Eps 2 Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL
Baca online Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL
Cersil Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL.
"Soal ini tiada sangkut pautnya dengan nona. lekas kau pergi saja,"
Sahut Kun-gi.
"Anak muda, kau sudah siap?"
Thong-pi--thian-ong tidak sabar lagi, kelima jarinya terkembang terus mencengkeram ke arah Kungi.
Sejak kecil Ling Kun-gi meyakinkan ilmu pedang warisan keluarganya.
cuma waktu dia hendak berangkat Suhunya pernah berpesan wanti2, kecuali terpaksa ilmu pedangnya dilarang sembarang ditunjukkan di depan umum.
Sekarang dia menghadapi Thong-pi-thian-ong yang berilmu silat serba aneh, lengan tembaga dan telapak tangan tembaga pula, kerasnya laksana baja, kalau dirinya melawan dengan bertangan kosong, mungkin untuk mempertahankan diri saja sukar, maka terpaksa dia keluarkan pedangnya.
Kini melihat cakar tembaga lawan mencengkeram tiba, secepat kilat otaknya bekerja.
"Lengan tembagamu memangnya tidak takut senjata tajam, tapi anggota badanmu yang lain, apa juga kebat senjata?"
Sebat sekali ia berkelebat maju, pergelangan tangan menggentak.
pedangpun menabas miring.
Serangan ini dilancarkan dengan badan miring sambil mendesak maju, orangnya tiba pedangpun mengancam.
Walau jurus yang dan gunakan hanya tipu biasa Sian-niao-hoa-se (burung dewa menggores pasir), namun dilancarkan oleh seorang ahli seperti Ling Kun-gi, bukan saja lebih lincah dan hidup, gerakannyapun teramat cepat dan berbahaya.
Sepasang mata Hian-ih-lo-sat memancarkan sinar terang menyaksikan ilmu pedang yang tiada taranya ini.
Selama hidup Hoan-jiu ji-lay tidak pernah menggunakan pedang, namun murid tunggalnya ini ternyata memiliki ilmu pedang yang tinggi dan lihay sekali.
Kelima jari tembaga Thong-pi-thian-ong terpentang, gerakannya seperti amat lamban, tujuannya semula hanya mau meringkus bocah kurang-ajar ini, tapi serta melihat gerakan pedang Ling Kungi yang hebat, tiba2 ia mendengus,jari2nya malah mencengkeram pedang yang menyamber tiba.
Sungguh permainan aneh, perubahannyapun cepat tak terduga, lengan sedikit melintir, tahu2 batang pedang sudah berhasil dipegangnya, sementara jari tangan kiri berbareng menutuk ke pundak Kun-gi.
Terasa batang pedang mendadak tergetar, pergelangan tangan anak muda itupun kesemutan, telapak tangan lecet kesakitan, tahu2 kelima jari lawan yang beruji runcing juga menyerang tiba.
Keruan bukan main kaget Kun-gi, kalau dirinya tidak lepas pedang serta melompat mundur, pundak sendiri pasti kena tertusuk, terpaksa dia lemparkan pedangnya, lalu dengan gerakan Hu-kong liang-in (cahaya mengambang melampaui bayangan) dia meloncat mundur ke belakang.
Dengan mencengkeram pedang di tangan kanannya, tutukan jari tangan kiri Thong-pi-thian--ong masih tetap mengarah ke depan, mulutpun membentak.
"Anak muda, robohlah kau!!"
Jarinya yang menuding ke depan tetap diacungkan, tahu2 sarung jari tembaga yang terpasang diujung jarinya melesat ke depan membawa kesiur angin kencang, sasarannya tetap tidak berubah, pundak kiriLing Kun-gi.
"Adik cilik, awas"Hian-ih-lo-satberseru memperingatkan-Hanya sekali gebrak. pedang terampas, dikala dia merasa bingung dan kaget, tahu2 selarik sinar kuning kemilau melesat ke arahnya, keruan Kun-gi tambah berang, serunya dengan tertawa lantang.
"Bagus" -Tangan kiri terangkat, dia incar selong-song jari tembaga itu terus menjentiknya sekali. Kali ini dia gunakan Tan-ci-sin-thong (selentikanjari sakti) salah satu dari 72 ilmu silat Siau limpay.
"creng", selongsong jari tembaga itu kena dijentiknya mencelat beberapa tombak jauhnya. Selama puluhan tahun belum pernah tutukan jari terbangnya ini mengalami kegagalan, kini kecundangditanganseorang mudayang dianggapnya masih ingusan, tapi ternyata memiliki ilmu silat tinggi, sekilas dia melengak. dengan pandangan liar dia tatap Ling Kun-gi, jengeknya sambil terkekeh.
"Bagus, anak muda, agaknya seluruh kepandaian si bangsat tuapun telah diturunkan padamu."
Hian-ih-lo-sat cekikikan, selanya.
"Babak ini kalian setanding alias seri, yang satu direbut pedangnya, yang lain selongsong jarinya terjentikjatuh, tiadapihak yanglebihunggul ."
"Omong kosong"
Bentak Thong-pi-thian-ong dengan mata melotot.
"Siapa omong kosong?"
Sikap Hian-ih-lo-sat tetap manis.
"Memangnya kau belum mengaku kalah setelah jari tembagamu terjentik jatuh?"
Thong-pi-thian-ong menggerakkan jari2 tembaga seperti mengancam, hardiknya gusar.
"Lekasengkau enyahdarisini"
"Ada suatu hal ingin aku berunding dengan kau, entah kau mau tidak?"
Kata Hian-ih-lo-sat tetap sabar.
"Kata2ku sekukuh gunung, tiada soal berunding segala, betapapun Lohu harus menahan bocah ini."
"Soal yang ingin kurundingkan tiada hubungannya dengan dia."
Sebelrasa Thong-pi-thian-ong.
"Soal apa ?"
Tanyanya tidak sabar. Hian-ih-lo-sat unjuk senyuman manis, ujar-nya .
"Kulihat kau memiliki ilmu silat tinggi, memiliki lengan tembaga lagi, sungguh mencocoki seleraku ....."
Tawa yang manis menggiurkan di-tambah dengan gerakan badan yang bergaya menantang. Mata sipit Thong-pi-thian-ong menjadi terbeliak, apalagi mendengar kata2
"mencocoki selera-ku", keruan hatinya terasa syuur, senangnya bukan main-Memang usianya sudah setengah abad, tapi selama ini dia tetap bujangan, sesaat dia mengawasi Kun-gi, ingin rasanya segera menggebah-nya pergi. Tapi demi gengsi, tadi dia menahannya, kalau sekarang mengusirnya malah berarti menjilat ludah sendiri, maka sesaat mulutnya tak bisa bicara. Tapi wajahnya yang tadi merah padam sekarang tampak berseri senang, katanya dengan halus.
"cayhe seorang yang suka berterus terang, Siau-nio-cu (nyonya muda) ada omongan apa, boleh silakan katakan saja."
Tadi dia membahasakan dia Lohu (aku orang tua ), sekarang diganti cayhe (aku yang rendah), kiranya dia merasa dirinya lebih muda beberapa tahun secara mendadak.
Hian-ih lo-sat melerok sambil mencibir, katanya tertawa genit.
"Dengan adik ini kau tidak bermusuhan, biarkan dia pergi saja, nanti kita bicara lagi."
Orang suruh Kun-gi pergi, tentu saja cocok dengan keinginan Thong-pi-thian-ong, dia berseri tawa, katanya.
"Betul Siau-nio-cu, cayhe hanya mencari gurunya, Hoan-jlu-ji-lay, dulu aku pernah bentrok sama dia, maka sekarang ini ingin ku bereskan perhitungan lama. Ha h, sebetulnya soal ini juga tidak penting, Siau-nio-cu mau mendamaikan soal ini, biarlah aku menurut saja,"
Lalu dia berpaling ke arah Ling Kun-gi, teriaknya.
"Anak muda, kau boleh lekas enyah"
Sudah tentu Kun-gi maklum akan watak genit Hian-ih-lo-sat, agaknya dia sengaja hendak memikat Thong-pi-thian-ong dengan rayuannya, serta memperalat orang menjadi kaki tangannya.
Usia Thong-pi-thian-ong sudah setengah abad, tapi masih mata keranjang dan suka pipi halus.
naga2nya laki perempuan ini memang sudah sama ketagihan-Karena merasa muak dan jijik, lekas Kun-gi jemput pedangnya, tanpa bersuara dia terus tinggal pergi.
Sudah seperti di kili2 hati Thong-pi-thian-ong, segera dia melangkah maju sambil memandang Hian-ih-lo-sat lekat2 se-akan2 ingin menelannya bulat2, katanya cengar-cengir.
"Siau-nio-cu, bocah itu sudah pergi, ingin omong apa lekas kau katakan"
Hian-ih-lo-sat gigit bibir, mata mengerling penuh arti, katanya sambil tertawa.
"Kalau kukatakan, kau tidak marah bukan?"
Dalam jarak tiga kaki hidung Thong-pi-thian--ong sudah mengendus bau harum yang memabukkan, seketika jantungnya berdegup lebih cepat.
Diam2 dia menyesali hidupnya selama lebih 20 tahun yang lampau secara sia2, kenapa sampai malam ini baru akan merasakan badan perempuan yang cantik dan harum menggiurkan-Lekas dia berkata.
"Boleh katakan saja, cayhe pasti tidak akan-..tidak akan marah."
Dengan sapu tangan menutup mulut, Hian-ih-lo-sat berkata aleman-"Kalau kau tidak marah, biarlah aku bicara terus terang.
Kulihat lenganmu ini kalau tidak salah terbuat dari campuran tembaga dengan emas, malah di dalamnya juga terpasang alat2 rahasia sehingga biaa digunakan secara bebas dan lincah, dibanding 12 tangan besi keluargaku jelas lebih sempurna, oleh karena itu ......."
"Karena itu apa?"
Tanya Thong-pi-thian-ong.
"Lengan tembaga bukankah setingkat lebih tinggi dari lengan besi? oleh karena itu aku ingin mengundangmu menjadi kepala dari barisan tangan besi keluargaku .....". Ternyata dirinya hanya akan dijadikan kepala barisan segala, sungguh terlalu dan besar salah wesel ini. seketika beruubah kelam air muka Thong-pi-thian-ong, dengus-nya.
"Kau .....ingin Lohu menjadi kepala barisan"
Hian-ih-lo-sat membetulkan letak rambutnya yang terurai, ujarnya.
"Eh, kau tidak mau ? Atau merasa merendahkan derajatmu ? Bicara terus terang, setiap anggota barisan tangan besi adalah jago2 silat kelas tinggi diBu-lim, dibanding kau Thong-pi-thian-ong rasanya tidak lebih rendah, kuangkat kau menjadi kepala barisan mereka, karena kau punya lengan tembaga yang lebih sempurna, ini berartiakutelah mengangkatdan menghargaidirimu?"
Naik pitam Thong-pi-thian-ong mendengar kata2 orang, hardiknya beringas.
"Perempuan bangsat, berani kau menggoda dan mempermainkan diriku?"
Mendadak berubah kaku wajah Hian-ih lo-sat, katanya dingin.
"Aku sudah naksir lengan tembagamu itu, maka kau harus jadi kepala barisan lengan besi itu, kuundang kau secara hormat, kalau tidak mau terpaksa kugunakan kekerasan padamu."
Di mana tangannya melambai, tiba2 serangkum bau harum merangsang ke muka lawan-Betapapun Thong-pi-thian-ong juga banyakpengalaman, dengan terkesiap cepat ia melompat mundur seraya menghardik.
"Perempuan sundel ....."
Belum habis makiannya, tiba2 terasa di sebelahbelakangadaapa2yangtakberes, maklumlahbetapatinggi dan tangguh ilmu silat Thong pi-thian-ong, dalam jarak tiga tombak asaladaorang mendekati dirinyapastidiketahuinya.
Tapi kali ini panca inderanya bekerja lambat, waktu dia merasakan gejala tidak beres, orang dibelakangnya sudah dekat.
Dari suara napas orang ia tahu ada dua orang telah mengancam dirinya dari belakang.
Diam2 dia membatin.
"Orang dapat mendekatiku dalam jarak setombak, agaknya kepandaian mereka memang tidak lebih rendah daripada diriku."
Cemerlang sinar mata Hian-ih-lo-sat, katanya sambil tertawa.
"Baiklah, kalian saja yang menangkapnya."
Berbareng ia lantas melompat mundur.
Kedua orang di belakang saling memberi isyarat, mulut masing2 bersiul sekali, lalu melompat maju bersama, kedua tangan masing2 bergerak menangkap ke tubuh Thong-pi-thian-ong .
Bukan kepalang gusar Thong-pi-thian-ong, sambil menghardik dia ayun lengan tembaga melayani serangan orang yang melabrak dari kiri, berbareng badan berputar, tahu2 kaki kanan melayang menyerampang lawan yang menubrukdari kanan-Sekilas dilihatnya kedua orang yang melabrak dirinya adalah laki2 berbaju hijau, usianya kurang lebih 40-an, yang mengejutkan adalah tangan kiri mereka bersemu kehijauan, kelima jari tangannya laksana cakar yang mengkilap.
kelihatan runcing tajam, dari sinar kemilau kehijauan itu jelas bahwa lengan mereka berlumur racun yang amat jahat.
Mau tak mau timbul rasa curiga Thong-pi-thian-ong, batinnya.
"Tadi dia bilang keluarganya punya 12 orang berlengan besi, semuanya adalah tokoh2 Kangouw yang beken namanya, memangnya siapa dan bagaimana latar belakang orang2 ini?"-Hati membatin, sementara mulut menghardik.
"Keparat, kalian bertiga maju bersama juga Lohutidakpandang sebelah mata."
"Jangan kau takabur,"
Jengek Hian-ih-lo-sat.
"kalau tiba saatnya akuturuntangan, pastiaku akanturungelanggang."
"Trang", suara benturan benda keras meme-kak telinga, lengan tembaga Thong-pi-thian-ong disambut oleh pukulan lengan besi orang sebelah kiri, keduanya sama terhempas mundur. Maka laki2 baju hijau di sebelah kanan mendapat peluang untuk menubruk maju, lengan besi kirinya segera bergerak dengan tipu Hing-bok-liong-kan (mem-belah miring ulu naga), pinggang Thong-pi-thian--ong menjadi incaran-Tak keburu berkelit, terpaksa Thong-pi-thian--ong kerahkan tenaga, ia sambut pula serangan lawan dengan lengan tembaganya.
"Trang"
Begitu lengan tembaga, dan lengan besi beradu, laki2 baju hijau di sebelah sana terpental mundur tiga tindak.
Thong-pi-thianong sendiri juga tak kuasa menguasai diri, iapun menyurut tiga tindak.
diam2 batinya bertambah kejut, walau Lwekang kedua lawan bukan tandingannya, tapi terpaut tidak jauh.
Sementara lawan di sebelah kiri sudah merangsak maju pula, jari2 tangan besi kirinya bergerak laksana samberan kilat, telapak tangan kanan berwarna merah darah menyolok menyerang tiba bersama, jalan mundur Thong-pi-thian-ong sudah terkurung.
Sebat sekali lawan di sebelah kananpun melompat maju pula, lengan besi menyerang dengan jurus No liong-sip-cu (naga marah menggondol mutiara), gerak lengannya lapat2 membawa bunyi gemuruh terus mencakar ke batok kepala Thong-pi-thian-ong.
Thong-pi-thian-ong murka sekali, ia membentak keras, sambil meloncat ke atas, di mana lengan bajunya mengebas, segera dia balas menyerang dengan gencar.
Sebagai jago nomor satu di daerah selatan yang dijuluki Lam-kiang-it-ki, bukan saja lengan tembaganya lihay luar biasa, kepandaian silat lainnyapun terhitung kelas wahid di-kalangan Bu-lim.
Tapi di luar dugaan bahwa ke-dua orang baju hijau yang dihadapinya sekarang juga gembong2 aliran hitam pilihan, ilmu silatnya sudah tentu tidak lemah.
Serang menyerang berlangsung dengan gencar, ketiganya tanpa menggunakan senjata, tapi pertempuran ini jauh lebih berbahaya dan sengit dari adu senjata.
Gebrak dilakukan dalam jarak dekat -semakin tempur semakin sengit, sedikit lena tentu jiwa terancam, tidak mati juga pasti terluka parah.
Dalam sekejap 30 jurus telah berlalu.
Sema-kin bertempur Thong-pi-thian ong semakin murka..
tapi juga semakin kaget, tadi dia mengira dalam 30 jurus pasti dapat mengalahkan kedua lawannya, tapi kenyataan kedua lengan besi lawan dapat bekerja sama sedemikian baiknya, serangan-pun gencar dan ganas.
Setelah 30-an jurusiniternyatadirasakanbahwa Lwekang sendiri semakinsusut.
Sudah tentu keadaan ini semakin menciutkan nyali dan perbawanya, sekaligus menyadarkan benak-nya pula bahwa secara tidak disadarinya tadi dirinya sudah dikerjai oleh Hian-ih-lo-sat.
Mendadak dia menggerung gusar, lengan tembaga sebelah kanan terayun ke atas, dari kelima ujung jari tembaganya itu serempak menyemperot keluar lima jalur air kuning yang deras.
Kiranya buatan lengan tembaga sebelah kanan Thong-pi-thian-ong lebih ringan, di dalamnya ada selongsong yang berisi air beracun, asal tekan tombolnya, air beracun akan menyemprot dari lubang di ujung jari.
Semprotan air kuning itu dapat mencapai setombak jauhnya, sekali kulit badan manusia kena kesemprot, daging seketika membusuk.
Apalagi serangan ini sering dilancarkan secata mendadak.
maka ganasnya luar biasa.
Agaknya kedua laki2 baju hijau secara diam2 telah dikisiki Hian-ih-lo-sat dengan ilmu mengirim gelombang suara, begitu lengan kanan Thong-pi--thian-ong terayun ke atas, serempak dengan cepat luar biasa mereka melompatjauh menghindarkan diri.
Begitu air kuning itu menyemprot bagai kabut tebal melanda ke empat penjuru, kedua orang itu-pun sudah mundur setombak lebih.
Maka terdengarlah suara mendesis ramai, air kuning itu muncrat bertaburan di atas tanah dan seketika menimbulkan kepulan asap kuning yang baunya teramat busuk.
untunglah angin pegunungan lekas sekali meniupnya buyar.
Melihat semprotan air beracunnya gagal, amarah Thong-pi-thianong semakin memuncak, ia menuding Hian-ih-lo-sat dan membentak.
"Sundel, berani kau kerjai Lohu?"
"Barusekarang kautahu"jengek Hian-ih-lo-satcekikikan-Berkerutuk gigi Thong-pi-thian-ong, hardiknya bengis.
"Keparat, mampuslah kau, empat titik kemilau kuning laksana emas mendadak menjiprat ke keluar laksana sambaran kilat, itulah selongsong jari2 tembaga yang dia pasang pada ujung jari tangannya. Maka terdengar Hian-ih-lo-sat menjerit kaget, mendadak tubuhnya roboh ke belakang. Thong-pi thian-ong tertawa dingin, ejeknya.
"Perempuan jalang, sebetutulnya tiada niat Lohu, membunuhmu, kausendiriyangcari mampus,jangansalahkanLohukejam"
Sembari bicara segera ia hendak memungut kembali selongsong jari tembaga, mendadak kepalanya pusing, badan yang sudah terbungkuk hampir saja jatuh terjerembab.
Pada saat yang sama, kupingnya mendengar tawa ringan merdu, berbareng jalan darah di belakang batok kepalanya terasa sakit tertutuk.
mata menjadi gelap.
seketika dia jatuh tersungkur dan tidakingat diri..
Hian-ih-lo-sat berdiri di belakang sambil tertawa cekikikan, di mana tangannya mengulap.
dua orang segera maju mendekat, kata mereka sambil meluruskan kedua tangan.
"Siancu ((dewi) ada perintah apa."?"
Hian-ih-lo-sat mengeluarkan sebuah botol porselin kecil serta menuang sebutir pil warna hijau ,gelap. dianggurkannya kepada kedua orang baju hijau, katanya.
"Minumkan obat ini kepadanya."
Laki2 baju hijau sebelah kiri mengiakan, dia terima obat pil itu serta pencet dagu Thong-pi--thian-ong, pil itu terus dia jejal ke mulutnya. Hian-ih-lo-sat tertawa puas, katanya.
"Bawa dia, sekarang kita boleh pergi"
Oooooooooo Sepanjang jalan Ling Kun-gi ber-lari2 kencang, waktu terang tanah dia sudah tiba di cin--siang, ia cari hotel terus masuk kamar, iaduduksemadi sampai lupa keadaansekelilingnya.
Waktu mengakhiri semadinya, haripun sudah dekat tengah hari, kepada pelayan ia minta diantar makanan ke dalam kamar, setelah kenyang dia salin pakaian, menyoreng pedang, setelah bayar rekening terus berangkat.
Tengah hari ramai orang yang berlalu lalang dijalan raya, sudah tentu tak mungkin dia mengembangkan Ginkang, tapi dari cin-siang sampai ke Siau-sian, jaraknya kira2 ada 200 li, ter-paksa dia beli kuda untuk menempuh perjalanan jauh ini.
Kuda dibedal terus sampai kehabiaan tenaga dan berbuih mulutnya, sebelum magrib dia tiba di sebuah dukuh kecil, letaknya tidak jauh dari Pat-kong-san.
Kebetulan di pinggir jalan ada sebuah gubug yang mengibarkan panji bertuliskan "arak", kiranya warung arak tempat orang berteduh dari terik matahari dan sekedar istirahat.
Setelah menempuh perjalanan setengah hari, lapar dan dahaga perut Ling Kun-gi, maka dia tambat kuda pada pohon di luar warungterus memasukiwarung arak itu.
Tampak seorang laki2 berpakaian kasar tengah membersihkan meja.
Kiranya hari menjelang magrib, pejalan kaki buru2 melanjutkan perjalanan masuk kota, maka keadaan warung ini sepi.
"Pelayan, masih ada makanan apa, lekas keluarkan,"
Begitu masukKun-gi terus minta makananserta memilihtempatduduk. Pelayan mengawasi Kun-gi sejenak. sahutnya.
"Tuan tunggu sebentar, makanan masih ada"
Buru2 dia berlari masuk. Melihat langkah orang enteng dan gesit, diam2 tergerak hati Kun-gi, batinnya.
"Pakaian pelayan ini kelihatan kasar, gerak-geriknya kurang memadai, langkahnya gesit lagi, tempat ini sudah tidak jauh dari Pat-kong-san, bukan mustahil ini mata2 musuh? Aku harus berlaku hati."
Demikian dia lantas waspada.
Lekas sekali pelayan tadi sudah keluar mem-bawa sepoci air teh dansebuahcangkir, katanyasambil seritawa."Tuan, silakan minum dulu, bak-pau dan pangsit di warung kami memang selalu sedia, sebentar lagi selesai dipanasi."
Kun-gi manggut2, katanya.
"Ada makanan apa pula boleh kau keluarkan saja."
Pelayan meng ia kan terus berlari masuk pula.
Walau kerongkongan merasa kering, tapi Kun-gi tidak berani segera minum, ia keluarkan kantong sulam pemberian Un Hoan-kun dan ambil sebutir Jing-sim-tan terus dikulum dalam mulut, lalu dia tuang secangkir teh dan ditenggak habis.
Tak lama kemudian pelayan sudah keluar membawa sepiring pangsitdanbakpau, katanyatertawa."Tuansilakan mencicipidulu."
Setelah meletakkan piring, matanya mengerling, dilihatnya Kun-gi sudah menghabiskan secangkir teh, seketika wajahnya menunjuk rasa senang.
Tersipu2 dia ambil poci serta menuang pula secangkir untuk Kun-gi, katanya tertawa.
"Tuan menempuh perjalanan jauh, tentu haus, daun teh warung kami adalah Lo-san-teh keluaran Patkong-san yang segar dan nyaman rasanya, warnanya memang tidak sedap dipandang, tapi kental dan nikmat, cocok untuk menghilangkan dahaga."
Melihat gerak-gerik orang serta tutur kata-nya, Kun-gi tahu di dalam air teh pasti ditaruh apa2, namun dia sudah telan Jing-sintan, tak perlu takut muslihat orang, maka dia manggut2, kata-nya "Air teh ini memang enak rasanya."
Se-cangkir penuh kembali dia tenggak habis, lalu bak-pau dan pangsit ganti berganti dia gasak pula.
Melihat secangkir teh habis pula, semakin riang hati pelayan, lekas dia tuang penuh pula se-cangkir.
Sekejap saja Ling Kun-gi sudah lalap-habis sepiring bakpau dan pangsit, air tehpun entah sudah berapa cangkir masuk ke perut, katanya sambil angkat kepala.
"Berapa duitnya?"
Habis berkata tiba2 dia pegang kepala sambil mengeluh ringan, katanya."celaka, kenapakepalakujadipusing?"
Sejak mula pelayan berdiri di samping melayaninya, segera dia unjuk seri tawa, katanya.
"Mungkin tuan ter-buru2 menempuh perjalanan, badan penat tentu kepala pusing."
Sambil mengawasi pelayan, Kun-gi berkata.
"Tidak mungkin, barusan aku segar bugar, kenapa mendadak. bisa pusing? Mungkin ..... kau.......mencampurapa2didalam...... airteh?"
Beberapa patah kata terakhir diucapkan dengan suara tidak jelas, badan menjadi lemas, kepala tertunduk ke atas meja terus pulas. Pelayan itu tiba2 tertawa lebar, katanya puas.
"Anak muda, bila kausadar, tapisudahterlambat."
Dari dalam warung tiba2 berlari keluar seorang laki2 pula, serunya.
"Sudah kau tundukkan bocah itu?"
Pelayan itu tertawa.
"obatnya kutaruh satu lipat lebih banyak dari biasanya, memangnya kuat dia bertahan? Bocah ini memang luar biasa kekuatannya, orang lain seteguk saja pasti semaput, tapi dia hampir menghabiskan sepoci dan sepiring bak-pau dan pangsit, citya bilang dia tidak takut racun, tadi juga aku kuatir kalau dia kebal dariTip-gau--bi(masuk mulut semaput, namaobatbius)."
"Kau tunggu dia sebentar, aku akan lapor kepada cit-ya,"
Kata laki2 yang baru datang.
Lalu melangkah keluar.
Sudah tentu semua percakapan mereka didengar oleh Ling Kun-gi.
baru sekarang dia tahu duduk persoalannya, bahwa yang mengundang dirinya ke Pat-kong-san ternyata memang betul Tong cit-ya adanya.
Sudah tentu dia tidak berpeluk tangan membiarkan laki2 itu pergi memberi laporan-Diam2 jari tangan kanan menjentik, sejalur angin segera menerjang punggung laki2 yang sudah melangkah ke-luar pintu.
Seketika laki2 itu mematung kaku di ambang pintu karena tertutuk Hiat-tonya.
Melihat temannya berhenti di depan pintu, pelayan itu segera mendesak.
"Katanya mau lapor kepada cit-ya, kenapa tidak lekas berangkat, kuda tunggangan bocah ini ditambat di luar pintu, apa pula yang kau tunggu?"
Karena Hiat-to tertutuk. badan kaku tak mampu bergerak, sudah tentu mulutnya juga kaku tak dapat bersuara. Keruan laki2 yang menyamar pelayan itu menjadi heran dan menggerutu.
"Hai, cuilosam, kenapa kau?"
Baru saja selesai bicara, kupingnya tiba2 mendengar suara halus berkata.
"Losam kemasukan setan, lekas kau saja yang lapor kepada cit-ya."
Pelayan berjingkat kaget seperti disengat kelabang, mata jelilatan mengawasi sekelilingnya, tapi dalam warung hanya Ling Kun-gi seorang dan tetap mendekam di atas meja, sudah semaput minum obat biusnya lalu siapakah yang berbicara?
Tahu ada gejala2 ganjil, dengan jeri dia ber-kata.
"Siapa kau?"
Hanya dirinya yang masih segar bugar di dalam warung, tiada orang lain, sudah tentu tiada orang yang menjawab pertanyaannya.
Dengan membusungkan dada memperbesar nyail, pelayan ini menjura keempat penjuru, katanya keras.
"Sahabat dari manakah yang bicara dengan cayhe? Kami dari keluarga Tong di Sujwan, atas perintah Tong cit-ya kami melakukan suatu pekerjaan di sini, mungkin sahabat kebetulan lewat, umpama air sungai tidak bercampur air sumur, kuharap sahabat tidak mencampuri urusan kami."
Kun-gi angkat kepala serta berkata tertawa.
"Aku akan memberi ampun padamu, asal kau mau bicara terus terang."
Sudah tentu nelayan itu berjingkrak kaget pula, serunya dengan terbeliak.
"Kau ....kau tidak semaput?"-Ada niat lari, tapi entah mengapa kedua kakinya tidak mau turut perintah lagi. Kun gi mengawasi orang dengan tertawa, ka-tanya.
"Bukankah tadi kau bilang cit-ya mengatakan aku tidak takut racun? Kalau racun aku tidak gentar, apa lagi obat bius, memangnya aku gampang dibikin semaput?"
Grmetar badan pelayan itu, keringat dingin gemerobyos membasahi badannya.
"Saudara harap tenang2 saja, dihadapanku kau tidak bisa lari lebihtigalangkah,"Kun-gi mem-peringatkan Laki2 itu memang tidak berani bergerak. katanya tergagap.
"Toaya, kau .... kau tentu tahu, hamba hanya .... menjalankan perintah ...."
"Jangan cerewet, jawab pertanyaanku, di mana cit ya sekarang?"
"cit-ya .... cit--ya sekarang berada di pat-kong-san."
"Pat-kong-san sebelah mana?"
"Di rumah keluarga Go."
"Siapa yang telah kalian culik?"
"Kabarnya seorang nona, dia adalah adik Toaya . ."
Heran hati Kun-gi, Entah nona siapa dan dari mana yang mereka culik, tapi orang mengatakan dia adikku? Maka iapun manggut2, katanya.
"Baiklah, aku tidak akan menyakiti kalian, tapi kalian harus tetap di sini."
Sekali tuding dari kejauhan dia tutuk Hiat-to pelayan serta berkata dingin.
"Hiat-to kalian hanya kututuk. setelah tengah malam nantibaruakan terbukasendiri."
Dengan langkah lebar dia keluar dan cemplak kudanya terus dibedal ke arah Pat-kong-san..
Lekas sekali dia sudah tiba di Pat-kong-san, tampak sebuah jalan besar yang dialasi papan batu, rata memanjang langsung menuju ke rumah milikkeluargaGodiatasgunung.
Hari sudah gelap.
tapi mata Ling Kun-gi dapat melihat di tempat gelap.
dilihatnya di depan ada sebuah hutan, di depan sana berdiri empat laki2 seragam hitam.
Di sebelah belakangnya lagi adalah laki2 tua berjubah biru, usianya lebih dari setengah abad, kepalanya mengenakan topi yang bentuknya seperti semangka, mukanya kurus tepos, matanya bersinar terang, Thay-yang-hiat dikedua pelipianya menonjol, sekilas pandang orang akan tahu bahwa dia seorang jago kosen memiliki kekuatan luar dalam, Tangan laki2 tua bertopi memegang sebatang pipa cangklong panjang, sikapnya dingin, dengan seksamadia mengawasi Kun-gitanpabersuara.
Tetap duduk dipunggung kudanya Kun-gi berkata dengan sikap angkuh.
"Ada apa?"
Salah satu keempat laki2 seragam hitam bersuara.
"Kau siapa dan mau ke mana ?"
"Siapaakudan maukemana, peduliapa dengankalian ?"
Laki2 yang bicara menarik muka, katanya.
"Kau tahu menjurus ke mana jalan ini?"
"coba katakan, ke mana?"
"Jalanbesarinihanya menuju ke gedung keluarga Go."
"Memang aku mau ke tempat keluarga Go."
Agaknya laki2 tua bertopi tidak sabar lagi, dia mengulap tangan menghentikan percakapan, kata-nya kepada Kun-gi.
"Untuk keperluan apa tuan pergi ke tempat keluarga Go?"
Kun-gi tertawa dingin, jawabnya.
"Untuk apa aku kemari? Kenapa kau tanya aku malah?"
"Kalau saudara tidak ingin kena perkara, kuharap lekas putar balik saja,"ancamlaki2 tuaber--topi. Menegak alis Kun-gi, tatanya. Justeru seba-liknya, keluarga Tong kalian yangsengajacariperkarapadaku."
Berubah air muka laki2 tua bertopi, katanya berat.
"Setelah tahu siapa yang bertempat tinggal di tempat keluarga Go sekarang, tapi kau masih meluruk datang?" -o0dw0o "Kalau aku takut kena perkara, memangnya aku berani datang?"
Ejek Kun-gi.
"Bocah sombong,"
Maki laki2 tua bertopi dengan gusar. Tiba2 dia berpaling kepada keempat laki2 seragam hitam, katanya sambil menuding Ling Kun-gi dengan pipanya.
"Siapa diantara kalian yang berani meringkusnya?"
Dua orang segera tampil ke muka, masing2 melolos golok di tangan kanan dan kiri, dengan lang-kah lebar menghampiri Kun-gi. Setelah dekat ke duanya sama2 angkat golok, bentaknya.
"Saudara mau turundanterima diringkus?Atauingin kamiajar?"
Dengan tenang Kun-gi tetap bercokol di atas kudanya, katanya tertawa.
"Boleh terserah apa ke-hendak kalian-"
Karena Kun-gi tetap duduk di punggung kuda, kedua orang ini tahu untuk membuatnya turun terpaksa harus melukai kudanya dulu.
Maka tanpa berjanji keduanya lantas membabat ke kaki kuda, mulutpun menghardik.
"Bocah, menggelinding turun"
Berkerut alis Kun-gi, bentaknya.
"Ada permusuhan apa kudaku dengan kalian?"
Tiba2 ia me-mecut dengan cambuk di tangannya.
"tarr", dengan tepat ujung cambuknya membelit pergelangan tangan laki2 di sebelah kanan-Laki2 itu menjerit keras, goloknya terlempar jatuh, sambil memegangi tangan dia menjerit2 sembari berjongkok. Saking kesakitan keringat dingin sampai ber-ketes2, terang lukanya tidak ringan cambuk Ling Kun-gi ternyata bergerak hidup laksana ular, baru saja di sebelah kanan me-nungging kesakitan, tahu2 bayangan cambuk sudah melecut ke sebelah kiri.
"Tarr", telak mengenai pundak laki2 sebelah kiri. orang inipun menjerit kesakitan, goloknya entahmencelat kemana, saking kesakitandia ber-guling2ditanah. Kedua temannya gusar, segera mereka mem-buru maju seraya ber-kaok2, golok terayun terus menyerbu dengan beringas. Tapi baru saja mereka beberapa langkah di depan kuda, tiba2 terasa bayangan orang berkelebat, hakikatnya mereka tidak melihat jelas bagaimana Ling Kun-gi melompat turun dari punggung kuda, tahu2 orangsudahberdirididepan mereka. Selama 300 tahun turun temurun, keluarga Tong malang melintang di Kangouw dengan senjata rahasia beracun, tidak sedikit orange dari golongan hitam dan putih yang menghormat dan mengikat persahabatan dengan mereka, soalnya juga karena jeri menghadapi senjata rahasia mereka yang beracun, maka jarang yangberanicariperkarapada mereka. orang2 keluarga Tong sendiri juga jarang berkecimpung di dunia persilatan, oleh karena secara langsung menjadikan mereka tinggi hati, berpendapat bahwa orang2 Kangouw jeri dan tidak berani cari perkara pada keluarganya sehingga anak buah merekapun bertingkah laku kasar dan sombong. Melihat Ling Kun-gi maju, kedua orang itu-pun tidak banyak cingcong, serentak golok mere-ka bergerak. sinar biru bersilang sepertiguntingraksasadanmembacok miringketubuhLingKun-gi. Jangan kira mereka hanya kacung keluarga Tong, maklumlah karena orang2 mereka tiada yang berkecimpung di dunia Kangouw, daripada iseng, maka mereka menghabiskan waktu untuk melatih diri. oleh karena itu setiap orang keluarga Tong, memiliki kepandaian silat yang lumayan-Busu atau guru silat yang biasa berkelana di Kangouw mung-kin hanya dalam gebrak sudah dapat dipukul roboh oleh mereka, Tapi hari ini mereka justru menghadapi Ling Kun-gi, seumpama telur membentur batu. Begitu kaki hinggap di tanah, Kun-gi langsung menyongsong dua larik sinar biru secara bersilang yang menggunting tiba, dia tertawa lebar, katanya.
"Kembali semua keroco tak berguna"
Mendadak dia gerakkan kedua tangan, sepuluh jari terbuka, masing2 mencengkeram ke batang golok lawan-Dengan tangan kosong, ternyata dia berani tangkap golok yang tajam malah berlumu racun-Baru saja kedua laki2 itu melengak.
tahu2 terasa tangan mengencang, golok masing2 sudah terpegang oleh musuh.
Sudah tentu kejut mereka bukan main, insaf menghadapi jago kosen, lekas mereka menarik sekuat tenaga.
Tak tahunya golok mereka itu seperti terjepit tanggam raksasa, sedakitpun tak bergeming.
Kun-gi menyeringai dingin, diam2 ia kerahkan Lwekang, melalui batang golokdia salurkan tenaga dalamnya.
Terasa telapak tangan tergetar, mendadak lenganpun menjadi linu, sudah tentu kedua laki2 itu tak kuasa mempertahankan goloknya lagi.
Dengan mudah Kun-gi merampas golok kedua lawannya, mendadak golok terpencar ke kanan-kiri, gagang golok masing2 mengetuk ke arah kedua lawan-cara mengetuk dengan golok sebetul-nya bukan gerakan tipu apa2, tapi serangan di-lancarkan oleh Kun-gi, maka perbawanya tentu luar biasa, lain daripada yang lain-Dikala kedua laki2 itu melongo kebingungan karena golok terampas lawan, mendadak lutut te-rasa kesakitan, mulut menjerit, kontan mereka roboh ke tanah.
Gerakan Ling Kun-gi secara beruntun ini dilakukan dengan cepat luar biasa, lompat turun dari kudanya sampai merebut golok serta mengetuk kedua lawan hanya berlangsung dalam sekejap.
sampaipun orang tua bertopi yang berdiri menonton di sana hanya mengawasi dengan mendelong, tahu2 keempat pembantunya sudah diroboh-kan semuanya, untuk menolong juga tidak sempat lagi.
Keruan ia kaget bercampur gusar, sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa musuh yang masih begini muda memiliki kepandaian setinggi ini, sepasang matanya yang kelam seperti biji mata burung hantu mengawasi Kun-gi, bentaknya dengan suara berat.
"Ternyata tuan memang punya bobot, tak heran berani meluruk kemari dan membuat onar.."
Seenaknya Kun-gi lempar kedua golok rampasannya, dengan tertawa congkak dia berkata-"Aku datang memenuhi undangan, bukan sengaja mau mencari onar, kalau saudara tidak ingin memberi pengajaran, lekaslah menyampaikan laporan, katakan bahwa aku orang she Ling telah datang."
Mendengar orang datang atas undangan sebetulnya si orang tua bertopi mau tanya.
atas undangan siapa dia kemari?
Tapi serta mendengar kata2 terakhir yang bernada menantang serta mensindir se-akan2 dirinya tidak berani melawannya, air mukanya menjadi gelap.
katanya terkekeh di-ngin.
"Bagus sekali, asal hari kau bisa mengalahkan Lo-hu, nantipasti akan kulaporkan."
Ling Kun-gi ter-gelak2 lantang, ujarnya.
"Bagus, apa yang kau katakan memang mencocoki seleraku."
Laki2 tua bertopi mendengus, pipa cangklong dia pindah ke tangan kiri, tangan kanan tiba2 ter-ayun, telapak tangannya yang hitam legam tahu2 menepuk ke dada lawan-.
"Hek-sat-ciang,"
Diam2 berteriak dalam hati Kun-gi waktu melihat telapak tangan orang berwarna hitam..
Sudah tentu Kun-gi tidak gentar dan tidak unjuk kelemahan?
Dia kerahkan lwekang di tangan kanan terus dorong ke depan, secara keras dia sambut pukulan lawan.
Terdengar suara keras, pergelangan tangan Kun-gi tergetar kesemutan, dia tahu pukulan orang tua bertopi mengandung racun jahat, maka lekas dia merogoh ke kantong menggenggam Pi-tok-cu.
Laki2 tua bertopi juga terhempas mundur tiga langkah, darah bergolak dirongga dadanya, ia terkejut, batinnya "Bocah ini begini muda, darimana memperoleh Lwekang setangguh ini?"
Tapi wajahnya yang kurus tiba2 mengulum senyum sadis, katanya mengulaptangan."Bocah, lekas kau kem-balisana"
Ling Kun-gi berdiri tegak sambil bertolak pinggang, sahutnya pura2 keheranan.
"Lho, kenapa, apa cayhe kalah?"
"Anak muda,"
Laki2 tua bertopi terkial2.
"ingat baik2, hari ini pada tahun depan adalah ulang tahun hari kematianmu."
Kun gi tertawa tawar, katanya.
"Kata2mu sulit kumengerti, agaknya kau mau bilang bahwa jiwaku takkan bertahan sampai malam ini?"
"Betul, memang itulah maksudku."
"Aneh,"
Kata Kun-gi dengan membadut.
"Kenapa cayhe sedikitpun tidak merasakan? Kuha-rap kau lekas melaporkan kedatanganku?"
Ternyata laki2 bertopi ini adalah cong-koan (kepala rumah tangga) keluarga Tong yang bergelar Hek -sat-ciang Khing Su-kwi, biasanyadiapendiam, banyakakal muslihatnyadankeji.
Terutama Hek-sat-ciang yang dilatihnya amat ganas karena menggunakan racun khas keluarga Tong sehingga lebih lihay dibanding Hek-sat-ciang yang biasa di kalangan Kangouw, setiap lawan yang terkena pukulannya dalam jangka setengah hari jiwanya pasti melayang kalau tidak diberi obat penawar tunggal buatan keluarga Tong pula.
Pemuda dihadapannya ini telah mengadu pukulan dengan dirinya, biasanya racun pasti sudah merembes ketelapak tangan dan tubuhnya, langsung menerjang jantung, bekerjanya racun juga jauh le-bih cepat dari luka2 di tempat lain karena pukulan yang sama.
Tapi pemuda ini tetap segar bugar, sedikitpun tidak menunjukkan gejala2 keracunan-Keruan rasa kejut orang tua itujauh lebih besar dibanding terpukul mundur tiga langkah tadi.
Dengan mendelik ia tatap Kun-gi dalamhati mengumpat."
Keparat, bocahinitidaktakutracun?"
Mendadak dia manggut2, katanya.
"Baiklah, mari biar Lohu menunjukkan jalan,"-lalu ia ber-anjak ke atas gunung melalui jalan yang berian-das papan batu besar2 itu. Ling Kun-gi tertawa dengan pongah, sambil menarik tali kendali kudanya, dia ikut dibelakang orang. Jalan berbatu ini ternyata lapang dan halus, walau terus menanjak ke atas, tapi orang tidak merasakan lelah, deretan pohon2 siong dan pek yang sudah tua berjajar disepanjang jalan menuju ke atas. Tanpa terasa, mereka tiba dilamping gu-nung. Disebelah depan adalah sebuah tanah lapang yang luas, cuaca meski gelap. tapi Kun-gi masih dapat melihat jelas lapangan luas ini sekelilingnya dipagari batu putih yang berukir, tumbuhan bunga beraneka warnanya sedang mekar semerbak di se-panjang pagar batu putih itu. Disebelah depan sana adalah sebuah pintu gerbang besar dan tinggi dibangun dari marmer hijau mengkilap. tepat diatas pintu gerbang terukir beberapa huruf yang berwarna menyolok dari dasar hijau berbunyi "Puri keluarga Go". Kedua pintu gerbang terpentang lebar. Di kedua sisi pintu tergantung dua buah lampion besar, di atas lampion ini bertuliskan huruf TONG, kiranya mereka menetap di rumah keluarga Go untuk sementara. Di depan pintu berdiri dua orang laki2 baju hijau yang menyoreng golok, tegak tanpa bergerak. tak ubahnya seperti dua patung. Hek-sat-ciang Khing Su-kwi membawa Kun--gi ke tengah lapangan-tiba2 dia berhenti dan berpaling, katanya dingin.
"Sahabat, tunggulah di sini sebentar, Lohu akan masuk memberi laporan-"-Lalu dia melangkah masuk ke pintu gerbang. Ling Kun-gi menunggu dengan sabar, tak la-ma kemudian tampak Khing Su-kwi sudah keluar pula membawa seorang laki2 berusia 50-an, alis gombyok tebal, mata seperti burung hantu, mengenakan jubah panjang warna biru, sikapnya kelihatan angkuh. Pada saat kedua orang ini muncul, dari kiri kanan pintu gerbang beruntun keluar pula delapan laki2 bertubuh kekar, berpakaian ketat, pakai ikat kepala, golok besar yang mereka bawa berkilau memancarkan warna biru, semuanya serba biru. Walau mereka tidak langsung mengepung Ling Kun-gi, tapi sigap sekali mereka sudah memencarkan diri, dari jarak kejauhan mereka mengelilingitanah lapangini.. Sambil menggendong tangan Kun-gi berdiri di tengah lapangan, melirikpun tidak ke arah mereka. La ki2 jubah biru menatap dengan tajamke arah Ling Kun-gi, lalu bertanya kepada Khing Su-kwi.
"Bocah inikah yang kau katakan?"
Khing Su-kwi mengiakan dengan hormat. Menyipit mata laki2 jubah biru, tanyanya dingin.
"Siapa namamu? Untukapa kemari?"
Kun-gi tetap berdiri tegak dengan sikap angkuh, diam saja seperti tidak mendengar tegur sapa orang.
"Anak muda,"
Laki2 jubah biru menarik mu-ka.
"Lohu bertanya padamu? Kau dengar tidak?"
"Tanya padaku ?"
Jawab Kun-gi sambil me-lirik.
"Lebih baik kau sebutkan dulu siapa diri-mu ini?"
Sedikit melengak laki2 jubah biru, katanya.
"Lohu Pa Thian-gi, kepala congkoan dari keluar-ga Tong di Sujwan-"
Kun-gi tetap menggendong kedua tangan, sikapnya sombong tidak hiraukan segala adat umumnya hanya mulutnya bersuara "ooo"
Saja. Amarah membayang muka Pa Thian-gi katanya.
"Sekarang katakan maksud kedatanganmu.."
"Kalau Pa-congkoan tidak tahu maksud kedatanganku, suruhlah Kwi-kian jiu Tong-locit ke-luar, dia tahu siapa diriku."
Berkerut alis Pa Thian-gi, katanya.
"Jadi saudara mencari cit-ya, tapi cit-ya sedang keluar."
"Memangnya dia takut menemui aku. Kalau begitu bebaskan perempuanyang kalianculik itu,"kataKun-gi ketus. Berjingkrak gusar Pa Thian -gi, bentaknya.
"Anak sombong, jangan kau bertingkah disini."
Sambil menarik alis Kun-gi balas membentak.
"Orang she Pa, orang she Ling ini datang menepati undangan, walau nona yang kalian culik bukan adikku, tapi aku orang she Ling sudah meluruk ke mari, maka nona itu harus kutolong, lekas suruh Tong cit-ya membebaskan dia."
"Kau bocah ini membual apa? Terus terang kuberitahu, cit-ya tidakdisini, lekaskau enyahsaja."
"Kalian berani main culik, aku tidak peduli kalian dari keluarga Tong segala."
"Kau tahu kami dari keluarga Tong, berani kau main tuntut segala, besar sekali nyalimu."
"Siang hari bolong menculik perempuan, memangnya kalian sudah lupa undang2 raja?"
Mendelik mata Pa Thian-gi saking gusar, sam-bil mendongak ia ter-gelak2, katanya.
"Bocah ini sungguh angkuh, berarti mencari setoriketempatini, hayokalianbekukdia."
Kata2nya yang terakhir ini memberi perintah kepada delapan laki2 seragam biru yang berpencar di empat penjuru, dengan langkah enteng dan gesit cepat mereka merubung maju.
Mereka berdiri dengan kedudukan Pat-kwa, beberapa kaki di sekeliling Ling Kun-gi mereka berhenti, lalu dengan serentak mereka saling geser kedudukan pula seraya mengeluarkan golok masing2 terus membacok secara serabutan, Kun-gi merasakan sinar biru ber-lapis2 lak-sana gunung menindih dari bergagai arah.
Keruan kejut Kun-gi bukan main, diam2 dia berpikir.
"Agaknya mereka sudah siap menghadapiku, barisan golok ini sungguh lihay sekali."
Otak bekerja tanganpun bergerak.
"sret"
Tahu2 pedangnya dia lolos, selarik sinar hijau tiba2 mengelilingi tubuhnya menjadi semcam jaringan cahaya mem-bungkus badan-Maka terdengarlah suara berdering keras dari kiri kanan, depan danbelakang, secara berantai senjata beradu keras.
Walau dalam scgebrak dia berhasil memben-dung delapan golok lawan, Tapi hati sendiri juga mencelos, maklumlah barisan golok yang dilakukan delapan orang ini agaknya merupakan barisan tangguh yang amat dibanggakan oleh keluarga Tong di Sujwan, setiap orangnya masing2 memiliki kepandaian tinggi dan digembleng secara khusus.
Begitu barisan golok berkembang, maka yang kelihatan hanya cahaya biru kemilau yang simpang siur menyamber kian kemari, lama kelamaan semakin ketat dan ganas, sudah tentu Kun-gi terkepung dan semakin sempit ruang geraknya.
Betapapun tinggi ilmu silat Ling Kun-gi dibawah rangsakan sinar golok lawan yang hebat ini, dia rada terdesak juga, terasa ilmu pedang sen-diri yang lihay menjadi susah dikembangkan-Su-dah tentu dia tidak tahu bahwa yang dihadapinya ini adalah Pat-kwa-to tin ( barisan golok Pat-kwa ) ciptaan keluarga Tong di Sujwan, walautidak setaraf Lo-han-tindari Siau-lim-sisertaNgo-heng-kiam-tin dari Butong-pay, namun perbawanya juga amat mengejutkan, jarang tokoh2 Bu-lim yang terkepung oleh barisan golok ini mampu lolos dengan hidup, Maklumlah keluarga Tong di Sujwan terkenal dengan racun dan alat2 senjata, bukan saja kedelapan orang ini mahir betul memainkan barisan golok.
senjata merekapun dilumuri racun dan dinamakan Thian-lan-hoa-hiat-to (golok langit biru peng luluh darah), disamping itu merekapun meya-kinkan ilmu senjata rahasia yanglihay danbanyakragamnya.
jurusterakhir dinamakanPatsianhian-siu (delapan dewa merayakan ulang tahun), yaitu masing2 mendemonstrasikan kepandaian ilmu senjata rahasia, delapan macam senjata rahasia serentak memberondong ke satu sasaran, sebelum musuh ro-boh terkapar, serangan tidak akan usai.
Tujuh kali gebrakan telah berlalu, terasa oleh Kun-gi barisan golok lawan melibat dirinya sede-mikian kencang, ke mana dirinya bergerak sinar biru selalu mengikuti gerak langkahnya, dibabat tidak putus, ditusuk tak tembus, dibacokpun tidak pecah.
Lama kelamaan Kun-gi merasa sebal dan mangkel kalau dirinya selalu menjadi bulan2an musuh, kapan pertempuran berakhir?
Tiba2 pedangnya berputar, kaki menjejak dan tubuhpun melambung ke atas.
Di luar tahunya bahwa kedelapan orang ini dijuluki Tong-bun-pat-ciang (delapan jago keluarga Tong), ilmu silat masing2 memang sangat tinggi, bila musuh melompat ke atas, merekapun turut mengapung ke atas dan golok mereka tetap merangsak secara bersilangdaridelapan penjuru, tubuh musuhtetap menjadi sasaran-Sejak berkelana di Kangouw, baru pertama kali ini Ling Kun-gi benar2 merasakan betapa dahsyat dan berat pertempuran yang harus dihadap-inya ini.
Badan yang terapung mendadak dia bikin berat dan anjlok dengan cepat dari tangkas, sekaligus dia hindarkan tabasan delapan golok beracun, begitu kaki menginjak tanah selicin belut tubuhnya berputar dan berkisar untuk menerjang keluar kepungan barisan golok musuh.
Di luar tahunya bahwa kedelapan lawannya juga sudah gemblengan, ilmu silat dan pikiran mereka boleh dikatakan sudah bersatu padu, be-kerja serasi dan ketat-Begitu golok membacok tempat kosong, sigap sekali merekapun turun-Deliapan orang tetap pada posisi semula, sedikitpun tidak kacau, delapan larik sinar biru kembali me-nyamber.
congkoan Pa Thian-gi berdiri diundakan dengan air muka membesi kereng.
terdengar suaranya membentak.
"Anak muda, sekarang buang pedangmu, masih ada harapan jiwamu akan hidup,"
Mendengar seruaa congkoan mereka, kedelapan orang itupun ikut membentak^ "Anak muda, congkoan suruh kau membuang pedang, lekas menyerah?"
Terkepung di tengah, Kun-gi menjadi berang, serunya lantang.
"Orang she Pa, soalnya aku tidak ingin melukai orang tanpa sebab, kau kira barisan golok ini dapat mengurung diriku?"
Di tengah alunan suaranya pedangnya menusuk dengan jurus aneh dan lihay, tampak selarik sinar lembayung yang menyilaukan mata tiba2 menyam-ber ke samping terus barputar keluar.Jurus ini adalah Liong-can-gi-ya (naga bertempur di sawah), merupakan salah satu jurus dari delapan jurus ilmu pedang warisan keluarganya.
Gurunya pernah berpesan, tiga macam ilmu silat warisan keluarganya tidak boleh sembarangan dipertunjukkan sela-ma mengembara di Kangouw, Tapi sekarang dia di-paksa oleh keadaan demi mempertahankan diri.
Hanya sekejap saja, terdengar suara berde-ring keras danpanjang secara beruntun, kedelapan laki2 baju biru hanya merasa pandangan kabur dan silau oleh samberan sinar terang, tahu2 pergelangan tangan tergetar lemas dan linu, Thian-lan--hoa-hiat-to buyar, hampir dalam waktu yang sama golok mereka terpental lepas dan berjatuhan mengeluarkan suara kerontangan di atas lantai batu.
Sudah tentu kedelapan lelaki itu melenggong dan mematung sesaat oleh serangan lihay dan tak terduga ini, tiada yang tahu cara bagaimana golok mereka bisa terlepas sehingga mereka mendelik saja mengawasi Ling Kun-gi.
Hebat perubahan air muka Pa Thian-gi, mendadak dia tepuk kedua tangan, serunya.
"Kalian tunggu apa lagi?"-kata2 ini berarti aba2 pula ter-hadap kedelapan laki2 baju biru itu. Dengan ter-sipu2 kedelapan orang itu serempak melompat jauh ke belakang, delapan tangan serentak terayun pula, bintik2 biru kemilau yang tak terhitung jumlahnya sama meluncur ke arah Kungi berdiri. Tapi saat itu juga Kun-gi tahu2 sudah berada didepan Pa Thian-gi, ujung pedang yang ke-milau telah mengancam tenggorokannya, katanya dingin.
"Orang she Pa, berani kau bergerak segera kutusuk tenggorokanmu."
Bahwa Pa Thian-gi bisa diangkat sebagai kepala congkoan keluarga Tong, sudah tentu dia memiliki kepandaian silat yang dapat diandaikan, tapi sekarang hakikatnya dia tidak melihat sesuatu dan Ling Kun-gi tahu2 sudah berada di depan dan mengancam tenggorokan-dengan pedang.
Keruan wajahnya seketikapucatberkeringat, tapitidak beranibergerak sedikitpun.
Hek-sat-ciang Khing su-kwi berdiri di samping Pa Thian-gi, orang ini lebih licik dan nakal, melihat gelagat jelek tanpa bersuara mendadak telapak tangannya menepuk ke iga Ling Kun-gi.
Serangan ini dilakukan dalam jarak dekat, dilancarkan secara mendadak serta berusaha menolong atasan-nyalagi, sudah tentu lihay luar biasa.
Seperti tumbuh mata dibelakang kepalanya, tanpa menoleh Kungi geraki tangan kanan, dengan jurus Ji-jiu-po-llong (tangan kosong membekuk naga) cepat laksana kilat, tahu2 pergelangan tangan Khing Su-kwi sudah terpegang terus dikipatkan ke belakang.
Tiada keempatan sedikitpun bagi Khing Su-kwi untuk mempertahankan diri, seperti orang2an ter-buat dari damen, tubuhnya terlempar jauh ke belakang, terbanting di tengah lapangan-Untung ke delapan orang yang menimpuk senjata rahasia itu sudah menghentikan serangannya karena bayangan Kun-gi sudah lenyap secara mendadak.
kalau tidak tentu badan Khing Sukwi yang menjadi sasaran-Gusar serta malu, tapi Pa Thian-gi tak berani bergerak.
dengan ganas ia membentak.
"Apa keingin-anmu saudara?"
"Tunjukkan jalan"
Sahut Kun-gi angkuh. Gemobyos keringat Pa Thian-gi, tanyanya.
"Kau ...... ingin bertemu dengan siapa?"
"Sudah tentu majikanmu,"
Sahut Kun-gi ketus.
"Kau.."gugup dangelisahsuaraPa Thian-gi. Tanpa memberi kesempatan orang bicara, tiba2 Kun-gi tarik pedangnya, katanya dingin.
"Orang she Pa, membaliklah pelan2 dan masuk ke dalam, kuharap kau tahu diri, dihadapan orang she Lingmenggunakan pedang atau tidak. sama saja, sedikit kau mengunjuk gerakan mencurigakan, selangkah-pun jangan harap kau bisa lari."
Kalau di waktu biasa tentu Pa Thian-gi tidak percaya, tapi kini kata2 ini diucapkan dari mulut Ling Kun-gi, mau tidak mau dia harus percaya dan betul2 tidakberanibanyaktingkah.
Maklumlah kepandaian silat anak muda ini sungguh amat tinggi dan sukar diukur, berani ber-kata tentu orang berani melaksanakan ancamannya.
Memangnya manusia mana di kolong langit ini yang berani mempertaruhkan jiwa sendiri dengan maut?
Tanpa bersuara pelan2 Pa Thian-gi membalik tubuh, kini teng gorokan ada di depan, tapi masih serasa seperti ada pedang yang tidak kelihatan mengancam di lehernya.
Untung pedang tidak terasa mengancam punggungnya, maka dengan leluasa ia berjalan masuk.
ia tahu orang suka memberi muka kepada dirinya.
Sebenarnya Ling Kun-gi tidak pandang sebelah mata pada congkoan keluarga Tong ini.
Se-baliknya bagi Pa Thian-gi, meski dirinya digusur masuk.
Tapi bagi pandangan orang lain se-olah2 Pa Thian-gi menunjuk jalan dan mengiringi Kun -gi masuk ke dalam.
Sudah tentu hal ini jauh lebih terhormat daripada diancam dengan ujung pedang.
Begitulah dia jalan di depan, sementara pe-dang Ling Kun-gi sudah dimasukkan kedalam sarungnya, langkahnya mantap mengikutiorang ke-dalam.
Di depanpintu terjaga pula oleh empat orang laki2 baju hitam bergolok, melihat Pa-Congkoan masuk mengiringi tamu, sudah tentu mereka tidak berani merintangi.
Masuk pintu ke dua terlihatlah cahaya lampu terang benderang di ruang tengah, diantara undakan di serambi luar sana, berjajar empat perempuan yang bersenjata Thian-lan-tok-kiam.
Usia keempat perempuan ini rata2 sudah lebih 40, masing2 membawa kantong kulit di kiri kanan pinggang, tangan kiri semuanya mengenakan sarung tangan yang ter-buat dari kulit menjangan-Kerai bambu menjuntai menutupi pintu besar, terdengar suara serak suara seorang perem-puan tua berkata dari balik kerai sana.
"Pa-cong-koan, kudengar katanya ada orang mampu memecahkan Pat-kwa-to-tin kita?"
Bergegas Pa-congkoan beranjaktiga langkah serta membungkuk di undakan, serunya.
"Hamba memang kemari untuk memberi laporan kepada Lohujin ( nyonya tua ), orang ini she Ling, dia minta bertemu dengan Lohujin."
Melengak Kun-gi mendengar ucapan ini, batin-nya.
"Yang kucari adalah Kwi-kian-jiu Tong cit-ya, kapan aku pernah bilang hendak menemu nyonya tua ini?"
Terdengar perempuan tua di dalam berkata pula.
"Mana orangnya?"
Pa Thian-gi menjura pula, sahutnya.
"Lapor Hujin, hamba sudah membawanya kemari."
Terdengar perempuan tua mendengus, jengek-nya.
"Kalian sudah kecundang bukan?"
Keringat dingin ber-ketes2 membasahi badan, Pa Thian-gi bungkam tidak berani bersuara.
"Baiklah,"
Suara perempuan tua lebih sabar dan lamban.
"Bawa dia masuk"
Pa Thian-gi mengiakan, cepat dia membalik, wajahnya tampak menampilkan senyuman sinis, katanya^ "Saudara Ling, mari masuk bersama ku."-Lalu dia mendahului masuk ke dalam.
Ling Kun-gi tidak bersuara, dia ikuti orang naik ke undakan, dua orang perempuan baju hitam maju dari kiri kanan menarik kerai ke atasdanmemberijalan kepada mereka.
Empat lamplon besar tergantung di empat penjuru ruang pendopo besar dan luas ini, tepat di tengah tergantung pula sebuah lampu kaca yang berbentuk menyerupai sekuntum bunga teratai, maka keadaanruang pendopoterangbenderangse-pertisianghari.
Sebuah kursi terbuat dari kayu cendana yang terukir indah berduduk dengan angkernya seorang perempuan tua berbaju kuning, wajahnya putih ber-sih, tapi kaku dingin, rambutnya sudah ubanan di-ikat kain hitam, tepat ditengah ikal rambutnya ter-tancap sebentuk mainan batu Giok yang berbentuk persis dengan kelelawar, tangan kanan memegang sebatang tongkat berkepala burung, usianya antara 60.
Dua gadis baju hijau pelayan pribadinya berdiri mengapit di kiri-kanan, pedang pendek tergan-tung di pinggang masing2.
Tepat dibelakang kursi berdiri seorang nyonya muda yang cantik, sikapnya anggun, kalau dia bu-kan menantu si perempuan tua, mungkin puterinya.
Begitu memasuki ruang pendopo, langkah Pa-congkoan dipercepat dengan sedikit munduk2, se-runya.
"Hamba menyampaikan sembah bakti kepada Lohujin dan Siauhujin-"
"Pa-congkoan tidak usah banyak adat,"
Pe-rempuan tua mengebaskan lengan baju. Mulut bicara, namun biji matanya yang berkilat menatap Ling Kun-gi, lalu tanyanya dingin.
"Pa-congkoan, anak muda inikah yang mau menemuiku?"
Pa Thian-gi mengiakan sambil membalik badan, katanya pada Kun-gi.
"Saudara Ling bilang mau menemui Lohujin, nah, beliau inilah Lohujin-"
Pelan2 Kun-gi melangkah maju, dia memberi hormat dan berkata.
"cayhe Ling Kun-gi, mem-beri hormat kepada Lohujin-"
"Anak muda,"
Ujar Tong-lohujin.
"katanya di luar tadi kau berhasil menghancurkan Pat-kwa-to-tin kami, sungguh hebat kau ini."
Nadanya dingin, jelas hatinya mendongkol dan kurang senang, Kun-gi tertawa, katanya.
"Maaf Lohujin, demi mempertahankan diri terpaksa Cayhe melakukan apa saja yang bisa dilakukan, tapi dalam hal ini aku cukup menaruh belas kasihan, tiada seorang-pun yang kulukai."
Sedikit berubah rona muka Tong-lohujin.
"Kalau begitu kau telah bermurah hati, bagaimana kalau kau tidak menaruh belas kasihan? Kau bunuh mereka semua?"
Menegak alis Ling Kun-gi, katanya dingin.
"Mereka tidak dapat membedakan salah dan benar, mengepung orang dan turun tangan dengan keji, umpama cayhe tidak menamatkan jiwa mereka, sedikitnya pasti kukutungi lengan mereka yang menyerang dengan senjata beracun."
"Anak muda,"
Semprot Tong-lohujin.
"takabur betul kata2 mu, jangan kau memandang rendah ter-hadap anggota keluarga Tong kami."
"Kurang tepat ucapan Lohujin,"
Ujar Kun-gi.
"dalam kalangan Kangouw hukum rimba sering terjadi, siapa lemah dia gugur dan si kuatsering menindakyanglemah. cuma keluargaTong kalian cukup terkenal, seharusnya kalian bertindak menurut aturan-"
"Dalam hal apa kami tidak beraturan?"
Bentak Tong lohujin gusar.
"Kalau Lohujin pegang aturan, coba tanya kepada Pa-congkoan, cayhe datang atas undangan, tapi orang kalian main cegat dan menyerang, kalau cayhe tidak mampu mempertahankan diri, sejak tadisudahterkapar mampus di tengahhutansana."
"Pa-congkoan,"seruTong-lohujin.
"apabetulucapannya?"
"Menurut laporan Khing-hucongkoan,"
Demikian Pa Thian-gi menjelaskan.
"orang ini naik gunung mencari setori, karena sukar dilayani, terpaksa hamba suruh mereka menghadapinya dengan barisan golok."
"Kautidaktanya maksud kedatangannya?"desak Tong-lohujin.
"Hamba, sudah tanya, dia menuduh kita menculik perempuan baik2, dia menuntut supaya kita membebaskan perempuan itu,"
Demikian Pa-cong-koan menerangkan.
"Betulkah kalian menculik perempuan baik2?"
Desak Tong-lohujin pula. Gugup sikap Pa Thian-gi, sahutnya.
"Harap Lohujin maklum, mana kami berani melakukan perbuatan serendah ini?"
Sorot mata Tong-lohujin beralih ke arah Ling Kun-gi, tanyanya.
"Anak muda, kau minta bertemu dengan Losin (aku), maksudmu hendak me-nuntut pembebasan perempuan itu?"
"Terus terang cayhe tidak tahu bahwa Lohujin ada di sini, jadi tiada maksudku ingin menemui Lohujin,"
Sahut Ling Kun-gi terus terang.
"Lalu kau carisiapa."
"cayhe ingin menemui Kwi-kian-jiu Tong cit-ya. ."
"JadiLo-cityang menculikperempuan itu?"
"Betul, dia menculik seorang perempuan, dia kira perempuan itu adalah adikku, maka dia tan-tang aku datang ke Pat-kong-san ini,"
Lalu dari sakunya Kun-gi, keluarkan surat undangan itu katanya menambahkan.
"Ada surat ini sebagai bukti harap Lohujin memeriksanya ."
Seorang pelayan perempuan segera maju me-nerima surat itu terus dipersembahkan kepada Lo-hujin.
Setelah membaca surat itu, Tong-hujin mengernyitkan kening, tanyanya^ "Kau tahu siapakah perempuan yang diculik Lo cit?"
"cayhe tidak punya adik, siapa perempuan yang dia culik, cayhe tidak tahu, tapi dia menculik lantaran cayhe, terpaksa kudatang kemari menuntut pembebasannya."
Tong-lohujin manggut2, katanya.
"Memang betul ucapanmu, lalu barang apa yang kau bawa?"
"Hal ini cayhe sendiri juga kurang jelas, kemarin tengah hari waktu cayhe lewat perbatasan, Tong cit-yadan anak buahnya mencegat serta menuntut barang yang kubawa, sampai sekarang cayhe belum tahu apa tujuannya, mencegat dan ingin merampas barangku?"
Tampak marah mimik wajah Tong-lohujin, katanya kepada Pa Thian-gi.
"Pa-congkoan, apa saja yang kau urus selama ini? orang datang minta bertemu dengan secara hormat, kalau Lo-cit melakukan kesalahan, kenapa kau bela perbuatannya? Sungguh memalukan dan merendahkan derajat ke-luarga Tong kita."
Ter-sipu2 Pa Thian-gi munduk2, serunya.
"Hamba memang pantas mati, harap Lohujin suka memberi ampun-"
"Jangan banyak bicara lagi, di mana Lo cit?"
"cit-ya tidak kemari ... ^ "
Tong-lohujin mengetuk tongkat di atas lantai, serunya murka.
"Sekarang juga kalian pergi mencarinya dan suruh dia segera kemari. Keluarga Tong dari Sujwan sampai main culik dan peras segala, betapa memalukan kalau sampai hal ini tersiar di kalangan Kangouw? Hayolekascaridiakemari."
Tak berani ayal, cepat Pa Thian-gi berlari keluar dengan langkah ter-gopoh2.
"Anak muda,"
Kata Tong-lohujin kemudian.
"Kau sudah dengar, orang2 keluarga Tong tidak seluruhnya jelek seperti dugaanmu. Besok sebelum tengah hari kau boleh kemari lagi, walau perempuan itu bukan adikmu, Los in akan serahkan dia padamu dan kau boleh mengembalikan dia keru-mahnya, kau terima tidak?"
Ling Kun-gi menjura, serunya.
"Lohujin ber-pesan, cayhe terima dengan senang hati".
"Baik, besok sebelum tengah hari, kau boleh kemari menemui Los in pula."
"Kalau begitu, cayhe mohon diri."
Setelah meninggalkan puri milik keluarga Go, segera Kun-gi kembangkan ilmu ringan tubuh langsung kembali ke kota, setelah melompati tem-bok kota, dia menyelundup melalui tempat sunyi terus berlenggang dijalan raya.
Malam belum larut, maka suasana masih cukup ramai, setelah pu-tar kayun dijalan raya sebentar, Kun gi membelok ke sebuah jalan, di sana ada sebuah hotel ber-nama Siu-jun, keadaan di sini tenang dan tenteram di tengah keramaian kota.
Belum lagi Kun-gi memasuki pinto, seorang pelayan sudah menyambutnya munduk2 menyilakan masuk.
Dengan langkah lebar Ling Kun-gi masuk ke situ, pelayan lain membawanya ke sebuah kamar kelas satu, servicenya memang cukup memu-askan-Setelah membersihkan badan dan makan ala kadarnya, Ling Kungi menanggalkan pedang di atas ranjang dan duduk menyandang secangkir teh, pikir-annya mengenang kembali pengalaman sejak mulaidariKayhongwaktu menguntitsibajubiru,yangkinidiketahui bernama Dian-kongcu serta kejadian sepanjang penguntitan ini.
Yang terang banyak orang dari berbagai kelompok juga mengikuti je-jaknya.
Terkenang olehnya Un Hoan-kun, si jelita yang ramah dan anggun-Diapun tak bisa melupa-kan gadis baju cokelat yang lincah dan berbudi halus, dia hanya tahu gadis menggiurkan ini she Pui.
Dia terkenang pada Un Hoan-kun, tapi juga rindu pada gadis baju cokelat.
Terasa kedua no-na ini bak sekuntum bunga, yang satu merah dan yang lain kuning, sama molek dan indah, sukar dipilih mana lebih cantik.
Laki2 umumnya suka mengagumi paras cantik, apalagi Ling Kun-gi, pemuda yang baru menanjak dewasa, pemuda yang mulai mendambakan jenjang asmara, Lama sekali dia termenung sambil mengawasi langit2 kamar, tanpa sadar ia mengulum senyum manis.
Bagi Kun-gi baru pertama kali ini dia me-ngecap manisnya cinta, belum lagi dia rasakan getirnya permainan cinta itu.
Lama kelamaan dia merasa badan penat dan kepala sedikit berat, tanpa ganti pakaian dia terus merebahkan diri di atas ranjang, tapi sekian lamanya tetap tidak bisa pulas.
Tanpa terasa dari kejauhan terdengar kentongan kedua.
Se-konyong2 didengarnya di luar jendela ada suara keresekan.
Suara lambaian pakaian yang meluncur turun serta terdengar suara kaki hinggap di tanah, lalu mendekati jendela.
orang ini jelas menahan napas, cukup lamadiaberdiridi luarjendela.
Sudah tentu semua ini tidak dapat mengelabui Kun-gi, tapi dia ingin tahu apa maksud ke-datangan orang "pejalan malam"
Ini, maka dengan sabar dia menunggu dan pura2 tidak tahu.
Setelah menunggu sebentar dan tidak terdengar suara apa2 di dalam kamar, pejalan malam di luar itu agaknya tidak sabar lagi, dariluar jendeladiaberkatadingin.
"Ling Kun-gi, keluarlah kau"
Kata2nya tidak keras, umpama Kun-gi sudah tidur pulas, pasti juga mendengar suara ini.
Makulumlah setiap insan persilatan walau dalam keadaan tidur nyenyak.
dia tetap berlaku waspada, reaksinyapun sigap dan cepat, apalagi Ling Kun-gi memiliki kepandaian tinggi, seharusnya sudah tahu akan kedatangannya ini.
Bahwa dia diam menunggu di luar, maksudnya juga supaya Ling Kun-gi memburu keluar, karena Kun-gi tidak menunjuk reaksi apa2, terpaksa dia bersuara.
Karena orang telah menantangnya keluar, tak bisa Kun-gi berpeluk tangan, mulutnya segera menghardik tertahan.
"Siapa?"
Sekali lompat turtun ranjang, sekenanya dia mengenakan mantel sembari meraih pedang, sekali dorong jendela, ba-gai burung tubuhnya melayang keluar jendela.
Waktu kakinya menginjak tanah di luar pekarangan, tampak di atas wuwungan didepan sana berdiri sesosokbayangankecil kurus.
Melihat sikap orang yang menantang Kun-gi menjadi gusar, sekali enjot kaki, badannya melen-ting ke atap rumah, sekali tutul lagidia melesatkearahbayanganitu.
Begitu Kun-gi menubruk datang, bayangan itupun cepat melayang pergi, beruntun beberapa kali lompatan, pesat sekali tubuhnya sudah melayang kewuwungan rumah yang lain, dengan jalan main lompat di wuwungan rumah dia terus kabur laksana terbang ke arah barat.
Karena orang tunjuk nama dan menyuruhnya keluar, sudah tentu Kun-gi tidak mau lepas orang pergi, segera dia kerahkan tenaga, dan mengejar dengan kencang.
Kejar mengejar terjadi, bayangan mereka me-lesat di tengah udara.
cepat sekali mereka sudah berada di tempat belukar yang sepi di luar kota sebelah barat.
Ginkang orang itu memang tinggi, tapi dibanding Ling Kun-gi masih kalah setingkat, maka dalam kejar mengejar ini jarak kedua pihak semakin dekat..
setiba di luar kota jarakantarakeduaoranghanyatinggaltiga tombaksaja.
Pada saat berlari kencang itu, bayangan kecil kurus di depan mendadak membalik tubuh, tangan terayun dan mulut menghardik.
"Awas serangan-Setitik bayangan langsung menerjang ke muka Ling Kun-gi. Tidak mengira bakal diserang, cepat Ling Kun--gi mengerem langkah seraya ulur tangan menangkap senjata rahasia itu, kiranya hanya sebutir batu. Begitu dirinya berhenti, bayangan itupun sudah ber-henti serta berpaling .Jarak kedua orang kini hanya setombak lebih. Ling Kun-gi mengawasi dengan tajam, dilihat-nya orang mengenakan topi beludru, wajahnya kuning, perawakannya kecil kurus, pakaiannya ketat serba hitam, pedang panjang digendong dipunggung-nya, muka kelihatan jelek tapi sepasang matanya sedemikian bening, cerah dan bersinar. Di kala dia mengawasi orang, orangpun mengawasi dirinya. Kungi merasa belum pernah meli-hat orang ini. Keadaan sekeliling sunyi senyap. tidak terlihat adanya tanda2 perangkap di sini? Diam2 ia heran, tak tahan Kun-gi bertanya.
"Tuan memancingku kemari, entah ada petunjuk apa?"
"Kau inikah Ling Kun-gi?"
Rendah suara si baju hitam itu.
"Betul,"
Sahut Kun-gi.
"entah siapakah tuan ini?"
"Tak perlu kau tanya siapa aku,"
Dingin nada orang itu.
"Baiklah, sekarang coba jelaskan maksudmu?"
Pelan2 orang itu menurunkan pedang dari punggungnya, katanya.
"Kudengar kau mengagulkan kepandaianmu yang tinggi dan konon tiada bandingan di kolong langit ini."
Kun-gi melenggong, katanya tertawa tawar.
"Mungkin saudara salah dengar, selamanya belum pernah aku mengagulkan ilmu silatku, apalagitiadabandingan segala."
"Aku tidak peduli kau berani bilang demikian atau tidak, kupancing kau kemari, ingin kujajal ke-pandaianmu, bukankah kau membawa pedang pu-saka? Nah, marilah kita bertanding ilmu pedang."
Sekilas Ling Kun-gi pandang pedang pusaka ditangan kirinya, katanya.
"Apa perlu?"
"Kecuali kautidakberaniatau menyerahkalah kepadaku."
Menyipit mata Kun-gi, katanya tegas.
"Pedang adalah senjata tajam, kita belum saling kenal, tidak pernah bermusuhan lagi, kenapa harus bertanding pedang?"
"Aku ingin menentukan siapa lebih unggul di antara kita, setelah kau berada di sini, mau atau tidak harus bertanding juga."
"Tuan dihasut orang atau atas keinginanmu sendiri."
"Tiada orang menghasutku, atas keinginanku ..."
"Kalau demikian silakan tuan kembali, maaf aku tidak bisa melayani,"habisberkataKun-giterusputartubuh hendakpergi.
"Ling Kun-gi,"
Bentakorang itu.
"berdirilahditempatmu"
"Tuan masih ada urusan lain?"
Sambil mengacung pedang orang itu berkata.
"Kau mau pergi, temanku ini yang keberatan."
Gusar Kun-gi tapi dia tetap bersabar, kata-nya.
"Agaknya tuan mahir ilmu pedang, tentunya kaupun tahu belajar ilmu pedang bukan untuk pamer atau buat adu kekuatan segala, tanpa sebab cayhe tidak akan sembarangan menggunakan pedang kau boleh kembali saja."
"Tidakbisa,"seruorang itu.
"Sejak cayhe belajar pedang, selamanya mem-batasi diri dan tidaksuka sembaranganbergebrakdengan orang lain."
"Aku tidak tahu apakah itu larangan atau kebiasaan, dua kemungkinan kau hadapi sekarang, setelah itu baru kau boleh pergi."
Bersinar mata Ling Kun-gi, tanyanya.
"Dua kemungkinan apa?"
"Kau mengalahkan pedangku ini atau buang pedangmu serta menyerah kalah."
Semakin terang sinar mata Ling Kun-gi, katanya kalem.
"Kuharap kau tahu diri, jangan menyudutkan orang sedemikian rupa."
Berkedip orang itu, katanya tertawa dingin.
"Kucari kau untuk bertanding pedang, jangan bilang main paksa segala."
"cayhe tadi sudah bilang tidak akan sembarang menggunakan pedang."
"Kalau kau tidak mau bertanding, boleh kau lempar dan tanggalkan pedangmu di sini, kalau tidak mau menyerah, nah layani diriku, kita tentukan siapa lebih unggul siapa asor. Kukira murid Hoan-jiuji-lay tentubukan kantong nasibelaka."
Memancar terang sinar mata Ling Kun-gi, mendadak sikapnya berubah kereng, katanya tertawa lantang.
"Saudara menantang tanpa alasan, demi mempertahankan nama baik perguruan, terpaksa kulayani tantanganmu."
Dengan tangan kanan segera dia lolos pedangnya.
"Kau sudah siap?"
Tanya orang itu dengan tertawa senang.
"Tunggu sebentar,"
Seru Kun-gi. Kun-gi, pikirnya.
"Ilmu pedang apakah ini? Begini licin dan ganas, agaknya aku terlalu pandang enteng padanya."
Sedikit menarik napas, gaya pedangnya tiba2 mengikuti gerak lawan, pedangnya ditekan menindih pedang lawan.
Sebat sekali lawan kembali menarik pedangnya, tapi setelah pedang tertarik ke belakang, tiba2 cahaya gemerlapan, sekaligus ia menusuk pula lima kali.
Kelima tusukan pedang ini boleh dikatakan dilancarkan dalam satu gerakan, cepatnya tak terukur sehingga tampaknya hanya sekali tusuk saja, Kun-gi bergerak mengikuti gaya pedang musuh, beruntun iapUn balas menyerang lima kali, malah kelima jurus serangan balasan ini serba ragam arahnya, enteng dan cekatan, kedua pedang saling samberdan menempel,tapitidaksampaimenerbitkansuara.
Agaknya si baju hitam tidak menduga dibawah serangan gencar lima kali tusukannya tadi Ling Kun-gi masih mampu melancarkan serangan balasan malah, keruan dia tertegun, serta merta dia terdesak mundur dua langkah.
Dengan dongkol dia menggerung tertahan, tiba2 ia menubruk maju pula, beruntun secara berantai dia lancarkan delapan kali serangan.
Begitu hebat serangan ini sehingga mata orang serasa silau.
Naga2 nya dia sudah keluarkan seluruh kemampuan ilmu pedangnya.
Sayang hari ini dia kebentur Ling Kun-gi.
Anak muda itu tertawa, katanya kalem.
"Hati2lah kau."
Mendadak pedang dia pindah ke tangan kiri, tubuh bergerak laksana angin berkisar ke kiri terus mendesak maju, mendadak sinar pedangnya berkembang, lalu menerjang miring laksana sinar perak.
"creng"
Benturan keras memekak telinga, kedelapan jurus serangan si baju hitam seketika sirna tanpa bekas.
Karena tekanan tenaga benturan yang keras itu, pedang di tangannya itu tak kuasa dipegang lagi dan terlepas terbang ke belakang, menyusul terdengar jeritan kaget melengking tajam.
Sejak tadi si baju hitam bicara dengan suara rendah dingin sehingga sukar dibedakan dia laki2 atau perempuan, kali ini dia menjerit melengking tanpa terduga2 dan keluar dengan suara aslinya, suara nyaring merdu ini terang keluar dari kerong-kongan seorang gadis.
Begitu mendengar teriakan nyaring ini, lekas Kun-gi tarik pedang dan melompat mundur, dengan tajam ia mengawasi orang.
Topi yang dipakai orang itu tadi sudah ditabasnya jatuh, maka tertampaklah rambutnya yang panjang hitam legam terurai dipundak.
Lekas dia jemput pedangnya, dengan mendelik gusar dia tatap Ling Kun-gi sekejap terus tinggal lari pergi.
Kun gi tidak kira bahwa lawannya perempuan, sesaat dia berdiri melongo.
Pada saat dia berdiri menjublek inilah, tiba2 dilihatnya tiga titik sinar ungu melesat tiba dengan cepat menerjang ke dadanya.
Waktu ketiga titik ungu itu hampir mengenai dada, gaya luncur yang semula lurus itu mendadak berpencar, satu menyerang teng gorokan, dua yang lain menerjang ke dua sisi pundak.
Betapa tajam pandangan mata Ling Kun-gi, dengan jelas dia melihat titik ungu timpukan perempuan baju hitam ini adalah tiga ekor kumbang kecil warna ungu, lekas dia ayun pedang menabas ketiga ekor kumbang itu.
"Ting, ting, ting,"
Be-runtun ketiga ekor kumbang kena dipukulnya jatuh. Mendengar suara "ting-ting"
Itu, kembali Kun-gi melenggong, pikirnya "Ternyata ketiga kumbang ungu ini hanyalah senjata rahasia, tadi kukira kumbang asli."
Segera dia menjemput ketiga kumbang ungu itu, ternyata buatannya memang hidup dan mirip sekali dengan kumbang asli, cuma warnanya ungu, kelihatan segar dan hidup, di ujung mulutnya terpasang sebatang jarum baja halus sebesar bulu kerbau, warnanyakemilau biru, terangjarumlembut iniberacun-Pada saat dia berjongkok mengambil ketiga kumbang ungu itu, didapatinya pula secomot rambut hitam, lekas dia mengambilnya pula, terasa lembut dan halus, warnanya legam mengkilap.
Iapat2 terendusbauharum, jelasiniadalahrambutseoranggadisjelita.
Siapakah dia?
Menggenggam potongan rambut itu, sementara tangan lain menimang2 ketiga kumbang buatan, Ling Kun-gi ber-tanya2 dalam hati.
"Dari buatan ketiga kumbang yang begini baiknya, terang perempuan ituprang dari keluarga Tong diSujwan-" -seketika pula dia terbayang akan perempuan jelita yang berdiri di belakang Tong-lohujin malam tadi. Jadi dia nyonya muda keluarga Tong.
"Hm, pasti dia, kalau tidak buat apa dia pakai kedok segala mencari setori kepadaku? Tak heran dia begitu getol menantang diriku bertanding? Mungkin karena diriku telah mengalahkan Pat-kwa-to-tin sehingga orang-keluarga Tong penasaran, maka secara diam2 dia meluruk kemari membuat perhitungan. Besok siang aku harus menemui Tong-lohujin pula di puri keluarga Go, kenapa rambut dan ketiga kumbang buatan ini tidak langsung kukembalikan kepadanya?"
Setelah ambil keputusan, Kungi simpan kedua barang itu ke dalam kantong terus.
lari kembali ke Hotel..
Malam itu tak terjadi apa2 pula, Kun-gi tidur dengan nyenyak.
waktu dia mendusin hari sudah terang benderang..
Begitu bangun segera dia bungkus ketiga kumbang buatan dan rambut itu dengan kertas, lalu buka pintu memanggil pelayan.
Setelah membersihkan badan serta sarapan pagi, melihat hari sudah cukup siang, cepat ia bebenah dan mau keluar bayar rekening untuk berangkat.
Tiba2 didengarnya langkah orang mendekati dari luar, didengarnya pelayan berkata sambil tertawa ramah.
"Mungkin Ling-ya yang tuan cari menempati kamar ini." -Lalu muncul dua orang di depan kamarnya. Dengan seri tawa lebar, pelayan berlari masuk serta berkata.
"Tuan inilah Ling-ya adanya? di luar ada seorang congkoan she Pa hendak mencari tuan."
Pa Thian-gi yang ada diluar lantas melangkah masuk, katanya bersoja.
"Atas perintah Lohujin, aku kemari menyambut Ling-ya ."
Kun-gi mengangguk. sapanya.
"Kiranya Pa-congkoan, maaf, cayhetidaksempat menyambut."
Pa Thian-gi mengawasi pelayan-Pelayan ini cukup tahu diri, lekas dia mengundurkan diri. Dengan berseri Pa Thian-gi segera bersoja, katanya.
"Kejadian semalam hanya lantaran salah paham, orang she Pa banyak berlaku kasar, atas perintah Lohujin disuruh kemari untuk menyatakan penyesalan dan minta maaf."
Kun-gi tahu kalau orang ini licik dan banyak akalnya, diam2 dia waspada, katanya dengan tertawa.
"Pa-congkoan tidak usah menyesal, cayhe sendiri juga bersalah"
"Sejak pagi2 tadi Lohujin suruh kemari menyambut Ling-ya, sayang Ling-ya belum bangun, maka kutunggu di luar, kini kendaraan sudah tersedia, kalau Ling-ya tiada urusan lain, silakan berangkat."
"Baiklah, mari berangkat,"
Ujar Kun-gi.
Tanpa sungkan2 lagi, segera dia mendahului melangkah keluar.
Seperti melayani majikan sendiri saja, dengan laku hormat Pa Thian-gi mengikutidibelakangnya.
Di ruang depan, Kun-gi merogoh kantong hendak bayar rekening hotel, tapi Pa Thian-gi lantas memburu maju, katanya.
"Rekening Ling yasudahkamibayarlunas."
"Ah, mana boleh begitu?"
Kata Kun-gi.
"Ai, urusan sekecil ini, Ling-ya tidak usah sungkan, kami diutus menyambut kemari, itu berarti Ling-ya dipandang sebagai tamu keluarga Tong, mana ada tamu yang harus membayar rekening hotelnya sendiri."
Hal ini sungguh di luar dugaan Ling Kun-gi, tingkah laku Pa-congkoan sekarang jauh berubah dari sikapnya semalam, ini betul2 membuatnya heran dan ragu. Tapi wajahnya tetap tenang, katanya.
"Kalau begitu Lohujin terlalu baik padaku."
"Terus terang Ling-ya , biasanya Lohujin jarang memuji seseorang, tapi terhadap Ling-ya beliau sa-ngat ketarik, maka pagi2 kami sudah disuruh kemari menyambut Ling-ya,"
Merandek sebentar, nadanya lantas berubah, sambungnya.
"Bicara sesungguhnya, usia Ling-ya masih begini muda, jangankan ilmu silat membuat orang she Pa tunduk lahir batin, bahkan sikap dan perbawa Ling-ya juga membuat kami kagum betul2."
Agaknya dia berusaha menjilat Kun-gi.
Sudah tentu hal ini juga dirasakan oleh Kun-gi, cuma dia tidak tahu untuk apa dan kenapa orang sampai merendah diri menjilat sedemikian rupa?
Maka dengan tertawa tawar dia berkata.
"Terlalu baikpenilaian Pa-congkoan terhadap diriku."
Pa Thian-gi jadi kikuk, katanya ter-sipu2.
"orang she Pa bicara sejujurnya, bicara soal semalam Ling-ya sudah menang, tapi tidak bersikap congkak dan takabur, kalau orang lain tentu mengancam tenggorokanku dengan pedang untuk menunjuk jalan, tapi Ling-ya cukup bijaksana dan percaya pada kami, jelek2 orang she Pa ini adalah Congkoan keluarga Tong yang disegani, kalau sampai harus menunjuk jalan dengan ancaman pedang di punggung, hidup setua ini dikalangan Kangouw aku juga punya sedikit nama, bukankah habis pamorku ini? Tapi Ling-ya telah memberi muka dan mempertahankan gengsiku, sungguh orang she Pa merasa bersyukur dan berterima kasih."
Maklumlah, insan persilatan umumnya memang suka mengejar nama, apa yang dikatakan Pa Thian-gi memang beralasan.
Sudah tentu lahirnya saja dia merangkai kata2 halus, bahwa dia menjilatsedemikian rupatentu masihadaudang dibalikbatu.
Diluar pintu dua orang Busu dari keluarga Tong menuntun dua ekor kuda, melihat Pa-congkoan keluar, lekas mereka maju mendekat.
Setelah Ling Kun-gi mencemplak ke punggung kuda baru Pa Thian-gi naik kuda yang lain, lalu kedua Busu tadipun ikut naik kuda mereka sendiri.
Di atas kudanya Pa Thian-gi memberi hormat, katanya.
"Orang she Pa menunjuk jalan bagi Ling-ya ." -Lalu dia mendahului bedal kudanya. Kun-gi mengikut di belakangnya, disusul kedua busu itu. Mereka langsung menuju ke Pa-kong-san. Kira2 setanakan nasi, mereka tiba di bawah Pa-kong-san, tampak di luar hutan berbaris delapan laki2 seragam hitam, melihat Pa-congkoan datang, serentakmereka memberi hormat. Di atas kudanya Pa Thian-gi membalas hormat pula, katanya tertawa."Sebagaitamu, silakan Ling-yaberjalan lebihdulu."
"Pa-congkoan jangan sungkan, kau saja yang menunjuk jalan,"
Ujar Kun-gi.
"Ling-ya adalah tamu, betapapun orang she Pa tidak berani lancang."
Kun-gi tidak banyak bicara lagi, segera dia bedal kudanya ke atas gunung, di bawah iringan Pa Thian-gi, cepat sekali mereka sudah tibadi depanpurikeluargaGo.
Wakil congkoan Khing Su-kwi sudah menunggu di depan pintu, segera dia suruh seorang busu disampingnya masuk memberi laporan, dua busu maju memegang kendali kuda terus di tuntun ke belakang.
Dengan tertawa lebar Khing su-kwi maju me-nyambut.
"Sejak tadi kami ditugaskan menyambut di sini, Ling ya tentu sudah capai, lekas silakan masuk."
Hanya semalam saja, sikap orang2 keluarga Tong sudah berubah seratus delapan puluh derajat, hal ini betul2 di luar dugaan Ling Kun-gi.
Waktu mereka sampai di pintu kedua, tampak menyongsong keluar seorang pemuda berjubah sutera biru, sambil tertawa dia menyapa.
"Apakah ini saudara Ling? Tong Siau-khing terlambat menyambut, harap dimaafkan."
Pemuda jubah biru ini berusia 25-an, wajahnya cakap. sorot matanya tajam, kedua alisnya tebal kelihatan kereng dan berwibawa, tapijugaramahdan lembut. Lekas Pa Thian-gi berkata.
"Ling-ya, inilah Siaucengcu ( majikan muda ) kami."
Lekas Kun-gi memberi hormat, katanya.
"Kiranya Tong Siaucengcu, sejak lama cayhe kagum, selamat bertemu, selamat bertemu"
"Semalam Siaute mendengar cerita ibunda bahwa Ling-heng amat perkasa dan berhasil menghancurkan Pat-kwa-to-tin kami, sungguh ingin rasanya cepat berhadapan dengan Ling-heng,"
Tampaknya dia bicara jujur dan sesungguhnya, tidak ber-pura2. Kun-gi unjuk rasa menyesal, katanya.
"Harap. Tong-siaucengcu suka memaafkan kekasaran cayhe semalam."
Tong Siau-khing tertawa, katanya.
"Kenapa Ling-heng bilang demikian? Syukur semalam Ling-heng menaruh belas kasihan, yang terang pihak keluarga Tong kami yang main keroyok, kesalahan tetap berada pada pihakkami."
Terasa oleh Ling Kun-gi majikan muda dari keluarga Tong ini berwatak ramah, gagah dan sopan santun, watak ini amat mencocoki tabiatnya sendiri, maka katanya.
"Ah. semakin tak tenang rasa hatiku mendengar ucapan Tong-siau cengcu ini."
"Sekali kenal sudah seperti sahabat lama, kalau Ling-heng sudi, bagaimana kalau kita saling membahasakan saudara saja?"
"Siaute turut saja atas kehendak Tong-heng,"
Sahut Kun-gi.
"Dapat bersaudara dengan Ling-heng, sungguh menyenangkan sekali"
"Tong-heng. terlalu memuji.."
Sembari bicara mereka terus menuju ke dalam, Tong Siau-khing membawa Ling Kun-gi ke ruang belakang.
Tampak Tong-lohujin duduk di sebuah kursi bersulam, dua pelayan berdiri di belakang sedang memijit punggungnya.
Nyonya muda yang semalam berdiri di belakangnya kini tidak kelihatan, mungkin karena kejadian semalam, maka dia merasa rikuh tidak berani unjuk diri.
Setelah Kun-gi merasa cocok dan saling membahasakan saudara dengan Tong Siau-khing, maka soal ketiga ekor kumbang dan potonganrambut yangsemulahendakdikeluarkan menjadibatal.
Tong Siau-khing melangkah maju membungkuk hormat dan berseru.
"Bu, Ling-heng sudah tiba."
Lekas Kun-gi memberi hormat juga, katanya.
"Wanpwe menghadap Pek bo."
Sambil tertawa Tong-lohujin angkat sebelah tangannya, katanya.
"Silakan duduk Ling-kongcu."
"Bu,"
Kata Tong simi-khing.
"anak baru bertemu lantas merasa cocok dengan Ling-heng, maka sudah setuju untuk saling membahasakan saudara."
Tong-lohujin melirik sekejap kepada anaknya dengan wajah welas asih, katanya.
"Begini cepat kau merebutnya, kalian sama2 muda, memang sepantasnya kalau mencocoki satu sama yang lain."
Setelah Kun-gi dan Tong Siau-khing duduk. air tehpun disuguhkan-Sambil tersenyum lembut Tong-lohujin mengawasi Kun-gi, katanya.
"Kejadian semalam hanya karena salah paham, memang tepat apa yang sering dikatakan orang2 Kangouw, kalau tidak berkelahi tidak akan kenal. Syukurlah kini Ling siangkong sudah menjadi sahabat baik anak Khing, demikian juga Piaumoay Ling-siang-kong sudah diserahkan padaku dan kuterima menjadi puteri angkatku pula."
Heran Kun-gi, tanyanya.
"Piaumoay Wanpwe?"
Dalam hati dia bertanya2.
"Kapan aku punya Piaumoay?"
"Begini persoalannya,"
Tong-lohujin menjelaskan.
"belakangan ini semua orang sama2 menguntit seorang misterius, konon dia membawa sebuah kotak kecil, di dalamnya mungkin ada suatu mestika, Sampaipun orang2 Siau-lim dan keluarga Un di Ling-lam juga menguntit secara diam2, entah dari siapa Lo-cit mendapat berita ini, dia kira Ling-siangkong adalah orang misterius itu, maka dia salah menahan Piaumoay mu. Soal ini semalam sudah kudengar dari Piaumoay mu, kini kita terhitung sekeluarga, Ling-siangkong tidak perlu merahasiakan diri pula, lekas kau cuci muka, ingin kulihat wajah aslimu."
Tong siau-khing melengak. serunya.
"Jadi Ling-heng merias mukanya, kenapaanaksedikit-pun tidak bisa membedakannya?"
Tong-lohujin tertawa., katanya.
"Ling-siang-kong adalah murid kesayangan Hoan-jiu-ji-lay, puluhan tahun Hoan-jiu-ji-lay malang melintang di Kangouw, tapi beberapa orangkah yang pernah melihat wajah aslinya?"
Sudah tentu Kun-gi belum tahu siapa Piau-moay yang dimaksud oleh Tong-lohujin?
Tapi peduli siapa dia, kini dirinya sudah mengikat persaudaraan, sementara Tong-lohujin menerimanya sebagai keponakan pula, setelah kedok mukanya diketahui orang, demi kehormatan dirinya pula, apa boleh buat, tidak enak dia menolak.
katanya.
"Perintah Pekbo tidak berani Wanpwe menolaknya."
Dari kantong bajunya dia keluarkan sebutir obat pencuci muka, setelah diremas dan di-gosok2 ditelapak tangan terus diusap ke muka, lalu dikeluarkanpulasepotonghandukkeciluntukmembersihkan muka.
Wajahnya yang semula berwarna legam, setelah dicuci dengan obat, seketika Tong-lohujin, Tong Siau-khing serta kedua pelayan terbeliak matanya.
Sungguh tak pernah mereka bayangkan Ling Kun-gi yang memiliki ilmu silat begini tinggi ternyata adalah pemuda cakap ganteng tak terhingga.
Bukan saja bagus, juga lemah seperti pemuda yangtidakpandai mainsilat.
Sebetulnya Tong Siau-khing sudah terhitung cakap.
tapi sekarang dia merasa kalah dibanding Kun-gi.
Serunya ter-gelak2.
"Ling-heng, cakap benar kau ini."
Seperti mengawasi menantunya saja, semakin dipandang semakin riang hati Tong-lohujin, dia manggut2 senang dan berkata dengan tersenyum puas.
"Ling-siangkong betul2 seorang pemuda yang serba unggul dibanding pemuda2 umumnya,"
Lalu dia berpaling serta menambahkan.
"Jun-lan, Ling-siangkong sudah datang, lekas kalian suruh Toa-slocia danJi-slocia keluar."
Pelayan bernama Jun-lan mengiakan dan berlari pergi. Kemudian Tong-lohujin bertanya.
"Berapa usia Ling-siangkong tahun ini?"
"TahuniniWanpwegenap21,"sahutKun-gisambil membungkuk hormat. Berseri girang wajah Tong-lohujin, sekilas dia melirik kepada Tong Siau-khing, katanya.
"Ling-siangkong lebih muda tiga tahun daripada mu, lebih tua dua tahun daripada adikmu."
Lalu kata2nya di-tujukan kepada Ling Kun-gi.
"Kudengar ibumu juga menghilang, apakah di culik oleh komplotan cin-cu-ling?"
"Wanpwe sendiri belum tahu, tapi Suhu suruh Wanpwe terjun ke Kangouw, tujuannya memang mengejar jejak cin-cu-ling, dari sini dapatlah Wanpwe simpulkan kalau peristiwa hilangnya ibu pasti ada sangkut pautnya dengan komplotan ini."
Tong-lohujin manggut2, katanya.
"Ling-siang-kong masih punya keluarga lain dirumah?"
"Tiada lagi, Wanpwe masih kecil ayah sudah meninggal, ibu yang membesarkan Wanpwe."
Tong-lohujin manggut2 dan tak bicara lagi.
Terdengar langkah lembut mendatangi, dari belakang pintu angin teruar bau harum semerbak.
lalu muncul dua gadis jelita yang mempesonakan.
Yang sebelah kanan berperawakan tinggi semampai, mengenakan pakaian warna ungu ketat, wajahnya halus pipinya bersemu merah, sepasang matanya nan bening kemilau memancarkan sinar tajam ke arah Ling Kun gi.
Seorang lagi bertubuh agak kecil ramping, mengenakan gaun panjang warna cokelat muda dengan baju panjang warna hijau pupus, dia bukan lain adalah nona she Pui, gadis jenaka yang lincah itu.
Kun-gi hanya tahu nona nakal ini she Pui, namanya siapa tidak tahu, yang terang dia suka mengenakan pakaian warna coklat.
Kejadian hanya sekejap belaka, begitu melihat Kun-gi, wajah nona Pui yang molek seketika tertawa lebar bak bunga mekar, dia memburu maju seringan angin dan serunya riang.
"Toa-piauko, ternyata kau telah datang, kemarin anak buah Tong -citya menculik aku dan minta keterangan tentang diri Piauko, memangnya aku tidak tahu ke mana kau selama ini? Semalam Tong citya membawaku kemari dan aku mengangkat Lohujin ini sebagai ibu angkatku."-Mulutnya nerocos dengan nyaring dan cepat, sembari bicara berulang kali dia mengedip kepada Ling Kun-gi, maksudnya sudahtentumintaKun-gi mengakuidirinyasebagaiPiau-moay. Baru sekarang Kun-gi mengerti bahwa perempuan yang diculik Tong-cit-ya adalah gadis she Pui ini. Nona yang belum diketahui namanya kini ternyata menjadi adiknya, sungguh brutal dan lucu. Sudah tentu Kun-gi melihat kedipan mata si nona dan tahu maksudnya. Wajah nan cerah bak bunga mekar di musim semi, walau kelihatan malu2, tapi tampaknya minta dikasihani dan mengandung permohonan yang sangat. Maka dengan tertawa segera dia berdiri, katanya.
"Surat Tong-cit-ya kemarin mengatakan bahwa dia menculik adikku dan supaya aku menukarnya dengan barang yang kubawa, semula aku tidak mengerti siapa adikku yang dia maksud? Kiranya kau yang tidak mau pulang, buat apa selalu mengikuti diriku? Anak perempuan tidak baik keluyuran di Kangouw."
Kata2nya memang persis nada seorang kakak memberi nasihat kepada adiknya. Nona Pui tertawa riang, tawa yang manis lalu melelet lidah, katanya.
"Memangnya aku ini anak kecil, kenapa tidak boleh main2 di Kangouw? Banyak orang Kangouw yang menguntitmu sepanjang jalan, aku hanya ingin tahu barang apa sebetulnya yang kau bawa itu."
Sampai di sini, dia mengeluarkan sebuah kotak perak gepeng, lalu diacungkan di depan Ling Kun-gi, katanya sambil cekikikan.
"inilah oh tiap-piau (piau kupu2) pemberian ibu, bila ditimpukan bisa pentang sayap dan terbang seperti kupu2 asli, inilah salah satu dari tiga macam senjata rahasia keluarga Tong yang paling lihay, cici Bun-khing biasanya menggunakan ci-hong-piau (piau kumbang ungu) ...."
Merah muka si nona baju ungu, serunya gu-gup.
"Adik Ping, jangan usil kau."
Tergerak hati Kun-gi mendengar "cici Bun-khing biasanya menggunakan ci-hong-piau", batin-nya. Jadi nona yang menantangku bertanding pedang semalam adalah nona baju ungu ini."
Berkedip2 mata nona Pui lalu mengerling ke arah nona baju ungu, katanya.
"Piauko, hampir saja aku lupa, inilah Bun-khing cici."
Lalu dia membalik dan berkata kepada nona baju ungu.
"Inilah Toapiaukoku, Ling Kun-gi."
Lekas Kun-gi memberikan hormat kepada nona Tong. cerah wajah Tong-Lohujin, katanya.
"Bun-khing, Ling-siangkong sudah mengikat saudara dengan engkohmu, dia bukan orang luar lagi, kau-pun harus memanggilLing-toako padanya."
Sekilas mata TongBun-Khing melirik. katanya malu2.
"Ling-toako"-Semalam dia begitu keras kepala, dingin dan menantang. Tapi sekarang sikapnya malu2, suara panggilannya merdu dan lembut. Memandangi Ling Kun-gi lalu mengawasi puteri sendiri, saking senangnya Tong-lohujin tertawa lebar, katanya.
"Bun-khing, kenapa kau ini? Biasanya kau tidak takut langit tidak gentar bumi, seperti kuda liar yang tidak terkendali, Ling-toako kan bukan orang luar lagi, kenapa harus malu2 segala?"
Nona Pui tertawa geli, katanya.
"Bu, asal kaupasang tali kendali padadiri cicipasti diatidakakanbinal danliar lagi "
Sudah tentu Tong Bun-khing tahu ke mana tujuan kata2 ini, seketika dia merengut sambil menuding.
"Adik Ping, kau berani menggodaku?" -Segeraia hendak meng-kili2 ketiaknona Pui. cepat nona Pui menyingkir ke belakang Ling Kun-gi, katanya cekikikan.
"Aku toh bermaksud baik, kuda yang binal harus diikat dengan kendali yang kokoh, apakah perlu aku bantu mencarikan seutastali?"diasembunyi dibelakang Kun-gi, sembaribicarajarinya menuding anak muda itu, mukanya unjuk mimik lucu dan melelet lidah segala. Malu dan gugup juga Tong Bun-khing, serunya membanting kaki.
"Memangnya aku seperti kau, buka mulut "Piauko", tutup mulut "Piauko"
Tiada henti2nya, mesra sekali."
Nona Pui bertolak pinggang, serunya sambil membusungkan dada.
"Memang dia Piaukoku, apa salahnya aku memanggil dia Piauko? Nah, dengar-kan aku memanggilnya lagi. Piauko, Piauko ....."
"Piaumoay,"
Tukas Kun-gi sambil mengerut kening "sebesar ini kau masih bertingkah seperti kanak2? Memangnya kau tidak malu ditertawakan Tong-pekbo?"
Nona Pui mencibir, katanya bersungut.
"lbu justeru tidak akan menertawakan aku. Memangnya kau saja yang suka ngomel."
Sementara itu dua pelayan sudah menyiapkan sebuah meja perjamuan-Tong Siau-khing lantas berdiri, katanya.
"Bu, perjamuan sudah siap. marilah kita makan bersama."
Tong-lohujin tertawa, ujarnya.
"Ling-siangkong adalah tamu, kau harus mengundangnya lebih dulu."
Lalu dia berpesan kepada pelayan di sampingnya.
"Ling-siangkong bukan orang luar, kau panggil nyonya muda keluar."
Seorang pelayan lantas masuk ke belakang. Tak lama kemudian nyonya muda atau isteri Tong Siau-khing pun keluar.
"Silakan Ling-heng,"
Kata Tong Siau-khing.
"Manaaku berani, silakanPek-bodulu,"sahut Kun-gi. Dengan ramah Tong-lohujin berkata.
"Di sini meski kami hanya menumpang, tapi juga terhitung tuan rumah, Ling-siangkong silakan, tak usah sungkan-sungkan-"
"Toa-piauko,"
Timbrung nona Pui.
"hari ini kau betul2 seorang tamu agung yang serba komplit." -Mulut bicara sementara matanya mengerling ke arah Tong Bun-khing. Merah wajah Tong Bun-khing, tapi hatinya senang dan mesra. Setelah basa-basi ala kadarnya, akhirnya Tong-lohujin duduk paling atas, Ling Kun-gi duduk di tempat tamu, selanjutnya beruntun Tong Siau khing suami isteri, lalu kedua nona jelita itu. Dua pelayan melayani mereka makan minum. Tiba2 nona Pui rebut poci arak sambil berdiri, katanya.
"Bu, kuaturkan secawan padamu serta kuaturkan selamat pula.". Dia habiskan secangkir arak. Pelayan kembali mengisi cangkir mereka, nona Pui tidak lantas duduk. ia angkat cangkir dan acungkan ke arah Tong Siau-khing suami isteri, katanya.
"Toako, Toaso, Siaumoay juga aturkan secangkir kepada kalian,"
Sekalitenggak dia habiskanpulasecangkir. Dia tetap tidak mau duduk. setelah pelayan mengisi pula cangkirnya, dia tertawa kepada Kun-gi, katanya.
"Toa-piauko, kau tahu aku tidak bisa minum arak. Tapi dalam perjamuan ini, usiaku paling muda, seharusnya satu persatu kuaturkan arak kepada kalian semua, tapi paling banyak aku hanya sanggup minum tiga cangkir, terpaksa kuaturkan secangkir terakhir ini kepada Toa-piauko bersama Bun-khing cici saja."
Segera ia acungkan cangkir kepada mereka berdua terus ditenggaknya habis.
Tong-lohujin mengawasi Kun-gi lalu berpaling kepada puterinya, kedua muda-mudi memang pasangan setimpal kurnia Thian.
Karena hati senang, tak henti2nya dia ambil lauk-pauk dan diangsurkan ke mangkuk Kun-gi.
Tong Siau-khing suami-isteri saling pandang, keduanya tersenyum penuh arti.
Biasanya Tong Bun-khing lincah dan suka bergerak.
nakal lagi, entah kenapa hari ini dia pendiam dan malu2, tapi sering matanya melirik Kun-gi.
Sejam kemudian perjamuan ini telah usai, boleh dikatakan tuan rumah dan tamu sama2 senang dan puas.
Setelah kenyang langsung Kun-gi mohon diri.
"Toa-piauko,"
Kata nona Pui.
"akupun ingin pergi"
"Piaumoay,"
Ujar Kun-gi "Kau sudah punya ibu, tinggal saja beberapa hari lagi, aku ada urusan penting."
"Ling-siangkong juga tidak usah ter-gesa2"
Kata Tong-lohujin.
"Urusan yang hendak kau kerjakan sudah kusuruh Lo-cit bantu mengawasi, selekasnya akan datang berita."
"Adik Ping, kau tidak boleh pergi,"
Kata Tong Bun-khing. Nona Pui membisikinya.
"Yang benar kau melarang dia pergi bukan?"
Malu dan gugup Tong Bun-khing, Serunya.
"Eh, minta diajar kau"
Tangannyasegerameng-kili2 ketiakorang. Nona Pui berjingkrak geli sambil cekikikan, serunya.
"cici yang baik, ampunilah aku."
Lalu Kun-gi berkata kepada Tong-lohujin.
"Wanpwe betul2 ada urusan, takbisalama2 di sini."
"Kalau Ling-siangkong memaksa, Lo-sin tak enak menahanmu lagi,"
Lalu dia berpaling kepada pelayan, katanya berpesan.
"Pergilah kauambilpedangku itu"
Cepat pelayan itu berlari masuk. sekejap saja dia sudah keluar pula membawa sebatang pedang kuno dan dipersembahkan kepada Lohujin-Setelah memegang pedang berkatalah Tong-lohujin.
"Tiada apa2 yang bisa kuberikan, biarlah pedang ini kuhadiahkan kepada Ling siangkong."
Kun-gi tahu bahwa pedang ini barang mestika, belum lagi Tong-lohujin bicara habis, lekas dia menyela.
"Begini besar pemberian Pekbo, Wanpwe mana berani menerimanya?"
"Kau sudah bersaudara dengan Siau-khing, Piaumoaymu juga kuangkat menjadi puteriku, Lo-sin jadi terhitung orang tuamu, pedang ini kuberikan sebagai hadiah pertemuan ini, lekaslah kau menerimanya."
"Memangnya kenapa kau Piauko", timbrung nona Pui.
"kalau kau tidak terima, ada orang tidak senang dan gelisah hatinya, apalagi maksud baik ibu masa kau tolak mentah2."
"Ling-siangkong,"
Ujar Tong-lohujin mendesak.
"kalau kau tidak menerimanyaberartikautidak memberi muka kepadaku,"
Nona Pui segera ambil pedang dari tangan Tong-lohujin dan disisipkan ke tangan Ling Kun-gi, katanya lirih.
"ibu nanti marah, Toa-piauko, lekas kau aturkan terima kasih kepada ibu."
Didesak sedemikian rupa, terpaksa Kun-gi menerimanya, ia menjura, katanya sungguh2.
"Terpaksa Wanpwe terima hadiah Pekbo ini."
Berseri wajah Tong lohujin, katanya manggut2.
"Ya, beginikan baik."
Entah sengaja atau ti-dal dia berpaling kepada puterinya, katanya pula.
"pedang ini dulu dibeli oleh ayah almarhum dengan harga tinggi dari luar perbatasan, waktu itu usiaku. baru genap setahun, menurut adat istiadat, anak2 yang genap setahun harus dirayakan secara meriah. Hari itu, dihadapanku penuh berbagai barang, ada pupur, gincu, pakaian, mainan dan perhiasan, ada pedang, panah dan lain2, aku diberi kesempatan untuk memilih satu diantaranya, tak terduga aku hanya mengambil pedang pendek ini, ayah almarhum waktu itu bilang anak sekecil ini sudah suka main pedang, biarlah pedang ini kelak menjadi mas kawinnya setelah dewasa. Sejak itu, pedang ini sudah puluhan tahun mendampingi aku."
Sambil melirik Tong Bun-khing, nona Pui tertawa, katanya.
"o, kiranya pedang ini mas kawin ibu di waktu muda."
Jengah wajah Tong Bun-khing, dia tidak berkata, cuma matanya melotot kepada nona Pui.
Kembali Kun-gi minta diri.
Mendengar Kun-gi hendak pergi, merah mata Tong Bun-khing, sakapnya yang malu2 tadi lenyap.
kini berganti rasa berat untuk berpisah.
Tong-lohujin manggut2, katanya kepada Tong Siau-khing.
"Nak. bersama adikmu antarkan Ling -siangkong dan budak nakal ini berangkat."
Nona Pui maju kehadapan Tong-lohujin dan memberi sembah sujut, katanya.
"Bu, anak pergi, harap engkau orang tua jaga diri baik2."
"Nak setiba di rumah, jangan lupa sampaikan salamku kepada ibumu,"
Pesan Tong-lohujin.
"Terima kasih Bu,"
Kata nona Pui.
"Dijalan kau harus dangar petunjuk Piauko, jangan turuti adat sendiri, aku tahu kau sudah biasa disayang dan aleman, belum tentu mau dengar petunjuk Piaukomu. Sepanjang jalan ini banyak kaum persilatan yang berlalu lalang, kukira lebih baik Piau-komu mengantarmu pulang lebih dulu."
Nona Pui manggut2, bersama Ling Kun-gi mereka keluar diantar Tong Siau-khing dan Tong Bun-khing. Pa Thian-gi sudah menyiapkan dua ekor kuda. Sambil berjalan keluar Tong Siau-khing bertanya.
"Entah kapan kitabakalberkumpul lagi?"
"Setelah urusan selesai, pasti aku pergi keSujwan menjenguk kalian,"
Kata Kun-gi.. Urusan sudah sejauh ini, Tong Bun-khing melepaskan rasa malu lagi, segera dia menimbrung.
"Ling -toako, sebutkan saja tanggalnya, kapan kau akan ke rumah kami?"
Berpikir sebentar baru Kun-gi memutuskan.
"Paling cepat tiga bulan, paling lambat setengah tahun."
"Wah, setengah tahun apa tidak terlalu lama,"
Kata Tong Siaukhing.
"Ling toako,"
Sela Tong Bun.khing.
"kukira tiga bulan sudah cukup lama, hari inibulanempattanggal duabelas, jaditanggal dua belas bulan tujuh kami menunggu kedatanganmu."
Lalu dia tanya kepadanonaPui"Dan kauadikPing, kapan kau jugake rumahku?"
"Setelah aku pulang dan minta izin pada ibu, segera aku menyusul kalian,"
Sahut nona Ping. Kun-gi berdua segera cemplak ke punggung kuda, katanya.
"Saudara Tong, nona Tong, selamat tinggal."
Lalu dia memberi salam pula kepada Pa Thian-gi dan Khing Su-kwi.
"Pa-congkoan, Khing-hucongkoan, sampai bertemu."
Ter-sipu2 Pa Thian-gi berdua membalas hormat, serunya.
"Ling-ya, hati2lahdijalan, kamitidak mengantar."
Kun-gi bedal kudanya berlari kencang turun gunung, nona Pui mengikutinyasambil melambaitangankebelakang. Berlinang air mata Tong Bun-khing, iapun melambaikan sapu tangan, terlaknya.
"Ling-toako, tiga bulan lagi kau harus datang ... ...."
Padahal kuda sudah lari jauh, tapi Tong Bun-khing masih berdiri melongo dengan dua jalur air mata membasahi pipi.
"Dik, hayolah masuk."
Kata Tong siau-khing dengan tertawa.
"jangan kuatir urusanmu serahkan padaku, tanggung beres."
Merah muka Tong Bun-Khing, katanya.
"Aku tak tahu apa yang Toako maksudkan?"
Lalu dia berlari masuk lebih dulu. ooooooooooo Sekejap saja kuda Ling Kun-gi sudah sampai dijalan raya.
"Nona mau ke mana?"tanyanyaberpaling kebelakang. Nona Pui membedal kudanya dan berjalan sejajar, katanya tertawa geli.
"Toa-piauko, dengan siapa kau bicara?"
"Sudah tentu dengan kau."
"Ya, setelah meninggaikan mereka, kau lantas tidak anggap aku sebagaiPiaumoay lagi."
"Kalau akupunya adik selincah dan secantik kau, tentu bukan main senang hatiku. cuma sayang aku punya adik yang tidak diketahui namanya."
"Hah, jadi kau mengorek keteranganku, Tidak akan kuberitahu."
"Memangnya pantas seorang kakaktidaktahu nama adiknya?"
"Kau terka sendiri saja."
"Nama orang masakah boleh diterka segala.."
"Tak mau terka ya sudahlah, jangan harap kuberitahu."
Berpikir sejenak Kun-gi berkata.
"Nama anak perempuan biasanyapakaiHong,Lan,sian,Hodan macam2lagi....."
"Semua itu bukan namaku,"
Tukas nona Pui.
"Aku belum habis bicara, kau menimbrung saja."
"Baiklah, teruskan."
"Nona secantik kau ini, bak sekuntum bunga sehalus batu jade, adalah jamak kalau memiliki nama yang indah pula."
Girang hati nona Pui karena dirinya dipuji matanya yang besar ber-kedip2, katanya cekikikan.
"Barusan sudah ada satu yang telah kau sebut."
"Tunggu sebentar, apa yang kukatakan tadi? Ling Kun-gi mengingat2 kembali.
"tadi aku bilang bak bunga (Ji hoa)dansepertijade (Ji-giok), apakahsatudiantaranya?"
Nona Pui manggut2 sambil gigit bibir.
"Kudengar nona Tong memanggilmu adik Ping, cantik lembut dan lincah bak bunga dan seperti batu jade, lala ditambah satu huruf Ping lagi ......... mendadak bersinar matanya, serunya tertawa.
"Jiping, betultidak?"
Merah muka nona Pui, serunya kaget dan senang.
"Bagaimana kau bisa menebaknya?"
"Soalnya nama yang serasi dan cocok dengan huruf Ping hanya huruf Ji saja.jadi kau bernama Pui Ji-ping. Nona Pui, sebetulnya kau mau ke mana?"
Tanya Kun-gi.
"He, kau tidak memanggilku Piaumoay lagi?"
"Aku bicara dengan sungguh2."
"Memangnya memanggil Piaumoay lantas tidak sungguh2?"
Katanya sedih, matapun merah dan hampir meneteskan air mata. sepatah kata salah diucapkan menimbulkan salah paham orang, sudah tentu Kun-gi jadi gugup, lekas dia berkata sambil unjuk tawa.
"Tanpa sengaja kata2ku menyinggung perasaanmu, kenapa lantas keki? Kutanya kau mau ke mana, kan bermaksud baik juga?"
"Pedulikanaku maupergikemana?"
"Tong-lohujin sudah berpesan, aku disuruh mengantarmu pulang."
Monyong mulut Pui Ji-ping, jengeknya.
"Memangnya pesan mertua, sudah tentu kau harus mematuhinya."
"Apa katamu?"
Seru Kun-gi melenggong bingung.
"Tidak apa2,"
Ucap Pui Ji-ping dengan cekikikan pula.
"anggaplah kau tidak mendengar"
"Jadikau maupulangtidak?"
"Semula ingin menengok ibu, tapi sekarang tidak. Aku ingin ikut kau."
"Ikut aku? Mana boleh"
"Kenapa tidak boleh? Kau menguntit si mata satu menyelidiki barang yang dibawanya, aku juga mau ikut."
"Tidak boleh, nona belia seperti kau tidak boleh keluyuran di Kangouw yang penuh bahaya, dua kali kejadian telah kau alami memangnya belum kapok."
"Soalnya aku tidak siaga, anak buah Tong citya juga kurobohkan semua."
"Piaumoay yang baik, kau pulang saja, kalau kau anggap aku sebagaiPiauko, kauharusturutnasihatku."
"Kenapa aku tidak boleh ikut kau?"
"Kau anak perempuan ...."
"Aku tahu kau sudah punya si dia, mana aku ini kau taruh dalam hati? Mertua memang lebih sayang kepada menantu? Kau takut berjalan dengan aku, kuatir diketahui oleh dia?"
"Kauini membualapa?"seruKun-gigugupdanmalu. Pui Ji-ping tertawa geli, katanya.
"Memang-nya salah? Kenapa aku tidak boleh ikut? Begini saja, besok aku akan menyamar jadi laki2, kan beres?"
Apa boleh buat, Kun-gi manggut2. Pui Ji-ping berjingkrak senang, serunya.
"Toa--piauko, kau sungguh baik,"
Setiba di Siu sian, Pui Ji-ping lantas beli pakaian laki2, topi, sepatu dan segala keperluan.
Sepanjang jalan Kun-gi tidak menemukan tanda2 rahasia yang ditinggalkan anak murid Kim Kay-thay, agaknya si mata satu tidak lewat jalan ini.
Maka dia bermaksud lekas2 balik ke Thay-ho saja.
Hari itu juga mereka meninggalkan Siu-sian, belum jauh mereka meninggalkan kota, di sebelah depan membentang hutan yang lebat.
Pui Ji-ping permisi masuk ke hutan untuk ganti pakaian, Ling Kun-gi terpaksa menunggu di luar hutan sambil duduk di sebuah batu besar.
Dengan cepat Pui Ji-ping sudah keluar pula dengan berdandan laki2, mengenakan jubah hijau, sepatu kulit, tangan memegang kipas, sambil berjalan keluar, katanya dengan tertawa lucu.
"Toa-piauko, mirip tidak?"
Kun-gi geli, katanya tertawa.
"Ya, sedikit mirip. cuma perawakanmu pendek, terlalu muda lagi."
"Asal mirip saja, kau Toako, aku Siaute."
Ujar Pui Ji-ping sambil mengikik. Kemudian Pui Ji-ping berkata pula.
"Sejak kini aku memanggilmu Toako, dankau panggilakuadik,"
"Ya, kau harus she Ling juga,"
Kata Kun-gi.
"maka kau harus bernama Ling Kun ...."
Tiba2 terbeliak mata Pui Ji-ping serunya menyambung.
"Ling Kun-ping saja, baik tidak?"
"Baik,"
Kun-gi manggut2.
"Kun-ping sungguh bagus nama ini."
Pui Ji-ping bertolak pinggang, katanya dengan tertawa.
"Ya, sejakkini akubernama Ling Kun-ping."
Magrib hari itu mereka tiba di Cing yang-koan.
Pada sudut sebuah tembok di luar kota Kun-gi menemukan tiga tanda segi tiga dari goresan arang, di bawahnya lagi sebelah kanan ada satu lingkaran pula, itulah tanda2 rahasia Kim Kay-thay yang mengadakan kontak dengan dirinya.
Sejenak Kun-gi melongo mengawasi tanda itu, batinnya.
"Kiranya Kim-loyacu datang sendiri."
Ternyata ketiga tanda itu menggambarkan hiolo (berkaki tiga), lingkaran sebelah kanan memberitahu bahwa dia datang dari kiri, membelok ke kanan, ada sebuah tanda kepala panah pula menuding ke selatan, itu berarti jurusannya ke selatan-Duduk dipunggung kudanya Kun-gi menerawang keadaan dan merancang perjalanan selanjutnya.
Kim-loyacu datang dari Thiat-ho, letaknya kebetulan di barat laut Cing yang-koan, kalau membelok ke kanan jurusannya jadi ke selatan, itulah jalan besar yang menuju ke Liok-an, jadi sekarang Kim-loyacu menuju ke arah Liok-an Pui Ji-ping keheranan melihat tingkah Ling Kun-gi, katanya.
"Toako, soalapayangsedang kaupikir?"
Kun-gi tersentak sadar, sahutnya.
"o, tidak apa2, mari berangkat."
Cin-yang-koan adalah sebuah kota yang cukup ramai, hari sudah menjelang petang, tiba saatnva cari hotel untuk bermalam, tapi Kun-gi keprak kuda membedalnya kejalan besar.
Terpaksa Pui Jiping larikan kudanya pula, tanyanya "Toako, apa yang kau temukan?"
"Kutemukan tanda rahasia Kim-loyacu, dia sudah menyusul kemari."
"Siapakah Kim-loyacu?"
"Kim-loyacu adalah pejabat Ciangbun murid2 preman Siau limpay."
"Jadikau sudahberjanji mengadakan kontak dengandia?"
Kun-gi mengangguk.
Tanpa bicara mereka terus menempuh perjalanan cepat sejauh 40-an li, setiap tiba di simpang jalan selalu mereka menemukan tanda rahasia Kim-loyacu, setelah petang mereka tiba diIng-ho.
Ing-ho adalah sebuah dukuh kecil, umumnya orang desa biasa tidur lebih dini, jangankan men-dapatkan tempat untuk bermalam, mencari warung makanpun sukar.
Terpaksa Kun-gi menghentikan kudanya di tepi jalan, mereka duduk istirahat, Pui Ji-ping keluarkan bekal makanan yang dibawakan oleh keluarga Tong, memang perut sudah lapar, dengan lahap merekaganyanghabisduabungkus nasi danlaukyang lezat.
"Sudah kenyang, mari berangkat,"
Kata Ji-ping sambil berdiri.
"di luarIn-hiap-kipdidepan sanaadasebuahrumah perabuankeluarga ong yang besar sekali, kita istirahat di sana saja."
"Dari mana kau tahu?"
Tanya Ling Kun-gi.
"Aku sering lewat jalan ini, sudah tentu apal keadaan sekeliling sini."
Mereka menempuh perjalanan 20-an li lagi batu sampai di In-hiap-kip.
Waktu itu sudah kentonganpertama, mereka langsung menuju ke arah barat kota, di sana memang terdapat sebuah rumah perabuan marga ong.
Mereka tambat kuda di ujung tembok sana, lalu melompat ke dalam lewat pagar tembok, setelah menyusur pekarangan dan sampai di ruang tengah.
Biara marga ong ini agaknya dari keluarga besardanbangsawan, keadaandisini terawatbersihdanteratur.
Kun-gi memilih tempat sebelah kanan, duduk di lantai terus mulai samadi, betapapun Pui Ji-ping adalah anak perempuan, nyalinya radakecil, diadudukdekatKun-gi.
Karena iseng Pui Ji-ping ajak bicara terus untuk menghilangkan lelah, sebaliknya Ling Kun-gi merasa sebal, katanya.
"Adik jangan banyak bicara, lekaslah samadi mengembalikan semangat dan tenaga dalam dua hari ini mungkin bisa menyusul si mata satu lagi, gerak-gerik mereka begini misterius, ingin kutahu barang apa yang mereka bawa itu?"
"Lho si mata satu kan sudah meninggal?"
"Tidak. yang mati itu picak mata kiri, yang sekarang ini picak mata kanannya."
Pui Ji-ping ketarik, katanya.
"Kenapa mereka selalu menugaskan si mata satu untuk tugas pengantar barang ini? Kuduga pasti ada rahasiaapa2dibalikpersoalan ini."
Kun-gi tidak bersuara, selincah kucing tiba2 dia melompat berdiri, desisnya lirih.
"Ssst, ada orang datang, lekas sembunyi."
Hakikatnya Pui Ji-ping tidak dengar apa2, Baru dia akan tanya, mendadak Kun-gi menghardik tertahan.
"Lekas naik."
Lengan Ji-pingdipegangterusdibawa lompatke atasdanhinggapdibelandar, katanya lirih.
"Lekas sembunyi di belakang pigura."
Lengan dipegang orang, terasa badan mumbul seringan asap.
tahu2 sudah menyelinap ke belakang pigura besar.
Kejadian terlalu mendadak dan berlangsung amat cepat, jantung ji-ping sampai berdetak keras.
Belum lama mereka sembunyi di belakang pigura, betul juga di luar pekarangan sudah terdengar suara percakapan orang dan langkahnya yang mendatangi.
Terdengar seorang berkata dengan suara serak.
"Silakan Siau-heng"
Rupanya setiba di ruang tengah mereka saling mempersilakan masuk lebih dulu. Maka terdengar pula suara tawa lantang, seorang lagi berkata.
"Un-jiko kenapa sungkan2 padaku."
Lenyap suaranya, tampak muncul dua orang berjajar masuk ke dalam.
Betapapun tempat pigura sempit, terpaksa nona Pui harus mendekam dan bersentuhan badan dengan Ling Kun-gi, baru pertama kali ini dalam hidupnya berada dalam pelukan laki2.
Kedua orang di bawah sudah dekat, maka dia tidak berani berseru sedikitpun.
Yang terang jantungnya berdebur seperti ombak mengamuk.
pikirannya melayang2 entah ke mana.
Walau mencium bau harum dan bau badan anak perawan yang memabukkan, tapi perhatian Ling Kun-gi tumplek ke bawah pada dua orang yang baru datang, maka pikirannya tidak menjadi linglung.
Malam gelap.
tapi dia dapat melihat jelas kedua orang di bawah, yang di sebelah kiri kira2 berusia 50-an, mengenakan jubah panjang warna hijau kebiru2an, mengenakan topi beludru warna hitam, sepatunya berlapis kulit tebal, lima jaiur jenggot hitam menjuntai turun menghiasi dadanya.
orang di sebelah kanan berpakaian panjang warna kuning kelam, mengenakan ikat pinggang sutera merah, wajahnya kereng cerah, tulang pipinya menonjol, sudah cukup tua juga, perawakannya agak pendek.
orang kedua ini pernah dilihat oleh Ling Kun-gi, dia adalah paman kedua nona Un Hoankun, yaitu Un It-kiau dari Ling-lam.
Tiba2 didengarnya Un It-kiau bersuara heran, katanya dengan suaraserak."Tiadaorangdisini, kenapadiluaradaduaekorkuda?"
Lalu di sampingnya tertawa lebar, katanya.
"Keluarga ong di Inhian-kip ini sebetulnya adalah keluarga bangsawan suku Bong, rumah abu ini adalah tempat umum, menambat kuda di luar adalah biasa, kenapa Un-jiko curiga segala?"
Un It kiau manggut2.
Dari belakang kedua orang melangkah masuk pula seorang pemuda berpakaian warna kuning, Ling Kun-gi juga mengenalnya, dia adalah Kim-hoan-liok-long Siau Kijing, melihat pemuda ini Ling Kun-gi lantas menduga bahwa orang tua, yang mengiringi Un It-kiau pasti bapaknya, yaitu Kim-hoan-siang-coat Siau Hong-kang.
Di belakang siau Ki jing ikut pula dua pembantu rumah tangganya, saat mana lilin sudah dinyalakan di dalam ruangan, keadaan semula gelap kini menjadi terang benderang..
Kun-gi berdua yang mendekam di belakang pigura tidak berani mengintip keluar pula.
Terdengar laki2 wajah merah itu berkata.
"Bukankah Un jiko juga mengundang Thong Thian-ong, kapan dia tiba?"
"Ya, sebelum Siaute kemari sudah kusuruh mengirim surat kepada Tong Thian-ong, dia sudah setuju untuk membantu, dua hari yang lalu ada orang pernah melihat dia muncul di sekitar Poh-yang."
"Aneh, kalau dua hari yang lalu dia sudah tiba di Poh-yang, sepantasnya dia sudah mengadakan kontak dengan kita,"
Kata si muka merah. Kun-gi membatin.
"Thong Thian-ong yang mereka bicarakan ini mungkin adalah Thong-pi--thian-ong? "
"siaute juga merasa heran, sepanjang jalan ini kita sudah memberikan tanda2 petunjuk. seharusnya dia sudah melihatnya."
Sambil mengelus jenggot, laki2 muka merah berkata pula.
"Watak Thong Thian-ong terlalu berangasan, mungkin terjadi apa2 di tengah jalan?"
"Wataknya memang kasar, tapi bekal kepan-daiannya cukup tinggi, jarang ada tandingannya di Bu-lim, mana mungkin terjadi apa2 atas dirinya?"
Kata Un It-kiau tertawa.
"Sukar dikatakan,"
Kata laki2 muka merah.
"Sepanjang jalan ini kutemukan Kim Ting Kim Kay-thay, itu ketua murid2 preman Siaulim-pay juga telah datang ke Thay-ho, demikian pula Lo-sam dan Lo-citdari keluargaTong diSujwan jugaadadisekitarsini."
"Betul, kecuali itu ingin kuberitahukan kepada Siau-heng bahwa masih ada pula beberapa kelompok orang yang patut diperhatikan-"
"Siapakah yang Unjiko maksudkan?"
"Kelompok pertama adalah dua orang majikan dan pembantunya, majikannya berusia 25-an berjubah biru, mirip anak orang berada, pembantunya memakai lengan besi, ilmu silatnya tinggi, sejakdariKay-hong keduaorang initerus menguntitkemari."
Laki2 muka merah tampak prihatin, tanyanya.
"Adakah orang yang pernah menyaksikan kepandaian pembantunya itu? "Anaksendiripernah menyaksikan,"timbrung Siau Ki-jing.
"Kiranya dia benar adalah Kiam-hoan-siang coat (ahli pedang dan gelang) Siau Hong-kang,"
Demikian batin Ling Kun-gi.
"Kau sendiri melihat dia bergebrak?"
Tanya si muka merah. SiauKi-jingmenerangkan."Beberapahariyanglalu,anak melihat dia merobohkan murid preman Siau-lim hanya dalam sekali gebrak saja."
"Kepandaian murid2 Siau-lim ada yang kuat dan yang lemah, kalau paderi agak lumayan, murid2 preman kebanyakan adalab anak2 orang berada."
"Kelompok kedua adalah seorang muda berusia likuran tahun, bernama Ling Kun-gi, diapun menguntit sejak dari Kay-hong, kadang muncul tiba2 lenyap. dia mengaku sebagai murid Hoan jiu ji-lay, dari gerak-gerik dan kepandaiannya kelihatan memang tidak salah."
Terbelalak mata Siau Hong-kang, katanya..
"Hoan jiu-ji-lay juga sudah terima murid."
"Kelompok ketiga muncul di sekitar Sha-cap--li-but, kelihatan seperti keluarga pejabat, kabarnya majikannya orang perempuan, tapi pengikutnya semua berkepandaian tinggi, gerak-geriknya juga main sembunyi, sampai sekarang Siaute masih men-cari2 jejak mereka, anak buah yang bertugas menyelidiki ternyata tiada yang kembali, semua lenyap tanpa keruan paran."
Siau Hong-kang berpikir sejenak, katanya.
"Unjiko tidak tahu asalusul kelompokterakhir ini?"
"Laporan kudapat dari dua pembantuku di Sha-cap-li-but, hanya begitu saja laporan mereka,"
Sahut Un It-kiau.
"Agaknya keramaian bakal terjadi, dari beberapa kelompok itu, kukira kita harus mengadakan kontak dengan pihak keluarga Tong dari su-wan ......"
Sampai di sini dia termenung, lalu menambahkan.
"orang2 Siau -lim juga terjun ke dalam kancah keramaian ini? Mungkin ........."
"Trak."
Tiba2 terdengar suara seseorang melompati pagar tembok dan turun di tengah pekarangan "Siapa?"
BentakUn It-kiausambil angkat kepala.
"Wanpwe akan keluar melihatnya"
Ujar Kim--hoan-Liok-long Siau Ki-jing. Dengan langkah lebar dia berlari keluar. Kejap lain tampak dia sudah kembali, di belakangnya mengintil seorang laki2 baju abu2.
"Un Lok."
Seru Un it-Kiau segera.
"apa yang telah kau temukan"
Laki2 baju abu2 yang bernama Un Lok segera memberi hormat, katanya.
"Lapor Ji-cengcu, disekitar ma-thau-kip. hamba menemukan tanda rahasia tinggalan Thong-thian-ong."
"Gambar apa yang dia tinggalkan?"
Tanya Un It-kiau.
"Tanda gambar itu diukir pada sebatang pohon di pinggir jalan, hamba pernah mendengar penjelasan Ji-cengcu, maka mengenalnya, kini hamba telah mengupas kulit pohon itu dan kubawa pulang,"
Dengan hati2 lalu dia keluarkan sekeping kulit pohon-Menerima kulit pohon, hanya sekilas pandang air muka Un it-kiau lantas berubah, katanya dengan terbelalak.
"Di mana kau menemukan gambar ini?"
"Di sebuah persimpangan jalan di dekat Ma--thau-kip."
"Men jurus ke mana persimpangan jalan itu?"
"Simpang jalan itu menuju ke Sam-kak si."
"Keterangan apa yang dibubuhkan pada tanda gambar ini?"
Tanya Siau Hong-kang.
"Inilah tanda gawat bahwa dia mengikuti seseorang, mungkin seorang musuh tangguh, dia memberitahu kepadaku untuk segera menyusulnya."
"Siaute sependapat dengan Siau-heng,"
Kata Un it-kiau, segera dia mengulap tangan kepada Un Lok. katanya.
"Tunjukan jalannya"
Un Lok mengiakan, cepat dia berjalan pergi, -Un It-kiau dan Siau Hong-kang lantas beranjak keluar. Cepat sekali rombongan mereka sudah pergi jauh.
"Mereka sudah pergi, mari turun,"
Kata Pui Ji-ping. Setelah turun di bawah dia mengebut pakaian membersihkan kotoran yang melekat di pakaiannya, katanya.
"Toako, perlukah kita menguntit mereka?"
"Kita punya urusan sendiri, peduli dengan urusan mereka, lebih baik istirahat, besokpagi menempuh perjalanan lagi."
Pui Ji-ping tidak banyak bicara pula, mereka kembali ke tempat semula, duduk samadi sampai pagi hari.
Belum sinar surya menongol keluar mereka sudah melanjutkan perjalanan-Jalan raya ini langsung menuju ke Liok-an, di sepanjang jalan ini memang ada tanda peninggalan Kim Kay-thay, mereka terus bedal kuda sampai hari menjelang lohor baru tiba di Liok-an.
Diluar kota Liok-an Kun-gi menemukan tanda peninggalan Kim Kay-thay pula, arahnya seperti menuju ke sok-seng, maka mereka makan ala kadarnya di luar kota terus menempuh perjalanan pula.
SoreharisampaidiTho-sip.disinimerekatidak menemukantanda2 peninggalan Kim Kay-thay.
Pui Ji-ping mengusulkan untuk langsung ke Sok-seng, mungkin Kim Kay-thay sudah menunggu di sana.
Tapi lain pendapat Ling Kun-gi, kalau Kim Kay-thay pergi ke sok-seng pasti dia meninggalkan tanda yang menjurus ke sana, di Tho-sip mereka sudah tidak menemukan tanda2 lagi, itu berarti kemungkinan Kim-loyacu menemukan apa2 di sini sehingga tidak sempat meninggalkan tanda2 dan tak mungkin menuju ke sok-seng.
"Lalu bagaimana menurut pendapat Toako?"
Tanya Pui Ji-ping.
"Kau kenaljelaskeadaandisekitarsini?"
"Aku tahu, dari sini ke timur menuju ke Jau--ouw, ke selatan ke sok-seng, ke utara pergi ke Hoaji-kang, Thong-keh-kang, langsung ke Hap-pui."
Tengah mereka bicara, tiba2 didengarnya suara tapal kuda berdetak.
suaranya ringan dan cepat.
Waktu mereka berpaling, tampak dari arah utara sana membedal lari seekor keledai, dipunggung keledai bercokol seorang tua berbaju hijau dan celana panjang kuning luntur, badan terbungkuk, mata terpejam, dia biarkansaja keledainyalarisesukanya.
Sekilas Ling Kun-gi pandang orang tua itu tanpa memperhatikan lebih lanjut.
Tak terduga pada saat dia memandang orang, entah sengaja atau tidak-orang tua itupun melirik sekejap ke arah mereka.
Betapa tajam pandangan mata Kun-gi, sekilas saja terasa olehnya kedua biji mata yang melirik itu hanya sebelah kiri yang bercahaya.
Hanya mata kiri yang bercahaya, bukankah itu berarti mata kanannya picak?
Mendadak tergerak hati Ling Kun-gi, dilihatnya orang tua itu menujukeSok-seng, makadiaberkatakepadaPuiJi-ping."Dik,hari sudah petang, kita harus lekas masuk kota, kalau terlambat pintu kota mungkin ditutup." -Sembari bicara dia memberi kedipan mata kepada Pui Ji-ping.
Ji-ping merasa heran, tapi dia tahu diri, tanyanya lirih.
"Memang benar."
Kendali dia tarik ke kiri sehingga kudanya jalan merendeng lebih dekat dengan suara lebih lirih dia bertanya pula.
"Siapakah dia? Toako mengenalnya?"
"Kukira dia adalah orang yang ingin kita cari, si mata satu. cuma betulatau tidakperlu dibuktikan-"
"Asal kita kuntit dia, nanti juga pasti ketahuan-"
Sembari bicara mereka jalankan kuda pelan2 dari kejauhan menguntit keledai itu masuk ke kota.
Hari sudah petang, banyak orang buru2 masuk kota, maka suasana menjadi ramai.
Berbeda dengan si mata satu kiri yang telah ajal itu, sipicak kanan ini bergerak secara terang2an, dia berhenti di depan warung bakmi, ia melompat turun dan masuk dengan terbungkuk2 Waktu itu memang tiba saatnya makan malam, setelah letih menempuh perjalanan memang perlu istirahat dan mena ngsel perut, terutama orang yang berdandan seperti orang desa, adalah jamak kalau makan di warung kecildengan tarip murah.
Melihat orang mampir di warung bakmi, Kun-gi berdua memasuki warung arak di seberang jalan, letaknya kebetulan berhadapanMereka memilih tempat duduk ditepi jendela, dari sini mereka dapat mengawasi gerak-gerik orang diseberang.
Kun-gi memesan makanan ala kadarnya, lalu dia berkata setengah berbisik.
"Dik, kau tunggu di sini dan amati gerak-geriknya, aku pergi sebentar."
"Toako mau ke mana?"
Tanya Ji-ping.
"Tugasmu menjaga di bagian luar sini, aku Keh-hoa akan putar ke belakang, kalau benar dia si picak kanan yang bertugas mengantar barang, kemungkinan bisa merat lewat pintu belakang, hal ini harus kita jaga sebelumnya. Kalau dia pergi lewat depan, kau harus menguntitnya dan perhatikan ke mana atau di tempat mana dia menginap. Di sini pula kita nanti bertemu."
Mendengar dirinya di beri tugas, riang hati Pui Ji-ping, katanya tertawa.
"Tugas seringan ini, Toako tak usah kuatir, pasti kulaksanakan dengan baik,"
"Baiklah sekarang aku pergi,"
Bergegas Kun--gi keluar menuju ke pengkolan jalan sana, di belakang deretan rumah seberang sana memang terdapat sebuah lorong sempit, cepat Kun-gi menyelinap masuk dan menghitung rumah ke lima, itulah pintu belakang warung bakmi di depan, setelah memperoleh tempat yang gelap.
dia berdiri mepet tembok, matanya memperhatikan pintu belakang rumah ke lima itu.
Dengan sabar dia menunggu kira2 satu jam, betul juga dilihatnya sesosok bayangan orang tiba2 menongol keluar dari pintu belakang warung bak-mi itu, melihat tiada bayangan orang, dengan langkah buru2dia berlari kearah kirisana.
Mata Kun-gi yang tajam dapat melihat bahwa bayangan orang itu adalah laki2 tua berbaju hijau, punggung yang tadi bungkuk kini sudah tegak.
langkahnya ringan-Dengan sigap seperti anjing pelacak Kun-gi terus menguntit ke mana laki2 tua itu pergi.
Ternyata laki2 tua ini juga cukup cerdik dan licin, agak lama dia ber-lari2, mendadak dia menghentikan langkah sembari berpaling ke belakang, betapa tangkas gerakan Kun-gi, mana mungkin jejaknya dilihat olehnya?
Melihat tiada orang yang menguntit di belakangnya, si tua baju hijau kembali berlari ke depan, keluar dari jalan raya, dia menyelinap ke jalan melintang di sebelah depan sana, langkahnya tidak pernah berhenti, kecepatan sedang, arahnya ke selatan-Lama kelamaan dia menuju ke daerah sepi.
Tak lama kemudian dia sampai di tempat pembarkaran genteng, di sini dia berpaling pula, setelah longak-longok ke belakang, dengan langkah cepat dia lewati tempat2 pembakaran genteng yang tersebar luas itu terus memasuki sebuah pekarangan yang dipagari tembok pendek.
Di depan pintu terdapat sepucuk pohon, dia berjongkok menghitung setumpukan batu yang ada di bawah pohon lalu menghampiripintuserta mengetuknyatiga kali.
Maka terdengarlah ada orang bertanya.
"Malam selarut ini, siapakah yang menggedor pintu?"
Laki2 tua baju hijau unjuk tawa, sahutnya.
"Belum malam, belum malam, akulah Lo-to(bungkuk)yang mengetukpintu."
"Kaucarisiapa?"tanyaorangdi dalampintu.
"Mencari orang yang menumpuk batu di batu di bawah pohon-"
"Kau sudah menghitungnya?"
"Sudah, seluruhnya 18 biji, agaknya saudara kurang menumpuk satu biji."
Orang di dalam tidak bersuara, pelan2 daun pintu terbuka. Tampak seorang laki2 tua yang mengikat kuncir rambutnya di atas kepala, membawa pipa cangklong, menyambut keluar, katanya.
"silakan dudukdidalam."
Si tua baju hijau tidak segera masuk, katanya mengerut kening.
"Kenapakautidak menyalakanlampudidalam?"
Laki2 tua bergelak tawa, katanya.
"Saudara tidak bisa melihat dengan jelas tidak menjadi soal, asal aku dapat menghitungnya dengan baik saja."
Melihat kata2 rahasia yang ditanyakan terjawab seluruhnya, laki2 tua baju hijau tidak banyak bicara lagi.
segera dia angkat langkah masuk ke rumah.
Laki2 bergelung kuncir cepat menutup pintu, katanya sambil berpaling.
"Mana barangnya, boleh kau keluarkan-"
Laki2 baju hijau merogoh kantong dan mengeluarkan sebuah buntalan kain kasar terus diangsurkan, lalu katanya.
"Saudara tentu sudah capai, ini-lah perintah dari atasan, malam ini saudara dilarang menginap di dalam kota, kau harus segera menempuh perjalanan pula."
Tertegun laki2 baju hijau, katanya.
"Aku sudah menunaikan tugas ......."
"Pihak atas menghendaki kau segera berangkat, maaf aku tidak bisa menolongmu lagi,"
Tiba2 tangan kanan dia ulur, tangannya sudah memegang sebuah bumbung hitam.
"sret"
Segulung cahaya biru segera menyembur keluar dari dalam bumbung melesat ke dada laki2 baju hijau.
"Hah"
Terpentang mulut si laki2 baju hijau, tapi sebelum dia menyadari apa yang terjadi, cahaya biru itu sudah nancap ke dalam dadanya, badannya seketika terjengkang roboh.
Laki2 bergelung kuncir menyimpan kembali bumbung jarumnya, katanya menyeringai sambil mengawasi mayat laki2 baju hijau .
"Pihak ataslah yang memberi perintah, jangan kau salahkan aku ......"
Sampai di sini dia bicara, tampak kepala mayat laki2 baju hijau mengepulkan asap kuning, dengan cepat sekali jasadnya berubah, ternyata yang disambitkan tadi adalah Hoa-hiat-sian-tong (bumbung jarum pengluluh darah).
Bergidik juga laki2 bergelung kuncir melihat hasil karyanya sendiri, tiba2 terasa punggungnya kesemutan Pada saat itulah di belakangnya tahu2 sudah bertambah sesosok bayangan orang, tangan merogoh kantongnya dan mengeluarkan buntalan kain biru tadi.
orang ini adalah Ling Kun-gi yang menguntit laki2 tua baju hijau.
Setelah menutuk Hiat-to laki2 bergelung kuncir, segera dia buka buntalankainbiru itu, didalamnya berisi kotak persegi.
Setelah kotak dibuka, di dalamnya dilapisi kain saten warna kuning, di tengah2 terjahit sebutir mutiara sebesar kacang dengan benang merah.
Walau gelap di dalam rumah, tapi Kun-gi dapat melihat jelas, di tengah2 mutiara terdapat ukiran huruf "Ling".
Ternyata cin-cu-ling adanya.
Mutiara ini mirip dengan yang pernah dilihatnya di tempat Kim Kay-thay itu.
"Kemanakah mereka hendak mengantar cin-culing ini?"
DemikianLing Kun-giber-tanya2dalamhati.
Sejenak dia termenung, lalu menutup dan membungkus pula cincu-ling itu seperti semula dan dikembalikan ke kantong baju laki2 bergelung kuncir, sebelum berlalu dia membuka tutukan tadi dan cepatdia menyelinap sembunyiditempatgelap.
Laki2 tua bergelung kuncir menguap sekali lalu menggeliat badan, sebentar dia kucek2 mata, lalu menjura ke arah tanah, katanya dengan tertawa getir.
"Saudara mati penasaran, Tapi aku bekerja menjalankan perintah, harap saudara tidak menyalahkan aku."
Dia sangka arwah laki2 baju hijau itu tidak menerima kematiannya, barusan dirinya telah ditenung sebentar, maka setelah bicara bergegas dia berlari keluar sipat kuping.
Kun-gi menguntitnya dari kejauhan-Laki2 tua bergelung kuncir di kepala itu berjalan cepat sekali, tak lama kemudian dia sampai pada sebuah tempat pemujaan di pinggir jalan yang dibangun menyerupai gundukan tanah, tempat pemujaan ini bukan kuil bukan biara, tapi hanyalah sebuah barak yang beratap rumput alang2 kering, bentuknya kecil dan pendek.
di dalamnya dipuja dewi bumi suami-isteri, tanpa meja, hanya terdapat sebuah hiolo, setiap orang yang sembahyang menancapkan dupa di sana, keadaannya amat sederhana.
Dengan langkah ter-gopoh2 laki2 itu memasuki barak berdinding tanah liat itu, sejenak dia celingukan, melihat tiada orang lain, tiba2 dia mencincing lengan baju terus ulur tangan meraba ke dalam hiolo, akhirnya dia meraba keluar sebuah bumbung bambu.
Setelah membersihkan abu di kedua tangannya, dia membuka sumbat bumbung dan menuang keluar gulungan secarik kertas.
Pada saat itulah Kun-gi muncul di belakangnya pula, dengan sekali kebas dia tutuk jalan darah penidur orang, lalu ambil gulungan kertas itu serta merentangnya.
Tampak di atas kertas ada tulisan yang berbunyi.
"Besok sebelum matahari terbenam, antarkan kepada seorang yang membeli lima blok kain katun di toko kain Tek-bong di kota Thung-seng, tak usah bicara, segera mengundurkan dirisaja."
Kun-gi menggulung pula kertas itu, lalu dikembalikan ke tangan si orang tua, kembali ia mengebas, membuka Hiat-to orang.
Laki2 tua bergelung kuncir bcrbangkis sekali, cepat dia masukkan gulungan kertas itu ke dalam baju, seenaknya saja dia buang bumbung bambu itu ke semak rumput di luar pintu, dengan langkah cepat dia menempuh perjalanan lagi.
Kejadian ini kira2 makan waktu setengah jam, cepat2 Kun-gi kembali ke warung arak.
makanan yang dipesannya tadi sudah dingin semua.
Untung saat itu keadaan warung ramai dikunjungi orang, yang hendak mengisi perut, orang mengira Pui Ji--ping sedang menunggu seseorang, maka tiada yang memperhatikan-Melihat Kun-gi kembali, Pui Ji-ping tertawa senang, cepat dia menyongsongsambil bertanya."Toako, kenapapergibegini lama?"
Melihat hidangan semeja penuh belum disentuh sedikitpun, timbul rasa prihatin Ling Kun-gi, katanya.
"Dik, kenapa kau tidak makan dulu?"
"Toako ada urusan, sudah tentu aku harus menunggumu untuk makan bersama"
Ji-ping menyuguh secangkir teh kepada Kun-gi, katanya.
"Bagaimana urusannya Toako? Kau pergi begini lama, aku tidak melihat dia keluar."
Kun-gi minum seteguk, katanya.
"Sesuai dugaan, dia merat daripintu belakang. Hasil yang kucapai amat memuaskan-"
Lalu ia ceritakan pengalamannya secara ringkas. Heran dan kaget Pui Jiping, katanya lirih.
"orang yang membeli lima blok kain katun di toko Tek-hong, di kotaThung-seng?Jadi sudahsampaitempattujuanterakhir?"
"Belum bisa diraba, kalau tidak pindah tangan lagi, itu berarti memang sudah mencapaitempattujuanterakhir."
"Lalu bagaimana tindakan kita selanjutnya, Toako?"
Tanya Jiping.
"Sampai besok sore, waktunya masih cukup panjang, aku akan cariKim-loyacuuntukberunding duludengan dia."
"Tapi di Tho-sip kita tidak menemukan tanda2 yang dia tinggalkan-"
"Ya, tapi di San-lam-koan aku melihat tanda2 Kim-loyacu,"
Alis Kun-gi berkerut, katanya mene-pekur.
"Jelas masih ada tanda2 rahasia itu di San--lam-koan, tapi setiba di Tho-sip tanda2 itu lenyap, mungkinkah dia mengalami sesuatu di sekitar Sam--lam-Koan.. Tengah mereka bicara, pelayan sudah antar kembali makanan pesanan mereka. Mereka makan cepat2, setelah bayar rekening terus keluar, dengan menuntun kuda mereka berjalan kaki cukup jauh dijalan raya. Dalam hati Ling Kun-gi menimang2, semula banyak orang menguntit si mata satu, tapi di Sok-seng tiada seorangpun kaum persilatan yang kelihatan, sementara sipicak ini tahu2 muncul dari arah Hoa-ji-kang. datang dari utara, agaknya komplotan cin-cu-ling tahu bahwa mereka dibuntuti, entah dengan cara apa, semua orang yang menguntit itu satu persatu dipancing ke arah lain, Demikian pula Kim-loyacu tiba2 putus hubungan, kemungkinan juga terkena muslihat mereka. Maka besar tekad Kununtukselekasnya menyusul ke Sam-LamKoan. Tengah berjalan, seorang yang berdandan pelayan hotel mengadang mereka sambil munduk2, katanya tertawa.
"Kongcu berdua apa cari penginapan, hotel kami serba bersih dan nyaman teduh, service tanggung memuaskan, kuda kalian boleh serahkan kepada hamba."
Waktu Kun-gi angkat kepala, dilihatnya di depan sana memang ada sebuah hotel sok-seng, maka dia berpaling, katanya.
"Dik, biar kita menginap saja semalam di sini."
Panas muka Pui Ji-ping, dia mengiakan sambil manggut sekali.
Segera Kun-gi serahkan kudanya, lalu mendahului melangkah masuk.
Pelayan lain segera datang menyambut serta antar mereka memilih kamar, akhirnya mereka memilih sebuah kamar besar yang terdiri dua ruangan berdampingan, masing2 ada sebuah ranjang, jadi merekatidurdidua kamarterpisah.
Menjelang kentongan kedua Kun-gi siuman dari semadi, dia pasang kuping, tiada suara apa2 di kamar Pui Ji-ping kecuali deru pernapasannya yang teratur, terang si nona sudah tidur nyenyak.
Pelan2 dia berdiri membuka jendela terus melompat keluar, dia tutup pula jendelanya dari luar, terus meloncat ke wuwungan rumah.
Dengan mengembangkan Ginkang dia meluncur dengan kecepatan luar biasa, hanya setanakan nasi dia sudah tiba di Tho-sip.
dari sini ke San-lam-koan dia terus memeriksa dengan teliti, namun tiada tanda2 apapun yang dia temukan, tapi pada sudut sebuah tembok di San-lam-koan masih ada tanda peninggalan Kimloyacu, jelas arahnya menuju ke Tho-sip.
Ini membuktikan bahwa Kim-loyacu sudah meninggalkan San-lam-koan, tapi tujuannya bukan ke Tho-sip.
Lalu kemana dia?
Tiba2 tergerak pikirannya.
"Sipicak datang dari Hoaji-kang yang letaknya di sebelah utara Tho-sip. terang mereka sengaja dipancing ke jurusan lain oleh kawan2 si picak."
Maka dia menuju ke utara, pada setiap persimpangan jalan dia mengadakan penelitian-Tapi dari Kang-keh-tiam, Han-siau-tiam, Hok-ma-tiam sampai Thong-keh-kang, sejauh puluhan li dia terus mengadakan pemeriksaan tanpa menemukan apa2, se-olah2 Kim-loyacu tak pernah datang ketempat2 ini.
Dia tahu Kim-loyacu sudah banyak pengalaman dan berpengetahuan luas, kalau dia sudah me-ninggalkan tanda2 di Sanlam-koan, umpama ter
Jilid 6 Halaman 5/6 Hilang Keluar dari hutan, mereka naik kuda menempuh perjalanan pula.
Lewat lohor baru mereka tiba di Thong-sengJi-ping apal keadaan kota ini, maka dia menunjuk jalan, setelah membelok kejalan raya sebelah timur sana dia menuding ke depan.
"Toako, waktu masih pagi, marilah istirahatdirestoranitu?"
"Baik, rumah makan berloteng itu ternyata cukup besar bangunannya."
"Tempo hari bersama Piauci kami menyamar laki2 dan pernah melancong kemari. Ketika itu In-congkoan juga naik ke loteng minumteh, tapidiatidak mengenali kami lagi."
"Siapakah In-congkoan?"tanyaKun-gi.
"In-congkoan bernama In Thian-lok, kepala keluarga paman, katanya berilmu silat tinggi."
Waktu itu mereka sudah tiba di depan restoran, pelayan menyambut mereka ke loteng. ji-ping lantas menuding meja dekat jendela."Tempoharikamidudukdi mejaitu."
Setelah Kun-gi duduk. waktu dia angkat kepala, dilihatnya di seberang jalan sana adalah sebuah toko kain "LEK HONG".
"Kebetulan kau mencaritempatdi sini,"katanyatertawa.
"Tempo hari kami berbelanja juga di toka kain di depan itu, malamnya kami jalan2 melihat keramaian kota,"
Kata Ji-ping.
"Toako, jalanan di sini aku lebih apal, nanti biar aku yang menguntit orang yang beli lima blok kain itu. Kau tunggu saja di sini."
Ling Kun-gi manggut2 menyetujui usulnya.
Pada saat itulah, muncul seorang dari anak tangga, dia mengenakan topi kulit berbulu, memanggul sebuah kotak kayu warna merah, kumisnya panjang, usianya belum 50, dandanannya mirip pengembara, tapijugasepertipedagang perhiasan-.
Matanya menjelajah sekelilingnya terus menghampiri meja di sebelah kanan Ling Kun-gi yang berdekatan dengan jendela, peti kayu dia letakan di atas meja, sambil memelintir kumis dia duduk memandang ke arah toko kain di depan sana.
Pelayan datang melayani pesanannya.
Sejak orang ini masuk Kun-gi sudah lantas memperhatikan, maka dia berbisik kepada Pui Ji--ping.
"Sejak kini jangan bicara soal itu pula."
Ji-ping melengak. dia berpaling, namun yang dilihat hanya bayangan punggung orang, segera ia bertanya sambil mendekatkan tubuh.
"Siapa dia?"
Kun-gi menggeleng, lalu dengan ilmu mengirim belombang suara dia berkata.
"Nanti kujelaskan."
Selanjutnya mereka bergurau dan bicara panjang lebar mengenai iniitusambil memperhatikanpriabertopidisebelah.
Menjelang sore, terdengar suara derap kaki kuda yang ramai mendatang dari kejauhan, tampak lima ekor kuda berjalan ke arah sini.
orang yang duduk di kuda paling depan berperawakan besar, alis tebal mata cekung, wajahnya kelabu, berpakaian jubah biru, iapun nengenakan topi kecil berbulu burung, kumis di atas bibirnya terawat baik dan rapi, wajahnya kereng berwibawa, betapa gagah dia duduk di atas kudanya.
Di belakangnya adalah orang2 yang berpakaian serba ketat, golok tergantung di pinggang masing2, kelihatan angker dan bersemangat barisan lima kuda ini.
orang2 yang berlalu lalang sama minggir memberijalan-Melihat laki2 muka kelabu yang bercokol di punggung kuda ini, tak terasa ber-gerak2 bibir Pui Ji-ping, dilihatnya laki2 muka kelabu itu mendahului menghampiri toko kain Tek-heng dan berhenti.
Empat orang pengikutnya ter-sipu2 turun, seorang pegang kendali, seorang bantu dia melompat turun, dua orang yang lain melangkah ke dalam toko sebagai pembuka jalan-Jelas toko kain Tek-hang hari ini kedatangan tamu yang akan memborong dagangannya.
Maka ributlah keadaan toko kain itu, pelayan sibuk melayani, pemilik toko bersama tuan kasir keluar menyambut.
Sudah tentu Kun-gi dan Ji--ping menyaksikan semua ini dengan jelas dari tempatnyayangtinggidiatas loteng.
Setelah laki2 muka kelabu duduk.
seorang pelayan toko menyuguhkan air teh.
Tanpa sungkan2 si muka kelabu angkat cangkir dan minum seteguk.
lalu berbicara kepada tuan kasir, tuan kasir tampak munduk2 sambil tertawa lebar seperti mengiakan, cepat dia berpesan apa2 kepada pelayan di sampingnya.
Beberapa pelayan toko segera bekerja penuh semangat dan sibuk sekali, mereka membawa beberapa contoh kain sutera ke hadapan si muka kelabu.
Dengan seksama laki2 muka kelabu memilih, lalu menuding beberapa di antaranya, barang yang terpilih itu segera di kumpulkan di meja tersendiri.
Kembali laki2 muka kelabu berkata kepada tuan kasir seperti ingin membeli kain corak lain-Tuan kasir munduk2 lagi, dia pimpin beberapa pelayan membuka almari dan mengeluarkan lima blok kain katun warna hijau pupus, pelayan toko langsung membawanya keluar dan diserahkan anak buah laki2 muka kelabu, lalu diikat di punggung kuda.
Melihat lima blok kain katun hijau pupus ini, hampir saja Pui Jiping berteriak kaget.
Laki2 bertopi di meja sebelah segera merogoh saku membayar uang teh terus berlari turun loteng sambil memanggul peti kayunya.
Melihat orang pergi ter-gesa2, Ji-ping bertanya.
"Toako, siapakah dia?"
Kun-gi pandang sekelilingnya baru menerangkan dengan suara rendah.
"Dia adalah laki2 tua bergelung kuncir yang mengantar cincu-ling itu, baru hari ini dia memakai topi."
"dia turun ter-gesa2, jadi mau menyampaikan barang itu?"
"Lima blok kain katun hijau pupus sudah diikat di punggung kuda, itu tanda yang sudah jelas, sudah tentu dia harus lekas2 mengantarkan barangnya."
Sedang mereka bicara, tampak laki2 bertopi itu sudah menyeberang jalan langsung menuju ke toko kain itu.
Seorang pelayan segera menyambutnya, maksudnya supaya dia tidak serampangan masuk toko yang sedang sibuk melayani pembeli besar.
Laki2 bertopi manggut2 minta maaf, dia menuding laki2 muka kelabu di dalam toko serta mengucapkan beberapa patah kata, seperti mengatakan mau menyampaikan sesuatu barang padanya.
Pelayan manggut2 serta mempersilakan dia masuk.
Menjinjing peti kayunya laki2 bertopi beranjak ke dalam, langsung dia mendekati laki2 muka kelabu dan memberi hormat.
Si muka kelabu hanya sedikit mengangguk dan mengajukan beberapa patah pertanyaan-Laki2 bertopi unjuk tawa lebar sambil melangkah maju, peti kayu dia taruh di atas meja, ia mengeluarkan anak kunci dan membuka petinya itu, dari dalam kotak dia keluarkan serenceng kalung mutiara, tusuk kundai, kembang berlian, gelang dan lain2 macam perhiasan, bersama dua buah kotak kecil berlapis kain, sutera biru, satu persatu dia aturkan ke hadapan laki2 muka kelabu, mulutnya tak berhenti menerangkan ini itu seperti penjual perhiasan layaknya yang memuji barang dagangannya.Jadi Cin-cu-ling yang dibawanya itu berada di dalam kotak itu.
Seenaknya saja laki2 muka kelabu memilih delapan macam perhiasan, sudah tentu kedua kotak itupun dipilihnya, lalu dari lengan bajunya dia keluarkan selembar uang kertas dan diserahkan kepada laki2 tua bertopi itu.
Berseri girang laki bertopi, setelah terima uang kertas (sebangsa cek) itu, dia bereskan dagangannya, sambil munduk2 dan berucap terima kasih terus keluar.
Sementara itu pelayan sudah membuntal beberapa blok kain suteralainnyadiatas kudayanglainpula.
"Toako, hayo lekas berangkat,"
Tiba2 ji-ping berkata gugup.
"Mau kemana?"
Tanya Kun-gi heran "Lekaslah, kalau terlambat, tidak ada kesempatan lagi,"
Desak Jiping.
Cepat2 mereka turun terus larikan kuda keluar kota menuju ke utara, diluarkotaji-ping melarikan kudanyaterlebihkencang.
Semula Kun-gi kira dia hendak menguntit si tua bergelung kuncir yang menyaru pedagang perhiasan, dari uang kertas yang dia terima dari laki muka kelabu itu pasti bisa diselidiki siapa sebetulnya laki2 muka kelabu itu.
Tapi sekarang dia baru menyadari bahwa dugaannya ternyata meleset jauh.
Ji-ping bukan mengejar atau menguntit orang, tapi dia membedal kudanya seperti orang kesetanan sampai lima li jauhnya, lalu membelok ke sebuah jalan kecil yang berlapis batu.
Waktu itu sudah magrib, sang surya hampir terbenam, burung2 berkicau kembali ke sarangnya, jauh di antara gunung gemunung di antara lebatnya pepohonan sana tampak asap mengepul di angkasa.
Betapapun sabar hati Kun-gi, setelah heran sekian lamanya, kini tak tahan lagi, dia bedal kudanya memburu ke depan serta bertanya.
"Dik, hendak ke mana kau sebetulnya?"
Ji-ping berpaling, sahutnya tertawa.
"Kubawa kau menemui seorang."
"Siapa dia?"
Tanya Kun-gi.
"Setelah berhadapan pasti kuperkenalkan."
"Orang ini ada hubungannya dengan tujuan perjalanan kita?"
Sambil memecut kudanya Ji-ping menjawab.
"Toako tak usah banyaktanya, setelahtibasaatnyakauakantahusendiri."
Kuda mereka adalah milik keluarga Tong yang terpilih, maka larinya kencang sekali, 20 li sudah mereka tempuh, pegunungan di sini berpanorama indah permai, pohon Siong dan hutan bambu memagari jalanan, keindahan alamnya laksana dalam impian Tiba2 tergeraklah hati Ling Kun-gi, dia ingat Kim Kay-thay pernah menyinggung Liong-bin-san-ceng kepadanya, letaknya di utara kota Thung-seng, mungkinkah Liong-bin san-ceng terletak dipegunungan ini?
Sementara itu Pui Ji-ping di sebelah depan sudah tiba di kaki gunung, mendadak dia belokkan kudanya ke dalam hutan serta memperlambat larinya, beberapa jauhnya, dia lompat turun dengan menuntun kuda ia menyelinap semak2 pepohonan yang lebih dalam.
LingKun-giikutisinona,tanyanya."Sudahsampaibelum?"
"Belum, kita sembunyikan dulu kuda2 ini."
"Apa kita mau pergi ke Liong-bin-san-ceng?"
Tanya Kun-gi.
"Darimana Toako tahu?"balastanyaJi-ping kagetdanheran.
"Aku hanya menduga, gunung ini adalah Liong-bin-san (gunung naga tidur) kecuali pergi ke Liong-bin-san-ceng, ke mana lagi?"
"Em,"
Hanya itu suara yang keluar dari teng-gorokan Ji-ping, dia tetap menuntun kuda memasuki hutan.
Akhirnya mereka menambat kuda di hutan yang agak gelap dengan pepohonan lebat.
Berkata Kun-gi dengan nada serius.
"Dik, memang jarang orang2 Liong-bin-san-ceng bergerak di kalangan Kangouw, tapi kabarnya kepandaian sang cengcu, ciam-liong Cu Bun-hoa amat tinggi, iapun pandai membangun berbagai alat perangkap. demikian pula racun dansenjatarahasia, jangankausembarangan main2disini."
"Toakotidakusahkuatir, kitatidakakan mengusikmereka."
"Jadi siapa sebetulnya yang kau cari?"
"Toako ikutisajadiriku"
Ji-pingtetaptidak mau menerangkan-Terpaksa Kun-gi mengikuti ke mana saja Ji-ping membawanya, mereka mendaki bukit tandus di sebelah kiri, lalu menyusuri selokan, lompat ke atas pematang dan tiba di sebuah tempat yang banyak pohon siong, tampak sebuah jalan besar yang dibangun dari papan batu hijau menjurus lurus ke arah sebuah perkampungan, agaknya letak perkampungan itu masih satu li jauhnya...
Hari sudah mulai gelap.
dilihat dari kejauhan hanya kelihatan bayang2 gelap yang bertutup genteng, itulah Liong-bin san-ceng adanya.
"Marilah kita turun,"
Ajak Ji-ping, dia bawa Kun-gi menuruni jalanan kecil dan berputar ke belakang gunung, menembus hutan, tak lama kemudian mereka sudah berada di kiri perkampungan "naga tidur."
Pagar tembok yang tebal dan tinggi dari Liong-bin-sanceng sudah tampak jelas. Ji-ping berhenti, dia menggape ke arah Kun-gi menyuruhnya mendekat.
"Adaapadik ?"
Kun-gitanya. Ji-ping menuding dinding, katanya.
"Masuk dari sini, di balik tembok ada sebuah jalan besar yang mengitari seluruh perkampungan untuk masuk ke perkampungan harus melewati jalan besar beralas batu hijau itu, maka penjagaan sepanjang jalan ini amat ketat dan keras, seluruhnya ada delapan pos penjagaan, setiap pos ada dua orang, ditambah seekor anjing pelacak yang amat galak. kalau kita masuk dari sini harus melewati pos pertama ....."
"Kita akan masuk?"
Tanya Kun-gi.
"Sudah tentu, buat apa sejauh ini kita kemari."
"Untuk apa kita masuk ke sana ?"
"Untuk apa kau tidak usah tahu,"
Kata Ji-ping.
"bila kita melompat naik ke atas tembok, kau harus menggunakan kecepatan luar biasa untuk menutuk Hiat-to kedua orang yang berjaga dipos pertama, kalau anjing datang, biar aku yang menghadapi, cepat kau harus membebaskan pula tutukan Hiat-to kedua orang itu, tapi jangan sampai mereka mengetahui jejakmu, dengan kecepatan gerakanmu, sembunyilah di tempat gelap. di antara deretan rumah di seberang."
"Bagaimana kau akan menghadapi anjing galak itu?"
Tanya Kungi.
"Aku punya caraku sendiri,"
Sahut Ji-ping.
"bekerjalah menurut petunjukku, urusan lain kau tidak usah turut campur."
Kun-gi bingung, ia termenung .
"Kelihatannya dia apal sekali mengenai seluk-beluk Liong-bin-san-ceng ini."
Ji-ping meliriknya, katanya tertawa.
"Toako, apa yang sedang kau pikir? Lekas masuk, kalau terlambat, nanti in-congkoan keburu pulang."
"Siapakah In-congkoan?"
Tanya Ling Kun-gi..
"In-congkoan adalah laki2 muka kelabu yang membeli lima blok kain di toko Tek-hong itu, dia bernama In Thian-lok, Congkoan dari Liong-bin-san-ceng ini."
"Kiranya kau kenal dia."
"Kalau tidak kenal, untuk apa kita kemari?"
Dari kejauhan mereka sudah dengar derap kuda yang lari kencang.
"Mereka sudah kembali,"
Kata Ji-ping., ia tarik tangan Kun-gi serta menambahkan.
"Pagar tembok ini ada tiga tombak tingginya, kalau aku melompat setinggi itu mungkin mengeluarkan suara, kau harus bantu menarikku."
Berdebur jantung Kun-gi menggandeng tangan yang halus ini.
Dengan tangan bergandeng tangan mereka keluar hutan terus mengembangkan Ginkangberlarisecepatterbang.
Setiba di kaki tembok.
Kun-gi berseru lirih.
"Naik"
Badan tanpa jongkok, kaki tidak keli-hatan menekuk, hanya kedua lengan saja yang bergerak.
sedikit ujung kaki menutul, dengan ringan dia membawa Ji-ping melambung ke atas seringan kapas dan hinggap di atas pagar tembok.
Waktu dia melihat ke dalam, ada jalan lebarnya enam kaki.
Tak jauh di kaki tembok sana dua orang laki2 bersenjata golok berseragam hijau tua sedang berdiri membelakangi mereka.
Di bawah mereka mendekam seekor anjing galak sebesar anak sapi, kelihatan amat cerdas dan tangkas, agaknya lebih sukar dilayani daripada manusia.
Sebelum melompat naik tadi Kun-gi sudah menjemput dua butir kerikil, baru saya tapak kaki hinggap di atas tembok.
dua butir batu lantas meluncur ke arah kedua orang, sementara mulutnya berseru lirih.
"Lekas turun"
Tanpa ayal Ji-ping melompat turun-Belum kakinya hinggap di tanah, anjing pelacak itu sudah melompat bangun, bulunya berdiri, giginya menyeringai memburu maju.
Begitu berdiri tegak Ji-ping lantas membentak tertahan..
"Jangan menyalak, aku"
Mendengar suara Ji-ping, anjing galak itu menurunkan ekor-nya, dengan langkah pelan dia menghampiri Jiping serta meng-endus2 tangan Ji-ping, sikapnya ramah dan aleman-Pui Ji-ping juga ulur tangan menepuk kepalanya, cepat dia melangkahkedepan,anjingitu mengikutdibelakangnya.
Kun-gi melongo, pikirnya..
"Mungkin iapun salah seorang dari Liong-bin-san-ceng?"
Ji-ping membawa anjing itu ke tempat lain, Kun-gi lantas melompat turun sembari membebas-kan tutukan Hiat-to kedua orang tadi, segera bayangan berkelebat, tahu2 sudah lenyap di balik kegelapan di deretan rumah sana.
Terdengar derap kaki kuda yang datang semakin dekat, agaknya sudahsampaididepan perkampungan-Waktu Kun-gi celingukan, dilihatnya Ji-ping sudah berkelebat datang pula, katanya lirih.
"Toako, mari ikuti aku"
Banyak tanda pertanyaan dalam hati Kun-gi, tapi tak sempat bertanya, terpaksa dia ikuti setiap kehendak Pui Ji-ping, mereka sembunyi di antara bayang2 kegelapan, mereka menyelundup masuklebih dalam.
Agaknya Ji-ping apal benar mengenai keadaan Liong-bin-san-ceng, melewati ber-lapis2 rumah, naik ke wuwungan, membelok kian kemari, se-olah2 dia berada di rumah sendiri, cuma kali ini dia main sembunyi2.
Untung beberapa bangunan loteng sudah mereka lampaui tanpa konangan seorangpun, akhirnya mereka mengitari sebuah serambi panjang terus memasuki sebuah halaman berbunga, Jiping bawa Kun-gi masuk melalui pintu kanan yang berbentuk bulan, sebelah dalam adalah pekarangan kecil, sebuah empang dikelilingi tanaman bunga yang mekar semerbak.
Ada jembatan batu, di antara jalanan kecil yang berliku ke belakangdipagaripot2 kembang dariberbagaijenisyang indah.
Di ujung kiri pekarangan terdapat undakan batu, di mana ada tiga baris kamar tulis, jadi untuk masuk ke kamar tulis orang harus lewat ruangan bunga, maka pintu bulan di kanan kiri jarang dibuka, namun enamjendela di tiap2 kamar itu semua terpentang lebar.
Pelan2 Ji-ping tarik lengan baju Kun-gi, mereka merunduk ke dalam semak2 bunga terus berjongkok.
Di dalam kamar tersulut sebatang lilin.
dari jauh terlihat kamar itu penuh rak buku yang berjajar rapi, lukisan memenuhi dinding, pada sebuah kursi di ujung timur duduk seorang yang berpakaian ketat warna biru laut sedang membaca buku di bawah penerangan lilin besar itu.
Karena dia duduk miring, yang kelihatan hanya setengah bayangannya, tak jelas raut mukanya.
Kun-gi berpaling hendak tanya Pui Ji-ping, tampak sikap sinona agak tegang, sebuah jarinya tegak di depan bibir, maksudnya supaya dia jangan bersuara.
Pada saat itulah di luar pintu bulan sabit kedengaran langkah ringan berhenti di depan kamar buku, lalu terdengar suara yang serakrendahberkata."Cengcu, hambasudah kembali."
Diam2 Kun-gi terkejut, pikirnya.
"Ternyata orang yang membaca buku itu adalah Liong-bin-san-ceng Cengcu Cu Bun-hoa adanya."
Terdengarsuaralantangberkatadidalam.
"Masuklah?"
Lalu seorang membuka pintu, langkah ringan itu masuk ke dalam kamar. Terdengar suara serak itu berkata pula.
"Mengingat musim panas sudah menjelang, para saudara perkampungan perlu berganti pakaian, maka dalam perjalanan ke kota kali ini hamba sekalian membeli lima blok kain katun."
"Barang2 permintaan Hujin dan Siocia juga sudah kau belikan?"
Tanya suara lantang tadi.
"Semuanya sudah hamba beli, seluruhnya habis tiga ratus tiga puluh dua tahil perak."
"Barang apa yang mereka minta, kenapa sampai keluar uang begitu banyak?"
Suara serak melapor.
"Tujuh blok kain sutera dan empat blok kain satin, harganya cuma 24 tahil, di samping itu Siocia minta dibelikan kembang berlian dan kalung mutiara, harganya sebanyak seratus lima puluh tahil, sebelum pergi Hujin berpesan, kalau beli harus sepasang, kalau Slocoa dibelikan, Piau-siocia juga harus dibelikan pula ... ."
Mendengar sampai di sini, Kun-gi melirik ke-pada Pui Ji-ping dibelakangnya.
"o,"
Suara lantang itu bertanya.
"Kau sudah antar ke belakang? Lalu kabar apa yang kau dengar di kota?"
"Hamba memang hendak lapor kepada Ceng-cu,"
Suara serak itu berkata.
"dari That-ho dan Ing-ciu diperoleh berita bahwa Lo-sam dan Lo-cit dari keluarga Tong, serta Loji dari keluarga Un, demikian pula Kim Ting Kim Kay-thay yang jarang keluar pintu bersama Thong-pi-thian-ong yang berangasan itu sama muncul di sekitar sana ...."
"O,"
Suara lantang itu berkata.
"Tanpa berjanji mereka sama memasuki daerah ini, sudahkah menyelidiki apa tujuan mereka?"
"Hamba sudah utus beberapa saudara yang cekatan untuk menyelidiki jejak mereka, sekarang memang belum berhasil diketahui maksud mereka, tapi hamba sudah mendapat laporan anak buah yang ditugaskan ke Thung-seng ... ."
"Berita apa yag kau peroleh?"
"Kabarnya dari Poh-yang, Ing-ciu sampai ke Sek-song, secara beruntun beberapa kelompok orang itu mendadak lenyap tak keruan paran-"
Tergerak hati Ling Kun-gi, pikirnya "Masa orang2 itu lenyap seluruhnya?."
"Apa katamu?"
Suara lantang itu menegas.
"Mereka hilang semuanya?"
"Ya, kabarnya mereka bergerak secara sendiri2, tapi tujuan satu, tapi di sinilah letak aneh-nya, sebelum sampai di Sok-seng, orang2 itu seperti mendadak ambles ke bumi. Kini hamba sudah utus orang untuk menyelidiki lebih lanjut."
"Bagus, sebelum jelas tujuan orang2 itu, penjagaan kita di sini harus diperketat,"
Suara lantang berpesan-Suara serak mengiakan, lalu bertanya-"Cengcu ada pesan lain?"
"Tiada lagi."
"Hamba mohon diri,"
Kata suara serak terus keluar dari kamar buku.
Suara serak itu sudah tentu adalah laki2 muka kelabu yang membeli kain di toko kain Tek-hong, yaitu Cong-koan Liong-bin sonceng In Thian-lok adanya.
Setelah dia keluar dari kamar buku, laki2 jubah hijau itupun berbangkit dari kursi malas, sambil menggendong tangan dia berjalan ke jendela, mendongak menghirup hawa segar, katanya menggumam.
"orang sebanyak itu mendadak lenyap. ada kejadian aneh apa yang telah mereka alami?"
Begitu dia dekat jendela, Kun gi dapat melihat jelas wajahnya, Liong-bin-sun-ceng cengcu yang kenamaan dikalangan Kangouw ini kelihatannya berusia 45-an, wajahnya putih, jenggot hitam menjuntai di dada, tingkah lakunya lemah lembut mirip seorang sekolahan.
cuma kedua alisnya tebal, kedua matanya berkilau bagai bintang, sekilas pandang orang akan tahu bahwa dia seorang ahli Lwekang yang lihay.
Pui Ji-ping yang sembunyi di semak2 pohon begitu melihat laki2 jubah hijau berdiri di depan jendela, karena hati keder, tanpa terasa dia menarik kencang lengan baju Ling Kun-gi, sedikit gerakan ini menyebabkan daun pohon tersentuh sehingga mengeluarkan suara kresek, walau hanya gerakan lirih sekali, tapi kedua mata laki2 jubah hijau yang mencorong itu sudah memperhatikan ke arah sini, mulutpun membentak kereng.
"Siapa?"walausuarabyatidak keras, tapisangatberwibawa. Terpaksa Ji-ping berdiri dan keluar dari semak2, sahutnya pelahan.
"Aku paman"
Jadi dia adalah keponakan laki2 jubah hijau itu. Lalu dia membalik tubuh serta berkata.
"Ling-toako, lekas ikut aku." -dari sebutan Toako men-dadak dia ubah menjadi "Ling-toako"
Dihadapan pamannya sehingga kedengaran lebih wajar.
Setelah Ji-ping keluar, terpaksa Kun-gi ikut keluar, satu persatu mereka melompati jendela masuk ke dalam dan berdiri di hadapan laki2 jubah hijau.
Dengan tajam orang mengawasi mereka, terutama melihat dandanan Pui Ji-ping, seketika dia mengerut alis, katanya.
"Kau ini Ji-ping?"
Si nona tertawa, katanya.
"Sudan kupanggil paman, kalau bukan Ji-ping, siapa lagi?"
Lalu ia berpaling kepada Kun-gi, dan berkata.
"Ling-toako, inilah pamanku, Cengcu dari Liong-bin-san-ceng ini."
Lekas Kun-gi memberi hormat, katanya.
"Cayhe Ling Kun-gi memberisalamhormatkepa-daCu-cengcu "
"Paman, Ling-toako telah dua kali menolong jiwa keponakanmu, maka sengaja kubawa dia kemari untuk menemui paman,"
Demikian tutur Ji-ping, Tajam dan lekat pandangan Cu Bun-hoa, sejenak dia awasi Kun-gi, katanya sedikit manggut2.
"Silakan duduk saudara Ling, Ji-ping, suruhlah orang menyuguh teh." -dalam hati dia membatin.
"Budak ini malam2 menemui aku, entah ada urusan apa."
Sambil mengelus jenggot, dan tatap Ji-ping, tanyanya.
"Kalian ada urusan apa?"
Ji-ping menekan suaranya.
"Ada urusan penting yang amat rahasia hendak kami laporkan kepada paman-"
Cu Bun-hoa melengak dan bertanya.
"Urusan rahasia apa?"
Kata Ji-ping sungguh2.
"Paman, urusan ini amat penting dan gawat, sekali2 tidak boleh bocor."
Melihat sikapnya yang prihatin, hati Cu Bun-hoa rada bimbang, katanya.
"Ji-ping, siapapun tanpa kupanggil tiada yang berani masuk ke kamar buku paman ini, maka boleh kau terangkan sekarang."
"Aku tahu,"
Sahut Ji-ping.
"tapi lebih baik kalau kututup jendela ini."
"Memangnya begitu penting?"
Tanya Cu Bun-hoa.
"Ya"
Sahut Ji-ping tertawa.
"tadi kami sembunyi di luar jendela, bukankah percakapan paman dengan In-congkoan dapat kami dengarsemua?"-laluiapun menutup jendelanya. Cu Bun-hoa duduk di kursi sebelah atas, tanya-nya.
"Ji-ping, apakahToaci (maksudnyaibuJi-ping)baik2sajadirumah?"
"Aku belumpulang,"
Sahut Ji-ping menggeleng.
"Lalu ke mana saja kau selama ini?"
Merah muka Ji-ping, sekilas dia lirik Kun-gi, katanya.
"Di tengah jalan kubertemu dengan Ling-toako, lalu bersama dia."
Pandangan Cu Bun-hoa beralih ke arah Kun-gi, katanya tertawa.
"Aku sudah tahu, walau usia Ling-lote masih muda, tapi sorot matanya gemilang, kepandaian silatnya tentu tidak rendah, entah siapakah gurunya?"
Belum Ling Kun-gi buka suara, Ji-ping sudah mendahului.
"pandanganmu memang tajam, Ling-toako adalah murid Hoan-jiu jilay."
Melengak Cu Bun-hoa, katanya serius.
"Jadi Ling-lote adalah murid kesayangan paderi sakti Hoan-jiu-ji-lay, maaf aku kurang hormat."
"cengcuterlalurendahhati"
Kun-giberkataramah. Mendengar nada pembicaraan kedua orang Ji-ping tahu kalau pamannya menaruh hormat dan pemuja Hoan-jiu-ji lay, maka hatinya ikut senang, katanya dengan suara hampir berbisik.
"Ling-toakokemariuntuk menyelidikiperistiwaCin-Cu-ling."
Cu Bun-hoa manggut2, katanya.
"Aku pernah dengar berita dari Kangouw bahwa keluarga Un di Ling-lam dan Tong di Sujwan masing2 kehilangan kepala keluarganya, sanak familinya menemukan mutiara berukir huruf Ling di bawah bantal mereka. Cin-Cu-ling memang pernah menggemparkan Kang-ouw beberapa waktu yang lalu, tapi kejadian sudah berlarut, kini sudah mulai dilupakan orang, lalu bagaimana hasil penyelidikan Ling-lote?"
Ji-ping mendahului bicara pula.
"Paman, karena tiga bulan yang lalu ibu Ling-toako juga mendadak lenyap, maka gurunya menyuruh dia mengembara di Kangouw untuk menyelidiki peristiwa Cin-Cu-ling itu, Langkah pertama Ling-toako pergi ke Kay-hong menemui Kim Ting Kim Kay-thay, karena ketua Yok-ong-tian, Loh-san Taysu dari Siau-lim-s juga telah lenyap tiga bulan yang lalu."
Tergetar hati Cu Bun-hoa, katanya.
"Ketua Yok-ong-tian Siaulim-sijuga lenyap. kenapaakutidak mendengar?"
"Panjang kalau diceritakan, Ling-toako, kau saja yang menjelaskan pada paman-"
Maka Kun-gi bercerita tentang pengalaman belakangan ini sejak dia menemui Kim Kay-thay di Kayhong serta terima surat yang serba rahasia dan misterius itu sampai sekarang.
"Ling-lote tahu, apa isi kotak sutera itu?"
Tanya Cu Bun-hoa.
"Paman,"
Sela Ji-ping.
"dengarkan saja dengan sabar, semuanya akan jelas "
Kun-gi lalu ceritakan pula penculikan Pui Ji-ping oleh orang2 keluarga Tong yang dipimpin Cit-ya dan terpaksa dirinya sampai meluruk ke Pat-kong-san. Cu Bun-hoa mendengus sambi1 mengelus jenggot.
"Keluarga Tong juga berani main kayu terhadap keluargaku. Ji-ping, kapan2 paman juga ringkus Kwi-kianjiu itu, akan kugantung dia tiga hari tiga malam."
"Jangan,"
Seru Ji-ping.
"sekarang aku sudah angkat Tong-lohujin sebagai ibu angkatku."
"o, apa pula yang telah terjadi ?"
Tanya Cu Bun-hoa tak mengerti.
"Waktu Ling-toako meluruk ke Pat-kong san, dia pukul hancur Pat-kwa to tin keluarga Tong, Tong-hujin lalu menerimaku sebagai puteri angkat. Toako, untuk selanjutnya kau saja yang bercerita."
"Seperti apa yang telah cengcu terima beritanya tadi, sejak mula Wanpwepun terus menguntitnya sampai sini,"
Demikian sambung Kun-gi setelah bercerita panjang lebar. Berkerut alis Cu Bun-hoa, katanya.
"Barang apakah sebenarnya yangdiantarsecaramarathondengan gantiberganti tangan, sampai menimbulkan perhatian banyak orang."
Maka Ling Kun-gi bercerita pula akan pengalamannya sejak turun dari Pat-kong-san, dan barang yang diantar itu sekarang kemungkinan sudah mencapai tempat tujuan ya terakhir.
"Kemana mereka antar barang itu?"
Tanya Cu Bun-hoa kemudian "Yang jelas barang itu cin cu-ling, Wanpwe sudah membuktikan sendiri."
"Lalu bagaimana selanjutnya menurut apa yang kau ketahui?"
"Menurut hasil penyelidikan Wanpwe, Cin-Cu-ling harus diserahkan kepada seorang yang membeli lima blok kain katun di toko kain Tek-hong di kota Thung-seng." ' Berubah air muka Cu Bun-hoa, tanyanya.
"Kalian terus menguntitnya tidak?"
"Sudah tentu,"
Sela Ji-ping.
"Jadi kalian sudah melihat Cin-Cu-ling itu di-terimakan kepada orang yang beli lima blok kain katun itu?"
"Kami mengamati dari warung teh diseberang jalan toko Tek-hong, semua kejadian kami saksikan dengan jelas,"
Demikian Ji-ping bercerita.
"cuma pengantar barang yang semula menggelung kuncir di atas kepala hari itu menyamar sebagai pedagang perhiasan, dengan caranya yang lihay dia simpan Cin-Cu-ling di antara perhiasan terus dijual kepada pembeli kain itu, orang lain yang tidak tahu tentu menyangka dia membelikan perhiasan untuk anak gadisnya ......"
"Jadidia?"desisCuBun-hoadengan mataterbeliak.
"Paman tidak percaya?"
Ji-ping menegas. Pelan2 mata Cu Bun-hoa tatap mereka berdua, suaranya kalem dan rendah.
"Sudah puluhan tahun In Thian-lok mengikuti aku, biasanya amat setia dan menyelesaikan tugasnya dengan baik, selamanya belum pernah melakukan kesalahan, kalau dikatakan dia mempunyai maksud jahat, sungguh sukar dipercaya....."
Dia pandang Ling Kun-gi, lalu menyambung pula.
"Ling lote, di atas loteng itu kau menyaksikan dengan jelas, coba kau jelaskan pula lebih teliti."
Terpaksa Kun-gi menceritakannya pula lebih terperinci. Lama Cu Bun-hoa menepekur, katanya kemudian.
"Mereka serahkan Cin-Cu-ling kepada In Thian-lok. jadi orang berikutnya yang hendakdi-culikadalah diriku."
"Kukira demikian adanya,"
Kata Ji-ping.
"Waktu Cayhe meninggaikan Kayhong, Kim-loyacu juga pernah menyinggung diri Cu-cengcu kepada cayhe."
"Apa kata Kim Kay-thay?"
"Kim-loyacu bilang, orang2 yang diculik oleh komplotan cin-cu ling ini kebanyakan adalah ahli2 racun, obat bius dan obat2an, dalam Bu-lim, kecuali keluarga Tong yang pandai menggunakan racun dan senjata, keluarga Un ahli obat bius, katanya Cu-cengcu jugaseorangahlidalambidang ini....."
Hebat perubahan air muka Cu Bun-hoa kali ini, mulutnya menggeram sekali. Terbelalak lebar mata Pui Ji-ping, tanyanya "kenapa tidak pernah kudengar engkau -orang tua juga pandai main racun?"
Hanya sebentar perobahan air muka Cu Bun-hoa, tuturnya sambil menghela napas.
"Keluarga cu kita selamanya belum pernah berkecimpung di Kangouw, mungkin itu hanya berita kosong belaka diluaran, soalaya kakek luarmu dulu pernah menolong seorang tua yang terluka parah dan hampir ajal di luar perkampungan, tiga bulan lamanya orang tua itu dirawat sampai sembuh, sebelum pergi dia meninggalkan sesuatu resep obat. Waktu itu keamanan sering terganggu, kawanan rampok merajalela. main bunuh, rampok. memperkosa kaum wanita, sehingga jaman itu keadaan kacau balau, orang tua itu pernah berpesan kepada kakek luar-mu supaya membuat obat menurut resep yang di tinggalkan serta ditaburkan di daerah tiga li di luar perkampungan secara melingkar, kemungkinan rampokitu tidak akanberani mengusik kemari ... ."
"Tentunyaobatituracun yangamatlihay?"tanyaJi-ping.
"Betul,"
Cu Bun-hoa mengangguk.
"tak lama kemudian, sekawanan perampok memang meluruk datang, tapi tiga li di luar perkampungan kita kawanan perampok ini sama terjungkal roboh binasa sehingga Liong-bin-san-ceng tidak terusik sedikitpun, orang luar yang tidak tahu persoalannya menganggap keluarga Cu kita juga ahli dalam bidang ini, begitulah sampai sekarang, berita ini makin tersiar luas di luaran-"
"Paman, resepobat itu masih ada?"
TanyaPuiJi-ping. Cu Bun-hoa tertawa tawar, ujarnya.
"Kejadian ini sudah lima enam puluh, tahun yang lalu, kakek luarmu tidak mewariskan resep itu padaku."
"Sayang sekali,"
Kata Ji-ping gegetun.
"Jadi komplotan ini menyogok In Thian-lok dan berusaha menculik diriku, tujuannya tentu juga resep obat beracun itu,"
Ujar Cu Bun-hoa sambil mengelus jeng got.
"Bagaimana sikap paman untuk menghadapi persoalan ini?"
Tanya Ji-ping. Cu Bun-hoa naik pitam, katanya gusar.
"Biar kupanggil In Thianlok kemari, akan kutanya dia."
Cukup lama Kun-gi tidak bersuara, sekarang dia menyela.
"Cucengcu, jangan kau menyingkap rumput mengejutkan ular malah."
"Secara berhadapan kutanya padanya, memangnya berani dia mungkir?"
Ujar Cu Bun-hoa.
"Bahwa dalam perkampungan ini ada orang yang kena sogok oleh komplotan itu, mungkin ada mata2 lain pula yang diselundupkan kemari, jumlahnya tentu tidak satu dua orang saja, cara-paman benar In Thian-lok mengaku terus terang dihadapan Cengcu, tapi beberapa mata2 itu tetap. menjadi rahasianya, bagaimana Cengcu bisa membongkar komplotan jahat itu?"
"Betul ucapan Ling-lote,"
Ujar Cu Bun-hoa.
"Ai, sudah puluhan tahun In Thian-lok menjadi tangan kananku yang terperCaya, ternyata dia berani menging kariku dan berkomplot dengan musuh, kalau dipikir sungguh amat mengerikan-"
"Sudah beberapa bulan ibu menghilang, menurut dugaan Suhu, kemungkinan diapun terculik oleh kawanan Cin-Cu-ling ini, kalau mereka sudah menyogok In Thian-lok untuk melaksanakan perintah mutiara itu, terang tujuannya adalah menculik cengcu secara diam2, cayhepunyapendapatbodoh, entahbisatidakdilaksanakan?"
Bersinar mata Cu Bun-hoa, katanya.
"coba jelaskan pendapatmu."
"Menurut pendapat cayhe, untuk sementara cengcu tetap berlaku wajar, anggaptidaktahuapa2, kitabalas menipu mereka."
Tangan mengelus jenggot, dengan tajam Cu Bun-hoa tatap muka Ling Kun-gi, lama diaberdiamdiri.
"cayhe sedikit menggunakan tata rias, biar cayhe menyaru Cucengcu dan diculik mereka, dengan cara ini sekaligus aku akan berhasil menyelidiki sarang mereka, akupun akan berhadapan dengan biang keladi dari peristiwa ini dan mengetahui apa tujuannya?"
"Baiksekali tipu ini", ujarCu Bun-hoa.
"Bagi cayhe dapat bekerja menurut keadaan untuk menolong ibunda, bagi cengcu, secara diam2 dapat mengawasi gerak-gerik In Thian-lok. supaya semua mata2 yang diselundupkan sini bisa terjaring seluruhnya."
"Masuk akal,"
Ujar Cu Bun-hoa manggut2.
"baiklah kita bekerja menurut pendapat Ling-lote ini."
"Ling toako, kau menyamar paman masuk ke sarang musuh, lalu aku?"
Tanya Ji-ping.
"Tugas apa yang kau serahkan padaku?"
"Kau sudah berada di rumah pamanmu sendiri, boleh mencuci samaranmu. tinggal saja beberapa hari di sini, keadaan Kangouw sekarang sudah kacau balau, tidak baik kau keluyuran lagi di luar."
"Tidak keadaanku ini tidak ada yang memperhatikan, secara diam2 aku bisa kuntit mereka dengan leluasa aku bisa mengirim kabar kepada paman-"
"Ji-ping, jangan kau nakal, tepat ucapan Ling-lote, kau seorang perempuan, jangan keluyuran saja, tinggal saja beberapa hari di sini, akan kusuruh orang memberi kabar kepada ibumu."
Dihadapan pamannya, Ji-ping tidak berani merengek dan banyak bicara lagi.
"Malam ini kukira tidak akan ada kejadian, Ling-lote boleh menginap di kamar rahasiaku Ji-ping lekas kau cuci muka, ganti pakaian dan kembali ke belakang.
"Tidak paman, Ling-toako besok mungkin pergi, dia sudah janji mengajarkan ilmu tata rias padaku, sebelum dia pergi malam ini aku akan belajar padanya."
"Ilmu rias mana bisa dipelajari semalam saja? Belum terlambat untukbelajarsetelah Ling-lote kembali nanti."
Sudah tentu dia tidak tahu perhitungan Pui Ji-ping, kata nona itu.
"Tidak. malam ini juga aku akan belajar, meski hanya kulitnya saja. Ling-toako sekarang juga kau ajarkan padaku?"
Apa boleh buat terpaksa Kun gi manggut2, katanya.
"Boleh saja, nantikuajarkan yangpalinggampang dulu."
Pui Ji-ping berjingkrak girang, katanya.
"Ling-toako, ajarkan cara meriassepertikeadaanku sekarangini."
"Kalau belajar, ajaklah Ling-lote ke kamar rahasiaku saja,"
Kata Cu Bun-hoa. Dengan keheranan Ji-ping Celingukan, tanyanya.
"Paman, di mana letak kamarrahasiaitu?Aku koktidak tahu?"
"Kamar itu buat latihan kakek luarmu, bibipun tidak tahu. mana kau bisa tahu?"
"JadiPiaucijugatidak tahu?Paman, dikamar itu?"
Cu Bun-hoa tersenyum sambil menghampiri rak buku di sebelah timur, tangan diulur dan sedikit ditekan, dua rak buku yang semula rapat berjajar tiba2 bergerak pelan2, lalu muncul sebuah pintu di belakangnya.
Pui Ji-ping menjerit senang sambil tepuk tangan dan segera dia mendahului menerobos masuk.
"Ji-ping, berhenti"
Tiba2 Cu Bun-hoa membentak. Baru tiga langkah Ji-ping bergerak lantas dengar seruan pamannya, cepat ia berpaling, tanyanya.
"Paman, untuk apa kau memanggilku?"
Cu Bun-hoa melangkah maju, tangannya menekan dua kali di pinggir pintu, lalu berkata.
"Sekarang boleh masuk."
Melihat kelakuan orang, diam2 Kun-gi Membatin.
"Kabarnya Cu Bun-hoa pandai memasang alat2 perangkap. Liong-bin-san-ceng di mana2 banyak jebakan, orang luar yang tidak tahu seluk-beluknya jangan harap bisa masuk kemari, tapi sepanjang jalan masuk bersama Ji-ping tadi sedikitpun aku tidak melihat tanda apa2 di kamar ini, terang juga dipasang alat jebakan."
Dari meja di sebelah Cu Bun-hoa ambil sebuah lentera yang terbuat dari tembaga dan diangsurkan kepada Ji-ping, katanya.
"Sulut apinya dan tunjukan jalan bagi Ling-toako."
Pui Ji-ping mengiakan terus menyulut api, katanya.
"Mari Ling-toako"
Lalu dia mendahului masuk.
Kun gi segera ikut masuk, pintu di belakang mereka lantas menutup secara otomatis.
Dengan seksama dia mengamati, kamar ini tidak begitu besar, namun serba rapi dan teratur bersih, sebuah dipan kayu terukir indah mepet dinding sebelah kanan, kedua sampingnya masing2 terdapat sebuah meja marmer yang bergambar indah.
Delapan lukisan menghias kedua dinding yang luas itu, tepat di tengah kamar ada sebuah meja delapan segi berukir di kelilingi empat buah kursi berpunggung.
Sebuah almari buku ada di sebelah kiri, di atasnya berjajar berbagai barang2 antik, dilapisan tengah tertaroh botol2 obat, entah obat2 apa karena tiada keterangan-Melihat gelagatnya, Ciam-Liong (naga terpendam) Cu Bun-hoa sering meyakinkan ilmu dansamadidi kamariniseorangdiri.
Dasar nakal, begitu masuk Ji-ping lantas menghampiri dipan dan berduduk.
katanya tertawa.
"Mungkin Gwakong (kakek luar) sering latihan di atas dipan ini, ukirannya begini indah dan hidup,"
Entah kenapa, mungkin tanpa sengaja, tangannya yang usil telah menyentuh alat rahasia, tanpa bersuara dipan itu bergeser ke kiri, di bawah segera tampak sebuah lubang dengan deretan undakan menjurus ke bawah, kiranya itulah pintu masuk ke sebuah lorong di bawah tanah.
Karena duduk di atas dipan, Ji-ping ikut tergeser ke kiri, keruan kagetnya bukan main, lekas dia melompat turun.
Mengawasi lubang gelap di bawah, ia heran dan kaget, katanya.
"Toako, mari kita turun melihatnya."
"Jangan, inilah kamar rahasia pamanmu, lekas kau betulkan ke tempat semula."
"cuma lihat2 saja, kenapa? Diakan pamanku."
"Setiap orang pasti punya rahasianya sendiri, bibipun tidak tahu adanya kamar rahasia ini, bahwa dia memberi ijin kita masuk kemari, pertanda dia percaya pada kita, lalu jangan di luar tahunya kita mencuri lihat rahasianya? Lekas kau betulkan ketempat asalnya."
"Aku menyentuh tanpa sengaja, entah bagaimana aku harus berbuat untuk membetulkan kembali,"
Baru berakhir percakapan mereka, terdengarlah suara Cu Bun-hoa dengan tertawa.
"Aku punya rahasia apa? Lorong itu menembus ke belakang gunung2an palsu di tengah taman sana, dulu waktu almarhum ayahku latihan suka ber-jalan2 di kamar, jadi tiada rahasia apa2."
Sebelum dia selesai bicara, dipan itupun bergerak kembali ke tempat asalnya.
Kun-gi cukup tahu diri, dia tahu banyak perangkap dan alat2 rahasia lainnya dalam kamar ini, terbukti percakapan mereka didengar jelas oleh Cu Bun-hoa di kamar buku, secara tak langsung kata2nya telah memberi peringatan supaya mereka tidak sembarang bergerakataumenyentuhapa2yangadadidalamkamar ini.
Maka ia lantas berkata.
"Nona Pui, lekaslah kemari, sekarang juga mulai kuajarkan padamu,"
Lalu dia tarik sebuah kursi serta berduduk.
dari bajunya dia keluarkan kotak bahan2 rias dan ditaruh di atas meja.
Dengan riang Ji-ping lantas duduk di kursi sebelah kanan Kun-gi.
Kun-gi keluarkan obat cuci yang berwarna madu dan menyuruhnya mengusap muka sendiri untuk membersihkan wajahnya.
Lalu dimulai ajaran menggambar alis, bagaimana menebalkan lekuk bibir mata, bagaimana mencampur bahan2 serta memoleskan ke muka, di sini tebal di sana tipis, sembari memberi penjelasan sebelah tangan memegang kaca kecil serta bergerak menggoles2 muka sendiri, begitu jelas dan teliti sekali penjelasannya.
Otak Ji-ping memang cerdas, sudah tentu sekali dijelaskan dia lantas tahu, cepat sekali dia sudah mahir juga menggunakan alat rias itu terus memperagakan diri, wajah sendiri dibuat percobaan dihadapan Ling Kun-gi, bila ada yang salah Kun-gi lalu memberi petunjuk.
muka dicuci, diulangi sekali lagi.
Mendekati kentongan kedua, pintu kamar di-ketuk orang dari luar, suaranya lirih.
Menurut kebiasaan, setiap malam sebelum tidur Cengcu Cu Bun-hoa menyuruh pelayan pribadinya membikin sop sarang burung, Kebiasaan ini sudah berlang-sung beberapa tahun lamanya, pada hari2 biasa ketukan pintu demikian juga sudah terlalu biasa, tapi lain dengan malam ini, mendengar suara ketukan pintu ini, jantung Cu Bun-hoa lantas berdetak tegang.
Sarapan pagi setiap harinya dia makan sendiri di kamar buku ini, dalam keadaan terang benderang, komplotan penjahat itu jelas tidak takkan berani turun tangan.
Sementara siang dan malam dia makan bersama isteri dan puterinya di belakang, ada pelayan yang melayani kebutuhan mereka, musuh terang tiada kesempatan bekerja.
Dan untuk makan malam menjelang tidur ini, selalu diantar dari belakang, hari sudah larut malam, seorang diri dalam kamar buku lagi, inilah kesempatan paling baik untuk turun tangan bagi komplotan itu.
Secepat kilat pikirannya bekerja, segera dia bersuara dengan rendah.
"Siapa?"
Terdengar suara perempuan di luar pintu, sahutnya.
"Hamba Kwi-hoa, mengantar bubur sarang burung untuk cengcu."
"Ya, bawa masuk"
Sera Cu Bun-hoa.
Pintu terbuka, tampak Kwi-hoa membawa nampan warna merah, di mana tertaruh sebuah mangkok yang mengepulkan bau sedap.
Nampan diletakkan di atas meja, mangkok berisi bubur itu terus diserahkan kepada Cu Bun-hoa, mulutnya berkata manis.
"Silakan cengcu makan-"
Duduk dikursi malas, dengan pandangan tajam Cu Bun-hoa menatap muka Kwi-hoa.
Kwi-hoa adalah nona yang berusia delapan atau sembilan belas tahun, gadis ini amat cekatan dan cerdik, perasaannyapun tajam, terasa olehnya kedua biji mata sang cengcu tengah menatap dirinya lekat2.
Biasanya hal ini tidak pernah terjadi, keruan hatinya kebatkebit, wajah seketika merah jengah, berdiri di samping dia menunduk tak berani bergerak.
Sambil mengelus jenggot yang terawat baik, dengan suara tertekan Cu Bun-hoa bertanya.
"Kwi-hoa, sudah berapa tahun kau bekerja disini?"
"Sudah tiga tahun,"
Sahut Kwi-hoa lirih.
"Siapayang membawamu kerja disini?"
"In-congkoan."
Geram hati Cu Bun-hoa, ternyata memang se-komplotan, demikian batinnya, lalu tanyanya pula.
"Bagaimana kau kenaldengan In-congkoan?"
"Semula hamba tidak kenal In-congkoan, tiga tahun yang lalu setelah ayah bunda wafat, tiada orang yang kubuat sandaran, terpaksa menjual diri sebagai pelayan, kebetulan In-congkoan lewat, mendengar logat hamba, kiranya kami adalah kelahiran sekampung, setelah tanya jelas riwayat hidup hamba, baru In-congkoan membawaku kemari."
Cu Bun-hoa manggut2, tangan membuka tutup mangkok lalu mengangkatnya, pelan2 hendak menghirupnya .
Kwi-hoa yang berdiri di samping melirik secara diam2, wajahnya menampilkan rasa senang.
Sudah tentu perubahan mimiknya tidak lepas dari pengawasan Cu Bun-boa, seperti merasa buburnya terlalu panas, dia urung menghirupnya, lalu ditaruh kembali di atas meja pula, tanyanya.
"Kau yang masak bubur ini?"
"Ya, atas petunjuk Hujin,"
Sahut Kwi-hog.
"Waktu kau membawa bubur kemari, adakah ketemu siapa?"
Sedikit berubah air muka Kwi-hoa, sahutnya.
"Ti ....... tiada."
Cu Bun-hoa pura2 mendelik, suaranya kereng.
"Waktu kau membuat bubur, pernah kau tinggalkan sebentar?"
Kwi-hoa mulai kurang tenteram, sahutnya lirih.
"Tidak."
Terpentang mata Cu Bun-hoa, katanya.
"Kurasa bau bubur ini rada ganjil."
"Tidak mungkin,"
Sahut Kwi-hoa, berubah air mukanya.
"bahan2nya pilihan khusus, mangkok ini-pun milik cengcu pribadi, waktu membuatnya hamba tidak lena, mungkin malam ini terlalu banyak kuahnya, sehingga rasanya agak tawar."
Cu Bun-hoa tertawa aneh, katanya.
"Kuahnya terlalu banyak? Memangnya Lohu tidak bisa mem-bedakan bau bubur sarang burung?"
"Kalau begitu biar hamba buatkan lagi yang lain,"
Kata Kwi-hoa takut2.
"Kalau memang kau sendiri yang membuatnya, coba kau saja yang makan,"
Ujar Cu Bun-hoa. Kaget Kwi-hoa dibuatnya, ia menyurut mundur, katanya.
"Bubur untukhidangancengcu, manahambaberani memakannya."
"Tidakapa, Lohu suruh kau makan-"
Pucat muka Kwi hoa, suaranya gelisah.
"Hamba tidak berani ......."
Cu Bun-hoa menukas dengan suara kereng.-"Berani kau membangkang kehendak Lohu?"
Mendadak dia melompat bangun, sekali raih dia Cengkeiam tengkuk Kwi-hoa, tangan kiri menekan dagu orang, mulut dipepetnya sampai terbuka, semangkok bubuk itu terus dia tuang ke mulutnya.
Kejadian berlangsung teramat cepat, tidak sempat meronta atau bersuara sedikitpun, sebagian besar bubur semangkok itu tertuang masuk perut Kwi-hoa, lekas sekali Hiat-topun tertutuk dan tak mampu berkutik lagi.
Pui Ji-ping memang cerdik, hanya sctengah jam, di bawah petunjuk Ling Kun-gi pelajaran tata rias tingkat pertama sudah berhasil dikuasainya dengan baik, Kini ia sudah berhasil mengubah bentuk mukanya menjadi apa saja yang ia kehendaki, sudah tentu senang hatinya tak terkatakan, hanya suara-nya yang sukar dia ubah dalam waktu singkat, tapi soal suara tidak begitu penting, asal jarang buka suara, orang tetap dapat diketahui.
Tanpa mengenal lelah serta sabar Kun-gi terus memberi penjelasan segala seluk beluk tentang tata rias ini, pertanyaan Jiping ber-tumpuk2, ada saja persoalan yang dia ajukan.
Pada saat itulah, pintu rahasia yang tembus ke kamar buku tiba2 terbuka, Cu Bun-hoa melangkah masuk sambil mengempit seorang perempuan di bawah ketiaknya.
Lekas Ji-ping berdiri dan menyongsong maju, tanyanya.
"orang ini ... he, kau kan Kwi-hoa?"
Cu Bun-hoa turunkan Kwi-hoa di atas lantai, wajahnya tampak serius, katanya.
"Tak tersangka komplotan penjahat itu bergerak begini cepat."
Ji-ping kaget, tanyanya.
"Maksud paman Kwi-hoa sekomplotan dengan musuh?"
"Di dalam bubur dia campur obat bius, untung Lohu sudah siaga, setelah kupancing lantas kelihatan belangnya, sebelum dia menyadari apa2 semangkok bubur itu sudah kucekok ke mulutnya, betuljugadialantas kelenger."
"Lalu bagaimana paman?"
Tanya Ji-ping.
"Menurut dugaan Lohu, walau musuh sudah menyelundup di sekitar kita, sebelum Kwi-hoa keluar, mereka takkan berani sembarang bertindak, terpaksa kau harus menyaru Kwi-hoa, bawalah mangkok kosong itu ke belakang, lalu Ling-lote menyaru Lohu, sesuai dengan rencana kita."
Kun-gi manggut, katanya.
"Mau bekerja janganlah membuang waktu, nona Pui, lekas duduk biar kurias mukamu."
Hanya sepeminuman teh, Kun-gi sudah selesai merias Ji-ping, kini wajahnya mirip benar dengan Kwi-hoa seperti pinang dibelah dua.
Cepat sekali Ji-ping lucuti pakaian Kwi-hoa terus dipakainya.
Sementara memegangi kaca Kun-gi merias wajah sendiri seperti Cu Bun-hoa, dengan cepat sekali dia sudah berubah jadi Cu Bun-hoa, lalu mereka saling bertukar pakaian-Tak lupa Kun-gi simpan Pi-tocu warisan keluarganya, kantong sulam pemberian Un Hoan-kun dan pedang pan-dak di dalam bajunya.
Cu Bun-hoa mendesak.
"Jiping, kau harus lekas keluar."
Mengawasi Kun-gi, berat rasa hati Ji-ping untuk berpisah, katanya.
"Ling-toako, kau akan masuk ke sarang harimau, hati2lah."
"Nona Pui tak usah kuatir, belum setimpal komplotan jahat ini menjadi perhatianku."
"Lalu di mana kelak aku harus mencarimu?"
Tanya Ji-ping. Dia sudah memberanikan diri mengucapkan kata2 ini dihadapan pamannya. Seorang gadis akan mencari laki2, kemana maksud tujuannya iapapun sudah mengerti.
"Seorang diri jangan nona keluyuran di Kangouw, kelak setelah berhasil menolong ibu, pastiaku kemari menengokmu."
Dalam hati Ji-ping berjanji.
"Tidak!! aku takkan tinggal di sini, ke ujung langitpun akan kucari dirimu."
Sudah tentu kata2 ini tidak berani dia ucapkan. Sudah tentu Cu Bun-hoa dapat meraba perasaan keponakannya yang sedang kasmaran ini. soalnya waktu amat mendesak, lekas dia mendesak lagi.
"Ji-ping, sudah terlalu lama Kwi-hoa antar bubur ini, sekarang lekas kau keluar."
Kembali Ji-ping pandang Kun-gi lekat2, lalu dengan langkah berat ia keluar. Sambil mengelus jenggot Cu Bun-hoa berpesan.
"Ling-lote, kau cerdik pandai, tentu Lohu tidak perlu banyak pesan lagi, di sini Lohu menunggu kabar baikmu, semoga kau berhasil menolong ibumu dengan leluasa, dan jangan lupa kemari lagi memberi kabar, jangan pulakau bikin telantar maksud baikJi-ping."
Merah muka Kun-gi, katanya sambil menjura.
"Terima kasih akan perhatian cengcu."
"Maaf, Ling-lote, Lohu tidak mengantar."
Tanpa bicara lagi Kun-gi beranjak keluar, rak buku di belakangnya segera menutup sendiri.
Waktu itu Pui Ji-ping sudah membawa nampan berisi mangkok kosong keluar kamar.
Pelan2 Kun-gi mendekati kursi malas lalu duduk bersandar, pelan2 pula memejamkan mata, diam2 dia kerahkan hawa murni menghimpun semangat.
Entah berapa lama lagi, terdengar langkah gugup mendatangi dari luar pintu, Lalu terdengar suara serak In Thian-lok berkumandang di luar.
"Lapor cengcu, ada urusan penting akan hambasampaikan-"Sudah tentuKun-gidiamsaja. Sesaat kemudian, karena tidak mendengar suara cengcu, in-congkoan berkata pula.
"Apa ceng-cu sudah tidur?"
Dia tahu bahwa Cu Bun-hoa sudah menghabiskan semangkok bubur, tentu sekarang sudah terbius pulas, tapi dia tidak berani gegabah, mulut bicara, dia tetapberdiridan menunggudi luarpintu.
Begitulah sesaat lamanya lagi baru In Thian-lok pura2 bersuara heran.
"Aneh, Lwekang cengcu amat tinggi, kenapa tak terdengar suara apa2?"
Kata2nya ini hanya alasan belaka supaya dia dapat mendobrak pintu masuk ke dalam. Kali ini dia keraskan suara.
"cengcu, cengcu?"
Di sekeliling kamar buku ini sudah terpendam anak buahnya, betapapun keras suaranya dia tidak takut mengejutkan orang lain yang tidak bersangkutan.
Maka dengan leluasa dia dorong pintu terus memburu masuk.
Sekilas mata menjelajah, dilihatnya Cu Bunhoa rebah telentang di atas kursi malas.
In Thian-lok pura2 kaget, dengan lagak gopoh ia mendekat ke depan kursi dan tanya.
"ceng-cu, kenapa? Lekas bangun"
Lalu dia raba dahi Cu Bun-hoa, seketika wajahnya mengulum senyum sinis girang, mendadak kedua tangan bekerja cepat, kesepuluh jarinya naik turun, bagai kilat delapan Hiat-to penting didada Cu Bun-hoa telah ditutuknya.
Kun-gi sudah mempersiapkan diri, hawa murni sudah melindungi badan, seluruh Hiat-to di badan-nya sudah terlindung, sudah tentu Hiat-tonya tidak mudah tertutuk.
Tapi Cu Bun-hoa yang sembunyi di kamar buku dapat menyaksikan dengan jelas, sudah tentu dia tidak tahu kalau Kun-gi sudah meyakinkan hawa murni pelindung badan ini, karuan ia kaget, pikirnya.
"In Thian-lok berasal dari golongan hitam, bekal kepandaiannya sendiri tidak lemah, selama tahun2 terakhir ini memperoleh banyak kemajuan lagi atas petunjukku, tingkat kepandaiannya sekarang sudah mencapai kelas wahid, delapan tutukan Hiat-to itu amat lihay, meski Ling-lote tidak terbius, setelah tertutuk Hiat-tonya, tetap dia tak dapat berkutik diantar masuk ke mulut harimau."
Sementara itu In Thian-lok mendekati jendela sebelah selatan, kain gordin dia singkap.
daun jendela dia buka, lalu mengambil lilin dandi-gerak2kantiga kalidi luarjendela.
Tidak lama kemudian terdengar suara kesiur angin, sesosok bayangan orang menerobos masuk lewat jendela.
Lekas In Thian-lok menyongsong maju, katanya sambil menjura.
"Silakan Houheng"
Orang yang baru menerobos masuk berpakaian hijau bertubuh tinggi kurus, suaranya dingin.
"in-heng menyerahkan orang tepat pada waktunya, tidak kecil pahalamu."
Tergerak hati Kun-gi, batinnya.
"Orang she Hou, mungkin Hou Thi-jiu adanya?"
In Thian-lok tertawa, katanya sambil menuding "Cu Bun-hoa"
Yang rebah di kursi malas.
"inilah Cu-cengcu, anak buahku sudah tersebar di sekeliling kamar ini, bagaimana mengangkutnya keluar, kami tunggu petunjuk Hou-heng."
"Soal ini in-heng tidak usah mencapaikan diri. cuma jalan keluar perkampungan ini, apakah in-heng sudah mengaturnya dengan baik?"
Tanya laki2 baju hijau.
"Hou-heng tidak usah kuatir, semuanya sudah beres,"
Sahut In Thian-lok.
"Baiklah,"
Ujar laki2 kurus baju hijau, lalu dia membalik ke dekat jendela, ia bertepuk tiga kali.
Tampak dua bayangan orang melayang masuk.
itulah dua laki2 baju abu2, salah seorang memanggulsebuah karung besar.
Kepada kedua laki2 yang baru datang, si baju hijau berkata sambil menuding Cu Bun-hoa.
"Masukkan dia ke dalam karung."
Kedua laki2 mengiakan, seorang membuka karung dan yang lain angkat tubuh Ling Kun-gi terus didorong masuk ke dalam karung, lalu di ikat kencang mulut karung itu. Kata si baju Hijau.
"Kami harus segera pergi, bagaimana keadaan disini selanjutnya, tidakperlu kujelaskanbukan?"
In Thian-lok manggut2, sahutnya.
"Siaute sudah tahu, Hou-heng boleh silakan-"
Sibaju hijau memberi tanda kepada kedua anak buahnya terus mendahului melompat keluar.
Gerak-gerik ketiga orang itu ringan dan gesit, dengan cepat sekali bayangan mereka sudah lenyap di luar tembok.
Percakapan mereka sudah tentu didengar jelas oleh Ling Kun-gi, terasa karung dipanggul di atas pundak.
dibawa melompat turun naik, cepat sekali sudah meninggalkan Liong-bin-san-ceng.
Beberapa kejap kemudian, mendadak mereka berhenti.
Terdengar suara orang bertanya di sebelah depan.
"Sudah berhasil?"
Maka terdengar penyahutan orang she Hou.
"Lapor Kongcu, sudah berhasil."
Kun-gi membatin.
"Hou Thi-jlu memanggilnya Kongcu, itulah Dian-kongcu atau si baju biru yang berada di Kayhong tempo hari."
"Baiksekali,"ujar Dian-kongcu. Agaknya sambil bicara Dian-kongcu terus melangkah pergi, maka kedua orang yang memanggul Ling Kun-gi ikut ber-lari2 kencang. Dari derap langkah orang, Ling Kun-gi menghitung semuanya ada empat orang. Hanya empat orang berani meluruk ke Liong-bin-sanceng, menculik "naga terpendam"
Cu Bun-hoa, walau mereka sudah tanam mata2 dan kaki tangan di Liong-bin-san-ceng, tapi keberanian mereka sungguh luar biasa.
Mereka terus ber-lari2 satu jam lamanya, di-perhitungkan sudah puluhan li meninggalkan Liong-bin-san-ceng, rombongan empat orang ini lantas berhenti.
Terdengar di pinggir jalan ada suara rendah menyapa maju.
"Kongcu sudah kembali"
Dian-kongcu hanya mendengus, terdengar suara pintu terbuka dan kerai tersingkap.
Dian-kongcu lantas melangkah masuk, kedua laki2 yang memanggul karungpun menurunkannya ke tanah terus membuka tutupnya, dua orang baju abu2 menyeret Kun-gi ke atas kereta.
Kun-gi tetap pejamkan mata, dia pura2 pingsan, biarkan saja apa kehendak mereka atas dirinya, tapi terasa bahwa ruang kereta ini cukup lebar, dirinya diseret ke lantai kereta sebelah kanan setelah itubaru Hou Thi-jiu naik keretadandudukdisampingnya.
Kereta mulai berjalan-Kusir mengayun pecut, kudapun segera berlari kencang menimbulkan su-ara gemeretak dari roda2 kereta yang beradu dengan batu2 dijalanan.
Semakin cepat laju kereta, goncanganpun semakin besar, walau tidak membuka mata, tapi Kun-gi merasakan bahwa bentuk kereta ini tentu dibuat khusus dan amat mewah.
Kun-gi tahu kepandaian silat kedua orang majikan dan pelayan ini amat tinggi, supaya tidak menunjukkan gejala2 yang mencurigakan, meski kereta tergoncang semakin keras dia tetap meringkal diam sambil menghimpun semangat.
Langkah pertama untuk menyelundup ke sarang musuh sudah tercapai, ke mana dirinya akan dibawa, dia tidak usah peduli lagi, maka di tengah jalan ini, dia tidak perlu main intip.
Dian-kongcu dan Hou Thi-jiu yang duduk di dalam keretapun duduk semadi, tiada yang buka suara.
Kuda penarik kereta ternyata berlari kencang sekali.
Tanpa terasa fajar telah mnyingsing, dalam keretapun mulai ada cahaya, maka Ling Kun-gi lebih hati2 lagi, sedikitpun diatidakberani lena.
Lari kereta mulai lambat, akhirnya berhenti dipinggir hutan.
Agaknya sudah ada orang menunggu di situ, terdengar orang mendekati kereta, katanya dengan laku hormat.
"Hamba To Siong-kiu memberisalamhormatkepadaKongcu."
Kepalapun tidak bergerak. Dian-kongcu hanya mendengus saja. Suara Hou Thi-jiu terdengar dingin.
"Mana sarapan pagi yang kau siapkan untuk Kongcu? Lekas bawa kemari."
Orang di luar mengiakan, pintu kereta dibuka, dengan laku hormat dia masukkan seperangkat tenong susun dua.
Hou Thi-jiu menerimanya, orang itu menurunkan kerai terus mengundurkan diri.
Sementara itu, orang lain telah mengganti kuda, sampai pun kusirnyapun berganti orang, jadi orang dan kuda berganti secara bergiliran.
Keretamulaiberangkatlagipelan2.
TerdengarsuaraToSiong-kiu di belakang.
"Hamba tidak mengantar Kongcu, semoga lekas tiba di tempat tujuan-"
Sudah tentu dia tidak memperoleh penyahutan Diam2 Ling Kun-gi membatin.
"cara kerja orang2 ini ternyata amat teliti, sampai di suatu tempat tertentu lantas ada orang yang ganti kusir dan kuda, dengan demikian kereta ini bisa menempuh perjalanan siang malam tanpa berhenti, cuma entah di mana letak sarang komplotan ini?"
Hou Thi-jiu sudah membuka tenong berisi makanan, katanya hormat.
"Silakan Kongcu sarapan pagi."
Dian-kongcu buka tutup tenong terus makan minum seorang diri tanpa bersuara.
Kun-gi yang rebah meringkal sudah tentu juga mencium bau makanan yang sedap.
dari bau harum yang diendusnya, dia menduga tenong itu berisi makanan daging dan semangkok kuah.
Melihat orang makan, biasanya orang bisa ngiler, apa lagi kalau perut memang sudah lapar.
Walau Kun-gi tidak membuka mata, namun hidungnya dapat mencium bau makanan, maka perutnya terasa berontak.
laparnya bukan main.
Setelah melayani Dian-kongcu makan selesai, Hou Thi-jiu baru angkat susun tenong yang lain, diapun makan dengan lahap.
habis makan dia lempar tenong keluar kereta, katanya.
"Nanti siang apakah kita perlu menyediakan makanan untuk Cu-cengcu?"
Sambil duduk semedhi, Dian-kongcu berkata.
"Dua belas jam kemudian baru dia akan siuman."
"celaka,"demikiankeluh Kun-gidalamhati. 12 jam baru sadar, itu berarti dia harus kelaparan sehari semalam. Kereta terus laju bagai terbang, tengah hari mereka tiba di sebuah kota, kereta berhenti istirahat di pinggir jalan. Tanpa turun kereta sudah ada orang mengantar tenong berisi masakan yang serba lezat, kali ini ada pula sebotol arak wangi. Bagi kusir juga disediakan makanan tersendiri, dia duduk di pinggir pohon sambil melalap makanannya, selesai makan mereka melanjutkan perjalanan pula. Untuk pura2 semaput orang cukup memejamkan mata dan meringkal tanpa bergerak. semua ini adalah kerja yang mudah sekali, siapapun bisa melakukannya. Tapi harus meringkal diam tanpa bergerak selama sehari semalam dengan posisi sama, itulah yang tidak gampang. Bagi orang biasa setelah berselang sekian lama, kaki tangan pasti merasa kesemutan dan pegal linu. Untuk ini Kun-gi boleh tidak usah peduli.. Lwekangnya tinggi, dengan memejamkan mata dan menghimpun semangat, darah tetap berjalan lancar dan leluasa di dalam tubuh, sudah tentu dia takkan merasa kesemutan dan pegal. Yang paling menyiksa dirinya adalah perut lapar, sejak malam tadi perutnya tidak di isi barang sedikitpun, mengendus makanan dan bau wangi arak lagi, sudah tentu hampir tak tahan dia. Setelah kenyang dan mabuk Dian-kongcu duduk mendongak sambil semedhi lagi ditempat duduknya yang empuk dan silir. Kedua ekor kuda menarik kereta segera angkat langkah pula menempuh perjalanan-Hari itu berlalu dengan cepat, dari siang menjadi sore, magrib berganti malam, dalam sehari semalaman ini, menurut perhitungan Kun-gi, keretainisudahmenempuhperjalanan300-anlijauhnya. Sejak magrib tadi, jalan kereta sudah bergoncang amat kerasnya, kereta bergunjing seperti kapal dipermainkan ombak di tengah lautan, begitu keras goncangannya, terang jalanan yang ditempuh ini amat jelek dan banyak berbatu, tapi kusir kereta tidak peduli, cambuknya terus bermain membedal kudanya ke depan-Terasakan guncangan kereta sedemikian keras, itu menandakan bahwa kereta sudah membelok memasuki jalan pegunungan dan sedang menuju ke suatu puncak gunung. Kira2 satu jam lamanya kereta melewati jalanan yang jelek ini. Kini jalan kereta mulai tenang dan angler, agaknya melalui jalan datar yang berpasir karena roda kereta mengeluarkan suara mendesir yang rata. Mendadak tak jauh di depan sana terdengar seorang membentak.
"Langit mencipta, bumi merencana"
Tergerak hati Kun-gi, pikirnya.
"Mungkin sudah tiba di tempat tujuan, seruanituterangadalahkodepengenalsatusama lain."
Maka didengarnya Hou Thi-jiu melongok keluar kereta dan membentak geram.
"Keparat yang tidak punya mata, kau tidak lihat kereta siapa ini?"
Terdengar suara beberapa orang dari kanan kiri jalan.
"Hamba menyambut kedatangan Coh-siancu."
"Bedebah, Kongcu yang ada di sini,"
Bentak Hou Thi jiu gusar. Orang2 itu kembali munduk2, serunya.
"Hamba tidak tahu kedatangan Kong-cuya, harap diberi ampun-"
Kereta sudah mulai jalan pula. Tak lama kemudian, lari kereta mulai lambat, kusir kereta melompat turun dengan gesit terus menyingkap kerai Dian-kongcu berpaling memberi pesan kepada Hou Thi-jiu.
"Suruh mereka bawa Cu-cengcu ke Hwi-pin-koan ( kamar tamu agung ) di taman belakang, aku akan menemui Gihu."
Sekali lompat dia turun terus berkelebat pergi. Hou Thi-jiu juga melompat turun, kepada dua orang laki2 baju abu2 dia menggapai, katanya.
"Kalian gotong dia ke dalam."
Di saat Hou Thi-jiu melompat turun tadi, Kun-gi sempat membuka mata sedikit mengawasi keadaan sekitarnya.
Ternyata kereta berhenti di depan sebuah pekarangan besar dari suatu perkampungan.
Perkampungan ini dibangun di antara lekuk gunung, sekelilingnya dipagari bukit, jelas letaknya diperut pegunungan yang jauh dari keramaian-Kedua laki2 itu sudah menghampiri, seorang melompat ke atas kereta dan mengeluarkan secarik kain hitam, mata Kun-gi ditutupnya.
Tindakan ini sebetulnya berlebihan, karena orang2 yang diausur kemari kebanyakan telah kena bius, dalam keadaan semaput, buat apa harus ditutup matanya lagi?
Mungkin inilah aturan mereka, dengan sendirinya Kun-gi mandah saja apapun yang dilakukan atas dirinya, dia tetap tak bergerak.
Dengan setengah gendang dan setengah papah, kedua orang itu menurunkan Kun-gi dari kereta, malah seorang laki2 itu berjongkok, Kun-gi digendongnya.
Mereka ikuti Hou Thi-jiu berjalan ke dalam.
Meski mata tertutup, tapi Kun-gi pasang kuping dengan seksama, dia membedakan arah, jalan yang ditempuh Hou Thi-jiu bertiga bukan pintu tengah, mereka mengitar ke kiri di mana ada sebuah pintu samping.
Setiba di depan pintu, laki2 yang lain memburu maju mendahuluiHouThijiu mengetuktigakalididaunpintu.
"Tek", terdengar suara pelahan, seorang membuka jendela kecil dipintu, suaraseraktua membentak.
"Siapa?"
Lekas Hou Thi-jiu mendekat, katanya.
"Lo-go, inilah aku Hou Thijiu."
"o", suara serak itu menjadi lunak.
"mana tanda buktinya?"
Hou Thi jiu mengeluarkan sebentuk lencana, habis itu baru daun pintudibuka, suaraserakitu mempersilakan mereka masuk.
Dengan langkah lebar Hou Thi jiu bertiga masuk ke dalam, pintu tertutup pula.
Mereka jalan beriring, langkahnya cepat, diam2 Kungi men-duga2 dari langkah mereka yang putar sana belok ini, bahwa mereka melewati serambi lika-liku serta beberapa pekarangan, waktu Hou Thi-jiu seperti sudah tiba di satu tempat, seorang segera tampil ke depan menggoncang dua gelang tembaga, lalu mengundurkan diripulake belakang.
Waktu daun pintu terbuka, getaran keras terasa di bawah kaki mereka, ini membuktikan bahwa daun pintu terbikin dari papan baja yang berat dan tebal.
Seorang telah menghadang di tengah pintu, Hou Thi-jiu maju mengunjuk lencananya pula, baru dia membalik badan dan katanya.
"Serahkan dia padaku"
Laki2 yang menggendang Kun-gi mengiakan terus berjongkok, dia baringkan Ling Kun-gi di lantai. Dengan kedua tangannya Hou Thi-jiumenjinjingtubuhKun-gi, katanya."Kaliantunggudisini"
Ia sendiri masuk dengan langkah lebar. Pintu beratpun mulai tertutup lagi pelan2. Diam2 Kun-gi membatin.
"Begini keras dan ketat penjagaan di sini, entah di mana letak pusatnya?"
Pada saat hati me-nimang2, terasa angin menghembus silir2, kupingnya lantas mendengar gesekan dedaunan yang tertiup angin-Agaknya mereka telah berada di sebuah kebon.
Langkah Hou Thi-jiu amat cepat, jelas dia apal jalanan di sini, kira2 semasakan air kemudian, hidung Kun-gi mulai mencium bau harum bunga, bau kembang mawar, seruni dan lain2.
Pada saat itulah baru Hou Thi-jiu menghentikan langkah dan mengetuk pintu pula.
Sebelum daun pintu terbuka terdengar suara merdu bertanya daridalam.
"Siapa?"
"Inilah cengcu dari Liong-bin-san-ceng, kau harus melayaninya baik2,"
Kata Hou Thi jiu.
"Baik, bawa dia ke dalam,"
Sahut suara merdu itu. Lalu dia mendahului melangkah diikuti Hou Thi-jiu. Kun-gi membatin pula.
"Kiranya sudah sampai di Kwi-pin-koan."
Seorang membuka daun jendela, suara merdu berkata pula.
"Taruh dia di atas dipan"
Hou-Thi-jiu lantas merebahkan Kun-gi di atas dipan yang beralaskan kasur empuk. Suara merdu itu bertanya.
"Kapan cengcu ini akan sadar?."
Pertanyaan inipun amat penting artinya bagi Ling Kun-gi. Didengarnya Hou Thi-hou menjawab.
"Kira2 kentongan kedua nanti."
"O,"
Suara merdu berkata pula.
"kini sudah kentongan pertama, jadi masih satu jam lagi."
Hou Thi-jiu lantas keluar, katanya.
"Cayhe mohon diri."
Suara merdu ikut melangkah keluar dan menutup pintu, sekembalinya dia langsung mendekati pembaringan, kain hitam penutup mata Kun-gi dia copot, lalu ditariknya kemul untuk menutupi badan Kun-gi, dari gerak-geriknya jelas gadis ini sudah terlatih baik menjalankan tugasnya.
Entah apa tujuan mereka menculik Cu Bun-hoa kemari dengan jalan ber-liku2 sedemikian rupa?
Demikian Kun-gi ber-tanya2 dalam hati, tapi dia tidak berani membuka mata, karena dengan jelas dia merasakan hembusan napas si gadis tengah berdiri di pinggir pembaringan, mungkin orang tengah mengamati dirinya, atau mengamati "Ciam-liong Cu Bun-hoa Cengcu"
Dari Liong-bin-sunceng..
Dengan telentang di atas pembaringan, kelopak matapun Kun-gi tak berani bergerak, karena gerakan kelopak mata menandakan bahwa dirinya sudah siuman-Untung hanya sejenak gadis bersuara merdu ini mengamati dirinya, lalu mengundurkan diri diam2.
Setelah orang sampai di luar dan menurunkan kerai, dia tetap tidak berani membuka mata.
ia selalu ingat pesan gurunya sebelum berangkat, beliau bilang "Muridku, dengan bekal kepandaianmu sekarang, tiada suatu tempat di dunia Kangouw yang pantang kau datangi, cuma berkelana di Kangouw, bekal kepandaian hanya sebagai cangkingan belaka, yang penting adalah kecerdikan bertindak dan hati2, ada sepatah kata perlu gurumu berpesan dan kau harus mengukirnya di lubuk hatimu, yaitu semakin besar nyalimu, kau harus semakin hati2.
Peduli persoalan atau kejadian apapun yang kau hadapi, kau harus tetep tenang dan waspada."
Sementara itu gadis bersuara merdu tadi sudah berada di luar, tapi dia tetap rebah tak bergerak.
dia sedang mengerahkan tenaga saktinya, memusatkan seluruh perhatian mendengarkan keadaan sekelilingnya.
Umpama di dalam kamar masih ada orang lain, pasti suara napasnya bisa didengarnya.
Sepeminuman teh kemudian barulah Kun-gi yakin bahwa di dalam kamar betul2 tiada orang lain kecuali dirinya, pelan2 dia membuka mata, walau hanya setengah mengintip saja, tapi dia sudah melihat jelas keadaan di depannya.
Itulah sebuah kamar tidur yang amat besar, pajangannya serba mewah, serba antik.
Di bawah penerangan cahaya yang rada redup, semua benda pajangan yang ada di dalam kamar kelihatan indah menarik.
letaknya juga diatur sedemikian dan serasi benar membuktikanhasildaritanganseorangahli pajangkenamaan-Sekilas pandang Kun-gi lantas pejamkan mata pula, dalam hati ia me-nimang2 cara bagaimana dia harus menghadapi situasi selanjutnya nanti?
Akhirnya dia berkeputusan dirinya harus teguh iman, teguh pendirian, berani menghadapi segala perubahan-Waktu berlalu dengan cepat, sejam telah berselang, langkah lembut mendatang dari luar pintu, Kun-gi tahu waktunya sudah tiba, ia tetap rebah di pembaringan, ia pura2 menarik napas panjang seperti baru siuman dari tidur, dengan suara kereng dia bertanya.
"Siapa di luar? Apa Kwi-hoa? Tidak kupanggil, untuk apa kau kemari?"
Sembari bicara dia membuka mata.
Begitu mata terpentang segera dia berjingkrak berdiri, ke mana sorot matanya berpancar seketika dia berdiri tertegun.
Dia sengaja berbuat demikian-Sorot matanya yang tajam menatap gadis baju hijau yang melangkah masuk menyingkap kerai tanpa berkedip.
lalu dengan suara kaget dia bertanya.
"Siapa kau, ini ....tempat apa ini? Bagaimana aku bisa rebah di sini?"
Sekaligus tiga pertanyaan keluar dari mulutnya, menandakan kegugupan hatinya yang kaget dan heran-Gadis baju hijau kira2 berumur 20-an, perawakannya tinggi semampai, ramping menggiurkan, wajahnya manis dan molek.
buah dadanya menonjol besar, dadanya dihiasi sebuah mainan kalung besar bentuk jantung hati, semuanya terbuat dari mas murni, dua kuncir rambutnya yang besar legam menjuntai di kedua sisi pundaknya.
Gadis ini sudah tentu amat cantik, kecuali cantik juga mempunyai daya tarik bagi setiap lelaki yang melihatnya.
Tangannya menjinjing sebuah nampan putih, baru saja dia menyingkap kerai melangkah masuk lantas dijumpainya Ling Kun-gi berjingkrak dengan rentetan pertanyaan tadi.
Dia lantas berhenti di ambang pintu, sepasang matanya yang jeli menatap Kun-gi sambil tersenyum mekar, tertampak barisan giginya yang putih rata bagai biji mentimun, begitu menggiurkan senyum tawanya.
Terdengar suaranya nan merdu mengandung rasa malu.
"Cu-cengcu sudah bangun, hamba Ingjun, ditugaskan meladaniCu-cengcu di sini"
Terasa oleh Kun-gi kakinya menginjak kabut tebal, ia tetap menatap pelayan yang bernama Ing-jun dan bertanya.
"Lekas nona beritahu, tempatapakahini? Bagaimanaaku bisasampaidisini?"
Melihat sorot mata Ling Kun-gi yang bersinar mengawasi dirinya tanpa berkedip. Ing-jun menunduk malu, dia meletakkan nampan di atasmejadisampingdipan, sahutnya.
"Inilah bubur yang hamba sengaja buatkan untuk Cengcu."
"Nona belum jawab pertanyaanku,"
Desak Kun-gi sambil mengelus jenggot. Ing jun tetap menunduk. sahutnya.
"Tempat kami ini adalah Coat Sin-san-ceng, Cu-cengcu adalah tamu agung yang diundang Cengcu kami yang telah lama mengagumimu."
Sebagai pelayan yang ditugaskan melayanitamu, sudah tentudiapandaibicara. Coat Sin-san-ceng? Diam2 Kun-gi membatin-"Belum pernah kudangar nama perkampungan ini di kalangan Kangouw?"
Segera ia tanya pula.
"Entah siapa she dan nama besar Cengcu kalian-"
Sedikit angkat kepalanya, sikap Ing jun lebih hormat, sahutnya.
"Cengcu kami she Cek, tentang nama besar beliau, kami sebagai pelayan tiada yang mengetahui."
Jelas dia tidak mau menerangkan. Tak enak Kun-gi bertanya lebih lanjut, katanya "Lohu ingin bertemu dengan Cengcu kalian-"
"Betapa sukarnya Cengcu kami mengundang Cu-cengcu kemari dan dilayani sebagai tamu luar biasa, sudah tentu nanti beliau akan menjenguk kemari, cuma ......"
"Cuma apa?"
Baca Juga: Si Tangan Sakti 7
Baca Juga: Pendekar Lembah Naga 2