Ceritasilat Novel Online

Pedang Kiri Pedang Kanan 11

Eps 11 Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL

Baca online Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL

Cersil Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL.

"Dia bernama Yap Kay-sian ialah seorang Houhoat Pek-hoa-pang, ilmu silatnya cukup tinggi, tapi hampir pada saat yang sama sekujur badannya terkena tabasan pedang, menurut luka2nya ini dapatlah diketahui kalau ilmu pedang lawannya itu sangat cepat, telak dan kuat, kukira masih jauh lebih unggul di-bandingkan Cap-coat-kiam-tin, paling sedikit ada delapan belas jago pedang kelas tinggi sekaligus mengeroyok dan menghujani tubuhnya sehingga tak mungkin dia dapat menyelamatkan diri, tubuhnya terluka delapan belas goresan pedang. Yong-lopek, tahukah kau barisan pedang apakah ini, masa begini lihay?"

Yong King-tiong geleng2 kepala, katanya.

"Cui Kinin adalah Ceng-liong-tongcu, tapi diapun merangkap Komisaris umum Hekliong-hwe, tiada bedanya sebagai maha ketua Hek-liong-hwe, Losiu tahu waktu dia datang dari kotaraja hanya membawa seorang Lama yang mengaku saudara seperguruan dengan dia, dua orang lagi adalah Nyo Ci-ko dan Tang Kim-seng, kabarnya merekapun anggota Siwi kelas tiga di istana raja, jabatan dan kedudukan mereka tidak lebih rendah dari Han Janto, kecuali tiga orang ini, seingatku tiada orang lain lagi, kecuali itu Ceng-liong-tong hanya ada beberapa jago pedang dan dayang pribadi Cui Kinin, mengenai jago2 pedang itu memang memiliki Kungfu yang tidak lemah, tapi tingkat mereka setingkat dengan jago2 pedang bawahan Losiu, jadi tiada seorang kosen yang betul2 dapat diagulkan."

Terkerut alis Kun-gi, katanya.

"Aneh kalau begitu, dengan bekal kepandaian silat Yap Kay-sian, jelas tak mungkin dalam waktu sekejap sekaligus badannya terluka oleh delapan belas serangan pedang...."

"'Betul", ucap Yong King-tiong manggut2.

"Walau Losiu tak pernah menyaksikan taraf kepandaian orang she Yap ini, tapi kalau Ling-kongcu bilang kungfunya tinggi, jelas tak perlu diragukan, tapi dari delapan belas luka2 ini dapat kita nilai, tampaknya dia tidak mampu lagi membela diri, hanya berdiri diam saja membiarkan tubuhnya dihujani serangan pedang, kalau tidak tak mungkin lukanya bisa begini banyak."

Sesaat Ling Kun-gi berdiri melenggong mengawasi dinding yang mengadang di depan sana, jelas di dinding ini ada pintu rahasia pula, mengingat Bok-tan, Giok-lan, Bikui (Un Hoankun) dan lain2 mungkin berada di balik pintu ini, kemungkinan merekapun telah terluka parah.

Liang Ih-jun dan Yap Kay-sian yang membekal kepandaian setinggi itupun terluka parah, apalagi mereka yang telah terperangkap di dalam sana, jelas setiap saat meng-hadapi mara bahaya juga.

Terbayang akan Bok-tan dia teringat kepada Un Hoankun pula, hatinya menjadi gelisah, katanya.

"Yong-lopek, di sini ada pintu rahasia lagi, entah cara bagaimana membukanya, marilah lekas kita masuk ke sana."

Sekilas Yong King tiong melirik mayat Tang Kim-seng yang menggeletak di kaki tembok sana, mendadak tergerak pikirannya.

"Tang Kim-seng berlari sampai di sini, kenapa tidak buka pintu terus larikesebelahdalam?Tapidiasengajapakai mayatsebagaitameng dan main membokong? Memangnya di balik pintu ini ada perangkap yang amat lihay!"

Karena itu, sambil mengelus jenggot dia ber-kata .

"Losiu tidak tahu alat perangkap yang terpasang di balik pintu, tapi mengingat Tang Kim-seng lari sampai di sini dan tak berani masuk lebih lanjut, dapatlah ditarik kesimpulan pasti ada jebakan lihay di sana, setelah Losiu berhasil membuka pintu rahasia ini, jangan Ling-kongcu berlaku gegabah, lihat dulu keadaan baru masuk."

"Wanpwe sama sekali asing mengenai alat2 perangkap, silakan paman memberi petunjuk,"

Kata Kun-gi.

Dengan tersenyum Yong King-tiong lantas maju beberapa langkah, ia mengelus dinding lalu menekannya beberapa kali, setelah itu tangan kanan melindungi dada, cepat dia menyurut mundur pula.

Dinding batu mulai bergetar dan pelan2 terbuka sebuah celah pintu, tapi tak nampak adanya reaksi apa2.

Sudah tentu di balik pintu adalah lorong panjang pula, lebarnya juga hanya tiga kaki, keadaan di sinipun gelap gulita, lima jari sendiripun tidak kelihatan, keadaan hening lelap, tak terdengar suara apapun.

Sementara itu Yong King-tiong telah merogoh keluar dua bumbung besi bundar dari tubuh Tang Kim-seng dan beberapa puluh batang Gin ling-sian, katanya dengan tertawa .

"Ling-kongcu, coba kau mundur beberapa langkah. biar Losiu mencobanya."

Kun-gi lantas mundur dua langkah.

Yong-King-tiong lantas maju pula, ia pegang sebatang Gin ling-sian terus menimpuknya ke dalam.

Tampak sinar perak berkelebat memecah kegelapan disusul suara ledakan dari permukaan tanah seketika timbul kobaran api perak yang menyala cukup besar.

Dalam lorong sempit yang gelap itu.

tiba2 timbul cahaya yang terang benderang dapat mengawasi dengan seksama, panjang lorong itu kira2 ada delapan tombak lalu membelok ke kiri, bagaimana keadaan di balik pengkolan sudah tentu sukar diketahui, tapi jalan lorong ini kelihatan lurus datar, tiada sesuatu yang mencurigakan.

Setelab ditunggu sekian lamanya tetap tiada reaksi apa2, diam2 Yong King-bong berpikir.

"Kalau tidak ada perangkap dalam lorong ini, kenapa Tang Kim seng tak berani masuk?"

"MarilahpamanYong,kitamasuk memeriksanya,"ajakKun-gi.. Yang King-tiong cukup tabah, cermat dan hati2, katanya menggeleng.

"Losiu kira Tang Kim-seng pasti tahu cara membuka alat rahasia di sini, tapi dia lebih rela melawan kita secara mati2an dari pada masuk ke sana, kukira pasti ada sesuatu yang menjadi sebabnya."

"'Kalau tidak masuk sarangnya, mana dapat penangkap anak harimau?"

Demikian kata Kun-gi.

"Yang penting kita harus lebih hati2, paman boleh tunggu saja di sini, biar Wanpwe coba masuk ke sana."

"Kalau harus masuk marilah bersama supaya bisa saling membantu,"

Ujar Yong King-tiong.

"Jangan, biar Wanpwe masuk sendiri, bila benar ada perangkap, segera Wanpwe akan mundur, kalau banyak orang yang masuk, padahal lorong sesempit itu, kalau mengalami kesulitan tentu sukar bergerak, bukankah semuanya akan terperangkap malah?"

Yong King-tiong mengangguk, katanya.

"Jika demikian keinginan Ling-kongcu, Losiu tidak akan memaksa, cuma jangan kau masuk terlalu jauh, bila menghadapi bahaya harus lekas mundur, nanti kita rundingkan pula cara mengatasinya."

"Wanpwe mengerti."

Ujar Kun-gi.

Sambil menenteng pedang dan tangan lain memegang Leliong-cu Kun-gi melangkah masuk ke dalam lorong.

Dengan mendelong Yong King-tiong hanya bisa mengawasi punggung Ling Kun-gi.

Lorong inipun amat gelap tapi ada cahaya mutiara di tangan Ling Kun-gi, maka dia dapat maju pelan2, setiap langkahnya amat hati2 dan diperhitungkan, keadaan terasa tenang dan aman, Yong Kingtiong yang berada di luar pintu semakin terbelalak bingung, kalau betul lorong itu tiada perangkap kenapa Tang Kim-seng tidak berani masukke sana?Memangnyadiatidaktahucara membukapintu ini?

Dalam pada itu Kun-gi sudah berjalan setombak lebih dan hampir mencapai dua tombak jauhnya, keadaan tetap tenang dan aman, tapi dikala langkahnya tepat mencapai jarak dua tombah dari pintu, tanpa bersuara pintu lorong mendadak bergerak menutup.

Berdiri di depan pintu perhatian Yong King-tiong tertuju kepada Ling Kun-gi, tak pernah terpikir bahwa daun pintu akan menutup secara mendadak, waktu dia sadar dengan kaget, namun tak keburu lagi berbuat sesuatu apa, dalam hati dia mengeluh.

"Celaka!"

Cepat dia ulur tangan ke tombol untuk membuka pintu lagi.

Waktu pertama kali dia menekan tomboi ini pintu segera terbuka, tapi sekarang meski dia ketuk2 sekerasnya tombol itu, daun pintu tetap tertutup rapat.

Sudab empat puluh tahun Yong King-tiong hidup di lorong2 gua dalam perut gunung ini, sedikit banyak dia sudah cukup apal akan segala peralatan rahasia yang terpasang di sini, biasanya iapun suka memperhatikan, dan mempelajarinya dengan iseng, maka boleh dikatakan sekarang cukup ahli, juga tentang peralatan rahasia di sini.

Malah dari hasil penelitiannya itu dia sendiri telah menciptakan ruang rahasia di kamar pribadinya dengan daun pintu yang amat berat itu.

Beruntun dengan menggunakan beberapa cara ia berusaha membuka daun pintu, tapi tetap gagal, baru sekarang dia sadar bahwa peralatan rahasia di sini agaknya berbeda daripada peralatan di tempat lain, pasti di balik daun pintu ini dipasang peralatan istimewa untuk mengendalikan daun pintu ini.

Apa yang dinamakan peralatan khusus tentunya jauh lebih berbahaya.

Kini Ling Kun-gi terperangkap di dalam, tak heran Tang Kim-seng lebih suka tinggal di luar sini daripada masuk ke sana.

Semakin dipikir semakin gelisah, tanpa terasa keringat membasahi badan Yong King-tiong.

Tiba2 dia mundur dua langkah, obor dia serahkan kepada Siau-tho, pelan2 dia menarik napas.

dua tangan terangkat di depan dada Jubah hijau yang longgar tiba2 melembung, bola matanya mendelik, tiba2 dia menghembuskan napas keras2 dari mulut, berbareng tenaga terkerahkan pada kedua tangannya terus menggempur ke daun pintu batu.

"Blang"

Pukulan menimbulkan getaran yang keras, lorong sempit itu seketika diliputi hawa yang bergolak.

Begitu keras pukulan dan akibatyangtimbulsehinggaYong King-tiongsendiri tertolak mundur selangkah.

Obor padam seketika sehingga lorong menjadi gelap gulita.

Tanpa diminta lekas Siau-tho menyulut obor pula.

Yong King-tiong maju memeriksa, pintu yang terkena pukulan dahsyatnya masih utuh tak kurang suatu apapun.

Sudah tentu dia tidak tinggal diam, beruntun dia memukul lagi lebih keras, tapi hasilnya nihil, daun pintu tidak bergeming sedikitpun malah hawa bergolak semakin keras, lorongsempitiniterasaberguncanghebat.

Tiga pukulan Yong King tiong telah dilancarkan dengan seluruh kekuatannya, akhirnya dia menjadi lemas sendirinya, tiga pukulan tadi boleh dikatakan telah memeras seluruh kekuatannya, maka keadaannya sekarang menjadi loyo, wajahaya kelihatan letih.

Siau-tho maju sambil angkat obor, katanya lirih.

"Yong-congkoan, istirahatlah sebentar."

Yong King-tiong menghela napas, katanya.

"Lohu sudah menduga pasti di sini ada perangkap yang luar biasa. Ai, kalau Lingkongcu sampai mengalami musibah, bagaimana Lohu harus memberitanggung jawabkepada Thi-hujin?"

Siau-tho menggigit bibir, katanya setelah ber-pikir.

"Menurut pendapat hamba, Ling-kongcu memiliki kepandaian tinggi, membawa senjata pusaka lagi, orang baik tentu dikaruniai umur panjang, semoga Thian selalu memberkatinya."

"Ya, semoga seperti apa yang kau doakan,"

Yong King-tiong menghela napas pula.

-oo0dw0oo Sekarang marilah, kita ikuti pengalaman Ling Kun gi di dalam lorong, cahaya mutiara di tangannya dapat mencapai sejauh tiga tombak, tapi dalam jarak sepuluh tombak, bila ada musuh sembunyi pasti dapat diketahui juga oleh ketajaman telinganya, setelah menyusuri hampir dua tombak dia yakin kalau dalam lorong ini tiada orang bersembunyi, maka hatinya semakin tabah, karena dia tahu setiap peralatan rahasia menjelang alat itu bergerak pasti akan menimbulkan suara, meski itu hanya suara gesekan lirih sekali pasti tidak akan lepas dari pengamatan mata kupingnya, sedikit peringatan ini sudah cukup baginya untuk secepatnya bersiap menjaga kemungkinan, tapi sejauh hampir dua tombak ini, keadaan tetap tenang dan aman, Kun-gi menjadi geli akan ketegangan sendiri.

Lorong gua di perut gunung dengan segala peralatannya ini adalah hasil ciptaan Sinswi-cu, pada setiap petak lorong pasti di pasang sebuah pintu, maksudnya supaya orang luar tidak leluasa keluar masuk menerjang ke dalam Hek-liong-hwe, pada daun pintu di sini masing2 juga menggunakan cara yang berbeda untuk membukanya.

Sejak masuk dari Ui-liong-tong sampai di sini, entah berapa lorong dan betapa jauh yang telah di tempuh Ling Kun-gi, berapa pintu pula yang berhasil dia dobrak, kecuali sering disergap oleh mu-suh, kapan dia pernah menghadapi alat perangkap yang berbahaya?

Karena yakin di depan tiada musuh bersembunyi dan percaya tiada perangkap apa2 di sini, maka Kun-gi mempercepat langkahnya, tapi waktu dia mencapai dua tombak dari dalam pintu, mendadak didengarnya daun pintu di belakang tertutup, seketika Kun-gi tersentak kaget.

Maklumlah bagi seorang persilatan yang berkepandaian tinggi, bila bertindak soal pertama yang dia pikirkan adalah jalan mundur.

Bila dia baru mencapai satu tombak lantas tahu daun pintu akan menutup, mungkin dengan kecepatan gerakannya dia masih sempat melompat keluar, tapi kini dia sudah dua tombak jauhnya, umpama segera tahu juga ti-dak mungkin mundur lagi.

Kejadian bagai percikan api belaka, baru saja Kun-gi mencelos kaget, kupingnya lantas mendengar suara keretekan dari balik dinding di kanan kirinya.

Kejadian teramat cepat, belum lagi suara keretekan itu lenyap mendadak dilihatnya sinar dingin berkelebat, dari dinding sebelah kiri mendadak menusuk keluar pedang yang tak terhitung jumlahnya, dinding batu di sini tinggi tiga tombak panjang delapan tombak itu hampir semuanya merupakan dinding pedang, jumlah pedang yang menusuk keluar dari dinding sedikitnya ada tiga ratusan batang.

Padahal lebar lorong hanya tiga kaki, sedang panjang pedang juga hampir tiga kaki.

Syukur Ling Kun-gi sudah berlaku hati2 dan waspada, begitu mendengar suara dari balik dinding, betapa cekatan dia bergerak, belum lagi pedang menusuk badannya, Seng-ka-kiam di tangan kanannya sudah bekerja, terdengar suara benturan keras disusul suara gemerantang, pedang panjang yang menusuk keluar, seluas lima kaki di sekitarnya kena ditabas kutung berhamburan.

Tapi kejap lain, dari dinding sebelah kanan, kembali muncul sinar dingin, entah berapa banyak pedang menusuk keluar pula.

Tanpa pikir kembali Kun-gi kerjakan Seng-ka-kiam, di mana pedangnya terobat-abit kemba-li suara gemerentang memekak telinga, seluas lima kaki di sekitarnya pedang yang sedang menusuk daridinding kembali disapunyakutung.

Kini Kun-gi aman di lingkaran seluas lima kaki itu.

Hanya di tempat inilah yang paling aman sepanjang lorong ini, meski kutungan pedang yang menempel dinding masih mulur, tapi sudah takbisa melukainyalagi.

Kini Kun-gi bisa memperhatikan dengan seksama, pedang yang menusuk keluar dari kanan-kiri ternyata bergiliran, itu berarti siapapunyang masuk lorong inipasti akanbinasa.

Soalnya bila merasa diserang oleh pedang yang menusuk keluar dari dinding kiri, dengan sendirinya akan berkelit dan mepet dinding kanan, lorong lebar tiga kaki, panjang pedang ada dua kaki tujuh dim, di samping berkelit kaupun harus mengempiskan dada dan perut, tapi pada saat itu pula, dari dinding kanan di belakang punggung juga, menusuk keluar pedang yang tak terhitung banyaknya.

Secara bergiliran maju mundur begini, mustahil kalau sekujur badanmu tidak tertusuk.

Setelah melihat keadaan ini baru Ling Kun-gi paham kenapa sekujur badan Yap Kay-sian sampai terluka sebanyak delapan belas jalur pedang.

Tapi nyatanya dengan luka2 sebanyak itu dia berhasil menerjang keluar dari lorong ini, sungguh sukarnya tak dapat dibayangkan, sebab selain harus memiliki kepandaian tinggi, juga kecerdikan tidak kurang pentingnya, di samping itu harus memiliki Ginkang yang luar biasa pula.

Mengingat Yap Kay-sian, dengan sendirinya dia teringat kepada Bok-tan dan rombongannya, entah berapa orang sudah menjadi korban oleh barisan pedang ini.

Serasa denyut jantungnya bertambah kencang, perasaan seperti tertekan.

Hal ini malah menambah tekadnya untuk menerjang masuk lebih lanjut..

Pedang disinipun harusdilenyapkanseluruhnyalebihdulu.

Seng-ka-kiam segera dia pindah ke tangan kiri, tangan kanan mengeluarkan Ih-thiankiam, dengan kedua tangan sekaligus memainkan kedua pedang pusaka segera dia menerjang masuk lebih dalam.

Tampak dua larik cahaya terang menari turun naik, di mana sinar pedang menyamber, pedang2 selebar itu seketika sama rontok berhamburan.

Ling Kun-gi terus menerjang maju, tiba di belokan lorong, dilihatnya di atas tanah menggeletak sesosok mayat yang berlepotan darah.

Di bawah pancaran cahaya mutiara tampak jelas bahwa orang yang menggeletak ini adalah Coh-houhoat Kiu-ci-boankoan Leng Tio-cong adanya.

Punggungnya terluka sembilan tusukan pedang, dadanya juga tergores beberapa jalur, tapi tusukan dipunggung itu lebih parah sehingga menamatkan jiwanya.

Sebetulnya ilmu silat orang ini lebih tinggi, tapi selama hidup dia tidak pernah pakai senjata, maka kali ini menjadikorbansecarapercuma.

Mungkin dikala mengalami serangan pedang dari dinding kiri, dengan tangan kosong terang tak berani melawan senjata tajam.

Jalan satu2nya ialah berkelit dan mepet ke dinding kanan, tak terduga pedang lantas menusuk keluar juga dari dinding ka-nan sehingga luka dipunggungnya tampak lebih telak daripada luka2 di dadanya.

Diam2 Kun-gi menghela napas, dalam hati dia berdoa .

"Lengheng, istirahatlah dengan tenang!"

Kun-gi menerjang maju lebih lanjut, lorong di situ agak serong dan membelok, kira2 delapan tombak lagi baru sampai di ujung lorong, kembali dia dihadang sebuah dinding.

Waktu dia berpaling, kutungan pedang berserakan memenuhi lorong, syukur dia selalu membekal kedua batang pedang pusaka ini, kalau tidak jangan harap dia bisa menembus hutan pedang di sini.

Dikala dia berpikir itulah, suara keresekan di balik dindingpun berhenti.

Sisa kutungan pedang yang masih menempel dinding dan masih bergerak maju mundur itupun kini sudah hilang ke dalam dinding dan tak berbekas lagi.

Keadaan kembali tenang seperti sediakala.

Pada saat itulah mendadak didengarnya seruan Yong King-tiong.

"Ling-kongcu ....."

Suaranya keras dilandasi kekuatan dalam yang hebat, gema suaranya mendengung di dalam lorong, nadanya kedengaran gugup dan kuattir.

"Aaaahhh!"

Sebuah teriakan girang tiba2 berkumandang dari pengkolan sana.

Bayangan Yong King-tiong yang tinggi segera muncul, sebat sekali dia sudah melejit tiba di samping Kun-gi, katanyapenuhperhatian."Ling-kongcu, kautidakapa2."

Terharu juga Kun-gi atas perhatian orang, lekas dia memapak maju, katanya.

"Yong-lopek, beruntung Wanpwe membekal kedua pedangini, perangkappedangdisini kuhancurkanseluruhnya."

Dengan seksama Yong King-tiong awasi badan Ling Kun-gi, memang seujung rambutpun tidak kurang suatu apa, maka dengan mengelus jenggot dia berkata tersenyum.

"Untung yang masuk kemari adalah Ling-kongcu, kalau Losiu, tentu sejak tadi sudah menggeletak tak bernyawa"

La-lu dia bertanya.

"Jenazah di pengkolan itu apakah juga orang Pek-hoa-pang?"

"Dia itujah Kiu-ci-boankoan LengTio-cong, Coh-houhoat Pek-hoapang, orang ini dari Eng-jiau-bun, kepandaian yang diyakinkan mengutamakan kekerasan jari tangan, selamanya dia tidak pernah pakaialatsenjata, makadi sinidia mengalami nasibnyayangsial."

"Betul, hutanpedang di sinibegini lebat, alatperangkapbergerak cara hidup, bagi orang yang tidak bersenjata sudah tentu akan menderita rugi besar,"

Demikian ujar Yong King-tiong. Tengah bicara, tampak Siau-tho dan seorang jago pedang baju hitam sudah menyusul tiba.

"Yong-lopek, di sini ada pintu rahasia lagi, tolong paman membukanya,"

Pinta Kun-gi. Cepat sekali Yong King-tiong berhasil mem-buka pintu di dinding, Kembali mereka memasuki sebuah lorong pula. Dengan memegang mutiara dan menenteng pedang Kun-gi jalan ke depan, katanya.

"Yong-lopek, biar Wanpwe memeriksanya dulu."

"Biarlah kita masuk bersama,"

Ucap Yong King-tiong.

"selanjutnya takkan ada hutan pedang atau perangkap lain lagi, karena pintu2 di sini rada2 sukar dibuka dari luar, orang yang di dalam bila mendekati segera pintu terbuka sendiri, dari sini dapatlah diduga bahwa orang2 Pek-hoa-pang pasti terkurung di sini."

"Baiklah, biar Wanpwe membuka jalan,"

Lalu Kun-gi beranjak lebih dulu.

Sambil menenteng pedang Yong King-tiong ikut masuk, di belakangnya adalah Siau-tho dan jago pedang baju hitam yang terakhir.

Ternyata keadaan lorong ini tenang dan aman, kali ini Kungi lebih hati2.

Setelah empat tombak jauhnya tetap tiada kejadian apa2, maka dia percepat langkahnya.

Panjang jalan ini entah berapa li, kira2 semasakan air telah mereka tempuh, tapi bayangan orang Pek-hoa-pang tetap tidak kelihatan, padahal lorong ini sudah berakhir dan diadang sebuah kamar batu, sebuah kamar yang luas dan lebar berbentuk segi enam, di tengah kamar tertaruh sebuah meja bundar warna hijau dikelilingi enamkursi batu, kecuali ini tiada benda lainnya.

Keadaan di sinipun gelap gulita sehingga sukar diketahui keadaan sekelilingnya.

Yong King-tiong berhenti di luar pintu.

tanpa terasa ia bersuara heran.

Kun-gi berpaling, tanyanya.

"Paman Yong, adakah kau melihat gejala yang tidakberes disini?"

"Tiga puluh tahun Losiu menjabat Congkoan Hek-liong-hwe tak pernah kuketahui adanya tempat ini."

"Paman Yong, bukankah Han Jantotadibilang merekatelahubah lorong gua serta membangunnya lebih rumit, kalau orang2 Pek-hoapang, bergerak menurut peta lama itu berarti masuk perangkap sendiri, mungkin di sinilah tempat yang di maksud itu"

"Losiu hanya tahu bahwa di belakang Ceng-liong-tong ditambah bangunan rahasia, tempat untuk menyekap orang, tapi tak tahu kalau di sini ada tempat seluas ini, dinding segi enam ini entah mengapatidakberpintu, lalu ke manakitaharuspergi?"

Kamar yang luas ini terasa sunyi senyap, tapi di dalam sana lapat2 terasa adanya hawa yang mencekam, dia mengerut kening, katanya pula kepada Kun-gi.

"Ling-kongcu tunggu saja di sini, jangan sembarang bergerak, Losiu akan memeriksa ke dalam."

Segera dia kerahkan tenaga dalam, dengan hati2 dia melangkah masuk pelan2.

Kamar ini memang kosong melompong, kecuali meja kursi tiada benda lain, tapi Yong King-tiong bertindak amat hati2, dengan cermat dia periksa meja kursi, lalu berjalan mengelilingi dinding sepanjang ruangan.

Terutamapadasetiap sudutsegi enamitudiaberdiricukup lama, matanyapun menatap ke dalam dengan tajam serta mendengarkan dengan seksama tapi agaknya tetap tidak memperoleh sesuatu yang diharapkan.

Setelah berdiri menunggu sekian lama, Ling Kun-gi jadi hilang sabar, baru saja ia hendak menyusul maju mendadak didengarnya gema suara benturan senjata tajam yang sayup2.

Betapa tajam pendengaran Ling Kun-gi, tiba2 sorot matanya berpaling ke arah sudut ketiga di sebelah kanan, Lwekang Yong King-tiong juga cukup tinggi, iapun mendengar gema suara benturan senjata dari arah yang sama, yaitu dari sudut ketiga, maka iapun membalik ke arah sini.

Di antara anggota rombongan yang dipimpin Bok-tan, Coh-houhoat Leng Tio-cong dan Yap Kay-sian sudah mati, sementara Liang ih-jun luka parah, yang ketinggalan adalah Bok-tan, Giok-lan, Bikui ( Un Hoankun) dan Ci-hwi serta Binggwat Suthay dari Ciok-sin bio yang belum kelihatan muncul.

Suara benturan senjata itu kemungkinan adalah perjuangan para nona yang kesamplok musuh tangguh dan tengah bertempur sengit, keruan Lingkun-gi jadi kuatir.

Maka tanpa ayal segera dia melayang ke dalam kamar serta berkata lirih.

"Yong-lopek harap tunggu di sini, biar Wanpwe masuk menengok ke dalam, mungkin orang Pekhoa-pang sedang melabrak musuh tangguh di dalam sana"

Tanpa menunggu reaksi Yong King-tiong langsung dia berkelebat masuk ke sudut ketiga.

Melihat betapa rasa kuatir Ling Kun-gi, Yong King-tiong jadi tak enak merintangi, bahwasanya memang dia tak sempat mencegahnya karena gerakan Kun-gi terlampau cepat, terpaksa dia berpesan dari belakang.

"Ling-kongcu harus hati2, Losiu rasa keenamsudutpintudisini pastitidak beres."

Kun-gi sudah melayang beberapa tombak jauhnya, sahutnya sambil berpaling.

"Wanpwe mengerti."

Lorong di belakang sudut pintu ketiga ini juga selebar tiga kaki, dengan membawa Leliong-cu, mata dan kuping dipasang tajam2, Kun-gi maju terus ke arah datangnya suara.

Langkahnya cepat sekali, sebentar saja dia sudah mencapai puluhan tombak, di depan mendadak muncul sebuah lorong sempit yang melintang.

Di tempat persimpangan ini sulit membedakan arah datangnya suara benturan senjata, sebetulnya gema suara itu lebih jelas, kadang2 keras tiba2 lirih dan lenyap, dapatlah dibedakan bahwa dua orang yang lagi berhantam itu tidak setanding, atau mungkin seorang melarikan diri dan yang lain mengejar, kini jarak mereka sudah semakin dekat kearah dirinya.

Setiba dipersimpangan jalan terpaksa Kun-gi harus berhenti dan menunggu, dengan penuh perhatian dia bedakan arah datangnya suara, tak nyana waktu dia berhenti dan mendengarkan, itulah suara benturan itu mendadak lenyap.

Sesaat kemudian baru berkumandang lagi, kini jelas datang dari arah sebelah kiri, cuma suaranya kedengaran amat jauh.

Kun-gi tidak ayal lagi, lekas dia membelok ke kiri terus menyusul ke sana dengan kencang.

Tak terduga baru empat tombak dia berlari, mendadak di kejauhan sana didengarnya suara hardikan nyaring.

Suara hardikan nyaring ini serasa sudah amat dikenalnya, cuma sukar dibedakan suara siapa?

Keruan dia melenggong, kembali dia menahan lang-kah dan pasang kuping mendengarkan pula.

Tapi suara hardikan itu hanya sekali saja, lalu tak terdengar lagi.

Dari kecermatan cara Kun-gi membedakan suara, dia yakin kalau suara, hardikan itu datang dari belakangnya malah, jadi berlawanan dengan suara benturan senjata tadi.

Sedikit merandek ini suara benturan senjata tadipun sudah lenyap, malah dia memperhitungkan suara hardikan, itu tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.

Otaknya bekerja seeepat kilat, segera dia putar balik terus menerjang ke persimpangan jalan, kali ini membelok ke arah kanan.

Kali ini hanya berlari kira2 enam tombak lantas dilihatnya sesosok bayangan langsing berkelebat keluar dari tikungan sebelah depan danberlari mendatangi.

Jadikedua orangberlari salingpapak.

Tangkas sekali gerak-kberik bayangan langsing itu, begitu ada orang datang dari arah depan, tanpa tanya siapa dia dan tak peduli apa akibatnya, sekali menghardik kontan dia ayun tangan serta menepuk ke depan.

Tepukan telapak tangan ini ternyata dibarengi dengan taburan gumpalan asap putih yang menerjang ke muka orang.

Syukur Kun-gi sudah menahan langkah dan berdiri menunggu, teriaknya.

"Adik Hoan, inilah aku!"

Gumpalan putih itu bertaburan di muka Ling Kun-gi dan "plak", tepukan tangan orang telak mengenai pundaknya.

Sekilas bayangan langsing itu tampak tertegun, habis itu mendadak berjingkrak dan menjerit girang, teriaknya.

"Toako, kau ...."

Sambil berteriak segera ia menubruk maju dan menjatuhkan diri dalam pelukan Kun gi, dengan kencang ia merangkul Kun-gi, kepalanya menempel di pinggir kupingnya, bisiknya lirih penuh rasa haru dan riang serta lega.

"Toako, hampir saja aku tak bisa ketemu lagi dengan kau."

Ternyata dia bukan lain adalah Un Hoan kun yang menyamar Jadi Bikui.

Tampak oleh Kun-gi pakaian Un Hoankun robek dua tempat, keduanya tergores pedang hingga kulit badannya terluka, rambut awut2an, keadaannya kelihatan amat letih dan kehabisan tenaga, timbul rasa iba dan sayangnya, katanya sambil mengelus rambut orang.

"Adik Hoan, kau terluka?"

"Untunglah hanya lecet kulit saja,"

Sahut Hoankun.

"Eh, Toako, kapan kau masuk kemari? Kenapa hanya kau saja?"

"Panjang ceritanya, aku mencari kalian, kalau tidak mendengar suara hardikanmu, mungkin belumbisa kutemukan kau?"

Kepala Un Hoakun bersandar dipundak Ling Kun-gi, katanya.

"Lorong2 sempit di sini simpang siur, seperti berada di sarang labah2 yang menyesatkan, sukar menemukan jalan keluarnya, lama kelamaan rombongan kami lantas terpencar satu persatu, apalagi musuh selalu menyergap dan membokong, kepandaian silat dan ilmu pedang merekapun teramat tinggi, kalau aku tidak membekal obat bius, mungkin aku sudah terluka parah."

Setelah merandek dan menghela napas, dia menambahkan pula dengan tertawa.

"Tadi dengan obrt biusku juga sudah kubunuh dua orang,"

"Sejak kapan kalian terpencar?"

Tanya Kun-gi.

"Entah sejak kapan, yang terang sudah cukup lama, semula Ci-hwi masih berada di sampingku, kemudian terdengar suara benturan senjata lawan segera aku memburu ke sana, tak tahunya setiba di tikungan musuh lantas menyergap, setelah aku berhasil membereskan orang itu, bayangan Ci-hwipun telah lenyap."

"Jadikau hanyaselalu, beradadi lorong sempit ini."

Suara Un Hoankun seperti minta belas kasihan.

"Ya, obor yang kubawa sudah terbakar ha-bis, seorang diri aku jadi menggeremet di tempat gelap, semakin gugup semakin bingung dan semakin sulit menemukan jalan keluarnya ...."

Kun-gi tertawa, katanya.

"Kau sudah tahu takut sekarang?"

Mengencang pelukan Un Hoankun, katanya sambil membenamkan kepalanya ke dada Ling Kun-gi.

"Memangnya kau saja yang tidak takut?"

Terasa oleh Kun-gi waktu orang bicara bau badan si nona nan harum membuat hatinya rada terguncang, terutama badan orang yang padat berisi menempel kencang di dadanya, jantung mereka yang berdetak seakan saling bertautan menjadi satu, seketika badan terasa hangat.

Pelan2 dia angkat muka si nona, katanya lembut.

"Sekarang kau tak usah takut."

Empat mata beradu pandang, tampak bulu mata Un Hoankun yang panjang melengkung, bola matanya nan bening dan jeli, bibirnya merah seperti delima merekah.

Muka mereka memangnya amat dekat, kini semakin mendekat ...

Badan Un Hoankun seperti mengejang, mulutnyapun mengeluh lirih.

Sayang pada detik2 romantis itu dari tempat yang gelap sana mendadak kelarik sinar pedang berkelebat, cahaya dingin laksana kilat menusuk ke arah mereka.

Gerak orang ini sangat cepat, kedatangannya tidak menimbulkan suara, tahu2 serangan pedangnya sudah menyambar tiba dengan perbawa yang mengejutkan.

Kun-gi terkejut sadar, lekas, dia miring kekanan sambil menarik badan Un Hoankun, tiga jari tangan kiri dengan cepat menjepit ujung pedang lawan, berbareng kaki kanan melayang ke dada orang.

Karena tangan menjepit ujung pedang lawan, telapak tangannya ikut membalik, cahaya mutiara yang semula teraling kini mendadak terpancar dan menjadikan lorong sempit itu terang.

Tampak orang yang menyergap secara licik ini adalah laki2 berbaju hijau, usianya empat puluhan, dari serangan pedangnya yang lihay serta kedatangannya yang tidak membawa suara, terang dia jago kosen dari Ceng-liong-tong yang berkepandaian tinggi.

Sebetulnya si baju hijau ini tadi hanya melihat segumpal bayangan orang di lorong sempit ini, maka diam2 dia menggeremet maju terus menusukkan pedangnya, sungguh tak nyana bahwa yang diserangnya ini adalah sepasang muda-mudi yang sedang memadu cinta di tempat gelap ini.

Terutama pemuda jubah longgar ini hanya sekali angkat tangan dan ujung pedang lantas terjepit, keruan ia kaget, lekas dia miring badan sambil mundur setengah tindak, berbareng tangan kiri menepuk tendangan kaki Kun-gi, sedang tangan kanan menggentak keras, pergelangan tangan berputar dan pedangpun ditarik.

Dengan gentakan yang dilandasi kekuatan hebat ini, ujung pedangnya bisa menciptakan lingkaran, bagi seorang yang Lwekangnya rendah, jari2 nya yang menjepit ujung pedang pasti bisa tertabas kutung.

Tapi Ling Kun-gi juga mengerahkan tenaga saktinya pada ketiga jarinya yang menjepit ujung pedang lawan.

Maka terdengar "pletak", ujung pedang tiba2 patah.

Kejadian cepat sekali, orang itu tergentak mundur dua tindak baru berdiri tegak, sekilas kelihatan tertegun, katanya dengan tertawamarah."Anakbagus, kiranyakauanakmuridSiau-lim."

"Kau salah satu dari tiga puluh enam panglima Haek-liong-hwe?"

Tanya Kun-gi. Orang itu melenggong, jawabnya kemudian. 'Darimana kau dapat tahu?"

"Tiga puluh enam panglima adalah orang kepercayaan Lohwecu, seharusnya mereka patriot bangsa dan tuan ......' Tajam tatapan mata si baju hijau, tanyanya.

"Siapa kau?"

"Kau tidakperlu tahu siapa diriku."

Mendadak beringas sorot mata si baju hijau, bentaknya bengis.

"Kau bocah ini, terlalu banyak yang kau ketahui."

Sret, pedangnya kembali menusuk ke arah Ling Kun-gi. Dengan enteng Kun-gi mengegos kesamping dan balas membentak.

"Bukan saja banyak yang Cayhe ketahui, hari ini malah aku akan mencuci bersih nama baik Hek-liong-hwe di bawah pimpinan Lo-hwecu dulu, sebagai salah seorang tiga puluh enam panglima dulu, kini kau rela menjadi antek musuh, maka kematian adalah bagianmu."

"Toako,"

Seru Un Hoankun di belakang,"orang ini harus kita tawan hidup2."

Karena tusukannya luput orang itu jadi melengak, mendengar ancaman Kun-gi lagi, seketika dia naik pitam, dengusnya.

"Anak muda sombong benar kau!"

Sret, sret, kembali pedangnya bergetar menusuk dua kali.

Di mana tangan Kun-gi terangkat tahu2 pedang pandak sudah digenggamnya, tapi dia tidak lantas balas menyerang, kaki tidak bergeming, hanya badan bagian atas bergontai mengikuti gerak tusukan lawan, dua kali tusukan si baju hijau kembali mengenai tempatkosong.

Gerakan bergontaiyanggemulai iniadalah hasildari Hwi-liong-kiu-sekyangtelahdiacangkok dalampraktek.

Dengan gerakan sederhana, tiga kali tusukan lawan yang cukup deras ini berhasil dihindarkan, keruan hati Kun-gi bertambah senang, tangan kanan tiba2 terayun, maka terdengarlah suara "trang"

Pedang panjang lawan yang sudah patah ujungnya itu kena ditekannya ke bawah.

Pada saat itulah, tiba2 terlihat sebuah lengan putih halus terjulur keluar dari samping Kun-gi, begitu kelima jarinya terpentang, segumpalasapberbubukseketikamenyampuk mukaorangitu.

Melihat Un Hoankun menjentikan bubuk kabut pembius, si baju hijau tahu gelagat tidak menguntungkan, tapi pedang sendiri tertindih oleh pedang Ling Kun-gi, jangankan mau mundur, kesempatan menarik pedangpun tak sempat lagi, tahu2 hidungnya mengendus bau harum yang aneh, seketika pandangan menjadi gelap.

"Bluk", seketika roboh tersungkur. Un Hoankun berjingkrak kegirangan.

"Syukurlah, akhirnya dapat kita bekuk seorang musuh hi-dup2."

Demikian teriaknya sambil berkeplok.

"Untukapa kau menawannyahidup2?"tanyaKun-gi. Un Hoankun berseri tawa, katanya.

"Lorong sempit ini bercabang sertamembingungkan, kalauadapetunjukjalankanlumayan?"

Mendadak Kun-gi teringat akan perkataan Yong King-tiong.

"Losiu hanya tahu bahwa di belakang Ceng-liong-tong telah ditambah bangunan rahasia.. Di sanalah para tawanan disekap, tapi tak pernah kuduga bahwa di sini ada tempat, seperti ini."

Memangnya Tong Bunkhing, Pui Ji-ping berdua disekap di mana?

Orang2 Pek-hoa-pangpun terpencar entah ke mana saja di lorong sempit yang membingungkan ini,' baru sekarang dia sadar perlunya seorang penunjuk jalan di tempat yang menyesatkan ini.

Maka dengan mengangguk dia berkata.

"Untung kau berpikir cermat, memang kita perlu bantuannya."

"Semula aku amat benci mereka, maka tiada seorangpun yang kuampuni, setelah obor padam, seorang diri aku putar kayun kesasar kian kemari barulah teringat untuk menawan seorang musuh, tapi tiada musuh ,yang muncul lagi, suara bentakan yang kau dengar tadi juga kudengar, maka aku memburu kemari, mungkin dia inilah yang sengaja hendak menjebak orang,"

Lalu dia bertanya lebih prihatin.

"Toako, kedua temanmu apakah sudah kau temukan?"

"Belum,"

Sahut Kun-gi sambil menggeleng.

"Nah, kan kebetulan? Orang ini besar sekali manfaatnya bagi kami."

"Mungkin dia tidak sudi kita paralat. Hayolah adik Hoan, kita gusur dia dulu, biar paman Yong membujuk dia, mungkin dia tidak sukarelamenjadiantek musuh."

"Siapakah paman Yong?"

Tanya Un Hoankun.

"Dia adalah teman ayahku almarhum, Cong-koan Hek-liong-hwe yang sekarang, dia berada di luar, tadi kudengar suara benturan senjata, maka aku menerjang masuk kemari."

"Luar? Tempat apa di luar sana?"

"Luar yang kumaksud sudah tentu masih berada di perut gunung Kunlunsan, yang kumaksud adalah bagian luar lorong2 sempit di sini,"

Lalu Ling Kun-gi menambahkan.

"Panjang sekali kejadiannya kalau diceritakan, marilah ke luar dulu saja,"

Dengan mengangkat Leliong-cu dia putar badan terus berjalan balik ke arah datangnya tadi.

Dengan cepat mereka tiba di pintu batu dan kembali ke kamar segi enam.

Yong King-tiong sudah menunggu dengan tidak sabar, untunglah akhirnya dilihatnya, Kun-gi muncul dengan memanggul seorang, lekas dia memapak maju, katanya.

"Kenapa Kongcu pergi selama ini? Losiu sudah ingin menyusulmu ke dalam."

Belum habis bicaranya dilihatnya pula seorang nona berjalan di belakang Kun-gi, dia mengangguk dan menyapa.

"Apakah nona ini yang bentrok dengan musuh?"

Kun-gi tertawa, sahutnya.

"Bukan, suara benturan senjata itu semakin menjauh, Wanpwe tidak menemukannya."

Lalu dia perkenalkan Un Hoankun.

"Hoanmoay, inilah paman Yong."

Kepada Yong King-tiong dia menambahkan.

"Dia bernama Un Hoankun, puterikesayanganUnlocengcu dari Linglam."

Tertunduk kepala Un Hoankun, sapanya.

"Paman Yong!"

Yong King-tiong manggut2, tanyanya heran.

"Bagaimana nona Un bisa masuk kemari?"

"Paman jangan salah mengerti, untuk membantu Wanpwe secara diam2, dia menyamar jadi Bikui dan menyelundup ke dalam Pekhoa-pang."

"O, kiranya begitu,"

Yong King-tiong mengangguk. Sementara itu Kun-gi sudah turunkan tawanannya, tanyanya.

"Paman kenalorang ini?"

"Dia bernama Tu Hong-sing, salah seorang dari tiga puluh enam panglima dulu, sekarang dia salah seorang dari delapan Koan-tai dari Hek-liong-hwe."

"Apa kerja dan tugas seorang Koan-tai?"

Tanya Kun-gi.

"Sesuai namanya, seharusnya Koan-tai memimpin banyak orang, tapi Koan-tai dari Hek-liong-hwe kira2 setingkat dengan Houhoat, jabatan ini tidak terhitung rendah, tapi tidak punya tugas tertentu, semula jabatan ini hanya merupakan simbol dalam kalangan pemerintahan kerajaan, yang terang kedelapan Koan-tai seluruhnya dikerahkan bertugasdiCeng-liong-tong."

"Syukurlah kalau paman Yong kenal dia, biar kubikin dia mendusin, Ling-toako bilang supaya engkau membujuknya, mungkin dia mau insaf dan bertobat, karena tidak secara suka rela menjadi antek musuh,"

Kata Un Hoan-kun. Yong King-tiong berpaling kepada Kun-gi, tanyanya.

"Ling-kongcu ingin Losiu membujukdia?"

Maka Kun-gi menjelaskan keadaan di dalam lorong2 sempit yang simpang siur seperti sarang labah2, padahal orang2 Pek-hoa-pang terkurung di dalam dan tak bisa keluar, di samping dua temannya lagi yang disekap entah dimana.

Kemungkinan Tu Hong-sing bisa bantu membereskan soal2 ini, jika dapat membujuknya, tentu segalaurusandi sinitidakakan mengalami kesulitanlagi.

Sambil mengelus jenggot Yong King-tiong manggut2, katanya.

"Sebagai seorang dari tiga puluh enam panglima sudah tentu Losiu cukup kenal pribadi Tu Hong-sin, orang ini cupet pikiran dan sempit pandangan, tamak harta dan gila pangkat. apalagi sekarang sudah menjadi Koan-tai, jabatan tingkat keenam di istana raja, untuk membujuknya meninggalkan pangkatnya mungkin agak sulit."

Setelah menepekur sebentar akhirnya dia menambahkan.

"Ada satu hal mungkin dapat membuatnya tunduk."

Un Hoan-kun lantas tertawa, katanya.

"Wan-pwe tahu, Wanpwe punya cara supaya dia tunduk dan menyerah."

"Kaupunyaakalapa?"

TanyaKun-giheran.

"Setiap manusia yang gila pangkat dan tamak harta pasti takut mati,"

Ujar Un Hoan-kun. Yong King-tiong mengangguk.

"Ucapan nona memang betul."

Un Hoan-kun tidak banyak bicara lagi, dia mendekati Tu Hong-sing, mendadak dia ulur dua jari tangannya yang lentik putih beruntun menutuk tiga Hiat-to Tu Hong-sing, lalu ia mengeluarkan satubotolkecil, denganujung kukudia mengambil bubukobatterus dijentikan ke hidung Tu Hong-sing.

Sungguh mujarab obat bubuk dalam botol kecil ini, begitu mencium bau obat itu, Tu Hong-sing yang jatuh pingsan seketika berbangkis dua kali lalu membuka mata.

Sebentar bola matanya berputar mengerling kian kemari, akhirnya melihat Yong King-tiong, Ling Kun-gi, Un Hoan-kun, seketika rona mukanya berubah, mendadak dia bangun berduduk.

Begitu duduk baru dia sadar bahwa beberapa Hiat-to di tubuhnya telah tertutuk, kaki tangan hakikatnya tak mampu bergerak.

"Tu-heng, sudah siuman kau?"

Sapa Yong King-tiong.

"Syukurlah Yong-congkoan berada di sini,"

Kata Tu Hong-sing sambil mengawasinya.

"beberapa Hiat-toku tertutuk."-Ternyata betul dia manusia yang takut mati, berhadapan dengan Yong Kingtiong, nada bicaranya seperti minta tolong dan mohon di kasihani. Yong King-tiong berdiri kereng, katanya.

"Apa-kah Tu-heng tahu bahwa Han Jan-to sudah mampus, sementara Cui Kin-in sudah merat setelah keok?"

Tu Hong-sing tampak kaget, katanya.

"Apa betul ucapan Congkoan?"

"Sejak kini aku bukan lagi Congkoan Hek-liong-hwe, maka Tuheng jangan memanggilku Cong-koan, empat puluh tahun aku berkumpul di sini dengan Tu-heng, maka ingin kuberi nasehat, kita kan bangsa Han, sesama anggota Thay-yang-kau dan bersumpah setia di depan cakal-bakal, adalah tidak pantas rela menjadi antek dan cakar alap2 musuh. Berubah hebat air muka Tu Hong-sing, serunya dengan terbeliak kaget.

"Yong-congkoan, kau telah berontak?"

"Betul, dulu bersama Tu-heng kita sama2 mendapat kebaikan dan bimbingan Lohwecu, tapi sejak Hek-liong-hwe jatuh ke tangan musuh, maka kau lantas diperalat untuk menjadi algojo terhadap sesama pahlawan bangsa, kini tiba saatnya kita harus insaf dan bertobat, tidak pantas selalu tersesat dan diperalat, asal kau mau bekerja sama dengan kami, aku bertanggung jawab, pasti tidak akan membikin rugi kau seujung rambut."

Agaknya terjadi perang batin dalam benak Tu Hong-sing, lama sekali dia sukar ambil keputusan, kedua matanya merem melek, menepekur kebingungan.

Un Hoan kun tahu orang agaknya tengah mengerahkan hawa murni, maka dengan tertawa dingin dia mengejek.

"Orang she Tu, ketahuilah, Hiat-to yang kututuk adalah ajaran khas keluarga Un dari Linglam, kalau kau mengerahkan hawa murni ingin menjebolnya, awas kalau tersesat dan malah celaka bagi jiwamu."

Terbeliak Tu Hong-sing, katanya kemudian.

"Apa keinginan kalian?"

"Bergantung bagaimana sikapmu terhadap uluran tangan kami,"

Jengek Un Hoan-kun.

"Cayhe sudah jatuh ke tangan kalian, mati hidupku berada di genggamanmu, memangnya apa lagi yang dapat kulakukan?"

"Hanya ada satu jalan bisa kau tempuh, yaitu tunduk akan kemauanku.Nah, matiatauhidupterserahpadapilihanmusendiri."

Tu Hong-sing melirik ke arah Yong King-tiong, Yong King-tiong pura2 tidak melihatnya, malah melengos ke arah lain.

"Semut saja ingin hidup apalagi manusia, daripada mati, hidup sengsara juga mending..."

Demikian kata Tu Hong-sin.

"Cuma Cayhe ingin tahu soal mati dan hidup tadi, kalau hidup bagaimana? Jika mati bagaimana pula?"

"Soal sederhana. Pertama, seperti yang dikatakan paman Yong tadi, asal kau mau kerja sama dan tidak mengandung maksud jahat serta tidak berusaha melarikan diri lagi, setelah kami keluar dari Kun-lun-san, peduli kau akan berbuat jahat atau bajik, menjadi lawan atau kawan, kami tetap akan melepasmu, soal kedua ...."

Mendadak dia tutup mulut.

"Bagaimana dengan syarat kedua?"

Tanya Tu Hong-sing.

"Jalan kedua ialah kau harus tunjukkan keadaan di sini yang simpang siur, di mana pula kalian mengurung tawanan, kalau kau tidak mau menjelaskan, kami akan mengompesmu dengan kekerasan,menyiksamusampai matibilakautidakmenjelaskan."

Terunjuk rasa ngeri pada rona muka Tu Hong-sing, kepala tertunduk, mulutnya bergumam sendiri.

"Orang, she Tu sudah hidup sekian lamanya, memangnya harus mati di sini tanpa diketahui orang?"

"Memangnya, setelah keluar dari sini, kami pasti melepasmu, dari pada kau mati tersiksa dengan sia2, bukankah sayang?"

Demikian bujuk Un Hoan-kun. Tu Hong-sing angkat kepala mengawasi Un Hoan-kun, katanya.

"Baiklah,"

Coba kau katakan dulu cara bagaimana akan kerja sama itu?"

"Jadi kau sudah terima syaratku? Baik, apa yang dikatakan kerja sama ada dua hal. Pertama, kau menjadi pelopor menunjukkan jalandi sini, cari kembaliorang2 Pek-hoa-pangyangterceraiberai di sini. Kedua, tunjukkan tempat tahanan, kami akan menolong dua sahabat Ling-toako."

"Hanya dua soal ini saja!"

Tu Hong-sing menegas.

"Betul,"

Sahut Un Hoan-kun tegas.

"Baik, Cayhe terima semua syarat itu, bukalah Hiat-toku."

"Paman Yong,"

Tanya Un Hoan-kun kepada Yong King-tiong.

"apakah omongannya dapat dipercaya?"

Sambil mengelus jenggot Yong King-tiong bergelak tertawa, katanya.

"Sukar dikatakan, Losiu dengan Tu-heng dulu memang sesama anggota tiga puluh enam panglima, tapi setelah dia menjadi cakar alap2, sukar dikatakan apakah dia dapat dipercaya atau tidak?"

Mengawasi Yong King-tiong, bukan kepalang marah Tu Hong-sing, pikirnya.

"Yong King-tiong, kenapa tidak kau pikir, dulu kaupun menyerah kepada kerajaan sampai sekarang, aku paling2 menjabat Koan-tai kelas enam, kau orang she Yong justeru menjadi Congkoan dengan pangkat lebih tinggi buka mulut tutup mulut kau maki aku sebagaicakaralap2, memangnyakauinibukancakaralap2?"

Sudah tentu hal ini tak berani dia ucapkan, terpaksa hanya menyengir saja, katanya.

"Yong-loko, puluhan tahun kita bersahabat, masa kau tidak percaya padaku?"

Sebelum Yong King-tiong bersuara Un Hoan-kun mendahului menyambung.

"Yong-lopek yang kenal kau puluhan tahun juga masih sangsi terhadapmu, bagaimana aku berani percaya padamu?"

Sampai di sini mendadak dia merogoh keluar sebutir pil, katanya.

"Beginisaja, kau telanobatini, nanti kubukaHiat-tomu."

Tu Hong-sing menatap tangan si nona sekejap, tanyanya.

"Apakah obat beracun yang ada di tangan nona?"

Un Hoan-kun tertawa lebar, katanya.

"Bukan, keluarga Un dari Linglam selamanya tidak pernah pakai obat racun, pil ini bernama Sip-hun-wan. setelah kau minum, dalam jangka waktu dua belas jam kalau tidak mmemperoleh obat penawarnya, bila obatnya bekerja, orangnya akan menjadi linglung seperti orang gila yang kehilangan ingatan, segala-nya terlupakan, selamanya tak bisa diohati lagi."

"Jahat juga pil ini,"

Kata Tu Hong-sing.

"Jangan kuatir, aku punya obat penawarnya,"

Ujar Un Hoan-kun.

"setelah kau telan Sip-hun-wan ini akan kuberikan sebagian obat penawarnya, kau akan tahan enam jam dalam keadaan segar bugar."

"Setelah enam jam, harus minum obat penawarnya lagi?"

Tanya Tu Hong-sing.

"Betul, enam jam kemudian, akan kuberikan lagi sisa obat penawarnya."

"Jadi maksud nona, setiap enam jam harus minum obat penawarnya?"

"Bukan begitu halnya, setelah enam jam, khasiat obat penawar akan lunak, tergantung dari usaha bantuanmu, bila sebelum enam jam kita bisa keluar dari sini, kontan akan kuberi lagi obat penawarnya padamu."

"Itu berarti sebelum Cayhe mmemperoleh seluruh obat penawarnya harus sekuat tenaga melindungi keselamatan kalian."

Mengawasi Ling Kun-gi, Un Hoan-kun tersenyum manis, katanya.

"Tak perlu kau melindungi aku, bersama dengan Ling-toako, siapapun jangan harap bisa melukai aku." -Dia bicara dengan jujur dan wajar, tapi siapapun bisa merasakan betapa besar cintanya terhadan Ling Kun-gi.. Un Hoan-kun berkata lebih lanjut.

"Baiklah, sudah kujelaskan seluruhnya, sekarang lekas kau telan obat ini."

Mengawasi obat di tangan Un Hoan-kun, se-saat Tu Hong-sing menjadi bimbang.

"Hiat-tomutertutuk, sebetulnyaakutidakperlu membuangwaktu dan banyak bicara dengan kau,"

Kata Hoan-kun, mendadak tangan kirinya terulur jari2nya memencet geraham Tu Hong-sing sehingga mulut orang terbuka, sementara tangan kanan menjejalkan obat ke mulut orang, dia tepuk lagi sekali di belakang leher orang, lalu dengan kedua tangan dia menggablok pula kedua sisi pipinya.

Bahwa dirinya menjadi tawanan, hal ini sudah dianggap suatu penghinaan, hati Tu Hong-sing marah dan penasaran, tapi dia hanya berani marah dihati lahirnya dia seperti pasrah nasib, setelah Un Hoan-kun mengembalikan gerahamnya seperti semula tanpa terasa dia berkata keras.

"Nona mana obat penawarnya?"

"Buat apa ter-gesa2, Sudah kujanji memberi, nanti tentu kuberi,"

Sembari bicara berbareng dia buka Hiat-to di badan orang, lalu mengeluarkan dua butir pil warna merah serta diangsurkan, katanya.

"Inilah ini obat penawarnya."

Tu Hong-sing bergegas bangun, begitu terima obat langsung dia jejalkan ke dalam mulut, tapi sebelah tangannya dengan kecepatan kilat tahu2 menyambar pergelangan tangan Un Hoan-kun, sekuatnya dia tarik mundur pula tiga langkah.

Badan orang dia buat tameng di depannya, bentaknya dengan bengis.

"Siapa di antara kalian berani maju orang she Tu segera bunuh dia lebih dulu,"

Kejadian berlangsung terlalu cepat dan mendadak, Ling Kun-gi dan Yong King-tiong tak sempat bertindak, terpaksa mereka mendelong mengawasi Un Hoan-kun di seret mundur oleh Tu Hong-sing.

"Tu Hong-sing, tidak salah bukan omonganku?"

Jengek Yong King-tiong.

"barang siapa terima menjadi cakar alap2, jangan harap dapat dipercaya lagi."

"Terhadap kalian kaum pemberontak ini, buat apa bicara soal kepercayaan segala?"demikian ejekTu Hong-sing. Un Hoan-kun diam saja dan membiarkan urat nadi pergelangan tangannya dipegang serta diseret, cuma mulutnya berteriak melengking.

"Apa yang hendak kau lakukan?"

"Budak manis,"

Kata Tu Hong-sing sambil ce-ngar-cengir, asalkan kau serahkan seluruh obat penawarnya, aku akan ampuni jiwamu."

"Jangan kau lupa aku ini orang dari marga Un di Ling-lam,"

Kata Un Hoan-kun kalem. Seperti diketahui keluarga Un dari Ling-lam terkenal sebagai keluarga pencipta obat bius di kalangan Kangouw, oleh karena itu orang2 Kangouw suka bilang.

"Setiap anggota marga Un, sekujur badannya mengandung obat bius."

Pada saat itulah terdengar seorang menanggapi.

"Tu-heng tutuk dulu Hiat-tonya."

"Belum lenyap suaranya, serempak dari enam sudut pintu sana berbareng muncul enam laki2 seragam hijau yang menenteng pedang. Kedua mata Yong King-tiong mencorong terang, hardiknya kereng.

"Nyo Ci-ko, bagus sekali kedatanganmu."

Dalam pada itu, tiba2 terdangar suara "bluk"

Entah mengapa tiba2 Tu Hong-sing terbanting jatuh semaput.

Orang yang muncul dari sudut kiri atas sana adalah laki2 setengah umur bermuka putih berperawakan sedang, dialah Nyo Ciko, salah seorang kepercayaan Cui Kin-in yang dia bawa dari kotaraja, Dari sorot matanya yang gemeredep dapatlah diketahui bukan saja Kungfunya tinggi, diapun seorang cerdik pandai yang bekerja dengan cekatan.

Baru saja Nyo Ci-ko muncul lantas melihat Tu Hong-sing terbanting roboh, keruan ia kaget, lekas dia membentak.,"Tidak lekas kalian membantunya?" --Dua laki2 seragam hijau segera mengiakan dan menubruk ke arah Un Hoan-kun.

Un Hoan-kun menyeringai, jengeknya.

"Siapa berani maju?" -Sekali tangan berayun, segumpal asap segera menabur ke arah musuh. Kedua orang berseragam hijau ini tadi sudah mendengar bahwa nona ini adalah anggota keluarga Un dari Linglam, kini melihat orang menaburkan asap, sudah tentu mereka tak berani ayal, padahal mereka tengah menubruk maju, terpaksa menahan napas sambil mengerem sekuatnya luncuran tubuh serta menjejak balik ke belakang.

"Hihi, sungguh menggelikan, hanya segenggam pasir saja sudah bikin kalian ketakutan,"

Demikian ejek Un Hoan-kun.

Yang dia taburkan memang segenggam pasir, tapi orang tak berani mendekati-nya lagi.

Un Hoan-kun tidak hiraukan orang banyak, dia keluarkan botol kecil, dengan kuku dia ambil sedikit bubuk obat terus dijentikan ke hidung Tu Hong sing.

Setelah berbangkis sekali Tu Hong-sing lantas membuka mata dan kucak2 mata serta melompat berdiri.

Mengawasi orang, Un Hoan-kun tertawa geli, katanya.

"Tu-tay-koantai, kau akan pegang tangan-ku lagi dan paksa aku menyerahkan obat penawarnya?"

Setelah mengalami pahit getirnya baru Tu Hong-sing betul2 kapok, sekarang mana berani dia bertingkah pula?

Apalagi dia sudah menelan Sip-hun-wan dan baru menelan dua butir obat penawarnya, jika Un Hoan-kun sampai marah dan tak mau memberi obatpenawarnyakandirisendiribisacelaka malah?

Terhadap jiwa sendiri dia pandang jauh lebih berharga dari apapun di dunia ini, maka dengan menyengir ia berkata.

"Obat bius nona memang lihay, Cayhe sudah kapok betul2, tadi kita sudah berjanji, maka harus sama2 ditepati, benar tidak?"

"Kau tidak usah kuatir, kalau dalam enam jam kita bisa keluar sini, pasti kuberi lagi empat butir obat padamu. Tapi berada di sini, kau harus tundukakan perintahku."

"Baiklah,"

Tu Hong-sing setuju. Sekilas mengerling Un Hoan-kun berkata lirih pula.

"Mereka akan segera turun tangan, mari kau ikut aku ke sana." -Lalu dia melangkah ke arah orang banyak, Tu Hong-sing betul2 sudah kapok merasakan kelihayan obat bius Un Hoan-kun, kali ini dia betul2 tidak berani bertingkah pula, dengan jinak dia mengintil di belakang Un Hoan-kun. Ternyata dalam sekejap ini keadaan sudah memuncak tegang, kedua pihak sudah sama2 melolos pedang dan siap tempur. Kun-gi paling perhatikan keselamatan Un Hoan-kun, maka sejak tadi dia perhatikan gerak-gerik pihak lawan, kini setelah melihat Hoan-kun kembali dalam rombongan legalah hatinya. Yong King-tiong merupakan pemimpin rombongan, dia telah berhadapan dengan Nyo Ci-ko, mereka sedang saling cercah dan nista. Terdengar Nyo Ci-ko berkata lantang.

"Yong King-tiong, pihak kerajaan memberi pangkat setinggi itu padamu, ternyata kau berani menghasut orang dan berbuat jahat untuk memberontak?"

Yong King-tiong tergelak2, katanya.

"Nyo Ci-ko, kau juga bangsa Han, kau lupa asal usul leluhur, bangsat kau angkat jadi ayah, kaulah yang khianat dan memberontak. Ketahuilah, Hek-liong-hwe adalah milik Thay-yang-kau, dua puluh tahun kalian kangkangi dan kuasai, menjadi alat kerajaan untuk memberantas sesama golongan Kangouw,"

Setiap orang Bu-lim yang berdarah patriot patut menghukummu, kini Han Jan-to si durjana penjual Hek-liong-hwe sudah mampus menembus dosa-nya, cukong kalian Cui Kin-in utusan istana raja juga sudah melarikan diri, dengan kekuatanmu Nyo Ci-ko memangnya bisa berbuat apa, Lohu malas bergebrak dengan kau, lebih baik kau menyerah saja"

Han Jan-to sudah mampus, Cui Kin-in melarikan diri, dua kalimat ini sungguh membikin darah Nyo Ci-ko tersirap, melihat sikap Yong King-tiong jelas bukan membual.

Tapi kejap lain dia merasa ganjil pula, memangnya Yong King-tiong dan pemuda jubah hijau ini dapat menandangi Cui Kin-in?

Apalagi Cui Kin-in masih didampingi seorang Lama kasa merah yang memiliki ilmu Yoga tingkat tinggi tiada tandingan.

Lekas sekali otaknya bekerja, akhirnya dia tertawa keras.

"Yong king-tiong, jangan kau membual, kalian sudah masuk ke daerah terlarang Ceng-liong-tam, memangnya masih ingin keluar."

Ternyata tempat ini bernama Ceng-liong-tam.

"Baik, tiada gunanya putar lidah, marilah kita tentukan dengan kepandaian saja." -"Sreng", Yong King-tiong lantas melolos pedang. Ling Kun-gi melangkah maju setindak, katanya.

"Paman Yong, membunuh ayam masa pakai golok? Biar Wanpwe saja yang menghadapinya."

"Tunggu sebentar, Ling-toako,"

Seru Un Hoan-Kun.

"AdaapaHoan-moay?"tanyaKun-gisambil berpaling.

"Apakah orang she Nyo ini setimpal menjadi lawanmu?"

Ucap Hoan-kun tertawa.

"kupikir biar saudara Tu saja yang menjajalnya bebarapa jurus." -Lalu sambil membetulkan sanggulnya Un Hoankun berpaling, katanya.

"Saudara Tu, babak pertama ini terpaksa kau saja yang menghadani orang she Nyo beberapa jurus."

Karena jiwa sendiri tergenggam ditangan orang, Tu Hong-sing tak berani membangkang, terpaksa dia melolos pedang dan maju ke hadapan Nyo Ci-ko.

Sudah tentu Nyo Ci ko naik darah, matanya mendelik tajam mengawasi Tu Hong-sing, bentaknya.

"Kau kenapa Tu Hong-sing? Memangnya kau sudah ter-gila2 oleh perempuan siluman itu?"

Tu Hong-sing menjura, katanya.

"Lapor Cong-koan, hamba baik2 saja."

Ternyata Nyo Ci-ko adalah Congkoan yang berkuasa di Ceng-liong-tam ini.

"Baiklah, kau minggir saja ke samping,"

Teriak Nyo Ciko. Tu Hong-sing menyengir, katanya.

"Maaf Cong-koan, aku terpaksa oleh keadaan ........."

Nyo Ci-ko betul2 kaget, hardiknya.

"Kau juga mau berontak?"

Keringat menghiasi jidat Tu Hong-sing, katanya.

"Aku disuruh menelan Sip-hun-wan dari ke-luarga Un, terpaksa harus menurut perintahnya."

"Orang she Tu, buat apa putar bacot melulu? Hayo labrak dia, kalau hari ini kau biarkan dia lolos, setelah keluar dari sini apa dia mau mengampunijiwamu?"demikiandesakHoan-kun. Seperti dipalu jantung Tu Hong-sing, katanya mengertak gigi.

"Betul, Nyo-congkoan, kecuali mengadu jiwa dengan kau tiada jalan lain bisa kupilih." -"Cret", kontan dia menusuk lebih dulu. Gusar Nyo Ci-ko.

"trang", sekali tangan membalik dia tangkis pedang Tu Hong-sing, teriaknya beringas.

"Tu Hong-sing, mereka hanya berapa orang, berapa lama lagi mereka kuat bertahan di tempat terlarang ini? Kenapa kau gampang dihasut kaum pemberontak?"

Tu Hong-sing menarik pedangnya, katanya sambil menggeleng2.

"Tidak mungkin, kalau aku tidak mmemperoleh obat penawar, hidupku takkan sampai besok."

"Kau tunduk pada pemberontak, memangnya hari ini kau bisa hidup?"

Bentak Nyo Ci-ko. Sembari angkat pedang kembali dia membentak.

"Hayo kalian maju, ringkus beberapa pemberontak ini?"

Pada setiap sudut pintu itu berdiri seorang laki2 seragam hijau yang menghunus pedang, jelas mereka mendengar perintah Congkoan, tapi mereka tetap berdiri tegak, tiada satupun yang bergeming.

Keruan Nyo Ci-ko semakin murka, mukanya membesi hijau, bentaknya.

"Kalian sudah mampus, Hayo sikat mereka!"

Hoan-kun tertawa tawar, katanya.

"Walau mereka belum mampus, tapi mereka takkan mau turut perintahmu lagi."

Seperti disengat lebah Nyo Ci-ko tersentak mundur, serunya gusar.

"Apa yang kau lakukan terhadap mereka?"

"Betul, mereka terkena obat biusku, sengaja kusisakan kau seorang, supayasaudaraTuinibisa membereskan kau."

Serasa pecah nyali Nyo Ci-ko, tapi lahirnya dia tetap beringas, katanya mendesis.

"Perempuan siluman, keji juga cara kerjamu." -Mulut bicara kepada Un Hoan-kun.

"Wuut", tiba2 tangan kiri menghantam ke arah Tu Hong-sing, berbareng ke-dua kaki menjejak tanah terus melejit mundur ke arah salah satu pintu. Kejadian sebetulnya amat cepat dan mendadak apalagi serangan kepada Tu Hong-sing cepat sekali sehingga dia tak mungkin merintangi, dia pikir dengan mudah dapat lari masuk ke balik pintu sana. Sekali dia berada di lorong gelap itu, jalan yang simpang siur disanalebih memudahkan melarikandiri. Tak tahu baru saja dia bergerak, didengarnya Kun-gi membentak keras.

"Lari ke mana kau?" -Dari kejauhan tangan kirinya menghantam. Serangkum tenaga dahsyat seketika timbul dari tepukan telapak tangannya, sasaran pukulannya ternyata tidak langsung ditujukan pada Nyo Ci-ko, tapi menuju ke pintu yang terletak kira2 lima kaki di belakangnya. Lwekang Ling Kun-gi amat tangguh, pengalaman tempur selama ini menambah banyak perbendaharaan menghadapi musuh, pukulan yang dilancarkan ini sungguh tepat perhitungan waktunya, dikala tenaga pukulannya menerjang ke depan pintu, badan Nyo Ci-ko yang mundur ke belakang itupun kebetulan melejit turun. Sebagai Siwi kelas tiga istana raja, sudah tentu Kungfu Nyo Ci-ko tidak rendah, waktu badannya melejit mundur, terasa adanya kesiur angin mencurigakan di belakang, lekas ia menarik napas, badan yang terapung di udara itu secara mentah2 lantas berputar kearah kiri, tangan kiri yang semula melindungi dada secepat kilat terayun keluar. Reaksinya cukup cepat, ayunan tangannya kebetulan menggempur samping tenaga pukulan Ling Kun-gi yang menerjang ke pintu sudut, begitu dua tenaga saling terjang, karena dia melancarkan pukulan waktu badan masih terapung, seketika ia terpental mundur beberapa langkah. Tapi hal ini sudah dalam perhitungannya, tujuannya untuk meluputkan diri dari terjangan telak pukulan Ling Kun-gi, maka badannya cuma terpental beberapa kaki lantas dapat berdiri tegak pula. Tapi hanya sekali adu pukulan saja dia sudah mmemperoleh bukti bahwa Lwekang pemuda ini sungguhtidakkepalangtingginya, betul2di luardugaannya. Sekali adu pukulan ini, terasa juga oleh Ling Kun-gi bahwa Nyo Ci ko adalah musuh tangguh, Nyo Ci-ko yang melejit, mundur dan keterjang angin pukulan, umpama dia kuat bertahan juga pasti akan kerepotan, tapi kenyataan dikala angin pukulan hampir mengenai dirinya, badan yang masih terapung itu mendadak masih sempat berputar sembari balas memukul sekali, dengan daya bentrokan pukulan itu dia membal mundur menyelamatkan diri, jelas tak mungkin dilakukan. Untung setelah melancarkan sekali pukulan jarakjauh, Kun-gitidak menyusuli lagi denganpukulanlain. Sambil mengelus jenggot Yong King-tiong tergelak2 dengan menengadah, katanya..

"Nyo Ci-ko, tentunya kau sudah dapat memperhitungkan situasi di depan mata, kalau tidak mau menyerah, untuk bisa keluar dengan selamat, sukarnya seperti manjat ke langit."

Wajah Nyo Ci-ko ,yang semula putih, halus kini membara kelam, pedang di tangan dibolang-balingkan, bentaknya bengis.

"Yong King-tiong, beranikah kau perang tanding melawanku?"

"Belum lagi kau bertanding melawan saudara Tu ini,"

Demikian sela Un Hoan-kun.

"Kau sudah berusaha lari, kini berani kau menantang paman Yong?"

Bahwa Tu Hong sing masih bimbang adalah karena Nyo Ci-ko berpangkat Siwi kelas tiga, kalau dirinya ingin merambat ke atas, sekali2 tidak boleh berbuat salah padanya.

Tapi kenyataan jauh berbeda.

Dari nada Yong King-tiong dia yakin bahwa Nyo Ci-ko sudah tiada harapan keluar dan lolos dengan selamat.

Bahwa Nyo Ci-ko sudah bukan merupakan ancaman baginya, apalagi pihak Yong King-tiong sudah menguasai keadaan, kalau sekarang tidak lekas turun tangan, tunggu kapan lagi?

Maklumlah, bagi seorang tamak yang selalu memikirkan pangkat dan mengejar kedudukan, tiada yang tidak main licik dan selalu memungut keuntungan dikala lawan kepepet, demikian juga keadaan Tu Hong-sing sekarang.

Apalagi diumpak oleh omongan Un Hoan-kun, sambil memutar pedang, segera dia melangkah maju, dengan memasang kuda2 dan pedang menuding ke depan, dia berkata.

"Nyo-congkoan, aku dipaksa oleh keadaan, terpaksa menyalahi kau, silakan."

"Baik, sekongkol dengan pemberontak sama dosanya, orang she Nyo akan mulai menjagal kepalamu lebih dulu," -Sreet, cepat sekali pedangnya menyabat.

"Bagus,"

Sambut Tu Hong-sing, Mendadak tubuhnya berputar ke pinggir Nyo Ci-ko, pedang lantas menyerang dengan tipu Kim-tau-jan-ci (garuda emas pentang sayap), sinar pedangnya tahu2 laksana kilat menyerampang dan menusuk le-ngan dan pundak.

Tapi gerak Nyo Ci-ko amat tangkas dan gesit, setiap pedang bergerak, posisi kakinya selalu berubah, sebat sekali pedangnya membalik mematahkan serangan lawan.

"Trang", dua pedang beradu, keduanya sama2 tergentak mundur selangkah. Tu Hong-sing rasakan telapak tangannya pedas linu, pedangnya tertolak balik, diam2 ia terkejut. Mulut Nyo Ci-ko menjengek, mendadak dia balas merangsak, pedang berputar dengan kencang mengembangkan serangan gencar, beruntun dia menusuk lima kali. Sudah tentu Tu Hong-sing tidak mau kalah, iapun kembangkan ilmu pedang andalannya dan balas menyerang serta mempertahankan diri dengan rapat, sekaligus lima tusukan lawan dapat dia tangkis, malah sempat balas menyerang tiga kali. Tujuan Nyo Ci-ko ingin secepatnya mengakhiri pertempuran, maka begitu berpencar lantas menubruk maju pula dengan serangan lebih keji. Setelah bentrok pendahulnan tadi, kini kedua-nya sama tidak berani memandang enteng lawan, Nyo Ci-ko mengembangkan ilmu pedang ajaran Tiang-pek-pay, gerak pedangnya mengutamakan keras dan kencang, setiap pedang menyamber laksana naga mengamuk dan seperti elang berputar di udara hendak menubruk mangsanya, perbawanya cukup meyakinkan. Ilmu pedang Tu Hong sing justru berbeda, dia mengembangkan gerak lincah dan tangkas disertai perubahan yang berbelit2, sekujur badannya seperti terbungkus oleh cahaya sinar pedang. Lekas sekali pertempuran sudah berlangsung tiga sampai lima puluh jurus. Semula Nyo Ci-ko terlalu mengagulkan diri dan percaya akan tingkat ilmu pedangnya, dia anggap Tu Hong-sing sebagai anak buahnya, gampang dan pasti bisa dirobohkan. Apalagi dia ingin lekas mengakhiri pertempuran, maka serangannya selalu mendahului dantidaksegan2 menempuh bahayauntuk merobohkan lawan. Tak tahunya Tu Hong sing cnkup cerdik, gerak geriknya lincah dan tangkas, penjagaanpun ketat, setelah lima puluhan jurus, bukan saja Nyo Ci-ko tidak berhasil menarik keuntungan, malah beberapa kali karena terburu nafsu hampir saja dia dilukai pedang Tu Hong-sin, keruan ia semakin gelisah, marah dan gugup, pula. Nyo Ci-ko tidak tahu bahwa Tu Hong-sing hakikatnya jauh lebih payah daripada dia.. Ilmu pedang Tu Hong-sing memang lincah dan banyak perubahan, tapi Lwekangnya lebih rendah, untuk bertahan sekian lama ini dia sudah keluarkan seluruh kekuatannya, apalagi setiap kali dua senjata beradu, selalu dia rasakan dadanya seperti digodam oleh getaran keras yang timbul dari benturan senjata itu. Maka dia harus bertahan mati2an, demikianlah tiga puluh jurus telah berselang pula. Kini baru Nyo Ci-ko melihat meski ilmu pedang Tu Hong-sing tidak lemah, tapi Lwekang orang bukan tandingannya. Penemuan ini seketika menambah keyakinan Nyo Ci-ko dan mengobarkan semangat tempurnya, sambil tertawa dingin, gerak pedangnya tiba2 berubah, diam2 dia kerahkan tenaga dalam sehingga batang pedangnyadiliputitenaga murniyanghebat.

"Trang,"

Kembali dua senjata beradu, meski Tu Hong-sing berhasil menahan beberapa kali rangsakan lawan, tapi dia sendiripun ditolak mundur beberapa langkah.

Dengan hasil itu sudah tentu Nyo Ci-ko semakin senang, ia mengejek .

"Ingin kulihat berapa jurus pula kau kuat bertahan?"

Hanya beberapa gebrak lagi Tu Hong-sing telah terdesak di bawah angin, serangan Nyo Ci ko semakin gencar, pedangnya hanya naik turun menangkis dan bertahan belaka.

Kini setiap serangan setiap jurus, kedua pedang selalu beradu "trang-tring"

Dengan keras, sudah tentu lama kelamaaa Tu Hong-sing kehabisan tenaga, keringat sudah membasahi badan, langkahnya menyurut mundur, boleh dikatakan dia sudah tidak mampu balas menyerang lagi.

"Toako,"

Kata Hoan-kun lirih.

"Tu Hong-sing sudah tidak becus lagi, lekas kau turun tangan."

"Tidak apa,"

Sabut Kun-gi "dia masih kuat bertahan tiga jurus lagi."

Di sini tengah bicara, di sana terdengar pula benturan pedang.

"bret", lengan baju kiri Tu Hong-sing terbabat robek oleh pedang Nyo Ci-ko. Tu Hong-sing tampak kaget serta melompat mundur. Mendadak Nyo Ci-ko juga menubruk maju, pedangnya kembali menyapu miring. Lekas Tu Hong-sing angkat pedang menangkis.

"trang", lengan kanan seketika terasa kemeng, pedangnya terpental pergi. Sudah tentu pertahanannya menjadi terbuka lebar. Mata Nyo Ci-ko tampak merah membara, tanpa bersuara pergelangan tangannya memutar sambil menggentak pedang, selarik sinar terang laksana kilat menyamber tahu2 menusuk lurus ke dada orang. Pada detik2 menentukan itulah, tiba2 Nyo Ci-ko merasakan adanya kesiur angin tajam di sebelah seperti ada orang melejit tiba. Belum lagi dia sempat berpikir, tiba2 terasa pergelangan tangan kanan mengencang dan sakit, tahu2 sudah terpegang oleh orang, disusul segulung tenaga raksasa menyalur ke luar telapak tangan orang itu, sehingga kelima jari sendiri yang memegang pedang menjadi kendur, tanpa kuasa dia kena disengkelit jungkir-balik ke belakang. Kejadian seperti dalam impian belaka, belum lagi dia melihat jelas bayangan orang, tahu2 dirinya sudah terbanting jatuh. Tapi jelek2 Nyo Ci-ko adalah jago kosen dari istana raja, Kungfunya tinggi, dengan daya sengkelitan lawan, sigap sekali ujung pedangnya menutul bumi, kedua kaki membalik terus hinggap ditanah dan berdiri tegak. Waktu dia angkat kepala, ternyata Ling Kun-gisudah berdiridihadapannyadengansikapgagah. Nyo Ci-ko tidak tahu siapa pemuda jubah hijau ini? Hatinya kaget dan gusar pula, melihat anak muda ini bertangan kosong, maka kumatlah amarah-nya, sekali ia menghardik.

"Wut", pedang menyapu kencang dengan deru keras. Serangan yang dilancarkan diburu kemarahan ini sudah tentu tidak kepalang hebatnya, sinar pedang menjulur panjang, dia kira lawan bertangan kosong tentu sukar mengegos. Jika lawan dapat dibabat kutung sebatas pinggang bukankah terlampias penasarannya? Tak nyana begitu pedangnya menyapu, ternyata menabas tempat kosong, berapa licin dan lincah gerakan tubuh Ling Kun-gi, entah bagaimana telah berkelit pergi? Tapi kenyataan dia masih berdiri di tempat semula, tidak kelihatan menggeser kaki barang satu sentipun. Nyo Ci-ko melenggong, sungguh dia tidak habis percaya, selama tiga puluh tahun dia meyakinkan ilmu pedang, tapi lawan muda bertangan kosong ini tak mampu menyentuh ujung pakaiannya, sedangkan musuh2 tangguh masih berada disekelilingnya, anak buahnya mati kutu oleh obat bius perempuan siluman itu, kalau dirinya tidak menyerang dengan sergapan mendadak, sedikitnya dua tiga orang harus dirobohkan baru bisa meloloskan diri, kalau tidakhari inipasti gugur ditempatini. Karena itu tanpa ayal pedang kembali bekerja.

"sret, sret"

Dua kali, ia membelah dan membacok, Kali ini Nyo Ci-ko dapat menyaksikan dengan jelas, pada jurus serangan pertama, Ling Kungi tampak sedikit miring ke samping, sinar pedang menyerempet lewat sisi kanan badannya.

Jurus kedua sudah tentu lebih cepat lagi, sasarannya adalah badan sebelah kiri di mana kebetulan Kun-gi sedang berkelit ke kiri juga, tapi badan Kun-gi seperti bermata saja, belum lagi pedang lawan menyerang tiba, badannya kembali bergontai miring ke samping sehingga serangan kedua kembali mengenai tempat kosong.

Nyo Ci-ko sungguh kasihan, seperti berhadapan dengan setan, sejak dia malang melintang di Kangouw belum pernah dia melihat lawan dengan gerakan tubuh seaneh dan ajaib begini, sesaat dia melenggong kagettidaktahu apapula yangharusdia lakukan.

Mendadak Kun-gi tertawa panjang, tangan kanan terangkat, tahu2 tangannya sudah pegang sebilah pedang panjang empat kaki, ujung pedang menuding ke arah Nyo Ci-ko, katanya lantang.

"Orang she Nyo, kalau sekarang kau turunkan pedang dan menyerah, paling2 aku memunahkan kepandaian silatmu, jiwamu tetap boleh diampuni, kalauberani...."

Nyo Ci-ko sudah nekat, dengan mendelik dia membentak.

"Biar tuanmu adu jiwa denganmu."

Kembali pedang berputar, kali ini memancarkan bintik sinar berkelip bagaibintangterus menusuk.

Kun-gi tertawa dingin, pedangnya menyilang balik dan "trang", sengaja dia mengetuk batang pedang Nyo Ci-ko.

Kontan lengan kanan Nyo Ci-ko, terasa kemeng, jarinya kesakitan luar biasa, pedangpun tak kuasa dipegang lagi dan "trang", jatuh ke tanah.

Ujung pedang Kun-gi yang kemilau tahu2 sudah mengancam tenggorokan Nyo Ci-ko, katanya dengan menjengek.

"Orang she Nyo, apa pula yang ingin kau katakan?"

NyoCi-kotidakbersuara, diapejamkan mata.

Yong King-tiong melihat gelagat jelek, lekas dia melompat maju dan menutuk beberapa Hiat-to di tubuh orang, lalu dengan keras dia pencet geraham Nyo Ci-ko, tampak darah hitam kental meleleh dari ujung mulutnya.

Yong King-tiong membanting kaki, katanya gegetun.

"Keparat ini bunuh diri dengan menelan racun."

Waktu dia lepaskan pegangannya, badan Nyo Ci-ko lantas roboh tersungkur.

"Lihay benar racun yang dia gunakan,"

Seru Hoan-kun bergidik.

"Itulah racun khusus yang di buat oleh istana, cukup menjilat dengan ujung lidah dan malam pembungkusnya akan pecah, racun akan segera bekerja dan jiwapun melayang seketika. Losiu agak lena sehingga dia sempat bunuh diri."

Melihat Nyo Ci-ko mati menelan racun, diam2 Tu Hong-sing merasa lega, lekas dia maju mendekat dan berjongkok di pinggir tubuh orang, ia merogoh kantong orang, lalu dikeluarkan tiga biji uang emas terus diangsurkau kepada Yong King-tiong, katanya.

"Yong-congkoan, inilah kun-ci untuk membuka pintu batu Ceng-liong-tam, harap engkau suka terima."

Yong King-tiong menerima ketiga mata uang itu, bobotnya ternyata lebih berat daripada mata uang umumnya, lebih tebal dan kadar emasnya juga lebih murni, maka dia bertanya.

"Pintu batu Ceng-liong-tam? Di mana letak Ceng-liong-tam?"

Sebagai Hek-liong-hwe Congkoan, ternyata dia tidak tahu menahu adanya Ceng-liong-tam.

"Ceng-liong-tam berada di tempat tahanan tawanan Ceng-liongtong, yang dikurung di sana semuanya adalah pesakitan penting ..."

Sebelah tangan mengelus jenggot, Yong King-tiong bertanya heran.

"Sebagai Hek-liong-hwe Cong-koan, kenapa Lohu tidak tahu akan hal ini?"

"Ceng-liong-tam dibangun di bawah pimpinan Nyo Ci-ko setelah kedatangan Cui-congkam, tempat sekitar sini dinamakan Ceng-liong-tam, Nyo Ci-ko adalah Congkoan daerah terlarang ini."

"Coba terangkan, dimana letak kamar batu itu?"

"Letaknyatepatdibawahruangan segienamini"

"Cara bagaimana untuk turun ke bawah?"

Untuk membuka pintu pertama harus dilakukan enam orang sekaligus, keenam kursi batu di sini, berbareng didorong ke tengah sampai masuk ke bawah meja, pintu akan segera tampak."

"Yong King-tiong berpaling, pihaknya ada lima orang, ketambahan Tu Hong-sing kebetulan enam orang, maka dia berkata.

"Kebetulan kita ada enam orang, marilah kita kerja bersama."

Un Hong -kun melirik kelima orang yang di biusnya itu, katanya.

"Paman Yong, bagaimana kelima orang ini?"

"Biarlah, kita bereskan dulu urusan di bawah, setelah berhasil menolong orang baru putuskan nasib kelima orang ini."

Maka di bawah pimpinan Yong King-tiong, Ling Kun-gi, Un Hoankun, Siau-tho, jago pedang baju hitam serta Tu Hong-sing, enam orang masing2 pegang satu kursi, di bawah aba2 Yong King-tiong serempak mereka mendorong kursibatu ketengah.

Kalau seorang diri hendak mendorong keenam kursi ini secara bergantian tidak mungkin, karena kursi batu ini seperti berakar di dalambumi, tapibilasekaligusdidorong keenamnya, anehmemang, dengan mudah kursi bergeser maju masuk ke bawah meja.

Pada saat lain terdengar suara gemuruh, meja bundar bersama keenam kursi batuitutiba2bergerakdan pelan2ambles kebawah.

"Yong-pongkoan,"

Lekas Tu Hong-sing menjelaskan.

"meja bundar ini, adalah alat angkut naik turun ke kamar batu di bawah, sekaligus enam orang bisa turun bersama, setelah meja bundar ini sejajar dan rata dengan lantai baru kita boleh beranjak ke tengah meja."

"Baiklah."

Yong King-tiong berkeputusan.

"Ling-kongcu bersama Losiu dan Tu-heng. bertiga turun lebih dulu, nona Un harap tunggu dan jaga di atas saja."

Tengah bicara meja itupun sudah rata sejajar dengan lantai, Yong King-tiong lantas mendahului melangkah kepermukaan meja diikuti Ling Kun-gi dan Tu Hong-sing.

Semula meja bergerak lamban, tapi setelah dimuati tiga orang, ternyata daya amblesnya semakin cepat.

Un Hoan-kun merasa kuatir, sengaja ia ang-kat obor menerangi ke bawah, ia berdiri di pinggir lubang bundar dan melongok ke bawah"

Ling Kun-gi keluarkan Le-liong-cu, dia amati keadaan sekelilingnya, tempat di mana meja itu melorot turun bentuknya mirip sebuah sumur, mereka bertiga terus dibawa turun ke bawah.

Tak lamakemudian mejaitu sudahberadaditengah2sebuah kamar batu, laluberhentisendiri.

Diam2 Kun-gi memperhitungkan jarak turun meja dari atas kira2 ada sepuluhan tombak dalamnya.

"Sudah sampai,"

Kata Tu Hong-sing mendahului melompat turun.

"Silakan kalian turun."

Yong King-tiong cukup cermat dan hati2, setelah Tu Hong-sing melompat turun di lantai baru dia ikut melompat turun.

Kini mereka berada di sebuah kamar batu segi empat, luasnya ada lima enam tombak, tapi kecuali meja bundar yang turun dari atas bersama kursinya, keadaan di sinipun kosong melompong tiada perabot lainnya.

Setelah melompat turun Tu Hong-sing bergegas maju menarik sebuah kursi dan dipindahnya keluar terus menduduki kursi itu.

"Tu-heng, apa yang kau lakukan?"

Tanya Yong King-tiong, Diam2 dia sudah kerahkan tenaga pada telapak tangan kiri, bila Tu Hong-sing menunjukkan gerak-gerik yang mencurigakan, segera dia akan memukulnya mampus.

Tu Hong-sing tertawa getir, katanya.

"Jiwaku sudah tergenggam di tangan nona Un, sementara Cayhe sendiri belum ingin mati, meja batu ini setelah turun ke bawah, jika kursi ini tidak segera dipindah, dia akan bergerak naik sendiri pula, bila begitu kecuali di atas ada enam orang sekaligus mendorongnya pula dan menunggu lagi meja ini turun, kalau tidak kitaselamanyatidakakan bisa naik ke atas."

"O, begitu,"

Ucap Yong King-tiong. Lalu diapun menarik sebuah kursi serta diduduki, tanyanya.

"Kamar batu ini tiada pintu, cara bagaimana bisa terbuka?"

"Di sini ada tiga lapis pintu, Yong-congkoan sudah empat puluh tahun berada di Hek-liong-hwe, berbagai pintu batu yang terpasang dilorong2itupastisudahapalsekali,demikianjugauntuk membuka ketiga lapis pintu di sini, setiap orang Hek-liong-hwe cukup angkat tangan saja untuk membukanya ...."

"Lalu untuk apa ketiga keping mata uang emas ini?"

Tanya Yong King-tiong. Tu Hong-sing tertawa, katanya.

"Ini untuk menjaga bila di dalam Hek-liong-hwe ada pengkhianat atau mata2 musuh, atau para tawanan penting Hek-liong-hwe yang berani menyelundup kemari untuk menolong orang, tentu dia pikir akan bisa membuka pintu di sini, tapi diluar tahunya dengan caranya itu sekaligus akan menyentuh alat rahasia yang merupakan perangkap keji, hujan anak panah atau senjata rahasia lainnya akan terjadi, meski orang yang membuka pintu memiliki kepandaian setinggi langit juga jangan harap bisa lolos dari mara bahaya."

"Keji benar perangkapnya,"

Dengus Yong King-tiong.

"apa pula gunanya ketiga keping mata uang mas ini?"

"Untuk menjaga supaya alat perangkap itu bekerja, sebelum kita menekan tombol membuka pintu, kita harus masukkan dulu sekeping uang mas ini, alat rahasia itu dibikin bungkam barulah dengan leluasa pintu terbuka dan kita bisa masuk dengan selamat."

"Di depan Lohu, kuharap Tu-heng tidak bertingkah melakukan sesuatu yang membahayakan jiwamu sendiri,"

Demikian ancam Yong King-tiong.

"Untuk ini Yong-congkoan tak usah kuatir, tadi sudah kubilang, aku belum ingin mati,"

Demikian Tu Hong-sing memberikan janjinya.

"Syukurlah kalau kau tahu diri,"

Ucap Yong King-tiong. Lalu kepingan uang emas terus diangsurkan kepada Tu Hong-sing, katanya.

"Baiklah tolong Tu-heng melakukannya, bukalah ketiga lapis pintu itu satu persatu."

Tu Hong-sing terima ketiga keping uang mas itu dengan tertawa, katanya.

"Yong-congkoan terlalu banyakcuriga."

"Itulah yang dinamakan lebih baik berhati2 menjaga segala kemungkinan, watakmu Lohu cukup tahu."

Tu Hong-sing angkat pundak, katanya.

"Yong-congkoan tidak percaya padaku, ya, apa boleh buat." -Sekali tarik dia putuskan tali emas yang merenteng uang emas itu lalu dia menghampiri dinding di sebelah depan. Yong King-tiong segera berdiri, tangan terangkat siap siaga, tenaga sudah dia pusatkan pada kedua telapak tangan, setiap waktu siap melontarkan pukulan. TanpaayalLing Kun-gijuga ikut maju mendekat. Tibadikakidinding, TuHong-singberkata.

"Kamar batu di sini untuk mengurung orang2 yang lebih penting dan berkedudukan tinggi, semuanya ada dua kamar, tempatnya juga lebih nyaman, di sini pesakitan tidak perlu diborgol, karena berada di kamar ini meski punya kepandaian juga jangan harap bisa lolos keluar."

Sembari bicara iapun berjongkok.

Ternyata di bawah dinding ada sebuah garis lubang kecil, kalau tidak diamati sukar ditemukan.

Tu Hong-sing masukkan sekeping uang emas itu ke lubang sempit itu, terdengar suara "tring"

Di dalam dinding, lalu tak terdengar apa2 pula.

Tu Hong-sing berdiri tegak lalu menekan dua kali pada bagian dinding, maka tampak dua daun pintu pelan2 terpentang.

Di balik pintu batu itu terdapat dua kamar yang berjeruji besi sebesar lengan bayi di bagian depannya, tempatnya tidak begitu besar, tapi di dalam ada dipan, meja kursi, bentuk kedua kamar ini sama, tapi tiada penghuninya.

"Tu-heng, di sinitiadaorang,"ucap Yong King-tiong.

"Tadi sudah kujelaskan, kamar ini khusus untuk mengurung orang2 penting, sudah tentu sekarang tiada penghuninya, tapi aku ingin membukanya dan tunjukkan pada kalian,"

Sembari bicara dia tutup pula daun pintu seperti sedia kala.

"Bagaimanadengan kamar lainnya?"tanyaYong King-tiong.

"Dua kamar di kedua samping ini adalah kamar tahanan biasa, lelakidisebelah kiri, kanan untuk kaumwanita."

"Coba kau buka dulu pinto sebelah kanan,"

Kata Kun-gi.

"Apakah kedua sahabat Ling-kongcu adalah perempuan?"

Tanya Tu Hong-sing.

"Benar,"sahut Kun-gi. Tanpa bicara lagi Tu Hong-sing mendekati dinding, lalu menceploskan sekeping mata uang ke dalam lubang sempit, lalu menekan tombol dan membuka pinto. Baru saja daun pintu terbuka, dari dalam lantas terdengar suara nyaring galak orang sedang memaki.

"Cis, kalian bangsat keparat, kawanan anjing buduk, memangnya kalian bisa berbuat apa pada nonamu? Akan datang suatu ketika nonamu bikin hancur sarang kalian ini, satu persatu kusembelih kalian ......"

Agaknya nona yang memaki dengan menerocos nyaring ini bukan saja galak tapi juga binal, meski memakiorang tapisuaranyakedengaran merdu.

Tanpa melihat orangnya, mendengar suaranya, Kun-gi lantas tahu bahwa yang mencaci maki ini adalah Pui Ji-ping.

Seketika perasaan Ling Kun-gi jadi bergolak, dia lekas berteriak.

"Ping-moay, inilah aku datang menolongmu, apakah kau berada sama nona Tong?" -Dengan Le liong cu diangkat ke atas cepat dia masuk ke dalam. Di balik pintu sudah tentu adalah kamar tahanan berjeruji besi pula, cuma kamar tahanan di sini tiada dipan, juga tidak ada meja kursi. Di kamar depan terkurung tiga nona, rambut tampak semrawut, ketiganya sama2 mengenakan pakaian pria, jubah hijau sutera dengan sepatu kulit rendah, wajah mereka kelihatan kuyu pucat, keadaannya tampak lucu menggelikan. Memang waktu mereka di tawan semuanya mengenakan pakaian laki2, kemudian diketahui bahwa mereka perempuan, maka di pisah di kamar ini. Ketiga orang ini adalah Tong bun-khing, Pui Ji-ping dan Cu Ya-khim. Mendengar suara Ling Kun-gi, Pui Ji ping tampak berdiri melongo. Suara ini amat dikenalnya, betapa dia telah berharap akan kedatangannya? Entah berapa ribu kali saking iseng dalam tahanan ini mereka membicarakan hari2 yang amat mereka dambakan ini, memang hanya Ling Kun-gi seoranglah yang menjadi titik sinar harapan mereka. Kini kenyataan sang perjaka yang diharapkan betul2 sudah berdiri dihadapan mereka. Sepasang mata Tong Bun-khing bagai mata burung Hong itu tampak berkaca2 lalu meneteskan air mata,"

Suaranya gemetar haru."Ling-toako, inibukan mimpibukan?"

Pu Ji-ping juga meneteskan air mata, teriak-nya keras.

"Toako, kau betul2 telah datang, kutahu kau pasti akan menolong kami, kenyataan sekarang kau betul telah kemari." -Dari balik terali dia masih kelihatan lincah, dengan mengembeng air mata, bicara sambil tertawa bak sekuntum bunga mekar yang ditaburi air embun, jernih dan tetap segar, cuma kelihatan agak kurus. Sungguh bukan main senang hati Ling Kun-gi, tapi juga merasa kasihan. Sejak mulai berkelana di Kangouw, nona yang dia jumpai pertama kali adalah Pui Ji-ping, selama ini dia pandang nona lincah ini sebagai adik kecilnya sendiri, ia kira tak pernah dirinya menaruh hati kepadanya. Tapi di luar sadarnya bibit asmara akan tumbuh dan bersemi di dalam sanubari orang, sudah tentu hal ini tak pernah dia pikir. Baru sekarang dia sadar Pui Ji.-ping juga telah menempati sesuatu sudut tersendiri, malah menduduki tempat yang cukup penting dalam hatinya. Selama beberapa bulan ini, siang malam selalu dia rindukan si dia, kini setelah berhadapan, bila tidak teraling jerujibesi mungkindiasudahmenubruk majusertamemeluknya. Tapi semua ini hanya gelora perasaan yang sekejap saja, dia sadar masih ada Yong King-tiong dan Tu Hong-sing di sampingnya, maka dengan mengerut alis dia bertanya.

"Bagaimana kalian bisa sampai tertawan oleh orang2 Hek-liong-hwe?"

Pui Ji-ping mengomel.

"Perempuan keparat yang bernama Liu-siancu itulah sebabnya. Hm, Siancu apa? Dia menamakan dirinya Siancu (dewi) segala, yang terang dia itu lebih patut dinamakan siluman centil, ingin rasanya kami menusuk badannya biar mampus baru terlampias penasaran kami"

"Tu-heng,"

Kata Yong King-tiong.

"pintu besi ini bagaimana cara membukanya?"-Pintu berjeruji itutiada, gembokataukunci, terang dikendalikan dengan alat rahasia juga.

"Terus terang aku sendiri tidak tahu cara membukanya, kecuali Nyo Ci-ko mungkin tiada orang lain yang bisa membuka pintu ini."

Berkerut alis Yong King-tiong, katanya berpaling kepada Kun-gi.

"Ling-kongcu, Pokiam yang kau bawa apakah bisa digunakan?"

Baru sekarang Kun-gi teringat akan pedang pusakanya, lekas dia berkata.

"Ya, biar Wanpwe mencobanya"

Lalu dia mengeluarkan Seng-ka-kiam dan berkata pula.

"Adik Ping, kalian mundur agak jauh."

Tong Bun-khing, Pui Ji-ping dan Cu Ya-khim segera mundur berjajar mepet dinding dalam.

Kun-gi mendekat, dan pelan2 menghirup napas mengerahkan tenaga di lengan kanan, pedang diangkatnya terus memapas terali besi.

"Trang", di mana sinar pedangnya berlalu, besi sebesar lengan bayi itu dengan mudah telah dipapasnya putus. Sekali berhasil bertambah keyakinan Ling Kun-gi, beruntun beberapa kali tabasan pula dia bikin suatu lubang besar pada terali besi yang mengurung ke-tiga nona itu. Ling Kun-gi simpan pedangnya, sambil berteriak senang girang Pui Ji-ping mendahului menerobos keluar.

"Toako,"

Teriaknya, selama dua bulan ini dia cukup menderita, kini suka-duka sama merangsang perasaannya, tanpa hiraukan orang banyak segera dia menubruk ke arah Ling Kun-gi.

Lekas Kun-gi memapahnya, katanya lirih.

"Pingmoay, berdirilah tegak, jangan seperti anak kecil , di hadapan orang banyak kau bisa ditertawakan."

Pui Ji-ping Jadi merah malu dan lekas mundur. Sementara Tong Bun-khing dan Cu Ya-khim juga sudah menerobos keluar.

"Ji-moaycu ( adik kedua ),"

Kata Kun-gi kepada Tong Bun-khing.

"cukup lama kalian sama menderita."

Tong Bun-khing menahan isak tangisanya, tangannya sibuk membetulkan sanggulnya, katanya dengan tersenyum rawan.

"Setiap hari kami berharap akan kedatangan Ling-toako, syukurlah hariini harapankami terkabul."

Tidak seperti Pui Ji-ping main tubruk dan peluk tapi mimiknya yangmesradan harusdikasihanisungguh membuatorangterharu. Kun-gi memandang Cu Ya-khim, katanya.

"Ji-moaycu, nona ini ......."

Pui Ji-ping segera menyela.

"Toako, inilah Piau-ci Cu Ya-khim yang sering kusebutkan padamu itu." -lalu dia berpaling dan berkata pula.

"Piauci, dia...."

Merah muka Cu Ya-khim mendengar Pui Ji -ping bilang "sering kusebutkan padamu", tapi sikapnya tampak wajar dan tertawa, katanya.

"Tak usah kau jelaskan, kutahu dia adalah kau punya ... ... Piauko". Balas digoda, Pui Ji-ping uring2an, serunya tak mau kalah.

"Kau punya berada di depan sana, jangan kuatir......."

Kun-gi sendiri ikut merah mukanya digoda ke-dua nona, lekas dia menyela.

"Marilah kuperkenalkan, inilah Paman Yong, sahabat karib ayahku almarhum, inilah Tu-tayhiap. Dapat menolong kalian dengan leluasa adalah berkat pertolongan mereka berdua."

Lekas Tong Bun-khing, Pui Ji-ping dan Cu Ya-khim memberi hormat kepada Yong King-tiong dan Tu Hong-sing, katanya serempak.

"Terima kasih Yong-lopek, Tu-tayhiap,"

Yong King-tiong dan Tu Hong-sing sama mengangguk. Lalu Kungi menerangkan asalusul ke-tiganona. Tong Bun-khing berkata.

"Ling-toako, yang tertawan bersama kami waktu itu ada puluhan orang "

Dari keluarga Ban dari Ui-san dan keluarga Kho dari Ciok-mui, mereka dikurung di kamar sebelah lekaslah kau tolong mereka sekalian. Tu Hong-sing tertawa, katanya.

"Nona tak usah kuatir, segera kubuka pintunya."

Pui Ji-ping melirik kepada Cu Ya-khim sambil mencibir, katanya.

"Ya Piauci, legakan saja hatimu."

"Setan kecil,"

Maki Cu Ya-khim dengan muka merah.

"takkan kuampuni kau nanti," -Sembar bicara dia memburu ke arah Pui Jiping. Dengan cekikikan lekas Pu Ji-ping lari sembunyi ke belakang Ling Kun-gi, teriaknya.

"Piauci ampun, tak berani lagi."

Sudah tentu Cu Ya-khim jadi rikuh, katanya "Ya, sekarang kau punya tempat untuk bersembunyi, apa kau dapat bersembunyi selamanya."

Pui Ji-ping segera unjuk muka setan, katanya tertawa.

"Segera kaupun akan punya tempat untuk bersembunyi."

Dalam pada itu Yong King-tiong dan Tu Hong-sing telah beranjak ke kamar sebelah, Kun-gi ajak ketiga nona maju ke sana.

Tampak Tu Hong-sing sedang masukan mata uang mas ke dalam lubang kecil, lalu menekan tombol, lekas sekali daun pintu lantas terbuka, seperti keadaan di kamar sebelah tadi, kamar di sinipun berterali besi.

Dalam kamar tahanan yang remang2 tampak terkurung dua orang, mereka memang Ban Jin-cun dan-Kho Keh-hoa.

Melihat keadaan Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa, kecut hati Cu Yakhim, baju yang mereka pakai ternyata lebih rombeng, rambut awut2an keadaannya lebih runyam daripada mereka bertiga, dengan mengembeng air mata lekas dia memburu ke depan terali, teriaknya.

"Ban-toako, lihatlah, Ling-toako datang menolong kalian."

Ban Jin-cun tampak melengak, tanyanya.

"Nona, kau siapa?"

Sambil membetulkan letak rambutnya Pui Ji-ping cekikikan, katanya.

"Dia adalah Cu Jing sahabatmu alias Piauciku, kenapa Banheng melupakan dia?"

Kembali Ban Jin-cun melenggong, teriaknya.

"Nona adalah.... .. ."

"Siaute Ling Kun-ping,"

Sela Ji-ping menggoda dengan tertawa jenaka.

"Inilah Tong-jiko Tong Bun-khing."

Kho Keh-hoa lantas mengerti, katanya sambil menghela napas.

"Kiranya kalian adalah nona2."

"Sekarang baru kalian tahu,"

Seru Pui Ji-ping terpingkal2. Lalu dia tuding Ling Kun-gi, katanya.

"Dia ini adalah Toakoku Ling Kun-gi, dia sengaja kemari menolong kita."

Lekas Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa memberi hormat. Sejak tadi Ling Kun-gi sudah siapkan Seng-ka-kiam, katanya.

"Ban-heng, Khoheng harap mundur dua langkah, biar kurusak dulu pintu terali ini, setelah kalian keluar baru bicara lagi"

Ban dan Kho berdua segera mundur, maka dengan mudah terali besi itu dirusak oleh Ling Kun-gi, dengan leluasa kedua orang lantas menerobos keluar, kembali mereka satu sama lain saling memperkenalkan diri.

Untuknaik keatas mereka membagiduarombongan, rombongan pertama Ling Kun-gi diiringi ketiga nona, setelah Tu Hong-sing mendorong maju kedua kursi, meja bundar itupun mulai bergerak naik ke atas, kejap lain keempat orangpun telah berada di kamar segi enam, Waktu meja kembali pada keadaan semula, keenam kursi itupun bergeraksendiriberpencar ketempat masing2.

Maka Kun-gi pimpin orang banyak mendorong kursi ke tengah pula, supaya meja kursi kembali turun ke bawah, Sudah tentu Tong Bun-khing, Pui Ji-ping dan Cu Ya-khim sama kagum dan tidak habis mengerti akansegala peralatanyangbergerakserbaotomatisini.

Setelah kursi ambles ke bawah, maka Kun-gi perkenalkan Tong Bun-khing bertiga kepada Hoan-kun.

Antara nona dan nona lebih gampang bergaul, cepat sekali merekapun sudah bergaul dengan akrab dan intim.

Tak lama kemudian rombongan keduapun telah naik ke atas, Un Hoan-kun keluarkan obat penawar dan satu persatu dia oles hidang kelima laki2 baju hijau, setelah berbangkis sekali kelima orang itupun siuman.

Sorot mata Yong King-tiong tajam berwibawa, katanya kereng.

"Kalian dengarkan, Heng-liong-hwe kini telah lebur, Han Jan-to sudah mampus, Cui Kin-inpun telah merat, Ceng-liong-tam CongkoanNyiCi-kojugamampus, mengingatkalianbiasanyajarang melakukan kejahatan, hari ini Lohu tidak ingin main bunuh, asal kalian mau bersumpah selanjutnya tidak menjadi antek musuh dan cakar alap2 kerajaan, sekarang tugas kalian mengumpulkan orang2 Pek-hoa-pang yang terjebak di lorong2 sesat, setelah keluar dari sini, kalian bebas memilih jalan hidup sendiri2, apa kalian mau terima kebijaksanaan ini?"

Melihat Nyo Ci-ko memang sudah mati, situasi jelas tidak menguntungkan, maka serentak mereka menjura dan menyatakan setuju dan tunduk.

"Syukurlah kalian mau insaf, nah inilah Sip-hun-wan buatan khusus dari keluarga Un kami di Linglam, dalam dua belas jam kalau tiada obat penawarnya. selama hidup kalian akan menjadi orang pikun dan gila, tapi bila kalian menunaikan tugas dengan baik sesuai dengan perintah paman Yong tadi, setelah keluar dari sini, obat penawarnya akan kubagikan pula kepada kalian,"

Demikian pesan Un Hoa-kun.

Lalu dia keluarkan lima butir pil dan ditaruh di meja.

Bahwa mereka harus menelan Sip-hun-wan, sudah tentu kelima orang ragu2 dan saling pandang dengan bingung.

Tu Hong-sing segera menghardik.

"Apa pula yang kalian ragukan? Bukankah tadi akupun telah menelan sebutir? Jangan kuatir, nona Un pasti menepati janji, sekarang lekas ambil dan telan, jangan membuang waktu lagi."

Kelima laki2 baju hijau tidak berani ayal lagi, setiap orang maju mengambil sebutir pit terus ditelannya.

"Sekarang tenaga kita di sini cukup banyak,"

Demikian Yong King-tiong sambil menyapu pandang seluruh hadirin.

"tapi yang kenal dengan orang Pek-hoa-pang hanya Ling-kongcu dan nona Un", kalau satu lama lain tidak saling kenal, pasti bisa menimbulkan salah paham dalam usaha pencarian mereka, maka Losiu berpendapat lebih baik Ling-kongcu bersama nona Un berdua saja yang masuk mencari mereka."

"Ucapan Yong-lopek memang beralasan,"

Ujar Kun-gi.

"soal menolong orang memang adalah kewajiban Wanpwe sesuai pesan bibi, sekarang biarlah Wanpwe saja yang mencari mereka."

Sudah tentu berbeda perasaan antara tiga nona demi mendengar Kun-gi bilang "kami berdua".

Tong Bun-khing berwatak lembut dan tidak usil mulut, tapi tidak demikian dengan Pui Ji-ping yang binal dan suka usil, segera dia menyeletuk.

"Ling-toako, aku mau ikut,"

"Adik Ping, dalam lorong sana banyak anak cabang yang berbelit2, keadaan gelap pula, sembarang waktu menghadani bahaya, lebih baik kau ikut orang banyak menunggu dan istirahat saja di sini, setelah menemukan orang2 Pek-hoa-pang kita akan cepat keluar dan kumpul pula di sini, kalau terlalu banyak orang malah kurang leluasa."

"Betul,"

Sela Yong King-tiong.

"lebih baik kalian tunggu saja di sini, ketahuilah di sini ada enam sudut pintu, pada hal kita hanya bisa membagi dua kelompok, setelah setiap sudut pintu diperiksa harus segera mundur dan keluar memeriksa sudut pintu yang lain, kalau kalian tinggal di sini sembarang waktu kan bisa memberi bantuan dan menjaga jalan mundur mereka."

"Yong-congkoan,"

Timbrung Tu Hong-sing, agaknya kau belum jelas akan keadaan di sini, walau tempat ini merupakan mulut atau jalan keluar Ceng-liong-tam, tapi keadaan di dalam keenam sudut pintu situ sama lain tiada bedanya, kita cukup membagi dua kelompok masuk ke dalam mencari mereka, cuma perlu dijanjikan dulu jalan2 mana yang harus ditempuh masing2 kelompok, setelah sampai pada suatu tempat dapat berkumpul lalu ke-luar bersama."

"Kiranya begitu,"

Ujar Yong King-tiong.

"Kalau begitu tentu bisa menghemat tenaga dan waktu. Ling-kongcu jangan membuang waktu lagi, bersama Tu-heng pimpinlah mereka (kelima laki2 baju hijau) dalam satu rombongan, Lohu akan bawa sia yang lain dalam rombongan kedua, cuma kita harus membawa obor lebih banyak Nah, sekarang berangkat,"

"Wanpwe terima petunjuk,"

Kata Kun-gi. Tu Hong-sing berkata.

"Setiap orang yang bertugas di Ceng-liong-tam harus membawa obor khusus, jalan yang mesti ditempuh masing2 kelompok harus diatur dan direncanakan dulu, supaya tiada yang ketinggalan dalam usaha mencari mereka."

"Kalau begitu, tolong Tu-heng saja yang membagi tugas,"

Ucap Yong King-tiong.. Tu Hong-sing lantas memberi pesan pada kelima orang baju hijau.

"Kelompok pertama harus masuk dari Thian-mui, membelok kanan keluar dari Te-mui. Kelompok yang lain masuk dari Te-mui, belok kanan keluar dari Thian-mui."

Kelima orang baju hitam mengiakan bersama.

Yong King-tiong lantas pimpin Un Hoan-kun dan tiga laki2 baju hijau memasuki Thian-mui dari sebelah kiri setelah menyulut obor.

Sementara Kun-gi bersama Tu Hong-sing dengan dua laki2 baju hijau masuk melalui Te-mui dari sebelah kanan, merekapun membawa obor.

Sia yang laintetapberjagadi kamar segienam.

Setelah kedua kelompok orang itu masuk, tanpa terasa Pui Ji-ping mengerut kening, tanyanya.

"Tong-cici, entah orang2 Pek-hoapang apa yang dicari oleh Ling-toako?"

"Bukankah Hek-liong-hwe anggap kita orang Pek-hoa-pang? Mungkin kedua kelompok Pang dan Hwe ini terjadi bentrokan sengit, Ling-toako bantu pihak Pek-hoa-pang menggempur Hek-liong-hwe, maka dia bisa menolong kita,"

Lalu Tong Bun-khing berpaling ke arah Siau-tho dan bertanya.

"Nona, betul tidak terkaanku?"

"Ah, hamba hanya seorang pelayan yang melayani keperluan Congkoan, apa yang kuketahui hanya sedikit saja, kalau tak salah Ling-kongcu adalah Cong-hou-hoat-su-cia dari Pek-hoa-pang, Han-hwecu dari Hek-liong-hwe adalah pembunuh ayahnya. sedang Yong-congkoan adalah sahabat karib ayah Ling-kongcu, maka dia, bantu Ling-kongcu menggempur Hek-liong-hwe."

"Lalu siapa itu nona Un?"

Tanya Ji-ping.

"Kudengar tadi Ling-kongcu pernah bilang, sejak mula nona Un memang sudah kenal baik dengan Ling-kongcu. waktu Ling-kongcu menyelundup ke Pek-hoa-pang, nona Un ikut membantu dengan menyamar Bi-kui dalam Pek-hoa-pang, untung tadi dia tertolong oleh Ling-kongcu dari lorong2 sesat di dalam."

"Kalau Ling-kongcu menyelundup ke dalam Pek-hoa-pang. bagaimana mungkin bisa diangkat menjadi Cong-hou-hoat-su-cia dariPek-hoa-pang?"

Demikian tanya Cu Ya-khim.

"Entahlah, hambasendirijugatidak tahu."sahutSiau-tho.

"Kukira dalam hal ini ada banyak persoalan yang berbelit,"

Timbrung Tong Bun-khing.

"Biarlah kita tunggu setelah Ling-toako keluar baru kita tanya padanya."

Bersungut Pui Ji-ping, katanya dengan tertawa.

"Kalau mau tanya, kau saja yang tanya padanya." -000-0dw0-000 Kini kita ikuti rombongan Ling Kun-gi, Tu Hong-sing membawa obor berjalan di depan diikuti Kun-gi, lalu kedua orang baju hijau yang juga membawa obor. Di bawah penerangan tiga batang obor lorong yang gelap gulita itu menjadi cukup terang, dalam jarak sepuluh tombak keadaan sekitarnya dapat terlihat dengan nyata. Tadi Kun-gi baru masuk puluhan tombak saja di dalam lorong2 sesat ini, maka dia belum tahu di mana letak rahasia inti lorong2 sesat ini. Kali ini Tu Hong-sing jadi penunjuk jalan, setelah belok kanan tikung kiri, di antara lorong2 sempit itu banyak pula cabangnya sehingga mirip sarang labah2. Banyak jalan cabang yang berliku2 setelah ditempuh sekian lamanya baru diketahui bahwa lorong itu buntu, terpaksa harus putar balik. Tapi bukan mustahil kembalinya akan salah jalan ke cabang yang lain pula. Bila tiada penunjuk jalan, sekalisalah langkahbesarsekaliakibatnya, mungkin selamanyatakkan bisa keluardaritempatyang menyesatkanini. Tapi tugas Kun-gi kini harus menjelajah seluruh lorong2 ini untuk menemukan dan menolong orang2 Pek-hoa-pang yang terkurung, maka setiap lorong cabang kudu diperiksanya, umpama menemukan lorong-lorong buntu juga harus diperiksa. Diam2 Kun-gi menaruh perhatian, sepanjang jalan ini makin banyak cabang yang simpang siur, putar sana belok sini, dan membuat orang pusing tujuh keliling, tapi setiap kali bila tiba pada lorong yang agak lebar dan merupakan lorong penting, maka selalu ada belokan ke kanan dan ini berarti tidak salah jalan lagi. Semula dia masih was-was dan menaruh curiga pada Tu Hong-sing, lambat laun dia yakin Tu Hong-sing dapat bekerja jujur dan betul2 memeras keringat. Setelah terbukti Tu Hong-sing bekerja sekuat tenaga, maka Kungi juga pusatkan perhatiannya, mata kuping dipasang tajam, pikiran dia tumplek dalam usaha pencarian orang2 Pek-hoa-pang. Sebetulnya jalan lurus yang penting dalam lorong ini hanya ada enam jalur, tapi lantaran pada jarak tertentu ada cabang yang rumit dan membingungkan, adakalanya setelah menyusur pergi datang ternyata masih tetap berada dilorong yang sama, maka kerja mencari orang ini sungguh amat berat dan menghabiskan tenaga, apalagisetiappelosokharus merekajelajahi. Tengah mereka berjalan, tiba2 Kun-gi mendengar kira2 sepuluh tombak di sebelah depan lapat2 seperti ada suara keresekan. Suara itu sangat itu lirih seperti daun jatuh, meski seorang persilatan yang memiliki Lwekang tinggi juga harus tumplek perhatian mendengarkan dengan cermat baru dapat mendengar suara itu. Maklum derap langkah mereka berempat sendiri sudah menimbulkan suara yang ramai, tapi Kun-gi dapat mendengar suara geseran sesuatu itu diantara derap kaki mereka, Mungkin seekor tikus yang lari ketakutan. Pendek kata suara itu amat lirih, tapi sekilas pasang kuping Kun-gi lantas menghentikan langkah, katanya dengan suara tertahan.

"Tu-heng, berhenti dulu, apa di depan ada persimpangan jalan pula?"

Tu Hong,-sing berhenti, sahutnya.

"Betul, tapi dari sini ke persimpangan jalan masih sepuluh tombak."

"Di persimpangan jalan depan ada orang bersembunyi, entah dia kawan atau lawan?"

Demikian kata Kun-gi.

"Ada orang sembunyi didepan? Bagaimana Ling-kongcu bisa tahu?"

Tanya Tu Hong-sing heran.

"Lapat2 kudengar dalam jarak sepuluh tombak di depan ada suara napas pelahan empat-lima orang, tapi jalan yang kita tempuh ini jalan lurus, bayangan manusia tidak kelihatan, maka kuduga pasti mereka sembunyi di persimpangan jalan."

Tu Hong-sing kaget, katanya heran.

"Jadi Ling-kongcu sudah dengar suara pernapasan mereka."

"Dalam lorong ini mudah menimbulkan gema suara, apalagi mereka sembunyi ditempat gelap, karena hati merasa tegang hendak menyergap musuh, meski menahan napas tapi deru napasnya menjadi lebih berat dari biasanya."

"Kemampuan Ling-kongcu yang luar biasa ini sungguh mengagumkan......"pujiTuHong-sing. Belum habis dia bicara kini iapun mendengar suara lambaian pakaian orang, lalu tampak empat sosok bayangan orang berkelebat keluar dari kanan-kiri persimpangan jalan di depan. Lalu menyusul suara seorang gadis membentak.

"Pendatang berhenti, kalau mau hidup lekas buang senjata dan tinggalkan orangnya, kalau tidak kalian bertiga bangsat ini jangan harap bisa hidup!" -Agaknya dia sudah melihat tiga orang Hek-liong-hwe, ucapannya supaya meninggalkan orang mungkin dia mengira Ling Kun-gi menjadi tawanan musuh yang sengaja di gusur kemari. Maklumlah di depan Ling Kun-gi adalah Tu Hong-sing yang menenteng pedang, di belakangnya adalah dua laki2 baju hijau, jadi se-olah2Kun-giadalah tawanan mereka. Begitu mendengar suara orang, berdegup girang hati Kun-gi, segera dia melompat maju dan berseru.

"Pangcu, Cayhe memang sedang mencari kalian."

"Hah......"

Dari lorong di depan terdengar teriakan tertahan, nada yang mengandung rasa kaget dan kegirangan luar biasa, sesosok bayangan langsing segera melejit maju, teriaknya.

"Lingheng, ......"

Karena hati senang, seperti seorang yang sudah lama tersesat kini bertemu dengan sanak familinya, maka dia berlari menubruk datang.

Maklumlah seorang remaja yang sekian lamanya tersesat di lorong gelap ini, kini bertemu dengan perjaka pujaannya, maka dia ingin melimpahkan seluruh perasaannya, kini dia perlu bujuk dan hibur manja.

Namun betapapun dia adalah Pek-hoa-pang Pangcu, dihadapan orang luar, apalagi di depan dayangnya, betapapun dia tetap harus pegang gengsi sebagai Pangcu yang berwibawa dan disegani.

Untunglah seruan "Pangcu"

Kun-gi telah menyentak sanubarinya. Kira2 beberapa kaki di depan Kun-gi dia berhenti, matanya yang jeli tampak berkaca2, wajahnya berseri girang, katanya.

"Ling-heng, bagaimana kau bisa menemukan tempat ini? Kau tidak apa2? Rombongan kami telah tercerai berai." -Meski masih tertawa, tapi wajahnya sudah basah air mata, katanya pula.

"Lihatlah, kini tinggal kami berlima orang sungguh aku tidak tahu cara bagaimana harus memberipertanggunganjawab kepadaSuhu?"

"Pangcu tidak usah sedih,"

Bujuk Kun -gi.

"lorong sesat di Ceng-liong-tam ini memang amat berbahaya, orang2 yang tercerai-berai pasti dapat kita temukan, Cayhe memang sedang mencari kalian."

Bok-tan melirik Tu Hong-sing bertiga, tanyanya.

"Kenapa kau tidak menungguku?"

"Nona mau ke mana? "Kau menyamar lagi bukankah ka hendak menemuka pengejaranmu?"

U n "Bukankah mereka orange Hek-liong-hwe kenapa . ."

Memancarkan sinar aneh, katanya dengan mesra.

"Kembali Lingheng membuat pahala besar. Ai, aku sungguh menyesal."

Tak enak dia banyak bicara, terpaksa ia mendesak .

"Syukurlah kami berhasil menemukan Pangcu, cuma lorong sesat ini banyak cabang yang simpang siur, kami membagi dua rombongan untuk mencari kalian, tugas kami belum lagi selesai, waktu amat berharga, kinisilakan Pangcu ikut dalamrombongan ini."

Bok-tan membetulkan rambutnya, katanya tertawa.

"Entah berapa lama kita ubek2an di tempat ini, obor yang kami bawapun telah padam kehabisan minyak, sudah tentu kami harus ikut kau."

Kun-gi angkat sebelah tangannya, katanya.

"Tu-heng bertiga membawaobor, silakan berjalandidepan saja."

Maka Tu Hong-sing bertiga lantas jalan di depan, Bok-tan dan Kungiditengah,empatdayangikutdibelakang mereka. Bok-tan jalan berendeng dengan Kun-gi, tanyanya sambil berpaling.

"Siapapuladalamrombongankedua?"

Kun-gi ragu2 sebentar, dia sadar cepat atau lambat persoalan ini harus dibicarakan, lebih baik sekarang saja dibicarakan sama dia, maka dengan tertawa ia berkata.

"Sebetulnya Pangcu sudah kenal dia, tapikenyataansekarangsudahbukandialagi."

"Siapa yang Ling-heng maksudkan?"

Tanya Bok-tan heran.

"Bi-kui."

"Kiu-moay maksudmu?"

Bok-tan tertawa geli. Tiba2 seperti ingat apa2, dia bertanya pula.

"Bagaimana mungkin bukan dia lagi?"

"Bi-kui asli adalah salah satu agen kalian yang diselundupkan ke Hek-liong-hwe, padahal jejaknya sudah diketahui musuh dan kini sudah ajal, yang menyamar jadi Bi-kui sekarang adalah Un Hoan-kun ...."

Berubah air muka Buk-tan.

"Dia adalah orang Hek-liong-hwe?-"

"Bukan,"

Sahut Kun-gi.

"Dia anak keluarga Un dari Ling-lam, sebelumnya sudah kenal baik dengan Cayhe. tanpa sengaja dia menemukan Giok-je dan lain2 memasukan Cayhe ke dalam karung, maka dia menyaru jadi Bi-kui terus menguntit ."

Bok-tan meliriknya, tawanya mengandung arti, katanya.

"Kalian berhubunganbaiksekali, benartidak?"

Teringat pesan Thay-siang sebelum ajal, berdegup keras jantung Kun-gi, lekas dia berkata.

"Dengan dia Cayhe hanya ...."

"Tak perlu kau jelaskan,"

Tukas Bok-tan.

"aku tidak salahkan kau." -Suaranya begitu lirih, mungkin hanya Kun-gi saja yang bisa mendengar, tapi selebar mukanya sudah merah jengah. Kun-gi juga merasa panas mukanya, hatinya baru dan lega, katanya lirih.

"Terima kasih ... ."

Selanjutnya mereka terus maju ke depan tanpa bersuara, beberapa kejap lagi baru Kun-gi berkata.

"Pangcu, ada satu hal mungkin juga di luar dugaanmu."

Berkedip2 Bok-tan.tanyanya."Soalapa?"

"Kau tahu pernah apakah Thay-siang dengan Cayhe?"

Hal ini memang betul2 membuat Bok-tan melengak di luar dugaan, tanyanya.

"Pernah apamu?"

"Dia adalah Bibiku, beliau adik ibu kandungku."

"Apa betul?"

Bok-tan berteriak kaget dan senang.

"Ya, kuingat sekarang, kau pernah bilang ibumu she Thi, darimana kau tahu akan hal ini?"

Maka Kun-gi lantas bercerita secara singkat bagaimana kakek luarnya dulu mendirikan Hek-liong-hwe, tatkala ibunya menikah dengan ayahnya, Thay-siang minggat tak keruan parannya, akhirnya Han Jan-to menjual Hek-liong-hwe kepada kerajaan.

"Kiranya begini liku2nya,"

Ucap Bok-tan.

"tak heran kau suruh Sam-moay (Giok-lan) jangan bilang padaku tentang ibumu she Thi. O, ya, apa-kah Pekbo juga datang?"

"Ibuku sudah berangkat, mungkin sekarang berada di Gak-kohbio, beliau minta Cayhe bawa Pangcu menghadapnya."

"Em,"

Bok-tan bersuara pelahan, wajahnya yang semula pucat tampak merah malu, tapi sorot matanya tampak senang dan bersemangat, tanyanya riang.

"Apakah Suhuku juga di Gak-kohbio?"

Sesaat Ling Kun-gi jadi serta salah untuk menjawab, hanya secara samar2 mengiakan. Untung mereka sudah tiba di ujung lorongdantibadikamar segienam. Pui Ji-ping segera berteriak menyambut.

"Ling-toako, sudah kauketemukan Pek-hoa ......"

Belum habis bersuara dilihatnya di belakang Kun-gi berjalan keluar seorang gadis berwajah jelita mengenakan pakaian ketat, dasar kainnya warna kuning, tepat di depan dadanya tersulam sekuntum Bok-tan, dengan leher tinggi bertitik warna emas, di pinggangnya tergantung pedang.

rambutnya digelung mirip puteri keraton yang diberi bermacam perhiasan, meski agak semrawut dan wajahnya kelihatan kotor, mungkin sudah tiga hari tak pernah berdandan, tapi sikapnya kelihatan anggun.

Berhadapan dengan Pek-hoa-pangcu yang agung dan berwibawa sekilas Pui Ji-ping jadi melenggong, kata2 selanjutnyapun lupa terucapkan.

"Ling-heng,"

Tanya Bok-tan tertawa.

"dia inikah adik dari keluarga Un?"

Dalam hati Tong Bun-khing juga menggerutu, lagi nona yang begitu mesra dan aleman pada Ling-toakonya ini. Lekas Pui Ji ping menggeleng kepala, katanya.

"Aku bukan Un-cici, aku bernama Pui Ji-ping, Cici ini ......"

Tiba2 dia menuding ke sudut pintu di depan sana serta menambahkan dengan tertawa.

"Nah, ituUn-cicisudah keluar."

Dari sudut pintu bagian tengah sedang beranjak keluar sebarisan orang, paling depan adalah dua laki2 baju hijau penunjuk jalan diikuti Yong King-tiong Un Hoan-kun, Giok-lan, Ci-hwi dan seorang Nikoh tua dengan pedang dipunggungnya, dia inilah Bing-gwat Suthay.

Melihat Bok-tan sudah berada di sini, tanpa janji Un Hoan-kun, Giok-lan dan Ci-hwi sama berteriak girang.

"Pangcu!" -Seperti berlomba saja mereka berebut maju serta memberi hormat. Mendengar orang banyak sama memanggil "Pangcu", diam2 Pui Ji-ping melengak heran. Bok-tan maju selangkah memegang kedua tangan Un Hoan-kun, katanya haru dan penuh nada terima kasih.

"Nona Un, berkat pertolonganmu sepanjang jalan ini, kau telah menolong Sam-moay bertiga lagi, entah bagaimana aku harus berterima kasih padamu."

Un Hoan-kun melengak sejenak, tanyanya.

"Pangcu sudah tahu?"

Bok-tan manggut, katanya.

"Barusan Ling-heng sudah menjelaskan padaku." -Sebentar matanya menjelajah lalu berkata.

"Dalam rombongan kita masih ada Coh-houhoat Leng Tio-cong, serta Liang Ih-jun dan Yap Kay-sian, apakah mereka tidak di temukan?"

"Leng Tio-cong dan Yap Kay-sian sudah gugur, beruntung Liang Ih-jun lolos dari barisan pedang, badannya terluka delapan belas goresan pedang, sekarang di luar sedang menyembuhkan luka2nya Ling Kun-gi memberi keterangan singkat. Guram wajah Bok-tan, katanya.

"Rombongan kita sungguh bernasib amat jelek." -Lalu dia ang-kat kepala bertanya kepada Kun-gi.

"Ling-heng, apa kau melihat Jimoay dan rombongannya?"

"Waktu Cayhe kemari di sebuah lorong bertemu dengan Coa Liang, lukanya amat parah, dia cuma bisa menuding ke suatu arah dan tak mampu bicara, belakangan dari mulut Han Jan-to dapat kuduga bahwa Hupangcu terjebak di Hwi-liong-tong, dari sini kita bisa maju lebih lanjut untuk mencari mereka di Hwi-liong-tong." -Lalu satu persatu dia perkenalkan seluruh hadirin. Berkata Yong King-tiong dengan mengelus jeng-got.

"Ling-kongcu, urusan di sini sudah beres, marilah kita lekas lanjutkan tugas yang lain."

Di bawah pimpinan Yong King-tiong mereka meninggalkan kamar segi enam dan membalik ke arah datangnya semula.

Waktu lewat lorong barisan pedang, tiada seorangpun yang melelet lidah dan mengkirik dibuatnya.

Kini Tu Hong-sing berjalan paling depan, dia bertugas membuka pintu rahasia.

Liang Ih-jun segera menyambut ke hadapan Bok-tan dan Kun-gi, katanya sambil hormat.

"Pangcu, hamba sudah gelisah tak karuan, ribuan barisan pedang terpasang di dalam pintu ini, entah bagaimana perjalanan Congcoh mencari Pangcu, kini syukurlah kalian telah kembali dengan selamat ......"

"Luka2 Liang-heng apa sudah sembuh?"

Tanya Kun-gi "Berkat pertolongan Congcoh, jiwa Cayhe-ter-tolong, kini sudah jauh lebih baik,"

"Sejak kini aku bukan Cong-hou-hoat-su-cia segala, selanjutnya Liang-heng takusah memanggilku demikian."

Giok-lan melirik Bok-tan, katanya keheranan.

"Ling-kongcu kan baik2 saja, kenapa ......."

Kun-gi tertawa kecut, katanya.

"Kalau dibicarakan sungguh amat menyesal, dikala Cayhe memasuki Ui-liong tong seluruh rombongan tertumpas habis, waktu Cayhe bertemu Thay-siang di Hek-liongtam, beliau sudah terima pengunduran diriku sebagai Cong-houhoat-su-cia, belakangan kuketahui bahwa Pangcu dan rombongan Hupangcu terperangkap di Ceng-liong-tong dan Hwi-liong-tong, maka Cayhe mengajukan diri mohon persetujuan Thay-siang untuk menolong orang banyak, setelah meninggalkan lorong2 di perut gunung ini, selanjutnya Cayhe sudah bukan anggota Pek-hoa-pang lagi." -karena Thay-siang adalah bibinya, maka peristiwa ledakan dahsyat oleh bahan peledak yang tersimpan dalam tandu sehingga seluruhanak buahnyagugurtidakenakdiaceritakan. Bok-tan tertawa wajar, katanya.

"Meski bukan Cong-su-cia, tapi Ling-heng tetapadalahkeluargaPek-hoa-pang, betultidak?"

Rombongan kali ini jumlahnya lebih banyak, sambil jalan mereka mengobrol serta mengagumi bangunan lorong2 yang membingungkan di sini, tanpa terasa mereka sudah berada di sebuah lorong lurus dan lebar.

Yong King-tiong menghentikan langkah, serunya sambil membalik badan.

"Perhatian, sekarang kita sudah keluar dari lingkungan Ceng-liong-tam, di luar pintu batu di luar sana sudah termasuk Hwi-liong-tong. Di Hwi-liong-tong ada Cap-coat-kiam-tin dan Cap-ji-sing-siok, meski kedua barisan lihay ini sudah tertumpas habis, tapi kelompok mereka yang berdinas di luar masih punya jago2 kosen yang lihay, maka kalian harus hati2 dan selalu siaga." -Habis berkata dia melangkah lebar ke depan. Tidak jauh mereka sudah tiba di ujung lorong, di mana mengadang sebuah dinding. Yong King-tiong langsung menekan sebuah tombol di dinding, maka terbukalah sebuah pintu, dia mendahului melangkah masuk. Di luar pintu adalah lorong panjang pula, tapi kira2 lima tombak Yong King-tiong beranjak, Tu Hong-sing lantas mengerut kening, katanya lirih. Yong-congkoan, harap berhenti dulu!"

"Ada apa?"

Tanya Yong King-tiong.

"Mungkin Yong-congkoan belum pernah datang di Hwi-liong koan?"

"Hwi-liong-koan?"

Yong King-tiong balas tanya.

"Lohu memang belum pernah ke sana? Memangnya di mana letak Hwi-liong-koan??? "Setelah dipugar barulah kedua tempat itu dinamakan Ceng-liong-tam dan Hwi-liong koan, ke duanya dibawah pengawasan langsung Cui Kin-in, merupakan dua tempat yang paling rahasia dalam Hek-liong-hwe, bila engkau berjalan lurus ke depan itu berarti langsung menuju Ceng-liong-tong".

"Kalau begitu, sia2 Lohu menjabat Congkoan di Hek-liong-hwe selama dua puluh tahun ini,"

Demikian ujar Yong King-tiong dengan gegetun. Lalu dia bertanya.

"Coba katakan, lalu ke mana arahnya untuk pergi ke Hwi-liong-koan?"

"Pintu rahasia yang menembus ke Hwi-liong-koan berada di sini, cuma bila pintu di sini terbuka, maka kedua lorong yang menjurus ke dalam ini akan buntu dengan sendirinya, jumlah orang kita kali ini lebih banyak, untuk ini perlu kita berdiri saling berhimpitan sedikit,"

Setelah suruh orang banyak kumpul di satu tempat yang ditunjuk, baru Tu Hong-sing mendekati kaki dinding sebelah kiri, di sana dia menggagap sebentar, lalu berpindah ke dinding sebelah kanan, di sana iapun meraba sekian lamanya.

Kemudian terdengarlah suara gemuruh seperti roda raksasa yang menggelindang pelan, dua lapis dinding di kiri-kanan pelan2 terbuka sendiri, tapi bertepatan dengan itu, tepat pada mulut lorong yang menembus ke depan dan belakang itu melorot turun pelan sebuah daun pintu pemisah yang tebal dan berat menutup lubang lorong, seperti pintu dam saja kedua lorong ini tertutup rapat takkan bisa dibuka lagi untuk selamanya.

Yong King-tiong terbeliak kagum, katanya.

"Sejak kapan tempat ini dibangun?"

"Hampir sepuluh tahun yang lalu,"

Sahut Tu Hong-sing.

"waktu ituKiSengjiang masih menjabatCongkoandisini."

Ia tuding lorong sebelah kanan serta menambahkan.

"Kalau orang2 Pek-hoa-pang menyerbu ke Hwi-liong-tong, orang2 Hek-liong-tong tak perlu melawan, mereka akan masuk perangkap dan terpancing masuk ke Hwi-liong-koan, siapapun bila masuk ke Hwi-liong-koan, seperti juga masuk ke Ceng-liong-tam, cukup asal pintu dinding ini diturunkan dan jangan harap mereka bisa keluar."

"Kalau kita sudah masuk ke sana, lalu bagaimana?"

Tanya Yong King-tiong.

"Untuk ini Congkoan tak usah kuatir, tombol rahasia pintu ini berada di bawah daun pintu, setelah lorong di sini beralih dan berubah bentuk, dari luar takkan bisa dibuka lagi, cukup asal kita membagi beberapa orang berjaga di sini, segalanya tidak perlu dibuat kuatir."

Bok-tan pandang seluruh hadirin lalu berkata.

"Sam-moay, Cap-moay, Bing-gwat Suthay dan Bak-ni boleh berjaga saja di sini."

Kuatir keempat orang ini kurang tenaga, maka dengan tertawa Kun-gi pandang Bok-tan dan Tong Bun-khing beramai, katanya.

"Tujuan kita masuk ke sana untuk menolong orang, kalau tempat itu dinamakan Hwi-liong-koan, pasti di sana terpasang perangkap lihay dan berbahaya, kalau terlalu banyak orang malah kurang leluasa, menurut pendapatku. Pangcu, nona Tong, nona Cu dan Puisiaumoay besertaSiau-thotetapikutberjagadisini saja."

"Tidak,"

Sela Bok-tan tegas.

"sebagai Pek-hoa-pang Pangcu, aku wajib ikut masuk mencariorang."

"Baiklah kalau begitu, sisanya yang lain harap tetap berada di sini, marilah kita masuk bersama,"

Demikian Yong King-tiong ambil keputusan.

Maka Tu Hong-sing tetap bertugas jadi penunjuk jalan, Yong King-tiong, Ling Kun-gi, Bok-tan, Ban Jin-cun, Kho Keh-hoa, Liang Ih-jun dan tiga jago pedang baju hitam bersepuluh orang beriring masuk ke lorong sebelah kiri.

Sepuluh tombak kemudian keadaan mendadak berubah, lorong itu menjadi luas dan lebar, bentuknya seperti sebuah aula panjang, di depan kembali mereka diadang lapisan dinding besar, tepat di bagian tengah bertatahkan dua huruf besar warna merah yang menyolok berbunyi "Hwi Liong"

Di bawah tulisan adalah dua sayap pintu yang bercat merah darah.

Sudah tentu daun pintu besar ini juga terbuat dari batu, cuma daun pintu dicat, maka kelihatannya mirip daun pintu umumnya.

Malah pada daun pintu ada sepasang gelang besi yang berukir binatang pula, kelihatan amat angker.

Hwi-liong-koan memang sesuai namanya, bentuknya memang seperti sebuah benteng.

Bagi orang yang tidak tahu pasti mengira tempatiniadalah Hwi-liong-tong.

Rombongan kedua yang dipimpin Hupangcu So-yok bertugas menyerbu kemari, pastilah mereka terpancing masuk ke Hwi-liong koan ini.

Tiba di bawah benteng Yong King-tiong mengamati keadaan sekelilingnya, lalu berpaling dan bertanya.

"Apakah Tu-heng tahu bagaimana keadaan di dalam Hwi-liong-koan?"

"Pernah aku mmemperoleh tugas dua kali masuk kemari, tapi hanya berhenti di bawah benteng saja, bagaimana keadaan di dalam aku sendiri tidak jelas, cuma pernah kudengar pembicaraan Hwi-liong-koancu Oh Coan-oh, katanya di dalam banyak terdapat rumah2 batu."

"Oh Coan-oh dulu pernah menjadi anak buah-ku, pernah menjabat Sincu (ketua barisan ronda), coba kau panggil dia keluar menemui aku."

Tu Hong-sing menyengir, katanya.

"Ya, kenapa aku lupa bahwa engkau dulu petuah menjabat wakil komandan ronda Hwi-liongtong, Oh Coan-oh memang bekas anak buahmu."

Yong King-tiong menghela napas pelahan, katanya.

"Waktu itu Hek-liong hwe masih menentang kerajaan yang sekarang, kini Hekliong-hwe sudah dijadikan alat untuk menumpas dan menjebak para pahlawan bangsa yang menentang kerajaan, situasi dan keadaan sekarang sudah jauh berbeda."

Dalam pada itu Tu Hong-sing telah maju mendekati pintu, gelang pintu dia putar ke kanan-kiri tiga kali. Maka dari mulut binatang yang terukir pada gelang besi berkumandang suara bertanya.

"Siapa di luar?"

"Hek-liong-tam Yong-congkoan minta Oh-koan-cu keluar menjawab pertanyaannya,"

Kata Tu Hong-sing lantang... Orang di dalam segera menyahut.

"Baik, Cayhe akan segera melaporkan." -Keadaan kembali menjadi sunyi. Lekas sekali kedua daun pintu besar terbuka pelan2 tanpa mengeluarkan suara, dua laki2 baju hitam ketat menenteng lampion beranjak ke-luar bersama. Di belakangnya pula seorang laki2 berusia lima puluhan berjubah hijau. Orang ini, adalah Hwi-liong-koan Koan-cu Oh Coan oh, sekilas dilihatnya Yong King-tiong berdiri di depan rombongan orang banyak, lekas dia maju lagi dua langkah serta menjura, sapanya.

"Hamba tidak tahu akan kedatangan Yong cong-koan, maaf akan keterlambatan penyambutan ini."

Yong King-tiong tertawa sambil mengelus jenggot, katanya..

"Oh-heng tak usah banyak adat, kini aku sudah bukan Hek-liongtam Congkoan lagi."

Oh Coan-oh membungkuk badan, katanya dengan tertawa.

"Kalau demikian, Yong-congkoan tentu naik pangkat."

Tiba2 Yong King-tiong menarik muka, katanya sedikit mendengus "Memangnya kecuali mengejar pangkat dan kedudukan, apakah benakOh-hengtak pernah memikirkansoal lain?"

Oh Coan-oh tampak tertegun, ia mengawasi Yong King-tiong, suaranya kedengaran sumbang.

"Yong-congkoan ......."

"Oh Coan-oh,"

Bentak Yong King-tiong.

"ingin kutanya padamu, dulu waktu kau menjabat Sincu Hek-liong-hwe, bukankah kau anggota setia dari Thay-yang-kau?"

Tergagap Oh Coan-oh, katanya dengan ragu2... ."

"Baik, sekarang Lohu beritahu padamu, Han Jan-to sudah mati, Cui Kin-in sudah melarikan diri, Hek-liong-hwe juga sudah dihancurkan, impianmu untuk naik pangkat sudah sirna sama sekali, maka sadarlah kau."

Pucat muka Oh Coan oh saking kaget dan jeri, katanya sambil menyeka keringat.

"Kau orang tua ....."

"Lepaskan orang Pek-hoa-pang yang masuk perangkap, mengingat hubungan baik kita dulu Lohu boleh mengampuni jiwamu, setelah meninggalkan tempatini......."

Belum habis dia bicara dari dalam Hek-liong-koan tiba2 berkumandanggelaktawaseseorang, katanya."Yong-hengternyata adadisini, agaknyakedatanganku belumterlambat."

Belum habis bicara, muncul dua orang dari balik pintu sana.

Yang di depan adalah seorang kakek berperawakan kecil kurus, dial bukan lain adalah Hwi-liong-tong Tongcu Nao Sam-jun, orang di belakangnya adalah Ui-liong-tong Tongcu Ci Hwi-bing.

Di belakang mereka mengintil pula sebaris laki2 baju hitam ketat, semuanya menenteng pedang panjang warna hitam.

"Hamba menyambut kedatangan Tongcu,"

Lekas Oh Coan-oh memberi hormat. Dengan menyeringai Nona Sam-jun berkata.

"Yong-heng minta kau membebaskan orang2 Pek-hoa-pang yang masuk perangkap, bagaimana pen-dapat Oh heng?"

Oh Coan-oh bergidik ketakutan, jawabnya.

"Hamba tidak berani."

Jelilatan sorot mata Ci Hwi-bing, katanya dengan tertawa.

"Eh, Pek-hoa-pang Pangcu kiranya juga datang."

Bok-tan tertawa dingin, katanya.

"Memangnya kenapa kalau aku datang? Kau kira perangkap kalian mampu mengurung aku?"

Melihat dandanan lima orang laki2 di belakang Nao Sam jun tergerak hati Ban Jin-cun, katanya berpaling ke arah Kho Keh-hoa.

"Kho-heng, kau lihat, dandanan beberapa bangsat ini bukankah sama dengan penyamun yang menyerbu Ciok-bun-san-ceng dulu?"

"Betul,"

Sahut Kho Keh-hoa mengangguk.

"bangsat yang membunuh keluargaku, semuanya juga mengenakan seragam seperti itu."

Ban Jin-cun mengertak gigi, katanya.

"Tidak salah lagi kalau begitu, memang demikianlah kejadiannya, bukan mustahil mereka inilah penyatron..."

Kho Keh-hoa tak tahan lagi, sambil angkat pedang sebat sekali dia melompat maju, bentaknya.

"Orang she Nao, apakah mereka anak buahmu?"

Ban Jin-cun tidak kalah cepat, segera iapun melompat maju. Melihat kedua orang, Nao Sam-jun-tertawa, katanya-"Eh, kalian juga sudah keluar."

"Jawab pertanyaanku dulu,"

Bentak Kho Keh hoa.

"apakah mereka anakbuahmu?"

Sekilas Nao Sam-jun pandang kelima anak buahnya, lalu menjawab.

"Betul, mereka adalah jago pedang dari Hwi-liong-tong, untuk apa kau tanya hal ini?"

Membara mata Ban Jin-cun, pedang ditangannya diobat-abitkan, tanyanya.

"Yang menyerbu ke Ui-san dan keluarga Kho di Ciok-mui dan membunuh seluruh angota keluarganya apakah perbuatan Hwiliong-tong kalian?"

Nao Sam-jun tatap kedua anak muda itu sebentar, katanya dengan mendengus.

"Untuk apa kalian tanya soal ini?"

"Katakan, apakah kau orang she Nao yang pimpin mereka membunuh keluargaku?"

Hardik Ban Jin-cun.

"Betul, kami diperintahkan atasan, keluarga Ban di Ui-san dan keluarga Kho di Ciok-bun adalah keturunan pembesar dinasti Bing dahulu yang sekongkol dengan pemberontak, maka baginda memerintahkan untuk menumpas kedua keluarga besar ini...."

Mendidih darah Ban Jin cun dan Kho Keh-hoa, tanpa berjanji keduanya menghardik bersama.

"Anjing bangsat, serahkan jiwamu!" -Dua bayangan orang menubruk bersama, dua pedang panjang mereka serentak menyambar ke badan Nao Sam-jun. Sudah tentu Kim-kau-cian Nao Sam jun tidak pandang sebelah mata pada kedua lawannya, dengan menyeringai dia berkata.

"Anak muda, bicaralah baik2, kenapa main senjata?" -Sebat sekali kedua tangannya terpentang, dengan jari telunjuk dan jari tengah ia berhasil menjepit ujung pedang kedua orang. Agaknya dia sengaja mau pamer ilmu sakti Kim-kau cian, tapi dia tidak menjepit putus ujung pedang, cuma menjepitnya saja dan tidak dilepaskan, katanya dingin.

"Siapa kalian sebetulnya? Lohu belum lagi membuat perhitungan dengan Yong-congkoan, tahu?"

Bahwa pedang tusukan mereka kena dijepit hanya dengan dua jari oleh lawan, sungguh kaget dan gugup Ban Jin-cun dan Kho Kehhoa bukan main, lekas mereka menarik, tapi kedua jari Kim-kau-cian Nao Sam-jun sekeras tanggam, usahanya tidak membawa hasil yang diharapkan.

Setelah Nao Sam-jun habis bicara, sedikit ang-kat dan sendal, mendadak terasa oleh Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa dari ujung pedang tiba2 tersalur segulung tenaga yang menerjang tiba sehingga mereka tertolak sempoyongan.

Berhadapan dengan musuh besar, Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa seperti orang kalap, apalagi terbukti bahwa orang dihadapan mereka adalah musuh pembunuh ayah bunda dan keluarganya maka mereka tidak hiraukan kepandaian sendiri yang rendah, dengan nekat mereka menyerbu maju pula, bentaknya beringas.

"Bangsat tua, serahkan nyawamu! Tuan muda ini adalah Ban Jincun dari Ui-san"

Dan aku Kho Keh-hoa dari Ciok-bun!"

Dia larik sinar terang serentakmenyamberdari kanan kiri.

"Hahaha,"

Nao Sam-jun bergelak terlawa.

"jadi kalian buronan dari keluarga pemberontak? Bagus juga, membabat rumpat harus se-akar2nya, biar hari ini Lohu bereskan kalian pula." -Mulut bicara, tanpa menyingkir atau berkelit, tiba2 dia malah berkelebat maju dan menyelinap di antara sambaran sinar pedang kedua orang. Ui-san-kiam-hoat biasanya mengutamakan ke-tenangan dan mantap, dada Ban Jin-can diliputi dendam darah yang tak terlampias, sekali tusuk ingin rasanya dia tamatkan jiwa Nao Sam-jun, maka begitu turun tangan dia lantas iancarkan serangan mematikan. Sebaliknya Liok-hap kiam-hoat kebanggaan ke-luarga Kho terkenal gesit dan cepat, bila ilmu pedang ini dikembangkan, maka bertebaranlah bintik2 sinar berhamburan melingkar tubuh musuh. Konon bila Liok-hap-kiam-hoat berhasil diyakinkan mencapai puncak kesempurnaan, sekali menyendal pedang, sekaligus dapat menusuk tiga puluh enam Hiat-to besar di badan manusia, dari sini dapatlah dibayangkan betapa cepat gerakan pedangnya. Perasaan Kho Keh hoa sekarang diburu dendam kesumat, dua puluh delapan jiwa keluarganya harus menuntut balas, kini berhadapan langsung dengan musuh, apapula yang harus dia takutkan, dengan gigi gemerutuk menahan gelora amarah, Nao Sam-jun dicecar dengan serangan gencar. Dari kiri-kanan kedua orang bekerja sama melancarkan serangan, kalau yang satu membabat, yang lain main tusuk, ternyata dua aliran pedang yang berlainan dapat kerja sama dengan baik. Nao Sam-jun tetap bertangan kosong, perawakannya yang kurus kecil tampak bergerak se-lincah kera, terjang sana kelit sini di antara sambaran dan tusukan pedang, seakan2 dia kerepotan dan hanya mampu berkelit saja di bawah rangsakan pedang kedua lawan. Tapi betapapun gencar dan lihay serangan kedua orang tetap tak mampu melukainya, sampaipun menyentuh ujung baju orangpun tidak bisa. Maklumlah Nao Sam-jun berjuluk Kim-kau-cian (gunting emas), Kungfu yang dilatihnya selama hidup justeru terletak pada keempat jari tangannya, setiap kali gebrak dengan musuh, peduli golok, pedang, ruyung atau tombak, sekali kena jepit kedua jarinya pasti patah seketika. Dendam, Ko Keh-hoa dan Ban Jin-cun sudah lama terpendam, yang mereka pikirkan hanya mengadu jiwa demi menuntut balas sakit hati keluarga, sampaipun ujung pedang sendiri yang selalu terjepit putus dan semakin pendekpun tak dihiraukan lagi, mereka tetap menggempur dengan sengit dan nekat. Sudah tentu Kun-gi dapat melihat gelagat jelek ini, baru saja dia hendak bersuara, didengarnya, Nao Sam-jun membentak sambil tertawa.

"Nah, kalian anak muda terimalah serangan balasanku." -Di mana kedua tangan terayun, dari celah2 jarinya melesat keluar delapanbintiksinardingin mengincar kedualawan. Ternyata Ban Jin-cun dan Ko Keh-hoa tidak menyadari bahwa pedang mereka sudah terjepit putus semakin pendek, sehingga jarak pertempuran kedua pihak semakin dekat, sehingga jarak ketiga pihak kini tinggal tiga kaki saja. Maka serangan mendadak Nao Sam-jun ini boleh dikatakan dilancarkan dalam jarak yang amat dekat, umpama di dunia ini ada manusia memiliki ilmu Ginkang maha tinggi juga tidak mungkin dapat meluputkan diri dari serangan telak ini, untuk berkelitpun sudah tidak sempat lagi. Apalagi serangan ini merupakan ilmu kebanggaan Nao Sam-jun pula. Memangnya apa gunanya bertangan kosong melawan senjata musuh yang terjepit putus itu telah digunakan sebagai senjata rahasia untuk makan tuannya. Dengan gerak tipu "Lau Hay menaburkan uang emas", peduli musuh dalam jarak jauh atau dekat, selama dua puluh tahun ini, belum pernah ada tokoh Bu-lim yang lolos dari tangannya, jangankan selamat, luka parahpun sudah untung. Dikala Nao Sam-jun mengayun tangan, sementara delapan bintik sinar dingin hampir hinggap di badan Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa, mendadak sesosok bayangan orang menyelinap di depan Ban Jincun dan Kho berdua. Sekali lengan baju menyendal, delapan bintik kemilau itu seketika kena digulungnya, berbareng tangan kiri membalik.

"plak", dengan telakpunggungtelapaktangannya mengenai dadaNao Sam-jun. Sungguh mimpipun Nao Sam-jun tidak pernah membayangkan gerak tubuh pendatang ini bisa se-gesit dan secepat itu, sudah tentu dia tidak sempat berkelit, kontan mulutnya mengerang tertahan, pandanganseketika menjadigelap, kakipunterhuyung mundur. Orang yang menyelinap maju ini adalah Ling Kun-gi. Begitu melihat gelagat cukup gawat, dengan gerak kecepatan luar biasa segera dia lompat ke depan Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa, sekaligus dia lancarkan Kian-kun-siu menggulung kutungan pedang yang ditimpukkan Nao Sam-jun serta persen orang sekali tamparan. Dikala Nao Sam-jun terhu-yung mundur sambil mengerang kesakitan, sementara Ling Kun-gi sudah berkelebat balik ke tempatnya pula. Bok-tan terbeliak lebar memandanginya penuh kasih mesra, katanya lirih.

"Cepat benar gerakan Ling-heng."

Belum habis dia bicara terdangar Nao Sam-jun menjerit kesakitan pula, kontan badannya terjungkal roboh.

Ternyata Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa sama merasakan kutungan senjata rahasia yang menyerang mereka mendadak lenyap, Nao Sam-jun pun sempoyongan mundur, agaknya terluka tidak ringan, sudah tentu kesempatan ini tidak di sia2kan, tanpa janji keduanya terus menubruk maju, yang satu menusuk dan yang lain menabas.

Kelima laki2 seragam hitam-sama kaget, serem-pak mereka membentak terus menubruk maju hendak menolong.

Ban Jin-cun sudah beringas, pedang kutungnya membawa sinar kemilau memapak tubrukan dua laki2 baju hitam.

Kho Keh-hoa juga tidak kalah garang, ia membalik badan dan pedang-pun bekerja, tiga laki2 baju hitamyang lain disambutnya dengan sengit.

Bok tan tahu kepandaian kelima orang baju hitam cukup tinggi, Ban dan Kho berdua kalau satu lawan satu masih mending, bila dikeroyok pasti celaka akhirnya, maka dia berpaling, katanya.

"Liang-houhoat, marilah kita maju membantu."

"Hambaterima perintah,"sahutLiangIh-jun. Bok-tan segera mendahului menubruk maju, Liang Ih-jun segera menyusul, bayangan jarinya yang merah secepat kilat menjojoh ke punggung seorang baju hitam yang mengeroyok Kho Keh-hoa. Hiating-ci merupakan ilmu jari yang lihay, serangannya tidak mengeluarkan suara, siapa yang terserang tiada obat yang dapat menolongnya. Pada hal laki2, itu sedang mengerubut Kho Keh-hoa dengan pedangnya, kedua kaki berdiri tegak kokoh, Kho Keh-hoa sudah terkepung di tengah samberan sinar pedang mereka, tak pernah di duga bahwa serangan jari Liang Ih-jun yang tidak bersuara ini sudah menyerang tiba di punggungnya, seketika mulutnya menguak keras, dan kontan roboh tersungkur dan tak bernyawa lagi. Melihat kawannya mendadak roboh binasa, laki2 baju hitam yang satu lagi amat kaget, lekas dia tinggalkan Kho Keh-hoa dan mengayun pedang menabas Liang Ih-jun yang menerjang tiba. Liang Ih-jun tak kalah gesitnya, ia mendak miring meluputkan diri sembari balas menyerang dengan telapak tangan kanan dan tutukan jari tangan kiri. Dalam pada itu, Pek-hoa-pangcu Bok-tan juga melolos pedang, dengan mendelik hardiknya."CiHwi-bing, keluarkanpedangmu!"

Melihat Nao Sam-jun sudah ajal, beberapa jago kosen lawan belum lagi turun gelanggang, diam2 Ci Hwi-bing menerawang situasi dan jelas pihak sendiri bakal kalah total, kalau dirinya tidak bertindak cepat mengundurkan diri, mungkin jiwa sendiri bakal melayang percuma.

Di kala dia menimang2 itulah didengarnya Pek-hoa-pangcu menantangnya, terpaksa katanya.

"Pangcu ingin bergebrak dengan orang she Ci, baiklah kulayani." -Tangan diulur ke belakang, melolos pedang yang terselip di punggung, kaki kiri melangkah setengah tindak, pedang melintang dan badan berdiri miring, tampaknya dia sudah pasang kuda2 siap tempur. Padahal dengan gaya ini dia bersiap2 untuk lari masuk ke Hwi-liong-koan. Bok-tan tertawa dingin, segera ia menerjang maju. Jarak kedua pihak ada tiga tombak, jurus meluncur lurus dengan sinar pedang bertaburan ini adalah jurus Sin-liong-jut-hun, jurus lihay pertama dari Hwi-liong-sam-kiam. Sin-liong-jut-hun sebetulnya ada dua gerakan, gerakan pertama membalut badan dengan cahaya pedang sambil melesat ke depan, setelah badan ter-apung baru melancarkan gerak susulannya, pedang menyerang musuh. Sejak kecil Bok-tan digembleng Thay-siang, sebagai Pek-hoa-pangcu hanya dia seorang yang pernah diajarkan ketiga jurus ilmu pedang naga terbang ini. Gerak lurus meluncur ke depan ini adalah untuk mengejar musuh yang melarikan diri, atau bila jarak kedua pihak terlalu jauh untuk dijangkau pedang, tapi baik mengejar musuh atau menubruk maju dengan serangan dari atas, jurus ini tetap merupakan serangan lihay yang mematikan. Ci Hwi-bing adalah ahli pedang, waktu di Hoa-keh-ceng dulu, dia pernah merasakan kelihayan jurus pedang ini, kini melihat Bok-tan melancarkan serangan ini, hawa pedangnya tampak lebih keras dan kuat, keruan hatinya terkesiap, pelan2 dia menarik napas, seluruh kekuatan dia pusatkan ke lengan, baru saja dia akan angkat senjata balas menyerang, tak nyana Bok-tan yang meluncur datang tahu2 seperti berhenti di tengah jalan, serangan pedangpun telah dilancarkan dengan cahayanya yang terang. Di mana sinar terang menyambar, laksana kilat cepatnya, jeritan orang segera melengking, salah seorang baju hitam yang mengeroyok Ban Jin-cun tahu2 terkapar mati dengan pinggang putus, darah muncrat berceceran. Sinar pedang ternyata tidak berhenti, dengan kecepatan yang tidak berkurang tetap menerjang ke arah Ci Hwi-bing.. Ci hwi-bing sadar kena dikecoh Bok-tan, untuk membantu Ban Jin-cun sengaja Bok-tan menantang dirinya, padahal sasaran utama adalah kedua jago pedang baju hitam anak buahnya yang mengroyok Ban Jin-cun itu. Keruan tidak kepalang marah Ci Hwi-bing, tapi iapun seorang yang cerdik, licik dan licin, melihat Bok-tan tetap menerjang dirinya, tapi jurus ini terang sudah banyak berkurang kekuatannya. Atau dengan kata lain, Bok-tan hanya mau menggertak dengan jurus lanjutan "naga terbang keluar dari mega"

Ini, padahal untuk menyerang dan merobohkan dirinya orang harus melancarkan jurus kedua.

Untung dia sudah kerahkan setaker tenaga di lengan untuk menghadapi serangan Bok-tan, cuma belum sempat dilancarkan.

Kini kebetulan malah dengan kekuatan yang segar ini untuk menundukkan serangan lawan yang sudah kehabisan tenaga.

Kesempatan baik ini tidak di sia2kan, sebelum Bok-tan menginjak tanah dia mendahului menghardik.

"Perempuan hina, lihat pedang." -Pedang segera menabas. Jurus ini dilancarkan dengan sekuat tenaga, menurut perhitungannya, serangan ini dilancarkan dikala lawan berada pada posisi yang kepepet, betapapun tinggi ilmu silat Bok-tan juga pasti kelabakan, umpama tidak bisa membunuhnya seketika, paling tidak akan membikin orang terluka parah. Tak terduga dikala serangan dia lancarkan, Bok-tan yang meluncur tiba dan belum lagi kaki menyentuh tanah, badannya tiba2 melayang naik pula dengan sekali pusaran, betapa indah dan gemulai gerak tubuhnya, pedang di tangan mengikuti putaran tubuhnya membawa lingkaran sinar kemilau, sebaris cahaya pedang segera bentrok dengan tabasan pedang Ci Hwi-bing.

"Tring", suara nyaring senjata beradu memekak telinga. Ci Hwi-bing merasakan pedangnya seperti sekaligus dipukul delapan batang pedang, betapapun tinggi Lwekangnya, tak urung seluruh lengannya terasa kemeng. Padahal hanya barisan sinar pedang bagian depan saja yang tertangkis buyar oleh sapuan pedang Ci Hwi-bing, sisa cahaya di sekelilingnya masih tetap berhamburan laksana ombak menggulung mangsanya. Keruan kaget Ci Hwi-bing, kembali dia sadar telah kena tipu muslihat Bok-tan. Nyata Bok-tan sekaligus secara berantai telah melancarkan Hwi-liong-sam-sek, gerak pedangnya sambung menyambung, setelah dia melancarkan Sin-liong-jut-hun, dikala gerakannya menjadi lamban dan seperti hampir kehabisan tenaga, dia susuli pula dengan jurus kedua Liong-jan-ih-ya. Jurus kedua ini merupakan gerakan menghadapi serangan lawan, bila musuh hanya seorang, segera jurus ini dikembangkan dan musuh pasti terkurung dalam cahaya pedangnya. Untuk menangkis dan balas menyerang terang tidak sempat lagi bagi Ci Hwi-bing, dalam sibuknya mendadak dia menggentak kedua kaki, ia melompat mundur ke belakang dan berusaha lari masuk ke Hwi-liong-koan. Kejadian bagai percikan api cepatnya, tahu2 dia melejit mundur lolos dari libatan sinar pedang musuh, tapi tiba2 dia rasakan kedua kakinya silir2 dingin, ternyata kedua kakinya sudah terpapas putus oleh tajam pedang musuh, dengan mengeluarkan jeritan, panjang badannyaterjungkirbalik ke dalampintubatu. Bok-tan melejit memburu ke depan orang, dengan tertawa dingin sambil menudingkan ujung pedang.

"Ci Hwi bing, ke mana pula kau mau lari?"

Dikala Bok-tan memburu maju, tiba2 Ci Hwi-bing ayun telapak tangan menghantam batok kepala sendiri, seketika kepalanya hancur dan nyawapun melayang.

Sementara itu Liang Ih-jun juga telah berhasil merobohkan lawannya, Hiat-ing-ci dengan gaya ti-punya yang aneh berhasil menutuk Thian-toh-hiat lawan, tanpa mengeluarkan suara laki2 baju hitam itu roboh tak bernyawa.

Kini tinggal kedua jago pedang baju hitam, melihat Nao Sam jun binasa, Ci Hwi bing mati bunuh diri, mana kedua orang ini berani bertempur lagi, mulut sama bersiul saling memberi tanda terus melompat mundur hendak melarikan diri.

Orang yang melawan Kho Keh-hoa berlalu ter-gesa2, mungkin karena terlalu tegang dan ketakutan, dikala melompat mundur paha kanannya tergores luka oleh pedang kutung Ko Keh-hoa, maka langkahnya jadi sempoyongan.

Ko Keh-hoa menubruk maju sambil susuli dengan tabasan.

dengan telak dada orang telah dikoyaknya, orang itu menjerit ngeri, setelah ter-guling2 dan berkelejetan, akhirnya jiwapun melayang.

Laki2 yang bertempur melawan Ban Jin-cun sudah tentu semakin ketakutan, dia coba menyerang dengan gerak gertakan, sebat sekali diaputartubuhteruslari, taktahunyabelumlagidiasempatangkat langkah seribu, dilihatnya Liang Ih-jun sudah mencegat di belakangnya, jengeknya dingin.

"Kau masih mau lari ke mana?"

Pelan2 jarinya bergerak, jari tangannya yang merah tahu2 memapak mukanya.

Keruan orang itu mengkeret kaget, belum sempat dia pikir, pedang Ban Jin-cun sudah ambles di punggungnya.

Kejadian hanya berlangsung beberapa kejap saja Nao Sam jun, Ci Hwi-bing dan kelima jago pedang telah dibinasakan.

Kini tinggal Hwi-liong-koancu Oh Coan-oh dan kedua laki2 pembawa lam-pion yang masih berdiri terlongong seperti patung, bergerakpun tidak berani, pecah nyali mereka.

Yong King-tiong pandang mayat Ci Hwi-bing dengan terharu, katanya sambil menghela napas.

"Ci Hwi-bing adalah laki2 sejati, sayang dia menempuh jalan yang salah."

Bok-tan melengak, katanya.

"Kalau Wanpwe tahu dia punya persahabatanakrabdenganpaman, pastitidak kubinasakandia."

Yong King tiong menggeleng, katanya.

"Tidak, dulu dia memang salah satu panglima bersamaku, keadaan memaksa dia menyerah pada kerajaan, tapi perbuatannya beberapa tahun terakhir ini memang pantas dia mmemperoleh ganjarannya, cuma Lohu sendiri tidak tega turun tangan." -Sampai di sini tiba2 dia berpaling, bentaknya ke-reng.

"Oh Coan oh!"

Oh Coan oh tersentak kaget, ter-sipu2 dia menghormat.

"Hamba di sini."

"Apa yang Lohu katakan tadi kau masih ingat?"

"Ya, hamba masih ingat, masih ingat,"

Sahut Oh Coan-oh dengan menyengir.

"Baik sekali, sekarang lekas kau lepaskan orang2 Pek-hoa pang yang terperangkap didalam Hwi-liong-koan."

Terunjuk sikap serba salah pada muka Oh Coan-oh, katanya takut2.

"Pesan engkau orang tua pasti akan hamba laksanakan, cuma ..... cuma......"

"Cuma apa?"

Bentak Yong King tiong dengan tatapan tajam. Bergidik Oh Coan-oh, dia munduk2 dan menjawab.

"Kau orang tua harap jangan marah, hamba perlu memberi sedikit penjelasan"

"Baik, coba katakan, lekas!"

"Dalam Hwi-liong-koan terdapat tujuh puluh dua kamar batu, keadaan kamar di dalam tidak jauh berbeda dengan lorong2 sesat, bila masuk ke sana seketika akan kehilangan arah, makin putar kayun semakin tersesat, bila tiada orang yang tahu seluk beluk di dalam, selamanya takkan bisa keluar. Orang Pek hoa pang semuanya berkepandaian tinggi, Nao-tongcu pernah utus puluhan jago pedang masuk ke sana untuk memancing mereka masuk perangkap lalu akan dibekuk satu persatu, tak nyana jago2 pedang yang masuk beruntun mengalami kekalahan yang mengenaskan, tiada seorangpun yang keluar lagi, karena kewalahan terpaksa Naotongcu mengubah siasat, hamba diperintahkan untuk mematikan jalan keluarnya, supaya mereka mati kelaparan di dalam, padahal setiap kamar batu itu saling bergandengan dan tembus kian kemari, entah orang2 Pek-hoa-pang kini berada di mana? Kalau hamba masuk pasti akan menimbulkan salah paham, lebih baik engkau orang tua mengutus satu-dua orang yang kenal dengan orang2 Pekhoa-pang dan ikut hamba masuk ke sana untuk menolong mereka."

"Yong-lopek,"

Kata Kun gi.

"biarlah Wanpwe saja yang masuk, kalian haraptunggu disinisaja."

"Biar kuiringi Ling-heng masuk kesana"seru Bok-tan.

"Hamba saja ikut masuk,"

Kata Liang Ih jun.

"Tak usahlah, kau tunggu di sini, sudah ada Oh-koancu sebagai penunjuk jalan, kita kan mau cari orang, banyak orang malah repot."

"Begitupun baik,"

Ucap Yong King-tiong.

"Ling-kongcu dan Pangcu saja yang masuk, biar kita tunggu di luar sini saja." -Lalu dia tatap Oh Coan-oh dan bertanya.

"Oh Coan oh, ada perangkap apa pula di dalam benteng? Kalau dihadapan Lohu berani kau bertingkah, awasbatokkepalamu."

Ou Coan-oh munduk2, sahutnya.

"Hamba tak berani, berapa sih batok kepalaku, masa berani menipu kau orang tua." -Lalu dia mengeluarkan secarik kulit kambing yang terlempit rapi, dengan kedua tangan dia persembahkan, katanya.

"Inilah peta Hwi-liong-koan, pada setiap pintu rahasia ada keterangannya, silakan engkau orang tua melihatnya ."

Waktu Yong King-tiong membuka kulit itu, sekilas dia pandang gambar peta Hwi-liong-koan ini, lalu dia serahkan pada Kun-gi, katanya.

"Biar kau saja yang bawa gambar peta ini."

Kun-gi terima peta itu dan disimpan dalam bajunya, Oh Coan-oh berputar menghadapi Kun-gi dan Bok-tan, katanya.

"Silakan kalian ikut." -Lalu dia mendahului melangkah masuk.

"Silakan Pangcu,"

Ucap Kun-gi. Bok-tan tertawa manis, katanya.

"Perjalanan ini dipimpin Ling heng, silakan kau saja yang di depan."

Oh Coan-oh sudah beranjak masuk, terpaksa Kun-gi tidak bicara lagi, dia melangkah kedalam, Bok-tan ikut dibelakangnya.

Hwi-liong-koan ternyata merupakan sebuah ruangan batu besar, bentuknya mirip sebuah aula.

Pada ujung kamar besar ini terdapat lima-enam undakan batu yang dipagari balok2 batu, tepat di tengah terdapat sebuah pintu besar, daun pintunya yang terukir bunga warna warni terbentang lebar.

Oh Coan-oh bawa kedua orang naik undakan dan masuk ke dalam pintu, itulah sebuah pendopo besar, di tengah atas sebelah depan terpancang sebuah pigura besar yang bertulisan "Hwi-liong-koan"

Berwarna emas. Tepat di bawah pigura ada sebuah meja batu dan kursi batu pula, di kanan-kirinya masing2 terdapat sebuah kamar batu, daun pintunya juga terbuka lebar. Kun-gi mengerling, tanyanya.

"Apa pula yang ada di dalam pintu ini?"

Oh Coan-oh tersenyum, katanya .

"Agaknya Ling-kongcu belum periksa peta benteng besar ini. Ketahuilah, kedua pintu ini dinamakan pintu memancing musuh, siapapun yang menerjang masukke dalampastitakkan bisa keluar."

"Kenapasetelah masuk takbisakeluar?"

TanyaKun-gi.

"Kelihatan kamar batu ini tiada pintu lain lagi, tapi sekali berada di dalam, pintu batu akan terdorong keluar dari dinding sehingga pintu tertutup, bertepatan dengan itu tiga muka dinding yang lain sekaligus muncul pula tiga buah bentuk pintu yang serupa, pintu manapun biladimasukitentuakan terjeblossemakindalam."

"Lalu dari mana kita harus masuk?"

Tanya Bok-tan. Oh Coan-oh tertawa pula, katanya.

"Cara untuk membuka pintu serta bagaimana keluar masuknya sudah tertera dipeta ...."

Bok-tan menarik muka, katanya.

"Aku tahu kalau ada keterangan di atas peta, tapi kau adalah Hwi-liong-koancu, penunjuk jalan pula, sekarang kau buka semua jalan tembus yang harus kita lalui dan jalanlah di depan untuk menunjukan jalan, ada kau sebagai petunjukjalan, buatapa kami harusperiksapetasegala?"

Oh Coan-oh tahu bahwa Pek-hoa-pangcu ini galak dan sukar dilayani, sambil mengiakan cepat dia melangkah maju, pada sebuah papan batu di atas meja yang berukir bunga teratai dia dorong dan tarik, lalu ditekan tengahnya, kemudian dia mundur dan berdiri tegak menunggu.

Cepat sekali meja batu di depannya itu bergeser ke kanan, tepat di bawah dinding depan pelan2 terbelah dan muncul sebuah pintu.

"Silakan kalian masuk,"

Ucap Oh Coan-oh sambil munduk2.

Bok-tan merasakan sorot mata orang jelilatan dan sikapnya terlalu dibuat2, tapi dia diam saja dan waspada, maka sebelum Ling Kun-gi berbicara dia sudah mengulap tangan, katanya.

"Kau masuk lebih dulu."

Oh Coan-oh tidak banyak bicara, segera dia melangkah masuk lebih dulu.

Kun-gi dan Bok-tan ikut di belakangnya, kamar batu di sini tidak besar, bentuknya juga tampak lonjong.

Tepat di tengah depan sana di atas dinding terdapat sebuah ukiran bunga Boh-tan dari berbagai jenis dengan warnanya yang berbeda pula, hampir seluruh dinding dipenuhi ukiran bunga ini, begitu indah dan hidup ukirannya, terang buah karya seorang seniman ternama.

Bahwa Hwi-liong-koan merupakan perangkap untuk menjebak musuh.

sudah tentu di sini tidak perlu pakai pajangan apa2, terutama kamar batu ini luasnya tidak lebih dua tombak, tiada perabotapa-pun, maka lukisandidinding ini kelihatanagak ganjil..

Sekilas Pandang Ling Kun-gi lantas merasakan keganjilan pada lukisan di dinding ini, karena lukisan lima kuntum bunga Bok-tan itu kecuali yang di tengah bentuknya rada besar dan empat lain yang bentuknya agak kecil mengelilingi sekitarnya, jadi terbagi atas dan bawah, kanan dan kiri, kedudukan ini jelas tidak ditatah secara kebetulan.

Tengah dia mereka2, didengarnya Oh Coan-oli berkata dengan tertawa.

"Ling-kongcu, gambar bunga Bok-tan ini adalah pusat dari kunci seluruh peralatan rahasia yang ada di dalam Hwi-liong-koan ini." -Tangannya, menuding kelima kuntum Bok-tan serta menjelaskan lebih lanjut.

"Setiap kamar batu di dalam pada keempat penjuru, dindingnya pasti terpasang pintu rahasia, sekarang menurut tanda yang ada di pusat ini semuanya sedang terbuka, tapi pintu setiap kamar batu itu selalu berubah sehingga orang yang terkurung di dalam sana akan lari kian kemari, se-olah2 sudah menembusi ratusan kamar, tapi tetap tidak menemukan jalan keluarnya..."

"Apakah pintu setiap kamar batu itu bisa menutup sendirinya?"

Tanya Bok-tan.

"Ya, bunga Bok-tan di tengah yang besar itulah letak kuncinya, empat bunga disekelilingnya yang agak kecil merupakan kunci setiap pintu kamar, asal kunci pusatnya ini dibuka, lalu keempat kuntum yang lain juga dibuka pula, maka pintu di keempat dinding setiap kamar itu tidak akan buka-tutup secara bergiliran lagi,"

Sampai di sini dia menambahkan.

"Kita akan masuk menolong orang, terpaksa tiga pintu di setiap kamar itu harus kita tutup, tinggal satu lagi yang masih terbuka untuk memudahkan usaha pencarian ini."

"Lalu kunci pusatnya itu apakah tidak perlu ditutup?"

Tanya Boktan.

"Kalau kunci pusatnya yang di tengah itu ditutup juga, seluruh peralatan rahasia di dalam akan berhenti bekerja, seluruh pintu takkan bisa dibuka lagi, lalu bagaimana kita bisa masuk?"

Oh Coan-oh menjelaskan.

"Baik. lekas kau kerjakan,"

Perintah Bok-tan.

"kita harus lekas2 menolong orang."

Oh Coan-oh mengiakan, dia memutar ke kanan tiga kali pada kuntum bunga Bok-tan yang agak kecil yang terletak di atas, bawah dan sebelah kanan, lalu kuntum keempat yang terletak di sebelah kiri dia putar ke kiri tiga kali, katanya.

"Beres, sekarang tinggal pintu kiri setiap kamar itu yang terbuka, umpama kita tidak masuk mencari mereka, maka orang2 yang terperangkap di dalam akan bisa mencari jalan keluarnya."

"Baik, lekas kau buka saja pintunya,"

Kata Bok-tan pula. Oh Coan-oh mengiakan, dia menghampiri dinding kiri dan menekan dua kali, dinding di depannya lantas terbukalah sebuah pintu.

"Pangcu,"

Ucap Kun-gi.

"marilah kita masuk,"

"Kau sudah dengar, keadaan seperti di dalam lorong sesat itu, biarlahOh-koancu menunjukkanjalannya,"sahutBok-tan.

"Kalian tunggu sebentar,"

Kata Oh Coan-oh sambil menghampiri dinding sebelah kanan.

"Apa yang kau kerjakan?"

Tanya Bok-tan.

"Seluruh peralatan di sini sudah kubereskan, sekarang tiada tugasku yang lain, maaf aku mohon diri saja....."

Badannya mepet dinding, maka terdengar "crat", dinding segera menjeplak, badan Oh Coan-oh terus terjungkir ke dalam, sekali berkelebat lantas lenyap. Bok-tan gusar, makinya.

"Keparat!" -Tangan terayun, dilontarkan pukulan jarak jauh. Tapi pintu di sini mirip pintu jeblakan yang dapat memantul balik dengan cepat, waktu pukulan Bok-tan tiba sementara pintu sudah tertutup pula.

"Blang", pukulannya mengenaidinding. Kata Bok-tan dengan gegetun.

"Sudah ku-sangsikan dia pasti bukan manusia baik2."

"Sudahlah, biar dia melarikan diri,"

Ujar Kun-gi.

"Ling-heng lekas keluarkan peta Hwi-liong-koan, jangan kita tertipu olehnya". Kun-gi keluarkan peta kulit kambing itu, segera mereka memeriksa dengan teliti. Apa yang diterangkan Oh Coan-oh ternyata tidak salah, dia memang sudah membereskan segala peralatan rahasia dalam Hwi-liong-koan ini. Jadi hanya pintu di sebelah kiri pada setiap kamar batu saja yang terbuka, tiga pintu lain sudah buntu. Asal keluar atau masuk mengikuti pintu2 yang terbuka itu, dengan sendirinya akan mudah menemukan orang dan keluar lagi dengan leluasa. Setelah memeriksa sekian lamanya, Bok-tan berkata heran.

"Ling-heng, peta ini merupakan keterangan seluruh peralatan dalam Hwi-liong-koan, kenapa pintu dari Oh Coan-oh lari tadi tidak ada keterangannya di sini?"

Kun-gi berpikir sejenak, katanya.

"Mungkin jalan ini merupakan sebuah lorong rahasia tersendiri yang tidak termasuk dalam lingkungan Hwi-liong-koan, maka di sinitidakdiberi keterangan,"

Berkedip mata Bok-tan, tanyanya tidak paham.

"Penjelasanmu belum kumengerti."

"Hwi-liong-koan merupakan salah satu seksi berkuasa dari Hwiliong-tong, lorong rahasia ini mungkin menembus langsung ke Hwiliong-tong, maka tidak termasuk dalam lingkungan rahasia di Hwiliong-koan ini, tadi waktu kita tiba di luar benteng, tahu2 Nao Sam jun dan Ci Hwi-bing menyusul datang, tapi mereka keluar dari Hwiliong-koan, ini dapat dijadikan bukti."

"Ling-heng memang cerdik,"

Puji Bok-tan tertawa.

"Siau-moay selamanya tak mau kalah dari orang lain, tapi terhadang Ling-heng, sungguh tunduk lahir hatin."

Panas muka Kun-gi, katanya tertawa.

"Pangcu terlalu memuji."

Bola mata Bok-tan yang jernih menatap Kun-gi lekat penuh kasih mesra, katanya lirih.

"Ling-heng, jangan panggil aku pangcu, kalau dalam hatimu ada tempat untuk diriku, lebih baik kalau kau panggil aku Bok-tan saja,"

Agaknya dia memberanikan diri melimpahkan isi hatinya, tak urung wajahnya merah jengah, tapi dengan berani dia tetap memandang dengan malu2 harap.

"Kebaikan Pangcu sungguh membuat Cayhe amat terharu ......."

Bok-tan tertunduk lalu angkat kepala pula, katanya cemas.

"Lingheng, kau tahu aku tidak menginginkan rasa harumu saja."

Wajah Kun-gi menunjukan perasaan kurang tenteram, seperti mau bicara tapi urung, Tiba2 sorot mata Bok-tan menjadi rawan, katanya lembut.

"Lingheng tidak menjelaskan juga aku sudah tahu, apakah kau sudah punya kekasih?"

Tanpa memberi kesempatan Ling Kun-gi bersuara dengan tertawa dia menambahkan.

"Dengan karakter dan kepandaian silat Ling-heng, adalah jamak kalau banyak gadis yang kasmaran kepadamu, hal ini tidak menjadi soal bagiku, karena kita berkenalanagaklambat,asalkausudi menerimaku,akusudahamat puas."

Tidak kepalang haru Kun-gi, dengan kencang dia genggam pundak Bok-tan, katanya dengan suara tersendat.

"Pangcu ....."

Semakin jengah muka Bok-tan, dia balas genggam lengan Kungi, sambil bersuara aleman, katanya.

"Nah, lagi2 kau panggil Pangcu."

Lalu dia angkat kepala dan bertanya.

"Siapakah kekasih Ling-heng? Apakah yang menyamar Kiu-moay ... .. ."

"Blang", tiba2 suara gedebrukan berkumandang dari kamar sebelah kanan. Dua orang sama tersentak kaget, lekas mereka berpaling ke sana, tampak pintu jeplakan di sebelah kanan itu kembali terbalik, dari luar menerjang tiba seorang dengan langkah sempoyongan, sekujur badannya berlepotan darah, tiga empat langkah saja dia gentayangan lalu jatuh tersungkur. Karena orang gentayangan sambil menopang badan dengan pedang, terang orang ini terluka amat parah. Mata Kun-gi amat tajam, sekilas pandang dia sudah jelas muka orangini, iaberteriak.

"Kong-sun-heng!"-Sebatsekalidia memburu maju. Lekas Bok tan ikut memburu maju, katanya.

"Bagaimana mungkin Kongsun houhoat keluar dari lorong rahasia ini?"

"Betul, dia terpencar denganku waktu masih berada di Hwi-liong tong, tadi Oh Coan-oh keluar dari sini, mungkin karena terburu2 sehingga lupa menutup pula pintunya, maka dengan leluasa Kongsun-heng bisa keluar kemari,"

Sembari bicara Kun-gi periksa keadaan Kongsun Siang. Bok-tan berdiri di sampingnya, tanyanya.

"Apa-kah lukanya berat?"

Bertaut alis Kun-gi. katanya.

"Ada tiga luka bekas tabasan pedang dan satu luka kena piau, mungkin juga terluka dalam, umpama tidak terluka, dalam sehari semalam tanpa makan minum dan tidak tidur lagi, pula harus mengalami pertempuran sengit, badannya juga pasti loyo." -Sembari bicara dia keluarkan obat luka dan dijejalkan ke mulut Kongsun Siang, lalu sebelah tangan menekan Ling-tai hiat dari pelan2 salurkan hawa murninya. Keadaan Kongsun Siang betul2 amat gawat, untung Kun-gi segera memberi saluran hawa murni sehingga jiwanya direnggut balik dari perjalanan ke akhirat, sesaat kemudian matanya mulai melek, lama dia pandang muka Kun-gi, mendadak dua titik air mata menetes dari kelopak matanya, katanya dengan lemah.

"Congcoh ....aku....aku....mungkin....takkuat..."

"Kongsun-heng janganbicara,"bujukKun-gi.

"Seharisemalamini .....akubertemu..... delapanbelasjago .. ..Hek-liong hwe ....badanku terluka pedang beberapa tempat . ... tapi mereka berhasil kubunuh ....seluruhnya ....Barusan ada seorang lagi ....lari dari sini, aku menempurnya pula .... sampai lama, aku kena dipukulnya sekali di Bong-hwe-hiat di belakangpundak....tapidiapun ....kutusuk luka ... ."

"Kau terlalu letih, terluka luar dan dalam lagi, darah keluar terlalu banyak, beruntung dasar Lwekangmu amat kuat sehingga dapat bertahan sekian lama, barusan kau sudah kuberi minum Po binghing-kang-san buatan guruku, sekarang jangan banyak bicara, biar obat bekerja, tanggung kau takkan apa2."

Kongsun Siang batuk2, katanya dengan tertawa muram.

"Congcoh berulang kali menolong jiwaku, sungguh tak terperikan rasa terima kasihku, cuma ....aku sendiri tahu, kali ini mungkin aku tidak tertolong lagi, ada suatu hal ....sudah lama terpendam dalamsanubariku, sudah lama, cuma....takberani kukemukakan, tapisebelumajalharus....haruskukatakanpadamu...."

"Nanti saja Kongsun-heng jelaskan, sekarang istirahat saja."

Kongsun Siang menggeleng, katanya.

"Tidak, kalau tidak segera kututurkan, sekali aku tarik napas, selamanya takkan ada orang tahu akan kejadian itu."

"Ling-heng,"sela Bok-tandarisamping.

"biarlahdiabicara."

Dua butir air mata menetes pula membasahi pipi Kongsun Siang, jari2 kedua tangannya dengan kencang meremas baju dada sendiri, dengan keras tiba2 ia berteriak.

"Berulang kali Congcoh menyelamatkan jiwaku, aku ....aku bukan manusia, aku binatang, aku pantas mampus, aku bersalah padamu ...."

Mendadak tergerak hati Kun-gi, katanya.

"Kongsun-heng, jangan terlalu emosi, ada omongan apapun boleh kau bicarakan setelah lukamu sembuh."

Gemeretak gigi Kongsun Siang, katanya tegas.

"Tidak, kalau tidak kukatakan sekarang matipun aku tidak tenteram. Congcoh .. ..kejadian ini, jelas aku berdosa padamu, beberapa kali ingin aku berterus terang padamu, tapi kata2 yang sudah di mulut selalu urung kuucapkan, aku tidak berani berterus terang, kini aku sudah akan mangkat, tiada yang perlu kukuatirkan lagi ...."

Sekuatnya dia menarik napas lalu meneruskan.

"Malam itu, waktu Congcoh pertama kali menduduki jabatan Cong-hou-hoat-su-cia, karena congcoh terlalu banyak menenggak arak, aku ingin menengokmu ...."

"Tak usah kau jelaskan lagi,"

Lekas Kun-gi mencegah.

"Aku harus berterus terang, hanya setelah melimpahkan ganjalan hatiku, aku akan mati dengan tenteram,"

Dia tidak berani memandang ke arah Bok-tan, katanya dengan pedih.

"Waktu itu sudah mendekati kentongan kedua, tiada penerangan dalam kamar Congcoh, hanya jendela di sebelah selatan yang masih terbuka, aku masuk lewat jendela, kudapati Congcoh sudah tiada di kamar, tapi kudengar derap langkah Hupangcu di serambi muka, agaknya karena Congcoh mabuk iapun hendak menengokmu ....diwaktu itu aku terlalu sembrono dan diburu nafsu setan, aku memalsukan Congcoh melakukan perbuatan terkutuk ...."

Bok tan pernah mendapat laporan kejadian ini dari Giok-lan cuma sejauh ini dia belum tahu siapa gerangan pemalsu Ling Kun-gi itu, tapi karena soal ini menyangkut kesucian dan nama baik So-yok maka sejak dulu hal ini tak pernah dia laporkan kepada Thay-siang.

Kini setelah mendengar pengakuan Kongsun Siang, diam2 dia membatin.

"Karakter dan jiwa Kongsun Siang yang jujur kiranya setimpal juga berjodohkan Jimoay, cuma sekarang lukanya begini berat, entah dapat tertolong tidak?"

Dikala dia termangu itulah, mendadak sesosok bayangan orang menerjang tiba dari pintu sebelah kiri, gerakannya sebat dan aneh, langsung dia menubruk kearah Kongsun Siang seraya berteriak beringas.

"Kau bangsat keparat ini, kau bikin aku merana selama hidup?" -Mendadak pedang berkilau menyamber menabas Kongsun Siang. Orang yang muncul mendadak ini adalah Hu-pangcu So-yok yang terkenalkeraskepala, suka menangdan berwajahcantik. Bok-tan terperanjat, teriaknya.

"Jimoay, jangan!"

Kun-gi juga tidak menduga urusan bisa terjadi secara begini kebetulan, So-yok mendengar sendiri pengakuan Kongsun Siang.

Bahwa orang muncul secara tiba2 sudah membuatnya kaget, tak pernah terpikir pula olehnya bahwa orang muncul sambil menyerang, apalagi telapak tangan kanannya masih menekan Ling-tai-hiat Kongsun Siang..melihat sinar pedang menyamber tiba, dalamseribu kerepotannyatangankirinyalantas menjentikpedang.

Sayang usahanya terlambat.

"Tring", batang pedang memang terjentik, tapi jentikannya hanya sedikit menyerempet dan bikin pedang menceng sedikit pula, di mana sinar pedang menabas turun, darah kontan muncrat, lengan kiri Kongsun Siang tertabas kutung. Muka So-yok tampak membesi hijau, matanya mendelik, tanpa bicara setelah membanting kaki dia terus putar tubuh dan berlari keluar. Setelah minum Po bing-hing-kang-san buatan Hoan-jiu ji lay, dibantu saluran hawa murni Ling Kun-gi lagi, luka Kongsun Siang boleh dikatakan sudah makin membaik. Mendadak dilihatnya So-yok muncul tiba2 sambil mengayun pedang, maka dia pejamkan mata, dia rela menerima kematian, bahwa hanya lengan kirinya yang tertabas kutung, sedikitpun dia tidak mengeluh kesakitan. Kini melihat So-yok berlari pergi malah, maka tanpa perdulikan lengannya yang kutung dan keluar darah serta sakit luar biasa, mendadak dia melompat bangun seraya berteriak.

"Hupangcu ....."

Dengan sebelah tangan mendekap lukanya, dengan kencang dia mengudak keluar.

"Kongsun-houhoat ....."

Tanpa sadar Bok-tan berteriak mencegah. Kun-gi menghela napas, katanya.

"Biarlah dia pergi, Pangcu."

"Tapi lukanya belum sembuh, tangannya buntung lagi."

"Kongsun-houhoat sudah minum Po bing-hing-kang-san buatan guruku, luka2nya sudah tidak jadi soal lagi, kalau dia berhasil mengejar Hupangcu, setelah amarahnya reda, Kongsun-heng mau berlutut dan minta maaf, mungkin Hupangcu mau mengampuni dan memaafkan kesalahannya."

Mengawasi kutungan lengan di lantai, Bok-tan berkata.

"Jimoay suka menang dan kepala batu, biasanya suka mengumbar adat, kalau Kongsun-houhoat berhasil mengejar dia, mungkin bisa ditabas mati malah."

"Alasan Pangcu memang benar, kalau tidak mati, mungkin juga Kongsun-houhoat akan berhasil membujuknya, terserah kepada takdir. tapi soal ini menyangkut masa depan dan kebahagian hidup mereka berdua, orang lain tak mungkin mencampurinya, dan lagi bila kita mencegah Kongsun-houhoat mengejarnya, mungkin selamanya dia takkan menemukan Hupangcu."

Bok-tan manggut2, katanya menghela napas.

"Ai, asmara memang suka mempermainkan orang." -Sambil mengusap rambut yang terurai, mendadak dia berpaling, katanya.

"Ling heng, Jimoay sudah bisa keluar, orang lain yang terperangkap di dalam mungkin juga akan selekasnya keluar, marilah kita masuk menjemput mereka."

Kun-gi, agak bimbang, sebentar dia pikir lalu sodorkan gambar peta itu kepada Bok-tan, katanya.

"Tempat ini adalah pusat dari Hwi-liong-koan, ada lorong rahasia pula di balik dinding kanan yang menembus ke Hwi-liong-tong, bila ada orang masuk kemari, asal dia menutup seluruh inti pesawat rahasia di sini, selamanya kita takkan bisa keluar, maka menurut hemat Cayhe, Pangcu boleh bawa peta ini dan tunggu di sini, biar Cayhe sendiri masuk mencari mereka."

Bok-tan dapat menerima alasan yang masuk akal ini tapi dia menolak peta itu, katanya.

"Kau yang akan masuk ke sana, lebih baik kau yang bawa gambar ini, kalau tersesat, kau bisa mencocokkan petaini supayatidak mengalamikesulitan."

Kun-gi simpan peta itu, katanya..

"Baiklah, harap Pangcu tunggu di sini saja, Cayhe akan segera masuk." -Lalu dia beranjak lewat pintu kiri. Lekas Bok-tan memburu maju, teriaknya nyaring.

"Ling-heng!"

Ling Kun-gi sudah tiba di ambang pintu, segera dia berhenti sambil menoleh.

"Ada apa Pangcu?"

Jengah muka Bok-tan, katanya lirih.

"Kau harus hati2."

Melihat sikap orang yang malu2 kucing dan mimiknya yang kasih mesra dan betapa besar perhatian terhadapnya, hati Kun-gi terasa manis dan berdenyut kencang jantungnya, lekas dia alihkan tatapannya serta mengangguk, sahutnya.

"Cayhe tahu!" -Dengan mengacungkan Le-liong-cu, dia lantas masuk kedalam. -oooo-" 0 <<-oooa-Oh Coan-oh ternyata tidak menipu mereka. Tujuh puluh dua kamar batu dalam Hwi-liong-koan ini ternyata tidak kalah rumit dan memusingkan seperti lorong sesat di Ceng-liong-tong. Walau tiga pintu telah dia tutup, kini pada setiap kamar segi empat itu tinggal satu pintu saja yang terbuka, tapi bentuk kamar batu itu mirip satu dengan yang lain, seperti sebuah kotak belaka, yang terbuka juga hanya pintu kiri, bila masuk terus satu kamar demi satu kamar akhirnya pasti akan menemukan jalan keluarnya, Tapi bila sudah melewati dua puluh kotak kamar yang serupa itu, mau tidak mau setiap orang akan pusing juga. Kun-gi sangat sabar, dia maju terus dengan mudah dia menemukan Hu-yong, Hong-sian dan Giok-je, demikian pula dua pelayan pribadi So-yok yang bernama Bok-hung dan Bok-bin. Pelopor jalan Go-bo, Houhoat Toh Kian-ling dan Lo Kun-hun. Hanya Yu-houhoat Coa-liang ketika memasuki Hwi-liong-tong telah menghilang, (nasibnya sudah dituturkan dibagian depan), anggota rombongan boleh dikatakan sudah diketemukan seluruhnya. Kecuali Go-bo, Toh Kian-ling yang mengalami sedikit luka, yang lain tiada kurang suatu apapun. Sejak mereka memasuki Hwi-liong-tong belum pernah bentrok langsung dengan musuh, tapi setelah mereka dipancing masuk ke Hwi-liong-koan, musuh pernah mengutus delapan belas jagonya untuk menyergap mereka sehingga terjadi pertempuran sengit, tapi dengan kerja sama mereka, akhirnya musuh dapat ditumpas seluruhnya, dan karena orang banyak tidak terpencar lagi, maka rangsum yang mereka bawa masih tersedia lengkap, jadi tiada yang kelaparan, cuma air minum saja yang kehabisan. Dikala mereka terkurung dalam kamar kotak2 ini. tengah ubek2an kian kemari tanpa menemukan jalan keluarnya, mendadak ketemu Ling Kun-gi, sudah tentu tidak kepalang kejut dan senang mereka, sepertiketibanrejeki dari langitrasanya. Di antara dua belas pelayan hanya Giok-je yang paling dulu berkenalan dengan Ling Kun-gi, malah dia pula yang menyelundupkan Kun-gi ke-luar dari Coat-ceng-san-ceng dan dibawa ke Pek-hoa pang, maka dia pula yang berjingkrak kegirangan dan memburu maju lebih dulu, teriaknya girang.

"Cong-su-cia, bagaimana kau bisa masuk kemari?"

Mata Kun-gi mengerling, katanya dengan tertawa.

"Syukurlah kalian berada di sini semua, Hek-liong-hwe sudah hancur lebur, Cayhe sengaja mencari kalian."

Hong-sian bertanya.

"Apakah Cong su-cia pernah bertemu dengan Hupangcu?"

Sudah tentu tak enak Kun gi menjelaskan, dia mengangguk, katanya.

"Waktu pintu batu terbuka Hupangcu sudah mendahului keluar."

Lo Kun hun ikut bicara.

"Waktu pertama kali kami masuk kemari, mendadak Coa heng menghilang, apakah Cong-su-cia tahu jejaknya?"

Guram wajah Kun-gi, katanya rawan.

"Coa-heng terluka parah, sekarang sudah meninggal."

Mendengar Coa Liang sudah meninggal, seketika tertekan perasaan semua orang. Kata Kun-gi.

"Kalian semua ada di sini, tak perlu kita masuk lebih jauh lagi, biar Cayhe tunjuk jalannya, Pangcu sedang menunggu kalian di luar."-Laludiapimpin orangbanyak keluar.. Bahwa sebentar lagi bakal keluar dari tempat yang menyesatkan ini, sudah tentu langkah semua orang bertambah cepat, hanya sebentar mereka sudah keluar dari kamar kotak yang membingungkan itu. Bok-tan sambut keluarnya orang banyak dengan berjingkrak girang, sudah tentu banyak adegan lucu yang terjadi dalam pertemuan ini. Begitulah di bawah pimpinan Ling Kun-gi, kemudian mereka mengundurkan diri dari Hwi-liong-koan dan bergabung dengan rombongan Yong King-tiong, selanjutnya beramai2 mereka keluar dari lorong serta berkumpul pula dengan rombongan besar. di mana Giok-lan dan lain2 sedang menunggu dengan gelisah. Kini tugas Tu Hong-sing yang pimpin rombongan besar ini keluar dari lorong panjang yang menembus ke Hwi-liong-tong setelah terlebih dulu mematikan jalan yang menuju ke Hwi-liong-koan. Tengah berjalan, lapat2 terdengar suara benturan senjata keras di depan, Yong King tiong merandek, katanya..

"Seperti ada orang bergebrak, mari lekas kita tengok."

Kun -gi ingat So-yok yang lari dikejar Kong-sun Siang, kemungkinan mereka kepergok musuh dan kini tengah berhantam.

Apalagi luka Kongsun Siang belum sembuh, lengan buntung lagi, maka ia sangat kuatir, ia berkata.

"Biar Wanpwe ke sana lebih dulu." -Sebelum Yong King-trong bersuara, sekali melejit dia mendahului lari ke lorong di depan sana. Di ujung lorong adalah sebuah pintu gerbang yang besar tinggi, bentuknya bundar, di luar pintu dihadang sebuah pintu angin yang terbuat dari batu marmer warna hijau setinggi satu tombak, Kun-gi belok ke sebelah kiri pintu angin serta mendapatkan sebuah ruang pendopo yang besar, bagian depan dan belakang sama berundakan batu, tepat di tengah adalah sebuah pelataran, sudah tentu letak pelataran ini masih berada di perut gunung. Tapi keluar dari pendopo besar itu, melalui lorong yang tidak begitu panjang, bagian luarnya lagi sudah kelihatan sinar matahari dan pemandangan alam pegunungan yang menghijau permai. Di pelataran itulah tengah terjadi baku hantam sengit antara lima. laki2 baju hitam yang tengah mengeroyok seorang laki2 baju hijau. Sekali pandang Kun-gi lantas kenal laki2 baju hijau yang dikeroyok ituadalah TingKiauyangterpencardidalamlorong. Meski dikeroyoklima musuh, tapi kipasbesinyaituternyatadapat main dengan gencar dan hebat, begitu keji cara permainannya sehingga kelima musuh yang bersenjata lebih panjang tidak berani mendekat, namun mereka maju mundur kerja sama dengan rapi, sedikitpun Ting Kiau tidak diberi peluang, seakan2 sengaja hendak menguras tenaganya. Girang hati Kun-gi, cepat ia melejit ke tengah pendopo serta membentak.

"Berhenti!"

Bentakan keras ini laksana guntur menggelegar di siang bolong sehingga orang2 yang lagi berhantam merasa kaget, lekas mereka tarikpedangdan melompatmundurserayamenoleh.

Melihat yang datang adalah Ling Kun gi, sudah tentu bukan main girang Ting Kau, teriak-nya.

"Cong-coh!"

Nyata kelima orang baju hitam itu juga me-lengak heran karena melihat Lang Kun-gi mendadak menerobos keluar dari dalam Hwi liong-tong. Seorang di antaranya angkat pedang seraya membentak.

"Lekas cegat dia, jangan biarkan dia lari." -Dua orang kawannya segera menubruk ke arah Ling Kun-gi. Kun-gi berdiri tegak, ia tertawa, katanya lantang.

"Kalian berdiri di tempat masing2, ketahuilah bahwa Hek liong hwe sudah lebur, Han Jan-to sudah mampus, Hwi-liong-tongcu Nao Sam jun dan Ui-liong-tongcu Ci Hwi-bing sudah mati, kalian kaum keroco ini masih berani bertingkah. Hayo letakkan senjata dan menyerah, nanti kuampuni jiwa kalian?"

Laki2 baju hijau yang jadi memimpin kelima orang itu tambah beringas, serunya.

"Jangan kalian percaya ocehannya, hayo bekuk dia,"

Pada saat itulah Tu Hong-sing, Yong King-tiong dan lain2 juga telah keluar. Yong King-tiong segera bersuara.

"Apa yang diucapkan Ling-kongcu memang betul, asal kalian mau letakkan senjata, ku tanggungjiwa kaliantidakakan diusik."

Melihat gelagat jelek, orang itu segera menyurut mundur, tiba2 dia berteriak.

"Angin kencang, mundur!" -Gerak tubuhnya ternyata sebat sekali, begitu putar tubuh terus lari, keluar pintu. Tak terduga baru beberapa langkah dia lari, waktu dia angkat kepala, entah cara bagaimana pemuda jubah hijau yang tadi berdiri di tengah pendopo tahu2 sudah mengadang di depan pintu dan berkata dengan tertawa.

"Kalian ingin lari, kukira tidak segampang itu."

Melihat pemuda ini bertangan kosong, laki2 baju hitam ini menjadi berani, dia menjengek.

"Cari mampus kau anak muda!" -Sebat sekali dia menyelinap maju, pedang hitam di tangannya langsung menusuk dada. Hanya sedikit miringkan tubuh, dengan mudah Kun-gi hindarkan tusukan orang, berbareng tangan kiri bekerja, dia pencet pergelangan tangan lawan, dua jari tangan kiri langsung menutuk Ling-tai-hiat pula. Kontan laki2 itu gemetar, mulut mengerang tertahan, selebar mukanya kontan pucat pias seperti balon yang kempes, badannya lunglai hampir tak kuat berdiri. Jelas laki2 ini telah dipunahkan ilmu silatnya oleh Ling Kun-gi. Tiba2 Kun-gi membalik badan, matanya menyapu pandang empat orang yang lain, katanya ke-reng.

"Kalian kemari, Hek-lionghwe menjadi cakar alap2 kerajaan dan kalian adalah anteknya cakar alap2, kalau cakar alap2 harus diberantas, kalian para anteknya juga harusdihukum, tapicukup dipunahkansaja ilmusilatnya."

Keempat orang saling pandang, lalu seorang bersuara.

"Kami adalah kaum persilatan, dari pada kehilangan ilmu silat lebih baik kami mati."

"Ya, dengan bekal sedikit kepandaian silat itulah kalian telah berbuat kejahatan di Kangouw, kalau ilmu silat dipunahkan, kalian diberi kesempatan untuk menebus dosa dan kembali menjadi manusia baik2."

Keempat orang saling pandang pula, mendadak serempak berteriak, empat pedang hitam sekaligus menubruk maju dengan tusukan dan tabasan dari berbagai jurusan. Ting Kiau berjingkrak gusar.

"Anak anjing, masih berani kalian main gila!"

Kipas lempitnya tiba2 terbentang, baru saja dia hendak turun tangan, didengarnya Ling Kun-gi tertawa panjang, katanya.

"Tadi Cayhe sudah bilang, kalian harus dipunahkan ilmu silatnya, siapapun takluputdarihukuman setimpal ini."

Belum habis bicara, keempat laki2 itu sudah sama mengerang dan menungging.

Tiada hadirin yang melihat jelas cara bagaimana Ling Kun-gi kerja keempat lawannya ini, tapi pedang sudah terpental jatuh, keempat orang itupun sudah duduk lemas di lantai.

Kiranya dalam segebrak saja mereka telah sama dipunahkan ilmu silatnya oleh Ling Kun-gi.

Seperti tidak terjadi sesuatu apa Kun-gi memandang Yong King-tiong serta bertanya.

"Paman Yong, keluar dari sini, apakah sudah berada didunia luar?"

"Betul,"

Ujar Yong King-tiong tertawa.

"Inilah Hwi-liong-tong, di luar adalah Hian-koan-giam, terpaut satu puncak gunung dengan Ui-liong-tong, sekarang kita boleh keluar dari sini."

Sorot mata Kun gi menyapu kelima jago pedang yang menyerah diHek-liongtam, katanya.

"Kalian kemari."

Kaget dan pucat muka kelima orang, katanya.

"Ling-kongcu, kami berlima sudah menyerah, malah membawa Kongcu menolong orang dalam lorong2 sesat, kami tidak berani bilang ada pahala, paling tidak itu sudah menebus dosa kami, harap Kongcu bermurah hati, ampunilah dosakamiyangdahulu."

Kun-gi tertawa tawar, katanya.

Kalian bantu aku menolong orang, untuk ini aku pribadi bersyukur dan terima kasih, tapi kalian baru menanjak setengah umur, setelah meninggalkan Hwi-lionghwe, tetap akan berkecimpung di Kangouw kalian masih bisa hidup dua puluh atau tiga puluh tahun lagi, memangnya siapa berani menjaminkaliantidakakan melakukankejahatanpuladiluar?"

Kelima orang serempak bersumpah.

"Kami bersumpah akan menjadi manusiabaik2, pastitakkan berkecimpung di Kangouw"

"Kalau kalian tidak akan berkecimpung lagi di Kangouw lalu buat apa kalian memiliki kepandaian?"

Kelima orang segera berlutut, katanya.

"Mohon Kongcu suka murah hati, jika kami betul2 menggunakan ilmu silat untuk berbuat jahat, biarlah kami mati tercacah golok dan pedang."

"Kalian berdiri, mengingat kalian telah bantu mencari orang, akan kututuk satu jalur Hiat-tomu, kalian tetap mempertahankan lima bagian kepandaian ini cukup untuk melindungi badan dan membela keluarga, cuma selanjutnya takkan bisa berlatih lebih tinggi lagi, asalkan tidak menggunakan tenaga sepenuhnya kalian tidak akan mengalami apa2, dengan adanya pembatasan ini, pasti kalian tidak akan melakukan kejahatan."

Kelima orang masih ngotot hendak minta keringanan. Yong Kingtiong tiba2 membentak.

"Keputusan Ling-kongcu cukup adil, kalian masih belum puas? Selama dua puluh tahun ini betapa banyak insan persilatan yang terbunuh oleh orang2 Hek-liong-hwe seperti kalian ini, kalian pantas dibunuh untuk menebus dosa, memangnya kalian masih tidakterima?"

KarenaditegurYong King-tiong, kelimaorang takberani bersuara lagi, secepat kilat Lin g Kun-gi bekerja, satu persatu dia tutuk tempat yang sama di tubuh kelima orang.

Kelima orang sama merinding, hanya itu perasaan mereka, lalu beramai mereka menjura pada Un Hoan-kun, katanya.

"Berkat kemurahan hati Lingkongcu kami telah memperoleh pengampunan, sejak kini kami akan meninggalkan Hek-liong-hwe, nona sudah berjanji akan memberiobatpenawar, harapnonabermurah hatipula."

"Memangnya kalian terkena racun apa?"

Tanya Un Hoan-kun menggoda.

"Kami menelan Sip-hun-wan, dalam dua belas jam kalau tidak ditawarkan akan menjadi pikun, sukalah nona tidak menyiksa kami lagi."

"O."

Un Hoan-kun bersuara dalam mulut, tanyanya berpaling kepada Tu Hong-sing.

"Saudara Tu bagaimana? Kaupun ingin obat penawar?"

Tu Hong-sing menyengir, katanya.

"Nona sendiri telah berjanji, tentunya takkan mempermainkan kami." -Meski dalam hati amat dongkol tapi lahirnya dia tetap tersenyum.

"Sip-hun-wan buatan khusus keluarga Un dari Ling-lam, sudah tentu hanya nona saja yang punya obat penawarnya, bukankah nona sudah janji akan memberiobatpenawarnyasebelummeninggalkantempat ini?"

"Un Hoan-kun menggigit bibir, katanya dengan tertawa.

"Bahwasanya keluarga Un dari Ling-lam tidak pernah membuat atau memiliki Sip hun-wan, darimana pula aku memiliki obat penawarnya?"

Gemerobyos keringat To Hong sing karena cemas, katanya.

"Agaknya nona sengaja mau merenggut jiwaku ini."

"Aku tidak menipumu,"

Ucap Un Hoan-kun tertawa.

"aku betul2 tidak punya obat penawar."

Tu Hong-sing menyeka keringat yang membasahi jidatnya, katanya gugup.

"Tapi aku jelas sudah menelan Sip-hun-wan. Yong-congkoan, kau sendiri menyaksikan, kita terhitung teman lama, memangnya kautega melihataku tersiksapadaharituaku ini?"

Un Hoan-kun morogoh keluar sebuah cupu2 kecil serta menuang keluar sebutir pil dan ditaruh di telapak tangan, katanya.

"Bukankah yang kau telan pil ini?"

Dengan cermat Tu Hong-sing mengamati pil itu, katanya mengangguk.

"Ya, memang pil ini, nona bilang pil ini namanya Sip hun-wan"

Un Hoan-kun angsurkan cupu2 kecil itu, katanya.

"Kalau saudara Tubisa membaca, silakanlihatsendiriapa, yangtertulisdisini?"

Tu Hong-sing terima Cupu2 kecil itu serta membaca tulisan di secarik kertas yang tertempel di cupu2 itu, katanya.

"Ciap bi-tan khusus buatan keluarga Un. Jadi nona memberi aku menelan Ciap-bi-tan. Kau tidak menipuku?"

Un Hoan-kun terima kembali cupu2 itu, katanya sambil cekikik.

"Buat apa aku menipumu?, soalnya paman Yong bilang kau gila pangkat dan tamak harta, belum bisa dipercaya, maka sengaja kucekok kau dengan sebutir pil yang kukatakan Sip-hun-wan, dengan cara ini baru akan memaksa kau bekerja sekuat tenaga, yang benar Ciap-bi-tan ini khusus untuk memunahkan segala macam obat bius, bila kau menelannya sebutir, dalam jangka dua belas jam, kau tak perlu takut terhadap segala macam bebauan yang memabukkan, sudah tentu tidak akan membawa akibat sampingan untuk kesehatan orang, lalu obat penawar apapula yang akan kau minta lagi?"

Yong King tiong tergelak2, katanya.

"Tu-heng sekarang boleh legakan hatimu?"

Merah muka Tu Hong-sing, katanya kikuk.

"Nona Un memang pandai mempermainkan orang."

Tiba2 tampak serius sikap Yong King tiong, katanya.

"Apa yang Tu-heng katakan tadi memang tidak salah, dulu kita sama2 sebagai salah satu dari pada tiga puluh enam panglima Hek-liong-hwe, setelah meninggalkan Kun-lun san kitapun akan berpisah, tiga puluh enam panglima kini tinggal kau dan aku berdua, mengenang masa lalu sungguh bagai mimpi, apakah rencana hidup Tu heng selanjutnya takkan kucampur tangan, tapi perlu kuberi pesan sepatah kata padamu, yaitu kita adalah keturunan bangsa Han, menjadilah manusia yang tahu harga diri, kuharap Tu-heng jangan lupa membina diri."

Tu Hong-sing merangkap tangan menjura, katanya.

"Nasihat Yong-heng semurni emas, aku terima nasihatmu, semoga kita kelak masih ada kesempatan bertemu. sekarang aku mohon diri." -Setelah menjura dan mohon diri pada seluruh hadirin, cepat2 dia melangkah pergi.

"Sekarang kalianpun boleh pergi,"

Kata Yong King-tiong kepada kelima jago pedangnya. Serentak mereka menjura lalu beriring keluar langsung turun gunung. Yong King tiong menghela napas, katanya menengadah.

"Dengan kedua tangannya Lohwecu mendirikan Hek liong-hwe tiga puluh tahun yang lalu dengan mengerek panji kebesaran menentang kerajaan Ceng membela dinasti Bing, dua puluh tahun terakhir ini Hek liong-hwe justeru dikangkangi cakar alap2 kerajaan dan diperalat untuk menumpas patriot bangsa sendiri, selama lima puluh tahun ini, Losiu hidup terkurung di sini empat puluh tahun, dulu waktu datang adalah pemuda yang gagah dan kekar, kini keluarnya telah berubah seorang kakek yang sudah uban dan loyo, proyek besar di dalam -perut gunung hasil jerih payah banyak orang di sini selanjutnya akan terpendam untuk selama2nya." -Sampai akhir katanya, saking sedih air matanya lantas bercucuran.

"Yong-lopek,"

Kata Kun-gi, lorong di perut gunung ini simpang siur dan menyesatkan, jika dibiarkan dalam keadaan utuh seperti ini, sekali tempo mungkin akan digunakan orang2 Kangouw dari golongan hitam sebagai sarang kejahatan, apakah tidak lebih baik disumbat saja?"

Yong King-tiong tersenyum, katanya.

"Ling-kongcu tak usah kuatir, bahwa Losiu memilih jalan keluar dari sini, sebetulnya memang sudah kurencanakan untuk menutup mati tempat ini, karena pintu rahasia dari berbagai tempat harus dibuka dari dalam, hanya kunci pintu besar Hwi liong-tong ini yang harus dibuka dari luar, setelah kita keluar semua baru ditutup dan kuncinya dirusak, orangluarpun takkanbisa masukpula."

"Kalau tempat ini hanya bisa dibuka dari luar, kecuali paman Yong, tentunya masih ada orang lain pula yang tahu."

"Soal ini merupakan salah satu rahasia penting dalam Hek-lionghwe, hanya para Tongcu saja yang tahu, kini yang mati sudah pergi, yang masih hidup termasuk Losiu sendiri hanya tinggal tiga orang lagi."

"Entah siapa dua orang yang lain?"

Tanya Kun-gi.

"Seorang adalah ibumu,"

Ujar Yong King-tiong.

"seorang lagi adalahCui Kin-in. Ai, seharusnyatadikita menawannya."

Mengingat dua kali gurunya bersuara mencegah Kun-gi melukai dan menahan Cui Kin-in, diam2 dalam hati dia menggerutu.

"Entah bagaimana asal usul perempuan ini? Ilmu pedang dan kepandaian silatnyaternyatatidaklebihrendah dari padaku."

Sementara mereka berbincang2, rombongan besar itupun telah keluar dari pintu gerbang Hwi-liong-tong, di bagian luar ternyata adalah sebuah gua raksasa yang tingginya ada beberapa tombak dan luasnya ada enamtombak.

Setelah orang banyak sama keluar, Yong King-tiong menghampiri dinding sebelah kanan, sebuah batu besar digesernya, lalu tangannya menggagap sekian lamanya, maka terdengarlah suara gemuruh, pelan2 sebuah batu raksasa melorot turun dari atas.

Pintu gerbang Hwi-liong-tong seketika tersumbat menjadi sebuah dinding batu yang berlumut.

Sambil berjongkok Yong King-tiong menoleh, katanya.

"Ling-kongcu, Losiu pinjamSeng-ka-kiammu sebentar."

Kun-gi mengiakan, ia keluarkan Seng-ka-kiam dan diangsurkan.

Yong King-tiong terima pedang pendek itu lalu menabas, menusuk dan membacok serabutan ke dalam lubang, beruntun terdengar suara besi patah dan berjatuhan, kiranya alat2 rahasia yangmenjadikunci pembukaanpintu gerbangtelahdirusaknya.

Yong King-tiong menggeser balik batu besar itu untuk menutup lubang, setelah berdiri wajahnya tampak lesu guram, mimiknya sedih dan rawan, se-olah2 dalam sekejap ini usianya bertambah tua beberapa tahun.

Dengan langkah lebar segera dia mendahului berjalan keluar.

Sang surya memancarkan cahayanya yang hangat dan cemerlang, alam pegunungan menghijau permai, cuaca cerah, hawa sejuk, cukup lama mereka berada di perut gunung yang sumpek, kini dapat menghirup hawa pegunungan yang segar sepuas2nya.

Gua besar ini terletak di sisi kanan Hian-koan-giam, keadaan tebing di sini amat curam dan tingginya ratusan tombak, untuk turun naik bila tidak memiliki kepandaian silat tinggi orang harus merangkak berpegang pada celah2 batu karang seperti naik tangga layaknya, boleh dikatakan seluruh badan terapung di udara, sekali lena bisa terpeleset dan hancur lebur jatuh ke dalam jurang.

Yong King-tiong bawa orang banyak turun ke dasar jurang dengan selamat, membelok ke pinggang gunung, meski di sini masih di tempat ketinggian, tapi tempat2 yang harus mereka lewati tidak berbahaya seperti tadi.

Rombongan besar ini lebih banyak perempuan daripada laki2, setelah berhasil menempuh perjalanan sukar ini, maka legalah perasaan semua orang.

Yong King-tiong melihat cuaca, mentari sudah mulai doyong ke barat, hari menjelang sore, maka dia menoleh dan berkata.

"Apakah kalian ingin istirahat?"

Kun-gi mengajukan pertanyaan.

"Yong-lopek, berapa jauh perjalanandarisini ke Gak koh bio?"

"Kalau jalan cepat sebelum magrib mungkin kita bisa sampai tempat tujuan,"

Sabut Yong King-tiong. Bahwasanya Bok-tan belum tahu kalau Thay-siang sudah mangkat, dia kira orang sedang menunggu kedatangannya di Gak-koh-bio, maka sambil membetulkan letak rambutnya dia berkata.

"Kami tidak letih, biarlah kita istirahat di Gak-koh-bio saja."

Yong King-tiong mengangguk, katanya.

"Begitupun baik, perut kalian kosong, kalau jalan cepat2 mungkin kita masih sempat makan malamdiGak-kohbio." 0000oodwoo0000 Gak-koh-bio terletak di bukit Gak-koh ting, bentuk biara ini cukup megah dan angker, bau dupa sudah tercium dari beberapa li jauhnya. Singkatnya Yong King-tiong telah bawa Kun-gi dan lain2 tiba di bawah Gak koh-ting, dari kejauhan mereka sudah melihat di depan Gak-koh-bio berdiri seorang laki2 tinggi besar berjubah biru seperti sedang memandang ke tempat jauh menunggu kedatangan seseorang. Tong Bun-khing bersuara kaget girang, katanya.

"He, itukan Pacongkoan? Ling-toako, bagaimana mungkin Pa congkoan juga berada di sini?"

Sudah tentu Kun-gi tak bisa menjawab, terpaksa dia manggut, katanya.

"Mungkin sedang mencarimu."

Kalau mereka melihat Pa Thian-gi, sudah tentu Pa Thian gi juga sudah melihat kedatangan mereka, dengan langkah lebar segera dia menyongsong dengan tawa lebar.

"Ling kongcu, Jikohnio dan Samkohnio (Pui Ji-ping) sama datang, sejak pagi kutunggu di sini, kaki sampai terasa pegal."

Belum Kun-gi bersuara, Pui Ji-ping lantas tanya.

"Pa congkoan, apa ibu juga datang?"

"Tidak, yang kemari adalah Locengcu dan tuan muda,"

Sahut Pa Thian-gi.

"malah paman Sam-koh-nio Cu-cengcu juga berada di sini bersama Un-locengcu dan Un-jicengcu"

Kini giliran Cu Ya-khim berjingkrak girang, serunya.

"Hah, ayah juga datang!"

Sudah tentu Un Hoan-kun kejut2 girang, serunya.

"Ayah dan pamanku juga datang?"

"Beginilah duduk persoalannya, Siau-yan, pelayan keluarga Un yang ketakutan pulang memberi laporan pada Un-locengcu bahwa nona Un menyelundup ke Pek-hoa-pang dan tiada kabar beritanya lagi. Kebetulan Un locengcu dan Lo cengcu kita sedang bertamu di Liong bin sin ceng, sementara Cu-cengcu juga kehilangan nona Cu dan Jikohnio, maka beramai mereka lantas menyusul ke Pek-hoapang ."

Bok-tan berteriak kaget, tanyanya.

"Jadi kalian sudah meluruk ke Pek-hoa-ciu?"

Seperti diketahui Hoa-keh-ceng di Pek-hoa-ciu dijaga oleh Bwe hoa, Lian hoa dan lain2, tapi yang datang kali ini adalah Tong-cengcu dari Sujoan yang terkenal ahli racun, bersama Un-locengcu yang tersohor menggunakan obat bius serta Ciam-liong Cu Bun-hoa, kalau tiga tokoh silat kelas wahid ini bergabung, umpama Thaysiang sendiri belum tentu dapat melawan mereka.

Maklum sebagai Pek hoa-pangcu sudah tentu dia prihatin akan soal ini?

Pa Thian-gi tidak tahu asal usul Bok-tan, tapi karena orang datang dengan Ling Kun gi berjalan di depan rombongan lagi, maka katanya dengan tertawa.

"Tidak, mereka beramai baru sampai di Ciam-sin, kebetulan bersua dengan guru Ling-kong-cu, maka mereka disuruh langsung datang ke Gak-koh-bio di Kun-lun-san ini."

Bok-tan menghelanapaslega dantidakbersuaralagi. Giliran Kun-gibertanya."Kapan kalian datang?"

"Kemaren baru tiba di sini."

Tengah bicara tampak dari dalam pagar biara berjalan seorang pemuda jubah kuning, melihat kedatangan rombongan orang banyak langkahnya lantas dia percepat, teriaknya.

"Ling-heng, kenapa baru sekarang datang?"

Lekas Kun-gi memapak maju, teriaknya.

"Tong-heng."

Yang keluar ternyata adalah tuan muda keluarga Tong, yaitu Tong Siau-khing adanya, mereka berjabat tangan erat."

Tong Bun-khing dan Pui Ji-ping maju mendekat, berbareng mereka menyapa.

"Toako!"

Maka menjadi tugas Kun-gi memperkenalkan Tong Siau-khing kepada Yong King-tiong, Bok-tan, Un Hoan-kun dan lain2. Satu persatu Tong Siau-khing memberi hormat, katanya kemudian.

"Ling-pekbo bilang sore hari ini kalian pasti datang, makanan sudah disiapkan. Ling-pekbo bersama ayah dan lain2 sudah lama menunggu di pendopo, mari kutunjukkan jalan." -Lalu dia bawa orang banyak masuk lewat pintu tengah menuju ke biara. Setelah orang banyak masuk ke pendopo besar, Yong King-tiong memberi tanda kepada Siau-tho dan keempat jago pedang baju hitamnyasupayatinggaldi luarpendoposaja. Bok-tan juga suruh Ci-hwi, Hong-sian, Hu-yong, Giok-je bersama Houhoat Ting Kiau, Liang Ih-jun, Toh Kian-ling, Lo Kun-hun serta keempat dayangnya Bak-ni, Swi-hiang, Toh-kian dan Jing-hwi tinggal di pendopo, hanya Pa Thian-gi sebagai Congkoan keluarga Tongtetapikutmasuk melayaniparatamu. Tong Thian-jong, Un It-hong, Cu Bun-hoa dan Thi-hujin tengah berbincang2 dengan paderi tua berjubah kuning. Tiba di depan pintu, Tong Siau-khing mendahului masuk dan berseru.

"Yah, inilah Ling-heng telah datang."

Orangbanyakdi kamartamu itusamaberdiri.

Kun-gi silakan Yong King-tiong masuk lebih dulu.

Thi-hujin lalu memperkenalkan Tong Thian-jong dan lain2 kepada Yong Kingtiong, lalu giliran Kun-gi memperkenalkan Ban Jin-cun, Kho Keh-hoa, Bok-tan dan Giok-lan kepada ibunya.

Setelah saling basa-basi ala kadarnya, semua orang dipersilahkan duduk.

Thi-hujin lantas berkata.

"Gi ji, lekas memberi hormat kepada Thian-hi Losiansu, Lo-siansu ini adalah sahabat karib kakek luarmu dulu."

Paderi jubah kuning ini beralis panjang putih, wajahnya kelihatan bersih dan terang meski sudah berkeriput, usianya pasti sudah lebih sembilan puluhan, tapi sorot matanya tajam berkilau, jelas seorang paderi sakti yang berkepandaian silat dan Lwekang tinggi.

Lekas Kun-gi melangkah maju serta menjura, katanya.

"Wanpwe Ling Kun-gi menyampaikansalamsujudkepadaLosiansu,"

Thian-hi Siansu merangkap kedua tangan, dia manggut2, katanya.."Tidak berani, Siau-sicu jangan banyak adat, jangan pula kau membahasakan Wanpwe padaku."

"Kenapa Lo-siansu sungkan pada anak2?"

Ucap Thi hujin. Thian-hi Siansu tergelak2, katanya.

"Hujin mungkin tidak tahu, dulu Lolap memang bersahabat kental dengan Thi losicu, tapi guru Ling-siau-sicu masih terhitung Susiokku, kalau menurut tingkat perguruan bukankah Ling sicu menjadi suteku?"

"Hal iniaku memang tidak tahu,"kataThi-hujin. Diam2 Ling Kun-gi membatin.

"Kiranya Lo-siansu ini juga murid cabang Siau-lim."

Cu Bun hoa terbahak2, katanya.

"Ling-hujin tak usah kesal, Losiansu adalah sahabat kental Thi lohwecu, kalau bicara perguruan masih suheng Ling-lote, maka menurut hematku, bila Thi-hujin hadir, dia dianggap sebagai Wanpwe, kalau Thi-hujin tiada kalian boleh anggap sama angkatan."

Berseri wajah Tong Thian-jong, katanya kepada Kun-gi sambil memelintir kumis.

"Ling-hiantit, kali ini kau mendirikan pahala besar, sekaligus menghancurkan Hek-liong hwe sehingga kaum Kangouw umumnya mmemperoleh keselamatan, tugas membela bangsa selanjutnya juga terletak di pundak kalian generasi muda."

"Paman terlalu memuji,"

Sahut Kun-gi membungkuk.

"Siautit sih hanya menunaikan kewajiban saja,"

Un It-hong menimbrung.

"Hiantit tak usah sungkan, tunas muda kaum Kangouw memang selalu melampaui kaum tua, hanya kaum mudaseusiakaliansajayangmampu menguasaidunia."

Sejak berkumpul sesama tahanan di Coat-seng-san-ceng dulu, Tong-cengcu dan Un-cengcu sama membahasakan Ling-lote kepada Kun-gi, tapi sekarang mendadak berubah panggilan, memang tepat juga karena Kun-gi pandang Tong Siau-khing dan Tong Bun-khing seangkatan, adalah jamak kalau Tong-cengcu memangginya Hiantit.

Tapi Ling Kun-gi dengan Un Hoan kun ada hubungan cinta, sudah tentu Un Hoan-kun malu memberi tahukan hubungan pribadinya ini kepada sang ayah, tapi bahwa Un-cengcu juga telah ubah panggilannya sebagai Hiantit kepada Kun-gi, ini menandakan bahwa dia telah tahu juga hubungan cinta puterinya.

Jelas hal ini dia tahu dari laporan Siau-yan.

Kun-gi sudah tentu juga tahu liku2 persoalan ini, terasa mukanya menjadihangat, sesaatdiaberdiri diamdanrada kikuk.

Sejak masuk tadi Bok-tan tidak melihat kehadiran Thay-siang, dalam hati dia sudah bingung dan gelisah, gurunya adalah adik Ling-hujin, bahwa dia disuruh menyusul ke Gak-koh bio ini, kini Ling hujin dan lain2 ada di sini, jelas gurunya tak mungkin pergi lebih dulu, lalu di manakah sekarang beliau?

Selesai dia duduk termenung itulah, didengarnya Thi-hujin memanggilnya dengan suara lembut.

"Nona Bok-tan, apalah nona So-yok tidak datang?"

Lekas Bok-tan mengiakan, sahutnya.

"Jimoay suka umbar adat, tadi dia menerjang ke luar dari Hwi-liong-koan terus pergi dengan marah, sampaipun pesanguru jugatidakdihiraukan lagi."

Thi-hujin mengangguk, katanya.

"Betul, memang pesan guru agar kalian kemari, mungkin anak Gi sudah beritahu padamu, Losin adalah kakak guru kalian, sebelum ajalnya dia pernah bicara denganku supaya memandang kalian sebagai keluarga sendiri, baiklah kau panggilakubibi saja."

Mendengar kata "sebelum ajalnya", Bok-tan dan Giok-lan seketika terkesima kaget, pikiran seperti butak dan kalut seketika. Bok-tan berdiri dengan berlinang air mata, tanyanya.

"Bibi, maksudmu Suhu beliau ......."

Sedih juga Thi-hujin, katanya.

"Apa anak Gi tidak memberitahukan pada kalian?"

"Karena Pangcu dan Congkoan baru saja lolos dari bahaya, maka anak kira lebih baik ibu saja yang "beritahukan mereka,"

Demikian kata Kun-gi. Bertetesan air mata Bok-tan, tiba2 dia menjatuhkan diri, katanya sesenggukan.

"Bibi lekas engkau beritahukan cara bagaimana meninggalnya Suhu?"

Karena dia berlutut, ter sipu2 Giok-lan ikut berlutut, air matapun bercucuran. Lekas Thi-hujin bangunkan kedua orang, katanya.

"Nak, kalian berdiri saja, dengarkan ceritaku," -Bok-tan dan Giok-lan lantas berdiri, tapi air mata tetap tak terbendung. Dengan lembut Thi-hujin membujuk dan menghibur mereka sekian lama, lalu bercerita tentang riwayat hidup Thay-siang sampai menemui ajalnya. Sejak kecil Bok-tan dan Giok-lan diasuh dan dibesarkan oleh gurunya, tak nyana dalam menunaikan tugas di Kun-lun-san sini mereka harus berpisah untuk selama2nya dengan guru tercinta, sudah tentu tidak kepalang sedih dan pilu mereka, tak tertahan air mata bercucuran lebih deras. Thi-hujin ikut meneteskan air mata, katanya.

"Nak, kalian harus ubah kesedihan ini menjadi kekuatan, dikala mendekati ajalnya adik Ji-hoa ada berpesan dua hal dan minta Losin memberitahukan pada kalian."

Bok-tan menyeka air mata, katanya.

"Bibi, Suhu ada pesan apa?"

Kereng sikap Thi-hujin, katanya.

"Sebelum mangkat gurumu bilang, dia mengasuh kalian hingga besar dan akhirnya mendirikan Pek hoa-pang, tujuan utama adalah untuk menandingi Hek-lionghwe, kemudian dia mendapat kabar bahwa suamiku sudah almarhum, sementara Hek-liong-hwe jatuh ke tangan kerajaan, maka timbul angan2nya untuk menumpas Hek-liong-hwe, tapi karena ilmu pedang peninggalan Tiong yang Cinjin tersimpan di Hek-liong-tam, bila berhasil mempelajari ilmu pedang itu pasti tiada orang yang dapat menandinginya, maka dia berkeputusan untuk meluruk ke Hek-liong-hwe, lalu kalian dibagi menjadi tiga rombongan untuk memancing perhatian musuh, sementara dia secara diam2 menyelundup ke Hek-liong tam.

"Kini Hek-liong-hwe sudah lebur, kejadian sudah lalu, tapi karena kehancuran Hek-liong hwe, pihak kerajaan pasti tidak berpeluk tangan, Pek-hoa-pang merupakan sasaran mereka yang utama, maka hal pertama yaitu supaya kau secepatnya mengirim perintah membubarkan Pek-hoa-pang agar anak buah dan anggota Pek-hoapang tidak menjadi buronan kerajaan."

"Keponakan terima perintah,"

Sahut Bok-tan sambil sesenggukan.

"Hal kedua adalah keinginan gurumu yang belum tercapai, soalnya Losin adalah anak angkat Lohwecu, adik Ji-hoa adalah anak kandung tunggal yang harus mewarisi marga Thi, maka sebelum ajalnyadia mintasupayakau mewarisitradisi keluarganya.. .."

Mendengar sampai di sini semakin keras tangis Bok-tan, sedih dan pilu. Berkata Thi-hujin lebih lanjut .

"Dikala Pek-hoa-pang memilih Cong-hou-hoat-su-cia tempo hari, adik Ji-hoa sudah ada maksud menjodohkan kau dengan anak Gi, tatkala mendekati ajalnya dia usulkan hal ini padaku, peduli anak Gi sudah atau belum bertunangan, dia minta Losin untuk menjodohkan kau dengan anak Gi, kelak setelah punya anak, anak kalian harus menggunakan she Thi, itu berarti kau bukan menantu keluarga Ling, tapi menantu keluarga Thi, ini soal masa depanmu, walau adik Ji-hoa memberi kuasa, tapi Losin tetap minta pertimbanganmu sendiri, entah kau terima tidak keputusan ini?"

Bok-tan masih sesenggukan, air mata membasahi selebar mukanya, serta mendengar Thi-hujin membicarakan soal perjodohan dan masa depannya, meski sebagai Pangcu, tapi betapapun dia adalah gadis remaja, maka kepalanya tertunduk dalam, mukanya yang basah tampak merah seperti buah apel masak.

Walau hati setuju, tapi saking malu, sukar juga dia bersuara, setelah tergagap2 sekian lamanya, akhirnya dia berkata lirih.

"Ini perintah suhu sebelum mangkat, keponakan menyerahkan keputusan kepada bibi saja." -Sampai akhir katanya suaranya lirih seperti bunyi nyamuk. Thi-hujin berkata pula dengan tertawa.

"Kalau kau sudah setuju, baiklah hal inidiputuskan demikian."-Sudah tentukeputusan inipun sekaligus memantapkan hati Bok-tan, ia menunduk lebih dalam, mulut mengiakan lirih.

"AnakGi,"Thi-hujinberpaling memanggilKun-gi.

"Ada pesan apa ibu?"

Tanya Kun-gi dengan muka merah seperti kepiting rebus.

"Ibumu sudah bicara dengan Tong-locengcu, Tong-lohujin ada maksud menjodohkan puterinya dengan kau, tempo hari dia memberi tanda mata Seng-ka-kiam juga kesitulah maksud tujuannya. Sementara Un-locengcu hanya punya puteri tunggal, persoalannya malah mendahului daripada yang lain, demi menjaga keselamatanmu, Nona Un sampai menyamar dan menyelundup ke Pek-hoa-pang, maka kedua keluarga mohon bantuan Cu-cengcu sebagai perantara untuk mengajukan perjodohan ini kepada ibu, setelah ibu berunding dengan para Cengcu, karena Un-locengcu hanya punya puteri tunggal dia mengusulkan cara yang sama, supaya putera-puterimu kelak dengan nona Un menggunakan she Un, sedang puteri Tong locengcu tetap mewarisi marga Ling kita, dengan demikian tiga marga tetap memperoleh keturunan, tiga isterimu masing2 mempunyai kedudukan yang berbeda pula, maka soal perjodohan rangkap tiga inipun boleh diputuskan demikian, lekas kau memberi hormat kepada para mertuamu."

Sudah tentu nona Tong dan nona Un sejak tadi sudah lari sembunyi ke belakang.

Mendengar pesan ibunya, dengan muka merah terpaksa Kun-gi menghampiri Tong Thian-jong dan menyembah.

Berseri muka Tong Thian-jong.

lekas dia bangunkan Kun-gi serta tertawa, katanya.

"Hiansay (menantu baik) lekas berdiri. Haha, waktu pertama kali Lohu melihatmu lantas teringat kepada puteriku, taknyanaisteriku lebihdulujugapenujui kau."

Kun-gi berdiri lalu, menyembah pula pada Un It-hong. Cepat Un It-hong membimbingnya bangun, katanya tertawa.

"Hian say tak usah banyak adat,"

Setelah bergelak tertawa ia berkata pula,! "Menurut Tong-heng kau dipenujui lebih dulu oleh ibu mertua-mu, tapi menantuku ini justeru puteriku sendiri yang naksir, jadilah kita ini mertua kontan."

Maka Yong King-tiong, Bau Jin-cun, Kho Keh-hoa dan lain2 sama memberiselamat kepadaThi-hujin, Tong danUn-cengcu. Dengan mengelus jenggot Yong King-tiong berkata .

"Hari ini kita baru pulang menghancurkan sarang penyamun, serangkaian perjodohanpun terjadi, sungguh peristiwa yang menggembirakan, tapi aku berpendapat sesuai tradisi bangsa kita, daripada perjodohan rangkap tiga akan lebih baik kalau rangkap lima sekaligus, untuk ini aku memberani-kan diri menjadi perantara, pertama kutujukan kepada Ling-hujin dan Cu-cengcu, entah kalian suka memberi muka padaku atau tidak?"

Thi-hujin keheranan, katanya .

"Rangkap lima bagaimana maksud Yong-tayhiap?"

Yong King-tiong tergelak2. katanya.

"Dua perjodohan yang akan kuusulkan ini dari, keluarga Ban di Ui-san dan keluarga Kho dari Ciok-mui, asal Ling hujin dan Cu-cengcu mengangguk, maka jadilah aku ini perantara resmi."

Cu Bun-hoa berpaling ke arah Ban Jin cun dan Kho Keh-hoa, kitanya.

"Jadi Yong loko mengajukan lamaran bagi keluarga Ban dan Kho, entah nona keluarga siapa yang dilamar?"

"Keluarga Ban dengan Liong-bin san-ceng terhitung keluarga persilatan turun temurun, pasangan setimpal dan jodoh yang cocok, Ban-lote sudah cinta sama cinta dengan puterimu, aku ini hanya perantara formil belaka, entah bagaimana pendapat Cu cengcu?"

Cu Bun hoa tertawa lebar, katanya.

"Keluarga Ban dari Ui-san secara beruntun menjabat Bu-lim-beng-cu, Yong-tayhiap, perjodohaninijelas menguntungkanputeriku."

"Jadi Cu-cengcu sudah setuju, haha."

Losiu betu12 jadi Comblang resmi. Nah, Ban-lote, majulah menemui mertuamu."

Ban Jin-cun segera menyembah kepada Cu Bun-hoa.

Bahwa menantunya gagah dari keluarga persilatan kenamaan lagi, sudah tentu tidak kepalang senang hati Cu Bun-hoa, lekas dia membalas setengah hormat.

Kini Yong King-tiong berpaling, kepada Thi-hujin.

katanya.

"Kini aku mohon arakperjamuan pula kepadaThi-hujin,"

"Mohon Yong-tayhiap jelaskan,"

Ucap Thi-hujin.

"Berat kata2 Hujin. aku mengajukan lamaran untuk Kho-lote atas perintah Ji-kohnio Pek-hoa-pang harus dibubarkan, nona Giok-lan yang dulu menjabat Congkoan adalah gadis yang lemah lembut, cerdik pandai lagi, dengan Kho-lote merekapun merupakan pasangan yang setimpal, hal ini pernah ku-bicarakan pada Kho-lote, asalHujinmenerimalamaranini, makaperjodohaninipunjadilah."

Thi-hujin manggut, katanya.

"Jimoay memang berpesan setelah Pek-hoa pang dibubarkan, murid didiknya boleh menempuh cara hidupnya sesuai keinginan masing2, apalagi kalau sudah punya jodoh kan lebih baik, kini Yong-tayhiap mengajukan lamaran, tapi Losin perlu tanya dulu pada Giok-lan."

Lalu dengan tertawa dia berpaling kepada Giok-lan, katanya .

"Lamaran yang diajukan Yong-tay-hiap sudah kau dengar sendiri, bagaimana kau menerimanya?"

Merah muka Giok-lan, langsung dia menjatuhkan diri, katanya dengan menangis.

"Kalau Suhu menyerahkan keputusan kepada bibi, keponakan menurut keputusan bibi saja."

"Anak baik,"

Ucap Thi-hujin sambil menarik tangannya.

"bangunlah, baiklah bibi menerima.."

"Kionghi" (selamat) Kho-lote,"

Seru Yong King-tiong.

"Hujin sudah terima lamaranmu, Pek-hoa-pang Thay-pangcu sudah meninggal, Ling-hujin adalah orang tua mereka, nah, kaupun harus memberi hormat kepada beliau, ya, sekalian kau boleh panggil Gakbo pada beliau."

Bahwa Kho Keh-hoa dapat mempersunting isteri cantik, sudah tentu senangnya tak terlukiskan, cepat dia maju ke depan dan berlutut memberi hormat.

Kun-gi maju memapahnya bangun.

Thi-hujin tertawa, katanya.

"Kho-siangkong sudah memanggil Gakbo padaku, sebetulnya Losin tak berani terima. Tapi begitupun baik, Giok-lan juga amat kusayang, anak Gi putera tunggal, tidak punya saudara, biarlah Giok-lan kupungut jadi puteri angkatku, jadi cocok aku menjadi ibu mertua."

"Sam-moay,"

Kata Bok-tan senang.

"lekas beri hormat kepada ibu angkat."

Giok-lan berlutut dan menyembah sembilan kali, katanya.

"Bu, terimalah sembah sujud anak-mu ini."

Thi-hujin menariknya bangun serta memeluknya, katanya halus.

"Anakbaik, memangkauanakibuyangbaik."

Maka beramai2 orang banyak bergiliran menyampaikan selamat kepada Thi-hujin.

Tong Bun-khing, Un Hoan-kun, Cu Ya-khim, Bok-tan dan Giok-lan sudah terangkap jodohnya, semua orang sama riang gembira, hanya Pui Ji-ping seorang yang piatu, hidup sebatangkara, tiada ayah, tinggal ibu beranak hidup merana Ke-luarga Pui bukan keluarga persilatan, ibunya tak pandai main silat, tidak seperti Thay siang dari Pek-hoa pang yang tenar dari berkuasa, sudah tentu orang banyak tidak hiraukan dirinya lagi.

Pamannya Cu Bun hoa sibuk mengurusi puteri sendiri, ibu angkatnya (Tong hujin) juga sibuk dengan urusan perjodohan puterinya, Mana peduli akan dirinya?

Pikir punya pikir rasa sedih seketika merangsang sanubari Pui Ji ping, tapi sedapat mungkin dia tahan air mata yang hampir menetes, dengan lesu diam2 dia ngeluyur keluar, seorang diri dia bersandar di pagar taman melamun dan mengawasi ikan mas dalam kolam.

Sementara itu dua meja hidangan sudah disiapkan, meja pertama diperuntukan Yong King-tiong, Ling Kun-gi, Ban Jin cun, Kho Keh-hoa empat orang, meja kedua untuk Tong Bun-khing, Un Hoan-kun, Bok-tan, Giok-lan dan Pui Ji-ping.

Diam2 Tong Bun khing menyusul keluar dan mendekati Pui Ji-ping yang sedang melamun, katanya.

"Sam-moay, hayo masuk, makanan sudah siap."

"Tidak, aku tidak lapar,"

Sahut Pui Ji-ping ogah2an. Tong Bun khing menarik tangannya, katanya lirih.

"Adikku yang baik, jangan nanti kesehatan-mu terganggu karena kelaparan, aku tahu perasaanmu, masuklah, jangan sampai orang lain tahu akan isi hatimu."

Merah muka Pui Jiping, omelnya."Akupunyaisi hatiapa?"

Tong Bun-khing tertawa, katanya.

"Ya, tak perlu kukatakan." -LenganJiping lantasditariknyaterusdiseret masuk. Sudah tentu makanan yang dihidangkan pantang ikan dan barang berjiwa, tapi semua orang sudah kelaparan sekian lama, maka hidangan vegetarian juga dirasakan amat lezat, hanya Pui Ji-pingsajayangtidakdoyan makan. Dalam pada itu Thi hujin, Tong Thian-jong, Un It-hong dan Cu Bun-hoa duduk mengelilingi meja bundar tengah berunding soal pernikahan putera-puteri mereka. Melihat orang banyak sudah selesai makan Cu Bun-hoa lantas berteriak dengan tertawa.

"Yong-tayhiap, harap kemari."

Sambil memegang cangkir teh Yong King-tiong menghampiri ke sisi kiri, tanyanya."Cu-hengadapetunjukapa?"

"Kita sedang merundingkan pelaksanaan pernikahan rangkap ini, kau dan aku sama2 menjadi comblang, adalah jamak kalau kita urun2 pendapat."

"Baiklah, biar kududuk di kursi terakhir saja,"

Ucap Yong Kingtiong sambil menarik kursi.

"AnakGi,"panggil Thi-hujin.

"kaupun kemari."

Kun-gi datang ke samping ibunya, katanya.

"Ibu ada pesan apa?".

"Menurut Tong-gakhumu, setelah perjodohan ini diresmikan, ada lebih baik kalian lekas melangsungkan pernikahan, ibu sudah tua, lebih baik juga bila kau lekas berkeluarga supaya ibu menunaikan kewajiban sebagai orang tua terhadap ayahmu, maka ibu putuskan untuk merangkap pernikahan sekaligus pada bulan sepuluh yang akandatang...."

Sebelum ibunya habis bicara, Kun-gi tiba2 menjatuhkan diri, teriaknya sambil berlinang air mata.

"Bu, pernikahan anak lebih baik ditunda saja."

"Kenapa?"

Tanya Thi-hujin.

"Walau kita sudah membunuh Han Jan to, tapi biang keladi yang merebut Hek-liong hwe kan bukan dia, maka anak pikir akan pergi keJiat-ho, dengankeduatangankusendiriakan kupenggal kepala Ki Seng-jiang dan bangsat Ci Kun jin, lalu pergi ke kotaraja pula mencari tulang jenazah ayah."

Tong Thian jong melirik ke arah Cu Bun-hoa dan Yong King-tiong. Cu Bun-hoa mengerti, sebelum Thi-hujin bicara dia sudah batuk2 ringan, lalu mendahului buka suara.

"Ling-lote memang anak berbakti, tekadnya patut dipuji, tapi ibumu sudah kepingin membopong cucu, apalagi tadi soal ini sudah dirundingkan dan disetujui pernikahan akan dilangsungkan bulan sepuluh, jadi masih ada waktu tiga bulan, maka menurut pendapat Lohu biarlah Linglote menikah dulu baru pergi ke Jiat-ho."

Yong King-tiong ikut mengusulkan.

"Apa yang dikatakan Cu-cengcu memang tidak salah, kalau Ki Seng-jiang dan Ci Kun-jin berada di Jiat-ho, mereka toh tidak akan merat begitu saja, dengan bekal kepandaian Kongcu sekarang tidak sulit untuk membunuh mereka, soal tulang jenazah Hwecu, urusan sudah terjadi dua puluhan tahun, mungkin sukar untuk menemukan, lebih baik Kongcu turuti keinginan ibumu, kembali dulu ke Kanglam, setelah melangsungkan pernikahan, tahun depan musim semi baru kau mulai bergerak ke utara."

"Bu,"

Seru Kun-gi mendongak.

Baca Juga: Pendekar Kelana 1

Baca Juga: Harta Karun Jenghis Khan 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert