Eps 10 Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL
Baca online Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL
Cersil Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL.
Tapi setelah batu bola itu terangkat naik setinggi satu kaki, daya tarik ke bawah itu ternyata sirna, malah batu bulat itu berputar dan pelan2 bergerak ke atas.
Waktu Kun-gi menunduk, ternyata tepat di bawah batu bulat tersambung sebatang besi bulat sebesar lengan, kini dia tidak perlu membuang tenaga lagi, besi penyanggah itu telah mengangkat batu bulat itu semakin tinggi.
Maka muncullah sebuah lubang bundar di bawah batu bulat, lubang di bawahnya tampak gelap tak kelihatan dasarnya.
Kun-gi segera melangkah masuk dan turun ke dalam lubang bundar itu, lapat2 dilihatnya ada undakan batu yang menjurus turun diapit dinding yang sempit.
Lorong berundakan ini hanya cukup untuk jalan satu orang, maka seseorang yang berjalan turun tak mungkin mengamati keadaan sekelilingnya, ter-paksa kedua kakinya saja yang menggeremet maju.
Kira2 lima puluhan undakan batu kemudian, mendadak lorong sempit ini belok miring, terasa oleh Kun-gi bahwa lorong undakan ini dari lurus menurun menjadi berputar melingkar, malah lingkaran ini agaknya amat besar.
Menurut perhitungannya, seolah2 dia berjalan melingkari sebuah kamar batu bulat yang besar sekali, paling tidak ada puluhan tombak luasnya.
Tak lama kemudian, undakan batupun berakhir waktu Kun-gi angkat kepala, kiranya kini dirinya berdiri diserambi yang cukup lebar, serambi ini ternyata memang membundar.
Rekaannya ternyata tidak salah, serambi yang membundar ini melingkari sebuah kamar batu yang berbentuk bulat.
Kamar batu ini terdapat sebuah pintu besar warna merah darah.
Sudah tentu pintu batu ini ter-tutup rapat.
Beberapa langkah Kun-gi beranjak maju, didapatinya kamar ini ada beberapa pintu, malah bentuksemuanyasama danbercat merahpula.
Karena kamar ini bulat, jarak pintu2 itu sama, lalu pada pintu manakah dirinya harus masuk?
Maka dia teringat akan perkataan Yong King-tiong.
`Hek-liong-hwe Congkoan hanya dikuasai ikan emas ini, sementara Hwecu menyimpan Leliong-cu, kecuali Hwecu tiada orang lain yang tahu bagaimana membukanya."
Bahwasanya Yong King-tiong belum pernah datang kemari, sudah tentu sebelumnya juga tidak terpikir dibawahsiniterdapatpintu sebanyakinisehingga membingungkan.
Maju lebih lanjut, dilihatnya pintu bercat merah di sini juga tertutup rapat dan kukuh tak bergeming, tiada lubang kunci lagi, memangnya ikan emas yang di terima dari Yong King-tiong ini untuk apa?
Serta merta dia mengeluarkan ikan emas itu, dengan seksama diaperhatikan dandibolak-baliksekian lamanya.
Ikan emas ini terang bukan terbuat dari emas atau perak, bukan tembaga juga bukan dari besi, kalau ditaruh di telapak tangan, kepala dan ekornya bisa bergerak seperti ikan hidup sungguhan, tapi kecuali pembuatannya yang elok dan bagus, sungguh sukar diraba di mana letak keistimewaannya?
Yong King-tiong bilang diperut ikan ada tersimpan kunci rahasia untuk membuka pintu di sini, lalu bagaimana harus mengeluarkannya?
Dengan seksama dia bolak-balik ikan emas itu sekian lamanya, sungguh dia tidak habis mengerti cara bagaimana membuka perut ikan dan mengeluarkan kunci dari dalamnya.
Kedua tangan coba pegang ekor ikan, tatkala dia perhatikan sisik ikan yang kemilau itu serta memikirkan di sisik manakah kiranya letak rahasianya untuk membuka perutnya?
Tak terduga waktu tangan kanannya pegang kepala ikan, tanpa sengaja jarinya menyentuh mata ikan sebelah kanan, segera terdengar suara "klik"
Yang lirih, tertampak mulut ikan yang semula terkatup kini terpentang, dari mulutnya ini menjulur keluar sepotong bumbung kecil halus warna kuning emas..
Penemuan yang tidak terpikir sebelumnya ini sudah tentu amat menggirangkan, dengan hati2 dia lolos bumbung halus itu, panjang bumbung kuning ini hanya setengah dim, enteng sekali, belum lagi dia sempat perhatikan lebih lanjut, bumbung halus kecil itu tahu2 sudah merekah dengan sendirinya, di tengahnya tersimpan segulung kertas tipis.
Hati2 Kun-gi membeber gulungan kertas tipis itu, lebarnya juga hanya setengah dim, begitu tipis dan halus sekali kertas ini, entah terbuat dari bahan apa, di atas kertas tipis ada gambar sebuah Pat-kwa.
Pada setiap segi dari pintu2 itu terdapat kata penjelasannya, tulisannya kecil pula, tapi tulisannya amat rapi jelas.
Menurut penjelasan itu, pada delapan pintu itu tiga di antaranya merupakan jalan penyelamat, sementara lima yang lain bisa menyesatkan dan membahayakan, keluar masuk dari setiap pintu juga ada ketentuannya, sekalisalah langkahfatalakibatnya.
Dengan seksama Kun-gi menghitung dengan penuh perhatian, letak dari jalan penyelamat berada di barat laut dan timur laut, maka dia ingat2 letak dari kedua pintu ini, lalu dia gulung pula kertas itu serta dimasukkan ke dalam bumbung, dengan jarinya dia sentuh mata kiri ikan sehingga mulut ikan terpentang, dia masukkan pula bumbung kuning itu ke dalam mulut ikan, lekas jarinya menarik balik letak mata ikan.
"klik", mulut ikan kembali terkatup rapat. Setelah menyimpan ikan emas itu ke dalam saku, Kun-gi beranjak menuju ke pintu sesuai petunjuk tadi. Delapan pintu dari kamar bundar ini bentuknya serupa tanpa tanda2 tertentu, orang jadi sukar membedakan mana jalan penyelamat dan mana yang menyesatkan. Apalagi berada di dasar bumi ini sukar membedakan arah. Tapi Kun-gi mengambil patokan gambar di mana ujung undakan batu berada, ujung undakan batu terletak di selatan maka bila diurutkan dari selatan menuju ke timur diteruskan ke utara, maka akhirnya dia akan tiba pintu penyelamat yang terletak di barat laut. Dalam hati dia sudah perhitungkan pintu penyelamat adalah pintu keenam dari selatan, kini dia sudah berada di depan pintu keenam menurut perhitungannya, maka tanpa ragu lagi segera dia mendorongnya. Kedua daun pintu warna merah itu ternyata dengan mudah terbuka. Kun-gi langsung masuk berkat cahaya mutiara, dengan seksama dia amat2i keadaan kamar, itulah sebuah lorong panjang selebar satu tombak, kedua sisi dindingnya terbikin dari marmer hijau, demikian pula lantainya dilem-bari marmer warna-warni yang indah sekali. Kecuali itu tiada sesuatu benda apapun yang menarik per-hatiannya. Lorong ini kira2 sedalam lima tombak, di ujung lorong diadang dinding batu pualam, dinding war-na hijau ini terdapat sebuah pintu warna hijau pupus, belum lagi dia beranjak lebih lanjut daun pintu warna hijau itu pelan2 terbuka sendiri. Tanpa ayal Kun-gi masuk ke situ, setelah dia berada di balik pintu, daun pintu itupun menutup sendirinya. SudahtentuKun-gitidak peduli, karenasetelahdirinya masuk dia sudah merancang rencana untuk keluar lewat jalan lain. Tapi setelah dia berada di belakang pintu seketika dia melenggong. Karena menurut rekaannya, kamar di belakang pintu hijau ini pasti adalah kamar batu di mana ilmu pedang peninggalan Tiong-yang Cinjin terukir di dinding. Tak nyana yang terpampang di hadapannya sekarang tak lebih hanyalah sebuah kamar batu bentuk bulat seluas dua tombak, kecuali sekeliling tetap ada delapan pintu yang terpencar, tepat di tengah kamar terdapat sebuah Hiolo besar terbuat dari tembaga setinggi manusia, selain itu tiada benda lainnya lagi. Diam2 Kun-gi menggerutu dalam hati, batinnya.
"Tempat ini hakikatnya tidak sesuai dengan kamar batu yang diceritakan Yong King Tiong, memangnya aku salah masuk dari pintu yang keliru?"
Karena merasa bimbang, serta merta langkahnyapun berhenti.
Pada saat dia melongo itulah tiba2 dilihatnya Hiolo tembaga yang tinggi itu pelan2 bergerak memutar.
Sebetulnya Kun-gi juga maklum bahwa kamar2 disini adalah buah karya Sinswi-cu, setiap pintu memiliki alat rahasia yang berbeda, kalau tidak, setelah dirinya memasuki pintu tadi pintu hijau batu pualam itu takkan mungkin bisa menutup sendirinya.
Dari sini dapatlah disimpulkan, sejak dirinya mulai memasuki pintu dari barat laut tadi, alat2 rahasia di sini sudah mulai bergerak seluruhnya, maka berputarnyaHiolo raksasainipun takperludibuatheran.
Setelah direnungkan dengan kepala dingin, akhirnya dia berkeputusan untuk berdiri tegak tak bergerak saja, akan dia saksikan perubahan yang terjadi selanjutnya.
Setelah Hiolo tembaga itu berputar satu lingkaran, tiba2 malah ambles turun ke bawah lantai, maka terunjuklah sebuah lubang bundar di lantai marmer.
Tergerak pikiran Kun-gi, pikirnya.
"Mungkinkah kamar batu yang dimaksud berada di bawah lubang itu?"
Baru sekarang kakinya hendak bergerak, mendadak iapun berpikir pula.
"Tak mungkin, kalau aku turun, cara bagaimana pula kunaik kemari, padahal kamar bulat ini terdapat delapan pintu yang mirip satu sama yang lain dan sukar dibedakan, bagaimana aku bisa membedakan pintu yang ma-na merupakan jalan hidup untuk keluar? Bila kesasar, akibatnya tentu fatal."
Karena itu diam2 ia memperhitungkan, kini dia berdiri ke arah sana, pintu di belakangnya adalah jalan hidup masuk ke kamar ini, untukkeluarharus lewatkamar keduadari sebelah kiri.
Maka dia mengeluarkan tiga batang duri runcing, satu dia taruh di lantai sebagai tanda tempatnya berpijak, lalu dia menuju lubang ditengah kamaritu.
Setibadi pinggir lubang dia melongak ke bawah, lubangdibawah ini kosong melompong tiada undakan batu segala, keadaannyapun gelap gulita.
Ling Kun-gi tidak berani bertidak gegabah, Leliong-cu dia keluarkan, di bawah penerangan cahaya mu-tiara baru dia bisa melihat bahwa di bawah adalah sebuah kamar batu yang besar dan luasnya mirip kamar atas di mana sekarang dia berada.
Hiolo tembaga tadipun tampak tegak di tengah kamar bawah, tinggi lubang kira2 ada dua tombak.
Dengan hati2 Kun-gi julurkan dulu kedua kakinya terus menerobos turun, sebelumnya dengan tepat sudah dia perhitungkan, begitu tubuhnya melayang turun dan sebelum menyentuh Hiolo dengan tangkas ia jumpalitan sekali sehingga badannya anjlok tepat di sebelah Hiolo.
Setelah berdiri tegak dia angkat tinggi Leliong-cu sambil mengawasi keadaan kamar, ternyata bentuk kamar di bawah ini bulat telur, pada dinding di depan kanan-kiri memang terdapat gambar ukiran yang tajam, tepat di bawah dinding di depannya terdapat sebuah meja sempit panjang yang terbuat dari batu hijau, di atas meja sempit ini tertaruh sebuab kotak kecil dari kayu cendana, agaknya dalam kotak cendana itulah daftar anggota Thayyang-kau disimpan, di samping itu terdapat sebuah tatakan lilin dengan sisa lilin yang tinggal separo.
Hiolo tembaga terletak tak jauh di depan meja, kecuali semua ini tiada benda lainnya lagi, pada dinding pualam di depannya sebetulnya terdapat sebuah pintu, tapi kini sudah tersumbat oleh batu hijau.
Sedikit menerawang, mengingat waktunya amat mendesak, maka kerja pertama yang harus segera dia lakukan adalah menghancurkan daftar anggota Thay-yang-kau, sisa waktunya untuk mempelajari lebih mendalam ilmu pedang yang terukir di dinding, berapa banyak berhasil dia pelajari bergantung dari waktu dan kecerdasannya.
Setelah berkeputusan, segera dia mendekat mejasempit, dikeluarkan ketikan apiserta menyulut lilin.
Lalu kotak cendana dia angkat kesamping, gembok tembaga dia tabas putus dengan Seng-ka-kiam serta membuka tutupnya, ternyata kotak cendana setinggi dua kaki ini terbagi dua susun, susun atas dibatasi kayu yang amat cetek sekali, di mana terdapat buku tulisan tangan, pada sampul buku tertera huruf2 yang berbunyi "Thay-yang-yam-sim-hoat"
Tergerak hati Kun-gi, batinnya.
"Mungkin ini buku catatan Tuan Puteridarihasil ciptaannya."
Ia coba membalik lembaran pertama, tampak lembar pertama memuat ilmu pelajaran Thay-yang-sinkang, disusul lagi adalah Thay-yang-cay, Thay-yang-hu-hoat-pat sek, buku setebal sepuluh lembar ini ternyata penuh tulisan hurup2 bergaya indah, dipinggir tulisan terdapat pula gambar dan keterangannya.
"Inilah ilmu ciptaan Tuan Puteri, sudah tentu tak boleh dihancurkan,"
Demikian batin Kun-gi, dengan hati2 dan lempit buku tipis ini laludisimpan ke dalamsakunya.
Di lapisan bawah kotak terdapat tiga buku tebal yang penuh tertulia nama dan alamat tokoh2 silat dari berbagai aliran, pada sampul buku pertama terdapat judul yang berbunyi "daftar anggota Thay-yang-kau, pahlawan pejuang kerajaan Beng pada jaman Tingbin."
Secara iseng Kun-gi membalik beberapa halaman, dilihatnya nama tokoh2 kenamaan dari Siau-lim, Hoa-san, Bu-tong, Liok-hap bun, Pat-kwa-bun dan lain2 aliran, ada pula orang2 Thianli kau, Toa-to hwe, Kay-pang, Tong-thing-pang dan banyak Pang atau Hwe lainnya, ada pula keluarga dari marga Ban di Ui-san, demikian pula orang2 dari keluaga Tong dari Sujwan serta keluarga besar persilatan lainnya yang kenamaan di Kangouw.
Diam2 Kun-gi menghela napas, bahwa untuk membangkitkan lagi kerajaan leluhurnya betapa berat dan susah payah Tuan Puteri telah berkelana di Kangouw, daftar nama tokoh2 persilatan yang kesohor serta gembong2 dari golongan hitam dan aliran putih ini sebagai bukti nyata bahwa dengan dukungan kaum patriot bangsa dari kaum persilatan, usaha Tuan Puteri masih mengalami kegagalan, ini hanya boleh dikatakan takdir memang sudah menghendaki demikian.
Apa yang dikatakan Yong King-tiong dalam hal ini memang tidak salah, bila ketiga buku daftar ini terjatuh ke tangan pihak kerajaan yang berkuasa sekarang, meski banyak tokoh2 yang namanya tercantum dalam daftar ini sudah almarhum, tapi anak cucu mereka akan tetap ditangkap dan dipancung kepalanya, kalau hal ini betul2 terjadi betapa luas rentetan penangkapan besar2an ini, sungguh akan banyak sekali korban jiwa manusia yang tidak berdosa.
Maka dia tidak banyak lihat lagi, ketiga buku dia tumpuk di atas meja, ia mengerahkan Lwekang pada kedua tangannya pelan2 dia menekan tumpukan buku itu.
Kira2 sepemasakan air kemudian baru dia menarik tangannya, sekenanya dia menepuk sekali, maka tumpukan tiga buku itu seketika berhamburan menjadi bubuk lembut tercecer di lantai.
Dua tugas sudah dia laksanakan satu, kini tiba saatnya dia mulai mempelajari dan menyelami ajaran ilmu pedang peninggalan Tiongyang Cinjin di dinding.
Maka dia melewati meja sempit mendekati dinding serta memandang dengan cermat.
Dinding pualam seluas satu tombak ini terukir seorang kakek berdandan sebagai Tosu (imam) duduk bersimpuh, gayanya duduk bersimpuh ini tampak bayangan perubahan dari tiga gaya lanjut-an, gaya yang satu dengan yang lain agak aneh dan berbeda, perubahan gaya si imam mirip seorang yang lagi melangkah di tengahawan, tam-pakhidup dan mengagumkansekali.
Di samping ukiran si imam tua bersimpuh di-beri keterangan sebagai petunjuk latihan terdiri da-ri empat baris tulisan.
Sambil berdiri mematung memusatkan daya pikirnya, Kun-gi terpesona sekian lamanya, tapi kemudian ia seperti berhasil menyelami sesuatu, terasa bahwa ilmu yang ter-ukir di dinding ini adalah ilmu latihan pernapasan tingkat tinggi dari aliran To (Tau).
Setelah yakin apalbenarakangambarinibaru Kun-gi pindah kedinding kiri.
Dinding di sini berbentuk agak panjang, dari kanan ke kiri seluruhnya ada enam gambar ukir-an, seorang yang sedang bermain pedang, ada yang sedang melompat, menusuk dan menabas, gayanya indah dan mengagumkan.
Tiga ukiran dibagian terdepan adalah Hwi-liong-sam-kiam, cuma tiada huruf keterangan di dinding, juga tiada nama gaya dan gerakannya, kini jelas bahwa nama2 Sinliong jut hun, Liong-janih-ya dan jurus lainnya adalah nama2 pemberian Lohwecu (kakek luar) sendiri.
Dari gambar pertama ber-turut2 dia pelajari sampai gambar keenam, setiap gambar dia perhatikan dengan segenap daya pikirnya, setiap gerak jurus dan variasinya dia ikuti dengan cermat, di samping jari2 tangan bergerak seperti pedang menirukan gaya permainan gambar ukiran.
Memang Kun-gi seorang yang cerdik, apalagi ilmu pedang terlatih selama sepuluhan tahun, maka taraf ilmu pedangnya boleh dikatakan cukup sempurna, terutama Hwi-liong-sam-kiam warisan keluarganya sudah teramat apal sekali, gambar di dinding sambung bersambung darisatu ke lain gambardiawali pula dengan Hwi-liongsam-kiam, maka dengan mudah dan lancar dapatlah dia selami dengan baik.
Habis mempelajari keenam gambar ini, lalu dia pindah ke dinding sebelah kanan.
Seperti dinding sebelah kiri, pada dinding sebelah kanan ini juga terukir enam gambar orang bermain pedang, tapi gambar di sini ada sedikit berbeda, yaitu gambar ketujuh sampai kesembilan masih merupakan kelanjutan dari permainan pedang yang harus dilancarkan melompat sambil menusuk dan membabat, tapi mulai gambar kesepuluh sampai kedua belas, hanyalah seseorang berdiri memeluk pedang dan bersimpuh seperti orang semadi, malah gaya ketiga gambar ini mirip satu dengan yang lain, sukar diraba dan dibedakan di mana letak keanehan dan kemujijatannya?.
Secara singkat Kun-gi mengamati dulu keenam gambar ini, lalu diulangi pula dari gambar ketujuh, satu persatu dia pelajari dan selami dengan hati2 sampai gambar kesembilan.
Karena pelajaran enam gambar terdepan sudah merasuk dalam benaknya, maka ketiga jurus ilmu pedang sambungan ini dengan sendirinya dapat dipahaminya dengan cepat dan mudah.
Tapi mulai jurus kesepuluh sampai kedua belas dia benar2 harus memeras otak, diamat2i kian kemari, tetap kebingungan dan tak tahu ke mana juntrungan ajaran gambar orang memeluk pedang ini serta letak intisari dari gaya yang sederhana ini?
Cukup lama Kun-gi memperhatikan ketiga gambar terakhir ini, tapi tetap tak berhasil menyelaminya, terpaksa dia tinggalkan dulu, sembilan jurus ilmu pedang di bagian depan kembali dia ulangi dan dilatih dengan lancar, dengan pedangnya dia mainkan sembilan jurus ilmu pedang itu.
Sudah tentu tiga jurus di bagian depan yang diyakinkan sejak kecil dia mainkan dengan bagus sekali, tapi mulai jurus keempat sampai kesembilan, setiap jurusnya ditambah perubahan dan variasi yang membingungkan, untung dia sendiri memang sudah punya dasar yang kuat, kecuali latihan permulaan yang terasa masih kaku, setelah dia ulangi beberapa kali, meski belum dapat bergerak bebas dan wajar, tapi sembilan puluh persen gaya permainan ilmu pedang ini sudah dapat dikuasai dengan baik.
Untuk melancarkan keenam jurus ilmu pedang ini kira2 menghabiskan waktu setengah kentongan (setengah jam), mengingat waktu amat mendesak, apalagi untuk sekaligus mengapalkan seluruhnya jelas amat sulit.
Terhadap ketiga gambar terakhir dia masih belum berhasil, terasa bahwa ketiga gambar ini pasti mengandang arti yang luas, setelah keluar dari sini takkan mungkin kembali lagi, maka kesempatan ini betapapun tak boleh disia2kan.
Maka dia simpan pedangnya dan kembali dia berdiri di depan dinding, memusatkan dan menjernihkan pikiran, dengan lebih teliti dia bedakan ketiga gambar ini.
Tapi sudah berulang kali dengan cara yang berbeda dia coba menyambung kesembilan jurus ilmu pedang bagian depan dengan gaya memeluk pedang ini, betapapun dia tetap mengalami kegagalan, rasanya ketiga gaya memeluk pedang ini seperti petilan tersendiri dari sembilan jurus di depannya.
Tapi hal ini bagi Ling Kun-gi justeru dirasakan adanya keanehan yaang tersembunyi pada ketiga jurus terakhir ini, sayang pengetahuan sendiri teramat cetek sehingga sesingkat ini tak berhasil memahaminya.
Akhirnya Kun-gi ambil keputusan, pikirnya "Umpama tak berhasil kuselami, kenapa ketiga gaya bersimpuh ini tidak kucatat saja perubahan satu dengan yang lain, kelak bila ketemu Suhu, akan kutanya dan mohon petunjuknya saja."
Maka dengan tekun dia berusahamerekamketiga gambarterakhir inidalambenaknya.
Tak terduga dalam penelitiannya terakhir ini baru disadarinya bahwa ukiran pada bagian gambar pertama ada goresan pada lempitan baju yang agak cetek, tapi gambar kedua goresannya lebih dalam dan lebar, malah pada gambar ketiga kedua mata orang tampak sedikit memicing, seperti menatap tajam ke ujung pedang yang dipeluknya.
Jadi ketiga gambar ini hanya ada sekian kecil perbedaannya, kalau tidak diperhatikan betul2 tentu sukar membedakan satu dengan yang lainnya.
Kini setelah dia rekam dengan baik ke dalam benaknya, maka tak perlu tinggal lama2 lagi di sini.
Setelah membetulkan pakaiannya, dengan laku hormat dia berlutut dan menyembah ke arah meja sempit, dalam hati dia berdoa supaya Tiong-yang Cinjin memberkati kesuksesan pada dirinya yang menunaikan tugas berat ini, serta menyatakan bersyukur bahwa dia telah berhasil mempelajari ilrnu pedang peninggalannya.
Lalu dia berdiri, meniup padam lilin, sekali tutul kaki, badannya seketika melejit keluar dari lubang bundar.
Berada di kamar sebelah atas, dia mengambil kembali duri bengkok yang dia taruh tadi sebagai tanda, langsung dia melangkah ke arah pintu kedua di sebelah kiri.
Kira2 tiga langkah sebelum dia sampai mendorong pintu, daun pintu tahu2 terbuka sendiri, didengarnyasuaragemuruhdibawah lantai.
Diam2 Kun-gi membatin.
"Sejak tadi aku sedang keheranan, kenapa Hiolo tembaga itu belum juga muncul kembali ke tempat asalnya? Ternyata setelah aku keluar melalui pintu tertentu ini dan setelah pintu terbuka, itu berarti setelah orang yang berada di kamar sudah keluar baru suara gemuruh itu terdengar, suatu tanda bahwa Hiolo besar itu sedang bergebrak naik ke tempat asalnya, Sinswi cu itu memang seorangahliyangjempolan."
Hati membatin langkah tetap beranjak, tanpa menoleh langsung dia melangkah keluar pintu, baru beberapa langkah.
"blang", pintu di belakangnya kembali menutup sendiri, Kini dia kembali melewati lorong panjang yang diapit dinding marmer, bentuk dan keadaan di sini mirip lorong waktu dia masuk tadi. Jalan yang ditempuhnya ini memang yang pa-ling aman sesuai petunjuk tadi, maka dengan leluasa dan lancar dia terus berjalan ke depan tanpa mengalami rintangan apapun.. Setiba di ujung lorong sempit dia dorong pintu terus keluar, kini dia berada di serambi bundar dan menyusuri jalan datangnya semula kembali ke arah selatan, di ujung serambi adalah batu undakan. Kedua tugas berat berhasil dia capai dengan baik, sudah tentu perasaannya lega, maka langkahnya terasa ringan dan cepat sekali dia sudah tiba di ujung undakan. Tampak pada tempat keluar ada sebatang besi tegak ke atas, bagian atas bergantungan sepuluh bo-la batu, sementara ujung yang di bawah terikat pada sebuah batu raksasa, jadi seperti setengah menyanggah batu bulat itu, sehingga sulit bagi orang di luar untuk membukanya. Waktu masuk tadi Kun-gi menghabiskan tenaga untuk menarik bola batu itu ke atas dan di sanggah lebih lanjut oleh batang besi itu, kini untuk keluar, sudah tentu dia harus menyanggah pula bola batu itu. Maka dia kerahkan tenaga pada kedua lengannya, pelan2 mendorongnya ke atas. Tak terduga meski mendorongnya sampai mata mendelik bola batu itu tetap tak bergeming. Keruan ia heran dan bingung. Sejak masuk Ui-liong-tong pengalamannya cukup banyak, dia tahu bila pintu rahasianya terpasang oleh alat rahasia pasti tak mung-kin dibuka oleh tenaga manusia melulu. Bahwa bola batu tak kuasa diangkatnya, maka dia yakin pasti ada alat rahasianya untuk membuka. Maka dia perhatikan dinding di kanan-kirinya.. Tampak di atas dinding sebelah kanan bergantung sebuah roda besi sebesar mulut mangkuk, hatinya menjadi girang, pikirnya.
"Mungkin di sinilah letak rahasianya."
Segera ia pegang roda itu terus menariknya. Maka didengarnyasuaragemerujukairyang mengalirseperti dituang.
"Waktu aku masuk tadi,"
Demikian batin Kun-gi.
"air kolam sudah menurun sedalam lima tombak saja, mungkin setelah bola batu ini kembali ke tempat asalnya, airpun mengalir balik setinggi keadaan semula, kini kalau aku hendak keluar dari sini sudah tentu air kolam harus diturunkan sehingga pucuk karang menongol di luar permukaan baru aku bisa membuka bola batu ini, kalau tidak air akan mengalir masukke dalamsini."
Dengan sabar dia menunggu, sementara suata gemerujuk air masih terus terdengar, kira2 setanakan nasi kemudian, suara gemuruh mulai sirna, tiba2 batang besi penyangga bola berputar naik sendiri, maka terbukalah sebuah lubang bundar.
Tanpa ayal Kun-gi segera menerobos keluar dari lubang itu.
-ooo0dewikz0ooo Luas Hek-liong-tam dua puluh empat tombak, dikelilingi tebing yang curam.
Kentongan keempat sudah berselang dan menjelang kentongan kelima, waktu sebelum fajar menyingsing adalah saat2 yang paling gelap.
Kolam naga hitam dilingkupi kabut hitam yang tebal lagi, walau lima jari tangan sendiripun tidak terlihat, apalagi berhadanan, bayanganpun tidaktampak.
Di ujung sebelah selatan kolam terdapat sebuah jalan ber-liku2 warna hitam, jalan melingkar naik ini terus menembus ke arah selat lembah yang di apit dua gunung.
Itulah satu2nya jalan keluar dari kolam naga hitam ini.
Tatkala itu, tampak sesosok bayangan orang tengah lari berlompatan bagai terbang meluncur ke arah lembah yang menuju ke Hek-liong-tam.
Tiba2 terdengar kumandang hardikan seorang.
"Siapa?"
Berbareng muncul dua bayangan orang di mulut lembah, dari kanan kiri kedua orang ini merintangi orang tadi.
Suasana sedemikian pekat sehingga wajah oraag pun sukar terlihat meski dalam jarak yang dekat, yang kelihatan hanya dua bayangan hitam yang samar2 belaka.
Jelas bahwa kedua orang ini mengenakan pakaian serba hitam pula, sampaipun pedang di tangan merekapun berwarna hitam.
Tapi pendatang itu juga mengenakan seragam hitam, malah pakai kedok kepala segala, yang kelihatan juga hanya sosok hitam belaka.
Baru saja kedua bayangan hitam itu menghardik dan belum lagi gema suara mereka lenyap, bayangan hitam yang datang itu tahu2 sudah berada di depannya, tanpa bersuara kontan ia ayun tangan, tiba2 selarik sinar pedang menyambar keluar seiring gerakan tangannya, sekali berkelebat sinar pedangnya tiba2 berpencar mengincar tenggorokan kedua orang yang mengadang di depannya.
Samberan pedang si baju hitam ini bukan saja cepat laksana kilat juga ganas sekali, sehingga lawan yang diserang menjadi kelabakan dan tak mampu menangkis atau berkelit.
Tapi kedua lawan inipun bukan kaum lemah, sigap sekali mereka menyingkir ke samping, berbareng pedang mereka serempak juga bergerak, bayangan dua batang pedang dari kirikanan sekaligus menyamber si baju hitam.
Si baju hitam menyeringai, pedang berputar, selarik sinar kembali membabat miring kedua la-wannya, bukan saja gaya silatnya indah, serangan yang dilancarkan inipun aneh, lihay dan banyak perubahannya, sungguh ilmu pedang yang tak mudah dilawan.
Baru saja orang di sebelah kiri bergerak maju, belum sempat menarik pedangnya untuk menangkis, sinar pedang lawan tahu2 sudah menabas tiba, terdengar jeritan ngeri, pinggangnya terbabat putus, darahpun muncrat, tubuhnya mengelinding ke bawah jurang.
Melihat kawannya binasa, sudah tentu orang di sebelah kanan serasa terbang sukmanya, saking kaget dia melompat mundur sambil putar pedang melindungi badan, sementara tangan kirinya sudah merogoh kantong mengeluarkan sebuah sempritan perak dan hendak dijejalkan ke mulut.
Padahal gaya tebasan pedang si baju hitam baru saja membinasakan seorang musuh, untuk di tarik balik dan menyerang lawan yang lain jelas tidak sempat lagi, terpaksa dia ayun sebelah tangannya, segulung tenaga raksasa seketika menerjang ke depan.
Lwekang si baju hitam ternyata hebat luar biasa, belum lagi orang di sebelah kanan itu sempat meniup peluitnya, pukulan lawan sudah menerpa dadanya, seperti bola yang kena pukulan telak, badan orang ini tiba2 mencelat jungkir balik sam-bil menghamburkan darah, badannya terguling dan akhirnya tak berkutik lagi.
Kuatir musuh yang satu ini belum binasa dan sempat meniup peluitnya, si baju hitam segera melejit maju, sekali pedang terayun, dada orangpun ditambah sekali tusukan pula.
Pada saat itulah, mendadak ia seperti merasakan sesuatu, dengan sigap segera ia membaliksembari membentak.
"Siapa?"
Dingin dan singkat hardikan suara ini, tapi nadanya yang nyaring jelas keluar dari mulut seorang perempuan.
Memang tidak keliru perasaannya, tampak sesosok bayangan orang tengah melejit rnendatangi dari celah2 ngarai yang curam di seberang sana.
Sorot mata si baju hitam seterang lampu menembus cadar mengawasi pendatang itu.
Aneh pendatang inipun berpakaian serba hitam, iapun mengenakan cadarhitampula, dipundaknya menongol keluarujung gagang pedang.
Dalam sekejap orang itu sudah melayang tiba, teriaknya kejut2 girang.
"Kaukah dik?"
Suaranya juga seorang perempuan. Setajam pisau sorot mata si baju hitam yang datang lebih dulu, sikapnya tampak melengak ka-get dan bingung, jawabnya dengan suara dingin.
"Siapa kau?"
"Bukankah kauadikJi-hoa?", tanyapendatangbaru. Hanya sekian saja perubahan sikap si baju hitam yang datang duluan, suaranya kedengaran ketus dan kasar.
"Bukan!"
Pendatang baru tiba2 menghela napas rawan, ucapnya.
"Ai, meskisudahduapuluh tahun kitatidakbertemu, tapisuaramutetap kukenal dengan baik."
"Memangnya kenapa kalau kau kenal suaraku?"
Jengek si baju hitam yang datang duluan.
"Dik,"
Haru dan pilu suara pendatang baru.
"betapapun kita tumbuh dewasa bersama sejak kecil, hubungan kita bagai saubdara kandung bedlaka, setelah aadik pergi, selabma dua puluh tahun ini, sebagai kakakmu setiap saat senantiasa kukenang dan merindukan dikau. .. .. .."
"Tutup mulut,"
Bentak si baju hitam yang datang duluan.
"Siapakah adikmu itu?"
Agaknya pendatang baru itu sudah menyangka orang akan bertanya demikian, suaranya tetap sabar dan lembut.
"Adik tidak mengakui aku sebagai kakak, ini tidak jadi soal, betapapun aku dibesarkan dan diasuh oleh ayah, aku dipandang sebagai puteri sendiri, betapa besar budi kebaikannya terhadapku tak bisa tidak akuharustetap memandangmu sebagaiadik."
"Sudah selesai ocehanmu?", jenpek si baju hitam yang datang duluan.
"Kudengar adik mendirikan Pek-hoa-pang, kini sudah menjadi Thay-siang-pangcunya pula,"
Ujar pendatang baru.
Ternyata si baju hitam yang datang duluan adalah Thay-siang dari Pek-hoa-pang, tak heran memiliki Lwekang dan kepandaian setinggi itu, hanya sekali ayun pedangnya sekaligus telah membunuhduaahlipedangyangbertugasjagadi Hek-liong-tam.
"Betul,"
Jawab si baju hitam yang datang duluan atau Thay-siang "Sebagai Thay-siang dari Pek-hoa-pang, adik sudah mengerahkan segenap kekuatan Pek-hoa-pang meluruk kemari, seharusnya kau tumpas dan menuntut balas dulu pada pengkhianat bangsa yang sekarang mengangkangi Hek-liong-hwe, kenapa adik justeru hanya main gertak dengan tiga barisan anak buahmu sementara kau sendirisecaradiam2larikemari malah?"
"Kenapa aku harus menuntut balas kepada keparat yang menjual bangsa dan Hek-liong-hwe? Han Janto kan tidak membunuh suamiku,kenapaakuharus menuntutbalasbagioranglain?"
Bergetar tubuh pendatang baru, jelas hatinya tengah bergejolak dan sedang menekan perasaannya, sesaat kemudian baru dia berkata pula.
"Memangnya adik sendiri bukan orang Hek-lionghwe?"
"Sejak lama aku bukan orang Hek-liong-hwe lagi,"
Jawab si baju hitam yang datang duluan.
"Memangnya kau tega dan rela Hek-liong-hwe yang didirikan susah payah oleh beliau jatuh ketangan musuh? Tanpa terusik sedikitpun perasaanmu?"
"Ayah sudah meninggal, setelah orangnya mati segala urusan impas, Hek-liong-hwe direbut orang dari tangan orang she Ling, ini bukti bahwa dia tidak becus. Memang jerih payah ayah selama tiga puluhan tahun harus dibuat sayang, tapi setelah berada ditangannya justeru beralih ke tangan bangsa lain, itu berarti dia orang yang paling berdosa dalam Hek-liong-hwe, inipun membuktikan pandangan ayah sudah kabur, salah menilai orang yang tidak setimpal menerima warisannya, apa pula sangkut-pautnyasoalini dengandiriku?"
Saking dongkol gemetar sekujur badan pendatang baru, tapi dia tetap bersabar, katanya sambil menghela napas.
"Sudah dua puluh tahun beliau meninggal, kau masih membencinya begini rupa?"
"Kaulah yang kubenci,"
Teriak si baju hitam yang duluan, suaranya sengit.
"Jangan kau salahkan aku dik,"
Ujar pendatang baru.
"ayah sendiriyangambil keputusan."
"Maka akupun tidak peduli kepada beliau, seolah dia bukan ayah kandungku,"
Desissibaju hitamyangdatangduluan.
"Dik, betapapun ayah tetap ayah, tiada orang di dunia ini yang tidak mengakui ayah kandungnya sendiri, jangan kau berbicara demikian."
"Kenapa tidak boleh kukatakan demikian? Justru karena usianya sudah terlalu lanjut, kalau dia tidak loyo memangnya Hek-liong-hwe bisa direbut musuh secepat itu ...."
Orang yang datang belekangan agaknya naik pitam, katanya keras.
"Kularang kau bilang begini."
"Berdasar apa kau larang aku bicara? Aku justru ingin blak2an, dulu kalau yang dikawinkan dia adalah aku, tentu aku akan membantu dia mengurus Hek-liong-hwe dengan baik, teratur dan beres, mungkin sampai hari ini Hek-liong-hwe tetap Hek-liong-hwe yang jaya dulu, takkan jatuh ke tangan bangsa lain, usianya saat ini sebetulnya baru empat puluh lima, kenapa dia harus mati pada usia dua puluh lima."
Agaknya sengaja dia hendak menusuk perasaan si pendatang baru, maka tanpa menunggu reaksi orang dia sudah menambahkan lebih pedas.
"Coba kau lihat, dengan kedua tanganku yang kosong ini, bukankah kuberhasil mendirikan Pek-hoa-pang, kekuatan dan kebesaran Pek-hoa-pang tidak lebih asor dibandingkan Hek-liong hwe."
Setiap patah katanya setajam ujung pisau meng-ancam ulu hati pendatang baru itu, tanpa terasa dua jalur air mata tiba2 bercucuran dari balik kedoknya katanya mengangguk .
"Ucapanmu memang benar dik. Memang salah ayah, aku sendiri juga terlalu tidak becus, seharusnya aku hanya pantas berjodohkan seorang kampungan, menjadi isteri alim dan mendidik putera puteri belaka, memang aku tidak setimpal berjodohkan dia, apalagi dia seorang pahlawan yang memikul tanggung jawab besar, memang akulah yang bikin celaka dia ... ."
Akhirnya dia menangia ter-guguk2. Si baju hitam yang datang duluan menyeringai puas, katanya.
"Sayang kau insap setelah terlambat."
Tanpa melirik lagi segera dia membalikbadanterusberlari kecelah2 mulut lembahsana.
Pendatang baru itu terketuk perasaaannya dia lagi tenggelam dalam kepiluan sehingga air mata bercucuran, serta mendengar orang melangkah pergi cepat dia menyeka air mata.
"Dik, lekas berhenti. !"
Si baju hitam yang duluan menjadi tidak sabar, teriaknya juga.
"Akutidakpunyawaktu mendengarkanobrolanmu."
"Untuk apa adik pergi ke Hek-liong-tam?", tanya si pendatang baru.
"Kenapa aku harus beritahukan padamu?"
"Kau kemari untuk mempelajari ilmu pedang peninggalan Tiongyang Cinjin di dasar gua itu bukan?"
"Memangnya aku tidak boleh turun ke sana?"
"Dik, kau kan tahu, air kolam itu teramat beracun, kecuali Leliong-cu, tiadaobatpenawarlaindidunia ini."
"Kau bawa Leliong-cu itu?"
"Akutidakpernah memiliki Leliong-cu."
Lama si baju hitam yang datang duluan menatapnya lekat2, tanyanyadingin.
"Laluuntukapapula kaukemari?"
"Aku sengaja kemari untuk membujuk dan mencegah kau menyerempet bahaya."
"Urusanku sendiri, tak perlu kau ikut campur,"
Jengek si baju hitim yang datang duluan, mendadak dia melangkah pergi lebih cepat, tahu2 dia sudah menyelinap keluar celah2 lembah, menyusuri jalan kecil berliku terus menuju ke bawah.
Pendatang baru tak bersuara lagi, secara diam2 iapun mengikut di belakang orang.
Tiba2 si baju hitam yang duluan membalik badan, tangannya memegang sebatang pedang kemilau, ujung pedangnya menuding dan sorot matanya memancar dingin, hardiknya.
"Setapak lagi kau mengikuti aku, jangan menyesal kalau pedangditanganku takkenal kasihan."
Terhenti langkah pendatang baru, katanya dengan rawan.
"Mungkin adik berhasil, membuat semacam obat penawar getah beracun itu, tapi kolam ini sedalam dua puluh tombak, kadar racunnya juga teramat besar, kecuali Leliong-cu, apapun tak bisa . ......."
"Urusanku tak perlu kau tahu,"
Bentak si baju hitam yang duluan.
"kalau kau tidak menyingkir, jangan salahkan aku bertindak keji padamu."
Tanpa hiraukan orang segera dia berkelebat ke depan, larinya bagai terbang meski berjalan di jalan gunung yang licin dan berlumut.
Di antara lembah yang diapit gunung, kabut sudah mulai ber-gulung2 tiba, luncuran tubuhnya laksana meteor, dalam sekejap saja ia sudah lenyap ditelan kabut.
Pendatang baru menarik napas, dia diam saja tidak mengikuti orang lagi, tapi membalik ke arah timur terus menyusuri sebuah jalanan kecil yang berlumut tebal, jalan di sini tak pernah diinjak manusia.
Kabut masih tebal di Hek-liong-tam, lima jari sendiri tak kelihatan, Si baju hitam yang datang duluan itu memang Thay-siang Pek-hoa-pang, sejak kecil dia dibesarkan di Hek-liong-hwe, maka jalan dan liku2, di dasar perut gunung ini dia sudah apal di luar kepala.
Walau kabut teramat tebal, tapi tak membawa pengaruh apapun bagi gerakannya, langkahnya tidak menjadi kendur karenanya, badannya meluncur bagai terbang langsung menuju ke kolam.
Setiba di pinggir lain, langkahnya tampak lebih hati2, sedikitpun tak berani lena, mengitari dinding sebelah timur, terus maju dan mulai injak pagar batu.
Tujuannya jelas ke arah utara di mana kepala naga itu berada, tapi tatkala kakinya mulai beranjak di pagar batu itu, jantungnya tiba2 berdetak keras.
Ternyata didapati di tengah kabut di depat sana ada orang, jaraknya tinggal setombak saja.
Sudah tentu ketika dia melihat orang di depannya, orang di depan yang memiliki kepandaian tidak rendah juga segera melihat kedatangannya.
Betul juga di tengah kabut itu lantas berkumandang sebuah hardikan.
"Siapa?"
Sudah tentu Thay-siang tidak pandang sebelah mata para penjaga Hek-liong-tam ini meski dia seorang ahli pedang, dengan tegas ia menyahut.
"Aku!"
Belum lenyap suara "aku"
Tiba2 bayangannya melejit maju, pedangnya menusuk cepat ke ulu hati lawan.
Tapi Kungfu orang itu ternyata juga amat tinggi, ketika dilihatnya sinar dingin berkelebat tiba, ia kaget juga, cepat ia membentak.
"Kau bukan orang kita?!"
Pedang yang semula melintang di depan dada segera didorongnya ke depan, gerakannya tidak kencang, tapi laras pedang seluruhnya dilandasi kekuatan dalam, jelas ilmu pedangnya sudah mencapai taraf yang sempurna.
Maka terdengarlah suara "trang", serangan Thay-siang laksana kilat itu kena dipatahkan oleh lawan.
Bahwa serangan yang disiapkan lebih dulu dengan landasan kekuatan hebat dapat dipatahkan lawan, keruan terkesiap hati Thay-siang, jengeknya.
"Sudah tentu aku ini bukan orang Hek-lionghwe."
Belum lagi pedangnya ditarik, tangan kirinya sudah melancarkan pukulan yang dahsyat.
Lwekangnya amat tangguh maka pukulan yang dilontarkan lihay sekali, baru saja suara benturan kedua senjata bergema, pukulan telapak tanganpun melandai tiba.
"Serangan bagus,"
Teriak orang itu dengan gusar.
Tanpa ayal iapun gerakkan telapak tangan kiri, sekuatnya dia menepuk sekali memapak serangan lawan.
Lwekang yang diyakinkan orang ini agaknya tidak lebih asor daripada Thay-siang, maka tepukan tangan yang dilancarkan dengan gusar ini sungguh kuat sekali.
"Plak", begitu kedua tenaga saling bentur, terdengarlah suara keras, hawa bagai bergolak di sekitar tubuh mereka sehingga menimbulkan angin kencang, pakaian kedua orang melambai2. Thay-siang betul2 kaget, pikirnya.
"Kepandaian orang ini begini tinggi, waktuku amat terbatas, aku harus cepat membereskan dia."
Mendadak dia lancarkan pula serangan aneh dan ganas, di mana pedangnya terayun, memancarkan cahaya terang melingkar bagai samberan kilat sehingga kabutpun tersampuk buyar.
Karena pancaran sinar ini, tertampaklah di depannya berdiri seorang laki2 berjubah hijau berperawakan tinggi kekar, air mukanya mengunjuk rasa kaget, pedang hitam ditangannya berputarcepat, mendadakia berteriakgugup."
Harapberhenti!"
Betapa sengit dan cepat gerakan pedang kedua belah pihak, belum lagi teriaknya lenyap, terdengarlah suara "trang-trang"
Benturan yang keras.
Dalam sekejap itu, senjata kedua orang saling beradu belasan kali, padahal mereka hanya bergebrak satu jurus belaka.
Setelah sinar pedang sirna, Thay-siang masih tetap berdiri di tempatnya, sementara laki2 jubah hijau menyurut mundur tiga langkah.
Karena rasa membunuh sudah membakar, maka Thay-siang mendesis pula.
"Bagus, nah sambutlah sejurus lagi."
"Tahan sebentar, tahan sebentar!"
Teriak si jubah hijau.
"Berhenti dulu, coba dengarkan sepatah kataku."
Terpaksa Thay-siang berhenti, namun pedangnya tetap siaga, serunya;
"Mau omong apa, lekas katakan!"
"Losiu mohon tanya, bukankah jurus pedang yang Hujin lancarkan barusan adalah Sinliong-jut-hun?"
Seperti diketahui Sinliong-jut hun dari Hwi-liong-sam-kiam harus dilancarkan dengan tubuh terapung di udara, tapi Thay-siang sudah meyakinkan jurus ini selama dua puluhan tahun dan sudah kelewat sempurna, maka cukup dengan mengayun tangan saja tanpa mengapungkan badan, gerakannya malah dapat berubah sesuka hatinya, apalagi dilandasi kekuatan Lwekangnya, sinar pedang yang tajam itu dapat diulur untuk melukai musuh, maka tanpa melejit ke udara ia tetap bisa melontarkan jurus serangan lihay ini.
Kalau si jubah hijau tidak memiliki ilmu pedang tingkat tinggi mana dia mampu mematahkan serangan yang begitu hebat, pengetahuan dan pengalamannya yang luas menjadikan dia kenal betul jurus pedang yang dilancarkan lawan meski gerak dan gayanya berbeda.
Sinar mata Thay-siang berkilat hijau, katanya sambil menyeringai.
"Kau dapat mengenali ilmu pedangku, menandakan kaucukup lihay ...."
Belum habis bicara, tiba2 laki2 jubah hijau berjingkrak girang sembari berkeplok, lalu menjura dengan gugup, katanya.
"Kiranya Ling-hujin adanya, Losiu ...."
Thay-siang segera menukas.
"Aku bukan Ling-hujin."
Laki2 jubah hijau tertegun, katanya.
"Barusan Hujin melancarkan Sin liong-jut-bun, kalau engkau bukan Ling hujin, habis siapa?"
"Memangnya hanya Ji-giok yang mampu melancarkan jurus pedang itu?"
Jengek Thay-siang. Bergetar badan laki2 jubah hijau, sekejap dia melenggong mengawasi Thay-siang, mendadak dia menjura dan berkata.
"Ah, kiranya engkau adalah Jikohnio, maaf Losiu berlaku kurang adat."
Jikohnio alias nona kedua. Yaitu seperti telah diceritakan, Thaysiang adalah puteri kandung Lo-hwecu Thi Tiong-hong, namanya Thi Ji-hoa. Sikap Thay siang tampak kikuh, katanya tegas.
"Sekarang aku adalah Thay-siang dari Pek-hoa-pang. Cepat si jubah hijau mbengiakan.
"Ya, ya, Cay-he menghadap Thay-siang."
"Darimana kau tahu akan diriku?"
Tanya Thay-siang. Laki2 jubah hijau menjura pula, katanya.
"Cayhe Yong King-tiong, cukup lama mengikuti Lohwecu, sudah tentu kukenal baik nona."
"Apa jabatanmu sekarang dalam Hek-liong-hwe?"
Tanya Thaysiang.
"Sungguh memalukan, Cayhe pernah mendapat budi pertolongan Lohwecu, atas kebijaksanaannya Cayhe diangkat sebagai Congkoan Hek-liong-hwe, selama dua puluh tahun ini aku selalu berdoa dan mengharap akan datang suatu ketika dapat bebas merdeka, kini beruntung Jikohnio telah kemari, Ling kongcu tadipun telah kemari, syukurlah bahwa penantianku selama initidaksia2."
"Ling-kongcu juga kemari", kata2 ini membuat Thay-siang tertegun heran, tanyanya.
"Apa katamu? Siapa itu Ling-kongcu?"
"Ternyata Jikohnio belum tahu, Ling-kongcu adaalah putera Linghwecu, Thian memang maha adil, Ling-kongcu dilahirkan setelah ayahnya meninggal."
Tergerak hati Thay-siang, batinnya.
"Tak heran Ji-giok juga muncul di sini, kiranya ibu beranak itupun telah kemari."
Lalu dia bertanya dengan menatap tajam.
"Kau sudah melihat puteranya Ling Tiang-hong, siapa namanya?"
"Dia bernama Ling Kun-gi."
Sahut Yong King-tiong.
"Ling Kun-gi?"
Hal ini benar2 diluar dugaan, Sorot matanya dibalik cadar tampak semakin dingin, dengusnya.
"Kiranya dia, masa dia tidak mampus!"
Mendadak dia mendelik pada Yong King-tiong, tanyanya gelisah.
"Di mana sekarang dia?"
Yong King-tiong adalah jago kawakan Kangouw sudah tentu dia merasa ganjil akan nada pertanyaan Thay-siang, naga2nya mengandung maksud kurang baik.
Memang sejak kecil dulu ketika Lohwecu masih hidup, nona kedua yang kini menjadi Thay-siang Pek-hoa-pang ini sangat dimanjakan dan terlalu binal, sifatnya rada eksentrik, diam2 dia menyesal barusan telah kelepabsan omong, lekas dia unjuk tawa, katanya.
"Ling-kongcu tadi memang muncul di sini, sayang Cayhe tidakmampu menahannya,kinidiasudahpergi."
Thay-siangmendengus."Kemanadia, masakautidaktahu?"
"Ling-kongcu tidak mau menerangkan, tak enak Cayhe tanya padanya,"
Sahut Yong King-tiong.
Tatkala itu fajar telah menyingsing, walau kabut pagi masih tebal, tapi cuaca sudah remang2, dalam jarak tertentu sudah bisa terlihat jelas bayangan orang.
--Setajam pisau tatapan Thay-siang, tanyanya.
"Lalu untuk apa dia datang kemari?"
"Bahwasanya Ling-kongcu tidak kenal Cayhe, mana mungkin dia mencariku? Soalnya tadi akupun melihat dia melancarkan Hwi-liongsam-kiam, maka kutanya dia she apa, baru kuketahui dia putera Ling-hwecu."
"Meluruk ke Hek-liong-tam, sudah tentu mengincar ilmu silat peninggalan Tiong-yang Cinjin di gua itu. Hm, dengan susah payah aku mengerahkan pasukan besar, memangnya dia yang memungut hasilnya,"
Sampai di sini mendadak suaranya berubah aseran.
"Yong-congkoan berulang kali bilang ayahku almarhum berbudi padamu, dan kau masih tetap setia terhadan beliau, maka ingin kuminta kau bantu menyelesaikan sesuatu, tentu kau tidak keberatan bukan?"
Diam2 Yong King-tiong mengumpat.
"Perempuan ini memang lihay, tapi aku sudah telanjur omong, tiada jalan lain kecuali menerima permintaannya saja."
Sembari menjura dia lantas menjawab.
"Kalau ada tugas, silahkan Jikohnio perintahkan saja, Cayhetidakakan menolak."
"Bagus, karma kau adalah Hek-liong-hwe Cong-koan, segera perintahkan agar perkeras penjagaan dan suruh para penjaga melarang siapapun datang kemari, barang siapa melanggar harus dibunuh dan habis perkara."
Yong King-tiong mengunjuk sikap serba salah, katanya.
"Terus terang Jikohnio, Cayhe memang punya dua belas anak buah ahli pedang, tapi Hek-liong-hwe sekarang sudah dikendalikan oleh pihak penguasa, banyak orang baru masuk jadi anggota, tujuannya adalah untuk mengejar pangkat dan kedudukan belaka, mereka kebanyakan adalah cakar alap2 yang amat setia kepada kerajaan, siapapuntakkan mautundukpadaperintahku."
"Kalau mereka tidak mau ya sudahlah, untung jalan tembus ke dalam kolam ini hanya satu, maka tugas menjaga pintu masuk ini kuserahkan padamu."
"Jikohnio,"
Seru Yong King-tiong ragu2.
"apa yang hendak kaulakukan?"
"Jangan kau banyak bertanya."
"Masih ada pesan lain Jikohnio?"
Tanya Yong King-tiong -pula.
Thay-siang mengenakan mantel kulit berbulu yang lebar dan panjang, pelan2 dia lepaskan tali sutera dari mantelnya di depan dada, kiranya Thay-siang mengenakan pakaian ketat, di balik mantel tergantung dua buah kantong kulit.
Menuding pada kantong kulit ini dia berkata.
"Coba kau tuang air obat di kantong kulit ini ke dalam kolam, lalu jagalah pinto di mulut lembah, siapapun dilarang kemari."
Semakin curiga Yong King-bong dibuatnya, tanyanya.
"Apa ini kedua kantong ini Jikohnio?"
"Obat penawar racun,"
Sahut Thay-siang. Bimbang sekejap Yong King-tiong, kemudian bertanya.
"Jadi Jikohnio mau turun ke dasar kolam? Getah beracun ini hanya dapat ditawarkan oleh Le liong-cu . ...... ' "Sudahlah, jangan banyak bicara, lekas tuangkan seluruhnya."
Terpaksa Yong King-tiong buka ikatan mulut kantong serta menuang kedua isi kantong kedalamkolam.
Waktu itu hari sudah terang tanah, kabut dipermukaan Hek-liong-tam juga sudah semakin tipis, setelah air obat dalam kantong tertuang habis, lekas Thay-siang melongok ke bawah.
Air obat kedua kantong kulit itu adalah obat penawar getah beracun yang dibikin Ling Kun-gi waktu masih berada di Pek-hoa-pang tempo hari.
Waktu diadakan percobaan tempo hari, setetes air obat ini cukup untuk menawarkan segayung getah beracun menjadi air jernih, maka kalau diperhitungkan, dua kantong air obat penawar ini tentu berkelebihan untuk menawarkan getah beracun sekolam ini.
Seyogianya bila obat penawar dituangkan, air kolam seharusnya bergolak dan timbul perubahan, tapi air kolam yang hitam kental itu kini sedikitpun tidak timbul perubahan apa2 Tanpa berkedip Thaysiang awasi permukaan air kolam, ternyata obat penawar yang dia bawa sudah hilang khasiatnya, sorot matanya dari balik cadar tampak mencorong dingin setajam pisau, terdengar mulutnya menggeram gemas, desisnya sambil mengertak gigi.
"Binatang kecil menggagalkan usahaku."
Melihat cuaca sudah terang benderang, sementara dalam kolam tetap tidak tampak reaksi apa2, keruan hati Yong King-tiong gelisah setengah mati, gua di dasar kolam itu diciptakan oleh Sin swi-cu setelah diadakan perhitungan dan percobaan yang seksama, setiap langkah mengandung mara bahaya, kesalahan serambut saja bisa mendatangkan elmaut bagi orang yang masuk ke dalam.
Padahal dia sendiri tak pernah masuk ke sana, entah bagaimana.
keadaan di dalam?
Ling-kongcu sudah satu jam lebih berada di dalam, memangnyadiaterjebakdantertimpa malang?
Dikala dia merasa kuatir dan was2 inilah Thay-siang masih tetap mengawasi permukaan air kolam, sorot matanya tampak putus asa, tiba2 ia berteriak beringas.
"Anak keparat, kau tidak akan kulepaskan."
Mendadakdia membalikbadan, jengeknya.
"Yong-congkoan, kau tahu kejurusan mana Ling Kun-gi pergi?"
"Hanya ada satu jalan keluar di Hek-liong tam, Ling-kongcu ...."
Belum selesai Yong King-tiong bicara, tepat di pusar kolam tiba2 terdengar suara gemuruh, air kolam yang semula tenang mendadak berpusar semakin kencang pada delapan tempat.
Air beracun yang mengalir dari kepala naga di dinding utarapun seketika berhenti mengalir.
Cepat sekali air kolam yang berpusar itu menyusut rendah.
Sorot mata Thay-siang yang tajam tengah menatap Yong King-tiong, ia mendengus sekali lalu berkata.
"Sudah ada orang masuk ke dasar kolam. Katakan, bocah she Ling itu bukan?"
Tahu bahwa Kun-gi sudah berhasil menunaikan tugasnya, diam2 hati Yong King-tiong sangat senang, tapi barusan sudah merasakan lihaynya ilmu pedang Jikohnio, dari nadanya kini agaknya dia teramat benci dan dendam terhadap Ling-kongcu, maka hatinyapun menjadi gelisah dan kuatir pula bagi keselamatan Ling Kun-gi.
Walau rasa senang lebih merasuk hati, tapi mimik mukanya sedikitpun tidak kentara, ia menyurut selangkah dan menjawab.
"Cayhe betul2 tidak tahu."
"Masih bilang tidak tahu,"
Jengek Thay-siang.
"sejak tadi kau berjaga di sini, pasti kau yang membantu dia turun ke bawah dan akan bantu dia naik ke atas pula?"
Urusan sudah telanjur sejauh ini, terpaksa Yong King-tiong berubah sikap, katanya dengan sungguh.
"Jikohnio, engkau seorang cerdik, bahwa Lohwecu mendirikan Hek-liong-hwe adalah untuk menyambut seruan Tuan Puteri, tujuannya merebut kembali tanah air yang terjajah, waktu itu tidak sedikit kelompok patriot kita yang beruntun ditumpas oleh kerajaan, maka buku daftar anggota seluruh pahlawan bangsa di Kangouw oleh Tuan Puteri secara diam2 di simpan di markas pusat Hek-liong hwe kita, buku itu merupakan dokumen paling penting dan rahasia, maka Lohwecu memerlukan membangun Hek-liong-tam ini, tak tersangka Hekliong-hwe telah dijual kepada musuh oleh sekomplotan manusia yang tamak harta dan gila pangkat, pihak kerajaanpun amat getol untuk merebut buku daftar itu, bilamana sampai terjatuh di tangan mereka, entah berlaksa jiwa akan terembet dan menjadi korban tanpa dosa, betapa pula banyak aliran per-silatan di Bu-lim akan ditumpasnya, bahwa selama dua puluh tahun ini Cayhe terima hidup terhina, yang kutunggu adalah hari ini."
"Katakan, yang turun ke bawah bocah she Ling itu bukan?"
Thaysiang menegas.
"Betul, memang Ling-kongcu yang turun ke bawah, dia akan menghancurkan buku daftar itu, Cayhe berjaga di sini untuk membantu dari segala kemungkinan, kini dia sudah akan keluar. Jikohnio adalah angkatan tua Ling-kongcu, kekuatan inti Pek-hoa-pangpun telah kau kerahkan kemari, kalian adalah sanak kadang sendiri, seharusnya saling bantu berdampingan memberantas musuh, bantulah Ling-kongcu untuk menggempur Hek-liong-hwe, karena Hek-liong-hwe yang didirikan ayahmu kini terjatuh ke tangan musuh, Lohwecu......' "Tutup mulut,"
Hardik Thay-siang.
"jangan kau minta ampun bagi bocah she Ling, Hek-liong-hwe terang akan kugempur, tapi aku akan bunuh dulu bocah she Ling itu."
Mulut bicara sementara matanya menatapkedasarkolamtanpaberkedip.
Saat mana air kolam sudah menyurut rendah, tepat di tengah kolam muncul batu karang, tepat di pucuk karang terdapat sebuah batu bulat raksasa, batu itu mulai bergerak mumbul ke atas, kejap lain seorang pemuda berjubah hijau tampak menongol keluar dari lubang di bawah batu bulat itu.
Hari sudah terang benderang, kabutpun sudah menipis, betapa tajam pandangan Thay-siang, sekilas pandang dia sudah mengenali pemuda yang menongol keluar itu memang betul Ling Kun-gi.
Darah seketika merangsang kepala, sembari menggeram pedang ditangan kanannya mendadak dia timpukkan ke bawah, berbareng kedua kakinya menutul, orangnyapun meluncur ke bawah, daya luncurnya teramat cepat, dengan ringan ujung kakinya menginjak di atas batang pedang yang sedang terbang itu.
Cahaya pedang bagai bianglala, dengan terbang naik pedang Thay-siang melompat sejauh dua belas tombak meluncur turun ke puncak karang di tengah kolam.
Melihat orang menimpukkan pedang, semula Yong King-tiong mengira orang menggunakannya sebagai senjata rahasia uuntuk menyerang Ling Kun-gi, maka dia berteriak gugup.
"Jangan Jikohnio ... ."
Demi melihat orang "terbang"
Dengan naik pedang, hati Yong King-tiong semakin kaget dan mencelos.
Betapapun tinggi ilmu silat seseorang takkan mungkin dapat melompati sejauh dua belas tombak dari permukaan kolam ini, tapi ilmu "It-wi-tohkung" (dengan sebatang gala menyeberang sungai) yang dipertunjukkan Thay-siang ini betul2 amat menakjubkan.
Selama dua puluh tahun ini, watak Ji-kohnio ini agaknya makin nyentrik, bila dia betul2 berhasil terjun ke pucuk karang, bukan mustahil akan perang tanding dengan Ling-kongcu, dengan bekal kepandaian silatnya yang bertaraf tinggi itu mungkin Ling-kongcu bukan tandingannya.
Hampir dalam waktu yang sama, dari arah lain sana, tahu2 melayang terbang pula selarik sinar pedang, karena kabut telah menipis, maka samar2 dapat terlihat di atas luncuran sinar pedang itu berdiri juga sesosok bayangan orang yang berkedok serba hitam, pakaian melambai, meluncur dengan cepat dan sasarannya juga ke puncak karang di dasar kolam.
Kembali Yong King-tiong terkejut, batinnya.
"Siapa pula itu?"
Kedua orang sama2 melancarkan Ginkang It-wi-tokang ajaran rahasia Siau-lim-pay yang tidak diturunkan kepada orang luar, jelas bahwa kedua orang ini pasti punya sangkut paut erat dengan Siaulim-pay.
Sama2 naik pedang yang meluncur, meski keduanya terpaut beberapa kejap tapi keduanya hampir bersamaan pula tiba di pucuk karang.
Saat mana Ling Kun-gi baru saja menerobos keluar di bawah batu bulat.
Tahu2 Thay-siang sudah hinggap di atas karang, bentaknya.
"Binatang kecil, kau pantas mampus!"
Pedang terayun, dada Kun-gi ditusuknya dengan beringas. Sebetulnya Kun-gi belum melihat jelas orang di depannya, tapi dia kenal betul suara Thay-siang, tanpa terasa ia menjerit.
"Kau ini Thay-siang!"Sebatsekalidia menyurut mundursambilberkelit. Kejadian berlangsung dalam sekejap dan cukup gawat, dikala Kun-gi mengegos, orang berkedok yang datang belakangan itupun sudah meluncur tiba mengadang di depan Kun-gi. Pedang panjang kontan terayun.
"trang", tusukan pedang Thay-siang kena ditangkisnya, teriaknya."Dik, takboleh kau melukai dia!"
Karena suara orang, kembali Kun-gi di bikin kaget, teriaknya.
"Ibu!"
Orang berkedok dan berpakaian hitam yang baru datang ini memang betul ibu kandung Ling Kun-gi, yaitu Thi-hujin alias Thi Ji giok.
Wajah Thay-siang teraling cadar, tapi sorot matanya tajam dingin diliputi nafsu membunuh, teriaknya.
"Siapa adikmu? Binatang kecil ini menggagalkan urusanku, aku harus mencabut nyawanya, kau minggir!"
"Sret", kembalidia menusuk. Pedang Thi hujin segera menyontek dan menindih gerakan Thaysiang, katanya. 'Dik, jangan kau melupakan persaudaraan. Kau terhitung lebih tua dari dia, umpama kau ingin menghukum dia dengan cara apapun boleh, tapi terhadan anak2 tak pantas kau main senjata."
"Jangan cerewet!"
Teriak Thay-siang pula.
"Kalian ibu beranak memang pantas mampus."
Di tengah teriakannya ini, beruntun dia menyerang tiga kali pula. Thi hujin tangkis semua serangan Thay-siang itu, katanya.
"Aku tak boleh mati sekarang, aku akan membunuh bangsat pengkhianat Hek-liong-hwe dengan kedua tanganku sendiri, menegakkan nama baik ayah dan perguruan, menuntut balas sakit hati kematian suamiku."
Walau merasa perbuatan Thay-siang keterlaluan, tapi kini Kun-gi sudah tahu bahwa Thay-siang adalah bibinya sendiri.
Cuma belum diketahui ada perselisihan apa di antara Thay-siang dengan ibunya, sampai sesama saudara ini saling dendam dan bermusuhan?
Tapi kedua orang yang lagi gebrak ini adalah angkatan tuanya, walau hati merasa cemas, tak berani dia ikut turun tangan atau membujuk.
Setelah dia keluar dari bawah lubang, batu bulat yang timbul tadi kini sudah turun dan menyumbat lubang tadi.
Peralatan rahasia di Hek-liong-tam ini saling berkaitan satu dengan yang lain bila batu bulat ini sudah kembali pada posisinya semula, kepala naga di dinding utara itupun mulai memancurkan air beracun, sementara air kolam yang semula tersedot ke delapan empang di samping kolam kinikembali mengalirbalik, makavolumeairmulaimeninggipula.
Thay-siang masih mainkan pedangnya sekencang kitiran, seperti orang kalap saja dia menghardik seraya lancarkan serangan, bagai mengadu jiwa layaknya dia cecar Thi-hujin dengan tusukan dan tebasan pedang.
Dengan tenang dan mantap Thi-hujin hanya menangkis dan mematahkan serangan orang, tak pernah balas menyerang, maka suara keras benturan senjata mereka terasa memekak telinga sederas hujan badai.
Kun-gi yang berada di samping cukup tahu situasi yang gawat ini, maka dia berteriak mendesak.
"Thay-siang lekas berhenti. Kalau tidak lekas meninggalkan tempat ini, air kolam segera akan naik pasang."
Mendadak terdengar suara gelak tawa aneh di sebelah atas, disusul seorang berkata.
"Pemberontak bernyali besar, kalian masih ingin pergi dengan selamat dari Hek-liong-tam?"
Belum lenyap suaranya, beruntun terdengar suara jepretan, maka berhamburanlah anak panah beracun bagai hujan lebatnya sama tertuju ke puncak karang.
Sementara cepat sekali air kolam juga semakin tinggi, karangpun hampir tenggelam ditelan air.
Thi-hujin berteriakgugup.
"Dik, lekasnaik!"
Agaknya Thay siang amat jeri juga akan air kolam beracun ini, dengan menggerang gusar segera dia jejak kedua kakinya dan melambung ke atas, pedang panjang di tanganpun ditimpuk ke atas, pedang yang bercahaya kemilau meluncur bagai roket, dengan menaiki pedang itulah Thay siang langsung menerjang ke tepi atas.
Di tengah udara menyongsong hamburan anak panah yang melesat kencang itu, dia kebutkan kedua lengan bajunya, bagai menyibak tangkai bunga layaknya sekejap saja dia sudah hinggap di tepi kolam.
Dikala Thay-siang meleset terbang itu Kun-gi berteriak gugup.
"Bu, lekas engkau naik!"
Thi-hujin tahu dengan membawa Leliong-cu Kun-gi tidak perlu takut air kolam, maka dia berpesan.
"Lekas kaupun pergi saja!"
Segera iapun timpukkan pedang, badan melijit tinggi hinggap di atas pedang terus meluncur ke atas pula, arahnya ke sebelah sana.
Dua puluh empat ahli pemanah tengah berba-ris di tepi kolam dan sibuk dengan anak panahnya kapan mereka pernah lihat ada manusia bisa numpang pedang, apalagi sinar pedang yang ditimpukkan mencorong seterang itu, sehingga anak panah yang mereka bidikkan seketika menyibak rninggir sendirinya, karuan ciut nyali mereka, tanpa disadari beramai2 mereka menyurut mundur.
Lekas sekali Thay-siang manfaatkan peluang ini, setelah kaki hinggap di tepi, sembari tertawa dingin pedangpun bekerja, bagai naga hidup sinar pedangnya menebas kian kemari.
Di mana larikan sinar pedangnya menyamber, jeritan mengerikan seperti berpadu, lima laki2pemanah terpenggalkepalanya.
Berhasil membinasakan lima musuh.
Thay-siang terus berkisar ke kiri, pedangnya kembali menyapu.
Betapa cepat gerakan pedangnya, hakikatnya susah diikuti oleh pandangan mata, tahu2 kilat menyamber dan jiwapun melayang, kembali limasosoktubuh samaterjungkal robohtak berkepala.
Dua kali pedang Thay siang menyapu, hanya sekejap saja hampir separo dari dua puluh empat pemanah telah menjadi korban, sisanya keruan menjadi lemas kakinya saking ketakutan.
"Kenapa kau tidak menungguku?"
"Nona mau ke mana? "Kau menyamar lagi bukankah ka hendak menemuka pengejaranmu?" , u n "Betul, kenapa?"
Beramai2 Waktu Thay-siang berpaling, tertampak tiga tombak di atas batu padas besar sana berdiri sejajar belasan orang.
Orang di tengah2 berusia antara 45-an, alis tebal, mata sipit, kulit mukanya semu merah bagai buah apel, mengenakan jubah abu2 bersulam indah, sikapnya kelihatan gagah dan angker.
Di sebelah kirinya adalah seorang Lama berkasa merah.
dua muridnya berdiri di kanan kiri sebelah belakang.
Di sebelah kanannya adalah laki2 berjubah hijau berusia enam puluhan, disusul Yong King-tiong sebagai Hek-liong-hwe Congkoan, dilanjutkan empat laki2 berbaju biru berusia empat puluhan.
Di kedua sisi orang2 ini adalah delapan laki2 seragam hitam berpedang panjang warna hitam pula, jelas mereka adalah jago2 pedang dari Hek-liong-hwe.
Tadi yang bersuara adalah laki2 jubah hijau berusia enam puluhan itu.
Laki2 berjubah abu2 yang berdiri di tengah menatap Thay-siang sekian lamanya, katanya kemudian dengan suara kereng.
"Kau Thi Ji-hoa atau Thi Ji-giok?"
"Peduli apa siapa aku?"
Jengek Thay-siang.
"Siapa kau?"
Bentak Thi-hujin di sebelah sana. Yong King-tiong menyeringai tawa, katanya.
"Kalian berani menyelundup ke tempat terlarang, kini berhadanan dengan Hwecu kita masih berani bertingkah, hayo lemparkan senjata dan menyerah saja. Memangnya kalian berani memberontak?"
Kata2nya ini memberi kisikan bahwa si jubah abu2 adalah Hek-liong-hwe Hwecu Han Janto adanya.
Sejak kecil Han Janto dibimbing dan dibesarkan oleh Hek-liong-hwe Hwecu yang terdahulu, yaitu Hek-hay-liong Thi Tiong-hong.
Ini berarti bahwa dia tumbuh dewasa bersama Thi-hujin dan Thay-siang, lalu mengapa Thi-hujin dan Thay-siang sekarang tidak mengenalnya?
Soalnya dalam ingatan mereka Han Janto adalah pemuda yang cakap bermuka putih bersih, sikapnya sopan dan lembut, kecuali hidungnya yang membetet, tak kelihatan roman mukanya yang jahat dan sadis, tapi laki2 di depan mata mereka sekarang berwajah merah, alis tebal mata sipit, hakikatnya bukan Han Janto yang menjual Hek-liong hwe dan mencelakai suaminya itu.
Sesaat Thihujin menatapsijubahabu2, lalu mendengus hina."Han Janto?"
Ling Kun-gi kini juga sudah naik ke atas dan berdiri di belakang Thi-hujin, katanya lirih.
"Bu, dia mengenakan kedok muka."
Sorot mata si jubah abu2 menatap Kun-gi lekat2, sekilas iapun melirik Leliong cu, tiba2 dia tertawa lebar, katanya.
"Anak muda, kau inikah Ling Kun-gi?"
Kini baru Thi hujin mengenal suara orang, seketika badannya gemetar, pedang menuding, bentaknya dengan suara gemetar.
"Kau memang betul Han Janto, kau keparat yang khianat ini, ya, memang kau adanya."
Han Janto tertawa lebar, katanya.
"Betul, memang aku orang she Han, kita kan dibesarkan ber-sama2, dulu kalau bocah she Ling tidak menyelinap diantara kita, kau nona Ji-giok pasti sudah menjadi biniku, tapi hari ini kaupun akan tetap disanjung sebagai isteriku tercinta... ..."
Dulu Han Janto sudah beranggapan bahwa dirinyalah yang pasti akan mewarisi jabatan ketua Hek-liong-hwe dari tangan Thi Tionghong, malah secara diam2 iapun naksir kepada nona Ji-giok, sementara Ji-hoa alias Thay-siang dari Pek-hoa-pang diam2 kasmaran terhadap Ling Tiang-hong, tapi karena Kay-to Tyasu telah memperkenalkan murid premannya yang satu ini, maka Thi Tionghong berkeputusan mewariskan jabatan ketua Hek-liong-hwe kepada Ling Tiang-hong.
Dan lagi mengingat puteri tunggalnya Ji-hoa berwatak nyentrik, cupet pikirannya dan berjiwa sempit, sebaliknya Ji-giok sang puteri angkat berwatak lembut, welas asih, sikapnya ramah dan halus maka dia berkeputusan lebih setimpal menjodohkan puteri angkatnya Ji-giok kepada Ling Tiang-hong.
Keputusan ini sudah melalui pemikiran yang seksama serta dipertimbangkan untung ruginya, sungguh diluar dugaan bahwa keputusan ini justeru membuat puteri kandungnya Ji-hoa minggat tak keruan paran.
Karena cemburu, timbul watak Han Janto yang jahat, secara diam2 dia menyerah kepada kerajaan dan rela diperbudak menjadi antek penjual bangsa.
Perubahan drastis ini sudahtentutakpernahterpikiroleh Lohwecusebelumnya.
Begitulah demi mendengar mulut orang yang kotor, sungguh tidak kepalang marah Thi-hujin di samping merasa berduka pula, desisnya sambil menggertak gigi.
"Keparat she Han, ayahku teramat baik terhadanmu, kau malah lupa akan nenek moyang sendiri dan rela menjual keluarga dan bangsa kepada musuh, terima hidup diperbudak menjadi antek penjajah, membunuh para ksatria bangsa sendiri, dua puluh tahun yang lalu aku sudah bersumpah untuk mengorek ulu hatimu buat sesaji didepan pusara ayah dan suamiku, sekaligus menuntut balas pula bagi para pahlawan yang telah gugur. Nah, HanJanto, menggelinding keluarsinikau."
"Bu, engkau tak perlu mengeluarkan tenaga, dendam orang tua sedalam lautan, bangsat she Han ini serahkan saja kepada anak untuk membereskannya,"
Seru Kun-gi. Bercucuran air mata Thi-hujin, ucapnya.
"Tidak, sejak ibu meninggalkan Hek-liong-hwe dulu sudah bersumpah kepada ayahmu, dengan kedua tanganku sendiri akan kubunuh keparat she Han yang durhaka ini."
Thay-siang menyeringai dingin, katanya.
"Mencari perkara dengan Han Janto adalah urusan kalian, aku akan pergi saja Ling Kun-gi, persoalanmu menyelundup ke dalam Pek-hoa-pang sejak kini boleh tidak usah kuusut. Nah, serahkan kembali Ih-thiankiam padaku."
Thay-siang tidak tahu bahwa Ling Kun-gi masih memiliki sebilah Seng-ka-loam yang tidak kalah ampuh dan saktinya daripada Ih-thianloam, bahwa dalam keadaan segawat ini sengaja dia meminta balik Ih-thiankiam yang tajam luar biasa, itu berarti telah memperlemah perlawanan Ling Kun-gi pada musuh, tujuannya terang cukup keji juga.
"Thay-siang memang betul,"
Ujar Kun-gi.
"Cay-he memang bukan orang Pek-hoa-pang lagi, sudah tentu harus kukembalikan pedang ini."
Betul2 dia menanggalkan Ih-thiankiam lalu diangsurkan dengan kedua tangan. Thay-siang terima Ih-thiankiam dengan tangan kiri.
"Sreng", tangan kanan segera mencabutnya keluar, tampak jelas nafsu amarahnya yang berkobar, katanya ketus.
"Dua puluh tahun permusuhan ayah bundamu denganku, dengan tabasan ini boleh anggap impas permusuhan kita,"
Seiring dengan ucapannya.
"sret"
Ih-thiankiam tiba2 menabas ke pundak kanan Ling Kun-gi. Betapa cepat tabasan ini,, sampaipun Thi-hujin yang berdiri tidak jauhpun kaget dan tak sempat menolong, teriaknya.
"Dik, kau ...."
Sinar pedang berkelebat.
"tring,"
Pedang Thay-siang tahu2 tersampuk oleh segulung angin selentikan.
Ternyata pada detik2 gawat itu, jari Kun-gi telah menjentik dengan It-cay-sian, ilmu sakti selentikan aliran Hud, sehingga ujung pedang orang terpental ke samping.
"Terima kasih atas kemurahan hati Thay-siang."
Ucap Kun-gi dengan tertawa. Gemetar cadar di muka Thay-siang saking menahan gelora marahnya, sambil mendengus segera ia hendak melompat pergi. Mendadak Han Janto bergelak tertawa, katanya.
"Thi Ji-hoa, kaupun salah seorang buronan penting yang diincar kerajaan, terus terang saudaramu ini tak berani membiarkan kau pergi, Ketahuilah bahwa orang2 Pek-hoa-pang seluruhnya sudah dipancing ke tempat buntu oleh anak buahku, kuharap kau tahu diri, lemparkan pedang dan terima dibelenggu saja."
Thay-siang urungkan niatnya pergi, Ih-thiankiam melintang di dada, suaranya murka.
"Han Janto, kau kira dengan perangkap Hek-liong-hwe seperti itu dapat mengurung orang2 Pek-hoa-pang?"
"Tidak salah,"
Ujar Han Janto dengan tertawa.
"Hek-liong-hwe adalah kampung halamanmu, di sini kau tumbuh dewasa, segala peralatan perangkap di sini kau cukup apal, tentu kaupun sudah membekali peta yang terang kepada anak buahmu. Tapi perlu kau ketahui bahwa selama dua puluh tahun ini, kebanyakan tempat sudah kubangun pula perangkap yang aneka ragamnya, kalau anak buahmu hanya bergerak menurut petunjuk petamu, itu berarti mereka sengaja menggali lubang kuburnya sendiri, kini tinggal kau seorang saja yang masih bebas."
Diam2 Kun-gi mengangguk, pikirnya.
"Kiranya dua barisan yang lain telah dibekali gambar peta oleh Thay-siang, hanya rombonganku tidak dibekali apa2, agaknya dia sengaja hendak membinasakan kami dengan meminjam tangan musuh,"
Keruan Thay-siang naik pitam, serunya.
"Sebetulnya aku tidak peduli segala urusan Ji-giok, kalau demikian biar aku membunuh kau lebih dulu."
"Thi Ji hoa,"
Seru Han Jan to, 'kau bukan tandinganku."
Lalu dia berpaling kepada si jubah hijau, katanya.
"Tang cong-houhoat, tugasmulah untuk membekuk dia."
"Hamba terima tugas,"
Sahut laki2 jubah hijau sambil menjura.
"Sreng", pedang panjang di punggung dia cabut, lalu melangkah maju, katanya.
"Sudah lama Losiu dengar nama Thay-siang dari Pek-hoa-pang yang termashur, hari ini kebetulan dapat belajar kenal."
"Han Janto,"
Jengek Thay-siang menghina.
"apa kau tak berani melawanku, jangan suruh orang lain menjual jiwa.' Laki2 jubah hijan menarik muka, dengusnya.
"Memangnya Thaysiang juga tidak pandang dengan sebelah mata padaku? Apakah Losiu betul2 mengantar kematian belaka, setelah turun tangan baru akan tahu."
"Baiklah,"
Ucap Thay-siang.
"Han Janto, kau sendiri yang melibatkan aku ke dalam persoalan ini."
Sampai di sini ujung pedang terangkat, bentaknya dingin.
"Nah hati2lah kau!" . Segera pedangnya membelah lebih dulu ke arah laki2 jubah hijau. Jurus pertama ini menimbulkan kesiur angin yang menderu, sinar perak kemilau bagai untaian rantai menggulung tiba, betapa hebat serangannya, sungguh tidak malu kalau disebut sebagai ahli pedang yang lihay, perbawanya memang lain. Menyaksikan betapa hebat serangan pedang Thay-siang, laki2 jubah hijau tak berani memandang enteng, serentak berteriak.
"Bagus!"
Seringan asap iapun berkelit pergi, pedang segera bergaya seindah orang menari, sinar pedang kemilau terpancar bertaburan ke tubuh Thay-siang Thay-siang mengejek dingin.
"Tak nyana Banhoa kiam-kek (tokoh pedang berlaksa bunga) yang dijuluki raja pedang dari lima propinsi utara juga terima menjadi antek musuh."
Karuan merah selebar muka laki2 berjubah hijau, teriaknya gusar.
"Losiu bertugas dalam pemerintahan untuk membekuk kau pemberontak ini, memangnya salah perbuatanku?"
Mulut bicara kedua orang sudah sama2 saling serang dengan gencar, masing2 mengembangkan kemahiran ilmu pedang sendiri dan berusaha merobohkan lawan lebih dulu.
Dalam sekejap serangan pedang kedua pihak bertambah kencang dan sengit, bayangan kedua orangpun terlibat di dalam lingkaran cahaya kemilau sehingga sukar dibedakan satu dengan yang lain.
Thi-hujin amat getol menuntut balas kematian sang suami, menghadapi Han Janto si durjana, bola matanya menjadi merah membara, ia melihat adiknya Ji-hoa sudah saling labrak dengan laki2 jubah hijau, mana dia kuat menahan sabar lagi, serunya sambii menggreget.
"Bangsat keparat she Han, hari ini kau atau aku yang harus gugur. Nah keluarkan senjatamu?"
Han Jan to berdiri tidak bergerak, katanya kalem .
"Thi Ji-giok, apabetulkau inginbergebrak denganku?"
"Sebelum mencacah leburbadanmu itu, sungguhtidakterlampias dendam kesumatku, sudah tentu kau harus hadani tantanganku."
"Thi Ji-giok;"
Ujar Han Janto dingin.
"jelek2 kita tumbuh dewasa bersama sejak kecil, tak peduli betapa besar dendammu padaku, aku tidak ingin melukai atau membunuh kau dengan tanganku ... ."
Tiba2 dia berpaling, katanya.
"Yong-congkoan, kau saja yang membekuk dia."
Sambil menenteng pedang pelan2 Yong King-tiong beranjak maju meninggalkan barisannya, tapi setelah satu tinbak jauhnya mendadak dia membalik badan, ujung pedang menuding Han Janto, jubah dibadannya seketika melembung, bola matanya mendelik berapi2, bentaknya lantang .
"Han Janto, kau kunyuk busuk yang menjual bangsa dan negara, keparat yang khianat, selama dua puluh tahun ini Lohu menahan sabar terima hidup dihina, hari ini tiba saatnya berkesempatan memenggal kepalamu dihadapan umum, menuntut balas bagi para ksatria Hek-liong-hwe yang telah gugur, apalagi Ling-hujin dan Ling-kongcu telah tiba, sumpah Linghujin barusan sudah kau dengar pula, nah terima-lah kematianmu!"
Sampai di sini mendadak dia angkat kedua tangan ke atas kepala, teriaknya lantang.
"Hek-liong-hwe sekarang sudah menjadi antek kerajaan, dua puluh tahun kita diperbudak, hayolah kawan yang berjiwa ksatria, pahlawan bangsaku, bangkitlah, marilah kita bersatu padu memberantas kawanan cakar alap2, tegakkan nama baikdan kebesaranHek-liong-hwenan jaya."
Suaranya lantang, diucapkan dengan penuh semangat dan gagah perkasa lagi, tapi tiada seorangpun yang tampil maju menyambut seruannya, sampaipun delapan ahli pedang seragam hitam yang menjadi anak buahnyapun tetap berdiri berpeluk tangan menimang pedang tanpa bergerak, seakan tak pernah mendengar suara apapun.
Han Janto menyeringai puas atas kemenangannya ini, katanya.
"Yong King-tiong, kau berani bersekongkol dengan musuh dan hendak memberontak pula, tapi coba kau lihat, delapan jago pedang anak buahmu sendiripun tiada yang sudi mendengar seruanmu, sekarang kalau kau mau membekuk ibu beranakshe Ling ini masih dapat kau tebus dosamu dengan pahala, kalau tidak, hukuman mati adalah bagianmu, jangan kau menyesal setelah terlambat."
Merah membara roman Yong King-tiong, matanya mendelik gusar, teriaknya.
"Orang she Han, hari ini adalah saat kematianmu, Ling-hujin akan menjatuhkan vonisnya terhadanmu. Wahai, delapan jago pedang Hek-liong-hwe, dengarkan seruanku, kalian mau menurut petunjukku atau tetap terus diperbudak oleh musuh, menjadiantek kerajaandan menindassesamabangsamusendiri?"
Kedelapan jago pedang itu hanya mengawasi Yong King-tiong, semuanya tetap berdiri tak bergerak dan tidak bersuara. Keruan Han Jan to ter-gelak2, katanya.
"Yong King-tiong, sekarang kau harus sadar, memberontak harus dipancung kepalanya, di kolong langit ini takkan ada orang yang rela mengekor oleh hasutanmu dan rela dipenggal kepalanya,"
Mendadak ia memberikan perintah .
"Si-toa-hou-hoat ( empat pelindung tinggi), lekas ringkus Yong King-tiong yang sekongkol dengan pemberontak, kalau berani melawan bunuh saja tanpa perkara,"
Empat laki2 yang berdiri di sebelah kanannya berpakaian biru serentak melolos senjata masing2 terus melangkah maju merubung Yong King-tiong. Yong King-tiong ter-bahak2 dengan mendongak, serunya.
"Kalian berempat maju bersama lebih baik, supaya menghemat tenagaku."
Pada saat keempat orang ini maju, mendadak Thi-hujin berpaling, katanya lirih.
"Anak Gi lekas jaga arena dan awasi gerak gerik musuh."
Tanpa menunggu jawaban Ling Kun-gi, sekali berkelebat dia menerjang maju menyerang Han Janto sambil membentak.
"Bangsat keparat, serahkan jiwamu!"
Sejak kecil Han Janto dididik oleh Thi Tiong-hong sendiri, usianya lebih tua lima tahun daripada Thi-hujin, pelajaran yang diperoleh jelas lebih banyak dan matang.
Ia tidak tahu sejak dua puluh tahun yang lalu Thi-hujin telah bersumpah untuk menuntut batas bagi kematian suaminya, secara tekun dan rajin berlatih dan menggembleng diri, taraf ilmu pedangnya boleh dikatakan melompat maju berlipat kali lebih tinggi dan sempurna.
Melihat sekali membuka serangan, lawan sudah sedemikian dahsyat dan lihay, mau tidak mau Han Jan to terkejut juga hatinya, timbul rasa waspada dan hati2, tapi mulut masih ter-kekeh2 aneh, sembari berkelit, sebelah tangannya menyampuk serta melolos sebilah pedang panjang warna hitam, bentaknya.
"Thi Ji-giok, sebetulnya aku tidak ingin bergebrak dengan kau, tapi kalau tidak kusambut beberapa gebrak matipun pasti kau tidak akan tenteram. Baiklah kukabulkan keinginanmu!"
Sembari bicara dengan enteng pedangnya menutuk dan menindih.
"trang", tusukan pedang Thihujin kena ditekan ke bawah. Gemeratak gigi Thi-hujin saking menahan marah dan benci, tanpa bersuara kembali pedang membalik, di mana kilat menyamber. dia membabat kencang miring ke atas. Maklum ajaran ilmu pedang kedua orang sama diwarisi dari liok-hay-liong Thi Tiong-hong, meski kedua orang masing2 mempunyai bakat dan kemampuan yang berbeda, tapi sumbernya tetap sama, betapapun ruwet perubahan dan variasi masing2 tetap tak lepas dari intinya semula. Sejak tadi Kun-gi sudah melolos Seng-ka-kiam, dengan seksama dia menonton dan mengawasi gerak-gerik kedua orang yang lagi bertempur, diam2 ia terkejut dan heran mengikuti pertandingan pedang ini. Sejak kecil dia hanya tahu bahwa ibunya sedikitpun tidak pernah belajar silat sehingga waktu mendidik dirinya belajar Hwi-liong-samkiam warisan keluarganyapun sang ibu hanya menggores2 di atas kertas, jadi cuma diajarkan teorinya belaka serta memberi petunjuk dikala dia mempraktekkannya, beliau sendiri belum pernah pegang pedang dan memberikan contoh. Baru tadi dengan mata kepalanya sendiri dia menyaksikan ibunya melempar pedang serta naik di luncuran pedangnya untuk mencapai ketinggian tepi Hek-liong-tam, nyata bahwa Ginkang dan ilmu pedang ibunya tidak lebih asor daripada Thay-siang. Ilmu pedang Han Janto memang satu sumber dengan kepandaian Thi-hujin, gaya pedangnya lebih mantap dan matang, perubahannya serba aneh dan tak habis2, malah setiap gerak pedangnya pasti menimbulkan deru angin tajam, dari sini dapatlah dinilai bahwa taraf ilmu pedangnya sudah mencapai puncaknya. Kalau bicara soal Lwekang jelas Thi-hujin setingkat lebih asor, tapi dendam kesumat selama dua puluh tahun yang terpendam dalam sanubarinya kini meledak, dengan dilandasi dendam permusuhan yang menimbulkan kekuatan luar biasa ini, maka setiap gerak serangannya boleh dikatakan dikembangkan dengan segala kemampuannya, pedang merangsek dengan gencar dan tanpa kenal ampun. Bahwa sesengit itu pertempuran berjalan, tapi sejauh ini belum pernah pedang mereka saling bentur meski sekalipun, jelas bahwa betapa sempurna latihan ilmu pedang mereka. Kalau bergebrak terus berlangsung seperti ini, sebelum tiga-lima ratusan jurus pasti belumada kesudahan menang dankalah. Laki2 jubah hijau yang bergebrak melawan Thay-siang, yaitu bernama Banhoa-kiam Tang Cu cin, sebagai Conghouhoat dari Hekliong-hwe, ia dijuluki raja pedang di lima propinsi utara, maka dapatlah dinilai betapa tinggi kepandaian silatnya. Setiap gerak pedangnya pasti menimbulkan ceplok2 sinar besar kecil yang berbeda dan aneka ragamnya sesuai dengan nama julukannya (Banhoa-kiam-ilmu pedang selaksa bunga), justeru karena beraneka ragam ceplok2 bunga sinar pedangnya yang bercampur baur itulah yang membikin silau dan membingungkan lawan. Apalagi ceplok2 bunga sinar pedang itu timbul tenggelam silih berganti, setiapceplokbungasinarpedang itu mengandang pusaran angin tajam beberapa kaki di sekitar gelanggang orang merasakan kulitdaging pedasdanperihsepertiteririspiaau. Yang diperhatikan Ling Kun-gi adalah Yong King-tiong, seorang diri dengan pedangnya dia melawan empat orang jago pelindung Hek-liong-hwe. Keempat Houhoat itu sama menggunakan senjata aneh yang jarang terlihat di Kangouw, seorang menggunakan sepasang gelang terbuat dari emas hitam, seorang pakai bandulan, orang ketiga pakai ganco berkepala ular, yang terakhir menggunakan senjata palu. Bahwa keempat orang ini diangkat menjadi Houhoat tentunya memiliki kepandaian silat dan Lwekang yang tinggi. Kini dari empat penjuru mereka mengeroyok Yong Kingtiong, empat macam senjata mereka sama merangsak kencang silih berganti, begitu cepat dan ganas kerja lama mereka..Tapi diluar tahu mereka bahwa selama dua puluh tahun ini Yong King-tiong telah berlatih rajin dan tekun secara diam2 sehingga kepandaian aslinya tak pernah diperlihatkan kepada umum, kini dikeroyok empat dan terkepung lagi, mendadak ia ter-gelak2 lalu bersiul panjang, pedang berputar serentak iapun balas menyerang, sinar pedangnya ber-gulung2 bagai damparan ombak, yang satu lebih kuat daripada yang terdahulu. Terdengar serentetan suara benturan keras, sekali gebrak sekaligus empat macam senjata lawan kena dipukul balik. Berhasil membendung rangsakan musuh, sinar pedangnya menyambar lebih lincah lagi, seperti naga sakti selulup timbul di tengah mega, dalam belasan jurus saja, keempat musuh yang mengeroyoknya telah dilibat dalam lingkupan sinar pedangnya. Baru sekarang dia betul2 pamer kepandaian silatnya yang sejati, yaitu Thianlo-kiam-hoat dari Kunlunpay yang sudah lama putus turunan di kalangan Bu-lim. Perhatian Kun gi tertarik ke sini waktu dia mendengar rentetan suara keras benturan senjata, sampai di sini diam2 ia mengulum senyum dan merasa girang. Paman Yong ini ternyata memiliki Lwekang dan kepandaian ilmu pedang begini tinggi, sungguh tak pernah terpikir olehnya, sia2lah rasa kuatirnya tadi. Tatkala dia berpaling kesana, ternyata pada arena pertempuran di sebelah sini telah terjadi perubahan drastis. Bahwasanya Thaysiang yang tinggi hati, suka menang dan mengagulkan diri, sudah seratus jurus melabrak Banhoa-kiam, keadaan tetap setanding, karuan lama kelamaan dia menjadi tak sabar. Sembari menghardik, tiba2 dia melijit ke atas, pedang terayun ke kanan kiri sehingga Ih-tiankiam memancarkan cahaya hijau laksana air bah tumpah dari lembah gunung, manusia bersama pedangnya berubah menjadi segulung sinar mengurung ke atas kepala Banhoa-kiam Tang Cu-cin. Tang Cu-cin tidak tahu bahwa Thay-siang tengah melancarkan No-liong-bankhong (naga mengamuk melingkar di angkasa), jurus ketiga dari Hwi-liong-sam-kiam, maka ia berteriak kaget.
"Ihthiankiam-sut."
Sudah sepuluh tahun dia meyakinkan ilmu pedang, sehingga dijuluki rajanya pedang di lima propinsi utara, betapa luas dban pengalamannyda menghadapi musuh, meski Ih-kiam-sut adalah ilmu pedang tiada taranya di Bu-lim, tapi sedikitpun dia tidak menjadi gugup, sembari mendongak dia menghardik sekali, pedang melindungi badan, segera dia menyambut ke atas.
Serangan balasan ini dilancarkan menghadapi serangan dari atas, dari bawah timbul ceplok2 perak yang tak terhitung banyaknya sehingga seluruh badan se-akan2 dibungkus dan ditumpuki kuntum bunga.
Sudah tentu jurus yang dilancarkan ini bukan melulu untuk bertahan saja, karena ceplok2 bunga itu setiap saat bisa juga balas menyerang melukai musuh.
Kalau yang satu menukik dengan cahaya pedang yang benderang menyilaukan mata, seorang lagi menciptakan ceplok2 bunga perak yang tak terhitung banyaknya membungkus tubuh, perpaduan cahaya pedang mereka menjadikan kolam naga hitam ini terang benderang, hadirin menjadisilau dantak kuasa mementang mata.
Betapa cepat kelangsungan perang tandang ini sungguh laksana kilat menyambar, terdengarlahdering keras memanjang, perakyang berlaksa jumlahnya itu seketika sirna tak berbekas begitu benturan keras berlangsung.
Perang tanding ini jauh berbeda dengan gebrak2 pendahuluan tadi, kalau tadi bilamana cahaya pedang Thay-siang menyambar lewat, ceplok2 bunga lantas tersapu lenyap, tapi begitu cahaya pedang lewat, ceplok2 dan sinar pedang itu timbul kembali, begitulah seterusnya tak ber-henti2.
Tapi kali ini betul2 lenyap tak muncul pula.
Ternyata pedang Banhoa-kiam Tang Cu-cin yang terbuat dari baja murni itu dalam gebrak terakhir ini telah, terpapas putus berkeping2 oleh Ih-thiankiam, yang tinggal hanya gagangnya yang masih terpegang di tangannya.
Meski kehilangan senjata betapapun Tang Cu-cin seorang gembong persilatan yang cukup berpengalaman, ia tahu meski kalah, paling2 kalah oleh karena senjata pusaka yang lebih tajam, kalau sekarang dirinya tidak mundur, hanya bertangan kosong terang lebih2 bukan tandingan lawan.
Maka tanpa sangsi segera ia melejit mundur sejauh mungkin.
Sejak turun tangan tadi marah Thay-siang sudah berkobar, apalagi setelah sekian lama masih belum berhasil merobohkan lawan yang satu ini, hatinya tambah murka, sekali bentrok senjata dia berhasil menghancurkan pedang lawan, sudah tentu kesempatan baik ini tak di-sia2kan.
Sekali tangan berputar sambil masih tetap meluncur ke depan sehingga cahaya pedangnya ikut memanjang di udara mengejar ke arah Banhoa-kiam.
Cukup cepat Banhoa-kiam mengundurkan diri, tapi cara Thay-siang mengejar sambil meluncur ini merupakan hasil gemblengan tiga puluh tahun, Sin liong-jut-hun, salah satu jurus dari Hwi-liong kiam-hoat yang dia lancarkan ini boleh dikatakan sudah mencapai puncaknya.
Kecepatan cahaya pedang yang mengejar itu sungguh sukar dibayangkan.
Padahal Ban hoa-kiam Tang Cu-cin sudah mundur setornbak lebih, belum lagi kedua kakinya berdiri tegak, cahaya kemilau sinar pedang tahu2 sudah menerjang tiba menghujam ke dadanya.
Untung pada saat gawat ini sebagai seorang ahli pedang meski menghadapi bahaya dia tetap tidak menjadi gugup, sedetik sebelum pedang lawan kena sasarannya, tangan kanannya cepat menolak keluar serta mengebutkan secarik kain bajunya sendiri yang dia robek untuk senjata terus diayun ke depan menyongsong kedatangan pedang.
Selama hidup ini dia meyakinkan ilmu pedang, betapa tinggi kepandaian serta Lwekangnya, dengan secarik kainpun cukup ampuh dan tidak kalah hebatnya dibanding sebilah pedang.
Demi mempertahankan jiwa, sudah tentu bukan kepalang tenaga yang dia kerahkansehinggakainditangan itupun menjadi kaku keras.
Sayang sekali pedang Thay-siang justeru adalah Ih-thiankiam yang tajam luar biasa, jangankan hanya secarik kain, umpama pedang baja murni juga tak kuat menahannya.
Sudah tentu hal inipun cukup dimengerti oleh Ban hoa-kiam, tapi keadaan sekarang teramat gawat dan mendesak, terpaksa sekenanya dia berusaha menahan dan menangkis demi keselamatannya.
Kejadian berlangsung dalam sekejap saja, paderi Lama berkasa merah yang sejak tadi menonton diluar gelanggang, demi melihat Banhoa-kiam menghadapi bahaya sembari melompat mundur, sementara Thay-siang mengejar dengan serangan maut, tiba2 ia menggerung keras, kontan dia ayun sebelah tangannya menepuk dari kejauhan ke punggung Thay-siang.
Gerakan tiga pihak boleh dikatakan dilakukan dalam waktu yang sama, semuanya sama cepat lagi, apalagi Thay-siang terlalu bernafsu melukai musuh, sudah tentu tak terpikir bahwa orang lain bakal membokong dirinya.
Tabasan pedang berlalu, darahpun muncrat berhamburan, lengan kanan Ban hoa kiam kena ditabas kutung sebatas pundak.
Beruntung dia, masih sempat mengegos dengan segala kemampuannya di samping kain lengannya berhasil menahan sebagian kekuatan tabasan lawan, badan roboh terus menggelinding jauh ke sana.
Waktu Thay-siang mengendalikan luncuran pedang melukai musuh, saat itu pula terasa pundaknya mendadak ditepuk orang.
Inilah semacam pukulan yang tidak kelihatan bentuknya, datangnya juga tak mengeluarkan suara, padahal tubuhnya tengah terapung, laksana anak panah yang meluncur dan tak mungkin dihentikan.
Setelahpedang menabas musuh dan kakihinggapditanah, barudia merasakan akan serangan gelap dari musuh tadi, pukulan yang mengenai pundaknya tadi meski terasa enteng malah seperti tidak terasa, tapi luka dalamnya hakikatnya sudah teramat berat.
Inilah ilmu Toa-jiu-in dari aliran Ih-ka-bun (Yoga).
Kalau orang lain merasakan luka dalamnya sangat parah, tentu akan berusaha mengerahkan tenaga untuk menyembuhkan luka dalam sendiri, dengan bekal dan latihan Thay-siang, kemungkinan luka2nya masih terobati dan jiwa bisa tertolong.
Tapi dasar wataknya angkuh, keras hati dan suka menang, selamanya dia pandang rendah orang lain, sudah tentu dia tidak peduli akan keadaan diri sendiri dan ingin menuntut balas.
Begitu kaki hinggap di tanah, mengikuti putaran pedang tiba2 badanpun mengisar balik, mata2nya mendelik beringas di balik cadarnya, hardiknya keras.
"Kaukah yang membokong Losin."
Lama kasa merah yakin Toa jiu-insinkang yang dilancarkan tadi umpama lawan tidak mampus seketika juga pasti terluka parah, paling tidak isi perutnya remuk dan takkan mampu bertempur lagi, kenyataan Thay-siang masih kelihatan segar malah menantang.
Dia bergelak tertawa, serunya.
"Tidak salah, pukulan tadi memang hudya yang melancarkan."
"Bagus sekali,"
Desis Thay-siang murka.
Mendadak ia melejit ke atas terus menerjang musuh.
Bahwa setelah terkena pukulannya, Thay-siang masih mampu melejit ke atas melancarkan serangan sehebat ini, keruan tidak kepalang kejut Lama kasa merah, lekas dia ayun tangan kanan serta menepuk sekuatnya.
Ilmu yang diyakinkan adalah ilmu Yoga, Lwekangnya sangat tangguh, tepukan yang dilandasi kekuatan besar ini terang berbeda dengan pukulan membokong tadi.
Maka segulung tenaga dahsyat segera menerjang lapisan sinar pedang..
Agaknya dia tidak tahu bahwa Thay-siang sudab kalap, jurus yang dilancarkan ini adalah "Naga ber-tempur di tegalan", jurus kedua dari Hwi-liong-kiam-hoat.
merupakan jurus paling kuat; dari paling hebat perbawanya.
Cahaya pedang ber-lapias kemilau itu tiba2 berubah bintik2 dingin laksana kunang2 beterbangan menghambur ke empat penjuru.
Setelah melancarkan dua kali pukulan, Lama kasa merah sudah menyurut mundur cukup jauh, tapi dua muridnya berdiri di kanan-kirinya tadi justeru terlambat bergerak, di mana sinar pedang berhamburan, seketika terdengar dua kali jeritan ngeri dibarengi darah muncrat ke mana2, kedua orang ini tertabas menjadi berkeping2 oleh samberan sinar pedang.
Waktu Thay-siang menarik pedangnya, dilihatnya Lama kasa merah sudah mundur setombak jauhnya, maka dia menghardik pula.
"Ke mana kau akan lari?"
Kembali dia menubruk maju.
Sungguh mimpipun Lama kasa merah tak pernah menduga bahwa Thay-siang begini lihay, dengan mata sendiri dia saksikan kedua muridnya hancur lebur, ia menjadi murka juga, teriaknya kalap.
"Hud-ya takkan memberi ampun padamu!"
Belum habis bersuara, keduatangansudah memukultigakalisecaraberuntun.
Tiga pukulan ini dilancarkan dengan hati berang, maka kekuatan pukulannya betul2 dahsyat sehingga badan Thay-siang yang menerjang denganterapungdiudarajuga sedikittertahan.
Waktu Thay-siang menubruk kedua kalinya, kembali Lama kasa merah melontarkan pukulannya pula, badan Thay-siang tertolak berhenti.
Beruntun tiga kali Thay-siang berlompatan, di kala melancarkan serangan ketiga kalinya, jaraknya dengan Lama kasa merah tinggal beberapa kaki lagi, tiba2 ia meloncat lurus ke atas, mendadak ia berteriak nyaring menambah perbawa serangannya, dengan kepala di bawah dan kaki di atas dia menukik dengan tubrukan yang lihay, Ih-thiankiam ditangannya menaburkan cahaya perak yang membendung jalan mundur Lama kasa merah.
Kaget dan gusar pula Lama kasa merah, beruntun dia mundur tiga langkah, kedua tangan memukul ke atas susul menyusul, karena bertangan kosong, telapak tangannya yang lebar dan besar itu menyerupai kampak yang membelah sehingga menimbulkan letupan hawa yang dahsyat, letupan hawa ini semakin tebal menghimpun hawa dingin yang -membungkus sekujur badannya.
Maka tubrukan sinar pedang Thay-siang dari atas itu dapat ditolaknya kembali.
Kalau yang satu menggempur sekuat tenaga dan bertahan dengan kukuh, sementara yang lain menyerang dengan cara menubruk seperti elang menyamber ayam, sinar pedang berpusar kencang, kedua pihak bertahan kira2 setanakan nasi lamanya dan masih tetap setanding.
Kepala gundul Lama kasa merah sudah ditahuri butiran keringat, badanpun basah kuyup seperti kehujanan, padahal Thay-siang harus melancarkan serangan dengan badan terapung.
sudah tentu dia jauh lebih banyak menguras tenaga, lama2 sinar pedangnya menjadiguramdantidakselihay semula.
Melihat kesempatan baik ini, mendadak Lama kasa merah menghardik sekali, sekuatnya dia kerahkan tenaga dan menggempur dengan merangkap kedua telapak tangan mendorong ke atas.
Dengan rangkapan kedua tangan mendorong ke atas ini, maka timbullah kekuatan yang dahsyat, hawa serasa meluber menimbulkan deru yang gegap gempita.
Pada saat yang sama Thaysiang pun menjerit melengking, suaranya mengalun menimbulkan gema panjang, cahaya pedangnya yang hampir pudar tadi tiba2 menyala pula lebih terang, berubah selarik bianglala terus membelah turun ke bawah.
Kedua pihak serempak melancarkan serangan paling dahsyat yang mematikan dengan seluruh sisa kekuatan sehingga sinar pedang dan angin pukulan menimbulkan rentetan suara aneh.
Lekas sekalisinrarpedang dananginpukulanpunsirnatakberbekas lagi.
Setelah melontarkan pukulan terakhir dengan sisa kekuatannya, Lama kasa merah cepat2 melompat mundur, Kasa merah yang dipakainya tampak berlubang dan sobek di beberapa tempat oleh tusukandangoresanpedang, keadaannyatampakkonyol.
Thay-siangpun sudah berdiri tegak di tanah, rambutnya awut2an, cadar yang menutup mukanya sudah kabur entah ke mana, roman mukanya membesi hijau.
Kedua orang sama2 mengunjuk rasa lelah kehabisan tenaga, dada naik turun dengan napas tensenggal2.
Sesaat mendelik kepada Lama kasa merah, akhirnya Thay-siang bersuara lebih dulu.
"Anjing asing, berapa jurus lagi kau mampu menyambut pedangku?"
Sekali berputar, sinar hitam Ih-thiankiam kembali menerjang maju.
Hwi-liong-sam-kiam hakikatnya sudah dia yakinkan dengan sempurna, maka setiap kali melancarkan serangan, badan selalu melayang di udara, menambah perbawa serangan sehingga lebih hidup laksana naga sakti.
Dua gebrakan terdahulu sudah meyakinkan Lama kasa merah bahwa Lwekang Thay-siang tidak lebih unggul dari pada dirinya, kalau lawan tidak menggunakan Ih-thiankiam, pedang pusaka yang lihay, dia yakin dirinya pasti lebih unggul dan sejak tadi sudah merobohkannya.
Tapi setelah berlangsung dua gebrakkan barusan, dia insaf bahwa tenaga murni sendiri sudah terkuras terlampau banyak, untuk bertempur lebih lama jelas keadaan fisiknya tidak mengizinkan, maka dia pikir akan secepatnya mengakhiri pertempuran ini dengan rangsakan gencar.
Di luar dugaan Thay-siang juga mengandung maksud yang sama, malah terus mendahului, kali ini dengan jurus "naga sakti muncul dari mega,"
Hal ini betul2 di luar perhitungannya, maka dia membentak gusar.
"Biar Hud-ya mengadu jiwa dengan kau!"
Dengan telapak tangan kiri beruntun dia memukul dua kali, berbareng badan berkisar ke sebelah kiri.
Sinliong-jut-hun dilancarkan Thay-siang dengan segala kemahirannya, tekadnya teramat besar untuk membelah badan paderi asing ini untuk melampiaskan dendamnya, jelas kekuatan pedangnya yang tajam ini takkan mampu dibendung hanya dengan dua kali pukulan telapak tangan.
Ketika sinar pedang membelah tiba, Lama kasa merah sudah menyingkir mundur, tangan kanan sejak tadi telah disiapkan melontarkan pukulan Toa-jiu-in, sekali membalik dengan gerakan melintang miring tangannya menyampuk ke arah Thay-siang yang menubruk tiba, berbareng ia menyeringai dan membentak.
"Perempuan bangsat, lihat pukulan..."
Dia kira dengan menyurut mundur beberapa kaki sudah cukup jauh untuk menghindari hawa pedang Thay-siang.
Di luar tahunya bahwa Sinliong-jut-hun yang dikembangkan Thay-siang kali ini dilontarkan dengan badan terapung diudara, tapi karena sudah menjiwai ilmu pedang ini, maka gaya serang-annya dapat dia ubah sesuka hati sendiri, maka badan yang seharusnya terapung ke atas kini di ubah dengan meluncur ke depan.
Pada hal dengan meluncur lurus ke depan inipun baru merupakan gaya permulaan dari Sinliong-jut-hun, dan gerak susulannya adalah melancarkan serangan dari udara.
Dari sinilah diperoleh nama Hwi-liong-sam-kiam Hwi-liong atau naga terbang, karena ketiga jurus ini harus dilancarkan dengan badan terapung di udara.
Begitu meluncur tiba, melihat Lama kasa merah mengegos ke samping, diam2 Thay-siang menjengek, badan tiba2 berputar, berbareng pedangpun bekerja.
Kejadian bagai percikan api cepatnya dan sukar disaksikan dengan mata, tampak pancaran sinar hijau kemilau menyapu dengan dahsyatnya.
Lama kasa merah tak sempat berkelit lagi, terdengar lolong panjang yang mengerikan, di ma-na cahaya pedang itu menyamber lewat, badan kekar besar si Lama kasa merah seketika terpental roboh mandi darah.
Kejap lain Thay-siangpun sudah berdiri di samping mayat Lama kasa merah, nafsu membunuh yang menghiasi wajah Thay-siang sudah sirna, kini kelihatan pucat pias, untuk berdiripun dia harus bertopang pada pedangnya, dadanya turun naik menghembuskan napas berat dan sesak, terdengar ia bergumam.
"Anjing asing, akhirnya kau mampus dipedangku!"
Suaranya serak lirih dan lemah, badannya bergoyang dan akhirnya iapun roboh terjungkal.
Sementara itu, dengan sebilah pedang panjangnya Yong King-tiong sedang menunjukkan ketangkasannya, beruntun dia melancarkan Thianlo-kiam-hoat dari Kunlunpay yang telah lama putus di kalangan Kangouw, keempat Houhoat Hek-liong-hwe telah dijagalnya satu persatu, jubah hijaunya berlepotan darah.
demikian pula jenggot dan mukanyapun basah dan kotor oleh keringat tercampur percikan darah musuh.
Delapan jago pedang Hek liong hwe yang menonton di luar arena sama berdiri mematung dengan terbelalak, agaknya mereka takjub dan jeri melihat kehebatan Congkoan mereka, tiada seorangpun yang berani maju lagi.
Tiga kelompok pertempuran sengit yang ber-langsung di pinggir "kolam naga hitam"
Kini dua kelompok di antaranya sudah berakhir.
Kini tinggal Thi-hujin yang masih menempur Han Janto dengan segala kekuatannya, makin gebrak makin seru dan ramai.
Maklumlah kedua orang ditelurkan dari satu perguruan, sama2 hasil didikan Lohwecu yang tidak pilih kasih, apa yang diyakinkan Han Janto juga diyakinkan Thi-hujin, demikian pula sebaliknya, bergantung dari latihan dan penambahan variasi masing2 saja yang berbeda, apalagi taraf permainan mereka sudah sama2 mencapai puncaknya.
Ratusan jaurus kemudian, mereka tetap bertahan sama kuat.
Sudah tentu Thi-hujin lebih diburu nafsu untuk merobohkan lawan demi menuntut balas sakit hati sang suami, maka dia lebih getol menyerang, suatu ketika mulutnya melengking nyaring, sekujur badan seperti dibungkus sinar pedangnya terus menusuk lurus ke depan.
Yang di-lancarkan ini sudah tentu adalah Sinliong-jut-hun, salah satu dari Hwi-liong-sam-kiam.
Melihat lawan menggunakan Hwi-liong-sam-kiam, sudah tentu Han Janto tidak berani ayal, iapun bersiul panjang, badanpun terbungkus bayangan hitam gelap melambung ke atas, yang dia kembangkan juga jurus Sinliong-jut-hun.
Dua larik sinar pedang yang satu mencorong terang dan yang lain guram gelap menjulang tinggi ke udara, seperti bianglala yang menembus tabir matahari.
Mendadak terdengar dering nyaring benturan kedua senjata, percikan apipun bertahuran menghias angkasa.
Dua sosok bayangan orang sama meluncur turun, terpancar cahaya terang laksanarantaiperak disertaibenturan nyaring memekaktelinga.
Sekonyong2 selarik bianglala kembali menjulang ke udara disusul bianglala kedua juga melambung ke atas, di tengah udara kedua jalur bianglala saling bentur dan gubat menimbulkan gema suara yang ramai.
Untuk merebut kesempatan kedua orang berusaha saling mendahului, Hwi-liong-sam-kiam memang ilmu pedang yang harus dilancarkan dengan badan mengapung, tapi pelajaran yang diyakinkan keduanya, sama2 bersumber dari satu perguruan, maka bila yang satu melambung ke udara, lawannyapun ikut mengapung ke udara, salah satu tiada yang mau mengalah.
Begitulah dari permukaan bumi kedua orang bertempur sampai ke udara, dan dari udara kembali berhantam di atas tanah, keduanya masih terus serang menyerang mengembangkan tipu permainan masing2, tapi tiada yang lebih unggul atau asor, kekuatan tetap seimbang.
Karena keduanya belajar dari satu sumber, betapapun banyak ragam perubahan ciptaan masing2, tetap tidak kelihatan lebih menonjol daripada yang lain, se-olah2 mereka seperti sedang latihan belaka, sedikitpun tidak kelihatan letak kehebatan mereka, jadi pertempuran adu jiwa yang sengit ini justeru tiada seorangpun yang mampu mengungguli lawan serta merobohkannya.
Kini keadaan semakin tegang, sekarang hanya soal Lwekang siapa yang lebih asor dan tak tahan, dia yang akan roboh lebih dulu dan itu berarti jiwa akan melayang.
Bagi orang lain yang menyaksikan pertempuran adu jiwa ini kelihatannya amat menakjubkan dan mengerikan, terutama dering benturan senjata kedua orang yang bergelombang memekak telinga sungguh sangat mengganggu perasaan orang, jantung serasa mau meloncat keluar.
Dengan mendelong Kun-gi mengikuti pertempuran sengit ibunya yang melabrak Han Janto, sudah tentu hatinyapun sudah getol menuntut balas kematian ayahnya, tapi dia lebih prihatin akan keselamatan ibunya.
Semakin memuncak pertempuran itu, begitu tegang sehingga napaspun terasa sesak.
Disamping itu iapun menerawang serta menyelami jurus No-liong-bankhong (naga murka melingkar di udara) jurus ketiga dari Hwi-liong-kiam-hoat, bila diubah menjadi jurus ketujuh seperti lukisan yang ditinggalkan oleh Tiong-yang Cinjin di dinding gua itu, dikala badan terapung dan melancarkan serangan badan berputar ke kiri, gaya pedang ditekan ke bawah, maka dengan mudah pedang akan menusuk Hiat-to tertawa Han Janto yang terletak dipinggang kanan.
Sebaliknya bila diganti dengan jurus kesembilan, ujung pedang sedikit ditarik serta menyongkel ke atas, iapun akan berhasil menusuktenggorokanHan Janto, sasaranyangmematikan.
Secara diam2 dia ikuti pertempuran ini sambil putar otak gambar peninggalan Tiong-yang Cinjin di dinding gua yang sembilan jurus itu semuanya dilancarkan dengan badan terapung, sejak mulai jurus pertama terus, berlanjut sampai jurus kesembilan seperti berkelebat dalam benaknya, terasa bila dirinya sendiri yang menggunakan jurus2 ilmu pedang itu, cukup lima jurus saja pasti dirinya dapat membinasakan Han Janto.
Tapi ibunya justeru melarang dia turun tangan, soalnya sejak dua puluh tahun yang lalu beliau sudah bersumpah akan menuntut balas kematian suaminya dengan kedua tangan sendiri.
Dikala dia menonton dengan terpesona, tiba2 jeritan menyayat hati menyentak lamunannya, Karena terkejut Ling Kun-gi berpaling, dilihatnya sekali tabas Thay-siang telah berhasil membunuh Lama kasa merah, dia bertopang dengan batang pedangnya, mukanya pucat pasi.
Malah badannya mulai sempoyongan dan akhirnya jatuh terkulai.
Kun-gi melompat ke sana serta berjongkok di samping orang.
Yong King-tiong juga ikut memburu maju, menyaksikan keadaan Thay-siang seketika dia mengerut kening, katanya lirih.
"Luka2 Jikohnio agaknya cukup parah."
"Apakah Lopek tahu di mana letak luka2 Thay -siang?"
Tanya Kun-gi.
"Pasti anjing asing ini, meyakinkan ilmu Yoga, kemungkinan Jikohnio terkenan Toa-jiu-in."
Lekas Kun-gi papah Thay-siang, tangan kiri menekan Ling-tai-hiat di punggung orang, pelan2 dia salurkan hawa murni ke tubuhnya.
Betapa tangguh Lwekang Thay-siang, cukup mendapat sedikit bantuan tenaga dari luar sebagai pendorong hawa murni sendiri, dengan lekas sekali orangnya setengah pingsan segera siuman serta membuka mata.
Melihat Kun-gi lagi menyalurkan tenaga murni ke tubuhnya, agaknya dia amat terharu dan manggut2, katanya tak bertenaga.
"Nak, kaukah ini."
"Jangan Thay-siang berbicara ........."
"Nak, tak usah kau membuang tenaga, lepas tanganmu, aku masih kuat bertahan."
"Luka2 Thay-siang tidak ringan, tapi dengan landasan kekuatan sendiri selama puluhan tahun ini, asal berhasil menuntun hawa murni ke tempatnya semula, setelah beberapa kejap bersemadi, dengancepatkesehatanThay-siangpastiakan sembuh."
"Memang betul, apa yang kau maksud aku sudah tahu, tapi Losin dua kali terkena Toa-jiu-in keparat gundul itu, keduanya mengenai tempat fatal di tubuhku, keadaanku cukup parah dan tak berguna lagi, tak usah kau membuang hawa murnimu, hentikanlah, mumpung keadaan Losin belum memburuk, masih ada omongan yanghendakkubicarakandengan kau."
Tapi Kun-gi tidak segera lepas tangan, katanya.
"Apakah Thaysiang tidak berusaha menyembulikan diri?"
"Tak usah banyak bicara nak, dua tempat isi perutku sudah hancur, umpama ada obat dewa juga tiada gunanya, syukur aku masih kuat bertahan berkat peyakinan Lwekang selama puluhan tahun, hawa murniku belum lagi buyar, beberapa kejap aku masih kuat bertahan, umpama kau bantu menyalurkan hawa murni juga tiada gunanya. Sebelum ajal ini, Losin ingin bicara dengan kau, waktuamat mendesak, lekaslahdudukdisampingku."
Yong King-thong dapat melihat air muka Thay-siang sudah mulai berubah, lekas dia menimbrung.
"Ling-kongcu, Jikohnio ingin bicara, lekas kau berhenti saja."
"Thay-siang . ."
Dengan ragu2 akhirnya Kun-gi menarik tangan.
Lwekang Thay-siang memang amat tinggi, meski Kun-gi tarik tangan menghentikan saluran tenaga dalam, hakikatnya tidak membawa pengaruh besar bagi keadaannya, mukanya memang amat pucat, katanya menukas.
"Nak, jangan memanggilku Thaysiang, akuadalah bibimu, kau panggilakubibi saja."
Terasa oleh Kun-gi, perempuan yang berwatak keras sejak muda sampai lanjut usia ini, kini keadaannya betul2 sudah parah, walau orang berhati keji, untuk membunuhnya tak segan2 dia mengorbankan banyak jiwa orang lain, tapi apapun yang telah terjadi, jelek2 dia adalah adik kandung ibunya, apalagi keadaannya sekarang ibarat dian yang sudah kehabisan minyak.
Maka pelan2 Kun-gi berlutut, mulutpun berteriak haru tersendat .
"Bibi!"
Thay-siang tertawa haru, katanya.
"Anak baik, bibimu berbuat salah terhadap kakek luarmu, mengingkari ayah bundamu, demikian pula terhadap kau ..."
"Kejadianyangsudahlalu, biarlah takusah diungkatkembali, bibi tak usah bicara urusan ini lagi."
"Orang menjelang ajal, apa yang dikatakan adalah bajik, perbuatanku dulu yang memang tidak dilandasi cinta kasih dan kebajikan, sekarang menjadipenyesalanyangamat mendalam."
Setelah Kun-gi menghentikan tambahan hawa murni, kalau Thaysiang tidak menggunakan tenaga, berkat latihannya puluhan tahun dia masih kuat bertahan beberapa kejap lagi, tapi setelah berbicara beberapa patah, lambat laun terasa keadaannya semakin gawat.
Agaknya hawa murni dalam tubuhnya mulai buyar sehingga suara yang keluar dari kerongkongan pun menjadi lemah dan lirih, tapi dia masih berusaha berbicara.
"Nak, kau sudah masuk ke Hekliong-tam, sembilan jurus ilmu pedang peninggalan Tiong-yang Cinjin yang terukir didinding pasti sudah kau pelajari dengan baik, Ih-thiankiam ini diperoleh kakek luarmu di dalam kamar batu didasar kolam itu, hanya pedang inilah yang bisa mengembangkan sembilan jurus ilmu pedang itu hingga puncaknya, lekaslah kau terima ...."
Sampai di sini mendadak dia ter-batuk2, napaspun ter-sengal2.
Pada saat itulah, terdengar benturan nyaring senjata memekak telinga dan menggetar sukma, tanpa tertahan Kun-gi menoleh, dalam beberapa kejap ini, ternyata ibunya sudah terdesak di bawah angin.
Pedang panjang di tangan Hati Janto dimainkan sesakti naga hidup, sinar pedangnya yang semula redup kini mulai menyala meski tetap remang2, sementara ibunya masih bertahan mati2an, permainan memang masih teratur, tapi mau tidak mau dia menjadi cemas juga.
Mendelong pandangan Thay-siang yang sudah pudar, katanya lirih.
"Nak, jangan hiraukan aku, lekas maju ke sana, Toaci bukan tandingan Han Janto, hanya Ih thiankiam yang dapat menundukkan dia....."
Sambil mengawasi Thay-siang, Kun-giragu.
"Tapi, bibi. .. .."
Kata Thay-siang dengan ter-senggal2.
"Jangan hiraukan aku, aku akan segera mangkat ... .O. nak, masih ada satu hal, semula aku ingin menjodohkan Bok-tan padamu, Bok-tan anak baik, tapi kalau kau suka So-yok, aku juga tidak menentang, boleh kau pilih dan putuskan sendiri, di antara kedua anak ini, kau harus pilih salah satu, kelak setelah punya anak, jangan lupa berikan satu di antaranya untuk marga Thi supaya tidak putus turunan ... ."
Kembali suara benturan nyaring memekak telinga, terdengar Han Janto tertawa latah.
"Thi Ji-giok, berapa jurus lagi kau mampu menandangi aku?"
Bergetar hati Kun-gi, pelan2 Thay-siang ulur tangannya yang gemetar, katanya gugup.
"Nak ....lekaslah ...."
Pelan2 Ling Kun-gi merebahkan Thay-siang, katanya.
"Bibi istirahat saja, keponakan pasti ... ."
"Ingat pesanku,"
Ucap Thay siang lemah.
"setelah kalian punya anak....akuingin memungutsatu..."
Kun-gi mengangguk dengan berlinang air mata, tak sempat bicara lagi, dia jemput Ih-thiankiam terus melompat ke sana.
Ihthiankiam berubah selarik sinar hijau meluncur di tengah udara sambil berteriak keras.
"Bu, biar anak yang membereskan bangsat durjana ini."
Putaran pedang Han Jan to yang kencang itu sudah bikin Thi-hujin terdesak di bawah angin, dia mengejek sambll tertawa senang.
"Bagus, kalian ibu dan anak boleh maju bersama, supaya menghemat waktu dan tidak menghabiskan tenagaku."
Sebagai seorang yang sudah kenyang mencicipi asam garamnya percaturan Kangonw, baru habis kata2nya, seketika dia merasakan keganjilan dari samberan sinar pedang Ling Kun-gi, belum lagi lawan menerjang tiba, hawa pedang yang dingin tajam terasa sudah mencekam perasaannya.
Sudah tentu dia kenal baik Ih-thiankiam di tangan Ling Kun-gi yang tajam luar biasa ini.
Keruan mencelos hatinya.
pikirnya.
"Kepandaian silat bocah ini ternyata tidak lebih asor dari ibunya."
Sebat sekali dia berkisar ke samping, berbareng pedangnya menabas miring.
Ilmu pedangnya boleh dikatakan sudah mencapai tingkatan tertinggi, maka perhitungan waktunya sudah tentu amat tepat, begitu tebasan pedang terayun ke depan, pada saat itu pula Ling Kun-gi akan hinggap turun di tanah, malah dalam waktu yang sama pula dia berhasil menghindarkan ancaman pedang Ling Kun-gi dengan berkelit ke samping.
Walau tebasan pedang itu dilancarkan sambil berkelit, tapideruanginpedangnyaternyatakerassekali.
Dikala melayang turun tadi.
Kun-gi sempat mengegos kesamping, namun dia toh merasakan tekanan hawa perdang musuh, hawa murni pelindung badannya memperlihatkan keampuhannya, pakaiannya tampak melembung, mau tidak mau ia terkejut juga, batinnya.
"Keparat ini memang lihay,"
Begitu Kun-gi hinggap di tanah, Thi-hujin lantas tanya dengan gugup.
"Nak, bagaimana keadaan adik?"
"Lekas ibu menengoknya, bibi terluka parah, mungkin tak bertahan lagi,"
Sahut Kun-gi. Tersirap darah Thi-hujin, teriaknya.
"Baik, hadapi dia dengan baik, lebih baik kalau kau bekuk hidup2, ibu akan jaga bibimu."
Cepat dia memburu ke tempat Thay-siang merebahkan diri. Han Jan to menyeringai, serunya.
"Lihat pedang, anak muda!"
Sekali berkelebat bayangannya, orangnyapun mendesak maju, selariksinar kemilau langsung membelah. Pedang Kun-gi pelan2 didorongnya ke depan, mulutnya membentak.
"Orang she Han, ibu berpesan untuk membekukmu hidup2, kalau tidak dalam beberapa jurus saja pasti kubereskan jiwa anjingmu ini."
"Anak bagus,"
Teriak Han Janto ter-gelak2.
"agaknya kau lebih congkak daripada bapakmu ....."
Mendengar orang menyinggung ayahnya, semakin berkobar dendam Kun-gi, sekali menghardik, pedang dia pindah ketangan kiri, dengan sengit ia mencecar dengan serangan maut.
Dengan pedang di tangan kiri, dia coba mengembangkan ilmu pedang Tat-mo-kiamhoat secara kidal, pedangnya memancarkan cahaya dingin, rangsakannya sengit dan ketat.
Tat-mo-kiam-hoat ajaran Siau-lim-si memang terkenal ketat, kini dimainkan secara kidal oleh Ling Kungi, permainan yang serba berlawanan dengan aslinya ini kelihatan lebih aneh dan banyak ragamnya, orang sukar berjaga dan meraba arahnya.
Mengingat pesan ibunya tadi agar membekuk lawan ini hidup2, maka dia kombinasikan juga per-mainan telapak tangan kanan dengan Cap-ji-kim-liong jiu yang lihay, jari2 tangan kadang2 menutuk mencengkeram, memegang, menarik, menyodok dan macam2 gerakan lain yang diincar adalah Hiat-to Han Janto.
Perubahannya serba aneh dan lihay.
Han Janto terhitung ahli pedang juga, kapan dia pernah menyaksikan atau berhadapan dengan lawan yang main pedang secara kidal?
Yang dimainkan justeru berlawanan dari ilmu pedang aslinya?.
Karena belum menempatkan diri pada posisi yang meyakinkan, dia terdesak mundur, batinnya.
"Apa yang dimainkan bocah ini pasti ilmu pedang ciptaan Hoanjiu-ji-lay, sungguh aneh dan lihay,"
Hati berpikir sementara pedangnya bergerak melingkar2, di samping bertahan iapun berusaha balas menyerang, rangsakan Ling Kun-gi yang aneh2 ternyata dapat ditandingi dengan sengit pula.
Puluhan gebrak kemudian Han Janto menjadi hilang sabar, sambil mengeluarkan suara aneh, mendadak ia meloncat ke udara sambil pedang terayun, pedang berubah sejalur bayangan hitam menjulang tinggi ke udara.
Diam2 Kun-gi tertawa dingin, iapun tidak mau ketinggalan, sekali pedang menggaris iapun enjot tubuh melejit ke atas.
Padahal Han Janto sudah tiga tombak di udara, melihat Ling Kungi juga meniru perbuatannya, diam2 ia bergirang dan menyeringai.
Karena kali ini dia melambung lebih dulu, Kun-gi mengejar selangkah agak terlambat.
Dikala Han Janto mencapai ketinggian tiga tombak, Kun-gi baru mencapai dua tombak, sudah jelas posisinya lebih menguntungkan.
Pada keadaan yang menguntungkan inilah mendadak dia putar haluan, dengan menukik dengan kepala di bawah dan kaki di atas, pedang hitam di tangannya melingkar2 membawa bayangan hitam bagai jala menyebar ke empat penjuru, kepala Ling Kun-gi menjadi sasaran langsung.
Thi-hujin yang menyaksikan di sebelah sana menjadi kaget, teriaknya gugup.
"Awas anak Gi"
Maklum, di tengah udara orang sukar bergerak leluasa seperti di atas tanah, sekali kesempatan di dahului lawan, maka awaksendiri akan menjadibulan2an.
Bagai percikan lelatu api singkatnya, dikala Kun-gi menjulang ke atas mencapai ketinggian dua tombak, badannya yang masih terus menerobos naik itu mendadak meliuk minggir terus menerjang dari samping, secara tepat dan indah dia berhasil menghindarkan jaring pedang Han Jan to yang lihay.
Seperti diketahui Han Janto buru2 menukik turun ketika dia mencapai ketinggian tiga tombak maka terjangan Ling Kun-gi dari samping ini bukan saja berhasil meluputkan diri dari serangan pedang lawan, malah sekaligus mengungguli lawan dan berada di sebelah atas Han Janto.
Hal ini dengan jelas disaksikan oleh Han Janto waktu dia kembangkan serangannya, gaya Ling Kun-gi ternyata amat aneh dan luar biasa seperti naga sakti yang hidup, tahu2 bayangannya sudah menerobos lewat lebih tinggi di sebelah atasnya, seketika dia insaf keadaan berbalik tidak menguntungkannya.
Untunglah selama puluhan tahun meyakinkan Hwi-liong-sam-kiam, ketiga jurus ilmu pedang ini boleh dikatakan sudah mendarah-daging dengan jiwa raganya, sudah tentu permainannya dapat terkendali sesuai jalan pikirannya.
Begitu mengamati gerakan Ling Kun-gi yang aneh, segera dia memberatkan badan, seperti burung merpati yang melingkupkan sayap dan menukik ke bawah, bayangan pedang hitam seketika kuncup, secepat meteor dia jatuh anjlok ke bawah.
Soalnya dia kuatir Kun-gi bakal menyerang dari atas, maka dia merasa perlu buru2 melayang turun.
Di luar dugaan Ling Kun-gi tidak lantas menyerang, tapi iapun mengejar turun pula.
Sudah tentu kali ini Han Janto lebih dulu mencapai tanah.
Diam2 dia tertawa dingin, pikirnya.
"Bocah keparat, bila kau lancarkan serangan dari udara mungkin tuanbesarmu dapat kau kalahkan, tapi kesempatan sebaik ini kan sia2kan, kembali aku mendahului anjlok ke bawah, nah, sekarang rasakan pedangku."
Pikiran berjalan tanganpun bergerak, sebelum Kun-gi hinggap di tanah, mendadak dia menghardik sekali, pedang hitam di tangannya kembali menaburkan jaringan sinar menggulung ke arah Kun-gi.
Kun-gi belum sempat hinggap di tanah, mendadak ia ter-gelak2, bagai angin menghembus dahan pohon, tiba2 tubuhnya melayang ke sana, Ih-thiankiam memancarkan cahaya hijau memanjang, bayangan pedang tampak ber-lapis2 balas menyerang dari sebelah atas.
Betapa hebat dan cepat gempuran kedua pihak ini, begitu cahaya pedang kedua pihak saling bentrok maka terdengarlah suara rentetan nyaring benturan senjata.
Sesosok bayangan orang tahu2 menerjang keluar dari lingkaran sinar pedang.
Itulah Han Janto, jubah abu2 bersulam naga yang indah itu sudah koyak2 di beberapa tempat, pedang panjang tiga kaki di tangannyapun telah terpapas kutung tinggal satu kaki lebih.
Setelah mundur beberapa langkah, mendadak dia menggerung gusar, dia timpukkan pedang kutung sebagai senjata rahasia mengincar dada Ling Kun-gi.
Begitu kutungan pedang lepas dari tangan, sebat sekali dia putar tubuh sambil menjejak kedua kaki, bagai burung yang sudah ketakutan mendengar suara jepretan, cepat2 dia berlari secepat terbang keluar lembah.
Jurus tandingan yang dilancarkan Ling Kun-gi dalam gebrak terakhir ini adalah jurus ke 7 dari ilmu pedang peninggalan Tiongyang Cinjin yang terukir di dinding gua itu.
Maklum, baru pertama kali ini dia kembangkan, latihan belum matang, apalagi mengingat pesan ibunya untuk membekuk lawan hidup2, maka Han Janto sempat lolos dari jaringan sinar pedangnya.
Kini melihat orang menyerang dengan pedang kutung sebagai senjata rahasia, segera ia menyampuk.
"trang", pedang kutung kena diketuk jatuh, mulutnyapun menghardik..
"Mau lari ke mana?"
Baru saja Kun-gi hendak mengejar, didengarnya seorang bersuara dengan nada berat berwibawa.
"Dia tidak akan lolos."
Sesosok bayangan orang meluncur tiba dan tahu2 sudah mencegat jalan lari Han Janto, malah sekaligus dia lancarkan sekali pukulan telapak tangan. Pencegat ini adalah Yong King-tiong.
"Yong King-tiong,"
Han Janto berteriak kalap "berani kau merintangi aku!"
Tangan kanan menyodok sementara telapak tangan kiri menggempur.
"Blang", telapak tangan kedua orang beradu dengan telak, masing2 tergentak mundur satu langkah. Betapapun Han Janto sudah mengalami pertempuran seru sejak tadi, tenaganya banyak terkuras karena adu pukulan secara keras ini, dadanya tampak naik turun, napasnya memburu.
"Han Janto,"
Bentak Yong King-tiong mendelik.
"keadaanmu sudah payah, lebih baik kau menyerah saja."
Tertampak oleh Han Janto, delapan jago pedang seragam hitam berdiri di belakang Yong King-tiong, semuanya gagah memeluk pedang, naga2nya mereka sudah dibujuk dan tunduk pada Yong King-tiong, kini keadaan awak sendiri sudah terpencil, dia tahu gelagat yang tidak menguntungkan ini.
Cepat sekali otaknya bekerja, tiba2 ia membentak.
"Pengkhianat bernyali besar, memangnya kalian mau berontak?"
Belum habis bicara, kedua telapak tangan terangkap, dengan sekuatnya dia menggempur maju, berbareng kaki kanan menendang dada Yong King-tiong.
Dalamsekali gebrak ini tiga jurus serangan sekaligus dilontarkan.
Yong King-tiong tertawa, kedua telapak tadgan berputar ke atas lalu dari depan dada.
pelan2 dia dorong ke depan, dengan jurus Ji-liong-huncui (dua naga membagi air), dia berusaha mematahkan serangan Han Janto, menyusul tubuh mengapung ke atas, berbareng kaki kanan juga menyepak kaki kanan Han Janto yang menendang datang.
Kedua jarus serangan inipun dilontarkan secepat kilat.
"Blum"
"plak", benturan keras serasa menggoncang bumi, empat telapak tangan beradu lebih dulu disusul kaki masing2pun berhantam. Posisi kedua pihak berbeda, maka kesudahannyasegeratampaksiapalebihunggul danasor. Selama dua puluh tahun ini Yong-King-tiong tak pernah unjuk kepandaian aslinya, betapa tangguh Lwekangnya, begitu anjlok turun dia hanya bertolak mundur selangkah. Tidak demikian dengan Han Janto yang sudah mulai lemah, darah serasa hampir tumpah dari mulutnya, tanpa terasa dia terhuyung tiga tindak. Sekuatnya dia tahan darah yahg hampir menyembur dan menahan sakit luka2 dalamnya, baru saja dia hendak putar badan, mendadak kedua pundak terasa pegal kaku, tulang pundak kanan kiri tahu2 telah terpegang orang, seluruh tenaganya seketika lunglai, mana dia mampu meronta atau melawan lagi? Maka didengarnya suara Ling Kun-gi membentak di belakang.
"Han Janto seharusnya kau tahu, sejak tadi orang she Ling sudah berada dibelakangmu"
Terdengar seruan Thi-hujin dari sana.
"Anak Gi, jaga dia, jangan sampai dia menggigit putus lidahnya."
Kun-gi berpaling katanya.
"Ibu tak usah kuatir, anak tidak akan memberi kesempatan padanya untuk bunuh diri."
Tangan kiri segera menutukAh-bunhiatdi belakang leher HanJanto. Thi-hujin mendekatinya, sekali raih, dia tarik kedok muka orang, desisnya dengan menggereget.
"Bangsat she Han, dikala kau menjual Hek-liong-hwe dulu, pernah kau pikirkan akan nasibmu seperti sekarang ini?"
Dulu Han Janto berwajah tampan, putih halus, romannya yang agakkurus dulu kinitampak gemuk.
Cuma hidang betetnya yang tidak berubah, tapi bentuk dan rona mukanya sekarang mempertebal perasaan orang akan jiwanya yang culas dan keji.
Kini jiwa raga sudah jatuh ke tangan musuh, Hiat-to tertutuk, badan lemas lunglai, jangankan melawan untuk merontapun tak mampu lagi, akhirnya dia pasrah nasib memejamkan mata saja tanpa bersuara.
Sebetulnya memang dia tidak mampu bersuara karena Ah-bun hiat tertutuk.
"Anak Gi,"
Kata Thi hujin.
"kau gusur dia marilah, kita ke pusara ayahmu, secara hidup2 akan kukorek ulu hatinya untuk sembayang arwah ayahmu ....... ."
Tanpa terasa suaranya tersendat dan pilu, air matapun bercucuran. Kun-gi menahan isak tangisnya, katanya terguguk.
"Apakah pusara ayah berada di sini?"
Dengan berlinang air mata Thi-hujin menjawab.
"Tidak salah, ayahmu dikebumikan di lembah sebelah timur sana."
"Kongcu,"
Yong King-tiong menimbrung.
"serahkan saja. Han Janto pada mereka."
Lalu dia berputar ke arah kedelapan jago pedang seragam hitam, katanya.
"Kalian gusur dia, pergilah ke Say-cu-kau."
Dua diantara jago pedang itu segera tampil ke depan, bahu kanankiri HanJantodikempitterusberjalan mendahuluididepan. 'Hujin", kata Yong King-tiong.
"biarlah Lo-siu berangkat dulu."
Lalu dia mengikuti kedelapan jago pedang itu berangkat lebih dulu.
Kun-gi celingukan ke sekelilingnya, bayangan Thay-siang tidak kelihatan, tapi di pinggir Hek-liong-tam sana bertambah satu gundukan tanah, cepat dia bertanya.
"Bu. apakah bibi sudah wafat?"
Ber-kaca2 mata Thi-hujin, katanya mengangguk.
"Adik sudah mangkat, dua puluh tahun perselisihan dengan ibu, sampai detik2 sebelum ajalnya baru dia sadar dan insaf akan kekhilapannya, dia punya sebuah angan2, minta supaya kau menyambung keturunan keluarga Thi, ibu sudah menerima dan berjanji padanya, ibu juga termasuk anggota keluarga Thi, maka adalah pantas kalau kaulah yang harus meneruskan keturunan keluarga Thi ...."
Ia angkat kepala lalu menambahkan.
"Mari!ah kita susul mereka."
Kun-gi mengintil di belakang ibunya.
Jalan kecil ini berliku dan belak-belok, seperti berputar di lereng gunung, kecuali lumut yang licin dan berbahaya, rumput atau tetumbuhan lain tiada yang bersemi di sini.
Kira2 setengah li jauhnya, setelah membelok sebuah pengkolan pinggang gunung, betul juga tam-pak di tengah selat gunung yang diapit dinding curam menjulang tinggi terdapat sebuah batu nisan.
Yong King-tiong bersama kedelapan jago pedang yang menggusur Han Janto sudah menunggu di depan pusara itu, delapan jago pedang itu berpencar berjaga terhadap segala kemungkinan.
Mengikuti langkah ibunya Kun-gi, tiba di depan pusara, tampak di atas sebuah batu nisan besar bertatahkan huruf yang berbunyi "Pusara almarhum Hwecu Ling Tiang-hong".
Yong King-tiong menjura kepada Thi-hujin, katanya.
"Tempat ini terselubung dari tiga jurusan, kalau orang2 Hek-liong-hwe mendengar kabar mungkin bisa meluruk kemari, hal itu akan mendatangkan kesukaran bagi kita. Hujin, Kongcu, silakan bersembahyang, Lobsiu akan bertugas di mulut lembah sana untuk menjaga segala kemungkinan."
Thi-hujin mengangguk, katanya.
"Pendapat Yong-congkoan memang betul, kalau demikian bikin capai dirimu saja."
"Hujin terlalu sungkan, ini menjadi tugas dan kewajiban Losiu,"
Ucap Yong King-tiong, dua jago yang menggusur Han Janto ditinggalkan, enam jago pedang yang lain dia bawa naik ke atas ngarai sana."
"Anak Gi,"
Ucap Thi-hujin.
"punahkan saja ilmu silat orang she Han, baru kau buka Hiat-tonya."
Kun-gi mengiyakan sambil menghampiri Han Janto, pelan2 telapak tangannya menepuk pundak orang untuk membuka Hiat-to orang, berbareng dua jari tangan kiri secepat kilat menutuk Kui-hayhiat.
Kontan badan Han Jan to mengejang dan gemetar keras, sambil meraung keras ia jatuh terguling.
Tanpa membuang waktu beruntun Kun-gi unjuk kemahiran ilmu tutukannya, cepat sekali kembali dia tutuk Pak-liong dan Bweliong kedua Hiat-to ditubuh orang, terakhir dia menutuk pula Pek-hwehiat diubun2kepalaHan Janto.
Seperti balon yang kempes Han Janto roboh di tanah, badan lunglai tak mampu bergerak, pelan2 dia angkat kepala, kedua bola matanya mendelik berwarna merah menatap Thi-hujin, serunya dengan suara serak.
"Thi Ji-giok, kau ..... bunuhlah aku. Berilah aku kematian secepatnya."
Membesi hijau muka Thi-hujin, teriaknya murka.
"Memberi kematian secepatnya? Kau keparat yang lupa leluhur, rela menjadi budak musuh dengan menjual bangsa dan negara, kau sampah persilatan, kau mencelakai suamiku, betapa banyak patriot yang kau bunuh, ingin aku membeset kulitmu dan mencacah dagingmu, syukurlah Thian maha adil, hari ini kau terjatuh di tanganku, akan kukorek ulu hatimu hidup2 ......."
Maki punya maki amarahnya semakin memuncak, mendadak ia memburu maju, kaki melayang, muka Han Janto ditendangnya sekali. Bentaknya.
"Hayo berlutut, mintalah ampun dan akui segala dosa dan kejahatanmu dulu."
Karena ilmu silatnya sudah punah, Han Janto meraung kesakitan karena tendangan itu, sesaat lamanya mulutnya masih mengerang dan merintih, mukanya basah kuyup oleh butiran keringat sebesar kacang, tiba2 ia merangkak ke depan batu nisan serta bergelak tertawa dengan mendongak.
"Thi Ji-giok,"
Serunya.
"kepada siapa aku harus berlutut? Kau kira di sini kuburan suamimu?"
Thi-hujin melenggong, tanyanya terkesiap.
"Apa? Tulang suamiku tidakdalam kuburan ini?"
HanJanto menyeringaiseram.
"Ketahuilah, ini hanyasegundukan tanah belaka, hakikatnya tiada tulang belulang Ling Tiang-hong."
"Kau bohong,"
Teriak Thi-hujin.
"bukankah batu nisan ini sudah terukir namanya?"
"Kau tahu tempat apakah ini?"
Jengek Han Janto.
"tempat ini dinamakan Say-cu-kau (mulut singa) karena tiga jurusan terkepung buntu, bisa masuk tapi keluar sukar, memang sengaja kubuat kuburan palsu ini untuk menjebak kedatanganmu, dasar kau yang mujur dan diberkati umur panjang, selama ini tidak pernah muncul, maka kuburanpalsu inipun tetapberadadisini."
Diam2 Kun-gi maklum kenapa Yong King-tiong merasa perlu hawa enam jago pedangnya untuk berjaga di mulut lembah di atas ngarai sana. Tak tertahan dia membentak, gusar.
"Keji benar perbuatan kalian."
"Lalu di mana tulang jenazah suamiku?"
Tanya Thi-hujin.
"di mana kalian menguburnya?"
"Biar terus terang kuberitahu padamu, Ling Tiang-hong adalah pengkhianat Hek-liong-hwe dan Hwecu buronan, walau dia sudah mampus, tapi pihakpemerintahtetapharus memeriksajenazahnya. ..."
Bagai dihunjam belati perasaan Thi-hujin, badannya sampai gemetar menahan gejolak hati, desisnya sambil menggertak gigi.
"Sampaipun jenazahnya juga tidak kalian bebaskan?"
Sudah tentu darah Kun-gi juga mendidih, lekas dia papah sang ibu, katanya sambil berlinang air mata.
"Bu, tenangkan hatimu."
"Durjana, katakan siapakah yang berkeputusan tentang hal ini?" .
"Hal inijangan salahkan aku,"ujar HanJanto.
"Im-si-boankoanCi Kun jin dan Ki Seng jiang berdualah yang mengajukan tipu muslihat ini, bila buronan tertangkap harus segera diserahkan kepada pihak yang berwenang ...."
"Siapa itu Ci Kun jin?"
Tanya Thi-hujin. 'Ci Kunjin adalah penasihat gubernur Soa-tang dua puluh tahun yang lalu. Dia pula yang mengatur dan merencanakan penyerbuan ke Hek-liong-hwe."
"Di mana dia sekarang?"
"Setelah Kok Thay, gubernur Soatang meninggal, dia lantas meninggalkan gelanggang pemerintahan, konon dia sekarang berada di Jet-ho."
"Dan Ki Seng-jiang,"
Ucap Kun-gi.
"apakah Cengcu dari Coat-seng-sanceng?' "Dia adalah anak angkat Ciok-boh Lojin dari Ui-san, kepandaian silatnya amat tinggi, sejak lama dia sudah berkiblat pada kerajaan, waktu itu dia sudah menjadi Siwi kelas tiga istana raja yang tergabungdalamSinki-engyangtersohoritu ... ."
"Dan sekarang?"
Sela Thi-hujin.
"Sekarang dia berkuasa diPi-sok-sanceng."
"Pi-sok-san ceng? Di mana letaknya?"
"Sanceng terletak di Jet-ho, namanya saja perkampungan, yang benar itulah sebuah pesanggerahan yang mirip istana."
"Haa,"
Thi-hujin menggeram.
"meski berada di istana raja, tetap akan kurenggut jiwa anjingnya."
Sampai di sini mendadak dia tatap Han Janto, hardiknya beringas.
"Masih ada pesan apa kau?"
Sesaat Han Janto pandang Thi hujin dengan mendelong, katanya kemudian.
"Tiada pesan apa-apa, aku memang berutang dan patut membayar padamu, dapat mati ditanganmu, tiada yang perlu kusesalkan lagi."
"Baik!"
Dengus Thi-hujin. Pedang terangkat terus menusuk ulu hati orang. Sambil berlutut di tanah Han Janto sudah pejamkan mata.
"Bles"
Ujung pedang menghujam ke dalam dadanya, giginya gemerutuk menahan sakit pelan2 badannya lantas roboh terjengkang ke belakang, darahsegera muncratbagaianakpanah.
Thi-hujin menarik pedang, darah mengalir dan bertetesan di ujung pedangnya, dengan pedang menopang bumi, air matanya bercucuran, kepalanya menengadah, mulutnya bergumam.
"Tianghong, akhirnya berhasil aku menuntut sakit hatimu, dengan tanganku sendiri kubunuh keparat ini, tapi meski berhasil aku menuntut balas, lalu di mana kau? Aku tetap takkan berhasil menemui kau, selamanya takkan bisa menemukan kau ....."
Tak tertahan akhirnya dia menangis ter-gerung2. Kun-gi berlutut di atas tanab, katanya dengan berlinang air mata.
"Bu, kau telah menuntut balas, di alam baka ayah pasti juga tahu, ibu harus merasa lega hati, anggaplah aku telah berbakti kepada ayah, musuh telah kutawan hidup2."
"Nak, ucapanmu hanya untuk menghibur ibu saja, yang benar orang sudah mati, mana dia bisa tahu? Menuntut balas adalah kewajiban setiap orang hidup, meski aku sudah bunuh Han Janto, memangnya dia bisa mengembalikan suamiku dan ayahmu?"
Mendadak pandangannya menatap jauh ke depan, rona mukanya menampilkan tekad yang keras untuk menuntut balas, katanya tegas .
"Tapi aku masih harus menemukan Ci Kunjin dan Ki Sengjiang kedua bangsat itu, patriot bangsa yang gugur harus menuntut balas pula, supaya manusia di kolong langit ini tahu bahwa durjana penjual bangsa dan negara akhirnya pasti mendapat ganj-aran setimpal."
"Bu, kau sudah menuntut balas sakit hati ayah, kedua orang itu serahkan saja kepada anak, demikian pula tulang jenazah ayah, anak pasti akan menemukannya kembali,"
Demikian janji Kun-gi kepada ibunya. Menyinggung tulang jenazah suaminya, tak tertahan Thi-hujin mencucurkan air mata pula, katanya sedih.
"Urusan sudah berselang dua puluh tahun, ke mana kau akan mencarinya?"
"Mereka mencelakai ayah, pasti menguburnya pada suatu tempat, tentunya ada orang tahu di mana beliau dikubur,"
Kata Kungi. Tengah ber-cakap2, mendadak berkumandang suara benturan senjata dari sebelah atas. Thi-hujin segera melengak, katanya kuatir.
"Agaknya ada orang bertempur dimulut lembah, lekas kita tengok ke sana."
Memang hanya ada satu jalan keluar dari Say-cu-kau, mungkin kawanan bangsat dari Hek-liong-hwe mendapat kabar dan menyusul tiba sehingga terjadilah pertempuran dengan Yong King-tiong serta kedelapan jago pedang yang berjaga di mulut lembah.
Bergegas Thi-hujin bersama Kun-gi berlari ke arah mulut lembah.
Dalam sekejap itu, tampak tanah kuning di atas gundukan bukit sudah berceceran darah segar, empat jago pedang anak buah Yong King-tiong tampak menggeletak binasa dengan tenggorokan tertembus pedang, cara kematian keempat orang ini serupa satu dengan yang lain.
Pemimpin rombongan musuh adalah seorang gadis berpakaian serba putih yang berparas jelita, tampak alisnya lencik, matanya bundar menyerupai mata burung Hong, wajahnya bulat telur cerah bagai bunga mawar, sikapnya agung mempesona.
Cuma sikapnya yang dingin kaku tampak serius dan berwibawa, orang menjadi kederdantakberani memandangnyaterlalu lama.
Empat gadis lagi berada pada dua sisi gadis baju putih, semuanya memegang pedang yang berlepotan darah segar.
Paling belakang adalah sebarisan delapan laki2 baju hijau ketat, mereka adalah orang2 dari Ceng-liong-tong.
Diam2 cemas Ling Kun-gi, dirinya pernah bergebrak dengan jago2 pedang anak buah Yong King-tiong, tarap kepandaian ilmu pedang mereka boleh diagulkan, sejak mendengar benturan senjata tadi sampai dia berlari tiba di tempat ini, paling hanya beberapa kejap saja, entah cara bagaimana keempat jago pedang itu terbunuh oleh pedang para gadis2 jelita ini?
Terdengar Yong King-tiong tengah bicara sambil menjura.
"Walau Cui-tongcu telah membunuh empat jago pedangku, tapi ada Losiu di sini, jangan harap Cui-tongcu bisa melampaui diriku untuk ke bawah sana."
Ternyata gadis baju putih ini adalah Cui-tongcu dari Ceng-liongtong. Sorot mata Cui-tongcu yang dingin sekilas melirik ke arah Thi hujin dan Ling Kun-gi yang mendatangi, katanya mengejek.
"Yong King tiong, kau memang berhasil, nah itu mereka telah keluar dari Say-cu-kau."
AgaknyaYongKing-tiong naikpitam, serunya.
"Peduli kau ini utusan macam apa dari kotaraja, Losiu tetap ingin menjajal kepandaianmu."
"Wut"tiba2 dia menghantamlebihdulu.
"Kau ingin gebrak dengan aku?"
Ejek Cui-tongcu, tiada tampak bergeming, kaki tidak bergerak, hanya badan sebelah atas sedikit bergeliat, dengan mudah dia sudah meluputkan diri dari pukulan Yong King-tiong, Segulung angin pukulan kencang menyamber lewat diatas pundaknya.
Setelah menghindari samberan angin pukulan, Cui-tongcu mengejek.
"Peranan penting sudah tiba, aku malas bergebrak dengan kau."
Selama dua puluh tahun ini Yong King-tiong menyembunyikan diri dengan sabar, kepandaian aslinya yang tinggi tak pernah dipamerkan, kini sepak terjang dirinya sudah terang2an, maka dia merasa tidak perlu takut lagi bertindak blak2an, melihat pukulannya dapat dihindarkan lawan, hatinya semakin murka, kembali dia melontarkan pukulan.
Gempuran ulangan ini sudah tentu lebih hebat lagi kekuatan pukulannya, angin pukulan segera mencrpa dengan dahsyatnya.
Cui-tongcu menanggapi dengan tak acuh dan dingin.
"Kau kira aku tidak berani melawanmu?"
Kali ini dia memang tidak berkelit, tangannya yang halus bergerak memutar, entah bagaimana dia membalik telapak tangan, tahu2 dia sambut pukulan Yong King-Tiong dengan kekerasan pukulan pula.
Dua pukulan dahsyat saling bentrok di udara menimbulkansuarakeras, ternyatasetalitigauang aliassama kuat.
Sudah tentu kesudahan adu kekuatan pukulan ini amat di luar dugaan Yong King-tiong, soalnya dia hanya tahu bahwa Cui-tongcu ini berkepandaian tinggi, tapi tak pernah terpikir bahwa gadis selembut ini memiliki Lwekang setangguh ini.
Thi-hujin ikut kaget, tanpa terasa dia menatap orang lebih tajam, tanyanya.
"Yong-congkoan, siapa-kah nona ini?"
"Nona ini?"
Sabut Yong King-Tiong.
"dia inilah pengawas utusan kotaraja, Cui Kinin yang menjabat Ceng-liong-tong Tongcu, atau lebih jelas lagi Han Janto hanyalah seorang pemimpin boneka saja, kekuasaan Hek-liong-hwe hakikatnya berada di tangan perempuan ini."
Cui Kinin tertawa manis, katanya berseri.
"Jelas sekali caramu memperkenalkan diriku,"
Kata nya ditujukan kepada Yqng Kingtiong, tapi dia mengirim senyuman manis ke arah Ling Kun-gi.
Semula sikapnya dingin kaku, tapi seri tawanya ini betul2 laksana bunga mekar di musim semi, segar mempesona.
Thi-hujin menarik muka, jengeknya.
"Kau bangsa Ki-jin (golongan bangsawan)?"
"Apakah aku orang Ki-jin atau bukan, apa sangkut pautnya dengan kau?"
Sahut Cui Kinin.
"Kalau betul kau Ki-jin, aku tidak akan melepasmu,"
Ancam Thihujin.
"Paling mati di tanganmu?"
Tanya Cui Kinin dingin.
"Betul, aku pula yang membunuh Han Janto."
"Kau ini Thay-siang (maha ketua) Pek-hoa-pang."
"Bukan."
"Lalu siapa kau?"' "Akulah janda Ling Tiong-hong, buronan yang dicari oleh kalian gerombolan cakar alap2."
"O, kiranya Ling-hujin,"
Ucap Cui Kinin, matanya melirik ke arah Ling Kun-gi, tanyanya.
"Siapa pula dia?"
"CayheLingKun-gi,"lekasKun-gibersuarasambil menjura. Tanpa terasa Cui Kinin memandangnya beberapa kali, katanya kemudian.
"Cong-hou-hoat-su-ciadariPek-hoa-pang?"
"Cayhe bukan anggota Pek hoa-pang lagi."
"Lho, mengapa bukan?"
"KukiraCayhetidakperlu menjelaskanpada-mu."
"Ya, betul, kau masuk ke Ui-liong-tong,"
Berapa jiwa orang yang telah melayang di tanganmu,"
Kata Cui Kinin sambil melirik Leliong-cu yang tergantung di pinggang Ling Kun-gi.
"Kupikir, mungkin kau inilahputeraLing Tiang-hong, betultidak?"
"Betul, kedatangan Cayhe untuk menuntut balas sakit orang tuaku."
Cui Kinin. menggeleng dan berkata kalem.
"Kalian sudah membunuh HanJanto, sakithatipun sudahterbalas, betultidak?"
"Setiap cakar alap2 kerajaan adalah musuh besar kami,"
Thihujin berkata tegas.
"Teramat luas arti perkataanmu, hanya kalian ibu beranak ditambah seorang Yong King-tiong? Hek-liong-hwepun belum tentu dapat kalian kuasai."
"Aku bisa masuk kemari, sudah tentu juga bisa keluar,"
Jengek Thi-hujin. Kembali Cui Kinin melirik ke arah Ling Kun-gi, katanya.
"Kukira tidak mungkin, sulit kalian bisa menembus pertahananku, tapi .... .."
Suaranya sengaja dia tarik panjang.
"Tapi apa?"bentak-Thi-hujin. Gigi Cui Kinin nan rata seperti biji ketimun menggigit bibir, katanya kemudian setelah tepekur sekejap.
"Aku ada sebuah syarat, entah kalian mau terima tidak?"
"Kau ada syarat apa?"
Tanya Thi-hujin.
"Han Janto meski hanya Siwi kelas tiga, kalian telah membunuhnya, itu berarti kalian membunuh pembesar kerajaan, sepakterjangseorangpemberontaktulen ......."
"Tutup mulutmu!"
Bentak Thi-hujin.
"Jangan naik pitam Ling-hujin, dengarkan penjelasanku."
"Baik, katakan!"
"Kau menuntutbalassakithati suami ataudendamorangtua, hal ini boleh dianggap sebagai peristiwa balas membalas kaum persilatan umumnya, aku takkan menarik panjang soal ini ......"
Sebagai "pengawas"
Yang berkuasa besar dari kotaraja, sudah tentu dia punya hak dan kewajiban memutuskan sesuatu menurut hematnya sendiri.. Terdengar Cui Kinin berkata lebih lanjut.
"Kecuali Yong King-tiong sebagai Congkoan Hek-liong-hwe dan sekarang sekongkol dengan pembeberontak, aku tidak memberi kebebasan padanya, tentang kalian ibu beranak, asal Ling-kongcu sudi menyerahkan Leliong-cu, aku akan memberi putusan memberi izin pada kalian untuk meninggalkan tempat ini, meninggalkan Kunlunsan dengan selamat, bagaimana?"' Ternyata yang diincar adalah Leliong-cu. Jelas tujuannya untuk mendapatkan buku daftar anggota Thay-yang-kau yang disimpan dalam kamar batu di dasar kolam naga hitam, sedemikian besar arti dan pentingnya buku daftar itu, sampai kematian Han Janto boleh diremehkan. Memangnya Han Janto hanyalah seorang tamak yang mengejar keuntungan pribadi, peranannya tidak penting lagi bagi kerajaan. Dari sini dapat disimpulkan tugas apa yang dipikul Cui Kinin di dalam Hek-liong-hwe.. Sudah tentu di luar tahunya bahwa buku daftar anggota Thay-yang-kau itu sudah dimusnahkan oleh Ling Kun-gi. Belum habis Cui Kinin bicara, mendadak Yong King-tiong mendelik gusar, katanya sambil bergelak tawa.
"Cui-tongcu tidak akan membebaskan Losiu, memangnya Losiu perlu dibebaskan olehmu?"
"Yong-congkoan,"
Thi-hujin mengulap tangan.
"biarlah aku menjawab pertanyaannya."
"Baiklah Hujin,"
Ujar Yong King-tiong Kaku dan ketus sikap Thi-hujin, katanya.
"Pendapat Cui-tongcu memang tidak keliru."
"JadiLing-hujin menerimausulku?"
"Cui-tongcu anggap harga jiwa kami ibu beranak lebih tinggi daripada mutiara ini? Tapi bagi pandanganku justeru sebaliknya, mutiara ini berlipat ganda lebih berharga daripada jiwa raga kami berdua. Karena mutiara ini menyangkut laksaan jiwa manusia yang tersebar luas di utara dan selatan sungai besar, oleh karena itu kami ibu beranak sekali2 tidak mau sembarangan menyerahkan mutiara ini kepada siapapun, kecuali Cui-tongcu memiliki kepandaian dan dapatmerebutnyadaritangan kami."
Cui Kinin melenggong sebentar, katanya.
"Jadi Ling-hujin ingin bergebrak dengan aku?"
"Keadaan sekarang bagaikan anak panah yang sudah terpasang dibusuryangterentanglebartidakbisatidakharus dibidikkan, selain berhantam mungkin tiada jalan lain lagi."
"Baiklah kalau begitu,"ucap Cui Kinin.
"Cui-tongcu,"ujarThi-hujin.
"kaupakaisenjataatau........"
Melihat kedua orang siap bergebrak, tak tertahan Yong King-tiong ter-bahak2, serunya.
"Tunggu sebentar Hujin."
"Ada apa Congkoan?"
Tanya Thi-hujin.
"Maafkan Hujin,"
Ucap Yong King-tiong.
"barusan Cui-tongcu bilang Losiu bersekongkol dengan pemberontak, dosanya tak terampunkan, bahwa Losiu hidup terhina dan sengsara selama 20-an tahun di sarang penyamun ini, kini tibalah saatnya akan kuberitahu kepada Cui-tongcu bahwa Yong King-tiong adalah laki2 sejati, sebagai bangsa Han yang cinta bangsa dan tanah air leluhurnya, anggota Thay-yang-kau yang setia, sebagai Hek-lionghwe Cong-koan dari Hek-liong-hwe yang menentang kerajaan Ceng dan berusaha membangkitkan kembali kerajaar Bing, jadi bukan antek Hek-liong-hwe yang dikua-sai cakar alap2 kerajaan Ceng, padahal di dalam pandangan kalian para cakar alap2 kerajaan ini, tentunya Losiu dianggap sebagai pengkhianat, kenapa harus ditambahiembel2sekongkol denganpemberontak segala."
Cui Kinin tidak berbicara, tapi sorot matanya yang tajam dingin manampilkanhasrat membunuhnyayang mulaiberkobar. Yong King-tiong tidak peduli, katanya lebih lanjut.
"Jabatan dan kedudukan Cui-tongcu di sini cukup istimewa, Komisaris besar utusan kerajaan yang mengusai Hek-liong-hwe ini, kalau Cui-tongcu sudah menyatakan takkan melepaskan Losiu, demi mempertahankan diri adalah pantas kalau aku mohon pengajaran dulu pada Cui-tongcu, karena itu, pertarungan Hujin melawan Cuitongcu ini harap ditunda dulu, biarlah Losiu yang membuka perang tanding ini."
Cui Kinin bersikap semakin dingin, katanya mengejek.
"Bagus sekali, bahwa kau sudah mengakui seluruhnya, sebagai Komisaris umum dari Hek-liong-hwe, sudah semestinya kalau kulabrak kau lebih dulu."
Sampai di sini mendadak dia menoleh, katanya.
"Harap Ling-hujin tunggu sebentar."
Sikapnya angkuh seolah2 tidak memandang sebelah mata kepada Yong King-tiong.
Setelah beradu pukulan tadi Yong King-tiong tahu bahwa lwekang perempuan ini amat tangguh, taraf kepandaiannya agaknya tidak lebih rendah dari dirinya, sudah tentu dia tak berani pandang ringan lawannya yang muda ini, maka di kala orang bicara, diam2 ia kerahkan hawa murni mempersiapkan diri.
Segera dia merangkap kedua tangan, katanya menjura.
"Baiklah, siiakan Cui -tongcu memberi petunjuk."
Cui Kinin nielirik sekejap ke arahnya, suaranya dingin.
"Apakah main kepelan, telapak tangan atau pakai senjata, Yong-congkoan lebih suka yang mana, silakan pilih sendiri?"
"Losiu sih terserah saja apa kehendakmu?"
"Baiklah, adu kepelan dan pukulan telapak tangan saja."
"Silakan Cui-tongcu mulai dulu."
Cui Kinin melangkah maju dua tindak, ia membetulkan dulu sanggul rambutnya, katanya.
"Baiklah, aku mulai lebih dulu."
Tangannya terayun dan menepuksekali.
Jubah hijau Yong King-tiong tampak melembung dan melambai, sigap sekali dia sudah menyingkir beberapa kaki, berkelit sambil balas menyerang, serangan balasannya ternyata tidak kalah cepatnya.
Cui Kinin tidak menghiraukan serangan balasan ini, beruntun dia gunakan kedua tangan memukul pula secara bergantian, jadi menyerang untuk menandingi serangan lawan.
Begitu mulai gebrak kedua orang sama bunjuk kemahirand ilmu pukulan daan kesebatan gebrak badan, serangan semakin gencar, jurus demi jurus semakin cepat dan lihay, ba-yangan kedua orang maju mundur saling berputar dan melejit kian kemari, keduanya sama gesit dan tangkas.
Dengan tekun Kun-gi mengikuti pertempuran kedua orang, pandangannya amat tajam, sudah tentu dia tidak dikaburkan oleh kecepatan gerak yang terselubung oleh bayangan kepelan kedua orang.
Terasa Kungfu Yong King-tiong ternyata beraneka ragam, dalam setiap gerakan kedua kepelan tangannya ternyata mengandung tipu2 Siau-lim, Bu-tong, Hoa-san, Go-bi dan Liok-hap, serta Pat-kwa-bun dan lain2 aliran kelas tinggi, meski jurus yang satu tidak berurut dan bergandeng dengan jurus selanjutnya, tapi perubahan dan variasinya dapat dia mainkan dengan mahir dan leluasa, tak pernah putus dan macet.
Seolah2 dia sudah mahir betul akan ilmu kepalan dari berbagai aliran itu serta dikombinasikan dengan baik, malah perbawanya juga amat mengejutkan.
Tangan Cui Kinin tetap terselubung di dalam lengan bajunya, tapi jari2 tangannya yang runcing halus sering terjulur keluar dikala mencengkeram, menutuk dan menabas, permainan lincah cepat dan rangsakannya deras, bagai bidadari menyebarkan bunga, bayangan telapak tangannya yang putih mu-lus itu bertaburan bagai kuntum bunga, jari2nya yang runcing dengan kuku2nya yang panjang laksana jarum perak, setiap gerakan tutukannya amat aneh dan lihay, agaknya iapun telah keluarkan seluruh kemahirannya.
Terutama gerakan tangan dibarengi dengan permainan langkah yang gesit dan membingungkan, meski Yong King-tiong mencecar dengan pukulan keras, dia dapat berkelit ki-an kemari, Ujung bajupun tak mampu disentuh lawan.
Sekejap saja, keduanya sudah saling labrak lima-enam puluh jurus, keadaan tetap berimbang, tiada satu pihak yang memperoleh keuntungan.
Thi-hujinpun saksikan pertempuran ini tanpa berkedip, lama2 roman mukanya menunjukkan mimik aneh penuh keheranan dan kaget, tanyanya berpaling.
"Anak Gi, kalau kau yang melawan dia kau yakin dapat, mengalahkan dia?"
"Ilmu pukulan dan gerak langkahnya serba aneh, paling2 anak hanya sama kuat melawannya, untuk mengalahkan dia agak sulit juga, tapianakyakin sekalipukuldapat membunuhnya."
Thi-hujin mengangguk, katanya.
"Kalau perempuan ini tidak dilenyapkan, kelakpasti menimbulkan marabahayabagi kita."
Tengah bicara, di tengah gelanggang yang sedang berhantam sengit itu terdengar suara Cui Kin in yang merdu.
"Berhenti!"
Sesosok bayangan tiba2 melompat keluar dari arena serta mundur beberapa langkah dan berdiri tak bergerak. Yong King tiong juga menarik kedua tangan, katanya dengan lantang.
"Ada petunjuk apa Cui-tongcu?"
"Apakah Kim-biansanjiu dari Kunlun yang kau lancarkan barusan ini?"
Tanya Cui Kinin.
"Losiu tidak menganut sesuatu aliran, bermain sekenanya saja asal dapat menghadapi lawan, tak kupusing apakah Kim-bian atau bukan segala."
"Meski Kim-biansanjiu dari Kunlunpay merupakan kombinasi dari inti ilmu silat yang ada di dunia ini, di dalamnya mengandung kesaktian yang tiada taranya, aku tidak percaya tidak mampu memecahkannya."
Yong King-tiong tersenyum lebar, katanya.
"Cui-tongcu, boleh kau coba memecahkannya."
"Baik, akan kutunjukkan padamu,"
Jengek Cui Kinin. Mendadak kedua tangan dilancarkan bersama, beruntun dia menyerang tiga jurus. Setiap jurus pukulan menimbulkan kekuatan dahsyat yang menerpa ke depan.
"Serangan bagus,"
Yong King-tiong menghardik dengan pujiannya.
Kaki berdiri sekukuh tonggak, kedua tangan berjaga di depan dada, beruntun iapun melontarkan tiga kali pukulan.
Inilah cara adu pukulan secara keras, maka terdengarlah benturan, ternyata tiada satu pihak yang lebih unggul.
Cui Kinin tertawa dingin, kedua ta-ngan kembali melancarkan lima kali pukulan secara berantai, Gelombang pukulannya bagai badai ber-gulung2 menerjang dengan hebat.
Diam2 Yong King-tiong tersirap darahnya, perempuan muda berusia dua puluhan ini bagaimana mungkin memiliki Lwekang seampuh ini?
Hati berpikir, keadaan sudah mendesak, tak mungkin dia mundur, maka tenaga dia kerahkan di kedua lengan, mendadak mulutnya menghembuskan serangkum hawa, lima kali ia menyongsong pukulan lawan.
Kali ini tangan kedua pihak sama2 dilandasi kekuatan penuh, begitu pukulan saling beradu, udara menjadi bergolak dan meledak dengan dahsyatnya.
Jenggot ubanan Yong King-tiong tampak bergerak melambai, jubah hijaunyapun seperti terhembus badai, tanpa kuasa badannya terhuyung dua langkah ke belakang.
Kini siapa unggul siapa asor sudah kelihatan, Cui Kinin adalah anak perempuan muda beliau, meski ilmu silatnya maha tinggi, jelas latihannya lebih cetek daripada Yong King-tiong.
Setelah mengalami adu pukulan lima kali, wajahnya yang jelita bagai bunga mekar di musim semi itu seketika berubah pucat, beruntun ia tersurut lima langkah.
Belum lagi berdiri tegak dan napas masih sengal2, mendadak alisnya menegak, sepasang mata burung Hongnya memancarkan kemilau biru, nafsu membunuhnya berkobar, hardiknya.
"Nah, hati2lah kau."
Tangan kiri bergerak naik turun menjaga keseimbangan dan akhirnya berhenti di depan dada, sementara telapak tangan kanan tegak bagai golok pelan2 didorong keluar.
Mehhat gerakan telapak tangan orang, seketika berubah hebat air muka Yong King-tiong, teriaknya tertahan.
"Toa-jiu-in dari Ih-ka bun!"
Mulut berteriak lekas kedua tangannya melindungi dada, kembali kakinya menyurut lebih jauh, matanya menatap tajam, sikapnya amat tegang. Pada detik gawat itulah didengarnya Ling Kun-gi berteriak.
"Mundurlahpaman Yong, jurus inibiarSiautityang menyambutnya."
Belum habis bicara, bayangannya sudah berkelebat mengadang di depan orang.
Jaraknya dengan Cui Kinin hanya satu tombak, ia berdiri tegak dengan, menekan telapak tangan kiri kebawah, telapak tangan kanan tegak miring, dari kejauhan dia ikuti gerakan Cui Kinin.
Baru saja dia hendak melancarkan Mo-ni-in dari aliran Hud, Mendadak dari tempat kejauhan sana terdengar bentakan serak bertenaga kuat.
"Jangan muridku!"
Suaranya bergema di angkasa, seperti disuarakan dari tempat yang jauh, tapi kedengaran amat jelas seperti berbicara berhadapan.
Kun-gi tersentak kaget mendengar seruan ini, lekas dia menarik tangan dan membatalkan serangannya, tanpa terasa dia mendongakdan berteriak."YaSuhu!"
Perlu diketahui bahwa Mo-ni-in adalah ajaran sakti aliran Hud peranti menundukan dan memecahkan ilmu hitam, kekuatan dan perbawanya tiada taranya.
Walau Kun-gi belum lagi sempat melontarkan pukulan, tapi gaya dan kuda2 yang sudah dia tunjukkan laksana anak panak terpasang dibusur yang terpentang dan siap dilepaskan dengan keku-atan dahsyat.
Hawa murni sudah melingkupi sekujur badannya, dalam jarak beberapa kaki sudah padatdiliputi kekuatansekukuhtembokbajayangtidak kelihatan.
Toa-jiu-in yang dilontarkan Cui Kinin meski lambat, tapi tekanan yang keluar dari pukulan hebat ini sungguh laksana gugur gunung yang menimpa.
Beberapa kaki menerjang ke depan Ling Kun-gi ternyata Toa-jiu-in menemukan pengalang seteguh gunung, bagai air bah yang terintang bendungan.
Air mengalir tersibak ke penjuru lain, meski kuat dan keras daya terjangnya, tapi kebentur kekuatan sekukuh baja ini, sedikitpun kekuatan Toa-jiu-in tak mampu maju lebih lanjut.
Begitu tenaga pukulannya menghadapi rintangan, segera Cui Kinin lantas memperoleh firasat jelek, terasa dinding tak kelihatan sekeras baja pertahanan lawan membendung terjangan Toa-jiu-in, dirinya, daya tolak balik bukan olah2 dahsyatnya, kalau tidak mau dibilang berlipat ganda malah, keruan kagetnya bukan main.
Pikirnya.
"Toa-kok-su pernah bilang bahwa Toa-jiu-in adalah ilmu sakti dari Ih-ka-bun yang tertinggi, tiada ilmu pukulan macam lain dikolong langit ini yang mampu menandinginya, memangnya ilmu apa pula yang di-pertontonkan pemuda ini? Tampaknya dia belum lagi melontarkan kekuatan pukulannya, lantas membatalkan niatnya. Kepada siapa pula dia memanggil Suhu?"
Kiranya dia tidak mendengar suara serak tua yang kumandang seperti dari tempat jauh, karena ilmu gelombang suara itu hanya ditujukan kepada seseorang, maka hanya Kun-gi saja yang mendengarnya.
Sudah tentu Yong King-Tiong dan Thi-hujin juga tidak mendengar, tapi "Ya, Suhu"
Seruan Ling Kun-gi tadi jelas didengar oleh semua orang. Terunjuk mimik bingung dan heran pada wajah Thi-hujin, tanyanya.
"Anak Gi, apakah maksudmu Taysu juga datang?"
Sudah tentu pertanyaan ini juga dia kirim dengan ilmu gelombang suara. Kun-gi mengangguk, dia balas menjawab dengan ilmu yang sama.
"Ya, barusan sebelum anak melancarkan serangan kudengar peringatan Suhu yang melarang anak menggunakan Mo-ni-in."
"Aneh kalau begitu,"
Ucap Thi hujin.. Cui Kin in juga tahu diri, lekas dia tarik serangannya, tanyanya sambil menatap Kun-gi.
"Kau berani turun galanggang mewakili Yong King-tiong, kenapa berhenti setengah jalan?"
Menghadani tatapan mata orang yang bundar jeli, diam2 terkesiap Kun-gi, sesaat dia menjadi bingung, katanya kemudian .
"Bukankah Cui-tongcu juga berhenti setengah jalan?"
Sudah tentu dia tidak mau menjelaskan duduk persoalan sebenarnya. Berkedip mata Cui Kinin, katanya .
"Ingin aku tanya, ilmu apa yangbarusanhendakkau lancarkan?"
Sudah tentu Kun-gi tidak mau berterus terang, katanya tertawa tawar .
"Sungguh menyesal, jurus yang akan Cayhe lancarkan tadi tidakpunya nama."
Sedikit berubah rona muka Cui Kinin, katanya sambil menjengek.
"Kenapa tidak kau bilang tak sudi memberitahu? Tidak mau menjelaskan ya sudahlah, memangnya siapa yang pingin tahu?"
Tanpa menunggu reaksi Ling Kun-gi dia menambahkan.
"Kau berani tampil ke muka, tentu ingin bergebrak dengan aku, biarlah kita tentukan siapa menang dan kalah."
Dengan kalem tapi angkuh Kun-gi berkata "Caybe menurut saja kehendak Cui-tongcu."
"Kudengar ilmu pedangmu amat lihay, marilah kita bertanding senjata?"
"Katakansajacaranya, pastiCayheiringi keinginanCui-tongcu."
Dengan lekat Cui Kinin menatap Kun-gi sekilas, katanya sambil mencibir.
"Hm, kau angkuh sekali."
"Selamanya memangbeginilahwatakCayhe,"sahutKun-gi. Terunjuk rasa gusar pada wajah Cui Kinin, dia melambai ke arah dayang berpakaian hijau di belakangnya. Tampak seorang gadis baju hijau segera maju sambil menjinjing sebilah pedang, dengan hormat dia angsurkan senjata itu kepada majikannya. Pelan2 Cui Kinin melolos pedangnya, sebilah pedang panjang tiga kaki memancarkan kemilau hijau menyilaukan mata, itulah sebilah pedang yang tipis tajam luar biasa. Tiba2 Cui Kinin pegang gagang pedang dengan kedua tangannya terus dibentang ke samping, ternyata pedang seta serangka ini merupakan sepasang pedang, dengan tangan kirikanan masing2 memegang sebatang pedang, Cui Kinin melangkah maju beberapa tindak. katanya dingin.
"Ling Kungi, keluarkan senjatamu"
Kun-gi tertawa lebar.
"Creeng", tangan kanannya terangkat, tahu2Ih-thiankiamsudah terlolos. Terbeliak Cui Kinin, tanpa terasa dia berseru memuji.
"Pedang bagus!"
Dengan menenteng pedang Kun-gi tidak membuka jubah juga tidak pasang kuda2, hanya seenaknya saja dia menjura dan berkata.
"Silahkan Cui-tongcu!"
Makin wajar seenaknya dia menjura, semakin kentara sikapnya yang gagah dan tampan.
Sesaat Cui-Kinin melenggong dibuatnya, kedua tangan tetap terbentang, memegang sepasang pedang, sesaat wajahnya bersemu merah jengah, tanyannya.
"Kau tidak menanggalkan jubah?"
Umumnya orang yang turun gelanggang mau bertandang harus mencopot jubahnya, kecuali yakin akan kepandaian sendiri yang lebih unggul daripada lawannya, kalau tidak jubah itu akan mempengaruhi gerak-geriknya.
Tapi hal ini apa pula sangkut pautnyadenganCuiKinin, kanmenguntungkandiamalah"
Kun-gi tertawalebar, katanya."Tidakapalah"
"Ini kan bertanding pedang, senjata tak bermata, kau tidak kuatir aku memungut keuntungan dalam hal ini?"
"Tidakapa, tidakapa,"jawab Kun-gi.
"Kau sombong."
Jengek Cui Kinin mencibir pula sekali gentak, kedua bilah pedang ditangannya bergetar menggaris bundar menciptakan dua lingkaran sinar pedang sebesar mulut mangkuk, tapi dia belum menyerang, kedua pedang tetap berhenti di depan dada, katanya dingin.
"Ling Kun-gi, apakah aku yang harus turun tangan lebih dulu?"
"Boleh silakan Cui-tongcu,"
Ucap Kun-gi. Terpancar sinar membara pada sorot mata Cui Kinin.
"Baik,"
Serunya.
Lenyap suaranya pedang di tangan kanan mendadak membentuk tabir cahaya kemilau, deru hawa dingin setajam pisau dengan secepat kilat menyambar ke depan.
Ling Kun-gi bergerak mundur, miring setengah langkah, sementara Ih-thiankiam sudah pindah ke tangan kiri, ujung pedang menegak ke atas terus menyampuk ke depan.
Panjang Ih-thiankiam ada empat kaki, satu kaki lebih panjang daripada pedang umumnya, maka sebelum pedang Cui Kinin menyerang tiba sudah kena diketuk pergi.
"Trang", ternyata sepasang pedang Cui Kinin juga pedang mestika, kalautidaksekali benturtaditentusudah terpapaskutung. Lenyap suara benturan, Cui Kinin lantas mengejek, bayangannya berkelebat lincah, tahu2 dia menyelinap ke samping kanan Kun-gi, pergelangan tangan berputar, secepat kilat ia menusuk iga kanan lawan. Gerakan tubuh serta gaga pedangnya sungguh lincah menakjubkan. Yong-King-tiong yang menonton di luar gelanggang sampai berjingkat kaget, teriaknya tanpa terasa.
"Awas Ling-kongcu!"
Belum habis dia bicara, keadaan sudah berubah..
Ternyata setelah pedang di tangan kiri Kun-gi berhasil menyampuk pedang Cui Kinin, waktu Cui Kinin menyelinap ke kanan, cepat sekali diapun sudah pindah pedang ke tangan kanan pula dan menahan ke bawah.
"Trang,"
Kembali kedua pedang beradu.
Tusukan Cui Kin in kembali dipatahkan, tapi Cui Kinin memang hebat, selicin belut badannya tiba2 berputar, kakinya seperti tidak menyentuh tanah, tahu2 bayangannya sudah berada di depan Kungi.
Seiring dengan putaran tubuhnya pedang kanan ikut berputar menusuk ke pundak kiri, sementara pedang kiri ditarik mundur lalu membabat pinggang.
Bukan saja cepat perubahan tipu serangannya kedua pedangpun bergerak menyilang dengan tusukan dan membabat dengan lihay dan sukar diduga.
Agaknya Kun-gi sengaja pamer kepandaian, pedang kembali dia geser ke tangan kiri, tusukan pedang lawan kearah pundaknya kembali ditangkisnya, lalu dia kembalikan pula pedang ke tangan kanan untuk menangkis tebasan pedang lawan yang mengincar pinggangnya.
"Trang, tring!"
Dua kali secara beruntun hampir terjadi bersama, suara pertama adalah tangkisan pada pedang lawan yang menusuk pundak, suara kedua yang lebih keras adalah sampukan keras pada pedang lawan yang membabat pinggang.
Karena kedua kali bentrokan keras ini, kedua pedang Cui Kinin tergetar sehingga tak kuasa mengendalikan badan, langkahnya tersurut mundur, terpaksa dia tarik kedua pedang sambil menatap tajamLing Kun-gi, katanya dingin.
"Kau memang hebat sekali."
"Cui-tongcuterlalu memuji!", ucap Kun-gitawar.
"Kenapa kau hanya bertahan dan tidak balas menyerang?"
"Gerak pedang Cui-tongcu teramat lincah dan cepat, bahwa Cayhe mampu menangkis sudah beruntung, mana ada kesempatan balas menyerang?"
Cui Kinin tertawa, tawa manis karena umpakan ini, katanya.
"Ternyata kau pandai merendah juga."
Tiba2 kuncup senyumannya, katanya pula dingin.
"Setelah saling gebrak, kita harus menentukan siapa unggul dan asor, Nah, hati2lah."
Pada ucapannya terakhir, sebat sekali dia lantas menubruk maju, pedang kiri menusuk dan pedang kanan menabas, kalau tangan kanan membabat tangan kiri menyontek, serangan yang kiri lebih cepat dari yang kanan, menyusul serangan kanan melebihi melebihi kecepatn yang kiri, disamping ganas dan keji, serangan inipun tambah gencar, sekaligus dia sudah menyerang delapan belas jurus.
Ling Kun-gi ternyata tidak berebut mendahului, dia tetap bertahan dengan mantap dan tenang, pedang dia pindah ke tangan kiri seenaknya dia mengembangkan Tat-mo-hoanjiu-kiam, ilmu pedang Tat-mo-co-su yang dimainkan dengan tangan kidal, berbeda dengan ilmu pedang aslinya yang dimainkan dengan tangan kanan, tipu2nya serba berbeda, isi kosong sukar dijajagi, belum lagi jurus yang satu dilancarkan tahu2 sudah berganti jurus yang lain, apalagi setiap gerakannya mengandung perubahan, menyerang juga bertahan, di waktu bertahan ada pula gerak menyerang.
Permainannya sungguh amat indah dan lihay.
Karena dia ber-main pedang dengan tangan kidal, Cui Kinin menjadi kebingungan dan tidak tahu arah mana yang dituju serangan lawan.
Semakin tempur kedua orangbergeraksemakin cepatdansengit, yang kelihatan melulu sinar hijau dan cahaya perak yang melingkar, selulup timbul silih berganti, deru angin pedang bergolak menimbulkan angin kencang, suaranya semakin ribut seperti benda keras yang tiba2 sobek tergetar, lama kelamaan menjadi sukar dibedakan mana lawan dan mana pula kawan.
Pertempuran berjalan lagi tiga puluhan jurus, keadaan tetap berimbang sama kuat.
Cui kinin tampak semakin bernapsu, selebar mukanya membara, tiba2 dia menjerit sambil menggentak pedang, permainan pedangnya mendadak berganti, kini dia bergerak selincah kupu2 terbang di atas rumpun bunga, menyelinap kian kemari dan menari dengan lemah gemulai, gerak sepasang pedangnya semakin lincah dan cepat, bukan saja lebih aneh dan banyak ragamnya, setiap gerakan pasti mencari peluang menyerang ke pertahanan lawan.
Suatu ketika Ling Kun-gi bergerak sedikit lambat.
"cret", pedang Cui Kin in segera menyelonong masuk, jubah hijaunya tertusuk robek. Tidak kepalang kaget Kun-gi, baru sekarang dia benar2 insaf akan permainan pedang Cui Kinin yang lihay ini, mau tidak mau dia lantas berpikir.
"Untuk mengalahkan dia, terpaksa aku harus mengembangkan Hwi-liong-kiam-hoat."
Segera ia bersiul panjang, tubuh bergerak mengikuti gaya pedang, sejalur cahaya pedang lantas membumbung ke udara laksana naga sakti mengamuk.
Agaknya Cui Kinin tidak menduga pada saat menghadapi serangan segencar ini, Ling Kun-gi masih sempat melambung ke udara, terdengar ia menggerung lirih, tiba2 iapun tutul kedua kakinya, sepasang pedang menggaris lintang, menyusul kedua tangan menggapai dengan kedua pedang berputar mirip sayap burunghong lagiterbang.
Sementara itu Kun-gi tengah mengembangkan jurus Sinliong-juthun, waktu badan mencapai ketinggian tiga tombak, dia lantas pemukik balik, pergelangan tangan bergetar, pedang mengeluarkan sinar cemerlang laksana pancaran kembang api yang meledak, berubah menjadi hujan cahaya yang bertebaran di angkasa.
Waktu Cui Kinin menyusul keatas, kebetulan dia papak Kun-gi yang menukik turun, karena berada di tengah udara, menghadapi serangan lihay lagi, ternyata sedikitpun dia tidak jeri dan gugup, kedua pedangnya masih terus bergerak dengan garis silang dan naik turun mirip burung Hong yang sedang terbang di udara.
Kalau yang lelaki laksana seekor naga me-lingkar2 di tengah mega, maka yang perempuan mirip burung Hong yang terbang di angkasa.
Gerak pedang kedua pihak sama2 cepat laksana kilat, dengan benturan senjata berkumandang menimbulkan gema nyaring di lembah pegunungan.
Air muka Yong King-tiong tampak berubah berulang kali, katanya dengan penuh keheranan.
"Aneh, memangnya dia memainkan Hwihong-kiam-hoat?"
Bahwa Cui Kinin mampu menandingin Hwi-liong-sam-kiam warisan keluarganya, ini sudah membuat Thi-hujin ikut berubah air mukanya, kini mendengar Yong King tiong menyebut nama Hwihong-sam-kiam, tanpa terasa ia bertanya.
"Hwi-hong-kiam-hoat? Kenapanamainitidakpernah kudengar?"
"Hwi-hong-kiam-hoat,"
Ujar Yong King-tiong.
"adalah ciptaan Soat-sansinni dulu, Sinni adalah sahabat karib Tuan Puteri, bagaimana mungkin anak murid didiknya bisa berkiblat kepada pihak kerajaan....."
"Kulihat dia memang seorang Kinjin,"
Kata Thi-hujin. Sambil mengelus jenggot Yong King-tiong mengangguk, katanya.
"Sejaktadi Losiusudah curigaakanhalini."
SementaraitusetelahLingKun-gidanCuiKinin mengadupedang keduanya lantas turun ke atas tanah.
Belum lagi Kun-gi berdiri tegak, Cui Kinin sudah melompat maju lagi menyerang dengan gencar.
Keruan Kun-gi naik pitam, kaki menjejak tanah kembali ia melejit keatas, menyusuldia menukikpula menubruk kearah lawan.
Karena kedua pedangnya menyerang tempat kosong, Cui Kinin melanjutkan meluncur lurus ke depan.
Dari atas Kun-gi lancarkan jurus Lui-kong-pit-bok (geledek membelah kayu) Tiba2 Cui Kinin membalik, kedua pedang tersilang, dengan tepat dia tahan pedang Kun-gi.
Karena sedang terkunci oleh kedua pedang Cui Kinin hati Kun-gi semakin berang, belum lagi kakinya menyentuh tanah, segera dia kerahkan Tay-lik-kim-kong-sim-hoat, tenaga dikerahkan di lengan, pedang di tekan sekeras2nya ke bawah.
Karena badan Kun-gi masih terapung, sementara tabasan pedangnya kena dikunci oleh sepasang pedangnya, maka Cui Kinin dapat meluangkan sebilah pedangnya untuk menyerang sebelum Kun-gi hinggap di tanah, serangannya pasti akan berhasil, umpama tidak berhasil membunuh Kun-gi, sedikitnya kedua kaki lawan dapat ditabas kutung.
Tidak terduga selagi dia me-nimang2 itulah, terasa berat pedang Kun-gi yang terjepit di antara kedua pedangnya itu bertambah lipat seolah2 tekanan ribuan kati, hampir saja kedua tangan sendiri tak mampu memegang pedang, dengan sendirinya tak sempat meluangkan sebilah pedang untuk menyerang lawan?
Wajahnya nan molek itu kontan berubah pucat hijau lalu merah, keringatpun membasahi jidat, kedua tangan yang pegang sepasang pedang yang menyilang itu tampak gemetar, pelan2 tertekan turun seperti tak tahan lagi.
Kalau ia tak kuasa manahan tekanan pedang lawan, berartiiasendiribakalterbelah menjadi duadanbinasa.
Tapi pada detik gawat itulah, mendadak terasa tenaga ribuan kati yang menindih itu tiba2 sirna, sedikit meminjam tenaga pertahanan pedang Cui-Kinin, Kun-gi terus melambung ke belakang.
Jelas dalam gebrak ini dia menaruh belas kasihan.
Hampir meledak tangis Cui Kinin saking dongkol, sejak kecil dia berlatih pedang, Hwi-hong-kiam-hoat juga merajai Bu-lim, dia kira tiada tandingan lagi di kolong langit ini, tapi kini dirinya kecundang dua kali oleh Ling Kun-gi.
Diam2 dia mengertak gigi, tanpa bersuara mendadak dia memburu maju, sepasang pedangnya menaburkan cahaya kemilau menggulung ke arah Ling Kun-gi.
Agaknya Cui Kinin benar2 naik pitam sehingga melancarkan serangan gencar dan sengit, ingin rasanya membikin beberapa lubangditubuh Kun-gi yangdibencinyaini.
Tapi Kun-gi juga kembangkan ilmu pedangnya, Ih-thiankiam ditangannya dimainkan begitu rupa sehingga sekujur badan seperti terbungkus cahaya, deru anginpun mendengung keras.
Kembali kedua jago pedang ini berhantam dengan seru, masing2 keluarkan seluruh kemahiran sendiri, sudah tentu adegan kali ini jauh lebih menegangkan daripada pertempuran terdahulu tadi.
Tiga jalur sinar pedang saling gubat.
kadang2 seperti rantai perak yang menjulang ke atas, tiba2 pula laksana gumpalan mega mengambang di udara dengan enteng.
Yang satu laksana burung Hong menari2 diudara, yanglain sepertinaga mengaduksungai.
Makin sengit pertempuran makin kejut hati Ling Kun-gi, bila dia belum masuk ke dasar kolam naga hitam dan berhasil mempelajari ilmu pedang peninggalan Tiong yang Cinjin, dengan bekal Hwi-liong-sam-kiam saja, terang dia bukan tandingan nona ini.
Memang sembilan jurus ilmu pedang yang dia pelajari dari ukiran dinding itu belum apal dan mahir betul, maka dalam permainan adu pedang ini lebih sering dia mengulang permainan Hwi-liong-sam-kiam.
Sementara enam jurus yang lain karena hanya hanya dilandasi dengan kecerdasan otaknya saja, maka dalam prakteknya masih agak kaku, tapi toh tetap dia kembangkan sembari diselami.
Memang sekaranglah kesempatan latihan untuk memperdalam ilmu pedangnya itu, apalagi lawan tandingannya adalah Cui Kinin, nona jelita yang berkepandaian ilmu pedang yang tinggi, yang dimainkan juga ilmu pedang kelas tinggi yang aneh dan banyak perubahan dan variasi, pula sama2 harus dilancarkan dengan cara mengapung di udara, Hwi-hong-kiam-hoat lawan memang serasi sebagai kawan latihan yang sempurna.
Lekas sekali seratus jurus telah dicapai, lama kelamaan Kun-gi menjadi apal dan leluasa memainkan Hwi-liong-kiu-sek.
Di tengah pertempuran sengit itu terdengar suara benturan keras dibarengi cipratan kembang api yang menyilaukan mata, sekonyong2 cahaya pedang sama kuncup, dua bayangan orangpun terpental mundur.
Rambut Cui Kinin kusut masai, wajahnya tampak membesi hijau, sekilas dia melirik ke atas tanah, mendadak dia merangkap kedua pedang serta dimasukkan ke dalam sarungnya, lalu berseru lirih.
"Hayo pulang!"
Tanpa berpaling segera dia melangkah pergi.
Di tanah menggeletak secomot rambut, kiranya hasil tabasan pedang Ling Kun-gi.
Tak heran wajahnya bersungut dan uring2an, maka cepat2 dia membawa anak buahnya pergi.
"Cui-tongcu,"seraThihujin dingin.
"kau inginpergi beginisaja?"
Cui Kinin sudah memutar badan, tiba2 dia menghentikan langkah, tanyanya sambil berpaling. 'Apa kehendak kalian?"
Yong King-tiong bergelak tertawa, katanya.
"Sebagai Komisaris umum, adalah tidak pantas kalau Cui-tongcu tinggal pergi begini saja."
Rasa marah menjalari selebar muka Cui Kinin, alisnya menegak, katanya sambil tertawa dingin.
"Aku ingin pergi boleh segera pergi, siapa dapat menahanku"
"Sreng", The hujin melolos pedang, jengeknya.
"Urusan sudah selanjutini, betapapunkauharus kamitawan."
"Bagussekali! Nah,cobasajakalau mampu,"ejekCuiKinin. Pada saat itulah, mendadak dari tempat jauh berkumandang suaraserakberkata."NonaCui, kaubolehpergi saja."
Thi-hujin dan Ling Kun-gi tampak melenggong, bukankah Put-thong Taysu yang berbicara? Terunjuk rasa kaget dan heran, tanya Cin Kui-in sambil mendongak.
"Siapa kau?"
"Tak usah tanya siapa aku,"
Sahut suara serak tua itu.
"kau masih punya urusan sendiri, pergilah, jangan terburu nafsu."
Sekilas melirik Thi-hujin, Cui Kinin, lantas turunkan pedang dan melangkah pergi.
Empat gadis baju hijau bersama delapan laki2 berpedang segera merubung maju berbaris dibelakangnya dan angkat langkah.
Karena yang bersuara adalah guru Ling Kun-gi, yaitu Hoanjiu-ji-lay Put-thong Thaysu, sudah tentu tak enak Thi-hujin merintangi Cui Kinin, maka dia diam saja membiarkan mereka pergi, namun tak tertahan iapun mendongak dan bertanya.
'Kau ini .....
"Jangan banyak tanya Hujin,"
Sahut suara itu.
"kalianpun harus lekaspergi."
Sampaiakhir katanyasuaranyasudahsemakin jauh.
"Kenapa Suhu berulang kali menampilkan diri, memberi keringanan kepada Cui Kinin?"
Demikian Kun-gi ber-tanya2 keheranan.
"Pasti Taysu punya maksud tertentu dengan tindakannya ini,"
Ujar Thi-hujin.
"Yang bicara barusan, apakah guru Ling-kong-cu?"
Tanya Yong King-tiong. Thi-hujin hanya mengangguk. Sambil mengelus jenggotnya, tiba2 Yong King-tiong menghela napas, katanya.
"Berapa tinggi kepandaian nona muda ini sungguh jarang ada tandingannya jaman ini, hari ini kita tak bisa melenyapkan dia mungkin kelak bisa menimbulkan banyak kesukaran bagi kita semua."
"'Bahwa Taysu berulang kali memberi muka padanya, tentu ada alasannya, kalau betul kelak dia akan mendatangkan kesulitan bagi kita, kukira Taysu takkan melepaskan dia pergi,"
Demikian ucap Thihujin, lalu dia menengadah melihat cuaca, katanya pula.
"Anak Gi, sebelum ajal bibimu ada pesan bahwa Bok-tan dan So-yok masing2 diberikan gambar peta, sebelum terang tanah seharusnya mereka sudah kumpul di Hek-liong-tam, tapi sampai sekarang masih belum kelihatan bayangan mereka, mungkin di tengah jalan mereka disergap musuh tangguh, bibimu amat kuatir, maka kau disuruh memberi bantuan."
Ling Kun-gi mengiakan.
"Tadi Han Janto bilang bahwa lorong2 rahasia dalam perut gunung ini sudah banyak yang di pugar, kalau mereka bekerja sesuai gambar peta yang diberikan bibimu, tanpa lawan turun tangan dengan sendirinya mereka akan masuk perangkap dan menemui ajal, kukira Yong-lopek tahu liku2 jalan rahasia di sini, pergilah kau bersama Yong-lopek, tolonglah dan kumpulkan dulu kedua rom-bongan Pek-hoa-pang yang tercerai berai itu,"kata Thihujin pula.
"Dan ibu?"
Tanya Kun-gi.
"engkau ......."
"Ibu masih ada urusan lain, setelah kalian bertemu dengan mereka dan berhasil menggempur Ceng-liong dan Hwi liong tong, bawalahBok-tandanSo-yokkeGak-kohbio menemuiaku."
Kembali Kun-gi mengiakan. Berkata Thi-hujin kepada Yong King-tiong.
"Yong Congkoan, mohon pertolonganmu suka membantunya."
Lekas Yong King-tiong menjura, katanya.
"Hujin ada urusan boleh silakan, Losiu akan mem-bantu Ling-kongcu menyelesaikan urusan di sini."
Tak banyak bicara lagi Thi-hujin terus melejit jauh berlari kencang bagai terbang. 'Ling-kongcu, tiba saatnya kitapun harus berangkat"
Ucap Yong King tiong.
"Dari sini keluar entah mana yang lebih dekat antara Ceng-liongtong dan Hwi-liong-tong?"
Kata Kun-gi.
"Sudah tentu Ceng liong-tong lebih dekat, Ceng-liong-tong adalah seksi dalam, letaknya di sebelah kiri markas pusat, maka kita harus ke Ceng-liong-tong menolong orang dulu baru nanti dilanjutkan menuju ke Hwi liong-tong"
"Masih ada sebuah hal, ingin Wanpwe tanya kepada Yong-lopek."
"Soal apa ingin Kongcu tanyakan?"
"Ada dua teman wanpwe yang tertawan orang2 Hek-liong-hwe, mereka dianggap orang Pek-hoa-pang, entah di mana sekarang mereka disekap?"
"Beberapa hari yang lalu memang pernah kudengar pihak Ceng-liong-tong berhasil menawan beberapa orang laki-perempuan, katanya orang Pek-hoa-pang, setiap tawanan yang digusur ke gunung ini pastidisekapdi markaspusat."
"Kalau begitu, marilah Yong-lopek antar aku pergi menolong orang saja."
"Kamar tahanan tidak melulu di markas pusat saja, letaknya yang tepat adalah di perut gunung sebelah belakang Ceng-liong-tong, jalan menuju ke sana adalah daerah rawan yang juga dilewati orang2 Pek-hoa pang, di sana pulalah mereka terjebak dalam perangkap."
Sembari bicara tanpa terasa mereka sudah tiba pula di pinggir Hek-liong-tam.
"Yong-lopek, kita telah berada di Hek-liong-tam pula,"
Ucap K urngi.
"Tiga seksi Hek-liong-hwe semuanya didirikan dalam perut gunung, hanya Hek-liong-tam yang letaknya di bagian luar, tapi di sini dikelilingi dinding gunung yang mencakar langit, putus hubungan dengan dunia luar, untuk keluar sudah tentu kita harus kembali ke sini,"
Sembari mengelus jenggot Yong King-tiong menambahkan dengan tertawa.
"Dan lagi, sekarang sudah hampir lohor, marilah kita makan dulu, apalagi selain Siau-tho, Lo-siu masih ada delapan pembantu, sudah sekian tahun mereka melayani Losiu, setelah keluar dari sini mungkin Losiu takkan kembali lagi, merekapun harus dibubarkan."
Di bawah petunjuk Yong King-tiong mereka menuju kearah barat, tak lama kemudian tampak di bawah dinding curam sebelah sana terdapat sebuah lubang gua yang terhimpun dari tumpukan batu2 padas.
Mulut gua amat besar, tingginya ada beberapa tombak, karena di sini ada pancaran sinar mentari, maka keadaan tidak begitu gelap, tepat di tengah gua terdapat dua baris meja batu dan beberapa kursi, dinding di kanan kiri masing2 terdapat sebuah pintu, Yong King tiong bawa Kun-gi masuk ke dalam gua lalu berhenti, katanya kepada keempat jago pedang baju hitam.
"Kalian pergilah makan siang, lalu bebenah bekal kalian masing2, kumpul lagidisini, nanti ikut Losiu keluar."
Keempat jago pedang itu mengiakan terus mengundurkan diri.
"Marilah Ling-kongcu ikut Losiu,"
Ajak Yong King-tiong. Dia melangkah ke pintu sebelah kanan. Kun-gi ikut di belakangnya terus melangkah masuk, sementara Yong King-tiong mengeluarkan sebuah bumbung obor.
"Cres", dia nyalakan api dan menyulut obor itu. Jelas itulah sebulah lorong, dinding kedua sisi ditatah rata dan licin, lebarnya hanya tiga kaki, cukupuntukjalanduaorang berjajar. Langkah merekaamatcepat, taklama kemu-dian tibalah di ujung lorong. Yong King-tiong maju selangkah, ia menekan sesuatu di dinding, maka terbukalah sebuah pintu. Begitu mereka melangkah masuk, Siau-tho, pelayan baju hijau itu segera memapak maju, katanya sambil membungkuk.
"Cong-koan sudah kembali." 'Hidangan makan siang sudah kau siapkan belum' tanya Yong-King-tiong.
"Koki barusan sudah datang dan tanya apakah hidangan siang perlu diantar sekarang? Karena Congkoan belum pulang, hamba suruh mereka menunda sebentar."
"Baiklah, sekarang kau suruh koki siapkan pula beberapa macam hidangan dan arak, masih ada kerja lain yang akan kusuruh kau."
Siau-tho mengiakan terus melangkah keluar.
Yong King-tiong mendekati dinding, dia membuka sebuah pintu dan beriring melangkah masuk.
Ternyata mereka telah berada di kamar rahasia dimana kemaren malam mereka berbicara.
"Silakan duduk Kongcu,"
Ucap Yong King tiong.
"semalam suntuk kau tidak tidur, boleh silakan istirahat sebentar."
"Wanpwe tidak merasa letih,"
Sahut Kun-gi. Mereka duduk berhadapan menyandang meja kecil. Tanya Yong King-tiong.
"Bagaimana pengalaman kau semalam waktuselulupkedasarkolamdan masukkekamarguaitu?"
"Memang akan kulaporkan kepada paman."
Ujar Kun-gi.
Lalu dia bercerita ringkas jelas pengalamannya didasar kolam ibtu.
Yong-king-tiong mendengarkan dengan seksama, setelah Kun-gi habis bercerita, baru dia manggut2 sambil mengelus jenggot, katanya.
"Syukurlah kalau sudah kau hancurkan, cita2 Losiu selama ini sudah tercapai. Mengenai tiga gambar semadi itu, kemungkinan adalah penuntun dasar untuk meyakinkan ilmu pedang dengan jalan semadi, kalau sembilan jurus terdepan sudah Kongcu latih dengan mahir, boleh kau lanjutkan dengan ajaran semadi yang terukir di dinding itu."
"Pendapat paman memang betul."
Tengah bicara pintu kembali terbuka, Siau-tho melangkah masuk sambil membawa tenong, dia taruh arak dan piring mangkok yang berisi ber-macam2 hidangan di atas meja, lalu katanya sambil membungkuk.
"Congkoan dan Kongcu silakan makan bersama."
"Di sini tidak perlu pelayananan lagi, kaupun pergi makan, setelah itu suruh orang di dapur membenahi bekal masing2 dan kumpul di depan, nanti ikut Losiu pergi."
Siau-tho melenggong, tanyanya.
"Congkoan hendak meninggalkan tempat ini?"
"Jangan banyak tanya, semua orang akan pergi, kaupun lekas bebenah, dengarkan pesan Losiu selanjutnya."
Dengan terbelalak heran sesaat Siau-tho menatap Yong King tiong, akhirnya dia menunduk sambil mengiakan dan mengundurkan diri.
"Marilah Ling-kongcu, tidak usah sungkan, lekas kita makan seadanya."
Masih banyak urusan yang harus dikerjakan, maka Kun-gi tidak sungkan2 lagi, segera mereka makan sekenyangnya.
Siau-tho tampak melangkah masuk pula, membawa dua cangkir teh wangi serta hendak mengangkuti piring mangkok.
"Siau-tho,"
Kata Yong King-tiong setelah meneguk secangkir teh.
"tidak usah diangkuti lagi, pergilah kau bebenah barang2mu saja, kita akan segera berangkat."
"Kecuali beberapa perangkat pakaian, hamba tidak punya bekal apa2 lagi,"sahut Siau-tho.
"Baiklah marikitaberangkat,"ajakYongKing-tiong. Siau-tho berlari keluar, cepat sekali dia sudah berlari datang pula dengan menjinjing sebuah buntalan kecil, dipinggang masih menyoreng sebatang pedang. Yong King-tiong mendahului berdiri, katanya.
"Mari berangkat Ling-kongcu."
Kun-gi ikut berdiri, bertiga mereka keluar dari kamar rahasia itu, Yong King-tiong menoleh dengan perasaan berat, katanya lirih.
"Sejak umur likuran tahun Losiu atas perintah perguruan mendharma-baktikan diri di Hek-liong-hwe. Empat puluh tahun lamanya tinggal di sini, kini harus pergi takkan kembali lagi, hati merasa amat berat sekali."
Lalu dia mendahului melangkah keluar menuju ke lorong panjang sana, kembali ke kamar batu di bagian luar gua, keempat jago pedang bersama lima laki2 dan dua perempuan tua yang biasa kerja di dapur sudah lama menunggu dengan menyandang buntalan masing2.
Melihat Congkoan datang serempak mereka berdiri.
Yong King-tiong membuka pintu sebelah kiri, dari dalamnya dia menyeretkeluarseonggokuang perakterusdibagikan kepadaorang banyak, setiap orang kebagian dua ratus tahil perak, katanya kemudian.
"Kalian boleh pergi dan carilah nafkah secara halal, sekedar pesangon ini boleh buat modal dagang atau untuk usaha lain, selanjutnya jangan singgung soal Hek-liong-hwe."
Lalu dia berpesan pula.
"Loh Jongi, kau harus mengawal mereka keluar, pergilah ke Gak-koh-bio menunggu Losiu di sana."
Salah seorang jago pedang baju hitam mengiakan sambil menjura. Tiba2 Siau-tho maju menjatuhkan diri berlutut, katanya sambil menyembah.
"Cong-koan yang terhormat, sejak kecil hamba dibawa kemari, entah di mana ayah bundaku sekarang, tiada tempat yang kutuju dan tiada sanak kadang yang bisa kupercaya biarlah hamba mendampingi Cong-koan saja, mohon Congkoan menaruh belas kasihan, jangan suruh hamba pergi."
Yong King-tiong menjadi kasihan melihat gadis remaja ini bercucuran air matanya, katanya.
"Lohu akan meninggalkan tempat ini, selanjutnya kalian tak usah pangil Congkoan kepadaku, apalagi kerajaan tidak akan membiarkan Lohu, mana boleh kau ikut Lohu menempuhbahaya, akanlebih baik..."
"Setelah meninggalkan tempat ini, hamba akan pandang engkau sebagai kakek, tolong engkau menerimaku sebagi cucu saja."
Demikian ratap Siau-tho dengan sesenggukan.
Memang Siau-tho tidak punya sanak kadang, gadis sebatangkara bagaimana bisa hidup di masyarakat luas yang banyak godaan, maka Yong King-tiong lantas mengulap tangan kepada Loh Jonggi, katanya.
"Baiklah, kau bawa mereka pergi lebih dulu."
Loh Jonggi mengiakan, ia pimpin orang banyak keluar dari pintu sebelah kiri.
Bahwa Yong King-tiong menerima permohonannya, keruan Siautho kegirangan, berulang kali dia menyembah pula baru berdiri ke pinggir.
"Phoa Sib-bu, Go Nui-cu, Kik Su-hou boleh ikut lohu, di jalan peduli siapapun kalau tiada pesan lohu, kularang kalian turun tangan,"
Kata Yong King-tiong pada sisa ketiga jago pedang uang masih tinggal. Tiga jago pedang yang masih berdiri di pojok sana mengiakan bersama.
"Silahkan Ling-kongcu,"
Kata Yong-tiong lebih lanjut, lalu dia mendahului menunjuk jalan.
Kembali mereka berada di lorong2 panjang yang gelap, cuman lorong di sini cukup luas, rata dan bersih, jelas lorong ini menjurus ke Ceng-liong-tong.
Yong King-tiong di depan, Kun-gi mengikut di belakangnya, Siautho dan tiga jago pedang baju hitam berada di belakang Kun-gi, tiada seorangpun yang buka suara, hanya derap langkah mereka ber-lari kecil saja yang terdengar.
Kira2 setengah li baru lorong ini berakhir, mendadak langkah Yong King-tiong diperlambat, lalu berhenti di bawah dinding, ia menekan pada sebuah sasaran di dinding, lalu terdengar suara gemuruh terbukalah sebuah pintu di tengah dinding.
Yong King-tiong mendahului melangkah masuk dengan kedua tangan melintang di depan dada, hanya beberapa langkah saja lalu dia berhenti.
Membiarkan Kun-gi, Siau-tho dan ketiga jago pedang sama masuk, lalu dia menekan pula ke dinding dua kali, pintu batu pelan2 menutup rapat pula.
Mendadak dia ayun telapak tangan terus menghantam keras2 ke tempat yang ditekannya tadi.
Maka terdengar suara keras bergema, begitu keras getaran yang terjangkit akibat pukulan itu sehingga debu beterbangan dari atap lorong.
"Alat rahasia pintu2 lorong yang menembus ke Hek-liong-tam telah lohu rusak, selanjutnya takkan bisa dibuka lagi,"
Demikian kata Yong King-tiong dengan nada rawan, lalu dia beranjak mendekati dinding sebelah kanan, pelan2 menempelkan kuping ke dinding seperti mendengarkan apa2 sekian lama, selanjutnya dia pindah ke dinding sebelah kiri, menempelkan kuping pula mendengarkan dengan seksama.
Melihat tindak-tanduk orang, Kun-gi maklum apa artinya, apalagi sepanjang perjalanan dan pengalamannya selama di lorong2 gelap itu menambah pengetahuannya, dia menduga pada dinding di kanan kiri ini pasti terpasang pintu rahasia.
Setelah mendengarkan sekian lama, mendadak Yong King-tiong mengetuk kaki dinding sebelah kiri dengan tungkak kakinya, pelan2 tangan kananpun mendorong ke depan.
Tempat di mana dia berada ternyata betul, adalah sebuah pintu rahasia, didorong pelan2 pintu batu yang tebal berat itupun terbuka.
"Tunggu sebentar Ling-kongcu,"
Ucap Yong King-tiong.
"pintu ini berputar bolak-balik, setelah lohu masuk ke sana baru boleh mendorongnya pula"
Habis bicara dia terus melangkah ke sana, pintuitupunterbalikdan menutuprapat.
Menuruti pesan orang, Kun-gi mendorong pintu serta melangkah ke sana, demikian yang lain2 satu persatu meniru orang yang duluan.
Di balik pintu sudah tentu merupakan lorong panjang pula.
Cuma lorong di sini jauh lebih sempit, sama2 gelap gulita pula.
Dengan tangan kiri mengangkat tinggi obor, tangan kanan melindungi dada, Yong King-tiong berpaling dan berkata lirih.
"Tempat ini sudah masuk daerah Ceng-liong-tong yang terlarang, banyak dipasang perangkap, keadaan sebenarnya Losiu tidak begitu jelas, maju lebih lanjut lagi setiap saat menghadapi sergapan. Kongcu genggam saja Le liong-cu, supaya cahaya mutiara itu tidak terlihat oleh orang lain, lebih baik kau menghunus pedang juga, supaya tidak menimbulkan suara."
Melihat orang berpesan dengan nada serius, pelan2 Kun-gi keluarkan pedang serta menanggalkan mutiara dan di genggam di tangannya, karena lorong di sini sempit, Ih-thiankiam terlalu panjang, maka dia memakai pedang pandak.
Sedang Siau-tho dan ketiga jago pedang juga menyiapkan pedang masing2.
Bukan saja gelap gulita, lorong yang sempit dan panjang inipun terasa sunyi lenggang.
Suara pedang terlolos dari serangka mereka menimbulkan pantulan gema yang cukup keras juga.
Maka terdengar sebuah bentakan keras berkumandang dari arah depan.
"Siapa di sana?"
"Lohu", seru Yong King-tiong, suaranya kereng dan berat, sehingga menimbulkan pantulan suara yang bergema mendengung. Makateguranorangdidepan tidak bersuaralagi. Tanpa memadamkan obor, Yong King-tiong berpaling, katanya.
"Mari ikut aku."
Cepat sekali langkah mereka, kira2 sebidikan panah jauhnya, mendadak terdengar pula bentakan lebih keras.
"Siapa yang datang? Hayo berhenti!"
Tampak selarik sinar api dengan mengeluarkan deru angin kencang meluncur tiba.
"Blup", api itu jatuh di depan kaki Yong King tiong, seketika meledak dan apipun berkobar. Itulah panah buatan khusus, nyala api amat keras dan besar sehingga jalan lorong selebar tiga kaki terbendung oleh kobaran api. Belum api padam, dari arah depan muncul seorang berpakaian hijau, tanyanya.
"Siapa kalian?"
Terpaksa Yong King-tiong berhenti, dengusnya.
"Memangnya Tang-heng sudah tidak kenal lagi pada Lohu?"
Si baju hitam melenggong, serunya.
"Apakah Yong-congkoan yang datang?"
Di bawah cahaya api, jarak dalam tiga tombak cukup terang, tapi karena teraling asap tebal sehingga sukar melihat jelas orang di seberang.
"Betul, inilah Lohu,"
Kata Yong King-tiong.
Mendengar yang datang betul Yong King-tiong, pejabat Hek-liong-tam Congkoan, kedudukannya sejajar dengan para Tongcu yang mengetuai setiap seksi, sudah tentu orang itu tidak berani ayal, lekas dia merangkap tangan menjura, katanya.
"Ham-ba tidak tahu akan kedatangan Yong-congkoan, harap dimaafkan kelalaian ini."
Habis kata2nya, kembali terdengar suara "Blub", api yanrg masih berkobar besar itu seketika padam, asap juga sirna seketika. Yong King-tiong memuji di dalam hati.
"Peralatan senjata api orang ini memang lihay."
Diam2 iapun heran, batinnya.
"Setelah mengundurkan diri dari Say-cu-kau, Cui Kinin sudah berangkat setengah jam lebih dulu, seharusnya dia sudah menyampaikan perintah untuk berjaga lebih ketat, tapi dari nada Tang Kim-seng, agaknya dia belum tahu kalau aku sudah berontak?"
Sembari membatin segera ia melangkah maju, katanya.
"Apakah Tang-heng berdinas di daerah ini?"
"Hamba diperintahkan membantu Nyo-heng di sini."
"Di mana Nyo Ci-ko sekarang"' tanya Yong King tiong.
"Hamba bertugas jaga pintu ini, Nyo-heng ada di dalam."
Dengan kalem Yong King-tiong menghampiri dan berhenti di depan orang, katanya.
"Lohu mendapat perintah kemari untuk membekuk orang, entah siapa saja yang terperangkap di dalam sana"
"Jumlahnya tidak banyak, tapi Kungfu mereka rata2 tinggi, agaknya ada Pangcu Pek-hoa-pang, cuma sekarang kita hanya berhasil mengurung mereka, belumbisa membekuknyahidup2."
"Baiklah, biar Lohu periksa di dalam,"
Kata Yong King-tiong. Terunjuk mimik serba salah pada muka Tang Kim-seng, katanya.
"Hamba mendapat kuasa dari Cui-congkam (komisaris besar) untuk melarang keras, siapapun tidak boleh masuk kecuali membawa medaliemas, Yong-congkoan....?' Tanpa menunggu orang bicara habis, Yong King-tiong lantas menukas.
"Cui-tongcu suruh aku kemari membekuk musuh, sudah tentu memberikan medali kebesarannya? Nah, lihatlah yang jelas Tang-heng', tangan kanan segera diangsurkan kemuka orang. Tak pernah terpikir oieh Tang Kim-seng bahwa orang akan bertindak mendadak, sambil mengiakan segera ia hendak menerima. Tak terduga tangan yang disodorkan ke depan tahu2 terpegang pergelangan tangannya, kelima jari Yong King-tiong telah menjepit sekeras tanggam, keruan ia berjingkrak kaget, serunya bingung.
"Yong-congkoan ....""
Yong King-tiong tahu orang ini mahir menggunakan berbagai alat rahasia yang serba berapi, lihaynya bukan main, begitu berhasil pegang urat nadi orang, segera dia kerahkan tenaga pada lima jarinya, katanya sambil tertawa ejek.
"Tang-heng tidak usah banyak bicara, ikuti saja kehendakku."
Lalu dia melangkah ke depan. Karena pergelangan tangan kanan terpegang, badan Tang Kim-seng menjadi lemas, sudah tentu tak mampu meronta lagi, terpaksa ia ikuti saja kehendak orang, katanya.
"Yong-congkoan, lepaskan peganganmu, hamba akan menunjukkan jalan bagimu."
"Tang Kim-seng,"
Jengek Yok King-tiong.
"jangan kau kira Lohu gampang dipedayai, kau dan Nyo Ci-ko adalah anak buah Cui Kinin yang diutus kerajaan sebagai cakar alap2 di sini, hayolah ikuti perintah Lohu, jiwamu masih dapat kuampuni."
Sambil bicara mereka sudah tiba di depan sebuah dinding. Yong King-tiong bertanya.
"Di balik pintu ini apakah ada orang2 Ceng-liong-tong yang jaga?"
"Sebelum terang tanah hamba baru bertugas di sini dan ada perintah jika ada orang menerjang keluar, siapapun harus dibunuh tanpa perkara, tentang keadaan di dalam, sungguh hamba tidak tahu apa2."
"Kau bicara sejujurnya?"
Yong King-tiong menegas.
"Setiap patah kuucapkan dengan sejujurnya,"
Sahut Tang Kimseng.
"Baik, Ling-kongcu, tolong kau tutuk Ah-bunhiat dan Hong-bwehiatnya,"
Pinta Yong King-tiong. Ah-bunhiat bikin orang bisu sementara, Hong-hwehiat bikin kedua lengan sementara lumpuh tak bertenaga..
"Congkoan......"
Teriak Tang Kim-seng kaget.
Belum selesai dia bicara beruntun Kun-gi sudah menutuk Hiat-tonya.
Kini Yong King-tiong berani melepaskan pegangan tangannya, ia menekan sebuah tombol, segera terdengar suara gemuruh dinding, dan lantai lorong terasa bergetar, pelan2 terbuka sebuah lubang pintu didinding.
Dengan penerangan obor Yong King-tiong menuding ke depan, bentaknya.
'Tang Kim-seng, kau di depan tunjukkan jalannya."
Karena Hiat-to tertutuk, tangan tak mampu bergerak dan mulut tak dapat bicara, sudah tentu Tang Kim-seng tidak berani bertingkah, terpaksa dia melangkah masuk ke balik pintu.
Maklum meski beberapa hiat-to tertutuk, tapi ilmu silatnya belum punah seluruhnya, kedua kaki masih dapat berjalan dengan langkah lebar dan cepat.
Semula dia masih berjalan dengan baik, tapi begitu tiba di balik pintu, langkahnya segera dipercepat, seperti serigala yang lepas dari kurungan, secepat anak panah dia melesat sejauh dua tombak.
Melihat orang mendadak lari, Yong King-tiong hanya mendengus, baru saja dia angkat tangan hendak menyusul dari kejauhan Tang Kim-seng yang sudah sejauh dua tombak itu tiba2 berkelebat ke tempat gelap, tiga bintik seperti kunang2 mendadak meluncur tiba menerjang Yong King-tiongdengan formasisegi tiga.
Sudah lama Yong King-tiong tahu bahwa senjata rahasia berapi Tang Kim-seng memang lihay, maka dia suruh Ling Kun-gi menutuk Hong-hwehiat supaya kedua tangannya tak dapat bergerak, sungguh tak pernah terpikir bahwa tanpa menggunakan tangan orangpun dapat menimpukkan senjata rahasia.
Melihat tiga bintik sinar melesat tiba, ia tak berani menyambutnya, sembari membentak keras, tangan yang sudah terayun dia tepuk ke depan.
Ke tiga bintik sinar dingin seketika tersampuk pergi dan "Ting, tring, tring."
Semuanya terpental balik memukul dinding, menyusul suara itu terdengar pula tiga kali ledakan lemah, berhamburlah kembang api dan asap tebal yang menyala didinding.
Mencelos juga hati Yong King-tiong melihat kehebatan senjata rahasia berapi Tang Kim-seng, kalau terkena badan orang tentu akan terbakar mampus.
Karena sedikit gangguan ini bayangan Tang Kim-sengpun sudah lenyap entah ke mana.
Terpaksa Yong King-tiong hanya angkat pundak saja, setelah orang banyak masuk ke lorong di balik pintu baru dia berpesan dengan suara lirih.
"Setelah kita masuk ke pintu ini, apalagi keparat she Tang itu sempat lolos, keadaan selanjutnya pasti amat berbahaya, sembarang waktu mungkin menghadapi sergapan serta berhantam sengit dengan musuh, maka kalian harus lebih waspada, lebih baik setiap orang mengambil jarak tertentu, supaya bebas bergerak."
"Kekuatiran paman memang beralasan,"
Kun-gi menyokong pendapatnya.
Dengan mengacungkan obor Yong King-tiong lantas melangkah ke depan, sebelah tangannya melintang menjaga dada, mata kuping di jaga seksama memeriksa keadaan sebelah depan.
Tak lama kemu-dian, tiba2 terdengar suara hardikan orang, disusul suara gerungan tertahan, suara gerungan itu seperti suara seorang yang tenggorokannya tersumbat sehingga susah bersuara.
"KeparatsheTang ituagaknyamengbadapi musuh,"kata Kun-gi.
"Betul,"
Sahut Yong King-tiong mengangguk. Beberapa langkah pula mereka maju, mendadak terdengar bentakan keras dari lorong depan sana.
"Yang merintangi aku mampus!"
Berbareng sesosok bayangan orang menerjang datang. Dengan mengangkat tinggi obornya Yong King-tiong memapak maju mengadangditengahjalan,bentaknya."Berhenti!"
Tapi gerak terjangan orang itu amat cepat, baru Yong King-tiong melangkah setindak mengadang di tengah lorong, orang itupun sudah menerjangtibadi depannya, keduapihak jadisaling papak.
Melihat ada orang mengadang jalan, orang itupun membentak bengis.
"Minggir!"
Tanpa tanya siapa di depannya, jari tangannya terus menutuk.
Di bawah penerangan, obor Yong King-tiong melihat jari lawan berwarnamerah menyolok, itulahHiat-ing-ci(jaribayangandarah).
Sambil tertawa dingin Yong King-tiong menyambut serangan orang sambil membentak.
"Siapa kau, kenapa main serang?" . Tutukan jari yang merah mengeluarkan desis angin kencang seketika bentrok dengan pukulan yang mengeluarkran damparan angtin pula. Mulut qpenerjang itu mrasih terus mengoceh.
"Yang merintangi aku mampus!""
Tapi badannya terpental mundur tiga langkah oleh benturan angin keras tadi.
Jarak Kun-gi dengan Yong King-tiong ada beberapa kaki, begitu mendengar bentakan kedua pi-hak, lekas dia memburu maju; teriaknya.
"Kendurkan pukulanmu paman Yong, dia orang Pek-hoapang."
Begitu berdiri tegak pula orang itu lantas membentak lagi sambil menerjang maju.
Mendengar oraug ini adalah anggota Pek-hoa-pang, Yong King-tiong bersuara tertahan dan menyingir ke samping.
Sementara Kungi sudah melompat maju mengadang di depan orang itu, teri-aknya.
"Liang-heng, lekas berhenti!". Ternyata orang ini adalah Hiat-ing-ci Liang Ih-jun. Tampak pakaiannya sudah koyak2, badannya terluka puluhan goresan pedang, kedua bola matanya merah mendelik, seperti tidak kenal Ling Kun-gi lagi, mulutnya menghardik.
"Yang merintangi aku mampus!"
Jari tengah disurung ke depan, secepat kilat jari yang berwarna merah itu menutuk ke muka Kun-gi. Baru sekarang Yong King-tiong kaget, serunya cepat.
"Orang ini sudah kehilangan ingatan, awas Ling-kongcu."
Ling Kun-gi mengegos ke samping, sebat sekali tangannya menangkap pergelangan tangan Liang ih-jun, berbareng ia berkisar memutar ke belakang orang, sementara jari tangan kanannya menutuk ke Ling-tai hiat Liang lh-jun.
tiga gerakan dia laksanakan sekaligus, bukan saja lincah dan gesit juga amat mempesona, keruan Yong King-tiong bersorak memuji.
Terpentang mulut Liang Ih-jun memuntahkan sekumur darah, pelan2 badannya menjadi lemas terus mendeprok duduk di tanah, kedua matanya terangkat dan jelilalan mengawasi Ling Kun-gi sekian lamanya, mendadak tampak secercah sinar jernih pada sorot matanya, mulutpun berteriak gi-rang.
"Cong-coh ...."
Agaknya dia hendak meronta bangun. Lekas Kun-gi menahan pundakmya, katanya.
"Liang-heng terlalu capai, setelah mengalami pertempuran sengit dan lama, kini kau lekas himpun tenaga dan pusatkan hawa murni, jangan bicara lagi."
Tapi Liang Ih-jun masih memaksa bicara dengan tersendat.
"Pangcu ....mereka ....terkurung di dalam ....alat2 rahasia . ..disini amat berbahaya."
Kun-gi mengangguk, bujuknya.
"Liang-heng tak usah banyak bicara, keadaandisini sudah kuketahui."
Liang Ih jun tahu bahwa luka2nya amat parah, kini setelah bertemu dengan Ling Kun-gi, hatipun merasa lega, maka dia tidak banyak bicara lagi, ia duduk bersemedi memulihkan kesehatan badan.
Yong King tiong menoleh kepada kedua jago pedangnya, dan memberi pesan supaya mereka berjaga disini melindungi Liang Ih-jun, jadi tidak usah ikut maju lebih lanjut.
Kedua jago pedang itu mengiakan.
'Marilah Ling kongcu,"
Ajak Yong King-tiong.
"Paman Yong,"
Ujar Kun-gi.
"maju lebih lanjut kemungkinan akan bersua dengan orang2 Pek-hoa-pang, biarlah wanpwe yang berjalan didepansupayatidak terjadisalah paham."
"Begitupun baik,"
Ucap Yong King-tiong sambil mengelus jenggot.
"tadi kalau aku tidak tahu cara memecahkan Hiat-ing-ci, hampir saja aku jadi korban."
Tanpa banyak bicara Kun-gi lantas berjalan mendahului, tempat itu kebetulan berada di belokan, beruntun membelok dua kali, beberapa tombak kemudian terdengarlah suara keresek lirih di sebelah depan.
Padahal dalam lorong gelap gulita, tapi karena KungipegangLeliong-cu, musuhditempatgelappihaksendiriditempat terang, jadi lebih jelas dan mudah disergap, maka untuk maju lebih lanjut sudah tentu harus lebih hati2.
Mendengar suara keresekan itu, Kun-gi bertambah waspada lagi, tapi begitu dia pasang kuping mendengarkan, suara itupun lenyap.
Berkepandaian tinggi nyali Kun-gi pun besar, langkahnya tidak berhenti, sekejap saja dia sudah tiba di tempat suara keresekan tadi.
Dalam keadaan gelap pancaran sinar Leliong-cu dapat mencapai tiga tombak, waktu diba pandang ke dedpan, dilihatnyaa di sebelah depban ada dinding yang mengadang.
Di sebelah kiri mepet dinding ada bayangan seorang berdiri tegak.
Orang ini berpakaian ketat warna hijau, dari kejauhan Kun-gi sudah melihat dan mengenali bahwa orang itu berseragam Hou-hoat Pek-hoapang.
Maka ia lantas bersuara lantang.
"Aku Ling Kun-gi; entah siapa di depan?"
Sambil berdiri mepet dinding, orang itu tidak hiraukan seruan Kun-gi, tetap berdiri tak bergeming seperti tidak mendengar dan melihat.
Waktu bersuara, Kun-gi sudah maju lebih dekat, dalam jarak dua tombak dia sudah melihat jelas wajah orang itu, dan bukan lain adalah Yap Kay-sian yang serombongan dengan Pek-hoa-pangcu Bok-tan, bersama Liang Ih-jun kedua orang ini bertugas melindungi Pangcu.
Tampak mukanya pucat seperti kertas, kedua mata.
terpejam, mepet dinding seperti kehabisan tenaga.
Dilihat dari pakaiannya yang koyak2 disana-sini, sekujur badan berlepotan darah, paling sedikit ada puluhan luka di badannya, jelas barusan telah mengalami pertempuran dahsyat, luka2nya amat parah dan kinitengah menghimpuntenagadan memulihkansemangat.
Diam2 Kun-gi kaget dan kuatir, dengan bekal kepandaian Liang Ih-jun dan Yap Kay-sian yang merupakan jago2 kelas utama, tapi kedua orang itu mengalami luka parah dengan puluhan luka, kalau tidakkebentur jagoahlipedang, terang merekabaru lolosdari suatu barisan pedang yang lihay.
Maka cepat2 Kun-gi memburu maju dan berteriak.
"Bagaimana lukamu, Yap-heng ...."
Mendadak dilihatnya dua gulung sinar terang meleset keluar dari bawah ketiak Yap Kay-sian, meluncur ke arah dirinya.
Waktu melesat keluar kedua gulung sinar itu hanya sebesar kacang, tapi setelah mencapai satu tombak bertambah terang dan membesar nyala apinya juga berubah biru terang.
Pandangan Kun-gi tajam luar biasa, sekilas pandang dia sudah melihat kedua gulung sinar biru ini ternyata adalah puluhan batang Bwehoa-ciam warna biru, pada setiap ekor jarum membawa percikanapiyang menyalaterang.
Pada detik2 genting itu, Yong King-tiong berseru gugup di belakang.
"Awas Ling-kongcu, itulah Ceng-ling-ciam milik Tang Kimseng, bila menyentuh benda lantas menyala."
Tapi Kun-gibergerak lebih cepatdari padaperingatannya, tangan membalik pedang pandak seketika menaburkan jaring cahaya hijau di depan badannya.
Dua rumpun Ceng-ling-ciam menyamber datang bagai kilat itu, begitu menyentuh cahaya hijau laksana bunga salju yang beterbangan tertimpa sinar matahari, seketika rontok berjatuhan.
Nyala api di ekor jarumpun seketika sirna tak berbekas.
Ternyata setiap rumpun Ceng-ling-ciam Tang Kim-seng ini berjumlah tiga puluh enam batang dengan kedua tangan menyambit bersama, dua rumpun berarti berjumlah tujuh puluh dua, jika sebatang di antaranya mengenai tubuh manusia, api akan segera berkobar, malah api yang ada pada ekor ja-rum ini sudah dibikin sedemikian rupa dengan obat beracun, bila sudah nyala, sebelum habis terbakar api tidak akan padam.
Tapi kali ini tujuh puluh dua batang Ceng-ling-ciam seluruhnya kena ditabas kutung oleh ketajaman pedang Ling Kun-gi, malah tepat kena ekor jarumnya, betapapun buas dan besar daya nyala api beracun ini, sekali tersampuk oleh hawa dingin pedang pusaka Ling Kun-giseketikapadamsendirinya.
Dalam waktu sedetik itulah Ling Kun-gi sudah melihat jelas bahwa di belakang Yap Kay-sian ada bersembunyi seorang, jelas orang yang sembunyi ini adalah Tang Kim-seng.
.Agaknya Yap Kaysian terluka parah, maka dengan mudah dia tertawan oleh Tang Kim-seng, oleh karena itulah seruannya tadi tidak terjawab.
Mengingat jiwa teman terancam bahaya, mendadak Kun-gi menghardik sekali, jari tengahnya teracung terus menutuk ke arah Yap Kay-sian dari kejauhan.
Hardikannya itu ditekan keluar dengan Lwekang, suaranya bagai halilintar menggelegar sampai Tang Kimseng merasakan kupingnya pekak mendengung, sudah tentu jantungnya serasa hampir melonjak keluar.
Pada saat itulah didengarnya pula sejalur angin tutukan mendesis kencang dan "Crat"
Mengenai dinding batu di belakang telinga kanannya, batu seketika muncrat beterbangan, terasa belakang kepalanya sakit pedas.
Ling Kun-gi memang sengaja mengincar tempat yang miring, kalau tidak jiwa Yap Kay-sian sendiripun bakarl terancam.
Tapi gertakannya ini justeru bikin Tang Kim-seng kaget bukan main, tak pernah diduganya bahwa pemuda di depannya ini memiliki kepandaian dan Lwekang setangguh ini.
Walau dalam waktu singkat ini dia berhasil membuka tiga Hiat-to yang ditutuk Ling Kun-gi tadi, tapi dikala melarikan diri tadi dalam lorong kesamplok dengan Liang Ih-jun, tanpa sengaja dia dilukai oleh Hiat-ing-ci Liang Ih-jun, maka sekarang dia merasa perlu menggunakan Yap Kay-sian sebagai tameng untuk menyelamatkan diri, malah dia membokong dengan Ceng-ling-cam yang keji.
Kini mendengar hardikan Ling Kun-gi sekeras halilintar, kepala menjadi pusing, mata ber-kunang2, ditambah angin tutukan yang menyakitkan belakang kepalanya, karena sakit dia menjadi nekat serta ber-teriak.
"Rasakan ini!"
Tenaga dia sudah kerahkan pada dua lengan, tahu2 Yap Kay-sian dia angkat terus dilempar ke arah Ling Kun-gi, berbareng dia lantas mengegos ke samping dan baru sajakeduatanganbergerakhendak menimpuk......."
Melihat Tang Kim-seng betul2 terjebak oleh tipu dayanya, Yap Kay-sian dilemparnya, sementara lawan lantas mengegos ke pinggir, keruan hatinya senang, dengan tangan kiri Kun-gi menahan ke depan menyambut badan Yap-Kay-sian yang melayang datang, tangan kanan menyusul menepuk sekali, segulung angin pukuian segera menerjang ke arah Tong Kim-seng.
Kejadian ini berlangsung singkat dan cepat, Tang Kim-seng baru mengegos ke pinggir dan hendak menggerakkan kedua tangan, mendadak dirasakan segulung tenaga keras menerjang dirinya, tadi ia sudah merasakan kelihayan tutukan jari Ling Kun-gi, sudah tentu menghadapi gelombang pukulan orang dia sekali2 tak berani manyambutnya dengan keras, tak sempat lagi dia keluarkan senjata apinya dia berkisar ke sebelah kanan terus menyurut mundur.
Sementara itu tangan kiri Kun-gi sudah ber-hasil menyambut badan Yap Kay-sian, tapi begitu dia menyambut badan Yap Kay-sian, Kun-gi tertegun, seketika itu pula hawa amarahnya berkobar.
Ternyata badan Yap Kay-sian yang disambutnya itu sudah dingin kaku, hanya sesosok mayat belaka.
Biarpun Ling Kun-gi tidak berniat menjadi Cong-houhoat Pek-hoa-pang, tapi dia pernah bekerja dan menduduki jabatan itu, Yap Kay-sian adalah Hou-hoat Pek-hoa-pang, jelek2 anak buahnya.
Bukan saja soal dinas, persahabatan mereka sudah terjalin dengan baik dan akrab, adalah pantas dan menjadi kewajibannya untuk menuntut balas kematian Yap Kay-sian.
Sekejap itu mata Ling Kun-gi mendadak mencorong terang, tangan kiripun dia tarik mundur terus diangkat tinggi lurus ke atas kepala, lalu pelan2 bergerak menurun lalu didorong ke depam.
Tang Kim-seng yang mengegos tadi berhasil menghindarkan diri dari pukulan Ling Kun-gi, serentak dia ayun kedua tangan, dari bawah lengan bajunya tiba2 melesat keluar puluhan jalur sinar perak.
Itulah tiga belas batang anak panah pendek warna putih perak, kelihatannya seperti rantai perak, secara beruntun meluncur keluar dari lengan bajunya, daya luncurnya keras sekali, tapi belum seberapa jauh luncurannya mendadak berubah lam-ban.
Setelah yang di depan menjadi lamban, yang di belakang menyusul, tiba juga ikut bergerak lamban.
Maka tiga belas batang anak panah pendek itu kini berjajar menjadi satu baris berhenti di udara, seperti kebentur oleh sesuatu dan tak mampu maju lagi..
Rupanya ketiga belas batang anak panah itu terbendung oleh tenaga pukulan Mo-ni-in yang di-lancarkan Ling Kun-gi, tenaga yang tidak kelihatan tahu2 menindih tiba bagai gugur gunung dahsyatnya mendadak ketiga belas anak panah Ginling-cian itu memutar balik terus meluncur kembali menyerang Tang Kim-seng malah.
Kekuatan atau daya bakar Cinling-cian berpuluh kali lebih besar dari Ceng-ling ciam, sudah tentu panah perak berapi inipun bisa menimbulkan daya bakar yang luar biasa.
Melihat Ginling-sian menemui rintangan dan tak mampu melukai musuh, Tang Kim-seng sudah merasakan gelagat jelek, kini melihat senjata putar balik hendak makan tuannya, keruan ia semakin gugup, dia hendak berkelit, namun tidak sempat lagi, dengan menjerit keras ia roboh ke belakang.
Waktu pukulannya berhasil menghantam mampus Tang Kim-seng, sementara tangan kiri Ling Kun-gi sudah menurunkan jenazah Yap Kay-sian, sesaat lamanya dia periksa dengan seksama, ternyata sekujur badan Yap Kay-sian terdapat delapan belas goresan luka pedang, luka2 tabasan yang paling berat dan menyebabkan kematiannya terletak pada pinggang kanannya, begitu dalam tabasan pedang di sini sehingga mencapai lima dim.
Dari sini dapat dibuktikan bahwa Yap Kay-sign sebetulnya tidak mati di tangan Tang Kim-seng, tapi Tang Kim-seng adalah cakar alap2 kerajaan dengan senjata rahasia jahat yang berapi, manusia jahat seperti ini memang pantas menemui ajalnya oleh senjata keji sendiri.
Yong King-tiong maju mendekat, katanya setelah memeriksa jenasah Yap Kay-sian.
"Apakah dia juga orang Pek-hoa-pang?"
Dengan prihatin Kun-gi menjawab.
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 11
Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 4