Ceritasilat Novel Online

Bara Naga 9

Eps 9 Bara Naga - Yin Yong

Baca online Bara Naga - Yin Yong

Cersil Bara Naga - Yin Yong.

"Bilakah kiranya Tay-ciangbun akan kembali ke padang rumput?"

"Kukira besok bolehlah,"

Jawab Thi Tok-heng.

"Jika demikian, besok pagi2 Cayhe juga mohon diri untuk ...."

"He, Siang-lote dan Sebun-tangkeh telah membantu sepenuh tenaga kepada Busiang-pay, budi kebaikan kalian sama sekali tak tahu cara bagaimana harus kami balas. Maksudku mestinya hendak mengajak kalian bertiga ikut berkunjung ke padang rumput dan berdiam barang sebulan dua bulan di sana, mengapa sekarang Siang-lote ter-buru2 mau pergi?"

Siang Cin mengucap terima kasih, katanya.

"Soalnya kami sudah cukup lama meninggalkan kampung halaman masing2, Cayhe sendiri masih ada sedikit urusan pribadi yang harus diselesaikan, juga Sebun-tangkeh sudah lama melalaikan tugasnya sebagai pemimpin besar serikat seribu kuda (Jian-ki-beng). Selain itu kesehatan Kin-heng juga belum dapat sembuh dalam waktu singkat, untuk itu perlu dirawat dengan cermat, jelas tidak cocok untuk menempuh perjalanan jauh, maka kebaikan Tay-ciangbun biarlah kami terima di dalam hati saja. Kelak bila ada kesempatan, pasti kami akan berkunjung ke sana."

Thi Tok-heng tahu jiwa ksatria Tionggoan yang suka bicara terus terang itu, maka iapun tidak banyak omong lagi, hanya dalam hati ia merasa berat untuk berpisah, katanya pula.

"Bahwa kita harus berpisah secepat ini, sungguh hatiku, merasa tidak enak."

"Tay-ciangbun, tiada perjamuan yang tidak bubar, jika besok kita tidak berpisah, mana ada kemungkinan bertemu lagi dikemudian hari?"

Ujar Siang Cin. 411

"Baiklah, pada setiap kesempatan yang ada, hendaklah kalian, termasuk Kinheng, mau berkunjung ke tempat kami,"

Pesan Thi Tok-heng pula.

Segera Thi Tok-heng memberi perintah agar disediakan perjamuan, terutama arak supaya ditambah beberapa guci.

Dalam perjamuan tidak lupa Thi Tok-heng memberikan tanda mata kepada Siang Cin bertiga, di antaranya adalah semacam obat "Pek Wan", pil putih, konon pil ini buatan seorang tabib sakti di daerah Sinkiang, tabib sakti itu sudah meninggal dua puluh tahun yang lalu.

Pil ini selain dapat menyembuhkan berbagai macam luka luar dalam, juga sangat bermanfaat bagi kesehatan umumnya, mengembalikan tenaga muda dan memberi panjang umur.

Kalau pil ini diminum bersama kuah Jinsom, maka khasiatnya akan berlipat.

Sudah tentu Sing Cin sangat senang dan berterima kasih atas pemberian itu.

Dia tidak lupa membagi pil mujarab itu kepada Sebun Tio-bu dan terutama kepada Kin Jin yang terluka itu.

Iapun menyatakan maksudnya untuk berangkat pagi2, sebelumnya dia ingin mengunjungi Lok Bong-bu, Kin Jin dan lain yang terluka.

Kemudian akan diselesaikan pula urusan Giam Ciat dan Bwe Sim yang masih mendekam di tahanan itu.

Perjamuan yang sederhana tapi cukup semarak, yang paling banyak menenggak arak adalah Sebun Tio-bu serta Tiangsun Ki, hidangan yang disuguhkan adalah bawaan Bu-siang-pay sendiri dari padang rumput, namun begitu ternyata tidak ubahnya seperti hidangan di restoran yang paling besar.

-0-000-000--0-Menjelang dinihari, dengan diantar Sian Goan-kian, Siang Cin dan Sebun Tio bu menyambangi lain-lain dan tokoh Bu-siang-pay yang terluka dan sekaligus untuk mohon diri.

Luka Kin Jin cukup parah, tapi sudah ada kemajuan, apalagi setelah diberi minum pil putih pemberian Thi Tok-heng, jelas keadaannya tidak menjadi soal lagi.

Kemudian mereka menuju ke kamar tahanan.

Sesuai perintah Thi Tok-heng tadi, Ciang Heng dari Jit-ho-hwe sudah dibebaskan, tahanan yang masih mendekam di situ tinggal Giam Ciat, Bwe Sim, dan Giam Ciang saja.

Sedangkan Tio Jun dan Lo Sun telah dihukum mati.

"Bagaimana dengan Bwe Sim, apakah sudah siuman,"

Tanya Siang Cin. Menurut perkiraannya, setelah nona itu ditutuknya dengan ilmu Tiam hiat yang khas, lewat 12 jam dapatlah nona itu siuman dengan sendirinya.

"Tampaknya sekarang sudah mulai sadar,"

Jawab penjaga.

"Waktu digotong kemari matanya terpejam dan muka pucat, tanpa bergerak sama sekali, hamba sekalian mengira mayat yang dibawa ke sini."

Kamar tahanan itu tidak terlalu sempit, diterangi lampu minyak yang remang2.

Orang pertama yang terlihat oleh Siang Cin adalah Giam Ciat, hanya sehari saja keadaan janda kembang itu sudah berubah menjadi lebih layu, pucat dan lesu.

Rambutnya kusut, sorot matanya juga guram.

412 Di sebelah Giam Ciat berduduk bersandar dinding adalah seorang lelaki setengah baya, kelihatan kekar orang ini dan beberapa bagian tububnya terbalut kain putih, ada darah yang merembesi kain pembalut itu.

Sedangkan Bwe Sim, nona itu meringkuk sendirian di pojok sana, dia berduduk diam saja seperti patung, mukanya juga pucat tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan.

Sejenak Siang Cin memandang mereka, kemudian ia membuka suara dengan nada berat.

"Kedatanganku ini tiada maksud lain, hanya ingin ku katakan kepada kalian bahwa permusuhan yang terjadi itu harus menjadi tanggung-jawab kedua pihak, kalau permusuhan harus diselesaikan dengan kekerasan, maka cucuran darah jelas tak dapat dihindarkan, akibat daripada darah yang mengalir akan menambah mendalam pula permusuhan ini atau bisa juga lantas berakhir seluruhnya. Maka aku telah membicarakannya dengan Thi-tayciangbun, kumohon kan Bu-siang-pay suka membebaskan kalian, maksudku permusuhan lebih baik dihapuskan daripada terikat semakin mendalam. Dan sekarang permusuhan dapatlah diselesaikan dan tidak perlu ber-larut2 lagi. Aku hanya ingin menyampaikan maksud tujuanku ini, bagaimana kelanjutannya terserahlah kepada jalan pikiran kalian sendiri."

"Kau ini Naga Kuning?"

Tanya lelaki setengah baya itu dengan suara parau.

"Betul,"

Jawab Siang Cin.

"Dan kau ini tentunya To-hay-liong Giam Ciang?"

Orang itu tersenyum getir, katanya.

"Ya, rupanya Soh lian su-coat kini tertinggal aku sendiri saja ........

"Kau penipu, Siang Cin!"

Mendadak Giam Ciat berteriak dengan murka. Tentu saja Sian Goan-kian menjadi gusar, segera ia mendamperat.

"Giam Ciat, apa kau cari mampus, mulutmu hendaklah bersih sedikit, jangan kau lupakan, Siangtayhiap yang menyelamatkan jiwamu !."

Tapi Siang Cin lantas mencegah tindakan lebih lanjut Sian Goan-kian, ia tersenyum dan berkata.

"Nona Giam, apa dasarnya kau tuduh aku sebagai penipu?"

"Hm,"

Giam Ciat mendengus.

"dengan mulutmu yang manis itu, dalam waktu singkat kau dapat mengelabui kami."

"Nona Giam,"

Kata Siang Cin dengan tenang.

"kita berdiri pada pihak yang berlawanan, siasat perang tidak pautang tipu menipu. Bukannya aku menipu kau, tapi kalian yang kurang waspada."

"Huh, enak didengar ucapanmu. Padahal kaupun tidak perlu berlagak berbudi luhur dan menyelamatkan jiwa kami,"

Jengek Giam Ciat pula. Bila kau benar2 ingin mencegah permusuhan lebih mendalam, mengapa kau tidak menolong jiwa Jikoku?."

"Giam Ciat,"

Ucap Siang Cin sambil menggeleng.

"jalan pikiranmu ternyata suka ke-kanak2an. Kau tahu, di sini aku adalah tamu belaka. Yang lebih gawat lagi adalah Siang-jikomu itu telah membunuh tokoh penting Bu siang-pay, tentunya kau tahu pula adat dunia Kangouw, utang darah harus dibayar dengan darah. Bagiku, 413 memintakan ampun bagimu sudah berlebihan. Jadi kematian Siang-jikomu boleh dikatakan pantas pada tempatnya."

Air mata Giam Ciat tampak berderai, katanya dengan tersedu-sedan.

"Kau ... , kau tidak tahu betapa baiknya Jiko kepada ....kepadaku, tapi ..... tapi kalian telah membunuhnya di depanku dan aku sama ....sama sekali tak berdaya ...."

"Nona Giam,"

Kata Siang Cin.

"kukira sebelum berangkat dari Pek-hoa-kok menuju Ji-ih-hu untuk ikut serta dalam pertempuran ini, tentu kalian sudah siap menghadapi keadaan yang paling buruk. Peperangan memang kejam dan tidak kenal kasihan. Jangan kau harap akan mendapat kelonggaran daripadanya, bahwa peristiwa sedih itu sudah terjadi, itu memang sudah dalam dugaan, jika tidak terjadi, itu namanya beruntung,"

Jilid ke 20 Sampai di sini, lalu ia berpaling kepada Giam Ciang dan berkata.

"Sahabat, tentu kaupun paham jalan pikiran ini."

Muka Giam Ciang tampak berkerut-kerut, dengan suara parau ia menjawab.

""Siang Cin, tidak perlu nasehatmu. Selama puluhan tahun berkecimpung di dunia Kangouw, pengalamanku kiranya tidak lebih sedikit daripadamu......Dan sekarang, pudarlah segala angan2ku yang muluk2 . ...Sepulangnya di Pek hoa kok, selamanya aku akan mengasingkan diri dan takkan ikut campur urusan tetek bengek lagi ... .. ."

"Kukira itu jalan yang paling baik, sahabat,"

Ujar Siang Cin lalu ia berpaling kepada Bwe Sin dan berkata.

"Dan kau nona Bwe, kaupun boleh bebas untuk pergi."

Mendadak sorot mata Bwe Sin mencorong terang dan menatap Siang Cin setajam sembilu, katanya.

"Kau sungguh baik hati Siang Cin."

"Kuharap di antara kita akan lebih baik jika tidak saling bermusuhan ....."

Ucap Siang Cin dengan tenang.

"Jangan bermusuhan, setelah kau membunuh ayah angkat dan ke enam pamanku? Setelah kau hancurkan Tiang hong pay kami dan menipuku?"

"Kau tahu, kita berdiri di pihak berlawanan, ayah angkat dan pamanmu ingin membunuhku, jika aku tidak membunuh tentu akan terbunuh, kau kira cara bagaimana harus bertindak kepada mereka?"

"Dendamku kepadamu sedalam lautan, Siang Cin."

"Jangan bodoh nona Bwe, kau bukan tandinganku. Adalah menjadi kebiasaanku tidak mengampuni orang yang memusuhi diriku."

"Jika begitu, akan lebih baik kau bunuh diriku saja sekarang, babat rumput sampai akar2nya."

"Kau tahu aku takkan membunuh kau, kalau tidak, untuk apa ku buang waktu dan tenaga lagi? Nona Bwe, aku tidak meminta pengertianmu atas diriku, aku cuma 414 ingin mengatakan padamu bahwa nasib mujur dan pengampunan takkan datang berulang2 atas dirimu."

Dengan rasa benci Bwe Sim mengangguk, katanya.

"Ya, akupun ingin memberitahu padamu, bilamana aku dapat pergi dengan hidup, pada suatu hari pasti akan kucari kau, akan kubunuh kau dan ...."

"Perempuan hina!"

Sian Goan kian meraung murka, segera ia lolos goloknya dan hendak melabrak Bwe Sim.

Sebun Tio bu juga lantai mencaci maki atas sikap Bwe Sam yang tidak tahu diri itu.

Tapi Siang Cin lantas mencegah tindakan mereka, katanya.

"Nona Bwe, apakah betul kau bertekad begitu? Apakah kau tidak kuatir aku mengingkari janji sekarang dan bertindak padamu. Kau tahu untuk ini hampir tiada kesukaran bagiku."

"Kau boleh bertindak sesukamu Siang Cin, aku tidak gentar,"

Jawab Bwe Sim tanpa gentar. Kembali Sebun Tio bu berjingkrak gusar, begitu pula Sian Goan kian hendak menghajar lagi si nona. Namun Siang Cin menggeleng kepala dan mencegah pula, katanya.

"Sudahlah, bebaskan dia saja!"

"Siang heng,"

Teriak Sebun Tio bu.

"apakah kau sudah keblinger, mengapa bebaskan dia jika keparat ini tetap tidak mau menyadari dosanya? Apakah kau tidak salah ...."

"Bisa jadi aku salah, tapi biarlah ...."

Kata Siang Cin. Dengan dingin Bwe Sim berkata.

"Aku tidak berterima kasih kepadamu, Siang Cin."

Siang Cin tersenyum, katanya.

"Ingat pada perkataanku, aku tidak membunuh kau dan juga tidak memerlukan terima kasihmu. Aku merasa kau bukan pemeran pokok dalam pertempuran yang banyak menimbulkan banyak korban ini. kau hanya atas perintah dan ikut2an saja, malahan kaupun sudah membantu kelancaran usahaku, makanya kuberi jalan hidup bagimu. Ku tahu kebebasanmu akan merugikan diriku sendiri, tapi aku tidak menyesal, apabila kau tetap akan memusuhi aku, itulah hakmu, akan kutunggu kapan dan di manapun juga. Tapi kau harus yakin benar2 akan dapat mengalahkan aku, kalau tidak, maka nasibmu akan tamat juga pada saat itu ....Nah. sekarang boleh silahkan pergi semua!"

Bwe Sim mendongak dengan angkuh, jengeknya.

"Akan kuingat baik2 ucapanmu ini, Siang Cin."

Habis berkata ia terus melangkah keluar tanpa menoleh disusul oleh Giam Ciang dan Giam Ciat.

415 Waktu lewat di samping Siang Cin, mendadak Giam Ciang berhenti dan menatap Siang Cin lekat2, sampai lama barulah ia bersuara parau.

"Terima kasih, Naga Kuning!"

Siang Cin hanya membalasnya dengan tersenyum tanpa berucap.

Sorot mata Giam Ciat juga menampilkan perasaan aneh.

Sesaat itu Siang Cin merasakan perasaan aneh pada pandangan kakak beradik itu, yaitu terima kasih, merasa utang budi dan ketulusan hati.

Siang Cin memandangi bayangan mereka yang akhirnya lenyap di kejauhan sana.

Sebun Tio bu menggeleng, katanya.

"Siang-heng, lihat saja nanti, pasti akan datangkan kesukaran bagimu gara2 pembebasan budak hina tadi."

Dengan tak acuh Siang Cin tersenyum, ucapnya.

"Bisa jadi begitu. Tapi kukira dia juga akan berpikir, akupun bukan orang yang sering mengampuni orang."

Setelah memandangi sekelilingnya, lalu ia berkata.

"Kukira kitapun keluar saja, permainan di sini sudah berakhir."

Memandangi malam yang kelam, tiba2 Sebun Tio bu berkata.

"Fajar akan tiba tak lama lagi, apakah pagi2 kita akan terus berangkat?"

Siang Cin mengangguk.

"Dan bagaimana dengan Kin heng?"

Tanya Sebun Tio bu pula setelah termenung sejenak.

"Sudah tentu Kin heng berangkat bersama kita, akan kita antar pulang ke Tan ciu,"

Jawab Siang Cin.

"Kemudian?"

"Tentu kaupun harus pulang kandang dan menjenguk Jian ki beng yang sudah lama kau tinggalkan itu!"

Sebun Tio bu tertawa, ucapnya.

"Siang heng, bicara sesungguhnya, memang ada niat ku undang engkau berkunjung ke tempatku itu sekadar melihat bagaimana aku menjadi `raja` di sana."

"Tentu saja aku berkunjung ke tempat Sebun-tangkeh, cuma untuk sementara waktu mungkin tak dapat terlaksana ...."

"Memangnya kenapa?"

Tanya Sebun Tio bu.

"Aku masih harus menjenguk beberapa kawan lamaku, mereka terluka dan sedang dirawat, sudah sekian lama kutinggalkan mereka. pula . ...Ciciku juga sedang menantikan kedatanganku."

"Cicimu?"

Sebun Tio bu melenggong.

"Kau mempunyai seorang Cici (kakak perempuan)! Baru sekarang kudengar. aneh ....Apakah kakak kandung, Siang heng" 416

"O, bukan, kakak angkat, tapi tiada ubahnya seperti kakak kandung,"

Jawab Siang Cin dengan tertawa.

"Baik,"

Seru Sebun Tio bu sambil berkeplok.

"akan kuiringi kau ke sana dulu, habis itu kita boyong teman2mu itu berkunjung ke tempatku. Kita harus berkumpul dengan baik selama lima tahun atau sepuluh tahun ......."

"Wah, apakah takkan mengganggu dan membikin bangkrut padamu?"

Ujar Siang Cin.

"Busyet,"

Seru Sebun Tio bu dengan tertawa.

"Ribuan orang saja tak pernah membikin bangkrut, hanya ketambahan beberapa orang saja apa artinya. Nah, jadi sudah pasti kalian harus ikut ke sana?"

Siang Cin tertawa, katanya.

"Tapi kukira masih ada urusan lain lagi yang harus ku selesaikan."

"Urusan apapun, pokoknya aku telah pergi bersamamu,"

Seru Sebun Tio bu. Tiba2 Sian Goan kian menyela.

"Bilamana diperbolehkan, sesungguhnya Tecu juga ingin ikat pergi bersama kalian."

"Jangan kuatir saudaraku, kesempatan masih banyak di kemudian hari,"

Ujar Sebun Tio bu sambil menepuk bahu orang.

"Siang susiok dan Sebun tangkeh,"

Kata Sian Goan kian pula dengan perasaan berat.

"apapun juga, kelak kalian harus berkunjung ke padang rumput, segenap anggota Bu siang pay sangat mengharapkan kehadiran kalian."

"Jangan kuatir, kami pasti akan datang,"

Jawab Siang Cin dengan tersenyum. Lalu ia mendongak memandang langit yang masih kelam, gumamnya.

"Sudah beberapa malam kita tidak tidur dengan baik, kukira bolehlah kita istirahat sekarang dan esok pagi2 dapatlah kita berangkat ....."

O0u 000 000 Di atas sebuah bukit kira2 belasan li di luar Toa ho tin, Siang Cin dan Sebun Tio bu bertengger di atas kuda masing2 sedang memandangi barisan panjang pasukan berkuda berseragam putih yang sedang menuju ke utara.

Angin meniup men deru2 dingin, kain putih berkibar disertai gemilapnya gelang emas di kepala, para pahlawan gagah berani itu sedang menuju pulang ke padang rumput.

Sayup2 terdengar suara terompet yang mengharukan diselingi ringkik kuda, jauh di belakang sana asap tebal mengepul tinggi di angkasa, api sedang berkobar membakar Ji ih hu.

417 Suara gegap gempita kemarin, suara pembunuhan dan banjir darah, kini telah lenyap.

Sebagai gantinya adalah suasana yang hening dengan puing2 yang berserakan.

"Semuanya sudah berlalu, mereka sudah berangkat, Siang heng,"

Kata Sebun Tio bu dengan terharu.

"Ya, tiada perjamuan di dunia ini yang tidak bubar,"

Ujar Siang Cin.

"Marilah Sebun tangkeh, kukira Kin heng sudah tidak sabar menunggu di dalam kereta sana."

Di kaki bukit sana ada sebuah kereta kuda, di situlah Kin Jin berbaring karena lukanya belum sembuh.

Kuda kesayangannya tertambat di samping kereta.

Di bawah pengawalan Siang Cin berdua, tanpa kesukaran apa2 sampailah mereka di Tan-ciu, tempat kediaman Kin Jin.

Kin Jin adalah tokoh yang sangat menonjol di daerah ini, hampir setiap orang dari orang tua sampai anak kecil tahu nama Kim lui jiu Kin Jin, terkenal karena keluhuran budinya, karena baik hatinya.

Seperti halnya rakyat jelata di setiap tempat yang suka menonjolkan sesuatu atau hasil setempat yang terkenal, umpamanya Hami dengan semangkanya yang semanis madu, Turfan dengan anggurnya.

Peking dengan bebek panggangnya, maka di Tanciu nama Kim lui jiu hampir menjadi buah bibir setiap orang.

Rumah tinggal Kin Jin adalah sebuah gedung yang mentereng dan halaman yang luas.

Sesudah Kin Jin diserahkan kepada anak buahnya yang akan merawatnya, Siang Cin dan Sebun Tio bu untuk sementara juga ditahan oleh Kin Jin agar suka tinggal beberapa hari di situ.

Tapi sekali tinggal, tanpa terasa sepuluh hari sudah lalu, selama beberapa hari itu salju juga turun dengan lebatnya.

Sudah tentu dandanan Siang Cin sekarang sudah kembali pada gayanya yang semula, dengan jubah kuningnya yang khas, rambut terikat indah dengan ikat kepala warna hitam.

Muka bersih, gigi putih, gagah dan tampan, ia telah kembali pada gaya aslinya yang menggiurkan setiap gadis.

Pagi hari ke sebelas, Siang Cin duduk di ruangan tamu dan sedang menghangatkan badan di tepi tungku.

Di depannya sebuah meja kecil dengan satu poci arak dan dua tiga macam nyamikan.

Di luar bunga salju berhamburan menyelimuti pepohonan yang gundul.

Selagi Siang Cin menghirup araknya, tiba2 pintu terbuka dan masuklah Sebun Tio bu dengan langkah lebar.

Begitu melihat Siang Cin, segera ia berseru.

"Aha, nikmat juga kau minum arak sendirian, pantas kau menjadi lupa kepada Cicimu dan tidak ingin pulang lagi."

"Duduklah Sebun tangkeh, memang sedang kupikirkan urusan ini,"

Kata Siang Cin.

"Kupikir besok juga aku akan mohon diri kepada Kin heng, kulihat kesehatannya sudah tambah baik dan mungkin tidak berbahaya lagi."

"Besok? Aha, bagus sekali,"

Seru Sebun Tio-bu.

"Sesungguhnya akupun sudah rindu kepada anak buahku yang sudah lama kutinggalkan itu. Besok pagi2 kita 418 berangkat, lebih dulu menjemput Cici dan kawanmu itu, lalu pergilah ke tempatku sana. Terus terang, biarpun tempatku itu tidak mentereng seperti rumah Kin heng ini, tapi juga mempunyai gayanya sendiri, pula tempatnya lebih luas, pemandangan juga tidak kurang indahnya, kukira engkau pasti akan kerasan di sana."

Siang Cin mengucap terima kasih. Lalu ia termangu2 dan memandang jauh keluar sana. Sebun Tio bu memandangi kawan ini dengan lekat2, tiba2 ia tertawa dan berkata.

"Siang heng, kukira engkau sedang mengenangkan Cicimu itu? Apakah sejak kau terjun membantu Bu siang pay. Cicimu dan kawanmu itu kau tinggalkan di Tay goan-hu?"

"Betul,"

Jawab Siang Cin dengan tersenyum.

"Kukira Cicimu itu tentu ......tentu sangat cantik bukan?"

Siang Cin mengangguk.

"Ya, cukup cantik."

Sebun Tio bu tertawa, katanya pula.

"Dan kukira hubungan kalian pasti juga sangat akrab, tentunya dia juga sangat sayang padamu ... , ..Apakah hubungan kalian tidak lebih dari itu, misalnya kalianpun saling mencintai?"

"Ya. memang ......memang dalam hati kami cukup memahami perasaan masing2,"

Jawab Siang Cin terus terang setelah ragu2 sejenak.

"Aha, pantas engkau suka ngelamun, kiranya merindukan sang Cici,"

Goda Sebun Tio bu dengan tertawa.

"Maka kukira kita harus lekas berangkat saja besok, aku menjadi ingin melihat bagaimana bidadari kita yang berhasil menawan hati jagoan kita ini."

Siang Cin tidak menjawab, hanya sorot matanya saja tampak mencorong terang, ia angkat poci dan menuangkan arak bagi Sebun Tio bu.

"Aku menjadi heran juga, jika kalian benar2 saling menyukai, mengapa kalian belum lagi menikah? Haha, jika Naga Kuning sudah berkeluarga, inilah peristiwa besar yang sukar dibayangkan"

"Ya, hal ini juga pernah ditanyakan orang kepadaku ...."

Tutur Siang Cin sambil memejamkan mata seperti mengenangkan masa lalu.

"Bila teringat, aku sendiripun rada2 terharu ....memang, mengapa kami tidak menikah saja?!"

"Dapatkah kau jelaskan?"

Tanya Sebun Tio bu.

"Memang ada beberapa sebabnya,"

Jawab Siang Cin.

"Ada alasan yang nyata, tapi ada juga yang tidak berwujud ... ."

"He, perduli apa alasannya, jika suka lama suka, kenapa mesti urusan tetek bengek lagi?"

Seru Sebun Tio bu.

"Sudahlah, pokoknya bila sudah berada di tempatku nanti, segera akan kupersiapkan hari bahagiamu, semuanya kujamin 419 beres, kalau sudah jelas sama2 suka, kenapa pakai banyak alasan lagi?"

Siang Cin seperti mau omong apa2 pula, tapi tidak jadi.

Apa yang dikatakan Sebun Tio bu memang betul, selama ini dia selalu terikat dan dirisaukan oleh hal2 yang mestinya tidak perlu dihiraukan itu.

Ucapan Sebun Tin bu memang tepat, ia harus melupakan hal2 yang telah lalu, melupakan kejadian dahulu, bersihkan bayangan gelap yang selalu menutupi pikirannya.

000 000 Tay goan hu, kota yang dituju tampak di depan sana.

Tidak jauh di luar kota itu ada sebuah rumah yang sederhana dan serba tenang, halaman luas dengan pagar bambu.

Di sekelilingnya adalah hutan bambu dan sebuah sungai kecil menyusur samping perkampungan itu.

Air sungai sudah membeku, sebuah jembatan kecil menghubungkan jalan masuk ke perkampungan.

Waktu itu sudah dekat magrib, dua ekor kuda tampak membedal tiba dengan cepat, terdengar suara derap kaki kuda itu berdetak-detak memecah kesunyian alam sekeliling.

Kedua ekor kuda itu yang satu putih mulus dan yang lain berbulu loreng, di musim dingin begini napas yang dihembuskan kuda itu tampak seperti kabut, badan juga bermandikan peluh, jelas kuda2 itu telah mengalami perjalanan yang cukup jauh dan lama.

Kedua penunggang kuda itu tampak gagah perkasa, mereka adalah Cap pi kun cu Sebun Tio bu dan si Naga Kuning Siang Cin.

Mereka langsung melarikan kudanya ke jurusan perumahan ini, yang tinggal di rumah ini tak lain tak bukan adalah sahabat Siang Cin yang sudah lama berpisah, yaitu "Dua potong kayu"

Pau Seh hoa serta An Lip dan kekasihnya yang pernah mendapat pertolongan Siang Cin, selain itu ada lagi Kun Sim ti.

"Cici angkat"

Yang dirindukan Siang Cin itu"

Pada waktu sebelum Siang Cin berangkat membantu Bu siang pay menyerbu Hek jiu tong di Pi-ciok san, ketika lewat kota Tay goan hu, di situ Siang Cin meminta Pau Seh hoa dan lain2 supaya berdiam saja di perumahan sederhana ini.

Waktu mereka sama terluka parah dan perlu dirawat.

untuk itu tentu saja diperlukan waktu yang cukup lama.

Tapi Siang Cin tidak menyangka kepergiannya akan makan tempo sepanjang ini, namun begitu di mana dan kapanpun juga Siang Cin tidak pernah melupakan kawan2 baiknya serta Cici angkat yang sedang menunggu kembalinya itu.

Perjalanan dari Tanciu ke sini memakan waktu hampir sepuluh hari, inipun sudah cepat, sedemikian cepatnya sehingga Sebun Tio bu kepayahan di tengah perjalanan.

Akan tetapi Siang Cin tetap penuh semangat dan tentu juga tidak sabar, dia hampir2 lupa tentang lapar dan lelah.

Diam2 Sebun Tio bu tertawa, ia dapat memahami perasaan kawannya ini, iapun mengerti bagaimana perasaan seorang yang merindukan kekasih.

420 Dari jauh mereka sudah melihat rumah yang tenang itu, terharu hati Siang Cin setelah dekat dengan rumah itu.

Jantungnya mulai berdebar, darahnya mengalir terlebih cepat, sampai2 tangan yang memegang tali kendali juga rada gemetar.

Mendadak ia mengendurkan lari kudanya.

Sebun Tio bu terlanjur membedal kudanya beberapa tombak ke depan, habis itu barulah ia menahan kudanya.

"He, apa2an kau ini?"

Serunya sambil menoleh.

"Dari jauh kau melarikan kudamu seperti diuber setan, sesudah dekat kau malah bermalas-malasan. Haha, memangnya apalagi yang sedang kau pikirkan? Kau hendak membuat kejutan?"

Akan tetapi Siang Cin tidak perlu lagi membikin kejutan, sebab pada saat itu kedatangan mereka sudah dilihat oleh An Lip yang kebetulan sedang berkebun di depan rumah.

Dari jauh An Lip dapat mengenali Siang Cin, segera ia berlari ke dalam rumah dan berkaok-kaok memanggil Pau Seh hba dan Kun Sim ti..Maka ber ramai2 mereka menyongsong keluar, dengan sendirinya termasuk pula Tio Peng ji, tunangan An Lip, Pau Seh hoa sengaja mengalangi An Lip berdua dan membiarkan Kun Sim ti berada di paling depan.

Hanya sekejap saja Siang Cin dan Sebun Tio-bu sudah mendekat dan berada di seberang jembatan kecil..

Melihat Kun Sim ti, segera Sebun Tio bu berpaling ke arah Siang Cin sambil manggut2 sebagai tanda memuji.

Dengan mengembeng air mata terharu Kun Sim ti memandang lekat2 ke depan, Untuk sekian lamanya Siang Cin tertegun di atas kudanya, kemudian ia melompat turun dan melangkah ke atas jembatan, sorot matanya juga tidak pernah bergeser dari wajah Kun Sim ti yang molek itu, ia mempercepat langkahnya sambil memanggil.

"Ci ....."

"O, adikku ....."

Dengan suara gemetar Kun Sim ti sempat menyebut kata itu, lalu tidak sanggup meneruskan lagi, tenggorokan serasa tersumbat dan air matapun bercucuran.

la memburu maju memapak Siang Cin.

Segera pula Siang Cin memegang tangan si nona dengan erat dan merangkulnya dengan mesra.

Seluruh badan Kun Sim ti serasa lumpuh, ia membenamkan kepalanya di dada Siang Cin, sampai sekian lamanya ia tidak dapat mengucapkan apa2.

Akhirnya ia mendongak dan menatap Siang Cin, sorot matanya yang penuh kasih mesra itu cukup mewakilkan mengutarakan segala isi hatinya.

"Maafkan Ci, sampai sekian lama kutinggalkan kau, akulah yang menambah beban pikiranmu"

Kata Siang Cin dengan terharu.

"Tapi percayalah, siang dan malam tak pernah kulupakan dirimu percayalah rinduku padamu yang senantiasa menggoda hatiku..."

Kun Sim ti tersenyum dengan air mata meleleh di pipinya, ucapnya.

"Ya, kupercaya, percaya sepenuhnya. Sejak di penjara Jing siong san ceng, di mana 421 engkau menyatakan cintamu padaku, sejak itu hatiku sudah kuserahkan padamu sepenuhnya ....Dik. apapun yang akan kau lakukan, apapun yang akan kau perbuat atas diriku, selamanya aku takkan ragu sedikitpun."

Siang Cin mendekapnya lebih erat, katanya.

"Kak ....bagaimana perasaanku padamu kiranya tidak perlu lagi kulukiskan dengan kata2 ....."

"Ku tahu, dik, kupercaya ...."

Ucap Kun Sim ti dengan suara lembut dan hampir tak terdengar.

Lama sekali mereka termangu-mangu dan lupa kepada keadaan sekitarnya.

Dengan menyeret sepatunya yang butut Pau Seh hoa lantas mendekati mereka dan menepuk pelahan bahu Siang Cin sambil menegur.

"He, Kongcu-ya, kukira sudah cukup kalian bermesraan, tapi kawan lama dan masih ada pula tamu yang ikut datang dari jauh masakah sama sekali kau lupakan."

Siang Cin tersentak kaget, cepat ia melepaskan Kun Sim ti dan berpaling, mukanya tampak merah jengah, katanya.

"He, Lo Pau, baik2kah kau? ...."

Pau Seh hoa menyengir, jawabnya.

"Hah, masakah kau masih ingat padaku? Kau pergi dan mengendurkan otot sepuasmu, tapi seluruh beban di sini kau taruh di atas pundakku, rasanya aku bisa mati nganggur di sini."

"Lo Pau,"

Kata Siang Cin sambil memegang pundak sang kawan.

"bicara sesungguhnya, aku harus berterima kasih kepadamu yang telah menjaga Kun cici dan An Lip berdua."

"Sudahlah, tidak perlu kau bermulut manis lagi padaku, mulut manismu lebih tepat kau berikan kepada Kun cicimu, begitu mesra, sampai lupa teman dan lupa tamu kita yang masih kau telantarkan."

Karena omelan Pau Seh hoa ini barulah Siang Cin ingat kepada Sebun Tio bu yang masih berdiri di seberang jembatan sana.

Cepat ia menggapainya sambil memanggil.

Dengan tersenyum Sebun Tio bu melompat turun dari kudanya dan menghampiri mereka.

Baru sekarang Siang Cin sempat memperkenalkan mereka satu persatu.

"Aha, kiranya Sip pi kun cu Sebun tangkeh, sudah lama kudengar nama kebesaranmu, Juragan besar Jian ki beng memang nyata lain daripada yang lain,"

Sera Pau Seh hoa sambil memberi hormat, Sebun Tio bu membalas hormat dan menjawab.

"Ah, nama Pau heng juga sudah sering kudengar dari Siang heng. Bahwa Pau heng adalah sahabat sehidup semati Siang heng, maka maaf jika akupun ingin menyatakan bahwa sahabat karib Siang heng sama juga dengan sahabat baikku."

"Terima kasih atas penghargaan Sebun tangkeh kepada diriku yang rudin ini, selanjutnya masih banyak diharapkan petunjuk Sebun tangkeh." 422 Lalu An Lip dan Tio Peng ji juga saling memberi hormat dengan Sebun Tio bu, Siang Cin menggentak-gentakkan pundak An Lip, katanya dengan tertawa.

"An heng, lukamu ternyata sudah sembuh sama sekali. Selama beberapa bulan ini tentu kau sudah tidak sabar menunggu lagi, kukira sudah waktunya kalian ......"

"Huh, tidak perlu kau bakar mercon setelah upacara selesai,"

Omel Pau Seh hoa dengan tertawa.

"Ketahuilah, adik Kun dan aku sudah mengambil keputusan sendiri di luar tahumu dan menikahkan mereka secara resmi bulan yang lalu"

"Mereka sudah menikah dengan resmi?"

Siang Cin jadi melengak.

"Maaf, mestinya kami ingin menunggu sampai kepulangan In-kong, tapi Pau cianpwe tetap menghendaki kami menikah secepatnya mengingat di tempat ini jauh dari keramaian dan tidak perlu mempersoalkan adat kebiasaan segala dan kamipun ......"

Belum habis An Lip menutur, dengan tertawa Siang Cin lantas menyela.

"Bagus, bagus sekali, memang selayaknya kalian harus lekas terikat lahir batin agar seterusnya bisa hidup dengan lebih mantap hingga tua, tentang ada atau tidak adanya kehadiranku, kukira tidak menjadi soal. Malahan kupikir kadoku untuk perkawinan kalian masih harus ku susulkan ...."

"Ya, dan juga kadoku,"

Sambung Sebun Tio bu dengan tertawa. An Lip dan Tio Peng ji menjadi ter sipu2, cepat mereka mengucapkan terima kasih.

"Eh, bicara punya bicara, kenapa kita hanya berdiri saja di luar sini, hayolah silahkan masuk semua ke dalam rumah,"

Tiba2 Pau Seh hoa berseru.

"Marilah, Sebun tangkeh, akan kuiringi kau, sebentar kita harus habiskan sepuluh kati arak bersama. Masih ada satu guci simpananku akan kukeluarkan.

"An Lip, suruhlah binimu buatkan beberapa macam daharan yang lezat, malam ini kita harus mengadakan perayaan ulangan."

An Lip dan Peng ji mengiakan bersama, An Lip lantas menuntun kuda ke belakang rumah dan isterinya berlari ke dapur.

Pau Seh hoa lantas menggandeng Sebun Tio-bu ke dalam rumah, tampaknya mereka sudah seperti kenalan lama saja.

"Kak, marilah kitapun masuk saja,"

Ajak Siang Cin sambil menggandeng tangan Kun Sim ti. Si nona setengah menggelendot di tubuh Siang Cin, ucapnya dengan tersenyum.

"Kawanmu itu sungguh sangat terbuka wataknya dan tidak suka berpura-pura.

"Betul, dia dan Lo Pau adalah suatu pasangan yang cocok, sama2 suka bicara secara blak2an, memandang kejahatan sebagai musuh, dengan cepat mereka pasti 423 dapat menjadi sahabat yang karib. Waktu beromong-omong di tengah perjalanan, dia juga banyak memberi dorongan padaku ...."

"Dorongan apa?"

Tanya Kun Sim ti ketika Siang Cin mendadak tidak melanjutkan ucapannya. Siang Cin menunduk memandang si nona sekejap, katanya kemudian.

"Mengenai kita berdua. Dia malah mengomeli diriku, katanya aku brengsek, penakut ...."

"Mengapa dia muring2 begitu?"

"Dia anggap aku kurang tegas, kalau sudah saling mencintai mengapa tidak berani menyatakan cinta yang suci ini sehingga banyak waktu terbuang percuma ...."

Dengan sayu Kun Sim ti berkata.

"Dik, ku tahu ....mungkin aku memang tidak setimpal bagimu ... ."

Mendadak Siang Cin memegang bahu si nona dan berhadapan muka serta memandangnya lekat2, sejenak kemudian barulah ia berkata.

"Ci, mengapa kau berkata demikian? Kau tahu betapa cintaku padamu. Memang selama ini belum pernah kukatakan terus terang, sebab ku kuatir akan mencemarkan kepribadianmu, apalagi bila ditolak olehmu, ini hal tak sanggup kutahan ...."

Mata Kun Sim ti terpejam, sedapatnya ia menahan gejolak perasaannya, gumamnya kemudian.

"Tapi seharusnya kau tahu aku, takkan ....takkan menolak ...."

"O, Ci ....kau . .. ."

Siang Cin memeluk si nona erat2 dan keduanya tenggelam dalam keheningan, hanya detak jantung kedua orang se akan2 berlomba cepat.

000 000-Malamnya, kamar Kun Sim ti telah diatur terlebih indah daripada biasanya.

Di luar sana Sebun Tio bu dan Pau Seh hoa masih asyik menghabiskan sisa arak seguci yang kini sudah tinggal separoh itu.

Di dalam kamar Siang Cin duduk bersanding dengan Kun Sim ti dalam suasana yang romantis.

Siang Cin telah minum dua cawan arak sehingga mukanya yang putih bersemu merah.

Kun Sim ti memandangnya dengan ter mangu2.

Dalam keadaan demikian ia merasa tiada kata2 yang lebih dimengerti daripada tatapan mata yang mesra ini.

Sampai lama sekali, dengan lirih barulah Kun Sim ti berkata.

"Dik, selama ini, tentunya kau sangat susah ...."

Siang Cin tersenyum ringan, ucapnya.

"Terkadang aku merasa diriku ini sangat bodoh, berlari kian kemari dengan bersusah payah, banyak pula mendatangkan rasa cemas, gusar dan gemas, tapi yang kukerjakan adalah urusan orang lain, akupun suka heran pada diriku sendiri darimana timbulnya hasratku ini ....."

"Dik, kau pendekar berbudi luhur, memang itulah tugas kewajibanmu mengabdi bagi sesamanya, padahal akupun senantiasa cemas dan kuatir bagimu . ....

La terdiam sejenak, lalu menyambung pula.

"Kau tahu, aku tidak mempunyai seorang sanak kadang lagi di dunia ini kecuali kau. Aku sering merasa kesepian dan tiada sandaran, hanya bila engkau berada di sisiku, terasalah aman dan terhibur. Dik, aku tidak menyesal apa yang telah kubeberkan padamu di Jing siong san ceng tempo hari ....Sesungguhnya akupun ingin berkata kepadamu, usiaku lebih tua daripadamu, juga badan tak sempurna lagi, aku menjadi ....menjadi ragu apakah kau dapat menerima diriku dengan sesungguh hati? Apakah cintamu padaku bukan cuma timbul dari perasaan kasihan dan ingin menolong saja?!"

"Tidak, sama sekali tidak,"

Jawab Siang Cin dengan tulus dan tegas.

"Kita berteman sejak kecil, tentunya kau kenal pribadiku. Sejak kecil memang sudah kusukai kau. Waktu itu aku tidak tahu bahwa inilah yang disebut cinta, lebih2 tidak tahu bahwa cinta diperlukan pengutaraan yang nyata. Tapi sejak lama kusimpan saja perasaanku itu di dalam lubuk hatiku. Kemudian kitapun sudah sama2 dewasa, belum lagi sempat ku paparkan perasaanku kepadamu, tahu2 kau telah dipaksa orang tua untuk dengan keluarga Oh.

"Pada waktu kau diberangkatkan, sungguh hatiku serasa di sayat2, kukira selama hidup ini kita takkan berjumpa pula. Dari balik jendela kusaksikan engkau naik ke atas tandu dan ..... ketika itu aku baru berusia lima belasan, bisa jadi aku memang belum paham artinya cinta, tapi sedikitnya sudah dapat kurasakan betapa beratnya ditinggalkan olehmu. Hal lain yang membuat ragu diriku untuk mengutarakan perasaanku kepadamu adalah karena akupun sangsi, ku sangsi apakah engkau juga mempunyai perasaan yang sama terhadapku? Ku takut perasaanku padamu hanya menjadi khayalan belaka ...."

Dengan tangannya yang halus Kun Sim ti menggenggam tangan Siang Cin dengan erat, katanya dengan terharu.

"Tentunya tak terpikir olehmu bahwa apabila aku tidak suka padamu, masakah aku mau mengiringi kau bermain layangan, mencari jengkerik, dan juga mendampingi kau membaca. Setiap tahun tentu kuberi hadiah dompet kain bersulam, yang kusulam adalah sepasang merpati ....Bilamana kancing bajumu terlepas, aku pula yang membetulkannya bagimu, pernah satu kali kau jatuh sakit, hampir setiap hari kujenguk kau dan menjaga dirimu ..... Tapi setelah kausembuh, aku menjadi heran bahwa kau se akan2 menjauhi diriku malah."

"Waktu itu secara diam2 aku telah berguru kepada seorang kosen, beliau selalu datang ,mengajar pada waktu pagi dan magrib, bilamana habis berlatih Kungfu, rasanya menjadi lelah sehingga perjumpaan kita lantas banyak berkurang ......"

"O. jadi pada waktu aku dipaksa menikah, saat itu kau sudah mahir Kungfu, tapi mengapa engkau tidak berusaha menolong diriku?"

Tanya Kun Sim-ti dengan menyesal.

"Mana bisa ku bertindak begitu, apalagi akupun tidak tahu sesungguhnya kau suka padaku atau tidak, juga engkau tidak memberi sesuatu isyarat padaku agar 425 bertindak demikian..... Aku memang bodoh, sama sekali tidak kupahami sikapmu yang baik itu padaku."

"Kemudian, setelah tambah umur tentunya kau paham bukan?"

Ujar Kun Sim ti dengan rawan.

"Ya, dua tiga tahun kemudian pahamlah aku segalanya,"

Jawab Siang Cin sambil mengangguk.

"Tapi yang kuketahui juga cuma terbatas pada kebaikanmu padaku, hanya kebaikan antara seorang kakak dengan adiknya, tetap tak berani kupikirkan tentang cinta. Baru setelah kuselamatkan kau dari keluarga Oh, sesudah kau bicara terus terang pada ku barulah ku paham seluruhnya.

"Akan tetapi lantaran pengaruh berbagai macam pandangan dan ikatan adat umum, sebegitu jauh tetap tak berani kuterima perasaanmu itu. Setelah sekian tahun pula, ketika terjadi peristiwa berdarah di Jing siong san ceng itulah, pada saat2 gawat itulah kau masih tetap mencurahkan segenap cintamu padaku, pada detik itu pula tekadku menjadi bulat pula, apapun tidak ku pusingkan lagi, hanya engkau, sekalipun semua orang di dunia ini menyatakan tidak setuju tetap ku cinta padamu. Dan sekarang, cahaya terang sudah cemerlang, sinar harapan sudah di depan mata. Akhirnya kita berkumpul juga dan akan berada bersama selamanya. Berkumpulnya kita memang banyak mengalami rintangan dan tertunda, tapi belum terlambat. Cinta memang tidak kenal waktu dan terlambat segala ....."

Kun Sim ti seperti berada di alam khayal, gumamnya sambil mengangkat mukanya yang basah dengan air mata.

"Benarkah demikian, cinta tidak pernah terlambat... ."

"Ya, cinta memang tidak pernah terlambat!"

Jawab Siang Cin tegas. Erat Kun Sim ti merangkul pinggang Siang Cin, untuk sejenak mereka tidak bicara. Sampai lama sekali barulah Kun Sim ti mendongak pula dan bertanya dengan lugu.

"Dik, kelak .... lama2, bila Cici sudah tua. apakah kau takkan bosan padaku?. Siang Cin mencium dahi si nona, ucapnya dengan tersenyum.

"Tidak, waktu kecilku kau tidak menganggap aku terlalu kecil bagimu. bila kau sudah tua, mana bisa ku anggap kau terlalu tua bagiku? Ci, tidak lama lagi, bilamana beberapa urusan sudah kubereskan, akan ku pilih hari yang baik dan kita akan menikah ....Dan sekarang. aku harus kembali ke kamarku ...."

Ia mengangkat kepala si nona dan memandangnya lekat2, tiba2 ia berkata pula dengan rada tercengang.

"Ci, sungguh ajaib, luka bakar mukamu . ...lukamu sudah sembuh seluruhnya, bahkan ....bahkan kau tampak lebih cantik daripada dulu."

Kun Sim ti mengusap pelahan muka sendiri, sambil bergumam.

"Ya, sudah sembuh, semuanya berkat perawatan Pau toako."

"Dalam hal ilmu pengobatan, Lo Pau memang ahli yang sukar dicari bandingannya,"

Ujar Siang Cin dengan kagum.

"Kalau cuma melihat lahiriahnya, siapapun tidak percaya dia memiliki kepandaian khas. Sungguh aku sangat gembira dan bersyukur lukamu telah sembuh secepat ini."

Tiba2 Kun Sim ti seperti teringat sesuatu, ia menunduk dengan muram, lalu berkata dengan lirih.

"Dik, ingin kutanya ... ." 426

"Urusan apa, katakan saja,"

Jawab Siang Cin. Kun Sim ti mendongak pula, dengan sorot mata yang sayu ia tatap Siang Cin, lalu berkata dengan rawan.

"Dik, misalkan ......misalkan luka bakar mukaku tak dapat disembuhkan seluruhnya, umpamanya sekarang mukaku berubah menjadi sedemikian buruknya sehingga mirip siluman, apakah ....apakah engkau akan tetap cinta padaku!"

Wajah Siang Cin memancarkan cahaya yang cerah, dengan tegas dan tulus ia menjawab.

"Pasti, pasti tetap kucintai kau!"

Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula.

"Ci, ketahuilah, cintaku padamu bukanlah karena kecantikan lahiriahmu, akan tetapi yang lebih penting adalah kecantikan batinmu, kecantikan rohaniahmu, Ku tahu betapa lembutnya perangaimu, betapa bajiknya hatimu, keluhuran budimu, ditambah lagi sifatmu yang sabar, anggun. Semua ini membuat kagum padaku. Ci, wajah seorang perempuan, betapapun cantiknya dia pasti juga akan tiba masanya layu. Akan tetapi kecantikan batin adalah abadi, tak pernah layu, bahkan semakin diasah akan semakin cemerlang Ci, untuk itulah makanya ku cinta padamu dengan segenap jiwaku, sukmaku."

"Kupercaya padamu, dik"

Kata Kun Sim ti dengan terharu.

"Padahal akupun tidak sebaik sebagaimana kau gambarkan tadi. Cuma aku harus bersyukur kepada Thian, harus berterima kasih kepada Pau toako yang telah menyelamatkan wajahku ini."

Siang Cin mengangguk pelahan, ucapnya dengan lembut.

"Selanjutnya kita akan hidup bahagia dan aman tenteram, takkan ku bikin kau tersiksa dan menderita lagi. Ci, fajar sudah hampir menyingsing, sudah waktunya ku kembali ke kamarku, hendaklah kau juga istirahat dengan baik ...."

O 00 000 O0 o Hari ketiga setelah mereka pulang ke sarang yang hangat ini.

Sejak pagi cuaca cukup baik, salju sudah berhenti, malahan sang suryapun mengintip dari balik awan, meski cahayanya tidak begitu gemilang, namun tetap memberikan perasaan yang hangat.

Dengan santai Siang Cin tampak berdiri di tepi pagar bambu dekat jembatan sana sedang memandangi bumi raya yang dilapisi salju putih dengan sinar gemilapan yang terpantul oleh cahaya matahari.

Dengan wajah berseri Kun Sim ti berdiri di samping Siang Cin, yang lelaki gagah tampan, yang perempuan cantik halus, sungguh suatu pasangan yang amat setimpal.

Dari balik jendela Pau Seh hoa dan Sebun Tio-bu yang berduduk di ruangan tengah dapat mengikuti gerak gerik kedua sejoli itu.

Berulang-ulang Sebun Tio bu mengangguk, ia merasa kagum dan juga iri, ia merasa pasangan yang cocok ini memang sukar dicari bandingannya.

427 Pau Seh hoa menguap, pelahan ia tarik lengan baju Sebun Tio bu dan bertanya.

"Apa yang kau pikir Tangkeh, pakai angguk2 segala?"

Sebun Tio bu menjawab.

"Kau lihat Siang heng dan nona Kun itu, sungguh suatu pasangan yang setimpal. Anehnya kalian tidak memberi dorongan sehingga sudah sekian tahun waktu mereka terbuang dengan percuma."

Setelah mengusap ingusnya yang hampir meleleh, Pau Seh hoa mendengus, ucapnya.

"Siapa bilang kami tidak memberi dorongan? Sialan, justeru demi urusan ini, entah berapa kali kami perang mulut. Tapi dasarnya Kongcu-ya kita itu memang brengsek, kuatir ini ragu itu, dalam hati kepingin, di mulut tidak berani kentut. Orang ikut memikirkan dia, tapi dia sendiri malah maju mundur. Dirodok, mungkin aku sendiri mencari isteri juga tidak perlu diributkan begitu."

Sebun Tio bu mengangguk-angguk pula, katanya.

"Di dunia Kangouw Siang heng terkenal sebagai Naga Kuning yang tegas dan bijaksana, tapi menghadapi urusan kehidupan berumah tangga dia justeru sedemikian prihatin dan patuh."

"Huh, prihatin dan patuh apa? Lebih tepat dikatakan dia penakut dan pengecut!"

Jengek Pau Seh hoa.

"Kenapa Pau heng menuduhnya demikian?"

Tanya Sebun Tio bu.

"Kau tahu, Kongcu-ya kita dengan nona Kun adalah tetangga dan juga ada hubungan baik antara kedua keluarga. Mereka berdua juga teman memain sejak kecil. Pada waktu mulai akil balig diam2 nona Kun sudah menyukai Kongcu-ya. Sudah tentu Kongcu-ya juga lengket dengan nona Kun. Karena nona Kun lebih tua tiga tahun daripada Kongcu-ya, maka dia memanggilnya Cici, jadi tidak pernah berjanji atau bersumpah segala, panggilan kakak hanya karena kebiasaan saja. Sebab itulah bilamana dia anggap kakak angkat tidak boleh dijadikan isteri, ini alasan yang tidak masuk akal dan cuma kentut belaka."

"Lalu, karena nona Kun dinikahkan orang tua kepada keluarga yang tidak cocok, setelah suaminya meninggal, Siang heng lantas menolongnya dari neraka,"

Kata Sebun Tio bu.

"O, Siang heng sudah bercerita padamu?"

Tanya Pau Seh hoa.

"Ya, sepanjang jalan ia sudah mengisahkan pengalamannya kepadaku."

"Nah, jika begitu, tentu kau dapat menarik kesimpulan sendiri, apakah ke ragu2an Kongcu-ya ini bukankah berlebihan. Bahwa nona Kun kini adalah janda, Kongcu-ya telah menolongnya keluar dan mereka telah hidup berdampingan selama beberapa tahun, kenapa mereka tidak2 tegas2 menikah dan menjadi suami isteri resmi saja, kenapa masih harus pikir ini dan kuatir itu."

"Benar juga, kukira Siang heng memang terlalu lemah mengambil keputusan dalam persoalan ini."

"Makanya bagiku sudah mutlak Kongcu-ya dan nona Kun harus selekasnya menikah dengan resmi dan tampaknya cita2ku ini dapatlah terlaksana tak lama lagi." 428

"Betul, pasti akan terlaksana dalam waktu singkat, mereka pasti juga suatu pasangan yang bahagia."

"Langkah selanjutnya tinggal soal waktu saja, entah kapan baru arak nikah mereka dapat kita minum,"

Tanya Pau Seh hoa dengan terbahak2. Tiba2 Siang Cin berpaling dan berteriak.

"He, apa yang kalian bicarakan, begitu serius, sebentar berteriak, sebentar tertawa ....""

"Yang kami bicarakan justeru adalah kau si dungu ini!"

Seru Pau Seh hoa. Sambil bicara mereka berdua lantas melangkah keluar dan mendekati Siang Cin.

"He, ada apa aku dijadikan sasaran pembicaraan kalian, memangnya kapan aku pernah bersalah padamu, Lo Pau?"

Ujar Siang Cin dengan tertawa.

"Siang heng,"

Sela Sebun Tio bu.

"kita bicara yang benar saja. Adakah hari nikahmu dengan nona Kun sudah kalian tentukan?"

Seketika muka Kun Sim ti menjadi merah dan menunduk malu, tapi tidak urung tersembul juga senyum manis pada ujung bibirnya. Siang Cin tertawa, jawabnya kemudian.

"Sebun-tangkeh, tepatnya kapan menurut pendapatmu?"

"Kalau menurut pendapatku, kukira besok juga boleh,"

Seru Sebun Tio bu.

"Haha!"

Siang Cin tertawa.

"Masa begitu cepat tidak mungkin, Tangkeh."

"Begini,"

Kata Sebun Tio bu pula.

"sekarang sudah dekat akhir tahun, kupikir bagaimanapun juga beristerilah sebelum tahun baru akan sangat berarti bagi kehidupanmu. Seperti sudah pernah kukatakan hayolah bopong semuanya ke tempatku sana, kujamin segalanya, akan kukerahkan segenap tenaga dan pikiran untuk merayakan pernikahanmu."

"Tepat,"

Sela Pau Seh hoa.

"sialan, untuk urusan ini bisa beruban bila harus menunggu lagi. Memangnya mau apa jika tidak lekas dilaksanakan."

"Sebun tangkeh,"

Kata Siang Cin.

"bagi kami sebenarnya urusan ini sudah bukan soal. lagi. Yang jelas, bukankah engkau yang harus berkorban, baik tenaga, pikiran dan juga harta. Betapapun kami merasa tidak enak."

"Siang heng, mengapa kau menjadi seperti orang yang baru kenal saja?"

Seru Sebun Tio bu.

"Jika kau main sungkan2 lagi, baiklah segera ku angkat kaki dari sini dan anggaplah kita tidak pernah bersahabat."

"Maaf, Tangkeh,"

Cepat Siang Cin memberi penjelasan.

"Sudah tentu maksud baikmu kami terima dengan senang hati. Cuma, untuk ini masih harus tunggu sampai kepulangan kami nanti ........"

Sebun Tio bu melengak, tanyanya kemudian dengan bingung.

"Menunggu kepulanganmu? Bukankah sekarang kita sudah berada di rumah. Memangnya mau ke mana lagi dan pulang apa segala?" 429 Sinar mata Siang Cin mendadak mencorong terang, ucapnya dengan tegas.

"Jeng siong san ceng!"

Kun Sim ti berseru tertahan sambil mendekap mulut, dengan cemas ia pandang Siang Cin, seperti mau bicara tapi urung. Sikap Pau Seh hoa juga kelihatan prihatin, katanya.

"Betul, utang itu kalau tidak ditagih, matipun aku tidak rela,"

"Utang? Utang apa?"

Tanya Sebun Tio bu.

"Utang darah!"

Jawab Pau Seh hoa dengan perasaan pedih.

"Di dalam utang darah ini masih harus ditambah lagi penghinaan dan kehormatan."

Sebun Tio bu jadi teringat kepada cerita Siang Cin tentang sengketanya dengan Jeng siong san ceng, tapi tak tersangka begini mendalam permusuhannya.

Maka ia coba tanya lagi lebih jelas seluk beluk permusuhan itu.

Dengan ringkas Pau She-hoa lantas menuturkan apa yang terjadi dahulu.

"Pantas kesepuluh jari Siang heng belum hilang bekas lukanya,"

Teriak Sebun Tio bu setelah mengetahui kekejaman Jeng siong san ceng.

"Pernah juga kulihat Siang heng berganti pakaian dan tampak dadanya penuh bekas luka. Kiranya di balik bekas luka itu tersimpan dendam kesumat sedalam ini. Sungguh keji dan rendah perbuatan Jeng siong san-ceng dengan setan tua she Ha itu. Baiklah, bilakah kita berangkat?"

"Berangkat ke mana? tanya Siang Cin heran.

"Ke mana? Jeng siong san ceng tentunya!"

Teriak Sebun Tio bu.

"Kau, kaupun ikut pergi ke sana?"

Dengan Siang Cin menatap Sebun Tio bu.

"Memangnya kenapa?"

Tanya Sebun Tio bu dengan mendongkol.

"Apakah Siang heng menganggap orang the Sebun ini tidak memenuhi syarat untuk ikut menghajar kawanan bangsat di Jeng-siong san ceng sana?"

Siang Cin tersenyum, jawabnya.

"Jangan salah paham Tangkeh, yang kupikirkan adalah persoalan ini adalah urusan pribadiku dengan Lo Pau, tidaklah pantas jika ikut menyeret kau terjun ke lumpur ... ."

""Apa katamu?"

Sela Sebun Tio bu dengan penasaran.

"Coba jawab, persoalan antara Bu siang pay dan Ji ih hu kan juga urusan pribadi mereka, tapi mengapa kau membela Bu siang pay mati2an?"

"Tiada alasan lain, hanya demi keadilan belaka"

Jawab Siang Cin.

"Itu dia!"

Seru Sebun Tio bu.

"Lalu, apakah kau anggap aku Sebun Tio bu ini tidak tahu keadilan, tidak kenal persahabatan, tidak tahu perasaan? Apakah persahabatan kita ini belum cukup erat dibandingkan hubunganmu dengan Bu siang pay." 430 Siang Cin bergelak tertawa sambil menggeleng-geleng akhirnya ia berkata.

"Sungguh aku sangat berterima kasih atas perhatianmu Sebun tangkeh, terpaksa mesti bikin repot kau juga."

"Nah, kan seharusnya begini, lalu apa artinya persahabatan jika tidak saling membantu?"

Ujar Sebun Tio bu dengan tertawa.

"Baiklah, kukira tidak perlu lagi kita ribut,"

Sela Pau Seh hoa.

"Yang penting sekarang harus kita rundingkan dulu, bilakah kiranya kita akan berangkat dan cara bagaimana harus bertindak?"

"Petang nanti juga kita boleh berangkat dan langsung menuju Jeng siong san ceng,"

Ujar Siang Cin.

"Kita menyampaikan kartu dan menantang secara terang2an atau dengan cara lain?"

Tanya Sebun Tio bu.

"Tidak,"

Kata Siang Cin.

"Kita takkan memberi kesempatan bersiap bagi mereka, lebih2 takkan memberi keuntungan bagi mereka dengan cara main kerubut. Tapi kita gunakan gerakan kilat, kita serbu ke dalam perkampungan mereka, siapapun yang kepergok segera kita bereskan tanpa ampun"

"Setuju!"

Seru Pau Seh hoa.

"Sudah terlalu banyak kejahatan dan perbuatan kotor yang dikerjakan anak kura2 itu, dengan mereka tiada persoalan tentang moral dan perikemanusiaan lagi. Begitu menyerbu ke dalam kita lantas gempur dan obrakabrik mereka hingga habis2an."

"Ya, terhadap penjahat seperti kawanan bangsat Jeng siong san-ceng itu memang tiada istilah perikemanusiaan,"

Kata Siang Cin.

"Memang di dunia ini ada sementara orang yang sok bicara tentang perikemanusiaan, tapi coba kalau mereka sudah mengalami bagaimana "perikemanusiaan"

Yang berlaku di kalangan penjahat, maka barulah mereka akan tahu rasa dan mata akan terbuka.

Bagiku, perikemanusiaan memang mutlak harus dihormati, tapi perlu juga dilihat kepada siapa perkemanusiaan itu ditujukan.

Terhadap kawanan penjahat sendiri yang tidak pernah lagi tahu apa artinya perikemanusiaan kukira diperlukan tindakan tangan besi, tindakan keras yang setimpal.

Pada hakikatnya kawanan penjahat yang sudah berakar itu tiada harapan untuk diperbaiki, mereka adalah parasit masyarakat, bagiku akan lebih baik korbankan seorang penjahat daripada mesti si penjahat sendiri akan mengambil korban seorang, atau mungkin puluhan orang yang baik dan tak berdosa."

"Betul,"

Tukas Sebun Tio liu.

"Setiba di Jeng-siong san ceng segera akan kulepaskan panah bulu merah. Bilamana mereka tidak menggubris panah tanda pengenal Jian ki beng kami, maka berarti mereka sengaja memusuhi Jian ki beng dan akupun cukup alasan untuk mengerjai mereka."

"Haha, cara Tangkeh ini bukankah pernah kau gunakan terhadap Kim lui jiu, tapi akhirnya engkau dan Kin heng telah menjadi sahabat baik,"

Kata Siang Cin dengan tertawa.

"Betul, tapi sekali ini jelas takkan mendatangkan kawan baik lagi,"

Jawab Sebun Tio bu dengan tertawa. 431 Mereka bicara dengan gembira dan bersemangat, tapi di samping sana Kun Sim ti tampak murung.

"Jangan kuatir, Ci,"

Kata Siang Cin ketika mengetahui kekuatiran si nona.

"Adalah menjadi pedoman hidup Naga Kuning selama ini, budi dan dendam selamanya kubedakan dengan tegas. Budi harus kubalas dan dendam harus ku tuntut. Utang darah harus bayar darah. Terhadap Jeng-siong san ceng rasanya tiada pemecahan lain kecuali melabraknya dengan kekerasan, demi sakit hatiku, demi keselamatan umat manusia yang pernah mengalami penganiayaan mereka, aku harus bertindak dan menghancurkan mereka."

"Ucapanmu memang betul, dik, cuma ... ....cuma apakah tidak berbahaya ........."

"Jangan kuatir, kami pasti akan pulang dengan selamat, takkan kurang sesuatu apapun,"

Hibur Siang Cin dengan tersenyum.

"Dan setelah kami pulang, segera kita akan berangkat ke tempat Sebun tangkeh. Harap menunggu saja dengan tenang."

"Adik Kun, janganlah kau kuatir, kujamin Kongcu-ya akan pulang tanpa kurang seujung rambutpun,"

Sela Pau Seh hoa.

000 000 Tempat itu di perbatasan propinsi Soa-say.

Pada tanah yang agak membukit di tengah itu membentang sebuah jalan yang tertimbun salju menjulur ke depan dengan berliku-liku seperti ular yang panjang.

Jeng siong san ceng hanya berjarak tujuh atau delapan li saja dari sini.

Sebun Tio bu tetap menunggang kudanya yang berbulu putih mulus dan Siang Cin juga menunggang kuda loreng, Pau Seh boa dapat membeli seekor kuda hitam yang dibelinya di Tay goan hu sebelum berangkat.

Ketiga ekor kuda itu lama menghembuskan napas yang menguap menjadi seperti kabut tipis dan masih terus berlari di jalanan yang licin itu, akhirnya mereka melambatkan lari kuda di jalan bersalju itu.

"Sudah dekat, Siang heng,"

Ucap Sebun Tio-bu sambil menguap Wah. Siang Cin mengangguk, jawabnya.

"Ya, tinggal beberapa li lagi."

Pau Seh hoa menengadah memandang cuaca, ucapnya.

"Tepat pada waktunya dan akan kita bereskan mereka satu persatu."

"Pau heng, kedua keping kayu andalanmu tentunya kau bawa bukan?"

Tanya Sebun Tio bu dengan tertawa. Pau Seh hoa menepuk bajunya, lalu berkata dengan menyesal.

"Memang sudah kubawa, cuma bila mengingat kedua keping kayu lama, sungguh aku menjadi sedih. Keparat, kedua keping itu sudah hampir 20 tahun kugunakan, buatan dari kayu kurma yang keras. Kedua keping kayu itu sudah tergosok licin dan cocok dengan 432 tanganku, saking lamanya warna kayu dari ke coklat2an berubah menjadi ke hitam2an. Akan tetapi, ketika terjebak di Jeng siong san ceng amblaslah dirampas mereka. Ai, sungguh sayang ..... Adapun kedua keping kayu baru ini kubuat dua bulan yang lalu, lumayan juga, tapi kalau dibandingkan kepingan yang lama akan terasa jauh bedanya."

Sebun Tio bu mengangguk setuju, ucapnya.

"Memang betul. Bagi orang persilatan seperti kita ini, senjata lama yang kita pakai memang lebih baik, senjata lama bagi kita adalah seperti sahabat lama, sepatu butut sekalipun akan terasa terlebih enak dipakai daripada sepatu baru. Senjata adalah jiwa kita yang kedua, bilamana hilang tentu akan terasa sedih. Andaikan mendapat ganti yang baru juga akan terasa agak canggung."

Siang Cin yang berjalan di depan tiba2 menoleh, katanya dengan tertawa.

"Makanya selama ini aku lebih suka menghadapi musuh dengan bertangan kosong, meski tersedia juga senjataku, tapi tak pernah kugunakan. Dengan demikian senjataku takkan pernah hilang, andaikan hilang tentu juga tidak perlu menyesal lagi, sebab itu berarti tamatnya permainan dan habisnya riwayat ....."

"Keparat, memangnya dalam hal kekuatan tangan, siapa yang mampu menandingi kau? Huh, tidak perlu kau berolok-olok, orang kehilangan senjata, kau bersorak malah,"

Omel Pau Seh hoa. Selagi Siang Cin hendak berseloroh pula, tiba2 Sebun Tio bu menyela.

"O, ya, tempo hari Siang-heng pernah berkata padaku bahwa Ih Keng hok dari Ang tong leng bisa jadi juga berada di Jeng-siong san ceng."

"Memang betul,"

Jawab Siang Cin dengan prihatin. Setelah termenung sejenak, lalu Sebun Tio bu berkata pula.

"Keparat itu memang cukup tangguh, namanya juga cukup besar, hampir tidak lebih kecil daripada namamu. Bila mendengar nama Im bing-long kun hampir setiap orang persilatan pasti mengernyitkan kening ."

"Ah, Locu justeru tidak perduli siapa dia, bila mana dia memusuhi kita, biarpun jiwa tua ini harus melayang juga akan ku labrak dia,"

Jengek Pau Seh hoa.

"Bicara terus terang, akupun rada was-was terhadap lh Keng hok, sedapatnya ingin kuhindari permusuhan dengan dia,"

Kata Siang Cin.

"Tapi kalau dia berkeras ingin membela si tua she Ha dari Jeng siong san ceng, terpaksa harus kuhadapi dengan segenap kemampuanku. Apapun juga belum tentu dan mampu melalap diriku."

"Tepat,"

Tukas Sebun Tio bu.

"Paling2 jiwa melayang seperti apa yang dikatakan Pau heng tadi. Padahal kalau jiwa kita melayang, maka segenap penghuni Jeng siong san ceng juga jangan harap akan dapat lolos satupun."

"Bila Ih Keng hok betul berada di sana, kebetulan akan ku tentukan dia yang akan merajai Bulim atau aku yang akan menjagoi Kangouw,"

Kata Siang Cin.

"Bagus!"

Seru Sebun Tio bu.

433 Begitulah ketiga ekor kuda mereka terus melintasi jalanan berliku itu secara berurutan.

Suasana sunyi senyap, bumi raya ini se olah2 tenggelam dalam kelelapan.

Se konyong2.

......

Siang Cin menghentikan kudanya dan mendesis.

"Ada orang!"

Sebun Tio bu juga lantas menahan kudanya dan pasang kuping dengan cermat, segera iapun mengangguk.

"Ya, betul, juga tiga penunggang kuda, sedang menuju kemari menyusuri lereng bukit sana."

"Di depan tiada rumah penduduk lain kecuali Jeng siong san ceng,"

Kata Pau Seh boa.

"Kukira beberapa orang ini besar kemungkinan datang dari sana"

Ia menyeringai, lalu menyambung pula.

"Jika betul dugaanku, maka anggaplah nasib mereka yang lagi apes, Biarlah kita menggunakan mereka sebagai tanda pembukaan."

"Setuju!"

Kata Sebun Tio bu.

"Tapi sebaiknya kita menentukan dulu apakah pihak lawan benar2 orang Jeng siong san ceng agar tidak salah sasaran,"

Ujar Siang Cin sambil memandang jauh ke depan sana.

"Bila anak kura2 dari Jeng siong san ceng, kukira tidak sukar untuk mengenali mereka, sebab di dahi mereka se olah2 terukir satu huruf, yaitu. jahat!"

Kata Pau Seh hoa sambil tertawa.

"Itu dia sudah muncul!"

Desis Siang Cin.

Sesaat Sebun Tio bu dan Pau Seh hoa memandang ke lereng sana, betul juga, tiga penunggang kuda dengan seragam jubah hijau, berkopiah kulit domba dan hampir menutupi mukanya.

Agaknya merekapun merasakan licinnya jalan bersalju itu, maka perhatian mereka tercurahkan kepada kuda mereka yang berjalan dengan hati2 sehingga tidak tahu bahwa di atas sana sudah menanti tiga malaikat elmaut.

Siang Cin terus mengawasi ketiga orang itu, akhirnya tersenyumlah dia, Kiranya seorang di antaranya dikenalnya sebagai Yu Hoat, yaitu kepala perkampungan belakang Jeng siong san ceng yang pernah juga bergebrak beberapa jurus dengan Siang Cin dahulu.

Sungguh kebetulan sekarang kepergok lagi di sini.

Dua orang lagi tidak dikenal Siang Cin, tapi dapat diduga pasti juga bukan manusia baik2, jelas mereka adalah antek Jeng siong san ceng, melihat lagaknya bisa jadi juga mempunyai kedudukan lumayan, mungkin sebangsa pelatih.

"Siang heng, adakah yang kau kenal?"

Tanya Sebun Tio bu. Siang Cin mengangguk dan menjawab.

"Ada, kepala perkampungan belakang Jeng siong san ceng."

"Ehm, adil juga, tiga lawan tiga,"

Ujar Pau Seh hoa.

434 Pelahan2 ketiga penunggang kuda itu sudah makin mendekat.

Karena jalanan berlingkar dan juga tidak rata, maka setelah mengitari sebuah tanjakan barulah ketiga penunggang kuda itu muncul di depan mereka.

Hampir pada saat yang sama dengan munculnya ketiga penunggang kuda itu, Siang Cin bertiga terus melayang turun di depan mereka.

Keruan Yu Hoat bertiga terkejut, namun reaksi merekapun cukup cepat, di tengah hardikan Yu Hoat mereka terus melompat turun dari kuda masing-masing dan siap tempur.

Yu Hoat tetap bertangan kosong, sedang kedua temannya sudah melolos senjata, yang satu memegang pedang dan yang lain bergolok.

Yang berpedang menghadapi Pau Seh-hoa dan yang bergolok menghadapi Sebun Tio-bu.

Yu Hoat sendiri tepat berhadapan dengan Siang Cin.

Setelah berpisah sekian lama, agaknya Yu Hoat tidak segera mengenali Siang Cin.

Tapi demi melihat jubah kuning Siang Cin yang cemerlang itu, air mukanya lantas berubah hebat.

"Selamat bertemu, Toa-wancu!"

Seru Siang Cin dengan ketus. Seketika kulit muka Yu Hoat berkerut-kerut, dadanya juga berdebar-debar, sejenak ia tertegun, lalu bergumam.

"Naga Kuning..."

"Betul!"

Jengek Siang Cin.

"Tak terduga bukan?"

Sedapatnya Yu Hoat berlagak tenang, ucapnya kemudian.

"Ehm, lama juga tak bertemu Siang heng..."

"Ya, sudah rindu, makanya sengaja datang menjenguk kalian."

Jengek pula Siang Cin.

"Adakah...adakah sesuatu petunjuk yang akan kau..."

"Tentu saja ada."

Sela Siang Cin sambil mengerling sekejap ketiga lawan.

"Kukira sangat sederhana urusannya, kami hanya ingin meminjam alat makan nasi kalian."

Yu Hoat menyurut mundur dengan terkesiap, serunya.

"Sahabat she Siang, selama ini rasanya orang she Yu tidak pernah memusuhi dirimu. Yang akan menghadapi kau masih ada orang lain, kami ini hanya makan gaji dan terima tugas. Bilamana kau ingin mencari perkara, tujukanlah kepada sasaran yang tepat, untuk apa kau recoki kami?"

"Hm, setiap penghuni Jeng siong san-ceng kalian adalah binatang satu sarang, masakah ada perbedaannya antara kalian? Tidakkah kau membikin malu si tua bangka she Ha belaka?"

Ejek Siang Cin.

"Kongcuya."

Teriak Pau Seh-hoa dengan tidak sabar.

"Apakah kita masih harus mengajak obrol padanya, apakah perlu aku mencari keringat lebih dulu?" 435 Yu Hoat melirik sekejap kepada Pau Seh-hoa dengan mendongkol ia membentak.

"Kau, siapa pula kau?"

Pau Seh-hoa mendelik, jengeknya.

"Aku bapakmu, masa kau tidak kenal?!"

Lelaki muka kuning yang berpedang menjadi gusar, teriaknya.

"Wancu, perlu apa sungkan-sungkan, Apakah kedatangan kita kesini hanya untuk mengundang caci maki orang? Beberapa bangsat ini barangkali belum tahu siapa diri kita..."

"Kunyuk."

Damperat Pau Seh-hoa.

"Yang pertama kubereskan justeru kau keparat ini."

Pedang si muka kuning lantas bergetar, teriaknya.

"Bagus, boleh kita coba-coba apakah aku si kunyuk ini lebih unggul atau asor daripada kau si tikus ini."

Tapi sebelum dia bergerak, cepat Yu Hoat mencegahnya dan berkata pula kepada Siang Cin.

"Sahabat Siang, jika kau seorang jantan sejati, hayolah katakan hari dan waktunya, boleh kita perang tanding secara terbuka, tapi kalau main cegat dan labrak begini, betapapun bukan perbuatan seorang ksatria sejati..."

"Hm, kau ksatria sejati kelas berapa?"

Jengek Siang Cin.

"Pakai hari dan waktu segala. Huh, jangan kau mimpi disiang bolong, Yu Hoat. Keledaipun takkan kesandung untuk kedua kalinya pada batu yang sama, apalagi aku Siang Cin belum menjadi keledai, kau kira aku dapat kau tipu lagi?"

"Siang heng, bicara apalagi? Apakah kita perlu tunggu pula?"

Teriak Sebun Tiobu tak sabar.

"Nanti dulu..."

Seru Yu Hoat dengan keringat memenuhi dahinya. Tapi belum lagi lanjut ucapannya, segera "lengan besi"

Sebun Tio-bu bergerak, kontan dia menyerang lawannya yang kurus dan bergolok itu. Pada saat yang sama Pau Seh-hoa juga sudah meraba keluar kedua keping kayunya.

"pletak", sekali kepingan kayu itu berbunyi, serentak iapun mengetuk batok kepala lawan yang berpedang itu. Karena tidak menduga, si muka kuning berpedang itu melompat mundur dengan kaget.

"Dan kitapun boleh mulai!"

Seru Siang Cin kepada Yu Hoat dengan tersenyum.

Berbareng ia menggeser ke samping dan telapak tangannya lantas menghantam pelipis lawan.

Yu Hoat juga tidak kalah cepatnya, dengan sedikit mendoyongkan tubuh ke belakang, kedua kakinya sekalian menendang secara berantai.

Selagi Siang Cin terpaksa harus mengelak, menyusul ia lantas menghantam pula dengan kedua telapak tangannya yang bekerja dengan cepat.

Siang Cin tahu lawan sudah nekat, karena itulah dia tidak terburu-buru menundukkan lawan, ia lantas mengegos sini dan berkelit ke sana sambil mencari titik kelemahan musuh.

436 Di sebelah sana Sebun Tio-bu sudah tampak jelas di atas angin.

Senjata andalannya "Tiat mo pi", lengan besi iblis, terus menyambar kian kemari mengitari lawan.

Golok orang itu kelihatan sangat berat, tapi bila dibandingkan Thi mo pi yang ringan dan lincah, golok itu hampir tak bisa berkutik menghadapi serangan Sebun Tio-bu.

Kalau Thi mo pi semakin cepat menyambar kian kemari, sebaliknya golok orang itu semakin lamban dan semakin kacau permainannya.

Keadaan si muka kuning yang berpedang juga tidak lebih baik daripada kawannya, ia blingsatan menghadapi dua keping kayu Pau Seh-hoa yang berturutturut menerbitkan bunyi "pletak pletok"

Yang membingungkan itu, beberapa kali bagian tubuhnya yang fatal hampir terketuk oleh kepingan kayu itu.

Sedapatnya ia putar pedangnya seperti kitiran, tapi ujung baju Pau Seh-hoa saja tak dapat disentuhnya.

Lama-lama si muka kuning ini menjadi kalap, dengan mandi keringat dia menyerang serabutan, akan tetapi dia seperti menghadapi sesosok bayangan saja yang tak berwujud, betapapun pedangnya menabas dan menusuk, bayangan tetap bayangan dan tak terluka sama sekali.

Pada saat itulah sekonyong-konyong Siang Cin mengapung ke atas terus menukik pula ke bawah, kedua lengannya terpentang untuk segera mengatup pula.

Di tengah terpentang dan mengatup inilah, telapak tangannya yang keras dan tajam menabas dengan dahsyatnya.

Inilah "Pat goan cam", sabetan melingkar kebanggaan Siang Cin yang ditakuti orang.

Terdengar Yu Hoat meraung kaget dan sedapatnya miringkan tubuh sambil menangkis sekuatnya.

Akan tetapi Siang Cin terlalu tangguh baginya, juga kecepatan Siang Cin sukar baginya untuk mengikutinya.

Hanya beberapa gebrak saja Yu Hoat sudah kewalahan dan kelabakan.

Dengan mandi keringat dan napas tersengal-sengal sekuatnya Yu Hoat bertahan, ia meraung kalap dan berusaha balas menyerang, namun selalu gagal dan didahului oleh Siang Cin.

Akhirnya ia menjadi nekat, mendadak ia menubruk maju, dengan jurus "Siang liong jut-hay"

Atau dua naga keluar dari lautan, kedua tangannya menyodok sekaligus ke dada Siang Cin.

Namun secepat kilat Siang Cin mengegos ke samping, berbareng sebelah telapak tangannya lantas menabas.

Tanpa ampun lagi, badan Yu Hoat segede kerbau itu terlempar hingga dua tiga tombak jauhnya dan tidak bangun lagi.

Pertarungan mereka berlangsung belum lagi genap 20 jurus, namun mati dan hidup sudah ditentukan dengan jelas.

437 Sebun Tio-bu berpekik melihat Siang Cin berhasil merobohkan lawannya, iapun tidak mau mengulur waktu lagi, di tengah raungannya yang menggetar sukma, Thi mo pi berputar secepat kitiran, tangan kiri juga menghantam dengan tenaga sakti.

Memangnya si lelaki kurus bergolok itu sudah mulai payah, dicecar lagi lebih kencang, tentu saja ia mati kutu.

"Trang", didahului mencelatnya golok, menyusul tubuhnya juga tersodok mundur dua-tiga langkah, selagi sempoyongan, pukulan dahsyat Sebun Tio-bu hinggap pula di dadanya sehingga orang itu mencelat jauh. Hampir pada saat yang sama, di sebelah sana Pau Seh-hoa juga telah bereskan lawannya yang berpedang itu, batok kepala musuh terketuk kepingan kayunya hingga hancur, kontan orang itu terkapar. Sambil menyimpan kembali Thi mo pi, Sebu Tio-bu menghembuskan napas lega, lalu ia menyengir ke arah Siang Cin dan berkata.

"Tiga-kosong!"

"Ya, semuanya sudah mampus, kemenangan mutlak!"

Seru Pau Seh-hoa, waktu itu dia sedang mengusap kepingan kayunya yang berlepotan darah pada baju korbannya yang sudah tak berkutik itu.

"Hayolah kita maju terus!"

Ajak Siang Cin. Cepat mereka melayang ke atas kuda masing-masing.

"Bila ditengah jalan kepergok lagi beberapa antek Jeng siong san ceng, lamalama pekerjaan kita tentu akan lebih ringan kalau sudah sampai di tempat tujuan."

Kata Pau Seh-hoa dengan tertawa.

"Enak saja perhitunganmu."

Ujar Siang Cin.

"Memangnya kau kira pihak musuh adalah kawanan domba yang boleh kau jagal sesukamu?"

Kuda dilarikan pula ke depan. Hanya sekejap saja Siang Cin lantas mendahului menahan kudanya, katanya sambil menunjuk ke depan kanan.

"Itu dia, sudah sampai!"

Waktu Pau Seh-hoa dan Sebun Tio-bu memandang ke arah yang ditunjuk, benarlah di sana berdiri sederetan rumah yang besar dengan halaman yang luas.

Pagar tembok warna merah mengelilingi perkampungan itu sehingga sangat kontras tampaknya berpadu dengan bumi sekitarnya yang diliputi salju yang putih bersih.

Ditambah lagi beberapa pohon Siong yang kelihatan masih menghijau, pemandangan perkampungan ini menjadi sangat indah.

Sebun Tio-bu baru pertama kali ini berkunjung ke sini, melihat pemandangan Jeng siong san ceng yang permai itu, mau tak mau iapun memuji.

"Sungguh elok tempat ini, seperti surga malaikat dewata..."

"Ya, cuma harus disesalkan, surga yang seharusnya dihuni malaikat dewata itu ternyata didiami oleh sekumpulan setan iblis."

Dengus Pau Seh-hoa. 438

"Jika begitu, kenapa kita tidak mengubah tempat ini agar menjadi tempat kediaman yang layak bagi mereka."

Ujar Siang Cin.

"Lo Pau, menurut kau apa tempat kediaman yang layak bagi mereka?"

"Neraka!"

Jawab Pau Seh-hoa.

"Baik, jika begitu kehendakmu."

Kata Siang Cin sambil tertawa. Singkat ucapannya, tapi nadanya tegas seakan-akan jatuhnya keputusan sang penguasa yang menentukan segalanya.

"Marilah kita turun di sini saja."

Kata Siang Cin pula sambil mendahului melompat turun dari kudanya.

Setelah menambat kuda mereka di balik pohon sana, mereka bertiga lantas melayang ke perkampungan sana secepat terbang.

Mereka mengitar ke samping perkampungan itu, baru saja melintasi pagar tembok, tahu-tahu kepergok dua orang lelaki kekar berseragam hijau.

Tentu saja kedua orang itu melengak, tapi sebelum mereka sempat bersuara, tahu-tahu Sebun Tio bu sudah menubruk tiba dan secepat itu pula ia melompat balik.

Kedua orang itu sama sekali tidak melihat jelas bagaimana bentuk penyerangnya, cukup sekali pergi datang saja, Sebun Tio bu telah merobohkan mereka.

"Cepat amat!"

Puji Pau Seh-hoa.

"Lumayan!"

Jawab Sebun Tio bu tertawa. Belum habis mereka bicara, kembali tujuh atau delapan orang berseragam jubah hijau berlari datang pula. Seorang yang menjadi kepalanya lantas membentak dengan bengis.

"Siapa kalian berani sembarangan menerobos kemari?"

Tiba-tiba seorang di belakangnya menjerit kaget, mungkin karena melihat mayat kedua orang tadi, teriaknya pula.

"Tan suhu, orang-orang ini mata-mata musuh, dua saudara kita mati terbunuh."

Cepat orang yang disebut Tan suhu itu berpaling, ia menjadi kaget juga dan segera berteriak.

"Ada mata-mata musuh..."

Tapi Pau Seh-hoa telah menubruk maju sambil memaki.

"Bangsat, disinilah orangnya, apa yang kau teriakkan?"

Cepat Tan suhu itu berkelit dan segera melolos golok yang terselip di pinggang.

Beberapa anak buahnya segera pula menerjang maju.

Di tengah gelak tertawanya Pau Seh hoa menyelinap kian kemari, kedua keping kayunya berbunyi "pletak-pletok"

Beberapa kali dan kontan tiga orang menggeletak dengan kepala pecah. 439

"Seerr"

Golok musuh menyambar lewat di atas kepala Pau Seh hoa, untung dia berkelit tepat pada waktunya, kalau tidak pasti buah kepalanya sudah berpisah dengan tuannya.

Seh hoa menjadi gusar, keping kayu berputar dan hinggap pula di muka dua orang, sambil menjerit, muka kedua orang itu seketika penyok dengan darah berhamburan.

Tanpa ayal ia menubruk maju lagi ke sana, belum lagi sisa dua orang lain itu bergerak, tahu-tahu batok kepala merekapun terketuk pecah.

Tinggal si Tan suhu saja, ketika goloknya sudah terhunus dan hendak menubruk maju, tahu-tahu anak buahnya sudah terkapar seluruhnya.

Keruan ia ketakutan setengah mati, segera ia putar haluan terus hendak kabur.

Akan tetapi baru saja dia membuka langkah, tahu-tahu sebuah tangan baja menyambar tiba, sehingga batok kepalanya terhantam remuk.

Kiranya dari jarak jauh Sebun Tio bu sempat menyambitkan Thi mo pi yang berantai itu, begitu sasarannya roboh segera pula tangan besi iblis itu ditariknya kembali.

Lalu ia menyengir terhadap Pau Seh hoa, katanya.

"Inilah resep Siang heng, cepat serang cepat beres!"

Pau Seh hoa tertawa, ia celingukan sekelilingnya, tapi jejak Siang Cin tidak kelihatan lagi, ia menjadi heran dan bertanya.

"Kemanakah Kongcu-ya?"

Sebun Tio bu melirik ke atas pohon Siong yang besar di sebelah sana dan berkata.

"Naik ke langit!"

Waktu Pau Seh hoa menengadah, benarlah Siang Cin sedang nongkrong di dahan pohon yang bergoyang-goyang itu, malahan mulut mengulum lidi pohon cemara itu.

"Haha..."

Pau Seh hoa bergelak tawa.

"bisa saja dia..."

Dalam pada itu suara bende terdengar ber-talu2, menyusul lantas terlihat cahaya api berkilauan di sana sini disertai suara orang berlari kian kemari dan bentakan orang, hampir semua suara itu berbondong-bondong menuju ke arah sini.

"Pletak", Pau Seh hoe ketuk kedua keping kayunya. Serunya.

"Hebat, sebentar lagi pasti ramai"

"Ya, biarkan mereka datang, akan kuperkenalkan panahku, kepada mereka,"

Jengek Sebun Tio bu.

Hanya sekejap saja, dari balik rumah sana, ujung pagar tembok dan sekitarnya be ramai2 membanjir tiba bergerombol-gerombol pasukan berseragam hijau dengan golok terhunus.

Semuanya berteriak-teriak, entah untuk membangkitkan semangat atau untuk menabahkan hati.

"Busyet, tampaknya tiada banyak bedanya dengan adegan di Toa ho tin dan Ji ih hu sana,"

Ujar Sebun Tio bu sambil terkekeh.

"Marilah kita mendahului kerjai mereka!"

Pau Seh hoa mengiakan.

Berbareng mereka lantas bertindak.

Sebun, Tio bu mengeluarkan sebatang panah kecil berwarna biru dengan hiasan batu merah, segera ia sambitkan panah itu ke angkasa sehingga menimbulkan selarik sinar yang berwarna warni.

"cret", panah itu lantas menancap di pekarangan sana, ambles ke dalam tanah yang bersalju itu.

Jilid 21 Panah itu menancap ke dalam tanah lebih dari setengahnya dan tepat kelihatan batu permata merah yang menghias tangkai panah itu.

Terdengar suara raungan keras di tengah orang banyak sana, menyusul suara itu, orang-orang Jeng siong-san ceng yang menerjang keluar dari berbagai penjuru itu sama berhenti dan membentuk garis kepungan suatu lingkaran dan berIapis-lapis.

"Keparat sedikitnya ada beberapa ratus orang!"

Omel Pau Seh-hoa dengan suara tertahan.

"Jangan kuatir, semuanya kaum keroco, ku-tahu!"

Tukas Sebun Tio-bu.

Dalam pada itu di pihak sana seorang setengah baya berdandan sebagai kaum sastrawan tampak muncul ke depan, Mukanya putih menghijau, sikapnya tenang, di atas bibir ada sebuah tahi lalat besar.

Kira-kira setengah kaki di depan panah Sebun Tio-bu tadi ia berdiri dan mengawasi panah itu sejenak, lalu memandang pula ke arah Sebun Tio-bu dan Pau Seh hoa.

Mendadak air mukanya berubah, katanya kemudian.

"Panah bermata merah Jian-ki-beng, apakah anda inilah Sip-pi-kun cu Sebun tangkeh?"

Sebun Tio-bu tertawa, jawabnya tegas.

"Betul, inilah Locu (bapakmu) adanya!"

Lelaki setengah baya itu tampak gusar, damperatnya.

"Sebun tangkeh, apa maksud kedatanganmu ini adalah urusan nanti, hanya mengenai tutur-katamu, hendaklah kau tahu sopan santun sedikit, janganlah kehilangan harga dirimu sebagai seorang ketua perserikatan yang termashur."

"Sialan, bertahun-tahun juga begini watakku dan belum pernah orang mencela diriku, Locu tetap Locu siapapun tak dapat melarang kebebasanku,"

Jengek Sebun Tio bu. Sinar mata sastrawan setengah baya itu mencorong terang, ucapnya pula.

"Sebun-tangkeh, di Soasay kau memang ditakuti, nama Jian-ki-beng termasyhur hingga jauh, kau boleh malang melintang di wilayah kekuasaanmu, tapi jangan lupa, di sini adalah Jeng-siong-san-ceng, betapapun kau harus tahu aturan dan jangan temberang." 441

"Hahaha,"

Sebun Tio-bu tertawa.

"Memangnya kau ini orang macam apa di Jengsiong-san-ceng sini? Coba sebutkan namamu, biar Locu belajar kenal."

"Leng-bin-kim-bong (dun emas bermuka dingin) Han Cing ialah diriku,"

Jawab orang itu.

"Nah, Sebun tangkeh, mungkin namaku belum cukup berbobot bagimu."

"Berbobot atau tidak masih harus dinilai nanti,"

Jawab Sebun Tio-bu.

"Apakah kau yang memutuskan segala sesuatu di sini, orang she Han?"

Han Cing tidak menjawab, tapi balas menegur.

"Sebun-tangkeh, tanpa permisi kau menerjang ke perkampungan kami ini dan mencelakai anak buah Jeng-siongsan-ceng pula, lalu pamer panah tanda pengenalmu, sesungguhnya apa kehendakmu?"

"Pertanyaan bagus,"

Ucap Sebun Tio-bu.

"Locu menerobos ke perkampungan kalian ini hanya untuk keperluan menagih utang bagi saudara kami ini. Karena perangai saudara kami ini tidak sabaran begitu tiba ada orang menghalangi, segera dia main sikat. Anak buah kalian yang tidak tahu sopan santun, ada tamu tidak disambut, sebaliknya malah merintangi dan berkaok-kaok, dalam keadaan demikian terpaksa kami main hantam, Bila kepalan sudah ikut bicara, akibatnya seperti apa yang kau lihat ini."

Tidak kepalang gusar Han Cing sehingga mukanya yang pucat hijau itu bersemu merah, ia mendengus dan berkata pula.

"Sebun-tangkeh, tampaknya kaupun mahir putar lidah dan pintar memutar-balik persoalan, sekarang coba jelasnya, apa kehendak mu?"

"Sederhana sekali,"

Kata Sebun Tio bu sambil tertawa.

"dahulu kalian telah utang kepada saudara kita ini, maka sekarang biar dia juga yang membuka nota dan bikin perhitungan dengan kalian, Siapa di pihak mu akan maju untuk menandingi dia, kita akan menyaksikan di samping tanpa ikut campur, bila mati tinggal dikubur saja, Nah, apakah kau terima usulku ini. Jika setuju, akan kucabut panahku, Kalau tidak, hehe, orang she Han, boleh kau cabut panah itu dan lemparkan kembali kepadaku, ini tandanya Jeng-siong-san-ceng menolak permintaanku dan selanjutnya terpaksa ku ikut menghadapi kalian."

Kulit muka Han Cing tampak berkerut-kerut, bibirnya juga bergerak-gerak, agaknya sedapatnya dia menahan rasa gusarnya, katanya kemudian.

"Sebun Tiobu, kau kira tempat apakah ini dan boleh kau-bicara sesukamu? Sebun Tio bu, kedatanganmu bersama orang she Pau yang merupakan ikan yang lolos dari jaring Jeng siong-san ceng kami ini boleh dikatakan mencari penyakit sendiri, setelah datang jangan harap kalian bisa lolos lagi, Boleh kau lihat nanti apakah Jeng-siong san ceng dapat kau datangi dengan sesukamu?"

Segera Pau Seh-hoa melangkah maju.

"pletak", lebih dulu kedua keping kayunya bergetar, lalu ia tuding lawan dan meraung.

"Han Cing, kiranya kau ini yang bernama Han Cing. Bagus, aku ini memang ikan yang Iolos dari jaring, dan kau, kaum maha guru, mukamu cakap, mukamu bagus? Dirodok, bicara seenak perutmu! Bahwa Locu pernah jatuh di tangan kalian, apakah itu terjadi di medan tempur atau karena ketidak becusanku? Hm, kalian menggunakan obat bius dan aku terperangkap, sekarang kau berani berkaok-kaok membanggakan diri? Huh, seluruh isi Jeng-siongsanceng kalian ini adalah binatang seluruhnya, budaknya budak, setannya setan Bangsat she Han, Locu akan buktikan padamu apa yang kau sebut ikan yang lolos 442 dari jaring. Bangsat she Han, bicara terus terang, Jeng-siong-san-ceng kalian pasti akan tamat hari ini!"

"Bagus, makian tepat, cacian bagusl"

Seru Sebun Tio bu.

Tidak kepalang gusar Han Cing, ia melangkah maju dan mencabut panah bermata merah itu terus dilemparkan kepada Sebun Tio-bu.

Dengan cekatan Sebun Tio-bu tangkap kembali panahnya itu dan disimpan, sambil menyeringai ia berkata.

"Han Cing, memang sudah kuduga inilah yang akan kau Iakukan. Maka selanjutnya Jeng-siong-san ceng jangan lagi menyalahkan setiap langkah Locu."

Han Cing meraung murka.

"Sebun Tio-bu yang pasti hari ini jangan harap kalian dapat keluar dari Jeng-siong-san-ceng dengan hidup-hidup, bila kalian sampai lolos, aku orang she Han ini bukan manusia lagi "

"Dirodok, kau memang binatang, siapa bilang kau manusia!"

Tukas Pau Seh-hoa dengan tertawa.

"Baiklah, boleh kau coba saja,"

Dengan angkuh Sebun Tio-bu menjawab.

"Lihat nanti apakah kalian mampu mencaplok kami atau kami yang akan sikat habis kalian."

Pada saat itulah tiba-tiba dari samping sana seorang menanggapi ucapan Sebun Tio-bu dengan nada yang dingin berwibawa "Betul, Sebun Tio-bu, kami memang ingin mencobanya."

Waktu mereka berpaling ke sana, belum lagi Sebun Tio-bu bersuara, lebih dulu Pau Seh-hoa telah menarik ujung bajunya dan membisikinya.

"Inilah juragan besarnya sudah muncul, dia inilah gembong Jeng-siong-san-ceng, Ha It-cun, sang Cengcu."

Ha It-cun memakai jubah berwarna abu-abu tua dengan sulaman huruf "Hok" (rejeki) di bagian dada, sikapnya dingin tapi kereng, ia berdiri belasan langkah di sebelah sana, dikelilingi belasan orang yang beraneka macam potongan tubuhnya, jelas mereka ini jago pilihan Jeng-siong-san-ceng.

Tepat di sebelah kiri Ha It-cun berdiri seorang yang membuat mata Pau Seh-hoa menjadi merah setelah melihatnya.

Orang ini adalah Kongsun Kiau-hong, si jangkung yang membius mereka dahulu, inilah biangkeladi daripada semua persoalan yang mengakibatkan mereka tersiksa dan terhina itu.

Sedangkan di sebelah kiri Ha It-cun berdiri Sek Kui, musuh yang paling dibenci Siang Cin.

Di sebelah Sek Kui berdiri pula seorang tinggi kurus dan bermuka hitam, lelaki setengah umur ini bermata tajam seperti elang, sorot matanya liar, sekali pandang saja dapat diduga orang ini pasti berhati kejam dan culas.

Terdengar Ha It-cun berkata.

"Sebun Tio-bu, selamanya Jeng-siong-ssn-ceng tiada persengketaan apapun dengan Jian-ki-beng kalian, tapi berulang-ulang kau memusuhi kami, di Ji-ih-hu kau tidak langsung bentrok dengan anak buahku, mengingat kita sama-sama membela kawan, maka akupun tidak perlu mengusut tindakanmu itu, Tapi kalau kau kira Jeng-siong-san-ceng adalah kaum lemah dan 443 boleh kau injak-injak sesukamu, maka salah besar kau. Sekarang kau berani mengiringi bekas tawanan kami si orang she Pau ini main gila pula ke sini, bisa jadi terpaksa harus kubereskan sekalian di sini,"

Pau Seh-hoa meraung gusar, ia tuding Ha It-cun dan memaki.

"Kau kura-kura tua, bangsat tak tahu malu, jangan kau kentut sesukamu! Memangnya siapa pernah kautawan? Bahwa pernah kujatuh di tangan kalian juga lantaran cara kalian yang licik, kau yang tidak tahu malu."

"Keparat"

Segera Sek Kui menanggapi dengan gusar.

"jago yang sudah keok, ikan yang terlepast masih juga berani berkaok-kaok seperti orang gila, Huh, apa kemampuanmu? Sungguh menggelikan di dunia Kangouw adalah orang macam kau ini."

Hampir meledak dada Pau Seh-hoa saking gemasnya, dengan mata melotot ia memaki pula.

"Kau Sek Kui piaraan biang anjing, kau sendiri terhitung orang macam apa? Kau hanya..."

Cepat Sebun Tio~bu mencegah caci-maki Pau Seh hoa yang melantur itu, berkecimpung di dunia Kangouw, siapa yang berani menjamin selama hidupnya takkan pernah terjungkal dan kecundang, padahal terjungkal atau kecundang juga macam-macamnya, jika pihak lawan menggunakan cara yang rendah..."

Air muka Sek Kui berubah segera ia menanggapi tapi Sebun Tio bu lantas mendengus keras keras, lalu berpaling menghadapi Ha It-cun dan berkata pula.

"Orang she Ha, apapun juga kau sudah hidup setua ini, di dunia persilatan namamu juga cukup terkenal, sungguh tidak kusangka kau bicara seperti anak kecil dan tidak tahu malu, Kau bilang tidak mau mengusut perbuatanku? Memangnya berdasarkan apa kau akan mengusut diriku? Huh, jika kujeri padamu, tentu siang-siang sudah kabur sebelum ikut menghancurkan Ji ih-hu, apalagi sekarang kudatang mencari kau. Hehe, beberapa biji tulang igamu cukup kuketahui dengan baik, maka tidak perlu kau membual."

"Sebun Tio-bu, kau terlalu latah!"

Jengek Ha It-cun dengan merah padam.

"Kau pun tidak banyak berbeda!"

Jawab Sebun Tio-bu.

"Bagus, Sebun Tio bu, agaknya hari ini kita harus menyelesaikan semua urusan, baik utang yang lama maupun perhitungan baru boleh kita selesaikan seluruhnya,"

Dengus Ha It-cun.

"Ya, memang itulah maksud tujuan kedatangan kami ini!"

Jawab Sebun Tio-bu sambil tertawa, Mendadak Pau Seh hoa menimbrung pula.

"Setan tua Ha It-cun, bukankah kau masih menyimpan jago lainnya? Mana itu Ih Keng-hok, suruh keluar saja sekalian. Keparat, boleh kita bereskan saja sekalian, untuk apa bicara berteletele."

Ha It-cun menyeringai, katanya.

"Pau Seh-hoa, tidak perlu kau omong besar Ih Keng-hok memang berada di sini, dia sedang menjenguk seorang temannya di luar perkampungan tapi sudah kusuruh panggil puIang, bila kalian berhadapan, tentu kalian boleh adu kekuatan." 444

"Sudahlah, orang she Ha, kita tidak perlu adu mulut, biarlah kita tentukan dengan kepandaian sejati,"

Seru Sebun Tio-bu.

"Apakah kau perlu menunggu datangnya Ih Keng-hok atau sekarang juga kita mulai?"

"Sebun Tio-bu,"

Teriak Sek Kui dengan gemas.

"memangnya kau kira Jeng-siongsan-ceng hanya mengandalkan dukungan orang luar untuk berdiri tegak selama berpuluh tahun ini."

"Bagus jika begitu,"

Kata Sebun Tio-bu.

"Nah, sekarang boleh keluarkan bukti kelihayan kalian, marilah kita mulai saja agar tidak membuang waktu percuma."

"Cengcu, mohon memberi perintah untuk membekuk kedua bangsat ini!"

Kata Sek Kui dengan suara tertahan kepada Ha It-cun.

Tapi Ha It-cun cukup prihatin dan tidak suka bertindak secara gegabah, ia pandang Sebun Tio-bu dan Pau Seh-hoa yang terkepung itu, ia merasa ragu melihat sikap kedua orang yang tenang dan mantap itu meski terkepung di tengah musuh, sebaliknya iapun yakin akan kekuatan sendiri, di tengah Jeng-siong san-ceng masakah tiada jagoan yang tangguh?

Apalagi perbandingan jumlahnya terlalu menyoIok, anehnya kedua orang lawan tetap tenang-tenang saja seperti tidak gentar sedikitpun, jangan-jangan ada udang di balik batu.

Sek Kui merasa bingung karena sang Cengcu tidak memberi tanggapan atas permintaannya, diam-diam iapun merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

Sejenak kemudian barulah Ha It cun membisiki Sek Kui apa yang dipikirnya, Dengan sendirinya Sek Kui menjadi waswas juga.

"Jangan-jangan mereka... mereka masih ada bala bantuan lain? Atau... atau ada intrik yang tersembunyi?"

Kata Sek Kui kemudian.

"Ya, menurut dugaanku, di belakang mereka pasti masih tersimpan jago lain yang lebih lihay."

Kata Ha It-cun.

"Dan orang itu, hm, besar kemungkinan adalah..."

"Naga Kuning Siang Cin."

Desis Sek Kui.

"Benar, kukira dia,"

Kata Ha It cun sambil mengangguk Dengan menggigit bibir Sek Kui berkata pula dengan suara tertahan.

"Tapi, sejauh ini kita belum menemukan jejak Siang Cin, waktu tanda bahaya berbunyi, yang kelihatan juga cuma kedua orang ini."

"Waktu tanda bahaya berbunyi, entah sudah berapa lama kedua orang ini menyusup masuk dan cukup bagi Siang Cin untuk bersembunyi. Apakah beberapa anak buah kita yang pertama kali memergoki mereka telah melihat Siang Cin berada di antara mereka atau tidak, tapi, beberapa anak buah itu sudah menjadi korban keganasan mereka lebih dulu dan tiada keterangan yang dapat kita korek lagi."

Sek Kui menjadi tegang, ia coba memandang sekelilingnya.

"Tidak perlu dicari,"

Ucap Ha It-cun.

"Tiba waktunya dia tentu akan muncul sendiri, bilamana kita dapat melihat dia, tentu iapun tidak perlu bersembunyi." 445 Dalam pada itu terdengar Sebun Tio bu telah menantang pula dengan tidak sabar.

"Hai, apakah kalian sengaja mengulur waktu, kedatangan kami ini bukan untuk mengobrol dengan kalian."

Alis Ha It-cun menjengkat, tapi sebelum dia bersuara, tiba-tiba seorang berlari datang dan memberi lapor.

"Cengcu, Ih locianpwe sudah pulang bersama Toakongcu ..."

Mendengar laporan itu, tampak Ha It cun tersenyum gembira, hatanya.

"Li heng, silakan mengundang Ih-cianpwe kemari, katakan aku sedang menghadapi musuh dan tidak sempat menyambut beliau."

Orang she Li yang datang melapor itu segera melayang pergi, gerakannya sungguh amat cepat, hanya sekejap saja lantas menghilang.

"Cepat amat kedua kaki keparat itu?"

Ujar Sebun Tio bu. Sambil menyeringai Pau Seh-hoa lantas berteriak puIa.

"Setan tua she Ha, tentunya kau senang karena orang she lh sudah pulang, tapi apapun yang akan kau kemukakan, orang she Pau siap menandangi,"

"Jangan latah, Pao Seh-hoa,"

Teriak Ha it cun.

"Sebentar akan kupotong lidahmu dan kurobek mulutmu untuk umpan anjing."

"Cis, jika kau tidak mampu, kepalamu yang akan kupenggal dan kutendang sebagai bola,"

Jengek Pau Seh-hoa tidak kalah garangnya.

"Huh, ikan yang berhasil lolos keluar jaring, jago yang sudah pernah keok, sudah dekat ajal masih bermulut besar, sungguh tidak tahu malu!"

Jengek Sek Kui. Mendadak Pau Seh hoa berludah ke arah Sek Kui dan mendamperat.

"Keparat, jangan kau kentut sesukamu, seumpama betul Locu tidak tahu malu juga lebih terhormat daripada manusia rendah dan kotor..."

Baru Pau Seh hoa memaki sampai di sini, mendadak Sebun Tio-bu menarik ujung bajunya sambil memandang ke belakang Ha lt-cun, desisnya.

"Ssst, Pau-heng, itu dia Ih Keng-hok datang."

Waktu Pau Seh-hoa berpaling ke sana, terlihat empat orang sedang datang ke arah sini.

Yang di depan berusia 60 an, bertubuh tinggi kekar, mukanya agak kurus, tapi kereng, sorot matanya tajam, jelas seorang tokoh yang jarang ada bandingannya, Dia memakai jubah hitam mengkilap, rambutnya juga hitam dan belum beruban, diikat tinggi di atas kepala.

Tangan kiri membawa suatu gulungan panjang entah benda apa.

Dari lagak-Iagunya, meski Pau Seh-hoa dan Sebun Tio-bu tidak tahu siapa dia tapi dapat diduga orang ini pasti Ih Keng-hok adanya.

Di belakang Ih Keng-hok ada lagi seorang pemuda jangkung dan ganteng, berusia likuran, tampaknya gagah perkasa.

Di belakang pemuda ini adalah seorang 446 perempuan jelas dia ini Kiang Ling yang dahulu bersama Kongsun Kiau-hong pernah mencelai Siang Cin dan Pau Seh hoa.

Masih ada lagi orang keempat, itu orang she Li yang disebut Ha It-cun tadi, Orang she Li ini kurus kecil, kepalanya lonjong, mukanya sempit, seperti orang yang selalu takut-takut.

Tapi sekarang dia tidak kelihatan takut, dia sedang bicara dan tuding ini-itu, dengan bersemangat ia mengiringi Ih Keng-hok bertiga ke sini.

Seketika semangat setiap orang Jeng-siong-san-ceng terbangun demi nampak datangnya Ih Keng-hok serentak sikap mereka menjadi garang dan siap tempur.

"Keparat,"

Damperat Pau Seh-hoa dengan suara tertahan "Seperti kedatangan kakek moyang saja, coba lihat, betapa gembiranya mereka."

"Hm, kawanan anjing ini mengira kita dapat dicaplok dengan mudah,"

Jengek Sebun Tio-bu.

"Sebentar lagi mereka baru tahu rasa."

Ia merandek sejenak, lalu menambahkan pula.

"Jangan terburu-buru turun tangan Pau-heng, sebentar lagi, begitu bergerak kita lantas terpencar dan memikat mereka, gerak cepat sebagaimana dikatakan Siang-heng."

"Ku tahu,"

Jawab Pau Seh-hoa sambil mengangguk. Dalam pada itu Ha It cun tampak sedang berpaling ke sana dan menyapa si jubah hitam yang bermuka kurus itu, katanya.

"Sangat kebetulan kedatangan lhheng, sedang kuhadapi kedua penyatron ini, makanya tidak kusambut kedatangan lh-heng, mungkin Li-heng sudah menjelaskan tadi."

Sebun Tio-bu dan Pau Seh-hoa saling pandang sekejap, terkaan mereka memang betul, si jubah hitam memang Ih Keng hok adanya.

Tanpa balas hormat, Ih Keng-hok hanya mengangguk pelahan saja, tanyanya kemudian dengan angkuh.

"Apakah kedua orang yang terkepung itu?"

Ha lt cun menjawab "Betul, memang kedua keparat itu, belasan anak buah kita telah menjadi korban sergapan mereka."

Ih Keng-hok mendengus, ia melangkah maju ke samping Ha It-cun, baru sekarang dia berhadapan dengan Sebun Tio-bu dan Pau Seh-hoa.

Sejenak ia mengamat-amati kedua orang itu, lalu menuding dan menegur dengan ketus.

"Sebun Tio-bu, Pau Seh-hoa?"

"ltulah Locu!"

Jawab Sebun Tio-bu dengan kepala mendongak pongah. Pau Seh-hoa juga menjawab dengan kemalas-malasan.

"Hehe, jika dua keping kayu dari Koh-keh-san tak kau kenal, maka terhitung orang Kangouw apa kau orang she Ih?" 447 Melihat sikap congkak Sebun Tio bu dan Pau Seh-hoa, seketika orang-orang Jeng-siong-san ceng meraung gusar, Han-ceng dan Sek Kui berteriak-teriak ingin melabrak musuh. Tapi Ih Keng-hok telah mengebas lengan jubahnya untuk mencegah caci-maki orang banyak, ia melirik hina Sebun Tio-bu dan Pau Seh-hoa, lalu dengan suara pelahan dan ketus berkata.

"Sebun Tio-bu, Jian ki~beng kalian mungkin dipuja oleh orang lain, tapi bagi orang she Ih belum termasuk daftar. Sikap pongahmu tadi menandakan pula betapa kau telah malang melintang dan meremehkan orang lain. Keparat semacam kau ini biarpun dibunuh juga belum cukup untuk menebus dosamu."

Tanpa menunggu jawaban Sebun Tio-bu, segera Ih Keng-hok berkata pula terhadap Pau Seh hoa.

"Sudah beberapa tahun yang lalu kudengar ada seorang jembel semacam kau ini di Koh-keh-san, sejak kau mendekam dalam kurungan Ha It-cun, mulai saat itu kuanggap orang macam kau ini tiada harganya untuk dicatat. Setelah bertemu sekarang, kulihat kau memang manusia rendah dan kotor, palingpaling kau hanya cocok untuk pekerjaan menggangsir atau mencuri ayam, masakah kau berharga berkecimpung di dunia persilatan?"

Tidak kepalang murka Sebun Tio-bu dan Pau Seh-hoa, kontan Pau Seh-hoa meraung.

"lh Keng-hok, jangan kau temberang! Kau sendiri terhitung kelas berapa? Locu justeru tidak pandang sebelah mata padamu, dirodok, kau mengoceh seperti berhadapan dengan anak buahmu sendiri ..."

Dengan muka dingin Sebun Tio-bu juga berteriak.

"Bagus sekali kau Ih Kenghok, lagakmu seperti raja diraja, seakan-akan dunia ini kau yang kuasa. Huh, bagiku kaupun belum masuk hitungan, tidak perlu kau bermulut besar, paling baik kalau kita coba-coba saja dahulu ..."

Belum lagi Ih Keng-hok menanggapi pemuda gagah bermuka agak hitam di belakangnya segera menyelinap maju.

"Suhu,"

Teriak pemuda ini.

"izinkan Tecu melabrak dulu jahanam yang bermulut kotor ini!"

Tapi Ih Keng-hok lantas memberi tanda pada pemuda itu sambil membentak.

"Mundur kan!"

Ha It cun juga berseru.

"Anak Lin, menyingkirlah ke samping, segala urusan biar diatur oleh gurumu."

Kiranya pemnda ini adalah putera tunggal Ha It-cun, Ha Lin, murid Ih Keng-hok pula.

Terpaksa dengan rasa murka ia mundur kembali sambil melotot ke arah Sebun Tio-bu dan Pau Seh hoa.

Pelahan-lahan Ih Keng-hok mulai bergerak, selangkah demi selangkah, kukuh seperti gunung, tenang dan kereng, ia mendekati lawan sambil mulai membuka bungkusan panjang yang dibawanya, Suasana menjadi tegang.

Pelahan Sebun Tio-bu membisiki Pau Seh-hoa.

"Pauheng, begitu bergebrak kita terus terpencar dan menerjang ke tengah mereka." 448 Pau Seh-hoa hanya mengangguk pelahan saja, Dia sudah siap siaga, ia tahu Ih Keng hok bukan lawan yang empuk. Sementara itu Ih Keng-hok sudah dekat, sekali menggetar, mendadak bungkusan panjang itu terbuka, kiranya semacam senjata aneh berbentuk pedang, berbatang sempit dan tipis. bersinar mengkilap dan berhawa tajam, inilah Liong-jongnui-kiam"

Atau pedang lemas usus naga, senjata andalan Ih Keng-hok yang merontokkan nyali setiap lawannya.

Kecepatannya juga sukar dibayangkan begitu pedang lemas itu berbahaya, jaraknya dengan Sebun Tio-bu yang semula kelihatan masih beberapa meter jauhnya, sekonyong-konyong sinar pedang sudah menyambar tiba di depan tenggorokan kedua lawan.

Pau Seh-hoa meraung dan mendak ke bawah, kedua keping kayunya berputar, sekaligus iapun menutul beberapa kali ke depan sebaliknya Sebun Tio-bu tidak bergeser sama sekali, Tiat-mo-pi, lengan baja iblis, segera juga bekerja.

"Trang", lelatu api tepercik, tahu-tahu Ih Keng-hok tudah melompat mundur. Meski Tiat-mo-pi tidak sampai terkutung, tapi tidak sedikit bubuk baja yang rontok terkupas oleh pedang lawan.

"Hantam!"

Teriak Pau Seh-hoa.

Di tengah teriaknya itu ia terus memutar ke sana dan menerjang ke tengah-tengah kerumunan musuh.

Pada saat yang sama Sebun Tio-bu juga bertindak serupa.

Sekali pandang Ih Keng-hok lantas tahu maksud tujuan lawan, secepat terbang ia melompat maju ke tengah-tengah antara Sebun Tio-bu berpisah dengan Pau Sehhoa itu, pedang lemas panjang itu berputar dan menerbitkan suara mendengung, sekaligus ia menyerang ke kanan dan ke kiri.

Saat itu Pau Seh-hoa sedang mengapung ke depan, tapi pedang musuh tahutahu menyambar dari belakang, untung dia sempat menggeliat di udara sehingga tidak terluka, namun jubahnya telah tersayat robek.

Pada waktu yang sama Sebun Tio-bu sempat memutar lengan besinya untuk menangkis setiap serangan Ih Keng hok, kembali terdengar suara mendering dengan lentikan leIatu.

Setelah saling gebrak, ketahuilah imbangan kekuatan kedua pihak, Ih Keng-hok memang terbukti maha lihay, ilmu pedangnya sudah tergoIong mencapai puncaknya dan sukar diukur.

Jelas Sebun Tio-bu masih kalah setingkat dibandingkan Ih Keng-hok, kalau dilawan matian selisihnya tidak terlalu menyolok, Sedang Pau Seh-hoa jelas kalah dua tiga tingkat, bila satu-lawan-satu dia pasti akan dilalap lawan.

Setelah masing-masing tahu kekuatan lawan, Pau Seh-hoa tidak berani gegabah lagi, cepat ia menyelinap ke sana dan menerjang anak buah Jeng-siong-san-ceng.

Ih Keng-hok bersuit panjang terus menyusulnya dengan cepat, dari jauh pedangnya lantas menyabas lebih dahulu.

449 Tapi Sebun Tio bu juga tidak tinggal diam, dari samping lengan besinya lantas menyambar ke belakang musuh.

Terpaksa Ih Keng-hok tidak sempat mengejar Pau Seh-hoa, ia berputar balik, pedang lemas balas menyabet Sebun Tio-bu, segera kedua orang terlibat dalam perang tanding yang dahsyat.

Di sebelah sana Pau Seh-hoa sempat menerjang ke depan anak buah Jengsiong-san-ceng yang berkerumun di situ, belum lagi orang-orang itu bertindak, segera terdengar jeritan ngeri, di tengah bekerjanya kedua keping kayu Pau Seh hoa, beberapa orang telah roboh dengan kepala pecah dan jiwa melayang.

Han Cing terkejut, cepat ia menubruk maju sambil berteriak.

"Hadang dia, apakah kalian orang mampus semua!?"

Serentak belasan jago silat Jeng-siong-san-ceng memburu maju, namun Pau Seh-hoa lantas menyusup ke arah lain dan kembali beberapa orang Jeng-siong-sanceng terguling lagi.

Tapi belasan Busu atau jago silat Jeng-siong-san-ceng itupun dapat membendung Pau Seh-hoa dan mengerubutnya.

Seh-hoa mendengus sekali gerak serangan pura-pura, cepat ia menerobos pula ke samping lain, kedua keping kayunya berputar naik turun, beberapa orang terluka lagi dan malah menyingkir.

Sekonyong-konyong sebuah tumbak trisuIa menyambar lewat di depan perut Pan Seh-hoa, untung dia sempat mengempiskan perut dan menarik tubuh sedikit sehingga tumbak itu menyambar lewat di bawah perutnya.

Berbareng itu ia mendengus, keping kayunya menyampuk ke samping, muka penyerang itu seketika hancur dan roboh terkapar Pau Seh-hoa terus menerjang ke sana dan menubruk ke sini dengan gesit, hanya sekejap beberapa orang menjerit terguling pula.

Tidak kepalang murka Han Cing, ia terus membuntuti Pau Seh-hoa dan bermaksud melabraknya, tapi dengan licin Pau Seh-hoa menyelinap kian kemari dan menghindari pertarungan dengan orang she Han ini, yang diterjang adalah anak buah Jeng-siong-san-ceng serta jagoan yang berkepandaian agak rendah.

Saking murkanya Han Cing hanya berkaok-kaok murka saja, seketika ia belum mampu melabrak Pau Seh-hoa.

Melihat keganasan Pau Seh-hoa, anak buah Jeng-siong-san ceng yang lain menjadi jeri, tapi ada juga yang menjadi nekat, beramai-ramai mereka lantas menerjang maju dan mengepung terlebih ketat.

Ha Lin, putera tunggal Ha It-cun itu, dengan mendongkol berkata.

"Ayah, biarlah anak melayani keparat itu."

Ha It-cun menggeleng, katanya.

"Kukira yang lebih penting adalah membereskan Sebun Tio-bu itu. Anak Lin, biarpun dia jelas bukan tandingan gurumu, tapi untuk waktu singkat sukar kiranya merobohkan dia, hal ini rasanya kurang menguntungkan kita, maka kupikir lebih baik minta bantuan paman Li ikut terjun ke sana untuk membantu gurumu." 450 Ha Lin melirik sekejap lelaki kurus setengah baya yang berdiri menonton dengan sikap dingin di samping itu, katanya kemudian dengan suara tertahan .

"Ayah tentunya kenal watak Suhu yang tidak suka dibantu orang luar, hal ini dianggapnya sebagai penghinaan baginya, kecuali Suhu sendiri yang minta, kukira tidak baik ...."

"Kukira ucapan Toakongcu memang tepat,"

Tiba-tiba orang setengah baya itu menukas.

"Ha-ceng-cu juga tahu kedatanganku ini hanya untuk menunggu satu orang saja, yaitu orang she Siang."

Kiranya lelaki setengah baya she Li ini adalah ketua keluarga Li dari Soasay, si potlot baja Li Go.

Sudah cukup lama dia berada di Jeng siong san ceng, Waktu dia menerima berita adik kandungnya, Li Jiang, yang terbunuh oleh Siang Cin, segera ia datang ke Jeng-siong-san-ceng untuk mengurus jenazah adiknya itu, sejak itulah dia berada di perkampungan ini, ia tahu permusuhan antara Siang Cin dengan Jengsiong-san-ceng, ia yakin pasti Siang Cin akan datang lagi, sebab itulah iapun bertekad menunggu kedatangannya untuk menuntut balas bagi kematian adiknya.

Dalam pada itu Ha Lin tampak tidak sabar lagi, katanya pula.

"Ayah sudah banyak anak buah kita yang menjadi korban keganasan orang she Pau itu, coba lihat, dia sangka menghindari kejaran Han-wancu dan ..."

"Baiklah, boleh kau maju, cuma harus hati-hati."

Kata Ha It cun kemudian.

Sejak tadi Ha Lin memang sudah getol untuk turun tangan, tanpa ayal lagi ia terus memburu ke arah Pau Seh-hoa sana.

Dengan tak sabar Ha It cun mengikuti pertarungan Ih Keng-hok melawan Sebun Tio-bu, dilihatnya sinar pedang bergulung-gulung memburu sekeliling Sebun Tio-bu yang tetap memutar lengan besinya dengan sama dahsyatnya laksana ular naga yang melingkar kian kemari.

Dalam pada itu Ha Lin dan beberapa anak buahnya juga telah menerjang ke barisan Han Cing sana, hanya sebentar saja Pau Seh-hoa sudah berhasil merobohkan belasan orang Jeng-siong-san ceng, Tapi datangnya Han Lin seketika merepotkan dia.

Pada saat itu Han Cing sempat mencegatnya dari samping kiri, Han Cing juga bersenjata pedang, dengan gregetan ia serang Pau Seh-hoa.

Han Lin juga menggunakan pedang lemas mirip senjata gurunya, bedanya cuma batang pedang agak lebar, namun tajamnya tidak ada bedanya.

Diam-diam Pau Seh hoa mengeluh, namun dia lantas tambah gesit menyelinap kian kemari, setiap kali keping kayunya berbunyi "pletak", kontan batok kepala seorang korbannya pecah dan jatuh tersungkur, ia masih terus berputar di antara para pengerubutnya, beberapa kali serangan Han Cing dan Han Lin yang berbahaya selalu dapat dihindarkan Pau Seh-hoa pada detik terakhir.

Dengan gelisah Ha It-cun mengikuti pertarungan Ih Keng-hok melawan Sebun Tio-bu yang sudah beberapa puluh jurus dan belum lagi nampak akan segera berakhir, sedangkan seorang Pau Seh hoa saja dapat mengobrak-abrik barisan anak 451 buahnya, meski Han Cing dan Han Lin ikut meogejar, tapi tetap sukar mencegah pengacauan orang she Pau itu.

Sungguh tidak kepalang murkanya.

"Cengcu, biarlah hamba ikut terjun sekalian?"

Tiba-tiba Sek Kui membisiki sang Cengcu. Ha It-cun menjawab dengan mendongkol.

"Tunggu lagi sebentar, ku kuatir kalau terjadi apa-apa lagi yang tak terduga."

Sek Kui melengak, ucapnya kemudian.

"Ya memang aneh juga, Yu-wancu bagian belakang mengapa sampai sekarang belum kelihatan pulang?"

"Hm, katanya dia keluar minum arak ke Siau-an, sudah setengah harian kenapa belum pulang?"

Dengus Ha It-cun dengan geram. Sek Kui tak berani menanggapi, diam-diam ia sudah merasakan firasat yang tidak enak. Dengan sorot mata tajam Ha It-cun berkata pula dengan gemas.

"Jika tidak menguatirkan keparat Siang Cin itu mungkin akan melakukan sergapan atau mengatur tipu muslihat keji, tentu sejak tadi sudah kukerahkan segenap kekuatan untuk mencincang kedua jahanam ini, tapi mereka..."

Belum habis ucapan Ha It-cun, mendadak Sek Kui berteriak.

"Celaka, ada kebakaran!"

Ha It-cun terperanjat cepat ia berpaling, benarlah, di tengah dan belakang perkampungannya, api tampak berkobar dengan hebatnya dengan asap tebal menjulang tinggi ke langit, Tampaknya api mulai menjalar dengan cepatnya.

"Lekas diperiksa, Sek-wancu, apa yang kau tunggu pula?!"

Teriak Ha It cun.

Cepat Sek Kui mengiakan dan berlari ke sana dengan membawa beberapa anak buahnya.

Dengan mengertak gigi Ha It-cun menyaksikan berkobarnya api yang semakin besar itu, terlihat langit seakan-akan merah membara, terdengar suara gemuruh ambruknya bangunan dan terbakarnya macam-macam benda, terdengar pula suara jerit tangis kaget dan ketakutan orang banyak yang berlari kian kemari dengan kacau.

Mendadak mata Ha It-cun jadi melotot ketika dilihatnya di kejauhan seorang demi seorang terlempar ke udara atau mencelat jatuhnya, jelas nyawa orang-orang itu pasti akan melayang.

Seketika terdengar teriakan ramai.

"ltu dia si Naga Kuning ....Ah, Thio suhu telah menjadi korban pula ....Wah, keji amat orang she Siang itu, lekas lari ....Hai, cepat cegat dia. kerubut dia, jangan sampai lolos ..."

Demikian teriakan riuh ramai itu membuat kepala Ha It-cun seakan-akan pecah, sedapatnya ia menahan pergolakan perasaannya, ia coba melirik Li Go yang berdiri sebelah.

452 Agaknya Li Go menyadari juga apa yang terjadi, segera ia berseru.

"Ha-cengcu, sudah tiba saatnya!"

"Baik, kita menyambutnya!"

Teriak Ha It-cun.

Kedua orang terus menerjang ke sana dibuntuti berpuluh anak buahnya.

Yang sedang mengamuk di sebelah sana memang betul si Naga Kuning Siang Cin adanya.

Bayangan Siang Cin berkelebat kian kemari, setiap kali tiba, di situ pula terdengar jeritan ngeri disertai mencelatnya tubuh manusia.

Semangat Pau Seh-hoa terbangkit seketika, beberapa kali putaran ia berhasil mendekati Siang Cin, teriaknya.

"Ai, Kongcuya, ke mana kau, kenapa tidak sejak tadi-tadi turun tangan, hampir saja aku dikerjai orang, beberapa kerat tulangku yang lapuk ini bisa menjadi abu bilamana kau terlambat datang pula!"

Perawakan Siang Cin yang tinggi kekar itu mendadak melejit maju, sekali tendang seorang Busu terguling sambil tumpah darah, waktu kaki lain terayun pula ke belakang, secara berturut-turut tiga orang terkapar juga.

Pada saat itulah Han Cing dan Ha Lin telah memburu tiba, serentak pedang Han Cing menabas, tapi sempat dihindarkan Siang Cin, sebelah tangannya menyampuk sekalian dan dua orang Jeng-siong-san-ceng pecah pula kepalanya.

Menyusul Siang Cin meloncat ke atas untuk mengelak beberapa kali sabetan pedang lemas Ha Lin, habis itu ia balas melancarkan beberapa pukulan dahsat sehingga Ha Lin terdesak mundur.

"Pletak", di sebelah sana Pau Seh-hoa telah mengetuk roboh pula seorang lelaki baju hijau, berbareng ia mendak ke bawah menghindari tabasan golok musuh, belum lagi orang itu sempat menarik kembali goloknya, tahu-tahu dadanya sudah ditonjok oleh kepingan kayu Pau Seh-hoa dan roboh terjungkal. Habis itu.

"Trang-tring", sekaligus Pau Seh-hoa tangkis toya dan gada dua lawan yang menyergapnya dari samping, sambil menyelinap ke arah lain iapun berseru.

"Awas, Kongcunya, setan tua she Ha dan begundalnya memburu tiba!"

"Haiit", sekali Siang Cin berteriak, kakinya menyapu dan kontan tiga orang tak bisa bangun lagi. Waktu tubuh Siang Cin menegak kembali, dengan kereng ia berseru.

"Kebetulan datangnya!"

Hampir pada saat yang sama iapun melayang ke sana menyongsong kedatangan Ha It-cun dan Li Go.

"Bagus, orang she Siang, ke mana kau akan lari sekali ini?!"

Teriak Ha It-cun dengan murka.

Bayangan kuning yang melayang tiba itu hinggap tepat di depan Ha It-cun, dengan ketus berkata "Tidak perlu banyak omong, orang she Ha, majulah kalian semuanya." 453 Li Go yang berada di samping Ha It-cun lantas meraung murka, bentaknya.

"Siang Cin, bayar jiwa saudaraku!"

Berbareng itu ia terus menubruk maju, potlot baja bercat merah terus menutuk dada dan perut Siang Cin, sekaligus ia menutuk beberapa Hiat-to maut di tubuh musuh.

Namun segesit kucing Siang Cin sempat mengelakkan seluruh serangan itu, berbareng iapun balas menghantam beberapa kali, selagi Li Go berkelit, Siang Cin mendengus.

"Hm, potlot baja keluarga Li apakah dapat menggertak orang she Siang ini? Adikmu yang tidak tahu diri, membela pihak yang bersalah dan membantu kejahatan, kau tidak tahu mendidik saudara sendiri, sebaliknya malah ikut membelanya, apakah kau tidak sayang pada jiwamu sendiri?"

"Tidak perlu banyak bacot, orang she Siang, pendek kata, jika bukan kau yang mampus, biarlah aku yang gugur, tiada sesuatu yang perlu kita persoalkan lagi,"

Teriak Li Go murka.

"wut-wut", potlot bajanya sekaIigus menutul pula beberapa kali. Namun dengan enteng Siang Cin dapat menghindar menyusul iapun balas menabas tiga kali dengan telapak tangannya, jengeknya.

"Bagus, sahabat, siapa yang kalah dia akan menjadi mayat!"

Karena pukulan dahsyat Siang Cin, terpaksa Li Go melompat mundur.

Namun dengan nekad ia menubruk maju pula, potlot bajanya tergolong satu senjata khas di dunia persilatan, keluarga Li dari Soasay cukup terkenal di dunia Kangouw, Li Go adalah ketua keluarga Li angkatan ke tujuh, kepandaiannya sudah tentu jauh lebih tinggi daripada Li Jiang, adiknya yang mati di tangan Siang Cin dahulu itu.

Akan tetapi kepandaian Li Go masih jauh daripada cukup untuk menandingi Siang Cin, di bawah tekanan Siang Cin yang dahsyat, hanya belasan gebrak saja Li Go sudah terdesak hingga kelabakan dan mundur setindak demi setindak.

Beberapa kali ia hampir saja dimakan oleh tabasan telapak tangan Siang Cin.

Siang Cin memang sudah ambil keputusan memakai siasat "gerak cepat", lekas hantam lekas beres, cara keji tanpa kenal ampun Dia tidak perdulikan lagi pihak lawan, yang diutamakan ialah cepat merobohkan lawan dan habis perkara.

Dengan cepat belasan jurus telah lalu pula, ketika potlot baja Li Go menyerang lagi, Siang Cin ambil tindakan berbahaya, sedikit mengegos, menyusul ia terus meloncat ke atas, belum lagi Li Go sempat putar haluan, dengan cepat dadanya terdepak oleh Siang Cin dua kail beruntun.

Ha It cun melihat gelagat jelek, tapi terlambat meski ingin menoIong.

Kontan Li Go berseru bertahan dan tubuh terpental beberapa meter jauhnya.

Selagi tubuh Li Go terguIing-guling ke sana, beberapa Busu Jeng-siong-sanceng serentak menghadang di depan Siang Cin dan menyerang dengan golok dan pedang mereka.

Akan tetapi orang-orang ini terlalu lemah bagi Siang Cin, hanya beberapa kali hantam dan tendang saja, tiga orang mencelat dengan tumpah darah dan seorang pecah batok kepalanya.

454 Ha It-cun tidak tahan lagi, ia meraung murka sambil melolos goloknya.

"Sianggoan-Iiong-bun-to", golok gelang dua berukir naga, ia putar goIoknya, dengan kencang dan menghadapi Siang Cin dari depan. Kepandaiannya memang tidak lemah, tenang dan mantap terutama permainan goloknya tidak dapat dipandang enteng, begitu golok itu berputar, seketika sinar perak berhamburan menyilaukan mata, bayangan goloknya bergumpal memburu lawan laksana gugur gunung dahsyatnya, Cepat dan keras serangannya, ia labrak Siang Cin dari jarak dekat tanpa gentar. Menghadapi sambaran golok yang hebat itu, Siang Cin perlihatkan ketangkasan dan kelincahannya, tubuhnya melejit naik turun dan melayang kian kemari, sering pada detik yang paling berbahaya ia justeru dapat menghindarkan renggutan elmaut, bahkan pada saat yang sama iapun melancarkan serangan balasan. Berlangsunglah pertarungan sengit dan cepat, belasan gebrak bagi orang lain, bagi Siang Cin dan Ha It-cun sekarang sekaligus telah berlangsung tiga empat puluh gebrakan. Di tengah pertempuran seru itulah, Li Go yang terluka parah dan menggeletak di sana kelihatan siuman kembali dengan muka pucat seperti mayat, ia tahu keadaan gawat dirinya sendiri, iapun melihat suasana tegang pertarungan Ha It-cun melawan Siang Cin itu, ia menyadari jiwa sendiri tidak tertolong lagi, dengan sisa tenaga yang masih ada ia berusaha merangkak bangun, napasnya memburu dan darah segar meleleh keluar dari mulutnya. Sekuatnya ia merangkak mendekati kalangan pertempuran, potlot baja masih tergenggam di tangan sorot matanya mencorong tajam penuh dendam dan benci. Pada saat Ha It-cun sedang mengayun goloknya dan membacok beberapa kali secara berantai dan selagi Siang Cin terpaksa harus main kelit dan bergeser mundur dan kebetulan lebih mendekat ke tempat merangkak Li Go, kesempatan baik itu tidak disia-siakan oleh Li Go, sekonyong-konyong Li Go melompat bangun dengan segenap sisa tenaga yang masih ada padanya, dengan kedua tangan memegang potlot baja terus menikam ke punggung Siang Cin. Karena perhatiannya terpusat pada diri Ha It-cun yang sedang menyerang dengan gencar, Siang Cin tidak menyangka Li Go yang sudah menggeletak tadi masih sanggup menyergapnya pada saat mendekat ajalnya. Ketika dia merasakan apa yang terjadi, sementara itu ujung potiot baja musuh sudah beberapa senti di belakang punggungnya. Pada detik yang berbahaya itulah dia masih berusaha mengelak sedapatnya, mendadak ia bergeser secepat terbang, berbareng tangannya terus menyambut sekerasnya ke belakang, maka berhamburanlah darah segar disertai jerit ngeri Li Go Potlot baja Li Go menggores luka iga kanan Siang Cin, merobek jubah-kuningnya dan mengucurkan darah. Tapi pada saat yang sama dengan telak hantaman Siang Cin juga mengenai dada Li Go sehingga tulang dadanya remuk dan darah tersembur pula dari mulutnya, malahan tubuhnya terus mencelat hingga jauh dan kepala terbenam ke dalam gundukan salju. 455 Apa yang terjadi itu hanya berlangsung dalam sekejap saja dan berakhir pula dalam waktu singkat, belum lagi tangan Siang Cin yang meremukkan dada Li Go itu tertarik kembali, golok Ha It-cun juga sudah menyambar tiba dari atas. Terdengar suitan nyaring, seperti banteng ketaton, bukannya mundur, berbalik Siang Cin maju, pada detik antara mati dan hidup ini dikeluarkannya salah satu jurus "Liong ih-toa pat-sik"

Yang paling lihay, yaitu "Hoa~Iiong~hui-goat"

Atau berubah menjadi naga menuju ke bulan, secepat kilat, hampir sukar dibayangkan, tahu-tahu sesosok bayangan menyambar tiba.

"cret", dalam sekejap itu golok Ha It-cun menyerempet lewat punggung Siang Cin, dan membuat suatu jalur luka panjang dengan kulit tersayat dan darah bercucuran. Belum lagi Ha It-cun sempat menarik kembali goloknya, pukulan berantai Siang Cin telah bersarang di dadanya hingga belasan kali jumlahnya. Rata-rata pukulan Siang Cin adalah pukulan keras, seketika Ha It-cun menjerit keras, darah tertumpah dari mulutnya, Gembong Jeng siong-san ceng, In-tiau, si rajawali langit, tokoh kalangan hitam yang disegani, kontan jatuh terkulai, goloknya mencelat jauh ke sana dan "crat", tepat menabas leher seorang anak buahnya. Matinya Ha It cun benar-benar membikin semua orang Jeng-siong-san-ceng menjadi geger, panik dan ketakutan. Terdengar jerit kaget orang banyak dan sama berlari kalang kabut, suasana menjadi kacau. Seperti ular kehilangan kepala, dengan sendirinya orang-orang Jeng-siong-ianceng berlari simpang-siur dan saling injak, semuanya ingin menyelamatkan diri. Pau Seh-hoa sudah berlepotan darah, dengan rambut kusut dan kelihatan lemas sedang berlari ke arah Siang Cin sambil berteriak.

"Bagaimana kau, Kongcuya?"

Tubuh Siang Cin bergeliat sekali, luka di punggung terasa panas seperti dibakar mulutpun terasa kering, namun dengan mengertak gigi ia menjawab.

"Tidak apa-apa..."

Belum habis ucapannya, mendadak ia berteriak pula.

"Awas Lo Pau!"

Pau Seh-hoa seperti terluka juga, namun gerak-geriknya masih cukup cekatan, begitu mendengar teriakan Siang Cin, ia tahu ada yang tidak beres, cepat ia menjatuhkan diri ke tanah, hampir pada saat yang sama sinar perak lantas menyambar lewat punggungnya dengan membawa robekan bajunya yang tersayat dengan percikan darah, rupanya punggung Pau Seh-hoa tetap terserempet oleh senjata musuh.

Secepat terbang Siang Cin terus memburu maju, belum mendekat ia sudah mendahului dua-tiga kali pukulan jarak jauh untuk menahan penyergap Pau Sehhoa, yaitu Ha Lin yang kelihatan beringas dan kalap.

Sama sekali Ha Lin tidak gentar dan mundur, ia terus menyongsong Siang Cin, pedang lemasnya berputar, menahan dan membabat serabutan.

Agaknya matinya Ha It-cun membuat pikiran anak muda itu menjadi kalap.

456 Kalau ayahnya saja bukan tandingan Siang Cin, apalagi anaknya, Hanya beberapa kali gebrak saja, pada suatu kesempatan, tahu-tahu Siang Cin mendesak maju, jurus "Hoa-liong-hui-goat"

Dilontarkan pula untuk kedua kalinya.

Ha Lin seperti kurang waras lagi, matanya merah membara, bibir tergigit hingga berdarab, sama sekali ia tidak menghiraukan serangan Siang Cin, tapi tetap menebas dengan pedangnya.

Di tengah sinar pedang yang memburu disekeliling tubuh Siang Cin, terlihat darah muncrat, pundak Siang Cin terluka oleh pedang lemas lawan, akan tetapi pada saat yang sama.

"blang", tubuh Ha Lin juga mencelat dan terbanting di kejauhan, hanya berkelejetan sejenak, lalu tidak bergerak lagi. Dengan langkah setengah diseret Pau Seh-hoa mendekati Siang Cin dan bertanya dengan cemas.

"Kongcuya, apakah lukamu berbahaya?"

"Luka luar saja, tidak menjadi halangan,"

Jawab Siang Cin tegas.

"Kaupun terluka, Lo Pau?"

"Ya, pada saat setan tua she Ha kau binasakan itulah aku rada meleng dan tertabas oleh pedang Han Cing, mengenai pahaku, untung lukanya tidak dalam, namun cukup membuat kesakitan dan mengganggu gerak-gerikku."

Sorot mata Siang Cin yang tajam jelilatan kian kemari, dilihatnya tinggal Sebun Tio-bu saja yang masih berhantam sengit dengan Ih Keng hok.

suasana sudah sepi, anak buah Jeng-siong-san-ceng sudah kabur meninggalkan mayat kawannya yang bergelimpangan di sana sini serta yang terluka parah sedang merintih sekarat.

"Mana itu Han Cing?!"

Tanya Siang Cin.

"Sabar dulu,"

Jawab Seb hoa.

"dia melukai diriku, tapi akupun sempat menyodok tulang iganya dengan kepingan kayuku, sedikitnya beberapa batang tulang rusuknya pasti patah Selagi aku kesakitan karena paha terluka, keparat itu segera angkat langkah seribu, sungguh tak tersangka setelah terluka parah dia masih sanggup berlari secepat itu, harus diakui cukup tangkas juga dia."

"Apakah tiada luka lain kecuali pahamu?"

Tanya Siang Cin pula.

"Ada, cuma lecet saja, yaitu terserempet oleh pedang anak kura-kura she Ha tadi, tapi tidak beralangan,"

Tutur Seh-hoa.

Siang Cin merasa lega, ia berpaling pula ke arah Sebun Tio-bu yang sedang menempur Ih Keng-hok dengan sengit itu, ia memandang sejenak, lalu mengertak gigi dan melangkah ke sana dengan pelahan, katanya.

"Lo Pau, hendaklah kau menjaga di samping, akan kugantikan Sebun-tangkeh."

Pau Seh-hoa terkejut, dengan rada pincang ia mengikut di belakang Siang Cin dan berkata dengan kuatir "Gila kau, Kongcuya, lukamu tampaknya tidak cuma satudua tempat saja, masa kau akan menghadapi Ih Keng-bok, tidaklah kau pikirkan keadaanmu sendiri?

Marilah kita kerubut dia bersama saja." 457

"Jangan kuatir, Lo Pau, kutahu apa yang harus kulakukan, tampaknya Sebuntangkeh sudah payah dan tidak tahan lagi,"

Ujar Siang Cin dengan tersenyum sambil terus melangkah ke depan.

Sementara itu sudah ratusan jurus Sebun Tio-bu bergebrak dengan Ih Keng-hok, kelihatan Sebun Tio-bu sudah mulai kehabisan tenaga, tubuhnya mandi keringat, napasnya terengah-engah, jubah putihnya robek di sana-sini dengan luka yang mengucurkan darah, rambutpun kelihatan kusut, mukanya beringas menakutkan.

Ih Keng-hok juga tidak terhindar dari luka, jubah bagian dada kanan terobek dan kelihatan bekas luka cengkeram tangan besi Sebun Tio-bu, lengan baju kiri juga robek dan darah memenuhi tangannya dengan luka yang menyolok.

Meski kedua orang sudah sama-sama terluka, tapi jelas luka Sebun Tio-bu terlebih parah, keadaannya kelihatan sudah payah, sekuat tenaga ia bertahan.

Sebaliknya Ih Keng-hok masih terus menyerang dengan lihay, pedang lemas utus naga masih terus membura dengan rapat.

Sebun Tio-bu menjadi nekat, ia putar Iengan besi dengan segenap sisa tenaganya untuk bertahan akan tetapi karena lukanya, lambat-laun ia menjadi lemas.

Pada saat yang gawat itu, syukurlah Siang Cin melayang tiba, baru bayangan kuning berkelebat, seperti burung elang menubruk mangsanya, kedua tangan Siang Cin terus menghantam secara berturut-turut beberapa kali.

Namun Ih Keng-hok memang lain daripada yang lain, dia tidak mau menghadapi Siang Cin dari jarak dekat, cepat ia melompat mundur dan pedang lantas menabas tiga kali.

Mendadak Siang Cin melompat ke atas dan melontarkan pukulan jarak jauh dengan tenaga dahsyat.

Namun Ih Keng-hok sempat menggeser ke samping sambil putar pedangnya, menabas ke depan dan menyabat ke belakang ia desak mundur Siang Cin dan Sebun Tio-bu yang hendak menyergapnya dari samping.

"Mundur dulu, Sebun-tangkeh!"

Seru Siang Cin.

Sebun Tio-bu merasa kondisi sendiri memang sudah lemas, terpaksa ia menurut dan menyurut mundur.

Pau Seh-hoa lantas mendekatinya dan memapahnya ke pinggir, Sebun Tio-bu berjalan dengan agak sempoyongan mukanya pucat lesi.

"Bagaimana, Tangkeh?"

Tanya Seh-hoa.

"Cukup gawat, tapi tidak nanti mampus,"

Jawab Sebun Tio-bu.

"Keparat ini sungguh lihay,"

Kata Seh-hoa.

"Ya, terus terang, bila mana Siang-beng tidak datang tepat pada waktunya, saat ini mungkin aku sudah bertemu dengan Giam-Io ong (raja akhirat),"

Ujar Sebun Tio bu.

"Sejak kumalang melintang di dunia Kangouw, selain beberapa orang tangguh seperti Siang heng, baru pertama kali ini kupergoki lawan yang keras, Pau-heng, pedangnya yang lemas itu sungguh luar biasa dan sukar diraba arah serangannya, Hampir aku mati kutu, untung setiap kali dapat kuhindarkan diri pada detik terakhir." 458

"Dan sekarang, mau-tak-mau aku berkuatir juga bagi Kongcuya, dia juga terluka,"

Tutur Pau Seh-hoa.

Di sebelah sana pertarungan antara Siang Cin dan Ih Keng-hok sudah memuncak tegang, mereka sudah sama-sama terluka sebelum berhadapan, darah masih bertebaran mengikuti gerak tubuh mereka sehingga tanah salju yang putih itu penuh bintik merah.

Wajah Ih Keng-hok yang kaku itu kelihatan seram, pedangnya berputar menerbitkan desing angin yang dahsyat, hampir sukar dilihat ke mana pedangnya akan mcnyambar, tapi tahu-tahu memburu tiba.

Siang Cin telah mengerahkan segenap kemampuannya dan sepenuh perhatian, dengan ketahanan yang ulet ia hadapi serangan maut musuh tanpa gentar, padahal lukanya menimbulkan rasa sakit yang tak terperikan, namun dia tetap bertahan dan tidak berani lengah sedikitpun.

Ia menyadari inilah pertarungan maut, ia selalu menyelinap ke sana dan berkelit ke sini pada detik yang paling gawat, namun kedua tangannya juga tidak pernah kendur, setiap kesempatan digunakannya untuk balas menyerang dengan pukulan dahsyat, bilamana musuh sampai kena serangannya pasti juga tak terampunkan lagi.

Begitulah kedua orang sama-sama mengeluarkan seluruh kemampuan masingmasing, setiap serangan merupakan maut yang tidak kenal ampun, sama-sama pantang mundur, membunuh atau dibunuh, pilihan lain tidak ada.

Seratus dan dua ratus jurus telah berlangsung kedua orang masih terus saling labrak dengan sengitnya.

Di tanah lapang perkampungan Jeng-siong-san-ceng ini, kecuali kedua orang yang sedang mengadu jiwa ini, hanya Sebun Tio-bu dan Pau Seh-hoa berdua saja yang masih diam di sana.

Selain mereka, sekeliling sunyi senyap, tiada nampak bayangan seorangpun.

Kalau masih ada manusia hidup di situ adalah anak buah Jeng-siong-san-ceng yang terluka parah dan sedang sakaratul-maut, Anak buah yang lain, para Busu, semuanya entah telah lari ke mana.

Ditambah lagi asap masih mengepul dengan bau sengit yang menusuk hidung.

Jeng siong san ceng yang semula indah permai dan tenang itu kini telah berubah bagaikan suatu kompleks pekuburan, gambaran neraka hidup yang seram.

Di tengah pertarungan sengit antara Siang Cin melawan Ih Keng-hok itu telah bersambung ratusan jurus lagi, kini keduanya sudah sama-sama loyo, lunglai, walaupun begitu keduanya tetap pantang menyerah, masih terus berhantam menentukan mati atau hidup.

Akan tetapi, lambat-laun tiba juga saatnya penentuan.

Suatu kali, pedang lemas Ih Keng-hok menyabat, mungkin saking lemasnya, betapapun terbatas oleh usianya yang lebih tua daripada Siang Cin, jelas kelihatan serangannya ini tidak selihay lagi seperti tadi.

459 Siang Cin cukup cerdik, sedikit kelemahan musuh segera dilihatnya, walaupun ia sendiripun sudah payah, tapi untuk mengerahkan segenap sisa tenaga jelas lebih mudah baginya, segera ia mengeluarkan jurus Hoa-liong-hui-goat yang paling lihay itu, pada saat pedang lawan menyambar tiba, sekali mendak dan bergeser, kontan Siang Cin menabas dengan telapak tangannya.

Terdengar suara "crat-cret"

Dua-tiga kali disertai suara "brek"

Yang keras.

Habis itu kedua orang lantas berdiri tegak dan saling melotot belaka, muka kedua orang sama pucat dan rambut kusut, sekujur badah sama basah kuyup oleh air keringat bercampur darah.

Sampai sekian lamanya kedua orang masih berdiri tegak saling melotot.

Keruan Sebun Tio-bu dan Pau Seh-hoa sama menahan napas, mereka belum tahu jelas siapa yang menang dan siapa kecundang.

Tapi akhirnya kelihatan Ih Keng-hok mula berjongkok dengan pelahan, sebelah tangannya memegang pedang lemas yang menyanggah tanah itu, pedang itu tampak mulai melengkung karena tidak kuat menahan bobot tubuh Ih Keng-hok, akhirnya terdengar suara nyaring, pedang itu patah, berbareng itu Ih Keng-bok juga roboh terkulai.

"Aha, Kongcuya menang?"

Seru Pau Sek-hoa sambil berjingkrak girang, ia sampai lupa kepada luka sendiri yang tidak ringan.

Dengan penuh semangat Sebun Tio-bu juga lantas memburu ke arah Siang Cin, dilihatnya si Naga Kuning masih berdiri tegak dengan pucat, Sebun Tio-bu menjadi ragu-ragu, tanyanya dengan kuatir.

"Siang-heng, engkau..."

Terlihat senyuman Siang Cin, ucapnya dengan lemah.

"Aku tidak apa-apa, cuma punggungku terbeset lagi, mungkin cukup parah."

Baru sekarang hati Sebun Tio-bu merasa lega, katanya.

"Syukurlah luka Siangheng tidak berbahaya."

Dalam pada itu Pau Seh hoa juga sudah menyusul tiba, tanpa disuruh ia lantas memeriksa keadaan luka Siang Cin, KuIit daging bagian punggung Siang Cin terbeset cukup lebar, lukanya cukup parah tapi tidak membahayakan jiwanya.

"Bangsat she Ih itu sungguh luar biasa, coba lihat, sudah mampus saja masih mendelik,"

Kata Pau Seh-hoa sambil memandang mayat Ih Keng-hok yang menggeletak itu.

"Eh, omong-omong, kan masih ada dua tiga musuh yang berhasil loIos?"

Seru Pau Seh hoa pula.

"Mereka takkan lolos,"

Kata Siang Cin.

"Jelas sudah kabur, masa kau bilang takkan lolos?"

Tanya Seh hoa. 460

"Tanah bersalju seluas ini, ke mana mereka akan kabur, dalam waktu singkat dapat kita bekuk batang lehernya,"

Ujar Siang Cin "Setelah membalut luka, aku akan masuk lagi ke tengah perkampungan sana untuk mencari mereka."

Cepat Pau Seh-hoa membalut luka Siang Cin, begitu juga luka Sebun Tio-bu dibubuhi obat seperlunya, kemudian bergilir Sebun Tio-bu membalut luka Pau Sehhoa. Sambil membalut luka Sebun Tio-bu berkata.

"Keparat she lh itu memang hebat, harus diakui aku bukan tandingannya, bila berlanjut lebih lama aku bisa mati konyol, syukur Siang heng datang menoIong!"

"Ah, Ih Keng-hok juga tidak berani meremehkan Sebun-tangkeh,"

Kata Siang Cin.

"PuIa, bilamana dia tidak dilukai dulu olehmu, mungkin akupun sukar menjatuhkan dia."

Sementara itu Sebun Tio-bu sudah selesai membalut luka Pau Seh hoa, katanya kemudian.

"Bagaimana, kita mulai lagi sekarang?"

Siang Cin memandang ke tengah-tengah perumahan Jeng-siong-san-ceng sana, lalu menjawab.

"Baiklah, coba kita periksa sana duIu."

Segera ia mendahului menuju ke bagian belakang perkampungan yang terbakar itu.

Keadaan perumahan itu hampir tidak berwujud rumah lagi, telah menjadi tumpukan puing belaka, suasanapun sunyi senyap, tiada bayangan seorangpun.

"Keparat, jangan-jangan sudah kabur semua?"

Omel Seh hoa.

Siang Cin melirik sebuah gedung berloteng yang setengahnya sudah menjadi puing dan masih mengepulkan asap, di samping rumah itu adalah hutan dengan pohon Siong yang jarang-jarang, di seberang hutan sana api masih berkobar.

"Di tengah hutan itu mungkin ada sesuatu yang tidak beres,"

Katanya kemudian setelah merenung sejenak. Tanpa bicara Sebun Tio-bu terus melayang ke sana, sejenak bayangannya menyelinap ke tengah hutan, tapi segera ia melayang kembali sambil menggeleng, katanya.

"Tiada bayangan seorangpun, kecuali bekas kaki yang kacau tiada nampak sesuatu jejak lain, Mungkin di dalam hutan semula ada musuh yang disembunyikan di situ, tapi kini sudah kabur semua."

Diam-diam Siang Cin merasa heran, bahwa dalam waktu sesingkat itu anak buah Jeng-siong-san-ceng yang beratus-ratus orang itu dapat kabur seluruhnya, tentu dalam hal ini ada sesuatu yang belum lagi dipecahkan.

Pada saat itulah, sekilas ia melihat bayangan orang berkelebat di balik gununggunungan sana.

Tanpa ayal ia terus menubruk ke sana secepat terbang.

Sesudah dekat, pada suatu lubang masuk lorong di bawah tanah masih sempat diseretnya keluar satu orang-orang ini berbaju hitam dan bermuka pucat, ia gemetar ketakutan dan bertekuk lutut minta ampun.

461 Dalam pada itu Pau Seh hoa dan Sebun Tio-bu juga sudah memburu tiba, tidak kepalang gusar Seh-hoa demi mengenali tawanan ini, kontan ia meludah dan mendamperat.

"Bangsat, akhirnya kau terjatuh juga di tanganku. Hari ini harus kubeset kulitmu nntuk melampiaskan dendamku."

Habis berkata ia terus menengadah dan tertawa terbahak-bahak. Siang Cin agak heran, tanyanya.

"Lo Pau, kaukenal orang ini?"

Wajah Seh-hoa tampak beringas, pelahan-lahan ia tenang kembali, timbul perasaan dendam dan benci di samping rasa terhina dan malu, ia pandang orang itu dengan melotot, katanya kemudian.

"Sudah tentu kukenal dia, biarpun dia menjadi abu juga tak pernah kulupakan dia. Kongcuya, tentunya kau masih ingat ceritaku ketika dahulu kita terjeblos di Jeng siong-san ceng dan aku telah diperlakukan secara kejam, dipaksa melakukan sesuatu yang sukar dibayangkan orang berakal sehat."

Sejenak Siang Cin tertegun, katanya kemudian.

"O, maksudmu waktu kau dibius dan dicekoki obat perangsang dan disuruh melakukan perbuatan tidak senonoh itu?"

"Ya,"

Jawab Seh-hoa dengan mengertak gigi.

"Waktu itu aku diseret ke suatu kamar khusus setelah lebih dulu aku dipaksa minum obat perangsang, aku dibelejeti hingga telanjang bulat lalu dikumpulkan bersama tiga perempuan genit yang juga telah diberi obat perangsang, maka dapat kau bayangkan apa yang akan terjadi, aku diperas habis-habisan dan mereka menonton di samping ....Tatkala itu aku berubah menjadi hewan, lupa malu, kehilangan akal, sungguh mereka telah merusak harga diriku, aku diperlakukan mereka seperti seekor anjing, seekor babi."

"Kau tidak salah mengenali orang ini Lo Pau?"

Tanya Siang Cin.

"Tidak,"

Jawab Seh hoa dengan gregeten.

"Biarpun dia terbakar menjadi abu juga kukenal dia. Sekarang tiba saatnya kumampuskan dia. Habis berkata dia terus menubruk maju, leher baju orang itu ditarik dan sebelah tangannya hendak menghancurkan kepalanya. Tapi Siang Cin keburu mencegahnya dan berkata.

"Sabar dulu, Lo Pau, kematiannya sudah jelas tak dapat diampuni. Cuma, kita perlu menanyai dia dulu tentang ke mana kaburnya Sek Kui, Kongsun Kiau hong dan Iain-lain."

Pau Seh hoa merasa ucapan Siang Cin itu memang tepat, mendadak ia angkat leher baju itu lebih tinggi, berbareng muka orang ditamparnya beberapa kali, lalu membentak.

"Nah, bangsat-kau dengar, lekas katakan ke mana larinya Sek Kui dan begundalnya?"

Orang itu meringis kesakitan dan minta ampun, katanya.

"Hamba ....hamba tidak tahu ke mana larinya Sek wancu ...." 462 Kontan Pau Seh-hoa menambahkan satu tamparan lebih keras lagi dan berteriak.

"Keparat, jangan kau berlagak linglung, lekas bicara jika tidak ingin kumampuskan kau sekarang juga."

"Hamba benar.... benar-benar tidak tahu,"

Jawab orang itu dengan ketakutan.

"cuma terlihat Sek-wancu bersama rombongannya menuju ke balik pohon sana, lalu ..."

Dia menuding ke gerombolan pohon yang terletak di bagian belakang perkampungan. Mendadak Siang Cin teringat sesuatu, serunya.

"Lo Pau, cukuplah, kutahu tempatnya ..."

Seh-hoa berpaling, dilihatnya Siang Cin sedang memandang ke pojok belakang perkampungan sana, Rupanya Siang Cin terbayang kembali ketika dia ditolong oleh Sek Pin dan dilarikan melalui sebuah terowongan di bawah tanah yang menembus ke bukit di belakang perkampungan sana.

Diam-diam ia tahu apa yang telah terjadi, jelas rombongan Sek Kui telah kabur melalui terowongan rahasia itu, atau bisa jadi mereka masih bersembunyi di sana, cuma letak mulut terowongan itu tidak diketahui dengan jelas.

Segera ia memberi tanda kepada Pau Seh-hoa, sambil menyeringai Seh hoa mendadak angkat sebelah kakinya, dengan tepat dengkulnya menyodok selangkangan tawanannya, kontan orang itu menjerit sambil menunggging, menyusul Pau Seh hoa lantas ketuk batok kepalanya.

"prak", orang itu roboh terkulai dan tak berkutik lagi.

"Beres Kongcuya!"

Seru Seh-hoa sambil meludah.

Siang Cin tertawa, segera ia mendahului menuju ke hutan Siong sana diikuti Seh hoa dan Se-bun Tio bu.

Sampailah mereka di lereng bukit yang penuh batu berserakan itu dengan pohon yang jarang-jarang.

Mereka memeriksa dengan teliti sekitar tempat itu, jelas banyak bekas tapak kaki, akan tetapi belum ada sesuatu tanda nyata yang ditemui.

"Marilah kita susul terus ke atas, sanggup tidak Lo Pau?"

Kata Siang Cin, ia lihat jalan Pau Seh-hoa berincang-incut dan tampaknya agak payah.

"Kenapa tidak,"

Jawab Seh hoa.

"kalau cuma mendaki bukit begini saja, biarlah kaki orang she Pau sudah buntung satu juga masih sanggup."

Tanpa bicara lagi Siang Cin lantas mendahului mendaki bukit yang penuh berbatu berserakan itu.

Inilah perjalanan yang tidak mudah, dalam keadaan biasapun memakan tenaga, apalagi dalam keadaan terluka seperti Pau Seh hoa dan Sebun Tio-bu.

Namun Pau Seh hoa tidak mau terlihat lemah, dengan menahan rasa sakit ia tetap mendaki ke atas.

Begitu pula Sebun Tio bu iapun tidak kalah dan mengintil di belakang Siang Cin dengan segenap tenaganya.

Tidak lama, Siang Cin melihat batu karang raksasa yang menyerupai dinding alam itu sudah muncul di depan sana, Di balik dinding batu itulah dahulu mereka pernah bersembunyi di sebelah sana lagi ada satu jalan kecil yang menjurus ke bawah.

463 Siang Cin memberi tanda agar jangan bersuara dan bergerak perlahan.

"Kongcuya, apakah kau menemukan sesuatu? Di balik dinding batu sana ada orangnya menurut perkiraanmu?"

Tanya Seh-hoa dengan suara tertahan.

"Ssst, tampaknya memang ada orang di sana,"

Desis Siang Cin.

"Kita menggremet saja dengan perlahan, harus kita sergap mereka secara mendadak agar mereka tidak sempat kabur lagi."

Sebun Tio bu dan Pau Seh-hoa mengangguk, mereka merunduk lagi ke atas. Sesudah agak dekat, mendadak Siang Cin melayang tinggi ke atas, seperti seekor burung raksasa ia meluncur ke dinding batu itu.

"Bagus!"

Sebun Tio bu memuji, berbareng iapun ikut melayang ke atas sekuatnya, tapi apapun juga dia tetap ketinggalan jauh di belakang Siang Cin, dia harus hinggap lebih dulu pada suatu batu padas untuk kemudian melejit pula ke atas.

Yang paling konyol adalah Pau Seh-hoa, Ginkangnya tidak setinggi kedua temannya, terpaksa iapun berloncat-loncat beberapa kali baru dapat mencapai kaki dinding batu itu.

Dengan jubah kuningnya yang menyolok, Siang Cin memperlihatkan dirinya di atas dinding batu itu, keadaan di balik dinding sana segera terpampang jelas, segera belasan pasang matapun menatapnya dengan terkejut.

Nyata, dugaan Siang Cin memang tidak keliru, di sini memang betul perkumpuI sisa ikan yang lolos dari jaring di Jeng-siong-san-ceng, di antaranya terdapat Sek Kui, Han Cing, Kongsun Kiau-hong dan Kiang Ling selain itu ada pula Sek Pin serta pelayannya yang bernama Wan-goat serta belasan anak buah Jeng siong san ceng.

Munculnya Siang Cin bertiga mungkin sama sekali tak terduga oleh mereka sehingga seketika mereka melenggong.

"Hehe, tentunya tak terduga oleh kalian bahwa dunia ini seakan-akan sedemikian sempitnya, ke manapun selalu kepergok, begitu bukan?"

Ujar Siang Cin dengan terkekeh. Mau-tak-mau timbul juga rasa takut pada hati Kongsun Kiau-hong dan Iain-lain, tapi sedapatnya mereka bersikap tenang, Han Cing yang buka suara, katanya.

"Siang Cin, tidak perlu temberang, hari ini tiada yang perlu dibicarakan lagi, hanya ada mati atau hidup, Bilamana kau memang jantan sejati, hayolah sebutkan caranya, marilah kita satu lawan satu agar ketahuan siapa yang lebih gagah."

Rupanya menurut perhitungannya, pihak Siang Cin hanya kelihatan datang tiga orang, sedangkan di pihaknya ada empat-Iima orang yang cukup kuat untuk menghadapi Siang Cin bertiga, belum lagi belasan anak buahnya jika bertempur secara bergiliran, hal ini jelas sangat menguntungkan mereka, andaikan harus main kerubut, juga pihaknya berjumlah lebih banyak.

"Haha, jangan kau kira Suipoamu dapat kau mainkan sesuai kehendakmu?"

Jengek Pau Seh-hoa.

"Satu lawan satu jelas kalian akan mampus, sekalipun kalian maju semua juga kami tidak gentar, Apalagi menghadapi kawanan bangsat macam kalian ini masakah perlu pakai peraturan Kangouw segala? Pokoknya dosa kalian harus ditebus dengan nyawa kalian, tiada pilihan lain."

"Orang she Pau,"

Kongsun Kiau hong ikut bersuara.

"kau tidak perlu garang, bagiku kaupun belum termasuk hitungan. Marilah kita coba-coba."

"Bangsat,"

Teriak Seh-hoa dengan gusar.

"kematian sudah di depan mata, masih berani bermulut besar!"

Mendadak Siang Cin menukas.

"Apa gunanya putar lidah dan buang-buang waktu belaka, yang harus disesalkan adalah mengapa kalian sampai tersusul oleh kami ..."

Siang Cin memang tidak suka bicara bertele-tele, begitu menubruk turun, kontan dua-tiga Busu Jeng-siong san-ceng yang paling dekat lantas terjungkal berbareng sebelah tangannya terus menabas, Sek Kui terkejut dan cepat melompat mundur.

Sementara itu Sebun Tio-bu dan Pau Seh-hoa serentak juga melancarkan serangan, mereka menubruk ke arah Kongsun Kiau-hong dan Han Cing.

Kiang Ling tidak tinggal diam, segera ia membantu Kongsun Kiau-hong mengerubut Pau Seh-hoa.

sedangkan Sebun Tio-bu menghadapi Han Cing bersama Busu lain.

Di antara tiga partai ini, partai Sebun Tio-bu ini paling cepat berakhir, Han Cing bukan tandingan Sebun Tio-bu, beberapa Busu itupun tiada artinya bagi gembong Jian ki-beng yang perkasa ini.

Hanya belasan gebrak, lengan besi Sebun Tio-bu mencakar ke depan dan ke samping, tiga Busu hancur mukanya dan terkapar sebaliknya lengan besi itu berputar, kembali dua busu lain robek perutnya.

Han Cing menjadi jeri, tapi belum sempat ia angkat langkah seribu, tahu-tahu lengan besi Sebun Tio-bu sudah menyambar tiba, cepat ia menangkis dengan pedangnya, tapi Sebun Tio-bu terlebih cepat, sekali berkelebat, tahu-tahu lengan besi berputar membalik ke atas, tanpa ampun lagi muka Han Cing hancur tercakar oleh jari-jari besi itu, menjerit saja tidak sempat, kontan tubuhnya roboh tersungkur.

Di sebelah sana pertarungan Siang Cin dengan Sek Kui juga sudah mendekati saat berakhirnya.

Tapi tampaknya Siang Cin tidak bermaksud membinasakan lawannya dengan cepat, seperti kucing mempermainkan tikus saja, ia sengaja mengerjai Sek Kui hingga kelabakan dan mandi keringat, ingin balas menyerang tidak mampu, mau kaburpun jangan harap.

Sekilas Siang Cin melihat Pau Seh-hoa rada kewalahan menghadapi kerubutan Kongsun Kiau-hong dan Kiang Ling, Siang Cin sengaja menggeser ke sana, pada suatu kesempatan, secepat kilat ia menubruk ke sana dan menghantam.

Tentu saja Kongsun Kiau-hong terkejut, untung dia sempat melompat mundur, ketika dilihatnya Siang Cin yang menyergapnya, ia menjadi murka, tongkat bambunya yarg runcing terus menusuk, namun Siang Cin sudah lantas melayang kembali ke tempatnya semuIa.

465 Kongsun Kiau-hong penasaran, ia terus memburu dan terpancinglah dia mengerubut Siang Cin bersama Sek Kui.

Kini Pau Seh-hoa hanya berhadapan dengan Kiang Ling sendirian, sudah tentu perempuan itu bukan tandingan si "dua keping kayu", kini sambil menyerang sempat Pau Seh-hoa melontarkan kata-kata ejekan dan makian.

Tidak kepalang gusar dan dongkol Kiang Ling, ia menyadari nasib sendiri pasti akan konyol bilamana tertawan musuh, ia menjadi lekat, mendadak ia menusuk dengan pedangnya, waktu Pau Seh-hoa menyurut mundur, mendadak Kiang Ling membalik ujung pedangnya dan menikam ulu hati sendiri dan binasa seketika.

Pau Seh-hoa melengak, tapi ia lantas meludah dan mengomel kalang kabut.

Di sebelah sana Sek Kui meski dibantu Kong-sun Kiau-hong tetap bukan ukuran bagi Siang Cin.

Apalagi setelah mengetahui Han Cing sudah mati dan Kiong Ling membunuh diri, mereka tambah panik.

Siang Cin semakin gencar melancarkan serangannya tanpa kenal ampun.

Suatu saat, tongkat Kongsun Kiau-hong menyabat dengan kuat, tapi sedikit mendak dapatlah Siang Cin menghindarkan serangan itu, ketika dia berputar, sebelah kakinya terus mendepak ke belakang secara berantai dua tiga kali "Duk-duk-duk", kontan dada Kongsun Kiau-hong termakan, tulang iga patah dan tumpah darah, tampaknya biarpun dewa turun dari kayangan juga tidak mampu menghidupkan dia.

Sekali berputar, tahu-tahu Siang Cin menghadapi pula Sek Kui, dengan cepat Sek Kui menghantam, namun gesit sekali Siang Cin menyusup ke samping, menyusul sebelah tangannya lantas menabas ke pundak Sek Kui, terdengar jeritan ngeri, terkaparlah Sek Kui, meski tidak mati seketika, tapi tulang pundaknya telah remuk, selama hidup Kungfunya sudah berguna pula.

Waktu Siang Siu berpaling, dilihatnya Sebun Tio bu sedang menghadapi Sek Pin dan pelayan Wan-goat dan lagi menanyainya, Cepat Siang Cin mendekatinya sambil menyapa.

"Nona Sek ...."

Sek Pin mendekap mukanya dan menangis sedih, ucapnya dengan terputusputus.

"Siang Cin, kau bunuh saja sekalian diriku ini..."

"Tidak nona Sek,"

Kata Siang Cm tegas "Ku-tahu kau tidak ikut bertindak sesuatu yang tidak baik.

kau hanya ikut-ikutan terkena getahnya saja, terutama kakakmu yang menimbulkan semua sengketa ini.

Malahan aku tidak lupa pada pertolonganmu yang menyelamatkan diriku dan kawan-kawanku ketika kami tertawan dahuIu, sekarang kakakmu Sek Kui sudah terkena pukulanku dan cacat selama hidup, tulang pundaknya remuk, ilmu silatnya punah, selanjutnya kukira kalian dapat hidup lebih baik dan aman, sayangilah sesamanya dan tawakallah kepadaNya.

Hari depan nona masih cerah, kuharap nona menjaga diri baik-baik dan silakan pergi saja Sebun Tio-bu mengangguk memuji tindakan Siang Cin yang bijaksana ini.

Pau Seh-hoa mengangguk setuju.

Apa mau dikatakan lagi, tiada jalan lain kecuali menurut saja, Sek Pin dan Wan goat mendekati Sek Kui dan membangunkannya, dengan langkah berat pergilah mereka menuju kehidupan baru ....

466 ooo-o0o-ooo Beberapa hari kemudian, di depan rumah mungil di luar kota Tay-goan-hu itu kelihatan Siang Cin, Kun Sim ti, Sebun Tio-bu, Pau Seh hoa, An Lip dan isterinya bertengger di atas kuda dan siap-siap untuk berangkat ke Soasay, ke tempat Sebun Tio bu, walaupun merasa berat meninggalkan tempat kediaman yang lama, akan tetapi demi hari depan, demi kebahagiaan, terutama Siang Cin dan Kun Sim-ti, di sanalah sedang menanti masa depan mereka yang bahagia...

-T A M A T -

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com /

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com /

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 8

Baca Juga: Pedang Sinar Emas 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert