Ceritasilat Novel Online

Pedang Kiri Pedang Kanan 12

Eps 12 Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL

Baca online Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL

Cersil Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL.

"dendam ayah belum terbalas. tulang ayah belum juga ditemukan, sekali2 anak tidak akan menikah, dari sini ke Jiat-ho tidak jauh, buat apa harus pulang pergi menunda waktu. Menurut pendapat anak, mumpung berita Hekliong-hwe hancur belum mereka dengar, akan lebih mudah aku bekerja di Jiat-ho, keparat Ki Seng jiang itu licik dan culas, pasti dia akan meningkatkan kewaspadaan dan penjagaan, bahwa Ci Kun-jin tidak menjabat pangkat lagi, pasti minta perlindungan pula kepada Ki Seng-jiang di Jiat-ho, orang ini bernyali sekecil tikus, begitu memperoleh kabar tentu menyembunyikan diri, hal ini akan mempersulit usaha anak malah, maka anak pikir, lebih cepat kita bekerja akan lebih baik, biarlah sekarang juga anak berangkat supaya urusan tidak bocor."

Thi hujin berpikir sebentar, akhirnya mengangguk, katanya.

"Begitupun baik, pernikahan dilangsungkan setelah kau beres menuntut balas sakit hati ayahmu, supaya arwah ayahmu di alam bakaterhiburdan tenteram.....

"tak tertahandia meneteskanair mata. Sambil mengelus jenggot, Tong Thian-jong berkata kepada Un Ithong.

"Un-heng, kalau demikian keinginan Hiansay karena baktinya terhadap orang tua, biarlah kita racun dan bius para cakar alap2 yangbercokoldiJiatho itu."

Cepat Kun-gi bicara.

"Perjalanan ke Jiat-ho ini cukup kulakukan sendiri saja, kalau banyak orang mungkin menimbulkan perhatian musuh, untuk ini Siausay takberanibikincapai paraGakhu."

"Seorang diri Hiansay tentu kekurangan tenaga, Jiat-ho jangan kau samakan dengan Coat ceng-san-ceng."

"Siau-say akan bekerja melihat gelagat,"

Kun-gi tetap kukuh pendapat. Lalu dia, berpaling kepada Yong King tiong, tanyanya.

"Yong-lopek, apakautahu keadaanKiSeng jiang?"

Yong King-tiong tertawa, katanya.

"Bangsat tua ini adalah biang keladi yang menimbulkan pemberontakan dalam Hek liong hwe sehingga Han Jan-to mengkhianat, Losiu membencinya sampai ketulang sumsum, maka gerak-geriknya selalu kuselidiki dari berbagai pihak, memang sedikit banyak aku tahu keadaannya, sayang selama dua puluh tahun ini hasil yang kuperoleh kurang memuaskan, dari sini dapatlah kita simpulkan betapa licin bangsat tua ini?"

"Dia adalah anak angkat almarhum kakek luar-ku, kemungkinan ayahkupun mati oleh muslihatnya,"

Demikian timbrung Ban Jin cun.

"Ling-heng, bagaimana kalau Siaute ikut kau? Akan kutanya dia berhadapan." -Tangan kanannya tampak terkepal, jelas betapa bencidan dendamnya.

"Kalau Ban -heng curiga Ki Seng-jiang yang membunuh ayahmu, tak enak aku merintangimu, tapi kita harus bekerja secara diam2 ......"

"Bukan hanya membunuh ayah saja,"

Kata Ban Jin-cun sengit.

"keluarga Ban kami tertumpas habis seluruhnya, kemungkinan pula dia yang menjadi biang keladinya."

"Ya, itu kemungkinan,"

Timbrung Yong King-tiong.

"Ki Seng-jiang sekarang menjabat Congtay pasukan pengawal yang bertugas di istana peristirahatan kerajaan di Jiat-ho, boleh dikatakan dia yang paling berkuasa di sana, kalau dia bisa berkuasa pula di Coat-sengsan-ceng yang berada di Tay-piat-san, ini membuktikan bahwa mungkin dia pula yang menjadi orang di belakang layar menguasai Hek-liong-hwe selama ini."

Sampai di sini mendadak dia menepuk paha, serunya tertawa.

"Ya, tidak salah, pernah Losin dengar dari Han Jan-to bahwa jago2 kosen yang sering diutus ke berbagai propinsi kebanyakan datang dari villa kerajaan dan dari anggota bayangkari yang bertugas di Jiat-ho itu, karena raja Boan setahun paling2 datang sekali ke sana, maka hari2 biasa boleh dikatakan amat iseng, maka tugas untuk mengawasi para utusan rahasia dan menumpas para pemberontak seluruhnya dipikul oleh barisan bayangkari di villa kerajaan itu, Hekliong hwe merupakan salah satu komplotan mereka untuk menghadapi kaum persilatan, sudah tentu tugas ini di bawah kekuasaan Ki Seng jiang pula."

"Jadi Cui Kin in hanya utusan pula. Ai, sayang tempo hari kita tidak menahannya."

"Itu kan kehendak gurumu, pasti beliau punya alasan yang tepat,"

Ujar Thi hujin. Mendadak Thian-hi Siansu merangkap kedua tangan sambil bersabda, katanya.

"Tay-thong Su-siok kemaren malam juga bicara dengan Lolap, katanya Cui-sicu bukan saja adalah murid kesayangan Soat-san Sinni, malah dia punya asal-usul istimewa, terang bukan utusan dari Ki Seng jiang.".

"Apa pula yang dikatakan guruku?"

Tanya Kun-gi.

"bolehkan Losiansu menerangkan?"

"Tay thong Taysu hanya bilang demikian, soal lain Lolap tidak tahu, Oya, Cui-tongcu itu pernah kemari dua kali, kalau menurut pandangan Lolap dia tidak mirip manusia yang kejam suka membunuh, bila Ling-sicu kelak bertemu dia, lebih baik tidak menyudutkan dia sehingga membikinnya serba susah, kalau dipaksa dia bisa menempuh jalan lain ini tentu tidak menguntungkan kedua pihak."

Kun-gi merasakan omongan paderi tua ini masih terselip hal2 yang kurang dimengerti dikatakan bahwa Cui Kin-in mempunyai asal-usul, tapi tidak mau menjelaskannya.

Memangnya kenapa?

Apakah karena gurunya, yaitu Soat-san Sinni, maka orang lain harus mengalah kepadanya?

Dalam hati berpikir, segera ia bertanya kepada Yong King-tiong.

"Paman Yong, setiap tempat mempunyai adat dan kebiasaan sendiri, apakah paman bisa menceritakan keadaan di Jiat-ho pada umumnya?"

"Seng-tek-hu berada di sebelah, barat propinsi Jiat-ho, semula merupakan kota pegunungan, maka raja Boan mendirikan Villa disana yang dinamakan Pi-siok-ceng, Ki Seng jiang adalah penguasa Pi-siok-ceng itu, tapi kedudukannya lebih tinggi dari komandan bayangkari yang bertugas di istana raja, malah merangkap wakil gubernur yang berkuasa di seluruh propinsi Jiat-ho, pasukan bayangkari yang ada di villa itu terbagi dua barisan, setiap barisan terdiri sepuluh kelompok, setiap kelompok sebelas orang, itu berarti Ki Seng-jiang mempunyai dua ratusan anak buah yang seluruhnya memiliki kepandaian silat yang tinggi, mereka adalah sampah persilatan yang menjual diri dan rela dijadikan antek, tapi diantara mereka tak sedikit terdapat para cendekia, pendek kata mereka lebih unggul dari para jago pedang Hwi-liong-tong yang bertugas di Hek-liong-hwe,"

Sebentar berhenti lalu ia menyambung.

"O, ya, hampir Losiu lupa, Ki Seng-jiang adalah laki2 yang kemaruk paras cantik, dia punya gundik yang menetap di luar Pi-siok-ceng, konon dalam sebulan ada dua puluhan hari dia menetap di rumah gundiknya itu, kalau Kongcu dapat menyelidiki tempat tinggal gundiknya itu, kukira lebih leluasa turun tangan daripada membunuhnya di Pi-siok-ceng."

"Banyak terima kasih atas keterangan paman, Wanpwe pasti dapat menyelidikinya,"

Kata Kun-gi.

"Ada sebuah hal pula, kau harus hati2,"

Pesan Yong King-tiong lebih lanjut.

"di luar kota Sek-tek terdapat delapan kuil Lama, semuanya dikepalai paderi Tibet, mereka adalah murid2 dari aliran Ih-ka-bun, ilmu silat mereka menyendiri, konon waktu Ki Seng-jiang memimpin barisan bayangkari di istana raja pernah mengangkat seorang Lama sebagai guru, maka kuil2 Lama itu kemungkinan bersekongkolan dengan Ki Seng-jiang, hal inipun harus diperhatikan."

Mendengar Ban Jin-cun mau pergi, maka Kho Keh-hoa tidak mau ketinggalan, sekarang dia baru dapat kesempatan bicara.

"Lingheng sudah berjanji hendak mengajak Ban-heng, memangnya aku disisihkandalamtugas muliaini?"

"Betul,"

Timbrung Tong Siau-khing.

"Ling-heng, kalau ayah, Un-lopekdanCu-lopektidakjadipergi, makaakuharusikutpergi."

Baru saja Kun-gi mau buka suara, tahu2 Bok-tan, Giok-lan, Tong Bun-khing, Un Hoan-kun dam Cu Ya-khim dan lain2 serempak juga menyatakan mau ikut.

Hanya Pui Ji ping seorang yang tunduk kepala tanpa memberi komentar, sudah tentu hadirin tiada yang memperhatikan dia.

Thi-hujin tersenyum pada hadirin, katanya.

"Kaum muda memang suka bergerombol, tujuan kita bukan untuk tamasya, kalau banyak orang malah menarik perhatian musuh, begini saja, anak Gi boleh seperjalanan dengan Ban-siauhiap, tapi di tengah jalan harus berpencar, pura2 tidak saling kenal, Bok-tan boleh ikut bersamaku untuk memberi bantuan bilamana perlu kepada anak Gi, sementara Giok-lan selekasnya kembali ke Pek-hoa ciu (semenanjung seratus bunga), membubarkan Pek-hoa-pang, sementara para Cengcu diharap pulang membawa puteri masing2 ke Kanglam, kali ini betapapundilarang menyusul keJiat-hosupayatidak terjadisesuatu di luar perhitungan."

Rencana yang diatur Thi-hujin sudah tentu tidak sempurna, tapi juga merupakan cara pemecahan untuk sementara, secara tidak langsung dia memperingatkan kepada Thong Thian jong.

Un It-hong dan Cu Bun-hoa supaya lebih memperhatikan dam mengendalikan puteri2nya, betapapun Jiat ho adalah daerah kekuasaan kerajaan yang diperkuat dengan barisan bayangkari, jadi jangan disamakan sepertitempat tamasya.

"Jadiibujuga maupergi?"

TanyaKun-gi keheranan. Thi-hujin tertawa, katanya.

"Kalau ibu juga pergi kan dapat memberi bantuan padamu", jangan kuatir pasti tidak akan menambah beban bagimu."

"Ibu besan tidak usah kuatir,"

Timbrung Tong Thian jong.

"biarlah kita tinggal di sini beberapa hari sambil menunggu ibu besan dam bakal menantu kita kembali lagi ke sini baru sama2 pulang mengurus pernikahan."

"Nah, semua sudah dengar,"

Sela Un It-hiong, yang tidak punya tugas siapapun dilarang ikut pergi,"

Yong King-tiong menambahkan.

"Baiklah kita atur begini saja, kita menunggu kabar baik di sini sambil mempersiapkan pesta pernikahan, dari-pada berpencar tak keruan paran."

Keputusan sudah ditetapkan, walau Kho Keh-hoa, Tong Siau khing dan nona2 yang lain amat getol ingin pergi, tapi tiada seorangpunyangberanibuka mulut.

"Kalau ibu tiada pesan lagi, anak ingin berangkat sekarang juga,"

Demikian Kun gi minta diri. Thi-hujin mengangguk, katanya.

"Begitupun baik, berangkat lebih dini lebih cepatsampai ketepattujuan, besokpagi2 ibusegera menyusulmu."

Lalu mereka menentukan cara dan tanda2 rahasia untuk mengadakan kontak.

Kun-gi dan Ban Jin cun diharuskan ingat semua tanda2 rahasia itu, kemudian satu persatu diizinkan berangkat.

Setelah Kun-gi berangkat lebih dulu, diam2 Thi-hujin panggil Ban jin-cun, dengan suara lirih dia memberi pesan entah apa kepada Ban Jin-cun, tampak anak muda, itu mengiakan lalu berangkat.

Giok-lan mengajak Ci-hwi dan Hu-yong pamit pada Thi hujin dan lain, merekapun segera berangkat kembali ke Pek-hoa-ciu.

Sisa yang lain menetap di Gak koh-bio, setelah makan malam, Pa Thiangi dan Ting Kiau juga pergi secara diam2, mereka memperoleh tugas untuk menyiapkan kereta dan kuda.

Malam itu tiada kejadian apa2, hari kedua pagi2 benar Pa Thian-gi sudah kembali, langsung memberi laporan kepada Thi hujin.

Ting Kiau sudah menyaru kusir dan menunggu di luar.

Sementara Thi-hujin dan Bok-tan menyamar sebagai ibu beranak, setelah berpamitan merekapun meninggalkan Gak-koh-bio secara diam2.

Kira2 menjelang tengah hari, Cu Ya-khim tampak berlari2 memasuki pendopo dan berteriak gugup.

"Yah, celaka, Piaumoay minggat secara diam2."

Cu Bun hoa kaget sekali, tanyanya.

"Anak Khim, apa katamu? Ji ping ke mana?"

"Waktu bangun tidur tadi pagi Piau-moay sudah mengeluh katanya badannya kurang sehat, barusan akan kutengok dia dikamarnya, tapi tidak kutemukan bayangannya, kemungkinan dia menyusul ke Jiat ho."

Cu Bun-hoa berkerut kening, katanya sambil membanting kaki.

"Anak ini, ai, kalau betul2 dia menyusul ke Jiat-ho, ini bukan main2. Ling-lote dan Ling-hujin tidak tahu akan hal ini, pasti bisa celaka dia."

"Kemarin sudah kurasakan se-olah2 nona Pui dirundung persoalan rumit apa, mungkin karena Thi-hujin kemarin melarang orangbanyakikut, makadan menjadinekat."

"Bukan begitu persoalannya,"

Ucap Cu Ya-khim sambil cekikikan.

"Selama ini Piaumoay diam2 kasmaran kepada Piaukonya, jadi dia minggat dengan uring2an."

"Anak perempuan, sembarang omong,"

Cu Bun-hoa segera menegur puterinya. Tong Bun-khing segera mendekati ayahnya serta berbisik sekian lamanya. Tampak Tong Thian-jong mengerut kening, katanya.

"Kukira nona Pui belum pergi jauh, marilah kita membagi jurusan untuk menyusulnya kembali, umpama tidak ketemu juga harus selekasnya memberi kabar kepada ibu besan."

"Usul Tong-loko memang benar,"

Sela Yong King-tiong.

"Urusan jangan ditunda, marilah kita kerjakan dengan berpencar."

"Kalau ketemu lalu bagaimana?"

Tanya Un It-hong.

"Kukira ibu besan pergi hanya membawa Bok-tan dan Ting Kiau, kalau terjadi sesuatu pasti kekurangan tenaga, apakah perlu kita menyusul lagi satu rombongan, dan secara diam2 memberi bantuan kepada mereka?"

"Aku jarang berkecimpung dalam Bu lim di daerah Kanglam, biarlah aku saja yang berangkat,"

Un It-hong menampilkan diri.

"Teman2 Kangouw yang kenal padaku juga jarang2,"

Cu Bun-hoa ikut bicara.

"Baiklah kitabagibegini saja, Tong-lokotetapdi sini, Un-lokodan Cu-loko berpencar dalam dua rombongan, secara diam2 satu dengan lain harus selalu mengadakan kontak untuk mencari jejak nona Pui, ketemu atau tidak harus langsung maju ke Jiat-ho dan secara diam2 memberi bantuan dimana perlu kepada Ling-hujin, jalanan daerah ini aku cukup apal, cuma aku sendiri kurang leluasa ke Jiat ho. biarlah kubantu mencari jejak nona Pui di daerah yang berdekatan sini saja, bagaimana pen-dapat hadirin"

Tong Thian-jong tertawa sambil mengelus jenggot, katanya.

"Untuk menjagakedudukandisini, memangtepatpilihanjatuhpada diriku."

Dia maklum bahwa Yong King tiong memilih dirinya memang tepat dan mengandang arti yang mendalam, karena sebagai Ciangbunjin keluarga Tong, tidak sedikit kaum persilatan dari aliran putih dan golongan hitam yang mengenalnya, bahwa dirinya mendadak muncul di Jiat-ho pasti menarik perhatian banyak orang, maka lebihbaik diaberjagadisini saja.

Un It-hong segera berkata.

"Baiklah kita atur demikian, aku dengan jite (Un It kiau) dan anak Hoan satu rombongan, sementara Cu-heng dan puterinya satu rombongan."

Kho Keh-hoa cepat menimbrung.

"Wanpwe ingin pergi bersama Cu-cencu."

Diam2 Tong Bun-Khing menjawil engkohnya Tong Siau-khing segera menoleh ke arah ayahnya, katanya.

"Yah, anak dan Ji-moay juga ikut pergi, dengan Cu-losiok."

Tong Thian-jong mendengus sambil menarik muka.

"Lagi2 adikmu yang membikin gara2."

Terpaksa Tong Bun khing berteriak.

"Yah, izinkanlah kami ikut berangkat?"

Tong Thian-jong mengangguk, katanya.

"Ya nona Un dan nona Bok-tan juga pergi, kalau puteriku tidak ikut pergi, bukankah orang lain akan merebut pahalanya? Sudah tentu ayah terpaksa menyetujui."

"Yah!"seru Tong Bun-khingdengan jengahkarenadiolok2. Tong Thian-jong tergelak2, katanya.

"Anak perempuan selalu berkiblat keluar, memangnya ayah salah omong?"

"Baiklah, tak perlu banyak bicara,"

Ajar Cu Bun hoa.

"kita harus lekas berangkat. Maka Un It hong dan Cu Bun hoa masing2 memimpin rombongannya terus berangkat, Yong King-tiong juga bawa kelima jago pedangnya menyusul belakangan. >O< >O< >O< Hou-pak-gau merupakan jalan penting keluar masuk tembok besar di sebelah barat laut, di kanan kirinya gunung gunung sambung menyambung tak berujung pangkal, tembok besar bagai ular raksasa menjalar di pegunungan yang turun naik itu, pintu2 gerbang sudah tentu didirikan di pegunungan itu pula, lebarnya cukupuntuk lewatsatukereta, keadaandisini cukupberbahaya. Untuk wilayah Jiat-ho, Hou-pak-gau merupakan pintu gerbang utama hubungan langsung antara Jiat-ho dengan kotaraja, maka setiap hari orang dan kendaraan yang lalu lalang di sini cukup ramai. Tatkala itu menjelang magrib, sang surya sudah hampir terbenam, burung sama terbang kembali ke sarang, barisan keretapun beriring sedang kembali memasuki kota supaya tidak kemalaman dijalan. Pada saat begitulah tiba2 terdangar suara kelintingan berpadu dengan derap tapal kuda tengah berpacu kencang keluar dari Hoa pak-gau ke arah utara, agaknya penumpang kuda itu ada urusan penting, pecutnya diayun berulang kali membedal kudanya semakin kencang, jalan pegunungan yang berdebu itu seketika menjadi berhamburan sehingga orang2 yang beramai mengayun langkah mau masuk kota sama mencaci kalang kabut. Penunggang kuda itu tak peduli dengan caci maki orang, kudanya tetap dibedal kencang dan sekaligus dilarikan puluhan li. Setelah melewati suatu tempat yang bernama La hay-kou penunggang kuda itu merogoh saku mengeluarkan sebuah panji kecil segi tiga terus diayun kian-kemari ke arah hutan di lereng gunung sana, mulutpun berteriak.

"Perhatian, sudah datang." -Belum habis bicara, kedua kakinya mengempit perut kuda terus dibedal pula ke depan. Kira2 semasakan air kemudian, dari kejauhan terdangar pula derap tapal kuda yang berlari pelan2 mendatangi, kiranya ada dua ekor kuda yang jalan beriring. Yang di depan adalah kuda warna coklat mulus. di belakangnya adalah kuda warna ceplok putih hitam, kudanya kuda pilihan yang kekar, cuma dilarikan pelan2, jelas kedua penunggangnya memang tidak begitu pandai naik kuda. Meski lambat lari kuda toh lebih cepat daripada orang berjalan, kejap lain kedua kuda itupun sudah tiba didepan hutan. Jarak semakin dekat dan kelihatan penunggang kuda coklat itu adalah pemuda berbaju sutera, usia-nya belum ada dua puluh, alisnya tebal, matanya besar bercahaya, bibirnya merah, kuncir hitam yang cukup besar menjuntai di belakang punggungnya, sungguhgagahdan menariksekali. Yang berkuda ceplok hitam-putih adalah kacung berusia enam belasan, wajahnya bersih dan cukup cakap juga, gerak geriknya tampak cerdik. Majikan dan pelayan dua orang ini jelas adalah anak bangsawan entah keluarga mana di kotaraja yang hendak buru2 masuk ke kota. Tatkala kedua kuda tunggangan mereka hampir mendekati hutan, tiba2 dari dalam rimba berkumandang suitan nyaring melengking. Segera muncul bayangan tujuh delapan orang laki2 berkedok seperti burung terbang melayang hinggap di tengah jalan, golok di tangan mereka tampak mengkilap, cepat mereka berpencar mengurung kedua orang penunggang kuda. Sudah tentu pemuda baju sutera itu menjadi ketakutan, hampir saja dia terjungkal jatuh dari punggung kudanya, giginya berkrutuk saling beradu, katanya gemetar.

"Ka .....ka.....kalian.... .mau..... .. mauapa?"

Pemimpin rombongan laki2 berkedok membentak.

"Jangan cerewet, lekas turun, tuan besar hanya ingin harta tak mau nyawa. kalau kau masih ingin hidup tinggalkan harta bendamu, tuan akan mengampuni jiwa kalian dan boleh lekas masuk kota."

Pemuda baju sutera mengiakan berulang sambil melorot turun, tapi segera terjungkalbergulingan saking lemaskakinya.

Kacung yang berada di belakangnya juga melompat turun dengan ketakutan, lekas dia memburu maju memapah majikannya, serunya gemetar.

"Kongcuya, bagaimana baiknya?" -saking takut kedua lututnya juga lemas tak bertenaga, ada keinginan memapah majikannyatahu2diaikutterjungkalroboh sekaliansalingtindih. Seorang lelaki berkedok menghampiri dengan melotot, sementara pemimpin orang2 berkedok itu mengambil buntalan di punggung kuda terus dibuka, lainya kecuali berapa perangkat pakaian masih ada sebuntal uang emas lima puluh tahil. Sorot mata laki2 ini tampak mengunjuk rasa girang, tapi dia lantas mendengus hardiknya.

"Anak bangsawan yang keluyuran dari kotaraja masa hanya membawa sangu sedikit ini? Bagaimana kita harus membagi hasil?"

Laki2 bergolok yang menatap kedua majikan dan pelayan itu mendekat serta menodongkan golok-nya, bentaknya.

"Lekas katakan, masih ada barang lain di badanmu?"

Melihat keadaan gawat, pemuda baju sutera lekas berteriak.

"Ceng-ji, lekas ......uang perak perak dikantongmu keluarkan semua."

Dengan tangan gemetar kacung itu merogoh kantong dan mengeluarkan uang emas dan beberapa keping uang perak dan diletakan di tanah, katanya.

"Semua ......semua ada ...... ada disini."

"Hanyainisaja?"

Laki2bergolok itu menyeringai. Kacung itu ketakutan, mukanya pucat kuning, sahutnya.

"Betul . ..... tiada lagi."

Laki2 bertopeng itu menjadi berang, golok dia tempelkan ke leher pemuda baju sutera, ancamnya.

"Kalau mau hidup lekas katakan, di mana kau simpan uangmu?"

Pemuda baju sutera semakin lunglai ketakutan, mukanya seperti mayat, mulut megap2 dan bersuara lemah.

"Toaya, am ....... ampun!"

Kacungnya merangkak dan menyembah, serunya.

"Tuan2 besar harapmaklum...... Kongcu maupulang ....... uang sangunya sudah habis di tengah jalan, sungguh ....... hanya itu saja yang masih ada."

Menyeringai pemimpin rombongan itu, katanya.

"Agaknya sebelum melihat peti mati kalian tidak akan menangis, tuan besarmu. ."

Takut luar biasa pemuda baju sutera itu, ia berteriak.

"Ampun, am... ampun?"

Pada saat gawat itulah "tring", tiba2 golok yang mengancam leher pemuda baju sutera itu mencelat, belum lagi pemegang golok itu sempat berteriak kaget, tahu2 goloknya sudah terbang jauh.

Terdengar seorang mendengus.

"Begal bernyali besar, berani beroperasidijalan raya dekat kota raja?"

Sekilas tampak mencorong sorot mata pemuda baju sutera yang masih lunglaiditanah.

Kala itu hari sudah mendekati petang, kejadian teramat mendadak, serempak kawanan begal berkedok itu melengak, mereka menoleh kesana.

Tampak dari arah Ko-pak-gau entah sejak kapan berdiri seorang laki2 muka merah, jubah panjang warna biru yang dipakainya sudah luntur, terbuat dari kain kasar pula, jelas dia orang dari kalangan kurang mampu.

"Saudaradarigolongan mana?"hardik pemimpin begal. Laki2 jubah biru luntur itu menyahut angkuh.

"Aku bukan orang dari golongan manapun."

Sekilas mengerling ke arah laki2 jubah biru, pemimpin begal menjengek.

"Saudara agaknya bukan penduduk setempat, kuharap kautidak mencampuriurusanoranglain, menyingkirlah! Laki2 jubah biru bergelak tawa, katanya.

"Setiap orang di kolong langit ini boleh mengurus apapun yang terjadi di kolong langit ini, akutidak senang melihatcara membegaldengan kekerasanbegini."

Pemimpin begal terbahak2, katanya.

"Anak muda, kenapa tidak kau pentang matamu, memangnya kau belum pernah dengar nama besar Jit hiong (tujuh jagoan) dari Ko-pak-gau?" -Waktu dia mengulap sebelah tangan, dua laki2 berkedok segera mengayun golok menubruk ke arah laki2 jubah biru itu. Keruan pemuda baju sutera kaget. teriaknya kuatir.

"Kalian tak boleh membunuh orang"

"Hanya dua saja yang maju masih belum tandinganku,"

Ejek laki2 jubah biru.

Waktu bicara ke-dua orang berkedok itupun sudah menubruk tiba, tanpa bicara mereka ayun golok terus membacok dan menabas.

Jangankan mengawasi, melirikpun tidak laki2 jubah biru atas serangan kedua golok ini, ia tidak berkelit juga tidak mengegos, waktu mata golok hampir mengenai badannya, tiba2 tangan kanan meraih, sebat sekali pergelangan tangan laki2 sebelah kanan yang pegang golok dia betot terus didorong ke kiri.

Hakikatnya tidak terlihat jelas, tahu2 golok dari orang itu sudah didorong menubruk ke sebelah kiri, goloknya terayun kencang melintang.

"trang", dengan tepat dia tangkis bacokan golok temannya yang menyerang dari sebelah kiri. Keduanya sama tergetar sakit tangannya oleh benturan keras ini, hampir saja golok tak kuasa dipegang lagi, serempak mereka tertolak mundur dua langkah. Hanya segebrak saja keduanya sudah kecundang, sudah tentu mereka tidak terima, sembari menghardik kembali mereka putar golok menyerbu pula.

"Manusia yang tidak tahu diri,"

Jengek laki2 jubah biru.

Tiba2 badannya berputar, kaki kanan terayun menyapu kencang.

Gerak sapuan kaki secepat kilat, belum lagi kedua laki2 berkedok itu menubruk tiba, dua2nya sudah tersapu jungkir-balik dan mencelat dua tombakjauhnya.

Celakalah mereka menggelinding ke lereng gunung, meski tidak sampai terluka parah, tapi tulang seluruh tubuh serasa retak, setengah harian mereka menjerit kesakitan tak mampu bergerak.

Kaget dan gusar pemimpin begal, sambil ang-kat tinggi golok bajanya dia membentak.

"Semua maju, cacah hancur tubuh keparat ini!" -Lima orang berkedok serentak merubung maju, sinar golok kemilau segera menyambar. Pemuda baju sutera dan kacungnya kini sudah berdiri, malah mereka tidak menampilkan rasa takut lagi. Kini kedua orang ini dapat menonton, kelima orang berkedok bagai lima ekor harimau kelaparan ingin menerkam mangsanya, mereka menubruk sambil ayungolok membacok dan membabatserabutandarisegalaarah. Tapi laki2 jubah biru itu tetap tenang2, di antara gerakan kedua tangannya, dengan telak tangan kanannya dapat menepuk pundak kiri laki2 berkedok pemimpin begal itu, orang itu mengerang tertahan dan terpental.

"bruk", dengan keras terbanting dua tombak jauhnya. Sekali tangan kiri meraih pula laki2 jubah biru tangkap pergelangan tangan seorang lagi, golok yang masih terpegang di tangan orang itu dia angkat untuk mengetuk golok orang ketiga yang menyerang tiba.

"Trang", golok orang ketiga kontan mencelat, berbareng dia lepaskan pegangannya sehingga laki2 yang dia pegang itu roboh tersungkur mencium tanah. Sekaligus tiga musuh telah dia bereskan, begitu sikut kanan bekerja, dia sodok pula orang ke empat tepat di bawah ketiaknya. Orang inipun mengerang kesakitan, dengan mundur sempoyongan dia mendekap perutnya sambil menungging. Kembali lengan baju si jubah biru mengebut, dengan telak ujung lengan bajunya menggubat golok orang kelima. Kali ini kepandaian yang dia unjukkan lebih menakjubkan lagi, betapa keras dan tajam golok baja itu, tapi entah mengapa, hanya sekali kebas golok lawan sudah tergulung.

"Bruk", tahu2 golok besar itu berubah selarik sinar kemilau terbang tinggi meluncur ke dalam hutan dan lenyap tak keruan paran, pemilik golok sendiri sampai berdarah tangannya, cepat dia melompat mundur sambil mendekap tangan sendiri. Kejadian ini terlalu panjang diceritakan, padahal hanya berlangsung dalam sekejap saja. Bagi pandangan si pemuda baju sutera dan kacungnya, begal2 yang garang itu tahu2 lantas kalang-kabut dihajar oleh penolongnya. Laki2 jubah biru tidak bertindak lebih jauh, dengan berdiri menggendong tangan dia tertawa lantang.

"Jago Kok-pak-gau apa segala, kiranya hanya begini saja, malam ini hanya sedikit kuberi peringatan, kalau berani melakukan pembegalan dan mencabut jiwa orang, awas bila kebentur di tangan-ku lagi pasti tidak kuberi ampun."

Lekas pemimpin begal merangkak bangun, setelah menjemput goloknya, tanpa bicara dia memberi tanda kepada keenam saudaranya terus ngacir.

Melihat kawanan begal sudah pergi, bergegas kacung itu membenahi barang mereka yang tercecer di jalan.

Pemuda baju suterapun menghela napas lega, dia menghampiri serta menjura kepada laki2 jubah biru, katanya.

"Syukur tuan telah menolong kami berdua, budi pertolongan jiwa ini takkan kulupakan selamanya, harap terimalah pujihormatku."

Lekas laki2 jubah biru balas menjura, katanya.

"Berat kata2 Kongcu, kawanan begal ini berani beroperasi di daerah dekat kotaraja, mereka patut dihajar adat, apalagi kebentur di tanganku, sebagai kaum persilatan wajib kubantu yang lemah dan menindas yang lalim. Selanjutnya kuyakin mereka pasti takkan berani bertingkah pula ditempat ini, silakan Kongcu melanjutkan perjalanan, Cayhe juga ingin lekas sampai ke tempat tujuan, mohon pamit,"

Habis berkata dia menjura terus putar badan dan melangkah pergi.

"Tunggu sebentar saudara,"

Seru pemuda baju sutera. Laki2 jubah biru berhenti, tanyanya menoleh.

"Kongcu masih ada urusan apa?"

"Saudara seorang pendekar yang membantu kaum lemah dan membela kebenaran. Pernah kubaca dalam hikayat para pendekar di jaman dahulu, kukira jaman sekarang sudah tiada kaum pendekar segala, baru hari ini bertemu dengan saudara sehingga mataku benar2 terbuka, sungguh beruntung sekali aku ini. Kini cuaca sudah hampir gelap, saudara jelas sudah tak keburu masuk kota, tak jauh di depan adalah An kiang tun, umpama saudara buru2 melanjutkan perjalanan juga harus cari penginapan, maka menurut hemat Siaute, bagaimana kalau saudara kuundang ke sana untuk makan minum bersama sambil mengobrol, sudikah kau memberi muka?"

Melihat orang memohon dengan tulus dan jujur, tanpa terasa dia tertawa, katanya.

"Kongcu sudah bilang demikian, bagaimana pula aku berani menolaknya? Memang Cayhe akan menginap di Ankiang-tun, kalau undangan Kongcu kutolak, rasanya kurang hormat."

Pemuda baju sutera kegirangan, serunya.

"Saudara sudi memberi muka, sungguh menyenangkan,"

Ia mengawasi laki2 jubah biru, lalu berkata pula.

"Kita bertemu di tengah perjalanan bukan lantaran pertolongan saudara tadi, yang terang kita agaknya memang ada jodoh, panggilan "Kongcu"

Padaku sungguh tak berani kuterima, kalau sudi biarlah kita saling membahasakan saudara saja, entah bagaimana pendapatmu?"

"Cayhe orang persilatan yang kasar, bagaimana ... ..."

"Aku yang muda Pho Kek-pui, kalau saudara sudi boleh panggil akuKekpuisaja, entahsiapanamadarishesaudarayang mulia?".

"Cayhe Lim Cu jing."

"Kiranya Lim heng, malam sudah tiba, marilah kita berangkat saja. Lim-heng."

"Boleh Pho-heng naik kuda saja,"

Ucap Lim Cu jing. Sudah tentu Pho Kek pui tidak mau naik kuda, katanya.

"Dari sini tak jauh ke An-kiang tun, kebetulan mendapat teman Lim-heng, biarlah kita jalan kaki saja sambil ngobrol " -Lalu dia berpaling memberi pesan kepada kacungnya.

"Ceng-ji, bawalah kuda berangkatlah lebih dulu ke An-kiang-tun, mintalah Ban-an-can meluangkan dua kamar bersih untuk kami, suruh pula siapkan beberapa macam hidangan kegemaranku, malam ini aku akan ngobrolsemalamsuntuk dengan Lim-heng."

Sambil mengiakan kacung itu cemplak kuda terus dibedal ke depan, Pho Kek-pui mengiringi Lim Cu-jing berjalan kaki sambil ngobrol panjang lebar, Terasa oleh Lim Cu jing bahwa pemuda belia ini bukan saja sikapnya ramah, tutur katanya juga lembut, terpelajar, pengetahuannya cukup luas, sehingga percakapan mereka semakin cocok dan intim.

Tiba di An-kiang-tun, lampupun telah menyala di mana2, toko2 kecil di pinggir jalan sudah tutup pintu semuanya, hanya kelihatan beberapa sinar pelita masih menyorot keluar dari sela2 pintu jendela, tak jauh di muka tampak sebuah lampion warna kuning dengan sinar guram bergoyang tertiup angin malam, di sanalah letak Ban-an-can, sebuah hotel merangkap rumah makan.

An-kiang-tun hanya sebuah tempat persinggahan kaum musafir yang kemalaman di tengah perjalanan, tapi karena letaknya tepat di tengah antara Ko-pak-gau dan Lian-ping, banyak kaum pedagang yang terpaksa nginap di sini, maka jalan raya yang ramai ini menjadi pusat perbelanjaan penduduk setempat.

Setelah tutup toko, penduduk suka keluyuran di luar mencari angin dan jajan di warung2, sudah tentu di sini ada pula sarang judi dan perempuan yang siap menghibur laki2 yang kesepian.

Ban-an-can memiliki dua macam kamar, kamar biasa dan kamar istimewa, kamar istimewa ini biasa dikhususkan untuk kaum perempuan bangsawan atau isteri pejabat yang kebetulan nginap di hotel kecil ini, di seberang jalan ada pula sebuah rumah makan, meskitidakbesar, tapi menyediakan delapan meja juga.

Kamar istimewa Ban-an-can malam ini seluruhnya diborong Pho-kongcu.

Kacung cakap itu bersama seorang pelayan hotel telah menunggu di muka pintu, melihat Pho-kongcu datang bersama, Lim Cu-jing, lekas dia memburu maju serta menjura, katanya.

"Lapor Kongcu, hamba sudah pesan kamar dan hidanganpun sudah siap, silakan Kongcu masuk kedalam."

Pelayan juga maju menyambut serta membungkuk.

"Silakan para Kongcu!"

Pho Kek-pui berpaling, katanya.

"Silakan Lim-heng."

Lim Cu-jing balas menyilakan orang, akhirnya mereka masuk bersama keruang depan, tertampak ada beberapa meja, keadaan rada sepi, banyak meja yang kosong, meja yang terbesar dan terletak di tengah tampak sudah siap menghidangkan beberapa macam masakan.

Ceng-jidanpelayansama2 melayani mereka makan minum.

Pho Kek-pui silakan Lim Cu-jing minum dan makan sambil ajak bicara.

"Lim-heng, ke manakah tujuanmu?"

Lim Cu-jing hirup secangkir arak lalu menyahut.

"Ke Jiat-ho."

"Untuk apa Lim-heng ke Jiat-ho?"

"Ada seorang paman Cayhe membuka Piau-kiok disana, khusus mengantar barang keluar perbatasan, Cayhe sudah lama berkelana di Kangouw, selama ini tidak membawa hasil apa2, maka ingin kesana mencaripekerjaantetapsaja."

Pho Kek-pui mengerling, sorot matanya menampilkan rasa gegetun, mulutnya sudah terbuka tapi urung bicara, tapi akhirnya toh dia berkata juga.

"Dengan bekal kepandaian Lim heng yang tinggi ini hanya mau bekerja dalam sebuah Piau-kiok, apakah tidak membenamkan masa depanmu sendiri?"

Lim Cu-jing tertawa, katanya.

"Cayhe seorang Kangouw, terpaksa harus mencari hidup dalam percaturan dunia persilatan, bekerja di Piaukiok hanyalah jalan satu2nya yang dapat kutempuh?"

"Walau Siaute baru pertama kali ini bertemu dengan Lim-heng, tapi rasanya kita seperti sahabat lama saja, kita sudah saling membahasakan saudara lagi, bila Lim-heng sudi pergi ke kotaraja, Siauteakanbantu mencarikan pekerjaandisana."

Lim Cu-jing menggeleng, katanya tertawa.

"Banyak terima kasih atas kebaikan Pho-heng, kota-raja adalah kota mewah, orang Kangouwsepertidiriku inibelumtentucocokhidup dikotaramai itu. Ceng-jiangkatpoci, dia isi penuhpulacangkir keduaorang. Pho Kek-pui angkat cangkir dan berkata.

"Budi pertolongan Limheng yang besar tak berani Siaute bilang akan membalasnya, biarlah kuaturkan secangkir arak ini sekaligus untuk merayakan persahabatan baru kita." -Lalu dia tenggak habis lebih dulu araknya. Lim Cu-jing mengiringi minum, katanya.

"Kita kan sudah bersahabat, kalau Pho-heng selalu bicara soal menolong jiwa segala, apa tidak merikuhkan kiranya?"

Pho Kek-pui tertawa, katanya.

"Lim-heng benar, Siaute memang pantas dihukum "

Setelah Ceng-ji mengisi penuh cangkir mereka, kembali dia tenggak habis secangkir, tanyanya.

"Di rumah Lim-heng masih punya famili siapa?"

"Di rumah masih ada ibunda seorang saja."

Berputar bola mata Pho Kek-pui, katanya.

"Berapa usia Lim-heng, belum berkeluarga bukan?"

Setelah dua cangkir masuk perut, mukanya tampak mulai merah.

"Cayhe berusia dua puluh empat, kaum kelana Kangouw, mana berani berumah tangga?"

Tiba2 Pho Kek-pui tertawa pula, katanya.

"Lim-heng lebih tua empat tahun dari aku, pantasnya aku panggil Toako padamu." -Sebelum Lim Cu jing bicara dia menyambung lagi.

"Lim-heng begini gagah dan serba pintar, ada sepatah kata ingin kuutarakan, entah boleh tidak?"

"Pho-heng boleh bicara saja."

"Siaute punya seorang adik perempuan, tahun ini berusia sembilan belas, Siaute tidak berani mengagulkan dia, tapi dapat dikatakan serba pandai dan cukup sempurna, kalau Lim-heng sudi Siaute suka membantumu ...."

Lekas Lim Cu-jing menggoyang tangan, katanya.

"Pho heng suka berkelakar, Cayhe seorang gelandangan Kangouw., sekali2 tak beranipikirkansoal nikahsegala."

"Kenapa Lim-heng merendahkan derajat sendiri, seorang pahlawan tidak dinilai keturunannya, Siaute sudah bilang Lim-heng pasti bukan orang sembarangan, kalau adikku bisa memperoleh suamisegagahkau justerudiayanguntung."

"Pho-heng terlalu memuji, soal ini jangan dibicarakan lagi, Cayhe ...."

Kebetulan pelayan mengantarkan hidangan pula, Pho Kek-pui mengawasinya dengan tertawa, tapi dia tidak berbicara lebih lanjut.

Lekas sekali hidangan susul menyusul disuguhkan pula sampai memenuhi meja.

Meski bukan masakan pilihan, tapi di tempat sekecil ini dapat menghidangkan masakan ini, boleh dikatakan lumayanlah.

Menghadani hidangan yang memenuhi meja di depannya, Lim Cu jing menjadi rikuh, katanya.

"Buat apa Pho-heng memesan masakan sebanyak ini?"

"Siaute dapat berkenalan dengan Lim-heng, sungguh beruntung sekali, maka Siaute perlu merayakannya, malah Siaute kuatir hidanganinitidak memenuhiseleraLimheng."

Haru Lim Cu jing dibuatnya, katanya.

"Pho-heng terlalu baik padaku."

Pho Kek-pui sudah mulai terpengaruh oleh arak yang ditenggaknya, mukanya tampak merah, matanya mengerling, tanyanya.

"Orang jaman dulu sering menggunakan arak untuk mengikat persaudaraan, sejak kini Siaute pandang Lim-heng sebagai saha-bat karibku, apakah Lim-heng sudi pandang Siaute sebagai teman sehaluan pula?"

"Pho-heng sudi pandang Cayhe sebagai orang sendiri, sudah tentu kuterima maksud baikmu ini."

Pho Kek-pui berseru girang.

"Apakah kau bicara setulus hati?"

"Persahabatan yang sejati harus terukir di dalam hati, sudah tentu Cayhe bicara sejujurnya."

"Bagus, Lim-heng, hayo habiskan secangkir lagi, malam ini Siaute benar2 sangat gembira."

Begitulah mereka makan minum sampai Pho Kek-pui hampir mabuk, menyadari keadaannya yang sudah tak tahan lagi, Pho Kekpui berkata.

"Lim-heng masih kuat minum, tapi Siaute tak tahan lagi, sungguh sayang. Mohon maaf, biarlah Siaute masuk kamar istirahat saja."

"Betul, silakan Pho-heng istirahat saja,"

Ucap LimCu jing. Ceng-ji dan dua pelayan segera melayani Pho Kek-pui masuk ke kamarnya.

"Kenapa kau tidak menungguku?"

"Nona mau ke mana? "Kau menyamar lagi bukankah ka hendak menemuka pengejaranmu?" , u n "Betul, kenapa?"

"Aku ikut, boleh tidak?"

K n gi te teg n sah tn a menggeleng "Jangan non cant Malamitutiadaterjadi apa2, esokpagi waktu LimCu-jingbangun tidur dan membuka pintu, seorang pelayan sudah berdiri di depan pintu dan mengangsurkan sepucuk surat, katanya.

"Lim-ya sudah "Pho-kongcu ada urusan penting, sebelum fajar telah berangkat lebih dulu,"

Jawab pelayan.

Lim Cu-jing heran, tapi dia manggut2.

Pelayan segera berlalu, tak lama kemudian datang pula membawa sebaskom air untuk cuci muka.

Lim Cu-jing membuka sampul surat, dia keluarkan secarik kertas yang ditulis dengan huruf yang bergaya indah dan rapi, bunyi surat itu demikian.

Diaturkan kepada saudara.

Cu jing yang mulia, Persahabatan di rantau sungguh merupakan pengalaman yang menyenangkan selama hidup Siaute.

Karena ada urusan penting, pagi2 Siaute sudah berangkat lebih dulu, kuatir mengganggu tidur Lim heng, terpaksa kutinggalkan sepucuk surat ini, dalam perjalanan ke Jiat-ho, bila Lim-heng gagal mendapatkan pekerjaan, di sini terlampir sepucuk surat untuk seorang pembesar kenalanku.

boleh saudara ke sana dan mencobanya, kuda seekor kutinggalkan supaya Lim-heng gunakan, demikian pula lima puluh tahil emas ini untuk sangu di perjalanan, untuk ini sudi kiranya Lim-heng menerimanya.

Hanyasekiansajayangdapatkuutarakan melaluisuratini, Salam hangat dari adikmu, Pho Kek-pui.

Habis membaca surat ini, diam2 Lim Cu-jing membatin.

"Dia punya hubungan baik dengan penguasa di Jiat ho, memangnya dia bangsa Ki-jin?"

Waktu dia merogoh ke dalam sampul, di dalam memang ada lempitan sampul surat yang lain dan bertuliskan.

"Disampaikan kepada Hu-tok-jong pribadi."-Nadanya tidak begitu sungkan. Waktu sampul itu dia balik ternyata tidak direkat, keruan Lim Cu-jing semakin heran, maka dia keluarkan surat di dalamnya dan dibaca, tulisannya hanya sebaris yang berbunyi.

"Dengan ini kuperkenalkan sahabatku Lim Cu-jing, harap dilayani semestinya, kebaikan yang diterimanya akan kurasakan juga." -Di bawah tulisan ada sebuah cap bergaris melingkar, waktu ditegasi kiranya dua huruf Boan. Nada surat yang satu ini bila dibanding dengan isi surat yang ditujukan dirinya sungguh sangat jauh bedanya, kalau surat untuk dirinya menyatakan penyesalannya harus berpisah dan betapa tebal rasa persahabatannya, tapi surat yang kedua ini bernada memerintahdariseorang atasankepadabawahannya. Pho Kek-pui, memangnya siapa dia? Segera Cu-jing lempit pula surat itu dan dimasukkan ke dalam sampul terus disimpan dalam kantong, setelah bebenah lalu dia keluar. Rekening hotel jelas sudah dibayar oleh Pho Kek-pui, di luar pelayan sudah menuntun seekor kuda dan menunggunya. Di depan pelana kuda terikat sebuah buntalan warna ungu, bobotnya agak berat, kiranva berisi uang mas. Meski keberatan terpaksa Cu-jing terima juga barang tinggalan ini, sekenanya dia rogoh saku memberi sekeping uang perak kepada pelayan, kuda terus dibedal melanjutkan perjalanan. ooo(00dw00)ooo Kota Seng-tek terletak di barat propinsi Jiat-ho, sebuah kota pegunungan yang permai. Tahun ke-42 kaisar Khong-hi bertahta, dia mendirikan Pi-siok-san-ceng di sini, akhirnya dinamakan villa raja di Jiat-ho, bangunannya megah dan angker, letaknya di atas puncak yang menghadap danau dan membelakangi pegunungan yang indah permai. Meski kota pegunungan, tapi Seng-tek merupakan pusat pemerintahan di daerah ini. Terutama kaisar Khong-hi sering liburan di sini, tamasya dan berburu binatang. Kehidupan dalam kota cukup makmur ramai, meski kurang sepadan dibanding kotaraja, tapi tak kalah ramai dan makmurnya dari pada ibu kota propinsi lain. Kota ini merupakan pusat berkumpulnya suku bangsa Han, Mancu, Mongol, Tibet dan Uigur, orang2 yang berlalu lalang di jalan raya sama mengenakan pakaian adat suku bangsa masing2, meski berbeda bahasa dan tata cara, tapi mereka dapat bergaul dan bersahabat dengan rukun, masing2 berusaha menurut lapangan kerja sendiri, tak pernah terjadi pertikaian. Jadi kota gunung ini seperti sebuah perkampungan besar dari lima suku bangsa yang campur aduk, keadaan yang luar biasa ini takkan terdapat di kota2 lain. Jalan raya yang menjurus ke arah timur terhitung tempat yang paling ramai di seluruh kota, pedagang, restoran, berbagai macam toko serba ada di sini. Maklumlah Sengtek merupakan kota terbesar di daerah Ko-pak-gau, kaum pedagang dari segala penjuru sama berpusat di sini, kalau bukan berbelanja juga mesti menginap dan bertamasya di kota pegunungan yang sejuk dan nyaman ini, sudah tentu keadaan dalam kota semakin ramai. Di jalan raya timur yang agak menjurus ke ujung sana terdapat sebuah gang kecil yang melintang bernama Tam-hoa-pui, agar mengikuti perubahan jaman, gang kecil ini sekarang dinamakan Khek-can oh-hui, karena di gang kecil ini banyak terdapat hotel atau losmen. Di sini ada sembilan hotel besar kecil, yang terbesar adalah Tang sun-can, pintu luarnya saja begitu luas sampai menggunakan tujuh sayap pintu masuk, di dalamnya beberapa lapis pekarangan dan bangunan, bukan saja kamar2 di sini cukup baik, pelayanan pun istimewa, Tang-sun-ting yang terletak dibilangan paling depan merupakan bangunan yang mewah untuk tempat makan minum. tamu2 yang tidak menginap juga boleh makan di sini sesukanya. Kalau jalan raya timur ini paling ramai di seluruh kota, maka gang kecil dengan restoran Tang sun ting dari Tang-sun-can ini adalah paling menonjol di bilangan jalan raya timur ini. Padahal dalam satu gang kecil itu ada sembilan hotel yang sama membuka restoran pula, konon setelah Tang-sun-ting penuh sesak dan tak kuasa melayani arus tamunya baru tamu2 yang datang belakangan mau masuk ke restoran yang lain, tapi restoran yang lain setiap hari juga selalu penuh sesak. Usaha dalam satu bidang adalah jamak kalau bersaing, saling sirik dan dengki, tapi cukong atau pemilik Tang-sun-can ini kabarnya mempunyai asal-usul yang tidak sembarangan, bukan saja di seluruh wilayah Jiat-ho dia cukup terpandang, di kalangan pemerintahan juga dia cukup dihargai, hubungan cukup intim dengan para pejabat yang berkuasa dari kelas rendah sampai tingkat tinggi, kabarnya majikan Tang sun can memang punya tulang punggung yang kuat di kotaraja. Seorang tokoh yang kaya raya, yang punya tulang punggung para pejabat lagi adalah jamak kalau tersohor dan dikenal baik oleh khalayak ramai di Jiat-ho, kenyataan justeru tidak demikian. Anehnya, sampaipun pegawai Tang-sun-can sendiri, kecuali tahu majikan mereka dipanggil Kan loya, segala sesuatu prihal majikannya tiada seorangpun yang tahu. Kan-loya se-olah2 tokoh misterius, orang yang cuma berada di belakang tabir, maka tiada seorangpun yang tahu dan pernah melihat mukanya. Oleh karena itu timbul rekaan orang bahwa pemilik Tang sun-can adalah salah seorang pembesar di kotaraja yang menanam modalnya di sini, sementara Kan-loya tidak lebih hanyalah salah seorang budak yang dipercaya saja untuk mengurusi perusahaannya. Sudah tentu ini hanya rekaan saja, siapapun tiada yang bisa membuktikannya. Pada siang hari itu, di depan pintu Tang-sun-can datang seorang laki2 bermuka merah, usianya paling2 baru empat likuran, mengenakan jubah biru yang sudah luntur warnanya, tapi kuda yang ditungganginya ternyata seekor kuda pilihan yang gagah kekar. Sekilas pandang orang akan tahu bahwa dia kaum persilatan. Pelayan yang bertugas di luar pintu segera menerima tali kendali, sementara seorang pelayan lagi maju menyambut sambil menjura.

"Tuan mau menginap atau mau makan siang sekedar melepas lelah?"

"Mau menginap,"

Sabut laki2 muka merah.

"Tuan silakan!"

Pelayan munduk2 sambil menyilakan tamunya masukke dalam. Laki2 muka merah segera melangkah masuk ke dalam, pelayan berkata pula.

"Tuan mau kamar istimewa atau kamar biasa?"

"Kamar istimewa,"

Sahut laki2 muka merah singkat. Mendengar orang mau menginap di kamar istimewa, semakin lebar tawa pelayan, berulang dia mengiakan, katanya.

"Tuan tamu she apa dan datang dari mana."

Laki2 muka merah kurang senang, katanya.

"Apa2an, nginap di hotel juga harus laporan segala?"

"Harap tuan tidak salah paham,"

Lekas pelayan menjelaskan.

"soalnya pihak berwenang di sini semalam mengeluarkan maklumat, barang siapa menginap dihotel harus didaftar, nama dan asal usul serta alamat asalnya, memang demikianlah ketentuan setiap tahun bila tiba musimnya orang berburu, bagi tuan2 tamu lama pasti sudah paham, mungkin tuan baru sekali ini datang ke Jiat ho?"

"O,"

Laki2 muka merah mengangguk maklum.

"Baiklah, aku Lim Cu-jing, datang dari Kanglam. Sudah cukup?"

"Tuan memang suka berterus terang, soalnya daftar harus dilaporkan, harap tuan tidak kecil hati. Mari kutunjukkan kamarnya."

Pelayan segera bawa Lim Cu jing memasuki sebuah kamar kamar istimewa dari Tang-sun-can memang betul2 istimewa, bukan saja kamarnya besar luas, jendelanya juga berkaca dan pintu angin serba ukiran, perabotnya mewah dan antik, kain seprei dan bantal guling semuanya baru.

"Bagaimanadengan kamar inituan?"

Tanyapelayan. Lim Cu jing manggut, pelan2 dia melangkah masuk. Pelayan segera menuang secangkir teh dan disuguhkan, katanya.

"Tuan masih ada pesan apa?"

"Sudah tiada,"

Sahut Lim Cu-jing.

Pelayan segera mengundurkan diri sambil menutup pintu dari luar.

Lim Cu-jing merebahkan diri di ranjang sesaat lamanya, kemudian membuka pintu dan keluar menuju ke Tan-sun-ting.

setelah makan siang baru dia tanya kasir di mana letak jalan "Rejeki", sudah itu lalu dia berlenggang ke jalan raya.

Letak jalan Rejeki sudah mendekati pintu gerbang kota selatan, di sini keadaan agak sepi dan tenang, kecuali ada sebuah toko buku daritoko kelontong, tiadaorang lain lagiyangberjualan.

Sebetulnya Lim Cu-jing sudah jauh2 hari mencari tahu keadaan di sini, sudah tentu keadaan ini tidak membuatnya heran, sengaja dia mondar-mandir beberapa kali di jalan raya situ baru pelan2 memasuki toko buku, langsung dia menjura kepada seorang tua yang duduk di kursi serta menyapa dengan tawa.

"Selamat siang Lotiang."

Laki2 tua itu sedang berangin2 sambil mengisap pipa cangklongnya, melihat Lim Cu jing memasuki tokonya segera dia menyambut sambit tertawa lebar.

"Siangkong mau membeli buku apa?"

"Cayhe bukan mencari buku, mohon tanya kepada Lotiang, di jalan Rejeki ini ada sebuah Tin-wan Piaukiok, entah ke mana sekarang pindahnya?"

Laki2 tua memandang Lim Cu-jing sekilas lagi, katanya.

"Agaknya tuan baru pertama kali datang ke Jiat-ho sini? Tin-wan Piaukiok sudah lama tutup pintu."

Lim Cu-jing pura2 melengak kaget, katanya menegas.

"Tin-wan Piaukioksudah tutuppintu?"

"Kira2 dua bulan yang lalu, Lo-piauthau Lim Tiang-khing meninggal dunia, maka perusahaan itu-pun menghentikan usahanya."

Hou-pian-liong jiau ( cambuk harimau cakar naga) Lim Tiang-khing terhitung jago silat kenamaan di lima propinsi utara, Lionghou-ki ( panji naga harimau ) dari Tin-wan Piaukiok sudah jauh menjelajah keluar perbatasan selama tiga puluhan tahun dan belum pernah mengalami musibah apapun.

Lim Cu-jing mengunjuk rasa kecewa, katanya sambil menjura.

"Kalau begitu banyak terima kasih atas keterangan Lotiang,"

Segera dia mengundurkan diri.

Beruntun dua hari Lim Cu-jing tinggal di hotel, karena iseng, maka dia sering keluyurandijalanraya.

Hati ketiga tengah hari, waktu dia pulang ke hotel, baru saja dia melangkah masuk, pelayan lantas berlari menghampiri, katanya.

"Lim-ya, pagi tadi datang seorang Jin-ya mencarimu, hamba bilang engkau sedang pergi, maka Jin-ya itu bilang siang ini akan datang lagi."

Lim Cu jing heran, di Jiat ho boleh dikatakan dia tidak punya seorang kenalan siapapun, maka dia bertanya.

"Apa dia tidak memperkenalkan namanya?"

"Tidak, Jin-ya itu cuma bilang teman baikmu."

Lim Cu-jing berpikir katanya.

"Aneh, Cayhe selamanya tidak punya teman she Jin."

"Mungkin engkau lupa, untung dia tadi bilang mau datang lagi siang ini."

Lim Cu jing mengiakan dan kembali ke kamarnya.

Pelayan segera mengaturkan minuman.

Lim Cu-jing tidak tahu siapa orang she Jin itu?

Untuk keperluan apa pula mencari dirinya?

Sehabis minum baru saja dia duduk di kursi di dekat jendela, didengarnya orang mengetuk pintu, pelan2 daun pintu terpentang, kepala pelayan tadi tampak menongol, katanya dengan tertawa.

"Lim-ya, tuan Jin itu sudah datang mencarimu lagi."

Waktu Lim Cu jing berdiri, pelayan sedang berkata pula di luar pintu.

"Silakan Jin-ya!"

Maka tertampaklah seorang laki2 berusia sekitar lima puluhan mengenakan jubah sutera panjang warna biru tua melangkah masukdengan pelahan.

Lim Cu-jing yakin dirinya tidak pernah kenal laki2 ini, tapi karena orang sudah masuk terpaksa dia menyambut kedatangannya.

Sebelum Lim Cu-jing buka suara laki2 itu sudah tertawa sambil menjura, katanya."Tuan initentunyaLim-tayhiap?"

"Cayhe memang betulLim Cu jing."

"Aku yang rendah Jin Ji-kui, pagi tadi aku sudah kecelik. majikan kami sudah tak sabar lagi, baru saja habis makan siang kami didesak pula datang kemari, syukurlah bisa ketemu dengan Limtayhiap. Haha, berhadapan muka lebih jelas dari pada mendengar namanya, sungguh menyenangkan dapat berkenalan dengan Limtayhiap."

Melihat sikap orang yang ramah dan berseri, kata2nya mengumpak lagi, diam2 Cu-jing merasa bingung, lekas dia balas menjura dan berkata..

"Jin-lotiang terlalu memuji, pagi tadi Cayhe ada urusan dan keluar hingga tuan kecelik, untuk ini Cayhe mohon maaf, marisilakan Jin-lotiang duduk."

Mereka lalu duduk berhadapan di dekat jendela. Lim Cu-jing menuang secangkir teh, katanya.

"Jin-lotiang silakan minum."

Jin Ji kui menerima dengan kedua tangan, tawanya semakin lebar, katanya.

"Terima kasih."

"Kedatangan Jin-lotiang entah ada petunjuk apa?"

Tanya Lim Cu jing kemudian.

"Cayhe pengurus surat2 di balai kota, atas perintah majikan sengaja kemari menyampaikan salam kepada Lim-tayhiap,"

Kiranya dia adalah sekretaris walikota di sini. Tampak serius muka Lim Cu-jing, katanya.

"Kiranya Jin-lotiang adalah sekretaris walikota yang berkuasa, mohon maaf akan kelancangan cayhe ini."

"Ah, kenapa Lim-tayhiap bilang demikian, semalam majikan menerima surat dari istana, baru kami tahu bahwa Lim-tayhiap telah berada di Jiat-ho, maka tadi pagi Cayhe lantas diutus ke-mari, Jiatho memang daerah kecil, tapi Lim-tay-hiap adalah tamu terhormat dari majikan kami, apa-puntidakpantas kalau menginap di hotel."

Diam2 Lim Cu-jing, sudah maklum apa yang dinamakan surat kiriman dari istana pasti kiriman Pho Kek-pui. Maka dia balas menjura. katanya.

"Berat kata2 Jin-lotiang, kedatangan Cayhe ke Jiat-ho ini, tujuan semula adalah cari pekerjaan pada seorang paman. Ini urusan pribadi yang sepele, mana berani kubikin repot pada majikanmu?"

"Surat dari istana sudah menjelaskan bahwa Lim-tayhiap punya seorang paman yang membuka Piaukiok di Jiat-ho, Lim-tayhiap diundang untuk membantu usahanya. maka Lim tayhiap tidak mau bekerja di kotaraja. Tapi dengan bekal kepandaian Lim-tayhiap kalau sampai terbenam di kalangan Kangouw kan terlalu sayang, dalam surat majikan kami ada pesan betapapun diharus kau memanfaatkan kehadiran Lim-tayhiap serta bakatmu yang tinggi, waktu Cayhe datang tadi, majikan sudah siap menunggu kedatanganmu, harap sudi kiranya Lim-tayhiap datang dan bicara langsung dengan beliau, bagaimana kalau sekarang juga Lim-tayhiap berangkat?"

Lim Cu jing ragu2 katanya.

"Cayhe adalah rakyat kecil ...."

Sebelum Cu jing habis bicara, Jin Ji kui telah menukas.

"Kenapa Lim-tayhiap begini sungkan dan merendah diri, majikan kami adalah anak buah setia yang ditugaskan di sini oleh istana, adalah tugas kami untuk mengundang Lim-tayhiap ke sana, toh kita sudah terhitung satu keluarga. kalau terlalu banyak bicara akan merenggangkan hubungan malah." -Sampai di sini dia mendahului berdiri.

"Lim-tayhiap, marilah berangkat sekarang, jangan membuat majikan menunggu terlalu lama,"

Karena didesak, terpaksa Lim Cu jing ikut berbangkit, katanya.

"Jin-lotiang sudah bicara sejelas ini, baiklah Cayhe menurut saja."

Jin Ji-kui tergelak2, katanya.

"Lim-tayhiap kembali sungkan lagi. Haha, terus terang, entah mengapa, walau baru pertama kali ini kita bertemu, baru bicara beberapa patah kata saja, namun Cayhe merasa Lim-tayhiap sebagai teman lama layaknya, agaknya kita memang berjodoh."

"Malah Jin lotiang, yang terlalu mengagulkan Cayhe selanjutnya harap Lotiang suka membantu"

Tidak kepalang senang hati Jin Ji-kui karena diumpak, katanya dengan tertawa.

"Kita sekali bertemu seperti kenalan lama. selanjutnya memang harus saling bantu." -Tiba2 dia berseru tertahan seperti ingat sesuatu, katanya.

"Eh, panggilan Lim-tayhiap tak berani kuterima, usiaku memang lebih tua beberapa tahun, kalau sudi boleh kau membahasakan saudara tua padaku, selanjutnya akan kupanggil kau Lote, bagaimana pendapat Lim-tayhiap?"

"Loko sudi mengalah, baiklah Siaute menurut saja "

Sahut Cu jing. Jin Ji-kui semakin girang, dia pegang kencang tangan Lim Cu-jing, katanya.

"Baiklah, selanjutnya aku menjadi saudara tua," -Sembari bicara mereka lantasberanjakkeluar. Tiba di luar tampak seorang perajurit menunggu di luar pintu sambil menuntun kuda. Sementara kacung kuda tadi juga sudah mengeluarkan kuda tunggangan Lim Cu-jing. Serdadu itu bantu Jin Ji-kui naik ke punggung kuda, setelah Lim Cu-jing juga cemplak ke atas kudanya, kata Jin Ji-kui.

"Lim-lote, biar Lokoko menunjukkan jalan bagimu." -Lalu dia mengulap tangan. Serdadu itu segera menarik tali kendali dan jalan di depan, Lim Cu jing jalankan kudanya pelan2 mengikuti di belakang. Tidak lama mereka sudah tiba di balai kota. Tampak di depan pintu gerbang yang megah itu berdiri sebuah tiang bendera besar dan tinggi, bendera kebesaran walikota berkibar2 ditiup angin. Di undakan pendopo berjajar enam serdadu yang berdinas jaga, semuanya menyoreng golok dipinggang. kelihatan garang dan gagah. Setelah turun dari kuda, Jin Ji-kui mengajak tamunya masuk lewat pintu sebelah kanan. Tiba di dalam, mereka berada di sebuah serambi panjang yang menembus ke pintu kedua, di depan pintu berdiri dua serdadu, waktu Jin Ji-kui datang serentak mereka berdiri tegak memberi hormat. Jin Ji-kui tidak hiraukan mereka, dia terus jalan ke dalam membawa Lim Cu-jing memasuki sebuah serambi yang berpagar kayu warna merah, di luar pagar adalah taman bunga, di bawah emper ada beberapa sangkar yang berisi berbagai macam jenis burung yang sedang berkicau, suasana di sini terasa tenteram dan sejuk, harum bunga dan kicau burung terasa mengasyikkan. Sembari jalan Jin Ji-kui berkata lirih.

"To Swe mungkin sudah menunggu di kamar buku, biar langsung kubawa engkau ke sana saja."

"Loko, sampai detik ini Cayhe masih belum tahu siapa she dan nama To swe?"

"To swe (walikota) she Pho, satu marga dengan yang kuasa di istana, namanya Bin thay."

"To-swe sedang memeriksa surat dan menyelesaikan urusan dinas di kamar buku. disanalah letak kantornya pula yang penting, cuma kau boleh tak usah menggunakan adat pemerintahan, biasanya jarang dia terima tamu dikantornya itu, soalnya beliau pandang Lote bukan orang luar lagi."

"Ya, berkatkebijaksanaanTo-swe,"ucap LimCu-jing. Kebetulan mereka sudah tiba di depan kamar buku, tampak di depan taman bunga ada sebaris rumah2 mungil yang dipajang serba antik dan indah, kerai bambu menjuntai turun, suasana di sini sunyi senyap. Di sini terdapat empat pintu panjang, tembok memanjang mengelilingi bangunan dan taman, pada setiap pintu berjaga dua orang serdadu. Jin Ji-kui langsung mendekati pintu, ia bersuara lirih.

"lote tunggu dulu sebentar, biar Lokoko masuk memberi laporan."

Setelah itu dia meluruskan kedua tangan, dia membasahi kerongkongan lalu menjura ke arah dalam sambil berseru.

"Hamba JinJi-kui mengiringi LimCu-jingsiap menghadap To-swe."

Baru habis dia bicara, tampak seorang pengawal baju hijau menyingkap kerai muncul diambang pintu, sekilas dia lirik kedua orang lalu berkata.

"Tayjin mempersilakan!"

Cepat Jin Ji-kui angkat sebelah tangannya "Silakan Lim-lote!"

"Cayhe baru datang, silakan Lokoko dulu,"

Ucap Lim Cu-jing.

Jin Ji-kui terpaksa melangkah masuk dulu, kiranya itulah sebuah ruang tamu yang cukup besar dan luas.

di sini terasa nyaman, pajangan serba serasi, di bagian dalam ada sebuah pintu rembulan, melewati pintu bundar ini baru tiba di kamar, buku.

Kebetulan dari balik pintu rembulan ini beranjak keluar seorang laki2 bermuka putih bersih, alisnya gombyok, matanya besar tajam.

Orang ini terang adalah walikota she Pho adanya.

Dengan pakaian preman yang sederhana, sikapnya kelihatan angker dan berwibawa menandakan bahwa dia seorang yang disegani.

Bergegas Jin Ji-kui membungkuk sembilan puluh derajat, katanya sambil mengunjuk Lim Cu-jing.

"Lapor Tayjin, tuan inilah Lim Cujing adanya."

Lim Cu-jing ikut menjura, katanya.

"Rakyat kecil Lim Cu jing menyampaikan hormat kepada To-swe Tayjin."

Pho-tujong ( walikota she Pho yang sekaligus memegang kekuasaan militer ) menatap Lim Cu-jing sekian lamanya, mukanya yang putih menampilkan secercah senyum, katanya sambil mengangguk.

"Lim-congsu tak usah banyak adat, silakan duduk." -Lalu dia menghampiri kursi besar berlapis beludru dan duduk disana. Lim Cu-jing menjura pula tanpa bergerak, katanya.

"Di hadapan Tayjin,rakyatkecil macamkuinimanaberani........"

Sebelum dia habis bicara Pho-tujong telah menyela .

"Lim-congsu jangan sungkan, di sini kamar bukuku, biasanya Lohu tidak suka peradatan, silakan duduk saja."

"Memang,"

Timbrung Jin Ji-kui bermuka2.

"To-swe Tayjin paling sukabebas, Lim-congsubolehduduksajauntukbicara."

Setelah menyatakan terima kasih, terpaksa Lim Cu-jing duduk di kursisamping Pho-tu-jong.

"Ji-kui,"

Ucap Pho-tu-jong.

"kaupun duduklah."

Jin Ji-kui mengiakan dengan munduk2, lalu duduk di kursi sebelah Lim Cu-jing.

Pengawal tadi segera menyuguhkan dua cangkir minuman terus mengundurkan diri.

Pho-tujong mengelus jenggot, katanya dengan tertawa.

"Semalam Lohu menerima surat dari istana, baru kuketahui bahwa Lim-congsu telah tiba di Jiat-ho, menurut Thio-po yang mengantar surat, kedatangan Lim-congsu ke Jiat-ho ini berniat mencari kerja di sebuah Piaukiok milik pamanmu? Piaukiok manakah milik pamanmu itu?"

"To-swe harap maklum, paman membuka Tin-wan Piaukiok di Jiat-ho ini."

"O, maksudmu Hou-pian-liong-jiau Lim Tiang-khing."

Ucap Pho-tu-jong, lalu berpaling ke arah Jin Ji kui.

"Kalau tidak salah Lim piauthau juga pernah bekerja untuk urusan dinas kita."

Jin Ji-kui berdiri dan menjura, katanya.

"Ya, Tin-wan Piaukiok pernah dua kali mengawal upeti, malah Lim-piauthau sendiri yang membawanyake-maridari Ki lin."

"Em,"

Pho-tu-jong bersuara puas, lalu berpaling pula, katanya kepada Lim Cu jing.

"Masih ada sedikit kesan Lohu atas Lim-piauthau, apakah dia ke-luarga semarga dengan Congsu??"

"Bukan, hanya kebetulan saja beliau sahabat karib ayahku almarhum,"

Sahut Lim Cu-jing.

"Jadikau bermaksud kerjadiperusahaanpengawalan itu?"

"Bulan lima tahun ini beliau pernah tulis surat padaku supaya aku datang ke Jiat-ho, tapi kemarin waktu aku mendatanginya di jalan Rejeki, konon Piaukiok itu sudah tutup usaha, malah Lim-piauthau sudah meninggal dua bulan yang lalu, keluarganya entah pindah kemana."

Sambil mengelus jenggot kambingnya, Pho tu-jong bertanya.

"Hok-ti keke sengaja suruh Thio-po menyusul kemari, kepada Lohu dia perkenalkan Lim-congsu karena Lim-congsu memiliki Kungfu yang luar biasa, sayang kalau bakat sebaik ini di sia2kan, kini Tin-wan Piaukiok sudah tutup usaha, biarlah sementara Lim-congsu bekerja dikantor Lohu saja, biar nanti kuperiksa dan kucarikan lowongan yang sepadan dengan bakat dan kemampuan Limcongsu"

Waktu mendengar Hok-ti-keke tadi sekilas Lim-Cu-jing melengak, baru sekarang dia mengerti surat dari "istana"

Yang dimaksudkan kiranya dari Hok-ti-keke, hakikatnya dia sendiri tidak tahu di mana Hok-ti (istana marga Hok itu serta siapa pula orangnya. Cuma dia tahu "keke"

Adalah panggilan bahasa Boan untuk seorang puteri raja. Mungkinkah Pho Kek-pui? Betul dia she Pho, nama palsu ini sengajapakai"Kek"yangsenadadengan"Ke",jelasyangdi maksud adalah "Keke"

Itu. Tanpa terasa merah muka Lim Cu-jing, sesaat dia jadibingung dantak mampubersuara. Pho tujong memandanginya dengan tertawa, katanya pula.

"Dari Thio-po kudapat tahu bahwa Keke ada menulis surat perkenalan supaya Congsu kemari mencariku, bila seorang gila pangkat dan kedudukan, sebelum kuundang tentu dia sudah mencariku, namun hal ini tidak kau lakukan, dari hal ini dapatlah kunilai bahwa Limcongsu seorang yang tak acuh terhadap pangkat dan nama, sungguh harus dipuji."

Karena orang sudah bicara blak2an, terpaksa Lim Cu jing keluarkan surat perkenalan yang ditulis sendiri oleh Pho Kek-pui. Sikapnya sedikit kikuk dan risih, katanya ragu2.

"Karena paman sudah meninggal dan menghentikan usahanya, semula aku berniat pulang saja, maka surat perkenalan inipun tidak jadi kusampaikan, kepada To-swe, harap dimaklumi."

Meski dalam hati dia menduga "Keke"

Yang dikatakan Pho-tujong ini adalah Pho Kek-pui, tapi sebelum hal ini terbukti dia tidak berani menyinggungPho Kek-pui dantidakberani tanyasiapakahKekeitu?

Seterima surat itu Pho-tujong tergelak2, katanya.

"Kalau tidak kutanya, surat inipun tidak akan dikeluarkan." -Sekilas dia baca isi surat itu lalu berkata kepada Jin Ji-kui dengan tertawa.

"Surat yang dibawa Thio-po semalam isinya memang tegas, tapi Lohu kenal itu tulisan Hoa-suya, surat yang ini baru betul2 tulisan Keke pribadi. waktu kecil dulu dia sering naik di punggung Lohu seperti menunggang kuda, maka gaya tulisannya amat kukenal."

Agaknya dia bangga bahwa Keke menunggang punggungnya seperti naik kuda, ini lebih memperjelas bahwa Pho-tujong ini dulu adalah pembantu di istana Hok itu.

Habis berkata Pho-tujong angsurkan surat itu kepada Jin Ji-kui, katanya pula.

"Ji kui, coba kau ikut pikirkan, di mana baiknya menempatkan Lim-lote sesuai bakatnya? Ini tugas dari Keke, maka kau harus lebih perhatikan." -Dari Lim-congsu dia ubah panggilan Lim lote, ini lantaran dalam surat Pho Kek-pui menyebut "temanku Lim-Cu-jing", nadanya amat hormat dan mengindahkan terhadap Lim Cu jing. adalah jamak kalau diapun berubah sikap dan bermuka2 demikelanjutan karirnya. Dengan laku hormat Jin Ji kui terima surat itu, sebelah tangan memelintir kumis, sesaat dia berpikir, katanya kemudian.

"Hamba ada sebuah usul, entah bagaimana pendapat To-swe?"

"Coba jelaskan."

"Di kantor kita ini bukan saja tiada lowongan, umpama ada jabatannya juga terlalu rendah, kurang sembabat dengan bakat Lim-congcu ...."

"Memangnya ada jabatan yang lebih tinggi di kantor kita di wilayah hat-ho ini?"

Tanya Pho-tujong. Jin Ji kui tertawa lebar, katanya.

"Hanya kedudukan To-swe saja yang paling tinggi di sini, umpama komandan barisan jaga di istana paling2 juga cuma berpangkat wakil Tu jong, maka menurut pendapat hamba, lebih baik Lim congsu di masukkan kepasukan bayangkari pasanggerahan, Pertama di sana bukan kantor pemerintahan yang harus selalu dinas, tapi kedudukan lebih tinggi dari pada pejabat pemerintahan biasa, namanya lebih dihormati. Kedua, kecuali setiap tahun sekali baginda raja cuti dan berburu di sini, hari biasa tiada tugas2 penting. bukankah di sana jauh lebih baik daripada kerja di kantor kita ini? Apalagi To swe sekaligus bisa memberikan pertanggungan jawab kepada Keke"

Pho tujong manggut2, katanya.

"Usulmu memang baik, kenapa tadi tidak kupikir kesana."-Lalu dia bertanya.

"Lantas jabatan apa yangadadidalampasukan bayangkari, apakautahu?"

"Dalam pasukan bayangkari pasanggerahan baginda terdiri dari tiga barisan, setiap barisan dipimpin oleh seorang komandan dan seorang wakilnya, setiap barisan terdiri dari sepuluh kelompok, setiapkelompokdipimpin seoranglagi.. .."

"Cukup,"

Potong Pho-tu-jong "coba kau pergi cari tahu, adakah lowongan pimpinan barisan atau wakilnya? Kalau ada suruhlah Ki jongtay berikan lowongan itu kepada Lim-lote, katakan ini pesan dariistana Hok."

Lekas Jin Ji kui berkata.

"Bukankah nanti malam Tayjin hendak menjamu Lim-congsu, menurut pendapat hamba, sekalian undang saja Ki-jongtay kemari, secara langsung To-swe bisa bicara padanya, kan lebih baik?"

Agaknya laki2 ini pan-dai melihat arah angin, dia sengaja bermuka2 kepada Lim Cu-jing demi kepentingan dirinya kelak.

"Betul,"

Ujar Pho-tu-jong.

"pergilah kau suruh orang mengundang Ki-jongtay kemari."

Jin Ji-kui mengiakan lalu keluar. Dengan rasa tidak tenteram Lim Cu-jing berkata.

"Terima kasih banyak atas kebaikan To-swe, hamba hanya mengharapkan tempat berteduh, bila menduduki jabatan terlalu tinggi jangan2 akan menimbulkanrasasirikorang lain."

"Lote tak usah kuatir, jangankan soal ini sudah ditangani sendiri oleh Keke, umpama Lohu sendiri yang mengutus orang ke sana, siapa yang berani tidak tunduk padanya? Soal ini pasti Lohu atur dengan baik."

"Budi kebaikan To-swetidakakan hamba lupakan selamanya."

"Tolo Keke bukan saja adalah anak angkat Seng-cin-ong, malah ia menjabat sastra di istana timur, kelak kemungkinan bisa terpilih sebagai permaisuri, dengan keke sebagai tulang punggung Lote, memangnya apapula yang dikuatirkan? Haha Lohu dulu juga utusan istana Hok, kini Lote terhitung orang sana pula, kita terhitung orang sendiri, kalau Lohu tidak berusaha membantu orang sendiri, memangnya membantu siapa?"

Sekarang lebih jelas bagi Lim Cu jing bahwa istana Hok yang dimaksud ternyata adalah istana Hok-kun-ong, tak heran pengaruhnya begitu besar ( Menurut tradisi bangsa Boan, puteri Kun-ong dipanggil Tolo Keke.).

Tengah bicara Jin Ji-kui sudah kembali.

katanya sambil menjura kepada Pho-tujong.

"Lapor To-swe, hamba sudah suruh. Pho An pergi mengundang Kijongtay."

Pho tujong mengangguk. Jin Ji-kui lalu berpaling kepada Lim Cujing, katanya.

"Seperti biasanya To swe Tayjin saat ini harus menyelesaikan beberapa urusan dinas, silakan Lim-congsu istirahat ala kadarnya di kamar saja, malam nanti To-swe akan mengadakan perjamuan untukmu."

Lim Cu jing berdiri dan mohon diri. Setiba di kamar Jin Ji-kui, Lim Cu-jing bertanya.

"Siapakah orang yang Lokoko suruh datang kemari?"

"Dia komandan pasukan bayangkari dipesanggerahan raja, she Ki bernama Seng-jiang, asal orang Kanglam, konon Kungfunya tinggi, sudah lama dia terjun kepasukan perang, dulu ikut menumpas pemberontakan di Siau-kim-jwan. keberaniannya mendapat penghargaan Hok-kun-ong, tatkala To-swe masih memimpin barisan bayangkari dia sudah berpangkat kelas tiga, dia berjasa pula dan dinaikkan pangkatnya menjadi komandan pasukan bayangkari, hitung2dia masih termasukbawahan To-swe."

Sambil mengobrol mereka membuang waktu di kamar Jin Ji-kui, tak lupa Jin Ji-kui keluarkan seperangkat pakaian baru dan diberikan kepada Lim Cu-jing.. Menjelang petang Jin Ji-kui berdiri mengajak.

"Waktu hampir tiba, marilah, supaya To-swe tidak menunggu."

Jin Ji-kui membawa Lim Cu-jing menyelusuri serambi panjang berliku2 dan akhirnya kembali ke taman sebelah barat, di mana terdapat sebuah ruang makan.

Baru saja mereka memasuki ruangan, seorang pelayan maju menyambut.

"Tayjin sudah menunggu, harap Jin-loya membawa Lim-ya ke dalam."

Lekas Jin Ji-kui mempercepat langkah membelok ke kiri di sana ada sebuah pintu bundar, dua pelayan perempuan baju hijau bergaun putih segera menyingkap kerai menyilakan mereka jalan.

Lekas Lim Cu-jing melangkah masuk dan menjura, katanya.

"Maaf membuat To swe menunggu."

"Lohu juga baru tiba, silakan kalian duduk,"

Ucap Pho-tujong.. MakaLimCujingdanJinJi kuiduduk di sebelahbawahnya. Pho-tujong tanya kepada Jin Ji-kui.

"Ji kui. kau suruh Pho An mengundang Ki jongtay, sudahkah kau terangkan untuk makan malam di sini?"

"Hamba sudah memberi pesan padanya, sekarang seharusnya dia sudah sampai."

Baru selesai dia bicara, didengarnya di luar pengawal berteriak.

"Lapor To-swe, Ki-jongtay telah tiba."

Pho-tujong berseru.

"Boleh silakan masuk."

Waktu kerai tersingkap, tampak seorang laki2 tua berperawakan sedang mengenakan pakaian dinas beranjak masuk dengan langkah cepat2, langsung dia memberi hormat kepada Pho-tujong, serunya.

"Bawahan menyampaikan hormat kepada To swe."

Orang ini berusia lima puluhan, wajahnya bersih, cuma tulang pipinya menonjol tinggi, sekilas pandang orang akan tahu bahwa dia seorang cerdik yang banyak akal muslihat licik.

Dia bukan lain adalah Ki Seng-jiang, yang dahulu berkuasa di Coat-seng san-ceng, tapi jabatan sebenarnya adalah wakil Tu jong di daerah Jiat ho ini, komandanbarisan bayangkaripesanggrahanraja.

Pho tujong hanya mengangguk, katanya tertawa.

"Seng jiang, di kamar makan sini, segala peradatan boleh dibuang jauh, lekas duduk."

Ki Sengjiang mengiakandengan berdiritegak. Pho tujong berpaling, katanya.

"Ji kui, kau tak beritahu kalau makan malaminibersifatpribadi."

Sebelum Jin Ji kui menjawab Ki Seng-jiang sudah mendahului.

"Lapor To-swe, Ji-kui sudah memberi pesan pada Pho An tentang perjamuan makan ini, tapi hamba ada tanya kepada Pho An dan mengetahui To swe hendak menjamu utusan dari istana Hok, hamba tidak berani kurang hormat, maka kukenakan pakaian dinas ini."

"Memangnya kau sok pintar, kau sudah kubilang bersifat pribadi, kenapa harus bertele2 begini? Lekas buka jubah kebesaranmu, nanti kuperkenalkan kalian."

Ki Seng jiang mengiakan, dia melepas kopiah serta membuka jubah, seorang pengawal menyambutnya dan mengundurkan diri. Pho tujong menunjuk Ki Seng jiang, katanya pada Lim Cu-jing.

"Lim-lote, mari Lohu perkenalkan, dia inilah komandan tertinggi dari pasukan bayangkari pesanggerahan raja, Ki-jongtay." -Lalu dia berpaling kepada Ki Seng jiang.

"Lim-lote ini bernama Lim Cu-jing, utusan dari istana Hok."

Lim Cu-jing dan Jin Ji-kui sudah berdiri tatkala Ki Seng-jiang masuk. Setelah diperkenalkan lekas Lim Cu-jing merangkap kedua tangan, katanya."CayheLimCu-jing, selamatbertemu Jongtay."

"Kiranya Lim-heng, syukur dapat berkenalan denganmu,"

Ki Seng-jiangbalas menghormatdengan basabasialakadarnya.

"Kalian boleh duduksemaunya,"kata Pho-tu-jong. Tiga orang lantas duduk bersama. Pho tujong merogoh keluar, dua pucuk surat dan diangsurkan kepada Ki Seng jiang, katanya.

"Seng jiang, kedua surat ini kiriman dari istana Hok, sepucuk lagi adalah tulisan Keke pribadi, boleh kau baca."

Ki Seng jiang terima dan baca surat2 itu dengan hormat, lalu dilempit pula serta diaturkan kembali, katanya membungkuk.

"Limheng adalah utusan istana Hok, kalau To-swe ada perintah yang perlu kukerjakan silakan katakan saja."

"Dugaanmu memang betul,"

Ucap Pho-tujong.

"sebagai utusan istana Hok yang langsung membawa surat perkenalan Keke, kalau kita memberi jabatan rendah, tentu menurunkan pamor Keke, kupikir lebih baik dicarikan kedudukan di pasukan bayangkari yang kau pimpin, tugas ini akan lebih cocok dengan bakat dan kemampuannya."

"Pesan To swe pasti kuperhatikan, cuma mungkin harus sedikit merendahkan derajat Lim-heng ."

Ucap Ki Seng-jiang.

"Coba kau pikir dalam pasukan bayangkari adakah lowongan wakil pimpinan utama, biarlah dia membiasakan diri lebih dulu, setelah menyesuaikan diri kelak bila ada kesempatan dapat mengangkatnya lebih lanjut."

Sekali minta jabatan wakil pimpinan, sudah tentu hal ini membuat Ki Seng-jiang serba susah, tapi di mulut dia mengiakan. Lekas Jin Ji kui menimbrung dengan tertawa.

"Pasukan bayangkari ada tiga baris pasukan, jadi hanya tiga jabatan wakil pimpinan utama, mungkin Ki jongtay punya kesulitan, maka menurut pendapat hamba, bagaimana kalau diadakan mutasi, salah satu wakil pimpinan utama dipindah kemari membantu To-swe, Entah bagaimana pendapat To swe?"

"Begitupun boleh. Kelompok ketiga dari barisan keamanan kota masih ada lowongan wakil pimpinan, kalau dibanding kedudukannya malah lebih tinggi."

Ki Seng-jiang berpikir sejenak, lalu berkata.

"Pesan To swe pasti akan kulaksanakan, baiklah kumutasikan saja wakil komandan dari barisan pertama Pian Mi ci kemari."

"Baik, Ji-kui, besok kau siapkan suratnya, Pian Mi ci dimutasikan ke barisan keamanan kota,"

Lalu ia berpaling pula kepada Ki Seng jiang.

"Sementara surat2 Lim-lote tolong kau saja yang menguruskan."

Ki Seng-jiang mengiakan, lalu berpaling kepada Lim Cu-jing.

"Besok Lim-heng boleh datang ke Le kiong untuk melaporkan diri."

"Terima kasih atas bantuan To-swe dan Jong-tay,"

Kata Cu-jing.

"Besok pagi2, biar kutemani Lim lote melaporkan diri."

Timbrung Jin Ji kui.

Esok paginya Jin Ji-kui mengiringi Lim Cu-jing menunggang kuda menuju ke Pi-siok-san-ceng.

Pesanggrahan lui didirikan di atas bukit, luasnya ada puluhan hektar, sekeliling dipagari tembok tinggi, di luar tembok mengalir sungai yang cukup lebar dan dalam.

Diantara pepohonan yang menghijau subur tampak beberapa bentuk bangunan megah berloteng tersebar di sana sini.

Panorama di sini tak kalah dengan pemandangan di puncak2 gunung ternama seperti Thay-san dan Heng san.

Waktu mereka keluar dari pintu utara, dari kejauhan sudah nampak bukit menghijau permai, di antara lebatnya dedaunan, di sebelah selatan sana berjajar menjulang tinggi tiga bangunan istana yang angker.

Dari kejauhan Jin Ji-kui menuding, katanya.

"Lim-lote, itulah pasanggerahan raja, maju lagi beberapa jauh kita harus turun dan berjalan kaki."

Kejap lain mereka sudah tiba di tempat ketentuan bahwa pembesar sipil harus turun dari tandu dan pembesar militer turun dari kuda, sambil menarik kendali kuda mereka terus maju ke depan.

Dari rumah sebelah kanan sudah ada orang keluar menyambut kedatangan mereka, setelah memberi hormat dia tuntun kedua ekor kuda ke istal.

Dari sini menuju ke gedung induk kira2 masih ada setengah li, tapi setiap lima langkah seorang serdadu berdiri tegak berjaga, setiap puluhan tombak ada satu pos penjagaan lagi, semua serdadu yang bertugas disinibersenjata lengkap.

Belum lagi Jin Ji-kui sampai di tempat tujuan, dari istana ketiga sebelah kanan beranjak keluar seorang laki2 bergolok dengan ikat pinggang ketat, memakai topi lancip, dia memapak maju serta menyapa.

"Hamba Coh Te-seng, atas perintah Jong-tay sejak tadi sudah menanti kedatangan Jin-loya dan Lim ya."

"Terima kasih, bikin capai Coh heng saja,"

Ujar Jin Ji-kui tertawa, Lim Cu jing balas menjura pula.

"Silakan, biar hamba menunjukkan jalan,"

Ucap Coh Te-seng, lalu mendahului beranjak ke istana.

Bagian dalam istana adalah sebuah lapangan luas yang dialasi papan batu marmer, tak jauh ke depan ada sebuah aliran sungai kecil, di atas sungai dibangun sebuah jembatan batu putih yang diukir indah.

Tidak jauh dari jembatan, mereka dihadapi undakan batu yang lebar, tidak tinggi cuma puluhan undakan, di sebelah atasnya lagi adalah istana yang dibangun laksana jamrut di atas mahkota kerajaan.

Pintu gerbang istana tertutup rapat, beberapa laki2 bergolokbertugas jaga disini.

Coh Te-seng hawa mereka menaiki undakan batu terus menuju ke sebelah kiri, di mana ada sebuah jalan batu yang dipagari pepohonan tua dan besar mencakar langit.

kira2 setengah li perjalanan, tampak sebuah lapangan rumput yang amat luas, di tengah lapangan itulah berderet lima bangunan berloteng, di luar pintu berjaga dua laki2 bergolok, seragam pakaiannya mirip Coh Te-seng.

Pada kiri kanan masing2 terdapat bangunan asrama, kelihatan teratur amat rapi.

Lim Cu-jing tahu di sinilah letak markas pasukan bayangkari yang bertugas jaga pesanggerahan raja ini.

Baru saja Coh Te seng membawa mereka berdua menaiki undakan, tampak Ki Seng jiang telah memapak keluar, wajahnya yang bersih tampak cerah, tawanya lebar, katanya.

"Jin-lote, Lim lote, maaf akan keterlambatan sambutanku."

"Jongtay terlalu sungkan, aku hanya menemani Lim lote saja."

Lim Cu-jing maju serta memberi hormat.

"Hamba datang untuk lapor kepada Jongtay."

Ki Seng-jiang terbahak2, katanya.

"Lim lote jangan sungkan, sebelum urusan dinas diumumkan, kau masih terhitung tamu kita, mari kita bicara di dalam."

Ki Seng-jiang persilakan mereka masuk ke kamar tamu dan berduduk. Seorang pengawal keluar menyuguhkan teh.

"Jin-lote,"

Kata Ki Seng Jiang.

"apakah surat2 dari To swe sudah diselesaikan?"

"Sudah, sekalian kubawa serta,"

Sahut Jin Ji-kui sambil mengeluarkan gulungan surat dinasnya dan diangsurkan. Seterima surat dinas itu Ki Seng jiang membacanya sebentar lalu berteriak keras.

"Penjaga?"

Pengawal yang jaga di luar pintu mengiakan dan berlari masuk, serunya.

"Hamba siap menerima perintah."

"Pergilah kau panggil pimpinan utama barisan kesatu dan wakilnya, Pui Hok-ki dan Pian Mi-ci."

Demikian perintah Ki Sengjiang. Pengawalitu mengiakanterus mengundurkandiri. Dari bajunya Ki Seng jiang keluarkan sepucuk surat, dengan tertawa ia berkata kepada Lim Cu-jing.

"Lim lote, inilah surat pengangkatanmu, kau baru datang sementara ini untuk beberapa lama dudukilah jabatan ini."

Tampak terharu Lim Cu-jing, dengan gugup dia terima surat pengangkatan itu, lalu berkata dengan sikap tegak.

"Terima kasih akan kebaikan Jong-tai, mungkin hamba tidak sesuai untuk jabatan ini."

"Ini maksud To-swe sendiri, apalagi utusan dari istana Hok, memangnya tidak sesuai apanya? Lote tidak perlu berterima kasih padaku, asal kau bekerja dengan giat, rajin dan baik, bila ada kesempatanpasti kubantu memberi laporan kepihakatas."

Setelah kedua orang bicara, lekas Jin Ji-kui menjura, katanya.

"Kiong-hi Lim-lote telah memangku jabatannya."

Dalam pada itu, dari luar tampak masuk dua orang, yang di depan seorang setengah umur berperawakan gemuk.

wajahnya bulat, alis tebal mata sipit.

Laki2 di belakangnya berperawakan sedang, usianya sekitar tiga puluhan enam, tampak kekar berotot, langkahnya gesit.

Tiba di ambang pintu kedua orang berdiri tegap, si gendut itu buka suara.

"Hamba Pui Hok-ki dan Pian Mi-ci datang menghadap."

Ki Seng-jiang manggut2, katanya.

"Kalian boleh masuk."

Kedua orang jelas adalah pimpinan utama dan wakilnya dari barisan kesatu. Maka Pui Hok-ki dan Pian Mi-ci beranjak ke dalam ruangan besar. Jin Ji-kui sudah berdiri menyambut, katanya menjura.

"Pui-heng, Pian-heng, selamat bertemu."

Lim Cu jing juga berdiri, tapi dia hanya menyapa dengan anggukan kepala. Wajah bulat Pui Hok-ki yang gembur penuh daging lebih tampak berseri tawa, berulang dia balas menjura, katanya.

"Jin-lo, kau baik2 saja."

Ki Seng-jiang segera menuding Lim Cu-jing, katanya kepada Pui Hok-ki.

"Hok-ki, adik Lim Cu-jing ini adalah utusan istana Hok." -Lalu dia balas perkenalkan kedua orang kepada Lim Cu jing. Mendengar utusan istana Hok, semakin lebar tawa Pui Hok-ki, berulangdia menjurasambil basa-basisekedarnya.

"Kita orang sendiri, hayolah duduk."

Ucap Ki Seng-jiang. Dariatas meja Ki Seng-jiang ambilsuratpemindahandan berkata kepada Pian Mi-ci.

"Selamat Pian-heng, inilah surat pengangkatan untukmu, kau dimutasikan setingkat lebih tinggi ke kantor balai kota menjabat wakil komandan barisan keamanan kota, sementara jabatanmusekarangakandi isioleh Lim-lote."

Wakil pimpinan utama dari barisan bayangkari dimutasikan menjadi wakil komandan barisan keamanan kota, menurut jamaknya jabatannya naik setingkat, tapi pasukan bayangkari betapapun adalah tenaga2 ahli dan terdidik yang bisa selalu mendampingi baginda, kini dimutasikan ke kantor balai kota, berarti sudah keluar lingkungan istana.

Mimik Pian Mi-ci menunjuk perasaan yang aneh, sudah tentu dia juga mengerti, soalnya Lim Cu-jing orang utusan istana Hok, untuk mencarikan jabatan sesuai bagi Lim Cu-jing, terpaksa dirinyalah yang dikorbankan.

Tapi ini perintah, terpaksa dia menerima, katanya.

"Hamba terima perintah, entah kapan harus laporan?"

"Setelah menyelesaikan surat2 mutasimu di sini, boleh segera kau melaporkan diri ke sana,"

Bahwa penggantinya sudah hadir, adalah jamak kalau dia harus segera menyingkir. Maka Pian Mi-ci mengiakan pula. Ki Seng-jiang tertawa lebar, katanya.

"Pasukan keamanan kota tiada bedanya dengan barisan bayangkari, semua adalah orang kita sendiri, bukankah dulu aku juga bertugas di bawah pimpinan Toswe, malah jabatan Pian-heng sekarang lebih tinggi daripada aku waktu itu."

Pian Mi-ci kembali mengiakan, katanya.

"Baiklah, sekarang juga hamba menyelesaikan surat mutasi, bila Jongtay tiada pesan lain, hamba mohon diri saja."

"Baiklah, selesaikanlah surat2mu, kebetulan Jin-lote berada di sini, siang nanti kau harus kembali, aku akan menjamu kedatangan Lim-lote, sekaligus untuk menjamu perpisahan dengan Pian-heng, biarlah kita bergembira bersama."

Setelah Pian Mi-ci pergi Ki Seng-jiang berpaling kepada Pui Hok-ki, katanya.

"Hok-ki, sejak kini Lim-lote termasuk orangmu. boleh kau iringi dia menemui He-congkoan untuk laporkan diri dan menyelesaikan surat2nya."

Lekas Pui Hok-ki berdiri sambil mengiakan, lalu berkata kepada Lim Cu-jing dengan tertawa.

"Lim-heng, bawalah surat2mu, ikutlah aku ke sekretariat."

"Mohon bantuan Pui ling-pan (pimpinan she Pui),"

Seru Cu jing.

MukabulatPui Hok-kitampak berseri, katanya."Lim-hengjangan sungkan, untuk selanjutnya kita terhitung orang sendiri, saling bantu adalah semestinya." -Karena Lim Cu jing orang utusan istana Hok, makasengajadiamerapatdanmengambilhatinya.

Setelah mohon diri kepada Ki Seng jiang, kedua orang langsung masuk ke istana lebih dalam.

He-congkoan adalah Thay-kam (dayang-kebiri) yang berkuasa di pasanggerahan ini, tahu bahwa Lim Cu-jing utusan istana Hok, sudah tentu pelayanannya berbeda dengan yang lain, setelah dia periksa surat2 yang ada, segera dia isi formulir riwayat hidup Lim Cu-jing serta nama tiga turunan leluhurnya, maka selesailah soal mutasi ini, Lim Cu jing pula memperoleh sebentuk medali perak tanda pangkat wakil pimpinan barisan kesatu.

Siang hari itu Ki Seng jiang mengadakan perjamuan di kamar tamu itu, tamunya ada tiga orang, yaitu Lim Cu-jing serta Pian Mi-ci yang kini dimutasikan ke barisan keamanan kota, orang ketiga adalah Jin Ji kui.

Sementara para tamu pengiring ada lima, yaitu pimpinan utama barisan kesatu Pui Hok-ki, pimpinan utama barisan kedua Hok Ji-liong, wakilnya Pok Coan-seng, pimpinan utama barisan ketiga Pi Si-hay dan wakilnya Keh Tiang-sin.

Biasanya jarang ada perjamuan besar macam ini dalam pasukan bayangkari seperti sekarang.

Hanya kedatangan seorang wakil pimpinan utama yang baru ternyata Jongtay telah menyambutnya dengan perjamuan sebesar ini, agaknya kecuali menyambut kehadirannya, sekaligus juga untuk pesta perpisahan dengan Pian Mi-ci, tapi Lim Cu-jing kenyataan duduk di kursi utama, jelas perjamuan ini lebih mengutamakan kepada Lim Cu jing.

Tiada alasan lain karena Lim Cu-jing adalah orangnya Tolo Keke.

Bukankah semalam To-swe sendiri juga telah mengadakan perjamuan menyambut kedatangannya?

Biarpun para pimpinan utama dan para wakilnya ini semula juga tokoh2 Bu-lim yang sudah lama berkecimpung di dunia Kangouw, tapi sekali sudah masuk kalangan pemerintahan, siapapun akan kemaruk harta dan pangkat, kalau tidak siapa yang sudi menjual nyawa, relamenjadi antekdancakaralap2 kerajaanpenjajah?

Pho-tujong juga orang dari istana Hok, untuk apa pula dia harus bermuka2 kepada Lim Cu-jing, hal ini tidak sukar diterka, yakni lantaran Lim Cu-jing didukung oleh seorang yang punya kuasa tinggi di istana Hok, mereka yang cerdik akan lekas memahami liku2 ini, maka adalah jamak pula bila para pimpinan utama dan para wakilnya yang hadir dalam perjamuan ini berusaha memikat dan mengikat persahabatan dengan Lim Cu-jing, secara bergiliran mereka menyuguh arak kepada Lim Cu jing.

Lim Cu jing juga tahu dan dapat melihat gelagat bahwa arak yang disuguhkan padanya adalah arak persahabatan, arak menjilat untuk menarik hatinya.

Hampir selesai perjamuan, seorang pengawal tampak masuk mendekatiKiSeng-jiangsertaberbisik di telinganya.

Ki Seng jiang tampak melengak, tanyanya.

"Mana orangnya?"

"Ada di luar,"

Sahut pengawal itu.

"tanpa izin Jongtay dia tidak berani masuk."

Ki Seng jiang mengulap tangan, katanya.

"Suruh dia masuk."

Pengawal mengiakan sambil meluruskan kedua tangan, setelah membungkuk terus mengundurkan diri.

Tak lama kemudian sudah berjalan masuk pula membawa seorang baju hijau.

Usia orang ini lima puluhan, mukanya lancip tirus, tubuhnya tinggi kurus, begitu melangkah masuk segera ia memberi hormat dan berseru.

"Hamba menghadap Jongtay."

Melihat si baju hijau ini, Lim Cu-jing tampak melenggong. Dia kenal orang ini adalah salah satu dari kedelapan Koan-tay Hek-liong hwe, yaitu Tu Hong-seng adanya. Ki Seng jiang mengangguk, katanya.

"Tu-heng tidak usah banyak adat, kau buru2 menghadapku, apakah Cui-congkoan yang mengutusmu untuk minta bala bantuan kesana?"

Kembali Lim Cu jing melenggong mendengar pertanyaan ini, pikirnya.

"Agaknya Cui Kin-in berkuasa untuk memerintahkan bantuan dari pasukan bayangkari di pesanggerahan raja ini, bukankah ini berarti jabatan dan kekuasaan Cui Kin-in jauh lebih tinggi daripada Ki Seng-jiang? Bahwa Cong-kam (komisaris umum) Hek-liong-hwe dapat memerintah dan menguasai pada pasukan bayangkaridisini, memangnyasiapakahdiasebenarnya?"

Tu -Hong seng tampak berdiri tegak, sahutnya.

"Lapor Jongtai, hamba datang untuk memberi laporan."

"Urusan apa boleh kau katakan saja."

"Hek liong hwe telah dipukul hancur oleh musuh, Jan-hwecu, Nao-tongcu, Ci tongcu dan Nyo-jilingpun yang ditarik dari pasukan bayangkaridi sinisemuanyasudahgugur."

Diam2 Lim Cu-jing mengangguk, pikirnya.

"Kiranya Nyo Ci-ko adalahwakilpimpinanutamadaribarisan bayangkaridisini."

"Prang", muka Ki Seng jiang seketika berubah pucat, cangkir yang dipegangnya terlepas jatuh berantakan, tanyanya gugup.

"Bagaimana dengan Cui-congkam?"

"Agaknya Cui-congkam sudah meninggalkan tempat itu,"

Sahut Tu Hong-seng. Sesaat baru Ki Seng-jiang menenangkan diri, seperti teringat apa2, wajahnya kini menjadi kelam, tanyanya.

"Kau tahu siapa saja yang telah menyerbu Hek-liong-hwe?"

"Hamba hanya tahu kalau mereka adalah orang2 Pek hoa-pang, yang menjadi tulang punggung Pek-hoa-pang adalah kedua puteri Thi Tionghong, pentolan Hek liong-hwe dulu, tapi yang paling lihay di antara mereka Cong-houhoat Pek-hoa-pang yang bernama Ling Kun-gi, konon dia adalah putera Ling Tiang-hong, murid Hoan-jiu-jilay, Hek-liong-hwe boleh dikatakan seluruhnya runtuh di tangan orang she Ling ini."

Berubah pula air muka Ki Seng Jiang, serunya murka.

"Lagi2 bocah keparat she Ling itu."

Tu Hong-sing mengeluarkan setumpukan kertas tebal dan diangsurkan, katanya.

"Inilah laporan tertulis hamba, semuanya tercatat dengan jelas di sini."

Seorang pengawal maju menerima kertas laporan itu dan dihaturkan kepada Ki Seng-jiang. Tapi Ki Seng jiang mengulap tangan, katanya.

"Bawalah ke kamar bukuku saja,--Lalu dia berkata kepada Tu Hong-sing.

"Bagus sekali, Tu heng boleh istirahat dulu, sementara boleh kau tinggal di markas, setelah aku mohon petunjuk langsung dari Cui-cong-koan baru kuputuskan tindakan selanjutnya."

Tu Hong-sing mengiakan, katanya sambil memandang ke arah Ki Seng jiang.

"Jongtai, masih ada soal penting yang akan hamba laporkan."

"Yang hadir di sini semua orang kita sendiri, ada urusan penting atau rahasia apa boleh kau katakan saja." . Tu Hong sing mengiakan dan berkata.

"Waktu hamba keluar perbatasan, di tengah jalan pernah kulihat dua rombongan orang yang mencurigakan, mereka mirip komplotan Pek hoa-pang, tujuannya juga ke Jiat-ho sini."

"Ada berapa orang?"

Tanya Ki Seng jiang.

"Jumlahnya tidak banyak, mungkin kuatir menarik perhatian orang, maka mereka berpencar dalam beberapa kelompok."

Tiba2 terunjuk hawa nafsu membunuh pada wajah Ki Seng-jiang, katanya tertawa dingin.

"Berani juga mereka meluruk ke Jiat ho. Hehe, jelas tujuannya adalah mencari perhitungan kepada aku orang she Ki."

Lalu dia mengulap tangan.

"Baiklah, kau boleh mundur dulu. Semalam kau menginap di mana?"

"Hamba menginap di losmen Liong-kip,"

"Lebih baik kau tetap kembali ke penginapanmu, perhatikan disekelilingmu, nanti kusuruh orang Hamba terima perintah, sahut To Hong-Sin terus mengundurkan diri. Setelah perjamuan usai, Sin Ji kui dan Pian Mi-ci mohon diri, Ki Seng jiang dan lain mengantar sampai di depan pintu. Akhirnya Ki Seng-jiang berpaling kepada Lim Cu jing, katanya.

"Lim-heng, tolong kau antarkan Jin loya, sekembalinya langsung ke kamar bukuku. Waktu Lim Cu-jing kembali setelah mengantar Jin Ji-kui, pengawal Ki Seng-jiang telah menunggunya, katanya.

"Jongtai sudah menunggu di kamar buku, Lim-lingpan silakan ikut hamba."

Kamar buku terletak di sebelah timur, ruang tengah adalah tempat tinggal Ki Seng-jiang, dinding kamar buku penuh digantungi lukisan kuno, tepat di tengah kamar terletak rak buku Ki Seng-jiang tampak duduk di belakang rak buku di kursi berukir dan berlapis sutera sulaman, agaknya dia tengah membaca laporan Tu Hong-sing tadi.

Tepat di atas kepala pada dinding dibelakangnya tergantung sebilah pedang panjang, coraknya kuno, jelas pedang pusaka juga.

Ki Seng jiang adalah anak pungut Ui-san-it-kiam Ciok-boh Lojin, sudah tentu diapun seorang jago pedang.

Pui Hok ki, pimpinan utama barisan kesatu tampak duduk di kursi yang membelakangi jendela sebelah kiri.

Setiba di depan pintu, pengawal itu berhenti serta membungkuk, serunya.

"Lapor Jongtay, Lim-jilingpan telah tiba."

"Silakan masuk!"

Seru Ki Seng-jiang Lim Cu-jing segera melangkah masuk.

"Silakan duduk Lim-heng,"

Ucap Ki Seng-jiang. LimCujing lantasduduk di kursisebelah Pui Hok-ki. Ki Seng-jiang menatapnya, katanya kalem.

"Ingin aku mohon sekedar penjelasan dari Lim-heng ..."

Berdetak jantung Lim Cu jing, katanya sambil berbangkit.

"Entah soal apa yang Jongtay ingin tanyakan?"

"Lim heng sengaja diutus oleh istana Hok kepada To-swe, tentunya kau memiliki Kungfu yang tidak sembarang, tapi ingin kutanya asal-usul dan aliran dari mana ilmu yang Lim heng pelajari?"

"Menjawab pertanyaan Jongtay, hamba tiada masuk golongan tidak punya aliran, semasa hidup ayahku bekerja di Piaukiok juga, beliau adalah saudara angkat Lim piauthau dari Tin-wan Piau-kiok, ilmu cakar kucing yang kupelajari dari ayah adalah pelajaran kampungan, paling2 hanya bisa main kepalan, telapak tangan, golok dan pedang."

Ki Seng jiang tersenyum, katanya.

"Hou-pian-liong-jiu Lim-lopiauthau pernah menggetarkan Kwan-tang, bahwa ayah Lim -heng seangkatan dengan Lo piauthau, tentunya beliau juga seorang persilatan yang punya nama."

"Waktu ayah almarhum angkat saudara dengan Lim-piauthau usianya masih terlalu muda. Setelah ayah menikah, ibu melarang ayah berkecimpung di Kangouw, katanya usaha di Piaukiok hanya mempertaruhkan jiwa belaka, penghasilan juga tidak memadai, sebaliknya bahaya yang harus ditempuh teramat besar, lebih baik hidup tenang di kampung halaman dengan usaha dagang kecil2an, maka sejak itu ayah lantas putus hubungan dengan Lim-lopiauthau, sampai sekarang sudah dua puluhan tahun lebih .. .."

Agaknya Ki Seng jiang tidak tertarik oleh cerita riwayat hidupnya, katanya. Apakah Lim-heng pernah meyakinkan Ginkang?"

"Semasa ayah masih hidup beliau memang pernah melatih Ginkang dan Lwekang padaku,"

Kalau hanya ketinggian dua-tiga tombak, saja masih dapat kucapai."

"Itu sudah cukup, nah sekarang Hok-ki, kau mencoba dia."

Pui Hok ki mengiakan terus berbangkit, katanya dengan tertawa.

"Lim-heng, Jongtay ada sebuah tugas rahasia yang teramat penting minta supaya kau menyelesaikannya, tapi pihak lawan semuanya adalah musuh2 tangguh, kuatir Lim-heng mengalami sesuatu alangan dan tentu akan sukar memberi laporan kepada To-swe, maka Lim-heng sengaja di undang ke kamar buku ini, kita perlu mengetahui sampai di mana tingkat kemampuan Lim-heng..."

"Ada tugas apa yang akan Jongtay serahkan, umpama menerjang lautan api dan terjun minyak mendidih juga hamba tidak akan menolak,"

Seru Lim Cu jing. Pui Hok ki berkata.

"jongtay ingin supaya aku menjajalmu satu dua jurus, Lim-heng jangan sungkan, juga tidak usah ragu2 dan kuatir, boleh turun tangan sekuat tenaga menurut kemampuan, cukup asal saling tutul atau jamah saja,"

Sembari bicara dia mulai pasang kuda2 serta menambahkan.

"Lim heng hati2, aku akan turun tangan."Kelima jari tangan kanannya terkembang, bagai cakar iaterus mencengkerampundak LimCu-jing. Gerakan yang kelihatan lamban ini adalah Kin-na jiu-hoat yang lihay, pimpinan utama barisan kesatu ini ternyata memang membekal kepandaian tinggi, dari jurus permainan ini sudah dapat dinilai kemantapan tipu, serangannya dengan pakai jari yang keras. Lim Cu-jing tertawa tawar, ujarnya.

"Hamba mana berani "-Sambil bicara badannya masih berdiri tegak tidak mengegos atau berkelit. Tatkala telapak tangan Pui Hok-ki, hampir menyentuh pundaknya, mendadak ia berputar ke kanan, kelima jari tangan kiri menegak terus didorong keluar, ujung jarinya menyapu dan menyerempet pergelangan tangan Pui Hok-ki. Gerakan ini merupakan tipu serangan biasa, namanya "mendorong jendela melihat gunung", gerakan untuk menutup dan mematahkan serangan, jadi kelihatannya tiada yang istimewa. Tapi Ki Seng-jiang dan Pui Hok-ki adalah jago silat yang cukup tajam pandangannya, sekali Lim Cu-jing bergerak, meski gerakan yang sepele, tapi jelas mengandung gaya perubahan yang menakjubkan, serentak menimbulkan deru angin yang kencang menyerempet pergelangan tangan Pui Hok-ki. Pada hal jarak pergelangan tangan Pui Hok-ki masih ada satu kaki jauhnya dengan tangan Lim Cu-jing, tapi orang sudah merasakan tangannya seperti tersampuk mistar besi, tiba2 tangannya terasa sakit. Keruan bukan main kagetnya, lekas Pui Hok-ki tarik tangannya seperti orang berjingkat kaget karena keselomot api, matanya terbeliak menatap Lim Cu-jing, katanya dengan keheranan.

"Lim-heng ternyata hebat sekali."

Lim Cu-jing telah meluruskan kedua tangannya. katanya.

"Terima kasih atas kemurahan hati Toa-lingpan."

Pui Hok ki tergelak2, katanya.

"Jongtai memang ahli, tentunya sudah menyaksikan sendiri, gerakan menyapu Lim-heng tadilah betul2 menaruh belas kasihan padaku, kalau tidak, pergelangan tanganku ini tentu sudah cacat."

Ki Song-jiang tampak riang, katanya mengangguk.

"Cukuplah, hanya sejurus saja sudah meyakinkan bahwa tiada tugas apapun yang takkan bisa diselesaikan oleh Lim-heng."

"Jongtai terlalu memuji,"

Ucap Lim Cu-jing, -"hamba ingin tanya, apakah Toa-lingpan juga mahir menggunakan senjata rahasia?"

"Apa??"

Seru Pui Hok-ki sambil goyang tangan.

"Lim-heng ingin bertanding Am-gi denganku? Sudahlah. barusan aku sudah pamer kebodohan, memangnya Lim-heng tega membikin malu aku lagi."

"Toa-lingpan jangan salah mengerti, bukan begitu maksud Cayhe, soalnya Jongtai tadi ada tanya soal Ginkang, maka hamba ingin mencobanya."

"Memangnya untuk apa Lim-heng tanya soal Am-gi?"

Tanya Pui Hok-ki. Lim Cu-jing tertawa, katanya.

"Bila Toa-lingpan, sekarang membawa Am-gi, bolehlah dicoba sekarang juga."

Agaknya Ki Seng-ji ing tertarik, katanya kepada Pui Hok-ki.

"Hokki, baiklah, biarkan dia mencobanya Pui Hok-ki menyengir, katanya.

"Inilah perintah, terpaksa aku menurut keinginan Jongtai, biarlah aku konyol sekali lagi."

Pui Hok-ki mengeluarkan tiga batang panah pendek, tanyanya kepada Lim Cu-jing.

"Cara bagaimana Lim-heng akan mencobanya?"

"Sebatang saja sudah cukup."

Ujar Cu jing, lalu dia tuding keluar jendela.

"Inilah panah timpuk yang paling kecil, mungkin harus ditimpukkan dengan kekuatan jari. Baiklah, sekarang boleh Toalingpan menimpuknya keluar jendela."

Sekenanya Pui Hok-ki jemput sebatang panah dan ditimang2 di telapaktangan, katanyatertawa."Apayangharuskubidik?"

"Terserah, Toa-lingpan mau membidik lurus ke depan atau ditimpukkan ke angkasa juga boleh."

"Baiklah,"

Sahut Pui Hok-ki, begitu tangan terayun, panah kecil itu lantas meleset keluar jendela, Pada saat itulah Lim Cu-jing yang berdiri di samping Pui Hok-ki mendadak menutul kedua kakinya, badannya melesat lurus ke depan bagai meteor mengejar rembulan, mengudak ke arak panah kecil yang meluncur keluar.

Gerakan keduanya sungguh cepat luar biasa.

Ki Seng jiang dan Pui Hok ki tidak pernah bayangkan bahwa tujuan Lim Cu-jing suruh Pui Hok-ki menimpuk panah pendek Itu hanya untuk dikejarnya.

Dalam Bu-lim sudah sering orang mendemonstrasikan kepandaian menyambut dan menimpuk senjata rahasia secara berhadapan.

Tapi Lim Cu-jing baru mengudak panah setelah panah itu ditimpukkan, bahwa dia sudah mengejar tentu dapat menangkap panah itu.

Bila Lim Cu-jing tidak yakin dapat menyandak senjata rahasia itu, tak mungkin dia berani pamer dihadapanorangdan mempersulitdirisendiri.

Pikiran mereka berdua sama maka dengan mendelong mereka menyaksikan dengan hati berdebar kejadian hanya sepercikan api belaka, belum lagi mereka melihat jelas kejadian sesungguhnya, terasa angin berkesiur, tahu2 Lim Cu-jing sudah melayang masuk pula lewat jendela dan hinggap di hadapan mereka.

Tampak di antara dua jari tangan kanannya menjepit sebatang panah kecil, katanya sambil menjura dengan tertawa lebar.

"Jongtai, dihadapan Toa-lingpan Cayhe telah pamer kejelekan,"

Terpancar cahaya aneh pada sinar mata Ki Seng-jiang, katanya tertawa.

"Tak heran Keke sampai begitu tinggi menilaimu, haha, demonstrasi yang Lim-heng tunjukkan barusan, jangankan dalam pasukan bayangkari kita tiada seorangpun yang mampu menandangi kau, meski jago2 lihay dari istana rajapun sukar mencari bandingannya."

Kedua bola mata Pui Hok-ki terbeliak sekian lamanya, akhirnya dia tertawa ngakak serunya.

"Dengan bekal kepandaian yang barusan Lim-heng pamerkan, adalah pantas kalau aku menukar jabatan dengan kau, malah terasa kurang setimpal aku menjadi wakilmu."

Lim Cu-jing menjadi gugup, katanya.

"Jangan, Toa-lingpan berkata demikian, hamba jadi tidak enak hati."

"Aku bicara sejujurnya,"

Ucap Pui Hok-ki.

"dalam jangka sepuluh tahun, Lim-heng pasti menonjol dan mengungguli jago2 silat manapun, naik pangkat hidup senang, hahaha ...."

Walau masih tertawa, tapi mimik Ki Seng-jiang tampak kurang wajar mendengar umpakan Pui Hok-ki ini, katanya sambil goyang2 tangan.

"Marilah, kita bicara sambil duduk."

Lalu dia kembali ke kursi kebesarannya. LimCu-jing danPui Hok-kipun dudukpuladi kursi semula. Menghadap ke arah Lim Cu-jing, pelan2 Ki Seng-jiang berkata.

"Barusan kau telah melihat orang yang bernama Tu Hong-seng, dia adalah Koan-tai dari pihak pemerintah yang sengaja ditanam dalam Hek-liong-hwe, beberapa hari yang lalu kabarnya Hek-liong-hwe telah digempur oleh Pek-hoa-pang dan hancur lebur ...........

"Hek-liong-hwe?"

Lim Cu-jing pura2 menepekur.

"rasanya hamba pernah mendengar orang memperbincangkan, tapi nama Pek-hoapang, selamanya belum pernah hamba dengar?"

Ki Seng-jiang tersenyum.

"Itulah suatu sindikat gelap yang terorganisir baik dan rapi, tidak pernah terjun ke percaturan dunia persilatan secara terbuka, sudah tentu kau tak tahu, begini dia jemput kertas laporan Tu Hong seng dan diangsurkan, katanya.

"Inilah laporan Tu Hong-seng, boleh kau membacanya dengan teliti, nanti pasti akan mengerti. Menurut laporan Tu Hong-seng, kaum pemberontak dari Pek-hoa-pang sudah menyusup ke Jiat ho sini, tujuannya jelas mengadakan kembali keonaran dan kejahatan, tadi sudah kusuruh Tu Hong seng agar tetap menginap di losmen Liong kip, dan secara diam2 menyelidik dan mengawasi gerak-gerik mereka, kau orang baru, jelas pihak musuh belum ada yang mengenalmu, maka tugas ini kuserahkan padamu seluruhnya ........."

"Berkat kebijaksanaan Jongtai, maka tugas yang diserahkan padaku pasti akan kukerjakan sekuat tenaga,"

Demikian Lim Cu jing memberikan janjinya.

"Tugas Lim-heng yang pertama sekarang adalah, kaupun harus menginap ke Losmen Liong kip itu, secara diam2 kau boleh mengadakan kontak dengan Tu Hong seng, bila menemukan orang yang patut dicurigai, Tu Hong seng tidak leluasa bertemu muka dengan mereka, maka tugasmulah yang menyelidikinya secara diam2 lalu kau mengadakan hubungan dengan Pui Hok-ki, cuma ada satu hal harus Lim heng perhatikan, yaitu jangan terburu nafsu mengejar pahala, supaya tidak mengejutkan pihak lawan."

"Hamba mengerti,"

SahutLimCu jing.

"Baik, setelah kau baca habis laporan ini boleh segera berlalu, bila tiada urusan penting tidak usah kau sering kembali ke markas sini, supaya jejak asal usulmu tidak konangan musuh,"

Lalu dia berpaling dan bicara kepada Pui Hok-ki.

"Tugas ini seluruhnya kuserahkan kepada barisan kesatu, dari sini kau boleh langsung bawa Lim-heng ke kesatuanmu, supaya anak buahmu mengenal wakilmu dan Lim-heng kenal juga anak buahnya, bila di luar markas bertemu dalam menjalankan tugas, mereka harus tunduk pada perintah Lim-heng,"

Pui Hok-ki mengiakan, sambil munduk2.

Dikala mereka bicara Lim Cu-jing sudah baca laporan Tu Hong-seng, kejadian hancurnya Hek-liong-hwe seperti yang ditulis dalam laporan Tu Hong-seng memang sesuai dengan kenyataan.

Cuma demi kepentingan pribadinya dia terlalu menonjolkan jasa2 pribadi sendiri, bagaimana dia tertawan musuh oleh obat bius keluarga Un, bagaimana pula dia berusaha menipu musuh tidak gugup sedikitpun meski menjadi tawanan, dan akhirnya berhasil melarikan diri setelah mengelabui musuh Diam2 Lim Cu-jing menghela napas, pikirnya.

"Bila manusia sudah kemaruk pangkat dan harta, sampai matipun dia tidak akan insaf akan kesalahannya."

Akhirnya dia tutup laporan itu serta menaruhnya di atas meja, katanya.

"Hamba sudah membacanya, Jongtai."

"Dalam laporan Tu Hong seng ini cukup jelas, wajah, usia dan ciri para pemberontak, ini banyak membantu bagimu dalam menjalankan tugas, kau mengingatnya semua"

"Beberapa orang penting sudah kuingat dengan baik,"

Sahut Lim Cu-jing.

"Baiklah, sekarang kalian boleh berangkat,"ucap Ki Sengjiang. Pui Hok-ki dan Lim Cu jing menjura bersama dan mengundurkan diri. Setelah kembali di tempatnya, Pui Hok-ki lantas mengumpulkan anak buahnya dan memperkenalkan Lim Cu-jing kepada mereka, terutama kepada komandan ketiga kelompok pasukannya, yaitu kepala kelompok pertama bernama Go Jong-gi, berusia empat puluhan, muka putih tubuh kurus kecil, mirip pelajar yang lemah lembut. Kepala kelompok kedua bernama Ko Siang seng, perawakan sedang, mukanya lonjong kurus, usianya sekitar lima puluhan. Kepala kelompok ketiga bernama Thio Ih-bin, agak gemuk, usianya juga sudah empat puluh lebih. Akhirnya Pui Hok-ki berkata.

"Baiklah, sekarang tiada urusan lain, kalian boleh bubar, Go Jong-gi, kau saja yang tinggal di sini." -Kemudian berkata pula Pui Hok-ki kepada Go Jong-gi.

"Lim-heng akan menginap di Tang sun-can untuk melakukan tugas rahasia, untuk ini kutugaskan kau selalu mengadakan kontak dengan Lim-heng, ada pesan dan petunjuk apapun dari Lim-heng harus segera kau laksanakan."

"Hamba mengerti "

Sahut Go Jong-gi lalu ia berputar menghadap Lim Cu-jing, katanya.

"Jilingpan entah ada pesan apa?"

"Setiap malam setelah makan malam kuharap Go-lingpan datang ke kamarku, supaya hubungan tetap diadakan, kalau ada kejadian atau urusan mendadak satu sama lain bisa berunding, entah bagaimana pendapat Go heng?"

"Jilingpan bekerja secara rapi, sudah tentu hamba terima petunjuk saja."

"Di luar markas harap Go heng tidak memanggilku demikian lagi, kita saling membahasakan saudara saja, untuk ini Go-heng tidak boleh lalai "

Melihat hari sudah sore, Lim Cu-jing lantas menjura kepada Pui Hok-ki, katanya.

"Toalingpan, waktu sudah mendesak, biarlah hamba mengundurkan diri."

"Ya, demitugas, bolehlahsegeraberangkat,"ucapPui Hok ki. Setelah minta diri kepada Pui Hok-ki, bersama Go Jong-gi mereka terus keluar markas menuju ke istal, kuda tunggangan Lim Cu jing sudah disiapkan, dia cemplak ke punggung kuda dan berpisah dengan Go Jong-gi, langsung dibedal ke Tang-sun-can. Waktu itu sudah magrib, pelayan yang bertugas di luar segera menyongsong kedatangan Lim Cu-jing dan menyapa dengan tertawa .

"Lim-ya, kau sudah kembali lagi."

Lim Cu jing mengangguk, dengan tangkas dia melompat turun, tanyanya.

"Masih ada kamar?"

"Silah Lim-ya tanya saja di kantor, hamba tugas di luar, kurang terang keadaan didalam."

Waktu Lim Cu jing melangkah masuk, kasir hotel ter gopoh2 menyambutnya, Lim Cu-jing bertanya pula.

"Ciangkun, masih ada kamar istimewa?"

Kasir ini bersikap hormat berlebihan, katanya munduk2.

"Hamba tidak tahu bahwa Lim-ya adalah tamu agung sehingga pelayanan kurang baik, harap Lim-ya memberi maaf sebesar2nya, rekening Lim-ya beberapa hari yang lalu sudah dilunasi seluruhnya oleh Jin loya, kamar yang Lim-ya perlukan sekarang masih ada, mari silakan periksa, entah mencocoki selera Lim ya tidak?"

Tang-sun-can adalah hotel terbesar di seluruh Jiat-ho dengan restorannya pula, waktu itu lampu baru saja dipasang, restorannya bertingkat lima dengan lima ruangan makan yang besar, luas dan nyaman, seluruhnyasudahhampirdipenuhitetamu.

Dengan enteng, Lim Cu-jing melangkah ke atas loteng, seorang pelayan menyambutnya dengan tertawa.

"Tuan hanya seorang diri, silahkan ikut hamba." -Lalu dia berlari kecil di depan, dalam suasana yang riuh ramai dan penuh sesak, untuk mencari tempat dudukdiruang makanseluasini memangbukansoal gampang. Pelayan membawa Lim Cu-jing ke sebuah meja yang dekat jendela menghadap jalan raya, setelah menarik kursi dia menyilakan dengan tertawa.

"Silakan tuan duduk di sini saja, tamu cukup banyak, terpaksa satu sama lain saling mengalah."

Pada meja itu sudah ada dua orang, pedagang yang sedang makan minum sambil berundang soal dagang.

Maka merekapun tidak hiraukan kedatangan Lim Cu-jing, Cu-jing juga tidak pedulikan mereka, seorang diri dia pesan makanan serta menunggu dengan sabar.

Dikala dia berduduk itulah, sekilas dilihatnya dimeja sebelah kanan sana duduk tiga orang.

Seorang nenek sudah ubanan rambutnya, seorang lagi nyonya muda jelita, dari dandanan mereka seperti ibu mertua dengan menantunya, Seorang lagi yang duduk di depan mereka adalah kakek kurus bermuka kuning, meski semeja tampaksikapnyaamathormatdan munduk2.

Begitu melihat ketiga orang ini, hampir saja Lim Cu-jing berteriak.

Soalnya ketiga orang ini adalah samaran ibunya, Bok-tan dan Ting Kiau.

Walau mereka sudah berganti rupa, tapi Lim Cu-jing tetap dapat mengenalnya.

Mengapa ibu juga berada di Jiat-ho?

Demikian dalam hati dia bertanya2.

Maka Lim Cu-jing angkat poci menuang secangkir teh, dengan pura2 menikmati air teh panas yang dihirupnya sedikit demi sedikit Lim Cu jing gunakan ilmu gelombang suara berkata kepada nenek itu.

"Bu, bagaimana kaupun datang kemari?"

Nenek itu memang samaran Thi-hujin, mendengar bisikan suara Ling Kun-gi, sekilas tampak dia melengak, lekas sekali dia berpaling, segera iapun dapat melihat Lim Cu-jing.

Karena dia sedang makan, sudah tentu orang lain tidak perhatikan bila bibirnya lagi bergerak bicara, dengan ilmu yang sama dia menjawab.

"Anak Gi, kau sudah menemukan Ki Seng-jiang? Sorenya setelah kau berangkat, nona Pui mendadak minggat, mungkin diapun menyusul ke Jiat-ho ini, maka ibumu bersama Un-cengcu dan Cu-cengcu terbagi dalam tiga rombongan mencari jejaknya kemana2, sayang tidak ketemu."

Mencelos hati Lim Cu jing mendengar kabar ini, Tu Hong-seng bilang di jalanan pernah melihat beberapa kelompok kaum pemberontak, jelas yang dilihat adalah rombongan ibunya dengan rombongan Un-cengcu dan Cu cengcu.

Untung Ki Seng-jiang serahkan tugas ini padaku, kalau tidak bukankah segala persoalannya akan terbongkar, Yang menjadi beban pikirannya kini adalah Pui Ji-ping, memang nona itu pernah belajar ilmu rias untuk menyamar ala kadarnya, bila ketiga rombongan orang yang mencarinya ini bertemu muka secara langsung juga pasti tidak mengenalnya lagi.

Nona ini memang binal, sifat kanak2 masih menghayati setiap gerak langkahnya yang suka iseng, apa saja yang dipikirkan lantas dikerjakannya.

Yang dikuatirkan adalah si nona bertindak secara ceroboh.

bukan saja bakal menggagalkan rencananya, malah membawa kesulitan pula.

Sesaat pikirannya jadi kusut dan gelisah, dia memegang cangkir pura2 seperti orang minum pelan2, dengan ilmu gelombang suara dia ceritakan pengalamannya selama berada di sini.

Thi-hujin terdiam sebentar, katanya kemudian.

"Anak Gi apa kau tidak merasakan semua ini terlalu mudah kau peroleh? Bukan mustahil pihak lawan memang sengaja mengatur semua ini untuk menjebakmu kedalamperangkapnya?"

"Ibu tidak usah kuatir, hal ini tidak mungkin, anak juga tidak semudah itu kena tipu mereka."

"Ini daerah kekuasaan mereka, apapun kau harus hati2,"

Demikian pesan Thi-hujin.

Bok tan duduk di samping Thi-hujin, sudah tentu segera diapun merasakan adanya tanda2 yang tidak beres ini, tak tahan dia bertanya."Apakahpopokurangselera makanhidangandisini?"

Dengan tersenyum Thi-hujin menggeleng lalu memberi tahu dengan suara lirih.

Bok-tan menjadi jengah dan melirik ke arah Lim Cu-jing.

Selanjutnya Lim Cu-jing beritahu bahwa Tu Hong-seng juga sudah berada di Jiat-ho sini serta telah melaporkan kepada Ki Seng jiang tentang jejak mereka, maka dia anjurkan setelah menemukan Pui Ji ping harus cepat2 meninggalkan Jiat-ho supaya tidak mengganggu rencananya, juga jangan menginap di hotel, carilah rumah penduduk saja.

"Baiklah, besok kami akan pindah keluar kota,"

Demikian ucap Thi-hujin.

"ibu belum sempat mengadakan kontak dengan Un-cengcu dan Cu-cengcu, entah di mana sekarang mereka berada, tapi ini soal sepele, asal ibu meninggalkan tanda rahasia akhirnya pasti dapat bertemu dengan mereka."

Lim Cu-jing mengucapkan syukur.

Kebetulan pelayan datang membawakan pesanan makanannya.

Thi-hujin, Bok-tan dan Ting Kiau sudah selesai makan, beriring mereka berdiri, Ting Kiau merogoh kantong membayar rekening dan turun ke bawah.

Tak lama kemudian Lim Cu jing pun turun dari loteng.

Saat itu suasana di jalan raya masih ramai.

Sekeluar dari Tang-sun-can, Lim Cu jing langsung menuju ke losmen Liong kip.

Losmen Liong-kip jauh lebih kecil, letaknya juga di ujung gang, maka tamu2 yang menginap di sini kebanyakan adalah kaum pertengahan atau orang2 yang kurang mampu keuangannya.

Pada hal dalamgang ini masih ada delapan hotelyang lain, Tu Hong seng justeru menginap di losmen yang paling kecil dan murah, tujuannya sudah tentu supaya tidak diperhatikan orang.

Seperti lazimnya pelayan segera menyambut kedatangan Lim Cujing dengan sikap ramah yang berkelebihan.

"Toaya ingin kamar, meski keciltapi kamar kami cukupbersih untuk istirahat."

"Cayhe hanya ingin mencari seorang teman saja,"

Ucap Lim Cu jing.

Mendengar orang bukan cari kamar, tawa dan sikap ramah si pelayan seketika kuncup, tapi melihat dandanan dan perawakan Lim Cu-jing gagah, tak berani dia bersikap sembarangan, tanyanya.

"Toaya hendak cari siapa?"

"Adakah seorang tuan Tu yang menginap di sini?"

Mendengar orang she Tu yang menginap di kamar kelas satu yang dicari, kembali mekar tawa si pelayan, katanya sambil munduk2 pula.

"Ada, ada, kiranya tuan adalah kenalan Tu-toaya, silakan, silakan, biar kutunjukkan tempatnya."

Dengan langkah lebar segera si pelayan berlari2 ke dalam serta berteriak.

"Tu-ya, ada kenalan-mu mencarimu."

"Siapa?"

Pintu kamarpun terbuka, begitu melihat Lim Cu jing, sekilas Tu Hong-seng tertegun, lekas dia menjura dan menyapa.

"O, kiranya Ji.."

Cepat Lim Cu-jing melangkah maju, tukasnya dengan tertawa.

"Cayhe Lim Cu-jing, Tu-heng tidak kira akan kedatanganku bukan?" -Sembari bicara berulang kali dia memberi tanda kedipan mata, maksudnya supaya tidak membocorKan rahasia dirinya di depan pelayan. Sebagai kawakan Kangouw, segera Tu Hong-seng paham maksudnya, maka dia tertawa katanya.

"Sungguh tak nyana kedatangan Lim-heng, lekas silakan duduk di dalam. Hahaha, inilah yang dinamakan dirantau ketemu orang sekampung."

Lengan Lim Cu-jing digenggam serta digoyang2kan, lalu menyilakan tamunya masuk. dia berpesan kepada pelayan.

"Pelayan, lekas bikin teh."

Pelayan mengiakan dan mengundurkan diri. Tu Hong-seng segera tutup pintu, cepat dia menjura, katanya.

"Hambatidaktahu kedatanganJilingpan, harapdimaafkan."

Lim Cu-jing mengulap tangan, katanya tertawa bangga.

"Tu-heng, memangnya tempat apa di sini? Lebih baik kita saling membahasakan saudara saja."

"Ya..... silakan duduk Lim-heng,"

Sejenak Tu Hong-seng tergagap.

Lim Cu jing tidak sungkan, dia duduk di kursi sebelah sana.

Pelayan telah datang pula membawa dua cangkir kosong dan sepoci teh wangi panas.

Tu Hong-seng mengisi secangkir penuh, dengan sikap menjilat segera dia aturkan ke depan Lim Cu jing, katanya.

"Silakan minum Lim-heng."

"Terima kasih,"

Ucap Lim Cu-jing, lalu dia duduk dengan bersikap kereng, katanya tegas.

"Laporan Tu-heng sudah kubaca dengan seksama."

Padahal laporan Tu Hong-seng diserahkan kepada Ki Seng jiang, bahwa dia mengatakan sudah membaca laporan itu, berarti dia adalah orang terpercaya dari Ki Seng-jiang.

Dari Ki Lok, kacung Ki Seng-jiang, Tu Hong-seng sudah mendapat tahu bahwa Jilingpan yang baru ini adalah utusan dari istana Hok, asal usulnya tentu luar biasa.

Sudah tentu sikapnya sangat hormat, lalu ia mohon petunjuk, katanya.

"Entah bagaimana pendapat dan petunjuk Lim-heng?"

Lim Cu jing tertawa tawar, mendadak dia berbisik.

"Jongtai serahkan perkara ini padaku untuk menyelesaikannya , ada beberapasoalyangingin kutanyakankepadaTu heng."

"Ada soal apa yang kurang jelas, boleh Lim-heng tanyakan, bila kutahu tentu kujelaskan."

"Yang ingin kutanyakan adalah beberapa kelompok orang2 Pek hoa pang yang pernah Tu heng lihat di tengah jalan itu, entah di mana Tu-heng melihat mereka? Berapa orang dan siapa saja mereka?"

"Tengah hari kedua setelah aku keluar dari perbatasan, di daerah kim kou-tun kulihat seorang tua dan muda beserta dua nona, laki2 tua muda itu aku tidak mengenainya, tapi kedua nona itu sudah kukenal baik."

"Siapa kedua nona itu?"

"Lim-heng sudah melihat laporanku itu, tentunya juga tahu bahwa dari Ceng liong tam Yong King-tiong dan Ling Kun-gi pernah menolong dua laki dan dua perempuan, dua nona yang kulihat itu adalah nona2 yang ditolong keluar dari Ceng-liong-tam itu, kalau tidakkeliru sheTongdan sheCu."

"Laki2 tua muda yang dimaksud tentu Cu Bun-ho dan Tong Siaukhing,"

Demikian pikir Lim Cu-jing. Dengan mengangguk dia memberi komentar.

"Ya, tapi belum tentu mereka menuju ke Jiat-ho sini, apakah mereka pernah melihat Tu-heng?"

"Tidak,"

Tutur Tu Hong-seng lebih lanjut.

"waktu aku melihat mereka, mereka sudah naik kuda hendak berangkat, kuatir jejakku konangan, maka aku menginap di hotel, petangnya kulihat pula rombongan orang lain."

"Siapa pula rombongan ini?"

"Dua laki2 kurus membawa seorang gadis, mereka menunggang kereta keledai, merekapun menginap di Kim-kau-tun, gadis itu juga sudah kukenal juga, dia bernama Un Hoan-kun, orang dari keluarga Un di Ling lam yang pandai menggunakan obat bius, aku pernah merasakan kelihayan obat bius si budak centil itu, karena itulah aku menjadi tawanan mereka."

"KemudianTu-heng melihat kelompoksiapapula?"

"Tidak, karena hari kedua sebelum terang tanah aku sudah buru2 melanjutkan perjalanan ke Jiat-ho sini."

Lim Cu jing tersenyum, katanya.

"Di tengah jalan Tu-heng hanya melihat beberapa gadis yang kau kenal itu, berdasar apa kau berani menyimpulkan bahwa tujuan mereka ke Jiat-ho? Dan lagi hanya beberapa nona2 manis belaka, memangnya apa yang bisa mereka lakukan?"

"Benar,"

Sahut Tu Hong-seng yakin.

"jelas mereka bertujuan ke Jiat-ho, walau hanya dua kelompok ini saja yang kulihat, tapi kuduga pasti ada beberapa rombongan yang lain pula, termasuk Ling Kun-gi di dalamnya, bocah she Ling itu katanya murid Hoan-jiu ji lay. ilmu silatnya tinggi, lawan yang paling tangguh di antara mereka."

"Bahwa Pek hoa-pang bermusuhan dengan Hek-liong bwe itu merupakan pertikaian orang2 Kangouw, sebetulnya tiada alasan mereka meluruk ke Jiat-ho sini."

"Lim-heng, mungkin kau belum tahu, tujuan mereka ke Jiat-ho ini mungkin hendak menuntut balas kepada Jongtai."

Pura2 kaget dan heran Lim Cu-jing, ia bertanya.

"Kawanan pemberontak ini berani menuntut balas apa kepada Jongtai? Apakah mereka bermusuhan dengan Jongtai?"

"Agaknya Lim-heng memang tidak tahu, dulu Hek-liong-hwe didirikan untuk melawan pemerintahan kerajaan kita, beberapa jago kosen dari istana raja menjadi korban di sekitar sarang Hek-lionghwe, waktu itu Ki-jongtai baru berpangkat kelas tiga di pasukan bayangkari, dia pula yang ditugaskan untuk mengusut perkara ini, dialah yang membujuk aku dan kawan2 lain untuk menyerah dan berbakti kepada kerajaan sehingga Hek-liong-hwe akhirnya dapat kita gempur dan duduki, belakangan kerajaan mengangkat Kijongtai secara resmi sebagai komisaris Hek-liong-hwe, akupun dinaikkan pangkat menjadi Koan-tai."

Diam2 Lim Cu jing membatin.

"Jadi yang menjual Hek-liong-hwe dulu kaupun ikut ambil bagian, kau memang pantas mampus."

Tapi Cu-jing pura2 melenggong, lekas dia merangkap tangan katanya.

"Jadi selama dua puluhan tahun ini Tu-heng sudah ikut Jongtai, maaf Cayhe berlaku kurang hormat."

"Mana berani,"

Terbayang rasa bangga pada mimik muka Tu Hong-seng, katanya.

"Coba Lim-heng bayangkan. Maha Pangcu Pek-hoa pang adalah puteri Thi-hwecu Hek-liong-hwe yang dulu, setelah Hek liong-hwe kita rebut, mana mereka mau melepaskan Ki jongtai?"

Lim Cu jing mendengus, katanya.

"Memangnya mereka berani berontak di wilayah Jiat-ho?"

Tujuan Lim Cu jing kemari adalah untuk melicinkan jalan dalam peranannya untuk bermain sandiwara menyelidiki beberapa kelompok pemberontak sesuai yang dilaporkan Ki Seng-jiang oleh Tu Hong seng, sudah tentu dia harus mencari hubungan pada Tu Hong-seng serta membuktikan alibinya malam ini berada di tempat Tu Hong-seng, Tapi dari pembicaraan ini, secara tak terduga dia memperoleh dua bahan pertimbangan yang amat berharga.

Pertama, Tu Hong-song ternyata adalah salah satu dari anggota Hek-liong-hwe yang khianat, menjual perkumpulan dan pemimpinnya kepada kerajaan, mungkin Yong King-tiong sendiri tidak tahu akan hal ini.

Kedua, Tu Hong-song hanya melihat jejak kelompok Cu Bun-hoa dan Un It-hong di Kim-kou-tun, jejak mereka selanjutnya belum diketahui dengan pasti.

Setelah mengobrol sekian lamanya pula, maka Lim Cu jing berdiri, katanya.

"Tiba saatnya aku harus mohon diri, supaya tidak menarik perhatian lawan, aku menginap di bilangan belakang Tang-sun-can, perkara ini oleh Jongtai sudah diserahkan padaku dan Tuheng diminta membantu, bila Tu-heng menemukan apa2 harap sewaktu2 memberi kabar ke sana"

"Sudah tentu,"

Ucap Tu Hong-seng dengan sungguh2.

"Lim-heng adalah orangnya Ki-jongtai dan juga atasanku, aku akan tunduk dan patuh pada segala perintah Lim-heng."

Setiba di depan pintu Tu Hong seng masih mau mengantar keluar. Lekas Lim Cu-jing berkata.

"Tu-heng tak usah mengantar, jangan kita perlihatkan jejak di sini." -Lalu dia tarik daun pintu menutupnya dari luar terus melangkah pergi. Waktu tiba di hotel, kentongan pertama sudah lalu, setelah memadamkan lampu, lekas Lim Cu-jing lepas jubah, segesit kucing dia menyelinap keluar melalui jendela. Dengan Ginkang yang tinggi laksana segumpal asap dia melambung .tinggi ke atas terus berlompatandiantarawuwunganrumah ke arahutara. Tak lama kemudian, Pit-siok-san-ceng yang megah dan angker sudah kelihatan dari kejauhan. Diam2 Lim Cu-jing melompat turun ditempat gelap, dengan meminjam bayang2 rumah penduduk dia menyelinap kian kemari dan akhirnya tiba di tempat sepi, dengan gerak kecepatan yang luar biasa dia meluncur kekaki tembok, tanpa mengeluarkansuara, denganringandiahinggapditembok istana. Pagi tadi dia sudah apalkan letak asrama pasukan bayangkari, matanya yang tajam sekilas menyapu pandang sekelilingnya, tempat di mana ia berada kebetulan di sebelah selatan, dari sini ada sebuah jalanan datar menjurus ke asrama pasukan bayangkari itu, jalan lebar ini dipagari pohon2 tua dan tinggi besar, sangat baik untuktempat sembunyi. Tapi jarak pepohonan itu masih ada puluhan, tombak dari tembok, di tengah masih dipisahkan sungai kecil. Tapi Lim Cu-ling tidak banyak pikir, ia meneliti sebentar, seringan burung ia menutul permukaan air, terus melambung tinggi pula dan hinggap di seberang sungai. Hanya sekali tutul pula badannya meluncur maju dan sekali berkelebat ia sudah meluncur ke pinggir hutan di bawah bukit, sebat sekali bayangannya ditelan kegelapan dibalik hutan, setangkas kera dia lompat ke atas pohon terus berlompatan di antara pucuk pohon. Untung dia berlompatan seperti terbang. di pucuk pohon, dari sini didapatinya jalan berbatu di bawah, pada setiap pengkolan pasti dijaga oleh dua orang. Malah ada pula barisan ronda yang mondarmandir. Betapapun villa di sini adalah tempat kediaman raja, meski baginda jarang menetap di sini, tapi aturan dinas tetap berlaku, maka penjagaan tetap amat ketat dan keras. Berlompatan terbang di atas pohon Lim Cu-jing tidak perlu kuatir jejaknya akan konangan, apalagi tanpa rintangan, cepat sekali dia sudah membelok ke lamping gunung dan tiba di belakang pekarangan besar di belakang asrama pasukan bayangkari. Dari ketinggian dia menyapu pandang sekelilingnya, lalu seringan daun jatuh dia menukik turun menyusur tanah lapang yang bersemak2, sekali kakinya menutul, kembali ia melambung ke atap rumah. Asrama pasukan bayangkari amat luas, luar dalam seluruhnya ada tiga lapis bangunan, untung siang tadi Lim Cu-jing pernah kemari, sedikit banyak dia masih apal tempat ini. Dengan gerakan yangluarbiasacepat, langsung dia menuju ke kamarKiSeng jiang. Selamanya keadaan di sini tetap aman, tak pernah terjadi onar, mimpipun mereka tak mengira ada orang yang berani menyelundup kemari, walau ada penjagaan, hakikatnya mereka tidak waspada. Maka dengan leluasa Lim Cu-jing terus maju ke depan tanpa konangan. Sebelah utara kamar buku merupakan kebun bunga yang luas, karena kamar buku merangkap kantor kerja Ki Seng jiang, maka kebun itu dipagari tembok. Dengan enteng Lim Cu jing melayang turun di kebun bunga ini, sekali berkelebat dia menyelinap maju ke bawah jendela, kertas jendela dia tusuk berlubang dengan jari lalu mengintip ke dalam. Waktu sudah menjelang kentongan kedua, sudah tentu kamar buku itu kosongtiadaorang. Pelan2LimCujing menyongkeljendela lalu melejit masuk ke kamar buku. Matanya dapat melihat jelas ditempat gelap, maka langsung dia menghampiri kursi yang berlapis kain sutera tempat duduk Ki Seng-jiang, sekilas dia meneliti meja, laporan Tu Hong-seng tiada lagi, maka pelan2 dia berduduk, pelahan ia menarik laci. Pada detik2 itulah tiba2 ia mendengar suara "trak, trak", dari sandaran kursi mendadak menjepret keluar tiga jepitan baja. Batangan besi menerobos dari bawah ketiak kanan kiri menjepit dada, yang kedua menjepit pinggang dan yang ketiga menjepit kaki kanan kiri. Sudah tentu pada sandaran tangan masing2 juga menjepit keluar borgol tangan, tapi kedua tangan Lim Cu-jing tadi sedang menarik laci sehingga tidak terborgol. Kejadian amat mendadak, keruan Lim Cu jing kaget setengah mati. Laci sudah tertarik, tumpukan kertas laporan Tu Hong-seng memang berada dalam laci. Tapi badan Lim Cu jing sudah terjepit di kursi, kecuali kedua tangan, sekujur badan tak mampu bergerak lagi. Untunglah kedua tangan masih bebas, hal inilah yang menghibur dan menabahkan hatinya, ia yakin dirinya masih mampu meloloskan diri. Lebih celaka lagi begitu ketiga jepitan itu membelenggu badannya, agaknya alat rahasiapun telah bekerja, tepat di atas dinding di belakang kursi itu mendadak terdengar dering kelinting yang berbunyi ramai. Malam gelap nan sunyi, maka suara alarm ini kedengaran jelas dan berkumandang jauh, sebentar lagi seluruh penghuniasramainiakanbangundan memburukesini. Lim Cu jing agak gugup, dia coba membetot jepitan di depan dada, tapi jepitan ini teramat kukuh, maklumlah terbuat dari besi baja. Cepat ia keluarkan Seng-ka-kiam, pedang disusupkan.

"Creeng", dengan mudah jepitan baja di depan dada dan pinggang terpotongputus, sigapsekali LimCu-jingterusberdiri. Didengarnya dari kamar sebelah berkumandang bentakan keras.

"Pemberontak beryali besar, berani bertingkah di istana raja." -Kain gorden tersingkap, tampak Ki Seng-jiang dengan pakaian ringkas menerobos masuk sambil menenteng Yu-liong-kiam dan langsung menubruk ke arah Lim Cu-jing. Lim Cu-jing semakin gelisah, dari kejauhan tangan kiri menepuk menyongsong kedatangan Ki Seng-jiang, cepat2 tangan kanan menggerakkan pedang pendek untuk memutus jepitan yang mengacip kakinya, dengan mudah kedua jepitan inipun dia putuskan. Ki Seng-jiang memang tidak malu sebagai komandan pasukan bayangkari, gerak-geriknya gesit dan tangkas, padahal dia sedang menubruk dengan sengit, tapi begitu melihat Lim Cu jing menyongsong dengan pukulan tangan, deru angin kencang terasa mengiris mukanya, badan yang terapung itu, lekas2 miring kesamping, sementara pedang ia pindahkan ke tangan kiri, cepat sekalitangan kanan memukul kedepan. Dua angin pukulan bentrok mengakibatkan suara keras menimbulkan pusaran kencang, terasa oleh Lim Cu-jing, meski Ki Seng jiang melontarkan pukulan dikala badannya terapung, ternyata kekuatannya setanding dengan tenaga angin pukulannya, mau tidak mau dia merasa kagum dan mencelos hatinya. Pada saat itulah tampak cahaya benderang, Ki Lok berlari keluar dari balik kamar sebelah sambil membawa lampu sorot jarak jauh, sasarannya tepat ke badan Lim Cu-jing. Kedua mata Ki Seng-jiang tampak mendelik tajam menatap Lim Cu-jing, setelah menggeram sekali dia tanya.

"Anak muda, siapa kau?"

Tak perlu kau tanya siapa aku,"

Jengek Lim Cu-jing.

Sembari bicara pelan2 tangan kanan menekan ke dalam laci di mana laporan Tu Hong-seng berada.

Soalnya laporan ini menyangkut jiwa beberapa orang, jika Ki Seng-jiang sampai melaporkannya ke istana, tentu buntutnya teramat panjang.

Melihat orang mengulur tangan ke dalam laci, Ki Seng jiang mengira orang hendak mencuri laporan itu, keruan ia gusar, hardiknya.

"Lepaskan!"

Sekali berkelebat dia menubruk tiba, tangan kanan terayun, sinar pedangpun menyapu tiba.

Tapi Lim Cu-jing tidak mundur juga tidak berkelit, pedang pendek memancarkan cahaya gemilang, begitu kedua sinar pedang saling bentrok menimbulkan suara nyaring menusuk telinga, hanya sekejap saja kedua orang sudah saling bergebrak tiga kali.

Tampak selarik sinar pedang dingin menggaris lewat di antara perut dan dada Ki Seng-jiang.

Selama hidupnya belum pernah Ki Seng jiang menghadapi ilmu pedang seaneh dan selihay ini, keruan darahnya tersirap, lekas dia menarik napas mendekuk dada serta menyurut mundur sekuatnya, tapi tak urung baju di depan dadanya koyaktergoresolehtajampedang pendek LimCujing itu.

Dikala pedangnya berhasil paksa mundur Ki Seng-jiang inilah, mendadak Lim Cu-jing mendengar sebuah suara halus lirih.

"Lekas mundurLim-heng, kalautertundapastitakkeburulagi!"

Karena, suara bisikan teramat lirih dan halus, sukar bagi Lim Cu jing membedakan suara siapa?"

Muka Ki Seng jiang tampak membesi hijau, pedang melintang di depan dada, hardiknya bengis.

"Kau ini Ling Kun-gi!" -Hanya murid Hoan-jiu ji-lay yang mahir menggunakan pedang dengan tangan kiri, maka segera ia dapat mengenalnya...

"Tidak salah,"

Sahut Lim Cu jing, Mendadak pedangnya mendahului bergerak menjadi selarik sinar kilat menerobos jendela diikuti luncuran badannya. Berdiri alis Ki Seng-jiang, hardiknya.

"Masih ingin lari ke mana kau?" -Segera ia mengudak dengan suatu tubrukan. Tapi dikala hampir saja mencapai jendela, mendadak didengarnya sebuah suara membentak.

"Awas!" -Serangkum jarum lembut tahu2 bertaburan ke arah dirinya. Maklumlah dikala Cu-jing menyentuh alat rahasia sehingga menimbulkan dering alarm sampai dia menerjang keluar jendela terpaut hanya beberapa kejap saja, begitu mendengar suara peringatan tadi, tahu2 segenggam jarum menyongsong mukanya dari sebelah atas, sebagai jago yang berpengalaman, lekas Ki Seng jiang kebutkan lengan baju disertai angin pukulan kencang, sementara dengan paksa dia mengerem tubuhnya terus mencelat balik delapan kaki jauhnya.. Pada saat itu pula, dua orang penjaga di luar telah memburu datang. Demikian pula para pimpinan utama dari ketiga barisan pasukan bayangkari karena mendengar dering peringatan be ramai2 juga memburu tiba Ki Seng-jiang mencak2 gusar seperti kebakaran jenggot, bentaknya murka.

"Kalian gentong nasi semua, hayo lekas kejar!"

Waktu Lim Cu jing menerobos keluar dari jendela, dilihatnya di atas tembok di taman belakang sana berdiri seorang pelajar berjubah putih tengah memberi tanda lambaian tangan kearahnya, berbareng ia pun mendengar suara lembut lirih.

"Lekas kemari Limheng, mundurlah dariarahdatangmu tadi."

Semula Lim Cu-jing mengira ada seorang kenalan atau orang pihak sendiri yang membantunya, kini setelah jarak agak dekat baru dia lihat bahwa pemuda pelajar ini selamanya belum pernah dikenalnya, keruan ia melengak, tanyanya."Saudaraini......."

"Jangan banyak tanya,"

Kata pemuda pelajar baju putih.

"lekas kau menyingkir dulu."

"Dan kau...."

"Lekas pergi aku tidak apa2"

Habis berkata mendadak dia melambung tinggi, berbareng menghardik.

"Awas!" -Tangan terayun, diahamburkan segenggamjarumkearah jendela. Lim Cu-jing tidak sempat bicara lagi, segera ia melambungkan tubuh setinggi mungkin, kaki kembali menutul di atas tembok, seenteng burung ia melayang turun di tanah berumput, sekali lompat lagi dia menerobos masuk ke dalam hutan. Waktu dia berpaling, bayangan pemudi pelajar baju putih sudah tidak kelihatan lagi, tapi dilihatnya tujuh delapan bayangan orang sama muncul dari kamar Ki Seng-jiang mengejar ke arah yang berlawanan dengan arah dirinya ini."

Lim Cu-jing maklum bahwa pemuda pelajar baju putih sengaja memancing musuh mengejar ke arah yang berlawanan, supaya dirinya dapat melarikan diri dengan leluasa.

Bila dia tidak apal akan seluk beluk villa raja ini, tak mungkin dia dapat menolong dirinya, memangnya siapakah dia?

Benak berpikir sementara langkah Lim Cu-jing tak pernah berhenti, dengan mengembangkan Thin-liong-ih-bong-sin-hoat dia berlompatan dari pucuk pohon yang satu melayang kepucuk pohon yang lain.

Meski terjadi geger dan keributan besar di villa raja itu, tapi seperti apa yang dikatakan pemuda baju putih, sepanjang jalan ini keadaan tetap tenang tidak terlihat adanya gerakan sama sekali.

Dengan leluasa akhirnya Lim Cu jing mengundurkan diri dari villa raja langsung kembali ke dalam kamarnya terus tidur.

Dalam hati dia masih memikirkan keselamatan pemuda pelajar baju putih, entah orang sudah selamat meninggalkan tempat itu tidak?

Padahal dirinya tidak mengenalnya, entah dari mana dia tahu dirinya she Lim?

Tengah layap2 hampir tertidur, tiba2 di dengarnya derap kaki orang mendatangi dan berhenti di depan kamarnya.

Terdengar pelayan berkata.

"Lim-ya tinggal di dalam kamar ini, mungkin sudah tidur, biar hamba mengetuk pintu." -Lalu terdengar daun pintu diketuk pelahan dari luar dua tiga kali pelayanpun berteriak dengan suara tertahan.

"Lim-ya, Lim-ya, engkau bangunlah sebentar."

Dengan suara di buat2 Lim Cu-jing bertanya.

"Siapa?"

"Ada seorang teman datang mencarimu, katanya ada urusan penting,"

Sahut pelayan. Maka didengarnya suara Go Jong-gi berkata.

"Lim-heng, inilah aku, Go Jong-gi."

Lim Cu-jing membuka pintu dengan mata masih kelihatan sepat, melihat Go Jong-gi, dia terbelalak, serunya.

"Memangnya ada urusan apa?"

Agaknya Go Jong -gi gugup dan tidak sabar, lekas dia tarik orang masukke kamar, katanya.

"Ada huru-hara di villa, Ki-to suruh aku kemari memanggilmu sebentar."

Lekas Lim Cu-jing pakai jubah luarnya, tanyanya.

"Ada huru hara apa?"

"Ki-to sedang menunggu, biar nanti kuceritakan di tengah jalan,"

Ujar Go Jong gi.

Lim Cu-jing mengiakan, bergegas mereka ke-luar, sementara pelayan sudah menyiapkan kuda Lim Cu-jing.

Go Jong-gi juga datang naik kuda, langsung mereka kembali ke istana.

Di tengah jalan secara ringkas Go Jong-gi ceritakan kejadian yang diketahuinya.

Yang dikuatirkan Lim Cu-jing adalah keselamatan pemuda baju putih, maka dia pura2 kaget dan bertanya.

"Ada kejadian begini? Entah tertangkap tidak penyatron itu?"

"Entahlah, Jongtai mendesakku kemari menjemput Lim-heng, agaknya pembuat onar itu belum tertangkap, seluruh kekuatan dipencar untuk mencari jejaknya."

Tergerak hati Lim Cu-jing, pikirnya.

"Dari nada bicaranya, agaknya Ki Seng-jiang menaruh curiga terhadap diriku? Hm, soalnya aku kurang leluasa turun tangan membunuhnya di istana, karena kejadian ini akan menimbulkan banyak kesukaran lain, bila samaranku betul2 konangan, hanya pengawalnya yang berkepandaian cakar ayam itu memangnya mampu mengurung dan menangkapku?"

Cepat sekali mereka sudah tiba di istana, suasana terasa tegang, penjaga berbaris dengan senjata terhunus, anak panah terpasang di busur, semuasiapsiaga mirip menghadapiserbuan musuh.

Go Jong-gi bawa Lim Cu-jing langsung ke asrama pasukan bayangkari di belakang istana.

Lampu tampak terang benderang di kamar Ki Seng-jiang, tapi suasana hening, tampak Ki Seng jiang dengan muka bersungut, duduk di kursinya.

Lim Cu-jing masuk diiringi Go Jong-gi.

Lim Cu-jing menjura, katanya."Jongtaimemanggil hamba, pastiadapesanapa2."

"Duduklah,"

Ucap Ki Seng-jiang mengulap tangan.

"Ada pembunuh yang membuat onar di sini, kau sudah tahu?"

"Di jalan hamba mendengarceritaGo lingpan,"sahutCu-jing. Ki Seng jiang tertawa dingin, dia tuding kursi kebesarannya, katanya.

"Coba kau periksa."

Cu jing maju dan pura2 kaget, katanya.

"Kursi Jongtai dirusak orang,"

"Kursiku ini dibuat seorang ahli dari kota raja, di dalamnya terpasang alat rahasia, kecuali aku siapapun yang duduk di situ pasti akan terbelenggu oleh jepretan besi, tak nyana Ling Kun gi keparat itu ternyata bernasib mujur, meski sudah terbelenggu tapi kedua tangannya masih bebas. Kalau orang lain, karena jepitan besi itu terbuat dari baja, betapapun tak mungkin bisa meloloskan diri, tapi keparat itu memiliki pedang pusaka, dengan mudah dia berhasil memotong putus jepitan besi ...."

Lalu dia menyambung.

"Coba kautarik laciitu."

Cu-jing segera menarik laci, sekilas dia berpaling ke arah Ki Seng-jiang, maksudnya minta petunjuk apa yang harus dia lakukan lagi.

"Coba kau periksa, apakah kertas laporan Tu Hong-seng itu ada kelainan?"

Hamba tidak melihat adanya tanda2 tidak benar? Memangnya ada orang yang menukarnya?"

"Coba kau balik satu lembar pertama "

Segera Lim Cu-jing ulurkan tangan tapi setumpukan kertas laporan yang kelihatan utuh itu begitu tersentuh jari lantas remuk menjadi bubuk, keruan dia berjingkat kaget, teriaknya.

"He, apa yang terjadi?"

Ki Seng-jiang terkekeh, katanya .

"Inilah Tu-yang-kang, salah satu daripada ke 72 ilmu Siau-lim-pay, kekuatannya dapat melebur emas dan meremuk batu."

"JadiLingKun-giadalah muridSiau-lim-pay?"seruLimCujing.

"Dia murid Hoan jiau ji-lay. Hoan-jiau ji-lay pernah berdiam dua puluh tahun di Siau lim si, konon selama seratusan tahun ini tiada seorangpun murid Siau-lim si yang mampu sekaligus mempelajari beberapa ilmu sakti, tapi Hoan-jiau ji-lay sendiri sekaligus dapat mencakup sepuluh macam lebih, malah seluruhnya amat mahir."

Lim Cu jing angkat kepala, katanya-"Laporan Tu Hong-seng ini sudah hancur, apakah perlu suruh dia bikin lagi?"

Ki Seng-jiang mengangguk, katanya.

"Betul, maka itulah kusuruh kau kemari, kalau laporan Tu Hong-seng dihancurkan, maka keselamatan jiwa Tu Hong-seng sendiri pasti terancam, keadaannya jelas amat berbahaya, tapi kemungkinan Ling Kun-gi dan kawan2nya belumtahu jejaknya, maka tugas utama yang terpenting sekarang selekasnya harus kau suruh dia bikin pula laporan itu, lalu suruh seluruh anggota kelompok pertama menyamar dan berpencar di Liong-kip untuk melindunginya secara diam2, kita gunakan dia sebagaiumpan......."

Belum habis bicara didengarnya langkah orang mendatangi, terdengar Pui Hok-ki berseru di luar.

"Hamba Pui Hok-ki dan Pi Sihay datang melapor."

"Masuk!"

SahutKiSeng-jiang. Pui Hok-ki dan Pi Si-hay beriring masuk, melihat kehadiran Lim Cu-jing, mereka menyapa dengan anggukan kepala. Sebelum kedua orang itu berbicara, Ki Seng-jiang mendahului tanya.

"Bagaimana hasil pemeriksaan kalian?"

Pui Hok-ki menjura, katanya.

"Hamba sudah periksa seluruh pelosok, tapitiadatampak jejakpenyatronitu."

Ki Seng-jiang melirik ke arah Pi Si-hay, tanyanya.

"Pemuda baju putih itu membantu Ling Kun-gi dan lari ke arah barat, apa kalian berhasil mengejarnya?". Sikap Pi Si-hay tampak kikuk, katanya.

"Hamba sudah periksa seluruh istana bilangan barat, dari depan sampai belakang, tapi jejak musuh tidak kelihatan ........"

Sebelum orang bicara habis, Ki Seng-jiang sudah berjingkrak gusar.

"Memangnya mereka tumbuh sayap dan bisa terbang menghilang?"

Tiba2 terdengar seorang berseru didepan pintu.

"Hamba Hok Ji-liong datang melapor."

"Masuk,"bentak KiSeng-jiang. Baru saja Hok ji-liong melangkah masuk, Ki Seng-jiang sudah tanya.

"Kaupun tidak berhasil menemukan jejak pembunuh itu, betul tidak?"

HokJi-liong menunduk sambil mengiakan..

"Blang", Ki Seng-jiang menggebrak meja dengan gusar, teriaknya.

"Kalian gentong nasi semua, pemberontak mengacau ke asrama kita, mereka hanya dua orang, sedang kalian berpuluh orang tak berhasil menangkapnya?"

Tiga pimpinan utama dari ketiga barisan pasukan bayangkari sama menunduk tanpa berani bersuara. Sesaat kemudian, Pui Hok-ki pula yang berkata.

"Lapor Jongtai, menurut pandangan hamba, Ling Kun gi dari orang berbaju putih itu teramat apal akan seluk beluk istana ini, mereka buron ke jurusan Jiang-ciok, daerah belukar yang sepi dan jarang diinjak manusia, penjagaan kitapun terlemah di sebelah sana, asal lolos ke balik gunung sana, maka sukarlah ditemukan."

Ki Seng-jiang mengiakan, lalu katanya dengan tetap muring2.

"Pi Si-hay, tugaskan sekelompok barisanmu keJiang-ciok, penjagaan di daerah belukar itu harus diperketat, beritahukan pula kepada komandan regu yang bertugas di sana, Liok-koantai, suruh dia memperkuat penjagaaan, jangan lalai."

PiSihay mengiakansambil membungkuk. Sesaat Ki Seng jiang berpikir, katanya kemudian.

"Kukira orang berbaju putih itu adalah Pek-hoa-pangcu Bok-tan, cuma bagaimana mungkin mereka begitu apal akan seluk beluk istana kita ini?"

Pui Hok ki kaget dan heran, tanyanya.

"Jong-tai mengira si baju putih itu perempuan?"

Kata Ki Seng jiang sambil mengelus jenggot.

Waktu Ling Kun-gi menerobos keluar, baru saja aku hendak mengejar, kudengar dia membentak "awas", meski sengaja dia tekan suaranya, tapi mana dapat kelabui aku?

Jelas itu suara orang perempuan, dan lagi Bwe-hong-ciam yang ia sambitkan itu kebanyakan dipakai oleh kaum perempuan, perawakan orang itupun ramping semampai, kemungkinan dia malah Pek-hoa-pang Pangcu."

Diam2 Lim Cu jing merasa heran, mengingat kejadian semalam, nyata pengalaman Ki Seng-jiang memang luas, apa yang dikatakan tidak salah, pelajar baju putih itu berperawakan ramping, suaranya juga nyaring merdu, tidak mirip suara laki2.

Tapi jelas dia tahu bahwa pemuda pelajar baju putih bukan Bok-tan, malah belum pernah dikenalnya.

Lalu siapa dia?

"Peduli siapa mereka, kota Jiat-ho ini jangan disamakan dengan Hek liong hwe,"

Demikian Ki Seng-jiang menggebrak meja pula.

"pemberontak takkan kubiarkan bertingkah di depan hidungku, dalam tiga hari kuminta kalian harus membekuk Ling Kun-gi dan orang berbaju putih itu, paling tidak kalian harus melapor jejak mereka kepadaku."

Ketiga pimpinan utama pasukan bayangkari mengiakan bersama. Ki Seng-jiang menoleh, katanya.

"Lim-heng boleh pulang, dua hal kuserahkan padamu. Pertama, lindungilah keselamatan Tu Hongseng secara diam2, suruh dia membuat laporan itu pula secepatnya. Kedua, periksalah seluruh losmen dan hotel di kota ini, adakah orang2 yang patut dicurigai."

"Hamba terima tugas,"

Sahut Lim Cu jing terus mengundurkan diri. Ki Seng-jiang berkata pula.

"Go Jong gi, lekas kau bawa anak buahmu ke kota, suruh mereka berdandan menurut keinginan masing2, sebelum malam tiba sudah harus berpencar memasuki losmen Liong-kip. Beritahu mereka supaya hati2 jangan menimbulkan perhatian orang lain atas penyamaran mereka dan lagi mereka dilarang berjudi dan berkumpul lebih dari tiga orang, dilarang minum2, siapa melanggar perintah akan kupenggal kepalanya."

Go Jong-gi meluruskan badan dan mengiakan, segera dia hendak keluar. Tunggu sebentar. Ki Seng jiang menanyainya.

"setelah kau sampaikan perintahku ini harus lekas kembali, masih ada perintah lain untukmu."

Kembali Go Jong-gi mengiakan terus mengundurkan diri. Ki Seng-jiang menyapu pandang ketiga pimpinan utama barisan, katanya.

"Kalian boleh pergi istirahat, setelah terang tanah perintahkan seluruh anak buahmu keluar untuk mencari info. Ohya, harus ingat, Lim Cu-jing sudah kuperintahkan mengawasi setiap penginapan, maka tugas kalian perhatikan saja rumah2 penduduk."

"Jongtai... ."HokJi-liongragu2 untuk bicara.

"Jangan banyak bicara,"

Ki Seng-jiang menukas sambil mengulap tangan.

"kerjakan menurut perintah, tapi ingat, jangan memukul rumput mengejutkan ular."

Meski hati merasa heran dan tidak tahu ke mana juntrungan perintah Jongtai, tapi tiga pimpinan utama ini tak berani banyak bicara lagi, serempak mereka mengiakan dan mengundurkan diri.

Tak lama kemudian Go-Jong-gi sudah kembali setelah menyampaikan perintah.

Ki-Seng jiang lantas bertanya.

"Waktu kau tiba di Tang-sun-can tadiapakahJilingpan tidur di kamarnya?"

Go Jong gi melengak, cepat dia membenarkan.

"Pelayan hotel yangmengantarmu kekamarnya?"

TanyaKiSeng jiangpula.

"Betul,"

Sahut Go Jong gi.

"Kau yang mengetuk pintu atau pelayan yang mengetuk?"

"Pelayan yang mengetuk."

"Jilingpan tidur nyenyak?"

"Agaknya, tapi pelayan mengetuk dua kali Jilingpan lantas membuka pintu."

"Kau ikut masuk ke kamarnya?"

"Jilingpan memang suruh hamba masuk."

"Apa saja yang dia katakan padamu?"

"Setelah Jilingpan suruh pelayan pergi, dia lantas tanya hamba ada urusan apa? Hamba bilang disuruh Jongtai mengundangnya pulang,"laludiaceritakan kejadian tadidengan jelas. Ki Seng-jiang hanya mengangguk2 mendengar ceritanya.

"Apakah hamba berbuat salah?"

Tanya Go Jong-giwas2. Ki Seng-jiang tersenyum, katanya.

"Tidak, aku hanya ingin tahu apakah Jilingpan cukup cerdik dalam menunaikan tugasnya? Dia kutugaskan ke Tang-sun-can secara rahasia, asal-usul kita sekalian tidak boleh bocor. Sudah tiada urusan lain, kau boleh pergi. Tapi jangan kau bocorkan pertanyaan yang barusan kuajukan padamu, tahu tidak?"

Go Jong-gi mengiakan dan mengundurkan diri. Ki Seng jiang mondar-mandir dalam kamarnya sambil menggendong tangan, mulutnya menggumam.

"Kalau begitu, jadi aku yang terlalu banyak curiga padanya."

Dalam pada itu setelah meninggalkan istana, Lim Cu-jing terus larikan kudanya, waktu itu baru menjelang kentongan keempat.

jalan raya masih sepi lenggang tiada orang, kudanya berlari kencang lagi, dalam sekejap saja dia sudah kembali ke Tang-sun-can.

Kacung yang biasa mengurus kuda belum lagi bangun, seorang pelayan melihat dia kembali segera lari menyambut serta menerima kudanya.

Lim Cu-jing langsung kembali ke kamarnya, baru saja melangkah masuk pintu, mendadak terasa olehnya ada seseorang berada di kamarnya, keruan dia melengak, tapi tenang saja dia menutup daun pintu lalu dengan suara kereng membentak.

"Siapa?"

Dari pojok dinding yang gelap sana berkelebat keluar bayangan seorang, sahutnya lirih.

"Inilah aku Ting Kiau."

Kini Lim Cu-jing dapat melihat jelas orang yang sembunyi di kamarnya ini memang Ting Kiau yang menyamar jadi kakek, dia bertanya heran.

"Ada keperluan apa Ting-heng sampai kemari?"

"Baru sekarang Ling-heng kembali, dari mana kau?"

Tanya Ting Kiau.

"Cayhe baru kembali dari istana. setelah terang tanah seluruh pasukan bayangkari akan menggeledah kota dengan pakaian preman, Ting-heng jangan lama2 tinggal di dalam kota."

"Lohujin sudah pindah ke Pek-hun-an di luar kota, cuma beliau kuatir akan keselamatanmu maka suruh aku kemari memberi kabar padamu. Ki Seng-jiang adalah komandan tertinggi pasukan bayangkari, kalau turun tangan di istana, perkaranya bisa menjadi besar dan pasti menimbulkan akibat yang luar biasa, maka Lingheng dipesan supaya tidak turun tangan di istana ... ."

Lim Cu jing alias Ling Kun-gi tertawa, katanya.

"Ibu terlalu kuatir bagiku, maksud beliau cukup kupahami. Kalau tidak malam tadi sudah kubunuh keparat she Ki itu."

"Aku disuruh memberitahu kepada Ling-heng bahwa keluarga Ki Seng-jiang tidak di sini, tapi dia punya seorang gundik yang tinggal di taman keluarga Kauw di barat kota, dalam sepuluh hari sedikitnya adalima haridiangendon dirumah gundiknyaitu."

"Darimana Ting-heng tahu hal ini?"

Tanya Cu-Jing heran. Ting Kiau tertawa, ucapnya.

"Kudengar Pangcu Pek-hoa-pang telah menyelundupkan seorang dara kembangnya yang bernama Ing-jun, sekarang dia bekerja di sana."

Nama Ing jun tidak asing lagi bagi Lim Cu-jing, waktu di Coat-seng-san-ceng dulu yang melayani dirinya juga Ing-jun adanya. Akhirnya dia meng-hela napas, ujarnya.

"Pek-hoa-pang cukup lihay dalam menanam mata2nya ke pihak musuh."

"Hari hampir terangtanah, akuharuslekas menyingkir darisini."

"O, Ting heng, ada suatu hal, sekembali nanti tolong kau tanyakan kepada nona Bok-tan, dulu gubernur Shoatang yang bernama Kok-thay punya seorang sekretaris yang bergetar Im-si-boan koan Ci Kun jin, konon kini menyembunyikan diri di Jiat ho sini, entah dia tahu tidak hal ini? Sudah beberapa hari ini kucari tahu, hasilnya nihil."

"Baiklah soal ini akan kusampaikan, bila ada kabarnya segera kulaporkan kemari,"

Habis berkata Ting Kiau tarik pintu terus menyelinap keluar.

Setelah Ting Kiau pergi, Lim Cu-jing bersemadi sebentar, haripun terang tanah.

Setelah makan pagi Lim Cu jing keluar dari Tang-sun-can langsung menuju losmen Liong-kip.

Di depan pintu dia melihat anggota2 barisan kesatu yang menyamar sebagai pedagang, seorang mengenakan topi berbentuk runcing tinggi, mengenakan baju pendek dari kain kasar, tangan memegang pecut, mirip kusir kereta dengan lahapnya tengah makan pagi.

Agaknya kamar losmen penuh dihuni tamu, karena belum ada kamar kosong, terpaksa mereka menunggu di luar.

Lim Cu-jing anggap tak kenal mereka, langsung dia berlenggang ke dalam menuju ke pintu kamar Tu Hong-seng, sekilas dilihatnya Go Jong-gi juga menyamar dan tinggal di kamar sebelah Tu Hongseng, pintu kamarnya terbuka lebar.

Pelan2 Lim Cu-jing lewat di depankamarnya,GoJong-gitersipu2maju menyambut.

Lim Cu jing celingukan, dilihatnya tiada orang, segera dia merendahkan suara bertanya.

"Semuanya sudah menginap di sini?"

"Di sini hanya ada lima kamar kelas satu, seluruhnya sudah dihuni orang, sisanya yang lain hanya kamar2 biasa."

Sahut Go Jong-gi. Lim Cu jing mengangguk, katanya.

"Baiklah, kau tidak usah cari hubungan dengan Tu heng."

Go Jong gi mengiakan terus mengundurkan diri tanpa bersuara lagi. Lim Cu jing langsung mendekati pintu dan mengetuk pelahan dua kali, teriaknya.

"Tu-heng, sudah bangun?? Mendengar suara Lim Cu jing, lekas Tu Hong-seng menyahut.

"Lim-heng, sejak tadi aku sudah bangun!. silahkan masuk!" -Cepat dia membuka pintu menyilakan orang masuk, lalu menutup pintu pula, katanya.

"Silahkan duduk Lim heng."

Lim Cu jing duduk di kursi dekat jendela, lalu tuturnya.

"Semalam ada onar di istana."

Terbelalak kaget Tu Hong-seng, tanyanya.

"Ada onar di istana, ada orang menyelundup ke sana?"

"Ya,"

Jawab Lim Cu-jing.

"dengan Tun-yang-kang menghancurkan laporan Tu heng, dengan pedang pusaka yang tajam luar biasa dia memotong besi belenggu di kursi Jongtai pula, setelah bergebrak tiga jurus pedang dan sekali pukulan dengan Jongtai, dia melarikan diri."

"Berhasil meloloskan diri?"

Seru Tu Hong seng kaget.

"tujuannya ke sana untuk menghancurkan laporanku itu, bahwa dia mampu lolos dari tangan Jongtai, maka ilmu silatnya pasti amat tinggi, entah siapa dia?"

Lim Cu jing menengadah, katanya.

"Ling Kun-gi."

"Ling Kun gi,"

Tanpa terasa Tu Hong-seng bergidik ngeri, mukanya mengejang, mulutpun menggumam.

"Masa dia, betulkah dia sudah datang kemari?"

"Agaknya Tu-heng amat takut padanya?"

Tanya Cu-jing.

"Bila dia sudah tiba di Jiat-ho, pasti takkan memberi ampun padaku. kalau laporanku telah di hancurkan, memangnya dia mandah membiarkan mulutku bercerita lagi?"

Lim Cu jing tertawa dingin.

"Tu-heng kan seorang kawakan Kangouw yang kenyang mengecap pahit getirnya kehidupan, kepandaian silatmu cukup tinggi, kenapa menyinggung Ling Kun-gi lantas ketakutan begini rupa?"

Tu Hong keng menyengir, katanya.

"Ada yang tidak Lim-heng ketahui, bocah she Ling itu adalah murid Hoan-jiu-ji-lay. Han-hwecu juga bukan tandingannya, dengan sedikit kepandaianku ini mana aku mampu menandangi dia."

Dalam hati Lim Cu-jing membatin.

"Mungkin tiga jurus saja jiwamu akan melayang " -Dengan bertopang dagu lalu dia berkata.

"Tu-heng mengagulkan dia begitu lihay, aku jadi ingin menjajalnya." -Dengan tertawa tawar dia lantas menambahkan.

"Tapi Tu-heng tak usah kuatir, Jongtai sudah pikirkan kesulitanmu ini, maka aku diperintahkan melindungimu. pagi hari ini kawan2pun telah kukerahkan kemari, dengan menyamar mereka juga menginap di losmen ini, asal dia berani datang, entah mati atau hidup pasti kubekuk dia."

Sedikit lega hati Tu Hong-seng, katanya sambil menghela napas.

"Entahadapetunjuk apapuladari Jongtaiuntukku?"

Lim Cu-jing tertawa, katanya.

"Ya, ada perintah dari Jongtai supaya kau mengulangi laporanmu,"

"Ya, ya, pasti segera kuselesaikan,"

Sahut Tu hong-seng, lalu tanya.

"Apakah Jongtai membatasi berapa lama harus kuselesaikan laporanku?"

""Batas waktu sih tidak ada, kupikir lebih baik Tu-heng kerjakan secepatnya."

"Lim-hengbenar, pastisegerakukerjakan,"

"Baiklah, lekas Tu heng tulis,"

Ucap Cu jing berdiri.

"aku tidak mengganggumu lagi, kau boleh bekerja dengan tenang, sekeliling kamarmu ini sudah dijaga ketat, apabila di siang hari bolong, pasti diatakkan beranibertindak, nanti malamakudatangpula."

"Selamat jalan Lim-heng, aku tidak mengantar,"

Seru Tu Hong-sing.

Sekeluar dari losmen Liong-kip, diam2 Cu jing berpikir, jejak Ki Seng jiang sudah diketahui, entah di mana pula Im-si-boan-koan Ci Kun-jin itu menyembunyikan diri?

Sebelum menemukan jejak Cu Kun-jin, tak mungkin dia turun tangan membunuh Ki Seng jiang.

Sebab begitu Ki Seng-jiang mampus, seluruh kota Jiat-ho ini pasti gempar dan begitu mendengar berita kematian Ki Seng-jiang, Ci Kun-jin akan segera angkat langkah seribu, maka tugasnya akan lebih sulit lagi.

Menurut laporan Ting Kiau, Ki Seng-jiang punya seorang gundik yang tinggal di taman bunga keluarga Kauw di sebelah barat kota, untuk ini dia merasa perlu untuk menyelidik ke sana.

Kini dia memperoleh tugas menyelidiki penduduk, kebetulan bisa digunakan sebagaialasanuntuk keluyurankian-kemari.

Dia berlenggang di jalan raya seperti orang tamasya, setiap jalan pasti dia perhatikan dengan seksama, entah itu warung makan, kedai minum, sarang judi, atau tempat mesum.

Tapi hakikatnya dia tidak kenal tampang Ci Kun-jin, kota Jiat-ho sebesar ini, laksana mencari jarum dalam lautan belaka.

Akhirnya dia tiba di kota sebelah barat, haripun sudah lewat lohor.

Kota barat letaknya lebih menjurus ke utara, rumah penduduk cukup padat.

Berdiri pada persilangan jalan, Lim Cu-jing jadi bingung sendiri.

Soalnya Ting Kiau hanya memberitahu bahwa gundik Ki Seng-jiang ada di taman keluarga Kauw di kota barat, padahal dimana letak taman keluarga Kauw dia sendiri tidak tahu, orang yang lalu lalang di jalan raya sinipun tidak banyak, apalagi kurangleluasauntuk mencaritahupadapenduduksetempat.

Bahwa sekarang dia belum punya rencana turun tangan pada Ki Seng-jiang, bila yang dia tanyai kebetulan ada hubungan keluarga dengan keluarga Kauw, bukankah urusan bisa runyam malah.

Sebagai komandan tertinggi pasukan bayangkari, Ki Seng-jiang cukup disegani penduduk kota Jiat-ho, tempat kediaman pribadinya di rumah gundiknya itu tidak diumumkan secara terbuka, tapi hal ini sudah menjadi rahasia umum, bila keluarga Kauw itu ada hubungan dengan gundiknya, bukan mustahil kaki tangan kepercayaannya juga melindungi keluarga itu?

Akhirnya Lim Cu-jing ambil keputusan akan maju lebih lanjut untuk menyelidiki daerah ini.

Tak tersangka baru beberapa langkah dia beranjak, dilihatnya di pinggir jalan di ujung gang sana terdapat sebuah batu pertanda perbatasan dari satu jalan dengan jalan yang lain, di atas batu tertulis "batas milik keluarga kauw".

Kiranya gang yang lebarnya cukup untuk jalan dua buah kereta berjajar ini bukan jalan umum, tapi milik pribadi keluarga Kauw.

Maklum gang yang beralas batu gunung putih licin ini menjurus ke pintu gerbang sebuah bangunan gedung yang besar.

Gang ini panjangnya ada seratusan meter, daun pintu gerbang yang bercat merah tertutup rapat, sepasang gelang baja warna hitam bergantung di daun pintu.

Tak perlu disangsikan lagi di sinilah letak gedung keluarga Kauw.

Agaknya orang she Kauw pemilik gedung dan taman ini punya pangkat dan harta yang berlimpah.

Sebagai tokoh yang disegani maka Ki Seng-jiang mendapat pinjam tempat yang biasanya untuk istirahat para pembesar yang lagicutidiJiat-ho sini.

Jalan yang cukup lebar ini dipagari pohon yang tinggi, suasana di sini sunyi, tanpa terasa Lim Cu-jing menyusuri lorong panjang ini dan akhirnya membelok ke kanan menyusuri sebuah sungai kecil, menyeberang jembatan batu dan maju lebih lanjut, di sana keadaan agak belukar, tapi di kejauhan sana tampak tembok kota.

Lim Cujing maju lagi beberapa jauh, kini dia berada di sebelah belakang taman atau gedung megah keluarga Kauw.

Akhirnya Lim Cu-jing naik sebuah bukitan yang cukup tinggi, dari sini dia dapat melihat jelas keadaan sekelilingnya, ternyata tanah milik ke-luarga Kauw bagian belakangnya dipagari tembok tinggi, di luar tembok mengalir sebuah sungai kecil, cuaca memang sudah remang2, tapi masih tampak adanya pepohonan, tanaman bunga, gardu dan tempat duduk di tengah taman serta bangunan berloteng..

Setelah menyaksikan sendiri letak tempat yang dicari, maka legalah hati Lim Cu jing, dia merasa tidak perlu lama2 tinggal di sini, menyusurijalandatangnyatadiiakembali menujukearahtimur.

Waktu itu hari sudah petang, penduduk mulai menyulut pelita, tiba di jalan raya timur, suasana malam ini mulai ramai pula, tengah dia mengayun langkah tiba2 ia mendengar seorang menghardik lirih.

"Awas!" -Lenyap suara peringatan itu, didengarnya pula samberan angin kencang yang mengarah belakang kepalanya. Terkejut Lim Cu-jing, di tengah jalan raya seramai ini kiranya ada juga orang berani menyerang dirinya. Sudah tentu Cu-jin tidak gentar menghadapi sergapan siapapun, tanpa menoleh tangan kirinya seperti meraih ke belakang, dengan mudah dia sambut serangan senjata rahasia itu. Begitu senjata rahasia itu terpegang, seketika ia merasakan bobot senjata rahasia ini amat ringan, tidak mirip senjata rahasia umumnya, kiranya itu hanya segulung kertas. Apalagi suara peringatan"awas"tadi cukup merdu sepertisudahdikenalolehnya. Pemuda pelajar baju putih yang muncul mendadak malam itu, waktu menimpukkan segenggam Bwe-hoa-ciam ke arah Ki Seng-jiangjuga menghardikdengankatayangsama,jelasnadakeduanya mirip. Ki Seng-jiang yang cukup kawakanpun dapat membedakan suara itu keluar dari mulut seorang gadis. Reaksi Lim Cu-jing cukup cekatan dan cepat, sigap sekali dia sudah berputar balik. Tapi suasana pasar malam saat itu masih ramai, orang berjubal di jalan raya, sudah tentu jejak pelajar baju putih tak dilihatnya. Mungkin malam ini dia tidak berpakaian putih, pendek kata Cu-jing tak berhasil menemukan orang yang diharapkan. Gulungan kertas tergenggam di telapak tangan, dia tahu melalui secarik kertas ini orang ingin menyampaikan sesuatu khabar padanya, semalam dia sudah muncul membantu dirinya meloloskan diri darisini dapatdisimpulkanbahwadia kawandan bukan lawan. Sungguh semalam ia tak menduga bahwa Ki seng-jiang tidur dikamar bukunya, bila tiada bantuan pelajar baju putih, untuk menerjang keluar dari kepungan musuh jelas tidak mudah. Memangnya siapakah nona ini, kenapa begini misterius? Malam ini dia menyambitkan gulungan kertas ini, memangnya ada berita penting apa yang hendak disampaikannya padanya? Kini dia harus mencari tempat untuk membuka dan membaca gulungan kertas ini. Segera dia ayun langkah ke depan serta perhatikan kiri-kanan jalan raya, kebetulan tak jauh dilihatnya ada sebuah warung arak, langsung dia masuk ke sana dan duduk di meja paling pojok serta memesan makanan. Sekilas Lim Cu-jing celingukan, dilihatnya tiada orang memperhatikan dirinya, pelan2 dia buka gulungan kertas serta membaca tulisan di kertas itu. Seketika berubah air mukanya. Surat itu berbunyi.

"Temanmu menginap di rumah penduduk di pintu selatan jejaknya sudah konangan, kalau tidak lekas ditolong mungkin terlambat!"

Dibagian bawahnya ada sebaris huruf kecil berbunyi.

"Kian Te-jin alias Ci Kun-jin ialah Cukong yang memiliki Tang-sun-can, bersama ini kusampaikan keterangan rahasia ini."

Kejut dan girang bukan main hati Lim Cu-jing di samping kuatir pula akan keselamatan temannya, tapi siapakah teman yang dimaksud dalam tulisan ini?

Apalagi jejaknya sudah konangan, padahal hari sudah gelap, dirinya tidak tahu di rumah penduduk mana temannya menginap?

Bagaimana pula mencarinya?

Iapun girang karena Ci Kun-jin yang dicarinya ubek2an selama beberapa hari ini akhirnya diperoleh beritanya dengan mudah.

Karena senang hampir saja dia lupa pada pesanan makanannya, untung pelayan datang menyuguhkan arak, ia hanya minum dua teguk, tak sempat dia makan hidangan yang dipesan terus berbangkit, setelah meninggalkan beberapa keping uang perak, tanpa pamit dia berlari keluar.

Setiba ditempat sepi dan tiada orang, cepat dia mengusap mukanya, obat rias di mukanya seketika rontok, lalu ia berlari ke pintu selatan.

Dia tidak tahu di mana letak Ki-ti-pong?

Maka dia tanyapenjualmiditepijalan, lalumenujukesana.

Ki-ti-pong adalah sebuah gang, rumah2 yang memagari gang sempit ini kebanyakan gubuk2 reyot, setiba di ujung gang dilihatnya di tempat gelap sana berdiri satu orang.

Orang ini berpakaian biru, bertopi lebar yang ditekan rendah, melihat ada orang datang, orang itu melangkah ke depan pelan2.

Sebelum orang buka suara Lim Cu-jing sudah mendahului tanya dengan suara rendah.

"Kau dari barisan keberapa?"

Orang itu tampak melenggong dan menatap tajam Lim Cu-jing, tanyanya kemudian.

"Apa katamu, siapa saudara?"

"Kau tidak mengenalku, tapi pasti kenal ini?"

Ucap Cu-jing sambil membuka tangannya, di telapak tangannya menggeletak sebentuk medali perak, melihat medali perak itu, orang itu tertegun dan bersuaralirih.

"0, kau Jilingpan ...."ter-sipu2dia menjura. Cu-jing pegang lengan orang, katanya.

"Di sini jangan disamakan di dalam, saudara tidak usah banyak adat, mari kita bicara sambil berjalan supaya tidak menimbulkan curiga orang."

Dengan gugup orang itu perkenalkan diri.

"Hamba Thio Si-jut, anggota kelompok ketiga dari barisan ke satu, barusan berlaku kurang adat harap ......"

Cu jing tertawa.

"O, kiranya Thio heng kita sama2 belum kenal, kesalahanmu bukan soal, aku Lim Cu-jing, baru kemarin malam memangku jabatan ini, kali ini Jongtai menyerahkan penyelidikan rumah2 penduduk padaku, barusan kuterima perintah rahasia Jongtai, adakah sesuatu yang mencurigakan dalam pengawasan Thio-heng di tempat ini?"

Menurut laporan, rumah kelima di depan sana kemarin malam datang seorang tua dan seorang muda mengiringi dua nona, logat merekadaridaerahselatan,gerak-gerik merekamencurigakan."

Cu-jing pikir tua-muda dan dua nona, jelas itulah Cu Bun-hoa bersama Tong Siau-khing, Tong Bun-khing dan Cu Ya-khim. Sambil menganggukdiabertanya."Mereka mengadakan gerakanapa"

"Tiada gerakan apa2"

Sahut Thio Si-jut.

"sejak kemarin mereka tidakpernah muncul."

Lim Cu-jing pura2 mengerut kening, katanya.

"Lingpan hanya suruh kau seorang saja?"

"Ada seorang lagi berjaga di ujung sana, dia bernama Kiang It kui."

Lim Cu-jing mendengus, katanya.

"Mereka ada empat orang. Lingpan kalian hanya menugaskan dua orang di sini, bukankah terlalu ceroboh?"

"Ya, ya,"

Thio Si jut unjuk senyum getir.

"hamba hanya diperintahkan mengamati gerak gerik mereka secara diam2. Lingpan sudah memberi laporan kepada Toalingpan, katanya pada kentongankeduanantiakan membekukmereka."

"Kalau keempat orang ini bukan kaum pemberontak bagaimana?"

Tanya LimCu jing.

"Toalingpan pernah berpesan, lebih baik salah menangkap seratus orang, daripada seorang pemberontak lolos."

"Memang betul ucapannya."

Ujar Lim Cu-jing.

"coba kau tunjukkan tempatnya padaku."

Thio Si jut kaget. katanya "Jilingpan, kau ........ dia mengawasi Lim Cu-jing, lalu berkata pula.

"barusan Toalingpan ada pesan, karena tenaga belum terkumpul, kami dilarang bergerak supaya tidak menggagalkan rencana."

"Aku tahu, Jongtai langsung memberi perintah padaku untuk menyelidiki keadaan di sini, kau harus tunjuk tempatnya supaya aku bisa ikut mengawasi, kalau sampai mereka melarikan diri, kau berani tanggung jawab?"

Thio Si jut tak mau menanggung risikonya, lekas dia munduk2.

"Ya, ya, biarlah hamba tunjukkan tempatnya." -Lalu dia mendahului memasuki gang sempit itu. Tujuh delapan langkah kemudian mendadak Thio Si jut berhenti, katanya dengan lirih.

"Rumah di depan itulah."

Cu jing melihat rumah yang ditunjuk adalah sebuah gubuk bobrok, di depan pintu ada sebuah gerobak dorong yang sudah rusak, sekali pandang orang lantas tahu bahwa penghuni rumah ini adalah penjaja kelilingan.

Tiada sinar pelita dalam rumah, keadaan gelap gulita dan tak terdengar suara apapun, mungkin penghuninya sudah tidur nyenyak "Itukan rumahpedagang kelilingan,"ucap LimCu jing.

"Ya, memang rumah itulah,"

Sahut Thio Si-jut.

Mendadak Lim Cu-jing menutuk belakang kepala Thio Si-jut, berbareng tangan kanan mencengkeram lengan orang, sekali kempit dia bawa orang melejit maju ke depan pintu, terus mengetuk pintu.

Tapi dari dalam rumah tiada reaksi apa2.

Cu-jing jadi gelisah, kembali dia mengetok dua kali.

Tetap tiada terdengar suara orang di dalam rumah.

Cu jing kerahkan tenaga pada jari terus menonjok daun pintu, sekali tutul daun pintu lantas tembus dan berlobang, dia dekatkan mulutnya ke lubang serta bersuara dengan Lwekangnya kedalamrumah.

"Adakahorangdidalam."

Orang di luar rumah takkan mendengar suaranya, tapi yang berada di dalam dapat mendengar dengan terang. Betul juga, terdengar seorang tua bersuara serak bertanya.

"Siapa di luar? Tengah malam buta ada keperluan apa?"

Diam2 Lim Cu-jing geli mendengar suara ini, itulah suara Ciam-liong Cu Bun-hoa, betapa-pun dia masih mengenalnya dengan baik.

"Waktu amat mendesak, lekas Cu-cengcu buka pintu,"

Desis Cujing.

Sayup2 terdengar suara gemerisik lambaian pakaian orang, jelas ada beberapa orang memburu keluar dari belakang rumah, semuanya berjaga dan sembunyi di belakang pintu.

Sudah tentu semua ini takkan dapat mengelabui pendengaran Lim Cu-jing yang tajam menyusul sinar api menyala, langkah berat dan pelahan terdengar beranjak ke-luar, tak lama kemudian daun pintupun pelan2 terbentang.

Seorang laki2 bungkuk berdiri di tengah pintu, katanya.

"Saudara ada urusan apa?"

Sekali pandang Lim Cu-jing lantas kenal kakek yang pura2 bungkuk ini memang Ciam-liong Cu Bun-hoa adanya, sebelum orang melanjutkan pertanyaan, segera ia menyelinap masuk dengan mengempit Thio Si jut sambil berkata lirih.

"Cu-cengcu lekas tutup pintu."

Pada pintu yang menembus ke belakang berdiri seorang gadis remaja, dia bukan lain adalah Cu Ya khim.

Di belakang pintu samar2 terlihat sembunyi dua orang lagi, jelas mereka adalah Tong Siaukhing dengan Tong Bun-khing yang menyamar.

Baru saja Lim Cu-jing berdiri di ruang tamu, Tong Siau-khing sudah lekas2 merapatkan pintu, berempat mereka mengepung Lim Cu-jingditengah, agaknya merekasiap bertindak bilaperlu.

Tapi belum lagi Cu Bun-hoa bertanya pula, semua orang kini dapat melihat jelas siapa orang yang menyelinap masuk sambil mengempit seorang lagi.

Hampir bersamaan Tong Bun-khing, Cu Ya khim dan Tong Siau-khing berseru girang.

"He, Kau!"

Mata Cu Bun-hoa bercahaya, katanya tertawa.

"Darimana kau tahu kami berada di sini? Eh, siapa dia?"

Setelah meletakkan Thio Si-jut di lantai, Lim Cu jing menjura kepada Cu Bun-hoa, katanya.

"Cu-cengcu, duduk persoalannya kini tak sempat kujelaskan jejak kalian di sini sudah konangan musuh, orang ini adalah cakar alap2 dari pasukan bayangkari, pada kentongan kedua nanti mereka akan menggerebek kalian, maka Cucengcu berempat harus lekas menyingkir, ibu kini tinggal di Pek hun-am di luar pintu kota barat, sementara lebih baik kalian pindah ke sana saja. Cayhe masih ada urusan penting lain yang harus segera kubereskan, baiklah aku mohon diri dulu."

Lalu dia putar badan hendakpergi.

"Kau mau ke mana?"

Lekas Tong Bun khing bertanya.

"Disebelah lorong sana masih ada seorang cakar alap2, Cayhe akan bereskan dia."

"Bagaimana kitabereskan orang ini?"tanyaCuBun-hoa.

"Sudah kututuk hiat-to kematiannya, biarkan dia di sini, lekas kalian berangkat saja, setelah urusanku selesai Cayhe akan menyusul ke Pek-hun-am."

Habis bicara Cu-jing tarik daun pintu terus menyelinap keluar dan menghilang.

Dengan cepat Lim Cu-jing tiba di ujung gang, dari kejauhan dia melihat adanya bayangan orang yang berdiri di bawah emper.

Betapa cepat gerakan Lin Cu-jing, dikala orang itu terkejut karena merasa kedatangan orang, tahu2 Lim Cu-jing sudah berada di depannya.

Ternyata orang ini cukup cerdik, sebat sekali dia berkisar, berbareng tangan kanan meraba golok di pinggangnya, tegurnya dengan kaget.

"Siapa kau?"

"Kau ini Kiang It-kui, betul tidak?"

Kata Lim Cu-jing dengan suara kereng. Keadaan gelap gulita, orang itu tak dapat melihat jelas muka Lim Cu-jing, tapi mendengar Lim Cu-jing menyebut namanya, dia bertanya kaget.

"Kau kenal aku? Kau ... ."

Terbukti bahwa orang ini Kiang It-kui, maka Lim Cu-jing tidak mau banyak omong lagi, mendadak ia menutuk Hiat-tonya sehingga semaput, dia raih badan orang terus dikempitnya dan dibawa lari.

Waktu dia kembali ke gubuk bobrok itu, Cu Bun hoa berempat sudah tak kelihatan bayangannya, kiranya mereka sudah pergi.

Setelah menurunkan Kiang it hui, Cu jing tutup pintu depan, lalu dia buka jendela belakang dan keluar dari situ, dengan cepat ia kembali ke penginapannya.

Sudah tentu anggota pasukan bayangkari yang ditugaskan di losmen Liang-kip untuk melindungi keselamatan Tu Hong-seng tiada yang berani tidur, mereka tidak berani minum arak atau berjudi.

Biasanya bila mereka kumpul bersama, kalau tidak judi pasti minum arak, ini sudah merupakan kerja rutin mereka, tapi malam ini tiada satupun yang berani melanggar perintah.

Go Jong gi adalah pimpinan mereka, sudah tentu dia kelihatan lebih sibuk, daun pintu kamarnya hanya dirapatkan saja, jangankan tidur, rasa kantukpun harus ditahan.

Dia tahu betapa berat tugas mereka melindungijiwaTuHong-seng.

Kelompok pertama barisan bayangkari merupakan satuan yang paling unggul daripada seluruh pasukan, bukan saja mereka pandai silat dan mememiliki Ginkang tinggi, merekapun mahir menggunakan senjata rahasia, kini mereka sudah tersebar di sekitar kamar Tu Hong-seng dan menunggu datangnya musuh.

Tapi ini hanya merupakan salah satu langkah permainan Ki Sengjiang yang banyak muslihatnya.

Dia masih ada langkah kedua, yaitu seluruh anggota kelompok kedua dan ketiga di bawah pimpinan masing2 juga terpencar menginapdihotel2 sekitar losmen Liong-kip.

Menurut perhitungan Ki Seng-jiang, asal Tu Hong-seng mampu bertahan dua tiga jurus terhadap Ling Kun-gi, maka orang yang bertugas jaga di losmen Liong-kip akan berbondong2 keluar membantunya.

Begitu terjadi kegaduhan di losmen Liong-kip, maka orang2yangsembunyidihotel2 lainpunakansegera memburu tiba.

jangankan manusia, burungpun jangan harap bisa lolos dari kepungan ketat ini.

Ki-Seng-jiang sudah memberi pesan, mati atau hidup Ling Kun-gi harus ditangkap.

Langkah kedua yang diatur Ki Seng-jiang ini cukup rahasia dan hati2 sekali, sampaipun Lim Cu-jing danGoJong-gipuntidaktahusama sekali.

Dikala Lim Cu-jing beranjak memasuki gang di mana letak deretan hotel2 itu, di ujung jalan sudah berdiri seorang laki2 kekar berpakaian hijau tua, melihat Cu-jing, lekas ia memapak maju, sapanya dengan tertawa.

"Apakah ini Lim-ya?"

Lim Cu-jing melenggong, tanyanya.

"Kau ......"

Belum habis Cu-jing bicara orang itu sudah menambahkan dengan tertawa.

"Hamba mendapat perintah Jin-suya, ada sepucuk surat harus disampaikan kepada Lim-ya,"

Dari sakunya dia mengeluarkansepucuksuratdan diaturkan dengankedua tangan.

Jin-suya adalah Jin Ci-kui.

Sekilas Cu jing berpikir, lalu ia terima suratitu.

Setelahmemberihormatorang itupun melangkahpergi.

Diam2 Cu-jing berpikir.

"Kini sudah hampir kentongan pertama, untuk keperluan apa Jin Ci-kui suruhan orang mengantar surat padaku?" -"Ai, tidak benar, darimana dia tahu aku baru kembali lalu suruhanorang menunggudisini?"

Dilihatnya laki2 tadi berjalan dengan cepat, bayangannya sudah lenyap ditelan kegelapan.

Hati Cu jing semakin heran dan curiga, lekas dia sobek sampul surat, hanya secarik kertas sempit dan beberapa huruf yang berbunyi.

"Awas hati2, Ki Seng-jiang telah pasang kaki tangannya secara diam2 di hotel2 sekitar losmen Liong-kip, langkahmu harus hati2."

Tulisan ini tiada dibubuhi tanda tangan, tapi dari gaya tulisannya jelas mirip peringatan semalam dengan timpukan gulungan kertas itu, maka dapatlah diterka bahwa penulisnya adalah satu orang.

Mau tidak mau Cu-jing melenggong heran, siapakah orang ini?

Berulang dia membantu dan menyampaikan peringatan, darimana pula dia peroleh berita rahasia sepenting ini?

Cu-jing merobek kertas itu, dengan langkah lebar dia lantas memasuki Tang-sun-can.

Ia mendekati kamar Go Jong-gi, lekas sekali Go Jong gi membukakan pintu, melihat yang datang Lim Cu-jing, dia menghela napas lega.

katanya sambil membungkuk.

"Limheng telah datang."

Cujing mengangguk, tanyanya."Di sinitiadaterjadi apa2?"

"Aman, orang2 kita berjaga ketat siang malam, syukur Lim heng telah kemari."

"Aku akan menengok Tu heng, masih ada tugas penting lain yang harus kubereskan selekasnya,"

Lalu Cu jing . menuju kamar Tu Hong-seng serta mengetuk dua kali. Sudah tentu Tu Hong-seng belum tidur, lekas dia membuka pintu. Lim Cu-jing melangkah masuk, katanya tertawa.

"Tu-heng belum tidur?"

Cepat Tu Hong-seng merapatkan pintu, katanya.

"Semula aku merasa aman di sini, tapi melihat gelagatnya aku merasa tidak tenteram."

"Sekeliling kamar Tu heng sudah dijaga ketat, kukira Tu heng tidak usah kuatir."

Kecut senyum Tu Hong-seng, katanya.

"Lim-heng bukan orang luar, biarlah kubicara terus terang, Ki-jongtai sengaja suruh kutinggal di sini, tujuannya adalah membuat perangkap, aku dijadikan umpan untuk menjebak Ling Kun-gi. Padahal kutahu ilmu pedang Ling Kun-gi amat tinggi, paling-paling hanya beberapa jurus saja dapat ku-tandingi dia. Barusan aku berbaring sambil memeluk pedang."

Memang Lim Cu-jing melihat di ranjang menggeletak sebilah pedang, tanpa terasa dia tertawa, katanya.

"Tu heng terlalu hati2, bukankah Tu-heng yakin sanggup menandingi beberapa jurus? Bila dia berani masuk ke kamar ini, Tu-heng boleh berteriak saja dan kawan2pastiakan keluar membantumu?"

"Teori memang demikian, tapi aku harus waspada, kabarnya Ling Kun-gi pandai menyamar, maka se hari2an ini sampaipun kacung yang mengantar minum dan makan juga kucurigai, sebetulnya aku harap2 cemas supaya dia lekas datang, dengan kekuatan orang banyak dapat kita menumpasnya maka legalah hatiku,"

Lalu dia menuding gulungan kertas di pinggir ranjang serta menambahkan "Barusan Jongtai suruh orang mengantar petasan, katanya bila melihat jejak Ling Kun-gi, aku harus lemparkan petasan itu keluar jendela, orang2 yang membantuku akan segera berdatangan."

Diam2 Lim Cu jing berpikir.

"Surat rahasia yang disampaikan pelajar baju putih itu kiranya tidak salah, bila petasan meledak, orang2 yang dipendam dalam hotel sekitar sini pasti akan segera memburu tiba." -Dengan tersenyum ia lantas berkata.

"Perhitungan Jongtai memang baik, tapi bila Ling Kun gi betul2 datang, mungkin Tu-hengtakada kesempatan melemparkanpetasanitu."

Tu Hong-seng berjingkat kaget dan ketakutan. Dengan tersenyum Cu-jing berkata pula.

"Bukankah Tu-heng barusan bilang Ling Kun gi pan-dai menyamar? Mungkin sekarang dia sudah berdiri didepanmu dan kausendiri masihbelumtahu."

Sedikit berubah air muka Tu Hong-seng. Cu jing melangkah maju setindak, katanya katanya.

"Mungkin, Cayhe inilah Ling Kun-gi."

Berdetak jantung Tu Hong-song, keringat dingin sudah mengucur, katanya dengan menyengir.

"Ah, Lim heng suka guyon saja dengan aku."

Meski Lim Cu-jing lagi mendekat selangkah, tapi karena dia adalah Jilingpan, maka Tu Hong-seng tidak berani menyurut mundur.

Tangan kiri Lim Cu jing secepat kilat bergerak mencengkeram uratnadiTu Hong-seng.

"Kau ...."

Tu Hong-seng berteriak kaget. Tanpa memberi kesempatan bicara Cu-jing menutuk pula Ya-bun-hiat yang membuatnya bisu, katanya tertawa.

"Sekarang Tu-hengsudahtahusiapaaku inibukanbukan?"

Karena urat nadi dipencet, Tu Hong-seng menjadi lemas, kulit mukanya berkerut gemetar, keringat dingin berketes2 membasahi jidat dan mukanya. Lim Cu-jing merendahkan suara dan berkata dengan kalem.

"Mungkin Yong lopek tidak tahu bahwa dulu kaupun menjual Hekliong hwe, lantaran kau juga salah satu daripada ke 36 panglima maka beliau mengampuni kau. Tentunya kini masih ingat pesan dan petuah apa yang diberikan Yong-lopek sebelum melepasmu pergi, kita adalah keturunan Ui-te, bangsa Han yang jaya, maka kau diharapkan menjadi manusia baik2, tak nyana jiwamu ini kemaruk harta dan pangkat, watak bejat-mu memang sukar diperbarui, baru sekarangkauharus mengalaminasibjelekini."

Tu Hong-seng ber kedip2 mukanya yang pucat ketakutan, ber gerak2 seperti mau minta ampun atau ingin membela diri, tapi suaranya tidak keluar.

Habis bicara Lim Cu-jing lantas menutuk ulu hatinya, berbareng tangan kiri menarik tubuh orang dan dilempar ke atas ranjang dan ditutupi selimut seperti orang tidur layaknya.

Lalu dia menarik daun pintu, lalu cepat2 ia menuju kamar Go Jong-gi, langsung dia dorong pintu dan masuk.

"Go-heng, segera kau pilih enam orang yang mahir menggunakan senjata rahasia, suruh mereka ikut aku."

Go Jong gi mengiakan, tanyanya sambil mengawasi Lim Cu jing.

"Lim-henghendaksuruh merekakemana?"

"Sudah kuselidiki pada sebuah rumah penduduk ada sembunyi kaum pemberontak, akan kubawa mereka untuk membekuk orang, kau tak usah banyak tanya."

Toalingpan pernah berpesan agar seluruh anggota bayangkari tunduk pada perintah dan petunjuk Lim Cu-jing, maka Go Jong gi tak berani banyak bicara, setelah mengiakan dan bertanya pula.

"Lim-hengsuruh merekaberkumpuldimana?"

"Suruh mereka keluar dari pintu belakang hotel ini, setiba di ujung jalan sana, mereka harus tunggu perintahku di tempat gelap, sementara kau dan empat orang yang lain harus tetap siaga di sini, setapakpun tak boleh pergi."

Go Jong-gi mengiakan terus bergegas keluar.

Lim Cu jingpun segera keluar, tidak lama dia menunggu di ujung jalan kecil sana, maka orang2 yang dia inginkan pun berdatangan.

Cu jing memberi tanda gerakan tangan, segera beberapa orang berlari mendatangi.

Cu jing membawa mereka ke suatu tempat gelap yang tersembunyi, dia hitung jumlah orangnya ada enam orang, katanya.

"Barusan apakah Go lingpan sudah menjelaskan kepada kalian?"

Salah seorang menjawab sambil membungkuk.

"Lapor Jilingpan, Go-lingpan sudah pesan, katanya Jilingpan akan memberi tugas khusus kepada kami, maka kami disuruh tunduk pada perintahmu."

"Betul,"

Ucap Cu-jing dengan menahan suara.

"tadi sudah berhasil kuselidiki suatu rumah penduduk yang menyembunyikan kaum pemberontak, mereka akan bertemu pada kentongan kedua malam nanti, kita harus siapkan lebih banyak senjata rahasia, pada saatnya nanti tanpa bersuara dapat kita bereskan mereka dengan senjata rahasia. Keenam orang itu serempak mengiakan.

"Baiklah, kalian sekarang ikut aku,"

Ucap Lim Cu jing.

Lalu dia mendahului melompat ke sana diikuti keenam orang itu, cepat sekali merekasudahtiba ditempatyangdituju.

Melihat cuaca Cu jing taksir temponya sudah dekat kentongan kedua, kira2 setengah jam lagi gerakan akan segera dilaksanakan, maka dia pimpin keenam orang itu memasuki jalan sempit yang jorok itu.

Sebelumnya dia menerawang keadaan di sekitar sini maka dia sebar keenam orang itu ke atas wuwungan rumah penduduk di sekitarnya, masing2 di pesan menyiapkan senjata, diserukan sebelum lawan mendekati rumah penduduk nomor lima mereka di larang turun tangan."

Setelah mengatur, diam2 Lim Cu jing bergembira, pikirnya.

"Setelah kentongan kedua nanti, biarlah kalian saling cakar dan baku hantamsendiri."

Sigap sekali Cu-jing melompat turun, dengan mengembangkan Ginkanglangsungdiaberlarisekencangangin menujukekotabarat, tujuannya adalah kebun bunga keluarga Kauw.

Malam pekat, tembok tinggi memagari taman yang lebat ditanamipepohonan, alamsemestaditabiri kabuttebal.

Karena taman ini menjadi kediaman pribadi komandan pasukan bayangkari macam Ki Seng-jiang yang cukup berkuasa dan disegani, meski berkepandaian tinggi dan nyalinya besar, betapapun Cu jing tidak berani gegabah, setelah hinggap di atas tembok, dengan seksama dia periksa keadaan sekeliling-nya, setelah itu baru melayang turun.

Letak di mana dia turun kebetulan berada di sisi sebuah gunung2an yang tersembunyi, sebuah jalan beralas batu putih tampak menjurus ke sana menuju sebuah gardu kecil gardu pemandangan kecil ini dikelilingi pepohonan yang terawat baik dengan daunnya yang rimbun menghijau.

Sudah tentu Cu-jing tidak sempat perhatikan panorama indah dalam taman, baru saja dia hendak melompat ke sana, tiba2 didengarnya nyekikik tawa geli seseorang, suaranya nyaring merdu, jelas suara seorang perempuan.

Di tempat seperti ini, meski itu hanya cekikik tawa seorang perempuan, tapi bagi pendengaran Lim Cu-jing sungguh amat mengejutkan, lekas dia berhenti beraksi serta pasang mata ke sekelilingnya.

Sebetulnya tak perlu dicari lagi, karena di tengah pepohonan yang rimbun sana pelahan2 telah muncul sesosok bayangan semampai.

Belum lagi Cu-jing melihat jelas siapa bayangan ramping itu, orang berbadan semampai itu, sudah bersuara.

"Lim-kongcu baru datang, sudah lama hamba menunggu di sini."

Nona ini berpakaian hijau pupus dengan gaun putih mulus, perawakannya tinggi semampai, kuncirnya yang besar dan kelam tampak menjuntai di kedua pundaknya, cuma kedua tangannya menutupi muka sambil miringkan badan lagi sehingga tak terlihat jelas roman mukanya.

Dandannya mirip seorang pelayan.

Sekilas melenggong Lim Cu jing lantas bertanya dengan merendahkan suara.

"Nona ....."

Bayangan ramping. itu cekikikan pula, katanya.

"Memangnya Ling-kongcu sudah tidak mengenal-ku lagi? Hamba adalah Ing jun." -Baru sekarang dia berputar menghadap kemari. Betul, memang dia Ing-jun adanya, kini Cu-jing dapat melihat jelas, raut muka bundar laksana biji kwaci yang manis, bola matanya yang jeli, waktu tertawa sungguh menggiurkan. Lim Cu-jing menghela napas lega, tanyanya sambil menatap Ing jun.

"Dari mana nona tahu Cayhe akan datang?"

Ing-jun tertawa manis, katanya dengan nada misterius.

"Kongcu takusahtanya, waktuamat mendesak, lekasikuthamba."

Tindak tanduknya aneh dan misterius serta tetap nakal seperti waktu berada di Coat-sin-san-ceng, tiada pertanyaan yang dijawabnya secara langsung, habis bicara terus putar tubuh melangkah pergi, dari laporan Ting Kiau, Cu-jing tahu bahwa Ingjun adalah mata2 yang ditanam di sini oleh Pek-hoa-pang, maka dia tidak menaruh curiga, tapi dia tetap waspada, tanyanya.

"Kemanakah nona hendak membawaku?"

Sambil berjalan Ing-jun menjawab.

"Hamba akan membawamu ke suatu tempat untuk menolong seseorang."

"Menolong orang"

Tanya Cu-jing heran.

"Menolong siapa? ."

"Setiba di tempat tujuan, Kongcu akan tahu sendiri,"

Dia tetap tidak mau menjelaskan.

Sambil bicara merekapun telah beranjak cukup jauh, diam2 Cu-jing merasa heran dan bingung, karena Ing-jun berlenggang dengan cepat dan terang2an seperti tidak takut dilihat orang, mau tidak mau hal ini menimbulkan rasa curiga, maklumlah Ing-jun hanya seorang pelayan pribadi, mungkin dia memperoleh kisikan dari sang Pangcu Bok-tan agar menunggu dan menyambut dirinya, tapi itu mestinya dilakukan dengan sembunyi2, membawa seorang luar, apalagi di tengah malam buta, tapi dia berjalan seperti berada di rumah sendiri, tidak kuatir dilihat orang.

Walau merasa urusan agak mencurigakan, tapi dia berkepandaian tinggi, nyalipun besar, apalagi tujuan kedatangannya memang hendak mencari Ki Seng-jiang, peduli musuh bersiap atau tidak menunggu kedatangannya, akhirnya toh harus bergebrak mati2an.

Dengan langkah mantap Cu-jing terus mengikuti langkah Ing-jun dengan cepat, tak lama kemudian tiba di depan sebuah bangunan mungil berloteng.

Mendadak Ing jun berhenti dan menuding ke atas loteng, katanya.

"Orang yang harus Kongcu tolong berada di loteng ini, biarlah hamba berjaga di sini, silakan kau naik ke atas."

Lebih jelas lagi bahwa Ki Seng-jiang memang telah mengatur perangkap di loteng ini. Diam2 Cu-jing tertawa dingin, pikirnya.

"Ki Seng-jiang, seumpama kau sembunyi di sarang harimau dan rawa naga tetap akan kupancung kepalamu, hanya sebuah loteng sekecil ini memangnya dapat mengurung aku?"-Meski berpikir demikian, tapi dia bersikap wajar dan tertawa malah, katanya.

"Terima kasih atas petunjuk nona."

"Kongcu harus lekas bekerja, biarlah hamba menunggu di sini saja"

Ujar Ing-jun tersenyum penuh arti.

Cu-jing tidak bicara lagi, dengan enteng dia meloncat ke atas dan hinggap di serambi loteng tingkat kedua.

Lantai kedua ini ada tiga deret kamar, semua gelap gulita tiada tampak sinar lampu dan tak terdengar suara orang, daun pintu yang terukir indah hanya sedikit dirapatkan saja.

Sejenak Lim Cu-jing merandek, lalu dia mengeluarkan Le liong-cu dan mendorong pintu sambil melangkah masuk.

Le-long-cu memancarkan cahaya kemilau di tempat gelap, di bawah penerangan mutiara ini Cu-jing dapat keadaan kamar, seketika ia melenggong.

Kamar pertama rupanya ruangan kerja, kamar ke-dua kamar tidur yang dipajang indah dan mewah, tapi keadaansunyisenyaptakterlihatbayanganseorangpun, jelasdisini tak ada perangkap apapun.

Disamping curiga Cu-jing menjadi bingung pula, di lihatnya di sebelah kanan terdapat sebuah pintu, kerai menjuntai menutupi pintu, karena cahbaya Le liong-cu rentengan mutiara itu menimbulkan kemilau yang beraneka warnanya.

Tiba2 Cu-jing tersentak kaget dan teringat pada orang yang harus ditolongnya seperti apa yang di katakan Ing jun, katanya berada di atas loteng, mungkin berada di kamar sebelah, cepat ia menyingkap keraidan masuk.

Baru saja maju selangkah, hidangnya dirangsang bau harum semerbak, ada almari pakaian berkaca, sebuah meja rias mungil, ranjang berkelambu sutera yang bersulam indah.

Inilah kamar perempuan.

Sekilas Cu-jing melenggong, baru saja timbul niatnya hendak keluar.

Tiba2 dilihatnya tak jauh di depan ranjang sana tanpa bergerak dan tidak bersuara rebah seorang perempuan tua berbaju hijau, sekilas pandang bagi seorang ahli akansegeratahubahwaperempuantua ini tertutukhiat-tonya.

Cu-jing membatalkan niatnya mundur, rasa curiganya bertambah tebal, dengan langkah lebar dia melejit maju, didapatinya di atas ranjang rebah pula seorang perempuan.

Perempuan yang rebah di ranjang ini ditutupi kemul yang bersulam sepasang burung Hong, yang kelihatan hanya wajahnya yang putih halus, rambutnya terurai awut2an.

"bola mata orang yang jeli tengah terbeliak mengawasinya, mulutnya mengeluarkan suara "Uh, uh,"

Agaknya dia telah meronta di dalam kemul. Begitu pandangan Lim Cu jing bentrok dengan wajah perempuan di dalam kemul itu seketika dia terjingkrak kaget. Diabukan lain adalahPuiJi-ping adanya.

"Ping-moay,"

Seru Cu-jing gugup, tanpa ayal dia memburu ke depan ranjang, berbareng terus menyingkap kemul.

Begitu kemul tersingkap seketika Cu-jing tersirap kaget, selebar mukanya seketika merah jengah.

Ternyata Pui Ji-ping yang terbungkus selimut telanjang bulat tidak mengenakan seutas benangpun, kaki dan tangannya terpentang lebar dan terikat oleh tali sehingga badannya telentang dengan kaki tangan terpentang lebar.

Badannya yang montok putih dengan bagian tubuh yang menggiurkan terpampang di depan matanya, Tidak sedikit Cu-jing berkenalan dengan gadis2 cantik, tapi adegan bugil seperti yang dilihatnya sekarang belum pernah terjadi, keruan jantung terasa hampir melompat keluar, sesaat dia tertegun dan tak tahu apa yang harus dilakukan, akhirnya dengan tersipu2 diatarik kemulpulauntuk menutup badansinona.

Melihat orang yang muncul mendadak ini adalah Ling-toako yang dirindukannya siang dan malam, kini terlihat keadaan dirinya yang bugil begini, keruan malu Ji-ping tak terkatakan, tapi dia juga kejut dan girang.

Malu karena keadaan yang bugil ini sudah terpampang di depan orang, selanjutnya bagaimana dia harus menjadi orang?

Kejut dan girang karena Ling-toakonya akhirnya dapat menemukan dia dan menolongnya.

Kedua pipinya tampak merah, matanya terpejam rapat, tak terasa air matapun meleleh.

Lekas Lim Cu jing tenangkan hati, dia ingat menolong orang harus cepat.

Apabila mulut Pui Ji-ping hanya bersuara "uh-uh", mungkin mulutnya tersumbat sesuatu.

Cepat Cu jing mengangkat dagu orang, tangan yang lain mengorek mulut si dara dan mengeluarkan segumpal kapas.

Saking gugup dan malu hampir saja Pui Ji-ping menangis, katanya mewek2.

"Toako, kau tidak perlu ragu, lekas lepaskan ikatan kakitanganku."

Betul, berada disarang harimau, sembarang waktu kemungkinan dipergoki musuh.

Tanpa ayal Cu-jing segera bekerja, tapi dia tidak berani menyingkap kemul lagi, hanya kedua tangan yang terjulur masuk, dia kerahkan tenaga pada jari2 tangan, sejak mulai dari pergelangan tangan yang terasa, halus terus naik ke lengan, satu persatu dia jepit putus tali pengikatnya.

Celakanya ditubuh Pui Ji-ping masih ada empat tali pengikat, untuk memutus keempat tali inilah dia merasa serba susah.

Tali pertama melingkar dari depan dada tepat di atas "bukit"

Pui Ji-ping terus melingkar ke belakang, tali kedua melingkari pinggangnya, dua tali yang lain masing2 membelenggu paha dan pergelangan kaki.

Meski teraling kemul, tetap tangannya akan menyentuh bagian badan yang montok dan lunak itu, tidak kepalang malu Pui Ji-ping, tepaksa dia pejamkan mata, jantungnya berdetak laksana deburan ombak samudra.

Untunglah tali yang mengikat dadanya lekas sekali sudah terputus.

Sudah tentu Cu-jing dapat merasakan gerakan badan Pui Ji-ping sehingga kedua tangan yang memang gemetar itu semakin bergetar, jantungnya serasa mau melompat keluar.

Untunglah putusnya tali pengikat telah menyadarkan pikirannya, diam2 dia merasa malu sendiri, lekas dia meraba ke bagian pinggang, beruntun dia putus pula tali pengikatnya.

Kini dia tinggal memutus tali yang melingkari paha dan kaki.

Mungkin sudah teramat lama Pui Ji-ping terbelenggu hingga jalan darahnya terganggu, badan terasa kemeng, seketika kaki tangan tak mampu bergerak, dia meringkuk dalam kemul serta berseru pelahan.

"Toako. lekas carikan pakaianku ... ."

"O, ya"

Sahut Cu-jing, dilihatnya di atas kursi sana ada setumpukan pakaian, lekas dia memburu kesana serta melemparkannya ke ranjang.

"Toako,"

Seru Ji-ping. Malu2.

"lekas kau putar ke sana."

Tanpa bicara Cu-jing berputar membelakanginya.

Bergegas Pui Ji-ping kenakan pakaiannya, memakai kaos kaki dan sepatu, lalu melompat turun dari ranjang, begitu berdiri lantas dilihatnya perempuan tua yang menggeletak di pinggir ranjang, seketika dia naik pitam, bentaknya.

"Keparat yang pantas mampus!" -Kakinyaterus mendepakdadaperempuan tuaitu.

"Ping-moay,"

Seru Cu-jing.

"apa yang kau lakukan?"

Merah mata Pui Ji-ping, katanya.

"Toako, kau tidak tahu, untuk menjilat majikannya perempuan bejat ini membelejeti aku dan mengikatku di atas ranjang, bila kau datang terlambat, mungkin aku ..... terpaksa harus mati saja."

Habis bicara pecahlah tangisnya, lantas dia menubruk ke dalam pelukan Lim Cu-jing alias Ling Kun-gi.

Dalam perjalanan tadi dia sudah mengusap obat riasnya, dengan wajah adanya sebagai Ling kun-gi dia hendak menuntut balas sakit hati keluarga dan dendam seluruh anggota Hek-liong-hwe.

Sejak kini Ling Kun-gitidak perlu menggunakan namasamaranlagi.

Kiranya tanpa sengaja Pui Ji-ping yang minggat ini akhirnya tiba juga di Jiat-ho dan mendapat tahu tempat tinggal Ki Seng-jiang, maka secara diam2 dia menyelundup ke dalam taman ini hendak membunuh Ki Seng-jiang, sayang dia tertawan malah.

Ki Seng-jiang membuka kedoknya dan tahu bahwa dia seorang perempuan, dasar bandot, maka timbul niatnya yang jahat hendak berbuat tidak senonoh.

Loteng mungil ini memang tempatnya untuk berfoya2 dan melakukan perbuatan mesumnya, entah berapa banyak perempuan baik2 telah ternoda olehnya.

Jelas perempuan tua itu adalah pembantunya yang melakukan kejahatan, depakan Pui Ji-ping tadi ternyata membuatnya muntah darah, jiwapun melayang seketika.

Dengan kasih sayang Kun-gi membelai rambut Pui Ji-ping, katanya.

"Hayolah Ping-moay, kita buat perhitungan dengan bangsat tua itu."

"Sayang tiada pedang di sini, aku harus cari senjata dulu."

"Kau ingin bersenjata, nah, pakailah pedangku ini,"

Dia keluarkan Seng-ka-kiam untuk Ji-ping. Mereka melompat ke bawah loteng, Ing-jun ternyata masih berdiri di bawah pohon, melihat mereka turun cepat dia memapak maju, katanya dengan tertawa.

"Selamat Ling-kongcu berhasil menolong nona Pui."

"Siapa kau?"

Bentak Pui Ji-ping sambil menuding dengan pedangnya.

"Ping-moay, dianona Ing-jun, orang Pekhoa-pang."

"Toako, jelas dia sekomplotan dengan nenek bejat itu, diapun membantunya mengikat aku."

"Memang betul,"

Ujar nona Ing-jun.

"tapi nona Pui jangan lupa, Liu-pocu aku pula yang menutuknya roboh, sebetulnya sejak lama aku bisa membebaskan nona, soalnya majikanku berpesan, katanya biarkan nona menderita sedikit, tunggu saja biar Ling-kongcu yang menolongmu."

Merah jengah muka Ji-ping, tanyanya dengan bersungut.

"Siapa majikanmu?"

Ing-jun tertawa penuh arti, katanya.

"Hamba menunggu di sini untuk membawa kalian menemui majikanku."

"Ki Seng-jiang berada di mana?"

Tanya Kun-gi.

"Ling-kongcu dan nona Pui tak usah banyak tanya, mari ikut hamba saja,"

Ucap Ing-jun.

"Baiklah,"

Akhirnya Kun-gi mengangguk.

"silakan nona tunjukkan jalan."

Dengan tersenyum Ing-jun beranjak pergi, Kun-gi dan Ji-ping sama mengintildibelakangnya.

Pepohonan dalam taman betul2 rimbun, malam gelap lagi, meski banyak gardu2 pemandangan yang tersebar di sana sini, tapi hanya kelihatan bayangannya saja tanpa terlihat ada sinar pelita, akhirnya mereka di depan sebuah gedung bertingkat lima.

Gedung ini serba ukiran, dikombinasikan dengan cat warna warni yang serasi, maka kelihatan megah dan angker.

Di depan terdapat lima susun undakan batu marmer.

Taman seluas ini seluruhya gelap gulita, hanya gedung berloteng inilah cahaya lilin masih terang benderang, mungkin di sinilah KiSeng-jiangbertempattinggal.

Ing-jun membawa kedua orang berhenti di depan pintu serta membungkuk, serunya.

"Ling-kong-cu, nona Pui silakan masuk!"

Walau berbagai persoalan mengganjal hatinya, tapi Ling Kun-gi bersikap wajar seperti tak acuh, dengan langkah lebar dia masuk kedalam.

Itulah sebuah pendopo yang besar, meski tidak semewah ruang atau kamar yang lain, tapi meja kursi yang ada di sini semua serba antik, di ruang pendopo inipun tak kelihatan bayangan seorangpun, sudah tentu hal ini membuat Kun-gi bertambah bingung dan keheranan, memangnya Ki Seng-jiang sedang main kucing2an dengan dirinya?

Tatkala dia masuk ke ruang pendopo itulah, dari balik pinto bundar di sebelah kanan sana muncul seorang laki2 kurus tua berpakaian kuning tembaga, kulit mukanya merah, tulang pipinya menonjol, sorot matanya berkilat tajam, berdiri sambil menggendong kedua tangan, katanya sambil menggapai.

"Ling hiantit, kenapa baru sekarang datang?"

Kun-gi melenggong sejenak, cepat dia menjura, serunya.

"Kiranya kau paman mertua."

Laki2 kurus tua berjubah kuning tembaga ini memang Jicengcu keluarga Un dari Ling-lam, Un It-kiau adanya. Un It-kiau tertawa, katanya.

"Semua sudah berada di sini, lekas kemari."

Bertambah bingung hati Kun-gi, sambil mengiakan dia ikut ke sana, Pui Ji-ping dan Ing-jun ikut di belakangnya.

Itulah sebuah kamar buku, lilin besar terpasang terang benderang, kecuali Un It-kiau, di dalam kamar buku masih ada tiga orang, begitu melangkah masuk seketika Kun gi tertegun pula.

Ketiga orang itu adalah Un It-hong Un locengcu, Un Hoan-kun dan Bok-tan.

Di atas kursi ukiran berlapis kulit di sana, duduk dengan lunglai seorang yang tengah dicarinya, yaitu komandan pasukan bayangkari di istana raja kota Jiat-ho ini, Ki Seng-jiang adanya.

Meski dia duduk di kursi kebesarannya, tapi kedua bola matanya terbeliak, mukanya menampilkan rasa gusar, kaget dan takut pula.

Bagi seorang ahli sekali pandang akan tahu bahwa Hiat-tonya telah tertutuk sehingga tidak bisa berkutik kecuali biji matanya yang jelilatan.

Dalam hati Kun-gi sudah maklum apa yang telah terjadi, dengan kehadiran Un-locengcu di sini, seluruh penghuni taman keluarga Kauw ini pasti sudah terbius seluruhnya, tak heran sepanjang jalan dirinya tak pernah menemui rintangan.

Lekas dia memburu maju dengan membungkuk diri, serunya.

"Siausay (menantu) menghadap Gakhu (mertua)."

Dengan muka jengah lekas Pui Ji ping berlari ke arah Bok-tan dan Un Hoan-kun, teriaknya.

"Cici, ternyata kalian juga datang."

"Adik Ji-ping, bikin susah kau saja,"

Ujar Bok-tan, lalu dia berbisik di telinganya.

"Sejak tadi aku datang bersama Un-cici, sebetulnya kami sudah harus menolongmu, tapi Un-Cici usul supaya dia saja yang menolongmu, ini keputusan yang kita ambil setelah disepakati bersama, adikku yang baik, meski kau agak tersiksa tapi imbalannya cukup memadai, kautidaksalahkan kami bukan?"

Sudah tentu Ji -ping maklum kemana juntrungan kata2 Bok tan itu, sebagai gadis suci masih muda sampai dilihat dan diraba oleh Ling Kun-gi dalam keadaan bugil, memangnya kepada siapa dia harus menikah?

Kiranya semua ini memang dirancang oleh Bok-tan dan Un Hoan-kun, maksud mereka memang baik, hati Ji-ping menjadi terharu.

Dengan muka merah dan melelehkan air mata dia tetap pura2 mengomel.

"Kalian memang berengsek, selanjutnya bagaimana aku harus jadi manusia?"

Dengan suara lirih halus Un Hoan-kun membujuk.

"Adik Ji-ping, jangan menangis, urusanmu serahkan saja kepada kami."

Mereka bertiga saling berbisik, sementara di sebelah sana Un Ithong tengah berkata kepada Ling Kun-gi.

"Hiansay, waktu amat mendesak, orang she Ki sudah kupunahkan ilmu silatnya, kini tinggaltunggu kedatanganmu, lekaslah kauturuntangan."

Berlinang air mata Ling Kun-gi, katanya dengan dada sesak dan tersengal haru.

"Malam ini Siausay mencarinya untuk membuat perhitungan kematian ayah dan para pahlawan Hek-liong-hwe, berkat bantuan Gakhu, Siausay merasa sangat berterima kasih."

Lalu dia melangkah maju, bentaknya dengan mendelik dan menuding Ki Seng jiang.

"Bangsat keparat she Ki, kau tahu siapa aku?"

"Ling-hiantit,"

Kata Un It-kiau.

"Hiat-to bisunya tertutuk, dia tak bisa bersuara."

Kun-gi angkat sebelah tangannya menepuk jidat orang, Hiat-to bisu orang dibukanya. Ki Seng-jiang segera menggeram gusar, teriaknya.

"Kalian kaum pemberontak ini berani bertingkah di sini, kalian berani membunuh Lohu, mungkin kerajaan takkan memberi ampun pada kalian."

"Tua bangka keparat,"

Hardik Kun-gi.

"kematian di depan mata masih berani kau menggertak orang dengan nama kerajaan? Sejak kecil kau dididik oleh Ciok-boh Lojin dari Ui-san, Ciok-boh Lojin terkenal bajik dan mempunyai cita2 luhur demi negara dan bangsa, beliau adalah salah satu dari kedelapan Houhoat Thay-yang-kau, sungguh tak kira kau manusia berjiwa kerdil, gila pangkat dan tamak harta, sudi menjadi antek bangsa lain, menindas rakyat bangsa sendiri demi mengejar pahala untuk junjunganmu, tak segan2 kau menjual Hek-liong-hwe sehingga menimbulkan banyak korban jiwa, hari ini aku menuntut balas sakit hati ayahku dan menuntut keadilan bagi para patriot Hek-liong-hwe. Ketahuilah, setiap penghianat bangsa adalah beginilah akhirnya, Tu Hong-seng sudah kubunuh, segera aku akan mencari Ci Kun jin pula, kepalamu harus ku penggal dan kubawa pulang. Pelan2 dia terima pedang dari Pui Ji-ping, pedang pendek yang kemilau itu tampak mengkilapkan hawa ke hijau2an. Pucat pasi muka Ki Seng-jiang karena kejahatannya dibeber, tapi dia seorang yang sudah kenyang makan asam garamnya kehidupan, meski pedang sudah mengancam tenggorokan dan tidak mengunjukkan rasa takut dan jeri bentaknya malah.

"Nanti dulu, Lohu ingin bertanya padamu."

"Katakan! Bentak Kun-gi. Kau inilah Ling Kun-gi?"

"Tidak salah."

"Katamu kau telah membunuh Tu Hong-seng?"

"Kau kira Tu Hong-seng dijadikan umpan di hotel untuk memancingku masuk perangkap? Ketahuilah, secara terang2an aku berlenggang masuk ke sana, setelah kubunuh Tu Hong-seng dengan berlenggang pula aku keluar, sampaipun petasan yang kau kirim kepadanyapuntakpernahsempatdiusiknya, kaupercaya?"

"Itu tidak mungkin."

Teriak Ki Seng-jiang serak. Kun-gi tersenyum, katanya.

"Biar kuberitahu padamu, dengan sedikit menggunakan akal, barisan kesatu dari barisan ketiga pasukan bayangkari kebanggaanmu itu telah kubikin saling bunuh sendiri."

"Kau...."desisKiSeng-jiangdengan menggreget. Sebelum orang bicara lagi Kun-gi sudah merogoh keluar sebuah medali perak dari sakunya, katanya sambil membentang telapak tangan ke muka orang.

"Karena aku ini Jilingpan, maka punya hak dan kuasa untuk memerintah mereka, sekarang kau sudah mengerti?"

Mendelik mata Ki Seng-jiang, suaranya gemetar geram.

"Kau Lim Cu-jing!"

"Betul, karena tidak ingin membunuhmu di dalam istana, maka kubiarkan kau hidup sehari lebih lama,"

Habis berkata pedang pendeknya bekerja, batok kepala Ki Seng-jiang seketika menggelinding jatuh.

Sejak tadi Un It-kiau sudah siapkan sebuah kantong kertas minyak, lekas dia masukkan batok kepala Ki Seng-jiang ke dalam kantong kertas minyak itu.

Un It-hong keluarkan sebotol Hoa-kut-san, dengan ujung jarinya dia mencukil sedikit bubuk obat terus ditaburkan ke leher Ki Seng-jiang yang putus, lekas sekali sekujur badan Ki Seng-jiang lumer menjadi cairan darah.

Kun-gi simpan pedangnya, katanya.

"Gakhu kalian harus lekas keluar kota dari bergabung dengan ibu di Pek-hun-am, Siausay akan mencari Ci Kun-jin dan membuat perhitungan dengannya, paling lambatsebelumterangtanahpasti akan kususul kalian disana."

"Biar aku ikutkau,"sela Boktan.

"Akujuga mauikut,"UnHoan-kuntidakmauketinggalan.. Biasanya Pui Ji-ping pasti tidak mau ketinggalan, tapi malam ini dia hanya menunduk saja dengan muka merah dan tak berani bersuara.

"Ci Kun-jin adalah majikan Tang-sun-can,"

Ujar Kun-gi.

"untuk membunuh dia aku seorang diri sudah lebih dari cukup. kalian tak usah ikut, tunggu saja di luar kota bersama ibu." -Lalu dia menjura pada Un-cengcu berdua, sekali berkelebat bayangannya melayang keluar jendela dan lenyap ditelan kegelapan. 0-00-0dw0-00-0 Tang-sua-can adalah bangunan tujuh deret, setiap deret dibatasi pekarangan luas. Lapis ketujuh dan terakhir adalah daerah tempat tinggal sang majikan, untuk bangunan lapis ketujuh ini dibuat sedemikian rupa sehingga terasing dari enam lapis yang lain. barisan depannya dipagari tembok setinggi dua tombak, di luar tembok mengalir selokan lebar dan dalam, pepohonan tampak rindang dan tumbuh subur serta terawat baik, tanahnya jauh lebih luas pula dari keenam lapis yang lain, pintunya terbuat dari papan besi yang bercat merah, dua singa2an tembaga bertengger di kirikanan pintu, mungkin setiap hari dibersihkan hingga kelihatan mengkilap. Kedua daun pintu besi ini sepanjang tahun tertutup rapat, untuk masuk ke bilangan terakhir ini dari Tang-sun-can ini harus lewat pintu samping terus masuk lengkong dan serambi panjang sejak mulai deretan rumah kelima. Seperti diketahui lapis keenam merupakan kamar2 hotel yang khusus diperuntukkan orang2 yang berduit, maka pintu2 di sini yang menembus ke segala penjurupun selalu terkunci. Biasanya majikan Tang-sun-can jarang keluar menerima tamu, umpama terpaksa harus keluar juga selalu dikawal oleh lima laki2 kekar jago silat. Tidak banyak orang yang pernah melihat tampang majikan Tang-sun-can, mungkin dia sadar kejahatan yang pernah dia lakukan dulu teramat banyak, dosanya bertumpuk, takut musuhnya menuntut balas, maka selamanya dia mengeram diri bersama para gundiknya, takpernah keluar bila tidakamat penting. Sudah tentu Ling Kun-gi tidak masuk lewat serambi, iapun tidak mengusik orang2 di Tang-sun-can., Tapi dikala dia hinggap di atas tembok pagar lapis ketujuh, dua bayangan orang laksana dua ekor elang menubruk kearahnya, salah seorang diantaranya menghardik galak.

"Siapa kau?"

Kepandaian orang2 ini kalau dinilai dari kaum Busu yang biasa bekerja mengawal para Cukong, boleh dikatakan terhitung kelas satu, sayang mereka berhadapan dengan Pendekar Kidal Ling Kun-gi.

Dengan tertawa Kun-gi berkata.

"Inilah aku!"

Hanya dua patah katayangdiaucapkan, tapikedua bayanganyangmenubruk tiba itu seketika jatuh gedebukan terbanting ke tanah.

Tanpa membuang waktu Kun-gi melambung tinggi dan meluncur jauh ke depan ke atas loteng tengah sana.

Waktu itu kentongan ketiga sudah lewat, waktu sudah amat mendesak, sekilas matanya menyapu pandang keadaan sekelilingnya, tampak di atas loteng yang tujuh tingkat ini hanya ada sebuah jendela di sebelah kanan tingkat ketiga yang memancarkan cahaya.

Tanpa ayal Kun-gi meluncur ke sana.

Kiranya itulah kamar agak kecil, tanpa permisi Kun-gi langsung menerobos masuk lewat jendela, dalam kamar seorang gadis remaja lagi mencopot pakaian hendak tidur, begitu merasakan angin berkesiur, sinar pelitapun menjadi guram, tahu2 dihadapannya berdiri seorang pemuda cakap, jantungnya seketika berdebar, dengan menjerit kaget dia menyurut mundur.

Kun-gi tersenyumramah padanya, katanya.

"Nona jangan takut."

Rasa takut agaknya merangsang benak si gadis.. mukanya merah malu, katanya gemetar.

"Kau .... .... apa keinginanmu?"

"Cayhemau mencari Kian-lopan, diatinggaldi mana?"

Mengawasi Kun-gi, berubah air muka si gadis, mimiknya menunjukkan rasa kecewa, sambil menggigit bibir dia menggeleng, akhirnya menjawab.

"Aku ......aku tidak tahu."

Kun-gi maju selangkah, katanya.

"Cayhe takkan menyakiti nona, tapi kalau nona tidak mau menerangkan, terpaksa aku menggunakan kekerasan."

"Sreet". dia melolos pedang yang kemilau terus menuding ke dada si gadis. Wajah si gadis yang semula merah seketika berubah pucat, serunya gemetar.

"Kau ..... mau membunuhku?"

Tenang suara Kun-gi.

"Aku tidak akan membunuhmu, asal kau tunjukkan tempat tinggal Kian-lopan, jiwamu akan kuampuni."

"Dia ......dia tidur di kamar Sam-ih-thay."

"Di mana letakkamar Sam-ih-thay?"

"Kamar ketiga bagian belakang."

"Kautidak mendustaiaku?"

"Aku menjawab sejujurnya."

"Baik,"

Ujung pedang Kun-gi tiba2 menutul dari balik pakaian dia tutuk Hiat-to penidur orang, lewat jendela dia melompat ke wuwungan terus melejit ke belakang, di sini merupakan pekarangan yang teramat indah, di sebelah depan ada deretan kamar bertingkat pula.

Untuk mengejar waktu Kun-gi terus berlompatan beberapa kali, dikala kakinya menginjak payon seberang rumah sana, tiba2 ia dengar suara hardikan disusul samberan angin senjata tajam yang me-nyerang dari belakang.

Dua sosok bayangan orang menubruk tiba dari kanan-kiri dengan cukup ganas.

Dari gerak serangan yang keji ini dapatlah dinilai bahwa kedua penyerang ini memiliki kepandaian yang cukup tangguh.

Tapi Kun-gi terang tidak gentar, tanpa membalik badan, tangan kanan terayun ke belakang, terdengar suara erangan tertahan disusul suara "bruk"

Orang jatuh di atas genteng, penyerang di sebelah kiri terguling ke bawah rumah.

Tangan kanan yang terayun ke belakang itu sekalian meraih dan menggentak, golok tebal dari penyerang sebelah kanan berhasil dipegangnya lalu disodok balik dan mengenai dada tuannya, tanpa bersuara orang inipun terjungkal ke bawah.

Dengan jatuhnya kedua orang yang gedebukan keras ini pasti mengejutkan banyak orang, tapi Ling Kun gi tidak peduli lagi, cepat ia memukul jendela kamar ketiga di depannya terus menerobos masuk.

Itulah sebuah kamar yang dipajang mewah, sayang keadaan kamar gelap gulita, tapi jelas kelihatan di atas ranjang tidur dua orang, mereka terkejut bangun mendengar suara gaduh di luar, tapi saking ketakutankeduanya meringkukberpelukandidalamselimut.

Kun-gi sulut lampu sehingga kamar itu menjadi terang, lalu dia membentak ke arah ranjang.

"Kian-lopan, keluarlah kau."

Ranjang tampak bergoyang keras, sebuah tangan yang gemetar tampak menyingkap kelambu, seraut muka kurus tirus menongol keluar, kulit muka si tua bangka ini tampak pucat, dengan takut dia melorot turun mengenakan sepatu.

Usia laki2 ini sekitar lima puluhan, rambut sudah beruban, kumisnya jarang2 jenggotpun hanya secomot, matanya yang sipit membentuk segi tiga memancarkan rasa takut.

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 1

Baca Juga: Pendekar Sadis 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert