Eps 8 Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL
Baca online Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL
Cersil Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL.
Secara diam2 ia lantas perintahkan Kongsun Siang, Song Tek-seng dan Thio Lam-jiang agar membekuk para kelasi perahu Cin Tek-hong dan Kho Ting-sing, betul juga pada badan para kelasi ini diperoleh sebuah kotak Somlo-ling, maka dia lantas meninggalkan sepucuk surat rahasia kepada Congkoan, surat harus dibuka setelah kentongan kedua dan supaya disampaikan kepada Hupangcu untuk membekuk Nyo Keh-cong dan Sim Kiansin berdua, sementara dirinya bersama Kongsun Siang berempat menyamar kelasi dan cara bagaimana Cin Tek-hong memasang lampu merah di ujung perahu lalu mendarat di Gu-cu-ki, di sana orang telah mengatur muslihat hendak menawan Ji Siuseng, tapimalahberbalik kenadi-ringkus olehnya.
Pelan2 Thay-siang menepuk kursi, katanya mengangguk.
"Bagus sekali, memang tidak malu kau sebagai Cong-su-cia Pek-hoa-pang kita, bagaimana selanjutnya?"
Kun-gi tidak berani main sembunyi, cara bagaimana dia, mengorek keterangan dari Cin Tek-hong dia tuturkan pula seterang2nya, Thay-siang hanya manggut saja, tidak tanya seluk beluk Hek-liong-hwe lebih lanjut.
Diam2 Kun-gi merasa heran, pikirnya.
"Kenapa dia tidak tanya lebih lanjut? Memangnya dia sudah jauh lebih tahu akan seluk-beluk Hek-liong hwe?' Selanjutnya dia tuturkan Cin Tek-hong mendadak mati terbunuh oleh orang2 pihak mereka sendiri dan menurut Nao Sam-jun, atas perintah Hwecu mereka, dia diperintah menawan Kun-gi hidup2 ...Tampak mimik Thay-siang menaruh perhatian akan hal ini, matanya membulat ke arah muka Ling Kun-gi, tanyanya.
"Apa yang dia katakan padamu? Katakan terus terang, jangan disembunyikan."
Tutur Kun-gi.
"Dia bilang asal hamba betul2 bisa membuat obat penawar getah beracun, Hek-liong-hwe tidak akan kikir memberi imbalan upah besar dan kedudukan lebih tinggi ...."
"Bluk", Thay-siang menggebrak meja, seruhya gusar.
"Mereka memancing dan hendak menyogok kau."
Pek-hoa-pangcu, Hupangcu dan Giok-lan sama berjingkat kaget. Kun-gi juga gelisah dan jeri, katanya.
"Hamba..."
Thay-siang angkat kepala, katanya ramah.
"Lo-sin tidak salahkan kau, lanjutkan keterangan ini."
Lalu Kun-gi tuturkan cara bagaimana seorang diri dia melabrak Cap-ji-sing-siok, meski lawan memakai seragam kebal senjata, beruntung dia membekal Ih-thiankiam anugerah Thay-siang yang tajam luar biasa, beruntun dia melukai enam orang musuh, melihat gelagat tidak menguntungkan cepat2 Nao Sam-jun mencawat ekor melarikan diri.
Pada akhir ceritanya Ling Kun-gi berpaling dan berkata kepada Giok-lan.
"Tolong Congkoan suruh mereka membawa pakaian kebal senjata itu kemari dan diperlihatkan kepada Thay-siang."
Giok-lan mengiakan, dia beranjak ke pintu serta menggapai, maka Bak-ni melangkah masuk sambil membawa pakaian kulit itu terus diaturkan ke hadapan Thay-siang.
Hanya sekilas Thay-sung pandang baju kulit itu lalu berkata sinis.
"Kukira Cap-ji-sing-siok apa, kiranya orang2 yang berpakaian kulit binatang, memang kulit anjing laut ini kebal senjata."
Mendengar nada perkataan orang Kun-gi berkesimpulan bahwa agaknya Thay-siang sudah tahu akan pakaian kulit anjing laut ini, diam2 dia merasa heran.
Terdengar Thay-siang berkata lebih lanjut dengan suara lembut.
"Ling Kun-gi, kali ini kau berhasil membongkar komplotan musuh yang menyelundup ke dalam Pang kita, inilah merupakan pahala besar sekali ....."
Bicara sampai di sini entah sengaja atau tidak matanya melirik kearah Pek-hoa-pangcu Bok tan.
"Kerjalah yaug baik, lebih giat dan rajin, Losin tidak akan menyia2kan bakat dan kebaikanmu."
Kata2nya sudah gamblang, sejak mula kiranya dia sudah ada maksud menjodohkan Bok-tan kepada Ling Kun-gi.
Pekhoa-pangcutampakmaludan menunduksemakinrendah.
Sudah tentu Kun-gi juga merasa ke arah mana ucapan Thay-siang ini, tapi karena Thay-siang tidak bicara blak2an, tidak enak dia bicara lebih banyak, maka sekenanya dia membungkuk serta "
Kenapa kau tidak menungguku?"
"Nona mau ke mana? "Kau menyamar lagi bukankah ka hendak menemuka pengejaranmu?" , u n "Betul, kenapa?"
"Aku ikut, boleh tidak?"
K n gi te teg n sah tn a menggeleng "Jangan non cant berkata.
"Terima kasih Thay-siang."
Sebaliknya terasa hampir meledak dada So-yok dengan penuh "Bagus, penggal saja kepala mereka,"
Thay-siang memberi perintah.
"Tecu terima perintah,"
Sabut So-yok membungkuk.
"Hamba ada sebuah permohonan,"
Sela Kun-gi. Lembut suara Thay-siang.
"Kau ada pendapat apa, boleh kau utarakan."
"Mata2 Hek-liong-hwe yang diselundupkan ke Pang kita semua di bawah pengawasan Ci Gwat-ngo dan Cin Tek-hong, kedua pemimpinnya ini sudah mati, sisa yang lain hanyalah anak buah Hek-liong-hwe yang berkedudukan rendah, kukira dipunahkan saja ilmu silat mereka dan berilah kesempatan hidup kepada mereka, semutpun ingin hidup apa lagi manusia, kukira tidaklah jelek kita memberikan kebijaksanaan ini dan menaruh belas kasihan terhadap mereka..."
So-yok menjengek dingin.
"Hek-liong-hwe sudah jelas bermusuhan dengan kita, terhadap musuh buat apa menaruh belas kasihan segala? Mereka menyelundup kemari bukankan orang2 kita juga sudah menjadi korban? Hutang jiwa harus bayar jiwa, inilah hukum kodrat yang cukup adil."
Thay-siang tersenyum, katanya lembut.
"Waktu gurumu masih muda dulu juga tidak pernah mengampuni setiap musuh, beberapa tahun belakangan ini sudah tekun mempelajari ajaran agama, nafsu dan emosi sudah jauh tertekan. Begini saja, bahwa Ling Kun-gi sudah telanjur mintakan ampun bagi mereka, maka baiklah ampuni saja jiwa mereka."
"Thay-siang memang bajik dan welas asih, hamba menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga,"
Seru Kun-gi. Sejenak merandek lalu ia berkata ppla.
"Hupangcu, masih ada sebuah persoalan yang ingin hamba sampaikan.".
"Adaurusanapa?"suaraSo-yokdingin ketus.
"Nona kecil yang menyamar Cu-cu itu adalah orang dari Ceng-liong-tong, Ceng-liong-tong merupakan seksi dalam di Hek-liong-hwe, sekarang baru kita ketahui bahwa Ui-liong-tong yang termasuk seksi luar bermarkas di Ui-lionggiam di utara Kunlunsan, sejauh ini belum diketahui dimana letak markas seksi dalam mereka, maka orang ini teramat penting bagi kita, hendaklah jangan kau punahkan dulu ilmu silatnya."
So-yok memandangnya dengan dingin, tanpa memberi tanggapan terus putar badan tinggal keluar.
Melihat sikap orang yang kaku dan dingin, diam2 Kun-gi menggerutu dalam hati, entah soal apa yang menyebabkan dia begitu, dihadapan sekian banyak orang juga mengumbar adat, Kungi hanya menyengir saja, katanya setelah membungkuk kepada Thay-siang.
"Kalau Thay-siang tiada pesan apa2, hamba mohon diri saja."
"Ya, boleh kau pergi,"
Rujar Thay-siang.
Kun-gi menjura lalu mengundurkan diri.
Waktu itu hari sudah terang benderang, sementara kapal juga telahberlayar.
Cahayamentariterasahangatdancemerlang.
Kun-gi menengadah menghirup napas panjang, sambil berpegang langkan kapal pelan2 dia beranjak turun dari anak tangga kembali ke tingkat kedua, ternyata sernua orang masih tunggu di kamar makan kecuali yang bertugas diluar.
Sekilas dia menyapu pandang lalu berkata dengan kalem.
"Semalam suntuk kalian tidak tidur, kenapatidakbubar dan istirahatsaja?"
Coh-houhoat Leng Tio-cong segera memapak maju, katanya tertawa.."Karena semalam Cong-coh berhasil membongkar seluruh jaringan mata2 musuh yang menyelundup di Pang kita mendirikan pahala besar lagi, maka kita semua ingin menyampaikan selamat pada mu."
"Menjaring mata2 dan melawan serbuan musuh dari luar, adalah tugas dan tanggung jawabku, apalagi kejadian semalam juga berkat bantuan para saudara, toh bukan pahalaku seorang, kita semua orang sendiri, soal memberi hormat segala sungguh tak berani kuterima."
Tengah bicara tampak dari luar berbaris masuk sembilan dara kembang yang menyoreng pedang, setiap dara kembang membawa sebuah nampan warna merah tertutup kain warna hitam, entah barang apa yang berada di nampan kayu itu?
Begitu masuk ke ruang makan kesembilan dara kembang lantas berdiri berjajar, serempak memberi hormat, lalu seorang yang berdiri paling ujung buka suara.
"Seksi hukum telah menunaikan tugas memenggal kepala sembilan mata2 musuh, harap Cong-su-cia periksa adanya."
Seiring dengan kata2nya, berbareng kesembilan dara kembang itu menyingkap kain taplak yang menutup nampan merah itu.
Ternyata nampan kayu itu semua berisi batok kepala manusia yang masih berlepotan darah segar..
Mata2 musuh yang dijatuhi hukuman mati penggal kepala ini jelas adalah orang2 yang menyamar Nyo Keh-cong, Sim Kiansin dan Ho Siang-seng, demikian pula empat kelasi sampan yang masing2 bernama Li Hek-kau, Ong-ma-cu, Lim Telok dan Kim-lo-sam.
Batok kepala terakhir berambut panjang awut2an, beralis lentik bermuka halus, jelas adalah batok kepala gadis cilik yang menyaru Cu-cu.
Sembilan dara kembang yang membawa nampan berisi batok kepala manusia ini semua masih muda belia, berparas cantik bertubuh montok menggiurkan, pakaian mereka ringkas ketat, dengan garis tubuh yaug mempesona, tapi sembilan batok kepala manusia yang berlepotan darah itu jauh menarik perhatian orang dan terasa menjijikan, siapapun takkan percaya bahwa dara2 kernbang ayu jelita seperti mereka ini tega memenggal kepala kesembilan korbannya ini.
Semula hadirin sama bersorak tawa gembira, kini semuanya melongo seram dan berdiri bulu kuduknya.
Ling Kun-gi sendiri juga tertegun diam sekian lamanya.
Maklumlah, atas persetujuan Thay-siang para mata2 ini hanya diputus hukuman punahkan ilmu silatnya tapi diampuni jiwanya, terutama gadis cilik yang menyaru Cu-cu dipandang lebih penting, maka dia merasa perlu berpesan kepada So-yok untuk menjaga dan menyelamatkan jiwanya, karena hanya dara cilik inilah yang tahu letak markas Ceng-liong-tong, musuh yang amat terahasia itu.
Diam2 ia mendongkol, serunya naik pitam.
"Siapa yang perintahkan kalian memenggal kepala mereka?"
Terdengar seorang menanggapi di luar pintu.
"Sudah tentu atas perintahku!"
Seiring suaranya tampak So-yok melangkah masuk. Tak tertahan, seperti dibakar hati Ling Kun-gi, katanya dongkol.
"Sudah kumohon ampunkan jiwa mereka kepada Thay-siang. ."
"Yang berkuasa dalam seksi hukum aku atau kau?"
Tukas So-yok sengit.
"Setiap tugas urusan dalam Pang kita masing2 diurus oleh jabatan masing2, apakah Cong-su-cia tidak merasa mencampuri urusan orang lain?"
"Hupangcu memang menjabat rangkap seksi hukum, tapi tahukah kau telah menggagalkan urusanku?"
Semprot Kun-gi.
"Menggagalkan urusan apa?"
"Umpama kata dara cilik yang menyaru Cu-cu ini, dia adalah pelayan Cui-tongcu yang berkuasa di Ceng-liong-tong, hanya dia saja yang tahu di mana letak markas Ceng-liong-tong, maka tadi kupesan kepada Hupangcu supaya tidak memunahkan ilmu silatnya, kini kau malah membunuh dia... ."
Membesi hijau muka So-yok, jengeknya.
"Aku mengagalkan urusanmu, memangnya kau sudah kepincut pada dara molek ini, maka kau melarang aku menyentuh dia... .."
Merah muka Ling Kun-gi, semprotnya marah.
"Kau memang usil dan sengaja cariperkara."
"Ling Kun-gi!"
Teriak So-yok.
"berani kau .... memakiku?"
Setelah membanting kaki dia terus putar badan berlari keluar.
Dia pikir setelah marah dan berlari keluar, Kun-gi pasti akan mengejarnya keluar, tak terduga beberapa langkah kemudian, waktu dia berpaling, Kun-gi masih berdiri mematung di tempatnya.
Saking marah tak tertahan dia berteriak.
"Ling Kun-gi, keluarlah kau!"
Kun-gi tetap berdiri tidak bergerak. Diam2 Kongsun Siang mendekati dan berbisik.
"Watak Hu pangcu selamanya angkuh, dalam segala persoalan Ling-heng harus bersabar dan mengalah, dia memanggilmu keluar, mungkin dia merasa menyesal, di sini banyak orang dan malu menyatakan kesalahannya, lekaslah Ling-heng keluar saja."
Mengingat orang adalah Hupangcu, tak pantas dihadapan orang banyak dirinya marah2 padanya, Kun-gi mengangguk lalu beranjak keluar.
Sementara sembilan dara kembang masih berdiri menjublek, karena pertengkaran Hupangcu dan Cong-su-cia menyangkut perintah yang mereka lakukan, mereka menjadi pucat ketakutan.
Coh-houhoat Leng Tio-cong mengacung jempol kepada Kongsun Siang, katanya tertawa.
"Kongsun lote memang pandai bicara, syukurlah kau berhasil membujuk Cong-su-cia."
"Ah, hamba hanya membujuk Cong-su-cia supaya tidak bekerja menurutiadat saja."
Leng Tio-cong tetap tersenyurn, katanya sambil menoleh ke arah para dara kembang.
"Nona2, kalian boleh mengundurkan diri."
Serempak kesembilan dara menjura terus mengundurkan diri. Menyapu pandang seluruh hadirin, Leng Tio-cong buka suara sambil mengelus jenggot kambing di dagunya.
"Semalam kalian tidak tidur, sekarang boleh kembali ke kamar masing2 untuk istirahat."
Hanya Kongsun Siang seorang yang bertaut ke dua alisnya, seperti dirundung persoalan rumit yang mengganjel hatinya, dia tetap mondar-mandir di ruang makan sambil menggendong tangan.
Keadaan sepi lengang, dalam ruang makan yang luas ini kini tinggal Kongsun Siang dan Sam-gansin Coa Liang yang duduk dibangku panjang sambil mengangkat sebelah kakinya di atas bangku..
Hari ini.
dia menjadi komandan para petugas siang.
Dengan memicingkan mata dan miring kepala dia memandang Kongsun Siang, tanyanya.
"Kongsunlote, kau ada ganjelan hati apa?"
Kongsun Siang menggeleng.
"Mana ada ganjelan hati segala."
Coa Liang meraih secangkir teh terus diteguknya, katanya terkekeh.
"Kongsunlote, jangan mulutmu bicara tidak sesuai dengan isi hatimu, aku berani bertaruh kau pasti sedang kasmaran entah terhadap nona yang mana sampai kehilangan semangat seperti orang linglung. Kemarilah, hayo ceritakan padaku, nanti kubantu mencarikan akal."
Merah muka Kongsun Siang, katanya tergagap.
"O, sungguh tiada persoalan apa2."
Lalu dia menjura dan mernambahkan.
"Silakan duduk lagi, hamba akan kembali ke kamar saja."
Bergegas dia lantas ke kamar. Mengawasi punggung orang, Coa Liang ter-kekeh2, katanya..
"Anak bagus kau masih pura2 dan mungkir, kalau betul kau sudah kasmaran, kau bisa sakit rindu."
Sementara itu So-yok berdiri di ujung dek tingkat kedua.
Angin sungai menghembus santer..wajah yang selama ini berseri cerah kini kelihatan meradang kemarahan dan kesal.
Kun-gi sudah berada di sampingnya, jelas dia telah mendengar langkah orang mendatangi, tapi dia sengaja memandang ke tempat nanjauhdidepantanpa menolehatau melirik.
Kun-gi berhenti, serunya.
"Hupangcu.. ... ."
Tetap tidak menoleh, suara So-yok kedengaran kaku dingin.
"Jangan panggil aku Hupangcu, untuk apa kau masih hiraukan diriku?"
"Bukankah Hupangcu yang suruh aku kemari?"
"Siapa suruh kau kemari? Aku tidak memanggilmu, pergilah kau." .
"Hupangcu memanggilku dan aku sudah keluar, kalau kau memang tidak memanggilku, yah anggaplah aku yang salah dengar,"
Pelan2 dia putar badan hendak tinggal pergi. MendadakSo-yok putarbadan, bentaknya."Berdiriditempatmu!"
Kun-gi masih muda dan berdarah panas juga, katanya tertawa tawar.
"Cayhe sebetulnya ... ."
Dia mau berkata.
"Cayhe menghargaimu sebagai Hupangcu, tapi Cayhe bukan orang yang boleh di panggil dan diusir begini saja."
Tapi baru saja berucap 'Cayhe' itulah, sorot rnatanya kebentrok dengan wajah orang yang kelihatan sayu rawan, seperti dirundung kesedihan dan penyesalan, suaranya garang, tapi sorot matanya ber-kaca2 dan akhirnya meneteskan air mata.
Hati lelaki umumnya memang lemah bila melihat air mata perempuan.
Dan perempuan juga tahu cara mengambil keuntungan ini, maka dalam setiap pertengkaran air matalah yang dijadikan alat untuk menundukkan lelaki.
Sejak jaman dahulu kala air mata perempuanentahsudah menundukkanberapabanyakkaumlaki2.
Demikian pula hati Ling Kun-gi seketika luluh, kata2 yang sudah siap tercetus dari mulutnya seketika dia telan kembali, setelah menghela napas, dia berkata.
"Kau memang suka membawa adatmu sendiri"
"Aku membawa adat apa?"
Jengek So-yok.
"Entah karena apa Hupangcu marah2, sekaligus membunuh sembilan orang, memangnya ini bukan membawa adatnya sendiri."
"Ya, aku marah2 dan membunuh orang, memangnya kenapa?"
Serius rona muka Kun-gi, katanya.
"Kau ada-lah Hupangcu Pekhoa-pang, memangnyasiapa beraniberbuatapa2terhadapmu? Tapi perlu Cayhe memberitahukan nona bahwa kuinginkan keutuhan ilmu silat nona cilik penyaru Cu-cu itu adalah untuk kepentingan Pang kita, dengan tingkat kepandaiannya, utuh atau dipunahkan ilmu silatnya tidak menjadi persoalan bagi kita, cuma menurut rencanaku setelah nanti kita mendarat akan kuberi kesempatan dia melarikan diri, dengan menguntit jejaknya kita pasti akan dapat meluruk ke Ceng-liong-tong dengan mudah, dengan Hek-liong-hwe Cayhe tiada permusuhan apa2, tapi jelek2 Cayhe adalah Cong-su-cia Pek-hoapang, aku punya tanggung jawab untuk berbakti dan bekerja demi kepentingan Pek-hoa-pang, dan kau membawa adatmu sehingga segala rencanaku kau gagalkan."
"Gagalyagagal, memangnyakenapa?"ejekSo-yok.
"Bagi Cayhe sendiri tiada persoalan, kalau di sini aku tidak bisa bekerja dan tidak betah lagi, seandainya seluruh isi kapal bakal tertumpas habis, Cayhe yakin masih cukup mampu mempertahankan diri, aku masih tetap bisa berkelana di Kangouw, aku tetap Ling Kun-gi, tapi kau adalah lain....."
"Dalamhalapa akuberbeda?"
"Kau kan Hupaagcu Pek-hoa-pang, kalian mengerahkan seluruh kekuatan meluruk ketempat jauh ini, hanya boleh menang pantang kalah dan gagal, sekali menang akan tambah semangat juang yang lebih berkobar dan menyapu segala aral rintangan, tapi bila gagal kalian akan berbalik tertumpas habis seluruhnya, nama Pek-hoapang selanjutnya akan lenyap dari percaturan Kangouw, oleh karena itu menghadapi setiap persoalan tidak boleh kita membawa adatnya sendiri."
"Kau sedang mengajar dan memperingatkan aku?"
"Mengajar atau memperingatkan aku tidak berani, aku hanya memberi ingat saja."
"Tidak perlu kau membujukku, memang demikianlah aku ini, watak pembawaan sejak dilahirkan, segala tindak-tanduk selalu menuruti keinginan hati ...."
"Obat mujarab biasanya memang pahit getir, bujuk kata umumnya memang menusuk telinga, kalau Hupangcu tidak suka dengar nasihatku, ya sudahlah,"
Kun-gi putar badan hendak tinggal pergi. Melihat orang mau pergi, semakin marah So-yok, bentaknya.
"Berdirilah ditempatmu."
"Apa pula yang ingin kau katakan?"
"Terangkan sejelasnya, ya sudahlah apa maksudmu?"
Kiranya si nona salah paham.
"Sudahlah, anggapsajaakutidakpernahbicaraapa2"
Membesi kaku muka So-yok, serunya menuding Kun-gi dengan menggereget.
"Ling Kun-gi, jangan kau kira secara langsung Thaysiang sudah memberi muka padamu, maka kau lantas ingin berbuat tidak semena2, mendapat yang baru lupa yang lama, ketahuilah, kalau kau berani ....membuang akhir untuk permulaan yang kalut, aku tidak akan membiarkan dirimu,"
Lenyap suaranya mendadak dia putar tubuh terus berlari ke tingkat ketiga.
"Membuang yang akhir untuk permulaan yang kalut"
Kata2 ini umpama geledek menggelegar di pinggir telinga Ling Kun-gi, apa lagi kata2 ini terucap oleh seorang perempuan macam So-yok yang Hupangcu ini, dia terlongong sekian lamanya.
Betapa berat dan serius kata "mendapat yang baru lupa yang lama"
Dari mulut seorang perempuan?
Mendapat yang baru lupa yang lama, memangnya siapa yang baru dan siapa pula yang lama itu?
Kapan dirinya pernah mendapatkan yang baru?
Kapan pula yang lama?
Lama sekah Kun-gi menjublek di atas dek, mulutnya berulang menggumam kata2 yang tak berujung pangkal itu, hatinya dirundung rasa kesal dan masgul yang tak terlampias.
Sungguh dia tidak habis mengerti darimana juntrungan kedua patah kata dan persoalan apa yang dimaksud?
Kun-gi adalah perjaka yang punya perasaan tajam dan otak yang encer pula, selama beberapa hari ini, bagaimana sikap dan tindaktanduk So-yok terhadapnya, memangnya dia tidak tahu?
Tapi dia yakin sebagai murid didik Hoanjiu-ji-lay yang kesohor itu dirinya selalu bertindak jujur dan sopan, tak pernah melakukan perbuatan kotor apalagi melanggar susila.
Waktu Thay-siang memanggilnya dan So-yok mengantar, di lamping gunung yang melekuk gelap itu, karena tak kuat menahan gejolak perasaan lantaran dirayu pernah dia memeluk ia satu kali, kania sendiri jugareladan mandahdipelukdan dicium, kalaubukan dia sendiri yang rela menyerahkan dirinya, memangnya dirinya berani berbuat kurangajar?
Bagaimana kejadian itu dapat dikatakan sebagai permulaan yang kalut?
Dia tahu perempuan yang satu ini memang angkuh dan tinggi hati, tidak dapat disangkal bahwa sikap orang memang teramat baik pada dirinya, dan di sinilah mungkin letaknya kenapa dia sampai berkata demikian pedas dan ketus.
Beginipun baik, paling tidak selanjutnyanonaitutidakakan merecokidirinyalagi.
Semalam suntuk Kun-gi tidak memejamkan mata, angin sungai terasa silir nyaman, tanpa terasa ia merasa letih, setelah menguap dia kembali ke kabin.
Setiba di kamar baru saja dia duduk di kursi dekat jendela, didengarnya seseorang mengetuk pintu pelahan, lalu daun pintu didorong orang, bayangan seorang berkelebat masuk.
Itulah Kongsun Siang, mimik mukanya tampak aneh, seperti dirundung persoalan rumit saja, mulutnya berseru lirih.
"Cong-coh"
Heran Kun-gi, tanyanya.
"Ada urusan apa Kongsun-heng?' "Ti ... .tidak apa2,"
Gagap jawaban Kongsun Siang.
"kulihat Ling-heng baru kembali, maka sengaja kutengok kemari."
Jelas jawabannya sangat meng-ada2.
"Silakan duduk Kongsun-heng."
Kongsun siang duduk tanpa banyak kata, kedua tangan tergenggam dan jari2 nya mengerat kencang di depan dada, matanya mendelong mengawasi Kun-gi, bibirnya bergerak beberapa kali, seperti hendak mengutarakan apa2.
Tapi begitu melihat sorot mata Kun-gi yang tajam, seketika dia menunduk, wajahnya menampilkan rasa penyesalan yang tak terhingga, ingin bicara tapi tak berani mengutarakan isi hatinya.
Kun-gi anggap tidak tahu, dia angkat poci teh dan menuang dua cangkir, katanya.
"Minumlah Kongsun-heng."
Ter-sipu2 Kongsun siang menerima cangkir teh yang disodorkan padanya, sahutnya.
"Terima kasih Ling-heng."
Diam2 Kun-gi merasa heran melihat sikap ganjil orang.
"Kong sun-heng"
Katanya sambil angkat cangkir tehnya.
"semalam suntuk kaupuntidaktidur, kenapatidak istirahatsaja?"
Mendadak Kongsun Siang berdiri, katanya.
"Silakan Ling-heng istirahat, aku tidak menggangu lagi."
Kun-gi tertawa tawar, ujarnya.
"Silakan duduk Kongsun-heng, bukan maksudku mau mengusirmu, terus terang aku tidak merasa kantuk, maksudkukausendiriyangperluistirahat?'..
"Seperti juga Ling-heng, akupun tidak merasa kantuk,"
Sahut Kongsun Siang.
"Kalau begitu silakan duduk lagi."
Kongsun Siang duduk pula, sekilas dia pandang Kun-gi lalu berkata.
"Ada sepatah kata yang ingin kukatakan, tapi aku jadi ragu2 apakah pantas kuucapkan?' "Sesama saudara, ada omongan apa, boleh katakan saja."
"Baiklah kubicara terus terang, kurasa Ling-heng dengan Hupangcu adalah pasangan yang setimpal ......"
Mendadak Kun gi tertawa, katanya.
"Apa arti kata2 Kongsun-heng?"
Kongsu Siang melenggong, katanya.
"Apakah ucapanku salah? Kulihat sikapnya terhadap Ling-heng begitu mesra dan manja, jelas dia penujui kau ........."
Kun-gi menggeleng, katanya.
"Kongsun heng salah paham, watak Hupangcu dingin di luar panas di dalam, dia pandang aku sebagai saudara, akupun memandangnya sebagai adik hakikatnya tiada persoalan jodoh diantara kami."
Berkelebat sinar terang pada sorot mata Kongsun Siang, tanyanya."Ha, betuldemikian?"
"Terus terang Kongsun heng, aku sudah punya . ....."
Teringat akan Tong Bunkhing dan Pui Ji-ping yang terjatuh di tangan orang2 Hek-liong-hwe, terbayang pula akan Un Hoankun yang kini menyamar jadi Bikui di Pek-hoa-pang ini, sesaat dia jadi sukar bicara lebih lanjut.
Terpancar rasa senang pada wajah Kongsun Siang, katanya tertawa.
"O, kiranya Ling-heng sudah punya pacar."
Terpaksa Kun-gi manggut2, ujarnya.
"Ya, boleh dikatakan demikian "
Tiba2 serius sikap Kongsun Siang, katanya sambil menekan suara.
"Tapi dia begitu kasmaran terhadap Ling-heng, sifatnya yang ketus dan kaku juga sudah kau ketahui, kukira urusan ini bisa jadi runyam."
"Hubungan laki perempuan harus cinta sama cinta, soal asmara sedikitpun tidak boleh dipaksakan, aku hanya anggap dia sebagai adik, tak pernah terpikir dalam benakku untuk mempersunting dia sebagai seorang yang cerdik, lewat beberapa waktu lagi pasti dia, akan mengerti juga,"
Sejenak dia berhenti lalu berkata menatap KongsunSiang.
"Dan lagi aku tidak akantinggalterlalu lamadi sini."
Kongsun Siang mengangguk, ujarnya.
"Aku tahu dua saudara Ling-heng menjadi tawanan Hek-liong-hwe, mungkin Ling-heng harus selekasnya menolong teman dan harus meninggalkan kita semua."
"Sekali bertemu Kongsun-heng kita lantas seperti sahabat lama, memang demikianlah maksudku, hanya kau saja yang dapat menyelami perasaanku."
"Bila Ling-heng memerlukan tenagaku, kapan saja dan di mana saja pasti aku rela dan senang hati membantumu biarpun sampai titik darah terakhir."
Mendengar orang menyinggung titik darah terakhir (gugur), sekilas Kun-gi melengak, katanya mengerut kening.
"Soal menolong orang, memang aku sedang merasa kebingungan, bahwa Kongsunheng suka membantu, kuaturkan terima kasih."
"Kalau Ling-heng merasa kekurangan tenaga, hubunganku dengan Thio Lam-jiang amat intim, kalau tiba waktunya cukup kumintatenaganyapastidia suka membantujuga."
Kun-gi menghela napas pelan2, ujarnya.
"Ai, dara cilik yang tertangkap itu sebetulnya adalah pelayan pribadi Cui-tongcu dari Ceng-liong-tong, keterangannya amat berguna bagi kita, tapi Hupangcu tadi telah membunuhnya, sumber penyelidikan yang kuharapkan menjadigagal, bukankah amatsayang?"
Kongsun Siang bertanya.
"Dari ucapan Ling-heng ini seolah2 Thay-siangtelahsetujupengampunanjiwa mereka?".
"Ya, aku telah mohon pengampunan mereka kepada Thay-siang."
"Lalu kenapa dia membunuhnya?"
"Siapa tahu apa sebabnya, tidak hujan tiada angin tiba2 dia marah2 padaku?"
"Waktu Ling-heng keluar tadi, apa yang dia katakan?" ''Dia sudah biasa membawa adat dan terlalu binal, memangnya dia mau mengaku salah?"
"Marah2 dan main bunuh tentu ada alasannya,"
Ujar Kongsun Siang.
"Apakah dia tidak menjelaskan kepada Ling-heng?"
"Tidak,"
Sahut Ling Kun gi.
"bicara baru beberapa patah kata lalu dialarike kamarnya."
Sudah tentu Kun-gi merasa rikuh dan malu menceritakan tentang tuduhan So-yok mengenai dirinya, apalagi dia sendiri bingung apa maksud kata2
"mendapat yang baru lupa yang lama, membuang yang akhir untukpermulaan yang kalut".
"Kurasa kalau Ling-heng ada maksud mau pergi, tidak perlu kau melayaninya secara serius, segala urusan harus sabar dan berpikir panjang."
"Memang, sebetulnya wataknya yang sejati tidak jahat, cuma terlalu binal dan suka main bunuh, tangannya yang gapah itu membikin aku kurang cocok."
Sampai di sini tiba2 Kongsun Siang berdiri, katanya.
"Ling-heng harusistirahat, aku mohon dirisaja."Terus dia melangkah keluar. Setelah Kongsun Siang pergi sudah tentu Kun-gi tidak bisa tidur. Seorang diri dia pegangi cangkir tehnya sambil melamun. Sekonyong2 dia seperti ingat sesuatu, mendadak dia berdiri dari tempat duduknya, seketika pucat wajahnya dan badanpun gemetar, keringat dingin gemerobyos, mulutnya bergumam.
"Mungkinkah dia ...." -o-00d0w00-o-Malam itu kapal besar itu berlabuh di Ko-toh-than yang terletak di Kwanciu, Go-san. Malam sudah larut, kabut tebal. Kira2 setengah li dari tempat kapal besar itu berlabuh terdapat sebuah bukit kecil yang tandus, hanya ada puluhan batang pohon saja yang tumbuh di bukit itu, Angin malam menghembus men-desir2 seolah2 suara berkeluh-kesah. Pada saat itu, tampak dua sosok bayangan orang sedang ber-lari2 ke arah bukit saling kejar. Orang yang di depan mengenakan baju hijau, seorang laki2, yang di belakang berperawakan ramping semampai, itulah seorang gadis remaja. Malam berkabut cukup gelap sehingga sukar terlihat jelas wajah2 mereka, tapi dari perawakan mereka jalas bahwa mereka adalah muda-mudi yang mungkin sedang mengadakan pertemuan cinta rahasia di sini. Memang tempat yang sunyi dengan hawa yang sejuk dan pemandangan malam nan menyegarkan ini cocok benar untuk memadu cinta.
Jilid 22 Halaman 63/64 dan
Jilid 23 Halaman 4 s/d 6 Hilang ....... lagidiantara merekasudah tidak kuperhatikan."
Si pemuda banting kaki, katanya geram.
"Bajingan laknat, selagi aku tidak di kamar dia menyamar diriku melakukan perbuatan kotor dan mesum itu."
Si gadis meliriknya sekali, tanyanya heran.
"Kenapa iapun memanggilmu Toako?"
Pertanyaan yang bernada cemburu.
"Hoanmoay, jangan kau salah paham, pertama kali waktu aku harus menghadap Thay-siang, di tengah jalan dia memaksa aku menjadi Toakonya."
"Tak heran, selama ini begitu besar perhatiannya terhadapmu."
Si pemuda menghela napas, ujarnya.
"Ai, malam itu juga kau menjelaskan persoalannya padaku kemungkinan aku masih sempat menangkap keparat itu." ' "Memangnya kenapa kalau kau menangkapnya? Merekakan suka sama suka, apa sangkut pautnya dengan kau?"
"Aduh, kenapa kau masih belum mengerti. Kalau malam itu kutangkap keparat itu, paling tidak urusan akan menjadi jelas tiada sangkut pautnya dengan aku dan bukan aku yang dijadikan kambing hitam."
Ber-kedip2 bola mata si gadis, tanyanya.
"Malam itu kuseret Giok-lan ke tempat itu, kalau sampai terjadi sesuatu, dia kan bisa jadi saksi."
Berkerut alis si pemuda, katanya.
"Urusan ini memang serba susah, bagaimana aku harus memberi penjelasan kepadanya?". Bergetar tubuh si gadis, tanyanya sambil memandangnya lekat2.
"Kenapa? Memangnyadiacariperkarapadamu?"
Si pemuda manggut2, katanya serba runyam.
"Tadi pagi, dia memakiku, katanya aku mendapat yang baru lupa yang lama segala."
"Mendapat yang baru lupa yang lama,"
Tanya si gadis.
"Lalu bagaimana jawabmu?"
Sipemuda menyengir kecut, katanya.
"Sehabis mengataku, dia lantas lari pergi."
Si gadis berpikir sebentar, katanya.
"Kukira sudah saatnya kau harus meninggalkan tempat ini."
"Tidak, sekarang aku masih belum boleh pergi."
"Kenapa?"
"Pertama, perkara ini belum kuselidiki, selama belum terang persoalan ini aku tetap akan menjadi kambing hitam, kalau kutinggal pergi begini saja, bukankah aku betul2 membuang yang akhir dari permulaan yang kalut? Selain itu kedua temanku berada ditanganorang2Hek-liong-hwe,akuharusmenolong mereka."
Berpikir sejenak si gadis mengangguk, katanya.
"Alasanmu juga betul, lalu bagaimana selanjutnya?"
"Aku harus membekuk keparat yang memalsu diriku itu ....."
Sampai di sini, mendadak ia genggam lengan si gadis, katanya lirih.
"Ada orang datang, lekas kita sembunyi."
Pohon cemara di atas bukit memang tinggi besar, tapi dahannya runcing dan daunnya jarang2, tidak cocok untuk menyembunyikan diri.
Sipemuda celingukan, cepat iatarik si gadisterus melompatjauh ke semak2 sana dan merunduk maju, baru saja mereka sembunyi di belakang pohon cemara besar, Tampak sesosok bayangan orang melesat tiba, langkahnya begitu enteng dan cepat meski harus berlari menanjak naik ke atas bukit, begitu tiba dia berdiri tegak menghadap ke utara sambil menggendang kedua tangan.
Bukit ini kecil tapi luasnya ada belasan tombak.
Tempat orang itu berdiri sedikitnya berjarak empat-lima tombak dari tempat sembunyi kedua muda-mudi, di tengah malam yang gelap oleh kabut ini, yang kelihatan hanya bayangan hitam belaka.
sukar melihat bentuk dan roman mukanya.
Kedua muda mudi itu mendekam di-semak2 di belakang pohon, mereka mengawasi bayangan orang itu tanpa berani bergerak.
Bayangan itu tetap berdiri menghadap ke utara, juga tiga bergerak sedikitpun.
Begitulah keadaan demikian bertahan cukup lamanya, tak kuat menahan rasa heran, si gadis berbisik di pinggir telinga si pemuda.
"Untuk apa dia kemari?"
Si pemuda menjawab dengan suara lirih.
"Kelihatannya dia sedang menunggu sesuatu."
Arah utara sebelah bukit kecil ini adalah hutan pohon cemara, pohonnya pendek2 dan tidak begitu lebat, tapi di malam nan gelap ini kelihatannya begitu lebat dan pekat..
Tak lama kemudian dari arah hutan cemara itu berkumandang sebuah suara rendah berat.
"Kau sudah datang?"
Orang yang berdiri tegak di atas bukit segera membungkuk hormat, sahutnya.
"Cayhe sudah tiba."
Orang di dalam hutan cemara ternyata tidak unjuk diri, suaranya tetap berkumandang.
"Baik sekali!"
Sesaat kemudian dia bertanya.
"Bagaimana diatas kapal?"
Orang di bukit menjawab.
"Memang Cayhe hendak menyampaikan laporan kepada Cujin (majikan), sejak datang seorang she Ling dalam Pang itu, dia diangkat menjadi Cong-su cia, usianya masih muda, tapi berilmu silat tinggi, kabarnya adalah murid kesayangan Hoanjiu-ji-lay....... ."
Orangdidalamhutanbersuara kagetdanheran. Orang di atas bukit melanjutkan.
"Akhir2 ini dia berhasil membongkar komplotan mata2 Hek-liong-pang yang diaelundupkan ke sana, maka dia mendapat kepercayaan Thay-siang ....... '"
"O,"
Orang di dalam hutan bersuara pula.
"Kalau bocah she Ling ini tidak disingkirkan, mungkin akan merugikan jugabagiCujin,"
Ucaporang di atasbukit. Mendadak orang di dalam hutan tertawa, katanya.
"Majikan malah suruh aku memberitahu padamu, sedapat mungkin kau harus ber-muka2 kepada bocah she Ling itu, dan ikatlah hubungan intim dankerjasamabaikdengan dia."
Orang diatas bukit mengiakan, sahutnya. ''Cayhe mengerti"
"Majikan ada sepucuk surat,"
Kata orang di dalam hutan cemara, 'Kau harus menyerahkan kepada Thay-siang, cuma jangan sampai jejakmu di ketahui."
"Cayhe akan laksanakan perintah dengan hati2."
"Nah terimalah surat ini!"
"Ser"
Selarik sinar putih tiba2 menyambar keluar dari hutan melayang ke atas bukit.
Orang di atas bukit cepat menangkapnya, langsung dimasukkan ke dalam saku.
Terdengar orang dalam hutan cemara berkata pula.
"Bagus, sekarang boleh kau kembali!"
Orang di atas bukit mengiakan, sekali menutul kaki terus meluncur turun ke bawah bukit, sekejap saja bayangannya lenyap ditelan kegelapan.
Keadaan hutan cemara juga seketika menjadi sunyi, agaknyaorangdidalamhutan itujuga telahpergi.
Selang agak lama lagi baru kedua muda-mudi yang sembunyi di semak belukar itu berani angkat kepala.
Kata si gadis dengan pelahan.
"Entah orang di dalam hutan itu sudah pergi belum?"
Pemuda itu mendahuluiberdiri, sahutnya."Sudahpergijauh."
Kaget dan heran si gadis, tanyanya.
"Agaknya mereka bukan orang Hek-liong-hwe?"
"Sudah tentu bukan."
"Memangnya siapa mereka?"
"Sekarang belum jelas, sungguh tak nyana di dalam Pek-hoa-pang kecuali ada mata2 Hek-liong-hwe, masih ada juga komplotan agen rahasia lain." 'Tadi sudah kau lihat jelas siapa dia?"
"Kukira dia mengenakan kedok."
"Lalu suaranya? Kau tidak kenal?"
"Tentunya mereka juga sudah waapada kalau konangan orang, maka suara pembicaraan mereka tadipun menggunakan suara palsu, biarlah hal ini pelan2 kita selidiki."
"Bukankah kau dengar majikan mereka menginginkan dia kerja sama dengan kau?"
"Betapapun kita harus menyelidiki asal-usul dan seluk-beluk mereka, supaya kita tidak di peralat di luar sadar kita,"
Berhenti sebentar, lalu ia menambahkan.
"Hoanmoay, hayolah pulang!"
Dua bayangan orang segera meninggalkan bukit kecil itu dan meluncur ke bawah.
-oo0dw0oo Kapal besar berloteng susun tiga itu terus berlayar mengikuti arus sejak dari Kwa-ciu menuju ke muara sungai Tiangkang.
Sekarang mereka sudah berlayar di lautan teduh.
Tiga layar besar berkembang.
Langit nan biru dihiasi gumpalan mega putih, gelombang laut mendampar udara cerah.
Kalau kapal berloteng ini dapat laju dengan tenang di sungai Tiangkang, tapi tidak demikian di lautan teduh.
Gelombang di lautan lepas ini jauh lebih besar dan kuat, kalau di Tiangkang kapal ini terhitung ukuran besar, tapi di lautan teduh seperti daun kering kecil terombang ambing dipermainkan gelombang yang naik turun, maka terasa sekali guncangan yang amat kuat.
Kehidupan orang2 di atas kapal sudah tentu tidak setenang dan senyaman waktu masih berlayar di sungai.
Terutama para dara kembang yang tidak biasa hidup di atas air, mereka sama pening kepala dan muntah2, kaki enteng langkah limbung.
Setelah berada di lautan teduh ini, kapal bersusun ini putar haluan menuju ke utara, Siang malam tak berhenti dan berlayar terus tanpa berlabuh lagi.
Sejak Cong-su-cia Ling Kun-gi membongkar mata2 Hek-liong-hwe, sepanjang jalan ini tak pernah lagi terjadi apa2.
Lantaran tak terjadi apa2 ini maka terasa sekali kehidupan di tengah lautan ini menjadi hambar.
Dan karena kehidupan yang hambar ini, maka dua persoalan yang selama ini masih mengganjeldalambenak Ling Kun-gisukardiselidiki.
Kedua persoalan yang mengganjel hati Kun-gi ini adalah pertama dia harus mencari tahu siapa laki2 yang menyamar dirinya melakukan perbuatan mesum di kamarnya itu?
Orang lain yang makan nangkanya, dia sendiri yang kena getahnya, maka dia harus menyelidikinya sampai persoalan ini menjadi jelas.
Kedua, siapakah orang yang mengadakan kontak dengan temannya di atas bukit itu?
Dia harus mengetahui rencana aksi mereka supaya dirinya tidak sampai diperalat diluar tahunya pula, sebagai Cong-su-cia Pek-hoapang, adalah tanggung jawab dan kewajibannya untuk menyelidiki hal ini.
Tapi kalau lawan tidak mengadakan aksi tentu takkan timbul reaksi, padahal menyelidiki sesuatu memerlukan adanya aksi, kalau kehidupan di atas kapal ini terus tawar dan hambar begini, kecuali sehari makan tiga kali, semua orang menganggur dan cuma ngobrol di kamar makan atau bermain catur belaka.
Begitulah hari ke hari telah lewat, kedua persoalan ini tetap belum ada penyelesaian.
Beberapa hari kemudian kapal sudah keluar dari teluk Lo-sin, sepanjang pelayaran ini beberapa kali, mereka melihat banyak kepulauan besar dan kecil.
Pada hari itu, pagi2 betul sampai tengah hari seorang diri Thaysiang naik ke atap tingkat ketiga memandang jauh ke depan sana.
Semua orang menduga mereka sudah hampir tiba ke tempat tujuan, tapitiadaseorangpunyangtahudimana merekabakalmendarat.
Menjelang senja, di bawah pancaran sinar surya yang kuning cemerlang, di kejauhan sana daratan sudah kelihatan samar2.
Thay-siang suruh Teh-hoa menyampaikan perintahnya kepada Ko-lotoa, mumpung malam ini gelombang pasang, sebelum tengah malam kapal harus sudah memasuki teluk kepulauan Ngo-hui-to.
Beritainisegeratersiarke seluruh kapal.
Tahu bahwa malam ini kapal bakal menepi dan mereka akan mendarat, suasana menjadi hiruk pikuk, berkobar semangat mereka.
Hari sudah petang, Kehidupan di atas kapal sesudah makan malam dan istirahat satu jam semua orang harus tidur ke kamarnya masing2.
Tapi lain dengan malam ini.
Lampu terang benderang di kamar makan tingkat kedua, cuma pada setiap lubang dari jendela berkaca telah dipasang kain hitam yang tebal sehingga cahaya lampu tidak menyorot keluar.
Meja besar yang berjajar segi tiga di kamar makan kini tinggal satu saja, maka ruang makan ini terasa lebih luas.
Orang2 sudah berdiri berjajar di kanan-kiri, sebelah kiri dipimpin oleh Cong-su-cia Ling Kun-gi, di belakangnya terbagi dua baris, Coh-houhoat Leng Tio-cong dan Sam-gansin Coa Liang, di belakang mereka lagi adalah ke tujuh Hou-huat, Kongsun Siang, Song Tek-seng, Thi Lam-jiang, Toh Kanling, Lo Kunhun, Yap Kay-sian dan Liang Ih jun, ( Cin Tekiong sudah gugur ).
Delapan Hou-hoat-su-cia adalah Ting Kiau, Ban Yu-wi, (empat diantara dua belas Hou-hoat-su-cia sudah terbunuh oleh orang2 Hek liong-hwe ).
Barisan sebelah kanan dipimpin oleh Congkoan Giok-lan, disusul enam Tay-cia, yakni Bikui Ci-hwi, Hu-yong, Hong-siang, Giok-je dan Loh-bi-jin (Hay-siang sudah mati), merekapun berdiri menjadi dua baris, Disusul oleh barisan para dara kembang yang berjumlah sembilan belas, Cu-cu sudah meninggal.
Mereka berdiri tegak khidmad, suasana hening dan sunyi..
Tak lama kemudian tampak kerai tersingkap, yang mendahului melangkah masuk adalah Thay-siang, dia tetap menggunakan pakaian serba hitam, cadar hitam, sebutir mutiara sebesar buah anggur bertengger di atas gelung rambutnya.
Perempuan tua ini memang serba misterius.
Di belakang Thay-siang adalah Pek-hoa-pangcu Bok-tan, Hupangpcu So-yok.
Lalu dua pelayan Teh-hoa Liu-hoa, satu membawa Ji-gi ( mistar batu jade ) seorang lagi memegang kebutan bergagang batu jade pula.
Thay-siang langsung menuju ke meja di tengah ruangan, Pangcu dan Hupangcu berdiri di kirikanan kedua pelayan berdiri paling belakang.
Orang2 di barisan kanan-kiri serentak bersorak menyanjung puji dengan suara lantang.
Agaknya Thay-siang merasa puas, dia manggut2 kepada hadirin.
Memang suasana seperti inilah yang disukai Thay-siang, dia adalah jantan di antara kaum perempuan, suka menonjolkan diri sebagai orang yang berkuasa dan berwibawa.
Begitu senyap suasana di ruang makan ini, sorot mata Thay-siang yang mencorong tajam menyapu para hadirin, katanya kemudian.
"Losin sudah perintahkan Ko-lotoa untuk berlayar memasuki teluk kepulauan Ngo-hui-to malam ini selagi air laut pasang. Kita akan mendarat di suatu tempat yang dinamakan Cu-thau ......"
Sampai di sini dia bicara, hadirin sudah menyambut dengan tampik sorak yang riang gembira. Setelah suara keplok tangan sirap baru Thay-siang melanjutkan.
"Cu-thau tempat kita mendarat itu kira2 puluhan li dari Kunlunsan, kira2 seratus li lebih dari Ui-lionggiam, markas besar Hek-liong-hwe, oleh karena itu setelah kita mendarat harus segera mendapatkan tempat berteduh untuk istirahat di samping membagi tugas."
Merandek sebentarlalu ia melanjutkan.
"DariCu-thau menuju barat, kira2 lima li jauhnya kita akan menuju ke sebuah gunung yang bernama Ciok santhu, di atas gunung ada sebuah Ciok-sinbio, di biara inilah kita akan istirahat."
Sampai di sini dia angkat kepala serta berteriak;
"'Ling Kun-gi!"
Lekas Kun-gi menyahut.
"Hamba ada di sini."
Kata Thay-siang "Kau pimpin Coh-yu-hou-hoat dan seluruh Houhoat-su-cia, setelah kapal mendarat bersama Congkoan Giok-lan kalian naik ke darat lebih dulu dan berkumpul di Ciok-sinbio itu.
Di sebelah timur Ciok-santhau adalah sungai, sebelah barat adalah hutan, boleh kau berunding dengan Coh-yu-houhoat cara bagaimana harus menyesuaikan diri dengan keadaan di sana dan aturlah segala yang kita perlukan."
Kun gi mengiakan dan terima perintah. Thay-siang berkata pula.
"Giok-lan pimpin Bikui, Ci-hwi, Hu-yong, Hong sian, Giok-je ber-lima seperjalanan dengan Ling Kun-gi berangkat dulu ke Ciok-sinbio dan atur lebih dulu segala keperluan kita."
Giok-lan dan para Tay-cia yang disebut namanya membungkukhormatsambil mengiakan.
"Loh-bi-jin bersama para dara kembang akan mengiringi perjalanan Losin,"
Demikian pesan Thay-siang. Setelah membagi tugas berkata Thay-siang lebih lanjut.
"Sekarang waktu masih cukup, kalian boleh bubar dan membenahi semua yang diperlukan, setelah tengah malam nanti bekerjalah menurut pesanku tadi, awas jangan gagal."
Hadirin mengiakan, Thay-slang terus meninggalkan tempat itu di bawah bimbingan Bok-tan dan So-yok.
Setelah Thay-siang pergi, Giok-lan bersama para Tay-cia dan dara2 kembang itu juga mengundurkan diri ke tingkat ketiga.
Maka terjadilah sedikit kesibukan di atas kapal, semua orang sibuk mem-benahi barang miliknya masing2.
Manusia adalah makhluk yang biasa hidup di daratan.
Setelah puluhan hari hidup di atas kapal, siapapun sudah merasa gerah, kesaldantak betah, semuaorang ingin lekas2naik kedarat.
Setelah larut malam dan rembulan sudah mulai doyong ke barat, tiba saatnya air laut naik pasang.
Ko-lotoa adalah seorang kelasi yang ahli, dia tahu cara bagaimana memanfaatkan tenaga angin dan kekuatan air.
Tiga layar berkembang, mumpung air laut pasang, kapal laju pesat mengikuti arah angin.
Sebelum kentongan ketiga, di bawah dorongan gelombang pasang serta hembusan angin kencang kapal sudah mulai memasuki teluk.
Maka, terdengarlah dua kali suara tiupan kulit kerang, ketiga layar yang berkembang itu segera diturunkan.
Dalam teluk sekitar kepulauan Ngo hui-to ini banyak sekali pulau2 kecil, kini pulau2 kecil ini tenggelam di bawah air pasang, hanya batu2 karang saja yang kelihatan menonjol dipermukaan air.
Agaknya Ko-lotoa sudah apal akan keadaan sekitar sini, maka kapal lajuseperti kembalike rumahnyasendiri.
Setelah layar diturunkan laju kapal menjadi lambat, kalau air pasang sudah dengan sendirinya kapal mengapung ke atas, Ko-lotoa sendiri yang pegang kemudi, kapal belok ke kanan dan ke kiri melalui batu2 karang laksana seekor ikan raksasa yang berenang di dalam air.
Kira2 semasakan nasi kemudian kapal mulai memasuki teluk rendah, terdengar suara keresekan di dasar kapal, kiranya perairan di sini sudah dangkal dan kapalpun berhenti.
Tanpa diperintah para kelasi segera sibuk bekerja menurunkan jangkar maka kapalpun tak bergoyang lagi.
Bahwa kapal sudah berhenti di sini, itu berarti mereka sudah tiba di tempat tujuan.
Tapi orang2 yang berdiri di atas kapal menjadi keheranan, selepas mata memandang hanya kegelapan melulu, kiranya kapal besar ini masih dikelilingi air, jaraknya dengan daratan paling tidak masih setengah li jauhnya.
Dengan cekatan para kelasi segera menurunkan 6 sampan, sementara Ko-lotoa menghampiri Ling Kun-gi, katanya sambil menjura.
"Cong-su-sia, Cong-koan, sekarang boleh silakan turun ke sampan"
Kun-gi memperhitungkan sampan itu paling2 hanya muat tiga orang, jadi sekali jalan hanya bisa membawa 18 orang, rombongan sendiri bersama rombongan Giok-lan terang tidak bisa sekaligus mendarat bersama.
Maka dia lantas berkata.
"Terpaksa kita harus membagi dua rombongan, oleh karena itu harap Congkoan bersama para Tay-cia, Leng-heng dan para Houhoat dan aku sendiri akan turun lebih dulu sebagai rombongan pertama. Coa-heng bersama delapan Hou-hoat-su-cia berangkat pada rombongan kedua. Sekarang rombongan pertama boleh turun ke sampan."
Sambil angkat tangan ke arah Giok-lan dia menambahkan.
"Silakan."
Lalu dia mendahului lompat turun ke salah sebuah sampan.
Leng Tio cong, tujuh Houhoat dan Giok-lan serta Bikui dan lain2 juga melompat turun.
Cepat sekali keenam sampan ini sudah meluncur ke arah daratan.
Setelah kedua rombongan ini mendarat semua, sementara itu mereka sudah menghabiskan waktu setengah jam.
Setelah semua orang lengkap berkumpul, Kun-gi menjadi kebingungan, baru saja dia hendak ajak Giok-lan berunding, tampak bayangan orang berkelebat, tahu2 Ko-lotoa yang kini mengenakan topi beludru, sambil menenteng pipa cangklong mendatang terus menjura, katanya tertawa.
"Atas perintah Thay-siang, hamba disuruh menyusul untuk menunjukkan jalan."
Kun-gi melenggong, katanya mengangguk.
"Bagus sekali, memang aku hendak berunding cara bagaimana menuju ke Ciok-santhan. Syukurlah Thay-siang mengutus Ko-lotoa kemari, silakan."
Ko-lotoa tertawa, katanya.
"Cong-su-cia terlalu sungkan, aku orang tua memang kelahiran Mo-ping, di kampungnya sendiri sudah tentu apal keadaan sini."
Lalu dia menjura serta menambahkan.
"Ma-rilah kutunjukkan jalannya."
Kun-gi dan Giok-lan beramai lantas mengikuti langkahnya. Sembari jalan Kun-gi berpaling dan berkata dengan menggunakan ilmu gelombang suara kepada Giok-lan.
"Congkoan, kau tahu asal usul Ko-lotoa?"
Giok-lan menjawab dengan gelombang suara pula.
"Aku hanya tahu dia pandai berenang, dia-lah yang memimpin armada laut Pekhoa pang kita di sekitar perairan Phoa-yang-ouw, tentang asal usulnya aku tidak tahu. Sejak aku tahu urusan, agaknya dia sudah menjadi anak buah Thay-siang dan menjadi pemimpin para kelasi itu."
"Jadisudah lamasekali dia ikut Thay-siang?"
Giok-lan manggut, tanyanya.
"Adakah Cong-su-cia melihat gejala2 yang mencurigakan atas dirinya?"
Kun-gi tertawa tawar, katanya.
"'Tidak, aku hanya bertanya sambil lalu saja."
Selama percakapan ini, mereka berjalan terus dengan langkah cepat.
Mendadak disadari oleh Kun-gi bahwa Ko-lotoa yang menunjuk jalan di depan berjalan dengan langkah enteng dan cekatan.
Maklumlah rombongan di bawah pimpinan Ling Kun-gi ini semua memiliki kepandaian silat yang lumayan kalau tidak mau dikatakan kelas satu, Ko-lotoa hanya kelasi, dia berjalan paling depan lagi, padahal orang2 yang di belakangnya sudah berjalan sambil ber-lari2 kecil, dari ini dapatlah disimpulkan bahwa Ko-lotoa juga memiliki Ginkang yang tinggi, paling tidak sejajar dengan semua orang.
Kira2 semasakan air mereka sudah tiba di Ciok-santhau.
Di tengah malam di pegunungan yang tidak seberapa besar dan tinggi ini bertengger seperti raksasa mendekam terletak Ciok-sanbio di samping gunung, jalan menuju ke biara ini merupakan undakan batu yang rata dan terawat bersih.
Di tengah perjalanan Kun-gi mengamati situasi sekelilingnya, lalu dia perintahkan Coh-houhoat Leng Tio-cong bersama Toh Kanling, Liang Ih-jun dan empat Houhoat-su-cia bertugas jaga di sebelah timur yang menghadap ke sungai.
Coa Liang ber-sama Lo Kun hun, Yap Kay-sian bersama empat Houhoat-su-cia berjaga di hutan sebelah barat.
Sementara dia pimpin Kongsun Siang, Song Tekseng.
Thio Lam-jiang bersama Giok-lan langsung naik ke atas gunung.
Setiba di depan Ciok-sinbio baru Ko-lotoa menghentikan langkah, katanya menjura.
"Biarlah aku mengetuk pintu."
Lalu dia mendahului maju ke pintu serta mengetuk tiga kali. Maka kumandanglah suara seorang perempuan bertanya.
"Siapakah di luar?"
"Kita kemari bukan untuk sembahyang,"
Sahut Ko-lotoa. Jawaban yang tak sesuai dengan pertanyaan, Diam2 Kun-giheran, tapidiatidakbersuara. Terdengar suara perempuan di dalam berkata pula.
"Kalian tidak akan sembahyang, lalu mau apa kemari?"
"Lamhay KoansimdatangmenemuiCiok-sin,"sahutKo-lotoa. Tergerak hati Kun-gi, batinnya.
"Kiranya mereka bicara dengan bahasa rahasia."
Waktu dia berpaling ke arah Giok-lan, wajah orang juga menunjuk mimik heran seperti tidak tahu menahu, kebetulan orangpun menoleh ke arahnya dengan pandangan penuh tanda tanya.
Kiranya pembicaraan rahasia Ko-lotoa ini juga tidak diketahui maksudnya oleh Giok-lan.
"O,"
Terdengar perempuan tua di dalam ber-suara, pintu tetap tidak dibuka, tanyanya pula.
"Apakah ucapanmu ini dapat dipercaya?"
"Kiap toaciangku dari istana bawah laut yang bilang begitu, memangnya omongannya bisa salah?"
"Lalu di mana dia!"
"Dia adalah aku inilah yang tidak becus,"
Ujar Ko-lotoa tertawa.
"Hah,"
Lirih suara kaget perempuan tua di dalam.
"jadi kau inilah Kiap-toaciangkun, lekas silakan!"
Daun pintu segera terpentang lebar, keluarlah seorang nenek beruban dengan muka kuning kurus, melihat di luar pintu berdiri sekian banyak orang seketika dia berjublek, segera pula dia unjuk tawa sambil menjura.
"Di tempat iniserbakekurangan, marisilakankalianmasukminumteh."
Bahwa Ko-lotoa mendadak menjadi "Kiap-toa ciangkun", sungguh aneh bin ajaib. Ko-lotoa tertawa, katanya.
"Tidak jadi soal, Lam-hay Koanseim toh sudah kemari, apa pula yang ditakuti?"
"Kalau begitu terpaksa aku harus memberi lapor kepada yang berkuasa."
"Betul, lekaslah kau laporan kepada yang berkuasa."
Bergegassinenek lari masuk kebelakang.
Sekilas pandang Kun-gi lantas tahu bahwa si nenek mengenakan kedok, di waktu membalik badan, gerak pinggangnya gemulai dan langkahnya enteng, tidak mirip seorang nenek yang sudah tua, bertambah besar perhatian dan rasa curiganya.
Tak tahan dia berpaling kepada Ko-lotoa, tanyanya.
"Kau kenal baik penghuni biara ini?"
Ko-lotoa tertawa lebar, sahutnya.
"Orang sekampung halaman sendiri, sudah-tentu kami kenal baik. Mari silakan Cong-su-ciat dan Congkoan."
Beriring orang banyak lantas masuk ke biara menyusuri serambi mereka masuk ke sebuah pekarangan, tampak bangunan biara ini terdiri dari tiga lapis gedung, setiap lapis bangunannya amat lebar dan luas.
Tatkala semua orang lagi mengagumi bangunan megah dipegunungan sepi ini, tampak dari dalam beranjak keluar seorang Nikoh tua berkopiah kain kelabu, jubah agamanyapun kelabu, dengan merangkup tangan dia berkata kepada Ko-lotoa.
"Omitohud! Pinni dengar katanya Ko-toasicu berkunjung, terlambat menyambut, harap dimaafkan."
Ko lotoa balas hormat ber-ulang2, katanya tertawa.
"Sekian tahun tak bertemu. Lo-tang-keh masih baik2 saja, marilah kuperkenalkan dua orang penting dalam Pang kita."
Segera dia menunjuk Kun-gi.
"Inilah Cong-su-cia!"
Lalu menunjuk Giok-lan.
"Inilah Congkoan. Atas perintah Thay-siang ia di suruh kemari mengadakan persiapan."
Nikoh tua mengamati mereka berdua, lalu berkata.
"Kiranya Cong-su-cia dan Congkoan, maaf pinni kurang hormat."
Tajam tatapan Kun-gi, didapatinya muka Nikoh tua inipun mengenakan kedok, bertambah tebal rasa curiganya, tapi sedikitpun dia tidak unjuk tanda apa2, bersama Giok-lan dia balas hormat dan menyapa ala kadarnya.
Lalu Nikoh tua bertanya kepada Ko lotoa.
"Go-po tadi melaporkan, katanya Koanseim akan datang sendiri kemari, apa betul?"
"Tidak salah,"
Ucap Ko-lotoa berseri tawa.
"Posat sudah tiba di Cu-than, sebentar juga akan tiba, maka Congkoan disuruh kemari mengadakan persiapan."
Baru sekarang Kun-gi dan Giok-lan jelas duduk perkaranya, Koanseim-po-sat yang dimaksud dalam pembicaraan kedua orang ini kiranya adalah Thay-siang.
Tampak sikap Nikoh tua menjadi tegang, mulutpun berseru kaget, katanya ter-sipu2 kepada Giok-lan.
"Congkoan sekalian silakan ikut Pinni, periksalah perumahan di belakang, supaya dibersihkan dan dipajang semestinya untuk menyambut kehadiran sang agung."
"Silakan Losuhu,"
Ucap Giok-lan tertawa. Lalu ia berkata kepada Kun-gi.
"Harap Cong-su-cia duduk saja di sini, biar kuperiksa ke dalam."
Ia menggapai Bikuiberlima.
"Kalian ikutaku."
Sebetulnya Kun-gi hendak memberitahu Giok-lan bahwa Nikoh tua dan nenek reyot tadi sama mengenakan kedok, supaya dia berlaku hati2, tapi ucapan yang sudah di ujung mulut itu akhirnya batal diucapkan.
Bahwa secara diam2 Thay-siang menyuruh Ko-lotoa menunjuk jalan serta bicara dengan para biarawati ini secara rahasia, nenek tua itupun memanggil Ko-lotoa sebagai.
Kiap-ciangkun segala, dari tanda2 ini tidak sukar dianalisa bahwa dalam biara ini termasuk seluruh penghuninya pasti mempunyai hubungan erat dengan Thaysiang.
Setelah Giok-lan berlalu dalam ruang itu tinggal Ling Kun-gi, Ko-lotoa dan Kongsun Siang, bertiga duduk di kursi yang ada di ruang sembahyang itu, Kira2 kentongan ketiga baru tampak Thay-siang datang diiringi Bok-tan, So-yok dan sekalian Taycia dan dara kembang.
Ling Kun-gi, Giok-lan dan Nikoh tua beramai menyambut kedatangannya serta menyongsongnya ke dalam ruang.
Mendadak Nikoh tua berlutut terus menyembah di depan Thay-siang dengan air mata bercucuran, serunya sambil menyembah ber-ulang2.
"Syukurlah akhirnya hamba bisa bertemu pula dengan Tuan Puteri."
Bahwa Nikoh tua berubah menjadi "hamba" (pelayan) sedang Thay-siang menjadi Tuan Puteri, sudah tentu kata2 ini membuat semua hadirin melongo kaget. Terutama Ling Kun-gi, pikirnya dalam hati.
"Kiranya Nikoh tua ini adalah pelayan Thay-siang waktu mudanya dulu, entah tuan puteri apa dan darimana Thay-siang asalnya?"
Thay-siang tampak tertawa ramah.
"Lekas bangun, hampir dua puluh tahun kita tidak bertemu, masih banyak persoalan yang ingin kutanya padamu."
Sembari bicara sedikit dia mengangkat tangannya, Teh-hoa dan Liu-hoa segera maju membimbing Nikoh tua itu berdiri. Nikoh tua berdiri sambil menyeka air mata, katanya.
"Ada pesan apa tuan puteri?"
"Coba lihat, rambutpun sudah ubanan, jangan kau selalu usil mulut memanggil Tuan Puterisegala,"
KataThay-siang. Dari samping Ko-lotoa ikut menimbrung dengan tertawa.
"Sekarang kita memanggilnya Thay-siang, kaupun harus ubah panggilanmu."
Nikoh tua menghormat sambil mengiakan. Thay-siang duduk dikursi yang telah disediakan, tanyanya.
"Selama dua puluh tahun ini tentu kau cukup kepayahan, apakah mereka pernah mencari setori ke sini?"
"Letak tempat ini hanya seratusan li dari Ui-lionggiam, beberapa tahun permulaan mereka memang menaruh curiga, beberapa kali mengobrak-abrik tempat ini, malah secara diam2 kita diawasi dan gerak-gerik dibatasi, syukur tiada yang mengenali hamba, beberapa tahun belakangan ini ada kalanya juga mereka meronda di perairan sekitar sini, sesuai pesanmu dulu tak pernah hamba memperlihatkan jejak, maka keadaan tetap aman tenteram."
Diam2 Kun-gi mulai paham, pikirnya.
"Tak heran dia mengenakan kedok."
"Gak-koh-tiamapaada kabar?"tanyaThay-siang.
"Beberapa hari yang lalu masih ada kabar, mereka sudah tahu bahwa engkau sudah berangkat kemari lewat jalan air, maka Hwiliong-tongcu Nao Sam-Jun diperintahkan mencegat kalian di tengah jalan, di samping itu merekapun mendatangkan jago2 dari berbagai daerahumruk menghadapipertempuran besar2an."' Thay-siang tertawa dingin, katanya.
"Beberapa hari yang lalu Nao Sam-jun dengan Cap-ji-sing-siok sudah dipukul mundur, kecuali beberapa gelintir cakar alap2 memangnya jago2 macam apa yang bisa mereka kumpulkan?"
Kembali Kun-gi melenggong mendengar percakapan ini, pikirnya.
"Kiranya Hek liong-hwe juga bersekongkol dengan alat negara."
Cakar alap2 yang dimaksud adalah petugas negara.
"Agaknya Thay siang terlalu pandang rendah mereka, kabarnya ...."
Mendadak nikoh tua berhenti tak berani meneruskan ucapannya, lalu menyambung dengan ilmu gelombang suara.
Jelas percakapan selanjutnya amat penting dan rahasia, tiada seorangpun yang tahu persoalan apa yang dipercakapkan?
Akhimya terdengar Thay-siang mendengus gusar.
"Keparat, biar kuhadapi jago2 Bit-cong andalan mereka, betapa sih lihaynya?"
Lalu ia menyambung.
"Kali ini kita menempuh perjalanan lewat air, mereka kurang biasa, menurut rencanaku semula akan istirahat dua hari di smi, bahwa merekapun sudah mempersiapkan diri, biarlab kita sergap saja sebelum mereka bersiaga."
Sampai di sini pandangannya menyapu hadirin lalu berkata pula.
"Begitu fajar menyingsing kita harus segera berangkat, waktu masih kira2 dua jam, dalam waktu yang singkat ini semua harus istirahat secukupnya."
Habis berkata dia berdiri, Nikoh tua membuka jalan, mereka mengundurkan diri ke belakang bersama Bok-tan dan So yok.
Giok-lan juga bawa para Tay-cia dan dara kembang istirahat ke belakang.
Kecuali mereka yang malam ini tugas jaga, sisanya sama duduk bersimpuh di ruang depan ini..
"Kenapa kau tidak menungguku?"
"Nona mau ke mana? "Kau menyamar lagi bukankah ka hendak menemuka pengejaranmu?"
U n Dengan cepat haripun mulai terang, semua orang berbaris tegak beranjak keluarlah Thay-siang berdiri di undak2an, sorot matanya yang berkilat tajam tampak mencorong dibalik cadar hitam, sekilas dia menyapu pandang seluruh hadirin, lalu berkata dengan suara lantang.
"Sekarang kita akan berangkat, musuh kita adalah Hekliong hwe, dengan banyak jago kosen merekapun sudah siap menyambut kedatangan kita, oleh karena itu kita harus sergap mereka untuk merebut kemenangan dengan jumlah kita yang sedikit ini, melumpuhkan mereka yang berjumlah berlipat ganda. Sepatah kata pesanku ini harus kalian camkan dengan baik, setiap kali berhadapan dengan orang2 Hek-liong-hwe kalian harus turun tangan lebih dulu bunuh seluruhnya dan habis perkara, sekali lena dan kalah cepat memperoleh kesempatan, jiwa kalian sendiri yang akan melayang dan tiada liang kubur untuk kalian."
Semua hadirin mendengarkan dengan khidmad dan patuh, tiada yang buka suara.
Sudah ribuan li mereka tempuh perjalanan inti, tujuannya menyerbu Hek liong-hwe, medan laga sudah di depan mata, maka berkobarlah semangat tempur scmua orang.
Apalagi kata2 Thay siang cukup tajam dan membakar semangat, semakin besar gairah tempur mereka.
Habis bicara dari lengan bajunya yang lebar itu Thay-siang mengeluarkansepucuksampultertutup, teriaknya."Boktan!"
Pek-hoa-pangcu Bok-tan mengiakan sambil tampil ke depan, serunya.
"Guru ada, pesan apa?"
"Kau pimpin Giok-lan, Bikui, Ci-hwi dan Coh-houhoat Leng Tio-cong, Houhoat Liang Ih-jun, Yap Kay-sian dan Bing-gwat sebagai petuntuk jalan, bekerjalah menurut catatan dalam surat rahasiaku ini,"
Lalu ia serahkan sampul surat itu. Setelah terima sampul surat itu, Bok-tan menjura, katanya .
"Tecu terima perintah."
Thay-siang mengulap tangan.
"Kalianpun boleh pergi."
Giok-lan, Bing-gwat ( Nikoh tua ), Leng Tio-cong dan lain2 mengiakan bersama, lalu mereka mengintil cepat di belakang Pek-hoa-pangcu Bok-tan keluar biara.
Kembali Thay-siang keluarkan sampul surat kedua serta berseru.
"So-yok!"
"Tecu ada,"
Sahut So-yok tampil ke depan.
"Kau bawa Hu-gong, Hong-sian, Giok-je, Yu-houhoat Coa Liang, Houhoat Toh Kanling, Lo Kunhun dan Bing-cu akan menunjukkan jalan, bekerjalah menurut petunjuk dalam suratku ini,"
Lalu diapun serahkan sampulsurat itu.
Setelah menerima sampul So-yok terus mengundurkan diri beserta orang2 yang ditunjuk Thay-siang barusan.
Untuk ketiga kalinya Thay-siang mengeluarkan pula sampul ketiga, teriaknya.
"Ling Kun-gi!"
"Hamba ada,"sahut Kun-gi. Thay-siang serahkan sampul surat itu, sorot matanya menatap tajam ke muka Ling Kun-gi, katanya dengan suara tandas.
"Ling Kun-gi, dalam tiga rombongan ini, rombonganmu merupakan pusat kekuatan penyerbuan kita kali ini, apakah Pek-hoa-pang dapat mengalahkan Hek-liong-hwe, tugas berat ini terletak di atas pundakmu, oleh karena itu kau harus mematuhi pesanku di dalam sampul ini, jangan lena dan jangan ragu, tahu tidak?"
"Hambaakan bekerjasekuattenaga,"sahutKun-gi.
"Baiklah"
Ujar Thay-siang.
"Sisa orang2 yang ada di sini boleh kau pimpin seluruhnya, Ko-lotoa akan menjadi petunjuk jalan, laksanakan perintahmu di dalam sampul, hanya boleh berhasil pantang gagal"
Habis berkata baru dia serahkan sampul surat itu. Waktu Kun-gi terima sampul itu, tampak di bagian depan sampul tertulis sebaris huruf yang berbunyi.
"Sebelum jam 8 harus tiba di Lim-cu-say dansurat inibarubolehdibuka."
Entah dimana letak Lim-cu-say? Tapi Ko-lotoa akan menunjukkan jalannya, maka dia tidak perlu banyak tanya. Segera dia simpan sampul itu ke dalam saku, terus menjura dan serunya.
"Hamba terima perintah dan segera melaksanakannya"
"Loh-bi-jin,"
Ucap Thay-siang lebih lanjut.
"20 dara kembang yang kau pimpin tinggal 19, biarlah Teh-hoa menggenapi jumlah ini, kau tetap pimpin 20 orang."
Teh-hua adalah salah satu pelayan pribadi Thay-siang.
"Tecu terima perintab,"
Seru Loh-bi-jin. Kata Thay-siang.
"Suruhlah mereka menggotong tandu yang ada dibelakang itukeluar, kalianboleh segeraberangkat."
Kembali Loh bi-jin mengiakan terus ke belakang membawa empat dara kembang, tak lama kemudian dia sudah keluar, keempat dara kembang itu memikul sebuah tandu, warna tandu ini juga serba hitam.
Diam2 Kun-gi membatin."Tandu initentubuatThay-siang."
Thay-siang mengulap tangan, katanya.
"Untuk memburu waktu, sekarang juga kalian boleh berangkat!?` lalu dia berpaling kepada Liu-hoa di belakangnya.
"Bawalah ji-gi itu dan jalanlah selalu mengiring di samping tandu."
Liu-hoa mengiakan.
Heran Kun-gi, semula dia kira Thay-siang akan naik tandu ini, tak kira dia membagi seluruh kekuatan Pek-hoa-pang menjadi tiga rombongan, ketiga rombongan dilepasnya pergi berarti seluruh kekuatan dikerahkan.
Lalu dia sendiri bagaimana?
Memangnya seorang diri dia akan tinggal di biara ini?
Atau sengaja dia membagi tugas kepada orang banyak, sementara dia sendiri menuju ke suatu tempatb tertentu?
Tapid Thay-siang sudaah memerintahkabn berangkat, kecuali berangkat menunaikan tugas, tak mungkin dia mengajukan pertanyaan lagi.
Maka lekas dia menjura kepada Thay-siang, ia membawa Ko-lotoa, Kongsun Siang, Song Tek seng, Thio Lam-jiang dan kedelapan Hou-hoat-su-cia mendahului keluar.
Sementara Loh-bi-jin mengintil dengan barisan 20 dara kembang yang mem-bawa tandu kosong, sementaraLiu-hoa mengiringdisampingtandu hitam.
Setelah rombongan mereka itu meninggalkan Ciok-santhan barulah Kun-gi bertanya kepada Ko-lotoa.
"Ko-lotoa, Thay-siang suruh kita tiba di Lim-cu-say sebelum jam 8 pagi, apakah keburu waktunya?"
"Lim-cu-say terletak di kaki gunung Kunlun sebelah depan, dari sini kira2 ada 50 li, kini baru jam 6, kalau jalan cepat, kukira masih sempat memburu waktu."
"Baiklah, silakan Ko-lotoa tunjukkan jalan, kita jalan cepat2,"
Demikian ucap Kun-gi.
Di bawah petunjuk Ko lotoa, mereka berjalan cepat menuju ke arah utara.
Daerah yang mereka lalui adalah pegunungan rendah, jalan2 gunung yang berliku sukar dilalui, untung mereka sama memiliki kepandaian tinggi, dengan menyusuri kaki gunung mereka maju terus, ada kalanya mereka harus melintas jurang atau menyeberang sungai.
Selama sejam lebih mereka menempuh perjalanan dengan sangat payah, tapi tapi tiada yang mengeluh, untungnya sepanjang perjalanan yang serba sukar ini mereka tidak mengalami aral rintang berarti, tepat pada jam yang ditentukan mereka tiba diLim-cu-say.
Itulah sebuah tanah datar yang cukup luas di bawah gunung, hutan bambu memagari tanah lapang, berumput di depan sana, kiranya ada beberapa petak bangunan gubuk bambu yang dihuni beberapa keluarga.
Tiba2 tergetar pikiran Kun-gi, pikirrrya.
"Agaknya beberapa gubuk bambu itu ada sembunyi para mata2 Hek-liong-hwe."
Serta merta dia merogoh keluar sampul surat itu dan dibukanya, tampak di atas secarik kertas tertulis.
"Pertama, kalian belum sarapan pagi, maka boleh istirahat di sini sambil mengisiperutyangtersediadidalamtandu. Kedua, dari Lim-cu-say menuju ke utara, sepanjang jalan hendaklah kibarkan panji Pang kita, para dara kembang sebagai pelopor jalan.. Liu-hoa tetap beriring di samping tandu, kalian menyebar mengelilingi tandu, gerak langkah kalian harus hati2 dan selalu waspada, tapi juga tidak perlu cepat2, hal hal ini harus diperhatikan, berbuatlah supaya pihak lawan mengira kalian akan menyerbu setelah tabir malam mendatang, tentang situasi perjalanan boleh berunding dengan Ko-lotoa. Ketiga, sebelum magrib harus tiba di Ui-lionggiam, di depan Ui-liong giam ada sebuah tanah lapang, kalian harus sembunyi dan aturlah jebakan di sini, sementara perintahkan Loh-bi-jin menaruh tandu di tengah lapangan dan berjaga mengelilinginya. Keempat, kalau berhadapan dengan Cap-ji-sing-siok dari Ui liongtong, suruhlah para dara kembang menghadapinya. Kelima, di antara musuh yang muncul, bila kedapatan Lama berkasa merah, jangan dihadapi dengan kekuatan, biarkan dia berusaha menerjang ke dekat tandu, kalau tidak kesamplok Lama kasa merah, tandu harus dijaga seketat mungkin, setelah tiba di Uilionggiam, baru lemparkan tandu ini ke gua Ui-liong-tong, sarang para penjahat itu. Enam, sampul tertutup yang kedua ini baru boleh dibuka setelah kalian berhasil, mendudukiUi-Liong-tong."
Setelah habis membaca tulisan dalam sampul, Ling Kun-gi berpaling kepada Ko-lotoa, tanyanya.
"Berapa jauh dari sini menuju ke Ui-lionggiam?"
"Lima sampai enampuluh li,"
SahutKo-lotoa.
Perjalanan sejauh lima puluh li harus ditempuh dari pagi sampai maghib, pantas Thay-siang menekankan supaya kita tidak usah bergerak terlalu cepat.
Kini baru Kun-gi paham bahwa rombongannya ini meski merupakan kekuatan utama untuk menyerbu Ui-lionggiam, tapi kenyataan juga hanya merupakan barisan yang main gertak belaka.
Apalagi mereka tidak perlu bergerak cepat, para dara kembang sebagai pelopor barisan jelas tujuannya untuk menarik perhatian pihak lawan saja.
Yang pasti rombongan Bok-tan dan So-yok baru boleh dikatakan sebagai barisan penyerbu, terang tugas mereka jauh lebih berat, karena kemungkinan tugas mereka adalah menyerbu Ui-liong-tong dan Hwi-liong-tong.
Dari sini dapatlah diambil kesimpulan bahwa Thay-siang pasti masih mempunyai rahasia lainnya yang sengaja disembunyikan.
Dan yang membuatnya paling heran adalah Cap-ji-sing siok dari Hwi-liong tong itu kebal segala macam senjata, tapi kenapa para dara kembang itu yang diharuskan mengadapi mereka?
Dari mana pula Thay siang bisa tahu kalau Lama ber-kasa merah akan muncul di antara para musuh?
Kenapa pula kalau berhadapan dengan para Lama kasa merah boleh membiarkan mereka menubruk ke tandu?
Kalau tidak bersua Lama kasa merah, tandu harus dipertahankan malah?
Bolak-balik Kun-gi berusaha memecahkan berbagai persoalan ini, tapi tetap tidak memperoleh jawaban yang memuaskan, terpaksa dia simpan sampul surat itu, lalu berkata kepada seluruh rombongan.
"Thay-siang suruh kita istirahat di hutan bambu ini, setelah menempuh perjalanan sejauh 50 an li, belum makan pagi lagi, di dalam tandu ada disediakan rangsum, marilah kita istirahat di sini saja."
"Cong-coh"
Kata Ko-lotoa.
"apakah perlu kita mencari suatu tempat yang tersembunyi untuk istirahat?"
"Begitupun boleh,"
Sahut Kun-gi. Ko-lotoa berseri senang, katanya.
"Kalau demikian marilah ikut aku."
Agaknya dia amat apal akan daerah ini, dia bawa orang banyak memutar ke kaki gunung, di mana kebetulan ada tanah lekukan di balik hutan yang cukup tersembunyi, maju lagi beberapa jauh mereka tiba di sungai besar di sebelah belakang adalah hutan yang subur dan rimbun.
tanah lekukan itu ditumbuhi rumput menghijau, di sinilah tempat yang cocok untuk istirahat banyak orang.
Tandu diletakan di tengah tanah lapang, laki perempuan duduk menjadi dua kelompok di kanan kiri melingkari tandu.
Loh-bi-jin segera suruh dua dara kembang mengeluarkan rangsum di dalam tandu dan dibagikan kepada orang banyak.
-odw0o Untung Ui-lionggiam sejauh 50-an li.
Thay-siang berpesan supaya mereka tidak perlu buru2, cukup asal mereka tiba di tempat tujuan sebelumsenja, jadiwaktunya masihcukup luang untuk istirahat.
Setelah semua kenyang, Kun-gi suruh Loh-bi-jin maju dan suruh dia membaca pesan Thay-siang secara lantang dihadapan orang banyak.
habis membaca Loh-bi-jin terus menyingkap tutup tandu, betul juga di tempat duduk tandu memang ada panji yang dilipat rapi.
Maka dia suruh dua dara kembang memotong bambu dan dibuat tiang panji.
Bukan saja panji2 itu berwarna warni menyolok, sulamannya juga indah Ada yang berbentuk segi panjang, panji ini bertuliskan Pek-hoa-pang dengan huruf besar.
Ada pula yang berbentuk segi tiga, di tengahnya bersulam huruf "Hoa"
Yang besar. Ada pula panji panjang sempit berwarna dasar putih bertulisan hitam, hurufnya berbunyi-"Tumpas habis Hek-liong-hwe"
Dan sebuah lagi bersemboyan "Lenyapkan sampah persilatan".
Setelah panji2 ini dipasang di ujung bambu panjang hingga mirip barisanpanjidiwaktupawai, menarikdan mengesankan.
Setelah segala persiapan selesai dilakukan, Kun-gi mendekati Loh-bi-jin, tanyanya.
"Apakah nona tahu apa yang harus dilakukan sepanjang perjalanan ini?"
"Wah, agaknya Cong-su-cia hendak menguji aku,"
Ucap Loh-bi-jin "dalam pesan Thay-siang suruh para dara kembang menjadi pelopor barisan dengan panji2 serba aneka ragam ini, tapi gerak-gerik kita sedapat mungkin harus tetap dirahasiakan, ku-kira maksud Thaysiang supaya kita menggulung panji2 itu, barisan maju ke depan dengandiam2, entahbetultidakgambaranku ini?"
"Nona memang cerdik,"
Ujar Kun-gi mengangguk.
"kukira memang demikianlah maksud Thay-siang."
"Aku sangat bangga dapat seperjalanan dengan Cong-su-cia dan berada di bawah perintahmu lagi, segalanya terserah kepada Congsu-cia saja."
"Jangan nona sungkan, baiklah kita bekerja sesuai pesan beliau saja,"
Kata Kun-gi pula.
Setelah cukup lama mereka istirahat, Ko-lotoa tetap berjalan paling depan sebagai penunjuk jalan.
Kali ini barisan dibagi menjadi beberapa kelompok, maka jalannya jauh lebih teratur.
Ko-lotoa sebagai penunjuk jalan berada paling depan, lalu Cong-su-cia Ling Kun-gi, Kongsun Siang, Song Tek-sing, Thio Lam-jiang dandisusulparadara kembangyang membawa panji2.
Cuma panji yang mereka bawa sama digulung, ada yang masih melambai dan sebagian gambar kelihatan, siapapun yang melihatnya pasti akan tahu bahwa mereka adalah barisan orang Pek hoa-pang.
Yang berada dibelakang barisan dara2 kembang adalah Loh-bi-jin sang pimpinan, lalu Liu-hoa yang memegang mistar kebesaran, di belakangnya lagi baru tandu, dibelakang tandu adalah delapan Houhoat-su-ciayang mengenakanseragamhijaupupus.
Barisan tampak megah dan merupakan kekuatan utama Pek-hoapang, siapapun bila melihat tandu serba hitam itu pasti akan mengira orang yang duduk didalamnya Thay-siang adanya.
Memang siapa yang tahu bahwa tandu ini sesungguhnya kosong?
Barisan ini memang dimaksud untuk menggertak musuh belaka.
Ternyata Ko-lotoa juga cukup cerdik dan pintar, dia meninggalkan jalan raya, sengaja dia pilih jalan pegunungan yang jauh lebih sulit dilewati.
Malah ada kalanya sengaja main sembunyi dan menggeremet majusepertitakut jejaknyakonangan musuh.
Yang benar, waktu berada di Lim-cu-say, jejak mereka sudah selalu diawasi oleh mata2 Hek-liong-hwe, dengan burung dara pos mata2 itu sudah kirim berita ke markas pusat, malah sepanjang perjalanan ini ada juga orang menguntit, setiap saat gerak-gerik mereka selalu dilaporkan lewat burung pos.
Oleh karena itu pihak Hek-liong-hwe amat jelas akan jejak dan gerak-gerik mereka.
Tapi maksud tujuan Thay-siang akan rombongan yang dipimpin Ling Kun-gi ini memang hanya untuk menggertak musuh, supaya pihak Hek-liong hwe merasa yakin sudah menguasai situasi.
Menjelang senja sesuai pesan Thay-siang mereka sudah berada di belakang gunung, tapi mereka bergerak sembunyi2, mereka harus menunggu hari menjadi gelap baru akan beraksi, secara mendadak menyergap Ui-lionggiam.
Hari mulai remang2, rombongan yang dipimpin Ling Kun-gi dibawah petunjuk jalan Ko lotoa akhirnya tiba di tanah lapang berumput di luar Ui-lionggiam.
Inilah tempat yang sudah di tentukan oleh Thay-siang, setiba di tempat ini mereka tidak perlu main sembunyi lagi.
Dara2 kembang dengan mengacungkan panji2 mereka berderap memasuki tanah lapang serta menduduki tanah berumput datar ini, tandupun diturunkan tepat di tengah lapangan.
Sungguh aneh, dari depan sampai belakang gunung tak pernah mereka kesamplok dengan seorang musuhpun sehingga barisan pelopor Pek-hoa-pang yang merupakan kekuatan inti ini seolah2 memasuki daerah yang tidak dihuni lagi, Tapi Kun-gi cukup mengerti, bila pihak lawan diam saja dan tidak memberikan sesuatu reaksi, ini berarti bahwa mereka memang sudah sejak lama mempersiapkan diri dan mengekang anak buahnya secara keras dan membiarkan pihak Pek-hoa-pang masuk jebakan yang telah diatur.
Maka Kun-gi berpesan kepada seluruh anak buahnya agar selalu siaga dan waspada.
Delapan Hou-hoat-su-cia, 20 dara kembang semua sudah melolos senjata siap membentuk ancang2 barisan di tengah tanah rumput itu.
Tandu tetap berada di tengah, tirai menjuntai menutup rapat sehingga tak kelihatan siapa yang ada di dalam, Liu-hoa berdiri tegak di samping tandu sambil memeluk mistar kebesaran.
Jumlah mereka tidak sedikit, tapi gerak-gerik mereka cukup lincah dan tangkas, langkah tidak berbunyi dan tidak menimbulkan kepulan debu.
Sementara panji2 Pek-hoa-pang sudah dipancang di sekeliling tanah lapang, panji berkibar tertiup angin.
Empat dara kembang yang ditugaskan mengurus komsumsi segera mengeluarkan rangsum dan dibagikan.
Setelah malam semakin berlarut nanti mereka akan menghadapi suatu pertempuran besar yang akan menentukan mati dan hidup, maka mereka harus mengisi perut untuk menunjang semangat dan kekuatan fisik.
Pada saat mereka istirahat itulah tiba2 terdengar dari arah barat di mana tadi mereka datang berkumandang suara ledakan menggelegar.
Terlihatlah serombongan bayangan orang muncul dari balik batu2 besar dan mencegat jalan mundur mereka.
Yang terdepan adalah seorang kakek tua bertubuh kurus kering, bermata satu sebelah kanan.
Di belakangnya berbaris sembilan orang, dari kaki sampai kepala di bungkus pakaian seragam.
ketat warna hitam, hanya kedua biji mata mereka yang kelihatan, itulah sisadariCapji-sing-siok yangberpakaian kebal senjata.
Kun-gi tertawa dingin, jengeknya.
"Kukira siapa, rupanya kalian yang pernah kecundang di bawah pedangku, mana Kim kao cian Nao Sam-jun, kenapa tidak kelihatan batang hidangnya? Memangnya sudah pecah nyalinya?"
Bola mata si kakek yang bermata tunggal ini mendelik besar seperti kelereng berapi, sesaat lamanya dia menatap Kun-gi, katanya kemudian.
"Usia muda bermulut besar, kau inikah Cong-sucia Pek-hoa-pang yang bernama Ling Kun-gi itu?"
Kun-gi bertolak pinggang dengan angkuh, katanya.
"Sebutkan juga namamu?"
Si mata tunggal mencibir, dengusnya.
"Cari urusan tidak tahu diri, memangnya siapa Lohu ini tidak pernah kau dengar orang bilang?"
Kun-gi tertawa lantang, katanya.
"Terlalu banyak sampah persilatan, mana mungkin orang she Ling tahu akan orang2 tersisa ini."
Seketika si mata tunggal menarik muka, teriaknya gusar.
"Anak keparat yang tidak tahu diri, nanti akan Lohu bikin kau tahu betapa lihaynya orang tersisa ini."
Ko-lotoa berdiri di belakang Ling Kun-gi, tiba2 dia berkata lirih.
"Dia inilah yang dipanggil Hoanthianeng Siu Ing, salah satu dari ke 36 panglima Hek-liong-hwe dulu ........."
Mata tunggal Hoanthianhwe Siu Ing memancarkan cahaya dingin tajam, sesaat dia tatap Ko-lotoa, akhirnya ter-gelak2, katanya.
"Kau ini Ko-ciangkun, haha, tak heran kau segera tahu asal usul saudaramu ini."
Ko-lotoa segera menjura, katanya.
"Ya, memang inilah orang she Ko, silakan Siu-ciangkun."
Diam2 Kun-gi mengangguk, pikirnya.
"Ternyata Ko-lotoa juga salah satu dari ke36 panglima Hek-liong hwe dulu."
Tatkala dia ber-pikir2 inilah, dari arah jalan pegunungan sebelah sana juga berdentum suara ledakan keras.
Muncul bayangan dua pasang orang berbaju hitam dari jalanan hutan sana.
Empat orang bergerak laksana setan gentayangan, pelan2 mereka beranjak keluar dari hutan, lalu berdiri terpencar ke kirikanan, tegak laksana patung, kedua tangan lurus ke bawah, muka kalihatan putih kaku seperti mayat.
Lalu disusul munculnya dua buah lampion warna merah, dua gadis baju hijau menentengnya keluar dengan langkah lembut dari hutan.
Menyusul muncul sebuah tandu yang di pikul dua laki2 kekar.
hanya sebentar saja sudah berada di luar hutan dan berhenti di ujung jalan.
Kedua gadis pembawa Lampion berdiri di kirikanan tandu, keempat laki2 serba hitam berwajah seperti mayat tadi juga merapat ke dekat tandu.
Diam2 Kun-gi menerawang.
"Ramalan Thay-siang memang tepat, Hek-liong-hwe main pancing musuh ke daerah terlarang ini untuk turun tangan tapi pihak musuh tidak tahu semua ini sudah dalam perhitungan beliau."
Maka dapatlah diduga kalau Hek-liong-hwe mengerahkan kekuatan dan membuat perangkap di sini, jelas rombongan Pek-hoa-pangcu Bok-tan dan Hupangcu So-yok yang bertugas menyerbu dari sayap kirikanan atas perintah Thay siang itu belum diketahui pihak musuh.
Apa yang dikatakan Thay-siang memang tidak salah, rombongan yang dipimpinnya ini merupakan pusat kekuatan dari barisan penyerbu Pek-hoa-pang yang paling tangguh, agaknya Hek-lionghwe mengira Thay-siang berada di dalam tandu yang mereka pikul dan dijaga ketat ini, maka merekapun mengerahkan kekuatan untuk mencegat dan menumpasnya di sini.
Sambil menimang2 itulah secara diam2 dia memberi kedipan mata kepada Loh bi-jin, maksudnya supaya si nona bekerja sesuai petunjuk Thay-siang yang tertera di surat rahasianya itu, dia harus pimpin para dara kembang menghadapi Cap-ji-sing-siok dari Hwiliong-tong.
Loh-bi jin mengerti, dia mengangguk, lalu memberi tanda dengan lambaian tangan ke arah dara2 kembang.
Melihat aba2 serentak dua puluh dara kembang menggerakkan tangan, sekali tangan membalik, dari pinggang masing2 mereka mengeluarkan sepasang golok melengkung, mereka menghadap ke barat dan berbaris rapi.
Walau tidak tahu cara bagimana para dara kembang ini akan menghadapi Cap ji-sing-siok, tapi Kun-gi tahu bahwa Thay-siang sudah memperhitungkan pihak Hek-liong-hwe pasti memasang perangkap di sini, dengan menunjuk dara2 kembang ini menghadapi Cap-ji-sing-siok, tentu hal ini tidak perlu dikuatirkan.
Musuh dibagian barat sudah dia serahkan pada Loh -bi-jin, ini menurut pesan Thay-siang di dalam surat rahasianya, maka urusan selanjutnya dia boleh tidak usah mengurusnya.
Mengenai rombongan musuh yang berada di arah timur, jumlahnya memang tidak banyak, tapi tandu hitam yang mungil itu tidak asing lagi bagi Kun-gi, dia tahu itulah tandu yang biasa dinaiki Hianih-lo-sat.
Perempuan yang satu ini pandai menggunakan obat bius, sampai Lam-kiang-it-ki Thong-pi-thianong Tong Ji-hay yang memiliki kepandaian tinggi itupun kecundang olehnya, tapi dia tidak usah gentar menghadapinya karena memiliki Jing-sintan buatan keluarga Un dari Ling-lam pemberian Un Hoankun.
Maka pelan2 dia memutar ke arah timur sembari tangan meraba gagang pedang, serunya tertawa lantang.
"Apakah yang datang Hianih-lo-sat Coh-siancu? Sungguh tak nyana kita berjumpa lagi di sini."
Maka berkumandanglah suara seorang nyonya dari dalam tandu hitam itu.
"Aku bukan Hianih-lo-sat Coh-siancu."
Mendengar logat suara orang Kun-gi tahu memang bukan suara Coh-siancu, sekilas dia melengak, tanyanya.
"Kalau kau bukan Hianih-siancu, memangnya kenapa kau gunakan panji2 miliknya?"
Orang dalam tandu mendengus, katanya.
"Buat apa Losin harus memakai panji miliknya?"
Sampai di sini suaranya tiba2 meninggi.
"Junhoa, Jiu-gwat, buka tirai."
Dua pelayan baju hijau yang berdiri di kanan-kiri tandu mengiakanterus menyingkaptiraiyang menutup tandu.
Kini Kun-gi bisa melihat jelas.
Di dalam tandu duduk seorang nyonya baju hijau bergaun putih, wajahnya putih, rambutnya sudah beruban, sorot matanya berkilat, memang dia bukan Hianih-lo-sat.
"Anakmuda,"ucapnyonyabajuhijau.
"kaukenalCoh-siancu?"
Gagah perkasa sikap Ling Kun-gi dengan jubah yang melambai2, katanya sambil mengangguk.
"Cayhe pernah bertemu dengan Cohsiancu."
"Bagus sekali"
Ucap nyonya baju hijau sambil mengawasinya lekat2, tanyanya.
"Siapa namamu?"
"Cayhe Ling Kun-gi."
Agaknya nyonya baju hijau rada melengak, beberapa saat dia mengawasi pula, katanya kemudian.
"Jadi kau inilah Cong-su-cia dari Pek-hoa-pang itu.."
"Ya, betul, memang akulah yang rendah ini."
"Baiklah musuh utama yang kita hadapi malam ini adalah Thaysiang dari Pek-hoa-pang, untuk itu Losin boleh memberi keringanan padamu, asal kau tidak menerjang ke arahku sini, Losin tidak akan mempersulit padamu."
Tegak alis Kun-gi, katanya lantang.
"Banyak terima kasih akan kebaikanmu, Cayhe juga ada sepatah dua kata untuk disampaikan. Pertempuran malam ini pihak mana bakal gugur sulit diramalkan, tapi asal engkau suka mengundurkan diri dari asalmu datang tadi, Cayhe juga boleh memberi keringanan padamu, pasti tidak akan menyentuh seujung rambutmu."
Junhoa dan Jiu-gwat yang berdiri di kanan-kiri tandu seketika menarik muka, sambil menuding Kun-gi mereka memaki.
"Berani, kau kurangajar terhadap Liu siancu, biar kuringkus kau lebih dulu."
Liu-siancu, kiranya nyonya berbaju hijau yang duduk di dalam tandu adalah Jianjiu-koanim Liu-siancu yang terkenal itu.
' Mencorong terang bola mata Ko-lotoa mendengar nama orang, dilihatnya tangan kedua budak perempuan yang menuding itu mengeluarkan selarik sinar emas berkelebat, segera ia berteriak.
"Cong-coh, hati2 serangan mereka."
Sayang peringatannya ini sudah terlambat.
Di tengah hardikan suara Junhoa dan Jiu gwat, dua batang jarum emas tanpa bersuara menyamber ke kirikanan pundak Ling Kun-gi.
Tapi Kun-gi tetap menggendong tangan dengan sikapnya yang gagah perkasa tanpa bergerak, kedua jarum emas lawan dibiarkan saja mengenai pundaknya, malah dia unjuk senyum manis dan berkata.
"Kalau jarum nona berdua bisa melukai Cayhe, jabatan Cong-su-cia di Pek-hoa-pang memangnya bisa kududuki."
Belum habis dia bicara, kedua jarum emas lawan yang mengenai pundaknya, pelan2 jatuh ke tanah. Terbeliak Junhoa dan Jiu-gwat, muka merekapun pucat pasi. Tapi Jiu-hoa masih bandel, dengusnya.
"Jangan takabur? Hm, coba rasakanyangini ...."
Lekas Liu-siancu bersuara.
"Jiu-gwat, jangan turun tangan, dia meyakinkan ilmu sakti pelindung badan, kalian tidak akan mampu melukai dia."
Pandangannya beralih dan berkata pada Ling Kun-gi.
"Usiamu masih begini muda, tapi sudah berhasil meyakinkan ilmu sakti pelindung badan, sungguh kagum dan harus dipuji, tak heran kau berani bersikap angkuh dan bermulut besar, ketahuilah ilmu silat tiada batasnya, kepandaian seorang bisa lebih tinggi daripada yang lain, tentunya kau pernah dengar penuturan gurumu tentang nama Kinsianyang Jianjiu-koanim bukan? Ilmu sakti pelindung badanmu itu hanya mampu menolak senjata rahasia biasa, tapi menghadapi Thay yangsinciam (jarum sakti matahari) milikku ini, ilmu saktimu itu tidak akan berguna lagi.". Diam2 tergetar hati Ling Kun-gi, memang gurunya pernah bilang bahwa Jianjiu-koan im Liu-siancu yang bertempat tinggal di Kiusianyang memiliki ilmu senjata rahasia yang menjagoi Bu-lim, selama berpuluh tahun malang melintang tak pernah menemukan tandingan, terutama "jarum sakti matahari"
Yang dia yakinkan itu khusus untuk memecahkan Khikang atau ilmu sakti kekebalan pelindung badan yang tangguh bagi tokoh2 persilatan umumnya.
Sungguh tak pernah terpikir oleh Kun-gi bahwa Jianjiu-koanim Liusiancu yang tersohor juga mau menjadi kaki tangan musuh dan bersekongkol dengan Hek-liong-hwe.
Dengan tertawa Kun-gi berkata.
"Memang Cay-he pernah dengar dariSuhu tentangnamabesarLiu-siancu, tapikalauLiu-siancuyakin bahwa jarum sakti mataharimu itu mampu membobol pertahanan ilmu pelindung badanku, nah boleh silakan coba."
"Suhu,"
Teriak Junhoa gusar,"
Usil mulut orang ini, kalau tidak diberi tahu rasa, dia kira jarum sakti matahari Suhu tidak mampu mengalahkan dia."
Liu-siancu tersenyum, katanya.
"Anak muda, sekali hawa murni pertahanan badanmu pecah, maka tamatlah jiwamu, jangan kau mempertaruhkan jiwamu sendiri, perlu kuperingatkan padamu, asal nanti kau tidak menerjang ke arahku, aku tetap tidak mengganggu dirimu."
Pada saat itulah, suara ledakan ketiga menggelegar lagi.
Maka muncullahdelapan lampu yangbesarterangdari ngaraibatutempat ketinggian sana, sehingga seluruh Ui-lionggiam ini menjadi terang benderang sepertisiang hari.
Dari sebuah mulut gua besar yang menganga di bawah Ui-lionggiam sana muncul sebarisan orang dengan langkah lamban.
Orang yang berjalan paling depan adalah laki2 tua berjubah hitam, wajahnya merah beralis tebal, jenggot dibawah dagunya sudah memutih, pedangnya panjang beronce kuning tampak tersandang dipundaknya, sorot matanya berkilat menghijau dingin.
Orang ini pernah dilihat Kun-gi di Pek-hoa-pang dulu, dia adalah Ci Hwi-bing Tongcu dari Ui-liong-tong.
Di belakangnya ada dua orang tua lagi, seorang berpakaian kain kaci kasar, berperawakan agak pendek, tapi raut mukanya memanjang, mirip tampang kuda sehingga kelihatannya amat lucu.
Seorang lagi bermuka tirus, tulang pipinya menonjol, rona mukanya pucat seperti kertas, kedua matanya memicing seperti meram tapi juga melek sekilas pandang orang akan segera tahu bahwa kedua orang tua ini berasal dari aliran jahat.
Di belakang kedua orang tua ini diikuti pula empat laki2 kekar berpakaian hitam ketat dengan pedang panjang di punggung mereka, paling tidak keempat orang ini adalah para Sincu dari Uiliong-tong yang ber-pangkat tingkat dua.
Diam2 Kun gi menerawang situasi yang dihadapinya, pihak lawan sekaligus muncul tiga rombongan jago2 kosen, musuh di timur dan barat terang akan mencegat jalan mundur pihaknya, sementara rombongan yang dipimpin Ui-liong-tongcu Ci Hwi-bing sendiri berhadapan langsung dengan dirinya.
Hoanthianeng Siu Ling yang memimpin sisa Cap ji-sing-siok akan dihadapi Loh-bi-jin dengan dara2 kembang sesuai yang dipesan oleh Thay-siang, sementara untuk menghadapi rombongan musuh di sebelah barat dan di depan ini, dia sendiri harus berdaya upaya.
Maka dia berbisik kepada Kongsun Siang supaya memimpin empat Hou-hoat-su-cia menghadapi rombongan musuh di sebelah timur yang dipimpin Liu-siancu.
Sementara empat Hou-hoat-su-cia yang lain di bawah pimpinan Ting Kiau di serahi tugas untuk melindungi tandu.
Sementara Kun-gi, Ko-lotoa, Song Tek sing Thio Lam-jiang berhadapan langsung dengan kekuatan utama musuh yang dipimpin Ci Hwi-bing.
cara pembagian ini kalau dinilai kekuatannya jelas pihak sendiri terlampau lemah, Tapi dalam keadaan kepepet pada saat genting ini, cara yang ditempuhnya ini sudah merupakan pilihan yang terbaik.
Bersinar tajam mata Ui-liong-tongcu, dengan kalem satu persatu dia awasi, setiap insan Pek-hoa-pang yang ada di tengah lapangan, kemudian terkulum secercah senyuman riang, congkak dan rasa kemenangan, dalam jarak dua tombak dia berdiri, suaranya bergetar keras.
"Siapakah yang bernama Ling Kun-gi, Cong-su-cia dari Pek-hoa-pang?' Dengan kalem Kun-gi melangkah maju, katanya.
"Cayhe inilah Ling Kun-gi, Ci-tongcu ada petunjuk apa?"
Pedang tersoreng dipinggang, jubah hijau yang dipakainya melambai tertiup angin, sikapnya tenang dan wajar, sungguh tak ubahnya seorang panglima perang yang sudah berpengalaman dan tabah menghadapi segala lawan.
Ko-lotoa, Song Tek-seng dan Thio Lam-jiang tetap beriring di belakangnya.
Seperti mataharimauyangbuasdan liar so-rot mataCiHwi-bing, katanya, menyeringai.
"Kau inikah Cong-su-cia itu?". Di taman belakang Pek-hoa-pang dulu dia pernah melihat Kun-gi duduk berjajar dengan Pek-hoa-pangcu, maka dia kenal Kun-gi.
"Mana Thay-siang kalian?"
Tanyanya pula.
"Ya, beliaupun datang."
"Kenapa menyembunyikan diri dalam tandu, persilakan dia keluar!' "Apakah Hwecu kalian juga akan keluar?"
Balas tanya Kun-gi.
"Dengan kekuatan kami yang tangguh ini, memangnya perlu Hwecusendiriyang keluar?"ejek Ci Hwi-bing. Tawar tawa Kun-gi, ucapnya.
"Kalau Hwecu kalian tidak mau keluar, Thay-siang kami jugatidaksudi menemuimu."
Ci Hwi-bing terbahak sambil mendongak, serunya.
"Kalian sudah terjatuh ke dalam genggaman tanganku, ingin Lohu lihat sampai kapandia bisasembunyi didalamtandu."
"Jadi Ci-tongcu sudah yakin kalau pihakmu pasti akan menang?"
JengekLing Kun-gi.
"Memangnya kalian mampu keluar dari sini dengan masih bernyawa?"
"Kukira belum tentu,"
Demikian ucap Kun-gi dengan sombong.
"orang kuno ada bilang, orang bajik tidak akan datang, yang datang tidak mungkin bajik, kalau Pek-hoa-pang cuma macamnya orang2 segampang tahu dicacah memangnya bisa meluruk sejauh ini sampai di Kunlunsan ini?"
Berubah rona muka Ci hwi-bing, sebelah tangan mengelus jenggot dia tatap Ling Kun-gi sesaat lamanya, katanya.
"Tapi keadaan di depan mata sudah merupakan bukti, kalian masuk perangkap dan terkepung dari tiga jurusan, jelas berada dalam situasi yang kepepet, inilah kenyataan yang tak bisa diperdebatkan lagi, kau bukan orang bodoh, memangnya tidak bisa menilainya sendiri."
"Tidak, Cayhe tetap berpendapat pihak mana yang bakal gugur masihsukardiramalkan,"
Kun-gi tetap memberitanggapantegas. Terkekeh mulut Ci Hwi-bing, senyum sinisnya semakin tebal disertai rasa gusar, suaranya berubah kereng berat.
"Lohu dengar, katanya kau adalah murid Hoanjiu-ji-lay Put-thong Taysu?"
"Memangnya perlu kuterangkan lagi?"
Jengek Kun-gi.
"Mengingat gurumu Put-thong Taysu, Hwecu tidak ingin bermusuhan dengan kau, maka Lohu di perintahkan untuk menasihati kau bahwa permusuhan Hek-liong-hwe dengan Pek-hoapang tiada sangkut pautnya dengan kau, tak perlu kau ikut basah dalam air keruh ini, terutama mengingat ilmu silat yang kau pelajari begitu tinggi, masa depanmu gilang gemilang, jika kau sudi mampir ke Hek-liong-hwe kami, Hwecu juga bisa memberi kedudukan Conghou-hoat yang lebih agung padamu."
Kun-gi tertawa, katanya.
"Kebaikan Hwecu kalian, Cayhe terima didalam hatisaja."
"Jadikautidak mauterimaundangankami?"
"Sekarang Cayhe adalah Cong-hou-hoat-su-cia dari Pek-hoa-pang, sebagai seorang ksatria memang bisa aku harus bermuka dua, pagi berpihak sini dan malam berpihak sana, sekarang, kata2 Ci-tongcu tadi kuputar balik dan kupersembahkan kembali padamu, kalau sekarang aku membujuk Ci-tongcu menyerah dan berpihak pada Pek-hoa-pang bagaimana?"
Ci Hwi-bing manggut2, katanya.
"Maksud Hwecu, jika Ling-lote tidak mau menyerah, beliau pun mengharap kau mengundurkan diri saja dari keterlibatanmu ini, jangan sampai diperalat oleh Pek-hoapang, asal kau mengangguk segera kusuruh orang mengantarmu turun gunung, bagaimana pendapat mu. Kun-gi tertawa, katanya.
"Jika Thay-siang kita juga membujuk umpama Ci-tongcu tidak mau takluk kepada Pek-hoa-pang, silakan selekasnya kau mengundurkan diri saja, bagaimana pendapat Ci-tongcu?"
WajahCiHwi-Ling berubahkelam."Jadi kau tetapmembandel."
"Seperti kau Ci-tongcu, masing2 orang mempunyai tekadnya sendiri2"
"Ling Kun-gi, kebodohanmu ini akan menghancurkan masa depanmu sendiri."
"Cayhe tidak habis pikir, dalam hal apa aku akan menghancurkan masa depanku sendiri?"
"Baiklah Lohu terangkan padamu, Pek-hoa-pang main pikat terhadap insan persilatan dengan paras elok anggotanya, paling2 mereka hanya perkumpulan orang2 durhaka dan khianat, sekarang kausudah mengertibukan?"
Bahwa Pek-hoa-pang dituduh sebagai khianat mau tak mau bergetar hati Ling Kun-gi, semakin tebal rasa curiganya. Dia masih ingat Thay-siang pernah berkata demikian.
"Mereka (maksudnya Hek-liong-hwe) kecuali mengerahkan beberapa anggota cakar alap2, memangnya bisa mengerahkan jago2 silat dari mana?"
Semula Kun-gi mengira permusuhan antar Pek-hoa-pang dan Hek-liong-hwe hanya pertikaian biasa antara sesama perkumpulan yang berkecimpung dalam percaturan Kangouw, tapi dari ucapan Ci Hwibing tadi dia menarik kesimpulan bahwa permusuhan kedua perkumpulan inijugaadahubungannyadenganpihakpenguasa.
Ko-lotoa tetap berdiri di belakang Ling Kun-gi, dia hanya berdiri diam mendengarkan percakapan kedua pihak.
Maklumlah, dia hanya sebagaipenunjuk jalan, tiadahakuntuk ikutbicaradihadapanCongsu-cia.
Apalagi Ling Kun-gi tidak termakan oleh bujuk rayu Ci Hwibing yang akan menariknya ke pihaknya, maka dia anggap tak perlu ikut berbicara.
Tapi kini persoalan sudah lain, kaum persilatan umumnya memang mengalami kehidupan pahit di ujung senjata, tapi sekali urusan menyangkut pihak yang berkuasa, siapapun tak berani memikulakibatnyadituduh sebagaipengkhianatnegara.
Melihat Kun-gi mendadak terdiam, Ko lotoa mengira dia keder karena dituduh sebagai "pengkhianat".
Sejauh ini urusan telah berkembang, maka dia tidak hiraukan kedudukannya sekarang sebagai penunjuk jalan lagi, segera ia menghardik.
"Ci Hwi-bing, kau bangsat keparat, pengkhianat bangsa kau anggap sebagai bapak, paling2 kau hanya diangkat sebagai Tongcu, memangnya kau punya masa depan pula"
Melotot mata Ci Hwi-bing, bentaknya dingin.
"Kau Ko Wi-gi. Haha, memangnya Hwecu sedang mencari kalian kawanan pengkianat ini, ternyata kau berani antar jiwamu ke sini, ini namanya sorga ada pintu kau tak mau masuk, neraka buntu justeru kau terjang."
Ko-lotoa menarik muka, katanya sinis.
"Kalau aku berani datang, memangnya gentar berhadapan dengan kalian cakar alap2 antek kerajaan ini? Lihatlah panji yang berkibar? Tujuan kami adalah menyapu bersih Hek-liong-hwe dan menumpas sampah persilatan ..... .. ."
Muka Ci Hwi-bing yang merah seketika diliputi amarah yang meluap2, bentaknya mengguntur.
"Pengkhianat, kematian sudah di depan mata masih berani bertingkah."
"Ci-tongcu,"
Laki2 tua bermuka tirus di sebelah kanannya buka suara.
"Lohu ingin bertanya beberapa patah kata kepada bocah she Ling ini."
Ci Hwi-bing segera berubah sikap, katanya berseri tawa.
"Tokkoheng silakan bicara."
Lalu dia mundur selangkah. Mendelik kedua mata kakek muka tirus, tatapannya yang beringas se-olah2 hendak menelan Ling Kun-gi bulat2, katanya.
"Anak muda, Lohu ingin bertanya padamu, kau harus menjawab dengan baik."
Melihat Ci Hwi-bing terhadap kakek kurus ini begitu hormat, Kungi tahu kalau kedudukan si kakek mungkin di atas Ci Hwi-bing, tapi sikapnya tetap tak berubah, jawabnya dengan tertawa.
"Bergantung soal apa yang kau tanyakan."
"Lohu Tokko Siu, tentunya sudah pernah kau dengar dari gurumu?"
Ucap si kakek kurus.
"Kiranya bangkotan tua yang sukar dilayani,"
Demikian batin Kungi, Tapi dia tetap tertawa, katanya.
"Ada pertanyaan apa, boleh Loheng katakan."
Terunjuk rasa kurang senang pada wajah Tokko Siu, katanya.
"Pernah Lohu bertemu beberapa kali dengan gurumu, usiamu masih semuda ini, tua bangka seperti aku berani kau pandang sebagai Loheng (saudara tua)?"
Kun-gi tertawa lantang, katanya.
"Suhu pernah memberitahu padaku, beliau selama hidup tidak pernah punya sahabat, maka Wanpwe juga tidak pernah pandang siapapun sebagai angkatan tua, selama berkelana di Kangouw tak pernah kupandang diriku sebagai angkatan muda, bahwa kupanggil kau Loheng, ini cocok dengan ajaran Nabi bahwa di empat penjuru lautan semuanya adalah saudara, memangnya ucapanku salah?"
"Ada guru pasti ada murid,"
Dengus Tokko Siu.
"anak muda, orang yang bermulut besar dan kurangajar harus betul2 memiliki kepandaian sejati."
"O, jadi Loheng ingin menjajal betapa besar bobotku?"
"Masih ada persoalan yang ingin Lohu tanyakan lebih dulu."
"Katakan saja."
"Lohu punya dua murid, semua mati di tangan Pek-hoa-pang, kau sebagai Cong-su-cia Pek-hoa-pang, tentunya tabu siapa yang membunuh mereka?"
"Siapa muridmu itu?"
"Kedua murid Lohu itu masing2 bernama Pek Ki-han dan Cin Tekhong."
Ling Kun gi melengggong mendengar kedua nama ini, kiranya kedua orang ini adalah saudara seperguruan, dari sini dapatlah dimengerti bahwa Tokko Siu tentu mahir menggunakan ilmu yang serba dingin.
Sekilas berpikir dia mengangguk, katanya.
"Sudah tentu Cayhe tahu jelas akan kematian kedua muridmu itu."
"Lekas katakan,"
Beringas muka Tokko Siu.
"siapa yang membunuh mereka?"
Diam2 Kun-gi membatin.
"Ci Hwi-bing sendiri yang membawa Pek Ki-han dan Lan Hau meluruk ke Pek-hoa-pang, akhirnya hanya dia seorang yang berhasil lolos, agaknya dia tidak menceritakan duduk persoalan yang sebenarnya'"
Segera katanya.
"Waktu muridmu Pek Ki-han meluruk ke Pek-hoa-pang, karena tidak sudi ditawan, dia rela bunuh diri, Ci-tongcu berada di sini, boleh kau tanya padanya."
Tokko Siu berpaling, tanyanya.
"Ci-tongcu, apa betul demikian?"
"Betul, tapi kematian Pek-heng betapapun harus diperhitungkan pada pihak Pek-hoa-pang."
"Memang masukakal. Lalu, CinTek-hong?"
"Cin Tek-hong berhasil menyelundup ke Pek-hoa-pang, malah diangkat jadi Houhoat, di Gu-cu-ki rahasianya terbongkar oleh Cayhe, kebetulan Hwi-liong-tongcu Nao Sam-jun memburu datang bersama Cap-ji sing-siok dan mengepung kami, Nao Sam-jun beranggapan muridmu telah membocorkan rahasia Hek-liong-hwe, maka Cin Tek-hong dibunuhnya dengan senjata rahasia beracun ...."
"Jadi maksudmu, bukan kalian yang membunuh Cin Tek-hong?"
TeriakTokko Siu marah2. Tegak alis Kun-gi, katanya lantang.
"Tadi Cing-tongcu sudah bilang, sudah tentu perhitung-an ini harus dibereskan dengan Pekhoa-pang."
Muka tirus Tokko-Siu yang semula pucat seputih kertas pelan2 bersemu hitam, hardiknya bengia.
"Katakan, kepada siapa Lohu harus membuat perhitungan?"
Kedua tangannya sudah terangkat di depan dada, sorot matanya yang mencorong dingin menatap Ling Kun-gi, setiap saat dia sudah siap turun tangan.
"Awas Cong-coh,"
Ko lotoa memperingatkan.
Song Tek-song dan Thio Lam-jiang yang berdiri di kanan-kirinya serentak memegang gagang pedang dan siap tempur.
Sebaliknya Kun-gi bersikap kalem, wajar seperti tanpa persiapan, katanya tawar.
"Bahwa kita sudah berhadapan dimedan laga, kalau kau mau membuat perhitungan dengan aku boleh saja."
"Bagus sekali"
Dangus Tokko Siu. Tiba2 kakek bermuka kuda di sebelah kiri berteriak.
"Tunggu sebentar Tokko heng, akupun ingin tanya siapa pula yang telah membunuh muridku? Nah, orang she Ling, muridku Lan Hau siapa yang membunuhnya?"
"Cayhe sudah bilang, kalau toh kita sudah berhadapan di sini, urusan apapun dan berapa banyak yang akan kalian bereskan, semua tujukan saja pada orang she Ling ini."
"Anak muda, besar amat mulutmu, kau mampu membereskannya?"
Jengek kakek muka kuda.
"Kalau Cayhe tidak dapat membereskannya, memangnya aku bisadiangkatsebagaiCong-su-cia Pek-hoa-pang?"
"Usiamu begini muda, kau memang pemberani, tapi kalau Thaysiang kalian sudah datang, sudah tentu kami akan mencari perhitungan padanya."
"Tidak sulit untuk kalian menemui Thay-siang, lalui dulu diriku ini."
Kakek muka kuda menarik muka, serunya gu-sar.
"Keparat, kau ingin mampus."
"Menang kalah belum ada ketentuan, memangnya pasti Cayhe yang akan mampus?"
Dengan angkuh kata si muka kuda.
"Aku Dian Yu-hok, pernah dengar tidak?"
Mulut bicara kakipun melangkah maju.
Dian Yu-hok dijuluki orang Lam-sat-sin (malaikat maut), sudah tentu Kun-gi pernah mendengar namanya, kebesaran namanya tidaklebihrendah daripadaPing-sin(malaikates)Tokko Siu.
Kedua tokoh Kosen dari aliran jahat yang termasuk kelas top ini, memang merupakan golongan tersendiri dalam percaturan dunia persilatan, kehebatan mereka pernah menggetarkan delapan penjuru, kebanyakan perguruan silat dari aliran besar kecil segan mencari setoripada mereka.
Melihat Dian Yu-hok sudah mengambil ancang2 hendak menyerang Kun-gi, lekas Tokko Siu berteriak.
"Dianheng, tunggu sebentar, bocahiniserahkanpadaku,"
Lam sat-sin Dian Yu-hok menarik mukanya yang panjang seperti tampang kuda, katanya dingin.
"Bukan soal serahkan atau berikan pada siapa? Yang terang dia membunuh muridku dan sudah berani memikul tanggung jawab, memangnya aku tidak pantas menuntut balas padanya?"
Kurang senang Tokko Siu, katanya.
"Paling tidak aku kan sudah bicara lebih dulu padanya."
Kun-gi tertawa, katanya.
"Tak usah kalian berdebat, Cayhe hanya seorang diri dan tidak mampu membelah tubuh untuk sekaligus menghadapi kalian. Nah, kailan maju bersama saja, akan kuhadapi sekaligus."
Sementara Kun-gi bicara, Dian Yu-hok dan Tokko Siu sudah berebut maju, sama2 tak mau mengalah sehingga jarak mereka sudah dekat di kirikanan Kun-gi. Tokko Siu membentak.
"Anak muda, keluarkan senjatamu."
"Sret", Kun-gi melolos keluar Ih-thiankiam dan melintang di depan dada, ia pandang bergantian kedua musuh, katanya.
"Silakan kalianpun keluarkan senjata."
"Peduli senjata macam apapun selalu kuhadapi pula dengan keduatelapaktanganku ini,"demikianujar TokkoSiu. Kun-gi tertawa angkuh, pelan2 dia masukkan kembali Ih-thiankiam ke serangkanya, katanya.
"Kalau kalian tidak mau pakai senjata, biarlah ku layani dengan kedua telapak tanganku pula."
Dian Yu hok melenggong, katanya.
"Anak muda dengan bertangankosong,kaumampu menghadapikamiberdua?"
"Kalian tidak perlu urus,"
Ejek Kun-gi.
"kalau tetap ingin membuat perhitungan dengan Pek-hoa-pang, Cayhelah yang akan menghadapi, kalau Cayhe beruntung menang, maka perhitungan kalian harap dianggap impas, kalau Cayhe kalah, anggaplah aku tidak becus, matipan aku tidak menyesal, setelah kalian berhasil menagih utang, maka bolehlah pulang saja."
Sekilas Tokko Siu melirik ke arah Dian Yu-hok, katanya mengangguk.
"Bagaimana pendapat Dianheng?"
Lansat-sin Dian Yu-hok mengangguk, katanya.
"Baiklah, kita turuti saja kehendaknya."
Kun-gi maklum pertempuran hari ini baik menang atau kalah akhirnya pasti membawa akibat yang luas artinya, sudah tentu dia tidak berani gegabah, diam2 ia kerahkan seluruh kekuatan Lwekangnya, cuma lahirnya tetap tenang, wajahnya tersenyum lebar malah.
Diam2 Ko-lotoa mengerut kening, tanyanya lirih.
"Cong-su-cia betul2 hendak melayani kedua bangkotan ini?"
Sebagai seorang kelasi dari Pek-hoa-pang yang bertugas penunjuk jalan, kedudukannya amat rendah, tapi dari percakapan Hoanthianeng Siu Eng dan Ui-liong-tongcu Ci Hwi-bing tadi, Kun gi tahu bahwa Ko-lotoa adalah salah satu dari tiga puluh enam panglima Hek-liong-hwe dulu, maka ia menduga bahwa Thay-siang mengutus dia sebagai penunjuk jalan mungkin, mempunyai maksud yang besar artinya, selama ini dia tidak anggap orang sebagai penunjuk jalan belaka, maka demi mendengar pertanyaan orang, segera ia menjawab dengan suara lirih pula.
"Betul, situasi rada genting, terpaksa aku harus layani mereka, Ko-heng bertiga harap mundur beberapa langkah, perhatikan Ci Hwi-bing dengan keempat anak buahnya, jangan biarkan mereka menerjang kemari sehingga kedudukan kita menjadi kacau."
Ko-lotoa mengangguk, katanya.
"Cong-su-cia tak usah kuatir, tugas ini cukup dimaklumi olehku, cuma Tokko Siu dan Dian Yu-hok meyakinkan ilmu silat yang beracun jahat, dengan satu lawan dua Cong-coh harus hati2."
Tengah mereka bicara, Ping-sin Tokko Siu sudah tak sabar lagi, selanya dingin.
"Sudah selesai kalian berunding?"
Lekas Kun-gi berpaling, katanya tersenyum "Baiklah, silakan kalian memberi petunjuk."
"Kau berani menghadapi kami berdua, mungkin tiada kesempatan balas menyerang,"
Kata Tokku Siu, kontan tangan terayun terus menepuk ke depan.
Gaya tepukan tangannya seperti tidak menggunakan tenaga.
tapi segulung angin keras segera mendampar.
Dalam seleksi adu kepandaian di Pek-hoa-pang tempo hari Ling Kun-gi pernah saksikan pukulan telapak tangan Cin Tek-hong yang kuat, Tokko Siu adalah gurunya, sudah tentu juga mahir dalam ilmu pukulan, maka sejak tadi dia sudah siaga, melihat lawan memukul segera dia melejit ke samping menghindarkan diri.
Melihat lawan menyingkir, Lansat-sin Dian Yu-hok segera membentak.
"Awas."
Tangan kanan lantas memukul dari samping, segulung angin keras kontan menerjang tubuh Ling Kun-gi.
Tanpa menoleh lekas Kun-giayuntangan kiri kesamping.
Setelah memukul sebetulnya Dian Yu-hok hendak mendesak maju lebih dekat dan menambahi pukulan lain, tapi mendadak terasa segulung kekuatan yang tidak kentara langsung menahan tubuhnya, keruan kagetnya bukan main, batinnya.
"Ilmu silat bocah ini, ternyata tidak boleh dipandang enteng."
Terpaksa pukulan telapak tangannya segera dia tarik kembali serta didorong pula keluar, dengan demikian barulah tenaga dorongan lawan yang tidak kentara itu dapat dibendungnya.
Kejadian berlangsung dalam sekejap mata, setelah pukulan Tokko Siu berhasil dihindarkan Ling Kun-gi, sambil terkekeh dia gentak lengan bajunya, jari2 tangan yang kurus panjang mirip cakar burung lantas menongol keluar serta mencakar2 ke udara dua kali.
Mendadak dia menubruk maju, tutukan dan pukulan dilancarkan sekaligus menyerang Kun-gi.
Kali ini Kun-gi tidak berkelit lagi, dia kembangkan Cap-ji-kim-liong-jiu, tutukan jari dan pukulan telapak tanganpun dilancarkan tak kalah lihaynya, malah variasinya lebih banyak, sekarang kanan, lain kejap tahu2 kiri, jadi kanan kiri saling berlawanan, secara sengit serta cepat dia hadapi rangsakan Tokko Siu, Hiat-to besar dan urat nadi orang menjadi sasaran serangannya.
Ca-ji-kim-liong-jiu diciptakan dari Ih-kin king yang diselami secara mendalam, sebetulnya merupakan ilmu pusaka Siau-lim-pay yang tak diajarkan kepada orang luar, kini dikembangkan tangan kiri Ling Kun-gi, perbawanya sungguh hebat, umpama setan iblispun tak mampu menghadapinya.
Waktu Kun-gi berkelit tadi, Lansat sin Dian Yu -hok pernah menyerangnya sekali, tapi setelah itu dia berpeluk tangan dan berdiri menonton saja.
Maklumlah, dia sudah menjajaki bahwa kepandaian Kun-gi ternyata tidak lebih rendah daripada kepandaian sendiri, Dian Yu-hok berasal dari suku Miau yang punya watak suka curiga, di samping selama puluhan tahun berkelana di Kangouw, pengalaman memberitahu padanya sebelum tahu jelas seluk beluk kepandaian Ling Kun-gi, dia takkan sembarangan turun tangan.
Kini dia berdiri di pinggir gelanggang dan mengawasi dengan penuhperhatiankedua orangyanglagiberhantam.
0odwo0 Di sini Ling Kun-gi tengah menghadapi rangsakan Tokko Siu, sementara Ui-liong-tongcu Ci Hwi-bing telah menggerakan pedang, dengan keempat anak buahnya segera dia menerjang ke arah Ko-lotoa bertiga, bentaknya.
"Ko Wi gi, dua puluh tahun lebih kita tak bertemu, biarlah hari ini aku mohon pnngajaranmu."
Setelah Kun gi turun gelanggang, maka Ko-lotoa merupakan pentolan di antara mereka bertiga, maka Ci Hwi-bing lantas mengincarnya lebih dulu.
Ko-lotoa tertawa, mendadak dari samping badan dia mengeluarkan sebatang besi, mendadak kedua batang besi dia sambung terus diputar ke kanan-kiri menjadi sebatang tumbak besi, hardiknya.
"Memang aku juga ingin mohon pengajaranmu."
"Lihat pedang, Ko Wi-gi!"
Bentak Ci Hwi-bing terus mendahului ayun pedang menusuk lambung Ko-lotoa. Ujung tumbak Ko-lotoa ternyata bergantol, bentaknya dengan suara keras.
"Serangan bagus!"
Berbareng tumbak menyampuk dan menarik.
Kedua orang segera saling serang dengan cepat, pertempuran mereka cukup sengit dan menegangkan.
Melihat Tongcu mereka melabrak Ko lotoa, empat anak buahnya berpakaian hitam di belakang Ci Hwi-bing segera ikut menyerbu maju.
"Sret", Song Tek seng segera cabut pedang, katanya dengan tertawa.
"Thio heng, kebetulan kita masing2 kebagian dua orang. Hayo kita berlomba, coba siapa merobohkan mereka lebih dulu."
Mulut bicara, pedangpun bekerja, sekali tutul pedangnya mamancarkan bintik sinar kemilau bagai rantai perak tahu2 meluncur ke tenggorokan kedua lawan yang menyerbu tiba.
Sekali bergerak, Loanbi-hong-kiam hoat dari Go-bi-pay segera dia kembangkan dengan sengit.
Thio Lam-jiang ter-bahak2, serunya.
"Baiklah, marilah kita berlomba mengalahkan musuh."
Tangan kanan meraih, badanpun bergerak, sebelum lawan menerjang tiba dia sudah melambung ke atas, sinar pedang menyamber ke batok kepala kedua lawan.
Serangan pedang yang dilancarkan dengan badan menukik ini ternyata bukan olah2 lihaynya, Kiranya Thio Lam-jiang juga telah keluarkan ilmu pedang Hing-sanpay yang ganas.
Tapi keempat orang berbaju hitam yang menjadi lawan mereka adalah empat diantara ke12 Sin Ciu dari Ui-liong-tong yang "
Kenapa kau tidak menungguku?"
"Nona mau ke mana? "Kau menyamar lagi bukankah ka hendak menemuka pengejaranmu?"
U n memiliki kepandaian kelas satu.
Apalagi pedang merekapun berwarna hitam gelap dan tak memancarkan sinar, jangankan di tengah malam gelap, umpama di tengah siang hari juga sukar untuk mengikuti dilancarkan Song Tek-seng segencar hujan lebat, lawan merasa sepertidisampuk ribuanjarumtajamyangsukardijajaki.
Sedangkan Hing-san kiam-hoat yang dikembangkan Thio Lam-jiang mendenging nyaring, badan berlompatan naik turun, ada kalanya dia melambung ke udara dan menerkam laksana elang menerkam anakayam.
Dengan kerja sama mereka berdua yang ketat ini, ternyata rangsakanlawanberhasil dibendung, untukbeberapa kejaplamanya mereka sama kuat dan tiada yang lebih unggul atau asor.
Bayangan orang lari kian kemari, sementara sinar pedang saling berseliweran, di sana-sini mulai terjadi pertempuran yang gaduh dan sengit.
Begitu pertempuran kalut berlangsung di depan Ui-lionggiam, maka Hoanthianeng Siu Eng yang memimpin sisa Cap-ji-sing siok segera berhadapan dengan 20 dara kembang di bawah pimpinan Loh-bi-jin, mata tunggalnya kelihatan beringas, tiba2 ia angkat tangan seraya membentak.
"Serbu!"
Belum lenyap suaranya, sembilan orang yang seluruh tubuh terbalut dalam kulit anjing laut segera berlompatan maju, sisa Cap ji-sing-siok ini segera menyerbu dengan nekat.
Ke 20 dara kembang sejak tadi sudah siaga, jarak kedua pihak sebetulnya ada empat tombak, begitu melihat kesembilan Sing-siok menubruk maju, 18 orang di antara para dara kembang tiba2 berpencar menjadi dua kelompok, gerakan mereka begitu rapi dan terlatih, orang berada di ujung kanan mendadak mengayun tangan dan menimpukkan setitik sinar biru, sementara yang berada di ujung kiri juga mengayun tangan, entah darimana tahu2 tangan kedua orang sudah memegang seutas rantai sebesar ibu jari, begitu pinggang mereka meliuk, badanpun tiba2 mendekam ke tanah.
Gerakan ini boleh dikatakan dilakukan serempak oleh delapan belas dara kembang, jelas bahwa mereka sudah lama terlatih dan digembleng.
Tatkala sembilan Sing-siok itu menubruk tiba, Loh-bi-jin sedikit mendak, segesit burung ia melayang kedepan.
Sementara sembilan musuh sudah menerjang tiba, tapi mereka dipapak timpukan titik biru dari para dara kembang, mereka mengapung di udara, untuk berkelit jelas tidak mungkin, soalnya mereka terlalu yakin akan pakaian yang kebal senjata, maka merekapun tidak berusaha menghindar.
Betapa cepat luncuran kedua pihak yang saling tubruk dan timpuk ini.
Tahu2 sembilan titik sinar biru dengan telak mengenai tubuh sembilan Sing-siok dan meledak, seketika asap biru mengepul dan apipun berkobar dengan ganasnya.
Pakaian yang dikenakan para Sing-siok itu menutupi seluruh anggota badan dari kaki sampai kepala, yang kentara hanya kedua mata mereka, maka kobaran api yang panas disertai asap tebal biru ini seketika berkobar di depan dada mereka, kecuali kobaran api, pandangan mata merekapun tertutup oleh asap sehingga tidak bisa melihat keadaan sekitarnya lagi.
Kepandaian silat kesembilan Sing siok ini jelas tidak lemah, tapi berada di udara, tahu2 dia terbakar, keruan kaget mereka bukan main, dalam gugupnya mereka berusaha memadamkan api sambil menepuk2 dada sendiri.
Sembilan orang melakukan gerakan yang sama.
Maklumlah, siapapun kalau dada terjilat api, secara otomatis pastiberusaha memadamkannyadengantepukan keduatangan.
Tapi di luar dugaan mereka bahwa ledakan api ini buatan khusus dari Pek-hoa-pang untuk menghadapi mereka, begitu besar daya bakarnya, menyentuh barang apapun api pasti berkobar, sebelum menjadi abu daya bakarnya tidak akan padam, siapapun takkan mampu memadamkannya.
Karena berusaha memadamkan api, maka lengan baju mereka yang lebar menimbulkan kesiur angin yang malah menambah besar kobaran api sehingga lengan baju merekapun ikut terbakar.
Sembilan Sing-siok jadi mencak2 sambil ber-teriak2 panik seperti manusia api, siapapun yang dekat mereka, sekali terpegang dan dipeluk, tentu jiwa akan ikut melayang dan terbakar mampus bersama mereka.
Tapi delapan belas dara kembang sudah siaga, dua orang satu kelompok, masing2 memegang ujung rantai yang cukup panjang dan siap mendekam di tanah.
Karena sekujur badan terjilat api, pandanganpun terganggu asap tebal, hakikatnya para Sing-siok yang panik terbakar itu tak melihat keadaan sekitarnya lagi, baru saja kedua kaki mereka hinggap ditanah, dua dara kembang segera mengayun tangan, dengan rantai panjang mereka menjirat kedua kaki orang Sudah tentu para Sing-siok tak pernah pikir bakal kecundang begini rupa, satu persatu mereka terjungkal roboh, belum lagi para Sing-siok itu berbuat banyak, segesit kera para dara kembang sudah melejit bangun dan berlompatan menyilang sehingga kaki orang betul2 terbelenggu oleh rantai dan ditarik ke kirikanan dengan kencang.
Begitu roboh dengan kaki terbelenggu oleh rantai, kesembilan Sing-siok meronta2 dan bergulingan di tanah.
Sementara api berkobar semakin besar.
Hanya beberapa kejap saja sembilan orang aneh yang berpakaian kebal senjata itu hanya meronta beberapa kali, akhirnya tak bergerak lagi, dengan cepat api membiru itu mengeluarkan bau hangus terbakarnya badan manusia yang tak sedap, Cap-ji-sing-siok yang selama ini dibanggakan oleh Hwi-liong-tong, bukan saja kebal senjata, malah sudah malang melintang di Kangouw tak pernah kecundang, tak nyana hari ini tertumpas habis begitu saja oleh para dara2 cantik yang cekatan ini, belum gebrak semuanya sudah roboh dan mati terbakar menjadi abu.
Dalam pada itu waktu kesembilan Sing-siok menubruk maju tadi, Loh-bi-jin juga meluncur ke depan memapak Hoanthianeng Siu Ing, bentaknya menuding.
"Orang she Siu, hari ini adalah hari ajalmu, lihat pedang!"
Dari depan segera pedangnya menusuk.
Mimpipun Hoanthianeng Siu Ing tak pernah menduga bahwa kesembilan Sing-siok baru saja ke luar, tahu2 Loh-bi jin juga menubruk ke arahnya.
Keruan dia kaget, sedapatnya dia miringkan tubuh sambil melompat meluputkan diri dari tusukan orang berbareng tangan kirinya tahu2 mencakar dan menangkap pergelangantanganLoh-bijinyangpegang pedang.
Gerakan mundur sambil menyerang ini dibarengi tangan lain melolos sebatang pedang warna hitam legam, dengan senjata di tangan dia kelihatan beringas, teriaknya bengis.
"Budak ....!"
Belum lagi lanjut, pada saat itulah didengarnya suara ledakan ramai disertai percikan api yang segera ber-kobar.
Waktu dia berpaling, dilihatnya kesembilan Sing-siok yang dipimpinnya telah terjilat api, badan masih mengapung di udara, kaki tangan mencak2 gugup dan takut.
Tentu saja kagetnya tidak kepalang.
Menyurut mundur sedikit, Loh-bi-jin unjuk rasa puas kemenangan, pedang tetap menuding musuh, katanya dingin.
"Orang she Siu, kau sudah lihat bukan? Cap ji-sing siok yang kalian banggakan dalam sekejap akan menjadi setumpukan abu, dan kau juga takkan lolos dari kematian."
Gusar Hoanthianeng bukan main, hardiknya murka.
"Budak, akan kubelah badanmu hidup2."
Pedangnya bergetar turun naik, segera dia hendak menubruk maju. Tapi Loh-bi-jin telah membentak sambil mengancam dengan pedang, serunya.
"Berdiri, dengarkan dulu bicaraku sampai habis."
Mata tunggal Hoanthianeng seperti memancarkan bara, bentaknya gusar sekah.
"Budak keparat, omong apa, lekas katakan.' "'Baiklah kuberitahu padamu, bukankah dibelakangmu berdiri dua orang dara kembang? Cukup aku memberi tanda kepada mereka. kaupun segera akan terjilat api dan mampus menjadi abu, tapi nona ingin kau mampus tanpa menyesal, marilah kita bertanding sampai titikterakhirdengan pedang."
Ternyata dua puluh dara kembang masih ada dua orang yang menganggur, delapan belas orang menghadapi sembilan Sing-siok, dua orang lain secara diam2 telah mencegat jalan mundur Hoanthianeng.
Mendengar jerit ngeri sembilan Sing-siok yang terbakar mati itu, perasaan Hoanthianeng sudah tidak keruan, baru sekarang dia sadar bahwa Pek-hoa-pang meluruk kemari dengan persiapan matang.
Mendengar Loh-bi-jin menantang dirinya bertandang pedang, diam2 dia bergirang, batinnya.
"Budak keparat, kau sendiri yang cari mampus."
Mata tunggalnya menatap Loh bi-jin, katanya dengan menyeringai beringas.
"Baik, ingin Lohu saksikan betapa tinggi ilmu pedangmu?"
Sembari bicara segera tangan kanannya bergerak, pedang seketika bergetar menimbulkan bayangan berlapis, bentaknya.
"Awas!"
Belum lenyap suaranya, pedang sudah bergerak secepat angin, sekaligus dia menusuk tiga kali.
Memang tidak malu kalau orang ini dulu merupakan salah satu dari 36 panglima Hek-liong-hwe, serangan pedangnya cepat dan keji, yang terlihat hanya bayangan hitamyang berputar menusuk.
Melihat dara2 kembang sudah sukses, besar hati Loh-bi jin lebih mantap, tanpa menyingkir ia menghardik.
"Serangan bagus!"
Pedang terayun, badan bergerak mengikuti gaya pedang, serangan Hoanthianeng yang ketat itu diterjangnya. Sudah tentu Hoanthianeng melengak heran dan ber-tanya2.
"Memangnya budak ini ingin mampus?"
Tapi pada detik yang gawat itulah, seketika dia menyadari gelagat kurang wajar.
Di tengah gerakan Loh-bi-jin yang memutar itu, pedangnya memancarkan kemilau yang berpencar seperti puluhan banyaknya dan sekaligus merangsak kearahnya dari berbagai arah, cahaya yang terang itu menyilaukan matanya, sayup2 kupingnya juga mendengar suara gemuruh, setombak sekelilingnya seperti sudah terkurung oleh hawa pedang lawan yang dingin tajam.
Kaget dan berubah hebat air muka Hoanthianeng, puluhan tahun dia berkecimpung di Kangouw, belum pernah dia menyaksikan ilmu pedang sedahsyat ini.
Sudah tentu dia tidak berani ayal, untuk menyelamatkan jiwa terpaksa dia jatuhkan diri, dengan memeluk pedang dia terus ber-guling2 setombak lebih.
Cara yang ditempuhnya ini ternyata membawa hasil.
Maklum jurus yang digunakan Loh-bi-jin ini adalah "Naga bertempur di tegalan", serangan ganas yang mematikan untuk menghadapi musuh tangguh, Hoanthianengpun tak mampu mematahkan serangan ini, cuma cara dia meniru keledai bergelinding di tanah ternyata berhasil menolong jiwanya, sinar pedang ternyata tidakmelukainya.
Walau jiwanya lolos dari serangan maut, tak urung keringat dingin sudah membasahi badannya, setelah berada di luar jangkauan cahaya pedang lawan baru dia melejit bangun terus melayang jauh ke jalan pegunungan sana.
"Kemana kau mau lari?"
Damprat Loh-bi-jin.
Segera iapun menubruk ke sana sepesat anak panah, selarik sinar perak meluncur bagai naga sakti mengamuk di udara, di tengah udara dia menyerang musuh.
Sementara Hoanthianeng sendiri masih terapung di atas, mendadak terasa hawa dingin mengancam dari belakang, kagetnya bukan main, batinnya.
"Budak ini pandai mengendalikan pedang terbang"
Hati berpikir tanganpun terayun ke belakang dengan pedang membacok.
"Trang", bentrokan dua pedang mengeluarkan gema suara, bayangan merekapun seketika melorot turun. Tapi gerakan Sinliong jut-hun (naga sakti keluar mega) yang dilancarkan Loh bi-jin dari tengah udara ini baru setengah gerakan saja, begitu tubuh meluncur turun, cahaya pedangpun segera menyamber pula. Sudah tentu hal ini di luar dugaan Hoanthianeng, baru saja kaki hinggap di tanah, seluruh badan seketika terbungkus pula oleh cahaya pedang lawan, di mana mata pedang berkelebat, seketika dia menjerit ngeri seperti bambu yang terbelah menjadi dua, tahu2 badan Hoanthianeng roboh ke dua arah, badannya terbelah menjadi dua potong dan terkapar ditanah. Dengan gampang para dara kembang telah membereskan kesembilan Sing-siok, kini dengan dua jurus permainanr Tinpang-kiam-thoat Loh-bi-jinq juga telah menamatkan perlawanan Hoanthianeng. Maka kawanan Hek-liong-pang di sebelah barat telah tertumpas habis seluruhnya. Sementara di sebelah timur, Jianjiu-koanim Liu-siancu masih tetap bercokol di dalam tandunya, hanya menonton tanpa bergerak. Sementara Kongsun Siang bersama Hou-hoat-cu-cia bersenjata lengkap siaga dalam jarak lima tombak. Sudah tentu kalau Liusiancu benar2 mau turun tangan, Kongsun Siang berlima takkan mampu menahannya? Tapi kenyataan sejauh ini di sebelah timur tetap tenang dan damai. Dalampada itu Ko-lotoasudahberhantamratusanjurus melawan Ci Hwi-bing. Sebagai Ui-liong-tongcu Ci Hwi-bing memang memiliki kepandaian yang boleh dibanggakan, meski berhadapan dengan teman lama, namun dia tidak kenal kasihan lagi, begitu sengit pertempuran kedua orang ini, sinar pedang tampak melibat badan masing2, kesiur angin tajam mendampar kencang, dalam jarak dua tombak sekeliling terasa arus dingin me-nyamber2. Tombak gantol Ko-lotoa ternyata bermain dengan hidup sekali, aneh memang gaya tumbaknya, lain daripada yang lain, disamping menusuk tumbaknya juga digunakan membelah, menutul, menggaruk dan memapas, Hiat-to lawannya selalu terancam oleh tumbaknya. Malah dua gantolan di ujung tumbaknya disamping dapat menggantel dan menggaruk juga dapat mengunci senjata lawan, begitu tangkas dan gesit dia memainkan tumbaknya schingga tubuhnya seakan2 terbalut di dalam samberan angin kencang. Dua orang teman lama dari ke 36 panglima Hek-liong-hwe sekarang harus adu jiwa di medan laga sebagai musuh, kepandaian merekapun sembabat, sejauh mana sukar dibedakan siapa bakal menang dan kalah. Biarpun ratusan jurus lagi juga sukar diakhiri. Song Tek-seng dan Thio Lam-jiang masih tetap satu lawan dua, mereka masih bergerak lincah dan cekatan, keadaan masih sama kuat alias setanding. Tapi jarak empat orang lawan sangat ber-dekatan, sama2 mengenakan pakaian hitam ketat, bersenjata pedang panjang warna hitam beracun lagi, malah muka merekapun sama2 kuning kaku. Lama kelamaan setelah ganti berganti saling serang, akhirnya empat orang bersatu merangsak kedua lawannya. Sudah tentu perkembangan ini jauh berbeda dengan keadaan semula. Mereka berkelit kian kemari dan berputar ke sana-sini, yang satu maju yang lain mundur silih berganti, sehingga kedua lawannya selalu terkepung di tengah. Secara langsung dua berhadapan dengan empat, kirikanan dan muka-belakang Song Tek seng berdua selalu terancam senjata lawan, lebih celaka lagi karena keempat musuhnya dapat kerja sama dengan baik sekali. Kalau orang lain menghadapi lawan yang main keroyokan, biasanya mereka akan adu punggung untuk membendung rangsakan musuh, jadi mereka tetap bisa satu lawan dua, Sayang Thio Lam-jiang adalah murid Hing-sanpay, Hing-sankiamhoat harus dikembangkan secara berlompatan, melambung ke atas dan menyerang lawan dari atas kepala, kalau dia harus adu punggung dengan Song Tek-seng, itu berarti dia tidak sempat mengembangkan ilmu pedang perguruannya. Karena itu Thio Lam-jiang tetap mainkan Hing-sankiam-hoat sambil melompat naik turun, tapi berat bagi Song Tek-seng yang harus menghadapi lawan dari depan. Loanbi bong-kiam-hoat Go bi-pay meski juga ilmu pedang lihay dan sukar diraba arah sasarannya, tapi di bawah kepungan keempat lawannya, lama2 dia terdesak di bawahangin. Walau ThioLamjiangselalu memberibantuan dengan sergapannya, paling hanya sekedar mengacaukan gerakan musuh, keadaan tetap tidak menguntungkan seperti waktu satu lawan dua tadi. Apalagi main lompat dan menukik dari atas paling menguras tenaga, lama2 dia kehabisan tenaga juga. Padahal pertempuran berlangsung semakin sengit, tapi permainan pedang Song Tek-seng dan Thio Lam-jiang justeru semakin lemah dan kendur. Sementara itu Ling Kun-gi sudah berhantam ratusan jurus melawan Tokko Siu. Selama itu Lam-sat-sin berpeluk tangan di luar arena, agaknya dia menjaga gengsi, tidak mau main keroyok.. Muka kudanya tampak merengut, dengan tajam mengawasi pertempuran. Cakar tangan Tokko Siu merangsak dengan buas dan liar, tapi Kim-liong-jiu yang dilancarkan dengan kedua tangan Kun-gi gerakannya saling berlawanan, terutama tangan kidalnya menyerang lebih bagus lagi, selalu Hiat-to yang diincar, gerakannya indah dan menakjubkan, betapapun lihay serangan Tokko Siu selalu dipaksanya menarik kembali di tengah jalan. Selama ratusan jurus saling serang ini, belum pernah keduanya mengadu pukulan secara keras namun demikian mereka toh sama2 merasa bahwa tipu serangan lawan amat berbahaya dan cukup mengejutkan siapapun yang menyaksikan. Di tengah pertempuran seru itulah, mendadak dari arah jauh di sana beruntun berkumandang dua kali sempritan melengking panjang. Mendadak Tokko Siu melancarkan dua serangan cepat secara beruntun terus menarik diri melompat ke belakang, teriaknya dengan suara sumbang.
"Berhenti!"
"Tokko-heng, apakah kau ingin aku maju sekarang?"
Tanya Dian Yu-hok.
"Tidak,"
Sahut Tokko Siu. Kun-gi juga sudah berhenti, katanya.
"Loheng, masih ada petunjuk apa?"
"Anak muda, kau memang sudah mendapat warisan kepandaian Hoanjiu-ji-lay, orang yang mampu melawan ratusan jurus dengan Lohu tidak banyak lagi di Kangouw, tapi Lohu yakin dalam 10 jurus lagi pasti dapat merenggut nyawamu ....."
"O, jadi selama ratusan jurus tadi aku masih hidup berkat kemurahan hatimu?"
EjekKun-gi.
"Waktu Lohu bersama Dian heng kemari, Hwecu telah pesan wanti2 bahwa orang2 Pek-hoa-pang boleh dibabat habis kecuali kau anak muda yang bernama Ling Kun-gi ini yang harus ditawan hidup2."
Kun-gi membatin.
"Agaknya Hek-liong-hwe amat memperhatikan diriku, mungkin lantaran aku dapat memunahkan getah beracun itu."
Maka dengan tersenyum dia berkata.
"Loheng berdua ingin menawanku hidup2?"
"Lohu sudah bergebrak ratusan jurus dengan kau, kudapati Capji-kim-liong-jiu dapat kau mainkan secara berlawanan dengan tangan kirikanan sehingga banyak tipu2 seranganku terbendung di tengah jalan, baru sekarang kutahu untuk menawanmu hidup2 memang tidak mudah."
"Loheng terlalu memuji,"
Ucap Kun-gi. Serius sikap Tokko Siu, katanya.
"Lohu bicara sebenarnya, tapi dalam 10 jurus Lohu dapat merenggut nyawamu, oleh karena itu Lohu teringat akan satu hal."
"Loheng punya pendapat apa?"
"Kau bukan tandinganku, hal ini tak perlu di bicarakan lagi, maka lebih baik tak usah bergebrak lagi, ikutlah Lohu menemui Hwecu saja."
"Cayhe memang sangat ingin bertemu dengan Hwecu kalian, apakah sekarang juga kita berangkat?"
Tokko Siu tertawa sambil mengelus jenggot, katanya.
"Untuk menemui Hwecu tidak semudah itu, paling tidak Lohu harus menutuk beberapa Hiat-tomu dulu baru boleh kubawa kau menemui beliau, tapi Lohu berjanji, kau tidak akan terganggu seujung rambutpun."
"Jadi maksudmu supaya Cayhe menyerah dan rela dibelenggu?"
Ucap Kun-gi.
"Begitulah maksudku, cara ini bukan saja dapat melindungi nyawamu, kami berduapun dapat menunaikan tugas pada Hwecu."
Dian Yu-hok mengangguk, tukasnya.
"Omongan Tokko Siu memang betul. Anak muda, kalau kau mau ikut, soal kematian murid2 kami boleh tidak usah diperhitungkan lagi."
Kun-gi menengadah sambil ter-bahak2, katanya.
"Sayang Cayhe belumkalah, maksudbaikkalianbiarlahkuterimadalamhatisaja."
Tatkala mereka berbicara, sementara pertempuran di arena lain sudah terjadi banyak perubahan, Loh-bi jin dengan ilmu pedangnya yang sakti telah membelah mati tubuh Hoanthianeng Siu Eng yang dipercayakan memimpin kesembilan Sing-siok.
Sedang sembiian Sing-siok yang kebal senjata itupun sudah terbakar menjadi abu, malah apipun telah padam.
Sementara Jianjiu-koanim Liut-siancu yang membendung arah timur, begitu terdengar suara sempritan melengkingtinggitadisegeradia mengundurkandirisecaradiam2.
Kini tinggal Ko-lotoa yang masih berhantam sengit melawan Ci Hwi-bing, demikian juga, empat orang berbaju hitam masih mengepung Song Tek-seng dan Thio Lam-jiang dan baku hantam tak kalah serunya.
Di tengah tanah lapang berumput itu, tandu hitam yang biasa dinaiki Thay-siang tetap berada di sana terjaga ketat oleh Ting Kiau dan empat rekannya.
Kongsun Siang mendahului melompat maju ikut terjun ke medan laga, sekali tubruk.
"sret", pedangnya menyerang miring dari samping ke arah Ci Hwi-bing. Selama menghadapi Ko-lotoa masih setanding, sejak mendengar suara sempritan tadi, perasaan Ci Hwi-bing sudah mulai kalut dan sudah timbul niatnya untuk mundur saja. Kini melihat Kongsun Siang menubruk tiba seraya menyerang, tanpa ayal beruntun tangannya bergerak melancarkan serangan berantai sehingga kedua lawan dipukul mundur, mendadak kedua kaki menutul, bagai panah meluncur tubuhnya melayang ke arah Ui liong-tong. Dalam pada itu Loh-bi-jin juga telah menarik dara2 kembang ketanah berumput, dara2 kembang dia suruh berpencar melindungi tandu, sambil menenteng pedang, beruntun dua kali lompatan dia memburu ke arena Song Tek-seng dan Thio Lam-jiang, tanpa bersuara pedangnya lantas menyerang, Untuk mengakhiri pertempuran secepatnya, sekali serang dia gunakan tipu "naga sakti keluar mega", selarik sinar bagai rantai perak terbang melintang, orangnya tiba pedangpun bekerja. Sinliong-jut-hun (naga sakti keluar mega) adalah salah satu jurus Hwi-liong-kiam-hoat yang ampuh, kekuatannya dahsyat tiada taranya. empat laki baju hitam hanyalah tingkat Sincu yang lebih rendah dari Ui-liong-tongcu, mana mampu mereka bertahan atau menangkisnya. Maka terdengarlah jeritan menyayatkan hati, dua orang seketika tersapu roboh dengan badan terpapas kutung menjadi dua tepat sebatas pinggang mereka. Saat mana Song Tek-seng dan Thio Lam-jiang sudah terdesak di bawah angin dan terancam bahaya, kini memperoleh pertolongan yang sekaligus terbunuhnya dua musuh, keruan berkobar pula semangat tempur mereka. Thio Lam-jiang menghardik seraya melejit ke atas, pedang menabas ke salah seorang baju hitam di depannya. Sementara Song Tek-seng berbareng juga membalik pedang, bagai hujan badai beruntun ia menusuk tiga kali. Melihat Tongcu mereka melarikan diri, sementara dua teman mereka roboh binasa, kedua orang baju hitam yang tersisa ini menjadi gugup, berbareng mereka menggertak tapi terus melompat mundur dan lari sipat kuping. Lembah gunung yang seluas itu, kini menjadi sepi lengang, di tanah lapang berumput di depan gua hanya tampak orang2 Pek-hoa-pang berdiri berjajar teratur. Entah kapan empat lampu lampion yangtergantungdiatasngaraitadipun padam. Kongsun Siang, Song Tek-seng, Loh-bi-jin dan lain2, karena Kungi masih berhadapan dengan kedua kakek, tanpa perintah sang Cong-su-cia betapapun mereka tidak berani sembarang bergerak, terpaksa mereka menonton saja dari samping. Terlalu panjang beberapa kejadian ini dituturkan deugan kata2, padahal kejadian hanya berlangsung dalam sekejap saja. Tokko Siu yang membujuk Ling Kun-gi tidak berhasil dan malah diejek menjadi naik pitam. biji matanya mernancarkan cahaya dingin, dengusnya.
"Anak muda. baik-lah coba kau hadapi dulu satu dua jurus pukulanku, nanti kau akan tahu bahwa omonganku bukan bualan belaka."
Tangan bergerak langsung kepalannya menggenjot lurus kedepan. Pukulan ini jauh berbeda dengan serangan ber-tubi2 tadi, damparan angin yang dingin membeku tulang segera menerjang ke depan.
"Hianping-ciang,'' diam2 Kun-gi berteriak dalam hati. Cepat dia mainkan jurus Hwi-po-liu-cwan (sumber mengalir muncrat beterbangan), dia sambut pukulan lawan dengan kekerasan. Begitu kedua tangan mereka berada, terdengarlah suara "plak", keduanya lantasberdiri dantidakbergeming lagi. Muka Tokko Siu yang pucat memutih itu tampak berubah semu hitam gelap, katanya.
"Di bawah pukulan, Hianping-ciangku tiada lawan yang sanggup bertahan 10 jurus, sambutlah dua jurus lagi."
Kembali ia memukul dari depan, tanpa menarik telapak tangan kanan, tahu2telapaktangankiri sudah membelahtiba. Kun-gi kerahkan Lwekang pelindung badan, dia tertawa lantang dan berkata.
"Silakan Loheng keluarkan ilmu pukulanmu sesukamu, coba saja Cayhe mampu melawan atau tidak?"
Berbareng ia sambut pula pukulan lawan.
Dua pukulan susulan Tokko Siu ternyata lebih dahsyat, bukan saja tenaga pukulannya bertambah lipat, hawa dingin yang teruar dari pukulannya juga bertambah, makin lama makin dingin, waktu pukulan ketiga dilancarkan, darahpun bisa beku rasanya.
Maka terdengar suara keras "Blang, blang", dengan tenang Kungi sambut pukulan lawan.
Mata Tokko Siu yang memicing seakan2 memancarkan bara, serunya menyeringai .
"Bagus sekali!"
Kedua tangan terangkat ke atas, badannya yang kurus tinggi mendadak mendesak maju, dengan jurus Lui-tiankiau-ki (kilat dan guntur menyerang ber-sama), ia menyerang pula.
Untuk jurus serangan ini, boleh dikatakan dia hampir mengerahkan 10 bagian tenaganya.
Baru saja tangannya bergerak dan pukulan mulai dilancarkan, gelombang dingin seketika membanjir seiring gerak pukulannya, betapa hebat serangannya sungguh amat mengejutkan.
Begitu hebat hawa dingin ini laksana arus dingin yang mengalir dari gunung es atau lembah salju, pohon bisa mati membeku, demikian air seketika bisa beku menjadi batu, kalau manusia bukan saja badan seketika menjadi kaku, darahpun membeku dan napas sesak dan buntu dengan sendirinya jiwapun melayang seketika.
Di sinilah kehebatan Hian ping-ciang sehingga ilmu pukulan ini dipandangpukulan dingin darialiran sesatyangpaling hebat.
Melihat kehebatan Hianping-ciang ternyata jauh di luar dugaannya, wajah Kun-gi yang semula mengulum senyum kini tampak kaget dan prihatin, pikirnya.
"Lwekang orang ini begini tangguh, jika kena keserempet angin pukulannya saja jiwa pasti seketila melayang dengan badan membeku."
Cepat ia menghirup napas, dia mulai mengerahkan kaesaktian Bu siang sin kang untuk melindungi seluruh badan.
Ia berdiri tegak, lengan kanan tegak ke atas, kelima jari bergaya menyanggah langit, sedang tangan kiri menjurus lurus ke bawah, kelima jari seperti menyanggah bumi.
Inilah Mo-ni-in, ilmu sakti aliran Hud yang paling hebat untuk menundukkan setan iblis.
Karena Hianping-ciang lawan memang hebat, otak Kun gi bekerja kilat, dia yakin dalam perbendaharaan ilmu silat yang pernah dia pelajari hanya Mo-ni-in saja kira2 cukup kuat menghadapi Hianpingciang.
Kun-gi berdiri tegak sekukuh gunung tidak bergeming, hawa pukulan Hianping ciang mener-jang dirinya, tapi arus yang kencang itu seketika tersiak minggir seperti arus sungai yang menerjang batu karang di tengah sungai.
Sementara Tokko Siu yang mendesak maju kini sudah berada di depan Kun-gi.
Tatkala menyadari kekuatan pukulannya yang sedahsyat itu tersiah oleh kekuatan ilmu pelindung badan lawan, Hianping-ciang yang dipandang sebagai ilmu kebanggaannya ternyata tidak mampu melukai pemuda ini, sudahtentudiatersengatkaget.
Tapisejauh ini dia sudah bergerak, untuk mundur sudah kepalang tanggung dan tak sempat lagi, terpaksa dia nekat, ia kerahkan sepenuh kekuatannya pada kedua tangan terus menepuk ke dada Kun-gi.
Kejadian laksana percikan api cepatnya, melihat Tokko Sin sekaligus melancarkan serangan dengan kedua tangannya yang hebat itu, arus dingin laksana curahan air terjun yang tumpah ke bawah.
Hakikatnya Lansat-sin yang sejak tadi menonton di luar arena tidak perhatikan bahwa Tokko Siu yang mendesak maju di depan Ling Kun-gi ini sudah menghadapi jalan buntu, tapi dia kira memperoleh kesempatan yang baik.
Segera dia kembangkan Tay-na-ih-sinhoat, gerak langkah yang mengaburkan pandangan mata orang, sekali berkelebat tahu2 dia sudah melejit ke belakang Kun-gi, sejak tadi tenaga sudah dia simpan dan terhimpun di lengan, kini dia angkat tangan kanan, kelima jari dan telapak tangannya berubah biru kelam dan secepat kilat mengecap ke punggung Ling Kun-gi.
Kongsun Siang berdiri agak jauh, bukan main kagetnya melihat kelicikan musuh yang main membokong ini, teriaknya cepat.
"Awas Cong-coh."
Sekujur badan Kun-gi diliputi hawa pelindung badan, tapi dia toh masih merasa kedinginan seperti kecebur di gudang es.
Melihat tekanan berat yang aneh dan luar biasa pukulan Tokko siu sudah menepuk tiba di depan dada, mendadak ia menggembor sekeras2nya, tangan kanan yang terangkat lurus ke atas tahu2 membalik turun dan balas menepuk ke depan.
Kebetulan pada saat yang sama Lansat-sin Dian Yu-hok telah berada di belakangnya dan memukuldenganseluruh kekuatan Lansat-ciang.
Begitutangan kanan menepuk, seketika Kun-gisadarbahwa Dian Yu-hok membokongnya dari belakang, tanpa pikir tangan lagi lantas mengebas kebelakang.
Gebrakan ini dilakukan tiga orang sekaligus dengan seluruh kekuatan dan secepat kilat.
Mo-ni-in adalah ilmu sakti penakluk setan iblis aliran Hud ( Budha ), ilmu yang tiada taranya ini merupakan lawan mematikan yang paling telakbagi Hianping-cian dan Lansat-ciang.
Waktu melancarkan serangan dengan penuh tenaga, tak terpikir oleh Tokko Siu bahwa Ling Kun-gi bakal balas menyerang dengan bekal ilmu saktinya pula, maka terasa segulung kekuatan terpendam yang tak kelihatan sekeras gugur gunung menindih tiba.
Bukan saja seluruh kekuatan Hianping-ciang yang dia lancarkan terbendung sehingga tidak mampu dilancarkan lagi, berbareng iapun merasa napas sesak dan hawa murni terbenti, keruan ia terkesiap, saking gugupnya sekuatnya dia meronta terus melompat mundur.
Bukan lagi mundur, bahkan badannya terdorong mencelat setombak lebih, mulut terbuka darahpun menyembur keluar, badan limbung hampir terjungkal roboh.
Agaknya dia berusaha kendalikan badan untuk berdiri supaya tidak jatuh, maka setelah mundur sejauh satu tombak, langkah kakinya masih bergerak dengan harapan dapat memberatkan tubuh, tapi usahanya tetap sia2, setelah beberapa langkah lagi, akhirnya dia roboh terkapar.
Sesaat dia masih berusaha merangkak bangun, kedua matanya mendelik menatap Ling Kun-gi, suaranya serak, tanyanya.
"Kau ......ilmu apa ini?"
Selama ini Kun-gi mematuhi pesan gurunya, jika tidak terpaksa dan terancam bahaya dilarang sembarang menggunakan Mo-ni-in, kali ini lantaran serangan Hianping-ciang Tokko Siu sedemikian hebat, maka iapun kerahkan kekuatan Mo-ni-in untuk menghadapinya.
Sungguh tak pernah terbayang dalam ingatannya bahwa perbawanya begitu dahsyat, Tokko Siu dibuatnya mencelat setombak lebih.
Dalam keadaan sekarat setelah terluka parah, Tokko Siu masih mendongak bertanya ilmu apa yang dia gunakan untuk melawan Hianping-clang, maka ia pun menjawab.
"Cayhe menggunakan Mo-ni-in."
"Mo-ni-in....."
Terbeliak mata Tokko Siu, beberapa kali mulutnya berkomat-komit, mendadak napasnya memburu dan kepalanya tergentak ke belakang, tubuhpun ambruk telentang dan tak bergerak lagi.
Dalam pada itu Lan sat-sin Dian Yu-hok yang melancarkan Lansat-ciang membokong Ling Kun-gi dari belakang, waktu telapak tangannya hampir saja mengenai punggung orang, mendadak dilihatnya Kun-gi mengipatkan tangan kiri ke belakang.
Dalam hati ia tertawa dingin.
"Seorang diri betapa tinggi kekuatanmu? Masakah mampu melawan gabungan serangan kami berdua dari depan dan belakang?"
Lan sat-ciang adalah ajaran sesat yang diciptakan oleh tokoh bernama Umong, siapapun yang terkena pukulan ini akan mati seketika dengan badan hangus, tapi Mo-ni-in yang dikerahkan Kun-gi kali ini ibarat air di dalam belanga yang sudah mendidih dan hampir beludak, kekuatannya sudah mencapai puncaknya, apalagi dia gunakan kipatan tangan kidal, itulah ajaran tunggal yang diciptakan Hoanjiu-ji-lay sendiri.
Ketika Lansat-sin Dian Yu-hok merasa kegirangan itulah, mendadak terasa bahwa kipatan tangan kiri Ling Kun-gi menimbulkan kekuatan yang tiada taranya, sekokoh tembok baja yang tak tembus, lebih celaka lagi kekuatan lunak membaja ini seketika juga menerjang dirinya seperti gelombang badai dahsyatnya.
Pertahanan lawan yang mampu menyerang balik ini sungguh di luar dugaannya.
Tapi karena Lam-sat-sin terlalu yakin bila Lansat-ciang mengenai tubuh lawan jiwa orang pasti melayang keracunan, sudah tentu iapun tidak mau mundur meski menghadapi perlawanan yang hebat ini, tenaga malah dipusatkan sementara telapak tangan kanan tetap menepuk, serangan yang semula dia arahkan punggung Ling Kun-gi sekarang malah dia ubah arahnya memapak telapak tangan Ling Kun-gi yang mengipat ke belakang itu.
Jelas tujuannya amat keji dan jahat.
Sayang dia tidak tahu bahwa Mo-ni-in adalah ilmu mukjijat aliran Hud yang sakti, waktu dilancarkan kekuatannya tidak kelihatan besar, bila sudah mengadu pukulan secara telak baru kekuatannya timbul berlipat ganda.
Setelah Lansat-sin menyadari adanya gejala tidak enak, namun sudah terlambat, kekuatan lunak sekokoh baja itupun sudah memukul dadanya.
Lansat-ciang yang dilatihnya selama berpuluh tahun kali ini sama sekali tak mampu dilancarkan, tahu2 terasa sekujur badan mengejang dan bergetar, seperti orang yang didorong mendadak tanpa kuasa dia terhuyung mundur beberapa langkah.
Melihat dia membokong Ling Kun-gi, sudah tentu Kongsun Siang tidak berpeluk tangan, meski pertolongannya terlambat, tapi dia tetap menubruk maju, memang hatinya lagi gusar kebetulan dilihat lawan tergetar mundur, segera dia menubruk miring berbareng pedang menusuk, Kalau dalam keadaan biasa, dengan tingkat kepandaian Dian Yu-hok pasti dengan mudah dia dapat berkelit, apa daya sekarang dia sudah terkena getaran pukulan Mo-ni-in yang hebat itu, badan sendiri sudah tak kuasa dikendalikan, mana dia sanggup berkelit lagi.
"Bles", ujung pedang yang runcing gemilapan tahu2 menembus dada dari belakang. Lansat-sin hanya merasakan badan tertembus oleh sesuatu yang dingin, matanya terbeliak, waktu menunduk, dilihatnya ujung pedang tembus keluar dari dadanya, tampang kudanya seketika pucat pias, teriaknya tertahan.
"Siapakah yang menusuk Lohu?"
Pelan2 badan menjadi lemas dan jatuh terkulai. Dengan bebrseri tawa Loh-bi-jin menghampiri, katanya.
"Hebat benar ilmu Cong-su cia."
Kun-gi malah mengerut kening, katanya.
"'Mungkin Cayhe terlalu keras memukulnya."
Belum habis bicara, tiba2 ia sendiri terhuyung mundur. Loh-bi jin kaget, tanpa hiraukan adat laki-perempuan lagi lekas dia memapah, tanyanya penuh perhatian.
"Cong-su-cia, kenapa kau?"
Dilihatnya muka Kun-gi pucat dan agak gemetar pula, serunya gugup.
"Hai, lekas kalian kemari, mungkin Cong-su-cia terbokong oleh musuh?"
Ko lotoa, Song Tek seng, Kongsun Siang, Thio Lam-jiang segera merubung datang. Kata Kongsun Siang.
"Cong-su cia, cobalah kerahkan hawa murni, di mana letaksalahnya."
Mata Ling Kun-gi terpejam, dia berdiri diam, sesaat lamanya baru air mukanya tampak bersemu merah, pe-lahan2 dia mengirup napas panjang dan membuka mata.
Melihat Loh-bi-jin memapahnya, sorot matanya menunjuk rasa kaget dan keheranan, iapun merasa rikuh, katanya.
"Terima kasih nona, aku tidak apa2."
Jengah Loh-bi-jin, katanya dengan mengerling.
"Sebetulnya apa yang terjadi Cong su-cia?".
"Hianping-ciang Tokko Siu memang lihay sekali,"
Demikian ucap Kun-gi,"
Sedikit lena, badanku terembes hawa dingin, seluruh badan seketika terasa membeku ...."
"Sekarang sudah baik bukan?"
Tanya Loh bi-jin penuh perhatian.
"Untung segera aku menyadari kelalaianku, sekarang sudah baik."
Ko-lotoa menyelutuk.
"Tokko Siu berjuluk Ping-sin (malaikat es), entah betapa banyak tokoh2 Kangouw yang kecundang oleh Hianping-ciang, malam ini ia kebentur Cong coh, tamatlah riwayat kejahatannya yang kelewat takaran"
Kun-gi menoleh ke sekitarnya, tanyanya.
"Musuh sudah mundur seluruhnya?"
"Mendengar suara sempritan, Liu-siancu di arah timur tiba2 mengundurkan diri, sementara kesembilan Sing-siok di sebelah barat telah dibereskan oleh dara kembang dan terbakar menjadi abu oleh peluru Bik-yam-tan."
Kun-gi menghelar napas lega, katanya.
"Thay-siang memang serba tahu, ramalannya tidak pernah meleset, segala gerak-gerik musuh sudah tergenggam di telapak tangannya, sungguh amat mengagumkan."
Ko-lotoa berkata.
"Ui-liong-tongcu Ci Hwi-bing juga segera mengundurkan diri setelah mendengar suara sempritan tadi, karena Cong-coh tidak memberi perintah, kami tidak berani bergerak. Sukalah Cong coh segera ambil tindakan."
Kun-gi memandang ke arah Ui-liong-tong di kejauhan sana, tampak gua itu bermulut besar dan tinggi, pintu gua terbuka lebar, seperti tiada penjagaan, keadaan gelap pekat tak kelihatan keadaan di dalam, diam2 timbul rasa curiganya, katanya setelah tepekur sebentar.
"Ui-liong-tong adalah pusat pimpinan Hek-liong-hwe, kalau pintunya terbuka lebar tentu ada perangkapnya, lebih baik kita bekerja menurut pesan Thay-siang saja."
Loh-bi jin mengiakan, segera dia memberi tanda, empat dara kembang segera pikul tandu kecil itu menghampiri. Inilah bunyi tulisan Thay-sian dalam surat rahasianya.
"Terjang ke bawah Uilionggiam, lemparkan tandu ini ke Ui-liong-tong."
Kun-gi suruh orang banyak berpencaran mencari tempat masing2 dan mengepung Ui-liong-tong dengan ketat, sementara, empat Hou-hoat-su-cia yang angkat tandu itu segera diayunnya bolak-balik terus dilemparkan ku Ui liong-tong.
Karena lemparan yang kuat, tandu itu meluncur kencang ke mulut Ui-liong-tong yang menganga lebar, tertampaklah api tepercik terus terdengar ledakan keras yang menggelegar menggetarkan bumi.
Bumi laksana gempa keras, sementara ledakan masih terus berbunyi saling susul schingga tebing di puncak atas sana retak dan batu2 besar sama menggelindang berjatuhan tercampur dengan padas2 yang terlempar keluar dari dalam gua, terdengar suara jerit tangis dan pekik orang di sana-sini.
puluhan tombak disekitar lembah diliputi asap dan debu yang tercampur dengan batu yang beterbangan, jari tangan sendiri sampai tidak terlihat jelas apa lagi mengawasi teman2 yang lain.
Kiranya tandu itu berisi bahan peledak yang beratnya hampir sekwintal, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat daya ledakannya, ternyata Ui-liong tong telah diledakkan hingga rata dengan tanah.
Ngarai lembah naga kuning di atas sanapun telah gugur rata memenuhi lembah.
Waktu membaca surat rahasia Thay-siang tadi sebetulnya Kun-gi sudah mendapat firasat bahwa yang tersimpan di dalam tandu pasti obat bakar yang amat lihay kekuatannya, baru tandu dilempar ke dalam gua pasti menimbulkan kobaran api besar, karena tak bisa menyembunyikan diri pasti kawanan bangsat Hek-liong-hwe akan terjang keluar.
Oleh karena itu dia suruh 8 Hou-hoat-su-cia dan 20 dara kembang berpencar mengepung Ui-liong-tong, musuh yang lari keluar akan ditumpas atau ditawan hidup2.
Dia sudah perintahkan semua orang bersembunyi agak jauh dari mulut gua, supaya senjata api sendiri tidak melukai mereka, tapi tak pernah terduga olehnya bahwa tandu itu membawa sekwintal bahan peledak, betapa dahsyat kekuatannya, gua sebesar itu serta ngarai diataspun dibikin gugur dan lebur.
Begitu mendengar suara ledakan Kun-gi lantas merasakan getaran hebat mirip gempa bumi, lembah dan ngarai seperti berguncang, keadaan amat ga-wat sekali, lekas dia kerahkan Lwekang serta membentak sekeras guntur.
"Semua mundur!"
Walau dia berseru dengan kekuatan Lwekang yang tinggi, kalau dalam keadaan biasa suaranya mungkin bisa terdengar cukup jauh, tapi kini gunung gugur bumi berguncang hebat, suara ledakan masih terus berkumandang saling susul sehingga seruannya tak terdengar sama sekali.
Melihat gelagat jelek, sekali raih Kun-gi pegang tangan Ko-lotoa yang berdiri disampingnya sembari meloncat mundur sejauh mungkin Kong-sun Siang berdiri di sebelah kiri, mulutnyapun berteriak.
"Song-heng, Thio heng, lekas mundur!"
Begitu bergerak, dengan gaya serigala menubruk sekaligus dia melompat mundur sejauhnya.
Waktu dia berdiri tegak dan menoleh, batu2 sebesar gajah sedang bergelundungan dari atas ngarai, debu beter-bangan dan batu berlompatan menguruk lembah.
Tadi masih terdengar beberapa kali jeritan kaget dan kesakitan di sana sini, kini kecuali batu gunung yang masih bergelindingan dengan suara gemuruh, suara orang tak terdengar lagi.
Agaknya semua orang sudah teruruk di bawah reruntuhan.
Kaget Kongsun Siang, ia coba berteriak.
"Cong-coh, Cong-su-cia . ......."
Didengarnya suara Kun-gi juga sedang berteriak.
"Kongsun-heng, kau tidak apa2?"
"Ling-heng,"
Teriak Kongsun Siang berjingkrak girang, secepat terbang dia melompat ke arah datangnya suara.
Di tanah lapang berumput agak jauh sana keadaan masih gelap berkabut debu, tampak Ling Kun-gi tengah berjongkok, sebelah tangannya menekan punggung Ko-lotoa, kiranya tengah menyalurkan hawa murni ke badan orang.
Tiba di samping orang Kongsun Siang lantas bertanya.
"Congcoh, kenapa, Ko lotoa?"
Sebelah tangan Kun-gi tetap tak bergerak, katanya gegetun.
"Waktu kutarik dia lompat ke belakang dada Ko-lotoa keterjang batu terbang, mungkin ..."
Belum habis dia bicara, dilihatnya Ko-lotoa telah membuka matanya, sinar matanya pudar, bibir bergerak mengeluarkan suara lemah, kata2nya ter-putus2.
"Terimakasih, ....Cong..... coh, akutak...,taktahan.....lagi, Ui-liong. ....tong. .. ....dibelakangnyaada.. ...ada sebuah. .. .. .. jalanrahasia...... menembus...... '.'darah segar tahu2 menyembur keluar dari mulutnya, sehingga dia tak mampu meneruskan kata2nya. Lekas Kongsun Siang berkata.
"Ko-lotoa, tenangkan hatimu, apakah maksudmu bahwa di belakang Ui-liong-tong ada jalan rahasia yang tembus ke mana?"
Kun-gi lepaskan telapak tangan yang menekan punggung orang, katanya rawan.
"Dia sudah mangkat."
Pelan2 dia berdiri, matanya menjelajah sekitarnya, tanpa terasa dia berkata dengan nada, sedih.
"Kongsun-heng, agaknya tinggal kita berdua saja yang masih ketinggalan hidup dalam rombongan besar kita tadi."
"Mungkin masih ada yang smpat lolos, debu masih mengepul setebalini dansukar melihatkeadaan,"ujar Kongsun Siang. Kun-gi menggeleng dan berkata setelah menghela napas.
"Peristiwa ini terjadiamat mendadak, kitaberdiri limatombakdi luar Ui-liong-tong, begitu melihat gelagat jelek aku segera menarik Ko-lotoa melompat ke belakang, tapi Ko-lotoa tetap keterjang batu, padahal dara2 kembang dan Houhoat-su-cia tersebar disekeliling Uiliong-tong dalam jarak tiga tombak, mana mungkin mereka sempat meloloskan diri? Kesembronoanku yang harus disalahkan, sejak mula harus kuduga bila dalam tandu pasti tersimpan bahan peledak yang amat lihay, seharusnya kusuruh semua orang berdiri lebih jauh lagi."' Kongsun Siang berkata.
"Hal ini tak bisa menyalahkan Cong-coh, kalau Thay-siang membawa dinamit di dalam tandu seharusnya dia jelaskan dalam surat petunjuknya, menurut dugaanku, dinamit yang dapat menggugurkan separo gunung ini kalau tidak sekwintal pasti ada delapan atau sembilan puluh kati beratnya, kalau memang tidak tahu menahu, umpama berdiri jauh dan berilmu silat tinggi juga takkan sempat menghindarkan diri, apalagi menurut petunjuk kita harus menerjang masuk ke Ui-liong-tong, bahwa Cong-coh sudah suruh mereka menyebar sejauh tiga tombak, ini sudah cukup cermat juga."
Secara langsung dia salahkan Thay-siang yang tidak menjelaskanpersoalannyasehingga jatuhkorban sebanyakini. Kun-gi diam sejenak tanpa bersuara, pelan2 kepalanya terangkat dan berkata.
"Kongsun heng, marilah kita berpencar memeriksa keadaan, mungkin masih ada yang cuma terluka parah dan belum ajal, perlu segera kita menolongnya. Kongsun Siang mengangguk, katanya.
"Benar Cong-coh."
Mereka lantas berpencar ke kanan kiri dan memeriksa sekitar Uiliong tong, debu yang beterbangan sudah mulai reda, keadaan sudah mulai terang.
Maka puluhan tombak sekeliling Ui-liong-tong bisa terlihat jelas, ternyata batu2 padas melulu yang berserakan membukit di tempat itu, keadaan sudah berubah bentuk dan tak dikenal lagi.
Pertama Kun-gi menemukan jenazah Song Tek-seng, dia sudah berada tujuh tombak jauhnya dari Ui-liong-tong, punggungnya tertindih batu besar dan mati tengkurap.
Bergidik seram Kun-gi, diam2 ia berkata.
"Song-heng, tenangkanlah dirimu dalam istirahatmu, nanti akan kukebumikan bersama dengan kawan2 yang lain."
Lalu dia maju lebih lanjut, ditemukan pula Loh-bi-jin, tadi dia berdiri tepat di mulut Ui-liong-tong, badannya gepeng tertindih batu besar yang jatuh ke bawah, hanya sebelah tangannya saja yang kelihatan menjulur keluar, kematiannya amat mengenaskan.
Dari lengan bajunya Kun-gi mengenali Loh-bi-jin yang tertindih di bawah batu2 ini, mengingat kebaikan orang yang telah memapah dirinya tanpa hiraukan perbedaan laki perempuan waktu dirinya sempoyongan setelah mengadu kekuatan dengan Hianping-ciang Tokko Siu, sungguh ia berterima kasih dan terharu, kini bertambah lagi sedih dan pilu, kejadian baru berselang beberapa kejap, tapi jiwa orang sudah mangkat mendahului nya.
Pada saat itulah, mendadak seorang berteriak serak di sebelah kiri sana.
"Lekas kemari, tolonglah aku!"
Cepat Kun-gi memburu ke sana seraya berteriak.
"Dimana kau?"
Mendengar suara Kun-gi, agaknya terbangkit semangat orang itu, teriaknya lebih keras.
"Cong-coh, inilah aku Ting Kiau, tertindih di celah2 batu besar ini."
Belum habis dia bicara Kun-gi sudah melompat tiba, tampak olehnya Ting Kiau tertindih di bawah sebuah batu raksasa yang ribuan kati beratnya.
Waktu batu raksasa ini menggelundung dari puncak, kebetulan membentur batu padas yang menonjol dari dinding gunung sebelah belakang dan Ting Kiau kebetulan sembunyi di bawah batu padas yang menonjol ini sehingga batu raksasa tadi tidak menindihnya hancur, dia terjepit di celah2 batu tanpa bisa bergerak, hanya kepalanya saja yang menongol keluar.
"Ting-hengtidakterlukabukan?"
TanyaKun-gi. Badan Ting Kiau meringkal, sahutnya.
"Hamba tidak apa2, tempat ini kebetulan cukup untuk sembunyi, kalau tidak badanku tentu sudah hancur lebur."
Mengawasi batu raksasa ini, Kun-gi memperkirakan batu ini ada seribu kati beratnya, maka dia kerahkan tenaga, pelan2 kedua tanganya menyanggah batu serta mendorongnya ke samping, katanya.
"Awas Ting-heng."
Sekali gentak, batu besar itu kena digeser ke atas. Tanpa ayal Ting Kiau memberosot keluar, katanya sambil melompat berdiri.
"Cong-coh, hamba sudah keluar."
Pelan2 Kun-gi lepaskan batu raksasa itu, katanya kemudian.
"Ting-heng, lekassamadisebentar, apakahkauterluka?"
Ting Kiau menggerakkan kaki tangannya serta menghirup napas panjang, katanya tertawa.
"Hamba baik2 saja, sedikitpun tidak terluka..."
"Selamat Ting-heng, syukurlah kalau tidak terluka, marilah ikut mencari yang lain mungkin ma-sih ada yang perlu ditolong."
Mereka maju terus ke sekelilingnya, tapi batu melulu yang tertumbuk, kaki tangan manusia berserak di antara himpitan batu2, jadi sukar dibedakan jasat siapa yang telah tak berbentuk itu, semuanya matidalamkeadaanyang mengerikan.
20 dara kembang tiada satupun yang hidup, delapan Hou-hoat-su-cia hanya Ting Kiau seorang yang selamat tiga Houhoat ketinggalan Kongsun Siang sajayanglolosdarielmaut.
Barisanyang meluruk datang ber-bondong2 dengan mengerek panji2 segala kini sudah tertumpas habis oleh ledakan tandu yang dibawa sendiri, jadi bukan mati di medan laga dan gugur bersama musuh.
Peledak itupun sedianya untuk menghancurkan sarang musuh, tak nyana orang sendiripun ikut menjadi korban.
Memangnya ini sudah suratan nasib?
Lama Kun-gi berdiri di depan Ui-liong-tong, tak terbilang betapa berat perasaannya Kongsun Siang menghampiri, katanya lirih.
"Cong-coh, bagaimana kita harus bertindak lebih lanjut'?"
"Kecuali kita bertiga agaknya tiada yang hidup lagi, tugas kita sekarang yang utama adalah mengumpulkan jenazah mereka sebrta menguburnyad."
"Cong-coh meamang benar,"
Tibmbrung Ting Kiau.
"berapa banyak yang dapat kita temukan kita kuburkan bersama supaya mereka tenteramdialam baka."
Mereka segera bekerja keras, mengeduk liang lahat dan mengumpulkan jenazah yang berserakan.
setelah dua liang lahat besar mereka gali, Kun-gi menghampiri jenazah Loh-bi-jin, dia singkirkan batu besar yang menindih tubuhnya serta mengusung jenazahnya ke dalam liang lahat, sementara Kongsun Siang dan Ting Kiau juga sibuk menggotong jenazah dara2 kembang yang lain, kaki tangan yang terputus berserakan di mana2 mereka kumpulkan serta di-uruk menjadi satu.
Pada liang lahat kedua, mereka kebumikan ber-sama Song Tek-seng, Ko-lotoa serta mencari pula, yang lain.
semuanya dalam satu liang lahat.
Berdiri di depan pusara massal itu Kongsun Siang terlongong sekian lamanya, katanya.
"Thio-heng (Thio Lam-jiang) tadi bersamaku waktu tandu dilempar ke dalam Ui-liong-tong, meski tempat kami berdiri tepat di depan Ui-liong-tong, tapi jaraknya sekitar lima tombak, Thio-heng meyakinkan ilmu pedang yang mengutamakan kelincahan mengapung di udara, Ginkangnya cukup tinggi dan melebihi aku, bahwa jiwaku bisa selamat, seharusnya Thio-heng pun bisa lolos dari maut, kenapa jenazahnya tidak kita temukan?"
Maklum, hubungannya dengan Thio Lam-jiang paling intim, tak tertahan air matapun bercucuran, memikirkan nasib teman baiknya itu.
"Jangan berduka Kongsun-heng, takdir menghendaki demikian, kita terima saja musibah ini dengan lapang dada,"
Kata Kun-gi.
"Cong-coh,"
Ucap Ting Kiau.
"bukankah Thay-siang masih ada sepucuk surat rahasia, entah apa petunjuknya? Cobalah sekarang dibuka." ' Baru Kun-gi teringat akan hal ini, lekas dia mengeluarkan sampul surat itu serta merobeknya, dilolos keluar secarik hertas putih dan dibebernya. begitu kertas terbeber, seketika berubah air muka Kungi. Surat kedua yang dikatakan petunjuk ini hanya merupakan lembaran kertas putih melulu tanpa tulisan sehurufpun. Apakah arti kertas putih po-los ini? Tandu itu memuat bahan peledak, setelah Ui-liong-tong diledakkan, sudah tiada lagi tugas mereka selanjutnya, jadi tidak perlu pakai petunjuk segala? Tapi bila orang banyak tidak mati karena ledakan tadi, umpama memang tiada tugas lainnya lagi, mestinya diberitahu ke mana dan bilamana mereka harus berkumpul atau mundur kembali ke Ciok-sinbio untuk menunggu perintah selanjutnya. Tanpa petunjuk, itu berarti bahwa rombongan besar yangdipimpinnyainisudahtiada lagi, sudahtamatseluruhnya. Rupanya Thay-siang sudah memperhitungkan bahwa rombongan besar ini seluruhnya akan menemui ajalnya di tempat ini. Semakin tempat gelap dapat melihat dengan terang, entah petunjuk apa yang tertulis disurat Thay-siang?"
"Kenapa kau tidak menungguku?"
"Nona mau ke mana? "Kau menyamar lagi bukankah ka hendak menemuka pengejaranmu?" , u n "Betul, kenapa?"
"Aku ikut, boleh tidak?"
Kun-gi tertegun, sahutnya menggeleng.
"Jangan, non cant "Suratrahasiainitanpasatuhurufpun,"kataKun-gi geram.
"Mana mungkin?"
Teriak Ting Kiau heran.
"Tanpa petunjuk Thaysiang, ke mana kita harus berkumpul dengan rombongan yang lain?"
"Jadi kalian masih ingin menemui Thay-siang?' tanya Kun-gi sengit.
"Rombongan besar kita tertinggal kita bertiga yang masih hidup, kukira perlu segera mengadakan kontak dengan dua rombongan yanglain,"demikianusul Kongsun Siang. Tergerak hati Kun-gi, batinnya.
"Maklumlah mereka sama terbius oleh Bi-sinhiang-wan, jadi bahan peledak yang dipasang dalam tandu itu melulu untuk menyingkirkan diriku seorang? Ya, melihat taraf kepandaian yang kuyakinkan, jelas dia sendiri takkan mampu kendalikan diriku, maka bersama dengan tugas menyerbu ke Uiliong-tong ini dia hendak membunuhku dengan kekuatan ledakan dahsyat itu, maksudnya untuk menghindarkan bencana di kemudian hari. Ai, demi diriku seorang, tak segan2 dia mengorbankan jiwa orang banyak untuk mengiringi kematianku, nenek ini sungguh kejam dan menakutkan."
Melihat Kun-gi tepekur sekian lama tanpa bersuara, Ting Kiau lantas bertanya.
"Cong-coh, Ui-liong-tong sudah hancur, apakah kita perlu kembali dulu ke Ciok-sinbin?"
Kun-gi diam saja, dari sakunya dia merogoh keluar kantong sulam pemberian Un Hoankun tempo hari serta membuka ikatannya dan mengeluarkan botol porselin kecil, ia menuang enam butir pil Jing-sintan sebesar kacang hijau serta diangsurkan, katanya.
"Kongsun-heng, Ting-heng, kalian masing2 telan tiga butir obat ini..."
Kongsun Siang terima tiga butir obat itu dan ditelannya tanpa pikir, tanyanya sambil celingukan.
"Apakah Cong-coh melihat gejala2 yang tidak beres?"
Ting Kau juga terima obat itu, dia sedikit ragu2, pelan2 baru menelannya, tanyanya juga.
"Cong-coh, obat apakah ini?"
Kedua orang bertanya dalam waktu yang hampir sama. Kun-gi tertawa tawar, katanya.
"Apakah kalian pernah dengar Bi-sinwan?"
Kongsun Siang melengak, katanya.
"Pernah hamba dengar cerita Suhu, Bi-sinwan adalah sejenis obat bius yang paling keras daya kerja racunnya, konon dulu kaisar Gui-bunto yang mengembang biakannya dari daerah barat, baunya harum semerbak, orang yang menciumnya akan mabuk, malah yang berat bisa mati sesaat kemudian."
Terpentang kedua mata Ting Kiau, katanya dengan rasa curiga.
"Jadi obat yang Cong-coh berikan kepada hamba tadi adalah Bi-sinwan?"
Kun-gi tertawa, ujarnya.
"Obat yang kalian makan tadi justeru adalah obat penawar Bi-sinwan itu."
"Obat penawar Bi-sinwan? Sejak kapan hamba terkena racun Bi-sinwan?"
Tanya Kongsun Siang heran.
"Kadar racun Bi-sinwan memang amat keras, orang bisa mati bila menciumnya teramat banyak, tapi kalau dapat memanfaatkannya dengan racikan obat lain dan dijadikan pil serta dicampur dalam makanan, maka kau akan memakannya tanpa sadar, khasiatnya secara langsung dapat mempengaruhi daya pikir orang, memang kau kelihatan segar bugar dan jernih pikiran, tapi di luar sadarmu kau telah kehilangan tekad perlawanan dan selalu tunduk setia kepada orang yang telah memberi minum itu, sampai mati takkan berubah haluan."
Terbeliak mata Kongsun Siang, katanya.
"Maksud Cong-coh bahwa Pek-hoa-pang telah memberi Bi-sinhiang kepada kami?"
Sampai di sini tiba2 dia mangut2, katanya pula.
"Betul, setelah hamba ingat2, selama dua tahun ini, peduli apapun yang dilakukan Pek-hoa-pang selalu kurasakan betul, terutama terasa bahwa Thaysiang adalah junjungan yang maha agung dan suci, umpama dia menghendaki hamba segera mati, hamba tidak akan ragu membunuh diri dihadapannya."
"Dan sekarang? Bagaimana perasaan Kongsun-heng?"
Tanya Kun-gi.
"Sekarang perasaan hamba nyaman dan lapang, timbul rasa curigaku terhadap Thay-siang dan Pek-hoa-pang, gerak-gerik dan sepak terjang mereka serba misterius, bukan mustahil ada sesuatu hu-bungan rahasia dengan Hek-liong-hwe ...."
"Betul,"
Timbrung Ting Kiau.
"hambapun merasakan demikian, Pek-hoa-pang hanya memperalat kita semua."
Kun-gi tersenyum, katanya.
"Syukurlah kalau kalian sudah mengerti.' Kertas putih pemberian Thay-sang dia angkat dan dilambaikan ke atas, katanya.
"Surat ini tanpa tulisan sehurufpun, inilah bukti muslihatnya kalau burung kaget busurpun harus disembunyikan, kelinci matianjing ikut hangus` "Bahwa Thay-siang biarkan kita mati lantaran kita orang luar, tapi Ko-lotoa adalah anak buahnya yang sudah berbakti puluhan tahun padanya, Loh-bi-jin adalah murid didik asuhannya, demikian pula ke20 dara kembang itu apa pula dosanya? Kenapa merekapun harus ikut menjadi korban ledakan ini?"
"Ko-lotoa adalah salah satu dari tiga puluh enam panglima Hekliong-hwe, banyak rahasia pribadi Thay-siang diketahuinya, kini ada kesempatan untuk melenyapkan dia, bukankah rahasianya selamanya takkan lagi diketahui orang? Celakalah Loh-bi-jin dan dara2 kembang itu, lantaran bersama kita dia sampai hati mengorbankan mereka pula."
"Kenapa Thay-siang hendak membunuh kita semua?"
Tanya Ting Kiau tak mengerti.
"Hek liong-hwe punya tiga seksi, yaitu Hwi-liong-tong, Ui-liongtong dan Ceng-liong-tong. Pangcu Bok-tan dari Hupangcu Sbo-yok telah diperintahkan untuk menyergap kesana dengan tugas sendiri2, kemungkinan Thay-siang sendiripun sudah meluruk ke sana. Rombongan kita sepanjang jalan ini kelihatan ber-bondong2, padahal hanya untuk menarik perhatian musuh dan menggertaknya, bahwa kita berhasil menerjang tiba di depan Ui-liong-tong ini membuktikan bahwa kita telah menggempur segala aral rintang dari musuh yang mencegat kita, peledak yang ada di dalam tandu dan dilempar ke dalam Ui-liong-tong sehingga hancur lebur, maka orang2 seperti kita ini dirasa tidak perlu lagi, memang inilah cara sekali tepuk membunuh dua lalat."
Kata Kongsun Siang gusar.
"Mendengar uraian Cong-coh, hamba seketika sadar dan mengerti, rencanadaritujuan Thay-siangternyataamatkeji dan kejam."
Ting Kiau menghela napas, katanya.
"Lalu bagaimana rencana Cong-coh selanjutnya?"
"Selanjutnya kalian tak usah memanggil Cong-coh segala, jabatanku sudah ikut terpendam di bawah reruntuhan ledakan tadi,"
Demikian ucap Kun-gi. Ting Kiau tertawa getir, katanya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Racun dalam tubuh kalian sudah ditawarkan, inilah kesempatan baik untuk membebaskan diri dari pertikaian ini, supaya selanjutnya tidak diperalat lagi oleh Pek-hoa-pang, maka menurut pendapatku, lebih baik selekasnya kalian meninggalkan tempat ini saja."
"Pernah kudengar Ling-heng bilang ada dua temanmu yang tertawan Hek-liong-hwe, kehadiranmu adalah untuk menolong mereka, untuk ini aku dengan senang hati ingin membantu Ling-heng, meski menerjang lautanapijugaakuakan membantumu."
"Nyawa hamba ini juga berkat pertolongan Cong-coh, hambapun takkan pergi begini saja,"
Demikian Ting Kiaupun berkukuh pendapat.
"Betapa luhur persahabatan ini, sungguh aku amat berterima kasih .."
Kata Kun-gi. Kongsun Siang menyela.
"Bahwa Ling-heng tidak pandang rendah diriku dan sudi bersahabat denganku, ini sudah mengangkat pamorku pula, kini Ling-heng hendak menyelundup ke Hek-lionghwe seorang diri, meski kepandaian Ling-heng cukup tinggi, tapi jago2 Hek-liong-hwe juga tidak sedikit jumlahnya, di samping menolong teman harus menghadapi musuh lagi, betapapun tenaga seorang terlalu merepotkan, kalau sekarang aku tinggal pergi, memangnya terhitung persahabatan apalagi? Apapun kata dan sikap Ling-heng, aku sudah bertekad untuk mengiringi kepergian Lingheng."
"Apa yang diucapkan Kongsun-heng merupakan isi hatiku pula,"
Demikian sambung Ting Kiau.
"kalau Cong-coh tidak terima keinginankami berartipandangrendah kami berdua."
Melihat betapa besar dan teguh keinginan kedua orang ini, tak enak Kun-gi menolaknya lagi, iapun tahu untuk meluruk ke sarang Hek-liong-hwe seorang diri terlalu terpencil, apalagi nanti harus menghadapi pertempuran sengit.
Apa yang diucapkan Kongsun Siang memang tidak salah, di samping berusaha menolong teman, dia harus sibuk menghadapi musuh lagi, keadaan tentu serba repot dan mendesak.
Maka dia manggut dan berkata "Kalau demikian aku takkan banyak omong lagi, cuma Hek-liong-hwe berada di sarang sendiri, bukansajakitaasingkeadaandisini, keadaanmusuhpunbutasama sekali, sebetulnya untuk menolong teman kita bisa bekerja secara diam2 dan main sembunyi lalu menyergap pada saat lawan tidak siaga, tapi setelah Ui-liong-tong kita hancurkan, sementara dua rombongan lain dari Pek-hoa-pang juga telah menyerbu ke Hwiliong-tong dan Ceng-liong-tong, tentu pihak Hek-liong-hwe sudah meningkatkan penjagaan, kita menyelundup ke sarang naga, bukan saja berbahaya, setiap saat kemungkinan kita akan menemui ajal di dalam sana."
Ting Kiau tertawa, katanya.
"Pendapatku justeru sebaliknya, Uiliong-tong sudah hancur, ini kenyataan, rombongan Pangcu dan Hupangcu masing2 menyerbu Hwi-liong-tong dan Ceng-liong-tong, sekarang kemungkinan mereka masih dalam ajang pertempuran sengit, marilah kita masuk secara diam2, umpama kepergok para penjaga, tentu dengan mudah dapat kita sikat, inilah kesempatan paling baik untuk menolong teman."
Kongsun Siang manggut2, katanya.
"Usul Ting-heng memang baik, Ling-heng, hayolah jangan buang2 waktu, marilah berangkat"
Berkerut alis Kun-gi, katanya.
"Usul kalian memang masuk akal, tapi kita tidak tahu di mana letak pusat markas Herk-liong-hwe, datlam waktu sesinqgkat ini, ke mana kita akan menemukannya?"
"Kenapa Ling-heng lupa,"
Kata Kongsun Siang.
"sebelum ajal bukankah Ko-lotoa bilang di belakang Ui-liong-tong ada jalan rahasia, dia hanya mengatakan `tembus', kemungkinan jalan rahasia di belakang Ui-liong-tong itu bisa tembus ke markas pusat Hek-liong-hwe, kenapa tidak kita coba untuk mencarinya?"
Berpikir sejenak akhirnya Kun-gi mengangguk, katanya.
"Apa boleh buat, marilah kita berusaha."
"Marilah segera kita masuk,"
Kata Ting Kiau senang.
"Nanti dulu, Ui-liong tong sudah hancur, kemungkinan jalan rahasia itupun teruruk, kita ... ."
"Tapi mungkin juga karena ledakan ini jalan rahasia itu malah terbuka,"
Kata Ting Kiau dengan tertawa.
"Memang mungkin,"
Ujar Kun-gi.
"Kita harus tetap hati2. Pertama, jarak di antara kita bertiga harus tetap dipertahankan untuk menjaga segala kemungkinan. Kedua, aku akan berjalan didepan, Ting-heng di tengah dan Kongsun-heng di belakang, jika diperjalanan terjadi sesuatu di luar dugaan, harus secepatnya mundur, jadi aku akan jaga bagian belakang, untuk ini kalian harus perhatikan betul2."
Kongsun Siang dan Ting Kiau mengiakan, katanya berbareng.
"Ling-heng tak usah kuatir, kami mengerti." ..
"Baiklah, hayo berangkat,"
Ujar Kun-gi, belum habis bicara ia sudah melayang ke arah Ui-liong-tong.
Ui-liong-tong atau gua naga kuning terletak di bawah ngarai, semula merupakan gua besar yang lebar dan luas.
Kini setelah diledakkan gua itu sudah runtuh, ngarai di atasnya yang berpuluh tombak tingginya sama menguruk di depan gua, maka batu2 besar berserakan di mana2 sehingga mulut gua yang besar itupun hampir tersumbat.
Ling Kun gi menyingsing lengan baju dan mengerahkan tenaga, beberapa batu raksasa dia singkirkan, lalu dengan memiringkan tubuh dia dapat menyelinap masuk ke dalam.
Sudah tentu Ui-liongtong seluruhnya juga sudah ambruk dan tidak berbentuk semula, lorongnya penuh batu dan debu, Untunglah dinding batu Ui-liong-tong cukup kuat, meski banyak tempat yang ambruk, tapi bentuk guanya masih tetap ada.
Kecuali bahan peledak kiranya di dalam tandu juga tersimpan minyak bakar, begitu meledak seketika terjadi kebakaran hebat, kobaranapimengikutialiran minyak menjuruskearahbelakang.
Mata Kun-gi dapat melihat di tempat gelap, tapi Ting Kiau dan Kongsun Siang yang ada di belakangnya sukar lagi menggerakkan kaki karena gelap gulita tidak terlihat apa2, terpaksa Kun-gi keluarkan Leliong-cu dan diangkat tinggi di atas kepala.
Maka memancarlah cahaya kemilau dari mutiara mestika itu, sejauh dua tombak dapat mereka pandang walaupun rada samar2.
Langkah Kun-gi amat pelan dan hati2, dia periksa dinding batu dari bekas ledakan dan kebakar-an.
Sudah tentu di banyak tempat kembali dia harus kerahkan tenaga untuk memindah batu besar supaya bisa maju lebih lanjut.
Ting Kiau terus berada di belakang Kun-gi, katanya dengan suara lirih.
"Cong-coh, biarlah hamba bantu memindahkan batu2 ini."
Kongsun Siang tidak mau ketinggalan.
"Mari kubantu juga."
Dengan kerjasama tiga orang dapatlah wereka maju semakin jauh, kini sudah ada di gua belakang.
Ternyata Ui-liong-tong memang amat besar dan panjang lorongnya, bercabang lagi, tempat mereka berada terang berada di perut gunung, kalau gua di depan rusak kena ledakan, tapi keadaan di sini hanya beberapa tempat yang gugur sebagian, beberapa deret kamar yang mereka temukan masih terhitung utuh, tapi ada dua puluhan mayat yang bergelimpangan tanpa luka apa2, rupanya mereka mati pengap karena terjadi ledakan keras di depan gua tadi.
Tanpa terasa Kun-gi menghentikan langkah, katanya.
"Agaknya jalan sudah buntu sampai di sini."
"Tapi Ko-lotoa bilang di sini ada lorong rahasia,"
Ujar Kongsun Siang.
"Kalau betul ada lorong rahasia, orang2 ini tidak akan mati pengap."
"Marilahkitacari,"ajakTing Kiau. Sementara mereka berbicara Kun-gi sudah beranjak ke arah sebuahkamarbatudiujung kanansana.
"Ling-heng,"
Seru Kongsun Siang tertahan.
"di atas dinding ada tulisan."
Kun-gi anggkat mutiara di tangannya menyinari dinding, memang dinding di depan pintu ada sekeping papan persegi, di atas papan adasebarishuruf yangberbunyi "Kamarsemadidilarang masuk".
"Mungkin di sinilah biasanya Ci Hwi-bing meyakinkan ilmunya,"
Ujar Ting Kiau.
Tergerak hati Kun-gi, segera dia masuk ke situ.
Kamar batu ini dipasang pintu kayu, bagian dalamnya ternyata amat luas, empat dinding sekeliling kamar ditabiri kain layar warna kuning, di ujung atas mepet dinding sana terdapat sebuah dipan yang bercat kuning pula, kasur, bantal guling dan sepreinya masih utuh.
Kecuali dipan itu, tiada benda lain lagi di dalam kamar besar ini, terasa keadaan kosong melompong.
Mungkin karena getaran ledakan, debu pasir tampak berhamburan dari atap kamar.
Kongsun Siang memandang sekeliling kamar, pedang panjang ditangan seeara iseng menyingkap kain layar di depannya.
Ting Kiau juga tidak berpeluk tangan.
"sret", kipas besinyapun bekerja, layar kuning di sebelah dipan juga dia tarik sampai sobek. Mendadak dia menjeritkaget."Nah, disini!"
Tanpa bersuara Kun-gi mendekat, betul di dinding memang ada bekas garis sebuah pintu.
Ting Kiau sudah mendahului maju serta mendorongnya.
Kun-gi mengira di sekitar pintu rahasia ini tentu dipasang alat rahasia, ingin mencegah Ting Kiau sudah tidak keburu, untunglah meski Ting Kiau sudah mendorong sekuat tenaga, pintu batu tetap tidak bergeming.
Kongsun Siang segera maju, dengan teliti dia periksa sekitar pintulalumengetukdan merabasekianlamanya,akhirnyaberkabta.
"Inilahpinturahasia, kukiratidakakansalah."
"Mestinya ada tombol rahasianya untuk membuka pintu ini, tombol tentu berada di kamar ini, marilah kita cari dengan teliti, mungkin bisa ketemu,"
"Ting heng memang benar, pintu batu rahasia terang dikendalikan oleh alat rahasia untuk buka tutup sehingga orang leluasa keluar masuk, seharusnya orang tidak akan mudah menemukannya dan meninggalkan garis2 persegi yang berbentuk pintu ini, tapi karena ledakan dahsyat tadi menimbulkan gempa yang cukup keras dan menggoncangkan gunung ini sehingga pintu inipun menjadi retak, kemungkinan alat2 rahasianya juga ikut rusak karenanya."
"Jadi maksudmu jalan rahasia ini sudah buntu dan tak mungkin terbuka lagi?"
Ting Kiau menegas.
"Mungkin demikian,"
Ujar Kongsun Siang.
"Kalau betul di sini ada pintu, marilah kita coba mendorongnya,"
Ajak Kun-gi.
"Pintu rahasia ini dikendalikan alat2 rahasia pula, setelah mengalami goncangan keras tadi, ku-kira alat2nya sudah rusak, tenaga siapa mampu menjebolnya?"
Tapi bagaimana juga Kun-gi adalah bekas atasannya, kepandaian orang juga sudah pernah disaksikannya, maka ia berkata pula.
"Kukira sukar untuk membukanya."
"Biar kucoba,"
Ucap Kun-gi. Lalu ia menyerahkan Leliong-cu kepada Ting Kiau, katannya.
"Ting-heng, kau pegang mutiara ini."
Ting Kiau terima mutiara itu, katanya kuatir.
"Cong-coh, berat pintu ini sedikitnya ada ribuan kati, kalau dikendalikan alat rahasia berarti sudah berakar dengan dinding gunung ini, bagaimana mungkin bisa membukanya?"
Kun-gi tersenyum, katanya.
"Memang sulit membuka pintu yang dikendalikan alat rahasia, tapi ucapan Kongsun-heng tidak salah, karena goncangan ledakan tadi sehingga pintu ini menunjukkan bekas, kalau alat rahasianya sudah rusak, mungkin lebih mudah mendorongnya terbuka."
Habis bicara segera ia melangkah setapak, telapak tangan menahan pintu, pelan2 dia mengirup napas dan mengerahkan tenaga mendorong sekuatnya ke depan.
Melihat dia betul2 hendak mendorongnya Kong-sun Siang berserudarisamping."Awas Ling-heng, janganpatahsemangat."
Kun-gi menoleh, katanya tertawa.
"Tidak apa2, aku akan mencobanya."
Ting Kiau mengacung tinggi2 mutiara di atas kepalanya, dari samping dia mengawasi gerak-gerik Ling Kun-gi, kedua tangan orang sudah menempel pintu dan berdiri tegak tak bergeming, tapi jubah hijaunya yang longgar itu kini pelan2 mulai melembung seperti terisi angjn, mirip balon yang penuh gas.
Dalam hati diam2 dia merasa kaget dan heran, batinnya.
"Usia Cong-coh lebih muda daripadaku, tapi kepandaian silat yang dibekalnya entah berapa tingkat lebih tinggi."
Dikala Ting Kiau termenung itulah tiba2 Kun-gi menghardik sekeras guntur menggelegar, sepenuh tenaga kedua tangan mendorong ke depan.
Maka terdengarlah suara keriat keriut makin lama semakin keras seperti ada rantai besi putus dan benda menjeplak, pelan tapi pasti pintu batu itu mulai terdorong mundur dan terbuka.
Terbeliak mata Kongsun Siang, teriaknya kejut girang.
"Tenaga saktiLing-heng sungguh tiadabandingannyadi kolong langit."
Ting Kiau juga terkesima, katanya sambil menjulur lidah.
"Ilmu saktiapakah ini, Cong-coh? Begituhebatkekuatannya, pintubatuini betul2 terdorong terbuka."
Sementara itu pintu batu yang tebal dan berat itu sudah terbuka seluruhnya oleh Ling Kun-gi, pelan2 dia menarik turun kedua tangannya, hawa murni atau tenaga dalam yang membikin jubahnya melembung juga mulai sirna dan kempes, air mukanya ternyata tidak berubah dan napaspun tidak memburu, katanya kemudian sambil menghela napas panjang.
"Hanya mendorong pintu sampai terbuka, masa terhitung ilmu sakti segala?"
Ting Kiau serahkan kembali mutiara kepada Kun-gi, katanya.
"Cong-coh, hari ini hamba betul2 terbuka matanya, tapi Kungfu apakah yang barusan kau gunakan, sukalah kau memberitahu?"
"Kalau Ting-heng ingin tahu,"
Ujar Kun-gi.
"biarlah kuberitahu, Kungfu yang kugunakan tadi adalah Kim-kong-sim-hoat."
"Kim-kong-sim-hoat? Belum pernah kudengar nama ini,"
Ajar Ting Kiau.
"Bekal kepandaian Ling-heng mendapat didikan langsung dari Put-thong Taysu, sudah tentu Kim-kong-sim-hoat merupakan Kungfu yang hebat dari Siau-lim-pay,"
Kata Kongsun Siang.
Di balik pintu batu kiranya adalah sebuah lorong yang gelap gulita, tidak lebar, tiba cukup untuk dua orang berjalan sejajar.
Kungi mendahului melangkah keluar, ternyata banyak liku2 dan bercabang pula lorong panjang gelap ini, bukan saja tidak terasa adanya bau apek dan lembab, malah hawa terasa dingin silir dan segar.
Dengan memegang mutiara Kun-gi maju terus ke depan, kira2 20-30 tombak jauhnya, angin dingin yang meng-hembus dari arah depan terasa semakin dingin dan kencang, kiranya mereka sudah tiba di ujung lorong, di depan mengadang undakan batu.
Ling Kun-gi mempercepat langkah terus naik ke undakan, kira2 ratusan undak telah dilaluinya, akhirnya mereka tiba di sebuah pintu, di luarpintu lapat2sepertiadacahayamatahari.
Diam2 Kun-gi membatin.
"Mungkin sudah sampai di tempat tujuan?"
Segera dia simpan mutiaranya. Lekas Kongsun Siang memburu naik mendampinginya, katanya lirih.
"Apakah Ling-heng melihat sesuatu?"
"Tidak,"
Kata Kun-gi.
"di sini ada sebuah pintu, di luar tampak cahaya matahari, mungkin sudah ditempat tujuan, kita harus lebih hati2, jangan sampai mengejutkan pihak musuh."
Kongsun Siang mengiakan.
Kun-gi lantas beranjak maju, KongsunSiangdanTingKiau mengiringidaribelakang.
Ternyata di luar adalah sebuah lembah kecil yang luasnya puluhan tombak, bentuk lembah ini mirip sumur, sekelilingnya dipagari dinding gunung yang curam dan ratusan tombak tingginya.
Kalau mendongak melihat langit seperti duduk dalam sumur melihat angkasa, langit nan biru kelihatan hanya sejengkal saja.
Ternyata inilah lembah sumur ciptaan alam.
Dasar lembah ternyata datar dan tersapu bersih dan licin, di bawah kaki tembok di kanan-kiri masing2 terpasang bangku panjang terbuat dari balok batu.
Di bawah-kaki tembok seberang sana terdapat dua mulut gua yang terbuka lebar.
Gua tidak berpintu, keadaannya gelap tak terlihat barang apa yang ada di dalamnya, suasana sunyi senryap tak terdengar suara apapun, dari lorong bawah tanah Ui-liong-tong sampai di sini, kini mereka diadang oleh dua mulut goa, kedua goa ini tentu menuju ke Ceng-liong-tong dan Hwi-liong-tong.
Kun-gi merandek, tujuannya hendak menolong orang, entah di mana Pui Ji-ping dan Tong Bunkhing sekarang disekap?
diam2 ia cemas.
Kongsun Siang melangkah maju setapak, katanya lirih.
"Lingheng, kedua gua ini kemungkih-an menjurus ke Ceng-liong-tong dan Hwi -liong-tong."
Kun-gi manggut, sesaat dia merenung, katanya kemudian.
"Aku sedang berpikir, gua mana yang harus kita pilih?"
"Tujuan Cong-coh adalah menolong orang,"
Demikian kata Ting Kiau.
"kalau dalam gua yang satu tidak ketemu boleh kita keluar dan masuk ke gua yang lain, yang terang kita harus berusaha sampai berhasil menolong orang,"
Sembari bicara ia menudang gua sebelah kiri dan melangkah kesana.
"Cong-coh, sekarang biar hamba jadi pelopornya, di dalam lorong gua ini kemungkinan dipasang alat2 rahasia, untuk permainan ini sedikit banyak hamba pernah mempelajarinya."
Terpaksa Kun-gi biarkan orang jalan di depan, dia keluarkan mutiaranya serta disodorkan, katanya.
"Ting-heng bawalah mutiara ini, apapun kau harus hati2." ' Ting Kiau terima mutiara itu sembari berkata.
"Hamba mengerti, tanggung takkan terjadi apa2."
"Sret", dia keluarkan kipas besi serta membukanya untuk melindungi dada terus menyelinap masuk ke gua sebelah kiri. Kuatir orang mengalami bencana lekas Kun-gi mengikutinya, Kongsun Siang tidak mau ketinggalan, ia berada di belakang Ling Kun-gi. Mereka terus maju ke depan, setelah membelok dua kali, keadaan lorong gua ini semakin gelap. Tapi Ting Kiau mengacung tinggi mutiaranya di atas kepala, cahaya mutiara kemilau bagai sinar api di tempat gelap dan dapat terlihat tempat agak jauh. Segera Kun-gi berpesan pula.
"Ting-heng, kerahkan hawa murni dan selalu siaga, jagalah kalau disergap musuh dari tempat persembunyiannya."
Ting Kiau tertawa, katanya.
"Cong-coh jangan kuatir, begitu kulihat ada orang, segera akan kulumpuhkan dia lebih dulu."
Lahirnya dia bersikap riang dan tak acuh, sebetulnya iapun maklum bahwa mereka sudah berada di sarang musuh, setiap saat mungkin sekali menghadapi mara bahaya, setiap langkah mereka berarti semakin dekat pada tujuan, bukan mustahil akan kesamplok dengan penjaga atau barisan ronda mu-suh.
Sebagai pelopor yang jalan di depan dengan penerangan mutiara, berarti musuh di tempat gelap dan awak sendiri di tempat terang dan gampang menjadi sasaran musuh.
Maka sepanjang jalan setiap gerak langkahnya amat hati2 dan diperhitungkan dengan seksama, kipasnya dipegang kencang, mata dan kuping digunakan dengan tajam, dengan pelan mereka terus maju ke depan.
Kira2 puluhan tombak lagi telah mereka capai, tapi tidak kunjung tiba musuh menyergap atau rintangan apapun.
Mendadak Ting Kiau menghentikan langkah, katanya lirih.
"Cong-coh, hamba rasa keadaandisini kurang wajar."
"Bagaimana pendapat Ting-heng?"
Tanya Kun-gi.
"Lorong di bawah tanah ini, peduli menembus ke manapun, yang jelas merupakan tempat penting dan rahasia di pusat musuh, seharusnya dijaga dan diadakan ronda, tapi kenyataan keadaan di sini kosong dan tanpa penjaga, masa begitu cerobohnya pihak musuh, kantidak masukakal."
Kun-gi mengangguk, katanya.
"Pendapat Ting-heng betul, akupun merasakan."
Kongsun Siang menimbrung.
"Mungkin rombongan Pangcu dan Hupangcu sudah bentrok berhadapan dengan musuh, mereka tidak sempat memikirkan keamanan lorong rahasia ini."
Kata Ting Kiau pula.
"Kemungkinan Ci Hwi-bing sudah lari kemari, tahu kita mengejarnya, maka sengaja dia memancing kita ke sini."
"Semua mungkin, tapi kita sudah berada di sini, umpama ada perangkap juga tidak perlu takut, hayo terjang saja!"
Demikian Kungi mendorong semangat mereka.
"Cong-coh benar,"
Ujar Ting Kiau.
"umpama sarang harimau dan kubangan naga juga harus kita terjang."
Lalu dia melangkah ke depan.
Tak lama kemudian lorong berbelok ke kiri, dan tiba di ujung, keadaan di depan ternyata lebar dan terbentang luas.
Mendadak keadaanpun menjadi terang genderang.
Ting Kiau amat cerdik dan hati2, semula dia menggremet maju mepet dinding, begitu melihat di depan ada cahaya segera dia menghentikan gerakan serta menggenggam kencang mutiara di tangannya lantas mundur, katanya lirih.
"Cong-coh, simpanlah mutiara ini, di depan sudah ada cahaya lampu."
Kun-gi terima mutiara itu terus disimpan.
Sementara Ting Kiau sudah bergerak pula ke depan, sekali kelebat dia melompat ke depan mepet dinding dan melihat keadaan di luar.
Kiranya di ujung lorong gelap ini adalah sebuah ruang batu seluas puluhan tombak, tapi keadaan ruang batu ini mirip sebuah lapangan.
Karena di depan sana terdapat sepasang pintu besi, dua gelang besi besar yang mengkilap tergantung di tengah pintu.
Pintu besi tertutup rapat, empat lampu gelas tampak tergantung di kanan kiri pintu, di bawah lampu berdiri empat busu muda yang bersenjata pedang.
Lampu itu memancarkan cahaya redup, tapi di dalam gua bawah tanah yang gulita seperti ini terasa besar sekali manfaat cabaya lampu, puluhan tombak sekeliling lapangan itu menjadi terang dan jelas.
Diam2 Ting Kiau mengerut kening, menurut perhitungannya, dari tempat bersembunyinya ini kira2 ada 12 tombak jauhnya dengan keempat jago pedang itu, kalau untuk menyergap dan menyerangnya secara mendadak, kecuali menggunakan panah dan alat jepretan yang kuat, senjata apapun sukar untuk mencapai musuh.
Dalam pada itu Kun-gi juga sudah menggeremet maju, katanya lirih.
"Bagaimana keadaan di luar?"
"Agaknya kita sudah sampai tempat tujuan, ada empat orang menjaga pintu besi itu, Cong-coh tunggu saja di sini, biar hamba yang bereskan mereka,"
Habis bicara sebat sekali ia sudah meluncur keluar gua dan hinggap di tengah lapangan.
Batu saja bayangannya berkelebat keluar, keempat jago pedang yang berdiri di depan pintu besi sana segera mengetahui jejaknya, seorang lantas membentak.
"berhenti!"
Gerakan Ting Kiau cepat luar biasa, di tengah bentakan orang bayangannya sudah menerjang tiba, kira2 tiga tombak jaraknya dari pintu besi itu, dua jago pedang berbaju hijau dikanan-kiri segera memapak kedatangannya.
orang di sebelah kiri membentak.
"Darimana kau?"
Ting Kiau menghentikan langkah, dia senga-ja pura2 bernapas ngos2an seperti habis lari kencang, lalu katanya sambil menjura.
"ParaSaudara, Cayhehendakmenyampaikan laporan... ."
"Apa jabatanmu?"
Tanya orang di sebelah kanan. Sambil pegang kipas lempitnya Ting Kiau menjura kepada kedua orang itu, katanya.
"Cayhe Ting Kiau, Sincu dari Ui-liong-tong ...."
Belum habis dia bicara mendadak dua bintik sinar menyamber keluar tanpa bersuara dari ujung kipasnya mengincar tenggorokan kedua orang.
Kedua jago pedang itu agaknya tidak kira kalau Ting Kiau bakal membokong, apalagi jarakpun sangat dekat, waktu sadar elmaut mengancam jiwa, hendak berkelit atau menangkis sudah tak sempat lagi, kontan mereka roboh terjengkang dan jiwa melayang.
Melihat kedua temannya mendadak roboh binasa, sudah tentu kedua orang yang lain amat ka-get dan membentak gusar.
"Keparat, berani kau main gila di sini."
Sambil melolos pedang, kedua orang lantas menubruk bersama. Ting Kiau tertawa ngakak, sambil mundur setengah tapak.
"stet", kipasnya terbentang, katanya tersenyum.
"Kebetulan kalian maju bersama."
Kipas lempitnya terbikin dari batangan besi.
di dalam setiap batangan besi tersimpan jarum2 selembut bulu kerbau yang beracun, begitu kipas terbentang dan sekali kebas, serumpun jarum2 seketika menyamber keluar dengan bentuk membundar mirip lingkaran kipas lempitnya itu.
Baru saja kedua jago pedang itu menubruk maju, belum lagi kaki mereka berdiri tegak, keduanya sudah dimakan jarum terbang yang tak terhitung banyaknya itu, tanpa bersuara keduanya roboh binasa menyusul temannya.
Dengan tertawa bangga dan puas Ting Kiau lem-pit pula kipasnya, katanya sambil bergetak tawa.
"Kiranya kaum keroco yang tak becus."
Kun-gi dan Kongsun Siang segera memburu keluar. Kun-gi pandang keempat korban itu, tanyanya;
"Apakah mereka sudah mati?"
"Mereka sama kena bagian yang mematikan, racun bekerja dengan cepat, jiwa mereka melayang seketika,"
Demikian sahut Ting Kiau.
"Tadi kulupa memberi tahu kepada Ting-heng, kita harus mengorek keterangandari salahsatudiantara mereka."
"Wah, ya, kenapa akupun tidak ingat,"
Demikian kata Ting Kiau gegetun. Kongsun Siang sedang mengawasi kedua daun pintu, katauya.
"Kalau bukan Ceng-liong-tong, tempat ini pasti Hwi-liong-tong, Tingheng terlalu cepat turun tangan sehingga mereka tidak sempat menyampaikan peringatan bahaya kepada rekan2nya, pintu besar ini tertutup rapat, kemungkinan orang2 disebelah dalam belum tahu kejadian di luar sini."
Ting Kiau tertawa, katanya.
"Itu gampang tugas mereka berjaga di luar pintu, kalau terjadi sesuatu yang gawat sudah tentu di sini ada peralatan untuk menyampaikan peringatan bahaya, marilah kita periksa bersama secara teliti."
Lalu dia rnendahului melangkah ke sana, dengan seksama dia periksa kedua dinding di kanan-kiri serta tatakan tempat keempat lampu kacaditaruh, tapitiada sesuatuyangmencurigakan.
Sedang Kongsun Siang langsung menuju gelang tembaga, gelang di sebelah kiri dia pegang terus dia putar ke kanan-kiri.
Ternyata gelang tembaga ini dapat bergerak, keruan ia girang, serunya.
"Nah, disini!"
Dia coba2 memutar ke kiri tiga kali lalu membalik putar ke kanan tiga kali, lapat2 ia mendengar suara gemuruh dari benda2 keras yangsalinggesek dari balikpintu.
Kongsun Siang juga cerdik, segera dia lepas tangan serta mundur, katanya lirih.
"Mundur Ting-heng, kemungkinan ada perangkap di balik pintu besi ini"
Sebat sekali dia melompat mundur sejauh dua tombak.
Ting Kiau juga sudah mundur beberapa tombak jauhnya.
Sedang Kun-gi tetap berdiri di tempatnya, dengan tersenyum dia awasi pintu besi di depannya.
Betul juga tatkala Kongsun Siang dan Ting Kiau mundur, dinding di kanan-kiri kedua lapis pintu besi segera berkeresekan menimbulkan getaran keras kedua daun pintu besi itupun pelan2 terbuka.
Keadaan di dalam gelap gulita, dari ketajaman pandangan Kun-gi samar2 melihat seperti sebuah pekarangan.
Kini pintu besi sudah terbuka lebar, tapi tiada senjata rahasia atau perangkap apapun yang menyemprot keluar.
Kongsun Siang menghampiri Kun-gi dan berdiri di sebelahnya, ditunggu pula sesaat dan keadaan tetap tenang2, tanpa terasa mulutnya bersuara heran, katanya.
"Ini tidak beres."
"Terasa di mana yang tidak beres,. Kongsun-heng?"
Tanya Ting Kiau.
"Kedua daun pintu besi ini ada dua gelang tembaga, seharusnya kedua gelang itu di putar dan digerakkan baru pintu besi bisa terbuka, tapi tadi aku hanya memutar gelang sebelah kiri, seharusnya malah menggerakkan alat2 perangkap dan senjata yang menyemprot keluar."
Ting Kiau tertawa, katanya.
`Mungkin secara serampangan kita malah mengenai sasaran, gelang kiri itu memang alat untuk membuka pintu besi, kalau kau memutar gelang kanan, kemungkinan kitabakalterperangkap malah."
Melihat sekian lama tetap tiada reaksi apa2 dari dalam baru Kongsun Siang mau percaya, katanya mengangguk.
"Pendapat Ting-heng memang betul."
Kun-gi tertawa, katanya.
"Aku hanya tahu guru Ting-heng bergelar Sinsincu (si kipas sakti) dan ahli mengenai ilmu bangunan dan pertarungan, tak nyana Kongsun heng ternyata juga ahli dalam bidang peralatan perangkap dan jebakan segala."
Konsun Siang berkata.
"Ling-heng terlalu memuji, guruku punya seorang teman ahli dalam bidang ilmu mekanik, dulu waktu jayanya juga amat tersohor dikalangan Kongouw, belakangan untuk menghindarkan pertikaian yang lebih dalam dengan para musuhnya, terpaksa dia buron jauh ke padang pasir di luar perbatasan, suatu ketika bersua dengan gu-ruku dan sering ber-bincang2, waktu itu aku selalu mengiringi guru, maka tidak sedikit manfaat yang kuperolehdaripembicaraan mereka."
Ting Kiu juga berkata dengan tertawa.
"Mung-kin Cong-coh belum tahu, walau dulu guruku malang melintang di Kangouw dengan kipas lempit bertulang besi, tapi beliau memang benar2 berilmu silat tinggi, hakikatnya di dalam kipasnya tidak menyembunyikan sesuatu. Konon suatu hari beliau pernah dirugikan oleh sepasang senjata Cu-bo-cuan lawan, maka sejak itu beliau memeras otak menciptakan berbagai peralatan rahasia, terutama dalam bidang permainan senjata rahasia, memperoleh kemajuan pesat, pada rangka besi kipas lempitnya sekaligus beliau dapat menyimpan 36 batang senjata rahasia lembut sehingga orang biasa tak mungkin tahu, maka beliau memperoleh julukan "Si-Kipas Sakti", sayang hamba berotak tumpul, ajaran paling cetek dari beliaupun takberhasil kupelajari. Kun-gi tertawa, katanya.
"Umpama betul demikian, yang jelas kalian lebih tahu dalam bidang ini daripadaku", sembari bicara ia tetap menatap ke dalam, karena dia dapat melihat di tempat gelap, lapat2 masihdapatdilihatnyakeadaandidalamsana. Di belakang pintu adalah sebuah pekarangan kecil, maju lebih lanjut adalah undakan batu tiga tingkat, di atas undakan adalah sebuah pendopo yang agak luas, karena jaraknya agak jauh, di dalam juga lebih gelap lagi, lapat2 hanya kelihatan meja kursi dan beberapa perabotanya saja. Sekian lamanya keadaan tetap sunyi dan tiada reaksi apa2 dari dalam. Kun-gi tersenyum, katanya.
"Tanpa menerobos ke sarang harimau bagaimana dapat menangkap anak harimau, kita harus masuk ke sana, cuma harus hati2,"
Lalu dia mendahului melangkah ke dalam.
Kongsun Siang dan Ting Kiau mengiringinya memasuki pintu besi.
Karena keadaan di dalam memang teramat gelap, terpaksa Kun-gi keluarkan pula mutiaranya langsung menuju ke ruang pendopo.
matanya menyapu pandang sekelilingnya.
Walau kini mereka berada di dalam perut gunung, tapi peka-rangan diluar itu tak ubahnya seperti pekarangan umumnya di rumah orang2 berada, baru saja dia hendak melangkah lebih lanjut, tiba2 didengarnya suara"blang"
Di belakang, kedua daun pintu besi itu mendadak menutup sendiri, keadaan seketika menjadi lebih gelap pula. Sambil menoleh Kongsun Siang mendengus, jengeknya.
"Agaknya kita memang sudah masuk perangkap."
Belum habis bicara, dari atas pekarangan itu tiba2 menungkrup jatuh sebuah jala raksasa, mereka bertiga seketika terjaring di dalamnya.
Reaksi Kongsun Siang dan Ting Kiau cukup sebat, dikala jaring raksasa, melayang turun mereka sudah sama2 mengeluarkan senjata dan membacok.
Tak nyana jala ini terbuat dari kawat2 baja murni yang kuat dan ulet, celakanya lagi pada setiap lubang atau mata jalanya dipasanyi duri2 tajam yang membengkok terbalik.
Bila meronta di dalam jala, duri bengkok itu malah akan menusuk kulit daging sehingga akan terbelenggu semakin kencang dan kesakitan.
Hanya Kun-gi yang tetap berdiri diam saja tanpa bergerak, walau sekujur badan terjaring di dalam jala raksasa, namun badannya paling sedikit tertusuk oleh gantolan tajam itu, akibat Kong-sun Siang ;dan Ting Kiau meronta2 sehingga badannya ikut terluka di bagian pundak dan punggung.
Gugup dan gusar Ting Kiau, tapi apapun juga dia adalah murid Ginsancu, begitu melihat gelagat semakin tidak menguntungkan segera dia berhenti meronta, serunya.
"Congcob, bagaimana baiknya?"
Kongsun Siang berteriak gusar.
"Hek-liong-hwe bangsa tikus celurut! Kalau berani hayo unjuk tampangmu mengadu jiwa secara jantan, main ser-gap cara licik dengan perangkap terhitung ksatria macam apa?"
Kun-gi tetap diam saja, katanya tertawa tawar.
"Kongsun-heng, Ting-heng kenapa kalian terburu nafsu? Walau kita terjaring, di sini tiada orang lain, sampai pecah tenggorbokan kalian juga percuma, sekarang lebih penting tabahkan hati menghadapi kenyataan dengan kepala dingin."' "Hahaha! ....Memang jempol kau bocah bagus!"
Tiba2 gelak tawa keras berkumandang dari pendopo disusul keadaan menjadi terang benderang, delapan lampu kaca muncul bersama di ruang pendo-po.
Di undakan batu sana juga muncul tiga orang.
Orang di tengah adalah Ui-liong-tongcu Ci Hwi-bing, di kanan-kirinya diapit dua laki2 berjubah sulaman naga terbang di bagian dadanya, usia kedua orang ini di atas empat puluhan.
Di kanan-kiri undakan beruntun muncul pula delapan laki2 kekar berseragam hijau, menghunus pedang yang berlumuran racun.
Ci Hwi-bing tertawa lantang, katanya.
"Ling Kun-gi, kau dapat meluruk sampai di sini, sungguh harus dipuji, tapi kau tetap takkan lolos dari cengkeraman tanganku."
Saking senang kembali dia terbahak2. Kepala, pundak dan beberapa bagian tubuh Kun-gi sudah tentu terancam oleh duri2 gantolan, tapi dia tetap berdiri tak bergerak, katanya dingin.
"Ci Hwi-bing, kau kira orang she Ling bertiga sudah kau kurung dengan jaringmu ini"? Ci Hwi-bing tertawa, katanya.
"Memangnya kau pikir masih bisa lolos?"
Seketika terpancar sinar mata Ling Kun-gi, katanya tertawa lantang.
"Jaring besi begini, kau kira dapat berbuat apa terhadap orang she Ling?"
Sambil bicara, jubah hijaunya tiba2 melembung seperti balon yang di tiup penuh berisi hawa.
Karena jubahnya melembung, maka duri2 gantolan itupun kena disanggah ke atas, cepat sekali tangan kanannya menarik keluar sebilah pedang.
Maka terdengarlah suara mendering nyaring beruntun, di mana sinar kemilau itu menggaris na-ik turun terus melingkar sekali, jaring kawat baja di depannya tahu2 sudah berantakan di bobolnya, sekali lagi pedang bergerak melingkari badan, benang jala yang terbuat darikawatbaja lemasitupunsamaberjatuhan.
Bukan kepalang kaget Ci Hwi-bing, serunya.
"Pedang ditangannya itu adalah senjata pusaka."
Laki2 baju hijau sebelah kiri menyeringai dan memberi tanda.
Maka ke delapan laki2 kekar itu serentak bersiul panjang, dari delapan penjuru serempak nnereka menubruk ke arah Ling Kun-gi, Pedang Kun-gi bergerak, tiga jurusan kena di bendungnya, di mana cahaya hijau kemilau dan hawa dingin setajam pisau, kedelapan lawan sama merasakan ayunan pedang Kun gi seperti memba-cok ke arah mereka, sebelum cahaya pedang menyamber tiba serentak mereka sama melompat mundur.
Ringansekali Kun-giberputarsatulingkaran, gayapedangnyapun ikut melingkar, hanya beberapa kali gerakan ini, jala kawat yang mengurung Kongsun Siang dan Ting Kiau sudah dibabatnya rontok ber-hamburan.
Begitu keluar dari jaring berduri, dengan gemas Kongsun Siang segera menyerbu musuh dengan gerungan murka, gayanya mirip amukan serigala kelaparan dibantu kilat pedangnya yang ganas.
Ting Kiau juga tidak banyak omong lagi, dengan kipas terbentang segera iapun merangsak musuh.
Betapapan tinggi dan lihay ilmu pedang kedelapan laki2 itu, tapi Kongsun Siang dan Ting Kiau terlebih lihay lagi, hanya beberapa gebrak saja mereka sudah di atas angin, delapan lawan kena didesak mundur.
Kun-gi simpan pedang dan melangkah mundur, dengan menggendong tangan dia menonton saja di luar arena.
Long-sing-kiam yang dimainkan Kongsun Siang memang aneh, bayangannya tampak terjang sana amuk sini, gerak pedangnya secepat kilat, setiap serangan selalu mengincar Hiat-to besar di tubuh lawan sehingga lawan susah berjaga dan sukar menangkisnya.
Sementara kipas Ting Kiau kadang2 tecbentang dan tahu2 mengatup, kalau dibuka bisa digunakan sebagai senjata tajam, kalaudikatupkan bisadigunakanuntuk menutukdan menusuk, yang diincar juga Hiat-to dan urat nadi lawan.
Kedua orang ini adalah jago2 silat kelas tinggi dari generasi muda masa kini, bahwa gabungan permainan ilmu kipas mereka ternyata begini hebat, pekarangan kecil di dalam perut gunung ini rasanya seperti dipenuhi bayangan pedang dan kipas.
Dengan kekuatan kedelapan orang bukan saja tidak mampu menundukkan dua lawannya, malah terdesak di bawah angin, sudah tentu kedelapan orang itupun malu dan gusar, akhirnya mereka lupa akan kerja sama dalam barisan yang sudah teratur, kini masing2 mengembangkan keahlian sendiri.
Kejap lain delapan batang pedang dengan bayangan gelapnya sama menyambar ke arah kedua orang.
Rangsakan bersama ini tidak dibatasi oleh langkah barisan, serangannya jauh lebih bebas dan berkembang, maka terasa betapa hebat dan bertambah berat tekanan mereka, seketika Kongsun Siang dan Ting Kiau berbalik terdesak ke dalam himpitan serangan lawan.
Ting Kiau menggertak gusar, kipas besi menggentak sekali, dia luncurkan dua batang jarum berbisa, dua lawan yang terdepan kontan ambruk tanpa mengeluarkan suara.
Tanpa terlihat luka2 pada kedua temannya dan tahu2 tersungkur binasa, keruan enam temannya mencelos.
Sementara pedang Kongsun Siang juga tidak kenal kasihan, tatkala lawan melengak itulah, pedangnya segera bekerja, suara jeritan kontan terdengar, pedang Kongsun Siang berhasil menyunduk perut seorang musuh, darah muncrat dan isi perutpun kedodoran.
seketika melayang jiwanya.
Dalam sekejap tiga di antara delapan musuh roboh binasa, maka lima orang yang masih hidup menjadi ciut nyalinya, meski kelihatan mereka masih bertempur sengit, tapi semangat mereka sudah mengendur, rangsakanpun tidak segencar tadi.
Kipas dan pedang Ting Kiau dan Kongsun Siang sebaliknya berkembang semakin hebat, kem-bali lima lawannya kena diserang hingga kelabakan.
Kedua orang baju hijau yang berdiri di undakan sekilas saling pandang, maka terdengar orang di sebelah kiri membentak.
"Berhenti!"
Memangnya kelima orang itu sudah terdesak di bawah angin pula, jiwa mereka terancam setiap detik, tanpa perintah tiada yang berani mundur, kini mendengar aba2 berhenti, seperti berlomba saja mereka saling mendahului melompat mundur.
Kongsun Siang menarik pedang, katanya tertawa dingin.
"Apakah tuan yang ingin turun gelanggang merasakan kelihayan pedang Kongsun-toayamu?"
Dengan kipasnya Ting Kiau menuding lelaki baju hijau di sebelah kanan, katanya dengan tertawa.
"Kaupun turunlah, coba rasakan permainan kipas Ting-toaya yang silir2 nyaman ini."
Lelaki baju hijau disebelah kiri menyeringai.
"Haha, memangnya betapa kemampuan Long-sing-kiam dan Thiancesan kalian, berani bertingkahdihadapan kami?"
"Hayolah jangan banyak bacot, kalau tidak percaya turunlah rasakan sendiri,"
Jengek Kong-sun Siang.
"Ji-te,"
Kata laki2 baju hijau sebelah kiri kepada orang di sebelah kanan.
"kau turun dan bereskan mereka"
Laki2 baju hijau sebelah kanan mengiakan, sambil melangkah turun ia melolos sebatang pedang lebar berwarna hitam, ia menjengek.
"Kalian bertiga boleh maju bersama!"
Kongsun Siang menubruk maju lebih dulu, katanya tertawa.
"Tuan amat takabur, kau turun gelanggang sendirian, sudah tentu Kongsuntoaya akan melayanimu."
Dengan sikap angkuh laki2 baju hijau itu melirik, katanya.
"Hanya kau seorang bukan tandinganku."
Kongsun Siang naik pitam, serunya.
"Memangnya kau ini tandinganku atau bukan juga belum diketahui."
"Sret", pedangnya menusuk lebih dulu dari samping, maka terlihatlah cahaya kemilau ta-jam berkelebat, menciptakan tiga kelompok cahaya pedang menusuk tiga Hiat-to di tubuh lawan. Serangan Long-sing-kiam dilancarkan dengan gerakan kilat, malah khusus menyerang musuh dariarahsamping, sehingga lawansering takber-jaga2. Agaknya laki2 baju hijau lawan Kongsun Siang ini memang memiliki bekal kepandaian yang mengejutkan, hanya tangan kiri bergerak, dia keluarkan serangkum tenaga kuat yang tak kelihatan mendesak serangan pedang lawan, jengeknya dingin.
"Coba kaupun sambut sejurus serangan pedangku!"
Pedangnya yang lebar itu terayun terus membacokdariarah depan.
Gerak bacokan ini hakikatnya tidak menyerupai jurus serangan, tapi begitu pedangnya membacok keluar, seketika terasa adanya doronganhawadingin yangtimbuldaritajampedangnya.
Sebat sekali Kongsun Siang tarik balik pedangnya serta menyelinap ke samping.
Long-sing-poh atau langkah serigala yang dia mainkan amat gesit dan lincah, sekali berkelebat saja mestinya dia da-pat menghindarkan serangan lawan, diluar tahunya si baju hijau yang tadi berdiri di sebelah kanan ini hanya sedikit geser, pedangnya yang lebar itu tetap dengan gaya semula membacok lurus kemuka Kong-sun Siang, Gerakannya tidak begitu cepat, justeru karena gerakan pedangnya tidak mengalami peru-bahan, maka bacokan pedang ini kini tinggal dua kaki saja dari badan Kongsun Siang.
Keruan tidak kepalang rasa kaget Kongsun Siang, dalam gugupnya ia tak sempat banyak pikir, cepat dia angkat pedang untuk menangkis dengan jurus Thianlong-som-to.
Baca Juga: Pendekar Buta 5
Baca Juga: Pedang Sinar Emas 6