Eps 13 Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL
Baca online Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL
Cersil Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL.
Setelah dia melihat orang yang bertolak pinggang di dalam kamarnya ternyata hanya seorang pemuda yang bertangan kosong, rasa kedernya lantas lenyap sebagian besar, lekas dia tenangkan diri lalu unjuk tawa kecut, katanya munduk2.
"Congsu ini malam buta berkunjung kemari, entah ada keperluan apa?"
Dalam pada itu suara ribut telah terjadi di bawah loteng banyak orang berteriak2 menangkap maling cahaya oborpun kelihatan terang.
Kun gi tidak hiraukan kegaduhan di bawah, tanyanya dengan suara kereng.
"Kau inikah Kian-lopan, pemilik Tang-sun-can?"
Mendengar orang bicara dengan nada ramah, apa lagi orang2nya sudah ribut di bawah loteng timbul nyali si tua kurus, katanya mengangguk.
"Lo-siu memang orang she Kian, silakan Congsu utarakan maksud kedatanganmu, asal Losiu mampu ....."
Mendengar orang bicara dengan nada ramah, apa lagi orang2nya sudah ribut di bawah loteng timbul nyali si tua kurus, katanya mengangguk.
"Lo-siu memang orang she Kian, silakan Congsu utarakan maksud kedatanganmu, asal Losiu mampu ....."
"Tutup mulutmu!"
Hardik Kun-gi bengis, sorot matanya tiba2 memancarberapi"Akutidakingin memerashartamu."
Kian-lopan menelan air liur, tanyanya.
"Lalu Congsu ....?"
"Jawab pertanyaanku, apakah asalmu she Ci?"
Bergidik si tua tirus, sahutnya tergagap.
"Bukan, bukan, Losiu she Kian. Kian artinya ....."
Mungkin dia tidak melihat bahwa Ling Kun-gi menyelipkan pedang pendeknya di pinggang, mendadak dia berteriakkeras."Tolong!Ada maling di sini."
"Sret", selarik sinar terang terayun dari tangan Kun-gi, ujung pedangnya yang tajam kemilau mengancam di depan hidung Kian-lopan, jengeknya.
"Orang she Kian, berani kau mungkir akan kuiris duluhidungmu. Lekas katakan, bukankah kau iniCi Kun jin?"
Saking ketakutau Kian-lopan manggut2, sahutnya.
"Ya, ya, aku . ....akumemang Ci......CiKunjin."
Beringas muka Kun gi, tanyanya.
"Baik, jawab pula pertanyaanku, dulu kau pernah menjadi sekretaris Kok thay yang menjabat Gubernur Shoatang?"
"Congsu,"
Kata Ci Kun jin dengan muka kecut.
"hal itu sudah lama berselang."
Batang pedang Ling Kun-gi yang mengancam hidung orang tampak gemetar saking menahan emosi. serunya bengis.
"Bagus sekali, tentunya kau masih ingat kejadian dua puluh tahun yang lalu, pernah kau mengusulkan muslihat keji kepada si bangsat tua Kok-thay itu untuk menghancurkan Hek-liong hwe di Kun-lun-san, ratusan patriot bangsa telah gugur karena muslihatmu, Ki Seng-jiangsudahku-penggalkepalanya,kini menjadigiliranmu."
Pucat bagai kertas muka Ci Kun-jin, tiba2 dia menjatuhkan diri menyembah berulang2 seraya berseru.
"Ampun Congsu, Losiu dipaksa untuk melakukan itu."
"Tiada ampun bagimu, aku datang ke Jiat-ho ini untuk menuntut balas kematian para pahlawan Hek-liong-hwe, menuntut balas sakit hati kematian ayahku, siapapun yang menjadi pengkhianat bangsa dan sudi menjadi antek penjajah akan menemui ajalnya sesuai dengan ganjaran perbuatannya, dan lagi supaya kau mengerti aku inilah Ling Kun-gi, putera Ling Tiang-hong, Hwecu Hek-liong-hwe dulu, kau sudah dengar jelas?"
Habis bicara.
"crat", begitu sinar pedang berkelebat, batok kepala Ci Kun-jin mencelat dari batang lehernya. Sekali tendang Kun-gi lempar jasad Ci Kun jin, dengan kalem dia masukkan batok kepala orang ke dalam kantong kertas minyak terus melompat keluar jendela, dalam sekejap bayangannya sudah lenyap. Besoknya kota Jiat-ho jadi geger, komandan tertinggi pasukan bayangkari yang paling berkuasa di istana raja ternyata menghilang tanpa jejak, Tu Hong-seng yang tinggal di losmen Liong-kip juga mati, cukong atau pemilik Tang-sun-can "Kian-lopan"
Juga mati terbunuh dengan kepala terpenggal, lebih celaka lagi adalah kelompok barisan pertama pasukan bayangkari telah dihajar habis2an oleh kelompok ketiga dari pasukan yang sama, kedua pihak jatuh korban cukup banyak..
Menurut dugaan kejadian ini adalah berkat kerja dan rencana keji kaum pemberontak yang mau menuntut balas.
Maka keempat pintu kota kini ditutup rapat, rakyat tidak diperbolehkan keluar masuk, kota dirazia, digeledah untuk menangkap kaum pemberontak.
Pada persimpangan jalan sebelah barat kota Jiat-ho, di bawah sebuah pohon besar diparkir sebuah kereta ,yang di tarik seekor kuda, kusir keretanya adalah seorang laki2 tua bermuka kuning.
Dalam kereta duduk empat orang perempuan, ibu beranak, menantu dan seorang pelayannya.
Sang mertua kelihatan berusia enam puluhan, menantunya adalah perempuan muda yang cantik jelita, puterinya adalah gadis remaja yang baru berusia delapan belas, pakaian mereka sederhana, jelas mereka dari keluarga menengah.
Tak jauh di sebelah sana ada dua orang penjual kain kelilingan, seorang berusia lima puluhan, tingkah lakunya lucu seperti orang sinting, seorang tahu laki2 lima puluhan, mukanya merah, tubuhnya kurus.
Dalam jarak satu panahan maju ke depan lagi, masih ada kelompok orang, keadaannya jauh lebih mentereng, mereka adalah ayah beranak lima orang, ada laki2 ada perempuan, sang ayah berwajah putih bersih, jenggot hitam menjuntai di dada, mengenakan jubah biru bersulam kembang, sepatunya tinggi terbuat dari kulit, seorang lagi adalah pemuda bersama tiga orang adik perempuannya.
Si pemuda berperawakan kekar gagah, demikian pula ketiga nona itu sama cantik dan segar bak bunga baru mekar.
Masih ada lagi dua kacung yang merawat kuda.
Dilihat dari dandanan mereka, kemungkinan adalah keluarga berpangkat yang sedang lewat dan istirahat.
paling tidak kaum bangsawan entah dari mana.
Tiga kelompok orang ini meski sama istirahat di tempat yang berlainan, tapi kelihatan mereka seperti sedang menunggu orang, entah siapa?
Karena mereka sering berpaling ke arah kota di mana jalan raya itu menjurus, Tentunya para pembaca maklum orang2 ini ialah Thi hujin, Bok-tan, Pui Ji-ping bersama pelayan Ing-jun, kakek yang jadi kusir adalah Ting Kiau.
Kedua penjual kelilingan adalah Un It hong, sementara lima orang di bawah pohon sana adalah Ciam-liong Cu Bun-hoa, Cu Ya-khim, Tong Siau-khing, Tong Bun-khing dan Un Hoan-kun, kedua kacung adalah Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa.
Mereka sudah berjanji dengan Ling Kun-gi untuk menunggu kedatangannya di sini.
Mereka sudah menunggu sekian lamanya, selagi hati tidak sa-bar dan gelisah tertampak dari ujung jalan raya sana muncul setitik bayangan orang meluncur sepesat kuda membedal.
"Nah itu Toako sudah datang"
Pui Ji ping mendahului berteriak sambil berjingkrakgirang.
Yang datang memang Ling Kun-gi, ia membawa sebuah buntalan kertas minyak, jelas isi kantong adalah batok kepala Im si boankoan Ci Kun -jin.
Kun-gi langsung menuju kereta, setelah dekat dia lempar buntalan kertas minyak itu terus menjatuhkan diri berlutut, air matanya bercucuran, serunya.
"Bu, syukurlah anak berhasil menuntut balas sakit hati ayah, menebus dendam kesumat kematian para pahlawan Hek-liong hwe."
Sambil berlinang air mata Thi hujin manggut2, katanya.
"Anak baik, bangunlah, ibu sudah tahu jelas memang tidak malu kau sebagai putera Ling Tiang hong, sebagai cucu yang baik dan berbaktiterhadapkakak luarmu, hayolahkitalekas berangkat."
Bok-tan mengeser tempat duduknya, dengan suara merdu mesra dia berkata.
"Marilah kau naik ke kereta."
Tanpa bicara Kun gi lompat ke atas kereta. Tanpa diperintah lagi Ting Kiau menurunkan kerai terus lari ke depan sambil mengayun cambuk.
"Tar", kuda segera mencongklang kedepan, menyusul Un It-hong, Un It kiau dan lain2 mencemplak kuda masing2 dan menyusul dari kejauhan. Jalan raya ini menjurus ke Pak-kau, tiga kelompok berangkat sendiri2, sudah tentu tidak menarik perhatian orang. Tapi baru kira2 tiga li jauhnya mereka menempuh perjalanan, tampak di kejauhan di tengah jalan raya berduduk tersimpuh lima orang Lama berkasa merah yang berusia lanjut. Mereka bersemadi tak bergeming, meski kereta semakin dekat tapi mereka anggap tidak melihat dan tak mendengar. Cepat sekali keretapun berlari, tiba di depan mereka..Dari kejauhan Ting Kiau sudah ber siap2, kira2 tiga tombak jaraknya dia tarik tali kendali menghentikan lari kudanya, tapi kereta masih terseret maju setombak lebih.
"Ting lotoa,"kataThi hujin.
"adakejadianapadidepan?"
Ting Kiau menyahut.
"Lapor Lothay, ada beberapa Lama mengadang di tengah jalan."
Lalu dia menambahkan dengan suara lirih.
"Agaknya mereka bermaksud kurang baik."
Maka terdengar salah seorang Lama yang tertua paling tengah angkat kepala dan bersuara kalem.
"Maksud kami bukan jahat, Lolapberlima hanyaingin menemuisatuorang."
Bok-tan segera berbangkit, katanya sambil menyingkap kerai.
"Losuhu, kami kaum perempuan ingin lekas masuk kota, jangan kalian salah alamat."
"Mana mungkin Lolap salah mencari orang?"
Ucap Lama tertua.
"bukankah dalam kereta kalian ada Siau-sicu she Ling?" -Jelas mereka ingin membuat perhitungan dengan Ling Kun gi. Thi-hujin mengerut kening, katanya lirih.
"Kelima orang ini sepertikaum Lama."
"Siancay. Siancay,"
Ucap Lama tertua.
"rekaan Hujin memang betul."
"Bu, kalau mereka menunjuk diriku, biarlah anak turun bicara dengan mereka,"
Kata Kun gi.
"Kedatangan mereka bermaksud tidak baik, kau harus hati2,"
Demikian pesan Bok-tan.
"Biar aku juga turun,"
Seru Ji-ping. Lekas Thi-hujin menariknya, katanya.
"Anak Gi boleh turun dan tanyaimereka, kautak usahturutcampur."
Kun-gi lantas melangkah turun, tampak kelima Lama ini masing2 menduduki satu posisi tertentu, semuanya duduk semadi memejamkan mata hingga berbentuk sebuah lingkaran, cepat dia menjura, sapanya.
"Para Suhu hendak mencari Cayhe, entah ada petunjuk apa?"
Lama tertua yang menjadi pemimpin membuka kelopak matanya, kedua tangan terkatup di depan dada, katanya.
"Omitohud! Apakah Siausicu inilah Ling Kun-gi?"
Kun-gi mengangguk, sahutnya.
"Betul, Cayhe memang Ling Kungi."
"Adasuatusoalingin kutanyakepadaSiausicu,"
KataLamatua.
"Soalapa, silakanbicara."
"Lolap punya seorang murid, bernama Pat-toh, apakah dia mati terbunuh oleh Siau-sicu?"
Bergetar hati Kun-gi, seperti diketahui Lama kasa merah yang bernama Pat-toh mati ditangan bibinya sebagai Maha Pangcu Pek-hoa-pang, tapi sang bibi sekarang sudah wafat, biarlah dirinya yang memikul tanggung jawabnya.
Maka dia mengangguk, katanya.
"Betul, muridmu itu adalah Hek-liong-hwe Houhoat, Cayhe menuntut balas pada Han Jan-to atas kematian ayah almarhum, tapi muridmu menampilkandiri,terpaksadiagugurdibawahpedangku."
Sikap Lama tua tetap tenang tanpa marah sedikitpun, katanya mengangguk.
"Lolap dengar Siau-sicu ini murid didik Hoan-jiu-ji-lay, sudah lama Lolap dengar nama besar Hoan-jiu-ji-lay, sayang selama puluhan tahun belum pernah bertemu, bahwa Siau-sicu mampu membunuh muridku, itu tandanya Kungfumu sudah tinggi, ilmu pedangmu pasti juga amat lihay, Lolap dan para Sute ingin menjajal dan menyaksikan ilmu pedang Siausicu, bagaimana menurut pendapat Siausicu?"
Diam2 tersirap darah Kun-gi, sungguh tak nyana bahwa kelima Lama tua ini adalah guru dan paman guru Pat-toh yang lihay itu.
Kungfu Pat-toh pernah dia saksikan sendiri, tarapnya jelas tidak lebih rendah daripada Thay-siang, bahwa kelima Lama tua ini adalah guru dan paman gurunya, mereka terang memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari-pada Pat-toh.
Sebelum Kun-gi memberi tanggapan, Lama tua sudah berkata lebih lanjut.
"Lolap juga dengar bahwa Siausicu mahir mainkan Hwiliong-sam-kiam, dengan gaya jungkir balik dan terapung di udara sambil menyerang musuh, Lolap lima bersaudara akan duduk bersimpuh di tempat masing2 dan takkan bergerak dari tempat duduk ini, asalkan Siau-sicu dapat mencelat keluar dari tengah lingkarankami makakamiberlima akan menyerah kalah."
Agaknya dia sudah tahu jelas bahwa Hwi-liong-sam-kiam harus dikembangkan dengan badan terapung dam jumpalitan di udara, dikatakan pula bahwa mereka berlima takkan bergerak dari duduknya, lalu cara bagaimana mereka akan turun tangan?
Bila Kun-gi betul2 mengembangkan Sin-liong-jut-hun, dengan mudah dia dapat melambung dan jumpalitan keluar dari dalam lingkaran, kenapa Lama tua ini berani bertaruh begitu.
Tak tahan Bok-tan lantas melompat turun dan berdiri di samping Kun-gi, katanya.
"Maksud Lo-suhu akan bertempur dengan tenaga kalian berlima, kalau demikian biarlah kami berdua menghadani kalian,kan boleh?"
Sekilas Lama tua meliriknya, katanya hambar.
"Li-sicu ini lebih baik mundur saja."
Diam2 Kun-gi sudah perhatikan kelima Lama tua ini memang luar biasa, mereka duduk dengan posisi Ngo hing (lima unsur), kemungkinan akan membentuk semacam barisan pedang yang lihay, dirinya telah mempelajari Hwi-liong-kiu sek, bisa jadi mampu mengatasi keroyokan lima lawan.
Tapi Bok-tan hanya membekal tiga jurus ilmu pedang, mungkin takkan kuat bertahan, maka dia berkata.
"Losuhu ini hanya ingin menjajal ilmu pedang yang pernah kupelajari, memang lebih baik kau undurkan diri saja." -Lalu dengan menggunakan ilmu gelombang suara diam2 ia membisiki.
"Aku sudah berhasil mempelajari sembilan jurus ilmu pedang peninggalan Tiongyang Cinjin, umpama tidak menang juga aku masih mampu mempertahankan diri, bila kau berada di sampingku, mungkin malah menghambat gerak-gerikku."
Sementara itu derap kaki kuda ramai mendatangi, kiranya rombongan Cu Bun-hoa telah tiba.
Melihat Kun-gi berdampingan dengan Bok-tan menghadapi lima Lama yang bersimpuh di tengah jalan raya.
Tong Bun-khing dan Un Hoan kun segera, melejit dari punggung kuda mereka terus hinggap di kiri kanan Ling Kun-gi.
Dengan suara merdu Un Hoan-kun bertanya.
"Apa yang terjadi, mereka mencegatmu? Ini soal mudah, biar aku yang bereskan mereka."
Cepat Kun-gi goyang tangan mencegah, katanya.
"Hoan-moay jangan semberono, lekas kalian mundur ke belakang."
Di dalam kereta Thi hujin hanya tenang2 saja, katanya.
"Anak Gi betul, kalian mundur saja, biar anak Gi menghadani para Losuhu ini"
Terpaksa Bok-tan, Un Hoan-kun, Tong Bun-khing turuti nasehat Thi-hujin. Lama tua tertawa tawar, katanya.
"Siausicu sudah siap?"
Sudah tentu Kun-gi tak berani gegabah, segera dia keluarkan Seng ka-kiam.
Sementara kelima Lama itupun mengeluarkan senjata yang bentuknya seperti pedang tapi bukan pedang, panjang dua kaki, bentuknya rada aneh, belum pernah ada senjata semacam ini.
Maklum, senjata ini memang khas kaum Lama, namanya Hiapciang-hiap.
Bentuknya seperti pedang, pada gagangnya digubat benang mas dan bertatahkan mutu manikam, batang pedang hanya sepanjang satu kaki dan berkemilauan tajam, ujungnya berbentuk gurdiyangruncing bulat, bentuknyalebih mirip kepalaular.
Setelah mengeluarkan senjata masing2, para Lama tetap bersimpuh, mata terpejam kepala sedikit menunduk, sikapnya tidak seperti jago yang siap tempur.
Tapi Kun-gi yang sudah berdiri di tengah mereka merasakan secara langsung bahwa kelima Lama ini tengah mengerahkan Lwekang pada batang senjata ampuh mereka, meski belum lagi bergerak, tapi senjata itu sendiri sudah menimbulkan perbawa yang tidak kecil.
Kun-gi tahu pertempuran ini merupakan adu kekuatan yang besar artinya, apakah dirinya mampu menandingi kekuatan gabungan kelima Lama sakti ini masih merupakan tanda tanya besar.
Maklumlah, dia tidak kenal senjata apa yang digunakan lawan?
Belum diketahui pula dengan cara bagaimana musuh akan mulai menyerang?
Orang kuno sering bilang.
harus tahu kekuatan sendiri dan dapat mengukur kekuatan lawan, setiap kali bertempur tentu menang.
Kini hakikatnya Kun-gi tidak kenal musuh2nya, bagaimana mungkin dia bisa mempersiapkan diri.
Terpaksa dia berdiri diam menanti gerakan lawan lebih dulu.
Cukup lama mereka bertahan, kedua pihak tetap diam saja tanpa bergeming, akhirnya Lama tertua itu membuka suara.
"Siau-sicu berhati2lah." -Berbareng Hiap-ciang-hiap yang tegak di depan dadanya bergetar, segulung hawa getaran senjatanya yang kemilau itu terus menyambar ke depan laksana anak panah menerjang ke tengah alis Ling Kun gi.
"Inilah hawa pedang,"
Diam2 tersirap darah Ling Kun-gi, tanpa ayal dia ayun pedang pendek untuk balas menyerang.
Ayunan pedangnya menimbulkan cahaya benderang dingin laksana kilat dan telak sekali membendung samberan hawa pedang yang diluncurkan Lama tua itu.
Tatkala Lama ini menyerang, empat Lama yang lainpun serentak menggetar senjata masing2 ikut me-nyerang, terdengarlah deru angin kencang memberondong ke tengah kalangan tertuju kepada Ling Kun-gi.
Tiada cahaya yang menyilaukan, tak terlihat bayangan pedang, hanya hawa pedang yang terasa dingin sehingga hawa sekitar gelanggang seakan2 beku.
Sekuatnya Kun-gi mengerahkan segala kemampuannya baru kelima jalur hawa pedang lawan terbendung di luar lingkup cahaya pedangnya, tapi orang yang menonton tidak mengerti sama bertanya2 dalam hati bahwa kelima Lama itu cuma duduk tak bergerak, kenapa Kun-gi bermain pedang sekencang dan sehebat itu.
Hanya Thi-hujin, Un It hong, Cu Bun-hoa dan Bok-tan yang sedikit banyak dapat merasakan, walau kelihatan kelima Lama ini duduk diam, tapi kemungkinan mereka sudah mulai melancarkan serangan entah dengan cara apa kepada Ling Kun-gi.
Kalau tidak tak mungkin anak muda itu memutar pedang dengan mengerahkan Lwekang sehebat itu.
Lima jalur hawa pedang terus bertambah kuat, gempurannya semakin dahsyat, makin lama makin tebal dan menjadikan serupa jaring hawa pedang di sekeliling tubuh Ling Kun-gi, tapi semua ini tidak kelihatan bentuknya, hanya Kun gi merasakan langsung akibat dari kehebatan ilmu yang tiada taranya ini.
Di dasar Hek-liong tam Kun-gi telah berhasil mempelajari sembilan jurus ilmu pedang peninggalan Tiongyang Cinjin, dalam permainan ilmu pedangnya boleh dikatakan dia sudah mampu mengembangkan segenap perubahan ilmu pedang itu.
Akan tetapi kelima jalur hawa pedang itu secara bergiliran menggempurnya dengan tekanan yang dahsyat, setiap jalur hawa pedang se-olah2 mengandung kekuatan yang mampu menggugurkan gunung.
pada hal Hwi-liong-kiam-hoat harus dimainkan dengan cara mengapung di udara, di bawah tekanan hawa pedang musuh yang ketat ini jelas dirinya takkan mampu melompat terbang ke atas.
Apa yang dikatakan Lama tertua itu memang tidak salah, asal dapat keluar dari lingkaran mereka, maka anggaplah mereka yang kalah.
Meski hebat ilmu pedang Ling Kun-gi, karena tiada kesempatan dikembangkan, apalagi tekanan hawa pedang terasa tambah berat, kelima jalur hawa pedang seakan2 telah menutup rapat di atas kepalanya, malah seberat gunung menindihnya sehingga lama kelamaan dia hampir tak kuasa berdiri lagi.
Terpaksa Kun-gi pusatkan segala perhatian dan bertahan mati2an, dalam hati dia sudah mulai gelisah, pikirnya.
"Agaknya hari ini aku bakal gugurdibawah hawapedangpara Lama ini."
Seorang kalau menghadapi jalan buntu, walau tahu mungkin tiada harapan, tapi dalam sanubarinya tetap akan timbul secercah pikiran untuk mengejar hidup meski itu hanya merupakan harapan kosong.
Apalagi teringat bahwa ibunda dan para kekasihnya tengah menonton di luar gelanggang, sekali2 dirinya tak boleh mati begitu saja.
Dikala dia menghadapi jalan buntu inilah, tiba2 dia teringat akan ajaran semadi yang terdiri tiga gambar peninggalan Tiongyang Cinjing di dinding gua itu, ketiga gambar semadi ini merupakan rangkaian pula dari kesembilan jurus ilmu pedang.
Entah dari mana datangnya ilham, tiba2 terpikir olehnya kalau ke lima Lama sama duduk bersimpuh, senjata berdiri tegak di depan dada, dengan kekuatan Lwekang mereka menyalurkan hawa pedang untuk menggempur dirinya, kenapa dirinya tidak meniru cara mereka saja?
Karena itu segera dia pusatkan pikiran, pedang yang semula dia putar naik-turun tiba2 diam tegak di depan dada, begitu semangat terhimpun dia pusatkan tenaga pada batang pedangnya, pelahan2 dia mulai lakukan gaya sesuai dengan gambar pertama pelajaran semadi itu.
Sungguh aneh, hawa pedang kelima Lama yang semula terasa semakin gencar dan berat itu, begitu dia mulai dengan gaya semadinya, tekanan yang berat itu seketika menjadi enteng.
Padahal kelima Lama itu tak pernah kendur mengerahkan Lwekangnya untuk menggempurnya, malah terasa keadaan sudah mencapai puncaknya, kelihatan sebentar lagi mereka akan berhasil membunuh lawan, se-konyong2 terasa kekuatan hawa murni Ling Kun-gi melindungi badan melalui saluran pedangnya bertambah hebat gempuran hawa pedang mereka hanya mampu mencapai tiga kaki di luar lingkaran badan musuh, sedikitpun tak mampu mendesak maju lagi.
Perlu diketahui mereka berlima sudah memusatkan pikiran, tenaga dan kekuatan lahir hatin untuk mengerahkan hawa pedang dan menggempur lawan, pandangan matanya hanya tertuju ke pucuk senjata sedikitpun tidak boleh terpecah perhatiannya.
maka mereka tidak tahu bahwa kini Ling Kun-gi tengah duduk semadi di tengah lingkaran.
Sembilan jurus ilmu pedang peninggalan Tiongyang Cinjin sudah diapalkan benar oleh Ling Kun-gi, tiga jurus yang terakhir dari rangkaian kedua belas jurus ilmu pedang itu meski hanya bergaya duduk semadi, tapi satu sama lain merupakan ikatan yang erat, cuma selama ini belum berhasil diselaminya dengan baik.
Kini setelah dia mengulang dalam praktek pada saat menghadapi musuh tangguh, terasa pikiran menjadi terang, seperti memperoleh ilham sehingga segala kesukaran yang dihadapinya selama ini mendadak menjadi terang seluruhnya.
tekanan musuhpun lambat lain terasa semakin ringan, baru kini betul2 dia sadari meski ketiga gaya duduk ini mirip orang bersemadi, hakikatnya merupakan ajaran ilmu pedang tingkat tinggi yang tiada taranya.
Maka dengan pedang pendek dipegangnya lebih kuat dan mantap, hati bersih pikiranpun jernih, mulailah dia melakukan gaya selanjutnya dari gambar kedua.
Seketika terasa benar perubahannya, bukan saja pikiran tenang hatipun seperti kosong tanpa disadarinya semangat telah bersatu padu dengan pedang secara langsung dia berlanjut ke gaya ketiga, sehingga dengus napasnya seolah menderu kencang mengandung kekuatan yang mampu memboboldinding.
Tekanan hebat dari kelima jalur hawa pedang lawan tiba2 terasa sirna tak berbekas lagi.
Lapat2 didengarnya Pui Ji-ping berteriak kaget dan heran.
"He, kenapa kelima Lama itu?"
Ling Kun-gi tertarik dan merasa heran, pelan2 dia kendurkan kekuatannya, setelah menarik napas panjang mulai dia membuka mata, maka dilihatnya kelima Lama tua itu sudah sama menggeletak di tanah tanpa mengeluarkan suara, sejak tadi sudah melayang jiwanya.
Tong Bun-khing, Bok-tan dan Un Hoan-kun tampak mengunjuk rasa kejut dan heran, tanpa berjanji mereka sama berlompatan maju, dengan penuh perhatian dan kuatir serempak mereka bertanya.
"Kau tidak apa2?"
Kun-gi melompat bangun, pedang disimpan serta berkata.
"Terima kasih atas perhatian kalian, syukurlah aku lolos dari ujian berat ini berkat doa kalian, kelima Lama ini tadi sama menggunakan Ngo heng-kiam-khi."
Pui Ji-ping tidak mau ketinggalan, dia melompat turun dari kereta, tanyanya sambil mendekat.
"Toako, apa yang dinamakan Ngo-hing-kiam-khi?"
Belum Kun gi menjawab mendadak dia menoleh ke arah timur, wajahnya sedikit berubah, katanya.
"Ada orang datang."
"Di mana?"tanyaPuiJipingikutberpaling. Maka terdengar derap kuda yang dilarikan kencang semakin mendekat dan sekejap saja sudah tiba, penunggangnya kiranya mahir benar mengendalikan kuda, begitu kendali ditarik dan kuda berhenti, langsung dia melompat turun seraya merogoh keluar sampul surat, dengan sikap hormat langsung dia mendekati Kun-gi, katanya.
"Hamba mendapat perintah Pho kongcu untuk mengantar surat ini, harap Kongcu terima.."
Kun-gi terima surat itu, terasa olehnya laki2 pengirim surat ini seperti pernah dikenalnya, tanpa menunggu jawaban Kun-gi orang itu menjura sekali terus mencemplak kudanya dan dikaburkan lagi.
Mengawasi punggung orang mendadak Kun-gi ingat, orang ini adalah orang yang semalam mengantar surat padanya.
Lekas dia periksa sampul surat yang terdapat sebaris tulisan indah berbunyi.
"Disampaikan kepada Ling-kongcu, pribadi."
Dia keluarkan secarik kertas yang berbau harum, surat ini berbunyi.
Yang terhormat Ling-kongcu Ling Kun gi, Kami dari keluar bangsawan, belajar kepandaian di Swat-san, sejak kecil menyendiri dan tinggi hati, semua laki-laki di jagat ini tiada yang pernah menjadi perhatianku, tapi sejak berkenalan dengan tuan di tepi Hek-liong-tam, setelah pertarungan naga terbang (Hwi-liong-kiam-hoat) lawan Burung Hong menari (Hwi-hong-kiam-hoat), dengan kekalahan itu baru kami sadar bahwa di jagat ini kiranya ada laki2 sehebat tuan, hati yang beku selama ini seketika mencair dan bergelora.
Sayang kami bermusuhan dengan tuan, terpaksa mengundurkan diri dengan hati hampa.
Kali ini kuketahui tuan akan melakukan perjalanan ke Jiat-ho, maka dengan menyamar sebagai Pho Kek-pui kita telah bersahabat, makan minum riang gembira bersama, terhiburlah hati nan merana ini, dua kali surat kirimanku rasanya cukup melimpahkan perhatianku, hanya itu pula yang dapat kupersembahkan kepada tuan, hal inipun telah mengingkari keluarga dan mendurhakai leluhur, sungguh harus disesalkan.
Waktu tuan terima suratku ini, kami sudah berangkat ke barat, kembali ke atas gunung, selamanya akan berbakti untuk ajaran agama.
Teriring salam hangat dan bahagia.
Cui Kin-in Sampai sekian lama Ling Kun-gi terlongong memegangi surat itu.
Kiranya Cui Kin-in adalah Pho Kek-pui puteri pangeran istana Hok.
Dia pula yang menyaru jadi pelajar baju putih waktu menolong dirinya di istana.
Cui Kin-in adalah gadis aneh dan hebat pula, seorang gadis romantis juga.
Melihat Kun-gi terlongong sehabis membaca surat, maka beramai orang banyak merubung maju ikut membaca surat itu.
Habis membaca merekapun sama menghela napas sambil menggeleng.
TAMAT Semarang, Januari 1977
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com /
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com /
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 10
Baca Juga: Kisah Si Pedang Kilat 6