Eps 1 Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL
Baca online Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL
Cersil Pedang Kiri Pedang Kanan - Gan KL.
Cin Cu Ling Karya.Tong Hong Giok Saduran. Gan KL
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com /
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com / Sumber.
Dewi KZ Recomposed by.
Cersilanda (fbms) Cuaca cerah, udara terang, tiada badai, tidak ada ombak di tengah sungai atau danau, namun demikian gelombang ombak tetap mendampar, yang di belakang mendorong ke depan, air tetap mengalir tak ter-putus2.
Demikian pula suasana Kangouw (sungai-telaga), mengejar nama, berebut rejeki, yang kuat mencaplok yang lemah kelaliman, kesadiaan kejahatan tetap merajalela, liku kehidupan dunia persilatan penuh diliputi muslihat, kapan insan persilatan pernah mengenyam kehidupan aman dan damai?
Sepanjang musim semi tahun ini suasana Kangouw atau dania persilatan memang agak tenteram, namun keadaan ini tidak bertahan lama, karena kabar yang mengejutkan tiba2 membikin keadaanyangaman tenterammenjadigempardan bergolak.
Kabar pertama yang mengejutkan adalah lenyapnya Tong-Thianjong, tertua keluarga Tong di Sujwan yang terkenal dengan ilmu senjata rahasia dan racunnya.
Kabar kedua yang menggemparkan adalah hilangnya Un It-hong, tertua keluarga Un di Ling lam yang terkenal dengan obat bius dan wewangian yang memabukkan, Keduanya menghilang secara beruntun tak keruan parannya .
Konon periatiwa ini terjadi pada permulaan tahun lalu, soalnya keluarga yang kehilangan ketuanya ini tutup mulut dan merahasiakan hal itu sehingga urusan baru bocor setelah berselang tiga bulan kemudian, sudah tentu berita ini menjadi topik pembicaraan setiap insan persilatan.
Keluarga Tong di Sujwan berada di utara, se-mentara keluarga Un di Ling-lam ada di selatan-Sebetulnya kejadian hilangnya ketua dari kedua keluarga ini betapapun tiada sangkut pautnya satu sama yang lain-Soalnya peristiwa ini berlangsung sebelum dan sesudah tahun baru, sehingga orang mau tidak mau menganggap kejadian itu suatu kebetulan, apalagi kabar yang tersiar luas di dania persilatan bersimpang siur sehingga umum merasa urusan ini agak miaterius.
Kabarnya setelah kedua tokoh ini hilang secara aneh, orang2 dari kedua keluarga ini menemukan sebutir mutiara sebesar kacang di bawah bantal mereka.
Menemukan mutiara di bawah bantal sebetulnya bukan suatu hal yang aneh, cuma mutiara yang mereka temukan ini terukir sebuah huruf "LING" (perintah atau firman) sebesar kepala lalat bewarna merah menyolok.
Dan karena adanya huruf "LING"
Yang terukir di atas mutiara inilah menjadikan urusan menarik perhatian orang banyak.
"cin-cu-ling" (firman mutiara), hampir setiap insan persilatan tiada yang pernah dangar nama ini di Kangouw. Lambang seseorang ataukah golongan? Soal ini simpang siur dan tiada scorangpun yang bisa menjelaskan secara gamblang dan pasti.. Yang terang cin-cu-ling menyebabkan dua orang tertua dari keluarga besar yang tersohor di dania persilatan lenyap. Kini tiga bulan sudah lalu, soal ini masih ramai dibicarakan orang, namun kejadian masih terselubung, bagai batu kecemplung laut, sejauh itu masih menjaditeka-teki. Yang terang orang2 dari kedua keluarga ini masih terus mencari dan menyelidiki. cin-cu-ling memang menimbulkan gelombang besar di dania persilatan untuk beberapa lamanya tapi lambat laun hal inipun dilupakan orang. Thay goan-tang merupakan pegadaian terbesar di kota Kayhong, letaknya dijalan besar di timur kota. Huruf "Tang" (gadai ) bagai poster raksasa menghias tembok tinggi yang melintang di depan rumah setinggi dua tombak. Begitu masuk, pintu angin lebar dari papan tebal mengadang dijalan-pintu angin inipun dihiasi huruf gadai yang melebihi besar manusia sehingga keadaan di dalam tidak kelihatan dari luar. Memangnya siapa yang tidak malu menggadaikan barang miliknya kalau tidak kepepet karena "tongpes"
Alias kantong kempes?
Hari sudah lewat lohor, keadaan rumah gadai Thay-goan sudah sepi, pada saat itulah seorang pemuda memasuki pintu pegadaian itu.
Pemuda ini berjubah hijau, usianya likuran tahun, mukanya cakap.
alis tegak.
mata besar bersinar tajam, sikap-nya ramah dan halus mirip seorang pelajar, tapi sebuah buntalan panjang tiga kaki melintang di punggungnya, tidak mirip payung, mungkin senjata yang selalu dibawanya untuk membela diri.
Pemuda jubah hijau langsung menuju ke loket terdekat, sebentar dia berdehem, lalu bersuara lembut.
"Mana petugasnya"
Seorang laki2 tua berkaca mata berlari2 dari sebelah dalam, sekilas diawasinya pemuda jubah hijau ini, lalu berseri tawa sambil menyapa."Siangkong (tuan)hendak menggadaibarangapa."
Pemuda jubah hijau manggut2, tangan mero-goh kantong dan mengeluarkan sebutir mutiara terus diangsurkan-Mutiara ini sebesar telur burung puyuh, lapat2 bersemu kuning, sinarnya mencorong benderang, orang awampun tahu bahwa benda ini adalahbarang mestika yangtakternilaiharganya.
Petugas tua ini menerima serta di-timang2 di telapak tangan, lalu tanyanya.
"Mau digadaikan berapa, Siang kong?"
"Lima ributahilperak."sahutpemudajubah hijau. Sebetulnya nilai mutiara ini sedikitnya laksaan tahil, tapi petugas ini tak berani sembarangan bertindak, dengan seksama dia amat2i mutiara serta memeriksanya dengan lebih teliti. Akhirnya ditemukan sebuah ukiran huruf "LING"
Warna merah di atas mutiara yang menguning terang itu Seketika jantungnya berdetak keras seperti hendak meloncatkeluar darironggadadanya.
Sekilas tampak berubah air muka petugas tua ini, Tapi kejap lain rona mukanya berobah pula seperti kegirangan-sudah tentu semua perubahan ini tak lepas dari pengamatan si pemuda jubah hijau.
Tapipemudaitu anggaptidak tahusaja.
Sengaja petugas tua ini memeriksa dan menimang2 sekian lamanya, habia itu baru berkata dengan tertawa lebar.
"Mutiara Siangkong ini tak ter-nilai harganya, hanya digadai lima ribu tahil saja...."
"Ya, baiklah kugadaikan,"
Ujar pemuda jubah hijau.
"Tapilimaributahiljugabukanjumlahyangkecil, maka........."
"Lho, kenapa, kau tidak mau terima?"
"Tidak.tidak.kami buka pegadaian, mana tidak terima gadai? Soalnya lima ribu tahil, kami tiada uang kontan sebanyak itu, dan lagi mutiara ini harus di unjukkan dulu kepada majikan kami."
"Boleh saja,"
Ujar si pemuda.
"silakan undang majikanmu."
"Sebagai langganan, mari silakan Siang kong duduk didalam dan minum secangkir teh, segera kusuruh orang mengundang majikan,"
Sembari bicara dia membuka pintu di ujung sana, lalu menyambut dengan munduk2.
"silakan duduk. Siang kong."
Si pemuda tidak sungkan dengan tegap ia masuk ke dalam. Petugas tua menyilakan duduk. seorang kacung menyuguhkan secangkir teh. Petugas tua mengembalikan mutiara dengan ke dua tangannya, katanya.
"Siangkong, simpan dulu mutiara ini, setelah berhadapan dengan majikan boleh kau perlihatkan kepada beliau."
Lalu ia bisik2 kepada si kacung sekian lamanya, kacung itu mang-gut2 terus berlari keluar.
"Majikan tinggal di pintu selatan, sebentar be-liau akan datang, Entah siapakah she Siang kong"
"Akushe Ling"sahutsipemuda.
"Siangkong kelahiran mana?"
"Ing-ciu,"
Agaknya dia sungkan bicara, maka jawabannya pendek2 saja.
"Tempat bagus,"
Ujar si petugas tua.
Si pemuda hanya tersenyumsaja.
Pembicaraan terputus sampai sekian saja, sipetugas lalu mengeluarkan pipa cangklong dan mengiaap tembakaunya.
Kira setanakan nasi kemudian, tampak dari luar datang seorang laki2 setengah baya berpakaian ketat warna biru, laki2 ini beralis tebal, mukanya kasar kereng, badannya tegap kuat.
Kacung cilik tadi tampak ber-lari2 di belakangnya.
Lekas si petugas tua menurunkan pipa sambil berdiri, serunya tertawa."Nah, sudahdatang."SiPemuda ikut berdiri.
Sementara laki2 setengah baya sudah beranjak masuk.
matanya langsung menatap si pemuda jubah hijau, sekedar menyapa pada si petugas, katanya.
"Apakah saudara ini yang hendak menggadaikan?"
Si petugas manggut2, sahutnya.
"Ya, ya inilah Ling-siangkong dari Ing-ciu."
Kepada si pemuda segera ia memperkenalkan.
"Inilah murid terbesar majikan kami The Si-kiat The-toaya, belakangan majikan jarang mencampuri urusan perusahaan, semuanya Thetoaya inilah yang memberes-kannya."
"KiranyaThe-ya,"sipemuda memberisalam. The Si-kiat membalas hormat, katanya.
"Tidak berani, cayhe diperintahkan guru kemari untuk mengundang saudara ke sana untuk bicara."
"cayhehanya menggadaibarangsaya,"sahutsi pemuda. Umumnya gadaian hanya mengenal barang tanpa kenal orang, kalau harganya cocok boleh di bayar, kalau tidak boleh ditolak. The Si-kiat tertawa, ujarnya.
"Guruku berkata, mutiara yang tak ternilai harganya hanya digadai lima ribu tahil, menurut aturan, jumlah ini merupakan nilai yang besar, maka kedua belah pihak perlu bicara langsung, oleh karena itu harap saudara sudi terima undangan ini."
Si pemuda tertawa tawar, katanya.
"Kalau demikian, terpaksa aku terima undangan ini."
"Marilah, kutunjukkan jalannya,"
Ujar The Si-kiat terus melangkah keluar lebih dulu.
Si pemuda mengikut di belakang meninggalkan rumah gadai ini.
Mereka jalan beriring, The Si-kiat membawa-nya berputar menyusuri dua jalan raya panjang dan ramai.
Kira2 setengah li kemudian, mereka mem-belok ke sebuah lorong lebar yang beralas batu besar dan bersih mengkilap.
pohon2 tua dan tinggi berderet di kedua pinggir jalan-.
Entah sengaja atau tidak The Si-kiat seperti hendak menjajal si pemuda, begitu memasuki lorong ini langkahnya tiba2 dipercepat, kelihatannya langkahnya lambat tidak ter-gesa2, namun tubuhnya bergerakbagaiterbang, orangbiasaumpamaberlari sekencang2nya juga takkan biaa menyusulnya.
Pemuda jubah hijau mengikut di belakang, langkahnya juga lamban saja seperti tidak ingin berlomba lari, berlangsung seperti tidak terjadi apa2, na-mun jaraknya dengan The Si-kiat tetap sama, hanya beberapa kaki, sedikitpun tak pernah ketinggalan-Jalanan batu mengkilap ini panjangnya ada dua li, sepanjang jalan ini The Si-kiat melangkah dengan amat pesatnya, hanya sekejah saja sudah tiba di depan sebuah gedang besar dan berhenti.
Dia kira sipemuda tentu ketinggalan jauh dibelakang, tak tahunya waktu dia berpaling, ternyata si pemuda dengan sikap wajar juga berhenti di belakangnya, -Keruan ia kaget, batinnya.
"Di antara murid Siau-lim-pay dari kaum preman, aku diberi julukan Sinhing thay-po (malaikat jalan pesat), kecuali orang mengerahkan tenaga dan menggunakan Ginkang, rasanya tidak sembarang orang bisa menyusul diriku, tapi bocah ini amat lihay juga Ginkangnya. sedikitpun tidak mau ketinggalan di belakang."
Segera dia menghela napas panjang serta berkata dengan tertawa.
"Sudah sampai"
Si pemuda angkat kepala, dilihatnya gedang besar memakan tanah yang amat luas, rumahnya ber-lapia2 memanjang ke belakang, bentuknya megah serta mewah.
Kedua pintu besar yang bercat hitam sudah terbentang lebar, di depan pintu berdiri dua laki2 muda berpakaian jubah hijau, sikapnya gagah dan kereng.
Kiranya adalah Kim-ing-ceng yang tersohor di kalangan persilatan-Locengcu atau pemilik perkampungan tua ini bernama Kim Kay-thay, dia pula yang menjabat ciangbunjin dari murid preman Siaulim-pay.
Kaumpersilatan sama memanggilnya Kim-ting, Kim loyacu.
"Kim-ting" (hianglo emas tempat dupa) adalah julukan Kim loyacu, konon dulu dua dijuluki It-kun-cui-kim-ting (sekali pukul menghancurkan Hianglo), tapi karena kelima huruf ini kurang enak dibaca, maka orang lebih suka memanggilnya Kim-ting saja. Dan lagi Kim-ting secara kiasan juga mengandang arti dapat dipercaya katanya. Di bawah iringan The Si-kiat, si pemuda terus memasuki pintu besar, melewati pekarangan luas dan panjang, memasuki pintu kedua, di sini terjaga oleh dua pemuda baju hijau. begitu The Si-kiat datang, segera mereka membungkuk hormat dan menyapa.
"Suhu sudah menunggu di ruang barat, silakan Toasuheng bawa tamu ke kamar barat."
The Si-kiat mengiakan saja terus membelok ke arah kiri, setelah menyusuri serambi panjang yang ber-belok2, mereka tiba di kamar di sebelah barat.
Itulah sebuah kamar tersendiri yang berjendela kaca, sekeliling kamar dipagari tanaman bunga aneka warna, gunung2an dan kolam ikan, pajangandisinisangatpermai, terangditanganiseorangahli.
Undak2an di depan pintu kamar berdiri pula dua laki2 jubah hijau, kiranya mereka adalah murid Kim-loyacu.
Mengikuti langkah The Si-kiat, si pemuda langsung memasuki kamar bunga itu, tampak di atas sebuah kursi besar membelakangi dandang sebelah timur sana duduk seorang laki2 tua berkepala botak.
berjenggot putih bermuka merah, sorot matanya bersinar tajam.
begitu melihat muridnya membawa si pemuda masuk.
segera diaunjuktawasertaberdiri menyambut.
Setelah dekat The Si-kiat berhenti serta berkata pada tamunya.
"Inilah guru kami."
Si Pemuda maju melangkah, kedua tangan terangkap memberi hormat, katanya lantang.
"Sudah lama kudengar nama besar Kimloyacu, atas undangan ini, Wanpwe amat bersyukur dan beruntung."
Lekas The Si-kiat berkata lirih kepada gurunya.
"Suhu, inilah Ling-siangkong ."
Kim Kay-thay bermata panjang, dengan seksama dia awasi pemuda jubah hijau ini, sudah tentu yang menarik perhatiannya adalah buntalan panjang di belakang punggung si pemuda, bagi seorang ahli tentu segera tahu bahwa buntalan ini berisi pedang panjang.
Sambil mengawasi orang, tangan kanan Kim-loyacu terangkat sambil berkata.
"Tamu agung, tamu agung Silakan duduk. Silakan duduk"
Si pemuda juga tidak sungkan2, dia duduk di kursi depan orang. Seorang pemuda lain berbaju hijau lantas menyuguhkan minuman-Kim Kay-thay berdehem kecil, lalu berkata dengan tertawa.
"Ling-siangkong, siapakah nama leng-kapmu .........."
"cayhe bernama Kun-gi."
"Tinggaldi mana?"
"Di Ing-Ciu,"sahutsipemudaalias Ling Kun-gi. Kim Kay-thay manggut2, katanya.
"Lohu dangar Ling-siangkong punya sebutir mutiara hendak digadaikan lima ribu tahil perak? Bolehkah kuperiksa?"
Ling Kun-gi merogoh kantong dan mengeluar-kan mutiara yang terikat benang emas dan di-angsurkan-Kim Kay-thay menerimanya serta mengamati-nya dengan teliti, katanya kemudian.
"Lohu ingin mohon sedikit keterangan dari Lingsiangkong, entah sudikah menerangkan?"
Ling Kun-gi tertawa tawar, ujarnya.
"Kim-loyacu ingin tanya soal apa?"
Tajam tatapan mata Kim Kay-thay, katanya.
"Apakah Ling-siangkong tahu asal-usul mutiara ini?"
"Inilah barang peninggalan leluhur kami,"
Jawab Ling Kun-gi. Jadi mutiara itu adalah warisan leluhurnya.
"Siapakah nama gelaran ayah Ling-siangkong?"
Tanya Kim Kaythay.
"Ayah almarhum sudah meninggal sejak beberapa tahun, Kim-loyacu tanya soal ayah, apa-kah beliau ada sangkut pautnya dengan mutiara ini?"
"Lohu hanya tanya sambil lalu saja, Ling-kongcu membekal pedangke mana2, tentunyakaupundarikalanganpersilatan?"
"cayhe hanya belajar beberapa jurus pukulan dan ilmu pedang, barusaja mulaiberkecimpung di Kangouw."
Sekilas terpancar sinar terang dari kedua biji mata Kim Kay-thay yang sipit, katanya sambil manggut2.
"Ling-siangkong gagah dan cakap. tentunya dari keluarga persilatan ternama juga."
"Ayah almarhum dan ibu sama2 tak mahir ilmu silat, kepandaian rendahyangcayhemiliki kuperolehdarididikanguru."
"o, entah siapa nama crelaran guru Ling-siangkong?"
"Guruku tidak punya gelaran, namanya juga tidak ingin diketahui orang lain."
Kim Kay-thay mengelus jenggot, katanya.
"Guru Ling-siangkong mungkin seorang tokoh persilatan lihay dan aneh tabiatnya."
"Dari mutiara wariaan keluarga kami ini, Kim-loyacu tanya asalusul dan riwayat hidupku, apakah engkau menaruh perhatian atau curiga terhadap mu-tiara milikku ini"
Sejenak Kim Kay-thay melengak. katanya ke-mudian sambil tertawa.
"Ling-siangkong jangan salah paham."
"Apa yang ingin Kim-loy acu ketahui sudah kujawab terus terang. kini cayhe juga ingin tanya satu hal, entah Kim-loy acu sudi memberipenjelasan tidak?"
Kim Kay-thay tetap tersenyum simpul, katanya.
"Boleh Ling-siangkong katakan."
"Kukira Kim-loyacu tentu pernah melihat mu-tiara yang mirip dengan mutiara milikku ini?"
Kata Ling Kun-gi. Sedikit berubah air muka Kim Kay-thay, ka-tanya tertawa.
"Lingsiangkong adalah kaum persilatan, tentunya juga sudah mendangar peristiwa cin-cu-ling di kalangan Kangouw?"
"Ya, cayhe datang ke Kayhong memang ingin cari tahu tentang cin-cu-sing yang menggemparkan dania persilatan itu."
Terunjuk rasa heran pada wajah Kim Kay-thay, tanyanya.
"Apakah Ling-siangkong sudah tahu?"
Menegak alis Ling Kun-gi, katanya sambil ter-tawa keras.
"Itu terserah kepada Kim-loyacu. apakah sudi mengunjukkannya kepada cayhe"
Tak urung berubah juga roman muka Kim Kay-thay, katanya.
"Ucapan Ling-siangkong tidak beralasan, darimana lohu biaa mempunyaicin-cu-ling itu?"
"Waktu cayhe berangkat, sudah kudangar bahwa Lok-san Taysu, pimpinan ruang Yok-ong-tian di Siau lim-si mendadak hilang, di tempatnya tertinggalkan sebutir cin-cu-ling, Hongtiang ketua Siaulim-si sudah serahkan cin cu-ling itu kepada Kim-loyacu, memangnya kabarinihanyaberitaanginbelaka?"
Dingin sikap Kim Kay-thay, katanya.
"Semula kukira guru Lingsiangkong adalah tokoh aneh yang mengasingkan diri dan jarang berkecimpung di dunia persilatan-....
"jelas nadanya penuh sindiran-Ling Kun-gi tertawa lebar, katanya.
"Guruku memang suka mencampuri urusan tetek-bengek, sejak tiga puluh tahun yang lalu sampai sekarang, tabiat ini tak pernah berubah."
Sekilas terpancar perasaan aneh pada wajah Kim Kay-thay, tanyanya prihatin.
"Siapakah sebetulnya gurumu?"
"Tadi sudah cayhe jelaskan, guruku tidak punya gelar, kalau Kimloyacu ingin tahu, boleh selidiki dari permainan beberapa jurus pukulanku"
Kim Kay-thay naik pitam, katanya kereng.
"Jadi maksud kedatanagnmu bukan ingin menggadai mutiaramu itu?"
"Sama2,"
Ujar Ling Kun-gi tertawa.
"Kim-loyacu mengundangku kemari, tentunya juga bukan ingin bicara soal nilai gadai mutiaraku, bukan?"
"Sombong benar kau anak muda"
Dangus Kim Kay-thay. Sudah banyak tahun tiada orang berani bertingkah dihadapan Kim-loyacu, takherandia naik pitam. Ling Kun-gi tertawa lebar, katanya.
"Setua umur guruku, selamanya tak ada yang terpandang olehnya, cayhe adalah ahli waris guruku satu2nya, memangnya siapa pula yang bisa terpandang dalam mataku?"
Berubah gusar wajah Kim Kay-thay, serunya tertawa.
"Bagus sekali, Lohu ingin tahu murid siapa kau sebetulnya?"
Lalu ia letakkan mutiara itu diatas meja, katanya pula.
"Kalau Ling siangkong tidak menggadaikan mutiaraini, silahkanambilkembali."
"Memang betul ucapan Kim-loyacu."
Kata Ling Kun-gi, segera tangan di ulur mengambil mutiara itu terus dimasukkan ke kantong bajunya. Berkilat biji mata Kim Kay-thay, serunya berat.
"Si-kiat"
"Tecu siap"
Sahut The Si-kiat membungkuk. Kim Kay-thay berpesan.
"Tujuan Ling-siang-kong adalah gurumu, boleh kau minta belajar beberapa jurus padanya, dari permainannya nanti, mungkin aku bisa mengenal perguruannya."
"Tecu mengerti,"
Sahut The si-kiat, lalu dia menjura kepada Ling Kun-gi, katanya.
"Ling-siangkong ingin memberi petunjuk. mari silakan bergebrakdi luar, disana lebih luas."
"Menjajal kepandaian bukanlah main tombak di atas kuda, cukup dua-tiga langkah saja cukup, kalau bergebrak di sini Kim-loyacu tentu bisa dapat menyaksikan lebih jelas."
The Si-kiat tertawa dingin, katanya.
"Kalau Ling-siangkong berpendapat demikian, bolehlah gebrak di sini saja."
Kembali dia menjura serta menambahkan.
"Silakan Ling-siangkong memberi pelajaran,"
Sambil mengawasi orang Ling Kun-gi mengulum senyum lebar, katanya.
"Selamanya cayhe tidak pernah menyerang lebih dulu, harap The-ya tidak usah sungkan-"
Terang dia sangat meremehkan The Si-kiat.
The Si-kiat adalah murid tertua Kim-ting Kim-loyacu, di antara murid2 preman Siau-lim-pay, dia merupakan jago yang berkepandaian tinggi, kini ia dipandang hina sedemikian rupa oleh Ling Kun-gi yang masih muda belia dan pupuk bawang lagi, sudah tentu hatinya geram setengah mati, namun dia hanya mendengus, katanya.
"Baiklah bila aku berlaku kasar"
Diam2 dia menghirup napas panjang dan mengerahkan tenaga, tangan kanan melindungi dada, serangan segera siap dilancarkan.
"Si-kiat,"
Tiba2 Kim Kay-thay membentak.
"tunggu sebentar."
Lekas The Si-kiat membatalkan dan menarik kuda2nya, sahutnya membungkuk.
"Ada pesan apa, suhu?"
"Betapapun Ling siang kong adalah tamu kita, jangan se-kali2 berlaku kasar padanya,"
Kata sang guru. Berlaku kasar artinya tidak boleh mencabut nyawanya tapi boleh kau beri ajaran setimpal biar kapok.
"Tecu mengerti,"
Sahut The Si-kiat. ia membalik badan dan telapak tangan kiri terbuka, kepalan tangan kanan melingkar di depan dada, serunya.
"Ling-siangkong, hati2lah"
Begitu telapak tangan kiri bergerak.
tahu2 kepalan tangan kanan mendahului menggenjot pundak Ling Kun-gi, yang dilancarkan adalah ilmu coanhoa-kun (pukulan menyelinap bunga)....
Ling Kun-gi pun tidak menyingkir, ia tunggu kepalan The si-kiat hampir mengenai pundaknya, mendadak sedikit miringkan badan, kaki kiri melangkah setengah tindak.
di mana tangan kiri terangkat, dia tepuk pundak kanan The si-kiat, serangan balasan ini datang lebih dulu malah.
Justru yang dimainkan ini aneh dan lucu tampaknya, walau tepukannya enteng seperti tidak menggunakan tenaga, tapi pukulan The Si-kiat mengenai tempat kosong, gerakannya sukar dihentikan lagi, dia terhuyung ke depan lima langkah.
Berubah air muka Kim Kay-thay karena gerakan Ling Kun-gi mirip sekali dengan Tui-liong-jip-hay (dorong-naga masuk laut), salah satu jurus cap-ji-kim-liong jiu dari perguruannya, cuma Ling Kun-gi melancarkan jurus ini dengan tangan kiri, jadi berlawanan dengan kebiasaan cap-ji-kim-liong-jiu (dua belas jurus tangkap naga) adalah salah satu dari 72 ilmu silat Siau-lim-pay.
Termasuk 12 tingkatan teratas dari deretan ilmu lihay Siau-lim-pay, ilmu ini diciptakan oleh cikal bakal Siau-lim-pay yaitu Bodhi Dharma setelah dia menyelami Ih Kin-keng, kecuali murid2 Hou-hoatataupembela biara, ilmu initidak pernahdiajarkan kepada murid2 preman-Sebagai murid tertua dan berkepandaian paling tinggi di antara murid2 Kim Kay-thay, ternyata dalam gebrak permulaan saja dirinya sudah kecundang, sudah tentu The Si-kiat malu bukan main, mulut menggerung, tiba2 badannya berputar cepat, berbareng kedua tangan menyerang secara membadai.
Karena sudah kecundang, maka jurus permainan selanjutnya tidakkepalangtanggunglagi, iamelancarkanHakhouciohoat(ilmu pukulan penakluk harimau) dari Siau lim-pay.
Ilmu ini cukup terkenal dalam bu-lim dengan kekuatan dan kekasarannya, begitu dikembangkan perbawanya ternyata bukan olah2 hebatnya, setiap gerakan jurus tangannya membawa deru angin kencang seperti badai mengamuk, kekuatannya cukup menghancurkan pilar batu.
Tak tahunya Ling Kun-gi melayaninya seperti tidak terjadi apa2, sikapnya adem ayem, kedua kaki tetap berdiri di tempat tak bergeser sedikitpun, hanya badannya saja yang bergontai kian kemari, namun setiap serangan lawan dapat dihindarinya dengan mudah.
Dirangsang amarah, tentu saja serangan The Si-kiat semakin bersemangat dan tumplek seluruh kepandaian silatnya, jurus ketiga adalah Jiu kip-pau-tan (tangan merogoh ulu harimau), jari2nya berbalik merogoh ke bawah dari bawah pergelangan tangan yang lain, bagai kilat tahu2 serangannya mengincar ulu hati Ling Kun-gi.
Begitu cepat dan ganas serangan ini.
Jarak keduanya dekat lagi, pula badan Ling Kun-gi masih miring ke samping karena menghindari jurus kedua tadi, gerakannya jadi sukar berubah dan tak mungkin berkelit lagi.
Diam2 The Si-kiat mendengus hina, tenaga dia kerahkan ketangan kanan, gerakanpun dipercepat.
Tatkala jari tangannya menyentuh baju Ling Kun gi itulah, mendadak terasa pergelangan tangan kanan mengencang sakit, tahu2 tangan orang sudah mencengkeram pergelangan tangannya.
keruan hatinya mencelos kaget, baru saja dia hendak meronta, namun sudah terlambat.
Kejadian berlangsung begitu cepat dalam sekejap saja, Ling Kungi tetap mengulum senyum.
sedikit dia gerakkan tangan kiri.
badan The Si-kiat yang tinggi tegar itu tiba mencelat dan terbanting jatuh..
Sebagai murid preman angkatan kedua dari Siau-lim-pay.
kepandaian The Si-kiat sebetulnya tidak lemah, di tengah udara dia sempat mengarahkan Jian-kin-tui, kedua kakinya hinggap di atas tanah dan berhasil mempertahankan diri.
Sehingga tidak jatuh namun mukanya yang sudah merah kelam menjadi semakin gelap seiring malu, katanya dengan tertawa tawa.
"Ling-siangkong memanghebat."Segeradiahendak menubrukmajulagi. Betapa tajam pandangan Kim Kay-thay, dari jurus kedua yang dimainkan Ling Kun-gi ini dia sudah yakin bahwa ilmu itu adalah cap ji-kim-liong-Ciu, tipu yang dinamakan Ih-kim-ko-Yong (hendak ditangkap sengaja menurut saja), cuma bedanya dia tetap melancarkan jurus secara terbalik, dengan tangan kiri, keruan hatinya terkesiap. diam2 ia membatin.
"Mungkinkah dia murid beliau?"
Tanpa menunggu The Si-kiat bergerak lebih lanjut, cepat ia membentak.
"Si-kiat berhenti"
Mendangar seruan gurunya, lekas The Si-kiat meluruskan kedua tangan, sahutnya mengangkat kepala.
"Suhu, ini......". diainginbilang "Tecu belum kalah."
Namun Kim Kay-thay segera menyela.
"Tak usah dilanjutkan, kau bukan tandingan Ling-lote."
The Si-kiat tak berani banyak bicara, namun batinnya tidak terima dan penasaran sekali. Kim Kay-thay tidak hiraukan sikap muridnya, ia berdiri dengan muka berseri ia berkata kepada Ling Kun-gi.
"Ling-lote, silakan duduk."
Dari Ling-siangkong mendadak dia menyebutnya Ling-lote (saudara Ling), nadanyapun jauh lebih ramah dan hormat.
Diam2 The Si-kiat menggerutu dalam hati, namun dia juga dapat mengira gurunya berpengalaman luas, dari dua gebrakan tadi, tentu beliausudah tahuasal-usulLing-siangkong ini.
Ling Kun-gi tersenyum penuh arti, tanpa bicara ia kembali ke tempat duduksemula.
Mengawasi Ling Kun-gi, berkatalah Kim Kay-thay dengan tulus.
"Ingin kutanya suatu hal, entah sudikah Ling-lote memberitahu?"
Dari nada ucapannya jelas berubah jauh sekali pandangannya terhadap anak muda ini, walau dirinya lebih tua, sedikitpun ia tak berani angkuh lagi.
"Kim-loyacu ingin tanya apa?"
Jawab Ling Kun gi.
"Gurumulah yang ingin kutanyakan, apakah beliau seorang beribadat?"
Ling Kun-gi hanya tertawa, katanya.
"Tadi sudah kukatakan, guruku tidak punya gelar dan tidak mau disebut namanya, terpaksa tak bisa kujawab pertanyaan Kim loyacu."
"Tidak apa, kalau Ling-lote tidak mau memberitahu, akupun tidak memaksa,"
Sebentar Kim Kay-thay merandek lalu bertanya pula dengan tatapan tajam.
"Jadi Ling-lote kemari lantaran cin-cu-ling itu"
"Betul,"
Ling Kun-gi mengangguk.
"Bolehkah Ling-lote bicara sedikit lebih jelas?"
"Baiklah akan kujelaskan-Akhir tahun yang lalu, secara mendadak ibuku menghilang. ."
"o,"
Kim Kay-thay bersuara kaget.
"apa-kah ibumu juga orang persilatan?"
"Tidak. ibu sedikitpun tidak mahir ilmu silat."
"lbumu tidak bisa silat?"
Seru Kim Kay-thay penuh keheranan.
"Aneh sekali, jadi Ling-lote, kira hilangnya ibumu ada sangkut pautnya dengan cin-cu-ling?"
"Aku sendiripun tidak tahu, tapi begitulah kata guruku. Loh-san Taysu, pimpinan Yok-ong-tian di Siau-lim-si mendadak lenyap. di tempatuya konon ditinggalkan sebutir cin-cu-ling, maka cayhe disuruh ke sini menemui Kim-loyacu untuk mencocokkan apakah cin-cu-ling itu mirip dengan mutiara warisan keluargaku atau tidak?"
"Peristiwa hilangnya Loh-san suheng amat dirahasiakan, hanya beberapa orang saja dari pihak Siau-lim-si yang mengetahui, boleh dikatakan tiada seorang kangouwpun yang tahu, bahwa Ling-lote kemari atas perintah gurumu, baiklah tak perlu kumain sembunyi lagi, Waktu Loh-san Suheng hilang, di tempat tinggalnya memang ditemukan sebutir cin-cu-ling, karena para paderi Siau-lim-si jarang yang keluyuran di Kangouw, maka tugas mencari jejak Loh-san Suheng ini oleh ciangbun Hong-tiang diserahkan kepadaku, maka mutiara itupun kini berada ditanganku"-Sampai di sini dia berdiri dan menambahkan.
"Harap Ling-lote tunggu sebentar, biar kuambilkan mutiara itu."
"Kim-loyacubolehsilakan,"sahutLing-Kungisambil berdiri.. Bergegas Kim Kay-thay masuk ke dalam, tak lama kemudian keluar pula sambil menenteng sebuah bungkusan kain warna kuning, ia duduk kembali di kursinya terus membuka bungkusan kain kuning itu, isinya adalah sebuah kotak persegi kecil dari kayu. Dengan hati2 dia buka kotak kecil itu, lalu mengeluarkan sebutir mutiara sebesar telur burung dara, katanya.
"Ling-lote, inilah cincu-ling itu."
Ling -Kun-gi menerimanya serta meng-amat2i dengan seksama, mutiara inipun bolong tengahnya dan disisipi benang emas, sebelah atasnya ada ukiran huruf "Ling"
Warna merah menyolok, bentuknya mirip sekali dengan mutiara warisan keluarganya, cuma besar kecilnya saja yang berbeda, sampaipun ikatan benang emas itu satu sama lain juga sama.
Ling Kun-gi angkat kepala dan bertanya.
"Apakah Kim-loyacu sudah mendapatkan hasil penyelidikan yang diharapkan?"
Kim Kay-thay menggeleng kepala, katanya tertawa getir.
"Walau Ling-lote tidak mau katakan asal-usul perguruan, bahwa gurumu suruh kau ke Kayhong untuk menemuiku, itu pasti ada hubungan intim ada diantara kita. maka biarlah kuterus terang, anak murid preman Siau-lim si tersebar luas di-mana2, dan banyak diantaranya yang membuka Piaukiok, cabang kitapun tersebar ke segala pelosok. dalam jangka tiga bulan ini sudah kuberi instruksi kepada mereka untuk menyelidikinya secara ketat. di samping mengadakan sergapan bilamana yang dianggap mencurigakan, namun bukan saja jejak Loh-san Suheng tetap tidak ditemukan, soal cin-cu-ling inipun nihilhasilnya, cumaaku jadi ingatakansuatuhal"
Sambil mengelus jenggotnya, tiba2 dia berhenti.
"Kim loyacu ingat akan hal apa?"
Tanya Ling Kun-gi. Kim Kay-thay tidak segera menjawab, dia merenung sebentar, lalu balas bertanya.
"Apakah ibumu pandai menggunakan racun?"
Ling Kun-gi tertegun, sahutnya tertawa.
"Tadi sudah kukatakan, ibu bukan kaum persilatan, sudah tentu beliau tidak bisa menggunakan racun."
"Kalau demikian apakah ibumu pandai tata rias atau.. pengobatan?"
Tanpapikir Ling Kun-gi menjawab.
"ibutidaktahu soalobat2an-"
"Aneh kalau begitu,"
Kim Kay-thay.
"sebetulnya tiada alasan mereka menculik ibumu."
Ling Kun-gi tampak bingung, tanyanya.
"cayhe tidak tahu, apa maksud ucapan Kim-loyacu."
"Itu dasarnya pada analisa dari tiga peristiwa yang baru2 ini terjadi di Kangouw. Tapi ibumu bukan kaum persilatan, tidak tahu obat2an, juga tidak mengerti soal racun, namun juga lenyap tak keruan parannya, kini gurumu suruh kau kemari menemuiku pula, kalau gurumu anggap soal ini ada sangkut pautnya dengan cin-cu-ling, tentu urusan tidak akan meleset sama sekali analisaku tadi menjadiharus diragukan-"
"Bagaimana analisa Kim-loyacu, bolehkah diterangkan?"
Tanya Ling Kun-gi.
"Setelah Loh-san Suheng lenyap. tersiar pula berita di kalangan Kangouw bahwa ketua keluarga Tong di Sujwan dan keluarga Un di Linglam juga lenyap secara aneh, keluarga mereka juga menemukan cin-cu-ling di kamarnya, ini membuktikan bahwa ketiga orang ini pastidikerjai orangdari suatugolongan-"
"Kenapa mereka tidak meninggalkan cin-cu-ling dikala ibuku lenyap?"
Tanya Ling Kun-gi.
"Tiga orang yang lenyap itu, keluarga Tong di Sujwan adalah ahli dibidang ilmu senjata rahasia dan racun, keluarga Un di Ling lam tersohor karena obat2 bius, sedang Loh-san Suheng menguasai ilmu obat2an, karena itu aku menduga, bahwa ketiga orang ahli dibidang masing2 ini sengaja diculik dan tidak terlepas dari dua kemungkinan . ... ..."
"Dua kemungkinan apa?"tanyaLing Kun-gi taksabar.
"Pertama, di antara komplotan orang2 itu pasti terdapat salah seorang tokoh penting yang terluka oleh sesuatu racun jahat, mungkin sudah diobati berbagai macam obat dan tetap tak sadarkan diri. oleh karena itu terpaksa mereka menculik kedua ahli racun dan obat bius dari keluarga Tong dan Un itu, demikian pula Loh san Suheng yang ahli dalam bidang pengobatan, dugaan ini menjurus pada darma bakti demi keselamatan jiwa orang, jadi mereka diculikuntuk menolong jiwa manusia."
"Lalu bagaimana dugaan yang menjurus ke kejahatan?"
"Itulah dugaan kedua, komplotan ini mempunyai maksud2 tertentu dengan ambisi besar, bahwa ketiga orang ini diculik untuk alat pemeras kepada keluarga Tong dan Un agar menyerahkan catatan rahasia dari ilmu masing2 yang sudah turun temurun sejak leluhur mereka."
"Lalu apa pula tujuan mereka menculik Loh--san Taysu?"
Tanya Ling Kun-gi. Kim Kay-thay menghela napas, katanya.
"Kak-tam-wan buatan Siau-lim-si dapat mengobati segala macam racun, resep pembuatannya sudah turun temurun sejak ratusan tahun lumanya, hanya pimpinan di Yok-ong-thian saja yang tahu akan resep ini, bahwa Loh-san suheng juga mereka culik, tujuannya sudah tentu untuk membuat Kak-tam-wan. Ini sih urusan kecil, sebab kecuali tiga orang ini bukan mustahil mereka juga menculik tokoh2 lain yangahlidalambidang ini?Hal inilahjauh lebih mengerikan-"
"Kenapa?"
Ling Kun-gi menegas.
"Ini membuktikan bahwa komplotan ini sedang merancang suatu muslihat yang besar. Mereka khusus menculik orang2 ahli di bidang racun, obat bius dan obat2an, tujuannya tentu hendak-membuat suatu obat yang mengerikan untuk mencelakai jiwa kaum persilatan"
Sampai di sini nadanya jadi lebih tandas.
"Gerak-gerik komplotan ini serba misterius dan sangat rahasia, kalau mereka tidak meninggalkan cin-cu-ling, bukankah kita lebih sukar lagi untuk menyelidiki hal ini?"
Mendadak sorot matanya menjadi berkilau, tanyanya.
"Apakah Ling-lote tahu asal-usul dari mutiara warisan keluargamu itu?"
"Entah, sejak kecil mutiara ini sudah selalu berada dibadanku,"
Ling Kun-gi menjelaskan "Gutumu jugatidakpernah menjelaskan"
"Tidak."
Jawab Ling Kun-gi, tiba2 dia berdiri serta menjura.
"Terima kasih atas petunjuk dan kete-rangan Kim-loy acu, sekarang cayhemohon dirisaja."
"Harap Ling-lote duduk lagi sebentar, masih ada suatu hal perlu kusampaikan-"
"Kim-loyacu masih ada petunjuk apa?."
"Menurut apa yang kuketahui, kecuali keluarga Tong dan Un, di kalangan Kangow masih ada satu keluarga yang pandai dan ahli juga menggunakan racun-........"
"Keluarga mana,"tanyaLing kun-gi.
"Llong-bin-san-ceng (perkampungan gunung naga tidur), tapi mereka jarang bergerak di kalangan Kangouw), maka jarang orang tahu akan kehadiran mereka, menurut apa yang kuketahui, komplotan cin-cu-ling agaknya belum bertindak terhadap Liong-binsan-ceng, tidakadaruginyaLing-lote memperhatikan jugasoalini."
"Terima-kasih atas petunjuk ini"
Habis menjura Kun-gi panggul buntalannya serta melangkah Keluar.
Ter-sipu2 kim Kay-thay mengantar sampai undakan.
lalu dia suruh The si-kiat antar tamunya sampai diluar pintu.
Sudah puluhan tahun The Si kiat mendapat bimbingan gurunya, dia tahu bahwa pemuda she Ling ini punya asal usul yang bukan sembarangan, setelah Ling Kun-gi pergi, lekas dia kembali kekamar dan bertanya pada gurunya.
"Suhu, apakahengkausudahtahu asalusulnya?"
Prihatin air muka Kim Kay-thay, katanya sungguh2
"Dua jurus yang dia tunjukan tadi adalah tipu2 dari cap-ji-kim-liong-jiu, cuma dia bergerak secara kidal, kalau dugaan gurumu tidak meleset, kemungkinan dia adalah ......."
The Si-kiat terperanjat, serunya.
"Maksud suhu, dia murid Susiokco?"
KimKay-thay tidakbicaralagi, diahanya manggut2.
Konon 50 tahun yang lalu pernah muncul seorang maling pendekar.
Maling pendekar maksudnya dia mencuri untuk pihak yang lemah, bukan saja dia memberantas kelaliman dan kejahatan, iapun membantu kaum miskin dan lemah melawan yang kuat dan batil, karena dia bekerja secara terbuka dan terang2an, ilmu silatnya teramat tinggi lagi, biasanya jejaknya sukar ditemukan, hanya sering mendengar namanya tapi tidak pernah melihat orangnya, sudah tentu jarang ada orang yang tahu asal-usulnya.
Maka orang banyak lantas memberi julukan It-tin-hong (angin lalu) kepadanya.
Maksudnyadia pergidatangsepertiangin lalu.
It-tin-hong punya tabiat aneh, yaitu dia pandang kejahatan sebagai musuh kebuyutan, pejabat korup dan kikir, buaya darat dan tuan tanah yang memeras rakyat jelata semua disikatnya habis2an.
Kaum persilatan dari golongan hitam yang sudah berlepotan darah kedua tangannya karena kejahatan yang kelewat batas juga diganyang olehnya, mending kalau hanya dipunahkan ilmu silatnya, bagi yang berdosa di luar batas, kalau tidak terluka parah tentu jiwa melayang.
Entah bagaimana kemudian jejaknya menghilang dari kalangan Kangouw, It tin-hong lenyap tak karuan paran, ternyata ia telah cukur rambut dan menjadi pendeta di kuil Siau-lim-si di Hoalam, setelah jadiHweslo gelarannya adalah Tay-thong.
Sekejap mata 20 tahun telah berlalu, umumnya ajaran agama mengutamakan welas asih dan bijaksana, setelah dia insyaf tindak kekerasannya dan patuh kepada ajaran agama, tak terduga pada suatu hari seorang musuh yang pernah dipunahkan ilmu silatnya dapatmengenalidiabahwa Tay-thongHwesio adalahIt-tin-hong.
Tata tertib siau lim si amat keras, begitu para Hweslo dalam kuil agung itu tahu bahwa Tay-thong Hweslo adalah It-tin-hong yang dosanya bertumpuk2, mereka anggap kehadirannya dibiara besar itu menodai dan merusak kesucian agama mereka, maka timbul keributan dan pertentangan, ada yang mengusulkan supaya punahkan saja ilmu silatnya serta mengusirnya pergi dari kuil.
sudah tentu Tay-thong Hweslo marah, katanya.
"Kalau sang Budha tidak meluluskan aku meletakkan golok pembunuh, akupun tidak pingin menjadi seorang Budhis lagi, tapi ilmu silat yang kumiliki tidak melulu kupelajari dari siau-lim-si saja, kalian tidak berhak memunahkan ilmu silatku. Soal apa yang pernah kupelajari di Siau-lim-si ini, setelah meninggalkan Siau-lim-si pasti tidak akan kugunakan lagi."
Begitulah akhirnya Tay-thong Hweslo meninggalkan Siau-lim-si.
Sudah tentu ada juga para Hweslo yang ingin menahan dan merintangi kepergiannya, tapi selama dua puluhan tahun menggembleng diri di biara agung itu, pelajaran silat yang diyakinkan sudah teramat tinggi, tiada seorangpun yang mampu menahannya.
Sejak itu, muncul pula di kalangan Kangouw seorang pendekar aneh yang menyebut dirinya Tay-thong Hwesio, sifanya tidak pernah berubah, kejahatan dipandangnya sebagai musuh, ilmu silat yang dimainkan sudah tentu ada yang berasal dari Siau-lim-pay, cuma setiap jurus yang dia gunakan dengan tangan kiri, jadi jurus permainannya terbalik dan berlawanan dengan silat Siau-lim-pay.
Maka orangpun memberinya nama Hoan-jiu-ji-lay (Buddha Kidal).
Itulah peristiwa tiga puluh tahun yang lalu.
Maka bicara soal tingkatan, Hoan jiu-ji-lay masih terhitung Susiok dari It-wi Taysu, Hongtiang siau-lim-si sekarang, juga dengan sendirinya Susiok dari Kim-ting Kim Kay thay.
Hari belum gelap.
namun rumah2 penduduk Kayhong sudah sama pasang lampu.
Lalu lintas masih ramai dijalan raya.
Tampak diantara sekian yang mengayun langkah itu ada seorang pemuda baju hijau memanggul buntalan panjang melintas jalan menuju ke ujung jalan sana, di mana terdapat sebuah gang kecil yang sempit, di mulut gang sempit ini berdiri seorang, tak terlihat wajahnya.
Umumnya orang2 yang berdiri di mulut gang kalau bukan begal, tentu juga bukan orang baik2 yang sedang mengincar mangsanya.
Begitu melihar pemuda jubah hijau menghampiri orang itu segera memeluk kedua tangan di depan dadanya, kedua biji matanya dengan nanar mengawasi gerak-geriknya, lekas sekali si pemuda sudah mendekat dan lewat di mulut gang, dalam sekejap orang itupun sudah menemukan apa2 yang diincar dari badan pemuda jubah hijau, ternyata pemuda jubah hijau mengenakan ikat pinggang atau sabuk yang terbuat dari kain sutera warna kelabu..tepat di ujung kiri pinggangnya dihiasi sebutir mutiara dengan seutas benang mas.
Mutiara itu sebesar telur burung dara.
Maka orang itu tidak sangsi lagi, bergegas dia melompat keluar serta mengejar dua langkah, katanya sambil unjuk tawa lebar.
"Siangkong, inilah surat untukmu."
Si pemuda melengak dan berhenti, dengan tajam ia menatap muka orang di depannya.
Dengan gugup orang itu menyetahkan sepucuk surat kepada si pemuda terus tinggal pergi dengan langkah tergopoh2.
Pemuda jubah hijau ini ialah Ling Kun-gi, sekian lamanya ia melongo mengawasi sampul surat ditangannya, walau merasa heran, akhirnya dia buka sampul itu dan membaca isi surat yang tertulis di atas secarik kertas kuning, bunyinya demikian.
"Serahkan kepadasi matasatudi luarHo-sing-biodiHek-kang."
Ling Kun-gi tertegun membaca surat ini, cepat otaknya berpikir.
"Jelas surat ini salah alamat, mungkin orang tadi salah mengenali aku."
Waktu ia angkat kepala, orang yang menyerahkan surat tadi sudahtidak kelihatanlagibayangannya. Mau tak mau tergerak juga hati Ling Kun-gi, batinnya.
"Dari nada surat ini, agaknya seorang persilatan hendak mengirim sesuatu barang. Memangnya aku sedang menyelidiki cin cu-ling, kenapa tidak kupergi ke Hek-kang menunggu di luar Ho-sio-bio untuk melihatapayangakan terjadidisana"
Tapi segera dia berpikir pula."
Dalam surat sudah dijelaskan untuk menyerahkan entah barang apa kepada seorang yang buta sebelah matanya di luar Ho-sin-bio.
Liu apa gunanya ku pergi ke sana.
toh aku tidak punya barang yang dimaksud?
Sedangkan surat pengantar ini sudah terjatuh ke tanganku, orang yang harus menyerahkan barang tak mungkin menuju ke alamat yang ditentukan tanpa membawa surat ini."
Sampai di sini tiba2 dia menduga kalau orang tadi telah salah menyerahkan sampul surat ini kepada dirinya, pasti orang yang seharusnya menerima sampul surat ini berperawakan mirip dirinya, kenapa tidak kutunggu saja di sini, kalau nanti ada orang yang mirip diriku datang kemari?
Bukankah lebih baik kalau dia yang menyerahkan barang itu ke Ho-sin-bio?
Dengan bibirnya dia basahi sampul surat serta menutup rapat pula sampul surat itu, kini ganti dia yang berjaga di ujung gang sempit tadi, buntalan panjang dipunggungnya dia turunkan dan diletakkan di kaki tembok yang gelap.
Tak lupa dia meraih segenggam tanah kering lalu mengusap muka sendiri dengan debu tanah itu lalu ia berdiri bertopang dinding dan menunggu dengan sabar.
Tak lama kemudian, betul juga dari ujung jalan raya sebelah barat sana muncul sesosok bayangan orang, ternyata iapun memanggul sebuah buntalan panjang, perawakannya tinggi lencir, karena jarak masih jauh, tak terlihat jelas wajahnya.
Langkahnya tampak tenang2, tidak gugup dan mantap, se-akan2 dijalan raya itu hanya dia sendiri yang berjalan-Sekejap saja si baju biru ini sudah tiba di ujung gang.
Kini Ling Kun-gi dapat melihat jelas, laki2 ini berusia empat-lima likuran, wajahnya memang cakap.
cuma sikapntya angkuh, dingin dan kaku.
Ling Kun-gi tunggu orang berjalan sampai di mulut gang dan segera memburu maju serta berkata.
"Siangkong, inilah surat untukmu"
Dengan keduatangandiaangsurkansampultadi.
Langkah si baju biru merandek.
dengan sebelah tangan dia terima sampul itu tanpa berpaling, sekenanya tangan yang lain tiba2 menggablok ke belakang.
Tak pernah terpikir oleh Ling Kun-gi orang akan menyerang dirinya dengan cara ganas ini, ada niat menangkis, tapi cepat sekali otaknya bekerja, pikirnya.
"Dia ingin membunuhku untuk menutup mulutku, maka aku jangan menangkis."
Diam2 ia kerahkan hawa murni untuk melindungi Hiat-to dan terima pukulan keras orang.
"Blang", walau tidak berpaling, namun gerakan tangan orang mengincar sasaran secara tepat, pukulannya tepat mengenai dada Ling Kun-gi. Dengan mengeluarkan keluhan tertahan Ling Kun-gi terjengkang roboh. Tanpa berhenti atau meneliti korbannya si baju biru terus beranjak ke depan tanpa menoleh. Diam2 Ling Kun-gi tersirap darahnya setelah menerima pukulan keras laki2 baju biru ini, pikirnya.
"Tak nyana pukulannya ini mmggunakan Jong-jiu-hoat dari aliran Lwekeh."
Sudah tentu tak pernah terpikir oleh si baju biru kalau ada orang menguntit dirinya, dengan langkah berlenggang dia terus beranjak ke depan, setiba di pintu utara, di depannya mengadang tembok kota yang beberapa tombak tingginya.
Sekali kaki menutul, si baju biru segera melayang naik laksana luncuran anak panah ke atas tembok kota yang tinggi, sekali kaki menutul pula dengan enteng, badannya melayang turun keluar tembok kota.
Dari tempatnya Ling Kun-gi diam2 kaget memyaksikan kepandaian orang, batinnya.
"Bagi jago kosen Bulim bukan soal untuk melompat setinggi empat-lima tombak, tapi orang ini masih begini muda, namun sudah memiliki kepandaian setinggi ini"
Karena merasa curiga, bertambah besar pula hasratnya untuk menguntit laki2 baju biru untuk me-nyaksikan barang apa pula yang hendak di antar ke Ho-sin-bio Segera iapun melayang ke atas tembok kota, dari tempat ketinggian dilihatnya sesosok bayangan meluncur di kejauhan sana secepat terbang, arahnya ke utara.
Ling Kun-gi tidak berani ayal, dia menghirup napas panjang dan melayang turun sambil mengembangkan Ginkang terus menguntit laki2 baju biru dari kejauhan-Kira sepuluh li kemudian, di depan sana adalah sebuah bukit kecil, kiranya itulah Hek-kang atau bukit tandus hitam.
Setiba di bawah bukit, gerakan laki2 baju biru menjadi lambat, kembali dia berjalan dengan langkah lebar, lambat tapi mantap.
terus menanjak ke atas bukit.
Dlam2 Ling Kun-gi geli, pikirnya.
"Orang ini pandai berpura2 dan ber-muka2, sungguh terlalu angkuh dan sombong."
Setelah tiba di Hek-kang, sudahtentusebentarlagiakan sampai di Hosin-bio.
Ingin Ling Kun-gi mengetahui barang apa yang hendak diserahkan kepada orang buta satu itu?
Maka jaraknya tidak boleh terlalu jauh.
Untung semakin dekat puncak bukit, tetumbuhan pohon juga lebih lebat, sebat sekali Ling Kun-gi menyelinap masuk ke dalam hutan, dari balik bayang2 pohon dengan cepat dia meluncur ke atas bukit.
cepat sekali dilihatnya bayangan tembok merah dan ujung wuwungan, sebuah kelenteng terselubung di balik lebatnya pepohonan di atas sana, ternyata dirinya berada di belakang kelenteng, jadi Ho sin-bio ini di bangun menghadap utara.
Ling Kun-gi tidak tahu siapa dan bagaimana asal-usul orang buta sebelah yang akan menerima barang, maka dia tidak berani gegabah, dengan mengembangkan Ginkang dia berlompatan di pucukpohonterusberputardari arahkanan menuju kedepan Ho-sin-bio terdiri dari tiga lapis bangunan ke-lenteng, waktu Ling Kun-gi tiba di sebelah kanan, betul juga dilihatnya seorang tua buta sebelah mata berpakaian hitam telah berdiri menunggu dengan laku hormat di luar kelenteng..Tak lama kemudian laki2 baju birupun muncul dengan langkah pelan2.
Ter-sipu2 laki2 tua mata satu menyongsong maju, sambil munduk2 dia menyambut dengan tawa lebar, katanya.
"Atas perintahHo-sin-ya, sejaktadi hambasudah menunggu disini"
Laki2 baju biru berkata dingin.
"Mata kirimu picaku ternyata mata kananmu masih awas"
Si mata satu munduk2 lagi, katanya tertawa.
"Ya, ya, hamba picak mata kanan bukan mata kiri."
"Bagus sekali"
Kata si baju biru, tangan merogoh kantong dan mengeluarkan sebuah bungkusan kertas terus diangsurkan, katanya."Baranginiamatpenting, kauharusber-hati2"
Si mata satu menyambut dengan kedua tangannya, sahutnya tetap munduk2.
"Ya, hamba tahu"
"Baiklah, setiba kau di Hoay-yang, ada orang memberi petunjuk padamu kemana kau harus antar barang ini."
"Hamba mengerti"
Orang tua mata satu menjawab.
Laki2 baju biru mendengus kereng, dimana dia jejak kedua kakinya, tlba2 badannya melambung tinggi ke udara, bayangan tubuh secepat kilat meluncur turun ke bawah bukit.
Ling Kun-gi sembunyi di tempat yang cukup dekat, maka percakapan mereka di dengarnya dengan jelas, batinnya "
Entah apa isi bungkusan kertas itu.
begitu besar perhatian mereka, sampai harus dikirim secara rahasia lagi, si mata satu adalah pesuruh, namun dia sendiri juga belum tahu ke mana dan kepada siapa dia harus serahkan barang itu?"
Lalu dia berpikir lebih lanjut.
"Kalau laki2 baju biru tadi tidak menerima surat rahasia dariku tadi, iapun tak tahu ke mana dan kepada siapa dia harus serahkan barang yang terbungkus di kertas itu?"
Dari sini lebih mudah diraba, kalau bukan barang pusaka yang tak ternilai harganya, tentu bungkusan itu berisi suatu barang yang amat rahasia dan penting artinya.
Setelah hati merasa curiga, sudah tentu Ling Kun gi tidak abaikan kejadian ini, dia bertekad menyelidiki hal ini sampai terang duduk persoalannya meski harus menempuh bahaya dan macam2 kesulitan-Di kala dia menerawang tindak lanjut diri sendiri, sementara si mata satu sudah beranjak pergi dengan langkah tergesa-gesa.
Dari langkah orang Ling Kun-gi dapat menilai kepandaian silat orang ini tidak seberapa tinggi, kalau dibanding laki2 baju biru tadi, jaraknya terlampau jauh.
Untuk menguntit seorang keroco seperti laki2 tua mata situ ini bagi Ling Kun-gi merupakan kerja sepele.
Tapi Ling Kun-gi cukup cerdik dan teliti, dari pengalaman malam ini yang penuh liku2 dia ingat bahwa komplotan orang ini serba misterius, diduganya bungkusan itu sangat penting dan amat besar artinya, teramat ganjil kalau diserahkan dan dipercayakan kepada si mata satu yang berkepandaian silat begitu rendah, maka ia menduga secara sembunyi pasti masih ada orang lain yang berkepandaian tinggi melindunginya.
oleh karena itu dia tidak berani gegabah, setelah si mata satu pergi jauh dan meneliti sekelilingnya memang tiada orang lain yang bersembunyi, barulah dia berkelebat keluar hutan, menyusul ke bawah gunung.
Si mata satu menempuh perjalanan dengan langkah cepat, Ling Kun-gi tetap menguntit dari kejauhan-Supaya tidak menimbulkan perhatian orang, maka mutiara yang dia ikat dipinggang kiri seperti pesangurunyadiasimpandalamkantong baju.
Malam itu si mata satu menempuh tujuh li perjalanan, setelah hariterangtanah,iasampaidiKip-siandanlangsung masukkota.
Tak jauh di belakangnya Ling Kun-gi juga ikut masuk kota, agaknya si mata satu sudah apal jalanan dalam kota ini, di pinggir jalan dia minum dulu semangkuk bubur kacang serta makan beberapa kue untuk mengganjal perut, lalu menuju ke ujung jalan dan memasukihotel Hin-liong, sebuahpenginapankecil.
Setelahsemalamsuntuk menempuhperjalanan,LingKun-giduga orang perlu istirahat, maka ia-pun masuk ke warung yang letaknya di seberang hotel, disini dia sarapan pagi.
Diam2 dia perhatikan setiap orang yang hilir mudik, dilihatnya seorang laki2 yang bertopi bulu dengan pakaian abu2 datang dari sana dan langsung masuk ke dalam hotel Hin-liong.
Dari langkahnya yang enteng, Ling Kun-gi tahu kalau orang ini adalah seorang jagoan, kalau hari sudah seterang ini baru masuk penginapan, tentu diapun menempuh perjalanan di waktu malam.
Berdegup jantung Ling Kun-gi, pikirnya.
"Mungkinkah orang ini sekomplotan dengan si mata satu?"
Setelah perut kenyang dan membayar rekening makanan, Ling Kun-gi juga masuk ke hotel Hin-liong di seberang, biasanya yang menginap di hotel sekecil ini adalah tukang kereta atau kuli angkutan yang membawa barang dari tempat jauh, begitu hari terang tanah mereka lantas berangkat, maka keadaan hotel sekarang terasa sepi.
Melihat ada tamu datang, pelayan menyambut dengan sikap hormat.
"Tuan tamu, kau akan..."
"Menginap."
Sahut Ling Kun-gi. Pelayan kegirangan, katanya sambil munduk2.
"Ya, ya, silakan tuanikut hamba."laluia bawaLing Kun-gi kedalam. Sambil jalan Ling Kun-gi bertanya kepada si pelayan.
"Hotel kalian ini apa ramai dikunjungi tamu."
"Tarip hotel kami murah, maka ramai juga tamu2 yang suka menginap di sini,"
Sahut pelayan-"Kalau setiap pagi ada tamu masuk hotel seperti tuan sekarang. penghasilan hotel kami tentu bertambah besar."
Sementara itu mereka sudah sampai di depan sebuah kamar, pelayan membuka pintu serta bertanya sambil melangkah masuk.
"Kamar inibagaimanatuan?"
Sebentar Ling Kun-gi celingukan, lalu menjawab.
"Ya, bolehlah. Biasanyaapakahjarangtamuyang menginapdipagihari?"
"Orang yang menginap pagi tentu semalam suntuk menempuh perjalanan, belakangan ini keamanan dijalan banyak terganggu, sudah tentu jarang orang mau menempuh perjalanan malam hari ......"
Mendadak dia cekikikan, serta menambahkan.
"Pagi hari ini, termasuk Siang kong kamitelah kedatangantigatamu"
Ling Kun-gi mengiakan secara tak acuh tanyanya seperti tidak ambit perhatian.
"Mereka tinggal kamar mana?"
"Hotel kami hanya memiliki enam kamar, diseberang sana adalah ruang umum, kamar tuan nomor tiga, dua tamu yang lain menempati kamar satu dan dua."
Ling Kun-gi membatin.
"Jadi si mata satu menempati kamar ke satu, lelakibaju abu2tinggal di kamarnomor dua."
Sementara itu pelayan telah keluar dan kembali membawa sepoci air teh, katanya tertawa sam-bil menyuguh. ."Tuan, silakan minum?"
Sengaja Ling Kun-gi menggeliat dan menguap. katanya.
"Aku ingin tidur, tutuplah pintu dari luar, tak usah kau layani aku lagi."
Pelayan mengiakan terus keluar sambil merapatkan pintu. Ling Kun-gipasang kuping sebentar, didengarnya laki2 baju abu2 di sebelah agaknya belum tidur, pikirnya.
"Kalau orang ini bukan sekomplotan dengan si mata satu, tentu iapun seperti diriku sedang menguntit si mata satu."
Setelah meneguk habis secangkir teh, tanpa buka pakaian dia rebahkan diri.
Dengan bekal kepandaian silatnya, umpama dia tidur pulas, asalkeduaorang di kamar sebelahadasedikit ulah pastitidak dapat mengelabui kupingnya, karena untuk keluar hotel mereka harus lewat depan kamarnya betapapun derap langkah mereka tetap bisa didengarnya.
Maka dengan hati lega ia pejamkan mata sebentar saja sudah pulas.
Tak terduga belum lama dia tertidur, tiba2 didengarnya orang di kamar sebelah mengumpat marah2.
"Keparat, cukup licin juga kau."
Kata2nya tidak keras, menyerupai orang berguman, tapi cukup mengejutkan Ling kun-gi dari pulasnya, bergegas dia duduk serta pasang kuping, didengarnya laki2 di kamar sebelah mendorong jendela terus melompat keluar ....
"Mungkinkah si mata satu sudah merat?"
Demikian batin Ling Kun-gi.
Ketiga kamar berjajar in masing2 ada jendela belakang, waktu masuk kamar tadi Ling Kun-gi sudah memeriksanya, di luar jendela adalah sebuah gang sempit, agaknya lelaki baju abu2 sudah mengejar lewat gang dibelakang itu.
Bergegas Ling Kun-gipun turun dari ranjang dan buka jendela, ia melompat keluar, betul juga dilihatnya jendela di kedua kamar sebelah sudah terpentang lebar, jadi si mata satu sudah merat dan dikejar lelaki baju abu2.
Diam2 Ling Kun-gi malu diri, kalau lelaki baju abu2 tidak mengumpat, diri-nya tentu juga kena dikelabui, dari sini terbukti bahwa pengalaman dirinya masih terlalu cetek untuk bekal kelanadiKangouw.
Lekas dia kembali ke kamar menjemput buntalannya terus buka pintu.
Melihat Ling Kun-gi keluar, lekas si pelayan menyongsong maju, tanyanya keheranan.
"Katanya tuan mau tidur, kenapa buru2 berangkat malah?"
"Sudan tidur sejenak. masih ada urusan-Nah, inilah uang rekeningku, masukkan juga rekening kamar ke satu,"
Ternyata sebelum pergi lelaki baju abu2 di kamar kedua meninggalkan uang di atas meja, tapi si mata satu menginap dengan gratis.
Karena sudah dengar si baju biru berpesan "Ada orang menunggumu di Hoay-yang,"
Maka Ling Kun-gi tidak perlu buru2, darisini ke Hoay-yangsudahdekat, maka dia menempuh perjalanan ke selatan dengan langkah seenaknya.
Kira2 tengah hari ia tiba di Liong-ki.
Liong-ki adalah sebuah kota kecil, hanya ada sebuah warung bakmi yang terletak di ujung jalan raya, maka pejalan kaki atau orang yang menempuh perjalanan jauh suka mampir di warung bakmi ini.
Karena saatnya orang makan, maka meja warung kecil ini penuh sesak.
Waktu Ling Kun-gi memasuki warung ini, sekilas dia menjadi tercengang, maklumlah warung kecil, hanya ada enam meja dengan masing2 empat kursi, setiap meja diduduki tiga atau empat orang.
Sekilas matanya menjelajah maka dilihatnya di meja sebelah timur sana duduk seorang diri si mata satu, dia pesan sepoci arak dan semangkok kuah sayur asin, dengan lahapnya dia tengah melahap makanannya.
Lelaki baju abu2 terlihat duduk di meja dekat pintu, mungkin takut dikenali orang, maka topi bulu di atas kepalanya ditarik serendah mungkin sampai menutup muka, tapi Ling Kun-gi tetap mengenalinya.
Baru saja Ling Kun-gi masuk pintu, pelayan sudah menyambutnya dan menunjuk tempat duduk yang masih kosong, setelah menyuguh secangkir teh dia tanya mau pesan makanan apa, Ling Kun-gi mintasepociarakdan beberapa macammasakan-Setelah pelayan mengundurkan diri, Ling Kun-gi coba mengawasi orang sekelilingnya, semua adalah kaum pedagang yang kebetulan lewat dan mampir, hanya si mata satu dan laki2 bertopi bulu itu termasuk kaum persilatan-Pada saat itulah dilihatnya dari luar masuk pula seorang berjubah hijau pupus.
Perawakan orang ini tinggi kurus, kulit mukanya kuning ke hijau2an, begitu melangkah masuk sorot matanya menjelajah ke seluruh ruangan, akhirnya dia pilih tempat duduk dekat pintu keluar, tiga jari tangan kirinya mengetuk meja, mulutpun berkaok keras.
"Hai, pelayan"
Kelihatan ketukan ketiga jari tangan di atas meja enteng saja, tapi piring mangkuk yang berisi makanan diatas meja seketika berloncatan semua.
Si baju abu2 tengah menunduk menikmati hidangannya, selebar muka dan dadanya menjadi basah kuyup oleh kuah makanannya sendiri yang muncrat.
Keruan tidak kepalang marah si baju abu2, topi bulu dia angkat keatas, tangannya mengusap muka, bentaknya marah, sambil mendelik kepada laki2 baju hijau.
"Saudara tidak lihat kalau aku sedangmakandisini? kenapa main kasarbeginirupa?"
Tidak terunjuk sedikit perobahan mimik wajah laki2 baju hijau, sahutnya dingin.
"Kalau kau anggap aku kasar, kenapa tidak pindah ke meja lain saja?"
Bukan saja tidak minta maaf malah dirinya disuruh pindah kemeja lain, keruan si baju abu2 naik pitam?, hardiknya murka.
"Kau main tepuk meja, sampai makanan muncrat mengotori badanku, memangnya aku yang salah?"
"Kusuruh kau pindah ke meja lain, memangnya aku juga salah?"jengek laki2 baju hijau pupus. Mendengar ada keributan, semua tamu yang hadir sama berpaling ke arah sini. Mencorong biji mata si baju abu2, katanya tertawa lebar.
"Saudara bertingkah dan main kayu, agaknya sengaja hendak cari perkara padaku?"
"cariperkara?"
Dengus laki2baju hijau.
"Kausetimpal?"
Lelaki baju abu2 berjingkrak berdiri, dari kantong kain yang terselip dipahanya dia lolos sebilah Yap-hap-to, bentaknya.
"Mari keluar, aku ingin belajar kenal kepandaianmu."
Laki2 baju hijau tetap bersikap dingin dan menghina.
"Kau berani main senjata dengan aku? Memangnya kau sudah bosan hidup?"
"Entahsiapayangbosan hidup?"
Jengeksibaju abu2.
"Aku sudah memperingatkan, kau sendiri yang ingin mampus, maka jangan aku yang disalahkan-"
Sembari bicara tiba2 laki2 baju hijau sedikit angkat tangan kirinya, selarik sinar hijau tiba2 melesat ke arah tenggorokan si baju abu2, bukan saja luncurannya cepat, tidak bersuara lagi.
Pada waktu yang sama, tampak dari arah samping sana meluncur pula sebuah cangkir arak.
"Tring", dengan tepat membentur sinar hijau itu sehingga sinar hijau melayang ke samping laki2 bajuabu2 dan "crat"terpakudiatastembok. Waktu semua hadirin berpaling ke sana, Itulah sebatang panah kecil sepanjang dua dim berwarna hijau, dasar cangkir tertembus bolong, dantergantungdi ataspanahyangterpakudidinding. Beringas si baju abu2, bentaknya.
"Berani kau melukai orang dengan panah gelap."
Mendadak ia menubruk maju, tangan kiri terus mencengkeram ke pundak laki2 baju hijau.
Sibaju hijau menjengek.
sekali tangan kiri membalik, belum lagi orang lain melihat gerakannya, tahu2 si baju abu2 tersentak mundur dua langkah.
punggung tangan kirinya ternyata tergores luka, darah yang meleleh berwarna hitam, kulit dagingnya hangus berwarna hijau.
Seketika ia megap2, ternyata dia tak sanggup bwrsuara lagi, pelan2 badannya roboh tersungkur.
Kejadian berlangsung dalam waktu yang amat singkat.
tanpa hiraukan korbannya, laki2 baju hijau malah melotot dan berpaling ke arah Ling Kun-gi, tanyanya dingin.
"Kaukah yang menimpuk cangkir itu?"
"Betul,"
Sahut Ling Kun-gi.
"aku tak senang melihat kau membokong orang."
"Anak muda,"
Laki2 baju hijau mendengus "Jangan kau turut campur."
Ling Kin-gi berdiri pelan2, sekilas matanya melirik kearah si baju abu2, tanyanya.
"Bagaimana keadaan saudara itu?"
"Setanakan nasi lagi, jiwanya takkan tertolong,"
Kata laki2 baju hijau.
"Kau mencelakai jiwanya?"tanyaLing Kun-gi gusar. Menyeringai lebar laki2 baju hijau, jawabnya.
"Betul, dia terkena racun jahat, sudah tentu jiwanya takkan tertolong lagi."
Ling Kun-gi menarik muka, tanyanya dingin.
"Mana obat penawarnya?"
"Benar, memang ada obat penawarnya padaku."
"Lekas keluarkan,"
DesakLing Kun-gi Si baju hijau tergelak, katanya.
"Sungguh lucu, kalau harus memberiobatpenawarnya, buatapatadikukerjaidia?"
"Utang jiwa bayar jiwa, utang uang bayar uang setelah kau mencelakai dia, maka harus keluarkan obat penawarnva, memangnya hanya karena adu mulut, kau lantas mencabut jiwanya?"
"Dia memangpantasmampus,"jengeksibajuhijau.
"Keluarkan obat penawarnya?"
Bentak Ling Kun-gi. Laki2 baju hijau hanya melirik saja kepada Ling Kun-gi, katanya dingin.
"Janganlah kau cari kesulitan sendiri, usiamu masih muda, kalau jiwa melayang percuma, apakah tidak sayang?"
Melotot gusar biji mata Ling Kun-gi, bentak-nya.
"Jiwa manusia di buatmain2, hayo, keluarkanobatpenawarnya.".
"Anak muda,"^ ujar laki2 baju hijau manggut2.
"agaknya kau memang usil, ketahuilah obat penawarnya ada di dalam kantongku, kalau kau mampu boleh mengambilnya sendiri."
"Baiklah kalau begitu,"pelan2 Ling Kun -gi menghampiri.. Laki baju hijau menyeringai di mana tangan kanan terangkat.
"Wut"
Tiba2 ia layangkan kepalannya ke muka si pemuda.
Tujuan Ling Kun-gi hendak menawannya hidup2, melihat tangan orang menggenjot tiba, tangan kiri segera menapak maju mencengkeram pergelangan tangan lawan-Gerakan mencengkeram ini mengandung beberapa perubahan yang lihay, gerakan laki2 baju hijau juga tidak kalah aneh dan lihaynya, baru kepalan kanan sampai di tengah jalan, terus ditarik balik, sementara tangan kiri segera ganti mencengkeram tulang iga Ling Kun-gi.
Lekas Kun-gi turunkan tangan kanan, gerakan mencengkeram dia ubah mengebas turun-Tangan mereka segera beradu, keduanya sama bertolak mundur selangkah.
Terasa oleh Ling Kun-gi tangan si baju hijau sekeras baja sedingin es, pegangannya seperti mencengkeram tongkat besi yang keras, keruan hatinya terkejut.
Begitu mundur laki2 baju hijau ternyata tidak segera merangsak pula, katanya dingin sambil mengulap tangan.
"Anak muda, kau sendiri yang paksa aku turun tangan, sekarang lekas kau pulang mengurus keberangkatanmu ke alambaka."
"Ah, kenapa?"
Tanya Ling Kun-gi tak acuh "Hidupmu tinggal 12 jam lagi, setelah itu jiwamu bakal melayang, sekarang masih keburu kalau kau pulang ke rumah,"
Ujar laki2 baju hijau. Menegak alis Ling Kun-gi,jengeknya sambil menatap tajam.
"Kau gunakan racun atas diriku?"
"Kau sendiri yang menyentuh tanganku."
"Jadi tanganmu beracun?"
Sekilas mencorong sorot mata Ling Kun-gi.
"Berulang kali kau menggunakan racun mencelakai orang, hari ini terpaksa aku tak bisa melepaskanmu pergi..."
Habis kata2nya tiba2 ia melangkah maju, kelima jari tangan kirinya laksanacakarterus mencengkerambahu kanansibaju hijau.
Melihat orang sudah keracunan masih bergerak cekatan dan menyerang, bukan kepalang kejut si baju hijau.
Terutama usia Ling Kun-gi masih begini muda, tapi serangan dan sikapnya begini berwibawa seperti jagoan angkatan tua layaknya, sudah tentu dia tidak mau lengannya terpegang, cepat ia putar tubuh sam-bil merendahkan pundak.
ia meluputkan diri dari serangan tangan kiri Ling Kun-gi.
Ling Kun-gi tetap menggunakan tangan kiri.
sementara tangan kanan melindungi dada, gerakan-menggunakan Kim-na-jiu (gerakan memegang dan memuntir), yang diincar adalah Hiat-to penting tubuh lawan, serangan aneh dan lain daripada yang lain-Dari gerakannya yang begitu tangkas, siapapun pasti maklum bahwa dia pasti didikan seorang guru yang.
Beruntun laki2 baju hijau berkelit tiga kali, pikirnya setelah merangsak beberapa jurus, racun di badan Ling Kun-gi pasti sudah bekerja, tak perlu dia melayani orang lebih lanjut.
Tapi pada jurus ke empat ia merasa tak mampu berkelit lagi, terpaksa dia ulurkan lengan kiri sendiri malah.
Sekali pegang Ling Kun-gi lantas pencet pergelangan tangan laki2 baju hijau, terasa yang dipegang itu dingin dan keras, takubahnya memegangbesi.
Waktu dia awasi, dilihatnya tangan kirinya sudah berubah warna menjadi kehijauan, kelima jari orang setajam pisau seruncing duri landak.
nyata tangannya memang terbuat dari besi baja.
Kiranya lengan kiri orang ini memang tangan palsu yang terbuat dari besi, malahdilumuriracun lagi.
Ling Kun-gi kerahkan tenaga dan pegang tangan besi orang, jengeknya dingin.
"Ternyata kau pakai senjata lengan besi dan beracun lagi. sungguh kejam kau."
Si baju hijau meronta sekuatnya, namun pegangan orang sedikitpun tidak bergeming, keruan hatinya mencelos, tanpa bicara tangan kanannya tiba2 menggenjot ke dada Ling Kun-gi.
Tak terduga Ling Kun-gi juga angkat kepalannya memapak genjotan lawan.
"Blang", kepalan lawan kepalan, sibaju hijau tergentak mundur selangkah. Gusar dan gelisah si baju hijau, sembari membentak. tubuhnya malah menumbuk maju, tangan kanan bergerak turun naik, dalam sekejap mata, tangan kanannya sudah menyerang tiga kali. Ketiga jurus ini rapat dan cepat laksana kilat, tak urung Ling Kungiterdesak mundurdua langkah, tapipegangantangan kirinyatetap tidakterlepassehinggasi bajuhijau ikutterseret majudua langkah, Mendapat sedikit kesempatan, Ling Kun-gi segera balas merangsak. iapun menyerang berantai tiga jurus, jari menutuk telapak tangan menabas serangannya semua merupakan jurus2 yang mematikan, karena sebelah tangannya memegang lengan lawan, maka kedua orang hanya bergerak dari jarak. dekat, masing2 hanya menggunakan sebelah langan-Beberapa gebrak jarak dekat ini kelihatan masing2 tidak menunjukkan ilmu2 silat yang mengejutkan, tapi bagi seorang ahli pasti dapat merasakan betapa hebat dan bahayanya, karena mati-hidup hanya terpaut serambut saja. Betapa cepat serangan dan betapa tangkas pula perubahan gerak serangan masing2, semua hanya berlangsung dalam sekejap mata belaka. Mungkin karena memandang rendah lawan, si baju hijau tak pernah pikir bahwa lawannya yang masih begini muda ternyata membekal ilmu silat kelas tinggi. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah pemuda ini tak gentar menghadapi racun jahatnya, orang lain cukup keserempet saja, dalam sekejap racun akan menjalar, tapi Ling Kun-gi masih terus memegangi lengan besinya yang beracun tanpa kurang apa2 dan tetap segar bugar, oleh karena itu tanpa terasa dia menjadi kerepotan dicecar oleh serangan Ling Kungi yang ber-tubi2. Untunglah pada detik gawat itu, mendadak sebuah suara dingin kereng membentak.
"Berhenti"
Mendengar bentakan itu, lekas sibaju hijau membentak tertahan.
"Lepaskan"
Ling Kun-gi menghentikan, serangan tangan kanan, tapa tangan kiri tetap memegang tangan besi si baju hijau, lalu tanyanya.
"Siapa itu?"
Sibaju hijau meronta sekuat tenaga, dampratnya gusar.
"Lekas lepaskan"
"Setelah kau memberi obat penawarnya, segera kulepaskan tanganmu."
Karena usahanya tidak berhasil, si baju hijau menjadi gugup.
"Wes"
Tangan kanan tiba2 menepuk ke dada Ling Kun-gi.
Ling Kun-gi berdiri tegak tanpa bergeming.
namun baju didepan dadanya mendadak melembung seperti layar berkembang, maka tepukan sibaju hijau seperti mengenai benda empuk.
laksana menepuk permukaan air, seperti kosong tapi masih berisi, seperti mengenai sesuatu tapi mirip mengenai tempat kosong, hakikatnya dia tidak kuasa mengerahkan tenaganya, keruan tidak kepalang kejutnya.
Tiba2 Ling Kun-gl kipatkan tangan kirinya, sementara tangan kanan tegak menabas punggung, pergelangan tangan kanan lawan, berbareng dia membanting si baju hijau ke atas tanah.
Sudah tentu si baju hijau mati kutu.
"Blang,"
Dengan keras badannya terbanting dan tidak mampu bergerak lagi. Menatap sibaju hijau, Ling Kun-gi mengan-cam dengan nada keren."Serahkan tidakobatpenawarnya?"
Dari kumandangnya suara bentakan "Berhenti"
Seseorang, sampai si baju hijau menyerang serta dibanting oleh Ling Kun-gi, semua, itu berlangsung hanya beberapa detik saja. Maka terdangarlah orang yang bersuara tadi kembali berseru memuji.
"Gerakan bagus"
Ling Kun-gi angkat kepalanya, dilihatnya se-orang berjubah biru, entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu sambil meng gendang kedua tangan, Usia laki2 ini sekitar 25 tahun, wajahnya cakap bersih, memondang buntalan panjang di punggungnya, berdiri sambil bertolak pinggang, wajahnya tidak mengunjuk sesuatu perasaan hatinya, sikapnya angkuh.
Si baju biru ini ternyata adalah orang yang pernah ditemuinya di kota Kayhong beberapa hariyang lalu.
Sementara itu, si baju hijau sudah berdiri dengan sikap patuh dia memberi hormat kepada si baju biru, katanya.
"Hamba menghadap majikan muda,"-Kiranyasibaju biru adalahputeramajikannya. Si baju biru mendengus dengan suara hidang, katanya.
"Kau membuatonar lagidisini?"
"Hambatidakberani,"
Sahutsi bajuhijauter-sipu2. Sorot mata si baju biru menatap Ling Kun-gi, katanya dingin.
"Agaknya kita pernah berjumpa entah dimana??"
"Selamanya cayhe belum pernah berkelana di Kangouw,"
Sahut Ling Kun-gi.
"Siapanamatuan?"tanyasibaju biru. Tidak menjawab Ling Kun-gi malah balas bertanya.
"Dia ini pembantumu?"
Si baju biru naik pitam, alis menegak. wajahnya diliputi nafsu membunuh, jengeknya.
"Betul, nah dalam hal, apa dia berbuat salah terhadap-mu?"
Sikap Ling Kun-gi tidak kalah congkak, ujarnya.
"Masuk rumah makan ini, pembantumu lantas cari perkara dengan orang, main serang dengan panah beracun lagi, untunglah kena kutimpuk dengan cangkir sehingga tidak mengenai sasaran, tak terduga dengan tangan besinya yang beracun dia main kasar lagi, kukira hanya sedikit perselisihan, kenapa harus menamatkan jiwa orang lain, bukankah perbuatannya terlalu keji, maka kuahrap dia suka mengeluarkan obat penawarnya."
Cemberut dingin wajah si baju biru, katanya sambil melirik sibaju hijau.
"Apa betul demikian halnya?"
Si baju hijau tidak berani bersuara, maka si baju biru menambahkan-"Lekas serahkan obat penawar kepadanya."
Tidak berani membangkang, lekas sibaju hijau merogoh kantong mengeluarkan botol kecil porselin gepeng, ia menuang sebutir pil terus diangsurkan-Ling Kun gi menerimanya, lalu manggut2 kepada sibajubiru danberkata."Terima kasih banyak."
"Dia kawanmu?"
Tanya si baju biru mengawasi laki2 baju abu2 yangmenggeletakdi lantai.
"Selamanya belum pernah kukenal,"
Sahut Ling Kun-gi tertawa, lalu dia berpaling.
"Pelayan, ambilkan segelas air putih."
Cepat pelayan membawakan air putih yang diminta, Ling Kun-gi lantas pencet dagu laki2 baju abu2 sehingga mulutnya terpentang, pil itu terus dijejalkan ke mulutnya serta dilolohkan beberapa teguk air.
Dikala keributan berlangsung tadi, secara diam2 si mata satu sudah berdiri membayar rekening terus bergegas tinggal pergi.
Sambil mengawasi Ling Kun-gi, si baju biru berkata pula.
"Kepandaian tuan memang hebat, entah dari perguruan aliran mana?"
Ling Kun-gi tertawa tawar, sahutnya.
"cayhe, Ling Kun-gi, tidak punya golongan atau aliran segala."
"Um,"sibajubiru mendenguskurangsenang,tiba2dia membalik badan serta berkata.
"Hayo pergi"-cepat sibaju hijau mengikut di belakangnya. Dalam hati Ling Kun-gi berkata.
"Ternyata inilah yang melindungi si mata satu sepanjang perjalanan ini."
Mendadak dia sadar, dirinya telah perkenalkan diri, kenapa tidak balas tanya nama orang. Dalampada itu si baju abu2 sudah merangkak bangun, katanya sambil menjura kepada Ling Kun-gi.
"Terima kasih atas pertolongan Siang kong."
Ling Kun-gi balas memberi hormat, katanya tertawa.
"Saudara tidakusah sungkan-". Lalu si baju abu2 memanggil pelayan, katanya.
"Rekening Siangkong ini biar kubayar sekalian, siaanya bolehlah kau ambil." -Si pelayan terima uang sembari munduk2 dan mengucapkan banyak terima kasih. Kembali si baju abu2 menjura, katanya.
"cayhe masih ada urusan, tidak boleh tertunda di sini, maaf aku mohon diri lebih dulu."
Orang ter-gesa2 mau pergi setelah jiwanya di tolong, tapi tidak tanya nama penolongnya, jelas dia kuatir kalau Ling-Kun-gi balas tanya namanya. Diam2 Kun-gi membatin.
"Mungkin kau tidak tahu, si baju biru dan pembantu2nya adalah sekomplotan dengan si mata satu dan secara diam2 melindunginya sepanjang jalan-" -Tapi hal ini tak enak dia utarakan, ia hanya tertawa tawar, katanya.
"Saudara ada urusan, boleh silakan saja."
Si baju abu2 menjura pula terus putar badan dan keluar.
Mengantar kepergian bayangan punggung orang, seketika terasa oleh Ling Kun-gi buntalan kertas yang dibawa si mata satu pasti penting artinya.
Setelah menghabiskan dua cangkir arak pula, sementara si baju abu2 juga sudah pergi cukup jauh, maka lekas iapun berdiri terus menuju ke luar kota.
Dia tahu setelah di warung tadi dia mendemonstrasi-kan kepandaiannya, mungkin si baju biru sudah curiga dan menaruh perhatian terhadap dirinya, maka gerakgerik dirinya selanjutnya tentu kurang leluasa, maka setelah tiba di luar kota, tanpa pikir dia terus menyelinap masuk ke dalam hutan dengan gerakan cepat dan enteng.
Pada saat badannya meluncur ke dalam hutan itulah, tiba2 ia mendengar hardikan nyaring merdu.
"Siapa, hayo berdiri?"
Begitu suara berkumandang, di depan muncul sesosok bayangan hijau, berbareng hidung dirangsang bau wangi, sebuah tangan halus putih tahu2 mendorong ke arah dadanya.
Belum lagi jelas melihat bayangan orang, secara refteks Ling Kun-gi gerak tangan kiri menangkap pergelangan tangan yang menyelonong ke arah dadanya ini.
"Eh"
Itulah teriakan kejut seorang gadis, tangan yang halus itupun tergetar serta ditarik mundur, sementara mulutnya lantas mendamprat.
"Bu jangan bernyali besar, hayo lepaskan"
Sepatu yang ujung-nya melengkung tahu2 menendang tanpa bersuara.
Semua kejadian itu berlangsung begitu cepat sesingkat Ling Kungi menerobos ke dalam hutan-Begitu mendengar suara nyaring merdu, berbareng merasakan tangan yang dipegangnya halus dan licin, sesaat dia melongo dan segera lepas tangan, ber-bareng ia melompat mundur.
Waktu dia mengawasi tampak diantara semak pohon sana berdiri seorang gadis jelita berpakaian kuning.
Kedua pipinya tampak bersemu merah, kedua biji matanya melotot gusar lagi membentak sambil menuding dirinya.
"Bajingan tengik, apakah matamu buta?"
Sesaat Ling Kun-gi terlongong mengawasi gadis jelita ini, secara semberono terobosan di sini dan pegang tangan pula, sebetulnya dia ingin minta maaf, serta mendengar caci maki orang, diam2 ia mendongkol, pikirnya.
"Waktu aku menyelinap kemari tadi tak kelihatan bayangan orang, jadi dia menapakku waktu melihat aku masuk. dia sendiri yang menyerang lebih dulu baru terpaksa kupegang tangannya, kalau tidak, bukankah dadaku terpukul olehnya? Kalau dipikir, bukan aku yang salah?"
Tanpa terasa ia tersenyumgeli sendiri Melihat orang cengar-cengir mengawasi dirinya, hati si gadis semakin dongkol, namun wajahnya semakin jengah, kini diapun dapat melihat jelas orang yang berdiri di hadapannya ternyata seorang pemuda gagah dan berwajah cakap.
cuma senyumannya itu rada kurang ajar?
Kejap lain si nona sudah cemberut lagi, katanya dengan bibir menyungkit.
"Bajingan kurang ajar, apa yang kau gelikan? Memangnya kau sudah bosan hidup?"
Dingin pancaran sorot mata Ling Kun-gi, suaranyapunkaku."Nona memakisiapa?"
Si nona baju kuning bertolak pinggang, makinya sambil menuding Ling Kun-gi.
"Memakimu, sekali pandang lantas kutahu kau ini bukan orang baik2. Dimaki tanpa alasan Ling Kun-gi menjadi berang, jengeknya.
"Nona tahu aturan tidak? Cayhe yakin tidak pernah berbuat salah, kau sendiri yang muncul tiba2 lantas menyerangku dan memakiku tanpa alasan, memangnyu aku yang salah?"
"Mau bicara soal aturan?"
Si nona semakin galak..
"Matamu tidak buta, kenapa main terobosan kemari?"
"Aku sudah mengalah, kuharap nona tahu sopan santun, hutan ini toh bukan milik nona, umpama orang dilarang masuk, sepantasnya kau bicara lebih dulu ... ."
Merah muka si nona, dia makin dongkol, katanya.
"Kularang kau masuk, maka kau tidak boleh masuk,"
"Kenapa tidak boleh masuk?"
Ling Kun-gi menegas.
"Tidak apa2, kau terobosan, maka kau harus kuhajar."
"cayhe tidak sepandengan nona."
Jengek Ling Kun-gi, ia putar badan terus tinggalpergi. Si nona semakin marah, bentaknya sambit membanting kaki.
"Berdiri di tempatmu"
Ling Kun gi membalik badan, alisnya menegak. suaranya kereng.
"Apa pula kehendak nona?"
"Kau menghinaku, lantas tinggal pergi begini saja?"
Damprat si nona.
"Siau Yan,"
Tiba2 sebuah suara merdu bak bunyi kelintingan berkumandang dari sebelah dalam hutan sana.
"kau sedang ribut dengan siapa?"
Si nona baju kuning Siau Yan, tampak kegirangan, serunya.
"Syukurlah engkau datang Sio-cia, lekas kemari." -Dari dalam hutan tampak melangkah keluar sesosok bayangan semampai berpakaian warna merah apel, itulah seorang gadis jelita yang menggiurkan. 03 Terbeliak pandengan Ling Kun-gi, nona ini berperawakan ramping, kulitnya putih halus, raut wajah bundar telur, alis lentik laksana bulan sabit dengan biji mata bening cemerlang memancarkan sinar keagungan yang tak terlawan oleh siapapun. Tiba2 wajah Ling Kun-gi menjadi panas jengah, baru sekarang dia maklum duduknya perkara, kenapa nona Siau Yan ini berjaga di luarhutan, kiranyanona cantik inisedangbuangair di dalamhutan-Setelah si nona cantik mendekat, Siau Yan memberi hormat, katanya aleman.
"siocia, bajingan ini kurang ajar"
Si jelita menarik muka, bentaknya.
"Siau Yan, jangan memaki orang"
Matanya yang bening tajam mengawasi Ling Kun-gi, kalanya.
"Aku sudah dengar, kau lebih dulu menyerang dia, betul tidak?"
"siocia, dia.... karenadia....
"SeruSiau Yantergagap.
"Jangan ceriwis, lekas minta maaf kepada Siang kong ini,"
Perintah sijelita. Siau Yan melengak. wajahnya merah padam debatnya.
"Siocia dia yang menghinaku, main pegang segala ...."
"Janganbanyakomong, hayo minta maaf kepadanya"
Ber-kedip2 lagi sinar mata Siau Yan, sejenak dia awasi si nona, lalu berpaling kepada Ling Kun-gi, akhirnya seperti menyadari apa2, tiba2 ia cekikikan sambil menutup mulut dengan tangannya, lalu mendekat ke depan Ling Kun-gi serta menjura dan berkata dengan nada menggoda.
"siocia suruh aku minta maaf kepada Siang kong."
Sebesar ini belum pernah Ling Kun-gi bergaul dengan kaum hawa, mukanya menjadi merah dan membalas hormat, katanya.
"Nonatak usahkecil hati, anggapsajatakpernah terjadi."
Siau Yan cekikikan sambil melirik. katanya.
"Lha kalau sejak tadi kau bilang demikian, kan tidak perlu kita perang mulut."
Ling Kun-gi hanya tertawa saja, ia putar badan hendak tinggal pergi. Tiba2 didengarnya suara merdu tadi berteriak.
"Siangkong ini harap tunggu sebentar"
Senyaring bunyi kelintingan teriakannya. jelas yang ber-suara adalah nona jelita itu. Tanpa terasa merandek langkah Ling Kun-gi dan memandang ke sana, katanya sambil merangkap kedua tangan.
"Entah nona ada petunjuk apa?"
Siau Yan segera menyela "siocia memanggilmu, sudah tentu ada urusan-"
"Siau Yan, jangan banyak mulut,"
Bentak sijelita, lalu berkata pula lirih kepada Ling Kun-gi.
"Kulihat Siangkong berkepandaian tinggi, entah siapa nama terhormat Siang kong?"
"cayhe Ling Kun-gi"
Kun-gi memperkenalkan diri.
"nona. ......."
"siocia kami she Bun ...... ."
Sela Siau Yan tertawa sambil melirik majikannya. Ling Kun-gi memberi hormat pula, katanya "
Kiranya nona Bun, maaf cayhe kurang adat."
Siau Yan ter-pingkal2, dan katanya pula "Bicaraku belum habis, Siocia bernama Hoan kun, jadi punya satu bagian yang sama dengan nama Siangkong. sungguh kebetulan bukan?"
Merah selebar muka sijelita.
"Siau Yan"
Seruannya seperti ingin mencegah, tapidalamhati se-benarnyamerasasenang.
Pada saat itulah tiba2 dari tempat jauh sana bergema lengking suitan keras.
Seketika berubah roman Bun Hoan-kun, katanya terperanjat.
"Agaknya paman sedang memanggilku, bagaimana baiknya."
Siau Yan berkata.
"Mungkin Ji cengcu akan kemari, menurut pendapat hamba, lekas siocia dan Siangkong sembunyi ke dalam hutan saja."
Sudah terbuka mulut Bun Hoan-kun, tapi urung bicara, namun matanya memandangLing Kun-gipenuharti. Kelihatan gugup dan takut2 sikap kedua nona ini, tapi Ling Kun-gi tetap berditi ditempatnya, ta-nya.
"Kenapa cayhe harus ikut sembunyi?"
Tiba2 Bun Hoan-kun menghela napas, katanya rawan-"Tabiat paman amat buruk."
Sorot matanya memandang ke tempatjauh, lalu menam-bahkan.
"Semoga paman tidak menuju kesini."
Belum selesai bicara, suitan melengking tadi kembali mengalun di udara, dari suara suitan yang keras dan memekik telinga ini, jelas bahwa jarak-nya sudah jauh lebih dekat.
Hilang senyuman manis yang menghias wajah Bun Hoan-kun tadi, sikapnya tampak gugup dan takut, katanya.
"Ling -siangkong, tiada waktu lagi, lekas ikut aku sembunyi."
Segera ia berputar, namun langkahnya tidak bergerak, ia berpaling mengawasi Ling Kun-gi.
Sebetulnya Kun-gi merasa heran dan curiga, namun melihat sikap dan mimik Bun Hoan-kun begitu gugup se-akan2 harus dikasihani, ia menjadi tak tega hati, katanya mengangguk.
"Baiklah, biar cayhe ikutsembunyisebentardi dalamhutan-"
Penuh rasa terima kasih tatapan mata Bun Hoan-kun, pipipun bersemu merah, ter-sipu2 dia putar tubuh dengan setengah berlari masuk ke dalam hutan.
Sedikit merandek akhirnya Ling Kun-gi ikut melangkah ke sana..
Siau Yan mengikut di belakang mereka.
Tidak lama setelah ketiga orang ini menyelinap sembunyi ke dalam hutan, maka tampak dari kejauhan datang dua bayangan orang bagai terbang.
Diam2 Ling Kun-gi membatin dalam hati.
"Entah siapa kedua orang ini? Dari langkah mereka yang enteng, terang memilikiGinkang yang luar biasa."
Tengah pikirannya melayang, tiba2 terasa telapak tangan nan halus lembut pelan2 menarik tangan kirinya, terdengar bisikan Bun Hoan-kun di tepi telinganya.
"Ling-siangkong, pamanku segera tiba, lekas kau berjongkok."
Belum pernah Ling Kun gi bersentuh tubuh dengan gadis belia, bau harumpun merangsang hi-dung, seketika jantungnya berdebur keras, tanpa terasa dia berjongkok ke dalam semak2.
Tapi dia tetap mengintip keluar sana.
Itulah seorang tua kurus berjubah panjang warna kuning kelam, berikat pinggang kain sutera, berusia lima puluhan, roman mukanya merah, de-ngan tulang pipi menonjol, sorot matanya tajam berkilau, punggungnya menyandang sebilah pedang.
Di belakang laki2 tua mengintil ketat seorang -pemuda berjubah kuning muda, kelihatan baru ber-usia dua puluhan tahun, alis lentik, mata berkedip bagai bintang, wajahnya sungguh cakap.
bibir tipis merah delima, sayang hidungnya sedikit bengkok.
Tetapi dia benar2 terhitung laki2 yang -bagus.
Di pinggang si pemuda tergantung sebilah pedang panjang dengan hiasan ronce benang merah diaagangnya, kelihatan gagah dan menarik sikapnya.
Di kala Ling Kun-gi mengawasi orang, terasa oleh Ling Kun-gi bukan saja jari2 tangan Bun Hoan-kun yang menarik tangannya tadi tidak di-lepaskan, malah pegangan orang semakin erat dan sedikit gemetar.
Sorot mata si orang tua yang tajam berkilau menyapu pandang keseluruh penjuru, sebelah tangannya mengelus jenggot kambing dibawah dagu-nya, katanya sambil batuk2 kecil.
"Bukankah Hoan-rji berdua tadi menuju ke sini?" ... Hormat dan patuh sekali tampaknya sikap sipemuda, sahutnya.
"Betul paman, mungkinkah adik Hoan mengalami apa2 di tengah jalan?"
Si tua batuk2 lagi, katanya dengan tertawa.
"Keponakan tidak usah kuatir, bekal ilmu silat yang dipelajari Hoan-ji cukup berlebihan buat Hoan-ji berkelana di Kangouw. Mungkin mereka istirahat di dalam kota, marilah kau ikut Lohu mencarinya di kota."
Sipemuda mengiakan penuh hormat, bayangan mereka lantas berkelebat menuju kearah kotadi balikhutansana.
"Agaknya kedua orang ini tengah mencari nona Bun,"
Demikian batin Ling Kun-gi.
"Kenapa dia malah menyembunyikan diri?"
Waktu dia ber-paling, tertampak air mata ber-kaca2 di kelopak mata Bun Hoan-kun, tentu saja semakin heran hati Kun-gi..
Agaknya Bun Hoan-kun sadar bahwa dirinya diperhatikan, cepat dia berdiri, mukanya merah malu, katanya getir.
"Tadi aku ketakutan, maaf akan sikapku yang tidak pantas, Ling-siang kong ."
Ling Kun-gi pun berdiri, sahutnya.
"Nona tak usah berkecil hati."
Lalu dia tanya penuh perhatian.."Apakah pamanmu pemberang? "
Bun Hoan-kun menggeleng, katanya.
"Biasa-nya paman sayang padaku, cuma .... aku tidak ingin pulang ....".
"Siccia,"
Seru Suan Yan, sikapnya gugup.
"Ji-cengcu dan Sia ukong cu pasti akan balik lagi, lekaslah kita pergi."
"Tak usah kau ceriwis,"
Bentak Bun Hoan--kun.
"memangnya aku tidaktahu, kalau akuti-dak mau pergi, siapabisa memaksaku?"
Lekas Ling Kun-gi berkata.
"Kalau nona ti-dak ingin bertemu denganpamanmu, sebaiknya memang lekas .pergisajadarisini."
"Nanti sebentar lagi juga tidak jadi soal,"
SahutBun Hoan-kun.
"Sebetulnya bukan kuingin menghindari paman ...."
Sampai disini dia ragu, lalu bertanya dengan sikap prihatin.
"Kulihat usia Ling siangkong masih begini muda, mungkin baru pertama kali berkelana di Kangouw?"
Ling Kun-gi manggut2, sahutnya.
"Betul, ba-ru sekali ini aku keluar pintu."
Tiba2 berseri girang wajah Bun Hoan-kun, dia keluarkan sebuah kantong kecil yang terbuat dari benang sulam sutera, di dalamnya berisi sebuah botol kecil porselin berbentuk bundar gepeng warna putih hijau dan diangsurkan pada Kun-gi.
katanya dengan tunduk malu2.
"Dengan Ling siang-kong baru pertama kali ini aku berjumpa secara kebetulan, tiada barang lain kecuali Jing-sin-tan buatan keluarga kami sekedar sebagai kenangan, obat ini dapat memunahkan segala macam obat bius, Ling-siangkong baru mulai berkelana di Kangouw..perlu kau membawanya untuk menjaga diri."
Dia tidak menjelaskan bahwa kantong sutera itu adalah buatannya sendiri. Ling Kun-gi melengak, katanya.
"Besar arti pemberian nona, namun cayhe tak berani menerimanya..."
Semakin jengah wajah Bun Hoan kun, kata-nya malu2 dan gugup.
"Lekaslah terima, Ling-siang-kong, kau belum pengalaman mengembara di Kang-ouw yang penuh bahaya ini, obat2an ini dapat menolong kesulitanmu."
Lekas Siau Yan tampil kedepan, dari tangan majikannya dia rebut kantong sulam itu terus dijejalkan ke tangan Ling Kun-gi, katanya.
"Demi kebaikanmu, kenapa Ling-siangkong tampik pemberian siocia?"
Memegangi kantong sulam itu, merah muka Ling Kun-gi karena malu, mulutnya melongo.
"Jangan ini itu lagi,"
Tukas Siau Yan.
"Kantong itu sulaman siocia sendiri, setiap melihat kantong sulam itu berarti Siangkong selalu berhadapan dengan nona."
Sudah tentu gugup dan malu bukan main Bun Hoan-kun, omelnya.
"Siau Yan, siapa suruh kau ceriwis?"
"Hamba tidak berani,"
Sahut Siau Yan sambil menyingkir dan melelet lidah. Dengan kasih mesra sekilas Bun Hoan-kun melirik Ling Kun-gi, lalu katanya dengan nada masgul.
"Ling -siangkong jagalah dirimu baik2, kamiakan berangkat."
Terharu Ling Kun-gi dia menjura sambil me-megangi kantong sulam itu, katanya.
"Terima kasih nona, harap nona juga jaga diri baik2."
Bun Hoan-kun tertunduk, air mata sudah berlinang, lantas ia beranjak keluar hutan-Siau Yan mengikuti di belakangnya, serunya sambil berpaling.
"Ling-siangkong, jangan lupa mampir ke Ling lam menengok siocia."
Lambat laun bayangan mereka semakin jauh dan tak kelihatan lagi, Ling Kun-gi masih berdiri menjublek di luar hutan-Jari2 tangannya membolak -balik kantong sulaman itu, bau harum yang memabokkan merangsang hidungnya, masih terngiang ka-ta2 Siau Yan sebelum berpisah tadi.
"siocia sendiri yang menyulam kantong itu, melihat kantongsepertiberhadapandengansiocia sendiri."
Pada saat itulah tiba2 seseorang berkata dengan suara dingin.
"Barang apa yang saudara pegang itu?"
Sebetulnya kepandaian silat Ling Kun-gi cukup tinggi, kalau ada orang mendekat masakah tidak diketahui?
Soalnya baru pertama kali ini dia jatuh kasmaran, dia memegangi barang pemberian sijuita.
tak heran dia sampai terlongong lupa diri, Keruan kejutnya bukan main mendengar teguran orang, waktu dia angkat kepala, dilihatnya pemuda jubah kuning tadi sudah berdiri di depannya, mulutnya me-nyungging senyum dingin, matanya menatap tajam dan beringas ke arah kantong sulam yang dipegangnya.
Lekas Ling Kun-gi masukkankantongsulamitukedalambajunya.
"Nanti dulu,"
Cegah pemuda jubah kuning.
"barang apa yang kau pegang itu?"
Dengan sikap angkuh Ling Kun-gi menjawab.
"Apa kau bicara dengan aku?"
Si pemuda jubah kuning menyeringai, katanya dingin.
"Apa ada orang ketiga disini?"
"Selamanyakitabelumpernahkenal, adapetunjukapa?"
Agaknya pemuda jubah kuning kurang sabar. katanya.
"Kutanya barang apa yang kau pegang tadi?"
"lnilah barangku sendiri, kenapa kau tanyakan?"
Jawab Kun-gi tak acuh.
"Aku merasa kenal sekali akan barang itu, coba keluarkan biar kuperiksa."
"Memang aku harus menurut?"
Berubah roman pemuda jubah kuning, katanya mengancam sambil mendekat selangkah.
"Keluar-kan tidak?"
Terangkat alis Ling Kun-gi, jengeknya.
"Kau mau main kasar?"
Sipemuda seperti mempertimbang apa2, maka kata Ling Kun--gi seperti tidak didengarnya, sesaat kemudian dia baru berkata.
"Mungkinkah barang miliknya?" -"NYA"
Atau si dia yang dimaksud sudah tentu adalah Bun Hoan-kun. Panas muka Ling Kun-gi, katanya.
"Kau sedang mengoceh apa?"
Mendadak sipemuda berseru keras.
"Betul, memang itu kantong yang selalu di-bawa adik Hoan."
Tiba2 dengan pandangan penuh kemarahan dia tatap muka Ling Kun-gi, hardiknya beringas.
"Kantong sulam itu kau dapat dari mana?"
"Pedulikudapatdari mana?"jengekLing Kun-gi marah juga.
"Barang milik keluarga Un dari Ling-lam, bagaimana mungkin berada di tanganmu?"
Keluarga Un dari Ling lam, jadi nona Bun itu sebetulnya she Un? Tapi Ling Kun-gi lantas menjawab.
"Aku tidak kenal keluarga Un dari Ling-lamyangterangorang lain yang memberi kantong ini padaku."
Berubah air muka si pemuda jubah kuning, tanyanya tak sabar.
"Siapa dia?"
"Seorangsahabat. Kautak mungkin kenaldia."
"Katakan, dia she apa? "She Bun."
"Lakiatau Perempuan?"
"Dia adalah Piaumoayku."
"Keluarkan kantong itu untuk kuperiksa, asal bukan milik adik darikeluargaUnsegera kukem-balikanpadamu."
Ling Kun-gi menggeleng, katanya.
"Kau terlalu memaksa .........."
"Jadikau ingin dipaksa pakai kekerasan?"
"Pakai kekerasanaku jugatidakgentar."
"Baiklah, nah rasakan-"
Mendadak pergelangan tangannya bergerak.
tahu2 sebuah jarinya menuding ke dada Ling Kun-gi, sekali tutuk lantas menye-rang Hiat-to mematikan, dari sini dapatlah dinilaiorang ini berhatikejam.
Ling Kun-gi menyambut dengan sikap pongah.
"Rasakan juga boleh"
Dengan enteng tiba2 dia miringkan badan dan berkelit ke samping.
Tapi pada saat ia bergerak itu, mendadak terasa pula sejalur angin kencang yang tidak kelihatan me-nerjang dadanya.
Untung Ling Kun-gi sudah me-ngerahkan hawa murni pelindung badan, walau angin pukulan ini menerjang secara mendadak tetap tertolak oleh hawa pelindung badannya sehingga tidak ci-dera sedikitpun.
Namun hatinya kaget dan heran, batinnya.
"Entah kapan dia lancarkan angin pukulan ini, beginicepatdan tangkas?"
Waktu dia angkat kepala, dilihatnya pemuda jubah kuning mengepal tinju tangan kanan dan kiri melintang di depan dada, kelihatannya tidak bergerak sedikitpun.
Tapi gaya orang sudah cukup mengejut-kan Ling Kun-gi, diam2 ia berteriak kaget dalam hati.
"Bu sing-kun."
Melihat Bu-sing-kun (pukulan tanpa suara) yang dilancarkannya secara diam2 jelas mengenai dada orang, tapi kenyataan lawan tetap segar bugar seperti tak terjadi apa2, mau tak mau berubah air muka pemuda baju kuning, pikirnya .
"Kiranya dia telah meyakinkan Hou-sin-cin-khi (hawa murni pelindung badan)."
Semua ini hanyaberlangsungdalamsekejap.
Walau dalam hati kedua pihak sama kaget, namun mereka tidak lantas berhenti.
Sambil menyeringai tinju kanan si pemuda jubah kuning terbuka, telapak tangannya menepuk ke pundak kiri Ling Kun-gi sementara tangan kiri menekan turun, dua jari tangannya secepatkilat menutukKi-hay-hiatdi iga Ling Kun-gi.
Sedikit miringkan badan berbareng Ling Kun--gi lancarkan jurus No-liong-tui-hun (naga marah mendorong mega), secara terbalik dia menapak serangan tangan kanan lawan, sementara tangan kiri seperti menangkis tapi kelima jarinya tergenggam, yang digunakan adalah tipu To-pan -liong-ka (menjungkir balik tanduk naga), dengan mudahdiatangkap keduajaripemuda jubah kuning.
Dua jurus serang menyerang ini berlangsung dalam waktu singkat, semula terdengar suara plok.
tangan kanan Ling Kun-gi dengan telak saling ber-adu dengan telapak tangan kiri pemuda jubah kuning.
Terasa oleh pemuda jubah kuning telapak tangan Ling Kun-gi menimbulkan guncangan tenaga yang luar biasa besar dan keras, tanpa kuasa dia tertolak setengah tindak ke kanan-Berbareng terasa pula kedua jari kirinya tahu2 sudah tertangkap Ling Kun--giyangterus menelikungnyake belakang.
Semula kedua orang ini berdiri berhadapan, tapi karena lengan si pemuda jubah kuning ditelikung ke belakang, dengan sendirinya badannyaikutberputar,jadidiakini membelakangiLingKun-gi.
Dengan lutut kaki kanan Ling Kun-gi depak pantat orang serta melepas pegangan tangan kirinya, maka pemuda jubah kuning tersuruk sempoyongan lima langkah ke depan, Lintg Kun-gi tidak mengejar.
katanya dingin .
"Maaf, aku sih tidak suka main kasar.."
Mendadak pemuda jubah kuning membalik badan, wajahnya merah padam.
"Sret", dia cabut pedang yang berkilau, hardiknya bengis.
"Keluarkan senjatamu."
Ling Kun-gi tidak acuh, ujarnya,.
"Barusan cayhe menaruh kasihanpadamu. tapi kautidaktahu diri?"
"Hari ini ada kau tiada aku, marilah kita perang tanding pakai senjata."
Bertaut alis Ling Kun-gi, katanya.
"Apa perlu sampai demikian?" ^ Seperti dirasuk setan si pemuda jubah kuning mencak.
"Jangan cerewet, jiwamutetapkubunuh walautidakpakaisenjata."
"Kalau demikian silakan turun tangan saja".
"Baik. Hati2lah,"
Tiba2 pedangnya menutul, batang pedangnya mengeluarkan suara mendengung, di tengah jalan tiba2 sinar kemilauberkembang se-pertitiga kuntumbungayang mekar.
"Ilmu pedang bagus"
Ling Kun-gi berseru me-muji.
Sedikit menariknapas, mendadakdiamenyurutmundurtigakaki.
Melihat lawan berkelit mundur, tapi tetap tidak mau melolos senjata, pemuda jubah kuning, menyeringai dingin, dengan cepat dia mendesak maju seraya mengayun pedang, beruntun dia menyerang tiga kali.
Walau hanya tiga jurus, namun sinar kemilau pedangnya sudah memenuhi udara sekitarnya laksana deburan ombaksamudera yang ber-gulung2.
Ling Kun-gi bergelak panjang, tiba2 kedua tangannya bergerak sekaligus, entah bagaimana tahu2 jari2nya mencengkeram ke tengah tabir sinar pedang lawan, gerakannya ini sangat aneh dan lucu.
Kepandaian pemuda jubah kuning bukan olah2 tingginya, pedang pusaka ditangannyapun tajam luar biasa, ternyata Ling kun-gi berani menangkap tajam pedangnya dengan tangan telanjang, keruan pemuda jubah kuning yang biasanya tinggi hati ini menjadi kaget.
Maklumlah biasanya dia selalu me-ngagulkan diri.
namun dia memang didikan dari keluarga persilatan ternama, pengalaman dan pengetahuannya cukup luas dan tinggi, otaknyapun dapat hekerja cepat, pikirnya.
"Kalau bocah ini tidak memiliki kepandaian khas, tak mungkin dia berani mengadu tangan dengan pedang pusakaku."
Sebelum dapat menyelami gerakan lawan-betapapun dia tidak rela kalau pedangnya ketangkap Ling Kun-gi.
Sigap sekali dia mundur setengah langkah berbareng pergelangan tangan menyendal, ujung pedang seketika menerbitkan sinar benang beribu banyaknya dan mengurung rapat ke seluruh badan Ling Kun-gi.
Jurus Ban-liu-biau-si (berlaksa jalur daun liu bertaburan) yang dilancarkan ini mengincar seluruh Hiat-to musuh bagian depan, kalau latihan sudah mencapai tarap tertinggi, hanya sekali tusukan pedang saja dapat melukai 36 hiato-to mematikan, ilmu pedang ini merupakan salah satu dari tujuh ilmu khas keluarga Siau yang tersohor didaerah Lam siang.
Baru saja sipemuda jubah kuning melancarkan serangannya, Ling Kun-gi mendadak menghardik keras, tangan kanan menegak terus menabas, sementara tangan kiri secepat kilat meraih ke depan, tangannya merebut pedang lawan-Serangan telapak tangan di kanandan mencengkeramdari kiri inidilancarkansecaraserentak.
Serangan telapak tangannya menerbitkan angin kencang dan dahsyat, sehingga jurus Ban-liu-biau-si si pemuda jubah kuning betul2 mirip dahan2 pohon liu yang tertiup angin dan tercerai berai melayang tak keruan-Sedang kelima jarinya dengan tepat dapat menindih batang pedang orang pula.
Mimpipun tak pernah terpikir oleh pemuda jubah kuning bahwa Ling Kun-gi memiliki Lwekang selihay dan setinggi ini, lekas dia melejit mundur beberapa kaki dengan darah tersirap.
Sudah tentu ia tak tahu bahwa gerakan telapak tangan dari men-cengkeram secara berbareng dari serangan Ling Kun--gi ini memang mempunyai asal usul yang luar biasa.
Pukulan telapak tangan adalah mo-ni-in, suatu ca-bang ilmu pecahan dari ilmu tingkat tinggi Ih-kin-king, sedangkan cengkeraman tadi adalah jit-jiu--pok-liong (tangan kosong mengikat naga), salah satu tipu dari cap-ji-kim-Liong-jiu (dua belas jurus penangkap naga), cuma dia melancarkan serangan lengantangankiri, jadisecaraterbalikdarijurus2 ilmu silatSiau-limpay yang semestinya.
Pada saat pemuda jubah kuning melompat mundur itulah sesosok bayangan lainpun kebetulan meluncur turun di depan hutan sana.
Kedatangan orang ini tidak menimbulkan suara, belum lagi kedua orang yang berhantam melanjutkan gebrakannya, cepat orang itu membentak.
"Kalian lekas berhenti"
Ling Kun-gi berpaling, yang datang adalah laki2 tua kurus berwajah merah, jubah panjang dengan ikat pinggang sutera, dia inilah paman Bun Hoan-kun ladi.
Terunjuk rasa girang pada wajah pemuda ju-bah kuning, lekas dia menyambut dengan laku hormat.
"Paman sudah datang"
Dengan pandangan tajam si orang tua menatap Ling Kun-gi, tanyanya.
"Siapakah saudara ini? Kenapa kalian berkelahi?"
"Siautit tidak tahu siapa dia?"
Sahut pemuda ju-bah kuning.
"cuma tadi kulihat dia memegangi kantong sulam mirip milik adik Hoan, maka kutanya dia peroleh dari mana? Ternyata dia tidak menjawab dan tidak mau mengeluarkan agar dapat kuperiksa."
"Omong kosong, kantong itu pemberian Piaumoayku, apa sangkut pautnya dengan kau?"
Bentak Ling Kun-gi.
Apa yang diucapkan Ling Kun-gi memang cukup beralasan, perempuan mana dalam kolong langit ini yang tidak pandai menyulam, barang kenang2an pemberian adik misan sendiri, mana boleh ditunjukkan kepada sembarang orang.-Tersenyum orang tua muka merah sambil mengelus jenggot, katanya.
"Kalian masih sama muda dan berdarah panas, ini hanya salah paham, kini duduk persoalan sudah terang, toh kalian tidak ada permusuhan, buat apa harus bertempur mati2an?"
"Tapi kantong itu jelas milik adik Hoan, Siautit tidak salah lihat,"
Pemuda jubah kuning, masih uring-uringan-Ling Kun-gi mengejek.
"Kau terlalu menghina orang, memangnya hanya keluargamu saja yang bisa menyulam kantongan (sejenis dompet dari kain) begini?" . orang tua muka merah ter-gelak2, katanya.
"Di sinilah letak persoalannya, kalian tidak mau mengalah, semakin debat urusan semakin runyam. Nah marilah, kalau tidak bertempur tidak akan kenal, kalian sama2 muda dan gagah, bagaimana kalau Losiu (aku yang tua) menjadi penengahnya?"
Sampai di sini dia berpaling kepada Ling Kun-gi dan mem-perkenalkan diri.
"Losiu Un It-kiau."
Lalu dia tunjuk pemuda jubah kuning dan menambahkan.
"Inilah Lollok (anak keenam) keluarga Siau dari Lam-siang, orang suka memanggilnya Kim-hoan-lok-long Siau Ki-jing ......."
Waktu bicara secara diam2 dia mengedip mata kepada pemuda jubah kuning yang masih ber-sungut2, kemudian dia berpaling dan mengawasi Ling Kun-gi, tanyanya.
"Dan saudara? Di mana tempat tinggalmu? Siapa oula saudara yang terhormat?"
"cayheLingKun-gidariIng-cu,"Kun-gi menjawab.
"Ling-lote berkepandaian tinggi, entah pernah apa dengan Hoanjiu-ji-lay, paderi sakti nomor satu yang dulu tersohor di kalangan Bu-lim itu?"
Kiranya dia sudah dapat meraba asal-usul perguruan Ling Kun-gi. Kejut juga hati Ling Kun-gi, batinnya.
"Bu-kan saja tinggi kepandaian silat orang ini, pengalamannya ternyata juga luas, sekilas pandang lantas tahu seluk belukku. Tapi meski kau tahu asal usul perguruanku, memangnya kau tahu bahwa guruku sengaja suruh aku pamer kepandaiannya, guru pernah berpesan.
"Tunjukkan asal usul perguruan untuk menyembunyikan asal-usul riwayat hidupku."
Tapi bagaimana riwayat hidup dirinya, Kun-gi sendiri juga tidak tahu. Sesaat Ling Kun-gi bimbang, jawabnya kemudian.
"Beliau adalah guruku."
Terkejut dan terpancar pula mimik aneh pada muka Un it-kiau, katanya ter-bahak2
"Ternyata Ling-lote memang betul murid paderi sakti, sungguh beruntung dapat bertemu."-Tiba2 sorot matanya menjadi tajam, katanya pula.
"Jadi gurumu masih sehat walafiat, entah di mana beliau sekarang tinggal?"
"Jejak guru tidak menentu, cayhe sendiri tidak^elas,"
Sahut Kungi. Un It-kiau manggut2, katanya.
"Waktu gurumu mengembara di Kangouw dulu, jejaknya memang seperti naga di dalam awan yang kelihatan ekornya tapi tidak nampak kepalanya, tadi Losiu hanya tanya sambil lalu saja."
Lekas Kun-gi menjura, katanya.
"cayhe masih punya urusan, tak bisa berdiam lama, maaf cayhe mohon diri."
"Ling-lote ada urusan, boleh silakan pergi,"
Ujar Un It-kiau.
Ling Kun-gi manggut2 kepada mereka berdua terus melangkah pergi dengan cepat.
Setelah bayangan Ling Kun-gi sudah jauh, terunjuk senyum sinis pada wajah Un It-kiau katanya kepada Siau Ki-jing.
"Mari kita kuntit dia"
"Paman juga curiga kepada bocah itu...."
Ta-nya Siau Ki-jing. Un It-kiau sedikit manggut, katanya.
"Lohu kira munculnya bocah ini di sini tentu ada sebab-nya,"
Tanpa menunggu Siau Kijing tanya lebih lanjut.
dia lantas mendahului berlari pergi.
Dengan langkah cepat Ling Kun-gi menempuh pula perjalanan cukup jauh, mendadak dia hentikan langkahnya, matanya menjelajah keadaan sekeliling, tiba2 dia berkelebat masuk ke dalam hutan dipinggir jalan-Tujuan perjalanannya ini adalah menguntit si mata satu, tapi karena di Liong-kip tadi terpaksa dia harus mendemontrasikan kepandaiannya, mungkin laki2 yang berbaju biru sudah memperhatikan dirinya, jelas gerak gerik dirinya selanjutnya mengalami kesulitan.
Maka setelah keluar dari kota, dia cari tempat sunyi dan tersembunyi untuk merias diri, tak tahunya dia bersua dengan Un Hoan-kun dan pelayan pribadinya.
Gurunya Hoan-jiu-ji-lay sebelum mencukur rambut menjadi Hwesic di Siau-lim-si, Hoan--jiu-ji-lay adalah maling pendekar di kalangan kangouw, pandai tata rias, sudah tentu dalam bidang ini Ling Kun-gi juga seorang ahli.
Begitu masuk hutan dia lantas cari tempat sembunyi, segera ia merias dan berdandan diri.
Tak lama kemudian dia sudah ubah dirinya jadi seorang tua desa dengan rambut di samping kepala sudah ubanan, jenggot kambing menghias dagunya, setelah membereskan buntalannya.
dia simpan pedang di dalam baju, baru saja dia mau keluar, mendadak didengarnyaduaorang mendatangi sambilber-cakap2.
Kun-gi merandek.
didengarnya seorang yang muda berkata.
"Bocah itucukup licin, jelas tadidia menuju kemari, kenapajejaknya menghilang?"
Disusul suara serak berkumandang.
"Sebetulnya tidak perlu harus menguntit dia, Lohu hanya merasa ... ."
Hanya merasa apa?
karena jaraknya semakin jauh, maka tak terdengar.
Tanpa melihat bayangan mereka Ling Kun-gi tahu bahwa kedua orang ini adalah Un It -kiau dan Kim-hoau-llok--long siau Ki-jing.
Dia melenggong mendengar percakapan mereka.
batinnya.
"Kiranya mereka sedang menguntitku, jangan anggap aku ini muridnya Hoan-jiu-ji-lay."
Waktu dia tiba di Thay-khong, hari sudah maghrib, rumah2 sudah pasang lentera.
Thay khong merupakan kota persimpangan jalan utara dan selatan, meski kota kecil, namun suasana kota cukupramaidalamkota kecil ini terdapattigabuahhotel.
Ling Kun-gi putar kayun sebentar dijalan raya, ia menemukan jejak si baju biru bersama pembantunya, mereka tengah makan minum di sebuah restoran, tapi dia tidak masuk ke sana, Dengan menghabiskan beberapa keping uang receh, dia mengorek keterangan pelayan hotel, ternyata dengan mudah dan cepat sekali dia menentukan tempat di mana si mata satu menginap.
.Itulah sebuah losmen kecil yang kotor di gang yang melintang di sebe-lah timur sana.
Maka Kun-gi juga mondok di losmen kecil ini.
Uang memang berkuasa, jangan kata manusia, setanpun doyan duit, demikianlah pelayan losmenpun mengatur segala keperluan Ling Kun-gi, dia ditempatkan di kamar seberang si mata satu.
Semalam suntuk tiada terjadi apa2, hari kedua pagi sekali sebelum si mata satu bangun tidur, Ling Kun-gi sudah mendahului menempuh perjalanan-setibanya di luar kota di sebuah tempat.
Kun-gi ubah diri pula menjadi pedagang setengah baya.
Dari toko kelontong tadi dia sempat membeli sebuah payung dari kertas minyak, maka dia sembunyikan pedangnya di dalam payung, payung di bungkus hingga cuma kelihatan gagangnya, orang tentu takkancurigakalaudia membekalsenjata.
Dengan memanggul buntalannya, dia langsung menuju ke Hoayyang.
Dari Thay-khong ke Hoay-yang jaraknya cuma tujuh li.
setelah menyamar jadi saudagar.
sudah tentu dia tidak boleh jalan terlalu cepat, dengan jalan lambat, diharap si mata satu dapat menyusul dirinya.
Tengah hari ia istirahat di Lo-bong-kip, tak lama kemudian dilihatnya si mata satu lewat di depan warung dengan langkah cepat.
Kejap lain Ling Kun-gi juga sudah menempuh perjalanan serta menguntit dari kejauhan-.
Sebelum petang dia tiba di Hoay-yang.
Karena si mata satu sudah sampai tempat tujuan, maka tidak berani berlaku lena, begitu masuk kota dengan ketat dia membayangi gerak-gerik orang.
Si mata satu sebaliknya memperlambat langkah setelah berada dalam kota, sambil berlenggang seperti tuan layaknya dia putar kayun dijalan raya, akhirnya memasuki sebuah restoran berloteng yang bernama Ngo hok ki.
cepat Ling Kun gi juga sudah berada di Ngo-hok-ki, sekilas pandang,dilihatnyasimtaasatududuksendiriandi mejatimuryang dekat jendela.
maka dia memilih meja yang letaknya tidakjauh serta pesan makanan-Hari sudah gelap.
tiba saatnya orang makan malam, lenterapun sudah dipasang terang benderang, maka tamu2 yang mau isi perut juga ber-duyun2 datang.
Si mata satu dengan asyiknya tenggak arak pesanannya, tapi mata tunggalnya selalu plirak-plirik memperhatikan setiap tamu yang baru datang.
Sudah tentu Kun gi tahu maksud orang, setelah tadi putar kayun dijalan raya, kini si mata satu duduk di tempat yang menyolok, maksudnya supaya menarik perhatian orang.
Karena Hoay-yang adalah tujuannya yang terakhir, entah kepada siapa dia harus menyerahkan barang yang dibawanya?
Sudah tentu Kun-gi juga perhatikan setiap tamu yang datang, namun para tamu sudah ganti berganti dan pergi datang, tapi selama itu tiada satupun yang mengadakan kontak dengan si mata satu.
Kini tamu2 yang hadir sudah mulai berkurang, tinggal beberapa orang saja.
Agaknya si mata satu tidak sabar lagi setelah membayar rekening bergegas dia turun dari loteng restoran Kun-gi juga bayar rekening dan menguntit dari kejauhan-Tidak lama mendadak si mata satu mem-percepat langkah, membelok dua kali dari jalan raya yang satu kejalan raya yang lain, terus menyusur ke arah selatan, dua li kemudian keadaan di sini sudah mulai sepi danbanyakbelukar, taklamadiatiba di sebuahbiara.
Tampak dia celingukan ke belakang sebentar, mendadak dia melompat ke pagar tembok terus turun di sebelah dalam.
cepat sekali Kun-gi juga menye-linap masuk ke dalam biara lewat samping kanan, di atas tembok dia melihat si mata satu lewat pelataran terus masuk ke dalam, sejenak dia merandek terus memasuki ruang pendopo.
Ling Kun-gi tak berani ceroboh dan bertindak lambat, dengan enteng dia mendahului merunduk masuk ke dalam ruang pendopo.
cepat matanya menjelajah sekelilingnya, segera ia melompat ke atas besandar yang melintang tepat di tengah ruang itu.
Gerak-geriknya sungguh teramat cepat dan cekatan, ruang pendopo ini lebarnya ada belasan tombak.
Ling Kun-gi menyelinap masuk dari arah kanan, untung kepandaian si mata satu rendah, su-dah tentu sedikitpun dia tidak tahu.
Mungkin tadi terlalu banyak minum arak.
setelah menempuh perjalanan jauh, napasnya rada tersengal, maka begitu masuk ruang pendopo, si mata satu terus menjatuhkan diri di atas meja rebah celentang melepaskah lelah.
Tak lama setelah dia rebah, mendadak di luar terdengar dua kali suara jeritan rintihan tertahan-Malam sunyi senyap.
maka keluhan tertahan terdengar amat jelas, letaknya tidak terlalu jauh di luar biara ini, mungkin orang itu kena dibokong orang dan jiwanya terancam.
si mata satu berjingkrak kaget, lekas dia melompat bangun, maka dilihatnya sesosok bayangan tinggi laksana setan tahu2 sudah muncul di depan serambi ruang pendopo sana, lambat2 langkahnya, memburu ke ruang pendopo.
Kaget dan ketakutan si mata satu, tegurnya suara gemetar.
"Siapa ....?"
Dari tempat sembunyinya, sebaliknya Ling Kun-gi dapat melihat jelas bahwa pendatang ini adalah laki2 baju hijau yang lengan kirinya pakai tangan palsu dari besi.
Begitu masuk pendopo dia lantas berhenti, suaranya dingin.
"Kuantar surat untukmu, apa kau ini si picak kanan-"
Mendengar orang datang mengantar surat, cepat si mata satu menyongsong maju, katanya berseri ketawa.
"Bukan, bukan, hamba, hamba picak kiri bukan picak kanan-"
Bayangan kurus tinggi mendengus sekali, dari dalam kantongnya dia merogoh keluar sebuah sampul terus diangsurkan, katanya^ "Ambil"
Si mata satu menerima dengan kedua tangan. Tanpa bicara lagi bayangan kurus tinggiterus tinggalpergi. Diam2 Kun-gi membatin ditempat sembunyinya.
"cara sibaju hijau mengantar surat mirip dengan caranya waktu memberikan surat kepada si baju biru kemarin malam, surat itu tentu memberi petunjuk ke mana harus menyerahkan barang yang dibawanya? Mungkinkah belum sampai di tempat tujuan terakhir?"
Setelah terima surat, dengan sikap hormat si mata satu antar si baju hijau pergi, setelah itu dengan seksama dia baca tulisan yang ada di atas sampul surat itu, lalu kembali ketempat dia me-rebahkan diri tadi "cret"., dia menyalakan api dan menyulut sebatang lilin-Lalu dia mengambil sebatang dupa wangi dan disulut terus ditancapkan pula di atas Hiolo, setelah itu dengan laku hormat dia taruhsampul itudiatas meja.
Kebetulan Ling-Kun-gi sembunyi di atas belandar, melihat kelakuan si buta yang aneh dan ganjil ini, dalam hati dia merasa heran, dia pu-satkan ketajaman matanya memandang kearah sampul di atas meja.
Lwekangnya memang sudah tinggi, walau jaraknya cukupjauh, namun huruf di atas sampul masih bisa dibacanya dengan jelas.
Bunyinya demikian.
"Sulut dupa di atas Hiolo, habis sebatang baru buka sampul ini"
Entah apa maksud dan permainan aneh apa pula yang dilakukan penulis surat ini?
Yang terang terasa oleh Kun-gi bahwa bungkusan kertas yang mereka kirim dengan cara misterius ini tentu mempunyaiartiyang amat besar.
Dupa itu terbakar dengan cepat, asap dupa mengepul memenuhi ruangan pendopo, tapi asap itupun cepat sekali sudah sirna tertiup angin, tinggal bau wangi saja yang masih merangsang hidung.
Agaknya dupa wangi ini terbuat dari kayu cendana asli.
Melihat dupa sudah terbakar habis, simata satu lantas ambil sampul terus dirobek.
cepat Kun-gi menunduk, dilihatnya si mata satu mengeluarkan secarik kertas, di dalam lipatan kertas terdapat sebutir pil warna putih, di atas kertas tertulis sebaris huruf2 yang berbunyi.
"Le-kas telan pil ini, keluar dari pintu selatan, sebelum kentongan kelima sudah harus tiba di Liong-ong--bic"
Memegangi pil putih itu, agaknya si mata satu ragu2, mendadak tampak tubuhnya sempoyongan, hampir saja dia roboh terjungkal.
lekas dia jejal-kan pil itu ke dalam mulut, sekalian dia raih kertas itu terus dibakar.
Pada saat itulah, bayangan seorang tiba2 terjungkal jatuh dari belakang patung pemujaan.
"Blang"
Roboh terkulai tak bergerak setelah menggelinding dua kali.
Si mata satu amat terkejut, dia melompat mun-dur beberapa kaki, dengan mata melotot dia mengawasi sosok tubuh yang meringkal dilantai itu.
Ternyata yang terjungkal jatuh dari belakang patung adalah seorang gadis yang berpakaian coklat, kedua matanya terpejam, rebah tanpa bergerak sedikitpun.
Di pinggangnya kelihatan terselip sebatang pedang pendek.
jelas iapun seorang persilatan-Melihat gadis itu rebah terkulai tak bergerak lama2 bangkit keberanian si mata satu, katanya dengan tertawa dingin.
"Pantas aku diperintah membakar dupa wangi baru boleh membuka surat ini, ternyata memang ada orang menguntit diriku, pihak atas memang ada perintah, kalau temukan orang menguntit boleh bunuh saja habis perkara, nona cantik, jangan kau salahkan aku berlaku kejam ........."
Dari samping tubuhnya, dia mencabut sebilah golok terusmendekati. Mendadakseorangmembentakkeras."Berdiri"
Terasa angin menyamber, tahu2 di depan si mata satu sudah berdiri laki2 setengah baya dengan wajuh kereng, setajam pisau matanya menatap si mata satu, bentaknya pula.
"Tidak lekas kau enyah?"
Sorot matanya cukup menggetarkan nyali, bentrok dengan sorot mata orang, tanpa terasa si mata satu bergidik, ter-sipu2 dia mengiakan terus putar tubuh dan lari sipat kuping.
Laki2 setengah baya ini adalah samaran Ling Kun-gi, dia tidak hiraukan si mata satu, dia coba memeriksa si nona.
Kedua mata gadis baju cokelat terpejam, bulu matanya panjang melengkung, wajahnya cantik tam-pak masih ke-kanak2an, pipinya merah seperti buah apel yang masak.
hidungnya mancung, mulutnya kecil, usianya paling2 baru tujuh belasan-Sekirang Ling Kun-gi baru mengerti bahwa dupa yang disulut si mata satu tadi kiranya dupa wangi yang membiuskan-Tapi kenapa dirinya tidak kurang suatu apa2.
Bukankah dirinya jauh lebih banyak menghirup asap dupa di tempat yang lebih tinggi?
Beberapa kejap dia berdiri melenggong, akhirnya dia ingat akan kantong sulam pemberian Un Hoan-kun, bukankah di dalamnya berisi obat2an piranti menawarkan obat bius.
Lekas dia keluarkan kantong sulam itu, setelah ikatan teratas dia buka, di dalamnya berisi sebuah botol gepeng warna pu-tih halus.
Begitu botol gepeng dikeluarkan, bau harum yang menyegarkan seketika merangsang hidung, ter-nyata di atas tutup botol terdapat lima lubang kecil yang berbentuk menyerupai bunga bwe, bau harum teruar dari lubang2 kecil2 ini.
Waktu dia teliti lebih lanjut, tepat diperut botol gepeng ini terukir tiga huruf Jing-sin-tan-, di bawahnya terdapat sebaris huruf2 kecil yang berbunyi.
"Buatan khusus keluarga Un di Ling-lam."
Cepat Kun-gi buka tutup botol kecil ini ternyata terdiri dari dua bagian-lapisan atas berisi puyer warna kuning, lapisan kedua berisi beberapa pil warna hitam sebesar biji kapok.
Sekarang Ling Kun-gi baru mengerti, bahwa puyer warna kuning itu adalah obat penawar bau wangi yang memabukkan, maka diatas tutup botol di beri lubang supaya bau harum penawar ini dapat teruar keluar, oleh karena itu botol ini harus di simpan dalam kantong benang sulam dan digantung di atas leher, cukup mengendus bau harum yang teruar dari tutup botol, segala obat bius yang wangi memabukan akan menjadi tawar dengan sendirinya.
Sementara pil hitam di bagian bawah itu adalah obat penawar yang harus ditelan-Jadi gadis baju coklat ini terbius oleh bau wangi, cukup asal botol ini di ciumkan ke dekat hidungnya, tak usah diminumi pil tentu sebentar akan siuman-Betul juga, kira2 sepeminum teh ke-mudian, pelan2 gadis baju cokelat mulai membuka kedua mata.
Melihat dirinya rebah di lantai, di sampingnya berjongkok seorang laki2 yang tak dikenalnya, ke-ruan kagetnya bukan main, lekas si nona membalik tubuh dan berduduk seraya berteriak.
"Siapa kau? Kau .... apa yang kau lakukan ...."
Wajahnya pucat, sctelah duduk baru dia melihat Kun-gi memegangi sebuah botol, sikapnya jelas tidakber-maksud jahat. Kun-gi unjuk senyum manis, katanya.
"Nona jangan takut, barusan kau terbius oleh bau wangi, akulah yang memberikan obat penawarnya."
Merah kedua pipi si gadis, kedua biji mata-nya terbeliak mengawasi Kun-gi, lekas dia membungkuk badan, katanya.
"Jadi paman yang meno-longku, entah bagaimana aku harus menyatakan terima kasih."
Panggilan sekilas membuat Ling Kun--gi melengak.
tanpa segera dia sadar bahwa dirinnya sedang menyamar pedagang setengah baya, tanpa terasa dia tersenyum lebar, ujarnya sambil mengelus jenggot pendek dibawah dagunya.
"Nona jangan sungkan, kebetulan cayhe lewat sini, kulihat si mata satu itu hendak mencelakai nona. sudahtentuakutidakbolehberpeluk tangan?" 04 Terbayang rasa kaget dan heran pada wajah si gadis, katanya.
"paman bilang si matu satu itu hendak mencelakai aku? Padahal aku tidak ber-musuhan dan tiada dendam, kenapa dia hendak membunuhku?"
"Karena kuatir rahasianya bocor, membunuh nona untuk menutup mulut,"
Sahut Kun-gi. -kedip2 mata si gadis baju cokelat, kata-nya ketarik.
"Dia punya rahasia apa? Jahat betul orang itu."
Berhadapan dengan gadis yang lucu dan masih punya bersifat kanak2, suaranya merdu lagi, tanpa terasa Kun-gi sampai melamun.
Melihat Kun-gi menatap dirinya dengan pandangan aneh, merah pula muka si gadis, dengan lirih dia berte-riak.
....
Teriakan ini membuat Ling Kun-gi tersentak kaget, sadar akan sikapnya yang tidak wajar barusan, seketika mukanya terasa panas, dia tertawa tawa, tanyanya.
"Bagaimana nona bisa sembunyi seorang diri di sini?"
"Sering pamanku bilang, hotel bukan penginapan yang baik bagi seorang gadis yang menempuh perjalanan seorang diri, katanya bisa dihina dan dirugikan orang lain, maka aku pilih biara ini..."
Ling-Kun-gi tertawa, ujarnya.
"Akhirnya kau lihat si mata satu itu melompat tembok masuk kemari, maka kau lantas sembunyi di belakang patung."
"Ya,"
Mata si nona berputar, lalu katanya.
"kini teringat olehku, sebelum si mata satu masuk kemari, jelas kulihat bayangan orang berkelebat sekali terus menghilang, semula kukira pandanganku yang kabur, ternyata paman adanya, jadi kau menguntit si mata satu, betul tidak?"
Diam2 Kun-gi pikir gadis ini cukup cerdik dan pintar, maka dengan tertawa dia berkata.
"cayhe hanya ketarik saja dan ingin tahu."
Bahwa Ling Kun-gi ternyata betul menguntit si mata satu, jadi tebakkannya tepat, seketika si gadis baju coklat berjingkrak girang, tanyanya cepat ."Ya, tadi paman bilang karena kuatir rahasianya bocor, maka si mata satu hendak membunuhku, soal apa pula yang membuat paman ketarik sampai menguntit dia ke dalam biara ini?"
"Dia ditugaskan mengantar sesuatu benda, kulihat gerak-geriknyaanehdan mencurigakan, makakuikutidia."
Sigadis mendesaklagi."Barangapakahyangdiaantar-?"
"cayhe juga tidak tahu, selanjutnya tak perlu aku menguntitnya lagi."
"tahu ke mana tujuan selanjutnya."
"Kalau tidak salah harus dikirim ke Liong--ong-Bio ...."
Tiba2 dia tersentak sadar, soal ini sebetulnya jangan diberitahu kepadanya, dunia persilatan penuh liku2, kalau gadis ini sampai ketarik dan ikut menguntit si mata satu serta kebentrok si baju biru, pasti celakalah dia.
Maka lekas dia tutup mulut, lalu alihkan pembicaraan, tanyanya."cayhemohon tahusiapanama harumnona?"
"Aku she Pui....."
Sahutnya, pikirannya masih tidak melupakan barang yang diantar si mata satu, maka dia balas bertanya pula.
"Liong ong-bio diluar pintu selatan kota, paman mari kita kuntit dia, pasti bisa menyusulnya."
"Hanya ketarik oleh gerak-gerik si mata satu maka aku kemari untuk melihatnya. Setiap golongan dan aliran persilatan di Kangouw umumnya punya rahasia masing2, orang dilarang mengetahui, apalagi Licng-ong-Bio dari sini ada tujuh li jauhnya, aku punya urusan lain, kukira nona jangan menempuh bahaya?"
Si gadis baju cokelat kurang senang, katanya menjengek.
"Memangnya aku takut, paman tidak mau pergi, biar aku pergi sendiri. Em, dia berani kerjai aku dengan dupa wangi, aku harus cari perhitungan sama dia, jangan dikira aku dapat dihina dan dipermainkan."
Lekas Ling Kun-gi membujuk.
"Dia sulut dupa karena kuatir orang mencuri lihat rahasianya, tujuannya bukan hendak mencelakai nona, kenapa nona harus berurusan dengan orang kasar seperti dia. Nona menempuh perjalanan seorang diri, tentunya punya urusan juga, lebih baik malam ini istirahat di sini, selesaikan dulu urusanmu sendiri"
"Aku keluarber-main2, akutidakpunyaurusanapa2, paman take mau pergi, permisi aku mau pergi sendiri,"
Habis berkata si nona bangkit terus mau pergi. Tapi seperti mendadak teringat apa2, kakinya berhenti serta berpaling, tanyanya mengawasi Kun-gi.
"Maaf paman, aku lupa mohon tanya nama paman-?"
"cayheLing Kun-gi dariIng-Ciu."
"Akanselalu kucatatdalamhati, sampaiber-temu, paman Ling"
Sekali bilang pergi terus pergi, keras juga tabiat nona ini, Kun-gi jadi menyesal, kenapa tadi dia memberitahu persoalan sebenarnya kepadanya, se orang gadis belia, kalau sampai mengalami bahaya, bukankah secara tidak langsung aku yang mence-lakai dia?
Maka cepat dia berteriak.
"Nona Pui, tunggu sebentar"
Si gadis sudah tiba di luar pintu, dia behenti dan bertanya.
"Paman Ling masih ada urusan apa lagi?"
"Kalau nonaingin pergi, baiklah bersama akusaja,"ujar Kun-gi.. Sudah tentu gadis baju cokelat kegirangan. katanya cekikan-"Paman Ling, kau sungguh baik..." -.Tawanya segar bak sekuntum bunga mekar, pipi-nya yang merah tersungging dua pipit di kanan kiri. Begitu anggun mempesonakan sampai Ling Kun-gi tidak berani melihatnya lama2, katanya sambil melengos.
"Marilah lekas berangkat."
Gadis baju cokelat mengangguk.
mereka menuju ke pekarangan luar, agaknya si gadis sengaja hendak pamer, tiba2 dia meluncur mendahului ke depan, dengan enteng ia melayang ke atas terus hinggap di atas tembok.
Gerakannya ini adalah ci-yan--liang-poh (sarang walet melampaui gelombang), tangkas dan cekatan sekali gerak geriknya.
Ling Kun-gi ikut enjot tubuhnya, katanya sambil tertawa lantang.
"Hebat benar Ginkang nona Pui."
Gadis mana yang tidak senang dipuji. Dengan ringan si gadis meluncur turun di luar tembok, katanya berpaling dengan senyum bangga.
"Paman Ling terlalu memuji"---Sirap kata2nya mendadak dia menjerit melengking, wabahnya pucat ketakutan dan ngeri.
"Nona kenapa?"
Tanya Kun-gi. Si gadis tidak berani berpaling, katanya sambil menuding ke ujungtembok sana."Disanaada duaorang."
Geli Ling Kun-gi, batinnya."Nona kecilbiasanya memangbernyali kecil"
Dengan sabar dia membujuk.
"Nona tidak usah takut, biar kulihat kesana."
Tampak di kaki tembok sana memang meringkuk dua bayangan orang.
Betapa tajam pandangan Ling Kun-gi, sekilas pandang dia lantas mengenali salah satu di antaranya adalah laki2 baju abu2 yang dilihatnya di warung makan di Liong-kip, seorang lagitentu temannya.
Mendadak Kun-gi ingat, sebelum laki2 baju hijau muncul, di luar ada dua kalijeritan orang, mungkinkah kedua orang ini sudah dikerjai musuh?
Bergegas dia melompat maju terus memeriksa de-ngan berjongkok, tampak kedua orang ini meringkal mirip udang kering, yang dijemur di panas matahari, kepala dan mukanya berubah kehijauan, jelas mereka memang kena serangan racun-Topi bulu yang dipakai laki2 baju abu2 tampak terpental jatuh, tepat di tengah ubun-ubun kepalanya ada tanda2 bekas keselomot dupa, kiranya dia seorang Hwesio.
Tergerak hati Kun--gi, pikirnya.
"Hwesio Siau lim si, mungkin barang yang diantar si mata satu ada sangkut pautnya dengan lenyapnya Loh-san Taysu, pimpinan Yokong-tian dari Siau-lim-pay?"
"Paman Ling,"
Tanya gadis baju cokelat dari kejauhan.
"Bagaimana kedua orang itu?"
Pelan2Ling Kun-giberdiri, katanya."Sudah meninggal."
"Apakah mereka terbunuh si mata satu?"
Kun-gi rnengeleng.
"Bukan, pembunuhnya ada orang lain-".
"Apakah orang yang mengantar surat itu?"
Tanya gadis itu.
"tentunya untuk menyumbat mulut mereka? Kulihat dalam peristiwa ini pasti ada latar belakang yang besar artinya."
Kuatir orang bertanya berkepanjangan, lekas Kun gi berkata.
"Marilah berangkat"
Mereka berputar ke pintu selatan, setelah melompat keluar dari tembok kota, terus menuju ke arah selatan dengan langkah cepat.
Jarak enam-tujuh puluh li tidak terhitung jauh bagi mereka.
untung malam gelap.
di jalanan sepi, maka dengan leluasa mereka dapat mengem-bangkan ilmu entengkan tubuh menempuh perjalanan dengan cepat.
Betapapun Lwekang si gadis jauh lebih rendah, setelah ber-lari2 sekian lamanya, pipinya sudah merah, napasnya mulai sengal2, tapi dia masih berlari setaker kekuatannya.
Kun-gi melihat keadaan orang mulai keletihan, hatinya menjadi tidak tega, terpaksa dia kendorkan larinya, dengan begitu barulah si nona dapat mengimbanginya.
Agaknya sigadis tahu diri, alisnya berjengkit, katanya dengan muka merah.
"Paman Ling, agaknya kepandaian silatmu tidak lebih rendah daripamanku,"
Siapa pamannya, sudah tentu Ling Kun-gi tidak tahu? Tanyanya dengan tersenyum.
"Apakah pamanmu berkepandaian tinggi?"
"Sudah tentu kepandaian silat paman teramat tinggi, aku dan Piauci sama2 belajar kepadanya, Piauciku malah lebih hebat daripada ku, mungkin aku yang terlalu bodoh."
"Usia nona masih begini muda, memiliki ke-pandaian setingkat ini juga sudah lumayan-"
Kata gadis baju cokelat dengan berseri lebar.
"Piauci setahun lebih tua daripada ku, bukan saja wajahnya secantik bidadari, kepandaiannyapun jauh lebih tinggi, terus terang aku tunduk lahir batin terhadapnya. Paman Ling, mungkin kau belum tahu betapa anggun dan cantiknya, siapapun pasti tergila2 kepadanya."
Tanpa ditanya dia mengoceh dengan lincah dan Jenaka, suaranya memang merdu dan lucu, dari tingkah lakunya ini dapatlah disimpulkan bahwa gadis ini terlalu polos, bersih dan halus budi pekertinya.
Dengan jujur dia puji Piaucinya bak bidadari segala, yang terang dia sendiripun molek dan lincah penuh gairah.
Begitulah sembari menempuh perjalanan, mereka ngobrol panjang lebar, setiba di Liong-ong-blo, waktu sudah mendekati kentongan keempat.
Liong--ong-Bio berada di pusat keramaian sebuah pasar yang terletak di selatan kota Hoay-yang, di antara kota Sim-kiu, di dalam kota kecil ini kira2 dihuni dua ratus keluarga.
Mereka langsung menuju ke arah barat dan tiba di Liong-ong-Bio (biara raja naga).
"Biara raja naga"
Ini terasa sepi, liar dan bobrok.
tembok bercat merah, letaknya dipinggir hutar menghadap ke sungai, dulu tempat ini memang merupakan pusat keramaian penduduk sekitarnya, tapi setelah sekian puluh tahun tak terurus, keadaan sudah serba bobrok dan rusaki Setiba mereka di depan pintu biara, tampak tak jauh sana menggeletak sesosok tubuh orang, dalam kegelapan tampak meringkukdiamtak ber-gerak.
Gadis baju cokelat kaget, langkahnya merandek.
tanyanya.
"PamanLing, menurutkauorangitusudah matiataumasihhidup?"
Sudah tentu Kun gi juga ingin tahu, lekas dia melangkah maju serta membalik tubuh orang. se-ketika dia bersuara heran, katanya.
"Kiranya si mata satu"
Memang mayat yang meringkuk kaku di tanahinibetuladalahsi matasatuyangmerekakuntit.
Kulit kepala dan mukanya berwarna hitam, darah hitam meleleh dari mulutnya, mata kirinya yang tunggal melotot keluar, keadaannya sungguh seram menakutkan-Jelas dia mati keracunan-Mungkinkah laki2 baju hijau pula yang membunuhnya?
Demikian batin Ling Kun-gi.
Dengan teliti ia memeriksa, ternyata tiada bekas luka apa-pun dibadan si mata satu.
Selangkah mereka datang terlambat, tahu2 orang sudah binasa, ini berarti sia2 menguntit selama dua hari ini.
Si gadis berdiri jauh, melihat Kun-gi diam saja, dia berseru tanya.
"Parnan Ling, kau kenal dia?"
"Inilah si mata satu,"
Sahut Ling Kun-gi.
"o, diasudah mati?"
Tanyasigadis. Ling Kun-gi mengangguk.
"Setelah barang diantar sampai tempat tujuan, sudah tentu dia harusdibunuhjugauntuk menutupmulutnya,"katasigadispula... Tergerak hati Ling Kun-gi, cepat ia meraba dada si mata satu, ternyata barang yang tersimpan di kantongnya sudah diambil orang. Pelan2 dia berdiri, tanpa terasa ia menggerundel.
"Kejam juga cara mereka bekerja."
"Apakatamu paman Ling?"
Tanyasigadis.
"Dia mati keracunan, mungkin pil yang ada surat tadi juga beracun."
"Bukankahpil itu sebagaipenawardupa wangi itu?"
"Kalau dugaanku tidak meleset, pil itu pasti terdiri dari dua lapisar, lapisan luar memang penawar obat bius, sedang lapisan dalam adalah racun, malah waktu juga sudah diperhitungkan dengan tepat, bila dia tiba di Liong-ong Bio baru racun akan bekerja."
"Barang itu sudah diambil orang, paman Ling, perlukah kita meneruskan pengejaran ini?"
Karena menduga barang yang terbungkus kertas itu ada sangkut pautnya dengan Loh-san Taysu yang lenyap tak keruan paran itu, sudah tentu Ling Kun-gi tidak akan menghentikan usaha penyelidik,an ini.
Si mata satu memang sudah mati, tapi barang yang ia bawa pasti belum mencapai tujuan terakhir, karena kalau barang itu berakhir sampai di Liong--ong-blo, tak mungkin mereka membiarkan mayat si mata satu menggeletak demikian saja dan kalau barang itu belum berakhir sampai di sini, dalam waktu sesingkat ini orang mengambilnya tentu belum pergi jauh, meski tidak diketahui siapa pula pengganti si mata satu tapi asal dia bisa menemukan jejak sibaju hijau dan pembantunya, tidak sukar untuk menemukan jejak si pengantar barang rahasia itu Maka perasaannya menjadi longgar, katanya kemudian.
"Aku hanya ketarik saja, kalau tadi nona Pui tidak ingin kemari, cayhe juga tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Kini si mata satu sudah mati, sumber penyelidikan sudah putus, kemana pula mencari jejaknya?" .... lalu dia pandang si gadis serta menambahkan.
"Nona Pui, dunia persilatan penuh diliputi bahaya, seorang diri, umpama kau berkepandaian tinggi, namun kau belum berpengalaman, kukira kaujangan main selidik terhadap rahasia orang lain, kuharap nona langsung pulang saja, aku masih punya urusan lain, tak bisa mengiringi kau lagi, hari segera akan terang tanah kota Sim-kiu tak jauh di depan sana, mari kuantar nona masuk kota, di sana nanti kita berpisah."
Si gadis berkedip. katanya sambil cekikikan.
"Paman Ling, kalau kau punya urusan boleh silahkan saja, aku toh bukan anak kecil, bisajalansendiri takperlu kauantaraku."
Tanpa menunggu jawaban Ling Kun-gi dia terus putar tubuh serta melambai tangan, serunya.
"Paman Ling, aku berangkat lebih dulu."
Bayangan nona Pui akhirnya ditelan kegelapan, hati Ling Kun-gi seperti kehilangan apa2, terasa hambar.
Mendadak disadarinya bahwa dirinya telah menyukai nona jelita berpakaian cokelat yang tidakdiketahui namanyaini.
Hari sudah mendekati fajar, angin sepoi2 sejuk.
Kun-gi memandang sekitarnya sejenak, mendadak tubuhnya melambung tinggi laksana burung elang, sedikit kaki menutul tembok.
badannya mengapung lebih tinggi pula terus meluncur ke wu-wungan, dia lewati pekarangan menuju ke belakang dan lompat turun di emper rumah, tanpa berhenti dengan sebat dia menuju pekarangan belakang Liong-ong-Bio ternyata terdiri dari dua bangunan tempat pemujaan, jadi tiada kamar untuk tempat tinggal.
Ling Kun-gi turunkan buntalannya dan duduk diundakan batu, otaknya bekerja menerawang situasi, dalam hati dia ber-tanya2 siapa pengganti si mata satu, lalu ke mana pula pengantar barang dalam buntalan kertas itu?
Dari sini ke barat adalah Siang-cui, ke selatan adalah Sim-kiu dan Leng-cwan.
ke timur adalah Thay-go dan Put-yang.
Sejak mulai Kay-hong.
mereka menuju ke arah tenggara, jadi kalau dirinya menuju ke Thay-ho atau Put-yang tentu tidak akan meleset.
Setelah ambil keputusan, dia menengadah melihat cuaca, selarikcahayaemas sudahterpancardi ufuktimur.
Lekas dia merogoh kantong, mengeluarkan sebuah kotak kecil, inilah bahan obat2an peranti merias yang selalu dibawanya.
Dia maklumsibajubirudanpembantunyasepanjangjalan melindungisi pembawa barang secara diam2, terpaksa dirinya harus sering ubah bentuk dengan penyamaran yang berbeda baru bisa mengelabui orang.
Dari dalam kotak dia keluarkan sebutir pil untuk cuci muka, setelah digosok ditelapak tangan terus dipoleskan kemuka sendiri sambil berkaca mirip gadis jelita yang sedang bersolek saja, lekas dia sudah membersihkan obat2an yang mengubah bentuk wajahnya.
Kini dia sudah kembali pada wajah aslinya sekejap dia mengawasi wajah sendiri pada kaca bundar kecil yang dipegangnya, lalu diambilnya sebiji obat bundar warna merah gelap.
Baru saja dia hendak mengusap muka sendiri mendadak didengarnya tawa cekikik lirih tertahan diatas tembok, KeruanLing Kun-giterperanjat.
"Siapa?"bentaknyasambil berdiri "Akulah paman Ling"
Terdengar suara merdu menyahut. Tertampak bayangan ramping melayang turun dari atas tembok, Ling Kun-gi melenggong, tanyanya.
"Kau belum pergi?"
Gadis baju cokelat berdiri di depannya, men-dadak dia menunduk dengan muka jengah, kata-nya sambil membanting kaki.
"Kiranya kau menyamar yang kulihat tadi bukan wajah aslimu maka nama Ling Kun-giyang kausebuttadi pastijugabukannama aslimu."
Ling Kun-gi menjadi kikuk. katanya malu2
"Aku memang betul Ling Kun-gi."
Gadis baju cokelat mencibir bibir, katanya "Siapa tahu kau ini tulen atau palsu?"
"Terserahkalau nonatidakpercaya,"ujarKun-gi. Tiba2 gadis baju cokelat unjuk tawa manis, katanya.
"Kenapa tadi kau mengelabui aku?"
"Tiada maksudku mengelabui nona."...
"Kalau tidak, kenapa tidak terus terang padaku, pakai menyamar segala?" .
"Berkelana di Kangouw dengan menyamar, di perjalanan akan jauh lebih leluasa, tidak menarik perhatian orang."
"Kulihat pasti kau menyembunyikan sesuatu, apakah karena menguntit si mata satu maka kau merasa perlu menyamar?"
Melihat sikap orang yang polos dan Jenaka. tidak tega Kun-gi berpura2, katanya sambil manggut2.
"Benar, aku memang sedang menguntil si mata satu."
Bahwa tebakannya tepat pula, sungguh senang hati si gadis, katanya cekikikan.
"Jadi kau sudah tahu barang apa yang dia antar?"
"Aku betul belum tahu."
"Apakahkau sudahtahu mereka darigolongan mana?"
"juga belum jelas bagiku."
"Kalau kautidaktahuapa2, buatapa kau menguntitdia?"
Terpaksa Kun gi tuturkan pengalamannya, di Kay-hong tentang seorang salah alamat memberi sepucuk surat kepadanya. Asyik dan terbeliak si gadis mendengarkan kisahnya, katanya sambil keplok2.
"Sungguh menarik. paman ..dia sudah biasa memanggil paman Ling, tanpa terasa dia hampir menggunakan sebutan itu pula, untung dia lekas sadar dan menghentikan panggilannya.
"Kenapatidak panggil pamanLing pula ke-padaku?"goda Kun-gi.
"Siapa sudi panggil kau paman?"
Jengek si gadis sambil melerok.
"Usia mu beberapa tahun lebih tua belum setimpal kau jadi paman, kalau jadi Ling-toakosih boleh saja."
Namun segera iapun sadar telah kelepasan omong, wajahnya menjadi merah. lekas dia menambahkan.
"Aku juga tak sudi pang-gil kau Ling toako."
"Terserah maupanggil apa,"
Ujar Kun-gi tertawa geli.
"Hari sudah terang tanah, tak baik kita lama2 di sini, tunggulah sebentar setelah aku rampung menyamar.".
"Kau boleh tetap menyamar, aku toh tidak mengganggumu"
Ujar sigadis aleman.
Tanpa buang waktu, Ling Kun-gi hancurkan pil obat di telapak tangannya terus dipoleskan ke muka sendiri.
Dalam sekejap mata, wajahnya yang halus putih dan cakap telah berubah jadi merah gelap berusia setengah baya.
Si gadia menyaksikan dengan mata terbelalak tanpa berkedip dia awasi muka Ling Kun-gi, kata-nya tertawa.
"sungguh menyenangkan permainan ini, tak ubahnya seperti anak perempuan bersolek."
Ling Kun-gi tidak hiraukan ocehannya, dari kotak kecilnya dia keluarkan pula sekeping arang, sebelah kanan pegang kaca, diaores kedua alisnya menjadi lebih tebal, kini dia betul2 berubah jadi yang lain-Si nona jadi ketarik.
tanyanya.
"IHei, kau pandai tata rias, dari siapa kau belajar?"
Ling Kun gi bereskan kotak kecil dan disimpan ke dalam baju, katanya tertawa.
"Sudah tentu belajar pada Suhu."
"Siapakah gurumu?"
"Maaf, gurukupantangdiketahui orang, takbisa kujelaskan-"
Kini hari betul2 sudah terang, kuatir mayat si mata satu ditemukan orang, maka Kun-gi mendesak.
"Jangan lama2 di sini, nona tiada urusan, boleh silakan pergi."
Lalu dia melangkah lebar "
Kenapa kau tidak menungguku?"
"Nona mau ke mana? "Kau menyamar lagi bukankah ka hendak menemuka pengejaranmu?" , u n "Betul, kenapa?"
"Aku ikut, boleh tidak?"
Kun-gi tertegun, sahutnya menggeleng.
"Jangan, non cant dan suci, mana boleh seperjalanan ber-samaku?"
A ik keluar biara.
"E, eh, tunggu"
Seru si nona mengejar.
"Nona masihadaurusan apa?"tanyaKun-gisambil berpaling.
"Kau tidak sudi jalan bersamaku, kenapa kau tuturkan semua kisah ini?"sigadisuring2an Ling Kun-gi melenggong, alisnya berkerut, sa-hutnya.
"Kan nona yang tanya jadi kujelaskan."
"Maka itu, aku harus ikut kau."
"Tidak. Kangouw banyak diliputi kejahatan, nona jangan menempuh bahaya, dan lagi tidak leluasa nona berjalan bersamaku ...."
"Tidak boleh. tidak leluasa lagi,"
Omel si nona dongkol.
"yang terang kau tidak sudi berjalan dengan aku ...."
Tiba2 dia putar tubuh terus berlari pergi sambil menutup muka dengan kedua tangan Ling Kun-gi hanya geleng2, dengan langkah ce-pat dia berjalan keluar.
Tengah hari dia tiba di perbatasan propinsi An-hwi.
Tengah ia ayun langkah, tiba2 didengarnya dari jalanan kecil sana seorang berteriak.
"Bakpau ... , sic...."
Seorang laki2 berpakaian celana pendek berbaju kutang mendatangi sambil memanggul sebuah keranjang, setiba di depan Ling Kun-gi dia berhenti dan menyapa sambil tertawa.
"Tuan ini mau beli bakpau, masih panas "
Kun-gi menggeleng, belum lagi dia buka suara, mendadak dilihatnya selarik sinar biru berkelebat, sebatang paku beracun meluncur ketenggorokannya.
Serangan gelap ini dilakukan dalam jarak dekat dan cepat serta tak terduga lagi.
Tak pernah Kun-gi menyangka, maka dia tidak bersiaga, tahu2 pen-jual bakpau ini menyerang dengan senjata rahasia.
dalam seribu kerepotan lekas dia menjengkang tubuh ke belakang, sementara jari2 tangan kanan terus menyelentik.
"Triing", dengan tepat dia selentik paku itu. Hatinya marah bukan main, bentaknya.
"Tan-pa sebab kau melancarkan serangan kejam, apa tujuanmu?"
Begitu serangannya luput, tanpa menunggu Kun-gi bicara, tiba2 orang itu dorong kedua ta-ngannya, keranjang dia lempar ke arah Kun-gi, berbareng dia melompat mundur, kejap lain tangan kanannya sudah melolos sebilah golok baja yang berkilau memancarkan cahaya biru.
Pada saat orang ini melompat mundur, dari dalam hutan beruntun melompat keluar dua orang lagi, dandanan mereka sama, tangan merekapun bersenjata golok yang serupa, kini mereka berdirisegitiga mengadangdidepanLingKun-gi.
Begitu keranjang itu menerjang dekat baru seenaknya Ling Kun-gi kipatkan tangan, tiba2 keranjang mental balik meluncur lebih cepat menerjang ke arah laki2 yang berdiri di tengah.
Sudah tentu bukan kepalang kaget si penjual bakpau, ter-sipu2 dia melompat menghindar.
Keranjang itu hancur berantakan menumbuk pohon sebesar paha dan seketika tumbang dan mengeluarkan suara ge-muruh.
Berubah air muka si penjual bakpau,jengek-nya.
"Ternyata tuan berkepandaian tinggi."
Terpancar sinar dingin dari biji mata Ling Kun-gi, katanya.
"Apa maksud kalian?"
Penjualbakpau bertanya."Tuan mau kemana?"
"Apamauke manapeduliapadengankalian? "Kami bersaudara mEmang sedang menunggu kedatanganmu,"
Ujar sipenjualbakpau. Menegak alis Ling Kun-gi, tanyanya dingin.
"Kalian tahu aku siapa? "Peduli siapa tuan, kami hanya kenal barang yang ada di dalam kantongmu"
Jawab penjual bakpau.
"Kalian tahu barang apa yang ada di dalam kantongku?"
"Mata kami tidak kelilipan, tuan jangan pura2"
Ujar penjual bakpau tergelak.
"Kalian tidak bisa membedakan baik-buruk, pakai serangan membokong lagi, kini mengadang jalanku pula, ingin kutanya, apa sih sebetulnya maksud kalian?"
Penjual bakpau tertawa dingin.
"Bagus, seorang Kuncu tidak melakukan kerja gelap. maksud kami supaya tuan meninggalkan barang yang kau bawa itu, sudah jelas bukan?."
Tegerakhati Ling Kun-gi, batinnya."Akuhanya membawasebutir mutiara warisan keluarga serta kantong sulam pemberian, Un Hoankun, kalau ketiga orang ini bukan mengincar Pi-tok-cu, (mutiara penawar racun), tentw mereka diutus Siau Ki-jing untuk merebut kantong sulam pemberian nona Un itu."
Maka mendadak , dia tertawa keras, katanya.
"Betul, barang itu memang kubawa, entah.. cara bagaimana kalian hendak mengambilnya?"
"Tuan inginsupayakamipakai kekerasan?"
"Memangnya harus kupersembahkan dengan kedua tanganku?"
Jengek Kun-gi.
"Bagus, keluarkan senjatamu."
"Kalian punya kepandaian apa boleh keluarkan semua, tak perlu aku pakai senjata."
Sadis sorot mata penjual bakpau, katanya menyeringai.
"Baik, hati2lah kau"
Mendadak kakinya bertindak selangkah, golok baja ditangannya terayun, selarik sinar biru bagai kilat menyamber ke dada Ling Kungi. Berdiri alis Ling Kun-gi, katanya.
"Kau masih terlalu jauh. Nah, berdirilah yang betul"
Badan sedikit miring, tahu2 tangan kirinya sudah pegang pergelangan tangan penjual bakpau yang pegang golok terus dia entakkan pula ke depan.
Penjual bakpau menjerit kaget, golok jatuh ke tanah, orang nyapun sempoyongan mundur dan hampir saja terperosok jatuh.
Kedua temannya juga kaget, ditengah bentakan mereka serempak menubruk maju, duagolok membacokbersamadari kanankiri.
Kun-gi tertawa dingin, bagai terbang tiba2 badannya berputar, tak kelihatan bagaimana dia turun tangan, tahu2 kedua laki2 penyerangmengerang, disusulsuaragolok jatuhberkerontangan.
Kedua laki2 itu melompat mundur dengan muka pucat dan berkeringat dingin, tangan kiri pegang tangan kanan-Kiranya tangan mereka yang pegang golok kena ditabas oleh telapak tangan Ling Kun-gi, sakitnya bukan kepalang, walau mereka menggertak gigi tidak sampai menjerit kesakitan, namun otot diataS jidat kelihatan merongkol keluar karena menahan sakit.
Seperti tidak terjadi apa2, Kun-gi berkata.
"Kalian masih ingin barang yang kubawa?"
Mendadak sorot matanya menatap penjual bakpau, muka berubah kereng, katanya dingin.
"Diantara kalian bertiga, mungkin kau adalah pimpinannya, kau pura2 menjual bakpau, dengan senjata rahasia membokong secara keji, main cegat dan minta bekal pula, dari senjata kalian yang beracun itu cukup membuktikan bahwa setiap hari kalian pasti kenyang melakukan kejahatan, kini kebentur ditanganku, seharusnya akan kupunahkan kepandaianmu, tapi mungkin kalian hanya di peralat orang lain, maka cukup sebelah lengan masing2 kubikin cacat sebagai hukuman-"
Belum lagi mereka gebrak satu jurus, tahu2 sebelah lengan masing2 sudah dibikin cacat, keruan pucat pias muka ketiga orang, namun sorot mata mereka menjadi buas dan dendam, kata si penjual bakpau dengan menggreget dan melotot.
"Sebutkan namamu."
"Kalianbelumsetimpaluntuk mengetahui namaku."
Insaf kepandaian mereka bertiga terlalu jauh dibandingkan orang, akhirnya sipenjual bakpau menggerung marah, cepat dia bawa kedua temannya pergi.
Tapi baru saja mereka putar badan, lalu ber-diri tegak mematung dengan laku sangat hormat.
Kiranya dari jalanan kecil di tengah hutan sana tampak mendatangi seorang laki2 tua baju hitam.
Muka orang tua yang kurus ini hitam kering, ke-lihatannya kaku membeku, dingin tidak menimbul-kan perasaan-Setelah dekat, matanya yang berbentuk segi tiga berputar, akhirnya berhenti pada ketiga laki2 itu, suaranya seperti keluar dari kerong-kongan jenazah.
"Bagaimana? Kalian tidak mampu bereskan dia, malah dia yang bereskan kalian?"
Penjual bakpau tadi membungkuk hormat, dia yang bersuara.
"Lapor cit-ya, bocah ini sukar di layani, lengan kami bertiga dibikin cacat olehnya."
"Kalian memang tidak becus"
Semprot laki2 tua kurus itu, matanya melirik ke arah Ling Kun-gi, katanya pula.
"Anak muda, siapa namamu?"
Dingin dan angkuh sikap Kun-gi, ia berdiri menggendong tangan sambil menengadah, sahutnya.
"cayhe ingin tahu lebih dulu siapa namamu."
Terbayang rona kejam pada wajah laki2 kurus, katanya.
"Bagus, anak muda mulutmu ternyata keras juga, pernahkah kau dengar Kwi -kian -jiu Tong cit-ya?"
"cayhe belum pernah dengar"
Ujar Ling Kun-gi. Kwi-kian jiu (setanpun sedih melihatnya) Tong cit-ya menyeringai.
"Agaknya kau bocah ini baru keluar kandang."
"Kaukah yang mengutus ketiga orang ini?"
Tanya Kun-gi.
"Betul,"
Sahut Kwi-kian-jiu Tong cit-ya.
"Lohu suruh mereka menunggudisini supayakautinggal-kan barangyangkau bawa."
"Sayang mereka tidak berhasil."
"oleh karena itu, terpaksa Lohu susul kemari.."
"Kau sendiri memangnya bisa berbuat apa?"
"Pertanyaan bagus,"
Kwi-kian jiu Tong cit-ya ter-kekeh2.
"Lohu, boleh menjawab pertanyaanmu, kalau ingin hidup tinggalkan barangmu itu."
"Enakbetul kaubicara."
"Maksud Lohu,"
Kata Tong cit-ya.
"kau melukai ketiga orangku, ini boleh tidak usah diperhitungkan, tapi diantara jiwa dan barang yang kau bawa itu kau harus pilih satu."
"Setan sedih melihatmu (Kwi-kian-jiu), tapi manusia belum tentu takut melihatmu,"
Kun -gi menyindir.
"Anak muda, kau tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi,"
Habis kata2nya tiba2 Tong cit-ya berkelebat maju, tangan kiri bergerak secepat percikan api, pundak Kun-gi dijadikan sasaran ceng-keraman jarinya.
cengkeraman ini membawa kesiur angin kencang, tapi hanya sekali kelebat lantas lenyap.
aneh dan cepat serta lihay sekali gerak serangan ini.
Sejak tadi Ling Kun-gi sudah siaga dan menunggu, waktu tangan Tong cit-ya beberapa senti dari pundaknya, mendadak kaki menggeser dan badan berkelit, cengkeraman lawan dia hindari, berbareng tangan kiri menabas miring balas menyerang.
Bahwasanya Tong cit-ya tidak pandang sebelah mata pada Ling Kun-gi, ia yakin Cengkeramannya yang lihay itu biar jago2 silat Bulim umum-nya jarang yang mampu menghindarnya, apalagi lawan hanya seorang bocah yang baru berusia dua puluhan, sekali pegang pasti teringkus dengan mudah?
Tak Nyana lawan hanya sedikit miring dapatlah mengelak dengan mudah, keruan ia terkejut, lekas dia kerahkan tenaga dalam, siap untuk melancarkan kepandaian kebanggaannya Ngo-ting-kay-sanclo (pukulan telapak tangan gugur gunung), sekali gebrak ia ingin bikin mampus bocah ini.
Kejadian berlangsung teramat cepat, dlkala timbul niat jahatnya itu, tahu2 Ling Kun-gi sudah menepuk dengan jurus Liong gi-hunjong (Awan bergerak mengikuti langkah naga), damparan angin kencang tahu2 menerjang dadanya.
Betapapun Kwi-kian-jiu Tong cit-ya seorang kawakan Kangouw yang banyak berpengalaman, melihat gaya pukulan lawan serta merasakan terjangan angin kencang ini, lekas dia kerahkan tenaga di lengan kanan terus didorong memapak maju..
Dua gelombang anginberadudiudara, maka terdengarlahsuarabenturankeras.
Sedikitnya Tong cit-ya telah kerahkan tujuh bagian tenaganya, tak nyana hasil dari adu pukulan ini, pergelangan tangan sendiri tergetar kesakitan dan kaku.
"badanpun limbung hampir tak kuasa berdiri tegak. jubah hitam yang dipakainyapun me-lambai, tertiup angin pukulan lawan, keruan ia terkesiap. Kulit mukanya yang semula kaku dingin dan seram itu, kini berubah kaget dan heran, dua biji matanya mencorong bagai sinar kilat, dia pandang Ling Kun-gi dari kepala sampai ke kaki, akhirnya menyeringai dingin.
"Hebat jugakau anak muda."
Tepat pada kata "muda"
Diucapkan, tangankiripunterayun, kembali telapaktangannya memukul dada.
"Mari anak muda,"
Ujarnya menye-ringai sadis.
"sambutlah sejurus pula pukulan lohu?"
Nadanya menantang dengan pongah, seakan2 Ling Kun-gi tidak akan kuat menghadapi pukul-annyaini.
Ling Kun-gi masih muda, berdarah panas, sudah tentu dia tak mau kalah?
Tegak alisnya, katanya tertawa lantang.
"Memangnya, kenapa kalau kulayani pukulanmu?"
Lengan kanan terangkat, dia bergerak dengan tipu Sin-liong-to-sin (naga sakti menggerakkan kepala), tangan diayun ke depan dari samping.
Gerak pukulan Tong cit-ya amat lamban, gayanya juga enteng, tapi begitu Ling Kun-gi menggerakkan lengan kanan, gaya pukulannya mendadak didorong maju dengan kecepatan berlipat ganda.
Pada detik2 kedua tangan orang itu hampir beradu mendadak dia tarik tangan kanan, dengan sendirinya tenaga pukulannyapun batal ditengah jalan-Gerakannya amat cepat, tapi menariknya juga tangkas, keruan Ling Kun-gi keheranan, tapi pada saat itu pula mendadak dia merasakan telapak tangannya kesakitan seperti ditusuk jarum, kelima jari2nya seketika kaku.
Didengarnya Tong cit-ya tertawa sinis, kata-nya.
"Anak muda, kau sudah terkena jarum telapak tangan Lohu, kuhitung, satu sampai tujuh, kauakanterjungkalroboh."
Mencelos hati Ling Kun-gi, lekas dia berusaha merogoh kantong. Hanya dalam waktu sesingkat ini, Kun-gi merasakan sikutnya kaku tak mampu bergerak lagi, keruan kejutnya bertambah besar, pikirnya.
"Entah pakai racun jahat apa orang she Tong ini, begini lihay dan cepat bekerjanya?"
Untung dia merasakan kegawatan ini, kelima jarinya sudah berhasil menggenggam mutiara penawar racun di dalam kantongnya.
Gurunya pernah memberitahu, Pi-tok-cu harus selalu digembol di atas badan, segala racun tidak akan bisa melukai dirinya, kalau terlukaoleh senjataberacuncukup meletakkan mutiarainiditempat luka2 itu dan racun akan tersedot habis dengan sendirinya.
Melihat lawan merogoh kantong, Tong cit-ya kira orang hendak mengeluarkan obat, maka dia tertawa lebar dan senang, katanya.
"Jarum di telapak tangan Lohu ini hanya bisa dipunahkan dengan obatku, anak muda, jiwamu taktertolong lagi."
Sementara itu, tangan kanan Ling Kun-gi meng-genggam Pi-tok-cu, terasa hawa dingin merembes dari telapak tangannya, rasa kaku kelima jarinya seketika berkurang, maka legalah hatinya.
Demi mendengar kata2 Tong cit-ya, alisnya menegak.
bentaknya.
"cayhe tak bermusuhan dengan kau, kenapa kau menyerang dengan jarum beracun-"
Tong cit-ya ter-gelak2 sambil mendongak. katanya.
"Selamanya Lohu tidak suka ngobrol dengan orang yang bakal mampus, inilah yang dinamakan bunuh ayam mengambil telurnya."
Yang dimaksud sudahtentubarangyangtersimpandikantong Ling Kun-gi. Semakin gusar hati Kun gi, sorot matanya semakin tajam, bentaknya pula.
"Bangsat tua, kau kejam, licik dan hina pula, kalau tidak diberi ajaran, memangnya kau kira orang lain takut terhadap jarummu yang beracun?". Tiba2 dia berkelebat maju, berbareng telapaktangankiri menghantamke pundak Tong cit-ya. Mimpipun tak pernah di duga Tong cit-ya bahwa seseorang yang telah terkena jarum berbisa-nya dan racun sudah bekerja di dalam badan masih mampu menyerang dirinya dengan gerakan setangkas dan selihay ini? Maka terdengarlah suara "plak", telapak tangan Kun-gi dengan telak mengenai pundak kirinya.
"Huaaak"
Tong cit-ya mengerang kesakitan, kerongkongan terasa amis, mata ber-kunang2, tak tertahan mulutnya menyemburkan darah segar, dengan sempoyongan dia terhuyung kebelakang dan hampir terjungkal roboh.
Ketiga laki2 itu kaget bukan kepalang, serempak mereka berlomba maju memayang dari kanan kiri.
Pucat muka Tong cit-ya, darah berlepotan disekitar mulutnya, matanya yang segi tiga mendelik ngeri dan keheranan, katanya.
"Anak muda, terhitung jiwamu yang mujur, jarum Lohu selamanya tidak pernah gagal, agaknya seranganku tadi tidak mengenai sasaran"
Pelan2 Ling Kun-gi ulurkan tangan kanan, katanya dengan sikap pongah.
"Sudah kena, tapi sebatang jarummu itu memangnya mampu melukai aku?"
Ditengah telapak tangannya memang masih kelihatan bekas lubang kecil warna kehitaman, jelas itulah bekas tusukun jarum Tong cit-ya tadi. Berubah kelam air muka Tong cit-ya, serunya kaget.
"Kau . .. .. kau.... .. kebal racun?"
Dengan angkuh Ling Kun-gi mengulap tangan, katanya^ "
Kalian boleh pergi, cayhe masih ada urusan"
Selesai berkata dia mendahului tinggalpergi. Gemertak gigi Tong cit-ya, teriaknya beringas.
"Anak muda, sebutkan namamu"
Tanpa menoleh Ling Kun-gi bersuara dingin.
"Ling Kun-gi "
Mengawasi bayangannya yang semakin jauh, Tong cit-ya mendengus.
"Anak muda, Lohu tidak akan telan kekalahan ini demikian saja."
Ooooooooooo Karena tertunda oleh peristiwa kecil ini, sementara itu hari sudah lewat lohor.
Di pinggir jalan Ling Kun-gi beli beberapa buah bakpau untuk isi perut, dalam hati masih terus men-duga2 siapa kiranya penggantisi matasatu?Untuk inidiaharusmenemukandulusibaju biru dan pembantunya yang mengantar secara sembunyi.
Sebelum petang dia tiba diThiat-ho, tak jauh setelah dia masuk kota, secara kebetulan dilihatnya bayangan orang berkelebat di ujung jalan sana, tahu2 seorang berbaju abu2 mendatang ke arahnya.
Sesaat lamanya orang ini mengawasi Ling Kun-gi, tiba2 dia bersuara lirih.
"Kau ini Ling-ya?"
Melengak Kun-gi, ia balas tanya.
"Saudara siapa? Darimana kenal aku?"
"Tidak keliru kalau begitu,"
Kata laki2 itu girang.
"cayhe mendapat perintah Loy acu, sejak tadi menunggu Ling-yadi sini."
"Siapa Loy acu yang kau katakan?"
Tanya Kun-gi.
"Loyacu ada di Ting-sun-lau, setiba di sana Ling-ya akan tahu sendiri,"
Laki2 itu menerangkan-Berkepandaian tinggi, besar juga nyali Ling Kun-gi, sambil sedikit manggut2 dia berkata..
"Baik.. tunjukkan jalannya"
Laki2 itu mengiakan, ia putar tubuh terus berjalan pergi dengan cepat.
Kun-gi ikut di belakangnya.
Setelah membelok dua kali menyusuri jalan raya, tampak dipersimpangan jalan sana ternyata betul terdapat sebuah Ting-sun-lau, restoran besar dan mewah pelayanannya.
Laki2 itu bawa Ling Kun-gi masuk dan melewati sebuah pekarangan.
akhirnya mereka tiba di pekarangan belakang, di sini, terurus dengan rapi, pohon dan bunga sama tumbuh subur dan mekar semerbak.
Laki2 baju abu2, terus membawanya putar kayun melewati jalan berbelak-belok hingga tiba di depan sebuah kamar barulah berhenti, seru laki2 itu sambil membungkuk.
"Loyacu, Ling-ya sudah tiba"
Maka terdengarlah suara serak. berseru dari dalam.
"Lekas silakan masuk"
Waktu pintu di buka, menyongsong keluar seorang laki2 tua berkepala botak, wajah merah, jenggot ubanan, serunya sambiltertawa."Ling-lote, lekassilakan ma-suk."
Laki2 botak muka merah ternyata adalah ketua murid2 preman Siau-lim-pay, yaitu Kim-ting Kim Kay-thay.
Di dalam kamar sudah duduk seorang laki2 tua berbaju panjang ringkas, dia berdiri sambil tersenyum, agaknya mereka barusan sedang ngobrol.
Lekas Kim Kay-thay berkata.
"Ling-lote, mari kuperkenalkan. Inilah Suteku, Au siok-ham, dulu dia dijuluki To-pit-wah (lutung banyaklengan),kinidiamenjadi majikandariTing-sun-lauini."
Lalu dia berkata kepada. Au siok-ham "Inilah Ling-lote yang tadi kuterangkan padamu."
Diam2 Kun gi perhatikan Au siok-ham, wajahnya bersih dan ramah, usianya sekitar 55 tahun, Thay-yang-hiat (pelipis) menonjol, sorot matanya terang, sekali pandang dapat diketahui dia pasti seorang ahli kekuatan luar-dalam.
.Lekas Kun-gi menjura serta menyapa.
"Nama besar Au-ya sudah lama kukagumi, beruntung hari ini dapat berkenalan."
"Tidak berani, tidak berani"
Lekas Au siok-ham merendah hati.
"Ling lote gagah berani, tadi Kim-suheng sudah menjelaskan, Silakan duduk"
"Kita semua bukan orang luar,"
Ujar Kim Kay-thay "Silakan duduk untuk bicara."
Bertiga mereka lantas duduk mengelilingi meja bundar kecil. Lalu Kun-gi bertanya.
"Kim-loy acu sampai perlu datang keThat-ho, apakah cin-cu-ling sudah ada tanda2nya?"
Kim Kay-thay menggeleng, katanya.
"Tanda memang ada, tapi boleh dikatakan juga tidak ada."
"Bagaimana maksud ucapan Kim-loy acu?"
Tanya Kun-gi "
Ling-lote tentu masih ingat, hari itu losiu pernah memberitahu bahwa kecuali keluarga Tong di Sujwan dan keluarga Un di Ling-lam, di dunia Kangouw masih ada suatu keluarga yang terkenal mahir juga menggunakan racun?"
Ling kun-gi manggut2, katanya.
"Kim-loy acu memang pernah menyinggungnya, yaitu Liong-bin--san-ceng ."
"Betul, Liong-bin-san-ceng, selama tiga bulan, tiga tokoh kenamaan dari tiga cabang dan keluarga persilatan sama lenyap. namun belum terdangar bahwa Cu cengcu dari Liong-bin-san-ceng juga lenyap. itu berarti bahwa komplotan cin-cu-ling belum lagi turun tangan terhadap Liong-bin-san-ceng. Dengan sendirinya kita menduga bahwa cin--cu-ling ada hubungan dengan Liong-bin-sanceng, oleh karena itu tempo hari sudah kupesan kepada Ling-lote supaya memperhatikan hal ini."
"Pendapat Kim-loy acu memang tepat,"
Kata Ling Kun-gi "Waktu itu cayhe juga sudah pikir-kan hal ini."
"Setelah kau pergi,"
Tutur Kim Kay-thay.
"beruntun Losiu mendapat laporan dari para penyelidik bahwa di kota Kayhong secara serentak di-temukan beberapa kelompok orang persilatan, jejak dan gerak-gerik mereka amat mencurigakan, maldam itu juga, seorang murid keponakanku bernama Liau Ngo datang dari Lohyang, ia melihat dua majikan dan pelayan yang menunjukkan gerakgerik mencurigakan, ilmu silat mereka amat mengagum-kan, menurut dugaan, kedua orang ini pasti erat hubungannya dengan cin-cu-ling, dari Loh-yang kedua orang ini terus menuju kemari, maka dengan diam-diam menguntitnya, di tengah jalan ku-utus seorang lagi untuk menemaninya ...."
Kun-gi tahu, dua orang yang dimaksud tentu si baju biru dan laki2 berlengan besi.
Sementara kedua murid Kim Kay-thay yang ditugaskan me-nguntit tentu kedua orang yang jadi korban di luar biara itu.
Kim Kay-thay sedang asyik bicara, maka dia tidak enak menyela.
Terdengar Kim Kay-thay bicara lebih lanjut.
"Tak terduga, pagi2 hari kedua, beruntun aku mendapat laporan pula bahwa beberapa kelompok orang persilatan yang menginap di hotel pagi2 sudah berangkat seluruhnya, arah mereka sama, maka Lo siu menduga dalam hal ini pasti ada sebabnya yang amat penting artinya. Hari itu juga ditemukan Un-loji dari Ling-lam dengan lima pembantu-nya, setelah menginap semalam di Kayhong secara ter-buru2 mereka melanjutkan ke Tan-liu. Un--leji memang sering mondar-mandir di Kangouw, tapi kali ini dia menempuh perjalanan ke Tionggoan secara tergesa2, Losiu duga perjalanannya ini pasti ada hubungan juga dengan cin-cu-ling. oleh ka-rena itu Losiu berpendapat harus kemariuntuk melihat keadaandaridekat."
Setelah orang habis bicara barulah Kun-gi berkata.
"cayhe ada sesuatu hal yang membingung-kan, mohon Kim-loy acu suka menjelaskan-"
"Ling-Lote jangan sungkan, kita terhitung satu keluarga, ada pertanyaan apa, silakan katakan saja."
"selama perjalanan ini cayhe tiga kali menyamar dengan wajah berbeda, entahdarimana Kim-loy acudapat mengenalidiriku?"
Kim Kay-thay ter-gelak2, katanya.
"Kau diaembleng oleh seorang cianpwe kosen, bekal kepandaian silatmu sekarang, siapa pula yang kuat menandingi."
"Ituhanyapujian Kim-loy acusaja,"Ling Kun-gi merendah diri.
"Apalagi Ling-Lote pandai menyamar dan tentu takkan mengalami kesulitan, cuma kau baru keluar kandang, pengalamanmu masih terlalu cetek."
"Memang benar, pengalaman cayhe terlalu sem-pit, cara bagaimana Kim-loy acu dapat mengenali cayhe?"
Kim Kay-thay tertawa, katanya.
"Sepanjang jalan ini tentu kau pernah bersua dengan pihak mereka serta ketahuan jejakmu, oleh karena itu, diluar tahumu ada orang memberi tanda rahasia pada buntalan bawaanmu, walau kau menyamar tiga kali bagi seorang ahli, sekali pandang keadaanmu tetap dikenali."
Kun-gi tertegun, katanya.
"Ada orang memberi tanda gelap di kantongku?, hanya sebuah buntalan kain hijau yang selalu di bawanya, di dalamnya ber-isi pedang panjang yang menongol keluar keluar adalah gagang payung, di samping itu dia membawa bun-talan kecil berisi pakaian, ia coba memeriksa bun-talannya, katanyakeheranan."Di mana,cayhekoktidakmelihatapa2?"
Kim Kay-thay menunjuk ujung kantong bagian bawah, katanya tertawa.
"Beberappa titik putih dari kapur inilah, kau tidak memperhatikan sudah tentu tidaktahu."
Setelah ditunjukkan baru Kun-gi menemukan tujuh titik putih sekecil mata jarum di ujung kantong, keruan merah mukanya katanya.
"Tanpa mendapat petunjuk Kim-loy acu. cay tetap tidak akan tahu walau sudah keselomot orang ......."
Sampai di sini percakapan mereka., terdengar dari luar ada langkah orang, mendatangi dan berhenti di luar pintu.
"Thing-ing, ada urusan apa?"
Seru Au-siok-ham. Dari luar berkumandang suara seorang anak muda.
"Lapor Suhu, pelayan dari Siang-goan-can mengantar surat untuk Ling-ya."
Ling Kun-gi melengak, batinnya. -"
Aku baru tiba di sini, siapa yang mengirim surat kepadaku?"
Sikap Kim Kay-thay pun tampak prihatin.
"Masuklah"
Seru Au siok-ham. Waktu pintu terpentang, maka masuklah seorang pemuda baju ungu, tangannyamemegansepucuksurat "Mana pelayan Siang-goan-can?"
Tanya Au siok-ham.
"Sudahpergi,"sahutpemuda itu "Apa dia tidak menerangkan, siapa pengirim surat ini?"
Tanya Au siok-ham. Pemuda baju ungu membungkuk, sahutnya.
"Tecu sudah tanya, katanya seorang, tamu yang menyuruhnya."
Au siok -ham terima surat itu, lalu mengulap tangan menyuruhnya pergi. Si pemuda memberi hormat lalu mengundurkan diri. Langsung Au siok--ham angsurkan surat itu kepad Ling Kun-gi, katanya.
"Ling-lote, inilah suratmu."
Kim Kay-thay ikut bertanya.
"Kau punya kenalan di Sian-goancan?"
Kun-gi terima surat itu, seraya menjawab.
"cayhe seorang diri dan baru saja tiba di Thay-hong, Kim-loy acu lantas suruh orang menjemputku, dari mana ada kenalan di sini."
Bertaut alis tebal Kim Kay-thay, katanya.
"Aneh kalau begitu."
Lalu menambahkan.
"cobakau lihatapaisisurat itu?"
Ling Kun-gi robek sampulnya dan menarik secarik kertas, tampak di atas kertas tertulis dua baris huruf2 yang berbunyi.
"Disampaikan kepada Ling-tayhiap. Adikmu sedang bertamu di rumahku, harap tidak usah dikuatirkan, syukur kalau tuan mau datang dengan membawa barang yang kau simpan sebelum matahari terbenam besok. Kami tunggu kedatangan tuan di depan Pat-kong-san". Gaya tulisannya amat kuat, tapi surat ini tidak bertanda tangan, sekian lama Ling Kun-gi melongo mengawasi surat ditangannya tanpa bersuara. Surat ini bernada memeras, mereka menahan Adik perempuannya, dirinya harus menebus jiwanya dengan barang yang menjadi incaran mereka. Waktu-nya ditentukan besok sore, tempatnya di Pat-kong-san, Agaknya mereka mengincar Pi-tok-cu ( mutiara penawar racun ) warisan keluarganya, tapi dirinya sebatang kara, selamanya pergi datang seorang diri, dari mana punya adik perempuan? Melihat dia diam saja, Kim Kay-thay berdehem tanyanya.
"Siapa yang mengirim surat itu?"
Ling Kun-gi angsurkan surat itu, katanya "Silahkan Kim-loyacu baca."
Kim Kay-thay tidak lantas menerimanya, tanyanya ragu2.
"Boleh kumelihatnya?"
"Silakan baca, nama pengirimnya tidak tertulis, mereka menculik orang hendak memerasku."
Terbeliak mata Kim Kay-thay mendengar istilah culik dan peras, tanyanya heran.
"Ada kejadian be-gitu?"
Segera dia terima surat itu. Hanya sebentar dia membaca dan air muka lantas berubah, katanya mendengus-"
Orang golongan mana berani bertingkah dan sewenang2 Au-sute, coba kau lihat, ada berapa kelompok golongan hitam di daerah sini? Terang tujuan mereka adalah kita bersaudara."
Setelah membaca surat itu, berkerut kening Au siok-ham, katanya kemudian setelah termenung.
"Menurut yang Siaute ketahui, daerah ini tiada orang dari golongan hitam, diatas Patkong-san hanya ada sebuah rumah milik keluarga Go. Go-si-siang-hiong memang anggota dari perkumpulan dagang, selamanya mereka berdagang secara halal, begitu besar usaha dagang mereka hingga di setiap ibu kota propinsi tentu ada cabang mereka, tak mungkin mereka main culik dan peras segala ....."
"Go-si-siang-hiong,"
Pikir Kim Kay-thay.
"maksudmu Bun-bu-caysin GoBun-hwibersaudara?"
Ausiok-ham mengangguksambil mengiakan "Bukankah Au-sute kenal baik mereka? Lekas kau suruh Thinging menanyakan, apakah tempat mereka di Pat kong-san sekarang dalam keadaan kosong?"
"Kim suheng mengira bila rumah itu kosong kemungkinan akan dibuat menyekap adik Ling-lo-te oleh kawanan penclik itu?"
Tanya Au siok ham.
"Tentunya demikian-ujar Kim Kay-thay.
"Kim-loy acu,"
Sela Ling Kun-gi.
"aku sebatangkara, selamanya tidak pernah punya adik perempuan."
Kim Kay-thay jadi heran, katanya-"Jadi perempuan yang mereka culikbukan adikmu"
Sampai di sini mendadak dia menambahkan dengan nada serius.
"Sebetulnya barang apakah yang mereka minta dari Ling-lote untuk menebus perempuan itu?"
"Mungkin mereka mengincar Pi-tok-cu warisan keluargaku,"
Sahut Kun-gi.
"Pi-tok-cu?"
Seru Kim -Kay-thay.
"Mutiara yang hendak kau gadaikan itu?"
"Benar. mutiara itu sejak kecil menjadi barang hiasan dibadanku, setelah ibu hilang, sebelum cayhe menempuh perjalanan barulah Suhu memberitahubahwa mutiarainidapat menawarkan racun."
"Dijalan apakah pernah kau perlihatkan kepada orang lain?"
Tanya Kim Kay-thay.
"Tidak pernah, sejak meninggalkan Kayhong, cayhe selalu menyimpannya di dalam kantong ...."
Mendadak dia teringat peristiwa tengah hari tadi, di perbatasan propinsi pernah bentrok dengan Kwi--kianjiu Tong cit-ya, tanpa terasa mulutnya menggumam.
"Mungkinkah Tong cit ya adanya?"
"Tong cit-ya?"
Kim Kay-thay melenggong.
"Maksud mu saudara ke 7 dari keluarga Tong? Bagaimana kau bisa mengira dia?"
"Tengah hari tadi dia mencegatku diperbatasan, terpaksa aku melukainya,"tuturLing Kun-gi. Kim Kay-thay berkata sambil menoleh pada Au siok-ham.
"Jadi keluarga Tong juga mengutus orang kemari, orang2 itu bermunculan di Kangouw, tentu-nyabukan secara kebetulan."
Lalu dia bertanya pada Kun-gi.
"Bagaimana kau bisa bentrok dengan pihak keluarga TongdariSujwan?"
"Tiga orang suruhannya mencegat dan menyerangku, mereka menuntut barang yang kubuwa, secara singkat Kun-gi lalu menceritakan pengalamannya. Mendadak Kim Kay-thay ter-gelak2 katanya.
"Mungkin hanya salah paham, Tong cit-ya mungkin salah mengenali orang.."
"Salah mengenali orang"
Kun-gi menegas.
"Bukankah Losiu tadi bilang, Liau Ngo, keponakan muridku sejak dari Loh-yan mengikuti dua orang, kabarnya kedua orang ini membawa barang sesuatu, gerak-geriknya mencurigakan-Menurut apa yang Lohu tahu, ada beberapa kelompok orang Kangouw yang menguntit mereka secara sembunyi, kebetulan kau berada di sana sehingga orang2 keluarga Tong menaruh perhatian padamu dan terjadisalah paham ini."
"Terus terang cayhe juga ketarik akan hal ini, maka secara diam2 menguntitnya pula,"
Kata Kun-gi. Bercahaya mata Kim, Kay-thay, katanya sambil ketawa keras.
"Jadi kau juga menaruh perhati-an akan hal ini?"
"Kejadiannya di mulai dari Kayhong, waktu itu cayhe juga belum tahu apa2, soalnya pesuruh mereka yang salah menyerahkan surat padaku."
Selanjutnya dia tuturkan pengalaman sepanjang jalan ini, cuma soal kantong sulam pemberian Un Hoan-kun tidak dia singgung..
"Apa yang Ling-lote ketahui kira2 sama dengan aku,"
Ujar Kim Kay-thay.
"Menurut dugaan Losiu, barang itu tentu sudah diantar ke tempat tujuan terakhir."
"Kim-loy acu memerlukan datang sendiri, tentunya sudah tahu ke mana barang itu akan diantar?"
Kim Kay-thay manggut2, katanya tersenyum^ "Lote tidak usah terburu nafsu, malam ini Losiu panggil Lote kemari, pertama karena jejak Lote su-dah terbongkar tanpa Lote sadari, untuk berkelana di Kangouw lebih lanjut sungguh amat berbahaya.
Kedua, Losiu sudah mengutus beberapa murid dan secara bergilir menguntit dan mengawasi si mata tunggal yang membawa barang itu, maka Lote selanjutnyatidakperlu unjukkan diri."
"Bukankah si mata satu sudah mati, di luar Liong-ong-bio?"
Tanya Ling Kun-gi.
"Betul, pengganti si mata tunggal adalah si mata tunggal pula, cuma orang yang satu ini picak mata kanannya."
"o, kiranya begitu"
Tengah bicara, tampak pemuda yang tadi datang kembali lagi, dan langsung memberi hormat kepada Au Siok-ham, katanya.
"Suhu, hidangan sudah siap. silakan Kim-supek dan Ling-yaini makan-"
Au Siok-ham segera persilakan Kim Kay-thay dan Ling Kun-gi makan, mereka keluar ke ruang makan, sebuah meja pat-sian yang besarsudahpenuhberbagai macamhidanganyanglezat.
Ditengah makan minum itu, Au-Siok-ham bertanya.
"Ling-Lote, bagaimana kau akan menyelesaikan surat yang kau terima tadi?"
Kim Kay-thay tertawa sambil mengelus jenggot, katanya.
"Kenyataan Ling-lote tidak punya adik, kemungkinan mereka salah menangkap orang pula. Belakangan ini orang2 keluarga Un dari Ling-lam dan keluarga Tong sama muncul di wil-ayah ini, menurut rabaanku,jika orang Kangouw mendengar kabar ini pasti akan sama meluruk datang, oleh karena itu dalam beberapa hari ini mungkin akan terjadi bentrokan besar, surat itu tidak menyebutkan nama pengirimnya, kukira Ling-Lote tidak usah menghiraukannya."
"Tidak!! cayhe sebaliknya berpendapat lain, surat sudah kuterima, maka aku harus menghadapinya ."
"Tong cit-ya selamanya bertindak kejam dan culas, licik dan banyak muslihatnya lagi, maka dia dijuluki Kwi-kian-jiu (setan sedih melihatnya ) Ling-lote tidak perlu ikat permusuhan dengan keluarga Tong."
"Peduli soal ini salah paham atau bukan, yang terang Tong cit-ya menyerangku lebih dulu, bahwa aku hanya sedikit melukai dia seharusnya dia tahu diri, kesalahan bukan padaku. Kini dia menculik orang main peras pula, menurut hemat cayhe walau perempuan itu bukan adikku, jelas mereka memang telah menculik, perbuatan kotor dan hina ini kebentur ditanganku, tak bisa kuberpeluk tangan? Kalau Tong cit-ya sampai kebentur lagi di tanganku, bukan saja akan kupunahkan ilmu silatnya juga akan kubuat dia rebah setahun lamanya."
Melihat orang bicara dengan nada tegas, wajuh kereng berwibawa, Kim Kay-thay menjublek mengawasinya, katanya kemudian.
"Kalau Ling-lote memaksa hendak menepati undangan, biar kuiringi-mu ke Pat-kong-san, Losiu kenal dengan keluarga Tong, bahwa urusan ini lantaran salah paham, tentu persoalan bisa dibereskan dengan jalan damai."
"Urusan sekecil ini cayhe tak berani menyusahkan Kim-loy acu, kalau Kim-loy acu kenal mereka, biarlah nanti aku tidak melukainya."
Kim Kay-thay adalah ciangbunjin murid2 preman Siau-lim-pay,, selamanya kata2nya dipercaya dan disegani di kalangan Kangouw, namanya cukup beken, maka dia dijuluki Kim Ting, selama beberapa tahun ini, tiada orang berani bicara ang-kuh dihadapannya.
Maklumlah Ling Kun-gi berusia muda dan berdarah panas, tanpa sadar dia telah banyak buka mulut.
Tapi Kim Kay-thay tidak ambil perhatian, dia hanya tersenyum, soalnya dia tahu keluarga Tong ahli main senjata rahasia beracun, dia kuatir Ling Kun-gi mengalami cidera.
Setiap insan yang berkelana di Kangouw, sekali kena dirugikan sekali tambah pengalaman, tapi jangan sekali2 kena dirugikan oleh pihak keluarga Tong, kerena racun yang mereka pakai teramat jahat, kena darah lantas menyumbat pernapasan, setelah dirugikan pengalaman selanjutnya tentu mengenaskan, salah2 tentu jiwa melayang dengan percuma.
Selesai makan minum, mereka lantas berdiri.
Kun-gi segera menjura, katanya.
"Beruntung malam ini cayhe mendapat petunjuk yang berharga, tidak sedikit hasil yang kuperoleh, waktu sudah mendesak, biarlah cayhe mohon diri."
Au siok-ham tertegun, katanya.
"Kapan Ling--lote bisa berkunjung lagi ke tempatku ini, harap menginap semalam di sini, besok pagi boleh berangkat, kenapa buru2?"
"Malam ini aku sudah kenyang makan, banyak terima kasih. Bahwa surat itu dikirim kemari, ini membuktikan bahwa jejakku telah diikuti, maka kupikir malam ini juga aku harus berangkat, pertama supaya jejakku selanjutnya tidak mereka ketahui, kedua aku ingin pergi ke Pat-kong-san lebih dulu, akan kuselidiki asal-usul mereka, apa pula tujuan mereka menulis surat ini? Siapa pula yang mereka culik? Daripada tidak tahu apa2, kukira perlu ku-bertindak cepat."
"Memang betul,"
Ujar Kim Kay-thay.
"kalau begitu kita tidak perlu sungkan kepada Ling-lote,"
Lalu dia berpaling pada Ling Kun-gi, katanya lebih lanjut.
"Soal si mata satu itu, walau kita belum tahu barang apa yang mereka antar? Tapi pihak keluarga Un dan Tong juga menaruh perhatian, kuyakin ada sangkut pautnya dengan cincu-ling. Jejak mereka sudah berada dalam genggamanku, untuk ini Losiu ada tiga macam kode untuk mengadakan kontak dengan muridku, Ling-lote, boleh mempelajarinya agar dijalan kau dapat mengadakan kontak dengan murid2ku,"
Lalu dia menerangkan ketiga tanda2 rahasia itu. Ling Kun-gi mengingatnya terus mohon diri.
"Tunggu sebentar Ling-lote"
Kata Au siok-ham "Pat-kong-san ada 200 lijauhnya, biar kusuruh Thing-ing menyiapkan seekor kuda untukmu."
"Perjalananku ini secara diam2, aku harus menyembunyikan jejak, naik kuda malah kurang leluasa,"
Setelah pamitan dia lantas meninggalkan Ting-sun-lau langsung menuju ke hotel Siang-goan-can Tiba2 dilihatnya sepuluhan tombak di depan sana ada bayangan seorang tengah meluncur dengan enteng danter-gesa2.
Gerak-g erik orang ini cekatan dan pesat, setelah meluncur tiba di kaki tembok.
sedikit menjejak kaki, tubuhnya terus mengapung ke atas dan dengan ringan hinggap di atas tembok sekali berkelebat, bayangannya tahu2 menghilang.
Melengak Ling Kun-gi, batinnya.
"Entah siapa orang ini, lihay juga Ginkangnya."
Hati berpikir kaki mempercepat larinya, setiba di kaki tembok, dengan gaya Pek-ho-jong-thian (bangau putih menjulang ke langit), dia mengejar ke atas tembok, waktu dia angkat kepala, bayangan itu sudah melayang turun keluar tembok.
dalam sekejap orang sudah meluncur dua puluhan tombak.
cepat iapun meluncur turun, dengan kencang ia mengudak.
Gerakan bayangan hitam di depan itu secepat terbang, lekas Kun gi menghimpun tenaga murni, iapun kembangkan Ginkangnya, tapi jarak tetap dipertahankan dua puluhan tombak.
Hatinya heran, batinnya."Ginkangorang iniagaknya lebih ungguldaripadaku."
Kedua orang meluncur dengan kecepatan tinggi, semula menyusuri jalan besar, bayangan di depan dua kali berpaling ke belakang, tapi dengan sigap Kun-gi selalu menyembunyikan jejaknya.Jarak mereka tetap dua puluhan tombak.
malam gelap gulita lagi, sudahtentusukarorangdidepan itu melihatnya.
Lomba lari ini berlangsung kira2 satu jam, tem-bok kota Po-yang di depan sana dari kejauhan sudah kelihatan, bayangan di depan itu mendadak meninggaikan jalan besar, membelok kejalanan kecil di sebelah kiri.
Bahwa orang memiliki Ginkang setinggi itu, Kun-gi menduga ilmu silatnya tentu juga lihay, supaya jejaknya tidak konangan, dia tidak berani mengejar terlalu dekat.
Setelah bayangan itu meluncur sekian saat baru dia berputar dari arah lain sambil main sembunyi di antara bayang2 pohon-Jalanan kecil ini membelok ke arah timur, karena sedikit merandek ini, bayangan di depan tadi sudah tidak kelihatan ke mana perginya.
Kun-gi gunakan mata kupingnya, dengan saksama dia terus merunduk maju, kira2 setengah li kemudian, dari sebelah kirijalanan kecil sana, di antara lebatnya pepohonan tampak memancar secercah cahaya lampu.
Mengikuti arah sinar lampu Kun-gi memasuki hutan-Kira2 seratus langkah kemudian, ia mendapatkan sebuah kuil, di atas pintu bergantungan papan nama yang bertuliskan "Jap-hoa-bio" (kuil tancap bunga)..
Ling Kun-gi celingukan.
dilihatnya tiada bayangan orang di sekitarnya, dengan merunduk dia melompat ke tembok terus sembunyi di tempat gelap.
dari tempatnya ini dia memandang ke dalam kuil.
Di tengah ruangan besar sana tampak menyala sebatang lilin merah, dua orang laki perempuan tengah duduk di kursi di depan-meja sembahyang.
Perempuan yang duduk di sebelah kiri berusia 23-24, wajahnya molek berdandan seperti puteri keraton, pakaiannya serba putih halus sambil ber-cakap2 matanya selalu mengerling mempesona.
Duduk dihadapannya, di sebelah kanan adalah laki2 baju biru yang sudah dikenalnya itu.
Di serambi luar sana berdiri seorang lagi, dialah laki2 baju hijau berlengan besi beracun-Dari gaya dan letak duduk kedua orang ini jelas kedudukan perempuan cantik lebih tinggi, daripada laki2 baju biru, jadi orang yang barusan dia kuntit kiranya perempuan cantik rupawan ini?
Tengah dia men-duga2 didengarnya suara laki2 baju biru tengah berkata lantang.
"Bibi coh sampai menyusul kemari, entah GihU (ayah angkat) ada petunjuk apa?"
Perempuan cantik tertawa manis, katanya.
"Ayahmu menguatirkan dirimu, maka aku di suruh menyusulmu kemari."
"Kebetulan bibi coh kemari, ada urusan yang perlu kulaporkan-,"
Kata si baju biru. Mengerling kenes mata si perempuan cantik, tanyanya tertawa-manis.
"Kau ada urusan apa?"
"Di dekat Hoay-yang cayhe menemukan orang2 keluarga Un dari Ling lam ...."
"Un It-kiau maksudmu."
Laki2 baju biru melengak. katanya.
"Bibi coh juga melihatnya?"
"Masih ada yang lain?"
"Demikian juga orang ketiga dan ketujuh dari persaudaraan keluarga Tong."
Perempuan cantik mengangguk. katanya cekikikan.
"Ternyata kaupun telah melihat mereka, namun masih ada yang lain yang tidak ku sebutkan-"
"Masih ada orang dari golongan mana?"
Tanya si baju biru melenggong.
"Pihak Siau-lim."
"o,"
Laki2 baju biru tertawa.
"Kepala gundul itu hanya murid kelas tiga dari Siau-lim-si, sejak dari Loh-yang dia sudah menguntit kami, sudah kusuruh Hou Thi-jiu (si tangan besi) membereskam dia." -Rupanya si baju hijau bernama Hou Ti-jiu. Nyonya muda cantik itu cekikikan, katanya.
"Dian-toa siauya (tuan mudaDian), kukira kau melalaikansesuatu lagi, betultidak?"
Si baju biru melengak pula, katanya.
"Masih ada seorang bernama Ling Kun-gi, ilmu silatnya tinggi, sukar cayhe menemukan asal-usulnya."
"Ling Kun-gi?"
Perempuan cantik menepekur.
"Kalau Dian-toa siauya maksudkan ilmu silatnya tinggi, tentunya tidak salah lagi, cumaorangapakahdia?,Belumpernahaku melihatnya."
"Usianya baru likuran tahun, wajahnya cakap."
Berkelebat sinar aneh dan biji mata nyonya cantik itu, seperti tidak acuh dia berkata.
"Hanya seorang angkatan muda yang tidak ternama."
Mendadak dia tertawa serta menambahkan-"Yang kumaksudkan adalah Kim Kay-thay." . Berjingkraksibaju hitu, teriaknya."KimKay-thay jugadatang?"
"Dian-toa siauya tidak percaya? Sekarang dia berada diTing-sun-lau di kota That-hao"
Terkesiap hati Ling Kun-gi, batinnya.
"Lihay juga nyonya muda ini, jejak Kim-loyacu ternyata sudah diketahui olehnya."
Si baju hijau bersungut marah, katanya.
"Agaknya meluruk kemari lantaran aku, kalau tidak di-beri ajaran sekarang, bila sampai ketempat tujuan mungkin bisa menggagalkan usaha kita."
"Dian-toa siauya, ketiga rombongan orang2 ini sukar dilayani, jangan kita menghadapinya secara terang2an, Dian-toa siauya boleh silakan tetap urus tugasmu, soal ini serahkan padaku, kutanggung takkan terjadi apa2"
"Janji bibi coh amat meyakinkan, tidak perlu aku berkuatir"
Kata sibajubiru.
"Kalautiadaurusan lain, cayhe mohondiri saja."
Si baju biru memberi hormat, lalu dengan langkah lebar keluar dari ruang besar..Hou Thi -jiu masih berdiri di depan serambi, segera dia mengikuti langkah si baju biru.
Setelah si baju biru dan pengawalnya pergi jauh, Kun-gi hendak mundur secara teratur, tak terduga dalam sekejap saja si nyonya muda yang berada di ruang besar ternyata sudah menghilang.
Keruan ia terperanjat, batinnya.
"Kepandaian perempuan ini sungguh hebat, dari tempat tinggi sini akupun tidak melihat kapan dia berlalu? Kalau bertemu dia kelak aku harus hati2."
Pada saat itulah mendadak didengarnya seorang tertawa dingin di belakangnya. Menyusul sebuah suara merdu bergema di tepi telinganya.
"Berdiri-lah, ada pertanyaan yang akan kuajukan padamu."
Mendengar sutra orang, seketika mengkirik Ling Kun-gi, lekas dia berpaling, tampak nyonya muda rupawan itu sudah berdiri di belakangnya.
Wajahnya molek bak bidadari, air mukanya dingin seperti dilapisi saiju yang sudah membeku, sorot matanya tajam laksana pisau mengawasi dirinya.
Berdegup jantung Kun-gi, lekas dia kerahkan hawa murni melindungi seluruh Hiat-to dan membalik badan, katanya sambil tertawa tawar.
"Hebat benar Ginkang nyonya."
"Kau siapa? Siapa yang mengutusmu ke sini?"
Dingin pertanyaan si nyonya muda.
"cayhe kebetulan lewat,"
Ujar Ling Kun -gi.
"melihat sinar lampu, maka kucari ke sini."
"Sejak dari Thay-ho kau menguntit aku, kau kira aku tidak tahu? Kalau Hian-ih-lo-sat secero-boh yang kau duga, mana bisa aku berkecimpung di dunia persilatan?"
Kiranya bayangan orang yang Ginkangnya tinggi tadi adalah dia, julukannya ternyata "Hian-ih-losat" (setan buas berbaju merah).
"Betul, cayhe memang datang dari kota Thay--ho, kulihat bayangan nona berkelebat di depanku, gerak-gerikmu enteng dan cekatan, karena ketarik kususul kau kemari, untuk kesalahan ini mohon di maafkan,"
Lalu ia menjura. Hian-ih-lo-sat mencibir, katanya.
"Enak betul kau bicara"
"Maksud nona ......"
Suaranya dia tarik panjang sambil mengawasi tajam. Mendadak Hian-ih-lo-sat unjuk senynum manis menggiurkan, katanya.
"Aku ingin kau ikut aku."
"Ha, nona jangan berkelakar"
Hian-ih-lo-sat menarik muka, dengusnya.
"Selamanya tidak pernah aku berkelakar."
Menghadapi sikap Hian-ih-lo-sat yang sebentar tawa lain saat dingin ini, ragu2 hati Ling Kun-gi.
Pada saat dan berdiri melongo itulah, mendadak terasa olehnya seperti ada dua orang diam2 mendekati dirinya dari belakang.
Gerakan kedua orang ini amat cepat, waktu Kun-gi menyadari kehadiran mereka, jaraknya hanya setombak lebih, keruan ka-getnya bukan main, secepat kilat dia putar badan-Sekilas dilihatnya Hian-ih-lo-sat mengulum senyum sembari mengulap tangan, bentaknya lirih.
"Bukan urusan kalian" -Kejadian laksana kilat berkelebat, gerak membalik tubuh Kun gi sebetul-nya amat cepat. Tapi setelah dia membalik badan, yang dilihatnya dua sosok bayangan hitam secara bergegas berkelebat lenyap seperti hantu. Kembali mencelos hati Kun-gi, batinnya.
"Entah siapa kedua bayangan orang ini? Begitu cepat dan tangkas gerakannya."
Terangkat alis lentik Hian-ih-lo-sat, sekilas dia mengerling ke arah Kun-gi. sikapnya berubah ramah, katanya lembut.
"Baiklah, apakah kau menyamar? Kun-gi tidak meladani orang, dengan congkak dia berkata.
"Tiada yang perlu kubicarakan, maaf, aku pamit saja." -Kedua kaki menutul, tubuh terus melayang pergi.
"Tunggu sebentar,"
Hian-ih-lo-sat cekikikan.
"pertanyaanku belum kaujawab, kenapa terus per-gi?"
Seiring dengan suaranya, tiba2 dan ayun tangan kiri ke udara, dari lengan bajunya melesat ter-bang seutas bayangan halus dan meluncur ke arah kaki Kun-gi.
Kala itu badan Ling Kun-gi tengah terapung di udara, pada saat badannya hampir melampaui pagar tembok.
mendadak terasa kakinya seperti di tarik orang, badan yang meluncur tiba2 tertahan terus anjlok ke bawah tanpa kuasa.
Kesiur angin berbau wangi lantas merangsang hidung, tahu2 Hian--ih-lo-sat sudah melayang lewat di depannya, gerak-geriknya lemah gemulai bak tangkai bunga tertiup angin, katanya tertawa manis.
"Kenapa tidak jadi pergi?"
Begitu berhenti dan berdiri tegak.
langsung Kun--gi memeriksa kakinya, tapi tiada sesuatu perubahan, namun jelas waktu dirinya melompat ke atas tadi kaki terasa ditarik turun oleh sesuatu tenaga raksasa.
Tanpa terasa dia menjengek dingin, tanya-nya.
"Dengan apa kau membokong aku?"
Bersinar biji mata Hian-ih-lo-sat, katanya cekikikan genit.
"Kuserang kakimu dengan benang sutera merah."
Tiba2 tangan kanannya terayun pula.
"serrr", bayangan hitam halus yang hampir tidakkelihatan mendadak menyamberke batok kepalaLing Kun-gi. Jarak mereka amat dekat, melihat orang mendadak turun tangan, keruan kejutnya bukan main, tapi untuk berkelit sudah tidak sempat lagi, maka terasa ikat rambut di atas kepalanya seperti bergerak sedikit, kiranya senjata rahasia, orang telah mengenai gelungan rambutnya, keruan bertambah kejut hatinya. Terdengar Hian-ih-lo-sat tertawa, katanya.
"Jangan takut, kau tanya aku menyerang dengan senjata apa bukan? Kenapa tidak kau ambil danperiksasendirisaja?"
Kun-gi meraba gelung rambut sendiri serta menurunkan sebatang jarum sulam panjang se-tengah dim, di belakang lubang jarum terikat se-utas benang lembut warna merah, ujung benang yanglain masihterpegangditangan Hian-ih-to sat.Jaruminisangat lembut, namun seluruh batang jarum berwarna mengkilap.
terang pernah direndamdidalamracun.
Sekali sendal benang ketarik, jarum itupun mencelat balik dan ditangkap oleh Hian-ih-lo-sat, katanya berseri lebar.
"Sudah jelas bukan, jarumku ini mengandung racun, sedikit tertusuk saja segera darah keracunan dan kerongkongan akan tersumbat, tapi kau tidak usah kuatir, tadi aku hanya membentur jarum pada sepatumu, soalnya aku masih ingin bertanya padamu, maka jangan kau pergi."
"Apa yang ingin kau tanyakan?,"
Mata Hian-ih-lo-sat mengerling, katanya mesra.
"Banyak sekali, umpamanya siapa namamu, murid siapa ? Siapa mengutusmu kemari? Setelah kau jawab terus terang, kau boleh pergi."
"Tiada yang perlu kujelaskan-"
"Berani kaubandeldihadapanku? "
BentakHian-ih-lo-sat.
"Kenapa tidakberani,"tantang Kun-gi. Hian-ih-to sat ter-loroh2, katanya..
"Agaknya kau belum tahu siapa diriku?"
"Kenapa aku tidak tahu, kau adalah Hian-ih--lo-sat."
"Siapa yang memberitahu padamu?"
"Kau sendiri yang bilang tadi, kalau tidak da-rimana kutahu."
"Setelah tahu siapa diriku, tentunya kau tahu bahwa aku bertangan gapah dan berhati keji, dan sukar dilayani."
"Sungguh menyesal, baru sekarang aku men-dengarnya."
Hian-ih-lo-sat melenggong, mendadak dia tertawa, katanya.
"O, tampaknya kau ini masih pupuk bawang."
Merah wajah Kun-gi, katanya.
"cayhe tiada tempo buat mengobroldengan kau."
Cepat Hian-ih-lo-sat mengadang di depannya, katanya dingin.
"Sebelum kau bicara terus terang, jangan harap kau bisa pergi."
Bertaut alis Kun-gi, dia mendongak sambil ter-gelak2.
"Kalau aku mau pergi boleh pergi se-suka hatiku, siapapun tak dapat mengalangiku."
Alis Hian-ih-lo-sat menegak. suaranya ketus.
"Baik, cobalah"
"Nona ingin berkelahi?"
"Kau bukan tandinganku."
"Belum tentu."
Hian-ih-lo-sat angkat tangannya, jari2nya tampak putih halus, katanya.
"Marilah, boleh kau coba beberapa gebrak."
"Nona ingin menjajal kepandaianku, silakan nona turun tangan lebih dulu."
"Begitupun baik, bila kau mampu menyambut 10 jurus seranganku, boleh segera kau pergi,"
Berbareng tangan kiri terangkat, dengan enteng ia menepuk ke pundak Kun-gi.
Gerak tangannya se-perti menepuk laksana mencengkeram, aneh dan lihay, satu gerakan se-akan2 mengandung banyak perubahan-Ling Kun-gi menggeser ke samping, telapak tangan terangkat, ia siap melancarkan tipu Thian-g-wa-lay-bun(megatibadariluarlangit ) untuk menahan gerak serangan lawan-Tiba2 badan Hian-ih-lo-sat menubruk maju, telapak tangan kanan menabas iga kiri Ling Kun-gi.
Gerakan belakangan menyambung serangan tadi, sehingga tebasan ini menimbulkan kekuatan berlipat ganda.
Tanpa pikir, punggung telapak tangan kiri Kun-gi juga membalik, secepat kilat mengebas pergelangan tangan Hian-ih-lo-sat.
Terpaksa Hian--ih-lo-sat menarik kembali serangannya, maka telapak tangan Kun-gi yang sempat menyelinap masuk, gerakan ini dilandasi Lwekang tinggi, telapak tangan setajam golok dan mengeluarkan suara menderu, perbawanya tidak kalah hebatnya.
Agaknya tak pernah terpikir oleh Hian-ih-lo-sat bahwa lawan yang dihadapinya ini memiliki Lwekang dan kepandaian setinggi ini, sekilas dia tertegun, sebat sekali dia berkelit mundur, mulut menggerung gusar, teriaknya^"Taknyanakau berisi juga"
Setelah bergebrak dua kali, Kun-gi insaf bah-wa Hian-ih-lo-sat betul2 lawan tangguh, namun Hian-ih-lo-sat juga menyadari bahwa Ling Kun-gi memiliki ilmu silat yang tinggi diluar perhitungannya.
Begitu terpencar kedua orang terus menubruk maju lagi, tangan mereka bergerak turun naik dengan kecepatan luar biasa, dalam sekejap mereka telah saling serang pula tiga jurus.
Mendadak permainan Hian-ih-lo-sat berubah, gerakan tipunya menjadi aneh dan sukar ditebak arahnya, sehingga Kun-gi terdesak mundur ber-ulang2, hampir saja dia tak kuasa mempertahan-kan diri.
Meski terkejut, diam2 Kun-gi menghimpun semangat dan mengerahkan tenaga, sebat sekali ia balas menyerang, Lwekangnya memang tidak lemah, maka setiap gerakannya pasti menimbulkan pergolakan angin kencang, serangannya sukar terduga juga, entah tutukan atau pukulan telapak tangan, kadang2 keduanya dilancarkan bersama, perubahan banyak ragamnya, sukar dibendung lagi, Hlan-ih--lo-sat kena didesaknya mundur malah sehingga kedudukan tetap seimbang dan sama kuat.
Sejak mengembara di dunia persilatan, entah betapa banyak pertempuran sengit pernah dialami IHian-ih lo-sat, namun belum pernah dia melihat apalagi menghadapi gerak serangan tangan kosong seaneh Kun-gi sekarang ini, semakin tempur semakin terkejut hatinya, dengan gemulai tiba2 ia mundur dua langkah, kedua tangan melintang bersiaga, ta-nyanya sambil mengawasi Kun-gi.
"Siapa sebetulnya gurumu?"
"Guruku tidak suka diketahui orang, aku pantang menyebut namanya,"
Sahut Kun-gi. Bersungut marah Hian-ih-lo-sat, bentaknya.
"Jangan bertingkah dihadapanku, kau kira aku tidak bisa mengorek keterangan dirimu?"
Mendadak ia melompat maju, kedua tangan mencengkeram dengan jari2 bagai cakar.
Begitu lemas kedua lengannya seperti tidak bertulang, cengkeraman-nya ini mengandung lima-enam perubahan serangan mematikan, terutama kesepuluh ujung jarinya yang runcing, baunya amis, warnanya merah darah me-nyolok dan menggiriskan, bukan mustahil jari2 tangannyapun beracun cepat Kun-gi mundur setengah langkah, telapak tangan kanan terayun menjojoh dengan keras, tangan kiri menangkap dengan kecepatan luar biasa sasarannya adalah tangan kanan Hian-ih-lo-sat yang terkembang jari2nya.
Hian-ih lo-sat kaget seketika, cepat dia tarik tangannya.
Tak terduga perubahan gerakan, Ling Kun-gi teramat cepat, baru saja dia menarik tangan, kelima jari Kun-gi laksana cakar besi tahu2 sudah meny amber tiba meremas tulang pundaknya.
cepat Hiah-ih-lo-sat berkelit ke samping, ber-bareng telapak kanan membacok punggung tangan Ling Kun-gi, terdengar suara nyaring, tangannya berhasil menyampuk punggung tangan anak muda itu.
Tapi pada detik2 singkat laksana percikan api itu, tiba2 terasa oleh Hian-ih-lo-sat telapak tangan lawan telah membalik terus terangkat naik.
Dari telapak tangan Ling Kun-gi terdorong kekuatan luar biasa melalui lengannya, begitu keras getaran ini sampai lengannya terasa kesemutan, tanpa kuasa dia tergentak mundur tiga langkah.
Gebrakan ini berlangsung teramat cepat dan mereka sama menyurut mundur.
Terunjuk secercah senyum pada wajah Hian-ih-lo-sat, ia tatap Ling Kun-gi sekian lamanya, akhirnya ia menghela napaspelahantanyanya."KaubernamaLing Kun-gi, betultidak?"
Kun-gi melengak. sebetulnya dia ingin balas tanya.
"Darimana kau tahu?"
Namun dia lantas berpikir pula.
"Tadi si baju biru pernah memberitahu bahwa diriku biasa menggunakan tangan kiri."
Karena itu ia tertawa, katanya.
"Betul, cayhe memang she Ling."
Berkedip sepasang mata Hian-ih-lo-sat yang mempesona itu, mendadak dia cekikikan, katanya.
"Jangan kau anggap dirimu luar biasa, ketahuilah, punggung tanganmu sudah tergores luka oleh kuku jariku"
Sejak mula Kun-gi sudah tahu bahwa kuku orang rada ganjil, kemungkinan beracun, namun dia pura2 bodoh, katanya.
"Memangnya kenapa kalau tergores? Kau kira telah mengalahkan aku?" 06 Hin-ih-lo-sat angsurkan kedua tangannya, ke-sepuluh jari2nya yang putih halus itu pelan2 ter-angkat, katanya tertawa riang.
"Lihatlah kuku jariku"
Kuku jarinya yang terpelihara baik itu ternyata masing2 dicat warna berbeda, ada merah, putih, hijau, biru, ungu dan lain2, siapapun yang menyasikannya pasti ketarik.
"Kaupandai mainracun?"tanyaKun-gingeri.
"Syukurlah kalau kau tahu,"
Ujar Hian-ih-lo-sat.
"racun yang ada dikuku jariku ini cukup menggores luka kulit daging orang, kena pagitidak lewatsiang, kenasiang tidak lewatpetang,"
Tapi Kun-gi hanya mendengus.
"Hm, memang ganas, tak heran kau berjuluk Hian-ih-lo-sat."
"Aku telah melukai punggung tanganmu, nanti pasti kuberi obat penawar, namun ...."
"Tidakperlu,akutidaktakutsegala macamracun,"tukasKun-gi.
"Kalau begitu boleh silakan pergi."
"Baik, cayhe mohon diri,"
Dengan beberapa lompatan dia sudah berlari kencang menyusup ke-hutan-Sekaligus dia menuju kejalan besar, baru saja dia ayun langkahnya, tiba2 dibelakangnya seorang berteriak.
"Anak muda, tunggu sebentar"
Waktu Kun-gi berpaling, tidak jauh di belakangnya berlari sesosok bayangan tinggi besar, langkahnya enteng, seperti lambat gerakannya, namun kecepatan luncuran tubuhnya sungguh amat mengagumkan, se-olah2 kedua tapak kaki tidak menyentuh tanah.
Perawakan orang ini tinggi besar, wajahnya legam seperti besi, alisnya pendek gombyok.
matanya sipit, hidung singa mulut lebar, jubah warna kuning tua sudah luntur dan sepanjang lutut, kaki telanjang, tampang dan dandanannya sangat aneh, nyentrik.
kata orang jaman kini.
"Tuan memanggilku?"tanyaKun-gidengan angkuh. Bersinar tajam mata si gede menatap Kun-gi, katanya sambil manggut2.
"Kalau bukan aku, memangnya siapa lagi?" .
"Tuansiapa, adaperluapa memanggilcayhe?"tanyaKun-gi. Terkekeh si gede, katanya dengan suara rendah.
"Anak muda, besar nyalimu, menurut kebiasaan Lohu, kau hanya boleh menjawabtapitidakbolehbertanya, tahutidak?"
Melihat sikap orang yang sok berlagak tua, Ling Kun-gi menjadi geli, sikapnya semakin angkuh, katanya.
"Itukan kebiasaanmu sendiri, tuan tahu peraturanku?"
Terbeliak mata si gede, tanyanya.
"Kau juga punya peraturan segala?"
"Betul, menurut aturanku, peduli siapapun dia harus memperkenalkan namanya lebih dulu, setelah kupertimbangkan apakah dia setimpal bicara dengan aku barulah aku mau meladaninya,"
Sudah tentu omongannya ini sengaja hendak memancing kemarahan orang.
Tak terduga setelah mendengar uraian Kun-gi, bukan saja tidak marah, si gede malah ter-bahak2.
Gelak tawanya seperti suara gembreng pecah, begitu keras memekak telinga, semakin tawa suaranya semakin tinggi dan bergema laksana guntur menggelegar di lembah pegunungan-Sedikit berobah rona muka Kun-gi, dia berdiri tegak tidak bergeming, namun hatinya kaget dan membatin.
"Lwekang orang ini amat tinggi."
Lenyap gelak tawanya, mata sipit si gede melotot kereng dingin, katanya.
"Kita sama mengukuhi peraturan sendiri, nah mari kita tentukan peraturan siapa lebih berguna ?"
Pelan2 lengan kanannya terangkat, dari lengan bajunya yang longgar itu terjulur keluar sebuah tangan aneh berwarna kuning legam, kelima jarinya menekuk laksana cakar elang, setiap jari2 tumbuh kuku sepanjang satu dim, runcing dan tajam laksana pisau, kiranya itulah sebuah tangan tembaga.
Ling Kun-gi pernah melihat tangan besi Hoa Thi-jiu, bentuknya menyerupai cakar.
gunanya seperti alat senjata tajam umumnya, kelima jari2nya sudah tentu tidak bisa bergerak seperti jari2 tangan manusia umumnya.
Tapi tangan tembaga yang dilihatnya sekarang ternyata tak berbeda dengan tangan manusia umumnya, kelima jarinya dapat terkembang dan mencengkeram dengan leluasa.
Pada saat2 genting itulah, mendadak sebUnh suara merdu berseru dipinggir telinganya.
"saudara cilik, lekas mundur"
Kun-gi mengenali yang berseru memberi peringatan itu adalah Hian-ih-lo-sat, namun sebelum membuktikan apa yang akan terjadi, mana dia mau mundur?
la berdiri tegak tidak bergerak.
ia tunggu sampai cakar tembaga lawan yang aneh itu hampir mencengkeram dirinya, mendadak ia kerahkan tenaga pada telapak tangan kanan terus menangkis ke depan Gerak serangan tangan tembaga lawan memang pelan2, sedang tangkisan Kun-gi bergerak cepat, Tak tahunya begitu telapak tangannya menindih pergelangan tangan lawan terasa seperti membentur sebatang besi, sedikitpun tidak bergeming, cakar tembagaorangtetapbergerakpelan mengincarpundaknya.
Tangan kanan Ling Kun-gi yang menangkis terasa kesakitan, rasa linu kesemutan sampai menjalar ke atas pundak.
keruan kagetnya bukan kepalang, sungguh dia tidak habis mengerti bahwa sebuah tangan tembaga bisa begini lihay, cepat dia menarik napas sembari melompat mundur.
Si gede tidak mengejarnya, wajahnya menyeringai puas, matanya melirik ke arah hutan, bentaknya.
"Siapa itu di dalam hutan? Apa yang kau katakan kepada bocah ini?"
Tiba2 terendus bau harum terbawa angin lembut, waktu Ling Kun-gi menoleh, tahu2 Hian-ih-lo-sat sudah berdiri di sebelahnya.
"Untukapa kau kemari?"semprotsigede.
"Apa aku tidak boleh kemari?"
Hian-ih-lo-sat cekikikan, matanya mengerling tajam, tanyanya pula.
"Kau mengenalku?"
"Lohu tidak kenal,"
Ujar si gede. Hian-ih-lo-sat tertawa, katanya.
"Kau tak kenal aku, sebaliknya aku mengenalmu."
"Kau tahu siapa Lohu?"
"Kauadalah Lam-kiang-it-ki Thong-pi-thian--ong, betultidak?"
"Thong-pi-thian-ong (raja langit lengan tembaga) ? Tak pernah Suhu menyinggung nama orang ini"
Demikian Kun-gi ber-tanya2 dalam hati. Terbeliak mata Thong-pi-thian-ong, sesaat lamanya dia mengamati Hian-ih-lo-sat, katanya ke-mudian-"
Kaum persilatan di Tionggoan ternyata ada juga yang kenal Lohu." -Sampai di sini tiba2 dia manggut2, katanya pula.
"Baiklah, Lohu tidak akan berurusan denganmu, boleh kau menyingkir."
"Kalau aku mau pergi, takkan kumuncul di sini,"
Ujar Hian-ih-losat.
"Kau masih ada urusan apa?"
Thong-pi-thian--ong menegas. Hian-ih-lo-sat tidak menghiraukan pertanyaan orang, katanya berseri tawa kepada Kun-gi.
"Agak-nya kau memang tidak gentar pada racunku."
"cayhe tidak mati, kau merasa di luar dugaan?"
Ejek Kun-gi.
"Aku bermaksud baik, mengantar obat untukmu."
Merah muka Kun-gi, lekas dia menjura, katanya.
"Kalau begitu, aku yang salah paham."
"Syukurlah,"
Ujar Hian-ih-lo-sat, lalu menambahkan-"kau memang tidak keracunan, lekaslah pergi saja."
"Lohu tidak menyuruhnya pergi, siapa yang berani pergi?"
Bentak Thong-pi-thian-ong. Hian-ih-lo-sat cekikikan, katanya.
"Memang-nya kau tidak dengar, aku yang menyuruhnya pergi?"
"Nyonya sudah tahu julukanku, tapi masih bertingkah dihadapanku, memangnya kau sudah menelan nyali harimau."
"Betul, kalau aku tidak punya nyali, mana berani kusuruh dia pergi."
Lekas Kun-gi bersuara.
"Kalau cayhe mau pergi segerapun bisa pergi, peduli amat dengan orang lain"
Hian-ih-lo-sat mengedip seraya berkata dengan Thoan-im-jip-bit (ilmu mengirim gelombang suara).
"Thong-pi-thian-ong merajai Lam-kiang (wilayah selatan), saudara cilik, bukan aku merendahkan kau, tapi kau memang bukan tandingannya, biarlah aku mengadangnya sesaat, lekas kau pergi."
Jelilatan mata Thong-pi-thian-ong, teriaknya murka.
"Dihadapan Lohu, kalian berani main bisik2, apa yang kalian perbincangkan?"
"Kudesak dia lekas pergi,"
Ujar Hian-ih-lo-sat.
"Tidak boleh,"
Bentak Thong-pi-thian-ong.
"Bocah ini akan kutahan-"
"Untukapa kau menahannya?"
"Lohu ingin tanya seseorang kepadanya."
"Siapa yang kau tanyakan?"
Tanya Kun-gi.
"Hoan-jiu-ji-lay Di mana dia?"
"cayhe tidak tahu."
"Kau bukan muridnya?"
"Kalau benar mau apa?Jika bukan kenapa pula?"
"Waktu kau bergebrak sama dia tadi, jelas yang kau mainkan adalah ilmu ajaran bangsat gundul itu, memangnya Lohu salah lihat?"
Thong--pi-thian-ong terkekeh dingin-Ternyata dia menyaksikan beberapa jurus gebrakan Kun-gi melawanHian-ih-lo-sattadi, makadiamencegatnyadisini.
Kun-gi naik pitam mendengar orang memanggil gurunya 'bangsat gundul', katanya gusar.
"Memang tidak salah, beliau memang guruku, ada urusan apa kau mencari beliau? Boleh kau bicara saja dengan aku."
Mendengar Ling Kun-gi adalah murid Hoan-cjiu-ji-lay, tanpa terasa Hian-ih-lo-sat mengawasi lekat2. Thong-pi-thian-ong tergelak2, katanya.
"Ternyata betul kau murid bangsat tua itu, bagus sekali, lekas katakan, bangsat tua itu sekarang berada di mana?"
"Jejak beliau tidak menentu, tak mungkin cayhe menjelaskan,"
Sahut Kun-gi. Thong-pi thian-ong mendesak selangkah, katanya sambil menuding Kun-gi.
"Kau murid bangsat tua itu, masakah tidak tahu dia sembunyi di mana? Kalau tidak berterus terang, jangan salahkan Lohutidak memberiampunpadamu."
Kun-gi gusar, serunya.
"Anggaplah aku tidak mau menerangkan, kau bisa berbuat apa terhadap diriku?"
Thong-pi-thian-ong terkekeh2, jari2 tembaga yang runcing tajam tiba2 mencengkeram, hardik-nya beringas.
"Maka Lohu harus menahanmu, ka-lau yang cilik kuringkus, masakah yang tua tidak akan keluar dari kandangnya?"
"Nantidulu"
Lekasi Hian-ih-lo-sat mencegah. Tangan tembaga Thong-pi-thian-ong yang sudah terulur berhenti ditengahjalan, bentaknyasambilberpaling.
"Adaapakau?"
"Kau ingin mencari gurunya, kalau mampu pergilah cari sendiri, nama Thong-pi-thian-ong cukup beken, memangnya kau tidak malu berkelahi dengan anak murid orang?"
"Selamanya Lohu tidak peduli soal tetek-bengek. sudah 30 tahun Lohu mencari bangsat tua itu, kebetulan muridnya kebenturku di sini, betapapun Lohu takkan melepaskan dia pergi"
"Tidak bisa,"jengek Hian-ih-lo-sat.
"tadi aku sudah suruh dia pergi, maka dia harus pergi."
Mendelik Thong-pi-thian-ong, dengan gusar dia tatap Hian-ih-lo-sat, katanya ter-kekeh2.
"Nyonya muda, kau berani campur tangan . ."
Tangan yang bergerak dan sedianya hendak menye-rang Ling Kun-gi taditiba2bergerakpulapelan2 beralihke arahHian-ih-lo-sat.
Sementara itu Kun-gi sudah keluarkan pedang panjang dari buntalannya, hardiknya.
"Tahan"
"Kau mau ajak Lohu mencari gurumu?"
Tanya Thong-pi-thianong. Kun-gi berdiri kereng menenteng pedang, katanya.
"Soal ini tiada sangkut pautnya dengan nona ini. Tidak sukar membawamu menemui guruku asal kau bisa mengalahkan pedang ditangan-ku ....."
Thong-pi-thian-ong coba pandang pedang di tangan Ling Kun-gi, mendadak ia tertawa lebar, katanya dingin.
"Lohu ingin menahanmu, sudah tentu harus mengalahkan kau lebih dulu."
"Adik cilik,"
Seru Hian-ih-lo-sat.
"kau bukan tandingannya, lekas menyingkir."
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 3
Baca Juga: Jodoh Rajawali 12