Ceritasilat Novel Online

Pedang Kiri Pedang Kanan 7

Eps 7 Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL

Baca online Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL

Cersil Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL.

Tapi So-yok adalah murid kesayangan Thay-siang, mana berani dia bertindak gegabah, maka pelan2 dia turunkan kedua tangan, katanya dengan suara sinis.

"congcoh, ini ..... bagaimana baiknya?"

Dengan tertawa tawar Kun-gi berkata.

"Barang bukti sudah diketemukan di kamarku, kamar2 lain tidak perlu, di geledah, marilah keluar saja."

Waktu Kun-gi tiba di ruang makan, hadirin sudah tahu bahwa barang bukti tergeledah di kamar cong su Cia, maka gemparlah semua hadirin, ada yang geleng2, ada yang menghela napas, ada pula yang memandangnya dengan rasa belas kasihan, tapi ada juga yang memandangnya dengan gusar penuh dendam.

Sambil mengangkat tinggi kedua barang bukti Hay-siang tengah menerangkan hasil kerjanya.

"Betulkah hal ini terjadi?"

Ujar Pek-hoa-pangcu, nadanya kurang yakin dan ragu2. Giok-lan segera bersuara.

"Kurasa cong-sucsia bukan orang demikian."

"Pendapat Sam-moay betul,"

Seru So-yok.

"pasti ada orang sengaja memfitnah dia."

"Nah, sekarang kita dengar dulu pendapat cong-su-cia sendiri,"

Sela Pek-hoa-pangcu. Hay-siang menambahkan.

"Tadi cong-su-cia bilang jendela kamarnya terbuka, kemungkinan bangsat itu sengaja sembunyikan barang bukti ini di dalam kamarnya, tapi bayangan tinggi yang kulihat tadi memang mirip dia, soalnya belum ada ada bukti, hamba tidak berani terus terang. Soal jendela terbuka, memang mungkin bangsat itu menyelundup ke kamarnya serta sembunyikan barang2 bukti ini, tapi dapat juga diterangkan, waktu dia melayang turun dari tingkat atas dan langsung, masuk jendela serta menyembunyikan kedua barang ini lalu buka pintu lari keluar, karena waktu amat mendesak belum sempat dia menutup jendela, atau sengaja dibiarkan terbuka, umpama perbuatannya kebongkar, bisa saja dia menggunakan alasannya tadi. Maka menurut pendapat hamba, soal ini harus segera dilaporkan kepada Thay-siang dan dengarkan putusan beliau."

So-yok mentang2 tidak terima.

"Soal menggeledah kamar adalah usul Ling heng sendiri, kalau dia menyembunyikan barang bukti di kamarnya, memangnya dia berani suruh kita menggeledahnya malah?"

Hay-siang tidak berani debat, katanya.

"Betul Hu-pangcu, tapi kedua barang bukti ini jelas kita temukan dikamarnya, ini kenyataan."

Pek-hoa-pangcu berkata kepada Kun-gi.

"cong-sucia, ingin kudengar pendapatmu."

Kun-gi tahu perhatian seluruh hadirin tertuju pada dirinya, tapi sikapnya tenang dan wajar, katanya sambil tertawa lebar.

"Salah atau benar pasti ada keadilannya, kurasa apa yang dikatakan nona Hay-siang juga tidak salah, kenyataan kedua barang bukti memang berada di kamarku, sudah tentu cayhe patut dicurigai, lebih baik laporkan saja kepada Thay-siang, biarlah beliau yang mengambil kesimpulan dan putusan-"

Diam2 gelisah hati So-yok, katanya tak tahan.

"Toaci, kurasa hal ini memang sengaja ada orang memfitnah dia, kita harus memeriksa dan menyelidikinya sampai terang baru laporkan kepada Thaysiang."

Pek-hoa-pangcu sendiri juga bingung dan sukar ambil putusan, menoleh ke arah Giok-lan dia bertanya.

"Sam-moay, bagaimana pendapatmu?"

Giok-lan menepekur sebentar. katanya kemu-dian.

"Kurasa pendapat cong-su-cia memang tepat dan masuk akal, kalau musuh sengaja mau memfitnah dia, maka laporkan saja soal ini kepada Thay-siang."

"Baiklah,"

Pek-hoa-pangcu mengangguk.

"Ji-moay, cong-su-cia, marilah kita menghadap Thay-siang."

Lalu dia berdiri lebih dulu.

Walau merasa ogah, tapi So-yok sungkan membela Kun-gi terang2an, apa lagi dihadapan umum, terpaksa dia mengikuti Pek-hoa-pangcu ke-luar dan disusul Kun-gi.

Giok lan ikut di belakangnya, dengan membawa kedua barang bukti Hay-siang mengintil di be-lakang Giok lan, beberapa orang lainnya mengekor pula di belakang Hay-siang dan beramai2 naik ke tingkat ketiga.

Setelah orang banyak berlalu, Sam-gan-sin coa Liang geleng2 kepala, ujarnya.

"Bahwa pemimpin kita adalah mata2 Hek liong-hwe yang akan membunuh Thay-siang, aku orang pertama yang tidak percaya."

Leng Tio-cong menyeringai, jengeknya.

"Bukti sudah nyata, memangnya harus diragukan?"

Maklumlah dia sebagai coh-hou-hoat, kalau kedudukan Kun-gi dicopot, maka jabatan cong-hou-hoat yang kosong akan menjadi miliknya, maka diam2 ia berdoa semoga Ling Kun-gi memang mata2 musuh adanya.

Sam-gan-sin tertawa dingin, katanya.

"Manusia paling goblok di dunia ini juga tidak akan mengangkat batu menimpuk kaki sendiri, kalau betul cong-su-cia menyembunyikan barang bukti di kamar sendiri, masadia mengusulkan geledah kamar malah? Kalau betul dia pembunuhnya, waktu dia lompat turun dari tingkat atas, Cukup sekali ayun dia buang kedua barang bukti ke air kan segalanya beres, kenapa harus disembunyikan di ranjang. Beberapa hal yang meragukan ini lebih meyakinkan bahwa memang ada orang sengaja mau memfitnah dia."

Sudah tentu bukan maksudnya ingin membela Ling Kun gi, soalnya dia juga iri dan tidak terima kalau jabatan cong-su-cia jatuh ke tangan Leng Tio-cong.

Dari pada Leng Tio-cong memungut keuntungan, biarlah tetap dijabat oleh Ling Kun-gi saja.

Maklumlah kedua orang ini memang sering perang dingin dan tarik urat.

Barupertama kali ini Kunginaik ketingkatketigayangjauh lebih sempit daripada tingkat kedua.

Thay-siang menempati ruang tengah, sebelah depannya ada sebuah ruang kumpul, di mana terdapat kursi berjajar, ditengahnya ada sebuah meja dan kursi.

Kamar tidur Thay-siang di sebelah dalam.

Di sebelah kiri masih terdapat dua kamar lagi, tertutup oleh kain gordyn yang tersulam indah, itulah tempat tinggal Pangcu dan Hu-pangcu.

Dari letak beberapa kamar ini, dapatlah disimpulkan jendela kamar Thay-siang tentu berada di sebelah kanan, jadi berlawanan dengan jendela kamar Pangcu dan Hupangcu.

Begitu Kun-gi melangkah masuk ruang pertemuan, Pek-hoa-pangcu lantas angkat tangannya, katanya.

"Silakan duduk cong-su Cia."

Kun-gi menjura, sahutnya.

"Hamba sebagai tertuduh yang patut dicurigai, biarlah berdiridisinisaja."

Tengah bicara, dua pelayan menyingkap kerai, tertampak Thay siang melangkah datang dari kamarnya.

Pek-hoa-pangcu, Hu-pangcu, Ling Kun-gi dan Giok-lan sama berdiri serta membungkuk menyambut kedatangannya.

Menyapu pandang wajah para hadirin, Thay-siang mengangguk serta berkata.

"Kalian sudah menemukan pembunuhnya?"

"Lapor Thay siang,"

Seru Pek-hoa-pangcu.

"Som-lo-ling dan jubah hijau sudah ditemukan, cuma . ...."

Thay siang menuju ke kursi besar berlapis bulu binatang dan duduk. dia lantas menukas.

"Baik, sekali kalau sudah ditemukan-"

So-yok menyela dengan gugup.

"Thay-siang, walau kedua barang ini ditemukan di kama cong-su-cia, tapi Tecu berpendapat pasti musuh sengaja hendak memfitnah dia."

Pek-hoa-pangcu menambahkan.

"Tecu juga berpendapat musuh sengaja hendak mengkambing hitamkan dia, harap Thay-siang suka periksa."

"Bagaimana duduk persoalannya? tanya Thay-siang. Maka So-yok lantas Ceritakan usul Ling Kun-gi serta Cara pemeriksaanseorangdemiseorang,lalu menggeledahkamar. Setelah mendengar laporan So yok, Thay-siang berkata.

"Haysiang, bawa kemari barang2 bukti itu."

Hay-siang mengiakan, tersipu-sipu dia persembahkan kotak perak dan jubah hijau itu dengan kedua tangannya.

Memegang kotak perak Som-lo-ling itu Thay-siang mengamati sekian lama dengan teliti, katanya kemudian.

"Benda ini amat ganas sekali, memang barang tiruan,yang mereka buat dari seorang ahli, tak ubahnya dengan barang aslinya."

Dia letakkan kotak itu, diatas meja lalu bertanya.

"Hay-siang, kau bilang pernah menyambit penyantron dengan panah, apakah timpukanmu mengenai sasaran?"

Hay -siang membungkuk, sahutnya.

"Lapor Thay-siang, lengan kanan jubah hijau itu ada lubang kecil, itulah bekas kena timpukan panah Tecu."

"Kau pernah melihat bayangan punggung pembunuh itu, apakah mirip Ling Kun-gi?"

Hay-Siang ragu2 sebentar, sahutnya.

"Gerak tubuh orang itu teramat cepat Tecu tidak melihat jelas wajahnya, jadi tak berani sembarang bicara, tapi kalau dilihat bentuk perawakannya memang rada2 mirip cong-su-cia."

"Nah, itulah,"ujarThay-siang. Berdegup jantung Pek-hoa-pangcu, Hu-pangcu dan Giok-lan serentak mereka berteriak.

"Thay-siang"

Sedikit menggerak tangan, Thay-siang cegah mereka bicara, matanya tertuju kearah Kun-gi, katanya.

"Ling Kun-gi, apa pula yang hendak kau katakan?"

Sikap Kun-gi tidak berubah, katanya membungkuk.

"Apa yang ingin hamba sampaikan tadi sudah dijelaskan oleh Hu-pangcu, Thay-siang maha bijaksana, salah atau benar persoalan ini tentu dapat diselidiki dengan adli, hamba terima apa saja putusan Thaysiang."

Karena mengenakan cadar, sukar dilihat bagaimana mimik muka Thay-siang, tapi Bok-tan, So-yok dan Giok-lan sama tertekan perasaannya, napas-pun terasa sesak.

Menoleh kearah Hay-siang, Thay-siang bertanya.

"Begitu kau melihat pembunuh lalu menyerangnya dengan panah? "

Hay-siang mengiakan.

"Waktu itu, berapa jauh jarakmu dengan dia?"

Hay-siang berpikir, sahutnya.

"Kira2 tiga tombak."

"Baik, Ling Kun-gi, putar badanmu dan majulah setombak lebih."

Pek-hoa-pangcu, So-yok dan Giok-lan t1dak tahu apa maksud Thay-siang, diam2 mereka berkuatir bagi Kun-gi. Jarak setombak setengah berarti sudah berada di luar kamar. Maka Kun-gi melangkah keluar.

"Sudah cukup, berhenti, kau berdiri saja di situ,"

Ucap Thaysiang.

"akan kusuruh Hay-siang menimpuk panah ke belakangmu, kau tak boleh berkelit, hanya boleh menyampuk dengan lengan bajumu, sudah tahu?"

Bahwa dirinya hanya boleh menyampuk ke belakang dengan lengan bajunya saja, Kun-gi lantas tahu ke mana maksud Thay-siang, cepat dia menjawab.

"Hamba mengerti."

"Hay-siang, kau sudah siap?"

Tanya Thay siang.

"Tecu sudah siap."

Sahut Hay-siang.

"Bagus, timpukpundak kanannya,"seruThay-siang. Sejak tadi Hay-siang sudah genggam sebatang panah kecil ditelapak tangan kanannya, belum lenyap seruan Thay-siang, tangan kanannyapun sudah terayun.

"Ser,"

Sebatang panah kecil bagaibintang meluncurkepundak kanan Ling Kun-gi.

Agaknya kali ini Kun-gi hendak pamer kepandaian, dia diam saja tanpa menoleh, setelah panah melesat tiba lebih dekat, tangan kanan pelahan mengebut ke belakang.

Gayanya indah gerakannya ringan dan gagah, lebih harus dipuji lagi karena dia memperhitungkan waktu dengan tepat, ujung lengan bajunya bergerak lamban seperti melambai tertiup angin, kebetulan panah kecil sambitan Hay-siang kena disampuknya.

"creng", panah kecil terbuat dari batang baja itu berdering nyaring seperti membentur benda keras, lengan baju Kun-gi lunak tapi panah baja itu kena disampuknya terpental balik.

"Tak", tepat dan persis menancap dipapan lantai didepan Hay-siang. Sudah tentu Hay-siang terperanjat dengan sigap dia berjingkrak mundur. Demontrasi kepandaian yang tiada taranya ini sungguh membuat kagum dan riang hati Pek-hoa-pangcu. Hu-pangcu dan lain, siapapun tak pernah membayangkan bila kepandaian silat Ling Kun-gi bukan saja tinggi, malah sudah begitu matang dan sempurna. Thay-siang manggut2 senang dan puas, kata-nya tersenyum ramah.

"Memang tidak malu sebagai murid Put-thong Taysu, balik sini."

Ling Kun-gi balik ke depan Thay-siang, katanya membungkuk.

"Thay-siang masih ada pesan apa?"

Lembut suara Thay siang.

"Perlihatkan kepada mereka, apakah ujung lengan bajumu tertimpuk berlubang oleh panah kecil itu?"

Panah kecil itu terbuat dari baja, bobotnya cukup lumayan, tapi lengan baju Ling Kun-gi ternyata tetap utuh tidak kurang suatu apa.

Dalam jarak setombak setengah panah kecil itu tak mampu melubangi lengan baju Kun-gi, apalagi kalau dalam jarah tiga tombak.

Seketika tersimpul senyuman riang lega pada wajah So yok.

Pek-hoa-pangcu dan Giok-lan diam2 juga menghela napas lega, rasa kuatir dan jantung dag-dig-dug tadi seketika sirna.

Hay-siang tunduk.

katanya.

"Ilmu sakti cong-su-cia tiada taranya, kiranya Tecu yang salah lihat orang."

Nyata nada bicaranyapun menjadi lunak dan putar haluan Thay-siang mendengus, kedua matanya mencorong menatap Ling Kun-gi, katanya kalem.

"Kalau Losin tidak mampu menilai orang, memangnya kuangkat dia menjadi cong-hou-hoat-su-cia? Kalau jabatan tinggi ini sudah kuserahkan padanya, maka aku harus percayabeginisajaakancarakeji musuhuntuk memfitnahdia?"

Sejak tadi sikap Kun-gi tetap tenang dan wajar meski dirinya difitnah dengan barang2 bukti yang memberatkannya, tapi setelah mendengar kata2 Thay-siang ini, tanpa terasa keringat membasahi badan, serunya hambar.

"Selama hidup hamba tidak akan lupa akan budi dan kebijaksanaan Thay-siang."

Sudah tentu ini bukan kata2 yang terlontar dari lubuk hatinya, tapidihadapan Thay-siangterpaksadia harusber-muka2. Nada Thay siang tiba2 berubah kereng.

"Ling Kun-gi, walau Losin memaafkan dan mengampunimu, tapi bangsat yang coba membunuh Losin itu menjadi tanggung jawabmu untuk membekuknya, kau mampu tidak?"

Kun-gi membungkuk, serunya.

"Sesuai dengan jabatanku hamba memang wajib membekuknya ."

"Aku berikan batas waktu untukmU membongkar perkara ini,"

Desak Thay-siang.

"Entah berapa lama batas waktu yang Thay-siang berikan kepada hamba."

Thay-Siang gebrak meja, serunya gusar.

"Dia berani coba membunuh Losin, memangnya Losin harus berpeluk tangan membiarkan dia bebas bergerak sesukanya, kau harus dapat membekuknya sebelum terang tanah atau kau menyerahkan batok kepalamu sendiri."

Tatkala itu sudah kentongan ketiga, kira2 masih satu dua jam lagisebelumfajar menyingsing..

Perkara ini masih merupakan teka teki, bayangan untuk menyelidikipun tiada, cara bagaimana harus membekuk biang keladi pelakunya.

Yang terang perintah harus dilaksanakan, walau waktu sudah teramat mendesak.

Pek-hoa-pangcu bermaksud mohonkan keringanan, tak terduga Kun-gi lantas menjura, katanya.

"Hamba terima perintah Thaysiang."

Tanpa ragu2 dia terima perintah yang menyudutkan dirinya ini.

Sudah tentu hal ini lagi2 membuat Pek-hoa-pang-cu, Hu-pangcu dan Giok -lan melengak heran, tanpa berjanji mereka sama tumplek perhatian padanya.

Thay-siang manggut2, katanya memuji.

"Losin tahu kau punya bakat dan mampu melaksanakan tugas."

"Thay-siang terlalu memuji, cuma hamba kebentur suatu hal yang menyulitkan ...."

"Ada kesulitan apa boleh kau katakan, Losin akan memberi kelonggaran padamu."

"Walau hamba sebagai cong-hou-hoat-su-cia dari Pang kita, tapi hak kuasa hamba terbatas, gerak lingkungan hamba hanya terbatas pada tingkat kedua maka, umpama tingkat ketiga ini bukan lagi menjadi daerah operasiku ....."

Terunjuk senyum lebar pada wajah Thay-siang di balik cadar, katanya.

"Baik", Lalu dia berpaling pada salah seorang pelayannya, katanya.

"Liu-hoa, pergilah ambilkan Hoa-sin-ling kemari, sampaikan pula perintah ku kepada semua orang, sejak kini sampai terang tanah nanti, Losin serahkan kekuasaan tertinggi kepada cong-su-cia sebagai wakil Losin untuk melaksanakan tugas, tak peduli Pek-hoapangcu atau Hu-pangcu juga harus siap terima tugas dan perintahnya, siapa berani membangkang akan dijatuhi hukuman yang berlaku."

Pelayan itu mengiakan-Baru saja dia bergerak hendak putar ke belakang, tiba2 Kun-gi berseru.

"Nona tunggu sebentar"-Lalu dia menjura kepada Thay-siang, katanya.

"Sudah cukup dengan kata2 Thay-siang tadi, tak perlu pakaiHoa-sin-ling segala.."

Tiba2 dia berkata kepada Giok-lan dengan ter-tawa.

"Thay-siang sudah serahkan kekuasaan untuk menjalankan tugas, tentunya congkoan sendirijuga telah dengar."

Pek-hoa-pangcu yang berdiri disamping hampir tidak berani percaya akan apa yang di dengarnya ini, sungguh dia tidak habis mengerti kenapa Thay-siang berubah begini mendadak?

Dan yang membuatnya heran adalah Ling Kun-gi, entah akal muslihat apa pula yang tersembunyididalam benaknya.

Demikian pula So-yok mempunyai rasa curiga yang sama, kedua matanyaterbeliak menatap Kun-gitanpaberkedip.

Mendengar ucapan Kun gi, lekas Giok-lan menjura, sahutnya.

"Hamba sudah dengar."

Lebar tawa Kun-gi, katanya balas menjura.

"Kalau begitu tolong congkoan sampaikan perintahku, suruhlah ketujuh TayCia datang kemari."

Hay-siang sudah berada disini, berarti Giok-lan harus memanggil enam Tay-cia yang lain-Setelah mengiakan Giok-lan lantas keluar. Kun-gi menjura pula kepada So-yok, katanya.

"Ada pula sebuah tugas, mohon Hu-pangcu suka membantu."

So-yok mengerling penuh arti, katanya tertawa.

"cong-su-cia hendak menugaskan apa?"

"cayhe minta Hu-pangcu suka berjaga dipintu keluar, kalau ada orang berusaha melarikan diri, harap Hu-pangcu membekuknya hidup2, kalau terpaksa boleh juga membunuhnya ."

"Memangnya perlu dijelaskan, siapa berani melarikan diri lewat pintu, pastitidak akan kulepasdia."

"Hu-pangcu perlu hati2, bukan mustahil kalau kepepet orang itu jadi nekat, diapun bisa menggunakan Som-lo-ling,"

Kun-gi memperingatkan "Aku tahu,"

Ucap So-yok.

"begitu ia merogoh kantong, akan segera kuserang dulu, umpamanya kutabas lengannya."

"Tapi Hu-pangcu harus bertindak menurut aba-abaku."

So-yok cekikik geli, katanya.

"Aku tahu, aku akan menurut petunjukmu."

"Terima kasih Hu-pangcu, sekarang silakan kau berdiri dipintu."

Sambil memegang gagang pedang dipingggang So-yok keluar dan berdiri di ambang pintu. Kun-gi menghadapi Pek-hoa-pangcu lalu katanya."SilakandudukPangcu."

Pek-hoa-pangcu melirik mesra, tanyanya.

"cong-su-cia tidak memberitugas kepadaku?"

"Tidak. silakanPangcu duduksaja."

Karena Kun-gi bekerja mewakili Thay-siang, maka Pek-hoa-pangcu menurut saja permintaan Kun-gi, dia duduk di sebuah kursi di bawah Thay siang.

Sementara Thay-siang tetap duduk di kursi kebesarannya tanpa bersuara, dia melihat saja apa yang dilakukan Ling Kun-gi tanpa memberi komentar karena dirinya tidak dihiraukan, tak tahan Hay-siang buka suara.

"cong-su-cia, apakah hambatidakdiberi tugas?"

Kun-gi tertawa, ujarnya.

"Nona adalah saksi satu2nya yang melihat bayangan musuh, kunci membongka peristiwa malam ini berada dipundak nona,"

Lalu tangannya menuding.

"Silakan nona duduk di sebelah Pangcu."

Hay-siang mengiakan lalu duduk di tempat yang di tunjuk.

Kerai tampak tersingkap.

Giok-lan melangkah masuk lebih dulu, di belakangnya mengikuti ber-turut2 adalah Bi-kui, Ci-hwi, Hu-yong, Hong-sian, Giokju dan Loh-bi-jin.

Giok-lan menjura kepada Kun-gi, serunya.

"Lapor cong-su-cia, enam Taycia yang lain sudah kumpul seluruhnya."

Keenam Taycia ini dipimpih oleh Bi-kui (Un Hoan-kun), melihat So-yok berjaga di pintu, semuanya tertegun, ter-sipu2 mereka berlutut dan berseru bersama.

"Tecu menghadap Thay-siang."

Thay-siang angkat tangan, katanya.

"Bangunlah, kalian harus tunduk kepada cong-su-cia, malam ini dia bekerja mewakili Losin untuk menyelesaikan perkara besar. kalian harus dengar perintahnya, tidakboleh membantah."

Para Taycia sudah tahu akan peristiwa usaha pembunuhan atas junjungan mereka dan Ling Kun-gi sebagai tertuduh utama, sungguh tak nyana dari nada bicara Thay-siang sekarang tertuduh justeru diberi kuasa mewakilinya untuk mengusut perkara ini, Pangcu mereka sendiripun harus tunduk di bawah perintahnya, keruan jantung mereka ber-debar2.

Sudah tentu yang paling merasa diluar dugaan adalah Bi-kui samaran Un Hoan-kun, sehingga ia melirik kearah Kun-gi.

Giok-lan bawa keenam orang ini berbaris di depan Kun-gi.

Sambil mengawasi Bi-kui, Kun-gi berkata.

"Nona Bi-kui, harap maju."

Di antara ke-12 Taycia Bi-kui mendapat urutan nomor sembilan, tapi dalamperjalanan kali ini dia merupakan tertua daritujuh Taycia yang ikut, maka Kun-gi menampilkan dia, Un Hoan-kun segera tampil ke depan Kun-gi.

"Silakan duduk,"

Kata Kun-gi menunjuk sebuah kursi di depannya sana. Sedikit merandek, akhirnya Un Hoan-kun duduk di kursi yang teraling meja bundar di depan Kun-gi.

"Lepaskan kedok nona,"

Kata Kun-gi.

Perlu diketahui Un Hoankun sudah dirias oleh Kun-gi sehingga sekarang bukan dengan wajah aslinya, maka dia tidak usah kuatir akan konangan kepalsuannya, tanpa ragu2 dia mengelupas kedok mukanya.

Tajam pandangan Kun-gi, sekian lamanya dia mengamati wajah orang, akhirnya manggut2, katanya.

"Baiklah, nona boleh pakai lagi kedok itu."

Un Hoan-kun segera tempelkan lagi kedok mukanya yang tipis ke wajahnya serta mengelusnya dengan telapak tangan, tanyanya.

"Masih ada pesan lain cong-su-cia?"

"Nona boleh kembali ke tempat semula,"

Ujar Kun-gi, lalu dia angkat kepala dan berkata pula.

"NonaCi-hwisilakan maju."

Ci-hwi segera duduk juga dihadapannya.

"Bukalah kedok nona,"

Kata Kun-gi.

Karena Thay-siang sudah keluarkan perintah, terpaksa dia mencopot kedoknya meski dengan rasa berat.

Duduk berhadapan dengan pemuda gagah cakap ini, setelah kedok mukanya dicopot, tampak wajahnya yang putih halus bersemu merah jengah.

Kun-gi juga mengamati muka orang sekian lama dengan teliti, akhirnya menyuruhnya mengenakan kedok dan kembali ketempatnya.

Para Taycia yang lain tidak luput mengalami pemeriksaan yang sama, semua sama menunduk malu dengan muka merah, enam Taycia sudah di-periksa wajah aslinya, tinggal Hay-siang seorang yang belum diperiksa.

Kun-gi berdiri lalu katanya kepada para Taycia dengan tertawa.

"Sekarang para nona boleh kembali, sementara nona Bi-kui harap tinggal di sini, ada tugas lain untuk nona."

Un Hoan-kun menjura, sahutnya.

"Hamba menunggu perintah."

Lima Taycia mengundurkan diri. Hay-siang bersuara.

"cong-su-cia tiada tugas untukku bukan?"

"Tadi sudah kubilang, untuk membongkar peristiwa malam ini, bantuan nona amat diharapkan, sudah tentu kau harus tetap di sini."

Lalu ia berpaling kepada Giok-lan-"cayhe masih menyusahkan congkoan, suruhlah 20 dara kembang yang ada naik kemari."

"Dara2 kembang itu dipimpin oleh cap-go-moay (Loh-bi-jin), Cukup hamba memberitahu kepadanya supaya membawanya kemari."

Habis berkata dia keluar dan Cepat sekali sudab kembali pula. Tidak lama kemudian Loh-bi-jin sudah melangkah masuk. katanya membungkuk.

"20 dara kembang sudah hadir seluruhnya, apakahcongsu-ciahendaksuruh merekamasukkemari?"

"Tempat ini sempit, suruhlah mereka masuk satu persatu,"

Ujar Kun-gi, Loh-bijin mengiakan lalu menyapa keluar, seorang dara terdepan segera melangkah masuk. Loh-bi-jin berkata.

"Gong-su-cia ingin berkenalan dengan kalian, majulah."

Melihat Thay-siang, Pangcu dan lain2 sama hadir, dengan menunduk dan gemetar dia melangkah ke depan Ling Kun-gi, katanya sambil bertekuk lutut dan merangkap kedua tangan.

"Hamba menyampaikan hormat kepada cong-su-cia."

Para dara kembang ini tiada yang mengenakan kedok, maka Ling Kun-gi tidak perlu menggunakan banyak waktu, dengan tertawa dia cuma pandang kiri lihat kanan, lalu tanya Siapa namanya dan di Suruhnya keluar.

Dalam waktu Singkat 20 dara kembang telah diperiksanya Semua, dia berdiri memberi Salam kepada Loh-bi-jin.

"Bikin Susah nona saja, boleh kau bawa mereka turun."

Diam2 Loh-bi-jin menggerutu dalam hati, suruh mereka naik, kerjanya cuma menikmati wajah para dara yang jelita dan tanya namanya saja, memangnya apa maksudnya?

Tapi dihadapan Thay-siang dan Pangcu sudah tentu dia tak berani bertingkah, lekas dia membungkukserta menjawab.

"Baiklah, hamba mohondiri."

Pek-hoa-pangcu dan So-yok diam2 saja mengawasi tingkah Ling Kun-gi yang mirip pemuda binal sedang memilih kesukaan, mereka heran dan tak habis mengerti apa maksud Kun-gi.

Thay-siang diam saja se-olah2 setuju tindakan Ling Kun-gi..

Semua sudah mengundurkan diri, tinggal Bi-kui seorang yang ditahan disini, memangnya Bi-kui inikah mata2 musuh?

Sejak tadi So-yok ber-diri di depan pintu, setelah semua orang pergi, tanpa kuasa dia bertanya.

"cong-su-cia, tugasku sudah selesai?"

"Belum, kau belumboleh meninggaikan tugas-mu,"

Ujar Kun-gi. Hay-siang berkata.

"Bayangan yang kulihat terang seorang laki2, orang2 yang diperiksa cong su-cia justeru para saudara kita yang nona, kenapa yang laki2 tidak diperiksa?"

Kun-gi tertawa, katanya.

"Para Taycia dan dara2 kembang ini semuanya belum kukenal. Sementara para Hou-hoat su-cia yang ada boleh di katakan setiap hari berkumpul bersamaku, dan keadaan mereka sudah Kuketahui jelas, sudah tentu tak perlu kuperiksa mereka."

"Jadi cong-su-cia sudah memperoleh apa yang diharapkan?"

Tanya Hay-siang.

"Belum,"

Ujar Kun-gi menggeleng.

"sekarang giliran nona, harap dudukdan copotkedokmu, biarkuperiksajuga."

Hay-siang malu2, katanya.

"Apakah cong-su-cia mencurigai hamba?"

Pelan2 tangannya mengelupas kedok mukanya yang tipis halus.

Hay-siang memiliki seraut wajah bundar, kulitnya putih mulus, sepasang matanya tampak hidup lincah, bibirnya tipis, memang sesuaisekali dengannamayangdiberikan kepadanya.

Sorot mata Kun-gi mendadak tajam, katanya tertawa.

"Berhadapan dengan wajah molek begini tidak puas hanya memandangnya berhadapan, ingin kududuk disampingnya dan merebahkan diri menikmati kecantikan yang molek ini."

Betul juga dia lantas duduk di sisinya mengawasi wajah Hay-siang dari samping kiri lalu ke samping kanan.

Sungguh aneh, di hadapan Thay-siangdia beranibertindakbegini kasar.

Sudah tentu Pek-hoa-pangcu merasa heran, sedangkan So-yok yang berdiri di depan pintu segera melengos, wajahnya merah bersungut.

Sementara pipi Hay-siang sendiri menjadi merah, katanya menunduk.

"cong-su-cia jangan menggoda."

Kun-gi tidak pedulikan, dia putar ke belakang dan berdiri sejenak seperti seorang pembeli yang sedang menikmati barang pilihannya saja, sementara mulut bersenandung membawakan syair pujangga dinasti Tong.

Sudah tentu Hay-siang tidak tahu apa maksud orang bersenandung, karena dirinya dipuji, hatinya merasa senang.

namun rasa malunya semakin jadi, akhirnya tak tahan dia berkata.

"Sudah puas cong-su-cia?"

Kun-gi goyang2 tangannya.

"Nanti dulu nona"

Dari kantong bajunya dia keluarkan kotak gepeng serta membuka tutupnya, dijemputnya sebutir obat warna madu terus diangsurkan, katanya dengan tertawa tawar.

"Sayang sekali kalau pupur menutupi warna yang asli, kukira nona terlalu tebal memakai pupur, bagaimana kalau nona cuci muka saja?"

Obat bundar berwarna seperti madu itu adalah obat khusus untuk mencuci muka yang telah di make-up, Mendadak berubah hebat sikap Hay-siang, tiba2 dia berjingkrak berdiri, baru saja pergelangan tangannya terayun.

Tapi Kun-gi lebih cepat lagi, jari tangan kiri dengan enteng menyentik, sejulur angin segera menerjang Ki-ti-hiat di pergelangan tangan Hay-siang, mulutpun tertawa.

"Lebih baik nona tetap duduk saja, ada pertanyaan yang ingin kuajukan padamu."

Pada saat Hay-siang berjingkrak berdiri itulah, Bi-kui alias Un Hoan-kun telah bertindak pula di belakang Hay-siang, kedua tangan bekerja cepat, beruntun dia tutuk tiga Hiat-to besar dipunggung orang, lalu menekan pundak orang, bentaknya.

"Duduk"

Tanpa kuasaHay-siangtertekanduduk kembali dikursinya. Thay-siang manggut2 dan berkata sambil tersenyum senang.

"Ternyata kau memang sudah tahu akan dia."

Serius sikap Ling Kun-gi, katanya.

"Thay-siang serba tahu, soal ini tentunya juga sudah di-ketahui. Waktu hamba memeriksa kamar tadi kudapati jendela terbuka, kucium pula bau pupur yang tertinggal di dalam kamar dan pupur itu sama dengan bau pupur yang dipakainya, cuma waktu itu belum berani kupastikan, kini setelah melihat make-up dimukanya baru aku lebih yakin dan ternyatamemangterbuktibetul adanya."

Thay-siang mengangguk. ujarnya.

"Betul, gurumu ahli rias yang tiada duanya di kolong langit, cara make-up yang dia gunakan ini, sudah tentu takkan bisa mengelabui dirimu yang cukup ahli pula dalam bidang ini."

Kaget dan girang hati So-yok, katanya sambil melerok.

"Kenapa tidak kau jelaskan sejak tadi."

"Tentunya Hu-pangcu sudah lihat, baru saja cayhe sendiri memperoleh buktinya."

Sahut Kun-gi. Pek-hoa-pangcu menghela napas, katanya.

"Dia ternyata bukan cap-si-moay, tentu cap-si-moay sudah dia Celakai."

Kun-gi serahkan obat berwarna madu itu kepada Bi kui, katanya.

"Tolong nona, remas saja obat ini di telapak tangan dan poleskan ke mukanya,bahanmakeupdi mukanyaakantercucibersih."

Bi-kui lantas bekerja, obat itu dia taruh di tengah telapak tangan terus di-gosok2 lalu mulai memoles di muka Hay-siang.

Memang aneh sekali, di mana jari2nya bergerak di muka Hay-siang, bahan2 rias di muka Hay-siang seketika mengelotok lenyap.

dengan cepat wajah Hay-siang nan molek itu sudah berganti rupa.

Dia ternyata seorang perempuan berusia sekitar 25, bentuk wajahnya bundar agak mirip Hay-siang yang asli.

Kerena tertutuk Hiat-tonya oleh Bi-kui, kecuali kedua biji matanya yang masih bisa bergerak, mulutpun tak mampu bersuara.

Kun-gi bertanya kepada Bi-kui.

"Nona, buka-lah Hiat-to yang membisukan dia itu."

Bi-kui memukul pelahan di belakang leher Hay-siang. Hay-siang menjerittertahan, gerahamnyatampakbisabergerak. Tiba2 Kun-gi membentak pula.

"Lekas tutuk lagi Hiat-to pembisunya."

UntungBi-kui bekerjacepatdansigap. sekali gerakdiatutuk pula Hiat-to bisunya. Kata Kun-gi.

"Sekarang nona buka lagi tutukan Hiat-to barusan, cuma gunakan tenaga lebih keras sedikit."

Bi-kui menurut petunjuk.

telapak tangan terangkat, dia gablok keras tengkuk Hay-siang.

Kembali Hay-siang menjerit, dari mulutnya mendadak mencelat keluar sebutir obat bungkus lilin sebesar kacang tanah.

Sigap sekali Kun-gi menyambarnya, katanya tertawa.

"Sepatah kata saja belum nona katakan, mana boleh kubiarkan kau mampus?"

Mendelik mata Hay-siang, semprotnya.

"Kau menggagalkan tugasku, aku benci padamu."

"Nona harus salahkan dirimu sendiri,"

Ujar Kun-gi.

"Kenapa kau memfitnah diriku?"

"Kau kira aku akan mengaku? Hm, mau bunuh atau hendak disembelih boleh silakan, jangan kau harap akan mendapatkan keterangan dari mulutku."

So-yok mengejek.

"Keparat kurang ajar, jiwamu sudah berada di tangan kami masih berani bertingkah? Kalau tidak diberi ajaran kau tidak tahu kelihayanku."

Sembari bicara dia lantas melangkah masuk. Hay-siang menyeringai ejek.

"orang2 Pek-hoa-pang siapa yang tidak tahu kalau kau bertangan gapah dan berhati keji, tidak punya rasa perikemanusiaan, memangnya kau berani berbuat apa terhadap diriku"

Mengelam wajah So-yok saking murka, teriaknya.

"Kau kira aku tidakberani membunuh mu?"

PedangSo-yoksegera menusuk kebelakang kepalaHay-siang..

"Ji-moay .....

"teriakPek-hoa-pangcu. Tapi Kun-gi turun tangan lebih cepat lagi, jarinya menjentik sekali.

"creng", sejalur angin kencang membikin pedang So-yok tergetar sehingga menusuk tempat kosong, katanya.

"Jangan Hupang-cu tertipu olehnya, sengaja dia memancing kemarahanmu, maksudnyasupayabisa matiseketika."

Thay-Siang yang duduk di atas sana manggut2, katanya tersenyum.

"So,-yok, kau memang terburu nafsu, kalau gurumu mau membunuh dia, ketika dia menyambit dengan Som-lo-ling tentu jiwanya sudah amblas, memangnya kau kira gurumu tidak tahu kalau penyerangnya ialah dia ini? Kalau langkahnya tidak gurumu ketahui, sia2lah aku berkedudukan sebagai Thay-siang. Terus terang, gurumu memang sengaja ingin melihat permainan licin apa yang akan dia lakukan pula, di samping itu akupun ingin menguji ketrampilan kerja Ling Kun-gi, sampai di mana kecerdikannya pula, maka peristiwa ini kuserahkan kepada Ling Kun-gi untuk membongkarnya. Kalau menuruti watakmu yang sembrono itu, susah payah Ling Kun-gi setengah malam ini bukankah akan sia2 belaka?"

Merah muka So-yok. katanya menunduk.

"Peringatan guru memang betul."

Kun-gi berdiri tegak lalu menjura ke arah Thay-siang, katanya.

"Terlalu tinggi Thay-siang menilai hamba, untuk ini hamba merasa gugup sekali."

Ramah tawa Thay-siang, katanya.

"Kenyataan sudah demikian, kini kau sudah bongkar kejahatan ini, soal mengompes keterangan dari mulutnya tetap kuserahkan padamu, kau harus berhasil memperoleh keterangannya."

"Hambaterima perintah,"seruKun-gi sambil menjura.

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com /

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com / Hay siang mengertak gigi, katanya mendesis.

"orang she Ling, kau membongkar kedokku, semakin besar pula kepercayaan Thaysiang terhadap-mu, semakin tinggi pula kedudukkanmu, sekali gebrak berhasil mengangkat dirimu, mungkin kau akan menjadi calon suami sang Pangcu, ini tentu akan memuaskan cita2mu, tapi untuk mengorek keterangan dari mulutku, jangan kau harap"

Tawar tawa Kun-gi, katanya sembari menghampiri Hay-siang, suaranya lembut.

"Nona sendiri sudah dengar, Thay-siang memberi tugas kepadaku untuk mengorek keteranganmu maka kuharap nona tahu diri."

"Kau hendak menyiksaku?"

Tanya Hay-siang.

"Syukurlah kalau nona tahu?"

Kata Kun-gi. Penuh kebencian nada Hay-siang.

"Kau adalah murid paderi Siaulim yang agung dan kosen, sampai hati kau mengorek keterangan mulut seorang perempuan dengan cara kekerasan, memangnya tidak takut merendahkan derajat dan merusak nama baik perguruanmu?"

Kun-gi bergelak-tawa, katanya.

"Salah nona, guruku Hoan jiu julay sudah keluar dari Siau-lim, maka hakikatnya beliau bukan murid Siau-lim lagi, kalau ada orang bilang aku ini lurus, aku akan bertindak lurus, bila dikatakan aku sesat, aku malah akan bertindak lebih sesat, soal perguruan tidak pernah kupikirkan,jangan kau menakutidirikudengan embel2 itu."

Merandek sejenak lalu dia menyambung.

"Perlu kuberitahu kepada nona, jika kau mau bicara terus terang, menjawab apa yang ...."

Sebelum Kun-gi habis bicara, tiba2 Hay-siang angkat kepala.

"cuh", se-keras2nya dia meludah ke muka Ling Kun-gi. Jarak mereka teramat dekat, sudah tentu Kun-gi tidak sempat menghindar, maka mukanya basah berlepotan ludah. Bi-kui naik pitam, sekali tempeleng dia gampar muka Hay-siang sekeras2nya, teriaknya.

"Berani kau kurang ajar terhadap cong-sucia."

Hay-siang tertawa dingin, jengeknya.

"Bagus sekali pukulanmu, memangnya kau juga kepincut pada orang she Ling ini. Hm Bok-tan, So-yok. semua rela mengorbankan kesucian sendiri padanya, memangnya kau juga mau ........"

Merah jengah wajah Bok-tan, So-yok dan Giok-lan mendengar ocehan ini. Malu dan murka pula Bi-kui, hardiknya gusar.

"Berani usil mulutmu."

Kembalitanganterayun, diagamparpula mukaorang, Panas muka Kun-gi mendengar ocehan Hay-siang yang terang2an itu, dia angkat lengan baju membersihkan kotoran di mukanya, lalu mencegah gamparan Bi-kui lebih lanjut, katanya kepada Hay-siang.

"Nona juga seorang perempuan kenapa bicara sekotor ini, kalau nona tetap berkeras kepala, jangan salahkan aku tidakkenal kasihan lagi."

"Kau boleh bunuh aku saja,"

Teriak Hay-siang. Kun-gi tersenyum, katanya ramah.

"Agaknya nona amat bandel dan tak mau mendengar nasehat-ku, terpaksa kau akan merasakan betapa siksa derita bila darah tubuhmu mengalir sungsang terbalik, seharikautidak bicara, seharijiwamutidakakan melayang, asalkau sanggup bertahan, berapa lama terserah pada dirimu"

"Buat apa Ling-heng hanya bicara saja?"

Desak So-yok tak sabar.

"Tidak, cayhe harus jelaskan lebih dulu, supaya dia ada waktu untuk mempertimbangkan."

"Aku tidak akan mengaku, kau boleh mulai dengan siksaanmu,"jawab Hay-siang ketus.

"Kuberi waktu satu jam, kau boleh katakan siapa namamu, siapa yang mengutusmu kemari, berapa banyak komplotanmu yang ada di kapal ini?"

Sorot mata Hay-siang diwarnai dendam membara, teriaknya keras.

"Aku adalah ibu gurumu, Hoan-jiu ji-lay yang menyuruhku kemari ......."

Mencorong sorot mata Ling Kun-gi, desisnya dingin.

"Dengan baik hati kuberi nasehat, kau malah bermulut kotor, baiklah biar kau rasakan dulu betapa nikmatnya bila darahmu menyungsang balik,"

Sembari bicara sekaligus ia menutuk delapan Hiat-to di tubuh Haysiang, gerakannya amat cepat, seperti menutuk tapi juga seperti mengusap saja.jelas gayanya berbeda dengan ilmu tutuk umumnya.

Tubuh Hay-siang seketika mengejang gemetar, seperti orang mendadak terserang malaria, terasa darah sekujur badannya mendadak bergolak.

semua menuju ke ulu hati.

"sekarang masih ada waktu kalau kau mau bicara,"

Desak Kun-gi.

Walau sudah kesakitan Hay-siang tetap bandel, dia pejamkan mata tanpa bUka sUara.

Tapi hadirin jelas menyaksikan dalam waktu sesingkat ini, wajahnya yang semula putih halus telah berubah merah melepuh seperti darah, badannya kelejetan, keringat dingin sebesar kacang membasahi mukanya, tapi dia tetap mengertak gigi, bertahan mati2an darisiksaantanpa mau berbicarasepatahkatapun.

Kira2 semasakan air terdengar Hay-siang merintih, teriaknya serak.

"Kau bunuhlah aku saja."

Mendadak tubuhnya terguling, kiranya jatuh pingsan.

"Budak bangsat sungguh bandel sekali,"

Thay-siang menggeram dingin. Sekali mengebas tangan kiri, Kun-gi buka Hiat-to di badan orang, lalu menutuknya pula pada dua Hiat-to yang lain, katanya kepada So-yok.

"Hu-pangcu, cayhe ingin pinjam kamarmu, apa boleh?"

Merah muka So-yok. katanya.

"Untuk apa?"

Kun-gi tersenyum, katanya.

"Untuk ini harap Hu-pangcu jangan tanya."

Kata So-yok.

"Itulah kamarku, silakan masuk."

"Terima kasih Hu-pangcu,"

Ucap Kun-gi lalu ia memanggil Bi-kui, katanya "Marilah nona ikut masuk."

Bi-kui ragu2, katanya.

"cong-su-cia ....."

"Bi-kui,"

Seru Thay-siang.

"cong-su-cia menyuruhmu, kau boleh ikut masuk tak usah banyak tanya."

Bi-kui membungkuk sahutnya.

"Tecu terima perintah."

"Saat latihan sudah tiba. perkara ini kuserahkan padamu untuk membongkar seluruhnya, kekuasaan penuh kuberikan padamu,"

Ujar Thay-Siang sambil berdiri.

"Terima kasih Thay-siang, musuh dalam selimut yang ada kapal ini akan hamba jaring seluruhnya,"

Seru Kun-gi sambil menghormat. Thay-siang mengangguk. ujarnya.

"Ya, kau memang anak baik."

Lalu melangkah ke dalam. Setelah Thay-siang masuk. Kun-gi menjura kepada Pek hoa-pangcu dan Hu-pangcu, katanya.

"Pang cu dan Hu-pangcu harap tetap duduk dan tunggu saja di sini."

Lalu dia memanggil Bi-kui.

"Marilah, nona ikut cay he."

Karena sudah dipesan oleh Thay-siang, tak berani Bi-kui membantah, terpaksa dia ikut Kun-gi masuk ke kamar So yok. Begituberadadidalamkamar Kuu-gisegera menutup pintu.

"Untukapa ini"

TanyaUnHoan-kun lirih.

"Kuminta nona suka menyamar seseorang."

"Menyamar siapa?"

"Janganbanyaktanya, lekasbukakedokmu."

Un Hoan-kun mengelupas kedok mukanya, sementara cepat sekali Kun-gi sudah keluarkan bahan2 rias dalam kotak kayunya, pertama dia cuci bersih wajah Un Hoan-kun.

lalu secara teliti dia merias wajah orang menjadi bentuk lain Kira2 satu jam lamanya baru dia membereskan barang2nya ke dalam kotak serta disimpan dalam baju, katanya.

"Sejak kini nona tidak usah lagi mengenakan kedok, duduk saja di kamar ini, menunggu panggilan baru boleh keluar."

Lembut suara Un Hoan-kun.

"Ya, kuturut segala petunjukmu."

"Terima kasih nona,"

Ucap Kun-gi seraya membuka pintu dan keluar, daun pintu dia tutup pula dari luar.

Sudah tentu Bok-tan, So-yok dan Giok-lan tidak tahu apa kerja Kun-gi bersama Bi-kui di-dalam kamar tertutup sekian lamanya?

Melihat dia keluar, sorot mata mereka setajam pisau menatapnya.

Anehnya setelah keluar dia tutup pula pintu dari luar, jadi Bi-kui dia kurung didalam kamar.

Dasar suka blingsatan, So-yok tak tahan, tanyanya.

"Ling heng, mana Bi-kui? Apakah dia mata2 musuh?"

"Sebentar lagi Hu-pangcu akan jelas duduk persoalannya,"

Sahut Kun-gi. Lalu ia berpaling ke arah Giok-lan, katanya.

"Kini mohon bantuan congkoan lagi"

"Tidakapa,"sahutGiok-lan-"Adapesanapacong-su-cia."

"Harap congkoan panggil Loh-bi-jin kemari dengan membawa empatdara kembang,"lalu iaberbisik beberapapatahkatapula. Giok-lan berkata.

"Hamba mengerti."

Lalu berjalan keluar. So-yok melerok pada Kun-gi, katanya.

"Ling-heng, sebetulnya langkah apa yang sedang kau atur?"

Pek-hoa-pangcu juga tertawa, katanya "Kukira cong-su cia sudah punya perhitungan matang, buat apa Ji-moay banyak tanya, nonton saja dengan sabar, nanti kau juga akan mengerti."

"Aku tidak sabar melihat caranya jual mahal, bikin dongkol saja,"

Omel So-yok. Lebar senyum Kun-gi, katanya membungkuk.

"Rahasia alam tidak boleh bocor, hamba harus berikhtiar dan memutuskan langkah2 yang penting, untuk ini harap pangcu, Hu-pangcu maklum."

So-yok melerok pula, katanya sambil cekikiksan.

"Sekarang Lingheng adalah orang kepercayaan Thay-siang, bila Thay-siang sudah serahkan kuasa padamu untuk membongkar peristiwa ini, memangnya siapa yang berani menyalahkan kau."

Tengah bicara Giok-lan tampak menyingkap kerai berjalan masuk, katanya.

"cap-go-moay telah datang."

"silakan dia masuk."

Ujar Kun-gi. Loh-bi-jin mengiakan di luar pintu, lalu katanya kepada orang2 di belakangnya.

"Cucu, kau ikut aku masuk. kalian bertiga tunggu gilirandiluarsini."-Laludiasingkapkeraidanberjalan masuk. Cu-cu ikut di belakang Loh-bi-jin. begitu masuk langsung ia melihat Hay-siang yang meringkuk lemas di lantai dengan wajah yang sudah tercuci bersih, seketika dia bergidik ngeri, serta merta langkahnya agak merandek.

"NonaCu-cu,"

KataKun-gitertawa.

"tolongkau papahdia."

Cu-cu mengiakan sembari menghampiri Hay-siang dengan takut2, baru saja dia membungkuk badan secepat kilat telunjuk jari Kun-gi menutuk Hiat-to di belakang badannya.

Tanpa ayal Giok-lan maju mengempitnya terus diseret ke kamar So-yok.

Cepat2 Kun-gi dorong daun pintu sembari berkata kepada Bi-kui.

"Lekas nona tukar pakaian dengan dia."

Giok-lan Cepat menutup pintu.

Tak lama kemudian pintu terbuka lagi, Giok-lan melangkah, keluar bersama Cu-cu Semua orang tahu Cu-cu yang satu ini adatah samaran Bi-kui.

Tanya Kun-gi lirih kepada Loh-bi-jin.

"Apakah nona sudah mempersiapkan seluruhnya?"

Loh-bi-jin mengangguk. sahutnya.

"Sudah kusampaikan pesan sesuaipermintaancong-su-cia, semuanyasudah siap."

"Baik sekali, sekarang boleh nona menggusurnya keluar,"

Kata Kun-gi. Dengan bimbang Loh-bi-jin bertanya.

"Apa betul tidak perlu menugaskan beberapa orang lain untuk menjaganya?"

"cayhe sudah menutuk beberapa Hiat-tonya, sementara dia kehilangan kepandaian silatnya, nona Cukup bekerja menurut rencana yang telah kuatur itu."

"Hamba mengerti,"

Sahut Loh-bi-jin, dia membalik kepintu lalu memanggil "Kalian masuk lagiseorang."

Seorang dara kembang mengiakan dan melangkah masuk. Kata Loh-bi-jin sambil menuding.

"Kalian gusur dia keluar."

Cu-cu tiruan alias Bi-kui dan dara kembang baru ini mengiakan, mereka angkat tubuh Hay-siang terus dibawa keluar. Loh-bi-jin tidak berani gegabah, lekas dia membungkuk.

"Hamba mohon diri "

Cepat2 dia ikut keluar menjaga Hay-siang. So-yok bertanya.

"Ling-heng, Cu-cu masih ada dikamarku, apa tindakanmu terhadapnya?"

"orang ini lebih penting dari Hay-siang, kita harus mengompes keterangan dari mulutnya, sebentar kumohon Hu pangcu sendiri yang mengompes dia."

"Kenapa aku yang mengompesnya?"

Tanya So-yok.

"Karena Hu pangcu juga menjabat kepala Hukum, biasanya melaksanakan peraturan sekokoh gunung, seluruh anggota Pang kita sama segan dan hormat kepadamu, kalau Hu pangcu yang tanya dia pasti dia takut dan mau bicara terus terang."

So-yok mencibir,jengeknya.

"Kenapa tidak katakan saja ini perempuan galak dan bawel."

"Sebagai pelaksana hukum yang harus memegang teguh peraturan sudah tentu Hu pangcu harus bermuka kaku dingin tanpa kenalbelaskasihan terhadapyangsalah,"ujar Kun-gi. Cerah sorot mata So-yok. katanya tersenyum.

"Kau memang pandai bicara"

Tampak kerai tersingkap. ternyata Bi-kui telah kembali. Kini dia telah ganti seperangkat pakaian warna hijau kembang, mengenakan kedok muka Bi-kui yang asli lagi.

"Kiu-moay,"seruSo-yokheran.

"kenapa kau kembali?"

Bi-kui memberi hormat, katanya tertawa.

"cong-su-cia suruh hamba untuk mendengarkan apa2 yang terjadi di sini."

"o."

So-yok bersuara singkat, lalu dia bertanya sambil menatap Kun-gi.

"Sekarang boleh mulai?"

"Waktu amat mendesak. lebih Cepat lebih baik,"

Ujar Kun gi. So-yok membalik, katanya kepada Pek-hoa-pangcu.

"Toaci silakan duduk di atas,"

Lalu dia berkata kepada Giok-lan dan Bi-kui.

"Sekarang harap Sam-moay dan Kiu-moay gusur Cu-cu keluar."

Ruang sidang ini adalah tempat kediaman Thay-siang, tanpa dipanggil para pelayan tidak berani masuk, maka sekarang terpaksa Giok-lan dan Bi-kui harus kerja sendiri, atas perintah So-yok mereka gusur Cu-cu keluar dari kamar.

Kun-gi serahkan sebutir obat mencuci bahan rias pada Giok-lan dan Giok-lan langsung mencuci bersih wajah Cu-cu dengan obat yang diterimanya itu.

Cu-cu yang asli baru berusia 17-an, ternyata gadis yang menyamar jadi Cu-cu ini kelihatan juga baru berusia 17an So-yok duduk pada kursi disebelah bawah tempat duduk Pek-hoa-pangcu, lalu memberi tanda anggukan Kepada Giok-lan dan Bikui.

Sekali gablok Giok-lan buka tutukan hiat-to Cu-cu.

seketika gadis yang menyaru Cu-cu membuka mata dan mendapati dirinya rebah di lantai, sesaat dia melenggong, waktu dia angkat kepala, di lihatnya Pangcu, Hu pangcu, cong-su-cia dan lain2 berada di Sekelilingnya.

diam2 hatinya terkesiap.

bergegas dia merangkak dan menyembah, serunya.

"Hamba menyampaikan sembah hormat kepada Pangcu, Hu pangcu ... ."

Tegak alis So-yok. hardiknya.

"Tutup mulutmu, tiada dara kembang seperti dirimu dalam Pang kita, ketahuilah, Hay-siang sudah mengaku terus terang, maka bicaralah secara blak2an juga , memangnya kau ingin disiksa dulu?"

Gemetar gadis yang menyaru Cu-cu, katanya sesenggukan sambil mendekam di lantai.

"Pangcu, Hu pangcu, hamba sungguh penasaran-"

"Kiu-moay,"

Kata So-yok angkat tangan.

"serahkan sebuah cermin padanya, biar dia melihat tampangnya sendiri."

Bi-kui memang sudah menyiapkan sebuah cermin bundar terus diangsurkan.

Gadis penyamar Cu-cu masih belum tahu kalau make-up dimukanya sudah dicuci, begitu melihat wajah sendiri di cermin seketika merasa terbang sukmanya, mukanya pucat, bibir gemetar tak mampu bicara lagi.

"Hay-siang berani coba membunuh Thay-siang, kini telah dijatuhi hukuman mati,"

Demikian geram So-yok katanya dingin.

"Sepatah kata saja kau berani bohong, jangan harap kau bisa hidup."

Diam2 Kun-gi memberi isyarat kedipan mata kepada Pek-hoa-pangcu. Segera Pek-hoa-pangcu buka suara.

"Cu-cu, mengingat usiamu masih muda belia, mungkin lantaran dipaksa dan diancam orang sehingga kau menyelundup ke tempat kita ini, tapi asal kau suka bicara terus terang, akan kuberi kelonggaran padamu,jiwamu akan diampuni, sebaliknya kalau berkukuh dan tidak menyadari kesalahanmu, kematian Hay-siang akan menjadi contoh bagimu."

Semakin takut dan gemetar gadis yang menyaru Cu-cu, tangisnya terisak. katanya.

"Pangcu dan Hu pangcu harap periksa, semula aku adalah pelayan yang ditugaskan di bawah cui-tongcu, lantaran Ci-Gwat-ngo yang ditugaskan di sini bilang wajahku mirip Cu-cu, demikian juga usia kami sebaya, maka aku disuruh menyaru jadi Cu-cu dan menyelundup kemari. cui-tongcu menahan ibuku, katanya kalau aku gagal menunaikan tugas ibuku akan dibunuhnya. Mohon Pangcu dan Hu pangcu menaruh belas kasihan terhadap nasibjelekku inidan ampunilahdiriku."

Ci-Gwat-ngo yang di-katakan ini sudah tentu adalah perempuan yang menyamar jadi Hay slang.

"cara bagaimana kalian menyelundup kemari""

Tanya So-yok. Tutur gadis yang menyamar Cu-cu.

"Bagaimana cara Gwat-go cici masuk kemari aku tidak tahu, kira2 tiga bulan yang lalu aku diantar ke suatu tempat yang dekat dengan Hoa keh-ceng, lalu Gwat-go cici memancing Cu-cu keluar serta menutuk Hiat tonya, sejakituakudibawanya masuk Hoa-keh-ceng."

"Kau tahu berapa lama Ci-Gwat-ngo menyelundup kemari setelah menyaru jadi Hay-siang"

Tanya So-yok.

"Entah, hamba tidak tahu,"

Sahut gadis itu.

"agaknya sudah cukup lama"

"Setelah kalian berada disini, cara bagaimana pula mengadakan kontakdenganpihak Hek-liong-hwe?"

"Itu urusan dan tugas Gwat-go cici, aku sendiri tidak jelas, kalau tidak salah ada seorang lain lagi yang bertugas dalam hal ini."

Kungi manggut2, tapidiadiamsajatidak memberi komentar. Tiba2 Bi-kui menyelutuk.

"Biasanya kalau bertemu dengan CiGwat-ngo, bagaimana sebutanmu kepadanya?"

"Di muka umum aku memanggilnya cici dan dia memanggilku Cucu,"

Sahut gadis itu.

"Kau pernah melihat orang yang ditugaskan mengadakan kontak rahasia dengan dia?"

Tanya So-yok.

"Pernah kulihat sekali,"

Tutor gadia itu.

"dia mengenakan kedok. di malam hari lagi, jadi sukar melihat wajahnya? Tapi Gwat-go cici juga mengenakan kedok, mungkin orang itu juga tidak tahu siapa sebetulnya Gwat-ngo cici."

"Mereka sama2 mengenakan kedok. untuk berhadapan dan saling kenal tentu digunakan tanda2 rahasia yang diperlukan?"

Sela Bi-kui lagi.

"Waktu itu Gwat-ngo cici menyuruhku berjaga di sekeliling tempat itu, waktu kami sampai di tempat tujuan, orang itu sudah ada di sana, aku hanya melihat orang itu angkat sebelah tangan kanan serta menekuk jari telunjuk. sementara Gwat-ngo cici menggerakkan tangan membuat lingkaran ditengah udara lalu menutul ke-tengah2 lingkaran."

"Sudah cukup?"

Tanya So-yok berpaling ke arah Kun-gi. Lekas Kun-gi menjura, katanya.

"Memang Hu-pangcu lebih berhasil. Ya, sudah cukup,"

"Sam-moay,"

Kata So-yok.

"tutuk Hiat-tonya, sementara sekap dia di kamar Hay-siang, tugaskan beberapa orang lagi untuk menjaganya."

Giok-lan menutuk Hiat-to orang terus mengempitnya keluar.

"congkoan, biar hamba bantu menggusurnya keluar,"

Kata Bi-kui.

"Tidak usah,"

Ujar Giok-lan menoleh,"

Kau masih punya tugas sendiri. Bi-kui putar tubuh serta memberi hormat kepada Kun-gi, katanya.

"Entah cong-su-cia masih ada pesan apa?"

"Nona sudah dengar apa yang dikatakan tadi, maka boleh kau bekerja sesuairencana semula."

"Hamba terima tugas,"

Sahut Bi-kui.

Setelah memberi hormat kepada Pangcu dan Hu pangcu segera dia mengundurkan diri.

Bertaut alis Pek-hoa-pangcu, matanya yang bundar besar terbelalak, bibirnya yang tipis bak delima merekah bergerak2, tanyanya.

"cong-su-cia, di atas kapal kita ini adakah mata2 yang lain lagi?"

Kun-gi menepekur sebentar, katanya kemudian.

"Sekarang masih sukar dikatakan, asal rencana ku berjalan dengan lancar, kukira perkara ini segera akan terbongkar."

Sampai di sini tiba2 dia menjura.

"Hari hampir terang tanah, Pangcu dan Hu-pangcu sudah lelah setengah malam, sekarang bolehlahistirahat,hambatidakpunyaurusanlagidan mohondiri."

Fajar menyingsing, sang surya mulai memancarkan cahayanya yang terang benderang.

Lilin masih menyala di ruang makan tingkat kedua.

Di atas meja2 yang berbentuk segitiga itu sudah ditaruh beberapa macam sayur dan bubur yang masih mengepul serta senampan besar bakpau yang banyak jumlahnya.

Kini tiba saatnya sarapan pagi, dari setiap pintu kamar di tingkat kedua beruntun menongol keluar para Busu yang berpakaian seragam Hijau pupus (Hou hoat) dan hijau kelabu (Hou-hoat-su-cia), mereka berbaris menjadi dua baris, tiada seorangpun yang bicara.

Tak lama kemudian pintu kamar disebelah kanan terbuka, munculah coh-houhoat Kiu-cay-boan-koan Leng Tio-cong dan Yu-houhoat coa Liang.

Hanya cong-su-cia saja seorang yang menempati sebuah kamar tersendiri pada tingkat kedua ini, coh-yuhou hoat berdua menempati satu kamar, sementara yang lain2 empat orang satu kamar.

Setelah coh-yu-hou-hoat muncul, para Hou-hoat dan Hou-hoat-su-cia segera membungkuk badan lalu menegak pula sembari berseru.

"Hormat kepada coh-yu-hou-boat."

Kulit muka Leng Tio-cong yang tirus itu kelihatan memancarkan senyum lebar yang licik, sebelah tangannya mengelus jenggot kambing di bawah dagunya, katanya manggut2 dengan mata menyapu hadirin.

"Kalian cukup pagi, silakan semua duduk."

Barang bukti berupa Sam-lo-ling dan jubah hijau ditemukan di kamar Ling Kun-gi, sejak malam tadi tak tampak bayangan Kun-gi setelah digusur naik ke tingkat atas menghadap Thay-siang.

Mereka juga tahu bahwa para dara kembang berbaris naik ke tingkat atas serta turun pula tak kurang suatu apa.

Sejauh ini Thay-siang tidak pernah memanggilcoh-yu-hou-hoatuntukdimintai keterangan, jelas Thay-siang amat ma rah akan usaha pembunuhan atas dirinya, mungkin secara diam2 Ling Kun gi sudah dijatuhi hukuman mati, Cuma berita inibelumdiumumkan saja.

Kalau Ling Kun-gi dihukum mati, maka jabatan cong-su-cia akan kosong, secara langsung se-bagai coh-houhoat, Leng Tio-cong akan dinaikkan pangkatnya mengisi jabatan cong su-cia itu.

Karena itulah sikap Leng Tio cong tampak riang dan bersemangat langsung dia menuju ke meja di sebelah kiri terus duduk, serta merta dia melirik kursi di tengah itu yang masih kosong, baru saja ia hendak bersuara menyuruh hadirin mulai makan, sekilas di lihatnya pintu kamar di ujung kiri sana tiba2 terbuka.

Cong-hou-hoat-su-cia Ling Kun-gi dengan lh-thian-kiam di pinggang dengan jubah hijau yang longgar melambai tiba2 muncul dengan langkah tenang.

Tiada seorangpun tahu kapan Kun-gi kembali ke kamarnya, sudah tentu hadirin kaget dan melenggong.

Sikap Ling Kun-gi yang wajar dengan senyum kemenangan dan gagah lagi se-olah2 tak pernah terjadi apa2, agaknya perkara yang menimpa dirinya telah berhasil dibereskan dengan baik.

Setelah melengak sebentar, hampir seperti berlomba saja hadirin berdiri menyambutnya.

Dengan tertawa lebar Kun-gi berkata.

"Silakan duduk saja"

Dengan langkah tetap dia menuju tempat duduknya. Tajam tatapan mata Sam-gan-sin coa-Liang, tanyanya.

"cong-coh tidak apa2 bukan?"

Tawar tawa Kun-gi, ucapnya.

"Terima kasih atas perhatian coa-heng, kalau Thay-siang sendiri berpendapat peristiwa itu tidak menyangkut diriku, sudah tentu tiada apa2 pada diriku."

Kiu-cay-boan-koan Leng Tio-cong berkata.

"orang berani coba membunuh Thay-siang dan memfitnah cong-coh lagi, ini membuktikan bahwa di kapal kita ini ada mata2 musuh, maka soal ini harus diselidiki sampai sedalam2nya, entah bagaimana petunjuk dan perintah Thay-siang selanjutnya."

"Betul juga ucapan Leng-heng,"

Ujar Kun-gi.

"Walau Thay-siang amat murka, soalnya perkara ini tiada sumber yang dapat dijadikan sumbu penyelidikan, untuk membongkar jejak mereka tentu amat sukar, Kini hanya ada satu cara ......."

"cara apa?"

Tanya Leng Tio-cong.

"Tunggu saja, nantidia akan memperlihatkan jejaknyasendiri."

"Kalau selanjutnya dia tidak mengadakan aksi apa2, lantas kita tidak mampu menangkap dia"

Kata Sam-gan-sin-Tengah bicara, kerai tersingkap.

tampak para peronda yang bertugas malam hari telah kembali.

Mereka adalah Hou hoat Kongsun Siang dan Song Tek seng, Hou-hoat-su-cia Kik Thian-yu, Ki Yu-seng, Kho Thing song dan Ho Siang-seng.

Keng-sun Siang pimpin mereka memberi hormat serta memberi laporan.

"Lapor cong coh, semalamsuntuk keadaan aman tenteram, hamba beramai telah menunaikan tugas dengan baik."

Yang dikuatirkan oleh Kun-gi adalah keselamatan Kongsun Siang, kini melihat orang kembali dengan segar bugar, maka dia tersenyum lebar sambil manggut2, katanya.

"Kalian sudah letih semalam suntuk. lekas duduk dan makan."

Sorot matanya satu persatu menyapu wajah keenam orang, entah sengaja atau tidak ia melirik dua kali kearah Ho Siang-seng.

Kongsun Siang berlima menjura lagi sekali lalu menuju tempat duduknya masing2.

Kemudian Kun-gi bertanya..

"Apakah luka2 Nyo Keh-sian dan Sim Kian-sin sudah lebih baik?"

"Mereka sudah bisa turun ranjang dan berjalan beberapa langkah,"

Sahut Leng Tio-cong.

"cuma hamba kira kesehatan mereka belum pulih seluruhnya, maka kusuruh koki mengantar makanan ke kamar mereka saja."

"Ya, baik,"

Ujar Kun-gi.

Setelah makan Kun-gi langsung kembali ke kamarnya pula, diam2 Kong-sun Siang ikut di belakangnya.

Tapi Kun-gi tidak ajak orang bicara, agaknya dia menaruh perhatian kearah jendela, maka begitu masuk kamar langsung dia menuju ke jendela, dengan teliti dia memeriksa dan meraba.

Kejap lain tampak rona mukanya sedikit berubah, dalam hati dia mengumpat.

"Bedebah, besar sekali nyali orang ini."

Melihat orang hanya memperhatikan jendela tanpa hiraukan dirinya, Kongsun Siang kira orang tidak tahu akan kedatangannya, maka dia berteriak.

"Ling-heng."

Kun gi membalik badan, katanya tertawa.

"Silakan duduk Kongsun heng."

Teko di meja masih mengepulkan bau harum, Kongsun Siang mengambil dua cangkir lalu mengisinya penuh, katanya sambil duduk di kursi sebelah.

"Kudengar semalam ada perkara pembunuhan diatas kapal"

"Kongsun-heng sudah tahu?"

Ucap Kun-gi.

"begitu kembali dan tiba di kapal aku lantas mendengar kabar ini,"

Ujar Kongsun siang, sembari bicara tangannya mengambil sebuah cangkir teh yang di isinya tadi, katanya pula.

"orang berani menyembunyikan barang bukti di kamar Ling-heng, bagaimana Ling-heng akan menghadapipersoalan ini?"

Kun-gi tertawa tawar, sebelum bicara kedua matanya tiba2 menatap tangan Kongsun Siang, serunya dengan suara rendah.

"Tunggu dulu, ku-kira air teh ini tidak boleh diminum."

Kongsun Siang sudah angkat cangkir dan menyentuh bibir, dia melengak mendengar seruan Kun-gi, katanya sambil menatap cangkir ditangan-nya.

"Ling-heng kira orang menaruh racun dalam air teh ini?"

"Apakah dia menaruh racun belum bisa dipastikan, tapi setelah aku keluar barusan, terang ada orang masuk kemari."

"Dari mana Ling-heng tahu?"

"orang itu masuk melalui jendela, jejaknya tak bisa mengelabuhi mataku? Mungkin karena gagal memfitnah diriku, maka dia gunakan cara licik lainnya, segala benda yang ada di kamar ini bisa dipandang mata, untuk melaksanakan tipu daya terhadapku, kecuali menggunakan racun, kukira tiada cara lain yang lebih baik lagi."

Kongsun Siang melenggong, katanya.

"Agaknya Ling-heng amat teliti dan hati2, biasanya aku cukup cermat, kalau akal licik kaum persilatan umum-nya takkan bisa mengelabuhi diriku, tapi dengan menaruh racun di dalam air teh yang masih mengepul hangat seperti ini jelas sukar diketahui muslihatnya, nyata aku tak dapat membedakan tipu daya musuh ini."

"Aku hanya menduga saja, apa betul air teh ini beracun biarlah kucoba,"

Ujar Kun-gi, dia sobek kain gordyn jendela yang terbuat dari wool terus direndam ke dalam air teh.

Ujung kain sobekan masuk air dan jadi basah, tapi tidak menimbulkan reaksi apa2, tidak bersuara juga tidak menimbulkan asap tebal, tapi setelah Kun-gi mengangkatnya tinggi2, ujung kain wool yang terendam air itu tampak berubah hitam gelap seperti hangus terbakar.

Berubah air muka Kongsun Siang, serunya.

"Lihay betul racun ini, tak berwarna dan tidak berbau, jadi sukar diketahui."

Kelam air muka Kun-gi, dia menenekur tanpa bersuara.

"Kalau demikian, orang yang menyembunyikan barang bukti di kamar ini dan orang yang menaruh racun dalam air teh ini pasti perbuatan satu orang."

"Yang menyembunyikan barang2 bukti adalah Hay-siang dan dia sudah tertangkap,"

Demikian batin Kun-gi. Maka ia lantas berkata.

"Kukira bukan perbuatan satu orang saja."

Kongsun siang berjingkrak. tanyanya.

"Maksud Ling-heng mata2 musuhyangterpendamdi kapalini bukan hanyaseorangsaja?"

"Memang tidak cuma seorang saja,"

Kata Kun-gi.

"kalau hanya seorang, apa yang mampu dia lakukan? Saat ini aku memang belum punya keyakinan, tapi aku tidak akan memberi kelonggaran kepada mereka."

Kongsun Siang tepuk dada, katanya.

"Bila Ling-heng memerlukan tenagaku, tugas berat apapun takkan kutolak."

"Memang ada tugas yang perlu bantuan Kong-sun-heng, kalau tibawaktunyapastiakan kuberitahu padamu." -oodwoo-Gudang yang berbau apek dan penuh ditimbuni barang2 makanan dan benda rongsok terletak di tingkat paling bawah dari kapal besar ini, di-batasi oleh sebuah dinding papan yang tebal, gudang yang terletak di tengah kapal itu dijadikan dua bagian, depan dan belakang, sehingga kedua bagian ini satu sama lain tidak bisa berhubungan-Bagian belakang dibagi pula menjadi dua kamar gudang besar, kamar disebelah depan peranti menyimpan makanan dan persediaan air, pokoknya kedua rangsum. Sedang kamar belakang adalah tempat tidur para kelasi. Kelasi yang berjumlah dua puluh orang itu hanya menempati sebuah kamar tidur besar, sudah tentu keadaannya serba kotor dan sumpek, baunya apek dan lembab. Paling belakang ada lagi sebuah ruangan, letaknya dipantat kapal, tempatnya sempit dan doyong miring, tak mungkin orang bertempat tinggal di sini, jadi keadaannya kosong. Sementara bagian depan hanya terdapat sebuah ruang besar dan sebuah kamar kecil, ruang besar itu tempat para dara kembang tidur, mereka adalah dara2 manis yang lembut dan belia, ranjang yang mereka pakai selalu bersih dan rapi, sudah tentu tidak sekotor dansumpekseperti tempar parakelasi itu. Siapapun asal bukan perempuan, bila masuk ruang besar ini pasti hidungnya akan terangsang oleh bau parfum yang wangi semerbak. bau pupur yang harum, semangat akan ikut terbang ke-awang2. Kamar kecil itu diperuntukkan Loh-bi-jin yang diserahi tugas mengawasi dan memimpin para dara kembang ini, maka seorang diri dia memperoleh fasilitas yang lebih baik. Kecuali ruang besar dan kamar kecil ini ada pula ruang depan yang kosong, keadaanya seperti pantat kapal, bagian depan kapal inipun serong, cuma miringnya menjurus ke atas, jadi berlawanan dengan buritan yang miring ke bawah. Ci-Gwat-ngo alias perempuan yang menyaru Hay-siang itu dikurung di ruang depan yang miring ini. Semua dara kembang hanya tahu bahwa seseorang semalam coba membunuh Thay-siang, mata2 musuh telah ditangkap. tapi tiada orang tahu kalau perempuan inilah yang menyamar jadi Hay-siang dan hidup rukun sekian lamanya dengan mereka. Memang tata tertib Pek hoa pang amat keras, sesuatu hal yang tidak diberitahukan. Siapapun di-larang mencari tahu atau bisik, main kasak kusuk. Terutama semalam Loh-bi jin sudah memberi peringatan kepada mereka, peristiwa semalam dilarang bocor meski hanya sepatah kata, oleh karena itulah tiada yang berani sembarang buka suara. Ci-Gwat-ngo sudah tertutuk oleh ilmu tutuk khas perguruan Ling Kun-gi, ilmu silatnya sementara telah dibekukan sehingga tak mampu berbuat apa2, tapi dia tetap harus dijaga. Menjadi tanggung jawab Loh-bin-jin untuk menugaskan empat dara kembang bergiliran menjaganya, sudah tentu keempat dara kembang ini sudah mendapat pesan Loh-bi-jin bahwa dikala menjaga Ci-Gwatngo sedapat mungkin ajak orang bicara panjang lebar, seCara halus diharapkan bisa mengorek keterangannya. seperti diketahui walau disiksa oleh tutukan Ling Kun-gi, tapi ci Gwat ngo tetap bandel tidak mau buka suara. Maka Caranya lantas diubah diusahakan dara2 kembang ini akan berhasil mengoreknya dalam obrolan2 yang telah direncanakan lebih dulu. Ternyata Ci-Gwat-ngo memang terlampau bandel, meski para dara kembang itu hampir kering ludahnya mengajaknya bicara, dia tetap bungkam seribu bahasa, malah pejamkan mata lagi, anggap tidak melihat dan tidak mendengar. Maklumlah, kalau dia pantas menyamar Hay-siang sebagai mata2 terpendam di tempat musuh, sudah tentu dia pernah mengalami gemblengan dan ujian berat, hanya beberapa gelintir dara2 kembang pingitan ini masa bisa mengorek keterangan dari mulutnya? Sehari telah lalu tanpa terasa. Sejak pagi sampai malam, dua dara kembang yang bertugas gagal memperoleh keterangan-Bukan saja tak berhasil ajak orang bicara, malah makanan yang diantar sejak pagi hingga malam tidak pernah diusiksnya, semUa dibawa keluar tanpa disentuh sedikit-pun-Hanya gagal menelan pil beracun, perempuan ini ingin menghabisi jiwa sendiri dengan mogok makan. Kini telah tiba saatnya makan malam, terdengar langkah2 mendekati, seorang dara muncul di ruang depan sambil menenteng rantang makanan, kiranya tiba saatnya pula ganti piket.

"Siu-kui cici, kau boleh kembali untuk makan,"

Yang datang ternyata Cu-cu.. Pintu terbuka, dengan menenteng rantang makanan yang dibawanya siang tadi, Siu-kiu mencibir, katanya uring2an.

"Buat apa kau bawa makanan itu? Sungguh menyebalkan, setengah hari ini hanya menemani orang sekarat belaka,"

Dengan ber-sungut2 ia lantas berlari keluar.

Cu-cu tersenyum mengawasi perginya, pintu gudang dia tutup pula serta menggantung lampu di atas paku, lalu pelan2 dia turunkan rantang makanan, cepat dia putar tubuh menghampiri Ci-Gwat-ngo seraya memanggil dengan suara lembut.

"cici, kau tidak apa2 bukan?"

Ci-Gwat-ngo yang meringkal itu tiba2 membuka mata, sesaat dia mengawasi Cu-cu, katanya.

"Kau?"

Cu-cu mengangguk. tanyanya penuh perhatian "Kau tidak apa2 bukan?"

Sambil mengawasi orang Ci-Gwat-ngo bangun berduduk.

sekali raih dia tarik tangan kiri Cu-cu sambil menunduk.

entah sengaja atau tidak dia memandang pergelangan tangannya, sorot matanya tiba2 memancarkan rona yang aneh, lalu dia geleng2, katanya.

"Siau-koay, syukurlah kau kemari, hiat-toku tertutuk oleh bocah she Ling itu, tenagapun tak mampu kukerahkan-"

"cici,"

Lirih juga suara Cu-cu.

"Hiat-to mana yang ditutuk? Biar kubantu kau membukanya ."

Kecut tawa Ci-Gwat-ngo, katanya.

"Tutukan khas perguruannya apalagi yang ditutuk adalah urat nadi besar, jangankan dengan kemampuanmu yang Cetek ini, umpama seorang ahli yang punya kepandaian 10 kali lipat daripadamu juga takkan bisa membukanya."

Bertaut alis Cu-cu, katanya kuatir.

"lalu bagaimana?"

"Apa boleh buat, ingin matipun aku tidak mampu lagi, terpaksa biarlah begini saja."

Kesal dan masgul Cu-cu, katanya.

"Apakah mereka bakal membebaskan kau?"

Ci-Gwat-ngo mendengus.

"Mereka ingin mengompes keteranganku."

Cu-cu pura2 kaget, katanya.

"Sudah kau katakan?"

"Tidak,"

Berhenti sesaat, lalu Ci Gwat Ngo tertawa, katanya.

"Kau kira aku mau bicara? Eh, waktu kau kemari, bagaimana pesan mereka padamu?" . Cu-cu menekan suaranya lebih rendah.

"Waktu mau kemari Lohbi-jin memanggilku ke kamarnya, dia suruh aku mengajak kau mengobrol dan nanti memberi laporan padanya tentang apa saja yang telah kita bicarakan."

Ci-Gwat-ngo mendengus lagi, katanya.

"Mereka ingin mengakali pengakuanku,jangan mimpi,"

Cu-cu berpaling mengawasi rantang makanan, katanya.

"Cici, seharian kau tidak makan apa2, mana kau kuat bertahan, kau harus makan."

"Tidak!!akutidakakan makan,cukupasalkautelahkemari."

Dengan mata terbelalak Cu-cu bertanya.

"Cici, masih ada pesan apa?"

"o, ya,"

Ci-Gwat-ngo bersuara.

"ada sebuah tugas harus kau lakukan-"

"ApaCicihendaksuruhaku memberitahukanseseorang?"

"Kau tahu siapa orang yang perlu kau beritahu?"

Ci-Gwat-ngo balas bertanya.

"Bukankah orang yang pernah kulihat tempo hari? Tapi aku tidak tahu siapa dia,"

Berkelebat sinar dingin pada sorot mata Ci-Gwat-ngo, katanya.

"Tak perlu kau tahu siapa dia."

"Lalu cara bagaimana aku harus memberitahu padanya?"

"Asal kau mondar-mandir tiga kali di atas dek tingkat kedua sebelah kanan, lalu akan datang orang itu mengajak kau bicara."

"Itu gampang, waktu naik ke kapal Loh Bi-jin pernah bilang bila merasa sumpek berada di tingkat bawah, siapapun boleh naik ke tingkat dua setelah memperoleh persetujuannya untuk cari angin, api.... tapi, carabagaimanaorang ituaku ajakakubicara?"

"Kau tahu tanda2 gerakan tangan kita untuk pertemuan itu?"

"Ya, tahu."

Ci-Gwat-ngo berpikir sebentar, katanya.

"Cukup asal kau bilang. Rembulan yang hampir terbenam tidak benderang lagi, pasang laut akansemakin tinggi. Dua patahkatainisudah cukup,"

"Apa maksud dan gunanya kedua patah kata itu?"

"Memberi tahu padanya bahwa aku telah tertangkap. bila ada beritaapa2daripihakatasbiardia sendiriyangambil keputusan."

Cu cu ingat betul2, tiba2 dia cekikik tawa, katanya.

"Rembulan saat ini memang hampir terbenam, umpama ocehanku didengar orang juga tidak menjadi soal"

"o", CiGwat-ngobersuaradalam mulut. Seperti ingat sesuatu, mendadak Cu-cu mengerut kening, katanya.

"Tapi aku harus ganti piket setelah larut malam nanti, bagaimana baiknya?"

"Tidak jadi soal, janji pertemuanku mengadakan kontak dengan dia setelah kentongan keempat nanti."

Cu-cu mengangguk. katanya.

"Baiklah, akan kuingat baik2."

Dia awasi Ci-Gwat-ngo, lalu berkata pula.

"Cici, sedikit2 kau harus makan untuk menjaga kesehatan-"

Dingin kaku muka Ci-Gwat-ngo.

"Tidak perlu,"

Sahutnya.

"Tapi kau...."

"Jangan banyak omong, cukup asal kau sampaikan pesanku tadi."

"Cici jangankuatir, pastikusampaikan pesan-mu itu,"

"Berani kau menjual aku, kapan saja seseorang akan merenggut jiwamu."

Terunjuk rasa jeri dan takut pada wajah Cu-cu, katanya.

"Masa cici tidak percaya lagi padaku"

Melihat orang ketakutan, Ci-Gwat-ngo ganti sikap. katanya dengan suara lembut.

"Sudah tentu aku percaya padamu, kalau tidak takkan ku-serahkan tugas rahasia ini padamu, tapi kau harus hati2, bocah she Ling itu lebih cerdik dan tajam penciumannya dari pada anjing pelacak." .

"Aku akan berlaku hati2, mereka takkan tahu apa yang kulakukan.". Ci-Gwat-ngo manggut2, katanya.

"Syukurlah, legalah hatiku."

Waktu berlalu dengan cepatnya. Mungkin belum tengah malam, tapi pintu sudah gudang itu sudah berkeriut terbuka setelah rantai gembokan berdering nyaring, seseorang memanggil lirih.

"Cu-cu Cici lekas buka pintu, tiba saatnya aku menggantimu."

Kalau dihitung dengan waktu yang tepat, saat mana sebetulnya baru lewat kentongan kedua.

Sudah tentu semua ini sudah diatur dengan baik2.

Cepat2 Cu-cu tarik pintu lalu mengambil rantang makanan beranjak keluar, seorang dara kembang yang lain melangkahmasukdan menutuppintudarisebelahdalam.

Begitu keluar dari ruang kurungan di depan itu, sambil menjinjing rantang makanan, langsung Cu-cu menuju ke kamar Loh-bi-jin untuk memberi laporan kerjanya.

Tapi tak lama setelah dia masuk.

tampak pintu kamar terbuka, muncul seorang gadis belia tinggi semampai mengenakan gaun panjang warna putih, dengan langkah gemulai dia menyusuri tangga naik ke atas kearah tingkat kedua sebelah kiri.

Dia bukan lain ialah salah seorang dari 12 Tay-cia yang bernomor sembilan yaitu Bi-kui adanya.

Sudah tentu Kun-gi belum tidur, dia masih menunggu kabar baik.

Baru saja kentong kedua ber-bunyi lantas didengarnya langkah kaki mendekati kamarnya, ketukan pintu pelahanpun terdengar, suara seorang gadis merdu berkata di luar.

"Cong-su-cia."

"Siapa?"

Tanya Kun-gi.

"Hamba Bak-ni,"

Sahut gadis di luar.

"Atas perintah Pangcu, Cong-su-cia dipersilahkan naik ke atas."

Kun-gi melangkah keluar, katanya mengangguk.

"Silakan nona kembali dulu, segera aku menyusul."

Bak-ni atausi melatiterus mengundurkandiri.

Kun-gi merapatkan pintu kamarnya terus naik ke tingkat ketiga.

Tampak Bak-ni dan Swi-hiang bersenjata lengkap berjaga di luar pintu, melihat Kun-gi tiba, mereka membungkuk ke dalam seraya berseru.

"Lapor Pangcu, Cong-su-cia telah tiba."

Suara Pek-hoapangcu berkumandang dari dalam.

"Silakan masuk."

Bak-ni dan Swi-hiang menyingkap kerai kiri-kanan sembari membungkukhormat.

"SilakanCong-su-cia masuk."

Tanpa bersuara Kun-gi masuk ke dalam, dilihatnya Pek-hoa-pangcu, Hu pangcu dan Giok-lan serta Bi-kui sudah duduk mengelilingi meja bundar.

Melihat Kun-gi masuk, Pek-hoa-pangcu mendahului berdiri, suaranya nyaring lembut.

"Silakan duduk Congsu -cia."

SudahtentuSo-yok, Giok-lan danBi-kui ikutberdiripula. Dengan berseri tawa So-yok tak mau ketinggalan, katanya.

"Muslihat Ling-heng ternyata amat manjur, lekas duduk dan dengarkan kabar gembira."

Kun-gi menjura, katanya.

"Pangcu, Hu pangcu, Congkoan dan Taycia silakan duduk."

Lalu dia tarik sebuah kursi dan duduk di sebelah kiri yang masih kosong, tanyanya sambil menoleh kepada Bi-kui.

"Nona berhasil mengorek keterangan apa?"

So-yok mendahului bicara.

"Bukan saja mengorek keterangan, malah malam ini kita akan dapat membekuk seluruh mata2 musuh yang mengendon di kapal kita ini."

Dengan tertawa Pek-hoa-pangcu berkata.

"Ji-moay memang berwatak keras dan terburu nafsu, duduk persoalannya biar dijelaskan dulu oleh Kiu-moay, Cong-su-cia sendiri yang memimpin operasi ini, dia harus mendengar laporan selengkapnya baru akan memberikan petunjukdan perintahselanjutnya."

Sedikit membungkuk Kun-gi berkata.

"Berat ucapan Pangcu untuk diterima."

Lalu dia mengamati Bi-kui, katanya.

"Bagaimana, hasil kerja nona? Kurasa Ci-Gwat-ngo adalah perempuan yang licin dancerdik, apakah samaran nonatidakdiketahuiolehnya?"

"Aku yakin akan ilmu tata rias Cong-su-cia teramat lihay, sedikitpun dia tidak mengunjuk perasaan curiga padaku,"

Lalu Bi-kui ceritakan pengalaman dan pembicaraannya tadi dengan ringkas dan jelas. Setelah mendengar laporan itu, Kun-gi angkat kepala, katanya.

"Sekarang baru kentongan kedua, masih dua jam lagi baru kentongan keempat ... ."

"Dengan waktu yang cukup kita dapat mempersiapkan diri lebih matang, sekarang silakan Ling-heng mengatur tipu daya dan memberi komando,"

Ujar So-yok. Tawar tawa Kun-gi, katanya.

"Memberi komando, terus terang Cayhe tidak berani."

Pek-hoa-pangcu lantas berkata.

"Thay-siang sudah serahkan kekuasaan kepada Cong-su cia membongkar perkara ini, termasuk aku, Ji-moay dan Sam-moay seluruhnya siap tunduk dan patuh akan petunjuk mu, maka tidak perlu kau sungkan."

"Sebetulnya persoalan ini cukup sederhana,"

Ujar Kun-gi,"kalau betul bangsat itu muncul di dek sebelah kanan dan ajak bicara dengan nona Bi-kui, hamba yakin masih punya cukup waktu untuk membekuknya hidup2."

"Lalu kami bagaimana? Memangnya kau suruh kami menonton saja?"

Sela So-yok.

"Hu pangcu dan Congkoan harap sembunyi di atas dek tingkat ketiga sebelah kanan, begitu melihat orang itu muncul, setelah nona Bi-kui saling memberi tanda gerakan tangan, kalian boleh segera terjun ke bawah mencegat jalan mundurnya,"

Merandek sebentar, Kun-gi menatap Bi-kui.

"Cuma ada satu hal, harap nona suka perhatikan-"

"Hal apa?"

Tanya Bi-kui "Nona harus tetap menyaru dan berpura2 lebih lanjut, bila mendadak dia muncul, kau harus pura2 bersikap gugup dan ketakutan sembari mundur, jangan sekali2 kau berusaha merintangi dia,"

"Kenapa demikian?"

Tanya Bi-Kui.

"Bangsat itu pasti membawa Som-lo sing atau senjata rahasia lain yang jahat, umpama nona tidak berusaha merintangi dia, mungkin karena rahasia sudah terbongkar, dia bisa turun tangan keji untuk menutup mulut nona. Betapa dahsyat kekuatau Som-lo-ling itu sukar dihindarkan dari jarak dekat, maka kau harus pura2 takut sambil mundur sejauh mungkin untuk menyelamatkan diri dari segala kemungkinan."

Haru dan terima kasih Bi kui, katanya dengan prihatin.

"Dan kau, kau tidak takut diserang oleh dia?"

Setelah mulut bersuara baru dia sadar, betapa kasih mesra kata2nya dihadapan Pangcu dan Hu pangcu bertiga.

"Memang,"

Timbrung Pek-hoa-pangcu.

"dalam keadaan kepepet musuh bisa berlaku nekat, maka kaupun harus hati2."

"Terima kasih atas perhatian kalian, Cayhe punya cara untuk menghadapinya,"jawab Kun-gi.

"o, ya,"

Kata Pek-hoa-pangcu.

"apakah Cong-su-cia tidak memberitugas padaku?"

"Pangcu sebagai pimpinan tertinggi dalam Pek-hoa-pang, hanya menghadapi mata2 musuh saja mengapa harus turun tangan sendiri, cukupasalduduk sajadi sini menunggu beritagembira."

Baru saja dia habis bicara, terdengar suara Bak-ni berkata di luar.

"Lapor Pangcu, Taycia Loh-bi-jin ada urusan penting mohon bertemu dengan Pangcu."

"Lekas suruh dia masuk."

So-yok mendahului bersuara. Kerai tersingkap. dengan gopoh dan tegang loh-bi-jin menerobos masuk.

"Cap go moay,"

Tanya Pek-hoa-pangcu.

"apa yang terjadi?"

Dada Loh-bi-jin masih turun naik, napasnya ter-sengal2, ia membungkuk kepada Pek-hoa-pangcu dan berkata.

"Lapor Pangcu, Ci-Gwat-ngo yang dikurung di bawah gudang ternyata telah bunuh diri dengan menggigit putus lidahnya sendiri."

"Apa?"

Mendelik mata So-yok.

"keparat itu bunuh diri dengan menggigit putus lidah sendiri, memangnya kau tidak suruh orang menjaganya?"

Loh-bi-jin membungkuk, serunya.

"Setelah Kiu-ci (Bi-kui) pergi, Ci-Gwat-ngo dijaga oleh Ting-hiang, dia terus meringkel tak menghiraukan orang lain, setelah Ting-hiang melihat darah yang berceceran dikepalanya baru tahu kalau dia sudah mati menggigit lidah."

"Gentong nasi semua,"

Omel So-yok.

"seorang lumpuh saja tidak mampu menjaganya, kau tahu dia pesakitan penting yang berusaha membunuh Thay-siang?"

Loh-bi-jin menunduk. sahutnya.

"Hamba kemari untuk minta hukuman pada Pangcu dan Hu pangcu. ....."

"Kesalahan tidak bisa dijatuhkan kepada orang yang menjaganya, mungkin Ci-Gwat-ngo mengira setelah menyuruh Cu-cu menyampaikan kabar jelek tentang dirinya berarti dia sudah menunaikan tugas terakhir, hidup juga hanya tersiksa belaka, maka dia nekat bunuh diri. Memangnya dia meringkel tanpa buka suara, jangan kata orang lain, umpama kita sendiri juga takkan menduga sebelumnya, sekarang lekas nona Loh turun saja, kematian Ci-Gwatngo jangan sekali2 sampaibocor."

Haru dan berterima kasih sorot mata Loh-bi-jin kepada Ling Kungi, katanya.

"Waktu hamba kemari tadi sudah memberi pesan kepada Ting-hiang, kularang dia membocorkan kejadian ini."

"Baiklah, lekas kau turun saja,"

Ujar Pek-hoa-pangcu. Loh-hi-jin mengiakan dan mengundurkan diri.

"Kalau Cong-su-cia tiada pesan lainnya, hamba juga ingin mohon diri saja,"

Kata Bi-kui.

"Nona harus ingat perkataanku tadi, waspadalah selalu"

Pesan Kun-gi.

"Hamba mengerti,"

Sahut Bi-kui, dia menyingkap kerai terus keluar. Akhirnya Kun-gi juga berdiri, katanya.

"Waktu masih ada satu setengah jam, Pangcu dan Hu-pangcu boleh istirahat, hamba juga mohon diridulu."

Tersenyum manis Pek-hoa-pangcu, katanya.

"Tunggulah sebentar Coh-su-cia, tadi sudah ku-suruh Sam-moay ke dapur memberi tahu koki untuk membuat beberapa nyamikan supaya kita tidakkelaparantengah malamini."

Terbeliak So-yok. katanya tertawa riang.

"Toaci, kenapa aku tidak tahu?"

Pek-hoa-pangcu tertawa lebar, katanya.

"Memang kupesan Sammoay supaya tidak memberitahukan padamu, supaya kau kaget dan kegirangan, malah kusuruh buatkan makanan kegemaranmu."

So-yok cekikikan, katanya.

"Ya, tentunya bolu mawar, Toaci sunggubbaikhati."

Laludiaberpaling kepadaKun-gi, katanya."Tadi sudah kupikir lebih baik Ling-heng tetap di sini saja, dari tingkat ketiga ini bukan saja bisa menyaksikan dengan jelas, umpama harus menubrukturun mencegatmusuhjugalebihleluasadancepat."

"Banyak terima kasih atas kebaikan Pangcu, baiklah terpaksa hamba mengganggu,"

Demikian ucap Kun-gi..

Kerai tiba2 tersingkap.

tampak Toh cian ber-sama Siang-hwi mengusung sebuah baki besar berjalan masuk dan diletakkan di meja bundar sana.

Lalu dengan hati2 membuka tutup baki dan mengeluarkan empat tatakan, di atas tatakan masing2 berisi bolu mawar, manisan kenari, pangsit udang dan goreng kepiting.

Menyusul Swi hiang juga masuk membawa sepanci bubur sarang burung, di hadapan empat orang masing2 dia isi semangkok penuh bubur sarang burung itu lalu mengundurkan diri.

Dengan sumpitnya So-yok jepit sepotong bolu mawar dan ditaruh di lepek Ling Kun-gi, katanya riang.

"Ling-heng,aku paling suka makan bolu mawar, wangi lagi empuk. manis tapi tidak membosankan, coba kaupun mencicipi."

Merah muka Kun-gi, katanya.

"Terima kasih Hu pangcu, biarlah aku ambilsendiri."

So-yok melerok. katanya.

"Ling-heng sekarang adalah cong-sucia kita, kedudukanmu sejajar dengan Hu pangcu yang kujabat, kenapaselalu kau masih membahasakanhambapada dirisendiri?"

Pek-hoa-pangcu juga angkat sumpit yang terbuat gading, dijepitnya sepotong pangsit udang dan diangsurkan kedepan Kun-gi, katanya dengan tertawa.

"Aku suka pangsit udang karena warnanya putihsepertibatujade, cobacong su-sia men-cicipi."

Muka Kun-gi yang jengah tampak berkeringat, berulang kali dia nyatakan terima kasih, katanya.

"Silakan Pangcu makan juga."

Giok lan menjadi geli sendiri, katanya sama tengah.

"Toaci dan Ji-ci tidak anggap cong-su-cia sebagai orang luar, kenapa cong-sucia malah sungkan dan malu2? Kukira cong-su Cia suka makan apa saja boleh silakan ambil sendiri, kalau main sungkan begini perut takkan bisa kenyang."

"Sam-moay memang betul,"

Ujar So-yok.

"memang itulah Cirinya, kita tidak anggap dia orang luar, dia justeru anggap dirinya orang asing."

"Ah. masa,"

Ujar Kun-gi malu2

"cayhe tidak beranggapan demikian."

Giok lan Cekikian geli, katanya.

"Sebelum datang ke Pang kita mungkin cong-su-cia jarang bergaul dengan anak perempuan, betul tidak?"

"Ya, memang demikian,"

Sahut Kun-gi manggut. Biji mata So-yok mengerling, katanya tertawa.

"o, pantas, maka kau selalu pemalu."

Penuh kasih mesra lirikan Pek-hoa-pangcu, katanya tersenyum.

"Sudahlah, jangan ngobrol saja, mari makan mumpung masih hangat."

Di bawah penerangan lampu yang redup, berhadapan dengan tiga nona secantik bidadari, dengan tutur kata lemah lembut lagi, perasaan laki2 mana yang takkan melayang keawang2.

Selesai sarapan, pelayan mengangkuti peralatan serta menyuguhkan sepoci teh wangi.

Lambat laun sang waktu mendekati kentongan keempat.

Bulan sabit yang sudah doyong ke barat masih bercokol di cakrawala, bintang kelap-kelip menghiasi angkasa, cuaca remang2.

Tiada sinar pelita di atas kapal besar ini, semua penghuni sudah terbuai dalam impian-Hanya ditempat yang gelap dekat daratan sana kelihatan bayangan beberapa orang, mereka berpencar mondar-mandir sambil berdiri celingukan.

Itulah para Hou-hoat-sucia yang bertugas ronda.

Mendadak sesosok bayangan langsing semampai muncul dari tangga kayu tingkat terbawah, langkahnya pelan ringan dan hati2 manjat ke atas dek-di tingkat kedua.

Dilihat bentuk tubuh dan dandanannya, jelas dia adalah salah seorang dara kembang.

Langkahnya enteng tidak mengeluarkan suara, pelan2 dia beranjak ke haluan kapal menyusuri pagar, kepalanya mendongak memandang bulan sabit yang hampir tenggelam diufuk barat, pandangannya sayu sepertiorang melamun.

Dia bukan lain adalah Un Hoan-kun yang menyamar Bi-kui.

malam ini Bi-kui palsu ini menyaru jadi cu-cu pula menjalankan rolnyasesuairencanaLing Kun-gi.

Berdiri sejenak di haluan, dia menunggu dengan sabar, serta melihat tiada reaksi apa2 di sekitarnya, pelan2 dia putar tubuh beralih ke dek sebelah kanan.

Angin malam meniup sepoi2 sehingga dia tampak suci dan anggun, setiap langkahnya beralih lamban dan ringan-Tapigayanya sedemikian indah gemulai.

Kalau langkah kakinya lamban dan tenang mantap.

sebaliknya jantung tiga orang yang mengintip dari tingkat ketiga justeru berdebar2 tegang.

So-yok sembunyi di haluan depan, Giok-lan menempatkan dirinya di buritan yang gelap.

tugas mereka adalah mencegat musuh begitu melihat Bi-kui (Cu-cu) memberi tanda.

Tapi kekuatan yang utama berada di tangan Ling Kun-gi, dia harus mendadak muncul, secara sigap dan tangkas harus berhasil membekuk lawan sebelum sempat turun tangan atau melarikan diri.

Maka dia sembunyi di tempat yang paling dekat bagian kanan deretan kamar, badannya mepet dinding tanpa bergerak.

Lamban langkah Bi-kui, secara diam2 iapun sudah kerahkan hawa murninya, seperti panah yang siap terpasang dibusurnya tinggal melepaskannya.

Bayangan Cu-cu yang anggun ini dari haluan sudah tiba di buritan melalui dek kanan, lalu dari buritan putar balik pula ke haluan, langkahnya tetap pelan dan penuh perhitungan-Dia memang tidak tahu bahwa saat itu seseorang sedang memperhatikan dirinya, tapi dia yakin bahwa gerak-gerik dirinya tentu sudah diincar orang dari tempat Sembunyinya.

Karena dia melakukannya sesuai janji tempat dan tepat pada waktunya, dia melakukan isyarat pula yang sudah ditentukan sebelumnya.

Kini dia sudah putar balik, menuju ke buritan lagi, supaya orang yang memperhatikan dirinya di tempat gelap itu melihat lebih jelas, maka setiaplangkah kakinyaitubergerakamatpelansekali..

Ada kalanya dia menunduk kepala seperti memikirkan sesuatu, lalu menengadah memandang ke tempat jauh seperti mengenang masa silam, sementara jari jemarinya mengucek2 sapu tangan sutera di tangannya.

Bagi orang yang tidak tahu duduk persoalannya tentu mengira nona ini sedang menunggu sang kekasih ditengah malam buta dan hendak mengadakan pertemuan rahasia, karena tidak sabar menunggu maka dia mondar-mandir menghabiskan waktu.

Diam2 Kun-gi manggut2, batinnya.

"Walau hanya sandiwara, tapi diadapat main denganbaiksekali, seperti kejadiansesungguhnya."

Kini sudah putaran yang ketiga.

Dari haluan dia melangkah ke buritan pula, lalu kembali lagi ke haluan, Kalau orang itu akan muncul maka dia akan keluar di tengah perjalanan antara buritan ke haluan ini.

"Nah, tibalah saatnya,"

Demikian batin Kun-gi, dia sudah menarik napas panjang, matanya menatap tajam ke arah Bi-kui, iapun pasang kupingnya yang tajam sambil melirik sekitarnya, ke segala sudut kemungkinan dari mana orang itu akan muncul.

Inilah detik2 yang menegangkan, karena hal ini amat penting, maka dia merasa perlu tahu dari arah mana orang itu akan muncul.

Karena dari mana dia keluar mungkin pula dari arah itu juga dia akan mundur dan Kun-gi harus bersiaga mencegat jalan mundurnya, kalau tidak jangan harap akan bisa menawannya hidup2.

Tatapan Kun-gi ikut bergerak mengikuti lang-kah Cu-cu, dari buritan sampai ke haluan kapal-.

Kini dia sudah selesai menjalankan isyarat yang telah dijanjikan sebelumnya, pulang pergi tiga kali, lalu berdiri tegak di haluan kapal.

Orang yang ditunggu dan harus keluar itu tetap tidak kunyung tiba.

Sudah tentu Cu-cu tidak akan bergerak lagi, terpaksa dia tetap berdiri tenang di haluan, menyongsong hembusan angin malam, bersikap pura2 seperti orang kelelahan dan sedang istirahat.

Sebetulnya pikirannya timbul tenggelam, gelisah dan masgul pula.

"Kenapa dia belum muncul juga?"

Sudah tentu yang gelisah bukan hanya dia seorang.

So-yok lebih risau lagi, tangannya sejak tadi sudah menggenggam gagang pedang, alisnya bertaut dan sudah habis kesabarannya menunggu.

Giok lan biasanya sabar dan tenang, kini iapun ikut gelisah pikirnya.

"orang itu tak mau muncul, bisa jadi dia sudah tahu akan rencana kita hendak menyergap dia, tapi rasanya tidak mungkin-"

Walau gelisah Kun-gi tak pernah lena, matanya tetap memperhatikan Cu-cu yang berdiri disana, dia masih berharap sesuatu perubahan akan terjadi, dia menunggu penuh kesabaran-Tak ubahnya seperti seseorang yang memancing ikan, sedikit bergeming, ikan yang akan terpancing bisa terkejut dan lari..

Cu-cu masih berdiri di haluan tingkat dua.

Tiga orang yang sembunyi di tingkat ketiga juga tetap berjaga2 penuh waspada.

Detik demi detik telah berlalu, orang seharusnya muncul tetap tidak kunjung datang.

Lama2 Ling Kun-gijadi kesal.

"Mungkinkah orang itu tidak akan muncul? Kenapa dia tidak keluar?dalamsoal initentuadasebab musababnya."

Mengingat sebab musabab ini, seketika dia teringat adanya beberapa gejala yang mungkin menjadikan orang itu merasa curiga dan bertindak hati2. Umpamanya.

"Apakah betul isyarat yang dituturkan Ci-Gwat-ngo? Tapi setelah dia berpesan kepada Cu-cu untuk melaksanakan tugasnya sesuai apa yang dia jelaskan, lalu bunuh diri, jelas bahwa isyarat yang dia tuturkan takkan salah. Kalau isyarat ini tidak salah, kenapa orang itu tidak muncul? Mungkinkah dia curiga dan tahu akan rencananya? Tapi inipun tidak mungkin"

Mendadak ia teringat kepada Ci-Gwat-ngo suruh Cu-cu mondar-mandar tiga kali di atas kapal, memangnya isyarat untuk menyampaikan sesuatu berita?

Mungkinkah rahasia Cu-cu tiruan ini sudah diketahui oleh Ci-Gwat-ngo?

Karena yang ditunggu tetap tak kunjung tiba, sudah tentu Cu-cu alias Un Hoan-kun masih tetap ia berdiri di tempatnya, kini dia sudah berdiri setanakan nasi lamanya, tapi orang itu tetap tidak kunjung datang.

Kun-gi menjadi sadar bahwa langkah pionnya kali ini jelas gagal total, kalah oleh Ci-Gwat-ngo yang telah mati dan sukses menunaikan tugas.

Maka dia tidak perlu ragu lagi, dengan ilmu suara dia berkata kepada Cu-cu.

"Nona tak usah menunggu-nya lagi, dia tidak akan datang, kembalilah ganti pakaian dan segera naik kemari."

Mendengar seruan Kun-gi, sekilas Cu-cu melengak.

dengan kepala tunduk pelan2 dia beranjak turun lewat tangga terus ke bawah.

Habis bicara Kun-gi lalu memberi tanda gerakan tangan ke arah Giok lan dan So-yok terus mendahului masuk ke dalam.

So-yok menyongsong kedatangannya sambil bertanya.

"Bagaimana Lingheng?"

"Marilahkitabicaradi dalamsaja,"ajak Kun-gi.

"Apakah rahasia kita sudah bocor?"

Tanya So-yok. Kun-gi menggeleng, katanya.

"Mungkin kita tertipu malah."

"Tertipu?"

Seru So-yok.

"Ditipu siapa?"

"oleh Ci-Gwat-ngo,"

Kata Kun-gi. Melihat mereka bertiga masuk, Pek-hoa-pangcu lantas bertanya.

"JadiapayangdibicarakanCi-Gwat-ngo itubohong belaka?"

"Paling tidak separo yang dikatakannya hanya bualan belaka,"

Sahut Kun-gi. Pek-hoa-pangcu melenggong, tanyanya.

"Bualan apa maksudnya?"

"Kita diperalat olehnya untuk memberi kabar kepada temannya."

Pek-hoa-pangcu melengak, tanyanya.

"Maksud cong-su-cia bahwa Ci-Gwat-ngo sudah tahu tipu daya yang kita atur?"

"Mungkin demikian,"

Kata Kun-gi. Tengah bicara tampak Bi-kui berjalan masuk. tanyanya.

"Kenapa cong-su-cia memanggilku kembali?"

"Umpama nona menunggunya lagi satu jam, dia tetap takkan keluar,"

Ucap Kun-gi.

"cong-su-cia kira apa yang dikatakan Ci-Gwatngo hanya bualan belaka"

Tanpa menjawab Kun-gi mendekati meja, di-jemputnya secangkir air teh terus ditenggaknya, lalu berkata.

"Silakan duduk nona, Ceritakan pula sejelasnya pembicaraanmu tadi dengan Ci-Gwatngo."

Bi-kui melenggong, katanya.

"Maksud cong-su-cia penyamaranku telah diketahui oleh Ci-Gwat-ngo?"

"coba nona bayangkan kembali secara cermat, sejak kau masuk ke sana sampai pembicaraan kalian yang terakhir."

Bi-kui duduk disebuah kursi, katanya.

"Hamba menggantikan Siukin mengantar makan malam padanya, setelah siu-kin pergi, hamba lantas menutup pintu, lampu kugantung di dinding, setelah menurunkan rantang makanan kuhampiri dia, kupanggil dia dan tanya. cici, kau tidak apa2 bukan? Semula Ci-Gwat-ngo rebah tak bergerak. mendengar suaraku tiba2 ia membuka mata, suaranya lirih terCengang. Kaukah? -Hamba manggut2 sambil tanya. Kau tidak apa2? -Dengan susah payah dia merangkak berduduk, sambil menarik tanganku, katanya dengan menunduk. Siau-moay, -syukurlah kau telah datang Mendadak Kun-gi angkat tangan.

"Tunggu sebentar nona, dia menariktanganmu yang mana?"

"Tangan kiri."

"Waktu dia berduduk, apakah selalu tunduk kepala"

Bi-kui mengiakan sambil mengangguk. Kun-gi menoleh ke arah Giok-lan, katanya.

"Minta tolong congkoan, suruhlah orang membawa Cu-cu kemari."

Giok-lan mengiakan terus mengundurkan diri, tak lama kemudian ia membawa Bak-nidan Swi-hiang memapah Cu-cu masuk.

Bi-kui tidak tahu dalam hal apa dirinya berbuat salah dan sudah diduga oleh Ling Kun-gi, maka dengan melongo ia pandang Cu-cu yang di-gusur masuk.

Kun-gi menghampiri dan pegang tangan kiri orang, betul juga ditemukan sebuah tahi lalat ke-cil di ujung bawah telapak tangan kiri Cu-cu, meski keCil tahi lalat itu, hanya sebesar lubang jarum, tapi warnanya hitam legam, kalau tidak diteliti memang sukar menemukannya.

Maka dia mendengus sekali, katanya.

"Hek lionghwe memang Cermat bekerja, sampai orang utusan mereka juga sudah diberi tanda khusus di badannya, umpama orang luar bisa menyamarnya juga sukar mengelabui orang mereka sendiri."

"Jadi tanda ini sudah mereka tato sebelum di utus keluar?"

Tanya So-yok. Kun-gi manggut2.

"Tangannya sudah di tato, tak heran Ci-Gwat-ngo menarik tanganku serta memeriksa dengan teliti, cermat dan cerdik serta licin betul orang ini."

Kun-gi memberi tanda supaya Cu-cu digotong keluar, katanya.

"Tangannya sudah di tato selembut ini tanpa kita ketahui, inilah kecerobohan kita. kesalahan yang kecil dan tidak di sengaja, tapi mengakibatkan gagalnya urusan besar."

"Apakah hamba perlu meneruskan bercerita?"

Tanya Bi-kui. Kun-gi menggeleng dan berkata.

"Sudahlah."

"Bahwa dia sudah tahu aku Cu-cu palsu, sudah tentu apa yang diakatakanpadakujuga tak-dapatdipercaya,"ujarBi-kuipula.

"Ci-Gwat-ngo memang cerdikdan licin, walaudiatahubahwa Cucu dipalsukan orang lain, tujuannya sudah tentu untuk mengorek keterangan dari mulutnya, maka dia sengaja mengatur tipu untuk balas menipu kita, dan nonalah yang diperalat untuk menyampaikan berita buruktentang dirinya."

"Hah, hamba yang menyampaikan beritanya?"

Teriak Bi-kui kaget.

"Ya, dia minta padamu supaya mondar-mandir tiga kali di atas dek tingkat kedua setelah kentongan keempat, mungkin itulah salah satu cara untuk mengadakan kontak secara rahasia, karena lena dan kurang hati2, kita malah kena diselomoti mereka."

"Bangsat keparat yang pantas mampus"

Dengus So-yok gusar. Pek-hoa-pangcu manggut2, katanya.

"Analisa cong-su-cia amat masuk akal, dia tahu kita pasti melakukannya sesuai pesannya, maka dia rela gigit putus lidah sendiri mencari jalan pendek. congsu-cia, lalu bagaimana tindakan kita selanjutnya?"

Bercahaya sorot mata Ling Kun-gi, tiba2 dia tersenyum, katanya.

"Walau Ci-Gwat-ngo licik dan licin, tapi para begundalnya itu sudah berada dalam genggaman tanganku, kuyakin mereka tidak akan bisa lolos."

Terbelalak mata So-yok. serunya girang.

"Jadi kau sudah tahu siapa mereka? coba sebutkan nama2 mereka."

"Wah, ini. ....."

Kun-gi ragu2.

"Kenapa?Kautidak maumenerangkan?"desakSo-yok.

"Maaf Hu-pangcu, sekarang belum kuperoleh bukti nyata, sudah tentu Cayhe tak bisa menuduh seseorang yang tidak terbukti melakukan kesalahan."

"Kau memang suka jual mahal,"

So-yok merengut.

"Ji-moay,"

Sela Pek-hoa-pangcu.

"apa yang dikatakan cong-su-cia memang tidak salah, sebelum memperoleh bukti yang nyata, tak bisa kita memfitnah seseorang sehingga membikin orang penasaran, untuk membongkar komplotan ini ke-akar2nya kita harus bekerja penuh kesabaran."

"Baiklah, aku takkan banyak bertanya lagi, lalu apa yang harus kita kerjakan, tentunya cong-sucia bisa memberi petunjuk?"

Tanya So-yok. Kun-gi tertawa, katanya.

"Urusan selanjutnya kuyakin dapat menyelesaikannya ditingkat kedua, maka Pangcu, Hu-pangcu dan congkoan selanjutnya boleh tidak usah turut Campur."

"Apakah tenaga hamba masih dibutuhkan cong-su-cia?"

Tanya Bikui.

"Untuk sementara tiada tugas nona lagi, setelah orang itu dapat kubekuk, nonaboleh tampilsebagaisaksi."

"Eh, agaknya kau yakin benar akan rencanamu,"

Ucap Bi-kui dengan melerok.

"Memangnya jabatan cong-su-cia harus sia2 berada ditanganku."

Pek-hoa-pangcu menatapnya penuh rasa kasih mesra dan prihatin, katanya.

"Thay-siang memang tidak meleset menilai dirimu."

Oooodwoooo Kapal besar itu laju mengikuti arus sungai Tiang-kang, kini sudah memasuki wilayah propinsi An-hwi dan hampir sampai perbatasan Kang-soh.

Sejak terjadi usaha pembunuhan atas diri Thay-siang dan barang bukti ditemukan di kamar Ling Kun-gi, Thay-siang ternyata tidak menaruh curiga padanya.

Bukan saja Ling Kun-gi tidak di-hukum, malah dia tetap menjabat cong-su-cia dan diberi kuasa untuk membongkar peristiwa pembunuhan ini.

Dan peristiwa ini akhirnya tiada kelanjutannya dan terbengkalaidemikian saja.

Beruntun dua hari keadaan aman tenteram tak terjadi apa2 lagi, perasaan semua prang mulai tenang dan lupa akan kejadian yang lalu.

Kapal terus berlayar sesuai haluan yang ditunjuk dan berlabuh ditempat yang sudah ditentukan pula, selanjutnya tidak ditemukan rintangan apa2, tiada kapal musuh yang menguntit, seolah2 Hek liong-hwe tidak tahu bahwa Thay-siang-pangcu Pek-hoa-pang pimpin sendiri pasukan intinya untuk menyerbu ke sarang mereka.

Secara tidak langsung ini membuktikan bahwa sarang Hek-liong-hwe yang menjadi tujuan utama mereka letaknya tentu masih teramat jauh sekali.

Hari ketiga setelah Cu-cu palsu menyampaikan berita dengan cara mondar-mandir tiga kali di atas dek sebelah kanan, Menjelang senjakapalberhenti padakaki bukitLiang-sansebelah timur.

Gunung Liang-san dibatasi sebuah aliran sungai sehingga terbagi timur dan barat, umpama sebuah pintu bagi Tiang-kang yang panjang dan luas, maju lebih lanjut adalah Gu-cu-san, karena letak gunung itu menonjol keluar dan menjurus ke tengah sungai, maka dia juga dinamakan Gu-cu-ki.

Enam sampan yang berisi para peronda yang dinas malam sudah mulai bergerak diperairan sekitarnya, malam ini para peronda itu tetap dibagi dua kelompok.

Kelompok pertama dipimpin oleh Houhoat cin Tek khong ditemani Houhoat-su-cia Kho Ting-seng yang pandai menggunakan pelor perak.

seorang lagi adalah Ji Siusang, murid Bu-tong-pay, tugas mereka adalah 10 li perairan perbatasan timur dan barat gunung Liang-san-.

Kelompok yang lain dipimpin oleh IHouhoat Liang ih-Hun, dua Houhoat su-cia yang menemani adalah Ban Yu-wi dan Sun Ping-hian.

sepuluh li sebelah selatan perairan kaki gunung Liang-san menjadi daerah operasi mereka, tegasnya 20 li sekitar kapal yang ditumpangi Thay-siang itu kapal lain milik siapapun dilarang mendekat.

Waktu turun kapal Cin Te-khong telah memberi tahu kepada Kha Ting-song danJi Siu-seng.

"Ji-heng, Khong-heng, daerah operasi kita lain dengan daerah yang harus dijelajah oleh kelompok Liang Ih-jun, dalam jarak 20-an li mereka masih biaa saling kontak secara leluasa, sebaliknya bagian kita ini kalau maju lagi adalah Gu-Cu-ki dibawah lereng gunung adalah perkampungan kaum nelayan, besar kemungkinan musuh bersembunyi di sana, maka kita harus hati2, menurut hematku dalamkelompokkitainiharus membagitugas, Kho-heng ke sebelah timur,Ji-heng ronda sebelah barat, aku akan tetap berada di tengah sebagai poros untuk memberi bantuan ke segala jurusan, setiap setengah jam kita bertemu sekali di utara Gu-cu-ki, semoga tidak akan terjadi apa2."

Kho Ting-seng dan Ji Siu-seng berkata bersama.

"Rencana kerja cin-houhoat memang baik, kami menerima pembagian tugas ini."

Begitulah mereka bertiga lantas berpencar ke utara menurut arah masing2 yang telah dirancang-.

Kira2 menjelang kentongan pertama turun hujan rintik2, permukaan air menjadi pekat diliputi kabut yang semakin tebal, dalam jarak sedikit jauh sudah tidak kelihatan apa2 lagi.

Setiap sampan kecil yang mereka pakai rata2 menggunakan tenaga dua orang pendayung, keduanya duduk di haluan dan buritan, sisa tempatnya di tengah hanya cukup untuk duduk dua orang, karena bentuknya yang kecil dan pendek, maka sampan ini bisalaju cepatsekali dipermukaanair.

Sampan yang berlaju ditengah itu meluncur lurus ke utara Gu-cusan, seorang laki2 berpakaian hijau ketat tengah memberi aba2.

orang ini adalah Cin Te-khong, perahunya langsung menuju ke utara dengan sendirinya lebih cepat dan dekat daripada Kho TingsengdanJiSiu-sengyangharus berputarkearahtimurdan barat.

Utara Gu-cu-ki ini adalah pesisir belukar yang ditumbuhi semak2 gelaga, air sungai Tiang-kang yang mengalir sampai daerah ini terbagi dua cabang aliran, menuju ke timur dan barat, melampaui dan kemudian bergabung kembali.

Oleh karena itu daerah pesisir sungai ini sepanjang tahun terdampar oleh arus air yang deras sehingga dinding batu padas menjadi terjal.

Kini Cin Te-khong sedang memberi petunjuk kepada kedua pembantunya untuk menggayuh sampan ke arah utara di mana tepi sungai lebih rendah dan rata.

Tepi air ditumbuhi daun welingi yang lebat, arus air di sinipun agak lambat.

Sesuai petunjuk Cin Te-khong kedua orang menggayuh sampan itu melampaui tetumbuhan welingi dan akhirnya berhenti di tepian.

Hujan gerimis ternyata juga sudah berhenti.

Supaya kedua sampan lain tahu tempat di mana dia berdiam, maka Cin Te-khong suruh anak buahnya memasang lampu angin, sementara dia sendiri duduk di sampan-Kira2 setanakan nasi kemudian, Kho Ting seng dan Ji Siu sengpun menyusul tiba dengan kedua sampan mereka.

Cin Te-khong menyambut kedatangan mereka, katanya.

"Kalian sudah letih tentunya."

Kho Ting-seng menjura, katanya.

"Sudah lama cin-houhoat tiba di sini?"

Cin Te-khong tertawa, katanya.

"Baru saja, kalian harus berputar, sudah tentu sedikit terlambat."

Cepat sekali kedua perahu itupun merapat di darat. Kata Ji Siu-seng.

"Untung cin-houhoat menyulut pelita di sini, kalau tidak sukar menemukan tempat ini."

"Keadaan sekitar sini aku paling apal, arus air di sinipun tidak deras, tempat ini paling cocok untuk berteduh dari hujan angin, di daratan sebelah sana ada tanah lapang berumput, kita bisa duduk atau merebahkan diri sambil mengawasi situasi perairan, ada gerakan apapun di air tentu tak lepas dari pandangan kita. Hayolah kita mendarat, sudah kubawakan arak dan hidangan, mari makan minum sepuasnya."

"cin-houhoat,"

Kata Ji Siu-seng.

"kita bertugas meronda keadaan perairan sini, janganlah kita lena?"

Cin Te-khong tertawa dengan pongahnya, katanya.

"Ji-heng terlalu jujur, memangnya semalam suntuk kita harus mondar mandir dipermukaan air melulu, sekali2 patrolikan sudah Cukup, kita juga perlu istirahat. Apalagi sambil makan minum di sana kita sekaligus bisa mengawasi situasi perairan, setelah istirahat sejenak. kita harus periksa juga keadaan hutan sekitar sini."

Lalu dia mendahului melompat ke sana dan menambahkan-"Hayolah, aku naik lebih dulu." .. Mendengar bakal makan minum sepuasnya, Kho Ting-seng segera tertawa, katanya.

"Ji-heng, situasi daerah ini cin-houhoat apal seperti membaca telapak tangannya sendiri, kita turuti saja kehendaknya."

Lalu dia melompat ke daratan juga.

Terpaksa Ji Siu-seng ikut melompat naik.

Apa yang dikatakan Cin Te-khong memang tidak salah, tidak jauh dari tepi danau adalah sebuah tanah lapang, lereng di depan adalah hutan yang cukup lebat, di depan hutan inilah terdapat tanah berumput yang datar.

Cin Te-khong sudah mendahului duduk di atas rumput, katanya dengan tertawa.

"Kho-heng,ji-heng, lekas duduk, sayang malam ini tiada rembulan, makan minum di tempat gelap rasanya jadi kurang nikmat."

Kho Ting-seng dan Ji Siu-seng juga lantas duduk di tanah berumput, sementara anak buah Cin Te-khong sudah menjinjing sebuah guci arak dari atas sampan, tiga mangkuk dan sebungkus makanan di taruh di tengah mereka.

Waktu bungkusan di-buka, ternyata isinya ada babi panggang, ayam goreng, dendeng dan telur asin segala.

Ji Siu-seng bertanya heran-"cin-houhoat dari mana kau peroleh makanan sebanyak ini?"

Sambil meraih poci arak Cin Te-khong mengisi penuh mangkuk kedua orang lalu mengisi mangkuk sendiri, katanya setelah meneguk araknya.

"Asal punya duit, setanpUn bisa kita perintah, tahu malam ini aku bertugas, diam2 kusogok koki untuk menyiapkan makanan ini. Hawa sedingin ini, siapa tahan bergadang semalam suntuk tanpa minum arak?"

Lalu dia Celingukan-"Hayolah, kalian jangan sungkan, sikat dulu makanan ini"

Sembariomongdiaambil pahaayamterusdilalap. Kho Ting-seng angkat mangkuk araknya, katanya.

"cin-houhoat, kuaturkan seCawan arak ini."

Sambil menggerogoti paha ayam Cin Te-khong angkat mangkuk araknya dan ditenggak habis, ka-tanya menoleh ke arah Ji Siu-seng.

"KenapaJi-hengtidak minumarak?"

"Akutidakbiasa minumarak."sahutJiSiu-seng.

"Memangnya Ji-heng kenapa?"

Ejek Cin Te-khong.

"Tidak bisa minumjugaharusmencicipisedikit, terusterang,arakyangkubawa malam ini paling cocok dengan makanan yang kubawa, sengaja kusediakan untukJi-hengpula."

"Ah, mana berani kuterima kebaikan cin-houhoat,"

Ujar Ji Siuseng. Mendadak Cin Te-khong menarik muka, katanya.

"Ji-heng kira aku berkelakar denganmu? Terus terang semua hidangan ini memang khusus kusediakan untukmu. Kau tahu apa maksudku?"

"Hamba tidak tahu, harap cin-houhoat menjelaskan,"

Kata Ji Siuseng. Cin Te-khong tergelak2, katanya.

"Berapa kali manusia mabuk dalam hidup ini? Kusediakan makan minum malam ini untuk mempertemukan duplikat seorang kepada Ji-heng."

"o, duplikat siapa itu?"

Tanya Ji Siu seng.

"Duplikat yang kubawa kemari ini punya nenek moyang yang sama dengan Ji-heng,"

Lalu beruntun dia tepuk tangan tiga kali, serunya keras2.

"Ji-heng, kau boleh keluar sekarang."

Lenyap suaranya, tampak dari hutan sana beranjak keluar seorang dan menjura pada Cin Te-khong, katanya.

"Hamba sudah datang."CinTe-khong menudingJiSiu-seng,katanya.

"Inilah Ji-houhoat, murid Bu-tong-pay, kalian harus berkenalan dengan akrab."

Malam pekat,Ji Siu-seng sukar melihat wajah orang, cuma terasa olehnya perawakan dan dandanan orang ini agak mirip dirinya, walau merasa heran, lekas ia menjura, katanya.

"Mohon tanya siapa nama Ji-heng yang mulia."

Orang itu pelan2 mendekati sambil berkata.

"Siaute bernama Ji Siu-seng, mendapat perintah untuk menggantikan kau."

Ji Siu-seng berjingkat kaget dan mundur selangkah, tangan memegang gagang pedang dan bertanya mendelik ke arah Cin Te-khong.

"Cin-houhoat, apa maksudmu ini?"

Cin Te-khong menyeringai, katanya.

"Kenapa Ji-heng bersikap sekasar ini? Maksud perjamuan yang kusediakan ini adalah untuk menyambut kehadiran Ji-heng ini, sekaligus untuk mengantar keberangkatan Ji-heng pula."

Sampai di sini tiba2 dia menarik muka serta menghardik.

"Tunggu apa lagi, lekas turun tangan ...."

Belum habis dia bicara, tahu2 terasa pinggang sendiri menjadi kaku. Didengarnya seorang berbisik dipinggir telinganya.

"Maaf Cinhouhoat, sementara bikin susah dirimu."

Ternyata yang bicara adalah anak buahnya yang pegang gayuh di sampannya, yaitu Li Hek kau, Hong-gan-hiat dipinggang Cin Tekhong telah ditutuknya.

Kejadian berlangsung dalam sekejap mata, tahu gelagat tidak menguntungkan Ji Siu-seng lantas melolos pedang, hardiknya.

"Cin Te-khong, Jadi kau ini mata2 Hek liong-hwe, apa yang hendak kau lakukan atas diriku?"

Seorang anak-buah Cin Te-khong yang lain bernama Ong Ma-cu, sambil berdiri di sana dia pegang sebuah kotak perak yang kemilau, itulah Som-lo-ling adanya, ia minta petunjuk kepada Cin Te-khong.

"Cin-houhoat, menurut perintahmu Ji siu-seng yang mana yang harus kubidik?"

Cin Te-khong tetap duduk di sana, keringat ber-ketes2 membasahi kepala dan selebar mukanya, tapi mulutnya tetap terkancing.

Mengawasi Ji Siu-seng palsu, tiba2 kelasi bernama Ong Ma-cu itu angkat kotak gepeng perak ditangannya sambil tertawa, katanya.

"Memangnya saudara ini belum melihat jelas? Kenapa tidak lekas menyerah untuk dibelenggu, memangnya perlu ku-turun tangan?"

Baru sekarang orang yang menyamar Ji Siu-seng itu tahu gelagat jelek. mendadakdiamelompatmundurterushendak melarikandiri. Ong Ma-cu ter-gelak2, katanya.

"Aku tidak menyerangmu dengan Som lo-ling ini lantaran ingin membekukmu hidup2, memangnya kau bisa melarikan diri?"

Melihat bangsat yang menyaru dirinya hendak lari Ji Siu-seng segera menghardik.

"Keparat, ke mana kau lari?"

Baru saja dia hendak menubruk maju, kelasi tadi telah bergelak tawa, serunya.

"Ji heng, tak usah dikejar, dia tidak akan bisa lolos."

Betul juga, belum kata2 Ong Ma-cu itu berakhir, dari arah depan sana dua bayangan orang tampak berkelebat maju memapak Ji Siusengpalsuseraya membentak."Berdirisajakawan, jangan lari."

Ji Siu-seng melihat jelas, kedua orang yang mencegat Ji Siu-seng palsu adalah anak buah di sampan Kho Ting-seng, ia merasa heran dan kaget, dilihatnya anak buah yang pegang kotak gepeng perak telah menyimpan benda itu.

"Sreng", tahu2 dia telah melolos sebatang pedang panjang, teriak-nya.

"Song-heng, Tio-heng, kitakan sudah berjanji, orang ini serahkan padaku ......"

Sekali lompat dia sudah menubruk tiba disamping musuh, kata-nya.

"Saudara, keluarkan senjatamu."

Baru sekarang Ji Siu-seng sadar duduk persoalannya, serunya.

"Aha, kiranya Kongsun-houhoat adanya."

Kongsun houhoat ialah Thian long-kiam Kongsun Siang. Terdengar seorang anak buah yang berdiri di samping Cin Te-khong itu tertawa lantang, katanya.

"Betul, dia memang kongsunhouhoat, boleh Ji-heng duduk saja, sekarang marilah minum arak sepuasnya."

Kembali Ji Siu-seng melongo kaget, lekas dia menjura dan berteriak heran.

"He, engkau kiranya Cong-su-cia adanya."

Anak buah bernama "Li Hek kau"

Sementara itu sudah mencuci obat rias diwajahnya. katanya tersenyum.

"Ya, aku memang Ling Kun-gi."

Melenggong sejenak. segera Ji Siu-seng. ber-jingkrak girang, serunya.

"Kiranya memang Congcoh, kalau bukan kalian yang menyamar, pastijiwa hambasudahamblas malamini."

Sementara itu Kongsun Siang yang menyaru jadi Ong Ma-cu dengan gerakan Long-sing-poh telah menerjang ke samping Ji Siu-seng palsu, ternyata reaksi Ji Siu-seng palsu juga sebat dan cepat luarbiasa, sekaliayunpedang menusuk kebadan Kongsun Siang.

Betapa cepat serangan pedang orang ini, cabut pedang terus menusuk dilakukan serentak dalam waktu yang amat singkat, jelas iapun memilikiIlmu pedangyang luarbiasa.

"Serangan bagus"

Seru kongsun Siang sambil tertawa "Trang", lelatu api meletik, dua pedang beradu keras dan menerbitkan gema suara nyaring panjang.

Kedua orang sama2 merasakan telapak tangan sakit kesemutan-Kongsun Siang menerjang ke samping, pedang berkisar, serangan jurus ke dua sudah dia lancarkan mendahului musuh.

Ternyata gerakan Ji Siu-seng palsu ini juga tidak lambat, serempak iapun memutar, kembali dengung suara keras beradunya dua senjata terdengar, tusukan pedang Kongsun Siang ternyata kena disampuknya pergi.

Kongsun Siang tertawa, serunya.

"Kau berani menyaru Ji-heng, kenapa Ilmu pedang Bu-tong-pay tidak kau yakinkan sekalian?"

Sambil bicara secara beruntun ia mencecar pula tiga kali tusukanLawan tidak berkata sepatahpun, pedang tetap balas menyerang dengan sengit, beruntun iapun balas menyerang tiga jurus.

Ini merupakan pertandingan pedang tingkat tinggi yang jarang terlihat, kecuali samberan Sinar pedang bagai kilat berkelebat, Sering pula terdengar suara dering pedang yang beradu secara keras.

Thian-long-kiam-hoat yang diyakinkan Kong-sun Siang memang menjurus kealiran liar yang ganas dan buas.

pedangnya sering menyerang tatkala lawan menyangka dia hendak kabur, tahu2 orang malah dicecar dengan tusukan dan tabasan yang sukar dijaga, Tapi permainan Ilmu pedang Ji Siu-seng palsu ini ternyata cepat sekali, pedangnya bergerak laksana kitiran, setiap jurus serangan juga mematikan,jadi Ilmu pedang mereka memang sama2 keji dan hebat.

Ling Kun-gi ikut menyaksikan dengan seksama dan penuh perhatian, demikian pula Ji siu-seng dan kedua anak buah lainnya sama menonton dengan berdebar.

Suatu ketika Ji Siu-seng melirik kearah Cin Te-khong dan Kho Ting-seng yang duduk dan menggeletak tertutuk Hiat-tonya, diam2 dia membatin.

"Syukurlah kedua orang ini sudah terbekuk lebih dulu oleh Cong-su-cia dan Kongsun-houhoat yang muncul malam ini, entah bagaimana mereka bisa tahu akan muslihat musuh yang licik ini?"

Serta merta matanya mengerling ke arah Ling Kun-gi, diam2 hatinya menaruh hormat dan kagum luar biasa kepada Cong su-cia yang masih muda dan gagah perkasa ini, Dilihatnya Kun-gi pegang mangkuk sambil meneguk arak pelan2, wajahnya mengulum senyum cerah, sikapnya tenang2 saja seakan2 dia sudah yakin bila Kongsun Siang akhirnya pasti menang.

Diam2 ji Siu-seng keheranan, lekas dia menoleh pula mengawasi kedua orang yang tengah berhantam, keduanya masih tetap saling serang, lingkaran cahaya pedang kini bertambah luas mencakup lima tombak di sekeliling gelanggang sehingga sukar dia memastikan siapa bakal menang dan kalah.

Padahal kedua orang sudah bergebrak seratus jurus lebih.

Se-konyong2 terdengar Kongsun siang membentak.

pedang bergerak lebih kencang lagi, beruntun tiga jurus lihay dilancarkan, maka terbit pula dering nyaring beradunya senjata mereka, pedang di tangan Ji siu-seng palsu tampak terpukul jatuh di tanah berumput.

Sekali tuding pedang Kongsun Siang menutuk ke dada lawan, serunya dengan gelak tertawa.

"Kan sudah kepepet, memangnya tidak terima kalah dan menyerah?"

Lekas Ji siu-seng palsu menarik napas dan mengempiskan dada sambil mundur dua langkah, teriaknya beringas.

"Siapa bakal mampus masih sukar diramaikan."

Mendadak tangan kiri ter-ayun dan mulut membentak, dia melenting tinggi melesat miring ke sana.

Kiranya dia tahu keadaan cukup gawat, kecUali Kongsun Siang, masih ada dua orang lain yang mencegat jalan mundurnya, maka dia pura2 menyerang dan berusaha melarikan diri.

Melihat tangan orang terayun, tapi tidak menimpukkan senjata rahasia, Kongsun Siang membade lawan hanya main gertak dan berusaha melarikan diri, maka dengan tawa lantang dia berkata.

"Kau masih ingin ngacir, kukira tidak gampang."-Tangan kanan sekali bergerak. pedang ditangannya seketika meluncur dan "crap"

Menancap ambles di tanah berumput sana, sementara seringan burung walet badannya melambung tinggi berusaha mencegat lawan di tengah udara. Ji siu-seng palsu semakin murka, teriaknya.

"Turun kau"

Ia songsong tubrukan Kongsun Siang dengan pukulan telak.

Sudah tentu dikala tubuh terapung Kongsun Siang juga sudah siaga, maka iapun melancarkan pukulan keras menyambut hantaman lawan"Brak", di tengah udara kedua orang adu jotos, kekuatan pukulan mereka sampai menerbitkan suara yang membisingkan telinga, keduaorangsama2tertolakturunke tanahpula.

Begitu menginjak bumi, mendadak kaki kiri Kongsun Siang melangkah setapak.

tahu2 ia sudah mendesak tiba di samping Ji Siu-seng palsu, serentak dia tutuk siau-you-hiat di pinggang Ji Siuseng palsu.

Ternyata Ji siu-seng palsu tidak kalah sebatnya, dengan gaya liong-bwe-hwi-hong (ekor naga menerbitkan angin) iapun balas menyerang, Tangkas sekali Kongsun Siang sudah ganti gaya sambil menyingkir ke samping, secara cepat luar biasa dan memberosot ke sebelah kanan Ji Siu-seng palsu, secepat kilat tahu2 tangan kirinya sudah cengkeram pergelangan tangan kanan lawan-Gerak ini sunguh cepat luar biasa, betapa lihay rangsakannya ini sungguh sukar dilukiskan-Untuk punahkan serangan lawan jelas tidak sempat lagi, maka Ji siu-seng palsu menggeram sekeras2nya, tangan kiri mengepal, sekuatnya dia genjot muka Kongsun Siang, sementara kelima jari kanan membalik balas pegang pergelangan tangan Kongsun Siang.

Tapi tiba2 tangan kanan Kongsun Siang juga membalik dan lancarkan Kim-na-jiu-hoat, tangan kiri lawanpun kena dipegangnya pula.

Sebelah tangan masing2 sama2 kena dipegang lawan, tinggal sebuah tangan yang lain saling serang secara cepat dalam jarak dekat,tiba2menepuktahu2menutuk.

mendadakgantijotosanserta berbagai tipu lihay, keduanya berebut waktu dan mengadu kecepatan-Betapapun situasi memang tidak menguntung-kan Ji Siu-seng palsu, dia ingin lari secepatnya, mendadak dia menghardik, serentak kaki kanan menendang ke selangkangan Kongsun Siang, sementara tangan kanan sedang saling serang dengan lawan, tak mungkin Kongsun Siang menghindar atau menangkis tendangan ini.

Namun Kongsun Siang bukan lawan empuk.

tiba2 dia lepaskan pegangannya, tangan kiri berbareng membalik dengan mengerahkan tenaga sehingga tangan sendiri yang dipegang lawan terlepas, dan jari bagai jepitan besi terus menutuk ke kaki lawan yang menendang tiba.

Kedua pihak hampir bersamaan melepas pegangan tangan-Baru saja Ji Siu-seng merasa senang asal pegangan jari lawan terlepas, maka ada harapan dirinya untuk melarikan diri.

Tak terduga tiba2 terasa lm-koh-hiat di kaki kirinya kesemutan, tanpa kuasa tubuhnya lantas doyong ke depan-Secepat kilat Kongsun siang lantas susuli pula dan kali tutukan Hiat-to besar diantara tulang rusuknya.

"Blang"

Kontan dia terbanting roboh tak berkutik.

Kongsun siang menyeringai bangga, dia jemput pedangnya dan dimasukkan keserangkanya, sekali raih dia jinjing tubuh Ji Siu-seng palsu dan menghampiri Ling Kun-gi dengan langkah lebar.

"Bluk"

Dia banting tubuh Ji Siu-seng palsu ke tanah terus menjura, katanya.

"Syukurlah hamba telah menunaikan tugas."

Kun-gi manggut2, katanya.

"Sudah kuduga Kongsun-heng pasti berhasil membekuk musuh, maka sengaja kusediakan secawan arak untuk menyuguh dan merayakan kemenangan Kongsun-heng."

"Terima kasih Cong-coh,"

Ucap Kongsun Siang ia terima mangkuk arakitu terus ditenggaknya habis.

"Marilah Song-heng dan Thio-heng,"

Kata Kun-gi menoleh ke sana.

"marilah kita bersama2 minum beberapa mangkuk."

Heran Kongsun Siang, katanya.

"Bukankah Cong-coh biasanya tidak suka minum arak?"

"Betul, biasanya aku jarang minum arak. semangkuk saja mungkin sudah mabuk, tapi malam ini Cin-heng ini dengan susah payah menyiapkan perjamuan ini, hayolah jangan sia2kan maksud baik-nya."

Maka be-ramai2 mereka sama duduk di sekitar Ling Kungi.

Song Tek-seng dan Thio Lamjiang segera menghapus obat rias di mukanya, sementara Ji Siu-seng mengisi arak ke dalam mangkuk.

Kun-gi duduk di tengah antara Cin Te-khong dan Ko-Ting-seng, dengan enteng kedua tangannya bergerak, seperti mengulap saja jari2 tangannya sudah membuka tutukan Hiat-to di tubuh orang.

Sedikit bergetar, Cin Te-khong dan Kho Ting-seng sama2 membuka mata.

Lekas Cin Te-khong menggerakkan kedua tangan berusaha bangun berduduk.

tapi beberapa kali bergerak selalu gagal, ternyata didapatinya kaki tangan terasa lunglai, ada Hiat-to yang masih tertutuk, akhirnya dia menghela napas panjang, tapi sorot matanya beringas, bentaknya.

"orang she Ling, apa kehendakmu?"

"Cin-heng sudah siuman?"

Tanya Kun-gi tawar.

"Bukankah tadi kau bilang, kapan manusia hidup pernah mabuk. nah silakan minum beberapa mangkuk ini."

"orang she Ling,"

Desis Cin Te-khong penuh marah.

"jangan kau ber-muka2 di depanku. Mau bunuh atau sembelih boleh silakan, jangan kira aku akan mengerut kening."

Tegak alis Kongsun Siang, katanya dingin.

"cin Te-khong, berani kau kurang ajar, kau ingin kuiris sebuah kupingmu."

Cin Te-khong menggerung gusar, serunya.

"Rahasiaku sudah terbongkar, kecuali mati tiada urusan lain yang lebih besar lagi, kau kira aku ini pengecut yang bernyali kecil? Apalagi umpama orang she cin betul2 mati pasti juga ada orang akan membalas dendamku."

Kun-gi angkat mangkuk araknya dan meneguk sekali, katanya sambil menoleh.

"Rahasia cin-heng sendiri sudah terbongkar, memangnya beberapa anak buahmu itu bisa berbuat apa?"

"Akutidakpunyaanak buah,"kataCin Tek-hong ketus.

"Dua orang yang kau suruh menaruh air teh di kamarku, bukankah mereka anak buahmu?"

Berubah air muka Cin Tek-hong, dingin katanya.

"Aku tidak tahu apa katamu."

"Setelah kita puas makan minum dan pulang, Cin-heng akan tahu duduk persoalannya."

Kongsun Siang heran, tanyanya.

"Cong-coh bilang bahwa di kapal kita masih ada komplotan mereka?"

Ling Kun-gi tersenyum penuh arti, katanya.

"Sudah tentu masih ada, kalau malam ini kita tidak membekuk Cin-heng, beberapa hari lagi mungkin komplotan mereka akan bertambah banyak lagi, jabatan Cong-su-cia yang kududuki ini juga pasti harus kuserahkan kepada Cin-heng ini."

Song Tek-seng menimbrung.

"Benar Cong-coh, umpama malam ini bila rencana mereka berhasil baik, komplotan mereka akan bertambahseorang lagidiataskapalkita."

Kun-gi tersenyum padanya, katanya.

"Syukurlah kalau Song-heng tahu, tapi tiga hari yang lalu waktu Song-heng pulang ronda, kau pernah membawa pulang orang mereka."

Song Tek-seng berjingkat kaget, tanyanya.

"Hamba membawa pulang orang mereka?"

Lalu dia berpaling ke arah Kho Ting-seng.

"Apakah dia yang Cong-coh maksud?"

"Kho-heng ini ikutdatangdari Hoa-keh-sanceng,"ujar Kun-gi.

"O, Kho Ting-seng, kaukah yang mencelakai jiwa Ho Siang-seng?"

Teriak Song Tek-seng murka.

"Orang she Ling,"

Dengus Cin Tek-hong.

"agaknya kau sudah tahu seluruhnya, tentu Li Hek-kau yang membeberkan semua ini."

Li Hek-kau dan Ong Ma-cu adalah kedua kelasi disampan Cin Tek-hong. Kun-gi meneguk araknya pula, katanya tertawa.

"Apa yang diketahui Li Hek-kau dan Ong Ma-cu amat terbatas, tanpa tanya mereka aku sudah tahu lebih banyak lagi."

"Darimana kau bisa tahu?"

Tanya Cin Tek-hong. Sekali mengebas tangan Ling Kun-gi bebaskan tutukan hiat-to di lengan orang, lalu angsurkan semangkuk padanya, katanya.

"Silakan minum Cin-heng."

Cin Tek-hong memang setan arak, tanpa sungkan dia terima mangkuk itu terus di tenggaknya habis, katanya sambil ber-kecap2.

"Kukira rencanaku hari ini cukup rahasia dan teliti, tak nyana terbongkar juga oleh Cong-coh, terus terang aku mengaku kalah, cuma cara bagaimana Cong-coh bisa tahu?"

"Aku orang baru, semua masih serba asing, sudah tentu Cin-heng sendiriyang memberitahupadaku,"

UcapKun-gi tertawa. Terbeliak mata Cin Tek-hong, katanya keras.

"Aku yang memberitahukan padamu?"

Nadanya heran tak percaya dan penasaran.

"Malam ini aku ingin bicara blak2an dengan Cin-heng, untuk itu terpaksa aku menyamar jadi Li Hek-kau dan ikut kemari, marilah sambil habiskan arak kita mengobrol,"

Lalu Kun-gi ambil poci arak, sertamengisi, mangkuksemuaorang. Cin Tek-hong terkekeh, katanya.

"Cong-coh mencekok aku dengan arak untuk mengorek keteranganku?? "Segalanya sudah kuketahui, untuk apa minta keterangan padamu. Tapi memang ada beberapa persoalan ingin aku minta penjelasan Cin-heng, nanti setelah kukatakan, terserah Cin-heng mau menjelaskan atau tidak, aku takkan memaksa."

Cin Tek-hong raih mangkuk araknya terus ditenggaknya, katanya.

"Baiklah, coba Cong-coh ka-takan, dalam hal apa aku telah memberitahukan Cong-coh."

Kun-gi angkat mangkuk arak sembari berka-ta.

"Silakan semua minum, tak usah sungkan."

Lalu berkata kepada Cin Tek-hong.

"Malam harinya setelah Cinheng diangkat menjadi Houhoat, kau mengira aku mabuk dan tertidur pulas, maka kau gunakan Som-lo-ling berusaha membunuhku secara gelap ....' "Darimana Cong-coh tahu kalau itu perbuatanku?"

Tukas Cin Tekhong.

"Semula memang sukar kuraba dan bukan Cin-heng yang kucurigai, soalnya orang itu terlalu apal mengenai keadaan dan seluk-beluk Hoa-keh-ceng, jadi jelas dia bukan orang luar, sementara dua orang kita yang bertugas ditepi danau terpukul mati oleh getaran tenaga dalam dari aliran Lwekeh yang dahsyat, dari keadaan kematian kedua orang ini dapat kusimpulkan mereka terpukul dalam jarak satu sampai dua tombak dengan getaran Bik-khong-ciang, dan orang yang memiliki pukulan telapak tangan sedahsyat itu dalam Pang kita hanya Coh-houhoat dan Cin-heng berdua, sudah tentu Yu-houhoat sendiri juga memiliki kekuatan yang seimbang, tapi dia ahli ilmu kepalan bukan pukulan telapak tangan, perawakan Leng-heng kurus tinggi, jelas tidak cocok dengan perawakan orang itu, oleh karena itu aku lebih cenderung untuk mencurigai Cin-heng."

Cin Tek-hong tenggak beberapa teguk araknya, katanya menyeringai.

"Analisa Cong-coh sungguh teliti dan cermat, agaknya aku memang terlampau rendah menilaimu."

Kun-gi melirik ke arah Kho Ting-seng, katanya.

"Waktu aku kembali, kebetulan kesamplok dengan Kho-heng, dia berjaga di tenggara Hoa-keh-ceng, merupakan jalan satu2nya yang harus di-lewati siapapun kalau pulang dari danau, kalau jejakku bisa konangan dia, kenapa kedatangan Cin-heng tidak diketahui? Hal ini sudah menimbulkan kecurigaanku, disamping itu dia berjuluk Gintancu (si pelor perak), seorang yang kesohor menggunakan senjata rahasia di kalangan Kangouw tentu memiliki kepandaian khusus yang betul2 lihay dan tinggi, tapi waktu dia menimpuk diriku, tenaganya lemah dan sasaran kurang telak, kepandaian rendah begini tak mungkin bisa kesohor dengan julukan Gintancu, mau tak mau aku dipaksa untuk sedikit memperhatikan dirinya, maka kudapati pula wajahnya telah dirias, karena itu aku menarik kesimpulan kalau dia mungkin sekongkol dan sekomplotan dengan Cin-heng, orang ini terang adalah samaran yang menyelundup ke Pek-hoa-pang kita."

Berubah air muka Kho Ting-seng, tanyanya.

"Jadi sejak mula Cong-coh sudah tahu kalau wajahku ini riasan?"

"Wajah yang dirias mungkin bisa mengelabui orang lain, tapi tak mungkin mengelabui kedua mataku. Tempo hari waktu Nyo Keh-cong dan Sim Kiansin kembali dengan terluka, akupun mendapatkan wajah mereka juga riasan, hari kedua waktu rombongan Song-heng pulang ronda, muka Ho Siang-seng juga telah dirias pula, oleh karena itu dapat kusimpulkan, setiap kalian keluar bertugas dengan cara bergilir satu persatu kalian menculik orang kita lalu menukarnya dengan seorang lain yang telah kalian rias mirip wajah orang aslinya dan diselundupkan kemari, bila kapal kita tiba di Hekliong-hwe, maka seluruh Houhoat dan Houhoat-su-cia telah kalian gantidenganbegundal kalian sendiri"

Cin Tek-hong menarik napas panjang, katanya lemas.

"Inilah yang dinamakan sekali salah langkah seluruh rencana porak-poranda. Saudara Ling, memang hebat kau!"

"O, pantas waktu malam itu aku giliran tugas, Cong-coh pesan wanti2 supaya aku berlaku hati2"

Kata Kongsun Siang.

"Ya, waktu itu aku kira sasaran berikutnya adalah kau, karena sampan yang kau gunakan hari itu adalah sampan yang digunakan Sim Kian sin, tapi akhirnya kuketahui hanya kedua anak perahu yang telah diganti,"

Merandek sebentar lalu Kun-gi melanjutkan.

"Malam itu dengan menggunakan Som-lo-ling seseorang berusaha membunuh Thay-siang, malah memfitnahku pula dengan menyelundupkan barang bukti kekamarku ......."

Memang peristiwa itu tiada buntutnya, padahal barang bukti sudah tergeledah dari kamar Ling Kun-gi dan dia sudah digusur ke hadapan Thay-siang, kenyataan dia masih membawa Ih Thiankiam, tanda kebesaran jabatannya sekarang, dia tetap menduduki Cong-su-cia.

Bagaimana kelanjutan dan akhir dari peristiwa itu?

Sudah tentu semua orang mengharap untuk mengetahui..

Kini Ling Kun-gi menyinggung peristiwa malam itu, maka Kongsun Siang, Song Tek-song, Thio Lam-jiang dan Ji Siu-seng sama pasang kuping mendengarkan dengan penuh perhatian.

Sampaipun Cin Tek-hong, Kho Ting-seng tiruan juga terbelalak menunggu cerita lanjutannya.

Kun-gi tersenyum, tuturnya.

"Malam itu juga, di antara para Taycia kutemukan juga orang yang telah dirias."

Kongsun Siang tanya.

"Ke12 Taycia semuanya mengenakan kedok, cara bagaimana Cong-coh bisa tahu?"

"Karena kudapati salah seorang mereka mengunjuk aksi yang mencurigakan, maka hal ini kulaporkan kepada Thay-siang, atas persetujuan beliau kusuruh mereka mencopot kedok dan kutemukan kepalsuannya."

Song Tek-seng tertawa riang, katanya.

"Cong-coh telah membekuknya?"

"Orang ini bernama Ci Gwat-ngo, salah seorang pimpinan orang2 Hek-liong-hwe yang dipendam dalamPek-hoa-pang kita."

Berubah rona muka Cin Tek-khong, tanpa bersuara dia teguk lagi araknya.

"Malam itu juga berhasil kuringkus seorang dara kembang tiruan, orang inilah yang biasa menjadi kurir antara Cin-heng dengan Ci Gwat-ngo, malam itu kusuruh dia mondar-mandir di dek tingkat kedua sebelah kanan untuk memberi kabar kepada Cin-heng."

"Kalau mereka sudah mengakui segala lakonnya, kenapa aku tidakditangkappadawaktuitu juga?"

TanyaCinTek-hong. Kalem senyum Kun-gi, katanya.

"Sepanjang perjalanan kapal kita ini kalian berusaha mengganti orang2 kita satu persatu, maka kugunakan pula cara dan akal yang sama untuk balas menipu kalian, sepanjang perjalanan akan kutangkap setiap orang utusan kalian yang diselundupkan ke atas kapal."

Cin Tek-hong ambil mangkuk araknya dan ditenggaknya habis pula, dengusnya.

"Saudara memang lihay, bukan saja jaringan rahasia kami terbongkar seluruhnya, malah orange kita akan kau jaring pula satu persatu sepanjang jalan ini, orang yang licik dan licin seperti ini, mana boleh kubiarkan kau hidup."

Tiba2 mangkuk ditangannya mencelat, telapak tangan besinya secepat kilat menekan ke dada Ling Kun-gi.

Cin Tek-hong duduk di sebelah kiri Kun-gi, pukulan ini sudah sejak tadi dia siapkan, sebetulnya sudah bisa turun tangan sejak tadi, tapi dia harus menunggu kesempatan.

Dikala Kun-gi tidak siaga baru akan menyerangnya secara mendadak dengan pukulan mematikan.

Seperti diketahui dia meyakinkan Hansi-ciang, pukulan aliran sesat yang dingin beracun dan jahat sekali, sedikit hawa dingin meresap ke badan dan cukup untuk menewaskan jiwa Ling Kun-gi.

Maka dapatlah dibayangkan bila pukulan telak ini dikerahkan setaker kekuatannya.

Ketika Kun-gi habis bicara, tangan kanan angkat mangkuk menghirup arak, baru saja arak masuk ke mulut, belum lagi mangkuk arak diturunkan, sementara tangan kirinya lagi menjemput telurasin, sudahtentusedikitpun diatidaksiaga.

Sama sekali Kun-gi seperti tidak merasakan bahwa telapak tangan Cin Tek-hong telah mengancam ulu hatinya, tiba2 ia berpaling sambil berkata dengan tertawa kepada Cin Tek-hong.

"Kenapa Cin-heng hanya minum saja tanpa makan? Telur asin ini enak rasanya."

Karena menoleh, dengan sendirinya badan bagian atas ikut bergerak hingga telapak tangan Cin Tek-hong yang mengincar ulu hati menjadi nyasar beberapa senti.

Gerak tangan Ling Kun-gi kelihatan kalem dan tak acuh, dengan tepat dia jejalkan telurasin itu ketelapaktanganCinTek-hong.

Telapak tangan Cin Tek-hong penuh kekuatan Hansi-ciang waktu tangannya hampir mengenai ulu hati lawan, diam2 ia telah bersorak girang, tak nyana mendadak terasa adanya benda bulat licin menahan telapak tangannya.

Benda itu jelas adalah telur, maka pukulan telapak tangan yang terjulur keluar itu menjadi mati kutu dan berhenti begitu saja karena tertahan oleh telur asin.

Kiranya dari telur asin ini terasa olehnya adanya tenaga besar yang lunak tak kelihatan menyetop tenaga pukulannya sehingga Hansi-ciang yang telah terpusat ditelapak tangannya menjadi macet.

Baru sekarang Song Tek-seng, Thio Lam-jiang yang duduk di sekitarnya melihat Cin Tek-hong membokong, karena mereka duduk di depan dari jarak agak jauh, mereka tidak sempat mencegah, hanya mulut saja yang berseru kaget.

Tapi Kongsun Siang menggerung gusar, hardiknya dengan alis berkerut.

"Orang she Cin, kau ingin mampus!"

Serta merta tangannya terayun.

"plak", pundak kiri orang telah dipukulnya, badanCinTek-hongsampai mencelatbeberapakakijauhnya. Ling Kun-gi hanya tertawa tawar padanya, katanya.

"Sebetulnya Kongsun-heng tidak perlu turun tangan, memangnya Hansi-ciang bisa melukai aku? Kalau tidak tentu takkan kubebaskan hiat-to dilengannya."

Sembari bicara dia berdiri, sambungnya.

"Sebetulnya ingin aku memaksanya tahu diri dan mundur teratur dan jiwanya dapat diselamatkan, tapi pukulan Kongsun-heng ini telah membikin hawa murninya nyasar dan buyar!"

Mendengar keterangan Ling Kunggi ini, serta merta pandangan semua orang tertuju ke arah Cin Tek-khong, memang wajah Cin Tek-hong tampak pucat, rebah celentang kaku tak bergerak, ternyata semaput.

Heran Kongsun Siang, katanya.

"Melihat dia membokong Cong-coh, tanpa pikir akupun menyerangnya, pukulanku hanya pakai lima bagian tenaga, kenapa dia terluka separah itu?"

Kun-gi menghampiri Cin Tek-hong dan memeriksa tubuh orang, dia bebaskan Hiat-to orang yang tertutuk lalu direbahkan mendatar, katanya.

"Kecuali Hiat-to lengan kanannya yang sudah bebas, yang lain tetap buntu, untuk melakukan pembokongan, sejak tadi dia sudah menghimpun kekuatan pada telapak tangan kanan, karena ditahan oleh telur asinku tadi, kalau mau merenggut jiwanya, cukup kugunakan tenaga keras dan menggetar putus urat nadinya tentu dia mati seketika, tapi aku hanya tahan tenaga di telapak tangan supaya tidak terlontar keluar, tujuanku supaya dia tahu diri dan mundur teratur."

Belum habis dia bicara, terlihat Cin Tek-hong sudah siuman, tampak kulit mukanya ber-kerut2 dibasahi butiran keringat dingin sebesar kacang, matanya mendelik, suaranya gemetar.

"Saudara Ling, keji....keji betulcaramu ... ."

Dengan tersenyum Kun-gi berkata.

"'Hawa murninya menyungsang balik, Hiat-to yang tertutuk sudah kubebaskan, rebahlah dulu dan jangan bergerak, akan kubantu kau mengerahkan tenaga mengembalikan hawa murni ke tempat asalnya."

Lalu dia berkata kepada Kongsun Siang.

"Ada tiga Hiat-to kaki tangannya masih tertutuk, hanya tangan kanannya yang mengerahkan tenaga, pukulannya kena kubendung lagi sehingga tak mampu dilontarkan, maka pukulanmu itu walau hanya setengah2 saja, tapi lantaran gempuran tenaga dari luar inilah sehingga hawa murninya menjadi buyar dan jatuh semaput."

Kongsun Siang kagum sekali, katanya.

"Uraian Cong-coh memang betul, jadi akulah yang gegabah, tapi Cin Tek-hong sudah terbukti adalah mata2 Hek-liong-hwe, umpama dia mampus juga setimpal dengan perbuatan jahatnya, kenapa Cong-coh malah akan membantunya?"

"Dia sudah tertawan hidup2, maka tak boleh kita menganiayanya, mati atau hidup biarlah Thay-siang yang menjatuhkan hukuman padanya, oleh karena itu aku harus bantu dia memulihkan kesehatan."

Kongsun Siang masih ingin bicara, tapi. dilihatnya Kun-gi memberi kedipan mata padanya, segera dia mengerti, maka katanya manggut2

"Ucapan Cong-coh memang betul."

Sudah tentu Cin Tek-hong maklum, hawa murni dalam tubuhnya yang nyungsang dan buyar kalau tidak secepatnya dihimpun kembali tentu dirinya akan mengalami "Cap-hwejip-mo"

Atau mengalami kelumpuhan total, itu berarti masa depan kehidupannya akan suram dan tiada artinya lagi.

Maka cepat dia merangkak berdudukdan merangkapkeduatanganmulaisemadi.

Tangan kiri Kun-gi segera menekan Pek-hwehiat di kepalanya, katanya.

"Bersiaplah saudara Cin."

Sejalur hawa murni panas pelan2 merembaske Pek-hwehiat melalui telapaktangannya.

Terasa oleh Cin Tek-hong hawa panas ber-gulung2 mulai mengalir ke sekujur badan.

Kira2 satu jam kemudian, terdengar Kun-gi menghela napas serta menarik tangan, katanya.

"Cukuplah, sekarang Cin-heng bisa mengerahkan tenaga keseluruh tubuh."

"Cong-coh,"

Tanya Song Tek-seng.

"apakah kita tidak segera pulang?"

Kun-gi mendongak lihat cuaca, katanya.

"Sekarang baru kentongan ketiga, dari sini kita bisa mengawasi putuhan li sekitar perairan sini, menjelang fajar baru saatnya ganti piket, lebih baik kita istirahat saja di sini, untuk apa pulang pagi2?"

Lalu ia ambil mangkuk dan menenggakarak pula.

Kongsun Siang, Song Tek-seng, Thio Lam-jiang juga jagoan minum, mendengar anjuran Kun-gi, tanpa sungkan mereka lantas minum sepuasnya.

Setelah hawa murni kumpul kembali Cin Tek-hong merasakan kesehatan telah pulih kembali, segera dia berdiri menghampiri Kungi, sikapnya hormat dan patuh, katanya menjura.

"Berkat pertolongan Cong-coh jiwa orang she Cin selamat, sungguh tak terhingga rasa terima kasihku."

Kun-gi menoleh, katanya.

"Cin-heng sudah pulih kembali, marilah duduk minum arak."

"Cong-coh,"

Kata Cin Tek-hong.

"kenapa tidak kau tutuk Hiat-toku?"

Kun-gi berkata.

"Apakah Cin-heng yakin dapat melarikan diri?"

Sungguh2 sikap Cin Tek-hong dan katanya. 'Di depan Cong-coh memang orang she Cin takkan mampu meloloskan diri."

"Kalau begitu, silakan Cin-heng duduk dan menghabiskan semangkuk arak ini."

Cin Tek-hong segera duduk kcrnbali ke tempatnya semula. Setelah menghabiskan semangkuk arak Cin Tek-hong comot sekerat daging terus dijejalkan ke mulut, katanya sambil angkat kepala.

"Cong coh tadi bilang ada persoalan yang ingin di tanyakan padaku, entah persoalan apa?"

"Aku hanya ingin tanya sedikit keadaan Hek-liong-hwe, kalau Cinhengadakesulitan, tidakusah-lah kaujelaskan."

Melirik sekejap ke arah Kho Ting-seng baru Cin Tek-hong berkata.

"Rahasia perkumpulan kami dilarang bocor sesuai peratutan, bagi yang membocorkan mendapat hukuman mati, tapi jiwa orang she Cin tadi ditolong Cong-coh, soal apa yang ingin Cong-cohtanyakan, asalkantahupastikujelaskan."

"Memangnya Cin-heng sudah tidak ingin kembali?"

Timbrung Kho Ting-seng. Song Tek-seng duduk di sebelahnya, hardiknya.

"Tutup bacotmu!"

Tenggak semangkuk arak pula baru Cin Tek-hong berkata kepada Kho Ting-seng dengan tertawa.

"Kita sudah terjatuh ke tangan orang2 Pek-hoa-pang, kau masih ingin kembali?"

Kho Ting-seng diam saja.

"Tiada maksudku untuk mengorek rahasia Hek-liong-hwe secara berlebihan, soalnya ada dua temanku yang terjatuh di tangan orange Hek-liong-hwe, maka aku hanya ingin tahu keadaan Hek-liong-hwe selayang pandang saja, umpamanya di mana letak markas Hek liong-hwe? Siapa pemimpinnya? Di mana mereka menyekap para tawanan? Apakah Cin-heng dapat menjelaskan?"

Rupanya inilah tujuan Kun-gi mencekok arak pada Cin Tek-hong serta menyembuhkan luka2nya. Kata Cin Tek-hong.

"Hek-liong-hwe dibagi jadi dua seksi, yaitu seksi luar dan seksi dalam, aku di bawah Ui-liong-tong, tugasku di luar, maka keadaan dalam Hek-liong-hwe sebenarnya sedikit sekali yang kuketahui "

"Di manaletakHek-liong-hwe,tentunyakautahu?"tanyaKun-gi.

"Aku hanya tahu Ui-liong-tong kami didirikan dibelakang gunung Kunlun diatas Ui-lionggiam."

"Kunlunsan di Shoatang maksudmu?"

Kun-gi menegas.

"Lalu siapa pemimpinmu?"

"Kalau kukatakan mungkin Cong-coh tidak percaya, walau sudah tiga tahunan aku menjadi anggota Ui-liong-tong, tapi hanya sekali pernah kulihat Hwecu kami, hakikatnya tiada yang tahu siapa dia sebenarnya?"

"Dia tidak punya she dan nama?'` "Semua orang hanya memanggilnya Hwecu, entah siapa namanya."

"Cong-coh,"

Sela Kongsun Siang dengan nada sinis.

"tiga tahun jadi anggota, tapi siapa nama pemimpinnya tidak tahu, apakah kau percaya ?"

"Kenyataan memang demikian, buat apa aku membual?"

Cin Tekkhong membela diri.

"kau Kongsunhouhoat sudah setahun menjadi Houhoat-su-cia, tahukah nama dan she Thay-siang?"

"Bukankah Cin-heng pernah melihatnya sekali?"

Sela Kun-gi.

"Ya, aku hanya melihat seraut wajah hitam dengan jambang legam, seorang laki2 tua kekar yang berjubah hitam pula, tapi terasa olehku bahwa mukanya itu bukan wajah aslinya."

"Cin-heng di bawah perintah Ui-liong-tong, tugas bagian luar, lalu bagaimana bagian dalam?"

"Hwi liong dan Ui-liong termasuk seksi luar, hanya Ceng-liongtong bertugas bagian dalam."

"Apa bedanya seksiluar dan seksidalam?"

"Ceng-liong-tong berkuasa atas segala rahasia Hek liong-hwe, anak buahnya semua perempuan, dinamakan seksi dalam dan merupakan seksi yang paling berkuasa dari seksi lainnya. Hwi-liong dan Ui-liong dikhususkan mengerjakan tugas luar, sedang Hwi-liong juga boleh dinamakan Hou hoat-tong, anggotanya terdiri dari jago2 kelas wahid, hari2 biasa tiada tugas rutin bagi mereka, jarang pula beraksi, bila orang2 Ui-liong-tong yang menjalankan tugas di luar menghadapi kesukaran, orang2 Hwi-liong-tong yang akan memberi bantuan."

"Di mana Hwi-liong-tong didirikan?"

Tanya Kun-gi.

"Entah aku tidak tahu, tapi bila orang2 Ui-liong-tong menghadapi bahaya, entah di mana saja, bila mengeluarkan tanda bahaya maka dari jauh atau dekat orang2 Hwi-liong-tong pasti akan segera datang memberi bantuan, oleh karena itu tiada orang tahu di mana sebenarnya Hwi-liong-tong didirikan."

"Sunggub Hek-liong-hwe yang serba rahasia dan misterius."

Ucap Kun-gi lalu tanyanya pula.

"Lalu Ui-liong-tong?"

"Tugas Ui-liong-tong menghadapi persoalan luar, anggotanya scluruhnya laki2, terdiri orang2 dari golongan hitam atau putih, bila dia seorang persilatan dan ada seorang perantara, siapapun boleh di terima menjadianggota.."

Mendadak Kun-gi bertanya. 'Jadi Ci Gwat-ngo orangnya Ceng liong-tong?"

"Ya, diautusanCui-tongcu, kami semuadibawah perintahnya.".

"Tak heran setelah Ci Gwat-ngo suruh Bi Kui menyampaikan berita mana, dia gigit putus lidah dan bunuh diri, ternyata dia takut membocorkan rahasia Hek-liong-hwe,"

Demikian batin Kun-gi, lalu katanya sambil menepekur.

"Jadi Cin-heng juga tidak tahu di mana mereka menyekap para tawanan?"

"Tergantung kedua teman Cong-coh itu ditawan oleh seksi mana, kalau ditangkap orang2 Ui-liong-tong, pasti dikurung di Uilionggiam. Kalau dibekuk orang2 Hwi-liong-tong atau Ceng-liong-tong, tak bisa aku menerangkan,"

Kemudian ia berkata pula.

"Sebelum aku diselundupkan ke Pek-hoa-pang pernah bertugas cukup lama di Ui-liong-tong, ada kalanya Cui-tongcu mengutus orang menyampaikan perintah, dari cara mereka pergi datang leluasa dan lancar, kukira jaraknya tidak terlalu jauh, pernah aku diam2 memperhatikan, 10-an li di sekitar Ui-lionggiam memang tidakkelihatanadanyabayangan, Ceng-liong-tong."

Kembali Kun-gi membatin.

"Gadis cilik yang menyaru jadi Cu-cu katanya semula adalah pelayan pribadi Cui-tongcu, tentunya dia tahu di mana letak sebenarnya Ceng-liong tong itu"

Ia angkat mangkuk dan meneguk arak, lalu tanyanya.

"Apa jabatan Cin-heng didalam Ui-liong-tong?"

"Dalam Ui-liong-tong kecuali Tongcu yang berkuasa penuh, di bawahnya terbagi dua tingkat pula, yaitu Sincu dan Kiam-su, aku menjadianggota Sincu."

"Lalu di antara orang kalian sendiri, memakai kode rahasia apa?"

Cin Tek-hong sudah terlalu banyak tenggak arak, keadaannya sudah setengah sinting, ia menaruh mangkuk araknya, dari sanggul kepalanya ia mengambil sebuah benda, telapak tangannya di buka, dia berkata.

"Biarlah malam ini kubeber segalanya kepada Congcoh, kode rahasia kami menggunakan benda ini,"

Di tengah telapak tangannya menggelinding kian kemari sebutir mutiara sebesar kacang tanah, mutiara ini berlubang tengahnya dan disunduk seutas benang kuning.

Betapa tajam mata Kun-gi, sekilas pandang di lihatnya mutiara yang kemilau itu ada terukir sebuah huruf "Ling"

Atau firman, tanpa terasa mulutnya ber-suara kaget .

"Cincu ling!"

"Ternyata Cong-coh sudah tahu,"

Ujar Cin Tek-hong.

"Aku juga punya sebutir, silakan Cin-heng melihatnya juga,"

Ucap Kun-gi, dari kantong bajunya dia merogoh keluar sebutir mutiara pula. Cin Tek-hong menyipit mata mengamati penuh perhatian, katanya tertawa.

"Inilah tanda peringatan berasal dari Hek-lionghwe, jadi Cong-coh memang sejak mula menyelidiki Hek-liong-hwe?"

"Sama2CinCu-ling, entahapabedanya?"tanyaKun-gi.

"Dalam Hek-liong-hwe kami hanya anggota yang berkedudukan lebih tinggi dari Sin cu boleh menggunakan CinCu-ling ini, para Sincu memakai mutiara sebesar kacang tanah, kalau mutiara seperti yang ada di tangan Cong-coh besarnya seperti buah kelengkeng seharusnya milik Tongcu, dan lagi benang sunduknya juga berlainan, Ceng-liong-tong pakai benang hijau, Hwi-liong-tong pakai benang merah, untuk Ui-liong-tong memakai benang kuning, hanya Hwecu saja yang memakai benang emas. Benang mutiara milik Cong coh ini bewarna kuning emas, pertanda yang mewakili Hwe kami, Cuma mutiara milik Hwe kami adalah mutiara asli, hanya tanda2 kebesaran, diperuntukan pihak luar digunakan mutiara tiruan,sekalipandangorangakanbisa membedakan."

"Ternyata masih sebanyak itu perbedaannya,"

Ucap Kun-gi.

"Malah masih ada lagi,"

Cin Tek-hong ngoceh sendiri.

"bagi kami orang2 yang bertugas di luar, huruf 'Ling' yang terukir di mutiara ini menggunakan goresan tunggal, sebaliknya ukiran huruf 'Ling' pada mutiara yang dipakai orang2 seksi dalam menggunakan goresan dobel."

Tergerak hati Kun-gi, pikirnya.

"Leliong-cu warisan keluargaku itu juga diukir dengan goresan dobel, memangnya Hek-liong-hwe ada hubungannya dengan diriku?"

Terpikir olehnya Hwi-liong-sam-kiam warisan keluarganya kenyataan menjadi Tinpang-sam-kiam Pekhoa-pang, kini diketahuinya pula bahwa Leliong-cu warisan keluarganya juga ada sangkut pautnya dengan Hek-liong-hwe.

Kalau dikatakan kebetulan, masakah kedua persoalan bisa terjadi secarakebetulan, terangterlalujauhuntukdapatdipercaya.

Sekejap ini pikirannya jadi gundah dan resah, tanpa mengisi mangkuknya langsung dia angkat poci terus tuang arak ke dalam mulut.

Kongsun Siang juga tidak sedikit minum arak, keadaannya sudah seperempat mabuk, lekas dia ber-kata.

"Song-heng, Thio-heng dan Ji-heng, mari kita iringi semangkuk pula dengan cong-coh."

Sembari berkata diam2 dia memberi tanda kepada tiga temannya ini.

Maksudnya bahwa Ling Kun-gi sudah takkan kuat minum lagi, sisa arak tidak banyak lagi, marilah kita bagi rata dan minum bersama sampai habis.

Song Tek-seng, Thio Lam-jiang dan Ji Siu-seng tahu maksud Kongsun Siang, lekas Ji Siu-song angkat guci arak terus tuang kemangkuksemuaorang, lalumenenggaknyabersama.

"Ji-heng,"

Kata Cin Tek-hong.

"sisanya biar kuhabiskan saja."

Dia angkat poci itu serta tuang sisa isinya ke mulut sendiri. Kun-gi tertawa, katanya tersenyum.

"Kalian kuatir aku mabuk?"

Belum lenyap suaranya, mendadak Cin Tek-hong menjerit sekali, badannya mengejang terus terkapar roboh ke belakang.

Kejadian amat di luar dugaan, keruan orang2 yang duduk berkeliling ini sama kaget, Gerakan Kun-gi paling sigap, cepat dia melompat bangun serta memapah Cin Tek-hong, sementara jari kanan menekan Bingbunhiat orang, teriaknya gugup.

"Cin-heng, kenapa kau?"

Kongsun Siang, Song Tek-seng, Thio Lam-jiang dan Ji Siu-seng berempat melompat berdiri, Kong-sun Siang berbisik apa2 pada tiga orang lainnya, Song Tek-seng manggut2 terus berpencar siap siaga.

Pada saat itulah mendadak Kun-gi membentak sambil berpaling.

"Siapa itu di dalam hutan?"

"Lohu!"

Seiring dengan suaranya dari hutan melangkah keluar seorang kakek kurus yang menggelung kuncir rambutnya di atas kepala.

Kakek ini mengenakan baju biru, celana kencang terikat bagian bawahnya, tangan kiri membawa pipa cangklong sepanjang satu setengah kaki, roman mukanya kaku kelabu, dalam kegelapan, bola matanyapuntampakberwarna kelabubersinarkemilau.

Karena memperoleh saluran hawa murni dari Ling Kun-gi, sementara itu pelan2 Cin Tek-hong sudah membuka mata.

seketika ia terbelalak waktu melihat kakek kurus ini, bibirnya bergetar, suaranya merinding serak.

"Hwi ..... liong..... liong ....."

Agaknya sebisanya dia sudah kerahkan setakar tenaganya untuk berucap ketiga patah kata ini, tapi akhirnya suaranya semakin lemah, pelan2 kelopak matanya tertutup, darah kental hitam seketika meleleh keluar dari mulutnya, agaknya dia tertimpuk semacamsenjata rahasia kecil, racun telah merenggut jiwanya.

Kun-gi melepaskan tangannya, seraya berdiri tanyanya menatap kakek kurus.

"ApakahtuandariHwi-liong-tong?"

Kata kakeh muka kelabu.

"Lohu malah sudah tahu kau ini Cong su-ciayangbarudalamPek-hoa-pang, betul tidak?"

"Betul, Cayhe Ling Kun-gi, sebutkan nama tuan."

"Lohu NaoSam-jun,"jawabsikakek. Ling Kun-gi tidak tahu Kim-kau-cian Nao Sam-jun ini adalah Hwiliong-tong Tongcu, tanyanya.

"Apa maksud kedatangan tuan?"

Sambil mengelus jenggot kambing yang sudah ubanan, Nao Sam-jun terkekeh, katanya.

"Ada tiga tugas Lohu kemari, pertama membunuh anggota yang murtad dan menolong orang yang tertawan."

"Hanya dua yang kau sebutkan."

"Betul, dan yang ketiga kami mohon Ling-cong-sucia suka meringankan langkah ikut pergi ber-sama Lohu."

"Ke mana tuan hendak mengajakku?'' tanya Kun-gi. 'Sudah tentu mampir ke markas kami, kalau tidak ingin mengundang Ling-lote buat apa Lohu meluruk kemari,"

Nadanya congkak dan sombong. Kun-gi tatap orang lekat2, katanya.

"Sepongah ini tuan bicara, memangnya kau inikah Hwi-liong-tong Tongcu?"

"Betul, Lohu memang Hwi-liong-tongcu, Ling-lote mau ikut Lohu bukan?"

"Sungguh sangat beruntung dapat bertemu di sini, maksud Cayhe malah sebaliknya, bagaimana kalau Nao-tongcu saja yang mampir kekapalkami?"

Berkedip bola mata Nao Sam-jun yang kelabu dingin, mendadak dia ter-bahak2, katanya.

"Ling-lote, kesempatanmu sudah tiada lagi."

"Jago2 kosen2 Hwi-liong tong memang banyak, tentunya tidak sedikit jago2 yang mengiringimu."

"Ling-lote memang pandai menebak, Lohu memang bawa Cap jising-siok (dua belas bintang kelahiran), mereka sudah tersebar di sekeliling sini, umpama satu lawan satu belum tentu kalian bisa menang, paling2 sama kuat, tapi keadaan sekarang berbeda, kalian harus satu melawan tiga, belum lagi terhitung Lohu, bagaimanapun juga kalian tak ada kesempatan untuk menang."

Di sini dia bicara, tahu2 tanah lapang berumput ini sudah terkepung oleh 12 orang berpakaian serba aneh.

"Tuan siap perintahkan mereka turun tangan?"

Jengek Kun-gi dengan tersenyum. Nao Sam-jun menyeringai, katanya.

"Sudah tentu Lohu tidak ingin bergebrak dengan kalian supaya tidak merusak persahabatan, sebab sebelum Lohu kemari Hwecu ada pesan ...."

Mendadak dia tutup mulut. meski kata2nya tidak dilanjutkan, tapi ke mana juntrungnya sudah bisa ditangkap.

"Apa kata Hwecu kalian?"

Desak Ling Kun-gi.

"Hwecu sudah dengar, katanya Ling-lote telah berhasil menawarkan getah beracun itu?"

"Benar,"ucap Kun-gisingkat. Berkelebat cahaya di wajah Nao Sam-jun yang kelabu itu, suaranya berat.

"Oleh karena itu beliau suruh Lohu kemari untuk mengundangmu, kalau Pek-hoa-pang bisa memberi jabatan Congsu-cia, Hwe kita juga bisa memberi jabatan Cong-houhoat kepadamu."

Tawar tawa Kun-gi, katanya.

"Wah, Cayhe menjadi tertarik rasanya."

"Memangnya, asal Ling-tote telah betul2 dapat menawarkan getah beracun, Hwe kita tidak akan kikir, betapapun besar pengorbanan yang harus dipertaruhkan, pasti akan mengundangmu."

Diam2 Kun-gi merasa heran, pikirnya.

"Pek-hoa-pang memang bermusuhan dengan Hek-liong-hwe, setiap macam senjata dan senjata rahasia orang2 Hek-liong-hwe dilumuri racun getah, adalah jamak dan dapat dimaklumi kalau Pek-hoa-pang begitu getol memperoleh obat penawarnya, bahwa Hek-liong-hwe sendiri juga ingin memiliki obat pena-warnya, entah apa pula gunanya? Ya, waktu Coat Sinsanceng menculik Tong Thianjong, Un It-hong, Lok-san Taysu dan Cu Bunhoa, bukankah tujuannya juga untuk menciptakan obat penawar getah beracun itu."

Segera ia bertanya.

"Getah beracun kan milik kalian, memangnya kalian tidak punya obat penawarnya?"

"Untuk ini Ling-lotetidak usahurus,"jengek NaoSam-jun.

"Kalau Nao-tongcu tidak mau jelaskan, bagaimana Cayhe harus percaya padamu?"

Ejek Ling Kun-gi.

"Setelah Ling-lote berhadapan dengan Hwecu, segalanya akan kau ketahui."

"Nao-tongcu bicara seenak sendiri, seakan2 aku harus ikut kau pergi begitu saja."

"Ya, memang Ling-lote harus pergi bersamaku,"

Tandas perkataan Nao Sam-jun. Kun-gi tersenyum, katanya.

"Kalau Cayhe tidak mau pergi?"

Mengelus jenggot, tambah kelam rona muka Nao Sam-jun, katanya dengan menyeringai.

"Ka-lian berlima sudah berada digenggamanku, mau pergi atau tidak kau tidak kuasa menentukan pilihanmu, cuma perlu Lohu peringatkan, sukalah Ling-lote pertimbangkan dulu dengan masak."

"Peringatan apa coba katakan, aku ingin dengar."

Nao Sam-jun menyapu pandang ke muka Kongsun Siang berempat, lalu katanya sinis.

"Kalau Ling-lote dan saudara2 ini mau ikut Lohu. itulah paling baik, kalau menolak dan melawan malah, tujuan pertama Lohu kemari kecuali harus menawan Ling-lote hidup2, empat orarg yang lain, hehe ...."

Kongsun Siang jadi murka, teriaknya.

"Katakan saja terus terang."

Nao Sam-jun melirik tak acuh, dengusnya.

"Tumpas seluruhnya dan habis perkara."

Berdiri alis Kongsun Siang, sambil menengadah dia ter-bahak2, katanya.

"Tumpas habis? Suruhlah mereka maju, boleh coba apakah pedangditangan Kongsun Siang initajamatautumpul."

Song Tek-seng, Thio Lam-jiang dan Ji Siu-seng juga naik pitam, mereka melotot kepada Nao Sam-jun, tangan sudah siap memegang gagang pedang.

Sebaliknya Nao Sam-jun seperti jijik meski hanya melirik kepada mereka, dingin suaranya.

"Ling-lote, sudah kau pertimbangkan?"

Cin Tek-hong tadi sudah bilang bahwa anak buah Hwi-liong-pang semua tergolong jago2 kosen, melihat situasi sekarang dan sikap Nao Sam-jun yang begitu yakin pula, mau tak mau Kun-gi merasa was2, Cap-ji-sing-siok yang dibawa orang tentu hebat dan lihay sekali.

Tapi dia tetap tersenyum simpul, sikapnya tenang dan wajar, katanyakalem;

"Cayhejuga, sudah memikirkansuatuhal......"

"Hal apa?"

Tanya Nao Sam-jun.

"Tadi Cayhe membekuk seorang Sincu dari perkumpulan kalian, jiwanya sudah melayang di tanganmu sendiri, kalau pulang nanti Cayhe jadi kebingungan cara bagaimana memberikan pertanggungan jawab kepada Pangcu, tapi tuan adalah Hwi-liong-tongcu, kedudukanmu jauh lebih tinggi daripada Sincu, kebetulan kalau kuringkus kau hidup2, kini yang membuatku bimbang adalah apakah Cap-ji-sing-siok yang kau bawa ini harus dibabat habis atau ditawansemua......."

Kengsun Siang ter-gelak2, katanya.

"Cong coh tidak perlu pusing, membekuk seorang Tongcu sudah jauh lebih cukup, sisa yang lain sudah tentu babat saja sampai habis."

Song Tek-seng ikut menimbrung.

"Betul, Cong-coh tangkap saja Nao tongcu ini, yang lain serahkan kepada kami untuk membereskannya."

Di tengah kata2nya terdengarlah suara berdering, Kong-sun Siang, Song Tek-seng, Thio Lam-jiang dan Ji Siu-seng sama melolos pedang. Mengernyit dahi Nao Sam-jun, katanya.

"Bila Cap-ji sing-siok yangkupimpin inisegampang itu untuk menumpasnyatentu mereka takkan berguna dalam Hwi-liong-tong, kalau Ling-lote tidak percaya, boleh kau suruh seorang maju mencobanya."

Sebelum Kun-gi buka mulut, Kongsun Siang telah menyela.

"Cong-coh, biar hamba menghadapi mereka."

Nao Sam-jun tertawa angkuh, tangannya menggapai ke atas.

Mungkin itu tanda gerakan mereka, 12 orang yang semula berdiri beberapa tombak di kejauhan sana serempak bergerak maju mengelilingitanah lapang.

Dari dekat Ling Kun-gi dan lain2 dapat melihat jelas, kiranya mereka mengenakan kerudung kepala warna hitam, seragamnya ketat kencang warna hitam mengkilap, bahan bajunya agaknya teramat tebal, sekujur badan serba legam, hanya kelihatan kedua biji matanya saja.

Melihat dandanan mereka yang aneh dan lucu, diam2 Kun-gi membatin.

"Cap ji-sing-siok berpa-kaian seaneh ini, terang bukan gertakan belaka untuk menakuti orang, bisa jadi mereka meyakinkan semacam ilmu gabungan yang aneh dari aliran sesat"

Cepat Kun-gi berpaling ke arah Kongsun Siang, katanya.

"Kau harus hati2."

"Hamba tahu,"

Sahut Kongsun Siang. Sambil menenteng pedang Kongsun Siang memapak maju, hardiknya.

"Kalian siapa yang maju, hayolah bertanding denganku."

Nao Sam-jua mendangus.

"Sebelum ajal tentu kau takkan kapok."Segeraia menudingorangdiujungkanan. Laki2 baju hitam yang dituding segera melesat ke depan menubruk Kongsun Siang. Gerak-gerik orang ini aneh cekatan, tanpa bicara, jari2 kedua tangannya yang tertekuk seperti cakar segera mencengkeram. Kongsun Siang meyakinkan Thianlong-kiam-hoat dan Long-hing-poh, begitu badan bagian atas doyong ke depan, tahu2 ia berkelebat ke samping baju hitam, mulutpun membentak.

"Lihat pedang!"

Sinar pedang berkelebat, tahu2 ujung pedang sudah menusuk kebawahrusuksibaju hitam.

Tanpa berkelit dan menghindar si baju, hitam malah membalik badan, kelima jarinya terpentang mencengkeram pergelangan tangan Kongsun Siang yang memegang pedang.

Sigap dan cepat gerak serangan Kongsun Siang.

"Trang", pedangnya dengan telak menusuk rusuk kanan si baju hitam, tapi terasa ujung pedangnya seperti menusuk batu yang keras sekali. Entah terbuat dari bahan apa pakain orang ini? ternyata tidak mempan senjata, padahal pedang Kongsun Siang terbuat dari baja pilihan, ternyatatakmampu melubangibadan lawan. Baru saja mencelos hati Kongsun Siang, tampak sedikit menggerakkan badan, kelima jari lawan tahu2 sudah mengincar pergelangan tangannya, sekilas dilihatnya kuku jari lawan berwarna hitam mengkilap, jelasdilumuriracun jahat. Kaget dan gusar Kongsun Siang, lekas ia berkisar ke samping dan sekali berkelebat dia memutar ke belakang lawan.

"Sret", kembali pedangnya menusuk. Walau mengenakan pakaian yang kebal senjata, tapi gerak gerik orang berbaju hitam ternyata lincah sekali, mengiringi gerakan Kongsun siang, iapun sudah putar tubuh dan ganti posisi, tangan ter-ayun dan segera menabas. Pukulannya ternyata menerbitkan sambaran angin keras, malah terasasambaranangin pukulan ini berbaubusukamis. Guru Kongsun Siang, yaitu Lo long-sin merupakan gembong aliran "liar", setiap hari dia mendidik muridnya secara keras, sudah tentu iapun ceritakan segala persoalan Bu-lim pada muridnya termasuksegala macamilmusilatyanganeh2. Begitu mencium bau bacin dan amis dari angin pukulan lawan, tergerak hati Kongsun Siang, pikirnya.

"Agaknya mereka sama meyakinkan Ngo-tok-ciang (pukulan lima bisa)."

Maka dia tidak berani menandangi secara keras, badan menubruk kedepan, segesit belut tahu2 dia terjang ke sebelah kiri, pedang menusuk bagian belakang musuh malah.

Duakali menubruktempatkosong,tiba2orangbajuhitambersiul rendah, kedua tangan menari naik turun lebih kencang dibarengi tubruk dari terjang.

Kongsun Siang kembangkan langkah bentuk serigala, kelit ke timur menghindar ke barat, dengan kelincahannya dia menandingi lawannya, tapi kenyataan dia sudah lebih banyak bertahan daripada balas menyerang.

Maklumlah, pakaian musuh kebal senjata, sia2lah serangan dan tusukan pedangnya, hanya peras keringat dan menguras tenaga belaka.

Mereka bergebrak depgan sengit, pandangan Ling Kun-gi melulu tertuju ke arah orang berbaju hitam, sudah tentu hanya dia yang bisa melihat dengan jelas, akhirnya alisnya berkerut, bentaknya tiba2

"Mundurlah Kongsun-heng."

Mendengar itu Kongsun Siang segera melompat mundur. Ternyata si baju hitam tidak merangsak lebih lanjut, iapun berdiri diam. Kongsun Siang kembali ke samping Kun-gi, katanya dengan suara tertahan.

"Cong-coh, pakaian yang mereka pakai agaknya kebal senjata."

"Ya, aku sudah lihat,"

Sahut Kun-gi.

"Mereka tidak pakai senjata, tapi jari2nya berlumuran racun,"

Demikian Kongsun Siang menam-bahkan.

"angin pukulan juga bacin dan amis, mirip pukulan Ngo-tok-ciang dan sebangsanya, tak boleh dilawan secara kekerasan."

"Ya, aku juga tahu, kalau mereka tidak punya bekal kepandaian yang menjadi andalan orang she Nao itu takkan berani takabur dan secongkak itu,"

Merandek sejenak, lalu Kun gi berkata kepada empat temannya.

"Kalian berdiri di tempat masing2 dan jangan sembarangan bertindak, biar kujajalnya sendiri."

Sembari bicara pelan2 dia melangkah maju.

Kepandaian Kun-gi sudah sejak lama bikin para Houhoat dan Hou-hoat-su-cia sama kagum dan tunduk lahir batin, jika diapun tidak mampu mengalahkan Cap ji-sing-siok, apa yang bakal terjadi malam ini dapatlah dibayangkan.

Dengan suara rendah mendadak Kongsun Siang berkata.

"Hati2-lah Cong-coh."

Kun-gi mengangguk, pelan2 dia berjalan ke depan Nao Sam-jun, kira2 setombak jaraknya dia berhenti, katanya.

"Anak buah Naotongcu ternyata memang lihay."

Mata Nao Sam-jun yang kelabu seperti mata mayat memancarkan sinar dingin. katanya sambil menyeringai.

"Jadi Linglote mau terima ajakanku? Haha, seorang ksatria harus bisa melihat gelagat, tidak malu Ling-lotesebagaitokohyang menonjol."

Tidak terlihat secercah senyumpun pada wajah Ling Kun-gi, katanya dengan nada berat.

"Tidak sulit untuk mengajakku pergi, cuma orang she Ling ingin menjajal dulu sampai di mana tingkat kepandaianmu, tentunya Nao-tongcu tidak menolak keinginanku?"

Berkelebat pula sinar kelam pada bola mata Nao Sam-jun katanya.

"Sebetulnya Lohu menerima perintah Hwecu untuk mengundang Ling-lote, lebih baik kalau di antara kita tidak merusak persahabatan, apalagi ditimbang situasi malam ini Lohu yakin berada di atas angin, kemenangan jelas tergenggam di tanganku, kalau harus bertempur lagi dengan mempertaruhkan jiwa, bukankah aku jadi kehilangan kontrol pada diriku?"

Mendelik mata Kun-gi, katanya sambil ter-bahak2.

"Kalau orang she Ling sudah menantang, mau atau tidak kau harus melayaniku main beberapa jurus."

Dia sudah berkeputusan.

"menangkap rampok harus menawan pentolannya", maka lenyap suaranya tangan kanannya tiba2 terangkat.

"Sreng", pedang dilolos keluar. Ih-thiankiam memancarkan sinar kemilau dingin, hardiknya sambil menuding Nao Sam jun.

"Nao-tongcu, keluarkan senjatamu."

Jarak ujung pedang yang ditudingkan ke dada Nao Sam-jun hanya beberapa kaki saja, maka hawa pedang yang dingin tajam langsung menerjang ke dadanya.

Julukan Nao Sam-jun adalah Kim-kau-cian ( gunting emas ), yang diyakinkan adalah Kim-kau-ciansinkang, jari tangannya laksana gunting baja, umpama pedang terbuat dari baja murni juga akan terjepit putus, dengan mengandalkan kedua jari yang hebat, selamanya dia tidak pernah menggunakan senjata lain.

Tapi serta melihat pedang Kun-gi, bukan saja bentuknya amat kuno dan aneh, hawa pedangnya dingin tajam, jelas bukan sembarangan pedang pusaka.

Walau Kim-kau-ciansinkang sudah diyakinkan sempurna, tapi menghadapi senjata sakti setajam ini, tak berani ia pandang enteng dan yakin akan kekuatan jari sendiri, mendadak ia ber-siul sekali, tiba2 badan bagian atas meliuk doyong kebelakang, kaki menjejak tanah, dia berjumpalitan mundur.

Kun-gi tidak menduga orang akan lari sebelum bertempur, ia terbahak2 sambil mengejek.

"Apakah Nao-tongcu jeri dan tidak berani bertempur melawanku?"

Belum habis bicara, tiba2 terasa angin berkesiur di belakang mencurigakan. Menyusul dia dengar teriakan peringatan Kongsun Siang.

"Cong-coh, awas belakang!"

Sebetulnya tak usah Kongsun Siang memperingatkan, tangan kiri Kun-gi sudah terayun, secepat kilat seperti percikan api tahu2 menepuksekali, serentakbadanpunberputar membalik.

Kiranya siulan rendah dari mulut Nao Sam-jun tadi merupakan tanda aba2 kepada Cap-ji-sing-siok, serempak dua belas orang bergerak, dua bayangan orang bagai "elang menubruk anak ayam"

Dari kirikanan terus menyergap Ling Kun-gi. Sebagai murid Hoan jiu-ji-lay, kepandaian "mendengar kesiur angin membedakan senjata"

Kun-gi sudah tentu telah mencapai puncaknya, terutama menyerang dengan tangan kiri ke belakang meru-pakan ajaran tunggal perguruannya.

Tepukan tangankiri dia lancarkan sebelum badannya memutar, sa-sarannya adalah musuh yangmenubrukdariarah kiri.

Sebetulnya orang berbaju hitam itu sudah menubruk tiba, kelima jari2nya yang seperti cakar ayam itu hampir saja mencakar pundak kiri Kun-gi, mendadak terasa segulung angin kuat menerjang dadanya, tanpa kuasa berkelit sedikitpun.

"blang"

Dengan telak dadanya kena dihantam dengan keras.

Kun-gi sudah kerahkan enam bagian tenaganya, bukan saja daya tubrukan si baju hitam yang kuat itu terhenti malah dia terdampar mundur lagi tiga tindak.

Begitu melancarkan tepukan tangan kiri ini baru Kun-gi berputar, kebetulan berhadapan dengan orang berbaju hitam yang menyerang dari sebelah kanan, dilihatnya sorot mata orang ini mencorong buas, kelima jari2nya berwarna hitam legam seperti kaitan baja, hanya beberapa senti lagi hampir mencengkeram pundaknya, betapa ganas serangan ini sungguh sangat mengejutkan.

Dalam seribu kerepotan lekas dia tarik pundak ke bawah, berbareng pedang menusuk ke depan, badanpun lantas doyong miring dan berkisar ke samping.

Gerakan kedua pihak teramat cepat, keduanya memberosot lewat hampir bersentuhan badan, tahu2 jarak keduanya sudah terpisah lagi.

Waktu sinar pedang Kun-gi berkelebat tadi, orang berbaju hitam mendadak menjerit tajam, ternyata jari2 tangannya yang hampir mencengkeram pundak Ling Kun-gi itu telah tertabas kutung, darah muncrat ke mana2.

Nao Sam-jun terkejut, tak pernah terpikir oleh nya Kun-gi dapat bergerak segesit dan stengkas itu, padahal Cap-ji-sing-siok yang dipimpinnya sudah malang melintang di Kangouw dan jarang ketemu tandingan, tak nyana dalam segebrak saja dua di antaranya sudah terjungkal.

Kalau anak muda ini tidak dibunuh, kelak pasti merupakan bibit bencana yang bakal mengancam orang2 Hek lionghwe.

Tapi sebelum berangkat kemari Hwecu telah pesan wanti2 bahwa orang ini hanya boleh ditawan hidup2.

Sekilas berpikir mulutnya lantas bersiul dua kali, nada suaranya berbeda dari siulan tadi.

Kini empat bayangan prang bergerak serempak, bagai anak panah cepatnya mereka terus menubruk ke tengah gelanggang.

Dalam segebrak tadi Kun-gi memukul mundur seorang lawan dan melukai tangan seorang lagi, seketika bangkit semangatnya, meskipun pakaian mereka kebal senjata dan dibuat khusus toh hanya begini saja kekuatannya.

Kejadian hanya berlangsung sekejap saja, dan si baju hitam yang dipukul mundur Kun-gi sudah menubruk maju lagi, kedua tangan terpentang sam-bil menerkam.

Malah si baju hitam yang terpapas jari2nya itu tampak menjadi liar dan buas, matanya mendelik, tanpa hiraukan darah yang bercucuran di tangan kanannya, dia menjerit seram dengan menyeringai sadis, kelima jari tangan kanan bagai ganco meraih ke dada Ling Kun-gi.

Kedua orang ini hampir menyerang bersama, sengit dan membabi buta, Kun-gi tidak berani lengah, lekas jari kanan menuding.

"sret"

Meluncur sejalur panah air mengincar biji mata orang di sebelah kiri.

Ih-Thiankiam dia pindah ke tangan kiri, kaki bergerak mengikuti gerakan pedang, segera dia lancarkan jurus Heng-sau-liok-ham, sinar pedangnya bagai rentengan rantai perak menyabet ke arah orang di sebelah kanan.

Nao Sam-jun bersiul pendek dua kali, empat orang baju hitam lain segera menubruk maju dari empat penjuru.

Biasanya mereka tidak gentar meng-hadapi senjata musuh, tapi Ih-thiankiam di tangan Ling Kun-gi merupakan anugerah Thay-siang, bukan saja sakti, berada di tangan Ling Kun-gi getaran pedangnya saja segera menimbulkan kesiur -angin yang cukup menggetar nyali setiap lawannya, sinar kemilau tajam menyilaukan mata, perba-wanya sungguh amat hebat.

Keempat orang baju hitam yang menubruk maju terpaksa menahan gerak-annya.

Celakalah si baju hitam yang kutung tangannya tadi, meski dia sudah kapok dan melompat sejauh mungkin ke samping, tapi panah air yang meluncur dari jari tengah Kun-gi itu adalah arak yang tadi diminumnya, menghadapi musuh2 tangguh ini, jika dengan kekuatan Lwekangnya dia desak arak, itu keluar untuk menyerang musuh lewat jarinya.

Bagi Kun-gi senjata rahasia ini hanya merupakan bantuan tidak berarti dikala menghadapi sergapan kalap para musuhnya, tapi sebaliknya untuk lawannya sasaran yang diincarnya itu justeru merupakan titik lemahnya.

Maklumlah seluruh tubuh orang itu terbungkus dalam pakaian khusus yang tak mempan senjata tajam, hanya kedua biji matanya saja yang tidak terlindung dan merupakan titik sasaran terlemah.

Betapa kuat dan keras daya tubrukannya ini, tak di duganya Kun-gi menyongsongnya dengan semburan arak yang dilandasi Lwekang lagi, betapa hebat pula daya luncurnya, jadi keduanya saling songsong dengan kecepatan seperti kilat menyamber, dikala dia sadar Ling Kun-gi memapaknya dengan semburan arak, untuk mengerem dan mundur sudah tak mungkin lagi, malah untuk memejamkan mata juga tidak sempat pula, tahu2 rasa sakit pedas merangsang ke dua matanya, sambil menjerit kedua tangan terus menutup kedua mata, sudah tentu dia tidak sempat pikir untuk melompat mundur lagi.

Sementara sabetan pedang Ling Kun-gi telah bikin kelima orang baju hitam menghindar mundur, dilihatnya orang yang tersembur panah araknya sedang mencak2 kelabakan, tapi agaknya lukanya tidak fatal, sekali berkelebat dia menyerbu ke depan orang, telapak tangan pelan2 dia dorong kedepan.

Pukulan ini dinamakan Mo-ni-in, ilmu pukul-an dari aliran Hud yang sakti, betapa dahsyat kekuatannya terbukti dengan suara erangan si baju hitam yang mengenakan pakaian kebal senjata badannya terpental jungkir balik beberapa tombak jaubnya dan mampus seketika.

Lima orang baju hitam lain yang tersapu mundur oleh pedang Ling Kun-gi juga tidak mundur jauh, mereka sudah terlatih baik menghadapi situasi yang terburuk sekalipun, mereka seolah2 sudah kehilangan kesadaran akan awak sendiri, tapi rasa setia kawan ternyata masih berkobar dalam sanubari mereka, melihat kawannya terpukul mampus, sorot mata mereka menjadi buas dan liar, semuanya menggerung gusar, tangan sama terpentang terus menubruk maju bersamaan.

Terutama si orang yang terkutung jari tangannya, meski tinggal tangan kiri yang masih bekerja, tapi dia bersuit melengking tinggi, bagai serigala kelaparan dia menerjang lebih dulu dengan cakarnya yang berbahaya.

Menyaksikan pukulan Kun-gi merobohkan seorang musuh, seketika terbangkit semangat tempur Kongsun Siang, melihat musuh main keroyok, segera dia angkat pedang seraya berseru.

"Song-heng, Thio-heng, mari kita maju!"

Song Tek seng dan Thio Lam-jiang meski tahu pakaian lawan kebal senjata, tapi serentak mereka pun angkat senjata hendak terjun ke arena. Tapi Kun-gi keburu berseru.

"Kalian tak usah maju."

Lenyap suaranya, tangan kanannya mengebut sekali, tahu2 cahaya kemilau hijau berkelebat, entah kapan ternyata tangan kirinya sudah memegang sebilah pedang pandak (pedang pemberian Tonglohujin).

Tampak kedua pedang pusaka panjang pendek ditangannya itu berkelebat kian kemari menghamburkan lingkaran sinar terang yang mengelilingi tubuhnya.

Kelima orang itu tetap menggempur dengan teratur, walau amat ketat dan kuat gaya gabungan ini, tapi mereka tahu senjata di tangan Ling Kun-gi ini adalah pusaka yang tajam luar biasa, pakaian kebal senjata mereka tidak akan tahan menghadapinya, mau tidak mau mereka menjadi jeri sehingga tak berani mendesak terlalu dekat, sembari menggerung dan meraung mereka berkelebat kian kemari mengelilingi Ling Kun-gi.

Melihat lima anak buahnya masih tak mampu merobohkan Ling Kun-gi, kembali Nao Sam-jun yang berdiri tiga tombak di luar arena bersuit pula dua kali, orang2 berbaju hitam baru akan bertindak bila mendengar aba2 siulan ini, maka enam orang baju hitam yang tersisaserentakbergerakkearah KongsunSiangberempat.

Kongsun Siang cukup cerdik, segera dia berseru memperingatkan.

"Kalian awas!"

Segera dia mendahului menggerakkan pedang, sementara tangan kiri mencengkeram Kho Ting-seng yang menggeletak di tanah, hardiknya beringas dengan mengancam.

"Siapa di antara kalian berani maju!"

Sementara Thio Lam-jiang, Song Tek-seng dan Ji Siu-seng melompat maju ke kanan kiri orang, semua siap tempur.

Karena tertutuk Hiat-tonya Ji Siu-seng palsu menggeletak tak dapat bergerak, hanya kedua biji matanya saja masih ber-kedip2 dan tak bisa bersuara.

Sementara Kho Ting-seng hanya tertutuk Hiat-to kedua pundaknya, begitu badannya dijinjing Kongsun Siang dan dijadikan tameng, seketika pucat mukanya, teriaknya mendelik.

"Kongsun houhoat, lepaskan, mereka sudah kehilangan kesadaran!"

Keenam orang itu merubung maju semakin dekat, mereka meyakinkan ilmu sesat yang beracun sehingga watak mereka menjadi ganas dan liar, hahikatnya mereka tiada punya kesadaran seperti manusia biasa.

Kini melihat kawan sendiri yang menyaru Kho Ting-seng berada di cengkeraman musuh, sesaat mereka merandek bimbang untuk turun tangan.

Maka didengarnya Nao Sam-jun membentak dingin.

"Lekas turun tangan, bunuh semua dan habis perkara."

Keruan kejut dan takut luar biasa Kho Ting-seng, teriaknya.

"Nao-tongcu. kalian kan datang untuk menolong kami, memangnya mati hidup kamitidak kaupikirkan lagi... ?"

Mendengar desakan Nao Sam-jun tadi, enam orang baju hitam serentak bersiul bersama, serempak mereka menubruk keempat musuhnya.

Sembari mengangkat tubuh Kho Ting-seng Kongsun Siang menubruk maju dengan langkah gaya serigala, sementara pedang panjang ditangan kanan bergetar, sinar kemilau berkelebat terus menusuk kedua biji mata si baju hitam yang menyerbu tiba.

Serangan pedang ini dinamakan Kim-cianjut-hong (jarum emas menusuk ular sanca), ujung pedangnya menaburkan bintik2 sinar kemilau, ternyata lawannya segera mendongak ke belakang berbareng sikut kanannya menyampuk pedang lawan.

Serangan Kongsun Siang ini hanya gertakan, begitu sinar pedangnya bertaburan tahu2 badannya meliuk ke sebelah kanan dan memutarkebelakangsibaju hitam.

Berada di belakang lawan sebetulnya dia bisa menyerang, tapi mengingat pakaian lawan kebal senjata, ditusuk atau dibabat hanya menghabiakan tenaga sia2, tujuan memutar ke belakang ini hanya untuk menghindar sementara dari sergapan lawan.

Maklumlah enam musuh sekaligus menubruk tiba, sementara pihak sendiri hanya empat orang, betapapun dia harus melawan dengan menggunakan akal dan perhitungan yang tepat.

Baru saja dia berada dibelakang lawan, mendadak terasa sesosok bayanganhitamlainnyatelah menerkamdirinyadariarah kiri.

Belum lagi melihat jelas bayangan orang, cakar hitam bagai baja tahu2 sudah mencengkeram pundak Kho Ting-seng, sementara tangannya yang lain membelah ke muka Kongsun Siang.

Sementara si baju hitam lawannya tadi juga telah putar balik, dalam keadaan kepepet dan terdesak ini Kongsun Siang terpaksa lepas tangan, segesit belut dia menyelinap keluar dari gencetan kedua lawannya.

Ketika merasa pundaknya kesakitan, Kho Ting-seng menjerit ketakutan.

"Nao-tongcu, ampun ... ."

Belum habis dia berteriak, orangnya sudah jatuh semaput.

Dalam pada itu Song Tek-seng, Thio Lam-jiang dan Ji Siu-seng juga sedang menghadapi bahaya.

Melihat perintah Nao Sam-jun yang tak segan2 membunuh kawan sendiri, semula Song Tek-seng hendak meniru Kongsun Siang dengan mencengkeram Ji Siu-seng palsu sebagai tameng, tapi mengingat orang akan menjadi beban belaka, terpaksa dia batalkan niatnya, malah sekali tendang dia bikin orang mencelat jauh ke pinggir sana, dengan mengembangkan Loanpah-hong-kiam-hoat dari Go-bi-pay segera dia bendung serbuan musuh.

Ilmu pedang Go-bi-pay memang terkenal acak2an, kelihatan ngawur dan tidak teratur, tusuk ke timur potong ke barat, kian kemari tidak menentu, sudah tentu gerak langkahnya harus menyesuaikan gaya pedangnya, gemulai pergi datang dan berkisar kian kemari.

Betapapun aneh dan lihay ilmu pedang seseorang juga tidak berguna menghadapi orang yang mengenakan pakaian kebal senjata, tapi ilmu pedang yang dikembangkan Song Tek-seng ini mengutamakan kelincahan, gerak langkahnya berkisar ke sana-sini, ternyata besar sekali manfaatnya bagi diri sendiri, paling tidak sementara dapat menghindar dari sergapan orang2 berbaju hitam.

Thio Lam jiang dari Hing-sinpay, Hing-sankiam-hoat mengutamakan gerak melambung ke udara lalu menyerang sambil menukik seperti burung elang menyambar anak ayam, tapi manusia bukan sebangsa burung yang punya sayap dan bisa tetap terapung di udara, dia mengandalkan kekuatan Lwekang dan Ginkangnya saja, setiap kali senjatanya membentur lawan, meski hanya sentuhan yang pelahan saja sudah cukup untuk membuatnya mencelat tinggi pula ke alas.

Memangnya orang2 berbaju hitam itu kebal senjata, tatkala menubruk turun cukup pedangnya sembarangan menusuk badan lawan dan kembali ia dapat pinjam tenaga pantulan itu untuk melam-bung keatas pula.

Tapi kalau seseorang harus selalu tahan untuk mengentengkan badan agar bisa melambung ke atas, hal ini sudah tentu terlalu banyak makan tenaga.

Tapi berseliweran di antara orang berbaju hitam yang aneh dan kebal senjbata, cara tempurnya ini justeru paling berhasil dan menguntungkan.

Di antara keempat hanya Ji Siu-seng saja yang paling rugi.

Dia murid Bu-tong-pay, Lianggi-kiam-hoat Bu-tong-pay punya gaya tersendiri, setiap gerakan pedangnya selalu melingkar2, ilmu pedang yang mengutamakan kelembutan mengatasi kekerasan, gerak tubuh dan langkah kaki mengikuti gaya pedang menurut perhitungan Pat-kwa.

Kini menghadapi musuh yang main sergap dan tubruk, bersenjata cakar jari beracun dan berilmu silat tinggi lagi, maka ilmu pedangnya yang lihay menjadi mati kutu, lebih celaka lagi gerak langkahnya yang harus dikembangkan menuruti gerak pedangnya juga susah bekerja.

Hanya beberapa gebrak saja dia sudah kehilangan kontrol dan terdesak di bawah angin.

Sudah tentu tiga kawannya juga kehilangan inisiatif untuk balas menyerang, semua berada dalam bahaya, cuma keadaan dan situasi yang dihadapi Ji Siu-seng lebih berat.

Tatkala Kho Ting-seng menjerit, minta ampun kepada Nao Sam-jun itulah Ji Siu-seng juga menjerit kaget, pergelangan tangan kanan yang pegang pedang tahu2 sudah terpegang oleh seorang berbaju hitam.

Pedang panjang dan pendek di tangan Ling Kun-gi menari2, dia asyik menempur lima lawannya.

Walau menggunakan sepasang pedang pusaka, tapi kelima musuhnya juga teramat tangguh, apalagi mereka sudan tahu senjata Ling Kun-gi tajam luar biasa, kekebalan baju mereka sudah tak berguna lagi, maka tiada seorangpun yang berani menghadapinya secara langsung.

Kelima orang ini menduduki posisi tertentu, satu maju, yang lain segera mundur secara bergantian, satu sama lain saling bantu dan mengisi.

sehingga pertempuran berlang-sung cukup lama, tapi tetap dalam keadaan bertahan sama kuat.

Lama2 Kun-gi hilang sabar, demi mendengar jeritan Ji Siu-seng, dia berpaling dan dilihatnya pergelangan orang telah di tangkap musuh dan sedang meronta, keruan ia menjadi gelisah.

Sudah tentu dia tak tahan lagi, dengan gusar sambil menghardik tiba2 kedua pedangnya berpencar, sinar kemilau dengan hawa pedang yang dingin tajam bertaburan bagai badai menerjang ke empat penjuru.

Lebih dahsyat lagi di antara bergulungnya sinar dan hawa pedang itu diselingi suara gemuruh, itulah salah satu jurus Hwi-liong-kiam-hoat warisan keluarganya, jurus kedua yang dinamakan Liong-cancay-ya (naga bertempur di tegalan), kekuatan dan perbawanya bukan olah2 hebatnya.

Tak sempat lagi berkelit dan mengundurkan diri, kelima musuh yang mengepung dirinya sama jungkir balik, seorang terbabat putus kedua kakinya dua tertabas buntung sebuah lengannya, sedang dua lagi yang berdiri agak jauh sama ter-guling2 keterjang sambaran angin.

Setelah melancarkan jurus pedang yang tiada taranya ini, Kun-gi tidak sempat lagi menyaksikan hasil kerjanya, segera ia melejit terbang ke sana, kembali ia mengembangkan jurus Sinliong-jut-hun, pedang mendahului orangnya laksana bianglala menerjang orang berbajuhitamyang memegang JiSiu-seng itu.

Orang yang pegang pergelangan tangan Ji Siu-seng itu rada kewalahan karena Ji Siu-seng meronta sekuatnya dengan kalap, dua jarinya dengan tipu Siang-liong-jiang-cu (dua naga berebut mutiara) mendadak mencolok kedua mata lawan, berbareng kedua kakinya bergantian menendang secara berantai, Betapapun dia adalah murid Bu-tong-pay, kalau tidak tentu Pek-hoa-pang tidak akan menyaringnya dan mengangkatnya menjadi Hou-hoat su-cia.

Bahwa ilmu pedangnya tadi sukar dikembangkan, tapi kedua serangan menyolok dan tendangan dilancarkan dalam keadaan kalap, ternyata perbawanya cukup hebat juga.

Kedua jari yang menyolok mata orang sangat lihay, terpaksa lawan berusaha punahkan serangan ini, pada hal tangan kirinya dibuat pegang tangan Ji Siu-seng, dia gunakan sikut tangan kanan untuk menyampuk jari Ji Siu-seng yang menyolok mata.

Maka terdengarlah suara "blang-blang"

Dua kali, tendangan Ji Siu-seng dengan telak mengenai perut orang, Sayang orang itu memakai baju yang kebal senjata, walau tendangannya mengenai sasaran dengantelaktapitidak mampumelukainya.

Sebetulnya Ji Siu-seng juga tahu bahwa mata orang tidak akan berhasil dicoloknya, maka tendangan kedua kakinya menggunakan seluruh kekuatannya, meski seluruh badan kebal senjata, tak urung orang itu tergentak mundur juga sambil meringis kesakitan.

Pada saat itulah, sinar pedang Ling Kun-gi bagai bianglala menyambar kearahnya.

Terasa oleh orang itu sinar kemilau menukik turun dari udara, hakikatnya dia tak sempat melihat jelas, begitu sinar pedang tiba seketika dia menjerit ngeri, kelima jarinya terlepas, orangnyapun terjengkang jatuh ke belakang.

Rasa kaget Ji Siu-seng juga belum lenyap, badannya sempoyongan dan akhirnya jatuh terduduk.

Dua jurus ilmu pedang yang dilancarkan Ling Kun-gi.

boleh dikatakan dilancarkan sekaligus dan telah membikin orang2 berbaju hitam itu mati satu tiga terluka, sungguh bukan kepalang hebat perbawanya sehingga orang2 lainnya sama berdiri melongo dan jeri..

Menyusul segera terdengar suara siulan melengking menggema di udara, orang2 berbaju hitam ber-sama2 berlompatan mundur menyelinap masuk ke dalam hutan dan menghilang dengan cepat.

"Nao Sam-jun!"

Bentak Kun-gi mendadak sambil membalik badan.

Ternyata Kim-kau-cian Nao Sam jun dari Hwi-liong-tong sudah tidak kelihatan lagi mata hidungnya, orang2 berbaju hitampun sudah tidak kelihatan pula bayangannya.

Menyeka keringat di jidatnya Kongsun Siang menuding ke sana sambil membentakberingas."Kejar!", Baru saja dia angkat langkah, Kun-gi telah berteriak.

"Berhenti Kongsun-heng, jangan mengejar!"

Terpaksa Kongsun Siang urung mengejar, katanya dengan gregetan.

"Menguntungkan orang she Nao itu."

Lekas Kun-gi memeriksa keadaan Ji Siu-seng yang matanya terpejam, untung kecuali pergelangan tangan yang dipegang si baju hitam itu tiada luka2 lain, pergelangan tangannya meninggalkan lima jalur bekas jari berwarna hitam, walau tangannya keracunan, rasanya juga tidak terlalu payah, maka dia tutuk dua Hiat-to di badan orang supaya racun tidak menjalar.

Sementara itu Song Tek-seng, Thio Lam-jiang telah merubung datang, melihat keadaan Ji Siu-seng mereka sangka Ji Siu-seng terluka parah, tanyanya berbareng.

"Cong-coh, bagaimana luka Ji-heng!"

Luka2 hitam ini jelas karena keracunan dari tangan si baju hitam, untuk menyembuhkan harus menggunakan Le liong-pi-tok-cu warisan keluarganya itu, tapi mutiara ini pantang diperlihatkan kepada orang lain, maka dia pura2 berpikir sebentar, lalu katanya.

"Lukanya memang tidak ringan, terpaksa harus kubantu dengan saluran hawa murni baru jiwanya bisa tertolong, untuk itu sedikitnya memerlukan waktu satu jam, pada saat menyembuhkan luka2nya jangan sampai ada gangguan dari luar."

Sampai di sini dia lolos Ihthiankiam dan diserahkan kepada Kongsun Siang, katanya.

"Kongsun-heng boleh pakai pedang ini, berdirilah tiga tombak ke sana, jagalah arah utara."

Lalu dia serahkan pedang pandak kepada Thio Lam-jiang, katanya pula.

"Thio-heng pakai pedang ini, berdiri tigatombaksebelah sana, jagalaharahbaratlaut."

Kedua orang terima pedang dan beranjak ke tempat yang dltunjuk. Ling Kun-gi menambahkan.

"Song-heng ada membawa kotakSom-lo-ling, jagalahdipinggirdanau."

Song Tek-seng melengak, katanya membanting kaki.

"Wah kalau tidak Cong-coh katakan, hamba benar2 lupa kalau lagi membawa kotak Som-lo-ling, Ai, sungguh sayang, mestinya tadi bisa kugunakan untuk menghadapi mereka."

Kun-gi tertawa, katanya.

"Tiada gunanya, betapapun kuat dan jahatnya Som-lo-ling tetap takkan bisa melukai orang2 yang kebal senjata itu, kecuali kau mengincar mata mereka, apalagi mereka belum tentu memberi kesempatan padamu, celaka malah kalau sampai terebut oleh mereka."

"Cong-coh memang benar,"

Ucap Song Tek-seng.

Dia rogoh keluar Som-lo-ling terus beranjak ke pinggir sungai.

Setelah ketiga orang ini disingkirkan, lekas Kun-gi keluarkan mutiara penawar racun itu digilindingkan pergi datang di tangan kanan Ji Siu-seng.

Hanya semasakan teh kemudian lima jalur hitam ditangan kanan Ji Siu-seng telah lenyap.

Kun-gi simpan mutiaranya, lalu kedua tangan memijat dan mengurut beberapa kali di leher Ji Siu-seng untuk melancarkan jalan darahnya.

Tiba2 Ji Siu-seng membuka mata, dilihatnya Ling Kun-gi duduk bersimpuh di sampingnya, segera dia berlutut di depan orang, katanya sambil menyembah beberapa kali.

"Dua kali Cong-coh menolong jiwa hamba, cara bagaimana hamba harus membalas."

Lekas Kun-gi memapahnya bangun, katanya.

"Ji-heng, berbuat apa kau?"

"Ayah-bunda melahirkan, aku, tapi Cong-coh dua kali telah menolong jiwaku ...

" ''Jangan berkata demikian Ji-heng, sebagai Cong-hou-hoat adalah tugasku untuk memberantas anasir2 jahat ini, demikian pula menolong kau adalah kewajibanku...."

Ji Siu-seng ingin bicara, lekas Kun-gi berkata pula.

"Jangan bicara lagi Ji-heng, marilah kita periksa keadaan, mereka mengundurkan diri tanpa membawa Kho Ting-seng dan orang yang menyarudirimu, entahdiasudah matiatau masih hidup?"

Dari samping tiba Song Tek-seng bersuara tertahan.

"Lapor Cong-coh, muncul lima sampan cepat di sana, kelihatan lajunya arah kita."

Waktu Kun-gi memandang kesana, memang dilihat lima sampan laju pesat menerjang ombak menuju ke arah mereka.

Cuma jaraknya masih terlampau jauh, jadi sukar membedakan yang datang kawan atau lawan?

Sejenak Kun-gi berpikir, katanya kemudian.

"Song-heng, coba nyalakan kembang api sebagai tanda, kalau sampan, itu milik Pang kita,merekapastiakan menyalakankembangapipula."

Song Tek-seng mengiakan, segera dia keluarkan sebatang kembang api dan dipasang.

"Sreng", sejalur kembang api meluncur ke udara dan akhirnya ""Tar-tar-tar"

Meletus tiga kali di angkasa, tampak bola api berwarna hijau menyala menerangi langit sampai lamasekalibaru padam.

Baru saja kembang api yang diluncurkan di sini hampir padam, dari salah satu sampan yang mendatangi itu juga meluncur sejalur apiyangsama meletusdiangkasa.

Song Tek-seng bertepuk girang, serunya.

"Kiranya orang sendiri, aneh sekali, Liang-heng dan kawan2nya hanya memiliki tiga sampan, dari mana di peroleh, dua sampan lagi?"

"Waktu kita melawan Cap-ji-sing-siok tadi, sinar pedang berkelebatan, tentunya orang2 di kapal juga melihatnya, kelima sampan cepat ini mungkin sengaja menyusul. kemari hendak memberibantuan,"demikianucap Kun-gi.

"Kalau Cong-coh tidak unjuk kesaktian, bila kita harus menunggu datangnya bala bantuan, mungkin sejak tadi kita semua sudah mati konyol,"demikian kelakarKongsunSiang. Kun-gi terima kembali kedua pedangnya, katanya.

"Ilmu silat Cap-ji-sing-siok memang tidak lemah, tapi mereka mengutamakan kekebalan baju terhadap segala macam senjata, beruntung aku memiliki kedua macam senjata pusaka ini yang kebetulan dapat memecahkan kekebalan mereka."

Mereka lantas memeriksa kedaan setempat, ternyata orang yang menyaru jadi Kho Ting-seng yang tadi direbut oleh orang2 berbaju hitam telah menggeletak di atas rumput dan tak bernyawa lagi, kepalanya pecah terpukul, keadaannya amat mengerikan.

Jelas orang2 baju hitam juga berlaku kejam terhadap orang sendiri.

Malah Ji Siu seng palsu yang menggeletak tertutuk Hiat-tonya di semak rum-put sana ternyata masih hidup, tadi Song Tekseng melemparnya, agak jauh dari arena pertempuran, sehingga tidak menjadi perhatian orang berbaju hitam.

Disamping itu masih ada pula tiga sosok mayat.

Seorang matiterpukulolehMo-ni-in Ling Kun-gi.

Seorang lagi adalah orang yang melawan Ji Siu-seng, kena terbabat putus pinggangnya menjadi dua oleh pedang Ling Kun-gi.

Orang ketiga adalah yang buntung kedua kakinya karena terbabat oleh jurus Liong-cancay-ya yang dilancarkan Ling Kun-gi, menginsafi kedua kakinya buntung dan tak mungkin melarikan diri, dari pada tertawan musuh, dia pukul remuk kepalanya sendiri, mati bunuh diri atau mungkin juga dipukul mati temannya sebelum mengundurkan diri.

Pendek kata dalam pertempuran singkat ini Cap ji-sing-siok telah kecundang, pantas kalau Nao Sam-jun cepat2 melarikan diri dengan anak buahnya.

Sementara itu kelima sampan tadi sudah menepi.

Orang pertama yang lompat ke daratan adalah Hupangcu So-yok, disusul Hwehoa, Lianhoa, Giok-li dan Bikui.

Di belakangnya lagi baru Coh-houhoat Leng Tio-cong, Houhoat Liang Ih-jun dan kedua pembantunya Ban Yu-wi dan Sun Ping-hian.

Lekas Kun-gi pimpin Kongsun Siang, Song Tek-seng, Thio Lam-jiang dan Ji Siu-seng menyambut di tepi sungai, dia menjura dan katanya.

"Kenapa Hupangcu juga ikut kemari?" . Lekat tatapan So-yok, katanya, dengan heran.

"Apa yang terjadi di sini?"

Kun-gi tersenyum, jawabnya.

"Hwi-liong-tongcu dari Hek-lionghwe membawa anak buahnya mengadakan sergapan di sini, tapi kejadian sudah usai."

"Hwi-liong-tongcu?"

Seru So-yok heran sambil celingukan.

"Mana mereka? Tiada yang tertawan?"

"Sudah dipukul mundur, mereka meninggalkan tiga mayat,"

Ucap Kun-gi. So-yok banting kaki, katanya gegetun.

"Kalau datang lebih dini, tentu mereka dapat kita jaring seluruhnya."

"Cap ji sing-siok yang datang malam ini semuanya kebal senjata, kalau Cong-coh tidak berada di sini, hanya kita beberapa orang ini, pasti sudah ditumpas habis, memangnya mampu kami membekuk mereka?"

"Apakatamu?"teriakSo-yok kurang senang. Merah muka Kongsun Siang, sahutnya menunduk.

"Hamba berkata sesuai kenyataan."

So-yok mendengus geram. Kuatir Kongsun Siang banyak mulut dan membuat So-yok gusar, lekas Kun-gi menyela.

"Bagaimana Hupangcu bisa menyusul kemari?"

Sikap kaku So-yok seketika sirna, katanya aleman setelah, melerok sekali.

"Masih tanya lagi, kau suruh aku menangkap orang, tapi urusannya kau rahasiakan kepadaku, tengah malam tadi baru Sam-moay naik ke atas membawa suratmu dan suruh aku bertindak menurut petunjuk ......"

Kongsun Siang berdiri di sebelah samping, jaraknya cukup dekat, melihat sikap dan mimik So-yok waktu bicara dengan Ling Kun-gi begitu mesra dan aleman, tanpa terasa kepalanya menunduk semakin rendah.

Kun-gi tersenyum, katanya.

"Memang Cayhe suruh Congkoan memberikan surat itu kepada Hu pangcu setelah lewat kentongan kedua, harap Hu-pangcu maaf."

"Memangnya siapa yang salahkan kau?"

Omel So-yok, tiba2 dia cekikikan.

"Kau diberi kekuasaan oleh Thay-siang untul membongkar urusan ini, jangankan aku, Toacipun harus tunduk pada perintah mu, memangnya aku berani membangkang."

"Thay-siang memberi kuasa, Pangcupun harus tunduk padamu", hal ini sama sekali tidak diketahui oleh orang2 yang ada ditingkat kedua, yaitu para Houhoat dan Hou-hoat-su-cia. Diam2 mencelos hati Coh-houhoat Leng Tio-cong, telapak tangannya berkeringat dingin, pikirnya.

"Bocah ini selangkah lagi manjat ke atas, untung aku tidak berbuat salah terhadapnya."

"Berat ucapan Hupangcu, tentunya 'Nyo Keh-cong' bertiga telah diringkus bukan?" (Nyo Keh-cong, Sim Kiansin dan Ho Siang-seng asli sudah gugur dan digantikan mata2 Hek-liong-hwe, hal ini telah dibeberkandalamtanyajawabLing Kun-gidanCinTek-hong tadi). So-yok tertawa, katanya..

"Sudah tentu teringkus semua, malah mereka sudah mengaku terus terang,"

Lalu dia menyambung.

"tadi Kiu-moay melaporkan, katanya dari sini kelihatan cahaya pedang melambung tinggi, kemungkinan Ling-heng ketemu musuh tangguh, maka buru2 aku menyusul kemari."

Baru sekarang Coh-houhoat Leng Tio-cong sempat tampil ke depan dan berkata sambil menjura.

"Cong-coh memang ahli meramal dan tepat perhitungan, tajam pandangan dan tegas tindakan, sekali jaring seluruh mata2 musuh yang terpendam telah digaruk seluruhnya, sungguh aku merasa amat malu dan menyesal, selanjutnya aku tunduk lahir-batin kepada Cong-coh."

"Leng-heng terlalu merendah,"

Ucap Kun-gi tertawa.

"akupun secara kebetulan saja memergoki muslihat mereka."

"Eh mana Cin Tek-hong?"

Tanya So-yok.

"apakah dia melarikan diri? Menurut pengakuan Nyo Keh-cong, dialah pemimpin mata2 musuh."

"Cin Tek-hong sudah mati,"

Kun-gi menerangkan.

"mati diserang oleh orang mereka sendiri, soal tidak penting, yang paling penting adalah para Cap-ji-sing-siok yang kita hadapi malam ini, pakaian yang mereka kenakan semuanya kebal senjata, untuk penyerbuan kita ke Hek-liong-hwe kali ini, hal ini merupakan masalah yang harus segera dipecahkan untuk mengatasinya, kalau tidak pihak kita pasti akan rugi besar."

"Bukankah ada tiga musuh yang mati, di mana mereka. Hayo kita periksa bersama", kata So-yok.

"Nah, itulah di sana,"

Kun-gi menuding.

Lalu dia iringi So-yok menghampiri mayat2 itu.

So-yok melolos pedang dan membacok tubuh salah satu mayat itu, bacokannya menggunakan enam bagian tenaganya, tapi pedangnya terpental balik tak dapat tembus badan orang.

Keruan So-yok melenggong, katanya heran.

"Kulit apakah ini?"

"Cayhe tidak tahu, kita angkut saja mayat2 ini pulang dan diperiksa lebih lanjut."

"Cara ini paling baik, eh, mereka dinamakan Cap-ji-sing-siok, jadi seluruhnya ada 12 orang."

Kun-gi lalu tuturkan kejadian tadi.

Sebelumnya dia suruh orang banyak menggali liang besar, pakaian kulit hitam yang dipakai ketiga orang mati itu ia suruh belejeti, mayat mereka dikubur bersama Cin Tek-hong, Kho Ting-seng, Jiu Siu-seng sendiri menjinjing tawanan musuh yang menyaru dirinya naik ke sampan lebih dulu, kejap lain semua orang sudah berada di sampan dan lalu balik ke kapal besar.

Laksana panglima yang kembali dari medan perang dengan kemenangan gilang gemilang.

Sementara itu di atas kapal, Pek-boapangcu Bok-tan, Congkoan Giok-lan sudah duduk menunggu sekian lamanya di tingkat kedua.

Yu-houhoat Coa Liang pimpin seluruh Houhoat dan Hou-hoat-su-cia terpencar disekeliling kapal menyambut kedatangan mereka.

Kun-gi bertanya, So-yok langsung masuk ke ruang besar, dua orang Hou-hoat-su-cia menyambut diambang pintu.

Dua pasang lilin raksasa menyala terang benderang di ruang besar.

tampak Pek-hoa-pangcu du-duk di kursi ujung atas menyandang meja panjang, Tho-hoa dan Kiok-hoa berdiri di kanankirinya, di sebelah belakang adalah para Tay-cia, pakaian mereka ringas bersenjata siap tempur.

Melihat Kun-gi, Pek-boa-pangcu Bok-tan berdiri, katanya sambil tertawa lebar.

"Apakah Ling-heng kepergok musuh?"

Sorot matanya menyala terang penuh perhatian. tapi juga penuh rasa kasih sayang yang amat mendalam. Kun-gi menjura, katanya.

"Terima kasih atas perhatian Pangcu, di Gu-cu-ki setelah Cayhe ber-hasil menangkap Cin Tek-hong, pada saat kami mengorek keterangannya, Nao Sam-jun Hwi-liong-tongcu dari Hek-liong-hwe tiba2 muncul dengan Cap-ji-sing-siok yang kebal senjata. ....."

Terbeliak mata Pek-hoa-pangcu Bok-tan, katanya kaget.

"Banyak jumlah bala bantuan musuh? Akhirnya bagaimana?"

"Syukurlah, berkat wibawa Pangcu yang sakti, musuh meninggalkan tiga sosok mayat dan melarikan diri.' Cerah senyuman Pek-hoa-pangcu Bok-tan katanya.

"Itu berkat kesaktianLing-heng sebagaiCong-su-ciayangperkasa."

"Toaci,"

Sela So-yok.

"Cap-ji-sing-siok dari Hek-liong-hwe semuanya berpakaian kulit yang kebal senjata, kita sudah belejeti pakaian ketiga korban itu."

Sementara itu Leng Tio-cong, Kongsun Siang dan lain2 juga ikut masuk ke ruangan besar, baru sekarang mereka sempat maju memberi hormat kepada sang Pangcu.

Sedangkan Song Tek-seng dan Thio Lam-jiang tampil ke depan menghaturkan ke tiga pakaian kulit itu.

Sementara Ji Siu-seng juga maju memberi hormat sambil tetap mengempit tawanannya.

' Sebentar Pek-hoa-pangcu pandang Ji Siu-seng palsu, lalu bertanya.

"Mana Cin Tek-hong dan Kho Ting-seng?"

"Kedua orang ini sudah terbunuh musuh, kami sudah menguburnya,"

Tutur Kun-gi.. Sambil melirik Ji Siu-seng palsu Pek-hoa-pangcu berkata pula.

"Inikah utusan mereka yang memalsukan Ji Siu-seng. Untung Lingheng membongkar kedok dan muslihat jahat mereka, kalau tidak sebelum kita tiba di sarang Hek-liong-hwe, seluruh Hou-hoat-su-cia sudah ditukar dengan orang2 mereka."

Lalu dia mengulap tangan dan menambahkan.

"Gusur dia dan sementara sekap saja di gudang bawah."' JiSiu-seng mengiakanterusgusurJiSiu-sengpalsukeluar. Pek-hoa-pangcu berkata lebih lanjut.

"Silakan duduk Ling-heng, tadiKiu-moay telah memberi laporanpadaku, dari arahGu-cu-ki ada cahaya pedang yang berkelebatan, dikuatirkan Ling-heng menghadapi bahaya serbuan musuh, maka kusuruh Ji-moay menyusul ke sana memberi bantuan, kukira pertempuran kalian pasti sangat sengit dan ber-bahaya, sukalah Ling-heng kisahkan kejadian tadi?"

Kun-gi menarik kursi dan berduduk. So-yok ikut duduk di sebelahnya, sekilas dia melirik Song Tek-song dan Kongsun Siang, katanya.

"Seorang diri tadi Ling-heng menghadapi Cap-ji-sing-siok, musuh yang tangguh dan kebal senjata, tentu badan amat lelah, kukira kalian boleh bergantian mengisahkan kejadian itu."

Kongsun Siang mengangguk, katanya.

"Baiklah, biar hamba yang memberi laporan kepada Pangcu."

Pek-hoa-pangcu manggut2 setuju.

Kongsun Siang lalu bercerita cara bagaimana mereka berhasil menjebak Cin Tek-hong , serta mengorek keterangannya, sampai tahu2 Nao Sam-jun muncul bersama Cap ji-sing-siok, lalu mereka bentrok dengan sengit, seorang diri Ling Kun-gi berhasil membunuh dan melukai Cap-ji-sing-siok, seluruh peristiwa diceritakannya dengan lengkap dan teliti.

Kongsun Siang berwajah cakap dan pandai bicara, maka peristiwa menegangkan yang mereka alami itu dapatlah dia kisahkan dengan baik dan menarik sehingga hadirin yang mendengarkan seolah2 ikut menyaksikan sendiri ditempat itu.

Waktu dia bercerita cara bagaimana pedang pusaka sekaligus membabat kutung tangan orang serta memukul mati lawan, hadirin sama bertepuk tangan memuji.

Dengan seksama Pek-hoa-pangcu periksa baju kulit rampasan yang berada di atas meja, tanyanya sambil angkat kepala.

"Tahukah kalian terbuatdarikulitapakahpakaian ini?"

Tahu bahwa pakaian kulit ini tak mempan senjata tajam, meski senjata rahasia dan pukulan saktipun takkan dapat melukai pemakainya, maka para hadirin jadi lebih ketarik, beramai2 mereka merubung maju, tapi tiada seorangpun yang mampu memberi keterangan.

Akhirnya Sam-gansia Coa Liang buka suara.

"Hamba pernah dengar orang mengatakan di laut utara ada tumbuh sejenis binatang anjing laut, kulit bersisik lembut dan halus sekali, dapat dibuat pakaian yang kebal senjata dan tahan pukulan, sarang Hekliong-hwe mungkin terletak tak jauh dari Pak-hay, maka tidak heran kalau mereka bisa memproduksi pakaian anjing laut ini secara besar2an."

Pek-hoa-pangcu manggut2, katanya.

"Ya, mungkin saja, akhir2 ini Hek-liong-hwe memang telah merangkul banyak sekali orang2 kosen dari berbagai kalangan, kalau mereka sama mengenakan pakaian seperti ini dan kita tidak lekas mempersiapkan diri, mungkin bisa mengalami kegagalan."

"Buat apa Toaci kesal?"

Ujar So-yok.

"Bukankah Cap ji-sing-siok telah dibikin porak poranda dengan tiga mati dan tiga luka oleh Ling-heng, akhirnya melarikan diri dalam keadaan serba runyam?"

Kata Pek hoa-pangcu.

"Itu baru seorang yang memiliki Lwekang dan kepandaian setinggi ini, diantara kita sebanyak ini, kalau berhadapan dengan musuh yang kebal senjata, bukankah kita sendiri bisa runyam jadinya?"

Ia melongok keluar jendela melihat cuaca, katanya pula.

"Sudah terang tanah, sebentar lagi Thay-siang akan bangun, soal ini betapapun harus cepat kulaporkan kepada beliau."

Ia berpaling dan berpesan kepada seorang pelayan.

"Bakni, ambillah perangkat pakaian itu dan ikut aku ke atas, dua perangkat yang lain serahkan kepada Ling-houhoat untuk menyimpan sementara."

Lalu ia berdiri dan menambahkan pula.

"Ling-heng, Ji moay, mari kita menghadap Thay-siang."

Ling Kun-gi, So-yok dan Giok-lan berdiri bersama.

"Silakan Lingheng,"

Pek-hoa-pangcu angkat sebelah tangannya.

"Pangcu silakan dulu,"

Kun-gi, merendah.

"mana berani hamba mendahului.?"

Pek-hoa-pangcu tersenyum, katanya.

"Mengapa Ling-heng lupa, Thay-siang sudah memberi mandat padamu, kau berkuasa penuh untuk membongkar perkara ini, aku dan Ji-moay termasuk pembantu saja, maka silakan Ling-heng jalan di depan."

Kata2 ini terucap dari mulut sang Pangcu sendiri, sudah tentu bobotnya jauh berbeda.

Baru sekarang semua orang tahu bahwa, Ling Kun-gi adalah orang kepercayaan Thay-siang, kedudukannya seolah2lebihtinggi dariPangcu danhupangcu malah.

Memangnya hal ini sebetulnya tidak perlu dibuat heran, dinilai taraf ilmu silat dan martabat Kun-gi, dalam kalangan Bu-lim masa kini sukar dicari orang kedua yang mirip dengan Kun-gi.

Maka semua orang sudah menduga dan kini semakin yakin bahwa Ling Kun-gi akan semakin menanjak ke atas menjadi calon menantu, cuma bakal mempersunting Bok-tan, sang Pangcu yang cantik rupawan merajai semua perempuan yang ada di sini, atau menikah dengan So-yok, Hupangcu yang cerdik pandai dan berkuasa serta garang dan angkuh ini Betapapun Kun-gi tidak mau jalan di depan, terpaksa Bok-tan membuka jalan, disusul So-yok terus Giok-lan dan ke 10 Taycia beriring naik ke tingkat ketiga.

Tiba di depan kabin tengah di mana Thay-siang berada, kecuali Bwehoa yang dinas malam ini, Bikui pernah menyaru jadi Cu-cu, tapi iapun tidak berani sembarangan masuk ke kabin, maka para Taycia lantas menyebar ke sekitarnya.

Sementara Pek-hoa-pangcu dan Ling Kun-gi berempat lantas masuk.

"Urusan apa, Kun-gi?"

Tanya Thay-siang segera. Lekas Kun-gi menjura, sahutnya.

"Hamba akan memberi laporan kepada Thay-siang."

"Baiklah, tunggu sebentar,"

Seru Thay-siang. Kun-gi memberi hormat, hanya dia saja yang tidak tekuk lutut menyembah, sementara Bok-tan, So-yok dan Giok-lan sama tekuk lutut menyembah tiga kali dan berseru bersama.

"Tecu menyampaikan sembah sujud kepada Suhu."

Walau wajahnya tertutup cadar, tapi suara Thay-siang terdengar lembut ramah.

"Bangunlah kalian."

Lalu dia duduk di kursi kebesarannya, tanyanya kepada Kun-gi.

"Ling Kun-gi, baru sekarang kau menghadap, memangnya perkara. Ci Gwat-ngo dan komplotannya sudah kau bongkar seluruhnya?"

"Lapor Thay-siang,"

Seru Kun-gi.

"syukurlah hamba tidak sia2 menunaikan tugas berat ini." ''Em, baik sekali,"

Tampak sinar terang kedua mata Thay-siang dibalik cadarnya, katanya lembut dengan tertawa.

"Memang, kau anak bagus, Losin tahu kau cukup mampu menjaring mereka semua, maka Losin beri kuasa penuh padamu, kiranya kau tidak mengecewakan Losin. Oya, kalian lekas duduk, bicaralah pelan2."

Betapa halus dan kasih sayang panggilan "anak bagus"

Itu, bagi Kun-gi sendiri tidak merasakan apa2 tapi Pek-hoa-pangcu seketika merah jengah dan bukan kepalang rasa riang dan syur hatinya, Sejak Thay-siang menyerahkan lh-thiankiam kepada Kun-gi, sejak itu pula perasaan Bok-tan sudah mantap seolah2 soal jodohnya sudah terangkap.

"Terima kasih,"

Sahut Kun-gi, lalu dia duduk di kursi sebelah bawah.

Maka Pek-hoa-pangcu, Hu pangcu dan Congkoan juga ikut duduk.

Kun-gi mulai bercerita sejak dia diangkat menjadi Cong-su-cia, malam itu seseorang coba membunuh dirinya menggunakan Som-lo-ling, cara bagaimana dia menguntit musuh dan setelah dianalisa dengan teliti, dia yakin bahwa orang itu pasti Cin Tek-hong adanya.

Waktu kembali didapatinya Kho Ting-seng yang berjuluk Gintancu ternyata hanya begitu saja kepandaiannya, padahal dia tersohor dengan pelor peraknya itu, setetah dekat dan diawasi kiranya wajah orang sudah terias, kedua hal inilah mulai menimbulkan rasa curiganya.

Kemudian di atas kapal, Nyo Keh-Cong dan Sim Kiansin kembali dengan luka2, didapatinya pula wajah kedua orang ini riasan juga, hari ketiga demikian pula yang terjadi pada Ho Siang-seng dan Kho Ting-seng yang kembali dari ronda.

Urusan berkembang sedemikian pesat, ini sudah jelas menandakan bahwa musuh memang bekerja sejak lama dan direncanakan dengan matang, setiap orang kita yang keluar ronda, pulangnya ditukar seorang dengan kaki tangan musuh.

Thay-siang manggut2, ujarnya.

"Kau memang cerdik, ai, ada kejadian begitu, kenapa tidak kau katakan sejak mula?"

Sedikit membungkuk Kun-gi berkata.

"Harap Thay-siang maklum, urusan semacam ini, kalau tiada bukti, mana boleh sembarangan menuduh orang?"

"Betul,"

Ucap Thay-siang.,"

Manggut2.

"Coba teruskan."

Kun-gi melanjutkan uraiannya bahwa mungkin karena waktu itu dirinya berhasil membuat obat penawar getah beracun, maka pihak Hek-liong-hwe berusaha melenyapkan dirinya, maka terjadilah Ci Gwatngo memfitnah dirinya dengan menyembunyikan barang bukti di kamarnya, lalu dia ceritakan sampai pada giliran Cin Tek-hong mendapat tugas untuk ronda malam.

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 12

Baca Juga: Pendekar Bodoh 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert