Ceritasilat Novel Online

Pedang Kiri Pedang Kanan 6

Eps 6 Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL

Baca online Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL

Cersil Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL.

"Bi-sin-hiang-wan" (pil wangi penyedap pikiran), tangan So-yok yang menerima pil itu rada gemetar. Tajam dan dingin penuh wibawa tatapan mata Thay siang, katanya.

"Asal dia telah telan Bi-sin-hiang-wan ini baru dia akan tunduk dan patuh selama hidupnya terhadap Pek-hoa-pang, secara tidaklangsungkitatidakakan menyalahipulapadaHoan-jiu-ji-lay."

So-yok mengiakan dan memuji tindakan gurunya, Thay-siang mengulap tangan, katanya.

"Beritahu pula kepada Toacimu, besok saat tengah hari, gurumu akan memilih orang2 yang akan diikut sertakan dalam gerakan di Pek-hoa-tian, maka seluruh Hou-hoat-sucia dan anak didik Pang kita harus hadir sebelum waktunya."

So-yok mengiakan dan cepat mengundurkan diri..

Bahwa Thay-siang sendiri akan pimpin gerakan besar2an ini sudah tersiar luas ke seluruh Pek-hoa-pang.

Seperti dibakar dan penuh semangat 36 Hou-hoat-su-cia serta ratusan murid2 perempuan Pek-hoa-pang, semuanya mengepal tinju dan menggosok tangan serta menyinsing lengan baju siap tempur.

Cuaca masih remang2, Pek-hoa-pangcu yang kembali dari ruang pendopo tampak melangkah berat dan lesu, pelan2 dia memasuki Ing-jun-kuan.

Di ruang pendopo dia hanya mengumumkan perintah Thay-siang, tapi tugas ini serasa beban berat yang menindih tubuhnya sehingga seperti orang yang baru sembuh dari sakit parah.

Begitu masuk kamar dia terus menjatuhkan diri di atas kursi kebesarannya, badannya lunglai, pelan2 dia pejamkan mata.

Dengan mata terbeliak.

Bak-ni, si melati bertanya penuh perhatian.

"Pangcu, kenapa kau? Badan kurang sehat? "

Pek-hoa-pangcu menggeleng dan berkata.

"Tidak apa2, hanya sedikit pening."

LekasBak-ni tuangsecangkirtheterusdibawa kedepan Pangcu, katanya.

"Minumlah teh panas ini, mungkin peningnya akan sedikit baik."

"Taruh saja di meja,"

Ucap Pek-hoa-pangcu.

Dari luar didengarnya langkah enteng yang tersipu2 mendatangi, cepat sekali Giok sian telah melangkah masuk.

Bak-ni memberi hormat lalu mundur ke samping.

Terpentang lebar mata Pek-hoapangcu, tanyanya.

"Sam-moay, kau sudah kembali."

"Pangcu tadi berpesan, setelah menyelesaikan tugas, harus lekas kemari,"

Sahut Giok sian.

"Ya!"

Pek-hoa-pangcu manggut2.

"ada satu hal ingin kurundingkan denganmu."

Lalu dia berpaling kepada Bak-ni katanya.

"Jagalah di luar pintu, siapapun tanpa seizinku dilarang masuk kemari."

Si melati mengiakan terus beranjak keluar.

"Duduklah Sam-moay."

"Pangcu tidak enak badan? Ada soal apa serahkan kepada hamba saja? "

Dengan lesu Pek-hoa-pangcu mengeluarkan sebutir pil putih dan diangsurkan kepada Giok-lan. Mendelik mata Giok-lan melihat pil itu, mulutpun mendesis.

"Bisin-hiang-wan."

Lalu dia ulur tangan menerima, tanyanya tak mengerti.

"Untuk apa ini Pangcu? "

Bola mata Pek hoa pangcu yang jeli lambat laun berkaca2, suaranya lesu dan putus asa, katanya masguh "Usahakan supaya diminum olehnya."

BergetartubuhGioksian, serunyaheran."Di-minumkan dia? "

Seperti main teka-teki saja, namun mereka sama maklum, apa artinya.

"dia"

Dan siapa yang dimaksud, cuma mereka tidak mau bicara terus terang.

"Ya,"

Suaranya sumbang, se-olah2 sukma Pek-hoa-pangcu telah meninggalkanraganya, badannyatampaklemah sekali. Gemetar semakin keras tangan Giok sian yang menggengam pil putih itu, suaranya tergagap.

"Ini .... maksud .... Pangcu .... sendiri? ".. Sedikit menggeleng, lemah suara Pek-hoa-pangcu, senyumnyapun pilu.

"Sam-moay, kau salah sangka terhadapku "

"Memangnya maksud siapa? "

"Inilah perintah Thay-siang."

"Perintah Thay-siang? Pangcu tega?"

"Apa yang dapat kita lakukan? Kita tak mampu menolongnya."

"Kalau Pangcu ada maksud ......"

"Sam-moay,"

Tukas Pek-hoa-pangcu.

"jangan kau berkata demikian."

"Kurasa dia seorang berbakat, tunas muda punya harapan besar di kemudian hari, sayang kalau Pangcu menyia2kan kesempatan baik ini."

"Aku. .....". Pek-hoa pangcu menggeleng malu..

"Siau-moay merasa engkau penujui dia..Demi tercapainya keinginan Toaci, aku rela menempuh bahaya dan berkorban malam ini biarlah dia...."

Mendadak bercucuran dua baris air mata Pek-hoa-pangcu, katanya sambil menggeleng.

"Sam-moay, aku amat berterima kasih akankeluhuranbudimu, tapi inibukanakalyangbaik."

"Memangnya Toaci ingin dia betul2 menelan pil penyerap pikiran ini? "Kukira belum tentu pikirannya bisa terserap oleh pil ini,"

Demikian ujar Pek-hoa-pangcu.

"sudah lama hal ini ku timang2, yang terang kita tak mungkin membangkang perintah Thay-siang, sementarabiarlah ia makan, obatini........"

"Tapi Toaci pil initiadaobatpenawarnya"seru Giok-lan.. Pek-hoa-pangcu tertawa getir, katanya.

"Sam-moay jangan lupa, kitakan juga tak punya obat penawar getah beracun"

Giok-lan menjerit tertahan sambil membanting kaki.

"Tadi Ji-moay, ada bilang padaku, katanya dia murid Hoan-jiu-jilay, obat penawar itu juga buatan gurunya, bilamana dapat menawar getah beracun, sudah tentu juga dapat memunahkan racun dari Bi-sin-hiang-wan ini."

Bercahaya mata Giok-lan.

"oleh karena itu, maksudku biar sementara dia telan pil ini, setelahpersoalanlewat, belumterlambat kitaberusaha lagipelan2."

Berkedip2 mata Giok-lan, katanya sambil keplok tangan.

"Kiranya Toacisudah punyaperhitungan-"

"Tapi hal ini harus kurundingkan dulu dengan kau baru berani kuambil putusan"

"ApayangToacipikir memangtidaksalah."

"Kalau perintah sudah kita terima dari Thay-siang, tak boleh tidak dilaksanakan, biarlah persoalan ini berlalu sampai besok pagi, untung kadar racun Bi-sin-hiang wan ini bekerja lambat dan lunak. kecuali tunduk dan patuh lahir batin, setia terhadap junjungan, tiada pengaruh sampingan terhadap kesehatan urat syaratnya, besok akan kita pikirkan lagitindakan selanjutnya."

"Sam-moay, kau memang dapat menyelami pikiranku, sungguh mengharukan."

"Toaci, jangan kau berkata demikian, sesama saudara sendiri pakaiterima kasih segala?cuma kuharap......"

"Sam-moay,"

Ucap Pek-hoa-pangcu dengan lembut.

"kau tak usahkuatir,apayangdapatkumilikiberarti menjadi milikmujuga."

Seketika merah jengah selembar muka Giok-lan, suaranya lirih sambil menunduk.

"Ah, Toaci."

"Sam-moay, hal ini tak usah diragukan lagi, Waktu amat mendesak, lekaslah kau kerjakan."

Giok-lan mengiakan, setelah memberihormatterusberlari keluar.

Tapi dikala dia melangkah keluar pintu tiba2 dia berhenti dan bersuara heran dan kaget.

Sudah tentu Pek-hoa-pangcu mendengar seruan kaget ini, seketika mencelos hatinya, lekas dia memburu maju, tanyanya.

"Sam-moay ....."

Begitu dekat dan mata melihat, seketika wajahnya berubah, teriaknya "Bak-ni, kenapa kau? "

Ternyata si melati yang ditugaskan jaga di luar pintu entah mengapa badan tampak lunglai bersandar dinding dengan mata terpejam, lagaknya seperti orang tidur pulas.

Waktu itu hari baru saja gelap.

belum saatnya tidur, meski capai dan mengantuk juga tak mungkin tidur sambil bersandar begitu.

Giok lan sudah coba meraba dan mengurut beberapa Hiat-to ditubuhnya, tapi Bak-ni tetap tidur pulas, ia jadi heran, katanya.

"Kelihatannya bukan tertutuk Hiat-tonya."

Pek-hoa pangcu mendekatinya ia membalik kelopak mata si melati dan diperiksa kanan-kiri, ia meraba tangan kiri Bak-ni, memeriksa nadinya, lalu katanya.

"Darah berjalan normal, napas teratur, memang bukan tertutuk Hiat-tonya, kelihatan memang mirip tidur nyenyak.

"Sembari bicara kedua tangannya menepuk pipi si melati seraya memanggil.

"Bak-ni, hayo bangun "

Kepala Bak-ni tetap lemas lunglai, tetap tidak memberi reaksi.

Tiba2 tergerak hati Giok-lan, lekas dia lari balik ke kamar dan mengambil secangkir air teh dingin terus diguyurkan ke muka Bakni.

Bak-ni tampak gelagapan, badannya bergetar serta membuka mata.

Giok-lan menggeram, katanya gemas.

"Kiranya terbius oleh obat wangi musuh,"

"Bagaimana perasaanmu? Adakah kau melihat siapa dia? "

Tanya Pek-hoa-pangcu. Bak-ni terbeliak. sahutnya.

"Tiada kulihat apa2, sejak tadi aku berdiridisini, cuma, tiba2 kurasa mengantuk. tahu2jadi begini."

"Lekas kau periksa keluar,"

Suruh Giok-lan "Apakah Sui-hiang dan Jiang-hwi juga kecundang? "

Kedua orang yang disebut malam ini bertugas jaga dipintu besar bagian luar, Bak-ni mengiakan, bergegas dia lari keluar. Bertaut alis Pek-hoa-pangcu, katanya.

"Sam-moay, mungkin tidak ... ."

"Kukira bukan Ji-ci,"

Tukas Giok-lan.

"dia sudah pergi sejak tadi, tak mungkin dia bisa menggunakan obat bius segala"

Setelah menepekur lalu menambahkan.

"Lalu siapa orangnya yang bisa menggunakan obat bius ini, bahwa dia beroperasi di Ing-jun-koan ini pasti bermaksud tujuan tertentu, jadi jelas dia bukan anggota Pang kita."

Tampak Bak-ni melangkah masuk, Swi-hiang dan Jiang-hwi ikut dibelakangnya..

"Swi-hiang,"

Tanya Giok lan.

"malam ini kau berdua yang tugas dipintu luar, adakah melihat orang masuk kemari? "

"Lapor congkoan,"

Seru Swi-hiang..

"kecuali engkau, tiada orang kedua yang masuk kemari."

Rada berubah air muka Giok-lan, katanya sambil mengulap tangan.

"Baiklah, kalian boleh pergi, tiada urusan kalian di sini."

Swi-hiangberduamemberihormatdan mengundurkandiri.

"Toaci,"

Ucap Giok-lan sambil mengawasi Pek-hoa-pangcu.

"kuduga orang itu masuk dari jendela belakang, agaknya dia sudah apalseluk-beluk keluarga"bunga"

Kita...."

Pek-hoa-pangcu manggut2, katanya.

"Sam-moay, lekaslah kau pergi, jangan menunda urusan, kejadian di sini akan kusuruh orang menyelidiki."

Giok-lan mengiakan terus mohon diri.

o0dw0o Hari kedua pagi2 benar, mentari baru raja menongol.

Di tengah pekarangan luas di depan pendopo keluarga Hoa (bunga) sudah berkumpul sekian banyak kembang2 nan molek.

Memang tidak berkelebihan kalau gadis2 cantik dan ayu itu diibaratkan kembang yang molek dan mekar, karena mereka semua adalah anggota Pekhoa-pang, gadis2 belia jelita, pakaiannya berwarna-warni, pakaian ketat dan memanggul senjata, dandanannya ringkas tapi juga sederhana, di sanggul mereka masing2 terselip sekuntum bunga yang beraneka warna dan berbeda pula jenisnya untuk membedakan nama dan julukan mereka.

Umumnya di mana berkumpul sekian banyak gadis belia dan cantik2, ada berbisik, tapi ratusan gadis2 berpakaian ringkas yang berdiri teratur dipelataran ini semuanya berdiri tegak tanpa bersuara.

Maklumlah karena "apel"

Pagi hari ini akan langsung dipimpin oleh junjungan besar mereka.

Thay-siang-pangcu simbol junjungan mereka yang termulia dan agung bagai dewata, hanya dapat dipandang tak boleh disentuh.

Bahwa Thay-siang sendiri yang akan pimpin pertemuan besar ini, betapa besar arti dan khidmat pertemuan ini, memangnya siapa pula yang berani ribut, berkelakar atau bisik,?

Pandangan semua hadirin lurus kedepan, di atas undakan batu yang tinggi di depan ruang pendopo sana ditaruh sebuah kursi kebesaran yang berlapis kain sutera mengkilap.

itulah tempat duduk Thay-siang.

Di kedua siai kursi kebesaran ini masing2 ditaruh pula dua kursi yang sama bentuknya, cuma lebih kecil dan dilapisi sutera warna lain, itulah tempat duduk untuk Pangcu dan Hu-pangcu.

Tapi di sebelah kursi kiri itu ditaruh pula sebuah kursi yang sama.

Perhatian hadirin justeru tertuju pada kursi ketiga di sebelah pinggir ini, timbul herbagai pertanyaan dalam benak mereka, diperuntukan siapakahkursiyangsatu ini?

Selain Pangcu dan Hu-pangcu, jabatan congkoan memang cukup tinggi didalam Pek-hoa-pang, tapi dihadapan Thay-siang, dia masih belum setimpal duduk berjajar di antara deretan kursi itu.

Malahan didalam rapat besar yang langsung dipimpin Pangcu sendiri congkoanpun hanyabolehberdiridisamping kursinya.

Tak lama kemudian, dari kanan-kiri pintu beriring keluar serombongan orang.

Kedua rombongan ini dipimpin dua orang laki2 tua berjubah biru.

di belakangnya berbaris laki2 muda berseragam hijau pupus, jumlahnya ada 32 orang, dengan derap langkah rapi, teratur mereka berjajar dan berdiri di sebelah kiri undakan.

Mereka inilah Hou-hoat-su-cia dari Pek-hoa-pang yang berjumlah 36 orang itu, dua diangkat sebagai pimpinan mereka.

Seperti diketahui, dua orang Hou-hoat-su-cia telah dibunuh oleh So-yok dengan alasan lalai menjalankantugassehinggajumlahnyasekarangtinggal34...

Waktu berlalu tanpa terasa, sementara itu sudah menjelang tengahhari.

Terdengartiga kali bunyi lonceng dari dalampendopo.

Semua hadirin seketika berdiri tegak dan khidmat, begini banyak hadirin di tengah iapangan ini, tapi suasana begitu sunyi, napas merekapun tertahan.

Dari serambi kiri di mana terdapat pintu bundar, dibawah iringan Congkoan Giok-lan beranjak keluar seorang pemuda berjubah panjang warna biru.

Usia pemuda ini baru likuran tahun, kulit mukanya putih cakap, bibirnya merah, matanya terang bercahaya, di tengah pancaran sinar matahari pagi tampak gagah dan berwibawa.

Sudah tentu munculnya pemuda ini menarik perhatian seluruh hadirin, terutama para anggota Pek-hoa-pang, semuanya masih muda belia, tiada sepasang mata mereka yang terkesip mengawasi pemuda ganteng ini.

Tapi 34 Hou-boat-su-cia itupun tak kalah tajam pandangannya mengawasi pemuda yang satu ini.

cuma sorot mata mereka memancarkan perasaan lain, disamping kaget heran, merekapun merasairidancemburu.

Semua orang sudah dengar bahwa Pang mereka kedatangan tamu agung, katanya seorang pemuda she Ling yang berwajah tampan kabarnya pemuda inilah yang berhasil membuat obat penawar getah beracun itu.

Sebagai tamu terhormat adalah selayaknya kalau dia mendapat tempat duduk di bawah kursi Pangcu mereka.

Tapi Hou-boat-su-cia itu tiada yang tahu siapakah pemuda berjubah biru ini?

Sebetulnya mereka terdiri dari orang2 yang cukup luas pengalaman dan punya nama di kalangan Kangouw, tunas2 muda dari berbagai aliran yang berkepandaian tinggi, tapi belum pernah mereka lihat atau dengar adanya pemuda seperti yang ada dihadapan mereka, sudah tentu mereka merasa kaget dan keheranan.

Kaget dan heran karena Giok-lan atau si Cong-koan sendiri yang mengiringi pemuda tampan ini malah sikapnya tampak ramah dan hormat, orang dipersilakan duduk di kursi ketiga yang disediakan-Hadirin juga tahu bahwa Thay-siang pendiri Pek-hoa-pang yang mereka agungkan adalah tokoh kosen yang punya kedudukan tinggi dan disanyung hormat di Bu-lim, padahal kedua pemimpin Hou-hoat itu juga sudah beken di kalangan Kangouw, termasuk orang kosen kelas satu dalam dunia persilatan, tapi mereka toh cukup berdiri di bawah undakan saja.

Memangnya siapa dan bagaimana asal-usul pemuda yang mendapatkan kedudukan yang tinggi dan terhormat di dalam Pek-hoa-pang.

Tamu terhormat Ling Kun-gi telah berduduk, Cong koan Giok-lan segera mengundurkan diri berdiri ke sebelah kanan.

Menyusul empat perempuan berpakaian dayang terbagi menjadi dua pasangan berpakaian serba kuning beranjak keluar dari pendopo, dua orang di depan masing2 memeluk sebatang mistar dari batu jade warna hijau, dua orang di belakangnya, seorang memegang kebutan bergagang batu jade warna putih, seorang lagi membawa pedang kuno yang gagang dihiasi tujuh butir mutiara warna-warni, sesampai di belakang kursi kebesaran ditengah itu, keempatdayang ini lantasberdiriberjajar.

Melihat keempat dayang ini, hadirin lantas tahu sebentar Thay-siang pasti akan keluar, maka para hadirin sama tahan napas menatap ke depan, tapi sikap mereka tetap tegak dan hormat.

Demikian Ling Kun-gi yang duduk di kursi tamu juga pelan2 berdiri.

Sementara itu dari pintu pendopo yang besar itu muncul pula tiga orang.

Yang di tengah mengenakan gaun panjang warna hitam, kepalanya berbalut kain sari, bagian depannya menjuntai turun menjadi cadar muka, itulah nyonya tua dan bukan lain Thay-siang adanya.

Pek-hoa-pangcu disebelah kiri, Hu-pangcu So-yok berada disebelah kanan, mereka membimbing Thay-siang berjalan keluar pelan2.

Hari ini Pek-hoa-pangcu mengenakan pakaian warna kuning seperti bulu angsa, di depan dadanya bersulam sekuntum kembang Bok-tan sebesar mangkuk berwarna merah dadu bergaris benang emas.

Sedang So-yok juga mengenakan model pakaian yang sama cuma warnanya merah delima, bagian depan dadanya juga disulam sekuntum bunga warua kuning yang sedang mekar, pinggangnya ramping gemulai.

Mereka bimbing Thay-siang menuju ke kursi tengah, lalu masing2 mundur menempati kursiyangtelah disediakanuntuk mereka.

Kedua laki2 tua jubah biru segera pimpin ke 32 Hou-hoat-su-cia membungkuk seraya berseru.

"Hamba co houhoat (pelindang kiri agama) Leng Tio-cong. Yu houhoat (pelindang kanan agama) coa-Liang bersama seluruh Hou-hoat-su-cia menyampaikan sembah sujud kepada Thay-siang."

Disusul seratusan gadis yang berada di sebelah kanan serempak berlutut dan menyembah, suaranya nyaring merdu berpadu.

"Para Tecu menyampaikan sembah sujud kepada Thay-siang."

Thay-siang duduk tegak di kursinya, sorot matanya yang tajam seolah2 menembus cadar laksana sinar matahari pagi, dingin laksana kilat menyapu pandang ke seluruh hadirin, akhirnya sedikit mengangguk sebagai jawaban.

Lalu tangan kiri sedikit diangkat sambil menoleh kepada Hupang-cu yang duduk di sebelah kanan-Hu-pangcu So-yok segera berdiri, matanya yang jeli berputar, suaranya merdu.

"Thay-siang suruh aku memperkenalkan seorang tamu agung kepada hadirin ...."

Nada suaranya sengaja diperpanjang, sementara tangan menunjuk kearah Ling Kun-gi, suaranya semakin lantang.

"Inilah Ling Kun-gi, Ling-kongcu, murid kesayangan Put-thong Taysu darisiau-lim."

Lekas Kun-gi berdiri dan menjura ke arah hadirin-Hadirin menyambut dengan tepuk tangan yang riuh-rendah.

Sudah tentu suara tepuk tangan paling ramai datang dari sebelah kanan, seakan2 para nona itu ingin berlomba keplok tangan, sementara para Hou-hoat-su-cia hanya beberapa orang saja yang ikut2an tepuk tangan-Malah kedua pemimpin Hou-boat yang berdiri di kirikanan, yaitu kedua laki2 tua jubah biru itu, hanya menatap tajam setengah mendelik kepada Ling Kun-gi, se-olah2 mereka tidak percaya.

Put-thong hwesio alias Hoan-jiu-ji-lay, sudah 10 tahun tak terdengar kabar-beritanya lagi, mungkinkah bocah semuda ini betul2 murid didik Hoan-jiu-ji-lay?

Setelah suara keplok tangan tak terdengar lagi baru So-yok melanjutkan kata2nya.

"Ling-kongcu masih muda tapi penuh bakat dan serba mahir, kepandaiannya tinggi pengetahuan luas, atas undangan Pang kita, kali ini dia telah menyelesaikan suatu tugas yang teramat besar artinya bagi Pang kita semua. Yaitu berhasil membuat obat penawar getah beracun itu demi keselamatan Pang kita. Maka getah beracun milik Hek-liong-hwe itu selanjutnya tidak perlu kita takuti lagi."

Baru sekarang seluruh hadirin tahu duduk persoalan, tak heran pemuda she Ling ini bisa memperoleh tempat kedudukan yang terhormat di hadapan Thay-siang, kembali tepuk tangan diiringi suara tawa ramai lebih riuh daripada tadi.

So-yok berkata pula setelah tepuk tangan tak terdengar.

"Sekarang akan kami perlihatkan obat penawar dari getah beracun ini kepada seluruh hadirin."

Lalu dia memberi tanda gerakan tangan kepada congkoan Giok-lan-Giok-lan mengangguk, dia mengulap tangan kependopo, dua orang gadis segera keluar masing2 membawa sebuah tempayan dan ditaruh di atas undakan batu.

Seorang disebelah kanan segera melolos pedang dan dicelupkan ke dalam tempayan terus diangkatnya tinggi2 Hanya sebentar dicelup ke dalam getah beracun, semua hadirin sudah melihat jelas batang pedang yang semula kemilau cerah itu kini bagian depannya telah berubah warna hitam legam tak bercahaya, jelas ujung pedang itu sudah berlumur racun yang amat jahat, keruanhadirinsama terbelalakdan ciutnyalinya.

Maklumlah, biasanya senjata tajam atau senjata rahasia apapun sukar melumuri racun diatasnya, karena besi bukan benda yang gampang menyerap sesuatu cairan, maka untuk melumuri senjata dengan racun harus dilakukan berulang kali dan memakan waktu yang cukup panjang.

Untuk lebih meyakinkan, biasanya senjata tajam itu dibakar sampai menganga berulang kali serta dicelup beberapa kali pula ke dalam air yang mengandung racun itu.

Tapi kali ini gadis ini hanya sekali celup tanpa membakar senjata dan getah beracun itu sudah membuat ujung pedang bewarna hitam legam, terang kadar racun yang menempel di atas pedang betul2 amat jahat.

Dapatlah dibayangkan betapa ganas dan keras kadar racun getah hitam ini?

Dengan mengacungkan pedang tinggi2 di atas kepala, gadis itu mondar-mandir ke kiri-kanan undakan supaya hadirin dapat melihat lebih jelas.

Sementara gadis yang lain sudah mengambil sebuah papan kayu dan diletakkan di lantai, gadis pemegang pedang segera tusukkan pedangnya ke papan kayu, hanya ujungnya saja yang menempelsedikit, tapi ujung pedangyang mengenai papanseketika menimbulkan suara "ces"

Dan mengepulkan asap warna kuning.

Seperti terbakar bagian papan yang kena ujung pedang, malah meninggalkan bekas lubang sebesar mata uang.-Menyaksikan semua ini, Kun-gi sendiri juga merasa diluar dugaan, batinnya.

"Entah racun jenis apakah getah beracun ini? begitu ganas dan lihay? "

Melihat ujung pedang yang berlumur getah ternyata begitu ganas kadar racunnya, semua hadirin sama berubah pucat dan terbelalak matanya.

Gadis pemegang pedang tetap kalem, dia tarik pedangnya mundur lalu menghampiri tempayan lainnya disebelah kiri, ujung pedang yang berlumur racun warna hitam itu segera dia celup pula ke dalam tempayan yang satu ini, hanya sebentar terus diangkat pula pedangnya.

Hadirin sudah menunggu sambil tahan napas, pandangan semua orang.

tanpa berkedip mengawasi pedang di tangan si gadis.

Ujung pedang yang berlumur racun warna hitam tadi, setelah diangkat warna hitam hitam tadi kiri telah putih dan lambat laun warna itupun sirna sama sekali, maka tampaklah cahaya cemerlang yang menyilaukan mata dari ujung pedang tadi maka gemuruhlah tepuk tangan dan sorak sorai dari ratusan gadis ayu dan puluhan Hou-hoat-su-cia itu.

Sementara kedua pelayan tadi menjura kearah Thaysiang lalu menjemput tempayan serta menenteng pedang terus mengundurkan diri.

Wajah Thay-siang tampak mengunjuk rasa senang, meski teraling cadar, tapi sorot matanya kelihatan mencorong, katanya dengan nada tinggi.

"Kalian sudah saksikan betapa lihay dan ganas racun getah ini, kita sudah punya obat penawarnya, Hek-liong-hwe tidakhabis2 menggunakangetahberacunini, kelakpastimerupakan petaka bagi insan persilatan khususnya, dan rakyat jelata pada umumnya...."

Diam2 tergerak Kun-gi, pikirnya.

"Betulkah Hek-liong-hwe tidak akan pernah kehabisan getah beracun untuk selamanya. Memangnya getah itu sudah tercipta oleh alam dan takkan pernah kering dan habis dipakai? "

Sorot mata Thay-siang menjelajah ke muka seluruh hadirin, semua orang berdiri tegak dan hormat, lalu diam meneruskan kata2nya.

"Azas tujuan Losin mendirikan Pek-hoa-pang adalah untuk menegakkan keadilan, kebenaran dan menunjang yang lemah melawan kelaliman, maka Losin berkeputusan dalam waktu dekat ini akan pimpin kalian untuk bergerak menyerbu Hek-liong-hwe, melenyapkan bibit bencana demi kesejahteraan kaum Bulim ...."

Pidato Thay-siang memperoleh sambutan yang gegap gempita dariseluruh hadirin. Lebih lanjut Thay-siang berkata.

"Jumlah kita boleh dikatakan terlalu banyak, tingkat kepandaian kalian juga tinggi rendah sukar dibedakan, apalagi gerakan besar2an ini adalah meluruk jauh ke sarang Hek-liong hwe, kita harus beraksi secara mendadak di waktu mereka tidak siaga, maka kekuatan kita harus bisa diandalkan, semua harus bergerak cepat, tegas dan perwira, oleh karena ini Losin putuskan, mulaihari ini diadakan seleksiuntuk memilih orang2 yang akan kubawa serta"

Sampai di sini, dia berpaling kepada So-yok dan berkata.

"Soyok. umumkan peraturan seleksi ini."

So-yok membungkuk dan menerima perintah.

Lalu dari dalam lengan bajunya dia keluarkan selembar kertas, ia memandang hadirin sejenak lalu terdengar suaranya lantang nyaring berkumandang "Sejak sekarang Pang kita mengangkat seorang cong-hou-hoat-su-cia, kedudukannya sejajar dengan Hu-pangcu.

Di bawah cong hou-hoat dibantu dua orang pemimpin Houhoat, Houhoat ada delapan orang, semetara Hou hoat-su-cia berjumlah dua puluh empat, semua calon2 Houhoat ini akan dipilih dari para Hou-hoat-su-cia yang hadir sekarang."

Sudah tentu dihadapan Thay-siang para Hou-hoat-su-cia yang berada di bawah undakan tak berani bicara atau berbisik, tapi dalam hati semua orang menimang2 sampai dimana tarap kepandaian sendiriserta jabatan apa nantiyang akan diraihnya?

Terdengar So-yok bersuara lebih lanjut.

"Peraturan seleksi babak pertama, 32 Hou-hoat-su-cia akan dibagi dua barisan, setiap barisan 16 orang, jadi masing2 orang mendapat satu lawan, main kepalan atau pakai senjata diperbolehkan, kepandaian siapa lebih tinggi dia akan maju ke babak selanjut-nya, diwaktu bertanding hanya dibatasi saling tutul dan tidak boleh melukai lawan, 16 orang pemenangnya, akan mendapat kesempatan maju ke babak kedua ....."

Sampai di sini dia merandek. menelan ludah lalu meneruskan.

"Babak kedua, 16 pemenang tadi dibagi dua kelompok. masing2 tetap memperoleh satu lawan, siapa lebih Unggul dialah yang memasuki babak kedelapan besar, kedelapan orang ini akan diangkat jadi Hou-hoat, para Hou-hoat yang ter-pilih ini boleh berlomba pula untuk merebut co-yu-hou-hoat, yang berkepandaian paling tinggi akan diangkat cong-hou-hoat."--Pandangannya tertuju ke bawah sebelah kanan "Di antara para saudara dalam Pang kita, kecuali 12 Tay-cia (peladen), diserahkan kepada congkoan untuk memilih dua puluh orang pula untuk ikut, jadi tidak usah diadakan pertandingan-"

Gioklanberdiridan menerimatugas. So-yok berkata lebih lanjut.

"Baiklah, pertandingan boleh segera di mulai, Babak pertama ini seluruh Hou-hoat-su-cia terbagi menjadi dua baris."

Memangnya 32 Hou-hoat-su-cia itu sudah terbagi menjadi dua barisan, maka cepat sekali mereka beranjak ke tengah arena, tetap dengan formasi barisan yang sama.

"Sekarang antara barisan A dan barisan B menghadap ke utara dan selatan saling berhadapan, masing2 satu lawan satu dan siap."

Tanpa bersuara 32 Hou-hoat-su-cia berpencar mencari tempat kosong, semua berdiri satu2 saling berhadapan-So-yok berkata pula.

"Kalian boleh saling tanya pendapat lawan masing2, mau main kepalan atau adu senjata, kalau kedua pihak tidak tiada kecocokan, boleh saling tukar lawan-"

Pengumuman ini, memang menimbulkan sedikit perubahan, bagi yang ingin main kepalan segera mencari lawan yang sama, demikian pula yang ingin adu senjata mendapatkan lawan yang setimpal, jadi satu sama lain bertukar lawan bertanding.

Setelah semua mendapatkan lawan dan kembali keposisi semula, So-yok bersuara pula.

"Ba-bak ini ada 16 pasang akan mulai bertanding, maka diperlukan enam belas wasit, setiap pasang seorang wasit untuk menentukan siapa kalah dan menang, supaya pertandingan ini berjalan secara adil, sekarang persilakan Lingkongcu, congkoan dan 12 Tay-cia bersama co yu-hou-hoat menjadi wasit. silakan keluar."

Terpaksa Kun-gi tampil ke bawah undakan, berdiri berendeng bersama Giok-lan dan kedua Hou-hoat berjubah biru.

sementara kedua belas Tay-Cia yaitu Bwe-hoa, Lian-hoa, tho-hoa, Klok-hoa, Giok-ti, Bir kui, Ci-hwi, Hu-yong, Hong-sian, Giok-je, Hay-siang dan Loh-bi-jin beruntun keluar pula.

Dengan senyuman manis So-yok mengerling kearah Kun-gi lalu angkat tangan berseru.

"Pertandingan akan dimulai, silakan para wasit turun gelanggang, setiap pasang satu wasit." 16wasitsegeraberanjakturun kegelanggang. Terdengar So-yok bersuara pula.

"Perlu ditegaskan sekali lagi, setiap peserta pertandingan dilarang menggunakan senjata rahasia, cukup saling tutul dan raba saja, ketentuan kalah menang berada ditangan wasit, keputusannya tidak boleh di gugat, kecuali memang salah tangan melukai orang, dilarang saling dendam"-Lalu dia berpaling menghadap Thay-siang, serunya.

"Mohon petunjuk Thaysiang, apakah pertandingan boleh dimulai? "

Thay-siang mengangguk katanya.

"Ya, suruh mereka segera mulai."

So-yok mengiakan, dengan suaranya lantang ia lantas berteriak.

"Pertandingan boleh dimulai, sekarang semua siap. yang pakai senjata boleh keluarkan senjata masing2 dan dengarkan aba2ku."

Maka terdengar suara "srat-sret dan trang-treng"

Yang ramai, ternyata sebagian besar yang bertanding itu menggunakan senjata. Terdengar So-yok berseru keras.

"Satu, dua, tiga. .... ."

Pada hitungan ketiga, 16 pasang Hou-hoat-su-cia yang bertanding serentak mengembangkan kemahiran masing2 dan saling gebrak.

32 orang menjadi 16 pasang mulai serang menyerang.

Lapangan di bawah undakan ini memangamat luas, kiranya, cukup buat berdiri seribu orang, untuk bertanding 16 pasang orang ternyata masih cukup luang, suasana amat ramai dan menarik sekali.

Ling Kun-gi menjadi wasit dari dua orang yang berusia 27-28 tahun, keduanya kebetulan bersenjata pedang.

Seorang bermuka bersih, berperawakan kurus tinggi, kelihatannya ramah dan lembut.

Lawannya bertubuh agakpendek.

tapi badannya kekar, otot-nya merongkol dan dagingnya kencang, kelihatan amat garang.

Begitu kedua orang saling gebrak.

Kun-gi lantas mendapatkan ilmu pedang kedua orang cukup terlatih baik dan cukup tinggi kepandaiannya.

Gerak-gerik dan gaya permainan pedang si tinggi, ternyata rada aneh, semula melancarkan serangan dibarengi dengan tubrukan ke depan, sekali tubruk terus melabrak dengan gaya seorang yang hendak menunggang kuda, tapi bukan naik kuda, sementara kedua matanya mencorong liar dan buas, sedang pedangnya menutul dan menusuk juga memapas dan menabas tenggorokan lawan, permaiman pedangnya yang ganas dan keji ini terang bukan dari aliran yang baik.

Ilmu pedang sipendek kekar ternyata bergaya mantap dan kokoh seperti perawakannya, tenang dan kuat, yang dimainkan adalah Llok-hap-kiam, setiap jurus pedangnya merupakan rangsakan terbuka dan sekaligus membendung serangan lawan, terang kemahirannya cukup meyakinkan-Dalam sekejap kedua orang sudah saling gebrakbelasan jurus.

Setelah menyaksikan sekian gebrak, didapati oleh Kun-gi, setiap kali si kurus menubruk dan melompat, salah satu kakinya entah kanan entah kiri pasti terseret ke belakang, sementara sorot matanya melirik buas, hatinya berdetak dan ingat sesuatu, diam2 ia berteriakdalamhati.

"Thian-long-kiam? "

Gurunya pernah bercerita, kira2 30 tahun yang lalu, di daerah cepak beliau pernah bertemu dengan seorang Lo-long-sin yang aneh, dengan meniru gerakan serigala dia berhasil menciptakan Thianlong-kiam-hoat, dikiranya Ciptaan ilmu pedangnya ini amat lihay dan tiada bandingan di kolong langit, wataknyapun angkuh.

Tapi sekali gebrak gurunya berhasil menyengkelitnya jatuh ter-guling2 dengan gerakan tangan kidalnya.

Gurunya pernah bilang, bahwa Thian-long-kiam-hoat ciptaan Lo-long-sin ini bukan saja gayanya amat ganas, gerak-geriknya juga mirip serigala yang liar dan buas itu, seperti serigala yang kelaparan, berputar kian-kemari mencari kesempatan menyergap lawan-Dirinya diperingatkan supaya hati2 bila kelak berkecimpung di Kangouw, kalau bertemu dengan orang yang main pedang mata liar berjelilatan dan gayanya seperti serigala hendak menerkam mangSanya.

Kini dilihatnya orang ini menggunakan Thian-long-kiam, mungkinkah dia murid Lo-long-sin?

Pada saat itulah matanya yang jeli berputar, cepat dia angkat tangan kiri serta menjentik sekali hingga menerbitkan sejalur angin kencang, mulutpun berseru tertahan-"Harap kalian berhenti."

Begitu dia membuka suara, maka terdengarlah suara "creng", pedang panjang si kurus tinggi menerbitkan suara getaran-. Mendengar teriakan "berhenti"

Dari sang wasit, kedua orang yang bertanding segera melompat mundur sambil tarik pedang, bahwa pedang panjang si kurus tergetar dan mengeluarkan suara, hakikatnyaorang laintiadayang mengetahuiatau melihatjelas.

Sebaliknya rangsakan si pendek tampak amat bernafsu, ketika mendadak mendengar wasit menghentikan pertandingan, hatinya merasa heran maka matanya melirik kearah Ling Kun Kun-gi tersenyum, katanya.

"Saudara yang kalah"

Melengak heran si pendek. serunya.

"Masa aku yang kalah?"

Dia yakin gerak serangan terakhir barusan hampir mengenai sasaran, sudahtentuiatakpercayabiladirinyayangkalah malah... Diam2 Kun-gi berkata, dalam hati.

"Thian-long-kiam-hoat memang buas dan keji, kalau pedang orang tidak kujentik pergi sehingga ujung pedangnya tergetar miring beberapa mili, mungkin sekarang kau sudah menggeletak di tanah."

Tapi lahirnya dia tersenyumramah, sahutnya.

"Betul, saudara yang kalah"

Sipendek naik pitam, serunya.

"Dalam jurus mana cayhe kalah? "

Kun-gi menuding pinggang kanan sipendek. katanya.

"Silakan saudara periksa pinggang sebelah kanan."

Cepat sipendek menunduk.

memang dilihatnya pakaian di bagian pinggang sebelah kanan telah tergores robek memanjang beberapa dim oleh ujung pedang, seketika mukanya merah malu, lekas dia menjura dan mengundurkan diri.

Sementara si kurus tinggi telah masukkan pedang ke dalam sarungnya, dengan gaya yang lengang dia menjura kepada Kun-gi, katanya.

"cayhe Keng-sun Siang, selanjutnya harap Ling-kongcu suka memberi petunjuk,"

Lekas Kun-gi balas menjura, sahutnya.

"Mana berani, silakan saudara."

Kongsun Siang segera membalik badan dan mengundurkan diri. Terdengar So-yok berteriak.

"Silakan Lingkongcu duduk kembali." . Kun-gi menjura kearah sana dan kembali ke tempat duduknya. Sementara itu, sepertiga dari 16 pasangan petanding sudah berhenti, yang masih gebrak sudah mencapai babak yang menentukan, sinar golok dan cahaya pedang saling samber, gempur menggempur Silih berganti amat Seru. Maklumlah pertandingan ini bukan saja untuk menaikkan gengsi, tapi juga Sekaligus merebut kedudukan dan jabatan yang lebih tinggi di dalam Pek-hoa-pang Selanjutnya. Sudah tentu Kun-gi bisa menilai bahwa kepandaian silat orang2 itu tiada yang lemah. So-yok memang tidak bohongi dia, para Houhoat-su-cia Pek-hoa-pang ini memang murid2 dari berbagai aliran besar. Dari gaya permainan silat mereka Ling Kun-gi dapat membedakan mereka ini terdiri dari murid2 siau-lim, Bu-tong, Hingsan, Hoa-san dan Go-bi, tapi juga ada murid2 dari aliran Kong-tong, ji-lay, Soat-san, dan aliran lain pula yang dipandang sebagai golongan luar garis yang aneh2 permainannya. Pendek kata ke 32 Hou-hoat-su-cia itu merupakan kumpulan tunas2 muda dari berbagai golongan dan aliran baik dan sesat. Hal ini sungguh membuat Kun-gi tak habis mengerti mereka itu terang adalah perjaka yang belum lama lulus dari perguruan, cara bagaimana bisa sekaligus berkumpul dan mendarma-baktikan diri pada Pek-hoa-pang? Memangnya dengan cara dan akal apa Pek-hoa-pang berhasil menjaring tokoh2 muda yang kosen ini? Mendadak pikirannya jadi jernih, segalanya jadi jelas dan dimengerti olehnya. Terang tanpa disadari mereka juga kena dikerjai Bi-sinhiang-wan yang dicampur di dalam makanan. Hanya orang yang telah makan Bi-sin-hiang-wan, lahirnya tetap segar bugar, gagah tak ubahnya seperti orang biasa, kepandaian silat yang dimiliki-pun tidak berkurang tapi jiwa danpikiran mereka seratus persen dapat diperbudakoleh Pek-hoa-pang. Beberapa lama lagi baru orang2 yang bertanding pada babak pertama sudah ada yang kalah dan menang, para wasitpun mengundurkan diri. So-yok bediri di undakan, dia memberi petunjuk pada ke-16 Houhoat-su-cia yang kalah di medan laga untuk mengundurkan diri ke tempat semula. Sementara 16 peserta yang menang disuruh berkumpul dan berdiri di tengah arena menghadap kearah Thay-siang. Tanpa diperintah sikap mereka tampak patuh dan tunduk. serempak mereka memberihormat. Thay-siang sedikit manggut, katanya "Bagus sekali, kalian boleh berjuang lebih keras."

So-yok segera mengumumkan.

"Sekarang pertandingan babak kedua dimulai, ke-16 pemenang babak pertama tadi dibagi menjadi dua baris saling berhadapan dan boleh mencari lawan masing2 dan tunggu aba2ku lebih lanjut."

Cepat sekali ke-16 pemenang babak, pertama lantas berbaris saling berhadapan ditengah lapangan. So-yok berpaling kearah kanan, serunya.

"sekarang diperlukan delapan wasit lagi, kita panggil saja Bwe-hoa, Lian-hoa, Tho-hoa, Giok-li, Bi-kui, Ci-hwi dan Hu-yong berdelapan-"

Orang2 yaug disebut namanya beranjak masuk arena.

"Baik, semua siap."

Teriak So-yok.

"mulai kuhitung. satu, dua, tiga ......"

Delapan orang daripada enam belas petanding ini akhirnya akan tersisih dan tiada hak maju lagi, mereka akan tetap sebagai Houhoat-su-cia, sementara delapan orang yang menang diangkat menjadi Hou-hoat, kedudukan setingkat lebih tinggi.

Maka pertandingan babak kedua ini cukup besar artinya bagi mereka, karena ini menyangkut masa depan mereka di Pek-hoa-pang, sudah tentupertandinganbabak keduainijauh lebihsengit.

Begitu So-yok mengeluarkan aba2, enam belas orang itu segera mulai saling labrak.

Delapan wasit ikut berlompatan kian kemari, lari sana putar sini mencari posisi lebih baik untuk mengawasi pertandingan.

Duduk di atas undakan batu pualam, sudah tentu Kun-gi dapat menyaksikan dengan jelas di-dapatinya antara kedelapan pasangan orang yang lagi berbaku bantam itu ada empat orang memiliki kepandaian yang agak menonjol dari pada yang lain-Pertama adalah Kongsun siang yang mainkan Thian-long-kiam-hoat di ujung kiri sana, gerak-geriknya mirip sekali dengan serigala liar, buas dan serakah.

Lawannya adalah murid Bu-tong-pay, kepandaian Liang-gikiam-hoat yang dimainkan menciptakan lingkaran2 bundar yang bersusun dan berlapis2, dia hanya bertahan dan jarang balas menyerang.

Dua lainnya adalah murid Go-Bi yang mainkan Loan-poh-hong-kiam-hoat ( ilmu pedang angin ribut), setiap putaran pedangnya sekencang angin badai yang ribut, kelihatannya pedangnya menuding ke timur dan menusuk ke barat, gerakannya seperti kalang kabut dan tidak teratur, namun sesungguhnya merupakan permainan ilmu pedang yang rapi dan mengandung banyak perubahan, sukar ditebak ke mana sasaran pedangnya.

Lawannya adalah murid Pat-kwa-bun yang melancarkan ilmu Pat-kwa-kiam-hoat, dia hanya bertahan dengan rapat, tapi lambat laun menjadi kewalahan membendung rangsakan pedang lawan dari berbagai penjuru.

orang ketiga adalah pemuda yang memainkan Hing-san-kiam-hoat, kadang kala dia melejit tinggi menubruk maju, di tengah udara jumpalitan sembari melancarkan serangan, se-akan2 pedang dan tubuhnya terbaur menjadi satu, sinar pedang kemilau memanjang, naga2nya pemuda ini sudah memperoleh ajaran ilmu pedang Hing-san-pay murni, lawannya tampak kewalahan dan terdesak dibawah angin-orang keempat adalah laki2 bersenjata kipas lempit, geraknya lincah melayang kesana berkelebat ke sini, kipas lempit ditangannya bergerak dengan gaya yang gemulai.

Lawannya bersenjata Kiu-goan-to yang besar dan berat, sinar golok berkemilau dan mengeluarkan suara nyaring dari sembilan gelang padagoloknya.

Dahsyatputarangolokbergelangembilan ini.

Sudah tentu Kun-gi dapat mengukur sampai di mana tarap kepandaian orang ini, bukan saja gerak-geriknya lincah dan enteng, Lwekangnyapun cukup tinggi.

Apalagi setiap kali kipas lempitnya yang berjeruji besi itu saling bentur dengan golok lawan yang bergelang dan berat itu hanya mengeluarkan suara lirih, malah sekali sendal, lawan yang bertenaga raksasa lantas sempoyongan dengan golok tersampuk pergi, maka dapatlah dibayangkan betapa lihay kepandaian silatnya.

Sudah tentu empat partai yang sedang saling labrak juga berkepandaian lumayan, kalau tidak masakah Pek-hoa-pang mau menjaring mereka, cuma kalau kepandaian mereka betul2 diukur dengan keempat orang ini, rasanya masih setingkat lebih rendah.

oleh karena itu perhatian Kun-gi hanya tertuju pada empat orang ini.

Diam2 dia sudah berkesimpulan, empat orang ini nanti pasti akan lulus dengan angka terbaik.

Dugaan Kun-gi memang tidak meleset, kejap lain Kongsun Siang yang melancarkan Thian-long-kiam-hoat tiba2 merangsak maju lalu menyelinap ke samping kanan murid Bu-tong lawannya, lawan dipaksa menarik pedangnya, sedangkan pedang Kong-sun Siang justru sudah menanti, pada saat lawan menarik pedang dan ganti gerakan, ujung pedangnya menyelinap masuk menusuk iga lawan-Sang wasit adalah Bwe-hoa, cepat dia berteriak.

"Berhenti"

Tapi sudah terlambat, Thian-long-kiam-hoat yang dimainkan Kongsun Siang memang ganas, sekali serangan dilancarkan, dia sendiri tak kuasa mengendalikan diri sendiri.

Terdengar murid Butong itu mengeluh tertahan, langkahnya sempoyongan, darah mengucur membasahi badan.

Terunjuk rasa menyesal pada wajah Kongsun Siang, katanya sambil menjura.

"Ji-heng, harap maaf akan kesalahan tanganku ini."

Lekas Giok-lan memberi tanda pada dua pembantunya yang berdiridibelakang, lekas mereka maju memayang murid Bu-tong itu serta membubuhiobat dilukanya.

Sementara itu, keenam pasangan yang lainpun sudah hampir mencapai saat2 yang menentukan.

Mungkin terburu nafsu ingin menang dia terlalu yakin akan kekuatan sendiri yang sejauh ini tak berhasil merobohkan lawan, laki2 bersenjata golok gelang sembilan mendadak menghardik, berbareng gerakan goloknya berubah, dengan gencar dia melabrak dengan seluruh kekuatannya.

Permainan ilmu goloknya yang berbobot berat benar2 sudah matang, bukan saja gerakannya tangkas, cepat, tapi juga mantap dan tenang, sinar golok berkembang laksana tabir kemilau, membacok.

membabat, semuanya mengincar tempat2 berbahaya di tubuh lawan-Ilmu golok yang hebat ini memang luar biasa perbawanya, laki2 bersenjata kipas lempit tertawa dingin, berbareng dia imbangi rangsakan golok lawan dengan kelincahan tubuhnya, kipasnya berkembang atau melempit tak menentu, pakaian hijau yang dipakainya melambai2, serangan lawan sederas itu, tapi dia tak pernah mundur, malah balas menyerang tak kalah gencarnya, sekali memberosot ke samping, tahu2 dia malah menerobos masuk ke lingkaran sinar golok lawan-Badannya berputar cepat sekali, selincah kumbang terbang mencari madu berlomba dengan kupu2, badannya berkelebat di antara samberan sinar golok yang terang itu, betapapun kencang golok berputar, sejauh itu tak mampu menyentuh ujung pakaiannya, sebaliknya kipas lempit itu kadang2 terkembang dan tahu2 melempit pula tipU gerakannya juga aneh.

"Plak ", sekonyong2 terdengar suara keras, karena tak sempat menghindar dan menangkia, kipas lempit lawan tahu2 mengetuk hiat-to dipundak laki2 bergolok, golok terjatuh dan mengeluarkan suara keras, sementara laki2 itu ter-huyung2 beberapa tindak. Gerak serangan laki2 bersenjata kipas lempit yang memang cepat luar biasa sehingga sang wasit, yaitu Bi-kui yang menyaksikan dengan penuh perhatianpun terlambat dan tak sempat menghentikan pertarungan ini. Laki2 bersenjata kipas menyimpan kipas lempitnya serta menjura dengan tertawa.

"Terima kasih, saudara sudi mengalah."-cepat iapun mengundurkan diri. Diam2 Kun-gi membatin.

"Entah siapa sebenarnya laki2 bersejata kipas lempit itu? "

Didengarnya wasit ketiga di tengah arena berseru.

"Berhenti."

Itulah suara Tho-hoa.

Waktu hadirin memandang ke sana, lawan laki2 yang memainkan Hing-san-kiam-hoat tampak tergores dipelipianya, secomot rambutnya tercukur rontok, dengan merah malu laki2 itu segera mengundurkan diri.

Sementara murid Hing-san itu lantas menjura sertamenyarungkanpedangterus mengundurkandiripula.

Kejap lain Lian-hoa yang jadi wasit pada pasangan kedua juga menyerukan berhenti.

Pasangan yang saling labrak adalah murid Gobi pay yang memainkan ilmu pedang angin ribut itu melawan murid Pat-kwa-bun, kekuatan mereka boleh dikatakan sama kuat.

Pat-kwa-kiam-hoat merupakan ilmu silat bertahan yang kokoh dan meyakinkan, gerakan pedangnya mencakup kedelapan penjuru angin, setiap jurusan dijaga dan dibendung rapat, sayang sekali dia berhadapan dengan murid Gobi pay.

seperti diketahui ilmu pedang Go-bi-pay yang bergerak laksana angin ribut ini ternyata biaa setenang ikan berenang di dalam air, selincah burung melayang di udara, perubahannya memang membingungkan, gerakannya seperti tidak menentu arah yang pasti.

Begitu sang wasit menyerukan "berhenti", ternyata pundak dan lengan baju serta tiga tempat lainnya di tubuhnya sudah tergores robek oleh ujung pedang lawan-Keduanya lantas menjura saling hormat dan minta maaf, lalu mengundurkan diri.

Dalam pada itu pasangan ketiga dan kedelapan juga sudah menentukan kalah dan menang, suara sang wasit lantang menyerukan pertempuran berhenti.

Maka dalam arena kini tinggal dua pasangan yaitu pasangan kelima dan pasangan ketujuh, kedua pasangan ini sama tingkat kepandaiannya, maka mereka masih tetapbertahanuntuksekian lamanyalagi.

Pasangan kelima sama2 menggunakan senjata yang jarang digunakan kaum persilatan.

seorang memakai sepasang gelang besar kecil, dinamakan cu-bo-siang goan (sepasang gelang ibu-beranak), pada lingkaran luar gelang terpasang gigi runcing mengkilap.

begitu bergerak gelangnya, angin mendesir tajam, gigi runcing itu memancarkan cahaya kehijauan.

Sementara lawannya menggunakan sepasang ruyung pendek.

pada batang ruyungnya ini terdapat dua cabang pendek yang melintang tegak.

batang ruyung kelihatan mengkilap biru, terang di lumuri racun, anehnya cara dia pegang senjata berbeda dengan lazimnya, ruyung dia pegang bagian tengahnya, sementara gagang ruyungnya dia sembunyikan di belakang sikut, kadang2 dia gunakan gagang ruyung sebagai tongkat penggebuk.

tiba2 dia membalik tangan dan dua tangan sekaligus mencecar musuh, gerak dan tipu permainannya agak aneh.

Baru sekarang Ling Kun-gi sempat memperhatikan lebih seksama, ternyata permainan aneh ruyung pendek orang ini hampir samaganasdan kejiseperti Thian-long-kiam.

Pasangan ketujuh tidak menggunakan senjata, mereka bersilat tangan kosong, seorang melancarkan pukulan atau tutukan silih berganti dengan berbagai gerak ragamnya.

Tapi lawannya mahir memainkan Pat-siang-ciang (pukulan delapan penjuru angin), lunak dan keras saling berganti sehingga permainannya semakin mantap dan kekuatannyapun bertambah.

Angin kepalan dan bayangan tangan menimbulkan deru angin, tidak kalah ramainya dari pada pasangan lain yang adu senjata.

Sedikit lena dan keserempet angin pukulan lawan, jiwa biaa celaka.

Sang wasit Ci-hwipun terpaksa harus berdiri di luar lingkaran, sikapnya tampak tegang dan penuh perhatian oleh pertempuran yang sengit ini.

Terdengar laki2 yang bersenjata gelang membentak keras, gigi gelang kirinya tiba2 berhasil menggantol ruyung lawan, seCepat kilatgelangditangan kanandengan jurus Thay-sanapting (gunung Thay menindih kepala) mengepruk batok kepala lawan dengan membawa suara gemuruh.

Menghadapi rangsakan hebat ini, laki2 bersenjata ruyung tertawa dingin, cepat badan mendak ke bawah sambil miring menghindarkan serangan lawan tiba2 dia memberosot ke samping sehingga ruyungnya yang tergantol lawan terlepas, di mana sinar biru berkelebat, tahu2 gagang ruyung sudah menyodok ke dada lawan-Memangnya yang bersenjata elang sudah merasa jeri terhadap ruyung lawan yang dilumuri racun, cepat dia menyingkir, sayang dia tidak menduga tatkala kedua ruyung lawan bekerja, sebelah kaki orang juga ikut menyerampang, begitu dia menyadari bahaya, untuk berkelit sudah terlambat "Blang", kontan dia tersapu jatuh jauh, pantatnya beradu dengan lantai.

Untung dia memiliki kepandaian tinggi begitu punggung menyentuh tanah, dengan tangkas dia melejit berdiri lagi, kedua gelang terangkat tinggi, dan sudah slap melabrak lawan pula.

"Berhenti"

Sangwasit Giok-lisegeraberseru. Terpaksa orang yang bersenjata gelang menghentikan gerakannya, tanyanya.

"Belum ada yang kalah atau menang, mengapa nona menghentikan pertandingan? "

"Kau tersapu jatuh, sudah terhitung kalah"

Ucap Giok-li. Orang itu berkata.

"Putusan nona tidak adil, yang kita tandingkan adalah kepandaian menggunakan senjata, walau aku terjatuh, tapi dalam permainan senjata toh belum kalah, kenapa aku di-putus kalah? "

Laki2 bersenjata ruyung tertawa, selanya.

"Kalau Ho-heng tidak terima, boleh kita lanjutkan pertandingan ini."

"Memangnya, sebelum ada yang menggeletak tak bernyawa di antara kita belum bisa dikatakan kalah dan menang."

Berdiri alis Gok-li, bentaknya.

"Ho Siang, waktu bertanding kau tersapu jatuh oleh lawanmu, kau tidak mau mengaku kalah? "

Merah mata laki2 bersenjata gelang, jengeknya.

"Nona, kau sebagai Tay-cia dan aku adalah Su-cia, kedudukan dan jabatan kita sembabat. belum setimpal kau gembar-gembor memanggil namaku, tadi Hu-pangcu sudah mengumumkan cara dan tata tertib pertandingan, bagi yang bertanding menggunakan senjata baru terhitung kalah kalau senjata salah satu pihak menyentuh tubuh lawan, maka aku ingin minta penjelasan dari nona, kapan ruyung Yap Kay-sian pernah menyentuh tubuhku? "

Karena penasaran dia beranidebatdan melawanputusanwasit. Lekas So-yok berdiri dan membentak.

"Ho Siang-sing mundur kau"

HoSiang-sing, laki2 bersenjatagelang, sekali-ini takberanibicara lagi, dengan menggerutu terpaksa dia mengundurkan diri.

Kini ditengah arena tinggal pasangan yang adu kepalan-Melihat tujuh pasang yang lain sudah berakhir dan ada yang kalah serta menang, kini tinggal mereka berdua yang masih terus berhantam tanpa kesudahan, tanpa terasa terbangkit dan berkobar nafsu mereka, serempak keduanya kerahkan sekuat tenaga berusaha merobohkan lawan Laki2 yang menyerang dengan kepalan diselingi tutukan itu mendadak melancarkan jurus yang lihay, badan bagian atas mendadak doyong menubruk ke depan.

Tatkala tubuhnya bergerak maju kini, kepalan kanan mendadak pura2 menghantam, sementara tangan kiri dengan jari tengah yang terjulur berwarna merah darah, diiringi hardikan, sejalur angin tutukan menerjang ke tenggorokan lawan-Menyaksikan jari orang yang menjulur dan mendadak berubah merah darah, tergerak hati Kun-gi, batinnya.

"Ilmu yang diyakinkan orang ini tidak mirip cu-sa-ci dari perguruan Gan, lebih mirip Hiating-ci dari aliran liar."

Kejadian berlangsung dalam sekejap seperti percikan api.

Laki2 yang memainkan Pat-sian-ciang mendadak melihat sorot mata lawan yang buas mengandung nafsu membunuh, diam2 ia sudah siaga.

Kini melihat jari lawan yang merah darah menyerang tiba dan hidangnya telah mengendus bau amis yang memuakan, keruan ia terkejut, batinnya.

"sebetulnya aku tidak bermaksud membunuhmu, ternyata kau malah turun tangan keji lebih dulu padaku."

Pikiran ini berkelebat laksana kilat dalam benaknya, sementara sebat sekali dia sudah melompat mundur, menyusul tangan kanan terayun, dengan berani dia balas menyerang.

Pukulannya inipun mengandang maksud jahat, ingin membunuh lawan pula, apalagi dilancarkan dengan kekuatan yang sudah disiapkan, maka angin pukulannya teramat dahsyat.

Begitu tutukan jarinya luput, laki2 yang menyerang dengan Hiating ci (tutukan jari darah bayangan) tahu2 merasa tubuhnya diterjang angin puyuh yang bersuhu dingin sekali, dia tak berani menangkis, cepat2 ia menggeser ke samping.

Memang terjangan angin yang telah dapat dia hindarkan.

Tapi dikala mengegos itulah mendadak badannya bergetar keras, bergidik dan merinding tanpa kuasa langkahnya sempoyongan mundur ke belakang.

Dipihak lain, laki2 yang menyerang dengan pukulan dingin inipun telah mengendus bau amis yang memualkan tadi, diam2 iapun kuatir akan keselamatan sendiri, maka ia tidak meneruskan serangan, lekas dia kerahkan hawa murni melindungi badan, diam2 ia atur jalan darah dan tenaga murninya.

Sebelum wasit yaitu Ci-hwi menyerukan berhenti, kedua orang ini sudah sama berdiri tak bergerak.

seluruh hadirin adalah ahli silat, tapi tiada yang melihat jelas apa sebabnya kedua orang ini mendadak sama berhenti.

Tadi orang melihat tutukan jari yang merah darah itu dilancarkan, maka orang banyak mengira dia telah terluka oleh tutukan itu.

Ci-hwi sang wasitpun kira demikian, dia ragu2 dan hendak mengumumkan kemenangan laki2 yang main tutukan tadi.

Untung dia melenggong sebentar, tahu2 laki2 yang menyerang dengan tutukan itu roboh terjengkang.

Keruan Ci-hwi kaget sekali, ia melongo tak mampu bersuara.

Maklumlah, bukan saja dia, sampaipun So-yok Hu pangCu yang berdiridiatasundakanbatujuga mendelongbingung.

Laki2 berkepandaian tutukan jari berdarah itu seperti jatuh semaput, sekian lama tak nampak bergerak atau kelejetan.

Malah wajahnya yang semula kuning terang, cepat sekali telah berubah ungu meng hitam.

Dalam pada itu, setelah mengatur napas, laki2 yang main pukulan tadi melihat lawan rebah tak bergerak.

wajahnya menampilkan rasa bangga dan puas.

"Cin Te-khong"

Terdengar Thay-siang yang duduk di atas sana berteriak kereng. Ter-sipu2 orang itu maju beberapa langkah seraya munduk2.

"Hamba disini."

Thay-siang berkata.

"Losin suruh Hu-pangcu mengumumkan bahwa dalam pertandingan ini hanya boleh saling jamah dan dilarang melukai lawan, kenapa kau melancarkan serangan mematikan, kini dia terluka parah""

Cin Te-khong munduk2, serunya.

"Harap Thay-siang maklum, waktu bergebrak tadi hamba selalu ingat dan patuh akan larangan pertandingan, tak pernah melancarkan serangan jahat, dia lebih dulu menyerang dengan Hiat-ing-ci, untuk membela diri terpaksa hamba balas menyerangnya, Han-si-ciang (pukulan sutera dingin) yang hamba yakinkan ini sekali dilancarkan, hamba sendiri tak kuasa mengendalikan lagi,"

Han-si ciang, hakikatnya hadirin tiada yang pernah dangar nama ilmu pukulan dingin ini. Diam2 Kun gi membatin.

"Entah ilmu macam apa Han-si-ciang itu? Kenapa Suhu tidak pernah bilang tentang ilmu ini? "

Thay-siang mendengus.

"Pertandingan besar kuadakan ini dilarang membunuh sesamanya, hayo lekas keluarkan obat penawar dan cekokan padanya? "

Ternyata Han-si-ciang ada obat penawarnya, Cin Te-khong mengiakan dia melangkah mundur kearah laki2 yang menyerang dengan Hiat-ing-ci, dia keluarkan sebuah kotak kecil, mengeluarkan sebutirpilwarna merah terusdijejalkan ke mulutorang.

Sesuainamanya,Han-si-ciang memangpukulandinginluarbiasa, tak heran lawan yang terkena pukulannya seketika beku kedinginan, sampaipun wajahnyapun berubah biru.

Setelah dicekoki obat, kira2 semasakan air mukanya yang biru menghitam mulai pudar, tiba2 dia menariknapas panjangterus membuka mata.

Dilihatnya Cin Te-khong berdiri di depannya, seketika dia menggerung murka, ia melejit berdiri, secepat kilat jarinya menutuk keulu hati Cin Te-khong.

Untung Cin Te-khong waspada, hanya sedikit berkelit, dengan mudah dia luputkan diri.

Lekas Ci-hwi berteriak.

"Berhenti, kalah menang sudah ditentukan, kalian dilarang gebrak lagi."

So-yokjugalantasberteriak."AuwKiu-ciu, mundurkau."

Laki2 itu tak berani bertingkah lagi, dari segera mengundurkan diri.

Sampai di sini pertandingan seleksi babak kedua telah berakhir, setelah dua kali bertandang secara beruntun, delapan orang telah tersisa dan delapan yang menang diangkat jadi Hou-hoat.

Berdiri di atas undakan batu, So-yok berseru mengumumkan.

"Pertandingan babak kedua telah berakhir delapan orang yang menang adalah Kong-sun Siang, memainkan Thian-long-kiam-hoat, Ting Kiau menggunakan kipas lempit beruji besi, Thio Lam jiang dengan Hing-san-kiam hoat, Song Tek-seng menggunakan Loan-poh-hong-kiam-hoat, Lo-Kin-bun menggunakan pedang berkait, Toh Kan-ling bersenjata Boan koan-pit, Yap Kay-sian pa kai sepasang ruyung, Cin Te-khong dengan ilmu pukulan Han-si-ciang, sejak kini mereka diangkat menjadi Hou-hoat dalam Pang kita."

Tepuktangannun menyambutpengumuman ini.. Pek-hoa-pangcu Bok-tan dan Ling Kun-gi juga ikut bertepuk tangan menyampaikan selamat. Terdengar So-yok berseru pula.

"Sekarang silakan kedelapan Hou hoat yang baru berdiri ke depan terimalah anugerah medali emas dari Thay siang."

Di bawah pimpinan Kongsun Siang, kedelapan Hou-hoat itu segeratampilke mukadanberdirisejajarmenghadapkeatas.

Giok-lan, si congkoan segera memberi tanda dan seorang gadis beranjak keluar membawa nampan langsung mendekati Giok-lan-Nampan itu di-lapisi kain sutera, diatas nampan ini tertaruh delapan medali emas tanda pangkat para Hou-hoat.

Menerima nampan itu Giok-lan lalu melangkah ke tengah.

Sementara Thay-siangpun berdiri dan beranjak turun-Secara beruntun So-yok panggil kedelapan Hou-hoat menerima medali dari Thay-siang.

Hadirin keplok tangan serta berteriak2 hiruk-pikuk.

Sorot mata Thay siang menyapu kedelapan Hou-hoat, katanya.

"Losin telah langsung melihat pertandingan kalian, masing2 telah unjuk kemahiran dan kalian bukan menang secara kebetulan, tapi berkat perjuangan yang gagah, jadi merupakan pilihan tulen di antara ke 32 peserta. Jabatan Hou-hoat dalam Pang kita merupakan kedudukan yang tinggi dan mulia, selanjutnya diharap kalian bekerja dan berjuang demi kepentingan Pang kita, serta dan berbakti tanpa luntur, Ciptakanlah pahala yang lebih besar dan rebutlah anugrah yang lebih tinggi."

Sampai di sini dia berpidato hadirin menyambut dengan tepuk tangan lebih riuh rendah, sampai sekian lamanya keplok ramai ini tidak berhenti. Terdengar kedelapan Hou-hoat berseru lantang.

"Berkat anugrah Tay-siang yang berbudi luhur, kami bersumpah setiamembelakepentinganPang kitasampaititikdarah terakhir."

Thay-siang manggut2 pertanda telah menerima sumpah setia para pengikutnya ini, lalu berkata.

"Bagus sekali, kalian boleh memberihormat kepadaPangcu."

Delapan Hou-hoat yang baru serentak menjura kearah Pek-hoa-pangcu, serunya.

"Hamba menyampaikan hormat kepada Pangcu."

Pek-hoa-pangcu yang sudah berdiri balas menghormat, katanya dengan suara merdu.

"Kuberi selamat kepada kalian yang telah naik pangkat jadi Hou-hoat Pang kita, kami ikut gembira dan merasa beruntung bagi Pang kita."

Ditengah sorak-sorai yang riuh rendah itu, Thay-siang beranjak balik ketempat duduknya.

Lalu Pek-hoa-pangcu juga kembali ke tempat duduknya.

Pelan2 Thay-siang menggeser duduk miring kearah Ling Kun-gi, sorot matanya se-olah2 menembus cadar hitam, suaranya kalem.

"Ling-siangkong"

Lekas Kun-gi membungkuk, tanyanya.

"Thay-siang ada petunjuk apa? "

"Kemarin Losin telah bicara dengan kau, akan kuangkat sebagai Hou-hoat Pang kita, entah Ling-siangkong sudah memikirkan hal ini belum? "

Diam2 senang hati kedelapan Hou-hoat yang baru saja mendudukijabatannya, semuaberpikir.

"Tamuagung yangduduk di bawah Pangcu betapa sih lihaynya, ternyata juga setaraf Hou-hoat sajadidalamPang kita."

Baru saja Thay-siang selesai bicara, Kun-gi lantas dengan suara lirih seperti berbisik dipinggir telinganya.

"Ling-kongcu lekas terima tawarannya"-Itulah suara Pek-hoa-pangcu, Kun-gi dapat membedakan suaranya. Kun-gi memang sudah berdiri, sikapnya amat tunduk dan patuh, dia menjura kearah Thay-siang serta berkata.

"Berkat junjungan Thay-siang yang maha pengasih, cayhe tak berani menolak tugas mulia ini? "

Itulah pertanda bahwa Bi-sin-hiang-wan telah bekerja di dalam tubuhnya. Terunjuk senyuman yang terkulum diujung bibir Thay-siang, katanya manggut2.

"Bagus sekali, Losin tahu kalau Ling-siangkong hanya diangkat sebagai Hou-hoat dalam Pang kita, tentunya rada merendahkan derajatmu ....."

Sengaja dia menarik panjang suaranya serta berhenti. Kun-gi baru saja akan duduk. mendengar kata2 Thay-siang ini, seketika terunjuk rasa gugup dan gelisah, tersipu2 dia menjura, katanya.

"Hamba sebagai tunas muda kaum persilatan, bahwa Thay-siang sudi memupuk hamba, sungguh membuat hamba tidak tenteram lahir batin, kesetiaanku selama hidup rasanya takkan setimpal membalas kebaikan Thay-siang ini."

Kalau kemarin jelas dia takkan sudi mengeluarkan kata2nya ini, tapi sekarang dia sudah makan Bi-sin-hiang-wan, maka selama hidupnya dia hanya akan setia dan tunduk lahir batin terhadap Pekhoa-pang, terutama terhadap Thay-siang.

Thay-siang manggut2, katanya lebih lanjut.

"Jabatan Hou-hoat sebetulnya juga tidak terhitung rendah di dalam Pang kita, terutama cong-hou-hoat dan coh-yu-huhoat, semuanya merupakan pilihan dari para Hou-hoat, maka setiap Hou-hoat mempunyai hak dan kesempatan untuk menjadi cong-hou-hoat, apalagi selamanya Losin mengutamakan kepandaian sejati, bukan saja kepandaian silatnya, juga kecerdikan dan tindak-tanduknya harus tegas, maka jabatan ini harus diperebutkan secara adil. Sampai di mana tingkatan yang dapat kalian jabat? Itu tergantung sampai di mana pula tarap kepandaian kalian yang sejati."

Secara tidak langsung kata2nya ini memberi kisikan bagi Ling Kun-gi bahwa sekarang aku hanya bisa mengangkatmu sebagai Hou-hoat, kalau kau mampu dan punya kepandaian boleh kau berusaha memperebutkan kedudukan cong-hou-hoat.

Secara tidak langsung pula dia memberi pernyataan kepada kedelapan Hou-hoat yang lain bahwa merekapun boleh mencalonkan diri merebut jabatan itu secara adil.

Habis Thay-siang bicara, Giok-lan segera mendekati sambil membawa nampan.

Thay-siang menjemput sebuah medali emas dan berkata.

"Ling-siang-kong, kemarilah terima medali emas sebagai tanda kebesaran Hou-hoat dari Pang kita."

Lekas Kun-gi berdiri dan maju menghampiri, sambil menjura dia terima medali emas itu dengan kedua tangan.

Lalu putar kembali, tapi dia cukup tahu diri dan tidak berani duduk dikursinya semula, karena kedelapan Houhoat yang lain juga hanya berdiri sejajar di bawah undakan.

Thay-siang sedikit angkat tangan, katanya.

"Hari ini kau hadir dalam pertandingan seleksi ini sebagai tamu kehormatan, meski kau sudah terima jabatan Pang kita sebagai Hou-hoat, tapi sekarang kau masihterhitung seorangtamu, bolehsilakan duduksaja."

Kun-gi tak berani banyak bicara, lekas dia turut perintah dan duduk di kursinya.

Pek-hoa-pangcu Bok-tan dan Hu pangcu So-yok dan cong-koau Giok-lan segera memberi ucapan selamat kepada Ling Kun-gi.

Tentu saja ke-8 Hou-hoat yang baru merasa sirik dan terbakar perasaannya .

So-yok segera berseru lantang kearah kedua laki2 tua ber jubah biru.

"Leng-co houhoat dan coa-yu houhoat, pertandingan hari ini langsung dipimpin oleh Thay-siang, tujuan yang utama adalah memilih seorang cong-houhoat, oleh karena itu jabatan cong yu-houhoat harus sekaligus dipilih ulang kembali, maka sebelum seleksi dimulai, kalian harus menyerahkan kembali mendali emas tanda kebesaran itu."

Co houhoat Leng Tia-cong dan Yu-houhoat coa Liang segera mengeluarkan medali emas dan diserahkan kembali. Setelah terima medali emas itu So-yok berseru lebih lanjut.

"Tadi sudah kuumumkan, para Hou-hoat boleh mencalonkan diri untuk merebut cong-hou-hoat dan co-yu-hou-hoat, maka kalian yang ingin ikut bertanding boleh mendaftarkan diri."

So-yok membetulkan sanggulnya, lalu berseru pula.

"Setiap orang yang didaftatkan atau mendaftar sendiri dianggap Calon untuk jabalan cong-hou-hoat, maka Calon ini harus menghadapi beberapa kali tantangan para Hou-hoat, setelah menang beberapa babak dan nyata kepandaiannya memang nomor satu, maka dia diangkat menjadi cong-hou-hoat, nomor dua dan ketiga diangkat sebagai Yu-co-hou-hoat.

"Bila calon dikalahkan oleh penantangnya, maka dia dianggap gugur dan penantang yang menang, boleh menerima tantangan para peserta yang lain sampai tiada yang melawannya lagi, cuma bagi yang gugur tadi masih ada hak memperebutkan kedudukan coyu-houhoat, Caranya seperti yang telah dilaksanakan dalam memilih para Houhoat tadi."

Diam2 Kun gi membatin.

"cara yang diumumkan ini terasa cukup berat bagi calon cong-hou-hoat, karena dia harus menghadani 10 kali tantangan malah setiap kali harus menang baru boleh mendudukijabatantinggi ini."

Habis memberi pengumuman, sorot mata So-yok tertuju ke bawah undakan, serunya pula.

"Baiklah, aturan pertandingan sudah kuumumkan, kalau hadirin tiada pendapat, sekarang kumulai terima pendaftaran, siapa yang ingin ikut serta boleh mendaftar padaku"

Lenyap suaranya, tampak co-houhoat Leng Tio-cong angkat tangan sambil berseru.

"Hamba Leng Tio cong mendaftarkan diri."

"Baik,"

Seru So-yok mengangguk. Yuhouhoat coa Liang juga ikut acung tangan dan berseru.

"Hamba coa Liang juga mendaftarkan diri."

So-yok tersenyum sambil mengangguk.

"Masih adakah orang lain yang mendaftarkan diri? "

Beberapa kali dia bertanya, tapi kedelapanHouhoatyangberjajardidepan itutiadayangbersuara.

Mereka cukup cerdik, maklumlah, setiap Hou-hoat walau tak mendaftarkan diri menjadi calon cong-houhoat, tapi mereka punya hak untuk menantang calon itu, kalau menang, bukankah berarti mereka sendiri yang akan menjadi calonnya?

Apa-lagi dalam situasi sekarang mereka anggap lebih baik menonton saja sambil menunggu perkembangan selanjutnya baru nanti menentukan pilihan-Sekian lama So-yok menunggu, tetap tiada orang lain yang daftar lagi, apa boleh buat, akhirnya matanya mengerling tertuju kearah Ling Kun-gi, katanya dengan nada aleman.

"Bagaimana Lingkongcu? "

Lekas Kun-gi menjura, katanya.

"Hamba hanya memiliki kepandaian beberapa jurus cakar kucing saja, mana berani menampilkan diri? "

Pek-hoa-pangcu tersenyum, serunya.

"Ling-kongcu terlalu merendah diri, pertandingan diadakan secara adil dan terbuka, siapapun boleh ikut, bahwa Ling-kongcu tidak mau mendaftarkan diri, baiklah biar aku yang mencalonkan dia."

"Hamba tidak berani"

Lekas Kun-gi berdiri seraya membungkuk badan.

Mendengar Pangcu mereka mencalonkan Ling Kun-gi, para nona yang hadir seketika menyambut dengan keplok tangan ramai, sebaliknya cohouhoat yang bergetar Kin-cay-poan-koan Leng Tio-cong dan Yuhouhoat yang bergetar Sam-gam-sin coa Liang mendelu hatinya, tanpa terasa mereka saling pandang sekilas, keduanya sama mengulumsenyumdongkol.

So-yok menyapu pandang hadirin, suaranya lantang.

"Ada lagi yang mendaftarkan diri? "

Setelah ditunggu sekian lama tiada reaksi dari hadirin, akhirnya dia mengumumkan.

"Baiklah, pendaftaran ditutup, peserta hanya tiga orang, yaitu Leng Tio-cong, coa-Liang dan Ling Kun-gi"

Sampai di sini dan berhenti sebentar, mendongak melihat cuaCa, lalu menyambung.

"sekarang sudah lewat lohor, pertandingan sementara ditunda, meja perjamuan sudah disiapkan dipendopo, seluruh hadirin boleh tangsel perut dulu."

Thay-siang berdiri lebih dulu dan beranjak ke dalam diiringi Pekhoa-pangcu dan Hu-pangcu. empat pelayan berpakaian serba kuning mengikuti langkah mereka. congkoan Giok-lan menghampiri, katanya.

"Silakan Ling-kongcu."

"Silakan congkoan,"

Ucap Kun-gi.

"sekarang cayhe adalah peserta pertandingan, Layaknya beriring dengan Leng dan coa berdua."

Giok-lan mengangguk. tanpa bicara segera dia mendahului masuk kedalam. Tajam dingin sorot mata Leng Tio-cong, dengan sinis katanya.

"Silakan Ling-kongcu."

Lalu dia mendahului melangkah ke dalam.

Sudah tentu coa Liang juga tidak mau mengalah, dia mengintil di belakang Leng Tio-cong, Sudah tentu Kun-gi merasakan sikap permusuhan kedua orang, tapi dia tidak peduli, dengan tertawa lebar dia melangkah di belakang mereka.

Meja di tengah pendopo berduduk Thay-siang, Pek-hoa-pangcu dan Hu-pangcu.

Meja di sebelah kiri atas diduduki para calon peserta, lebih bawah lagi diduduki para Houhoat dan ke-24 Hou-hoat-sucia.

Meja teratas di sebelah kanan diduduki para gadis2 ayu anggota Pek-hoa-pang.

Arak tersedia dalam perjamuan ini, tapi jarang yang berani minum banyak.

maklumlah Thay-siang berada di antara mereka, apalagi sebentar bakal ada pertandingan besar bermutu dari tingkatan yang lebih tinggi, kalau diri sendiri minum sampai mabuk, kapan mereka akan mendapat kesempatan menyaksikan pertandingan ini.

Maka hadirin hanya makan ala kadarnya secara tergesa2.

Habis makan Pek-hoa-pangcu dan Hu-pangcu mengiringi Thay siang ke kamar sebelah untuk istirahat.

Sementara hadirin yang lain boleh istirahat dan bergerakbebas sesukanya.

Karena tidak akrab dengan hadirin yang lain, sendirian Kun-gi keluar berjalan2 di pelataran luar.

Tiba2 didengarnya seorang menegur di belakangnya.

"Ling-kongcu."

Tanpa menoleh Kun-gi kenal suara orang, itulah congkoan Giok-lan yang memanggilnya, dengan tertawa dia menyahut.

"congkoan tentu amat letih."

Congkoan Giok-lan tertawa, ujarnya.

"Memang banyak kerja untuk menyiapkan pertandingan besar ini, tapi tenaga pembantu cukup banyak, cukup kubuka suara saja."

Tiba2 dia melirihkan suara, katanya.

"sebentar pertandingan bakal dimulai, sikap Leng Tio-cong dan coa Liang amat bermusuhan terhadapmu, kau harus hati2."

Kun-gi mengangguk, katanya.

"Terima kasih akan perhatian congkoan, akupun sudah maklum."

"Delapan Hou-hoat yang baru diangkat sudah kau selami kepandaian mereka, tapi terhadap Leng dan coa ini kau belum pernah menyaksikan permainan mereka. jiwa mereka Culas dan keji, kalau dia sudah dengki padamu, maka kau harus selalu waspada ..... ."

Sampai di sini tiba2 dia gunakan ilmu gelombang suara.

"Leng Tio-cong bergelar Kiu-cay-poan-koan, disamping mahir menggunakan sepasang potlot baja, kepandaian tutukannya amat lihay, terutama jurus Kwi-cian-siok-hou (panah setan menyumbat tenggorokan) sembilan jari menutuk bersama, kabarnya belum ada tokoh Kangouw yang pernah lolos dari jurus ganas ini. Sementara coa Liang berasal dari Tiang-pek-san di luar perbatasan, kemahirannya Bu-ing-sin-kun (pukulan tanpa bayangan), setiap gerak pukulannya tiada suara sehingga susah dijaga ......."

Sampai di sini dia berhenti. Kiranya Giok-je dan Giok-li tampak mendatangi. Sebagai kawan seperjalanan sudah tentu Giok-je amat kenal Kun-gi, dengan tertawa dia lamas menyapa.

"Ling-kongcu, kuaturkan selamat padamu, obat penawar getah beracun berhasil kau buat, kini sebagai calon cong-houhoat lagi, seluruh persaudaraan kita dalam Pang sama mendoakan supaya kau berhasil menduduki jabatan tinggi itu."

Kun-gi tertawa hambar, katanya.

"Terima kasih akan pujian nona, dengan kepandaianku yang tak becus ini, bagaimana biaa terpilih nanti? "

Giok-je meliriknya, katanya.

"Baru sekarang aku mengerti, orang berkedok yang memukul Dian Tiong-pit dan Hou Thi-jiu di atas perahu itu ternyata adalah Ling-kongcu, sungguh kagum dan terima kasih kami terhadapmu."

Kun-gi hanya tersenyum saja tanpa menanggapi, Giok-li berdiri di samping tanpa bersuara, tapi sepasang matanya menatap wajah pemuda inidengan lekattanpaberkedip.

"Pat moay, cap sah-moay,"

Kata Giok-lan.

"temanilah Lingkongcu ngobrol sebentar, aku masih ada urusan."

Lalu dia putar badan dan berlalu.

Melihat Giok-je dan Giok-li datang omong2 dengan Kun-gi, Bwe-hoa, Tho-hoa, Hay-siang dan nona2 lain segera berdatangan, sebentar saja Kun-gi sudah dirubung nona2 cantik yang bersendaugurau serta menggodanya.

"Ting, ting, ting,"

Suara kelinting berkumandang dipendopo.

"Nahpertandingan dimulai lagiterdengarseorangberseru. Bagai penganten yang disambut para pemujanya Kun-gi segera masukkesana diiringinona2. Sudah tentu bertambah iri dan dengki perasaan Leng Tio-cong dan coa Liang terhadap Ling Kun-gi, diam2 mereka mengumpat dalamhati. ParaHou-hoatdan Suciajuga mendelikgemas pula. Kun-gi tidak kembali ke tempat duduknya, dia langsung berdiri sejajar di samping coa Liang dan Leng Tio-cong di bawah undakan. Sementara empat pelayan baju hitam sudah keluar dari pendopo mengiringi Thay-siang dan Pek-hoa-pangcu, IHu-pangcu. Seluruh hadirin diam mematung dan sama memberi hormat. So yok langsung tampil ke depan, serunya lantang.

"Sekarang pertandingan ketiga di mulai, babak pertandingan ketiga ini memperebutkan jabatan cong-houhoat dan co-yu-houhoat. Atas perintah Thay-siang, kami sendiri yang akan menjadi wasit pertandingan ini, waktu pertandingan berlangsung, baik adu jotos atau main senjata, tetap hanya saling jamah dan sentuh saja, dilarang keras melukai atau bermaksud membunuh lawan."

Hadirin menyambut pengumuman ini dengan tepuk tangan. Suara So-yok lebih keras lagi.

"Baiklah, sekarang persilakan ketiga calon peserta satu persatu menerima tantangan"

Kiu-cay-poan-koan Leng Tio-cong segera mendengus.

"Ling-kongcu tunas muda yang serba pandai, didikan Put-thong TaysU yang termashur lagi, bahwa dia rela mengabdi kepada Pang kita, inilah kesempatan yang sUkar didapat, hamba yang tidak becus ini ingin mohon petunjuk beberapa jurus pada Ling kongcu."

Kun-gi bersoja, katanya.

"cayhe masih muda dan Cetek pengalaman, masakahberanimenandingico-hou-hoat?"

"Ling-kongcu jangan sungkan,"

Dingin suara Leng Tio-cong.

"jabatanku semula sudah dicopot, sekarang hanya sebagai calon biasa, apalagi kita kan sama2 calon untuk memperebutkan jabatan cong-hou-hoat, setelah mencalonkan diri, adalah jamak kalau di antara kita harus mentukan siapa unggul dan asor."

"Apa boleh buat, terpaksa cayhe turuti saja kemauan Leng-heng,"

Ujar Kun-gi, sikapnya tetap ramah dan wajar. Keduanya lantas beranjak ke tengah gelanggang, So-yok sebagai wasit segera turun dan berdiri disamping. Tanyanya.

"Kalian pakai senjata atau adu kepalan? "

"Selamanya hamba tak pernah pakai senjata,"

Ucap Leng Tio-cong.

"kalau Ling-kongcu suka pakai senjata juga boleh."

Kun-gi tertawa tawar, katanya.

"Kalau Leng-heng tidak pakai senjata, sudah tentu cayhe ingin adu jotos saja."

Agak berkerut alis So-yok, katanya menegas.

"Thay-siang berpesan wanti2, pertandingan ini mengutamakan kepandaian sejati, kedua pihak hanya dibatasi saling sentuh saja, siapapun dilarang melancarkan serangan mematikan, untuk ini jangan kalian lupa diri."

Sebagai kawakan Kangouw sudah tentu Leng Tio-cong merasakan peringatan ini menyudutkan dirinya, supaya tidak melancarhan Siok-hou-bang kebanggaannya, kalau dalam hati bertambah rasa dengkinya, tapi lahirnya dia bersikap patuh dan mengiakan.

"Baiklah, sekarang kalian boleh mulai,"

Kata So-yok.

lalu dia mundur beberapa langkah.

Kiu-cay-boan-koan tetap mengenakan jubah biru, itu berarti dia menjaga gengsi dan meremehkan Ling Kun-gi.

Tapi Kun-gi sendiri juga mengenakan jubah panjang, dia tidak mencopotnya, jubahnya yanglonggar melambaitertiupangin, sikapnyagagah.

Sementara hadirin merubung maju berkeliling setengah lingkaran, banyak orang belum pernah tahu betapa tinggi pemuda sekolahan yang lemah-lembut ini, hanya Giok-je yang yang pernah menyaksikan kepandaian Ling Kun-gi, maka dia tidak ikut merasa kuatir sepertiteman2nya.

Perawakan Leng Tio-cong kurus kecil, tapi sorot matanya mencorong dingin dan kejam menatap Ling Kun-gi, kaki kiri maju setengah langkah, telapak tangan mengatup di depan dada.

Jelas dia sedang mengerahkan tenaga pada kedua tangannya, seumpama panah yang sudah terpasang dibusur dan siap dibidikkan.

Setelah menunggu sekian saat dan melihat Kun-gi tetap diam saja, Leng Tio-cong hilang sabar, tanyanya.

"Ling-kongcu sudah siap? "

"Silakan mulai Leng-heng,"

Sahut Kun-gi tertawa. Ternyata tanpa memakaigayasegala, diatetapberdiritanpabergerak. Agakya Leng Tio-cong naik pitam melihat sikap Kun-gi yang tidak pandang sebelah mata padanya, dia tertawa katanya.

"Baiklah, aku berlaku kasar lebih dulu."

Suaranya bagai pekik lutung ditengah hutan melengking menusuk kuping.

Lenyap suaranya tiba2 ia menubruk ke arah Kun-gi, gerakannya lincah secepat kilat, Sekali berkelebat tahu2 sudah berada di samping kiri Kun-gi, tangan kiri melintang kesamping dan telapak tangan tegak seperti golok membelah ke rusuk bawah.

Selanjutnya dia memutar tubuh, tahu2 sudah berkisar ke belakang Ling Kun-gi, lima jari tangan kanan terpentang mencengkram tulang punggung.

Gerakan serempak ini boleh dikatakan dilaksanakan secepat angin, malah satu sama lain sukar di-diraba mana yang serangan betul dan mana yang gertakan belaka.

Dia meyakinkan Eng-jiau-kang, sejenis kungfu yang keji, setiap serangan selalu menyembunyikan gerakan licik, tampaknya dia menyerang dari depan, tahu2 sudah berkisar ke belakang dan mengincar tempat lawan yang lemah, kalau cengkeraman jari2 tangannya mengenai sasaran dengan telak.

punggung Kun-gi pasti berlubang.

Sudah tentu So-yok melihat betapa keji, serangannya ini diam2 dia mengerut kening.

Betapapun cepat dan tangkas serangan Leng Tio-cong, tapi Kungi juga tidak lambat, pada kelima jari lawan hampir mengenai sasaran, tiba2 Kun-gi berputar, tubuhnya kini berhadapan dengan Leng Tio-cong, berbareng tangan kiri, terangkat dan sedikit menyanggah, dengan tepat dia tahan ruas tulang pergelangan tangan lawan, ia pegang tangan orang terus dibetot keluar, berbareng tangan kanan menutuk ke dada lawan-Tak pernah terpikir oleh Leng Tio-cong lawan bisa bergerak secepat ini, terutama tangan kanannya dipegang lawan sehingga dadanya terbuka, karuan kagetnya tidak kepalang, dalam seribu kesibukannya lekas dia tarik telapak tangan kiri melindungi dada, sementarakaki menjejaktanahdan melompat kebelakang.

Waktu dia berdiri tegak dan angkat kepala, dilihat Kun-gi tetap berdiri di tempatnya sambil tersenyum Simpul.

pakaiannya melambai terttiup angin, Sikapnya acuh tak acuh seperti tak pernah terjadi apa2.

Betapa gusar Leng Tio-cong, Sekali mundur segera ia rnendesak maju pula, tangan menepuk kemuka, tepukan tangan yang kelihatan enteng ini seketika membawa deru angin kencang, sungguh dahsyat perbawanya.

Wajah Kun-gi tetap mengulum senyum, namun diam2 iapun kaget, batinnya.

"Lwekang orang ini ternyata hebat sekali."

Segera dia himpun tenaga dan melejit ke samping.

Perawakan Leng Tio-cong kurus kecil, gerak-geriknya tangkas cepat, begitu tangan menepuk orangnyapun menubruk maju dan mencengkeram miring ke samping.

Kecepatan permainannya ternyata sudah diperhitungkan, dia yakin Kun-gi takkan berani menyambut pukulannya ini dan pasti akan berkelit ke samping, oleh karena itu walau tepukan tangannya tadi membawa damparan angin kencang, tapiyangdia utamakanadalahcengkermannyaini.

Baru saja Kun-gi berkelit, belum lagi kakinya berdiri tegak, lima jalur angin kencang tahu2 sudah menerjang pundak.

cengkeraman ini tidak kelihatan di mana letak keiatimewaannya, tapi pada saat kelima jarinya bergerak ini diam2 telah menyembunyikan tiga kali gerak perubahan susulan, cara bagaimana Kun-gi akan menangkis atau berkelit tetap takkan luput dari ketiga gerak serangan susulan itu.

Inilah salah satu jurus Kim-na-jiu-hoat yang lihay sekali dari aliran Eng-jiu-bun.

Penonton memang tiada yang melihat jelas adanya perubahan susulan dalam cengkeraman ini, cuma terdapat orang dari menepuk berubah mencengkeram dan tahu2 pundak Kun-gi hampir saja dipegangnya, keruan semua orang berkuatir bagi Ling Kun-gi.

Kejadian berlangsung cepat bagai percikan api, kelima jari Kiu-cay-boan-koan bagai kaitan besi tajam, pada detik2 hampir menyentuh pundak lawan, dalam hati dia bersorak girang, wajahnyapun mengulum senyum sinis.

Tak terduga ketika ujung jarinya menyentuh baju dipundak Ling Kun-gi, tiba2 Kun-gi mendak sambil berkisar dan tahu2 lenyap dari pandangan.

Bukan saja Leng Tio-cong, penontonpun tiada yang melihat jelas cara bagaimana Kun-gi berhasil menghindarkan diri.

Bukan saja meluputkan diri dari cengkeraman ganas, dia malah sudah berkisar ke belakang lawan Begitulah pertandingan itu terus berlangsung dan sudah dapat diduga lebih dulu, akhirnya Ling Kun-gi keluar sebagai juara dan diangkat sebagai cong-hou-hoat, Sebagai co-yu-hou-hoat masing2 adalah Leng Tio-cong dan coa Liang.

Semua anggota Pek-hoa-pang bersorak gembira dan suara ucapan selamat datang diri segenap penjuru.

Para Hou-hoat yang sudah terpilih juga tunduk kepada pengangkatan itu mengingat Ling Kun-gi memang telah memperlihatkan kepandaiannya yang sejati.

Dalam ucapara pengangkatan jabatan baru itu, Thay-siang menyerahkan pula sebilah pedang pusaka "Ih-thian-kiam"

Kepada Kun-gi dandiputuskan pula malamnantiakan diadakan pestabesar.

Petangnya setelah istirahat, datanglah pelayan memberitahukan kepada Kun-gi bahwa perjamuan sudah siap dan Pangcu serta Hu-pangcu telah menunggu...

Kun-gi bergegas menuju kependopo disertai para co-yu-hou-boat dan Hoa-hoat-su-cia.

Ling Kun-gi mengenakan jubah hijau dengan lh-thian-kiam tergantung dipinggang, mendahului rombongannya masuk kependopo, para dara kembang yang sudah hadir lama bertepuk tangan menyambut kedatangannya.

Pada meja ujung kanan sana berduduk Pek-hoa pangcu dan Hu-pangcu, merekapun berdiri menyambut kedatangannya.

Dalam perjamuan besar malam ini, Pangcu dan Hu-pangcu adalah tuan rumah.

begitu berdiri Pek-hoa-pangcu segera buka suara.

"Dengan bersyukur dan senang yang tak terhingga, kita seluruh persaudaraan Pek-hoa-pang menyambut kehadiran cong-hou-hoat. coh-yu-hou-hoat dan para Hou-hoat serta yang lain2, hidangan arak kami suguhkan untuk merayakan hari bahagia yang takkan terlupakan untuk selamanya ini, silakan-"

Kun-gi rnerangkap tangan, katanya.

"Pangcu dan Hu-pangcu mengadakan perjamuan ini, hamba beramai sungguh sangat berterima kasih"

Di tengah pendopo berjajar tiga meja besar yang ditata segi tiga.

Tamu hari ini adalah cong-hou-hoat, coh-yu-hou-hoat dan kedelapan Hou-hoat, maka meja di tengah diduduki Ling Kun-gi.

Leng Tiong-ciong dan coa Liang bertiga.

Meja pertama di sebelah kiri diperuntukan kedelapan Hou-hoat.

Sebagai tuan rumah Pangcu dan Hu-pangcu duduk di meja paling atas sebelah kanan-Lalu berturut2 di sebelah kiri adalah ke 24 Hou-hoat-su-cia, Giok-lan congkoan dan 12 Taycia duduk di sebelah kanan dikerubung para dara2 kembang.

Perjamuan iniuntuk merayakanpengangkatancong-hou-hoat-su-cia yang baru, walau Pangcu mereka juga hadir, tapi Pangcu lain dengan Thay-siang yang menimbulkan rasa segan dan hormat, oleh karena itu perasaan para hadirin tidak tertekan dan dibatasi, semua riang gembira.

Apalagi pada Saat Pangcu dan Hu-pangcu bergantian menyuguh arak, lalu disusul congkoan dan 12 Taycia, sudah tentu dara2 kembang yang lain juga tidak mau ketinggalan, semuanya mencari kesempatan untuk menonjolkan diri.

yang susah adalah Ling Kun-gi, entah berapa banyak Cangkir arak telah masuk perutnya yang menjadi kembung.

Demikian pula para Houhoat yang lain semuapun setengah kelengar karena terlalu banyak menenggak arak.

Sebaliknya Pangcu, Hu-pangcu, congkoan dan ke12 Taycia sendiri yang biasanya jarang minum sebanyak ini kini juga sama lunglaidan mabuk.

Menjelang tengah malam.

Kun-gi yang sudah mabuk dibimbing dua pelayan yang disuruh Giok-lan kembali ke tempat penginapannya semula.

Sinar bulan purnama sedemikian bening danlembut, menyorotmasukmenyinarijendelakamar.

Daun jendela di sebelah kanan kamar tidur Ling Kun-gi masih terpentang lebar, sinar lampu sudah dipadamkan sehingga suasana gelap gulita tak terdapat apa2.

Bau arak yang tebal terurar keluar terbawa angin lalu.

Kun-gi tengah duduk bersimpuh di atas ranjang, dengan Lwekang yahg tinggi dia desak arak keluar dari badannya sehingga basah kuyup berbau arak.

Sekarang dia sudah sadar.

Untung juga maka dia baru saja sadar dan duduk semadi.

dalam keadaan hening dan tajam indranya, tiba2 didengarnya suara lirih dari pucuk pohon di luar pekarangan sana.

Itulah suara pakaian yang tergores ranting pohon, sudah tentu suaranya amat lirih.

jelas bahwa Ginkang pendatang ini teramat tinggi.

Tergerak hati Kun-gi dia angkat kepala menoleh keluar.

Tampak di antara celah2 dedaunan yang di atas pohon sana seperti berkelebat selarik sinar perak.

lalu disusul suara jepretan keras, serumpun bintik2 perak kemilau secepat kilat menyamber masuk dari jendela.

Untung Kun-gi sudah waspada begitu mendengar suara mencurigakan itu segera dia sudah siaga, kalau dia tidak mendengar suara keresekan tadi, mungkin dia terlambat dan jiwanya akan melayang oleh serangan gelap yang keji ini.

Tatkala bintik2 perak itu menyamber datang, dia sudah kerahkan tenaga pada kedua lengan bajunya, ia tetap bersimpuh, tapi badannya mengelak mundur ke dalam ranjang.

Begitu hujan senjata tiba ia terus kebut kedua lengan bajunya, ilmu sakti ajaran Hoan-jiuji-lay yang dinamakan "Kian-kun-siu" (lengan baju sapu jagat) segera dikembaskan, bintik2 perak yang tak terhitung banyaknya itu kini digulung seluruhnya.

Bak batu jatuh ke dalam hutan tidak menimbulkan riak gelombang apapun.

Pembokong di atas pohon seketika sadar adanya gejala ganjil, sesosok bayangan hitam segera melayang dari pucuk pohon melompatitembok pagarterusngacirkeluarpekarangan Kun-gi mendengus.

"Kau mau lari? "

Berbareng dia sendal lengan bajunya, jarum2 yang tak terhitung banyaknya itu dia buang kepinggir dinding sana, segesit tupai ia melejit keluar jendela terus mengudak ke arah bayangan hitam yang melarikan diri tadi, hanya sekejap bayangannyapun lenyap di kejauhan-sana oooodwoooo Cahaya bulan yang remang2 kebetulan tertutup oleh awan lalu, sehingga keadaan dalam kamar semakin gelap lagi.

pada waktu itu dari tembok sebelah timur sana tiba2 muncul sesosok bayangan tinggi, tanpa mengeluarkan suara bayangan ini meluncur ke arah jendela kamar Ling Kun-gi, sekali lompat dengan gesit dia menyelinap masuk kamar.

Segala kejadian di dunia ini se-akan2 sudah ditakdirkan, baru saja bayangan hitam tadi menyelinap masuk kamar, dari arah serambi sana tampak pula bayangan semampai yang gemulai tengah mendatangi dengan langkah ringan-Inilah seorang nona berperawakan ramping, montok berisi.

Sinar bulan tertutup awan tebal, dan sekelilingnya gelap gulita, umpama tidak melihat wajahnya, tapi kebentur badan orang yang putih halus dan lembut serta lekuk badannya, yang jelas laki2 siapa yang takkan terpikat, memang dia inilah nonacantikyanggenit dansedang kasmaran.

Langkah yang enteng cepat, tidak mengeluarkan suara.

Di tengah malam gelap.

sepasang matanya berkelap-kelip seperti bintang dilangit, tiba2 biji matanya mengerling ke sana, kiranya dia melihat jendela kamar yang terpentang lebar itu, tanpa terasa mulutnya bersuara kuatir dan penuh perihatin, cepat2 dia menghampiri jendela.

Orang di dalam kamar itu ternyata punya pendengaran yang amat tajam pula, mendengar suara tadi, seketika jantungnya seperti hampir copot, dalam suasana yang kejepit ini terang tak mungkin dia menyingkir lagi, maka cepat2 dia melompat ke ranjang, ia menyingkap kelambu terus menerobos masuk dan merebahkan diri.

Sementara itu bayangan semampai sudah tiba di depan jendela, terdengar omelnya.

"Sin-ih itu memang budak pantas mampus, kenapa jendela tidakditutup,"

Lirih suara orang di luar jendela.

tapi orang yang sembunyi di atas ranjang seketika tahu dan dapat membedakan siapa gerangan nona yang berada di luar itu, seketika darahnya tersirap.

Bayangan ramping itu membetulkan letak sanggulnya, lalu dengan suara lirih aleman ia berseru ke dalam.

"Ling-toako, kau sudah sadar belum? "

Sudah tentu orang di dalam kamar tidak berani bersuara.

Cekikikan bayangan semampai di luar itu, sekali menggeliat pinggang, seperti sengaja menghamburnya bau harum di badannya, sigap sekali dia melompat masuk ke dekat ranjang.

Bau arak masih memenuhi kamar, sudah tentu iapun merasakan ini, maka alisnya berkerut, tapi suaranya lebih lembut dan prihatin.

"coba lihat, mabuk sampai begini"

Sembari omong tangannya lantas menyingkap kelambu, jari2 yang runcing halus segera meraba dan menepuk pundak, teriaknya tertahan.

"Ling-toako, Ling-toako, bangunlah"

Sudah tentu jantung orang di ranjang seperti hendak melompat keluar dari rongga dadanya, dia pejamkan mata dan tak berani bersuara atau bergerak2 Tapi rasanya janggal kalau tidak menyahut, maka dengan samar2 dan bersuara dalam kerongkongan..

Bayangan semampai itu mengelupas kedok mukanya yang tipis, pelan2 ia membungkuk badan, mulutnya meniup pelan ke kuping orang, lalu berkata aleman.

"Kenapa kau? "

Betapa besar daya tarik suaranya?

Manusia tetap manusia, apalagi di dalam kamar yang gelap gulita, satu sama lain toh tak melihat wajah masing2 segera orang itu memegang tangan si ramping yang lembut halus dan berdesis dengan suara gemetar.

"Kau ...."

Si ramping biarkan saja tangannya dipegang, tidak menarik juga tidak meronta, suaranya semakin riang dan lirih.

"Aku kuatir akan keadaanmu, maka kutengok kemari."

Orang itu menekan suaranya menjadi serak. katanya.

"Terima kasih"

"Memangnya siapa suruh kau menjadi Toako-ku ...."

Omel si ramping dengan suara genit menawan hati.

"Kau baik sekali,"

Suara orang itu lebih gemetar. Si ramping cekikikan, katanya lirih.

"Kau, .... kenapa kau gemetar?"

Begitu dekat jarak mereka, bau badannya yang harum semerbak bikin laki2 manapun akan mabuk kelengar.

Sudah tentu jantung orang yang rebah di atas ranjang itupun berdebur keras, dia tidak bersuara, tapi kedua tangan mendadak merangkul.

Dengan menjerit kaget mendadak bayangan ramping itu-pun menjatuhkan diri ke dalam pelukannya.

Tanpa diberi kesempatan orang bicara, bibirnya yang kasar dan hangat segera melumat bibir si ramping yang merekah bagai delima.

Ternyata si ramping tidak meronta dan biarkan saja dirinya ditindih dan menurut saja apa kehendak lawan jenisnya, sejenak kemudian hanya terkadang terdengar suara rintihan tertahan.

Malam sunyi, debar jantung dua insan sama bersahutan, kecuali dengus napas mereka yang semakin memburu, tak terdengar suara lain-Tapi jari tangan yang kasar mulai nakal, beraksi turun naik membuat olah kasar.

caranya yang semakin berani ini semakin mantap dan tenang, sebaliknya si ramping jadi gemetar dan menggeliat, menggelinjang, dalamseribu kegelian.

Sayang keadaan gelap gulita sehingga ia tak bisa melihat warna merah delima nan mempesona lesung pipit dipipisi ramping, sorot matanya memancarkan kenikmatan yang luar biasa, tapi secara langsung dia merasakan suhu badan si ramping semakin hangat dan berkobar, menimbulkan daya tarik yang tak tertahankan.

Kini yang gemetar, yang menggelinjang kenikmatan malah si ramping.

Maklumlah kejadian ini memang sebelumnya sudah di dalam dugaannya, karena kasmaran yang tak tertekan, demi mendapatkan pujaan hati, sehingga tak kuasa menahan buruan kalbu lagi, betapapun dia tidak rela orang lain merebut laki2 yang mengukir di kalbunya ini.

Pola lawan jenisnya memang terlalu keras kalau tidak mau dikatakan terlampau kasar dan bernafsu, tapi sedikitpun dia tidak dendam, malu atau kesakitanpun tidak terasakan lagi, karena semua ini memang sudah dalam bayangannya, sudah direlakan Yang jelas badannya gemetar, disamping merasa nikmat hatinyapun kuatir dan cemas.

Maklumlah biasanya betapa tinggi harga dirinya?

Betapa dirinya penuh wibawa dan diagungkan?

Tapi kini segala keagungan, kesucianpun tiada bekas lagi, bak umpama burung kecil yang ketimpa musibah, pasrah nasib belaka.

Rembulan tidak pernah menongol keluar pula dari balik awan, keadaan tetap gulita di dalam kamar, setelah mengalami gejolak membara yang membawa tautan hati ke sorga loka, lambat laun rangsangan yang membara itu mereda dan akhirnya padam membuat seluruh tubuh lemas lunglai.

Bayangan ramping itu angkat kepala, suaranya lembut dan aleman.

"Toako, kau. .... Diciumnya sekali pipi si nona, lalu, berkata orang itu.

"Moay-cu (adik), kau harus lekas pergi"

"Kau takut? "

Tanya bayangan ramping itu.

"Bukan,"

Sahut laki2 itu dengan hangat dan rawan.

"bukan takut, tapi aku kuatir bila kau dilihat orang, tentu amat merugikan pribadimu."

Bayangan ramping itu bersuara dalam mulut.

Memangnya dia berwatak angkuh, tinggi hati, sudah tentu perbuatannya ini pantang kepergok orang, lekas2 dia berdiri serta mengenakan pakaian lagi, lalu katanya berpesan.

"Aku pergi, besok persoalan apapun yang dibicarakan Thay-siang, jangan kau ...."

"Adikku yang baik,"

Sela orang itu.

"jangan kuatir, aku sudah tahu maksudmu."

"Hm, memangnya kau berani,"

Kata si ramping sambil angkat jari telunjuk menutul jidat orang, lalu seringan asap bayangannya melayang keluar jendela dan lenyap ditelan gelap.

Tiba2 timbul rasa penyesalan dalam benak si laki2, tak berani ayal iapun kenakan pakaiannya, sesaat dia berdiri menjublek di dalam kamar, akhirnya ia menarik napas panjang, ia menggumam sendiri.

"Ini bukan salahku."

Setelah membanting kaki, iapun mengeluyur pergi melalui jendela .

Beruntun kedua orang ini berlalu, sebetulnya bak umpama awan berlalu dan hujan sudah mereda, impian dalam sorgapun sudah tak berbekas lagi, tatkala itu kentongan ketigapun sudah lewat, siapapun takkan tahu akan kejadian di dalam kamar ini.

Tapi segala sesuatu di dunia ini justeru sering terjadi di luar dugaan, sesuatu yang dikira tidak di ketahui orang atau iblis justeru bisa bocor di luar dugaan-Waktu perbuatan mesum dua insan ini sedang berlangsung, sekuntum bunga mawar telah menyaksikan di luar jendela.

Dia bukan lain adalah Un Hoan-kun yang menyaru si kembang mawar alias Bi-kui.

Ia berdiri di bawah jendela, mendengar dengus napas memburu dari sepasang manusia yang dibuai nafsu birahi, merah jengah selebar mukanya, sungguh hatinya terasa hancur luluh.

Sungguh tak pernah terpikir olehnya laki2 tambatan hatinya ternyata adalah hidung belang yang begini kotor dan tak kenal malu.

Dia marah, malu, penasaran dan benci, perasaannya hancur berderai, denganberlinang air matadiam2diatinggalpergi.

Waktu Kun-gi memburu sampai di atas tembok tadi, bayangan hitam yang menyerang dirinya dengan senjata rahasia itu sedang meluncur pesat keluar pekarangan Diam2 dia mengerut kening, pikirnya.

"Ginkang orang ini amat tinggi, apalagi dia melangkah lebih dahulu, betapa luas markas Pekhoa-pang ini, asal dia menyelinap ke tempat gelap. kemana pula aku akan mengubernya? "

Hati berpikir, tapi kaki tetap mengudak dengan kencang.

Gerak-gerik bayangan hitam itu amat tangkas dan cekatan, baru saja Kun-gi melampaui pagar tembok, didapati bayangan itu sudah berada 20 tombak lebih, tapi masih berlari kencang seperti dikejar setan.

Mungkin takut membuat berisik sehingga jejaknya ketahuan orang Pek-hoa-bun, maka dia tidak berani menuju ke bangunan gedung yang berlapis2 itu, pada hal disana banyak tempat gelap untuk menyembunyikan diri.

Melihat orang belari2 lurus menuju keluar, sudah tentu kebetulan bagi Kun-gi, dia mengudak terus sambil mengembangkan ginkangnya.

Bayangan didepan ternyata sangat apal tentang liku2 Hoa-keh-ceng ini, jarak mereka memang cukup jauh, kebetuan rembulan sembunyi di balik awan lagi sehingga keadaan gelap.

kadang2 dia menghilang lalu muncul lagi di antara bayang2 bangunan gedung.

Betapapun cepat Kun-gi mengudak tetap ketinggalan Hoa-keh-ceng merupakan markas pusat Pek-hoa-pang, banyak terdapat pos penjagaan, bahwa orang ini dapat mengelabui mata kuping para penjaga dan ronda malam, jelas menandakan bahwa orang itu tentu bukan orang luar.

Dalam sekejap mata mereka sudah saling kejar keluar dari pagar tembok Hoa-keh-ceng yang tinggi.

Kini mereka berada di lereng sebuah bukit yang penuh ditumbuhi rumput hijau, batu2 gunung terserakdisana-sini, semak belukarjarangterinjak manusia.

Melihat Kun-gi terus mengudak dengan kencang, bayangan hitam di depan itu semakin gugup, maka dia menempuh jalan belukar dan lari tanpa menentukan arah.

Sudah tentu hal ini menimbulkan rasa curiga Kun-gi, pikirnya.

"Untuk apa dia memancingku ke tempat ini, memangnya disiniada jebakan? "

Tapi dia berkepandaian tinggi dan bernyali besar, umpama betul musuh ada bala bantuan di depan sana juga dia tidak gentar.

Pula bila orang ini betul adalah anggota Pek-hoa-pang, tentulah salah seorang yang tadi siang telah dikalahkan dalam pertandingan, karena merasa dengki dan penasaran, maka malam ini dia hendak menuntut balas dengan membokong secara keji dengan senjata rahasia beracun.

Walau awak sendiri tidak ingin mencari musuh, betapapun Kun-gi ingin membongkar kejahatannya.

Kalau bisa dibujukagar menempuhjalan benardan menjadiorang baik.

Sekarang mereka saling kejar di lereng bukit yang belukar, tapi tiada suatu tempat untuk menyembunyikan diri, kepandaian Kun-gi memang lebih tinggi, maka jarak kedua pihak telah ditarik pendek.

Jelas sebentar lagi dia akan berhasil menyandak musuh, sementara itu mereka sudah saling udak mendekati tepi danau, air danau setenang kaca tertimpa sinar rembulan menimbulkan cahaya kemilau yang mempesona, sementara kabut mengembang datang menambah suasana menjadi redup, Bayangan hitam di depan tiba2 berlompat meluncur ke atas batu gunung yang tinggi, laksana elang yang berhasil menyamber anak ayam, dengan tangkas dia meluncur turun ke balik batu padas besar sana.

Jarak kedua pihak kini tinggal sepuluhan tombak.

beruntun dua kali lompatan Kun-gi sudah mengejar tiba.

Batu cadas itu setinggi tiga tombak, di bawah adalah air danau, jelas tiada jalan lain untuk melarikan diri, tapi selepas mata Kun-gi menjelajah, Sekelilingnya sunyi senyap tiada kelihatan ada tanda apa2, entah ke mana gerangan bayangan hitam tadi?

Memang tempat ini dikelilingi belukar, tapi rumput tumbuh hanya setengah pinggang orang, tak mungkin orang sembunyi di semak2 rumput, kecuali sudah kepepet maka dia nekat terjun ke air?

Inipun tidak mungkin, betapapun lihaynya seseorang main dalam air, begitu dia terjun pasti menimbulkan riak gelombang dan tak mungkin selekas ini tenang kembali.

Kenyataan air danau setenang kaca, cipratan airpun tak kelihatan.

Berdiri sejenak di atas batu cadas, dia menunggu dan menanti reaksi, tapi tetap tak memperoleh jawaban, mendadak tergerak hatinya.

"Jelas dia tadi lari kemari kenapa jejaknya menghilang, kalau dia apal seluk-beluk dalam perkampungan ini tentu apal juga keadaan luar sini, sengaja aku dipancing kemari, lalu tiba2 menghilang, memangnya di bawah batu ini ada jalan lain yang menembus entah kemana? "

Segera dia melongok ke bawah mengincar suatu tempat untuk tempat berpijak.

lalu dengan enteng dia melompat turun.

Kakinya berpijak pada sebuah batu di antara semak2, betul juga didapatinya bagian bawah ini longgar dan lapang, seperti serambi panjang di rumah gedung layaknya, sebuah jalanan kecil berlumut menjurus masuk ke sela2 batu besar yang tiba cukup untuk berjalan satu orang.

Bagian luarnya tertutup rumput tinggi, umpama siang hari juga sukar orang menemukan tempat ini, apalagi dipandang dari atas takkan kelihatan.

Tempo hari Kun-gi mendengar dari Giok-lan yang mengatakan bahwa perahu orang2 Hek-liong-hwe yang menyelundup kemari disembunyikan di bawah tebing.

"Mungkin di sinilah letak dari tebing itu?"

Otak berpikir, sementara kaki melangkah ke depan-Kira-2 puluhan tombak kemudian, tiba2 di-lihatnya seperti ada sesosok bayangan orang rebah tengkurap di atas pasir di depan sana.

Sekali lompat Kun-gi memburu maju, ia dapat melihat di tempat gelap.

setelah dekat didapatnya orang ini mengenakan pakaian ketat warna hijau, golok terselip dipinggangnya, dandanannya mirip centing Pek-hoa-pang.

Setelah diteliti didapatinya pula jiwa orang sudah melayang, sesaat lamanya karena terhantam dadanya oleh pukulan berat.

Terpancar cahaya gemerdep dari bola mata Ling Kun-gi.

batinnya.

"orang ini jelas adalah centing yang ditugaskan berjaga di sini, golok yang tergantung dipinggangpun belum sempat tercabut, tahu-jiwa sudah melayang, tentunya orang tadi kuatir centhing ini membocorkan rahasianya maka dia di bunuh untuk menutup mulutnya."

Waktu dia berdiri tegak.

dilihatnya disemak2 rumput di depan sana ada sesosok mayat pula.

orang inipun mengenakan seragam warna hijau berdandan sebagai centing.

Kemungkinan dia terpukul mencelat sehingga terlempar sejauh itu, jiwanya jelas sudah amblas.

Berkeriut gigi Kun-gi saking gemas, diam2 dia berjanji akan mengusut perkara ini dan mencari tahu siapa gerangan bayangan itu untuk menghukumnya secara setimpal.

Kedua centing ini sudah mati beberapa saat, ini berarti pembokong itu tentu sudah pergi jauh dan tak mungkin dikejar lagi, ia putar balik dan akan melompat ke atas tebing.

Pada saat itulah mendadak didengarnya suara isak tangis sedih memilukandiatas, isaktangisse-orangperempuan, begitu sedihnya sampai tersendat2 dan banting2 kaki.

Heran Kun-gi, waktu ini sudah kentongan ketiga lewat tengah malam, memangnya siapa yang datang kepinggir danau dan bertangisan disini?

suara tangis seorang perempuan, tentu dia salah satu dara kembang dari Pek-hoa-pang.

Mungkin dia menemukan kematian kedua centing, salah seorang centing adalah kekasihnya, maka dia menangis begini sedih?

Tengah Kun-gi menduga2, tiba2 didengarnya perempuan itu berkata sambil sesenggukan.

"Ling Kun-gi, oh, Ling Kun-gi, akulah yang buta, sungguh tak nyana kau ..... Ai, aku ....... aku juga tidak ingin hidup lagi ......"

Suaranya terputus2 oleh sendat tangisnya, lemah dan lirih, tapi di malam sunyi ini Kun-gi dapat mendengarnya jelas sekali, terutama setelah akhir kata2nya, langkah kakinyapun terdengar menuju ke pinggir danau.

Jelas dia nekat hendakbunuh diri.

Sudah tentu Kun-gi berjingkat kaget, lekas dia berteriak.

"Jangan nona"Sebatsekalidia men-jejak kaki mengapung keatas. Bahwa di bawah tebing ada orang sudah tentu tidak terpikir oleh si nona, tanpa sadar dia menyurut mundur, bentaknya.

"Siapa kau? "

Kini Kun-gi sudah melihat jelas siapa nona di hadapannya yang menangis ini, ia kaget dan keheranan, katanya sambil mengawasi tak berkedip.

"Apakah yang terjadi? Bilakah aku pernah berbuat salah padamu ......"

Nona ini bukan lain adalah Un Hoan-kun yang menyamar jadi Bikui, air mata masih berlinang2 di kelopak matanya, ia terbeliak mengawasi Kun-gi, iapun kaget dan heran, tanyanya.

"Kau ...... bagaimana kau bisa berada disini? "

"coba kau dulu yang bicara, kenapa kau sembunyi di sini dan menangis? "

Nanar pandangan Un Hun-kun, katanya dingin.

"Tidak. kau dulu yang bicara, bukankah kau menguntit aku kemari? "

Dia mengenakan kedok sehingga sukar terlihat mimiknya, cuma biasanya dia bersifat lembut dan halus, bijaksana lagi, kata2nyapun ramah, kini dia bicara dingin ketus, jelas gelagatnya jelek.

Diam2 Kun-gi ber-tanya2 dalam hati, katanya kemudian "Cayhe memang menguntit seseorang ......."

Sampai di sini mendadak dia seperti ingat sesuatu, lalu tanyanya gugup.

"Waktu kau kemari adakah kau bertemu dengan seseorang? "

Un Hoan-kun dapat merasakan nada ucapan Kun-gi itu memang menguntit seseorang, maka dia bertanya siapa yang di maksud?

"Entahsiapadia,diakejamdanlicin,aku menguntitnyasampaidi sini, sayang dia berhasil lolos, malah dua centing di bawah sana juga dibunuhnya ....."

Betapapun Un Hoa-kun adalah nona yang cerdik, dia tahu dalam soal ini mungkin ada latar belakangnya yang ber-belit2, segera dia balas bertanya.

"Coba katakan, berapa lama kau keluar? "

"Cukup lama, sedikitnya sudah satu jam."

Un Hoa-kun mendesak lagi.

"Bahwa kau tak tahu siapa dia, kenapa kau menguntitnya kemari? "

Terpaksa Kun-gi tuturkan kejadian yang dialami, lalu menyambung tertawa.

"Sudah, kini giliranmu yang bicara, untuk apa seorang diri kau lari kemari? Tadi seperti kudengar kau tidak ingin hidup segala, memangnya kenapa? "

Mendengar cerita Kun-gi, Hoan-kun sudah tahu akan duduknya persoalan, tapi sebagai seorang gadis perawan yang masih suci bersih, sudah tentu tak mungkin dia menceritakan adegan mesum yang disaksikannya tadi.

Dengan muka merah terpaksa dia menjawab.

"Kau tak usah tanya, hatiku amat risau, perlu jalan2 keluar untuk menenangkan perasaanku, lekas kau kembali, lebih cepat lebih baik."

Sudah tentu Kun-gi juga bukan pemuda goblok. iapun merasakan dibalik ucapan Un Hoan kun ini masih ada persoalan tersembunyi, maka dia bertanya.

"Dari omonganmu kurasakan seperti terjadi sesuatu? "

"Lekas pergi, setelah kembali kau akan tahu sendiri,"

Kata Un Hoan-kun. Dirundung berbagai pertanyaan, Kun-gi masih menegas.

"Kau tidakpulangsajabersamaku? "

"Kalau jalan bersamamu, dilihat orang tentu kurang leluasa, kau boleh berangkat lebih dulu, tunggulah aku dipekarangan yang gelap."

"Kutinggal kau di sini, hatiku tidak tenteram, ayolah pulang bersama."

"Bikin jengkel orang saja,"

Omel Un Hoan-kun.

"kalau terlambat sudah tiada gunanya lagi."

Kun-gi tidak bergerak. tanyanya.

"Kau pasti ada urusan, kenapa tidak kau beritahukan padaku? "

"Tiada waktu untuk kujelaskan, hayolah pulang bersama, nanti berpisah di luar tembok, soal ini amat besar artinya, jangan kau tunda2, pulanglah dulu ke kamarmu dan kau akan tahu, tapi jangan kau masuk begitu saja, biar aku memberitahukan Congkoan dulu, malam ini aku bertugas bersama Hong-sian, katakan saja waktu kembali kau bersua dengan aku."

Mendengar orang berpesan secara serius, se-olah2 ditempat tinggalnya telah terjadi sesuatu, maka Kun-gi mengangguk. katanya.

"Baiklah, hayolah pulang."

Mereka tidak bicara lagi, keduanya sama2 mengembangkan Ginkang dengan cepat tiba di luar pagar tembok tinggi yang mengelilingi Hoa-keh-ceng.

Un Hoan-kun memberi tanda gerakan tangan terus melambung ke atas tembok dan melesat ke belakang sana.

Sementara Kun-gi juga mengapung terus melejit lebih jauh ke depan-mendadak didengarnya seorang membentak tertahan.

"Siapa? "-setitik sinar kemilau tahu2 meluncur kemuka Kun-gi. Sekali raih dengan mudah Kun-gi tangkap senjata rahasia itu, kiranya sebutir pelor perak. sementara mulutnya berseru.

"Cayhe Ling Kun-gi"

Dari tempat gelap tampak melompat keluar seorang laki2 berseragam hitam, begitu melihat jelas akan Ling Kun-gi, lekas dia membungkuk dengan gugup, katanya.

"Hamba Kho Ting-seng, maaf, kesembronoanku patut dihukum mati ......"

Laki2 ini adalah salah satu Hou-hoat-su-cia yang dinas jaga, maka dengan tertawa Kun-gi lantas berkata.

"Kho-heng tak usah berkecil hati. Cayhe meluncur dari luar tembok. adalah jamak kalau menimbulkan rasa curiga. Cuma untuk selanjutnya Kho-heng harus lihat jelas dulu baru boleh turun tangan-"-Sembari bicara dia angsurkan kembali pelor perak itu. Orang she Kho mengiakan sambil menerima pelor peraknya, Kungibertanyapula."Apakah malaminigiliranKho-hengberjaga?"

"Ya,"

Sahut Kho Ting-seng.

"ada empat orang yang mendapat giliranjaga, hambaditugaskanjagadisebelahtenggarasini."

"Apakah Kho-heng tadi melihat ada orang masuk kemari? "

Kho Ting-seng melengak. katanya.

"Maksud Cong-hou-hoat ada musuh yang menyelundup ke-mari? "

"o, tidak."

Ujar Kun-gi.

"aku hanya tanya sambil lalu, kalau tiada melihat ya sudahlah."

"Sejak giliran hamba berjaga tadi terus mondar-mandir di sekitar sini, kalau ada orang menyelundup masuk tentu hamba dapat melihatnya."

Kun-gi manggut2.

"Bagus sekali, baiklah aku mohon diri,"

Setelah balas hormat, sekali jejak kedua kaki ia lantas melejit tinggi meluncur kepekarangan belakang.

Karena pesan Un Hoan-kun tadi amat wanti2 dan serius, se-olah2 telah terjadi suatu peristiwa di dalam kamarnya, maka sepanjang jalan ini dia tingkatkan perhatian dan kewaspadaan, sinar pelita sudah padam di daerah pekarangan tengah, keadaan sunyi tenang tiada gerakan apa2 yang mencurigakan-Secara diam2 dia meluncur turun di balik pagar tembok serta memperhatikan kamar tidurnya, dua jendela disebelah selatan tetap terpentang lebar, keadaan hening, lelap seperti dirinya keluar tadi, tiada tanda2 perubahan lainnya puia, keruan ia heran dan bertanya2 kenapa Un Hoan-kun mendesak dirinya lekas kembali ke kamar tidur?

Mengingat nona Un biasanya hati2 dan cermat, setiap menghadapi persoalan tentu dikerjakan dengan baik dan rapi, tak mungkin kali ini dia menipu dirinya..

Entah kenapa pula nona itu tidak mau menjelaskan persoalannya, seakan2 bila dirinya lekas kembali akan segera mendapat jawaban, tapi kenapa pula dirinya diharuskan menunggu dia menyusul datang setelah memberi laporan kepada Congkoan-Memangnya ada kejadianapa?Semarindipikirsemakin mengganjelperasaan.

"Memangnya ada orang hendak mencelakai diri-ku secara diam2?"

Demikian batinnya.

Inipun tidak mungkin, umpama betul seorang ada maksud mencelakai jiwanya, tak mungkin dia sembunyi di dalam kamarnya.

Maka sekian lamanya dia berdiri diam di tempat gelap.

tapi setelah ditunggu beberapa kejap tetap tidak terlihat ada tanda apa2.

Untunglah dikala Kun-gi sudah hampir kehilangan kesabaran, didengarnya desir angin malam yang lirih dari balik tembok sana, waku Kun-gi menoleh, dilihatnya dua bayangan orang muncuf di atas tembok.

Seorang mengenakan pakaian serba putih, pedang tergantung dipinggang, gayanya lembut laksana dewi kahyangan.

Seorang lagi berpakaian kencang, tubuhnya semampai menggiurkan-Mereka bukan lain adalah Congkoan Giok-lan dan Un Hoan-kun yang menyaru Bi kui.

Lekas Kun-gi menyongsong ke sana, katanya menjura.

"Mengganggu Congkoan saja."

Lekas Giok-lan balas hormat, matanya yang bening mengawasi Kun-gi, katanya.

"Bi kui Ling-kongcu menunggu, entah apa yang telah terjadi di sini? "

Apa yang terjadi, Kun-gi sendiri juga tidak tahu, sudah tentu dia tidak bisa menjawab, terpaksa dia berkata sekenanya.

"Congkoan sudahtiba, marilahbicaradidalamsaja."

Sekilas Giok-lan mengerling, katanya.

"Kiu-moay barusan lapor padaku, katanya waktu dia lewat sini telah mendangar orang bicara dalam kamar, semula dikira Ling-kongcu sendiri, ternyata waktu dia ronda sampai pekarangan tengah telah bertemu dengan Ling kongcu yang sedang mengejar musuh, maka dia sadar adanya gejala yang tidak sehat, cepat dia memberi laporpadaku, kini Lingkongcu sudah kembali, entah adakah sesuatu yang mencurigakan di dalam kamar ini? "

Kun-gi membatin.

"o, ada orang sembunyi di dalam kamarku, hanyasoalbegini sajakenapatidakdijelaskan padaku? "

Dengan tersenyum dia lantas berkata.

"Sejak Cayhe datang tadi sudah kuperhatikan, tiada gerakan apa2 di sini, biarlah aku masuk memeriksanya lebih dulu."

Lalu dia hendak menerobos masuk lewat jendela.

"Hati2 Ling-kongcu"seru Un Hoan-kun gugup.

"Betul,"

Sambung Giok-lan.

"memang Ling-kongcu harus lebih hati2."

Kun-gi tertawa tawar, ujarnya.

"Ya, tidak jadi soal."-Sekali lompat dia menerobos masuk ke kamar, matanya menjelajah seluruh penjuru kamar, tapi tetap tiada kelihatan bayangan prang? Kiranya sejak di luar dan waktu melompat masuk tadi diam2 dia sudah pasang kuping danpentang mata, asal ada orang sembunyi di dalam kamar pasti didengarnya. Kun-gi keluarkan geretan api, setelah menyulut lampu dia terus angkat palang dan membuka pintu, katanya.

"silakan kalian masuk"

Diam2 Un Hoan-kun membatin.

"Agaknya sudah terlambat, kedua orang itu sudah pergi."

Giok-lan melangkah masuk lebih dulu, mata-nya yang jeli tajam menjelajah ke segala penjuru, lalu berkata.

"Kiu-moay bilang bahwa Ling-kongcu mengejar musuh yang membokongmu, laporannya tidak jelas, memangnya siapa yang bernyali besar berani bertingkah ditempatkitaini? HarapLing-kongcusudi menjelaskan? "

Kecut tawa Kun-gi, katanya.

"Cukup lama juga aku mengudak dia, sayang tak berhasil kususul, malah dua Centing kita dibunuh oleh nya, sungguh harus diaesalkan"

Lalu dia ceritakan kejadian yang dialaminya. Berkilat mata Giok-lan, katanya setelah merenung sebentar.

"orang ini bisa bergerak bebas menghindari pos2 penjagaan, jelas ialah orang kita sen-diri, mungkin karena siang tadi dia kau kalahkan dalam pertandingan, karena dendam maka malam ini hendak menuntut balas secara menggelap."

"Cayhe juga pikir demikian, pikirku hendak mengejarnya untuk memberipenjelasan dan membujuknya."

"Besar nyali orang ini, berani main gila di sini, tapi dia bisa lolos dari kuntitan Ling-kongcu, jelas Ginkang dan kecerdikannya memang lebih tinggi daripada orang lain,"

Ujar Giok-lan-"Lalu senjata rahasia yang Ling-kongcu gulung tadi entah ditaruh di mana? "

Kun-gi menuding kepojok dinding, katanya.

"Karena buru2 hendak mengejar musuh, maka kulempar ke kakitembok itu."

Sinar lampu memang tidak sampai menyoroti kaki tembok sana, Giok-lan tidak perhatikan kalau di kaki tembok ada jarum2 berserakan-Kini dengan cermat dia memperhatikan, seketika berubah rona mukanya.

Dingin sorot matanya, katanya.

"Mungkinkah dia orang Hek-liong-hwe?"

"Sam-ci,"

Un Hoan-kun menyeletuk.

"darimana kau tahu dia orang Hek-liong-hwe? "

Dari kantong bajunya Giok-lan keluarkan sekeping besi sembrani, lalu menyedot sebatang jarum.

Jarum ini lebih kasar dari jarum jahit umumnya, seluruh batangnya berwarna hitam legam, jelas dilumuri racun jahat, Lalu sambil mengacungkan besi sembrani, dia bertanya kepada Kun-gi.

"Apakah Ling-kongcu tahu asal-usul jarum baja ini? "

"Cayhetidaktahu,"sahutLing Kun-gi.. Giok-lan tertawa tawar, katanya.

"Racun yang dilumurkan di jaruminiadalah getahberacun."

Sejak mula Kun-gi kira sipembokong adalah orang dalam Pek-hoa-pang, mendangar Giok lan bilang dia orang Hek-liong-hwe, tanpa terasa ia bersuara heran-Giok-lan berkata lebih lanjut, Jarum baja ini dilepaskan dari Som-lo-ling, namanya adalah Sha-cap-lok-khong-wi-hong-ciam (Jarum kumbang kuning 36 lubang)."

"Pengetahun Congkoan memang luas, melihat jarum lantas tahu namadan asal-usulnya,"demikianpuji Kun-gi. Manusia di kolong langit ini baik pria atau wanita, kalau dirinya dipuji, tentu tidak kepalang riang hatinya. Terutama Giok-lan yang sudah kasmaran terhadap perjaka di depannya ini, maka ia pandang Kun-gi seolah2 sudah setengah miliknya-. Dengan penuh arti matanya mengerling Kun-gi, katanya tersenyum malu2.

"Thay-siang pernah menerangkan soal jarum ini, katanya jarum2 ini disimpan di dalam kotak gepeng terbuat dari baja, seluruhnya ada 360 batang yang tersimpan di dalamnya, maka dinamakan Som-lo ling. yakni seumpama firman raja akhirat (som-lo), sekali tekan bisa menyambitkan 36 batang, maka dinamakan pula jarum kumbang kuning 36 lubang."

"Senjata rahasia macam ini hanya dibikin oleh ahli yang luar biasa,"

Demikian tutur Giok-lan lebih lanjut.

"konon jarum ini adalah buah karya seorang pandai besi yang lihay, sampai sekarang jarang ada orang Kangouw yang mampu meniru membuatnya. belum pernah terjadi lawan yang diserang bisa selamat, kalau malam ini yang diserang orang lain, tentu jiwanya takkan selamat dari jarum2 berbisa ini."

"Mungkin nasib Cayhe lagi mujur,"

Ujar Ling Kun-gi.

"untung aku sudah bersiaga sebelumnya."

Mengawasi jarum ditangannya, Giok-lan menepekur sejenak, katanya kemudian.

"Jarum ini sudah dilumuri getah beracun, ini berarti mereka sudah mampu membuat Som-lo-ling ini,"

Sampai disini mendadak dia menoleh kepada Un Hoan-kun, katanya.

"Kiu-moay, coba kau hitung jumlahnya, apakah 36 batang? " . Un Hoan-kun segera menghitung, lalu berka-ta.

"Betul, di sini ada 35 batang, ditambah satu menjadi 36 batang"

Bertaut alis Giok-lan, katanya.

"Agaknya mereka memang sudah berhasil memproduksi Som-lo-ling, malah seluk beluk markas kitapun telah sedemikian apalnya, soal ini tidak boleh dipandang remeh."

"Bukan mustahil ada mata2 musuh yang berada diantara kita,"

UjarBi-kuialiasUn Hoan-kun.

Giok-lan manggut2, teringat laporan Bi-kui bahwa dua orang pernah berbicara di dalam kamar ini, maka dia bertanya "Kiu-moay, dapatlah kau menjelaskan suara pembicaraan di kamar ini pria atau wanita?"

Seketika panas muka Un Hoan-kun, untung dia mengenakan kedok sehingga mimik mukanya tidak dilihat orang, ia pura2 berpikir lalu berkata.

"Kalau tidak salah suara lelaki dan perempuan .....

"merandeksebentarlalu menambahkan.

"Waktu itu kukira Ling-kongcu masih dalam keadaan setengah mabukdan berbicaradengan Sin-ih."

"Waktu aku bangun dan semadi diatas ranjang untuk mendesak keluar arak dari badanku, Sin-ih langsung kembali ke kamarnya, tak pernah masuk kemari lagi,"

Demikian Kun-gi menerangkan sambil berjalan mendekati tempat tidur serta menyingkap kelambu.

Dilihatnya seprei acak2an, bantal guling tidak terletak pada tempat semestinya lagi, malah tepat di tengah ranjang kedapatan noktah darah.

Kun-gi terbeliak kaget, teriaknya.

"Darah Darah siapa ini? Memangnyadiaterlukadansembunyiditempattidurku? "

Karena kelambu tersingkap oleh tangannya, maka keadaan ranjang itupun terlihat oleh Giok-lan dan Un Hoan-kun.

Ada kalanya nona2 atau para gadis jauh lebih tajam perasaan dan firasat-nya daripada kaum pria.

Umpama soal noktah darah ini, bagi Kun-gi yang masih perjaka dan hijau plonco ini, dia mengira ada seseorang telah terluka, tapi kedua nona di belakangnya ini cukup cerdik, melihat keadaan ranjang itu seketika terbayang oleh mereka ....

....

Jengah Giok-lan dan Un Hoan-kun, sekujur badan terasa panas dan gemetar, untuk sesaat mereka sama melenggong tak tahu apa yang harus di-ucapkan.

Tapi Giok-lan memang lebih tabah, katanya sambil membalik badan.

"Kiu-moay, pergilah kau panggil Sin-ih, suruhlah dia mengganti seprei dan bantal guling yang baru,"

Hoankun mengiakan terusberanjakkeluar.

Waktu membalik tubuh tadi, mendadak didapatinya sesuatu benda di bawah bantal, tergerak hati Giok-lan, sebagai Congkoan Pek-hoa-pang, maka dia tidak perlu main malu lagi, tanyanya.

"Lingkongcu hanya bersemadi di ranjang, seperai dan bantal guling tidak mungkin menjadiacak2an begini? "

"Ya, malahan Cayhe belum pernah menyentuh bantal guling dan kemul itu,"

Sahut Kun-gi. Sengaja Giok-lan ajak mengobrol.

"Aneh kalau begitu, memangnya kenapa orang itu sembunyi di atas ranjang Ling-kongcu? "

Sambil bicara dia melangkah maju badan sedikit miring sehingga pandangan Kun-gi teraling, diam2 dia ulur tangan ke bawah bantal, gerakannya pura2 memeriksa, kalau2 sebatang tusuk kundai emas sudah dia simpan ke dalam lengan bajunya.

Kebetulan Un Hoan-kun, sudah kembali mengajak Sin-ih, Giok-lan lantas tanya kepadanya.

"Tadi adakah kau mendengar suara apa2 di kamar ini? "

Terbeliak mata Sin-ih mengawasi Kun-gi sahutnya bingung.

"Tiada suara apa2, hamba tidak mendengar apa2"

Giok-ian mendengus, katanya.

"Kalian tidur mendengkur seperti babi, Ling-kongcu keluar mengejar bangsat, ada orang masuk kamar ini, tapi tiada orang tahu."

Gemetar tubuh Sin ih, ratapnya menunduk.

"Ya, hamba memang pantas mampus ..."

"Sudah, jangan banyak bicara, lekas bersihkan ranjang Lingkongcu,"

Perintah Giok-lan, lalu dengan menggunakan ilma mengirim gelombang suara dia menambahkan.

"Ingat, kejadian malamini dilarangberitahu kepadasiapapun tahu?"

Sin-ih mengangguk. sahutnya.

"Hamba tahu"-Bergegas dia bekerja seperti yang di pesan-Cepat sekali dia sudah mengganti bantalgulingdan kemulsertasepreibaru ranjang Kun-gi.

"Waktu sudah larut, besok pagi2 Ling-kongcu harus menghadap Thay-siang, lebih baik istirahat saja,"

Demikian kata Giok-lan setelah Sin-ih mengundurkan diri. Lalu dia berpaling.

"Kiu-moay, hayolah kembali."

"Cayhe amat menyesal, penjahat tidak berhasil kutangkap. Congkoan malah susah payah setengah malaman,"

Kun-gi berucap.

"Jangan sungkan Ling-kongcu, memang ini tugasku, tadi sudah kusuruh Hong-sian pergi ke danau memeriksa sebab kematian kedua Centing serta para ronda lain yang bertugas sepanjang pesisir danau, adakah perahu yang mencurigakan di sana? Tentunya kini sudah kembali, biar aku mohon diri,"

Bersama Hoan-kun mereka lantas beran-jakkeluar.

Bertimbun tanda tanya yang menekan perasaan Kun-gi.

Menurut rekaan Giok-lan, orang yang membokong dirinya menggunakan Som-lo-ling, maka dia diduga adalah mata2 Hek-liong hwe yang diselundupkan kemari.

Hal ini kiranya tidak meleset, di depan pertemuan besar siang tadi Thay-siang telah mengumumkan bahwa dirinya berhasil membikin obat penawar getah beracun, akhirnya diangkat menjadi Cong-hou-hoat dari Pek-hoa-pang, soal ini jelas merupakan tekanan dan ancaman serius bagi Hek-liong-hwe.

Kalau dirinya bisa terbunuh atau dilenyapkankan merupakan pahala yang amat besar sekali artinya, Kalau tidak, kapan dirinya pernah bermusuhan dengan orang, untuk apa pula orang malam2 menyelundup kemari dan menyerangnya?

Atau mungkin ada tujuan lain lagi?

Un Hoan-kun bilang mendengar kasak-kusuk dua orang perempuan dan laki2, satu di antaranya terluka, mungkin lantaran melihat nona Un, ter-paksa sembunyi ke atas ranjangku sehingga meninggalkan noktah darah di sini.

Lalu siapa kedua orang ini?

Di mana pula mereka bergebrak dengan musuh sehingga terluka?

Kenapasembunyidikamarku?

Demikian Kun-gi merasabingung.

Tapi yang membuatnya paling bingung adalah nona Un sendiri, memangnya dia merasa sesal atau direndahkan?

Apa pula yang disedihkan sampai malam2 lari kepinggir danau dan bertangisan seorang diri?

Malah dari apa yang dia gumamkan seperti menaruh salah paham dan penasaran terhadap dirinya, memikirkan persoalan ini, tanpa merasaKun-gitertawagelisendiri.

Maklumlah kaum remaja, terutama anak gadis yang sedang kasmaran biasanya memang suka cemburu.

Demi dirinya, tanpa jeri Un Hoan-kun menempuh bahaya ikut menyelundup ke Pek-hoapang, dengan menyaru Bi-kui, tentu siang tadi dia meltihat sikap Soyok.

sang Hu-pangcu yang begitu mesra dan kasih sayang terhadapnya sehingga hatinya-merasa iri, padahal semua ini merupakan salah paham belaka .

Tengah dia berpikir terdengar suara kokok ayam, ternyata hari sudah menjelang pagi..

Maka dia ti-dak banyak pikir lagi, tanpa copotpakaianterusduduk kembalisemadidiatasranjang.

Tak lama kemudian haripun sudah terang tanah.

Di dengarnya suara Sin-ih berkumandang di depan pintu.

"Ling-kongcu, sudah bangun? "

Kun-gi mengiakan terus melangkah turun dan membuka pintu.

Sin-ih sudah menunggu depan pintu sambil membawa sebaskom air untuk cuci muka.

Setelah Kun-gi selesai membersihkan badan, sementara Sin-ih sudah menyiapkan sarapan pagi dan persilakan dia makan.

Baru saja Kun-gi kembali ke kamarnya habis makan, Congkoan Giok-lan sudah datang, katanya tertawa.

"Selamat pagi Lingkongcu, perahu sudah siap. marilah kita berangkat."

"Cayhe sudah menunggu sejak tadi, apakah Congkoan sudah makan? "

"Selamanya aku tidak pernah makan pagi,"

Ucap Giok-lan.

"hayolah lekas berangkat, pantang terlambat kalau menghadap Thay-siang,"

Lalu dia mendahului jalan keluar. Mengiringi orang keluar, Kun-gi bertanya.

"Bagaimana hasil penyelidikan nona Hong-sian semalam? "

"Hasilnya nihil,"

Tutur Giok-lan sambil menggeleng, tiba2 dia membalik tubuh, katanya lirih.

"Kejadian semalam kecuali aku dan Kiu-moay, Hong-sian sendiri juga tidak tahu, Ling-kongcu harus ingat, kepada siapapun jangan bicarakan soal ini."

Kun-gi melengak. tanyanya.

"Kenapa? "

Giok-lan menghela napas "Liku2 persoalan ini cukup rumit, sulit juga aku menyelami soal ini dalam waktu singkat dengan hanya tanda2 yang tidak seberapa ini, tapi Ling-kongcu harap percaya saja."

Walau merasa heran, tapi melihat sikap dan nada suaranya begini serius, Kun-gi manggut2, sahutnya.

"Pesan nona pasti kuperhatikan."

Giok-lan tersenyum lebar, suaranya lebih lirih..

"Syukurlah, apapun yang terjadi, aku takkan membikin susah padamu."

Tak lama kemudian mereka sudah berada di atas tanggul sungai yang letaknya di belakang ta-man, sepanjang tanggul ditanami pohon Yang-liu.

tertampak sebuah perahu beratap alang2 sudah menanti di bawah sana.

Tempo hari Kun-gi pernah naik perahu yang sama dengan So-yok, punya pengalaman satu kali, maka kali ini dia tidak main sungkan lagi, dengan ringan dia lantas melompat ke atas perahu dan menyusup ke dalam serta duduk bersimpuh.

Giok-lan juga melompat naik dan duduk bersimpuh pula, tanpa dipesan perempuan pendayung diburitan segera menjalankan perahunya .

Terdengar Giok-lan berbisik dengan ilmu gelombang suara.

"Kedua orang yang menguasai perahu adalah pengikut Thay-siang sejak muda, harap Ling-kongcu hati2 kalau bicara."

Secara tidak langsung dia memperingatkan Kun-gi bahwa kedua orang ini adalah kepercayaan So-yok.

Sudah tentu Kun-gi sukar menangkap maksud kisikannya ini, dia hanya melongo bingung saja.

Melihat sikap orang, maka Giok-lan menambahkan.

"Jangan Ling-kongcu takut atau curiga, aku hanya memberi peringatan padamu, jangan sembarang bicara di atas perahu ini. Thay-siang tidak suka kalau orang membicarakan pribadinya."

Kun-gi mengangguk sambil menjawab dengan cara yang sama.

"Terima kasih atas petunjukmu.

"Masih ada satu hal,"

Demikian Giok-lan menambahkan lagi.

"dan ini yang terpenting, Pangcu minta aku menyampaikan pada Lingkongcu."

"Pangcu ada pesan apa? "

Ber-kedip2 bola mata Giok-lan, senyumnya tampak penuh mengandang arti, katanya.

"Kemarin kau baru diangkat jadi Conghouhoat, hari ini Thay-siang sudah mengundangmu ke Pek-hoa-kok pasti beliau punya maksud2 tertentu, maka Pangcu minta supaya aku menyampaikan pesannya, apapun yang dikatakan Thay-siang, kau harus segera mengiakan."

Kembali Kun-gi dibuat melenggong, tanyanya.

"Memangnya Thay-sianghendaksuruhakuberbuatapa? ". Melihat sikap dan air muka serta sorot matanya, diam2 Giok-lan membatin.

"Memang tidak meleset dugaan Toaci, agaknya pikirannyatidakterpengaruholeh Bi-sin-hiang."

Tapi dia tetap bicara dengan ilmu suara itu.

"Tak peduli kerja apapun yang diserahkan padamu, tanpa ragu2 kau harus segera menerima tugas itu.?"

"Ini. .....

"berkerutkening Kun-gi. Giok-lan tersenyum, katanya.

"Toaci bilang, Ling-kongcu mampu menawarkan getah beracun yang tak bisa ditawarkan oleh manusia manapun di dunia ini, sudah tentu kaupun bisa memunahkan segala obat bius yang mempengaruhi pikiran orang, oleh karena itu, setiba di perahu ini perlu aku memberi peringatan padamu. Selamanya tiada seorangpun yang berani membangkang dan menolak perintah Thay-siang, sudah tentu semakin cepat kau terima tugasnya itu akan lebih baik, celakalah kalau sampai membuatnya kurang senang atau curiga."

Apa yang dikatakan ini cukup gamblang, walau tak secara langsung, tapi artinya sudah diketahui bahwa kau ternyata tidak terpengaruh oleh obat Bi-sin-hiang itu.

Kejadian ini memang ada latar belakangnya.

Tatkala So-yok diperintahkan menyerahkan Bi-sim-hiang ini kepada Bok-tan sang Pangcu, dari Bok-tan diserahkan pula kepada Giok-lan supaya menunaikan perintah Thay-siang ini, kebetulan pembicaraan mereka dicuri dengar oleh Bi-kui alias Un Hoan-kun, jing-sin-tan buatan keluarga Un adalah obat mujarap yang khusus diperuntukan menawarkan segala obat bius di kolong langit ini, sudah tentu dengan membekal obat mujarab ini Ling Kun-gi tidak pernah terpengaruh pikirannya, tapi soal ini hanya dlketahui oleh Ling Kungi dari Un Hoan-kun saja.

Bahwa dia pura2 terbius-oleh obat itu dan mau terima jabatan dalam Pek-hoa-pang lantaran ingin cari tahu dari mana Pek-hoa-pang memperoleh tiga jurus ilmu pedang warisan keluarganya, malah Hwi-liong-sam-kiam merupakan ilmu pelindung Peks hoa-panglagi?Un Hoan-kunpulayang mengajukanakaldan usul ini.

Sekarang dari mulut Giok-lan secara tidak langsung didengarnya sindiran dirinya tidak terpengaruh oleh obat bius, bahwa hal ini sudah mereka ketahui, sungguh tidak kepalang kagetnya...

maklum seseorang yang merasa bersalah-dalam hati akan merupakan tekanan batin, sekali rahasia ini terbongkar, pastilah selebar mukanya merah padam.

Demikianlah keadaan Ling Kun gi sekarang.

Tapidiatetapberkatadengangelombangsuara."Pangcu..."

TersenyumGiok-lan mengawasiwajah orang "Jangan kuatir, Toaci bermaksud baik, cukup asal kau selalu mengingat kebaikannya."

Lalu dia menyodorkan secangkir teh dan menenggaknya dulu secangkiryanglain, katanya."Cong-sucia,enakbukanrasatehini?"

Kun-gi segera tahu maksud orang, sahutnya tertawa.

"Ya, enak dan segar, rasanya seperti bunga cempaka."

Dua patah terakhir ini mereka tidak menggunakan ilmu gelombang suara pula.

Laju perahu amat pesat, hanya sekejap mereka sudah berada diterowongan air yang masuk keperut gunung, setelah mengikuti arus yang deras dan ber-belok2, akhirnya laju perahu menjadi lambat dan tak lama kemudian berhenti.

Kerai tersingkap.

Giok-lan lantas berdiri, katanya.

"Sudah-sampai. Cong-sucia pernah datang sekali, tapi jalanan mungkin masih belum apal, biarlah aku naik lebih dulu"

Sedikit tutul kaki, badannya segera mengapung tinggi ke atas dan ditelan kegelapan di sebelah sana, Lalu terdengar suara bergerit.

"Silakan Cong-sucia naik kemari, cuma harus hati2, lumut disini amatlicin."

"Cayhe tahu,"

Kata Kun-gi, belum lenyap suaranya badannya sudah hinggap di sisi lok-lan.

Tempat ini berada diperut gunung, gelapnyabukan main, jarisendiripuntidakkelihatan.

Betapapun Lwekang Giok-lan agak rendah, kalau malam biasa di tempat terbuka dia masih bisa melihat sesuatu dalam jarak dekat, tapi di dalam terowongan bawah tanah yang gelap begini, sudah tentu dia tidak bisa melihat apa2.

Tapi kupingnya tajam, dari desir angin dia tahu bahwa Ling Kun-gi sudah berada di sampingnya, maka dengan suara lirih dia berkata.

"Inilah jalan rahasia satu2nya yang bisa menembus ke Pek-hoa-kok dilarang keras menyalakan lampu, jalanan disini-pun amat jelek. tempo hari kau pernah kemari, tentunya sudah tahu, Thay-siang suruh aku membawamu kemari, biarlah kau jalan mengikuti langkahku dengan bergandengan tanganku."

Jari2nya yang halus tahu2 sudah pegang tangan Ling Kun-gi terus ditariknya ke depan-Kun-gi biar-kan saja tangannya dipegang dan menurut saja kemana dirinya ditarik.

Terasa jari jemari yang memegang tangannya begitu halus dan lemas seperti tidak bertulang, seketika sekujur badannya gemetar seperti kena aliran listrik.

Terdengar Giok-lan berkata.

"Sebagai anak perempuan yang telah dewasa, selamanya belum pernah kubersentuh tangan dengan laki2 manapun, maka hatiku sedikit tegang, harap Ling-kongcu tidak mentertawakan aku."

Berdebar juga hati Kun-gi, tapi tak mungkin dia melepaskan tangannya, terpaksa dia bilang.

"Di sinilah letak kesucian Congkoan"

"Justeru karena aku yang ditugaskan membawa Kongcu kemari, umpama orang lain, aku tak sudi saling bergandengan tangan seperti ini."

Kali ini Kun-gibungkamsaja, takenak banyakbicaralagi. Didengarnya Giok-lan bicara lebih lanjut, suaranya syahdu.

"Soalnya Ling-kongcu adalah perjaka yang patut dibuat teladan, seorang Kuncu sejati, kaulah pemuda yang menjadi pujaan hatiku ......."

Bertaut alis Kun-gi, katanya.

"Ah, Congkoan terlalu memuji diriku."

Jari2 Giok-lan yang menariknya itu tiba2 memegang lebih kencang, katanya sambil jalan ke depan.

"Untuk selanjutnya. tanganku yang satu ini tidak akan bersentuhan lagi dengan laki2 manapun jua."

Mendadak dia berpaling dan bertanya.

"Kau percaya apa yang kukatakan? "

Suaranya kedengaran lembut, tapi bola matanya tampak berkilauan ditengah kegelapan, memancarkan rasa tekad penuh keyakinan. Gugup dan gelisah Kun-gi.

"Nona. ...... ."

"Tak usah kau gelisah, apa yang pernah ku-katakan selamanya tak pernah kujilat kembali, tak perlu kutakut ditertawakan Ling kongcu, dalam kalbuku memang hanya ...... hanya ada seorang, maka tidak akan kuizinkan laki2 lain untuk menyentuh badanku, siapa berani menyentuh tanganku segera kutabas buntung tanganku ini ."

Keruan Kun-gi gugup setengah mati, katanya.

"Nona, jangan sekali2 kau berbuat menurut dorongan hatimu "

"Jangan kau membujukku, yang jelas akupun tidak akan sembarangan membiarkan orang menyentuhku,"

Ujar Giok-lan tertawa, jari2nya memegang lebih kencang lagi.

"Nah, hampir sampai, jangan bersuara lagi."

Terpaksa Ling Kun-gi terus menggremet maju menyusuri dinding gunung dengan badan miring .-Tak lama kemudian Giok-lan lepas tangannya serta maju ke dinding yang mengadang di depan serta mengetuk sekali.

Terdangarlah suara Ciok-lolo bertanya dari dalam.

"Apakah Gioklan? "

Lekas Giok-lan berseru.

"Ciok-lolo, aku mendapat perintah membawa Cong-sucia kemari"

"Nenek sudah tahu,"

Ujar Ciok-lolo, pelan2 pintu papan batu di depan mereka menggeser mundur dan terbuka, bayangan Ciok lolo yang tinggi besar itu segera muncul di balik pintu.

Sorot matanya dingin tajam, dari kepala sampai kaki Ling Kun-gi diawasinya dengan teliti, mulutnya terkekeh sekali, lalu berkata.

"Bocah inikah, kalau Thay-siang mau cari mantu kiranya cukup setimpal, kalau diangkat jadi Cong-sucia, kukira Thay-siang rada berat sebelah, terus terang aku nenek tua ini mengukurnya terlalu rendah."

Giok-lan unjuk tawa manis, katanya.

"Kemarin Lolo tidak hadir, sudah tentu tidak menyaksikan betapa perkasa Cong-sucia mengalahkan para lawannya dalam lima babak berturut2, ini kenyataan, apalagi dalam pertandingan besar dan terbuka itu, semua peserta boleh ikut bertanding secara adil, mengapa Thay-siang kau katakan berat sebelah? "

Ciok-lolo ter-kekeh2, katanya.

"Bocah sekolahan selemah ini, satu jari nenek saja sudah cukup membuatnya berjongkok setengah hari dan tidak mampu berdiri, kalau bicara soal kepandaian sejati, dia bisa menang lima babak secara beruntun, betapapun nenek tidak mau percaya."

Bagaimana juga Kun-gi masih muda dan berdarah panas, melihat sikap orang yang terlalu memandang rendah dirinya, ia naik pitam, pikirnya.

"Jangan kau kira sebagai anak buah Thay-siang, biar kuajar adat padamu."

Maka dengan tersenyum segera ia menimbrung.

"Kalau Ciok-lolo tidak percaya, kenapa tidak mencobanya, apakah betul Cayhe dapat dibikin jongkokseperti katamu."

Sudah tentu Giok-lan jadi rikuh. Tapi gelak tawa Ciok-lolo yang tajam melengking itu sudah berkumandang, katanya.

"Anak bagus, sombong juga kau, nah, mari kita coba."

Dimana tangan kanannya terangkat, betul2 dia cuma acungkan sebuah jari telunjuk. pelan2 terus menekan kepundak Ling Kun-gi. Giok-lan menjadi kuatir, serunya.

"Ciok-lolo, taruhlah belas kasihan."

Jari telunjuk Clok-lolo sudah menekan pundak Kun-gi, mulutnya menggeram sekali.

"Giok-lan, apa yang kau risaukan? Nenek tentu punyaperhitungan."Diam2diakerahkan limabagiantenaganya. Tak nyana pundak Kun-gi seperti batu laksana besi kerasnya, lima bagian tenaganya ternyata tak mampu membuat tubuhnya bergeming. Baru sekarang si nenek kaget, pikirnya.

"Bocah ini kelihatan lemah lembut, seperti anak sekolahan yang tak mampu menyembelih ayam, ternyata memiliki bekal kepandian selihay ini, agaknya nenek tua terlalu memandang enteng padanya."

Serta merta kekuatan jarinya bertambah, akhirnya dia kerahkan setaker tenaga menekan ke bawah.

Tak terduga meski dia sudah kerahkan sepuluh bagian tenaganya, daya perlawanan diatas pundak Ling-Kun-gi juga cerlipat ganda, tetapsekerasbaja, sedikitpuntidakbergeming.

Keduanya jadi sama2 adu otot dan mengerahkan segenap daya kekuatanya, rambut uban dipelipis Ciok-lolo tampak bergetar berdiri, wajahnya yang sudah keriput juga tampak merah padam.

Tapi Ling Kun-gi tetap adem ayem, sikapnya tak acuh seperti tak pernah terjadi apa2 atas badannya2, sedikitpun tidak kelihatan bahwa diapun mengerahkan tenaga untuk melawan tekanan si nenek.

Semula Giok-lan merasa kuatir bagi Kun-gi.

Maklumlah Ciok-lolo dulu adalah pelayan pribadi Thay-siang, kepandaian silat dan Lwekangnya merupakan tokoh kelas satu yang jarang ada tandingan dalam Peks hoa-pang, dikuatirkan Kun-gi bu-kan tandingan Ciok-lolo.

Kini melihat keadaan mereka, maka tahulah dia bahwa Lwekang Ling Kun-gi ternyata jauh lebih unggul dibanding Ciok-lolo, dari kuatir diam2 ia merasa kaget dan senang malah.

Tapi mulutnya sengaja pura2 bersuara gugup.

"Ciok-lolo .. .."

Muka Ciok-lolo semakin gelap.

keringat sudah membasahi jidatnya, sementara tangannya yang menekan pundak Kun-gi tampak mulai gemetar, tapi dia tetap ngotot tidak mau menarik balik tangannya.

Maklumlah, dengan cara adu tenaga seperti ini, kedua pihak sudah sama2 mengerahkan tenaga dalam, bila salah satu pihak sedikit mengalah saja, maka kekuatan lawan yang dahsyat akan segera menerjang dan menggetar putus urat nadi dalam tubuh.

oleh karena menyadari bahaya ini, meski sudah merasa kewalahan, Ciok-lolo toh terpaksa harus bertahan..

Sudah tentu Kun-gi maklum, apa maksud teriakan Giok-lan tadi, semula dia hendak bikin kapok nenek ini, tapi sekarang dia urungkan niatnya.

Katanya dengan tersenyum tawar.

"Ciok-lo-lo, boleh berhenti tidak? Kalau hanya dengan sebatang jari tanganmu mungkintakkanmampu menekanakusampaiberjongkok."

Terasa oleh Ciok-lolo, seiring dengan pembicaraan Kun-gi pundak anak muda yang sekeras baja itu tiba2 semakin lunak.

kiranya dia sudah mulai mengendurkan tenaganya.

Sudah lanjut usia Ciok-lolo, tapi masih berdarah panas dan masih suka menang, merasakan lawan menarik tenaganya, hatinya senang, segera dia kerahkan tenaga lebih besar, jarinya menekan lagi ke bawah.

Di luar tahunya, pundak Kun-gi mendadak berubah jadi

Jilid 18 Halaman 29/30 Hilang Melihat Ciok-lolo menaruh Curiga, lekas Giok-lan menyela bicara.

"Memangnya Ciok-lolo tidak tahu bahwa cong-sucia adalah murid kesayangan Hoan-jiu-ji-lay Put-thong Taysu yang terkenal di kalangan Kangouw"

Memangnya selama 30-an tahun ini tiada kaum persilatan yang tidak mengenal kebesaran nama Hoan-jiu-ji-lay, tokoh kosen yang sudah menjadi dongeng Bu-lim, umpama belum pernah lihat tentu juga pernah mendengar namanya.

Terpantul mimik aneh pada wajah Ciok-lolo, katanya dengan suara tinggi.

"Pantas kalau begitu, nenek tua dikalahkan oleh muridnya Hoan-jiu ji-lay, ya, cukup setimpal juga."-Lalu dia dia mengulap tangan.

"Nah, lekas kalian pergi."

"Terima kasih Ciok-lolo,"

Seru Giok-lan sambil memberi hormat. Setelah masuk kepintu besar, dari dinding dia mengambil sebuah lampion serta menyalakan lilin di dalamnya, katanya.

"cong-sucia, marilah lekas."-Mereka menaiki tangga batu yang menanjak ke atas, beberapa kejap kemudian Giok-lan bertanya sambll menoleh.

"Lingkongcu, kau masih begini muda, tapi bekal Kungfumu sungguh luar biasa."

Tawar tawa Kun-gi, katanya.

"Nona jangan terlalu memuji."

"Apa yang kukatakan benar2 keluar dari lubuk hatiku yang dalam. Kepandaian Ciok-lolo termasuk nomor satu dua di lingkungan kita, hari ini dia terjungkal ditanganmu, tapi dia tunduk lahir-batin."

Mendadak Kun-gi teringat sesuatu, hal ini masih melingkar2 dalam benaknya, Cuma dia merasa serba susah apakah hal ini patut dia bicarakan dengan Giok-lan?

Tengah dia menimang2, mendadak tergerak hatinya, dia ingat pembicaraannya dengan Giok-lan diperahu tadi, kenapa sekarang tidak mengorek keterangannya?

Maka dia lantas bertanya.

"Mengenai pembicaraan kita di atas perahu tadi, ada sebuah pertanyaan ingin kuajukan."

"Ada partanyaan apa? "jawab Giok-lan.

"Nona pernah bilang bahwa Pangcu mengata-takan cayhe dapat menawarkan getah beracun yang tak bisa dipunahkan oleh siapapun,, maka tiada obat bius apapun di kolong langit ini yang bisa membius pikiran cayhe, oleh karena itu kau merasa perlu untuk memperingatkan kepada cayhe, apapun yang dikatakan Thay-siang harus kupatuhi, betul tidak? "

"Betul, Toaci memang suruh aku menyampaikan demikian."

"Kenapa harus demikian? "

"Apa yang dikatakan Thay-siang selamanya tiada orang berani membangkang, tiada yang pernah ragu2."

"Itu cayhe tahu, tapi Pangcu suruh nona memperingatkan hal ini padaku, tentu ada sebabnya."

"Asal kau bekerja dan melaksanakan tugas seperti pesan kami, tanggung kau tidak mengalami kesulitan."

"Agaknya nona tidak suka menerangkan."

"Kalau kau tahu, tak perlu aku menjelaskan, kalau belum tah lebih baik tidak tahu saja."

"Kalau cayhe terkena racun yang tak terobati dan terkena obat bius yang pengaruhi pikiran cayhe? "

Giok-lan melengak, tanpa pikir ia berkata.

"Kalau terjadi demikian, akudan Toaci pastitakkanberpeluktangan."

Terharu Kun-gi.

"Kalau demikian cayhe ha-rus berterima kasih atas kebaikan kalian."

Giok-lan menghentikan langkah, tiba2 dia membalik badan, katanya dengan nada penuh perhatian.

"Apakah kau merasakan gejalatidakenakpadatubuhmu? "

Kun-gi tersenyum, ujarnya.

"Beruntunglah aku ini, tiada sesuatu obat bius apapun yang tak dapat kutawarkan."

"o, jadi kau sedang menggodaku.

"rengek Giok-lan.

"sla2 aku berkuatir bagimu"

"Mana berani cayhe menggoda nona, soal-nya ....."

"Ada, omongan apa silakan Ling-kongcu kata-kan saja, omongan seorangKuncu pastitidak akan kubocorkan, takusahkuatir."

"Legalah cayhe mendengar ucapan nona ini,"

Kata Kun-gi, mendadak dia gunakan ilmu gelombang suara "cayhe masih ingat waktu pertama kali bertemu dengan Pangcu, atas pertanyaan Pangcu cayhe pernah menyebut ibuku she Thi."

Semula Giok-lan kira ada persoalan penting apa yang hendak dibicarakan oleh Kun-gi sampai dia merasa perlu menggunakan ilmu bisikan, tak tahunya hanya membicarakan she ibunya.

Tapi terpaksa dia menjawab dengan ilmu suara pula.

"Memangnya ada apa? "

Tetap menggunakan ilmu suara Kun-gi berkata pula.

"Waktu itu Cayhe hanya bicara sekenanya, pada hal waktu Cayhe keluar rumah, ibunda pernah berpesan wanti2, Cayhe dilarang menyebut she beliau dihadapan orang luar."

"Soal ini hanya diketahui aku dan Toaci, kami pasti tidak akan bicarakan kepada siapapun."

"Kemarin waktu Cayhe menemui Thay-siang, besar sekali perhatiannya terhadap riwayat hidup-ku ...."

"Lalu kau juga katakan hal itu kepada Thay-siang? "

"Waktu itu aku lupa akan pembicaraanku dengan Pangcu, maka kukatakan ibuku she ong."

"Jadi kau kuatir Thay-siang tanya soal ini padaku dan Toaci, padahaljawabanmusatusama lain tidak cocok? "

"Begitulah maksudku, maka ....."

"Kau ingin aku bantu kau berbohong? "

"Selama hidup belum pernah Cayhe berbohong, soalnya pesan ibu, harap nona ....."

"Tak usah sungkan, nanti sekembali akan ku-sampaikan Toaci, kalau Thay-siangtanya, anggap-lahkami sendiri jugatidaktahu."

"Bukan sengaja Cayhe hendak membohongi Thay-siang, kalau nona dan Pangcu dapat membantu, sungguh betapa besar terima kasih Cayhe."

"Baiklah, hayo lekas jalan, jangan bikin Thay-siang menunggu terlalu lama,"

Langkah mereka segera dipercepat.

Setiba di ujung tangga batu, Giok-lan mendorong sebuah pintu batu serta meniup padam api lampion dan digantung diatas tembok.

lalu mereka melangkah keluar.

Tahu2 sang surya ternyata sudah tinggi di tengah angkasa, tapi kabut masih tebal di Pek-hoa-kok.

pancaran sinar surya nan kuning emas menambah semarak panorama lembah yang penuh di-taburi kembang mekar semerbak.

Pek-hoa-teng (gardu seratus bunga) di tengah lembah sana seperti bercokol di antara taburan bunga yang menyongsong pancaran sinar mentari.

Duduk menggelendot di kursi malas di dalam gardu yang dibangun serba antik dan megah itu, gadis rupawan yang mengenakan pakaian warna merah menyala, wajahnya ber-seri2 seperti mekar-kuntum2 bunga di Sekelilingnya, biji matanya mengerling lembut, penuh gairah hidup nan bahagia, pelan2 dia berdiri, bola matanya lekat meratap wajah Ling Kun-gi, katanya dengan tertawa.

"Kenapa Ling-heng Sekarang baru tiba? Sudah sekian lama orang menunggumu di sini."

Dia ubah panggilannya menjadi Ling-heng (kakak Ling), terasa betapa mesra dan dekat hatinya?

Gadis rupawan ini bukan lain adalah Hu-pangcu So-yok.

Hari ini bukan saja dia bersolek dan berdandan, malah sinar matanya tampak bercahaya, wajahnya berseri2 penuh gairah.

Sudah tentu kali ini dia tidak memakai kedok.

Tersipu2 Kun-gi menjura, katanya.

"Maaf Hu-pangcu menunggu terlalu lama."

Giok-lan tertegun, selamanya belum pernah dia melihat So-yok berdandan begini cantik, maklumlah biasanya dia begitu angkuh, dingin dan ketus.

So-yok mengiringi Kun-gi jalan ke depan, agak-nya Giok-lan sengaja ketinggalan di belakang.

Diam2 ia perhatikan So-yok hari ini seolah2 telah ganti rupa, sembari jalan mukanya berseri tawa, tangannya bergerak mengikuti celoteh mulutnya, sikapnya begitu mesra.

Sikap Kun-gi sebaliknya kelihatan risi dan kikuk, kadang2 dia sengaja menjauhkan diri, mungkin karena So-yok bersikap merangsang sehingga perasaannya tidak tenteram, malah saban2 dia menoleh ajak Giok-lan bicara juga.

Untunglah langkah mereka lebar, lekas sekali mereka sudah tiba di depan gedung bertingkat yangmegahdan menterengsepertidalamlukisanitu.

So-yok ajak mereka masuk ke ruang kecil di sebelah samping, katanya tersenyum manis.

"Silakan duduk Ling-heng."

Sekali tangan bertepuk seorang pelayan berpakaian kembang lantas keluar, katanya sambil membungkuk.

"Ada pesan apa Ji-kohnio (nona kedua)? "

So-yok menarik muka, katanya.

"Memangnya kalian tidak tahu aturan, Cong-sucia dan Cong-koan telah tiba, kenapa tidak lekas tuang air teh, memangnya perlu kuperintahkan."

Gemetar tubuh pelayan itu, sambil munduk2 dia mengiakan terus berlari keluar. Cepat dia sudah kembali membawa tiga cangkir teh yang masih mengepul. So yok berpesan.

"Pergi kau tanya kepada Teh-hoa, bila Thaysiang selesai dengan acara paginya, selekasnya memberitahu kemari."

Pelayan itu mengiakan terus mengundurkan diri. Kira2 setanakan nasi kemudian pelayan tadi kembali dengan langkah tergesa, serunya membungkuk.

"Thay-siang persilakan Conghouhoat dan Congkoan menghadap."

So-yok manggut2, katanya sambil berdiri.

"Ling-heng, Sam-moay, marilah kita masuk."

Mereka terus menyusur ke dalam, setiba di depan sebuah kamar, So-yok langsung melangkah masuk serunya.

"Suhu, Ling-heng dan Sam-moay telah datang."

Maka terdengar suara Thay-siang dari dalam.

"Suruh mereka masuk."

So-yok membalik berkata kepada Kun-gi dan Giok-lan.

"Thay-siang suruh kalian masuk."

Sikap Kun-gi amatpatuh dan hormat, begitu melangkah masuk segera dia menjura, serunya.

"Hamba Ling Kun-gi memberi sembah hormat ke-pada Thay-siang."

Mulut mengatakan sembah hormat, hakikatnya dia tidak berlutut sama sekali. Sebaliknya Giok-lan lantas tekuk lutut menyembah, serunya.

"Tecu mendoakan Suhu sehat walafiat."

Duduk di atas kursi besar, sepasang mata Thay-siang setajam pisau menatap Ling Kun-gi, sesaat kemudian baru manggut2, katanya kepada Giok-lan.

"Bangunlah."

Giok-lan mengiakan dan berdiri. Thay-siang bertanya.

"Sudah kau pilih dua belas dara kembang yang kuminta itu? "

Giok-lan menjawab sudah.

"Baik sekali,"

Ucap Thay-siang, kembali sorot matanya berputar ke arah Kun-gi, suaranya kalem.

"Ling Kun-gi, tahukah kau untuk apa Losin memanggilmu kemari? "

Hormat dan patuh suara Kun-gi.

"Hamba menunggu perintah Thay-siang."

Mendengar ucapannya ini, diam2 Thay-siang manggut2, katanya lebih lanjut.

"Kau terpilih menjadi Cong-hou-hoat-su-cia tahukah apa tugas dari Cong-hou-hoat-su-cia sebenarnya? "

"HarapThay-siang suka memberipetunjuk."seru Kun-gi.

"Cong-hou-hoat-su-cia memikul tugas mengawal Pangcu, membela kepentingan Pang kita dan memberantas setiap musuh."

Kun-gi mengiakan sambil membungkuk.

"Walau di bawah Cong-hou-hoat-su-cia masih ada Houhoat kanan kiri dan delapan Hou hoat serta 24 Su-cia yang berada di bawah perintahmu, tapi tugas dan tanggung jawabmu adalah yang terbesar."

"Ya,"

Kembali Kun-gi mengiakan-"Sebagai murid Put-thong Taysu, dengan bekal kepandaianmu sekarang, kalau ada musuh tangguh menyatroni kemari, sudah cukup kuat kau menghadapinya, cuma dalam waktu dekat ini kita akan meluruk ke Hek-liong-hwe, selama dua puluh tahun ini, tidak sedikit kaum persilatan dan pentolan penjahat yang di jaring pihak Hek-liong-hwe, sebagai Cong-hou-hoat Pang kita dengan tugas dan tanggung jawabmu itu, kuyakinkautidakakan membikinmalukitasemua."

Jilid 18 Halaman 41/42 Hilang bakalatautelah menjadicalonsuami Hu-pangcu?

Sudah tentu Kun-gi tidak tahu akan liku2 ini, apa yang dia harapkan hanya mencapai tujuannya sendiri, kenapa ilmu pedang warisan keluarganya menjadi ilmu sakti pelindung Pek-hoa-pang?

Dia yakin kedua jurus ilmu pedang yang akan diturunkan kepadanya oleh Thay-siang tentu dua jurus ilmu sakti pelindung Pang itu..

Umpama kata hanya sejurus saja dirinya memperoleh kesempatan belajar, maka dirinya pasti akan mendapat peluang untuk menanyakanasal-usuldari ilmu pedang ini.

Kejadian ini sungguh sukar dicari, juga merupakan harapan yang di-idam2kan setiap orang, keruan hatinya senang bukan main, lekas dia menjura, serunya.

"Dua jurus ilmu pedang yang diajarkan Thaysiang tentu adalah ilmu pedang sakti yang tiada taranya, hamba baru saja menjadi anggota, setitik pahala belum lagi kuperoleh, mana kuberani ...."

Lekas So-yok menyela bicara.

"Kau adalah Cong-hou-hoat-su-cia, besar tanggung-jawabmu, maka Thay-siang melanggar kebiasaan mengajar ilmu pedang padamu, lekaslah menyembah, dan mengaturkan terima kasih? "

Thay-siang mengangguk, katanya "Kalau orang lain mendengar Losin mau mengajarkan ilmu pedang padanya, entah betapa riang hatinya, tapi kau bisa tahu diri mengingat baru masuk jadi anggota dan belum sempat mendirikan pahala, inilah letak titik kebaikannya.

Ilmu silat memang teramat penting artinya bagi setiap insan persilatan, karakter dan tindak tanduk merupakan pupuk dasar yang utamapula,agaknyaakutidaksalah menilaidirimu"

Sampai di sini dia menoleh kepada So-yok dan Giok-lan, katanya.

"Dalam meluruk ke Hek-liong-hwe kali ini, menurut perhitungan gurumu kcsempatan menang hanya lima puluh persen saja, maka setiap orang harus mempunyai bekal yang cukup untuk mengembangkan kemampuan bartempur secara tersendiri, maka kalianpun boleh ikut masuk bersamaku, akan kutambah sejurus ilmu pedang pula kepada kalian, bagi Giok-lan nanti kuizinkan mengajarkan jurus kedua, kepada Bwe-hwa dan lain2, tapi dalam jangka tiga hari, semua orang sudah harus sempurna dalam latihan, kinikitatentukantigaharilagilaluakan mulaibergerak."

Bahwa Thay-siang juga akan mengajarkan lagi sejurus ilmu pedang, tentu saja So-yok kegirangan, serunya berjingkrak.

"Suhu, kau baiksekali."

Giok-lan menjura hormat.

"Tecu terima perintah."

Thay-siang sudah berdiri, sekilas dia pandang Kun-gi, katanya lembut."Kalianikutaku."segeraia melangkahmasuk. Lekas So-yok mendorong pelahan punggung Kun-gi, katanya lirih.

"Lekas jalan"

Memangnya Kun-gi ingin cepat2 masuk dan melihat keadaan yang sebenarnya, tanpa banyak bersuara segera ia melangkah masuk.

mereka berada di sebuah pekarangan di belakang aula pemujaan-dipinggir sana berjajarpot2 bunga cempaka, begitu mereka memasuki pekarangan belakang, bau harum bunga semerbak merangsang hidung membangkitkan semangat dan menyegarkan badan-Suasana hening sepi dan terasa khidmat, dengan langkah pelan dan mantap Thay-siang berjalan di depan, dia menyingkap kerai terus masuk ke dalam.

Kun-gi, So-yok dan Gioklan beruntun ikut masuk juga .

Kun-gi celingukan kian kemari, kamar ini berbentuk panjang.

tepat di atas dinding tengah terpancang sebuah lukisan seorang laki2 berwajah merah berjambang mengenakan jubah kelabu, kedua matanya tajam, kelihatan gagah perkasa.

Di atas gambar orang terdapat sebaris huruf yang berbunyi.

"Gambar ayah almarhum Thi Tiong hong."

Mencelos hati Kun-gi, tempat ini adalah kediaman Thay-siang, ayah almarhum di dalam gambar itu tentu ayah dari Thay-siang.

Memangnya Thay-siang juga she Thi?

Jadi dia satu she dengan ibunda.

Memang tidak sedikit orang she "Thi"

Di kolong langit ini, tapi bagaimana dengan Hwi-liong sam-kiam?

Hanya beberapa gelintir orang saja yang pernah mempelajari ilmu pedang sakti mi.

Mungkinkah dia dengan ibu ....

Terasa persoalan pelik ini pasti sangatadahubungannya, tapisukar menyelaminya.

Tiba dihadapan lukisan, Thay-siang menyulut tiga batang hio, pelan2 dia tekuk lutut dan bersembahyang, mulutnya komat-kamit, sesaat kemudian baru berdiri, katanya dengan membalik badan-"Ling Kun-gi, majulah kemari, sembah sujud kepada Cosu."

Kun-gi berdiri tidak bergerak. katanya hormat.

"Lapor Thaysiang, memang hamba sudah jadi anggota Pek-hoa-pang, tapi tak mungkin aku mengangkat guru lagi."

Sudah tentu So-yok dan Giok-lan terperanjat, mereka kenal betapa buruk watak Thay-siang, setiap orang tunduk dan patuh pada setiap patah katanya, belum pernah terjadi seorang berani menolak keinginannya.

Tapi di luar dugaan kali ini Thay-siang ternyata tidak marah, malah dia unjuk senyum manis, katanya.

"Losin tahu kau adalah murid Put-thong Taysu, mana berani kupaksa kau menjadi murid ku, apa lagi tiada laki2 yang pernah kuterima menjadi murid, tapi sekarang Losin harus ajarkan ilmu pedang padamu betapapun kau harus bersembah sujud dulu kepada Cosu (cakal bakal) ilmu pedang itu"-Apayangdiuraikanini memangjugamasukakal. MakaLing Kun-giberkatadenganhormat.

"Baiklah, hamba terima perintah."-Lalu dia berlutut di depan gambar dan menyembah empat kali. Di atas meja Thay-siang memungut dua gulung am kertas terus diangsurkan kepada Kun-gi katanya.

"Inilah jurus pertama dan kedua dari Tin-pang-kiam-hoat kita, Losin kali ini mengajar padamu dengan melanggar pantangan-. setelah kau berdiri akan kumulai mengajarkan teorinya."

Kun-gi terima gulungan kertas itu katanya.

"Terima kasih akan kebaikan Thay-siang."

Lalu dia berdiri. Kata Thay-siang.

"Walau Losin dengan kau tiada hubungan guru dan murid, tapi aku punyatangung jawab sebagai orang yang mengajarkan ilmu pedang ini padamu, maka selanjutnya jangan kau sia2kan pengharapan Losin-"

"Selama hidup hamba tidak akan melupakan kebaikan ini,"

Seru Kun-gi khidmat. Thay-siang menuding ke dinding sebelah timur, katanya.

"Gantunglah disana"

Kun-gi beranjak ke arah yang ditunjuk, di-lihatnya ada dua paku di atas dinding, maka dia buka gulungan kertas lalu menggantungnya di dinding.

Gambar pertama adalah lukisan jurus Sin-liong jut-hun (naga sakti muncul dari mega), tepat di atas gambar bertuliskan-"Hwi-liong-sam-kiam jurus pertama Sin-liong jut-hun."

Tersirap darah Kun-gi, timbul berbagai tanda tanya dalam benaknya, mendadak ia bertanya.

"Tin-pang-sam-kiam yang Thaysiang maksud apakah Hwi-liong-sam-kiam ini?"

"Betul, ketiga jurus ilmu pedang ini dulu dinamakan Hwi-liongsam-kiam. Sejak Losin mendirikan Pek-hoa-pang, namanya kuganti menjadi Tin-pang-sam-kiam."

"Apakah ketiga jurus ilmu pedang ini adalah ciptaan Cosu yang barusan kusembah ini? "

"Ya, bolehlah dikatakan demikian,"

Ucapnya. ini berarti mungkin juga bukan ciptaannya. Agaknya Thay-siang merasa terlalu banyak pertanyaan yang diajukan Kun gi, maka sikapnya tampak kurang sabar, katanya.

"Ling Kun-gi, mungkin mereka sudah pernah memberitahu padamu, Losin adalah orang yang tidaksenang ditanyaitetek-bengek."

Kun-gi mengiakan, katanya.

"Karena mendapat berkah pelajaran ilmu pedang ini, maka hamba ingin mengetahui sedikit asal-usul ilmu pedang ini saja."

Thay-siang mendengus, katanya.

"Ajaran pedang adalah cara bagaimana kau memainkan pedang, cukup asal kau belajar dan apal cara bagaimana menggerakkan pedang ditanganmu."

Kali ini Kun-gi tidakberanibicaralagi,lekasia mengiakansambilmunduk2.

Tanpa bicara lagi Thay-siang lantas mengajarkan teorinya kepada Ling Kun-gi, lalu dia tunjuk lingkaran2 di dalam gambar serta memberi penjelasan secara terperinci, dia terangkan pula gerak tubuh, langkah kaki serta gerak pedangnya serta variasi perubahannya.

Lalu dia suruh So-yok dengan gerak dan gaya yang jelas mendemonstrasikan jurus yang dia jelaskan beruntun dua kali..

Sebetulnya ketiga jurus ilmu pedang ini sudah terlalu apal kalau tidak mau dikatakan sudah di luar kepala Kun-gi, tapi sekarang dia pura2 menaruh perhatian dan mendengarkan dengan seksama.

Setelah So-yok berhenti baru Thay-siang ber-tanya.

"Kau sudah paham? "

"Hanya gaya pedang dan jurus2nya saja yang hamba ingat, sementara variasi perubahannya dalam waktu dekat masih sulit kuselami"

Demikian jawab Kun-gi. Thay-siang tersenyum senang, katanya.

"Perubahan kedua jurus ilmu pedang ini memang ruwet dan banyak cabangnya pula, bahwa kau bisa mengingat gerak-tipunya sudah terhitung bolehlah, inti sari jurus pedang ini harus lebih meresap kau pelajari, memangnya dalam jangka sesingkat ini kau dapat memahaminya? Terus kan latihanmu di sini, sebelum matahari tenggelam kau harus, apal dan sempurna mempelajari kedua jurus ilmu pedang ini, sekarang akan kuambil kembali lukisan ini."

Kun-gi munduk2 sambil mengiakanThay-siang mengambil pula gulungan kertas lain yang lebih kecil dari meja pemujaan, katanya membalik kearah So-yok dan Giok-lan.

"Kalian masuk ke sana ikut gurumu."-Lalu dia mendahului melangkah ke kamar sebelah kiri, Giok-lan dan So-yok mengikuti di belakang tanpa bersuara, tentunya mereka juga akan diajari jurus ketiga da-ri Tin-pang-sam-kiam itu. Selama tiga hari ini, seluruh penghuni Pek-hoa-ceng, seluruh anggota Pek-hoa-pang sibuk dan giat latihan memperdalam ilmusilat masing2, adayangsibuklatihanpedang, Ada yang menggosok golok atau gaman masing2, tak sedikit pula yang mengeraskan kepalan dan meringankan tendangan kaki, suasana ramai penuh dihinggapi semangat tempur yang berkobar. Semua satu hati, ingin unjuk kepandaian sendiri di medan tempur melawan jago2 Hek-liong-hwe. ooooodwooooo Sampai hari keempat, hari masih pagi, bintang masih berkelap-kelip di cakrawala, udara masih dingin diliputi kabut tebal, Tiada nampak sinar lampu di Hoa-keh-ceng yang terletak diPek-ma-kok. tapi adalah serombongan orang berbaris sedang keluar dari pintu gerbang. Barisan ini dipimpin sendiri oleh Thay-siang yang berpakaian serba hitam dengan cadar hitam pula, di belakangnya berturut2 adalah Bok-tan, Pek-hoa-pangcu, Hu-pangcu So-yok, Congkoan Giok-lan serta tujuh Tay-cia, mereka adalah Bi-kui, Ci-hwi, Hu-yong, Hong-sian, Giok-je, Hay-siang dan Loh-bi-jin, paling belakang adalah barisan 24 dara2 kembang, semua berpakaian ringkas ketat warna gelap. Inilah kekuatan inti Pek-hoa-pang yang langsung di bawah komando Thay-siang. Sementara Bwe-hoa, Liau-hoa, Tho-hoa, Kickhoa dan Giok-li berlima mengantar keluar, mereka berlima tidak turutserta, tapiditugaskan menjagaHoa-keh-ceng. Hari masih gelap. sepanjang pesisir danaupun masih pekat tiada sinar lampu. Tapi di tengah kegelapan berkabut tebal itu, dipinggir danau pada dermaga paling utara berlabuh sebuah kapal besar, bertingkat tiga, dari ujung yang satu ke ujung yang lain kapal ini bercat hitam legam, maka kelihatannya seperti sebuah bukit kecil yang bertengger di pinggir danau. Karena tidak tampak sinar lampu sehingga terasa kapal bertingkat ini rada misterius. Di daratan tampak bayangan orang berbaris berjajar memanjang, tegak siap tanpa bersuara. Mereka dipimpin oleh Ling Kun-gi, disambung Leng Tio-cong, Coa Liang, lalu Kongsun Siang, Song Tek-seng, Cin Te-khong, Thio Lam-jiang, Toh Kian-ting, Lo Kun-hun, Yap Kay-sian, Liang lh-jun, paling akhir adalah ke-12 Houhoat-sucia. Setelah mereka menyambut kedatangan Thay-siang ke atas kapal, lalu beruntun merekapun naik ke atas kapal pula. Kejap lain kapal besar ini telah berlayar kearah utara, suasana tetap hening tak ada yang bersuara. Tak lama kemudian kegelapanpun berganti remang2 lalu muncul sinar emas kemilau di ufuk timur, kabut semakin tipis, sinar surya terang benderang memancarkan cahaya di permukaan danau nan tenang, tiada yang tahu bahwa di balik ke tenangan ini laksana bara didalam sekam. Kapal yang ditumpangi Pek-hoa-pang Thay-siang Pangcu untuk menyerbu Hek-liong-hwe ini sudah tentu dibuat khusus, kekuatannya berlipat ganda. berlaju lebih cepat daripada kapal besar seukurannya. Kapal ini terbagi tiga tingkat tapi yang kelihatan dipermukaan air hanya dua tingkat. Tingkat paling atas tempat kediaman Thay-siang, Bok-tan, So-yok, Giok-lan dan enam Taycia. Ting-kit kedua untuk Ling Kun-gi bersama para hou-hoat-sucia, Tingkat paling bawah diperuntukanpara dara kembang yang dipimpin Loh-bi-jin. Kapal terus laju ke utara. Semua hanya tahu tujuan mereka untuk bertempur mati2an dengan orang2 Hek-liong-hwe, sementara di mana letak sarang Hek-liong-hwe tiada seorangpun yang tahu, berapa lama pula mereka harus berlayar baru akan tiba ditempat tujuan? Ini merupakan rahasia, sampaipun Bok-tan dan So-yok, pimpinan tertinggi Pek-hoa pang juga tidak tahu..Sudah tentu mereka sama heran dan ber-tanya2, Kalau Hek-liong-hwe musuh Pek-hoa-pang, kenapa Thay-siang harus merahasiakan sarang musuh? Pagi hari kedua setelah mereka berlayar, udara masih remang2, semalam kapal bertingkat ini berlabuh di Tay koh-teng, sejauh ini belum lagi berangkat. Enam sampan berbentuk lonjong yang bisa bergerak gesit dan cepat dipermukaan air tampak berdatangan, kiranya tiba saatnya berganti piket 12 Houhoat-sucia bergiliran ronda malam dengan kedelapan Houhoat di sekeliling perairan-Pada tingkat kedua terdapat sebuah ruangan makan yang luas, tempat untuk istirahat pula, tiga meja segi delapan berjajar dalam bentuk segi tiga terletak di tengah ruangan-Pada saat mana Cong-houhoatsucia, Coh-yu-hou-hoat dan delapan Hou-hoat berada di ruang besar ini. Inilah saatnya sarapan pagi. Derap kaki yang berat berdantam di atas geladak, dua bayangan orang cepat sekali sedang turun ke-ruang makan ini. Leng Tlo-cong yang duduk paling ujung kiri sedang menggerogot sebuah bakpau sambil menoleh, mendadak matanya terbeliak dan bertanya kereng.

"Apa terjadi sesuatu Toh-houhoat dan Lo-houhoat? "

Toh Kian-ling dan Lo Kun-hun semalam bertugas dengan empat Houhoat lain meronda perairan, setelah terang tanah baru kembali, untuk kembali sebetulnya tidak perlu tergesa2, karena mendengar langkah mereka yang gugup inilah maka Leng Tlo-cong merasa curiga lalu bertanya.

Yang masuk memang Toh Kian-ling dan Lo Kun-hun, keduanya menjura.

Toh kian-ling men-jawab.

"Apa yang dikatakan Coh-houhoat memang betul, Nyo Keh-cong dan Sim Kian-sin sama2 terluka."

TergetarLengTiongcong, tanyanya."Terjadiapa, di mana? "

"Di sebelah utara Toa-hou-san."

"Dimana mereka? "

"Sudah kembali, cuma dua kelasi diperahu Sim Kian-sin sama tewas."

Tengah bicara, tampak datang Ban Yu-wi, Coh Hok-coan berdua memapah Sim Kian-sin dan Nyo Keh cong yang terluka itu. Kun-gi berdiri menyambut kedatangan mere-ka, tanyanya.

"Bagaimana luka2 kalian?"

Toh Kian-ling menerangkan.

"Nyo-sucia terluka dipaha oleh senjata gelap musuh, untung dia selalu membawa obat, racun sudah dikupas, cuma senjata rahasia terlalu kecil, masih sukar dikeluarkan-badan Sim-sucia terluka tiga bacokan pedang, terlalu banyak keluar darah, tadi sampai pingsan, setelah kubalut dan telan dua butirobat, keadaannya sudah agak pulih, kesehatan mereka tidakperlu di-kuatirkan lagi."

"Bagus, biar mereka duduk. coba akan kuperiksa,"

Kata Kun-gi.

Ban Yu-wi dan Coh Ho-coan mengiakan, mereka bimbing kedua orang yang terluka itu duduk di kursi.

Ting Kiau tampak beranjak masuk dari dalam baju dia keluarkan sebuah lempengan besi persegi, katanya.

"Cong coh (panggilan dinas pada Ling Kun-gi), inilah senjata rahasia lembut dipaha Nyo-heng, mungkin sebangsa jarum beracun. bagaimana kalau kuperiksa dan menyedotnya keluar? "-Dia bersenjata kipas lempit yang biasame-nyemburkan jarum2 beracun, maka selalu ia bawa besi sembrani untuk menyerap jarum2 beracun itu. Kun-gi tahu bahwa anak buahnya ini sama merasa sirik padanya karena merebut jabatan Cong-houhoat, kinilah kesempatan untuknya mendemontrasikan kepandaiannya di depan orang banyak. maka dia berkata.

"Tak usalah, biar kuperiksa lebih dulu."

Lalu dia singkap kaki celana Nyo Keh-cong yang telah dirobek.

tampak lima lubang kecil berwarna biru, kulit dagingnya sudah dipolesi obat penawar getah bercun, kadar racunnya boleh dikatakan sudah tawar, tapa batang jarum masih berada di dalam daging, maka dia berpaling sambil menuding lubang kecil itu, katanya.

"Jarum ini memang beracun, meski sudah dipolesi obat penawar, daging dan darah tetap keracunan, kalau hanya menyedot keluar jarumnya saja tanpa mengeluarkan darah yang sudah keracunan, kalau terlalu lama tetap akan membahayakan badan."

Toh Kian-ling berkata.

"Hamba sudah memberi minum tiga butir pil penawar racun buatan Pang kita,"

Kun-gi menggeleng dan berkata.

"Kukira tidak berguna, kecuali Nyo-heng sendiri mampu mengerahkan hawa murni dan mendesak jarum keluar dari kulit dagingnya."

Sudah tentu keterangannya ini sia2 belaka, duduk saja Nyo Keh-cong sudah payah, mana mampu mengerahkan tenaga segala?

Kun-gi lantas mengusap permukaan kulit paha Nyo Keh-tong yang bengkak, kejap lain dia membalik tangan, tampak lima batang jarumbajaselembutbulu kerbauberjajarditelapak tangannya.

Leng Tio-cong terbeliak serunya tertahan.

"Hebat betul Lwekang Cong coh."

Kun-gi tertawa, ujarnya.

"Bicara kekuatan Lwekang sejati, mana aku bisa menandangi Leng-heng, apa yang kugunakan barusan adalah daya sedot dariKim-liong-jiu saja."

Dipuji dihadapan umum, sudah tentu Leng Tio-cong merasa bangga dan besar pula artinya bagi pribadinya. Maka mukanya berseri, berulang dia menjura, katanya.

"Cong coh terlalu memuji "

Sementara itu Kun-gi ulur tangan kiri menggenggam telapak tangan kanan Nyo Koh-cong, diam2 dia kerahkan hawa murni melalui lengan orang terus mendesak kepaha orang, Maka Kelihatan darah hitam mulai meleleh keluar dari kelima lubang jarum.

Tak lama kemudian, darah hitam telah berganti darah merah segar.

Kun-gi lantas lepas genggamannya, katanya..

"Sudah, racun sudah mengalir keluar, lekas kalian bantu memberi obat luar serta dibalut."

Nyo Keh-cong menarik napas panjang, hatinya lega, tapi masih lemah, katanya.

"Terima kasih, Cong coh."

Ban Yu-wi mengeluarkan obat dan membalut luka kawan itu. Kemudian Kun-gibertanya.

"Hari ini siapayangpiket? "

Coa Liang menjawab.

"Yap Kay-sian dan Liang Ih-jun."

Yap Kay-sian dan Liang Ihjun, segera tampil ke muka, katanya sambil menjura.

"Entah Congcoh ada pesan apa?"

Empat Houhat-suciajuga ikut berbarisdibelakang mereka.

"Waktu berlayar lagi, kalian harus segera berangkat, periksa dulu daerah sekitar Toa-hou-san. kalau menemukan jejak musuh, berilah tanda penghubung.". Yap Kay-sian dan Liang Ih-jun mengiakan, setelah menjura terus bawa empat Hou-hoat-sucia berangkat. Baru saja Kun-gi hendak minta keterangan lebih jelas dari Nyo Keh-cong dan Sim Kian-sin tentang peristiwa yang terjadi. Tiba2 Congkoan Giok-lan melangkah masuk. Kun-gi mendahului berdiri serta menyapa, Giok-lan balas hormat dan berkata.

"Cong-sucia, kalian boleh duduk. tak berani kuterima penghormatan ini."

Leng Tio-cong menyingkir ke kanan bersama Coa Liang, tempat duduknya diperuntukan Giok-lan. Semua orang kembali duduk berurutan. Giok-lan memandang Nyo dan Sim berdua, tanyanya.

"Cong-su-cia, mereka berdua terluka, apa yang terjadi? "

"Mereka mengalami sergapan di sekitar Toa-hou-san,"

Tutur Kungi.

"Orang Hek-liong-hwe? "

Menuding jarum yang terletak di meja, Kun-gi berkata.

"Orang itu menggunakan Bhe-hay-ciam yang direndam getah beracun, tentunya orang Hek-liong-hwe."

"Apakah sudah kau kirim orang menyelidiki tempat kejadian? "

Tanya Giok-lan "Yap dan Liang berdua Hou-hoat sudah ku-utus kesana, menurut dugaanku bangsat itu tentu sudah angkat kaki, apa lagi sekarang sudah terang tanah, mungkin takkan memperoleh apa2."

Tengah bicara dilihatnya Hu-pangcu So-yok melangkah tiba, matanya mengerling kearah Kun-gi, katanya lincah.

"Ling-heng, katanya orang kita mengalami sergapan? Apakah bentrok dengan orang2 Hek-liong hwe"

Kun-gi berdiri, katanya tertawa.

"Kebetulan Hu-pangcu kemari, duduk persoalannya aku sendiri juga belum jelas, Silakan duduk."

Diaberdirilalu menyilakanSo-yokdudukditempatnya.

"Silakan duduk Ling-heng, aku duduk bersama Sam-moay saja."

Terpaksa Kun-gi duduk kembali di tempatnya. Toh Kian-ling dan Lo Kun-hun sama2 berdiri dan menyapa.

"Hamba memberi hormat kepada Hu-pangcu."

"Semalam kalian berdua yang piket? "

Tanya So-yok. Toh dan Lo mengiakan "Kapanperistiwaitu terjadi? "tanyaSo-yokpula.

"Kira2 kentongan ke-lima,"

Tutur Toh Kian-ling, lalu dia menerangkan lebih lanjut.

"Semalam waktu kami keluar, bersama Lo-heng kami terbagi dua kelompok. Lo-heng bersama Ban dan Coh bertiga meronda ke selatan Toa-hou-san, hamba bersama Nyo dan Sim tiga orang memeriksa bagian utara, kentongan kelima, cuaca amat gelap. permukaan danau diliputi kabut tebal, dalam jarak lima tombak tak terlihat apa2 ....."

"Ceriterakan secara singkat, jangan bertele2,"

Tukas So-yok tak sabar. Toh Kian-ling tahu watak Hu-pangcunya ini, maka cepat ia meneruskan.

"Sampan kita bertiga beriring dalam jarak belasan tombak. karena kabut amat tebal, hamba berdiri di ujung perahu, mendadak kudengar suara bentakan di depan, cepat kusuruh kayuh sampan ke arah datangnya suara, tapi Waktu.... waktu hamba tiba, dua tukang perahu disampan Sim-sucia sudah menjadi korban, Sim-heng terkena tiga bacokan pedang, badan berlumuran darah dan rebah di atas sampan, melihat hamba datang mulutnya masih sempat berteriak.

"Kejar"

Lalu jatuh semaput, sedang Nyo-sucia juga menggeletak di ujung sana terkena senjata rahasia musuh dan tak sadarkan diri."

"Kau sendiri tidak melihat bayangan musuh? "

Tanya So-yok "Waktu itu kabut amat ... ."

Sebetulnya dia hendak mengatakan "amat tebal", tapi dia lantas berhenti lalu menyambung pula.

"waktu hamba menyusultiba, kapal musuhsudah tidak kelihatanlagi."

Karena terluka tiga bacokan pedang dan terlalu banyak keluar darah, keadaan Sim Kian-sin paling payah, sambil berpegang pinggir meja dia berdiri dan berkata.

"Lapor Hu-pangcu, duduk kejadiannya hanya hamba yang paling jelas."

"Luka Sim-heng tidak ringan, bicaralah sambil duduk saja,"

Ujar Kun-gi. MengawasiSo-yok.SimKian-sintidakberanibersuara. Giok-lan lantas menyela.

"Cong-sucia suruh duduk, maka duduklah kau sambilbicara."

Sim Kian-sin berduduk. lalu sambungnya.

"Tempat kejadian kira2 di sebelah barat laut Toa-hou-san, sampan hamba waktu itu kira2 hanya lima li dari daratan, kudengar suara percikan air, semula kukira sampan Nyo heng yang mendekat, maka tidak kuambil perhatian....."So-yokmendengustidak sabar. Sim Kian-sin merandek dan tergagap. lekas dia meneruskan kisahnya.

"Akhirnya kudengar pula suara benda kecebur, waktu aku berpaling, terlihat bayangan hitam melesat di buritan, baru saja hamba menghardik, gerak-gerik bayangan itu amat lincah, tahu2 pedangyasudahmenusuktibaterpaksahamba melawannya."

"Kau tidak melihat jelas wajahnya? "

Tanya So-yok.

"Bukan saja dia herpakaian serba hitam, batang pedangnya itupun hitam legam, hamba hanya melihat perawakannya kurus tinggi, sayangtidaksempat melihatwajahnya."

"Bagaimana permainan pedangnya? "

Tanya Giok-lan "Ilmu pedangnya keras dan ganas, hamba melawannya dua puluhan gebrak, paha terkena bacokan sekali "

"KapanNyo Keh-cong menyusultiba?"tanyaSo-yok.

"Kira2 setelah kami bergebrak sepeminuman teh, sampan Nyo-heng datang dari arah kiri, kudengar Nyo-heng membentak sembari menubruk datang, maka kulihat orang berbaju hntam itu mendengus dan mengayun tangan kiri sambil menyeringai. Turunlah Kabut amat tebal, kuatir Nyo-heng kena dikerjai maka hamba berteriak. Awas Nyo-heng Tapi Nyo-heng sudah telanjur melompat datang, kudangar dia mengeluh sekali terus tersungkur di buritan, karena sedikit terpencar perhatianku kembali aku terkena serangan lawan, pedangnya dilumuri getah beracun, kaki hamba seketika menjadi kaku dan roboh terkapar, untung sampan yang lain sudah berdatangan, bangsat itu tampak gugup terus melarikan diri, kejap lain Toh-houhoatpun tiba."

So-yok menggeram gusar, katanya.

"Musuh hanya datang satu orang, bayangannya saja kalian tidak jelas, pihak kita sudah jatuh dua korban, kalau seperti ini gelagatnya, memangnya ada harapan kita meluruk ke sarang Hek-liong-hwe? "

Gelisah sikap Toh Kian-ling, jawabnya malu.

"Ya, hamba memang tidak becus... ."

"Kalian ini memang cuma setimpal makan minum dan ber-foya2 sajadiHoa-keh-ceng."So-yok muring2.

"Kejadian di luar dugaan, kabut tebal lagi, berhadapanpun sukar melihat wajah orang, cuaca buruk ini memang amat menguntungkan musuh,"

Demikian timbrung Kun-gi. So-yok mencibir, katanya.

"Kalau peristiwa semalam diketahui Thay-siang, siapa yang akan ber-tanggung jawab kalau dicaci maki? "

Kun-gi tertawa, katanya.

"Sejak mula Thay-siang sudah bilang, tanggung jawab kepentingan Pang kita berada dipundakku, sudah tentu akulah yang harus bertanggung jawab? "

"Bagaimana kau akan bertanggung jawap? "

Tanya So-yok dengan kerlingan mata genit.

"Dalam beberapa hari lagi, Cayhe yakin akan berhasil menangkap bangsat itu, cukup bukan? "

So-yok berdiri, katanya.

"Bicaralah setelah bangsat itu betul2 kau tangkap. jangan takabur lebih dulu, dihadapan Thay-siang jangan sekali2 kau bicara demikian-"

Melihat Hu-pangcu berdiri, lekas Giok-lan ikut berdiri, kata Kun-gi.

"Memangnya Hu-pangcu tidak percaya kepadaku? "

Menggiurkan tawa So-yok. katanya.

"Aku percaya ....

"bergegasdia melangkah pergidan Giok-lanikutdibelakangnya. Setelah So-yok pergi, perasaan para Houhoat sama lega dan enteng, mereka bersenda gurau sebentar, lalu Leng Tiong-cong berdiri sambil menenteng pipa cangklong. katanya.

"Sudahlah, kapal sudah berlayar cukup jauh, sudah hampir sampai Toa-hou-san, hari ini yang piket di kapal besar adalah Cin Tek-khong dan Tio Lamjiang bukan? Marilah kita naik ke atas geladak."

Cin Tek-khong dan Thio Lam-jiang mengiakan bersama, mereka ikut Leng Tio-cong naik keatas.

Kamar tidur Ling Kun-gi terletak di sebelah kiri ruang makan, kecuali dipan, dipinggir jendela masih ada sebuah meja kecil dan dua buah kursi.

Pajangan amat sederhana, tapi di atas kapal keadaan ini sudah cukup bagus untuk tempat tinggal.

Waktu Kun-gi kembali ke kamarnya, sepoci teh kental sudah tersedia di mejanya, dia tuang secangir teh lalu duduk di kursi yang dekat jendela, didengarnyaseorang mengetukpintupelahan.

"Siapa?"

Tanya Kun-gi. Orang di luar menjawab.

"congcoh, hamba Kongsun Siang."

"Silakan masuk Kongsun-heng,"seru Kun-gi. Kongsum Siang dorong pintu melangkah masuk. katanya menjura.

"Hamba tidak mengganggu congcoh bukan."

Kun-gi taruh cangkir tehnya di atas meja, katanya berdiri.

"Silahkan duduk Kongsun-heng, marilah minum secangkir,"

Dia ambil cangkir lain hendak menuangkan air teh. Buru2 Kongsun Siang maju sambil berkata gugup.

"Biarlah hamba ambilsendiri."

"Jangan sungkan Kongsun-heng, berada di kamarku ini, aku jadi tuanrumah,"

Kun-gituang secangkir airtehterusditaruhdi meja.

"Terima kasih congcoh,"

Ucap Kongsun Siang.

"Usia kita sebaya, kenapa tidak mebahasakan saudara saja, dipanggilcongcohrasanyarisi,"

KataKun-giberkelakar. Bersinar biji mata Kongsun Siang, katanya.

"Pertama kali hamba berhadapan dengan congcoh lantas timbul perasaan cocok. dalam pertandingan tempo hari sungguh membuat hamba kagum dan tunduk lahir batin. Sayang jabatan membatasi kita, kalau tidak hamba ingin benar angkat persaudaraan-"

Kun-gi tertawa, katanya.

"ini cocok dengan pikiranku, memang sudah kulihat Kongsun-heng punya pambek luar biasa, selanjutnya bolehlah kita saling membahasakan saudara saja?"

Haru dan terima kasih Kongsun-siang, katanya.

"Maksud baik congcoh sungguh tak terhingga terima kasih hamba, tapi ada aturan Pang kita yang membatasi diri kita, betapapun hamba tidak berani melanggarnya.

"Pangcu, Hu-pangcu dan congkoan serta dua belas TayCia bukankah juga saling membahasakan saudara, mereka toh tidak melanggar aturan Pang."

"Betapapunhambatidakberani gegabah."

"Kalau Kongsun-heng kukuh pendapat, biarlah di kamarku sekarang kita tidak perlu sungkan dan kikuk. Mari silakan duduk Kongsun-heng, kita mengobroL"

"Ling-heng sudi merendahkan derajat bersahabat dengan hamba, baiklah aku menurut perintah saja,"

Demikian ucap Kongsun Siang, lalu dia duduk di kursi di depan Kun-gi, katanya.

"Guruku berwatak jujur dan setia, walau orang2 Kangouw memberi julukan Sia-long ( serigala sesat ) kepada beliau, yang betul beliau lurus dan bijaksana, cuma jarang bergaul, selama hidup tak pernah tunduk kepada siapapan, hanya terhadap guru Ling-heng seorang beliau tunduk dan kagum setinggi langit, pernah beliau bilang, hanya gurumu seorang di wilayah Tionggoan yang dipuja dan dikaguminya."

"Guruku juga pernah menyinggung guru Kong-sun-heng, ilmu pedangnya menyendiri merupakan aliran yang tiada bandingan, memangtidak malubeliausebagaicikalbakalsuatualiran-"

"Sudah tiga tahun aku masuk ke daerah sini, tidak sedikit kaum persilatan yang kukenal, sampai akhirnya mendarma baktikan diri pada Pek-hoa-pang, kurasa kaum Bu-lim di Tionggoan hanyalah bernama kosong belaka, bahwa guruku hanya mengagumi gurumu saja, maka akupun,hanya kagum dan simpatik terhadap Ling-heng seorang."

"Mungkin inilah yang dinamakan jodoh,"

Ujar Kun-gi. Habis minum, mendadak ia bertanya.

"Sejak kapan Kongsun-heng bekerja diPek-hoa-pang?"

"Pada tahun lalu, di Lo-san aku bertemu dengan seorang pemuda, kamibicarapanjang lebardan terasacocoksatusama lain, akhirnya kuketahui bahwa dia adalah salah satu dari ke-12 Taycia, yaitu Hong-sian, dia yang menarikku ke dalam Pek-hoa-pang."

"O, kiranya nona Hong-sian, memangnya kalian sudah berhubungan amat intim."

Merah muka Kongsun siang, katanya malu2.

"Ling-heng jangan menggoda, hubungan kami hanya sahabat biasa saja."

"Demi si dia Kongsun-heng rela masuk jadi anggota Pek-hoa-pang, mana boleh dikatakan tiada hubungan intim? Soal ini serahkan saja padaku, pasti kubantu sekuat tenaga ...."

Bertaut alis Kongsun Siang, mendadak dia angkat kepala, katanya.

"Kupandang Ling-heng sebagai kawan dekatku, maka kubicara terus terang, harap Ling-heng suka merahasiakan hal ini."

"Jangan kuatir Kongsun-heng, dihadapan orang lain pasti tidak akan kusinggung,"

Lalu dia balas bertanya.

"Apakah Kongsun-heng tahu asal-usul Nyo Keh cong dan Sim Kiam-sin?"

"Nyo Keh-cong adalah murid Hoa-san-pay, Sim Kian-sian punya seorang engkoh bernama Sim Pek sin, julukannya Hwi-hoa-khiam-khek. namanya terkenal di daerah Kian-hoay, Kenapa? Ling-heng merasa...."

"Tidak"

Tukas Kun-gi.

"aku tidak jelas keadaan mereka, kutanya sambil lalu saja.."

Kongsun Siang berdiri, katanya menjura.

"Menggangu Ling-heng saja, biarlah aku minta diri,"

Kun-gi tertawa, katanya.

"Terasa sepi juga di kapal ini, Kongsunheng boleh sering kemari, ku-sambut dengan gembira."

Setelah Kongsun Siang pergi, tak lama kemudian Kun-gi juga keluar kamar, langsung pergi ke kamar Nyo Keh-cong dan Sim Kiam-sin menengok keadaan mereka.

Tak lama kemudian dia sudah berada di haluan kapal, tampak Leng Tio-cong sedang bicara dengan Cin Te-khong.

Lwekang Leng Tio cong memang tinggi, baru saja Kun-gi muncul di geladak dia sudah berpaling, melihat Kun-gi segera ia menyongsong sambil menjura.

"congcoh juga cari angin?"

Tertawa Kun-gi, dia berkata.

"Terasa gerah di dalam kamar. Sudahsampaidi manasekarang?"

Leng Tio cong menuding ke depan, katanya.

"Baru saja melampaui Toa-hou-san, sebelah depan adalah Siau-hou-san."

"Tidakterjadiapa2 diperairan?"tanyaKun-gi. Dengan pipa cangklong ditangannya, Leng Tio cong menuding permukaan air, katanya.

"cuaca cerah, gelombang tenang, dalam jarak dua puluhan li sekitar kita bisa terlihat jelas, sampan ronda kitaadadisebelahdepan, siang hari pastitidakakan terjadiapa2."

"Leng-heng memang luas pengetahuan, pengalaman Kangouwpun amat matang, menurut pandanganmu, di manakah kiranyaletaksarang Hek-Liong-hwe?"

Sambil mengelus jenggot kambingnya Leng Tio-cong menepekur sebentar, katanya.

"Sulit dikata-kan, dari sini masih ada Pek-siansan, coh-ouw, Sek-ciu, ada pula Ang-tek-hou di lembah Hoay, cuma tempat2 ini kabarnya tak pernah nampak ada kawanan penjahat yang bermukim disana, cin-houhoat paling apal akan daerah ini, hamba tadi merundingkan hal ini sama dia, terasa tak mungkin sarang Hek-Liong-hwe berada di sekitar daerah itu."

Memang licin orang ini sebagai kawakan Kang-ouw, tadi dia bisik, dengan Cin Te-khong, entah apa yang dibicarakan, kuatir menimbulkan rasa curiga Ling Kun-gi, maka dia sengaja mengalihkan pokok pembicaraan "Lalu menurut pandangan Leng-heng bagai-mana?"

Tanya Kun-gi pula.

"Kalau sarang Hek-Liong-hwe tidak di daerah itu pasti berada di hulu Tiangkang,"

Sampai di sini dia melirik ke arah Kun-gi, lalu menambahkan.

"yang benar, congcoh harus minta petunjuk kepada Thay-siang, sebetulnya ke mana arah tujuan kita, supaya kita semua lega hati dan selalu slap siaga."

Kun-gi tertawa tawar.

"Tentunya Thay-siang sendiri sudah punya perhitungan, bila hampir sampai tujuan tentu dia akan umumkan kepadakitasemua, tanpapenjelasannya, siapaberanitanya?"

LengTio-cong menyengir,katanya."Betuljugaucapancongcoh."

Menyusuri dek sebelah kiri Kun-gi menuju ke buritan, dilihat seorang diri This Lam-jiang sedang berdiri bersandar pagar melamun, serta merta Kun-gi menyadari bahwa diantara delapan Houhoat se-akan2 terbagi menjadi dua kelompok.

Hal ini memang tidak perlu dibuat heran, waktu masih Hou-hoat-su-cia dulu mereka jugaterbagiduadibawah pimpinan coh-yu-houhoat.

Melihat Kun-gi datang, lekas Thio Lam-jiang menyongsongnya serta memberi hormat.

Kun-gi tertawa.

"Thio-heng jangan sungkan, aku hanya jalan2 saja."

Sembari bicara dia sudah sampai di ujung, dilihatnya yang pegang kemudi seorang laki2 tua kurus kecil, kuncir digelung melingkar di atas kepalanya, tapi Kun-gi dapat melihatnya bahwailmusilatorang initentuamattinggi.

Kemarin dia sudah mendengar bahwa Ku-lotoa yang pegang kemudi ini dulu bekas begal di Ang-tiksouw, sudah 1o tahun mengabdi di Pek-hoa-pang, semua kendaraan air yang dibutuhkan Pek-hoa-pang berada di bawah pimpinannya.

Namun tujuan pelayaran kali ini dia sendiri juga tidak tahu, katanya setiap saat tertentu, Thay-siang langsung memberi perintah yang disampaikan oleh pelayannya kepada Ku-lotoa kearah mana pelayaran hari ini, lalu di mana nanti malam harus berlabuh, Kulotoa hanya bekerja sesuai petunjuk itu.

Sepasang mata Ku-lotoa yang mencorong memandang jauh ke depan, seluruh perhatiannya tertumplek pada kemudinya, se-olah2 tidak melihat kedatangan Kun-gi, maka iapun tidak enak mengganggunya.

cuma dalam hati diam2 ia membatin.

"Hek-Lionghwe, memangnyadalamhal iniadarahasia danlatarbelakangnya?"

Di samping itu iapun sedang memikirkan soal lain, yaitu kejadian kemarin malam, orang yang membokong dirinya pakai Som-lo-ling serta orang yang menyergap Nyo Keh-cong dan Sim Kian-sin diperairan, duaperistiwa yangberbeda, tapidapatdiusutbersama..

Delapan Houhoat dan 12 Houhoat-sucia, diri-nya masih asing dan belum mengenal pribadi dan asal usul mereka.

Walau dirinya berkuasa memimpin mereka, tapi tiada seorangpun yang patut diajak berunding.

Setelah berpikir pulang pergi, dia merasa lebih tepat berunding dengan Un Hoan-kun, tapi semua orang berada di atas kapal, kalau ajak nona itu bicara rasanya kurang leluasa.

Langit biru cerah,awan terbang mengapung, diam2 Kun-gi membatin.

"Agaknya persoalan ini harus kukerjakan seorang diri"

Apa yang harus dikerjakannya?

Tanpa dijelaskan memangnya siapa yang tahu?.

Menjelang magrib, sang surya mulai terbenam, cahayanya nan kuning, cemerlang menimbulkan kemilau laksana ekor ular emas yang berenang dipermukaan air, indah permai menakjubkan sekali.

Menggelendot ditepi jendela Kun-gi melamun mengawasi panorama ini.

Tiba2 didengarnya suara manis kumandang di belakangnya.

"Eh, apa yang sedang kau lamunkan?"

Cepat Kun-gi menoleh, tampak So-yok sudah berdiri di belakangnya, bau harum semerbak segera menyampuk hidung, dengan tertawa dia menyambut.

"Kukira siapa, rupanya Hu-pangcu, silakan duduk."

"Kecuali aku, memangnya siapa yang bisa kemari?"

Kata So-yok sambil mengerling penuh arti. Kun-gi melenggong, katanya.

"Hu-pangcu mencariku ada urusan apa?"

"Em"

So-yok bersuara sambil melangkah maju dan berduduk. matanya melerok sekali lalu melengos kejurusan lain, kedua pipinya tampak merah jengah, katanya lirih.

"Malam itu ..... aku kehilangan ..... sebatangtusukkundai, apakahkau yang menyimpannya?"

"o, tidak, cayhe tidak pernah melihat tusuk kundai, coba ingat kembali, apakah betulterjatuhdikamarku?"

Semakin merah wajah So-yok, kembali ia melerok sambil menggerundel.

"Kalau tidak jatuh di kamarmu, memangnya jatuh di mana?"

"Kenapa tidak sejak mula kau katakan? Atau tanya Sin-ih, apakah dia menemukannya?"

"Memangnya tidak malu tanya pada Sin-ih segala? Tusuk kundaiku, mengapa ..... mengapa ... Ah, kena. ........ habis itu kenapa tidak kau bebenah sendiri?"

Hakikatnya Kun-gi tidak tahu apa arti ucapannya ini, dengan tertawa ia berkata.

"Maaf Hu-pangcu, kalau kulihat barang itu tentu sudah kuambil."

"Dasar kau ini, Sin-ih si budak busuk itu kalau berani usil mulut, mustahil kuampunidia."

"Hanya sebatang tusuk kundai kenapa harus marah2? Besok kalau pulang boleh tanya padanya."

"Kau tahu apa? Dia orang kepercayaan Sam-moay, tusuk kundai itu terang jatuh di ..... di ..... jika sampai diketahui Sam-moay ....."

Sampai di sini mendadak dia mendengus.

"sebetulnya kenapa aku harus takut pada mereka, umpama diketahui Toaci, memangnya dia bisa berbuat apa?"

Kun-gi kebingungan, terasa olehnya se-akan2 tusuk kundai itu amat penting dan besar artinya, baru saja dia hendak tanya, So-yok sudah berdiri, katanya.

"Hari sudah petang, Thay-siang hampir bangun, aku harus lekas kembali."

Diam2 ia lantas menyelinap keluar ke atas dek.

Senja telah tiba.

Tabir malam memang datang terlampau cepat.

Tahu2 cuaca sudah gelap gulita.

Laju kapal sudah mulai lambat, akhirnya berlabuh pada sebuah teluk yang letaknya dekat Hiang-gou.

Kapal sebesar ini bertengger di tempat gelap tanpa terlihat setitik sinar api.

Lampu sebetulnya sudah terpasang di dalam kapal, cuma setiap jendela tertutup oleh kain tebal warna hitam sehingga sinar lamputidaktembus keluar.

Di ruang makan terpasang dua lentera minyak besar, lauk-pauk tersedia lengkap di atas meja.

Kun-gi duduk ditengah, yang lainpun duduk berurutan sama tangsal perut.

Waktu kerai tersingkap.

Yap Kay-siandanLiangIh-junyangbertugasronda di siang hariberjalan masuk diiringi empat Houhoat.

Yap Kay-sian dan Liang Ih-jun menjura bersama, katanya.

"Hamba menyerahkan kembali tugas kepada congcoh"

Kun-gi menyapu pandang wajah keenam orang, katanya tertawa.

"Kaliansudahcapai,silakandudukdan makan."

"Terima kasih"sahut Yapdan Liang teruscaritempatduduk.

"Malamini, giliransiapayangpiket?"tanyaKun-gi. Dilihatnya Kongsun Siang, Song Teksseng dan empat Houhoat berdiri, Kata Kongsun Siang.

"Malam ini hamba dan Song-heng yang bertugas."

Kun-gi menoleh ke arah keempat Houhoat, belum lagi bersuara Song Tek seng sudah mulai tunjuk satu persatu, katanya.

"KikTian-yu,Kiyuceng,KhoTing-seng, HoSiang-seng."

Kho Ting-seng dan Ho Siang-seng sudah dikenal oleh Kun-gi, mereka sekamar dengan Nyo Keh-cong dan Sim Kian-sim.

Dan Kho Ting-seng adalah orang yang menyerang dirinya dengan pelor perak dipekarangan waktu dirinya pulang mengudak musuh malam itu.

Tanpa terasa Kun-gi lebih banyak mengawasi kedua orang ini, ia bertanya."carabagaimanakalian akan membagitugas?"

Kongsun Siang menerangkan.

"Hamba bersama Kik dan Ki bertiga bertugas diperairan sebelah utara. Song-heng bersama saudaraKhodan Hobertugasdisebelahselatan."

Diam2 Kun-gi menggerutu dalam hati.

"Hm, kiranya tidak meleset daridugaanku."

Katanya, kemudian "Begitupun baik, semalam peristiwa telah terjadi, untung Thay-siang tidak menghukum kita, malam ini kalian harus hati2"

Kongsun Siang dan Song Teksseng mengiakan bersama, katanya.

"congcoh tak usah kuatir, kalau malam ini bangsat itu berani datang, umpama hamba tak mampu membekuknya hidup2, paling tidakakan kupenggal kepalanya."

Kun-gi tersenyum, katanya.

"Perairan amat luas, kalau betul ada musuh datang menyergap. jangan terburu nafsu mengejar pahala, yang penting lepaskan dulu tanda kembang api ke udara."

Lalu dengan menggunakan ilmu suara dan berpesan kepada Kongsun Siang.

"Malam ini Kongsun-seng harus lebih hati2, begitu ada tanda2 bahaya harus segera memberitanda."

Kongsun Siang agak melengak. segera iapun menjawab dengan ilmu suara."Pesan Ling-hengpastiakankuperhatikan-"

Ling Kun-gi angkat tangan, katanya.

"Sekarang kalian boleh berangkat."

Kongsun Siang dan Song Tek-seng menjura, ia bawa keempat Houhoat mengundurkan diri. Setelah selesai makan Kun-gi mendahului berjalan katanya kepada Sam-gan-sin coa Liang.

"Malam ini coa-heng yang jadi komandan jaga bukan?"

"Betul, apakah congcoh ada pesan?"

Tanya coa Liang.

"Pesan sih tidak berani, cuma semalam sudah ada peristiwa, cayhe mendapat firasat bangsat itu akan melakukan aksinya lagi malam ini."

"Untuk ini congcoh tidak usah kuatir, kalau malam ini terjadi apa2, akulah yang bertanggung jawab,"

Kata coa Liang sambil tepuk dada.

"Bukankah kita masih sedia dua sampan pesat, maksudku suruhlah tukang perahu kedua sampan ini Selalu siap menerima tugas untuk berangkat."

Sam-gan-sin coa Liang manggut, katanya.

"Rencana congcoh memang baik, Toh Kian-ling, pergilah kau suruh mereka siap menunggu perintah se-waktu2."

Toh Kian-ling meng ia kan terus beranjak keluar, Setelah bubaran makan, yangtidakbertugaslangsung kembali ke kamar masing2.

Sebagai cong-houhoat dari Pek-hoa pang sudah tentu berat tugas dan tanggung jawab Ling Kun-gi, apalagi dalam menghadapi situasi buruk seperti ini.

Kongsun Siang adalah ahli pedang kaum muda yang memiliki kepandaian tinggi, walau dari aliran sesat, tapi dia amat mencocoki seleranya, bahwa malam ini dia bertugas ronda, sudah tentu hati Kun-gi ikut kebat-kebit, kuatir akan keselamatannya, bukan lantaran saling cocok selera, tapi bagi seorang kaum persilatan yang memiliki kepandaian semakin tinggi, tentu akan selalu menjadi incaran musuh untuk membokongnya, terutama senjata rahasia seperti Som-lo-ling yang ganas dan beracun itu.

Secara langsung dia ingat akan persoalan lain, bila betul pihak lawan sudah mengatur muslihat, maka sasaran utama pasti akan terjadi pada diri Kongsun Siang.

Keluar dari ruang makan, berjalan di atas dek Kun-gi memandang lepas ke depan-Bintang berkelap-kelip menghiasi cakrawala, malam gelap angin sepoi2, suasana terasa lengang dan sunyi mencekam.

"Kabut tebal juga malam ini,"

Demikian Kun-gi bergumam, sambil menghela napas panjang.

"congcoh,"

Tiba2 seorang menegur di belakangnya. Kun-gi menoleh, sahutnya.

"coa-heng di sana?"

Sambil membawa buli2 araknya coa Liang maju ke sampingnya dengan tertawa, katanya.

"Agaknya congcoh dirundung suatu persoalan?"

"Tiada,"

Ajar Kun-gi tawar.

"Aku hanya jalan2 mencari angin malam."

"congcoh bicara tidak sesuai isi hati, berarti memandangku seperti orang luar, setengah abad aku berkecimpung di Kangouw, sejak makan malam tadi congcoh selalu mengerut kening, bukankah itu pertanda di rundung persoalan?"

"Mungkin coa-heng salah terka, terus terang Cayhe merasa kesal dan geram, maka keluar jalan2."

Orang tidak mau terus terang, terpaksa coa Liang tidak mendesak. katanya tertawa.

"Sayang congcoh tidak suka minum arak. tinggal di atas kapal, minum arak adalah cara terbaik untuk menghilangkan rasa kesal, mari silakan minum dua tegak,"

Dia buka tutup buli2 serta diangsurkan.

"Mau mi-num tidak, congcoh?"

Sedikit menggeleng Kun-gi berkata.

"Silakan coa heng minum sendiri, terus terang cayhe tidak berjodoh dengan arak,"

Coa Liang angkat buli2 terus tuang arak kemulutnya, katanya tertawa sambil menyeka mulut.

"Selama hidup tiada hobi lain kecuali minum arak. nasi boleh tidak makan, asal sehari penuh aku minumarakdan semangatkutetap menyala."Tanpa menunggu Ling Kun-gi bersuara dia menyam-bung pula.

"saking demen minum arak sehingga aku memperoleh julukan Sam-gan-sin ini."

"o,jadi julukan coa-heng ada sangkut-paut-nya dengan arak?"

Tanya Kun-gi.

"Memangnya, waktu itu aku masih berusia dua puluhan, sejak mudaaku memang sudah gemar minum, bagi kami orang2 di daerah perbatasan yang selalu hidup di tanah dingin, semua orang suka minum arak. karena minum arak bisa menghangatkan badan, tapi peraturan perguruanku amat ketat dan keras, pada suatu pagi baru saja bangun tidur, secara diam2 aku mencuri sepoci, tak tahunya lantaran sepoci arak itulah aku tertimpa malang ......."

Dia tenggak lagi beberapa teguk lalu meneruskan.

"hari itu kebetulan harus latihan main golok, waktu aku melakukan gerak tipu menyingkap rumput mencari ular, badan bagian atas harus terbungkuk ke depan, tak terduga karena minum sepoci arak tadi, kontan aku tersungkur ke depan, jidatku tepat tertusuk ujung golokku sendiri sehingga meningalkan codet di tengah alis ini. Sejak peristiwa itu, begitu aku minum arak mukaku tidak pernah merah, tapi codet inilah yang merah dulu, maka kawan2 Kangouw lantas memberi julukan Sam-gan-sin padaku, sementara orang ada yang bilang, kalau nafsuku berkobar, codet inipun bisa berubah merah, tapi apa betulakusendiri tidak tahu."

"Lantaran peristiwa itu maka coa-heng tidak mengguna kan golok lagi?"

"Betul, sejak kejadian itu, lenyaplah seleraku untuk meyakinkan ilmu golok,"

"Kalau aku yang mengalami peristiwa itu akan menjadi kebalikannya,selanjutnyaakupastitidak minumaraklagi."

Sam-gin-sin tergelak2, katanya.

"Maka itu congcoh selamanya tidak akan pandai minum."

Waktu Kun-gi kembali ke kamarnya, waktu sudah menjelang ketongan kedua, malam gelap sunyi senyap.

tempat di mana kapal berlabuh adalah daerah belukar yang jarang diinjak manusia, kecuali ombak mendampar pantai, tiada suara lainnya yang terdengar.

Baru saja Kun-gi merebahkan diri di atas pembaringan tanpa mencopot baju luarnya, tiba2 didengarnya beberapa kali suara bentakan dari sebelah atas, suaranya ringan terbawa angin lalu sehingga kedengaran amat jauh, tapi sekali dengar dapatlah dibedakan bahwa itulah suara bentakan seorang perempuan Diam2 Kun-gi terkesiap.

pikirnya.

"Memangnya terjadi apa2 di tingkat ketiga?"

Serta merta dia berdiri, tanpa banyak pikir dia tarik pintu terus melesat keluar.

Malam sunyi, bentakan lirih itu dapat didengar semua orang, maka beramai2 bermunculan dari kamar masing2.

Menyapu pandang sekelilingnya, Kun-gi lantas berseru.

"Apa yang terjadi?"

Thio Lam-jiang yang berada tak jauh di sebelah sana segera menjura, sahutnya. Belum di-ketahui."

Ling Kun-gicepatberpesan."Lekasperiksa kesegenappelosok."

Tiba2 dilihatnya kain gordyn tersingkap.

Pek-hoa-pangcu Bok-tan bersama Hu-pangcu So yok diiringi congkoan Giok-lan me-langkah tiba, di belakang mereka mengikut pula lima gadis bersenjata pedang, semuanya siap tempur.

Ling Kun-gi tertegun.

Tengah malam buta Pangcu sendiri memerlukan turun, terang ditingkat ketiga memang telah terjadi sesuatu.

Lekas dia maju menyambut, katanya sambil menjura.

"Hamba menyampaikan hormat pada Pangcu."

Coh-yu hou-hoat dan para Hou-hoat juga sama memberi hormat.

Pek-hoa-pangcu hanya mengangguk sebagai balas hormat, sorot matanya yang biasa kalem dan bijak kini kelihatan penuh tanda tanya, heran dan serba Curiga, sekilas dia pandang muka Kun-gi, suaranyatetapmerdu halus.

"cong-su-ciatidak usahbanyakadat."

So-yok tidak mengenakan kedok muka, tampak alisnya menegak. katanya menyela.

"Apakah Ling-heng tahu apa yang terjadi di tingkat ketiga?"

"Hambatidaktahu,"sahut Kun-gi. Masam muka So-yok, katanya marah2.

"Ada manusia yang tidak kenal mampus berani coba membunuh Thay-siang."

Keruan semua hadirin tersirap darahnya. Kun-gi kaget setengah mati, katanya.

"coba membunuh Thay-siang, bagaimana keadaan Thay-siang sekarang?"

Pek-hoa-pangcu tersenyum kalem, katanya..

"Thay-siang memiliki ilmu sakti yang tiada bandingan di kolong langit. memangnyagampang beliaudapatdilukaiolehsenjatagelap?"

Senjata gelap. Tergerak hati Kun-gi "Pasti Sam-lo-ling adanya,"

Demikian batinnya. Tanyanya segera-"Apakah sipembunuh berhasil dibekuk?"

"Tidak. berhasil lari. malam ini Giok li dan Hay-siang berjaga dan melihat bayangan punggung bangsat itu. katanya dia mengenakan jubah hijau ....."

Waktu mengatakan "jubah hijau"

Suaranya kedengaran sumbang dan sangsi.

Berdegup hati Kun-gi, seluruh laki2 yang ada di tingkat kedua hanya dirinya seorang yang mengenakan jubah hijau.

Memang sebelum ini para Hou-hoat juga mengenakan jubah hijau, cuma dalam meluruk ke Hek Liong-hwe ini mereka diharuskan ganti seragam hitam.

Kecuali Kun-gi sendiri yang memperoleh kebebasan mengenakan pakaian yang disukai, sementara coh-houhoat juga tetap mengenakan jubah biru.

"Apakah pembunuh menggunakan Som-loling"tanya Kun-gi. Hay-siang berdiri paling belakang, tiba2 dia menjengek.

"0, kiranya cong-su-cia sudah tahu"

Kun-gi menoleh sambil tersenyum, belum dia bersuara, So-yok sudah membentak.

"Hay-siang, di hadapan Toaci memangnya kau berani menyeletuk?,"

"Hu-pangcu,"

Ujar Kun-gi.

"karena malam ini nona Hay-siang yang bertugas jaga dan melihat bayangan musuh lagi, maka perlu kita mendengar pendapatnya."

Pek-hoa-pangcu manggut2, katanya.

"Ji-moay, usul Cong-su-cia memang betul, 'cap-si-moat', coba kau tuturkan penyaksianmu kepada cong-su-cia, jangan main sembunyi,"

Hay-siang mengiakan. Kun-gi bertanya.

"Setelab nona melihat bayangan musuh, kecuali melihat dia mengenakan jubah hijau, pernahkah kau melihat jelas macam apa dia sebenarnya?"

"Gerak tubuh bangsat itu teramat cepat, sekali berkelebat lantas lenyap. jadi sukar terlihat jelas, perawakannya seperti tinggi, waktu itu dia mengapung di atas, aku lalu menyambitnya dengan panah, tapi karena kejadian terlalu cepat, entah kena tidak timpukanku itu kurang jelaslah."

"Waktu nona menyambitkan panah, ke arah mana dia melarikan diri?"

"Dia melompat turun ke tingkat kedua, waktu aku juga lompat turun, bayangannya sudah lenyap."

Tergerak pikiran Kun-gi, katanya.

"Jadi maksud nona bahwa pembunuh itu mungkin masihberadadiataskapal ini?"

"Entahlah, akutak beraniberkatademikian,"sahut Hay-siang. Kun-gi manggut2, katanya "Mungkin saja di kapal kita ini ada musuh yang tersembunyi, ber-ulang2 kali orang ini melakukan kejahatan dengan Som-lo-ling, patut kita membekuk dan menggusurnya keluar."

Sam-gan-sin coa Liang menyela.

"Maksud congcoh di antara kita ada mata2 musuh?"

"Betul, kukira cukup lama dia memendamdiri di antara kita."

Kiu-cay-boan-koan Leng Tio-cong ikut bicara.

"Memangnya siapa dia?"

"Sebelum kita menemukan dia, setiap orang di antara kita patut dicurigai,"

Sampai di sini Kun-gi menjura kepada Pek-hoa-pangcu, katanya.

"Pangcu dan Hu-pangcu kebetulan berada di sini, hamba pikir kalau dia berani coba membunuh Thay-siang, sungguh besar dosanya, selama dia tidak dibekuk, semua orang di kapal ini tetap harus dicurigai, lalu kapan hati kita bisa tenteram, Kejadian baru setengah jam berlalu, waktunya masih pendek untuk segera diselidiki. Kecuali enam orang yang bertugas di perairan, seluruh penghuni tingkat kedua hadir semua di sini, marilah kita coba periksa sebentar, mungkin bisa menemukan-"

Leng Tio-cong menanggapi.

"Betul ucapan congcoh, semua sudahhadirdisini, lebihbaikdigeledahsatupersatu."

"Bagaimana cong -su-cia hendak menggeledahnya?"

Tanya Pekhoa-pangcu.. Pandangan Kun-gi menyapu hadirin, katanya.

"Maksud hamba, kita geledah satu persatu, lalu menggeledah kamar masing2."

"Mungkinkah bisa ditemukan?"

Tanya Pek-hoa-pangcu.

"Kalau betul orang itu sudah lama memendam diri diantara kita dan tak pernah konangan, tentulah dia seorang yang licin dan cerdik, bergerak menurut gelagat, geledah badan dan geledah kamar memangkecilmanfaatnya,tapimalaminidiamungkinsedikit salah perhitungan, karena kita semua berada di atas kapal, menarik seutas rambut akan menyebabkan gerakan seluruh badan, apa lagi sejak peristiwa terjadi sampai sekarang temponya masih pendek. dalam waktu yang tergesa ini tentu tiada tempat untuk sembunyi, maka cara menggeledah badan ini mungkin akan membawa hasiL"

Pek-hoa-pangcu mengangguk, katanya.

"Ana-lisa cong-su-cia memang benar, baiklah segera laksanakan saja."

Kun-gi mengulap tangan, katanya.

"Nah, coba semua berdiri yang baik."

Para Houhoat segera berdiri berjajar.

"Kemarilah Leng-heng,"

Panggil Kun-gi.

"cong-su-cia ada pesan apa?"

Tanya Leng Tlo-cong sambil mendekati.

"Kau geledah dulu badanku"

Ucap Kun-gi, melihat Leng Tio-cong ragu2 segera dia menambahkan..

"sebagai cong-su-cia, sudah tentu harus dimulai dulu atas diriku."

"congcoh bilang demikian, terpaksa hamba melaksanakan perintah,"

Ujar Leng Tio-cong, lalu dia geledah badan Ling Kun-gi dengan hati2, teliti dan pelahan, dari saku orang dia merogoh keluar sebilah pedang pendek dan sebuah kotak gepeng, katanya.

"Hanya ini saja, tiada yang lain-"

"Terima kasih Leng heng", ucap Kun-gi Lalu dia buka kotak gepeng itu sembari menjelaskan.

"Kotak ini berisi bahan2 riasku, bukan Som-lo-ling."-Sekilas dilihatnya Hay-siang yang berdiri dipinggir sana menampilkan mimik aneh dan sorot matanya sedikit jalang. Diam2 tergerak hati Ling Kun-gi melihat sedikit perubahan ini, lekas dia simpan kotak dan pedang serta berkata.

"Sekarang silakan Leng dan coa saling periksa badan masing2, lalu berturut2 periksa yang lain."

Leng Tio-cong dan coa Liang mengiakan, mereka saling periksa badan sendiri, lalu berturut2 memeriksa badan para Houhat.

Peristiwa menyangkut jiwa Thay-siang, maka siapapun tiada yang berani semberono, Cara periksa satu persatu tni sudah tentu Cukup menghabiskan tenaga dan waktu.

kira2 sejam baru pemeriksaan berakhir, Hasilnya nihil.

Berkata Kun-gi kepada Pek-hoa-pangcu.

"Pemeriksaan badan sudah berakhir tanpa menghasilkan apa2, kini mulai menggeledah kamar, cuma kamar2 di tingkat kedua ini agak kotor dan sempit, harap Pangcu utus seorang saja untuk mengikuti cayhe menggeledah."

"Toaci, biar aku yang menyaksikan,"sela So-yok Pek-hoa-pangcu mengangguk, katanya.

"Baiklah, bawa juga cap-si-moay, dia melihat jubah hijau itu, mungkin bisa mengenalinya."

Terunjuk rasa riang pada sorot mata Hay-siang, sahutnya membungkuk.

"Hamba terima perintah."

"Harap Leng-heng ikut aku, sementara coa-heng tetap tinggai di sini, semua saudara juga tetap disini, tidak boleh bergerak. tungguhasilpemeriksaankamar."

KataKun-gi, Sam-gan-sin mengiakan, Leng Tio-cong mohon petunjuk.

"congcoh, dari mana kita mulai?"

Kun gi tertawa, ujarnya.

"Sudah tentu dimulai dari kamarku,"

Lalu dia angkat tangan-"Silakan Hu-pangcu."

So-yok tertawa lebar, katanya.

"Kamar Ling-heng sendiri, sudah tentu kau jalan dulu."

"Tidak. Hu-pangcu mewakili Pangcu, orang yang berkuasa penuh dalam penggeledahan ini, terutama untuk menggeledah kamar cayhe, maka cayhe harus memberi segala kelonggaran, silakan Hupangcu."

So-yok mencibir, katanya sambil cekikik.

"Memang kau ini selalu ada2 saja alasannya."

Lalu dia mendahului menuju ke kamar Ling Kun-gi diikuti Leng Tio-cong.

Leng Tio cong mendahului membukakan pintu So-yok lalu melangkah masuk dan Kun-gi di belakangnya, begitu dia melangkah masuk kamar, seketika dia merasakan hal2 yang tidak beres.

Waktu keluar tadi terang jendela tidak terbuka, kini terpentang lebar, terutama di dekat jendela, lapat2 terasa olehnya adanya bau semacam pupur wangi,jelas seseorang telah menyelundup masuk lewat jendela.

Diam2 mencelos hatinya, pikirnya.

"Memang-nya ada orang menyelundupkan sesuatu kemari?"

Berdiri ditengah kamar, So-yok berpaling, tanyanya.

"Ling-heng, bagaimana cara menggeledahnya? "

Urusan sudah telanjur, terpaksa Kun-gi mengeraskan kepala dan menabahkan hati, katanya.

"Kamar ini tidak besar, boleh Hu-pangcu suruh Hay-siang menggeledah saja.

"Betul,"

Ujar So-yok.

"Hay-siang, nah, periksalah dengan teliti."

Hay-siang mengiakan-Matanya menyapu keseluruh kamar, kecuali sebuah dipan, sebuah meja kecil dan dua buah kursi seluruh benda yang ada di dalam kawar dapat terlihat dari segala sudut, maka langsung dia melangkah kepembaringan.

Kecuali sebuah bantal, masih ada sebuah kemul tebal yang dilempit rapi di atas ranjang.

Kerja Hay-siang yang pertama adalah menyingkap bantaL Maka dilihatnya sinar kemilau perak di bawah bantal, kiranya itulah sebuah kotak perak yang ber-bentuk gepeng panjang.

Dingin dan tajam sorot mata Ling Kun-gi, diam2 dia mengumpat di dalam hati.

"Bangsat keparat, aku betul2 dijadikan kambing hitam."

Hay-siang jemput kotak perak itu, tanyanya.

"Apakah ini?"

Lekas sekali Kun-gi sudah tenangkan diri, katanya kalem dan tabah.

"Itulah Som-lo-ling."

"Kenapa kau tidak menungguku?"

"Nona mau ke mana? "Kau menyamar lagi bukankah ka hendak menemuka pengejaranmu?" , u n "Betul, kenapa?"

Hebat perubahan rona muka So-yok, tanpa terasa bergetar pembunuhnya?"

Leng Tio-cong melintangkan tangan didepan dada, sembilan jarinya tertekuk, sorot matanya liar menatap Kun-gi, agaknya dia siap turun tangan bila perlu.

Tanpa menghiraukan sikap orang Kun-gi tertawa, katanya.

"Apakah Hu-pangcu tidak melihat jendela kamarku terpentang? Kalau bangsat itu sengaja mau memfitnah aku dengan menyembunyikan barang bukti ini di dalam kamarku, memang banyak waktu untuknya bekerja disaat kita semua berada di ruang makan."

Sementara itu Hay-siang telah angkat kemul itu serta membentangnya, maka terlihat di tengah lempitan kemul itu melayang jatuh seperangkat jubah hijau, teriaknya.

"Hu-pangcu, inilahdisini.

"-Dia ambil jubah itu lalu menuding kebagian lengan, katanya.

"Ya, betul ini. di sini ada sebuah lubang kecil, itulah tanda sambitan panahku."

Gusar wajah So-yok, katanya menggeram.

"Ling-heng memang benar, bangsat itu memang hendak memfitnahmu, soal ini harus diperiksa dan diselidiki dengan seksama sampai seterang2nya, hayolah keluar."

Segera ia mendahului keluar Dengan membawa Som-lo-ling dan jubah hijau itu, lekas Hay-siang mengintil di belakang So-yok, Leng Tio-cong mengira begitu barang bukti tergeledah, Hu-pangcu akan segera memerintahkan membekuk Ling Kun-gi, tapi perkembangan selanjutnya dan dari nada bicaranya se-olah2 membela anak muda itu, diam2 ia menggerutu di dalam hati.

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 15

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert