Eps 8 Bara Naga - Yin Yong
Baca online Bara Naga - Yin Yong
Cersil Bara Naga - Yin Yong.
Siang Cin merasa sudah pernah melihat satu di antaranya, yaitu si kurus pucat seperti mayat hidup yang datang bersama orang she Toh menegur Bwe Sim di tembok benteng itu.
Dua orang lagi berjubah kelabu, rambut terikal di atas kepala seperti dandanan Tosu, semuanya setengah baya.
Wajah mereka putih bersih dan cukup tampan, tapi air mukanya sangat dingin se akan2 langit ambruk juga tidak peduli.
Si mayat hidup juga terkejut setelah mengenali Siang Cin, tapi ia lantas mendengus.
"Hm, mirip benar penyamaranmu, sahabat!"
"Ah, hanya main2 saja,"
Jawab Siang Cin dengan tersenyum.
"Apakah kau ini si Naga Kuning?"
Dengus pula orang itu.
"Ehm, tajam juga padanganmu!"
Dengan angkuh Siang Cin mengangguk. Kedua orang yang berjubah kelabu saling pandang sekejap, yang sebelah kanan lantas melangkah maju setindak dan menjengek.
"Siang Cin, sombong benar kau!" 352 Siang Cin memandangnya sekejap, jawabnya dengan tertawa.
"Dan kau ini lepasan dari mana?"
Kedua orang berjubah kelabu itu tidak menjawab, sebaliknya si mayat hidup lantas tertawa terkekeh2, katanya kemudian.
"Naga Kuning, percuma namamu sedemikian tenarnya, tapi matamu ternyata kurang awas, masa Tiang hong jit coat tak kau kenal?"
Siang Cin mencibir dan menjawab.
"Tiang hong-jit coat itu orang macam apa? Kenapa aku harus kenal mereka?"
Si mayat hidup tenang2 saja, ia memberi tanda untuk mencegah kedua orang berjubah kelabu yang sudah tidak tahan itu, lalu ia mendengus pula.
"Siang Cin, sudah lama kami menguntit kau . ... .. ."
"Ini kan bukan rahasia, sejak tadi juga kutahu,"
Jawab Siang Cin dengan angkuh.
"Berapa banyak pula begundalmu yang kau bawa, Siang Cin?"
Tanya orang itu.
"Hm, kaukira aku ini tawananmu dan harus mengaku? Hm, kau sungguh ke kanak2an, kawan. Memangnya dengan hak apa kautanya padaku?"
Dengus Siang Cin.
"Dengan hak untuk mencabut nyawamu, kawan?"
Oraug itupun balas mendengus.
""Hah, hanya orang macam kau juga berani main gila padaku? Hm, kukira mah selisih jauh,"
Ujar Siang Cin dengan tertawa geli. Dengan dingin orang itu berkata.
"Haha, sebaliknya aku "Mo bin cu" (si muka iblis) Ciong Hu apakah dapat kau gertak?"
"jika demikian, hayolah boleh kita coba2 beberapa jurus,"
Tantang Siang Cin.
"Kedua kawan dari Tiang hong pay ini bila tidak mau kesepian, boleh silakan maju sekalian."
Tidak kepalang gemas kedua orang berbaju kelabu itu.
Belum lagi mereka menanggapi ejekan Sang Cin itu, secepat kilat Mo bin cu Ciong Hu, sudah menerjang maju, sekaligus ia melancarkan beberapa kali pukulan.
Namun seperti bayangan setan saja, tahu2 Sang Cin sudah menyelinap ke tempat lain, berbareng iapun melontarkan beberapa kali hantaman kepada kedua orang berbaju kelabu.
Cepat kedua orang itu berkelit, mereka terkejut tak terduga oleh mereka bahwa Siang Cin sedemikian tangkasnya, mau tak mau merekapun balas menyerang.
Tapi cuma beberapa gebrak saja, ketiga orang itu mulai kelabakan karena digoda oleh serangan Siang Cin yang tidak menentu.
Meski belum kelihatan kalah, tapi jelas mereka merasa malu.
Wajah Mo bin cu Ciong Hu tetap pucat dingin tanpa mengunjuk sesuatu perasaan, tapi di dalam hati tidak kepalang gemasnya.
Sekali berputar, tahu2 ia telah memegang sejenis senjata aneh, seperti keris yang berlekuk sembilan tapi ujungnya bercabang seperti lidah ular.
353 Pada saat itu Siang Cin sempat menghindarkan gernpuran kedua orang berbaju kelabu, menyusul ia balas menghantam si mayat hidup sambil berseru.
"Coa kak kiam ( pedang tanduk ular) yang bagus!"
Cepat Ciong Hu mengelak, berbareng ia balas menusuk dengan kerisya. Hanya sekejap saja belasan jurus sudab berlalu pula.
"Krek", se konyong2 terdengar suara tulang patah, salah seorang berjubah kelabu telah beradu tangan dengan Siang Cin, air muka orang itu seketika berubah pucat seperti mayat, kedua tangannya lantas melambai ke bawah, lemas sepertr tak bertulang lagi. Sedikit peluang itu digunakan Mo bin cu Ciong Hu untuk menyergap, kerisnya terus menikam. Namun Siang Cin sempat berputar ke samping sehingga tikaman lawan mengenai tempat kosong. Pada saat yang sama terasa angin pukulan yang dahsyat menyambar tiba dari belakang, cepat Siang Cin meloncat ke atas, berbareng kedua tangannya menabas untuk memaksa mundur Ciong Hu. Diam2 Siang Cin sudah ambil keputusan akan tumpas dulu si muka iblis ini, Sementara itu dilihatnya si baju kelabu yang tangannya patah tadi sedang bersandar di pohon di tepi kolam sana dengan napas memburu dan butiran keringat menghias jidatnya. Tangannya yang patah tulaug itu tampak membengkak. Mendadak Siang Cin menubruk maju lagi, kedua kakinya beruntung menendang dagu Ciong Hu. Terpaksa Ciong Hu melompat mundur. Pada saat itu juga si baju kelabu satunya juga mendesak maju dengan pukulan dahsyat. Akan tetapi Siang Cin telah perlihatkan kelihayannya, sekaligus ia tahan serangan kedua lawan tangguh ini. Sebelah tangan menabas Ciong Hu sehingga si muka iblis ini terpaksa melompat mundur pula, sedang tangan lain tepat menabas di dada si kelabu. Terdengar suara "bluk"
Yang keras dan jeritan tertahan, si jubah kelabu tumpah darah dan berputar2 beberapa kali untuk kemudian lantas jatuh terkapar.
Si jubah kelabu yang patah tulang tangan menjadi kalap, tanpa pikir lagi iapun menerjang ke arah Siang Cin.
Pada saat yang sama Ciong Hu juga menubruk maju pula dengan beringas.
Siang Cin bergelak tertawa dan berdiri tegak, mendadak kedua telapak tangannya bergerak, memotong dan menabas, telapak tangan setajam mata golok bergerak cepat dan tepat, terdengar serentak suara "blak buk"
Ber ulang2.
Si baju kelabu sekeligus kena dihantam empat kali dan ter guling2 ke sana dengan darah berhamburan.
Sedangkan Ciong Hu sempat mengelak dan melompat mundur, tapi segera ia menubruk maju lagi dan balas menyerang.
Siang Cin sendiri juga rada payah setelah mengadu pukulan beberapa kali dengan kedua orang berjubah kalabu itu.
Akan tetapi tidak menjadi alangan baginya untuk menyambut serangan si muka iblis ini, belum lagi Ciong Hu melihat jelas apa yang terjadi, tahu2 Siang Cin mendesak maju, kerisnya jelas ambles ke tubuh Siang Cin, tapi tahu2 terlibat oleh jubah kuning Siang Cin dan sukar ditarik kembali.
354 Keruan Ciong Hu terkejut, tak terpikir lagi olehnya tentang gengsi segala, ia meraung keras, keris dilepaskan dan dia melompat mundur.
Akan tetapi sudah terlambat, mendadak jubah Siang Cin yang melibat ternyata lawan itu mengebas, selagi Ciong Hu kerepotan menghadapi sambaran jubah yang mirip segumpal awan itu, tahu2 ulu hatinya kena ditendang oleh Siang Cin, tanpa ampun lagi ia terpental dan ter guling2 tak bangun lagi.
Untuk sejenak Siang Cin berdiri di tempatnya, ia mengerling sekejap ketiga korbannya, habis itu barulah menghela napas panjang dan mengusap keringatnya dengan lengan baju.
Baru sekarang ia melihat kedua tangan sendiripun rada bengkak.
Ia kebaskan keris musuh yang terlibat di jubahnya itu, lalu memutar balik menuju ke arah datangnya tadi.
Tiba2 ia merasa suara ribut di Ji ih hu telah padam, sekeliling terasa sunyi senyap, tenang tapi seram, mungkin inilah ketenangan sebelum badai tiba.
Dengan cerdik Siang Cin menyusur ke samping taman dan memandang ke sana, dilihatnya Kim bin tian sana terang benderang dan banyak bayangan orang yang berlari kian kemari.
Api yang berkobar di belakang Kim bin tian sana tampaknya sudah kecil tapi masib berkobar, di tembok benteng sana samar2 kelihatan penjaga2 berseragam kulit sibuk mondar manair, semua ini entah alamat apa yang akan terjadi.
Tengah Siang Cin berpikir bagaimana tindakannya, mendadak dilihatnya belasan orang berlari ke arah kolam kering, tempatnya bertempur dengan Ciong Hu tadi, sejenak kemudian orang2 itupun berlari balik.
Terdengar seorang yang bersuara bengis serak mengomel.
"Keparat, sudah mati semua, keji amat, satupun tidak ada yang hidup."
Habis itu lantas terdengar suara bentakan orang memerintah, sejenak kemudian seorang lagi yang bersuara melengking bertanya.
"Tian Hiong, apakah kau lihat ada orang bertempur di sini tadi?"
Suara seorang menjawab dengan gugup.
"Ya, baru saja hamba bersama Cin Wi dan dan Tan Sian bertiga ronda ke sini, dari jauh kami sudah dengar suara berisik, ketika kami mengintai dari kejauhan, kelihatan Ciong ya bertiga sedang mengerubut seorang musuh, maka cepat2 hamba berlari kembali melapor kepada Nyo ya ....."
Suara melengking tadi berseru pula.
"Sialan, kan sudah kukatakan sejak mula agar regu patroli harus diperbanyak, sekarang sudah telanjur terjadi baru ribut2, lalu apa gunanya?"
Lalu suara parau tadi berkata pula.
"Nyo heng, apakah kau dapat menilai betapa tinggi kepandaian panyatron ini? Lo-liok (keenam) dari Tiang hong jitcoat Suma Eng sarta Lojit (ketujuh) Ni Thay sudah cukup kita kenal kemampuannya, biarpun Lo Ciong si muka iblis juga tergolong tokoh utama Ji ih hu kita. Sekarang mayat ketiga orang ini sama terkapar di sini, luka merekapun akibat pukulan dahsyat. Dengan perkataan lain mereka terbunuh oleh pukulan tangan kosong lawan. Coba kalian pikir, dengan tenaga gabungan mereka bertiga, siapa di dunia ini yang mampu membinasakan mereka dengan bertangan kosong?" 355 Setelah terdiam sejenak, mendadak si suara melengking tadi scperti ingat sesuatu dan berteriak.
"Naga Kuning! Ya, yang kaumaksudkan pasti Naga Kuning Siang Cin?!"
"Hai,"
Si suara serak tadi mendengus.
"Kecuali dia kukira sekalipun Kim lui jiu Kin Jin yang terkenal ilmu pukulan yang dahsyat juga tak mampu melakukannya."
"Bangsat she Siang itu pasti masih mengeram di sekitar sini,"
Si suara melengking meraung murka.
"Sungguh keji amat, betapapun Locu tak bisa mengampuni dia."
"Hm, asalkan dia berani keluar, asalkan kita dapat mempergoki dia, utang darah ini harus kita tagih kembali,"
Demikian si serak menambahkan. Si suara melengking tadi meraung.
"Apalagi yang kau tunggu, Tian Hiong, keparat! Lekas singkirkan mayat2 itu."
Maka terdengar seorang mengiakan, menyusul lantas terdengar suara orang banyak sedang bekerja. Si suara serak berkata pula.
"30 tempat panah di sebelah timur hancur, tiga sisi lain juga rusak hampir 50 tempat, banyak busur dan panah dihancurkan ...... Selain penjaga2 yang terbunuh, diketemukan pula mayat nona Bwe. Sungguh konyol, baru kemasukan tiga mata2 musuh sudah diobrak-abrik begini, lalu cara bagaimana kita dapat menghadapi pasukan musuh yang sudah dekat itu?"
"Ya, kulihat gelagat memang agak gawat,"
Demikian si suara melengking menanggapi.
"Lo Tong, menurut laporan, pasukan perisai Ceng siong sanceng dan pasukan berkudanya juga terdesak mundur oleh pasukan musuh, mungkin tidak sampai terang tanah Bu siang pay akan sampai di Toa ho tin, tampaknya Jan loyacu juga rasa gelisah, sedangkan bini Khang losam juga telah dibawa lari orang, sebelum kabur malahan kamarnya dibakar, kuyakin pasti perbuatan orang she Siang itu. Juga Co lociangbun dari Tiang hong pay tainpak sedih melihat puteri kesayangannya sudah menjadi mayat"
Sejenak suasana menjadi hening, lalu si suara serak berkata pula.
"Hayolah berangkat, cari orang she Siang itu dan begundalnya, jangan sampai kawan kita ada yang dikerjai lagi. Apa boleh buat, terima duit orang terpaksa harus menjual nyawa."
Lalu terdengar suara tindakan orang banyak dan makin menjauh.
Sejenak pula baru Siang Cin berdiri.
Diam2 ia merasa lega, ia tahu Sebun Tio-bu bertiga telah melaksanakan tugasnya dengan baik.
Berbareng iapun ingat pada Bwe Sim yang pingsan tertutuk itu dan disangka sudah mati oleh orang2 Tiang hong pay dan Ji ih hu, bisa jadi saat ini tubuhnya ditaruh di suatu tempat yang tak terurus mungkin di tengah2 tumpukan mayat yang lain.
Diam2 ia menghela napas menyesal.
Tapi apa boleh buat, keadaan memaksanya harus begitu, kalau tidak membunuh tentu akan dibunuh, tiada persoalan moral lagi yang perlu dipikirkan.
Tugas Siang Cin sekarang adalah membebaskan orang2 Bu siang pay yang tertawan.
Cuma di mana mereka dikurung, inilah yang belum diketahui.
Padahal untuk menyelidikinya jelas sekarang tidak mudah lagi.
356 Setelah berpikir, terpaksa Siang Cin merunduk lagi ke arah Kim bin tian.
Ia tahu pihak lawan saat ini sedang memperketat pencarian dirinya, sebab itulah dia harus bertambah waspada.
Beberapa regu patroli musuh dapat dilalui pula, dengan mandi keringat akhirnya Siang Cin dapat mendekati sebuah rumah batu yang mirip gudang.
Di depan rumah batu ini jelas kelihatan belasan bayangan orang mondar mandir dengan senjata terhunus.
Di ujung rumah sebelah sini, sebuah jendela setinggi dua tombak tampak terbuka, lubang jendela sebesar satu dua kaki, jadi cukup diterobos oleh tubuh manusia, mungkin jendela itu hanya jalan hawa belaka.
Siang Cin tertarik oleh rumah batu yang dijaga ketat ini, betapapun ia ingin menyelidiki.
Segera ia menggunakan cara yang paling kuna dan juga paling mudah memancing perhatian oang, dia melempar sepotong batu ke arah sana, waktu kedua penjaga di bawah jendela itu berlari ke sana, secepat burung terbang Siang Cin lantas melayang ke atas.
Begitu mencapai ambang jendela, sebelah tangannya lantas meraih kusen jendela dan menerobos ke dalam, tapi tangannya lantas terasa meraba cairan berbau anyir.
Tanpa memandangpun Siang Cin tahu barang apakah itu.
Sungguh aneh, mengapa di tempat begini ada darah?
Setelah direnungkan sejenak, ia jadi tertawa sendiri, segera sorot matanya yang tajam mulai menjelajahi sekitarnya untuk mencari.
Rumah batu ini memang betul sebuah gudang.
Karung goni bertimbun seperti gunung, dari baunya yang memenuhi seluruh gudang dapat diketahui timbunan barang ini pasti sebangsa beras dan bahan rangsum lain.
Gudang sebesar ini hanya pada samping pintu gerbang yang tertutup rapat itu terdapat sebuah lampu minyak dengan cahayanya yang guram sehingga menambah suasana seram di dalam gudang.
Setelah jelas kelihatan tiada bayangan orang di dalam gudang, dengan pelahan Sang Cin lantas mengeluarkan suara suitan lirih, setelab berhenti sejenak, lalu bersuit pula tiga kali.
Mulai terdengar ada suara kresekan di balik tumpukan karung sana, sejenak kemudinn sebuah muka orang tampak menongol dengan sorot matanya yang tajam.
Hah, siapa lagi dia kalau bukan saudagar kita, Sebun Tio bu.
Siang Cin lantas mendesis pula sehingga Sebun Tio hu dapat melihatnya.
Tentu saja pemimpin besar "Serikat pasukan berkuda"
Yang termashur itu kegirangan, segera ia memberi tanda kepada Siang Cin, lalu menuding belakang.
Dengan enteng Siang Cin melayang ke sana dan turun di samping Sebun Tio bu.
Gudang ini benar2 suatu tempat sembunyi yang baik, sekelilingnya tumpukan karung belaka, malahan pada suatu tumpukan di bagian tengahnya mereka kosongkan, lalu tempat yang mendekuk itu digunakan sebagai tempat sembunyi..
357 Loh Hou dan Le Tang tampak meringkuk di situ, baju Loh Hou berdarah, bagian dada dan perut terbalut, agaknya dia terluka.
Segera Sebun Tio bu menarik Siang Cin ke tempat sembunyinya, tanyanya pelahan.
"Siang heng, bagaimana hasil pekerjaanmu? Tampaknya kalang kabut, tentu mereka telah kau kerjai. Engkau sendiri tidak apa2 bukan?"
Siang Cin tersenyum, jawabnya dengan suara tertahan.
"Lumayan, tidak sampai terjungkal ....Kutahu kalian telah berhasil menghancurkan sebagian besar liang panah, sungguh hasil yang bagus! Api yang berkobar di belakang Kim bin tian itu tentu juga kerja kalian?"
"Kim bin tian?"
Tanya Sebun Tio-bu bingung.
"Tempat apakah itu?"
"Yalah gedung tengah yang termegah itu ....Itulah pusat pimpinan Ji ih hu ...."
"Betul, itulah hasil kerja Loh lote, justeru lantaran menyalakan api itulah, di situ dia dilukai oleh dua lawannya."
Dengan prihatin Siang Cin memandang Loh Hou sekejap dan bertanya.
"Bagaimana? Apakah parah?"
"Bagian dada tergores, untung cuma tersayat saja, kalau tertusuk langsung, wah, mungkin sudah tamat,"
Tutur Sebun Tio bun.
"Selain itu pundaknya juga kena dua kali hantaman, untung tulangnya tidak retak, namun menjadi bengkak juga."
"Apakah dapat kergerak dengan leluasa?"
Tanya Siang Cin pula. Sebelum Sebun Tio bu menjawab, dengan suara parau Loh Hou berkata.
"Tidak apa2, Tecu masih sanggup bertahan, Siang susiok, jangan kuatir."
"Bikin susah padamu, Loh heng."
Kata Siang Cin dengan tersenyum.
"Dengan barang apa engkau menyalakan api di sana?"
Loh Hou menyeringai sehingga kelihatan taringnya, katanya.
"Selalu kubawa dua biji Liu hung tan (granat) pada saat kejar mengejar, aku menjadi gemas dan nekat, kedua biji nanas itu kulemparkan ke sebuah gedung yang berdekatan dan seketika terjadilah ledakan dan kebakaran hebat,"
"Hah, tentu saja musuh menjadi kelabakan dan mengira kemasukan pasukan musuh,"
Ujar Siang Cin.
"Eh, apakah orang2 Bu siang pay yang tertawan itu sudah kau bebaskan?"
Tiba2 Sebun Tio bu ingat pada salah satu tugas Siang Cin itu. Sambil menghela napas menyesal Siang Cin menggeleng, katanya.
"Belum, tempat tahanan mereka belum kutemukan. Selagi hendak kucari lebih lanjut, tahu2 aku kepergok beberapa musuh tangguh dan terjadi pertarungan sengit."
"Tentunya Siang heng berhasil menjatuhkan mereka?"
Ajar Sebun Tio bu. 358
"Kalau tidak, masakah dapat bicara lagi dengan kalian di sini?"
Jawab Siang Cin dengan tertawa.
"Siapakah lawan Siang heng?"
Tanya Sebun Tio bu.
"Ada Suma Eng, orang keenam dari Tiang-hong pay dan orang ketujuhnya yang bersama Ni They lalu seorang lagi mengaku bernama Mo biancu Ciong Hu. Semuanya kubinasakan."
"Bagus,"
Kata Sebun Tio bu.
"Biasanya Tiang hong pay sok memandang rendah pihak lain, setelah dua di antara mereka mati terbunuh baru mereka tahu di kolong langit ini masih banyak orang kosen. Keparat Ciong Hu itupun pernah kebentrok denganku dahulu, tapi sebegitu jauh kami belum pernah bertemu lagi."
"Dan sekarang telah kutumpas seorang lawanmu yang tangguh, cara bagaimana kau akan berterima kasih padaku?"
Demikian Siang Cin berseloroh.
"Baik, bagaimana kalau hadiah tiga cewek cantik?"
Jawab Sebun Tio bu dengan memicingkan sebelah mata.
"Busyet!"
Seru Siang On dengan suara tertahan.
"Kau tahu, selamanya aku tidak gemar urusan perempuan, jangan kau jebloskan diriku."
"Eh, ya, bicara tentang cewek, aku menjadi teringat kepada puteri kesayangan Thi ciangbun dari Bu siang pay itu? Bagaimana, sudah kau temukan?"
Tanya Sebun Tio bu.
"Ya, memang sudah berhasil kubawa keluar."
"Sudah kaubawa keluar? Di mana orangnya? Memangnya kau sembunyikan?"
"Anak dara itu memang sudah ter gila2 kepada Khang Giok tek, mereka sudah hidup bersama sebagai suami isteri dan tidak ingin kembali lagi kepada ayahnya."
"Sialan! Kenapa ada anak perempuan yang tidak tahu malu begitu. Sia2 Thi Tok beng berusaha mati2an, tak tahunya anak dara itu lebih suka terjerumus ke dalam lumpur. Sungguh muka ayahnya telah tercoreng moreng."
"Itulah cinta, cinta memang buta ..... Tapi biarlah kita serahkan kepada kebijaksanaan Thi-ciangbun sendiri, kukira beliau akan membereskan urusan rumah tanggannya dengan baik, orang luar tidak pantas ikut campur."
Mereka lantas terdiam semua, suasana di gudang yang cukup luas itu menjadi hening, sampai suara langkah penjaga yang mondar mandir di luar juga bisa terdengar.
Akhirnya Sebun Tio bu menjadi tidak sabar, ia tanya Le Tang.
"Le laute, kira2 waktu apa sekarang ini?"
Agaknya Le Tang memang seorang ahli menghitung cuaca, ia menengadah sejenak, lalu mengendus2 dengan hidungnya yang pesek, kemudian menjawab.
"Sndah hampir terang tanah, Sebun-tangkeh." 359 Pada saat itulah, seperti menjawab pertanyaan Sebun Tio bu tadi, terdengarlah suara gemuruh dua kali, suara ledakan yang mengguncangkan di kejauhan dari arah Toa ho tin sana. Le Tang tertegun sejenak, tapi lantas bersorak tertahan, serunya.
"Itulah suara ledakan Liat yam-tan kita. Siang susiok, pasukan kita sudah mulai menggempur kemari."
Siang Cin mengangguk, tapi dia memberi tanda agar jangan bersuara keras2.
Menyusul lantas terdengar pula suara gemuruh yang lebih keras, debu pasir gudang sama rontok karena guncangan ledakan itu.
Mencorong sinar mata Sebun Tio bu, katanya girang.
"Hah, Bu siang pay benar2 mulai menggempur Toa ho-tin pada pagi hari ini. Hebat, sungguh hebat, perbawa mereka ini sanggup bertempur dengan pasukan resmi bentuk apapun. Dan sekarang, apalagi yang kita tunggu di sini?"
"Sabar dulu, Sebun tangkeh,"
Ucap Siang Cin dengan tenang dan tersenyum.
"Segera kita juga akan bergerak Sebentar bila pasukan Bu siang pay sudah menyerbu masuk Toa ho tin, hendaklah engkau pergi ke sana untuk menuntun mereka menggempur Ji ih hu melalui sebelah timur, yaitu melalui .hutan tempat kita menyusup kemari itu."
Sebun'Tio bu mengiakan dan siap2 untuk berangkat.
"Dan Le heng tinggal saja di sini bersamaku, kita akan mengawasi gerak gerik musuh, bilamana melihat mereka menggiring keluar tawanan orang2 kalian, dengan gerak kilat kita akan menerjang untuk menyelamatkan mereka dan membuat musuh kelabakan. Cuma tindakan kita ini sangat besar risikonya, mungkin harus mempertaruhkan nyawa, maka Le tang hendaknya hati2."
Le Tang membusungkan dada dan menjawab.
"Jangan kuatir, Siang susiok, pasti akan kulakukan tugasku dengan sekuat tenaga dan takkan memalukan Bu siang pay dan kehormatan Siang susiok."
"Bagus,"
Kata Siang Cin, lalu dipandangnya pula Loh Hou yang terluka itu, katanya.
"Loh-heng terluka, sebaiknya tetap istirahat saja di sini, setelah semuanya sudah beres akan kujemput kau ......."
"Tidak, Siang susiok,"
Sela Loh Hou dengan rasa penasaran.
"aku tidak mau mengeram di sini. Sedikit luka ini tiada artinya bagiku, aku masih sanggup, harap Siang susiok mengizinkan aku ikut serta ......."
Siang Cin menatapnya dengan tajam, lalu berkata pula dengan ramah.
"Loh heng, semangat perjuanganmu sungguh sangat mengharukan aku, tapi engkau terluka. Aku diserahi tugas oleh Bu siang-pay memimpin kalian ke sini, maka aku harus menjaga keselamatanmu. Ketahuilah, hidup manusia tidak melulu untuk bertempur di medan tempur saja, tapi masih banyak pekerjaan lain yang lebih berarti. Kesetiaan dan keberanian seseorang tidak melulu ditandai dengan cucuran darah. Pertempuran yang akan datang, sekalipun kau tidak ikut serta, bagiku, bagi Bu siang pay, kau tetap sudah memenuhi kewajiban dan tidak perlu merasa malu atau menyesal. Tentunya Loh heng dapat memahami maksudku." 360
"Tapi..... tapi, aku masih sanggup, Siang-susiok. Aku tidak mau mengeram di sini, aku ingin ikut Siang susiok ......."
Dalam pada itu, suara gemuruh ledakan bertambah kerap dan keras, gudang inipun terasa berguncang Dengan gelisah Loh Hou dan Le Tang memandang Siang Cin.
Sebun Tio bu juga tidak dapat memberi saran.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Siang Cin berkata.
"Baiklah, kau ikut, tapi harus hati2 dan menurut petunjuk."
Loh Hou kegirangan dan mengucapkan terima kasih.
"Hayolah kita berangkat,"
Seru Sebun Tio bu dengan suara tertahan.
"Kita menerobos keluar melalui jendela, harus hati2,"
Kata Siang Cin, berbareng ia terus tarik Loh Hou dan dilempar keluar melalui lubang jendela itu, menyusul Siang Cin sendiri juga menerobos keluar.
Di bawah jendela gudang saat itu ada dua penjaga berseragam kulit, mereka mendongak terkejut ketika mendengar sesuatu suara.
Tapi sebelum mereka sempat bertindak apa2, Siang Cin sudah menubruk tiba, kedua tangannya menabas ke kanan dan ke kiri, kontan leher kedua orang itu patah dan terguling.
Pada saat itu barulah Sebun Tio bu dan Le Tang menyusul tiba.
Le Tang mengangsurkan toya Loh Hou yang belum sempat dibawa tadi.
Sementara itu di jurusan Toa ho tin tampak terang benderang, api berkobar menjulang tinggi ke langit disertai suara gemuruh.
Waktu Siang Cin memandang sekeliling Ji ihhu, suasana tetap sunyi dan tiada setitik cahayapun, bahkan lampu yang menempel di dinding benteng sana juga dipadamkan, semuanya tenggelam dalam kegelapan.
Siang Cin dapat merasakan suasana yang tegang ini, jelas musuh di Ji ih hu telah siap siaga dan sedang menantikan datangnya badai serangan.
"Sekarang juga aku akan menyelundup keluar, Siang heng,"
Kata Sebun Tio bu.
"Nanti dulu,"
Kata Siang Cin.
"Tunggu isyarat serbuan Bu siang pay ........"
Mereka berempat sama berjongkok di kaki tembok gudang dan menunggu perkembangan lebih lanjut. Lama2 Sebun Tio bu menjadi tidak sabar, katanya dengan suara tertahan.
"Mengapa belum ada tanda, entah bagaimana perkembangan di luar sana? Sungguh tidak enak hanya menunggu saja di sini."
"Jangan gelisah, Tangkeh,"
Ujar Siang Cin sambil menepuk bahu kawan ini.
"Sebentar lagi pasti ada kabar, bila sudah begitu, mungkin tiada waktu lagi bagimu uutuk istirahat seperti sekarang ini."
"He, dengar, coba dengarkan!"
Mendadak Le Tang menegas. 361 Mereka lantas pasang kuping, terdengar suara "tut tut"
Bunyi terompet kulit keong bergema di kejauhan sana, suaranya mengharukan, tapi juga membangkitkan semangat. Di tengah suara "tut tut"
Itu terseling pula suara ledakan keras yang tiada hentinya dan suara gemuruh lari be ribu2 pasukan berkuda. Itulah pasukan Bu siang pay dari padang rumput. Menyusul dengan bergemanya suara "tut tut"
Tadi, serentak berpuluh jalur berapi menjulang tinggi ke langit dan suara gemuruh pasukan besarpun menuju ke arah Ji ih hu sini.
Le Tang dan Loh Hou sangat bersemangat, keduanya berjingkrak girang dan siap menyambut kedatangan pasukan Bu siang pay itu.
Dengan tenang Siang Cin lantas berkata.
"Tangkeh, sekarang bolehlah kita mulai bergerak."
Tanpa ayal lagi Sebun Tio bu memberi salam terus melayang pergi dan menghilang dalam kegelapan.
"Dan selanjutnya adalah tugas kita untuk beraksi,"
Kata Siang Cin pula. Dengan menggenggam toyanya Loh Hou siap2 untuk bertindak, serunya.
"Siang susiok, kami tidak gentar."
Lebih dulu Siang Cin mengawasi sekeliling sana lalu berkata.
"Kita akan merunduk melalui gunung gunungan sana dan sembunyi dulu, hati2 supaya jejak kita tidak ketahuan musuh."
Setelah memberi pesan, segera Siang Cin mendahului melayang ke sana.
Gunung2an itu kira2 berjarak lima puluhan langkah dari undak2an batu di pintu gerbang Kim bin tian.
Setiba di samping gunung2an itu, Siang Cin memberi tanda agar kedua kawannya mendekam ke bawah la sendiri lantas mengintai ke balik gunung2an ini, benar juga, diantara lekukan gunung2an ini, ada lubang gua dan kelihatan wajah manusia yang sedang mengintip keluar dengan gelisah.
Jelas di dalam gunung-gunungan ini ada jalan tembus di bawah tanah.
Sementara itu ufuk timur sudah mulai kelihatan larikan putih, fajar sudah menyingsing, cuma gumpalan awan tampak tebal memenuhi langit, suasana menjadi remang2, anginpun meniup kencang.
agaknya akan turun salju pula.
Setelah berpikir.
Siang Cin mengambil keputusan akan menyerempet bahaya sekali lagi.
Ia coba memeriksa dengan cermat, akhirnya dapat diketemukan jalan masuk ke gunung2an itu.
Jalan masuk itu terdiri dari sepotong batu yang dapat diangkat, di bawah gunung2an itu, kini ada seorang sedang menggeser batu penutup itu dan menongolkan kepalanya untuk menghirup hawa segar.
Secepat kilat Siang Cin menubruk maju dan mencengkeram kuduk orang itu, menyusul leher orang itu dipencet pula dengan tangan lain.
Hanya sekejap saja, orang itu tak dapat lagi menghirup hawa segar untuk selamanya.
Sambil mengangkat mayat orang itu, Siang Cin terus menerobos ke dalam gunung2an.
Jalan lorong di bawah sangat sempit dan cekak, cuma beberapa meter panjangnya.
Pada ujung lorong sana ada ruangan bulat kecil dan cukup dibuat 362 tempat istirahat beberapa orang, dari ruangan bulat ini masih ada lorong2 sempit lain yang menembus ke tempat lain.
Mungkin di sinilah tempat pengintaian dan terdapat alat2 tanda bahaya yang segera dapat dibunyikan bilamana pengintai di sini melihat sesuatu yang tidak beres.
Siang Cin membanting mayat itu ke tanah hingga menimbulkan suara gedebug.
Maka terdengarlah seorang mengomel dari lorong sana.
"Ong Moa cu, keparat kau, orang lagi ngantuk, kau ganggu dengan suara keras begitu, memangnya kau terlalu iseng dan minta mampus?"
Sekilas pandang Siang Cin dapat melihat ada tujuh lorong yang menembus ke ruangan bulat, kecuali sebuah lorong yang dilaluinya barusan, keenam lorong lain masing2 ada seorang sedang berbaring dengan kedua kaki selonjor ke jurusan sini.
Dengan gerakan cepat dan cekatan, dalam sekejap saja Siang Cin sudah berhasil menyeret keluar dua orang di antaranya dan dihabisi.
Keempat orang lainnya mendengar sesuatu yang tidak beres, tapi sebelum mereka sempat berbuat apa2, Siang Cin berhasil menutuk Hiat to mereka dari angin pukulan jarak jauh.
Tanpa bersuara keempat orang itu roboh terkulai di tempat masing2, semuanya tertutuk Hiat to lumpuh dan bisunya.
Dengan bengis lalu Siang Cin berkata.
"Nah kawan, ke enam temanmu sudah menyusul kakek moyangnya di akhirat, tertinggal kau sendiri yang hidup. rebahlah kau di situ dan akan kutanyai kau, bila kau mau bekerja sama dengan baik, jiwamu akan kuampuni, kalau tidak, kawan2mu adalah contohnya."
Baru sekarang orang2 yang tertutuk itu menyadari apa yang terjadi, diam2 merekapun bersyukur jiwa mereka belum lagi melayang.
Karena mereka masing2 rebah di lorong sendiri2, lorong batu sempit, hakikatnya mereka tidak dapat melihat teman di sebelahnya, apalagi hendak saling memberi isyarat maka mereka sama2 mengira cuma tinggal dirinya sendiri yang hidup, selebihnya sudah terbunuh, keempat orang itu sama2 merasa beruntung bagi dirinya sendiri.
Demi menyelamatkan nyawa sendiri, andaikan mengaku apa yang diketahuinya juga takkan ketahuan.
Begitulah, dalam waktu singkat Siang Cin telah memanggil masuk Le Tang dan Loh Hou.
Setiba di ruangan bulat itu, Siang Cin menyuruh mereka masing2 bertiarap di salah satu lorong yang kosong itu.
Habis itu Siang Cin menyeret keluar salah seorang yang telah tertutuk tadi, lebih dulu ia gampar muka orang dua tiga kali hingga mata orang itu ber kunang2 dan kepala puling tujuh keliling.
Hiat-to yang tertutuk tadipun serentak terbuka.
Dengan darah mengucur keluar dari ujung mulut dan muka bengkak, cepat orang itu berlutut di depan Siang Cin dan memohon ampun.
"Pasukan Bu siang pay sudah menyerbu ke Toa ho tin, kau tahu tidak kejadian ini?"
Tanya Siang Cin dengan kereng. Orang berseragam kulit itu menyembah berulang2, jawabnya dengan gemetar.
"Tahu, tahu, sebelum Toa ho tin digempur, ber ulang2 pimpinan sudah mendapat laporan yang tidak menguntungkan, maka sejak kemarin Ji ih hu sudah dijadikan pertahanan terakhir dan siap menghadapi datangnya musuh ...." 363
"Bagaimana keadaan di Toa ho tin sana, ceritakan menurut apa yang diketahui olehmu?"
Bentak Siang Cin. Dengan ter gagap2 orang itu menjawab.
"Pihak Bu siang pay sedang menggempur Toa ho tin dengan senjata api, kota itu sudah menjadi lautan api, menurut ......menurut teman yang bertugas kurir garis depan, katanya pasukan berkuda Bu siang pay telah membanjir ke dalam kota dan pertahanan di Toa ho tin telah mulai runtuh dan sukar dipertahankan lagi. Konon senjata api , pihak Bu siang pay sangat lihay dan keji, ada yang berbentuk bola, sekali dilemparkan lantas meledak dan mengobarkan api, mereka juga menggunakan Iabah2 beracun, menurut laporan terakhir, katanya barisan pelopor Bu siang pay sudah menyerbu masuk Toa ho tin, beberapa garis pertahanan kami di Toa ho tin telah dihancurkan oleh senjata api musuh ...."
Bara Naga
Jilid 18
"Setelah membobol Toa-ho-tin, langkah selanjutnya yang dituju Bu-siang pay tentunya Ji-ih-hu dan Pau-hou-san ceng!"
Kata Siang Cin dengan tersenyum puas.
"Dan apalagi yang kau ketahui?"
"Hamba adalah orang kecil, itupun sudah cukup banyak yang kukatakan, yang Iainlain hamba tidak tahu,"
Jawab orang itu.
"Bohong!"
Bentak Siang Cin, teringat olehnya batu-batu padat kelabu yang menonjol disekitar gunung-gunungan ini, ia tanya puIa.
"Tidakkah kaupernah melihat kawankawanmu mengusung sesuatu benda, misalnya peti dan karung yang diberi bertali dan dihubungkan ke dalam Ji ih-hu?"
Setelah termenung sejenak, kemudian orang itu berseru pelahan.
"Ah, benar, baru sekarang hamba ingat. Tiga hari yang lalu memang kulihat banyak kawan yang keluar masuk istana di waktu malam, setiap orang memanggul peti yang berbungkus kertas minyak, pengawasan tampak ketat, sampai setengah malaman baru pekerjaan itu rampung. Kemudian, menjelang fajar, ada belasan kawan membawa gulungan warna putih berlari keluar dengan terburu-buru. Kalau tidak salah gulungan warna putih itu berbentuk tali sebesar jari, Tapi... tapi hambapun tak berani memastikan betul atau tidak, sebab waktu itu keadaan remang-remang, hamba juga sudah mengantuk berjaga semalaman, bisa jadi salah lihat."
"Kau omong sesungguhnya, tidak berdusta?"
Tanya Siang Cin. Kembali orang itu menggigil ketakutan, jawabnya.
"Masa ... masa hamba berani berdusta .... semua sudah hamba katakan sejujurnya . .. mohon ampun ..."
Belum habis ucapan orang itu, dengan cepat Siang Cin telah menutuk Hiat to bisu dan lumpuhnya, lalu tubuh orang itu diangkat dan dimasukkan lagi ke lorong semula.
"Nah, Loh heng dan Le heng sudah dengar sendiri pengakuannya tadi?"
Kata Siang Cin kepada kedua kawannya. 364 Loh Hou dan Le Tang yang berbaring di dalam lorong masing-masing tidak dapat membalik tubuh, terpaksa mereka menjawab dengan kuatir.
"Ya, sudah kudengar, Lantas bagaimana baiknya, Siang-susiok?"
"Sudah kupesan kepada Kin Jin agar memperhatikan soal ini, tentu dia akan berunding cara mengatasinya dengan Thi-ciangbun kalian."
Kata Siang Cin dengan tenang. Loh Hou tampak agak cemas, katanya.
"Tapi....tapi kalau kawan-kawan kita kurang cermat dan main terjang saja, bisa jadi mereka akan celaka semua, Siangsusiok, apakah barang yang dikatakannya itu benar-benar bahan peledak?"
"Kita jangan berharap bukan, tapi menganggapnya benar,"
Kata Siang Cin.
"Siang-susiok, betapapun kita harus mencari akal untuk membantu kawan-kawan kita,"
Kata Le Tang.
"Saat ini mereka sedang menerjang pintu neraka..."
Dengan tegas Siang Cin berkata.
"Tapi tugas kita sekarang juga cukup penting dan berat, Kita harus berusaha menolong kawan-kawanmu yang tertawan musuh, kita harus membantu mengacau bagian dalam sini apabila mereka sudah mulai menyerbu kemari. Kalau sekarang kita membagi tenaga untuk urusan lain, lalu siapa yang akan melaksanakan tugas yang kusebut tadi, padahal untuk mencari musuh yang siap memasang bahan peledak di tempat tersembunyi juga bukan pekerjaan yang mudah."
Loh Hou dan Le Tang menjadi bungkam walaupun dalam hati sangat gelisah. Mendadak Le Tang berseru puIa.
"Tapi, Siang-susiok, sedikitnya kita kan harus menyampaikan peringatan kepada mereka."
"Kan sudah dikerjakan oleh Kin-heng dan Sebun-tangkeh?"
Jawab Siang Cm dengan tertawa, Maka Le Tang berdua menjadi bungkam puIa. Sejenak kemudian, mendadak Siang Cin menggertak kaki dan berkaya.
"Baiklah, biar ku pergi sendiri, Selain menyampaikan peringatan, sekaligus akan kulihat cara bagaimana musuh mengatur sumbu bahan peledak, Urusan sudah mendesak, terpaksa kulakukan menurut keadaan, apapun juga segera kukembali lagi secepatnya Harap kalian berjaga di sini, kecuali dipergoki musuh, kalau tidak, jangan sekali-sekali sembarangan bertindak bila aku belum kembali ke sini,"
Serentak Le Tang berrdua mengiakan.
Setelah memeriksa lagi sekeliling, habis itu baru Siang Cin menerobos keluar melalui lorong tadi.
Di luar tetap sunyi senyap, suasana Ji ih-hu tetap hening, keheningan yang menegangkan.
Tapi keheningan di sini justeru berlawanan dengan suasana hiruk pikuk di Toa-ho-tin sana, terdengar suara ledakan masih bergemuruh disertai api yang berkobar dan suara ambruknya bangunan, dan tentu saja bercampur dengan suara jeritan orang yang sedang bergulat dengan elmaut ditambah derap kaki kuda yang berlari kian kemari.
Siang Cin menyelinap ke samping gunungan sana, ia dapat melihat penjaga-penjaga yang tersebar di tempat sembunyinya.
Dari pengalamannya tadi, Siang Cin dapat memperkirakan kapan dan di mana tempat yang aman, ia incar baik-baik tempat yang dituju, mendadak ia melayang ke sana secepat terbang.
Baru saja bayangannya mencapai tembok benteng, terdengarlah desiran angin tajam berhamburan dari berbagai arah.
Akan tetapi gerakan Siang Cin benar-benar cepat Iuar biasa, sebelum senjata rahasia itu 365 mencapai titik sasarannya, lebih dulu Siang Cin sudah melintasi tembok benteng dan berlari ke Toa-ho tin.
Saat itu Toa ho-tin sudah serupa neraka, api tampak berkobar-kobar di mana-mana.
Siang Cin menyusuri hutan, baru saja ia keluar hutan di tanah yang landai sana, segera dilihatnya dari berbagai penjuru gelombang manusia sedang membanjir ke arah Ji-ih-hu sini, Ada anak buah Toa to kau yang berseragam biru, ada anggota Jitho hwe yang bermantel kelabu, ada pasukan Ceng siong-san ceng yang berbaju hijau, dan ada juga orang-orang Ji ih~hu sendiri yang berseragam kulit semuanya lari balik ke arah Ji-ih-hu dalam keadaan konyol.
Siang Cin menggeleng, tanpa ayal ia menerjang ke arah Toa-ho-tin.
Kini pihak perserikatan Ji ih hu sudah runtuh, tapi pertempuran sengit di Toa-ho-tin masih belum berakhir, bahkan tambah seru tanpa kenal ampun.
Maklum, dalam keadaan gaduh begitu, kalau tidak membunuh tentu dibunuh.
Beberapa rombongan musuh telah dilalui Siang Cin, sekarang ia sudah melihat pura pejuang Bu-siang-pay yang bergelang emas di kepala dan berseragam putih, semuanya sedang bertempur dengan gagah berani.
Di tengah pertempuran seru itu, Siang Cin melihat ada sesuatu yang tidak beres, Dilihatnya pihak perserikatan Ji-ih-hu ada tanda-tanda mengundurkan pasukannya secara berturut-turut, agaknya mereka mempunyai rencana tertentu dan tidak ingin bertempur habis-habisan dengan Bu-siang-pay di medan Toa-ho-tin.
Siang Cin melihat di sebelah sana ada seregu anggota Jit-ho-hwe sedang bertempur sambil mengundurkan diri.
Secepat kilat ia melayang ke sana, kedua tangannya bekerja naik-turun, sekaligus ke-tujuh orang itu disikat habis, Ketika ia membalik tubuh, tiga penunggang kuda tahu-tahu sudah menerjang tiba.
Ketiga penunggangnya berseragam putih dan bergelang kepala emas, dengan golok sabit dan perisai mereka terus menerjang ke arah Siang Cin.
"Berhenti! Naga Kuning di sini!"
Bentak Siang Cin dengan suara menggelegar.
"Naga Kuning", nama ini seperti bunyi guntur disiang bolong yang mengalutkan ketiga anggota Bu-siang-pay itu, serentak mereka menahan kuda sehingga ketiga kuda itu berjingkrak sambil meringkik. Siang Cin lantas memburu maju sambil berseru.
"Di mana Tiangsun-cuncu?"
Serentak ketiga orang itu memberi hormat. satu di antaranya menjawab.
"Lapor Siang-susiok, Cuncu mendapat tugas menyerang Pau-hou-san-ceng."
Terbayang betapa jarak Pau-hou-san-ceng dengan Toa-ho tin, maka legalah hati Siang Cin. Katanya.
"Dan siapa yang pegang pimpinan di sini?"
"Pimpinan dipegang Toasuheng Giam Sok dibantu Thio Kong, Thio-suheng, yang bertugas mengepung Ji-ih-hu, bilamana semua pasukan sudah berkumpul, segera sarang induk musuh akan diserbu. 366 Menurut perintah Ciangbunjin, garis pertahanan musuh harus diserbu dan bertempur berhadapan, sedikitpun musuh tidak diberi kesempatan untuk mengundurkan diri, menurut perintah Ciangbunjin ada kemungkinan di balik mundurnya pasukan musuh ada tersembunyi muslihat keji tertentu."
"Memang tidak salah, musuh memang sudah mengatur muslihat di Ji ih-bu sana,"
Kata Siang Cin dengan tertawa.
"Tapi semangat tempur mereka memang juga sudah runtuh, Nah, pergilah kalian, ingat, kejar musuh dengan ketat, jangan sampai tertinggal jauh."
Ketiga orang itu memberi hormat, lalu menerjang pula ke depan sana.
Siang Cin merasa lega setelah mendapat keterangan itu, Nyata Kin Jin dan Sebun Tio bu sudah menyampaikan beritanya kepada Thi Tok-heng, pihak Bu-siang-pay sudah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.
Tentu Thi Tok-heng sudah menduga pihak Ji-ih hu akan menarik pasukannya bila Toa-ho-tin boboI, pada saat pasukan induk Bu-siang-pay berkumpuI di dalam kota, segera sumbu peledak akan dipasang dan meledaklah seluruh Toa-ho tin.
Oleh sebab itulah Thi Tok-heng sengaja menbagi sebagian pasukannya meninggalkan tempat bahaya ini untuk menyerbu Pau-hou sao-ceng, hanya sebagian kecil saja pasukannya diperintahkan bertempur dengan musuh, dengan demikian musuh akan sia-sia bilamana benar-benar meledakkan seluruh Toa-ho-tin.
Malahan pihak sendiri yang akan rugi besar.
Dengan pikiran senang Siang Cin lantas berlari pula ke depan, pada ujung sebuah persimpangan jalan, dilihatnya tiga lelaki berseragam kulit sedang berlari datang, tapi belum lagi mereka membelok ke arah lain, dari belakang sana sebarisan pasukan berkuda berseragam putih telah membidikkan anak panah sehingga beberapa anggota Ji-ih-hu terjungkal binasa.
Siang Cin berlari ke depan pula, mendadak sebuah rumah bersusun ambruk hingga debu pasir berhamburan.
Di mana-mana memang api belaka, mayat bergelimpangan memenuhi jalanan, rumah runtuh menjadi puing.
Kejar mengejar antara pasukan pihak Bu-siang pay dan Ji ih-hu sudah mulai meninggalkan pusat kota.
Kini pertarungan terjadi secara berkelompok.
Siang Cin ikut berlari mundur ke arah Ji-ih-hu.
tidak jauh di sebelah sana, dilihatnya seorang ksatria Bu-siang-pay berperawakan tinggi kurus dan bermuka kemerahmerahan sedang menempur sengit dua orang berjubah biru yang juga berperawakan tinggi.
Kedua orang berjubah biru itu jelas sangat lihay, mereka masing-masing menggunakan senjata tongkat, dengan mati-matian mereka mengerubi lawannya.
Di sebelah lain ada belasan anggota Bu-siang-pay sedang mengepung empat orang berewok dan berwajah bengis, keempat lelaki kekar setengah baya ini sama memakai mantel kulit warna kelabu, jelas mereka adalah jago Jit-ho-hwe.
Meski belasan orang mengeroyok empat orang, namun keempat orang itu tidak menjadi gentar sedikitnya.
367 Di sana lain lagi, ada seorang berbaju putih dan bergelang kepala sedang melayani tiga orang, Si baju putih ini agak luar biasa, bermata juling, hidung besar tapi pesek, mulut tebal seperti moncong babi.
Biarpun jelek mukanya, tapi kepandaiannya boleh diuji, Dengan satu lawan tiga ia malah lebih banyak menyerangnya daripada diserang.
Padahal salah satu dari ketiga pengerubutnya itu adalah orang ketiga dari So-liansu-coat, yaitu Pah Cong-ju.
Di samping si baju putih bermuka buruk itupun ada seorang temannya lagi, juga berwajah luar biasa, alis tebal mata besar, hidung lebur dan mulut besar, perawakannya tegap, bersenjata godam di tangan kiri dan tangan kanan memegang golok sabit, iapun bertempur dengan gagah berani.
Lawannya adalah seorang kakek, orang ketiga dari Jit-ho-hwe.
"Tin-pan-thian"
Ciang Heng, tampaknya Ciang Heng sudah kewalahan, sebentar lagi mungkin akan angkat tangan dan minta ampun.
Situasi sekarang sudah jelas, meski dalam hal jumlah pihak Bu-siang-pay jauh lebih sedikit, tapi semangat tempur mereka menyala, bersatu hati, ditambah lagi kemenangan berturut-turut, semangat tempur mereka tambah berkobar.
Sebaliknya pihak Ji-ih-hu meski berjumlah lebih banyak, namun kekalahan yang terus menerus sejak dari Ce giok-giam membuat runtuh semangat tempur mereka.
Mereka menjadi jeri dan takut mati.
Segera Siang Cin ikut terjun ke tengah medan tempur, sebatang gada menyambar lewat di sampingnya, tapi tanpa berkedip tangan Siang Cin terus menampar, orang yang membokong itu kena dihantam terpental dan menumbuk kawan-kawannya.
Siang Cin terus menubruk maju, kedua tangannya bekerja cepat naik-turun, kembali lima jago Ceng-siong-san-ceng terkapar.
Dalam pada itu si baju putih yang beralis tebal dan bermata besnr itu sedang mencecar Ciang Heng hingga jago Jit-ho-hwe ini hampir tidak sempat bernapas.
Sembari menyerang si baju putih juga memperhatikan Siang Cin yang mulai mendekat itu serunya.
"Apakah di situ Siang-susiok adanya?!"
"Terima kasih, memang betul aku! Dan anda?!"
Jawab Siang Cin dengan tertawa. Sambil mendesak musuh, orang itu menjawab dengan hormat.
"Tecu Giam Siok, anggota Hui-ji bun Bu-siang-pay."
"Ehm, memang sudah kuduga pasti kau,"
Ujar Siang Cin sambil mengangguk Lalu ia melirik Ciang Heng sekejap, katanya.
"Ciang-Ioyacu, buat apa susah-susah kau? Menjual nyawa percuma bagi Ji-ih-hu?"
Tempo hari Ciang Heng sudah terluka ketika mengadu pukulan dengan Kin Jin di Pau-hou-san-ceng, dengan sendirinya kesehatannya belum pulih seluruhnya.
Tapi mau-tak-mau dia harus mengadu nyawa karena Jit-ho hwe harus pegang janji.
368 Butiran keringat tampak menghiasi wajah Ciang Heng yang sudah berkeriput dan pucat itu, dengan napas terengah-engah ia berseru.
"Apa... apakah kau si Naga Kuning?"
"Ehm, tepat juga tebakanmu,"
Jawab Siang Cin.
Mendadak Giam Siok membentak, golok dan godamnya bekerja sekaligus, golok menyambar Ciang Heng, berbareng godamnya menyampuk belasan orang berseragam kulit terdengar jerit ngeri di tengah muncratnya darah, belasan orang tersapu menggeletak sekali pun Ciang Heng yang paling kuat juga tak bisa berkutik.
Siang Cin hanya menggeleng saja, katanya kemudian dengan suara tertahan.
"Giam-heng, ingat, jangan terlalu jauh ditinggali musuh, kejar dengan rapat agar tidak terjebak."
"Tecu paham,"
Jawab Giam Siok dengan tersenyum.
"Kin tayhiap dan Sebun-tangkeh sudah memberitahu."
"Bagus,"
Seru Siang Cin.
"Selamat berjuang, sekarang aku akan kembali ke tempatku lagi."
Kini hati Siang Cin benar-benar merasa lega, beban pikirannya telah lenyap.
Dengan gerak cepat ia berlari kembali ke arah Ji ih-hu.
Seperti caranya keluar tadi, iapun melintasi tembok benteng secepat terbang.
Ketika melintasi tembok benteng itu, sekilas dilihatnya banyak orang berseragam kulit sibuk naik turun, ada yang membawa palu dan paku, ada yang memangguI gulungan kawat, ada pula yang menggotong kerangka besi.
Siang Cin melayang ke atas pohon yang rimbun, tiba-tiba ia ingat kerangka-kerangka besi itu, Betul, itulah kerangka besi tempat busur, rupanya Ji-ih hu sedang memperbaiki kerangka busur yang telah dirusak oleh Sebun Tio-bu dan lain-lain.
Belum lagi Siang Cin mendapatkan cara baik untuk menghadapi musuh, tiba-tiba terdengar suara teriakan ramai di sebelah sana, Siang Cin terkejut, jelas arah suara ramai itu berdekatan dengan gunung-gunungan tempat sembunyi Le Tang dan Loh Hou itu.
Terkesiap Siang Cin, tanpa pikir ia terus melayang turun ke sana, Sebelum tiba di tempat tujuan, sekilas dilihatnya bayangan orang memenuhi sekitar gununggunungan itu.
Tanpa melihat lagi Siang Cin sudah tahu apa yang terjadi.
Jelas jejak Le Tang berdua diketahui musuh.
Cepat ia menerjang maju, belum lagi orang-orang Ji-ih-hu itu melihat jelas siapa pendatang ini, tahu-tahu beberapa orang di antaranya telah mencelat.
Kedua tangan Siang Cin bekerja cepat, dalam sekejap beberapa musuh terkapar lagi, ia berkelit ke kanan lalu mengegos ke kiri, beberapa kali bacokan golok lawan dihindarkannya, menyusul kedua tangannya memotong dan menghantam dua orang berseragam kulit terguling pula dengan kepala pecah dan darah muncrat.
Seketika teriakan kaget berjangkit di sana-sini, menyusul terjadilah hujan senjata dari berbagai penjuru, namun Siang Cin dapat menyelinap kian kemari dengan kecepatan luar biasa.
Berbareng kedua telapak tangannya menabas dengan dahsyat, belasan anak buah Ji-ih-hu tunggang-langgang lagi.
369 Mendadak tiga sosok bayangan orang menubruk tiba dan serentak berhenti di depan Siang Cin dalam posisi mengepung dari tiga jurusan.
Siang Cin berdiri tegak dan tenang, sorot matanya yang tajam mengerling ketiga musuh, dilihatnya satu di antaranya adalah orang tua tinggi besar berjenggot yang pernah ditemui di tembok benteng bersama Bwe Sin itu.
Di samping orang tua berjenggot merah ini berdiri seorang Suseng ( pelajar ) cakap berbaju biru dengan ikat kepala yang sama warna.
Di sebelahnya lagi adalah seorang bermuka merah dengan mata liar dan hidung lebar, buruk amat muka orang ini, tapi tampaknya dia adalah kepala dari ketiga orang ini.
Di tengah suasana yang ramai itu, si muka merah berseru.
"Jika tidak salah lihat, sobat yang berhadapan denganku ini tentunya si Naga Kuning Siang Cin bukan?"
Siang Cin mendengus jawabnya tak acuh.
"memang benar!"
Si muka merah tampak beringas, matanya melotot, dengan gregetan ia bertanya puIa.
"Suma dan Ni Thay dari Tiang-hong-pay serta Mo-bin-Ciong hu, semuanya terbunuh olehmu, orang Siang?"
"BetuI,"
Jawab Siang Cin tegas.
"Dan sarang panah itupun dirusak olehmu?"
Tanya pula si muka merah dengan murka.
"Ya, pokoknya semua kejadian si sini adalah perbuatanku, baik pembakaran Hweim-kok maupun perampasan puteri Thi ciangbun, semuanya pekerjaanku, Nah, jelas dan puas sekarang?"
Setelah menyeringai, Siang Cin menyambung pula.
"Akupun tahu siapa kau, setelah kukerjai Ciong Hu bertiga, bukankah kau sudah pernah memeriksa ke sana. Di tepi kolam kering sana kudengar suaramu yang serak sehingga sukar terlupakan. Kutahu kau pasti sangat dendam padaku dan ingin menuntut balas bagi kawan-kawanmu, begitu bukan?"
"BetuI!"
Si muka merah meraung murka.
"Dan sekarang sudah terbuka kesempatan itu bagimu,"
Ujar Siang Cin sambil melangkah maju.
"Tepat, aku Jik-gan-thi-pi (muka merah tangan besi) Toan Kiau memang sudah lama ingin menghadapi kau,"
Dengus si muka merah dengan marah.
Baru sekarang Siang Cin tahu-lawannya adalah tokoh Ji ih-hu yang terkemuka.
Diam-diam ia menghimpun tenaga, ia tahu ketiga lawan di depan ini adalah tokoh kelas tinggi, untuk membereskan mereka rasanya tidak mudah.
Belum lagi Siang Cin bertindak, ternyata si tua berjenggot merah sudah mulai menubruk lebih dulu sambiI membentak, dia menggunakan pedang punggung sempit, tajam luar biasa, segera ia menusuk.
370 Toan Kiau juga tidak tinggal diam, tangan kiri menabas, tangan kanan dengan senjata gurdi lantas menikam batok kepala Siang Cin, si Suseng setengah baya juga lantas menubruk maju, dengan cepat ia menghantam.
Dikerubut dari tiga jurusan, Siang Cin tetap tenang-tenang saja Mendadak ia mendoyong ke belakang.
"plak", ia sambut pukulan si Suseng setengah baya, dan saat yang sama, dengan getaran pukulan itu Siang Cin mengapung ke atas. Maka tusukan pedang si muka merah dan tikaman gurdi si tua berjenggot juga kehilangan sasaran. Karena adu tangan tadi, si Suseng tergetar mundur dua-tiga tindak, ia menjadi murka, sambil membentak kedua lengan bajunya yang komprang terus menyabet. Melihat sabetan lengan baju yang lihay ini, tahulah Siang Cin siapa lawan ini, ia berputar di udara untuk kemudian melayang turun kembali, jengeknya.
"Hm, Siangsiu-jiau-hun (memburu sukma dengan kedua lengan baju) Toh Goan, kiranya kau!"
Si Suseng setengah baya itu memang betul bernama Toh Goan, dengan lengan bajunya yang komprang itu ia dapat menyerang musuh dari jauh dan dekat, sekali leher lawan terlibat lengan bajunya, jangan harap akan dapat terlepas lagi.
Setelah tergetar mundur tadi, segera ia menubruk maju pula.
Di samping lain si tua berjenggot dan Toa Kiau juga menubruk maju berbareng.
Di bawah kerubutan tiga jago kelas tinggi, dengan gerak cepat "Liong-ih-tay-pat-sik"
Yang lincah Siang Cin mengapung ke atas dan menubruk ke bawah, menyelinap ke kanan dan menyusup ke kiri, dengan gesit ia berseliweran di tengah kerubutan musuh, berbareng iapun batas menyerang dengan berbagai tipu serangan.
Hanya sekejap saja tiga puluhan jurus sudah berlalu, Siang Cin merasa ketiga lawannya sekarang yang berbeda dengan Mo-bin-cu Ciong Hu dan gembong dari Tiang-hong-pay, untuk merobohkan mereka mungkin harus menggunakan akal.
Beberapa jurus pula, sekonyong-konyong terdengar suara raungan di dalam gununggunungan sana.
"Siang-susiok, biar kami menerjang keluar untuk membereskan kawanan keparat itu."
Itulah suara Le Tang, Siang Cin tahu mungkin kedua orang itu melihat dia dikerubut tiga orang, maka ingin menerjang keluar membantunya.
Secepat kilat Siang Cin melancarkan beberapa kali serangan untuk mendesak mundur musuh, berbareng iapun berteriak.
"Tidak, jangan keluar, jaga disitu."
Gurdi Toan Kiau menikam dan menusuk pula beberapa kali sambil berteriak-teriak.
"Nyalakan api, bakar mereka!"
Angin pukulan menderu-deru, sekaligus Siang Cin menghalau serangan Toan Kiau dan juga kebasan lengan baju si Suseng, Tapi pada saat yang sama, dengan meraung kalap pedang sempit si tua berjenggot merah juga menyambar tiba.
Siang Cin sudah memperkirakan pertarungan ini hanya ada dua pilihan.
Dia tetap melabrak Toan Kiau dari depan dengan risiko terserang pula oleh pedang dan 371 lengan baju dua lawan lainnya atau dia segera menyelinap keluar dari seranga Toan Kiau itu.
Namun keadaan sudah mendesak, ia menyadari bila pertempuran berlangsung lama tentu akan banyak rugi daripada untungnya iapun tahu untuk menyelesaikan pertarungan sengit ini, imbalannya mungkin juga mahal, terpaksa juga harus mengadu jiwa.
Dengan nekat mendadak Siang Cin mengegos, sekaligus ia hindarkan libatan lengan baju Toh Goan, tapi lengan baju yang lain sempat menyabat pundaknya.
"cret", tahutahu pedang sempit si tua menyambar tiba dan menancap di betis Siang Cin. Pada saat yang sama gurdi Toan Kiau juga menyerempet lewat di depan hidung Siang Cin. Maka tibalah kesempatan yang di nantikan Siang Cin ini. Telapak tangan kanan menabas sekuatnya.
"blang", kontan tubuh Toan Kiau mencelat dua-tiga tombak jauhnya. Pada saat tubuh Toan Kiau terpental ituIah, Siang Cin terus menarik kakinya yang terluka, berbareng tangan yang lain juga memotong ke leher si tua berjengot yang bermaksud menarik kembali pedangnya itu. Dengan cepat Siang Cin terus melompat mundur, kini yang dihadapinya tinggal Toh Goan saja, tubuh Toan Kiau sudah menggeletak si tua berjenggot merah juga berkelejetan sambil memegangi leher sendiri, darah tampak merembes keluar dari sela jarinya. Pedang sempit itu masih menancap di betis Siang Cin. Dengan muka kepucatpucatan ia pandang Toh Goan yang rada terengah-engah itu, ia tersenyum mendadak ia angkat kakinya.
"Sret", pedang yang tadinya menancap di betisnya itu tahu-tahu sudah menembus dada seorang lelaki berseragam kulit di sebelah sana, menjerit saja tidak sempat, tahu-tahu orang itu roboh terkulai bermandikan darah. Siang Cin menyeringai seperti binatang buas yang terluka, sorot matanya tajam menyayat, ia pandang sekelilingnya sekejap, tanpa terasa anak buah Ji-ih hu yang berdekatan di situ sama menyurut mundur dengan ketakutan. Di sekitar gunung-gunungan itu ternyata sudah banyak tertumpuk kayu bakar, bahkan sudah disiram minyak. Namun para penjaga yang berseragam kulit itu tampak melongo jeri dan lupa pada tugasnya menyaksikan pertarungan sengit dan kematian beberapa pimpinannya itu.
"Nah, Toh Goan, kini tinggal kau saja, majulah, kita selesaikan sekalian!"
Kata Siang Cin dengan nada ketus, ia tersenyum dan mendadak berteriak.
"Le Tang, Loh Hou, sekaranglah waktunya menerjang keluar!"
Baru habis Stang Cin berteriak, sekonyong-konyong di pintu gerbang Ji-ih~hu sana berkumandang suara hiruk-pikuk, menyusul lantas terdengar suara gemuruh membanjir tibanya manusia dan derap kaki kuda.
Sekilas melirik, dapatlah dilihat Siang Cin apa yang terjadi, kiranya pihak Ji-ih-hu telah membuka pintu gerbang benteng dan memasukkan sisa pasukannya yang mundur dari Toa-ho tin itu.
Hampir pada saat yang sama dengan banjir orang yang berduyun-duyun masuk ke Ji-ih-hu ini, di arah Toa-ho-tin sana mendadak terdengar suara gemuruh ledakan 372 yang amat dahsyat disertai api yang membubung tinggi ke langit, bumi serasa guncang, asap tebal bergulung-gulung memenuhi angkasa.
Suara ledakan ini kedengaran cukup dekat, seperti tidak jauh di depan Ji-ih hu, melihat gelagatnya, mungkin seluruh bahan peledak yang terpendam telah diledakkan.
Siang Cin berdiri tertegun, diam-diam menghela napas panjang, ia menguatirkan para pahlawan Bu-siang-pay yang sedang bertempur, bukan mustahil ledakan dahsyat ini akan menelan korban pasukan kedua pihak yang sedang bertempur itu.
"Brakk", sepotong batu karang gunung-gunungan itu hancur terhantam, di tengah jerit kaget orang banyak, dua sosok bayangan yang tangkas menerjang keluar. Seorang memakai rantai, sekali sabat, kontan tiga orang berseragam kulit tersampuk jatuh dan binasa. Toya yang diputar Loh Hou juga bekerja cepat, terdengar suara denging nyaring, beberapa golok musuh tersapu jatuh, beberapa orang mencelat mundur. Kelihatan Le Tang dan Loh Hou menerjang dengan kalap dan tangkas. Baru sekarang para penjaga berseragam kulit itu terkejut dan tersadar dari melenggong mereka tadi, beramai-ramai mereka lantas mengepung. Segera Siang Cin bergerak pula, sekali hantam, batok kepala dua orang yang paling dekat dihancurkan. Cepat Toh Goan menubruk maju, ia pimpin tiga puluhan orang berseragam dan mengepung rapat Siang Cin bertiga. Namun begitu Siang Cin dan Le Tang serta Loh Hou tidak menjadi gentar, mereka semakin bersemangat, bukannya kewalahan, bahkan pihak musuh yang kelabakan, beberapa orang kembali roboh terkapar pula. Pada saat ituIah, dari arah pintu gerbang Ji ih-hu sana berlari datang lima sosok bayangan orang. Hanya sekejap saja sudah berhadapan. Sekilas pandang Siang Cin mengenali tiga di antaranya, Yang dua orang adalah Han-mo-siang ciu, kedua tokoh Toa to-kau Dua orang lagi bermantel kulit kelabu, yang satu pendek gemuk seperti gentong, kepala besar tangan panjang, yang satu lagi bermuka hitam hidung pesek dan mulut lebar, mukanya sangat buruk, sedangkan orang kelima dikenalnya sebagai Lo sat-li Giam Ciat, sang janda genit. Kecuali Giam Ciat, keempat orang lainnya tampaknya berlepotan darah, rambut kusut muka berminyak dan penuh keringat tampaknya mereka habis bertempur sengit sehingga kelihatan lelah, lesu dan juga kesal. Melihat bala bantuan sudah datang, semangat Toh Goan terbangkit, ia menyerang mati-matian sambil berteriak.
"Kebetulan kedatangan kalian, disinilah mata-mata musuh yang kita cari tadi!"
Seketika Giam Ciat yang juga siap hendak menerjang maju itu merandek dan berdiri seperti patung, sorot matanya menatap tajam kepada Siang Cin yang sedang bertempur dengan gagah perwira itu, dia hampir-hampir tidak percaya kepada matanya sendiri, ia melongo dan tidak dapat bersuara.
"Kau kenapa, nona Giam?"
Si muka hitam yang berdiri di sebelahnya bertanya. Giam Ciat tersadar, tanyanya.
"Sia... siapa dia ini?" 373
"Naga Kuning! Dia inilah Siang Cin keparat!"
Teriak si pendek gemuk seperti gentong itu. Seketika wajah Giam Ciat berubah pucat pasi, keringat dingin membasahi tubuhnya, seperti habis sakit berat, gumamnya kemudian.
"Naga ....Naga Kuning? Dia dia Siang Cin? Di... di Pau-hou-san-ceng pernah kulihat dia. Ya, dia memang Naga Kuning."
Dalam pada itu Siang Cin telah beraksi pula, sekali menyapu dengan kakinya, kontan empat orang berseragam kulit menjerit terjungkal.
Sekali hantam ia desak mundur Toh Goan pula, lalu ia berseru dengan tertawa "Selamat bertemu lagi, nona Giam?
Go Ji menyampaikan salam padamu!"
Saking dongkol dan gemas tubuh Giam Ciat sampai gemetar, jeritnya penuh benci.
"Bagus kau Siang Cin ....kau jahanam ...."
Siang Cin bergelak tertawa, sambil melancarkan beberapa kali serangan, ia berseru.
"Kita berlawanan, Giam Ciat perang antara dua negara tidak pantang menggunakan tipu muslihat dan agen rahasia bukan?"
Saking gemasnya hampir saja Giam Ciat jatuh semaput. Dengan tergagap ia berteriak pula.
"Dan kau... kau pula yang membunuh nona Bwe?"
Belum lagi Siang Cio nienjawab, terdengar suara mendesingnya benda-benda yang melayang dari luar Ji-ih hu, benda hitam bulat, begitu jatuh di tanah lantas menimbulkan ledakan keras itulah "Liat-yam-tan", granat buatan Bu siang pay.
Seketika suasana menjadi kacau bulau, api berkobar dan asap berhamburan.
Para pengerubut Siang Cin bertiga menjadi kelabakan menghadapi suasana yang luar biasa in?, dengan kalap Toh Goan menyerang pula sambil berteriak.
"Hayo saudara-saudara, tunggu apa!agi? Suasana sudah gawat, apa yang kalian ragukan pula?"
Sambil meraung, Ham-mo-siang-ciu mendahului menerjang ke tengah kalangan, keduanya menggunakan pedang pendek, serentak mereka mengerubuti Siang Cin.
Dengan gregeten Giam Ciat juga menubruk maju, senjatanya yang berbentuk jaring terus terpentang iapun ikut menggempur dengan sengit.
Si gendut tadi segera menerjang Loh Hou, sedang kawannya menandingi Le Tang, pertarungan sengit kembali berkobar pula.
Ji-ih-hu kini sudah berubah menjadi neraka, di mana-mana api berkobar dan asap bergulung-gulung ke angkasa, batu pasir betebaran di tengah ambruknya bangunan, suara ledakan masih terus terdengar di sana-sini, bayangan orang lari kian kemari disertai jerit ketakutan.
Namun dari udara masih terus hujan granat yang dihamburkan oleh Bu-siang-pay dari luar benteng.
Hawa di tengah Ji ih hu penuh bau mesiu, bau yang sangat menusuk hidung, pertempuran antara Siang Cin bertiga dengan para pengerubutnya juga tambah sengit.
"Labrak dan bunuh tanpa ampun, Le-heng dan Loh heng, cepat selesaikan!"
Teriak Siang Cin sambil melancarkan beberapa pukulan sehingga Han-mo-siang cin terdesak mundur, berbareng ia mengelakkan serangan Toh Goan, ketika kakinya mendepak, kontan dua orang berseragam kulit terjungkal pula.
"Hm, mungkin tidak semudah harapanmu, Siang Cin!"
Jengek Toh Goan sambil menubruk maju puIa, kedua lengan bajunya yang kuat terus mengebut.
"Hehe, boleh coba saja!"
Kata Siang Cin sambil menyeringai, Berbareng ia hantam sana dan sodok sini sehingga musuh terpaksa melompat mundur.
Diam-diam Siang Cin merasakan keadaan rada gawat, untuk merobohkan para pengerubutnya jelas sukar berlangsung dalam waktu singkat, padahal dia masih mengemban tugas lain yang penting.
Melihat gelagatnya sebentar lagi Bu siang pay akan menyerbu besar-besaran, pada waktunya yang tepat ia harus membereskan tugas itu.
Dan sekarang adalah kesempatan baik baginya untuk menerjang keluar kepungan.
Mendadak ia menghantam sekuatnya ke depan, ketika Toh Goan terpaksa melompat mundur, segera Siang Cin melayang ke sana, ia terjang salah seorang Han-mosiang-ciu yang cacat telinga itu.
Cepat orang itu mengelak ke samping, tapi baru setengah jalan mendadak Siang Cin berganti arah dan menabas Siang-ciu yang kedua.
Gerakannya secepat kilat, serangannya sangat ganas, anggota Han-mo-siang-ciu ini tidak keburu mengelak lagi, dengan mata melotot dan mengertak gigi ia malah memapak maju, tumbaknya mendadak menusuk dari samping, telapak tangan kiri juga menghantam.
Pada saat yang sama, tanpa bersuara Toh Goan juga menubruk maju, kedua lengan bajunya yang lemas sebagai ular terus menyabet punggung Siang Cin.
Namun dengan sedikit mendak ke bawah sambil menggeser langkah, serangan lawan terhindar, berbareng ia menyikut, kontan salah seorang Han-mo-siang-ciu itu mencelat.
Ketika ia membalik tubuh, dengan tepat berhadapan dengan Toh Goan.
Keruan Toh Goan terkejut, belum lagi sempat ia bertindak lebih lanjut, secepat kilat pukulan Siang Cin sudah menyambar tiba dan tepat mengenai dadanya.
"Brek", Toh Goan terhuyung-huyung dan tumpah darah dan tak bisa berkutik lagi. Mendadak Han-mo-sian-ciu yang cacat telinga itu menggerung kalap, dia tidak menerjang Siang Cin untuk menuntut balas bagi kawannya, tapi seperti kerbau gila terus menubruk ke sana, di sana Loh Hou sedang menempur si gendut dan anak buah Ji-ih-hu. Cepat Siang Cin bertindak, ia desak mundur Giam Ciat yang menyerang dengan kalap, lalu ia memburu ke sana sambil berseru.
"Awas, Loh-heng!"
Loh Hou tampak sudah mandi keringat dan napas terengah-engah, di sekitarnya menggeletak beberapa mayat, toyanya juga berlepotan darah.
Akan tetapi lukanya yang belum sembuh menjadi kambuh lagi, sakitnya merasuk tuIang, ditambah lagi si 375 gendut yang ikut mengerubutnya itupun tidak rendah ilmu silatnya, serangannya dahsyat dan tidak kenal ampun, tentu saja Loh Hou semakin payah.
Demi mendengar seruan Siang Cin, segera Loh Hou merasakan angin kencang menyambar tiba, sambil meraung toyanya terus menyapu ke samping, seorang berseragam kulit menjerit ngeri dan terpental, sementara itu orang yang cacat telinga juga sudah menerjang tiba.
Untunglah pada saat itu Siang Cin memburu datang, ia mendahului menghantam.
Rupanya orang yang cacat telinga itu sudah nekat, sama sekali tak memusingkan serangan dari belakang itu, tombaknya tetap menusuk Loh Hou.
Pada detik yang sama, si gendut juga menusuk maju, senjatanya berbentuk kampak lantas membacok Loh Hou.
Keruan Siang Cin kelabakan, teriaknya.
"Rebahkan dirimu Loh Hou!"
Serang menyerang itu datangnya terlalu cepat, sembari berteriak pukulan Siang Cin tetap dilancarkan, kontan si telinga cacat terpental, namun saat itu tumbaknya juga sempat menancap di iga kiri Loh Hou.
Wajah Loh Hou tampak beringas, toyanya serapat berputar sehingga kampak si gendut tertangkis, tapi dua orang berseragam kulit sempat menubruk tiba, golok mereka terus mampir di punggungnya.
Pada saat itu bayangan Siang Cin juga menubruk tiba, kedua tangannya menghantam sekaligus, batok kepala kedua orang itupun hancur.
Habis itu bayangan kuning lantas melayang lagi ke arah si gendut.
Segera ia disambut oleh cahaya kampak, namun Siang Cin tidak berkelit dan menghindar, tangan terangkat, sekali raih dan betot, tertangkaplah senjata musuh.
Tentu saja si gendut kaget, sekuatnya ia menarik, namun kaki Siang Cin tahu-tahu sudah melayang tiba, kontan dia terpental.
Tendangan Siang Cin tepat mengenai perutnya.
Selagi si gendut terguling dan menjerit ngeri, terdengar pula jeritan yang ngeri di sebelah sana.
Cepat Siang Cin berpaling, dilihatnya Le Tang sedang bergulat dengan si muka hitam, rantai Le Tang terlibat di leher lawan dan sedang dijirat sekuatnya sehingga muka si hitam semakin gelap, tapi golok si muka hitam juga bersarang di perut Le Tang.
Selain itu ada lagi beberapa lelaki berseragam kulit sedang membacok punggung Le Tang sehingga daging luluh dan darah muncrat.
Menyaksikan itu, mata Siang Cin merah membara, ia meraung murka dan menerjang ke sana.
Tiga orang berseragam kulit hendak merintanginya, tapi hanya sekali dua gebrak saja ia telah robohkan orang-orang itu.
Seorang lagi menyergap dari belakang dengan sebuah bacokan, tanpa menoleh Siang Cin menyampuk ke belakang, golok orang itu mencelat, bahkan mukanya hancur separo.
376 Setiba di samping Le Tang, ia mengamuk dengan kalap, hanya sekejap saja beberapa orang yang menghujani bacokan pada punggung Le Tang itu telah dihancurkan kepalanya.
Le Tang belum tewas, sorot matanya yang buram masih sempat menyaksikan Siang Cin menghabisi nyawa beberapa pengeroyoknya, maka terembuslah napas kepuasan pahlawan Bu-siang-pay ini, makin erat dia menjirat rantainya sehingga lidah lawan bermuka hitam itu terjuIur dengan kedua mata melotot.
Namun orang itupun tetap memegangi goloknya yang bersarang di perut Le Tang.
Siang Cin menahan perasaan pedihnya dan berseru parau.
"Maaf, Le heng, kudatang terlambat selangkah."
Le Tang tidak sanggup bicara lagi, terdengar suara "krak-krok"
Di tenggorokannya, napas sudah habis, tersembul senyuman terima kasih dan iklas pada ujung mulutnya.
Mendadak ia menggreget dan menarik rantainya lebih keras, habis itu ia berkejang, lalu melepaskan tangannya dan roboh terkulai untuk tak bangun lagi selamanya.
Beberapa puluh anak buah Ji-ih-hu seperti kesima menyaksikan ketangkasan Siaog Cin tadi sehingga tidak berani menerjang maju, Ketika mendadak Siang Cin membalik tubuh, seketika mereka mundur dengan ketakutan, Giam Ciat juga berdiri di sebelah sana, senjatanya yang berwujut jaring itu terurai di tanah, wajahnya yang cantik tampak pucat, jelas iapun gelisah dan takut.
Sementara itu Ji ih-hu sudah terjilat api, asap nembubung tinggi disertai suara letusan yang memekak telinga, Bayangan orang tampak berlari serabutan, tiada orang lagi yang memperhatikan keadaan di sini.
Siang Cin mengusap darah di tangannya di jubah kuningnya, ditatapnya Giam Ciat, lalu katanya dengan hambar.
"Nona Giam, setiap orang harus berani menyadari kesalahannya sendiri, hendaklah kaupun dapat membedakan antara yang salah dan benar. Nah, silakan kau pergi saja, aku takkan menganggu kau."
Giam Ciat tidak menjawab, entah mengapa air mata lantai bercucuran.
Dilihatnya Siang Cin telah melayang pergi.
Di tengah kekacauan itu, secepat kilat Siang Cin melayang ke tembok benteng sebelah timur sana, sesuai rencana semuIa, dilihatnya pasukan Bu-siang-pay sedang menerjang tiba melalui jurusan ini.
Siang Cin bersembunyi di suatu tempat yang tidak menyoIok, dilihatnya di atas tembok benteng telah penuh penjaga-penjaga yang terdiri dari berbagai kelompok ada yang berseragam kulit, ada yang bermantel kelabu, ada yang berbaju hijau dan ada yang berjubah biru, suasana berisik dan sibuk, tegang dan mencemaskan.
Di antara pemimpinnya Siang Cin melihat Toh Cong, ialah satu dari "Su-Coat", selain itu tampak pula Pah Cong-ju yang sebelah tangannya terluka.
Ada lagi seorang yang suaranya melengking tajam.
Dari suaranya yang khas ini Siang Cin lantas mengenalnya sebagai orang yang berteriak-teriak semalam.
Orang ini berkepala besar dan botak, tapi pelipisnya tumbuh rambut yang panjang, matanya kecil, mulut lebar.
377 Siang Cin ingat semalam orang ini seperti disebut-sebut sebagai "Nyo-ya", janganjangan dia ini gembong Ji-ih-hu yang bernama Nyo To.
Belum lagi Siang Cin tahu apa yang harus dilakukannya, sekonyong-konyong suara berisik yang memenuhi seluruh tembok benteng yang mengelilingi Ji-ih hu menjadi sepi, berubah menjadi hening seperti kuburan.
Siang Cin menjadi heran, ia coba mengintip keluar benteng, maka tersenyumlah dia, Nyata darah yang teralir, korban yang jatuh, pengalaman sulit yang terjadi selama satu hari satu malam itu telah mendapatkan imbalan yang pantas.
Di sana, di hutan yang pernah digunakan sebagai tempat sembunyi itu, kini kelihatan barisan-barisan berkuda, kuda-kuda itu berbulu putih, penunggangnya juga berseragam putih, bahkan tampak gemerlapnya warna emas gelang kepala mereka.
Golok sabit terhunus dan tangan lain membawa perisai.
Jelas itulah pasukan berkuda Bu-siang pay, inilah pasukan induk Bu-siang-pay dikenal sebagai pasukan "Hui ji~bun".
Tapi jumlahnya kelihatan cuma li baris, tiap baris antara 30 orang, jadi cuma tiga ratusan orang saja dan dibawa pimpinan hulu balangnya yang gagah berani, yaitu Giam Siok.
Diam-diam Siang Cin jadi kuatir entah bagaimana kesudahan Toa cuncu Hui-ji-bu Tiangsun Ki yang membawa sebagian anak buahnya menyerbu ke Pau-hou-sanceng itu.
Tapi kalau melihat semangat pasukan Bu-siang-pay sekarang, agaknya pihak Bu siang-pay tidak mengalami kesukaran apa-apa.
Di sebelah sana pasukan Bu siang-pay yang lain, yaitu "Bong-ji bun"
Juga kelihatan bersiap-siap hanya menunggu komando saja.
Suaiana terasa mencekam.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba keheningan itu di pecahkan oleh suara letusan di arah Toa-ho-tin sana.
MenyusuI mana terlihatlah benda-benda hitam bulat kecil melayang cepat dari sana ke sini, dari kecil menjadi besar dan tahu-tahu sudah dekat, benda hitam itupun seperti bermata, dengan jitu menggempur tembok benteng Ji ih-hu.
Maka terdengarlah suara ledakan gemuruh susul menyusul disertai berkobarkan api dan bergulungnya asap yang menyesakkan napas.
Dahsyat sekali ledakan itu sehingga batu kerikil berhamburan bila mengenai badan manusia, seketika daging robek dan darah muncrat.
Seketika para penjaga di atas tembok benteng menjadi kacau dan sama berlari kian kemari, sebagian terperosot ke bawah, ada yang terinjak-injak, sebaliknya granat dari pihak Bu-siang-pay masih terus berhamburan bagai hujan dan meledakan tembok benteng Ji-ih-hu.
Ngeri juga Siang Cin tusukan ledakan dahsyat yang menimbulkan korban tidak sedikit tanpa kenal ampun itu, ia menggeleng kepala, tapi apa yang dapat dikatakan memang beginilah kejamnya peperangan, kalau tidak membunuh tentu akan dibunuh.
Selagi Siang Cin memikirkan cara bagaimana harus bertindak membukakan pintu gerbang benteng bilamana pasukan Bu siang-pay sudah mulai menyerbu, mendadak hujan granat tadi berhenti sama sekali, Seketika suasana hening kembali.
378 Cepat Siang Cin mengintai pula keluar sana, dilihatnya pasukan "Bong-ji-bun"
Busiang-pay di sayap kanan sana telah mulai bergerak cepat mendekati hutan di timur Ji-ih-hu itu. Sedang pasukan "Hui-ji-bun"
Juga serentak mendesak maju.
Baju putih dan gelang emas bergerak-gerak memancarkan cahaya yang menyilaukan, derap kaki kuda diseling gemerincingnya senjata, suara lain tidak ada sama sekali.
Makin dekat dan makin dekat, suasana bertambah mencekam.
Pada saat kedua pihak sudah hampir mengadakan kontak pertama, sekonyongkonyong di tembok benteng yang berdekatan dengan hutan sini timbul sedikit kegemparan.
Belum lagi Siang Cin tahu apa yang terjadi, terdengar suara seorang lantang berseru.
"Wahai kaum celurut Bu-siang-pay, dengarlah, di sini ada Toacuncu Thi-ji-bun kalian Siang Kong ceng, Toacuncu Hiat ji-bun Lok Bong bu, ada pula tokoh andalan kalian Tian Pek-yang, Te Yau dan Khu Hu-kui, semuanya tertawan oleh kami, jika kalian masih sayang kepada jiwa mereka, maka sekarang juga pasukan kalian harus berhenti bergerak, kalau tidak, jangan kalian menyalahkan kekejaman kami yang tidak kenal ampun, segera kepala kelima orang ini akan kami penggal."
Suara orang ini sangat keras dan lantang laksana bunyi genta sehingga berkumandang jauh, meski pasukan Bu-siang-pay masih terpisah sekian jauhnya, tapi dapat mendengar seruan itu dengan jelas, pasukan Bu siang pay yang sudah mulai mendesak maju itu tampak panik sejenak, berpasang mata yang cemas dan murka juga memandang ke arah benteng.
Yang paling dikuatirkan mereka memang tindakan musuh yang keji ini dan sekarang hal ini ternyata benar-benar terjadi.
Di tembok benteng sini mendadak terlihat muncul serombongan orang, ketika rombongan itu menyingkir, dengan jelas kelihatan Siang Kong-ceng, Lok Bong bu, Te Yau, Tian Pek-yang dan Khu Hu-kui berlima telah digiring ke tepi tembok benteng, kelima orang itu tampak kurus kering, rambut semerawut dan tidak berbentuk manusia lagi, pakaian sekujur badan juga compang-camping, matanya celong, berdiri saja tampaknya tidak kuat.
Malahan tangan mereka diborgoI, kakipun dirantai dan diberi bola besi yang cukup besar.
Ada seutas kawat pula yang menembus tulang pundak mereka, darah yang pernah keluar dari pundak itu tampak sudah mengering, luka bagian pundak itupun sudah benjoI hitam.
Meski kelima orang itu tersiksa sedemikian rupa, tapi para pahlawan Bu-siang-pay dan Siang Cin masih tetap mengenali mereka meski kelima wajah itu sudah berubah sama sekali daripada wajah mereka semula.
Kelima orang itu berdiri sejajar, masing-masing di pegangi dua orang berseragam kulit, golok mengancam pula di kuduk mereka, sedangkan Nyo To serta seorang yang bermata satu dan berwajah kehijauan yang bersuara tadi berdiri mengawasi di samping, Si mata satu itu berperawakan pendek kecil, wajahnya menakutkan, sikapnya dingin, iapun memakai baju kulit warna coklat yang penuh dihiasi paku perak, senjatanya yang berbentuk potlot dan berwarna merah gemerlap terpanggul di bahunya, di sebelah kiri mereka berdiri iima orang kakek yang berjubah kelabu dan berwajah kereng, sedangkan sebelah kanan adalah seorang lelaki kekar bermuka kemerahmerahan dan berjenggot panjang sebatas dada.
379 Orang tua ini tampak angker, sorot matanya tajam, kerlingan matanya membuat orang merasa segan, hidungnya besar lurus dan di atas batang hidung ada tahi lalat sebesar kacang, alisnya tebal seperti sikat, tidak memakai baju kulit, tapi berjubah komprang warna keemasan yang bertuliskan dua huruf "Hok"
Dan "Siu", yakni lambang rejeki dan panjang umur.
Kaki mengenakan sepatu kulit menjangan, sambil menggendong tangan ia pandang reaksi dari pihak Bu-siang-pay setelah seruan si muka hijau tadi.
Benar juga, setelah pihak Bu siang pay melihat jelas kelima orang yang diperlihatkan memang betul adalah Cuncu dan kawan mereka yang tertawan musuh, gerakan pasukan yang mulai maju itu lantas diperlambat.
Berbareng itu dari pasukan Bong ji bun lantas berkibar panji yann bertanda tujuh gelang emas yang kait-mengait, panji itu diayun tiga kali, lalu seorang penunggang kuda tampil ke depan dan membedal cepat ke arah pasukan Hui-ji bun.
Pimpinan pasukan Hui ji-bun, Giam Siok, lantas menyongsong maju, sesudah kedua orang bergabung dan berhenti sejenak, lalu dua-duanya maju ke arah tembok benteng Ji-ih-hu.
Kiranya penunggang kuda yang satu itu adalah Toacuncu Utti Han po.
Kira-kira belasan tombak di depan benteng berhentilah mereka.
Dari ujung tembok tempat sembunyinya Siang Cin dapat mengikuti kejadian itu.
Sukar baginya untuk meramalkan apa yang terjadi.
Terlihat Utti Han-po dan Giam Siok bertengger di atas kudanya dengan air muka bersungut, keduanya menengadah ke atas benteng dengan sorot mata berapi.
Si kakek berjenggot panjang dan berjubah warna keemasan tadi tersenyum, lalu pelahan mengangguk kepada si muka hijau di sisinya, Setelah berdehem, si muka hijau lantas buka suara pula.
"Apakah pendatang itu adalah Toa Cuncu Utti Han-po dan gembong Hui-ji bun, Giam Siok?"
Utti Han-po yang berpotongan gendut itu menjawab.
"BetuI, apa yang perlu dibicarakan silakan omong saja dan tidak perlu berputar-putar."
"Hahaha!"
Si muka hijau berseru pula dengan lantang.
"Pertama ingin kutanya, apakah kalian sudah lihat jelas kelima pahlawan kalian yang berdiri di sini ini?"
"Ya tentu,"
Jawab Utti Han-po dengan mendongkol. Mendadak Giam Siok mendamperat.
"Hm, kiranya begitulah cara kalian memperlakukan tawanan, sungguh keji!"
"Hahaha, apakah terhadap tawanan kami harus menjamunya setiap hari,"
Jengek si muka hijau.
"Hrn, barangkali kau sudah lupa apa sebabnya sampai mereka tertawan?!"
"Sudahlah,"
Dengan menahan gusar Uiti Han-po menyela.
"dalam keadaan demikian, tiada perlunya kita adu mulut singkatnya saja, cara bagaimana supaya kalian mau membebaskan rnereka?" 380 Si muka hijau memandang sekejap kepada si kakek berjubah keemasan Kakek itu tidak memperlihatkan perasaan apa-apa, ia cuma mengangguk pelahan saja. Maka si muka hijau lantas berteriak "Pertama, pasukan Bu-siang-pay harus segera ditarik mundur dari sini, sedikitnya ttga puluh li dari Toa-ho-tin, setelah syarat ini dilaksanakan lalu kami akan membebaskan Khu Hu-kui."
Tidak kepalang gusar Utti Han-po, tapi sedapatnya ia menahan perasaannya dan bertanya "Lalu?!."
"Lalu, di bawah pengawasan kami pihak kalian harus mundur lagi seratus li Iagi, habis itu akan kami bebaskan bocah she Te itu,"
Seru si muka hijau.
"Seterusnya?"
Jengek Utti Han-po.
"Ya, seterusnya segenap pasukan Bu-siang-pay kalian harus mengumpulkan semua senjata yang kalian bawa dan ditaruh di suatu tempat yang akan kami tunjuk serta akan kami musnahkan, bila hal ini sudah dilaksanakan segera kami membebaskan Tian Pek-yang,"
Ia berhenti sejenak, lalu menyambung puIa.
"Dan keempat Thi Tok-heng harus menulis suatu pernyataan bahwa Bu-siang-pay seterusnya takkan mengganggu dan merecoki Ji-ih-hu beserta anggota serikatnya, jika syarat ini telah di penuhi, segera Lok Bong-bu juga dapat kami lepaskan"
"Oan masih ada lagi?"
Jengek Utti Han-po "Dan akhirnya, tiga bulan setelah kalian pulang ke padang rumput sana, bila sudah jelas kalian tiada niat sembarangan bergerak lagi, lalu Siang Kong-ceng juga akan kami puIangkan dengan selamat"
"Hm, tidakkah terlalu melampaui batas per-mintaan pihakmu ini?"
Jengek Utti Hanpo.
"Apakah memang begitu kehendak Ang Siang-Iong?"
Belum lagi si muka hijau menjawab, mendadak si orang tua berjenggot panjang dan berjubah keemasan itu berseru lantang.
"Ya, memang itulah kehendakku!"
Kiranya orang tua yang gagah dan angker inilah tokoh yang termasyhur, pimpinan tertinggi Ji-ih-hui, Hek-jan-kong Ang Siang-Iong.
Seketika sorot mata Utti Han-po dan Giam Siok mencorong terang, penuh rasa gemas dan dendam Teriak Utti Han-po.
"Ang Siang-Iong, tentunya kautahu tidak nanti kami menerima syaratmu itu."
Dengan ketus Hek-jang kong Ang Siang-long menyela.
"Terima atau tidak adalah urusan Bu-siang-pay kalian apabila kalian tidak dapat memutuskan persoalan ini, silakan lapor dulu kepada ciangbunjin kalian Kuberi tempo setengah jam, setelah itu tawanan akan kami hukum mati tanpa..."
Sekonyong-konyong Lok Bong-bo yang berwajah pucat kurus itu berteriak serak.
"Utti heng, ser ....serbu lah kemari dan , ... dan cincang binatang tua ini....jangan urus diri kami . -..sudah cukup kami... ."
Belum habis teriakannya, kontan dua lelaki yang memegangnya membentak dan mengetuk dengan punggung golok.
"brek", punggung Lok Bong-bu terhantam dengan keras, suaranya jelas dan seakan-akan mengetuk hati Utti Han po dan Giam Siok. 381
"Berhenti, kalian binatang ..."
Bentak Giam Siok dengan beringas. Hek-jan-ong Ang Siang-long memberi tanda, segera kedua lelaki tadi menyeret mundur Lok Bong-bu yang sudah terkulai pingsan itu.
"Nah, cukup dengan sedikit hukuman ini saja kawanmu sudah tidak tahan, bilamana lima buah kepala sudah terpenggal, tentu akan tambah ngeri tampaknya, kukira kalian tentu tidak ingin menyaksikannya. Nah, pikirkan bagaimana keputusanmu Utti Han po, kutunggu jawabanmu,"
Demikian Ang Siang-long berseru pula dengan tertawa. Pada saat itulah Siang Kong-ceng yang sejak tadi menunduk lemas itu mendadak menengadah, dengan beringas ia berteriak.
"Utti Han-po, jangan kau lupakan semangat pahlawan padang rumput dan merusak nama baik Bu~siang pay, apakah kau lupa pada amanat ciangbun Toasuheng kita waktu hendak berangkat ke tempat tujuan? Apakah kau menghendaki kami menjadi orang berdosa dan menanggung malu bagi Bu-siang pay? ingatlah saudara-saudara kita yang telah menjadi korban, darah saudara kita yang sudah tercecer, sakit hati mereka belum terbalas, dendam Ciangbun-suheng juga belum terbalas, dengarkanlah gema tangis saudara kita di padang rumput ..."
Belum habis ucapannya, kembali punggung golok penjaganya telah menggebuki tulang punggungnya hingga membuat Siang Kong-ceng jatuh terkapar. Tapi Tian Pek-yang lantas menyambung teriakan kawannya.
"Ya, saudara dari padang rumput, tuntut utang darah ini ... biarlah kita gugur sebagai jantan, mati sebagai pahlawan padang rumput, jangan..."
Seperti nasib kedua kawannya, Tian Pek-yang juga mengalami hantaman keras di punggungnya dari tak sanggup bersuara lagi.
Segera Te Yau dan Khu Hu-kui juga ingin berteriak, tapi lebih dulu mereka sudah digampar dan terlebih dulu oleh para penjaganya.
Hek-jan-kong Ang Siang-long mendengus, serunya puIa.
"Nah, Utti Han-po, kukira kau harus lekas ambil keputusan atau laporkan dulu kepada ciangbunjin kalian."
"Kau tua bangka,"
Teriak Utti Han-po dengan murka.
"Bicara terus terang, sudah ada perintah tegas dari Ciangbun Toasuheng, tidak ada kompromi, tidak peduli betapa korban yang akan timbuI, Bu-,siang-pay pasti akan menghancurkan Ji-ih-hu kalian, membakar ludes ketujuh gedungmu, betapapun Bu-siang-pay bukan pengecut yang dapat kaugertak dan peras, jangan kau mimpi lagi."
"O, jadi kalian tidak kenal kompromi lagi?"
Tanya Ang Siang long.
"Baik, Oh Kek, penggal Khu Hu-kui."
Si muka hijau yang bernada Oh Kek itu mengiakan, segera ia berseru.
"Seret maju Khu Hu-kuj dan penggal kepalanya, gantung kepalanya di tiang benteng sana."
Si hitam Khu Hu-kui segera diseret ke depan secara kasar, dalam keadaan babak belur Khu Hu-kui berjalan dengan terhuyung-huyung, namun dia masih cukup bandel untuk tidak mau tekuk lutut meski dipaksa.
"Binasakan dia!"
Bentak Oh Kek dengan murka.
Segera salah seorang penjaga angkat golok terus hendak menabas kuduk Khu Hukui.
Akan tetapi sebelum golok menyambar ke bawah mendadak algojo yang bermuka bopeng itu menjerit ngeri, tubuhnya yang besar itu seperti kena di sodok sesuatu terus terjungkal keluar tembok benteng.
Kejadian mendadak ini sungguh mengejutkan semua orang dari kedua pihak, lebihlebih orang-orang pihak Ji ih-hu, mereka menjadi bingung dan tidak tahu apa yang terjadi.
Di samping terkejut merekapun ngeri dan takut.
Bayangkan, di tengah pengawasan orang sendiri sekian banyaknya, bahkan disaksikan sendiri oleh Hek jan-kong Ang Siang long sendiri, tapi ada orang berani melakukan sergapan, kepala si pesakitan tidak terpenggal sebaliknya algojonya malah mati lebih dulu.
Kejadian ini benar-benar mengejutkan dan juga memalukan.
Di tengah suara jerit kaget dan panik itu, cepat Hek jan kong juga berpaling, tampaknya ia tetap tenang-tenang saja, serentak ia memberi perintah.
"Kelima sahabat Tiang-hong pay silakan tetap berjaga di sini dan jangan sembarangan meninggalkan tempat itu. Nyo To dan Oh Kek mengawasi sekitar sini, hati-hati bila musuh menyerbu untuk merampas tawanan, Kim-thaubak hendaknya segera memberi perintah agar segenap jagoan dari berbagai aliran dikerahkan untuk mencari mata-mata musuh."
Kelima kakek berjubah kelabu yang sejak tadi hanya bungkam saja sama mengangguk, Nyo To dan Oh Kek juga mengiakan.
Lalu seorang berseragam kulit yang berdiri di sebelah sana juga memberi hormat, lalu mengundurkan diri dan berlari pergi dengan cepat.
Selagi di sini Hek-jan-kong mengatur sini, di sebelah sana pasukan Bu-siang-pay sedang bersorak sorai bergemuruh.
Mereka menyaksikan apa yang terjadi, mereka tahu ada orang bersembunyi diam-diam melindungi pahlawannya.
Mereka bersorak gembira dan mengacungkan golok dan perisai Utti Han-po dan Giam Siok saling pandang dengan tersenyum, segera mereka memutar kuda dan kembali ke pasukan masing-masing.
Sejenak kemudian suara "tut-tut"
Yang haru dan membakar semangat mulai bergema, pasukan Bu-siang-pay mulai bergerak, berbondong-bondong membedal ke depan.
"Terjang! Serbu!"
Semakin mendekat pasukan Bu-siang-pay yang menerjang tiba. Segera Hek-jankong memberi perintah.
"Oh Kek, perintahkan lepas panah!"
Dengan suara lantang Oh Kek lantas berteriak meneruskan perintah itu.
Serentak dinding benteng yang mengaling liang panah itu sama anjlok ke bawah dan tertampaklah belasan kerangka besi yang penuh terpasang busur dan panahnya.
Sementara itu jarak pasukan Bu-siang-pay dengan tembok benteng tinggal dua-tiga puluh tombak saja.
Sekali aba-aba diberikan, serentak tali jepretan ditarik dan terhamburlah beratus-ratus anak panah.
383 Perajurit Bu-siang-pay sudah terlatih sejak kecil, kepandaian menunggang kuda mereka boleh dikatakan sangat gesit tangkas, sebelumnya merekapun sudah diperingatkan kemungkinan hujan panah dari pihak musuh.
Maka begitu kelihatan hujan panah tiba, serentak mereka memasang perisai di depan kepala kuda untuk melindungi binatang tunggangan dan mengalingi kepala dan tubuh sendiri, sedangkan barisan belakang lantas memencar ke samping serta balas menyambitkan senjata rahasia.
Sudah tentu masih juga ada yang terkena panah dan terjungkal, seketika berjangkit jeritan ngeri di sana sini.
Tapi sejenak kemudian pasukan Hui-ji bun itupun mendesak sampai di kaki tembok benteng, Menyusul pasukan Bong-ji-bun juga menerjang maju dan balas menghujam musuh dengan sambitan senjata rahasia.
Suasana di atas tembok benteng menjadi kacau, bukan saja para pemanah di liang panah itu banyak yang terbunuh, juga anak buah Ji-ih-hu di atas tembok juga banyak yang terluka.
Rada cemas juga Hek-jan-kong menyaksikan situasi yang tidak menguntungkan itu, cepat ia berteriak puIa.
"Penggal kepala Siang Kong-ceng!"
Tapi Siong Kong-ceng lantas menengadah dan bergelak tertawa, serunya dengan suara parau.
"Ang Siang-Iong, kalau kumati sekarang, sebentar lagi kaupun akan menyusuI, akan kutunggu kau dipintu akhirat."
"Penggal!"
Bentak Hek-jan-kong dengan bengis, Segera kedua pengawal di belakang Siong Kong-ceng mengangkat golok mereka terus menabas.
Tapi keajaiban kembali terjadi, Mendadak golok yang terpegang mereka itu bergetar keras dan berganti arah.
"crat", bukannya kepala Siong Kong-ceng yang terpenggal, tahu-tahu golok bersarang di perut kedua orang itu sendiri. Sambil menjerit kedua orang itu terus terguling ke bawah tembok sana. Rupanya dalam kekacauan itu Siang Cin telah menggeser tempat sembunyinya sehingga semakin dekat dengan tempat pimpinan Ji-ih-hu sini. Dia yaog telah menyelamatkan jiwa Khu Hu-kui dan Siong Kong-ceng dengan tenaga pukulan jarak jauh. Sudah tentu ia tahu caranya itu sangat besar resikonya, tapi apa boleh buat, keadaan sadah memaksa. Sudah tentu Hek-jan-kong tidak tinggal diam, serentak ia melompat ke tempat sembunyi Siang Cin, sekali hantam ia hancurkan ujung tembok yang mengalingi tubuh Siang Cin itu. Di tengah gelak tertawanya Siang Cin terus melambung ke atas, berbareng ia melancarkan pukulan dan depakan, Cepat Hek-jan tong menyurut mundur, tapi lantas terdengar suara jeritan ngeri, dua-tiga orang anak buahnya telah menjadi korban dan terpental. Sorot mata Hek jan kong seakan-akan membara, teriaknya murka.
"Naga Kuning, bagus sekali perbuatanmu!" 384
"Haha, Ang Siang-Iong, kiranya kau masih kenal padaku!"
Jengek Siang Cin sambil menghindarkan tabasan golok seorang seragam kulit, berbareng sebelah tangannya halus menampar, kontan orang itu terkapar tanpa sempat bersuara.
Ang Siang-Iong melangkah maju pula dan membentak.
"Siang Cin, berturut-turut kau membunuh empat pembantuku, harus kuhancur-leburkan tubuhmu, akan kukorek hatimu!"
"Hah, silakan coba jika kaumampu!"
Jengek Siang Cin dengan angkuh.
"Keparat, jika berani, hayolah turun ke bawah sana, kita bertempur sampai mati satu lawan satu!"
Tantang Hek-jan-kong.
"Aku bukan anak kecil, Ang Siang-Ioog, takkan terjebak oleh kelicikanmu, masih banyak pekerjaanku, siapa ingin main-main dengan kau."
"Huh, tak tersangka Siang Cin si Naga Kuning yang termashur adalah tikus yang penakut begini,"
Ejek Hek-jan-kong.
"Ang Siang long,"
Jawab Siang Cin.
"Tidak perlu kau pancing diriku, Kematianmu sudah di depan mata, jangan kau harap kau ada kesempatan untuk meloloskan diri."
Selagi Hek-jan-kong hendak bicara pula, tiba-tiba terdengar suara menderu aneh di udara, waktu ia menengadah, terlihat berpuluh-puluh jalur hitam kulit kerbau yang ujungnya terikat besi cengkeram telah hinggap di tembok benteng, Menyusul beratus-ratus anak buah Bu-siang-pay yang sudah siap di kaki tembok terus merembet ke atas melalui tali kulit itu.
Ang Siang-long menjadi nekat melihat suasana bertambah gawat, teriakoya.
"Bunuh semua tawanan itu!"
Dalam pada itu, lima sosok bayangan mendadak melompat tiba.
Kiranya kelima kakek berjubah kelabu dari Tiang-hong-pay serentak mereka mengepung Siang Cin di tengah dan menatapnya dengan penuh rasa dendam.
Salah seorang kakek yang bermata kecil dan berhidung betet, agaknya dia tertua daripada jago-jago Tiang-hong-pay itu, serunya dengan suara bengis.
"Ang-toako, silakan engkau membereskan kelima tawanan itu, orang she Siang ini serahkan saja kepada kami, utang darah Loliok dan Lojit harus kami tagih dari dia."
Hek jan-kong merasa kebetulan jika kelima orang itu mau mewakilkan dia menghadapi Siang Cin, segera ia melayang ke sana dan berteriak puta.
"Habisi tawanan itu!"
Dalam pada itu kelima kakek berjubah kelabu sudah menyerang serentak, akan tetapi Siang Cin sempat mengapung ke atas sehingga serangan mereka yang dahsyat itu mengenai tempat kosong.
Siang Cin ternyata menerjang ke arah Hek-jan-kong, maksudnya hendak menolong Siong Bong-bu berlima.
Cepat Hek-jan-kong mengadang dan melancarkan suatu pukulan dahsyat, Tapi sekali menggeser dan berkelebat tahu-tahu Siang Cin sudah meleset lewat ke sana, Dengan murka Hek-jan-kong lantas mengejar 385 Akan tetapi Siang Cin sudah tiba lebih dulu di depan kelima tawanan itu.
Saat itu Nyo To, Oh Kek dan para penjaga sudah angkat senjata hendak melaksanakan perintah Hek jan-kong tadi.
Namun tahu-tahu Siang Cin sudah melayang tiba, di tengah berkelebatnya bayangan pukuIan, kontan beberapa penjaga berseragam kulit itu tunggang lenggang dan tumpah darah disertai jerit ngeri.
Nyo To dan Oh Kek juga tergetar mundur, malah pundak Nyo To juga terluka, hanya Oh Kek saja yang tidak terluka, tapi mukanya yang memang hijau itu bertambah pucat.
Dalam sekejap itu kelima pahlawan Bu-siang pay yang merana itu sudah mengenali Siang Cin, semangat mereka terbangkit, dengan kegirangan Lok Bong-bu berteriak.
"Kau, Siang heng!"
Siang Cin tidak sempat menjawab, sebab saat itu Hek-jan-kong Ang Siang-long juga sudah menubruk tiba.
Tanpa pikir Siang Cin mendorong ke lima orang tawanan itu sehingga terperosot ke luar tembok benteng, padahal kelima orang itu sama terbelenggu, tulang pundak merekapun ditembus oleh kawat, kini terjatuh ke bawah tembok benteng, akibatnya dapatlah dibayangkan namun apa boleh buat Siang Cin merasa tiada jalan lain.
Habis itu ia mendahului menabos ke dada Hek-jan-kong yang menubruk tiba itu, sedangkan tangan lain lantas menanggalkan jubah kuning yang dipakainya, jubah itu terus dilemparkan ke sana sehingga mirip segumpal awan yang meluncur cepat ke bawah dan sempat menahan di bawah tubuh kelima orang yang jatuh itu.
Meski jubah itu tidak dapat menahan bobot kelima orang itu, tapi cukup menahan daya luncur yang berat itu dan dapat menyelamatkan jiwa mereka.
Kejadian itu berlangsung secepat kilat, menyerang, menanggal jubah dan melempar jubah, semua ini seakan-akan dilakukan dalam sekejap oleh Siang Cin.
Dalam pada itu Hek-jan-kong sempat mengelakkan serangan Siang Cin tadi, ia berjingkrak murka hingga mukanya beringas dan buas.
"Apalagi yang kalian tunggu, maju semua!"
Bentak Hek jan-kong kepada Nyo To dan Oh Kek.
Rupama kedua orang itu masih belum hilang kagetnya karena gempuran Siang Cin yang hampir merenggut jiwa mereka tadi.
Karena bentakan pimpinannya ini, segera mereka racngcrubut dari samping.
Dalam pada itu kelima kakek berjubah kelabu Tiang-hong-pay juga sudah menyusul tiba.
Segera Hek-jan-kong berteriak pula.
"Hayo, kerubut mereka! Terhadap orang licik yang suka main sembunyi-sembunyi begini tiada soal peraturan Kangouw lagi, mampuskan dia!"
Mau-tak-mau agak kewalahan juga Siang Cin menghadapi delapan jago kelas tinggi, namun dia masih terus menyelinap kian kemari dan bertahan mati-matian.
Syukurlah, mendadak teriakan serbuan telah bergema di atas tembok benteng Ji-ihhu.
Waktu Ang Siang-Iong melirik kesana sungguh celaka, entah sejak kapan di atas tembok benteng sudah muncul bayangan baju putih dan gemilapnya gelang kepala, jelas itulah pasukan Bu siang pay.
386 Tidak kepalang kaget Hek-jan-kong Ang Siang long, cemas dan gelisah, ia tahu situasi sangat tidak menguntungkan pihaknya, pasukan musuh sudah berhasil membobol pertahanan bentengnya yang kukuh diri mulai menyerbu ke sayap kanan dan kiri.
Seorang pahlawan berseragam putih menerjang ke sini hendak menbantu Siang Cin, golok sabitnya membacok, namun dengan gesit Oh Kek dapat mengegos, berbareng senjatanya yang berbentuk potlot terus menikam, kontan perut jago Bu-siang-pay itu tertembus selagi ia menjerit dan terhuyung-huyung, salah seorang kakek jubah kelabu menambahi sekali pukulan sehingga tubuhnya mencelat keluar tembok benteng.
"Keparat, kaupun rasakan seranganku!"
Bentak Siang Cin dengan murka, berbareng iapun menabas muka Oh Kek.
Akan tetapi Hek-jan-kong telah menghantam pula dari jurusan lain sehingga Siang Cin terpaksa harus tarik kembali serangannya untuk menangkis pukulan gembong Jiih-hu itu, keadaan Siang Cin jadi semakin gawat.
Pada saat itulah, sekonyong-konyong terdengar suitan nyaring berkumandang dari jauh, hanya sekejap saja suara itu sudah mendekat lalu suara seorang yang kasar memaki.
"Keparat, anak kura-kura yang tidak tahu malu, main kerubut! ini tuanmu Sebun Tio-bu akan mengiringi main-main dengan kalian!"
Dari jauh orang itu lantas menghantam, terpaksa Hek-jan-kong menggeser dan menyambut pukulan dahsyat itu.
Benturan keras terjadi, orang itu tertawa sambil melayang ke samping, berbareng jarinya mencengkeram, seorang berseragam kulit yang berada di samping lantas menjerit dan terjungkal ke bawah benteng dengan kepala pecah.
Hek-jan-kong meraung murka, segera ia hendak menerjang maju, pada saat itulah di belakangnya seorang berseru pula dengan sopan.
"Jangan kuatir, Jan-Ioyacu, marilah bermesraan sedikit dengan Kim lui jiu Kin Jin."
Cepat Hek-jan-kong berpaling, dilihatnya seorang berdandan sastrawan setengah baya sudah berdiri di depannya.
Kiranya Sebun Tio-bu dan Kin Jin telah muncul semua.
Setelab merobohkan anggota Jit ho-hwe yang berseragam kulit tadi, segera Sebun Tio-bu menubruk pula ke sana sambil berseru.
"Itu dia, Siang-heng, kudatang membantu kau!"
"Bagus, Sebun tangkeh!"
Sambut Siang Cin dengan girang sambil menghindari beberapa serangan pengerubutnya.
"Wutt", mendadak Thi mo-pi atau lengan besi iblis, menyambar dan samping, keruan Nyo To terkejut dan cepat berkelit. Tapi tangan besi itu lantas mencengkeram pula ke arah Oh Kek. Terpaksa kedua jagoan Ji-ih-hu ini meIompat mundur, mau-tak-mau mereka harus menghadapi "Sip-pi-kuncu"
Sebun Tio bu dan meninggalkan Siang Cin.
387 Rada longgarlah Siang Cin setelah berkurang dua lawan tangguh, tapi kelima tokoh Tiang-hong-pay menjadi nekat, mereka mencecar terlebih kalap.
Di sebelah lain terdengarlah angin menderu-deru dengan dahsyat, rupanya Kim lui jiu, si tangan geledek, Kin Jin juga telah mulai bergebrak dengan Hek jan kong Ang Siang-Iong.
Di sekitar sana keadaan juga kacau balau, anak murid Bu-siang-pay yang berseragam putih dan bergelang kepala emas sudah muncul di mana-mana, sebagian besar sudah menuruni tembok benteng dan menyerbu ke bangunan induk Ji-ih-hu seperti air bah yang tak tertahankan lagi.
Dengan baju berlepotan darah Siang Cin menyelinap kian kemari di antara kerubutan kelima tokoh Tiang-hong-pay, Ginkangnya memang tiada taranya sehingga musuh sukar meraba ke mana dia akan berkelit.
Sekonyong-konyong, terdengarlah sorak gemuruh orang menyerbu sehingga seluruh Ji-ih-hu seolah-olah tenggelam di tengah suara gegap gempita itu.
Sekilas Hek-jankong melirik ke sana, sungguh celaka, kiranya pintu gerbang benteng Ji-ih-hu telah dibuka oleh anak buah Bu-siang-pay yang sudah menyusup ke dalam itu sehingga pasukan seragam putih lantas menerjang ke dalam.
Sesaat itu bumi serasa guncang, langit seakan-akan ambruk, ratusan dan ribuan kuda dengan perajuritnya yang gagah perkasa menyerbu masuk tak terbendung lagi.
"HabisIah aku!"
Keluh Hek-jan-kong Ang Siang-long, mukanya tambah beringas, jenggotnya seakan-akan berdiri, urat hijau tampak jelas di jidatnya, ia benar-benar kalap seperti singa yang sudah gila.
Kim-lui-jiu Kin Jin juga tergolong tokoh di dunia persilatan saat ini.
meski tidaklah mudah baginya untuk mengalahkan Hek-jan-kong, tapi untuk kalah juga sulit.
Tapi sekarang Hek-jan-kong dalam keadaan kalap dan bertempur mati-matian, mau-takmau Kin Jin menjadi rada kewalahan dan terdesak mundur.
Syukur pada saat itulah sesosok bayangan putih gendut mendadak menubruk tiba, begitu datang golok sabitnya terus membabat pinggang Hek-jan-kong.
Pendatang ini ternyata Utti Han-po adanya, Toacuncu Bong-ji-bun Bu-siang-pay yang disegani.
"Terima kasih, Utti-cuncu!"
Seru Kin Jin sambil tertawa, berbareng ia melancarkan suatu pukulan balasan kepada Hek-jan-kong.
Dengan gabungan Kin Jin dan Utti Han-po, betapapun tongkatnya Hek-jan-kong juga tidak mampu berbuat apa-apa lagi, kini dia cuma mampu bertahan dan tidak sanggup menyerang lagi.
Sementara itu kelima kakek Tiang-hong-pay masih mengerubuti Siang Cin dengan kencang, tapi Siang Cin selalu dapat memberosot pergi di tengah kepungan lawan, ia tidak mau terjebak di tengah kepungan musuh, tapi senantiasa mencari peluang untuk menghindarinya, kelima kakek itu berusaha mendesaknya selalu dapat dielakkan oleh Siang Cin.
388 Mendadak sesosok bayangan putih melayang tiba puIa, golok sabit lantas menyabet, godam di tangan lain juga menghantam, sekali serang dua macam, kontan tiga kakek di antaranya didesak mundur.
-----------------------------------------Bagaimana nasib Hek jan-kong Ang Siang-Iong, pimpinan Ji ih-hu yang telah runtuh diserbu pasukan Bu siang pay ini?
Ke mana perginya Khang Giok tek, biangkeladi yang menimbulkan malapetaka ini?
BARA NAGA Karya Gan K.L
Jilid 19
"Bagus kedatanganmu, Giam-heng!"
Seru Siang Cin dengan tertawa. Pendatang ini memang pentolan Hui-ji-bun Bu-siang-pay, Giam Siok dengan gagah berani ia menerjang maju pula sambil berseru.
"Siang-susiok, benteng musuh sudah bobol!"
Sambil melancarkan serangan pada seorang kakek jubah kelabu, Siang Cin menjawab dengan tertawa..
"Ini kan sudah dalam rencana kita!"
Setelah mengelakkan suatu serangan seorang kakek jubah kelabu, mendadak Siang Cin berteriak.
"Nah, kawan2 Tiang-hong-pay, sudah tiba saatnya sekarang kita menentukan mati dan hidup, boleh kalian rasakan cara Naga Kuning merenggut nyawa kalian!"
Sambil bicara, ia sambut pukulan seorang kakek dengan keras lawan keras.
"Krek", terdengar suara tulang patah, tulang tangan kakek lawannya patah sebatas pergelangan. Belum sempat ia menarik diri, kaki Siang Cin sudah melayang tiba dan membuatnya terpental ke bawah tembok benteng. Dalam pada itu Giam Siok telah menerjang tiba dan cepat mengadang di depan seorang kakek jubah kelabu yang hendak menyergap Siang Cin dari belakang. Selagi si kakek kelabu terpaksa harus mengalihkan perhatiannya untuk menghadapi Giam Siok, mendadak Siang Cin memutar balik dan menabaskan sebelah tangannya yang merah bengkak itu. Si kakek jubah kelabu tidak berani ayal, cepat ia menangkis, tapi tangan Siang Cin yang hampir beradu dengan tangan musuh mendadak menyambar ke bawah dan menyerempet lewat di leher lawan. Kontan darah berhamburkan, si kakek jubah kelabu ter-huyung2 dan akhirnya terjungkal. Ketujuh kakek Tiang-hong-pay kini tinggal tiga orang saja, mata mereka tampak merah membara menyaksikan kematian saudara2-nya, mereka menjadi nekat. Akan tetapi tembok benteng ini tidak terlalu luas, sukar bagi mereka untuk menerjang bersama dan main kerubut, apalagi Giam Siok juga menghadapi mereka dengan golok melintang. 389 Mendadak salah seorang di antaranya berteriak nekat terus menerjang ke arah Giam Siok. Kontan golok sabit Giam Siok menahan dengan cepat dan godam menghantam. Tapi kakek itu same sekali tidak berkelit, ia tetap menubruk maju, kedua kakinya menendang secara berantai sehingga godam musuh dapat dipaksa tergeser ke samping, menyusul ia tetap menubruk maju dan menghamtam muka Giam Siok. Tapi sekali ini dia benar2 ketemu batunya, Giam Siok juga nekat, iapun tidah menghindarkan hantaman lawan, tapi goloknya tetap menabas, maka terdengarlah ."crat, bluk"
Beberapa kali, Giam Siok terpukul hingga tergetar mundur, darah hampir saja tersembur keluar.
Tapi tubuh si kakek juga tertabas kutung menjadi dua potong.
Belum lagi Giam Siok tenang kembali, sisa kedua kakek jubah kelabu telah menerjang tiba pula dari kanan dan kiri.
Cepat godam Giam Siok menghantam, kontan kepala kakek di sebelah kiri hancur, tapi dada Giok Siok sendiri juga terpukul, ia jatuh terduduk dengan darah tersembur dari mulutnya.
Pada saat itu Siang Cin telah memburu maju sekuatnya kakek itu membaliki tangan dan menghantam.
"blang", terjadi adu tangan yang keras, kontan tubuh kakek itu mencelat kebawah tembok benteng sana, Siang Cin jnga tergetar mundur dan tumpah darah. Dengan kuatir dua anggota Bu-siang-pay memburu maju hendak menolongnya, tapi Siang Cin telah mengatur kembali pernapasannya sehingga darah tidak sampai tertumpah pula, lalu katanya.
"Lekas rawat dulu Toa-suheng kalian ......."
Tapi Giam Siok yang jatuh terduduk tadi telah merangkak bangun dengan bantuan, golok sabit sebagai tongkat, dengan muka pucat ia mendekati Siang Cin.
"Silahkan Giam lote istirahat dulu di sini. Aku masih harus membantu Sebun tangkehdan Kin heng disana,"
Kata Siang Cin sambil mengusap darah di ujung mulutnya.
Tidak jauh di lorong sana Sebun Tio-bu sedang memperlihatkan ketangkasannya, ia terus menerjang maju.
Lawan yang bernama Oh Kek itu sudah terluka, mukanya berlumuran darah.
tidak perlu ditanya lagi pasti terluka oleh "tangan iblis besi"
Sebun Tio bu itu.
Satu lagi yang bernama Nyo To itupun kelihatan kepayahan, melihat gelagatnya mereka tak mampu bertahan lebih lama lagi.
Seluruh Ji ih-hu kini hampir menjadi dunianya Bu-siang pay, hanya beberapa jagonya saja yang masih kelihatan bertempur mati2an, selain itu orang2 Jit ho-hwe, Toa-to-kau, Ceng-siong-san-ceng dan lain2 sudah hampir tidak kelihatan.
Di mana2 hanya kelihatan seragam putih dengan sinar golok sabit yang gemilapan.
Utti Han-po dan Kin Jin berdua sedang mengerubut Hek-jan-kong Ang Sianglong, namun Hek jan kong sedikitpun pantang mundur, ia seperti sudah kalap, setiap serangannya ganas tanpa kenal ampun, bila perlu siap gugur bersama lawan.
Pentolan utama Ji-ih-hu ini memang tangguh, tenaga dalamnya kuat, serangannya keji, di bawah kerubutan Kin Jin dan Utti Han-po masih lebih banyak menyerangnya daripada bertahan.
Pelahan2 Siang Cin mendekati mereka.
Di belakangnya Giam Siok juga ikut mendekat, muka ke dua orang sama pucat dan badan lemas.
390 Di tempat lain tiba2 terdengar suara orang menjerit.
terlihat "lengan besi"
Sebun Tio bu berputar di udara dengan berlumuran darah, Ok Kek tampak memegangi kepalanya dan terkapar.
Entah sejak kapan dada Nyo To juga sudah robek dan bermandi darah, di bawah ancaman lengan besi Sebun Tio-bu, berulang ia terdesak mundur ke tepi tembok benteng.
Kejadian mengerikan ini sama sekali tidak dihiraukan Hek-jan-kong, dengan beringas ia tetap menghantam kedua lawannya.
Lama2 Kin Jin menjadi nekat, mendadak ia melompat maju, sekuat tenaga kedua tangan menghantam sekaligus.
Di tengah gelak tertawa Hek jan-kong sambut pukulan dengan pukulan.
"Blang", terdengar suara benturan keras, tubuh Kim-lui-jiu mencelat dan terbanting jatuh. Dalam pada itu Utti Han-po juga tidak tinggal diam, golok sabitnya membabat beberapa kali secepat kilat, Karena harus adu pukulan dengan Kin Jin, Hek-jan kong tidak sempat menghindar, pada saat Kin Jin terpental itulah tubuh gembong Ji-ih-hu inipun menghamburkan darah. Namun begitu ia sempat membalik tubuh dan melancarkan serangan terakhir sepenuh tenaga. Sementara itu Siang Cin sudah mendekat, melihat Utti Han-po pasti tidak sanggup menahan pukulan dahsyat lawan, segera ia menubruk maju ke samping Hek-jan-kong, dan menghujani beberapa pukulan kilat ke iga musuh. Pada saat yang sama tubuh Hek jan-kong juga terkena tabasan golok sabit Utti Han po, namun iapun sempat balas menghantam dua kali sehingga Utti Han-po terpental ke belakang, golok sabitpun terlepas dari tangan. Habis itu Hek-jan-kung Ang Siang long lantas terkapar dengan mata mendelik dan tanpa bersuara lagi. Rupanya ia telah binasa dengan luka tabasan golok yang silang menyilang, darah melumuri jubahnya. Tulang iganya sedikitnya patah belasan biji oleh pukulan Siang Cin tadi. Keruan Nyo To ketakutan setengah mati melihat pemimpinnya sudah mati, segera ia bermaksud kabur, namun lengan besi Sebun Tio-bu menyambar lebih cepat daripada larinya.
"cret", perut Nyo To terobek sehingga isi perut berhamburan keluar, tubuhnya juga terlempar keluar tembok benteng. Melihat Siang Cin bermuka pucat dan jalannya sempoyongan, cepat Sebun Tiobu mendekatinya dan bertanya.
"Apakah kaupun terluka, Siangheng? Duduklah dulu!"
"Aku tidak apa2, lekas kau periksa keadaan Kin-heng,"
Jawab Siang Cin.
Sebun Tio-bu lantas memburu ke arah Kin Jin sana.
Dilihatnya Kin Jin dan Giam Siok sama2 menggeletak di situ, belasan anak buah Bu-siang pay mengerumuni mereka.
Dan anggota Bu-siang-pay juga memayang Utti Han-po, Toa-cuncu Bu -siang pay yang gagah perkasa ini kini mukanya juga pucat seperti mayat.
391 Dengan langkah yang berat ia mendekati Siang Cin, ia melirik sekejap mayat Hek-jan-kong, katanya dengan parau.
"Siang-lote, apa ..... apakah orang she Ang ini sudah..... sudah beres!?"
"Ya, beres untuk selamanya,"
Jawab Siang Cin sambil mengangguk pelahan.
"Dan bagaimana keadaan luka Utti cuncu?"
"Mendingan"
Kata Utti Han-po dengan suara serak.
"Untung setelab mengadu pukulan dengan Kin tayhiap barulah aku terpukul keparat ini, jelas ten..... tenaganya sudah banyak berkurang, kalau ....kalau tidak, bisa jadi jiwaku sudah melayang."
Sambil menggerutu kelihatan Sebun Tio-bu mendekat lagi dengan cemas. Tergetar hati Siang Cin, cepat ia bertanya.
"Bag ..... bagaimana keadaan Kinheng?"
Sebun Tio-bu berkerut kering, jawabnya.
"Siangheng, me ..... melihat gelagatnya, Kin-heng ...."
"Apakah parah,"
Sela Utti Han-po. Dengan menghela napas sedih Sebun Tio bu menyambung.
"Kin-heng te!ah mengadu pukulan sekuatnya dengan keparat she Ang tadi, bagian dalamnya terluka parah, denyut nadinya lemah, darah bergolak, keadaannya agak gawat. Tampaknya andaikata jiwanya dapat diselamatkan, sedikitnya juga harus istirahat ber-tahun2 ...."
Tanpa bicara Siang Cin lantas mendekati Kin Jin.
Segera Utti Han po juga memberi perintah kepada seorang anak buahnya agar lekas memanggil tabib pasukan Bu-siang-pay.
Tidak lama kemudian datanglah seorang berseragam putih setengah baya bersama Toa-cuncu Ih Kiat dari Say-cu-bun.
Lelaki setengah baya ini langsung mendekati tempat menggeletak Giam Siok dan Kin Jin, setelah mendapat keterangan sekadarnya dari Siang Cin, orang itu mulai memeriksa keadaan luka Kin Jin berdua, seorang murid Bu-siang-pay lantas membuka peti obat dan siap meladeni segala keperluan sang tabib.
Ih Kiat sendiri kelihatan berkeringat, jubahnya juga robek di sana sini, dia mendekati Utti Hanpo dan berseru.
"Keparat Khang Giok tek itu tidak ditemukan di Ji-ih-hu, sudah kita cari di segenap pelosok tetap tak terlihat bayangannya, mungkin sudah kabur ke Pau-hou san-ceng. Utti tua, kabarnya Ang Siang long sudah dibereskan? Kupikir ...."
Mendadak ia lihat jubah Utti Han-po juga berlumuran darah, cepat ia tanya.
"He, kaupun terluka, Utti tua?" . Utti Han-po menghela napas, jawabnya.
"Ya, kalau tidak ada Siang lote dan Kintayhiap. mungkin jiwaku ini sudah melayang sejak tadi2. Keparat she Ang ini sungguh lihay luar biasa."
"Dan bagaimana keadaan Siang-heng dan Kin-heng?"
Tanya Ih Kiat kuatir. 392
"Aku tidak apa2 Ih-toa-cuncu,"
Seru Siang Cin dari belakang. Cepat Ih Kiat membalik tubuh dan memegangi pundak Siang Cin, serunya.
"Sungguh besar amat jasa Siang-hang bertiga, kalau tidak, bukan mustahil pihak Busiang-pay akan banyak jatuh korban, bahkan Ji-ih hu mungkin sukar dibobol. Yang paling menggembirakan adalah kawan2 kami yang tertawan musuh Sekarang telah dapat diselamatkan.. Ketika menerima berita ini, Tay-ciangbun sampai meneteskan air mata saking terharunya. Siang-heng, sudah puluhun tahun baru sekali ini kulihat hall Tay-ciangbun kami benar2 tergetar oleh kejadian ini ... ."
"ia lihat keadaan Siang Cin agak lesu, cepat ia bertanya.
"Siang-heng, apakah lukamu juga parah?"
Siang Cin tersenyum, jawabnya parau.
"Ah, tidak apa2, cuma luka ringan saja, kukira luka Kin-heng yang harus dikuatirkan ......."
"Akan kujenguk dia,"
Sera Ih Kiat.
"Sudahlah, tabib pasukan kalian sedang memeriksanya, untunglah dasar Kinheng memang kuat, maka jiwanya kukira tidak menjadi soal, apakah ilmu silatnya akan punah atau tidak sukar untuk dikatakan, agaknya dia perlu istirahat yang lama."
"O, syukurlah bahwa jiwa Kin-tayhiap tidak menjadi soal, sungguh Bu-siang-pay kami entah cara bagaimana harus berterima kasih atas pengorbanan Siang-heng bertiga,"
Kata Ih Kiat.
"Ah, mengapa In cuncu bicara begini,"
Ujar Sebun Tio-bu.
"Apa yang kami lakukan ini hanya demi membela keadilan, adalah tugas orang persilatan seperti kita ini. Jika terjadi sedikit cidera juga bukan sesuatu yang perlu dirisaukan."
Dengan suara terharu Utti Han-po ikut bicara.
"Terus terang, bilamana pertempuran ini tidak dibantu oleh Siang-heng, Sebun-tangkeh dan Kin-heng bertiga, sungguh kami tadak berani membayangkan akan bagaimana jadinya ... .."
"Sekarang, selain Khang Giok-tek yang belum diketahui ke mana kaburnya, pentolan pihak Ji-ih-hu mungkin boleh dikatakan sudah kita tumpas seluruhnya. kemenangan gemilang ini seluruhnya memang berkat bantuan Siang heng bertiga,"
Kata Ih Kiat. Siang Cin tersenyum, katanya.
"Pihak Ji-ih hu memang mengalami kehancuran habis2an, kecuali gembong utamanya, Hek-jan-kong, yang sudah mampus jelas ada Nyo To, Ciong Hu, Toan Kiau, Toh Goan, dan Oh Kok serta seorang kakek tinggi besar berjenggot merah. Jago Ji ih-hu yang belum diketahui nasibnya cuma Toh Cong saja, entah dia kepergok tidak oleh kalian?"
"Tidak ada, banyak juga begundal Ji-ih-hu yang kami tumpas, tapi tak ada orang she Toh itu, kukira dia telah kabur setelah melihat gelagat jelek,"
Tutur Ih Kiat.
Siang Cin melongok ke bawah sana, dilihatnya orang Bu-siang-pay berlari kian kemari sedang mengadakan pembersihan terhadap musuh yang bersembunyi serta menolong kawan sendiri yang terluka.
"Dan bagaimana hasil pertempuran di bawah sana, Lo Ih?"
Tanya Utti Hmn-po kepada Ih Kiat. 393 Untuk sejenak Ih Kiat tampak ragu2 untuk bicara, tapi akhirnya ia berkata.
"Pihak musuh telah kita tumpas habis2an, tapi pihak kita sendiripun jatuh korban."
"Siapa yang tewas di pihak kita?"
Tanya Utti Han-po.
"Thio ...... Thio Kong,"
Jawab Ih Kiat. Seketika berubah pucat air muka Utti Han-po dan air mata ber-linang2, gumamnya.
"O, anak Kong....!"
Kiranya Thio Kong yang dimaksud adalah anak angkat Utti Han-po, selama hampir 30 tahun hidup bersama seperti anak kandung sendiri, siapa tahu sekarang harus gugur di medan bakti.
Siang Cin dan Sebun Tio-bu saling pandang dengan terharu.
Ih Kiat juga tidak tahu cara bagaimana harus bicara untuk menghibur rekannya ini.
Tiba2 Siang Cin membisiki Sebun Tio-bu sejenak.
Lalu Sebun Tio-bu memandang ke arah gedung induk Ji-ih-hu sambil manggut2.
Habis itu tanpa bicara ia terus berjalan ke sana.
Kemudian Siang Cin mendekati Utti Han-po dan berkata.
"Utti-cuncu hendaklah jangan terlalu berduka, di medan pertempuran memang hanya ada antara membunuh atau terbunuh, yang penting sekarang kita harus berusaha cara bagaimana menuntut balas bagi saudara2 kita yang telah gugur itu."
Setelah berpikir sejenak, dengan menggreget Utti Han-po menengadah dan berkata.
"Ya, anak Kong telah menunaikan tugas baktinya bagi Tay-ciangbun dan para pahlawan padang rumput, kematiannya tidak memalukan sebagai anak didikku."
"Utti-cuncu, marilah kita turun ke bawah sana untuk melihat kawan2 kita yang terluka,"
Ajak Siang Cin kemudian.
Anak murid Bu-siang-pay sudah mengusung kawan2nya yang terluka itu ke tempat perawatan, juga Kin Jin dan Giam Siok sudah dibawa pergi.
Di tengah kesibukan orang banyak itu, seorang tinggi kurus berjubah putih tampak berlari datang kepala terbalut oleh kain dan darah merembesi kain pembalut itu, agaknya terluka, Siang Cin kenal orang ini adalah anak murid Hui-ji-bun.
"Sin Kian, ada urusan apa?"
Tanya Ih Kiat kepada orang itu.
"Lapor Cuncu,"
Jawab orang itu.
"Sebun-tangkeh menyuruh Tecu menyampaikan kepada Siang susiok, bahwa Toa-siocia sudah ........sudah ditolong keluar."
"Apakah Toa-siocia terluka?"
Tanya Ih Kiat. Belum Sin Kian menjawab, Siang Cin lantas menyela.
"Tidak, cuma kututuk dengan cara yang khas agar dia tertidur. Sebab kalau tidak kututuk dan entah cara bagaimana akan membuatnya diam..." 394 Belum habis ucapannya, mendadak Sebun Tio-bu melayang tiba dengan memanggul segulungan selimut. Sesudah berhadapan, Sebun Tio bu mengusap keringat dan berkata dengan tertawa.
"Untung masih tetap disana tanpa kurang sesuatu apapun, cuma berbahaya juga, tembok di sebelahnya roboh tergetar oleh ledakan granat kita, hampir saja menindihi anak dara ini. Di sekitarnya tumpukan batu pasir belaka, tapi anak dara ini tetap tidur dengan nyenyaknya ... .. Ih Kiat lantas mendekati Sebun Tio bu dan membuka gulungan selimut itu, dan tertawa dan berkata.
"Memang betul, inilah Yang yang, tampaknya nyenyak benar tidurnya."
"Siang-heng,"
Utti Han po berkata.
"marilah kita istirahat saja di ruang besar sana. Kita serahkan saja Yang-yang kepada keputusan Tay-ciangbun. Kukira sebentar lagi dapat pula diterima berita, pertempuran di Pau hou ceng sana. Be-ramai2 mereka lantas masuk ke Kim-bin-tian, Sebun Tio-bu tetap memanggul Yang yang dan Utti Han po juga dipapah oleh dan anggota Bu-siang-pay. Memasuki ruangan pendopo yang luas itu, Siang Cin merasakan perubahan yang sangat menyolok dengan keadaan semalam, Di-mana2 darah berceceran dan belum kering, jelas di sini tadipun terjadi pertarungan sengit. Menurut laporan sementara, pihak Ji-ih-hu benar2 hancur total, diantara pentolannya yang tertawan hidup hanya orang ketiga Jit-ho-hwe, yaitu Ciang Seng, seorang Kau-thau Toa-toa kau bernama Lo Sun dan jago Ceng-siong-san-ceng, To Jun, selebihnya tak diketahui nasibnya dan besar kemungkinan terbunuh. Tidak lama kemudiah datang pula laporan dari scorang murid Hui-ji-bun bernama Ui Seng, katanya Pau-hou-san-ceng sudah bobol dan telah dibakar. Tay-ciangbun mereka juga sudah diberi laporan tentang bobolnya Ji-ih-hu di sini. Ada lagi kabar baik ialah tertawannya Kang Giok-tek. Sudah tentu banyak pula jago2 Bu-siang-pay yang terluka, tapi tidak berbahaya, sebaliknya pihak musuh lebih banyak jatuh korban. Mendadak terdengar suara ramai di luar, lalu masuklah serombongan orang Busiang-pay menggusur tiga tawanan. Semuanya diringkus erat dengan tali kulit. Siang Cin kenal dua diantaranya, yaitu Ki Tay-bok dari Ceng-siong-san-ceng serta Lo-sat-li Giam Ciat. Seorang lagi buntung kedua kakinya dan bagian kaki yang buntung itu terbalut kain tebal serta ada darah merembes, mukanya pueat dan penuh berewok, sebelum buntung kakinya orang ini pasti bertubuh kekar tegap, tapi sekarang kelihatan kecil dan mengenaskan.
"Lapor Toa-cuncu, perempuan inilah yang memimpin begundalnya hendak merampas tawanan di penjara, tapi keburu kepergok dan diringkus,"
Lapor Sin Kian.
"Beberapa anak buah kita terluka, tapi tidak berbahaya bagi jiwanya."
Dengan gemas Utti Han-po berseru.
"Kawanan pengacau yang tidak tahu kebaikan, seret keluar dan penggal kepala!"
Segera Sin Kian hendak meneruskan perintah itu, tapi Siang Cin lantas rnencegahnya.
"Nanti dulu!" 395
"Apakah Siang-heng kenal perempuan ini?"
Tanya Utti Han-po heran. Siang Cin mengangguk, katanya.
"Betul, dia bernama Giam Ciat, adik perempuan ketua Soh-lian su-coat-Giam Ciang."
"Soh-lian-su-coat?"
Utti Han-po menegas.
"Bagus sekali mungkin yang menggeletak di lantai inilah pentolan kedua Soh-lian-su-coat Siang Keng-hian, mereka telah membunuh anak didikku, harus kucabut nyawa untuk membayar utang jiwanya muridku itu."
Tapi Siang Cin lantas memberi kisikan kepada Utti Han-po, diceritakannya bagaimana dia banyak mendapat info dari Giam ciat sehingga penyerbuan Bu siang pay atas Ji ih-hu dapat berjalan dengan lancar.
Tentang gugurnya Thio Kong, dikatakan Siang Cin, sebagai layak jika utang jiwa itu ditagih pada Siang Keng thian yang membunuhnya, Giam Ciat tidak lebih hanya seorang perempuan yang ikut2an saja.
dosanya kiranya tidak perlu sampai dihukum mati, maka dimohonkan Siang Cin agar hukuman sementara ditunda serta dimintakan keputusan kepada Tay-ciangbun sendiri nanti.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Utti Hanpo mengangguk, katanya.
"Karena Siang-lote yang memintakan ampun baginya, apa yang dapat kukatakan pula? Tapi Siang Keng-hian adalah pembunuh muridku, hukuman mati tak dapat dihindarkan, Nah, seret keluar dan penggal kepalanya."
Segera anak buah Bu siang pay menyeret keluar Siang Keng-hian, tentu saja Giam Ciat menjerit, tapi apa yang dapat diperbuatnya.
Sejenak kemudian, datanglah laporan dengan kepala Siang Keng-thian yang sudah terpenggal, hukuman mati sudah dilaksanakan.
"Sekarang giliran keparat ini,"
Bentak Utti Han-po sambil melirik Ki Tay-bok yang meringkuk di bawah itu. Tentu saja muka Ki Tay-bok menjadi pucat dan berkeringat dingin, ia meratap ketakutan.
"Toa-cuncu, mohon kebijaksanaan dan sudi memberi ampun. Hamba tidak lebih hanya sebagai pengabdi di Ceng siong-san-ceng, hanya cari makan belaka dan terima perintah, sama sekali bukan kehendak hamba untuk bermusuhan dengan kalian ...."
"Ki Tay bok, kau adalah Congkoan (kepala rumah tangga) di Ceng siong-son ceng, kedudukanmu tergolong tidak rendah, mengapa kau jadi pengecut begini? Huh, aku ikut malu bagimu, mungkin Ha It-can sudah buta matanya sehingga manusia rendah seperti kau juga diangkat sebagai kepala rumah tangga,"
Damperat lh Kiat.
"Ham ... .hamba cuma menjalankan tugas saja dan karena terpaksa, mohon Toa-cuncu memberi ampun,"
Dengan memelas Ki Tay-bok meratap pula.
"Selanjutnya hamba pasti akan mengasingkan diri dan tak berani berkecimpung di dunia Kangouw lagi, selaina hidup tak berani lagi bermusuban dengan Bu-siang-pay kalian . .... .."
"Ki Tay-bok, apakah kau masih kenal Naga Kuning?!"
Mendadak Siang Cin mendengus.
396 Seketika Ki Tay-bok mengkeret dengan ketakutan.
Tentu saja ia kenal Siang Cin, sejak tadi iapun sudah melihat Siang Cin dan karena itu pula hatinya juga kebatkebit.
Ia kuatir Slang Cin akan menuntut balas padanya untuk melampiaskan sakit hati ketika Siang Cin tertawan dari disiksa habis2an di Ceng-siong-san-ceng dahulu.
Dan sekarang apa yang dikuatirkan dia ternyata terjadi juga, keruan ia ketakutan setengah mati.
"Ki Tay-bok, bukankah kaupun anggota Ceng-siong-san-ceng dan ambil bagian atas semua keganasan yang pernah kalian lakukan, apakah kau lupa cara bagaimana kau ikut menyiksa diriku dengan macam2 cara keji, tapi kau ternyata pengecut, berani berbuat tidak berani tanggung jawab, manusia takut mati seperti kau ini apa gunanya hidup di dunia ini?"
Utti Han-po menjadi murka setelah mengetahui Ki Tay-bok adalah salah seorang pengganas Ceng-siong-san-ceng terhadap Siang Cin, segera ia membentak.
"Sin Kian, seret keluar keparat ini dan binasakan!"
Tanpa ayal lagi Ki Tay-bok diseret keluar dan dihukum mati.
Kemudian sorot mata Siang Cin beralih kapada Giam Ciat yang meringkuk di lantai, akan tetapi sebelum diambil sesuatu tindakan, tiba2 masuklah seorang Busiang-pay memberi lapor bahwa Tay-ciangbun Thi Tok-heng sudah tiba di luar Ji ih hu.
Serentak lh Kiat, Utti Han-po dan lain2 berbangkit, hanya Sebun Tio-bu saja diminta tetap tinggal di tempat untuk menjaga tawanan, yang lain2 sama keluar menyambut.
Baru saja mereka keluar Kim-bin-tian, tertampaklah belasan penunggang kuda ber-bondong2 sudah memasuki pintu gerbang sana, Pek-ih-coat to Thi Tok-heng membedal kudanya ke depan mendahului yang iain2, cepat Siang Cin dan lain2 juga menyongsong kedatangan ketua Bu-siang-pay yang perkasa ini.
Thi Tok-heng juga sudah melihat Siang Cin berada di tengah para penyambutnya, dia terus melompat turun dari kudanya, ia tidak menemui anak buahnya sendiri, tapi lebih dulu menjabat tangan Siang Cin erat2, dengan muka merah bersemangat a berkata.
"Siang-lote, engkau tentu sangat capek, sungguh besar jasa Siang-lote bagi Bu-siang pay kami, Tok-heng tidak tahu cara bagaimana harus berterima kasih padamu ....."
"Ah, janganlah Tay-ciangbun terlalu memuji, Cayhe hanya sekadar ikut ramai2 saja ....""
Jubah putih Thi Tok-heng tampak berlepotan darah, mukanya penuh berkeringat dan debu saking terharunya ia hanya pegang erat tangan Siang Cin dan tidak sanggup banyak omong lagi.
Tiba2 Thi Tok-heng mengamat-amati air muka Siang Cin, lalu bertanya dengan rasa menyesal.
"Siang-lote, kabarnya kaupun terluka?"
"Ah, luka ringan, tidak apa2,"
Jawab Siang Cin. 397
"Kin-tayhiap juga terluka dan cukup parah,"
Kata Thi Tok-heng pula.
"Ai, sungguh hati Tok-heng merasa tidak tenteram, lantaran anak perempuan hina itu sehingga banyak menimbulkan kesusahan orang banyak ... ,"
Sesudah beramah tamah dengan Siang Cin, kemudian barulah Thi Tok-heng bicara dengan Utti Han-po dan Ih Kiat, katanya.
"Pau-hou-ceng sudah bobol, Hek-jiutong dan Jik-san-tui juga hancur total, gembong2nya juga tertumpas seluruhnya. Kabarnya di sini juga berhasil dengan gemilang?"
Utti Han-po mengangguk dan berkata.
"Ya, tokoh utama Ji-ih-hu Hek-jan-kong sudah binasa, begitu juga jago2 undangannya dari Jit-ho-hwe, Toa-to-kau dan lain2 sebagian besar juga tewas, hanya sedikit saja yang tertawan."
Lalu ia menguraikan siapa2 yang meringkuk dalam tahanan sementara.
"Ketua Soh-lian-su-coat, To-hay-liong Giam Ciang juga tertawan, hanya seorang anak perempuan angkat ketua Tiang-hong-pay yang konon berkepandaian tinggi sejauh ini belum diketahui ke mana perginya?"
Tanya Thi Tok-heng.
"Dia tidak mati, hanya kututuk dan kutinggalkan bersama di antara mayat anak buah Ji-ih-hu yang lain,"
Kata Siang Cin, lalu iapun menuturkan apa yang dilakukannya serta tempat Bwe Sim meringkuk. Segera Thi Tok-heng memberi perintah kepada Ih Kiat agar mengirim orang menyelamatkan Bwe Sim.
"Dan bagaimana dengan Khang Giok-tek, apakah sudah tertawan juga, Toasuheng?"
Tanya Utti Han-po. Thi Tok-heng menuding kebelakang dan menjawab.
"Ya, di sana, keparat ini hampir saja mampus di tangan Tiangsun-Ki, untung aku keburu datang."
Dalam pada itu "Jik-tan-su-kiat"
Yang selalu berada disekitar Thi Tok-heng itu telah menuju ke rombongan pengiring tadi, kembalinya mereka telah membawa seorang berbaju ungu muda dengan tubuh kekar, tapi berlumuran darah.
Rambutnya kusut, wajah pucat, kelihatan lesu dan lelah, tapi kalau tidak dalam keadaan konyol begini, je)as dia pasti seorang pemuda yang tampan.
Di belakang tawanan ini mengikut pula anak buah Congtau Bu-siang-pay, yaitu Pek-ma-gin-cui Kang Siu sim serta The Kun, si andeng2 hijau dari Hui-ji-bun.
Bahwa pemuda baju ungu ini dikawal sekuat ini oleh beberapa tokoh Bu-siang-pay, dapat dinilai betapa pentingnya tawanan ini.
Para jago Bu-siang-pay jelas sangat benci terhadap orang berbaju ungu ini, dia diseret dan didepak hingga di depan Thi Tok-heng.
"Apakah orang inilah Khang Giok-tek?"
Tanya Siang Cin setelah memandang sekejap kepada pemuda itu.. Thi Tok-heng mengiakan sambil mengangguk pelahan. Lalu iapun bertanya.
"Yang-yang, di mana budak hina itu?"
"Di dalam,"
Jawab Ih Kiat.
"Siang heng telah menutuknya hingga tertidur, sekarang masih terbungkus di dalam selimut dan dijaga oleh Sebun Tio-bu di sana.." 398
"Baiklah Siang lote, kita masuk ke sana,"
Kata Thi Tok-heng kepada Siang Cin.
Segera mereka lantas masuk ke ruangan pendopo Kim-bin-tian.
Thi Tok-heng beramah tamah pula sejenak dengan Sebun Tio-bu, lalu masing2 mengambil tempat duduk.
Thi Tok-heng melirik sekejap Giam Ciat yang meringkuk di lantai itu.
Cepat Utti Han-po memberitahu bahwa dia itulah adik perempuan Giam Ciang dari Soh-lian-suciat, Lo-sat-li Giam Ciat.
Thi Tok-heng mendengus dan memerintahkan diseret ke pinggir.
Lalu ia memandang Thi Yang-yang yang terbalut selimut dan disandarkan di sebuah kursi besar itu.
"Lemparkan budak hina itu ke lantai,"
Seru Thi Tok-heng dengan gusar.
Sin Kian dan lain2 sama ragu2, tapi akhirnya mereka melaksanakan juga perintah sang ketua.
Lalu Thi Tok-heng melototi pula Khang Giok-tek yang lesu itu, hati ketua Busiang-pay ini serasa dibakar karena pemuda itulah biang keladi dari semua malapetaka ini.
Dilihatnya pula puteri kesayangan satu2nya itu, entah berapa banyak korban telah berjatuhan hanya karena kasmaran anak dara yang lupa daratan itu.
Kini anak dara itu masih belum sadarkan diri dibalut selimut.
Seketika Thi Tok-heng menjadi bingung entah apa yang harus dilakukannya.
"Tay-ciangbun,"
Tiba2 Siang Cin berkata.
"maafkan jika terpaksa harus kututuk puterimu sehingga sampai saat ini belum sadar. Baiklah sekarang akan kulepaskan Hiat-to yang kututuk itu."
Ia lantas mendekati anak dara itu dan mengusapnya dari balik selimut, hanya sejenak saja terdengarlah keluhan tertahan Thi Yang-yang dan tubuhnya mulai bergeliat.
Siang Cin lantas mundur kembali ke tempat duduknya.
Pelan2 Thi Yang-yang membuka matanya, tapi lantas terpejam pula.
Selang sejenak lagi baru membuka lagi matanya.
Kini ia telah sadar benar2, sudah teutu ketika pandangannya menyentuh sebuah wajah yang dingin di tengah sana, seketika tubuhnya tergetar keras.
"Ayah ...."
Ia menjerit tertahan, tapi segera ia mendekap mulut sendiri, air matapun lantas bercucuran.
Perasaan Thi Tok-heng seperti di sayat2, tangan mengepal erat2, hampir saja dinding dendam dan benci yang dibangunnya dari segala pahit-getir dan susahpayahnya runtuh sama sekali oleh teriakan anak dara itu.
Tapi mendadak ia mengertak gigi, bentaknya dengan mendelik.
"Tutup mulut, budak hina, masa kau masih tahu akan ayahmu? Kau binatang yang tidak tahu malu, kau masih ada muka memanggil ayah padaku?"
"Ayah ...."
Ratap Thi Yang-yang.
"anak ....anak merasa tidak berbuat kesalahan apapun, kalau ada kesalahan hanya karena anak menyukai Giok-tek, tapi 399 ....ayah tidak ....tidak berkenan akan hubungan kami, terpaksa anak ikut pergi bersama dia ....Anak merasa sudah dewasa dan boleh mencari kebahagiaan sendiri .
"Binatang,"
Bentak Thi Tok-heng.
"Dengan cara apa kau mencari kebahagiaan? Dengan mengkorbankan nama Bu-siang-pay, kehormatan orang tua? Tata adat leluhur? Dan jiwa ratusan, bahkan ribuan pahlawan padang rumput yang telah gugur karena perbuatanmu ini? Kau kira boleh berbuat dengan bebas tanpa memikirkan akibatnya?"
Thi Yang-yang tidak menjawab, akan tetapi ia sudah nekat, dengan bandel ia berkata pula.
"Ayah, anak mungkin tidak berbakti, tapi anak berbak mencari kebahagiaan sendiri, asalkan dapat hidup bersama orang yang kusukai, anak merasa tidak merugikan siapapun juga. Anak tidak peduli tata adat segala, apapun tak dapat rnengalangi cinta kami."
Thi Tok-heng memandang puteri satu2nya ini, sesaat itu ia se-akan2 tidak kenal lagi kepada anak dara yang telah berubah sama sekali ini, untuk sekian lamanya ia tertegun, kemudian ia menghela napas panjang dan berkata puia dengan suara berat.
"Yang-yang, kau pernah puteri kesayanganku, dalam darahmu mengalir darah yang kukuh dan angkuh seperti darahku, bedanya kau suka menuruti jalan pikiranmu tanpa membedakan baik dan buruknva ....Ya, inilah kesalahanku, kelengahanku, seharusnya sudah dulu2 kubetulkan kesalahanmu, tapi semua itu sudah telanjur, aku memang juga bersalah dan apa mau dikatakan lagi? Aku tidak dapat mengorbankan saudara2 kita secara percuma, tak dapat membiarkan nama baik Bu-siang-pay kita tercemar. Juga tata adat leluhur tak dapat dinodai ....Yang-yang, aku sayang padamu, dalam waktu yang cukup lama kau pernah menjadi anak kesayanganku ... ."
Suara Thi Tok-heng. berubah parau, matanya berkilau, lanjutnya pula dengan suara lemah.
"Tapi tiada seorangpun yang berharga bagi ribuan jiwa saudara kita. tidak ada, sekalipun puteri kandungku sendiri ..."
Suasana berubah mencekam, kini setiap orang mengerti apa arti ueapan Tbi Tok-being itu, meski Cara bicaranya begitu tenang dan pelahan, tapi cukup jelas dan tegas.
Kembali Thi Yang-yang tampak gemetar.
Semula ia menyangka kemarahan sang ayah cuma ingin menggagalkan perjodohannya dengan Khang Giok-tek demi nama baik Bu-siang-pay, iapun menyadari dirinya pasti akan mendapat hukuman, tapi sama sekali tak terpikir olehnya bahwa ayahnya sampai hati menghukum mati padanya Menghukum mati puteri kandung sendiri, sungguh hukuman yang maha berat dan sangat tragis.
Mendadak Khang Giok-tek berteriak.
"Thi Tok heng, kau tak boleh memperlakukan Yang-yang sesuka hatimu, Yang-yang sudah menjadi orangku, dia istriku, kami saling mencintai dan ingin menjadi suami-isteri, tapi kau menantang, katakan alasanmu!"
"Plak-plak", kontan Khang Giok-tek menerima beberapa kali gamparan dari Jiktan-su-kiat sehingga mulutnya berdarah. 400 Baru sekarang Thi Yang-yang mengetahui kekasihnya juga tertawan di situ, ia tambah cemas dan berpaling ke sana, dilihatnya keadaan Khang Giok-tek yang meagenaskan itu, hatinya seperti di-sayat2. la menjerit dan meronta, ia melepaskan selimut yang membungkus dirinya itu hingga tinggal baju tidur saja yang dipakainya, ia terus menubruk ke arah Khang Giok-tek. Begitu juga Khang Giok tek berusaha melepaskan diri untuk menyongsong Thi Yang-yang. Akan tetapi Jik-tan-su-kiat sempat menarik mundur Khang Giok-tek, begitu pula Kang Siu-sim dan The Kun lantas mengadang di depan Thi Yang-yang.
"Lepaskan aku, lepaskan....Aku ingin melihat Giok-tek ......"
Demikian Yangyang menjerit dengan air mata bercucuran. Dengan kaku Kang Siu-sim menjawab.
"Toa-siocia, sekarang kau bukan lagi kau yang dulu, tanpa perintah Tay-ciangbun kami terpaksa harus bersikap tegas padamu."
Thi Yang-yang menjerit lagi sambil mencakar dan memukuli tubuh Kang Siu-sim dan The Kun. Namun kedua pahlawan Bu-siang-pay itu tetap berdiri tegak dari membiarkan dicakar dan dipukul si nona.
"Ih-sute, seret dia kemari!"
Kata Thi Tok-heng dengan ketus. Ih Kiat mengiakan dan melangkah maju, Thi Yang-yang diseretnya ke depan Thi Tok-heng. Mendadak Thi Tok-heng berdiri dan membentak dengan gusar.
"Sin Kian, kau maju dan tampar mulut budak hina ini!"
Keruan Sin Kian melengak dan ragu2.
Di medan perang Sin Kian tidak kenal ampun kepada musuh, ia terkenal sebagai algojo Bu-siang-pay yang suka bertindak tegas dan ganas.
Tapi disuruh memukul mulut puteri Tayciangbun sendiri, betapapun ia menjadi serba susah.
"Pukul!"
Bentak Thi Tok-heng pula.
Terpaksa Sin Kian melangkah maju dan angkat tangannya, tapi pada saat terakhir ia tetap tidak sampai hati memuku) anak dara itu.
Apalagi mendadak Thi Yang-yang tidak menangis lagi, sebaliknya ia lantas menengadah dan menantikan tamparan yang akan dijatuhkan pada mukanya.
Tentu saja Sin Kian bertambah tidak tega.
"Pukul!"
Bentak pula Thi Tok-heng. Mendadak Sin Kian melangkah ke depan Thi Tok-heng dan berlutut, ratapnya sambil menyembah.
"Tay-ciangbun, betapapun Tecu tidak ......tidak sampai hati ....."
Tidak kepalang gusar Thi Tok-heng, kontan dia mendepak sehingga Sin Kian terguling.
"Enyah kau!"
Bentaknya. 401 Cepat Sin Kian merangkak bangun, ia mcmberi hormat dan mengundurkan diri dengan munduk2. Thi Tok-heng menjatuhkan diri di atas kursi, sampai sekian lama baru ia berseru.
"Siang Goan-kian!"
Ngeri juga Sian Goan-kian mendengar namanya disebut, terpaksa ia tampil ke depan dan mengiakan. Dengan tegas Thi Tok-heng berseru.
"Thi Yang-yang ttdak patuh pada peraturan rumah tangga, minggat bersama orang, inilah dosa pertama. Membangkang perintah orang tua dan melawan adat, inilah dosa kedua. Mencuri pusaka, menodai nama keluarga, ini dosa ketiga. Ttdak tahu malu, bicara membela musuh, ini dosa keempat. Bikin susah kawan, mengakibatkan peperangan, ini dosa kelima. Dosa yang ber-tumpuk2 ini tak dapat diampuni. Sian Goan-kian, laksanakan hukuman mati."
Kata2 mati"
Itu diucapkan dengan tegas tanpa sangsi sedikitpun, seketika suasana terasa mencekam, air muka semua orang sama berubah.
Bahkan Thi Yangyang lantas gemetar dengan wajah pucat seperti mayat.
Ia pandang sang ayah dengan cemas se-akan2 tidak percaya kata2 tadi diucapkan oleh ayahnya sendiri.
"Thi Tok-heng!"
Mendadak Khang Giok-tek berteriak pula.
"Kejam benar kau, macam2 dosa yang kau tuduhkan kepada Yang-yang, padahal kesalahan Yang-yang tidak lebih hanya ingin kebebasan. Tapi ternyata engkau bertindak sekejam ini terhadap anak perempuan sendiri. Orang bilang harimau saja tidak makan anaknya sendiri, nyata kau lebih kejam daripada harimau, Thi Tok-heng ....."
"Plok", kontan tangan The Kun mampir pula di muka Khang Giok-tek sambil memaki.
"Keparat, kematianmu sudah di depan mata, mulutmu masih sembarangan mengoceh, bisa kubeset dulu kulitmu sebelum kau mampus!"
Mendadak Khang Giok-tek bergelak tertawa sehingga darah yang merembes di ujung mulutnya ikut berhamburan, dengan setengah kalap ia berteriak.
"Haha, jelek2 aku Khang Giok-tek juga soorang lelaki katimbang kalian yang cuma pintar menjilat dan menjadi budak melulu, kini orang she Khang kecundang dan menjadi tawanan, mau bunuh boleh kau bunuh, selamanya orang she Khang tidak sudi munduk2 dan minta ampun ....."
"Bangsat!"
Damperat The Kun sambil mencengkeram leher baju Khang Giak-tek dan segera hendak menghajarnya lagi. Tapi Kang Siu-sim keburu mencegahnya dan berkata.
"Khang Giok-tek, serendahnya kami, sedikitnya kami tahu bedanya atas dan bawah, kenal budi dan hormati orang tua. Sebaliknya kau, musang berbu!u ayam, diberi susu membalas dengan tuba. Dalam keadaan senin-kamis di tanah bersalju jiwamu ditolong oleh Tay-ciangbun, malahan kau dirawat di kediaman pribadi beliau dengan segala kehormatan, siapa tahu kau tidak tahu budi pertolongan beliau, sebaliknya dengan bujuk rayumu yang rendah kau bawa minggat puteri kesayangan beliau dan menggondol pula harta pusaka, bahkan untuk memenuhi ambisimu secara licik kau menghasut sana sini dan menimbulkan peperangan yang banyak makan korban. Apakah ini kebanggaanmu sehingga kau berani membual di sini? Hm, lebih tepat jika kau disebut tidak tahu malu, rendah, kotor, manusia berhati binatang, seekor anjing Bu-siang-pay juga lebih berharga daripada dirimu," 402
"Bagus, Kang lote, umpatan yang tepat, makian yang jitu,"
Seru Sebun Tio bu dengan berkeplok..
"Keparat, orang she Khang ini sudah hampir mampus, tapi masih berani membuat tanpa kenal malu."
Sorot mata Thi Tok-heng mencorong pula ke arah Sian Goan-kian sehingga membuat anak buahnya ini mengkirik.
Betapapun ia tidak sampai hati membunuh puteri kesayangan sang ketua yang diembannya sejak kecil.
Melihat Sian Goan-kian tetap diam saja, Thi Tok-heng menjadi gusar dan membentak.
"Apa yang kau tunggu, Sian Goan-kian?"
Di sana mendadak Khang Giok tek berteriak pula dengan suara parau.
"Thi Tokheng, kumohon dengan sangat janganlah kau membunuh Yang-yang, semuanya salahku, biarlah aku yang bertanggung jawab segala akibatnya. Thi Tok-heng, boleh kau bunuh saja diriku."
"Sudah tentu kaupun takkan terhindar dari kematian!"
Bentak Thi Tok-heng dengan mendelik. Segera ia berteriak pula.
"Lekas turun tangan, Sian Goan-kian!"
Tapi Sian Goan-kian mendadak berlutut dan memohon.
"Tay-ciangbun, betapapun Tecu tidak berani membangkang atas perintahmu, namun ....namun urusan ini ....kumohon kebijaksanaan dan kemurahan hatimu ...."
Belum habis ucapannya.
"plak", kontan Thi Tok heng menggampar sehingga Sian Goan-kian jatuh tersungkur dengan muka bengap dan berdarah.
"Bagus!"
Jengek Thi Tok-heng murka.
"tampaknya kalian sudah bersekongkol dan hendak membantah setiap perintahku. Baiklah, setelah pulang ke padang rumput tentu akan kubikin perhitungan dengan kalian."
"Tay-ciangbun ...."
Ih Kiat bermaksud membujuk.
"Tutup mulut!"
Mendadak Thi Tok-heng membentaknya sehingga Ih Kiat tidak jadi meneruskan ucapannya.
"Ciangbun-suheng,"
Dengan ragu2 Utti Han-po akhirnya ikut bicara.
"apapun juga usia Yang-yang masih terlalu muda dan tidak berpengalaman, dia ....."
"Kaupun tutup mulut!"
Bentak Thi Tok-heng sambil mendelik.
"Pokoknya keputusanku harus dilaksanakan, bilamana ada yang membangkang dan bermaksud memintakan ampun bagi budak hina ini, akan ku bungkam dia pula menurut peraturan kita yang berlaku."
Ih Kiat dan Utti Han-po adalah Toa-cuncu, kedudukan mereka hanya di bawah sang ketua, dengan sendirinya mereka harus memberi contoh dan taat kepada hukum Bu siang-pay mereka.
Karena itulah mereka tidak berani buka suara pula.
Suasana seketika menjadi hening, semua orang sama prihatin.
Pada saat inilah pelahan2 Siang Cin lantas bersuara, katanya dengan tersenyum.
"Tay-ciangbun, Cayhe bukan anggota Bu siang-pay. makanya Cayhe juga tidak terikat oleh undang2 organisasi kalian. Mestinya Cayhe tidak ingin ikut bicara, tapi urusan kelihatan rada gawat, terpaksa Cayhe ingin mengemukakan sedikit pendapat ...." 403
"Siang lote adalah tuan penolong kami, ada kata apa silakan bicara saja,"
Ujar Thi Tok-heng. Siang Cin terdiam sejenak, tanyanya kemudian.
"Mohon tanya dulu, berapakah usia nona Thi tahun ini?"
"Sembilan belas,"
Jawab Thi Tok-heng.
"Dan Khang Giok-tek?"
Tanya pula Siang Cin. Thi Tok-heng melenggong sejenak, jawabnya kemudian.
"Entah, kurang jelas, tapi sekitar tiga puluhan."
"Tay-ciangbun,"
Ucap Siang Cin kemudian.
"Usia puterimu masih belia, dia hidup dilingkungan orang persilatan seperti kita, di tengah2 anggota Bu-siang-pay yang mengutamakan keluhuran, semuanya jujur, lugu dan bersih, tiada kejahatan, kepalsuan dan liku-liku orang hidup lainnya. Puterimu masih polos, murni, sederhana. Beginilah gambaran sebelum dia bertemu dengan Khang Giok-tek.
"Dalam benak anak gadis yang masih belia serta hidup secara lugu dan sederhana begitu, tentunya mudah terpengaruh oleh bujuk rayu orang. Apalagi sejak kecil ia telah ditinggal sang ibunda, tentunya iapun mempunyai angan2 yang muluk2, khayalan yang di-cita2kan. Pada saat itulah datang orang she Khang itu. Dia juga masih muda, tampan, kukira mulutnya juga pintar omong. Dia kau jadikan pelayan pribadi sehingga banyak kesempatan bertemu dengan Yang-yang, ditambah lagi mungkin dia memang mempunyai maksud tujuan tertentu, maka mudahlah baginya untuk memompakan unsur2 berbisa ke dalam benak puterimu itu, dengan bujuk rayunya yang muluk2 dan melukiskan surga2 yang biasanya di-idam2kan oleh setiap anak perempuan, maka tergelincirlah Yang-yang ......"
"Tayciangbun,"
Siang Cin melanjutkan setelah merandek sejenak.
"ibarat selembar kertas putih, apabila diberi berwarna merah, maka putih akan menjadi merah, jika kertas itu sebelumnya sudah berwarna, tentu tidaklah mudah untuk mengubah warnanya. Jiwa Yang-yang waktu itu boleh dikatakan putih bersih, suci murni. Maka dapatlah Khang Giok-tek mulai memberinya berwarna selama ada kesempatan, dan kita tahu, warnanya itu adalah jahat, buruk, rendah, seperti dosa yang dituduhkan Tay-ciangbun tadi."
Semua orang mengikuti uraian Siang Cin dengan seksama, uraian yang cukup mengena dan menyentuh perasaan. Setelah terdiam sejenak, lalu Siang Cin menyambung lagi.
"Seorang, kalau pada dasarnya memang jahat, buruk, maka dosanya tak dapat diampuni. Tapi bila kesalahannya akibat pengaruh lingkungan, ini dapat dimaafkan. Sebab kejahatan pembawaan sukar diperbaiki, tapi keburukan akibat pengaruh luar masih dapat diluruskan. Dan kukira Yang-yang adalah tergolong yang kedua, Tay-ciangbun adalah ayahnya, tentunya engkau tahu bagaimana prilakunya."
Dengan sorot mata yang tajam Siang Cin menyapu pandang para hadirin, lalu berkata pula.
"Sebab itulah, Tay-ciangbun, Yang-yang boleh dikatakan korban bujukan berbisa dari luar dan bukan karena buruk pembawaan. Kesalahannya sekarang harus ditinjau dari awal mula dan sebab-musababnya. Jika kita meneliti 404 lebih lanjut kesalahan Yang-yang, maka pertama karena dia kabur bersama Khang Giok tek dengan membawa lari harta pusaka Tay-ciangbun. Apa2 yang terjadi tentulah atas dorongan Khang Giok tek sehingga timbul sengketa berdarah ini. Yangyang masih belia, sedangkan Khang Giok-tek sudah cukup terkenal di dunia Kangouw dan menjadi pentolan Hek-jiu-tong. Bisa juga, Khang Giok tek memang mencintai Yang-yang, akan tetapi apa yang telah dilakukannya jelas terlalu keji, bodoh dan sembrono . ...."
Thi Tok-heng menunduk tanpa bicara, sampai lama ia termenung ..... .. ."
Diam2 Sebun Tio-bu mengangguk sebagai tanda memuji kepada Siang Cin, lalu iapun buka suara.
"Tay-ciangbun, apa yang dikatakan Siang heng barusan kukira memang tepat dan jitu, dia bicara secara terus terang tanpa membela pihak manapun. Maka Tay-ciangbun, hendaklah engkau suka berpikir lagi lebih bijaksana.
"Tapi ..... tapi hukum harus ditegakkan, betapapun budak hina itu tak dapat diampuni, cara bagaimana Tok-heng bertanggung-jawab terhadap sandara kita yang telah gugur?"
Kata Thi Tok-heng sambil menghela napas.
"Tay-ciangbun,"
Ucap Siang Cin pula.
"bahwa Bu-siang-pay kalian melakukan perjalanan sejauh ini ke selatan dan terjadi pertempuran sengit ini, tujuan kalian hanya demi mempertahankan nama baik Bu-siang-pay dan kehormatan pahlawan padang rumput, kukira maksud tujuan kalian kinipun sudah tercapai, para gembong Ji-ih-hu dan begundalnya yang membela kejahatan telah ditumpas, wibawa Busiang-pay sudah ditegakkan kembali, bahkan biang keladi yang mengobarkan peperangan inipun sudab tertangkap, puteri kesayanganmu juga dapat ditemukan kembai. Kini apa yang diharapkan sudah terkabul, apa yang harus dilakukan sudah terlaksana. Pertempuran sudah berakhir, suasana kembali damai. Maka menurut hematku, adalah bijaksana jika Tay-ciangbun menyelesaikan soal puteri anda dengan cara damai pula, berilah kesempatan anak dara yang tersesat ini, akan lebih berarti jika dapat menginsafkan anak yang tersesat ini daripada menghancurkannya sama sekali."
Ucapan Siang Cin yang terakhir ini agaknya cukup menyentuh perasaan jago2 Bu-siang-pay, serentak Ih Kiat, Utti Han-po serta beberapa tokoh lain yang baru saja datang sama berlutut, seru mereka bersama.
"Ya, hamba sekalian ikut menyokong gagasan Siang tayhiap ini, mohon kebijaksanaan Tay-ciangbun dalam urusan Toasiocia yang masih muda belia ini, ampunilah jiwanya!"
Seketika Toi Tok-heng menjadi terkesima sendiri.
Selama puluhan tahun ini siapa yang tidak kenal keperkasaan Pek-ih-coat-to, si golok sakti berbaju putih dari padang rumput, sudah puluhan tahun dia memimpin para pahlawan padang rumput, dihormati dan disegani kawan maupun lawan.
Bahwa puteri satu2nya sampai ikut minggat bersama orang, sungguh kejadian ini suatu pukulan maha berat bagi lahir batinnya, hal ini hampir membuat runtuh semangat juangnya.
Akan tetapi iapun sering menyesali dirinya sendiri.
Sejak kecil Yang yang sudah ditinggalkan ibundanya.
Demi kasih sayangnya kepada puteri satu2nya ini, sama sekali tak pernah terpikir oleh Thi Tok-heng akan mengambil isteri lagi.
Pikirannya hanya tercurah kepada kejayaan suku bangsa dan demi kemakmuran padang rumput.
Karena kesibukannya itu ia menjadi sering melupakan kewajiban pribadinya dan menelantarkan Yang-yang di tengah sangkar emas.
Dalam keadaan demikian, jika mendadak muncul seorang Kang Giok-tek dengan segala bujuk-rayunya yang 405 memabukkan, tidaklah heran kalau anak dara itu menjadi lupa daratan dan ikut kabur.
Jika terpikir demikian, mau-tak-mau Thi Tokheng harus mawas diri.
Siapakah yang bersalah sebenarnya.
Apakah dia sendiri tidak harus ikut bertanggung jawab?.
Kini Siang Cin memohon kebijaksanaannya, semua jago2 bawahannya memintakan ampun bagi Yang-yang.
Bukanlah Thi Tok-heng tidak menyadari kesalahannya sendiri, tapi apa mau dikatakan, hukum harus ditegakkan, harus dilaksanakan.
Sekian lamanya ia tak dapat bicara.
Tiba2 Siang Cin menambahkan pula.
"Tay-ciangbun, apabila engkau tidak menerima permohonan orang banyak, rasanya terpaksa orang she Siang ini juga harus berlutut untuk minta keiklasanmu."
So-konyong2 tubuh Thi-heng seperti menggigil, ia menghela napas panjang, katanya kemudian dengan berat.
"Ya, sudahlah, sudahlah, berdirilah semuanya!"
Seketika terdengarlah sorak sorai orang banyak, Ih Kiat, Utti Han-po dan lain2 sama mengaturkan terima kasih.
Sesudah semua orang berdiri, dengan nada dingin Thi Tok-heng lantas membentak Thi Yang-yang yang masih berlutut di lantai itu.
"Budak hina, apakah kau sudah menyadari dosamu?"
Berderai air mata Thi Yang-yang, dia tenggelam dalam rasa terima kasih dan terharunya, ia tahu tindakan sang ayah tadi bukan cuma gertakan belaka, syukurlah ada seorang Siang Cin yang cukup disegani ayahnya sudi memohonkan ampun baginya.
Jika melulu permintaan anak murid Bu-siang-pay saja, jelas jiwanya pasti tetap akan melayang.
"Ya, anak ... .anak tahu kesalahannya ...."
Dengan ter-guguk2 akhirnya Yangyang menjawab. Thi Tok-heng mendengus keras2, bentaknya.
"Hayo, lekas mengaturkan terima kasih kepada para paman!"
Segera Yang-yang menyembah kepada Siang Cin dan para Cuncu serta tokoh Bu-siang-pay yang lain.
"Sudahlah, nona jangan banyak adat, lekas bangun"
Seru Siang Cin.
Cepat Ih Kiat tampil ke depan dan membangunkan Yang-yang.
Maka sorot mata Thi Tok-heng yang tajam lantas beralih kepada Khang Giok-tek yang masih berdiri kaku di samping sana.
Thi Yang yang dapat mengikuti sorot mata sang ayah yang beringas itu, tanpa terasa ia bergidik.
406 Benar juga, segera terdengar ia menbentak.
"Serat keluar keparat she Khang ini dan penggal kepalanya!"
Sekali ini Jik-tan-su-kiiat dan lain2 tidak ragu2 lagi, serentak mereka mengiakan dan mendekati Khang Giok tek dengan garang, pemuda itu terus diseret keluar.
Segera Thi Yang yang menjerit dan menubruk maju.
"0. tidak....jangan....O, Giok-tek ...."
Khang Giok tek juga meronta dan berusaha melepaskan diri, mukanya yang pucat berlepotan darah itu menampilkan rasa sedih, putus asa dan berat untuk berpisah, serunya dengan parau.
"Lu ..... lupakan diriku, Yang-yang ....jangan pikirkan aku lagi. Yang-yang, asalkan kau bisa tetap hidup, maka legalah hatiku ....puaslah hatiku ...."
Segera Kang Siu-sim mendorong Kang Giok-tek ke depan sehingga pemuda itu ter-huyung2, Ih Kiat juga lantas menarik Yang-yang dari belakang. Dengan suara memilukan nona itu menjerit.
"Lepaskan dia ....lepaskan ....Kumohou sudilah kalian ....membebaskan dia ...."
Tapi Khang Giok tek sudah diseret keluar pintu, namun dia masih berteriak dengan air mata bercucuran.
"Yang-yang, jagalah dirimu ....Yangyang, kucinta padamu ....Aku tidak pernah berdusta padamu, aku tidak menipu kau ....Yangyang, cintaku padamu akan kubawa ke akhirat sekalipun ....Selamat tinggal Yangyang, akan selalu kukenangkan kau meski di tempat yang jauh ....akan kulindungi kau selalu ...."
Seperti anjing buduk saja Khang Giok tek terus diseret dan didorong pergi oleh Jik-tan su-kiat.
"Nanti dulu!"
Se-konyong2 Siang Cin berseru.
Meski cuma dua kata saja seruan Siang Cin itu, tapi cukup berbobot seperti dua potong batu raksasa yang mendadak jatuh di depan orang banyak.
Seketika suasana menjadi sunyi, pandangan semua orang terpusat pada diri Siang Cin, semuanya ingin tahu apa yang akan dikatakannya.
Thi Tok-heng sendiri juga tertegun, katanya kemudian.
"Siang-lote, kau ....."
"Tay-ciangbun,"
Kata Siang Cin sambil memandang sekejap Khang Giok-tek yang digusur keluar oleh jago2 Bu-siang-pay itu, lalu sambungnya.
"Jelas Khang Giok-tek itu busuk dan rendah."
Thi Tok-heng tahu di balik ucapan ini pasti mengandung maksud tertentu, dengan menahan perasaannya ia menjawab.
"Memang, tidak perlu disangsikan lagi."
"Akan tetapi dia mencintai puterimu dengan sepenuh hati."
"Siang-lote, betapapun hinanya si budak Yang juga tak boleh diperisteri oleh sampah macam keparat she Khang itu,"
Ucap Thi Tok-heng tegas. 407
"Betul juga,"
Ujar Siang Cin pelahan.
"Namun, seekor kuda tidak memakai dua pelana, seorang perempuan tidak bersuami dua. Tay-ciangbun, apakah puterimu boleh lagi melakukan upacara nikah dengan lelaki lain? Seketika Thi Tok-heng jadi melenggong dan tidak dapat menjawab. Segera Siang Cin melanjutkan..
"Meski Khang Giok-tek tergolong tokoh Hek-jiutong, dia juga biang keladi yang menimbulkan pertempuran sengit ini, tapi sebegitu jauh tidak nampak dia tampil memusuhi Bu-siang-pay. Untuk ini, kukira Kimtoacuncu dari Wi-ji-bun kalian dapat ikut menjadi saksi."
Setelah ragu2 sejenak, akhirnya Kim Bok menanggapi sambil mengangguk.
"Memang betul seperti uraian Siang-lote."
"Sesudah pcrtarungan dengan Hek-jiu-tong, di Ji-ih-hu juga tidak ditemui Khang Giok tek ikut bertempur di pihak musuh, hal inipun disaksikan oleh banyak orang yang hadir di sini."
Seluruh ruangan kembali hening, tiada suara apapun, dalam keadaan demikian, jika tiada orang menyanggah berarti membenarkan ucapan Siang Cin itu. Maka Siang Cin lantas menyambung pula.
"Dari semua ini terbuktilah bahwa dalam hati kecilnya Khang Giok-tek tidak berani memusuhi dan juga mencelakai seorang anggota Bu-siang pay, atau dengan lain perkataan sedapatnya dia menghindari kontak langsung dengan Bu siang-pay kalian.""
Setelah berpikir sejenak, Thi Tok-heng menghela napas, katanya kemudian.
"Siang-lote, lalu apa maksudmu sesungguhnya?"
Dengan pelahan Siang Cin menjawab.
"Bahwasanya Khang Giok tek jelas mencintai puterimu dengan sesungguh hati, dan juga menghindari pertempuran dengan Bu-siang-pay kalian, namun dia tetap harus bertanggung jawab dari malapetaka yang dijangkitkan oleh perbuatannya serta tak terhindar dari dosa membawa lari anak perempuan orang. Namun mengingat keberuntungan masa depan puterimu, mengingat pula dia cenderung menghindari permusuhan dengan Bu-siang-pay, maka Cayhe pikir ...."
"Apakah dia harus diampuni?"
Sela Thi Tok-heng dengan kurang senang.
"Hukuman mati boleh diampuni, hukuman hidup tak dapat dielakkan!"
Jawab Siang Cin dengan tersenyum .
"Hukuman hidup tak dapat dielakkan bagaimana maksudmu?"
Tanya Thi Tokheng dengan sangsi. Untuk sejenak Siang Cin berpikir, tuturnya kemudian.
"Kupikir banyak tempat di padang rumput sana dapat digunakan sebagai tempat hukuman kerja paksa. Misalnya diberi batas waktu sepuluh tahun, jadi beri hukuman sepuluh tahun kerja paksa padanya, pertama supaya dia mau menginsafi dosa2nya. Kedua, sekaligus dapat menggembleng lahir batinnya. Ketiga, sama seperti memberi kesempatan padanya untuk memperbaiki diri ....."
"Kukira terlalu ringan hukuman ini,"
Kata Thi Tok-heng sambil menggeleng.
"Apalagi pernikahan budak hina itu dengan keparat itupun tak bisa diakui ......" 408
"Sudah tentu,"
Sela Siang Cin.
"resminya tidak diakui, tapi kenyataannya mereka sudah menjadi suami-isteri, bagaimanapun tak dapat kita sangkal lagi. Sebab itulah, jika kita tidak mengakui pernikahan mereka, tapi kita juga harus mencari suatu penyelesaian yang baik bagi hari depan puterimu, maka kupikir hanya ada suatu jalan yang dapat memecahkan persoalan ini, yaitu menghukum Khang Giok-tek dengan kerja paksa selama sepuluh tahun."
Jika selama sepuluh tahun dia benar2 menginsafi kesalahannya dan tawakal, maka suatu tanda dia belum kehilangan hati nuraninya dan masih dapat dididik.
tatkala mana Tay-ciangbun boleh mengumumkan mengampuni bagi hukuman Khang Giok-tek, habis itu dapatlah Tay-ciangbun melanjutkan perjodohan nona Thi dengan dia."
Segera Sebun Tio-bu menukas.
"Betul, Tay-ciangbun, kini faktanya sudah terpampang jelas. Pertama nona Thi sudah jelas sebagai suami-isteri dengan Khang Giok-tek, diakui atau tidak pernikahan mereka, jelas selanjutnya nona Thi tak dapat menikah lagi, Kedua sejak awal kelihatan Khang Giok-tek selalu menghindari permusuhan dengan Bu-siang-pay, jelas2 pula dia mencintai puterimu sepenuh hati. Semua ini sudah diuraikan Siang-heng tadi, maka kukira gagasan Siang-heng tentang hukuman kerja paksa sepuluh tahun bagi Khang Giok-tek boleh dikatakan cukup setimpal serta suatu pemecahan yang baik"
Thi Tok-heng ter-menung2, suasana menjadi hening pula.
Mendadak tokoh Bu-siang-pay yang berkedudukaa paling tinggi, yaitu Toa-cuncu Hui-ji-bun, Tiangsun Ki, tampil ke depan dan memberi hormat kepada sang ketua, katanya.
"Ucapan Siang-lote memang tepat, usulnya mengandung arti yang luas, maka kumohon Toa-suheng sudi kiranya menerima saran Siang-lote itu."
Segera Kim Bok juga menyambung.
"Betul, Toa-suheng, sudah tiba sekarang masa damai serta bahagialah semuanya!"
"Demi hari depan Yang-yang, sudilah Toa-suheng memberi kesempatan untuk memperbaharui hidupnya, Ciangbun-suheng,"
Segera Ih Kiat menambahkan. Begitulah be-ramai2 tokoh2 Bu-siang-pay yang lain juga menyokong gagasan Siang Cin. Mendadak Thi Tok-heng membanting kaki dan berseru sambil duduk selonjor.
"Ya, ya, rupanya kalian telah membentuk barisan paduan suara!"
Dengan ucapan ini sama artinya dia telah menerima permintaan orang banyak.
Maka berubahlah suasana .yang mencekam tadi menjadi kegembiraan, semua orang tersenyum senang, suasana benar2 berubah menjadi damai dan bahagia.
Segera Tiangsun Ki memberi perintah.
"Bawa Khang Giok-tek kebelakang dan tetap diawasi."
Sungguh tidak kepalang terharu Khang Giok tek, lebih dulu ia berlutut dan mengucapkan terima kasih kepada Thi Tok-heng yang telah mengampuni kematiannya, lalu ia berlutut terhadap Siang Cin dan Sebun Tio-bu, ber turut2 ia 409 menyembah beberapa kali terhadap kedua orang itu, katanya dengan air mata berlinang2.
"Siang-tayhiap dan Sebun-tangkeh, kalian telah menyelamatkan jiwaku, selama hidup ini takkan kulupakan budi kebaikan kalian."
"Sudahlah, Khang-lote, alangkah girang hatiku dapat menyaksikan persoalan ini diselesaikan secara demikian,"
Ujar Siang Cin dengan tertawa.
"Jangan sungkan, Khang-lote,"
Sebun Tio hu menambahkan.
"Asalkan kau dapat membawa dirimu dengan baik, kelak kalau bertemu lagi kita pasti akan bersahabat baik."
Maka di tengah linangan air mata terharu, di tengah perasaan antara terima kasih dan kesedihan, Khang Giok-tek melangkah pergi diiringi beberapa jago Busiang-pay.
Dengan sendirinya Thi Yang yang, mengucapkan terima kasih pula kepada sang ayah dan Siang Cin untuk kemudian baru mengundurkan diri.
Maka suasana di ruangan pendopo lantas berubah santai, semua orang tersenyum, puas.
Para tokoh Bu-siang-pay saling memberi keterangan mengenai hasil pertempuran besar dan pengalaman masing2.
Sejenak kemudian, mulailah Thi Tok heng menerima laporan dari para Toacuncu mengenai hasil pertempuran yang telah berakhir ini.
Ternyata di antara jago2 Bu-siang-pay ada juga beberapa orang yang tewas dan terluka seperti Loh Hou, Le Tang, Giam Siok, Sin Kian dan lain2, sedangkan perajurit yang gugur ada lima ratusan orang, yang terluka tiga ratusan.
Bahkan di antara para Toa-cuncu juga ada yang terluka, sebaliknya pihak musuh hampir sebagian besar dapat dibinasakan, antara seribu anak buah Ji-ih-hu hanya tersisa dua ratusan dan semuanya sudah tertawan.
Sudah tentu ada sebagian kecil yang berhasil melarikan diri.
Gembong Jiih-hu Hek -jan kong Ang Siang-long tewas dalam pertempuran, kesembilan jago utamanya juga mati delapan, hanya sisa seorang Toh Cong saja yang tertawan.
Anak buah ceng-siong-san-ceng yang dikirim ada 500 orang dengan lima jagoan, tapi lebih empat ratus anak buahnya terbunuh dan lima jagoan itupun empat mati satu tertawan.
Anggota Jit ho hwe juga mengalami nasib serupa, antara 1200 perajuritnya mati seribu lebih, sisanya melarikan diri.
Pemimpinnya Ciang Heng juga tertawan.
Begitu pula Toa-to-kau dan Hek-jiu tong hampir tiada yang lolos dengan hidup.
Selain itu empat pentolan Sok-lian-su-coat tiga mati dan satu tertawan, sedangkan Tiang-hong-pay antara tujuh gembongnya tiada satupun yang selamat.
Malahan adik perempuan gembong utama Soh lian su-ciat Giam Ciang, si janda kembang Giam Coat juga tertawan, begitu pula puteri ketua Tiang-hong-pay, Bwe Sim.
Setelah memberi lapoaan terperinci tersebut, kemudian Tiangsun Ki minta keputusan Thi Tokheng untuk memutuskan cara penyelesaian para tawanannya.
410 Oleh karena Giam Ciang dan Ciang Heng hanya merupakan jago undangan yang tidak banyak menjalankan peranan penting dalam persengketaan ini, maka Thi Tok heng memutuskan untuk membebaskan mereka.
Sedangkan guru silat dari Ceng-siong-san-ceng Tio Jun serta pelatih Toa-to-kau Lo Sun adalah pembunuh bayaran yang tidak dapat diampumi, mereka diperintahkan dihukum mati.
Kemudian Sin Kian menanyakan bagaimana dengan Giam Ciat, si janda.
"Serahkan kepada keputusan Siang-susiokmu,"
Jawab Thi Tok-heng.
"Dan ada pula puteri ketua Tiang-hong pay, Bwe Sim,"
Lapor Sin Kiat lebih lanjut.
"Bebaskan saja,"
Jawab Thi Tok-heng tanpa pikir.
Kemudian juga diputuskan beberapa ratus perajurit musuh yang tertawan itu, yang terluka supaya diberi pengobatan seperlunya, kemudian dibebaskan seluruhnya.
Selesai semua ini, Thi Tok heng menghela napas lega, baru sekarang ia seperti terbebas dari beban yang berat.
Setelah terdiam sejenak, lalu Siang Cin bertanya.
Baca Juga: Jodoh Si Mata Keranjang 7
Baca Juga: Jaka Lola 7