera pemilik warung teh itu mempersiapkan pesanan Oey Yok Su, ia juga menyediakan dua kati teh sambil membawa sepiring bakpauw.
"Anak muda, tampaknya engkau bukan penduduk disekitar tempat ini" , kata pemilik kedai teh itu disaat meletakkan cawan teh diatas meja.
"Apakah kau tengah melakukan perjalanan jauh?"
Oey Yok Su mengangguk saja, karena ia tidak mau terlalu banyak bicara.
Yang terpenting ia menikmati teh yang harum dan bakpauw itu, guna melenyapkan perasaan laparnya.
Tetapi pemilik kedai itu telah mengawasi terus menerus tamunya, sampai akhirnya ia berkata .
"Kemanakah tujuan Kongcu ?".
"Entahlah, aku sendiri belum lagi mengetahui", sahut Oe'y Yok Su.
"Dari perkampungan ini, jika kita berjalan terus, maka kita akan tiba dimana, Lopeh?".
"Pertama-tama terpisah lima ratus lie dari tempat ini terdapat sebuah kota yang cukup besar, yang bernama kota Chung-kie, kemudian terdapat kota-kota lainnya yang lebih kecil, seperti Lang-siung, Cie-Lie dan Mang-lu" .
"Terima kasih Lopeh...........!"
"Adakah sesuatu yang bisa aku tolong, Kongcu ?"
Tanya pemilik kedai teh itu lagi. Oey Yok Su tertawa, kemudian katanya.
"Baiklah Lopeh, bisakah Lopeh memberikan penjelasan dimana sekiranya aku bisa memperoleh rumah penginapan ?"
"Dikampung ini tidak terdapat sebuah rumah penginapan, Kongcu....... jika memang Kongcu ingin singgah beberapa hari disini, biarlah akupun bersedia memberikan kamar untuk Kongcu, kebetulan aku hanya hidup seorang diri, sehingga rumahku masih bisa menampung seorang seperti kau !"
Girang hati Oey Yok Su mendengar keramah-tamahan orang tua itu, ia mengucapkan terima kasihnya.
Begitulah, dua hari Iamanya Oey Yok Su menginap dirumah pemilik kedai itu.
Perkampungan ini memang sepi, sedikit sekali penduduknya.
Maka kurang begitu menarik hati Oey Yok Su, ia bermaksud akan melanjutkan perjalanannya lagi.
Dihari ketiga, keinginannya itu disampaikan kepada orang tua pemilik kedai itu"
Sebetulnya pemilik kedai itu senang Oey Yok Su tinggal dirumahnya, namun disebabkan Oey Yok Su telah berkeras ingin berangkat juga, tidak bisa pemilik kedai itu menahannya.
Dengan menuruti petunjuk yang diberikan orang tua itu, Oey Yok Su mengambil jalan kearah barat.
la ingin mencapai kota Chung-kie.
Disaat itu, perjalanan kurang begitu menyenangkan, tanah sangat kering dan panas sekali, karena disekitar tempatt tersebut tanah tandus sekali.
Tetapi Oey Yok Su melakukan perjalanan terus, karena ia tidak mau terlalu lama berada ditempat seperti itu.
Sedang Oey Yok Su berjalan, hari telah semakin tinggi, malah disaat sang senja hampir tiba, Oey Yok Su masih belum juga bertemu dengan rumah penduduk.
Rupanya perjalanan dari perkampungan nelayan dipesisir pantai itu untuk mencapai kota Chung-kie memang tidak terdapat rumah penduduk.
Maka Oey Yok Su berkeputusan untuk tidur dialam terbuka jika memang sang malam telah tiba.
Tetapi, disaat itu Oey Yok Su melihat sesuatu didepannya, yaitu disebuah permukaan hutan kecil yang tidak begitu subur, karena tanah disekitar tempat tersebut memang gersang dan tandus.
Dibawah sebatang pohon tampak berdiri sesosok tubuh, dan yang lebih mengherankan Oey Yok Su waktu ia menegaskan sosok tubuh itu tidak lain dari seorang wanita yang cantik sekali, dilihat dari potongan tubuh dan wajahnya mungkin baru berusia dua puluh tahun lebih, pakaiannya juga reboh dan mewah sekali, dan saat itu si wanita tengah berdiri mengawasi Oey Yok Su dengan bibir tersungging senyuman.
Oey Yok Su tidak berani terlalu lama memandang wanita itu, ia telah membuang pandang kelain arah sambil meneruskan langkahnya, walaupunn hatinya jadi heran juga ditempat seperti itu bisa terdapat seorang wanita yang secantik itu hanya seorang diri.
Tetapi baru Oey Yok Su melangkah beberapa tindak, justru wanita yang cantik itu telah melompat gesit sekali, tahu-tahu tubuhnya berada dihadapan Oey Yok Su, menghadang jalannya pemuda ini.
"Tunggu dulu, pemuda yang manis" , kata wanita tersebut dengan suara yang lembut'. Oey Yok Su jadi malu, ia cepat-cepat merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat kepada wanita itu, tanyanya.
"Ada urusan apakah Kouwnio (nona) ? Adakah sesuatu yang bisa kubantu ?" . Wanita itu telah tersenyum-senyum mengawasi Oey Yok Su dengan sorot mata yang tajam, dan Oey Yok Su jadi berdebar hatinya, karena ia merasa malu dan kikuk berhadapan dengan perempuan secantik itu dengan sikap seperti ini.
"Tentu, tentu, banyak pertolongan yang bisa kau berikan, jika memang engkau bersedia untuk menolongku...!"
Kata wanita itu seperti menggumam sendiri dengan suara yang perlahan, dan iapun terus juga mengawasi Oey Yok Su dengan sorot mata yang tajam, siapa telah diawasinya dari kepala sampai keujung kakinya.
Dan tidak lama kemudian wanita itu telah menggumam lagi.
"Seorang pemuda yang tampan dan manis...gagah pula !" . Oey Yok Su jadi tambah kikuk dan jengah. la telah berkata dengan suara yang ragu-ragu.
"Ada kesulitan apakah Kouwnio, bisa Kouwnio jelaskan, bantuan apa yang bisa kuberikan untuk Kouwnio?" . Waktu bertanya begitu, hati Oey Yok Su sudah kurang tenang, karena ia tidak-menyukai tabiat wanita yang tampaknya agak jalang dan matanya memancarkan kebinalan dan genit.
"Siapakah namamu, Kongcu ?"
Tanya wanita itu kemudian.
"Siauwte she Oey dan bernama Yok Su", sahut Oey Yok Su jujur.
"Siauwmoy (adik) she Bong dan bernama Kim Lian " , kata wanita cantik tersebut tanpa diminta oleh Oey Yok Su.
"Maukah Kongcu singgah sejenak dirumah Siauwmoy, untuk membicarakan sesuatu...?" . Oey Yok Su ragu-ragu. Tetapi waktu itu Bong Kim Lian telah berkata lagi.
"Disana nanti Siauwmoy akan menjelaskan kesulitan yang tengah diderita oleh Siauwmoy...!" . Oey Yok Su akhirnya terpaksa mengangguk juga. la memang tengah memikirkan dimana ia harus bermalam. Bukankah jika memang didekat tempat ini terdapat rumah si gadis, ia bisa bermalam satu malaman dan lebih hangat dibandingkan harus tidur dialam terbuka ? "Baiklah", kata Oey Yok Su kemudian.
"Jauhkah letak rumah Kuuwnio ?"
Tanyanya kemudian, dan ia masih tidak berani mengangkat kepalanya membalas menatap wanita itu, sebab ia melihat wanita tersebut masih juga mengawasinya dengan sorot mata yang tajam.
Bong Kim Lian si Wanita cantik itu telah menggelengkan kepalanya, ia tertawa dan bilangnya.
"Tidak..., tidak jauh, hanya terpisah beberapa lie dari tempat ini...!"
Dan kemudian Kim Lian membalikkan tubuhnya sambil mengajak .
"Mari kita berangkat...!"
Tampaknya Bong Kim Lian girang sekali, wajahnya yang cantik berseri-seri.
Oey Yok Su sendiri heran.
Belum pernah ia melihat wanita secantik Kim Lian.
Kulit mukanya begitu halus dan bersih, putih dan lembut, seperti juga salju.
Padahal disekitar tempa ini memiliki udara yang tidak baik, yaitu panas dan gersang.
Setelah melewati hutan itu, Oey Yok Su melihat mereka tiba disebuah lapangan rumput.
Tetapi rumput-rumput yang tumbuh disekitar tempat tersebut kering dan gersang, karena memang pengaruh tanahnya yang tidak subur.
Dibawah sebatang pohon yang agak besar dan rimbun, tampak sebuah bangunan yang tidak begitu besar.
Namun bersih.
"Itulah rumah Siauwmoy...!"
Kim Lian menjelaskan. la telah menunjuk rumah itu dan mengundang Oey Yok Su untuk singgah.
"Dirumah itu terdapat siapa saja, Kouwnio ?"
Tanya Oey Yok Su yang mulai ragu-ragu karena ia melihat keadaan disekitar tempat itu sunyi-sunyi saja.
Jika memang gadis itu hanya tinggal seorang diri, jelas Oey Yok Su tidak akan enak untuk bermalam.
Bukankah tidak pantas bermalam dirumah seorang gadis yang hanya berseorang diri ?
Kim Lian telah tertawa.
"Dirumah ini aku hanya tinggal seorang diri", dia menjelaskan.
"Mari Kongcu...!" . Hati Oey Yok Su jadi tidak enak, tetapi disebabkan telah terlanjur datang ditempat ini, maka ia melangkah juga mengikuti Kim Lian memasuki rumah tersebut. Tetapi dihatinya Oey Yok Su memutuskan, jika pembicaraan mereka telah selesai, ia akan meminta diri pamitan, untuk melanjutkan perjalanannya. Tidak mau Oey Yok Su bermalam dirumah seorang gadis, yang hanya seorang diri saja. Waktu itu, Kim Lian telah berkata dengan suara yang halus.
"Duduklah dulu Kongcu, aku akan mempersiaphan minuman untukmu..." . Oey Yok Su hanya mengiyakan, selama Kim Lian meninggalkannya diruang tamu, ia melihat seluruh perabotan yang terdapat diruangan tersebut hanyalah perabotan yang kasar dan juga tidak banyak macamnya, hanya dua buah kursi, sebuah meja yang berukuran kecil, dan tidak terdapat lainnya. Oey Yok Su mengerutkan alisnya, dia jadi berpikir keras menduga-duga, entah siapa gadis itu, yang berani tinggal seorang diri ditempat seperti ini. Yang membuat Oey Yok Su semakin tidak mengerti, justru tadi waktu gadis itu melompat menghadalangi jalannya, gerakan gadis itu gesit sekali, seperti juga ia memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang mahir. Waktu Oey Yok Su tengah duduk termenung begitu dengan pikiran bekerja, Kim Lian telah keluar pula dari dalam. Gadis itu duduk dikursi yang satunya lagi setelah menyediakan Oey Yok Su secawan air teh.
"Silahkan minum, Kongcu !"
Kata Kim Lian dengan ramah.
Tetapi sambil mempersilahkan tamunya, Kim Lian terus juga mengawasi tamunya dengan sorot mata yang tajam.
Dan yang membuat Oey Yok Su jadi tidak tenang justru sinar mata wanita ini tajam dan mengandung kegenitan serta kebinalan.
"Sesungguhnya Kouwnio memiliki kesulitan apa yang bisa kutolong ?"
Tanya Oey Yok Su kemudian.
"Minumlah dulu untuk melenyapkan dahaga", kata Kim Lian tersenyum.
"Urusanku itu bisa dibicarakan perlahan-lahan...... Silahkan..." . Oey Yok Su akhirnya mengambil cawan tehnya, dia meneguknya. Tetapi hatinya jadi heran, teh itu harum sekali, sangat harum bahkan harumnya itu berbeda dengan harumnya teh biasa. Oey Yok Su jadi heran, entah teh apa yang dipergunakan gadis ini. Tetapi karena memang Oey Yok Su pun tengah haus, ia telah meneguk teb itu sampai setengah cawan. Melihat tamunya telah meminum teh yang disajikan, wanita itu tertawa.
"Bagus ! Sekarang Siauwmoy akan menceritakan kepada Kungcu kesulitan yang dialami oleh Siauwmoy...!"
Kata Kim Lian. Oey Yok Su telah mendengarkan baik-baik penjelasan, Wanita itu, dengan pikiran tidak menentu. Disaat itulah tampak Kim Lian sambil tersenyum-senyum telah meneruskan perkataannya.
"Sesungguhnya Siauwmoy tengah membutuhkan sekali pertolongan seorang pemuda yang tampan dan gagah, memiliki kepandaian sinkang yang tinggi.....!"
Kata-kata wanita itu mengejutkan Oey Yok Su, karena dengan berkata begitu wanita tersebut tentunya mengetahui bahwa dirinya mengerti ilmu silat dan memiliki sinkang yang tinggi.
Tetapi Oey Yok Su saat itu masih mau menduga mungkin wanita ini diganggu oleh orang jahat yang memiliki kepandaian tinggi, sehingga, ia perlu mencari tuan penolongnya itu seorang yang memiliki sinkang mahir sekali.
Maka ia bertanya.
"Orang jahat manakah yang telah mengganggu Kouwnio ?" . Wanita itu menggelengkan kepalanya sambit tersenyum lebar.
"Tidak ada orang jahat yang mengganggu Siauwmoy !"
Kata wanita tersebut.
"Tetapi justru bantuan seorang pemuda seperti engkau sangat Siauwmoy butuhkan! Bukankah engkau belum menikah ?" . Ditanya persoalan menikah, muka Oey Yok Su iadi merah, ia jadi tidak mengerti mengapa wanita ini justru menanyakan hal itu.
"Apa hubungannya kesulitan Kouwnio dengan persoalan menikah atau belumnya diriku?"
Tanya Oey Yok Su kemudian.
"Kau akan mengetahuinya nanti, sekarang jawablah dulu pertanyaanku itu, bukankah Kongcu belum menikah ?" . Oey Yok Su telah mengangguk.
"Ya", sahutnya kemudian.
"Bagus !"
Kata wanita she Bong tersebut.
"Dengarlah serkarang, telah dua tahun Siauwmoy mencari seorang pemuda seperti Kongcu, tetapi selama itu Siauwmoy masih juga belum berhasil........dan diperkampungan dipesisir pantai itu memang terdapat banyak pemuda-pemuda yang memiliki tenaga yang kuat, namun sayangnya selain muka mereka buruk, juga mereka tidak mengerti sedikitpun sinkang dan ilmu tenaga dalam lainnya...........sehingga percuma saja mereka tidak bisa membantuku...!" . Oey Yok Su hanya memandang wanita itu menjelaskan kesulitannya dengan berdiam diri, karena Oey Yok Su benar-benar jadi heran dan diliputi tanda tanya entah apa sesungguhnya yang dikehendaki oleh wanita tersebut."
Tetapi rupanya Thian memang maha adil dan maha kuasa, siapa tahu hari ini Siauwmoy telah beruntung dapat bertemu dengan Kongcu.
Disamping Kongcu sangat tampan, pula memiliki sinkang yang tinggi sekali.
Siauwmoy mengetahui itu, karena melihat sinar mata Koagcu yang tajam sekali, dan juga langkah kaki Kongcu yang ringan telah menunjukkan bahwa Kongcu memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang mahir.
Hal itu tidak bisa terlepas dari mataku, bahwa Kongcu walaupun berusia masih sangat muda, tokh telah memiliki kepandaian yang sangat tinggi...!''.
"Jadi...apa maksud Kouwnio sesungguhnya ?"
Tanya Oey Yak Su sambil mengawasi wanita tersebut, ia merasakan sesuatu yang tidak enak pada dirinya, tubuhnya seperti menguap dan lemas tidak bertenaga.
Hal ini merupakan perobahan yang mengejutkan Oey Yok Su, ia jadi heran dan berusaha menyalurkan tenaga sinkangnya diam-diam, dan berusaha menindih perasaan lemasnya itu.
Namun ia tidak berhasil, tubuhnya dirasakan lesu seperti tidak bertenaga.
Hal ini tambah mengejutkan Oey Yok Su, ia tidak mengetahui mengapa dirinya jadi lesu demikian.
Saat itu Bong Kim Lian telah tertawa sambil berkata lagi.
"Sesungguhnya maksud Siauwmoy memang ingin meminta bantuan Kongcu ini, tergantung dari Kongcu juga hendak meluluskannya atau tidak!" .
"Jika memang Kouwnio belum menjelaskan urusan apa yang dapat kutolong, bagaimana dapat kukatakan sanggup atau tidak menolong Kouwnio ?" .
"Baiklah", kata Bong Kim Lian kemudian sambil tersenyum.
"Sesungguhnya aku tengah dalam kesulitan karena melatih semacam ilmu...".
"Kesulitan karena melatih diri dalam semacam ilmu?"
Tanya Oey Yok Su tambah heran. ---oo^dwkz~0~Tah^oo---"APAKAH KOUWNIO menghendaki petunjuk-petunjukku......?".
"Bukan...ilmu itu merupakan ilmu yang hebat sekali, mungkin Kongcu sendiri belum mengetahui ilmu itu...!"
Menyahuti Bong Kim Lian. Muka Oey Yok Su jadi berobah merah.
"Ya, memang sepantasnya jika Kouwnio meminta petunjuk kepada golongan locianpwe, bukankah kalangan tua itu bisa menolong? Sedangkan aku sendiri masih berusia muda, tentu tidak mungkin bisa memberikan banyak petunjuk"
Bong Kim Lian telah tertawa.
"Justru yang kukehendaki bukannya petunjuk darimu, adalah keinginanku untuk memperoleh sesuatu dari kau !"
Sahut Bong Kim Lian.
"Apa itu ?"
Tanya Oey Yok Su. Bong Kim Lian bangun dari duduknya, ia telah berkata .
"Mari kau ikut aku kesebuah ruangan untuk melihat sesuatu, mungkin kelak kau akan mengetahuinya ..!" . Oey Yok Su kaget, dia jadi ragu-ragu. Ikut dengan wanita cantik itu masuk kesebuah ruangan ? Untuk apa ? Bukankah hat itu tidak sopan jika diketanui orang lain? Tetapi Bong Kim Lian telah melambaikan tangannya mengajak Oey Yok Su untuk memasuki sebuah ruangan. Akhirnya Oey Yok Su mengikuti juga dibelakang gadis itu memasuki sebuah ruangan disebelah kanan rumah itu. Dan begitu masuk kedalam ruangan itu Oey Yok Su jadi berdiri tertegun. Ruangan itu merupakan ruangan yang kosong tidak terdapat sepotong barangpun juga. Dan keadaan diruangan itupun dingin. Yang membuat Oey Yok Su jadi tertegun justru ia melihat undakan anak tangga yang menuju kebawah tanah.
"Inilah jalan rahasia......!"
Pikir Oey Yok Su didalam hatinya.
"Sekarang kita menuruni undakan anak tangga itu untuk mencapai sebuah tempat, dimana kelak engkau akan mengetahuinya sendiri apa yang kukehendaki......!"
Mengajak Bong Kim Lian.
Oey Yok Su yang tengah diliputi oleh tanda tanya didalam hatinya oleh tindak-tanduk wanita cantik tersebut yang penuh rahasia dan membingungkan, hanya mengangguk sambil mengikuti dibelakangnya.
Mereka telah menuruni undakah anak tangga itu.
Tetapi hati Oey Yok Su kembali jadi tergoncang, karena ia merasakan sepasang kakinya lemas seperti tidak memiliki tenaga, setiap kali ia melangkah menuruni undakan anak tangga, ia merasakan kakinya agak tergetar.
Oey Yok Su juga tidak tahu dia akan diajak kemana, entah ruangan dibawah tanah itu merupakan ruangan bagaimana.
Tetapi Bong Kim Lian telah menuruni terus undakan anak tangga, sampai akhirnya menikung kekiri dan kekanan sebanyak tiga kali.
Tibalah mereka disebuah ruangan bawah tanah yang cukup luas.
Tetapi ruangan itu seperti ruangan diatas, tidak terdapat sepotong bendapun juga.
Hanya terlihat disudut ruangan ada sebuah kayu yang lebar.
Lain dari itu tidak ada apa-apa lagi.
"Apa maksud Kouwnio mengajakku kemari ?"
Tanya Oey Yok Su selang sejenak setelah mengawasi ruangan itu. Bong Kim Lian tersenyum, sikapnya tambah genit sekali.
"Kongcu, kau pandanglah aku...lihatlah, apakah aku cantik ?"
Tanya Bong Kim Lian. Darah Oey Yok Su jadi mendesir.
"Celaka, wanita ini tampaknya bukan wanita baik-baik...!"
Pikir Oey Yok Su.
la memang kurang pengalaman, karena baru sekarang ia berkelana dan belasan tahun berada dipulau Tho Hoa To, jauh dari pergaulan dengan masyarakat.
Sekarang melihat sikap wanita cantik yang genit ini, hatinya jadi tidak tenang.
"Kongcu", kata Bong Kim Lian lagi.
"Kau telah lihat, bukan ? Cantikkah aku ?"
Oey Yok Su jadi berobah mukanya merah dan panas, ia jadi tidak tenang.
"Sesungguhnya apa yang dikehendaki oleh Kouwnio ?"
Tanya Oey Yok Su lagi.
"Aku menginginkan pertolonganmu", sahut Bong Kim Lian.
"Tetapi jika memang engkau benar-benar dalam kesulitan, mengapa Kouwnio mengajak aku kemari ?"
Tanya Oey Yok Su, hatinya ingin cepat-cepat meninggalkan tempat ini.
"Justru ditempat inilah Kongcu bisa memberikan bantuanmu...!".
"Mengapa harus disini ?"
Bong Kim Lian tertawa.
"Kau akan segera mengetahuinya, Kongcu !"
Sahutnya.
Sambil tetap tersenyum, tiba-tiba tangan Bong Kim Lian telah membuka pakaian luarnya dilemparkan kesamping, sehingga ia berdiri dihadapan Oey Yok Su hanya dengan tubuh terbungkus pakaian dalam.
"Lihatlah Kongcu, pandanglah, tidakkah tubuhku sangat indah ?"
Tanyanya. Tubuh Oey Yok Su jadi gemetar karena marah, ia telah berkata sengit.
"Engkau ternyata bukan manusia baik-baik ! Aku tidak bisa menolongmu...aku akan segera pergi !" . Dan setelah berkata begitu, Oey Yok Su membalikkan tubuhnya, ia bermaksud menaiki undakan anak tangga. Tetapi kakinya semakin lemas seperti tidak bertenaga, sehingga lambat sekali ia mendaki undakan anak tangga itu. Kim Lian telah tertawa.
"Mau kemana kau, Kongcu ?"
Tegurnya.
"Bukankah ditempat lni tenang dan nyaman ? Apakah engkau benar-benar tidak bersedia meno!ongku ?"
"Tetapi jika menolongmu untuk melakukan perbuatan mesum dan kurang ajar, aku tidak bersedia...!"
Menyahuti Oey Yok Su dengan suara ketus karena jengkel dan mendongkol.
"Duduklah disini dulu, aku akan menceritakan, nanti engkau akan mengetahuinya" , kata Bong Kim Lian sambil menunjuk kearah lempengan kayu yang terdapat disudut ruangan tersebut. Oey Yok Su sebetulnya mau menjejakkan kakinya untuk melompat lebih cepat menaiki undakan anak tangga itu, namun justru kakinya semakin lemas tidak bertenaga, seperti ada sesuatu yang mempengaruhi dirinya. Hal ini telah mengejutkan Oey Yok Su, ia sampai mengeluarkan suara seruan tertahan. Bong Kim Lian telah tersenyum.
"Kongcu, tadi engkau telah meminum teh yang kusajikan...!"
Kata Bong Kim Lian. Belum lagi wanita cantik itu menyelesaikan perkataannya, Oey Yok Su jadi tambah terkejut. la teringat sesuatu.
"Perempuan jahat, apakah engkau menaruh racun dalam teh yang kau sajikan untukku ?"
Tanya Oey Yok Su kemudian sambil menoleh dan menatap wanita cantik she Bong dengan sorot mata yang tajam.
"Bukan racun...!"
Sahut Bong Kim Lian tertawa.
"Aku hanya menaruhkan obat pelemas saja, juga bukan obat tidur. Engkau telah memakan obat pelemas itu, maka semangat dan tenagamu lenyap, engkau sudah tidak memiliki tenaga lagi ! Maka engkau jangan memaksa aku memperlakukan engkau dengan sikap Yang kurang baik.......lebih baik dan bijaksana jika engkau secara baik-baik menuruti keinginanku untuk bercakap-cakap mendengarkan penjelasanku, akan kebutuhanku meminta pertolonganmu...!" . Oey Yok Su kaget, tetapi ia cerdas. Jika ia menentang kata-kata wanita itu, tentu ia akan dicelakai oleh wanita yang ternyata memiliki hati tidak baik itu. Akhirnya Oey Yok Su mengangguk juga.
"Baiklah,"
Katanya.
"Katakan, pertolongan apa yang bisa kuberikan kepadamu ? Berikan obat penawar agar tenagaku pulih seperti sedia kala...dengan tenaga yang lemah seperti ini, bagaimana aku bisa membantumu" . Bong Kim Lian tertawa lagi.
"Sabar, nanti juga aku akan memberikan obat penawarnya...! Sekarang engkau duduk dulu dipapan itu, aku akan menceritakan kesulitanku !"
Oey Yok Su dengan sepasang kaki yang lemas, telah melangkah menghampiri papan itu, dia duduk disitu dengan perasaan tidak menentu, marah, mendongkol dan sengit menjadi satu.
Ia menyesal telah begitu mudah mempercayai wanita ini dan ikut kerumahnya.
Bukankah jika ia tidak melayaninya waktu mereka bertemu ditengah jalan, tidak akan terjadi peristiwa seperti ini ?
Setelah melihat Oey Yok Su duduk dipapan itu, wanita she Bong tersebut telah melangkah mendekati dengan goyang pinggulnya yang menggiurkan.
Oey Yok Su tidak berani menatapnya, pemuda ini hanya menundukkan kepalanya.
Bong Kim Lian kemudian duduk dihadapan Oey Yok Su, harum tubuhnya menyambar hidung Oey Yok Su, sehingga hati pemuda ini semakin tidak tenang.
"Kongcu, sesungguhnya aku memang tengah mengalami sedikit kesulitan", kata Bong Kim Lian.
"Telah cukup lama aku melatih diri untuk ilmu Im Yang Hun (Arwah Dingin dan Panas), yang memiliki sifat berlawanan, yaitu sifat wanita dan sifat pria...! Justru jika hawa murni wanita yang telah kumiliki ini digabungkan dengan hawa murni seorang pria yang perjaka, maka akan memperoleh gabungan tenaga yang bukan main kuatnya. Itulah yang ingin kumiliki. Namun sayangnya sejauh itu belum ada pemuda yang cocok dengan seleraku, yang cocok untuk membantu aku...!" . Bong Kim Lian berdiam sejenak, ia mengawasi Oey Yok Su. Sedangkan hati Oey Yok Su jadi semakin tidak tenang, ia menunduk dengan muka yang merah panas dan hati marah sekali. Ia merasa telah tertipu dan sekarang ia yakin hahwa wanita cantik she Bong yang sekarang ada dihadapannya ini bukanlah seorang "Hemm" ......, Bong Kim Lian mendengus dingin "Engkau memperlihatkan sikap seperti tidak menyukai aku ! Tetapi tahukah engkau, ribuan pria mendambakan kehangatan tubuhku ! Tetapi itu tidak penting, karena justru aku menghendaki pemuda yang bisa memberikan tenaga Yang kepada hawa Im yang kumiliki, agar semangat murni yang tengah kulatih itu, Im Yang Hun, dapat tercapai sempurna...! Untuk itu aku harus memperoleh delapan belas orang pemuda perjaka...... dan sejauh ini aku telah memperoleh sepuluh orang. Sayangnya mereka hanya memiliki kepandaian silat tanpa tenaga sinkang yang berarti. Justru sekarang aku melihat engkau, aku yakin bahwa engkau memiliki sinkang yang kuat sekali, maka aku gembira sekali, engkau akan bisa membantu aku menyempurnakan ilmu itu."
Oey Yok Su jadi mandi keringat dingin, ia mengerti kemana tujuan dari perkataan Bong Kim Lian.
la berdiam diri dengan otak bekerja keras mencari jalan untuk melarikan diri dari wanita cantik yang genit dan berbahaya ini.
Tetapi sayangnya justru tenaganya seperti telah lenyap dari tubuhnya, sehingga ia sama sekali tidak akan bisa memberikan perlawanan kepada Bong Kim Lian.
Apa lagi Oey Yok Su ingat bahwa Bong Kim Lian juga merupakan seorang yang tampaknya memiliki kepandaian tidak rendah, dilihat dari gerak-geriknya tentu sinkang dan ginkangnya cukup tinggi.
"Lalu apa yang kau kehendaki dari aku?"
Tanya Oey Yok Su dengan suara tidak begitu lancar.
"Aku menghendaki hawa murnimu, sebagai seorang perjaka, tentu hawa murnimu masih penuh...! Yang terpenting adalah hawa "
Yang"
Yang kubutuhkan itu !"
Muka Oey Yok Su jadi berobah pucat, ia mengerti bahaya yang akan mengancam dirinya.
"Tetapi tidak, bisa engkau meminta pertolongan dengan cara memaksa seperti itu...!".
"Jika tidak dengan cara memaksa seperti ini, tentu engkau tidak bersedia menolong, itu sudah pasti !" . Oey Yok Su mengeluh. Sedangkan Bong Kim Lian telah tertawa lagi dengan suara yang genit.
"Engkau telah melihat bukan betapa cantiknya aku ?"
Tanya Bong Kim Lian. Oey Yok Su berdiam diri saja.
"Dan bentuk tubuhku indah sekali, bukan?"
Tanya Bong Kim Lian sambil menggerakkan tu-buhnya menggeliat. Oey Yok Su tidak berani melihat gerak-gerik siwanita cantik itu, yang merangsang sekali. Bong Kim Lian telah tertawa lagi.
"Hemm....., sebagai seorang pemuda tentu engkau senang sekali bisa mendekap tubuhku yang hangat, bukan ?'' tanya Bong Kim Lian lagi.
"Tetapi aku...aku tidak mau melakukan perbuatan mesum ini...aku tidak bersedia membantumu !"
Kata Oey Yok Su marah.
"Engkau hanya pura-pura anak muda !"
Kata Bong Kim Lian tertawa genit.
"Engkau tidak perlu jual mahal...!".
"Aku lebih baik mati dari pada harus melakukan perbuatan mesum seperti itu !"
Kata Oey Yok Su tegas.
Tetapi Bong Kim Lian tidak memperdulikan sikap Oey Yok Su.
la justru telah melepaskan pakaian dalam bagian atasnya.
Betapa merangsang sekali.
Oey Yok Su sedikitpun tidak berani mengangkat kepalanya, ia telah menunduk dalam-dalam.
Bong Kim Lian telah mendekati Oey Yok Su, wanita cantik ini telah mengulurkan kedua tangannya, ia bermaksud memeluk Oey Yok Su.
Tetapi Oey Yok Su coba mengelak sambil mendorong tubuh wanita itu.
Namun tenaganya seperti lenyap, ia seperti mendorong perlahan.
Celakanya, justru kedua tangan Oey Yok Su yang dipergunakan untuk mendorong wanita itu jatuh didada si wanita, sehingga Oey Yok Su bisa memegang bagian yang lembut dan lunak padat.
Sama sekali Bong Kim Lian tidak berusaha mengelakkan diri, ia membiarkan tangan Oey Yok Su jatuh didadanya, justru kedua tangannya telah diulurkan dan memeluk Oey Yok Su.
Keruan Oey Yok Su kelabakan, ia berusaha meronta.
Tetapi Oey Yok Su mana bisa.
melepaskan diri dari pelukan Kim Lian ?
Tenaga Oey Yok Su memang seperti telah lenyap dari tubuhnya, ia sama sekali tidak memiliki tenaga untuk rapat meronta.
Sedangkan Bong Kim Lian begitu rakus menciumi si pemuda.
la bermaksud untuk menarik daya rangsang si pemuda.
Oey Yok Su yang telah tidak berdaya jadi berdiam diri, ia telah menyalurkan tenaga sinkangnya mengatur pernapasannya, agar ia tidak bisa dikuasai oleh nafsunya.
Bong Kim Lian jadi mendongkol.
"Engkau terlalu bertingkah !"
Katanya.
"Tahukah engkau, betapa banyak pria yang menghendaki tubuhku yang elok ini !"
Tetapi Oey Yok Su berdiam diri saja. Bong Kim Lian telah tertawa dingin lagi.
"Hemm....., apakah engkau pikir bisa menolak keinginanku ?"
Kata Bong Kim Lian.
"Jangan harap. Aku bisa saja memberikan engkau obat perangsang.....diwaktu itu aku ingin melihat apakah engkau tidak akan berobah seperti anjing yang mendambakan daging mengejar-ngejar diriku...!"
Mendengar ancaman Bong Kim Lian, tubuh Oey Yok Su jadi menggigil.
Memang tidak mustahil dalam keadaan tidak berdaya seperti itu, Kim Lian bisa saja memberikan kepadanya obat perangsang, tentunya dengan cara yang memaksa.
Bukankah dia memang sedang dalam keadaan tidak berdaya ?
Karena teringat begitu, tubuh Oey Yok Su jadi menggigil karena marah dan ngeri "Jangan engkau ganggu diriku...!"
Kata Oey Yok Su kemudian.
"Aku mohon kepadamu, agar tidak mengganggu diriku, Lepaskan aku......"
Tetapi Bong Kim Lian telah tertawa dingin; katanya .
"Setelah engkau jatuh ditanganku; jangan harap engkau bisa meloloskan diri...! Hemm, terlebih lagi sekarang engkau demikian keras kepala, maka aku bisa saja melakukan apa-apa untuk memaksamu. .!''. Sambil berkata begitu, Bong Kim Lian, telah melepaskan pelukannya pada Oey Yok Su. ia telah berdiri dan membuka seluruh sisa pakaiannya, sehingga ia berdiri dihadapan Oey Yok Su dalam keadaan polos. Malah tubuhnya digerakkan meliuk-liuk dengan gerakan merangsang, untuk menarik daya rangsang Oey Yok Su. Hal ini membuat Oey Yok Su sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya untuk memandang Kim Lian. Wanita itu telah meliuk-liuk dengan kedua tangan mempermainkan tubuhnya sambil memperdengarkan suara desis-desis untuk membangkitkan kelaki-lakian Oey Yok Su. Walaupun bagaimana Oey Yok Su adalah seorang pemuda yang baru besar. Maka menghadapi keadaan sperti ini, hatinya jadi tertekan sekali. Terlebih lagi memang disaat itu ia dalam keadaan tidak berdaya, dimana tenaganya seperti telah lenyap dari tubuhnya dikuasai oleh obat pelemas yang ditaburkan Kim Lian didalam teh yang telah diminumnya. Maka jalan satu-satunya untuk Oey Yok Su, ia hanya duduk bersemadhi untuk mengatur pernapasannya dan menjernihkan pikirannya. Tetapi karena Bong Kim Lian terus menerus melakukan gerakan-gerakan untuk membujuk dan merayunya, maka disaat itulah ia telah menyiksa Oey Yok Su dengan perasaan yang tidak menentu. Oey Yok Su merasakan pipinya sangat panas. Dan waktu itu Bong Kim Lian dalam keadaan polos telah mendekati Oey Yok Su, ia telah duduk diatas lempengan papan dan berhadapan dengan Oey Yok Su, sehingga walaupun Oey Yok Su tidak mau melihatnya, tokh ia tetap bisa melihat bentuk tubuh wanita cantik ini. Oey Yok Su cepat-cepat memejamkan sepasang matanya. Tetapi Bong Kim Lian telah mempergunakan jari-jari tangannya membuka kelopak mata Oey Yok Su. Sehingga walaupun Oey Yok Su ingin memejamkan matanya, tidak bisa dilakukannya, tetap ia bisa melihat bentuk tubuh Kim Lian, membuat pemuda ini jadi mengeluh. ---oo^dwkz~0~Tah^oo---SEBETULNYA Oey Yok Su bermaksud meadorong tubuh Kim Lian, tetapi pemuda ini kuatir kalau-kalau nanti ia seperti tadi, mendorong pada bagian buah dada Kim Lian. Maka akhirnya Oey Yok Su jadi berdiam diri dengan sikap serba salah. Tetapi walaupun demikian, Oey Yok Su telah menerima latihan dan gemblengan yang kuat dari seorang guru yang hebat seperti Tang Cun Liang, dimana gurunya itu merupakan seorang tokoh persilatan yang sakti sekali. Maka Oey Yok Su telah terlatih hati dan kekuatan bathinnya, tidak mudah ia terjatuh dalam bujuk rayu Bong Kim Lian, walaupun wanita tersebut telah memeluknya dan membisikkan kata-kata bujukan yang tidak kenal malu. Melihat Oey Yok Su masih bisa bertahan terus, akhirnya Bong Kim Lian jadi mendongkol, dia telah melepaskan rangkulannya.
"Baiklah....", katanya.
"Jika memang engkau tetap membandel tidak mau bersikap lembut dan halus untuk bercinta, aku akan mempergunakan paksaan menelanjangimu...!" . Mendengar ancaman Bong Kim Lian, tubuh Oey Yok Su jadi menggigil, ia percaya Kim Lian bisa saja melakukan apapun juga disaat tubuhnya tengah lemah seperti sekarang. Tetapi walaupun demikiam, Oey Yok Su menjadi nekad, ia telah berkata .
"Baiklah, engkau mau membinasakan aku, bunuhlah! Tetapi jangan harap engkau bisa memperoleh hawa murni Yang dari tubuhku...!" . Bong Kim Lian tertawa.
"Engkau tetap tidak mau menuruti keinginanku ?"
Tanya Bong Kim Lian.
"Engkau mengapa melatih diri dengan ilmu sesat seperti itu ?"
Tanya Oey Yok Su penuh kemarahan.
"Bukankah masih banyak ilmu lain yang lurus dan bersih...?"
"Kau tahu, ilmu yang kulatih ini merupakan ilmu yang hebat sekali, ilmu yang tidak ada duanya didalam rimba persilatan......aku telah melatihnya selama lima puluh tahun, dan baru sekarang berhasil...!" . Oey Yok Su merasakan semangatnya seperti terbang meninggalkan raganya, dengan mata terpentang lebar mengawasi tidak percaya dia berkata .
"Engkau.......engkau telah melatih diri lima puluh tahun lebih.......?"
Bong Kim Lian mengangguk.
"Lalu.......berapa usiamu ?"
"Aku telah hampir delapan puluh tahun hidup didunia ini........!".
"A.......apa ?"
Tanya Oey Yok Su yang merasakan tubuhnya gemetar.
Kalau begitu siwanita cantik yang tampaknya baru berusia dua puluh tahun lebih itu adalah seorang wanita yang telah lanjut usianya.
Telah hampir delapan puluh tahun, berarti telah menjadi seorang nenek-nenek.
Namun herannya, mengapa tubuhnya begitu halus dan padat berisi, juga wajahnya begitu muda ?
Sedangkan usianya telah begitu lanjut?
Melihat Oey Yok Su terdiam karena diliputi perasaan heran, seperti tidak mempercayai perkataannya, Bong Kim Lian telah tertawa.
"Aku tidak bicara dusta padamu.......memang usiaku hampir delapan puluh tahun", katanya.
"Tetapi berkat Im Yang Hun yang kulatih itu, maka aku bisa menjaga dan mengabadikan kecantikan yang kumiliki ini ! Malah jika aku bisa berhasil mencapai puncak kesempurnaan ilmuku itu, aku bisa hidup seratus tahun dengan keadaan tubuh yang tetap cantik dan muda... Itulah pentingnya ilmu yang kulatih ini, untuk memelihara keawetan muda usiaku...!"
Tubuh Oey Yok Su jadi menggigil lagi. Rupanya disaat ini ia tengah berhadapan dengan seorang nenek-nenek, bukan seorang wanita cantik muda usia.
"Kau...kau...!"
Kata Oey Yok Su sambil menunduk, ia tidak tahu apa yang harus diucapkannya. Bong Kim Lian telah berkata dengan suara yang dingin .
"Engkau masih tidak mau menuruti keinginanku ?"
Oey Yok Su menggelengkan kepalanya, entah mengapa ia jadi begitu ngeri membayangkan wanita muda dihadapannya ini tidak lain dari seorang nenek-nenek.
"Hemm.....!"
Mendengus Bong Kim Lian dengan suara yang dingin.
"Baiklah, aku akan mempergunakan obat perangsang untuk menjatuhkanmu...! "
Setelah berkata begitu, Bong Kim Lian memutar tubuhnya, ia bermaksud meninggalkan Oey Yok Su.
Tetapi Oey Yok Su tahu bahwa wanita itu bermaksud akan mengambil obat yang dinamainya dengan nama obat perangsang.
Hati Oey Yok Su jadi tergoncang keras, karena ia menyadari kalau sampai ia kena dicekoki obat perangsang itu berbahayalah dirinya, sebab ia akan terangsang dan lupa diri, dimana dia yang akan menjadi binal dan...
buas...!
Sedangkan Bong Kim Lian dalam keadaan polos dan tidak mengenakan pakaian sama sekali telah melangkah menaiki undakan anak tangga.
la melangkah dengan tindakan kaki yang perlahan dan sekali-sekali menoleh kepada Oey Yok Su sambil melontarkan senyumnya, senyum yang genit sekali mengandung rangsangan.
Oey Yok Su benar-benar tertekan oleh perasaannya, ia tidak tahu entah dengan cara bagaimana ia bisa meloloskan din dari wanita yang genit dan binal ini, yang sangat berbabaya sekali...
Setelah melihat Bong Kim Lian lenyap diruangan atas, Oey Yok Su memutar keras otaknya.
la mengawasi sekelilingnya untuk mencaricari tempat yang bisa dipergunakan untuk melarikan diri.
Tetapi sayangnya ruangan itu berada dibawah tanah, sehingga tidak ada bagian yang bisa dipergunakan oleh Oey Yok Su untuk melarikan diri.
Jalan satu-satunya yang ada disaat itu adalah menerobos undakan anak tangga.
tetapi jelas ia akan berpapasan dengan Bong Kim Lian berarti ia tidak mungkin bisa melarikan diri.
Sedang Oey Yok Su diliputi perasaan bingung seperti itu, ia mendengar suara langkah kaki lagi, yang tengah menuruni undakan anak tangga.
Butir-butir keringat Oey Yok Su jadi mengucur keluar deras sekali.
la telah berkata didalam hatinya .
"Celakal Ternyata sulit sekali aku bisa meloloskan diri dari wanita jahat ini !"
Dan waktu itu memang segera muncul Bong Kim Lian, ditangan wanita itu menggenggam sesuatu, sebuah bungkusan kecil.
Oey Yok Su tahu apa artinya bungkusan itu, tentunya berisi obat perangsang yang dikatakan oleh Bong Kim Lian tadi, yang tentu akan diberikan kepadanya.
Oey Yok Su jadi mengeluh, tetapi dia benar-benar dalam keadaan tidak berdaya.
Disaat itu, waktu Bong Kim Lian telah berada dekat dengan dirinya, tiba-tiba Oey Yok Su melompat berdiri, dia bermaksud akan berlari menaiki undakan anak tangga itu.
Namun tangan Bong Kim Lian bergerak cepat sekaii, dia telah mengulurkan tangannya itu mencengkeram punggung Oey Yok Su, kemudian tubuh pemuda tersebut telah dilemparkannya kembali kepapan yarg terletak disudut ruangan.
Oey Yok Su jatuh terduduk dipapan itu.
Pemuda ini benar-benar putus asa, ia tidak tahu entah bencana bagaimana yang akan menimpah dirinya.
Tampaknya memang sulit sekali ia mengelakkan dan meloloskan diri dari wanita yang mengaku bernama Bong Kim Lian ini, yang sesungguhnya seorang nenek-nenek tua yang berusia hampir delapan puluh tahun !
Tiba-tiba terdengar suara seseorang berkata.
"Kemana penghuni rumah ini ?"
Bong Kim Lian jadi berobah mukanya, ia telah melompat berdiri.
Namun ia berdiam diri saja, karena ia tahu jika ia bersuara, tentu orang yang berada diruangan atas itu akan menuju keruangan bawah ini.
Sedangkan Oey Yok Su yang semula telah putus asa, jadi timbul harapannya lagi.
Dia sengaja telah mengeluarkan suara teriakan yang nyaring, maka disaat itu terdengar suara orang menuruni undakan anak tangga.
Muka Bong Kim Lian jadi berobah lagi, cepat-cepat wanita genit ini menyambar pakaiannya, yang dikenakannya.
Waktu itu telah terdengar suara orang berkata lagi.
"Hemm...., kiranya penghuni rumah ini lebih senang tinggal seperti seekor tikus, dibawah tanah...!" . Dan berbareng dengan habisnya suara itu, tampak sesosok tubuh telah muncul ditingkat bawah undakan anak tangga. Waktu melihat orang yang muncul, hati Oey Yok Su jadi girang. Lu Liang Cwan ! Ya, tokoh sakti yang hanya mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit binatang buas itu, telah muncul disaat yang tepat.
"Lu Cianpwe......tolonglah aku......!"
Teriak Oey Yok Su.
Waktu itu Bong Kim Lian telah selesai mengenakan pakaiannya, mukanya merah padam, karena dia marah dan mendongkol merasa terganggu oleh kedatangan Lu Liang Cwan.
Karena sebentar lagi tentu Oey Yok Su akan dapat ditundukkannya.
Justru kedatangan orang asing ini bisa membuat gagalnya rencana wanita she Bong tersebut.
Sedangkan Lu Liang Cwan telah berdiri kesima sejenak waktu melihat keadaan Oey Yok Su yang sedang lemas.
Juga didalam ruangan bawah tanah ini terdapat seorang wanita cantik, yang rambutnya acak-acakan, maka dia segera menduga telah terjadi sesuatu yang kurang baik antara Oey Yok Su dengan wanita cantik itu.
Setelah mengawasi sekian lama dengan tertegun, Lu Liang Cwan mengeluarkan suara tertawa yang cukup keras.
"Aha, kiranya si bocah she Oey seorang bebogoran yang hanya senang bersenda gurau dengan wanita cantik !"
Berseru Lu Liang Cwan. Muka Oey Yok Su jadi merah padam, karena ia malu sekali. Justru waktu itu, Bong Kim Lian telah membentak dengan suara yang keras.
"Siapa kau. ? Mau apa kau lancang datang ketempat ini ?" . Lu Liang Cwan mengeluarkan lidahnya panjang-panjang, lalu tertawa.
"Jangan galak-galak nona manis...!"
Katanya kemudian.
"Bukankah engkau sama bejadnya dengan pernuda she Oey itu ? Hemm......., manusia-manusia mesum yang berani melakukan jinah seperti kalian merupakan manusia-manusia yang tidak punya guna dan memalukan...!" . Muka Bong Kim Lian jadi berobah, ia telah berkata lagi disertai kemarahannya.
"Katakan siapa namamu dan mau apa engkau datang kemari ? Jika engkau tidak memiliki urusan apa-apa, silahkan meninggalkan tempat ini !"
"Sabar....! Mengapa engkau demikian tidak sabar untuk melakukan perbuatan mesum lagi dengan si bocah she Oey yang bejad itu.......?"
Bong Kim Lian rupanya sudah tidak bisa mempertahankan diri, ia telah mengeluarkan suara seruan yang, cukup nyaring, dengan menjejakkan kedua kakinya, tubuhnya telah melompat dengan cepat.
Disaat itu tangannya yang berjari lentik bergerak akan menotok Lu Liang Cwan.
Tetapi mana bisa Bong Kim Lian merubuhkan Lu Liang Cwan dengan cara demikian.
Jago sakti she Lu itu adalah seorang yang memiliki kepandaian sangat tinggi, tentu saja dia tidak mau membiarkan dirinya tertotok oleh jari Bong Kim Lian.
Diwaktu itu Oey Yok Su telah berkata dengan tenaga yang masih ada padanya.
"Lu Cianpwe, wanita itu adalah wanita mesum, ia berusaha memperkosa diriku...... tolongilah aku, Lu Cianpwe......!"
Sebetulnya waktu itu Lu Liang Cwan baru saja mengelakkan totokan jari Bong Kim Lian, tetapi mendengar perkataan Oey Yok Su, dia jadi tertegun dan kaget, dia seperti mendengar sesuatu yang mengejutkan dan janggal sekali.
Bahkan kemudian Lu Liang Cwan tertawa bergelak-gelak.
"Wanita ini ingin memperkosa dirimu ? Seorang wanita ingin memperkosa seorang pemuda ?"
Dan meledaklah tertawa Lu Liang Cwan. Namun baru saja ia bermaksud akan bertanya lagi, waktu itu Bong Kim Lian telah melancarkan serangan lagi, sehingga Lu Liang Cwan terpaksa mengelakkan diri dulu.
"Benar Lu Cianpwe...!"
Kata Oey Yok Su cepat.
"Ia bermaksud memperkosa diriku...ia juga meracuni air minum yang diberikannya kepadaku, sehingga sekarang aku sangat tersiksa sekali.....l" . Mendengar perkataan CYy Yok Su yang terakhir, barulah Lu Liang Cwan mengerti.
"Hemm........, jadi perempuan ini seorang wanita mesum yang senang mengganggu pemuda ?"
Tanyanya.
Dan ia telah mengelakkan lagi serangan Bong Kim Lian.
Namun bersamaan dengan itu, Lu Liang Cwan tidak tinggal diam saja, ia telah melancarkan serangan balasan untuk mendesak Bong Kim Lian.
Serangan yang dilancarkannya tidak kalah hebatnya, karena serangan itu merupakan pukulan yang bisa mematikan.
Sebagai seorang tokoh sakti rimba persilatan, Lu Liang Cwan memang memiliki ilmu silat yang aneh-aneh dan menakjubkan sekali.
Maka dari itu Bong-Kim Lian yang semula hanya menduga Lu Liang Cwan adalah jago biasa saja, jadi kaget dan tidak berani berlaku lambat, ia telah mengelakkan diri dengan gerakan yang cepat sekali.
Kegesitan yang dimiliki Bong Kim Lian tidak berada dibawah kepandaian Lu Liang Cwan.
Dalam waktu yang singkat sekalf, keduanya telah saling serang dengan cepat dan kuat, mereka telah bertempur belasan jurus.
Lu Liang Cwan telah melihatnya bahwa kepandaian Bong Kim Lian tinggi sekali, sehingga jago tua she Lu itu mengerutkan sepasang alisnya, ia telah berpikir.
"Usianya masih demikian muda, wanita siluman ini tampaknya memiliki kepandaian tidak dibawah kepandaian dari si Dewi Bangsat Lauw Cie Lan...!" . Karena berpikir begitu, Lu Liang Cwan tidak berani bertempur main-main, ia telah berlaku sungguh-sungguh menghadapi wanita tersebut. Yang kasihan adalah Oey Yok Su, pemuda ini tengah mati-matian mengerahkan tenaga sinkang yang masih ada padanya untuk memulihkan tenaganya yang lenyap. Keringat telah membanjir keluar dari sekujur tubuh Oey Yok Su. Ia berusaha duduk bersemadhi dilantai dan mengatur pernapasannya sambil memejamkan mata dan tidak memperdulikan pertempuran yang tengah berlangsung antara Bong Kim Lian dengan Lu Liang Cwan. Lu Liang Cwan yang melihat keadaan Oey Yok Su, jadi bsrpikir.
"Aku tidak boleh terlalu lama melayani wanita ini, aku harus cepat-cepat menundukkannya, agar dapat, menolongi bocah she Oey itu......."
Dan karena berpikir begitu, Lu Liang Cwan telah melancarkan serangan yang gencar.
la telah mendesak Bong Kim Lian.
Wanita she Bong itu jadi terdesak juga, dia sibuk sekali mengelakkan diri dari setiap serangan Lu Liang Cwan, malah sekarang ia sudah tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk balas menyerang.
Waktu itu Lu Liang Cwan telah berkata dengan suara yang nyaring disertai oleh serangannya lagi.
"Engkau seorang wanita yang tidak tahu malu............ mengapa engkau mengganggu pemuda seperti dia yang ingin dihancurkan hidupnya?"
"Hemm......, engkau tidak perlu rewel, aku akan melaksanakan apa yang kuinginkan dan engkau tidak berhak mencampuri urusanku ! Akupun akan dapat merubuhkan engkau tua bangka hutan...!" . Mendengar dirinya disebut sebagai tua bangka hutan, keruan saja membuat Lu Liang Cwan jadi mendongkol. Dia memang telah merasa jemu setelah mengetahui bahwa wanita yang tengah bertempur dengan dirinya ini adalah seorang wanita cabul, maka waktu kemarahan dirinya telah membakar hatinya, ia telah mengeluarkan suara seruan nyaring, dan membarengi dengan itu iapus melancarkan serangan yang gencar. Bong Kim Lian jadi sibuk sekali mengelakkan ciiri dari setiap serangan yang dilancarkan lawannya. Napas Bong Kim Lian juga jadi memburu keras. Tetapi sebagai seorang wanita yang memiliki kepandaian tinggi, tentu saja Bong Kim Lian tidak mau menyerah terhadap desakan Lu Liang Cwan. Beberapa kali ia mengerahkan tenaga sinkangnya untuk mendesak mundur lawannya. Malah suatu kali, dengan cepat tangannya yang disertai sinkang yang kuat telah meluncur akan menghantam dada Lu Liang Cwan. Serangan itu bukan serangan sembarangan, Lu Liang Cwan juga terkejut.
"Benar-benar hebat wanita cabul ini.......!"
Pikir Lu Liag Cwan.
Dan cepat Lu Liang Cwan mengempos semangat dan tenaga sinkangnya, ia telah menangkis serangan lawannya dengan kekerasan.
Tenaga yang keras saling bentur satu dengan yang lainnya, memperdengarkan suara menggelegar yang keras sekali, dan Bong Kim Lian maupun Lu Liang Cwan telah terhuyung mundur beberapa langkah.
Bong Kim Lian yang melihat lawannya memang bukan merupakan lawan yang sembarangan, telah mempergunakan kesempatan tersebut untuk menyingkirkan diri.
la menjejakkan kakinya, tubuhnya tetah melompat kedekat undakan anak tangga, lalu berlari gesit sekali menaiki undakan anak tangga itu.
Sebetulnya Lu Liang Cwan ingin mengejarnya, tetapi teringat kepada keadaan Oey Yok Su Lu Liang Cwan telah membatalkan maksudnya itu.
Cepat-cepat Lu Liang Cwan mendekati Oey Yok Su sambil bertanya.
"Bagaimana keadaanmu ?"
Oey Yok Su menceritakan apa yang telah dialaminya, dengan suara yang susah payah, karena justru Oey Yok Su masih dikuasai oleh pengaruhnya obat pelemas tubuh itu.
Tetapi dengan menceritakan apa yang telah dialaminya itu, membuat Lu Liang Cwan jadi bisa menentukan dengan cara bagaimana ia harus menolongi pemuda ini terlepas dari pengaruh obat pelemasnya Bong Kim Lian.
"Sayang sekali aku tidak memiliki obat penawarnya, tetapi biarlah, aku akan menotokmu tidur selama satu hari, tentu pengaruh obat itu akan lenyap sendirinya...!" . Dan setelah berkata begitu, Lu Liang Cwan telah menggerakkan tangan kanannya menotok jalan darah Ma-siang-hiat di-iga Oey Yok Su. Seketika itu juga tubuh Oey Yok Su telah terkulai rubuh diatas lantai. Dan ia telah tertotok tidur. Dengan cara demikian, obat pelemas yang sedang bekerja ditubuh sipemuda tidak memiliki arti apa-apa lagi dan tidak terlalu menyiksa Oey Yok Su. Sedangkan Lu Liang Cwan dengan sabar menantikan disisi si pemuda, untuk menunggui sampai nanti si pemuda telah tersadar dari pingsannya... ---oo^dwkz~0~Tah^oo---KETIKA Qey Yok Su telah tersadar dari pingsannya, pertama-tama yang dilihatnya waktu ia membuka kelopak matanya, adalah Lu Liang Cwan yang tengah mengawasi padanya.
"Apakah engkau sudah tidak merasakan pengaruhnya obat pelemas itu ?"
Begitu pertanyaan yang diajukan Lu Liang Cwan, ketika mengetahui Oey Yok Su telah tersadar dari pingsaanya.
Oey Yok Su berusaha untuk duduk, tubuh-nya lemas sekali.
la mengempos semangatnya dan merasakan napasnya itu berjalan Iurus.
"Tidak, Lu Cianpwe...!"
Katanya kemudian.
"Dan, tampaknya pengaruh obat itu telah sirna...! ".
"Bagus !"
Kata Lu Liang Cwan.
"Maka dilain waktu engkau harus berlaku lebih hati-hati lagi, jangan sampai terjatuh kedalam pancingan seorang wanita cabul seperti wanita tadi !" . Oey Yok Su menganggukkan kepalanya .
"Untung saja Lu Cianpwe datang tepat pada waktunya, sehingga aku tidak sampai diperkosa oleh wanita cabul itu...!" . Mendengar perkataan Oey Yok Su, Lu Liang Cwan jadi tertawa keras.
"Lucu sekali !"
Katanya.
"Justru biasanya yang memperkosa adalah pria, yang memperkosa seorang gadis. Tetapi sekarang rupanya dunia mau terbalik dan edan, justru wanita yang ingin memperkosa seorang pemuda !"
Dan setelah berkata begitu, Lu Liang Cwan tertawa bergelak-gelak dengan suara yang keras. Muka Oey Yok Su berobah merah karena dia merasa malu bukan main.
"Tetapi yang terpenting engkau belum diperkosanya, bukan ?"
Tanya Lu Liang Cwan lagi. Oey Yok Su menggeleng dengan perasaan malu.
"Belum, Lu Cianpwe...!".
"Bagus ! Dengan demikian hawa murni Yang-mu belum lagi berhasil dihisapnya, sehingga engkau tidak rugi apa-apa...!" . Muka Oey Yok Su berobah merah lagi.
"Locianpwe, sebetulnya ilmu apakah Im Yang Hun yang dilatihkan oleh wanita itu ?"
"Itulah ilmu sesat Memang sejak dulu sering kudengar banyak wanita yang mempelajari ilmu itu Yang terpenting sekali mereka bukan menghendaki memiliki kepandaian yang tinggi, tetapi justru jika mereka berhasil mempelajari dengan sernpurna ilmu Im Yang Hun tersebut, berarti mereka akan dapat mempertahankan kecantikan tubuh mereka, yang akan tetap awet mudanamun ilmu itu merupakan ilmu sesat !" .
"Benar Loci anpwe.,.!"
Kata Oey Yok Su.
"Justru menurut pengakuannya, wanita tadi telah berusia delapan puluh tahun...!".
"Hebat !"
Berkata Lu Liang Cwan tertawa.
"Engkau melihat sendiri, aku belum lagi berusia delapan puluh tahun, tetapi telah menjadi kakek-kakek, dan begitu juga halnya dengan si Dewi Bangsat Lauw Cie Lan, dia belum berusia sampai delapan puluh tahun, baru setengah baya, namun mukanya telah berkeriput dan menjadi seorang nenek-nenek. Tetapi wanita tadi, yang wajahnya begitu mulus dan cantik, dengan bentuk tubuhnya yang masih padat berisi montok sekali, telah berusia delapan puluh tahun...! Bukankah itu merupakan suatu hal yang sangat menakjubkan sekali...?" . Oey Yok Su sendiri menghela napas. Ia tidak mengerti bahwa didalam dunia ini bisa terdapat semacam ilmu sesat seperti Im Yang Hun itu, yang bisa membuat orang awet muda. Namun semakin dipikir, Oey Yok Su jadi ngeri sendirinya, karena ia teringat ilmu semacam itu justru membutuhkan sari keperjakaan puluhan orang pemuda...! Untung saja Oey Yok Su tidak sampai menjadi korban dari wanita itu, yang telah mahir sekali melatih Im Yang Hun-nya, sehingga tampaknya seperti wanita yang baru berusia delapan puluh tahun ! Kemudian Oey Yok Su telah menoleh kepada Lu Liang Cwan, sambil tanyanya dengan perasaan tidak mengerti .
"Lu Locianpwe, jika wanita yang melatih diri ilmu sesat tersebut, apakah mereka tidak akan tersesat dan bercelaka oleh ilmu itu ?" . Lu Liang Cwan seperti berpikir sejenak, namun akhirnya ia sahut juga .
"Apa yang kuketahui, ilmu itu memang sesat, tetapi jika wanita yang melatihnya berhasil memperoleh sari keperjakaan dari pemuda-pemuda yang memang masih benar-benar bersih, tentu ilmu itu tidak akan membawa kecelakaan apa-apa padanya, hanya saja justru hal itu yang ditakuti, bisa membuat mereka panjang umur dan mati lama sekali, jika memang mereka hidup senang didunia, tentu soal itu tidak berarti apa-apa!..namun jika mereka merasa tersiksa hidup didunia, bukankah hal itu malah membuat mereka bersengsara...?" . Oey Yok Su tertawa.
"Tetapi Lu Locianpwe, justru hal itu tidak mungkin Seperti wanita she Bong itu, dia hanya berhasil melatih separuh dari ilmu Im Yang Hun namun ia berhasil mempertahankan kecantikan tubuh dan wajahnya, sehingga umumnya wanita cantik disenangi pria Tidak mungkin mereka akan hidup sengsara!" .
"Nah, engkau bicara begitu, baiklah aku akan menjelaskan !"
Kata Lu Liang Cwan.
"Memang wanita yang meyakinkan ilmu Im Yang Hun akan-awet muda, lalu jika mereka menikah, dan suami mereka menjadi tua renta, bukankah mereka jadi tersiksa karenanya ?" . Oey Yok Su tertawa.
"Kukira wanita sesat seperti itu tidak akan menikah selamanya, ia tentu akan mudah sekali menyerahkan dirinya pada para pemuda...mana mau mereka membiarkan diri mereka jatuh ketangan seorang kakek-kakek ?" . Mendengar perkataan Oey Yok Su, muka Lu Liang Cwan jadi masam.
"Engkau telah-menyindirku...!"
Katanya tidak senang. Melihat keadaan, Lu Liang Cwan, Oey Yok Su jadi kaget, ia cepat-cepat bertanya .
"Menyindir Lu locianpwe ?"
Tanyanya kemudian.
"Ya !"
Mengangguk Lu Liang Cwan.
"Tetapi Lu locianpwe...aku tidak merasa menyindir Lu Cianpwe...!"
Kata Oey Yok Su yang jadi bingung dan mengawasi tidak mengerti pada jago tua she Lu itu.
"Heran ?, bukankah tadi engkau mengatakan wanita-wanita cantik yang melatih ilmu Im Yang Hun. tidak. bersedia menyerahkan dirinya pada kakek-kakek ? Bukankah aku ini kakek-kakek ?" . Dan setelah berkata begitu, Lu Liang Cwan tertawa bergelak-gelak. Sedangkan Oey Yok Su jadi ikut tertawa. la baru tahu bahwa Lu Liang Cwaa hanya bergurau saja. Saat itu, Lu Liang Cwan telah berhenti tertawa dan bertanya dengan sungguh-sungguh .
"Bagaimana perasaanmu menyaksikan kecantikan dan tubuh yang padat dari, wanita cabul she Bong itu ?" . Muka Oey Yok Su jadi berobah merah, ia malu sekali karena menyadari bahwa kakek tua Lu Liang Cwan ini hanya bergurau untuk mempermainkan dirinya.
"Jika memang aku tidak dipengaruhi oleh obat perangsangnya, tentu aku akan bisa memberikan perlawanan, Lu locianpwe!" .
"Hemm....., enak saja kau bicara...kukira walaupun tanpa obat perangsang, jika aku datang terlambat, engkau telah menyambar dan memeluk tubuh montok itu...!" . Oey Yok Su tertawa dengan muka berobah merah.
"Bukankah dia seorang wanita nenek-nenek ?"
Tanyanya.
"Sekarang kau bisa berkata begitu, tetapi jika dibiarkan terus berdua, tentu engkau yang lebih binal...!"
Kata Lu Liang Cwan. Oey Yok Su terpojokkan dan tidak bisa memberikau jawaban lagi, hanya mukanya saja yang berobah merah dan terasa panas sekali. Tetapi Oey Yok Su kemudian bertanya .
"Lu locianpwe, apakah selama aku tertotok tidur, perempuan cabul itu tidak datang lagi ?" . Lu Liang Cwan mengangguk dua kali "Datang !"
Sahutnya.
"Datang ?"
Tanya Oey Yok Su sambil mementang lebar-lebar sepasang matanya.
"Ya, dua kali dia datang kemari...!"
Kata Lu Liang Cwan.
"Lalu ?"
"Ia minta agar aku mau menyerahkan kau kepadanya, dan ia akan pergi dari tempat ini tidak akan menggangguku lagi!" .
"Oh........"
"Untung saja aku tidak kena dibujuk oleh dia, yang selalu main buka baju dan berusaha merayuku dengan kecantikannya itu, kalau tidak tentu engkau akan kuserahkannya pada perempuan cabul itu...!" . Oey Yok Su jadi menggidik. Bukankah ia akan celaka jika diserahkan Lu Liang Cwan pada wanita cabul she Bong itu ? Karena dalam keadaan tertidur dan tertotok tentu wanita she Bong itu bisa menguasainya lebih mudah? Karena berpikir begitu, Oey Yok Su juga jadi teringat budi kebaikan Lu Liang Cwan. Segera pemuda she Oey tersebut berdiri, kemudian dia menjura dalam-dalam, memberi hormat kepada Lu Liang Cwan.
"Terima kasih atas pertolongan yang diberikan Lu locianpwe, kalau saja tidak ada locianpwe, tentu aku telah menjadi korban wanita cabul itu...!" . Lu Liang Cwan tertawa.
"Hal itu tidak penting, karena tokh sekarang engkau tidak mengalami bencana apa2...!".
"Dari sini engkau bermaksud pergi kemana ?"
Tanya Lu Liang Cwan.
"Aku belum memiliki tujuan, Lu locianpwe aku hanya akan pergi kemana saja dibawa oleh kedua kakiku ini" .
"Hemm....., kalau begitu engkau ikut saja bersamaku, bukankah dengan melakukan perjalanan bersama lebih menggembirakan ?" . Oey Yok Su berpikir sejenak, kemudian ia telah bertanya .
"Apakah tidak akan merepotkan Lu locianpwe ?" . Lu Liang Cwan telah tertawa sambil mencibirkan bibirnya.
"Hemm......, dimulut engkau bertanya begitu, tetapi justru dihatimu engkau malu melakukan perjalanan bersamaku !"
Katanya.
"Benar tidak ?" . Muka Oey Yok Su jadi berobah merah, dia malu orang bisa membaca isi hatinya. Tetapi cepat-cepat Oey Yok Su membantahnya .
"Mana berani boanpwe memiliki pikiran jelek seperti itu kepada Lu locianpwe yang telah menjadi tuan penolongku ?" .
"Hemm....., mulutmu selalu mecang berkata manis, tetapi hatimu selalu licik, tidak ingatkah engkau ketika kita masih berada diperahu, engkau begitu mati-matian memusuhiku dan hendak menenggelamkan perahu kalau aku mendekatimu ? Waktu itu kalau memang kau membiarkaa aku mendekatimu, tentu tidak seperti si perempuan cabul yang hendak main pegang engkau, aku hanya hendak mengatakan kepadamu bahwa aku tidak akan mengganggumu...karena aku bukan seorang kakek cabul...!" . Digoda seperti itu lagi oleh Lu Liang Cwan muka Oey Yok Su jadi berobah merah, ia malu sekali.
"Janganlah locianpwe menggodaku terus..."
Kata Oey Yok Su kemudian.
"Hemm, siapa yang ingin menggodamu...?"
Balik tanya Lu Liang Cwan.
"Justru aku telah mengatakan dari hal yang sebenarnya...!".
"Baiklah Lu locianpwe, apakah kita akan melakukan perjalanan sekarang saja ?"
Tanya Oey Yok Su.
"Engkau telah seharian penuh belum makan, lebih baik engkau makan dulu...!"
Kata Lu Liang Cwan dan mengeluarkan dari selipan baju kulit binatang buasnya itu sebuah bungkusan.
Waktu dibuka ternyata terdapat beberapa macam makanan.
Oey Yok Su memang merasa lapar, maka tanpa malu-malu lagi dia telah melahapnya makanan tersebut.
Waktu Oey Yok Su tengah melahap makanannya itu, Lu Liang Cwan menceritakan ketika ia turun dari perahu memang ia ingin berpisah dengan Oey Yok Su, maka ia telah berlari cepat sekali meninggalkan si pemuda dengan mengambil jalan yang berlawanan.
Tetapi setelah berlari puluhan lie, mendadak Lu Liang Cwan merasa berat harus berpisah dengan Oey Yok Su.
Bukankah pemuda itu seorang yang cerdas dan memiliki bakat yang cukup baik, kenapa mereka tidak mengikat tali persahabatan saja ?
Mengapa mereka harus berpisah ?
Apa lagi Lu Liang Cwan juga melihatnya, setelah berlari sekian lama, keadaan disekitarnya merupakan tanah gersang dan tidak terlihat seorang manusiapun juga.
Maka setelah ragu-ragu sejenak, kemudiari ia telah memutar arahnya dan berlari keasalnya semula, yaitu tepi pantai.
Tetapi Oey Yok Su sudah tidak dilihatnya.
Ditanyakannya kepada nelayan yang ada disekitar tempat itu, barulah Lu Liang Cwan mengetahui bahwa Oey Yok Su bermalam dirumah seorang nelayan diperkampungan dipesisir pantai tersebut.
Maka Lu Liang Cwan terus membayangi pemuda itu.
Disaat itu, memang Lu Liang Cwan tidak mau memperlihatkan dirinya, karena ia hanya ingin melihat apa yang akan dilakukan Oey Yok Su.
---oo^dwkz~0~Tah^oo---BEGITU pula waktu Oey Yok Su pamitan kepada tuan rumah tempat ia bermalam, Lu Liang Cwan tetap mengikuti anak muda itu, sampai ia bisa menyaksikan betapa Oey Yok Su digoda oleh Bong Kim Lian.
Dan disaat Oey Yok Su hampir tidak berdaya sama sekali, barulah Lu Liang Cwan turun tangan.
Mendengar keterangan Lu Liang Cwan, Oey Yok Su telah berkata kurang senang .
"Mengapa Lu locianpwe tidak turun tangan menolongiku sebelum aku diracuni oleh perempuan cabul itu?"
Lu Liang Cwan tertawa.
"Justru aku hendak melihat sampai dimana ia bisa menguasai dirimu, dan setelah melihat bahwa engkau benar-benar tidak berdaya dan akan jatuh dalam cengkeraman tangan perempuan cabul itu, aku segera turun tangan. Yang terpenting, bukankah sekarang engkau tidak mengalami suatu kerugian apapun juga ? Oey Yok Su tertawa dan meneruskan makannya. Setelah selesai, mereka bersiap-siap akan meninggalkan tempat itu. Tetapi ketika mereka akan menaiki undakan anak tangga, waktu itu mereka mendengar suara langkah kaki diruangan atas. Lu Liang Cwan tertawa dingin .
"Wanita cabul itu muncul lagi...!" . Dan dugaan Lu Liang Cwan memang tepat. Belum selesai perkataannya, disaat itu diatas undakan anak tangga terlihat sesosok tubuh. Bong Kim Lian muncul dengan muka yang merah padam, disertai oleh suara bentakannya .
"Tua bangka jahat, tinggalkan pemuda itu untukku......."
"Ha...ha...ha..., enak saja kau bicara, coba kau tanya kepada bocah she Oey ini, apakah ia bersedia ditinggal bersamamu...jika memang dia menghendaki begitu, aku tentunya tidak berdaya apa-apa, itu menunjuki ia lebih senang berpelukan hangat denganmu...!" . Mendengar godaan Lu Liang Cwan, muka Oey Yok Su jadi berobah merah lagi karena malu. la telah berkata dengan suara yang penuh kemarahan kepada Bong Kim Lian .
"Engkau perempuan cabul, benar-benar jahat tindakanmu yang hendak mencelakai aku...!"
Dan tanpa menunggu selesai kata-katanya Oey Yok Su telah melompat keatas dengan gerakan yang ringan, sekarang ia sudah tidak terpengaruh obat pelemas yang pernah diminumnya, maka ia bisa bergerak dengan lincah dan tenaganya juga telah pulih kembali.
Itulah sebabnya Oey Yok Su bisa bergerak lincah.
Bahkan waktu tubuhnya tiba dihadapan Bong Kim Lian, tangan kanannya telah bergerak melancarkan serangan.
Bong Kim Lian mengelak sambil berseru.
"Pemuda tidak tahu diuntung, diberi yang enak, dan nyaman malah tidak mau !" . Dan Bong Kim Lian telah menangkis serangan Oey Yok Su berikutnya. Gerakan yang dilakukan Bong Kim Lian juga bukan gerakan yang ringan, karena ia melancarkan serangan dengan disertai lwekangnya yang cukup kuat. Tetapi kini Oey Yok Su telah pulih semangat dan tenaganya, ia bisa memberikan perlawanan yang gigih. Dalam sekejap mata belasan jurus telah dilewati. Lu Liang Cwan hanya tertawa haha-hihi menyaksikan pertempuran itu.
"Perempuan cabul !"
Katanya kemudian.
"Mengapa engkau sambil bertempur tidak membuka juga pakaianmu, agar mataku si tua yang lamur ini dapat menikmati keindahan bentuk tubuhmu...!" . Muka Bong Kim Lian jadi merah padam mendengar ejekan Lu Liang Cwan, dengan berseru-nyaring dia menyerang Oey Yok Su bertubi-tubi. Oey Yok Su jadi sibuk mengelakkan diri kesana kemari. Tetapi bertempur beberapa jurus lagi, Lu Liang Cwan telah melompat sambil ikut melancarkan serangan.
"Wanita cabul seperti engkau yang tidak tahu malu memang harus dibuat bercacad...!"
Katanya.
"Dan kini aku tidak akan melepaskan engkau dalam keadaan utuh dan sehat...lihatlah serangan !" . Benar-benar Lu Liang Cwan telah melancarkan serangan yang bertubi-tubi. Bong Kim Lian memiliki kepandaian yang tinggi, ia tidak jeri menghadapi Lu Liang Cwan maupun Oey Yok Su. Tetapi dikeroyok berdua seperti itu, Bong Kim Lian agak terdesak. Malah ia telah menyadarinya, jika ia memaksakan diri untuk memberikan perlawanan terus, niscaya dirinya yang akan berhasil dirubuhkan oleh kedua lawannya. Karena Oey Yok Su memiliki kepandaian yang tinggi, walaupun pemuda ini kurang pengalaman, namun ia memiliki ilmu yang aneh dan hebat, serta sinkang yang cukup kuat. Sedangkan Lu Liang Cwan merupakan tokoh sakti yang memiliki kepandaian sulit diukur. Maka setelah bertempur beberapa jurus lagi, akhirnya Bong Kim Lian mengambil keputusan untuk menyingkir. Dengan gencar ia melancarkan serangan-serangan mematikan kepada Lu Liang Cwan dan Oey Yok Su, waktu kedua orang itu mundur menjauhi diri dari serangan-serangannya, Bong Kim Lian telah mempergunakan kesempatan itu untuk menjejakkan kakinya, tubuhnya melompat menjauhi diri dari kedua lawannya dan dengan gesit ia telah berlari keluar dari rumah itu. Lu Liang Cwan dan Oey Yok Su tidak mengejar, orang tua she Lu itu telah mengeluarkan suara tertawa bergelak-gelak. Keduanya kemudian meninggalkan rumah itu juga, untuk melanjutkan perjalanan mereka. Keduanya belum mengetahui kearah mana mereka akan pergi, tetapi mereka merasa senang dengan melakukan perjalanan berdua, jadi tidak kesepian dan bisa bercakap-cakap selama dalam perjalanan. Dan pakaian serta keadaan Lu Liang Cwan, yang mengenakan pakaian dari kulit binatang buas, dengan sebagian tubuhnya terbuka, telah menarik perhatian dari orang-orang yang berjumpa dengan mereka. Namun Lu Liang Cwan tidak memperdulikannya, malah tidak acuh waktu Oey Yok Su menganjurkannya beberapa kali agar Lu Liang Cwan membeli seperangkat pakaian biasa untuk mengganti pakaiannya yang agak luar biasa itu. Mereka melakukan perjalanan kearah Selatan, dan setiap singgah disebuah kampung atau kota, keadaan Lu Liang Cwan menarik perhatian penduduk setempat. Tetapi mereka hanya menganggap b4hwa Lu Liang Cwan sebagai orang yang kurang waras pikirannya. Sering juga Oey Yok Su dan Lu Liang Cwan bentrok dengan jago-jago setempat, termasuk buaya-buaya darat dikota-kota yang mereka singgahi. Tetapi buaya-buaya darat yang mencari-cari urusan dengan mereka mana bisa menandingi mereka, umumnya hanya satu dua gebrakan saja, Lu Liang Cwan menghajar habis-habisan buaya-buaya darat itu. Oey Yok Su sendiri gembira bisa berkelana dialam bebas dan menyaksikan keramaian. Belasan tahun ia selalu berada dipulau Tho Hoa To, hanya kesunyian yang menjadi temannya. Sekarang ia bisa bebas merantau melakukan perjalanan ditempat ramai, maka kegembiraan yang dimilikinya jauh melebihi kegembiraan Lu Liang Cwan. Yang menguntungkan Oey Yok Su, ia jadi memperoleh tambahan pengalaman, sebab Lu Liang Cwan sebagai tokoh sakti yang berpengalaman, banyak menceritakan pada Oey Yok Su perihal kehidupan orang-orang rimba persilatan. ---oo^dwkz~0~Tah^oo---BAGIAN 20 . TOAN HONGYA KAISAR TAYLIE DIKOTA Tung-hang yang terdapat dalam bilangan daerah In-lam, tampak seorang pemuda tengah berjalan tenang sekali dipintu barat kota tersebut. Pemuda itu memiliki tubuh yang tegap, rambutnya diikat keatas rapih sekali, bajunya berwarna hijau dengan celananya yang berwarna kuning dan angkin pengikat pinggang yang berwarna merah. Resik sekali tampaknya, disamping wajahnya yang kelimis halus. la merupakan seorang pemuda yang gagah dan tampan, usianya mungkin belum sampai dua puluh tahun. Waktu memasuki kota Tung-hang, pemuda itu telah memandang sekelilingnya, tampaknya tengah mencari sesuatu, sampai akhirnya ia telah menghampiri sebuah kedai teh. la menghampiri pelayan yang berdiri didepan kedai itu. Sipelayan telah melihat pemuda itu, dan menduga adalah tamunya, maka ia membawa sikap yang hormat sambil mempersilahkan pemuda itu untuk singgah. Tetapi pemuda itu telah mengulapkan tangan kanannya sambil katanya .
"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu" , kata-katanya itu disusul dengan matanya yang memandang kedalam ruangan kedai teh itu, sambil tanyanya lagi .
"Apakah hari ini ada seorang pendeta To yang berkunjung kemari, pendeta itu berusia 60 tahun, memakai baju berwarna abu-abu dan membawa hudtim yang gagangnya kuning keemas-emasan, dan pada alis mata sebelah kanan terdapat garis bekas luka...?" . Pelayan itu seperti berpikir sejenak, tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Sayang sekali aku tidak melihat orang yang ditanyakan oleh Siauwya, mungkin pendeta itu belum singgah dikedai teh kami" .
"Baiklah, terima kasih atas penjelasanmu" , kata pemuda itu. la telah memutar tubuhnya melanjutkan perjalanannya lagi untuk menyusuri jalan-jalan dikota tersebut. Sedangkan si pelayan telah mengawasi pemuda itu, diam-diam hatinya berpikir .
"Pemuda yang luar biasa, sinar matanya begitu tajam, tampaknya ia bukari pemuda biasa, setidak-tidaknya ia adalah seorang pemuda keturunan bangsawan...!"
Memang pemuda itu gagah dan tampan, ia pun memiliki sikap yang agung.
Walaupun pemuda itu berpakaian sebagai pemuda lazimnya dengan pakaian yang tidak terlalu mewah, tokh sikap dan keadaannya begitu berwibawa dan agung, disamping matanya yang memancarkan sinar yang tajam berpengaruh.
Pemuda gagah yang tengah berjalan berkeliling kota itu tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.
Ia menyaksikan sesuatu.
Serombongan tentara kerajaan tengah beriringan dijalan raya.
Pemuda itu jadi tertarik, ia telah mengikuti iringan tentara kerajaan itu dari jarak yang agak jauh.
Diam-diam hatinya jadi heran karena ia menduga-duga entah apa yang hendak dilakukan oleh rombongan tentara kerajaan yang berjumlah hampir tiga puluh orang itu ditengah-tengah keramaian kota tersebut.
Sedangkan rombongan tentara kerajaan telah sampai dimuka sebuah rumah yang tidak begitu besar, tetapi cukup bersih.
Salah seorang diantara tentara kerajaan itu, yang rupanya menjadi komandannya, telah maju mengetuk daun pintu.
Dari dalam rumah keluar seorang wanita setengah baya, yang mukanya seketika menjadi pucat waktu melihat rombongan tentara kerajaan tersebut.
"Ada keperluan apakah Tai jin (panggilan menghormat untuk seorang pembesar kerajaan) mengunjungi kami ?"
Tanya wanita setengah baya itu, tampaknya ia ketakutan sekali, mukanya memperlihatkan kekuatiran dan pucat.
Tentara kerajaan yang berusia empat puluh tahun dan memiliki wajah yang keras, telah berkata dengan suara yang tawar .
"Kami diutus oleh Congtok (Gubernur) untuk memanggil anak nyonya...I"
"Anak kami dipanggil Congtok ?"
Tanya wanita setengah baya itu dengan suara yang gugup.
"Putera kami yang bernama Liang le Khu ?"
Komandan pasukan tentara kerajaan itu mengangguk membenarkan.
"Ya!, putera nyonya yang bernama Liang Ie Khu...!" , katanya.
"Ohh....., apakah puteraku itu telah melakukan... melakukan perbuatan berdosa...?"
Tanya wanita setengah baya itu kian gugup saja. Komandan pasukan tentara kerajaan tersebut mengangkat bahunya sambil menggeleng.
"Kami tidak mengetahui persoalannya, tetapi, kami hanya menjalnkan perintah Congtok, maka jika putera nyonya tidak mempersulit kami dan mau turut secara baik-baik menemui Congtok, kamipun tidak akan mempersulit dia... nanti setelah sampai digedung Congtok baru diketahui apa sebenarnya urusan putera nyonya...!" . Wanita.setengah baya itu benar-benar gugup, tubuhnya juga menggigil. Akhirnya ia berkata dengan suara yang parau .
"Baiklah, tunggulah sebentar Tai jin, aku akan memanggil-nya...!" . Komandan pasukan tentara kerajaan itu hanya mengangguk saja. Wanita setengah baya yang tampaknya gugup sekali itu telah masuk kerribali kedalam rumah, dan tidak lama kemudian ia keluar pula bersama seorang pemuda berusia dua puluh dua-an tahun, sikapnya juga gugup. Ketika berhadapan dengan komandan pasukan tentara kerajaan, pemuda yang bertubuh kurus tetapi memiliki paras yang cukup tampan itu merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat.
"Ada keperluan apakah Tai jin hendak membawa Siauwjin ?"
Tanya pemuda itu, suaranya tergetar, rupanya ia gugup sekali dan ketakutan. Komandan pasukan tentara kerajaan itu telah tersenyum sambil katanya .
"Tung Congtok memanggil kau menghadap, harap kau tidak membantah...!" . Muka pemuda. itu tambah pucat.
"Apakah...apakah aku telah melakukan suatu kedosaan pada Tung Congtok ?"
Tanyanya, seperti bertanya pada dirinya sendiri.
"Nanti-disana engkau akan memperoleh keterangan" , menyahuti komandan pasukan tentara kerajaan itu. Si pemuda melirik kearah barisan kerajaan itu, ia melihat jumlah yang cukup banyak. Waktu itu komandan pasukan tentara kerajaan telah tersenyum kembali.
"Kami tahu engkau memiliki kepandaian silat, tetapi jangan sekali-sekali engkau membantah panggilan ini dengan memberikan perlawanan pada kami. Lihatlah, kami datang dalam jumlah, yang cukup banyak ! Jika engkau membandel dan memberikan perlawanan, engkau sendiri yang akan rugi, sebab Tung Congtok telah perintahkan kami, jika engkau berusaha memberikan perlawanan dan melarikan diri, ibumu yang sudah lanjut usianya itu harus dibawa menghadap Tung Congtok sebagai gantinya..." . Mendengar perkataan komandan pasukan tentara kerajaan itu, pemuda tersebut jadi menghela napas. Akhirnya ia bilang .
"Baiklah, bisakah Tai jin menunggu sebentar, aku ingin mengganti pakaian dulu...!" . Tetapi Komandan pasukan tentara kerajaan itu telah menggeleng.
"Dengan pakaian seperti ini engkau telah cukup rapih, ayo kita berangkat...!"
Suara komandan pasukan tentara kerajaan itu bernada biasa saja, namun tangannya telah menarik lengan si pemuda, itulah merupakan suatu paksaan secara halus.
Si pemuda rupanya tidak berani membantah, dia hanya menoleh kepada ibunya, wanita setengah baya yang mengawasi dengan wajah berkuatir sekali, katanya .
"Ma, engkau baik-baiklah menjaga diri, anak pergi-tidak lama, segera akan kembaii.,.!".
"Anakku...!"
Kata wanita setengah baya itu.
"Kedosaan apakah yang telah engkau perbuat pada Tung Congtok ?"
Sianak tersenyum getir.
"Entahlah, Tai jin ini tidak, mau menjelaskan, mungkin setelah anak pergi menghadap pada Tung Congtok baru mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya. Nah Ma, anak pergi dulu..."
Sedangkan komandan pasukan tentara kerajaan itu telah menarik lengan sipemuda dan mengajaknya berlalu.
Wanita setengah baya itu berdiri mematung mengawasi puteranya diseret oleh pasukan tentara kerajaan.
Tanpa disadarinya dari pelupuk matanya yang memang telah keriput oleh ketuaan itu menitik turun butir-butir air mata.
Pemuda yang tampan dan memiliki tubuh yang tegap itu, telah keluar dari tempat persembunyiannya waktu melihat pasukan tentara kerajaan itu telah berlalu.
la menghampiri wanita setengah baya yang tengah bersedih, sambil memberi hormat, pemuda ini bertanya .
"Ada persoalan penasaran apakah yang menimpah keluarga Hu jin (nyonya) ?"
Wanita setengah baya itu tertegun sejenak, tampaknya ia gugup dan ketakutan, bahkan telah menghapus air matanya.
"Sebetulnya......sebetulnya tidak ada urusan apa-apa" , sahutnya kemudian sambil mengawasi si pemuda yang memandanginya dengan tanda tanya.
"Ini...... ini...... tentunya urusan biasa saja" . Pemuda itu tersenyum, ramah sekali sikapnya dan sopan santun.
"Kukira Hu jin tidak perlu menutupi persoalaa tersebut, karena aku tahu tentunya putera Hu jin tengah menghadapi suatu kesulitan yang sukar diatasi...!"
Wanita setengah baya itu telah mengawasi pemuda ini agak lama, tetapi akhirnya setelah melihat orang demikian sopan dan wajahnya memancarkan kewibawaan, ia menindih keraguannya, katanya .
"Baiklah Kongcu......sebetulnya anakku itu Liang le Khu, telah melakukan suatu kesalahan pada Tung Congtok....... secara diam-diam ia telah berpacaran dengan puteri Congtok..!''.
"Berpacaran dengan puteri Congtok ?"
Tanya pemuda itu. Wanita setengah baya itu mengangguk.
"Benar, tetapi secara diam-diam tidak diketahui oleh Tung Congtok, karena mereka menjalin hubungan dengan rahasia......!."
"Tetapi hubungan asmara mereka itu bukan suatu dosa, bukan ? Apakah puteri Congtok itu juga menyukai puteramu ?"
Tanya sipemuda. Wanita setengah baya itu mengangguk.
"Ya, jika memang puteri Tung Congtok tidak mencintai anakku, mana mungkin mereka bisa berhubungan mesra ? Bukankah bertepuk sebelah tangan tidak akan berbunyi...!"
"Lalu mengapa Tung Congtok memerintahkan orang-orangnya untuk menangkap puteramu itu ?"
Tanya si pemuda lagi. Wanita setengah baya tersebut menghela napas dengan wajah yang murung.
"Inilah nasib kami yang buruk", katanya kemudian.
"Kami rakyat kecil, apa yang kami bisa perbuat ? Tung Congtok merupakan seorang pembesar yang besar sekali kekuasaannya, ia tidak menyetujui hubungan puterinya dengan seorang pemuda yang miskin, maka ia beranggapan bahwa puteraku itu telah berdosa dan ditangkapnya. Dan yang kukuatirkan justru aku kuatir kalau-kalau puteraku itu akan memperoIeh siksaan dari Tung Congtok.....!" . Mendengar sampai disitu, pemuda berparas tampan dan gagah itu mengangguk mengerti.
"Lalu apa yang hendak dilakukan Hu jin ?"
Tanyanya lagi.
"Entahlah, apa yang bisa kami lakukan ?"
Balik tanya wanita itu.
"Jika memang puteramu itu ditangkap dan dipenjarakan oleh Congtok, apa yang hendak dilakukan oleh Hu jin ?"
Tanya pemuda itu mempertegas pertanyaannya. Karena melihat pemuda itu bersungguh-sungguh, wanita setengah baya tersebut, Liang Hu jin, jadi bimbang lagi. la ragu-ragu.
"Coba Hu jin kemukakan, apa yang akan dilakukan Hu jin untuk membela putera Hu jin?"
Tanya sipemuda mendesak.
"Aku..... aku akan datang menghadap Tung Congtok, untuk minta belas kasihannya...!"
Menyahuti Liang Hu jin.
"Dan jika Congtok itu menolak permohonan Hu jin ?"
Tanya sipemuda. Wanita setengah baya itu menghela napas.
"Tentu saja kami tidak berdaya apa-apa, hanya menerima nasib saja...!"
Sahut wanita setengah baya itu "Baiklah Hu jin, aku bersedia membantu kalian ibu dan anak, apakah Hu jin bersedia menerima bantuanku ini ?"
Tanya sipernuda. Wanita setengah baya itu tambah ragu-ragu. Tetapi kemudian ia mengawasi tamunya dengan sorot mata tajam, dan kedua kakinya lalu ditekuknya, ia berlutut dihadapan sipemuda.
"Jika memang Kongcu mau menolongi kami sehingga bisa keluar dari kesulitan kami, betapa menggembirakan sekali tentu budi Kongcu tidak mungkin kami lupakan......!"
Pemuda itu telah perintahkan nyonya setengah baya itu untuk berdiri, kemudian ia meminta selembar kertas dan alat tulisnya.
Wanita itu menanyakan siapakah si pemuda tampan tersebut, yang tampaknya agung sekali, tetapi pemuda itu tidak bersedia memberitahukan siapa dirinya.
Dengan cepat pemuda itu telah menulis sepucuk surat untuk Tung Congtok, lalu ia menggulung surat itu, diberikan kepada wanita setengah baya tersebut.
"Kau pergi menghadap Tung Congtok dan berikan surat ini kepadanya. Aku jamin dan memastikan, puteramu akan dibebaskan. Tetapi jika memang terdapat kesulitan untuk hubungan asmaranya dengan puteri Tung Congtok, lebih baik puteramu itu mengundurkan diri saja, tidak meneruskan hubungan itu. Tetapi yang pasti puteramu itu akan dibebaskan oleh Tung Congtok setelah kau berikan surat ini...!"
Wanita setengah baya itu memandang pemuda tersebut dengan tatapan mata percaya dan setengah tidak percaya, tetapi walaupun hatinya ragu-ragu, ia menyatakan terima kasihnya juga.
Si pemuda telah pamitan untuk berlalu, sedangkan wanita setengah tua itu cepat-cepat menuju kekantor Tung Congtok.
Dipintu gerbang Tung Congtok, wanita setengah baya ini telah ditahan oleh beberapa orang bawahan Tung Congtok.
Walaupun ia memohon untuk dapat bertemu langsung dengan Tung Congtok, permintaannya itu tidak bisa dipenuhi tapi ditolak, dia diusir untuk pergi.
Tetapi wanita setengah baya itu, ibu dari Liang Ie Khu menyatakan bahwa ia hanya ingin menyampaikan surat yang dialamatkan kepada Tung Congtok.
Bawahan Tung Congtok mengatakan mereka akan menyampaikan surat itu kepada Tung Congtok, tetapi wanita tersebut tetap tidak bisa menghadap langsung kepada Congtok.
Liang Hujin telah menyerahkan surat itu kepada orang bawahan Congtok, dan kemudian Liang Hu jin duduk diluar pintu gerbang kantor Congtok, karena ia tetap tidak berhasil untuk minta bertemu dengan Congtok.
Surat yang diserahkan Liang Hu jin telah dibawa masuk untuk disampaikan kepada Congtok.
Tetapi tidak lama kemudian orang tersebut yang tadi membawa surat itu, telah keluar kemba!i dengan tergesa, dan dengan sikap menghormat ia mempersilahkan nyonya tersebut masuk kedalam guna bertemu dengan Tung Congtok.
Melihat perobahan sikap pengawal Congtok tersebut, wanita setengah baya ini yakin bahwa surat yang diberikan pemuda tampan itu memiliki keampuhan yang kuat sekali.
la jadi girang dan timbul harapannya bahwa anaknya akan dibebaskan Congtok.
Tergesa-gesa ia telah ikut pengawal Congtok memasuki gedung yang besar dan agung itu.
Diruang tengah, ditempat persidangan, telah duduk menanti Tung Cangtok.
Sikapnya gelisah sekali, waktu nyonya setengah baya itu datang menghadap, Congtok itu menegurnya sambil memperlihatkan sikap tidak gembira .
"Apa yang telah kau lakukan wanita tua ?"
Wanita setengah baya itu jadi ketakutan, ia menekuk kedua kakinya untuk berlutut.
"Apa...... apa maksud Tai jin ?"
Tanyanya dengan ketakutan.
"Hemm...." , muka Tung Congtok masih memperlihatkan sikap tidak menyukainya. Tangan kanannya telah diangkat dan ditangannya itu tergenggam surat yang tadi disampaikan oleh Liang Hu jin.
"Siapa yang memberikan surat ini kepadamu?"
Liang Hu jin tambah ketakutan, justru ia kuatir kalau-kalau surat itu malah akan memberati anak dan dirinya.
Maka sejujurnya ia menceritakan apa yang telah terjadi, dimana seorang pemuda yang tampan telah menawarkan jasanya untuk menolongi dirinya bersama anaknya.
"Jadi.....!"
Sepasang alis Congtok itu mengkerut dalam-dalam.
"Pemuda itu telah menyaksikan semua peristiwa itu......?''.
"Mungkin"
Liang Hu jin mengangguk.
"karena ia telah mendesak kepada Siauwjin, apakah keluarga Siauwjin tengah menghadapi kesulitan."
Congtok itu tampaknya jadi gelisah sekali, ia berjalan hilir mudik dengan wajah yang tidak tenang.
"Tahukah engkau bahwa puteramu itu sesungguhnya telah berdosa ?"
Tanya Tung Congtok kemudian dengan suara yang dingin, tangan kanannya telah mengusap-usap jenggotnya yang cukup panjang.
Liang Hu jin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dalam keadaan berlutut seperti itu, sama sekali ia tidak berani menyahuti.
"Anakmu itu, Liang le Khu seorang pemuda yang kurang ajar, tanpa bercermin siapa dirinya sesungguhnya, ia berani berpacaran dengan puteriku....... dia berani untuk membujuk puteriku, dan juga telah mengadakan pertemuan rahasia, maka jika ia di jatuhi hukuman mati, itupun masih pantas."
Tetapi wanita setengah baya itu telah menangis sambil berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali sambil sesambatan.
"Maafkan dan ampunilah kami.... tentu Siauwjin akan berusaha menasehati anakku itu... tetapi kami memohon kemurahan hati Tai jin...?"
"Hemm....., sekarang kau jawab yang jujur, apa yang diucapkan oleh pemuda yang telah memberikan kau surat ini ?"
Tanyanya lagi.
"Tidak ada perkataan apa-apa, hanya dikatakannya jika surat ini telah diberikan kepada Congtok, tentu puteraku itu akan dibebaskan, hanya untuk selanjutnya agar anakku itu tahu diri dan tidak mendekati puteri Congtok pula......."
Tung Congtok menghela napas.
"Tahukah engkau siapa pemuda itu ......?"
Wanita setengah baya itu menggeleng, ia memang tidak mengetahui siapa pemuda itu.
"Ia adalah Toan Hongya, junjungan kita......."
Kata Tung Congtok lagi. Muka wanita itu jadi pucat..
"Pemuda itu.......Toan Hongya adanya...?"
Tanyanya gugup.
"Ya, beliaulah Hongte (kaisar) kita.......!"
Menyahuti Tung Congtok.
"Dan surat ini adalah surat yang ditulis oleh Toan Hongya, maka tentu aku tidak bisa membantah perintah junjungan kita, yang menyerupai firman ini ! Tetapi disamping itu, akupun meminta pengertianmu, agar menasehati anakmu tidak mengganggu puteriku Iagi.......Puteramu itu akan segera kubebaskan .......!"
Wanita tua itu jadi terharu dan berterima kasih, ia berjanji akan menasehati puteranya agar tidak berusaha mendekati puteri Tung Congtok lagi.
Setelah mendengar janji wanita setengah baya itu, Tung Congtok mengeluarkan perintahnya!
pada pengawal yang ada diruangan tersebut, untuk membawa Liang Ie Khu.
Pemuda itu dinasehatinya agar tidak mengganggu puteri Congtok lagi dan kemudian dibebaskan.
Setelah membebaskan Liang Ie Khu, lalu kemudian ibu beranak itu telah pergi meninggalkan ruangan tersebut, Tung Congtok menghela napas berulang kali.
Memang semula ia ingin mempergunakan kekuasaannya untuk memasukkan Liang le Khu kedalam penjara selama satu atau dua tahun, tetapi siapa tahu justru per buatannya telah diketahui langsurg oleh Toan Hongya, kaisarnya.
Hal ini tentu saja membuat Tung Congtok jadi bingung dan mencari-cari alasan apa yang bisa diberikan untuk membela diri dihadapan kaisarnya nanti.
Memang Toan Hongya merupakan seorang kaisar yang berkuasa di In-lam.
Dan kekuasaannya itu telah dikembangkan dalam pemerintahan yang baik dan selalu memperhatikan kehidupan rakyatnya, penghidupan yang baik dan teratur, sehingga Toan Hongya yang masih muda usia ini disamping disenangi rakyatnya, pun dihormati pula.
Memang Kaisar yang masih berusla muda ini terkenal sekali sering keluar dari istana untuk menyaksikan langsung penghidupan dan kehidupan rakyat-nya.
Jika terjadi urusan penasaran, tentu Toan Hongya tidak akan segan-segan turun tangan guna mengatasi persoalan tersebut.
Hari itu, setelah menulis surat untuk diberikan wanita setengah baya itu kepada Tung Congtok, Toan Hongya telah melanjutkan perjalanannya lagi mengelilingi kota itu.
la tengah mencari-cari seorang tosu yang diketahuinya hari ini berada dikota tersebut.
Tetapi sejauh itu, tosu yang dicarinya belum juga berhasil dijumpainya, sehingga akhirnya Toan Hongya kaisar muda usia dan sering menyamar sebagai rakyat biasa tersebut kembali ke Istananya.
---oo^dwkz~0~Tah^oo---BAGIAN 21 .
TOAN HONGYA MENCARI GURU SERINGKALI setiap kaisar Toan Hongya keluar menyamar dari istananya, tidak ada seorang penghuni istanapun yang mengetahuinya.
Kaisar yang, memiliki kekuasaan yang mutlak atas negrinya, yaitu Tailie, tidak betah duduk disinggasananya, ia lebih senang berkeliaran untuk mempelajari ilmu silat, dibandingkan harus mengurus negaranya dan memikiri segala macam pikiran berbau politik.
Maka dari itu, Toan Hongya sering mewakili tampuk pemerintahannya kepada para menteri-menteri-nya.
Jika memang bukan persoalan yang terlalu penting, dan hanya pekerjaan rutin saja sehari-hari, maka para menterinya itulah yang harus mengurusnya.
Sebagai seorang Kaisar Toan Hongya memang dihormati dan disegani rakyatnya.
Dia lebih senang melepaskan kedudukannya sebagai raja dan hidup sebagai manusia biasa.
Namun sebagai putera mahkota, jelas ia tidak bisa menampik kewajibannya untuk memegang tampuk pemerintahan yang diwarisi oleh nenek moyangnya.
Tailie merupakan negeri yang tidak begitu besar, yang terletak diselatan, dan juga memiliki penduduk yang tidak begitu banyak jumlahnya.
Tetapi karena Tailie merupakan negeri yang netral dan tidak pernah mencampuri urusan negara lain, maka negara itu bisa, berkembang makmur.
Sebagai seorang Kaisar dalam usia yang masih demikian muda, Toan Hongya merasa dirinya seperti terkekang, kebebasan bergeraknya seperti juga dibatasi, selalu harus membawa pengawal istana.
Itulah yang membuat Toan Hongya jadi kurang kerasan untuk memimpin negaranya, karena yang dibutuhkannya adalah kebebasan.
Sejak kecil Toan Hongya, yang nama kecilnya Toan Ceng ini, sudah senang mempelajari ilmu silat.
Waktu masih kecil ia sering meminta kepada Busu negara untuk mengajarinya ilmu silat.
Tentu saja semua itu dipelajarinya dengan secara diam-diam, karena kalau sampai ayahandanya mengetahui hal itu, ia akan ditegurnya.
Disamping itu, ilmu ketatanegaraan juga dipelajarinya, tetapi tidak bersemangat seperti mempelajari ilmu silat.
Ketika Toan Ceng berusia dua belas tahun, justru para Busu (akhli silat) diistana sudah tidak ada yang bisa menandingi kepandaiannya.
Hal ini membuktikan bahwa Toan Ceng memang memiliki bakat yang baik sekali untuk mempelajari ilmu silat.
Maka dari itu, karena ingin memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi, Toan Ceng telah mengundang beberapa orang guru silat yang memiliki kepandaian tinggi.
Segala macam kepandaian silat telah dipelajarinya, dan semua itu telah membuat tubuh dan kesehatan dari putera mahkota Toan Ceng sangat baik sekali.
Sampai akhirnya Toan Ceng naik takhta dan ia dinobatkan menjadi Kaisar.
Dengan duduknya ia sebagai raja, waktu-waktunya jadi tersita habis oleh kesibukannya mengurus negara.
Hal ini membuat Toan Ceng jadi kurang gembira, karena kegemarannya untuk mernpeiajari ilmu silat tidak bisa dilakukannya.
Setiap hari ia harus memimpin sidang-sidang menterinya, untuk mengatur negaranya.
Dan semua itu baru selesai setiap kali hari menjelang malam.
Maka karena keadaan tubuhnya telah letih sekali, tidak mungkin Toan Hongya melatih ilmu silatnya lagi.
Akhirnya Toan Hongya mengambil langkah yang sekiranya bisa meringankan bebannya.
Pekerjaan sehari-hari sebagai seorang raja diserahkan kepada Perdana Menterinya, ia sendiri sebagai seorang Kaisar baru akan muncul ditempat persidangan jika negara tengah menghadapi urusan besar dan penting.
Dengan cara demikian, waktu-waktu Toan Hongya tidak tersita habis.
Malah ia masih memiliki kesempatan untuk pergi berkeluyuran diluar istana, untuk menyaksikan dari dekat kehidupan dan keadaan rakyatnya.
Dengan demikian, jika memang ia memiliki suatu kesulitan, bisa saja ia segera mengambil tindakan, terutama untuk membantu rakyatnya yang tengah menghadapi urusan penasaran.
Biasanya Toan Hongya bisa menyelesaikan persoalan itu hanya degan menulis sepucuk surat yang diberikan langsung kepada yang bersangkutan dan tentu saja surat atau lebih mirip firman dari Kaisar tidak bisa dibantah oleh para pembesar dibawah kekuasaannya.
Diwaktu itu Toan Hongya merupakan seorang Kaisar yang terkenal sekali dengan sikapnya yang tegas dan selalu memerintah dengan penuh kewibawaan.
Dan hari berjalan terus, sekarang Toan Hongya telah berusia dua puluh tahun, tampak tubuhnya tegap dan gagah.
Tetapi karena dua tahun ini memiliki waktu dan kesempatan yang cukup luas melatih diri dan memperdalam ilmu silatnya tubuh Toan Hongya semakin sehat disamping kepandaiannya yang semakin tinggi.
Kalau memang baru orang-orang rimba persilatan yang memiliki kepandaian tanggung-tanggung, tentu tidak mungkin bisa menandingi kepandaian Kaisar ini.
Maka dari itu sering tersirat didalam hati Toan Hongya untuk berguru lagi kepada akhli-akhli silat yang terkenal atau kepada tokoh-tokoh sakti dirimba persilatan.
Sejauh itu Toan Hongya masih belum berhasil menjumpai orang yang dipenujuinya.
Hanya sering juga Toan Hongya mendengar, bahwa didaratan Tionggoan, yaitu didaratan yang berada diluar kekuasaannya, banyak sekali terdapat akhli-akhli kelas satu yang memiliki kepandaian sangat tinggi.
Maka seru Toan Hongya memberitahukan kepada para menteri-menteri dan penasehatnya, bahwa ia ingin sekali pergi berkelana kedaratan Tionggoan untuk beberapa saat lamanya guna mencari seorang guru silat yang benar-benar memiliki kepandaian yang tinggi.
Namun para penasehat dan menteri-menterinya menyatakan keberatannya sebab jika negara ditinggal pergi oleh Kaisarnya, tentu hat itu akan menggelisahkan rakyatnya, dimana jika negara tengah menghadapi urusan penting tentu tidak bisa segera mengambil tindakan tegas, karena Kaisar mereka tengah berada diluar kerajaan.
Alasan seperti itulah yang menyebabkan Toan Hongya tidak bisa meninggalkan kerajaannya.
Tetapi Toan Hongya juga tidak kurang akalnya.
Ia telah membentuk barisan siewie (pengawal istana) yang memiliki tugas untuk berkeliaran diluar istananya, guna melakukan penyelidikan kalau-kalau dikerajaan mereka telah datang seorang rimba persilatan yang memiliki kepandaian tinggi.
Siewie yang memiliki tugas istimewa itu dibentuk terdiri dari lima belas orang siewie yang memiliki kepandaian lumayan tingginya.
Begitulah, setiap hari kelimabelas orang siewie itu hanya bertugas untuk berkeliaran dikota raja, guna melihat-lihat kalau-kalau ada orang asing yang berkepandaian tinggi.
Memang telah cukup sering Toan Hongya menerima laporan perihal adanya orang asing yang memiliki kepandaian tinggi singgah diibu kota mereka, dan selalu Toan Hongya keluar dari istananya untuk mencari orang asing tersebut guna dilihat sampai berapa tinggi kepandaian yang mereka miliki, karena jika Toan Hongya yakin orang itu memiliki kepandaian yang tinggi sekali melebihi dia, maka akan diangkatnya orang itu menjadi gurunya.
Begitu juga pada hari itu, Toan Hongya menerima laporan bahwa di ibu kota telah kedatangan seorang tosu, yang tampaknya memiliki kepandaian tinggi sekali.
Karena dua orang siewie yang memiliki tugas istimewa untuk mengawasi keadaan didalam ibu kota tersebut melaporkan bahwa tosu itu telah bentrok dengan beberapa orang lintah darat dikota ini, dengan mudah tosu itu menghajar buaya-buaya darat itu kucar-kacir.
Tosu itu berusia hampir enam puluh tahun, mengenakan pakaian kependetaannya yang berwarna abu-abu dan membawa hudtim (kebutan) yang bergagang emas.
Itulah sebabnya Toan Hongya telah keluar dari istananya untuk meneari tosu itu.
Tetapi justru Tosu tersebut yang semula dilaporkan oleh siewie itu tengah makan minum dikedai teh tersebut, telah pergi tidak meninggalkan jejak.
Maka Toan Hongya menyelidiki terus, kedai-kedai teh yang terdapat dikota tersebut telah didatangi, begitu juga beberapa kedai teh diluar kota, termasuk kota-kota lainnya, telah didatanginya, untuk mengejar jejak tosu itu, namun sejauh itu Toan Hongya tetap tidak berhasil mencari jejak imam tersebut.
Hal ini membuat Toan Hongya jadi penasaran, ia tidak berniat kembali keistananya dulu sebelum berhasil mencari tosu tersebut.
la telah mendatangi beberapa buah kota yang berdekatan.
Namun tosu itu tetap saja tidak berhasil dicarinya, hal mana membuat Toan Hongya tambah penasaran.
Dia terus juga mencarinya, sampai akhirnya ia menyaksikan peristiwa yang dialami oleh keluarga Liang itu, dimana Liang le Khu telah ditangkap oleh orang-orangnya Tung Congtok.
Berkat suratnya juga, maka Tung Congtok membebaskan Liang le Khu.
Setelah memberikan pertolongan kepada nyonya Liang itu, Toan Hongya melanjutkan perjalanannya untuk menyelidiki jejak dari tosu itu.
Setelah menjelang sore ia masih belum berhasil mencari jejak tosu yang diduga memiliki kepandaian tinggi itu, maka Toan Hongya telah bermalam disebuah rumah penginapan.
Selama itu tiada seorangpun rakyatnya mengetahui bahwa raja mereka tengah berkeliaran seorang diri, karena Toan Hongya berpakaian biasa saja.
Sedangkan Toan Hongya sendiri telah beristirahat dan menangsel perutnya agar tidak lapar, ia telah keluar dari rumah penginapan itu untuk mulai mencari jejak sitosu lagi.
Sampai jauh malam Toan Hongya berkeliaran dikota tersebut, tetapi justru tosu yang dicarinya itu masih juga belum berhasil ditemuinya.
Maka dari itu Toan Hongya memutuskan ia akan mencarinya terus sampai tosu itu berhasil dijumpainya.
Dan ia berpikir untuk berdiam tiga hari dikota ini, dan jika ia gagal dengan usahanya ini baru ia akan kembali lagi keistananya dan nanti memerintahkan para siewie yang memiliki tugas istimewa itu guna melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Dua hari lamanya Toan Hongya melakukan pencariannya itu dengan sia-sia.
Dan selama itu ia tidak berhasil menemui jejak dari tosu yang dicarinya.
Toan Hongya mulai putus asa, ia menduga mungkin tosu itu telah pergi meninggalkan kerajaannya dan melakukan perjalanan kedaratan Tionggoan, maka Toan Hongya mengambil keputusan setelah satu hari lagi ia melakukan penyelidikan, ia akan kembali keistana saja, sebab tidak mungkin tosu itu masih berada disekitar tempat tersebut.
Tetapi justru pada malam ketiganya, disaat Toan Hongya tengah rebah dipembaringannya untuk beristirahat, pendengarannya yang tajam telah mendengar suara sesuatu diatas genting, ia seperti mendengar jatuhnya daun kering.
Tetapi karena sejak kecil telah gemar mempelajari ilmu silat, maka Toan Hongya mengetahui bahwa suara seperti jatuhnya daun kering itu adalah suara langkah kaki orang yang berjalan malam.
Toan Hongya dengan gerakan tubuh yang ringan telah melompat turun dari pembaringannya.
la menuju kedekat jendela kamarnya dan berdiam disitu memperhatikan lebih teliti lagi suara langkah kaki diatas genting jurusan kamarnya.
Sedangkan suara langkah kaki itu ringan sekali, membuktikan bahwa orang yang tengah melakukan perjalanan diatas genting itu adalah seorang yang memiliki ginkang tinggi.
Toan Hongya menduga-duga entah siapa orang yang tengah melakukan perjalanan diatas genting itu.
Dan juga, entah berapa tinggi kepandaian orang tersebut.
Namun yang benar-benar menarik hati Toan Hongya, ia ingin mengetahui apa yang hendak dilakukan.
orang tersebut.
Penjahat atau seorang pendekar ?
Setelah mendengar suara langkah kaki itu berhenti, dan seperti tengah memperhatikan keadaan disekitar tempat itu, Toan Hongya diam-diam telah membuka daun jendelanya, ia mendorongnya dengan tiba-tiba dan melompat keluar.
Dengan cara demikian dia menghendaki orang yang diatas genting itu tidak bisa melarikan diri.
Dan memang apa yang dipikirkan oleh Toan Hongya tepat, begitu ia keluar dari kamar itu, maka orang yang tengah berada diatas genting tidak bisa menyembunyikan diri atau melarikan diri.
Sebab begitu Toan Hongya melompat keluar dari kamarnya, ia telah membarengi dengan menjejakkan kakinya, tubuhnya dengan ringan telah melompat keatas genting.
la melihat sesosok tubuh akan berlari kearah yang berlawanan, namun Toan Hongya telah mengejarnya sambil berteriak nyaring .
"Tahan........jangan lari kau......!" . Sosok tubuh itu rupanya menyadari bahwa dirinya tidak mungkin bisa meloloskan diri dari Toan Hongya, maka dia menahan langkah kakinya dan memandangi Toan Hongya yang tengah mendatangi. ---oo~dwkz^0^Tah~oo---BAGIAN 22 . LAM SIANG CIN JIN CEPAT sekali Toan Hongya tiba didepan orang buruannya, segera ia melihat orang tersebut berpakaian seperti seorang tosu, yang usianya mungkin telah mencapai enam puluh tahun. Wajahnya angker dan gagah, ditangannya memegang hudtim, yang gagangnya berkilauan tertimpah sinar rembulan, rupanya gagang hudtim itu terbuat dari emas ! Toan Hongya jadi terkejut. Tosu inilah yang tengah dicarinya. Cepat-cepat Toan Hongya menjura memberi hormat, sambil katanya .
"Maafkan cin jin...... siapakah cin jin sebenarnya.......!" . Sedangkan tosu itu ketika melihat Toan Hongya, telah tersenyum ramah.
"Aku mengetahui bahwa engkau selama beberapa hari mencari-cari diriku, siapakah engkau sebenarnya wahai anak muda ?"
Balik tanya tosu itu.
Melihat wajah yang angker dan gagah seperti itu, Toan Hongya tahu bahwa tosu itu adalah seorang akhli silat yang tinggi ilmunya.
la tidak berani bersikap lancang dan sembarangan.
Dengan sikap yang sopan dan ramah, dia telah menyahuti .
"Sebenarnya boanpwe she Toan dan bernama Ceng", ia menjelaskan.
"Dan bolehkah boanpwe mengetahui siapakah gelaran totiang yang mulia ?"
Tojin itu berdiam diri sejenak, ia telah mengawasi Toan Ceng beberapa saat lamanya, sampai akhirnya ia bilang juga .
"Anak muda, engkau memiliki tubuh yang gagah dan tampaknya engkau juga seorang pemuda yang cerdas......!"
Toan Ceng cepat-cepat menjura merendahkan diri, ia mengatakan bahwa pendeta itu terlalu memujinya. Tetapi tosu itu telah berkata lagi .
"Aku bukan memujimu, selama beberapa hari secara diam-diam justru aku telah menguntit dirimu, sehingga aku mengetahui bahwa engkau tengah mencari jejakku. Selama itu aku telah melihat engkau seorang pemuda yang memiliki bakat sangat, baik sekali mempelajari ilmu silat........asalkan engkau memiliki petunjuk yang benar dan baik........!"
Toan Ceng sendiri jadi malu mendengar perkataan tosu itu, karena selama beberapa hari ia mencari jejak tosu tersebut, tetapi siapa tahu justru tosu itu selama itupun telah menguntitnya tanpa dia sendiri mengetahuinya.
Hal ini membuktikan bahwa kepandaian tosu tersebut memang tinggi.
Maka Toan Hongya jadi semakin menghormatinya.
Sedangkan tosu itu telah bertanya lagi dengan suara yang sabar .
"Sesungguhnya apa maksudmu hendak mencariku ?"
Toan Hongya segera memberi hormat sambil katanya .
"Sesungguhnya boanpwe hendak berguru kepada orang yang memiliki kepandaian tinggi......, maka ketika mendengar bahwa totiang memiliki kepandaian yang tinggi, boanpwe bermaksud akan berguru pada totiang.......!"
Muka tojin itu jadi berobah.
"Bagaimana engkau mengetahui bahwa aku memiliki kepandaian silat ?"
Tanyanya sambil memandang dengan mata menyelidiki. Toan Hongya menyahuti .
"Beberapa hari yang lalu bukankah totiang telah menghajar kucar-kacir para buaya darat dikota tersebut, dimana totiang telah memperlihatkan, kepandaian yang sangat mengagumkan sekali, yang tidak mungkin dimiliki oleh sembarangan orang......!"
Tojin itu tersenyum lagi, iapun telah berkata.
"Hemm......., persoalan berkelahi tidak bisa diambil sebagai patokan untuk menilai ilmu silat seseorang, bukankah buaya darat itu hanya mengandalkan tenaga mereka yang kuat dan tidak memiliki kepandaian apa-apa.......maka dengan mudah dan kebetulan sekali aku bisa merubuhkan mereka. Tetapi jika seandainya mereka memiliki kepandaian, tentu aku tidak akan berdaya menghadapi mereka........!"
Mendengar sampai disitu, Toan Hongya tahu bahwa tosu ini ingin mengelakkan diri. Cepat-cepat Toan Hongya telah berkata .
"Begini totiang, sebetulnya aku ingin sekali mencari seorang guru yang bisa mendidikku ilmu silat yang, tinggi, sejak kecil aku telah tertarik untuk mempelajari ilmu silat, aku gemar sekali mempelajari ilmu silat... sayangnya sejauh ini aku belum pernah memperoleh seorang guru yang baik.......maka aku memiliki kepandaian yang tidak berarti apa-apa.......! Jika memang totiang tidak keberatan, aku ingin mengundang totiang untuk menjadi guruku..... Mendengar perkataan Toan Hongya, tosu itu telah tertawa bergelak-gelak.
"Ha...ha...ha...., engkau ini lucu !"
Katanya.
Baca Juga: Warisan Jenderal Gak Hui 1
Baca Juga: Pedang Kiri Pedang Kanan 12