Eps 4 Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL
Baca online Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL
Cersil Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL.
Sementara itu Cu Bun-hoa masih sibuk lihat sana periksa sini, akhirnya dia menuju ke belakang pintu angin, ia menekan dua kaki di-sela2 dinding, maka terdengarlah suara keresekan, lantai di tengah ruang tiba2 ambles ke bawah, muncul sebuah lubang bundar yang disambung undakan menjurus ke bawah.
"Lorong bawah tanah,"
Seru Tong Thian-jong.
"Perempuan siluman, itu laridari sini."
"Lekas kita kejar,"
Seru Un It-hong.
"Menurut pendapat Siaute,"
Timbrung Cu Bun-hoa.
"lorong ini mungkin menembus keluar taman, sekarang tentu perempuan siluman itu sudah merat jauh."
Tenaga segera dikerahkan, semua orang dibagi tiga kelompok mengadakan penggeledahan, tapi hasilnya tetap nihil, terpaksa mereka keluar dari lubang ledakan semula dan kembali ke bangsal.
To-pi-wan oh Siok-ham maju memberi hor-mat kepada Lok-san Taysu.
Tong Thian-jong lalu periksa keadaan Thong-pi-thian-ong bertujuh, dalam setengah jam setelah diberi obat, ketujuh orang berturut2 siuman, melihat orang banyak merubung mereka di dalam ruangan, mereka merasa heran-Begitu melihat Un It-hong, Thong pi-thian-ong lantas berteriak.
"Un-lotoa, tempat apakah ini?"
Melihat Lok-san Taysu dan paderi yang lain, sudah tentu Kim Kay-thay juga kaget dan girang, lekas ia bangkit berdiri, serunya.
"Lok-san Suheng sudah lolos."
Setelah banyak mengalami kesukaran, panjang lebar pembicaraan mereka.
Bahwa orang2 yang hi-lang kini sudah diketemukan dan tertolong semuanya, hanya Ling Kun-gi saja entah ke mana perginya, maka Pui Ji-ping menjadi masgul, seorang diri dia menunggu di serambi luar, ia menengadah mengawasi rembulan, gumamnya.
"Ke manakah Ling-toako?"
Terdengar suara Tong Bun-khing cekikikan di belakang, katanya.
"Adik Ji-ping, kutahu apa yang sedang kau pikirkan-"
Merah muka Ji-ping, omelnya.
"cis, kau sendiri yang memikirkan dia."
Oood wooo Tepat tengah hari, di depan Lam-pak-ho, restoran terbesar di kota An-khing yang terletak dijalan timur datang seekor kuda putih yang gagah, sedemikian putih bulunya laksana saiju, tiada bulu warna lain di badannya.
Penunggangnya seorang pemuda berjubah hijau, usianya sekitar 19 an, wajahnya putih halus, bibirnya merah, giginya putih, hidang mancung, gagah tapi juga lembut, gerak-geriknya seperti anak sekolahan, tapi pedang tergantung dipinggangnya sehingga tampak lebih perwira.
Baru saja pemuda jubah hijau melompat turun, pelayan restoran cepat menyongsongnya, sipemuda serahkan tali kendali kudanya kepada pelayan terus melangkah masuk langsung naik ke atas lo-teng, dia pilih meja yang dekat jendela.
Waktu itu saatnya makan siang, tamu penuh sesak.
untunglah si pemuda mendapatkan tempat duduknya.
Sambil menunggu hidangan pesanannya, dia pandang keluar jendela melihat pemandangan dijalan raya.
Tiba2 didengarnya seorang pelayan berkata di sebelah belakang.
"Siang kong ini hanyasendirian, silahkan tuanduduksemejasajadisana."
Waktu pemuda jubah hijau berpaling, dilihatnya pelayan mengiringi seorang pemuda berpakaian ketat warna biru mendatang ke arah mejanya, kursi di seberang mejanya di tarik keluar, lalu pelayan menyilakan tamu muda ini duduk.
Usia pemuda ini antara 27, alisnya tegak bermata besar, wajahnya bersih kelihatan agak kurus, sebuah buntalan tergendang di pundak.
tampak gagang pedang yang beronce menongol keluar dari buntalannya.
Sekali pandang orang tahu bahwa pemuda ini pandai main silat, entahmuriddarigolongan mana dia?
Pemuda baju biru turunkan buntalannya dan taruh di pinggir meja, katanya tertawa seraya memberi hormat pada pemuda baju hijau .
"Sungguh menyesal harus mengganggu saudara."
Pemuda baju hijau menjawab tawar.
"Tidak apa2."
Pemuda baju biru lantas duduk berhadapan dengan pemuda baju hijau, pelayan menyuguhkan pesanan pemuda jubah hyau sembari tanya pemuda baju biru mau pesan makanan apa. Pemuda baju biru berkata.
"Aku harus mengejar waktu dan melanjutkan perjalanan, arak jangan kau sediakan, siapkan makananapasajayangcepat,seporsibak-pau, minumtehsaja."
Pelayan mengiakan terus mengundurkan diri. Setelah meneguk secangkir teh, pemuda baju biru berkata.
"Mohon tanya siapakah she saudara yang terhormat?"
Merah muka pemuda jubah hijau, sahutnya.
"Siaute berhama Cu Jing."
"o, kiranya Cu-heng, beruntung bertemu di sini, cayhe Ban Jincun,"
Ujar pemuda baju biru, matanya melirik cit-sing-kiam milik Cu Jing yang di taruh dipinggir jendela, lalu menambahkan dengan tertawa.
"Cu-heng membawa pedang, tentunya mahir bermain pedang?"
Merah muka Cu Jing, katanya.
"Siaute hanya belajar berapa jurus cakarayamsaja, belumsembabatdikatakan mahir."
Ban Jin-cun tertawa lebar, katanya.
"Sekali bertemu rasanya seperti sahabat lama, Cu-heng tak usah sungkan, cayhe yakin Cuheng bukan sembarang orang, hari ini dapat berkenalan, sungguh beruntung sekali ...."
Sampai di sini tiba2 sikapnya tampak masgul, katanya.
"Sayang Siaute mengalami petaka, kalau tidak ingin rasanya hari ini makan minum sepuasnya dengan Cu-heng ...."
"Ah, saudaraBanpandaibicara,"ujarCuJing malu2. Pelayan datang pula membawa pesanan Ban Jin-cun, maka mereka lantas makan minum sendiri, begitu lahap dan bernafsu sekali mereka ber-santap. tanpa diaadari bahwa seseorang telah berdiri di samping meja mereka. Ban Jin-cun segera menyadari adanya seseorang disamping mereka, cepat ia angkat kepala. Cu Jing juga sudah tahu, iapun melirik ke atas. Orang yang berdiri di samping meja mereka adalah pemuda berusia 25-an, pakaiannya ketat, warna biru tua, mengenakan caping bambu, pedang besi terselip di pinggang, alisnya tebal, wajahnya kelam mengkilap. tulang pipinya agak menonjol, mulutnya yang lebar terkancing rapat, sepasang matanya besar dan memancarkan sinar terang lagi mendelik pada Ban Jin-cun tanpa berkedip. jelassikapnyayanggaranginitidakbermaksudbaik.
"Saudaracarisiapa?"tanyaBanJin-cun, menghentikanmakan "Kau"
Sahut pemuda baju biru tua, suaranya kaku dingin. Merasa belum pernah kenal, Ban Jin-cun merasa heran, tanyanya.
"Ada petunjuk apa saudara mencariku?"
"Kau murid golongan Ui-san?"tanyapemudabaju biru tua. Setiap murid Ui-san semua menggunakan hiasan ronce pedang warna kuning, soalnya tiga puluh tahun yang lalu keluarga Ban dari Ui-san ber-turut2 pernah menjabat tiga kali Bulim-bengcu, maka ronce kuning menjadi simbol kebesaran margaban dari Ui-san-dan ini sudahdiakuioleh kaumpersilatanumumnya.
"Betul,"
Sahut Ban Jin-cun.
"cayhe Ban Jin-cun, entah saudara darialiran mana?Adakah ber-musuhan denganpihak Ui-san kami?"
Pemuda baju biru tua menyeringai,jengeksnya. ."Aku datang dari Ciok-bun, aku bernama Kho Keh-hoa."
Mendengar orang datang dari Ciok-bun, berubah hebat air muka Ban Jin-cun, tanyanya dengan suara berat.
"Pernah apa kau dengan Liok-hap-kiam Kho cin-hoan?"
"Beliau ayahku almarhum,"
Sahut Kho Keh-hoa. Mendadak Ban Jin-cun ter-gelak2 katanya.
"Ha ha, kebetulan sekali, orang she Ban memang-nya mau meluruk ke Ciok-bun."
Keluarga Kho dari Ciok-bun adalah marga terkemuka dari Liok-hap-bun yang sudah termashur di seluruh pelosok dunia, Liok-hapkiam Kho cin-hoan terkenal dengan ilmu pedangnya yang menjagoi Bu-lim, konon tiada seorang musuh yang pernah melawannya lewat tujuh jurus, oleh karena itu umum lantas memberi julukan Liok-hapkiam (pedang enam jurus) kepadanya.
Kho Keh-hoa terkekeh, ejeknya.
"Akupun dalam perjalanan ke Uisan untuk mencarimu."
Gemeratak gigi Ban Jin-Cun, desisnya.
"Bagus sekali, hari ini kita bertemu di sini, marilah kita cari tempat untuk menyelesaikan pertikaian kita ini."
"Boleh kau pilih tempatnya,"
Tentang Kho Keh-hoa.
"Lapangan latihan di pintu selatan, bagaimana?"
Kata Ban Jin cun setelah berpikir sejenak.
"Boleh saja, cayhe akan berangkat lebih dulu, kalian boleh makan minum sekenyangnya dulu,"
Dingin dan congkak sekali kata2 Kho Keh-hoa.
Agaknya dia salah kira bahwa Cu Jing adalah teman Ban Jin-cun, sembari bicara, dengan hina iapun melirik Cu Jing lalu melangkah pergi.
Saking gusar muka Ban Jin-cun membesi hijau, ingin dia menjelaskan bahwa Cu Jing bukan temannya, tapi Kho Keh-hoa sudah melangkah turun loteng.
Ia menjadi kikuk.
katanya menyesal.
"Dia kira Cu-heng adalah temanku, harap saudara cu tidak berkecil hati."
Selamanya belum pernah Cu Jing kelana di Kangouw, tapi dia merasakan sikap dan pembicaraan kedua orang tadi penuh dendam, keduanya berjanji duel dilapangan latihan di pintu selatan-Sudah tentu dia tidak tahu pertikaian apa di antara kedua orang ini?
Tapi dari sikap masing2 ia yakin bahwa permusuhan kedua orang ini tentu amat mendalam.
Maka dengan sikap tak acuh ia berkata.
"Dia telah mengundangku juga, sudah tentu aku harus memenuhi undangannya."
"Ini. ..... ai,"
Sikap Ban Jin-cun tampak serba salah.
"soal ini tiada sangkut pautnya dengan Cu-heng."
Cu Jing tertawa dingin.
"Enteng saja saudara Ban bicara.
"dia sudah mengundangku, kalau aku tidak hadir berarti nyaliku kecil? Ketahuilahselamanyatakpernahaku mengalahterhadapsiapapun."
Ban Jin-cun melenggong, katanya tertawa.
"Cu-heng memang belum tahu duduk persoalannya, keluargaku bermusuhan sedalam lautan dengan keluarga Kho, hari ini kalau bukan dia yang mati biarlah aku yang gugur, pertikaian balas membalas di kalangan Kangouw ini, apalagi saudara cu orang luar, lebih baik engkau jangan ikut campur."
Ia rogoh uang receh serta panggil pelayan, katanya.
"Rekening saudara cu ini sekalian kubayar."
Lalu ia berpaling ke arah Cu Jing serta menjura, katanya.
"Ber-hati2lah Cu-heng dalam perjalanan, kalau aku tidak mati, kelak semoga bertemu lagi."
Segera dia panggul buntalannya terus turun loteng. Lama Cu Jing melongo mengawasi Ban Jin-cun yang menghilang di bawah tangga, ia berpikir.
"Ban Jin-cun adalah anak didik keturunan keluarga Ban di Ui san, sedang Kho Keh-hoa adalah keturunan keluarga Kho di cioksbun, keduanya bukan kaum jahat, memangnya ada permusuhan mendalam apakah di antara kedua keluarga besar ini ?"
Bergegas dia berdiri serta menjemput pedang terus memburu turun ke bawah loteng.
Sementara kuda ia titipkan kepada pelayan restoran serta tanya di mana letak lapangan latihan di pintu selatan itu, lalu dia cepat2 menuju tempat yang ditunjuk.
Setiba di pintu selatan dia belok menyusuri sebuah gang dan tibalah dia di sebuah tanah lapang berumput hijau, itulah alun2 yang cukup besar dan luas, sayang tempat ini tidak terawat, banyak rumput liar tumbuh subur setinggi pinggang.
Tepat di tengah lapangan sana, berdiri berhadapan dua pemuda, mereka adalah Kho Keh-hoa dan Ban Jin-cun.
Karena ingin tahu sebab musabah permusuhan kedua pemuda ini, diam2 Cu Jing merunduk lebih dekat, lalu sembunyi di belakang serumpun pohon bambu yanglebihdekatdaritengah lapangan.
"Kenapa kau tidak menungguku?"
"Nona mau ke mana? "Kau menyamar lagi bukankah ka hendak menemuka pengejaranmu?" , u n "Betul, kenapa?"
"Aku ikut, boleh tidak?"
Kun-gi tertegun, sahutnya menggeleng.
"Jangan, non cant dan suci, mana boleh seperjalanan ber-samaku?"
A ik Terdengar Kho Keh-hoa tengah mengejek.
"Kau hanya datang Mengira jejaknya diketahui Kho Keh-hoa, dengan dongkol segera Cu Jing melompat keluar, dengusnya.
"Kau mengundangku kemari, memang-nya salah bila aku hadir?"
Kurang senang tampaknya Ban Jin-cun, katanya.
"Cu-heng, kenapa kau-pun ikut kemari?"
"Apa katamu? Ikut kemari?"
Jawab Cu Jing.
"kenapa aku harus ikut orang? orang she Kho tadi menantangku juga, sudah tentu aku harus kemari."
Kho Keh-hoe ter-gelak2, serunya.
"Baik sekali kau berada di sini, anggota keluarga Ban tiada seorangpun yang akan kulepaskan-"
Mencorong benci sorot mata Ban Jin-cun, teriaknya bengis.
"Apa yang kau katakan memang cocok dengan maksud hatiku, setiap insan marga Kho takkan seorangpun kuampuni jiwanya, cuma saudara cu ini bukan sanak keluarga Ban kami, kebetulan tadi kami bertemu di loteng restoran, jadi tiada sangkut pautnya dengan duel kita ini."
"Baiklah, asal dia tidak ikut turun tangan, aku tidak akan pandang dia sebagai musuh,"
Ujar Kho Keh-hoa.
"Sreng"
Tiba2 dia melolos pedang besi yang terselip dipinggang, bentaknya.
"Sekarang kita mulai"
"Bagus sekali,"
Seru Ban Jin-cun, pelan2 ia pun keluarkan pedang dari buntalannya. Sambil angkat pedangnya, berkata Kho Keh-hoa dengan mengertak gigi.
"orang she Ban dengarlah, Dengan pedang besi di tanganku ini Kho Keh-hoa akan menagih 28 jiwa besar kecil keluarga kho terhadap marga Ban kalian, setiap insan she Ban merupakan musuh bebuyutan keluarga kami, kau boleh tumplek seluruh kemampuan yang terang takkan kulepas kau pergi dengan selamat."
Menunjuk sorot gusar pada sinar mata Ban Jin-cun, bentaknya beringas.
"Tutup bacotmu, bapakmu Kho cin-hoan yang memimpin segerombolan bangsat berkedok. malam2 menggerebek perkampungan keluarga Ban kami, ayah bundaku dan 19 jiwa lainnya dibantai habis2an, aku bersumpah menuntut balas atas kematian keluargaku itu, kini kalau tidak kuhancur leburkan tubuhmu, tidakterlampiasdendamkesumatku."
"Keparat kau,"
Damprat Kho Keh-hoa.
"yang terang bapakmulah yang membawa gerombolan bandit menyerbu ke rumah kami, 28 jiwa tua muda dicacah hancur luluh, berani kau memfitnah pihak kami malah."
Kaget dan heran Cu Jing mendengar caci-maki dan saling tuduh ini, ia membatin.
"Kedua-nya bilang ayah mereka membawa gerombolan dan main sergap di malam hari, bukan mustahil dalam persoalan ini ada latar belakangnya?"
Terdengar Ban Jin-cun berjingkrak gusar, makinya.
"Kau kunyuk. kau yang main tuduh dan memfitnah."
"Perang mulut tiada gunanya, lihat pedangku"
Bentak Kho Kehhoa.
"Sret", pedangnya yang pan-jang segera menusuk.
"Serangan bagus."
Seru Ban Jin-cun, segera ia balas menyerang.
Musuh besar berhadapan, mata sama membara, maka serangan kedua pihak sama2 ganas tanpa kenal ampun lagi, terdengar rentetan bunyi benturan nyaring, keduanya sama mengembangkan ilmu pedang warisan keluarga masing2 dan saling labrak dengan sengit.
Menyaksikan pertarungan sengit ini, berkerut kening Cu Jing, teriaknya keras.
"Hai, kalian lekas berhenti, dengarkan omonganku."
Tapi kedua pemuda ini sama berdarah panas, sudah kesetanan lagi oleh dendam keluarga yang tidak terlampias, mereka tidak hiraukan seruan Cu Jing, malah gerakan pedang mereka semakin gencar untuk merobohkan musuh.
Melihat seruannya diremehkan, Cu Jing naik pitam, dengusnya.
"Patut mampus, kalian tidak mau dengar nasihatku, boleh silakan saling ganyang, mati hidup kalian memangnya tiada sangkut pautnya dengan aku"
Karena marah, dia putar badan hendak tinggal pergi. Tiba2 seseorang seperti berbisik di pinggir telinganya.
"Kau kemarisebagai penengah, belummemisah kenapaditinggalpergi"
Cu Jing tertegun, dia berpaling dan Celingukan, tapi tiada bayangan orang lain, keruan ia bingung dan heran-Kalau kuping sendiri salah dengar, tapi jelas ada orang berbisik di pinggir telinganya, takmungkinsalah lagi.
Tengah dia celingukan dengan bingung, suara itu berkata pula "Hai, Buyung, kenapa melongo saja?
Tidak lekas kau maju memisah, satudiantara mereka mungkin bisa mati konyol."
Kali ini Cu Jing mendengar jelas, orang di belakangnya.
Dengan sigap dia membalik badan, tapi tetap tidak melihat bayangan seorangpun, keruan ia terkejut, jelas orang itu bicara di belakangnya, kenapa tidak kelihatan, dengan merinding dia bertanya.
"Siapakah kau?"
"Aku ya aku,"
Suara itu berbisik pula.
"Masa kau tidak punya she dan nama?"
Ta-nya Cu Jing.
"Betul, aku orang tua memang tidak punya she dan nama,"
Sahut suara itu dengan tertawa. Di kala orang bicara, dengan gerakan cepat Cu Jing membalik badan, tapi tetap tidak melihat bayangan orang. Malah suara orang berkumandang di telinganya.
"Kau tidak usah berpaling, umpama kau putar2 sampai pusing tujuh keliling juga tidak akan bisa melihat aku orang tua."
"Memangnya kau setan"
Seru Cu Jing. Tanpa terasa dia merinding.
"Di siang hari bolong mana ada setan"
Seru suara itu.
"Aku orang tua ini adalah dewa hidup sungguhan, kau percaya tidak?"
CuJinggeleng kepala, katanya."Akutidakpercaya."
"Tidakpercayatidak jadisoal, lekas melerai mereka."
"Mereka lagi berhantam sengit, bagaimana aku bisa memisahnya?"
"Kau tidak usah kuatir, loloslah pedangmu, gunakan jurus Thianto-tiong-ho terus terjang ke tengah mereka, aku akan membantumu secara diam2."
Segera bisikan suara itupun menerangkan lebih lanjut.
"Thian-totiang-ho adalah sejurus ilmu pedang dari Bu-tong-pay, kau bisa mainkan tidak? Yaitu pedang tusuk lurus ke depan, lalu ujung pedang mendongak keatasterusdi sendalsajabegitu."
"segampang itu?"
Seru Cu Jing tidak percaya.
"Kan maksudmu memisah? sudah tentu semakin gampang semakin bermanfaat. Ai, buyung, jangan banyak bertanya, cukup asalkaubergayadanberpura2saja, biarakuyang membantumu."
"Umpama berhasil memisah mereka, apakah mereka mau di lerai?"
Tanya Cu Jing.
"Setelah mereka kau pisah, bekerjalah lebih lanjut menurut petunjukku."
Dengan seksama Cu Jing dengarkan suara orang, terasa serak dan rendah berat, ia tahu pasti seorang cianpwe kosen yang aneh tabiatnya, maka dia manggut2, katanya.
"Baiklah, aku akan bekerja menurut petunjukmu "
Setelah berpikir lalu dia bertanya pula "Apakahnanti kautidakakan unjukkan dirimu?"
"Kau Buyung ini mewakilkan aku bekerja kan sudah cukup, muncul atau tidak bagiku sama saja. Nah, lekas maju, ingat jangan pedulikan jurus serangan apapun yang tengah mereka lancarkan, kau tetap gunakan jurus Thian-to-tiong-ho saja."
Dengan heran dan penuh tanda tanya Cu Jing keluarkan pedang terus mendekati gelanggang.
Waktu itu pertempuran Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa sudah mencapai babak genting menentukan, pedang mereka dengan berlomba kecepatan merobohkan lawan, lingkaran sinar pedang laksana kelebat kilat menyamber.
Ui-san kiam-hoat mengutamakan ketenangan dan kemantapan-Sebaliknya Liok-hap-kiam dari keluarga Kho yang tersohor mengutamakan tusukan dan menutuk.
oleh karena itu murid didiknya semua menggunakan batang pedang yang tipis dan panjang, begitu ilmu pedang dikembangkan, bagai bintik2 sinar perak bertaburan.
Konon kalau Liok-hap-kiam-hoat diyakinkan sampai taraf tertinggi, sejurus gerakan pedang sekaligus dapat menusuk telak 36 Hiat-to musuh, maka dapatlah dibayangkan betapa cepat gerak serangannya.
Kira2 tujuh kaki di luar gelanggang pertempuran Cu Jing sudah merasa silau dan tersampuk oleh angin kencang yang membendung langkahnya, bayangan orang dan sinar pedang sukar dia bedakan, sesaat ia berdiri melongo tak tahu apa yang harus dia kerjakan?
Baru saja ia merandek, suara tadi lantas mendesaknya.
"Sudah kubilang jangan kau pedulikan mereka. Nah, bersiaplah, angkat pedangmu dan cungkil." -Begitu suara orang masuk telinga, tanpa kuasa tangan kanan Cu Jing yang memegang pedang tiba2 bergerak terusmenyongkelke depan-Kalau dituturkan memang aneh, dengan serampangan pedangnya menyongkel, tapi justru menimbulkan kejadian aneh. Terdengar "trang-tring"
Dua kali, kedua batang pedang Ban Jin cun dan Kho Keh-hoa yang sedang saling labrak dengan sengit itu lengket seperi tersedot oleh besi sembrani, semuanya menindih pada ujung pedang Cu Jing tanpa bisa bergeming lagi.
Keruan kedua orang sama terbelalak kaget, mereka kerahkan tenaga dan menarik sekuatnya, tapi pedang mereka seperti melengketdiujungpedangCu Jing, takkuasa mereka menariknya.
Merah mata Ban Jin-cun, serunya.
"Cu-heng, aku takkan hidup berjajardengandia, lebihbaikjangan kau turutcampur."
Kho Keh-hoa juga menggerung murka, teriaknya..
"Apa2an maksud saudara ini?"
Pada saat itulah, suara tadi mengiang pula di telinga Cu Jing.
"Buyung, sekarang beritahu mereka bahwa atas perintah gurumu, kaudisuruhmeleraiperkelahian mereka."
Cu Jing merasa heran, batinnya.
"Masa kedua orang ini juga tidak melihat bahwa di belakangku ada orang?"
Maka sambil menuding pedangnya ia berkata.
"Kalian harap berhenti dulu, atas perintah guru cayhe sengaja kemari untuk melerai permusuhan keluarga kalian."
"Cu-heng,"
Kata Ban Jin-cun.
"Sakit hati kematian orang tua setinggi langit, ini bukan permusuhan biasa, buat apa Cu-heng mencampuri urusan ini"
"Betul,"jengek Kho Keh-hoa.
"aku pantang berdiri sejajar di dunia ini dengan dia, kalau bukan aku yang gugur, biar dia yang mampus, tak usah orang lain melerai segala."
Cu Jing tersenyum, katanya.
"Kalian sama2 menuduh ayah lawan menyerbu rumah kalian serta membunuh segenap anggota keluarganya, kukira dalamperistiwa ini adalatarbelakang....."
Tiba2 suara tadi terkekeh dipinggir telinganya, katanya.
"Tepat sekali ucapanmu Buyung."
"Memang betul omongan Cu-heng, ayahku almarhum sudah meninggal setahun yang lalu karena sakit, mana mungkin memimpin orang menyerbu ke Ciok-bun segala, keparat ini hanya membual belaka."
"Kaulah yang membuat,"
Maki Kho Keh-hoa.
"Sudah terang bapakmu membawa gerombolan penjahat menyergap rumah kami, seluruh keluargaku tiada yang ketinggalan hidup, ayahku jelas meninggal di bawah pedang bangsat she Ban, mana mungkin membawa orangnya menyerbu ke Ui-san, jelas kau memfitnah dan cari alasan belaka untuk menista pihak kami, aku bersumpah takkan hidup berdampingan dengan keluarga Ban kalian-Keparat, lihat pukulan"
Karena pedang mereka lengket dengan pedang Cu Jing dan tak kuat ditarik kembali, saking murka Kho Keh-hoa lantas ayun kepalan menggenjot ke muka Ban Jin-cun, Sudah tentu Ban Jin-cun tak mau kalah, jengeknya.
"Memangnya aku takut padamu?"
Iapun ayun tangan kiri balas menyerang.
Jarak kedua orang cukup dekat, maka kedua pihak lantas beradu pukulan-Tapi begitu kepalan saling sentuh, seketika mereka merasakan sesuatu yang ganjil, hakekatnya kepalan sendiri tidak bersentuhan dengan kepalan lawan, di tengah antara mereka seolah2 ada lapisan lunak yang tidak kelihatan membendung pukulan mereka, musuh jelas terlihat di depan mata, tapi pukulan sukar mencapai sasaran.
Hati mereka sama2 mencelos, pikirnya.
"Entah siapa orang she cu ini? Usianya masih begini muda, tapi membekal Lwekang begini tinggi."
Sudah tentu Cu Jing juga menyaksikan dengan jelas, dia tahu bahwa tokoh di belakang dirinya yang memisah pukulan kedua orang, dan anehnya mereka berdiri di samping dirinya, kenapa tidak melihat tokoh yang ada dibelakangnya.
Maka didengarnya suara tadi berkata pula.
"Nah, sekarang boleh kau turunkan pedangmu, katakan urusan ada pangkal ujungnya, utang bisa ditagih, kalau mau berkelahi juga boleh setelah terang persoalannya,"
"Harap kalian berhenti dulu,"
Kata Cu Jing menurut petunjuk itu.
"utang jiwa bayar jiwa, utang uang harus ditagih, kalau mau berkelahi boleh juga, tapi urusan harus dibikin terang lebih dulu."
Lalu pelan2 dia turunkan pedangnya.
Begitu pedangnya ia tarik, kedua orang segera merasa longgar, cepat mundur seraya menurunkan pedang .
Kata Ban Jin-cun-"cara bagaimana Cu-heng hendak membikin terang urusan kami?"
Belum Cu Jing menjawab, suara tadi sudah berkata.
"Suruh mereka menceritakan kejadian yang menimpa keluarga mereka masing2?"
Cu Jing lantas berkata.
"Siaute kemari atas perintah guru, soalnya urusan kalian terlalu janggal, banyak liku2 yang mencurigakan, sudikah kalian menuturkan dulu peristiwa yang menimpa keluarga kalian masing2?"
Terpaksa kedua orang memasukkan pedang kedalam sarung sertamundur lagiselangkah. Ban Jin-cun lantas berkata.
"Boleh cu-heng suruh dia men-jelaskan lebih dulu."
Kho Keh-hoa menyeringai dingin.
"Boleh saja, kenyataan terpampangdidepanmata, memangnyakaudapatmungkir?"
"Marilahkitadudukdisini,"
AjakCuJing. Ban Jin-Cun dan Kho Keh-hoa menurut, mereka bersimpuh di atas rumput tanpa bicara. Terdengar suara tadi membisiki pula.
"Suruhlah bocah she Kho tuturkan pengalamannya."
"Kho-heng,"
Kata Cu Jing segera.
"boleh kau bercerita lebih dulu."
Terpancar sinar beringas dari mata Kho Keh-hoa menatap Ban Jin-cun, katanya penuh kebencian.
"Pada suatu malam kira2 setengah bulan yang lalu, baru kentongan pertama, tanpa sengaja pamanku kedua melihat bayangan puluhan orang bergerak di bawah gunung dan berlari2 naik ke puncak, waktu itu jaraknya masih beberapa li dari rumah kami, paman tidak tahu pendatang kawan atau lawan? cepat ia memberitahukan kepada ayah disamping memberi peringatan kepada semua orang untuk bersiaga. Di bawah pimpinan paman sendiri bersama beberapa centeng sembunyi di depan rumah, kami ingin tahu siapakah pendatang itu ....."
Sekaligus bicara sampai disini baru ia berganti napas.
"malam itu kebetulan tanggal 14, bulan terang benderang, baru saja aku bersama paman dan lain menyembunyikan diri, puluhan orang itupun sudah tiba, tampak yang berlari paling depan adalah seorang laki2 tegap bermuka merah berjambang hitam, mengenakan baju hijau, menenteng pedang beronce kuning, begitu melihat orang ini paman lantas bersuara heran, cepat dia melompat keluar menyongsong, serunya. Ban bengcu malam2 berkunjung, Siaute Kho cin-sing terlambat menyambut, harap dimaafkan-Dari seruan paman itu aku baru tahu bahwa pendatang adalah Thok-tah-thian-ong Ban Tin-gak. yang dulu pernah menjabat Bu-lim Bengcu, maka akupun melompat keluar ikut menyambut"
Belum orang selesai bicara tiba2 Ban Jin-cun menyengek.
"Kukira tidak benar, ayahku sudah meninggal setahun yang lalu, mana mungkin orang yang sudah mati setahun lamanya muncul di cioksbun?"
"Apa yang kututurkan adalah kejadian yang nyata,"
Teriak Kho Keh-hoa gusar.
"Memangnya aku mengarang cerita bohong?"
Terdengar suara tadi berkata.
"Suruhlah bo-cah she Ban itu tidak menyela lagi, dengarkan dulu ceritabocahshe Kho sampaiselesai."
Cu Jing lantas berkata.
"Kalian tidak usah ribut, di sinilah kejanggalan yang kumaksud tadi, sementara harap saudara Ban bersabar, dengarkan dulu cerita saudara Kho sampai habis."
Kho Keh-hoa meneruskan ceritanya.
"Melihat pamanku, Ban Tingak manggut2 sambil balas hormat, tanyanya. Kho ji-heng jangan sungkan, apakah kakakmu di rumah? Paman mengangguk sambil berpesan padaku. Keh-hoa, lekas lapor pada Toa-ko, katakan Banbengcu dari Ui-san datang. Belum lagi aku sempat mengiakan Ban Tin-gak telah berkata pula dengan nada berat. Tak usahlah. Belum habis dia bicara, mendadak ia melolos pedang terus menusuk paman, karena sedikitpun tidak bersiaga dan tidak menduga, kontan paman tertusuk mati ...."
"Waktu itu saudara Kho kan berdiri di belakang pamanmu, kau tidaksempat turun tangan?"tanya Cu Jing.
"Waktu paman bicara padaku, aku sudah melangkah setindak. jadi berdiri di samping paman, tapi tusukan Ban Tin-gak memang amat cepat, apalagi kejadian teramat mendadak dan di luar dugaan, baru saja aku mendengar suara pedang terlolos, sinar pedang sudah berkelebat laksana kilat, tahu2 pamanpun roboh mandi darah, keruan kagetku bukan main, waktu aku mendelik ke arah Ban Tingak, bangsat tua itu menyeringai, kata-nya. Lohu mengampuni jiwamu, supaya keluarga Kho kalian tidak putus turunan-Menyusul telapak tangan terayun ke arahku ...."
"Tanpa membalassaudaraKbo lantasterluka?"tanyaCuJing. Gemeretak gigi Kho Keh-hoa.
"Entah gerakan apa yang digunakan bangsat tua itu? Hanya terasa dadaku sepeiti dipukul godam, badan lantas mencelat tiga tombak jauhnya, pikiran masih sadar, tapi tenaga habis badan lunglai, Lwekang dan kepandaianku telah punah dalam sekali pukul tadi, maka dengan mata terbelalak aku hanya bisa mengawasi bangsat tua itu pimpin anak buahnya menerjang ke dalam rumah, keadaan menjadi kacau-balau, suara benturan senjata berkumandang, sungguh mengenaskan 28 jiwa penghuni perkampungan kami itu tiada satupun yang ketinggalan hidup oleh sergapan mendadak ini, ayah-bunda mati tertusuk pedang..."
Terdengar suara tadi berkata.
"Suruhlah dia berpikir cermat, adakah bagian ceritanya yang ketinggalan?"
Cu Jing segera menurut, tanyanya.
"coba saudara Kho pikir lagi lebih seksama, adakah kejadian lain yang terlepas dari ceritamu tadi."
Kho Keh-hoa berpikir sejenak. katanya.
"Tiada lagi, kerja gerombolan itu cukup rapi, di antara 28 korban yang meninggal, kecuali ayah bundaku yang terbunuh oleh pedang, yang lain terluka oleh berbagai macam senjata. ada senjata rahasia beracun lagi, tapi tiada satupun senjata rahasia yang kutemukan, tiada pula tanda2 lain yang mencurigakan."
Sampai di sini, tak tertahankan lagi air matanya bercucuran, katanya sambil menuding Ban Jin-cun-"Dendam kesumat sedalam lautan ini, kaulah yang harus melunasinya ."
Kuatir kedua orang timbul keributan lagi, lekas Cu Jing membujuk.
"Harap Kho-heng bersabar sebentar, sekarang giliran Ban-heng menceritakan pengalamannya."
"Akhir musim semi tahun yang lalu,"
Demikian Ban Jin-cun mengawali ceritanya.
"ayahku keluar menyambangi sahabat, kira2 setengah bulan kemudian beliau pulang diantar seorang paman angkatku, katanya dibokong orang, waktu pulang sampai rumah sudah tak mampu bicara, akhirnya beliau meninggal karena tidak terobati."
Terdengar suara tadi berkata kepada Cu Jing "Tanyakan Tok-tahthian-ong dibokong oleh siapa, di mana letak luka2nya?"
Cu Jing lantas bertanya.
"Entah siapakah yang melukai ayahmu, di bagian mana letak luka2nya?"
"Setiba di rumah ayah sudah tak bisa bicara,"
Demikian tutur Ban Jin-cun lebih lanjut,"
Menurut paman, ayah dibokong orang pada suatu pegunungan, setelah beliau terluka dan lukanya cukup parah, tak mungkin buru2 pulang ke rumah, maka beliau ber-lari ke Kimkeh-ce, tempat kediaman pamanku itu, dia hanya bilang terkena pukulan Bu-sing-ciang, jiwanya pasti mangkat dalam tujuh hari, beliau minta paman suka melindungi keluarganya ........."
"Siapa paman angkat yang Ban-heng maksudkan?"
Tanya Cu Jing.
"Pamanku she cek bernama Seng-jiang, kenalan turun temurun, sejak kecil pamanku itu sudah angkat kakekku sebagai ayah angkat, pernah dia menjabat suatu pangkat dalam pemerintahan, sekarang diasudahpensiundan menikmatiharituanyadirumah."
Terdengar suara orang tadi tidak sabar lagi, dia mendesak.
"Suruh dia lekas tuturkan persoalannya, aku masih ada urusan lain-"
"Kapankah keluar Ban-heng mengalami sergapan musuh?"
Tanya Cu Jing segera.
"Padatanggal16 malam,"sahut BanJin-cun. Kho Keh hoa segera menjengek.
"Keluargaku mengalami petaka pada tanggal 14 malam, Jadi ayahku sudah meninggal dua hari lamanya, bagaimana mungkin beliau membawa orang menyerbu ke Ui-san membunuh keluargamu?"
Ban Jin-cun tidak hiraukan ucapan, orang tuturnya lebih lanjut.
"Sejak ayah meninggal, ibu sangat sedih dan menangis terus menerus, akhirnya beliau jatuh sakit dan tak bangun lagi, malam itu kira2 baru lewat kentongan pertama, baru saja aku keluar dari kamar ibu hendak kembali ke kamarku, mendadak kudangar suara ribut dan bentakan orang ramai serta benturan senjata, waktu aku memburu keluar, tampak puluhan laki2 berkerudung sedang lari kian kemari, melihat orang lantas bunuh, banyak korban sudah berguguran, gerombolan itu semua berkepandaian tinggi, cara turun tangannya juga amat kejam.
"Liok-siok (paman keenam) Lui-kong (aki petir) Ban Liok-jay tampak sedang berhantam dengan seorang laki2 berjambang dan berpedang, kudengar paman mencaci dengan murka. Kho cin-hoan, keluarga Ban kami ada permusuhan apa dengan Liok-hap-bun kalian? Tanpa hiraukan peraturan Kangouw malam2 kau bawa gerombolan penjahat menyerbu kemari, membantai keluarga kami ......"
"Mungkin dia sedang berhantam dengan setan,"
Ejek Kho Kehhoa. Terdengar suara tadi berkata.
"Tanyakan, apakah hanya Liok-hap-kiam Kho cin-hoan saja yang tidak berkerudung?"
Cu Jing lantas tanya.
"Ban-heng melihat jelas, di antara sekian banyak . gerombolan berbaju hitam itu, hanya Liok-hap-kiam Kho cin-hoan saja yang tidakberkedok?"
"Ya, dia tidak memakai kerudung."
"Suruhdia melanjutkan,"pintasuaratadi.
"Akhirnya bagaimana""
Tanya Cu Jing segera.
"Sudah tentu aku amat murka,"
Tutur Ban Jin-cun.
"waktu aku melolos pedang, mendadak kudengar seorang membentak disampingku, robohlah kau."
Batok kepalaku seperti ditempeleng sekali, kontan aku jatuh semaput, waktu aku siuman kembali hari sudah terang tanah, kawanan penjahat sudah tak kelihatan bayangannya, tapi anehnya setelah semaput setengah malaman, waktu siuman, aku tidak kurang suatu apa2, sampai sekarang aku masih tak habis mengerti, kenapa orang itu tidak membunuhku?
Sedang seluruh penghuni rumahku semuanya mati dalam keadaan yang mengenaskan.
cepat aku lari ke kamar ibu, kedua pelayan pribadi ibu terbunuh dengan senjata rahasia beracun dan ibuku ...
Menyinggung ibunya, tak tertahan air mata bercucuran saking sedih, tuturnya lebih lanjut.
"Beliaupun rebah kaku di atas ranjang, darah hitam meleleh dari pundak kirinya, jelas beliaupun terbunuh oleh senjata beracun, tapi tak kutemukan senjata rahasia apapun . ... akhirnya setelah pikiran agak tenang baru kudapati jari tangan kanan ibu menggenggam kencang, ternyata dalam telapak tangannya menggenggamsebuah senjata rahasia."
Tak tahan Kho Keh-hoa menyela.
"Liok-hap-kiam selamanya tak pernah memakai senjata rahasia, apalagi beracun, entah senjata rahasia macam apakah itu?"
"Suatu benda berbentuk bintang sebesar biji melinjo, berwarna hitam legam."
Suara tadi berbunyi pula di telinga Cu Jing.
"Tanyakan apa dia membawa senjata rahasia itu, suruh dia keluarkan supaya kulihat."
"Entah senjata rahasia itu Ban-heng bawa atau tidak sekarang?"
Tanya Cu Jing.
"Selalu kubawa ke manapunaku pergi,"sahut BanJin-cun.
"Bolehkah Ban-heng perlihatkan padaku?"
Tanya Cu Jing.
"Sudah tentu boleh,"
Ujar Ban Jin-cun-Lalu di merogoh kantong mengeluarkan sebuah buntalan kecil.
Pada saat itulah, mendadak bayangan seseorang laksana burung elang menukik dari angkasa meluncur turun cepat dan hinggap di depan Ban Jin cun, di mana sinar berkelebat, sebatang pedang tipis panjang tahu2 menyongkel ke depan, maka buntalan kain di tangan Ban Jin-cun seketika mencelat ke atas, sekali samber orang itu menangkapnya dengan tangan lain, berbareng kedua kaki menjejak tanah, tubuhnya mencelat pula ke udara.
Kejadian ini terlalu mendadak, gerakan orang-pun teramat cepat dan tangkas lagi, hakikatnya tiga anak muda itu tidak melihat jelas bayangan siapa orang tadi dan tahu2 buntalan ditangan Ban Jin-cun sudah direbut orang.
Sudah tentu Ban Jin cun yang paling kaget, cepat ia membentak seraya berdiri, baru saja dia hendak mengudak.
tiba2 dilihatnya bayangan orang yang sudah melambung ke udara itu berjumpalitan beberapa kali di atas terus melayang turun pula dan "bluk",jatuh dengan keras di tanah.
Baru sekarang mereka bertiga sempat melihat jelas orang itu berpakaian hitam, bertubuh tinggi kurus, wajahnya kuning, gerak-geriknya gesit, dengan tangkas dia melejit bangun terus hendak melarikan diri pula, tapi baru saja dia lari beberapa tindak, mendadak badannya bergetar terus berhenti dan mematung kaku di tempatnya.
Sudah tentu Cu Jing bertiga menyaksikan dengan melongo keheranan.
Mendadak terdengar suara serak tua bergelak tertawa.
katanya.
"Dihadapan aku orang tua, dengan sedikit kepandaianmu ini berani kau bertingkah?" -Suara ini bergema seperti berkumandang dari angkasa, tapi seperti juga bicara di samping mereka bertiga, keruan Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa melongo kaget. tanpa janji mereka celingukan kian kemari, tapi mana ada bayangan orang? Cu Jing maklum Hiat-to laki2 kurus baju hitam ini terang ditutuk oleh orang tua yang sejak tadi bicara dengan dirinya itu, diam2 ia kaget dan kagum luar biasa, bayangan orang tua ini tidak kelihatan, entah dengan cara apa dia menundukkan orang berbaju hitam ini? . Terdengar orang berbaju hitam mencaci maki dengan beringas.
"Bangsat tua, siapa kau? Main sembunyi, terhitung orang gagah macam apa? Memangnya kau tidak cari tahu siapa tuan besarmu ini"
Suara serak tua itu tergelak2, ujarnya.
"Kau bocah ini belum setimpal tanya siapa aku orang tua ini. Tapi berani kau kurang ajar padaku, maka kau harus kuhukum. Nah, sekarang gamparlah mulutmu sendiri"
Sungguh aneh, mendadak si baju hitam angkat kedua tangan sendiri.
"Plak-plok,"
Berulang kali ia benar2 menggampar mukanya sendiri.
Cu Jing bertiga yakin si baju hitam terang tak rela menggampar muka sendiri, sorot matanya tampak menampilkan rasa kebencian, tapi juga jeri dan tak berani bersuara lagi.
Keruan ketiga anak muda yang menyaksikan itu sama tertegun.
Terdengar suara serak itu berkata "Nah, urusan kedua keluarga kalian akupun tidak perlu banyak mulut, kalian tidak perlu saling bunuh pula, sebab musabab peristiwa yang menimpa keluarga kalian boleh tanyakan pada kunyuk hitam ini, aku orang tua hendak pergi."
Ban Jin cun dan Kho Keh-hoa menengadah ke atas, tanyanya dengan hormat.
"Terima kasih atas petunjuk Locianpwe, mohon tanya siapakah gelaran engkau orang tua yang mulia?"
Tapi sekelilingnya sunyi senyap. kiranya cian-pwe kosen yang terdengar suara tapi tak terlihat bayangannya itu sudah pergi entah ke mana. Ban Jin-cun lantas menjura kepada Kho Keh-hoa, katanya.
"Khoheng, perihal permusuhan keluarga kita, berkat petunjuk Locianpwe itu, bukan saja telah menghimpas kesalah pahaman kita berdua, beliaupun telah menawan seorang musuh, pada dirinyalah kita harus menuntut balas dan menyelidiki siapa gerangan biang keladi darisemuapetakayang menimpa keluarga kita ini."
"Apa yang dikatakan Ban-heng memang benar,"
Ujar Kho Kehhoa.
Mereka lantas menghampiri si baju hitam, Ban Jin-cun merogoh kantong orang mengambil balik buntalan kainnya tadi dan dibuka, isinya memang bendahitamberbentukbintangsebesarbiji melinjo."
Haru dan pedih hati Ban Jin-cun, katanya berlinang air mata.
"Silakan periksa Kho-heng, inilah senjata rahasia yang kuperoleh daritangan ibuku.."
"Simpanlah dulu saudara Ban,"
Kata Kho Keh-hoa.
"tawanan hidup ada di depan mata, memang-nya berani dia tidak mengaku."
Ban Jin-cun segera bungkus lagi senjata rahasia itu dan disimpan dalam baju. Dengan ujung pedangnya Kho Keh hoa ancam tenggorokan orang berbaju hitam, desisnya dengan penuh dendam.
"Kau sudah berada di tangan kami, mau hidup atau ingin mati, terserah padamu mau tidak menjawab pertanyaan kami."
Waktu mereka mendekat, orang kurus berbaju hitam lantas pejamkan mata tanpa bersuara sekecap-pun Dingin suara Ban Jin cun-"Apa yang dikatakan saudara Kho sudah kau dengar bukan?
Yang ingin kami cari adalah biang keladinya, asaikan kau terangkan siapa perencana peristiwa ini, kamiakan ampunijiwamu."
Orang itu tetap berdiri tegak, bibirnya tetap terkancing rapat, seolah2 buta dan tuli, anggap tidak dengar semua pertanyaan mereka...
Kho Keh-hoa naik pitam, ujung pedangnya yang mengancam tenggorokannya bergetar, bentaknya.
"Keparat, dengar tidak pertanyaan kami?"
Betapa runcing ujung pedangnya itu, sedikit menggunakan tenaga saja kulit daging teng gorokan si baju hitam sudahterluka, tampakdarahhitammembasahi dada.
Manusia umumnya berdarah merah, tapi laki2 kurus berbaju hitam ternyata mengeluarkan darah warna hitam, darah hitam kental seperti tinta.
Tergerak hati Ban Jin-cun, katanya gugup.
"Kho-heng, agak ganjil keadaannya"
Kho Keh-hoa melongo, tanyanya.
"Apanya yang ganjil?"
Hanya beberapa patah kata bicara, tertampak darah kental hitam yang mengucur dari tenggorokan laki2 baju hitam itu semakin deras membasahi sekujur badan, segera hidung mereka mengendus bau busuk.
Sebetulnya tenggorokannya hanya tertusuk sedikit, tapi dalam sekejap luka itu sudah melebar dan membusuk.
darah yang meleleh keluar semakin banyak, bau busuk semakin keras dan menjalar ke sekujur badan.
Ban Jin-cun jadi curiga, tanyanya.
"Khoheng, pedangmu kau lumuriracun?"
Kho Keh-hoa sendiri terkesima sahutnya gugup.
"Belum pernah kulumuri racun pedangku ini ....."
Sembari bicara dia angkat pedangnya, ternyata ujung pedangnya telah berwarna hitam legam.
seketika ia bersuara kaget dan heran-Sudah tentu Ban Jin-cun juga kaget dan heran pula, mendadak tergerak pikirannya, tanpa bicara dia angkat pedang dan menggores pundak serta lengan laki2 baju hitam, kembali darah hitam meleleh keluar.
Ternyata ujung pedang Ban Jin-cun juga segera berubah hitam legam, mirip dengan ujung pedang Kho Keh-hoa, seperti pernah direndam dalam racun-Tak kepalang kagetnya, serunya.
"Racun yang jahat sekali"
"Memangnya dia sudah mampus?"
Tanya Kho Keh-hoa.
"Ya, mungkin tahu tiada harapan hidup, dia telan racun yang keras sekali bekerjanya."
Kho Keh-hoa menghela napas, katanya.
"Dia sudah mati, tak mungkin dimintai keterangan lagi."
"Dia meninggalkan sebatang pedang,"
Ujar Ban Jin-cun.
"tidak sukar mencari tahu asal usul-nya dari senjatanya ini."
Tiba2 mulutnya bersuara seperti ingat apa2, katanya pula.
"Saudara cu kemari atas perintah gurunya untuk melerai permusuhan kita, kukira gurunyapastitahusiapa musuh kitabersama?"
Kho Keh-hoa membenarkan, berbareng mereka menoleh ke sana.
Selama beberapa saat itu Cu Jing tidak ikut kemari, dikiranya dia sudah pergi, tak tahunya dia sedang berdiri menengadah sambil melamun, entah apa yang sedang dipikirkan.
Tempat di mana dia berdiri jaraknya hanya dua tombak dengan Ban dan Kho berdua, jadi badan laki2 kurus berbaju .hitam yang mulai membusuk itupun tidak dilihatnya.
Memang dalam sekejap ini kulit daging si baju hitam bagian atas sudah mulai jadi cairan darah dan membusuk dengan cepat sekali, tulangnya ====================================
Jilid 10 Halaman 55/58 Hilang ==================================== --rangan tangan-Soalnya gerakan Jiau-kau-sek ini terlalu gampang, sekali belajar siapapun pasti bisa, selanjutnya dia ulangi jurus kedua Bak-kau-sek.
tangan kiri pelan2 terayun ringan ke belakang, sudah tentu gerakan ini dia sudah mahir sekali.
Setelah beberapa kali dia ulangi kedua jurus ini, terasa tiada sesuatu yang istimewa dalam ke-dua tipu silat ini?
Ia heran kenapa si orang tua berpesan sedemikian serius padanya, nadanya malah seolah2 bila dirinya berhasil meyakinkan kedua jurus ini takkan mendapatkan tandingan di kolong langit ini.
Tapi Cu Jing yakin si orang tua tak mungkin berdusta, bisa jadi kedua jurus yang kelihatan sangat sederhana ini mengandang intisari ilmu silat kelas tinggi yang tersembunyi?
Mengingat hal ini, tak tertahan dia ulangi berlatih sekali lagi kedua jurus Jiau-kau-sek dan Bak-kau-sektadi.
Aneh juga, semakin merasa gerakannya sederhana, semakin lancar dan enak dilatih, tapi setelah diselami, kenyataan tidak segampang dugaan semula.
Tapi hanya sampai taraf sekian saja, yang kalau ditanya di mana letak gampangnya gerakan jurus2 pemukul anjing itu ia sendiripun tak mampu memberi penjelasan-Cu Jing memang bukan orang bodoh, otaknya encer, dari kedua gerakan sederhana yang sebenarnya sukar diselami ini dia semakin yakin dugaannya pasti tidak meleset, bahwa di dalam kedua jurus ilmu silat yang sederhana ini tersembunyi ilmu silat taraf tinggi.
Sesaatdia menengadah, melongo mengawasilangit.
Begitulah, waktu Cu Jing memburu kesana, sementara itu yang berbaju hitam sudah tinggal tulang yang berwarna hitam, berdiri tegak dan seram kelihatannya, keruan dia bergidik serunya kaget.
"kenapa dia?"
"Mati minum racun,"
Kata Kho Keh-hoa. Ban Jin-cun sedang ambil pedang milik laki2 berbaju hitam tadi katanya.
"Pedang inipun dilumuri racun, racunnya bukan sembarang racun, belum banyak orang2 Kangouw ya memakai racun, seperti ini, makatidaksulituntuk menyelidikiasal-usulnya."
"Waktu ibunda saudara Ban meninggal, tangannya menggengam senjata rahasia yang dilumuri racun juga, dalam Bu-lim yang terkenal suka memakai racun hanya keluarga Tong di Sujwan, marilah kita meluruk ke Sujwansaja,"ajak Kho Keh-hoa. Karena badan sudah luluh menjadi cairan darah hitam. maka sarung pedang si baju hitam yang semula tergantung di pinggangnya ini terjatuh di tanah dan berlumuran darah kotor, Ban Jin-cun tidak berani mengambilnya, maka dia tetap genggam pedang milik si baju hitam, katanya sambil memberi hormat pada Cu Jing.
"Berkat usaha saudara cu yang mulia dan bijaksana sehingga permusuhan keluarga kami berdua tidak sampai berlarut2 menimbulkan korban pula, bangsat inipun sudah mati minum racun, tiada keterangan yang dapat kita peroleh, oleh karena itu, kumohon Cu-heng suka menjelaskan satu hal"
"Ban-heng mau tanya soal apa?"
Jawah Cu Jing.
"Cu-heng kemari atas perintah guru untuk melerai permusuhan kedua keluarga kami, jadi mestinya tahu siapa sebetulnya musuh keluarga kamibukan?"
"Wah, maaf, aku justeru tidak tahu apa2,"
Ucap Cu Jing sambil menggeleng.
"Cu-heng mungkin tidak tahu, tapi gurumu pasti tahu, entah siapakah gelaran nama gurumu?"
Merah muka Cu Jing, karena tidak biasa berbohong, terpaksa ia berterus terang apa yang terjadi sebenarnya.
"Jadi Cu-heng juga tidak tahu siapa gerangan cianpwe kosen itu?"tanyaKhoKeh-hoa.CuJing mengiakansambilmenggeleng.
"Aku yakin beliau pasti tahu siapa musuh keluarga kami, tapi tiada harapan lagi untuk menemukan jejak orang tua ini,"
Demikian keluh Kho Keh-hoa.
"Menurut apa yang kutahu,"
Ujar Ban Jin-cun sesaat kemudian setelah merenung.
"banyak sekali tokoh2 kosen yang lihay dalam Bu-lim, tapi yang memiliki kepandaian sakti seperti orang tua itu hanya ada seorang saja, malah dari cara beliau campur tangan tadi, tak ubahnya seperti sepak terjang cianpwe kosen yang suka mengembara itu .... ..".
"Siapakah cianpwe kosen yang saudara Ban maksudkan?"
Tanya Kho Keh-hoa.
"Hoanjiuji lay,"sahutBanJin-cun.
"Betul,"
Tukas Kho Keh-hoa.
"cuma orang tua ini mirip naga yang hanya kelihatan eklornya dan menyembunyikan kepala, entah kemana saja dia pergi, cara bagaimana kita menemukan beliau?"
Cu Jing jarang berkelana di Kangouw, dia tidak tahu siapa Hoan jiuji-lay yangdibicarakanini, tapidia maluuntukbertanya.
"Di atas Pak-siam-san ada bersemayam seorang kosen bergetar Cu-ki-cu, dia amat apal terhadap segala peristiwa yang terjadi di Bulim, kejadian masa silam dan apa yang bakal terjadi pada masa yang akan datangpun dapat dia ramal dengan tepat, dari sini ke Pak-siam-san tidak jauh lagi, marilah kita ke sana dan tanya padanya, mungkin dari mulutnya kita bisa mendapat keterangan asal-usul racun dan senjata rahasia seperti bintang itu. Bagaimana pendapat Kho-heng?"
"Akupun pernah dengar nama Cu-ki-cu ini"
Ujar Kho Keh-hoa.
"konon sangat luas pengetahuannya dan tinggi ilmunya, mahir memecahkan segala kesulitan di dunia ini, tiada jeleknya kita mengadu untung dan tanya padanya."
Ban Jin-cun melirik ke arah Cu Jing, tanya-nya.
"Apakah Cuheng, ada minat ikut bersama kami ke Pak siam-san?"
"Aku masih punya urusan lain, maaf tak dapat mengiringi perjalanan kalian,"
Sahut Cu Jing.
"Baiklah kita berpisah di sini saja, semoga jaga diri baik2 dan selamat bertemu pula,"
Ujar Ban Jin-cun. Kho Keh-hoe juga menjura, katanya.
"Ber-hati2lah saudara cu."
Maka merekapun berpisah, Cu Jing sendiri tidak punya tujuan pasti, dia ingat si orang tua pernah bilang "kalau sempat pulang, nanti malam kita bertemu di Lam-pak-ho,"
Maka dia berkeputusan untuk menemui si orang tua misterius itu nanti malam di restoran Lam-pak ho.
Waktu itu sudah magrib, Cu Jing langsung kembali ke Lam-pak-ho mengambil kuda terus cari penginapan, dia memilih kamar yang terletakdiujungbelakang, tempatnyanyaman dansepi.
Setelah membersihkan badan, untuk membuang waktu, Cu Jing tutup pintu, seorang diri dia ulangi latihan kedua jurus Jiau kau-sek dan Bak-kau-sek itu, sekarang dia betul2 yakin, walau kedua jurus itu namanya aneh dan lucu, ternyata mengandung ilmu silat tingkat tinggi yang tiada tara-nya, maka kali ini dia betul2 tumplek seluruh perhatian untuk mengulang kembali, gerakannya kini jauh lebih lamban dan mantap.
Tak terduga setelah sekian lama ia mengulang beberapa kali, meski diketahui bahwa di balik gerakan sederhana itu mengandang intisari yang mendalam, tapi semakin dianggap tinggi dan mendalam kenyataan berbalik terasa sepele dan biasa saja, tiada tanda2 mukjijat yang dia temukan-Begitulah setelah dia latihan beberapa kali, keringat sudah gemerobyos baru dia menemukan letak rahasia sebenarnya dari kunci kesederhanaannya.
Yaitu jangan kau pandang kedua jurus sederhana ini begitu tinggi dan mujijat, semakin mujijat yang kau tafsirkan, maka kau akan mengerahkan hawa murni dan mengerahkan tenaga, gerakanpun jadi lamban, itu berarti permainanmu menjadi kaku dan kurang wajar, kurang variasi dan tiada perubahan-Tapi sebaliknya jika kau pandang kedua gerakan sederhana ini sebagai sangat gampang dan sepele saja, maka dengan mudah pula kau akan menguasai setiap gerak tipunya.
Dengan penemuannya ini, tidak kepalang senang hati Cu Jing, pikirnya.
"Setengah harian aku bersusah-payah, meraba sana sini, taktahunyabe-gini mudahdipecahkannya."
Hari sudah gelap.
pelayan datang membawakan makan malam, tapi Cu Jing menolaknya dengan alasan sudah janji makan di restoran dengan seorang kenalan-Cu Jing lantas bawa cit-sing-kiam dan keluar.
Sinar lampu sudah menerangi segenap pelosok kota, orang yang lalu lalang dijalan raya semakin ramai, lebih berjejal dari siang hari, banyak muda mudi yang pelesir dan berbelanja di toko2, tapi Cu Jing tiada minat melihat keramaian kota, langsung ia menuju ke Lam-pak-ho terus naik ke loteng tingkat dua Pelayan yang siang tadi melayani Cu Jing memilih meja dekat jendela, kali ini Cu Jing tidak mau banyak bicara, setelah memesan beberapa masakan dan melongok pemandangan jalan raya di bawah sana.
Pada saat dia melihat2 itulah mendadak didepan sebuah toko kain sana berdiri seorang berbaju hitam, orang itu tengah menengadah mengawasi ke arah dirinya.
Semula dia tidak ambil perhatian dan melengos kejurusan lain, tapi pikirannya tiba2 tergerak, dandanan dan muka si baju hitam ini mirip benar laki2 kurus, berbaju hitam yang mati ditanah lapang tadi siang itu, lekas dia melongok ke sana pula, tapi bayangan orang berbaju bitam itu sudah tiada lagi, entah ke mana?
Kebetulan pelayan menyuguhkan hidengan yang dia pesan-Dengan pejam mata Cu Jing coba menghirup seteguk arak.
Kiranya diabelumpernah minumarak.
baruhariini akancoba2 seorangdiri.
Tiba2 terdengar seorang bersenandang dengan suara seperti bambu pecah.
"Hwesio kere (miskin), kere Hwesio, tak punya batok tiada pondok. Tidak sembahyang, tidak menabuh genta, Telanjang kaki, kelana ke-mana2. jubah koyak untuk menahan angin kencang, demi membangun kelenteng bobrok. cari sedekah di rumah arak, bertemu dengan orang berjodoh (dermawan), daging arak harap menyuguh"
Menyusul di ujung tangga loteng lantas muncul pula seorang Hwesio kelilingan-Hwesio ini mengenakan kopiah rombeng, jubah kelabu yang dipakainyapun sudah bertambal sulam, tapi badannya gemuk putih, alisnya nan uban menjuntai panjang ke samping, kedua tangan terang kap didepan dada dengan cengar-cengir dia mondar-mandir di antara tetamu yang memenuhi meja makan, lalu katanya dengan suara lantang.
"Silakan, silakan, Hwesio kere berkelana di dunia fana, sebelum pulang ke alam baka, entah tuan dermawan mana yang berjodoh dengan sang Buddha, semoga dapat rejeki besar dan bernasib baik. Siancay, Siancay, omitohud"
Sembari mengoceh kakinya melangkah ke sana-sini, dan sepasang matanya berjelilatan kian-kemari.
Pada suatu meja, kebetulan dua orang tamu sedang saling dorong menyodorkan cangkir arak, Hwesio keretiba2 berhenti di sana, dengan kedua tangan dia jemput kedua cangkir arak itu sembari berkata dengan tawa lebar.
"Kalian tidak perlu sungkan, kedua cangkir arak ini biar aku Hwesio kere yang minum saja"
Satu tangan satu cangkir-ganti berganti dia tenggak habis isi kedua cangkir arak. Sudah tentu kedua tamu itu gusar, orang disebelah kiri menghardik murka.
"Hwesio jembel, apa2an kau ini?"
Si Hwesio kere tertawa lucu, katanya.
"Demi secangkir arak kalian tolak sana dan dorong sini hingga muka merah padam, Hwesio kere orang beribadah dan suka menolong sesama manusia, biarlah aku mewakili kalian minum arak ini, kan beres?"
Sembari bicara tahu2 tangannya, mencomot sepotong daging terus dijejal ke mulut. Tamu di sebelah kanan menggebrak gusar, bentaknya.
"Kenapa kau ambil makanan dengan tangan telanjang?"
"Setelah minum arak harus didorong dengan daging baru arak bisa turun ke perut."
Demikian kata Hwesio itu.
"Sedekah sepotong daging ini akan Hwesio kere bawa kedunia akhirat, sebagai sangu untuk menghadap sang Buddha, bukankah berarti kau telah berdarma bagi sesamanya, budi kebaikanmu akan dikenang sepanjang masa."
Habis berkata, dia terus melangkah pergi Kedua tamu itu hanya mencaci maki tanpa bisa berbuat apa2.
Hwesio itu tidak hiraukan kedua tamu yang mencak2 itu, kembali mulutnya tarik suara bersenandung pula.
"Daging harus dipanggang, arak harus dimasak, makan daging minum arak di dunia fana. biar sepatu butut, jubah koyak ditertawakan orang, memangnya aku bukan manusia gede atau orang kaya"
Tenggorokannya mengeluarkan suara serak aneh dan sumbang seperti bambu pecah, tapi dia justeru bersenandung dengan gembira sambilberjoget segala.
Sembari jalan matapun jelatatan, ia longok sana toleh sini yang diperhatikan hanya meja para tamu, akhirnya dia menuju ke meja yang ditempati Cu Jing, mendadak ia berhenti serta ter-gelak2 riang, katanya."Memangdisini lebihsunyi danbersih"
Kepada Cu Jing dia memberi salam lalu berkata.
"Sicu duduk sendirian di sini, agaknya ada jodoh dengan sang Budha, hidangan untuk Hwesio kere hari ini agaknya tidak..menjadi kapiran-" .. Tanpa tunggu jawaban Cu Jing, dia tarik kursi terus duduk dihadapannya. Tingkah laku Hwesio miskin ini kelihatan sinting, tapi kata2 senandungnya tadi memang tepat, mau tidak mau timbul rasa hormat Cu Jing terhadap Hwesio ini, lekas Cu Jing menjura, ka-tanya.
"Silakan duduk. Toasuhu."
Hwesio kere menyengir, katanya manggut2.
"siausicu memang berbakat sejak kecil, kau memang berjodoh dengan ajaran Budha, terpaksa aku Hwesio miskin mengganggumu saja."
Habis berkata dia lantas menggebrak meja, serta menggembor keras2.
"Pelayan-. ..pelayan....."
Seorang pelayan berlari datang, serunya sambil mengerut kening.
"Hwesio, kenapa berkaok2?"
Berdiri alis panjang si Hwesio, katanya dengan mendelik.
"Pelayan, restoran ini kan melayani orang ,makan minum? Bahwa Hwesio kere sudah datang kemari juga berarti tamu, kenapa seenak perutmu main panggil Hwesio segala?"
"Habis haruskupanggilapa?"tanyasipelayanbingung..
"Lain kali kalau ada Hwesio kemari, kau harus memanggilnya bapak Taysu, kalau yang datang Hwesio setua diriku ini, maka kau harus memangilnya kakek Taysu."
"Sering kudengar orang hanya memanggil Tay-su saja, mana ada yang memanggil bapak Taysu atau kakek Taysu?"
Sipelayan menggerundel.
"Hai jadi kau sudah tahu, lalu apa bedanya Taysu dan bapak Taysu? Memangnya ayahmu bukan bapakmu?"
Sipelayan tidak sabar lagi, serunya.
"Sudahlah, kau makan apa?"
"Kau tidak memanggilku kakek Taysu, kalau sang Buddha marah, kau akan dihukumnya terperosot jatuh."
"Sudah puluhan, tahun aku jadi pelayan di sini, belum pernah terpeleset jatuh, lekaslah kau pesan apa?, cuma di sini tidak sedia hidangan ciacay (vegetarian)."
"Ya, ya Hwesio kere memang tidak pernah membaca mantra, sudah tentu tak perlu ciacay segala"
"Baiklah, lalu kau pesan apa?"
Tanya sipelayan, dia tetap tak mau panggil Taysu.
"Nah, dengarkan, seporsi daging empal, satu porsi sayap bebek. dua kati arak. tapi suruh koki masak dulu seporsi paha ayam panggang, semangkok besar kuah ikan, udang, jamur dan daging babi,."
Seorang diri tapi santapan yang dipesan ternyata sangat banyak.
pelayan mangiakan saja terus putar tubuh menuju ke belakang.
Tak lama kemudian dia sudah balik dengan tangan kosong.
Tapi sebelum dia datang ke depan si Hwesio, tiba2 kakinya keserimpet, kontan tubuhnya terbanting jatuh.
Untung dia tidak membawa nampan hidangan,jatuhnya amat keras, dengan menyengir kesakitan pelayan itu merangkak bangun, tangan meraba2 pantat serta menghampiri dengan ter-pincang2.
Hwesio tadi tergelak2, serunya.
"Nah, tadi Hwesio kere sudah bilang, kau tidak mau panggil kakek Taysu. padaku, sang Buddha kini betul2 marah serta menghukummu."
Tiba2 dia bersuara kaget dan tanya.
"He, mana pesananku, kenapa tidak kau bawa kemari?"
Diam2 tergerak hati Cu Jing, dia duduk di depan si Hwesio, hakikatnya dia tidak melihat Hwesio itu menunjuk gerak apa2.
Tapi sipelayan di-buatnya jatuh bangun.
Dengan mendongkol si pelayan tertawa dingin.
"Masakan yang kau pesan semua berharga dua tahil, bayar dulu."
Mendelik si Hwesio, teriaknya marah.
"Memangnya kau kira Hwesio kere makan tak membayar?"
"Sudah sering orang gegares gratis di sini, kau seorang diri, tapi pesan hidangan terlalu banyak. terang sengaja ...."
Si Hwesioberjingkrak marah, dia cengkeramdada bajusipelayan, teriaknya gusar.
"Kau kira aku mau makan gratis? Hwesio kere memang miskin, tapi kebetulan aku bertemu dengan seorang dermawan yang ada jodoh, tanpa tanya kau lantas pandang orang rendah dengan mata anjing, kalau aku masih muda seperti dulu, sudah kulempar kau keluar jendela, tahu?"
Sembari bicara, seperti menjinjingseekor ayamdiaangkattubuhpelayanterusdiulur keluar jendela sehingga kontal-kantil di udara. Sudah tentu sipelayan menjerit ketakutan setengah mati, ratapnya.
"Kakek Taysu, ampunilah jiwaku, hamba ada mata tidak melihat gunung, kau.....jangan kau lepaskan peganganmu.."
Sudah tentu semua tamu yang ada di atas loteng sama kaget dan melongo heran melihat Hwesio ini memiliki tenaga begitu besar serta mempermainkan sipelayan-.
Hwesio itu cekakakan, dia tarik tangannya dan turunkan sipelayan di lantai, katanya.
"Sejak tadi kau panggil kakek Taysu kan beres?"
Lalu dia tuding Cu Jing dan katanya pula.
"Kau tanya Sicu ini, maukah dia membayar semua rekeningku nanti?"
Saking ketakutan, begituditurunkansegerasipelayan mendeprokdi lantai. Lekas Cu Jing berkata.
"Ucapan Taysu ini memang tidak salah, apa yang dimintanya boleh kau sediakan, rekeningnya aku yang bayar."
Sudah tentu si pelayan jadi kapok betul2, lekas dia kerjakan apa yang dipesan.
Agaknya memang tidak sabar lagi, begitu arak diantar, Hwesio itu lantas angkat poci terus tuang arak langsung kemulut sampai habis, katanya sambil seka mulut dengan lengan bajunya yang kotor.
"Sedap. Segar Hayolah Siausicu jangan sungkan, mari, mari"
Pakai sumpit atau sendok segala, kedua tangannya bekerja bergantian mencomot daging dan menggaruk ikan ke dalam mulut, begitu lahap dia makan sambil mulut kecap2 keras sepertiindukbabi.
Diam2 Cu Jing mengerut kening melihat cara makan seperti orang kelaparan itu, mulut Hwesio itu terus bekerja, belum lagi paha ayam dilalap habis, arak sudah dituang ke mulut lagi, lalu menyeruput semangkok kuah ikan pula, begitu sibuk dia sikat semua hidangan dihadapannya tanpa rikuh sedikitpun-.
Memang saatnya orang makan malam, maka restoran ini penuh sesak.
keadaan menjadi ribut dan gaduh, Cu Jing tidak hiraukan si Hwesio yang sibuk makan seadiri, dia Celingukan kian kemari, matanya sibuk mencari si orang tua misterius yang ternyata tidak kunjung tiba.
Sementara hidangan si Hwesio sudak dilalapnya habis satu persatu, sambil tertawa dia memicing mata si Hwesio tepuk2 perutnya yang gendut, katanya sambil ngakak.
"Hari ini kau sudah kenyang dan puas bukan? Semua ini berkat kebaikan Siau-sicu. ini yang berjodoh dengan sang Buddha, memberi sedekah dan membayar rekening, tak terbalaslah luhur budinya, omitohud"
Lalu dia rangkap kedua tangan sambil mundur tiga langkah, setelah memberisalamterustinggal pergi dengan langkahsempoyongan..
Tapi, baru tiga langkah mendadak dia berpaling katanya, sambil pandang Cu Jing dengan sikap lucu seperti mabuk.."
Siausicu tidak perlu menunggu pula, orang yang kau tunggu malam ini tidak akan datang lagi." . Cu Jing melengak. tanyanya "Darimana Taysu tahu ?. ."
Hwesio jembel tertawa lebar, ujarnya.
"Yang kau tahu sudah tentu Hwesio juga tahu, apa yang kau tidak tahu Hwesio tetap tahu, kalau Hwesio kere tidak tahu, memangnya siapa yang tahu?" -Sembari bicara dengan sempoyongan dia melangkah ke arah tangga. Melihat tingkah orang yang angin2an itu, tiba2 tergerak hati, Cu Jing, dia ingat apa yang pernah dikatakan Ban Jin-cun bahwa orang tua misterius itu mungkin adalah Hoan-jiu-ji-lay, walau dia tidak tahu siapa itu Hoan jiu ji-lay, tapi kalau dia berjuluk "Ji-lay"
Tentu dia seorang Hwesio mungkinkah Hwesio kere inilah Hoan-jiu-ji-lay?.
"Tak salah lagi, kalau tidak bagaimana dia tahu aku ada janji dengan orang, iapun tahu orang tua itu tidak akan datang lagi? Setelah datang dan pergi dengan kenyang dan mabuk, sudah tentu dia tidak akan datang pula, maka diriku disuruh jangan menunggu lagi."
Cepat Cu Jing berdiri, teriaknya.
"Pelayan, berapa rekeningnya."Dia rogohsekeping uangperakterusditaruhdi meja.
"Sisanya buat kau"
Habis berkata dengan setengah berlari dia terus turun loteng.
Hanya beberapa detik saja jarak antara si Hwesio pergi dan dia berlari menyusul ke bawah, tapi waktu dia tiba di bawah sana, bayangansiHwesio sudahtidak kelihatanlagi?
Pasar malam masih ramai di luar, orang berlalu lalang berjejal, ke mana lagi dia akan mencari si Hwesio.
Pula orang sengaja tidak mau bicara lebih lanjut, umpama dikejar juga orang tidak mau menemuinya.
Sekian lama Cu Jing berdiri melongo mengawasi orang2 yang bersimpang siur dijalan raya, sesaat kemudian baru dia beranjak ke ujung jalan sana langsung kembali ke tempat penginapannya .
Malam sudah larut, para tamu yang lain sudah masuk kamar dan tidur, maka Cu Jing langsung menuju ke kamarnya, waktu dia membuka pintu kamar dan hampir melangkah masuk, tiba2 dia tertegun dan berdiri mematung..
Dilihatnya seseorang duduk dikursi didekat jendela sana.
Lampu memang tidak dinyalakan tapi sinar rembulan di luar jendela cukup menerangi keadaan kamar sehingga tertampakremang2..
Terlihat jelas oleh Cu Jing orang yang berada dikamarnya ini berpakaian hitam, bermuka kuning, orang ini adalah orang yang dilihatnya berdiri di depan toko kain tadi, diam2 Cu Jing mengumpat dalam hati, batinnya.
"Kiranya dia memang hendak-cari perkara padaku."
Si baju hitam angkat kepala, katanya tersenuyum.
"Kau hanya berdiridiluarpintu, memang-nyatidakberanimasuk?"
Dingin suara Cu Jing.
"Rasanya aku kesasar, salah masuk ke kamar orang lain."
Pelan2 si baju hitam berbangkit, katanya.
"Kau tidak kesasar."
Cu Jing beranjak masuk-katanya sambil menatap orang.
"Jadi saudara yang kesasar ke kamarku?"
"Akupun tidak kesasar,"
Ujar si baju hitam.
"Sebab aku sedang menunggumu."
"Ada urusan apa kau menungguku"
Tanya Cu Jing. Berkedip2 mata si baju hitam, katanya setelah menatap lekat2 sebentar.
"Aku ingin bicara dengan kau."
Mendadak si baju hitam tertawa lebar, katanya.
"Agaknya kau curiga bahwa aku bermaksud tidak baik, terhadapmu?"
Tawanya manis sehingga kelihatan baris giginya nan putih rata dan amat kontras dengan kulit mukanya yang kuning.
"Kalau dia seorang perempuan, mestinya dia perempuan cantik, molek. sayang giginya yang rajin dan putih itu tumbuh di mulut laki2 yang bermuka jelek dan memuakkan-Tapi Cu Jing tidak perhatikan senyuman yang kaku, iapun tak pedulikan gigi orang yang putih indah, sikapnya tetap dingin, dengusnya.
"Umpama betul kau bermaksud jahat, memangnya kenapa?"
Agaknya si baju hitam memang tidak bermaksud jahat, kembali ia memandang Cu Jing, katanya."ini kamarmu, aku kemari sebagai tamu, sikapmu begini kaku, apa begini layaknya kau melayani tamu?"
Cu Jing habis sabar, katanya sambil berkerut alis.
"Ada omongan apa lekas katakan saja."
"Kukira kau tidak asing lagi dengan dandananku ini bukan2"
Ujar si baju hitam.
"Kutahu ke dua, temanmu sudah berangkat ke Pak-siam san-"
Cu Jing mendengus sambil mengawasi muka orang yang kuning kaku itu.
"Hm, agaknya kau serba tahu."
"Apa yang kutahu, belum tentu kaupun tahu,"
Ujar si baju hitam.
"Apa pula yang kau ketahui?"
Tanya Cu Jing. Kata si Baju hitam sungguh2.
"Kedua temanmu itu mungkin takkan kembali lagi."
"Apa katamu?"
Cu Jing mendelik ."Ban Jin-cun... mereka mengalami bahaya?"
Mendadak dia maju selangkah, berbareng ta-ngan kiri mencengkeram pergelangan tangan si baju hitam, sekenanya dia menggentak mundur ke belakang sembari lepas kelima jarinya, dalam keadaan tidak siaga dan tak terduga2 si baju hitam kena disengkelitnya jatuh di lantai.
Karena, gugup, tanpa sadar Cu Jing melancarkan gerakan Jiau-kau-sek.
dan hasilnya betul2 di luar dugaannya.
Tapi dia tidak pedulikan keadaan si korban.
"sret"
Dia melolos pedang serta mengancam tenggorokan orang, bentaknya.
"Lekas katakan, kalian mengatur muslihat apa ....."
Tak tahunya bahwa kepandaian silat si baju hitam ternyata juga cukup lihay, walau pecundang dalam keadaan tidak siaga, waktu ujung pedang Cu Jing mengancam, cepat dia mengkeret mundur.
Selicin belut tiba2 badannya meluncur di lantai dan mundur beberapa kaki jauhnya.
Dengan tangkas dia melompat berdiri.
"s reng", iapun cabut sebatang pedang panjang, katanya dongkol.
"Kau tidak tahu diri, kalau aku mau mencelakai kau, sejak tadi jiwamu sudah melayang, tahu2 Seperti tidak mendengar apa yang dikatakan orang, Cu Jing malah tertawa dingin, jengeknya.
"Aku tidak akan membunuhmu, katakan muslihat apa yang kalian rencanakanuntuk mencelakaijiwaBan Jin-cun berdua"
Si baju hitam acungkan pedangnya, katanya dingin.
"Tidak sukar jika kau ingin tahu, pertama kau harus kalahkan dulu pedangku, hal kedua umpama aku yang menang, aku akan tetap menerangkan padamu,"
Agaknya, dia penasaran karena barusan kena disengkelit jatuh oleh Cu Jing, maka setelah menang baru dia mau menerangkan maksud kedatangannya. Tapi Cu Jing berwatak keras, Tak mau kalah.
"kalau aku kalah, kaupun tidakperlu jelaskan-"
"Jadikau tidak ingintahu beritatentangtemanmu itu?"
Menyinggung Ban Jin cun, entah kenapa Cu Jing jadi naik pitam, katanya dengan mata mendelik.
"Kau kira aku tidak bisa mengalahkan kau?"
Tiba2 pedangnya bergetar terus, menusuk ke depan.
Sibaju hitam miringkan badantidak mundurdia malah mendesak maju, sinar pedang berkelebat, menghindari tusukan sembari balas menyerang.
Sasarannyaadalahpundak kiriCuJing.
Terkesiap hati Cu Jing melihat gerakan lawan yang aneh dan cekatan, badan setengah berputar, gerakan dipercepat, dalam sekejap dia berturut menikam tiga kali.
Ternyata permainan pedang si baju hitam juga lincah dan gesit, tiga kali tikaman Cu Jing meleset semua di samping tubuhnya, ujung bajupun tidak kena.
Kini berbalik sinar pedang lawan berkelebat cepat dan ganas serangannya, HiattomematikanditubuhCuJing menjadisasaran-Namun setiap serangan ganas selalu ditarik lagi di tengah jalan, jelas lawan sengaja mengalah..
Cu Jing jadi marah, segera ia kembangkan ilmu pedangnya, gerakannya semakin gencar dan sengit, ingin rasanya sekali tikam dia bikin mampus lawannya, begitulah mereka serang menyerang, maju mundur silih berganti, belasan gebrak telah berlangsung di dalam kamar yang sempit itu.
Keringat sudah membasahi badan Cu Jing, dia sudah keluarkan seluruh kemahiran ilmu pedang-nya, tapi si baju hitam tetap tak dapat dirobohkan, keruan ia gemas dan gelisah.
Mendadak tergerak pikirannya, sengaja dia melakukan gerakan lambat dan menunjukkan lubang ....
Perlu diketahui pedang yang digunakan si baju hitam lebih pendek daripada Cit-sing-kiam Cu Jing yang panjangnya tiga kaki lebih itu, oleh karena itu baik maju mundur, menyerang atau membela drii, gerakannya selalu berpadu dengan gemulai tubuhnya yang lincah dan licin itu, setiap ada kesempatau tentu diterobosnya.
Kini melihat Cu Jing ada lubang kelemahan, cepat ia menyelinap maju, pedangnya dari menabas berubah menjadi mengetuk.
dengan batang pedang dia mengetuk Hiat-to pergelangan tangan Cu Jing yang memegang pedang.
Kalau serangannya berhasil mengenai sasaran, maka pedang cu-Jing pasti terketuk jatuh.
Tak ter-duga2 tiba2 ia merasakan pergelangan tangan kanan sendiri kesemutan kaku, entah "
Kenapa kau tidak menungguku?"
"Nona mau ke mana? "Kau menyamar lagi bukankah ka hendak menemuka pengejaranmu?"
U n bagaimana Cu Jing telah menangkap urat nadinya, berbareng ujung pedang mengancam tenggorokannya.
Terdengar Cu Jing berkata melancarkan gerakan Jiau-kau-sek, betul juga dengan mudah dia berhasil membekuk si baju hitam.
....
Berkedip mata si baju hitam yang besar dan jeli itu, pancaran sinarnya marah, tapi juga kagum dan memuji, namun mulutnya menjengek."Hanyagerakanbeginisaja kemampuanmu.
"cukup Asal bisa membekukmu"
Jawab Cu Jing "Lempar pedangmu dan bicaralah terus terang."
Si baju hitam sedikit meronta, katanya.
"Lekas lepaskan, baiklah akan kukatakan, memangnya Aku kemari hendak memberi kabar padamu,kalautidakbuatapaaku menunggumudisini?"
"Kau hendak memberi kabar padaku?"
Cu Jing menegas. .-... Terpancar rasa masgul pada sorot mata si baju hitam, katanya.
"Kau masihtidakpercaya?"
"Mengapa tingkah lakunya seperti anak perempuan,?"
Demikian batin Cu Jing. Segera ia turunkan pedangnya, katanya.
"Asal kau bicara terus terang, kulepas kau pergi."
"Baiklah, lepaskan dulu tanganmu."
Yakin orang takkan bisa meloloskan diri, Cu Jing lantas lepaskan peganannya.
Si baju hitam lantas simpan juga pedangnya, lalu dia meraih kain hitam yang mengikat kepalanya, rambut panjang hitam kilap seketika terurai di pundaknya...
Cu Jing berseru kaget.
"Kau perempuan?"
Si baju hitam tertawa lebar, kembali ia menanggalkan kedok mukanya yang tipis.
Wajahnya yang tadi kuning kaku mengkilap kini berubah seraut wajah molek seorang gadis, tampaknya malu2 dan ingin bicara tapi urung.
Heran Cu Jing mengawasi orang sekian lamanya, tanyanya.
"Siapakah kau sebetulnya?"
"Akubernama Hek-bi-kwi(mawarhitam)."
"Kalian semuanya perempuan? "Bukan, mereka adalah orang2 Hek-liong-hwe (sindikat naga hitam)."
"Kau sendiri bukan anggota Hek-liong-hwe?"
Hek-bi-kwi atau si mawar hitam menggeleng, katanya sungguh2.
"Terus terang, aku sebetulnya, orang Pek-hoa-pang, tapi bertugas di dalam Hek-liong-hwe, kini tugasku sudah selesai, saatnya aku harus kembali."
Tanpa menunggu Cu Jing bertanya, dia menambahkan lagi.
"Soalnya kedua temanmu yang pergi ke Peksiam-san sudah diketahui oleh pihak mereka, Hek-liong-hwe sudah mengirim berita dengan merpati pos, sebelum kedua temanmu tiba di Pak siam-san mereka sudah pasang jala hendak menjaringnya, aku tak dapat membantu, terpaksa menyerempet bahaya mengabarkan hal ini kepadamu, syukur kalau engkau bisa menyusul mereka serta membujuknya agar membatalkan nitanya untuk menyelidiki senjata rahasia beracun itu, kalau tidak. orang2 Hek liong-hwe pasti tidak akan berpeluk tangan, demikian pula kau sendiri kuberitahu supaya jangan mencampuri urusan ini ....."
Sembari bicara dengan cekatan ia sudah menggelung rambut serta membungkusnya dengan kain hitam, katanya pula.
"Sudahlah, apa yang ingin kusampaikan sudah kusampaikan, sekarang aku mohon diri, harap engkau jaga dirimu baik2."
Habis berkata dengan cepat dia melangkah keluar.
Tapi di ambang pintu dia berpaling serta pandang Cu Jing lekat2.
Hanya sekejap ini mukanya sudah kembali menjadi kuning kaku dan mengkilap.
tapi matanya yang bundar besar itu memancarkan perasaan berat dan kasih mesra, lalu dengan cepat ia berkelebat keluar dan menghilang.
Diam2 Cu Jing tertawa geli, batinnya.
"Agaknya bocah ayu ini menaruh hati kepadaku."
Si mawar hitam melompat ke atas genting terus keluar dari hotel, seringan kapas ia melompat turun dijalan raya yang sepi terus berlari2 menpuju ke selatan-Setiba di daerah Sam-koan-tiam takjauh di depannya dilihatnya bayangan dua orang mengadang di kirikanan jalan.
Dalam kegelapan darijauh pasti tidak akan melihat dua orang di depannya ini, untung malam ini ada sinar bulan, maka mawar hitam segera melihat bayangan kedua orang dari kejauhan..
Betapa cerdik si mawar hitam, melihat dua orang berdiri di pinggir jalan, karena kawan atau lawan sukar diraba, sudah tentu dia tidak berani mendekat secara gegabah, segera dia berhenti beberapa jauh dari mereka.
Begitu dia berhenti, ke dua bayangan orangitu mulai bergerakdan pelahan2 mendekatidirinya...
Mawar hitam tetap berdiri tak bergerak.
tapi jari2, tangan kanannya sudah menggenggam gagang pedangnya.
Cepat sekali seperti bayangan setan kedua orang itu sudah berada dihadapannya.
Kini mawar hitam melihat jelas kedua orang ini sama mengenakan seragam hitam, mukanya juga kuning seperti malam, seorang lagi mukanya malah lebih legam sehingga tertampak menyeramkan-Kini mawar hitamdapat melihatjelaskedua orang ini teman yang tadi bertugas bersama dirinya, yaitu dengan kode huruf kuning nomor 27.
"Bukankah mereka bertugas menguntit Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa menuju ke Pak-siam-san? Tapi kedua orang itu mendadak muncul di sini,"
Keruan ia kaget, lekas dia memberi hormat, katanya.
"Hamba huruf kuning 29, menyampaikan hormat kepada Sincu"
Ternyata laki2 muka kuning kelabu bernama Sin-cu "sincu adalah suatu jabatan tertentu didalamHek-liong-hwe.
"Nomor28,"
Desis laki2 muka kelabu.
"Kau tahu apa dosamu?"
Bergetar hati mawar hitam, tapi dia memakai kedok, sudah tentu perubahan air mukanya tidak -kelihatan, tapi sikapnya kelihatan gugup, sahutnya.
"Entah hamba melanggar kesalahan apa?"
"Budak bernyali besar,"
Damperat laki2 muka kelabu.
"dihadapanku masih berani mungkir."
"Harap Sincu periksa yang betul, hamba betul2 tidak tahu berbuat kesalahan apa? Memangnya melanggar peraturan organisasi? "
Si muka kelabu menjengek dingin.
"Apa betul kau tidak tahu? Baiklah, nornor 27 jelaskan padanya."
Laki2 muka legam mengiakan, dengan menyertingai dia berkata.
"Sebelum berangkat menunalkan tugas kali ini hamba menerima perintah rahasia Ji tongcu, beliau merasa nomer 28 agak mencurigakan, maka hamba diperintahkan memperhatikan gerak-geriknya ... ."
"Aku toh bukan anak buah Ji-tongcu,"
Debat mawar hitam.
"dari manadiatahuletakkelemahankusehingga menaruhcurigapadaku"
"Kau adalah anak buah cui tongcu,"
Kata laki2 muka legam.
"sudah tentu perintah Ji tongcu ini juga setahu cui tongcu sendiri."
Lalu dia menambahkan.
"Setelah nomor sembilan mati menelan racun, sengaja hamba bilang mau menguntit kedua bocah Ban dan Ko itu, sebetulnya di Kim-sim-tun pihak kita juga ada orang, hakikatnya tidak perlu menguntit mereka segala, apa yang hamba lakukan hanya untuk mengelabui nomor 28 dan mengawasi tingkah lakunya apakah betul dia melanggar. ..."
"Memangnya aku melanggar aturan apa?"
Tanya mawar hitam.
"Untuk apa malam ini kau pergi ke hotel Ko-seng-can?"
Tanya laki2 muka legam..
"Karena bocah she cu itu tinggal di hotel itu maka ingin aku menyelidiki gerak-geriknya, memangnya maksudku ini salah?"
Dengus mawar hitam.
"Apa saja yang telah kau bicarakan dengan dia?"
Tajam pertanyaan laki2 muka legam.
"Jadi kau menguntitku secara diam2, apa yang kulakukan tentu sudah kau sakslkan, kenapa tanya lagi?"
"Akulah yang ingin tanya padamu,"
Sambung laki2 muka kelabu..Mawar hitam meliriknya, katanya dengan membungkuk hormat.
"Sin-cu boleh tanya nomor 27 saja, yang terang hamba yakin tidak melakukan kesalahan-"
"Kau tidak usah berdebat lagi, serahkan senjatamu, pulang ikut aku menghadap Cui-tongcu"
Tanpa terasa mawar hitam menyurut mundur selangkah, semakin kencang jari2nya memegang gagang pedang, katanya.
"Jadi Sincu juga tidak percaya padaku, baiklah aku akan menghadap cui-tongcu sendiri"
Sorot matanya yang kelabu menatap mawar hitam, tegas suara si muka kelabu.
"28, kau berani melawan perintah?"
Dari dalam bajunya dia keluarkan seutas rantai lembut, di ujung rantai terikat sebuah gembok kecil.
"trang", dia lempar gembok borgol itu ke tanah, bentaknya bengis.
"Belenggu tanganmu sendiri."
Melihat orang keluarkan borgol, rasanya berdebat juga tak berguna, maka mawar hitam mundur ber-siap2, katanya tertawa dingin.
"Sin-cu sendiri memaksa aku melakukan pelanggaran-Baiklah, aku akan kembali ke markas saja,"
Segera dia putar tubuh dan lari.
"Bangsatbernyalibesar"bentaksimukakelabu."Kau maulari?"
Tanpa diperintah laki2 muka legam melolos senjata terus melompat ke depan menghadang si ma-war hitam, Urusan sudah kadung begini, terpaksa mawar hitam harus bertindak cepat, mendadak ia menghardik keras "Minggir"
Begitu pedang terlolos dan bergerak, dengan jurus jun-seng-hwihoa segera sinar pedang menggulung ke dada laki2 muka legam.
Agaknya orang itu tidak menduga di hadapan sincu orang berani bergerak senekat ini ehingga si mawar hitam sempat merangsaknya lebih dulu, maka dia tidak berani menyambut ecara keras, ia melompat mundur beberapa kaki.
Begitu kaki turun ke tanah, pedangnyapun udah terlolos, bentaknya..
"Perempuan keparat, berani kau melawan?"
Tiba2 ujung pedangnya bergetar, dia menubruk ke arah mawar hitam.
Sebelum lawan menubruk tiba, mawar hitam membentak seraya putar pedang dengan kencang, beruntun dia menusuk dan menikam delapan kali, Delapan kali serangan ini dilancarkan secara ganas, beberapa kaki sekeliling dirinya bertaburan sinar pedangnya yang kemilau.
Karena di dahului, si muka legam tepaksa hanya membela diri sambil mundur, ia kaget danjeri, sembari bertahan mulutnya berkaok2.
"Sincu, coba lihat ilmu pedang apakah yang dimainkan keparat ini?"
Tujuan mawar hitam hanya meloloskan diri, sudah tentu serangannya tak mengenal kasihan, beruntun beberapa kali serangan pedangnya hampir saja menamatkan jiwa si muka legam, tapi begitu orang mundur, sebat sekali dia tutul kedua kaki terus melambung setombak lebih jauhnya.
Namun waktu ia hendak mengenjot kalinya lagi, mendadak badannya bergetar.
"bluk", tanpa kuasa ia jatuh terjerembab. Terdengar si muka kelabu terkekeh sambil menghampiri, suaranya sinis.
"Perempuan hina, dengan sedikit kemampuanmu ini, memangnya mau lolos dari tangan aku orang she Tin? Lekas katakan, siapa yang mengutusmu menjadi mata2 di perkumpulan kita?"
Diarebutpedangdaritanganlaki2 mukalegam,sekaliujungpedang bergetar, beruntun dia tutuk tujuh kali Hiat-to di tubuh si mawar hitam.
Karena terjatuh ke tangan musuh, mawar hitam pejamkan mata saja tanpa bicara, dia pasrah nasib ...
"Dihadapan orang she Tin jangan kau pura2 mampus, kau akan menderita tanpa bisa berkutik sedikitpun,"
Desis laki2 muka kelabu, mendadak ia putar balik pedangnya, dengan gagang pedang dia mengetuk ke bawah dada mawar hitam.
Ketukannya tidak berat, tapi sasarannya telak.
gerakannya-pun berbeda dengan ilmu tutuk umumnya.
Badan mawar hitam seketika mengejang, tanpa kuasa mulutnya mengerang kesakitan-Dengan keheranan laki2 muka legam pandang laki2 muka kelabu, katanya.
"Budak keparat ini teramat keras kepala, biar hamba menyiksanya lebih parah .."
Laki2 muka kelabu menyeringai.
"Tak usah kau turun tangan, dalam sepeminum teh, mustahil dia tidak mengaku."
Laki2 muka legam mundur dengan ragu2, tapi dia tidak berani banyak mulut lagi.
"Nah,"
Ujar laki2 muka kelabu.
"sekarang tanggalkan kedok mukanya, kini dia sudah bukan orang kita, tak boleh mengenakan kedok ini, nanti akan kukorek kedua biji matanya."
Laki2 muka legam mengiakan, segera dia mendekat dan menarik kedoksi mawar hitam.
Dilihatnya wajah si mawar hitam yang molek berubah pucat dan basah oleh keringat dingin.
Dengan hati tak tenteram ia angsurkan kedok itu kepada atasannya.
Laki2 muka kelabu simpan kedok itu ke dalam bajunya, sikapnya tampak tenang2, ia berjalan ke sana lalu duduk di atas batu besar dipinggir jalan sana.
Sementara itu wajah mawar hitam yang pucat berkerut2 itu sudah dibasahi keringat dingin, badan mengejang dan bergetar semakin keras, giginya berkerutuk menahan sakit.
Jelas dengan segala daya dia bertahan akan siksaan yang luar biasa ini.
Tidak merintih juga tidak menjerit, hanya giginya yang berkeriut, dia terimasiksaaninidengantabahdanberani.
Diatahusetelahrahasia dirinya ketahuan, dia terima segala akibat yang bakal menimpa dirinya.
Laki2 muka legam sampai merinding menyaksikan perubahan air muka si mawar hitam, tapi laki2 muka kelabu justeru tetap ongkang2 duduk di sana dengan sabar, hatinya seperti terbuat dari besitanpaperasaan,seakan2diaamatpuasdansenang melihat Keadaan si mawar hitam yang begitu menderita.
Dengan terkekeh dingin tiba2 dia berdiri menghampiri, tetap dengan gagang pedang, kembali dia mengetuk badan si mawar hitam.
Kiranya, ketukankali iniuntuk membuka Hiat-toyang menyiksa mawarhitam tadi.
Si mawar hitam yang sejak tadi duduk bertahan kini menjadi lunglaidan terkaparditanah.
Dengan terkekeh dingin si muka kelabu mendelik bengis, katanya.
"Nomor 28, kau sudah rasakan, kenikmatannya? Ketahuilah, ini baru permulaan supaya kau tahu rasa, yang lebih enak masih bisa kau rasakan jika kau tetap membangkang, ketahuilah kesabaranku juga terbatas."
"Bunuhlah aku,"
Teriak mawar hitam serak.
"Memangnya begini mudah?"
Jengek muka kelabu.
"Sebelum kau mengaku siapa yang mengutusmu kemari? Aku tidak akan membikinmu mampus,"
Mawar hitam membuka pula matanya, mulutnya terkancing rapat2.
"Aku tak percaya, memangnya badanmu ini berotot kawat bertulang besi,"
Demikian ejek si muka kelabu.
"Tak mau bicara, jangan sesalkan aku berlaku keji. ......"
Ia angkat pedang pula dan pelan2 gagang pedang kembali hendak menutuk ke dada si mawar hitam. Pada saat2 genting itulah, tiba2 dari belakang pohon sebelah kanan sana orang membentak nyaring.
"Berhenti" -Suaranya merdu, terang itulah suara perempuan, malah perempuan yang masih muda belia. Gagang pedang di tangan si muka kelabu yang sudah teracung berhenti di tengah jalan, ia melirik ke arah datangnya suara, Pohon di pinggir jalan itu berada beberapa pelukan orang besarnya, bentuknya menyerupai payung, Tampak dua bayangan orang melompatkeluardari balikpohonbesar itu. Dua bayangan semampai dan ramping, yang di depan berusia 19-an memakai gaun panjang warna hijau pupus dengan baju panjang putih mulus, wajahnya tampak jelita dan anggun, di bawah sinar rembulan yang remang2 kelihatannya dia seperti bidadari yang baru turun dari kahyangan. Agak di belakang adalah seorang gadis pula lebih muda berpakaian serba hijau, kuncir rambutnya yang hitam menjuntai turun menghias dada, dandanannya mirip pelayan, tapiwajahnyajugacantik molek. Melihat yang muncul hanya dua gadis ayu, si muka kelabu tertawa lebar, katanya.
"Agaknya kalian memang sekomplotan, kebetulan kalian akan punya kawan dalam perjalanan ke alam baka, supayaakutidak membuangwaktudisini"
Menjengkit alis gadis bergaun panjang, bentaknya.
"Kau membual apa? Kebetulan aku lewat di sini, tak senang kumelihat perbuatan kejammu ini terhadap seorang gadis lemah yang tak mampu melawan ini."
Si muka kelabu memicingkan matanya, desisnya tertawa.
"Memangnya kenapa kalian nona2 cantik ini tidak senang. Aku justru ingin perlihatkan padamu."
Gagang pedang yang sudah teracung pelan2 bergerak turun pula. Gadis baju hijau bertolak pinggang, bentaknya.
"Kunyuk kurang ajar, dihadapanSiociaberani kau bertingkah"
"Memangnya kenapa tuan besarmu ini tidak berani"
Jengek si muka kelabu.
"Berani kau menyentuhnya, segera kubuntungi lengan kananmu ...."
Ancam si nona bergaun panjang dengan gusar.. Si muka kelabu tertawa, katanya.
"Budak cilik, kalau tuan besarmu gampang digertak orang, aku takkan berjuluk Thian-kau (anjing langit). Nah lihatlah"
Gerak gagang pedangnya lambat2, tapi sudah hampir menyentuh dada si mawar hitam. Pada saat itulah jari gadis gaun panjang tiba2 terangkat, bentaknya.
"Betul kau berani ."
Gagang pedang si muka kelabu sudah hampir mengenai sasarannya, tapi mendadak dia merasa adanya sesuatu yang ganjil, lengan kanannya itu tahu2 kaku dan pati rasa, lemas tidak menurut perintah lagi.
Baru saja ia terkejut, segera pedang yang dipegangnya berkelontangan jatuh ditanah.
Sudah tentu laki2 muka legam kaget, tanyanya lirih sambil memburu maju.
"Kenapa Sincu?"
Pucat dan ketakutan membayang pada wajah muka kelabu.
"Lekas pergi"
Dengusnya pelahan, cepat dia mendahului berlari pergi ..
Melihat pemimpinnya lari membawa luka, sudah tentu si muka legamtakberani tinggal lama2, lekas iapunangkatlangkah seribu.
Gadis baju hijau cekikikan, katanya..
"Tidak berguna, sekali gertak lantas lari mencawat ekor."
Gadis majikannya berkata sungguh2.
"Jangan kau pandang ringan mereka, kepandaian mereka tinggi, kalau bertempur betul2 mungkin aku bukan tandingannya."
Lalu dia menambahkan-"Lekas kau periksa luka nona itu."
Dengan langkah ringan dia menghampiri lalu berjongkok di samping si mawar hitam, katanya.
"Entah di mana luka nona, apa tertutuk Hiat-to mu. ."
Dengan telentang lemas pelan2 mawar hitam membuka mata, suaranya lemah tak bertenaga.
"Terima kasih atas pertolongan nona, cuma. .... keadaanku sudah payah"
Matanya berkedip2, tak tertahanduatitikair mataberlinangdikelopakmatanya.
"Di mana lukamu,"
Tanya gadis gaun panjang.
"lekas katakan biar kuperiksa?"
Mawar hitam menggeleng, katanya lemah.
"Jangan nona menyentuhku, aku terkena senjata rahasia beracun keparat itu ........"
"Terkena senjata rahasia beracun?Jangan kuatir aku membawa obat mujarab, mungkin bisa menawarkan racun dalam tubuhmu."
"Tak berguna,"
Ujar mawar hitam rawan.
"racun dibadanku tiada obat pemunahnya di kolong langit ini, bahwa aku tidak segera mati, karena Thian-kau-sing (anjing langit) tadi menutuk Hiat-toku sehingga kadar racun sementara tidak menjalar ke jantung . ....."
Lalu dia pandang gadis penolongnya.
"nona baik hati menolongku, ada pesan ingin kutitipkan padamu, entah nona sudi membantuku lagi tidak?"
"Pesan apa katakan saja, asal bisa kulakukan pasti kubantu kau."..
"Terima kasih, di dalam bajuku ada sebuah kantong kain bersulam, barang ini jangan sampai terjatuh ke tangan orang2 Hek liong hwe, oleh karena itu terpaksa kutitipkan pada nona ....."
"Kantong ini tentu penting artinya, entah kepada siapa harus kuserahkan?"
"Penting sih tidak. juga tidak perlu diserahkan kepada siapa2, cuma tolong kau membakarnyasaja, didalamkantong adasekeping besi tipis, di tengahnya ada ukiran sekuntum bunga mawar, besok pagitolongadikinisukacantolkandi manasajaasaldipojoktembok di pinggir jalan, harus dicantolkan terbalik ke bawah, lalu dilingkari tinta hitam, cukup di dua-tiga tempat saja, kawan2ku tentu akan tahu bahwa aku sudah gugur."
"Baiklah, akan kulakukan pesanmu ini."
"Soal ini amat rahasia, waktu membuat lingkaran hitam jangan sekali2 dilihat orang."
"Aku dan Siau Yan jarang berkelana di Kangouw,"
Kata gadis gaun panjang.
"entah kau dari Pang atau Pay mana?"
"Aku tak berani mengelabui nona, aku orang Pek-hoa-pang, harap nona tidak ceritakan peristiwa malam ini kepada orang lain-"
"Aku tahu, setiap Pang atau Pay di kalangan Kangouw ada peraturan dan rahasianya sendiri, aku tidak akan beritahu kepada orang lain-"
"Baiklah, tolong keluarkan kantong kain dalam bajuku, waktuku tak banyak lagi " ..
"Biar kuambil,"
Kata gadis baju hijau, segera ia berjongkok serta merogoh keluar sebuah kantong kecil dari dalam baju si mawar hitam.
Sekilas melihat cuaca, tak tertahan air mata mawar hitam lantas bercucuran, katanya sedih.
"Masih ada satu hal hampir kulupakan, di dalam kantong ada sebuah botol kecil warna hitam, setelah aku mangkat, tolong enci siau Yan tuang sedikit bubuk obat dalam botol itu ke atas mukaku."
Gadis baju hijau membuka kantong kecil dan mengeluarkan sebuah botol tanyanya.
"Apakah ini?"
Mawar hitam mengangguk, katanya kepada nona bergaun panjang.
"Apa yang ingin kupesan sudah kukatakan, tolong Siocia membuka Hiat-toku."
Berkerut alis si nona, katanya "Membuka Hiat-to, bukankah racun akan segera menyerang jantung? "
"Ya, enam Hiat-to didadaku memang tertutup, tapi setengah jam lagi racun akan merembes pelan2, penderitaan waktu itu luar biasa, lebih baik kau buka Hiat-toku supaya racun lekas menyerang jantung, dengan demikian aku tidak akan menderita. Lekaslah, harap Siocia tolong diriku."
Si gadis gaun panjang ragu2, katanya..
"Aku belum pernah membunuh orang, cara bagaimana aku tega turun tangan? ..."
"Yang membunuh aku adalah Thian-kau-sing. Siocia malah menolongku, kalau Siocia tidak mem-buka Hiat-toku, karena jalan darahku tersumbat, racun akan bekerja lambat sehingga siksaan yang kualami akan jauh lebih mengerikan-Siocia, aku orang yang hampir mati, kalau kau buka hiat-toku, aku tidak akan tersiksa, lebih lama lagi."
Akhirnya gadis gaun panjang manggut2, katanya.
"Baiklah, kutolong kau membuka Hiat-to"
Lambat2 dia ulur tangan, tapi hatinya tidak tega hingga tanganpun gemetar, tanyanya lagi dengan sedih.
"Kau masih ada pesan apa?"
Pilu senyuman mawar hitam, sahutnya.
"Terima kasih, tiada lagi. ."
"Aku. .... .ai, aku.. .. ..sungguh tidak tega turun tangan,"
Kata gadis gaun panjang sambil menyeka air mata. Mendadak badan si mawar hitam bergetar terus mengejang dan berkelejetan, air mukanya berubah hebat, suaranynya gemetar.
"Racun .....sudah mulai . bekerja Siocia le .. lekas ..."
Melihat penderitaan yang hebat ini, gadis gaun panjang tidak sampai hati, tanpa pikir ulur tangan ke dada mawar hitam, beberapa Hiat-to, yang tertutuk tadi dibuyarkannya .
Badan mawar hitam tampak berkelejetan, wajahnya yang semula pucat berkeringat seketika berubah hitam, darah kental hitampun meleleh dari mulut hidang dan mata kupingnya.
Bergidik seram si gadis gaun panjang, katanya menghela napas.
"Senjata rahasia yang ganas sekali. Ai, Siau Yan, dia minta kau menaburkan bubuk obat itu kemukanya, lekas kau lakukan, kita harus segera berangkat."
Siau Yan mengiakan, dengan tabahkan hati ia taburkan bubuk obat di botol kecil itu kemuka si mawar hitam, katanya.
"Siocia, marilah lekas pulang ke hotel."
Wajahnya tampak pucat dan tangannya gemetar, agaknya iapurt ketakutan-.. Gadis gaun panjang menggeleng2, katanya.
"Tadi. kita sudah menerima pesannya yang terakhir. setelah membakar kantong kain itu baru kita pulang. ."
"Dibakar di sini juga, Siocia?"
Tanya siau Yan.
"apa jangan di tengah jalan, kalau dilihat orang bisa dicurigai, malah bakar di depan biara bobrok di depan sana"
Pada saat mereka bicara itulah jenazah mawar hitam sementara itu sudah mulai lumer, kini tinggal cairan darah kuning menggenangi tanah sekitarnya..
"Siocia memang lebih cermat,"
Ujar Siau Yang, tiba2 ia menjerit kaget melihat cairan darah kuning itu. Gadis gaun panjang menoleh sekejap lalu melengos pula, katanya.
"Bubuk obat yang kau taburkan di mukanya tadi tentu Hoa-kut-san (puyer pelebur tulang), tujuannya untuk melenyapkan jenazah si korban, agaknya dia tidak ingin orang tahu, asal-usulnya, maka suruh kita menaburkan puyer pelebur tulang itu pada wajahnya supaya tidak meninggalkan bekas."
Kejap lain kedua nona ini sudah beranjak memasuki kelenteng bobrok yang sudah lama tidak dihuni dan dirawat, kecuali untuk bangunan di bagian depan masih kelihatan utuh, bagian belakang boleh dikatakan sudah runtuh, rumput sudah tumbuh tinggi di sanasini.
Dari tangan si nona baju hijau, gadis gaun panjang terima kantong kain kecil itu serta mengeluarkan isinya, ada tiga macam barang di dalam kantong, yaitu sekeping besi tipis, bagian depan terukir sekuntunt bunga mawar, sebuah kedok muka yang tipis halus terbuat dari karet dan sebatang tusuk kundai, di ujung tusuk kundai terdapat hiasan bunga mawar warna ungu.
Keping besi itu diberikannya kepada nona baju hijau, kata si gadis gaun panjang.
"Mungkin inilah tanda pengenal mereka, dia minta kau membuat lingkaran di beberapa tempat di atas tembok di mana saja yang kau sukai, sekarang kita bakar saja barang peninggalannya ini."
"Dia kan sudah meninggal, buat apa aku harus meninggalkan tanda rahasia segala?"
Gerutu gadis baju hijau.
"Memangnya siapa akanperhatikan lingkaranhitamdidindingrumah orang?"
"Kukira orang2 Pek-hoa-pang mereka sering mondar-mandir di sini, itulah tanda rahasia untuk melakukan hubungan di antara mereka, tanda yang kau buat pasti akan menimbulkan perhatian pihak mereka"
Sembari bicara dia mendekati Hiolo, lalu katanya pula sambil berpaling.
"Siau Yan keluarkan ketikan apimu."
Pada saat itulah, dari kejauhan tiba2 berkumandang derap kaki kuda ke arah kelenteng ini, tiba2 gadis gaun panjang membalik badan, katanya lirih.
"Ada orang datang"
"Lekas, Siocia bakar saja dan kita kembali ke penginapan,"
Kata si nona baju hijau. Tak sempat lagi ujar gadis gaun panjang.
"agaknya mereka memang meluruk kemari, lekas sembunyi"
Ia celingukan, lalu Siau Yan ditariknya menyelinap ke belakang tiga patung besar yang dipuja di kelenteng ini.
Baru saja mereka berjongkok di belakang patung yang penuh gelaga dan berdebu tebal itu, suara derap kuda sudah berhenti di depan kelenteng, dari suaranya yang ramai kemungkinan ada empat-lima orang penunggang kuda yang datang, entah untuk apa mereka datangke kelentengbobrokpada malamgelap begini?
Tampak dua bayangan orang melompat masuk ke dalam kelenteng, sinar bulan purnama di luar cukup terang, kedua orang ini tampak berperawakan sedang, semua memakai baju dan celana setelan hijau, masing2 menggendong buntalan panjang di belakang punggung, kakinya mengenakan sepatu tinggi, langkahnya ringan cekatan, jelas mereka memiliki kepandaian yang tidak rendah.
Begitu masuk ke ruang sembayang, sorot mata mereka tampak bercahaya terang, dengan seksama mereka memeriksa sekelilingnya, lalu berpencar ke kanan-kiri, masuk ke arah belakang.
Entah apa yang mereka periksa dan cari, sesaat kemudian mereka sudah putar balik, seorang yang berperawakan lebih tinggi berkata.
"Bagaimana, Poa-heng, di sini saja?".. orang itu manggut2, katanya.
"Tempat ini memang agak sepi, boleh saudara Siang istirahat di sini."
Sementara temannya itu sedang mengeluarkan ketikan api lalu menyalakan lilin, keadaan ruang sembahyang menjadi terang.
Lekas gadis gaun panjang tarik ujung baju si nona baju hijau, mereka mengkeret ke dalam yang lebih gelap.
dari situ mengintip keluar.
Sementara itu dua orasg telah masuk pula sambil menggotong sebuah karung besar, orang di sebelah kiri bertubuh kurus agak pendek, lagaknya seperti anak sekolahan, sementara orang di sebelah kanan adalah kacung pembantunya, karung besar yang mereka gotong tampak agak berat, entah barang apa yang ada di dalamnya?.
Pelan2 dan hati2 sekali kedua orang itu gotong karung itu lalu ditaruh di depan meja sembahyang, pemuda sekolahan itu menarik napas sambil menggeliat, katanya pada kedua orang yang masuk duluan.
"syukur tiba di sini, setiba di tepi sungai besok pihak atas akan mengutus orang menyambut kita, tugas kalian berdua menjadi selesai, dua hari ini membikin susah kalian saja."
"Nona terlalu memuji,"
Kata kedua orang yang masuk duluan.
"tugas kami adalah Hou-hoa (pengawal bunga/wanita), ini adalah tugas rutin kami."
Ternyata pemuda sekolahan itu adalah samaran seorang nona.
Sementara kacung itu keluarkan sebatang lilin serta disulutnya terus ditancapkan diatas meja.
Keruan kedua orang yang sembunyi di belakang patung menjadi gelisah, pikir mereka.
"celaka, agaknya mereka hendak bermalam di sini, kami sembunyi di tempat sempit dan sekotor ini, bagaimana baiknya?"
Tengah gadis gaun panjang menimang2, tiba2 didengarnya, derap seekor kuda tengah mendatangi pula dari kejauhan, lekas sekali muncul seorang baju hijau dari luar kedua tangannya membopong buntalan besar.
"Kau sudah menemui Kang-lotoa?"
Tanya pemuda sekolahan, memapak kedatangan orang itu. Pendatang itu meletakan buntalan besar itu di depan pemuda sekolahan, sahutnya dengan napas memburu.
"Sudah kutemui. Wah, Giokje cici, aku mendengarsebuahberitabesar...."
Pemuda sekolahan itu angkat kepala, katanya.
"Berita apa, kau sampai membedal kudamu begitu cepat?"
Sembari bicara dia buka buntalan besar itu, Ternyata isinya adalah makanan, ada pangsit, bakpau, sayur asin dan makanan lainnya yang masih mengepul panas.
"Pemuda"
Bernama Giok-je itu lantas berpaling dan memanggil.
"Marilah kita semua makan bersama"
Kiranya kedua laki2 yang masuk duluan tadi adalah Hou hoa-su-cia, duta pelindung bunga.
mereka duduk mengelilingi buntalan berisi makanan itu serta melalapnya dengan lahapnya.
Si baju hijau yang baru datang duduk di samping "pemuda"
Sekolahan bernama Giokje itu, katanya.
"Kabarnya Coat Sin-san-cengsudahboboldan hancur."
"coat-sin san-ceng hancur"
Tampak pemuda sekolahan melengak kaget.
"darimana kau dengar kabar ini?"
"Kang-lotoa yang bilang,"
Kata si baju hijau.
"berita ini dapat dipercaya, Kang-lotoa sudah mendapat petunjuk dari atas, dia diperintahkan membantu orang2 kita yang melarikan diri bersama orang2 warung teh di Hin-liong itu."
"Kau tahu siapa gerangan yang menghancurkan coat-sin-san Ceng?"
"Konon orang Siau-lim-pay bergabung dengan Lohujin keluarga Tong dari Sujwan." ..
"Cek Seng-jiang memang tiada di sana, lalu bagaimana Hian-ih-lo-sat?"
"Melarikan diri, bagaimana keadaan yang sebenarnya, pihak luar belumtahu jelas."
"Lalu keempat tamu agung yang berada di sana?"
"Kabarnya semula Hian-ih-lo-sat hendak gunakan mereka sebagai sandera, tak tahunya racun pembuyar Lwekang di tubuh mereka sudah punah, tatkala orang2 keluarga Tong dan para Hwesio menyerbu tiba, keempat tamu agung itupun mendadak berontak. melihat gelagat tidak menguntungkan, Hian-ih-lo-sat lantas lari melalui lorong bawah tanah."
"Beberapa bulan sudah berselang, sejak Lok-san Taysu, Tong Thian-jong dan Un It-hong dikurung di sana tak pernah terjadi suatu apa, tak nyana setelah Cu-cengcu ini datang, racun pembuyar Lwekang mereka lantas punah, bukan mustahil semua itu gara2, Cu-cengcu ini."
Kedua nona yang mencuri dengar dari tempat persembunyian mereka tergetar hatinya, pikir mereka.
"Kiranya ayah diculik mereka."
"Giok-je cici"
Terdengar seorang berkata dengan suara tertahan.
"katanya orang yang kita tukar itu adalah Cu-cengcu tulen, orang yangkitagusur keluar inihanyalahbarang tiruanbelaka."
"Entah siapa dia?"
Ujar "pemuda"
Sekolahan.
"dia berhasil memunahkan getah beracun, juga memunahkan racun penawar Lwekang di tubuh Lok-san Taysu bertiga, jelas kalau diapun seorang ahlidalambidang racun."
Si baju hijau cekikikan, katanya.
"Bukankah kita memang memerlukantenagaahli sepertidia ini?"
Baru saja dia habis bicara, kelima orang yang duduk berkeliling itu tiba2 sama menggeliat dan menguap kantuk. tubuh merekapun limbung dan akhirnya rebah di lantai. Gadis gaun panjang berkata.
"Siau Yan, mari turun tangan"
"Siocia, jadi kau yang merobohkan mereka?"
Tanya si nona baju hijau tertawa. Gadis gaun panjang melompat turun mendekati karung besar itu, ujarnya.
"Aku akan menolong seseorang."
"Menolong orang? Dimana dia?"
"Di dalam karung ini."
"Siocia tahu siapa yang ada di dalam karung ini?"
"Entahlah, tapi dia pasti orang baik2, kebetulan kita pergoki, mana boleh membiarkan mereka menculiknya pergi?"
"Siocia, apakah lagi pengikat karung ini harus dipotong?"
Sembari bicara Siau Yan sudah keluarkan sebatang golok kecil melengkung. Baru saja dia bergerak hendak memotong tali pengikat karung, tiba2 didengarnya seorang berkata.
"Nona Siau Yan, jangan kau potong dengan pisau."
Nona baju hijau alias Siau Yan berjingkat kaget, tanyanya terbelalak.
"Kau bisa bicara?"
Orang dalam karung tertawa, katanya.
"Aku tidak bisu, sudah tentu bisa bicara."
"Siapa kau? Dari mana tahu aku bernama Siau Yan?"
"None Siau Yan, bukalah dulu mulut karung ini supaya aku keluar, nanti kujelaskan-"
Gadis gaun panjang mengangguk sambil berkata kepada siau Yan.
"Lepaskan tali pengikatnya"
Sambil melepaskan tali pengikat mulut karung Siau Yan, berkata.
"Aku tahu, tadi kau dengar Siocia panggil namaku, betul tidak?"
Setelahtaliterlepas, diaterus membuka mulut karung lebar2..
Orangdalamkarungpelan2 merangkakbangundanberdiri.
Perawakan orang ini tinggi, mengenakan jubah hijau pupus usianya sekitar 45, wajahnya putih cakap.
jenggot hitam menjuntai menyentuh dada.
cuma kedua alisnya terlalu gombyok, orang akan merasa wajahnya berwatak kejam dan suka membunuh.
sepasang matanya tampak bersinar, terang seolah2 pandangannya dapat meraba jalan pikiran orang, dan orang akan jeri beradu pandang dengan dia.
Gadis gaun panjang jarang mengembara di Kangouw, sudah tentu dia tidak kenal siapa laki2 ini, tapi sekilas melihat sorot mata orang, dia merasa sudah apal dan mengenalnya dengan baik, tak merasa jantungnya berdebar2.
Laki2 berjenggot hitam memberi hormat, katanya tertawa.
"Sungguh cayhetaksangkadapatbertemudengan nonaUn disini."
Melengak si gadis gaun panjang, matanya terbeliak. lekas dia balas memberi hormat dan berkata lirih.
"Entah dimanakah cianpwe bisa kenal diriku?"
Laki2 jenggot hitam tersenyum, katanya.
"Aku sudah mengubah wajah sudah tentu nona tidak mengenalku lagi."
Siau Yan periksa sini dan pandang sana, sekian lama dia menatap wajah orang, lalu menyeletuk.
"Siapakah kau sebenarnya?"
"cayhe Ling Kun-gi,"
Kata laki2 jenggot hitam.
Seketika merah jengah muka si gadis gaun panjang mendengar nama yang disebut laki2 jenggot hitam, kaget dan girang pula hatinya.
Ling Kun-gi, memangnya perjaka ini yang selalu menjadi kenangan dan pujaan hatinya?.
"Kau ini Ling siangkong"
Teriak Siau Yan tidak percaya.
"Kenapa tidak mirip. sejak kapan Ling siangkong memelihara jenggot?"
Ling Kun-gi tertawa, katanya "Tadi aku sudah bilang, aku telah mengubah wajahku."
Lalu dia dia merogoh keluar kantong benang sulam serta diacungkan ke depan Siau Yan, katanya.
"Sekarang percaya tidak?"
Semakin jengah muka si gadis gaun panjang, serunya girang.
"Siau Yan, memang betul dia, masakah suara Ling siangkong tidak kau kenali lagi?"
"Hihi, lucu dan menarik sekali, kenapa Ling siangkong menyamar begini?"
Seru Siau Yan "Aku sedang menyamar sebagai ciam-liong Cu Bun-hoa, cengcu dari liong-bin-san-ceng."
Lalu Kun-gi berpaling ke arah si gadis bergaun panjang dan katanya pula.
"Waktu di Coat Sin-san-ceng, cayhepernahberkumpul tigaharidengan ayahnona. ..."
Ternyata gadis gaun panjang adalah Un Hoan-kun, sebelum Ling Kun-gi bicara habis, dia sudah menyeletuk.
"Bagaimana ayahku?"
"Ayahmu bersama Lok-san Taysu dan Lo-cengcu keluarga Tong dari sujwan semua berada di Coat Sin-san-ceng, mereka sama2 kena racun pembuyar Lwekang, maka kepandaian silat terganggu banyak sekali... ."
Berkerut alis Un Hoan-kun, teriaknya kuatir.
"Lalu bagaimana? MemangnyasiapapenghuniCoatSin-san-ceng itu?"
"Nona tidak usah kuatir, ayahmu bertiga sudah kusembuhkan, dari pembicaraan orang2 ini tadi, agaknya Coat Sin-san-ceng sudah diserbu dan bobol oleh para Hwesio Siau-lim serta Lohujin dari keluarga Tong, tentunya ayahmu bertiga juga sudah bebas"
"Waktu coat-sin-san-ceng bobol, apakah Ling-siangkong tidak berada di sana?"
Tanya Un Hoan-kun. Ling Kun-gi tertawa, katanya.
"cayhe sudah diselundupkan keluar oleh mereka,"
Melihat bungkusan besar berisi makanan, perutnya seketika keroncongan, katanya pula dengan tertawa.
"Sudah dua hari aku berada di dalam karung, perutku sudah berontak minta di isi."
"Mereka tidak memberi kau makan?"
Tanya Siau Yan merasa kasihan "Mereka membiusku dengan asap wangi, beberapa Hiat-toku ditutuk pula, seorang yang pingsan selama beberapa hari sudah tentu tidak perlu makan,"
Sembari bicara Kun-gi mendekati buntalan makanan terus duduk bersila, tanpa sungkan dia comot bakpau dan pangsit terus dimakan dengan lahap ..
Un Hoan-kun dan Siau Yan ikut merubung maju seperti ingat sesuatu, Siau Yan bertanya.
"Ling siangkong, kenapa tadi kau melarang aku memotong tali itu?"
"Aku hanya ingin keluar sebentar dan mengisi perut, nanti aku harus meringkuk dalam karung pula, kalau dipotong talinya, bukankah akan menimbulkan curiga mereka?"
Un Hoan-kun memandangnya penuh rasa mesra, tanyanya.
"Ling siangkong sengaja membiarkan diri di culik mereka, maksudmu hendak menyelidik ke sarang harimau."
Ling Kun-gi manggut2, katanya.
"Betul, sudah beberapa bulan ibuku hilang, dengan menyaru cu cengcu dan menyelundup ke Coat Sin-san-ceng tujuanku untuk mencari ibundaku."
Prihatin sikap Un Hoan-kun, katanya.
"Apa Ling siangkong perlu bantuanku?"
Haru dan terima kasih Ling Kun-gi, katanya.
"Tujuanku hanya mencari ibu, tiada niat bentrok dengan mereka, cayhe yakin tidak akan mengalamibahaya, maksud baiknona kuterima di dalamhati."
Menatap orang, lirih suara Un Hoan-kun.
"Tapi kau akan dibawa ke markas pusat Pek-hoa-pang, kau seorang diri, bagaimana hatiku takkan-... ."
Sebetulnya dia hendak mengatakan "takkan kuatir", tapi sampai di situ dia berhenti, mukanya merah jengah dan menunduk.
Melihat sikap orang yang malu2, tanpa terasa berdebar juga jantung Ling Kun-gi, katanya..
"Jing sin-tan pemberian nona selalu kubekal, Pi tok-cu warisan keluargakupun selalu kugembol, aku tidak takut obat bius, tidak gentar racun, dengan kepandaian sejati, walau berada di kubangan naga atau sarang harimau, cayhe yakin cukup mampu untuk menyelamatkan diri."
Sampai di sini dia tertawa, lalu menambahkan-"Hanya satu kuharapkan bantuan nona, yaitu setelah aku kenyang nanti, tolong ikat pula mulut karung ini setelah aku masuk kedalamnya, jangan sampai mereka curiga."
"Aku tahu"
Ujar Un Hoan-kun manggut2.
"Syukur, malam ini bertemu dengan nona, kalau tidak tentu aku kelaparan entah berapa hari lagi,"
Kata Kun-gi berdiri, dia menghabiskan belasan pangsit dan beberapa biji bakpau.
"Nona Un, harap jaga diri baik2, cayhe mohon diri."
Lalu dia masuk kembali ke dalam karung.... Siau Yan lantas mengikat kembali mulut karung dengan tali yang ada. Dengan suara lirih Un Hoan-kun berpesan.
"Ling-siangkong harus hati2 dan waspada, menghadapi setiap persoalan-"
"Kalau nona pergi, tolong padamkan api lilin, lalu berikan obat penawar pada mereka."..
"Jangan kuatir, aku bisa bekerja. tanpa meninggalkan bekas apapun"
Sahut Un Hoan-kun. Lalu dia berpesan kepada Siau Yan.
"Enduskan obat penawar kepada mereka, kita harus lekas pergi."
Siau Yan mengiakan, lalu berseru.
"Ling-siang-kong, kami pergi ya"
"Sampaibertemu lagi."
UjarKun-gi di dalamkarung..
Siau Yan keluarkan obat penawar, dengan kuku jari dia selentik sedikit bubuk kehidung orang2 itu..
Sementara Un Hoan-kun meniup padamapi lilin, cepat2 mereka berkelebatpergi dan menghilang.
Sampai sekian lamanya, kelima orang yang rebah di lantai sama membuka mata.
orang she Siang yang bertubuh sedang itu, segera melompat bangun, dia menyalakan api, dan menyulut lilin, ruang sembahyang kembali terang.
"Sret"
Sementara laki2 she Phoa melolos pedang, setangkas kera segera dia melompat ke atas wuwungan, tak kalah sebatnya orang she Siang segera ikut melompat keluar ke arah lain.
"Pemuda"
Giokje, segera berpesan "Liau-hoa, Ping-hoa, lekas kalian periksa apakah mulut karung pernah disentuh orang?"
Kedua orang itu mengiakan, bersama mereka menghampiri karung serta memeriksa dengan teliti, lalu kata Liau-hoa.
"Tidak apa2, karung ini masih terikat kencang, tak pernah disinggung orang."
"Aneh sekali, lalu kenapa tanpa sebab kita jatuh terpulas bersama."
Ujar "Pemuda"
Giok-je.
"Tadi angin bertiup kencang sehingpa lilin padam, aku hanya merasa keadaan mendadak jadi gelap"
"mana pernah terpulas?"
"Memangnya akupun tetap berada di sini, hanya sekejap api padamdan Siang suciasegera menyalakanapi."
SelaPing-hoa.
"Tidak mungkin-..."
Ujar Giok-je, sementara itu tampak orang she Phoa dan she Siang telah melompat masuk.
"Ada yang aku temukan, Phoa sucia?"
Tanya Giokje, Orang she Phoa menggeleng, katanya.
"Aku naik ke wuwungan, penduduk di sekitar sini tidak ada, sejauh beberapa li dapat kulihat, tapi tidak ada bayangan orang."
Orang she Siang juga berkata.
"Bagian belakang juga tiada orang."
Ternyata mereka lalai akan buntalan makanan yang tertaruh di lantai, paling tidak beberapa buah pangsit dan bakpau telah dilangsir ke perut Ling Kun-gi.
Mereka tiada menduga api yang mendadak padam dalam sekejap itu, siapa yang mampu mencuri makanan mereka?
Waktu makan tadi mereka sedang makan minum, hilang beberapa pangsit dan bakpao tentu dikira dimakan oleh mereka sendiri.
Liau-hoa si kacung tiba2 bergidik, katanya jeri.
"Giok-"cici"
Mungkindisini adasetan."
Merindang juga bulu kuduk Ping-hoa, katanya sambil celingukan.
"Ya, angin tadi terasa dingin semilir membuat aku merinding"
Walau merasa curiga, tapi "Pemuda"
Giok-je tak bisa berbuat apa2, katanya.
"Jangan membual, makanan sudah dingin, hayolah dihabiskan bersama." -ooo0dw0ooo Dari penuturan si mawar hitam Cu Jing mengetahui bahwa Ban Jin-cun mungkin mengalami bahaya di tengah jalan, entah kenapa jantungnya jadi dag-dig-dug, semalam suntuk dia gulak-gulik tak bisa nyenyak. Untung dia menunggang kuda Giok-liong-ki, larinya jauh lebih kencang daripada kuda biasa, walau Ban Jin-cun dan-Kho Keh hoa sudah berangkat dulu setengah hari, tapi dia yakin, masih bisa menyusul mereka, Baru saja hari terang tanah dia sudah ber-siap2 terus berangkat keluar kota. Cu Jing jarang keluar pintu, tapi jalan yang harus ditempuhnya ini sudah apal sekali baginya, sepanjang jalan dia bedal kudanya, sampai tengah hari dia tiba di Tong-seng, sepanjang jalan ini tidak dilihatnya bayangan Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa, hatinya semakin murung dan gelisah. Tanpa masuk kota dia mampir di warung makan di pinggir jala n dan makan sekenyangnya. Tak lama kemudian dia sudah congklang kudanya melanjutkan perjalanan Beberapa jam kemudian dia tiba di Sha-cap-li-poh, dipinggir jalan ada orang menjual minuman. Pesat sekali Cu Jing membedal kudanya, tapi sekilas ia melihat di dalam barak penjual minuman tampak bayangan Ban Jin-cun bersama Kho Keh-hoa yang sedang minum sambil istirahat, keruan hatinya girang, lekas dia hentikan kudanya terus melompat masuk. serunya tertawa. Ban-heng, Kho-heng, kirauya kalian berada di sini, beruntung aku bisa susul kalian"
Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa berdiri menyambut kedatangannya.
"Silakan duduk Cu-heng"
Kata Kho Keh-hoa. CuJingdudukdisamping mereka, dia mintasecangkirteh. Mengawasi Cu Jing, Ban Jin-cun bertanya.
"Cu-heng menyusul kemari, entah ada urusan apa?"
Merah muka Cu Jing, katanya.
"Kalau tidak ada urusan buat apa jauh2 aku menyusul kemari?"
Tanpa tunggu pertanyaan lagi, dia balas bertanya.
"Kalian tidak mengalamisesuatu kesukarandalamperjalanan?"
"Tidak."
Sahut Ban Jin-cun heran.
"Cu-heng mengalami kejadian apa?"
"Jadi mereka belum bergerak"
Cu Jing menghela napas lega.
"Cu-heng mendengar berita apa?"
Tanya Kho Keh-hoa.
"Semalam aku bertemu seorang anggota Pek-hoa-pang,"
Demikian tutur cu-Jing.
"dia bilang komplotan jahat Hek-liong-hwe mungkin hendak melakukan pencegatan terhadap kalian-.."
"Pek-hoa-pang?, Hek-liong-hwe?"
Tanya Ban Jin-cun kepada Koh Keh-hoa.
"Belum pernah kudengar nama ini, saudara Kho tahu?"
"Aku juga belum pernah dengar,"
Sahut Kho Keh-hoa.
"Cu-heng, apa pula yang dikatakan?"
Tanya Ban Jin-cun. Sementara pemilik warung seorang kakek tua menyuguhkan secangkir teh, Setelah orang pergi baru Cu Jing menceritakan pengalamannya semalam.
"Hek-liong-hwe"
Ujar Ban Jin-cun.
"kukira suatu sindikat gelap dari Kangouw, memangnya punya permusuhan apa mereka dengan keluarga kita,? Kenapa ingin main bunuh?"
"Memangnya kita hendak cari mereka, kebetulan biar mereka rasakan kelihayan kita"
Kata Kho Keh hoa. Cu Jing menggeleng, katanya.
"orang2 itu jahat dan banyak muslihatnya, bahwa aku susul kalian ke sini karena kuatir kalian tidaktahuapa2dan dikerjai merekatanpasadar"
"Terima kasih atas perhatian Cu-heng"
Kata Ban Jin-cun. Panas muka Cu Jing, matanya memancarkan cahaya, katanya.
"Sesama saudara, kenapa sungkan?"
"Hayolah kita berangkat.
"ajak Kho Keh-hoa. Ban Jin-cun keluarkan uang bayar rekening, bertiga lantas keluar menuntun kuda. Tanya Ban Jin cun.
"Kalian tahu di mana letak tempattinggal Cu-ki-cudi-Pak-siam-san?"
"Kabarnya dia bersemayam di cit-sing-wan (ngarai tujuh bintang),"ujarCuJing.
"cuma akubelumpernahke sana."
"Asal tempat itu ada namanya, tidak sulit menemukannya,"
Ujar Ban Jin-cun.
Cu Jing menuntun kuda, Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa tidak membawa tunggangan, maka Giok-liong-ki diumbar jalan sendiri.
Untung jarak Pak-siam-san hanya enam-tujuh li saja, dengan cepat mereka sudah tiba ditempat tujuan, yang tampak hanya gunung gemunung, entah di mana letak cit-sing-wan itu?...
Dikala mereka berjalan sambil Celingukan, dari jalan kecil di lamping gunung sana tampak seorang penebang kayu sedang mendatangi.
Ban Jin-cun lantas menapak maju, katanya sambil memberi hormat.
"Numpang tanya pada Toako ini, entah di mana letakcitsing-wan?"
Sekilas penebang kayu mengamati mereka lalu, menuding ke timur, katanya.
"Dari sini ketimur kira2 lima li, di sana ada Mo-thianhong (bukit pencakar langit) disanalah letaknya cit-sing-wan."
Lalu dia pikul kayu dan pergi. Melihat langkah orang yang ringan dan tangkas seperti orang biasa berlari, diam2 tergerak hati Ban Jin-cun, katanya ragu2.
"langkahnya enteng dan cekatan, agaknya seorang persilatan-"
Begitulah mereka terus menuju ke timur, Giok-liong-ki terus mengintil di belakang Cu Jing Jarak lima li sebentar saja sudah mereka tempuh, memang di depan mengadang sebuah puncak yang bertengger tinggi menembus awan, pepohonan yang tumbuh lebat, sungai mengalir mengelilingi bukit, pemandangan permai, hawa sejuk.
Mereka maju terus menyusuri sungai terus menanjak ke atas, di lamping gunung mereka mendapatkan sebuah gubuk beratapalang2kering terdiri daritigapetakberjajar.
Ban Jin-cun berhenti, katanya.
"Disini hanya ada gubuk ini, mungkin itulah tempat semayam Cu-ki-cu."
Tiba di bawah bukit Cu Jing lantas tepuk kudanya dan berkata.
"Giok liong-ki, kau diam disana saja, kalau ada orang mengganggumu, cukup kau meringkik panjang sekali saja, tahu tidak?"
Kuda ini sudah paham kata2 orang, matanya berkedip2 seraya bersuara pelahan serta manggut2.
"Baiklah, mari ke atas,"
Ajak Cu Jing. Tiba di depan gubuk mereka berhenti, Ban Jin-cun berteriak.
"Ada orang di dalam?"
"Siapakah di luar?"adaorang menyahutdidalamgubuk.
"Kami bersaudara kemari mohon bertemu dengan Cu-ki-cu Totiang,"
Kata Ban Jin-cun.
Daun pintu yang terbuat dari bambu dibuka pelan2, muncullah seorang kakek enam puluhan, pipinya kempot jenggot jarang2 menghiasi dagu, memakai jubah butut warna biru yang sudah luntur warnanya.
Sorot matanya jelilatan seperti mata tikus, dengan seksama dia amati mereka bertiga sebentar lalu bertanya.
"Kalian cariCu-ki-cuada keperluanapa?"
Mendengar nada orang, Ban Jin-cun tahu bahwa orang ini pasti Cu-ki-cu sendiri.
Semula dia membayangkan Cu-ki-cu yang terkenal di kalangan Kangow tentu seorang Tojin yang berpakaian bersih, bersikap agung, seorang pertapa yang berwibawa dan welas asih.
Tapi kakek dihadanan mereka ini berkepala botak berjenggot jarang, mukanya tirus lagi, sekujur badannya tinggal kulit pembungkus tulang, keruan hatinya merasa kecewa, tanyanya.
"ApakahLotiang iniadalah Cu-ki-cu Totiang."
Sebelah tangan mengelus jenggotnya yang jarang2, kakek itu tersenyum, katanya.
"Losiu memang Cu-ki-cu, silakan kalian duduk di dalam."
"Ternyata memang Totiang adanya,"
Ujur Ban Jin-cun memberi hormat.
"cayhe bersaudara sudah lama kagum akan nama besar Totiang, kami sengaja kemari mohon petunjuk."
Beramai mereka lantas masuk ke dalam gubug.
Di dalam rumah hanya ada sebuah meja kayu, empat kursi rapuh tanpa ada perabot lainnya lagi.
Setelah silakan tamunya duduk, Cu-ki-cu batuk2 kering, lalu berkata dengan nada menyesal.
"Lohu orang gunung, selama hidup jarang kedatangan tamu, gubugku yang reyot ini tidak sesuai untuk melayani tamu, harap kalian duduk seadanya saja,"
Sembari bicara dia sudah mendahului dudukdi kursi palingdalam. Ban Jin-cun bertiga lantas duduk, katanya.
"Kami bersaudara sengaja mengganggu ketenangan Totiang, mohon Totiang suka memberipenerangan kepadakami."
"JadikalianmintaLosiu meramal?"tanyacu-ki-cu "Totiang sudah lama terkenal, luas pengalaman dan pengetahuan, terhadap segala peristiwa dan seluk-beluk Kangeuw amat apal, kami bertiga kemari mohon petunjuk satu hal kepada Totiang."
"Tentang apa?"
Tanya Cu-ki-cu.
Dari dalam kantongnya Ban Jin-cun keluarkan buntalan kain kecil terus dibeberkan di atas meja, isinya adalah sebentuk senjata rahasia bersegi delapan, dengan kedua tangan dia angsurkan benda itu, katanya.
"Totiang luas pengalaman, entah pernahkah melihat senjata rahasia macam ini?"
Begitu melihat bentuk senjata rahasia itu, tampak berubah air muka Cu-ki-cu, dia terima bersama kain buntalannya, dengan seksama dia bolak-balik memeriksanya, katanya kemudian.
"Sungguh amat menyesal, Losiu hanya tahu senjata rahasia ini dibubuhi racun jahat. kadar racunnya keras sekali, bentuk senjata rahasia seperti ini memang belum pernah kulihat."-lalu dia bungkus kembali serta dikembalikannya kepada Ban Jin-cun. Sudah tentu Ban Jin-cun melihat perubahan air muka orang waktu melihat senjata rahasianya tadi, jelas orang sengaja tak mau bicara terus terang, maka dia bertanya lebih lanjut.
"Apakah Totiang pernah dengar di kalangan Kangouw ada suatu perkumpulan gelap yang bernama Hek-liong-hwe?"
Cu-ki-cu tertawa sambil mengelus jenggot, katanya.
"Sudah 20 tahun Losiu mengasingkan diri di sini, jadi sudah lama terasing dari percaturan Kangouw, tapi Losiu dapat memberitahu, 20 tahun yang lalu tiada Hek-liong-hwe dikalangan Kangouw."
Ban Jin-cun menoleh kepada Kho Keh-hoa, sorot matanya seakan2 menyatakan sia2 kedatangannya ini, mereka bertiga sama kecewa.
Seperti dapat meraba isi hati mereka, Cu-ki-cu tertawa sambil memegang jenggotnya, katanya.-"Lo-siuorang gunung, sejak lama lepas dari percaturan Kangouw, tentunya mengecewakan kalian bertiga, tapi Losiu bisa meramal, biarlah kalian kuramal saja, mungkin dari ramalanku dapat kulihat gejaia2 yang dapat kuberitahukan, entah bagaimana pendapat kalian."
Bahwa Cu-ki-cu pandai meramal memang sudah terkenal di Kangouw, kini dia bilang mau meramal mereka, sudah tentu sangat kebetulan.
"Harap Totiang suka memberi petunjuk dan petuah,"
Kata Ban Jin-cun. Pelan2 Cu-ki-cu berdiri, katanya.
"Kalian ikut Losiu."
Lalu dia putar masuk kamar di sebelahnya.
BanJin-cun, KhoKeh-hoadanCuJingmengikutidibelakangnya.
Itulah sebuah kamar yang dipisah jadi dua, bagian depan adalah kamar prakteknya, tepat di tengah dinding bergantung sebuah gambar Pat-kwa, ada sebuah meja, di mana ada sebuah hlolo, bumbung bambu berisi batang2 bambu kecil bertulisan serta enam keping uang tembaga, segelas air putih, ada bak.
pensil dan kertas, sebuah kursi mepet dinding, jadi tempat luangnya hanya cukup untuk tiga orang berdiri saja.
Bagian belakang kamar tertutup kain gordyn, agaknya kamar tidurnya.
Dengan gerakan tangan Cu-ki-cu suruh mereka berdiri jajar di depan meja, lalu dengan gayanya tersendiri dia duduk di kursi.
Terlebih dulu dia menyalakan api menyulut tiga batang dupa wangi, entah apa yang diucapkan, mulutnya berkomat-kamit, lalu satu persatu dia tancapkan dupa itu di atas hlolo, wajahnya tampak serius dan khidmat, katanya kepada mereka bertiga.
"Soal apa yang ingin kalian tanyakan, boleh kalian berdoa menghadap gambar Pat kwadi belakangku ini, tapitidak bolehbersuara."
Mereka menurut dan menghadap gambar Pat-kwa dengan sedikit mendongak, mata mengawasi gambar Pat-kwa serta berdoa di dalam hati.
Sementara Cu-ki-cu jemput keenam keping mata uang tembaga terus dimasukkan ke bumbung bambu yang lain, pelan2 dia menggoncang bumbung itu sehingga mengeluarkan suara berisik, lalu satu persatu dia keluarkan mata uang tembaga itu dan dijajar di atas meja, dengan melotot dia awasi keenam mata uang.
Sesaat kemudian baru dia angkat kepala mengawasi mereka bertiga, sikapnya kelihatan aneh, katanya.
"Sekarang kalian satu persatu sebutkan nama masing2."
"cayhe Ban Jin cun"
Ban Jin-cun mendahului bersuara. sorot mata Cu-ki-cu menatap Kho Keh-boa.
"cayhe Kho Keh-hoa."
Sorot mata Cu-ki-cu lantas beralih ke arah arah Cu Jing.
"cayhe bemama Cu Jing."
Pada saat itulah mendadak dari bawah gunung terdengar suara ringkik Giok-Liong-ki yang panjang dan ketakutan-Cu-ki-cu mendadak mendelik, terbayang senyuman sadis pada mukanya, sekali raih dia ambil bumbung bambu terus digabrukan keras-keras di atas meja seraya tertawa.
."Kalian tidak segera roboh, tunggu apa lagi?"
Belum habis dia berkata, Ban Jin-cun, Kho Keh-hoa dan Cu Jing mendadak merasakan kepala pusing dan pandangan menjadi gelap.
kedua lutut lemas lunglai, tanpa berjanji mereka sama jatuh terkapar.
Ooood woooo Ling Kun-gi meringkuk di dalam karung dan semalam telah berlalu.
Fajar baru menyingsing, Giok-ji segera perintahkan Liau-hoa dan Ping hoa angkut karung besar itu ke atas kuda, tanpa membuang waktu mereka berangkat, setelah keluar kota langsung menuju ke sungai.
Kota An-khing terletak di utara tiang-kang, merupakan kota yang penting di darat dan di air maka suasana di sini amat ramai.
Giok-ji berlima tidak hiraukan keramaian sekitarnya, mereka langsung menghampiri sebuah perahu besar, seorang yang berpakaian kelasi segera memapak, katanya sambil menjura.
"Hamba menyambut kedatangan Hoa-kongcu "Pemuda"
Giok-ji bertanya.
"Kau inikah, Kiang-lotoa?"
Sikap tukang perahu sangat hormat, sahutnya.
"Ya, ya, hamba adalah Kiang-lotoa. Perahu berada di depan sana, silakan turut hamba."
Mereka menuju ke barat, kira2 lima puluhan meter, betul juga di mana ada sebuah perahu besar dan tinggi.
Mereka turun punggung kuda, seorang memasang sebuah papan besar, empat laki2 berpakaian ketat lantas keluar memberi hormat kepada Giok-je, kata salah seorang.
"Kami mendapat perintah menyambut kedatangan Kongcu"
"Bikin repot kalian saja,"
Kata Giok-je, lalu ia berpaling kepada Ping-hoa berdua.
"Naikkan dulu karung itu ke atas perahu."
Kedua Hoa-hoat-su-cia segera menjura, katanya.
"Semoga Kongcu selamat sampai di tempat tujuan, kami berdua tidak menghantar lebih lanjut."
Mereka cemplakkudateruspergi.
Giok-ji bertiga naik ke atas perahu baru keempat laki2 berpakaian ketat ikut melompat naik, terakhir adalah Kiang-lotoa, segera dia perintahkan pembantunya pasang layar dan melajukan perahu ke tengah sungai.
Daripada meringkuk di dalam karung, kini Ling Kun-gi bisa tidur nyaman di atas kasur, ternyata setiba di atas perahu Giok-ji suruh Ping-hoa berdua keluarkan Ling Kun-gi serta ditidurkan di pembaringan-Dia keluarkan sebutir pil dan dimasukkan ke cangkir berisi teh terus dicekokkan pada Ling Kun-gi, katanya.
"Kira2 setengah jam lagi baru dia akan siuman, kalian ikut aku keluar."
Pelan2 pintu kamar lantas ditutup dari luar.
Sudah tentu Kun-gi mendengar percakapan mereka.
Setelah mereka keluar segera dia membuka mata, ternyata dirinya berbaring di dalam kamar yang bersih dan sederhana, dinding dilembari kain kuning, lantai papan tampak mengkilap.
Kecuali dipan dimana dia rebah, di bawah jendela sana terdapat sebuah meja kecil persegi dan sebuah kursi.
Kalau perahu ini tidak bergoyang turun naik serta mendengar suara percikan air, orang tidak akan mengira bahwa kamar ini berada di dalamperahu.
Diam2 Ling Kun-gi membatin.
"Entah perkumpulan macam apa Pek-hoa-pang mereka?"
Satu hal sudah meyakinkan dia bahwa anggota Pek-hoa-pang semua terdiri dari kaum wanita, malah setiap orang memakai nama kembang.
inilah perjalanan serba romantis, tamasya yang aneh dan menyenangkan-Dari Coat Sin-san-ceng dirinya diselundup ke-luar, entah apa tujuannya?
Ke mana pula dirinya akan dibawa?
Bahwa dirinya dibawa naik perahu, memangnya markas mereka berada di sepanjang pesisir sungai besar ini?
Langkah pelahan mendatang dari luar, lekas Kun-gi pejamkan mata, waktu pintu terbuka, yang masuk hanya seorang, Kun-gi membatin.
"Agak-nya mereka sudah ganti pakaian perempuan-"
Setelah orang itu maju ke dekat pembaringan sengaja Kun-gi menggeliat, lalu berbangkit.
Pelan2 dia membuka mata.
Pandangan pertama hinggap pada tubuh semampai menggiurkan seorang gadis nelayan berpakaian warna hijau.
Usianya enam-belasan, berwajah bulat telur, bola matanya bundar besar dan hitam bening, pipinya bersemu merah, sikapaya malu2.
Wajahnya memang tidak begitu cantik,namuncukup menggiurkanhatisetiaplaki2.
"Cu-cengcu sudah bangun,"
Sapa pelayan baju hijau. Sudah tentu Kun-gi tahu gadis inilah yang bernama Liau-hoa, tapi dia sengaja bersuara heran, katanya.
"Siapa kau? Mana Ing-jun?"
Ing-jun adalah pelayan yang melayani segala keperluannya di coatsin-san-ceng.
"Hamba adalah Liau-hoa,"
Pelayan itu menekuk lutut memberi hormat.
"Tempat apakah ini?"
Tanya Kun-gi sambil menyapu pandang ke sekitarnya.
"Rasanya seperti di atas kapal?"
Liau-hoa menyilakan sambil menunduk. Kun-gi tampak kurang senang, katanya mendengus.
"Apa yang terjadi? Kalian mau bawa Lohu ke mana lagi?"
"Hambatidaktahu,"sahut Liau-hoatakut2. Kun-gi tahu orang sengaja bohong, tapi melihat sikap nona itu jeridan malu2, takenak dia bertanyalebih lanjut. Mengawasi Kun-gi, Liau-hoa bertanya dengan suara lembut.
"Apakah Cu-cengcu mau sarapan pagi?"
"Lohu belum lapar."
"Baiklah hamba ambilkan air teh saja,"
Bergegas dia hendak mengundurkan diri, jelas hendak memberi laporan kepada Giok-je.
"Tak usahlah Lohu tidak haus. Ada persoalan yang ingin kutanyakan, apakah di atas kapal ini ada orang yang berkuasa?"
"Harap cengcu tunggu sebentar, hamba akan panggil Giok je cici kemari."
"Giok-je, kan pelayan pribadi Hian-ih-lo-sat itu? Apa kedudukannya tinggi?"
Sengaja Kun-gi bertanya, secara tidak langsung dia ingin tahu betapa tinggi kedudukannya Giok-je didalam Pek-hoa-pang.
Liau-hoa manggut2 sambil mengiakan terus melangkah pergi dengan buru2.
Tak lama kemudian, tampak dengan langkah lembut gemulai Giok je menyingkap kerai dan masuk ke kamar, katanya sambil memberi hormat kepada Kun-gi.
"Cu-cengcu memanggil hamba, entah ada urusan apa?"
Perawakannya memang yahut, setelah ganti pakaian perempuan kelihatan lebih menarik setiap laki2 yang memandangnya.
"Ada satu hal ingin Lohu minta keterangan nona,"
Kata Kun-gi.
"Terlalu berat ucapan cengcu, entah soal apa yang hendak ditanyakan?"
"Lohu ingin tahu ke mana diriku hendak di-bawa?"
"Soal ini ........."
"Nona tidak mau menjelaskan?"
Giok-je tertawa manis, katanya.
"Lebih baik Cu-cengcu ajukan persoalanlainsaja,asalhambabisa menjawabtentukuterangkan-"
"Pintar dan licik juga gadis ini,"
Demikian ba-tin Kun-gi, katanya.
"Baiklah, Lohu ingin tanya, nonakan anak buah kepercayaan coh-siancu, tentu kau tahu seluk-beluk Coat Sin-san-ceng, entah bagaimana asal-usulnya?"
"0, mereka ........."
"Apakah nona tidak mau menerangkan? Baiklah persoalan ini tak usah dibicarakan-"
Giok-je meliriknya sekali, katanya kemudian dengan sikap apa boleh buat.-"Mereka adalah orang2 Hek liong-pang."
"Hek-Liong-pang? Belum pernah kudengar nama ini?"
"Jejak mereka serba tersembunyi, umpama berkecimpung di Kangouw juga belum tentu diketahui orang, sudah tentu Cu-cengcu belum pernah mendengarnya."
"Apakedudukan CekSeng jiang di Hek-Liong-pang?"
"Mereka hanya memanggilnya cengcu, apa kedudukannya hamba tidak tahu."
"Lalu, coh-siancu?"
"Hamba tahu dia adalah salah satu dari Su-toa-thian-su (empat besarrasullangit), tugasnyamengawasi daerahselatan"
"Apakah tujuan mereka menculik Lok-san Taysu bertiga hanya lantaran getah beracun itu?"
"seharusnya demikian-"
"Nona bukan orang Hek-Liong-hwe?"
"Darimana Cu-cengcu tahu hamba bukan orang dari Hwe itu?"
"Kalau kau orang mereka, tak mungkin membongkar rahasia mereka."
Giok-je tertawa, ujarnya.
"Cu-cengcu memang amat cermat."
Sampai di sini pembicaraan mereka, tiba2 Liau-hoa muncul di pintu, katanya.
"Giok-je cici, harap keluar sebentar"
Giok-je melangkah keluar, tanyanya.
"Ada apa?"
Di ambang pintu dia membalik dan berkata.
"Cu-cengcu, hamba mohon diri sebentar."
Mendadak dia angkat jari terus menjentik, dari balik lengan bajunya menyamber keluar sejalur angin kencang meluncur ke Hiatto Ling Kun-gi.
Gerakannya aneh dan cepat, di luar dugaan lagi, Kun-gi pura2 tidak tahu, dia duduk di kursi tanpa bergerak, hatinya diam2 kaget, batinnya.
"Tak nyana gadis semuda ini memiliki kepandaian begini tinggi, aku memandang rendah dirinya."
Maklumlah Kun-gi sendiri meyakinkan hawa murni pelindung badan, asal pikiran bergerak dan hati ada niat, hawa murni dalam tubuhnya akan timbul daya perlawanan, walau cepat jentikan Gioknje, tak mungkin bisa menutuknya pingsan-Melihat Kun gi duduk mematung dan tidak bergerak.
segera Giok-je menyelinap keluar, tanyanya.
"Ada apa sih?"
"Kiang lotoa melihat di belakang perahu kita ada dua kapal besar menguntit dari kejauhan-"
"Mungkin orang2 Hek liong-hwe?"
Kata Giok-je.
"Cu-cengcu ...."
"Tidakapa2,akutelah menutukHiat-tonya."
Lalu mereka keluar dan naik keatas dek, entah apa pula yang mereka bicarakan Kun-gi tersenyum, pelan2 dia mendekati jendela, dengan ujung jarinya dia membuat lubang kecil pada kertas jendela, lalu mengintip keluar, air sungai luas menyentuh langit di kejauhan, tak kelihatan bayangan apa2, agaknya kedua kapal yang dicurigai masih menguntit dari jarak yang jauh sekali.
Pada saat itulah tiba2 didengarnya suara gaduh air bergolak dari buritan, kejap lain mendadak sebuah sampan yang laju cepat tahu2 muncul kira2tigatombakdisebelah belakang.
Diam2Kungi membatin."Apaknyakeduapihakakanbentrok."
Ter-sipu2 Giok-je menuju ke belakang. Sikap Ping-hoa tampak tegang, serunya.
"Giok-je cici, lekas kemari, kedua sampan itu sudah makin dekat."
"Jangan kita perlihatkan diri, belum waktunya biar mereka yang menghadapi,"
Kata Giok-je, mereka yang dia maksud adalah keempat laki2 berpakaian ungu itu.
Sembari bicara mereka menempelkan muka ke jendela yang teraling kain, tampak ke dua sampan itu sedang melaju memecah gelombang ke arah sini, jaraknya tetap bertahan puluhan tombak.
Tak lama kemudian kedua sampan itu tiba2 berpencar ke kanan-kiri terus berlaju lebih cepat mendahului ke depan "Keparat, jelas mereka sengaja hendak cari perkara pada kita"
Kata Giok-je, Terdengar suara Kiang-lotoa berkata di luar.
"Nona, kedua sampan ini menunjuk tanda2 sengaja menunggu kita."
"Kiang-lotoa,"
Seru Giokrje.
"Kau sudah lihat betul, siapakah orang diatas sampan?"
"Mereka berada di dalam barak perahu, ke-cuali dua orang yang pegang dayung, hamba tidak melihat orang yang lain-"
"merekasengaja mau cariperkara, nantijugapasti unjuk diri."
"Ya, hamba mohon petunjuk nona."
"Jangan hiraukan dulu, lajukan perahumu seperti biasa."
Kiang-lotoa mengiakan, baru saja dia hendak mengundur diri.
"Kiang-lotoa,"tiba2 Giok-je memanggilnyapula. Lekas Kiang-lotoa berhenti dan menyahut hormat.
"Nona masih ada pesan apa?"
"Di An-khing kau sudah tinggal beberapa tahun, situasi di perairan sini tentu apal, belakangan ini adakah orang2 Hek-Liong-hweyang munculdiperairan?"
"Terus terang nona, belum pernah hamba mendengar nama Hekliong-hwe, terutama di perairan sini selamanya tenang2 saja tak pernah terjadi seperti hari ini."
"Jadi, mereka memang betul2 mau cari perkara pada kita,"
Dengus Giok je.
"kau boleh pergi urus tugasmu. o, ya, kau harus tetap berdiam di An-khing, kalau tidak terpaksa jangan kau bocorkan asal usul dirimu, nanti kalau kedua pihak bentrok, kau bersama2 kawanmu tidak usah turut campur, kalian menyingkir saja, anggaplah perahumu ini kita sewa."
Kiang-lotoa mengiakan dan mengundurkan diri. Baru saja Giok-je kembali ke kursinya, terdengar Ping-hoa berkata.
"Giokje cici, di belakang kita muncul pula dua sampan-"
"Bagaimana kedua sampan yang laju ke depan tadi?"
"Kok tidak kelihatan-"
"Mereka kerahkan empat sampan, agaknya hendak turun tangan diair"ujar Giok-je, Belum habis dia bicara Liau-hoa sudah berteriak pula.
"Giok-je cici, itu dia duasampanyang lewattadi kiniputarbalikpula."
Giok je menuju kejendela sebelah kiri serta melongok keluar, waktu itu hawa sejuk dan angin menghembus sepoi2, tiada gelombang tiada badai, air tenang2 saja, sementara kedua sampan dibelakangsudah semakin dekat.
Giok-je merogoh sebuah kaca tembaga dari dalam bajunya, badan sedikit miring terus memandang haluan perahu yang mereka naiki ini, empat sampan jadi dalam posisi mengepung, setelah jarak semakin dekat laju sampanpun diperlambat.
Tiba2 pada sampan sebelah kiri sana menyelinap keluar seorang laki2 jubah hitam panjang, mukanya kelabu kaku, berdiri di depan sampan dan membentak.
"Hai, tukang perahu, memangnya matamu buta, hayo hentikan perahumu"
Pada waktu yang sama muncul pula dua orang di sampan sebelah kanan, muka mereka kuning seperti malam, keduanya membekal pedang panjang.
Agaknya mereka betul2 hendak turun tangan-Sesuai petunjuk Giok-je, lekas Kiang-lotoa perlambat laju perahu lalu menghentikannyaditengah2sungai.
Arus sungai cukup deras sehingga perahu besar mereka terseret miring, Kiang-lotoa bersama beberapa kelasi dengan gugup sibuk bekerja, sedapat mungkin mereka kendalikan perahu supaya tidak oleng.
Sementara seorang laki2 setengah baya muncul di depan perahu, dengan mendelik dia pandang orang2 di atas sampan,jengeknya dingin.
"Siang hari bolong, kalian mencegat perahu, memangnya mau apa?"-Di belakang laki2 setengah baya berbaju abu2 ini mengintildua laki2 kekarbergolokberpakaian ketat. Dingin sorot mata si muka kuning kaku di atas sampan sana sekilas dia lirik laki2 setengah baya baju kelabu, tanyanya.
"Tuan ini siapa?"
Laki2 setengah baya baju kelabu berkata dengan kereng.
"cayhe Liok Kian-lam dari Ban-ceng-piaukiok di Lam-jiang."
Lalu dia menarik muka dan balas bertanya.
"cayhe sudah sebutkan nama, saudara harus perkenalkan diri? Apa tujuan kalian mencegat perahu ditengah sungai?"
"Tiga budak yang melarikan diri rupanya menyewa pengawal? Ketahuilah, kamisedang menguberbudak2yanglari itu."
Liok Kian lam menjengek. katanya.
"Saudara salah alamat, kami sedang mengantar Hoa-kongcu dari Lam-jiang, orang Kangouw mengutamakan kebenaran, untuk itu harap kalian memberi muka kepada kami."
Berkedip2 mata si muka kuning, ia menyeringai dan berkata.
"Tuan besarmu selamanya belum pernah dengar di Lam-jiang ada Ban-seng-piaukiok segala, hayolah, periksa perahu ini"
Kedua laki2 baju hitam di sampan sebelah kiri mengiakan, sampan mereka mendadak menerjang maju, kedua laki2 itu terus melompat keatas perahu sini. Mendelik mata Liok Kian-lam, bentaknya.
"Saudara tidak patuh aturan Kangouw, jangan salahkan kalau kami tidak kenal kasihan-"
Sembari bicara dia memberi tanda kepada kedua laki2 di belakangnya.
Sejak tadi kedua laki2 ini memang sudah pegang golok.
sigap sekali mereka berkelebat maju memapak kedua laki2 muka kuning yang menubruk tiba, maka terjadi pertempuran sengit dihaluan perahu.
Si muka kelabu tergelak2, serunya.
"Agak-nya sebelum melihat peti mati saudara Liok ini tidak akan mengucurkan air mata, biarlah Tin-toaya sempurnakan kau."
Sekali menutul, dia keluarkan gaya It-ho-coan-thian, tubuhnya melambung tinggi terus menukik turun ke arah Liok Kian-lam, kelima jarinya terpentang dengan jurus Hweing-kik-tho (burung elang menerkam kelincil) terus mencengkram batok kepala lawan-Melihat serangan orang agak aneh dan lihay, Liok Kian-lam tidak beranipandangrendah mu-suh,kakigesermundursetengahtindak.
sementara tangan kiri memutar terus menutuk pergelangan tangan si muka kelabu.
"Jeng-bun ci (jari menembus awan),"
Seru si muka kelabu tertawa aneh.
"kiranya saudara murid Hoa -san-pay."
Mendadak ia mendesak maju, tangan kiri menggunakan jurus lay-san-im-ciang menebas lurus kedepan, cara turun tangan orang ini rada aneh, gerakannya membawa deru angin kencang lagi sehingga Liok kian-lamkena didesak mundur selangkah.
Tapi Liok Kian-lam juga bukan lawan enteng, setelah dia menyingkir dari tebasan telapak tangan si muka kelabu, cepat iapun mengeluarkan pedang.
"sret", tahu2 pedangnya membabat miring dari samping bawah.Jurus ini merupakan gerakan kombinasi di samping meluputkan serangan musuh sekaligus balas menyerang gerakannyapun cepat leksana kilat. Si muka, kelabu yang merangsak dengan bernafsu tidak menduga sama sekali, hampir saja dia kecundang, dalam kesibukannya, lekas ia tekuk kedua kaki melompat mundur, untung diaterhindardaribabatanpedang LiokKian lam. Berhasil mendesak lawan, sudah tentu Liok Kian-lam tidak memberi peluang lagi, sembari menghardik iapun melompat tinggi, pedangnya mengembangkan jurus Hoat-bun-kay-loh (menyibak awan membuka jalan) ia mencecar musuh lebih sengit. Dikala tubuh melambung mundur itulah, si muka kelabu juga telah mengeluarkan pedang, ia segera menangkis.
"trang", kedua pedang beradu, keduanya sama terpental dan meluncur turun di atas geladak. Begitu kaki menginjak lantai perahu si muka kelabu perdengarkan tertawa gusar, pedang panjangnya berwarna hitam legam terus merangsak pula dengan beringas. Liok Kian-lam memang murid Hoa-san-pay, Hoa-san-kiam-hoat yang dia mainkan memang lincah dan tangkas sekali, maju mundur sangat cepat, setiap jurus permainannya matang dan mantap. Ke-dua orang sama melancarkan ilmu pedangnya, sinar perak laksana ular sakti berkelebat naik turun dan saling gubat dengan bayangan hitam yang mengamuk seperti naga mengaduk air, pertempuran semakin memuncak dan seru. Sementara itu, kedua sampan di belakang sudah mendekati perahu, di atas sampan masing2 berdiri seorang berjubah hijau, mukanya lonjong kurus, kulitnya kuning semu hijau, tampangnya kelihatan kejam, seorang lagi berwajah agak tampam, itulah seorang pemuda berjubah biru yang bersikap angkuh, pedang tergantung di pinggangnya, bajunya melambai ditiup angin, kelihatan gagah dan berwibawa sekali. Kedua orang ini lebih mirip majikan dan kacung, jarak sampan mereka masih dua tombak lebih dari perahu besar, tiba2 si kurus jubah hijau membentang kedua lengan, tahu2 tubuhnya melejit ke atas dan bersalto sekali di tengah ualara terus meluncur ke arah perahu. Gerakan ini sangat tangkas, sedikit kakinya menutul di pinggir perahu, tubuhnya terus berkelebat ke depan menembus sinar pedang yang silau dan langsung, meluncur ke dalamperahu. Pada saat itulah seorang laki2 yang berdiri di luar pintu menghardik sekali terus mengadang, di mana pedangnya bergetar, kontania menusuk duaHiat-tosijubahhijau. Tapi sijubah hijau tak berkelit juga tak menangkis, tangan malah dia angkat terus menyentak ke pedang lawan-Sudah tentu gerakan ini di luar dugaan laki2 berpakaian ketat yang berjaga di depan pintu, betapa tajam pedangnya ini, tapi orang ini berani melawan pedangnya dengan tangan telanjang? Sekilas melengak. tahu2 didengarnya suara keras beradu, pedang panjangnya telah kena dijepitjari lawan-Ternyata lengan kiri sijubah hijau kelihatan berwarna hijau ke-coklat2an, kelima jarinya runcing kaku seperti baja, jelas itulah jari2 yang terbuat dari besi. Jadi lengan kirinya itu adalah tangan palsu yang terbuat dari besi, dari warnanya yang mengkilap itu, jelas jari2 besiitutelah dilumuriracun jahat. Kejadian begitu cepat laksana percikan api, begitu tangan besinya berhasil menjepit pedang panjang lawan, tangan kanan sijubah merah lantas menghantam ke muka lawan pula. Sebenarnya kepandaian laki2 berpakaian ketat itu tidak rendah, tapi lantaran pedang dijepit lawan, sedetik dan melengak. tahu2 pundak kiri sudah kena ditampar oleh angin pukulan lawan, walau dia bisa bergerak cepat sehingga tubuhnya tidak terpukul telak, tapi samberan angin pukulan yang mengenai tubuhnya juga tidak ringan. Terasa tulang pundak kirinya sakit luar biasa, hampir saja ia jatuh kelengar, tatkala tubuhnya terlempar hampirjatuh, sigap sekali kakinya melayang menendangke ulu hatisijubah hijau. Sijubah hijau menjengek.
"Tong-long-cui, ternyata kau murid Tong-long-bun.
"Jaribesitangankirinyasegeramencengkeramke tungkak kaki orang. Setelah pundak kiri teriuka, sudah tentu gerak-gerik laki2 baju ketat ini menjadi kurang tangkas, tapi mengingat mati-hidup jiwa sendiri terletak pada gerak tendangan kakinya ini, maka dengan nekat dia meyerempet bahaya dan melancarkan serangan, harapannya cukup bertahan untuk sementara waktu lagi. Sekali berhasil sijubah hijau kerjakan kedua tangannya dengan kencang, beruntun tangan kanan menggempur dengan gencar, sehingga laki2 baju ketat didesaknya mundur keripuhan-Sementara itu pertempuran sengit di haluan perahu di depan sana semakin sengit, senjata terus berdenting keras, mendadak terdengar suara "byuur", salah satu dari laki2 baju ketat warna kelabu yang melawan kedua musuh baju hitam tercebur ke air dengan luka parah. Sementara seorang lagi juga sudah terluka, tapi dia bertahan mati2an dengan nekat. Melihat anak buahnya bukan tandingan lawan2nya dan tahu gelagat jelek. semakin berkobar amarah Liok Kian-lam, kedua matanya mendelik dan membara seperti terbakar, pedang berputar laksana tabir cahaya, sekuat tenaga dia menggempur musuh. Sayang musuh yang satu ini berkepandaian tinggi, meski sudah seratus jurus kemudian dia tetap tak mampu merobohkan lawan-Setelah musuhnya jatuh ke air, salah seorang baju hitam menjadi tiada lawan lagi, maka sambil menenteng pedang segera dia melurukpada musuh yang sedang di cecar kawannya. Memangnya sudah terdesak di bawah angin, kini digencet lagi dari depan dan belakang, sudah tentu dia bukan tandingan kedua musuhnya, hanya beberapa gebrak saja, dia kena terbabat oleh lawan di depan, lengan kanannya terbacok putus. Laki2 baju ketat warna kelabu menjerit ngeri, saking kesakitan dia jatuh semaput, serempak musuh di belakangnya ayun kaki menendangnya tertempar jatuh keair juga. Liok Kian-lam jadi beringas, bentaknya.
"Biar aku adu jiwa dengan kalian-Tiba2 dia gentak pedang menaburkan tabir kemilau, ia bertekad gugur dan menyerang dengan gencar, yang dicecar adalah Hiat-to mematikan ditubuh si muka kelabu. Rangsakan gencar ini dilakukan tanpa mengingat keselamatan jiwa sendiri, sudah tentu sijubah hijau tidak mau diajak gugur bersama, dia berkelit mundur berulang2. Liok Kian-lam memperoleh peluang untuk mencecar lebih sengit, serangannya semakin ganas hingga si muka kelabu juga kerepotan-Sementara itu, pemuda jubah biru yang sejak tadi hanya menonton di atas sampannya tiba2 melompat ke atas perahu, gerak tubuhnya sungguh amat aneh dan cepat sekali, hanya sekali berkelebat bayangan biru, tahu2 dia sudah berada di tepi perahu, dari kejauhan jarinya menuding, sekali tutuk dia membikin Liok Kian-lamlumpuhtakberdaya. Tatkala melancarkan serangan gencar, tiba2 Liok Kian-lam merasakan pinggang kesemutan, badan lantas tersungkur ke depan, pedangnya menusuk tembus ke dalam papan geladak yang tebal itu. Lekas si muka kelabu rampas senjata lawan, memberi hormat kepada pemuda jubah biru, kata-nya.
"Terima kasih atas bantuan Kongcu."
"Tin-sincu tidak usah sungkan,"
Kata pemuda jubah biru.
Ternyata si muka kelabu adalah Thian-kau-sing, si bintang anjing langit.
Thian-kau-sing melangkah maju, sekali cengkeram dia jinjing tubuh Liok Kian-lam, sementara tangan lain menekan punggung orang, katanya kepada si jubah hijau.
"Hou-heng, harap berhenti."
Lalu dia membentak laki2 baju kelabu "Kawan ini supaya dengarkan, Liok-piauthau kalian sudah berada di tangan orang she Tin, kalau kau tidak ingin dia mampus, lekas minggir dan buang senjata."
Sijubah biru segera tarik tangan seraya melompat mundur, lalu berdiridibelakang pemudajubah biru.
Laki baju kelabu memang sudah terluka, ter-desak di bawah angin lagi, melihat Liok Kian lam tertawan musuh, empat orang kawannya hanya tinggal dirinya seorang, jelas lebih2 bukan tandingan musuh, terpaksa dia melompat mundur sambil melintangkan pedang, katanya setelah menarik napas panjang.
"Kalian sebetulnya orang dari golongan mana? Selama malang melintang di utara dan selatan belum pernah pihak Ban-seng piaukiokberbuatsalahkepada kawan2 Kangouw...."
Sebelum orang habis bicara Thian-kau-sing segera menukas.
"Saudara tak usah banyak omong, tadi sudah kujelaskan kepada Llok-piauthau, tujuan kami adalah budak2 yang melarikan diri itu, tiada sangkut pautnya dengan piaukiok kalian, sekarang ada Dian-kongcu kami di sini, lekas suruh orang2-mu keluar, biar kami geledah perahu ini."
Pada saat itulah terdengar suara merdu nyaring menanggapi.
"Aku ada di sini, kalian main cegat, melukai para Piausu, perbuatanmu mirip penjahat, memangnya apa maksudmu?"
Dari dalam perahu melangkah keluar seorang pemuda sekolahan berjubah hijau dengan kepala dibungkus kain.
Di belakangnya kanan kiri mengintil kacungnya dengan langkah ringan dan mantap mereka beranjak ke depan, Ketiga orang ini terang adalah Giok-je bersama Ping-hoa dan Liau-hoa.
Laki2 baju kelabu segera menghampiri, katanya dengan nada penuh sesale "cayhe beramal bukan tandingan mereka, tak mampu bertanggung jawab sebagai pelindung, sehingga Kongcu dibuat kaget "
Dengantakacuh Giok je menukas."Bukansalahkalian."
Dingin dan tajam sorot mata pemuda jubah biru menatap Giok je bertiga seperti ingin mencari apa2, tanyanya.
"Kalian dari mana dan mau kemana?"
Giok-je mendengus seperti sengaja meremehkan mereka, katanya.
"Apakah aku harus menjawab?"
"Apa yang kutanyakan, mau atau tidak hartus kau menjawabnya,"dengus pemuda jubah biru. Seperti apa boleh buat Giok-je berpikir sebentar, lalu berkata.
"Baiklah, cayhe Hoa Siang-yong dari An-khing, mau pergi ke Lam-Siang."
Waktu orang bicara, pemuda jubah bieu sedikit miringkan muka memberi isyarat kepada sijubah biru yang berdiri di sampingnya.
Tanpa bersuara sijubah biru tiba2 mengayun tangan kanan, tampak dua titik sinar cokelat melesat terbang terpencar ke arah Liau -hoa dan Ping-hoa.
Sejak keluar Liau-hoa dan Ping-hoa sudah bersiaga, diam2 merekapun perhatikan setiap gerak-gerik lawan-Melihat sijubah hijau menimpukkan dua titik coklat ke arah mereka, keduanya bersama mengeluarkan pedang, sekali sinar dingin berkelebat.
"Ting, ting", dua panah kecil berwarna kehijauan tersampuk jatuh di atas geladak. Betapa cepat dan tangkas gerakan mencabut pedang serta menyampuk itu sungguh amat mengagumkan-Pemuda jubah biru tersenyum, sorot matanya bercahaya, katanya.
"Budak hina, kalian lari dari coat-sin-san-ceng dan menyaru sebagai laki2, memangnya aku tak bisa mengenali? Kini berhadapan dengan Kongcu, tidak lekas kalian lemparkan pedang dan menyerah saja? Tenang saja sikap Giok-je, katanya sambil menatap tajam.
"Apa katamu? Aku tidak mengerti."
"Giok je, kau masih berani mungkir, atas dirimu?"
Bentak pemuda-jubah biru.
"Kalau bicara harap tuan tahu aturan, cayhe Hoa Siong-yong, pendudukasli kotaLamjiang, siapaitu Giok-je?"
Menghadapisituasi yang berubah secara mendadak ini ternyata dia tidak kaget, sikapnya tetap tenang. Pemuda jubah biru naik pitam, katanya sambil menuding.
"Hou Thi-jiu, tangkap dia"
Ternyata pemuda jubah biru ini adalah Dian Tiong-pit, anak angkat Cek Seng-jiang yang berkuasa di coat-sin-san-ceng itu, sijubah hijau adalah Hou Thi-jiu.
Mereka ditugaskan menangkap ketiga budak yang melarikan diri ini.
Mendapat perintah majikannya, Hou Thi-jiu segera berkelebat maju ke depan Giok-je, kata-nya dingin.
"Giok-je, kau masih inginkan aku orang she Hoa turun tangan?"
Pucat muka Giok-je saking marah, serunya murka.
"Kurang ajar, kalian berani menghina orang sekolahan, seorang lelaki sejati seperti orang she Hoa ini kalian anggap sebagai budak pelarian, sungguh kurang ajar"
"Jangan cerewet, kalau tidak mau menyerah, terpaksa aku tidak sungkan terhadapmu,"
Kelima jari Hou Thi-jiu terulur terus mencengkeram pundak Giok je, Kini Giok-je menyamar pemuda sekolahan, sudah tentu dia tidak sudi turun tangan terhadap budak keluarga orang -lain?
Sambil menggeser selangkah dia berpaling, katanya "Hoa wok.
layani dia beberapa jurus."
Hoa wok adalah Ping-hoa, dia menyahut sekali terus melompat maju, pedang di tangan menuding sambil membentak.
"Kau ini barang apa? berani kurang ajar terhadap Kengcu kami?" -Sret, pedangnya lantas memapas ke pergelangan tangan Hou Thi-jiu. Hou Thi-jiu terkekeh2, katanya.
"Budak jelita, kau ini Ping-hoa atau Liau-hoa?"
Secepat kilat tangan besi segera mencengkeram pedang.
Ping-hoa menggetar batang pedang sehingga menerbitkan cahaya, ia menusuk tiga Hiat-to sekaligus.
Lekas Hou Thi jiu gunakan tangan kiri menangkis, dia sambut serangan lawan secara keras.
Dia pikir lawan adalah perempuan yang baru berusia belasan tahun, betapa tinggi lwekang dan ilmu silatnya mana kuat menandingi tangkisan lengan besinya, sekali tangkis dan kepruk pedang lawan tentu terpental lepas.
Tak terduga kenyataan justeru diluar perhitungan Hou Thi-jiu, tatkala lengannya menangkis ke atas.
"trang", serangan Hoa-ping memang dia punahkan, tapi orang tidak tergetar mundur atau terlepas pedangnya, keruan ia kaget, tahu2 pedang Hoa-ping sudah turun ke bawah terus memotong ke lambung Hou Thi-jiu. Jurus ini dinamakan It-yap-cu-khiu (selembar daun di musim rontok), gaya pedangnya mantap dan cepat.
"bret", baju di depan dada Hou Thijiu terobek panjang satu kaki lebih. Keruan Hou Thi-jiu marah, lengan kiri turun naik, segera dia lancarkan serangan gencar, tampak di dalam tabir cahaya warna cokelat kehijauan itu, jari2 besi yang runcing itu selalu mengincar batokkepala Ping-hoa. Sudah tentu Ping-hoa tidak berani lena, pedang dia putar secepat angin, iapun bergerak cepat melayani kecepatan lawan, tubuhnya terselubung tabir cahaya kemilau, gerakannya cepat dan banyak variasinya lagi, dengan balas menyerang dia hadapi rangsakan lawan-Seperti diketahui Dian Tiong-pit adalah anak Cek Seng jiang, cengcu Coat Sin-san-ceng, iapun murid kesayangan Jek-tongcu, atasan Thian-kau-sing, maka sedapat mungkin dia melakukan apa saja untuk menjilat pemuda ini, kini melihat Hou-Thi jiu melabrak lawan, tanpa disuruh dia melabrak maju, katanya menyeringai.
"Kalian tiga budak ini, di hadapan Dian kongcu masih berani membangkang, besar benar nyali kalian-"
Laki2 baju kelabu yang sudah terluka itu segera melompat maju, hardiknya beringas.
"Berani kau melangkah maju, aku tidak sungkan2 lagi."
Thian-kau-sing menyeringaisadis, jengeknya.
"Kau ingin mampus apa susahnya, orang she Tin cukup angkat sebelah tangan saja untuk menyempurnakan keinginanmu."-"Sreng", dia cabut sebatang pedang tipis dan sempit.
"Sim-piauthau,"
Kata Giok-je.
"luka dipundakmu belum diobati, kau mundursaja, oranginibiardibereskanHoa Lok."
Hoa Lok adalah Liau-hoa. Mendengar kisikan Giok-je segera dia mendahului kedepan, katanya.
"Kongcu suruh aku bereskan dia, Sim-piauthau, silakan mundur."
Habis kata2nya dengan jurus Ham-bwe-pan-jun (kembang Bwe menyambut musim semi), pedangnya tiba2 menutul ke iga kiriThian-kau-sing.
cepat Thian-kau-sing menangkis, di luar tahunya bahwa setiap anggota Pek-hoa-pang pernah meyakinkan Pek hoa-kiam-hoat, sekali gebrak.
sinar pedang yang ceplok2 seperti rangkuman bunga bermunculan silih berganti, jumlahnya semakin ber-tambah2.
Tenaga pembawaan perempuan memang tidak sekuat laki2, tapi ilmu pedang yang mereka yakinkan ini justeru teramat lincah dan tangkas sekali untuk menambal kekurangan ini.
Ilmu pedang Thian-kau-sing aneh dan ganas, tapi sudah tujuh-delapan jurus melayani Liau-hoa tetap tak kuasa menempatkan diri diposisi yang lebih unggul, keruan ia bertambah gusar, mulutnya berkaok2, pedang menyamber ke kanan-kiri, bayangannya laksana segumpalawan hitamyang bergolaknaikturun-Hanya menghadapi dua budak saja Hou Thi-Tjiu dan Thian-kau sing sekian lamanya tidak bisa menang, keruan pancaran sinar mata Dian Tiong-pit semakin membara, katanya mengulum senyum sinis.
"Agaknya memang kalian berasal-usul luar biasa, hari ini tak bisa kulepas kalian pergi begini saja."
Ia mendesak maju beberapa langkah serta membentak.
"Giok je budak keparat, keluarkan pedangmu, dalam 10 jurus jiwamu akan kurenggut."
Insaf keadaan serba salah, Giok-je juga pantang mundur, dia tahu kepandaian Dian Tiong-pit sangat lihay, dirinya terang bukan tandingannya, maka sedapat mungkin sejak tadi dia bersikap tenang, malah Ping-hoa dan Liau-hoa sudah diberi pesan supaya tidak sembarang bertindak.
Kini keadaan sudah mendesak dan terpaksa dia harus ambil putusan nekat, katanya.
"Dian-kongcu terlalu mendesak, terpaksa kita harus menentukan kalah dan menang baru urusan bisa berakhir, baiklah, akan kulayani kehendakmu."
Pelan2 dia copot jubah hijau bagian luar, tampak dia mengenakan pakaian ketat.
"sreng", pedang, dilolos lalu berdiri tenang dan tegak. Dingin pancaran mata Dian Tiong-pit, katanya.
"Budak keparat, masihtidakmau mengakukauiniGiok-je,budakpelarian?"
"Siapa bakal mampus di antara kita belum bisa ditentukan, setelah kau mengalahkan pedang di tanganku boleh kau mengoceh seenakmu sendiri,"
Jengek Giok-je, Berkobar nafsu membunuh Dian tong-pit, sambil menggerung gusar pelan2 dia mencabut pedang, tapi sedapat mungkin dia bersabar, katanya menuding dengan pedang.
"Asal kalian serahkan orang yang menyaru Cu Bun-hoa itu, aku akan menaruh belas kasihan terhadap kalian.Jadi tujuannya mengudak kemari adalah orang yang memalsu Cu Bun-hoa itu. Persoalan tiada lain karena Cu Bun-hoa palsu itu sudah berhasil menawarkan getah beracun. Giok-je tertawa dingin.
"omongan Dian-kongcu sungguh lucu dan menggelikan kita toh belum bergebrak, menang atau kalah belum ketentuan, bukankahomonganmu initerlaludinidiucapkan"
Membesi muka Dian Tiong-pit, jengeknya.
"Baik, setelah kuringkus kau, masa kau bisa mungkir?"
Tiba2 bentaknya mengguntur.
"Budak keparat, lihat pedang"
Angin kencang terus menampar, tenaga kuat bagai gelombang dingin tiba2 menyerang berbareng selarik sinar menyamber menusuk ke perut lawan Giok-je memang sengaja memancing kemarahannya, melihat Dian Tiong-pit melancarkan serangan dengan gusar, diam2 ia senang, lekas dia melompat ke samping, berbareng pedang di tangan kanan berputar melintir pedang lawan, bagai kilat berkelebat tahu2 ia mendesak maju dan sekaligus dia melontarkan tiga kali tusukanDian Tiong-pit tertawa menghadapi tiga tusukan ini, sekali ayun pedang, dia punahkan serangan lawan terus balas menyerang.
Tampak ceplok2 bunga bertaburan, sinar kemilau berkelebat membawa samberan angin dingin, begitu sengit dan memuncak pertempuran ini sehingga tampaknya laksana puluhan ekor ular peraksedangterjangkian kemaridiantarataburanbunga.
Puluhan jurus kemudian, mendadak Giok-je merasakan pergelangan tangan bergetar, pedangnya kena dibentur oleh pedang Dian Tiong-pit dan menerbitkan suara gemerincing nyaring, kedua pedang terbuat dari baja murni, untung tiada yang cidera, Giok-je tetap bergerak dengan lincah, sebat sekali dia gunakan langkah ou-kut-lou-poh (bergerak dengan menekuk lutut), tahu2 sudah berkisar ke kanan Dian Tiong-pit, tiba2 ujung pedangnya menusukkepinggangorangsepertiular memanggut.
Dian Tiong-pit tertawa dingin, setelah ujung pedang Giok-je menyentuh pakaiannya baru mendadak dia menggeser kaki ke belakang, sementara badan ikut berputar, pedang di tangan kanan menabas turun ke bawah dan telapak tangan kiri terayun keatas, dua serangan dilancarkan bersama.
Padahal serangan Giok-je sudah keburu dilancarkan, diam2 ia mengeluh, untuk menarik serangan terang tidak keburu lagi, Apalagi tabasan pedang Dian Tiong-pit dilandasi kekuatan besar, maka terdengar suara "trang", pedang Giok-je tergetar lepas jatuh berkelontang di atas geladak, sementara telapak tangan kiri lawan laksana geledek menyamber tahu2 sudah mengancamdada.
Bukan kepalang kejut Giok-je, dalam keadaan gawat ini terang tak sempat lagi menjemput pedangnya yang jatuh, cepat2 ia mendak tubuh seraya melompat mundur ke belakang, untung dia lolos dari lubang jarum.
Tapi sebelum dia sempat bernapas, sambil bergelak tawa Dian Tiong-pit kembali ayun pedang setengah lingkar, kaki melangkah setindak.
mulut membentak.
"Kalau tidak menyerah, jangan salahkankalauaku tidak kenalkasihan lagi"
Baru saja dia habis bicara tiba2 didengarnya seorang menanggapi dengan suara lantang.
"Dian-kongcu, kukira sudah tiba saatnya kau berhenti."
Terkejut Dian Tiong-pit, lekas dia berpaling , seraya membentak.
"Siapa?"
Tampak pakaian melambai2 tertiup angin, entah sejak kapan seorang telah berdiri di haluan perahu, kepalanya pakai kerudung hitam, sikapnya gagah, katanya setelah tertawa panjang.
"Dian-kongcu masa tidak kenal cayhe lagi?"
Kejadian hanya berlangsung dalam waktu yang amat singkat, waktu Dian Tiong-pit menoleh ke sana, Piausu bernama Llok Kian-lam yang tadi tertutuk roboh itu kini tampak merangkak berdiri.
Sementara kedua laki2 anak buah Thian-kau sing yang menjaga tawanannya kini berbalik kena tertutuk Hiat-tonya dan berdiri kaku ditempatnya.
Dan masih ada lagi, Hou Thi jiu danThian kau-sing yang sedang bertempur melawan Ping-hoa dan Liau-hoa itu semula sudah berada di atas angin, kini merekapun seperti tertutuk Hiat-tonya oleh orang, yang satu membentang jari2 tangan besinya bergaya seperti hendak menerkam, seorang lagi mengangkat pedang menusuk tempat kosong, hanya bergaya tapi tak bergerak.
Sementara Ping-hoa dan Liau-hoa sudah simpan pedang serta menyingkir kepinggir dengan berdiri tersenyum simpul, jelas semua kejadianadalah hasil kerjasiorang berkedok ini.
Waktu dia muncul di atas perahu, Hou Thi-jiu dan Thian-kau-sing sedang melabrak lawannya, orang ini tiba2 membokong pada saat orang tumplek perhatian menghadani musuh, sudah tentu berhasil dengan gemilang.
Tapi apapun yang telah terjadi, bahwa orang ini bisa menutuk Hiat-to Hou Thijiu dan Thian-kau-sing dalam segebrakan saja, terang memiliki ilmu silat yang amat mengejutkan.
Sudah tentu perubahan mendadak yang tak pernah dibayangkan ini membuat Dian Tong-pitkagetdan pucat mukanya, tapijugagusar.
Tadi pihaknya sudah diatas angin, karena orang berkedok ini mendadak muncul, situasi lantas berubah sama sekali, dari unggul kini menjadi asor, usahanya menjadi gagal total.
Karena amarahnya memuncak.
serunya murka.
"Kau yang membekuk mereka?"
"Betul,"
Jawab orang berkedok.
"aku tak senang melihat mereka main keroyok. main cegat menganiaya tiga nona cantik ....."
Secara gamblang dia mengatakan bahwa Giok-je bertiga memang samaran gadis2 ayu.
"Siapa kau?"
Bentak Dian Tiong-pit gusar. Orang berkedok tertawa, katanya.
"Dian-Kongcu tak mengenalku, umpama kusebutkan namaku, kau tetap tidak akan kenal aku, betul tidak?"
Gusar dan dangkol Dian Tiong-pit, bentak-nya.
"Bagus?"
Tiba2 pedangnya bergerak, selarik sinar bersama orangnya melesat kencang menerjang ke arah orang berkedok.
Orang berkedok bertangan kosong, sudah tentu dia tidak berani menyambut secara keras, lekas dia tutul kedua kaki melambung tinggi.
Melihat orang berkelit dengan melompat tinggi, Dian Tiong-pit tertewa dingin, dengan gaya Pek-hung-koan-jit (bianglala menembus sinar matahari), sinar pedang berputar, laksana anakpanah menyamber iapun meloncat keatas membayangilawan-Mumbul sekitar dua tombak mendadak di tengah udara orang berkedok menggunakan gerakan Hun-li-hoan sin (membalik badan di tengah awan), pada tangannya sudah memegang sebatang pedang pendek sepanjang satu kaki lebih, ia menukik menyongsong Dian Tiong-pit yang baru menjulang ke atas.
"Trang", di tengah udara berkumandang suara nyaring benturan senjata. Di tengah udara kedua orang bentrok secara keras, lalu bayangan orang segera berpencar, keduanya sama2 meluncur ke bawah. ilmu silat Dian Tiong-pit amat tinggi, pendengarannya tajam dan matanya jeli, tadi waktu kedua senjata beradu dan merasakan bunyi benturan agak ganjil, waktu dia menatap sambil angkat tangannya, dilihatnya pedang sendiri yang terbuat dari baja murni ujungnya tertabas kutung sepanjang satu dua dim. Bertambah kaget dan marah hatinya, mukanya merah padam, sambil menghardik dan menubruk maju, pedangnya menerbitkan kesiur angin santer. Serangan dilancarkan dengan amarah yang meluap. dalam sekejap beruntun dan menyerang belasan kali. Orang berkedok layaninya dengan enteng, katanya tertawa.
"Begini besar nafsu Dian-kongcu"-Sebat sekali ia bergerak ke kanankiri, badannya meliukkesana kemari. Bagai angin badai rangsakan pedang Dian Tiong-pit, betapa cepat gerak serangannya, tapi ke timur tusukan pedangnya, tahu2 lawan sudah berada di barat, menusuk ke barat, orang tahu2 sudah berpindah ke utara, namun orang berkedok itu tidak pernah balas menyerang. Tiga belas serangan pedang Dian Tiong-pit menimbulkan gelombang hawa dingin, setombak di sekeliling gelanggang dilingkupi sinar perak laksana naga mengamuk. bayangan orang berkedok seperti tergubat di dalamnya, dari luar kelihatan kelebat sinar pedang yang kemilau itu saban2 hampir menabas kutung bayangannya, tapi hanya terpaut serambut saja, tahu2 pedang menyamber ke samping, ujung pakaian orangpun tidak mampu disentuhnya. Lama kelamaan semakin membara amarah Dian Tiong-pit, saking murka hampir gila rasanya, hardiknya keras.
"Kau berani tampil mencampuri urusan ini, kenapa tidak berani melawan pedangku ini, main kelit dan menyingkir begini terhitung apa? Memangnya gurumu hanya memberi pedang pendek saja dan tidak mengajarkan ilmunya?"kata2nyasengitdancukup pedas menusukperasaan-Mendadak si orang berkedok menghentikan gerakannya, katanya tertawa dingin.
"Tiong-pit, aku ingin memberi muka padamu, supaya kau tahu diri dan mundur teratur, ternyata kau berhasrat berkenalan dengan ilmu pedangku, nah awas, hati2lah"
Sembari bicara pedangnya mendadak bergetar, seketika menaburkan delapan atau sembilan larik cahaya dan berjatuhan ke depan Dian Tong pit.
Anehnya larikan sinar pedang itu panjang pendekberlainansatusamalain, manayangkosongdan manayang betul2 berisi sungguh sukar diraba, perubahannya cepat dan mengandung banyak variasi, Sejak kecil Dian Tiong-pit sudah digembleng meyakinkan ilmu pedang, di bidang ini boleh dikatakan ahli, maka ia kira orang hanya mengaburkan cahaya untuk mengelabui pandangannya.
Karena menurut kebiasaan, orang2 yang mengembangkan ilmu pedangnya sering juga menciptakan tabir sinar pedang seperti ini, di antara sekian banyak jalur2 sinar yang bertebaran itu terang hanya satu yang merupakan serangan telak.
yang lain hanya merupakan bayangan yang membikin kabur pandangan lawan-Maka dalam hati Dian Tiong-pit tertawa dingin, belum lagi lawan merangsak maju dengan sinar pedangnya, cepat ia membalik tangan kanan, dengan jurus Hun-kong-kik-ing (memencar sinar menyerang bayangan) iapun menaburkan secercah cahaya pedang dingin, ia malah menyongsong bayangan pedang lawan-Betapa cepat gerakan kedua pihak yang saling labrak ini, kelihatan dua larik sinar saling gubat sekali lalu berpencar kembali, dua kali berkumandang suara berdering.
Karena memandang rendah musuh dan terburu nafsu, Dian Tiong-pit membuat perhitungan salah dan menilai rendah larikan sinar pedang lawan, jika satu di antara larikan sinar pedang itu merupakan serangan telak.
maka larik sinar yang lain hanya untuk mengaburkan pandangan dan perhatian lawan saja dan tak mungkin menimbulkan suara berdering ber-kali2, kini jelas bah-wa sinar pedang itu semuanya merupakan serangan yang sesungguhnya.
Benturan pedang itu berlangsung dalam waktu yang amat singkat sekali, tapi Dian Tiong-pit sudah merasakan sesuatu yang ganjil, setiap kali tabasan pedang lawan dapat mengikis pedangnya menjadi lebih pendek.
pedang yang semula panjang tiga kaki lebih itu kini hampir sisa gagangnya saja.
Untunglah laki2 berkedok itu segera berhenti serta mundur, katanya dingin.
"Dian Tiong-pit, kau sudah mau mengaku kalah?"
Watak Dian Tiong-pit berangasan, tinggi hati dan angkuh, kapan dia pernah tunduk kepada orang lain, selama berkelana di kangouw belum pernah kecundang, apalagi dipermainkan seterunya ini, keruan amarahnya bukan kepalang, ia berteriak.
mendadak gagang pedang digunakan sebagai senjata rahasia terus ditimpukkan, serentak kelima jarinya menekuk laksana cakar menyerang dengan jurus Tok-liong tam-jiau (naga beracun ulur cakar), secepat kilat ia mencengkeram dada musuh, Maklumlah pada serang menyerang tadi jarak kedua pihak hanya kurang lebih tiga kaki jauhnya, dalam jarak sedemikian dekat, serangan Dian Tiong-pit yang mendadak ini sudah tentu membuat orang tidak menduuga dan tidak berjaga2.
Gagang pedang itu ditimpukan sepenuh tenaga, tahu2 sudah melesat tiba di depan hidung si orang berkedok.
sementara kelima jari tangannya tajam laksana cakar bajapun sudah mengincar dada orang.
Si orang berkedok memang tidak menduga akan datangnya serangan berganda ini, sementara gagang pedang sudah berada di depan mata terpaksa dia doyong tubuh ke belakang sambil angkat pedang tegak ke atas.
"Trang", gagang pedang itu dia sampuk patah menjadidua potong. Sementara cakar Dian Tiong-pit yang terpentang itu tahu2 juga sudah menyentuh pakaian si orang berkedok baru saja dia kerahkan tenaga hendak mencengkerann, tiba2 terasa urat nadi tangannya, menjadi kesemutan dan lenganpun menjadi lemas, ternyata pada detik yang menentukan itu pergelangan tangan Dian Tiong-pit sudah terpegang oleh si orang berkedok malah, keruan kagetnya bukan kepalang, lekas dia meronta sekuatnya, tak nyana orang berkedok lebih cepat lagi, tahu2 tangan kiri terangkat, dengan jurus "mendorong perahu menurut aliran air", dengan enteng dia mendorong, maka Dian Tiong-pit tidak sempat meronta lagi, tanpa kuasa tubuhnya mencelat dan melayang setombak lebih.
"Blang", dengan keras terbanting di atas geladak. hampir saja dia terguling jatuh ke sungai. Betapapun kepandaian silat Dian Tiong-pit tidak lemah, begitu badan terbanting di lantai papan, sekali mengerahkan tenaga, dengan lincah ia sudah meletik bangun, begitu berdiri tegak sinar matanya seketika mencorong beringas, sekian saat dia tatap orang berkedok itu, bentaknya.
"Sebutkan nama tuan, orang she Dian akan segera berlalu."
Orang berkedok cudah simpan pedangnya, katanya tertawa.
"cayhe tak perlu menyebut nama segala, kalah menang sudah terang, lekas kau pergi dengan anak buahmu, kelak kita masih akan berhadapan lagi di medan laga."
Habis berkata dia malah pergi lebih dulu daripada Dian Tiong-pit, badannya meluncur ke sana dan hinggap diatas sebuah sampan-Sejak orang berkedok muncul dan kembali ke atas sampan, kejadian hanya berselang beberapa kejap saja, keruan orang2 Pekhoa-pang sama melongo kebingungan-Melihat orang mau pergi baru Giok je bersuara.
"Tayhiap ini, harap tunggu sebentar"
Orang berkedok itu sudah berada di atas sampan, seperti tidak dengar seruannya, dia melajukan sampan itu ke arah belakang sana.
Seperti diketahui sampan yang dipakai ini sebetulnya adalah salah satu milik Dian Tiong-pit.
Sementara itu Dian Tiong-pit sedang sibuk membuka Hiat-to Hou Thijiu, Thian-kau-sing dan kedua laki2 bermuka kuning itu, lalu katanya.
"Hayo pergi."
Dengan anak buahnya segera mereka berlalu.
Dikala pertempuran berlangsung dengan sengit, diam2 Kiang-lo toa sudah perintahkan anak buahnya menolong kedua laki2 baju kelabu yang terjungkal ke sungai tadi, kini sudah dlobati lagi.
Diam2 Giok-je terheran2 melihat orang berkedok itu mendayung sampannya sedemikian pesatnya ke arah belakang, batinnya.
"orang ini tadi muncul mendadak di atas perahu, pergi pula secara tergesa2 dengan sampan Dian Tiong-pit, memangnya dari mana dia datang?"
Melihat Giok-je menjublek mengawasi ke buritan, Llok Kian-lam bertanya.
"Apakah Hoa-kongcu sudah tahu asal-usul orang berkedok itu?"
Giok je menggeleng, ujarnya.
"Ilmu silat orang ini amat tinggi, begitu cepat gerakannya, sukar aku mengikuti permainannya, entah dari perguruan mana ...."
Tiba2 Liau-hoa menyeletuk "He, mungkinkah orang itu adalah Cu-cengcu?"
"Hah"
MendadakGiok-jeberseru."Lekaskitatengok....."
Ooo(000dw000)ooo Sebelum mulai dengar ramalannya Cu-ki-cu menyulut tiga batang dupa, lalu satu persatu dia suruh Ban Jin-cun, Kho Keh-hoa dan Cu Jing memperkenalkandiri, jadipersoalannyaadapada ketigabatang dupa yang mengeluarkan asap wangi yang memabukkan ini, siapa saja setelah bicara pasti menyedot bau harum ini, maka cepat sekali merekapun terjungkali roboh.
Keruan Cu-ki-cu tergelak kegirangan sambil bangundaritempatduduknya.
Mendadak terdengar suara nyaring merdu berkumandang di luar pondok.
"Ada orang di dalam?"
AgakterkejutCu-ki-cu, bentaknya."siapa?"
"Kami maucarituaCu-ki-cu"agaknyadiatidakseorangdiri. Cu-ki-cu mengerut alis, sekilas dia pandang tiga orang yang menggeletak di tanah, lalu menyingkap kerai berjalan keluar, tertampak orang telah berada diruang tamu. Itulah dua pemuda sekolahan yang berusia tujuh-belasan, wajahnya sama cakap dan ganteng. Sambil mengelus jenggot menguning di bawah dagunya yang jarang itu, Cu-ki-cu pandang kedua tamunya itu sekian saat, setelah batuk2 kering baru bertanya.
"Kalian ada perlu apa?"
Salah seorang yang lebih tua berkata dengan tertawa.
"Kami ingin mohon tuan Cu-ki-cu meramalkan nasib kami, apakah kau tuan Cu-ki-cu?"
"Sayang sekali, kebetulan Cu-ki-cu sedang ke luar,"
Sahut Cu-kicu. Pemuda yang lebih muda celingukan, longok sana toleh sini, lalu bersuara heran.
"He, mana mereka?"
"Apa kata Siang kong?"
Tanya Cu-ki-cu.
"Tadi tiga orang teman kami sudah kemari lebih dulu, di mana mereka?"
Terbayang sinar aneh pada mata Cu-ki-cu, katanya tersenyum.
"o, apakah ketiga pemuda yang Siang kong maksud?"
"Ya, satu di antaranya adalah Piaukoku, dimana mereka?"
Tanya pemuda yang lebih muda.
"Memang tadi ada tiga pemuda kemari mau cari Cu-ki-cu, Lohu beritahu bahwa Cu-ki-cu sedang keluar, maka mereka lantas pergi."
Kedua pemuda saling pandang, kata yang lebih muda.
"Tidak mungkin, kuda tunggangan Piaukoku masih berada di luar sana, mana mungkin dia sudah pergi?"
Kata Cu-ki-cu kurang senang.
"Losiu sudah setua ini, masa berdusta pada kalian?"
Mendadak yang lebih muda itu tertawa lebar, katanya.
"Kukira kau ini justeru Cu-ki-cu sendiri, Piauko selalu larang kami ikut kemari, katanya cu-ki-cu tidak suka digangggu orang, supaya ramalannya tepat orang tidak boleh datang ber-bondong2, tentunya Piauko sengaja suruh kau keluar untuk menolak kedatangan kami, betul tidak? Hm, aku tidak percaya, mereka tentu sembunyi di dalam."
Habis berkata mendadak dia berteriak keras2.
"Piauko" -Tiba2 pula dia menerobos kedalam. Berubah air muka cu-ki-cu, sekali berkelebat dia mengadang seraya membentak.
"Berhenti"
Tangan kanan terus menepuk ke pundak si pemuda.
Sebelum telapak tangannya menyentuh pundak pemuda itu, mendadak dia rasakan punggung tangannya seperti digigit nyamuk, seketika seluruh lengan menjadi lemas lunglai dan pati rasa, tenaga yang dikerahkanpun sirna, keruan kagetnya bukan main, cepat dia periksa tangan sendiri, dilihatnya sebatang jarum sulam menancap dipunggungtangannya, jarumini memancarkancahayakehijauan-Seketika berubah pucat muka Cu-ki-cu, teriaknya ketakutan.
"Tong-bun-ceng-bong-ciam (jarum cahaya hijau keluarga Tong)"
Dalam berkata2 ini Cu-ki-cu kembali merasa kedua kakinya mulai lemas dan pati raga pula.
Kadar racun pada jarum kemilau hijau ini tidak terlalu keras dan memang khusus untuk membekuk musuh, yang diincar umumnya adalah kaki dan tangan, musuh seketika akan lena dan tak mampu melawan lagi.
Pemuda yang lebih tua mengejek.
katanya.
"Betul, kiranya kau kenal juga"
Sambil mengawasi pemuda yang lebih tua, Cu-ki-cu bertanya.
"Kau, Siangkong ini dari..dari keluarga Tong?"
Yang lebih muda cekikikan, katanya.
"Jangan cerewet, berdiri saja disitu"
Pada saat itulah kain gordyn di kamar sebelah timur tiba2 tersingkap.
dua laki2 bersenjata golok menerobos keluar.
demikian pula dari kamar sebelah barat juga melompat keluar dua orang laki2 bersenjata golok pula, begitu keluar mereka berpencar terus mengancam dengan golok mereka.
Gerakan keempat laki2 baju hitam cukup tangkas, begitu lompat keluar terus berpencar, dari kerja uhan mereka acungkan golok mengincar kedua pemuda yang terkepung itu.
Pemuda yang lebih muda melirik dan mencibir, katanya tak acuh.
"Kalian mau apa?"
Laki2 yang berdiri di muka mereka menyeringai, katanya.
"Anak kura2, ini yang dinamakan sorga ada pintu tak mau masuk-neraka tertutup rapat kau malah menerjangnya, rupanya kau sendiri ingin mampus,jangan menyesalbilatuanbesarmuberlakukejam."
"Kami hendak mencari Cu-ki-cu, siapa bilang ingin mati?"
Ujar si pemuda.
"Tuanmu bilang, kaliananak kura2 initamatlahhari ini."
Pemuda yang lebih tua tidak sabar lagi, matanya memancarkan cahaya terang, katanya dingin.
"Dik, tak perlu banyak omong dengan mereka, kaum keroco ini bukan orang baik, enyahkan mereka saja."
Yang lebih muda mengiakan seraya mencabut pedang pendek, berbareng pemuda yang lebih tua juga mengeluarkan sebatang pedang panjang. Laki2 yang bicara tadi menyeringai hina, katanya tergelak2.
"Anak kura2 ini ternyata pandai main silat juga."
Cu-ki-cu yang menyingkir ke samping segera menyela.
"Mereka adalahanak murid keluarga Tong dariSujwan-"
"Berani kau omong, biar kugampar muka dan kutamatkan jiwamu"
Bentak pemuda yang lebih tua. Sorot matanya yang dingin menyapu pandang, lalu menudingkan pedangnya kepada keempat musuh, katanya.
"Siapa di antara kalian yang maju lebih dulu."
Laki2 yang bicara tadi berkata pula.
"Keluarga Tong kalian sebetulnya tak pernah bermusuhan dengan kami, tapi kaliann justeru main seruduk kemari mencari gara2, umpama kalian putera raja juga, hari ini tak boleh dilepaskan lagi"-Golok bergerak. dia memberi tanda, dua orang laki2 baju hitam segera menubruk ke depan pemuda yang lebih tua. ia sendiri dengan seorang laki2 lain segera meluruk pemuda yang lebih muda, empat orang mengeroyok dua orang. Pemuda yang lebih tua berdiri tenang2 tanpa bergerak. kedua musuh yang menyerbu berpencar dari kanan kiri, yang kanan menabas lengan kanan yang memegang pedang, sementara musuh yang sebelah kiri menggerakkan golok mengancam pinggang. Ketika senjata kedua musuh hampir menyentuh badan baru pemuda yang lebih tua mengejek. mendadak kaki kiri menggeser mundur berbareng pedang di tangan bergetar, selarik sinar ke-milau segera berputar.
"Trang, trang", sekaligus dia tangkis golok kedua musuhnya, pedangnya masih bergerak menabas miring. Kepandaian silat kedua laki2 ini ternyata tidak lemah, sebat sekali mereka berkelit sembari angkat golok balas menyerang, gabungan serangan golok mereka cukup gencar dan mengincar tempat mematikanditubuh pemudayang lebih tua. Sementara pemuda yang lebih muda mengembangkan ilmu pedangnya yang cukup hebat, sinar pedangnya menyamber seperti rantaikemilau menciptakanbayangancahayayangberlapis2. Hanya beberapa gebrak. kedua musuhnya telah dicecar di bawah angin. Sebetulnya kedua laki2 ini biasanya mempunyai cara tersendirijlka mengeroyok musuh, tapi entah mengapa hari ini rangsakan sengit mereka tidak manjur lagi. Lain halnya dengan kedua temannya yang mengeroyok pemuda yang lebih muda, mereka sudah berada di atas angin-Pemuda yang lebih muda bersenjata pedang pendek. Lwekangnya memang lebih rendah dan latihan kurang matang, kalau satu lawan satu mungkin lebih unggul, tapi dikeroyok dua, dia betul2 kewalahan, niatnya melawan dan merobohkan kedua musuh itu, apa daya tenaga tak sampai. Sepuluh jurus kemudian keadaannya sudah semakin runyam, pedang pendeknya tangkis kanan pukul kiri, gerak pedangnya menjadi kacau dan tak teratur lagi. Sudah tentu hatinya kaget tapi juga geram, teriaknya.
"Kalian kawanan kunyuk yang ingin mampus, jangan bikin marah hatiku, nanti kupenggal kepala kalian."
Laki2 baju hitam disebelah kiri tertawa, ejeknya.
"Anak kura2, pandaijuga membual."-Sret, sret, tiba2gerakgoloknyadipercepat, duakalidia membacokdan menabas. Pemuda yang lebih muda dipaksa menangkis dan melompat mundur dengan kalang kabut. Laki2 baju hitam tertawa riang, golok dibolang-balingkan, mendadak dia mendesak maju seraya membentak.
"Anakkura, barusekarangkau tahurasa"
Belum habis bicara, pada saat mulutnya masih terbuka, mendadak dia menjerit keras dan roboh terjungkaL Melihat temannya tanpa sebab mendadak terjungkal, keruan laki2 yang lain terperanjat, sedikit lena tahu2 pedang si pemuda sudah menyamber tiba, hendak berkelitpun kasip.
baju pundaknya terpapas, walau kulitnya tidak terluka, namun dia sudah patah semangat,bergegasdiajejakkakidan melompatmundur.
Si pemuda meradang seraya membentak.
"Kaupun jangan harap bisa lari" -Dari balik lengan bajunya tiba2 menyamber keluar sebatang panah kecil lembut. Baru saja laki2 baju hitam mau berkelit, tapi sudah terlambat, terasa pergelangan kanan yang memegang golok kesakitan.
"trang", golok jatuh terlepas di tanah, tanpa kuasa iapun jatuh tersungkur. Kejadian berlangsung dalam beberapa kejap saja, kedua temannya yang mengeroyok pemuda lebih tua itu sebetulnya sudah berada di atas angin, serta melihat kedua temannya roboh terkena senjata rahasia, mereka menjadi gugup dan ciut nyalinya, sedikit lena pedang pemuda lebih tua segera menusuk iga kiri laki2 yang beradadisebelah kanan-Laki2 itu menjeritkeras2, sambil mendekap lukanya dia terjung keluar dan melarikan diri. Sudah tentu temannya tak berani bertempur lebih lanjut, segera iapun ngacir masuk ke kamar sebelah barat. Empat musuh, dua rebah tak berkutik, dua lagi lari mencawat ekor. Tinggal Cu-ki-cu yang masih berdiri di sana seperti patung, wajahnya cemberut kecut, katanya dengan nada yang minta "
Kenapa kau tidak menungguku?"
"Nona mau ke mana? "Kau menyamar lagi bukankah ka hendak menemuka pengejaranmu?" , u n "Betul, kenapa?"
"Aku ikut, boleh tidak?"
K n gidikasihani. te teg n "Siangkong berdua sah tn a menggele hara ng p tahu "Janga , n orang2 jahat su non da cant h ada "Bukankah tadi kau bilang Cu-ki-cu tidak di rumah?"
Ejek pemuda lebih muda. Cu-ki-cu menghela napas, katanya.
"Siang kong tidak tahu latar belakang persoalannya, tadi Losiu bilang Cu-ki-cu tidak ada, maksudku mau memberi peringatan kepada kalian supaya lekas pergi, karena Losiu diancam oleh keempat penjahat tadi dan tak mungkin memberipenjelasankepada kalian-"
"ManaPiaukokubertiga"
Desakpemudayanglebih muda.
"Ada, ada,"
Kata Cu-ki-cu sambil menyengir.
"mereka semaput terkena dupa wangi, harap Siang-kong ampuni Losiu, segera kuambilobat pemunahnya."
Pemuda yang lebih tua sudah simpan pedangnya, dari dalam kantong dia keluarkan sebutir obat dan diangsurkan, katanya.
"cabutlah ceng-bong-ciamdan telan obat ini."
Dengan tangan kiri Cu-ki-cu terima obat itu, sambil berterima kasih ia mencabut jarum yang menancap dipunggung tangannya, lalu telan pil itu.
Mengawasi kedua orang yang menggeletak di tanah, pemuda yang lebih tua bertanya sambil menoleh.
"Dik, panahmu dibubuhi racun, apakah kedua orang ini masih bisa ditolong?"
Pemuda lebih muda cekikikan, katanya.
"Baru pertama kali ini aku gunakan senjata rahasia pemberian paman, paman pernah bilang, dalam setengah jam kalau mereka tidak dlobati, jiwa bisa melayang."
"Kau punya obatnya? Kedua orang ini harus ditawan hidup2."
"Ada saja, obatnya kusimpan di dalam kantong."
Mendengar percakapan mereka, terunjuk cahbaya aneh pada sorot mata cu-ki-cu, setelah makan obat, lengan kanannya kini sudah bisa bergerak. lekas dia menuding sambil berkata.
"Siang kong, silakan ikut Losiu, teman kalian di sebelah timur, Losiu akan ambil obat penawarnya."
Dia lantas menyingkap kerai, tertampak tiga orang menggeletak di dalam kamar, mereka ialah Ban Jin-cun, Kho Keh hoa dan cu-jing.
"Di mama kau simpan obatmu, lekas ambil"
"Kusimpan di kamar, segera Losiu mengambilnya,"
Sahut Cu-ki-cu, bergegas dia lari ke kamarnya.
Pemuda yang lebih muda sudah keluarkan obat penawar mendekati kedua laki2 baju hitam, panah dia cabut lalu membubuhi obat di tempat luka serta membuka hiat-to, tapi mendadak ia menjerit."He,kenapakeduaoranginisudah mati?"
"Tadi kau bilang setengah jam baru racun bekerja, mana mungkin mati?"
Ujar pemuda yang lebih tua.
"Memang, tapi mereka. ......"
Mendadak dia berseru heran.
"He,Ji-ko, bukankah iniceng-bong-ciam miiikmu?".
"ceng-bong-ciam milikku?"
Seru pemuda yang lebih tua.
"Di mana?"
Dilihatnya pada dada kedua laki2 yang rebah di tanah masing2 tertancap sebatang jarum sulam yang kemilau kehijauan, memang itulah ceng-bong-ciam. seketika alianya menegak. katanya gusar.
"Bangsat keparat, kita ditipu olehnya. Cu-ki-cu jelas sekomplotan dengan kawanan penjahat ini."
"Pantas"
Ujar pemuda yang lebih muda. Jarum yang melukai dia tadi dia gunakan untuk membunuh kedua orang ini. Kenapa mereka dibunuh? Kuatir membocorkan rahasia? "Agaknya kau sudah tambah pintar."
Sahut pemuda yang lebih tua.
"Nah, sekarang kita semprot muka mereka dengan air dingin supaya siuman."
"Memangnya begitu gampang?"
"Tidakpercaya, bolehkau buktikan"
Dari tempat sembahyang pemuda yang lebih muda ambil secangkir kecil air suguhan terus di -semprotkan kemuka ketiga orang.
Ban Jin-cun melompat bangun lebih dulu, segera ia menjura kepada mereka, katanya.
"Apakah saudara berdua yang menolong kami bertiga?"
Pemuda yang lebih muda memang ceriwis, katanya.
"Memangnya Cu-ki-cu mau menolong kalian pula?"
Kho Keh hoa pun sudah berdiri, tanyanya.
"Kemana bangsat Cu-ki-cu itu?"
"Dia sudah lari,"
Kata pemuda yang lebih tua. Yanglebihmuda, mendekatiCuJing,katanya.,"Piauko,kautidak kenal Siaute lagi?"
Sekilas Cu Jing melengak karena dipanggil Piauko, dengan menatap mukaorang ia menjura danbertanya."Saudarainisiapa?"
"Kenapa Piauko jadi pelupa, memang sesama saudara misan kita baru bertemu sekali, mungkin Piauko sudah lupa, entah Ya-khim Piauci baik2 saja?"
Merah muka cu-Jing, tanyanya heran.
"Kau..."
"Siaute Ling Kun-ping ...."
Tukas pemuda yang lebih muda. Mendadak dia pegang lengan Cu Jing terus diseret ke sana serta berbisik di telinga-nya.
"Piauci, aku adalah Ji-ping."
Ternyata pemuda ini samaran Pui Ji-ping, jadi Cu Jing adalah Piaucinya, yaitu Cu Ya-khim. Cu Ya-khim alias Cu Jing kembali melenggong, ia tatap muka "Ling Kun-ping", katanya.
"Jadi kau ...."
"Aku menyamar,"kataJi-ping lirih. Mendengar suara orang memang betul Pui Ji-ping, lekas Cu Ya-khim berpesan dengan suara lirih.
"Jangan kau bocorkan rahasiaku."
"Ya, tahu sama tahu,"
Ujar Ji-ping. Cu Ya-khim genggam tangannya, cepat katanya dengan girang.
"Piaute, siapakah dia? Lekas perkenalkan pada Piauko."
Pui Ji-ping menjawab.
"Dia adalah nona kedua keluarga Tong dari Sujwan dan bernama Tong Bun-khing."
Lalu dengan suara keras dia tuding pemuda lebih tua dan berkata.
"Inilah Tong Bunkhing, Tong-jiko."
Lekas cu Ya khim menjura, katanya.
"Kira-nya Tong-heng, sudah lama siaute ingin berkenalan-"
Tong Bun-khing tertawa, katanya.
"Akupun sudah lama dengar nama besar Cu-heng."
Tak lupa Cu Ya-khim perkenalkan juga mereka kepada Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa. Ban Jin-cun lantas berkata.
"Entah Tong-heng dan Ling-heng bagaimana bisa mencari ke tempat ini?"
"Hanya kebetulan saja, kami berdua lewat di Tong-seng, kulihat cu-piauko ter-buru2 menempuh perjalanan ke utara, entah apa yang telah terjadi? Maka secara diam2 kami menguntit kemari,"
Lalu dia ceritakan kejadian yang baru lalu.
"Bangsat itu lari terbirit2, dalam kamarnya ini tentu ketinggalan barang2nya, marikitaperiksabersama,"
Demikian usul BanJin-cun.
Demikianlah waktu mereka sibuk bekerja, tiba2 didengarnya suara deru angin, Ban Jin-can cukup cerdik, lekas dia memberi tanda kepada yang lain supaya diam, pelan2 dia menyingkap gordyn dan melongok keluar.
Dilihatnya seekor burung dara pos tengah hinggap di depan gubuk.
seketika tergerak hatinya, lekas dia menerobos keluar.
Agaknya burung dara itu cukup terlatih, melihat orang asing yang tidak di kenalnya, segera dia pentang sayap hendak terbang pergi, Sudah tentu Ban Jin-cun tidak berpeluk tangan, sigap dia menjemput sebutir batu terus ditimpukkan, berbareng dia jejak kaki, badan melambung ke atas sambil ulur tangan menangkap burung yang meluncur jatuh terkena timpukan batunya.
Lekas Cu Ya-khim ikut lari keluar, tanyanya.
"Bagaimana Ban-heng?"
Dengan kedua tangan memegang burung dara jin-cun sudah melangkah balik, katanya.
"inilah burung dara pos."
Sementara itu Tong Bun -khing, Kho Keh-hoa dan Pui Ji-ping juga sudah keluar. Ban Jin-cun bertanya.
"Ada yang ditemukan di dalam rumah?"
"Tiada, kecuali pakaiantiadabenda2 laindirumahnya."
Dari kaki burung dara Ban Jin-cun melepaskan sebuah bumbung kecil, lalu dituang keluarkan secarik kertas gulungan serta dibeberkan dan dibaca, tulisan itu berbunyi.
"segera diperiksa asal usul Kiang-lotoa pemilik warung teh Hin-liong di dermaga An-khing. orang ini ada sangkut pautnya dengan para budak yang lari menculik Cu Bun-hoa palsu, segera bekerja, jangan terlambat. Tertanda Tin."
Mendelu hati Cu Ya-khim melihat bunyi "Cu Bun-hoa palsu", batinnya.
"Entah siapa yang memalsu ayahku?"
Ban Jin-cun angsurkan kertas itu kepada yang lain, katanya.
"Peristiwa budak2 lari, entah apa yang terjadi? Agaknya bertambah ruwet persoalan dalam Kangouw."
Mendadak Pui Ji-ping berjingkrak kegirangan sambil goyang2 lengan Tong Bun-khing, teriaknya.
"Jiko, jejak Piauko sudah diketahui, tekas kita susul ke An-khing."
"Piaute, apa katamu?"
Tanya Cu Ya-khim heran-"Siapa Piaukomu itu?"
Jengah muka Pui Ji-ping, katanya sambil mengawasi Tong Bun-khing.
"Panjang kalau diceritakan, nanti kujelaskan, sekarang lekas kita susul ke An-khing."
Cu Ya-khim menoleh kepada Ban Jin cun dan Kho Keh-hoa, tanyanya.
"Ban heng dan Kh-o-heng mau pergi ke An-khing juga?"
"Kami hendak cari klomplotan Hek-liong-hwe. dari tulisan ini dapat kami simpulkan bahwa kasus larinya budak2 ini pasti ada hubungannya dengan Hek liong-hwe, sudah tentu kita akan pergi kesana juga. Girang Cu Ya-khim, katanya.
"Syukurlah, kita masih seperjalanan-"
Mimiknyayangberseri senangitu diam2 di-perhatikanolehPuiJi-ping, dalam hati ia membatin.
"Agaknya Piauci sudah kasmaran terhadap Ban Jin-cun ini."
Layar sudah berkembang sehingga perahu laju dengan pesatnya melawan gelombang ombak sungai.
Waktu pintu kamar dibuka, Cu Bun-hoa palsu yang mengenakan jubah biru berjenggot hitam tampak duduk menyandang meja, mata terpejam seperti tertidur.
Pelan2 gordyn tersingkap.
Giok-je, Pinghoa dan Liau-hoa satu persatu melangkah masuk..Setelah berada didalamkamar, Liau-hoa lantasberbisik."Agaknyabukandia."
Sebelum berlalu tadi.
Giok-je telah menutuk Hiat-tonya, kini orang tetap berduduk dalam sikap yang sama, sudah tentu dia bukan orang berkedoktadi.
Giok-je menoleh kepada Liau-hoa maksud-nya supaya jangan banyak bicara, pelan2 dia maju ke depan Ling Kun-gi, dengan seksama ia memeriksa.
Baru sekarang dia mau percaya, karena tadi dia menutuk Ki-bun-hiatnya, sampai sekarang kain baju tepat dibawah dada kiri mendekuk ke dalam sebesar kacang, jelas sejak tadi dia tidak pernah bergerak.
Tujuannya menutuk Hiat-to orang bukan untuk mencegah orang bergerak.
tapi hendak menjajal apakah kepandaian silatnya sudah pulih kembali.
Seperti diketahui, setiap "tamu agung"
Yang di "bertandang"
Ke coat-sin-san-ceng semuanya sudah dicekoki racun pembuyar Lwekang.
Tapi kabar yang menyusul belakangan mengatakan waktu Coat Sin-san-ceng di serbu musuh, Lok-san Taysu berempat sudah pulih kepandaiannya sehingga Hian-ih-lo-sat mengalami kekalahan total.
Cu Bun-hoa asli yang ada di Coat Sin-san-ceng itu adalah usaha selundupan Giok-je sendiri, kalau tiga yang lain sudah pulih kepandaiannya, maka Cu Bun-hoa tentu juga sudah pulih Lwekangnya.
Sejak terjadi peristiwa aneh di Sam-koan-tian malam itu, di mana secara mendadak dan di luar sadar mereka jatuh semaput serta kedatangan orang berkedok di atas perahu tadi, diam2 Giok-je sudah curiga hahwa semua itu adalah ulah atau perbuatan orang yang menyamar jadi Cu Bun-hoa ini.
oleh karena itu, sebelum berlalu tadi, diambang pintu mendadak dia menutuk dengan kekuatan angin jarinya, kelihatan orang tidak siaga dan tanpa melawan, ini membuktikan bahwa racun penawar Lwekang dibadannya masih bekerja.
Kini setelah terbukti bahwa kecurigaannya meleset, dia lebih yakin bahwa orang berkedok yang muncul tadijuga bukan orangyang menyamarCuBun-hoa ini.
Kalau bukan dia, lalu siapa?
Jelas orang itu datang tanpa naik perahu atau sampan, waktu pergi dia bawa sampan orang2 Hek-liong-hwe, meluncur kira2 puluhan tombak, sampan itu tahu2 sudah berhenti, sementara orang berkedok di atas sampan itupun lenyap tak keruan parannya.
Kecuali dia terjun ke air, hanya ada situ kemungkinan, yaitu dia menyelundup balik ke atas perahu.
Analisa ini memang masuk akal, tapi kini dia harus menumbangkan rekaannya sendiri, sebab kecuali Cu-cengcu palsu ini boleh dikatakan tiada orang lain yang patut dicurigai di atas perahu ini.
Sekian lama Giok-je berdiri menjublek dihadapan Ling Kun-gi tanpa bersuara.
"cici, bukankah engkau hendak membuka Hiat-tonya?"
Kata Pinghoa. Mendadaktergerakhati Giok-je, la manggut2dan menepuksekali dipundak orang untuk mem-buka hiat-tonya, mulutnya bersuara lirih.
"Cu-cengcu bangunlah"
Badan Ling Kun-gi sedikit bergetar, tiba2 dia membuka mata, katanya sambil mengawasi Giok-je "Lohu tertidur sambil duduk. entah waktu apa sekarang?"
"Sudah lewat lohor, tiba saatnya makan siang,"
Sahut Giok-je, Ping-hoa dan Liau hong sudah buka tenong dan keluarkan hidengandan arakditaruhdi atasmeja. Giok-je berpaling, katanya.
"Kalian keluar saja."
Lalu ia menambahkan.
"Cu-cengcu silahkan makan-"
Kun-gi berdiri, dilihatnya empat macam hidangan sudah tersedia di atas meja, sepoci arak dan seteko teh, tanyanya.
"Apakah nona sudah makan?"
"Hamba sudah makan di luar,"
Sahut Giok-je, la mengisi secangkir arak dan disuguhkan kepada Ling Kun-gi, katanya dengan tersenyum manis.
"Yang tersedia di perahu hanya hidangan kasar, harap Cu-cengcu makan seadanya saja."
Kun-gi tidak sungkan, baru saja dia angkat cangkir arak hendak minum, mendadak cangkir dia turunkan pula, tanyanya.
"Nona2 menolongku keluar dari Coat Sin-san-ceng, tertunya punya maksud tujuan tertentu?"
Giok-je pandang cangkir arak orang, sahutnya.
"Cu-cengcu kuatir hamba menaruh racun dalam arak? Kalau begitu biarlah hamba minum dulu secangkir arak ini."
Kun-gi tertawa, katanya.
"Nona tidak menjawab pertanyaanku, itu berarti tidak mau memberi keterangan-"
Tanpa tunggu reaksi si nona kembali ia angkat cangkir arak, ujarnya.
"Lohu sudah terkena racun penawar Lwekang di Coat Sin-san-ceng, buat apa nona harus taruh racun lagi dalam arak ini, untuk ini Lohu tidak perlu kuatir."
Sekali tenggak ia habiskan arak itu. Giok-je tertawa tawar, kembali dia isi cangkir orang, katanya.
"Cu-cengcu berhasil menawarkan getah beracun mereka, tentunya takperlutakutorang menaruhracundidalamarak."
Kun-gi cukup cerdik, dia tahu orang sengaja hendak memancing keterangan dirinya tentang getah beracun itu, maka iapun sengaja menggeleng, katanya.
"Bicara soal obat penawar getah beracun itu, terus terang Lohu sendiri juga tidak percaya akan hasil yang telah kucapai itu."
"Tong-locengcu dari Sujwan adalah ahli racun di Bu-lim dan terkenal sebagai dedangkotnya racun, selama tiga bulan dia tak mampu berbuat apa2, namun Cu-cengcu hanya dalam tiga hari berhasil menawarkan getah itu menjadi air jernih, semua ini jelas memerlukan pengetahuan luas dan pengalaman yang dalam, tak mungkin hanya terjadi secara kebetulan saja."
Kun-gi geli, katanya sambil mengawasi Giok-je.
"Jadi nona juga yakin bahwa Lohu pasti bisa menawarkan getah beracun itu?"
Giok-je menarik kursi dan duduk di sebelah samping, katanya sambil membetulkan sanggul rambutnya.
"Apa perlu dikatakan lagi, bukankah sudah terbukti Cu-cengcu berhasil menawarkan getah beracun itu?"
"Ya, oleh karena itulah Lohu menduga nona menjalankan perintah menyelundupkan Lohu ke luar dari Coat-siu-sau-ceng, tentunya punya tujuan tertentu bukan?"
Giok je melengos dari tatapan tajam Ling Kun-gi, katanya.
"Pandangan Cengcu memang tajam dan teliti, untuk ini hamba tidak perlu mungkir lagi"
"Kalau begitu, kenapa nona tidak berterus terang kepada Lohu?"
"Bukan hamba tidak mau menerangkan, soalnya apa yang hamba ketahui amat terbatas, ini disebabkan oleh kedudukan hamba, ada persoalanyangtakboleh dibocorkan kepadaorangluar."
"Tak banyak yang ingin kuketahui, misalnya nona dari Pang atau Hwe mana, ke mana Lohu hendak dibawa, soal ini tentu nona bisa memberi keterangan?"
Terunjuk sikap serba salah pada wajah Giok-je katanya setelah menepekur sebentar.
"Bicaraterusterang, kamidari.....dariPek-hoa-pang......"
Sebetulnya Ling Kun-gi sudah tahu, dengan tersenyum dia berkata.
"Pek-hoa-pang, bukan saja namanya segar dan enak didengar, tentunyaanggotaPangkalian seluruhnyaterdiridari kaum hawa?"
Merah muka Giok-je, tapidia manggut2.
"Kemana Lohuhendakdibawa?"
"Hal inihamba tidak berani menjelaskan."
"Tentunya tujuan kita adalah suatu tempat yang terahasia sekali? Lalu siapa nama gelaran Pangcu kalian?"
Berkedip2 bola mata Giok-je, katanya dengan tertawa nakal.
"Setelah Cengcu tiba di sana dan berhadapan dengan Pangcu, boleh kau tanya sendiri."
"Jadinonatak berani menerangkan?""
"Cu-cengcu jangan memancing, hamba adalah anak buahnya, betapapun hamba tidak berani sembarang menyebut nama gelaran Pangcu."
Sesaat lamanya keduanya bungkam, suasana menjadi hening sekejap.
Kun-gi sikat hidangan yang tersedia, kejap lain Ping-hoa dan Liau-hoa sudah bereskan piring mangkuk, lalu menyuguh secangkir teh.
Giok-je berdiri serta memberi hormat, kata-nya.
"Silakan Cengcu istirahat, hamba mohon diri."
Dengan langkah lembut dia lantas keluar.
Beruntun dua hari, kecuali Ping-hoa dan Liau-hoa yang meladani makan minumnya, Giok-je tidak pernah unjuk diri.
Agaknya dia sudah kapok dan berlaku hati2 terhadap Ling Kun-gi, banyak bicara tentu bisa kelepasan omong, maka lebih baik dia hindari bicara atau ngobrol dengan Ling Kun-gi.
Selama itu Kun-gi juga tidak keluar kamar, tapi dia tahu bahwa kamar tempat tinggalnya selalu diawasi orang,jelas mereka adalah Liok-piauthau dari Bau-seng-piau-kiok dan anak buahnya.
Kamar belakang yang terletak di buritan dan terpisah oleh dinding papan dengan kamar Ling Kun-gi adalah kamar tinggal Giok-je bertiga.
Selama dua hari ini Giok-je sembunyi dalam kamar, dari celah2 dinding papan secara diam2 selalu dia mengawasi gerak-gerik Ling Kun-gi.
TapiKun-gipura2tidaktahu.
Perjalanan dua hari ini mereka lewatkan dengan tenang dan tenteram, tak pernah bentrok atau bersua dengan orang2 Hek-liong-hwe lagi.
Hari kedua setelah nakan malam, cuaca sudah gelap, terasa perahu ini seperti membelok memasuki sesuatu selat.
Biasanya di waktu petang perahu memang cari tempat yang terlindung dari hujan badai, tapi hari ini sudah gelap, perahu masih terus laju dengan kecepatan sedang, malah selat ini rasanya terlalu sempit dan belak-belok ke kanan-kiri, ini terasa dari seringnya perahu oleng ke kanan atau ke kiri.
Peralatan perahu ini serba lengkap, tapi tiada membawa lampu atau lentera sehingga keadaan dalam perahu amat gelap, maka para kelasi bekerja mengandalkan kemahiran dan pengalaman saja.
Kira2 setengah jam kemudian hingga hampir mendekati kentongan pertama, laju kapal baru mulai terasa tenang, tak lama lagi terdengar suara rantai gemerincing, agaknya kelasi menurunkan jangkar menghentikan perahu, suara ombak berdebur2 kiranya kapaltelah merapatdidermaga.
Dalam keheningan itulah, tiba2 pintu diketuk pelahan, lalu terdengar suara Liau-hoa berkata.
"Apakah Cu cengcu sudah tidur?"
SengajaKun-gi menggeliatsepertiterjagadari tidurnya, tanyanya dengan suara parau.
"Siapa ?"
"Hamba Liau-hoa,"
Sambut orang di luar pintu.
"silakan Cengcu mendarat."
"O,jadi sudah sampai tempat tujuan ?"
Tanya Kun-gi.
"tunggu sebentar, segera Lohu keluar."
Sengaja dia malas2 mengenakan pakaian, lalu membuka pintu.
Tampak Liau-hoa menenteng sebuah lampion yang terbuat dari kulit hitam, maka sekelilingnya tetap gelap, cahaya lampu hanya remang2.
Melihat Kun-gi keluar, lekas Liau-hoa memberi hormat, katanya.
"Malam pekat, harap Cengcu ikuti hamba"
Lalu dia mendahului beranjak ke sana.
Mata Kun-gi bisa melihat di tempat gelap, walau malam pekat dia masih bisa melihat jelas keadaan sekelilingnya.
Ternyata perahu berhenti disuatu tempat penuh belukar, tak jauh di sebelah depan adalah hutan lebat, lebih jauh lagi adalah tanah pegunungan yang semakin meninggi.
Ping-hoa tampak berdiri dipinggir sungai, tangannya juga membawa lampion berkerudung kulit hitam, agaknya hendak menyambut dirinya.
Beberapa tombak di daratan tersebar puluhan orang berseragam hitam, itulah Liok Kiau-lam bersama anak buahnya serta orang2 Kiang-lotoa, semuanya bersenjata lengkap, penjagaan ketat,jelas mereka kuatir kalau dirinya melarikan diri.
Kun-gi anggap tidak melihat, dia ikuti Liau-hoa terus naik ke daratan.
Di tempat atas berhenti sebuah kereta yang tertutup rapat, Ping-hoa berhenti di samping kereta, katanya sambilangkatlampiontinggi.
"Cu-cengcu naik keataskereta."
Waktu Kun-gi naik ke dalam kereta, tampak Giok-je sudah duduk di situ, disusul Ping-hoa dan Liau-hoa juga naik, keduanya padamkan lampion, dudukdidua sisi.
Kusir kereta segera tarik tali kendali menjalankan kereta.
Dalam kereta gelap gulita, lima jari tangan sendiri juga tidak kelihatan, masing2 duduk tegak tak bergerak dan tak bersuara, maka suasana menjadi hening mencekam.
Akhirnya Kun-gi tidak tahan, setelah menarik napas panjang.dia buka suara.
"Kenapa belum sampai juga ?"
Giok-je terpaksa berkata.
"Cu-cengcu bisa beristirahat saja, setelah sampai nanti hamba memberi tahu."
"Agaknya nona segan berbicara dengan Lohu,"
Kata Kun-gi.
"Cengcu adalah tamu agung Pang kita, mana hamba berani kurang adat? Soalnya peraturan Pang kami amat keras, banyak bicarapastikelepasanomong, terpaksahambabungkamsaja."
"Memangnya banyak persoalan yang ingin Lohu ajukan, agaknya sebelum tiba di tempat tujuan Lohu tidak akan memperoleh jawaban."
"Betul, kedudukan hamba rendah, apa yang Cengcu ingin ketahui mungkin hamba tidak bisa menerangkan, tapi setiba di tempat tujuan pasti ada orang yang ditugaskan melayani Cengcu, semua pertanyaan pasti terjawab dengan memuaskan."
Habis berkata Giok-je peluk tangan duduk ke belakang serta pejamkan mata.
Begitulah tanpa terasa beberapa jam telah berlalu, kereta yang berjalan di atas tanah pegunungan berbatu berguncang dengan hebatnya, kini mendadak berjalan dengan enteng dan rata, derap kuda-pun terdengar pelahan teratur dan berirama, kiranya kereta sudah berada dijalan raya yang lapang dan rata.
Kira2 satu jam lagi baru kereta berhenti, lima tombak disebelah kanan sana terdengar ada orang membuka sebuah pintu besar, cepat kereta bergerak pula ke depan.
Hanya sejenak lagi akhirnya kereta benar2 berhenti.
Terdengar suara kusir kereta berseru lantang.
"Hoa-kongcu sudah sampai, Giok-je sudah berpakaian perempuan, tapi orang masih memanggilnya Hoa-kongcu.. Begitu kusir membuka pintu, Ping-hoa dan Liau-hoa mendahului melompat turun. Melihat Kun-gi memejamkan mata, Giok-je kira orang tertidur pulas, maka ia memanggil lirih.
"Bangunlah Cucengcu, kita sudah sampai."
Waktu Kun-gi melangkah turun, dilihatnya dua gadis remaja berpakaian serba hijau memhawa lampion berdiri di kanan kiri.
Waktu dia angkat kepala ternyata mereka sekarang berada di sebuah pekarangan dari sebuah gedung besar.
"Silakan masuk"
Kata Giok-je yang turun terakhir dari kereta.
Kedua gadis remaja pembawa lampion segera bergerak lebih dulu menunjukkan jalan.
Tanpa bersuara Kun-gi ikuti langkah mereka memasuki sebuah lorong panjang yang tembus pada sebuah pekarangan, di depan berderet tiga buah petak bangunan, tanaman bunga bertebaran rapi dan teratur, suasana sejuk nyaman.
Kedua gadis remaja bawa mereka menuju ke gedang sebelah kiri, langsung dorong pintu terus melangkah masuk, Giok-jeberkata."Silahkan masukCu-cengcu."
Kuw-gi melangkah masuk, tampak meja kursi lengkap, pajangan kamar ini serba berkelebihan, mepet dinding sebelah kiri terdapat sebuah ranjang kayu besar yang terukir indah, kasur seprei dan bantal guling serba baru.
Giok-je berada di belakangnya.
Katanya dengan tertawa.
"Inilah kamar untuk Cu-cengcu, kamar sebelah adalah ruang perpustakaan, entah Cu-cengcu kerasan tidak tinggal di sini?"
Kun-gi tertawa sambil mengelus jenggot, katanya.
"Baik sekali, setelah berada di sini, tidak kerasan juga harus kerasan, rasanya Lohu masih bisa menyesuaikan diri."
Seorang gadis remaja yang lain datang membawakan sebaskom air buat cuci muka. Giok-je segera menuding gadis remaja ini, katanya.
"Dia, bernama Sin-ih, khusus tugasnya disini meladeni segala keperluan Cu-cengcu, kalaun perlu apa2 boleh Cengcu berpesan padanya"
Kun-gi pandang nona bernama Sin-ih ini, usianya sekitar tujuh-belasan, alisnya lentik melengkung, wajahnya molek dan mungil, kulitnya yang putih bersemu merah, ditambah pupur yang semerbak, kelihatan agak kurang wajar.
Lekas Sin-ih melangkah maju serta memberi hormat, katanya.
"Hamba menyampaikan hormat dan selamat datang kepada Cu-cengcu, ada perlu apa2 silahkan Cengcu pesan saja kepada hamba."
"Cu-cengcu tentu lelah setelah menempuh perjalanan jauh, biarlahhamba mengundurkandirisaja,"kataGiokje. Kun-gi tahu orang terburu2 hendak memberi laporan kepada Pangcunya, maka dengan tertawa dia berkata.
"Nona sendiri tentu juga letih dan perlu istirahat, silakan saja."
Waktu Giok-je keluar, Kun-gi menutup pinggir jendela mencuci muka, belum lagi dia duduk Sin-ih sudah menyuguhkan secangkir teh.
Kun-gi menerimanya dan meneguknya sekali lalu ditaruh di meja, katanya."Lohu ingintidur, nonatidakusahrepot2 lagi."
"Hamba bertugas disini, kalau sampai Cengcu kurang puas dan pekerjaan tidak beres, bila ketahuan Congkoan, tentu hamba bisa dihukum."
"Tidak, Lohu tidak ingin bikin repot kau, boleh kau pergi tidur juga. Eh, nantidulu, siapakah Cong-koan kalian?"
"Congkoan bernama Giok-lan, apa Cengcu ada pesan?"
"Tidak, Lohu hanya tanya sambil lalu saja. Kau boleh pergi."
Sin-ih mengundurkan dan merapatkan pintu sambil mengawasi bayangan orang, diam2 Kun-gi membatin.
"Nona ini terang mengenakan topeng kulit yang tipis."
Baca Juga: Pendekar Bodoh 11
Baca Juga: Suling Emas 14