Eps 9 Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL
Baca online Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL
Cersil Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL.
"Trang", kedua pedang saling bentur dengan keras, si baju hijau tetap berdiri tidak bergiming di tempatnya, sebaliknya Kong-sun Siang merasakan lengan kanannya kesemutan pegal dan menyurut mundur. Sejak keluar kandang dan mengembara di Kangouw, kecuali pernah dikalahkan oleh Ling Kun-gi, baru sekali ini dia benar2 mengalami kekalahan dan berhadapan dengan musuh tangguh. Watak Kongsun Siang memang tinggi hati, hanya segebrak lantas dipukul mundur, selebar mukanya seketika merah membara, begitu mundur segera ia menubruk maju pula, beruntun dia menyerang tiga jurus. Tiga jurus ini merupakan tipu serangan Thianlong-kiamhoatnya yang paling lihay, sinar pedang menyambar bagai ular sakti. Si baju hijau hanya tertawa ejek saja, pedang lebar ikut bergerak tiga jurus untuk membendung dan mematahkan serangan musuh, sementara tangan kiri bergerak melancarkan tipu merebut pedang lawan, pergelangan tangan kanan Kongsun Siang yang memegang pedang segera dicengkeramnya. Ilmu silat orang ini ternyata amat aneh dan luar biasa, permainannya kelihatan kasar dan sederhana, tapi setiap gerak serangan justru mengandung tipu yang lihay dan mematikan, terutama gerakan merebut pedang lawan, kelihatan lucu dan aneh, tampaknya kombinasi dari Kim-na-jiu dan Kong-jiu-jip-pek-yim, ilmu menangkap dan rebut senjata dengan bertangan kosong, Kongsun Siang didesaknya sedemikian rupa sehingga tak mungkin melawan dengan gerakan lain. Kalau Kongsun Siang tidak mundur, pedang di tangannya pasti terampas oleh musuh. Bahwa tiga serangan pedang Kongsun Siang semuanya kena dipatahkan oleh pedang lebar lawan, kini tangan lawan yang lain juga mencengkeram ke arahnya, semua ini membuatnya naik pitam, mendadak kakinya menendang tangan lawan yang menjulur tiba itu. Untunglah pada saat yang gawat itu didengarnya desiran lirih serta didengarnya seseorang berkata ditelinganya.
"Lekas mundur Kongsun-heng!"
Kongsun Siang tahu itulah suara Ling Kun-gi yang memberi petunjuk untuk menyelamatkan diri, tapi kakinya sudah kadang melayang, untuk ditarik turun sudah tidak mungkin, maka tangan si baju hijau begitu tersentuh, kaki Kongsun Siang, kelima jarinya segera mencengkeram, tetap mengincar pergelangan tangan Kongsun Siang, malah gerakannya bertambah cepat karena dorongan tendangan kakinya sendiri.
Kongsun Siang sendiri merasa kakinya kesakitan karena dirasakan seperti menendang batang-an besi, sementara tangan kiri lawan sudah memegang gagang pedangnya, Kejadian terlalu cepat dan masing2 pihak tidak sempat berpikir, tatkala itu kelima jari si baju hijau sudah tertekuk hendak memegang pedang lawan, tiba2 dirasakan sesuatu benda menyesap ke telapak tangannya, secara otomatis ia menggegamnya dan seketika dia merasakan kesakitan pada telapak tangannya, lekas dia menunduk dan membuka telapak tangan, ternyata yang dia pegang bukan gagang pedang, tapi adalah sebuah duri gantolan yang semula berada di jaring raksasa tadi.
Betapa runcing dan tajam duri gantolan yang terbuat dari besi ini, karena digenggam, ujungnya yang runcing sudah menusuk kulit dagingnya, darah segar mengalir deras dan menetes dari sela2 jarinya.
Sementara itu Kongsun Siang sudah melejit mundur..
Kalem seperti tidak terjadi apa2 dan seperti tidak merasa kesakitan, pelan2 si baju hijau angkat kepala mengawasi Ling Kun-gi.
"Perbuatanmu bukan?' Kun-gi tertawa, katanya.
"Kusaksikan pedang temanku bakal terampas orang, maka sekadar kubantu dia, kukira toh tiada salahnya? Apalagi Cayhe tidak bermaksud melukai orang, asal tuan tidak mencengkeram dengan kencang, telapak tanganmupun takkan terluka."
"Bagus", desis si baju hijau.
"babak ini belum berakhir, kini kaulah yang maju saja."
Dalam pada itu, Ci Hwi-bing dan si baju hijau di sebelah kiri tampak sedang bicara bisik2. Lalu terdengar si baju hijau sebelah kiri berseru.
"Lo-ji, kau mundur, biar aku yang menghadapi Conghou-hoat-su-ciadariPek-hoa-pang ini."
Kun-gi tertawa lantang, katanya.
"Tuan mau memberi petunjuk, sudah tentu akan kuiringi, tapi satu hal perlu kau ketahui, kini Cayhe bukan lagi Cong-su-cia Pek-hoa-pang segala "
Si baju hijau di sebelah kiri tampak melengak heran, tanyanya.
"Mengapa kau bukan Cong-su-cia Pek-hoa-pang lagi?"
"Soal ini tiada sangkut pautnya dengan urusan sekarang, tak perlu Cayhe menjelaskan."
"Kenapa Tunheng percaya akan obrolannya?"
Demikian sela Ci Hwi-bing.
"kalau dia bukan lagi Cong-su-cia Pek-hoa-pang, buat apa dia meluruk kemari?' Dengan sikap sungguh2 Kun-gi berkata.
"Sekali orang she Ling bilang bukan, ya tetap bukan, memangnya persoalan ini harus diperdebatkan?"
Jelilatan sinar mata Ci Hwi-bing, tanyanya.
"Tentunya ada alasannya?"
"Tiada alasan apa2, yang terang Cayhe sudah bosan bekerja."
Berputar bola mata Ci Hwi-bing, katanya.
"Kalau benar kau sudah keluar dari Pek-hoa-pang, berarti tiada bermusuhan dengan Hekliong-hwe kami, asal tuan suka turunkan senjata, Hwecu ka-mi malahinginmengundangmu,untukiniakubisa menjadiperantara."
"Memang, Cayhe ingin menemui Hwecu kalian, entah cara bagaimana Ci-tongcu hendak mempertemukan Cayhe dengan dia?"
Semakin lebar senyum Ci Hwi-bing, ucapnya.
"Sebelum jelas maksud kedatanganmu, terpaksa menyusahkanmu dulu, letakkan senjata dan kututuk beberapa Hiat-tomu, habis itu baru kubawa kau menghadap Hwecu."
"Cong-coh,"
Seru Ting Kiau.
"jangan kau tertipu olehnya, bukankahcara ituberarti menjaditawanan musuh?"
"Jangan salah paham Ling-lote,"
Kata Ci Hwi-bing.
"itulah salah satu prosedur bagi orang luar untuk menghadap Hwecu. Terus terang setiap orang yang mau menghadap Hwecu, kedua tangannya harus dibelenggu rantai emas untuk menjaga segala kemungkinan, tapi Ling-lote adalah orang satu2nya yang ingin ditemui Hwecu, maka aku berani ambil putusan sendiri, hanya beberapa Hiat-tomu yang ditutuk dan kedua matamu ditutup, dihadapan hwecu nanti mungkin aku akan disalahin malah."
Kun-gi tersenyum sinis, katanya.
"Terima kasih akan kebaikan Citongcu, maksud kedatanganku ini memang ingin menemui Hwecu kalian, tapi bukan begitu caraku menemuinya."
Si baju hijau di sebelah kiri mendengus, katanya.
"Orang ini begini congkak, tak usah Ci-tongcu banyak omong padanya lagi, biar kubekuk dia dan gusur ke hadapan Hwecu."
Ci Hwi-bing mengerut kening, dengan lirih dia membisiki si baju hijau di sebelah kirinya. Tampak si baju hijau sebelah kiri mendongak, sambil ngakak, katanya.
"Ci-tongcu tak usah kuatir, setelah dia masuk ke Hwi-liongtong, memangnya dia bisa terbang ke langit?"
Kun-gi membatin.
"Kiranya tempat ini memang benar Hwi-liongtong."
Sementara itu si baju hijau sebelah kiri telah turunkan sebatang pedang yang berbadan lebar dari pundaknya, dengan tajam ia tatap Kun-gi, katanya dengan membusungkan dada.
"Kabarnya kau murid Hoanjiu-ji-lay, orang she Tun ingin belajar beberapa jurus padamu."
Melihat usia orang belum terlalu tua, tapi sorot matanya ternyata mencorong terang, jelas memiliki Lwekang tinggi. Maka dengan sabar Kun-gi berkata.
"Minta belajar tidak berani, kalau tuan memang menantang berkelahi, pasti Cayhe mengiringi keinginanmu tapi sebelum turun tangan, lebih dulu ingin Cayhe mohon tanya siapa panggilan kalian berdua?"
"Ya, kenapa aku lupa memperkenalkan kalian,"
Sela Ci Hwi-bing.
"inilah Hwi-liong-tong Hutongcu kita Tun Thiankhi, dan inilah komandan ronda Hwi-liong-tong Tun Thianlay."
Ling Kun-gi mengangguk, katanya.
"Beruntung dapat berkenalan disini, kalianadalah murid Thiansanpay bukan?"
Tun Thiankhi dan Tun Thianlay sama menggunakan pedang panjang yang berbadan lebar, ter-utama setelah melihat gaya permainan pedang Tun Thianlay tadi mirip sekali dengan jurus2 ilmu Thiansanpay, di kalangan Bu-lim hanya ilmu pedang Thiansanpay pula yang kelihatannya sederhana tapi setiap gerakannya mengandung intisari ilmu pedang dari berbagai aliran yang paling tinggi.
Apalagi ke dua orang ini sama she Tun, mungkin sekali adalah angkatan muda atau keponakan Thiansan tayhiap Tay-mosintiau Tun Kui-ih.
Terlihat Tun Thiankhi menarik muka dan menjawab.
"Dari aliran mana kami orang she Tun, tiada sangkut-pautnya dengan adu pedang ini, lekas keluarkan senjatamu."
Kun-gi tertawa, katanya.
"Ih-thiankiam milikku ini tajam luar biasa, membacok emas seperti mengiris tanah, memotong besi seperti merajang sayur, kau harus hati2."
Sembari bicara, pelahan2 terloloslah sebatang pedang panjang yang memancarkan sinar dingin kemilau. Sekilas Tun Thiankhi pandang pedangnya, jengeknya.
"Pedang itu memang amat bagus, entah bagaimana pula kemahiranmu menggunakannya?"
Mendadak ia melangkah setapak, pedang lebar ditangannyapun terus membacok.
Pedang lebar ini besarnya kira2 sama dengan telapak tangan anak kecil, bacokan lurus dari depan menandakan gerakan yang sederhana, tidak cepat, tak kelihatan di mana letak keanehannya, tapi bacokan ini justeru membawa deru angin yang kencang berpusar.
Tidak sedikit ahli2 pedang yang pernah dihadapi Ling Kun-gi, tapi belum pernah dia berhadapan dengan serangan pedang yang begini hebat, diam2 ia terkejut, batinnya.
"Agaknya dia sudah memperoleh ajaran murni dari Thiansankiam-hoat."
Secepat pikirannya bekerja, tangan terangkat pedangpun bergerak, dia lancarkan jurus Liongjiau-hoat-hun (cakar naga menyingkap mega), ujung pedang sedikit mendongakterus menyampuk ke depan.
"Trang", kedua pedang saling bentur, mendadak terasa oleh Kungi dari badan pedang lawan merembes keluar segulung tenaga kuat sehingga pergelangan tangannya tergetar kesemutan. Kalau orang lain, hanya sekali benturan ini tentu pedang akan tergetar lepas dari cekalannya, kini pedang Tun Thianlay malahan tersampuk minggir oleh pedang Kun-gi. Berubah air muka Tun Thianlay, tanpa bersuara kembali pedangnya menabas miring. Menabas adalah gerakan miring yang tidak mengandung gerakan variasi, tapi Kun gi sudah dapat merasakan tabasan lawan ini membawa tenaga yang hebat. Tanpa pikir Kun-gi melompat ke atas setinggi dua tombak. Begitu tabasan pedangnya luput, sekaligus Tun Thianki berputar, dengan landasan kekuatan menabas tadi, pedang lebarnya terayun balik ke atas. Di luar tahunya bahwa Ling Kun-gi tengah melancarkan jurus Sinliong-jut-hun, badannya harus melambung tinggi ke atas, ketika pedang lebar itu membalik ke atas, sementara Kun-gi yang meluncur tinggi ke atas itu mulai menukik balik, dengan kepala di bawah dan kaki di atas, yang satu menyerang turun, yang lain menerjang naik ke atas, betapa cepatnya serang menyerang ini, maka terdengarlah dering nyaring benturan kedua pedang, bagai bunyipetasanrenteng, suaranyasemakin keras memekak telinga. Cepat Tun Thiankhi mundur beberapa langkah, dilihatnya pedang lebar miliknya yang terbuat dari baja murni yang biasanya khusus untuk mematahkan senjarta lawan, mata pedangnya kini ternyata gumpil beberapa tempat. Mendadak ia berseru.
"'Mundur!"
Segera ia putar tubuh terus lari masuk pendopo.
Ci Hwi-bing, Tun Thianlay begitu mendengar seruannya juga lantas mengundurkan diri.
Agaknya kelima laki baju hijau itupun sudah terlatih baik, gerak gerik merekapun cekatan, cepat merekapun menghilang masuk ke dalam pendopo.
Delapan lampu kaca dipendopopun seketika padam.
Kun-gi bertiga seketika merasakan keadaan sekelilingnya gelap gulita, orang2 yang mundur ke pendopo dalam sekejap mata saja telah lenyap entah kemana.
Ting Kiau ingin mengudak, tapi karena Kun-gi tetap diam saja di tempatnya, makatakenakdiabertindak sendiri.
Kongsun Siang juga telah memburu maju, katanya lirih.
"Musuh mundur sebelum kalah, mungkin untuk mengatur muslihat."
Kun-gi manggut2, katanya.
"Ucapan Kongsun-heng masuk akal, mari coba2 kita periksa."
Dengan mengacung tinggi mutiara di atas kepala dia menaiki undakan itu.
Saat itu mereka berada dalam gua di perut gunung, tapi orang2 Hwi-liong-tong telah membangun tempat ini sedemikian rupa sehingga hampir saja mirip pekarangan dan ruang pendopo umumnya.
Tadi mereka bertempur di pekarangan, maka kini mereka memasuki ruang pendopo.
Setelah melampaui tiga tingkat undakan batu, mereka menyusuri serambi panjang yang lebar, tepat di depan mengadang enam pintu batu yang diukir dengan hiasan warna warni, tapi semua pintu terpentang lebar.
Kun-gi mendahului masuk ke pendopo, hanya beberapa langkah segera berhenti, dengan pancaran sinar mutiara dia memeriksa keadaan pendopo itu.
Kiranya ruang pendopo atau kamar batu ini luasnya kira2 ada sembilan tombak, kecuali sebuah meja batu panjang tepat di tengah ruangan ada dua baris kursi batu putih disisi kanan-kirinya, tiada lainbenda lagidalampendopo ini, keadaankosong dangelap.
Pancaran sinar mutiara di tangan Kun-gi hanya mencapai tiga tombak jauhnya, tapi dengan bantuan pancaran sinar yang redup ini Kun-gi dapat melihat keadaan sekelilingnya yang lebih jauh lagi, kiranya pendopo ini dikelilingi dinding2 batu yang tinggi dan licin, tiada kelihatan bekas2 pintu rahasia disekelilingnya.
Jelas Ci Hwi-bing dari anak buahnya tadi masuk ke tempat ini, tapi jejak mereka menghilang di sini, maka Kun-gi menduga pasti adapinturahasiadidalamruang pendopo ini.
Kongsun Siang ikut masuk dan berhenti di belakang Kun-gi, katanya keheranan.
"Tiada pintu dalam pendopo ini, pasti dipasang alat2 rahasia. Ting-heng, mari kita periksa bersama, supaya tidak terjebakoleh muslihat mereka."
Ting Kiau merogoh ketikan api dan menyalakan obor kecil yang selalu dibawa oleh setiap insan persilatan, katanya.
"Ya, mari kita periksa bersama."
Kongsun Siang juga mengeluarkan obor kecilnya.
Dengan menyalanya kedua obor kecil ini, maka keadaan pendopo bertambah terang.
Tampak dinding, lantai dan meja kursi semuanya terbuat dari batu hijau yang digosok licin meng-kilap laksana kaca, dengan seksama kedua orang berpencar memeriksa tiga arah dinding batu yang kemilau oleh sinar obor mereka, setiap sudut, setiap jengkal lantai yang berlapis batu hijau itu dan tetap tak berhasil mereka temukan apa2.
Obor di taugan Ting Kiau akhirnya menjadi guram karena makin pendek, dengan kecewa dia buang obornya sambil berkata gegetun.
"Setelah menghadapi kenyataan baru terasa kekurangan, sampai hari ini baru aku betul2 menyadari kenapa dulu tidak belajar lebih rajin dan tekun kepada guru, kini menyesalpun telah kasip."
Menyusul obor Kongsun Siang juga padam, katanya pula.
"Agaknya alat2 rahasia di sini diciptakan oleh seorang yang betul2 ahli, dengan pengetahuan kita yang cetek ini tak mungkin bisa menyelami letak kuncinya."
Kedua obor sudah padam, tinggal cahaya mutiara di tangan Kungi saja, maka keadaan pendopo kembali menjadi remang2. Kata Kun-gi.
"Kalautak ketemu, takperlu kitasusahpayah mencarinya."
"Tapi jalan mundur sudah buntu, memangnya kita harus diam saja terkurung di sini,"
Kata Ting Kiau.
"Mereka mundur sebelum kalah, jelas musuh punya rencana keji, mumpung ada waktu, sebaiknya kita istirahat mengumpulkan tenaga dulu,"
Ujar Kun gi, pelan2 dia menghampiri kursi batu dan duduk di sana.
"Sikap tenang Ling-heng ini sungguh mengagumkan, betapapun aku bukan tandinganmu,"
PujiKongsun Siang. Kun-gi tersenyum, katanya.
"Sejak kecil guruku sudah mendidikku, setiap kali menghadapi kesukaran, kepala harus dingin dan pikiran tetap jernih, supaya kita sendiri tidak kelabakan kehabisan tenaga '' Sampai di sini tiba2 dia pakai ilmu gelombang suara.
"Setiap saat kemungkinan musuh akan menyerang kita, harus selalu waspada, Kongsun-heng, Ting-heng, kalian boleh ambil posisisendiri2, tanpaisyaratkujangansembarangan bertindak."
Kongsun Siang dan Ting Kiau mengiakan.
Kun-gi keluarkan kantong sulam pemberian Un Hoankun, dia keluarkan sebuah botol porselen kecil dan menuang dua butir Jingsin wan dan dibagikan kepada kedua orang, lalu menambahkan dengan ilmu suara.
"Inilah Jing-sinwan bikinan Ling-lam, khusus untuk menawarkan segala macam obat bius dan dupa wangi yang memabukkan, kulumlah dalam mulut kalian." ' Setelah terima pil itu dan dikulum dalam mu-lut, Kongsun Siang dan Ting Kiau lantas mundur berpencar menempati posisi di kirikanan, mereka berjongkok di belakang kursi. Kejap lain Kun-gi masukkan mutiara ke dalam sakunya sehingga ruang pendopo itu menjadi gelap gulita, kelima jari sendiripun tidak kelihatan, begitulah mereka berdiam diri kira2 setanakan nasi, keadaantetapsunyi,tiadasesuatureaksiapa2daripihak musuh. Akhirnya Ting Kiau buka.suara.
"Cong-coh, agaknya musuh sengaja hendak kurung kita di sini, selama tiga hari saja cukup membikin kita kelaparan dan kehabisan tenaga, betapa kita kuat melawan mereka?"
"Tidak mungkin,"
Kata Kun-gi.
"tempat ini sudah merupakan daerah penting Hwi-liong-tong, bahwa selama ini mereka tidak bergerak mungkin karena tengah menghadapi pertempuran terbuka di depan sana dan tenaga tidak mencukupi untuk mengurus kita, dan terpaksa kita dikurung di sini untuk sementara, tapi peduli mereka kalah atau menang, kukira waktunya tidak akan terlalu lama lagi."
"Menurut pendapatku,"
Demikian Kongsun Siang ikut bersuara.
"bahwa selama ini mereka belum bertindak, pasti ada sangkut pautnya dengan Ling-heng."
"Berdasarkan apa pendapat Kongsun-heng ini?"
Tanya Kun-gi..
"Apa yang pernah diucapkan Nao Sam-jun di Gu-cu-ki tempo hari tentunya Ling-heng masih ingat, dia pernah bilang asal Ling-heng sudi menyerah atau mau bekerja demi kepentingan Hek-liong-hwe, kalau Pek-hoa-pang bisa memberi kedudukan Cong-su-cia, maka Hek-liong-hwe juga sanggup memberi jabatan Cong-houhoat kepadamu."
"Soal ini sudah tentu masih kuingat,"
Ucap Kun-gi.
"Baru saja kita tiba di Ui-lionggiam, musuh lantas meluruk dari tiga arah mengepung kita, dalam keadaan yang buruk itu Ci Hwibing masih membujuk Ling-heng supaya bekerja untuk Hek-liong-hwe, akhirnya terjadilah pertempuran sengit, Cap ji-sing-siok Hekliong-hwe berhasil kita tum-pas habis, Lansat-sin Dian Yu-hok, Ping-sin Tok-ko Siu juga melayang jiwanya, malah Ui-liong-tongpun telah kita ledakkan, hanya Ci Hwi-bing seorang saja yang lolos dari renggutan elmaut, peristiwa besar ini sebetulnya merupakan pukulan berat baginya, terhadap Ling-heng mestinya dia amat benci dandendam...."
"Ya, betul, adalah layak kalau dia membenciku,"
Ujar Kun-gi.
"Tapi tadi waktu Ling-heng membobol jaring kawat baja dan Ci Hwi-bing muncul, sikapnya tak nampak bermusuhan terhadap Lingheng, malah dia tetap membujuk Ling-heng bekerja sama dan mau membawamu menemui Hek-liong-hwecu. Dari sini dapatlah disimpulkan bahwa Hek-liong-hwe Hwecu memandangmu terlalu penting, kukirapastiadapesannyakepadaanakbuahnya."
Kun-gi tertawa, katanya.
"Dalam hal apa diriku ini sampai dipandang begitu penting oleh mereka?"
Dalam hati dia membatin.
"Pasti lantaran aku bisa menawarkan getah beracun itu."
"Menurut rekaanku;"
Dernikian ucap Kongsun Siang lebih lanjut.
"Hek-liong-hwe mungkin merasa segan dan tak berani berbuat salah terbadap guru Ling-heng, atau mungkin ada sebab lainnya. Tapi Hek-liong-hwecu ingin secepatnya merangkul dan menarik hati Lingheng, hal ini kukira tidak perlu disangsikan lagi."
Ia merandek sebentar, lalu melanjutkan lagi.
"setelah Ling heng masuk kemari, jaring baja mereka tak berguna, Tun Thian khi sendiri juga sadar dirinya bukan tandinganmu, maka lekas dia mengundurkan diri, kini kitadikurung di tempatini...."
"Analisa Kongsun-heng cukup jelas,"
Timbrung Ting Kiau.
"tapi apa pula tujuan mereka mengurung kita di sini?"
"Ruang pendopo ini pasti ada dipasang perangkap yang amat lihay, walau mereka telah mengurung Ling-heng, agaknya Ci Hwi-bing dan Tun Thiankhi tak berani bertindak sendiri, maka mereka merasa perlu untuk menghadap Hwecu mereka dan minta petunjuknya, jika perintah Hwecu mereka belum sampai di sini, pasti merekatakkan beranisembarang bertindak."
Ting Kiau menepuk paha, serunya tertawa.
"Betul, marilah kita tunggu perintah Hek-liong-hwecu, mau perang atau akan damai, sebentar akan kita ketahui."
Di kala mereka bicara itulah, mendadak Kun-gi merasakan adanya serangkum bau aneh yang merangsang hidungnya, kepala seketika terasa pening dan berat, tergerak hatinya.
"Tepat dugaanku, mereka mau menggunakan dupa bius untuk merobohkan kami bertiga."
Kejadian memang aneh, baru saja hidungnya mengendus bau wangi yang memabukkan dan bikin kepalanya pening, kantong sulam yang tergantung di depan dadanya seketika juga menguarkan bau wangi yang semerbak sehingga kapalanya yang pening seketika sirna, pikiran jernih dan badan segar.
Diam2 Kun-gi merasa kagum dan membatin.
"Keluarga Un dari Ling-lammemangtidak malusebagaicakalbakalahliobatbiusyang telah turun temurun sejak kakek moyang mereka, botol porselen yang hanya tertutup gabus berlubang biasanya tidak pernah menguarkan bau apa2, tapi begitu dupa bius merangsang, obat penawaryangterisidalambotolseketikapulaunjuk khasiatnya."
Karena mutiara sudah tersimpan dalam kantongnya, maka ruang pendopo itu gelap gulita, keadaan sekelilingnya menjadi tidak jelas, tapi Kun-gi yakin bahwa dupa bius itu sudah memenuhi seluruh ruang pendopo, karena terasa juga olehnya bau harum segar dari kantong sulamnya itu terus merangsang keluar.
Kongsun Siang dan Ting Kiau berpencar di kanan-kiri, masing2 duduk di bawah kursi, jadi tiga orang berposisi segi tiga, kini merekapun sudah mengendus bau dupa memabukkan itu, maka terdengar Ting Kiau bersuara heran, katanya.
"Cong-coh, kau sudah menciumbukan? Bau dupa ini agakganjil?"
Dengan menahan suara Kun-gi berkata.
"Musuh tengah melepaskan asap dupa wangi yang memabukkan, Ting-heng jangan bersuara, nanti kalau ada orang masuk kalian harus pura2 rebah terbius, jangan turun tangan secara serampangan, dengarkan tanda tertawaku "
Kongsun Siang berdua mengiakan.
Kira2 setanakan nasi lagi, bau dupa dalam pendopo semakin tipis dan akhirnya sirna.
Maka dari arah dinding sebelah timur berkumandang suara gemuruh, mendadak dinding yang rapat itu merekah buka, tapi hanya segaris sempit saja.
Dikala suara gemuruh mulai berkumandang, Kongsun Siang dan Ting Kiau lekas2 merebahkan diri, mereka mendekam di bawah kursi dengan waspada.
Kejadian berlangsung hanya sekejap saja, setelah suara gemuruh berhenti dan dinding sedikit terbuka itu, keadaan menjadi hening pula, tak kelihatan ada orang masuk.
Agaknya musuh tahu diri, karena belum jelas keadaan di dalam mereka tak berani masuk.
Beberapa kejap lagi, mendadak sinar lampu yang terang menyilaukan rata menyorot masuk dari sela2 dinding yang terbelah itu, pendopoyangsemulagelapgulita menjaditerangbenderang.
Kun-gi duduk bersandar kursi, diam tak bergerak seperti lemas lunglai.
Maka terdengar suara Ci Hwi-bing dari belakang dinding.
"Bagaimana keadaan di dalam?"
Seorang menjawab.
"Lapor Tongcu, hanya kelihatan orang she Ling duduklemas di kursi, agaknyasudahterbiussemaput."
"Dua yang lain bagaimana?' tanya Ci hwi-bing.
"Tidak kelihatan, mungkin sudah rubuh di lantai, teraling oleh kursi,"
Sahut orang itu.
"Baiklah, coba kalian masuk memeriksa"
Perintah Ci Hwi-bing.
Ternyata sela2 dinding itulah pintunya, pintu terbuka agak lebar, dua sosok orang berkelebat masuk dari balik dinding langsung mendekati mereka..
Melihat pintu sudah terbuka, sementara dua orang musuh sudah melangkah masuk, maka Kun-gi tidak tinggal diam lagi, mendadak dia tertawa ngakak sambil melompat bangun terus menerjang ke arah pintu.
Ilmu silat kedua orang yang masuk ternyata cukup tinggi, begitu Kun-gi menerjang maju merekapun segera siap siaga, keduanya mundur setengah langkah.
"Sret, sret", dua batang pedang hitam mereka membabat bersilang berusaha menahan lawan. Kun-gi ayun tangan kanan secepat kilat dia menepuk sekali, segulung tenaga pukulan seketika menahan gerakan pedang lawan sebelah kanan, berbareng tangan kiri mencengkeram lengan orang di sebelah kiri terus ditarik, sebat luar biasa ia terus meluncur ke depan memberesot lewat di tengah kedua musuh dan memburu ke arah pintu. Kongsun Siang dan Ting Kiau mendengar gelak tawa Ling Kun-gi, berbareng merekapun melompat berdiri. Sekali tubruk Kongsun Siang menerjang orang di sebelah kiri, berbareng pedangnya menusuk. Ting Kiau juga tidak kalah cepat dan tangkasnya. belum lagi dia menerjang tiba, kipas lempitnya sudah bekerja menggaris melintang dengan membawa deru angin mengincar muka orang di sebelah kanan. Sebetulnya kepandaian silat kedua orang yang masuk ini cukup lumayan, walau tidak mampu menghalangi Ling Kun-gi, tapi dikala Kongsun Siang dan Ting Kiau menubruk, tiba merekapun sudah bersiap menyambut serangan mereka. Bahwasanya gerakan Ling Kun-gi tadi memang cepat luar biasa dan secara mendadak maka dalam segebrak dia dapat bikin kedua lawannya menyingkir serta menerjang lewat, sayang sekali ketika dia hampir mencapai pintu batu mendadak dilihatnya bayangan seorang tinggi besar mengadang di depan pintu. Sebelum lawan turun tangan menyerang Kun-gi sudah mendahului melontarkan pukulan kilat menghantam dada lawan.
"Blang", dengan telak telapak tangannya memukul dada lawan. Tapi Kun-gi sendiri merasa telapak tangannya tergetar pedas kesakitan, ternyata pukulannya seperti memukul pada batu yang keras, keruan kejutnya tidak kepalang. Waktu dia mendongak dan melihat lebih jeias, kiranya bayangan orang yang muncul di depan dan mengadang jalannyu adalah patung batu yang tinggi besar. .Karena sedikit teralang ini, pintu batu yang hanya terbuka sedikit itu cepat sekali sudah menutup lagi, sorot lampupun padam sehingga keadaan di ruang pendopo kembali menjadi gelap gulita. Begitu keadaan menjadi gelap, kedua orang yang lagi bertempur dengan Kongsun Siang dan Ting Kiau segera pura2 menyerang, habis itu terus melompat mundur. Pada hal pintu batu sudah tertutup, jelas tiada jalan lain untuk melarikan diri. Maka Kongiun Siang menghardik.
"Mau lari ke mana kalian?"
Pedang berpindah ke tangan kiri terus menyalakan api, lalu cepat2 dia pindahkan pula pedang di tangan kanan, tangan kiri mengacungkan tinggi kertas yang terbakar di atas kepala.
Pada saat yang sama Ting Kiau juga telah menyalakan api, serempak mereka lantas mengudak ke pojokan sana, tampak kedua orang berbaju hijau itu telah melambung ke sebuah lubang besar dipojok atap sana, sekali berkelebat bayangan merekapun lenyap, cepat sekali lubang besar itupun tertutup kembali dan tidak kelihatan adanya bekas apa2.
Barulah sekarang mereka maklum bahwa asap dupa tadi kiranya dilepas dari lubang besar di atas atap ini.
Ting Kiau mencak2 gusar.
"Kunyuk itu berhasil lolos lagi."
Kongsun Siang menghela napas, katanya.
"Alat rahasia yang mengendalikanpendopo ini, kiranyatidak hanyabeginisaja."
"Persetan dengan alat rahasia perangkap segala, memangnya kita gentar menghadapinya,"
Seru Ting Kiau marah2 . Terdengar suara Ci Hwi-bing berkumandang.
"Ling Kun-gi, tadi kulepas asap dupa juga demi kebaikanmu, karena hanya jalan itulah satu2nya, sehingga kau lemas tak mampu melawan dan terima dibelenggu dan selanjutnya kau pasti akan bekerja bagi kami, tak terkira perhitungan Lohu meleset, agaknya aku menilaimu terlalu rendah."
Gusar tapi Kun-gi masih bisa tertawa, katanya.
'Ci Hwi-bing, sia2 kau menjadi Tongcu dari Hek-liong-hwe, yang kau andalkan hanya alat rahasia dengan segala perangkap ini, kau bisa mengurungku di sini, memangnya ulah apa pula yang bisa kau lakukan?"..
"Ling Kun gi,"
Terdengar kereng suara Ci Hwi bing.
"kau harus tahu diri, kalian bertiga seumpama kura2 yang berada dalam belanga, kalau Lohu betul2 mau merenggut nyawamu, segampang membalik telapak tangan, cuma Lohu masih ingin memberi kesempatan padamu, pikirkanlah dua kali lagi, menyerahlah saja dan bekerja untuk Hek-liong-hwe kita, kutanggung masa depanmu akan lebih cemerlang, tapi kalau kau tetap bandel, jangan kau menyesal kalau Lohu tidak kenal kasihan "
Lantang tawa Kun-gi, katanya.
"Ci-tongcu, kau mampu berbuat apa, silakan lakukan saja, Cayhe tidak pernah mengerut kening menghadapi kelicikanmu."
"Orang she Ling,"
Hardik Ci Hwi-bing beringas.
"dengan baik hati Lohu memberi nasihat, tampaknya kau tidak bisa diinsafkan, sejak kini Lohu memberi waktu semasakan air mendidih, pikirlah lagi dengan baik, asal kau mau tunduk dan bekerja untuk Hek-liong-hwe, Lohu berani tanggung selama hidup kau tidak akan kekurangan. .... ."
"Bangsat keladi,"
Bentak Ting Kiau.
"tutup bacotmu yang kotor, kalau berani hayo buka pintu, tandangilah kami dengan kepandaian aslimu."
Terdengar Ci Hwi-bing mendangus sekali, mendadak terdengar suara keretekan, dari atap terjadi hujan anak panah yang tak terhitung banyaknya, semuanya jatuh di lantai depan Ting Kiau, ujung panah yang menyentuh lantai mengeluarkan suara ramai dan memercikkan lelatu api.
Keruan Ting Kiau kaget, cepat dia melompat mundur.
Panah ternyata hanya berhamburan sekali, tapi jumlahnya ada puluhan batang, kalau mengenai tubuhnya tentu dirinya sudah menjadi landak.
Agaknya musuh sengaja mau mendemonstrasikan kelihayan alatrahasianya, buktinyaCiHwi-bingpuntidakbanyakucap lagi.
Kongsun Siang mengerut kening, dia menghampiri Kun-gi, katanya lirih.
"Ling-heng, dari hujan panah barusan dapat ditebak kalau alat2 rahasia semacam busur di atas sana tentu dikendalikan orang sehingga panah bisa dibidikan ke segala jurusan, ke manupun kita sembunyi tetap akan terbidik oleh panah musuh, berabe juga bagi kita."
Kun-gi tertawa tawar, katanya.
Ucapanmu memang betul Kongsun-heng, tapi soal ini gampang diatasi, pertama, asal kalian tidak menyalakan api, dalam keadaan gelap gulita, mereka akan kehilangan sasaran bidik.
Kedua meja dan kursi yang terbuat dari batu ini amat kuat dan tebal, bisa kita gunakan untuk berlindang, persoalan yang lain biar kuhadapi sendiri" 'Tapi hujan panah itu sedemikian lebat dan rapat, bukan saja daya bidiknya amat kuat dan kencang, mungkin dilumuri getah beracun pula.
Cong-coh ....' "Tidak apa,"
Kun-gi menukas ucapan Ting Kiau.
"aku punya akal untuk menghadapinya, nanti kalau musuh menyerang, kalian harus bisa mencari tempat berlindang dengan baik, soal diriku tak usah kalian kuatir."
Dikala mereka bicara terdengar suara Ci Hwi-bing bergema pula.
"Ling kun gi, sudah kau pikirkan belum?"
Kun-gi memberi tanda kepada Kongsun Siang dan Ting Kiau, nyala api segera dipadamkan, bergegas mereka menyelinap ke bawah meja batu. Dengan tertawa angkuh Kun-gi berkata.
"Cayhe tidak perlu pikir lagi."
Kereng dingin suara Ci Hwi-bing.
"Kalian berada dalam kurungan, inilah kesempatan terakhir, kalian tetap tidak mau menyerah, sekali Lohu mem-beri aba2, kalian akan segera mampus tertembus ratusan anak panah."
Kun-gi ter-gelak2, serunya.
"Hanya panah memangnya dapat menggertak dan menakuti aku? Ha-yolah lekas kau perintahkan anak buahmu lepaskan panah untuk menggaruk badanku yang sedang gatal ini."
Pada saat itulah kumandang suara seorang perempuan berkata.
"Ci tongcu, Hwecu ada perintah."
"Hamba terima petunjuk,"
Terdengar Ci Hwi-bing menyahut hormat. Suara perempuan nyaring itu berkumandang pula.
"Pengkhianat Ling Kun-gi dari Pek-hoa-pang yang terkurung di dalam Bansiang-thing, kalau masih tetap melawan dan tidak mau menyerah, maka Ui-liong-tongcu Ci Hwi-bing diberi kekuasaan penuh untuk menjatuhkan hukuman mati."
"Hambaterima perintah!"seruCi Hwi-bingpula. Agaknya mereka bicara di lapia atas dari ru-angan di mana Ling Kun-gi dikurung, mereka sengaja bicara keras. supaya didengar oleh Kun-gi. maka pembicaraan mereka terdengar jelas dari sebelah atas. Kejap lain terdengarlah suara Ci Hwi-bing yang ketus dingin.
"Ling Kun-gi, kau sudah dengar bukan?"
Nadanya mengancam, maksudnya menekan Ling Kun-gi supaya menyerah saja.
"Memangnya kenapa kalau Cayhe sudah dengar?"
Jengek Kun-gi.
"Inilah kesempatan terakhir untukmu menolong jiwa sendiri, Lohu akan menghitung sampai tiga, kalau kau tetap keras kepala, Lohu akan perintahkan membidikmu."
Ting Kiau tertawa besar, serunbya.
"Umpama kaud menghitung sampai tiga ratus atau tiga ribu, jangan harap kami sudi menyerah."
Ci Hwi-bing tidak hiraukan ocehan Ting Kiau, mulutnya mulai menghitung.
"Satu ....dua ....tiga ...."
Seiring dengan hitungan ketiga, dari pojok atap sana melorot turun selarik sinar lam-pu yang terang benderang, langsung menyoroti tubuh Ling Kun-gi diusul suara bunyi jepretan, sebaria anak panah dibidikkan tigakakididepan Ling Kun-gi.
Jelas ini bersifat mengancam, umpama betul2 mau merenggut jiwa orang, tentu sudah langsung dibidikkan ke tubuhnya.
Sambil menggendang tangan Kun-gi mendongak tertawa lantang, katanya.
"Barisan panah Ci-tongcu ini paling manjur untuk membidik sebangsa rusa, kalau untuk main kayu dihadapanku, kukira terlalu menggelikan."
Lenyap suaranya mendadak kedua tangannya terangkat, lengan bajunya yang lebar tahu2 mengebut ke depan.
Yang digunakan ini adalah gerakan Kiankunci (lengan baju sapu jagat) ciptaan Hoanjiu-ji-lay.
nampak kedua lengan bajunya yang lebar itu mengembang bagai layar, barisan panah musuh yang dibidikkan dengan daya keras dan kencang itu belum lagi menyentuh lantai tahu2 sama terpental berserakan seperti daun pohon kering yang digulung angin lesus, langsung terbang keluar pekarangan.
Jelas Ling Kun-gi juga sengaja mau pamer kepandaiannya dihadapan Ci Hwi-bing.
Sekali jari tengah tangan kiri menjentik, sebuah duri bengkok seketika melesat dengan suara deru kencang menerjang lampu kaca yang menyorot turun dari atas atap.
Maka terdengar suara "prang"
Yang keras, kaca pecah apipun seketika padam, ruang pendopo kembali menjadi gelap gulita.
Sembunyi di atap sana sudah tentu Ci Hwi-bing melihat jelas keadaan dalam ruang pendopo, tanpa terasa giginya gemeratak gemas, desianya.
"Kalau orang ini tidak dilenyapkan, kelak pasti menjadi bibit bencana bagi kita semua, hayo siapkan panah, bunuh dia."iabetul2 memberiperintah. Satu lampu kaca sudah pecah dirusak oleh Kun-gi, tapi mendadak menyorot lagi tiga lampu yang lain, ketiganya sama2 menyorotkan sinar yang terang menyilaukan mata, secara bersilang dari tiga jurusan menyoroti pendopo. Maka suara jepretan panah menjadi ramai, hujan panah sama berjatuhan dari tiga arah yang berlawanan, lebih hebat lagi di antara samberan anak panah itu tercampur pula berbagai macam senjata rahasia, seperti paku berbentuk duri cemara, jarum2 terbang yang lembut semuanya berwarna hitam, terang berlumuran getah beracun yang jahat dan mematikan. Hujan panah dan senjata rahasia sungguh lebat dan berseliweran dengan suaranya yang mendenging, Sementara Kongsun Siang dan Ting Kiau yang sembunyi di bawah meja batu masih tetap memegang senjata untuk menyampuk panah dan senjata rahasia yang mengincar mereka. Dari desiran angin yang berseliweran itu Kun-gi dapat membedakan sedikitnya ada lima macam senjata rahasia yang bentuknya kecil dan ringan bobotnya, karena diseling di tengah samberan panah yang berdaya kencang, orang tidak akan berjaga dan menyangka untuk menyampuk dan merontokkannya, diam2 ia kaget juga. Ruang pendopo ini memang dipasang segala macam perangkap yang serba lengkap, kalau orang lain tentu sejak tadi jiwa melayang dan tubuh hancur luluh. Walau Kun-gi meyakinkan ilmu pelindung badan, betapapun ia tak berani pandang enteng senjata rahasia yangberbobotringan, apalagiada kalanyadia harus memperhatikan keselamatan Kongsun Siang dan Ting Kiau. Kejadian sebetulnya teramat cepat, baru saja panah dan senjata rahasia musuh berhamburan, tangan kanan Kun-gi sudah melolos pedang pendek dan dipindah ke tangan kiri, begitu tangan kanan terangkat, Ih thiankiam juga dikeluarkannya. Begitu dua pedang pusaka panjang-pendek keluar dari sarungnya, cahaya yang kemilau menjadikan pendopo ini bertambah terang, hawa dinginpun terasa menyayat badan. Tanpa ayal Kun-gi ayun tangan kirinya, cahaya pedangnya yang gemilapan segera membungkus sekujur badannya, sementara Ih-thiankiam ditangan kanan menggaris lurus miring mengeluarkan sinar perak ber-lapis2 membantu Kongsun Siang dan Ting Kiau merontokan senjata rahasia. Suara jepretan masih terus berlangsung, maka kedua pedang pusaka di tangan Lingkun-gi pun bekerja semakin cepat dan tangkas, sinar pedang hijau kemilau dilingkari sinar perak tampak indah mempesona, dengan menarikan kedua pedangnya, betapapun lebat hujan anak panah dan senjata rahasia dapat dirontokkan. Padahal sorot lampu sedemikian terang benderang, tapi bayangan Kun-gi sendiri seakan telah lenyap, hanya cahaya pedang dan kesiur anginnya yang menderu, hawa pedang seolah2 sudah memenuhi seluruh ruang pendopo, panah dan senjata rahasia yang tersentuh oleh cahaya kemilau itu kontan terpental terbang dan tersampukrontokberserakandi lantai. Begitu bernafsu Ling Kun-gi menarikan kedua pedangnya, mendadak mulutnya berpekik keras mengalun tinggi bagai pekik naga dan seperti singa mengaum, tiba2 badannya melejit ke atas, bagai bianglala Ih-thiankiam memantulkan tiga bintik sinar dingin melesat ke atas atap, ke arah lubang2 di mana anak panah dan senjata rahasia dihamburkan. Panah dan senjata rahasia itu semua dibidikkan dengan berbagai alat rahasia yang serba lengkap, Ih-thiankiam merupakan pedang pusaka yang dapat memotong besi seperti mengiris tahu, sekali Ihthian khiam bekerja, bukan saja segala alat rahasia yang menjadi sasaran dapat dirusakkan, di tengah keramaian gemeretaknya alat2 yang berantakan itu diseling pula jerit kaget orang2 yang mengendalikan alat2 rahasia itu. Jelas bahwa para pengendali alat rahasia itupun banyak yang terluka. Begitu melayang turun pula ke lantai langsung Kun-gi pindah pedang pandak ke tangan kanan, sekali jongkok dia raih tiga batang patahan panah terus diayun ke atas, tiga bintik hitam seketika meluncur ketiga sasaran.
"Prang", Iampu2 kaca di atas atap seketika tertimpuk padam. Semua kejadian berlangsung amat cepat. setelah alat rahasia musuh berhasil dirusak dengan sendirinya hujan panah dan senjata rahasiapun berhenti, begitu lampu kaca padam pula, kembali kegelapan meliputi ruang pendopo. Menyaksikan betapa gagah dan perkasa Ling Kun-gi barusan, Ting Kiau sampai melelet lidah, katanya kejut2 girang.
"Cong-coh, pertunjukanmu sungguh amat mengagumkan."
Kongsun Siang merangkak keluar serta berdiri, katanya sambil menghela napas.
"Setelah kejadian malam ini baru aku sadar bahwa apa yang kupelajari selama ini dibanding Ling-heng sungguh seperti kunang2dibandingrembulan, bagai langitdan bumiperbedaannya."
Kun-gi simpan kedua pedangnya. katanya tawar.
"Kongsun-heng terlalu mengumpak, aku hanya mengandal ketajaman kedua pedang pusaka ini, secara untung2an menerjang bahaya"
Ting Kiau ber-kaok2.
"Tua bangka she Ci, kau masih punya ulah apa lagi, hayo tunjukkan kepada tuan2 besarmu.?"
Suasana di atas hening lelap tak terdengar suara orang, agaknya Ci Hwi-bing sudah tiada di sana.
Dua kali musuh tidak berhasil menumpas perlawanan mereka meski sudah terkurung di dalam kamar, sudah tentu timbul rasa jera dan waspada Ci Hwi-bing, maka dalam waktu dekat ini terang dia tidak akan beraksi lagi.
Maka keadaan sama bertahan pada sikap masing2, Ling Kun-gi bertiga pantangmenyerahwalau terkurung di dalampendopo.
Kini pendopo itupun diliputi ketenangan, akhirnya kesunyian terasa mencekam Ling Kun-gi, Kong-sun Siang dan Ting Kiau maklum, keadaan tenang ini merupakan permulaan dari suatu gempuran musuh yang akan lebih hebat lagi, entah rencana apa pula yang tengah dirancang.
Setelah sekian lama menunggu sambil berdiam diri, akhirnya Kongsun Siang melompat berdiri, katanya lirih.
"Bukan cara baik kalau cuma berpeluk tangan terima dikurung begini saja, kita harus berdaya untuk menerjang keluar."
"Memangnya perlu dikatakan lagi?"
Timbrung Ting Kiau.
"Soalnya pintu batu tadi sudah tertutup, kau mampu membukanya?"
Mendadak tergerak hati Kongsun Siang, pikirnya.
"Pintu batu memang sudah tertutup, tapi patung batu berbentuk manusia besar itu masih berada di tempatnya tak pernah bergerak lagi, bukankah di situ letak kunci rahasianya?"
Karena pikirannya ini, cepat dia keluarkan ketikan dan manyalakan api, katanya lirih.
"Ling-heng, coba pinjam Ih-thiankiam-mu sebentar."
"Kongsun heng mendapat akal apa?"
Tamya Kun-gi, dan serahkan Ih-thiankiam. Menerima pedang pusaka itu, Kongsun Sang berkata dengan suara tertahan.
"Kupikir kalau pintu batu itu dikendalikan alat rahasia, asal kita dapat menemukan letak atau bekasnya, alat rahasia yang mengendalikan itu kita rusak pula, dengan kesaktian kekuatanLing-heng pastidapat membukanya."
"Kongsun-heng dapat menemukan letak pintu batu itu?"
Tanya Ting Kiau. Kongsun Siang tertawa, katanya.
"Orang2an batu itu keluar dari balik pintu, kini masih tetap di tempatnya tak pernah bergeser, cara bagaimana patung batu ini bisa masuk kemari? Tentu dikendalikan alat rahasia pula, dan alat kendalinya tentu berada di bawah kakinya, asal kita bisa merobohkan patung ini, rasanya akan menemukan alat rahasianya pula?"
Ting Kiau keplok kegirangan, serunya.
"Akal Kongsun-heng memang bagus, Hayolah, kita coba"' Kongsun Siang menyalakan api, bersama Ting Kiau mereka memeriksa patung batu itu dengan teliti. Kongsun Siang tubleskan Ih-thiankiam kelantai, lalu memberi tanda gerakan tangan kepada Ting Kiau, mereka mengerahkan tenaga mendorong bersama dari kanan-kiri. Betapa besar kekuatan gabungan kedua orang sebetulnya bukan soal sulit untuk merobohkan patung batu itu. Tapi mengingat di bawah patung batu ini ada dikendalikan alat rahasia, maka untuk menggesernya terang tidak mudah. Tak nyana setelah keduanya kerahkan tenaga mendorong berulang kali, meski mulut ber-kaok2 dan napas ter-sengal2, patung batu itu tetap tidak bergeming. Tapi Kongsun Siang dan Ting Kiau masih tidak putus asa, mereka masih terus berusaha mendorong patung itu. Sampai muka merah padam, akhirnya mereka sendiri yang kehabisan tenaga, tapi patung itu tetap tak tergeser sedikitpun.
"Kalian berhenti saja,"
Akhirnya Kun-gi bersuara.
"biar aku mencobanya."Laludia menyingsing lenganbaju dan menghampiri. Setelah menarik napas Ting Kiau mundur dua langkah dan mengamati patung di depannya, tiba2 timbul sesuatur pikirannya, dia goyang tangan dan berkata.
"Cong-coh, aku ingat akan suatu hal."
"Kau ingat apa, Ting-heng?"
Tanya Kun-gi.
"Patung ini baru menerjang masuk dikala Cong-coh menubruk ke arah pintu tadi sehingga Cong-coh teralang karenanya, pintupun segera menutup pula, begitu bukan?"
"Ya, memang begitu,"
Jawab Kun-gi. Kata Ting Kiau lebih lanjut.
"Itu berati alat rahasia mendorong patung ini masuk kemari, maka pintupun tertutup, sebaliknya kalau pintu terbuka lagi, maka patung akan mundur keluar, maka kalau kita ganti cara merobohkanya menjadi mendorongnya mundur, pintupastiakanterbukadengan sendirinya."
Kun-gi manggut2, katanya.
"Ya, masuk akal alat rahasia yang mengendalikan pintu dan patung batu ini tentu berkaitan, kalau patung ini kita dorong keluar, pintu akan terbuka. Nah, marilah kita coba"
Kedua tangannya menahan perut patung batu.
Dari samping Kongsun Siang dan Ting Kiau ikut membantu, di bawah aba2 Ling Kun-gi mereka bertiga mulai mendorong.
Kun-gi kerahkan Kim-kong-sinhoat, ditambah lagi kekuatan Kongsun Siang dan Ting Kiau, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat kekuatan dorongan ini?
Betul juga dari kaki patung batu segera terdengar suara kretekan, demikian pula dari bawah dinding di pojok sana juga berbunyi gemeratak.
Walau patung ini terkendali oleh alat rahasia, toh tak kuat menahan daya dorongan yang hebat ini dan lambat laun mulai tergeser mundur.
Begitu patung terdorong mundur, betul juga dinding di depan sana juga tergeser mundur sehingga terbuka sedikit celah2.
Melihat akal dan usaha mereka berhasil, tambah semangat Kun-gi bertiga mendorongnya.
Semakin patung terdorong mundur, semakin lebar pula celah2 dinding yang terbuka, kini mereka tidak perlu banyak membuang tenaga lagi untuk mendorong patung, karena tahu2 patung itu sudah mundur sendiri ke balik pintu serta menyingkir ke samping.
Melihat pintu sudah terbuka lebar, baru saja Kun-gi hendak melangkah keluar, mendadak dirasakannya segulung tenaga menyongsong dirinya, yang diincar adalah dadanya.
Untung sejak tadi Kun-gi sudah siaga akan sergapan musuh dari tempat gelap.
Karena bagi seorang yang membekal Lwekang tinggi, umpama matanya dapat melihat di kegelapan, tapi toh dia perlu sedikit sinar bintang di langit baru bisa melihat sesuatu benda dalam jarak tertentu, kalau di dalam perut gunung yang gelap gulita ini kemampuan matapun takkan berguna juga.
Di waktu mendorong patung, api sudah mereka padamkan, kini pintu sudah terbuka, kedua belah pihak sama2 tidak melihat bayangan lawan.
Lwekang Kun-gi amat tinggi, cepat sekali dia bisa membedakan arahbahwasipenyerangtepatberdiri di tengahpintu, serta merta iapun angkat tangan kirinya.
"Plak", begitu serangan balasan dia lancarkan mendadak terasa pukulan lawan sedemikian kuat, dalam hati Kun-gi membatin.
"Jago silat Hwi-liong-tong memang banyakdan lihay."
Begitu dua jalur pukulan saling berhantam seketika menimbulkan pusaran angin kencang yang menderu keras, tanpa kuasa Kun-gi tergetar mundur setapak.
Pada saat itu pula, didengarnya seorang menjengek, sejalur angin pukulan yang tidak kalah hebatnya mendadak menerjang masuk pula dari luar pintu.
Keruan Kun-gi naik pitam, serunya sambil tertawa lantang.
"Seranganbagus!"
Kinidiabalas mendorongdengan tangankanan.
Terasa pukulan musuh ini ternyata tidak lebih lemah dari pukulan pertama, tapi Kun-gi kali ini sudah mengerahkan 10 bagian tenaganya, sehinggatidaktergentak mundur, Dua kali saling hantam dengan musuh, tapi Kun-gi belum juga tahu dan bisa melihat jelas siapa sebetulnya kedua lawannya, baru saja dia hendak merogoh keluar mutiaranya, mendadak api berpijar, ternyata Ting Kiau sudah menyalakan sebatang obor yang terbuat dari rotan, dari luar pintu berbareng juga menyala dua lampu kaca yang menyorot masuk ke pendopo.
Tampak dua orang tua berbaju hijau tengah beranjak masuk..
Kedua orang tua berbaju hijau sudah sama2 ubanan rambutnya, usianya sudah di atas setengah abad.
Yang di depan berbadan tinggi kurus, matanya tajam mengawasi Ling Kun-gi sambil mengu-lum senyum sinis, katanya.
"Kau dapat menyambut pukulan kami berdua, kau memang tidak malu sebagai murid Hoanjiu-ji-lay". Kakek berperawakan sedang di belakangnya segera menyambung.
"Di luar sini terlalu sempit, kalau mau bergebrak hayolah masuk saja, bila kau mau keluar dari sini, kau harus dapat mengalahkan kami tua bangka ini."
Bahwa orang sudah melangkah masuk, maka Kun-gi mundur beberapa langkah, katanya dingin.
"Kalian ingin bergebrak dengan Cayhe, boleh silakan saja."
Ternyata hanya dua kakek ini saja yang masuk, bayangan orang lain tidak kelihatan, tapi di tempat gelap di luar sana jelas ada orang sembunyi yang siap menyergap.
Kakek tinggi kurus angkat sebelah tangan di depan dada, ia menoleh kepada kakek berperawakan sedang, agaknya dia memberi tanda bahwa mereka harus bersiap untuk turun tangan bersama, sekali serang bunuh Ling Kun-gi dan habis perkara, selanjutnya membereskan Ting Kiau dan Kongsun Siang.
Dengan gagah dan tabah Kun-gi tetap berdiri di tempatnya, katanya sambil berpaling.
"Kongsun-heng, Ting-heng, silakan mundur agak jauh."
Kakek kurus tertawa ter-kekeh2, katanya.
"Ya, kalian harus menyingkir yang jauh supaya tidak tersapu roboh oleh angin pukulan Lohu "
"Wut", mendadaktangandidepandadanyaterusmenyodok. Agaknya tenaga sudah terkerahkan sejak tadi, maka tenaga pukulannya ini sungguh amat keras karena dilandasi kekuatan Lwekang hasil latihan selama puluhan tahun. Kakek berperawakan sedang tanpa bersuara berbareng iapun angkat sebelah tangannya mengggempur punggung Kun-gi. Kongsun Siang melompat maju sambil mencabut Ih thian kiam yang tertancap di lantai, ejeknya.
"Sudah sekian tahun lamanya Losunsiang-koay angkat namanya, tak nyana cara bertempurnya juga main keroyokdancurang."
Begitu melancarkan pukulannya, si kakek berperawakan sedang segera menoleh ke arah Kongsun Siang, serunya.
"Kalau begitu marilah kau maju sekalian."
Dengan jurus Hing-lanjianli (pagar melintang ribuan li ), tangan kirinya segera menepuk lurus ke arah Kongsun Siang.
Kun-gi tidak tahu siapa kedua lawannya ini.
Tapi setelah mengadu pukulan, dia tahu bahwa Lwekang kedua kakek amat tinggi, melihat lawan menggempurnya bersama, serta merta dia tergelak2, dua tangan bekerja sekaligus, ke depan dia menangkis kakek kurus ke belakang dia menolak gempuran si kakek sedang, katanya.
"Kongsun-heng mundurlah kau, aku sendiri cukup menandingi mereka."
Sebetulnya Kongsun Siang sudah kerahkan Lwekang untuk menyambut pukulan kakek sedang, dengan kekerasan serta mendengar seruan Ling Kun-gi, terpaksa dia bergerak menubruk miringsepertiserigalamengegosdan menyingkirkesamping.
Lo-sanji-koay mengira betapapun tangguhnya Ling Kun-gi, karena usianya masih terlalu muda, pasti takkan kuat menandingi gempuran mereka berdua.
Tak terduga dua jalur kekuatan hebat lantas menggencet dari depan dan belakang.
Mendadak segulung kekuatan lunak yang tidak kelihatan timbul dari badan Ling Kun-gi, sekaligus gempuran dahsyat mereka sirna, malah sisa tenaga sendiri berbalik menggempurdirisendiri.
Keruantersirapdarahkeduakakekini.
Kata si kurus tinggi sanbil menatap Kun-gi.
"Pada jaman ini, tokoh2 kosen yang mampu menandingi gempuran gabungan kami berdua bisa dihitung dengan jari, engkoh kecil ini barusan menggunakan ilmu apa, ternyata tetap segar bugar menghadapi gempuran kami?"
Sejak mendengar nama kedua orang tua adalah Lo-sanji-koay, maka Kun-gi tahu bahwa kedua orang ini memang merupakan pentolan lihay di kalangan hitam, kalau malam ini jika dia tidak kalahkan kedua musuh ini, dirinya bertiga pasti takkan bisa menerjang keluar.
Maka dengan sikap sinis diar balas tatap si kakek kurus, katanya.
"Ilmu silat di kolong langit ini masing2 mempunyai keistimewaan dan keunggulannya sendiri2, umpama Cayhe menjelaskan, memangnya kalian berdua mengetahui?."
Kakek kurus menarik muka, hardiknya bengis.
"Anak ingusan yang masih berbau pupuk, bicaramu begini takabur!"
Tangan kanan terulur, kelima jari tangan bagai cakar baja tahu2 mencengkeram ke dada.
Jurus Kim-hau-tam-jiau ( harimau kumbang mencakar ) dilancarkan secepat kilat, kelima jari masing2 mengincar lima Hiat-to di tubuh Ling Kun-gi.
Sejak tadi Kun-gi sudah waspada dan ber-siap2, sekali tubuhnya berkisar berbareng tangan ka-nan menabas miring, di tengah jalan dia balas menyerang, kelima jarinya setengah tertekuk terus menangkap pergelangan tangan lawan yang menyerang dadanya.
Kim-liong-jiu yang dilancarkan inipun tak kalah cepat dan lihaynya, dengan badan berputar ini, disamping berkelit sekaligus dia balas menyerang.
Kakek sedang mengira dirinya memperoleh peluang, sekali berkelebat dia menyelinap ke depan kiri Ling Kun-gi, telapak tangannya terus menabas miring membelah pinggang Ling Kun-gi.
Begitu tangan mencengkeram dada lawan, si kakek kurus merasakan juga Kun-gi melancarkan serangan yang sama dengan memegang pergelangan tangannya, malah serangan lawan pakai mengunci gerakannya, keruan ia kaget, lekas dia tarik tangan kanan, berbareng tangan kiri mendorong keluar.
Dengan sendirinya cengkeraman balasan Kun-gi juga lantas mengenai tempat kosong, tahu2 dirasakan si kakek sedang membelah piggangnya, ia jadi gusar karena lawan main licik, dengan tertawa ejek dia ayun tangan kiri menepuk ke arah lawan, Pada saat itu si kurus tinggi juga mendorong telapak tangan kiri, tanpa pikir tangan kanan Kun-gi bergerak juga menyongsong ke depan.
"Plak, plok,"
Dua pukulan dari depan dan belakang sekaligus dia sambut dengan tepat, suaranya keras seperti ledakan, sampai telinga Kongsun Siang berdua serasa pekak dan jantung berdetak.
Sebagai murid didik Hoanjiu-ji-lay si kidal, maka Ling Kun-gi pun sudah biasa menggunakan tangan kiri, apalagi dia menjadi gusar menghadapi dua kali pembokongan kakek sedang, maka serang-annya justeru dia titik beratkan pada telapak tangan kiri.
Hoan jiu hud-hun (mengebut mega dengan terbalik) yang dilancarkan ini semula tidak menimbulkan gelombang angin pukulan, tapi begitu kedua pukulan masing2 saling gempur, baru timbul segulung tenaga dahsyat dari telapak tangannya.
Setelah si kakek sedang menyadari betapa dahsyat tenaga pukulan lawan , yang bisa menggetar hancur urat nadi sekujur badannya, untuk mundur sudah tidak mungkin lagi, terpaksa dia menyambut secara kekerasan, seketika dia rasakan isi perutnya jungkir balik, darah bergolak di rongga dada.
Lahirnya memang tidak kelihatan perubahan dirinya, tapi urat nadi tergetar, darah mengalir balik, tersipu2 dia melompat mundur, mencari peluang untuk mengerahkan hawa murni menenteramkan gejolak darahnya.
Melihat Ling Kun gi sanggup sama kuat menandingi pukulan kerasnya, si kakek kurus semakin murka, sambil menggertak dia mendesak maju terus menggenjot dan menjotos secara berantai.
Karena rangsakan sengit dan gencar ini, yang kelihatan hanya bayangan pukulan tangan, dalam sekejap beruntun dia telah lancarkan12 kalipukulan.
Bukansajaserangannyasecepatkilatdan sederas hujan badai, malah kekuatan pukulannyapun rasanya dapat menghancurkan tembok besi, deru angin yang kencang sungguh mengejutkan sekali.
Seluruh tubuh Ling Kun-gi terbungkus dalam bayangan pukulan lawan, sehingga dia terdesak mundur dua langkah, kedua tangan bergerak menyilang, menangkis dan menyampuk, dalam 12 pukulan gencar lawan, dia menyambut empat kali dengan keras, sehingga rangsakan gencar lawan dapat ditandingi.
Dengan Cap-ji-lianhoanciang (atau ilmu pukulan berantai duabelas kali) yang lihay ini, menurut dugaan si kakek kurus semula Ling Kun-gipasti dapatdipukulnyarobohbinasaatauterlukaparah.
Tak tahunya Ling Kun-gi juga gunakan kedua tangannya secara kekerasan dia sambut serangannya, beruntun adu empat kali pukulan, delapan pukulan yang lain kena ditangkis dan dipunahkan.
Keruan semakin besar rasa kagetnya, batinnya.
"Dia masih begini muda, bagaimana mungkin membekal Kungfu setinggi ini."
Dalam dua belas pukulan tadi Kun-gi mengadu empat kali pukulan secara keras, mendadak bayangan kedua orang berpisah, keduanya sama2 tersurut mundur dua langkah.
Mata si kakek sedang mendelik, bentaknya.
"Bocah ini tidak boleh diampuni."
Mendadak dia menerjang maju, kedua tangan bergerak mencecar Kun-gi dengan telapak tangan, kepalan dan tendangan yang lihay.
Karena dicecar bergantian oleh kedua lawannya, sudah tentu Kun-gi gemas, serunya tertawa.
"Kalian maju bersama, orang she Ling tetap dapat mengalahkan kalian."
Di tengah kumandang suaranya, permainan pukulannya mendadak berubah gencar keras dan ganas, telapak tangan kiri dengan kepalan tangan kanan menyerang secara bersilang.
Lo-sansiang-koay termasuk jago kosen kelas wahid dari golongan hitam, setelah beberapa gebrak menghadapi perlawanan Ling Kungi, dalam hati mereka maklum kalau cuma mengandal kekuatan seorang diri untuk merobohkan Ling Kun-gi, jelas tidak mungkin, apalagi sebelum masuk tadi mereka memang berniat menamatkan jiwa Kun-gi dengan mengeroyoknya, maka setelah mendengar seruan saudarannya tadi, si kakek kurus tinggi segera ter-bahak2, katanya.
"Anak muda, syukurlah kau mampu menandingi kami."
Sekali berkelebat, tahu2 ia sudah menubruk maju.
"Wut, wut", dua kali puku-lan langsung dia menghantam dengan dahsyat. Pukulan telapakan dan kepalan Ling Kun-gi dimainkan dengan berbagai variasi sehingga kakek perawakan sedang kena di desaknya mundur, sigap sekali dia membalik badan, kedua telapak tangan terangkap lalu didorong lurus menggempur dada si kakek tinggi kurus, pukulan dengan kedua tangan ini sungguh bagai gugur gunung dahsyatnya, angin pukulannya menggulung ke depan menerjang si kakek kurus tinggi. Entah betapa banyak jago2 kosen yang pernah dihadapi si kakek kurus, tapi belum pernah dia saksikan apalagi menghadapi pukulan sedahsyat yang dilancarkan Ling Kun-gi ini, Dia sudah maklum bahwa lawannya yang masih muda ini memang ber-kepandaian tinggi, tapi tak terbayang olehnya bahwa Kungfu Ling Kun-gi ternyata jauh diluar perhitungannya. Kalau dirinya baru melawan secara keras gempuran Lwekang yang dahsyat ini, maka yang kuat akan menang dan yang lemah pasti binasa seketika. sudah tentu si kakek kurus tidak mau mempertaruhkan jiwanya, cepat dia menarik napas mengerahkan hawa murni, mendadak ia melejit ke udara menghindari sambaran angin pukulan Ling Kun-gi. Dalam pada itu si kakek perawakan sedang yang didesak mundur oleh Kun-gi, melihat anak muda itu mendorong lurus dengan kedua tangannya, tenaga pukulannya ternyata sedemikian dahsyat dan jiwa saudaranya terancam. Tanpa peduli saudaranya itu akan berkelit atau melawan dengan keras, dalam sekejap ini jelas Ling Kun-gi tak sempat menghadapi serangan dirinya. Maka hatinya senang sekali, tanpa bersuara segera dia menerjang maju, telapak tangannya kembali menggempur punggung Kun-gi. Tak tahunya si kakek kurus tinggi ternyata tidak berani melawan secara keras dan melambungkan tubuhnya ke udara, karena serangannya luput, dengan cepat tubuh Ling Kun-gi mendadak berputar balik, tenaga pukulan kedua tangannya ikut dia tarik terus menghantam kesamping. Tindakan Ling Kun-gi ini sungguh di luar dugaan si kakek berperawakan sedang, malah tenaga pukulan yang menyapu tiba cepatnya luar biasa, untuk berkelit jelas tidak sempat lagi, terpaksa dla kerahkan setaker Lwekangnya dengan kedua telapak tangan melindungi dada, secara keras dia sambut serangan lawan.
"Bluk", di tengah benturan keras itu badan si kakek perawakan sedang tampak terpental jauh tersapu oleh pukulan Ling Kun-gi, setelah terbanting jatuh badannya masih ter-guling2 pula, sesaat lamanya tak mampu berdiri, agaknya lukanya tak ringan. Kejadian berlangsung secepat percikan api, sementara itu si kakek kurus yang melambung ke udara berhasil lolos dari gempuran Ling Kun-gi, dari atas dengan jelas dia saksikan saudaranya tersapu jatuh oleh Kun-gi. Padahal dirinyar sedang melambutng tinggi, makaq dia kembangkanr kedua lengan baju dan melayang turun kira2 setombak jauhnya, nafsu membunuhnya segera berkobar, ia menubruk maju pula, dengan jurus Thay-san-ting (gunung Thay-san menindihkepala), segeraiakeprukbatok kepala Ling Kungi. Kun-gi tahu Lo-sanji-koay yang dihadapinya ini memiliki Kungfu tinggi, ia menjadi tidak sabar lagi, segera ia melancarkan Mo-ni-in yang sakti. Ia pikir kalau musuh tidak dirobohkan, malam ini sukar bagi mereka bertiga untuk meloloskan diri dari sarang musuh, maka Kun-gi tidak kepalang tanggung melancarkan ilmu sakti simpanannya ini. Mo-ni-in tidak menimbulkan damparan angin kencang, tidak menimbulkan gelombang kekuatan besar, gerakannya seperti orang bergaya saja meluruskan telapak tangan ke atas, tapi justeru di sinilah letak intisari ilmu sakti aliran Hud yang tiada taranya, yaitu Tat-mo-ciang-hoat. Si Kakek kurus mendadak merasakan telapak tangan Ling Kun-gi yang menyanggah ke atas menimbulkan tekanan yang kuat sehingga pukulan dirinya kena disanggah dan ditolak pula ke atas, ba-dannya yang menubruk maju tahu2 seperti terapung ke udara. Kejap lain terasa pula tenaga pukulan yang dia kerahkan tahu sirna tak keruan paran oleh getaran membalik dari kekuatan lunak di bawah, hawa murni tubuhnya serta merta ikut buyar pula, sampai bernapaspun terasa sesak.
"Bluk", kejap lain badannya telah terbanting di lantai, malahan sebelum badannya jatuh nyawapun telah melayang. Dalam pada itu kakek berperawakan sedang juga sudah terluka parah, melihat saudaranya jatuh tak mampu bangun berdiri, kagetnya bukan kepalang, lekas dia merangkak bangun dan berteriak kaget.
"Lotoa, kau ....."
Setelah memburu ke samping saudaranya baru dilihatnya kedua tangan saudaranya menekan dada, biji matanya melotot, darah hitam meleleh dari ujung mulutnya.
Kiranya sudah mati karena urat nadi tergetar pecah.
Luluh perasaan kakek berperawakan sedang, air mata bercucuran, tiba2 dia membalik dan melotot pada Ling Kun-gi, desisnya sambil menggertak gigi.
"Bocah keparat, keji amat kau membunuhnya."
Kun-gi menyeringai dingin, jengeknya.
"Kenapa kau menyalahkan aku, kalau tadi aku yang terpukul kalian, bukankah aku yang binasa sekarang?"
Tanpa bersuara lagi, kakek berperawakan sedang memanggul jenazah saudaranya terus melangkah keluar tanpa berpaling lagi.
Lampu kacapun seketika padam, pendopo kembali menjadi sunyi dan gelap gulita, Pada kegelapan itulah dinding sebelah barat terdengar berbunyi kertekan, agaknya terbuka sebuah pintu.
Sementara Kongsun Siang telah serahkan Ih-thian kiam kepada Kun-gi, katanya lirih.
"Biar kulihat ke sana."
"Hadapilahsegala kemungkinan denganhati2,"pesan Kun-gi. Seperti lazimnya serigala yang menubruk mangsanya, mendadak Kongsun Siang menubruk masuk dengan lompatan dua kali, dikala badannya hampir mencapai dinding sebelah barat, mendadak "sretstet"
Dua kali jalur samberan angin. seperti ada dua orang menerjang masuk, Kongsun Siang mahir mendengarkan suara.
"cret"
Kontan pedangnya menusuk. Dua orang yang melompat masuk kedalam ruang pendopo ternyata memiliki kepandaian tinggi, dalam kegelapan iapun ayunkan pedangnya.
"Trang", sekali gerak ia sampuk pedang Kongsun Siang. Malah temannya yang lain tidak ayal pula, pedangnya menderu menggaris ke tubuh Kongsun Siang. Tatkala musuh yang pertama menyampuk pedangnya, sementara tubuh Kongsun Siang sudah melangkah ke samping depan sehingga babatanpedangorangkedua mengenaitempatkosong. Bergebrak di tempat gelap hanya mengutama-makan ketajaman pendengaran dan kelincahan, karena kedua musuh sama2 melancarkan serangan pedang, walau Kun-gi masih dalam jarak enam tombak jauhnya, tapi segala gerak gerik musuh dapat diikutinya dengan jelas. Waktu terjaring oleh jala berduri tadi lengan baju dan pundak Kun-gi masih ketinggalan puluhan duri bergantol, selamanya dia tidak pernah menggunakan senjata rahasia, tapi mengingat tujuan kali ini masuk ke sarang harimau, kalau hanya dengan bersenjata pedang saja lawan yang berjarak jauh takkan mampu dicapainya, maka dia sengaja membiarkan saja duri2 itu tetap bergantung di badannya, siapa tahu nanti berguna pada saat genting. Kini setelah dia mendengar posisi kedua lawan Kongsun Siang, segera dia jemput duaduridan beruntundia menyentikduakali. Muka terdengarlah suara jeritan kaget, agaknya seorang tidak siaga dan kena jentikan duri itu tapi seorang yang lain cukup cerdik.
"tring", dengansigapdiapukul jatuhduriyang menyerangnya. Diam2 Kun-gi terkejut, pikirnya.
"Ilmu pedang orang ini ternyata amat lihay."
Di kala dia berpikir inilah dari arah timur kembali terdengar suara deru angin, ada orang melompat masuk pula. Ting Kiau yang berjagadisampingsana lantas menghardik."Kena!"
Kipasnya seketika bergerak mengetuk pundak kanan pendatang itu. Tapi orang itu sempat angkat pedangnya menangkis kipas lempit Ting Kiau.
"Bagus,"
Seru Ting Kiau, beruntun kipasnya menyerang pula empat jurus.
Lawan tetap tidak bersuara, di bawah rangsangan gencar Ting Kiau dia hanya mengandalkan ketajaman pendengarannya, pedang panjangnya menyampuk pergi datang memunahkan seluruh serangan kipas lawan.
Maka berulang kali terdengar suara berdering benturan kedua senjata, empat jurus serangan Ting Kiau dapat dipatahkan seluruhnya oleh orang itu.
Dikala pertempuran berlangsung semakin sengit, terdengar kesiur angin pula, beruntun masuk lagi dua orang menduduki posisi di sebelah timur.
Sementara dari pintu sebelah barat melompat masuk empat orang lalu berpencar.
Tapi orang2 yang belakangan ini hanya berpeluk tangan belaka, tidak ikut terjun ke arena.
Dari suara napas mereka Kun-gi dapat mengikuti gerak gerik mereka yang sudah berpencar ini menempati posisi tertentu sehingga dirinya bertiga terkepung, diam2 ia membatin.
"Agaknya secara diam2 mereka mengatur semacam barisan di tempat gelap."
Lalu dia kerahkan ilmu gelombang suara berkata kepada Kongsun Siang.
"Kongsun-heng, lekas mundur ke sampingku saja."
Dengan cara yang sama dia panggil Ting Kiau pula. Cepat sekali Kongsun Siang dan Ting Kiau sudah mundur ke kanan-kirinya, Kongsun Siang bersuara lirih.
"Ada petunjuk apa Ling-heng?"
"Mereka sudah membentuk semacam barisan, mungkin sebentar akan mulai bergerak, kita hanya bertiga, maka jarak satu sama lain jangan terlalu jauh, kalau kekuatan terpencar menjadi lemah, maka kalian kusuruhkumpuldisini.
"Cong-coh, mereka membentuk barisan apa?"
Tanya Ting Kiau.
"Entahlah, orang mereka yang masuk berjumlah sepuluh orang,"
Kata Kun-gi.
Tengah bicara, mendadak dari pintu timur dan barat melangkah masuk empat laki2 yang masing2 mengacungkan sebuah lentera, mereka berpencar di empat penjuru pendopo.
Maka ruang pendopo menjadi terang pula seperti siang hari.
Sesuai dugaan Kun-gi, ke 10 laki2 maju mengelilingi arena.
Kesepuluh orang ini terdiri tua muda campur aduk, yang tua sudah beruban rambut dan jenggotnya, yang masih muda berusia sekitar 25-26 tahun, semua mengenakan seragam hijau dengan potongan yang sama pula, di depan dada mereka tersulam naga terbang.
Di tangan masing2 menyoreng pedang panjang hitam guram.
Hanya ada seorang perempuan di antara ke sepuluh orang ini, kain hijau membungkus rambut kepalanya, usianya sekitar 40-an, wajah dan dandanannya mirip seorang inang yang kejam dan kaku, kulit mukanya yang sudah keriput dibubuhi pupur tebal, sebuah anting2 gelang sebesar buah kelengkeng tergantung di kuping kirinya.
Sepuluh orang berdiri berkeliling menjadi sebuah lingkaran, seorang tepat berada ditengah, agaknya pimpinan dari barisan ini.
Dan orang yang berdiri ditengah ini adalah wakil Tongcu Hwi-liongtong yaitu Tun Thiankhi.
pedang lebar terhunus ditangannya, dia berdiri di depan sambil bertolak pinggang.
Adiknya Tun Thianlay, termasuk satu di antara sembilan orang yang lain, Agaknya Hwiliong-tong kali ini telah memboyong seluruh jago2 lihaynya, besar tekad mereka untuk membereskan Ling Kun-gi bertiga.
Anehnya Hwi-liong-tongcu sendiri yaitu Kim-kau-cian Nao Sam jun tidak kelihatan batang hidungnya, bayangan Ui-liong tongcu Ci Hwi-bing juga tidak kelihatan.
Sebelum lampu menyala tadi Ling Kun-gi su-dah menarik mundur Kongsun Siang dan Ting Kiau, kini mereka berdiri dalam posisi segi tiga.
Kebetulan Ling Kun-gi berhadapan dengan Tun Thianki, sekilas sorot matanya menyapu, dengan angkuh dia berkata.
"Kukira kalian mau pamer barisan apa, ternyata saudara Tun pula yang unjuk gigi."
"Orang she Ling,"
Seru Tun Thiankhi.
"kau tahu barisan apakah ini?"
"Cayhe tidak perlu tahu barisan apa segala, yang penting aku bisa mengobrak abriknya."
"Keparat sombong,"
Teriak Tun Thiankhi.
"kau mampu mengobrak-abrik Cap coat kiam-tin? Bila barisan betul2 sudah kugerakkan, tanggung kepalamu akan terpenggal seketika, bukan saja jiwa melayang, tubuhpun mungkin akan tercacah luluh"
Tanpa diminta dia sudah terpancing menyebutkan nama barisan ini, yaitu Cap-coat-kiam-tin (barisan pedang top sepuluh).
Mungkin ancamannya terlalu membual, tapi dari pernyataannya ini dapat pula dinilai bahwa barisan pedang ini pasti memiliki kehebatannya yang tidak boleh di pandang enteng.
Apalagi kesepuluh orang pelaku2 barisan ini semua memiliki Lwekang yang sukar diukur tingkatannya sorot matanya tajam, pedang terpeluk di depan dada, mereka berdiri tegak sekukuh gunung, sekilas pandang orang sudah akan maklum bahwa mereka adalah ahli2 pedang yang berkepandaian tinggi.
Terutama Tun Thianlay, sebagaikomandanrondaHwi-liong-tong, kedudukannya saja tidak rendah, tapi dia toh merupakan satu saja di antara ke 10 orang ini, bukan karena jabatannya sebagai komandan ronda lantas dia harus lebih di agulkan.
Dari sini dapat pula disimpulkan bahwa sembilan orang yang lain mempunyai jabatan yang sejajar dengan komandan ronda.
Bagi setiap insan persilatan kalau dia ingin angkat nama maka dia harus memiliki kepandaian sejati.
Bahwa 10 orang ini terpilih dan ikut dalam Cap coat kiam-tin, maka tak perlu disangsikan bahwa mereka memang jago2 kosen kelas wahid dari Hwi-liong-tong.
"Orang she Ling,"
Bentak Tun Thianlay.
"kalau sekarang kau buang pedang dan menyerah masih sempat menyelamatkan jiwamu."
Dia tetap menghendaki Ling Kun-gi menyerah.
"Agaknya kau yang menjadi pemimpin Cap-coat-kiam-tin,"
Demikian kata Kun-gi sambil menatap Tun Thiankhi, kukira tak perlu banyakbicaralagi, silakan mulai gerakkan barisanmu."
"Kalau barisan bergerak, umpama kau tumbuh sayap juga jangan harap bisa lolos,"
Jengek Tun Thiankhi. Kun gi tertawa, katanya.
"Kalau aku ingin lari, buat apa harus kuluruk ke Hwi-liong-tong sini."
Tun Thiankhi mendengus, pedang lebarnya terayun ke atas terus membelah lurus ke arah Ling Kun-gi.
Bacokan pedangnya ini ternyata merupakan aba2 pula bagi barisan pedangnya.
maka barisanpun segera bergerak, sepuluh batang pedang hitam serentak menyerang ketengah dari arah posisi masing2.
Hawa pedang segera menimbulkan kesiur angin dingin.
"Awas, hadapi musuh dengan hati2,"
Bentak Kun-gi.
Gerakannya sebat luar biasa, Ih-thiankiam dia pindah ke tangan kiri, bayangannya tiba2 menyerobot ke sebelah kiri dengan jurus Tianghong-toh-yam, dari kanan menyapu ke kiri.
Sedang tangan kanan mengeluarkan pula Seng-ka-kiam yang pandak, dengan tipu Yantiau thian ka, ujung pedangnya menutul ke arah pedang lebar Tun Thiankhi.
Serempak pedang Kongsun Siang dan kipas Ting Kiaupun sudah bergerak, tapi sapuan pedang Kun-gi ke arah kiri laksana mata rantai yang kuat paling tidak lima batang pedang musuh di sebelah kiri telah kena dibendungnya.
Agaknya Tun Thian khi tidak ingin berhantam secara keras dengan Ling Kun-gi, di tengah jalan gerak pedang lebarnya berubah, sekali mundur lalu dilancarkan pula, kali ini menusuk iga kiri Kun-gi.
Sekaligus Kun-gi menangkis, serangan lima orang musuh, cahaya Ih-thiankhiam mencorong terang, pedang bergerak dari atas ke bawah dengan tipu Sinliong-wi-thau (naga sakti berpaling kepala).
"Trang", kembali dia tangkis pedang lebar Tunthiankhi. Tak berhenti sampai di sini, badannya ikut bergerak dari kiri ke kanan, pedang pandak di tangan kanan menyerang dengan jurus Liong jiau-hoathun (cakar naga menyingkap mega), cahaya hijau kemilau sekaligus mendesak tiga orang di sebelah kanan, pedangnya itu memancarkan cahaya menyilaukan, di bawah landasan Lwekangnya yang tinggi lagi, maka perbawanya hebat luar biasa, tiga orang di sebelah kanan dipaksa melompat mundur. Sekali gebrak, delapan musuh dari Cap coat-kiam tin telah dibikin kerepotan. Seorang kakek ubanan di sebelah kanan tam-pak membentak gusar.
"Cepat juga bocah ini ber-gerak."
Di tengah suara bentakannya, mendadak dia melompat ke atas, sinar pedang berkelebat, beruntun dua jurus dia mencecar Ling Kun-gi.
Seorang lagi membarengi menerjang maju, pedangnya menusuk perut.
Pedang pandak Kun-gi cepat menyampuk ke kanan, sedikit menggetar pedang, hawa pedang di sertai kemilau cahayanya mengelilingi badan, sekaligus dua serangan lawannya kena dibendungnya di luar lingkaran.
Melihat betapa tangkasnya Ling Kun gi, bertambah murka Tun Thiankhi, sembari menggerung, lengan kanan terangkat, pedang lebarpun menggaris sebuah lingkaran di tengah udara, berbareng dia menubruk maju, sejalur bayangan hitam tahu2 membelah ke batok kepala Ling Kun-gi.
Karena gerak lingkaran pedang lebarnya ini maka ke10 pelaku Cap-coat-tinmendadak bergerak saling pindah tempat, setiap kali melangkah pindah tempat pasti menusuk sekali.
Begitulah secara bergantian 10 orang terus saling berganti posisi disertai pula tusukan pedang mereka.
Hal ini menimbulkan perubahan yang amat gawat bagi Kun-gi bertiga.
Karena setiap berubah posisi, ke10 orang itu pasti menusuk sekali, malish setiap tusukan pedang mengincar Hiat-to mematikan yang harus di selamatkan sebelum sempat balas menyerang, tapi begitu kau menangkis dan balas menyerang, lawan sudah melompat pergi ke tempat lain, sementara pedang orang lain segera ganti mengancam Hiat-tomu.
Lebih hebat lagi ka-rena ke10 orang ini semua adalah ahli pedang yang memiliki kepandaian tingkat tinggi, setiap ju-rus ilmu pedang yang mereka lancarkan memiliki keistimewaannya sendiri2, ada yang lincah, ada yang bertenaga kuat, ada pula yang menyerang secara enteng dan ganas, seperti main sulap saja, gerakkannya sukar diikuti mata.
Baik serangan lincah, berat, ganas atau serba membingungkan, yang jelas setiap jurus serangan mereka ini semuanya lihay mematikan.
Barisan pedang ini terus bergerak secara serempak berganti kedudukan, cara kerja sama dalam menyerangpun amat serasi, sungguh menakjubkan dan amat mengagumkan.
Lawan yang terjatuh ke dalam lingkaran barisan, betapapun tinggi kepandaian silatnya, dalam situasi seperti ini pasti kerepotan setengah mati, tangkis sana tak sempat membendung serangan yang lain, serba terdesak.
Empat lentera yang menerangi pendopo cukup benderang, bayangan orang melulu yang tampak berseliweran di tengah desir angin pedang, hakikatnya sukar membedakan wajah orang lagi.
Deru samberan angin pedang begitu kencang, tapi tak pernah terdengar suara dering pedang sa-ling beradu.
Maka dapatlah dibayangkan betapa hebat dan berbahaya keadaan Ling Kun-gi bertiga.
Tun Thian khi merupakan kunci atau poros dari barisan ke sepuluh jago pedang ini, dia pun mengikuti gerak barisan, bersama dengan sepuluh orang yang lain bergerak berpindah posisi, lompat sana menyelinap kemari, cuma gerak-geriknya lebih leluasa dan bebas tidak terikat oleh gerakan serempet kawannya.
Sehingga setiap gerakannya bukan saja tidak menjadi penghalang dan rintangan para teman2nya, malah selalu memberi peluang dan memudahkan sepuluh orang ahli pedang itu melancarkan serangannya.
Apalagi setiap perkembangan perlawanan musuh selalu berada dalam pengawasannya, kemanapun bergerak yang diperhatikan hanya Ling Kun-gi saja, gaya permainan pedang lebar ditangannya kelihatan amat sederhana, tapi yang benar setiap jurus pedangnya selalu dapat kerja sama dengan ke sepuluh pedang temannya.
Thiansan kiam-hoat memang amat sederhana, setiap tusukan tampaknya hanya serangan yang sepele, lugu dan tidak main gertak, tapi Ling Kun-gi justeru harus tumplek perhatiannya lebih banyak untuk melayani serangannya daripada memecah sisa perhatiannya untuk menghadapi rangsakan pedang ke10 musuhnya.
Sungguh pertempuran yang cukup sengit, hebat dan dahsyat, pertempuran yang adu tenaga, dan pikiran tapi juga pertempuran adu kecerdikan.
Selama Kun-gi mengembara, baru pertama kali ini dia menghadapi pertempuran sengit dan amat memeras keringatnya seperti sekarang ini..
Sebelas pedang hitam yang dilumuri racun jahat berkelebat kian kemari menimbulkan lapisan angin kencang yang selalu menerjang ke tengah lingkaran.
Terpaksa Kun-gi peras segala ketangkasannya, dengan pedang panjang-pendek ditangan, dia menggaris dua lintang membujur miring, cahaya pedangnya tampak kemilau terang menyilaukan, sekuat tenaga dia bendung seluruh rangsakan musuh.
Bukan saja ia harus perhatikan perubahan permainan barisan lawan, langkah kakinya harus selalu berkisar dan pindah kedudukan, serangan setiap pedang dari segala arah yang beraneka tipu dan jurusnya, malah iapun harus pusatkan pikirannya untuk menghadapi Tun Thiankhi.
Tun Thian khi bersikap dingin kereng dan juga kejam, terutama ilmu pedangnya yang kelihatan sederhana dan tumpul, tapi hakikatnya mengandung tipu daya yang amat keji, gerakan pedangnya mantap dan berat, tapi mengandung variasi perubahan yang lincah dan enteng, agaknya dia betul2 sudah mem-peroleh intisariajaran Thiansankiam-hoat.
Sudah tentu yang membuat Kun-gi kuatir adalah keselamatan Kongsun Siang dan Ting Kiau.
Kalau bertanding satu lawan satu, dengan bekal kepandaian silat kedua rekannya ini, kiranya cukup untuk menandingi setiap musuh, tapi di tengah kepungan la-wan yang selalu berkisar dan hanya kelihatan ba-yangan yang berlompatan kian kemari, maka Kun-gi harus membantunya pula membendung serangan musuh untuk menyelamatkan mereka.
Pertempuran berjalan sedemikian rupa dahsyatnya sehingga terasa bagai langit mendung dan bumi gelap, sinar pedang dan deru angin bergolak laksana gempa bumi.
Keempat laki2 yang membawa lampu sebagai penerangan dalam pendopo ini terdesak mundur mepet dinding.
Kun-gi kembangkan ilmu pedangnya dengan seluruh kemampuannya, setelah puluhan jurus, dia lantas merasakan gejala yang tidak menguntungkan pihaknya.
Perlu diketahui bahwa dari gurunya dia memiliki bekal berbagai macam ilmu sakti, ilmu simpanannya itu sebetulnya bisa dikembangkan dengan kombinasi ilmu pedangnya, tapi sekarang kedua tangan harus pegang pedang serta menghadapi rangsakan musuh, hakikatnya tiada kesempatan bagi dia untuk mengem-bangkan ilmu saktinya.
Umpama Hwi-liong-sam-kiam dengan jurusnya yang bernama Liong-jan in (naga bertempur di tegalan), ilmu pedang yang khu-sus untuk menghadapi keroyokan musuh banyak tapi karena Kongsun Siang dan Ting Kiau ada di sampingnya, sulit baginya untuk mengembangkannya, Dia yakin asal sebelah tangannya dapat bekerja secara semestinya, dua atau tiga musuh pasti dapat dia robohkan, tapi keadaan sekarang amat mendesak, tak mungkin dia melepaskan salah satu dari kedua pedang pusakanya.
maka sekarang pedang, di tangan kiri digunakan melindungi badan, sementara pedang di tangan kanan bantu Ting Kiau bertahan, lalu bergantian dengan pedang ditangan kanan melindungi badan sendiri, pedang di tangan kiri menyampuk pedang musuh untuk menolong Kongsun Siang.
Sejauh ini pertempuran berlangsung, keadaan Kongsun Siang dan Ting Kiau betul2 sudah payah, mereka benar2 mengharapkan bantuan, untung Kun-gi telah bantu membendung sebagian besar serangan musuh, kalau tidak sejak tadi pasti mereka sudah terkapar tak bernyawa lagi.
Barisan pedang musuh memang lihay, tapi kipas lempit Ting Kiau masih bergerak dengan tangkas juga, tangkis kiri sampuk kanan, keadaannya sudah terdesak dan hanya mampu mempertahankan diri belaka, sudah tentu hatinyapun gugup dan gelisah.
Maklumlah di dalam rangka kipas besinya itu ada tersimpan jarum2 berbisa, bila dia memperoleh sedetik peluang membuka lebar kipasnya, jarum2 berbisa akan segera memberondong keluar, paling tidak beberapa musuh pasti akan dilukai, sayang selama ini keadaannya amat gawat, tak pernah dia memperoleh kesempatan, kalau situasi begini ber-langsung lebih lama tentu jiwa mereka akan terancam.
Kun-gi cukup paham, Kongsun Siang dan Ting Kiau juga maklum, tapi cara bagaimana mereka harus mengubah posisi dan merebut situasi?
Sukar untuk mengatakannya.
Beberapa gebrak telah berlangsung pula, Kun-gi betul2 sudah kerahkan segala daya kemampuannya, tapi barisan pedang musuh justeru semakin rapat dan ketat, serangannya terang makin berat dan gencar.
Semula Kun-gi bertiga berdiri dalam formasi segi tiga dalam jarak cukup rapat, karena tekanan barisan pedang musuh terasa semakin berat, mereka semakin mundur dan jarak mereka tinggal dua tiga kaki.
Apalagi seorang harus bertahan untuk melindungi jiwa tiga orang, sedikit lena satu di antara mereka bertiga akan roboh binasa.
Jelas keadaan gawat ini tidak boleh berlangsung terlalu lama.
Di tengah pertempuran sengit itu, mendadak Ting Kiau berteriak.
"Cong-coh, tolong kau bantu aku menahan musuh."
Sembari berkaokkaki Ting Kiau lantas menyurut mundur.
Sudah tentu Kun-gi kaget, Seng-ka-kiam di tangan kanannya segera menyapu dengan tipu Hing-lanjianli (pagar membentang ribuan li), selarik cahaya hijau segera menggulung ke depan, berbareng dia bertanya.
"Ting-heng apakah kau terluka?"
Daya-pedangnya yang menyapu ini sungguh hebat sekali, sedikitnya empat batang pedang musuh yang mengancam tubuh Ting Kiau telah dipatahkannya di tengah jalan.
Mendengar teriakan Ting Kiau, Tun Tiankhi mengira memperoleh kesempatan baik, begitu Ling Kun gi menyapukan pedang tangan kanan, segera ia berkelebat maju tepat berhadapan dengan Kun-gi, pedang lebarnya dengan deru angin yang keras menusuk ke dada, seranganterjadisecepatkilat menyambar.
Sementara itu pedang Kun-gi berhasil mematahkan empat pedang musuh, iapun mendapat jawaban Ting Kiau yang lagi beringas.
"Hamba baik2 saja' Belum lenyap teriakannya, kipasnya tiba2, menjeplak terbuka dibarengi suara menjepret, serumpun jarum2 halus bagai bulu kerbau segera menyambar ke depan mengarah orang2 yang berada di depannya. Kun-gi tidak kira bahwa Tun Thiankhi dapat menyelinap maju sedemikian cepat dan tangkas, untuk memutar pedang membela diri jelas tak keburu, sementara pedang lebar lawan sudah satu kaki di depan dadanya, jangankan Ih-thiankiam panjangnya empat kaki, sementara Seng-ka-kiam yang pendek juga ada dua kaki panjangnya, untuk di-tarik balik menangkis jelas tidak mungkin. Sekilas darahnya tersirap, menghadapi bahaya timbut hasrat nekat menyerempet bahaya, jari2 tangan kanan yang menggenggam pedang tiba2 sedikit mengendur, jari tengah mendadak menjentik ke bawah pedang panjang musuh. Yang dilancarkan ini adalah It-cay-siankang (selentikan jari sakti), sejalur angin selentikan yang keras seketika menerjang ke depan "Creng", tepat pedang lebar lawan kena diselentiknya sehingga mental ke samping. Pada saat yang sama di tengah gelak tawa Ting Kiau yang beringas, terdengar pula gerungan gusar dan jeritan yang menyayat hati. Yang tertawa beringas adalah Ting Kiau yang berhasil menyambit serumpun jarum2 berbisa. Yang menggerung gusar dan menjerit kesakitan adalah empat orang baju hijau yang keempat pedang mereka kena disampuk pergi oleh pedang Ling Kun-gi. Dua orang sempat melihat bahaya, sembari menggerung gusar mereka putar pedang bagai kitiran sambil melompat mundur, celakalah dua temannya yang melompat maju belakangan, baru sa-ja mereka menempati posisi, tahu2 jarum Ting Kiau sudah memapak mereka, untuk menangkis tidak mungkin, berkelitpun tidak bisa, kontan mereka menjeritngeridanrobohbinasa. Mendengar gerungan gusar dan jeritan ngeri apalagi pedangnya terjentik miring lagi, keruan Tun Thiankhi kaget setengah mati, hampir saja dia tak kuasa memegang pedangnya lagi. Bahwa jentikannrya berhasil mematahkan serangan musuh, Kungi segera kerjakan kedua tangannya, dengan mengembangkan Taybeng-jance (burung galak mengembang sayap), dua larik sinar pedangnya, tiba2 bercerai ke kanan-kiri menyapu dan dibarengi tendangan kaki menggeledek ke arah depan dengan tipu To-sing to, Ling Kun-gi menendang sambil mengapungkan badan ke udara. Karena pedang tersampuk miring sehingga dada Tun Thiankhi terbuka, sementara jarak mereka sedemikian dekat, untuk berkelit sudah tidak mungkin lagi.
"Blang", dengan telak tendangan Kun-gi tepat mengenai dadanya, mulut menguak keras, badan seketika mencelat melampaui kepala orang banyak sambil menyemburkan darah dan ter-banting keras di luar arena, napasnya putus seketika. Dua orang roboh binasa terkena jarum berbisa, Tun Thiankhi yang pegang kendali dan menjadi pimpinan barisan Cap-coat-kiam-tin ini juga binasa ditendang Ling Kun-gi, pelaku2 barisan yang lain tidak tahu kalau Tun Thiankhi sudah putus napas, dikala pertempuran memuncak begini sengit dan seru mendadak terjadi perubahan fatal, keruan barisan pedang menjadi kalang-kabut Sejak mulai gebrak Kongsun Siang selalu terdesak di bawah angin, betapa gusar dan penasarnya sungguh tak terkatakan, kini melihat ada peluang, mendadak dia menggertak keras, segera ia menubruk maju, pedangpun bekerja.
"Creet", seorang baju hijau kena ditusuk iga kirinya, agaknya amarahnya betul2 memuncak, begitu ujung pedang ambles ke iga lawan, menyusul teras dipuntir, seketika orang itu menjerit ngeri, dadanya berlobang besar dengan tulang iganya terpapas kutung seluruhnya. Berhasil menendang roboh Tun Thiankhi, su-dah tentu semangat tempur Ling Kun-gi bertambah besar, sekali ayun tangan kiri, Ihthiankiam memancarkan cahaya kemilau menggulung kedepan, empat orang baju hijau tepat berada di depannya. Baru saja tangan kiri Kun-gi bergerak, tangan kanan dengan pedang pandak bergerak pula, ditengah kemilau cahaya pedangnya memancarkan bintik2 sinar yang dingin. Kiranya Ling Kun-gi telah kembangkan jurus Hingho-liu-sa dari Tat-mo-kiam hoat yang hebat. Empat orang berbaju hijau di depannya itu menjadi mati kutu menghadapi gerakan kedua pedang Ling Kun-gi, untuk menangkispun tak mampu lagi, terpaksa mereka mundur tiga langkah. Bahwa kedudukan barisan sudah goyah, para pelakunya juga sama berguguran lagi, maka Cap-coat-kiam-tin itu semakin kacau, kini keempat orang inipun terdesak mundur, maka pecahlah barisan pedang kesepuluh orang yang amat dibanggakan kedahsyatannya oleh Hek-liong-hwe itu. Beruntun dua kali gerakan pedang Ling Kun-gi menahan keempat orang, Ting Kiau dengan kipas lempitnya juga mencegat seorang lawan dengan permainan kipasnya yang lihay. Di sebelah kiri Kong-sun Siang dengan gerungan mirip serigala kelaparan mengembangkan Thianlong-kiam-hoat, seluruh kekuatan dia kerahkan, badan bergerak setangkas 'serigala mencari mangsa di tengah gerombolan kambing", sinar pedangnya timbul selulup, dua orang musuh kontan dirobohkan. Cap-coat-kiam-tin yang dibentuk dengan mengutamakan saling bantu, ber-pindah2 posisi serta saling isi dari para pelakunya yang memiliki kepandaian ilmu silat beragam itu, kini sudah tercerai-berai menjadi tiga kelompok pertempuran yang berjalan sendiri2, terpaksa mereka kini harus mengandal kekuatan sendiri untuk mengadu jiwa. Melihat Cap-coat-tin sudah pecah, semakin berkobar semangat tempur Kun-gi, segera ia berteriak lantang.
"Kongsun-heng, Tingheng, tahan dan kurung mereka, jangan lepaskan satupun di antara mereka."
"Sret", beruntun tiga kali gerakan pedang Ling Kun-gi memancarkan cahaya pedang kemilau membendang empat orang berbaju hijau yang mencoba berpencar, tiba2 pedang pandak di tangan ka-nannya dia tusukan ke bawah tanah sehingga tangan kanannya sekarang tidak bersenjata. Terdengar seorang kakek diantara musuh itu menggerung gusar, bentaknya.
"Bocah keparat she Ling, kau kira kalian sudah pasti menang?"
Mendadak ia menerobos maju, pedang menu-suk lurus ke depan.
Pedang itu berwarna hitam gelap menimbulkan deru angin yang keras.
Kun-gi tahu kakek ubanan ini berkepandaian paling tinggi di antara empat lawan yang ditahannya, karena dia pikir harus secepatnya mengakhiri pertempuran di sini, maka timbul niatnya melenyapkan orang ini lebih dulu, segera ia membentak.
"Sebutkan namamu agar dapat kunilai apakah setimpal aku merenggut jiwamu?". Berbareng tangan kanan bergerak menepuk sekali, segulung tenaga lunak tak kelihatan menyong-song tusukan pedang lawan, tusukan pedang si kakek ternyata kena di tahannya dan membelok ke samping. Terkesiap si kakek, dia tarik tangannya, pedang dia tarik mundur, tapi secepat kilat dia tusukkan pula lebih keras, mulutpun menghardik.? "Lohu He Ho-bong adanya!"
"O, kiranya kau inilah Jit-poh-tui-hun (tujuh langkah mengejar sukma)", jengek Ling Kun-gi dingin."iblis laknat dari kalangan jahat yang membunuh mangsanya tak pernah berkedip. Bagus sekali, kedua tanganmu sudah berlumuran darah, dosamu keliwat takaran, hariinitak dapatkuampuni jiwamu."
Sambil bicara dia luruskan lengan kanan ke depan, pelan2 telapak tangannya menepuk. He Ho-hong menjadi gusar, damperatnya.
"Bocah keparat, jangan kau ...."
Sebetulnya dia hendak bilang "jangan kau takabur", tapi kata2 yang terakhir belum sempat dia ucapkan, mendadak rona mukanya berubah hebat.
Duk duk duk, tiba2 ia tergentak mundur beberapa tindak, mulut terbuka darahpun menyembur, pelan2 badannya roboh tersungkur.
Sudah tentu kaget dan ngeri ketiga temannya menyaksikan kawannya gugur, satu di antaranya tiba2 menghardik kalap.
"Hayolah kita adu jiwa dengannya!"
Tiga batang pedang segera menyambar ke depan dengan berbagai tipu ilmu pedang masing2.
Tangan kiri Kun-gi berayun beberapa kali, Ih-thiankiam memancarkan sinar terang, bukan saja serangan lawan dapat dipunahkan, malah badan ketiga lawan seolah terbungkus dalam sinar pedangnya, Kun-gi lantas membentak.
"Kali-an bertiga satu persatu sebutkan nama sendiri2, ingin kutahu apakah kalian penjahat yang pantas dihukum mati atau tidak?"
Tangan kirinya mengembangkan Tat-mo-kiam-hoat, inilah ilmu pedang pelindung Siau-lim-si, setelah digubah oleh Hoan jiu ji-lay, kini dikbembangkan Ling dKun-gi dengan taangan kiri, terbnyata perbawanya jauh lebih meyakinkan.
Dalam sekejap saja ketiga musuh sudah terbungkus oleh cahaya pedang yang menyilaukan, lama2 mereka menjadi pusing tujuh keliling, mata berkunang2, meski sudah terdesak dan terancam jiwanya, tapi ketiga orang tetap bandel, mereka tetap putar pedang melawan dengan nekat.
Akhirnya Kun-gi menjadi tidak sabar, katanya sambil mendengus.
"Kalian tidak mau mengenalkan diri, jelas durjana kejam kelewat takaran dosanya dan pantas dihukum mati."
Belum habis ucapannya, pedang panjang ditangan kanan sudah melancarkan tiga kali serangan, dia tahan serbuan bersama ketiga musuh, berbareng sebelah kakinya menyurut mundur, tangan kanan terangkat, kembali dia menepuk sekali, yang diincar adalah laki2 yang bermuka jelek dengan daging besar menonjol di mukanya.
Sudah tentu laki2 muka buruk ini kaget dan ketakutan, sekuatnya dia putar pedang melindungi badan, tapi Mo-ni-in yang dilancarkan Ling Kun-gi mana bisa ditahan oleh daya putaran sebatang pedang.
Ia menggerung tertahan, pedangnya terlempar, badan terhuyung dan akhirnya roboh tersungkur.
Dalam beberapa gebrak saja dua orang di antara empat lawan telah digasak binasa, sudah tentu dua orang yang masih sisa hidup menjadi kaget dan ketakutan, serempak mereka menyerang beberapa kali, begitu menyurut mundur, sigap sekali mereka putar badansambil melompatberpencarkeduaarahdanlarikeluar.
Kun-gi melotot gusar, serunya.
"Kalian ingin lolos dari tangan orang she Ling, memangnya begini mudah?"
Tangan kanan mencabut Seng-ka-kiam yang menancap di tanah, sekali timpuk dia sambitkan pedang pandak itu ke arah punggung orang baju hijau yang tengah berlari ke arah pintu batu.
Begitu pedang pandak terlepas dari tangan, segera iapun melejit tinggi mengudak ke arah orang berbaju hijau yang lain.
Mimpipun orang yang lari ke arah kanan tidak pernah menduga bahwa Ling Kun-gi akan menimpuknya dengan pedang pandak seperti lembing, ketika dia mendengar samberan angin kencang, untuk berkelit sudah tidak keburu lagi.
Di tengah teriakan kejutnya, tahu2 Seng-ka-kiam telah menusuk punggung dan tembus keluar dada, orang itu masih lari beberapa langkah baru kemudian tersungkur mampus.
Seorang lagi lari ke arah berlawanan, ia sedang girang karena dirinya hampir mencapai pintu, mendadak pandangannya menjadi silau oleh berkelebatnya cahaya kemilau, Kun-gi ternyata sudah menukikturun mengadangdidepannya.
Sekilas kaget segera orang itu mengayun tangan kirinya, segulung asap tebal tiba2 menyembur keluar, sementara pedang di tangan kanan menyerang dengan jurus "mendorong perahu mengikutiarusair", dada Kun-gi ditusuknya, malah sambil menyeringai seram dia mendamperat.
"Anak bagus, kau terlalu pandang rendah diriku, si "pedang dalam kabut"
Ini."
Bu-tiong-kiam atau "pedang dalam kabut"
Cukup menyeramkan juga julukannya ini, dapat pula kita bayangkan betapa kejamnya orang ini, pastilah dia gembong penjahat yang sudah kelewat takaran kejahatannya.
Asap itu kalau bukan mengandung obat bius tentu mengandung racun, tapi Kun-gi tidak takut racun tidak gentar obat bius, dengan tegap dia tetap berdiri di tengah pintu, tangan kanan terangkat, dengan jari telunjuk dan jari tengah dia jepit ujung pedang lawan yang menusuk dadanya itu.
Bahwa pedangnya kena dijepit jari2 Ling Kun-gi, tapi Bu-tiong-kiamtidak kelihatankagetdangugup, dia hanyamenyurutsetengah tindak, sebelah tangan terangkat serta mengulap, katanya tiba2 sambil menyeringaisaja.
"Anak muda, robohlah, robohlah!' Kun-gi tetap berdiri, tak bergeming, jengeknya.
"Kau kira asap racunmu dapat merobohkan aku orang she Ling? Nah pergilah kau!"
Pedang yang dia jepit dengan kedua jarinya mendadak dia dorong ke depan.
Melihat Kun-gi tidak roboh seperti yang dia harapkan, Bu-tiong-kiam sudah mulai jera, belum lagi dia lepas pedang dan hendak melompat mundur, tahu2 gagang pedang sendiri yang dipegangnya telah tergentak mundur oleh dorongan Kun-gi dan "duk"
Dengan telak menyodok dadanya, tanpa mengeluarkan, suara pelan2 dia sendiri yang roboh terjiengkang malah.
Sementara itu musuh yang dihadapi Ting Kiau adalah Tun Thianlay, komandan ronda Hwi-liong-tong.
Senjata yang dipakainya adalah pedang panjang dan lebar, Thiansankiam-hoat yang dia mainkan tampak begitu mahir, meski dia tidak memiliki Lwekang sekuat engkohnya, Tun Thianki, tapi dalam gerakan yang amat sederhana itu, mengandang banyak perubahan yang tidak kalah lihaynya, malah setiap gerak tipu serangannya tidak tanggung2 dan cukup keji.
Sementara kipas Ting Kiau kadang2 terbentang dan tahu2 mengatup, kalau terbentang laksana kampak besar, membelah tegak atau membabat miring, deru anginnya cukup keras mengiria kulit.
Kalau kipas dilempit merupakan tongkat besi sepanjang satu kaki peranti menutuk dan menyodok, di samping untuk mengincar Hiat-todapatpulauntuk melukaisetiapanggotabadan lawan.
Di antara babak pertempuran yang terus berlangsung sengit ini adalah Kongsun Siang yang mengalami tekanan paling berat.
lawannya dua orang, seorang berusia 40-an, berjambang pendek, permainan ilmu pedangnya lebih mirip ilmu golok, pedangnya yang berat itu lebih sering membacok dan membabat.
Seorang lagi adalah satu2nya perempuan di dalam barisan Cap coat kiam-tin, usianya sudah lebih 40, tapi mukanya masih mengenakan pupur tebal dan gincu yang berwarna menyala, kupingnya dihiasi sepasang anting2 gelang sebesar telur ayam, anting2 besar ini gondal gandul mengikuti gerak permainan senjata di tangannya, kecuali pupur, gincu dan anting2 dikupingnya itu orang sukar menemukan ciri2 perempuan pada badannya yang kekar besar ini.
Tapi ilmu pedangnya ternyata lincah, cekatan, ganas dan keji, segala sifat buas yang ada pada binatang seolah2 tercakup seluruhnyadi dalampermainanpedangnya.
Cukup payah dan memeras keringat juga Kongsun Siang menghadapi kedua lawannya ini, tiga orang dalam formasi segi tiga sedang seorang menyerang dengan sengit selama puluhan gebrak, meski belum tampak kalah, tapi juga belum ada tanda2 Akan dapat mengungguli kedua lawannya.
Si baju hijau yang berpedang dengan gaya permainan ilmu golok agaknya tidak sabar lagi, dengan menggerung gusar tiba2 pedangnya berputar kencang, tampak bayangan gelap ber-lapis2, laksana gelombang menggulung tiba.
Sejak tadi Kongsun Siang sudah berusaha menghindari benturan senjata dengan lawan, dalam keadaan kepepet seperti sekarang ini, umpama dia berusaha untuk menghindar lagi juga sudah tidak keburu lagi.
Maka terdengarlah dering nyaring memekak telinga dari benturan dua senjata yang bentrok secara keras, Kongsun Siang merasa telapak tangan sendiri tergetar pegal dan pati rasa, beruntung dia mundur dua langkah, tiba2 sebuah hardikan mengguntur di pinggir telinganya, perempuan baju hijau di sebelahnya telah menubruk maju sambil memutar pedangnya laksana angin lesus menggulung mangsanya.
Sigap sekali Kongsun Siang menubruk ke depan, sementara pedangnya membalik kebelakang menusuk perempuan itu, tapi baru saja gerakan mengegos sambil menyerang ini dia lancarkan, jalur hitam dari bayangan pedang lain tahu2 sudah menyapu tiba pula dan mengincar bagian bawah badannya.
Keruan tidak kepalang kaget Kongsun Siang, cepat2 dia berkelit pula, tapi tak urung pahanya tergores luka juga, darah segera meleleh membasahi celananya.
Untunglah pada saat itu Ling Kun-gi telah menyimpan pedang pandaknya dan segera membentak.
"Kongsun-heng, mundurlah kau.". Kongsun Siang tidak hiraukan seruan ini, sambil menggerung dia tinggalkan perempuan baju hijau lawannya, mendadak dia menubruk ke arah laki2 berewok bersenjata pedang, Sret, sret, sret, sret secepat kilat dia lontarkan tujuh serangan ganas dan lihay dari Thianlong-kiam. Bahwa Cap-coat-tin sudah pecah, kini Kongsun Siang meninggalkan dia, sudah tentu sangat kebetulan bagi perempuan baju itu, tanpa peduli mati hidup temannya, segera dia melejit mundur terus berkelebat ke arah pintu sebelah kiri. Tak terduga Ling Kun-gi ternyata bergerak lebih cepat lagi, tahu2 dia sudah mencegat di depannya, hardiknya.
"Nona sebutkan dulu julukanmu."
Melihat orang sudah menyimpan pedang, dengan bertangan kosong berani mencegat dirinya lagi, seketika perempuan baju hijau yang berpupur tebal menjengek.
"Siapa nona besarmu ini, setelah kau melihat ini pasti akan tahu"
Mendadak tangan kirinya terayun, entah cara bagaimana cepat sekali dia sudah kenakan sarung tangan, segenggam pasir beracun segera dia sebarkan ke arah Ling Kun-gi.
Menegak alis Kun-gi, wajahnya tampak bercahaya dan penuh wibawa, serunya sambil tertawa lantang.
"Toanhuntok-sa" (pasir beracun perenggut nyawa), memang kau tidak perlu sebutkan namamu lagi."
Sambil bicara dengan enteng dia angkat lengan bajunya terus mengebut, taburan pasir beracun la-wan tahu2 tergulung seluruhnya, malah terus dihambur balik menyerang tuannya.
Sudah tentu mimpipun perempuan baju hijau tidak pernah menyangka bahwa Ling Kun-gi akan berbuat seperti itu, sembari menjerit kaget, belum lagi dia sempat menyingkir, pasir beracun miliknya sendiri tahu2 sudah mengenai badan sendiri, asap hitam segera mengepul dari seluruh badannya, pelan2 iapun roboh terkulai dan binasa.
Dalam ruang pendopo yang cukup luas ini kini tinggal empat orang lagi yang masih terus berhantam dengan sengit.
Ting Kiau dengan kipas lempitnya masih saling serang dengan Tun Thian lay yang bersenjata pedang lebar, keduanya berebut kesempatan dan mengejar kemenangan.
Sayang sekali jarum beracun yang tersimpan dalam kerangka kipasnya sudah habis terpakai, dalam keadaan mendesak ini terang tak sempat lagi dia memasang dan mengisi jarum2nya, terpaksa dia andalkan kemahiran ilmu kipasnya menghadapi ilmu pedang musuh.
Setelah perempuan baju hijau tewas, Kongsun Siang kini hanya menghadapi satu lawan, seluruh perhatian dapatr dia tumplek ketpada lawan yangq satu ini, makar Thianlong-kiam dapat dia kembangkan dengan lancar dan gencar, ia melompat kian kemari setangkas serigala, tiba2 terjang ke kiri, tahu2 menubruk ke kanan, sinar pedangnyapun ikut bergaya laksana kilat, Sebetulnya cukup keras dan ganas juga -permainan ilmu pedang bergaya golok si laki2 berewok, tapi Thianlong-kiam Kongsun Siang sangat lihay dengan gerakan2 aneh dan membingungkan sehingga lawan dibuat pusing mengikuti gerakkannya, akhirnya hanya bertahan saja dan tidak segarang tadi.
Karena paha tergores luka pedang lawan, betapa geram hati Kongsun Siang, dendam rasanya tidak terlampias sebelum lawannya roboh termakan pedangnya, padahal pahanya masih terus melelehkan darah berwarna hitam hingga membasahi lantai.
Yang terkejut adalah Ling Kun-gi, melihat darah hitam di paha Kongsun Siang, baru dia ingat bahwa pedang lawan dilumuri getah beracun, segera dia berseru.
"Kongsun-heng, lekas mundur."
Tangan terayun, dia membelah ketengah antara kedua lawan yang lagi berhantamseru.
Pedang Kongsun Siang terayun kencang, serangannya gencar seperti orang kalap, pikirannya sudah mulai kabur, cuma dia terlalu apal dan mahir menggunakan ilmu pedangnya, maka kaki bergerak tanganpun bekerja secara otomatis.
mendadak dia tersentak mendengar seruan Ling Kun-gi, serta merta gerakannya sedikit merandek, badan bagian ataspun tampak bergontai lemah, akhirnya sempoyongandan jatuhterduduk denganlunglaidi lantai.
Pukulan telapak tangan ke tengah2 kedua lawan yang lagi berhantam oleh Ling Kun-gi itu ternyata tepat pada waktunya, gerakan telapak tangannya menimbulkan sejalur angin lunak menahan luncuran pedang laki2 berewok berilmu golok aneh itu, sigap sekali dia melejit maju ke samping Kongsun Siang.
Bersamaan waktunya laki2 berewok itupun melompat mundur, begitu membalik terus lari keluar pintu.
Tak sempat lagi Ling Kun-gi menghiraukan musuh, keselamatan Kongsun Siang lebih utama, lekas dia keluarkan Leliong-pi-tok-cu, celana Kong-sun Siang yang sudah basah dan lengket dikulit dia sobek, mutiara itu segera dia gosok dan digelindingkan beberapa balipulang pergidipermukaankulit dagingnyayangterluka.
Dalam pada itu Tun Thianlay masih melabrak Ting Kiau mati2an, bahwa teman-temannya sudah binasa dan ada yang melarikan diri, tinggal dia seorang yang masih berhantam mempertahankan jiwa, sudah tentu semakin luluh semangat tempurnya, suatu ketika dia pergencar gerak pedang lebarnya, dengan sengit dia menyerang tiga kali, setelah Ting Kiau dapat diaesaknya mundur, lekas dia melompat ke belakang, gerakannya masih tangkas meski sudah kehabisan tenaga setelah bertempur sekian lamanya, tahu2 bayangannya sudah berkelebat keluar pintu.
Sudah tentu Ting Kiau tidak berpeluk tangan, segera ia menghardik.
"Orang she Tun, ke mana kau mau lari"
Tanpa pikir segera ia mengejar ke sana. Kun-gi sendiri tengah mengerahkan Lwekang membantu menyembuhkan luka Kongsun Siang, mendengar hardikan Ting Kiau, lekas dia berpaling seraya berteriak.
"Ting heng, musuh sudah kalah, takusahdikejar."' Sementara itu empat laki2 yang berdiri di empat pojok membawa lampion tadi secara diam2pun telah memadamkan api serta menghilang entah lari ke mana. Kini tinggal Ling Kun-gi dan Kongsun Siang dua orang saja yang berada di dalam pedopo yang gelap itu. Hati Kun-gi amat gelisah, tapi Kongsun Siang pingsan keracunan, terpaksa dia harus menolongnya lebih dulu. Untung Pi-tok-cu adalah obat mujarab untuk menawarkan bisa getah beracun, tak seberapa lama kadar racun yang mengeram di luka Kongsun Siang sudah meleleh keluar bersama darah hitam, setelah luka dipaha rasanya tidak membahayakan lagi, segera dia menyobek jubah sendiri untuk pembalut luka orang. Kongsun Siang menarik napas panjang dan pelan2 membuka mata, teriaknya.
"Ling-Leng....."
Belum habis dia bicara mendadak suara gemuruh sayup2 mulai timbul seperti datang dari bawah tanah. Tergerak hati Kun-gi, katanya.
"Mungkin mereka sudah mulai mengerjakan alat perangkap, lekas kita tinggalkan tempat ini."
Sambil memapah Kongsun Siang segera ia berdiri.
"Ling-heng,"
Ujar Kongsun Siang sambil meronta..
"biar Siaute berjalan sendiri."
Sementara suara gemuruh yang bergema semakin keras dari bawahbumi, semakin dekatdan keras.
WaktuKun-giangkatkepala, dilihatnya pintu batu sebelah timur dan barat mulai bergerak menutup, lekas dia berkata.
"Luka Kongsun-heng belum sembuh, marilah kupapah saja."
Dengan tangan kiri setengah mengempit pinggang orang, dengan beberapa kali gerakan mereka sudah meluncur ke arah pintu timur yang jaraknya lebih dekat.
Ternyata di luar pintu adalah sebuah lorong panjang yang beralaskan batu2 hijau, tidak cukup untuk jalan dua orang berjajar, tampak patung batu tadi kini sudah menggeser mundur kedindingdan bergeraklagi.
Baru beberapa langkah Kun-gi berjalan sambil setengah menyeret Kongsun Siang, terdengar suara gedubrakan keras, pintu batu dibelakangnya sudah tertutup rapat dengan mengeluarkan suara gemuruh.
Kongsun Siang menegakkan badannya, dengan kuatir ia tanya.
"Ling-heng, manaTing-heng?Diatidakkeluar?"
"Dia mengejar seorang musuh yang lari ke pintu barat tadi,"
Tutur Kun-gi.
Pintu batu sudah tertutup tapi suara gemuruh di bawah tanah masih terus bergema, Diam2 Kun-gi merasa heran, akhirnya dia kerahkan Lwekang dengan ketajaman matanya dia periksa keadaan sekelilingnya.
Nyata dinding sekelilingnya tetap utuh tak nampak perubahan apa2, tanpa sengaja ia mendongak melihat ke atap.
Seketika ia melonjak kaget, ternyata batu besar yang tepat di atas lorong tengah menindih turun pelan2.
Betapapun tabah hati Ling Kun-gi, meski tidak sedikit musuh2 tangguh yang pernah dia kalahkan, tapi belum pernah dia menghadapi keadaan gawat seperti ini, tanpa banyak pikir tekas dia kempit Kongsun Sing terus kabur ke depan secepatnya.
Lorong sempit ini ternyata sepuluhan tambak panjangnya, sepanjang itu batu yang berada di atas lorong sama2 ambles ke bawah, ke manapun berlari dan betapapun cepat ingin menyingkir tetap akan sia2 belaka, karena batu atap di bagian depan lorong yangbakaldilaluijugatelahmulai menggeserkebawah, Tiba2 di ujung lorong Kun-gi diadang oleh dinding batu pula, jelas tiada jalan keluar untuk menyelamatkan diri, sementara batu atap masih terus menindih turun semakin rendah dan sudah hampir menyentuh kepala, saking bingungnya akhirnya dia menghela napas putus asa, katanya.
"Kongsun-heng, agaknya malam ini kita bakal terkubur di tempat ini."
Luka paha Kongsun Siang belum sembuh, tapi sekuatnya dia berdiri sambil bertopang di badan Ling Kun-gi, keadaan sudah amat mendesak, tapi mereka tetap berlaku tenang, dengan ketajaman matanyadiaberusaha memeriksadindingdisekitarnya.
Mendadak kaki kirinya yang tidak terluka dia ulur dan menendang sekuatnya ke dinding sebelah kiri bawah, lalu menginjak pula sekeras2nya lantai di depan kakinya.
Terasa lantai yang terpijak kakinya anjlok turun, ternyata lantai yang diinjaknya itu dapat bergerak, waktu dia angkat kakinya, lantai itu terangkat naik pula ke tempat asalnya, kalau tidak diperhatikan orang takkan tahu kalau di situ ada rahasianya Dalam pada itu batu di atas kepala sudah merosot semakin rendah, mereka sudah tak bisa berdiri tegak lagi, dengan setengah berjongkok mereka mundur mepet dinding, tapi pada detik2 yang menentukan itulah, mungkin karena menginjak lantai yang melesat turun oleh injakan Kongsun Siang tadi, tahu2 dinding di sebelah kiri mereka tanpa suara telah bergerak dan terbukalah celah2 yang cukup lebar.
Kongsun Siang menghela napas lega, katanya.
"Syukurlah jalan keluarnya kena kutebak dengan jitu. Ling-heng, lekas keluar"
Lalu dia mendahului menerobos keluar. Setelah berada di luar, Kun-gi berkata lega sambil tertawa.
"Untung Kongsun-heng paham juga akan permainan peralatan rahasia itu, kalau tidak kita sudah tertindih hancur lebur,"
"Blum!"
Selagi mereka bicara itulah batu besar di lorong itu sudah anjlok, besarnya tepat memenuhi sepanjang lorong, tiada yang sedikitpun yang tersisa. Diam2 Kun-gi berkeringat dingin, batinnya.
"Entah bagaimana keadaan Ting Kiau, mungkinkah iapun kejatuhan batu, semoga dia lolos darielmaut."
Di luar lorong ternyata masih ada lorong lagi yang di pagari dinding tinggi, cuma lorong di sini sedikit lebih lebar.
Dengan mengacungkan Leliong cu di atas kepala, Kun-gi membuka jalan di sebelah depan, sementara luka di paha Kongsun Siang sudah dibalut, maka dia bisa bergerak lebih leluasa, dengan ketat dia mengikuti langkah Ling Kun-gi.
Lorong panjang ini amat gelap, bayangan setanpun tidak kelihatan, tapi dengan hati2 dan waspada mereka terus menggeremet maju.
Kira2 puluhan tom-bak kemudian, dari kegelapan dibelokan sebelah depan sana berkelebat sinar pedang yang menyamber laksana kilat, begitu cepat dan lihay samberan sinar pedang ini, tahu2 sudah membabat miring mengincar pinggang Ling Kun-gi.
Untunglah Kun-gi sela!u pasang kuping dan pasang mata lebar2, serangan terjadi mendadak dan sukar dijaga, lawan yang sembunyi agaknya memang lihay, sampai dengus napaspun tidak terdengar, sehingga tak tersangka, kalau musuh tiba2 melancarkan serangan gelap selihay ini..
Secara otomatis begitu melihat sinar pedang menyamber tiba, Kun-gi ayun tangannya menepuk ke batang pedang lawan, padahal ujung pedang lawan sudah dekat pinggangnya, untunglah tepukan tangannya yang bertenaga kuat mampu menggetar pergi pedang lawan.
Si pembokong ternyata berkepandaian tinggi, tahu2 pedangnya ditarik balik, dalam kegelapan yang menguntungkannya, dia lompat ke belakang, berbareng dua bintik sinar dingin tahu2 meluncur ke arah Ling Kun-gi.
Kun-gi mendengus, sekali lengan bajunya mengebut, kedua bintik sinar itu seketika tergulung ke dalam gerakan Kian kut siu, sekalisendal lagi keduabintik kemilau itupun jatuh ketanah.
Gebrak ini berlangsung dalam sekejap, dengan cepat Kun-gi mengudak maju seraya membentak, sekali berkelebat dia sudah menerobos ke tempat belokan, dilihatnya sesosok bayangan orang tengah menyurut ke tempat gelap di lorong sebelah depan sana.
Segera dia menghardik.
"Masih mau lari ke mana kau?"
"Wut"kontantangankanannya memukul kedepan. Di dalam lorong yang sempit dan memanjang ini kecuali berkelahi secara kekerasan, tak mungkin berkelit lagi, apalagi pukulan Kun-gi ini dilancarkan sambil mengudak maju dengan kencang tenaga pukulannya laksana badai menerjang ke punggung orang itu. Padahal orang itu tengah mengayun langkah sekuatnya lari ke depan, tiba2 terasa kesiur angin kencang di belakangnya, sebagai orang yang telah berpengalaman, dia tahu bahwa Ling Kun-gi tengah menyerang dirinya dengan pukulan dahsyat, kalau melawan secara keras, mungkin dirinya mampu mematahkan sebagian kekuatan pukulan lawan, itu berarti jiwa masih mungkin tertolong. Pikiran bekerja secara cepat pula badannya membalik, iapun menghardik tak kalah kerasnya.
"Biar aku adu jiwa dengan kau!"
Kedua tangan terulur lurus menyongsoug ke depan.
Setelah dia membalik tubuh, baru terlihat jelas wajah orang itu, kiranya dia adalah laki2 berewok yang tadi berhasil lolos dari ruang pendopo, sorot matanya yang buas dan liar jelalatan memancarkan rasa takut dan kalap, mukanya tampak beringas, pukulan Kun gi ini menggunakan Mo-ni-in, meski laki2 berewok cukup cekatan dan bertindak tepat, toh dia tidak kuasa menghadapi pukulan sakti ini.
Kontan dia rasakan dada seperti dipukul godam, darah bergolak, kepala pusing, pandangan berkunang2, mulut terpentang megap2, napaspun ter-sengal2.
Dengan sinis Kun-gi tatap muka orang, katanya dingin.
"O, kiranya kau!"
Sorot mata laki2 berewok kini tambah liar, dengan melotot dia awasi mutiara di tangan Ling Kun-gi rona mukanya akhirnya mbenampilkan rasa heran dan jera, bentaknya.
"Berdiri, tahan dulu, ada omongan ingin kutanya kau."
Pedang siap di depan dadanya, ujung pedang teracung ke depan mengincar dada Ling Kun-gi, agaknya dia kuatir kalau Kun-gi menyergapnya. Kun-gi berdiri lima kaki di depan orang, tanyanya.
"Masih ingin omong apalagi?"
"Apakah yang berada di tanganmu itu CinCu-ling?"
Tanya laki2 berewok.
"Betul,"ucap Ling Kun-gisinis.
"inilahCinCu-ling."
Mendadak berubah hebat air muka laki2 berewok, bibirnya tampakrada gemetar, suaranyaserak."Kau....sheLing."
Heran Kun-gi, katanya.
"Betul, aku she Ling."
Mendadak laki2 berewok putar tubuh, dengan langkah tergopoh dia berkelebat ke ujung kanan dinding sana. Pertanyaan orang menimbulkan rasa ingin tahu Ling Kun-gi, hardiknya.
"Berhenti!"
Lengan kanannya terayun, dia lontarkan segulung angin pukulan yang keras dan kuat, sasarannya bukan badan laki2 berewok, tapi mengincar dinding batu di depan orang, jadidia berusaha mencegatorang melarikan diri.
Kepandaian si berewok ternyata harus dipuji juga, merasakan tekanan berat dari depan, sebelum dirinya menumbuk tenaga kuat itu, cepat dia meng-hentikan gerak badannya, teriaknya beringas.
"Apa maumu?"
Kun-gi ulur telapak tangannya yang memegang Leliong-cu, tanyanya.
"Kau kenal mutiaraku ini?"
"Siapapun kenal akan CinCu-ling,"
Sahut laki2 berewok.
"Kau salah satu dari tiga pnluh enam panglima itu bukan?"
Tanya Kun-gi. Melihat Kun-gi berdiri menatap dirinya lekat2, seperti menunggu jawabannya, seketika timbul amarahnya, katanya dengan ketus.
"Betul!"
Mendadak dua jari tangan kirinya mencolok ke dua mata Ling Kun-gi, berbareng pedang di tangan kanan menusuk ke lambung.
Serangannya itu amat keji dan secara mendadak, pikirnya betapapun tinggi kepandaian Ling Kun-gi pasti akan kecundang di bawah pedangnya.
Tak terduga tangan Ling Kun-gi mendadak menangkap pergelangan tangan kanannya yang memegang pedang.
Tahu2 laki2 berewok merasakan pergelangan tangan kesakitan, keruan ia kaget, belum lagi dia meronta, jari2 orang sekeras tanggam telah pencet urat nadinya sehingga badannya lemas lunglai, tapi dia tetap beringas, teriaknya.
"Jangan kau memaksaku."
"Cayhe hanya ingin bertanya ......."
Belum Ling Kun-gi bicara, laki2 berewok sudah berteriak lagi. 'Tak usah banyak tanya, biar tuan besarmu serahkan nyawa padamu."
"Agaknya kau punya kesulitan sehingga tak mau bicara ......"
Timbul rasa heran Kun-gi melihat laki2 berewok berdiri mematung diam, tapi kejap lain dilihatnya wajah orang sudah berubah gelap, tiba2 darah hitam meleleh dari ujung mulutnya, pelan2 ia roboh terkulai.
"Ling-heng,"
Kongsun Siang bersuara di samping Kun-gi.
"dia bunuh diri dengan minum racun."
Ling Kun-gi lepaskan pegangannya, katanya sambil mengerut alis.
"Kalau dia berani bunuh diri menelan racun, kenapa tidak berani bicara terus terang?"
"Kukira dia amat mematuhi peraturan Hek-liong-hwe sehingga tidak berani membocorkan rahasia perkumpulannya, dari nada bicaranya bahwa dia tetap pegang rahasia karena persoalan ada sangkutpautnyadenganCinCu-lingditangan Ling-heng."
"Akupun merasa begitu, waktu melihat mutiaraku ini, kulihat rona mukanyamenampilkan mimikyanganeh."
"Kudengar dia tanya apakah kau She Ling, kalau tanpa sebab, tak mungkin pada saat2 gawat begini dia mengajukan pertanyaan ini."
"Analisamu memang tepat, sayang dia sudah meninggal, sepatah katapun tak berhasil kutanya kepadanya."
"Tapi dia juga bilang mau serahkan nyawanya padamu, lalu kenapadiaharusbunuhdiridengan menelanracunpula?"
"Ya, kalau diselami kata2nya tadi memang aneh dan patut dicurigai."
"Oleh karena itulah aku berpendapat bahwa soal ini ada sangkut pautnya dengan mutiara di tangan Ling-heng ini,"
Merandek sebentar Kongsun Sianp lalu bertanya.
"Entah dari mana pula Lingheng memperoleh Cincu-ling ini?"
"Mutiara ini adalah warisan leluhurku, nama aslinya Leliong-pi-tok-cu, khasiatnya dapat menawarkan segala macam racun, jadi bukan bernama CinCu-ling."
"Aneh kalau begitu, bagaimana pula mutiara ini bisa mirip dengan tanda kepercayaan Hek-liong-hwe?"
"Hal ini aku sendiri juga tidak tahu, atas perintah guru aku mengembara ke Kangouw, tujuannya adalah untuk menyelidiki CinCu-ling ...."
Sembari bicara mereka berjalan terus kedepan, tanpa terasa akhirnya sampai di ujung lorong dinding batu kembali mengadang jalan mereka. Kun gi menghentikan langkah, katanya sambil menoleh.
"Lorong ini sudah tiba di ujungnya, coba Kongsun-heng periksa apakah ada pintu rahasianya?"
Kongsun Siang maju dua langkah, katanya.
"Yang kuketahui juga sedikit saja, entah dapat ku-temukan tidak rahasianya,"
Dengan seksama tangannya mulai meraba sementara matapun memeriksa dengan cermat, terasa seluruh dinding batu ini licin dan rata laksana kaca, tak terlihat adanya garis pemisah dari bekas sebuah pintu.
Akhirnya dia mengerut kening pedang dia tanggalkan, dengan gagang pedang dia ketuk2 dinding, lalu menempelkan kuping mendengarkan dengan teliti.
Pada dinding bagian depan agaknya tiada pintu yang dapat ditemukan, terpaksa dia membalik ke arah lain, kini dia periksa dinding sebelah kiri, dari atas ke bawah dia periksa dengan teliti, sementara mulutnya mengoceh.
"Dalam perut gunung ini semula memang sudah banyak gua ciptaan alam, kemudian mereka tambahi dan atur sedemikian rupa dengan bangunan berbagai alat rahasia, semua ini menunjukkan hasil karya seorang yang betul2 ahli dalam bidang ini, padahal aku hanya memperoleh sedikit pelajaran bidang ini dari guru, sungguh tak mampu aku menemukannya...."
Tengah bicara, entah bagaimana secara kebetulan ia menyentuh alat rahasianya di dinding batu itu, mendadak terbuka sebuah pintu tanpa mengeluarkan suara.
Pintu batu yang terbuka ini tampaknya bisa bergerak secara otomatis, padahal Kongsun Siang sendiri tidak menduga sehingga dia bersuara kaget, tapi sigap sekali dia sudah menerobos keluar sana.
Pintu ini bergerak cepat dan licin, begitu Kongsun Siang menerobos keluar darisebelah kanan, pintuitu lantas memutarbalik dan "blang", tertutup rapat pula.
Kejadian betul2 di luar dugaan, Ling Kun-gi berdiri cukup dekat, tapi dia tidak sempat menahannya.
Kini sekali pintu tertutup rapat baru dia terjaga kaget, serta merta ia berteriak.
"Kongsung-heng!"
Tangan segera menepuk ke pintu.
Dengan mudah Kongsun Siang mendorong terbuka pintu itu, jelas pintu ini bisa bergerak bebas, maka dia bisa menerobos keluar, malah daun pintu sudah berbalik arah, tapi tepukan tangan Kun-gi yang kuat ini ternyata tak berhasil menggoyahkan daun pintu batu ini.
Keruan ia gugup, tanpa pikir kembali Kun-gi menghantam pula, kali ini pukulannya berlipat ganda lebih keras, bukan saja daun pintu tetaptakbergeming, malahtelapaktangansendiriterasasakit.
Pikirnya.
"Kongsun Siang tadi hanya meraba2 daun pintu dan tanpa sengaja menyentuh alat rahasianya, jadi alat rahasianya pasti beradadiatasdaunpintu, kenapatidak kucaridengan seksama?"
Sambil mengacungkan Leliong-cu, dari atas segera dia memeriksa ke bawah dengan hati2.
Periksa punya periksa, sekian lamanya dia tetap tidak menemukan tanda apa2, kecuali garis lurus yang lapat2 kelihatan dari bekas celah pintu, tiada tanda2 lain yang ditemukan, apalagi alat rahasia untuk membuka pintu batu ini..
Sungguh Kun-gi tidak habis mengerti dan hampir tidak percaya akan kenyataan yang dihadapinya ini, bahwa dinding batu setebal ini, ternyata terpasang sebuah pintu yang dapat bergerak bebas bolak-balik secara cepat.
Yang jelas Kongsun Siang baru saja menerobos ke balik sana lewat pintu batu licin rata ini.
Tiga orang datang bersama, kini tinggal dirinya seorang saja.
Di antara delapan Houhoat Pek-hoapang hanya Kongsun Siang yang bergaul paling akrab dengan dirinya, meski tidak pernah bicara persoalan pribadi, betapapun dia tidaktegaberpeluktanganbegini saja.
Beruntun dua kali Kun-gi memukul pintu itu tetap tak bergeming, jalan keluar tiada, keruan dia naik pitam.
Mengingat dirinya terkurung di pendopo dan teralang oleh patung batu tadi, akhirnya dia berhasil mendorong mundur patung dan terbukalah jalan keluarnya, kenapa sekarang ini tidak mencobanya?
Kali ini dia sudah berniat pakai kekerasan menggempur hancur dinding batu di depannya, maka pelan2 dia mundur dua langkah, dua tangan bersilang di depan dada, pelan2 dia kerahkan Kim-kong-sim-hoat, mendadak kakinya melangkah setindak ke depan, sementara mulutnya menghembus napas keras2 sambil menggerung seperti banteng ketaton, kedua tanganpun mendorong ke depan.
Kim-kong-sim-hoat adalah salah satu dari 72 ilmu ajaran Siau-lim yang hebat, merupakan Hud-bunsinkang (ilmu sakti dari aliran Hud) yang paling tingg, begitu kedua tangan mulai mendorong pelan2, segulung tenaga tidak kelihatan segera timbul dan menerpa ke depan.
"Blum!"
Begitu menerjang pintu batu, seluruh lorong gua di perut gunung ini serasa bergoncang keras, pasir beterbangan dan berguguran dari atas.
Tapi pintu yang tadi bisa bergerak licin dan bebas ini ternyata tetap tertutup tak bergeming.
Celakalah Kun-gi, karena tenaga saktinya tak berhasil menjebol roboh pinto batu, kekuatan sendiri malah menerjang balik memukul dirinya sehingga dia terpental mundur beberapa langkah.
Padahal lorong gua ini hanya lima kaki lebarnya, begitu dia tertolak mundur dengan daya tolak yang keras, punggungnya membentur dinding sebelah kiri di belakangnya.
Tak nyana begitu punggungnya menyentuh dinding belakang, terasa dindingnya bergerak, seolah2 dia mendorong sebuah daun pintu yang tak terpalang, mendadak dinding di belakang menjeplak terbuka.
Karena tidak menduga Kun-gi tak dapat menguasai diri, ia sempoyongan hingga puluhan langkah baru jatuh terduduk.
Kini baru Kun-gi melihat jelas, daun pintu di dinding belakangnya inipun dapat bergerak bebas, setelah dirinya terjatuh masuk, daun pintu segera memutar balik dan tertutub rapat pula.
Sigap sekali Kun-gi melompat berdiri, ia coba mendorong daun pintu, ternyata tak bergeming sedikitpun.
Sejenak Kun-gi berdiri mematung.
Pada keheningan itulah mendadak dia mendengar suara rintihan yang lirih dan lemah.
Waktu dia amat2i keadaan sekelilingnya, ternyata di balik pintu ini adalah sebuah lorong pula yang sempit memanjang ke sana, suara rintihan lemah itu terdengar dari sebelah depan.
Maka sambil mengangkat tinggi mutiara yang memancarkan sinar redup, dia melangkah ke sana.
Semakin dekat suara rintihan semakin jelas, setelah membelok ke kiri, tak jauh di depan sana terlihat seseorang meringkuk di atas tanah.
Betapa tajam pandangan mata Ling Kun-gi, sekilas pandang dia lantas mengenali orang yang rebah itu adalah Yu-hou-hoat Samgansin Coa Liang adanya.
Dengan kaget lekas dia memburu maju dan berjong-kok disamping orang, tanyanya.
"Coa-heng, di mana kauterluka?"Cepatiaangkattubuhorang dandibaliktelentang. Tertampak dada kiri, lambung kanan Coa Liang terluka oleh pedang, baju bagian depan dada, sudah lengket dengan kulit dagingnya oleh cairan darah yang berwarna hitam. Goresan luka pedang ini tampak amat dalam dan parah, agaknya sukar disembuhkan dan jiwapun sukar tertolong. Dengan Lwekangnya yang tangguh maka Coa Liang dapat bertahan sekian lamanya, tapi juga su-dah kempas-kempis, mendengar panggilan Kun-gi, pelan2 dia membuka matanya, tampak sinar matanya sudah guram menatap Ling Kun-gi sekian lamanya, mulut terpentang dengan bibir gemetar, seperti ingin bicara.
"Coa-heng ingin bicara apa?"
Tanya Kun-gi.
Dengan mengerahkan tenaga Coa Liang mengangguk.
Diam2 Kun-gi mengerut kening, jiwa Coa Liang jelas sudah di ambang maut, terutama luka2 di dada kirinya amat dalam dan melukai paru2 dan jantung, kalau dia bantu mengerahkan hawa murni ke tubuhnya, darah pasti takkan berhenti mengalir keluar.
Tapi kalau tidak dibantu keadaannya sudah kempas-kempis, untuk bicarapun sudahtidak mampu lagi, sesaatdiajadibimbang.
Dengan sorot mata yang pudar Coa Liang memandang Ling Kungi, sorot matanya menandakan hatinya amat gelisah dan resah.
"Coa-heng ingin Cayhe bantu menyalurkan hawa murni, supaya kaudapat mengeluarkanisihatimu,"tanyaKun-gi Dengan kaku dan gerakan berat Coa Liang mengangguk. Berat perasaan Kun-gi, pelan2 dia ulurkan tangan menekan tepat ubun2 kepala Coa Liang, lalu pelan2 dan sabar dia mulai salurkan hawa murninya ke badan orang. Karena Lwekang Coa Liang sendiri amat tinggi sehingga dia masih kuat bertahan sekian lama, kini mendapat bantuan saluran hawa murni Ling Kun-gi, sekuatnya dia coba menarik napas, dua kali bernapas dengan enteng, maka bola matanyapun mulai bergerak, kejap lain tangan kanannyapun dapat bergerak dengan gemetar, mulut megap2 beberapa kali, suaranya terdengar amat lirih serak.
"Cu ....cukong (majikan) ...."
Hanya beberapa suku kata keluar dari mulutnya, darah hitam tiba2 menyembur keluar dari luka di bawah lambungnya, suara ngorokpun terjadi ditenggorokannya, pelan2 kepalanya lantas tertekuk lemah tak bergeraklagi.
Hanyaduapatahkatasempatdiaucapkan,nyawapun melayang.
Dengan rawan Ling Kun-gi menarik tangannya, pelan2 dia berdiri, dan membatin.
"Laki2 baju hitam yang kulihat di atas bukit malam itu ternyata adalah Sam-gansin Coa Liang, entah siapa pulAmajikan' yang ia maksudkan? Apa pula maksud tujuannya menyelundupdanjadi mata2didalamPek-hoa-pang?"
"Dia menudingkan jarinya ke arah lorong depan sana sambil menyebut 'majikan', maksudnya terang hendak beritahukan padaku bahwa majikannya menuju ke lorong sana, kenapa ia memberitahuku hal ini padaku?"
"Mungkinkah majikannya menghadapi mara bahaya, supaya diriku lekas menolongnya? Ya, pasti majikannya menghadapi bahaya, maka dia berusaha mengeluarkan dua patah kata memberitahukan arah kepergian majikannya, maksudnya, jelas ingin aku pergi menolongnya."
Segera ia menjura ke arah jenazah Sam-gansin, katanya.
"Coa-heng tak usah kuatir, Cayhe segera akan menyusulnya ke depan sana."Cepat2iaberanjakke lorongyang lebih dalam. Majikan yang dimaksud Coa Liang sudah tentu seorang gembong persilatan yang punya kedudukan tinggi sebagai Pangcu atau ketua suatu aliran, ber-ilmu silat tinggi, tapi dari sikap dan mimik Coa Liang menjelang ajalnya yang resah dan gelisah tadi, dapatlah dibayangkan bahwa majikannya pasti mengalami mara bahaya di lorong2 sempit ini. Maka Kun-gi tak berani ayal dan ceroboh, untuk menghadapi musuh yang mungkin menyergap setiap saat, dia merasa perlu menggunakan kedua tangannya, maka Leliong-cu dia gantung di di ikat pinggangnya, tangan kiri berjaga di depan dada, tangan kanan melolos pedang pandak, pelan2 dia menggeremet maju terus mengikut jalaran lorong yang belak-belok, kira2 ratusan langkah dia menempuh perjalanan, membelok tiga kali, selama itu mata kupingnya bekerja dengan tajam, sekonyong2 didengarnya di sebelah depan ada derap kaki yang amat ringan. Begitu mendengar langkah orang Kun-gi lantas tahu bahwa orang ini memiliki Ginkang yang tinggi, di dalam lorong sempit yang belak-belok ini ternyata dia dapat berlari sekencang itu seperti kuda binal yang lepas dari kekangan. Pada saat Kun-gi berdiri bimbabng di ujung pengkolan itu, maka bayangan orang itupun sudah muncul di ujung yang lain. Itulah seorang laki2 yang sekujur badannya terbungkus pakaian hitam, pedang ditangannyapun berwarna hitam legam. Karena Leliong-cu tergantung dipinggangnya, begitu Kun-gi melihat orang, sudah tentu orang itu pun segera melihat dirinya, jarak kedua orang sekarang masih belasan kaki jauhnya, tapi cepat sekaliorang itu sudah menghampiri didepan Ling Kun-gi. Pedang terangkat dengan gaya mengancam, bentaknya dengan suara kereng.
"Siapa kau?"
"Katakan siapa kau?"
Kun-gi balas menjengek. Sekilas orang itu memandang mutiara di pinggang Kun-gi, katanya kemudian.
"Kau membawa CinCu-ling, tentunya sudah tahu kalau di tempat ini dilarang main terobosan tanpa ijin Hwecu, siapapun berani masuk ke Hek-liong tam akan dihukum mati.'' Ternyatadiamengira Kun-giadalahorang Hek-liong-hwe. Sungguh tak pernah terpikir dalam benak Kun-gi, secara kebetulan dia main terobosan dan kini berada di Hek-liong-tam (kolam naga hitam), kalau tempat ini dinamakan Hek-liong-tam, pasti ada sebuah kolam di sini. Dan nama Hek-liong-hwe mungkin dipungut karena adanya kolam naga hitam pula, dari sini dapat pula disimpulkan kalau pusat kekuasaan Hek-liong-hwe pasti berada di Hek-liong-tam ini pula. Maka Ling Kun-gi. lantas bertanya.
"Apakah di sini letak markas pusat Hek-liong-hwe?"
"Jadi kau bukan orang Hek-liong-hwe?'"
Tanya orang itu melengak heran.
"TidakpernahCayhe mengaku orang Hek-liong-hwe."
Pedang menuding, orang itupun membentak dengan aseran.
"Siapa namamu, datang dari mana!' "Cayhe Ling Kun-gi, sudah tentu datang di luar sana."
"Peduli siapa kau, setelah masuk kemari, kepalamu harus dipancung!"
Segera pedangnya menusuk tenggorokan.
"Tahan sebentar!"
Seru Kun-gi. Orang itu menghentikan gerakannya, katanya dingin.
"Masih ada urusan apa lagi?"
"Bolehkah tuan beritahukan padaku, apakah Hek-liong-tam adalah pusat kekuasaan Hek-liong-hwe??? ''Tanyakan persoalanmu ini kepada Giam-lo-ong saja,"
Seru orang itu.
"Sret"
Pedangnya segera menusuk. Tangan kanan bergerak, Seng-ka-kiam di tangan Ling Kun-gi memancarkan cahaya terang di kegelapan.
"Trang", tusukan pedang lawankenadisampuknyake samping. Sibaju hitammendengusgeram, katanya.
"Agaknya tuan memiliki kepandaian tangguh pula."
"Sret"
Kembali pedangnya menusuk lurus.
"Ilmu pedang orang ini cukup cepat dan lincah, ilmu silatnya terang tidak lemah, mungkin dia penjaga daerah terlarang ini, terpaksa aku harus membekuknya lebih dulu,"
Demikian batin Kungi.
Sebatsekaligerak-gerik si bajuhitam, pedangnyaberkelebatkian kemari sehingga sukar diraba kemana serangannya.
Ilmu pedangnya bukan saja bergerak laksana kilat menyambar, setiap tabasan dan tusukannya dilandasi kekuatan yang tangguh, beruntun tiga jurus Seng-ka-kiam di tangan Ling Kun-gi balas menyerang, jadi keduapihakberebut kesempatanuntuk menundukkan lawan.
Dalam lorong yang sempit itu, di bawah penerangan cahaya mutiara yang redup, terjadilah perang tanding ilmu pedang yang cukup hebat dan sengit, kalau pedang Ling Kun-gi semakin memancarkan cahaya terang, adalah pedang lawannya semakin terasa berat tekanan serangannya, hawa dingin serasa hampir membeku diruangan lorong sempit itu.
Puluhan jurus kemudian baru lambat laun Kun-gi berhasil membendung serangan lawan.
Bahwa ilmu pedang kebanggaannya diungguli lawannya yang muda ini, si baju hitam naik pitam, sampai mem-bentak2 pedangnya berkelebat semakin cepat dan merangsek terlebih sengit lagi.
Tapi dia lupa akan satu hal, rangsakan cepat dan sengit ini merupakan adu kekuatan secara kekerasan pula.
Padahal pedang di tangan Ling Kun-gi adalah senjata pusaka yang tajam luar biasa..
Setelah pedang kedua pihak berdering nyaring saling beradu, pedang hitam di tangan si baju hitam terpapas putus berkeping, tinggal gagang pedang saja yang masih tergenggam di tangannya.
Sekilas si baju hitam melengak, baru saja dia hendak melompat mundur.
Tahu2 Kun-gi mendesak maju, ujung pedangnya mengancam di dada si baju hitam, para bentakannya kereng berwibawa.
"Berani kau bergerak, kurenggut jiwamu!"
Sinar kemilau pedang Ling Kun-gi yang mengancam dada terasa menyilaukan mata, si baju hitam tidak berani bergerak. wajah nyapun berubah pucat beringas. serunya murka.
"Apa kehendakmu?"
Tiba2 Kun-gi unjuk senyum ramah, katanya.
"Cayhe hanya ingin tanya sedikit, lebih baik tuan menjawab sejujurnya."
"Soal apa yang ingin kautanyakan?"
"Pertama, apakah Hek-liong-tam adalah markas pusat Hek-lionghwe?"
"Aku tidaktahu,"
"Apa betul kau tidak tahu?"
"Tugasku hanya meronda di lorong2 tertentu, siapapun tanpa izin Hwecu bila berani keluyuran dilorong ini haras dihukum mati, soal lain aku tidakperduli"
"Jadilorong ini menjurus keHek-liong-tam, betul?"
"Betul."
"Bagus, ingin kutanya pula satu hal, barusan seseorang masuk kemari?"
"Orang2 yang tugas ronda di sini bergiliran pada saat2 tertentu, baru saja kudatang, tak kulihat dan tiada laporan ada orang luar masuk kemari!' Heran Kun-gi, pikirnya.
"Sam-gansin Coa Liang terluka dua tusukan pedang, pada saat2 ajalnya masih berusaha menunjukkan bahwa majikannya menuju kearah sini, kenapa jejaknya tidak dilihat mereka?"
Segera dia bertanya pula.
"Saudara barusan datang dari arah Hek-liong-tam? Nah, sekarang tolong kau menunjukkan jalannya bagiku."
Belum si baju hitam menjawab, mendadak sebuah suara dingin menanggapi.
"Lepaskan dia, dia tidak akan tahu jalanan yang menjurus ke Hek-liong-tam."
Datangnya orang ini tak menimbulkan suara sedikitpun, padahal Kun-gi cukup yakin akan ketajaman pendengarannya.
Diam2 Kejut hati Kun-gi, waktu dia menoleh, dilihatnya tak jauh di belakang si baju hitam, berdiri seorang tua berjubah hijau.
Dalam keremangan tampak perawakan orang tua ini tinggi kurus, wajahnya dingin berwibawa, sorot matanya berkilat tajam, jenggot kambing di dagunya.
Dinilai dari sikap dan dandanannya, orang akan segera maklum orang tua ini pasti memiliki ilmu silat yang maha tinggi dan kedudukannya terang jauh lebih tinggi daripada si baju hitam.
Pelan2 Kun-gi mundur setapak sambil menu-runkan pedang pandaknya, katanya dengan tertawa ramah.
"Kalau begitu, biarlah Cayhe bertanya padamu saja, Lotiang (pak tua)."
Meski pedang sudah dia turunkan, tapi dia tetap waspada, apalagi berhadapan dengan lawan yang tangguh, diam2 ia malah kerahkan hawa murni pelindung badan dan siap siaga.
Lekas si baju hitam mundur ke samping dan memberi hormat kepada si jubah hijau.
Agak lama si jubah hijau menatap mutiara yang bergantung di pinggang Ling Kun-gi, akhirnya pandangannya beralih ke wajah Kun-gi, suaranya terdengar tenang.
"Tuan bisa menemukan tempat ini, ketabahanmu sungguh harus dipuji, bolehkah kutahu namamu?"
"Cayhe Ling Kun-gi!"
Mendadak terpancar cahaya terang yang membayangkan rasa senang pada bola mata si jubah hijau, katanya sambil manggut2.
"Baik sekali!"
Mendadak tangannya terayun.
"plak", dengan telak dada si baju hitam yang berdiridisampingnya kena digabloknya kebras. Padahal sdi baju hitam berdiri tegak hormat meluruskan kedua tangannya, sudah tentu tak pernah terpikir olehnya bahwa si jubah hijau akan membunuhnya, tentu saja ia tak sempat berkelit, tanpa mengeluarkan suara dia roboh binasa. Tanpa hiraukan korbannya si jubah hijau menatap Ling Kun-gi, katanya."Tambahisekali tusukanpedangmupula."
Kejadian di luar dugaan, keruan Kun-gi melenggong, bahwa si baju hitam sudah terpukul mampus menggeletak di tanah, buat apa dirinya harus menusuknya pula? Maka dengan kesima dia awasi si jubah hijau.
"Dia....."
"Waktu amat mendesak, lekas kau tusuk dia, kita harus selekasnya meninggalkan tempat ini."
Semakin heran dan bingung Kun-gi.
"Kau..."
Dia ragu2 sambil mengawasi orang. Si jubah hijau goyang tangan dia menyela, suaranya tiba2 berubah ramah dan kalem.
"Tidak leluasa kita bicara disini, lakukan sepertipetunjukku, pastitidaksalah."
Kun-gi masih bingung apa maksud kata2nya, yang terang si baju hitam sudah mampus, tiada soal bila dia menambahkan sekali tusukan, toh orang tidak akan menderita, biarlah nanti mencari kesempatan mengorek keterangan dari si jubah hijau.
Maka tanpa bicara segera dia angkat pedang menusuk telak di ulu hati si baju hitam.
Si jubah hijau manggut2, katanya.
"Marilah kau ikut aku."
Lalu dia membalik berjalan menuju ke lorong sebelah sana, langkahnya enteng dan mantap, tanpa berpaling lagi, seolah2 kehadiran Kun-gi yangmengintildibelakangtidak menjadiperhatiannyalagi.
Kun-gi sendiri masih bingung apakah si jubah hijau kawan atau lawan?
Cuma terasa tindak tanduk orang agak misterius, tapi dia tetap mengikuti langkah orang.
Lorong di perut gunung yang gelap gulita ini masih belak-belok kian kemari, dalam jarak dua puluh langkah pasti membelok sekali, entah ke kanan atau ke kiri, ternyata si jubah hijau tidak menyalakan obor atau penerangan lainnya, agaknya dia sudah apal sekali dengan liku2 jalan lorong disini, malah langkahnya semakin dipercepat.
Kira2 30 tombak kemudian, mendadak dalam kegelapan di sebelah depan seseorang membentak.
"Siapa?"
"Aku!"
Sahut si jubah hijau.
Hanya beberapa patah kata tanya jawab ini dan Kun-gi sudah ikut membelok tiba, dilihatnya di depan mencegat seorang baju hitam pula, melihat si jubah hijau segera dia menyurut minggir serta berdiri dengan laku hormat, katanya kepada sijubah hijau.
'Hamba sampaikan hormatkepadaCongkoan."
Si jubah hijau hanya membalas hormat orang, dengan anggukan kepala, sementara kakinya masih melangkah maju, begitu tiba di depan orang mendadak tangannya terayun menepuk dada si baju hitam.
Gerakannya amat cepat dan tangkas, si baju hitam terang tidak bersiaga, sudah tentu sekali hantam kena dengan telak, hanya mulutnya saja yang sempat menguak pendek, tubuhnya terus roboh terkulai.
Dalam hati Kun-gi berkata.
"Orang2 berbaju hitam yang bertugas di lorong gelap ini tentu memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, tapi hanya sekali angkat tangan si jubah hijau telah membinasakan mereka, maka dapatlah dibayangkan betapa tinggi kepandaian silat si jubah hijau ini."
Seperti tidak pernah terjadi apa2, Si jubah hijau terus melangkah ke depan sambil berkata dengan kereng.
"Lekas tusuk dia sekali lagi."
Setelah dua kali orang membunuh orang ber-baju hitam, sedikit banyak Kun-gi sudah agak maklum kemana maksud tujuannya, agaknya orang sengaja hendak membantunya, maka setelah membunuh anak buahnya sendiri ia menyuruhnya menusuk lagi dengan pedang supaya tidak membocorkan rahasia perbuatannya.
Kenapa si jubah hijau mau membantunya?
Mungkin dia salah mengenali diriku, agaknya dirinya disangka sebagai orang sekomplotan dengan "majikan"
Yang dimaksud oleh Sam-gansin Coa Liang? Dari sini dapatlah diduga bahwa si jubah hijau ini pasti agen yang dipendam di dalam Hek-liong-hwe oleh sang "majikan"
Itu, maka tanpa berbicara, sekali pedangnya bergerak, dia tusuk ulu hati sibajuhitamyangsudah menggeletakbinasaitu.
"Lekas jalan,"
Tiba2 si jubah hijau memberi isyarat, kakinya berlari kencang seperti terbang, Terpaksa Kun-gi ikut berlari kencang pula.
Setelah membelok dua kali, tiba2 si baju hijau menghentikan langkah, tangan terangkat menekan dua kali di kiri-kanan dinding, lalu membalik badan, katanya.
"Lekas masuk!"
Segera dia mendahului menerobos ke situ.
Setelah dekat baru Kun-gi melihat jelas di antara dinding batu yang licin itu sudah terbuka celah2 panjang yang cukup untuk seseorang menyelinap masuk, orang itu tampak menunggu di sebelahdalam, tanparagu2segeradia menyelinap masukjuga.
Baru beberapa langkah tiba2 didengarnya suara "duk"
Sekali, celah2 dinding telah merapat pula.
Lorong di sini agaknya memang ciptaan alam, bukan saja amat sempit, jalannyapun tidak rata dan hanya cukup dilewati seorang, malah dinding batu di kanan kiri juga penuh ditumbuhi lumut dan batu2 padas yang runcing, kalau tidak hati2 kepala pasti bisa benjut dan pakaian robek.
Si jubah hijau berjalan amat cepat.
Karena ada penerangan dari mutiara di pinggangnya sudah tentu Kun-gi tidak bakal ketinggalan.
Kira2 sepeminuman teh kemudian, setelah turun naik dan lika-liku, sebelah depan agaknya sudah tiba di pangkal lorong karena sebuah dindingtembok mengadangdisitu.
Si jubah hijau menekan di atas dinding, maka terdengarlah suara gemeruduk yang bergema di dinding, pelan2 dinding batu itu mulai bergerak dan terbukalah selarik celah2 lubang..
Sambil tersenyum si jubah hijau menoleh, katanya.
"Silakan."
Lalu dia mendahului melangkah masuk.
"Sarang Hek-liong-hwe berada di perut gunung"
Demikian pikir Kun-gi.
"Lorong2 di sini tembus ke segala penjuru, betapa besar proyek pembuatan lorong di perut gunung ini? Tidak sedikit jumlah aliran yang berdiri di Kangouw, kenapa pula Hek-liong-hwe membuang waktu dan tenaga begini besar untuk membangun markasnya di perut gunung? Memangnya mereka punya rahasia tersembunyi yang lain?"
Otak berpikir, tapi kaki segera beranjak ke dalam.
Di belakang pintu batu kiranya adalah sebuah kamar batu kecil, kecuali beberapa kursi yang ter-buat dari batu dan sebuah dipan batu pula, tiada perabot lain, tapi kursi dan dipan batu tampak mengkilap bersih.
Tepat di tengah ruangan di atas meja bundar yang dikelilingi kursi2 batu itu tertaruh sebuah lampu, entah minyak apa yang digunakan, ternyata sinarnya cukup terang.
Setelah Kun-gi dipersilakan masuk, kembali si jubah hijau menekan dinding sebelah atas kiri, pelan2 pintu batu itupun menutup kembali, sementara si jubah hijau sudah membalik badan sambilangkatsebelahtangan.
"Silakanduduk Kongcu!"
Tapi Kun-gi tidak segera duduk, dia merangkap kedua tangan menjura, katanya.
"Lotiang membawaku kemari, tentunya punya petunjuk yang berharga."
Si jubah hijau tertawa lebar, katanya ramah.
"Silakan Kongcu duduk saja, memang ada urusan yang perlu Lohu bicarakan, cuma sekarang belum tiba saatnya."
Dengan gagah Kun-gi duduk dikursi batu, tanyanya.
"Kenapa dikatakan saatnya belumtiba?"
Si jubah hijau tertawa, katanya.
"Orang luar takkan berani masuk kemari, harap Kongcu suka tunggu di sini, Losiu akan keluar sebentar dan cepat2 kembali."
Tanpa jawaban Kun-gi segera dia melangkah ke dinding sebelah depan, tiba2 dia menoleh dan berkata pula dengan tertawa.
"Jangan Kongcu banyak curiga, tindakan Losiu ini pasti menguntungkan Kongcu,"
Lalu dia mendorong, dinding batu di depannya segera menjeplak terbuka.
Ternyata dinding batu itu merupakan pintu hidup yang bisa bergerak setiap kali tersentuh, begitu si jubah hijau melangkah keluar, secara otomatis pintu itupun menutup kembali tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Betapapun tindak tanduk orang cukup mencurigakan, maka begitu orang lenyap di balik pintu, Kun-gi segera berdiri memburu ke pintu dinding itu, waktu dia angkat tangan mendorongnya, ternyatapintubatuyangbarusan menutup takbergeming lagi.
Terpaksa Kun-gi duduk kembali ke kursinya, dengan seksama dia menerawang tindak-tanduk si jubah hijau, memang terasa sikap orang tidak bermaksud jahat terhadap dirinya, cuma untuk apa dia membawaku ke kamar batu ini, kenapa pula mendadak tinggal pergi?
Dan untuk apa pula kepergiannya ini?
Kalau orang luar tidak boleh masuk kemari, kenapa dikatakan pula bahwa tindakannya ini tidak mengandung maksud jahat terhadap diriku?
Biarlah jawabannya kutunggu kedatangannya nanti.
Terbayang olehnya pesan sang guru yang wanti2 bila menghadapi marabahaya yang serba rumit, kepala harus selalu dingin dan pikiran harus tetap tenang, setengah malaman ini dia telah menempuh bahaya dan selalu terhindar dari renggutan elmaut, kini tanpa sengaja berhasil menyelundup ke tempat ini, kenapa lagi harus kuatir, biarlah segala sesuatunya terserah kepada takdir.
Kira2 setanakan nasi sejak si jubah hijau keluar, bayangan orang tetap tidakkunjung datang.
Setelah putar kayun dan berjuang mati2an di sarang musuh ini, kini baru Kun-gi memperoleh kesempatan istirahat, sambil duduk di kursi, diam2 dia telah mulai menghimpun semangat dan memulihkan kesegaran badannya.
Dalam keheningan itulah, tiba2 didengarnya langkah lembut mendatangi.
Sekilas Kun-gi tertegun, dirinya sedang bersemadi, kamar ini rapat dikelilingi dinding batu, umpama betul ada pintu rahasianya paling tidak dirinya pasti mendengar dulu suara pintu terbuka Tapi kenyataan tak pernah dia mendengar suara pintu terbuka, lalu dari mana suara langkah orang bisa masuk kemari?
Serta merta iapun rnembuka mata, maka dilihatnya seorang gadis berbaju hijau sambil menjinjing sebuah tenong makanan tengah melangkak masuk dari pintu di dinding sebelah kanan.
Pintu itulah di mana tadi si jubah hijau berlalu, padahal pintu itu tadi sudah dia raba dan coba mendorongnya, tapi tertutup rapat dan tidak bergeming sama sekali.
Bagaimana pula nona baju hijau ini bisa masuk tanpa mengeluarkan suara.
demikian pula daun pintu batu itu nampak bergerak hidup dan licin, setelah gadis baju hijau beradadikamarpintupunlantasmembalikdan menutuprapatpula.
Begitu berada di dalam kamar, sepasang mata si gadis yang jeli serta merta terpentang lebar, ia lihat yang duduk di dalam kamar ini adalah seorang pemuda cakap, tanpa terasa mukanya menjadi merah jengah, lekas ia menunduk.
Dengan ter-gopoh2 dia menghampiri dipan, tenong dia taruh di atas dipan lalu membukanya satu persatu, dari tenong yang susun empat itu dia keluarkan beberapa macam hidangan, sepoci arak wangi dan sepiring bakmi goreng, hidangan ini dia taruh di atas meja, setelah menuang secawan arak dan menaruh sepasang sumpit, lalu dia memberi hormat kepada Ling Kun-gi, suaranya kedengaran merdu.
"Barusan Congkoan ada pesan, mungkin Kongcu sudah lapar, beliau perintahkan hamba menyiapkan hidangan ini, silakan Kongcu mencicipinya."
"Terima kasih nona,"
Ucap Kun-gi sambil mengangguk dengan tertawa.
"Ada sebuah hal ingin kutanya kepada nona, entah suka memberitahu tidak?"
Mengerling si gadis baju hijau, katanya.
"Entah apa yang ingin Kongcu tanyakan?"
"Congkoan yang barusan nona katakan, apakah kakek berjubah hijau dan berjenggot panjang itu' "Sudah tentu beliau,"
Sahut si gadis baju hijau.
"Bolehkah nona memberitahu, siapakah nama Congkoan?"
Si gadis melengak, katanya.
"Kongcu adalah teman beliau, memangnyabelumtahu namaCong-koan malah?"
"Kalau Cayhe tahu, buat apa bertanya pada nona?"
Berkedip mata si gadis, katanya kemudian.
"Kalau Congkoan tidakberitahu padaKongcu, hamba tidak beranibanyak bicara, lebih baik Kongcu langsung tanya padanya."
"Agaknya nona tidak mau memberitahu. Baiklah, kutanya soal lainsaja,disinitempatapa,nonasudi memberitahubukan?"
Ternyata si gadis malah balas bertanya.
"Kongcu sudah berada di sini, memangnyakautidaktahutempatapakahini?".
"Cayhe hanya tahu sedikit, cuma belum kubuktikan."
Si gadis tertawa cekikik, katanya.
"Syukurlah kalau Kongcu sudah tahu, kenapa harus tanya lagi, silakan sarapan, hamba mohon diri saja."
Bergegas dia lantas mengundurkan diri..
Tiba di dekat dinding, dengan seenaknya jarinya yang runcing halus mendorong, pintu batu lantas terbuka dengan mudah, mendadak dia berpaling, katanya dengan senyum lebar.
"Mohon maaf Kong-cu, sebelum mendapat izin, soal apapun hamba tidak berani bicara"
Begitu pintu berbalik lagi dengan cepat, dinding sudah tertutup rapat pula.
Memangnya Kun-gi sudah merasa lapar, tapi berada disarang musuh, setiap saat menghadapi ba-haya, sebelum jelas duduk persoalannya dan tahu siapa si jubah hijau yang serba misterius ini, betapapundiatidak berani mengusikhidangan itu.
Tidak lama setelah gadis baju hijau berlalu, waktu daun pintu terbuka lagi, tampak si jubah hijau melangkah masuk, tangannya membawa sebuah botol kecil warna hitam dan ditaruh di atas meja, ia melirik hidangan yang belum terusik, seketika dia mengunjuk rasa heran, katanya.
"Mengingat Ling-kongcu baru saja mengalami pertempuran sengit selama setengah malaman, tentu perut sudah kosong dan badan letih, maka kusuruh Siau-tho menyiapkan hidangan ini, memangnya kenapa? Kongcu kuatir Losiu menaruh racun dalam hidangan ini?"
Tanpa terasa dia ter-bahak2 sambil mengelus jenggot, katanya pula.
"Yakinlah bahwa dalam hidangan ini tiada ditaruh racun, Kongcu boleh silakan makan, tak perlu kuatir"
Kun-gi menyengir, katanya.
"Umpama betul di dalam hidangan ini ditaruh racun, Cayhe juga tidak perlu gentar."
Kemudian berkata pula si jubah hijau.
"Jadi kenapa Kongcu tidak memakannya?"
"Cayhe baru saja bertemu dengan Lotiang di lorong gelap tadi, sebelum saling kenal, musuh atau kawan juga belum menentu, maka taksukaaku sembaranganbertindak."
Mendadak si Jubah hijau tertawa sambil mendongak, katanya.
"Memang tepat alasan Kongcu. Baiklah, Losiu Yong King-tiong, seharusnya aku adalah kawan dan bukan lawan Kongcu, sudah cukup bukan keteranganku?"
"Sekarang boleh Yong-lotiang beritahu padaku, apa maksud tujuanmu membawaku kemari?"
Yong King-tiong menggeleng2 kepala, katanya.
"Belum saatnya, silakan Kongcu makan minum dulu, Losiu akan tuturkan secara pelahan."
"Kenapa Lotiang memaksaku makan dulu baru sudi memberi penjelasan?"
"Kongcu, masih ada sebuah tugas yang teramat berat harus kau laksanakan dengan sukses, tanpa mengisi perut untuk menunjang kekuatan dan semangatmu, bagaimana kekuatan pisikmu bisa bertahan?"
Heran Kun-gi, tanyanya.
"Tugas berat apa yang harus kulaksanakan?"
"Ya, ya, tugas ini amat penting dan besar artnya. lekaslah Kongcu makan dulu."
Walau merasa heran dan curiga, tapi orang baru mau menjelaskan setelah dirinya mengisi perut biarpun didesak lagi juga percuma, apalagi perutnya memang sudah keroncongan, maka dia berdiri dan berkata.
"Baiklah, Cayhe mengganggu sebentar."
Dia menghampiri dipan dan mulai makan minum dengan lahapnya.
Yong King-tiong diam saja, dia duduk disebuah kursi di depan dipan.
Memang perut sudah lapar, maka dengan cepat hidangan yang ada telah dilalap habis oleh Kun-gi, cuma sepoci arak yang disediakan itu hanya dia minum dua cangkir kecil.
Sehabis Kun-gi makan, Yong King-tiong tersenyum puas, dia bertepuk tiga kali.
Gadis baju hijau tadi segera mendorong pintu dan masuk, setelah memberesi semua mangkok piring segera mengundurkari diri ke samping.
Yong King-tiong berkata.
"Lohu hendak merundingkan persoalan penting dengan Kongcu, boleh kau berjaga di luar kamar, tanpa izinku siapapun dilarang masuk kemari."
Gadis baju hijau mengiakan terus keluar, pintu batupun menutup pula. Yong King-tiong mengambil dua cangkir arak dan ditaruh di meja pendekdi atasdipan, katanya."Kongcu silakanduduk ke dalam."
Tahu orang akan mulai membicarakan soal penting, segera Kun-gi mundur ke belakang, Yong King tiongpun duduk bersila di atas dipan saling berhadapan. Kata Yong King-tiong kemudian.
"Mutiara di pinggang Kongcu ini, bolehkah Lohu melihatnya?"
"Sudan tentu boleh,"
Sahut Kun gi.
Lalu dia copot ikatannya dan diserahkan.
Bolak-balik Yong King-tiong mengamati mutiara itu dengan seksama, mendadak matanya ber-kaca2 mengembeng air mata, tanyanya kemudian dengan suara gemetar.
"Inilah CinCu-ling tulen dari Hek-liong-hwe, entah darimana Ling-kongcu memperoleh mutiara ini?"
Semakin besar rasa curiga Kun-gi, katanya.
"Mutiara ini adalah warisan keluarga, jadi jelas bukan milik Hek-liong-hwe."
Mencorong sorot mata Yong King-tiong, tanyanya.
"Kongcu tahu akan nama mutiara ini?"
"Le liong-pi-tok-cu."
"Pi-tok-cu, sesuai namanya, mutiara ini dapat menawarkan segala macam racun?"
"Betul"
Mendadak Yong King-tiong berdiri, dari meja tengah dia jemput botol hitam kecil yang dibawanya tadi, serta mengambil mangkuk kosong, katanya.
"Entah mutiara Kongcu ini dapatkah menawarkan racun di dalam botol ini?"
Lalu dia buka tutup botol dan menuang cairan hitam kelam ke dalam mangkukkosong tadi. Sorot mata Kun-gi tertuju ke dalam mangkuk, mulutnya mendesis.
"Getah beracun."
Tanpa minta persetujuan Kun-gi, langsung Yong King-tiong angkat Le liong-pi-tok-cu terus dicemplungkan ke dalam getah beracun di dalam mangkuk.
"Cess", suara mendesis keras dan kepulan asap tebal seketika bergolak dari dalam mangkuk, begitu asap lenyap getah beracun yang semula kental gelap di dalam mangkuk itu kini berubah menjadiair bening. Dengan gemetar Yong King-tiong angkat mangkuk berisi air jernih itu dengan kedua tangannya, sekian lamanya ia kesima mengawasi air jernih itu, mimik mukanya tampak haru dan pilu, air mata pelan2 meleleh membasahi pipi, mulutnya bergumam.
"Memang inilah Leliong-cu tulen, memang inilah CinCu-ling ....' Tiba2 ia letakkan mangkuk, lalu angkat Leliong-cu terus berlutut menyembah beberapa kali, serunya sambil menengadah.
"Semoga arwah Hwecu di alam baka maklum, bahwa hamba rela hidup tertekan dan dihina selama 20 tahun ini, syukurlah kini tiba saatnya untuk membuat perhitungan."
Sampai di sini dia berdoa, tak tertahan lagi air matanya lantas bercucuran.
Kun-gi diam saja menyaksikan tingkah laku orang yang dianggapnya aneh dan semakin tebal rasa curiganya.
Masa Leliong-cu warisan keluarganya ada sangkut pautnya dengan Hek-liong-hwe?
Tengah dia melenggong, dilihatnya Yong King-tiong menyeka air matanya sambil berdiri, dia sodorkan Le liong-pi-tok-cu, sorot matanya mendadak berubah tajam dingin menatap wajah Kun-gi, sikapnya serius dan teguh, katanya dingin.
"Kau bernama Ling Kun gi?"
Kun-gi terima kembaliLeliong-cu, sahutnya.
"Betul, Cayhe memang Ling Kun-gi."
Yong King-tiong manggut2, katanya.
"bagus sekali, sudah 20 tahun Losiu menunggumu, sekarang hanya ada satu kesempatan hidup bagimu, nah, loloslah pedangmu, lawanlah Losiu dengan sekuat tenagamu."
Tangan terangkat.
"creng, tahu2 dia sudah melolossebatangpedangpandakwarna hitamgelap. Sikapnya yang semula ramah dan kini mendadak berubah bermusuhan sungguh membingungkan Kun-gi. Katanya dengan melenggong.
"Lo-tiang ada permusuhan apa dengan Cayhe?"
Yong King-tiong tampak gelagapan oleh pertanyaan ini, tapi mendadak dia berjingkrak murka, serunya.
"Tak usah banyak tanya, kalahkan dulu pedang ditanganku, bicara lagi nanti belum terlambat.' Kata Kun-gi bimbang.
"Lotiang membawaku kemari hanya untuk bertanding?"
"Janganbanyakomong, nah, keluarkansenjatamu."
"Jadi kita betul2 harus berkelahi?"
"Kalau kau ingin keluar dari kamar ini dengan hidup, kalahkan dulu Losiu."
Pelahan Kun-gi melolos Seng-ka-kiam, katanya.
"Baiklah, silakan Lotiang memulai. ."
Yong King-tiong sudah tak sabar, jengeknya.
""Nah hati2lah?"
Pedang pendek ditangannya bergetar, selarik sinar gelap tiba2 membabat dari samping, terasa oleh Kun-gi gerakan menyapu miring yang kelrihatan sepele itni, ternyata meqnimbulkan tekarnan yang amat berat.
Diam2 Kun-gi kaget dan membatin.
"Betapa hebat dan sempurna kepandaian ilmu pedang orang ini, sungguh luar biasa."
Pedang pandak ditangannya segera bergerak menutul ke depan terus menyontek ke atas.
Sementara itu pedang ditangan Yong King-tiong tampak bergoyang naik turun, sekaligus dia menyerang tiga jurus dalam sekali gerakan.
Tiga jurus serangan ini menimbulkan lingkaran sinar gelap yang menimbulkan tekanan hawa pedang yang berlapis dan menebal, kekuatannya sungguh bukan olah2 dahsyatnya,.
Begitu gebrak Kun-gi lantas terdesak dibawah angin, hampir saja dia tak mampu mengembangkan kemahirannya, terpaksa dia mundur tiga langkah baru dapat menghindari rangsakan lawan.
Maklumlah darah mudanya gampang terbakar, karena terdesak hatinya merasa penasaran, mendadak dia menghardik keras, Seng-ka-kiam mendadak dia pindah ke tangan kiri, ia melompat maju, pedang menusuk serta membabat dan memotong, Tat-mo-kiam-hoat dari Siau-lim-pay seketika dia kembangkan, ilmu silat pelindung Siau-lim-pay yang amat dibanggakan ini setelah dimainkan secara kidal oleh Ling Kun-gi ternyata berbeda pula perbawa serta gaya permainannya, setiap jurus permainan yang berlawanan dengan kebiasaan umum ini, sudah tentu jauh lebih rumit dan lebih lihay pula serta sukar diselami.
Sekilas Yong King-tiong tampak melengak, katanya keheranan.
"Kau ini murid Hoanjiu-ji-lay?"
Ling Kun-gi mengejek.
"Lotiang memang punya pandangan tajam."
Di tengah percakapan ini, gaya pedang kedua orang tetap bergerak laksana kilat saling samber, masing2 kembangkan kemampuan ilmu pedangnya, sedikitpun tak menjadi kendur.
Dalam kamar batu yang agak sempit ini lama kelamaan terasa semakin dingin diliputi hawa pedang yang bergolak, sungguh amat dahsyat adu kekuatan kedua jago pedang kelas wahid ini, Lekas sekali lima puluh jurus telah lalu dalam pertempuran sengit ini.
Ilmu silat Yong King-tiong ternyata amat luas, rumit dan serba bisa, gaya pedangnyapun aneh, setiap jurus serangan pasti mencakup tipu2 pedang dari berbagai aliran kenamaan di Kangouw, jurus2 yang semestinya tidak berhubungan, tapi dapat dimainkannya secara berantai dengan wajar dan bebas olehnya, maka daya serangannya terasa semakin berat dan mengejutkan.
Ling Kun-gi juga mengembangkan Tat-mo kiam-hoat dengan tangan kidal, tapi menghadapi perlawanan Yong King-tiong yang berpengalaman dan membekal banyak ragam ilmu pedang, se-olah2 sekaligus dia menghadapi puluhan macam ilmu pedang dari berbagai aliran kelas tinggi dan lihay, keruan lama kelamaan dia merasa kewalahan.
Apalagi Lwekang lawan teramat tangguh setiap gerak pedangnya.
terasa satu lebih berat dari yang lain, schingga tekanan yang timbulpun semakin hebat, dan secara bergelombang menggempur Kun-gi, permainan pedang Kun-gi selalu terkunci dan dihadang, hampir saja dia tidak mampu mengembangkan pedangnya.
Di tengah adu kekuatan ini, terdengar Yong King-tiong membentak.
"Ling Kun-gi, memangnya kecuali Tat-mo-kiam-hoat yangkaupelajaridariHoanjiu-ji-lay ini, kautakpernah mempelajari ilmu warisan keluargamu?"
Tergerak hati Kun-gi mendengar seruan ini, pikirnya.
"Ilmu warisan keluarga? Yang dimaksud tentunya Hwi-liong-sam kiam?"
Tanpa terasa ia mengikuti gerak pikirannya, tiba2 mulutnya bersiul badanpun segera melejit tinggi ke atas, pedang memancarkan cahaya kemilau hijau, pada saat terapung di udara, pedang pandak dia pindah ke tangan kanan, dengan ringan pergelangan tangannya bergetar membundar, lapisan sinar pedang bagaikan hujan beterbangan memancur ke segenap penjuru Iiu bertaburan ke atas kepala, Yong King-tiong.
Sinar pedang Yong King-tiong bertaburan, beruntun dia lancarkan jurus Giok-toh tio-thian dari Kunlunkiam-hoat, lalu Sam-hoa-kik-ting dari Bu-tong-pay dan Pat-poh-thianliong dari Tat-mo-kiam-hoat milik Siau lim-pay.
Namanya saja ketiga jurus ini terdiri dari tiga aliran ilmu pedang, tapi di tangan Yong King-tiong ketiga jurus ini dikom-binasikan dan dilancarkan dalam satu rangkaian gerak tipu yang lihay.
Maka terdengarlah suara "tring-tring"
Yang ramai.
Pedang pandak hitam Yong King-tiong ternyata terpapas kutung ber-keping2 oleh Seng ka-kiam Ling Kun-gi, tapi untung dia berhasil meloloskan diri dari lingkupan sinar pedang Ling Kun-gi, tiba2 dia ter-bahak2 sambil membuang gagang pedangnya, katanya.
"Harap berhenti Ling-kongcu!"
Mendengar seruannya Kun-gipun berhenti, di lihatnya Yong King-tiong berwajah cerah penuh rasa riang, kedua tangan terangkap bersoja, katanya dengan air mata ber-kaca2.
"Memang itulah Sin liong jut-hun, ternyata kau memang Ling seheng adanya, maafkan akan kekasaran Losiu barusan."
Tanya Ling Kun-gi dengan nada heran.
"Dari mana Lotiang tahu bahwa jurus yang kulancarkan tadi adalah Sin liong jut hun?"
Yong King tiong tertawa, katanya.
"Hwi-liong-sam-kiam merupakan ilmu pedang pelindung Hwe kita, bagaimana Losiu tidak mengenalnya? Cuma sudah dua puluh tahun lebih Losiu tidak pernah melihatnya lagi."
Keterangannya terasa aneh dan sukar dimengerti.
Seperti diketahui Hwi-liong-sam-kiam atau tiga jurus ilmu pedang naga terbang adalah ilmu pedang warisan keluarga Ling Kun-gi, bahwa Pek-hoa-pang menganggapnya sebagai Tinpang.
sam-kiam (tiga-jurus ilmu pedang pelindung-Pang), kini Yong King-tiong mengatakan pula sebagai Tinhwesam-kiam, atau tiga jurus ilmu pedang pelindung Hek-liong-hwe.
Semakin bingung Kun-gi, ia yakin di balik semua ini pasti ada latar belakangnya, maka dia ber-tanya.
"Lotiang ..........."
Yong King tiong goyang2 tangannya, katanya.
"Silahkan Kongcu duduk saja, bila kabut sudah mulai timbul di Hek-liong-tam, Losiu akan membawamu ke sana."
Kun-gi bagai orang linglung mendengar ucapan orang yang tidak dimengerti ini, tanyanya.
"Untuk apa Lotiang hendak membawaku ke Hek-liong-tam?"
Heran dan kaget sorot mata Yong King-tiong, katanya sambil menatap tajam.
"Apakah sebelum Kongcu kemari, ibumu tidak memberitahukan apa2 padamu?"
"Lotiang juga kenal ibundaku?"
"Ibumu adalah Hwecu-hujin (nyonya Hwecu), bagaimana Losiu tidak mengenalnya."
"Hwecu-hujin", sebutan atas ibundanya ini membuat kepala Kungi serasa hampir meledak, matanya terbeliak, tanyanya.
"Apa ucapmu, Yong-lotiang?"
"O, harap Kongcu tidak salah paham, maksud Losiu adalah Hwecu dari perkumpulan kita pada dua puluh tahun yang lalu, jadi bukan Hwecu sekarang yang gila hormat dan tamak harta, pengkhianat yang menjual kawan demi mengejar kedudukan."
"Dari nada pernbicaraannya", demikian batin Kun-gi.
"mungkin ayah adalah bekas Hwecu dari Hek-liong-hwe dua puluh tahun yang lalu, tapi kenapa selama ini ibu tidak pernah membicarakan hal ini padaku."
Karena itu sorot matanya serta merta mencorong tajam, tanyanya menatap Yong King-tiong.
"Apakah Lotiang tidak salah mengenal orang?"
Sambil mengelus jenggot, Yong King-tiong tertawa, katanya.
"Kongcu membawa Leliong-cu, barusan kusaksikan sendiri melancarkan Hwi-liong-sam-kiam, kau she Ling lagi, mana mungkin Losiu salah mengenalimu."
"'Tapikenapa ibu tidak pernah menyinggungsemua inipadaku?"
Sejenak Yong King-tiong berpikir, katanya kemudian sambil menghela napas.
"Hal itu tak perlu dibuat heran. Dahulu waktu ibumu lolos dari kejaran elmaut, betapa banyak manusia yang rendah martabatnya telah mengejar jejaknya, dunia memang luas, hampir saja dia tiada tempat berteduh, setelah mengalami segala penderitaan syukurlah Kongcu dilahirkan, tapi kekuatan musuh makin bertambah besar dan merajalela, sebagai perempuan yang lemah, sebatang kara lagi, mungkin juga dia anggap Kongcu masih muda usia, maka soal dendam kesumat keluarga belum diberitahukan padamu."
"Dendam kesumat", dua patah kata ini seketika menggelorakan darah di rongga dada Ling Kun-gi, katanya haru.
"Lotiang, tadi kau bilang ayahku almarhum dulu adalah Hwecu Hek-liong-hwe, apakah kemudian beliau mengalamibencana dicelakai musuh?"
Muram rona muka. Yong King-tiong, katanya.
"Tatkala Hwecu tertimpa musibah, boleh dikatakan beliau gugur sebagai pahlawan bangsa, seharusnya Losiu mengikuti langkah Hwecu ke alam baka, bahwa selama 20 tahun aku mencari hidup ini lantaran kutahu setelah Hujin berhasil lolos, dia sedang mengandung, kudambakan akan datang suatu hari, akan tibalah saatnya menuntut balas secara total, bila Losiu mati demikian saja, musibah besar yang penuh rahasia itu pasti takkan diketahui orang luar."
Sampai di sini tak tertahan matanya bercucuran, tangisnyapun sesenggukan. Kun-gipun dirundung kesedihan, air mata membasahi selebar mukanya.
"Duk", tiba2 dia berlutut serta menyembah ber-ulang2, serunya.
"Luhur, budi Lotiang, cita2mu yang penuh pahit getir, pasti dulu engkau adalah kawan seperjuangan ayahanda almarhum, sudikah kiranya engkau menceritakan duduk periatiwa yang sebenarnya."
Yong King-tiong menyeka air matanya dia membimbing Kun-gi bangun, katanya.
"Lekas engkau berdiri, jangan kau menyiksa Losiu lagi, selama 20 tahun ini, saat seperti inilah Losiu nanti2kan, cuma terlalu panjang untuk berkisah peristiwa lama, kita hanya ada waktu singkat saja, paling2 hanya kukisahkan secara ringkas, nanti setelah Kongcu berhasil mengambil barang itu baru akan kuceritakan lebih jelas."
"Hanya ada waktu singkat saja?"
Demikian pikir Kun-gi.
"barang apa pula yang harus kuambil? Pastilah suatu barang yang amat penting artinya."
Kembali dua orang duduk berhadapan, Yong King tiong menghirup secangkir teh, lalu katanya.
Cerita ini harus kumulai dari masa gugurnya Siante (Kaisar Gi-cong almarhum di medan bakti sehingga menimbulkan pemberontakan laskar rakyat di mana2, Tuan Puteri dengan badan sucinya akhirnya masuk biara mempelajari agama, tapi beliau selamanya takkan lupa akan dendam keluarga dan kejatuhan negara, secara diam2 dia masih membangun kekuatan terpendam untuk membalas dendam, selama puluhan tahun berkecimpung di Kangouw, akhirnya beliau dapat menyusun kekuatanparapahlawanbangsadiberbagai daerah."
Sampai di sini ceritanya dia menarik napas panjang, setelah menghirup napas segar baru menuturkan kiaahnya.
"Waktu itu ada seorang panglima she Thi. setelah pasukannya kalah dan dihancurkan musuh, dia berhasil menyusun sekelompok kekuatan yang dipelopori kaum persilatan, di Kunlunsan inilah mereka akhirnya membentuk Hek-liong-hwe dengan mengibarkan panji perlawanan kepada penguasa kerajaan .......
"Jadi panglima she Thi itulah yang mendirikan Hek-liong-hwe, bahwa Kunlun san dipilih sebagar markas pusatnya karena di perut gunung ini terdapat banyak lorong2 gua ciptaan alam yang ber-liku2 membingungkan, tembus kian kemari laksana sarang tawon, asal sedikit dipugar atau diperbaiki tempat ini akan menjadi tempat tersembunyi yang paling aman dan rahasia, musuh takkan mudah menemukan tempat ini."
"Jadi lorong2 gua ini sudah mengalami pemugaran waktu itu,"
Kata Kun-gi.
"Lorong2 gua ini semula memang ciptaan alam tapi lebih banyak pula yang dipugar oleh tenaga manusia, hampir 30 tahun lamanya Lohwecu memugarnya,"
Demikian tutur Yong King-tiong lebih lanjut.
"di waktu membuat lorong tembus di gua gunung yang harus melewati celah2 batu gunung tanpa sengaja Lohwecu menemukan sebuah ruang gua lain, di atas dinding dalam gua itu tergambar bentuk manusia yang sedang bermain pedang, kabarnya gambar itu adalah peninggalan Tiong-yang Cinjin dari Coancinkau, di sana Lohwecu berhasil menyelami dan mempelajari tiga jurus ilmu pedang yang tiada taranya, yaitu Hwi-liong-sam-kiam."
"NamaLohwecushe Thiitu apakah Tiong-hong?"
TanyaKun-gi. Yong King-tiong manggut2, katanya.
"Kiranya Ling-kongcu pernah dengar cerita orang,"
Tanpa tanya dari siapa Kun-gi mendapat tahu, Yong King-tiong melanjutkan kiaahnya.
"Pernah Losiu dengar cerita dari Lohwecu bahwa ilmu pedang yang tertera di dinding sebetulnya bukan cuma tiga jurus saja, maklumlah usianya pada waktu itu sudah setengah abad, dibatasi bakat dan usia, maka hanya tiga jurus itu saja yang dapat dipelajarinya dengan baik ......Ai, terlalu jauh aku ngelantur."
Kini nadanya menjadi lebih kalem.
"Dikala membuat lorong tembus ke pusar bumi itu pula Lohwecu menemukan suatu sumber racun, air yang mengalir dari sumber itu beracun, bukan saja kental, warnanya juga hitam gelap, manusia mati seketika bila tersentuh meski hanya satu tetes saja "
"Getahberacun!"seru Kun-gitanpaterasa.
"Betul,"
Ujar Yong King-tiong manggut2.
"akhirnya kita namakan air itu getah beracun. Kemudian lohwecu membuat sebuah perigi kecil, getah beracun itu dialirkan ke dalam perigi itu, dari situlah timbulnya lama Hek-liong-tam."
Setelah sekian lamanya mendengar kisah orang dengan sabar, tapi orang tetap belum menyinggung soal ayahnya, diam2 Kun-gi resah dan gelisah.
Yong King-tiong malah menghirup secangkir teh pula baru melanjutkan ceritanya.
"Dalam usia setengah baya itu, Lohwecu tetap belum dikurniai putera, padahal waktu itu kebetulan sedang musim kemarau panjang, di-mana2 geger kelaparan, rakyat hidup tertindas. Pada suatu ketika Lohwecu turun gunung, pulangnya membawa seorang orok perempuan dan diangkat sebagai puterinya dan dinamakan Ji-giok, Thi-hujin memandang orok perempuan ini sebagai anak kandungnya sendiri, amat kasih sayang. Tak nyana dua tahun kemudian, Thi-lohujin malah melahirkan sendiri seorang puteri dan diberi nama Ji-hoa. Sekejap mata 20 tahun telah lalu, sepasang kakak beradik inipun tumbuh dewasa laksana kembang mekar, Lohwecu tidak pernah membedakan kedua puterinya ini, setiap ada waktu senggang, dia ajarkan ilmu silat kepada kedua nonaini...."
Mendengar sampai di sini, lapat2 Kun-gi sudah dapat meraba dan mengerti, di antara sepasang kakak beradik ini pasti satu di antaranya adalah ibundanya dan seorang lagi pastilah Thay-siang dari Pek-hoa-pang.
Terdengar Yong King-tiong melanjutkan ceritanya.
"Waktu itu tuan puteri mulai bergerak di daerah Kanglam, dia sendiri yang memimpin gerakan2 di sana, partai2 besar persilatan memang tidak kelihatan turut campur, tapi secara diam2 mereka membantu dengan segala daya upaya, malah para muridnya dianjurkan untuk membantu sekuat tenaga dengan menyaru kaum persilatan umumnya dan ikut membentuk barisan2 penentang kerajaan lalim yang berkuasa. Musim semi tahun itu, Siau-lim Hongtiang Kay-to Taysu memperkenalkan seorang pemuda kepada Lohwecu untuk menjadi anggota Hek-liong-hwe, pemuda ini she Ling bernama Tiang-hong, muridKay-teTaysusatu2nyadarigolonganpreman."
"Apakah dia ini ayahku almarhum?"
Tanya Kun-gi.
"Padahal ibunda memberitahupadakubahwaayahbernamaSwi-toh."
"Kongcu masih muda, bahwa ibumu tidak menceritakan kiaah masa lalu ini, sudah tentu diapun tak akan memberitahukan nama terang ayahmu,"
Sambil mengawasi reaksi Ling Kun-gi sejenak, lalu dia menambahkan.
"waktu itu ayahmu juga baru berusia likuran tahun, berwajah cakap dan gagah, masih segar dalam ingatan Losiu tatkala dia baru tiba di Hek-liong-hwe, Lohwecu memberi jabatan kepala barisan ronda, kalau tidak salah ayahmu kepala dari kelompok ke21, Losiu dari kelompok ke 22, sering kami bertugas bersama, satu lama lain saling membantu, oleh karena itu hubunganku cukup akrab dengan ayahmu."
Kun-gi segera berdiri tegak khidmat dan bersoja, katanya.
"Ternyata paman adalah sahabat karib ayah almarhum, maaf akan kekurangajaran Siautit barusan."
"Kongcu tak usah banyak adat,"
Ucap Yong King-tiong.
"Losiu hanya seorang hamba dari ayahmu, mana berani dijajarkan sebagai kawan karibnya segala?"
"Ayahmu masih muda tapi sudah punya cita2 luhur, matang dalam pengalaman dan sempurna dalam tata kehidupan, tindak tanduknya tegas dalam menjalankan tugas, dalam waktu tiga tahun, dari seorang kepala ronda sekaligus dia sudah berhasil menanjak ke atas karena jasa2nya dan diangkat menjadi Hwi-liong-tong Tongcu, dia merupakan orang kepercayaan yang selalu mendampingi Lohwecu, bukan saja Hwecu sudah ada maksud untuk mengawinkan puteri sulungnya padanya, malah kelak kemungkinan akan mewariakan jabatan Hwecu Hek-liong-hwe .......' Sampai di sini, kembali dia menghirup secangkir teh, setelah kerongkongan basah baru dia bercerita pula.
"Tiga tahun sejak ayahmu berada di Hek liong-hwe, pada musim rontok tahun itu Lohwecu lantas mengawinkan puteri sulungnya Ji-giok dengan ayahmu, tapi pada malam pengantin ayah bundamu itulah, nona Jihoa mendadak menghilang, minggat entah kemana ......"
Agaknya masih panjang lebar ceritanya, tapi seperti rada hal2 yang sengaja hendak dia sembunyikan, maka cerita ini dia putus sampai di sini.
Sudah tentu Kun-gi dapat menangkap arti pembicaraan orang, ceritera Yong King-tiong pada bagian terakhir ini agak kabur, secara tidak langsung dia mau bilang bahwa minggatrya nona Ji-hoa lantaran ada sangkut pautnya dengan pernikahan ayah bundanya.
Tapi sebagai seorang anak, sudah tentu tak enak Kun-gi mendesak ceritera orang akan kejadian masa lalu ayah bundanya, maka dia hanya mendengarkan tanpa bersuara dan tidak memberi reaksi apa2.
"Lohwecu sudah berusia lanjut, bahwa puteri tunggalnya mendadak minggat, sudah tentu Lohwecu suami iateri sangat bersedih, terutama Lohujin, saking kangen dan menguatirkan keselamatan puterinya itu, akhirnya dia jatuh sakit dan rebah diranjang tak bisa bangun lagi. Pada waktu itulah pihak kerajaan juga mendapat berita bahwa Hek-liong-hwe sedang siap2 hendak bangkit dan berontak, maka jago2 keraton yang berkepandaian tinggi diutus untuk mencari jejak dan menggeledah seluruh pelosok pegunungan Kunlunsan. Tapi pihak kita juga sudah mendapat kabar, apalagi markas pusat Hek-liong-hwe berada di perut gunung, sudah tentu kawanan alap2 kerajaan itupun tak berhasil menunaikan tugasnya."
Tak tertahan akhirnya Kun-gi menyeletuk.
"Memangnya Hek-liong-hwe berpeluk tangan membiarkan kawanan cakar alap2 itu bertingkahdidepanpintu markasnya?"
"Di sinilah letak keberhasilan Lohwecu dalam bertindak dan berkeputusan, maklumlah kekuatan kerajaan pada waktu itu sedang mencapai kejayaannya, pahlawan2 bangsa yang tersebar di berbagai tempat sudah tidak sedikit yang menjadi korban demi mempertahankan kekuatan, maka Hwecu berkeputusan tidak mau sembarang bertindak."
Sampai di sini mendadak dia menghela napas, katanya pula.
"Tapi sungguh tidak pernah terduga bahwa, di antara para Siwi (jago pengawal raja ada seorang muridnya Sinswi-cu. Perlu diketahui bahwa seluruh peralatan rahasia yang terpasang di lorong2 gua dalam markas kita ini diciptakan oleb Sinswi-cu, sudah tentu muridnya juga paham akan ilmu ciptaan gurunya, maka di bawah petunjuknya jago2 keraton segera menyerbu masuk lewat Ui-liong-tong. Karena rahasia sudah terbongkar, terpaksa Lohwecu bertindak cepat dan tegas, kalau satu saja dari cakar alap2 musuh lolos, buntut peristiwa ini tentu amat panjang, maka malam itu seluruh kekuatan kita dikerahkan, untunglah delapan belas jago kerajaan akhirnya berhasil ditumpas seluruhnya. Lohwecu sendiri dalam pertempuran sengit itu berhasil membinasakan lima jago alap2, tapi beliaupun terluka oleh senjata rahasia beracun salah seorang musuh yang terbunuh ......."
"Leliong-cu dapat menawarkan segala macam racun di dunia ini, apakah Lohwecu ......"
"Betul, Leliong cu memang dapat menawarkan segala macam racun di dunia ini, tapi Lohwecu terluka oleh jarum beracun yang ditiupkan oleh orang Biau, jarum tiup itu lembut seperti bulu kerbau, orang yang terkena jarum itu sendiripun tidak merasakan apa2, padahal Lohwecu sendiri dengan penuh semangat telah menumpas musuh2nya, hakikatnya beliau tidak tahu kalau dia kena dibokong orang. setelah musuh tertumpas seluruhnya dan kembali ke ruang pendopo, racunpun sudah merangsang jantung, mendadak beliau jatuh pingsan. Waktu itu belum ada orang yang tahu Hwecu terkena jarum berbisa, orang banyak mengira beliau kehabisan tenaga dalam usianya yang sudah lanjut setelah membunuh para musuhnya, tapi setelah tabib berusaha memberi pertolongan dan dia tetap dalam keadaan pingsan, saat itu barulah diadakan pemeriksaan dan berhasil menemukan setitik hitam di pundak kiri Hwecu, seorang ahli memastikan bahwa titik hitam itu adalah bekas tusukan jarum lembut yang amat beracun, lekas Leliong-cu dikeluarkan untuk menawarkan racunnya, namun sayang sudah terlambat, sebelum fajar menyingsing beliaupun wafat, sepatah katapuntaksempatdia meninggalkanpesannya.
"Selanjutnya bagaimana?"
Kata Kun-gi.
"Suatu organiaasi tak boleh tanpa pimpinan, maka dihadapan layon Lohwecu, kami mengadakan rapat dan secara mutlak mengangkat ayahmu untuk mengisi jabatan Hwecu yang kosong itu."
"Dan cara bagaimana pula ayah almarhum di celakai orang?"
Tanya Kun-gi. Tiba2 Yong King-tiong menghela napas panjang, katanya kemudian.
"Waktu itu ayahmu baru berusia likuran tahun, baru empat tahunan berada dalam Hek-liong-hwe, berkat bimbingan Lohwecu-lah dia memperoleh kemajuan pesat, dari seorang kepala ronda terus menanjak menjadi Tongcu dari Hwi-liong-tong, sebelum Lohwecu wafat beliau memang sudah sering memperbincangkan tentang ahli warisnya dengan orang banyak, maka pengangkatan ayahmu sebagai Hwecu menggantikan Lohwecu mendapat dukungan mutlak. Tapi Hek-liong-hwe sudah berdiri sejak tiga puluh tahun yang lulu, meski ayah-mu memiliki kecerdikan dan kepandaian yang tinggi, betapapun dia masih terlalu muda dan cetek pengalaman, sukar dia memikul beban berat dan menunaikan cita2 dan harapan orang banyak ........"
"Itu berarti ada sementara orang merasa sirik dan kurang senang akan pengangkatan ayah?"
"Bukan begitu soalnya,"
Ucap Yong King-tiong.
"semula beberapa Tianglo (tertua) yang dahulu ikut Lohwecu mendirikan Hek-lionghwe memang merasa ayahmu terlalu muda, sukar memikul tugas berat, tapi setelelah Lohwecu mangkat, selama setahun Hek-lionghwe di bawah pimpinan ayahmu, ketenaran Hek-liong-hwe justeru lebih menjulang tinggi di kalangan Kangouw, kebesaran Hek-lionghwe boleh dikatakan belum pernah terjadi sejak sejarah berdirinya selama tiga puluh tahun, akhirnya beberapa Tianglo itu baru betul2 merasa bahwa pilihan Lohwecu atas ayahmu memang tepat dan bijaksana, maka dengan sekuat tenaga mereka menyokong dan bantu kerja keras, sampaipun Ceng-liong-tong Tong-cu Han Janto yang selamanya bertentangan pendapat dengan ayahmupun berubah pendirian dan mendukung sepenuhnya kepemimpinan ayahmu, tahun itu boleh dikatakan masa jaya2nya Hek-liong-hwe."
"Jadi siapakah biang keladi yang mencelakai ayah?"
Tanya Kun-gi bingung. Rawan sikap Yong King-tiong, katanya setelah menghela napas.
"Bahwa delapan belas jago ko-sen kerajaan tiada satupun yang kembali dalam menunaikan tugas, sudah tentu pihak kerajaan tidak berpeluk tangan. Setelah diselidiki, akhirnya diketahui bahwa ke18 jago kosen dari keraton itu seluruhnya terbinasa di tangan orang2 Hek-liong-hwe, sudah tentu kaisar sangat murka "
Kenapa kau tidak menungguku?"
"Nona mau ke mana? "Kau menyamar lagi bukankah ka hendak menemuka pengejaranmu?" , u n "Betul, kenapa?"
"Ak ik t b l h tid k?"
Memperoleh laporan ini, maka gubernur Soa-tang diperintahkan untuk gentar, umpama berlaksa bala tentara sekaligus menyerbu pegunungan Kunlunsan juga takkan membawa hasil yang diharapkan, yang menggemaskan justeru di dalam Hek-liong-hwe kita sendiri ternyata ada manusia gila yang lupa akan ajaran leluhur dan terima menjadi antek musuh dan menjual bangsa.".
BergetarhatiKun-gi.
"Siapa?"b, teriaknyaterd-beliak.
"Yaitu Hek-liong-hwe Hwecu yang sekarang, Han Janto,"
Rasa geram bergejolak dalam rongga dada Kun-gi, tanyanya.
"Cara bagaimana dia berhasil menjual Hek liong-hwe kepada musuh?"
"Gubernur Soa-tang Kok Thay adalah antek perdana menteri Hokun yang berkuasa di istana, semula Kok Thay adalah bajingan yang sering mengisap darah rakyat dengan penindasan kejam, waktu dia memperoleh perintah dari istana, bukan saja ketakutan juga kebingungan sampai ter-kencing2... dia punya seorang penasihat yang bernama Ci Kunjin, bergelar Im-su-boan koan (hakim akhirat), kabarnya orang ini dulu adalah tabib kelilingan di Kangouw, entah bagaimana akhirnya bisa memperoleh pangkat dan kedudukan dikalangan pemerintahan dan menjadi orang kepercayaan Kok Thay, dari nasihat dan petunjuk Ci Kunjin inilah kejahatan Kok Thay semakin merajalela, demikian juga dalam hal ini, dia pula yang mencari akal muslihat keji, dia bilang bahwa pasukan besar pasti takkan berhasil, maka dia menulis beberapa huruf di telapak tangannya sebagai usulnya."
"Tipu muslihat apa yang dia tulis di telapak tanganya?"
Tanya Kun-gi.
"Memberantas pemberontakdengan pemberontak."
"Memberantas pemberontakdengan pemberontak?"
"Betul, muslihatnya ini boleh dikatakan amat keji, tujuannya adalah memecah belah, dia memancing dengan harta benda serta pangkat, jika bukan manusia gila yang durhaka, mana mungkin berhasil mengadukdidalamHek liong-hwekita?"
Setelah menarik napas panjang, akhirnya Yong King-tiong meneruskan.
"Mungkin juga lantaran sudah ditakdirkan, kebetulan Han Janto si keparat itu berselisih paham dengan ayahmu, akhirnya malah ayahmu yang mendapatkan jabatan Hwecu, lahirnya memang kelihatan dia ikut mendukung, tapi dendam hatinya ternyata semakin mendalam.
"Perlu diketahui bahwa Han Janto adalah putera adik angkat Hwecu sendiri, ayahnya gugur di medan laga demi membela panji kebesaran Hek-liong-hwe, selama ini Lohwecu memandangnya sebagai keponakan, malah kedudukannyapun terus menanjak dan akhirnya diangkat sebagai Ceng-liong-tong Tongcu, jika tiada ayahmu, memang mungkin dialah yang akan mewarisi jabatan Hwecu kelak."
Cerita ini kedengarannya cukup jelas, tapi siapapun pasti akan merasa bahwa dibalik cerita ini ada sesuatu yang sengaja ditinggalkan sehingga orang sehingga rangkaian cerita ini hakikatnya tidak sempurna.
Kun-gi berkata.
"Umpama betul dia berselisih dengan ayah, itukan persoalan pribadi, tidak seharusnya dia menjual Hek-lionghwe."
"Itulah yang dikatakan mabuk harta dan gila pangkat, dia lupa bahwa bapaknyapun gugur di tangan musuh, soalnya pihak kerajaan berjanji bila dia berhasil dengan usahanya, bukan saja tidak menjatukan hukuman padanya sebagai pemberontak, malah dia akan diangkat menjadi pembesar, ada hadiahnya lagi, oleh karena janji muluk2 inilah sehingga dia rela menjual kawan demi mencari keuntungan pribadi, sekaligus untuk ber-muka2 dan membalas dendam, secara suka rela dia menyerahkan peta rahasia dari seluruh markas pusat ini sebagai usahanya. pertama mendarma baktikan diri pada kerajaan ..... ... '. Pucat wajah Kun-gi, katanya.
"Di bawah gerebegan ketat jago2 kosen pihak kerajaan, Hek-liong-hwe masih tetap jaya malah berkembang semakin besar, semua itu berkat lorong2 rahasia di dalam gunung ini, orang luar tiada yang tahu rahasianya, bahwa dia rela menyerahkan peta rahasia markas pusat, itu berarti telah menyerahkan seluruh kekuat-an Hek-liong-hwe kepada musuh. Terkepal kencang kedua tangan Yong King-tiong, katanya dengan geregetan.
"Memangnya tiga puluh tahun lebih Lohwecu mendirikan Hek-liong-hwe, betapa jerih payah Sinswi-cu menciptakan alat2 rahasia itu, sejak itu semua terjatuh ke tangan musuh."
"Bagaimanakejadiannya,harappamansuka menceritakan,"pinta Kun-gi. Jelek sekali air muka Yong King-tiong, sorot matanya setajam pisau, katanya sambil mengertak gigi.
"Penegak Hek liong-hwe, kecuali Lohwecu masih ada sembilan Tianglo lagi, mereka sehidup semati dalam perjuangan sebagai saudara angkat, waktu Lohwecu meninggal masih ada lima Tianglo saja yang hidup, usia mereka waktu itu juga sudah lebih setengah abad, keparat she Han yang durhaka itu bukan saja menyerahkan peta rahasia kita, ternyata diapun tega berlaku kejam, di bawah hasutan dan petunjuk cakar alap2 musuh, secara diam2 ia telah menaruh racun, beruntun kelima Tianglo kita dibunuhnya ......."
"Apakah tiada orang yang membongkar muslihatnya ini?"
Tanya Kun-gi.
"Tidak, kerja keparat itu amat cermat, cerdik dan licik lagi, apalagi racun yang dia gunakan pemberian dari istana raja, para korban tidak meninggalkan bekas keracunan, dalam waktu satu bulan kelima Tianglo kita itu beruntun meninggal satu per-atu, sudah tentu peristiwa ini menimbulkan kecurigaan, tapi para Tianglo itu kelihatan mati dengan wajar, tidak ada gejala2 aneh sedikitpun, meski dalam hati semua orang menaruh curiga, tapi tiada yang bisa berbuatapa2... ...", Alis Kun-gi menegak, desisnya geram.
"Bangsat keparat itu memang pantas dicacah lebur ber-keping2."
"Dua puluh tahun yang lalu, pada malam Toanngo (Pek-cun), hampir dua bulan sejak Tianglo terakhir meninggal dunia, selama itu tak pernah terjadi apa2 dalam Hek-liong-hwe kita, maka kewaspadaan kita menjadi kendor, Toanngo adalah hari raya besar, setiap tahun seperti lazimnya Hwecu pasti mengumplkan ketiga Tongcu dan tiga puluh enam panglima untuk berpesta pora di ruang pendopo, demikian pula para kepala ronda dari masing2 seksi juga diundang........."
"Kembali dia menggunakan racun?"
Tak tertahan Kuangi bertanya. Yong King-tiong tidak rnenjawab langsung, katanya.
"Dikala hadirin makan minum dengan riang gembira, seorang she Sim, kepala ronda dari Ceng-liong-tong, tiba2 berlari masuk dengan terburu2, langsung dia ber-bisik2 ditelinga Han Janto"
Tampak Han Janto mengunjuk wajah berseri, segera dia bangkit dan berkata dengan suara lantang.
"Hadirin sekalian, hari ini adalah hari raya Toanyang, kebetulan para saudara hadir di sini, ada beberapa patah kata ingin kusampaikan. Hek-liong-hwe kita sudah berdiri sejak 30 tahun yang lalu, tujuan semula adalah membangkitkan kembali kerajaan Beng, tapi selama 30 tahun ini pernerintahan Boan sudah amat kukuh dan sudah berkuasa di seluruh negeri, harapan untuk membangkitkan kerajaan Beng sudah nihil, dengan kekuatan kita yang hanya beberapa gelintir manusia ini jelas takkan mampu melawan kekuasaan raksasa kerajaan seka-rang, bak telur membentur batu belaka, daripada ber-tahun2 kita tetap hidup di perut gunung, jarang sekali melihat sinar matahari, apalagi selama 30 tahun ini tiada kemajuan yang kita capai, orang kuno juga bilang adalah bijaksana kalau kita tunduk pada firman Thian, sebaliknya menentang takdir pasti akan hancur lebur, maka menurut hematku, lebih baik kita menyerah kepada kerajaan Boan saja, kita terima pengampunan dan anugerahnya, masa depan kita masih terbentang luas di depan mata. Kira2 begitulah pidatonya waktu itu. Ai, sungguh memalukan bahwadiaberanibicaraserendah itu."
"Bagaimanareaksiayahpadawaktu itu?"tanyaKun-gi.
"Waktu itu hadirin mengira dia terlalu banyak menenggak arak, maka kata2nya ngelantur, tapi hal itupun sudah merupaka pelanggaran serius yang tidak boleh didiamkan, sudah tentu hwecu tidak berpeluk tangan, segera dia membantak. `Hantongcu, gila kau, berani kau omong sekotor itu, menurut aturan kita, kau pantas dihukum pancung dan dipreteli anggota badanmu.' "Han Janto malah terbahak mendongak, serunya. 'Ling Tiang-hong, jangan kau pamer kewibawaanmu sebagai Hwecu dihadapan tuan Hanmu ini, coba pentang lebar matamu, kalian kaum pemberontak ini, jangan harap satupun bisa lolos.' Mendadak ia membanting cangkir arak di tangannya. Membanting cangkir adalah isyarat, maka dalam sekejap dari delapan pintu rahasia yang ada di ruang pendopo sekaligus memberondang keluar puluhan jago2 kosen kerajaan."
"Kekuatan inti Hek-liong-hwe berada semua di ruang pendopo, kecuali mereka menggunakan senjata rahasia yang amat jahat, masa puluhan cakar alap2 musuh tak mampu mereka memberantasnya?"tanya Kun-gi. Berkerut gigi Yong King-tiong, katanya pedih dengan suara berat.
"Cakar alap2 itu tiada yang menggunakan senjata rahasia, tiada pertempuran yang terjadi di ruang pendopo karena tiada perlawanan sedikitpun dari kita, dengan mata mendelong semuanya di telikung dan dibelenggu tanpa bisa berkutik."
Mencelos hati Kun-gi, serunya.
"Semuanya terkena racun?!"
Guram sorot mata Yong King-tiong, katanya.
"Di dalam arak Han Janto telah mencampurkan bubuk pelemas tulang, semua orang kehilangan daya tahannya, apalagi untuk melawan ........."
"Bagaimana ayah?"
Tanya Kun-gi gugup. Berlinang air mata Yong King-tiong, katanya.
"Waktu itu Losiu sudah menjabat Hek liong-hwe Congkoan, karena tugas maka aku tidak hadir dalam perjamuan itu, kejadian ini akhirnya kudengar dari cerita orang. Melihat gelagat tidak menguntungkan. Hwecu menggigit lidah dan bunuh diri, dia gugur sebagai pahlawan bangsa dalam tugasnya.". Bercucuran air mata Kun-gi, tiba2 dia menjatuhkan diri dan berlutut, ratapnya.
"Yah, anak berjanji pasti akan membunuh bangsatsheHan itudengantanganku sendiriuntuk membalassa-kit hatimu."
Sambil menyeka air mata Yong King-tiong berkata.
"Kongcu tak usah sedih, setelah kembali dari Hek-liong-tam, pasti dengan mudah kau dapat menuntut balas, memangnya bangsat she Han itu dapat lari kemana?"
Kun-gi bangkit berdiri, mendadak dia tanya dengan prihatin.
"Lopek (paman), cara bagaimana ibu dapat melarikan diri waktu ilu?"
"Mungkin sudah suratan takdir, ibumu waktu itu sudah bunting, karena sering muntah2, maka dia tidak hadir dalam perjamuan, kawanan cakar alap2 itu sedang sibuk menerima tugas dan berebut kedudukan, apalagi di-mana2 masih ada perlawanan, maka ibumu mendapat kesempatan lari setelah mendengar perubahan situasi, ketika mereka sadar, namun ibumu sudah lolos lewat jalan rahasia.."
"Bangsat she Han itu sudah menjual Hek-liong-hwe, cara bagaimana dia bisa menjadi Hwecu Hek-liong-hwe pula?"
"Dengan menjual Hek-liong-hwe berarti dia telah berjasa besar bagi kerajaan, kini dia sudah menjadi pemimpin komandan pasukan bayangkari keraton, di samping kedudukan sampingannya sebagai Hek liong-hwe Hwecu, dan semua ini merupakan suatu rencana keji yang mengandung banyak muslihat."
"Memangnyaada muslihat kejiapa pula?"tanyaKun-giheran. Yong King-tiong menenggak secangkir teh, katanya kemudian.
"Semua ini ada sangkut pautnya dengan Losiu, demikian pula erat hubungannya dengan Kongcu sendiri."
"O,"
Kun-gi melongo keheranan.
"Dua puluh tahun yang lalu, kelompok2 penentang kerajaan Boan dan pembangkit kerajaan Beng tersebar luas di selatan dan utara sungai besar, semuanya berada di bawah komando Tuan Puteri, sebagian tertumpas oleh musuh, banyak pu-la yang menyembunyikan diri dan sejak itu tiada gerakan2 lagi, hanya Hekliong-hwe karena mempunyai kedudukan strategis, maka dia tetap berdiri jaya dan menjulang di kalangan Kangouw, boleh dikatakan Hek-liong-hwe merupakan kelompok terakhir yang masih aktip. Bahwa pihak kerajaan sekarang masih tetap mempertahankan Hekliong-hwe tujuanya adalah untuk menggaruk sisa gerakan rakyat yang terpendam, maksud utama mereka adalah menumpas habis ke akar2nya kaum patriot yang hendak membangkitkan kerajaan Beng ... '' "Memangnya ini ada sangkut paut apa dengan dia dan aku?"
Diam2 Kun-gi membatin dalam hati..
"Kecuali itu masih ada sebab lainnya pula,"
Sambung Yong Kingtiong.
"iniadahubungannyadengan Hek-liong-tam...."
Mendengar orang kembali menyinggung Hek-liong-tam, padahal tadi dikatakan bahwa pihak kerajaan menyerahkan kekuasaan pimpinan Hek-liong-hwe kepada keparat she Han itu ada sangkut pautnya dengan diriku, kini dikatakan pula ada hubungan dengan "kolam naga hitam", maka dapatlah disimpulkan bahwa di kolam naga hitam itu tentu tersembunyi sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan dirinya.
Sebelum Kun-gi mendesak, Yong King-tiong telah melanjutkan kisahnya.
"Kemudian Losiu di-tawan, karena dia anggap paling akrab dengan ayahmu, selama setahun lebih aku disekap dalam penjara, belakangan Losiu mendapat tahu bahwa ibumu berhasil lolos dengan membawa lari Leliong-cu dan musuh tak berhasil menemukan jejaknya, maka Losiu pikir harus bertahan hidup, malah aku berusaha untuk tetap memegang jabatan Congkoan dalam Hekliong-hwe, karena dalam memangku jabatan itulah baru aku punya harapan untuk menunggu kedatangan Kongcu, maka terpaksa aku merendahkan diri terima diperintah dan dihina, malah sengaja kubocorkan juga sesuatu rahasia besar yang cukup penting sebagai penebus hukumanku ......."
Mendengar sampai di sini tak tertahan Kun-gi bertanya.
"'Entah rahasiapentingapayang Lopekbocorkan kepada mereka?"
"Kecuali ibumu hanya Losiu seorang saja yang tahu akan rahasia ini,"
Ujar Yong King-tiong ter-tawa.
"yaitu sebuah kamar gua yang terletak di dasar Hek-liong-tam yang dulu ditemukan Lohwecu di waktu membuat lorong rahasia, di dalam kamar gua itulah ada peninggalan gambar yang terukir di dinding tentang ilmu pedang maha sakti dari peninggalan Tiong-yang Cinjin. Waktu Tuan Puteri mengadakan inspeksi ke Hwe kita, beliupun berpendapat bahwa letak kamar gua itu amat strategis dan rahasia, maka daftar nama dan tokoh2 dari berbagai aliran besar yang ikut menjadi anggota Thay-yang-kau (agama memuja matahari) disimpannya juga di sana, mengingat betapa penting beratnya tugas serta tanggung jawab ini, maka Lohwecu minta kepada Sinswi-cu untuk menciptakan suatu alat rahasia, dari gua sebelah atas mengalirkan getah beracun ke dalam kamar gua itu, sehingga terciptalah kolam naga hitamitu."
"Lopek membocorkan rahasia ini kepada musuh, bukankah berarti menjual seluruh anggota Thay-yang-kau yang didirikan oleh Tuan Puteri?"
"Teguran Kongcu kuterima dengan lapang hati, soalnya kalau Losiu tidak membocorkan rahasia ini, tak mungkin aku memperoleh kepercayaan mereka, itu berarti tak mungkin aku menjabat Congkoan di Hek-liong-hwe, mana mungkin pula selama dua puluh tahun ini aku menunggu tibanya Kongcu?"
"Yang terang Lopek telah mengorbankan jiwa, para anggota Thay-yang-kau, memangnya apa pula gunanya meski telah berhasil menunggu kedatanganku. ."
"Terus terang Losiu juga pernah bersumpah berat di hadapan malaikat Matahari, masa aku berani menjual sesama saudara anggota? Apalagi soal ini menyangkut laksaan jiwa para anggota yang lain umpawa daftar itu betul2 terjatuh ke tangan musuh, itu berarti Losiu menjadi manusia yang paling berdosa di dunia ini, seribukali kematiankupunbelum mengimpasidosa2ku"
"Bukankah Lopek bilang sudah membocorkan rahasia ini kepada mereka?"
"Tadi Losiu bilang, oleh Lohwecu Sinswi-cu diminta membuat suatu saluran getah beracun sehingga hakikatnya kamar gua itu berada di dasar kolam naga hitam, jelasnya kamar gua itu terletak dua puluhan tombak di dasar kolam, setetes getal saja dapat melayangkan jiwa manusia, apalagi getah sedalam dua puluhan tombak, umpama dewa atau malaikatpun takkan mungkin selulup ke dasarnya."
"O,"sampaidisinibaruKun-gipaham,"aku mengerti!' Mengerti soal apa? Yaitu kenapa pihak Hek-liong-hwe dan Pek-hoa-pang sama berlomba berusaha mencari obat penawar getah beracun. Kini jelas tujuan Hek-liong-hwe adalah untuk mengambil daftar nama anggota Thay-yang-kau. Demikian pula Thay-siang dari Pek-hoa-pang, tujuannya tentu pada ajaran ilmu pedang yang tertera di dinding gua peninggalan Tiong-yang Cinjin. Kini persoalannya semakin jelas lagi bahwa Thay-siang Pek-hoa-pang itu adalah puteri tunggal Lohwecu yang minggat, yaitu nona Ji-hoa. Dengan mengelus jenggot Yong King-tiong bertanya.
"Kongcu mengerti soal apa?"
"Bahwa Hek-liong-hwe sengaja menculik Tong-losianseng dari Sujwan, Unlocengcu dari Ling-lam, Lok-san Taysu dari Siau-lim-si serta Cu-cengcu pemilik Liong-binsanceng, mereka ditekan dan diperas untuk menciptakan obat penawar getah beracun, tujuannya terang adalah daftar anggota yang berada didasar kolam."
"Betul,"
Yong King-tiong mengangguk.
"tapi ada satu hal yang mereka lupakan, yaitu kenapa ibumu membawa lari pula Leliong-cu."
"Leliong-cu, apakah dapat menawarkan getah beracun dalam kolam?"
"Agaknya ibumu tidak menjelaskan seluruh persoalan ini kepada Kongcu, tak heran kau kebingungan."
"Memangnya masih ada rahasia lainnya?"
Tanya Kun-gi terbeliak.
"Leliong-cu memang dapat menawarkan segala macam racun2 aneh di dunia ini, tapi mutiara itu masih punya khasiat lainnya pula, yaitu masuk air tidak basah, maka iapun dinamakan juga Huncuicu,"
Sampai di sini dia menatap Kun-gi, katanya pula.
"sekarang tentu Kongcu maklum kenapa Losiu rela hidup terhina selama dua puluh tahun ini, karena dengan penuh harapan menunggu kedatangan Kongcu."
"Jadi Lopek ingin Siautit terjun ke dasar kolam masuk ke kamar gua itu?"
Mendadak sikap Yong King-tiong tampak serius, katanya.
"Betul, kini Kongcu memikul dua tugas berat yang amat penting artinya. Pertama untuk menuntut balas kematian ayahmu kau harus pelajari seluruh ilmu pedang peninggalan Tiong-yang Cinjin secara lengkap, karena sejak kecil Han Janto dibimbing dan diasuh oleh Lohwecu, Lohwecu telah mengajarkan segala kemampuannya tanpa batas kepadanya, apa yang ibumu ajarkan padamu, tentu diapun bisa, bicara soal Hwi-liong-sam-kiam, dalam hal Lwekang jelas dia lebih kuat daripada kau, maka hanya bila kau berhasil mempelajari seluruh ilmu pedang itu secara lengkap baru kau akan bisa mengalahkan dia."
Ling Kun-gitertunduk sambil mengiakan.
"Kedua, daftar anggota Thay-yang-kau yang tersimpan dalam kamar gua itu harus segera kau hancur leburkan."
"Lho, kenapa dihancurkan malah?"
"Daftar itu dibuat pada puluhan tahun yang lalu, waktu itu Tuan Puteri ada kontak dengan semua aliran dan golongan patriot hendak bergerak dan penguasa sekarang, tapi hal itu ber-larut2 sampai sekarang, padahal kerajaan Boan kini sudah bercokol kukuh dan kuat berkuasa, di samping kelompok2 anggota Thay-yang-kau yang tersebar luas di-mana2 banyak yang sudah bubar atau tida aktif lagi, maka daftar anggota itu sudah tidak berarti pula, tapi bila daftar ini terjatuh ke tangan pihak kerajaan, entah betapa banyak jiwa yang akan menjadi korban, daripada menimbulkan bencana bukankah lebih baikdihancurkan saja"
Kun-gi berdiri, katanya.
"Siautit perhatikan pesan ini, lalu bagaimana cara untuk pergi ke Hek-liong-tam?"
"Silakan duduk Kongcu, Hek-liong-tam dibangun oleh Sinswi-cu secara cermat dan mengagumkan sekali, umpama sudah memiliki Leliong-cu, kalau tidak tahu cara mengatasi dan tidak punya kunci rahasia pembukanya juga sia2 belaka. Setelah meninggalkan kamar ini kita takkan boleh berbicara lagi, maka di sini Losiu perlu menjelaskan semua rahasia yang ada di dalamnya kepadamu,"
Sembari bicara dari lengan bajunya dia merogoh keluar segulung kertasyangterbuatdarikulitdomba, terusdibeber di atasmeja. Dia menuding gambar2 yang tertera diatas kertas, katanya.
"Luas kolam ini dua puluh empat tombak. pada dinding curam sebelah utara terdapat sebuah patung batu berbentuk kepala naga, pancuran getah beracun keluar dari mulut kepala naga ini, getah beracun terus mengalir tidak pernah putus, dengan Pia-houkang (ilmu cicak merayap) kau harus melorot turun ke bawah sampai dasar kolam, untung Leliong-cu dapat memberi penerangan, di bawah kau bisa melihat sebuah gelang baja yang kuning mengkilap, dengan tenaga Tay-lat-kim-kong-jiu-hoat dari Siau-lim-si, tariklah sekuat tenagamu, maka aliran getah dari mulut naga akan berhenti, sementara getah di dalam ko-lam akan mengalir keluar melalui delapan lubang ke jembangan yang tersembunyi di dasar lain, volume air akan cepat menurun, di dasar kolam terdapat sebuah batu karang yang menonjol keluar ke permukaan, setelah itu baru kau lepaskan gelang baja itu dan melompat ke atas batu karang, kembali dengan Tay-lat-kiwi-kong-jiu kau harus menggeser sebuah batu bundar raksasa di atas batu ka-rang itu, di bawah batu itulah ada jalan rahasia menuju ke kamar gua ...."
"Kalau air berhenti mengalir dari mulut naga. air kolam akan menurun, apakah orang-orang Hek-liong-hwe tidak akan tahu?"
Tanya Kun-gi.
"Pertanyaan bagus,"
Ujar Yong King-tiong.
"bagian dalam di antara himpitan tebing curam da-ri Hek-liong-tam itu setiap waktu tertentu pasti menimbulkan kabut tebal, terutama pada kentongan keempat dan kelima, begitu tebal kabut di sana sampai berdiri berhadapanpun takkan bisa melihat wajah lawan, kabut akan pudar dan sirna setelah fajar menyingsing, para penjaga di luar lembah dilakukan secara bergiliran, maka tak perlu kuatir akan di ketahui orang, sekarang kau harus perhatikan lukisan ini serta mengingat letaknya di luar kepala."
"Baiklah, Siautit sudah mengingatnya."
"Bagus sekali,"
Ujar Yong King-tiong, dia jemput kertas kulit kambing itu lalu meremasnya serta di-gosok2 di antara kedua telapak tangannya, kertas kulit kambing itu seketika hancur luluh dan berhamburan dilantai.
"Lopek,"
Seru Ling Kun-gi kaget.
"kenapa kau menghancurkannya?"
Yong King-tiong menghela napas, katanya.
"Kondcu sudah datang, gambar ini tidak perlu disimpan lagi, lebih baik dihancurkan saja."
Lalu dari kantong bajunya dia keluarkan sebuah benda kuning emas yang berbentuk ikan emas sepanjang dua dim, dengan hati2 dan serius dia serahkan mainan ikan emas itu, kepada Kun-gi, katanya.
"Inilah salah satu dari benda Hek-liong-hwe yang paling rahasia dan amat penting serta besar artinya. Leliong cu dikuasai oleh Hwecu sendiri, sementara ikan emas ini diserahkan kepada Cong-koan untuk menyimpannya, di dalam perut ikan ada tersimpan kunci untuk membuka kamar gua di dasar kolam, beruntung hal ini hanya diketahui oleh Hwecu dan Hek-liong-hwe Congkoan saja, sudah dua puluh tahun lebih Losiu menyimpannya, aku sendiri belum pernah melihatnya tentang cara membukanya, hanya Hwecu sendiri yang tahu, setelah berada dilorong menuju ke kamar gua itu boleh kau bekerja menurut keadaan, untuk ini lo-siu tak bisa memberipetunjukapa2 lagi."
Kun-gi terima mainan ikan emas itu, terasa bobotnya amat enteng, badan dan ekor ikan dapat bergerak, sisiknya mengkilap, mirip sekalidengan ikanasli, bagussekalipembuatannya."
Yong King tiong berdiri, katanya.
"Baiklah, sekarang hampir kentongan keempat, marilah kita berangkat."
Kun-gi ikut berdiri.
Sekali kebut Yong King-tiong padamkan api lilin dan menghampiri dipan batu dan didorongnya pelan2.
Melihat caranya mendorong, jelas dipan batu itu amat berat, maka terdengarlah suara geseran gemuruh dari dasar lantai.
Akhirnya Yong King-tiong berpaling, katanya.
"Inilah alat rahasia yang kutiru dari ciptaan Sinswi-cu, maka tiada orang kedua yang tahu akan pintu rahasia ini, memang terlampau berat tapi yakin takkan konangan oleh siapapun ....... ."
Waktu bicara dipan batu sudah terdorong mundur lima kaki, tapi dia masih terus mendorongnya.
Dari bawah lantai tampak mulai timbul gerakan seiring dengan dorongan dipan batu itu, maka tampaklah sebuah lubang persegi di bawahnya.
"Apakah semua ini bikinan Lopek sendiri?"
Tanya Kun-gi. Yong King-tiong sudah berhenti mendorong, katanya tertawa.
"'Sudahtentu, Losiu mempunyaiduabelasahlipedang sebagaibnak buah, tapi kecuali Siau-tao tadi, tiada bseorangpun yang menjadi orang kepercayaanku, untuk membuat pinto rahasia ini, aku sudah menghabiskan waktu 10 tahun."
Setiap malam selama 10 tahun, tanpa tidur dan mengenal lelah membuat jalan rahasia di bawah tanah, betapa besar semangat dan ketekunan kerjanya sungguh harus dipuji.
Dari dalam kantongnya Yong King-tiong mengeluarkan sebuah bumbung tembaga, kiranya sebuah obor, langsung dia menerobos turun lebih dulu ke dalam lubang di bawah tanah, katanya.
"Biarlah Losiu menuujukkan jalannya.."
"Creet"
Di bawah dia menyalakan obor terus melangkah turun melalui undakan batu.
Kun-gi mengikuti langkahnya, kira2 puluhan undakan kemudian baru jalan terasa datar dan lebar.
Yong King-tiong serahkan bumbung obor kepada Kun-gi.
lalu membalik, ternyata diatas dinding ada terasang roda besi, dengan kedua tangan dia pegang roda besi terus diputarnya pelan2.
Kelihatan dia mengerahkan tenaga dan memutarnya dengan kuat.
Setelah roda besi bergerak, dari dalam dinding lantas berkumandang suara gemuruh, papan batu di atas kepalanya mulai bergerak terus menutup seperti asalnya.
Ternyata Yong King-bong tidak berhenti, ia masih terus memutar roda, Kun-gi tahu orang sedang mengalihkan dipan batu ke tempat asalnya.
Kira2 tiga puluhan putaran kemudian pelan2, Yong King-tiong menghentikan kerjanya, katanya dengan tertawa.
"Alat rahasia ini teramat berat, kalau dibandingkan ciptaan Sinswi-cu, bedanya bagai langit dan bumi, tapi Losiu sudah merasa puas. Seorang yang asing dalam ilmu peralatan rahasia seperti ini ternyata dapat juga menciptakan alat2, rahasia seberat ini dengan kedua tangan sendiri."
"Bagi seseorang yang teguh iman dan penuh kerja yang tak kenal putus asa pasti akan mencapai cita2nya, bahwa Lopek seorang diri dapat membuat lorong rahasia ini, sungguh harus dipuji."
"Siang malam yang kuharapkan hanya satu, yaitu semoga Kongcu dapat masuk ke dasar kolam dengan selamat, menghancurkan daftar anggota Thay-yang-kau dan mempelajari ilmu pedang peninggalan Tiong-yang Cinjin dengan sempurna, sehingga semua aliran dan golongan di kalangan Kangouw bisa bertahan hidup sejahtera, demikian purla anak cucu para pembesar kerajaan yang terdahulu yang tersebar di mana2 bisa mempertahankan kehidupan keluarganya, asal bibit2 Thay-yang-kau masih ada dan bersemi dalam sanubari mereka, pasti akan datang suatu ketika kekuatan perlawanan terhadap pemerintahan kerajaan yang lalim, sehingga bangsa dan tanah air dapat bebas dari jajahan musuh, itulah cita2 Losiu. Di samping itu akan kubantu Kongcu sekuat tenaga memberantas para penjahat dan keparat jahanam itu untuk menuntut balas sakit hati Hwecu, Losiu terhina selama dua puluh tahun ini, umpama kedua cita2 ini berhasil dengan baik, matipun aku bisa meram,"
Sampai di sini, mendadak dia bersuara lirih.
"Awas, Kongcu, di depan ada sebuah pengalang batu raksasa, jangan kau membenturnya."
Maklumlah lorong ini dibuka oleh Yong King-tiong seorang diri dengan kedua tangannya, sudah tentu bentuknya tidak selebar dan serata lorong gua lainnya.
Bukan saja terasa naik turun, demikian pula langit2 gua juga banyak terdapat batu2 padas yang menongol keluar, maka mereka harus jalan setengah merunduk, sudah tentu Ling Kun-gi bisa berjalan hati2 karena matanya bisa melihat di tempat gelap apalagiada penerangan obor.
Begitulah kira2 semasakan air akhirnya mereka tiba di ujung lorong, di mana terdapat sebuah dinding pengalang.
Yong King-tiong berdiri tegak, kembali dia serahkan bumbung obor kepada Ling Kun-gi, di bawah penerangan tampak di dinding terdapat pula sebuah roda besi sebesar mulut mangkuk besar.
Dengan kedua tangan Yong King-tiong pegang roda besi itu serta mendorongnya pelan2, katanya.
"Turun dari sini, kira2 lima tombak tingginya baru akan sampai di tanah datar dan letaknya tepat di sebelah kiri Hekliong-tam, apa yang Losiu uraikan tadi apa kau sudah ingat betul?"
"Siautit mengingatnya dengan baik,"
Sahut Kun-gi.
Begitu didorong sekuat tenaga oleh Yong King-tiong, sebuah batu besar bentuk bulat pelan2 lantas terdorong keluar, maka terbukalah sebuah mulut bundardidinding, takubahnyasepertijendela sebuah gedung.
Di roda ternyata ada sebuah rantai besi sebesar lengan tangan, maka batu besar bulat yang terdorong keluar itu tidak sampai jatuh ke bawah.
"Baiklah kau boleh turun,"
Ucap Yong King-tiong.
"ingat, sebelum fajar kau sudah harus naik kemari, itu berarti kau hanya punya waktu satu kentongan (kira2 satu jam) berada di kamar gua di dasarkolam, nanti Losiu akan membantumudaripinggir kolam."
"Siautit akan perhatikan pesan Lopek,"
Sahut Kun-gi, lalu dia menerobos keluar dari lubang bulat itu, tampak di luar gua sudah diliputi kabut tebal yang ber-gulung2, pemandangan serba remang2, tiada sesuatu apapun yang bisa dilihatnya.
Maka pelan2 dia menarik napas dan mengerahkan tenaga, sekali enjot tubuh terus terjun ke bawah.
Didengarnya suara lirih, tapi jelas dari sebelah atas.
"Bekerja hati2 Kongcu, Losiu doakan kau berhasil."
"Dari peta tadi Kun-gi sudah tahu jelas letak Hek-liong-tam, kalau tidak melompat turun ke tempat yang gelap gulita begini pasti selangkah pun takkan mampu beranjak. Karena tempat dia berpijak itu adalah balok batu yang letaknya per-sis di pinggir kolam, selangkah saja lebih maju, kaki akan menginjak tempat kosong dan terjerumus ke Hek-liong-tam. Sebetulnya dia membawa Leliong-cu, di tempat gelap sinar mutiara dapat mencapai setombak jauhnya, tapi kabut tebal di sini laksana awan hitam yang pekat, maka Leliong-cu hanya bagai sinar kunang2 belaka, paling hanya mampu menyinari dua kaki. Hakikatnya Kun-gi juga tidak perlu melihat, karena dalam benaknya sudah terlukis gambaran akan letak kolam naga hitam di bawahnya, sejenak dia berdiri menenangkan hati, lalu menggeremet menyusur dinding gunung terus maju ke arah kanan. Kabut memang amat pekat, pancuran air yang gemericik dari mulut kepala naga di sebelah depan sana masih terdengar jelas, dengan cermat Kun-gi memperkirakan jaraknya tinggal delapan tombak lagi, maka langkahnya semakin ber-hati2. Tengah berjalan, tiba2 terasa sebelah kakinya menginjak tempat kosong, ternyata balok batu yang dibuat jalanan sudah berakhir. Untung dia selalu waspada, karena punggung menempel dinding, meski kaki menginjak tempat kosong tubuhnya tidak segera jatuh ke bawah, segera dia kerahkan ilmu pek-houkang, dengan cara merambatseperticicak diaterus menggeremet maju. Tak lama kemudian dia sudah merambat tiba di bawah kepala naga, sudah tentu iapun tidak bisa melihat kepala naga, cuma suara pancuran saja yang dia dengar di atas kepalanya dan jatuh ke bawah.
"Di sinilah tempatnya,"
Demikian pikir Kun-gi, sementara badannya sudah mulai melorot turun dengan cepat.
Sekejap saja dia, sudah melorot tujuh tombak, suara pancuran dalam kolom terdengar semakin keras.
Kiranya dia sudah hampir tiba dipermukaan air, selepas matanya memandang kabut hitam tetap tebal, hakikatnyadiatidakbisa melihatkeadaansekelilingnya.
Untung badannya tidak keciprat setetes airpun, maka dia lantas kerahkan Jiankintui, badannya terus melorot lebih turun lagi sehingga sepuluhan tombak telah dicapainya, sungguh aneh bin ajaib, ternyata badannya tidak menjadi basah oleh air kolam.
Sementara suara pancuran terdengar ber-ada di sebelah atas, jelas bahwa dirinya kini sudah tenggelam di dalam air kolam.
Diam2 dia membatin."Leliong-cumemangmestikaanehdiduniaini, masukair tidak menjadikan badanku basah sedikitpun."
Mengingat waktu amat berharga, maka dia tidak ayal lagi, dia terus meluncur ke bawah, betapa cepat gerakan badannya, tahu2 kakinya sudah menginjak dasar kolam.
Setelah berdiri tegak, kabut sudah tiada lagi, tapi sekelilingnya seperti di-bungkus kegelapan melulu, berada dalam air, mes-ki badan dan pakaian tidak basah, tapi tekanan gelombang air terasa berat juga sehingga badan ikut terombang-ambing.
Di tempat nan gelap pada dasar kolam ini, Leliong-cu memancarkan cahayanya yang gemilang, setombak jauhnya dapat disinarinya.
Kun-gi tidak banyak pikir, dengan seksama dia periksa sekelilingnya, betul juga dilihatnya delapan tombak ditengah sana, terdapat sebuah benda bundar warna hitam, ternyata itulah gelang baja yang dicarinya itu.
Dengan girang cepat dia menghampiri, aneh sekali menghadapi kenyataan di depan matanya, setiap kali dia bergerak maju, air di sekitar badannya seakan2 tersibak ke pinggir memberi peluang dia berjalan maju, sedikit gerakan inipun ternyata menimbulkanreaksicukup besarsehinggaair kolambergolak keras.
Setelah dekat dia lebih perhatikan lagi, benda bundar itu memang betul adalah gelang baja sebesar mulut mangkuk.
Tanpa ayal dia mulai mengerahkan Tay-lik-kim-kong-sim-hoat, dengan kedua tangan pegang gelang baja, pelan2 dia mulai menariknya ke atas.
Jangan dikira gelang ini benda kecil, ternyata waktu ditarik beratnya ribuan kati, umpama Kun-gi tidak pernah meyakinkan Kimkong-sim-hoat ja-ngan harap dia mampu menariknya bergerak.
Mendadak tergerak pikiran Kun-gi.
"Waktu Suhu mengajarkan Kim-kong-sim-hoat beliau pernah bilang . 'Jangan kau kira pelajaran semadi selama tiga tahun ini merupakan ajaran berat, kelak juga pasti memperoleh manfaatnya.' Memangnya Suhu sudah tahu bahwa hari ini aku bakal menggunakan ilmu ini dalam Hek-liong-tam ini?"
"Ayah juga murid didik Siau-lim, malah murid Ciangbun Hongtiang Kay-to Taysu dan belakangan diperkenalkan kepada kakek luar, waktu beliau diutus ke Hek-liong-hwe mungkin sebelumnya sudah direncanakan untuk mewariskan jabatan hwecu kepada ayah, karena kalau bukan murid Siau-lim dan tidak pernah meyakinkan Kim-kong-simhoat,siapapuntakkanmampu menarikgelangbajaini ......"
Selagi berpikir itulah, sekeliling dasar kolam terdengar suara gemuruh, air mengalir gemerojok, air dalam kolam laksana diaduk mulai berkisar dan bergolak dengan hebat.
Dari suaranya yang gemu-ruh, sedikitnya ada delapan tutup pintu air yang terbuka sehingga air mengalir keluar.
Sudah tentu dengan menyurutnya air, tekanan air dengan gejo-laknya yang semakin besar terasa amat berat.
Tapi Kun-gi tetap kerahkan ilmu Kim-kong-sim-hoat, kedua tangan dengan kencang berpegang pada gelang baja, meski air dalam kolam berpusar dengan hebat, laksana batu karang yang kukuh dia tetapberdiriditempatnyatanpabergeming.
Kira2 setanakan nasi kemudian, gemuruh air yang membanjir keluar itu semakin reda, pusaran airpun mengecil dan tekananpun sirna, keadaan dalam kolam kembali menjadi tenang.
Tahu sudah tiba saatnya, pelan2 Kun-gi lepaskan gelang baja yang dipegangnya terus maju lurus ke depan.
Dia masih ingat batu karang yang terlukis dalam gambar kulit kambing, letaknya tepat di tengah dasar Herk-liong-tam.
Luas Hek-liong-tam hanya dua puluh empat tombak, dari arah manapun kau maju jaraknya tetap sama sekitar dua belas tombak, asal dirinya maju dua belas tombak, pasti akan mencapai batu karang..
Karena berada di dalam air, sudah tentu tidak bisa maju cepat2, tapi setiap langkahnya dia perhitungkan dengan baik, kira2 sepuluhan tombak, lapat2 dilihatnya sebelah depan terdapat banyak batu2 karang yang berserakan, di bagian tengahnya mirip gugusan sebuah bukit yang tegak menjulang di tengah kolam.
Tanpa banyak pikir Kun-gi melompat maju, kakinya hanya menutul tepi karang dan cepatsekalibadannyasudah mencapaipuncak karang.
Puncak karang itu sudah di luar permukaan air, keadaan sekelilingnya terasa gelap gulita pula ter-bungkus kabut tebal.
Puncak karang ini ternyata meruncing kecil ke atas, tempat untuk berpijak paling hanya beberapa kaki lebarnya, cepat sekali Kun-gi sudah menemukan batu raksasa yang bundar itu.
Batu ini mirip bola tepat bertengger di pucuk karang, besarnya kira2 dua-tiga kaki, mendekati batu bulat itu Kun-gi langsung kerahkan Kim-kong-sim-hoat, kedua tangan memeluk batu bulat terus pelan2 mengangkatnya ke atas.
Batu ini hakikatnya rata dan tiada tempat untuk berpegang, apalagi sudah sekian puluh tahun terendam dalam air, bagian luarnya terbungkus lumut yang amat licin, tapi dengan mengerahkan tenaga kesepuluh jarinya Kun-gi dapat memeluk batu bulat itu dengan kencang, sekuatnya dia angkat pula sehingga batu itu mulai bergeming.
Ternyata batu ini memang benar2 bulat mirip bola, cuma separo di antaranya sudah terendam dalam lumpur dan merekat dengan batu karang seperti berakar layaknya, waktu diangkat dari bawah seakan ada daya tarik yang amat kuat memperta-hankannya.
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 4
Baca Juga: Pedang Pusaka Naga Putih 2