Eps 5 Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL
Baca online Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL
Cersil Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL.
Bahwa dirinya membekal Pi-tok-cu dan Jing-sin-tan pemberian nona Un, maka dia tidak perlu takut terhadap segala racun dan obat bius, walau berada di sarang harimau, hatinya tetap tenteram dan sikapnya wajar.
Dia yakin Pek-hoa-pang tentu juga punya tujuan tertentu terhadap dirinya.
Malam sudah larut, dia tahu besok pasti banyak urusan yang melibat dirinya, segera dia tanggalkan pakaian terus merebahkan diri.
Malam ini dia tidur dengan pulas.
waktu bangun hari sudah terang tanah, lekas di kenakan pakaian, buka pintu dan melangkah keluar.
Sin-ih sudah menunggu di luar kamar, melihat Kun-gi keluar segera dia tertawa, sapanya sambil membungkuk.
"Selamat pagi Cu-cengcu."
"Selamatpagi nona"
Kun-gibalas menyapa.
"Hamba tak berani di panggil begitu, panggil nama hamba saja"
Sin-ih terus lari menuju ke belakang sambil berkata.
"Hamba akan bawakanairuntukcuci muka."
Lekas sekali dia sudah kembali membawa sebaskom air dan handuk hangat, selesai Kun-gi cuci muka, iapun menyiapkan semeja hidangan di kamar tamu sebelah, katanya.
"Silakan Cengcu sarapan pagi."
Kun-gi melangkah ke kamar sebelah, tersipu2 Sin-ih tarik kursi menyilakan dia duduk, tanpa bicara Kun-gi habiskan dua mangkuk bubur, habis makan Sin-ih sudah sodorkan sapu tangan putih pula untuk membersihkan mulut dan tangan.
Pada saat itulah dari luar pekarangan terdengar derap langkah pelahan, tampak seorang perempuan cantik berpakaian serba putih muncul di ambang pintu.
Kecuali rambutnya yang hitam legam mengkilap, sekujur badan perempuan cantik ini serba putih laksana salju, sampaipun perhiasan disanggulnya juga berwarna putih, perawakannya semampai, tak ubahnya seperti dewi dari kahyangan.
Begitu melihat perempuan cantik ini Sin-ih segera berbisik.
"Cu cengcu, Congkoan telah datang."
Mendengar perempuan remaja berpakaian serba putih, ini adalah Pek-hoa-pang Congkoan yang bernama Giok-lan, lekas Kun gi berdiri.
Sementara itu gadis jelita itu sudah masuk ke kamar tamu, dia memberi hormat kepada Kun-gi serta menyapa.
"Cu-cengcu datangdarijauh, maafhambaterlambatmenyambut."
"Terlalu berat kata2 nona, mana Lohu berani menerima kehormatan setinggi ini."
Setelah berhadapan baru Kun-gi melihat jelas alis orang yang melengkung bulan sabit seperti dilukis, bola matanya bersinar cemerlang bak bintang kejora, hidung mancung bibir tipis seperti delima merekah, begitu cantik, begitu molek, sikapnya agung berwibawa pula.
Cuma kulit mukanya, kelihatan rada pucat.
Sekilas pandang Kun gi lantas tahu bahwa gadia secantik bidadari ini ternyata juga mengenakan kedok muka.
Maklumlah gurunya Hoan-jiu-ji-lay, pada 50 tahun yang lalu adalah ahli tata rias, begitu besar dan tersohor namanya di Bu-lim, sebagai murid tunggal yang mewarisi segala kepandaian gurunya, sudah tentu Kun-gi cukup mahir pula membedakan wajah orang apakah dia dirias atau pakai kedok, Dengan tersenyum manis gadisjelita ini berkata.
"Hamba bernama Giok-lan, menjabat Congkoan dalam Pang kita, mohon Cucengcu suka memberi petunjuk,"
Matanya ber kedip2 lalu menambahkan dengan tawa manis.
"Pangcu dengar Cu-cengcu telah tiba, maka senangnya bukan main dan aku diutus kemari untuk membawa Ceng-cu menghadap beliau."
"Losiu sudah ada di sini, memang sepantasnya menemui Pangcu kalian,"
Ujar Kun-gi.
"Pangcu sudah menunggu di Sian-jun-koan, silakan Cu-cengcu?"
"Terima kasih, nona silahkan dulu."
Giok-lan segera mendahului berjalan keluar.
Tanpa bersuara Kungi mengikut di belakangnya.
Keluar dari pekarangan mereka menyusuri serambi pinggir rumah, bangunan gedung di sini berlapis2 dikelilingi serambi yang berliku2 pula.
Jelas Giok-lan juga mengenakan kedok muka yang buatannya halus dan tipis sekali untuk menyembunyikan muka aslinya.
Orang jalan di depan, Kun-gi melihat kuduk lehernya putih halus, rambutnya yang terurai legam halus bak sutera, langkahnya lembut gemulai, lenggak-lenggok dengan perawakan yang semampai, begitu elok menggiurkan, pakaiannya yang serba putih halus melambai tertiup angin membawa bau harum yang menimbulkan gairah setiap laki2.
Siapapun apa lagi dia masih jejaka, kalau berjalan di belakangnya, pasti timbul pikiran bukan2.
Kun-gi bukan pemuda bergajul, bukan laki2 mata keranjang, tapi toh dia merasa jantung berdebar, pikirannya jadi butek dan napas sesak, berapa jauh dan tempat apa saja yang mereka lewati tidak diperhatikan lagi.
Cepat sekali mereka sudah tiba di depan sebuah gedung berloteng yang di luarnya dikelilingitanamanbunga danpepehonanrindang.
Gedung yang satu ini bangunannya serba ukiran, dicat berwarna warni disesuaikan dengan bentuk gambar ukiran sehingga kelihatan semarak, tepat di atas pintu melintang sebuah pigura besar yang bertuliskan tiga huruf "Sian-juu-koan".
Giok-lan berhenti di depan pintu sambil membalik badan, katanya.
"Sudah sampai, silakan Cengcu masuk"
Kun-gi tertawa, katanya..
"Losiu baru datang, silakan nona tunjukkan jalan."
Giok-lan tertawa, dia bawa Kun-gi masuk ke dalam, kembali mereka menyusuri serambi yang dipagari bambu, serambi ini dirancang sedemikian rupa sesuai keadaan taman yang di-petak2, di dalam petak2 yang dipagari bambu itu ditanami berbagai macam bunga dari jenis yang sukar dicari.
Akhirnya mereka tiba di depan tiga deret villa mungil, kerai bambu menjuntai menutupi keadaan dalam villa.
Di depan pintu berdiri dua gadis menyoreng pedang, melihat Giok-lan datang membawa Ling Kun-gi, mereka memberi hormat serta menyambut dengan suara lirih."
Pangcu sudah menunggu, silakan Congkoan bawa tamu ke dalam.."
Laluseorangdiantara mereka menyingkap kerai. Giok-lan angkat tangannya, katanya.
"Silakan Cu-cengcu."
Sedikit mengangguk Kun-gi terus melangkah ke dalam.
Di dalam adalah sebuah ruang yang cukup luas,jendela berkaca, meja kursi tampak mengkilat bersih, sampaipun lantainya yang terbuat dari papan kayupun memancarkan cahaya kemilau, lukisan menghias sekeliling dinding, pajangannya amat serasi, mentereng tapi sederhana.
Di sebuah kursi cendana besar di sana berduduk seorang perempuan berpakaian gaun kuning, wajahnya tertutup kain sari.
Melihat Giok-lan membawa Ling Kun-gi segera ia berbangkit, bibirnyapun bergerak, katanya.
"Cengcu datang dari jauh, kami terlambat menyongsong, mohon Cengcu memberi maaf."
Suaranyalembut nyaring, sepertikicauburung kenari.
Sekilas Kun-gi melenggong, perempuan gaun kuning ini terang adalah Pek-hoa-pang Pangcu, tapi dari suaranya jelas usianya tentu masih muda belia.
Giok-lan yang ada di samping Ling Kun-gi segera berkata-"Cu-cengcu, inilah Pangcu kami."
Kun-gi tergelak2, katanya sambil merangkap tangan.
"Pangcu mengepalai kaumhawa, beruntung Losiu dapatbertemu."
Pek-hoa-pangcu angkat tangan kirinya, kata-nya merdu.
"Silakan duduk, Cu-cengcu"
Sambil mengelus jenggot Kun-gi menghampiri kursi yang di tunjuk serta berduduk setelah sang Pangcu duduk, Giok-lanpun duduk di kursi sebelah bawahnya.
Pelayan remaja berpakaian pupus segera menyuguhkan minuman.
Kun-gi batuk2 lirih, matanya terangkat mengawasi Pek-hoa-pangcu serta memberi hormat, kata-nya.
"Pangcu mengutus. nona Giok-je membawa Losiu kemari dari Coat Sin-san-ceng, entah ada keperluan apa? mohon petunjuk.."
"Tidak berani memberi petunjuk,"
Ujar Pek-hoa-pangcu.
"Giok-je membawa Cengcu kemari tanpa mendapat persetujuan Cu-cengcu sendiri, sebagai Pek-hoa pangcu, kami mohon Cu-cengcu memaafkan kesalahan ini, soalnya Pang kami memang memerlukan bantuan Cu-cengcu yang amat berharga dan besar sekali artinya, untuk itu mohon Cu-cengcu maklum."
Tutur katanya halus, enak didengar, umpama scorang yang sedang naik pitam juga pasti akan reda amarahnya, apalagi Ling Kun-gi memang punya maksud tertentu, hakikatnya dia tidak pernah merasa sakit hati.
Maka dengan mengelus jenggot dia berkata sambil tersenyum.
"Berat ucapan Pangcu, entah persoalan apa? sukalah Pangcu menjelaskan, Losiu siap mendengarkan."
Sorot matanya tajam menatap wajah orang di balik cadar itu. Agaknya Pek hoa-pangcu sadar, sorot matanya yang bersinar di balik cadar lekas melengos, katanya kalem.
"Soal ini menyangkut kepentingan Pang kami, bahwa kami telah mengundang Cengcu kemari dengan susah payah, sukalah Cengcu memberi bantuan seperlunya."
"Kalau soal itu amat penting bagi Pang kalian Losiu pasti akan bekerja sekuat tenaga, silakan Pangcu jelaskan dulu, supaya Losiu dapat menimbangnya."
Senang hati Pek-hoa-pangcu, katanya.
"Jadi Cu-cengcu menerima permohonan kami."
"Pangcu belum menjelaskan persoalan apa sebenarnya."
Giok-lan segera menyela bicara.
"Soal ini, Cu cengcu sudah memperoleh sukses yang besar, tentunya tidak akan menjadi kesulitan lagi."
"O, ya,"
Ajar Pek-hoa-pangcu.
"bahwa Cu-cengcu sudah menyanggupi. Pang kita pasti akan memberi imbalan besar yang setimpal."
Kun-gi tertawa tawar, katanya.
"Tadi Losiu sudah bilang, asal bukan soal yang merugikan orang lain, bukan kejahatan yang melanggar perikemanusiaan, sekiranya tenaga losiu mengizinkan, dengan suka hati akan kubantu, soal imbalan tidak pernah kupikirkan."
Tampak wajah Pek-hoa-pangcu yang tersembunyi di balik cadar mengunjuk rasa melenggong, katanya kagum.
"Cu-cengeu berhati bajik, mohon maaf akan kata2ku yang telanjur tadi."
"Pangcu,"
Ujar Giok-lan.
"Biarlah hamba yang menjelaskan soal ini kepada Cu-cengcu."
Pek-hoa-pangcu manggut2.
"Begitupun baik"
Katanya.
"Sudah setengah tahun pihak Hek-liong-hwe menculik Lok-san Taysu, Tong Thian-jong dan Un It-kiau kedalam Coat-sin-san-ceng untuk membuat obat penawar getah beracun itu tanpa berhasil, tapi Cu-cengcu dalam jangka tiga hari telah berhasil membikin getah beracunitu menjadiairjernih, entahhal ini betultidak?"
"Ya, kejadian memang demikian,"
Sahut Kun-gi.
"Tapi ...."
Mendadak ia merandek.
"Tapi apa?"
Tanya Pek-hoa-pangcu.
"Sebetulnya Losiu sendiripun tidak habis pikir akan kejadian itu."
"Lho, kenapa demikian?"
Tanya Giok-lan.
"Bicara terus terang, waktu itu Losiu sebetul-nya tidak punya pegangan apa2, hanya secara sekenanya kupungut obat ini dicampur dengan obat itu, lalu kucoba atas getah beracun itu, demikianlah secara beberapa kali kubuat bubuk obat dari berbagai racikan. tak terduga suatu ketika getah beracun yang kental hitam itu berubah jadi air jernih. Hahaha, setelah getah beracun itu berubah jadi air jernih, Losiu sendiri juga tidak ingat lagi berapa macam obat yang kuaduk sampai menimbulkan hasil yang -positip itu."
"Itu bukan soal sulit,"
Kata Giok-lan.
"sedikitnya Cu-cengcu sudah berhasil meski baru langkah permulaan untuk menawarkan getah beracun itu, selanjutnya pasti tidak akan sulit memperoleh obat tulennya."
"Sulit, sulit,"
Ujar Kun-gi menggeleng2
"Lo-siu sudah bilang, hasil itu hanya secara kebetulan, hakihatnya tidak punya keyakinan sedikitpun."
Giok-lan tersenyum.
"Selama tiga hari berada di Coat Sin-sanceng Cu-cengcu telah mengambil berjenis obat racikan, semua nama obat dan kadar timbangannya sudah dicatat oleh pihak kami, menjadi suatu daftar yang terperinci,jadi obat yang tulen untuk menawarkan getah beracun itu pasti terdapat di antara ke12 macam obat2an itu, asal Cu-cengcu sedikit tekun dan rajin meracik berbagai macamobatitu,taksukar memperolehobattulennya."
Kun-gi sudah tahu tentang pencatatan secara rahasia oleh Giok-je di Coat Sin-san-ceng itu, tapi dia pura2 kaget, katanya.
"Jadi Pang kalian tahu selama tiga hari itu aku menggunakan bermacam obat racikan?"
"Pek-hoa-pang memang jarang berkecimpung di Kangouw, tapi tiadasuatuhalatau kejadiandi kolong langitini yangtidakdiketahui oleh Pang kami, barang apapun yang kami inginkan, umpama suatu benda yang paling rahasia di dunia ini juga bisa kami usahakan untuk memperolehnya,"
Demikian kata Giok-lan dengan nada bangga. Kun-gi pandang kedua orang dengan heran, tanyanya ragu2.
"Lalu apa kehendak kalian atas diriku?"
"Cu-cengcu luas pengalaman dan cerdik pandai, kenapa tidak menebaknya saja?"
Kata Giok-lan main teka-teki. Kun-gi sengaja menggeleng sambil garuk2 kepala, tanyanya.
"Memangnya Pang kalian juga ingin aku menyelidiki obat penawar getah beracun itu?"
Pek-hoa-pangcu terkikik riang, katanya.
"Pandangan Cu-cengcu memang tajam dan tepat tebakannya."
Tergerak hati Kun-gi, tanyanya.
"Pang kalian dan pihak Coat-siusau-ceng sama2 ingin mencari obat penawar getah beracun itu, memangnya apa tujuanmya?"
"Soal ini terpaksa harus kita rahasiakan untuk sementara, tapi atas nama Pang dan seluruh jiwa anggota kami, aku berjanji bahwa usaha kita ini hanyalah demi mencari obat penawar getah beracun itu,jadi tidak untuk melakukan kejahatan mencelakai orang lain, kalaujanji kami inidilanggar, Pek-hoa-pangakantersapubersihdari permukaan bumi, seluruh anggota kami mati tanpa liang kubur. Tentunya Cu-cengcu dapat menerima sumpah kami dan mau percaya bukan?"
"Terlalu berat ucapan nona, baiklah kupercaya saja,"
Ujar Kun-gi. Giok-lan tertawa.
"Jadi Cu-cengcu sudah menerima tawaran kami?"
Tujuan Kun-gi membiarkan dirinya diselundupkan keluar dari Coat-siu-sau-ceng dan dibawa ke Pek-hoa-pang ini adalah mencari jejak ibunya.
Tapi persoalan yang dihadapinya ini kembali menarik perhatiannya.
Coat Sin-san-ceng, alias Hek-liong-hwe demi memperoleh obat penawar getah beracun telah menggunakan muslihat dengan menculik Tong Thian-jong, Un It-kiau dan Lok-san Taysu, serta Ciam-liong Cu Bun-hoa.
Kini muncul lagi Pek-hoa-pang yang menggunakan akal muslihat menyelundupkan dirinya ke tempat ini, tujuannya ternyata juga mencari obat penawar getah beracun itu, Kenapa mereka sama2 berusaha mencari penawar getah beracun itu?
Apakah sebetulnya getah beracun itu?
Bukan mustahil dalam peristiwa ini ada latar belakang yang teramat besar artinya?
Sehingga timbul perebutan dan saling gontok kedua perkumpulan rahasia ini?
Otak Kun-gi yang cerdik sudah bekerja keras, tapi tak berhasil memperoleh jawaban yang memuaskan.
Melihat orang menepekur sekian lamanya, akhirnya Pek-hoa-pangcu bertanya.
"Kenapa Cu-cengcu diam saja?. Berubah pikiran kiranya?"
Kun-gi menduga bahwa ibunya mungkin diculik orang2 Pek-hoa-pang, maka disamping mengulur waktu mencari kesempatan, dia pura2 bimbang, akhirnya dia angkat kepala dan berkata.
"Baik-lah, aku menerimanya."
Cemerlang sinar mata Pek-hoa-pangcu dari balik cadar, katanya tertawa senang.
"Apa betul?"
"Losiu sudah terima dan berjanji, sudah tentu akan kutepati"
Ujar Kun-gi.
"Baiklah,"
Kata Giok-lan.
"Pangcu masih ada pesan apa?"
"Cu-cengcu sudah setuju, urusan selanjutnya boleh kau saja yang mengaturnya,"demikian pesan Pek-hoa-pangcu. Giok-lan menyiakan. Pembicaraan sudah diakhiri sampai di sini, pelan2 Kun-gi lantas berdiri, katanya sambil menjura.
"Pangcu tiada urusan lain, baiklah kuminta diri saja."
Tadi Giok-lan yang membawa Kun-gi kemari, maka iapun ikut berdiri, tapi secara diam2 dia memberi lirikan mata kearah Pek-hoapangcu. Mendadak Pek-hoa pangcu mengawasi Kun-gi, katanya.
"Silakan Cengcu duduk lagi sebentar."
Terpaksa Kun-gi duduk kembali, tanyanya.
"Pangcu masih ada pesan apa?"
"Kaupun harus duduk,"
Kata Pek-hoa-pangcu kepada Giok-lan. Giok-lantersenyum, iapundudukpuladitempatnya.. Menatap muka Ling Kun-gi, berkata Pek-hoa -pangcu.
"Masih ada satu hal ingin kami mohon petunjuk Cengcu, entah bagaimana aku harus mulaibicara?"
"Pangcuhendaktanyasoalapa?"
TanyaKun-gi. Dengan ragu2 berkatalah Pek-hoa-pangcu.
"Kalau kukatakan harap Cengcu tidakberkecilhati."
"Kalau Pangcu anggap perlu dibicarakan, silakan katakan saja"
"Kami berpendapat bahwa Cu-cengcu sudah setuju bekerja sama dengan setulus hati dan sejujurnya, maka kiranya perlu kami berterus terang, bila Cu-cengcu sendiri juga punya kesulitan, kamipun tidak akan memaksa."
Kun-gi tertawa lebar, katanya lantang.
"Seorang laki2 sejati menghadapi persoalan tidak boleh ragu2, bila urusan memang bisa kubicarakan, tentu takkan kusembunyikan."
"Syukurlah kalau begitu,"
Kata Pek-hoa-pangcu, sorot matanya yang bening bersinar menatap wajah Kun-gi lekat2, katanya kemudian.
"Kami dengar bahwa Hian-ih-lo-sat telah membekuk seorang tua di Liong-bun-oh, setelah mukanya dicuci dengan arak obat, ternyata dia adalah Cu-cengcu dari Liong-bin-san ceng yang tulen, Hian-ih-lo-sat juga sudah mempertemukan kedua Cu-cengcu tulen dan palsu itu, tentunya hal ini benar2 terjadi?"
Giok-je adalah anak buah Pek-hoa-pang, bukan mustahil kalau hal inipun sudah diketahui oleh Pek-hoa-pangcu. Maka Kun-gi mengangguk, katanya."Memang betulada kejadianbegitu."
"Jika demikian, disinilah letak persoalan yang ingin kami ketahui, entah mana di antara kedua Cengcu yang tulen dan palsu?"
Sampai disini mendadak dia menambahkan.
"Tadi kami sudah bilang, kalau Cu cengeu tak mau menjawab, kami tidak akan memaksa."
Kun-gi menghela napas katanya tertawa.
"Pangcu memang cerdik, sebagai pimpinan sekian banyak orang pintar, tentunya bisa menebaknya?"
Pek-hoa-pangcu menggigit bibir, katanya sambil tertawa lirih.
"Kalau Cu-cengcu sendiri tidak mau menerangkan, terus terang kamitidakdapat menebaknya."
"Ah, kenapa sungkan, kenapa tidak katakan saja bahwa Pangcu curiga bahwa diriku bukan Cu Bun-hoa?"
"Jadikau iniCu Bun-hoa?"desak Pek-hoapangcu.
"Aku memang bukan CuBun-hoa,"sahutKun-gi tegas. Pek, hoa-pangcu melengak, sorot matanya menjadi terang, tanyanya.
"Kau bukan Cu Bun-hoa, lalu kau ini...."
"Cayhe Ling Kun-gi"
"O,jadi engkau Ling-lotiang, engkau merias wajahmu, betul tidak?"
"Betul, Cayhe menyaru sebagai Cu-cengcu, tujuanku menyelundup ke Coat Sin-san-ceng untuk, mencari jejak seseorang"
Agaknya Pek-hoa-pangcu tidak memperhatikan beberapa patah katanya ini, sekian saat dia awasi Ling Kun-gi, katanya.
"Ling-lotiang sudah mau terus terang, setelah berada di dalam Pang kita, ku-kira tidak perlu menyamar lagi, entah sudikah engkau memperlihatkan wajah aslinya kepada kami?"
"Boleh saja"
Ucap Kun-gi tertawa.
"tapi setelah aku mencuci muka, apakah Pangcu sendiri juga sudi memperlihatkan wajah aslimu?"
"Maksud Ling-lotiang minta kami menanggalkan cadar ini?"
"Untuk kerja sama dengan sejujurnya, adalah jamak kalau kita berlaku adil"
"Baiklah,"
Ujar Pek-hoa-pangcu tertawa sambil membuka cadar yang menutupi mukanya.
Seketika pandangan Ling Kun-gi terbeliak, itulah seraut wajah nan lembut, ayu rupawan, asri dan anggun, usianya sekitar 24 tahun.
Bahwa Pek hoa-pangcu masih sedemikian muda, malah cantik jelita bak sekuntum bunga mawar mekar, sesaat lamanya ling Kun-gi sampai menjublek, akhirnya dia tergelak2 katanya.
"Dengan menyamar Cu-cengcu, Cayhe telah mengelabui Cek Seng-jiang dan Hian-ih-lo-sat, entah di mana Pangcu dan Cong-koan berdua dapat melihat titik kelemahan samaranku ini."
Pek hoa-pangcu mengawasinya dengan seksama sekian lamanya, akhirnya sama2 tertawa malu, katanya.
"Ilmu tata rias Ling-lotiang memang luar biasa, sedikitpun kami tidak melihat sesuatu yang kurang beres."
Kun-gi tertawa tawar, katanya.
"Kalau Pangcu sudah tahu Cayhe ahli dalam ilmu tata rias ini, maka betapapun bagus buatan kedok muka yang kalian pakai tetap takkan dapat mengelabui pandanganku."
Pek-hoa-pangcu melenggong, katanya.
"Pandangan Ling-lotiang memang tajam luar biasa, kami memang mengenakan kedok muka, tapi karena adanya larangan dalam Pang kami, terpaksa kami tidak bisa berhadapan dengan siapapun dengan wajah asli."
"Lalu nona Giok-je dan lain2 yang menyelundup ke Coat-siu-sauceng juga memakai kedok muka?"
"Itu dalam keadaan istimewa, sudah tentu mereka terpaksa harus memperlihatkan wajah asli."
"Tadi Pangcu sendiri sudah bilang minta Cay-he memperlihatkan wajah asli, maka Pangcu seharusnya juga menanggalkan kedok mukamu."
Pek hoa pangcu ragu2, dia berpikir sebentar, katanya kemudian.
"Ling-lotiang berkukuh pendapat, terpaksa kami memperlihatkan wajah jelek kami."
Habis berkata dengan hati2 dia mengelotok selapis kedok muka yang tipis, begitu tipisnya menyerupai selaput buah salak, Seketika pandangan Ling Kun-gi menjadi terang pesona,jantungnya berdebar.
Sekian banyak nona yang pernah dikenalnya, seperti Un Hoan-kun, Pui Ji-ping, Tong Bun-khing bertiga adalah gadis yang ayu jelita, tapi Pek-hoa-pangcu yang ada dihadapannya ini mempunyai daya pikat yang luar biasa, sikapnya agung dan suci,jelita bak bunga mekar, kecantikannya tak kalah daripada permaisuri raja.
Setelah menanggalkan kedok mukanya, wajah Pek-hoa-pangcu tampak merah jengah.
Katanya malu2.
"Semoga engkau tidak mentertawakan, padahal anggota Pang kita sendiri hanya beberapa orang saja yang pernah melihat wajah asliku....."
Bola matanya nan bening melirik Giok-lan, katanya.
"Untuk memperlihatkan ketulusan hati kita aku sudah melanggar kebiasaan, maka hendaknya kaupun mencopot kedokmu biar diperiksa oleh Ling-lotiang."
Giok-lan mengiakan.
Pelan2 iapun menanggalkan kedoknya.
Jika Pek hoa-pangcu diibaratkan sekuntum bunga botan yang agung, maka Congkoan yang satu ini memang sesuai betul dengan namanya bak sekuntum bunga giok-lan (cempaka) yang harum semerbak.
Kembali Kun-gi terpesona, sikap Giok-lan jauh lebih wajar, tapi dihadapan orang luar betapapun dia juga malu, sekilas dia melirik kepada Ling Kun-gi, lalu berkata.
"Sekarang Ling-lotiang sudah puas? Dan kini giliranmu, cara bagaimanauntuk mencuciobatriasdi mukamu?"
Kun-gi tersenyum, katanya.
"Cayhe membawa obat pencuci"
Sembari bicara iapun melepaskan jenggot palsu lalu merogoh kantong mengeluarkan sebuah kotak kecil dan mengambil sebutir obat sebesar kelereng lalu diremas dan digosok2 di telapak tangan, lalu ia mengusap muka sendiri, sekian saat kemudian dikeluarkan pula sapu tangan untuk membersihkan muka.
Hanya dalam sekejap wajahnya yang kelihatan tua setengah baya berjenggot dan agak keriputan mendadak berubah jadi wajah yang cakap ganteng, beralis tegak seperti pedang, bibir merah, gigi putih, sungguh pemuda yang bagus laksana Arjuna..
Sejak tadi Pek,hoa-pangcu selalu memanggilnya "Ling-lotiang", keruan sekarang ia terbelalak lebar, wajahnya merah seperti kepiting direbus, mulutpun melongo bersuara kaget dan Giok-lan sendiripun amat heran, tatapannya lekat penuh kasih mesra, katanya sesaat kemudian.
"Ling kongcu ternyata masih begini muda, sungguh di luar dugaan."
Kun gi tertawa, katanya.
"Bukankah nona berdua lebih muda dari padaku? Sebagai Pangcu dan Congkoan dari suatu perserikatan, kalian malang melintang di dunia persilatan, bukankah ini jauh di luar dugaan pula?"
Lambat laun baru tenteram gejolak hati Pek-hoa pangcu, kedok muka yang dipegangnya tadi segera dikenakan lagi, matanya menatap tajam, bibirnya bergerak, katanya.
"Ling-kongcu muda dan gagah perkasa, tentunya juga cerdik pandai, entah siapakah gurumu yang mulia?"
"Maaf kalau Cayhe tidak dapat menerangkan pertanyaan Pangcu, soalnya guruku sudah lama mengasingkan diri dari keramaian dunia, jejaknya selama hidup tidak ingin diketahui orang lain, untuk ini Cayheamatmenyesaltak bisa memberi keterangan."
Pek-hoa-pangcu berseri tawa, katanya.
"Gurumu pasti seorang tokoh kosen yang luar biasa, kalau memang ada kesulitan, boleh Kongcu tak usah menjelaskan", lalu ia berpaling kepada Giok-lan dan berpesan.
"Ling-kongcu baru datang sebagai tamu agung, apakah kau sudah siapkan perjamuan untuk menyambutnya?"
Giok-lan membungkuk, sahutnya.
"Hamba mohon petunjuk Pangcu, perjamuan hendak diadakan tengah hari atau nanti malam?"
Lekas Kun-gi goyang tangan, katanya.
"Pang-cu tidak usah sungkan, mana Cayhe berani bikin repot."
"Kau sudah ada di tempat kami, sebagai tuan rumah selayaknya kami meladani ala kadarnya, apalagi tenagamu amat kami perlukan,"
Lalu Pek-hoa-pangcu berpaling.
"diadakantengah harinantisaja."
Giok-lan mengiakan, segera dia pakai lagi kedok mukanya, berdiri terus beranjak keluar.
Dalam ruang tamu kini tinggal mereka berdua saja, setelah keduanya sama2 memperlihatkan wajah asli, yang laki2 cakap, yang perempuan cantik,jantung mereka sama berdebar2, suasana sedikit kikuk dan risi, akhirnya Pek-hoa-pangcu memecah kesunyian, katanya.
"Tadi Ling kongcu bilang tujuan samaranmu untuk mencariorang, entahsiapakah dia?"
"Beliau adalah ibundaku."
"O, kau mencari ibumu?"
Berkerut alis Kun-gi, katanya;
"Ibu sudah hilang beberapa bulan lamanya, sampaisekarang belumdiketahuiarahparannya."
"Kulihat Ling-kongcu gagah bersemangat, sinar matamupun terang bercahaya,jelas membekal kepandaian silat dan Lwekang yang tinggi, tidak mirip orang yang terkena racun penawar Lwekang dari Coat Sin-san-ceng, bahwa Kongcu membiarkan dirimu dibawa kemari oleh Giok-je, tentu kau curiga bahwa ibundamu berada di sini bukan?"
Kun-gi cukup cerdik, tapi juga tabah, katanya.
"Jadi Pangcu curiga bahwa kedatanganku membawa maksud tujuan yang tidak baik?"
"Tidak,"
Sahut Pek,hoa-pangcu menggeleng.
"sedikitpun aku tidak curiga."
Lalu dengan nada serius dia menambahkan.
"Aku dapat merasakan,.Ling-kongcu pasti seorang Kuncu."
"Ah, Pangcu terlalu memuji."
Berkedip dan bertanya Pek-hoa-pangcu.
"Ling-kongcu mau mencari ibu dan sudi tinggal di tempat kami, mungkinkah dapat membantu kesulitankamipula?"
Kun-gi tertawa, katanya.
"Cayhe sudah telanjur janji, tentu akan kutepati."
"Terima kasih. Pang kami juga akan membantu sekuat tenaga untuk mencari jejak ibumu yang hilang, paling lama tujuh hari pasti kami dapat memperoleh kabar ...."
Sedikit merandek, dia bertanya lebih lanjut.
"Cuma siapa she dan nama ibumu."
"Ibuku she Thi, tentang nama beliau Cayhe sendiri juga tidak tahu."
"Kami jarang berkelana di Kangouw, tapi setiap orang yang punya nama beken sedikit banyak tentu pernah kami dangar, tapi tokoh perempuan she Thi yang kenamaan belum pernah kami dengar?"
"Ibuku tidak pandai ilmu silat, selamanya tidak pernah keluar rumah, sudahtentuPangcutidakpernah mendengarnamabeliau?"
Heran Pek-hoa-pangcu, katanya.
"Ibumu bukan kaum persilatan, bagaimana bisa lenyap? Mungkin dia punya musuh?"
"Watak ibuku welas-asih, bijaksana dan bajik, kecuali mengurus pekerjaan rumah, belum pernah ribut dan bertengkar dengan orang, mana mungkin punya musuh?"
"Aneh kalau begitu. Em, berapa usia ibumu? Bagaimana raut wajahnya, bolehkah Kongcu memberi gambaran secara terperinci, supayakuperintahkananak-buahku untuk ikut mencari jejakbeliau"
Melihat sikap orang yang prihatin dan sungguh2, Kun-gi lantas berkata.
"Ibuku berusia, badannya lemah dan sering sakit2an, maka kelihatannya sudah tua seperti berusia lima-puluhan, mukanya lonjong agak kurus, rambut di atas pelipis sudah beruban."
"Ling-kongcu tak usah kuatir, akan kukerahkan seluruh kekuatan Pang kita bantu mencari jejaknya,"
Lalu sambil mengerut alis dia menambahkan.
"Cuma ibumu bukan kaum persilatan, untuk mencarinya tentu agak sukar, tapi kami percaya dengan kekuatan Pang kita yang tersebar luas di seluruh Kangouw, cepat atau lambat pastibisa memperolehberita."
"Budi kebaikan Pangcu membuat Cayhe amat berterima kasih."
Mendadak merah wajah Pek-hoa-pangcu, katanya sambil menatap Kun-gi.
"Kalau Ling-kongcu sudi, bagaimana kiranya kalau anggap diriku sebagai kawan?"
Agaknya dia menggunakan seluruh keberaniannya untuk mengucapkan kata2nya ini, setelah mengutarakan isi hatinya, dengan malu dia menunduk kepala.
Berdetak jantung Kun gi, mukanya merah, katanya dengan tertawa.
"Berat kata2 Pangcu, bahwa cayhe bisa berkenalan dengan Pangcu sudah beruntung besar, bukankah sekarang kita sudah berkawan?"
Sorot mata Pek-hoa pangcu tertuju ke lantai, jari2 tangannya mengusap kedok mukanya yang tipis, katanya lirih.
"Maksudku .."
Belum habis dia bicara tampak. Giok-lan melangkah masuk, lekas Pek-hoa-pangcu putuskan pembicaraan. Di ambang pintu Giok-lan menekuk lutut memberi hormat, katanya.
"Pangcu, Ling-kongcu, meja perjamuan sudah disiapkan, silakan makan dulu."
Pek-hoa-pangcu tidak pakai lagi kedok mukanya, dia hanya menutup dengan cadar, pelan2 ia berbangkit, katanya.."Mari, silakan Ling-kongcu."
Dibawah iringanPek-hoa-pangcu mereka meninggalkan, Ing jun-koan, melalui serambi terus menuju ke kamar bunga di seberang sana.
Di dalam meja perjamuan memang sudah siap.
empat gadis berdiri di empat sudut siap melayani, melihat sang Pangcu mengiringi seorang pemuda berwajah tampan, sekilas mereka unjuk rasa kaget dan kagum, tersipu2 mereka maju menyambut.
Pek-hoa-pangcuangkattangan.
"Silakan Kong-cu dudukdiatas."
Kun-gi duduk di kursi tamu, Pek-hoa-pangcu duduk di tempat tuan rumahnya.
Malah duduk di sebelah bawahnya.
Dua pelayan segera mengisi cangkir yang sudah tersedia.
Hidangan yang disuguhkan memang luar biasa dan banyak ragamnya, keempat pelayar ganti-berganti menyuguhkan bermacam2 masakan, sementara mereka makan minum sambil mengobrol, banyakjugasoal yang merekabicarakan.
Mendadak di luar sana terdengar suara ribut2 beberapa orang, Pek-hoa-pangcu bersungut, katanya dongkol.
"Ada kejadian apa di luar itu?"
Lekas Giok-lan berdiri, katanya.
"Biar hamba keluar melihatnya ...."
Belum habis dia bicara, dari luar sudah berlari masuk seorang pelayan dengan ter-gopoh2.. Giok-lan lantas tanya.
"Kau ter-buru2, ada kejadian apa di luar?"
"Lapor congkoan, barusan ditemukan jejak musuh di taman depan... ."
Giok-lan melengak. tanyanya.
"Ada kejadian begitu? Siapa yang berani menyelundup ke taman?"
"Pendatang berkepandaian tinggi, agaknya tidak mengusik bagian luar, tahu2 mereka sudah ada didalam lewat jalan air"
Seorang gadis terdengar membentak. lebih dekat di luar taman sana.
"Pendatang dari mana? hayo berhenti"
Tiba2 terdengar suara serak tua berkata dingin.
"Kami bertiga kebetulan lewat dari danau, kulihat di sini ada sebuah taman yang luas, sengaja kami tamasya ke Sini, kalian budak2 ini berani main gila terhadap Lohu?"
Waktu itu tengah hari, tapi ada orang berani terobosan di markas besar Pek-hoa-pang, sungguh besar nyali mereka.
Giok-lan tidak banyakbicaralagi, cepatdia lari keluar.
Wajah Pek-hoa-pangcu yang jelita kelihatan berubah, cepat ia mengenakan kedoktipisdimukanya.
Kun-gi tidak tahu siapa yang datang?
Tapi dia menduga pihak Pek-hoa-pang telah kedatangan musuh tangguh, lekas dia berdiri dan berkata.
"Pangcu ada urusan, boleh silakan-"
Tajam tatapan mata Pek-hoa-pangcu, katanya..
"Apakah yang datang temanmu?"
Kun-gi menggeleng kepala, katanya.
"Bukan temanku."
"Syukurlah kalau bukan temanmu. Apakah Ling-kongcu ingin keluar melihatnya?"
"Kalau tiada alangan boleh saja."
Pek-hoa-pangcu tertawa manis, katanya.
"Mari silakan-"
Lalu dia berpesan kepada pelayannya.
"Lekas keluarkan perintah, sebelum diketahui asal-usul pendatang, suruh orang di depan tidak usah masuk kemari"-Seorangpelayan mengiakan laluburu2 larikeluar. Seperti tidak terjadi apa2, bersama Ling Kun-gi, Pek-hoa-pangcu berhenti di ambang pintu. Melalui jendela Kun-gi melongok keluar, tampak pakaian putih Giok-lan melambai2 berdiri di undak2an, di depannya adalah sebuah lapangan berumput, di sana berdiri berjajar tiga orang menghadap ke arah kamar sini. Orang yang berdiri di tengah berjubah hitam, mukanya merah beralis ketal, jenggot jarang2 menghias dagunya, pedang panjang terpanggul dipundaknya, kedua biji matanya mencorong buas, usianya antara setengah abad. Di sebelah kirinya berdiri laki2 bermuka jelek berpakaian kain belacu seperti orang berkabung, anehnya pakaian belacu yang dipakainya hanya separo, sorot matanya memancarkan cahaya biru, sekilas pandang perawakannya kelihatan rada aneh dan lucu. Yang berdiri di sebelah kanan adalah laki2 setengah baya, menyandang pedang dipunggungnya, mukanya pucat seperti tidak berdarah. Sikap mereka garang dan kasar, jelas kedatangan mereka bermaksud tidak baik. Tidak jauh di sekeliling ketiga orang ini berpencar lima gadis baju hijau yang menenteng pedang, terang mereka adalah anak buah Pek-hoa-pang. Sikap Giok-lan tenang2 saja, dengan kalem dia pandang ketiga orang, lalu menatap laki2 muka merah di tengah itu, tanyanya dengan nada kurang senang.
"Siang hari belong, tanpa sengaja kalian main terjang masuk ke rumah orang, memangnya ada keperluan apa?"
Memang tidak memalukan Giok-lan diangkat sebagai congkoan Pek-hoa-pang, tindakannya tegas, tutur katanyapun tandas, orang akan merasa bahwa dia seorang gadis bangsawan dari suatu keluarga besar.
Laki2 muka merah menyeringai, katanya.
"Jadi nona pemilik taman ini?"
"Taman ini dalam lingkungan keluargaku, sudah tentu aku adalah pemiliknya,"
Ujar Giok-lan dongkol.
"Siapakah she nona?"
Tanya laki2 muka merah.
"Kita belum saling kenal, tak perlu tanya nama segala, kalian menyelundup ke rumah ku, ada keperluan apa?"
"Tadi sudah kujelaskan, kami hanya ingin bertamasya saja."
"Pintu taman kami tidak terbuka, memangnya dari mana kalian masuk-?"
"Terdorong oleh keinginan hati, kalau hanya pagar tembok setinggi itu tidak menjadi alangan bagi kami bertiga."
"Kami adalah rakyat jelata yang bersahaja, apa tujuan kalian kemari?".
"Nona jangan menyindir, memangnya kau kira kami bukan rakyat baik2?"
"Siang hari belong, kalian melompati tembek dan masuk ke rumah orang, tentunya punya maksud tujuan tertentu."
Si muka merah terkekeh2, katanya.
"Nona2 anak buahmu ini kiranyaberkepandaiantidakrendah juga."
"jugakalian memangsengajakemariuntukcariperkara?"
Bersinar mata si muka merah, katanya sinis.
"Hampir mengena sasaran kata2 nona, kudengar di Phoa-yang-ouw ini akhir2 ini ada gerombolan nona2 cantik yang banyak menimbulkan gelombang di Kangouw, maka Lohu bertiga ingin memeriksa kemari apa betul kabar yang tersiar itu?"
Diam2 Kun-gi membatin.
"Kiranya tempat ini di tengah2 Phoayang-ouw?"
Terdengar Giok-lan tertawa dingin, katanya.
"Betapa luas dan besar Phoa-yang-ouw ini, apakah kalian tidak kesasar?"
"Semula Lohu memang kira taman seluas ini adalah milik bangsawan yang telah pensiun dan mengasingkan diri disini, maka ingin menengoknyakemari,kinipandanganLohujadiberubah."
"Berubah bagaimana?"
"Sudah puluhan tahun Lohu berkecimpung du Kangouw, memangnya pandanganku bisa meleset?"
"Jadi menurut pandanganmu tempat apakah taman kami ini?"
"Justeru Lohu ingin keterangan dari nona?"
Sampai di sini Pek-hoa-pangcu tidak sabar lagi, katanya lirih.
"Ling-Kong cu, mari kita keluar."
Lalu dia singkap kerai melangkah keluar, suaranya kumandang merdu.
"Sam-moay, kedatangan mereka terang ada maksud tertentu, coba kau tanya mereka dari kalangan mana?"
Kun-gi ikut melangkah keluar, dalam hati dia membatin.
"Dia panggil Giok-lan sebagai Sam-moay, jadi masih ada Ji-moay, lantas siapa dia?"
Mendengar suara merdu Pek-hoa-pangcu, si muka merah bertiga memandang ke sini, tampak muncul sepasang muda-mudi, yang laki2 tampan dan yang perempuan ayu jelita.
Dari langkah mereka dapat diketahui bahwa kedua muda-mudi ini bukan sembarang orang.
Sekilas melengak si muka merah, lalu tertawa, katanya sambil menjura.
"Nona danKongcu ini tentunyama Jikan disini?"
Karena orang bicara sambil menatap dirinya, maka Kun-gi tertawa tawar, katanya.
"Tuan salah, cayhe hanya bertamu disini, bukan pemilik tempat ini?"
Si muka merah lalu mengamati Pek-hoa-pang-cu, katanya kemudian.
"Lalu nona inikah ma Jikan tempat ini."
"Kalian harus jelaskan dulu asal-usul sendiri baru nanti tanya siapa diriku."
Si muka merah terkekeh2, katanya.
"Betul, biarlah kita bicara blak2an, Lohu Jik Hwi-bing, pejabat Ui-liong-tongcu dari Hek-lionghwe."
Pek-hoa-pangcu tidak kaget juga tidak heran, sikapnya tenang2, katanya.
"o, kiranya seorang Tongcu malah, jadi kami yang berlaku kurang hormat, lalu siapa kedua orang ini?"
"Mereka adalah dua saudara angkat Lohu."
Ujar Jik Hwi-bing. Sejak tadi kedua orang di kiri kanannya berdiam diri, mukanya beringas dan kaku, kini laki2 muka jelek berpakaian biru itu bersuara.
"cayhe Lan Hou"
Laki2 muka pucat di sebelah kanan juga memperkenalkan diri.
"cayhe PekKi-ham."
"Kami bertiga sudah perkenalkan diri, giliran nona menyebut namamu?"ujarJik Hwi-bang.
"Aku she Hoa,"
Kata Pek-hoa-pangcu.
"Lohu ingin tahu, gerombolan nona yang sudah sering berkecimpung di Kangouw secara diam2 tentu punya nama bukan?"
Pek-hoa-pangcu tertawa, katanya.
"Terlalu tinggi penilaian Ui-tongcu terhadap kami, yang sering menimbulkan gelombang ombak di kalangan Kangouw hanya beberapa saudara kami saja, hasil yang dicapaijugatidakberarti, memangnyakamipunyanamaapa."
Jik Hwi-bing menarik muka, katanya mengejek.
"Jadi nona tidak mau berterus terang."
"Apa yang kukatakan adalah kenyataan, kalau Jik-tongcu tidak percaya terserah"
Tajam sorot mata Jik Hwi-bing, katanya.
"Baiklah, Lohu anggap apa yang nona katakan memang benar, kedatangan kami memang ada maksud untuk merundingkan sesuatu hal dengan nona."
"Entah soal apa sampai Jik-tongcu memerlukan kemari dari tempat jauh"
Jengek Pek-hoa-pangcu.
"Asas berdirinya Hek-liong-hwe bertujuan hidup berdampingan secara damai dengan sesama golongan Kangouw, tidak ingin menimbulkan bentrokan dengan aliran manapun, umpama air sungai tidak menyalahi air sumur, syukurlah kalau bisa sailing mengalah dan mengikat hubungan secara terbuka, kalau tidak juga jangan sampai ribut, entah bagaimana pendapat nona tentang perkataanku ini?"
"Apa yang kau katakan memang masuk akal, cuma dengan cara kasar kalian terobesan di taman kami apakah ini bukan air sungai menyerang air sumur? Beginikah asas Hek-liong-hwe yang tidak suka bentrok dengan sesama golongan Kangouw"
Lekas Jik Hwi-bing menjura, katanya.
"Kalau Lohu mohon bertemu dengan cara Kangouw, terang nona tidak sudi menemui kami, untuk ini sebagai Tongcu dari Hek-liong-hwe, kami mohon maaf kepada nona."
"Soal ini tidak perlu dibicarakan lagi, katakan saja, apa maksud kedatangan Jik-tongcu?"
"Nona memang suka berterus terang, baiklah lohu blak2an saja, kami mencariseseorang."
"Siapa yang kalian cari?"
"cam-liong Cu Bun-hoa, cengcu dari Liong-bin-san-ceng."
Tergerak hati Ling Kun-gi, pikirnya.
"cepat benar kabar berita mereka."
Pek-hoa-pangcu tertawa tawar, katanya.
"Aneh, kalian mencari Cu-cengcu pemilik liong-bin-san-ceng, kenapa tidak ke sana tapi malah meluruk ke-mari?"
Jik Hwi-bing terkekeh dingin, katanya.
"Lohu sudah mencari tahu dengan jelas, buat apa nona mungkir?"
"Apa2an ucapanmu ini? Setiap insan keluarga Hoa kami selalu bicara dengan blak2an, kenapa harus mungkir segala?"
"Baik, biarlah Lohu tanya, semalam ada sebuah perahu dari Ankhing, siapa saja orang yang berada di perahu itu?"
"Itulah adikku nomor 13 bersama kedua pelayannya."
"Siapa nama adikmu itu?"
"Dia bernama Giok-je,"
"Agaknya dia kurang pengalaman,"
Demikian batin Kun-gi.
"Pihak Hek-liong-hwe sudah meluruk kemari, kenapa dia masih terang2an menyebut nama Giok-je,"
Betul juga Jik Hwi-bing lantas tergelak2, matanya bercahaya, serunya.
"Betul dia adanya"
"Memangnya adikku itu berbuat salah apa terhadap kalian?"
"Apa yang dibawa pulang oleh nona Giok-je?"
Jengek Jik Hwibing.
"Kusuruh dia membeli obat2an di An-khing, sudah tentu membawa pulang bahan obat."
Sampai di sini dia lantas balas bertanya.
"Jik-tongcu bilang hendak cari cu-cengeu dari Liong -binsan-ceng, memangnya kenapa kau tanya urusan kami?"
"Dia memang tidak punya pengalaman Kangouw, maka kata2nya terlalu puntul, tapi hal ini justeru memperlihatkan bahwa dia seakan2 memangtidaktahuapa2."
Jik Hwi-bing luas pengalaman, mendengar jawaban ini timbul juga rasa sangsinya, katanya.
"Bukankah adikmu Giok-je yang menculikciam-liong CuBun-hoakemari."
"Apa benar? Ah, aku tidak percaya."
Lalu menoleh berpesan pada seorang pelayan.
"Lekas panggil cap-sha-moay (adik ke-13) kemari, katakan aku ingin tanya dia."-Pelayan itu mengiakan terus mengundurkan diri. Diam2 Kun-gi merasa geli, pikirnya.
"Agaknya dia sengaja hendak mempermainkan mereka."
Didengarnya Pek-hoa pangcu berdehem sekali, lalu menoleh kearah Kun-gi, katanya tertawa.
"Ling-kongcu, apa kau tidak lelah berdiri? Bok-hi, ambilkan dua kursi kemari."
Seorang pelayan dibelakangnya mengiakan terus lari ke kamar mengambil dua kursi dandi-jajarkandiserambi.
Gerak-gerik Pek-hoa-pangcu lemah lembut seperti tidak bertenaga, dia duduk dikursi sebelah kanan, lalu menoleh berkata dengan nada mesra.
"Ling-kongcu silakan duduk."-Dia sengaja bersikap kalem seakan2 tidak pandang sebelah mata pada ketiga orang Hek liong-hwe itu. Kun-gi tidak bersuara, dengan tersenyum dia duduk di kursi sebelah kiri, didengarnya Pek-hoa-pangcu seperti berbisik dipinggir telinganya.
"Sebentar kau akan menyaksikan tontonan yang mengasyikkan."
Dari serambi luar tampak mendatang tiga gadis dengan langkah gopoh, yang di tengah mengenakan baju warna coklat muda diiringi dua pelayan.
Sekali pandang Kun-gi lantas tahu bahwa ketiga orang ini adalah Giok-je, Ping-hoa dan Liau-hoa, cuma sekarang mereka sudah pakai kedok muka.
Belum lagi mereka tiba, kesiur angin sudah membawa bau harumsemerbak.
Setelah dekat Giok je melangkah pelan2, waktu dilihatnya di samping sang Pangcu duduk Ling Kun-gi, sekilas dia tertegun.
Mimpipun tak pernah terbayangkan bahwa Cu Bun-hoa yang dia culik dan menempuh perjalanan bersama sekian jauhnya itu ternyata adalah pemuda setampan ini.
Karena perhatiannya tertuju kepada Ling Kun-gi, maka dia tidak perhatikan tiga orang di lapangan rumput, langsung dia mendekat ke depan Pek-hoa-pangcu, katanya lirih.
"Toaci, kau memanggilku?"-Baru sekarang dia sempat berpaling dan melihat Jik Hwi-bing bertiga, lalu tanyanya pula.
"Siapakah mereka? Kenapa berada di taman kita?"
"Mereka dari Hek-liong-hwe, menguntit kau sejak dari An-khing,"
Kata Pek-hoa pangcu. Jik Hwi-bing dan kedua adik angkatnya sama menatap tajam tanpa berkedip ke arah Giok-je, mulut mereka terkancing rapat.. Giok-je melirik sekali, mendadak ia tertawa, dingin.
"Keluarga Hoa kami selamanya tidak pernah bermusuhan dengan insan persilatan manapun, kenapa kalian menguntit kami?"
Tingginadasuarajawaban Jik Hwi-bing."Kau inikahGiok-je?"
"Kau ini kutu apa?"
Bentak Liau-hoa.
"memangnya beleh sembarangan kau menyebut nama nona kami?"
Jik Hwi-bing terkial2, katanya.
"Bukankah kalian bertiga yang melarikan diridari coat-sin-san-Ceng? "
"Kalian sendirilah yang melarikan diri dari coat-sin-san-Ceng,"
Damperat Ping-hoa, agaknya dia merasa geli, habis bicara lantas Cekikikan sendiri.
"Setiap golongan dan aliran di Kangouw masing2 mempunyai aturannya sendiri, orang tidak menggangguku, akupun tidak mengusik orang lain, Heks liong-hwe selamanya tidak pernah menyentuh kalian, kalian bertiga justeru menyelundup ke coat-sinsan-Ceng, ini sudah menyalahi aturan umum, lebih celaka lagi kalian berani menculik cu-ceng-cu, tamu undengan kami, bukankah terlalu perbuatan kalian ini?"
Giok-je tampak marah, katanya.
"Toaci, dia mengoceh apa?"
"Hari ini Lohu harus minta pertanggungan jawab secara adil kepada kalian,"
Desak Jik Hwi-bing. Giok-lan yang sejak tadi tidak bersuara mendadak menyela.
"Kenapatidak kau katakan kedatanganmu inihendakcari gara2?"
"Ketahuilah Hek-liong-hwe bukan sembarang perkumpulan, kami juga tidak gentar menghadapi peristiwa apapun, tapi demi memegang teguh aturan Kangouw, maka perlu sedikit mengoreksi tuduhan nona tentang mencari gara2. Kami hanya mengharap nona suka menyerahkan Cu-cengcu, supaya tidak terjadi bentrokan di antara kita."
Pek-hoa-pangcu tertawa, katanya.
"Agaknya bentrokan kedua pihaktidakbiaadihindari lagi."
Berubah air muka Jik Hwi-bing, katanya sambil menyeringai.
"Jadi nona tidak mau menyerahkan Cu-cengcu?"
"Darimana kami harus menyerahkan Cu-cengcu, bukankah bentrokaninijelas akanterjadi?"
Jik Hwi-bing manggut2, katanya.
"Berulang kali kami sudah menyatakan sikap kami yang sesungguhuya, tujuannya supaya tidak saling merugikan, jadibukantakuturusan."
"Kalau kami bilang tidak menculik Cu-cengcu, Jik-tongcu tentu tidak mau perCaya, lalu bagaimana baiknya?"
"Toaci,"
Seru Giok-lan naik pitam.
"Jika dia tidak takut urusan, memangnya kita yang takut malah, kalau Hoa-keh-ceng membiarkan orang luar terobosan kesini, memangnya kita selanjutnya biaa berkecimpung di Kangouw lagi?"
"Betul,"
Sela Giok-je.
"mereka toh tidak mematuhi aturan Kangouw, Seenak perut sendiri main terobos di taman orang, bermulut besar dan bersikap kasar, hakikatnya tidak pandang kita bersaudara dengan sebelah mata, buat apa kita harus sungkan2 terhadap orang2 macam ini?"
"Memangnya kenapa kalau tidak sungkan terhadap kami?"jengek Jik Hwi bing.
"Kami tidak akan berbuat apa2, hanya menahan kalian saja, setelah pihak Hek-liong-hwe kalian mengutus orang minta maaf baru kami bebaskan kau."
Berubah air muka Jik Hwi-bing, serunya tergelak2 sambil mendongak.
"Nona begini congkak. memangnya kalian mampu menahan kami bertiga?"
Seorang gadis lain segera menanggapi dengan suara merdu.
"Memangnya kalian bisa pergi?"-Tampak dari belakang gunung buatan diseberang sana muncul seorang gadis berpakaian cokelat, di atas sanggul tertancap sekuntum bunga Bwe, tangan menenteng pedang, langkahnya ringan mantap, kira2 lima kaki di depan pintu lantas berhenti. Di belakang gadis baju coklat beriring keluar empat gadis berpakaian ketat, semuanya bersenjata pedang, begitu sigadis baju coklat berhenti, mereka lantas berdiri berjajar sambil memeluk pedang. Bersamaan dengan munculnya gadis baju coklat ini, dari jalanan disebelah timur sana juga muncul seorang gadis berpakaian serba merah menyala, di-atas sanggul rambutnya tertancap sekuntum bunga anggrek merah, bersenjata pedang, empat gadis baju hijau mengikuti di belakangnya. Lalu dari arah barat di antara semak2 bunga muncul juga seorang gadis baju kuning dengan bunga seruni tertancap di sanggul, seperti yang lain empat gadis bersenjata pedang mengiringinya pula. Merekapun, berhenti dalam jarak lima tom-bak. ke empat gadis pengiring itupun berjajar, di belakang. jadi sekarang JikHwi-bingbertiga telahdikepung.. Dingin sorot mata Jik Hwi-bing, dia terkekeh kering, katanya.
"Hanya begini saja perbawa kalian?"
Selama puluhan tahun menjabat salah satu Tongcu dari tiga pejabat tinggi dalam Heks-liong-hwe, betapa sering dia menghadapi pertempuran besar kecil, sudahtentunona2cantik inisedikitpuntidak masukperhatiannya.
Giok-lan berdiri di undakan, tantangnya.
"Kalau kalian kurang senang, boleh mencobanya."
"Benar, memang Lohu ingin menjajal,"
Sahut Jik Hwi-bing. Gadis baju coklat alias Bwe-hoa tertawa, katanya.
"Tua bangka, muka merah, kau tidak mau menyerah tapi ingin ditelikung, ini rasakan beberapa kali tusukan pedang nonamu."
Pek Ki-ham yang berdiri di sebelah kanan Jik Hwi bing berpaling, sorot matanya kelam dingin, katanya.
"Tongcu biar siaute yang menghadapinya.".JikHwi-bing manggut2,katanya."Baiklah,hati2"
"Sret"
Pek -Ki-ham melolos pedang, katanya kepada Bwe-hoa.
"Hanya nona saja yang turun gelanggang?"
"Memangnya berapa orang harus turun tangan bersama?"jengek Bwe hoa.
"Baiklah,"
Kata Pek Ki-ham, pelan sekali dia gerakan pedang di tangan kanan. Bwe-hoa berpaling dan berpesan kepada ke-empat gadis di belakangnya.
"Kalian siap untuk bantu aku membekuk dia." -Empat gadis mengiakan. Wajah Pek Ki-ham yang pucat halus mengunjuk mimik kejam diliputi hawa nafsu, dengusnya.
"Nona, hati2lah."
Gaya pedangnya aneh danamat pelan, tapi lenyap suaranya pedang panjang ditangannya tiba2 menyamber laksana selarik rantaiperaksepertibianglala, cepatnyaluarbiasa.
Sigap sekali Bwe-hoa menggeser, dengan enteng dia hindarkan diri, baru saja dia siap balas menyerang, didengarnya Pek Ki-ham tertawa dingin, pedang tahu2 terayun balik, sekaligus dirinya dicecar delapan kali serangan.
Bwe-hoa seakan2 tiada kesempatan untuk balas menyerang, cuma gerak-geriknya gesit dan tangkas, dia hanya main berkelit.
Harus diketahui siapapun yang menyerang dengan gencar, pada suatu ketika harus ganti napas dan serangan tentu sedikit lambat atau tertunda, tapi delapan jurus serangan Pek Ki-ham ini hakikatnya tidak memberi peluang bagi Bwe-hoa untuk bertindak.
sedikit gerakannya tertunda, segera dia tutup dengan gerakan lengan baju tangan kiri serta mencecar pula delapan kali pukulan, setiap gerak pukulan ternyata membawa deru angin dingin luar biasa.
Bayangan pukuian memenuhi udara, sementara deru angin dingin bergolak ditengah gelanggang.
Bayangan Bwe-hoa yang seringan daun melayang kian-kemari, agaknya dia sudah tak kuasa banyak karena terkurung di dalam bayangan pukuian lawan dan serasa beku oleh hawa dingin.
Kun-gi duduk di serambi, jaraknya ada beberapa tombak dari gelanggang, iapun merasakan damparan hawa dingin yang luar biasa, diam2 ia membatin.
"Orang ini bernama Pek Ki-ham, yang diyakinkan juga Ham-ping-ciang (pukulan hawa dingin) dari aliran sesat, Bwe-hoa berpakaian tipis, mungkin takkan tahan lama."
Tanpaterasaia melirikPek-hoa-pangcuyangdudukdisebelahnya.
Dilihatnya sikap Pek-hoa-pangcu tenang2 saja, se-olah2 tidak ambil perhatian sama sekali akan keadaan anak buahnya yang terancam bahaya.
Selagi Kun-gi keheranan, tiba2 Pek hoa-pangcu berpaling ke arahnya sambil tersenyum.
Kejadian hanya sekilas saja dan perubahanpun telah terjadi ditengah gelanggang, Bwe-hoa yang terombang-ambing ditengah bayangan pukuian lawan serta terbendung hawa dingin itu menghardik nyaring, badannya bergontai dua kali seperti jatuh, tapi sinar pedang mendadak bergerak.
hamburan sinar, perak laksana bertaburan, memuhiasi udara.
"Tring", terdengat benturan senjata, pedang Pek Ki-ham tampak ditangkis pergi. Serempak terdengar serba pujian dan tepuk tangan di sekeliling gelanggang. Terbelalak mata Ling Kun-gi melihat perubahan ini, terunjuk rasa heran dan aneh pada wajahnya. Tampak Pek Ki-ham yang bermuka pucat itu sekarang merah padam, langkahnya sempoyongan mundur beberapa tindak, lengan bajunya kiri berlepotan darah, ternyata lengan kirinya telah tertabas buntung oleh pedang Bwe-hoa, lengan kutungannya itu jatuh tiga kaki di depannya. Sanggul Poe-hoa juga terpapas bertebaran oleh pedang lawan, baju di atas pundak kanannya juga tergores robek sepanjang tiga dim. Melihat lengannya putus, rasa pedih dan malu melebihi rasa sakit, mendadak Pek Ki ham menghardik beringas.
"Budak keparat, biar aku adu jiwa, dengan kau."
Pedang terang kat dan kembali dia hendak melabrak Bwe-hoa. Tahu2 Jik Hwi-bing telah berkelebat ke sampingnya dan menangkap lengan kanan orang. katanya dengan nada berat.
"Kau sudahkehilanganbanyakdarah, lekasistirahat."
Beruntun ia tutuk beberapa Hiat to kawannya itu untuk menghentikan darah mengalir lebih banyak. Lan Hau, laki2 muka buruk berbaju biru ikut melompat maju, katanya menyeringai kepada Bwe-hoa.
"Budak. mari kita juga main2 beberapa jurus."
Bwe-hoa menarik napas panjang, tawanya dingin.
"Kau juga ingin ditabas buntung lenganmu?"
Bayangan merah berkelebat, tahu2 Lan-hoa melompat ke gelanggang, serunya.
"Sici (kakak keempat), kali ini giliranku. Kau boleh istirahat."
Tanpa bersuara Bwe-hoa mundur kepinggir sambil membetulkan sanggulnya. Lan Hau menyeringai sadis.
"Kau ingin mampus, baiklah, kau saja yang kubinasakan."
Kelihatan dia tidak membawa senjata, tapi kedua telapak tangan segede kipas itu tiba2 membalik badan bergerak mengikuti lenyapnya suara, sebat sekali dia menubruk ke depan-Lima jari tangan kanan terbuka mencengkeram kepundak kiri, sementara tangan kiri tegak laksana golok menabas pergelangan tangan lawan yang pegang pedang.
Sibaju merah alias bunga anggrek miring sedikit seraya menurunkan pundak.
kaki melangkah mundur, dia luputkan diri dari cengkeraman lawan, berbareng pedangnya menjungkit ke atas, menusukuratnadipergelangan tanganorang.
Lan Hau menjadi marah, sambil membentak tubuhnya menubruk maju pula, dengan nekat dia hendak rebut pedang si bunga anggrek, sedang dua jari tangan kiri terangkat laksana garpu menyolok kedua mata lawan-Di tengah gerungan keras, tahu2 sebelah kakipun ikut menendang lambung si bunga anggrek.
Tiga jurus ini merupakan serangan cepat dan serempak, bukan saja si bunga anggrek kaget, Pek-hoa-pangcu yang menonton juga ikut kuatir.
Maklumlah, betapapun tinggi ilmu silat seseorang pada umumnya takkan mungkin sekaliserang menggunakan kakitangansekaligus.
Sudah tentu si bunga anggrek tidak berani melayani secara kekerasan, lekas dia tarik pedang melindungi dada sembari melompat mundur beberapa kaki.
Mendapat angin sudah tentu Lan Hou semakin temberang, sambil menyeringai seram kedua tangannya mendadak dari depan dada didorong ke depan.
Gerakan mendorong ini menimbulkan gelombang kekuatan dahsyat sehingga hawa udara seperti bergolak menerjang kedepan.
Baru saja si bunga anggrek melompat mundur, dilihatnya kedua telapak tangan musuh didorong kearah dirinya, tekanan udara yang berat tiba2 menggulung tiba, dia tahu bahwa lawan yang tidak pakai senjata tentu mempunyai kepandaian pukuian tangan yang hebat, sudah tentu dia tidak berani menyambut serangan ini.
Sebat sekali dia melambung tinggi, badannya meluncur tegak ke atas, setinggi setombak lebih, terasa gempuran angin badai bergulung2 di bawah kakinya.
Berhasil menghindari pukuian dahsyat Lan hou, ditengah udara si bunga anggrek menekuk pinggang dan bergerak indah gemulai, pedang segera berkembang dengan jurus Hoan-kay-hoa-loh (bunga berkembang daun berguguran), cahaya kemilau berhamburan ceplok2 perak mengurung ke batok kepala Lan Hau.
Lan Han ternyata lihay, menghadapi ilmu pedang aneh ini, bukan saja dia tidak menghindar atau tidak menyingkir, ia malah menyeringai sadis, kedua tangan mendadak memapak dan mencengkeram ceplok2 sinar pedang itu, gerakannya ini sungguh amat berani dan juga mengejutkan.
Sudah tentu si bunga anggrek tidak membiarkan pedangnya ditangkap orang, dia tarik pedang seraya melompat mundur.
Lan Hau kini berbalik memperoleh peluang, lawan tidak diberi kesempatan ganti napas, segera ia menubruk maju, kedua tangan bergerak naik turun menabas dan membacok.
sekaligus dia lancarkan delapan belas kali pukulan gencar dan menimbulkan deru angin kencang.
Sedikit lena dan kurang waspada si bunga anggrek kehilangan inisiatip sehingga terdesak di bawah angin, apa lagi kedelapan belas pukuian lawan satu bergandeng dengan yang lain secara berantai, hakikatnyadiatidak memperolehpeluanguntukbalas menyerang.
Lebih celaka lagi telapak tangan lawan agaknya tidak gentar menghadapi tajam pedangnya, terpaksa disamping melindungi tubuh iapun harus hati2 supaya pedang tidak terampas oleh musuh, maka dia mundur ber-ulang2.
Delapan belas jurus serangan berantai Lari Hau itu hebat dan dahsyat, tapi juga cepat berlalu.
Karena terdesak mundur, si bunga anggrek naik pitam, melihat gaya pukulan lawan sedikit kendur, peluang sedetik ini tidak di-sia2kannya, seraya menghardik tubuhnya tiba2 berkelebat, dia gunakan gerakan "ubah bentuk pindah kedudukan", pedangnya menyamber panjang melintang laksana nagasakti, ia balas mencecar musuh.
Setelah kedelapan-belas pukulannya dilancarkan, gerakan Lan Hau memang menjadi kendur, tapi hal ini memang dia sengaja, melihat lawan balas merangsak.
dia tertawa aneh, telapak tangan kanan segera menepuk.
serangan ini memang sudah direncanakan, begitu si bunga anggrek mendesak maju baru pukulannya dilontarkan dengan daya dan gaya yang berbeda dengan kedelapan -belas pukulannya tadi.
Kalau tadi pukulannya membawa deru angin dan perbawanya sedahsyat gugur gunung, berbeda dengan tepuk tangan kali ini, gerakannya seperti gertakan saja, seolah2 tidak pakai tenaga, sedikitpun tidak menimbulkan suara apa2.
Jadi dalam babak ini, kedua pihak sama2 melancarkan tipu serangan masing2 yang terlihay dan ampuh.
Melihat telapak tangan Lan Hau yang menepuk itu berwarna biru terang, Pek-hoa-pangcu yang duduk di serambi menjerit dalam hati.
"Lam-sat-ciang"
Sementara Ling Kun-gi yang duduk di sebelahnya juga terperanjat bukan main melihat gerakan pedang si bunga anggrek, diam2 hatinyapun berseru.
"Sin-liong jut-hun (naga sakti keluar dari mega)"
Sin-liong-jut hun, Liong-ih ya dan Niu-liong-ban-khong, tiga jurus ilmu pedang ini merupakan ilmu warisan keluarganya.
Ibunya tidak pandai main silat, waktu mengajarkan ketiga jurus ilmu pedang ini hanya secara lisan sambil mencoret2 dengan gambar, dengan wanti2 beliau berpesan bahwa ketiga jurus ilmu pedang ini perbawanya sangat hebat, kalau tidak kepepet dan terpaksa dilarang sembarangan melancarkan ketiga jurus ilmu pedang ini.
Tadi waktu Bwe-hoa melancarkan sejurus It-jiu-bwe-hoa-jeng-ban-goh (sepucuk pohon sakura berlaksa kuntum bunga), di dalamnya diselipi jurus Sin-liong-jut-hun, waktu itu dia kira gerakan pedang orang cuma rada mirip secara kebetulan, karena bukan saja gaya dan tipunya mirip.
malah gerak tubuh mendesak maju itupun persis sekali, mirip Ih-sing-hoan-wi tapi juga seperti Bu-hoan-Sin-ih (benda bergantibintang berpindah).
Kalau betul sin-liong-jut hun adalah ilmu pedang warisan keluarganya, memangnya dari mana orang2 Pek-hoa-pang ini mempelajarinya?
pada saat menimang2 inilah, kedua orang yang saling labrak di tanah lapang beruntun itupun sudah mencapai babakterakhir,kalah menangsudahnampak.
cepat sekali bayangan kedua orang seperti berpadu terus mencelat mundur pula.
Telapak tanagan Lan Hau yang biru terang itu amat menyolok, setelah menepuk dari kejauhan, sebat sekali badan lantas jungkir balik ke belakang sejauh tiga tombak.
Agaknya dia sudah memperhitungkan secara masak.
niatnya memang hendak membunuh musuh, maka tepukan telapak tangannya bukan saja cepat juga hebat.
Tapi jurus Sin liong-jut-bun yang dilancarkan -si bunga anggrek juga cepat dan tepat.
Karena waktu melancarkan jurus serangan ini gerakannya mirip Ih-sing-hoan-wi, waktu mendesak maju tubuhnya lenggak-lenggok, sekali berkelebat lantas lenyap sehingga lawan sukar meluputkan diri.
Sementara itu Lan Hau sudah jungkir balik ke belakang, ia merasakan samberan sinar dingin dari bawah tubuhnya.
Namun Lam-sat-ciang yang dia lontarkan, tidak membawa kesiur angin, lawanpun sukar menduga serta sulit menjajagikekuatannya.
Sibungaanggrek merasakanjugatubuhnya seperti tertahan oleh dinding yang ulet sehingga tubuhnya sukar maju lebih jauh.
Kejadian hanya berlangsung dalam sekejap.
setelah kedua orang sama2 meluncur bersilang ke arah yang berlawanan, Lan Hau sudah berada tiga tombak jauhnya, dia tergelak2, serunya.
"Budak keparat, kau ....."
Karena tertawa ini tiba2 ia merasakan perutnya sakit luar biasa.
orang2 di sekelilingpun kini melihat jelas jubah panjang di depan perutnya sudah koyak tergores pedang si bunga anggrek, sepanjang satu kaki.
Baru saja ia bergelak tertawa menyusul rasa sakit yang luar biasa itu, tahu2 isi perutnya, usus besar dan kecil membrojol keluar.
Hakikatnya Lan Hau sendiri tidak tahu atau merasakan bahwa perutnyasudahkoyakteririsolehpedang sibungaanggrek.
setelah dia merasakan kesakitan dan menunduk, dilihatnya isi perutnya sudah kedodoran keluar, seketika dan menjerit terus roboh terkapar.
Taraf kepandaian si baju merah alias si bunga aggrek memang tinggi, tapi Lamsat-ciang merupakan ilmu pukulan ganas dari aliran jahat, walau dia hanya merasa ditiup angin lunak, semula tidak terjadi perubahan apa2, tapi setelah kedua orang sama melompat jauh, begitu berdiri tegak, seketika sekujur badan gemetar keras, tiba2 ke sepuluh jari terasa linu dan kaku, jantung berdetakdankepalapusing, hampirsajadan takkuasaberdiri lagi.
Menyaksikan Lan Hau roboh dengan perut terkoyak serta mampus seketika, sungguh hampir meledak dada Jik Hwi-bing, matanya mendelik liar, jubah hitam yang longgar itu mendadak melembung, sambil menggerung dan menubruk ke arak si bunga anggrekseraya pentang kesepuluh jarinya.
Pikiran si bunga anggrek masih sadar, melihat Jik Hwi bing menubruk tiba, secara refteks pedangnya terayun dengan jurus Sin liong jut hun memapak kedatangan musuh.
Hampir saja tubrukan Jik Hwi-bing mengenai sasaran, tahu2 matanya silau oleh selarik sinar pedang yang dingin, dalam ilmu pedang dia sendiri punya latihan puluhan tahun, sudah tentu dia tahu betapa hebat perbawa pedang si bunga anggrek ini, serasa pecah nyalinya, lekas ia mengerem gerakannya serta melompat balik.
Karena menggerakkan pedang, seketika si bunga anggrek merasakan kepala pening mata berkunang2, hampir saja dan tersungkur ke depan-Untung kedua pelayan dibelakangnya lantas memburu maju memayangnya.
"Lak-moay,"
Seru Pek-hoa pangcu.
"lekas mundur"
Lak-moay atau adik keenam yang dimaksud adalah si baju merah atau si bunga anggrek.
Waktu Jik Hwi-bing melompat mundur karena diserang jurus Sin-liong-jut-hun oleh pedang si bunga anggrek, sementara sebelah tangannya sudah melolos pedang dari punggungnya, baru saja dia hendak menubruk maju lagi.
Tahu kiok -hoa, si baju kuning atau si kembang seruni sudah melompat maju seraya membentak.
"Kau masih ingin berkelahi, biar nonamu melayani, kenapa main terjang?"
Kembang anggrek sudah dipapah mundur keluar gelanggang, lekas Giok-lan menghampiri menjejalkan sebutir pil ke mulutnya, lalu berpesan pada pelayannya.
"Lekas papah dia masuk ke kamar"
Kedua pelayan itu mengiakan terus mengundurkan diri.
Giok-je bersama Ping-hoa dan Liau-hoa melolos pedang serta melompat masuk lapangan, menempati kedudukan si kembang anggrek, makaJik Hwi-bingtetapterkepungditengah.
Bola mata Jik Hwi bing merah jalang, mukanyapun merah padam diliputi amarah yang meluap.
giginya gemeretak saking gemas, bentaknya.
"Bagus sekali, ingin Lohu minta belajar betapa tinggi kepandaian kalian yang ganas ini."
Dengan tenang Giok-lan berkata.
"Jik-tongcu main terobesan ke taman kami, sengaja cari setori lagi, kamipun tidak banyak bertindak. hanya ingin menahan kalian beberapa hari, kini setelah kau main senjata yang tidak bermata ini, kenapa menyalahkan pihak kami malah? Sebaliknya kalau, pihak kami yang meluruk ke Hekliong-hwe kalian, kukira Jik-tongcu akan bertindak lebih kejam dan kasar lagi."
Dengan gusar Jik Hwi-bing mendamperat.
"Budak hina, sudah untung masih jual lagak, hari ini Lohu harus beri ajaran pada kalian."
"Bangsat tua,"
Hardik si kembang seruni sambil menuding dengan pedang.
"Kau tahu di mana kau berada, berani bermulut kotor?"
Berubah juga air muka Giok-lan, katanya sambil mengulap tangan kepada kembang seruni.
"cit-moay (adik ketujuh), kau mundur saja, dia hendak memberi ajaran pada keluarga bunga kita, biar aku mencoba sampai di mana kelihayannya?"
Ia ambil pedang yang diulurkan seorang pelayan, pelan2 turun dari undakan-Karena kedudukan Giok-lan alias kembang Cempaka memang lebih tinggi, terpaksa kembang seruni mengundurkan diri.
Sementara kembang cempaka sudah berhadapan dengan Hwi-bing, katanya dingin.
"Dalam kalangan Kangouw berlaku hukum rimba, slapa kuat dia menang, kini tidak perlu banyak omong, silakan Jiktongcu mulai."
Jik Hwi-bing menyeringai sadis, katanya.
"Baiklah, Lohu mulai."-"sret pedangnya bergerak. hawa pedang yang dingin menggaris selariksinarperak melingkar2kedepan.. Diam2 Giok-lan mengerut kening, tangan kiri terangkat tinggi, sementara pedang ditangan kanan bergerak dengan jurus swat-ih hoa-ing (Rembulan memindah bayangan kembang), badan bergerak mengikuti gaya pedang, secara lincah dia hindarkan gempuran pedang Jik Hwi-bing, sinar pedangnya melingkar terus menusuk pundak kanan Jik Hwi-bing. Jurus ini merupakan serangan sekaligus untuk mempertahankan diri.
"Ilmu pedang bagus,"
Tanpa terasa Jik Hwi-bing berseru memuji.
Pedang berputar menangkis ke atas memapas tangan Giok-lan, dalam sekejap pedangnya telah menusuk pula tiga kali, serangan cepat dan ganas, memang tidak malu sebagai bangkotan ilmu pedang, pakaian Giok-lan melambai2, beruntun dia bergeser tiga kali, berbareng pedang bergetar, mendadak dia balas menikam ke iga Jik Hwi-bing.
Jik Hwi-bing tergelak2, dia membolang-balingkan senjatanya, gerak pedangnya bertambah kencang.
Giok-lan dicecar delapan kali tusukan secara bersambung.
Semuanya merupakan serangan gencar, satu lebih cepat dan ganas dari pada yang lain, malah kecepatan dan landasan kekuatan yang terpancar dari ujung pedang semakin mantap tak tergoyahkan, yang kelihatan hanyalah sinar pedang, yang kemilau berkelebat kian kemari.
Giok-lan tahu lawan sudah tidak sabar lagi setelah bergerak sekian lama tidak memperoleh peluang, kini iajadi nekat dan mencecar dengan segala kemampuannya untuk mencapai kemenangan.
Sebetulnya hati Giok-lan mulai girang, tapi dia juga insaf serangangencarlawanbukanolah2 lihay-nya, makadiatidakberani pandang enteng, segera dia kembangkan kelincahan tubuhnya, laksana kembang berhamburan di musim semi, iaputar pedang tidak kalah gencarnya, sembari menutup dan mematahkan serangan lawan, disamping bertahan juga balas menyerang.
Beruntun dia berhasil menangkis delapan jurus serangan Jik Hwibing, tanpa terasa mengejek, katanya.
"begini saja kelihayan Jiktongcu yang ingin dipertontonkan pada kami bersaudara?"
Mendadak permainan pedangnya berubah pula, serempak iapun melancarkan serangan balasan secara bertubi2.
Di mana pedangnya menuding, sinar kemilau pedangnya mirip ceplok2 kuntum bunga, begitu Pek-hoa-kiam-hoat dikembangkan, bunga cahaya pedang serentakbertaburanlaksanaseratuskembang mekarbersama.
Sudah tentu Jik Hwi-bing tahu akan kelihayan ilmu pedang ini, cuma dia tidak kenal ilmu pedang apa yang dia hadapi?
Seraya menghardik kedua kakinya pasang kuda2 sekokoh tonggak menancap di tanah, tanpa menyingkir atau menghindar, dia andalkan kekuatan Lwekangnya, secara keras dia hadapi serangan Giok-lan.
Ditengah berkelebatnya sinar pedang, berdentinglah suara keras beradunya senjata mereka, Bayangan mereka berduapun terpental mundur, masing2 sempoyongan beberapa langkah, waktu mereka memeriksa keadaan sendiri, ternyata pedang panjang masing2 kini sudah sama gumpil dan cacat.
Hanya sekejap kedua bayangan terpencar lalu saling terjang pula lebih sengit.
ilmu pedang Jik Hwi-bing mantap dan matang latihannya, dilandasi Lwekang yang kuat lagi sehingga hawa pedang berpencarmenjadigangguan yangtidak kecilartinyabagi musuh.
Permainan pedang Giok-lan sebaliknya menempuh jalan lincah dan gesit, Pek-hoa kiam-hoat sendiri memang mengutamakan kecepatan, ditambah gerakan Hwi-hoa-sin-hoat lagi, maju menyerang dan mundur bertahan cukup rapat, berkelebat sana menubruksini, permainannyaserbaanehdan menakjubkan.
Sudah 50 jurus mereka saling labrak.
tapi masih sulit dibayangkan, pihak mana bakal menang.
Di tengah pertempuran seru itu, mendadak Giok-lan berseru nyaring, sinar pedang laksana cahaya bintang jatuh menyapu ke arah Jik Hwi-bing.
Sejak tadi Ling Kun-gi terus perhatikan baku bantam ini, kini diam2 hatinya berteriak pula.
"Sin-liong-jut-hun"
Didapatinya bahwa nona2 dari Pek-hoa-pang ini seolah2 semuanya pandai memainkan jurus Sin-liong jut-hun ini, bila menggunakan ilmu pedang perguruan sendiri sukar mendesak dan mengalahkan musuh, lalu mereka melancarkan jurus ilmu pedang yang lihay itu.
Kini Giok-lan kembali melancarkah jurus Sin-liong-jut-hun, sudah tentu Kun-gi menaruh perhatian istimewa.
"Puluhan tahun sudah Jik Hwi-bing menggembeleng diri dalam ilmu pedang, walau tidak tahu asal usul ilmu pedang ini, tapi pengalaman tempur merupakan bekal ampuh bagi dirinya, tadi beruntun dia sudah menyaksikan Pek Ki-ham menghadapi musuh pula dan terbukti Pek Ki ham dan Lan Hau sama cidera oleh jurus ilmu pedang ini, dengan sendirinya dia sudah waspada dan hati2, segera dia membentak.
"Serangan bagus."
Pedang terangkat untuk menutup datangnya serangan lawan-Itulah Lot-ping-lam-thian (mengadu kekuatan dilangit selatan), jurus adu kekuatan dengan cara keras, meski hanya jurus permainan yang biasa dan umum, tapi dilancarkan oleh seorang ahli pedang ternyata jauh sekali bedanya, tahu2 sinar pedangnya berkembang laksana kipas dipentang lebar, untuk membendung sinar pedang Giok-lan.
Dua pedang mereka kembali beradu.
"Trang, krontang", sinar pedang tiba2 sama kuncup, bayangan merekapun tergentak mundur beberapa kaki. Gebrakan ini tetap tiada yang unggul atau asor, tapi pedang panjang mereka sama2 tinggal separo. Betapapun Giok-lan adalah perempuan, tenaganya lebih lemah, karena adu kekuatan ini sehingga lengannya tergetar linu, wajahnyapun merah panas pelan2 dia menarik napas, matanya yang bening menatap Jik Hwi-bing, katanya tertawa.
"ilmu pedang Jik-tongcu memang hebat, hayolah sambut sejurus seranganku lagi"
Beberapa patah kata ini diucapkan dengan suara halus merdu, diam2 ia pinjam kesempatan ini untuk memulihkan tenaga.
Dan baru saja lenyap kata2nya, tubuhnya yang ramping itu terus melompat maju, pedang kutung diputar laksana kitiran-Kembali cahaya berseliwer dingin, hawa pedang melingkupi gelanggang seluas satu tombak lebih, sayup2 terdengar suara gemuruh badai guntur di tengah hujan lebat.
Mendengar orang bilang "sambut sejurus seranganku lagi", diam2 Ling Kun-gi sudah tergerak pikirannya dan matanya lantas menatap dengan tajam, dia membatin.
"Ternyata benar liong-can-ih-ya adanya."
Inilah jurus kedua dari ilmu pedang tunggal keluarganya. Keruan kaget dan heran pula Kun-gi dibuatnya.
"Memangnya Pek-hoa-pang mempunyai hubungan erat dengan diriku?"
Demikian dia bertanya2 dalam hati.
Jik Hwi-bing memang tidak malu sebagai seorang ahli pedang, rnenghadapiilmu pedangGiok-lanyang lihay, hebatdandigdayaini, hatinya malah tenang dan mantap.
pedang kutung ditangannya terangkat menunggu, begitu cahaya pedang lawan merangsak tiba, mendadak dia menghardik sambil menghembuskan deru napasnya, berbareng pedang terayun ke atas seperti menusuk ke udara.
Tipu yang digunakan ini bernama Pat-hong-Kong-ih (hujan angin dari delapan penjuru) jurus serangan biasa kalau tidak mau dikatakan umum, tapi dilancarkan dari tangan seorang ahli seperti dirinya ternyata lain pula bebotnya, maklumlah se-lama pUluhan tahun meyakinkan ilmu pedang, jurus ini boleh dikatakan sudah diyakinkan sedemikian rupa sempurna, dilandasi setaker kekuatannya lagi, maka pedangnya mendesing tajam.
Benturan keras dari kedua pedang kutung kembali terjadi, kali ini bunyinya nyaring bergema, pedang ditangan kedua orang bukan lagi kutung, tapisamahancurber-keping2berhamburandi tanah.
Tak terasa rona muka Kun-gi berubah, maklumlah betapa hebat dan sakti jurus kedua ilmu pedang warisan keluarganya ini?
Tapi Jik Hwi-bing ternyata mampu mematahkannya hanya dengan sejurus Pat-hong-hong-ih yang sangat umum ini.
Memang soalnya terletak pada bobot serta latihan Giok-lan, karena inti sari dan kekuatan sesungguhnya dari jurus kedua ini belum lagi matang dan mendarah daging pada jiwanya, sehingga kesaktian dan gerak perubahannya tidak dapat dimanfaatkan, sebaliknya Jik Hwi-bing membekal latihan puluhan tahun, Lwekangnya tinggi, menyerang dengan kekuatan terakhir lagi, sudah tentu dia lebih beruntung.
Memperoleh hasil yang di luar dugaan serta memuaskan ini, Jik Hwi-bing tidak kepalang tanggung bertindak lagi, sekali jejak dia melompat ke atas, kedua kaki serentak bekerja menendang secara berantai, Giok-lan kena didesaknya mundur beberapa langkah, begitu tubuh meluncur dan kaki hinggap dibumi lagi, mulut lantas tertawa panjang, lengan terkembang bagai bangau menjulang ke langit, tubuhnya meluncur melompati kepala orang banyak terus ngacir seperti kesetanan.
Belum lenyap lengking tawa Jik Hwi-bing, Pek Ki-ham yang berdiri di luar gelanggang serentak ikut menjejak kaki melambung tinggi dan mengikuti langkah Jik Hwi-bing, diapun meluncur jauh keluar kepungan.
Karena kurang waspada Giok-lan terdesak mundur dua langkah, melihat kedua musuh melarikan diri, gusarnya bukan main, kontan ia menimpuk gagang pedang yang masih dipegangnya ke punggung Pek Ki-ham.
Lalu membalik badan merebut sebatang pedang dari salah seorang pelayan terus mengejar.
Sementara itu Giok-je, Bwe-hoa dan Kiok-hoa bagai burung Hong terbang beramai2 juga ikut mengudak dengan kencang.
Pek Ki-ham yang kutung lengannya kehilangan banyak darah, dia setindak lebih lambat lari daripada Jik IHwi bing, baru saja tubuhnya melambung ke atas, mendadak dirasakannya sejalur angin kencang menerjang punggungnya, karena terapung di udara, tak mungkin dia berkelit, terpaksa pedang menyabet ke belakang.
"Trang", gagang pedang timpukan Giok-lan kena disampuknya jatuh, tapi daya luncuran tubuhnya dengan sendirinya menjadi terganggu, tubuhnya terus anjlok ke bawah. Giok-lan sudah mengejar tiba secepat angin, tahu2 ia berkelebat lewat di samping Pek Ki-ham, mulutnya membentak.
"Kalian cegat dia, biar kukejar bangsat she Jik itu."
Baru saja Pek Ki-ham anjlok turun, Bwe-hoa, Kiok-hoa dan Giok-je pun beruntun telah mengepungnya. Tahu dirinya sukar meloloskan diri, muka Pek Ki-ham yang pucat itu jadi beringas, mulutnya membentak.
"Biar tuanmu adu jiwa dengan kalian"-Karena nekat dan mau adujiwa maka gerakan pedangnya sudah tentu kuat luar biasa. Bwe-hoa berada paling depan, terasa sabetan pedang lawan membawa tekanan yang dahsyat, belum lagi tajam pedang menyerang tiba, hawa pedangnya yang dingin sudah merangsang badan. Lekas dia menghimpun hawa murni dipusar, sekali jejak tubuhnya lantas melambung ke atas menghindari sabetan pedang musuh, lalu dariatas ia menubruk kebawah. Jeri hati Pek Ki-ham, tapi gerakannya tidak menjadi kendur, tenaga dia pusatkan ditangan kanan, pedang diputar sekencang kitiran, serangan Bwe-hoa yang menukik turun ditangkisnya terus ditolak ke samping. Kiok-hoa tertawa dingin jengeknya.
"Masih berani membandel, biar kutabas sisa lenganmu yang satu ini"
Selarik sinar betul2 menabas kepundakkanan orang.
Saking murka wajah Pek Ki-ham yang pucat berubah jadi merah padam, ilmu silatnya tinggi, sayang lengannya sudah buntung, betapapun tak kuasa menghadapi keroyokan tiga lawannya?
Sambil menangkis dan menyampuk serabutan kakinya mundur tak teratur lagi, kelihatannya dalam beberapa gebrak saja dia tak mampri bertahan lagi.
Se-konyong2 sinar-kemilau berkelebat dari sebelah kanan, ternyata pedang Kiok-hoa tiba2 menyelinap masuk "cret", lengan baju kanannya tertusuk berlubang.
Keruan Pek Ki-ham semakin nekat dan kalap.
sambil kertak gigi dia putar pedang melindungi badan, sekuat tenaga dia masih bertahan tiga empat gebrak lagi.
Terdengar Bwe-hoa membentak nyaring.
"Trang"
Pedang lawan kena ditindih ke bawah, sigap sekali pedang si kembang seruni dan Giok -je sudah mengancam tengkuk danlehernyadari kiri -kanan Bwe-hoa mendengus. katanya.
"orang she Pek, tidak lekas kau menyerah dan terima dibelenggu?"
Hampir menyala mata Pek Ki-ham "cuh."
Tiba2 mulutnya menyemprot riak kental ke muka Bwe-hoa, bentaknya beringas.
"Budak busuk. kalian mimpi"
Dengan mudah, Bwe-hoa menyingkir ke samping, bentaknya.
"cari mampus kau"
Pek-hoa-pangcu tiba2 berbangkit, teriaknya nyaring.
"Selamatkan jiwanya."
Sayang sudah terlambat sembari menghardik tadi ternyata Pek Ki-hamsudah membalikpedang sendiri terus menusukperutsendiri, darah hitam segera muncrat dari luka di perutnya, pelahan2 tubuhnya pun roboh tersungkur.
Hampir saja Bwe-hoa yang menyerang lalu kecipratan darah hitam itu, untung dia keburu melompat minggir, serunya sambil angkat kepala "Toaci, dia sudah mati"
Kiok-hoa dan Giok-je juga tarik pedang. Pek hoa-pangcu tampak mengerut kening, katanya.
"Sudah mati biarlah, suruh orang menguburnya."
Bwe-hoa mengiakan, Mendadak Giok-je men-jerit.
"Getah beracun, pedangnya dilumuri getah beracun, Cepat sekali jasadnya telah membusuk."
Ternyata dalam sekejap ini di mana perut Pek Ki-ham terkena pedang, kulit dagingnya telah membusuk jadi Cairan hitam yang berbau busuk.
Lekas Pek-hoa-pangcu maju memeriksa.
Pikiran Ling Kun-gi juga tergerak.
tanpa diminta iapun mengikuti jejak Pek-hoa-pangcu.
Memang tubuh Pek Ki-ham dengan cepat telah berubah jadi cairan darah kental hitam, rumput di sekitar mayat-pun seketika hancur jadi cairan, sampai tanahpun ikut berubah bentuk, maka dapatlah dibayangkan betapa ganas racun ini.
Tak habis mengerti, Kun-gi lantas bertanya.
"Apakah benar pedangnya dilumuri getah beracun? Memangnya getah racun apakah itu masa begini lihay?"
Pelan2 Pek-hoa-pangcu menggeleng kepala, katanya.
"Aku tidak tahu, inilah rahasia Hek-liong-hwe."
Entah memang tidak tahu atau tidak mau menjelaskan? Tapi Kun-gi tak enak bertanya lebih lanjut.
"Bukan Pang kita saja yang telah mengalami tekanan oleh ganasnya getah beracun ini, tapi seluruh kaum persilatan dijagat ini pun akan mengalami petaka yang sama atau mungkin lebih mengenaskan. Kalau Ling kongcu berhasil punahkan kadar racun getah ini boleh dikatakan telah menolong jiwa sesama umat manusia dijagat raya ini." -Apa yang dikatakan tak ubahnya seperti yang pernah Ling Kun-gi dengar dari mulut Cek Sengnjiang. Kun-gi hanya tersenyum, katanya.
"cayhe akan bekerja sekuat tenaga."
Tengah bicara, tampak Giok-lan telah kembali. Pek-hoa-pangcu lantas tanya.
"Dia sempat meloloskan diri?"
Giok lan membungkuk, sahutnya.
"Hamba mengejarnya sampai pinggir danau, bangsat tua itu sudah lari naik perahu."
Sambil menghela napas pelan berkata Pek-hoa-pangcu.
"Latihan ilmu pedangnya sudah matang, umpama kau bisa mengejar dia juga sukar untuk membekuknya."
Mendadak dia menatap sambil menambahkan.
"Jadi kalian tidak menemukan perahu mereka?"
"Llok dan Li berdua Sucia yang bertugas di sebelah timur laut ternyata tertutuk Hiat-to oleh mereka, katanya dua orang yang membekuk mereka adalah pemuda berjubah biru dan seorang laki2 jangkung berjubah hijau, lengan kirinya terbuat dari besi dan ilmu silat mereka amat tinggi."
"Itulah Dian Tiong-pitdan Hou Thi-jiu"seru Giok-je.
"Meski dia sempat lari dari tangan kita, tapi dua di antara tiga dapat kita lumpuhkan, hasil inipun sudah cukup memuaskan."
"JadiorangshePek itutelah kitatawan?"
TanyaGiok-lan. Pek-hoa-pangcu menuding ke tanah, katanya.
"Pedangnya dilumuri getah beracun, jazatnya telah cair dan terisap ke dalam tanah."
Giok-lan memandang ke tanah dengan pandangan kaget, katanya.
"Begini lihay getah beracun ini?"
"Walau amat beracun, kini kita telah mendatangkan Ling-kongcu, kukira takkan lama lagi kita akan mempunyai daya untuk memunahkannya,"
Demikian ujar Pek-hoa-pangcu. Kun-gi tertawa. katanya.
"Jangan Pangcu mengharapkan terlalu besar terhadapku, dapatkah cayhe menemukan obat pemunahnya masihbelumtentu, cayhepuntidakbegituyakin-"
Pek-hoa-pangcu mengerling, katanya sambii tersenyum manis.
"Bukankah tadi kau bilang akan membantu sekuat tenaga?"
"Umpama cayhe kerja sekuat tenaga kan belum tentu berhasil?"
Sahut Kun-gi.
"Janji KongCu pasti dapat dipercaya, kuyakin kau pasti akan bekerja sepenuh hati, Ai, hidup, mati seluruh anggota Pang kami bergantungdariusaha Ling-kongcu saja."
Sampai disini dia berpaling kepada Giok-lan-"orang2 Hek-lionghwe sudah mencari ke sini Jik Hwi-bing adalah salah satu Tongcu mereka, setelah dia berhasil melarikan diri urusan tentu takkan berakhir sampai di sini saja, maka sejak kini sekeliling taman ini harus ditambah penjagaan, ronda diperkuat lebih keras"
Giok-lan menerima perintah ini. Pek-hoa-pangcu berkata pula.
"Orang2 Hek-liong-hwe telah melumurkan getah beracun di senjata masing2, pasti mereka juga sudah melumuri senjata rahasianya, maka kita semua harus lebih hati2."
Merandek sekejap lalu ia menambahkan.
"Syukurlah Ling-kongcu telah berjanji akan membantu, semakin cepat diperoleh obat penawarnya tentu akan lebih baik, lekas kau antar Ling-kongcu kembali ke kamarnya, periksa lagi masih ada kekurangan apa? Untuk ini harapLing kongcu dapat mulaibekerjaselekasnya."
Kun-gi menjura, katanya.
"Pangcu tiada pesan lain, baiklah cayhe mohon dirisaja."
Sambil membetulkan sanggulnya, tajam dan perihatin tatapan mata Pek-hoa-pang Cu, katanya.
"Semua berkat bantuan dan usaha Kongcu."
Giok-lan lantas bawa Kun-gi kembali melalui jalan datangnya tadi, kali ini Giok-lan tetap berjalan di depan, lekuk tubuh orang yang semampai dan menggiurkan menjadikan pikiran Kun-gi tidak tenang, apalagi bau harum dari badan orang selalu merangsang hidungnya..
Setelah tiba diserambi dipinggir gunungan palsu itu baru Giok-lan berpaling, katanya tersenyum manis.
"Biasanya pangcu amat dingin menghadapi orang, sikapnya yang lunak hari ini terhadap Lingsiangkong sungguh amat istimewa."
"cayhe amat beruntung sekali,"
Ajar Kun-gi berkelakar.
"Memangnya hanya pemuda segagah dan setampan Ling-siangkong saja yang dapat menundukkan dan mencairkan hati Pangcu yang kaku dan beku."
Merah muka Kun-gi, katanya.
"Ah, nona jangan menggoda."
Sambil menunduk Giok-lan jalan di depan, katanya lirih.
"Memangnya Kongcu masih belum merasakan? Ai, Kongcu dan Pangcu kami memang merupakan pasangan yang setimpal, sayang ... ."
Suaranya semakin lirih dan akhirnya tenggelam dalam tenggorokan-Sayang apa?
Dia tidak meneruskan, sudah tentu Kun-gi rikuh untuk menanya, maka selanjutnya mereka berjalan tanpa bersuara lagi.
Benak Kun-gi masih memikirkan ketiga jurus Hwi-liong-kiam-hoat tadi, maka tak tertahan dia bertanya.
"cayhe ingin mohon petunjuk suatu halkepada nona."
"Apayanginginkau tanyakan?"Giok-lan menoleh..
"Pang Kalian menggunakan Pek-hoa (seratus kembang), menciptakan semacam suatu aliran ilmu pedang tersendiri,jika dikembangkan menciptakan kuntum bunga yang berbeda2 seolah2 seratus bunga mekar bersama, entah apakah nama ilmu pedang ini juga dinamakan Pek-hoa?"
Terunjuk rasa heran dan kaget dari sinar mata Giok-lan, katanya.
"Ling-kongcu memang cerdik, hanya menyaksikan beberapa jurus lantas tahu asal-usul ilmu pedang itu."
"Nona terlalu memuji, soalnya cayhe pernah dengar penuturan guruku tentang aliran dan jurus2 ilmu pedang dari berbagai golongan dijagat ini, tapi ilmu pedang yang diperlihatkan oleh beberapa nona tadi semuanya merupakan Ciptaan tersendiri, dan lagi ceplok2 sinar pedang berkuntum2 banyaknya, serasi betul dengan perkumpulan kalian, maka dapatlah dibayangkan bahwa ilmu pedang itu pasti hasil ciptaan cakal-bakal Pang kalian-"
Giok-lan manggut2, katanya.
"Agaknya Ling-kongcu juga seorang ahli pedang."
"Terlalu tinggi penilaian nona terhadap cayhe, memang cayhe memelajari beberapa jurus ilmu pedang cakar ayam,jangan dikatakan ahli? Jik Hwi-bing yang betul2 ahli dalam bidang ini dengan landasan Lwekang yang tinggi lagi toh juga kecundang oleh nona, kukira nona yang setimpal dijunjung sebagai ahli pedang."
Tiada manusia di kolong langit ini yang tidak senang diumpak.
Terutama perempuan, asal cara yang kau gunakan tepat dan sejalan dengan isi hatinya, meski hanya beberapa patah kata, seorang perempuan yang cerdikpun dapat kau buat senang hatinya.
Demikian pula Giok-lan, sudah tentu dia juga senang disanjung puji.
Apalagi yang dihadapinya sekarang adalah Ling Kun-gi, pemuda gagah ganteng yang romantis ini.
Bola mata Giok-lan memancarkan cahaya aneh, katanya sambil tertawa.
"Kau pandaiberbicara."
Kun-gi hanya tersenyum, katanya pula.
"Ilmu pedang yang tadi digunakan Bwe-hoa dan Lan-hoa untuk melukai kedua orang itu agaknya merupakan jurus aneh yang berlainan, kurasa bukan jurus seranganyangadadidalamPek-hoa-kiam-hoatitu?"
"Em,"
Giok-lan memuji.
"pandangan Kongcu memang tajam, jurusini memangbukanterdiridari rangkaian Pek-hoa-kiam-hoat"
"Lalu jurus ilmu pedang apa? begitu lincah, sakti laksana naga memperlihatkan diri di atas mega, sehingga orang sukar meraba ekornya."
Tiba2 Giok-lan membalik, tanyanya sambil menatap tajam.
"Lingkongcu kenal jurus ilmu pedang itu?"
Kun-gi menggeleng, katanya.
"Kalau cayhe kenal ilmu pedang ini, buat apa harus tanya kepada nona?"
Giok-lan menghela napas panjang, katanya.
"Memang Kongcu tidak malu sebagai seorang ahli pedang, jurus ilmu pedang itu memang tepatsepertiapayangkau katakan-"
Kun-gi pura2 bingung, tanyanya.
"Kata2 apa yang tepat kukatakan?"
"jurus itu memang bernama Sin-liong-jut hun (naga muncul dari mega)."
Kini terbukti bahwa ilmu pedang yang mereka mainkan betul adalah Sin-liong-jut-hun seperti dugaan Ling Kun-gi, tapi dia hanya tersenyum saja, katanya.
"cayhe hanya melihat Cara nona tadi waktu memainkan ilmu pedang itu selincah naga di atas mega, tak kira bahwa jurus pedang itu memang bernama Sin liong-jut-hun, tentunyailmupedang inijuga ciptaanPang kalian?"
Giok-lan seperti tersentak sadar, katanya.
"Itulah ilmu pedang pelindung Pang kami, untukapa Kongcu tanyahalini?"
"Sepuluh tahun cayhe berlatih pedang, selamanya belum pernah melihat ilmu pedang seaneh dan begitu digdaya, karena ketarik adalah jamak kalau ingin tahu lebih jelas."
Seperti tertawa tapi tidak tertawa Giok-lan memandangnya, katanya sambil mencibir.
"Ketarik apa segala, yang jelas kau ingin tahu asal-usul ilmu pedang ini bukan? Bagi orang lain, hal ini hanya merupakan impian belaka, tapi bila Ling-kongcu ada maksud, kukira tidaksukar ..."
Mendadakdiaberhentibicarasampai di sini. Sudah tentu Kun-gi ingin tahu asal-usul ke-3 jurus ilmu pedang itu, tanyanya.
"Tidak sukar bagaimana?"
Giok-lan tertawa penuh arti, katanya.
"Asal Ling-kongcu sudi jadi anggota Pang kami dan menjadi Huma (suami Pangcu) dan bertanggungjawab menjaga keselamatan Pangcu, kau akan memperoleh hak untuk mempelajari ketiga jurus ilmu pedang pelindung Pang itu."
Tanpa terasa mereka sudah berada dipekarangan tengah terus menuju ke deretan rumah di sebelah kiri.
Sin-ih yang bertugas di bilangan ini segera keluar menyambut.
Kata Giok-lan-"Ling kongcu adalah tamu agung Pang kita, berilah hormat kepadanya."
Sambil tertawa Kun-gi mendahului buka suara "Nona Sin-ih tidak usah banyak adat, masa kau tidak mengenalku?" -Suaranya dibikin serakhingga miriplogatciam-liongCuBun-hoa.
Terbeliak mata Sin-ih, serunya.
"Kau adalah Cu-cengcu?"
Giok-lan iringi Kun-gi masuk ke kamar tamu, lalu menuding kamar sebelah kiri, katanya.
"Itulah kamar buku yang disediakan untuk Ling-kongcu,"
Lekas Sin-ih lari ke depan membuka daun pintu yang bercat merah.
"silakan,"
Kata Giok-lan, Kun-gi tidak sungkan lagi, segera ia beranjak masuk.
Kamar bukuini amatbesardanpanjang, tepatditengahterdapat sebuah pintu bulan sabit, sehingga kamar panjang ini dipetak jadi dua.
Kamar depan bagian selatan sana ada jendela berkaca yang bertutup kain sari bersulam indah, di luar jendela adalah taman bunga, di bawah jendela terdapat meja buku, di kanan-kirinya terdapat rak buku, setiap petak penuh berisi buku2, semua diatur begitu rapi, disekitar meja terdapat empat buah kursi.
Kamar belakang mepet dinding utara terdapat sebuah almari bersusun, sekali pandang lantas ketahuan almari ini sengaja dibuat khusus untuk menyelidiki getah beracun itu, di atas almari banyak terdapat laci, pada setiap laci ditempel kertas merah yang bertuliskan namaobatyangdisimpandidalamlaci itu.
Dipinggir kiri almari ada sebuah pintu kecil, hanya di belakang masih ada sebuah ruangan lain-Menuding almari itu Giok-lan menerangkan.
"obat2 dalam laci itu berjumlah 72 macam, semua adalah obat2an yang pernah Kongcu gunakan wak-tu menawarkan getah beracun di coat-sin-san Ceng, keCuali itu bila Kongcu masih memerlukan obat lainnya boleh memberi pesan kepada Sin-ih, segera akan didapatkan." -Lalu dia menuding pintu kecil itu.
"Di kamar itulah untuk menggodok obat, Kongcu boleh menyuruh Sin-ih atau bila perlu juga boleh menggodok sendiri."
Kun-gi ikut melangkah masuk.
kamar kecil ini berbentuk lonjong, semua peralatan untuk meracik dan menggodok obat sudah lengkap tersedia di sini, Setelah mengadakan pemeriksaan ala kadarnya, Giok-lan berkata pula.
"Ada kekurangan apa di sini, atau memerlukan apa saja, Kongcu boleh minta kepada Sin-ih."
Kun-gi manggut2, katanya.
"Begini rapi persiapan nona, kukira sudah cukup,"
Sampai di sini mendadak ia menambahkan "Tapi masih harus disediakan air."
Giok-lan tersenyum, dia menuju ke ujung sana, membuka sebuah pintu, di luar ternyata adalah serambi yang menuju kepekarangan belakang.
Diserambi, berjajar tiga gentong air, semuanya bertutup papan kayu bundar.
Menuding ketiga gentong air Giok-lan menerangkan pula.
"Inilah tiga gentong air, gentong pertama berisi air gunung, gentong kedua berisi air sumber, gentong ketiga beriai air sungai, sudah ku-pesan setiap hari mereka harus mengganti air sekali."
"Nona memang pandai bekerja, begini rapi persiapannya,"puji Kun-gi. Mereka keluar dari kamar kecil itu kembali ke kamar buku. Giok-lan membungkuk membuka pintu almari bagian bawah, dengan kedua tangan dia mengeluarkan sebuah buli2 terbuat dari porselen, katanya dengan sikap serius.
"Inilah getah beracun yang kita peroleh dari Hek-liong-hwe, harap Ling-kongcu berhasil memperoleh obat penawarnya bagi Pang kita, kami semua akan bersyukur dan berterima kasih."
"Silakan nona mengembalikannya kedalam almari, bila diperlukan cayhe akan mengambilnya, cayhe sudah janji kepada Pangcu, tentu akan bekerja sekuat tenaga."
Setelah menyimpan buli2 itu, Giok-lan berdiri sambil membetulkan rambut yang terurai, katanya tertawa.
"Semoga Kongcu berhasil secepatnya."
Lalu dia memberi hormat dan menambahkan.
"Ling-kongcu, aku masih ada urusan, mohon pamit."
"Sebentar nona,"
Kata Kun-gi.
"ada sebuah hal mohon nona suka memberi petunjuk."
"Masa memberi petunjuk segala, Ling-kongcu ada urusan apa?"
"cayhetinggaldisini, apakah diperbolehkanjalan keluar?"
Ber-kedip2 mata Giok-lan, sesaat dia memandang Kun-gi, hatinya tampak ragu2, tapi segera dia berkata sambil tertawa.
"Ling-kongcu adalah tamu agung, seharusnya boleh bebas mau pergi kemana, cuma Kongcu baru datang, belum tahu seluk-beluk disini, anggota Pang kita semua perempuan, hanya pekarangan tengah ini saja tempat istirahat Kongcu, jadi hanya Kongcu saja seorang laki2 yang berada di sini, kalau tiada orang yang menunjukan jalan kukira kurang leluasa."
Memang hal ini beralasan, sesuai dengan nama perkumpulan, sudah tentu seluruh anggota Pek-hoa-pang adalah perempuan atau gadis2, seorang laki2 asing jika tanpa pengiring memang kurang leluasa bergerak di tempat ini.
Tapi secara tidak langsung hal ini berartidirinyaditahanataudisekap dalampekaranganluas ini?
"Kalau tidak leluasa ya sudah, cayhe hanya bertanya sambil lalu,"
Ujar Kun-gi.
Giok-lan menepekur sebentar, katanya kemudian-"begini saja, biarlah hal ini kubicarakan dulu dengan Pangcu, di belakang sana kita masih ada sebuah taman, kalau Kongcu habis bekerja, boleh jalan2 di taman itu, cuma hal ini harus mendapat persetujuan Pangcu."
"Kukiratidakusahlah, bikinrepot kausaja."
"Tidak, hal ini memang belum terpikir sebelumnya olehku, anggaplah kecerobohanku, kini Kongcu telah mengusulkan, tentu akan kulaporkan kepada Pangcu, sebagai tamu agung yang bekerja bagi kepentingan kita semua, mana boleh setiap hari menyekap diri di kamar kerja melulu,"
Habis bicara lekas2 dia beranjak keluar.
Setelah orang pergi Ling Kun-gi mondar-mandir dalam kamar sambil menggendong tangan melihat buku2 di atas rak, akhirnya dia duduk di kursi malas di bawah jendela sana.
Sin-ih cepat mengambil teh serta diantar ke depan Kun-gi.
"Lingkongcu silakan minum."
"Ah, cayhe sampai lupa kalau nona masih berada di sini,"
Seru Kun-gi.
"Tiada yang perlu kau kerjakan lagi di sini. boleh nona keluar saja."
"congkoan ada pesan, Kongcu perlu bekerja seorang diri, hamba dilarang mengganggu, tapi hamba ditugaskan di sini meladeni keperluan Kongcu, apapun keinginan Kongcu harus kusediakan. Baiklah hamba akan tunggu di luar saja, sekali panggil hamba pasti mendengar,"
Lalu Sin-ih mengundurkan diri.
Ling Kun-gi angkat cangkir dan menghirup,nya seteguk.
sambit memegangi cangkir dia menengadah mengawasi langit2, pikirannya risau, ia rada bingung juga, tak tahu langkah apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Waktu dirinya diselundup keluar oleh Giok-je, Ia mandah saja, hanya satu tujuan ingin mencari jejak ibunya.
karena waktu itu diketahuinya selain Coat Sin-san-ceng ternyata ada pula suatu serikat rahasia lain yang menghendaki dirinya.
Di Coat Sin-san-ceng dia gagal mendapatkan ibunya, sudah tentu dia ingin melihat2 serikat rahasia apakah yang hendak memperalat dirinya.
Maka Kungi akhirnya berada di Pek-hoa-pang ini.
Pek-hoa-pang memang suatu kumpulan gadis yang serba rahasia, tapi dia yakin bahwa ibunya yang bilang pasti tiada sangkut-pautnya dengan Pek-hoa-pang.
Malah Pek-hoa-pangcu berjanji akan bantu dirinya mencari jejak beliaU.
Kini setelah diketahui bahwa ibunya tak berada di sini, sepantasnya dia harus segera berlalu, tapi dua persoalan justru terpampang dihadapannya, tak mungkin untuk di-tinggal pergi begini saja.
Soal pertama sudah tentu menyangkut getah beracun.
Semua dia hanya tahu bahwa Coat Sin-san-ceng amat getol menginginkan obat penawar getah beracun, kini sudah jelas bahwa Coat Sin-san-ceng hanyalah merupakan salah satu Cabang kerja dari Hek-liong-hwe, sedang getah beracun sebetulnya milik Hek-liong-hwe.
Dan Hekliong hwebelummempunyaiobatpenawarnya.
Dari pembicaraan Jik Hwi bing dapat ditarik kesimpulan bahwa Pek-hoa-pang dan Hek-liong-hwe belum pernah bentrok atau berselisih, lalu kenapa pihak Pek-hoa-pang juga ingin selekasnya memperoleh obat penawar getah beracun?
Sebetulnya barang apakah getah beracun itu?
Apa pula tujuan dan muslihat yang tersembunyi di balik semua ini sampai Pek hoa-pang dan Hek-lionghwe seakan2 berlomba untuk mendapatkan obat penawar itu?
Soal kedua adalah mengenai ketiga jurus ilmu pedang, yaitu Hwi liong-sam-kiam.
Terang gamblang ibunya pernah menjelaskan bahwa Hwi-liong sam-kiam adalah warisan keluarganya.
Kalau warisan keluarga sudah tentu merupakan ilmu rahasia pula.
Kenapa Pek-hoa-pang juga memiliki ketiga jurus ilmu pedang ini?
Malah dijadikan ilmu pelindung Pang mereka?
Maka timbullah dua pertanyaan, Pek-hoa-pangkah yang mencuri belajar dari keluarganya?
Atau keluarganya yang mendapat ajaran ketiga jurus ilmu pedang itu dari Pek hoa-pang?
Dari ketiga jurus ilmu pedang ini Kun-gi dapat menarik kesimpulan, mungkinkah ibunya punya hubungan dengan Pek-hoa-pang?
Dari sang ibu dia lantas teringat kepada sang ayah, sebesar ini dirinya belum pernah melihat wajah ayahnya sendiri, malah ibunya tidak pernah bicara soal ayah dengan dirinya.
Kalau betul ilmu pedang itu warisan keluarga, tentu warisan dari ayahnya,jadi ayahnyayang ada sangkut paut dengan Pek-hoa-pang?
Pikirannya timbul tenggelam, kalut dan semakin ruwet, cangkir diangkat dan kembali dia menghirup seteguk.
Ternyata teh dalam cangkir sudah dingin-Teh dingin ini membuat pikirannya yang gundahpelan2 mulaitenangkembali.
Suhu pernah berpesan, menghadapi urusan harus berpikir dengan kepala dingin-Maka dia lantas berpikir pula mengenai soal pertama getah beracun, seharusnya Pek-hoa pangcu tahu, tapi agaknya nona itu tidak suka banyak bicara.
Soal kedua Hwe liongsam-kiam, kalau ilmu pedang ini di anggap pelindung Pek-hoa-pang, tentu nona itu juga tahu asal usulnya, Hanya kedua persoalan ini saja yang ingin diketahuinya dan kunci kedua persoalan ini terletak pada diri Pek-hoa-pangcu.
Cuaca sudah mulai gelap.
Kun-gi masih duduk termenung.
Karena mendapat pesan congkoan di-larang mengganggu Ling-kongcu, maka secara diam2 Sin-ih menyalakan pelita di ruang kecil.
Hidangan sudah diantar, maka Sin-ih lantas menyiapkan meja makan di kamar sebelah pula, tapi ditunggu sekian lamanya ling Kun-gi masih tenggelam dalam pikirannya, padahal hidangan sudah dingin, maka secara diam2 pula Sin-ih beranjak kepintu mengawasi Ling Kun-gi serta memanggil dengan suara lirih.
"Ling-kongcu, sudah saatnya makan malam."
"o,"
Kun-gi tersentak sadar, lekas dia berdiri, katanya tertawa geli.
"begini cepat, tahu2 hari sudah petang."-ia lantas ikut ke kamar makan Sin-ih tarik kursi mempersilakan Kun-gi duduk. mengambil poci serta mengisi cangkir dengan arak. Lalu menyiduk semangkok nasi bagi Kun-gi. Kun-gi diam saja membiarkan orang meladeni, katanya kemudian dengan tersenyum.
"Nona agaknya serba pandai."
Usia Sin-ih baru belasan tahun, gadis yang sedang mekar, keruan mukanya menjadi merah di-awasi sedemikian rupa, wajah terasa panas, kepalanya tertunduk dan tak berani bersuara.
Kun-gi menjadi geli, tapi dia tidak hiraukan orang lagi, segera dia sikat seluruh hidangan yang diperuntukkan dirinya.
Setelah membereskan mangkuk piring Sin-ih menyuguh secangkir teh pula ke dalam kamar, Ling Kun-gi lantas berkata.
"Nona boleh istirahat saja."
Malam ini Sin-ih tidak berani lagi bantu Kun-gi menanggalkan jubah dan ganti pakaian segala, demi mendengar perkataan Kun-gi itu tersipu2 dia mengundurkan diri.
Kira2 kentongan pertama, kamar Kun-gi sudah gelap.
tapi dia tidak lantas naik ranjang, ia atur bantal guling yang ditutup selimut hingga menyerupai bentuk tubuh wanusia.
Lalu secara diam2 dia buka jendela serta melompat keluar, dari luar dia tutup pula jendela pelan2, sesosok bayangan lantas melambung tinggi ke udara, begitu cepat laksana segulung asap yang tertiup angin lalu, melayang ke belakang.
Inilah hasil pemikiran Kun-gi sebelum makan tadi, rahasia getah beracun dan Hwi liong-sam-kiam tentu diketahui oleh Pek-hoapangcu, tapi orang agaknya tidak mau banyak bicara, terpaksa dirinya harus menyelidiki secara diam2, oleh karena itulah tadi dia berkeputusan malaminijugaakanberaksi.
Menyelidiki rahasia orang lain sebetulnya merupakan pantangan bagi kaum persilatan, tapi lantaran berkepandaian tinggi dan nyalipun besar, dia beranggapan asal dirinya berlaku hati2, tentu jejaknya tidak akan konangan oleh orang2 Pek-hoa-pang.
Taman keluarga Hoa yang besar dan luas ini merupakan markas pusat yang amat penting artinya bagi Pek-hoa-pang.
Karena huru-hara tadi siang, maka penjagaan malam ini jauh lebih keras, pada setiap tempat gelap di sudut2 taman pasti ada pos penjagaan yang diatur sedemikian rupa, sampaipun pada setiap wuwungan, setiap jendela pada setiap loteng juga ada orang berjaga dan mengawasi.
Sudah tentu semua petugasnya adalah gadis remaja.
Sebetulnya tidak sedikit pula jumlah Hou-hoat-su-cia di dalam Pek-hoa-pang, umpama Liok Kian-lam dan lain2, semuanya adalah kaum pria, maka mereka tidak berada dalam lingkungan taman luas ini.
Jika benar taman keluarga Hoa ini berada di tengah Phoa-yangouw, maka tugas Hou-hoat-su-cia itu pasti berada di luar, umpamanya meronda di perairan atau dipesisir.
Karena siang tadi Kun-gi pernah kemari, jalan sudah apal, dengan mengembangkan Thian-liong-siap-Kong-sin-hoat, umpama dia berkelebat di depan para petugas yang cantik jelita itu, mungkin merekapunmengirapandangan merekasendiriyangkabur.
Di atas loteng Sian-jun-koan, sinar pelita tampak masih menyorot keluar.
Tanpa banyak pikir Kun-gi meluncur ke sana, pertama dia mencari batu loncatan pada sepucuk pohon besar, meminjam aling2 bayangan pohon yang berdaun lebat, dia mendekam serta pasang mata memperhatikan ke atas loteng.
Sinar lampu menyorot dikamar pertama disebelah kiri, tempat di mana Kun-gi sembunyi kebetulan berjarak kira2 tujuh tombak dari loteng melihat pajangan yang ada di kamar itu, dia yakin pastilah kamar tidur yang didiami Pek-hoa-pangcu.
Jendela di sebelah selatan tampak masih terbuka, sinar lampu justru menyorot keluar dari sini, cuma teraling oleh kain gordyn yang terbuat dari kain sari kuning sehingga seperti berkabut selapis asap kuning.
Pek-hoa-pangcu dan Giok-lan tampak duduk berhadapan di sebuah meja bulat kecil, gerak-gerik mereka menunjukkan sedang membicarakan sesuatu persoalan,jarak cukup jauh, maka tidak terdengar suara percakapan mereka.
Pek-hoa-pangcu kini mengenakan gaun merah baju kuning, rambut panjang terurai diikat benang merah, gerak-geriknya halus, sikapnya anggun berwibawa, potongan tubuhnya begitu indah mempesona, tapi mukanya tetap mengenakan kedok.
Sebetulnya wajah berkedok itupun cantik jelita, cuma usianya kelihatan lebih tua dari umur sesungguhnya sehingga tidak seayu wajah aslinya.
Giok-lan tetap memakai pakaian serba putih, pandangan pertama akan menimbulkan kesan keagungan dan kesucian dirinya, sudah tentu tak lepas dari rasa sederhana.
Teraling kain sari mengawasi sang jelita tak ubahnya seperti berada di dalam kabut mengawasi bunga, tapi tujuan Ling Kun gi kemari bukan untuk mengintip gerak-gerik nona cantik.
Tujuannya adalah menyelidiki rahasia getah beracun dan asal usul Hwi liongsam-kiam, maka dia merasa perlu mencuri dangar percakapan Pek-hoa-pangcu dan Giok-lan.
Taraf ilmu silatnya memang tinggi sehingga keberaniannyapun luar biasa, dengan tajam diperiksa sekelilingnya, tiba2 ia meloncat mumbul meninggalkan pucuk pohon dan menubruk kearah loteng.
Betapa cepat gerakan tubuhnya, dengan lincah dan enteng dia melompat kewuwungan rumah, sekali tutul lagi, dengan jumpalitan tubuhnya lantas hinggap di serambi sebelah timur.
Tempat itu kebetulan adalah pengkolan jalan, sinar lampu tidak menyorot ke sini, maka tempatnya jauh lebih gelap.
Ringan dan sebat sekali tubuh Kun-gi berputar terus merunduk ke jendela sebelah timur, didapatinya jendela tidak tertutup letak kamar di ujung sebelah timur, jadi hanya terpaut satu kamar dengan kamar tidur Pek-hoa-pangcu yang sedang bicara dengan Giok-lan.
Dari pucuk pohon tadi Kun-gi sudah memeriksa dengan teliti, dengan enteng ia menerobos masuk dan hinggap di dalam kamar tanpa bersuara.
Pada saat dia mendorong jendela dan berkelebat masuk itu hidungnya berbareng dirangsang bau harum, sekali mencium bau harum ini Kun-gi lantas tahu bau harum ini mirip dengan wewangian yang pernah terendus dari badan Pek-hoa-pangcu.
Dengan rasa kaget sigap sekali Kun-gi berkisar ke samping sambil bersiaga, dia kira Pek-hoa-pangcu sudah siap menunggu kedatangannya, tapi setelah berdiri tegak dan mengamati sekelilingnya, baru dia sadar bahwa dirinya terlalu takut akan bayangan sendiri.
"Agaknya kamar inilah kamar tidur Pek-hoa-pangcu,"
Demikian batin Kun-gi.
Sejenak dia memeriksa keadaan kamar ini, lalu merunduk ke dinding barat dan bergerak kearah pintu.
Itulah pintu berbentuk bulan, sisi kanan kiri terdapat kerai yang tersingkap dan tergantol besi mengkilap, sebelah luarnya tertutup jalur2 manik yang direnteng benang besar.
Dari tempat gelap ini dengan jelas dia dapat mengawasi keadaan di luar, malah dia bisa sembunyi di belakang kerai yang tersingkap itu.
Maka didengarnya suara Pek-hoa-pangcu sedang berkata.
"Kukira apa yang dikatakannya tidak bohong."
Tergerak hati Kun-gi, batinnya.
"Agaknya diriku yang menjadi topikpembicaraan mereka."
Terdengar Giok-lan berkata.
"Jadi maksud Pangcu kita harus memberi perintah kepada para saudara yang tersebar luas itu untuk bantumencarijejak ibunyayanghilang?"
"Tujuannya memang hanya mencari ibundanya, dia berjanji akan membantu kita menemukan obat penawar getah beracun, betapa besar arti dan pentingnya bantuan ini, kalau kita bantu dia menemukan ibunya juga setimpal."
"Pangcu percaya kalau dia betul2 dapat menemukan obat penawar getah beracun?"
"Seharusnya tidak pantas kita curiga dalam hal ini, laporan Giokje sudah jelas, bukankah dia sudah menemukan penawar getah di Coat Sin-san-ceng?"
"Betul, cuma hamba merasa dia terlalu muda, coba pikir, betapa luas pengalaman Tong Thian-jong, Un-it-kiau dan Lok san Taysu, mereka toh sia2 setelah bekerja tiga bulan, padahal usia Ling-kongcu kukira baru likuran tahun ...."
"Jangan kau menilai demikian, bahwa getah semangkuk telah dia bikinjadiair jernih kan sudahterbukti?"
"Tapi hamba kira bukan dia yang berhasil menawarkan getah beracun itu."
"Bukan dia yang menawarkan getah beracun?"
Seru Pek-hoapangcu kaget dan heran.
"maksud Sam-moay ...."
"Hamba kira dia membawa sesuatu obat yang khusus dapat menawarkan segala macam racun, adalah jamak bagi setiap insan persilatan selalu membekal obat2an macam ini, mungkin secara kebetulan obat yang dibawanya itu bisa menawarkan getah beracun."
Memang tidak malu Giok-lan diangkat menjadi congkoan Pek-hoa-pang, pandangan dan pendapatnya memang Cermat dan lebih mengena sasaran daripada orang lain Pek-hoa-pangcu manggut, ujarnya.
"Betul, kulihat sorot matanya amat tajam, hakikatnya tidak mirip seorang yang terkena racun pembuyar Lwekang, kalau dia selalu bawa obat penawar racun, maka racun pembuyar Lwekang itupun tentu sudah punah dari tubuhnya."
Sampai di sini tiba2 dia menepuk meja sambil tertawa, katanya.
"Ya, pasti begitu, waktu Giok-je dicegat orang2 Hek-lionghwe di tengah sungai, katanya ditolong seorang berkedok yang mengalahkan Dian Tiong-pit dan begundalnya, hari ini setelah melihat dia lantas timbul rekaan dalam benakku bahwa orang berkedok itu pasti dia"
Pada saat itulah, di luar sana seorang pelayan bersuara lantang.
"Hamba menyambut kedatangan Hu pangcu."
Mendengar yang datang adalah Hu-pangcu atau wakil Pangcu Pek-hoa-pang, cepat Kun gi sedikit menyingkap kerai dan mengintip keluar. Segera Pek-hoa-pangcu angkat kepala dan berseru.
"Apakah Jimoay yang datang?"
Tampak kerai tersingkap. muncullah seorang gadis remaja berbaju kuning ketat, langsung ia menjura kepada Pek-hoa-pangcu, katanya.
"Siaumoay memberi hormat kepada Toaci."
Lalu ia tanggalkan mantel serta mencopot cadar kuning yang menutup mukanya.
Kini Kun-gi dapat melihat jelas.
Usia gadis ini sebaya dengan Pekhoa-pangcu, wajahnya berbentuk kwaci, alisnya melengkung laksana bulan sabit, dagunya laksana lebah bergantung, matanya jeli seperti bintang kejora, pinggangnya ramping diikat sabuk kain merah, di mana terselip sebatang pedang bersarung kulit ikan cucut, sepatunya kulit hitam tinggi, kelihatannya gagah dan angker, itulah seorang gadis yang sudah terlatih dan gemblengan.
Ternyata dia tidak mengenakan kedok.
"Silakanduduk Ji-moay,"kataPek-hoa-pangcu. Sementara itu Giok-lan berdiri menyambut, katanya sambil menjura kepada gadis baju kuning.
"Hamba memberi hormat kepada Hu-pangcu."
Gadis baju kuning mengangguk, katanya tersenyum.
"Sam-moay juga ada di sini, sesama saudara sendiri buat apa sungkan?"
Wajahnya kelihatan berseri tawa, tapi sedikitpun tidak kentara rasa simpatik pada nada bicaranya. Dia duduk pada kursi sebelah kiri Pek-hoa-pangcu, lalu berkada pula.
"Sam-moay betul2 cerdik pandai melebihi orang lain, Thay-siang (junjungan maha tinggi) menyerahkan jabatan congkoan padamu memang sangat tepat."
Tiba2 tergerak pikiran Kun-gi.
"Jadi jabatan congkoan ini diperoleh dari Thay-siang, bukan di angkat langsung oleh Pek-hoapangcu, jadi masih ada lagi Thay-siang-pangcu. Memangnya gadis2 remaja yang cantik molek. bukan saja berkepandaian tinggi, malah berani membentuk serikat segala, sudah tentu semuanya hasil didlkan seseorang dan orang itu pasti adalah Thay-siang-pangcu yang dimaksudkan itu."
Setelah gadis baju kuning duduk barulah Giok-lan ikut duduk. katanya.
"Justeru karena Thay-siang yang menyerahkan jabatan ini padaku, maka sedikitpun aku tidak berani lena dalam menjalankan tugas."
Pek-hoa-pangcu menyela.
"Tengah malam begini Ji-moay kemari, entah ada petunjuk apa dari Thay-siang?"
"Thay-siang mendapat kabar bahwa orang2 Hek-Liong-hwe telah menimbulkan onar di sini, beliau amat marah, bahwa markas pusat Pek-hoa-pang sampai dikunjungi orang luar, menimbulkan huruhara lagi, jelas ini merupakan kecerobohan kita, lebih celaka, musuh masih meloloskan diri lagi ..."
"Memanghambayangtidak becus,"kataGiok-lan.
"Kami terima kenyataan ini, soalnya penyatron berkepandaian tinggi, beruntung dua diantara tiga musuh dapat kita bunuh,"
Kata Pek-hoa-pangcu. Dengan kedua tangan membetulkan letak rambutnya, gadis baju kuning berkata sambil miringkan kepala ke arah Pek-hoa-pangcu.
"Letak tempat kita dikelilingi air, orang2 kita juga meronda di atas air, umpama tumbuh sayap juga musuh takkan mungkin lolos, memangnyasetelah menemukanjejak musuh lalu kitatidaksuruhan orang menggeledah perairan?"
"Begitu tahu ada orang luar menyelundup ke-mari lantas kuperintahkan orang mengadakan razia, ternyata Ui-Liong-tongcu dari Hek-Liong hwe yang bernama Jik Hwi-bing cukup cerdik, dia tinggalkan dua pembantu di atas perahu, kedua orang itu adalah Dian Tiong-pit dan Hou Thi-jiu, Liok dan Li berdua Sucia yang bertugasdisanatertutukoleh mereka malah."
"Thay-siang suruh Siau-moay kemari untuk memeriksa peristiwa ini, Liok dan Li berdua Sucia tidak menunaikan tugas dengan semestinya, cukup setimpal dicurigai ada berkomplot dengan musuh, memangnya Pek-hoa pang kita boleh membiarkan orang luar keluar masuk dimarkas besar ini dengan sesukanya?"
Pek-hoa-pangcu menghela napas, katanya kemudian.
"Bicara soal ilmu silat memang sulit dibedakan, terang kepandaian Liok dan Li berdua sucia memang terpaut jauh dengan musuh sehingga dengan mudah kena dibekuk musuh, semua kesalahan tak boleh dijatuhkan kepundak mereka."
Gadis baju kuning cekikikan, katanya.
"Biasanya Toaci memang bijaksana, masa engkau tidak pernah menduga, bukan mustahil mereka berdua yang sengaja menolong orang she Jik itu meloloskan diri?"
"Itu tak mungkin, Liok dan Li amat setia mungkin membiarkan musuh lolos,"
Kata Pek-ho-pangcu tegas. Kembali baju kuning cekikikan, katanya.
"Umpama betul mereka biasanya setia dan kerja keras, kenyataan bahwa orang she Jik dibiarkan lolos, kalau yang satu ini tidak dihukum untuk peringatan kepada yang lain, selanjutnya siapa saja boleh menggunakan alasan yang sama untuk membebaskan musuh, demi menegakkan undang2 Pang kita, maka pantas kalau kedua orang ini dihukum mati ."
Waktu mengucapkan kata2
"Mati"
Wajahnya tampak diliputi hawa nafsu membunuh. Pek-hoa-pangcu tertawa tawa, katanya.
"Seolah2 Ji-moay membela undang2 setegak gunung, sedikit2 lantas main bunuh, umpama betul Liok dan Li tidak menunaikan tugas semestinya, dosa-nya belum setimpal dihukum mati."
"Inilah yang dinamakan bunuh yang dua ini untuk peringatan bagi yang lain, Siau-moay sudah hukum mati mereka,"
Kata gadis baju kuning.
"Ji-moay telah bunuh mereka?"
Seru Pek-hoa-pangcu kaget. Gadis baju kuning tertawa lebar, katanya.
"Itulah maksud Thaysiang, para Hou-hoat-sucia ini sudah biasa makan kenyang kerja malas2an, sudah biasa hidup senang, maka perlu diberi peringatan supaya selalu waapada dan hati2 setiap menjalankan tugas."
Peh-hoa-pangcu tampak serba kikuk. katanya kemudian sambil manggut.
"Thay-siang memang bijaksana, tindakan demikian memang tepat"
"Thay-siang juga bilang, Toaci memang cocok menjadi Pangcu pada waktu damai, kalau jaman kalut dan perlu menggunakan tindakan keras, maka harus pakai cara kejam, oleh karena itu Toaci selalu menjadiorang baik, dan biarlah Siaumoay jadiorang jahat."
Sampai di sini tiba2 dia angkat kepala dan bertanya.
"o,ya, orang yang menyaru Cu Bun-hoa itu sudah berada ditempat kita, Thaysiang amat perhatikan obat penawar getah beracun itu, apalagi setelah orang Hek-liong-hwe mencari setori kemari maka obat penawar harus diusahakan secepatnya, sebetulnya dia yakin tidak akan menemukan obat itu ...?"
"Kami sudah bekerja sesuai petunjuk Thay-siang, semuanya sudah dipersiapkan dengan baik, nama asli orang ini adalah Ling Kun-gi, menurut laporan Giok-Je, dia sudah berhasil mengubah getah beracun jadi air bening, pagi tadi akupun sudah bicara sama dia supaya secepatnya bekerja, maka boleh Ji-moay sampaikan semua ini kepada thay-siang supaya beliau berlega hati."
Agaknya dia tidak berani berterus terang kepada Thay-siang, maka semua persoalan yang menyangkut diri Ling Kun-gi tidak dia jelaskan seluruhnya...
"Thay-siang suruh Siau-moay menyampaikan perintahnya kepada Toaci, dalam jangka tiga hari, dia harus sudah berhasil menyelesaikan tugasnya"demikian katasi gadisbaju kuning.
"Apa?"
Seru Pek-hoa-pangcu bergidik.
"Dalam tiga hari harus menunaikan tugas?"
"Bagaimana?."
Gadis baju kuning cekikkan.
"Tiga hari masih belum cukup?, Di Coat Sin-san-ceng, dia sudah berhasil di situ, cukup dia meracik obat2nya sekali lagi, kukira sehari juga sudah bisa selesai."
"Tiga hari mungkin tidak bisa, Ling Kun-gi bilang, secara tidak sengaja dia berhasil punahkan getah beracun jadi air bening, untuk benar2 menemukan racikan obatnya yang tulen, mungkin memerlukan tenaga dan pikirannya pula, jadi harus diusahakan kembali dari permulaan, hal ini tidak boleh didesak, apa lagi harus buru2, nanti, kalau Ji-moay pulang bolehlah kau mohon kepada Thay-siang agar suka undurkan lagi batas waktunya beberapa hari?"
Giok-lan menimbrung.
"Demikianlah, Ling Kun-gi juga berjanji akan bekerja sekuat tenaga untuk menemukan obat itu, hasil permulaan sudah dicapai, asal Thay-siang sudi memberi kelonggaran beberapa hari, pasti hasilnya akan jauh lebih memuaskan."
"Wah, cara kalian bicara, Toa-ci dan Sam-moay, se-olah2 akulah yang memutuskan waktu tiga hari ini, kalian kan tahu juga , setiap perintah Thay-siang harus segera dilaksanakan, memangnya siapa yang berani membantah? Toa-ci, suruhlah Sam-moay menyampaikan hal ini kepada orang she Ling supaya dia selekasnya menyelesaikan tugasnya, sebaiknya jangan lewat batas waktu yang ditentukan,"
Walau dia tertawa, namun wajahnya tidak kelihatan berseri, nada suaranyapun dingin, kalau tak berhadapan tentu orang tidak mau percayabahwadiabicarasambiltertawa.
Sambil mengawasi Giok-lan, akhirnya Pek-hoa-pangcu manggut2, katanya.
"Sam-moay, besok kau beritahukan padanya, coba saja apakah dalam jangka tiga hari dia bisa menyelesaikan? "
Giok-lan manggut sambil mengiakan. Mendadak gadis baju kuning berseri tawa, matanya yang indah mengawasi Pek-hoa-pangcu tanyanya.
"Kudengar orang she Ling itu muda, malah sangat cakap. apa benar? Sayang waktu sudah larut malam, kalau tidak ingin siau-moay menemuinya,"
Lalu dia berdiri sambungnya pula.
"Toaci, perintah sudah kusampaikan, aku harus lekas kembali memberi laporan kepada Thai-siang"
Cadar dia kenakan pula, lalu mengenakan mantel lagi, setelah menjura dia lantas melangkah pergi. Setelah gadis baju kuning berlalu, tiba2 tergerak hati Ling Kun-gi, batinnya.
"Agaknya dia akan pulang memberi laporan kepada sang Thay-siang". Thay-siang mendidik sedemikian banyak gadis2 remaja dan mendirikan Pek-hoa-pang, tentu punya suatu rencana dan tujuan tertentu. Apa lagi dia ingin selekasnya menggunakan obat penawar getah beracun, naga2nya bukan hanya untuk menghadapi senjata orang2 Hel-Liong-hwe yang dilumuri getah beracun tentu masih ada maksud lainnya lagi? "
Pek hoa-pangcu dan lain2 mahir menggunakan Hwi Liong-sam-kiam, sudah tentu ilmu pedang ini hasil didikannya pula Tapi dirinya kemari memang hendak menyelidiki kedua hal ini, kini setelah tahu di atas Pek-hoa-pangcu masih bercokol lagi seorang Thay-siangpangcu, maka sasaran yang diincarnya ikut beralih pula.
Sekilas berpikir cepat dia bertindak.
kesempatan baik ini tak boleh di-sia2kan, sekali berkelebat sebat sekali dia meluncur ke luar jendela, di atas wuwungan paling tinggi matanya menjelajah ke tempat jauh, dilihatnya bayangan ramping gadis baju kuning yang bermantel melambai2 tengah meluncur cepat di kejauhan sana.
Segera Kun-gi melayang turun, dengan alingan bayangan semak2 bunga, dia menguntit dari kejauhan-Sudah tentu gadis baju kuning tidak pernah berpikir di belakangnya dikuntit orang, apa lagi Kun-gi selalu menguntit dalam jaraktertentu sehingga lebih sulit diketahui.
Bagai dua titik bintang meluncur keduanya terus menyusuri tanaman bunga, yang terbentang luas, akhirnya tiba di ujung taman.
Tanpa berhenti gadis baju kuning melejit ke atas melompati pagar tembok dengan gaya yang indah gemulai.
Waktu Kun-gi melejit ke atas tembok dilihatnya bayangan gadis baju kuning sudah puluhan tombak jauhnya, gerak-geriknya cepat bagai terbang, tujuannya ke arah danau.
Tempat itu berada sebuah semenanjung tepi Phoa-yang-ouw, taman bunga keluarga Hoa letaknya di bawah sebuah bukit kecil, luasnya ada dua tiga li persegi.
Seringan mega mengambang Kun-gi terus me-nguntit, Kira2 setengah li kemudian, gadis baju kuning tiba dipinggir danau disana terdapat sebuah batu cadas, dengan enteng dia melompat ke atas batulalu kebawah, dibaliksanasebuah perahusudah menunggu, di situ, seorang laki2 baju hijau di atas perahu segera kerjakan penggayuhnya, perahupun laju ke tengah danau.
Kun-gi jadi berpikir.
"Agaknya Thay-siang-pangcu tidak tinggal di sini,"
Dengan rasa kecewa terpaksa dia putar balik langsung masuk kamar terus tidur. Esoknya baru saja Kun-gi selesai berdandan didangarnya suara Sin-ih berkata di luar pintu.
"Ling-kongcu congkoan datang."
Ling Kun-gi tahu maksud kedatangan orang, maka dia mengiakan dan menyambut keluar.
pakaian Giok-lan tetap serba putih laksana salju, dia sudah menunggu di ruang tamu, melihat Kun-gi keluar, segera dia berdiri, katanya dengan tersenyum manis.
"Selamat pagi Ling kongcu, hamba mengganggu."
Lekas Kun-gi menjura, katanya.
"Selamat pagi nona, silahkan duduk"
Setelah sama duduk. Sin-ih menyuguh teh, lalu menyiapkan sarapan pagi, katanya.
"Ling-kongcu silakan sarapan."
"o, Ling-kongcu belum sarapan, silakan saja, tidak usah sungkan,"kata Giok-lan. Kun-gi tertawa tawar, katanya.
"Tidak apa, nona datang begini pagi, entah ada pesan apa, silahkah bicara saja"
Mata Giok-lan yang hitam bening mengerling kearah Kun-gi, katanya tertawa.
"Ling-kongcu sepandai dewa meramal, memang ada dua persoalan yang akan hamba bicarakan"
Heran dan ketarik Kun-gi, katanya dengan tersenyum.
"ada urusan apa silahkan nona katakan saja."
Ragu2 sesaat dia awasi orang lalu berkata.
"Bentrokan Pang kita dengan Hek-Liong-hwe sudah terjadi, yang harus kita kuatirkan adalah senjata mereka yang beracun, setiap korban takkan tertolong jiwanya, petaka mungkin bisa menimpa Pang kita, maka hamba perlu kemari pagi2 untuk merundangkan soal ini dengan Kongcu, mungkinkah obat penawar itu dapat dihasilkan lebih cepat?"
Hambar senyum Kun-gi, tanyanya.
"Lalu maksud Pangcu dan congkoan, berapa hari kiranya cayhe harus menyelesaikan tugas ini?"
Agaknya pertanyaan ini diluar dugaan Giok-lan, katanya kemudian.
"Kau minta aku sebutkan jangka waktunya?"
"Pengarang kalau tidak didesak takkan rampung hasil karyanya, apalagi cayhe sudah biasa bermalas2an, kalau nona tentukan waktunya, cayhe akan bekerja giat dan rajin, tentu hasilnyapun akan lebih cepat."
Giok-lan tersenyum, katanya.
"Bagaimana kalau tiga hari?"
Diam2 Kun-gi geli, tapi dia pura2 mengerut kening, katanya."
Waktu tiga hari sebetulnya terlalu buru2, tapi baiklah, tiga hari juga boleh.". Giok-lan ragu2 malah, katanya sambil menatap tajam.
"Ling-kongcutidakbergurau bukan?"
"Memangnya nona minta aku menulis surat perjanjian?"
"Tidak, aku percaya padamu,"
Katanya sambil mengerling penuh arti.
"Kuyakin Kongcu pastiberhasil, akupun takperlu kuatir lagi."
"Tadi nona bilang ada dua persoalan, lalu ada soal apa lagi?"
Tanya Kun-gi.
"Mohon keterangan Kongcu, kedatanganmu kemari apakah sepanjang jalan ada teman yang menguntit?"
Kun-gi melenggong, katanya.
"cayhe kan di-selundup keluar dan diblus nona Giok-je serta di-bawa kemari, mana mungkin ada teman yang menguntit kemari? Memangya Ada..."
"Baiklah, ingin hamba tahu apakah Kongcu punya saudara?"
Semakin heran tapi juga ketarik hati Kun-gi, jawabnya.
"Aku sebatang kara."
"Jadi beberapa orang itu tidak kau kenal?"
"Siapa mereka, coba nona sebutkan namanya."
"Mereka berlima, masing2 bernama Ban Jin-cun, Kho Keh-hoa, Cu Jing, Tong Bun-khing dan Ling Kun-ping.. Ketiga nama yang pertama tidak dikenal oleh Kun-gi, tapi waktu mendangar nama Tong Bun-khing, tergerak hatinya setelah Giok-lan menyebut nama Ling kun-ping, ia melonjak kaget, pikirnya.
"Tong Bun-khing tentu nona dari keluarga Tong itu, sedangkan Ling Kun-ping adalah samaran Pui Ji-ping, mungkinkah mereka sedang mencariku?"
Dengan gelisah segera dia bertanya.
"Mereka ditawan oleh Pang kalian?"
Giok-lan menggeleng, katanya.
"Bukan, mereka ditawan orang2 Hek-liong-hwe."
Kun-gi betul2 kaget, serunya.
"Ditawan pihak Hek-liong-hwe? Darimana nona tahu?"
"Kau kenal mereka?"
"Ling Kun-ping adalah adik angkatku, Tong Bun-khing adalah sahabat karibku, bagaimana merceka bisa jatuh ke tangan Hekliong-hwe? Sudikah nona menjelaskan?"
Dari lengan bajunya Giok-lan keluarkan sepucuk surat, katanya sambil diangsurkan.."inilah surat dari Hek-liong-hwe kepada Pang kita, mereka kira kelima orang itu adalah Hou-hoat su-cia kita, maka syaratnya adalah menukar Ling-kongcu dengan jiwa mereka."
Setelah membaca surat itu, berkeringat telapak tangan Kun-gi, Pui Ji-ping dan Tong Bun-khing adalah perempuan, kalau dia tertawan kawanan jahat itu bagaimana baiknya.
Karena gelisah dia gosok2 telapak tangan, katanya.
"Bagaimana baiknya sekarang?"
Giok-lan tertawa, katanya.
"Buat apa gugup, Hek-liong-hwe minta mereka di tukar Cu Bun-hoa, dalam waktu dekat terang tak perlu dikuatirkan, jadi titik tolak persoalannya terletak pada usaha Ling-kongcu sendiri dalam mengerjakan obat penawar getah beracun, kalau secara mendadak kita sergap mereka tentu dengan mudah dapat menolong mereka."
Cara ini memang tidak jelek.
yang jelas Ling Kun-gi hanya memiliki Pi tok-cu, memangnya dia punya cara meracik obat pemunah?
Jadi Pek-hoa pang sudi membantu dengan syarat Ling Kun-gi harus cepat menyelesaikan pembuatan obat pemunah getah beracun, Sebenarnya soal menolong orang tidak jadi soal bagi Ling Kun-gi, cuma di mana letak sarang Hek-liong-hwe, untuk ini dia perlu bantuan Pek-hoa-pang.
Maka persoalan hanya bergantung dari obat penawar itu, sebelum obat penawar diserahkan pada Pek-hoa-pang, mereka takkan memberi tahu dimana letak sarang Hek-liong-hwe.
Untuk ini cukup lama Kun-gi memeras otak.
sambil merentang tangan dia mondar-mandirdidalamkumar, akhirnyadiaduduk menepekur.
Mendadak timbul suatu ilham aneh dalam benaknya.
cepat2 ia berdiri menuju ke almari di sebelah utara, membuka almari bawah serta mengeluarkan buli2 berisi getah beracun, diambilnya sebuah mangkuk porselen, dengan hati2 dia tuang getah beracun ke dalam mangkuk kecil ini, lalu dia pergi ke belakang mengambil segayung air jernih, semua dia taruh di atas meja.
Lalu dia buka beberapa laci mencomot berbagai macam obat, dan dimasukkan ke dalam lumpang besi dan menumbuk obat2 itu menjadi bubuk.
dituangnya ke dalam sebuah guci kecil.
Semua kerja ini sudah tentu memang sengaja dia lakukan karena waktu berjongkok mengambil buli2 berisi getah beracun tadi, dia dapati seorang bersembunyi di belakang almari mengintip gerak-geriknya.
Terang Pek-hoa-pang suruhan orang mengawasi dirinya secara diam2.
Siang hari belong mengintip gerak-geriknya terang hanya ada satu tujuan, yaitu memperhatikan dan mencatat semua obat2an yang diambilnya, cara bagaimana meraciknya hingga bisa menawarkan getah beracun.
Maka Kun-gi pura2 tidak tahu, dia tetap bekerja, di waktu membalik badan, Pik-tok cu sudah dia keluarkan dan dimasukkan ke dalam air jernih yang diambilnya, ia berpindah ke sebelah, dengan sendok perak dia mengaduk bubuk obat tadi di dalam guci hingga kira2 sepempat jam kemudian baru berhenti.
Dia keluar kembali ke kamar buku, duduk dikursi serta menuang secangkir teh lalu di minumnya pelan2.
Kira2 setengah jam kemudian dia kembali dengan gayung berisi air jernih, waktu memutar tubuh secepat kilat Pi-tok-cu di dalam gayung dia jemput dan disimpan ke dalam lengan baju.
Waktu di Coat Sin-san-ceng dia pernah mencoba mutiara mestika itu, ternyata berhasil mengubah getah hitam kental itu menjadi air jernih.
Maka timbul ilhamnya yang aneh yaitu coba2 merendam mutiara ini di dalam air, dengan air rendaman mutiara ini mungkin berkasiat untuk menawarkan getah beracun.
Kalau berhasil berarti obat penawar getah beracun yang dituntut Pek-hoa-pang tidak akan jadipersoalan lagi, Selama urusanjadiberes.
Dengan menjinjing gayung berisi air jernih pelan2 dia tuang ke dalam guci berisi bubuk obat serta diaduk beberapa kali, kemudian air obat ini ia saring sedikit lalu dituang kedalam mangkok berisi getahberacun..
Kaliinitidakterjadi perubahandrastis sepertitempo hari waktu dia masukkan mutiara kedalam getah yakni mengeluarkan suara serta mengeluarkan asap kuning.
tapi setelah dituangi air obat, getah kental hitam sekarang pelan2 mulai cair dan berubah warnanya, berubah bening seperti air jernih.
Dengan tajam Kun-gi ikuti perubahan ini, tanpa terasa sorot matanya memancarkan cahaya terang, Wajahnya nan cakap mengulum senyum puas kemenangan.
Dia berhasil.
Sebetulnya dia tidak yakin akan ilhamnya yang aneh dan hanya ingin coba2, tapi ternyata berhasil dengan baik, keruan bukan kepalang senang hatinya.
Tapi dia tahu, ada orang mengawasi gerak geriknya dari pintu rahasia.
Maka dengan wajar dia lalu pindah mangkok berisi getah beracun tadi ketempat yang agak jauh, kembali dia ambil cangkir teh serta menghirupnya seteguk.
lalu menengadah seperti memikirkan sesuatu.
Tiba2 dia letakan cangkir dengan cara terburu2, dengan langkah lebar menuju ke almari obatan, dari sini ,sekenanya pula dia mencomot dua tiga puluh macam obat2an, kali ini dia tidak menumbuknya dengan lumpang besi, tapi diusap di telapak tangannya, obat2an itu segera diusapnya jadi bubuk yang lembut.
Tiba2 di luar ada orang mengetuk pintu, lalu terdengar Sin-ih berteriak.
"Ling-kongcu"
Tanpa berpaling Kun-gi menjawab.
"Masuklah"
Pelan2 daun pintu terbuak. Sin-ih melangkah masuk, biji matanya yang jeli mengawasi Kun-gi, katanya heran.
"Ling-Kongcu apa yang sedang kau lakukan"
Kun-gi sebarkan bubuk obatnya ke atas meja sambil menjawab tertawa.
"Malas aku menumbuknya, maka ku-usap2 saja."
"Kenapa tidak serahkan pada hamba untuk menumbuknya?"
"Pekerjaan ringan saja kenapa harus menyusahkan orang lain-Baiklah nona bantu aku ambil segayung air hujan saja, lalu masukkansemua bubukobatyangdimejaini."
"Hamba tahu, hidangan makan siang sudah tersedia, hamba kemari memanggil kongcu untuk makan,"
Lalu dia kumpulkan bubuk obat yang terserak di atas meja dan dibungkusnya kertas terus di bawa ke belakang.
Lekas Kun-gi ambil mangkok berisi getah beracun yang sudah menjadi air jernih itu dan dibuang keluar taman, lalu ia kembali ke kamar buku.
Hidangan memang sudah tersedia.
Setelah berhasil membuktikan air bekas rendaman Pi tok-cu juga berkhasiat menawarkan getah beracun, legalah perasaan Kun-gi, maka makannya jadi tambah lahap.
Sin-ih keluar dari kamar buku, katanya.
"Hamba sudah rendam racikan obat didalam air."
Kun-gi mengangguk, Sin-ih lalu meladeni dia makan-Selesai makan Sin-ih angsurkan handuk pada Kun-gi untuk cuci muka. Setelah membersihkan muka dan cuci tangan Kun-gi berkata.
"Aku perluistirahat, nonatidakusah meladeni lagi."
"Hamba ditugaskan membantu Ling Kongcu, kalau nanti di tanya congkoan, bagaimana hamba harus menjawab?"
"Baiklah, setelah kau makan, ada satu hal boleh kau kerjakan."
"Tugas apa yang Kongcu serahkan pada hamba?"
"Dua macam racikan obat yang direndam air harus diaduk dengan sendok perak. tugas ini kuserahkan padamu,"
Habis bicara dia melangkah ke kamar buku.
"Hamba terima tugas,"
Seru Sin-ih berseri sengan. Belum lama Kun-gi duduk di kursi ma las, Sin-ih sudah datang menyuguhkan teh.
"Letakkan saja di meja, kau boleh pergi makan,"
Katanya. Manis tawa Sin-ih, katanya.
"Hamba sudah makan, sekarang juga mulai bekerja,"
Setelah meletakkan cangkir dan poci teh lantas berlari keluar.
Pelan2 Kun-gi pejamkan mata, ia istirahat di kursi malas sambil menenangkan pikiran, di dengarnya suara lirih di belakang almari, kiranya orang yang sembunyi dan mengawasi dirinya sedang mengundurkan diri.
Kun-gi tersenyum, lekas dia berdiri, lalu menuang setengah mangkuk getah beracun pula ditaruh di meja.
Lalu cepat2 dia tarik setiap laci, 72 macam obat2an yang ada tanpa ukuran asal comot terus di-gosok2 di telapak tangan sehingga jenis obatnya sukar dibedakan lagi, semuanya dia bagi menjadi tujuh tumpuk, lalu disingkirkan satu persatu, setelah itu di kembali ber-malas2an di kursi malas.
Tak lama kemudian di dengarnya langkah pelahan masuk.
terang Sin-ih yang masuk.
Kun-gi bertanya.
"Apakah Sin-ih?"
"Ya, inilah hamba,"
Sahut Sin-ih, sekilas dia melirik, maka dilihatnya tujuh kelompok obat2 di atas meja, dengan suara heran dia bertanya.
"Ling-kongcu mau diapakan ketujuh tumpuk obat bubuk ini?"
Kun-gi menggeliat lalu berbangkit, katanya.
"Boleh nona merendam ketujuh, kelompok obat bubuk itu dengan air hujan, di dalam tujuh guci yang berbeda,"
Lalu dia berbangkit dan katanya pula.
"Setelah obat2 ini direndam nona harus mengaduknya dengan sendok perak. aku terlalu penat, ingin kembali kekamar, kalau tiada urusan, jangan ganggu aku"
Lalu dia kembali ke kamar tidurnya..
Sin-ih mengiakan.
Sesuai pesan Kun-gi, dia masukkan tumbukan obat bubuk itu ke dalam tujuh guci, kecil, lalu direndam dengan air hujan dan pada setiap guci dia mengaduk sekian lamanya secara bergiliran.
Pada saat dia sibuk mengaduk.
terdengar suara Giok-lan sang congkoan memanggil.
"Sin-ih"
Lekas Sin-ih letakkan sendok. serta menyahut.
"Hamba ada di sini."
Buru2 dia berlari keluar, dilihatnya sang congkoan Giok-lan mengiringi Hu-pangcu So-yok (bunga melur) sudah masuk kamar buku. Ter-sipu2 dia menekuk lutut memberi hormat seraya berkata.
"Hamba menyambut kedatangan Hu-pangcu dan congkoan."
"Berdirilah."
Kata Giok-lan "sedang apa kau barusan?"
Sin-ih berdiri lurus, sahutnya.
"Atas pesan Ling kongcu hamba sedang mengaduk obat"
"Mana Ling Kun-gi?"
Tanya So-yok. sang Hu-pangcu.
"Ling-kongcu kembali ke kamarnya, katanya mau tidur"
Sahut Sin-ih. So-yok berdehem keras2, jengeknya "Memangnya dia kemari untuk tetirah?"
Merandek sebentar, dia berpesan.
"Pergi kau panggik dia, katakan aku sengaja kemari menengoknya."
Sin-ih mengiakan, lalu membungkuk badan dan berkata dengan serba susah.
"Lapor Hu-pangcu, Ling-kongcu sudah tidur, tadi dia berpesan, kalau tiada urusan penting dilarang mengganggu dia."
"Huh, bertingkah, besarkepala,"jengek So-yokuring2an "Dia tidak tahu kalau Hu-pangcu akan datang, ia pesan Sin-ih supaya tidak mengganggu, betapapun dia adalah tamu kita, silahkan Hu-pangcu duduk di kamar buku untuk menunggu sebentar,"
Lalu Giok-lan berpaling memberi kedipan mata pada Sin-ih, katanya.
"Lekas seduhkan secangkir teh untuk Hu-pangcu."
Sin-ih mengiakan dan buru2 mengundurkan diri. So-yok tersenyum, katanya.
"Sam-moay memang pintar jadi tuan rumah, teramat sayang pula kepada tamu,"
Kata2nya bernada menyindir. Merah muka Giok-lan, katanya serba salah.
"Kita mengundang Ling-kongcu untuk membuat obat penawar getah beracun, urusan menyangkut kepentingan Pang kita, adalah jamak kalau kita melayaninyasebagaitamu terhormat."
So-yok mendekati rak obat, dia melihat getah beracun yang ada di dlam mangkuk, katanya.
"Thay-siang minta dia di dalam tiga hari menyelesaikan obat penawarnya, kalau setiap siang dia harus tidur, kapan dia bisa menunaikan tugas?"
"Hamba sudah sampaikan perintah ini kepada Ling-kongcu, dia berjanjiakan menyelesaikantugasnyadalamtigahari."
"Sam-moay juga katakan kalau gagal Thay-siang akan memenggal kepalanya?"
"Hamba pikir dia berjanji menyelesaikan tugas dalam tiga hari, jadi tidak kukatakan perintah ini."
"Memangnya kuduga Sam-moay tenntu rikuh mengatakan hal ini kepadanya, maka sengaja aku kemari untuk membereskan soal ini."
Waktu mereka bicara Sin-ih sudah datang membawa dua cangkir teh yang masih mengepul, katanya.
"Hu-pangcu, congkoan, silahkan minum."
"Sin-ih.."
Tanya So-yok.
"Ling Kun-gi menyuruhmu mengaduk kedua guci air obat ini?"
"Ya, semuanya ada sembilan guci."
"Apa sembilan guci?"
Seru So-yok heran.
"Giok-je bilang pertama kali dia mengambil enam belas macam obat lalu ambil dua puluh tiga macam, semua hanya direndam jadi dua guci, bagaimana bisa jadi sembilan?"
Kiranya yang sembunyi di belakang almari mengintip gerak-gerik Ling Kun-giadalahGiok-je.
"Semula memang merendam dua guci, akhirnya ditambah lagi sembilan guci, ini dilaksakan setelah makan Siang, Sin-ih menerangkan"
So-yok melengak, tanyanya.
"obat apa saja yang dia ambil, apa kau masih ingat?"
"Ling-kongcu sendiri yang mengambilnya, dari laci, waktu hamba masuk. semua sudah dibagi menjadi tujuh kelompok. semuanya sudah jadi bubuk. jadi sukar diketahui obat apa yang telah dia ambil"
"Memangnya permainan apa yang sedang dia lakukan?"
Kata Soyok bingung.
"Hakikatnya Ling-kongcu tanpa menggunakan lumpang besi, dia hanya menggosok2an obat ditelapak tangannya, semua lantas hancur jadi bubuk"
Berubah air muka So-yok, katanya sambil berpaling pada Giok-lan-"orang ini mampu menggosok obat menjadi bubuk, Lwekangnya tentu tidak lemah."
"Menggosok batu jadi bubuk. sudah teramat sukar dilakukan kaum persilatan umumnya, tapi di hadapan Hu-pangcu kepandaian sepele ini tentu tidak jadi soal"
Demikian Giok-lan mengumpak.
"Kepandaian setaraf itu, Sam-moay sendiri kan juga sanggup"
Kata So-yok. Terdengar pintu di seberang sana berkeriut di buka orang lalu terdengar suara berkumandang .
"Sin-ih, siapa yang datang?"
"Ling-kongcu,"
Seru Sin-ih berjingkrak girang.
"Inilah Hu-pangcu dan congkoan yang kemari menengokmu."
Terdengar langkah cepat mendatang, tampak pemuda cakap gagah melangkah masuk. Seketika terbeliak mata So-yok. dengan tajam dia tatap wajah Kun-gi, lalu berkata dengan tertawa lebar.
"Sam-moay, inikah Lingkongcu?"
"Ling-kongcu"
Sambut Giok lan.
"Inilah Hu-pangcu, kami sengaja datang menemui kongcu."
Kun-gi tertawa ramah, dia menjura kepada So-yok, katanya.
"Hupangcu sudi berkunjung, cayhe terlambat menyambut, sungguh kurang hormat, harap di maafkan-... ."
Gemerlap biji mata So-yok, katanya sambii menbalas hormat.
"Ling kongcu cakap ganteng dan gagah perwira, beruntung aku dapat bertemu"
"Hu-pangcu terlalu memuji,"
Ujar Kun-gi.
"Kabarnya Kongcu berhasil menyelesaikan tugas dalam tiga hari di Coat Sin-san-ceng, tentunya mahir dan ahli dalam ilmu obat2an, entah siapakah guru besarmu?"
Biasanya sikapnya dingin dan angkuh terhadap siapapun, tapi setelah berhadapan dengan Ling Kun-gi, entah kenapa sikap dinginnya lantas berubah, wajahnya dihiasi senyuman gembira.
"Guruku, seorang pelancongan yang suka mengembara di Kangouw, beliau tidak suka diketahui namanya harap Hu-pangcu maaf."
"Tidak apa2,"
"ujar So-yok.
"gurumu seorang kosen, kalau tidak boleh diketahui namanya, kongcu tidak usah merasa rikuh."
Diam2 Giok-lan membatin.
"Entah kenapa hari ini Ji ci berubah sikap?"
Tiba2 So-yok. menegurnya "Sam-moay, kenapa kau diam saja dan membiarkan aku ngoceh?"
Lalu dengan tertawa dia menambahkan.
"silakan duduk Ling-kongcu."
Setelah berduduk. So-yok mengawasi Kun-gi dan berkata.
"Kudengar dari Sam-moay bahwa Kongcu berjanji dalam tiga hari akan membuatkan obat penawarnya, entah bagaimana hasil usahamu?"
Kun-gi tertawa, katanya.
"cayhe sudah meracik tujuh macam obat, terbagi menjadi tujuh guci dan direndam air, apakah bisa untuk menawarkan getah beracun, besok baru dapat diketahui setelah dicoba"
Mata So-yok mengerling, katanya.
"Agaknya Ling-kongcu sudah punya persiapan dan yakin akan berhasil."
Kun-gi tertawa dan katanya.
"Kalau cayhe tidak yakin mana beraniberjanjitigahari menunaikantugas?"
"Syukurlah kalau begitu,"
Ujar So-yok.
"kalau Ling-kongcu betul2 dapat membuat obat penawar dalam tiga hari, betapa senang hati suhu."
Tergerak hati Kun-gi, tanyanya.
"Entah cianpwe siapa kah guru Hu-pangcu?"
So-yok tertawa, katanya.
"Suhu adalah Thay-siang-pangcu dari Pang kita, setelah kau berhasil membuat obat penawar, akan kubawa kau menghadap beliau."
"Setelah cayhe menyelesaikan tugas hanya satu keinginanku,"
Ujar Kun-gi.. ...
"cobakatakan keinginanmu,"tanyaSo-yokberseri.
"cayhe harap Pang kalian suka memberitahu di mana sarang Hek-Liong-hwe sebenarnya."
"Apa?"
Seru So-yok terbeliak heran.
"Kau ingin pergi ke sarang Hek-Liong-hwe.?"
Giok-lan segera menimbrung "Dua teman Ling-kongcu ditawan orang2 Hek-Liong-hwe."
Sesaat So-yok menepekur, lalu bersuara lagi.
"Jejak orang2 Hek-Liong-hwe amat rahasia dan tersembunyi, sudah tentu sarang merekapun sukar diketahui, jangan kata Pang kita, orang? Hek-Liong-hwe sendiripun hanya beberapa gelintir saja yang tahu, dipihak kita kecuali Thay-siang mungkin tiada orang kedua yang tahu."
Lalu dengan cekikikan dia menambahkan.
"Jangan kuatir, setelah kutanya kepada Thay-siang, nanti kuberitahukan padamu."
"Terima kasih atas bantuan Hu-pangcu, soal ini tidak perlu terburu2, Bila cayhe berhadapan dengan Thay-siang belum terlambat kuajukan pertanyaan ini."
"Begitupun baik, akan kunanti kau bicara, asal Suhu mengangguk, seluruh Pek-hoa-pang akan bantu kau meluruk ke Hek-liong-hwe dan menolong kawanmu."
"cayhe hanya ingin tanya alamat mereka saja, soal menolong orangtakberaniakubikinrepotPang kalian-"
"Kalau begitu Ling-kongcu kurang simpatik,"
Ujar So-yok.
"kau telah bantu kesulitan kami, kan jamak kalau kami Bantu kau menolong temanmu?"
Tanpa menunggu Kun-gi bersuara segera dia menambahkan.
"Baiklah, hal ini diputuskan begini saja, besok aku datang untuk melihat Ling-kongcu melakukan percobaan, entah kehadiranku diperbolehkan tidak?"
"Berat ucapan Hu-pangcu,"
Jawab Kun-gi.
"Mencoba obat bukan soal rahasia, Hu-pangcu dan congkoan kalau berminat boleh saja datang dan akan kusambut dengan senang hati"
"Baik besok aku pasti datang"
Kata So-yok dengan tertawa, lalu ia berbangkit, serunya. Sam-moay hayolah kita pergi."
Giok-lan lantasiringi So-yokkeluar. Kun-gi mengantar sampai depan pintu, katanya.
"Maaf cayhe tidak mengantar lebih jauh."
Setelah kedua orang itu pergi, Sin-ih unjuk tawa lucu penuh arti, katanya.
"Ling-kongcu baru pertama kali hamba melihat Hu-pangcu bersikap begini ramah terhadap tamu."
Kun-gi tertawa, katanya.
"Apakah biasanya Hu-pangcu galak?".
"Dalam Pang kita hanya Hu-pangcu saja yang sukar diajak bicara, semua orang tak berani banyak bicara sama dia, kuatir kalau kelepasan omong."
Mendadak dia merendahkan suara, katanya.
"Kabarnya semalam Hu-pangcu menjatuhkan hukuman mati kepada dua Hou-hoat-sucia lantaran seorang Hek-Liong-hwe, berhasil lolos, tapi sikapnya tadi ramah dan gembira terhadap Kongcu, baru hari ini dia betul2 tertawa."
"Memangnyatertawasajaadabetuldansalah?"goda Kun-gi..
"Memang ada, biasanya kalau Hu-pangcu tertawa suaranya terasa dingin kaku, tidak seperti tadi"
XXdewiXX Kentongan pertama baru saja lewat, Kun-gi bersimpuh di atas ranjang mulai bersemedi, mendadak indranya merasakan sesuatu di luar.
Setiap insan persilatan dikala bersemadi mengerahkan kekuatan batinnya, dalam jarak dua puluhan tombak umpama ada jarum jatuh di atas tanah juga dapat didengarnya dengan jelas.
Maka dalam perasaannya sayup2 ada sesosok bayangan orang melompat masuk ke dalam pekarangan.
Tergerak pikirannya, segera dia pasang kuping mendengarkan lebih cermat, terasa gerak-gerik oranginiamathati2dan waspada.
Malah me-runduk2 maju mepet dinding, kalau dirinya tidak selalu waspada tentu takkan mendengar apa2, setelah berada di pekarangan orang itu lewat kamar tengah dan cepat menuju ke rumah kecil di belakangh taman Kun-gi membatin.
"Rumah kecil di belakang itu adalah tempat tinggal nenek tua yang bekerja di dapur bersama Sin-ih, orang ini diam2 masuk kesana untuk apa?"
Sembari berpikir sekenanya dia raih jubah luarnya, baru saja hendak buka pintu untuk periksa keluar, tiba2 didengarnya pula suara lambaian pakaian orang tertiup angin, orang itu sudah bergerak keluar pintu pula dari belakang, kali ini gerak-geriknya lebih berani, agaknya tidak main sembunyi lagi, arahnya ke kamarnya.
Sudah tentu Kun-gi tidak tahu orang itu kawan atau lawan?
Tapi dia berani pastikan bahwa orang diluar adalah seorang gadis.
ini dapat dibedakan dari langkahnya yang lembut dan ringan, malah ginkang orang ini amat tinggi, rasanya lebih unggul daripada Giokje, Tangan Kun-gi yang terulur hendak membuka pintu tak bergerak.
soalnya dia hendak melihat gerak-gerik orang selanjutnya, maka dia berdiri diam menunggu.
Setelah sampai di depan pintu, orang itu juga menghentikan langkah dan lantas mengetuk pintu dua kali, ketukan yang amat pelahan serta memanggil lirih.
"Ling-siangkong."
Melenggong Kun-gi mndengar panggilan ini, batinnya.
"Siapa dia?Kukenal suaranya."Segeraiapun membukapintu. Tampak seorang gadis berperawakan ramping semampai, padat dan menggiurkan berdiri anggun di depan pintu, kedua bola matanya tampak bersinar bak bintang kejora di malam gelap. Begitu mala saling pandang, timbul suatu perasaan aneh dalam benak Kungi, terasa olehnya sorot mata inipun sudah amat dikenalnya, sekilas dia melenggong, tapisegeraiabertanya."Nona. ..."
Tanpa bersuara gadis itu menyelinap masuk kamar. Cepat Kun-gi putar badan seraya membentak dengan suara tertahan.
"Siapa kau?". Mungkin teramat gelap. kalau Kun-gi dapat melihat jelas orang, tapinonaitu tidak jelas melihat keadaankamar. Terdengar nona itu telah menyalakan sebatang obor kecil, katanya dengan suara lembut.
"Kalau mau bicara, tunggulah setelah aku menyulut api."
Dia mendekati meja menyulut lentera, lalu membalik, suaranya tetap lembut.
"Aku bernama Bi-kui (bunga mawar)."
Sudah tentu Kun-gi tidak kenal siapa Bunga mawar, jelas iapun orang Pek-hoa-pang, namun sorot matanya yang memancarkan kasih mesra ini semakin dipandang semakin mengetuk hatinya, katanya kemudian.
"Malam2 nona datang kemari, entah ada keperluan apa?"
Tiba2 gadis itu tertawa, katanyanya.
"Lantaran kau maka aku kemari, memangnya Ling-siangkong tidak ingat padaku lagi?"
Kikuk juga Kun-gi, katanya.
"cayhe memang seperti kenal sorot mata nona, tapi nona pakai topeng, bagaimana aku bisa tahu? Silahkan duduk nona."
"Akutidak mau duduk."sahutgadis bajuhitam.
"Kurasa kedatangan nona tentu ada urusan, betul tidak?"
"Kalau tidak ada urusan, untuk apa aku kemari?"
Kata gadis tiu cekikikan-Kali ini Kun-gi merasa kenalsuaranya, sekilas iatertegun, dengan tajamdia tatap orang, katanya.
"Kau ... ."
Gadis baju hitam sudah angkat sebelah tangan membuka topengnya, katanya tertawa manis.
"Sekarang tentu Ling-siangkong dapat mengenalku?"
"Ternyata betul kau"
Seru Kun-gi kaget dan heran. Gadis baju hitaminiternyataUnHoan-kunadanya, lekasdia menutup pintu.
"Siangkong tak usah kuatir,"
Kata Un Hoan-kun.
"Sin-ih berdua takkan siuman sebelum terang tanah."
Kun-gi mendekati nona itu, tanyanya pelahan.
"pulau ini dikelilingi air dan penjagaan amat ketat, bagaimana kau bisa menyelundup kemari?"
Dengan kedua tangan Un Hoan-kun membetulkan rambut dipelipisnya, katanya tertawa dengan kepala mendongak.
"Aku punya lencana dan paham sandi rahasia mereka, sudah tentu dapat keluar masuk dengan leluasa."
"Apa tujuanmu menyelunduk ke Pek-hoa-pang"
Tanya Kun-gi. Merah muka Un Hoan-kun, katanya sambil mengerling.
"Apa tujuanku? Soalnya kau disekap dalam karung dan dibawa masuk ke Pek-hoa-pang ini, aku... kuatir, maka kuikut kemari."
Terharu hati Kun-gi, kedua tangan terulur memegang pundak orang, katanya halus.
"Memang cayhe sengaja membiarkan mereka mengangkut kemari. Terus terang hanya karung saja takkan mampu mengurungku, kenapanonaharusmenempuhbahayabeginibesar."
Un Hoan-kun biarkan saja orang pedang pundaknya, katanya.
"Aku tahu Pek-hoa-pang takkan kuasa menahanmu, tapi aku tetap kuatir, maka kuikuti kau kemari dengan adanya aku di antara mereka, sedikitbanyakbisa membantumujuga."
Kini Kun-gi ganti pedang kedua tangan orang, katanya lembut.
"Betapa haru dan terima kasihku akan kebaikan nona, tapi kau lihat aku tidak kurang suatu apapun, kalau nona berada di antara mereka, rasanya juga berbahaya, bila jejakmu konangan pasti menggagalkan urusan, lebih baik nona cepat meninggalkan tempat ini."
Pelas2 Un Hoan-kun tarik tangannya, katanya.
"Mereka meladenimu sebagai tamu terhormat lantas tidak berbahaya bagimu?"
"Paling tidak. dalam waktu dekat ini aku tidak akan mengalami bahaya."
"Kalau tidak ada bahaya, memangnya untuk apa malam2 begini aku mengunjungimu?"
Ling Kun-gi melengak. tanyanya.
"Nona mendengar khabar apa?"
"Tujuan mereka menculikmu kemari supaya kau membuatkan obat penawar getah beracun bukan?, Thay-siang suruh kau menyelesaikan tugas dalam tiga hari, betul tidak?"
"Betul, kenapa?"
"Ketahuilah, Thay-siang sudah memberi perintah kepada Hu-pangcu, kalau dalam tiga hari kau tidak bisa menyelesaikan tugasmu, dia harus membawa kepalamu menghadap beliau?"
"Hal ini aku memang tidak tahu,"
Kata Kun-gi.
"tapi tidak perlu tiga hari, besok juga aku sudah berhasil menyelesaikan tugas."
Kini ganti Un Hoan-kun yang tertegun, katanya dengan suara ragu2.
"Kau sudah berhasil membuat obat itu?"
"Belum,"
Sahut Kun-gi meng-geleng2.
"tapi aku sudah ada akal,"
Lalu dia jelaskan cara bagaimana dia merendam mutiara ke dalam air dan ternyata bisa menawarkan getah beracun itu..
"Kau pernah bilang mau mencari jejak bibi yang hilang, kini kenyataan bahwa bibi tidak berada di Pek-hoa-pang ini, buat apa kau harus membuat obat itu pula?"
"Nona hanya tahu yang satu dan tak tahu yang lain, bahwa aku rela disini sementara, maksudku hendak mencari tahu asal usul getah beracun dan Hwi-Liong sam-kiam."
"Hwi-Liong sam-kiam?"
Hoan-kun menegas.
"Hwi-liong-sam-kiamsebetulnya ilmu pedang warisan keluargaku, tapi Tin-pang-sam-kiam (tiga jurus pelindung Pang) dari Pek-hoapang ternyata Hwi-liong-sam-kiam keluargaku."
"Bisa demikian?"
Seru Un Hoan-kun heran.
"Ehm, sudah kau selidiki?"
"Belumsempat, tapisekarang ketambahan lagi suatukejadian."
"Kejadian apa?"
Tanya Hoan-kun.
"Beberapa temanku khabarnya ditawan orang2 Hek-Liong-hwe, disangka bahwa mereka dijadikan sandera disangka bahwa mereka adalah Hou-hoat-su-cia dari Pek-hoa-pang, maka mereka dijadikan sandera supaya Pek-hoa-pang menyerahkan diriku sebagai imbalannya."
Bertaut alis Un Hoan-kun, tanyanya.
"Lalu apa tindakanmu? "Kecuali Thay-siang, tiada orang kedua yang tahu letak sarang Hek-Liong-hwe, terpaksa aku harus tanya kepada Thay-siang."
Un Hoan-kun kaget, serunya.
"Kau mau menemui Thay-siang?"
"Hu-pangcu sudah berjanji, bila aku selesai membuat obat, dia akan membawaku menemuiThay-siang."
"Kudengar Hu-pangcu So-yok, perempuan yang berdarah dingin, cantikrupanya, kejamhatinya, banyakcuriga dangampang berubah pendirian, kau harus hati2"
"Aku dapat melayaninya."
Un Hoan-kun melirik. mencibirnya serta berkata dengan tertawa.
"Kelihatannya kau banyak akal, kudengar Pek-hoa-pangcu Bok-tan amatramahterhadapmu, mungkinSo-yokjuga."
"Kiranya Pek-hoa-pangcu bernama Bok-tan."
Merah muka Kun-gi, katanya lirih.
"Nona jangan kuatir, aku bukan laki2 bergajul."
Pipi Hoan-kun jadi merah, tapi hatinya merasa bahagia, kepala terunduk mulutpun menggerutu.
"Memangnya aku peduli padamu."
Lalu ia menambahkan.
"Waktu sudah larut, aku harus lekas pergi."
"Kuharap nona selekasnya meninggalkan tempat ini saja,"
Bujuk Kun-gi. Hoan-kun sudah melangkah beberapa tindak. tiba2 berpaling.
"Setelah kau menanyakan sarang Hek-Liong-hwe, aku akan pergi bersamamu."
Begitu pintu terbuka, cepat ia berkelebat keluar.
Setelah Un Hoan-kun pergi, sementara sudah mendekati kentongan kedua, Kun-gi dorong pintu kamar buku langsung menuju kamar masak obat, ia mengeluarkan Pi-tok-cu terus dimasukkan ke dalam guci yang merendam obat bubuk.
lalu kembali menutup pintu dan masukke kamartidur.
Ooo d-w ooO Mataharisudahtinggi,Kun-gi masihtidurnyenyak.
Pagi2 Hu-pangcu So-yok bersama congkoan Giok-lian sudah datang, mereka duduk menunggu di kamar buku.
Giok-lan mondar-mandir tidak sabar, katanya kepada Sin-ih.
"coba dilihat apakah Ling-kongcu sudah bangun?"
So-yok menggoyang tangan, katanya tertawa.
"Sam-moay, kenapa tabiatmu sekarang lebih gopoh daripadaku, kita sudah menunggu, lebih lama sedikit tidak jadi soal Sin-ih, biarkan Lingkongcu tidur lebih lama, jangan ganggu dia."
Sin-ih mengiakan lalu berdiri meluruskan tangan Sudah tentu Giok-lan tahu Hu-pangcu yang biasanya bertabiat kasar, angkuh dan tinggi hati serta suka aleman ini, ternyata sekarang begini sabar, rupanya dia telah jatuh hati pada Ling Kongcu Dia cukup kenal Thay-siang, kalau Ling Kun-gi tidak berhasil membuat obat, jiwanya tentu amblas.
Umpama betul dia berhasil membuat obat, Thay-siang juga takkan gampang memberi kebebasan padanya untyuk meninggalkan Pek-hoa-pang.
Maka sejak mula dia sudah berpikir, pemuda seperti Kun-gi, jalan paling baik adalah melamarnya menjadi Huma, kalau tidak nasibnya tentu akan menyedihkan.
Tentunyahalini jugasudah terpikirolehToaci(Pekshoa-pangcu), ini dapat dilihat sikapnya waktu dia menyambut dan menjamu Ling Kun-gi.
Pada hal dia baru merancang cara bagaimana untuk merangkap perjodohan ini, tahu2 sekarang dilihatnya Ji-ci (So-yok) juga kepincut pada Kun-gi, sudah tentu urusan bisa runyam.
Dikala hatinya gundah itulah, didengarnya pintu kamar Kun-gi berkeriut dan pelan2 terbuka.
Cepat Sin-ih berlari kesana, serunya.
"Ling-siangkong sudah bangun, sebentar hamba ambilkan air buat Cuci muka"
Kun-gi menggeliat, katanya tertawa.
"Hampir tengah hari, hari ini tiada kerja apa2, lebih baik tidur lebih lama"
Habis berkata dia putar kembali ke kamarnya.
Sin-ih sudah dipesan oleh Hu-pangcu agar jangan bilang mereka berdua sudah menunggu di kamar buku, maka dia tidak berani banyak mulut, dia membawa sebaskom air dan melayani Kun-gi membersihkan badan-Lalu dia menyuguhkan sarapan pagi.
Setelah makan Kun-gi mendongak melihat cuaca, katanya.
"Waktu hampir tiba, nona Sin-ih, siang nanti mulai meracik obat, pergilah kau panggil Hu-pangcu dan congkoan kemari."
Sin-ih tertawa, katanya.
"Hu-pangcu dan congkoan sudah sejak tadi menunggu di kamar buku."
"Apa?"
Kun-gi pura2 berjingkrak bangun dengan kaget.
"Hupangcu dan congkoan sudah datang, kenapa kau tidak bilang?"
Bergegas dia melangkah ke kamar buku. Terdengar tawa So-yok semerdu kelinting dan berkata.
"Jangan Ling-kongcu salahkan Sin-ih, akulah yang suruh dia jangan mengganggu tidurmu."
Bayangan merah menyala tahu2 berdiri semampai di depan pintu, bau harum seketika merangsang hidung pula, Hari ini So-yok mengenakan gaun panjang berkembang sakura berwarna dasar merah mulus, buatannya sopan, tepat didepan dadanya bersulam sekuntum bunga melur yang indah hingga menambah asri dandanannya, wajahnya nan ayu dihiasi senyum manis, ternyata hariini diabersolek lebih daripadabiasanya.
Ber-ulang2 Kun-gi menjura, katanya.
"Maaf Hu-pangcu, soalnya obat yang direndam barus menunggu waktu baru bisa dicampur, karena kerja sampai jauh malam dan mengingat pagi ini tiada pekerjaan, maka tidurku sampai kesiangan-"
Dengan berani So-yok mengawasi Ling Kun-gi muda belia, gagah dan tampan.
"kulihat kau terlalu hati2 dan membatasi diri, selanjutnyatidakperlu kau bicarabegini sungkan kepadaku."
Giok-lan berdiri di belakang, segera dia menimbrung.
"Hu-pangcu seorang yang terbuka dan suka blak2an, harap Ling kongcu tidak usah sungkan-"
Setelah berada di kamar buku, masing2 menempati tempat duduknya, So-yok lantas buka suara lebih dulu.
"Mendapat laporanku, Thay-siang sangat senang, beliau bilang kalau percobaan berhasilakudisuruhsegeramembawamu mememuibeliau."
"Hari ini baru akan diadakan percobaan pertama, bagaimana hasilnya belum diketahui, kenapa buru2 dilaporkan, kalau gagal, bagaimana cayhe harus bertanggung jawab?"
"Kau pernah berhasil sekali, aku yakin Kongcu pasti akan berhasil pula, kalau pertama gagal boleh diulangi sampai berhasil, kepada Thay-siangakan kubantu memberipenjelasan."
"Terimakasih Hu-pangcu"
Kun-gi menjura pula.
"Kapan Ling-kongcu akan mulai?"
Tanya Giok-lan.
"apa yang harus dipersiapkan?"
"Tiada yang perlu dipersiapkan, waktunya sudah tiba, cukup asal menuang getahberacundidalammangkuksaja."
"Biar hambayang menuangnya,"kataSin-ih.
"Jangan nona, getah itu amat beracun, biar aku sendiri yang turun tangan-"
Kata Kun-gi.
"sekarang kau kumpulkan seluruh wadah yang tersedia disini dan dijajar di atas meja."
"He, di almari ada seratus wadah porselen, apa semua harus dikeluarkan?"
Tanya Sin-ih.
"Sembilan guci, kalau satu sama lain semuanya begiliran harus dicampur, seluruhnya berjumlah 9x9 -81, cukup kau keluarkan 81 saja."
Sin-ih mengiakan, segera dia bekerja.
Sementara Kun-gi keluarkan buli2 berisi getah beracun, So-yok dan Giok-lan tidak bersuara, mereka ikut mondar-mandir mengikuti Kun-gi.
Sementara itu, sesuai pesan Kun-gi, Sin-ih sudah keluarkan wadah dan dibaris di atas meja.
Kun-gi membuka tutup buli2, dengan hati2 ia pegang buli2 serta menuang ke dalam sembilan wadah, masing2 diisi setngah getah beracun, lalu dia taruh buli2, mengambil sendok perak mengaduk guci obat yang pertama, lalu mengedus baunya, mulutnya bergumam.
"Ya,sudah boleh"
Dia taruh sendok ganti menyambar cangkir kecil, dari dalam guci dia menyendok sedikit air obat terus dicicipi dengan mulut seperti membedakan kadar obatnya.
So-yok, Giok-landan Sin-ih menyaksikan dengandiamsajadanterbeliak.
Lalu Kun-gi berpaling, katanya "Sembilan guci obat ini adalah hasil yang kucapai waktu berada di coat-sin-san-ceng untuk memunahkan getah beracun, cuma waktu itu aku belum punya keyakinan,jadi sudah lupa obat2 apa saja yang kuracik dan akhirnya berhasil menawarkan getah beracun?
Kalau malam itu nona Giok-je tidak menyelundupkan diriku keluar, satu dua kali percobaan lagi mungkin obat penawarnya sudah kuperoleh.
Jadi tidak perlu mengulang lagi seperti sekarang."
So-yok manggut2, ujarnya.
"Memang, kenapa Giok-je terburu nafsu waktu itu."
"Ini tak bisa salahkan Giok-je,"
Sela Giok-lan.
"malam itu juga coat-sin-san-ceng digempur bobol oleh gabungan kekuatan para Hwesio dan orang2 keluarga Tong, kalau tidak, mana kita bisa mengundang Ling kongcu kemari?"
Sementara Ling Kun-gi sedang menggunakan sendok yang terbuat dari Giok untuk mengambil air obat, lalu pelan2 dituang ke dalam wadah yang berisi getah beracun.
Getah beracun itu kental gelap.
setelah dituangi sesendok air obat, sedikitpun tidak memperlihatkan sesuatu perubahan.
SertamertaSo-yokdanGiok-lanangkatkepala, memandangLing Kun-gi.
Tapi yang dipandang tetap tak acuh, seperti apa yang dikatakannya, untuk menemukan obat penawar getah yang tulen paling tidak dia harus mengadakan delapan puluh satu kali percobaan.
Kini baru yang pertama, sudah tentu belum berarti gagal.
Dengan sendok perak yang lain Kun-gi kembali mengaduk guci obat kedua seperti cara semual, percobaan kedua inipun tidak berhasil.
Sudah tentu semua ini memang disengaja diatur oleh Kungi.
Sebetulnya dalam hati dia sudah punya perhitungan matang, cuma sengaja dia hendak menggunakan beberapa guci obat itu untuk mencoba supaya permainan sandiwaranya kelihatan sungguh2.
Getah beracun dalam buli2 berturut telah dia tuang kedalam beberapa wadah pula, semua dia masih gunakan cangkir kecil untuk menciduk air obat, belakangan karena tak sabar dia angkat gucinya terus dituang kesana kemari, beruntun puluhan kali telah dia lakukan, betapapun cerdik otak So-yok dan Giok-lan juga sukar pula untuk mengingatnya campuran obat2 dari guci yang mana?
Memangnya inilah tujuan Kun-gi supaya mereka kebingungan sendiri.
Setengah jam telah berselang, getah beracun yang digunakan percobaan sudah 36 wadah, kini Kun-gi kembali memegangi buli2, sedang mengadakan percobaan ulang yang kelima kalinya, dia isi sembilan wadah dengan getah kental hitam itu.
Lalu dengan cangkir kecil dia menciduk sedikit air obat, setelah diaduk dengan sendok lalu pelan2 dituang ke dalam getah beracun pada wadah ke 37.
Kali ini dia sudah perhitungkan air obat pada guci inilah yang pernah dia rendam mutiara.
Jika khasiat mutiara untuk menawarkan getah beracun masih bekerja, maka percobaan kali ini pasti berhasil.
cuma satu hal yang membuatnya kuatir, yakni apakah air bekas rendaman mutiara ini setelah bercampur dengan racikan obat2an itu masih berkhasiat seperti semula.
Dengan tegang dan seksama So-yok, Giok-lan dan Sin-ih mengawasi setiap tetes aitr obat itu masuk kedalam wadah, napas tertahan jantungpun ikut berdebar keras.
Tetes pertama air obat tetap tidak membawa perubahan-Kini tetes kedua telah jatuh.
Jidat Kun-gi sendiri juga telah dibasahi keringat.
Ketika tetes ketiga jatuh, terlihat seperti setetes air kecemplung dipermukaan cat berminyak.
tetes air obat ketiga seketika menjadi bening dan bergerak2 kian kemaridipermukaan getahkental itu.
"Nah, kali ini takkan salah lagi,"
Seru So-yok terbelalak tegang.
"Semoga demikian,"
Ujar Kun-gi, tetes ke empat dia jatuhkan pula kedalam wadah, perubahan kini semakin nyata dan kerja perpaduan obat dengan getahpun cepat sekali, getah kental hitam itu kini sudah mulai cair dan berubah warnanya, dengan cepat berubah menjadiairbening.
So-yok bersorak girang sambil berkeplok.
"Ling-kongcu, kau berhasil."
Kun-gi menengadah sambil tertawa, katanya.
"Akhirnya cayhe menemukan obat penawarnya". Sepasang mata Giok-lan memancarkan cahaya terang, bukan kepalang senang hatinya, serunya.
"Ling-kongcu, kuaturkan selamat padamu"
Sin-ih juga terbelalak. serunya.
"Ling-kongcu hanya pakai empat tetes obat dan getah setengah wadah ini telah tawar sama sekali, airobatinitentuamat lihay."
Tiba2 So-yok bertanya.
"dari guci yang mana kau tadi mengambil air obat itu, apa kau masih ingat?"
Sengaja Kun-gi mengingat2, lalu mengasi guci2 obat, katanya sambil menghitung.
"Kali ini aku mengambil dari guci ke 3, 5, 6, 8, dan 9 lima guci. Lalu dia berpesan kepada Sin-ih.
"Sisa yang lain boleh kau buang ke belakang."
Cepat Sin-ih bersihkan sisa obat lain yang tidak terpakai lagi.
Kun-gi ambil dua tempayan kosong, lalu dia ukur air obat guci ketiga dan kelima, masing2 di ambil 20 mangkuk, demikian pula pada guci keenam dan kesembilan masing2 dia ambil 30 mangkuk, lalu guci kedelapan dia angkat, setelah sari obatnya dia bersihkan, seluruh air obatnya dia tuang kedalam tempayan serta diaduk lagi dan kebetulan penuh kedua tempayan itu.
Menunjuk kedua tempayan obat itu, Kun-gi berkata kepada Gioklan-"congkoan membatasi cayhae tiga hari untuk menyelesaikan tugas, hari ini telah kubuat dua tempayan air obat penawar getah beracun, harap congkoan suka menerimanya."
Lekas Giok-lan balas hormat, katanya.
"Ling-kongcu memang dapat dipercaya, hamba mengaturkan terima kasih."
Kata Kun-gi kepada So-yok.
"Tadi aku sendiri yang mencoba dan berhasil, kini silahkan Hu-pangcu mencobanya sekali lagi."
Lalu dia ambil sendokdan diangsurkan kepadaSo-yok. So-yok tertawa manis, katanya.
"Aku belum pernah mencoba, memang ingin aku mencobanya."
Dengan sendok itu dia menyiduk air obat terus dituang pelan2 ke dalam wadah lain yang berisi getah beracun.
Perubahan pada getah beracun dalam wadah kali ini lebih cepat, dari kental segera menjadi cair dan bening.
Seru So-yok girang.
"obat penawar ini memang betul2 mujarab."
"Setengah sendok air obat yang diambil Hu-pangcu tadi sedikitnya bisa menawarkan satu baskom getah beracun."
"Jadi, berapa banyak getah beracun dapat di-tawarkan oleh air obat kedua tempayan ini?". Kun-gi tertawa, katanya.
"Thay-ouw seluas tiga puluh enam ribu hektar, kalau air danau semuanya getah beracun, kiranya cukup ditawarkan dengan air obat kedua tempayan ini"
Giok lan segera berpesan kepada Sin-ih.
"Laporkan kabar gembira ini kepada Pangcu, katakan bahwa Ling-kongcu telah berhasil membuat obat penawarnya,"
Sin-ih mengiakan dan buru2 lari keluar.
"obat penawar sudah kubuat, air obat kedua tempayan ini boleh silakan congkoan menerimanya "
Giok-lan manggut2, katanya.
"Nanti kusuruh agar orang menggotongnya keluar,"
Lalu dia tatap Kun-gi.
"Cuma sudikah Lingkongcu serahkan pula resep obatnya?". Kun-gi, sudah menduga akan hal ini, katanya tersenyum.
"obat penawar yang kubuat sudah ku-serahkan dan Pang kalian boleh memakainya, tentang resep obat......."
So-yok mengedip mata, katanya riang.
"Mungkin resep itu warisankeluargaLing-kongcu, jadiharus dirahasiakan?" .
"Bukan begitu,"
Ujar , Kun-gi tertawa.
"Jiwa raga cayhe ada di dalam Pang kalian, keselamatan jiwapun sukar diramalkan, kalau dalam jangka tiga hari cayhe tidak berhasil, batok kepala cayhe tentu sukar dipertahankan, tapi setelah berhasil mungkin tetap menghadapi kesulitan, salah2 bisa dibunuh untuk menutup mulut.. ..."
Berubah air muka Giok-lan, katanya.
"Ling-kongcu berjerih payah membuat obat untuk Pang kami, Pang kami berkecimpung dalam kangouw dan selalu mengutamakan keadilan dan kepercayaan, mana mungkin membalas air susu dengan air tuba?"
"Dari siapa Ling-kongcu dengar orang bilang demikian?"
Sela Soyok.
"terang sengaja hendak memecah belah belaka."
"Maaf, mungkin cayhe mengukur seorang Kuncu dengan hati seorang Siaujin, cuma dalam percaturan kangouw, tiada jeleknya berlaku hati2 terhadap sesama insan persilatan, air obat dalam kedua tempayan itu bertahan tiba bulan, selama itu bertahan pula jiwa raga cayhe, harap kalian tidak salah paham."
"Ucapan Kongcu memang masuk akal,"
Ujar Giok-lan.
"liku2 kehidupan kangouw memang serba buruk dan bahaya, adalah pantas kalau berlaku hati2. cuma Pek-hoa-pang kami takkan berlaku curangdan lupabuditerhadapKongcu."
Kata So-yok manis mesra.
"Kalau Ling-kongcu tidak mau serahkan resep obatnya juga tidak soal, kau boleh tinggal saja disini, memangnya kau akan membocorkan hal ini kepada Hek-Liong-hwe?"
Sementara itu Sin-ih sudah balik bersama seorang pelayan baju hijau.
"Lapor congkoan,"
Kata Sin-ih.
"Pangcu sudah siapkan perjamuan di Ing-jun-koan, Bak-ni (melati) disuruh mengundang Ling-kongcu, Hu-pangcu dan congkoan kesana."
Si melatiadalah salahsatupelayanpribadi Pek-hoa-pangcu, lekas dia tampil memberi hormat, katanya.
"Mendengar Ling-kongcu berhasil membuat obat penawar, Pangcu sengaja mengadakan perjamuan di Ingjun-koan untuk merayakan keberhasilan Ling kongcu ini, silahkan pula Hu-pangcu dan congkoan mengirinya."
So-yok tertawa riang, katanya.
"Toaci mengadakan perjamuan di Ingrjun-koan, inijarang terjadi, silakan Ling-kongcu"
Ing-jun-koan adalah tempat tinggal Pek-Hoa-pangcu.
"ucapannya kedengaran simpatik, tapi mengandung nada sindiran,"
Lalu ia berpaling kepada si melati, katanya.
"Hayo tunjukkan jalan."
Bak-ni atau kembang melati mengiakan, dia berjalan di depan So-yok dan Giok-lan mengiringi Ling Kun-gi langsung menuju ke Ing Jun-koan-Setelah dekat si melati mendahului beberapa langkah serta membungkuk sambil berseru.
"Lapor Pangcu, Ling-kongcu telah tiba"
Lenyap suaranya tertampak Pek hoa-pangcu sudah beranjak keluar menyongsong di ambang pintu.
Hari ini dia menggunakan baju merah gemerlap dengan gaun panjang kain sutera bersulam mengikat pinggang, pada dua ujungnya dihiasi ronce beludru dan diikat menyerupai telur angsa, langkahnya ringan lembut tak ubahnya bidadari, kelihatan suci dan anggun.
Memang setimpal sebagaibungapeoni (Bok-tan)yang menjadirajadarisegalabunga.
Pek-Hoa-pangcu tetap mengenakan kedok, tapi sepasang matanya nan jeli dan bening tampak bercahaya penuh kasih mesra, katanya merdu.
"Sudah kutunggu cukup lama, silakan Ling-kongcu masukdan duduk."
Begitu beradu pandang, jantung Kun-gi lantas berdebar keras, tanpa terasa timbul semacam perasaan aneh dalam benaknya, sesaat dia melongo mengawasi orang.
Hal ini tak perlu dibuat heran, pemuda mana yang tidak terpesona berhadapan dengan sang jelita, apalagi pandangan Pek-Hoa-pangcu sedemikian mesra.
Tapi cepat Kun-gi sadar, dengan muka merah ia menjura, katanya.
"Pangcu mengundang dan menjamu secara besar2an, sungguh cayhe amat bangga dan terima kasih."
Pek-hoa-pangcu mengiringinya masuk ke kamar makan, mereka jalan berjajar, katanya tersenyum manis.
"Kongcu berhasil membuat obat, besar artinya bagi kepentingan Pang kami, aku hanya suruh mereka sekedar menyiapkan perjamuan untuk membalas budi kebaikan ini, rasanya masih jauh untuk mengimbali jerih payah Kongsu, haraptidakusahsungkan-"
"Bantuan yang tak berarti kenapa harus dipikirkan, Pangcu menyambut begini rupa sungguh tidak tenteramperasaan cayhe."
Sebuah meja besar segi delapan berada di tengah ruangan sebelah timur yang bertutup kain gordyn, Pek-hoa-pangcu persilakan tamunya duduk di sebelahnya, sementara So-yok di sebelah kiri dan Giok-lan di depannya.
Tanpa diperintah delapan pelayan bergiliran menyuguhkan hidangan dan arak.
Pek Hoa pangcu angkat cawan araknya, katanya.
"Ling-kongcu sudah membuatkan obat mujarab bagi Pang kami, seluruh anggota Pek-Hoa-pang merasa bersyukur dan berterima kasih, secawan arak ini kusampaikan selamat dan terima kasih, haraf kongcu sudi menerimanya ."
Kun-gi angkat cangkir araknya dan menjawab.
"Seharusnya cayhe yang menyampaikan selamat pada Pangcu, sayang cayhe tidak biasa minum arak. apalagi nanti akan menghadap Thay-siang, terpaksa cayhe harus membatasi diri minum arak."
Lalu dia teguk habis isiCangkirnya.
"Kau akan menghadap Thay-siang?"
Seru Pek-hoa-pangcu heran "Ya, hal ini memang akan kulaporkan kepada Toaci,"
Ujar So-yok.
"waktu aku datang pagi tadi Thay-siang sudah berpesan bila Lingkongcu berhasil, beliau minta aku membawanya menemuinya."
"Thay-siang amat besar perhatiannya terhadap getah beracun ini, Ling-kongcu berhasil temukan obat penawarnya dalam waktu sesingkat ini, tak heran beliau ingin benar bertemu,"
Lalu Pek-hoapangcu berkata kepada Kun-gi.
"Biasanya thay-siang tak mau menemui orang luar, umpama anggota Pang kita sendiri juga jarang dipanggil, Ling Kongcu ternyata lebih beruntung."
Sedemikian besar perhatiannya membicarakan undangan Thay-siang ini, padahal sinar matanya tidak mengunjuk rasa senang kalau tidak mau dikatakan menampilkan rasa kuatir dan gelisah malah.
Sudah tentu Kun-gi tak bisa menyelami pikiran Pek hoa pangcu, katanya tertawa lebar.
"Beruntung cayhe diundang Thay-siang, hal ini merupakan kebanggaanku seumur hidup,"
Pek hoa pangcu tersenyum, katanya.
"Hanya bicara saja sampai lupa makan, hidangan sudah dingin, silakan makan-"
Baru dua cangkir arak masuk perut, muka Ling Kun-gi lantas merah seperti kepiting rebus, celakanya So-yok selalu ambilkan hidangan terus main dorong kepiringnya, ditolak tidak bisa, diterima akhirnya perutnya kekenyangan.
Perjamuan ini untuk merayakan kesuksesan Ling Kun-gi, tapi lantaran yang dijamu tidak pandai minum arak sehingga makan minum berjalan kurang semarak, Pek hoa pangcu dan Giok-lan bersikap pasif pula karena tingkah So-yok yang ber-muka2.
Hampir setiap masakan yang dihidangkan sedikit atau banyak masuk ke perut Kun-gi, untung perjamuan ini berakhir juga , Kun-gi merasa seperti lepas dari hukuman, buru2 dia berdiri.
Pekhoapangcu mengiringinyakembalikeruangtamu.
Baru saja Kun-gi menghabiskan teh panas yang disuguhkan, So-yok lantas berkata sambil berdiri "Toaci, hari sudah siang, kiranya Ling-kongcu harus berangkat."
"Mungkin Thay-siang akan menguji Ling kongcu membuat obat itu, Ji-moay sudah bawaobatnyabelum?"
TanyaPekhoapangcu.
"Sam-moay sudah menyiapkan untukku,"
Sahut So-yok tertawa.
"Baiklah, bolehlah kau bawa Ling kongcu dan segera berangkat, supayaThay-siangtidakterlalu lama menunggu."
So-yok mengiakan, dia menoleh dan berpesan kepada si melati.
"Bak-ni, lekas kau beritahu supaya perahu disiapkan-"
Si melati mengiakan terus berlaripergi. So-yok berdiri, katanya.
"Ling kongcu, hayo berangkat"
Sembari bicara dia mengenakan mantel terus beranjak ke luar.
Kun-gi memberi hormat kepada Pek hoa pangcu serta Giok lan dan mohon diri.
Mereka mengantar sampai di depan pintu.
Sepasang mata Pek hoa pangcu sejeli mata burung hong menatapKun-gi, katanya."Kamitidak mengantar lebih jauh."
Beradu pandang seketika terasa oleh Kun-gi sorot matanya mengandung kasih mesra nan penuh arti, diam2 terkesiap hatinya, berkumandang pula suara Pek hoa pangcu selirih bunyi nyamuk di tepi telinganya.
"Dihadapan Thay-siang kau harus berlaku hati2, setiap pertanyaan harus kau jawab dengan baik, kalau dia tidak tanya, jangan banyak bicara."
Segera Kun-gi balas menjawab dengan ilmu gelombang suara.
"cayhetahu."Lalucepat2dia megikuti langkahSo-yok. Perahu yang disiapkan ternyata kecil saja, di tengahnya beratap jerami, bentuknya bulat panjang, di kedua ujung perahu masing2 duduk seorang perempuan setengah umur berperawakan kekar kuat, So-yok melompat turun lebih dulu terus menyelinap masuk dan duduk, terpaksa Kun-gi ikut melompat turun, tapi dia berdiri saja, karena ruang perahu sempit, hanya cukup untuk dua orang bersimpuh berhadapan, di kanan kiri terdapat sebuah meja kecil rendah di mana ditaruh cangkir minuman, jadi tiada barang perabot lainnya, laki-perempuan duduk dekat berhadapan rasanya kurang leluasa, tapi setelah berada di atas perahu tak mungkin dia duduk... Apa boleh buat, akhirnya dia menyelinap masuk dan duduknya sedikit mundur di atas kasuran berhadapan dengan So-yok. dengan menyengir dia berkata.
"Perahu ini terlalu kecil.".
"Perahu ini memang khusus kami buat secara istimewa, kalau badanperahulebihbesarsedikittidakakanbisa masuk."
Perempuan di buritan segera angkat galah, ia menarik tali kerai bambu yang bentuknya bundar segera bergerak menutup tempat duduk So-yok dan Kun-gi.
Keruan keadaan menjadi gelap.
untung Lwekang Kun-gi.
cukup tinggi, dia masih bisa melihat jelas keadaan sekitarnya.
Tak lama kemudian So-yok menyalakan lentera yang terletakdisamping atas.
Terasa oleh Kun-gi perahu mulai bergerak.
pengayuh bekerja menerbitkan gemercik air.
Diam2 Kun-gi membatin.
"Kiranya tutup ini sengaja dipasang supaya aku tidak dapat melihat pemandangan di luar"
Setelah api menyala, So-yok tersenyum, kata-nya.
"Tentunya Ling-kongcu merasa heran kenapa perahu ditutup begini rapat?"
"Mungkin daerah rahasia yang penting artinya, orang luar dilarang melihat keadaan di sini,"
Kata Kun-gi..
"Bukan begitu, perahu ini khusus dibuat-untuk Thay-siang seorang saja. Beliau tidak ingin dilihat orang, apalagi diketahui tempat tinggalnya. Dalam Pang kita kecuali aku, Toaci dan Sammoay tiada orang lain yang tahu tempat beliau bersemayam, kau adalah orang luar satu2nya yang melanggar kebiasaan Thay-siang, ini menandakan betapa besar perhatian Thay-siang kepadamu."
"Sungguh cayhe amat bangga dan senang hati."
"Maukah kau tinggal di tempat kita ini untuk selamanya?"
Tanya So-yok menatap Kun-gi lekat2.. Berdetak jantung Kun-gi, katanya tawar.
"Anggota Pang kalian semua perempuan, boleh cayhe tinggal di sini?"
"Asal kau manggut, aku akan bicara dengan Thay siang, dalam Pang kitakan juga ada laki2 lain-"
"Merekakan Hou-hoat-su-cia."
"Jangan kau pandang enteng para Hou-hoat-su-cia itu, di antara mereka tidak sedikit murid perguruan ternama, ilmu silatnya tinggi, kalau Ling-kongcu mau tinggal di sini, kau tidak akan dijadi-kan Hou-hoat-su-cia"
Sengaja Kun-gi, bertanya.
"Hu-pangcu hendak memberi jabatan apa kepada cayhe.?"
Merah muka So-yok, katanya menunduk malu.
"Dinilai dari ilmu silatmu, masakah kau boleh diberi kedudukan rendah?, Sekarang kau tidak perlu tanya, soal ini akan kurundingkan dengan Thay-siang"
"Masakah Hu-pangcu tidak bisa memperkirakan supaya cayhe bisa mempertimbangkannya?"
Semakin merah wajah So-yok. suaranya lirih.
"Bagaimana maksuk hatiku padamu, memangnya tidak terasa olehmu? Kalau tidak buat apa kubawa kau menghadap Thay-siang?"
Cukup jelas dan gamblang kata2nya.
Tanpa terasa tergunang juga hati Kun-gi, laki perempuan duduk berhadapan dan membuka isi hatinya lagi seCara blak2an, lalu bagaimana dia harus menanggapi?
Terpaksa Kun-gi berkata sekenanya.
"Hu-pangcu bermaksud baik, membimbingku, setulus hati kunyatakan terima kasih, soalnya beberapa temanku berada di tangan Hek liong-hwe, setelah kuketahui mereka terjeblos di sarang iblis, betapapun aku harus berusaha menolong mereka, karena itu sukaruntukkutinggal dalamPang kalian-"
"Menurut Thay-siang, Hek liong-hwe merajalela melakukan kejahatan, kelak pasti mendatangkan petaka di Kangouw, sudah lama kita bermaksud menumpasnya, cuma mereka memiliki getah beracun yang tiada obatnya sehingga soal ini tertunda sampai sekarang, kini setelah obat penawar getah telah kau buat, mungkin Thay-siang akan pimpin sendiri gerakan besar2an untuk menggempur Hek liong-hwe, itu berarti kawanmu juga akan tertolong pula."
Tengah bicara gemercik air tiba2 semakin keras, Kun-gi dapat membedakan suara gemercik air ini membawa pusaran yang keras dan berdaya sedot yang kuat, kalau tidak salah perahu kini tengah memasuki suatu gua yang dalam dan luas.
Terasakan pula laju perahu tiba2 menjadi lambat, kalau tadi perahu bergerak melawan arus sehingga menimbulkan guncangan cukup keras, tapi laju perahu sekarang mesti lambat namun kira2 tiga puluhan tombak kemudian lantas pelahan dan Akhirnya berhenti.
TaktertahanKun-gibertanya."Apakahsudahsampai?"
So-yokcekikikan, katanya."Kupingmu tajamjuga."
"Kurasa perahu sudah berhenti."
"Krek."
Tiba2 kerai bambu yang rapat itu tersingkap.
Tapi keadaan sekeliling gelap.
tak terlihat bintang2 di langit, kiranya perahuberlabuhdibawah dinding batuyangterjalgelap.
So-yok mendahului berdiri, katanya.
"Letak puncak tebing di atas cukup tinggi, biarlah ku lompat naik dulu, kau boleh menyusul."
Sekali tutul kaki, dengan enteng tubuhnya lantas melejit ke atas, hanya sekali berkelebat lantas tak kelihatan-Kejap lain terdengar suara So-yok berseru di atas batu.
"Ling-kongcu, boleh kau lompat kemari, tapi hati2, batu ini berlumut dan sangat licin-"
Lalu terdengar suara percikan api. Mata Kun-gi dapat melihat di tempat gelap. tanpa sinar api iapun bisa melihat cukup jelas keadaan sekelilingnya, segera dia menjawab.
"Ya, cayhe segera naik,"
Iapun tiru gerakan orang, ujung kaki menutul papan perahu, tubuhnya terus melambung ke atas.
Karena tidak ingin pamer kepandaian di depan So-yok, kira2 setombak lebih badannya melejit ke atas ia terus meluncur turun ke samping So-yok, Buru2 So-yok ulur tangan pegang lengannya, katanya.
"Berdiri ke sini sedikit, batu sebelah pinggir berlumut dan licin-"
Karena tarikan ini badan mereka hampir berhimpitan. Lekas So-yok menunduk dan meniup padam obor, seketika keadaan gelap gulita pula. Dalam kegelapan So-yok berkata pula.
"Disini sebenarnya dilarang menyalakan api, demi keselamatanmu barusan aku melanggar larangan untuk selanjutnya kau harus menggremet di tempat gelap."
Tanpa tunggu Kun-gi bersuara cepat ia menambahkan.
"Tak usah kuatir, jalanan di sini aku sangat apal, asalkaugandeng tanganku, pastitakkan terjatuhdari ketinggalan-"
Jari tangan yang halus segera menarik Kun-gi, katanya manis.
"Hayo, kita ke atas, hati2 lima langkah lagi ke atas adalah lorong sempit yang harus dilewati dengan badan miring, jangan sampai kepalamu kebentur benjut."
Kun-gi tidak ingin orang tahu dirinya dapat melihat di tempat gelap.
maka ia biarkan saja dirinya ditarik dan digandeng.
Apa yang dikatakan So-yok memang tidak salah, di depan hanya sebuah lorong sempit, hanya cukup untuk tubuh seorang, kaki terasa menginjak tanah berbatu yang naik turun tidak rata.
Walau So-yok sudah apal tempat ini juga jalan menggremet hati2, kembali dia bertanya.
"Ling kongcu, di rumah masih adakah sanak saudaramu?"
"Keluargaku hanya ibu dan aku saja,"
Sahut Kun-gi. Bersinar mata So-yok di tempat gelap. tanyanya.
"Kau tidak punya adik perempuan?"
Tiba2 dia menghentikan langkah.
"Bagaimana kalau aku menjadi adikmu?"
Badannya yang padat dan montok tiba2 menggelendot ke dada Kun-gi.
Kun-gi tahu, nona ini bertabiat buruk.
aleman, keras kepala dan suka menang, Pek-hoa-pangcupun suka mengalah padanya, kalau dirinya sampai membuatnya marah, bukankah usaha dan rencananya bakal gagal total?
Maka tanpa pikir tangannya segera memapah badan orang, katanya.
"Hu-pangcu suci dan berbudi luhur, laksana berbadan emas, mana cayhe berani terima?"
Menggeliat pinggang So-yok yang ramping, katanya aleman.
"Ah, kau kira aku tidak setimpal? Jelas kau memandang rendah aku."
"Manacayheberanipandang rendahdirimu?". So-yok mendongak, katanya.
"Kami ada banyak saudara perempuan di sini, tapitiadapunyatoako, mungkinadajodoh, sejak pertama kali melihatmu se-olah2 kau sudah menjadi Toakoku, bagaimana jika betul kau menjadi, Toakoku?"
"Sungguh, cayhe tidak berani terima."
"Mau tidak mau aku tetap anggap kau sebagai Toako,"
Omel Soyok seperti anak kecil merengek minta permen, Kedua bola matanya terpentang lebar, walau dalam gelap dia tidak melihat wajah Kun-gi, tapi badannya yang halus padat menempel badan Kun-gi, kepala mendangak dengan malu2 dan merdu dia memanggil.
"Toako."
Kecuali tabiatnya yang jelek.
perawakan So-yok boleh masuk hitungan, apalagi cantik menggiurkan, suara panggilannya berdaya tarik menggetar sukma, seketika hati Kun-gi terguncang, tanpa sadardia memelukpinggang So-yokyangrampingdengan erat.
So-yok bersuara lirih terus merebahkan badannya ke dalam pelukan Kun-gi serasa lunglai otot tulang tubuhnya, maklumlah dia masih perawan ting-ting, tumbuh dewasa di kalangan wanita yang tidak pernah bergaul dengan lelaki, apalagi disentuh dan dipeluk begini rupa, keruan hatinya berdebur seperti gelombang samudara memukul pantai, seperti anak kambing yang kaget, takut dan jinak pula, badannya rada gemetar.
Kun-gi juga pemuda yang baru menanjak dewasa, jiwa laki2nya baru mekar pula begitu dia peluk So-yok, badannya seketika bergetar seperti kena aliran listrik, jantung seperti hendak copt, tiba2 pikirannya tersentak sadar dan cepat2 melepaskan pelukannya.
Walau ditempat gelap.
tapi Kun-gi sendiri merasakan mukanya panas, katanya tergagap.
"cayhe pantas mati, berani kurang ajar, terhadap Hu-pangcu, harap ... ."
Cepat So-yok mendekap mulut anak muda itu, katanya lirih.
"Tak usah menyalahkan diri sendiri, aku tidak menyalahkan kau, karena aku sudah anggap kau sebagai Toakoku"
"Bisa punya adik seperti kau, sungguh amat beruntung dan berbesar hati, cuma..."
"Tidakusah pakai alasan, kau mau terimaaku sebagaiadikmu?"
Apa boleh buat, terpaksa Kun-gi berkata.
"Baiklah, kupanggil kau adik."
"Nah kan begitu, Toako yang baik."
Muka Kun-gi masih terasa panas, lekas dia mendesak.
"Hayolah kita melanjutkan perjalanan."
"Biar tetap kugandang tanganmu, setelah lewat lorong sempit ini baru jalan agak datar"
Cukup panjang juga lorong sempit ini, kalau badan sedikit gemuk takkan bisa lewat lorong sempit ini.
Dinding batupun tidak rata, ada yang runcing, kurang hati2 sedikit pakaian biaa tercantol sobek.
Begitulah mereka menggeremet miring ke depan.
Kira2 semasakan air baru mereka keluar dari lorong sempit ini.
Di luar tanah memang datar dan lapang, mereka berada di dalam gua alam yang besar, tapi tetap gelap dan lembab, sayup2 terdengar suara tetesan air dari langit2 gua.
Diam2 Kun-gi heran, pikirnya.
"Thay-siang-pangcu dari Pek-hoapang kenapa malah bertempat tinggal di tempat seperti ini?".. So yok tetap menggandeng tangannya terus maju ke depan menuju dinding batu di depan. Tampak dia ulur tangan menekan sebuah lobang kecil di atas dinding... Maka terdengar seorang membentak tanyadaribalik dinding.
"Siapa?"
"Aku, So-yok"
Sahut So-yok.
Lalu terdengar suara gemuruh, dinding batu persegi di depan mereka tiba2 bergerak dan tampak sebuah pintu, sinar lampupun menyorot keluar, dari balik batu.
Lalu muncul seorang perempuan setengah umur berbadan tinggi, sorot matanya dingin kaku, sekilas dia lirik Kun-gi, tanyanya.
"Dia inikah yang di-panggil Thay-siang?"
So-yok manggut, katanya.
"Dia bernama Ling Kun-gi."
Lalu dia berpaling, katanya pula.
"Ling-kongcu, mari kuperkenalkan inilah Ciok-lolo."
Lekas Kun-gi menjura, katanya.
"cayhe menyampaikan hormat kepada Ciok-lolo."
Tidak nampak secercah senyum pada wajah keriput Ciok-lolo ataunenekciok."Tidakusahsungkan, lekaskalian naik keatas."
So yok aturkan terima kasih dan ajak Kun-gi masuk.
Kini mereka berada di sebuah kamar batu berbentuk lonjong persegi, di depan ada undakan batu, di sebelah kiri ada sebuah pintu, agak-nya di sanalah kamar tidur Ciok-lolo.
Dari atas dinding So-yok menurunkan sebuah lampion, setelah menyulutnya dia berkata tertawa.
"Ling-kongcu, ikutilah aku."
Dia mendahului naik ke undakan batu.
Undakan batu Cukup lebar, ia menenteng lampion, maka tidak perlu bergandeng tangan lagi.
Undakan batu ini melingkar naik ke atas, langkah mereka dipercepat, setiba di ujung undakan kembali mereka dia dang dinding batu.
Diam2 Kun-gi menghitung sedikitnya dia sudah naik lima-enam ratus undakan-Di depan dinding So-yok menekan dua kali, terdengar suara berkeriat-keriut, muncul sebuah pintu di dinding itu, pandengan mereka menjadisilauolehbenderangnyasinar matahari.
So yok tiup padam lampion dan menggantung di atas dinding, lalu katanya.
"Silakan Toako."
Kun-gi tidak rikuh2 lagi, segera dia melangkah keluar, terasa angin menghembus semilir, semangat seketika terbangkit.
So-yok mengintil di belakangnya, setelah berada di luar, dia menekan dindingdua kalipula, pintubatu pelan2 menutup sendiri.
Di luar pintu batu ini letaknya di sebuah paseban di lamping gunung, paseban ini besar dan megah, enam sakanya berwarna merah cukup sepelukan satu orang.
Bunga bertaburan di segala pelosok memenuhi lereng yang terbentang luas, anehnya bunga yang tak diketahui namanya ini beraneka macam jenis dan warnanya, Semuanya, mekar Semerbak.
Tepat di tengah paseban ini di-pasang sebuah panggung batu kecil bulat halus mengkilap menyerupai meja bundar dikelilingi kursi bundar yang berbentuk men erupaigendang, semuanyaterbuatdaribatugunung..
Setelah pintu merapat, tampak di pagan batu yang besar itu, setinggi setombak berukir empat.
huruf yang berbunyi "Pek-hoathing-kip".
"Tempat apakah ini? "
Seru Kun-gi heran.
"Inilah Pek-hoa-kok (lembah seratus bunga),"
Sahut So-yok.
"Hayolah, setelah membelok ke lamping gunung sana, kau dilarang buka suara lagi."
Lalu dia mendahului jalan menyusuri jalanan yang dilandasi pagar batu. Sambil mengikutilangkahorangKun-giber-tanya."Kenapa?"
"Thay-siang tidak senang kalau ada orang suka bertanya, apalagi beliau sudah berhasil meyakinkan Thian-ni-thong, setelah membelok pengkolan gunung itu, semua pembicaraan kita akan terdengar olehnya."
Kun-gi manggut2.
Langkah mereka dipercepat, setelah keluar dari pengkolan gunung, seluas mata memandang lembah ini bagai bertaburkan bunga, beraneka warnanya, di antara bayang2 pepohonan sana ada bangunan rumah bersusur, dengan berbagai bentuk artistik, Jauh di atas sana, seperti ada jembatan gantung yang menghubungkan satu rumah berloteng dengan bangunan megah yang lain-Sungguh pemandangan permai yang menyegarkan semangat dan perasaan.
Tak tertahan Kun-gi menarik napas panjang, katanya memuji.
"Bile cayhe tidak tahu tempat ini adalab tempat semayam Thay-siang, melihat keadaan lembah yang permai dan teratur rapi ini tentu membayangkan bahwa pemiliknya pasti seoranganehdan memilikikepandaianyangjauh melebihiorang."
Mendengar Kun-gi buka suara.
So-yok tampak kaget, mau mencegah tapi tak sempat lagi.
Syukurlah yang didengar adalah kata2-pujian, barulah lega hatinya.
Tapi pada kejap lain ia mendengar seseorang mendengus sayup2 dari kejauhan.
Suara dengus ini kedengarannya sangat jauh, tapi seperti juga sangat dekat sehingga sukar orang meraba dari mana datangnya.
Yang terang So-yok berubah air mukanya, seketika dia bergidik, katanya lirih.
"Lekaslah"
Bergegas dia masuk ke lembah sana.
Sudah tentu Kun-gi tahu suara dengus tadi dikeluarkan seorang yang memiliki Lwekang tinggi dan dia pasti Thay-Siang adanya.
Ucapan Kun-gi tadi juga diutarakan secara spontan karena melihat panorama lembah yang mempesona ini, padahal kata2 pujiannya diucapkan setulus hati, memangnya kenapa orang mendengus?.
Ini berarti bahwa jiwa Thay-siang rada nyentrik, wataknya, pasti aneh dan menyendiri, tak heran Pek-hoa-pangcu dan So-yok berpesan wanti2 dihadapan Thay-siang nanti supaya dirinya tidak banyak bicara kalau tidak di-tanya.
Cepat sekali mereka sudah tiba di depan sebuah rumah berloteng yang dibangun amat megah.
So-yok berhenti, katanya menoleh.
"Ikutilah aku."
Dia bawa Kun-gi masuk ke sebuah kamar tamu yang bentuknya agak kecil, katanya pula.
"Ling-kongcu duduklah menunggu di sini, aku akan masuk memberi laporan kepada Thaysiang, sebentar ku-kembali."
"Hu-pangcu boleh silakan,"
Ucap Kun-gi.
Tanpa bicara lagi So-yok beranjak keluar.
Seorang diri Kun-gi duduk di kursi, dia kira So-yok akan segera kembali, tak tahunya ditunggu setanakan nasi masih belum keluar, lambat laun hatinya menjadi gundah dan tidak tenteram, sambil menggendong tangan dia mondar-mandir melihat lukisan di dinding.
cukup lama juga dia meneliti setiap lukisan itu baru didengarnya langkah ringan seseorang mendatangi.
cepat Kun-gi membalik badan, tampak yang datang adalah seorang gadis berpakaian kain kembang.
Usia gadis Cilik ini sekitar 12-an, tapi wajahnya tampak ayu jenaka, rambutnya dikuncir, bagian depannya dipotong poni, bibirnya yang merah delima tampak mungil dan mengulum senyum, kelihatannya masih kanak2.
Waktu dia melangkah masuk kebetulan Kun-gi membalik badan, biji mata yang jeli dan bening itu seketika menatap Kun-gi dengan tajam, langkahnyapun berhenti, pipinya yang putih halus seketika bersemu merah, cepat dia menunduk malu.
Maklumlah, sejak kecil nona ini dibesarkan di lembah nan sunyi dan putus hubungan dengan dunia luar, kapan dia pernah melihat seorang laki2, apa-lagi laki2 seperti Kun-gi yang cakap ganteng ini, karena malu, hampir saja dia tidak kuasa berbicara.
Kun-gi malah bersuara dulu dengan tertawa.
"Apakah Hu-pangcu suruhnona memanggilcayhe?"
Setelah tenang hatinya baru gadis cilik itu manggut2 dengan malu2, katanya.
"Jadi kau ini Ling kongcu? Thay-siang mengundangmu."
"Silakan nona tunjukkan jalan,"
Kata Kun-gi. Sambil menunduk gadis cilik itu membalik terus melangkah pergi, katanya.
"Marilah Ling-kong-cu ikut aku." . Keluar dari ruang tamu dia belok ke kiri adalah serambi panjang yang menjurus ke lembah diseberang sana, pemandangan menghijau permai, air terjun mencurah deras di ujung timur sana, seluruh pemandangan didasar lembah terlihat amat jelas. Pada ujung puncak di atas lembah itulah di-bangun rumah lima tingkat, yang ditengah merupakan pendopo luas dari besar, kelihatannya seperti ruang sembahyang, tepat di tengah ada sebuah meja panjang dengan patung Hud-co yang terbuat dari batu jade putih. Kiranya Thay-siang yang diagungkan itu beragama Buddha. Gadis berpakaian kembang membawa Ling Kun-gi masuk ke ruang sembahyang, terus menuju ke pintu di sebelah timur dan berhenti di depan sebuah kamar, dari luar kerai dia membungkuk serta berseru.
"Lapor Thay-siang, Ling-kongcu telah tiba"
Terdengar seorang perempuan tua bersuara dari dalam.
"Suruh dia masuk."
Gadis baju kembang segera menyingkap kerai dan berkata lirih.
"silakan masuk, Ling-kongcu."
Sedikit membungkuk badan Kun-gi melangkah masuk.
Kiranya di sinilah Thay-siang bermukim, di sebelah sana adalah sebuah dipan yang berukir, bantal guling lengkap.
serba baru bersih dan rapi, di atas dipan inilah duduk seorang perempuan berpakaian serba hitam.
Wajahnya berkeriput tua, tulang pipinya sedikit menonjol, kulit badannya putih, rambutnya bercampur uban, tapi disisir rapi berminyak.
jidatnya terikat selarik kain hitam bersulain indah dan tepat diantara kedua alisnya dihiasi sebutir mutiara.
Melihat sikap duduk orang yang kelihatan angker berwibawa meski wajahnya tidak kelihatan marah, jelas perempuan tua inilah Thay-siang-pangcu dari Pek-hoa-pang.
So-yok tampak berdiri di belakangnya, kedua tangan lurus ke bawah, sikapnya kelihatan amat hormat dan patuh.
Di kedua sisi dipan ada delapan kursi, tepat di tengah ada sebuah meja segi delapan, di atas meja terletak semangkuk getah beracun dan sebotol air obat buatan Kun-gi.
Tak heran setelah So-yok masuk sekian lamanya baru mengundang dirinya, kiranya ia hendak mencoba dulu kasiat obatnya dihadapan-Thay-siang.
Baru saja Kun-gi melangkah masuk.
suara So-yok lantas berkumandang.
"Ling-kongcu, inilah Thay-siang dari Pang kita."
Karena dia berdiri di belakang Thay-siang, maka dengan leluasa dia bisa memberi kedipan mata dan monyongkan mulut kepada Ling Kun-gi, maksudnya supaya Kun-gi lekas menyembah.
Kun-gi justeru anggap tidak tahu, ia maju dua langkah dan hanya menjura dengan membungkuk badan, serunya.
"cayhe Ling Kun-gi, menyampaikan hormat kepada Thay-siang."
Thay-siang duduk diam saja, kedua biji matanya setajam ujung pisau menatap Kun-gi lekat2, seakan2 dari wajah orang dia hendak menemukan apa2, sesaat lamanya baru dia berkata.
"Kau duduklah"
"Di hadapan Thay-siang, mana cayhe berani duduk? "
Terunjuk rasa dongkol pada sinar mata Thay-siang, suaranya lebih dingin.
"Kusuruh kau duduk. maka kau harus duduk, ada pertanyaan akan ku-ajukan."
Sorot mata So-yok tampak gelisah dan tidak tenteram, beberapa kali dia berkedip kepada Kun-gi.
Maksudnya menganjurkan supaya anak muda itu menurut dan lekas duduk.
Kun-gi tertawa dengan tabah, katanya.
"Terima kasih."
Ia lantas duduk dikursi sebelah kiri, lalu bertanya.
"Thay-siang memanggil, entah ada keperluan apa, cayhe siap mendengarkan."
Tertampak rasa dongkol pada rona muka Thay-siang, katanya tidaksabar.
"KausheLing? Kelahiran mana? "
"Ya, hambadilahirkandicin-ciudansejak kecil tinggal di sana."
"Siapa nama ayahmu? "
Kun-gi heran, agaknya Thay-siang amat memperhatikan riwayat hidupnya, malah diwaktu mengajukan pertanyaan matanya menatapnya lekat2, mimiknya menunjukkan sikap yang kurang bersahabat.
Memangnya dirinya pernah melakukan kesalahan terhadapnya?
Tapi dengan kalem dia menjawab.
"Ayah bernama Ling Swi-toh." .
"Ling Swi-toh?"
Thay-siang mengulang nama itu dengan suara lirih, lalu bertanya pula.
"Ayah-mu sudah marhum? Berapa tahun dia meninggal? "
"Waktu ayah wafat aku berumur tiga tahun, sampai kini sudah 19 tahun."
"Di waktu hidupnya apa kerja ayahmu?"
Pertanyaannya semakin aneh dan ber-belit2, So-yok yang berdiri dibelakangnyapun melongo heran "Ayahhidupbercocoktanamdan belajar membaca."
"Siapa pula keluargamu? "
"Hanya ibunda seorang saja."
"Ibumu she apa? "
Pertanyaan semakin jelas dan teliti, mau tidak-mau timbul kewaspadaan Ling Kun-gi, maka sekenanya dia menjawab.
"ibu she ong."
Setelah menjawab baru hatinya mencelos, mendadak ia ingat pernah memberitahukan kepada Pek-hoa-pangcu bahwa ibunya she Thi, untung Thay-siang tidak
Jilid 16 Halaman 17/18 Hilang-jaman ini, tokoh Bu-Iim yang tiada bandingannya pula, sudah lama Losiu mengaguminya, sayang tiada jodoh bertemu, Ling-siangkong adalah murid kesayangan Taysu, Losiu merasa beruntung dapat bertemu denganmu."
Ling Kun-gi berdiri dan menyatakan tidak berani dan bersyukur juga .
Dilihatnya So-yok yang berdiri di belakang Thay-siang menunjuk mimik aneh, kaget, heran, tidak percaya dan berbagai perasaan yang campur aduk.
selamanya belum pernah dia mendengar Thay-siang bicara seramah ini, apa lagi merendah diri terhadap orang lain, lambat laun sorot matanya yang menatap Ling Kun-gi berubah menjadi tatapan melamun, wajahnyapun berseri tawa.
Lebih lanjut Thay-siang berkata.
"Ling-siangkong berhasil membuatkan obat penawar getah beracun itu, sungguh Losin amat senang dan berterima kasih."
Setelah batuk2 kering dengan sikap rikuh dia menambahkan-.
"Bolehkah Ling-siangkong sekalian memberitahu resep obatnya kepada Losin? "
Sebetutnya hal ini sudah dalam pikiraan Kun-gi, cuma sejauh ini dia belum berhasil menemukan alasan apa untuk menolak. apa lagi dia memang tidak punya resep segala, sesaat dia jadi ragu2, sahutnya.
"Ini....."
So-yok segera menyeletuk.
"Thay-siang, agak-nya Ling-siangkong sungkan bicara, biar Tecu saja yang menjelaskan."
"Baiklah, coba katakan,"ucapThay-siangsam-bil menoleh. Berseri tawa So-yok, Kun-gi dipandangnya lekat2, katanya.
"Tecu pernah tanya soal resep itu kepada Ling-kongcu, katanya keselamatan jiwa raganya ditempat kita ini susah diramalkan, kalau resep obat diserahkan, dia kuatir kita mengambil tindakan yang merugikan dirinya."
Ternyata Thay-siang tidak marah, malah manggut2, katanya.
"Liku2 kehidupan Kangouw memang serba-serbi, penuh kejahatan dan berbahaya, memang cukup beralasan kekuatiran Lingsiangkong, tapi selama hidup ini Los in sudah patuh akan ajaran agama, Pek-hoa-pang yang kudirikan inipun khusus untuk menghadapi kelaliman Hek-liong-hwe, mungkinkah sampai melakukan perbuatan sekotor dan sekejam itu?"
"Tecujugabilangdemikian,"ujar Soyok. Kun-gi menjura, katanya.
"Harap Thay-siang tidak salah paham, sebetulnya tiada maksud apa2 cayhe terhadap Pek-hoa-pang kalian, cuma..sebetulnya."
"Ling-siangkong ada kesulitan apa, silakan bicara saja,"
Tatap Thay-siang dengan mata bersinar.
Dasar otak Kun-gi memang cerdas, tiba2 berkelebat suatu ilham dalam benaknya, seketika terpikir olehnya jawaban atas pertanyaan orang.
Soalnya wajah Thay-siang tadi berubah dan kini sikapnyapun berganti ramah tamah setelah dirinya menyebut nama kebesaran gurunya, biarlah soal resep obat ini dikatakan berada ditangan gurunya.
Maka dia lantas berkata sambil sedikit membungkuk.
"Harap Thay-siang maklum, resep obat ini diperoleh guruku dari seorang pendeta asing dari benua barat, memang khusus untuk memunahkan segala racun aneh dan jahat di kolong langit ini, cayhe hanya bisa membuat obat itu menurut catatan, soal resepnya kalau belum memperoleh izin langsung dari guru, cayhe tidak berani membocorkan kepada siapapun, untuk ini harap Thay-siang suka memaafkan-"
Alasannya memang tepat dan dugaan Kun-gi ternyata tidak meleset. Mendengar resep obat itu milik Hoan-jiu-ji-lay yang dirahasiakan, Thay-siang tidak tanya lebih lanjut, katanya dengan tertawa lebar.
"Ling-siangkong tidak usah rikuh, setiap aliran mempunyai ilmu yang dirahasiakan, Losin takkan main paksa, untung Ling-siangkong sudah bikin dua guci besar obat penawar itu, kukira cukup berkelebihan untuk digunakan-"
"Thay-siang,"
Sela So-yok.
"Ling-siangkong bilang, dua guci obat hasilbuatannyaitu hanyaberkasiatselamatiga bulan saja."
"Ya, itu dapat dimengerti,"
Ujar Thay-siang.
"kalau obat itu dibuat dariair, makatidakbolehdisimpanlama2."
Mendadak ia seperti teringat sesuatu, katanya pula.
"Ada sebuah permintaan Lo-sin, entah Ling-siangkong sudi memberi persetujuan tidak? "
"Berat kata2 Thay-siang"
Kun-gi merendah.
"Thay-siang ada pesan apa, silakan katakan."
Berkata Thay-siang dengan kalem.
"Pek-hoa-pang aku yang mendirikan, maka seluruh anggota dimulai dari Pangcu sampai para dayang dan semua pembantunya adalah murid-muridku semua, tapi Pang kita juga ada puluhan Hou-hoat-su-cia, mereka adalah murid2 dari aliran ternama yang berhasil kami undang. Ling-siangkong didikan Hoan-jiu-ji-lay, soal watak dan kepandaian silat jelas tidak perlu diragukan lagi, tapi Losin juga tahu, Pek-hoa-pang sebagai organisasi kecil terdiri dari kaum hawa ini mungkin sukar untuk menahan Ling-siangkong di sini meski kami mengangkatmu sebagai Hou-hoat-su-cia segala, Tapi terus terang, dalam lubuk hatiku amat ingin bantuan Ling siangkong terhadap Pek-hoa-pang, maka menurut hemat Losin, bagaimana kalau Ling-siangkong kita angkat sebagai kepala dari para Houhoat itu, entah bagaimana pendapat Ling-siangkong? "
So-yok yang berdiri di belakang Thay-siang tertawa lebar, matanyapun bercahaya. Ber-ulang2 Ling Kun-gi menjura, katanya.
"cayhe sebagai angkatan muda dari Kangouw amat bersyukur dan terima kasih mendapat perhatian Thay-siang, sebetutnya sukar menampik kebaikan Thay-siang, tentang obat yang diperlukan sembarang waktu cayhe masih bisa membuatnya pula, soal pengangkatan tadi, Harap Thay-siang suka menunda-nya saja."
"Losin tahu, Ling-siangkong bak naga di antara sesama manusla, agaknya sukar Pek-hoa-pang menahanmu. tapi Houhoat yang kumaksud jauh berbeda dengan kedudukan para Hou-hoat-su Cia, Houhoat boleh bebas, tidak perlu selalu tinggal dalam Pang, kedudukan ini amat cocok dengan Ling-siangkong, dan harap Lingsiangkong tidak menolak pengangkatan ini."
"Betapa senang dan terima kasih cayhe akan maksud baik Thaysiang,cumacayhemasih mudadanCetekpengalaman,sungguhtak berani menerima kedudukan setinggi dan seberat ini. Malah cayhe memberanikan diri mohon petunjuk suatu hal kepada Thay-siang."
Terunjuk mimik aneh pada wajah Thay-siang, tanyanya.
"Soal apa yang ingin Ling-siangkong tanyakan? "
"Mohon Thay-siang suka memberitahu di mana letak sarang HekLiong-hwe?"
Berubah air muka Thay siang, lama ia menatap lekat2, tanyanya pula.
"Ling-siangkong ingin mencari sarang Hek-Liong-hwe?"
Pelan2 sorot matanya yang tajam mulai pudar lalu berkata pula.-"Memang tepat kalau Ling-siangkong tanya padaku, Hek-Liong-hwe merajalela di Kangouw, tapi mereka beraksi secara diam2, kecuali beberapa pentolan tinggi, meski anggota setia mereka sendiri juga tiada orang yang tahu di mana letak sarang mereka yang sebenarnya, hanya aku saja yang tahu paling jelas.
Untuk apa Ling-siangkong hendak pergike Hek-Liong-hwe"
Sudah tentu Kun-gi juga merasakan tatapan tajam serta perubahan air muka orang tadi.
"Memangnya ada hubungan rahasia yang sukar diketahui orang luar antara Hek-Liong-hwe dengan Pekhoa-pang?"
Demikian batinnya, pikiran ini hanya berkelebat dalam benaknya, sementara mulutnya berkata.
"Dari congkoan cayhe pernah dengar bahwa dua temanku katanya terjatuh ke tangan orang2 Hek-Liong-hwe, mereka menuntut barter dengan diriku."
"Ya, soal ini So-yok sudah memberitaku kepada Losin, lalu bagai mana pendapat Ling-siang-kong sendiri? "
"Kedua teman itu adalah sahabat setia cayhe, demi keselamatan mereka cayhe rela berkorban, semoga Thay-siang suka memberitahu letak sarang Hek-Liong-hwe, menolong orang bagai menolong kebakaran, maka kupikir harus berangkat secepatnya."
Thay-siang manggut2, katanya tersenyum.
"Ling-siangkong memang gagah perwira, keberanian dan kesetiaan diri terhadap kawan sungguh mengetuk sanubariku, cuma harus diketahui tidak sedikit jumlah jago2 kosen Hek Liong hwe, meski Ling-siangkong murid Hoan-jiu-ji-lay, tapi seorang diri menempuh bahaya, bukan saja mungkin tak berhasil menolong teman malah awak sendiri salah2 bisa celaka pula ...."
Merandek sebentar lalu ia menyambung pula..
"Losin sendiri juga punya dendam kesumat sedalam lautan dengan Hek-Liong-hwe, selama 20 tahun bersemayam di sini, soalnya racun getah itu amat jahat dan lihay, sejauh ini sukar memperoleh obat penawarnya, pula Losin seorang diri, jelas takkan unggul melawan keroyok-an musuh, tujuan Losin mendirikan Pek-hoa-pang adalah untuk menghadapi mereka."
Kun-gi manggut2. Thay-siang berkata lebih lanjut.
"Syukurlah, Thian memang maha pengasih, hari ini Ling-siang-kong datang dan telah bikin obat penawar getah beracun itu, selama kugembleng 20 tahun ini, tidak sedikit pula kekuatan murid2 perempuan yang kudidik dalam Pek-hoa-pang. Harap Ling-siangkong suka bersabar dua tiga hari, setelah Losin mempersiapkan seluruhnya, akan kupimpin sendiri seluruh kekuatan kita untuk bikin perhitungan lama dengan mereka, kalau Ling-siangkong hendak menolong teman2, boleh kau ikut bersama Losin"
Tanpa menunggu jawaban Kun-gi, dia lantas berpaling kepada So-yok dan memberi pesan.
"So-yok, suruh Teh-hoa antar Ling siangkong turun gunung."
"Biar Tecu sendiri yang mengantar Ling-siangkong"
Kata So-yok.
"Tidak, kautinggal di sinisaja, adatugaslain untukmu."
Terpaksa So-yok mengiakan lalu beranjak ke pintu memanggil Teh-hoa. Teh-hoa, si bunga kamelia adalah gadis kecil yang tadi membawa Kun-gi kemari, segera muncul di ambang pintu dan membungkuk berkata.
"Hu-pangcu ada pesan apa?"
"Atas perintah Thay-siang, antarlah Ling-siang-kong turun gunung."
Diam2 Teh-hoa melirik Kun-gi, pipinya merah seketika, mulut mengiakan sambil berputar ke arah Kun-gi, katanya.
"Silakan Lingsiangkong ikut hamba."
Kun-gi menjura kepada Thay-siang mohon pamit, Thay-siang manggut2 tanpa bersuara. Setelah Kun-gi pergi, muka Thay-siang tampak membesi dingin, katanya mendesis.
"So-yok, bagaimana pandanganmu mengenai dia? "
Tercekat hati So-yok. katanya.
"Tecu rasa kita jangan membiarkan dia meninggalkan gunung demikian saja."
"Betul"
Pandangan Thay-siang tampak memuji.
"sejak pertama melihat bocah ini", gurumu sudah bermaksud melenyapkan dia."
So-yok kaget, serunya terbeliak.
"Thay-siang hendak membunuhnya? "
"Sungguh tak nyana bahwa bocah ini adalah murid Hoan-jiu-ji-lay."
So-yok merasakan nada perkataan Thay-siang agak ganjil, se-olah2 kalau murid Hoan-jiu-ji-lay dia tidak berani membunuhnya, maka hatinya jadi senang, tanyanya.
"Apakah Hoan-jiu-ji-lay amat lihay? "
"20 tahun yang lalu, dia membuat onar di Siau-lim si, menjadi murid murtad dari aliran-hud, padahal pihak Siau-lim-si tiada yang dapat menandingi dia, maka dapatlah kau bayangkan betapa hebat kepandaian silatnya. Selama bertahun2 tak pernah dia menerima murid, kalau sekarang telah mendidik bocah she Ling ini, sudah tentu segala kepandaian telah diturunkan kepadanya, kalau gurumu bunuh bocah ini, memangnya Hoan-jiu-ji-lay terima? "
"Lalu bagaimana sikap dan tindakan Thay-siang? "
Tanya So-yok.
"Sudah tentu Losin punya perhitungan sendiri,"
Ujarnya sambil mengeluarkan sebutir pil warna putih dari lengan bajunya terus diangsurkan kepada So-yok, katanya.
"Serahkan kepada Toacimu, suruhlah Giok lan berusaha mencampurkan di dalam makanan bocah she Ling, hati2, jangan gagal."
Baca Juga: Jaka Lola 2
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 8