Ceritasilat Novel Online

Pedang Kiri Pedang Kanan 3

Eps 3 Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL

Baca online Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL

Cersil Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL.

Desak Kun-gi. Sekilas bentrok sorot mata mereka, lekas Ing-jun tunduk kepala pula, katanya lirih.

"sekarang sudah kentongan kedua, Cengcu kami sudah tidur."

Kehadiran Kun-gi di sini mewakili Cu Bun-hoa, sebagai duplikat orang, tak enak dia banyak omong, apalagi tujuannya menyelidiki jejak ibunva, maka dia manggut2, katanya.

"Baiklah, terpaksa Lohu tunggusampaibesokpagibatu menemuiCek-cengcu kalian-"

Tiba2 sorot matanya menatap tajam, tanyanya.

"Dapatkah nona jelaskan, cara bagaimana kalian membawa Lohu kemari?"

Lembut suara Ing-jun.

"Hamba hanya tahu cengcu kami amat mengagumi kemashuran Cu-cengcu, maka beliau mengundang Cu-cengcu kemari, tentang cara bagaimana mengundangnya, hamba tidak tahu apa2."

"Baiklah,"

Ujar Kun-gi dengan tersenyum.

"segala persoalan terpaksa kubicarakan besok kalau berhadapan dengan cengcu kalian-"

"Malam sudah larut, silakan Cu-cengcu dahar dulu sebelum istirahat,"

Kata Ing-jun.

Memangnya sudah sehari semalam kelaparan, Kun-gi tidak menolak lagi, dengan lahapnya dia habiskan semangkok bubur sarang burung itu, semangat seketika berbangkit, rasa lapar tadipun lenyap.

Dengan muka jengah Ing-jun mendekat, katanya.

"Cu-cengcu silakan istirahat, biar hamba bantu menanggalkan pakaian-"

Melihat wajah orang yang merah malu2 dan hendak membuka pakaiannya, keruan Kun-gi menjadi kelabakan, katanya gugup.

"Tak usahlah, nona sendiri pergilah tidur."

Mendadak Ing-jun berkata dengan suara pelahan.

"obat bius yang diminum Cu-cengcu semalam tercampur obat racun yang membuyarkan Lwekang, kekuatan sekarang hanya tersisa tiga bagian, maka hamba harap cengcu hati2 dan jangan sembarangan bergerak."

Kun-gi melenggong, katanya sambil mengawasi Ing-jun "Terima kasih atas kebaikan nona."

Merah pula wajah Ing-jun, katanya lebih lirih.

"Hamba lihat cu cengcu seorang ksatria tulen, makanya berani memberi peringatan, kalau nasihatku tadi terdengar oleh Cengcu kami, hamba pasti akan dihukum pancung."

Diam2 Kun-gi tertawa dingin, batinnya.

"Yang terang Cengcu kalian sengaja suruh kau bertingkah demikian-"

Tapi lahirnya dia tetap tersenyum, katanya mengangguk.

"Terima kasih nona."

Ing-jun lantas mengambil mang kok serta memberi hormat kepada Kun-gi, katanya.

"Hamba mohon diri,"

Lalu ia menyingkap kerai dan keluar.

Waktu itu kentongan kedua baru saja lewat, saat paling tepat dan baik bagi setiap pejalan malam.

tapi Kun-gi tahu perkampungan ini pasti terjaga keras, dengan susah payah dan tersiksa sehari semalam dirinya baru berhasil menyelundup kemari, sudah tentu dia tidak berani bergerak secara semberono.

Maka setelah Ing-jun mengundurkan diri, iapun kembali rebah di pembaringan, lampu dia padamkan, terus duduk semadi di atas ranjang.

oooodwoooo Karena menyamar sebagai Kwi-hoa, setelah meninggalkan kamar buku, Pui Ji-ping langsung kembali ke kamar Kwi-hoa terus tutup pintu.

Diam2 dia ambil keputusan dalam hati bila pamannya diketahui lenyap, seluruh perkampungan pasti akan geger, malam ini baru saja dia mempelajari ilmu tata rias, maka tiba saatnya dia sekarang berdandan sebagai laki2, meninggalkan Liong-bin-sanceng secara diam2 dan secara diam2 pula ia hendak menguntit musuh.

Tapi pada saat dia siap2 hendak merias diri, di bawah jendela mendadak seorang bersuara.

"Ji-ping, lekas buka pintu"

Ji-ping tahu itulah suara pamannya, sekilas dia melengak, bergegas dia bereskan bahan2 obat rias terus lari membuka pintu.

Sebat sekali Cu Bun-hoa menyelinap masuk, lalu menutup daun pintu pula Ji-ping bertanya.

"Paman, darimana kau bisa kemari?"

Cu Bun-hoa tersenyum, katanya.

"Paman datang dari lorong bawah tanah, Kwi-hoa sudah mengaku terus terang."

"Apa yang dia katakan? Ke mana mereka hendak membawa paman?"Sudah tentuyangdiaperhatikanadalah Ling Kun-gi.

"Diapun tidak tahu, tugasnya hanya mendesak In Thian-lok supaya membius diriku dan orang lain akan datang memberi bantuan,"

Tanpa menunggu Ji-ping bertanya dia melanjutkan pula.

"Waktu terlalu mendesak. paman tidak bisa bicara banyak lagi dengan kau, lekas kau kembali ke kamar buku, beritahu kepada In Thian-lok bahwa di dalam kamar buku ada ruangan rahasia, Lok-hun-san milik paman disimpan di kamar rahasia itu, kau boleh bawa dia ke depan rak buku dan pura2 mencari tombolnya, lalu bawa dia masukke dalam."

Terbelalak mata Ji-ping, tanyanya.

"Apa yang dinamakan Lok-hun-san itu?"

"Jangan tanya, bekerjalah menurut pesanku, beritahukan pada In Thian-lok saja."

"Akutohtidaktahucara membuka alatrahasianya."

"Anak bodoh, cukup asal kau pura2 saja, paman akan bantu kau dari dalam,"

Lalu dia mendesak.

"hayolah cepat"

Habis berkata dia tarikpintulalu menyelinap keluarpula.

Ji-ping tak berani ayal, sekali tiup dia padamkan lampu, dengan langkah enteng ia lari ke depan-Baru saja dia keluar dari serambi tengah, dilihat-nya In Thian-lok sedang menimang Cin-Cu-ling mendatang dengan langkah gopoh.

Begitu melihat "Kwi-hoa"

Segera dia mengulap tangan, katanya lirih.

"Sudah kubereskan semua, lekas kau kembali ke kamar, tiada urusan nona lagi di sini "

"Tunggu sebentar,"

Kata Ji-ping dengan suara tertahan-In Tian-lok tertegun, tanyanya.

"Nona masih ada urusan?"

Berputar biji mata Pui Ji-ping, katanya lirih.

"Di sini bukan tempat bicara, ikutlah aku ke kamar buku."

Sekarang dia tahu kedudukan Kwi-hoa lebih tinggi daripada In Thian-lok.

maka sikap dan nada bicaranya kedengaran dingin dan ketus.

Lekas In Thian-lok mengiakan, tanpa bicara dia putar tubuh membuka jalan.

Cepat sekali langkah kedua orang, sekejap saja mereka sudah berada di kamar buku.

Waktu Ji-ping angkat kepala, dilihatnya jendela sudah tertutup semuanya, agaknya In Thian-lok membawa Cin cu-ling hendak memberi laporan kepada Cu-hujin di belakang.

Cara kerja yang dia lakukan sedemikian rapi, kalau kejadian ini tersiar di kalangan Kangouw, tentu ceritanya adalah pintujendela takterbukadan pamannyalenyaptanpabekas.

Dari kejadian ini dapatlah di simpulkan bahwa lenyapnya kepala keluarga Tong dan Un pasti dilakukan secara berkomplot oleh orang2 dalam keluarga masing2, demikian pula mata2 sudah menyelundup ke Siau-lim-si.

Dikala dia meng-amat2i keadaan, In Thian-lok maju setapak dan katanya lirih.

"Ada urusan apa nona, sekarang boleh kau katakan ?"

Kuatir orang mengenali suaranya, maka Ji-ping tahan suaranya.

"Tadiakulupa memberitahukepadaIncongkoan,pa....."hampir saja dan menyebut "paman", ia pura2 merandek. lalu ber-kata pula sambil menghela napas.

"Yaitu ...."

Dalam gugupnya timbul akalnya, suaranya tetap lirih.

"Di kamar buku cengcu ada sebuah kamar rahasia, Lok-hun-san tersimpan di kamar rahasia itu."

"Kamar rahasia?"

Seru In Thian-lok melongo.

"Kenapa cayhe tidak tahu?"

Bersinar biji mata In Thian-lok. tanyanyacepat."Nonatahudi manaletakkamarrahasiaitu?"

"Aku hanya pernah melihat sekali, yaitu ... ."

Sembari berkata dia pura2 mengingat2 sambil mengitari rak buku seperti mencari apa2, lain menyambung.

"Agaknya di sini."

Dengan badan terbungkuk dia meraba dan menekan rak buku, dalam hati dia menduga2.

"Entah paman sudah kembali ke kamar belum?"

Lekas In Thian-lok mendekatinya dan berdiri di belakang Kwi-hoa samaran Pui Ji-ping, kata-nya lirih.

"Sudah puluhan tahun aku ikut Cu-cengcu, nona baru tiga tahun, tapi sudah berhasil sedemikian rupa...."

Ji-ping hanya mendengus. Pada saat itulah, terdengar suara getaran lemah, dua rak buku di depannya mendadak terpisah ke sisi samping dan muncul sebuah pintu. Dengan pura2 girang .Ji-ping berseru.

"He, kutemukan sekarang"

Mendadak didengarnya suara sang paman dengan ilmu Thoan-im jip-bit (mengirim gelombang suara ) mengiang dipinggir kuping.

"Jiping, suruh In Thian-lok berjalan di depan-Ingat, sedikitnya kau harus lima kaki di belakangnya, jangan terlalu dekat"

Sementara itu, In Thian-lok sudah mengambil lentera di atas meja dan menghampiri mulut pintu lalu berhenti, dengan seksama dia pasang kuping dan lepas pandang ke dalam, tapi kamar rahasia itu gelap gulita, tiada sesuatu yang dapat dilihatnya.

Agaknya dia juga tahu bahwa Cu-cengcu sangat lihay, malah seorang ahli pencipta alat2 perangkap.

maka ia tidak berani sembarangan masuk.

Melihat orang ragu2 dan jeri,Ji-ping lantas mengejek dingin.

"Incongkoan, waktu kita terlalu mendesak."

In Thian-lok menyengir, katanya.

"Ya, ya, biar cayhe masuk melihatnya."

Dalam keadaan begitu, terpaksa dia keraskan kepala dan melangkah masuk dengan hati kebat kebit.

Ji-ping tertinggal lima kaki lebih dibelakangnya, pelan2 iapun masuk dan pintu di belakang mereka lantas menutup, Betapapun In Thian-lok sudah puluhan tahun menjadi pembantu Cu Bun-hoa, sedikit banyak dia juga tahu tentang segala peralatan rahasia, walau pintu di belakang mereka menutup tanpa mengeluarkan suara, tapi nalarnya ternyata sangat tajam, reaksinyapun cepat, sigap sekali dia membalik tubuh, pintu dari mana tadi mereka masuk kini sudah menjadi sebuah dinding tebal, entah ke mana letak pintu tadi?

Keruan wajahnya yang kelam itu menjadi semakin gelap.

tangan yang pegang lenterapun gemetar, tanyanya kepada Ji-ping "Nona yang menutupnya?"

"Tidak."

Seru Ji-ping pura2 kaget dan gelisah.

"aku mengintil di belakangmu, sedikitpun tanganku tak bergerak."

In Thian-lok terbeliak, katanya.

"Tak mungkin, setelah pintu ini terbuka, tak mungkin menutup sendiri, kecuali di dalam kamar ini ada orang yang menguasai alat rahasianya."

"Orang ini ternyata licik dan licin,"

Demikian batin Ji-ping, tapi dia tetap pura2 ketakutan, katanya.

"Memangnya ada siapa pula di dalam kamar ini?"

Serius wajah In Thian-lok. kedua matanya jelilatan mengawasi sekelilingnya, akhirnya ia berhenti di arah dipan yang terukir indah itu, bentaknya kereng.

"Siapa kau? Lekas bangun"-Di bawah penerangan lentera yang dia angkat tinggi tampak di atas dipan rebah celentang kaki seorang, badannya ditutupi kemul tipis sampai kepalanya sehingga tak diketahui siapa dia? Memangnya kamar ini gelap. tahu2 melihat sesosok tubuh rebah kaku berkerudung rapat begitu, sungguh amat menakutkan-Kalau Ji-ping tidak menduga bahwa yang rebah itu pasti paman-nya, tentu ia sudah menjerit kaget. Orang yang rebah itu diam saja tidak bergeming meski sudah dihardik berulang kali oleh In Thian-lok. Keruan In Thian-lok semakin murka, katanya geram.

"Tuan tidak mau bangun, terpaksa orang she In tidak sungkan2 lagi."

Tapi orang itu tetap tidak bergerak.

Mata In Thian-lok mencorong terang laksana obor ditengah keremangan, kelima jari tangan kiri menekuk laksana cakar melintang di depan dada, mendadak dia melompat maju terus menarik kemul yang menutupi tubuh orang.

Seketika pandangnya yang garang buas terbeliak kaget, tubuhpun tergetar hebat.

Pui Ji-ping yang berada dibelakangnya dapat melihat jelas, orang yang rebah di atas dipan ternyata seorang perempuan, rambut panjang awut2an, wajah yang semula putih halus kini sudah berubah hijau mengkilap.

matanya mendelik besar hampir mencotot keluar.

Warna hijau sebetulnya warna yang kalem indah, warna yang tidak menakutkan-Tapi kulit muka manusia dan biji matanya mana ada yang berwarna hijau?

Muka hijau yang dilihatnya ini sungguh menyerupai warna setan yang menggiriskan-Perempuan yang rebah itu ternyata adalah Kwi-hoa.

Sekali pandang sudah dapat diketahui bahwa dia sudah mati.

Mati keracunan-Belum pernah Ji-ping menyaksikan pemandangan yang seram ini, keduakakiseketika menjadi lemas, badangemetar.

Betapa cerdik In Thian-lok.

melihat mayat yang mati keracunan itu adalah Kwi-hoa, segera ia menyadari ganjilnya keadaan ini, mendadak dia putar badan menatap Ji-ping, hardiknya bengis.

"Siapa kau?"

Jarak Ji-ping hanya beberapa kaki di belakang, jadi pamannya sudah memperingatkan supaya dia berdiri saja tanpa bergerak di tempatnya, segera dia membusungkan dada, dengusnya.

"coba katakan, siapa aku?"

In Thian-lok tidak berani pandang sepele padanya, karena dia tahu racun yang menyebabkan kematian Kwi-hoa adalah Lok-hu-san, racun milik Liong-bun-san yang paling ganas.

Bahwa dirinya dipancing masuk ke kamar rahasia ini, tentu orang sudah punya cara lihay untuk menundukkan dirinya.

Maka iapun tidak berani mendesak terlalu dekat, tetap berdiri beringas ditempatnya, pelan2 dia menarik napas lalu berkata.

"Kau bukan Kwi-hoa"

Belum Ji-ping menjawab mendadak sebuah suara dingin menanggapi.

"Dia memang bukan Kwi-hoa."

Sejak masuk tadi In Thian-lok sudah yakin kecuali orang yang rebah di pembaringan, kamar ini tiada orang keempat.

Kini sudah jelas bahwa yang rebah dan mati adalah Kwi hoa, ini berarti tiada orang ketiga yang masih hidup, tapi orang yang menanggapi kata2nya ini jelas berada di dalam kamar juga, malah selama puluhan tahun dia sudah sering dan apal mendengar suara orang ini, tanpa menoleh iapun tahu siapa yang berbicara itu.

Dalam sekejap itu, laksana disamber geledek kepala In Thian-lok, darah tersirap.

dengan gugup dia berpaling ke arah datangnya suara.

Betul juga, di samping almari sebelah kiri sana, entah kapan tahu2 sudah muncul satu orang.

Dia berdiri menggendong kedua tangan, wajahnya mengulum senyum, namun kedua biji matanya kemilau dingin, tidak kelihatan gusar, tapi wibawanya cukup menggetar nyali In Thian-lok yang ditatapnya.

Siapa lagi dia kalau bukan ciam-liong Cu Bun-hoa adanya.

Pelan2 Cu Bun-hoa berkata.

"In Thian-lok. apa pula yang ingin kau katakan?"

Pucat pias seperti kapur wajah In Thian-lok, keringat dingin gemerobyos, sahutnya membungkuk.

"Ampun cengcu ......."

Sebelah tangan mengelus jenggot, tangan yang lain tetap dibelakang punggung, dingin suara Cu Bun-hoa.

"coba terangkan, siapayangjadibiang keladi komplotanmu ini?"

"Harap cengcu maklum, karena ceroboh...", sembari bicara matanya melirik kearah Ji-ping, lalu meneruskan.

"Kwi-hoalah yang menjadi biang keladinya, siapa sebetulnya orang yang berdiri di belakang layarperistiwaini hambajugatidaktahu."

"Kau sudah tahu bahwa anak Ping yang menyamar Kwi hoa, masih berani kau mungkir menumplekkan dosa kepadanya,"

Damprat Cu Bun-hoa, In Thian-lok memang licik dan banyak muslihatnya, jelas dia saksikan sendiri Kwi-hoa sudah mati dan rebah di atas ranjang, jawaban itu memang disengaja untuk mengorek keterangan Cu Bun-hoa siapa sebetulnya orang yang menyaru jadi Kwi-hoa ini?

Semula dia mengira puteri cengcu Cu Yakhim, sungguhtak diduganyabahwaPui Jipingyang menyamar.

Sudah tentu Ji ping juga berguna baginya, karena dia adalah keponakan Cu-cengcu, asal dirinya berhasil membekuk nona itu sebagai sandera, dirinya tetap akan bisa lolos dengan selamat.

Maka tanpa terasa ia melirik pula ke arah Pui Ji-ping setelah mendengar keterangan Cu Bun-hoa.

Lirikan ini diam2 memperhitungkan jarak kedua pihak.

jarak Ji-ping kira2 ada beberapa kaki, sementara cengcu ada di samping almari sebelah kiri sana, jaraknya dengan dirinya ada setombak lebih.

Inilah kesempatan baik dan harus menempuh bahaya.

Ia cukup kenal perangai sang cengcu, jelas jiwanya takkan diampuni.

Diam2 ia berpikir cara bagaimana harus mengelabui sang cengcu untuk secara mendadak menyergap Pui Ji-ping.

Maka dengan pura2 gelisah dan jeri, berulang kali dia menjura, katanya.

"Sukalah cengcu dangarkan penjelasaan ...."

Mendadak tubuhnya berputar dan melompat kesana menerkamPuiJi-ping.

Sergapan ini dilakukan secara mendadak, gerak geriknya cepat dan gesit lagi, jelas Cu Bun-hoa tidak sempat menolong, sementara Ji-ping sendiri juga tak menduga bahwa orang bakal menerkam dirinya.

Tahu2 orang sudah menubruk tiba, keruan kaget Ji-ping tidak kepalang, secara refleks dia menjerit seraya mundur selangkah, sementaraitutangan kananIn Thian-loksudah beradadi atasbatok kepalanya.

Pada detik2 gawat itulah mendadak didengarnya Cu Bun-hoa bergelak tertawa, serunya.

"Anak Ping jangan takut"

Belum lenyap suaranya, terdengar dua kali "trang-trang"

Beradunya barang besi.

Lekas Ji-ping tenangkan diri, waktu dia angkat kepala, tampak In Thian-lok yang menubruk ke arah dirinya itu berdiri tanpa menggunakan kaki, kedua tangannya terbelenggu oleh dua gelang besi yang tiba2 turun dari langit2 rumah sehingga tubuhnya terangkat sedikit, demikian pula kedua kakinya terbelenggu juga oleh dua gelang besi yang timbul dari bawah lantai, baru sekarang dia sadar kenapa pamannya berseru supaya dirinya tenang dan tak perlu takut.

Karena kaki tangan terbelenggu dan tak mungkin berkutik lagi In Thian-lok.

katanya sambil menghela napas panjang.

"Hamba tahu diri tidak sepandai cengcu, pantas segala gerak gerikku selalu di bawah pengawasan cengcu."

Cu Bun-hoa tertawa, katanya.

"Kau mengorek keteranganku, diam2 berniat menyergap anak Ping, kalau maksud jahatmu ini tak bisa kuraba, memangnya Liong-bin-san-ceng bisa berdiri di kalangan Kangouw."

Setelah menghela napas, ia menambahkan.

"Tapi kalau malam ini anak Ping tidak keburu pulang memberi kabar, akutohtetapakanterjebakolehmu."

Terpancar sorot mata aneh dari mata In Thian-lok. tanyanya sambil mengawasi Ji-ping.

"cara bagaimana Piau-slocia bisa mengetahui?"

Pui Ji-ping tertawa dingin dengan bangga, katanya.

"Kalau ingin orang lain tidak tahu, kecuali awak sendiri tak berbuat. Waktu aku melihat kelima blok kain katun yang termuat di depan toko Tekhong, lantas aku tahu kau adanya."

Berubah air muka In Thian-lok. dia menunduk dan tidak bersuara lagi.

"In Thian-lok,"

Kata Cu Bun-hoa.

"sudah puluhan tahun kau menjadi pembantuku, biasanya kau kerja keras dan setia terhadap junjungan, tak pernah melakukan kesalahan pula, bagaimana kau sampai hati timbul niat jahatmu, kalau dipikir sungguh amat mengecewakan-"

InThian-loktetap menunduktak bersuara. Berubah kelam air muka Cu Bun-hoa, katanya sambil menggerung gusar.

"orang lain mungkin tidak tahu, tapi kau sudah puluhan tahun mengikutiku, tentunya sudah jelas tindakan apa yang harus kulakukan sekarang."

Pucat muka In Thian-lok, katanya.

"Selama puluhan tahun membantu cengcu, hamba banyak menerima kebaikan cengcu, bukannya hamba berusaha membalas kebaikan ini, tapi malah membantu dan diperalat orang, memang memalukan hidupku ini, sekali terpeleset akan menyesal selamanya, biarlah hamba menebus dosa ini dengan kematian-"

"Mengingat kesetiaanmu selama ini, asal kau mau bertobat, Lohu akan memberi kesempatan padamu untuk menebus dosa ini."

Sedih tawa In Thian-lok, katanya.

"Sudah terlambat, kalau cengcu katakan hal ini sejak tadi mungkin masih keburu, sekarang sudah terlambat."

Cu Bun-hoa menatap tajam muka In Thian-lok, tanyanya.

"Katakan, kenapa terlambat?"

"Hambasudah menelanracun,"sahutInThian-lok. Guram air muka Cu Bun-hoa, katanya.

"Bahwa kau sudi diperalat orang lain, kenapa tidak mau membantuku malah?"

"Ya, hambaakan menembus kesalahaninidengan kematian-"

Mendadak Cu Bun-hoa tanya dengan suara bengis.

"Siapa pula mata2 yang berada diperkampungan kita ini?"

Megap2 mulut In Thian-lok, matanya melotot, tapi suaranya tidak keluar.

Cu Bun-hoa menatap tajam, dari gerakan bibir dan lebarnya mulut, agaknya In Thian-lok hendak mengatakan "delapan", cepat dia tanya.

"Semua kau yang membawanya kemari?"

Entah dengar atau tidak pertanyaan ini, kepala In Thian-lok seperti mengangguk sedikit, tapi lantas lertunduk lemas tak bergerak lagi.

"Paman, diasudah mati?"

TanyaPuiJi-ping. Pelahan Cu Bun-hoa menghampiri, ia raba dada In Thian-lok, katanya manggut.

"Ya, sudah mati"

Tiba2 kakinya menggentak lantai, terdengariah suara "cret-cret", gelang yang membelenggu kaki tangan In Thian-lok tiba2 lepas, maka tubuh In Thian-lok yang mulai dingin segera jatuh gedebukan di lantai.

Tanpa bicara lagi Cu Bun-hoa melangkah ke sana, dari dalam bajunya dia keluarkan sebuah botol kecil warna hijau, dia cukil sedikit obat bubuk dengan kuku jarinya terus ditaburkan ke muka In Thian-lok, tepat ke mulut dan hidungnya.

"Paman,"

Tanya Pui Ji-ping.

"Budak Kwi-hoa itu juga mati menelan racun?"

"Dia mengaku bukan komplotan Cin-Cu-ling, maka secara sukarela dia menuturkan kejadian sesungguhnya, katanya dia dibeli seorang laki bernama Hoa Thi-jiu, lalu diselundupkan kemari, tugasnya mengirim kabar keluar, dia minta aku mengampuni jiwanya, sudah tentu dia takkan menelan racun."

"Jadipamanyang membunuhnya?"tanyaJi-ping.

"Ya, kulihat dia pernah memperoleh gemblengan yang meyakinkan-seorang agen yang lihay, sudah tentu takkan kulepaskan dia .... Sekarang lekas kau ikut keluar, kita harus segera menyamar untuk membuntuti jejak mereka."

Pui Ji-ping berjingkrak senang, tanyanya.

"Maksud paman hendak mengejar jejak Ling toako?"

"Ya, Kwi-hoa dan In Thian-lok tidak mau menerangkan siapa biang keladi dari komplotan Cin-Cu-ling ini dan dimana sarangnya? Terpaksa kita kuntit saja jejak Ling-lote secara diam2, setiba di tempattujuan, kitabisa memberibantuan kepada-nya."

"Tapi mereka sudah pergi sejam yang lalu, ke mana kita harus mengejarnya?"

"Paman sudah suruh orang mengejar membawa anjing secara diam2, sepanjang jalan ini mereka pasti meninggalkan tanda pengenal, kenapa takut tak menemukannya? Sekarang kau ber-siap2, aku akan bereskan mata2 yang lain, segera kita akan berangkat."

"Bagaimana dengan kedua mayat ini, paman?"

Tanya Ji-ping.

Waktu dia bepaling, seketika dia berseru kaget dan heran, hanya sekejapsaja mayatKwi-hoa danIn Thian-lokternyatasudahlenyap.

cairan air darah tampak menggenang lantai.

Cu Bun-hoa berpesan-"Anak Ping, ada satu hal yang harus kau perhatikan, jangan kau usik Piaucimu, si budak Ya-khim itu juga liar sepertikau, kalau diatahu, tentudia mauikut."

Ji-ping mengangguk, katanya.

"Paman jangan kuatir, aku tidak akan mengajaknya." 00oodwoo00 Fajar telah menyingsing, baru saja Kun-gi turun dari ranjang, Ing-jun, si pelayan montok ini sudah masuk membawa baskom, katanya tertawa sambil mengerling.

"Cu-cengcu, silakan cuci muka"

Sebagai tempat penginapan para tamu agung, sudah tentu semua perabot dan peralatan yang digunakan serba baru.

Inilah hari permulaan Kun-gi datang dengan maksud tertentu, makasikapnyatakacuhdandiam2 melihatgelagatsaja.

Menunggu Kun-gi selesai cuci muka, segera Ing-jun bertanya.

"Pagi ini cu-cengeu ingin sarapan apa? Hamba akan segera menyiapkan."

Kun-gi mendapat angin, katanya "Di tempat ini apapun yang kuinginkan pastiakan disediakan?"

"Demi menyesuaikan selera para tamu yang ada di sini, sengaja cengcu mengundang koki kenamaan, apapun yang diinginkan para tamu pasti bisa disediakan,"

Sahut Ing-jun. Tergerak hati Kun-gi, sambil mengelus jenggot, dia bertanya.

"Dari apa yang barusan nona katakan, jadi tamu2 yang diundang cengcu kalian bukan hanya Lohu seorang?"

"Hamba juga kurang jelas,"

Sahut Ing-jun tertawa sambil menutup mulut dengan lengan baju.

"beberapa kamar di sekitar sini memang diperuntukkan tempat tinggal para tamu."

Lalu dengan gerakan menantang dia bertanya pula.

"cengcu pesan hidangan apa, hamba segera menyediakan."

"Licin juga budak ini,"

Demikian batin Kuni-gi, dengan tertawa dia lantas berkata.

"Kalau pagi Lohu suka makan bubur."

Cemerlang biji mata Ing-jun, katanya tertawa.

"Bubur selalu tersedia, hamba akan siapkan pula beberapa lauk-pauk yang lain-"

Lalu dia putar tubuh hendak pergi.

"Tunggu dulu nona,"

Seru Kun gi.

"Hamba Ing-jun, harap Cu-cengcu panggil nama hamba saja, kalau cengcu dengar hamba di-panggil nona, tentu hamba akan di caci maki,"

Tanpa menunggu Kun-gi bicara lagi, segera ia bertanya pula.

"Cu-cengcu masih ada pesan apa?"

"Setiap bangun tidur, Lohu punya kebiasaan jalan2 di kebun, apa aku boleh keluar?"

"Tempat kita ini dikelilingi air, di luar air terkurung gunung lagi, dalam kebun ada tanaman yang terus berkembang selama empat musim, panorama sangat permai, sebagai tamu undangan, sudah tentu Cu-cengcu boleh pergi ke mana saja, nanti kalau Cu-cengcu kembali ke kamar, hidangan-pun sudah kuantar kemari."

Kemanapun boleh pergi, memangnya mereka tidak takut tamu agung yang diundang secara paksa ini melarikan diri? Kun-gi lantas berkata.

"Baik, Lohu akan jalan di luar."

Ing-jun menyingkap kerai, Kun-gi lantas melangkah keluar kamar, kini dia berada di sebuab ruang tamu yang luas dan serba mewah, pekarangan mungil di luar sana, berderet dan puluhan pot kembang berbagai jenis sedang mekar semerbak, harum memabukkan-.

Ing-jun mendahului membuka pintu besar yang bercat merah, sembari melangkah keluar dia berkata.

"Cu-cengcu baru datang, keadaan di sini masih asing perlukah hamba memberi sekedar penjelasan?"

Lalu dia tuding ke tempat jauh, katanya.

"Kebun ini luasnya ada beberapa hektar, air mengelilingi tempat ini di bagian timur, selatan dan barat, sebelah utara adalah puncak gunung yang terjal dan mencakar langit, tepat di sebelah selatan, di mana bangunan gedung2 bertingkat itu adalah letak dari Coat Sin-sanceng, cengcukitabertempattinggaldisana."

"Dari Coat Sin-san-ceng kearah timur adalah Hiat-ko-cay. Menuju ke utara tiba di Kwi-ping-kip. di mana ada lima bilangan, tempat kita ini adalah bilangan ketiga yang bernama Lan-wan-Dari sini ke barat, itulah Thian-oe-tong, menuju ke selatan akan tiba di Amhung-ih, maju lagi adalah Goa-kiam-khek dan Hiat-ko-cay yang terletak secara berhadapan, tepat di tengah2 ada sebuah gunungan palsu besar dengan puncak Kok-hun-ting, dari sini dapat melihat pemandangan disekitarnya, begitulahkira2 keadaandisini."

Kun-gi manggut2 ber-ulang2, katanya tersenyum.

"Terima kasih atas petunjuk nona,"

Lalu dia menyusuri jalanan kecil bertabur batu2 putih.

Taman bunga ini ternyata amat luas, di mana2 pepohonan tumbuh subur dan lebat, teratur dan terawat baik, bau bunga semerbak, burung berkicau, suasana pagi hari ini sungguh cerah dan segar.

Berjalan ditengah taman nan indah permai ini, orang akan lupa segala2nya, memang siapa akan percaya bahwa di tengah2 taman ini merupakan sumber kekacauan di kalangan Kangouw dan menjadi pusat komplotan Cin-Cu-ling.

Sedikit banyak Kun-gi sudah mendapat gambaran dari keterangan Ing jun mengenai seluk-beluk taman ini, pikirnya.

"Aku baru datang, lebih baik kupanjat gunung buatan menuju ke Kek-hun-ting, ingin kulihat denah dari keseluruhan taman ini."

Langsung dia menyusuri jalanan kecil di tengah2 itu.

Tak lama kemudian, betul tibadidepangunung buatanitu.

Gunung buatan ini dibangun dari tumpukan batu2 yang diuruk tanah, tak ubahnya seperti bukit2 umumnya, di atas gunung buatan inipun tumbuh pepohonan, namun yang terindah adalah pohon2 bambu kuning, berbagai jenis kembang juga tumbuh semerbak.

jauh lebih teratur dan terawat, undakan dan jalan liku2 menanjak tinggi ke atas, untuk membangun gunung buatan yang beberapa puluh tombak tingginya ini terang menghabiskan biaya dan pikiran yang tidak sedikit.

Tepat di puncak bukit terdapat sebuah gardu, itulah Kek-hun-ting.

"gardu sekuntum mega". Dengan berlenggang Kun-gi telah menuju ke atas, lain dengan gardu umumnya yang berbentuk petak. gardu di sini dipagari kayu2 merah setinggi pinggang yang berbelak-belok. pajangannya cukup megah, ke arah manapun menghadap. seluruh pemandangan taman ini dapat terlihat jelas. Begitu Kun-gi melepas pandangannya, seketika ia berdiri melongo. Semalam waktu turun kereta, walau kedua matanya ditutup kain, tapi ketika dia diturunkan oleh Hou Thi-jiu, pernah dia mengintip sebentar, kereta benar2 berhenti di depan sebuah pintu gerbang perkampungan-Tapi tempat sekarang dirinya berada justeru di bangun di tengah pegunungan-Dia ingat lelaki baju abu2 menggendongnya turun kereta, lalu membelok ke kiri masuk pintu seperti melewati beberapa pekarangan dan rumah baru sampai di taman belakang. Dari pintu taman yang bersuara berat itu terang terbuat dari besi tebal, lalu Hou Thi jiu sendiri yang menjinjing dirinya menyelusuri lorong berbatu ke Kwi-pin koan. Meski tidak melihat dengan mata terpentang, namun semua itu diingatnya betul2. Menurut rekaannya, letak dari taman belakang ini pasti berada paling belakang dari perkampungan-Karena orang2 yang di "undang"

Kemari sudah di bius, malah di dalam obat bius dicampur obat yang dapat membuat seseorang kehilangan tenaga, betapapun tinggi ilmu silat seseorang, setelah minum obat itu, kekuatannya paling tersisa tiga bagian saja dari keadaan biasanya.

Untuk lari melompat pagar tembok yang amat tinggi terang mustahil, apalagi penjagaan dari jago2 berkepandaian tinggi tentu juga sangat ketat, yang terang setiap gerak-gerik dirinya tentu diawasisecara diam2.

Tapi kenyataan yang dilihat dan dihadapi Kun-gi sekarang justeru berlainan.

Apa yang dijelaskan oleh Ing-jun si pelayan tadi memang tidak salah, taman bunga ini di kelilingi air, hanya bagian utara berdiri puncak gunung tinggi mencakar langit yang curam dan terjal.

Jadi perkampungan besar sebetul-nya terletak di bagian selatan, tapi yang dia lihat sekarang hanyalah Coat Sin-san-ceng, di selatan Coat Sin-san-ceng adalah sungai yang lebarnya puluhan tombak pepohonan Yang-liu tampak melambai2 di seberang sana, mana ada perkampungan besar lain?

Jelas semalam kereta berhenti di depan perkampungan dan dirinya digusur turun, kalau letaknya terpaut sebuah sungai, cara bagaimana kereta bisa sampai di sini?

jelas dirinya melihat bangunan tembok yang tinggi, pintu gerbang perkampungan begitu angker, lalu ke mana pula sekarang perkampungan besar itu?

Sejak dirinya masuk kemari sampai sekarang, keadaan dirinya tetap segar bugar, terang tak mungkin dipindah ke tempat lain-Begitulah Kun-giberdiri menjublekditempatnya.

Waktu dia berpaling ke utara, puncak mencakar langit yang terjal itu seperti sudah amat dikenalnya, itulah puncak gunung tinggi yang semalam dilihat berada di belakang perkampungan itu.

Dan di sini letak keanehannya, perkampungan besar itu lenyap.

namun puncak tinggi ini tetap bercokol di tempatnya.

Ini membuktikan bahwa apa yang dilihatnya semalam tentu tidak salah.

Hati semakin heran dan bingung, terasa pula bahwa urusan rada ganjil.

Coat Sin-san-ceng (perkampungan yang lepas dari keramaian dan kotoran duniawi), nama ini memang tepat dan tidak berkelebihan, karena tiga bagian sekelilingnya dilingkari permukaan air yang luas, memang merupakan tempat yang terasing dan terpencil dari luar.

Tujuan Kun-gi hanya ingin melihat dan memeriksa keadaan sekeliling, kini keadaan sudah dilihatnya dengan jelas, maka melalui jalandatangnyatadidia menuju ke Lan-wan Masih ada suatu hal yang membuatnya heran, di tempat ini tiada seorangpun yang dijumpainya, se-akan2 pemilik tempat ini tidak merasa kuatir, sehingga tidak perlu mengutus orang mengawasi dirinya secara diam2.

Hal ini malah menambah rasa curiga Ling Kun-gi, dengan susah payah, menggunakan berbagai daya upaya mengundang para tamu agung ini kemari, apakah maksud tujuannya?

oo 0dwoo Lan-wan, sesuai dengan namanya, yang ada di tengah2 lingkungan taman ini seluruhnya adalah bunga anggrek melulu, ratusan pot2 bunga tersebar dan diatur begitu rapi, terbagi menjadi kelompok dari berbagai jenis2 yang berlinan, di bawah pot bunga ditaruh tatakan berisi air bening untuk mencegah semut menggerogoti akarnya.

Tatkala itu Kun-gi berada di antara deretan rak bunga, sambil menggendong tangan, dengan seksama dia melihat2 bunga.

Sifatnya bebas dan rileks, se-olah2 dialah tuan rumah dari semua yangadaditaman ini.

Waktu itu hari sudah menjelang lohor, tampak seorang pelayan baju hijau sedang mendatangi dari jalanan kecil berbatu krikil sana.

Dari gerak langkahnya yang enteng, sekali pandang orang akan tahubahwapelayanini memilikidasar Ginkangyangamatbagus.

Tiba di depan pintu Lan-wan, pelayan itu hanya bicara beberapa patah kata dengan Ing-jun.

Tampak Ing-jun mengantarnya memasuki taman menuju ke arah Ling Kun-gi.

Tapi Kun-gi pura2 tidak tahu, dengan tekun dia memeriksa tanaman bunga.

Setelah mereka dekat di belakangnya baru Ing-jun bersuara.

"Cu-cengcu"

"o."Kun gi bersuarasekali, pelan2dia membaliktubuh. Ing-jun berkata.

"cengcu sudah menunggu di ruang depan Jun hiang ci-ci sengaja diutus kemari untuk mengundang Cu-cengcu ke sana."

Jun-hiang, pelayan baju hijau, lantas maju selangkah dan memberi hormat, katanya.

"Hamba Jun-hiang memberi hormat kepada Cu-cengcu."-Gadis pelayan ini ternyata berparas elok laksana puteri kahyangan dalam lukisan Kun-gi manggut2, katanya.

"Lohu memang ingin menemui cengcu kalian, silakan nona menunjukkan jalan-"

Jun-hiang mengiakan, lalu dia mendahului jalan di muka.

Jalan yang menuju ke Coat Sin-san-ceng dari Lan-wan cukup lebar beralas batu2 gunung, kedua pinggir jalan dipagari tanaman pohon yang tidak diketahui apa namanya, angin mengembus sepoi2, dahan pohon sama bergoyang menerbitkan paduan suara yang mengasyikkan.

Berjalan di belakang Jun-hiang, tiba2 tergerak hati Kun-gi, batinnya.

"Semalam waktu Hoa Thi-jiu membawaku kemari juga kudengar suara lirih dari gesekan dedaunan pohon, mirip sekali dengan keadaan sekarang yang kulewati ini, jadi jalan yang menuju ke kebun kiranya berada di dalam Coat Sin-san-ceng. Ya, kebun ini dikelilingi air tiga jurusan, Coat Sin-san-ceng tepat berada di selatan kebun bunga, mungkin sekali harus melalui lorong bawah tanah untuk keluar masuk, maka pintunya harus menggunakan papan besi yang berat."

Coat Sin-san-ceng terdiri dari lima lapis bangunan gedung yang menghadap ke utara tanah-nya luas, bentuknya megah dan angker, tembok dan pilar2 gedungnya bercat dan terhias dengan berbagai warna lukisan berbagai corak.

hanya di bilangan gedung besar inilah Kun-gi merasakan adanya gaya hidup kaum persilatan-Diatas undakan lebar setinggi puluhan tingkat itu, di samping empat saka merah besar berdiri empat laki2 yang membusungkan dada dengan seragam hijau menyoreng golok.

Jun-hiangbawa Kun-ginaik keatasundakan langsung menuju ke serambi.

Tepat di depan sebuah pendopo besar berdiri seorang berperawakan sedang berjubah sutera.

Begitu melihat Kun-gi, segera ia bergelak tertawa sambil menyongsong maju, katanya sambil menjura.

"Sudah lama siaute mendengar nama besar Cu-cengcu, hari ini dapat mengundang ceng-cu kemari sungguh merupakan kehormatan besar yang tiada taranya, semalam tak sempat menyambut selayaknya, harap dimaafkan dan jangan Cu-cengcu berkecil hati"

Orang ini lelaki setengah baya, wajahnya bersih, tulang pipinya menonjol, sorot matanya tajam, perawakannya sedang, tapi suaranya keras bergema seperti genta, di antara sikapnya yang ramah tampak kereng dan berwibawa.

Mendengar nada ucapannya, Kun-gi lantas tahu orang inilah cengcu dari Coat Sin-san-ceng.

Lekas dia balas menjura, katanya tertawa.

"Tuan ini tentunya Cek-cengcu pemilik tempat ini? Beruntung Siaute bisa berkunjung ke sini."

Berulang kali laki2 jubah sutera membungkuk badan, katanya.

"Tidakberani, SiautesendiriCekSeng-jiangadanya."

"Tak pernah dengar seorang tokoh Bu lim yang bernama Cek Seng-jiang,"

Demikian batin Ling Kun-gi.

"kalau dia tidak menggunakan nama palsu, tentunya karena dia jarang muncul di kalangan Kangouw." . Tanpa menunggu Kun-gi buka suara, CekSeng-jiang berseritawa sambil angkat tangan.

"Silakan, silakan Harap Cu-cengcu duduk di dalam."

Di bawah iringan tuan rumah, Kun-gi masuk ke ruang pendopo yang penuh ukiran ini, dilihatnya tiga orang sudah di tengah ruang pendopo sana.

Ketiga orang ini adalah seorang paderi tua berjubah abu2, alisnya panjang matanya sipit, usianya sekitar 60, duduk tegakmenunduk kepala, tangannya memegangserencengtasbih.

Dua orang yang lain adalah kakek berjubah biru, alisnya tebal matanya lebar, muka persegi kuping besar, jenggot hitam menjuntai didepan dada, usianyamendekatisetengahabad.

Seoranglagi laki2 berjubah coklat, wajahnya putih, tubuhnya sedang tapi rada gemuk.

dagunya tumbuh jambang yang lebat, usianya lebih 50 tahun.

WaktuCekSeng-jiangmengiringiKun-gimelangkah masuk-sorot mata mereka lantas menatap ke arah Ling Kun-gi.

Dari sorot mata mereka diam2 Kun-gi tahu bahwa ketiga orang ini sebetulnya memiliki dasar Lwekang yang tangguh, sayang sinarnya redup buyar.

Sembari tertawa Cek Seng jiang angkat tangan, katanya.

"Cu-hengpertama kalidatang, silakandudukditempatatas."

Kun-gi tidak sungkan2, dengan sewajarnya dia lantas duduk di tempat yang di tunjuk.

Cek Seng-jiang mengiringi duduk.

dua pelayan segera maju mengisi dua cangkir arak.

Sambil mengangkat cangkirnyaCekSeng-jiangberkata."Mari,silakan minum"

Setelah minum dan meletakkan cangkirnya, Cek Seng-jiang lantas berdiri, katanya.

"Tuan2 tentunya sudah lama saling dengar nama masing2, tapi belum pernah berkenalan. Nah, marilah kuperkenalkan satu persatu. Lalu dia menunjuk Ling Kun-gi, katanya.

"Inilah cengcu dari Liong-bin-san-ceng. Di kalangan Kangouw mendapat julukan ciam-liong, tentunya, tuan2 bertiga tidakasing akan namanya."

Lekas Kun-gi berdiri seraya menjura.

Ketiga orang yang duduk segera berdiri juga dan membalas hormat, sorot mata mereka membayangkan rasa heran dan tidak habis mengerti.

Paderi tua jubah abu2 segera bersabda.

"Kiranya cu-tayhiap. sudah lama Lolap ingin berkenalan-"

CekSeng-jiangtuding padritua, katanya.inilah Lok-san Taysu."

Tergetar hati Kun-gi, Katanya.

"Kiranya Taysu adalah paderi sakti Siau-lim-si."

Melihat wajah orang mengunjuk kaget dan heran, tanpa terasa Cek Seng-jiang mengulum senyum, katanya pula sambil menunjuk kakek tua berjubah biru.

"Inilah Tong Thian-jong, Tong-toako dari Sujwan-"

Lalu dia tunjuk laki2 Jubah coklat pula.

"Yang ini adalah Un It-hong, Un-lauko dari Ling-lam."

"Ketiga orang ini sudah hadir di sini, lalu di mana ibuku? Pasti beradadidalamtamaninipula,"demikianKun-gi membatin. Karena pikiran ini, mendadak berubah air mukanya, katanya dingin menatap Cek Seng-jiang.

"Jika demikian, jadi Cek-cengcu adalah pemimpin Cin-cu-ling yang membikin geger dunia persilatan?"

Cek Seng-jiang tertawa lebar, ujarnya.

"Mana berani, mana berani. soalnya kawan2 Kangouw tidak tahu duduknya perkara sehingga timbulsalah pahamterhadap Siaute ...."

Kata Kun-gi tegas.

"Lalu apa maksud tujuan Cek-cengcu menculik kami beramaikemari?"

"Cu-heng jangan salah paham,"

Ujar Cek Seng jiang tertawa.

"Sudah lama Siaute mengagumi nama besar kalian berempat, bahwa para pendekar kami undang kemari adalah untuk menghindarkan suatu petaka yang bakal menimpa Bu-lim, se-kali2 tiada terkandung maksud2 pribadi, soal ini panjang kalau dijelaskan-Nah marilah, hidangan sudah tersedia, marilah sambil makan minum kita mengobrol."

Kun-gi mengemban tugas dari gurunya untuk menyelidiki peristiwa Cin-Cu-ling, sudah tentu dia tidak boleh bersikap keras terhadap si tuan rumah, maka sambil mendengus dia duduk kembali ke tempatnya, walau wajah masih menampilkan rasa gusar, tapi dia tekan amarahnya.

Sikap pura2nya memang tepat, seperti masih menaruh curiga terhadap Cek Seng jiang, tapi iapun ingin mendengar penjelasannya.

Dua pelayan mengisi pula cangkir mereka dengan arak.

hanya Lok san Taysu yang minum teh.

Cek Seng jiang angkat cangkirnya lebih dulu, katanya.

"Cu-heng tiba diperkampungan kita, demi keselamatan Bu-lim, Siaute aturkan dulu secangkir arak ini kepada Cu-heng."

Demi keselamatan Bu-lim, tidak kecil arti kalimat yang dia kemukakan ini.

Setelah hadirin sama mengeringkan cangkirnya, maka pembicaraan selanjutnya menjurus pada soal pokok.

Kun-gi buka suara lebih dulu.

"Tadi Cek-cengcu bilang bahwa Siaute diundang kemari demi untuk melenyapkan petaka Bu-lim yang sudah ada di depan mata, bagaimana duduk persoalannya, bolehkah cengcu menerangkan saja?"

Kembali Cek Seng-jiang tenggak habis secangkir arak. katanya.

"Tanpa Cu-heng tanya juga Siaute akan menerangkan"

Setelah merandek sebentar, lalu ia menyambung.

"Soal ini harus dibicarakan dari diriku sendiri. Keluarga cek kami sebetulnya mengikat persaudaraan kental sejak beberapa keturunan dengan keluarga Ui, dulu badanku terlalu lemah, kesehatan sering terganggu, maka pernah aku menyembah guru kepada Seks-poh Lojin, beliaupun kuangkat sebagai ayah angkat ...."

Guru Kun-gi memang pernah bercerita bahwa ayah Ui-san Tayhiap Ban Tin-gak bergelar sekpoh, pada tujuh puluh tahun yang lalu pernah dijuluki Ui-san-it-kiam,jadi Cek-cengcu ini adalah anak angkat Sek-poh Lojin.

Sampai di sini Cek Seng-jiang mengawasi Ling Kun-gi, tanyanya.

"Permulaan tahun yang lalu, mendadak kuperoleh kabar bahwa saudara angkatku telah wafat, tentunya Cu-heng juga dengar kabar ini. Dia terluka oleh semacam pukulan beracun yang jahat, akhirnya muntah darah dan meninggal."

"o", Kung-gipura2 mengunjukrasa kaget.

"Sebab dari kematiannya itu lantaran dia menemukan suatu muslihat keji yang bakal menimbulkan malapetaka bagi kaum persilatan ...."

"Muslihat apa?"

Tanya Kun-gi pura2 ketarik.

"Pada suatu tempat di sebuah pegunungan yang tersembunyi, tanpa sengaja saudara angkatku itu menemukan tiga gembong iblis yang dulu terkenal jahat, telah mendirikan perkumpulan bersama Sam-goan-hwe, mereka sedang mempersiapkan diri dan mengirim kartu hitam mencari hubungan dengan gembong2 aliran hitam secara rahasia ..."

"Kartu undangan hitam?"

Kun-gi menegas.

Cek Seng-jiang mengangguk sambil menoleh kepada tiga orang yang lain-"Betul, di atas kartu undangan hitam itu mereka lumuri semacam racun, yang amat jahat dan aneh, setiap orang yang menerima undangan pasti terkena racun, maka mereka harus tunduk dan menyerahkan jiwa raga sendiri kepada Sam-goan-hwe untuk menerima obat penawarnya dalam waktu terbatas, kalau tidak jiwa takkan tertolong lagi."

"Apa tujuan mereka?"

Tanya Kun-gi.

"Mereka punya dua langkah kerja yang sempurna, pertama, mengumpulkan semua tokoh2 aliran hitam, supaya menjadi anggota dan terikat dengan Sam-goan hwe. Langkah kedua, mereka membuat rencana jangka tiga tahun, semua aliran putih serta tokoh2 silat siapa saja yang menentang Sam-goan-hwe akan diracun satu persatu ......"

Setengah percaya setengah curiga Kun-gi mendengarkan cerita ini, katanya bimbang "Betulkah ada kejadian ini?"

Lok-san Taysu sejak tadi mendengarkan sambil pejam mata tiba2 bersabda Buddha dua kali.

"Mereka telah berhasil menciptakan semacam getah beracun yang amat jahat, setetes saja orang kena jiwanya pasti melayang, tiada obat yang dapat menolongnya. Mendengar muslihat keji ini, tidak kepalang kaget saudara angkatku itu. Maka secara diam2 dia berhasil mencuri sebotol kecil getah beracun itu, sayang pada saat dia hendak meninggalkan tempat, jejaknya konangan, sebetulnya saudara angkatku cukup cerdik, tapi sepasang tangan sukar melawan empat kepalan, akhirnya dia terkena hantaman Bu-sing-ciang lawan, dengan membawa luka2 dia melarikan diri."

Sampai di sini dia mengunjuk rasa sedih, katanya lebih lanjut.

"Dia tahu lukanya tidak ringan, tapi mengingat sebotol getah beracun yang dicurinya ini teramat besar artinya bagi keselamatan kaum Bulim umumnya, tanpa menghiraukan keselamatan sendiri, dengan luka parah akhirnya dia-berhasil mencapai tempatku ini, setelah habis mengisahkan pengalamannya, dia minta kepadaku supaya getah beracun ini di kirim ke Siau-lim atau Bu-tong. Mendadak dia muntah darah tak henti2-nya, melihat keadaannya yang gawat, malam itu juga aku membawanya pulang ke Ui-san, tapi dia sudah tak bisa bicara, karena tiada obat, akhirnya dia meninggal."

Hatinya tampak berduka, sesaat kemudian baru menambahkan.

"Sejak pulang dari Ui-san, belum berhasil kuperoleh langkah yang tepat untuk menghadapi peristiwa ini, pertama lantaran Siaute tak pernah muncul di Kangouw, umpama botol getah itu kuantar ke Siau-lim atau Bu-tong, kukuatir ke dua aliran besar itu belum percaya kepadaku. Kedua botol getah itu diperoleh saudara angkatku dengan mempertaruhkan jiwa raganya, kejadian menyangkut seluruh Bu-lim, jiwa ribuan orang, jika ciangbunjin dari kedua aliran tidak menaruh perhatian, bukankah sia2 saja jerih payah saudara angkatku itu?"

Kun-gi hanya mendengarkan dengan tenang2, tidak bersuara.

"Oleh karena itu,"

Tutur Cek Seng-jiang lebih lanjut.

"kuputuskan akan mencari sendiri obat penawarnya serta memikul tugas ini, waktu itu Siaute lantas teringat kepada Ko-hi Ko Put-hwi dari cionglam-san, dia pandai dan ahli dalam bidang obat2an, julukannya saja Yok-su (juru obat) tapi Siaute sudah menjelajahi seluruh pegunungan ciong -lam tanpa menemukan jejak Ko Put-hi, kudengar dari seorang penebang kayu bahwa Ko Put-hi telah meninggal dunia tiga tahun yang lalu, maka perjalananku ke cong-lamitu hanyasia2belaka."

Setelah meneguk secangkir arak baru dia melanjutkan ceritanya.

"Kembali dari cong-lam-san Siaute lantas teringat kepada Tongheng dan Un-heng, yang seorang ahli racun yang lain ahli obat bius, mungkin mereka mampu menawarkan getah racun itu"

"Terima kasih atas perhatian besar Cek-cengcu, tapi kami berdua amat mengecewakan ........"

Tong Thian-jong dan Un It-hong bersuara bersama.

"Kedua saudara tidak usah merendah hati, disamping itu siaute juga teringat kepada Lok-san Taysu dari Siau lim-si yang sudah puluhan tahun mengetuai Yok-ong tian ......"

Demikian sambung Cek Seng-jiang.

"Pinceng juga amat mengecewakan,"

Ujar Lok-san Taysu. Cek Seng-jiang tertawa tawar, katanya.

"Sudah dengar bahwa Cu-cengcudari Liong-bin-san-ceng jugaahliracun ........."

Kun-gi tertawa sambil mengelus jenggot, katanya.

"Mungkin Cekcengcu salah dengar. Dulu ayahku almarhum pernah menolong seorang tua yang terluka selama tiga tahun sampai sembuh, sebelum pergi dia meninggalkan secarik resep obat, ayahku dipesan untuk membuatnya menurut resep itu dan disebarkan tiga li di sekeliling kampung, kawanan penjahat dapat dicegah menyerbu kampung kami, tapi sejak ayah meninggal, resep obat itu tak kutemukan lagi "

Belum habis dia bicara Cek Seng-jiang sudah menyela sambil goyang tangan.

"Cu-heng jangan curiga, tujuanku hanya mencari penawar getah racun itu, bukan niatku mengincar resep obat itu."

Lalu dia melanjutkan.

"Sebetulnya siaute hendak bawa getah itu dan berkunjung ke tempat kalian berempat, tapi setelah ku-pikir2 lagi, bila peristiwa ini sampai bocor, tentu jiwa siaute bakal menjadi incaran Sam-goan-hwe, jiwaku tidak jadi soal, kuatirnya kalau getah racun ini tak kuasa kupertahankan lagi, maka setelah kupikir dengan seksama, terpaksa kugunakan akal untuk mengundang kalian kemari, atas kesalahan dan kekasaran mana harap Cu-heng suka maklum dan memberi maaf,"

Lalu ia memberi hormat kepada Ling Kun-gi. Tergerak hati Kun-gi, lekas dia balas hormat, katanya sungguh2.

"Demi keselamatan insan persilatan umumnya, Cek-cengcu berjerih payah sungguh Siaute amat kagum, memang Siaute ada sedikit mengenal sifat obat2an, tapi entah dapat tidak membantu kesulitan Cek-cengcu ini."

Melihat cerita panjang lebarnya berhasil mengetuk hati Cu Bun-hoa, sudah tentu bukan kepalang senang hati Cek Seng-jiang, katanya ter-gelak2.

"Kabarnya getah itu merupakan kombinasi berbagai racun jahat dari seluruh jagat ini, apakah kita bisa mendapatkan penawar obatnya itu soal lain, yang terang Thian punya kuasa manusia punya usaha, asal kita mau berusaha, umpama tidak berhasil juga tidak mengapa, bahwa Cu-heng sudi bekerja sama sungguh Siaute teramat senang dan berterima kasih"

"cengcu-jangan terlalu sungkan,"

Ujar Kun-gi. Segera ia bertanya lagi.

"Kecuali kami berempat, entah adakah orang lain yang Cekcengcu undang kemari?"

Tanpa pikr Cek Seng-jiang menjawab.

"Tiada, terhadap soal ini Siaute amat hati2, memang tidak sedikit ahli racun yang punya nama di Kang-ouw, tapi kalau aku mengundang mereka semua, terlalu banyak orang, urusan tentu bisa bocor, oleh karena itu orang lain tidak kuundang kemari."

Diam2 Kun-gi bertanya dalam hati.

"Agak-nya dia tidak membual, jadi ibu bukan terculik olehnya."

Sambil manggut2 iapun berkata.

"Memang betulucapan Cek-cengcu."

Habis makan, dibawah iringan tuan rumah, mereka keluar dari coat sin-san-ceng, menyusuri serambi menuju ke timur, berjalan kira2 seratusan langkah, mereka tiba di Hiat-ko cay.

Sesuai dengan namanya, Hiat-ko-cay adalah kamar buku tempat menyimpan kitab2 kuno, di mana terdapat sebuah ruang tamu dan empat petak kamar baca.

Letak kamar tamu di tengah, pajangannya serba antik, semua perabot serba ukiran, tata warnanya serasi, dihias lukisan2 kuno pula didinding sehingga suasana tampaksemarak.

Cek Seng-jiang persilakan para tamunya masuk.

lalu katanya kepada Ling Kun-gi.

"Di sinilah tempat kalian bekerja, ruang tamu ini tempat kalian istirahat."

"Ruang kerja?"

Tergerak hati Kun-gi, batinnya.

"ruang kerja yang dimaksud tempat untuk menyelidiki getah racun dan mencari obat pemunahnya."

Dua pelayan lain berpakaian hijau pupus muncul membawa nampan berisi masing2 dua cangkir teh.

"Leng hong dan Long-gwat,"

Kata Cek Seng-jiang.

"ke marilah menemuiCu-cengcu ini."

Lekas kedua pelayan itu maju ke depan Ling Kun-gi, sedikit menekuk lutut dan memberi hormat, sapanya dengan suara aleman.

"Hamba menghadap Cu-cengcu."

"Mereka adalah pelayan yang ditugaskan melayani tamu di sini,"

Ujar Cek Seng jiang.

"selanjutnya bila ada keperluan apa2 boleh Cucengcu berpesan kepada mereka."

"Siaute mohon petunjuk Cek-cengcu,"

Kata Kun gi.

"bagaimana keadaansebenarnyadaricarakerjayangakan kami lakukan?"

"Memang akan kuterangkan,"

Kata Cek Seng-jiang.

"tempat kaliau menginap anggap saja rumah kalian sementara, pagi bekerja sore kembali, tempat ini hanya khusus untuk menyelidiki racun serta mencari obat penawarnya. Siaute berpikir kerja ini adalah tugas luhur dan mulia bagi keselamatan jiwa kaum persilatan umumnya, padahal getah racun itu adalah racun yang teramat ganas dijagad ini, supaya kalian bisa saling tukar pikiran, sengaja kami sediakan kamar ini untuk kalian"

"Mungkin selama kerja kalian ini tidak suka diganggu orang, maka kamisediakanpula masing2-kamaruntukbekerja, bukansaja bisa saling berkunjung, bisa pula menyelidiki secara tersendiri, semoga mencapai hasil yang gemilang, semua ini demi kesejahteraan insan persilatan umumnya ."

Kun-gi manggut2, katanya.

"Sempurna sekali persiapan Cek-cengcu.."

Cek Seng jiang berdiri, katanya.

"Kamar Cu-heng adalah yang pertama di sebelah kanan, mari silakan periksa."

Lalu iapun memberi hormat kepada tiga orang yang lain, katanya.

"Taysu, Tong-heng dan Un-heng boleh silakan-"

Ketiga orang itupun secara balas menghormat lalu mengundurkan diri masuk ke kamar masing2, Kun-gi coba mengamati, kamar Lok-san Taysu adalah paling kiri, sementara kamar Thong Thian-jong ada di belakang sebelah kiri, sedangkan kamar Un It-hong ada di sebelah kanan bagian depan .Jadi kamarnya sendiri di belakang kamarnya Un It-hong, seberang menyeberang dengan kamar Tong Thian-jong.

CekSeng-jiang angkattangan, katanya."Di belakang ruangtamu ini adalah kamar obat, di sana ada seorang pelayan bernama Hing hoa yang menguasai dan mengurusnya, semua obat2an yang diperlukan di sini adalah bahan obat2an yang sengaja siaute kumpulkan dari berbagai tempat aslinya ......."

Sembari bicara mereka sudah memasuki kamar petak seluas dua tombak persegi ini, tigasisi ruangan memang dipajang lemaridanrakobat-obatan Seorang pelayan baju hijau melihat kedatangan cek cungcu dan Ling Kun-gisegera memapak maju dan memberihormat.

Cek Seng-jiang mengulap tangan, katanya.

"inilah tamu agung kita Cu-cengcu yang baru saja ku undang kemari."

"Hamba Hing-hoa,"

Pelayan itu menjura kepada Ling Kun-gi.

"terimalah hormat hamba."

Menuding lemari obat2an Cek Seng-jiang ber-kata.

"Setiap petak dari laci yang ada di sini sudah dibubuhi nama2 obatnya, obat apa saja yang Cu-heng perlukan boleh mengambilnya sendiri atau boleh juga suruh Hing-hoa mengambilkan, umpama obat2an perlu digodok. boleh serahkan kepadanya pula, sudah tentu umpama cucengcu punya cara tersendiri dari warisan keluarga dan tak ingin diketahui orang lain, boleh silakan kerja sendiri, semua perabot dan peralatan tersedia lengkap."

Dari sini Cek Seng jiang ajak Kun-gi ke kamar tugas, yaitu kamar di mana dia harus menyelidiki getah racun itu, setelah memberi penjelasan ala kadarnya, sebelum berialu dia berkata pula .

"Siaute doakan semoga Cu-heng mencapai sukses yang kita harapkan sehingga petaka yang mengancam jiwa kaum persilatan dapat kita lenyapkan, mewakili berlaksa jiwa kaum persilatan Siaute mendahului mengucapkan terima kasih. Nah, Cucengcu terimalah hormatku."

Lekas Ling Kun-gi balas menghormat, katanya tertawa.

"Jangan Cek-cengcu lupa, Siaute juga se-orang persilatan-"

Cek Seng-jiang tertawa keras, katanya.

"Mendengar ucapan Cu-cengcuini, legalah hatiSiaute."

Setelah Cek Seng-jiang pergi, Kun-gi membuka sebuah almari kecil, di mana tadi Cek Seng-jiang menunjuk sebuah cupu2 kecil yang berisi getah beracun itu, sebentar dia melongo mengawasi cupu2 hijau itu lalu dikembalikan serta menutup dan menguncinya pula.

Pelan2 dia mundur lalu duduk kursi malas yang beralas kasur empuk.terasanyamandudukdikursi malasini.

"Sedemikian sempurna segala keperluan yang disediakan bagi para tamu yang diundang kemari,"

Demikian batin Ling Kun-gi.

"apa yang dikisahkan Cek Seng-jiang sudah tentu bisa dipercaya, tapi orang yang diculik kemari bukan dipaksa menyerahkan resep rahasia dari keluarga masing2, bukan dipaksa untuk membikin semacam racun jahat lagi, tapi hanya diminta jerih payah kami berempat untuk menemukan obat penawar dari getah racun itu, agaknya tiada maksud mencelakai orang, lalu di mana letak muslihatnya?"

"Kalau tidak mencelakai orang, sudah tentu tak bisa dikatakan muslihat. Tapi Suhu berpesan sewaktu diriku akan berangkat bahwa dibalik peristiwa Cin-Cu-ling ini pasti ada suatu muslihat jahat, supaya diriku menyelidiki dengan seksama. Apa yang dikata guru tentu tidak akan salah, lalu bagaimana tindakan diriku selanjutnya?"

Inilah tugas berat dan rumit yang direnungkan Kun-gi pula.. oooodwoooo

Jilid 7 Halaman 61/62 Hilang --ganas, dalam jangka satu jam si korban akan semaput keracunan, setengah jam kemudian, kalau tidak di obati sekujur badan akan gatal2 dan linu sampai ajal, kalau tidak kepepet, kularang kau menggunakannya."

"Paman, mana obat penawarnya?"

Tanya Ji-ping.

"Ada di dalam kantong kulit itu, ditelan dan dibubuhkan pada luka masing2 cukup satu butir, di samping itu paman juga menyediakan 120 batang yang lain, tersimpan pula di dalam kantong itu."

Ji-ping kegirangan, serunya "ibu angkatku memberi satu stel oow-tiap-piau (piau kupu2 ), ditambah bumbung ini, betapapun lihaynya musuh tak perlu kutakuti lagi."

Tiba2 Cu Bun-hoa menarik muka, katanya serius.

"Seperti Yakhim, kaupun punya cacat, yaitu tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, betapa banyak orang2 lihay di Bu-lim, memangnya dengan senjata rahasiamu itu saja lantas boleh sembarangan bertindak? berkelana di Kangouw yang penting adalah menyembunyikan keaslian diri sendiri, sedapat mungkin jangan pamer."

"Baiklah paman, marilah berangkat,"desakJi-ping.

"Nanti dulu paman juga perlu berdandan ala kadarnya,"

Lalu dia buka kamar rahasia serta masuk kedalam.

Tak lama kemudian dia sudah keluar mengenakan pakaian ketat dengan mantel segala, kepala ditutupi topi lebar, wajahnya yang semula putih bersih mendadak berubah kelam dan tua penuh keriput, jenggot yang hitam kini menjadi ubanan Melenggong Ji-ping, serunya.

"Hah,jadi paman juga pandai meriasdiri, selamaini kau mengelabuhikitasemua."

"Ini hanya cara menyamar yang paling gampang, kaum persilatan umumnya juga bisa, kalau dibandingkan Ling-lote, jauh sekalibedanya,."

Ujar Cu Bun-hoa. Teringat kepada Ling-toako, Ji-ping menjadi gelisah, serunya mendesak.

"Paman, hayolah lekas berangkat"

"Nanti dulu, paman masih ada pesan padamu, setelah meninggalkan Liong-bin-san-ceng kita tidak boleh jalan bersama, kau harus di belakangku, kuntitlah aku dari kejauhan, umpama makan atau menginapdi hotel, pura2tidak kenalsaja."

"He kenapa?"

Tanya Ji-ping.

"Menurut dugaan paman, sepanjang jalan ini mata2 musuh pasti tersebar di mana?, maka kita harus ber-hati2,"

Sampai di sini dia menggerakkan tangan-"Baiklah Ji-ping, sekarang kita berangkat, akan kusuruh mengeluarkan dua ekor kuda"

"Tidak usah paman, waktu datang bersama Ling-toako aku sudah menambat dua ekor kuda di luar hutan sana."

"Bagus kalau begitu,"

Seru Cu Bun-hoa.

Sinar cemerlang mulai terpancar di ufuk timur, fajar telah menyingsing.

Cu Bun-hoa keprak kudanya ke timur menuju ke Sau-thian-tin.

Orang2 desa ber-bondong2 jalan cepat menuju ke kota, tapi Cu Bun-hoa tidak masuk kota, sorot matanya bersinar tajam dan melirik ke arah kaki tembok dari sebuah gubuk reyot, lalu keprak kuda-nya menuju ke arah barat.

Pui Ji-ping hanya tertinggal setengah li di belakang, tidak lama setelah Cu Bun-hoa berlalu ia-pun tiba di luar kota Sau-thian-tin terus menuju ke arah barat pula.

Daerah ini termasuk pegunungan Hoa-san, dengan pegunungan Pak-say-san dari Tay-piat-san merupakan daerah segi tiga, tiada tanah datar, aliran sungai bercabang lintang melintang, antara kota dan kampung hanya dihubungi sebuah jalanan kecil, tiada jalan raya.

Sebelumnya Cu Bun-hoa mengirim dua anak buahnya membawa anjing pelacak mengejar dan mengikuti Ling Kun-gi, sepanjang jalan ini sudah ditinggaikan tanda2 rahasia.

Sesuai tanda inilah Cu Bunhoa menempuh perjalanan Kira2 tengah hari dia tiba di Tay-hoat-ping.

Dia cukup teliti, setelah melakukan pengejaran setengah hari ini, akhirnya ditemukan suatu rahasia olehnya.

Yaitu sepanjang jalan yang dilaluinya ini dia mendapatkan rumput2 liar dipinggir jalan ada bekas tergilas roda kereta, bekas roda kereta ini menjurus ke arah yang sama dengan jalan yang harus ditempuhnya ini.

Dalam wilayah ini umum mengetahui hanya ada kereta dorong beroda tunggal selain gerobak keledai atau menunggang kuda, jarang yang menggunakan kereta kuda.

Darinya ia kuda yang dia temukan sepanjang jalan ini, dia dapat menganaliaa bahwa kereta ituditarikolehduaekor kuda.

Terutama diantara kampung dengan kampung banyak persimpangan jalan, tapi bekas2 rumput tergilas roda itu terus muncul di depan kudanya, Hakikatnya dia tidak perlu lagi meneliti tanda2 peninggalan kedua anak buahnya lagi, cukup asal mengikuti bekas2rodaitu, pastitidakakan salah lagi.

Maklumlah untuk menculik dirinya (yang disamar Ling Kun gi), supaya tidak menimbulkan curiga orang lain, jalan paling baik adalah dimasukan ke dalam kereta yang tertutup.

Dia berhenti dan sarapan di sebuah warung di luar kota.

Warung ini hanya dikuasai seorang laki2 tua, setelah persilakan tamunya dudukdiaantartehlalubertanya."Tuan maumakanapa?"

Cu Bun-hoa minta sekati arak.

dimintanya pula sepiring sayur asin dan kacang goreng, serta satu porsi mi.

Baru saja pemilik kedai mengiakan dan mengundurkan diri, segera Cu Bun-hoa mendengar suara kelentingan kuda, cepat sekali seekor kuda berlari mendatang ke warung kecil ini..

Semula Cu Bun-hoa kira Ji-ping telah menyusul tiba, tapi waktu dia angkat kepala, yang masuk adalah laki2 berbaju kelabu bercelana biru, golok terselip di pinggang, sebelah tangan memegang pecut terus duduk di meja dekat jalan, seru-nya ke arah dalam.

"Hai, si tua, lekas beri rumput kepada kudaku, setelah aku makan akan segera melanjutkan perjalanan."

Si tua tadi mengiakan sambil munduk2, bergegas dia lari keluar menyediakan yang diminta.

Sekilas pandang Cu Bun-hoa lantas tahu, laki2 baju kelabu yang bermuka tirus dan bermata tikus ini adalah orang yang mengamati gerak-geriknya di Mo-cu-tiam tadi, tadi dia berjongkok di kaki tembok, kini ternyata berani terang2an me-nguntitnya.

Diam2 Cu Bun-hoa tertawa dingin.

Waktu itu Pui Ji-ping juga sudah datang menunggang kuda, dia berpakaian pelajar, tangan pegang kipas, langkahnya memang mirip anak sekolahan, dia duduk di meja tengah, tanyanya.

"Tiam-keh, kalian jual apa? Keluarkan yang enak2."

Pemilik kedai yang sudah tua itu lekas me-nyambut, katanya tertawa.

"Siangkong harap sabar, kami hanya menyediakan sayur asin, daging rebus, telur pindang juga ada, kacang dan bakmi juga lengkap. minum ada arak, teh dan wedang kacang, Siangkong pesan yang mana?"

"Aku minta arak saja, seporsi daging rebus, usus babi dan dua telur, satuporsibakmi,"demikianpesanJi-ping. Diam2 Cu Bun-hoa mengerut kening, pikirnya.

"Anak perempuan juga minumarak segala?"

Pemilik kedai menjadi repot lari kian kemari melayani permintaan ketiga tamunya, sebentar ke luar, lain kejap berlari ke dapur lagi.

Sembari minum arak.

lelaki baju abu2 sering melirik ke arah Cu Bun-hoa.

Kalau dia ini komplotan penjahat, paling2 dia hanya seorang keroco, maka Cu Bun-hoa anggap tidak tahu, sikapnya tetap wajar dan makan minum seenaknya.

Tak lama kemudian lelaki baju abu2 sudah kenyang makan minum, sambil mengusap mulut, dia merogoh uang dan digabrukan keatas meja, serunya."Haisi tua, hitungrekeningnya"

Lekas pemilik kedai memburu datang, katanya.

"Semuanya 32 ketip."

Setelah membayar, dengan langkah lebar laki2 itu lantas keluar menceplak kuda terus dikeprak pergi.

Cepat Cu Bun-hoa juga bayar rekening, kudanyapun dibedal memburu dengan kencang.

Kuda tunggangannya semula milik Ling Kun-gi, pemberian keluarga Tong, merupakan kuda pilihan yang larinya pesat, sekejap saja kuda di depannya itu sudah diausulnya.

Waktu menoleh dan melihat Cu Bun-hoa mengejar datang, lelaki baju abu2 segera pecut kuda-nya supaya lari lebih kencang lagi.

Cu Bun-hoa tertawa dingin, mendadak d ia jepit perut kuda dan kuda itu segera berlari lebih cepat, tahu2 sudah menyusul beriring diaampingnya.

Secepat kilat Cu Bun-hoa ulur lengan mencengkeram baju kuduk laki2 itu serta dijinjingnya dari punggung kuda tunggangannya.

Menghadapi jago lihay seperti Cu Bun-hoa, sudah tentu seperti kambing berhadapan dengan harimau, kecuali mencak2 dan meronta, mulutpun ber-kaok2 seperti babi hendak diaembelih, orang itu tak mampu berbuat apa2.

Begitu Cu Bun-hoa kendorkan kakinya, kuda tunggangannyapun berlari semakin lamban.

Dengan tangkas Cu Bun-hoa lantas melompat turun, sekilas matanya memandang sekelilingnya, kebetulan dilihatnya tak jauh di sana ada sebuah batu besar, dengan tangan kanan menjinjing si baju abu2 dia menghampiri ke sana.

"Blang", laki2 itu dia banting ke atas tanah, saking keras laki2 itusampaisekian lamahanya menggeliatsajatak mampubangun. Terdengar Cu Bun-hoa yang duduk di atas batu bertanya dingin.

"Kenapa kau menguntit aku?"

Laki2 itu meringia kesakitan, katanya.

"cayhe tidak tahu apa maksud perkataanmu?"

Mendelik mata Cu Bun-hoa, desisnya.

"Ya, sebentar akan kuberitahu apa maksudku."

Selagi dia bicara, mendadak laki2 itu melolos golok di pinggangnya, sembari menyeringai, goloknya terus membacok kepala Cu Bun-hoa. Gerak-annya ternyata tangkas dan cepat.

"Trang", kembang api terpercik, Cu Bun-hoa yang duduk di atas batu tetap tidak bergeming, tapi golok itu membacok lewat disamping badannya mengenaibatu. Keruan sibaju abu2 kaget, dia kira saking terburu nafsu sehingga serangannya kurang mantap. mendadak dia menghardik, pergelangan tangan membalik, golok menyamber pula melintang membabat pundak Cu Bun-hoa. Kali ini dia sudah mengincar betul baru melancarkan serangan, kalau sampai sasarannya kena, batok kepala Cu Bun-hoa pasti dipenggalnya putus. Tapi samberan goloknya hanya mengeluarkan deru angin belaka tanpa rintangan, itu berarti babatan goloknya mengenai tempat kosong..Kini baru dia betul terperanjat, tapi untuk mengerem gerakannya sudah tak sempat lagi, terasa sejalur tenaga maha dahsyat tiba2 menindih punggung goloknya terus dibetot keluar sehingga golok tak kuasa dipegangnya lagi, goloknya mencelat dan jatuh ke semak2 rumput di kejauhan sana, telapak tangan terasa linu dan lecet. Cu Bun-hoa tetap duduk di atas batu tanpa -bergerak. suaranya kereng dingin.

"sekarang mau percaya tidak-jatuh ke tangan Lohu, mau lari atauadujiwahanyasia2, demijiwamu lebih baik menyerah dan mengaku terus terang, Siapa suruh kau menguntit Lohu, kepada siapa pula kau hendak laporan? Mungkin Lohu akan memberiampun padamu"

Si baju abu2 menjublek. sekian lama dia mengawasi dengan mata mendelong, sesaat kemudian baru tertawa getir, katanya.

"Tiada gunanya kalau cayhe mengaku, jiwaku tetap takkan selamat."

"Asal kau mengaku terus terang, Lohu pasti akan melindungi jiwa ragamu."

Laki2 itu menggeleng, katanya.

"Percuma, walau ilmu silatmu tinggi ......"

Mendadak badannya mengejang, terus jatuh tersungkur.

Melihat keadaan orang agak ganjil.

lekas Cu Bun-hoa memeriksanya, setelah berkelejetan sebentar, laki2 itu tak bergerak lagi, darah kental hitam meleleh dari ujung mulutnya, Prihatin wajah Cu Bun-hoa, katanya menghela napas.

"Bunuh diri pakai racun, orang2 ini berani mati, tapi tak berani membeber rahasia untuk cari hidup?"

Ia menggeleng dan melompat ke sana menjemput golok orang lalu menggali liang dan mengubur mayat laki2 itu, setelah selesai baru meneruskan perjalanan-Sepanjang jalan ini tanda2 rahasia tinggalan anak buahnya masih terus dia temukan, jalur bekas roda kereta juga masih kelihatan, setelah melewati Lui-clok-ho, dia terus maju ke Wan-cui-ho, haripun sudah petang.

Maju lebih lanjut Cu Bun-hoa sudah akan berada di pegunungan Tay-piat-san "Mungkinkah sarang penjahat ada di Tay-piat-san?"

Demikian ia membatin.

Di Wan-cui-ho dia cari, sebuah rumah makan, cukup lama dia berhenti dan menunggu, tapi tidak tampak Ji-ping menyusul datang, hati sedikit was2 tapi sepanjang jalan ini ia sudah meninggalkan tanda2 rahasia, si nona pasti akan terus mengikuti jejaknya sesuai petunjuk tanda2 itu.

Maka dia lantas meneruskan pengejarannya ke depan-Menuju ke barat lagi jalanan tidak rata, jalan kecil yang harus ditempuhpun ber-liku2 melingkar di antara pegunungan yang turun naik, tat-kala itu sudah petang, di antara lebatnya hutan di tengah pegununganterdengargemasuaraburung kokokbeluk yangseram, namun bagi ciam-liong Cu Bun-hoa yang berkepandaian tinggi, semua itu bukan soal.

cuma sejak keluar dari Wan-cui-ho, sejauh ini tanda rahasia yang dia harapkan ditinggalkan oleh kedua anak buahnya ternyata tak kelihatan lagi, keruan ia heran dan mulai curiga.

Memang untuk meninggalkan tanda rahasia tak mungkin ditempat yang terang dan menyolok mata, umumnya kalau tidak di ujung atau di kaki tembok.

akar pohon, kalanya di bawah batu atau tempat yang agak tersembunyi.

Kini hari sudah petang, tempat2 yang tersembunyi ini jadi lebih sukar ditemukan-Tapi ini hanya bagi orang2 biasa, bagi jago silat seperti si naga terpendam Cu Bun-hoa yang memiliki Lwekang tinggi, walau di tengah udara gelap.

dalam jarak setombak masih dapat dilihat-nya denganjelas.

Tapi tandarahasiayangditinggalkan oleh keduaanak buahnya yang menguntit kereta pengangkut Ling Kun-gi telah putus, sementara bekas roda kerota itu masih tetap kelihatan jelas.

Kalau kedaan anak buahnya itu kesasar, ini tidak mungkin, karena untuk menuju ke barat, sejak dari Wan cui-ho sudah tiada jalan lain kecuali jalan pegunungan kecil yang melingkar turun naik ini.

Kembali 20 li sudah ditempuhnya, keadaan jalan semakin menanjak dan sukar ditempuh.

maju lebih jauh lagi dia akan tiba di Liong-bun-kiu.

Liong-bun-kiu adalah sebuah jalan pegunungan yang sempit dan diapit batu2 cadas yang runcing dan semrawut letaknya, kecuali pohon2 cemara yang tersebar jarang2, hanya pepohonan rambat saja yang memenuhi sekitarnya, jalan pegunungan sempit ini ada lima lijauhnya, setelah keluar dari daerah Liong-bun kin barujalananakan kembaliagak datar.

Pada saat cu Bun-boa berjalan itulah, agak jauh di depan sana kelihatan meringkuk segulung benda hitam, lari kudanya cukup kencang, begitu dia melihat gundukan hitam ini, sementara kuda-nyapun sudah berlari dekat, lekas Cu Bun-hoa tarik tali kendali menghentikan kudanya.

Waktu dia mengawasi gundukan bayangan hitam yang menggeletak ditengah jalan itu, kiranya seekor anjing, menggeletaktanpa bergerak.

Betapa tajam mata Cu Bun-hoa, sekali pandang dia lantas mengenali anjing ini adalah anjing pelacak peliharaannya, seketika dia menjublek.

Lalu dia melompat turun, waktu diperiksa anjing ini sudah dingin kaku, namun seluruh badannya utuh tidak kelihatan lukaapa2, mungkinterpukulmatiolehsemacampukulanlunakyang maha kuat, atau mungkin juga mati terkena racun jahat.

Bahwa anjing pelacak ini sudah mati, bukan mustahil jejak kedua anak buahnya pasti sudah konangan oleh musuh, pantas sejak dari Wan-cui-hosampai sinidirinyatidak menemukan lagi tanda2rahasia peninggalan mereka.

cepat ia Cemplak kudanya lari beberapa tombak ke depan pula, seekor anjing yang lain ditemukan pula meringkuk di jalan, jelas nasib anjing yang ini mirip juga kawanannya tadi, maka dia tidak turun memeriksanya pula.

Kuda dia keprak membedal terus ke depan, jarak lima li hanya ditempuh beberapa kejap saja, akhirnya dia memasuki mulut lembah, maka dilihatnya dilamping gunung kira2 tiga tombak tingginya, diatas pohon cemara kanan kiri masing2 menggelantungsesosoktubuh.

Waktu Cu Bun-hoa mengawasi, siapa lagi kalau bukan kedua Centingnya yang dia suruh menguntit jejak musuh?

Kedua tangan mereka menjulur turun, kontal-kantil tertiup angin malam tanpa meronta lagi, jelas jiwa merekapun sudah melayang.

Sudah tentu tidak kepalang gusar Cu Bun-hoa, dada terasa hampir meledak.

dua anjing dibunuh dan dibiarkan menggeletak di tengah jalan, kedua centingnya juga dibunuh dan digantung di atas pohon, jelas musuh sengaja hendak pamer kekuatan dan merupakan ancaman terhadap dirinya.

Cu Bun-hoa kerahkan tenaga murni, sekali jejak dengan gaya ciam-Liong-siang thian (naga terpendam naik ke langit), dia melompat tinggi ke atas dari punggung kudanya, di tengah udara dia melolos pedang meluncur ke kiri, dimana pedang berkelebat, tali pengikat jenazah orang telah di babat putus, Dengan enteng kakinya menutul dinding gunung, badannya melambung miring ke sebelah kanan, di mana pedangnya bekerja, tali yang mengikat jenazah disebelah kananpun dia tusuk putus, lalu dia anjlok ke bawah.

Gerakannya tangkas dan cepat luar biasa, waktu dia menginjak tanah baru terdengar suara "bluk", mayat kedua centingnya juga berjatuhan pula.

Kuda tunggangannya itu memang kuda pilihan dari keluar Tong, begitu merasakan penunggangnya meloncat ke atas, segera dia berhenti sendiri tanpa diperintah, agaknya kuda ini memang sudah terlatih baik sekali.

Cu Bun-hoa simpan kembali pedangnya, dengan seksama dia periksa keadaan mayat kedua centing, kematian mereka mirip dengan kedua ekor anjing itu.

tiada bekas luka apa2 yang ditemukan--cuma kulit anjing tumbuh bulu rada sukar diperiksa, tapi kulit muka kedua centing ini berwarna kelabu, jelas mereka mati oleh pukulan semacam Tok-sat-ciang yang lihay dan beracun, kadar racun menyerang jantung, maka jiwapun melayang.

Di tempat itu juga dia kubur kedua centingnya, mulutnya berkata lirih.

"Lohu akan menuntut balas bagi kematian kalian-"

Segera dia cemplakkudadandibedalke mulutlembah.

Sejak keluar dari lembah sempit, timbul kewaspadaan Cu Bun-hoa, matanya menjelajah dengan teliti keadaan sekitarnya, tanah berumput yang luas dan datar tampak sunyi di tengah kegelapan, tapibayangan orang tampakberdiridisana.

Semuanya ada empat orang, tak bersuara dan tak bergerak.

empat orang berseragam hitam, mereka seperti empat pucuk pohon, se-olah2 dirinya sudah terkepung di antara mereka .Jelas keempat orang inilah pembunuh kedua anjing dan kedua centing nyaitu, dari posisi mereka berdiri, agaknya memang sedang menunggu kedatangan dirinya.

Agaknya mereka sudah memperhitungkan dengan cermat, sekeluar dari lembah dirinya pasti akan menghentikan kuda di tengah tanah berumput yang lapang ini, maka posisi berdiri mereka tepat mengepung sehingga dirinya tidak diberi kesempatan untuk meloloskan diri.

Sudah tentu belum tentu Cu Bun-hoa punya niat melarikan diri.

Keempat orang itu mengenakan jubah hitam yang kedodoran, dan yang lebih aneh lagi, mereka sama memiliki wajah yang kaku dingin, tak ubahnya muka mayat hidup.

Mereka sama menjulurkan tangan ke bawah, berdiri kaku seperti tonggak kayu.

Tampaknya mereka tidak membekal senjata, tapi dari punggung kuda Cu Bun-hoa dapat melihat jelas keempat orang tengah mengumpulkan semangat, mata merekapun berkilauan ditempat gelap.

kepandaian keempat orang ini agaknya tidak kepalang lihaynya.

Ginkang merekapun tidak lemah.

Di kala Cu Bun-hoa mengawasi mereka, serentak keempat orang jubah hitam itu melangkah ber-sama menghampiri, kira2 setombak disekitar dirinya baru berhenti.

Sudah tentu Cu Bun-hoa pandang enteng keempat musuhnya ini, dengan Celingukan seperti melihat suatu benda aneh layaknya, dia berkata.

"Kalian mencegat jalan Lohu, apa maksud kalian?"

Terdengar orang yang tepat di depannya bersuara dingin.

"Tua bangka, turunlah kau."

Cu Bun-hoa menjawab.

"Lohu masih akan meneruskan perjalanan, kenapa harus turun?"

"Karena kau sudah sampai akhir jalanmu,"

Ketus suara orang itu. Sambil mengelus jenggot, Cu Bun-hoa terseyum, katanya.

"Kukira kalian keliru, ke utara aku masih bisa sampai Say-gong-kiu, ke barat bisa mencapai ceng-thay-koan, kenapa kau bilang sudah sampai di akhir jalan?"

"Maksudku kau sudah mencapai akhir hidupmu,"

Jengek laki2 jubah hitam. Cu Bun-hoa ngakak sambil menengadah, katanya.

"Kalian sendiri belum mencapai akhir hidup kalian, bagaimana tahu kalau Losiu sudah mencapaiakhir hidup?"

Tajam dingin sorot mata orang itu, dengusnya.

"Nada dan sikap bicara tuan kelihatan bukan kaum keroco, sebutkan namamu."

"Di kalangan Kangouw ada pameo yang bilang, di atas langit masih ada langit, orang pandai ada yang lebih pandai. Siapa nama Lohu, biar kukatakan juga kalian tidak mengenalnya"

Orang di depan ini agaknya pemimpin rombongan, katanya sambil menyeringai.

"Tuan memang bermulut besar, entah bagaimana bekal kungfumu?"

"Kalian mencegat dan mengelilingi Lohu, tentu ada maksud turun tangan, kenapatidaklekascobasaja?"

TantangCuBun-hoa. Menyipit mata orang itu, jengeknya.

"Sekali kami turun tangan jiwamu pasti tamat, hanya ada satu cara untuk menghindari kematian atau luka2 parah."

"cara apa?"

Tanya Bun-hoa.

"Kutungi sendiri sebelah lenganmu, lalu ikut kami menemui Thian-su."

"Thian-su (utusan langit)?"

Tergerak hati Cu Bun-hoa.

"Siapakah Thian-su kalian?"

"Setelah kau tabas lenganmu, ku bawamu menemui beliau."

Lantang gelak tawa Cu Bun-hoa, ujarnya.

"Suruhlah Thian-su kalian menemuiku di sinisaja."

Orang berjubah hitam sebelah kiri menggeram gusar, teriaknya.

"Jangan membual, tua bangka. Tak perlu kita membuang waktu lagi, ringkus dia saja"

Cu Bun-hoa pandang sekelilingnya, katanya dengan tersenyum.

"Hanya kalian berempat saja, mampukah meringkus Lohu?"

"Berani kau memandang enteng kami?"

Bentak orang di sebelah kiri.

Mendadak dia melompat maju seraya ulur tangan diri, secepat kilat pundak Cu Bun-hoa dicengkeramnya.

Di atas kudanya terasa oleh Cu Bun-hoa Cengkeraman orang setajam pisau sekuat tanggam, keruan ia heran, batinnya.

"Senjata apa yang dia gunakan?" -otak bekerja, sementara tangan kanan sudah melolos pedang terus membabat pergelangan tangan lawan-Gerakan pedangnya sungguh secepat kilat, maka terdengar suara "trang", dengan telak pedangnya membabat pergelangan tangan lawan, tapi tangan orang sedikitnya tidak terluka, malah mengeluarkan suara keras nyaring dan memercikkan kembang api. Sudah tentu terkesiap hati Cu Bun-hoa, tapi orang berjubah hitam itupun terpental oleh getaran pedang Cu Bun-hoa. Tapi pada detik lain, ketiga orang yang lain juga bergerak bersama, serentak mereka menubruk maju. Cu Bun-hoa belokkan kudanya, pedang berputar sekeliling menciptakan tabir sinar kemilau, maka terdengarlah suara "trang, tang, tang,"

Tiga kali secara berantai.

Sekali gerak dia berhasil menangkis tiga serangan musuh, tapi tangan sendiri yang memegang pedang juga terasa kesemutan-Kini baru dia jelas bahwa tangan keempat orang ternyata semuanya dipasang lengan besi.

Semakin kaget dan heran hatinya.

"Ilmu silat keempat orang ini amat tinggi, entah dari aliran mana? Belum pernah terdengar jago silat menggunakan tangan besi di tangan kirinya di kalangan Kangouw."

Tatkala pikirannya bekerja, pada saat lawan terpental mundur, iapun sudah melompat turun dari kudanya serta menepuk sekali pantat kuda.

Begitu kaki menancap di tanah, Cu Bun-hoa lantas bergelak tertawa, katanya.

"Kalian mau main keroyok. nah, majulah bersama."

Keempat orang berjubah hitam agaknya tidak mengira bahwa tua b angka tak ternama ini ternyata memiliki lwekang dan kepandaian tinggi, walau wajah mereka membesi kaku tidak menampilkan perasaan, tapi sorot mata mereka tak urung meng-unjuk rasa kaget dan melenggong, sekilas mereka saling pandang dan tidak lantas turun tangan pula.

"Sebetulnya tuan dari kalangan mana?"

Tanya si jubah hitam sebelah depan "Lohu sendiri juga ingin tanya kalian?"

Balas Cu Bun-hoa tak acuh..

"Jadituantidak mauperkenalkandiri?"

"Kalian toh tak mau memperkenalkan diri?"

"Tuan harus tahu, bukan kami gentar terhadap-mu, soalnya kami perlu tahu siapa tuan, baru akan bertindak. menamatkan jiwamu atau membekukmu hidup,hidup,"

"Kalau begitu boleh silakan turun tangan,"

Ujar Cu Bun-hoa tertawa tawar. Pemimpin berjubah hitam itu angkat sebelah tangan, matanya yang mencorong memandang ke-tiga kawannya, lalu berkata dengan suara berat.

"Baik, kalian dengar, tak peduli mati atau hidup, ganyang dia"

Belum habis bicara dia sudah mendahului menubruk maju, laksana kilat tangan kirinya mencengkeram tiba.

Tiga orang berjubah hitam yang lain serempak beraksi pula dengan menubruk maju.

Cu Bun-hoa bergelak lantang panjang, sebat sekali pedangnya melingkar bundar, segera ia kembangkan ilmu pedangnya dan meluruk sengit ke-empat lawannya.

Cu Bun-hoa, naga terpendam yang berkuasa di daerahnya sendiri memang memiliki kepandaian yang mengejutkan sekali dan tidak bernama kosong, pedangnya bergerak laksana naga sakti yang lincah dan gesit, cahaya dingin yang memancar dari batang pedangnya se-akan2 menaburkan bintik2 sinar kemilau ke delapan penjuru angin.

Karena dia jarang berkelana di Kangouw, maka keempat musuhnya jadi sukar dan belum dapat menyelami jalan ilmu pedangnya, betapa tinggi kepandaian keempat orang ini dibuat keripuhan juga, tapi kepandaian keempat orang ini memang juga aneh, apalagi lengan kiri mereka semua terpasang lengan baja, kelima jari bagai cakar tidak takut segala senjata tajam, walau sementara Cu Bun-hoa berada di atas angin, namun dalam waktu singkat terang dia tidak akan mampu merobohkan atau melukai lawan-Dengan cepat 20 jurus telah berlalu.

Mau tak mau Cu Bun-hoa mencelos juga hatinya, batinnya.

"Kepandaian silat keempat orang ini terhitung kelas wahid di kalangan Kangouw, permainan merekapun berlainan satu dengan yang lain, kenapa sama2 mengutungi lengan sendiri serta menggantinya dengan tangan besi?"

Pada saat itulah, tiba2 dari kejauhan berkumandang sebuah bentakan keras.

"Kalian berhenti"

Bentakan ini bergema laksana bunyi genta, lembah pegunungan serasa bergetar oleh bentakan keras ini.

Pui Ji-ping yang ketinggalan setengah li di belakang pamannya, waktu Cu Bun-hoa mengompes keterangan laki2 baju abu2 dan menemukan bangkai anjing dan kedua anak buahnya di selat sempit tadi, iapun menyusul tiba, sudah tentu iapun melihat semua kejadian yang dialami pamannya.

Cuma dia selalu ingat pesan pamannya agar diri-nya mengambil jarak tertentu, dilarang bicara lagi, maka kini dia hanya berdiri di tempat kejauhan saja.

Setelah Cu Bun-hoa naik kuda dan berangkat pula baru diapun membedal kudanya kedepan.

Tak tahunya baru saja dia tiba di mulut lembah, segera ia mendengar suara beradanya senjata tajam.

Lekas dia melompat turun dari kudanya, pelan2 dia merunduk maju terus lompat ke atas sebuah batu besar dan menyembunyikan diri serta mengintip ke bawah.

Dilihatnya empat orang berjubah hitam tengah mengerubut pamannya.

Melihat orang2 berjubah hitam itu, tergerak pula hatinya, pikirnya.

"Hou Thi jiu juga menggunakan lengan besi di tangan kirinya, demikian juga keempat orang ini, terang mereka adalah sekomplotan dengan Hou Thi-jiu."

Tak lama kemudian lantas didengarnya seo-rang membentak keras.

"..Kalian berhenti"

Kuping Ji-ping mendengung pekak oleh bentakan keras bagai bunyi genta itu, keruan kagetnya bukan main, lekas dia berpaling ke sana, di-lihatnya kira2 setengah li di kejauhan sana ada dua titik sinar seperti api setan tengah terbang turun naik menyusuri kaki bukit berlari ke arah sini.

Bertambah besar rasa kejutnya, batinnya.

"Masih setengah li jauhnya, tapi suara orang ini dapat membuat pekak kuping, kalau dia menghardik berhadapan mungkin aku bisa jatuh semaput."

Mendengar bentakan keras ini, keempat orang jubah hitam tadi segera melompat mundur berpencar pada posisi masing2.

Dengan pedang melintang di depan dada Cu Bun-hoa berpaling ke arah datangnya suara, tertampak dari pegunungan sana beriring mendatangi enam orang berjubah hitam pula.

Keenam orang ini bukan saja berpakaian sama, wajah dan sikap merekapun sama.

kaku dingin tidak berperasaan-Masing2 dua orang berjajar beriring datang, gerak langkah mereka kaku mirip mayat hidup dan seperti tonggak berjalan Diam2 kaget juga cu Bun-goa melihat orang2 ini, dia insaf untuk menghadapi keempat lawan ini sudak cukup berat, kini ketambahan enam orang lagi.

agaknya nasib dirinya malam ini lebih banyak celaka daripada selamat, semoga Ji-ping jangan lekas2 menyusul ke mari.

Demikian batinnya.

Lekas sekali keenam orang ini sudah tiba di tanah berumput sebelah kiri, mendadak tampak pula sesosok bayangan orang tinggi besar berlenggang mendatangi, jangan kira gerak kakinya kelihatan seperti berlengang, mirip badut di atas panggung, lapi setiap langkah kakinya mencapai jarak dua tiga tombak jauhnya, kedua kakinya seperti tidak menyentuh tanah.

Sekali pandang Cu Bun-hoa lantas tahu bahwa kepandaian si gede inijauh lebih tinggi dari kawanan jubah hitam ini, maka dia tumplekperhatiannyaterhadapsi gedeini.

Badan orang ini tingginya delapan kaki, dada lebar lengan besar, wajahnya mengkilap mirip tembaga, alisnya pendek.

matanya sipit, hidung besar mulut lebar, jubah sempit warna tembaga yang dipakainya hanya sebatas di lutut, kaki telanjang memakai teKiek tembaga.

Sebagai cengcu dari Liong-bin-san-ceng, meski jarang berkelana di Kangouw, tapi tokoh-tokoh Kangouw kenamaan pada jaman ini tidak sedikit yang dikenalnya, paling tidak pernah mendengar nama atau keahlian dan keistimewaannya.

Kini melihat dandanan si gede yang aneh ini, mendadak diingatnya seseorang, keruan hatinya kaget bukan main, batinnya.

"Mungkinkah dia ini Lam-kiang-it-ki Thong-pi-thian-ong?"

Jabatan atau kedudukan si gede serba tembaga ini terang jauh lebih tinggi daripada kawanan jubah hitam, ini jelas kelihatan dari sikap keenam orang jubah hitam yang baru datang serta cara mereka berdiri, kelihatan memberi peluang untuk si gede ini nanti, tapi toh masih ada tempat kosong lagi di sebelah mereka, hal ini membuat Cu Bun-hoa men-duga2 pula bahwa kecuali si gede agaknya pihak lawan masih ada tokoh lain pula yang berkedudukan lebih tinggi yang belum tiba.

Siapakah orang yang belumtiba ini?

Maklumlah si tokoh aneh dari Lam-kiang (wilayah selatan) ini biasanya merajai daerah selatan, selamanya belum pernah tunduk terhadap orang lain, lalu siapakah yang telah mampu menundukkan dia sekarang?

Begitu si gede tiba dan berdiri di samping, Cu Bun-hoa lantas buka suara.

"Yang menghentikan pertempuran tadi apakah tuan?"

Mendelik sebesar jengkol mata si gede, bentaknya.

"Diam, tak bolehribut"Suaranya memang kerassepertibunyi genta. Kini Cu Bun-hoa lebih yakin bahwa si gede memang Thong-pi-thian-ong adanya, tapi caranya bicara jelas dia hanya mengawal seseorang belaka. Sungguh luar biasa. Semakin kejut dan heran Cu Bun-hoa, mendadak dia mendongak sambil bergelak tawa, katanya.

"Dandanan dan tampang tuan ini mirip sekali dengan Lam-kiang-itki Thong-pi-thian-ong, entah sejak kapan tuan terima diperbudak orangataujadipengawal pribadinya"

Semakin bulat mendelik mata si gede, suara-nya menggerung gusar.

"Kusuruh kau diam, kau harus diam, memangnya kau tua bangkainisudah bosanhidup?"

Gerungannya yang dahsyat itu membuat Pui Ji ping yang sembunyi di atas batu hampir pecah kupingnya,jantungnya ber-debar2, hampir saja dia menjerit.

Tiba2 terasa dari belakang tersalur sejalur tenaga yang tidak kelihatan membantu dirinya mengendalikan darah yang bergolak, kupingpun lantas mendengar suara lirih berbisik seperti bunyi nyamuk.

"jangan bersuara Siau-sicu, itulah Kim-loh-ong yang hebat dariThong-pi-thian-ong."

Heran Ji-ping, baru saja dia kendak berpaling, suara lirih seperti nyamuk berkata pula.

"Situasi malam ini amat gawat dan berhahaya, sekali2 jangan Sicu menoleh ke belakang, mata dan kuping Thong-pi-thian-ong amat tajam. Jarakmu hanya sepuluh tombak dengan mereka, sedikit lena, jejakmu pasti konangan."

Tatkala itu tampak dua buah lampion tengah mendatangi dari jalanan gunung sana.

Dua gadis belia baju hijau tengah mendatangi dengan gemulai sambil menenteng dua lampion-Malam di tengah pegunungan sudah tentu amat gelap sehingga cahaya lampu lampion ini terasa terang benderang.

Tak jauh di belakang kedua gadis membawa lampion menyusul sebuah tandu mewah dan indah, dan laki2 kekar memikul tandu mini ini, langkah mereka enteng seperti berlari menuju ke tanah berumput ini.

Selarik kain warna merah sutera panjang semampir di pundak dan pinggang kedua laki2 kekar pemikul tandu itu bertuliskan empat huruf warna hitam yang berbunyi.

"Wakil langit mengadakan ronda". Akhirnya tandu mini itupun berhenti dan diturunkan di tanah berumput sebelah kanan atas. Kedua gadis pembawa lampion berdiri di kiri kanan tandu, di bawah sinar lampion tandu itu tampak indah gemerlapan, kerai menjuntai lembut dan rapat sehingga tidak kelihatan siapa yang duduk di dalamnya? Tapi Thong-pi-thian-ong dan kesepuluh kawanan jubah hitam serempak memberi hormat lalu berdiritegak denganprihatin Tiba2 tergerak hati, Cu Bun-hoa melihat keadaan ini, tadi dia dengar salah seorang jubah hitam pernah menyinggung "Thiansu"

Atau duta langit, setelah melihat tulisan "Wakil langit mengadakan ronda", jelas bahwa orang di dalam tandu adalah Thian-su yarg dimaksud, cuma siapa dia dan tokoh macam apa pula?

Pedang disimpan kembali, Cu Bun-hoa berdiri membusung dada sikapnya gagah berwibawa, tapi hatinya kebat-kebit, diam2 dia kerahkan Lwekang-nya, mempersiapkan diri untuk bertindak bila menghadapi sergapan musuh.

Maka terdengarlah sebuah suara halus nyaring berkumandang dari dalam tandu.

"Thio thijiu"

Suaranya bagai kicau burung kenari, lembut dan merdu. Tak pernah terpikir dalam benak Cu Bun-hoa bahwa Thian-cu atau "duta langit"

Ini ternyata seorang perempuan, dari suaranya kedengaran bahwa dia adalah gadis belia pula.

Tampak salah seorang jubah hitam yang berdiri paling depan tadi mengiakan sambil melangkah ke depan tandu.

Terdengar perempuan dalam tandu bertanya.

"Kalian sudah tanya asal usulnya?"

"Dia tidak mau mengatakan,"

Sahut Thio thi-jiu.

"Bagaimana ilmu silatnya?"

Tanya perempuan dalam tandu pula.

"Kami berempat mengeroyoknya, tapi tak mampu mengalahkan dia."

"Pada jaman ini. dengan kekuatan kalian berempat, memangnya siapa yang tak mampu kalian kalahkan, tapi siapakah dia"

Kata2 terakhiramatlirih, sepertibicarauntuk dirinyasendiri. Thio thi-jiu berdiri tegak lurus, sudah tentu dia tak berani bersuara. Sesaat kemudian perempuan dalam tandu berkata pula.

"Baiklah, kau boleh minggir."

Thio-thi-jiu mengiakan, lalu mundur ke tempatnya semula. Perempuan dalam tanda lantas berpesan kepada gadis pembawa lampion sebelah kiri. katanya.

"Mintalah orang tua itu maju kemari, ada pertanyaan hendak kuajukan padanya."

Gadis itu segera tampil ke depan Cu Bun-hoa, katanya setelah memberi hormat.

"Tuan ini diharap maju kedepan, Siancu ( dewi ) kami ingin bicara dengan kau"

Cu Bun-hoa juga ingin tahu asal usul pihak sana, memangnya siapa sebetulnya Thian-cu yang serba misterius ini? Maka dengan mengelus jenggot dan tertawa lebar, katanya.

"Lohu memang ingin bertemu dengan Siancu kalian."

Lalu dengan langkah lebar dia menghampiri, beberapa kaki di depan tandu dan berhenti, katanya sembari memberi hormat.

"Silakan Siancu, terima kasih akan undanganmu, entah ada petunjuk apa?"

Perempuan dalam tandu cekikik riang, katanya.

"Loyacu adalah tokoh kosen Bu-lim, sungguh beruntung kita bertemu di sini."

Sampai di sini tiba2 dia berseru keras.

"Kenapa tidak singkap kerai ini?"

Kedua gadis yang berdiri di kiri kanan segera menyibak kerai kedua sisi, kedua lampionpun di-arahkan ke depan tandu sehingga perempuan yang duduk di dalam tandu kelihatan wajahnya.

Ternyata "Dewi yang mewakili langit menga-dakan ronda"

Ini hanyalah seorang nyonya muda belia yang berusia sekitar 25, berpakaian serba putih, dandanannya mirip puteri keraton, tengah tersenyumsimpul mengawasidirinya.

Sesaat Cu Bun-hoa melenggong, dia jarang keluar pintu, tapi semua tokoh Kangouw yang sedikitpunya nama pasti pernah didengarnya.

Nyonya muda molek ini mampu menundukkan Lam-kiang-it-ki sampai terima menjadi pengawal pribadinya, kenapa belum pernah dia mendengar adanya perempuan selihay ini, serba misterius lagidalamtindaktanduk.

Memang otaknya cerdik, banyak akal dan pandai mengikuti situasi, sekilas melenggong segera Cu Bun-hoa berdehem, katanya tertawa.

"Siancu me-ronda mewakili langit tentunya kau inilah Thian-suadanya?Entahsiapakahnama harumSiancu yang mulia?"

Jari jemari nan runcing halus dari nyonya muda itu terangkat dan mengelus gelung kundainya, katanya tertawa.

"Agaknya tidak sedikit yang Loyacu ketahui. aku she Coh, karena biasanya aku suka mengenakan pakaian serba mulus begini, maka orang memanggilku Hian-ih-sian-cu, harap Loyacu tidak mentertawakan diriku."

"Hian-ih-sian-cu"

Cu Bun-hoa tetap tidak pernah dengar nama julukan ini.

Mengerling biji mata Hian-ih-sian-cu, katanya sambil cekikikan "Loyacu adalah tokoh kosen pada jaman ini, mohon tanya siapakah nama besar Loyacu?"

Cu Bun-hoa bergelak tertawa, katanya.

"Lohu Ho Bunpin, orang liar yang hidup di gunung, mana berani disebut tokoh kosen segala."

Hian-ih-sian-cu cekikikan genit, katanya.

"Nama yang Loyacu sebutkan kukira bukan nama tulen bukan?"

"Mungkin Siancu belum pernah dengar nama-ku yang tidak terkenal ini, dan lagi apa perlunya Lohu harus menyembunyikan nama dan asal-usul?"

"Betul,"

Kata Hian-ih-sian-cu.

"menurut penglihatanku, wajah Loyacujugadirias, entahbetultidak perkataanku?"

Semakin terkejut hati Cu Bun-hoa, katanya dingin.

"Tidak perlu Lohu mainsembunyidengancara menyamarsegala."

"Berkelana di Kangouw, supaya tidak menarik perhatian orang, merias diri dan ubah wajah asli itu sudah biasa, apakah Loyacu merias diri tiada sangkut pautnya dengan aku? cuma ingin kutanya, Loyacu main selidik memasuki daerah Tay-piat-san ini, entah apa maksudnya"

"Betul, Lohu juga ingin tanya kepada Siancu, tanpa sebab anak buahmu merintangi perjalananku, apa pula maksudnya?"

"Bukankah Ho-loyacu telah saksikan sendiri? Malam ini kebetulan aku meronda sampai di sini, anak buahku melihat Loyacu memasuki selat gunung seorang diri, gerak-geriknya mencurigakan lagi, sudah tentu kau harus dimintaiketerangan-"

Cu Bun-hoa mendengus, katanya.

"Sekarang Siancu sudah jelas tentang keteranganku?"

"Pertanyaanku tadi sia2 belaka, karena Loyacu tidak menjawab sejujurnya."

"Lalu apa pula kehendak siancu?"

"Silakan Ho-loyacu ikut kami, setelah kami jelas menyelidiki asalusulmu akan kuantar kau ke luar gunung."

Terangkat alis Cu Bun-hoa, katanya.

"Siancu kira orangmu banyak. mau main keroyok terhadap-ku seorang?"

Mendadak dia mundur selangkah tangan sudah siap melolos pedang.

"Aku tak perlu turun tangan terhadapmu,"

Ujar Hian-ih sian-cu sambil tertawa.

Hanya sekejap itu, Cu Bun-hoa sudah merasakan adanya gejala2 yang tidak normal pada diri sendiri.

Sudah timbul pikiran Cu Bunhoa untuk mundur dan melolos pedang, tapi kaki tangan ternyata tidak menurut perintah lagi, keruan kejutnya bukan main, air mukapun berubah hebat, bentak-nya.

"Sundel keparat .........."

Hian-ih-sian-cu tetap unjuk senyum menggiurkan, katanya riang.

"Dapat mengundang Ho-loyacu, sungguh merupakan kebanggaanku."

Lalu dia mengulap tangan dan menambahkan.

"Mari kita kembali"

Kedua gadis menurunkan kerai, pemikul tandu lalu berputar balik, di bawah pimpinan Lam-kiang-it-ki, kesepuluh kawanan jubah hitam menggusur CuBun-hoa mengintildibelakangtandu.

Hampir saja Pui Ji-ping yang sembunyi di utas batu menjerit lagi melihat adegan yang aneh ini.

Suara lembut bagai bunyi nyamuk mengiang pula dipinggir kupingnya "Siau-sicu harus tahan sabar, jangan gegabah"

Mencelos hati Ji-ping, terpaksa dia tekan perasaannya, dengan cemas dia awasi kawanan jubah hitam itu menggusur pamannya pergi, waktu dia menoleh, dilihatnya setombak di belakangnya berdiri seorang Hwesio tua kurus, sorot matanya berkilauan sedang mengawasi dirinya dengan tersenyum.

Tahu berhadapan dengan tokoh kosen, lekas Ji-ping menekuk lutut memberi hormat, katanya.

"Losuhu, lekas tolong pamanku"

Karena gelisah ia lupa dirinya sedang menyaru laki2, cara memberi hormatsepertianakgadis lazimnya. Hwesio tua kurus pendek lekas merangkap kedua tangan, katanya heran.

"Sicu kiranya seorang nona, jadi yang ditawan Hianih-lo-sat tadiadalah pamanmu?"

Merah muka Ji-ping, diam2 ia sesali kecerobohan sendiri, katanya mengangguk.

"Ya, dia pamanku, apakah perempuan dalam tandu itu yang Losuhu maksudkan bernama Hian-ih-lo-sat? Jadi orang2 itu ada hubungannya dengan Cin-Cu-ling?"

"Lolap juga belum tahu asal-usul mereka,"

Kata Hwesio tua itu.

"cuma menurut apa yang kuketahui, Hian ih-lo-sat ini amat lihay, orang2 yang terjatuh ke tangannya sudah cukup banyak, termasuk Kwi-kian-jiu Tong-citya, Un It-kiu dari keluarga Un, suteku Kim Kaythay dan lain2 ....."

Ji-ping kaget, serunya.

"Jadi Kim-loya cu juga tertawan oleh perempuan siluman itu."

"Nona juga kenal Kim-sute?"

Tanya si Hwesio tua.

"Aku tidak kenal, Tapi Toakoku adalah kenalan baik Kim-loyacu."

"Siapakah Toako nona?"

"Toako bernama Ling Kun-gi,"

Sahut Ji-ping, lalu bertanya.

"Losuhu tentunya paderi sakti dari Siau-lim-si, entah siapa nama gelaran Taysu yang mulia?"

"Lolap Ling-san,"jawab Hwesio tua kurus.

"pejabat Bun-cu-wan dari Siau-lim-si."

Biasanya hanya paderi2 dari Lo-han-tong saja yang diperbolehkan keluar Siau-lim-si, kini ketua Bun-cu-wan (ruangan agama) pun terpaksa harus dikerahkan keluar, dapatlah di simpulkan bahwa pihak siau lim menaruh perhatian besar terhadap peristiwa Cin-Cu-ling ini.

Lekas Ji-ping menjura, katanya "Losuhu ternyata pemimpin Bun-cu-wan, paman sudah tertawan perempuan siluman itu, aku akan segera pergi."

"Tunggu sebentar nona."

"Ada petunjuk apa Losuhu?"

"Bolehkah nona memberitahu padaku, siapa sebenarnya pamanmu itu?"

"Tak enak kumain sembunyi atas pertanyaan Losuhu, paman adalah cengcu Liong-bin-san-seng Cu Bun-hoa "

Bergetar tubuh Ling san Taysu, katanya.

"Kiranya cu cengcu ... ."

"Losuhu, menolong orang seperti menolong kebakaran, aku harus cepat susul mereka."

Ling-san Taysu kaget, katanya.

"Hian-ih-lo-sat amat lihay, Thong-pi-thian-ong membantu dia berbuat jahat, Cu-cengcupun bukan tandingan mereka, mana boleh nona menempuh bahaya secara sia2,"

"Bukan begitu,"

Ujar Ji-ping cekikik geli.

"aku akan sampaikan kabar tertawannya Toako dan Tong-cityakepada ibu angkatku."

"Siapa pula ibu angkat nona?"

Tanya Ling-san Taysu.

"ibu angkatku adalah Tong-lohujin dari keluarga Tong di Sujwan."

"JadiTong-lohujin juga datang?"

"ibu angkatsekarangberadadiPat-kong san"

"Baiklah silakan nona berangkat Lolap akan menguntit Hian-ih-losat lebih lanjut, akan kulihat di mama sarang komplotan orang2 ini?"

Ji-ping membatin.

"Hwesio tua ini hanya berani menguntit secara diam2, agaknya iapun gentar terhadap Hian-ih-lo-sat, terpaksa aku harus cepat2 kembali kePat-kong san minta bantuan-"

Tanpa banyak bicara lagi, cepat ia lompat turun terus cemplak kuda dan dibedalbalik kearahdatangnyatadi.

Itulahhari keduasetelah Ling Kun-giberadadiCoatSin-san-ceng atau hari pertama mulai tugas kerjanya di Hiat-ko-cay.

Pagi hari itu setelah sarapan pagi, seorang diri dia langsung menuju ke Hiat ko-cay, begitu tiba, Long-gwat, si pelayan segera menyambut kedatangannya .

Long-gwat bantu membuka pintu kamar kerjanya, dengan langkah tetap Kun-gi masuk serta mengeluarkan kunci membuka gembok lemari kecil, dia keluarkan segala perabot keperluan kerjanya, ada pisau, mangkok, tatakan dan cawan2 kecil serta peralatan lain yang sukar disebut namanya, terakhir ia keluarkan cupu2 berisi getah beracun itu.

Sementara itu Long-gwat menyeduh teh dan disuguhkan di atas meja.

Dengan hati2 Kun gi membuka sumbat cupu2 lalu pelan2 menuang sedikit getah di atas sebuah tatakan, kembali dia tutup cupu2 itu serta dikembalikan ke almari.

Duduk di kursi kerjanya, sekenanya dia ambil sebatang jarum perak.

dua kali dia celupkan ke dalam getah beracun, tampak ujung jarum yang runcing seketika berubah menjadi hitam.

kadar racun ini ternyata keras dan hebat, lalu dia mendekatkan hidang mengendus ujung jarum Long-gwat berdiri di sebelahnya jadi kaget, serunya kuatir.

"Awas Cu-cengcu, racun ini amat jahat, sedikit kena saja jiwa orang tak dapat diselamatkan."

"Kenapa kau tidak menungguku?"

"Nona mau ke mana? "Kau menyamar lagi bukankah ka hendak menemuka pengejaranmu?" , u n "Betul, kenapa?"

"Aku ikut, boleh tidak?"

K n gi te teg n sah tn a menggeleng "Jangan non cant Kun-gi tersenyum dan memandang lekat2 pelayan itu, katanya.

"Terima kasih atas perhatian nona, Lohu hanya ingin menciumnya "Terinta kasih, kalau ada tugas lain hamba di belakang, sekarang hamba mohon diri,"

Lalu dia dia beranjak keluar. Sambil tetap pegang jarum perak tiba2 Kun-gi memanggilnya.

"Nona Long-gwat, tunggu sebentar."

Long-gwat berhenti di ambang pintu, tanyanya.

"Ada pesan apa lagi Cu cengcu?"

"Lohu baru datang, tidak tahu tata tertib yang ada di sini, ingin kutanya suatu hal padamu. Di sini ada empat kamar kerja, apakah satu sama lain boleh saling berkunjung?"

Long-gwat tertawa lebar, katanya.

"Kalian berempat adalah tamu agung undangan cengcu kami segala keperluan sudah kami sediakan, sudah tentu gerak-gerik kalian juga tidak dibatasi, tempat ini memang khusus untuk kerja, supaya tidak terpecah perhatian dan dapat bekerja dengan tenteram, maka masing2 diberikan satu kamar tersendiri, membagi tugas untuk sama2 mencapai tujuan, satu sama lain boleh saling berunding akan penemuan masing2, Sudah tentu boleh pula saling kunjung mengunjungi"

"Baiklah, getah racun ini amat lihay, mereka datang lebih dulu, tentunya sudah memperoleh sedikit bahan penyelidikan, sebelum kerja, Lohu ingin mendengar saran dan pendapat mereka bertiga."

Setelah Long-gwat keluar, Kun-gi segera buka pintu dan keluar, dalam hati diam2 dia menimang2, akhirnya dia berkeputusan untuk mengunjungi Lok-san Taysu lebih dulu, setiba didepan pintu kamar orang, pelan2 dia mengetuk pintu.

Terdengar suara Lok-san Taysu berkata.

"Siapa? Silahan masuk"

Kun-gi menjawab dengan suara lantang.

"cay-he Cu Bun-hoa, sengaja kemari mohon petunjuk Taysu."

Sembari bicara dia mendorong pintu serta melangkah masuk. Mendengar Cu Bun-hoa yang datang, lekas Lok-san Taysu berdiri dari kursinya, katanya sambil merangkap kedua tangan.

"Maaf Lolap terlambat menyambut, silahkan Cu-cengcu duduk."

Ternyata Lok-san Taysu hanya duduk2 sama-diam saja di kursinya, tidak melakukan kerja apa2, perabot keperluan kerja tiada yang dia keluarkan Setelah menutup pintu kembali, Kun-gi menjura, katanya.

"Sengaja cayhe kemari mohon petunjuk Taysu."

Lok-san Taysu rendah hati, Kun-gi dipersilakan duduk di depan meja, iapun kembali ke tempat duduknya, katanya.

"Entah ada petunjuk apa kedatangan Cu-cengcu."

"Barusan cayhe sudah periksa getah beracun dari Sam-goan-hwe itu, kukira kecuali amat beracun, sukar diraba sebetulnya barang beracun dari jenis apa? Taysu paham soal obat2an, selama ini juga selalu mengadakan penyelidikan, apakah sudah berhasil menyelaminya?"-Habis berkata lalu dengan ilmu Thoa-im-jip-bit (ilmu mengirim gelombang suara) ia menambahkan.

"Bagaimana pendapat Taysu tentang pribadi Cek Seng-jiang?"

Lok-san Taysu berlagak merenung sebentar, yang benar dia termenung karena mendengar pertanyaan Ling Kun-gi terakhir itu lalu sedikit mengangguk ia menjawab.

"Lolap juga amat menyesal, sejauh ini belum berhasil menemukan terbuat dari bahan apakah getah beracun ini, kalau cuma diselidiki sukar dibedakan, obat2an umumnya harus dicicipi dengan mulut dan diendus baunya baru bisa dibedakan keasliannya. Tapi getah ini amat beracun masuk mulut jiwa melayang, hakikatnya sukar dirasakan, paling hanya bisa diraba sesuai dengan sifatnya yang ganas, selama tiga bulan ini boleh dikatakan hasil Lolap nol besar."

Lalu ia menambahkan pula dengan suara Thoa-im-jip-bit.

"Menurut pengamatan Lolap dalam persoalan ini ada tersembunyi suatu muslihat besar"

Kun-gi manggut2, katanya.

"Memang betul omongan Taysu, getahini merupakanhasilcampuradukyangdlolahsedemikianrupa sehingga sudah kehilangan bentuk aslinya, kalau beberapa jenis racun yang sama sifatnya diaduk menjadi satu, maka kekuatan dan keganasannya menjadi berlipat ganda pula, kalau tidak, tak mungkin getah ini begini keras."

Lalu ia menambahkan pula dengan ilmu bisik2.

"Apakah Taysu tahu mereka punya muslihat apa?"

"Siancai siancay"

Lok-san Taysu bersabda.

"Cu-cengcu benar2 seorang ahli, demikian juga pendapat Lolap, beruntung Cu-cengcu hari ini datang, selanjutnya kita bisa saling bertukar pikiran. ...."

Lalu, iapun menjawab pelahan.

"Soal ini Lolap belum bisa mengatakan, yang terang tujuannya bukan untuk menghindarkan petaka yang bakal menimpa kaum persilatan-"

"Usul Taysu baik sekali,"

Kata Kun-gi rendah hati.

"Taysu paham ilmu pengobatan, cayhe memang ingin mohon petunjuk."

Lalu dengan gelombang suara dan bertanya.

"Apakah Taysu juga terbius oleh mereka waktu diculik kemari?"

"Memang sudah beberapa kali Lolap mengadakan percobaan dengan getah racun itu, tapi tiada yang kuperoleh, entah Cu-cengcu punya pendapat apa?"

Habis kata2nya lalu dia menjawab dengan gelombang suara.

"Ya, betul."

Dengan pura2 membicarakan penyelidikan getah beracun, kedua orang secara diam2 tukar keterangan dengan ilmu gelombang suara. Kun-gi berkata lebih lanjut.

"Di dalam obat mereka mencampur obat beracun yang membuyarkan Lwekang orang, bagaimana Taysu?"

"Hawa murni dalam tubuh Lolap tak mampu dihimpun, sisa tenaga paling2 hanya satu dua bagian dari keadaan normal, selama tigabulan inibetapapunusahaku tetaptakberhasil kukumpulkan-"

"Apakah Taysu masih mampu mengerahkan tenaga murni?"

Tanya Kun-gi. Terang sinar mata Lok-san Taysu tanyanya menatap Kun-gi lekat2.

"Maksud Cu-cengcu ."

Kun-gi tersenyum, ujarnya.

"Taysu jangan tanya, jawablah dulu pertanyaanku."

Terbayang rasa sangsi pada muka Lok-san Taysu, katanya.

"Sedapat mungkin Lolap masih bisa mengerahkan hawa murni."

Girang Kun-gi. katanya.

"Itulah baik."

Dia keluarkan Pi-tok-cu dan ditaruh ke tangan Lok-san Taysu, katanya.

"Genggamlah mutiara ini pada kedua telapak tangan Taysu, pelahan2 kerahkan hawa murni ketelapaktangan, terusdisalurkan kesekujurbadan". Betapapun Lok-san Taysu adalah orang yang cukup luas pengetahuan dan pengalamannya diam2 dia mengintip ke telapak tangan sendiri, katanya kaget dan heran.

"Ini kan Le-liong-pi-tok-cu, mutiara yang dapat menawarkan segala racun."

"Lekas Taysu merangkap tangan dan kerahkan tenaga, lenyapkan dulu kadar racun yang mengeramdalamtubuh Taysu."

Sampai di sini percakapan mereka menggunakan Thoan-im-jip bit. Lok-san Taysu sedikit mengangguk. lalu berkata.

"Harap Cucengcu duduk sebentar, belakangan ini Lolap sering merasa letih, sewaktu2 harus bersamadi, harap jangan berkecil hati."

Segera Loksan merangkap kedua telapak tangan di depan dada, pelan2 matapun terpejam.

Kun-gi duduk di hadapannya, iapun diam saja menunggu dengan sabar, kira2 satu jam barulah didengarnya Lok-san Taysu menarik napas panjang, mendadak matapun terbuka.

Begitu orang membuka mata, sinar matanya seketika tampak mencorong terang dan kuat, jelas racun yang menggangu Lwekangnya telah tercuci bersih, dalam hati diam2 Kun-gi bergirang, tanyanya."Sudahagakbaik Taysu"

Pelan2 Lok-san Taysu berdiri, katanya sambil tetap merangkap kedua tangan.

"Bikin repot Cu-cengcu menunggu lama, kini Lolap sudah segar kembali."

Sembari memberi hormat, lekas dia angsurkan Pi tok cu pada Ling Kun-gi, lalu berkata dengan gelombang suara.

"Terima kasih atas bantuan Cu-cengcu, berkat kasiat Pi-tok cu, kadar racun dalam tubuh Lolap sudah tersapu bersih, tapi karena cukup lama Lwekang buyar, mungkin dalam dua-tiga hari ini baru bisa pulih seperti sediakala."

Kun-gi terima mutiara yang dikembalikan, iapun berkata dengan gelombang suara.

"Ku hatur-kan selamat kepada Taysu."

"Budi dan bantuan cengcu menyembuhkan racun yang membuyarkan Lwekangku ini takkan terlupakan selama hidupku, entah apa pula rencana Cu-cengcu selanjutnya?"

"Dalam tahap permulaan ini, rencana sih belum ada, lebih baik kita bekerja melihat perkembangan selanjutnya saja". Lok-san Taysu manggut2, katanya.

"Betul ucapan Cu-cengcu, menurut penyelidikan dan pengawasan Lolap selama tiga bulan ini, Cek Seng-jiang adalah manusia cerdik yang licik dan licin, banyak akal muslihatnya, terang dia bukan biang-keladi dalam peristiwa ini, umpama betul ada muslihat, sekarang masih sukar dijajaki sampai di mana tujuan mereka yang sebenarnya, terutama kalau di belakang layarperistiwainiadaorang lainyang mengendalikan."

Berpikir sejenak. lalu Kun-gi berkata.

"Bagaimana pendapat Taysu tentang Tong Thian-jong dan Un It-hong?"

"Selama tiga bulan berkumpul dengan mereka, pengalaman merekapun sama seperti kita, walau Cek Seng-jiang ada maksud merangkul mereka, segala keperluan mereka dilayani serba berlebihan, tapi selama ini mereka tak pernah bertekuk lutut, menurut hemat Lolap. boleh Cu-cengcu secara diam2 bantu mereka melenyapkan kadar racun di tubuh mereka, dengan gabungan kekuatan kita berempat mungkin lebih gampang menyelidiki tujuan mereka yang sebenarnya menculik kita kemari dan dari mana asal mula getah beracun ini."

"Pendapat Taysu memang tepat, cayhe akan bekerja menurut keadaan,"

Kata Kun-gi.

Untuk menjaga percakapan mereka tidak didengar orang maka mereka pura2 bicara pula tentang penyelidikan getah beracun itu, berselang agak lama baru Kun-gi pamitan-Kembali ke kamar kerjanya, sengaja dia mencelup ujung jarum ke dalam getah beracun, lalu di-amat2i serta berpikir sambil mengerut kening.

Betul juga belum lama dia kembali ke kamar, secara diam2 Longgwat sudah menarik pintu terus menyelinap masuk.

dengan senyum manis dia memberi hormat, katanya.

"Cu-cengcu tentu sudah letih, santapan siang sudah kuantar kemari, silakan makan dulu."

Dengan hati2 Kun-gi letakkan jarum perak serta getah beracun di atas tatakan, lalu disimpan ke dalam lemari serta dikunci.

Waktu dia memasuki kamar makan, hidangan memang sudah di-persiapkan, Lok-san Taysu, Tong Thian-jong dan Un it-hong sudah datang lebih dulu dan sedang menunggu kehadirannya.

Ling Kun-gi, Tong Thian-jong dan Un It-hiong sama doyan arak dan melalap hidangan yang tersedia dengan lahapnya, hanya Lok san Taysu yang ciajay (makan vegetarian) dan cuma minum teh, tapi mereka bicara amat cocok dan tak habis2 bahan yang mereka bicarakan-Habis makan mereka duduk pula sebentar di kamar samping, lalu kembali ke kamar kerja masing2 melanjutkan tugas mereka.

Lewat lohor, Kun-gi istirahat sebentar, lalu keluar berkunjung ke kamar kerja Tong Thian-jong.

Kontak pembicaraan mereka sudah tentu seperti pembicaraan Kun-gi dengan Lok-san Taysu.

cuma kali ini Kun-gi perlihatkan pedang pendak pemberian Tong-lohujin serta menjelaskan asal usul sendiri secara ringkas, cara bagaimana dia menyamar ciam-Liong Cu Bun-hoa untuk menyelundup ke sarang musuh ini.

Akhirnya dia keluarkan Pi-tok-cu, sehingga racun yang mengganggu di tubuh Tong Thian-jong pun berhasil dicuci bersih.

Hari kedua pada waktu yang sama, dengan cara yang sama dia berkunjung ke tempat Un It-hong serta melenyapkan racun di tubuhnya juga.

Langkah pertama ini dia telah berhasil dengan baik, sudah tentu tetap di luar tahu Ling-hong dan Long-gwat, kedua pelayan yang selalu mengawasi gerak-gerik mereka setiap hari, apa yang mereka lihat dan perkembangan apa yang terjadi pasti dilaporkan kepada sang cengcu alias CekSeng-jiang.

Dan Cek Seng jiang justeru menaruh curiga, maklumlah ciam-liong Cu Bun-hoa seorang tokoh kosen, namanya juga beken, setelah diundang kemari dengan cara penculikan, meski dilayani sebagai tamu agung terhormat betapapun di tempat ini dia akan selalu kehilangan kebebasan, tak mungkin sedemikian getol dan besar perhatiannya terhadap getah beracun serta berusaha menemukan obat penawarnya.

oleh karena itu dia perintahkan kepada Ling-hong dan Long-gwat yang ada di Hiat-ko-cay, serta Hing-hoa yang ada di kamar obat, serta ing-jun yang ada di kamar Cu Bun-hoa, untuk lebih memperketat pengawasan terhadap cu Bun -hoa.

Disamping dia suruh anak angkatnya Dian Tiong-pit bertanggung jawab untuk memperkuat penjagaan dan pengintipan, setiap saat harusselalu mengawasigerak-gerik keempat"tamu agung"

Itu.

Sudah tiga hari Ling Kun-gi melakukan tugas kerja di Hiat-ko-cay.

selama tiga hari ini dia sibuk, botol2 besar kecil sama berserakan di atas meja kerjanya, ada puyer, ada cairan obat, ada pula dedaunan, maka kamar kerjanya itu diliputi bau obat yang tebal.

Sudah tentu Cek Seng-jiang tidak percaya begitu saja bahwa dia betul sedang menyelidiki obat penawar, dia berpendapat gairah kerjanya itu justeru sedang berdaya untuk menemukan obat penawar Lwekang yang ada ditubuhnya.

Untuk soal ini dia tidak perlu kuatir, karena di dalam kamar obat itu hakikatnya tiada satupun bahan obat yang tulen untuk meramu obat penawar racun yang membuyarkan Lwekang mereka.

Terutama "tamu"

Yang telah berada di Coat Sin-san-ceng, tumbuh sayappun jangan harap bisa terbang keluar.

Tengah hari ketiga, setelah makan siang, seorang diri Kun-gi beranjak ke kamar kerja sendiri, perasaannya terasa berat seperti dibebani apa-apa.

Karena selama tiga hari ini, setelah berlangsung pembicaraan dengan Lok-san Taysu, Tong Thian-jong dan Un Ithong, walau dia sudah punahkan racun di badan mereka, namun persoalan pelik yang mereka hadapi dan sukar diatasi masih ber-tumpuk2.

Umpamanya.

"Kenapa Cek Seng-jiang bersusah payah dengan berbagai muslihat mengundang mereka kemari? Sudah tentu soal getah beracun ciptaan Sam-goan hwe yang diceritakan itu tak boleh dipercaya, kalau tidak mau dikatakan hanya bualan belaka, tapi dari mana sebetulnya getah beracun itu? Kenapa dia ingin cepat2 memperoleh obat penawarnya? Lok-san Taysu berpendapat, Cek Seng-jiang adalah orang yang diberi tugas mengepalai Coat Sin-san-ceng dan minta mereka berdaya menemukan obat penawarnya, di belakang tabir semua persoalan ini tentu masih ada biang keladinya. Lalu siapa orang yang ada dibaliktabir? Apa pula tujuannya? Waktu datang jelas terlihat dirinya berada di depan sebuah perkampangan di kaki bukit, kenapa kenyataan Coat Sin-san-ceng sekarang dikelilingi air, di luar lingkaran air dipagari gunung pula? Umpama mereka tumbuh sayap juga jangan harap bisa terbang pergi. Sudah tentu persoalan yang paling penting adalah getah beracun itu, menurut Tong Thian jong dan Un It-hong yang ahli di bidang racun, getah yang amat keras kadar racunnya ini sungguh sulit untuk meramu obat penawarnya. Walau komplotan ini mempunyai getah beracun yang begini lihay, tapi selama obat penawarnya belum diperoleh, mereka masih jeri dan ragu2 untuk bergerak. tapi betapapun hal ini cukup prihatin dan besar bahayanya. Seumpama seperti apa yang dikatakan Cek Seng Jiang, mereka bertindak terhadap golongan hitam atau aliran putih dari kaum persilatan, maka petaka yang akan menimpa setiap insan persilatan sungguh sukar dibayangkan-Duduk di belakang meja kerjanya, pikiran Ling Kun-gi semakin butek. semakin dia pikir terasa persoalan semakin ruwet dan sukar diraba. Mendadak terpikir olehnya, segala persoalan yang dihadapinya melulu menyangkut getah beracun ini, semua persoalan timbul juga karena getah beracun ini, kalau obat penawarnya bisa ditemukan, segala persoalan dengan sendirinya tiada lagi. Mengingat obat penawar, seketika dia teringat pada Pi-tok-cu di dalam kantongnya. Pi-tok-cu dapat menawarkan segala macam racun di jagat ini, sudah tentu bisa pula menawarkan kadar racun getah itu. Segera dia merogoh keluar mutiaranya. dengan hati2 dan pelan2 dia tutulkan mutiaranya ke atas getah yang dia taruh di tatakan-Sungguh tak terduga hanya sedikit menutul saja, mendadak terdengar suara "ces"

Yang cukup keras dipermukaan tatakan, bunyi seperti lembar besi yang membara tiba2 di masukkan ke dalam air, getah beracun yang ada di tatakan seketika mengepulkan asap kuning yang tebal.

Keruan kaget Kun-gi bukan main, lekas dia periksa Pi-tok-cu di tangannya, untung tidak kurang suatu apa2.

Pada saat itulah, didengarnya pintu kamar kerjanya terbuka, Long-gwat, pelayannya secara diam2 melangkah masuk membawa poci berisi air teh.

Untung Kun-gi cukup cekatan, lekas dia sembunyikan mutiarakedalambajunya.

Sudah tentu Long-gwat sempat melihat asap kuning yang menguap dari tatakan, matanya mengerling Kun-gi, katanya tertawa.

"Kenapa Cu-cengcu tidak istirahat sebentar? Sibuk kerja terus."

Kun-gi angkat kepala sambil berkata tertawa.

"Saking iseng, Lohu coba2 pakai beberapa macam obat ini untuk mencoba kadar racunnya."

"Semangat kerja cu cengcu memang menyala2 ...."

Sembari bicara dia maju mendekati meja, baru saja dia mau menuang secangkir teh untuk Kun-gi. Mendadak ia menjerit tertahan, cang-kir dan poci dia taruh di atas meja, serunya kegirangan.

"Cu-cengcu, kau berhasil coba lihat, getah di tatakan ini sekarang berubah menjadi air bening."

Memang betul, setelah asap kuning lenyap dari permukaan tatakan, getah setengah tatakan yang semula berwarna hitam legam kini telah berubah menjadi air bening.

Karena Long-gwat tadi masuk secara mendadak.

Kun-gi sibuk menyembunyikan mutiara, bukan saja tidak memperhatikan perubahan yang terjadi di dalam tatakan, malah sekenanya dia bilang sedang mencoba dengan beberapa macam jenis obat.

Kini setelah mendengar teriakan Long-gwat, diam2 ia mengeluh.

"Wah, terlihat oleh dia, urusan mungkin bisa runyam?"

Terpaksa dia harus bersikap kejut2 girang.

segera ia pura2 periksa air bening di dalam tatakandenganseksama, akhirnyaiabergelaktertawa.

Dengan tertawa senang Long-gwat memberi hormat kepada Kungi, katanya.

"Selamat cu-ceng-cu pasti akan berhasil menemukan obat penawarnya."

Tiba2 berubah kaku mimik tawa Kun-gi, kedua matanyapun jelalatan kian kemari sementara tangan sibuk membalik2 botol diatas meja yang berserakan, dengan lagak gugup tangan yang lain garuk2 kepala, serunya.

"celaka, barusan Lohu ambil beberapa macam obat terus diaduk dan diramu jadi satu, entah obat2 mana saja tadi yang telah kugunakan untuk menawarkan getah beracun ini?"

Long gwat tertawa, katanya.

"cu-cengcu sudah berhasil menawarkan getah beracun ini, asal dicoba lagi beberapa kali pasti akan berhasil ditemukan dengan mudah, ini kabar baik, sungguh gembira, sayangcengcukitatidakdirumah...."

Tergerakhati Kun-gi, tanyanya."Cek-cengcupergi ke mana?"

"Hamba tidak tahu, semalam cengcu keluar, mungkin besok malam baru pulang,"

Lalu dia tuang secangkir teh dan berkata.

"cengcu tiada, tapi ada Kongcu yang bertanggung jawab di sini, Cucengcu berhasil menawarkan getah beracun ini, hamba harus segera melaporkan kabar baik ini kepada Kongcu."

Habis bicara pelayan itu terus berlari keluar.

"Nona, tunggusebentar,"cegahKun-gi.

"Cu-cengcu ada pesan apa?"

Seru Long-gwat berhenti.

"Kongcu yang nona katakan, tentunya anak Cek-cengcu?"

"Dian-kongcu adalah anak angkat cengcu kita."

"Entah siapakah nama Dian-kongcu?"

"Dian-kongcu bernama Tiong-pit."

Ling Kun-gi manggut2, katanya sambil mengelus jenggot.

"Getah beracun ini hanya secara kebetulan dapat kupunahkan, tapi belum bisa aku menemukan obat2 ramuan yang mana adalah penawar yang sebenarnya, kalau dikatakan berhasil maka baru lima puluh persen saja, perlu kucoba pula untuk beberapa kali, oleh karena itu, kukira hal ini belum saatnya untuk dilaporkan kepada Kongcu kalian ........"

"Hamba tahu, tapi kalau hal ini tidak kulaporkan, bisa jadi kepalakuakandipenggal?"habisberkataburu2 dia berlari pergi. Kun-gi jadi menjublek di tempatnya, pada saat dia ragu2 dan merancang sikap apa yang harus dia lakukan untuk menghadapi perkembangan selanjutnya, tampak daun pintu terdorong, Ling-hong tampak berlari masuk sambil berseri senang, katanya sambil memberi hormat.

"Konon Cu-cengcu berhasil menawarkan getah beracun, buru2 hamba kemari menyampaikan selamat kepada Cucengcu."

Kun-gi bergelak tertawa, katanya.

"Terima kasih nona, Lohu hanya menemukan obat penawarnya secara kebetulan."

"Itupun berkat usaha Cu-cengcu. Konon getah beracun ini tiada obat penawarnya di dunia ini, kini kenyataan Cu-cengcu berhasil menawarkannya,"demikian Ling-hong.

"Ah, masih terlalu pagi untuk dikatakan berhasil,"

Ujar Kun-gi. Tengah bicara, tampak Lok-san Taysu, Tong Thian-jong dan Un It-hong yang mendengar kabar itu serempak juga masuk ke kamarnya. Lekas Ling-hong mengundurkan diri.

"omitohud"

Lok-san Taysu bersabda.

"Lolap dengar Cu-cengcu berhasil menawarkan getah beracun itu, sungguh menyenangkan dan harus diberi selamat"

Habis berkata lalu dengan Thoan-im-jip-bit dia bertanya.

"Apa yang telah terjadi?"

Untuk memberi kesempatan Lok-san Taysu bicara dengan Kun-gi, sengaja Tong Thian-jong tertawa keras, katanya.

"Cu-heng memang lihay, tiga bulan kami bersusah payah tanpa berhasil, hanya tiga hari Cu-heng datang lantas berhasil memunahkan getah beracun ini."

"Ah, mana, mana?"

Ujar Kun-gi merendah hati, lalu dia jelaskan kejadian tadi. Un It-hong lantas menyambung "Dalam waktu singkat ini pasti Cu-heng bisa meramu obat penawar yang lebih sempurna lagi"

Berkerut alis Lok-san Taysu, sejenak dia merenung, katanya dengan mengirim gelombang suara.

"Bahwa Pi-tok-cu dapat memunahkan getah beracun memang satu hal yang patut dibuat girang, selanjutnya getah beracun ini tidak perlu ditakuti lagi, tapi hal ini sudah telanjur terjadi, Cek Seng-jiang pasti akan mendesakmu agar selekasnya meramu obat penawarnya yang asli, sementara waktu mungkin kau bisa berpura2, kalau sampai ber-larut2 lama mungkin mereka akan curiga."

"Biarlah kita bekerja melihat gelagat saja,"

Sahut Kun-gi.

"yang penting, sekarang kita harus selekasnya menemukan muslihat dan tujuan mereka? Siapa pula yang berada dibelakang layar mengendalikan Cek Seng-jiang? Kalau sekaligus dapat kita bongkar seluruhnya, sudahtentubaiksekali."

Sampai di situ pembicaraan mereka, tampak Ling-hong melangkah datang dengan cepat, katanya memberi hormat.

"Lapor Cu-cengcu, Kongcu kami tiba."

Terdengar langkah ringan dengan ter-buru2, cepat sekali Long-gwat telah mendorong pintu.

Tampak seorang pemuda berjubah biru dengan gelung rambut berkundai emas di atas kepala melangkah masuk dengan bersenyum, katanya sambil menjura.

"Siautit Dian Tiong-pit memberisalamhormat kepadapamancu."

Sekarang lebih nyata bagi Kun-gi bahwa Dian Tiong-pit ini memang pemuda baju biru yang telah dikuntitnya sejak dari Kayhong itu, lekas iapun membalas hormat, katanya.

"Dian-siheng tak perlu banyak adat."

Alis menegak.

mata besar bersinar, sikap gagah dan kereng, demikianlah keadaan Dian Tiong-pit, kini dia bersikap hormat dan ramah, ber-turut2 ia-pun memberi salam kepada Lok-san Taysu, Tong Thian-jong dan Un It-hong, lalu berkata pula kepada Kun-gi.

"Siautit dengar katanya paman cu berhasil memunahkan getah beracun, inilah kabar gembira, sungguh keberuntungan besar kaum persilatan di seluruh jagat pula, sayang Gihu kebetulan keluar rumah, sengaja Siautit kemari menyampaikan selamat, sekaligus mohon pamancuda-tangke Kiam-kheksebetaruntukbicara."

"Khian-khek memang belum pernah dikunjungi, kebetulan sekiranya dirinya diajak kesana, lekas Ling-Kun-gi berkata.

"Terima kasih atas undangan Dian-siheng. Baiklah Lohu iringi kehendakmu."

Terunjuk rasa senang pada wajah Dian Tiong-pit, katanya.

"Baik, silahkan paman cu"

Berkelebat rona curiga pada sorot mata Tong Thian-jong, lekas dia berkata dengan Thoan-im-jip-bit kepada Ling Kun-gi.

"Sorot mata bocah she Dian ini agak mencurigakan, Ling-lote harus hati2."

Kun-gi memberi hormat dan pamit sebentar kepada Lok-san Taysu bertiga terus keluar.

Pada saat bicara, diam2 dia mengangguk kepada Tong Thian-jong.

Dian Tiong-pitpun memberi hormat dan mohon pamit kepada mereka bertiga, lalu berkata.

"Marilah Siautit menunjukkan jalannya."

Lalu dia mendahului berjalan di muka.

Khiam-khek terletak bagian ujung barat, sekitarnya dikelingi air, tepat di tengah2 air sana berderet tiga petak gardu yang dikelilingi pagar kayu,jembatan batu yang menghubungkan darat dan ketiga gardu itu berliku sembilan kali, letaknya kebetulan saling berhadapan dengan Hiat-jo-cay di sebelah timur sana.

Di bawah iringan Dian Tiong pit, setelah melewati jembatan batu sembilan liku, langsung menuju ke deretan tiga gardu di tengah air sana, gardu ini ditabiri kerai bambu, kelihatan amat hening dan tenteram, Baru saja mereka tiba di depan gardu, seorang dayang pakaian hijau segera menyingkap kerai dan membungkuk hormat kepada Dian Tiong-pit, katanya.

"Siancu sudah menunggu di dalam gardu, harap Kongcu mengiringi Cu-cengcu ke dalam menemui beliau."

DianTiong-pitmembalikdan menyilakan,"Silahkanpamancu"

"Lohu baru datang, Dian-siheng jangan sungkan, silakan tunjuk jalannya,"

Ujar Kun-gi.

Ter-paksa Dian Tiong-pit beranjak masuk lebih dulu.

Itulah sebuah kamar tamu yang kecil tapi terpajang serba sederhana dan serasi dengan keadaan dan suasana, meja kursi seluruhnya terbuat dari bambu kuning, pada sebuah kursi yang terletak di sebelah atas duduk seorang nyonya muda berpakaian ala puterikeraton, melihat Dian Tiong-pit masuk mengiringi Ling Kun-gi, matanya me-ngerling pelan2 berdiri.

Sekali pandang, Kun-gi lantas kenal nyonya muda yang dipanggil Siancu ini ternyata adalah Hian-ih-lo-sat.

Hal ini tidak menjadikan dia heran atau kaget, karena Hian-ih-losat memang sekomplotan dengan peristiwa Cin-Cu-ling itu.

Lekas Dian Tiong-pit maju memberi hormat, katanya.

"coh ih (bibi coh), paman cu telah da-tang."

Lalu dia berkata kepada Ling Kun-gi.

"inilah bibi coh, anggota keluarga Gihu, ayah sedang keluar, segala urusan besar-kecil dalam Coat Sin-san-ceng ini ada bibi coh yang mengurus dan bertanggung jawab, tadi mendapat laporan bahwa paman cu berhasil memunahkan getah beracun, maka beliau ingin berhadapan dengan paman cu maka Siautit diperintahkan mengundang paman Cu kemari."

Pada saat Dian Tiong-pit bicara, sepasang mata Hian-ih-to sat menatap Kun-gi lekat2 kini iapun berkata dengan tersenyum.

"Sudah lama ku-dengar nama besar Cu-cengcu dari Liong-bin-sanceng, hari ini dapat berhadapan dan ternyata memang tidak bernama kosong."

Lalu dia melirik Dian Tiong-pit dan mengomel.

"Dian-toasiauya, Cu-cengcu adalah tamu kita, lekas silakan duduk"

Ter-sipu2 Dian Tiong-pit mengiakan, dan angkat tangan.

"Silakan dudukpaman cu"

Kun-gi memberi hormat pada Hian-ih-lo-sat, katanya.

"Kiranya nona coh, beruntung dapat bertemu."

Lalu dia duduk di hadapan Hian-ih-lo-sat. Dian Tiong-pit hanya berdiri saja di samping dengan sikap hormat. Pelayan masuk menyuguhkan air teh. Kata Hian-ih-lo-sat.

"Silakan minim Cu-cengcu."

Lalu dia berpaling pada Dian Tiong-pit di samping.

"Aku mau bicara dengan Cu-cengcu, kau boleh keluar saja."

Dian Tiong-pit mengiakan dan mohon diri. Segera Kun gi berkata sambil menatap muka orang.

"nona coh mengundangku kemari, entah ada urusan apa?"

"Dalam waktu dua hari Cu-cengcu berhasil memunahkan getah beracun yang tiada obat penawarnya di kolong langit ini, sungguh suatuhalyang menggembirakan, tapijuga agak mengherankan."

Tergerak hati Kun-gi, katanya.

"Darimana nona tahu kalau getah beracun milikSam-goan-hwe itutiadaobatpenawarnya?"

Melenggong Hian-ih-lo-sat oleh pertanyaan yang tak pernah diduganya ini, dia bersenyum lebar, katanya.

"Paling tidak sebelum hasilCu-cengcu ini, racun ini tiadaobatpenawarnya."

"Sebetulnya cayhe juga tidak yakin, namun kegaiban telah terjadi secara kebetulan, sejauh ini caybe masih belum tahu kenapa macam obat di antaranya yang cocok dalam ramuan itu untuk mengubah getah beracun itu menjadi air bening? Semula kupikir sebelum semua ini menjadi sempurna, sebaiknya hal ini jangan diketahui orang banyak."

"o,jadiCu-cengcu maumenyembunyikankesuksesanmuini?"

Ling Kun-gi menyengir, katanya.

"Ada sesuatu yang tidak nona coh ketahui, usahaku ini baru berhasil dalam langkah permulaan, perlu diselidiki lebih mendalam pula, setelah diadakan beberapa kali percobaan pula baru akan bisa ditemukan obat penawarnya yang benar2 tulen."

"Entah berapa lama Cu-cengcu akan menemukan obat penawarnya yang tulen itu?"

"Sukar dikatakan, yang terang aku akan kerja keras."

Pembicaraan soal getah beracun berakhir sampai di sini. Tapi Hian-ih-lo-sat kelihatannya suka ngobrol, dia unjuk senyum menggiurkan kepada Kun-gi, lalu bertanya.

"Kudengar Cu-cengcu punya seorang puteri yang cantik, orang2 Kangouw memanggilnya Liong-bin-it-hong, entah siapa namanya dan berapa usianya?"

Diam2 Kun-gi mengeluh dalam hati, hal2 yang ditanyakan ini padahal tidak pernah dia ketahui sebelumnya, beruntung dia tahu kalau Pui Ji-ping punya seorang Piauci, usianya sebaya meski agak lebih tua sedikit, kalau Pui Ji-ping berusia 19 ia yang selama bicara Ji-ping tidak menyebut siapa piaucinya, kini Hian-ih-lo-sat bertanya, otaknya yang cerdik segera berpikir kalau Piau-moay bernama Jiping, bukan mustahil sang Piauci bernama Ji-lan, maka dengan gelak.

tertawa dia menjawab.

"Puteri-ku bernama Ji-lan, tahun ini berusia 19"

Hian-ih-lo-sat tersenyum manis, katanya.

"Cu-cengcu, di sini ada seorang, entah kau mengenalnya tidak?"

Lalu dia berpaling dan berseru.

"Giok-je, suruhlah Ho Tang-seng kemari."

Seorang pelayan di luar pintu segera meng ia-kan terus berlalu. Diam2 Kun-gi menimang2.

"Entah siapa pulia Ho Tang-seng ini? Kenapa dia menyuruhnya kemari? Mungkinkah dia kenal baik dengan cu-ceng-cu? "

Cepat sekali pelayan itu sudah kembali dan berseru.

"Lapor Siancu, Ho Tang-seng sudah datang."

"Suruh dia masuk"

Kerai disingkap. masuklah seorang laki2, bermuka burik beralis tebal dan berpakaian ketat warna ungu, dengan munduk2 dia memberi hormat serta berseru.

"Hamba Ho Tang-seng menghadap Siancu."

"Ya,"

Hian-ih-lo-sat tertawa, katanya.

"Cu-cengcu masih mengenalnya?"

"Ho-congsu ini memang seperti pernah kulihat entah di mana."

Seperti tertawa tapi tidak tertawa Hian-ih-lo-sat meliriknya, katanya.

"Ho Tang seng, hayo mem-beri hormat kepada Cu-cengcu."

"congsutidakusah banyakadat."

Hian-ih-lo-sat Cekikan, katanya.

"Kalau demikian, Cu-cengcu tidak menyalahkan dia telah berkhianat terhadap perkampunganmu, kinidia mondokdiperkampungankami."

Diam2 tersirap darah Ling Kun-gi, bila Ho Tang-seng betul2 orang dari Liong-bin-san-ceng.

kalau anak buah saja tidak kenal, bukankah diri-nya telah menunjukkan gejala2 kurang sehat?

Untung otaknya encer, sorot matanya menunjukkan perasaan dingin menampilkan amarah yang tertekan, katanya tawar sambil mengelus jenggot.

"cay-he sendiri telah kini menjadi tawanan di sini, apa-lagi hanyaseoranganakbuahku?"

Hian-ih-lo-sat tetap tersenyum, katanya.

"Ho Tang-seng tiada tempat berpijak di Liong-bin-san-ceng, maka terpaksa dia lari kemari, harap Cu-cengcu tidak marah "

Lalu dia berpaling dan tanya pada orang itu "Berapa tahun kau berada di Liong-bin-san-ceng?"

"Dua tahun,"

Sahut Ho Tang-seng.

"Cu-cengcu punya seorang puteri, siapa namanya dan berapa usianya, kau tahu?"

"siocia bernama Ya-khim, berusia 19."

Hian-ih-lo-sat manggut2, tangannya mengulap. katanya.

"Kau boleh pergi."

Ho Tang seng segera mengundurkan diri. Rada kelam air muka Hian-ih-lo-sat, kata-nya menatap Ling Kungi dengan nada setengah menyindir.

"cu cengcu, menyebut nama puterimu sendiri kok salah?"

Berubah roman Kun-gi, katanya dengan gusar.

"Apakah tidak keterlaluan kata2 nona?"

"Bicara terus terang, kurasa wajah Cu-cengcu mungkin juga dirias sedemikian rupa."

Sikap Kun-gi semakin garang, katanya.

"Lo-hu berjalan tidak perlu ganti nama, duduk tidak perlu mengubah she, kenapa harus pakai meriasdirisegala?"

"Memangnya aku juga berpikir demikian, tapi melihat kenyataannya mau tidak mau aku harus bercuriga."

"Maksud nona, kalian salah mengundangku kemari?"

"Mungkin demikian, cuma kupikir apakah kau sengaja mewakili Cu-cengcu kemari."

"Sengaja mewakili Cu-cengcu?"

Kata2 ini betul2 menggetar sanubari Ling Kun-gi, diam2 ia kerahkan tenaga di tangan kiri, mukanya kereng, katanya.

"Apa, maksud nona?"

"Jangan marah Cu-cengcu, aku hanya ingin membongkar rahasia hatiku sendiri, tiada maksud jahat terhadapmu,"

Tanpa menunggu Kun-gi bersuara, dia lantas menambahkan.

"peduli Cu-cengcu tulen atau palsu kau tetap adalah tamu agung terhormat di Coat Sin-sanceng ini."

Kun-gi bersikap tidak mengerti, katanya sambil menatap Hian-ihlo-sat.

"Apa maksud nona sebenarnya?"

"Dihadapan seorang asli tidak perlu berbohong,"

Tiba2 Hian-ih-losat cekikikan.

"semalam di Liong-bun-kin aku menawan seorang, kalau dibandingkan dengan kau "Cu-cengcu", dia agak sedikit mirip."

"Agaksedikitmirip", maksudnyaorangyangdibekuknyasemalam itupastiadalah ciam-Liong Cu Bun-hoayangtulen. Semula Kun-gi masih ragu, tapi setelah dia hitung waktunya, memang saatnya tepat sesuai janji Cu Bun-hoa untuk meluruk kemari menolong dirinya dari luar, jadi kini cu Bun-boa telah tertawan oleh musuh. Bagaimana ilmu silat Cu Bun-hoa ia sendiri tidak tahu. Tetapi Kim Kay-thay, Un It-kiau, Lam-kiang-it-ki dan tokoh2 silat lainnya ber-turut2 menghilang, kemungkinan semuanya telah menjadi tawanan komplotan Cin-Cu-ling, bahwa ciam-Liong juga menjadi tawanannya, kiranya dapat dipercaya. Cuma di mana orang2 ini di sekap? Apakah di dalam Coat Sin-san-ceng juga? Mendadak dia ingat pada ibunya yang telah menghilang beberapa waktu lamanya, kemungkinan beliau juga terkurung bersama orang banyak ini. Bukan Mustahil di taman bunga initerdapat kamar tahanan dibawah tanah. Melihat sekian lama orang tidak bersuara, dengan suara lembut Hian-ih-lo-sat berkata pula.

"Kini kau sudah percaya?"

"Lohu justeru tidak percaya, di kolong langit ini mana bisa muncul dua ciam-Liong Cu Bun-hoa sekaligus."

"Yang tulen tentu hanya satu, kalau Cu-Ceng cu punya minat, bisa kubawa kau melihatnya,"

Demikian ajak Hian-ih-lo-sat.

"Baiksekali, Lohu memang ada maksud ini."

"Bolehkah ini dinamakan pertemuan dua naga? Dua ciam-long bernama Cu Bun-hoa akan saling berhadapan, kisah ini tentu akan menjadidongeng yang mengasyikandi Bu-lim."

LingKun-giberdiri, katanya."Dimanadia?"

"Mari Cu-cengcu ikut aku,"

Lalu Hian-ih-lo-sat menuju gardu atau paseban sebelah.

Agaknya sedikitpun dia tidak menaruh prasangka apa2, dia berjalan di depan membelakangi Ling Kun-gi, seluruh Hiat-to di belakangnya berarti terpampang di hadapan anak muda itu.

Jarak kedua orangpun amat dekat, asal mau ulur tangan Kun-gi pasti bisa membekuknya.

Tapi Hian-ih-lo-sat berjalan dengan gemulai seolah2 dia yakin bahwa Ling Kun-gi tidak akan berani turun tangan terhadap dirinya.

Kun-gi sendiri juga ragu2 dan kebat-kebit, terpaksa ia ikuti masukke sebuahkamar kecildi belakang paseban.

Waku ia awasi kamar kecil ini, tampak di sebelah timur sana, di atas sebuah dipan kayu rebah telentang seorang.

Wajahnya tampak halus putih, alisnya tebal, jenggot hitam sebatas dada, sekilas pandang dia lantas tahu wajah orang ini mirip sekali dengan muka dirinya, muka asli ciam-Liong Cu Bun-hoa.

Sudah tentu Kun-gi tidak tahu bahwa orang ini ciam-Liong tulen ataupalsu?Tanpaterasaia, mengejek."Miripsekalisamarannya."

Hian-ih-losat meliriknya, katanya dengan hambar.

"Kau tidak percaya kalau dia ini yang tulen?"

"Nona coh tadi mengatakan, yang tulen hanya ada satu? Kenapa tidakkau suruh diabangun, supayaLohu menanyaidia"

"Membangunkan dia boleh saja, kalau tidak mana Cu-cengcu mau menyerah dan tunduk lahir batin, betul tidak?"

Lalu dia menambahkan."cu-,cengcuyangsatuinihanyatertutukjalan darah penidurnya, tolong kau sendiri yang turun tangan membuka Hiat-tonya, kau boleh tanya siapa dia?"

Kun-gi mendengus sekali, kuatir dijebak orang, diam2 ia kerahkan tenaga di kedua lengan, pelan2 dia mendekati pembaringan dan membuka Hiat-to penidur Cu Bun-hoa.

Cepat sekali Cu Bun-hoa sudah membuka mata dan pelan2 dia bangkit berduduk, keadaannya seperti amat payah dan letih, namun sorot matanya memancarkan amarah, sekilas dia pandang kedua orang ,dihadapannya.

Waktu melihat seorang laki2 yang berparas mirip dirinya berdiri di depan pembaringan, sekilas dia tampak melenggong, bentaknya rendah.

"Perempuan hina, kalian mau berbuat apa terhadap diriku?"

Begitu dia buka suara, Kun-gi lantas tahu bahwa orang ini memang ciam-Liong cu un-hoa yang asli, keruan ia kaget. Hian-ih-lo-sat cekikikan, katanya.

"Cu-cengcu mesti marah begini rupa? Beginilah duduk persoalan-nya, Cu-cengcu yang kami undang kemari tidak percaya bahwa kau adalah cengcu dari Liong-bin-sanceng, maka terpaksa kuiringi dia kemari melihatmu, kukira kalian satu sama lain pasti kenal, tak perlu aku memperkenalkan kalian lagi."

Terunjuk rasa kaget, heran serta curiga sorot mata Cu Bun-hoa, katanya setelah mengawasi Ling Kun-gi .

"Siapakah cengcu Liong-bin-san-ceng? Lohutidaktahu."

"Kenapa Cu-cengcu masih pura2? Sejak kutawan tadi, mukamu sudah kucuci bersih, siapa di antara kalian adalah Cu-cengcu tulen, tentu kalian sendiri mengerti."

"Sedikitpun aku tidak mengerti,"

Seru Cu Bun-hoa marah. Lalu dia berpaling kepada Ling Kun-gi, bentaknya.

"Siapa kau?"

Sekilas Kun-gi mengerut kening, tapi otaknya yang cerdik lantas berkeputusan bagaimana dia harus bersikap katanya, ter-gelak2.

"Siapa Lohu? Kalian memang pandai main sandiwara. Di dalam bubur kalian menaruh racun, menutuk Hiat-to di dadaku lagi, dalam hatikaliansudah tahusendiri, kenapatanyakepadaku malah?"

Kalau kepepet timbul akalnya, secara tidak langsung kata2nya ini memberi mengingatkan Cu Bun-hoa yang sembunyi di kamar rahasia, bahwa dia pasti menyaksikan bagaimana In Thian-lok menutuk Hiat-tonya, kalau Cu Bun-hoa dihadapannya ini samaran pihak lawan sengaja mau menjajal dirinya, maka kata2nya itupun tidakakan menarikperhatianpihaklawan-Ternyata sorot mata Cu Bun-hoa tampak berubah, mendadak dia bertanya dengan mengirim gelombang suara.

"Betulkah kau Linglote?" -Kini terbukti bahwa Cu Bun-hoa dihadapannya memang tulen. Dengan mengelus jenggot dan manggut2 Kun-gi menjawab dengan gelombang suara.

"cayhe memang Ling Kun-gi, bagaimana Cu-cengcu bisa tertawan mereka?"

"Lohu terjebak dan di bokong oleh perempuan siluman itu .........."

Keduanya saling tatap dan pura2 saling mengamati, mereka bicara secara diam2, tapi sampai di sini pembicaraan mereka tiba2 Hian-ih-lo-sat cekikikan, tukasnya.

"Kalian sudah selesai bicara?"

Tangannya menuding ke arah Cu Bun-hoa, katanya lebih lanjut.

"Kukira Cu-cengcu yang ini perlu istirahat pula, kami tidak mengganggumu lagi."

Tampak Cu Bun-hoa berbangkis, kelihatan semakin loyo dan kecapaian, pelan2 dia menjatuhkan diri dan rebah pula di atas pembaringan-Keruan Kun-gi terperanjat, batinnya.

"Mungkin perempuan siluman ini mengerjainya lagi?"

Sambil tersenyum Hian-ih-lo-sat pun angkat tangannya ke arah Ling Kun-gi, katanya.

"Silakan Cu-cengcu duduk di luar."

Kun-gi sudah waspada, melihat tangan orang bergerak ke arahnya, lekas dia menyurut mundur sambil tahan napas, katanya sambil menjengek.

"Tak tersangka ia juga ahli pemakai obat bius."

"Cu-cengcu tidak usah kuatir,"

Ujar Hian-ih-lo-sat sambil cekikikan genit dan mengerling.

"peduli kau ini yang tulen atau palsu, kau tetap sebagai tamu terhormat Coat Sin-san-ceng kita, aku tidak akan menggunakan obat bius terhadapmu, mari silakan kita bicara di luar saja."

Entah muslihat apa di balik keramah tamahan orang, terpaksa Kun-gi ikut keluar. Mereka kembali ke kamar tamu dan duduk di tempat semula.

"Nona coh masih ada urusan apa, katakan saja,"

Kata Kun-gi.

"Kau sudah berhadapan dengan Cu-cengcu yang asli, kalau tidak salah malah kalian sudah mengadakan pembicaraan, kini tak perlu menyinggung siapa tulen siapa palsu, tapi satu hal perlu kutegaskan padamu ........"

"Soal apa?"

"Mengenai obat penawar getah beracun itu."

"cayhe sudah bilang ........."

"Aku mengerti,"

Tukas Hian-ih lo-sat.

"kalau kau bisa ubah getah hitam kental itu menjadi air bening, pasti telah menemukan obat penawarnya, setelah kau menciptakan obat penawarnya baru kalian yang tulen dan palsu boleh pergi dari coat-sin-san Ceng dengan selamat."

"Kau mengancam dan memeras Lohu?"jengek Kun-gi.

"Jangan pakai istilah mengancam atau memeras segala, terlalu menusuktelinga, katakansajasebagaisyaratimbalan-"

Bertaut alis Kun-gi, katanya.

"cayhe tidak begitu yakin-"

Mendadak berubah ketus nada Hian-ih-lo-sat, katanya.

"Kau harus menyelesaikantugasmu, kuberiwaktuselama10 hari."

"Mungkin sulit, 10hari terlalupendekwaktunya, cayhe...."

"10 hari sudah terlalu lama bagiku, sebetulnya cukup lima hari."

Setelah me-nimang2 Kun-gi berkata sambil menggeleng.

"10 hari betul2amat...."

Hian ih-lo-sat berdiri, katanya tandas.

"Tak usah bicara lagi, semoga dalam 10 hari ini kau bisa menyerahkan obat penawarnya, kalautidak... ."

Kun-gi ikut berdiri, tantangnya.

"Memangnya kenapa kalau tidak?"

"Kalau tidak kau serahkan obat penawarnya dalam 10 hari, urusan menjadi berabe bagi kita semua. Nah, silahkan Cu-cengcu."

Mendadak tergerak hati Kun-gi, kata2

"kita semua"

Mungkin terlanjur diucapkan-Kita semua, yang dimaksud mungkin termasuk dia sendiri, itu berarti orang di belakang layar itu sudah mendesak terlalu keras, maka perintah batas waktu 10 hari tidak boleh ditawar lagi, maka dirinya harus tepat waktunya menyerahkan obat penawarnya.

Kun-gipun tidak banyak bicara lagi, setelab menjura dia berkata.

"cayhe akan bekerja sekuat tenaga."-ia menyingkap kerai dan beranjak keluar. Ia menyusuri jembatan liku sembilan menuju ke deretan kolam bunga, sepanjang jalan ini dia melangkah lambat2, waktu dia tiba di depan gunung buatan, tampak Tong Thian jong tengah mendatangi dari jalanan kecil berbatu krikil sana sambil menggendong tangan, waktu melihat Kun-gi segera dia menyongsong sambil tertawa.

"Cuheng sudah kembali?"

Lekas Kun-gi memberi hormat, katanya.

"o, kiranya Tong-heng sedang jalan2 disini."

"Menjelang magrib ini pemandangan alam disekitar sini sungguh indah,"

Ujar Tong Thian-jong. Lalu dengan gelombang suara dia bertanya.

"Ling-lote, untuk apa bocah she Dian itu mengundangmu kepaseban sana? Kuatir mengalami kesulitan, Lohu ditugaskan naik ke atas bukit mengawasi keadaan sana, sementara Un-heng berada di kolam bunga, di belakang gunung buatan sana, bila perlu kami akan memberi bantuan padamu."

Demikianlah sembari ber-cakap2 dan bersenda gurau mereka menyusuri kolam bunga sana, setelah celingukan tidak terlihat bayangan orang, secara ringkas Kun-gi ceritakan pengalamannya tadi.

Tong Thian jong kaget, katanya.

"Cu-heng terjatuh juga ke tanganmereka, bagaimana inibisaterjadi?"

Kun-gi menengadah memandang ke tempat yang jauh, katanya.

"Hian-ih-lo-sat menjadikan cu cengcu sebagai sandera untuk mendesakku menyerahkan obat penawarnya dalam 10 hari, sekarang urusan belum kasip. apa2 menolong orang boleh ditunda sementara, sulitnya kebun ini dikelilingi air, sukar untuk terbang keluar...."

"Bukankah Ling-lote pernah bilang bahwa waktu kau datang tempo hari, jelas perkampungan ini terletak di depan kaki gunung, tiadaairyang mengelilingiperkampungan ini?"

"Ya,justeru di sinilah letak persoalannya yang sulit terpecahkan . ..."

Lalu dengan suara lirih dia menambahkan.

"menurut dugaan cayhe, lorong bawah tanah untuk keluar masuk terletak di bawah coat-sin-san-tang ini."

Tong Thian-jong manggut2 menyatakan sependapat. Ling Kun-gi lantas utarakan pendapatnya.

"Kim-khek itu merupakan sebuah paseban yang berdiri di atas air, tapi menurut dugaanku di sanalah tempat untuk menyekap para tawanan, kalau tidak. buat apa Hian-ih-lo-sat memanggilku kesana."

TongThian-jong manggut2,ujarnya."Yaamasukakal"

"Kalau betul paseban itu tempat untuk menyekap tawanan, pasti bukanCu-cengcu sajayangditawandisana."

Terkesiap Tong Thian-jong, tanyanya.

"Jadi Ling-lote kira Locit, Un In ji dan lain2 juga terjatuh ke tangan mereka?"

"Mungkin saja, di antara mereka termasuk Kim Kay-thay, ciangbunjin murid2 preman Siau-limpay, Lam-kiang-it-ki Thong-pithian-ong, Kiam hoan-siang-coat Siau Hong-kang dan puteranya dari Lam-siang."

Berpikir sebentar, Tong Thian-jong berkata dengan menghela napas.

"Jika benar orang2 itu terjatuh ke tangan mereka, kita berempat mungkin bukan tandingan mereka, masa kita mampu menolong mereka?"

"Soal menolong orang bukan urusan sulit,"

Ujar Kun-gi.

"bicara tentang kepandaian silat sejati, kuyakin sukar bagi mereka untuk membekuk orang sebanyak itu, mereka pasti menggunakan muslihat dan main sergap ........"

Sembari bicara tanpa terasa mereka tiba di ujung timur kebun.

Di sini letaknya sudah dekat dengan pemukaan air sungai, sepanjang pinggiran sungai dipagari kayu merah, di luar pagar sana ditanami pula pepohonan Yang-liu.

Selepas mata memandang permukaan seluas puluhan tombak ini begitu tenang laksana kaca, di seberang sana pohon2 Yang-liupun berderet menjuntai dahan2nya, pegunungan nan hijau permai melatar belakangi panorama yang sejukdannyaman ini.

Berpegang pada pagar kayu, mereka memandang ke permukaan air, perasaan seperti tertindih barang berat.

Kecuali mereka bisa menemukan jalan keluar dari Coat Sin-san-ceng ini, kalau tidakbukan saja sulit menolong teman, untuk menyeberang sungai inipun tak mungkin Diam2 Kun-gi me-nimang2 cara bagaimana dirinya harus menyelidiki siapa2 yang terkurung di dalam paseban itu?

Menyelidiki di mana letak mulut jalan rahasia di bawah coat -sin-san-ceng ini?

Sem-bari berpikir, tanpa sadar dia menjemput sebuah krikil, di mana tangan kiri terayun, batu krikil itu dia sambitkan ke tengah permukaan sungai, Gerakannya ini boleh dikata acuh tak acuh atau iseng belaka.

Betapapun usia Kun-gi baru likuran, watak kekanakan masih belum hilang seluruhnya, belum lagi Tong Thian-jong yang sudah berusia lebih setengah abad, tak mungkin dia main lempar batu segala.

Bahwa Kun-gi berkebiasaan menggunakan tangan kiri atau kidal, memang sudah sejak kecil berkat didikan gurunya, karena gurunya adalah Hoan-jiu-ji-lay (siBuddha kidal) yang tersohor menggunakan tangan kiri, oleh karena itu, kekuatan tangan kirinya tentu jauh lebih besar daripada tangan kanan-Walau hanya iseng dan seenaknya saja dia sambitkan batu krikil itu, tapi batu krikil itu meluncur tak kalah cepatnya daripada anak panah yang terlepas dari busurnya, malah mengeluarkan deru angin kencang lagi.

Tong Thian-jong sampai melongo, tak dikiranya semudainiusiaLingKun-gisudah memilikikekuatanbeginihebat.

Pada saat itulah tiba2 terjadi suatu keanehan.

Batu kerikil itu meluncur kira2 lima-enam tombak.

jadi semestinya kerikil itu masih meluncur di atas permukaan air sungai yang lebarnya lebih sepuluh tombak, tak terduga tiba2 terdangar suara.

"traak"

Yang keras. Ternyata batu krikil itu telah menyentuh "permukaan air"

Yang tenang bening itu serta mengeluarkan suara aneh, suara benda pecah ber-keping2. Suara "trak"

Yang agak keras itu sudah tentu menimbulkan perhatian Ling Kun gi dan Tong Thian-jong.

serentak mereka memandang ke tempat kejadian-.

Waktu itu memang sudah magrib, matahari sudah hampir terbenam, alam semesta mulai ditaburi keremangan, tapi jarak limaenamtombaktidakterlalu jauh, keadaan masihbisaterlihatjelas.

Begitu mereka tumplek perhatian memandang ke sana, permukaan air yang kelihatan tenang itu setelah tersentuh krikil tadi ternyata meninggalkan bekas2 warna hitam retak sebesar buah apel.

Batu krikil timpukan Kun-gi membuat retak permukaan air, dan permukaan air ternyata membuat batu kerikil itu pecah ber-keping2.

Bukankah hal ini merupakan kejadiananehyangtidak masukakal?

Semula Ling Kun-gi dan Tong Thian-jong sama melongo, akhirnya saling pandang sambil tertawa penuh arti.

Karena kejadian ini membuktikan bahwa permukaan air dalam jarak lima-enam tombak itu, hakikatnya bukan permukaan air.

Kalau permukaan air bukan permukaan air, lalu apa?

Kedua orang ini sudah tahu sekarang, permukaan air dalam jarak enam tombak dari daratan itu, sebetulnya adalah sebuah dinding tembok yang tinggi.

cuma pada dinding itu dilukis sedemikian rupa sehingga menyerupai permukaan air yang tulen, demikian pula pohon2 Yang-liu yang menjuntai menyentuh permukaan air di seberang, setelah ditambah alam pegunungan menghijau di luar tembok.

selintas pandang lantas kelihatannya mirip betul air sungai yang mengalir dengan tenang.

Apalagi di luar pagar kayu, di atas tanggul sungai sebelah luar ditanami pohon2 asli yang rimbun dan ber-goyang2 tertiup angin lalu, sehingga menjadi aling2 pandangan orang di sebelah sini, seolah2 seorang melihat sekuntum bunga di tengah kabut, maka sulit baginya untuk membedakan bahwa permukaan air disebelah luar itu hanyalah lukisan di atas dinding belaka.

Pembuat dekorasi ini memang lihay dan ahli betul2.

Kalau Kun-gi tidak main lempar batu tanpa sengaja, sungguh mimpipun mereka tidak akan menduga tadinya lukisan yang mengelabui pandangan mata ini.

Tapi hal ini tidak menjadikan persoalan lebih mudah diselesaikan, meski rahasia lukisan ini sudah diketahui, permukaan air yang semula lebar puluhan tombak kini kenyataan hanya lima-enam tombak.

bagi seorang ahli Ginkang, untuk melompat sejauh limaenamtombak memang bukan pekerjaansukar.

Sukarnya justeru di luar lima-enam tombak dari permukaan air ini mereka teralang oleh pagar tembok yang begitu tinggi.

Tiada tempat berpijak lagi di kaki tembok.

manusia bukan burung yang dapat terbang, umpama mampu melompati permukaan air ini, cara bagaimana akandapat melompatitembok setinggi itu?

Setelah saling pandang dan tertawa, wajah Ling Kun-gi dan Tong Thian-jong akhirnya sama2 kecut dan mengerut kening, mereka menyadari adanya kesulitan2 yang tidak teratasi ini .Jadi walau rahasia permukaan air ini sudah terbongkar, tumbuh sayappun mereka tak bisa keluar, umpama nanti berhasil menemukan di bawah tanah dan menolong keluar kawan2 yang disekap di sana, mereka tetap harus menemukan pula jalan keluar yang mereka dugapastiberadadi bawahperkampunganbesar ini.

Dengan tajam Tong Thian-jong pandang sekelilingnya, agaknya tiada orang menyaksikan kejadian di sini, maka dengan suara lirih dia berkata.

"Ling-lote, kita masih punya waktu 10 hari, soal ini harusdirundingkan lebihdulu, kitajangan lama2disini."

Kun-gi mengangguk.

seperti tidak terjadi apa2, sambil mengobrol mereka terus kembali ke pondok mereka.

Makan malam mereka biasanya disediakan di tempat penginapan.

Cek Seng-jiang pernah mengatakan pondok ini boleh dianggap sebagairumah sendiri.

Setiap kali habis makan malam Kun-gi pasti keluar jalan2 di taman, tapi malam ini banyak persoalan yang bergelut dalam benaknya, maka malam ini dia tidak keluar jalan2 seorang diri dia duduk di kursi malas di bawah jendela, bermalas2an-Tapi otaknya terus bekerja, berdaya cara bagaimana menyelidiki kurungan bawah tanah dipaseban air itu cara bagaimana supaya menemukan jalan rahasia keluar masuk Coat Sin-san-ceng ini?

Kedua tugas berat ini harus dia kerjakan tanpa diketahui orang2 coat-sin-san-ceng, langkah kedua baru berusaha menolong para kawan yang tertawan Ing-jun memang pelayan yang telaten dan cepat meraba keinginan dan perasaan orang, melihat Kun-gi pejamkan mata seperti sedang memeras otak.

dia tahu hari ini orang berhasil menawarkan getah beracun, mungkin sekarang sedang memikirkan cara pembuatan obat penawarnya, maka diam2 dia seduh sepoci teh, ia taruh di meja kecil di pinggir kursi malas, katanya lirih.

"Cucengcu, minum teh."

Terbelalak mata Kun-gi, katanya tertawa.

"Ing-jun, pergilah istirahat, takusahkau melayani-ku lagi."

Ing-jun tertawa lebar, katanya.

"Baiklah, hamba mohon diri, hari ini Cu-cengcu pasti lelah, lekaslah istirahat."

Lalu dia mengundurkan diri.

Kun-gi berkeputusan malam ini dia akan menyelidiki coat-sin sanceng.

Sudah tentu iapun menyadari bahwa menyelidiki Coat Sinsan-ceng berarti menempuh bahaya besar, tapi tanpa masuk ke sarang harimau cara bagaimana bisa mendapatkan anak harimau?

Tanpa menempuh bahaya, bagai-mana bisa berhasil dalam penyelidikannya.

Sekarang baru kentongan pertama, belum saatnya dia bertindak.

pelan2 dia teguk secangkir teh, karena Waktu masih dini, dia padamkan lenteralalududuk samadidiataspembaringan Kira2 setengah jam kemudian, tiba2 didengarnya langkah cepat tapi ringan mendatangi di luar pintu seperti takut diketahui orang, setiap langkahnya bergerak sedemikian enteng dan hati2.

Untung Kun-gi memiliki Lwekang tinggi, kupingnya teramat tajam, kalau orang biasa pasti tidak akan mendengarnya.

Kaget dan heran Kun-gi, orang ini bisa masuk ke pekarangan tanpa diketahui olehnya, setelah orang merunduk dekat pintu baru diketahui, ini membuktikan bahwa Ginkangnya sudah cukup tinggi.

Dia menyelundup ke pondok para tamu, langsung menuju ke kamar tidurnya ini, entah kawan atau lawan?

Mungkin orang Coat Sin-sanceng?

Atau orang dari luar?

Pada saat dia men-duga2 inilah orang itu sudah berada di depan pintu kamarnya, berhenti, gerak-geriknya sangat hati2, ditunggu sekian lama dan ternyata keadaan tetap tenang2 saja.

Sudah tentu Kun-gi tidak berani gegabah, dengan sabar dia menunggu perkembangan.

Ternyata orang di luar juga amat sabar, sudah sekian lamanya tetap tidak menunjuk gerakan apa2, hanya berdiri tenang tanpa bergerak.

Ling Kun-gi sudah mendengar suara napasnya yang lirih, tapi karena orang tidak bergerak.

maka dia tetap samadi di atas ranjang, tidak bergeming juga.

Begitulah kira2 satu jam lamanya, mendadak Kun-gi yang duduk dikegelapan menyengir sendiri, ia tertawa tanpa bersuara.

ia tertawa karena maklum apa yang bakal terjadi.

orang di luar tetap tidak bergerak, tapi hidung Kun-gi sudah mengendus semacam bebauan yang semakin keras memenuhi ruang kamarnya.

Kiranya orang di luar tak bergerak karena mempersiapkan diri untuk menggunakan Ngo-king-hoan-bun-hian, asap wangi yang membius dan membuat orang mabuk.

Bicara soal menggunakan obat bius, di kolong langit ini mana ada yang bisa menandingi keluarga Un di Ling-lam, kantong sulam pemberian Un Hoan-kun selalu tergantung di dadanya, obat khas bikinan keluarganya tersimpan di dalam botol, khusus untuk memunahkan segala macam obat bius, lalu obat bius macam apa yang ditakuti Ling Kun-gi sekarang?.

cuma hati kecilnya merasa herandantakhabis mengerti.

Bahwa orang di luar menggunakan asap bius, tujuannya tentu membius dirinya, lalu apa maksud tujuannya membius dirinya?

Maka pelan2 tanpa banyak mengeluarkan suara akhirnya dia sengaja menjatuhkan diri, rebah miring.

Ingin dia membuktikan siapa yang membius dirinya?

Apa pula muslihat di balik kejadian ini?

Untuk membongkar teka-teki ini, terpaksa dia harus pura2 terbius.

Bau wangi dalam kamar semakin tebal, kira2 seperempat jam telah berkelang pula, di luar pintu kembali terdengar derap langkah lirih mendatangi dan berhenti di depan pintu pula .Jelas ada orang kedua yang baru datang, maka terdengar suaranya lirih bertanya.

"Sudah kau kerjakan?"

Pendatang pertama menjawab.

"Sedang berlangsung."

Orang yang datang belakangan tertawa lirih.

"Dia sudah teracun oleh obat pembuyar Lwekang mereka, tenaganya paling2 tinggal tigapuluh persen, kenapakau bertindak beginihati2?"

"Tugas yang harus kita laksanakan harus berhasil pantang gagal, mau tidak mau harus hati2,"

Sahut orang pertama, setelah merandek dia balas bertanya.

"Urusan di dalam bagaimana, sudah beres?"

Orang yang baru datang menjawab.

"Sudah beres semua, orangnyapun sudah kubawa kemari, obat penawarnya juga sudah kuperoleh, hanya tunggu urusan di sini selesai, kau boleh memberi obat penawarnya, supaya dia lekas bangun, setelah kau pergi, paling2 mereka curiga bahwa kaulah yang membebaskan dia, pasti takkan percaya adanya main tukar menukar yang kita lakukan ini."

Mereka ber-cakap2 dengan suaralirih di luarpintu, tapiLing Kungi jelas mendengar percakapan ini, ia bertambah bingung dan tak habis mengerti.

Siapakah kiranya kedua orang yang berada di luar pintu?

orang pertama yang menebarkan asap wangi dari luar pintu, ternyata pelayan yang diharuskan melayapi dirinya di Lan-wan, yaitu Ing jun.

Sedang yang datang belakangan adalah pelayan pribadi Hian-ih-losat, yaitu Giok-jin adanya.

Dari percakapan ini Ling Kun-gi berkesimpulan, se-olah2 mereka menolong seseorang lalu hendak menukar orang itu dengan dirinya, memangnya mereka bukan sekomplotan dengan Cin-Cu-ling?

Urusan agaknya berkembang semakin ruwet.

Supaya tidak mengecutkan pihak sana, Kun-gi berkeputusan untuk mengikuti perkembangan selanjurnya secara diam2.

Asap wangi masih tebal memenuhi kamar tidur, pelan2 pintu kamarnya di dongkel dari luar dan terbuka, yang menerobos masuk lebih dulu adalah Ing-jun.

Wajahnya yang biasa molek kini kelihatan agak tegang, langkah kakinya begitu ringan tanpa mengeluarkan suara, waktu dia sampai di depan pembaringan, melihat Kun-gi rebah miring, mata terpejam, jelas sudah terbius.

Rasa tegangnya segera berubah senyum kemenangan, pelan2 dia mengulur tangan membalik kelopak mata Ling Kun-gi, dengan seksama dia memeriksa sekian lamanya.

Sudah tentu Kun-gi diam2 saja tanpa bergerak.

terserah apa yang akan dilakukan atas dirinya, tapi terasa olebnya jari2 Ing-jun yang menyentuh mukanya rada gemetar, diam2 ia geli.

Untunglah ia berhasil mengelabui Ingjun, gadis itu membalikbadansertaberkata kearahpintu."Bolehlah gotongdia masukkemari."

"Dia?"

Diam2 Kun-gi ber-tanya2 dalam hati, entah siapa yang hendakdigotong kemari?

Maka orang di luar segera bertepuk pelahan dua kali, tapi di malam nan sunyi ini kedengaran jelas dan nyaring, jelas Giok jin yang bertepuk tangan-Cepat sekali kerai tersingkap.

dua pelayan baju hijau menggotong seorang masuk ke dalam kamar, Giok jin menurunkan kerai, cepat iapun berlari masuk.

Diam2 Kun-gi mengintip.

ia melihat orang yang dipapah masuk kedua pelayan ini ternyata adalah ciam liong Cu Bun-hoa yang asli.

Kedua matanya terpejam, badannya lunglai jelas iapun jatuh pulas oleh asap wangi yang membius.

Hal ini betul2 membuat Ling Kun-gi kaget dan heran, batinnya "Cu-cengcu menjadi tawanan Hian-ih-lo-sat dan dikurung di paseban sana, mereka menolongnya keluar lalu mengirimnya kemari, apa sih sebetulnya tujuan mereka?"

Maka didengarnya Ing-jun berkata.

"Waktu amat mendesak. Giok-jin cici, kalian harus lekas berangkat."

Dari bajunya dia keluarkansegulungkertasputih, katanyasambildiangsurkan."inilah catatan resep obat yang dibuat oleh ling-hoa ci-ci, (pelayan yang berkuasa di kamar obat Hiat-ko-cay), tiga kali obat2an yang diambil cu cengcu semua dia catat di sini, simpanlah baik2 dan jangan sampai hilang."

Kembali Kun-gi membatin.

"Kiranya ling-hoa di kamar obat itu jugasekomplotandenganmereka,jadiparagadiscantik molekyang bekerja di sini agaknya dari komplotan lain yang sengaja menyelundup kemari."

Giok-jin terima gulungan kertas terus menyimpannya, dia memberi tanda pada kedua pelayan, mereka menurunkan Cu Bun-hoa, terus menghampiri pembaringan, dengan gerakan terlatih dan cekatan mereka angkat Ling Kun-gi beserta kemulnya.

Sementara Ing-jun desak Giok-jin angkat Cu Bun-hoa dan dibaringkan di atas ranjang.

Baru sekarang Kun-gi mengerti.

Istilah tukar-menukar yang diperbincangkan tadi kiranya menukar Cu Bun-hoa asli dengan dirinya.

Jadi mereka berani berbuat sejauh ini, kiranya juga lantaran dirinya berhasil menawarkan getah beracun itu.

Hal ini dapat dibuktikan oleh tiga kali catatan Hing-hoa atas obat2an yang pernah diambilnya, catatan itu kini berada di tangan Giok-jin dan akan dibawa keluar.

Lalu dengan cara apa pula mereka akan mengangkut keluar dari sini?

Hal ini lantas menimbulkan persoalan lain pula dalam benaknya.

Yaitu bagaimana dirinya harus bertindak?

Terus pura2 semaput, terserah apa yang hendak mereka lakukan atau segera membongkar muslihat mereka?

Otaknya bekerja cepat sekali, setelah dia timbang antara yang berat dan enteng, dia rasa beberapa gadis pelayan molek pasti adalah pion dari suatu komplotan lain yang sengaja diselundupkan ke sini, mereka sudah tersebar luas dan menduduki berbagai posisi di dalam Coat Sin-san-ceng ini.

Kalau sekarang dia diam saja, terserah apa yang hendak dilakukan mereka, kemungkinan bisa bertemu dengan dedengkot mereka, kemungkinan pula bisa sekaligus membikin terang asal-usul Cin-Cu-ling.

Mendadak ia teringat pada Cek Seng-jiang yang pernah menyinggung nama Sam-goan-hwe, mungkinkah gadis molek ini orang2 dari Sam-goan-hwe?

Maka dia berkeputusan membiarkan dirinya digotong entah ke mana, yang terang dia akan "bertamasya"

Menyerempet bahaya.

Waktu itu Ing-jun sudah keluarkan sebuah karung dari bawah kasur, Giok jin membantu dia membuka mulut karung, dua pelayan yang lain lantas angkat Kun-gi dan didorong ke dalam karung, mulut karung lalu diikat.

"Kebetulan malah,"

Demikian pikir Kun-gi.

"aku diangkut kemari dalamkarung, kinidiangkutkeluarpuladengancarayangsama."

Setelah mulut karung terikat kencang, dengan kuku jarinya Kun-gi membuatlubang kecildiataskarung. Terdengar Giok-jin berkata.

"Kita harus segera berangkat, boleh kau beri minum obat penawar padanya, setelah bangun tentu dia tanya tempat apakah ini? Bagaimana bisa berada di sini? Maka boleh kau katakan padanya bahwa Cu-cengcu yang tinggal di sini yang menolongnya. Dia pasti tanya pula padamu ke manakah Cu-cengcu yang tinggal di sini? Maka katakanlah bahwa setelah menolong dia, Cu-cengcu yang tinggal di sini lantas keluar dan suruh dia bersabar, kalau dia masih mengajukan pertanyaan lain, katakan kau tidaktahu apa2"

Ing-jun mengangguksambil menjawab.

"Ya, Siaumoay ingat."

"Baiklah, marikitaberangkat,"kataGiok-jin.

"Dengan membawa karung, entah cara bagai-mana mereka akan keluar?"

Demikian batin Ling Kun-gi sambil mengintip keluar.

Tampak Ing-jun dan seorang lagi beranjak ke ujung dipan lalu mengangkatnya ke samping, mereka menyingkap babut lalu menyongkel keluar dua ubin, maka tampaklah sebuah lubang gelap di bawahnya.

Ternyata di bawah pembaringan ada sebuah jalan rahasia di bawah tanah.

Giok-jin mendahului melompat turun, lalu memberi tanda kepada kedua pelayan lain, lekas kedua pelayan gotong karung ke depan mulut lubang, seorang melorot turun ke dalam lubang, ing-jun segera bantu mendorong karung masuk ke lubang itu.

Ternyata lorong bawah tanah ini terlalu sempit, mereka harus berjalan dengan merangkak.

jadi karung itu terpaksa harus ditarik dan didorong pelan2 terus meluncur ke depan-Begitulah Kun-gitelah diselundup keluar oleh mereka..

Pada malam itu juga, kira2 kentongan kedua, pada jalanan yang tembus dari Liong-bun-kin menuju ke Say-hong-kiu, muncul serombongan orang, ada pejalan kaki ada pula yang naik kuda, jumlah ada dua puluh orang, duduk di atas kuda yang paling depan adalah seorang berbadan tinggi beralis hitam bermata cekung, usianya sekitar 50-an, mengenakan jubah biru, sikapnya kelihatan kereng dan sedikit dingin angkuh, Di belakangnya adalah delapan laki2 kekar berlangkah cekatan, kepala terikat kain biru, pakaian-pun serba biru ketat, golok besar terpanggul dipunggung mereka.

Menyusul tiga ekor kuda bagus, yang depan ditunggangi seorang pemuda cakap berjubah sutera biru, di belakangnya adalah dua ekor kuda yang ditunggangi dua gadis rupawan, yang sebelah kanan berperawakan ramping semampai, dan mengenakan pakaian ungu ketat berikat pinggang merah.

Gadis sebelah kiri bertubuh agak pendek tapi cekatan dan lincah, berpakaian serba coklat.

Di belakang tiga ekor kuda ini adalah sebuah tandu yang dipikul empat laki2.

Di belakang tandu diiringi delapan ekor kuda pula, penunggangnya semua berseragam hitam, berikat kepala kain hitam pula, tapi semua penunggangnya adalah perempuan yang menggendong pedang.

Usia mereka rata2 sudah lebih dari empat puluh, kantong besar tergantung di pinggang masing2, tangan kiri semua memakai sarung tangan terbuat dari kulit menjangan, selintas pandang sudah jelas bahwa mereka ahli menggunakan senjata beracun.

Rombongan cukup besar ini menempuh perjalanan dengan langkah cepat, walau malam gelap dan sunyi senyap kecuali suara derap kuda, rombongan mereka laksana seekor naga panjang hitam yang menyusur jalan pegunungan Kira2 setengah li mereka keluar dari Liong-bun-kiu, mendadak dari hutan sebelah kiri berkumandang sebuah bentakan.

"Langit mencipta bumi merancang."

Laki2 paling depan yang menunggang kuda mendengus keras2, hardiknya.

"Wakil langit mengadakan ronda."

Pertanyaan tanpa juntrungnya, jawaban singkat tidak menentu artinya.

Tapi wibawa dari jawaban ini sungguh tidak terduga, maka tampaklah bayangan orang bergerak.

di dalam hutan puluhan laki2 berpakaian hitam berlari2 keluar lalu berbaris rapi di pinggir jalan, mereka berdiri tegakhormattanpabergerak.

Seorang laki2 yang mengepalai barisan ini segera tampil ke depan memberi salam hormat kepada kakek berjubah biru di atas kuda."HambaKwecit-lungtidaktahu bahwaThian-sutelah tiba.

Dingin kaku sikap laki2 jubah biru, tiba2 dia memberi tanda gerakan tangan ke belakang.

Delapan Busu di belakangnya serempak mengayun tangan kanan ke udara.

Di tengah malam yang gelap pekat itu, kecuali terlihat gerakan tangan mereka, tiada apa2 yang kelihatan lagi, tapi hanya sekejap saja, terdengarlah suara gedebukan yang ramai diselingi percikan api warna biru di depan hutan, kembang api hanya berpercik sekilas lenyap.

tapi puluhan laki2 yang berbaris rapi di depan hutan di pinggir jalan itu satu persatusamaterjungkalroboh tanpa mengeluarkan keluhanapa2.

Kakek berjubah biru itu tidak hiraukan lagi mati hidup mereka, kembali ia memberi tanda ke belakang, lalu keprak kudanya kedepan-Kedelapan Busu seragam biru dibelakangnya serempak juga memberi ulapan tangan ke belakang, mereka juga keprak kuda mengikuti langkah kakek, jubah biru.

Begitulah rombongan mereka laksana seekor naga hitam yang melingkar2 menempuh perjalanan dijalan pegunungan yang turun naik berputar kian kemari.Jarak antara Liong-bun-kin dengan Sayhong kiu kira2 ada 20 an li, sepanjang jalan beruntun mereka dicegat tujuh-delapan pos penjagaan, tapi semuanya dengan mudah dibereskan oleh kedelapan Busu seragam biru, semuanya roboh binasa tersapu oleh percikan kembang api warna biru yang ganas, sampaipun mayat dan tulang belulang merekapun lenyap menjadi cairan darah.

Maka dengan leluasa rombongan ini terus maju menuju ke Say-hong-kiu.

Tampak dari kejauhan sebuah perkampungan besar berdiri di kaki sebuah gunung yang terletak di sebelah utara, perkampungan ini berada di tanah datar yang dikelilingi gunung.

Malam pekat, tak terlihat setitik sinar api, tak terdengar gerakan apa2 pula dari perkampungan besar itu.

Besar perhatian si kakek jubah biru yang berada di atas kudanya terhadap perkampungan di depan sana, tiba2 ia angkat tangan ke balakang, itu tanda barisan di belakang harus berhenti, tanpa bersuara rombongan lantas berhenti di depan hutan.

Gadis lincah baju cokelat yang duduk di kuda sebelah kiri segera keprak kudanya ke depan, tanyanya pada kakek jubah biru.

"Pacongkoan, bagaimana keadaannya?"

Si kakek berjubah biru menggeleng dan berkala.

"Tiada apa2, cuma gelagatnya jejak kita sudah diketahui mereka, lampu dalam perkampungan dipadamkan semua, tidak menunjuk gerakan apa2 lagi, jelas mereka sudah bersiap menyambut kedatangan kita."

Nona baju ungu juga keprak kudanya ke depan, katanya sambil mencibir bibir.

"Memangnya kenapa kalau sudah bersiap2. Kita toh tidak akan main sergap. hayolah hadapilah secara terang2an saja."

Tengah bicara tandu yang di belakang, itupun tiba di depan hutan, terdengar suara serak nyonya tua berkata dari dalam tandu.

"Pacongkoan, kenapaberhentidisini?"

Ter-sipu2 kakek, jubah biru menjura di atas kudanya, sahutnya.

"Maklum Hujin, di dalam perkampungan tiada nampak sinar api, mungkin mereka sudah ber-siap2, hamba kira kita jangan bergerak secara serampangan."

Nona baju ungu segera bicara.

"Bu, kita kan hendak berhadapan secara terang2an, tunggu apa lagi?"

Pemuda yang berjubah sutera tertawa, katanya.

"Watak adik memang berangasan, meski kita akan berhadapan terang2an, paling tidak harus tahu dulu gelagat dan keadaan mereka."

Nyonya tua dalam tandu tersenyum, katanya.

"Kedua budak ini memang tidak sabaran, setiba di tempat tujuan, mana mereka mau menunggu lagi? Pa-congkoan-, sampaikan kartu namaku, suruhlah majikan mereka keluar menemuiku."

Kakek jubah biru mengiakan, segera dia keprak kudanya ke depan-Delapan Busu di belakangnya serempak juga membedal kuda masing2 mengikuti langkahnya.

Sembilan kuda sama-2 berderap ramai, mereka melewati lapangan rumput terus menuju ke depan perkampungan, ketika Kakek jubah biru tarik tali kendali, kuda tunggangannya yang memang pilihan dan terlatih baik segera berhenti tak bergerak lagi.

Delapan Busu pengiringnya juga segera menghentikan kuda mereka serta melompat turun berdiri berbaris di belakang Kakek jubah biru.

Malam gelap dan sunyi senyap.

sudah tentu derap kesembilan kuda itu menerbitkan suara yang gaduh dan ramai, uaranya berkumandang sampai beberapa li jauhnya, setiba di depan perkampungan serentak berhenti maka keheningan kembah mencekamalam nan gelap gulita ini.

Seyogyanya penghuni perkampungan ini mendengar kedatangan kuda2 yang ramai ini, tapi suasana tetap sepi tak kelihatan reaksi apa2.

Berkilat biji mata Kakek jubah biru, dia terkekeh dingin, katanyasambilangkattangan kiri.

"Maju danketok pintu."

Seorang di antara ke delapan Busu mengiakan dan tampil ke depan, dengan keras dia gebrakan gelang tembaga di atas pintu sambil berteriakkeras2

"Hai, adaorang tidak di dalam?"

Sesaat lamanya baru terdengar suara serak lemah bertanya di dalam.

"Siapa di luar? Tengah malam buta main gedor segala?"

Suara orang ini seperti acuh tak acuh dan kemalas2an, pelan2 dia buka palang pintu serta menarik daun pintu, tampak seorang laki2 tua bungkuk, tangan menenteng sebuah lampu dan diangkat tinggi ke atas.

Sinar lampu menyoroti Kakek jubah biru yang bertengger di atas kudanya, demikian pula kedelapan Busu di belakang si tua bungkuk tampak bergidik, serunya gelagapan.

"Toa ..... Toaya ...... kalian ada ........ ada keperluan apa, aku si tua reyot .... ..hanya penjaga pintu belaka."

Ternyata dia kira kawanan penunggang kuda ini adalah perampok. Tajam sinar mata Kakek jubah biru menatap si tua bungkuk, katanya menyeringai dingin.

"Tua bangka, lekas laporkan, katakan Tong-lohujin dari keluarga TongdiSujwan mintabertemu majikan-"

Ternyata orang yang naik tandu itu adalah Tong-lohujin, yang mengiring kedatangannya ada Tong Siau-khing dan Tong Bun-khing kakak beradik, demikian pula Pui Ji-ping yang membawa mereka kemari.

Sementara kakek tua jubah biru adalah congkoan keluarga Tong, yaitu Pa Thian-gi.

Si tua kucek2 matanya, katanya sambil meng-geleng.

"Toaya mungkin kesasar atau salah alamat, tempat ini hanya rumah istirahat cengcu kami, biasanya cengcu tinggal di kota, perkampungan ini sekarang kosong tanpa penghuni, kecuali aku si tua bangka ini, tiada orang lain-"

Sejenak Pa Thian-gi melenggong, melihat punggung orang yang bungkuk serta gerak-geriknya yang lemah memang mirip seorang tidak mahir silat, maka dia bertanya.

"Siapa she cengcumu itu?"

"cengcu kami she Cek."

Sahut si tua bungkuk.

"Siapa namanya?"

Tanya Pa Thian-gi.

"Beliau bernama Seng-jiang, seorang Wang we (hartawan) di dusun ini, sudah cukup bukan?"

Ha-bis bicara, tanpa menunggu jawaban Pa Thian-gi, dia putar tubuh terus gabrukan daun pintu dengan keras.

Mungkin hatinya dongkol sehingga si tua bungkuk ini lupa diri, gerakan kakinya tampak gesit dan cekatan-Sebagai congkoan keluarga Tong, betapa tajam pandangan Pa Thian-gi, walau hanya sedikit gerakan yang tak berarti, namun tak lepas dari penglihatannya.

Seketika mencorong biji matanya, bentaknya dengan suara keras.

"Nanti dulu, tua bangka h... ."

Tapi si tua bungkuk sudah tutup pintu, tidak pedulikan seruannya lagi. Lenyap kumandang bentakan pa Thian-gi, mendadak terdengar gelak tawa seorang yang keras seperti gembreng ditabuh.

"Sudah lama Lohu dengar nama besar keluarga Tong yang terkenal, kalian sudah kemari, biar Lohu mohon pengajaran dari kalian."

Suaranya keras bergema, kuping sampai mendengung. Lekas Pui Ji-ping lari mendekati tandu, katanya lirih.

"Bu, itulah Thong-pi-thian-ang."

Ramah suara Tang-lohujin di dalam tandu, katanya tertawa.

"Nak, tiada urusanmu, mereka bisa membereskan dia."

Bahwa keluarga Tong berani meluruk kesarang harimau, sudah tentu mereka telah siap tempur.

Dari sebuah jalan kecil di sebelah kiri sana muncul seorang gede berjubah kuning kelam, wajahnya yang kelam nampak mengkilap.

dia memang Lam-kiang-it-ki Thong-pi-thian-ong adanya.

Di belakangnya muncul pula enam laki2 seragam hitam, dengan kerudung kepala hitam pula.

Thong-pi-thian-ong memakai sepasang teklek yang terbuat dari tembaga, tapi langkahnya tetap enteng dan cepat, keenam orang di belakangnya ternyata juga memiliki kepandaian tinggi, mereka ikut ketat di belakang Thong-pi-thian-ong, selangkah-pun tidak ketinggalan-Maklumlah Lam-kiang it ki, si aneh dari daerah selatan berjuluk raja langit berlengan tembaga ini biasanya malang melintang di daerah selatan, betapa tinggi taraf kepandaian silatnya jarang ada tandingannya di kalangan Kangouw.

Tapi empat di antara enam laki2 baju hitam di belakangnya jelas memiliki kepandaian yang tidak lebih rendah dari taraf kepandaian Thong-pi-thian-ong.

Hal ini dapat dibuktikan dari gerak-gerik mereka.

Bahwa Pa Thian-gi diangkat sebagai cong-koan keluarga Tong, sudah tentu dia memiliki pengalaman dan pengetahuan yang cukup luas, diam2 ia kaget.

namun tidak gentar, lekas dia memberi tanda ke belakang..kedelapan Busu dibelakangnya segera tarik tali kendali kuda masing2 terus berpencar mengambil posisi suatu barisan.

Kejadian berlangsung hanya sekejap saja, wak-tu Thong-pi thianong muncul, jaraknya masih sekitar 10 an tombak, tapi baru saja Pa Thian-gi memberi tanda kebelakang, tahu2 orang sudah berada di depan Pa Thian-gi, terdengar suaranya keras bergenta.

"Kau pernah apa dengan keluarga Tong di Sujwan?"

Pa Thian-gi memberi hormat, katanya.

"cay-he Pa Thian gi, pejabat congkoan keluarga Tong, entah siapa nama julukan tuan?"

Sudah tahu tapidia sengaja bertanya. Tong pi-thian-ong terbahak, katanya.

"Sebagai congkoan keluargaTong, masakahsiapaakukautidaktahu?"

Pa Thian-gi menjura pula, katanya setengah mengejek.

"cayhe memang kurang pengalaman?"

Mendelik bundar mata Thong-pi-thian-ong, teriaknya gusar.

"Aku Thong Ji-hay berjuluk Thong-pi-thian-ong, di mana Lohujin kalian, suruh dia kemari menjawab pertanyaanku."

Pa Thian-gi pura2 kaget, serunya.

"o, kiranya Thong-toaya, maaf cayhe kurang hormat, Lohujin ada di luar hutan, biar cayhe segera lapor kepada beliau."

Terdengar suara Tong lohujin berkata di kejauhan "Tak usahlah, undanglah Thong Ji hay ke-mari saja."

Maka Pa Thian-gi membungkuk, katanya.

"Lo-hujin mengundang Thong-thian-ong."

Bagai kemilau obor sorot mata Thong-pi-thian-ong, sekilas dia menyapu pandang kedelapan Busu yang terpencar itu, dari kedudukan mereka terang sudah mengatur barisan Pat-kwa, wajahnya yang kelam mengkilap menampilkan senyum hina, kata-nya tertawa ejek.

"Barisan seperti ini juga berani dipamerkan, memangnya mampu mengurung Lohu?"

"Thong-thian ong tidak pandang barisan ini dengan sebelah mata,bolehsilakan masuksajakedalamnya,"tantangPaThian-gi.

"Masuk ya masuk-"

Jengek Thong-pi-thian-ong.

"Lohu ingin buktikan kalian dapat berbuat apa atas diriku?"

Dengan langkah lebar segera dia beranjak ke depan sudah tentu enam orang di belakangnya serempak ikut melangkah maju pula.

Terkulum senyuman riang pada wajah Pa Thian-gi, dia putar kudanya ikut di belakang mereka.

Ke delapan Busu tadi mendadak saling berlompatan, golok terhunus, mereka berdiri tegak di atas pelana kuda.

Kuda mereka memang sudah terlatih baik, tanpa dikendalikan, posisi barisan tetap tidak berubah, pelan mereka merubung maju dari jarak beberapa tombak mengikuti langkah Thong-pi thian-ong.

Sementara itu, delapan perempuan yang ber-gelung kain yang semula berjajar di belakang tandu sekarang juga keprak kudanya berpencar mengelilingi tandu.

Seperti delapan Busu laki2, merekapun mengambil posisi berpencar, dalam jarak tiga tombak.

berkeliling mengatur barisan Pat-kwa-tin dan siap menghadapi segala kemungkinan.

Sama2 Pat-kwa-tin, cuma barisan kaum perempuan lebih kecil dari kedelapan Busu pria, jadi barisan kedelapan Busu perempuan berada dilingkaran dalam, sedang barisan kedelapan Busu pria berada di kalangan luar.

Maka terciptalah barisan Pat-kwa lapis dua.

Thong-pi-thian-ong terlalu takabur, tiada musuh berarti yang terpandang olehnya, sudah tentu musuh2 di depan ini dianggapnya tidak berarti.

Dengan langkah lebar dia menghampiri, enam orang baju hitam di belakangnya mengikuti dengan ketat.

tatkala mereka memasuki lingkaran Pat-kwa-tin kecil, tandu itu tiba2 terangkat ke atas, dari sebelah kiri muncul seekor kuda, penunggangnya pemuda berjubah sutera biru, itulah Tong Siau-khing yang menyoreng pedang.

Keadaan sudah memuncak tegang, tak terduga tiba2 Thong-pi thian-ong bertujuh sama2 tersungkur roboh tanpa bersuara.

Dari dalam tandu terdengar Tong-lohujin berkata.

"Pa congkoan, lekas beriobatpenawarkepada mereka, ingat, jiwaharus dipertahankan."

Lalu dia berpesan kepada delapan Busu perempuan.

"Sekarang kalian yang membuka jalan, tak peduli siapa saja yang kesamplok dengan kalian, bikin mereka roboh keracunan-"

Sementara itu, Pa Thian-gi sudah suruh kedelapan Busu pria menggusur Thong-pi-thian-ong bertujuh.

Kedelapan Busu perempuan segera keprak kuda mereka menerjang ke depan pintu gerbang perkam-pungan besar.

Tong Siau-khing, Tong Bun-khing dan Pui Ji-ping mengiring di samping tandu, mereka berhenti di depan pintu gerbang.

Delapan Busu perempuan sudah lompat turun dan berdiri di undakan, lekas Tong Siau-khing, Tong Bun-khing dan Pui Ji-ping juga melompat turun-Dua pelayan yang mengikuti tandu segera maju menyingkap kerai tandu, dengan berpegang tongkat berkepala burung Hong warna emas Tong-lo-hujin melangkah keluar, katanya sambil menuding, dengan tongkat.

"Gempur pintu, tak perlu kita sungkan lagi terhadap mereka."

Begitu perintah dikeluarkan, tampak seorang Busu perempuan paling depan lantas mengayun tangan, dari telapak tangannya meluncur setitik bayangan hitam langsung menerjang daun pintu gerbang yang keras dan tebal berpaku baja.

"Blang,"

Terjadilah ledakan keras, di tengah ledakan dan percikan api serta ber-gulung2nya asap dan debu, daun pintu gerbang yang kokoh kuat itu hancur ber-keping2. Pui Ji-ping melelet kaget, katanya heran.

"Bun-khing cici, senjata rahasia apakah itu? Begitu hebat kekuatannya."

"Entahlah,"

Sahut Tong Bun-khing.

"aku juga tidak tahu."

Dengan tersenyum Tong-lohujin berkata.

"Itu-lah Pik-lik-cu ciptaan Hwe-sin (malaikat api) Lo Hoan, dulu dia terkena senjata rahasia musuh yang beracun, untung bersua dengan ayah Siaukhing maka jiwanya tertolong, dia memberi delapan butir granat tangan (Pik-lik-cu) itu, tak kira hari ini kita bisa menggunakannya."

Habis berkata segera dia memberi aba2.

"Hayo kita masuk"

Delapan Busu perempuan sudah melolos pedang mereka yang kemilau tajam dan berpencar menjadi dua barisan, mereka mendahului menerjang masuk pintu.

Dua pelayan perempuan menenteng lamplion membuka jalan di depan Tong-lohujin yang memegang tongkat kepala burung Hong, Siau-khing, Bun-khing dan PuiJi ping meng-iringidisebelah belakang.

Tiba di pintu kedua, tampak si tua bungkuk tadi sambil menenteng lampion berlari2 keluar dengan napas ngos2an, teriaknya marah2.

"Kalian ini memangnya mau berbuat apa?"

Busu perempuan paling depan segera membentak.

"Minggir"

Tangan kiri segera terayun ke depan.

Si tua bungkuk ini jalannya tampak sempoyongan, sudah reyot dan loyo, tapi melihat tangan yang menyerang ini mengenakan sarung tangan kulit menjangan, seketika mendelik kaget dan berubah air mukanya, sebat sekali dia melejit mundur.

Gerakan refleks ini justru membongkar kepura2annya, bukan saja dia pandai silat, malah tarap kepandaiannya cukup tinggi, Tapi dia hanya melejit mundur tujuh kaki, tahu2 iapun roboh terkapar tak bangun lagi.

Maklumlah, Thong-pi-thian-ong yang berkepandaian setinggi itupun tahu2 roboh tanpa suara, betapapun tinggi kepandaian si tua bungkukini takkan lebih tinggidaripadasi gedeitu.

Kiranya keluarga Tong kali ini sudah bersiap dengan segala bekal kemampuannya untuk meluruk kemari, Tong-bun-bu-sing-san warisan keluarga Tong sudah ratusan tahun sejak nenek moyang mereka tak pernah digunakan di Kangouw, hari ini telah menunjukkan kehebatannya.

Bu-sing-san merupakan obat beracun paling ganas milik keluarga Tong, puyer ini tanpa warna tidak berbentuk, kena angin lantas sirna, tidak berbau lagi, dalam jarak setombak.

siapa saja asal mencium puyer racun ini pasti terjungkal semaput, dalam jangka semasakan nasi, kalau tidak diberi obat, korban akan mati keracunan-Memasuki pintu kedua, mereka tiba di sebuah halaman yang luas, sebelah depan adalah sebuah bangsal besar.

Apa yang dikatakan si tua bungkuk tadi memang tidak bohong, perkampungan sebesar ini, ternyata keadaan sepi lengang, tak tampak bayangan seorangpun.

Tangan kanan pegang pedang, sementara tangan kiri Pui Ji-ping memegang panah jepretannya dara langsung berlari ke dalam sana, Tong Bun-khing tidak mau ketinggalan, bersama Ji-ping iapun menerjang ke dalam.

Kuatir kedua gadis ini mengalami bahaya, lekas Tong Siau-khing menyusul masuk.

Diiringi pelayan pribadinya yang menenteng lampion, pelan2 Tong-lohujin masuk ke bangsat besar itu, alisnya bertaut kencang, katanya.

"Kalian budak kasar ini, jangan kira tempat ini seperti rumah sendiri, tanpa siaga main terjang, kalau ada perangkap di sini, jiwakalian pastiterancam."

Ji-ping cekikikan, katanya nakal.

"Kau tak usah kuatir Bu, kalau adamusuhdisini, tentusejaktadi sudah kubereskan mereka."

Tengah bicara, Pa Thian-gi buru2 masuk. dan berkata kepada Tong-lohujin-"Lapor Lohujin, tujuh orang yang kita tawan, semuanya bukan musuh."

"Bukan musuh, memangnya siapa mereka?"

Tanya Tong-lohujin.

"Kecuali Thong-pi thian-ong, enam orang berkerudung itu di antaranya ada Lo-cit ......"

"Lo cit?"

Seru Tong-Lohujin.

"maksudmu di-antara enam orang itu ada juga Lo-cit? Lalu siapa kelima orang yang lain?"

"Yang hamba kenal adalah Kim Ting Kim Kay-thay, ciangbunjin murid2 preman Siau-lim-pay, Un It-kiau orang kedua dari keluarga Un di Ling-lam, Kim-hoan siang-coat Siau Hong-kang, Locengcu dari keluarga siau di Lam-siang, masih ada dua pemuda, mungkin anak murid mereka."

Terkesiap Tong-lohujin, katanya gemas.

"Jahat betul akal keji mereka, jelas mereka menggunakan para tawanan untuk menggempur kita sehingga orang sendiri saling bunuh membunuh, untunglah telah kita gagalkan maksud keji ini."

Lalu ia bertanya.

"Mana mereka? Apakah semua sudah siuman?"

"Belum,"

Sahut Pa Thian-gi.

"agaknya mereka terbius oleh semacam obat2an sehingga kesadaran mereka terpengaruh, kawan atau lawan tak terbeda lagi, sampai sekarang mereka belum sadar seluruhnya......."

"Ya, sementara ini biarlah mereka dalam keadaan kurang sadar saja."

Ujar Tong -lohujin "Pa-congkoan, bawa saja mereka ke bangsalini, kitaharusgeledah dulu perkampunganbesarini."

Pa Thian-gi mengiakan, segera dia pimpin ke delapan Busu pria menggotong Thong-pi-thian-ong bertujuh ke sini.

Kerudung hitam mereka sudah di-tanggalkan-Pui Ji-ping kenal satu di antaranya, yaitu pemuda berpakaian ketat warna hijau, yaitu putera Kiam-hoan-siang-coat Siau Hong-kang yang bernama Kim-hoan-liok-long Siau Kijing.

Tong-lohujin berpesan kepada Pa Thian-gi dan enam Busu perempuan "Kalian berpencar dan adakan pemeriksaan, siapa saja yang kesamplok boleh kalian turun tangan lebih dulu, kalau menemukan apa2 hendaklah memberi tanda suitan, lekas kerjakan"

Pa Thian-gi mengiakan, kedelapan Busu perempuan ini biasanya bertugas dibagian belakang, jadi tidak di bawah pimpinannya, maka dia menjura kepada mereka, katanya.

"Kita berpencar dari kiri dan kanan saja, kami bergerak dari kiri, silakan Han-koh bergerak dari kanan, kitabertemudibelakang."

Han-koh adalah pemimpin ke delapan Busu perempuan, dia manggut2, katanya.

"Petunjuk Pa-congkoan memang tepat, baiklah kita bekerja menurut petunjukmu." -Maka dua rombongan orang ini segera melakukan tugas masing2. Setelah orang banyak keluar, diam2 Tong Bun-khing memberi kedipan mata kepada Pui Ji-ping serta angkat dagu ke arah ibunya Ji ping manggut2, dia tahu maksud orang, katanya sambil mendekati Tong-lohujin-"Bu, bersama Bun-khing cici biarlah kami juga memeriksa di luar."

"Kalian dua budak ini memang suka bertingkah, kita datang terang2an, kini menduduki bangsal ini, musuh tetap menyembunyikan diri tanpa menunjuk reaksi apa2, bahwa mereka mampu membekuk tokoh2 kosen itu, tentu bukan sembarang manusia, belum tentu mereka gentar terhadap kita, sekarang kita di tempat terang, maka jangan kalian mencari kesulitan-"

Lalu dia tuding keluar serta menambahkan.

"Lihatlah, seorang diri Toakomu berjaga2 di sana, lekaslah kalian bantu dia saja."

"Eh, memang begitulah maksud kami,"

Kata Ji-ping aleman-Belum habis mereka bercakap. Tong Siau-khing yang berdiri di undakan mendadak menghardik.

"Siapa itu?"

Tong Bun-khing tarik tangan Ji-ping, serunya.

"Dik, lekas keluar."

Cepat mereka berkelebat ke luar sana.

Terdengar sabda Buddha berkumandang di luar pintu kedua.

Maka muncullah tiga pederi tua berjubah abu2, memegang tongkat besibesar, denganlangkah lebar mereka memasukipintu kedua.

Mata Ji-ping cukup jeli, selintas dia sudah kenal satu di antara ketiga paderi yang berjalan ditengah, bertubuh kurus pendek adalah Ling-san Taysu, kepala Bun-cu-wan Siau-lim-si yang pernah ber-sua di Liong-bun-kiu tempo hari, dengan girang segera dia berseru.

"Tong-toako, mereka adalah para paderi agung Siau-lim."

Menyusul di belakang ketiga paderi adalah sebarisan panjang para paderi siau-lim-si yang mengenakan sepatu rumput.

semuanya memegang pentung besi atau golok besar, dengan langkah lebar dan rapi masuk ke dalam.

Melihat Ji-ping, lekas Ling-san Taysu merangkap tangan, katanya.

"Omitohud, Li sicu sudah ber-ada di sini, tentunya Tonglohujin juga sudah tiba?"

Tong Siau-khing memberi hormat, katanya.

"Wanpwe Tong Siaukhing, ibuberadadibangsalsana,silakan masukparaTaysu."

"o, kiranya Tong-siaucengcu,"

Kata Ling-san Taysu.

"Pinceng Ling-san, pejabatketuaBun-cu-wandiSiau-lim-si."

Lalu dia perkenalkan Hwesio berbadan besar di sebelah kiri yaitu Poh-san Taysu kepala dari Lo-han-tong Hwesio berperawakan sedangdisebelah kanan ialah Tin-sanTaysu, ketuaTat-mowan.

Tong Siau-khing menjura berulang kali, lalu dia iringi ketiga paderi tua itu memasuki bangsal itu.

Mendengar tiga paderi agung Siau-lim-si juga datang, lekas Tong-lohujin keluar menyambutnya, kini giliran Tong Siau-khing yang perkenalkan ke-tiga Hwesio sakti itu kepada ibunya.

Tengah bicara, dari luar tampak masuk seorang laki2 tua kecil berbaju lengan panjang warna hijau bercelana kencang, sepatu tinggi, pipa cang-klong tergantung di pinggangnya, di belakangnya ikut tiga laki2 kekar berbaju hijau pula.

Begitu dekat laki2 tua baju hijau lantas menjura kepada Ling-san Taysu, katanya.

"Siaute su-dah periksa sekeliling sini, perkampungan ini di bangun membelakangi gunung, paling belakang adalah sebuah pagar tembok tinggi lima tombak, di sana agak luar biasa, di luar tembok malah di tumbuhi semak2 berduri yang subur dan lebat, orang tak mungkin bisa mendekat, kecuali itu tiada tanda lain yang mencurigakan, tiada pos penjagaan yang dipasang secara rahasia."

Ling-san Taysu manggut2, katanya.

"Malam itu dengan mata Lolap sendiri menyaksikan perempuan yang menamakan dirinya Thian-su membawa Thong-pi-thian-ong dan lain2 masuk ke perkampungan ini ...."

Sampai di sini dia merandek lalu berkata pula.

"oh Sute, mari kuperkenalkan, inilah Tong-lohujin dari keluarga Tong di Sujwan."

Lalu dia berkata juga kepada Tong-"lohujin-Inilah suteku Oh Siok-ham teman2 Bu-lim sama menjulukinya To-pi-wan (lutung banyak lengan)."

Tong-lohujin tertawa, katanya.

"Sudah lama kudengar nama besaroh-tayhiap. beruntungmalaminibisabertemu"

Lekas oh Siok ham menjawab.

"Tidak berani. sudah sekian tahun aku tidak berkecimpung lagi di Kangouw."

Poh-san Taysu, ketua Lo-han-tong menimbrung.

"Sepanjang jalan memasuki perkampungan ini apakah Lohujin tidak mengalami rintangan dan sergapan? Kata Tong lohujin dengan tersenyum.

"Dari Liong-bun-kiu memang beberapa kali pernah bertemu dengan penjaga2 gelap. setelah tanya jawab berlangsung, semuanya dibereskan oleh Pa-congkoan, tapi setelah tiba di sini, mendadak muncul Thong-pi-thian-ong membawa enam cs yang berkerudung, terpaksa mereka kurobohkan, akhirnya baru diketahui bahwa enam orang berkerudung itu adalah orang2 kita sendiri, di antaranya ada Locit dari keluarga kami, Kim Ting Kim-loyacu dari Siau-lim kalian dan lain2."

Diam2 terkejut Ling-san Taysu bahwa tokoh2 ternama itu kini menjadi tawanan Tong-lohujin, katanya.

"Keluarga Tong di Sujwan memang kenamaan dengan obat beracun, bahwa Kim-sute dan lain2 dapat ditundukkan, tentunya terkena senjata rahasia beracun kalian-"

Bergetar badan oh Siok-ham, tanyanya.

"Di mana mereka sekarang?"

Maklumlah Kim Ting Kim Kay thay adalah ciangbunjin murid2 preman Siau-lim-pay, bahwa sekarang dia menjadi tawanan Tong-lohujin,halini menurunkanderajatdanpamorpihakSiau-lim-pay.

Tong-lohujin tertawa ramah, katanya sambil menuding ke bawah dinding sebelah barat.

"Mereka rebah semua dilantai sana, cuma sekarang jangan kita mengganggu mereka."

"Kenapa?"tanya oh Siok-ham.

"Agaknya pikiran mereka terpengaruh oleh semacam obat bius, tidak bisa membedakan kawan atau lawan, agaknya musuh memang sengaja mengatur muslihat keji ini supaya pihak kita saling baku hantam sendiri, oleh karena itu terpaksa ku-turun tangan merobohkan mereka, sementara mereka masih harus istirahat, tapi oh-tayhiap tidak usah kuatir, dalam menggunakan racun sudah kuperhitungkan mereka tidak akan celaka karenanya."

"Siancay Siancay"

Sabda Ling san Taysu.

"Malam itu Lolap sakslkan sendiri dalam beberapa kejap saja tahu2 Cu-cengcu sudah kena dikerjai oleh perempuan yang dipanggil Thian-su itu, tentunya kesadarannya juga telah terpengaruh, golongan kalian ahli dalam menggunakan racun, apakah punya obat penawar untuk menyembuhkan orang2 yang kehilangan kesadarannya itu?"

"Harap Taysu tahu, setiap aliran punya cara tersendiri dalam menggunakan obat pelenyap kesadaran orang, kalau salah pakai obat penawar, malah bisa menimbulkan bahaya bagi sang korban, kalau tidak diadakan pemeriksaan seksama, sukar ditentukan kadar racun apa yang mereka gunakan, oleh karena itu sementara kubiarkan mereka jatuh pulas dulu."

Tiba2 derap langkah ramai mendatangi. cong-koan Pa Thian-gi tampak masuk-melihat banyak tamu2 Hwesio di dalam, sekilas dia melengak heran "Pa-congkoan,"

Tanya Tong-lohujin.

"bagaimana hasil pemeriksaanmu? Apa betul gedung sebesar ini tanpa penghuni?"

Pa Thian gi menjura, katanya.

"Lapor Lohujin, perkampungan ini terdiri dari empat lapis bangunan, bersama IHan koh hamba mengadakan pemeriksaan, di mana2 debu bertumpuk tebal, agaknya memang sudah lama tidak ditempati orang."

Belum Tong lohujin bicara, Ling san Taysu sudah mengerut alis, selanya.

"Kukira tak mungkin? Tiga hari yang lalu Lolap menguntit rombongan perempuan itu naik tandu masuk ke perkampungann ini. sarangmereka jelasdiperkampungan ini ........."

Belum habis dia bicara, mendadak kupingnya mendengar suara lirihsepertibunyinyamuk membentak."Hwesiocilik,sambutlah."

"Serrr", serangkumangin kencangtiba2 menerjangtengkuknya. Keruan Ling-san kaget, lekas dia menunduk miring seraya ulur tangan menyambut ke belakang Memang tangannya berhasil menangkap sesuatu tapi dorongan tenaga besar itu membuat berdirinya menjadi goyah, tanpa kuasa dia terdorong maju dua langkah. Ternyata ada orang menggunakan Thoan-im-jip-bit bicara padanya, kecuali Ling-san Taysu sendiri orang lain tidak mendengar, samberan angin kencang itupun bagai kilat, Poh-san dan Tin-san Taysuyangberdiridisampingpuntidak merasakanapa-apa.. Semua hadirin hanya melihat mendadak Ling-san Taysu menunduk miring seraya ulur tangan meraup ke belakang, lalu sempoyongan ke depan. Keruan yang paling kaget adalah Poh-san Taysu dan Tin-san Taysu, tanpa berjanji mereka bertanya kuatir "Kenapa Suheng?"

Kejadian berlangsung amat cepat, sementara Ling-san Taysu sudah berdiri tegak pula, didapati-nya yang berada di telapak tangannya hanya segulung kertas kecil sebesar kacang tanah, keruan hati-nya bertambah kejut.

Maklumlah Ling-san Taysu adalah jago kosen Siau-lim-pay yang memiliki kepandaian tinggi, bahwa orang itu hanya menimpukkan gulungan kertas sekecil itu, tapi Ling-san Taysu sampai terdorong sempoyongan, betapa tinggi Lwekang penim-puk itu sungguh sangat mengejutkan Ling-san Taysu sekarang sudah berusia 70 lebih, di Siau-lim-si dia adalah seorang Tianglo yang amat dihormati, tapi orang itu ternyata memanggilnya "Hwesio cilik."

Betapapun dia seorang paderi sakti yang saleh, mendadak berkelebat suatu pikiran dalam benaknya bahwa orang itu pasti seorang cianpwe yang kosen, gulungan kertas yang ditimpukkan kepada dirinya pasti membawa pesan atau petunjuk yang amat berharga.

Maka tanpa menghiraukan pertanyaan pada Sutenya, dengan laku hormat dan khitmad dia putar badan serta membungkuk ke arah datangnya gulungan kertas tadi.

Melihat kelakuan Suhengnya yang aneh itu, Poh-san dan Tin-san Taysu hanya mengawasi saju dan tidak mengajukan pertanyaan lagi.

setelah memberi hormat baru Ling-san Tay-su keluarkan gulungan kertas di telapak tangannya, kertas itu hanya sebesar kuku jari, dengan arang kertas secuil itu tertulis sebaris huruf-kecil yang berbunyi.

"Masuk ruang berhala lapis empat, dorong patung pemujaan-"

Hanya sekilas membaca Ling-san Taysu lantas manggut2, lalu dia bertanya kepada Pa Thian-gi.

"Barusan Pa cong-koan bilang perkampungan ini terdiri dari empat lapis bangunan, apakah lapis keempat paling belakang itu adalah sebuah ruang berhala?"

"Betul, memang di gedung lapis keempat ada ruang pemujaan,"

Sahut Pa Thian-gi. Ling-san Taysu tersenyum, katanya.

"Tidak salah lagi, sarang rahasia dari komplotan Cin-Cu-ling itu pasti berada di dalam ruang berhala itu?"

Kaget dan heran oh Siok-ham, tanyanya.

"Darimana Suheng tahu?"

Ling-san Taysu keluarkan gulungan kertas itu dan diperlihatkan kepada orang banyak, lalu men-jelaskan kejadian barusan dengan suara lirih, Sudah tentu orang yang memanggilnya "Hwesio cilik"

Tidak diceritakannya.

"Ada orang kosen memberi petunjuk secara diam2 kepada kita, hayolah jangan kita bekerja lambat2, kita masuk bersama mendobraknya,"

AjakTong-lohujin Ling-san Taysu berkata.

"Kim-sute dan lain2 masih belum siuman, perlu ada orang jaga di sini, oh-sute, kau bersama The Si-kiat bertiga tinggalsaja disini.."

Tong-lohujin juga perintahkan Pa Thian-gi bersama kedelapan Bususeragambirutinggaldi bangsal ini.

Maka dibawah petunjuk Han-koh be ramai2 orang banyak lantas menuju ke belakang.

Bangunan lapis keempat merupakan lapisan terakhir pula.

Pohon2 tua tinggi besar tersebar di pekarangan belakang, orang akan merasa dingin dan seram di tempat yang lembab ini.

Setelah menyusuri halaman yang penuh lumut hijau, mereka terus naik keundakan langsung memasuki sebuah ruangan besar dan luas, tepat di tengah ruangan memang terdapat sebuah patung pemujaan,yangdipujadisiniadalah malaikatber-tenagaraksasa.

Delapan Busu perempuan melangkah masuk lebih dulu terus berjajar di dua sisi, Tong-lohujin beriring dengan Ling-san Taysu dan lain2 ikut masuk.

Ketua Lo-han-tong Poh-san Taysu jalan paling belakang, dia memberi tanda kepada 18 muridnya untuk bersiaga di luar pekarangan.

Ling-san Taysu maju beberapa langkah lebih dekat dan memberi hormat ke arah patung pemujaan, lalu dia mundur kembali.

Sementara Tin-san Taysu juga maju mendorong patung pemujaan-Tapipatung itutak bergeming sedikitpun.

"Taysu bertiga harap mundur agak jauh,"

Kata Tong-lohujin.

"kita tak tahu cara bagaimana membuka alat2 rahasia di sini, terpaksa hancurkan saja Han-koh, kau saja yang turun tangan-"

Sementara itu orang banyak sudah mundur agak jauh, Han-koh mengiakan, dari dalam kantong kulit harimau dia keluarkan sebutir besi bundar sebesar biji kenari, sekali ayun dia timpuk ke arah patung-pemujaan "Dar", hebat sekali ledakan ini, patung pemujuan yang tinggi besar itu roboh ber-keping2.

Tampak di belakang patung pemujaan terdapat sebuah pintu besi, bawah tembok juga sudah berlubang, tapi pintu besi itu tetap utuh tidak kurang sesuatu apapun, tanpa disuruh Han-koh timpuk lagi sebutir granat tangan ke arah pintu besi.

Ledakan keras kembali menggetar ruang pemujaan, kedua daun pintu besi kini roboh berserakan, di belakangnya adalah lorong panjang yang gelap gulita.

"Kalian geledah ke dalam,"

Tong-lohujin mem-beri aba-aba kedelapan Busu perempuan-Di bawah pimpinan Han-koh kedelapan orang itu segera menerjang ke dalam terbagi dua barisan-Bersama Tong Siau-khing bertiga Tong-lohujin mengiringi Ling-san Taysu masuk lebih jauh, Poh-san Taysu tetap berada paling belakang, dia suruh delapan paderi berjaga di ruang pemujaan ini, lalu kedelapan paderi yang lain dia ajak masuk ke dalam.

Lorong gelap ini panjangnya puluhan tombak.

mereka tiba di ujung sana dan diadang dinding tembok.

Han-koh lantas timpukkan granat lagi, debu pasir beterbangan sehingga orang banyak sukar membuka mata.

Tapi dinding pengadang jalan sudah jebol.

Lekas sekali kedelapan Busu perempuan yang tetap berkerudung kain hitam itu menerobos masuk lewat lubang besar itu.

Waktu Tong-lohujin dan Ling-san Taysu be-ramai keluar dari lubang tembok, mereka tiba di sebuah taman bunga yang amat luas, malam remang2, tampak bayangan pohon dan gardu tersebar di sana-sini.

Waktu orang banyak mengamati keadaan sekelilingnya, mereka berada di depan sebuah bangunan berloteng yang dibangun megah dan mewah, di bagian depan terdapat undakan batu memanjang tinggi, sekarang mereka berada di tengah2 undakan batu yang jebol oleh ledakan granat tangan tadi.

Di antara bayang2 pohon yang gelap di sekitar mereka tampak bermunculan bayangan puluhan laki2 bersenjata golok, dari kejauhan mereka merubung maju mengepung.

Pui Ji-ping yang berangasan ajak Tong Siau-khing untuk melabrak orang2 itu.

Tapi Tong-lohu-jin lantas mencegah, katanya.

"Tak perlu kalian bekerja susah payah "

Tiba2 tampak orang2 yangmengepung mereka itu satu persatu, sama terjungkal roboh tak bergerak lagi.Jelas semuanya terkena Bu sing-san yang lihay dan mematikan Diam2 berkerut alis Ling-san Taysu, lekas dia bersabda dan komat-kamit memanjatkan doa bagi arwah para korban supaya mendapat tempat tenteramdialam baka.

Pada saat itulah dari arah pintu yang terbuka di depan sana muncul di atas undakan batu dua pelayan perempuan cilik membawa dua lampion, lalu berdiri di kanan kiri.

Segera terdengar pula suara gemericik sentuhan batu manikam dan perhiasan yang bertaburan di tubuh seorang perempuan cantik jelita, seorang nyonya muda berpakaian puteri keraton pelan2 beranjak keluar, sebelah tangan terpapah dipundak seorang dayang di sebelahnya.

Yang muncul ternyata Hian-ih-lo-sat, wajahnya nan ayu menampilkan rasa kaget dan heran-namun mulutnya yang kecil mungil mengulum senyum, katanya.

"Kalian siapa? Malam buta menjeboldindingmainterjangdirumahorang, mauapa?"

Sementara itu Pui Ji-ping sudah sembunyi di belakang Tong-lohujin serta berbisik.

"Bu, perempuan siluman itulah yang menamakan dirinya Hian-ih-lo-sat."

"Jangan ribut,"

Tong-lohujin manggut2.

"dengar saja apa yang dia katakan-"

Sementara itu Ling-san Taysu sudah perkenalkan diri dan nyatakan maksud kedatangannya.

Tapi Hian-ih lo-sat malah menista bahwa kedatangannya mau merampok atau memperkosa kaum perempuan di sini.

Sebagai paderi agung yang alim, sudah tentu Ling-san menjadi gelagapan dan tidak mampu menjawab.

Tong lohujin tertawa dingin, bentaknya.

"Nona tidak usah banyak omong, siapakau memangnyakamitidaktahu?"

Kerlingan mata Hian-ih-lo sat mempesonakan, katanya sambil berpaling ke arah Tong-lohujin.

"Apakah nenek tua ini juga orang dari Siau-lim?"

"Dari keluarga Tong di Sujwan,"jengekTong-lohujin Hian-ih-lo-sat pura2 tidak tahu, katanya.

"Keluarga Tong di Sujwan? Tempat apakah itu, belumpernah kudengar."

"Itu tidak penting, satu hal perlu kuperingatkan, komplotan CinCu-ling kalian main culik orang, sekarang kita sudah berhadapan, lekas kau bebaskan para tawanan, kalau tidak jangan menyesal kalau kami turun tangan keji."

Sambil membetulkan sanggulnya, Hian-ih-lo-sat berkata dengan mengunjuk rasa kaget dan heran.

"Apa katamu nenek tua ? Siapa yang harus kubebaskan?"

Pada saat itulah, ke delapan Busu perempuan yang berjaga di sekeliling Ting-lohujin erempak berteriak seraya mengayun tangan ke udara.

Tapi mereka bukan menimpukkan senjata rahasia, juga bukan melancarkan pukulan, hanya seperti tanda gerakan tangan aja, Sudah tentu Ling-san Taysu dan lain2 yang tidak tahu apa2 jadi heran Tong-lohujin menyeringai hina, katanya.

"Memang sudah kuduga bahwa Hian-ih-lo-sat pandai menggunakan bubuk racun yang tidak kelihatan, kepandaian rendah ini memangnya dapat mengelabui mataku?"

Dengan mengangkat tangan membetulkan sanggulnya tadi, ternyata secara diam2 Hian-ih-lo-sat sudah menaburkan bubuk beracun yang tidak kelihatan-Keruan kaget dan berubah air muka para paderiSiau-lim.

Hian-ih-lo-sat sendiri juga berubah air mukanya, tapi segera dia cekikikan, katanya.

"Nenek tua, ternyata kau memang memadai untuk lawanku, entah bagaimana kau tahu kalau aku Hian-ih-losat?"

"Perbuatanmu menawan Cu Cengcu secara licik di Liong-bun-kin kusaksikan diatas batu bersama Ling-san Taysu ini, berani kau mungkir?"

Demikian timbrung Ji-ping.

"Ketahuilah Thong-pi-thianong dan lain2 yang kau bius kini sudah sadar seluruhnya, kalian masih mampu berbuat apa lagi?"

"Nona cilik,"

Ujar Hian-ih-lo-sat cekikikan.

"malam ini kalian beradadiatasangin,akuhanyasendirian, mampuberbuatapalagi? Tapi kalian harus ingat, Lok san Taysu berempat masih tergenggam di tanganku, kalau terpaksa, ya apa boleh buat, jangan salahkan aku bertangan keji."

Diam2 kaget Tong-lohujin, katanya dengan suara geram.

"Kau berani?"

Tengah bicara tiba2 muncul empat bayangan orang melayang ke depan undakan-Itulah seorang Hwesio dan tiga orang preman, orang terdepan adalah paderi berjubah abu2, tangan menenteng tasbih, usianya 6o-an-Mereka bukan lain adalah para tamu agung yang diculik ke Coat Sin-san-ceng, yaitu Lok-san Taysu, Tong Thianjong, Un It-hong dan Cu Bun-hoa.

Melihat kedatangan Lok-san Taysu, lekas Ling-san, Po san cian Tin-san Taysu memburu maju, seru mereka.

"Suheng berhasil menjebol kurungan musuh"

Lok-san Taysu berkata.

"Kami berempat tinggal di kebun ini, mendengar keributan di sini segera kami datang kemari. Ai, pengalaman pahit iniagak panjanguntukdiceritakan"

Sementara itu, Tong-lohujin juga sudah melihat suaminya, kejut dan girang hatinya, serunya.

"Loyacu, kau tidak apa2 bukan?"

Tong Siau-khing dan Tong Bun-khing juga berseru.

"Ayah"

"Masih baik,"

Ujar Tong Thian-jong sambil mengelus jenggot.

"beruntung kedatangan Ling-lote, dia bantu kami memunahkan kadar racun yang mengeram dalam tubuh kami, kalau tidak malam ini tetap takkan bisa kemari."

Sementara itu Ji-ping sudah memburu ke de-pan Cu Bun-hoa, teriaknya.

"Ling-toako, kau tahu di mana pamanku dikurung?"

"Ji-ping, akulah pamanmu,"

Ujar Cu Bun-hoa. Berkedip mata Ji-ping, serunya heran.

"Lantas di mana Ling-toako?"

"Paman terjebak oleh perempuan siluman itu dan dikurung di bawah tanah, malam tadi Ling-lote menolongku keluar, dia sudah pergi."

"Dia tidak bilang mau ke mana?"

Tanya Ji-ping gelisah.

"Waktu paman bangun, Ling-lote sudah tiada lagi."

Mendadak Tong lohujin berseru kaget.

"Wah, perempuan siluman itu sudah merat, hayo kejar"

Melihat gelagat jelek.

tahu seorang diri takkan mampu melawan musuh sebanyak ini, pada saat orang banyak ribut bicara, diam2 Hian-ih-lo-sat kabur bersama ketiga dayangnya.

Un It-hong tidak berbicara, maka dia bertindak lebih dulu, tapi waktu dia tiba di depan pintu mendadak ia berhentikan-Sementara itu Lok -san Taysu, Tong thian-bong, Tong-lohujin Cu Bun-hoa serta yang lain juga telah memburu maju.

Lekas Un It-hong mencegah.

"Semua berhenti, ada perangkap dalam ruangan-"

Waktu semua berhenti, tertampak di dalam ruangan besar itu penuh asap hitam seperti kabut tebal sehingga sulit memandang keadaan didalam.

"Sepertikabuttebal,"ujarLok-sanTaysu. Tong Thian-jong tertawa dingin,jengeknya.

"inilah cek-yu-tok-bu (kabut beracun) lekas mundur"

Lalu dia berpaling, tanyanya.

"Hujin membawa Lan ling-tan?"

"Barang2 yang diperlukan tentu kubawa seluruhnya,"

Ucap Tonglohujin sambil tersenyum, lalu dia memberi tanda ke belakang.

Hankoh segera tampil ke depan, tangan kiri terayun, tiga bintik cahaya kemilau biru meluncur kedalam ruangan "Blang", terdengar ledakan keras dibarengi dengan muncratnya kembang api.

Bintik2 sinar kemilau biru itu segera menyala dan berkobar waktu terkena asap hitam, terdengar suara mendesis di tengah kabut hitam itu.

Ternyata Lan ling-tan (granat belerang biru) memang pemunah dari cek-yu-tok-bu atau kabut beracun itu, dalam sekejap kabut gelap yang memenuhi ruangan segera sirna tanpa bekas.

Kobaran apipun lantas padam.

Tanpa diperintah Han-koh, pimpin anak buah-nya menerjang masuk lebih dulu, Tong Thian-jong suami-isteri, Lok-san Taysu dan lain2 beramai2 ikut masuk, para paderi Siau-lim menyalakan obor berada di barisan belakang.

Ruang besar seketika terang benderang, tapi bayangan Hian-ih-lo-sat sudah tak kelihatan lagi.

Berkerut alis Tong Thianjong, serunya.

"Lekas periksa rumah yang ada di sini." -Tangan kiri terayun, dia pukul roboh daun pintu yangmenutup kamardisebelah kiri. Tapi hasil pemeriksaan semua orang tetap nihil, tiada bayangan seorangpun di dalam perkampungan sebesar ini. Bukan saja bayangan Hian-ih-lo-sat tidak kelihatan, para kacung, pelayan dan penjagapun tiada lagi.

"cepat juga perempuan siluman itu melarikan diri,"

Kata Un Ithong gusar.

Baca Juga: Dewi Sungai Kuning 2

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 13

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert