Eps 7 Bara Naga - Yin Yong
Baca online Bara Naga - Yin Yong
Cersil Bara Naga - Yin Yong.
"apa yang diuraikan Lote memang sudah menjadi rancangan dalam benakku, tahap pertama Say-ji-bun memang harus berjaga di Ce-ciok-giam..sementara pasukan Hwi-ji-bun kujadikan pasukan inti dan pasukan Bong-ji-bun sebagai cadangan, kini yang perlu segera diputuskan adalah bagaimana langkah kita selanjutnya ..."
"Menurut penilaianku."
Demikian Siang Cin berkata.
"musuh hanya mengerahkan sebagian kecil saja dari seluruh kekuatannya dalam pertempuran di Ce-ciok-giam ini, kekuatan inti mereka belum dikerahkan, menurut pengakuan Pek Wi-bing, Jik-san-tui hanya mengerahkan dua ribu orang dan empat ratus orang Hek jiu-tong, kukira jumlah ini memang tidak salah, dari hasil penyelidikanku di Pau-hou-ceng dan Toaho-tin tempo hari, Jik-san-tui memang kira-kira mempunyai kekuatan dua ribuan orang, seielah pertempuran tadi, berarti jumlah mereka sudah sisa separo saja."
Berhenti sebentar, lalu Siang Cin meneruskan "Sementara pihak Hek jui-tong yang hijrah kemari dan Pi ciok-san, seluruhnya ada seribu lebih, di antaranya ada yang terluka parah dan ringan, kini mereka mengerahkan empat ratusan orang di Ce-ciokgiam ini, berarti separo dari jumlah yang mereka miliki.
Maka mulai dari sini dan seterusnya sampai di Tao ho tin, musuh pasti sudah mengatur banyak perangkap dan jebakan, setiap langkah kita pasti ada bahaya dan kekuatan selanjutnya yang bakal kita hadapi jelas adalah orang-orang dari Toa-to-kau, Jit-to hwe, malah mungkin juga dibantu orang dari Ceng siong-san-ceng, menurut penilaianku, anak buah Hek jan kong yang bercokol di Ji-gi-hu tentu sudah menguasai seluruh Toa-hotin, sementara sisa-sisa dari kekuatan Hek-jiu-tong dan Jik-san-tui paling-paling hanya dijadikan kekuatan samping yang tidak seberapa di sekeliling Ji gi-hu."
Tiba-tiba Sebun Tio-bu menimbrung.
"Kalau demikian, bukankah Jik-san-tui dan Hek-jiu-tong merosot derajatnya?"
Siang Cin mengangguk, katanya.
"Betul, sejak lari ke Toa-ho-tin, Hek jiu-tong memang tidak segarang dahulu, pamornya sudah runtuk habis-habisan, sementara Jik-san-tui biasanya memang menuruti segala petunjuk Hek-jan kong, bahwa Hek jiu tong mencari perlindungan di tempat Jik san-tui, mau-tidak-mau mereka harus tunduk juga, maka nasib sudah menentukan demikian, gembong-gembong Hek jiutong yang masih hidup tentu menyesal setengah mati, tapi lahirnya mereka akan tetap unjuk senyum, padahal batin mereka amat menderita. Dengan tersenyum Thi Tok-heng berkata.
"Analisa Siang-lote, memang jelas dan tepat, sungguh amat kagum, Siang-lote, menurut pikiranmu, cara bagaimana kita harus melancarkan serbuan selanjutnya?" 294 Dengan kalem Siang Cin berkata.
"Gunakan kekuatan Hwi ji-bun untuk menyerbu secara langsung dari depan, sementara kekuatan Bong ji bun dipendam di kiri, mereka akan dikerahkan menurut keadaao. Seluruh kekuatan Congtong dipersiapkan setiap saat menunggu perintah, bila perlu secara langsung merekalah yang harus menerjang masuk ke Toa ho tin, sebelum musuh yang dipendam sepanjang jalan Ce-ciok-giam sampai di Toa-ho-tin tersapu bersih, Cayhe, Sebuntangkeh dan Kin-heng dengan beberapa jago pilihan Bu-siang-pay akan menyelundup masuk lebih dulu ke jantung musuh,tugasnya sekaligus mencari jejak puteri Tayciangbun."
Pelahan Thi Tok-heng berkata.
"Baik, boleh dilaksanakan sesuai rencana Siangheng, bila ketemu Yang-yang, kalau dia masih bandel, tak usah ragu-ragu, Sianglote boleh meringkusnya dan bawa kemari, mati atau hidup tidak menjadi soal ..."
Lama Siang Cin menatap Thi Tok-heng, orang tua yang berhati mulia, Tayciangbun dan Bu-siang-pay, bagaimana perasaan orang sekarang, Siang Cin dapat menyelaminya, katanya dengan tertawa.
"Taycangbun tak usah kuatr, Cayhe pasti bekerja melihat gelagat bila kutemukan dia, kesempatan untuk melarikan diri pasti takkan kuberikan."
Tiba-tiba Sebun Tio-bu berteriak.
"Betul, dengan kekuatan kami kalau tidak mampu membekuk genduk cilik itu, memangnya ke mana pamor kami akan ditaruh?"
Terpancar rasa terima kasih yang tak terhingga pada sorot mata Thi Tok heng, katanya.
"Betapa syukur dan terima kasih hatiku, budi kebaikan kalian kepada Busiang-pay sungguh tak terukur besarnya ..."
Lekas Sebun Tio-bu berkata.
"jangan Tay-ciangbun sesungkan ini, berkecimpung di kalangan Kangouw, yang di utamakan adalah "satya", demi kesatyaan, meski awak sendir harus berkorban juga tidak jadi soal, apalagi cuma urusan sekecil ini".
"Sudahlah,"
Ujar Siang Cin.
"Tayciangbun tak usah sangsi dan sungkan. Sekarang menurut Tay-ciangbun kapan kiranya akan dimulai serbuan terbuka?"
Berpikir sejenak Thi Tok heng berkata.
"Kira-kira satu jam lagi bagaimana?"
"Baik, sekarang perintahkan supaya semua pasukan istirahat dan mengisi perut sekenyangnya,"
Ucap Siang Cin. Thi Tok-heng mengangguk kepada Ho Siang-gwat di sebelahnya, lalu dia berpaling dan berkata kepada To Wan kang, salah satu dari Jik-tan-su-kiat.
"Wan-kang, biarlah aku makan di sini bersama Susiok berdua."
To Wan-kang mengiakan terus berlalu bersama rekannya menyiapkan hidangan, baru saja mereka pergi, dari arah Ce-ciok-giam sebelah depan sana berlari datang seorang laki tinggi besar mirip kerbau.
Begitu melihat Thi Tok-heng orang itu lantas menjura serta berkata.
"Siang-toa-cui Jit Lip dari Say ji-bun menghadap Tayciangbun, semoga Tayciangbun sehat selalu ..."
"Sudah, jangan banyak peradatan,."
Ucap Thi Tok-lheng tersenyum. 295 Siang-toa-cui (sepasang gada garuda) Jit Lip ini agaknya pemalu, dia menegakkan badan sambil menyengir lucu, katanya setelah menyeka keringat.
"Lapor Tayciangbun, Tecu diutus oleh lh-Cuncu kemari untuk melaporkan tentang para saudara yang gugur, luka parah dan ringan ..."
"Baik, boleh kau laporkan,"
Ucap Thi Tok-heng.
"Kawanan kura-kura Hek-jiu-tong mampus dua ratusan orang, yang luka-luka ada tujuh puluhan, korban Jik san-tui lebih besar lagi, yang mati ada seribu dua ratus, yang terluka lima ratus lebih, sisa yang berhasil melarikan diri, menurut perhitungan lh cuncu, orang-orang Jik san-tui masih ada empat ratusan orang, sedang Hek jiutong paling hanya dua ratusan, betapa mengenaskan keadaan mereka sehingga kawan-kawan mereka yang terluka tak terhiraukan lagi ..."
Setelah, menelan air liur, Jit Lip berkata pula.
"Karena teramat dekat pihak kita melakukan pengejaran, maka menurut lh-cuncu musuh ngacir seperti ... seperti ..."
"Seperti anjing mencawat ekor."
Sambung Sebun Tio-bu. Jit Lip menghela napas lega, katanya sambil menyeka keringat.
"Ya, ya betul. ngacir seperti anjing mencawat ekor ..."
"Lalu berapa besar korban pihak kita? Kukira cukup parah juga bukan?"
Ucap Thi Tok heng. Jit Lip diam sejenak, wajahnya yang merah kasar mengunjuk rasa sedih, senyum yang menghias wajahnya tadi seketika sirna.
"Katakanlah,"
Ucap Thi Tok-heng dengan tenang.
"darah seorang ksatria memang pantas menyiram pasir, gugur di medan laga, semua ini adalah akhir dari kehidupan seorang pahlawan sejati, tiada sesuatu yang harus dibuat sedih, malah sebaliknya kita harus merasa bangga akan keberanian dan jasa-jasa mereka Jit Lip, katakan, berapa besar korban yang kita alami? Apakah lebih parah dari pada mereka?"
Gemetar bibir Jit Lip, suaranyapun berubah serak.
"Empat ratus dua puluh saudara Sau ji bun gugur, yang luka parah dan ringan ada dua ratusan lebih, anak buah di bawah komando Congtong gugur seratus lima puluh orang, yang luka parah dan ringan ada lima puluhan, jadi jumlah seluruhnya ada tujuh ratusan. Kini yang lukaluka sedang ditolong, enam belas tabib sedang bekerja keras menolong mereka. Tapi saudara-saudara kita memang gagah perkasa, keras hati lagi, dalam keadaan separah itu mereka tetap bertahan, tiada satupun yang mengeluh atau merintih."
Dengan memejamkan mata Thi Tok-heng berkata pelahan dan mantap.
"Korban yang gugur dalam pertempuran kali ini, pihak musuh satu kali lipat lebih banyak daripada kita, jangan karena kerugian yang kita alami cukup parah lantas patah semangat dan bersedih hati, bawalah kepedihan kembali ke padang rumput, waktu itu, akan diberi kesempatan untuk menangis, akupun akan menyertai kalian, sekarang Jit Lip..."
Jit Lip menunduk untuk menyembunyikan air mata yang sudah berkaca-kaca dikelopak matanya, dengan tersendat dia mengiakan. Dengan suara lantang Thi Tok-heng berpesan.
"Sampaikan kepada mereka, yang gugur segera dikebumikan di tempat itu juga, yang terluka harus ditolong dengan 296 segala daya upaya, tapi korban dari lawanpun harus dirawat, mereka harus juga menerima pelayanan yang sama dengan murid-murid kita ..."
"Tayciangbun,"
Seru Jit Lip penasaran "para kura-kura itu ...."
"ltulah putusanku,"
Tenang dan berwibawa kata-kata Thi Tok heng.
"sampaikan pesanku ini kepada lh cuncu dan harus dilaksanakan, jangan lupa orang-orang itupun seperti kita, manusia biasa yang diiahirkan oleh ayah-bundanya ..."
Jit Lip tak berani membantah lagi, setelah mengiakan lekas dia mengundurkan diri. Mengawasi bayangan orang yang gede berlari pergi Siang Cin menghela napas. katanya.
"Tay-ciangbun, putusanmu memang betul dan bijaksana."
Thi Tok-heng tertawa getir katanya.
"lnilah yang dinamakan "peri kemanusiaan"
Kehidupan kaum persilatan memang serba mengenaskan, serba kejam ..."
Dalam pada itu Jik-san su-kiat sudah datang dengan membawa beberapa kotak kayu yang berisi berbagai macam masakan, seru Sebun Tio-bu sambil berjingkrak senang.
"ini dia, perut memang sudah keroncongan, hayolah isi perut dulu, kalau perut kenyang baru punya tenaga untuk berkelahi."
Siang Cin tertawa, katanya.
"Di mana dan kapan saja tangkeh tidak pernah melupakan soal makan."
Sebun Tio-bu berkata.
"Sudah tentu, makan kan soal pokok bagi setiap manusia, apalagi setelah mengalami pahit getir seperti ini, selera makan pasti besar dan penting sekali artinya."
"Nanti sebentar,"
Ucap Thi Tok~heng.
"aku ingin menyuguh beberapa cangkir arak kepada kalian."
Sebun Tio-bu tertawa, katanya.
"Tayciangbun, kiranya ada arak juga?"
Kata Thi Tok-heng manggut-manggut.
"lnilah Say to-ciu nomor satu."
"Say-to-ciu?"
Teriak Sebun Tio-bu kegirangan sambil menelan ludah.
"Bagus sekali, hayolah tenggak dulu setiap orang delapan cangkir, kalau sudah makan hidangan rasanya tentu kurang sedap."
Dengan tulus hati Thi Tok-heng berkata.
"Setelah urusan di sini selesai, akan kuundang kalian ke padang rumput, kita akan makan-minum sepuas-puasnya di sana, cuma apakah Sebun tangkeh sudi memenuhi undanganku ini."
"Pasti kuterima,"
Teriak Sebun Tio-bu.
"cuma, ai, makan minum dengan menganggur, apa tidak membosankan."
Tiba-tiba Siang Cin menuding ke depan, katanya.
"Kin heng sedang mengawasi gerak-gerik musuh di garis depan bersama lh-cuncu."
Lekas Thi Tok-heng berpaling, serunya.
"Wan-kang, lekas panggil Kin-susiok untuk makan bersama." 297 Tidak lama Kin Jin tampak berlari datang, ia memberi hormat sambil mohon maaf.
"Terlambat selangkah, bikin kalian menunggu. makan di sana sebenarnya juga sama saja."
Tidak terlalu lama mnkan siangpun usai, sambil menepuk perut Sebun Tio-bu berkata dengan muka merah.
"Puas minum makan kenyang, tibalah saatnva berjuang di medan laga pula."
Kin Jin menyeka mulut, katanya.
"Siang-heng, bahan peledak musuh di atas tanggul itu, bagaimana cara menyelesaikannya?"
"Tak usah kuatir, ada akal untuk memusnahkannya,"
Ucap Siang Cin dengan tersenyum, lalu dia berpaling kepada Thi Tok-heng, katanya.
"Tayciang-bun, menurut Ho-toahoucu, untuk meluruk kemari pihak kalian juga membawa serta senjata api?"
"Betul,"
Sahut Thi Tok-heng.
"akhir-akhir ini kami berhasil menciptakan berbagai alat senjata api, di antaranya Liat-yam-kiu (bola api, granat) dan Hwe-piau."
Dengan bersemangat Siing Cin berkata.
"Nah, sekarang harap perintahkan menggempur pinggir tanggul itu dengan gencar, pertama untuk memukul mundur musuh, supaya kami punya peluang masuk ke jantung musuh dan mungkin dapat pula menyulut sumbu bahan peledak musuh."
Thi, Tok-heng manggut-manggut, Siang Cin lantas menambahkan.
"Bila serbuan dimulai, Cayhe akan pimpin beberapa utusan kalian menyelinap keluar dan menuju ke Toa-ho-tin untuk mencari jejak puteri Ciangbunjin."
Dengan kereng Thi Tok-heng lantas berseru.
"Wan-kang, panggil Toacuncu Tiangsun Ki dari Hwi-ji-bun dan Toacuncu Utti Han-poh dari Bong-ji-bun kemari."
Hanya sebentar saja tiga bayangan orang tampak lari mendatangi.
Seorang setengah-umur berperawakan tinggi kurus bermuka pucat kehijauan.
Dibelakangnya adalah seorang tua berbadan gemuk buntak seperti guci, berkepala botak, mukanya bundar mirip patung Mi-lek-hud (Budha) di kelenteng yang selalu tertawa.
Mereka datang hanya terpaut selangkah belaka, Sedang To Wan-kang jauh ketinggalan di belakang.
Thi Tok-heng tertawa ramah, laki-laki muka hijau segera menjura, suaranya berat serak.
"Tiangsun Ki menghadap Ciangbun Toasuheng."
Kakek buntak tertawa, k.itanya.
"Losuko, ada tugas apa pula yang hendak diserahkan kepada Bong-ji-bun kami?"
Thi Tok-heng mengangguk pada si tua buntak ini, lalu dia perkenalkan kepada Siang Cin bertiga, Laki-laki kurus muka hijau ini bukan lain adalah Toa-cuncu Hwi-ji bun yang tersohor dengan julukan Ceng-tuo-kun (iblis muka hijau) Tiangsun Ki, sedang laki-laki tua buntak adalah Toacuncu Bong-ji-bun Kian-kun-it-Jiin Uiti Han-poh.
Setelah basa basi saling mengucapkan kekaguman, Thi Tok-heng berkatn.
"Tiangsun-sute, dalam gerakan selanjutnya, anak buahmu akan diserahi tugas sebagai penyerbu utama, sementara anak murid Utti sute sebagai pendukung." 298 Mantap suara Tiangsun Ki, sahutnya.
"Hal itu sudah kudengar dari Ho-toahoucu tadi."
"Baiklah,"
Ucap Thi Tok-heng kemudian.
"segera bentuklah barisan, biarlah anak buah lh-sute dan Ho-houcu membersihkan bahan peledak musuh, kalian harus menunggu aba-aba untuk segera menyerbu."
Sampai di sini nadanya menjadi kereng berwibawa.
"Pada serbuan pertama harus langsung menembus jantung musuh, dilarang berhenti atau membuang waktu, bila terhambat sedetik saja, korban dipihak kita akan lebih banyak, hal ini kalian harus mengerti."
Tiangsun Ki dan Utti Han-poh sama mengangguk, Thi Tok-heng berkata lebih lanjut.
"Di samping itu kita pilih Tang-haii (rantai panjang) Le Tang dari Hwi-ji-bun dengan Heng-cia Loh Hou dari Bong-ji-bun untuk ikut Siang-lote menyelundup ke Toa-ho-tin agar menyambut serbuan kita di sana nanti."
"Apa cukup dua orang saja?"
Tanya Tiangsun Ki "Cukup,"
Lekas Siang Cin menyahut.
Tanpa bicara lagi Tiangsun Ki dan Utti Han-poh memberi hormat kepada Thi Tokheng serta Siang Cin dan lain-lain, seperti datangnya tadi, cepat sekali mereka sudah berlari pergi.
Thi Tok-heng menghela napas, katanya.
"Tiang-sun Ki adalah Cuncu yang memiliki Lwekang paling tinggi di antara enam yang lain, cerdik pandai dan banyak akalnya, keberaniannya luar biasa, usianya sudah lima puluh lebih, namun wataknya tetap berangasan, itulah cirinya yang paling jelek."
Sebun Tio-bu tertawa, katanya.
"Lahirnya kok tidak kelihatan."
"Memang tabiatnya jelek sekali, meski menghadapi kematian tetap tak mau tunduk, tapi lahirnya memang tidak kentara, lahirnya dia kelihatan pendiam dan penurut tapi begitu sifat sejatinya kumat, bagaikan hujan badai yang tak terkendali lagi, Umpamanya dalam perjalanan kcmari, bila aku tidak berulang kali mengendalikan dia, mungkin sejak lama dia sudah meluruk langsung ke Toa-hoa-tin untung reaksinya cukup cekatan meski dalam keadaan murka dan dirundung emosi dia tetap tak pernah bingung atau gugup, oleh karena itulah selama dia berkecimpung dalam dunia persilatan belum pernah dia mengalami kerugian."
"Sungguh sulit mencari orang seperti dia, umumnya orang yang bertabiat berangasan otaknyapun tumpul, gagah berani tapi tidak punya akal, apa lagi bila menghadapi urusan besar dan penting akan menjadi kelabakan dan mati kutu, bila seseorang dapat menguasai diri dengan tenang serta bisa mundur-maju secara teratur, dalam keadaan murka akal sehatnya tak pernah pudar, inilah yang membuat kagum,"
Demikian Siang Cin memberikan komentarnya Dikala mereka bicara itulah, dua orang berperawakan tinggi tujuh kaki, pinggang besar dan kekar tampak berlari datang.
Yang disebelah kiri bermuka lebar, mata besar, hidung pesek, mulut tebal kulit badannya coklat mengkilap, lengan besar melebihi paha seorang laki-laki biasa dengan otot daging merongkol.
299 Orang di sebelahnya juga raksasa alisnya tebal, leher besar, rambut hitam, gondrong terurai di pundak, bersenjata toya baja, mukanya memancarkan cahaya penuh semangat, giginya putih tapi dengan dua taring besar yang menonjol.
Thi Tok-heng memperkenalkan.
"Siang-lote, dia bernama Le Tang, salah satu murid Hwi-ji bun yang paling hebat."
Lalu ia menuding laki-laki raksasa yang memegang pentung.
"Dia ini Loh Hou, jago yang tak terkalahkan dari Bong-ji bun."
Siang Cin menjura kepada kedua orang, sapanya tertawa.
"Dapat berkenalan dan kerja sama dengan kalian, sungguh bangga hatiku."
Kedua laki-laki besar dan kasar ini ternyata lugu dan tak pandai bicara, sekian lama mereka hanya menyengir saja sambil garuk-garuk kepala, akhirnya yang bernama Le Tang dapat menguasai diri serta berkata.
"Ah, jangan sungkan, kami orang bodoh..."
Thi Tok-heng tertawa geli, katanya.
"Sudahlah, kalian akan ikut bernama Siangsusiok, apapun petunjuk dan perintahnya harus kalian patuhi, demikian pula kalian harus tunduk pada petunjuk Sebun-tangkeh dan Kin-tayhiap, jangan ragu-ragu dan membangkang, tahu tidak?"
"Sudah tahu, kami pasti patuh."
Kedua laki-laki kasar itu menyahut.
Siang Cin mendongak melihat cuaca, baru saja dia mau bicara, dari kiri-kanan Ce ciok giam mendadak bergema lengking suara tiupan terompet yang mengalun sedih memilukan, nyaring dan tinggi suara trompret ini sampai terdengar juga ke seberang, ditengah suara trompret yang melengking tajam itu, terdengarlah suara serta derap tapal kuda yang gemuruh, bentakan orang yang berlari kian kemari, kiranya anak murid Hwi ji-bun dan Bong ji bun tengah mempersiapkan diri.
Thi Tok-heng memberi tanda kepada To Wan-kang yang berdiri tak jauh di sebelahnya, bergegas To Wan-kang segera berlari pergi, ditengah Ce-ciok giam sana segera bergemalah suara trompet yang gagah dan mengalun panjang.
"Kini kalian bisa saksikan kehebatan senjata api kita,"
Demikian kata Thi Tok-heng.
"Pasti mengejutkan,"
Ujar Siang Cin dengan tertawa.
Tersenyum Thi Tok-heng, dia tidak menanggapi pujian Siang Cin, sementara bayangan orang dan kuda tampak bergerak di tengah Ce-ciok-giam, senjata di lolos dan berdering, dalam sekejap anak murid Say-ji-bun yang berada digaris depan sudah mulai bergerak, sementara anak murid di bawah komando Cong-tong berada dibarisan belakang teratur rapi dalam formasi yang sudah ditentukan.
Jauh di seberang sana, bayangan merah dan hitam tampak bergerak kalang kabut, satu dengan yang lain tengah berlomba berdiri dan merangkak mencari posisi dan perlindungan.
Sekarang Siang Cin tengah memperhatikan murid-murid Bu siang pay yang ada di garis depan, semuanya memegang tiga batang bumbung hitam yang terikat jadi satu, pangkal bumbung berbentuk lebar seperti sayap, sementara ujungnya terarah ke depan mengincar musuh, murid2 yang dipimpin Cong-tong dalam waktu singkat 300 telah memasang puluhan kerangka besi berbentuk segi empat, ke empat kaki kerangka ini terbenam ke dalam tanah.
Tepat di tengah kerangka besi terpasang satu jalur pegas dan pada ujung pegas baja ini ada dipasang sebuah mangkuk, di dalam mangkuk inilah ditaruh sebuah bola warna hitam sebesar kepala manusia.
Kini semua pegas atau per itu sudah ditarik, bila gantolan pada per itu dilepas, pegas itu akan bekerja serta melemparkan bola di dalam mangkuk itu ke depan.
Setiap kerangka itu dijaga empat murid Bu-siang-pay seragam putih, sekitar mereka tampak tersedia puluhan bola yang siap ditembakkan.
Bumbung atau pipa hitam bersayap itu Siang Cin pernah melihatnya, tapi kerangka baja dengan pegas dan mainan bola itu masih asing baginya, tapi entah itu senjata ampuh atau mainan belaka, bila dikerjakan akibatnya tentu fatal, jiwa manusia dapat dihancurkan dalam beberapa detik saja.
Thi Tok-heng tertawa lebar.
katanya.
"Siang-lote, bumbung hitam yang dipegang murid-murid Say-ji-bun itu dinamakan Hwe piau, daya bidiknya bisa mencapai seratusan langkah, panah yang terdapat di dalam bumbung itu panjang kecil dan runcing, dilumuri minyak dan pospor, begitu kena angin lantas menyala, bagi yang daya tarikannya kuat, malah dapat mencapai dua ratusan langkah jauhnya."
Berhenti sebentar lalu ia melanjutkan "peralatan yang dipasang di sebelah belakang itu dinamakan Ki-nu (busur raksasa) setiap kali kerja dapat menembakkan sebutir peluru berapi (Liat-yam tan), daya ledak nya kuat dan merupakan alat penghancur yang amat ditakuti Dalam radius sepuluh tombak, rumput dan pepohonan, binatang atau manusia tiada satupun yang bisa selamat, daya tembak Ki-hu bisa mencapai enam puluh tombak, karenanya penghancurnya jaug hebat dan terlampau keji, maka jarang kita menggunakan bila tidak terpaksa dan dipandang perlu."
Sampai di sini dia menarik napas lalu menyambung "Sekurang oiang2 Hek jiu-tong dan Jik-san-tui yang bakal menjadi sasaran utama."
Siang Cin tertawa, tanyanya.
"Boleh mulai?"
"Sudah tentu,"
Ucap Thi Tok-heng.
Maka Tay-ciangbun Bu siang-pay ini pelahanlahan angkat tangan kanannya, lalu mendadak mengayunnya turun dengan cepat.
Ho Siang gwat yang sejak tadi telah menunggu di jarak sepuluhan tonibak di atas batu tinggi di pinggir sana segera berteriak.
"Tembak!"
Sepuluh murid Bu-siang-pay yang berjaga di sekitar kerangka baja itu itu seketika bergerak serempak, gerak gerik mereka tampak lincah, rapi dan terlalih, sebat sekali kaki menyepak gantolan ujung pegas, maka suara jepretan berbunyi hampir dalam waktu yang sama."
"Ssiiuuttt blummm"
Suara ledakan menggetar bumi.
Pegas terpasang pula, pelorpun ditembakkan lagi secara beruntung cuma arah sasarannya saja yang sedikit di ubah.
301 Tapi semua di tujukan unggul atau belakangnya, di mana orang2 Hek-jiu-tong dan Jik-san-tui beruban mati-matian.
Asap tebal tampak mengepul disertai percikan api, lebih mengenaskan lagi, manusia yang menjadi korban pemboman ini ikut hancur-lebur, tiada korban yang mati dalam keadaan utuh.
Hampir dalam waktu yang sama dengan bombardir yang menggoncangkan bumi ini murid-murid Say-ji-bun yang berada di garis depan segera menarik pelatuk, disertai suara jepretan yang keras secara beruntun ribuan jalur api sama menyembur kencang ke depan, api segera berkobar semakin besar disertai asap tebal bergulung-gulung ke angkasa, dalam beberapa detik ini, tanggul Ce ciok giam diseberang sana sudah menjadi lautan api.
Hawa udara terasa pengap dan berbau mesiu, diantara lelatu api dan bergulungnya asap tebal, batu pasir serta tanah sama terlempar ke tengah udara, batu-batu gunung yang berserakan di Ce ciok giam porak-poranda.
Ternyata ledakan dahsyat ini masih terus disusul ledakan-ledakan dahsyat lainnya, satu ledakan lebih keras dan dahsyat dari ledakan yang terdahulu, ledakan-ledakan dahsyat lainnya, satu ledakan lebih keras dan dahsyat dari ledakan yang terdahulu, batu-batu besarpun terlempar ke angkasa, siapa saja bila kejatuhan batu-batu ini kalau tidak terluka, patah tulang, pasti kepala pecah dan binasa.
Di tengah ledakan dahsyat dan hujan batu dan pasir itulah, Siang Cin, Thi Tok-heng, Sebun Tio-bu, Kin-Jin dan Jik tan-su-kiat sama merebahkan diri mencari perlindungan, demikian pula seluruh murid Bu-siang-pay sama mendekam di tanah, untung tiada seorangpun yang terluka, debu pasir masih terus berhamburan, badan semua orang sama kotor seperti baru saja menerobos keluar dari dalam liang tanah.
Ledakan terus berlangsung, bumi bergoncang sedemikian kerasnya, sampai kuping mengiang seperti mau pecah, banyak murid Bu-siang-pay yang pucat mukanya, betapa tak ngeri bila membayangkan andaikan pasukan mereka yang terjebak oleh ledakan dahsyat bahan-bahan peledak yang dipendam musuh ini.
Siang Cin menggeleng kepala, suaranya terdengar serak.
"Ledakan yang hebat sekali ..."
Tiba-tiba bayangan orang berkelebat, Ho Siang-gwat melompat tiba dengan gerakan tangkas, sambil mengusap debu dimukanya dia berteriak gelisah "Tayciangbun, Tayciangbun. .."
Cepat Tbi Tok-heng berseru.
"Apakah Ho houcu di sana?"
Legalah hati Ho Siang-gwat, serunya "Syukurlah Tayciangbun dan para saudara tiada yang terluka."
"Ho-houcu,"
Kata Thi Tok-heng "getaran ledakan-ini memang hebat, lekas suruh beberapa orang memeriksa ke depan, apakah pasukan Say-ji-bun di depan ada yang menjadi korban?"
"Hentikan dulu beberapa kejap, jika tiada ledakan lagi, segera perintahkan anak buahmu, membuka jalan, biar pasukan Hwi ji bun yang membuka serbuan. 302 Dalam pada itu, orang tadi diutus pergi mencari berita telah berlari balik dengan napas tersengal-sengal, dia berkata dengan terputus-putus.
"Lapor....Tay-ciangbun...orang-orang kita ... semuanya baik saja, hanya dua puluhan saudara kita terluka oleh cipratan batu dan terbakar kulit badannya..."
Menghela napas lega,Thi Tok-heng lantas berseru kepada Ho Siang-gwat-yang sementara itu masih menunggu.
"Ho-houcu, perintahkan mulai maju!"
Ho Siang-gwat segera melompat ke atas sebuah batu besar serta bersiul nyaring, cepat sekali siulan yang tidak kalah kerasnya daripada suara sempritan ini mendapat sambutan di depan, yaitu bunyi trompet yang berkumandang lagi.
Dengan kereng Thi Tok-heng melepas pandang ke depan, tampak asap tebal masih bergulung-gulung di tiup angin, bayangan orang berbaju putih terus bergerak, dia menarik napas panjang secercah senyuman menghias wajahnya, katanya terhibur sambil menoleh ke arah Siang Cin.
"Siang-lote, pasukan Say-ji-bun ternyata tidak kurang suatu apapun."
"Reaksi mereka cukup cepat menghadapi perubahan, keadaan memang berbahaya juga,"
Ucap Siang Cin tertawa.
Tengah bicara jauh di belakang terdengar suara meringkik kuda yang ramai disertai derap langkahnya yang teratur.
Waktu Siang Cin menoleh tampak barisan dengan gelang mas melingkar di kepala telah berjalan turun memasuki Ce-ciok-giam, sambil menuntun kuda mereka, hati-hati tapi cepat, mereka bergerak ke depan memencarkan diri dalam formasi tertentu, pada setiap punggung kuda tampak tergantung sebuah tameng warna perak mengkilat elang terbang yang gagah dan keren Ceng-Wo-kun Tiangsun Ki, berada di depan barisan-ini, tak hentinya dia memberi petunjuk dan berkaok-kaok mendesak anak buahnya supaya bergerak lebih cepat lagi.
Menunjuk pasukan yang menuju kemedan pertempuran, dengan suara rendah Thi Tok-heng menerangkan.
"Hwi-ji-bun dengan tameng elang khusus diciptakan sendiri oleh Tiangsun sute."
"Siang Cin mengangguk, katanya.
"Amat gagah dan perkasa, besar sekali kegunaan tameng itu Hwi-ji-bun pasti merupakan pasukan inti dari seluruh kekuatan yang dikerahkan ini?"
Sebun Tio-bu bergelak tertawa, katanya.
"Sudahlah Siang-toaya, tak usah banyak komentar lagi, sekarang kita harus lekas menyusup ke Toa-ho-tin, mumpung anak kura-kura itu sedang ribut dan kacau-balau, hayolah mau tunggu kapan lagi?"
"Baik,"
Sahut Siang Cin mengangguk.
"mari berangkat."
Lalu dia membalik ke arah Thi Tok-heng, katanya.
"Tayciangbun. sekarang kita berpisah untuk sementara waktu kami tunggu kedatanganmu di Toa-ho tin."
Thi Tok-heng maju selangkah memegang kedua lengan Siang Cin serta menggenggamnya kencang, katanya dengan penuh haru.
"Siang lote, semua ku percayakan kepadamu, Semoga sukses!" 303 Dia menoleh ke arah Sebun Tio-bu dan Kin Jin, katanya.
"Sebun-lote, Kin-lote, kuharap kalian hati-hati juga."
Tertawa lebar dan gagah Sebun Tiobu berkata.
"Tayciangbun tak usah kuatir, kami akan menantimu di Toa-ho tin dengan segar bugar."
Kin Jin juga tertawa, ujarnya dengan tekad besar dengan keyakinan yang teguh.
"pasti akan hati-hati, Tayciangbun, kami pasti dapat melaksanakan tugas dengan baik."
Maka beberapa orang saling menjura berpisah, tak lupa Thi Tok-heng memberi pesan beberapa patah kata kepada Le Tang dan Loh hou.
Kejap lain, lima bayangan orang segera berjalan menuju ke seberang.
Masih terendus bau mesiu yang tebal menyesakkan napas, di antara celah-celah batu dan gundukan tanah yang turun naik, lima orang dipimpin Siang Cin berjubah kuning terus berjalan, bayangan elmaut, rasa ketakutan meliputi setiap orang.
Suatu ketika Sebun Tio-bu berkata dengan suara tertahan.
"Siang heng, kita lewat jalan kecil yang memutar saja."
Siang Cin menganguk, sahutnya.
"Betul!"
Begitulah mereka semakin jauh meninggalkan Ce-ciok-giam, tugas mereka ini pantang diketahui oleh musuh, tak boleh terlibat dalam pertempuran sebelum berhasil memasuki Toa-ho-tin.
Padahal di sebelah kiri sana, di Ce-ciok-giam, pihak Bu-siang-pay tengah melakukan serbuan besar-besaran, sementara pihak Jik-san-tui dnn Hek-jiu tong dengan seluruh kekuatan intinya pasti juga dikerahkan untuk menyambut serbuan musuh, jika mereka tidak jalan memutar mungkin bisa kepergok musuh.
Kalau Siang Cin yang membuka jalan di depan diam saja, Sebun Tio-bu yang memang banyak omong terus ajak Kin Jin ngobrol apa saja meski sambil lari.
Payah juga Le Tang dan Loh Hou yang mengintil di belakang, mereka tidak memiliki kemampuan setinggi ketiga tokoh silat di depannya, meski napas sudah ngosngosan mereka tidak berani ketinggalan jauh dan terpaksa berlari sekuat tenaga.
Kini mereka tiba di sebuah hutan, bila mereka tiba di pinggir hutan, Toa-ho-tin, kota yang menjadi tempat tujuan merekapun akan tertampak.
Dipandang dari atas pohon, Toa-ho-tin kelihatan sepi dan lengang, rasanya aneh bahwa kota sebesar itu dengan penduduk yang padat kini dalam keadaan sesunyi ini seperti kota mati belaka, tak terdengar suara, tidak kelihatan bayangan manusia, sampai suara anjing atau ayam juga tidak terdengar.
Suasana sepi yang luar biasa ini membuat Sebun Tio-bu menggerutu.
"Keparat."
Siapapun merasakan adanya firasat yang tidak baik. Hening sejenak, akhirnya Siang Cin berkata.
"Lebih baik kita berhenti sejenak, bila jejak kita diketahui musuh, untuk bekerja tentu amat sukar, tugas ini memerlukan kecerdikan dan kecepatan bertindak." 304 Setelah menerawang keadaan sekitarnya Kin Jin ikut berbicara."Dari hutan ini ada kira-kira berjarak dua puluh tombak dan sekitarnya tanah datar dan lapang, sekarang cara bagaimana kita akan menyusup ke sana tanpa diketahui?"
Sesaat lamanya Siang Cin mondar-mandir sambil berpikir,katanya kemudian.
"Biarlah aku mencobanya."
Sebun Tio bu tidak mengerti.
"Siang-heng, bagaimana kau-akan mencobanya?!"
"Aku akan bergerak dengan kecepatan luar biasa, sehingga kabur pandangan musuh, disangkanya melihat setan atau melihat sesuatu yang khayal belaka, mereka tidak tahu bahwa yang di-lihatnya adalah bayangan manusia."
Kata Sebun Tio-bu dengan penuh kepercayaan "Aku tahu kau mampu melakukannya Siang-heng, Naga Kuning menggetarkan dunia karena kecepatannya."
"Jangan memuji Tangkeh,"
Ucap Siang Cin.
"Kin-heng, harap kalian tunggu saja di sini bersama Loh dan Le berdua, aku akan segera kembali."
Semua sama mengangguk, maka sebelum yang lain memberikan reaksi apa-apa, bayangan Siang Cin yang tinggi itu mendadak melambung ke udara seperti roket yang lepas dari landasan, karena cepat daya luncurnya, kelihatannya seperti bayangan kuning berkelebat, semakin lama semakin cepat sehingga bentuk aslinyapun tak kelihatan lagi.
Sebun Tio-bun berkata dengan melongo.
"Hebat, kecepatan Naga Kuning memang top. Bukankah itu gerakan yang dinamakan Liong-ih-toa-pat-sek."
"Betul,"
Sahut Kin Jin "Setelah menyaksikan gerakannya, siapapun akan merasa kagum dan merasakan dirinya kecil sekali, biasanya kita suka mengagulkan ginkang sendiri yang dianggapnya tiada bandingan lagi di Kangouw, hari ini baru sadar bahwa aku ini hanya merupakan secomot pasir di tengah gurun pasir.
Dalam pada itu bayangan Siang Cin sudah tidak kelihatan, tanpa konangan dia berhasil menyusup ke Toa-ho tin, kini dia sedang tiarap di atas sebuah rumah, dengan tenang ia mengawasi keadaan, sekelilingnya.
Dengan ketajaman mata Siang Cin, dilihatnya dua puluhan tombak luasnya tanah diluar batas kota Toa-ho tin ada dipasang cagak besi dengan ujung serupa tanduk menjangan, serta diberi kawat berduri dan berbagai macam rintangan lainnya.
Lalu sepuluh tombak kemudian terdapat karung yang membukit, apa yang berada dalam gundukan karung tak diketahui tapi dibelakana gundukan karung adalah barisan bambu runcing yang ujungnya dibungkus kain, semua jebakan ini mengelilingi To hoa tin dengan rapat.
Dengan cermat Siang Cin memeriksa sekelilingnya pula, jangankan manusia, bayangan setan pun tidak kelihatan dalam kota ini, entah itu penduduk kota atau orang Hek-jiu-tong serta Jik san tui, entah kemana mereka, tiada satupun yang menongolkan kepalanya, seolah-olah kota mati, kota kosong.
305 Dengan hati-hati Siang Cin menggeremet maju di-atas genting, mendadak dia menemukan sepasang bola mata, bola mata yang sedang mengintip di balik celahcelah jendela yang terbuka sedikit di atas loteng sebelah depan, hanya sekilas saja bola mata itupun telah lenyap.
Tapi penemuan ini justru membuat girang Siang Cin dan terbangun semangatnya, maka mulailah dia memeriksa setiap rumah dan setiap loteng, sampaipun rumah di pojok gang juga tidak lepas dari perhatiannya, tembok melintang juga diperiksanya dengan teliti.
akhirnya dia tersenyum puas.
Lalu memejamkan mata menenangkan hati dan pikiran, kejap lain dia sudah merayap ke atap rumah sebelah sana, ia memegang daun jendela, sedikit mendorongnya, tanpa mengeluarkan suara segera dia menyelinap masuk ke dalam.
Kini dia berada di sebuah kamar tidur yang besar, entah semula dihuni siapa, pajangannya sederhana, kecuali sebuah meja empat kursi, hanya ada sebuah ranjang kayu besar, di tepi ranjang terdapat sebuah tungku yang masih menganga apinya.
Tampak oleh Siang Cin di ranjang kayu besar itu rebah dengan berbagai gaya empat laki-laki kasar, ranjang kayu ini sebetulnya untuk tidur suami isteri pemilik rumah ini, tapi kini berdesakan empat orang itu sekaligus, terasa sesak juga sehingga cara tidur mereka tampak menggelikan.
Siang Cin tersenyum geli mengawasi orang-orang yang mendengkur bagai babi itu, belum lagi dia mengambil sikap, tiba-tiba didengarnya seseorang menaiki loteng sambil bernyanyi-nyanyi kecil.
Sekali berkelebat Siang Cin menyelinap ke belakang ranjang, kebetulan keempat laki-laki yang tidur di ranjang itu mengalingi dirinya.
Kejap lain pintu kamarpun didorong dengan mengeluarkan keriut dan tampak seorang laki-laki gede gemuk menjinjing guci arak melangkah masuk dengan sempoyongan mukanya merah setengah mabuk.
Laki-laki gemuk ini memang kekar perawakannya, pakaian biru yang dipakainya setengah terbuka sehingga dadanya telanjang, begitu masuk, kamar golok yang tergantung dipinggangnya dia tanggalkan terus dilempar ke meja dengan suara gedubrakan, guci diangkat terus ditenggaknya dengan lahap, habis minum mulutnya kembali nyanyi-nyanyi lagu yang bersifat porno, memangnya dia sudah setengah mabuk, maka lagu yang dinyanyikan pun tidak kenal batas kesopanan lagi.
Laki-laki yang tidur paling pinggir sebelah kanan tampak membalik tubuh sambil membuka matanya yang merah ngantuk, agaknya dia terjaga dalam mimpinya karena suara gaduh yang dibuat laki-laki gemuk itu, keruan dia memaki gusar.
"Maknya, memangnya kau sudah makan kenyang dan puas minum, lalu berkaokkaok di sini seperti di sarang pelacur? Tuan besarmu ini semalam tidak tidur, baru saja pulas lantas kau bikin ribut di sini?"
Laki-laki gemuk tampak sempoyongan sempro(nya.
"Ribut, ribut apa? Kau keparat ini, bapakmu hanya bernyanyi dua lagu, memangnya kau lantas iri? Kau tidak tidur semalam, memangnya bapakmu ini sudah tidur?"
Laki-laki di atas ranjang semakin gusar, mendadak dia berduduk, teriaknya sambil melotot.
"Kek-losam, kalau kau tidak ingin tidur, lekas menggelinding keluar, jangan 306 jual lagak di sini, memangnya berapa sih harganya lagakmu? Di sini bukan tempat untuk pamer kepalan."
Sudah tentu tiga orang yang lain lantas terjaga bangun pula karena keributan ini, terdengar seorang berseru dan coba meredakan suasana.
Tak terduga, Kek-losam, si gemuk, malah tepuk dada dan semakin garang, sudah tentu laki-laki di ranjang itupun semakin naik pitam, keduanya lantas hendak saling terjang, untung ketiga teman yang lain segera m.iju memisah.
"Blang", memukul dada sendiri Kek-losam lantas meraung gusar "Kunyuk yang tidak punya mata, berani kau menepuk lalat di kepala Kek-losam? Memangnya kau kira Kek-losam boleh dibuat main-main".
"Anjing buduk!"
"Babi mampus, memangnya kau kira aku takut pada congormu? pergilah mendengkur saja dalam pelukan bini mudamu,"
Sambil berbalik pinggang laki-laki itu mencak-mencak di atas ranjang.
Sambil berteriak aneh, Kek-losam segera menerjang maju.
Keruan ketiga orang yang lain menjadi kelabakan, tarik sana seret sini, keadaan kamar menjadi morat marit dan kacau.
Disaat keributan mencapai puncaknya inilah, dengan tenang Siang Cin beranjak keluar dan belakang ranjang, sambil geleng-geleng kepala dia tersenyum, katanya.
Sudahlah, jangan ribut begini rupa, memangnya tidak malu ditertawakan orang?"
Kelima orang itu sedang saling dorong dan tarik, ketika tiba-tiba mendengar suara orang yang tak dikenal, keruan semuanya sama terperanjat, tanpa di suruh lagi semuanya berhenti dan menoleh ke sana, kelima orang jadi melongo.
Siang Cin mengebas lengan jubahnya yang berwarna kuning angsa itu, air mukanya yang semula tersenyum simpul mendadak menjadi kaku dingin, katanya.
"Beginikah orang-orang Toa-to-kau kalian bertingkah di Toa-ho-tin? Keterlaluan, tidak tahu tata tertib, sekarang satu persatu perkenalkan nama anjing kalian."
Sudah tentu kelima orang ini semakin kaget, sebagian mereka memang utusan pihak Toa-to-kau yang diperbantukan di Toa-ho-tin, sudah enam hari mereka tiba di sini, sebelum berangkat Kaucu mereka sudah berpesan bahwa di Toa-ho tin bakal berkumpul orang dari berbagai kalangan dan aliran, sekali-kali dilarang membuat malu dan melakukan kesalahan, apalagi menurunkan derajat Toa-to-kau.
Setiba di sini keadaan yang campur aduk di sini memang agak membingungkan mereka, kini belum apa-apa mereka sudah ribut antar kawan sendiri, betapapun mereka merasa malu?
Sesaat kemudian barulah Kek-losam menyeringai, sapanya.
"Numpang tanya, Toako ini dari dermaga mana? Supaya kami..."
Belum habis dia bicara, Siang Cin sudah mendamprat.
"Tutup mulut, terhadapku, berani kau membahasakan Toako segala? Berani kau angkat dirimu sejajar dengan aku?" 307 Keruan berdetak jantung Kek-losam, tersipu dia menjura serta mohon maaf.
"Tidak berani, hamba tidak berani, maksudku hanya ingin mohon tanya siapakah she dan nama besarmu."
Siang Cin mendengus.
"Hm, mau selidik asal usulku? Tanya nama segala. Setiap kaum keroco ini belum setimpal, Han-nio-siang-kui saja akan munduk-munduk dihadapanku, memangnya kalian sudah setingkat dengan kedua orang itu?"
Sudah tentu kelima orang dalam kamar tak berani bercuit lagi, mereka percaya apa yang dikatakan Siang Cin.
Maklumlah sikap tindak tanduk, tutur kata Siang Cin yang berwibawa telah membikin ciut nyali mereka, apalagi mereka tahu bahwa Toa-ho-tin sudah menjadi kota terlarang, luar-dalam kota sudah diatur banyak jebakan dan perangkap, setiap jengkal tanah dalam kota boleh dikatakan ada perangkap.
Seluruh tenaga pihak sendiri juga sudah diatur dengan kilat, penduduk kotapun telah dimasukkan ke karantina serta diawasi, jangankan mata-mata musuh, umpama seekor burungpun jangan harap bisa terbang masuk, kini orang ini berlenggang dengan sikapnya yang kereng, tahu-tahu naik loteng dan masuk kamar, tutur katanyapun amat berwibawa, kecuali orang punya jabatan tinggi setingkat Cuncu, memangnya siapa berani bertingkah begini?
Sudah tentu kelima orang itu semakin gelisah, Kek-losam yang setengah mabukpun sadar dan mandi keringat dingin, sambil menunduk dia hanya mengiakan saja dengan muka merah padam, kedua tangan lurus ke bawah.
Mengebas lengan bajunya, Siang Cin berkata pula.
"Barusan aku dari bawah, kenapa tidak kelihatan bayangan seorangpun."
Kek-losan menyeka keringat, lahutnya tersipu-sipu "Ada, ada, cuma sekarang mereka tidak di tempat karena semuanya dikerahkan untuk menggali lorong bawah tanah."
"Gali lorong apa?"
Tanya Siang Cin. Kek-losan juga melenggong, katanya tergagap.
"Masa Toako tidak tahu? Bukankah setiap barisan menugaskan beberapa orang secara giliran untuk menggali lorong? Loteng ini ditempati tiga puluh orang, kecuali kami berlima yang masih ketinggalan, yang lain dikerahkan di bawah pimpinan Tamhay-bak "
Otak bekerja cepat, segera sikap Siang Cin tampak kereng pula.
"Kemarin malam bukankah orang Jit-ho-hwe sudah selesai menggali lorong yang terletak di depan kota itu? Menggali lorong apa lagi? jangan kau membual."
"Toako memang tidak salah,"
Lekas Kek-losan menerangkan "Lorong itu memang sejak lama sudah digali, sekarang yang digali adalah lorong yang terletak di bawah jalan raya di depan kota, baru dua hari ini mulai kerja, kira-kira sampai nanti tengah malam baru akan selesai, Betapapun aku yang kecil ini tak berani bohong pada Toako, kalau tidak percaya boleh Toako pergi memeriksanya."
Siang Cin berkata pula.
"Kapan mereka akan kembali?"
Kek-losan menghitung-hitung lalu menjawab.
"Baru setengah jam mereka pergi, mungkin setelah magrib baru akan kembali." 308 Siang Cin manggut-manggut katanya.
"Baik, biar aku istirahat di sini dulu, sebentar aku masih harus memeriksa tempat lain."
Tanpa disuruh Kek-losam, empat orang yang lain segera berebut memindah kursi dan membetulkan meja.
Tanpa terima kasih Siang Cin terus duduk sambil angkat kedua kakinya ke atas meja, ia memeriksa keadaan kamar besar ini, katanya kemudian dengan suara kereng.
"Barisan Te-ji-heng dari Toa-to-kau sudah lama datang, kalian dari barisan yang mana?"
Kek-losam menjura, sahutnya.
"Kami dari "Pui-ji-heng", hanya terpaut beberapa waktu saja kedatangan kami dengan Te ji-heng, sementara para saudara dari Ui-ji heng sudah lama berada di sini."
"jadi tinggal barisan Thian-ji-heng saja yang tetap bercokol di sarang sendiri. apakah tenaga mereka tidak terlalu lemah?"
Kek-losam yang bermuka tambun tampak mengunjuk tawa lucu, katanya.
"Tiada yang perlu dikuatirkan, situasi dalam Kati kami cukup aman, sementara kalangan persilatan di sekitar markas kami selalu memberi muka kepada kami, jadi yakin takkan terjadi apa-apa di sana, Apalagi Kaucu sendiri tetap berada dalam tampuk pimpinannya, jumlah barisan Tlnan-ji-heng juga lebih banyak, kepandaian merekapun serba pilihan, kalau dibanding kami yang diutus kemari, terlampau jauh bedanya."
"Berapa banyak orang kalian yang dikerahkan kemari?"
Tanya Siang Cin pula.
"Ai, terlalu banyak kerja, sampai otakku terasa bebal, kalau tidak salah ada seribu lebih atau tujuh ratusan orang, betul tidak?"
Terkekeh Kek-losam, jawibnya.
"Toako salah ingat, jumlah seluruhnya ada seribu dua ratusan, setiap barisan terdiri dari empat ratus orang, dibawah pimpinan sepuluh Thaybak, sementara keenam Kauthau ketiga barisanpun datang."
Siang Cin tertawa tawar, katanya.
"Kek-losam, apa kau tahu cara untuk keluarmasuk Toa-ho-tin?"
Kek-losam melenggong ditanya begitu, katanya.
"Hamba tidak tahu, Apakah Toako sendiri juga tidak tahu?"
Siang Cin tergelak-gelak, katanya.
"O, bagus sekali, dari sini dapat kusimpulkan bahwa mereka memang amat ketat merahasiakan hal ini, kalau sampai kaupun tahu, terhitung rahasia macam apa."
Lalu dia berbangkit terus menggeliat serta menghela napas seperti orang keletihan sehabis bekerja berat. Kek losam bersikap seperti memperhatikan, katanya.
"Toako mau pergi? Silakan istirahat lagi sebentar, cuaca sedingin ini, kau orang tua harus menunaikan tugas sepayah ini, sungguh terlalu berat ..."
Berkelebat sinar mata Siang Cin. katanya tenang.
"Betul, aku mau pergi, malah sekarang juga."
Lekas Kek-losam berkata.
"Kalau begitu hamba ...." 309 Siang Cin berseru "Ambilkan jubah luar milik mereka semua."
"Mengambil jubah luar?"
Seru Kek-losam kebingungan.
"Toako, kau ..."
"Lekas, jangan cerewet,"
Bentak Siang Cin.
Tak berani tanya lagi, lekas Kek-losam mengerjakan apa yang diminta, dengan sikap hati-hati dia taruh empat jubah di atas meja.
Empat laki-laki pemilik jubah itu hanya berdiri melenggong dengan muka pucat dan tak berani bertindak apa-apa.
Baru saja Kek-losam hendak buka suara pula, seketika dia mengkeret karena ditatap Siang Cin, kata Siang Cin.
"Jubahmu juga lekas kau copot."
Kek-losam melenggong serunya.
"Aku? Jubahku ini?"
"Ya, kenapa? Tidak boleh?"
Ancam Siang Cin.
Keruan Kek-losam ketakutan, lekas dia copot jubahnya.
Baru sekarang dia menyadari meski dirinya gemuk, badannya penuh gumpalan daging, tapi setelah telanjang badan, hawa sedingin ini, mau-tidakmau menggigil juga.
Meraih kelima jubah itu.
Siang Cin mendengus.
"Sekarang, kalian berbaris menghadap dinding."
Tanpa berani membangkang lelima orang membalik tubuh serta berdiri sejajar, semuanya gemetar ketakutan juga kedinginan.
"Bukankah kalian kurang tidur dan masih ngantuk? Biarlah kubuat kalian tidur lagi lebih nyenyak,"
Belum sempat mereka tahu apa yang akan terjadi, semuanya merasa tubuh menjadi kejang, pelahan empat dari kelima orang ini roboh terus mendengkur nyenyak, Tinggal seorang lagi yang tidak roboh, ialah Kek-losam.
Keruan Kek-losam menjadi panik, kedua tangannya menggenggam kencang baju dalam sendiri, saking ketakutan lutut terasa lemas, tanpa kuasa dia terjengkang dan menumbuk meja, golok-besarnya jatuh dan menemukan suara berkelontangan.
Pelahan Siang Cin menghampiri, katanya.
"Jangan panik dan tegang, kawan."
Mendengar orang menggunakan istilah "kawan", baru Kek-losam sadar, ia bciteriak.
"Kau... kau orang mereka..."
Siang Cin mengangguk, katanya.
"Betul, aku orang mereka, orang yang berdiri di pihak Bu siang-pay."
Lunglai tubuh Kek-losam, dia tahu nasib apa yang bakal menimpa dirinya setelah terjatuh di tangan musuh, dengan lemah dia berkata.
"Kau... apa kehendakmu?"
"Asal kau tunduk pada perintahku, kau akan tetap hidup, kalau sebaliknya, kau akan mampus seketika."
Kek-losam melirik ke arah empat kawannya sahutnya.
"Baik, aku aku menurut."
"Bagus, sekarang jawab pertanyaanku. Untuk keluar-masuk kota, adakah menggunakan kode rahasia? Atau ada jalan khusus yang lain?" 310
"Aku tidak tahu, agaknya tiada, kami baru enam hari di sini, selama ini dilarang keluyuran diluar, dimana-mana terdapat larangan, ada pula tempat-tempat yang terlarang bagi siapapun."
Siang Cin perhatikan mimik dan nada bicara Kek-losam, dia yakin bahwa orang tidak berdusta, setelah merenung sejenak, Siang Cin tidak membuang-buang waktu lagi, tanyanya.
"Kek-losam, pada tanah seratusan tombak di sebelah kiri Toa-ho-tin, tegalan yang dekat hutan itu, rombongan siapa yang bertugas di sana."
Tanpa pikir Kek-sam segera menjawab.
"Mereka adalah barisan Hian-ji heng dan Toa-to kau kami."
"Kau kenal mereka semuanya?"
Tanya Siang Cin. Sambil menyengir, Kek-losam menyahut.
"Kebanyakan kukenal."
"Untuk keluar-masuk Toa ho tin kalian tidak perlu menggunakan kode rahasia apaapa, tapi di dalam kota, untuk lewat dari satu daerah ke daerah lain tentunya menggunakan kode rahasia?"
Bimbang sejenak, akhirnya Kek-losam menjawab.
"Ya, ada..."
"Apa kodenya?"
Tanya Siang Cin.
"Kalau siang memakai selempang merah mengikat golok, kalau malam sebaliknya, golok memutus selempang merah."
Tersenyum geli Siang Cin, katanya.
"Amat lucu dan menarik, sampai di mana kegunaan dari tanda-tanda ini?"
Kek-losam menelan ludah, pelan-pelan dia menerangkan.
"Pada setiap daerah yang dikuasai orang-orang Toa to-kau kita boleh mondar mandir sesuka hati dengan menggunakan tanda tadi, kalau daerah lain entahlah."
Sampai di mana daerah yang dikuasai Toa to-kau kalian?"
Melengos dari tatapan orang yang tajam, Kek-losam menerangkan dengan kebat kebit.
"Separo dari daerah jalan raya Toa-ho to."
"Orang-orang dari golongan lain, mereka berkuasa di mana saja?"
"Entahlah, biasanya kami dilarang keluar, kalau mau keluar harus minta izin dan diantar orang Ji gi-hu. Kauthau kami sudah memperingatkan siapapun dilarang main sembarangan, salah-salah kepala bisa dipenggal, maka tiada yang berani lengah di sini."
Siang Cin lantas menghampiri serta menepuk pundaknya, lalu dia membisiki apaapa sekian lama, agaknya Siang Cin harus mengulangi beberapa kali pesannya baru kemudian laki-laki tambun itu mengangguk tanda mengerti.
Maka Siang Cin meninggalkan jubah biru milik Kek-losam dan mengambil empat jubah yang lain, seperti datangnya tadi, bagai segulung angin lesus tahu-tahu ia melayang pergi.
311 Dengan cepat tanpa menemui rintangan ia telah kembali ke tempat menunggu Sebun Tio-bu dan Kin Jin tadi.
Sebun Tio-bu lantai menggerutu pnnjang pendek, Siang Cin minta maaf bahwa mereka harus menunggu sekian lama, lalu dia ceritakan pengalamannya terakhir dia menjelaskan rencananya untuk menyerbu ke Toa-ho-tin menurut apa yang telah dia selidiki tadi.
Kin Jin bertanya.
"Laki-laki gemuk bernama Kek-losam itu apakah takkan mengingkar janji?"
Siang Cin tertawa, katanya.
"Kukira dia tidak berani, bila dia berani bertingkah akibatnya akan fatal bagi dirinya sendiri."
"Hayolah lekas berangkat,"
Seru Sebuo Tio-bu tak sabaran, maka Siang Cin bagikan keempat jubah tadi.
Empat orang segera meringkaskan pakaian mereka terus mengenakan jubah biru tua itu di bagian luar.
Mengawasi empat orang itu, Siang Cin berkata.
"Perhatikan, Tangkeh dan Kin-heng harus lompat sekeras mungkin, demikian pula Le heng dan Loh-heng diharap mengikuti sepenuh tenaga, cuacu sudah mulai gelap, ini menguntungkan kita, semoga kita bisa menyelundup masuk tanpa konangan."
Lalu dia memberi tanda, segera ia mendahului melayang pergi.
Terpaksa juga Le Tang dan Loh Hou mengerahkan sepenuh tenaganya.
Dalam keremangan senja tampak lima bayangan berkelebat, begitu pesat gerakan mereka, ditambah cuaca memang sudah mulai gelap, dipandang dari kejauhan orang akan menyangka adanya bayangan burung atau gumpalan mega yang lagi bergerak.
Hanya sekejap Siang Cin sudah tiba di tempat tujuan, kini jubah kuningnya dipakainya secara terbalik, jadi warna ungu bagian dalam kini berada di luar dengan ikat pinggang warna kuning, tempat di mana sekarang dia berdiri adalah bawah loteng di mana Kek-losan berada.
Kek losan telah berdiri di sebelahnya, dengan suara tegang dia berkata.
"Agaknya mereka telah melihat adanya tanda mencurigakan sebentar pasti ada orang akan memeriksa kemari."
Sementara itu tampak bayangan orang berkelebat pula, tahu-tahu Sebun Tio-bu dan Kin Jin sudah melayang turun di kedua sisi mereka.
Siang Cm segera memberi kedipan mata kepada mereka, kedua orang maklum dan lekas menyingkir ke sana, di samping pintu tampak menggeletak empat golok tebal bcsar, mereka masing-masing memungut sebatang serta mengatur pernapasan.
Dalam pada itu Le Tang dan Loh Hou baru mencapai dua puluhan tombak, agaknya mereka telah menemukan perangkap yang berlapis-lapis itu, maka dengan gerakan gesit dan hati-hati mereka berlompatan kian kemari terus maju ke arah sini.
"Kuk, kuk", dua suara keras seperti dengkur burung tiba-tiba berkumandang di tengah kegelapan, suaranya seperti datang dari sebuah loteng kecil tak jauh di sebelah sana, begitu lenyap suara "kuk, kuk"
Ini, mendadak muncul belasan laki-laki. Siang Cin tertawa, katanya.
"Kek-losam, tibalah saatmu untuk naik pentas."
Dengan nekat terpaksa Kek-losam memburu maju, baru saja beberapa langkah, orang-orang Toa-to-kau yang berlari tiba itu sudah melihatnya, seorang yang berhidung pesek sebagai pimpinan rombongan segera berteriak.
"Kukira siapa, kiranya kau Kek-losam, kenapa tidak lekas kau panggil teman-temanmu, untuk apa berdiri melenggong disitu?"
Kek losam bergelak tertawa, segera dia tarik suaranya yang serak.
"Jangan gembargembor, mungkin kalian sudah pusing tujuh keliling, masa orang sendiri juga dicurigai."
Si hidung pesek melenggong, dia tidak menghiraukan Kek-losam. tapi dia menoleh ke arah Le Tang dan Loh Hou yang lagi lari mendatangi, hardiknya.
"Berdiri, selempang merah mengikat golok."
Le Tang dan Loh Hou terpaksa berhenti dan berdiri sambil bertolak pinggang, tanpa sangsi mereka berseru juga.
"Golok niemutus selempang merah. Hari sudah gelap, saudara-saudara masih giat bekerja juga?"
Keruan si hidung pesek kebingungan, serunya menoleh ke arah Kek-losam.
"Keklosam, apakah mereka juga orang kita sendiri?"
Kek-losam mendengus, segera dia maju mendekat serta berkata dengan lagak misterius "Bukan saja orang sendiri, malah mereka adalah orang-orang Ji-gi-hu yang pegang peranan di sini."
Kembali melenggong si hidung pesek berkata dengan nada curiga.
"Ada orang Ji-hi hu yang pegang peranan? Kenapa tidak lewat jalan rahasia malah keluyuran di daerah perangkap, Herannya, kami tidak diberi tahu sebelumnya."
Serentetan pertanyaan ini membikin Kek-losam gelagapan, baru saja dia hendak bicara, Sebun Tio-bu telah maju ke depan, dia singkirkan Kek-losam ke samping, lalu melirik hina pada si hidung pesek, katanya.
"Ada apa, kawan? Melihat sikapmu, agaknya kau tidak pandang sebelah mata kepada kami." --------------------------------Cara bagaimana rombongan Siang Cin akan mengerjai pihak musuh? Adakah perangkap licik dan lihay yang teratur di Toa ho tin? Dapatkah pihak Busiang-pay membobolnya? Bara Naga
Jilid 16 Sambil mendengus si hidung pesek menghardik bengis.
"Siapa kau?" 313 Melotot mata Sebun Tio bu, serunya gusar.
"Memangnya kau keparat ini boleh bertanya seenak udelmu? Aku berdiri di sini, berjajar dengan anak buah Toa to kau kalian, mengenakan pakaian pinjaman kalian lagi. Keparat, coba katakan siapa sebetulnya aku ini?"
Seperti disiram air dingin si hidung pesek tersentak mundur, sikapnya yang garang tadi seketika kuncup, dengan kebingungan dia menoleh ke arah Kek losam.
Lekas Kek losam menghampiri, katanya dengan prihatin.
"Bi thaubak, kau harus hati2 menjaga batok kepalamu, saudara ini adalah pentolan Ji ih hu jagoan yang paling di sayang oleh Jan kong, bahwa mereka mengenakan pakaian kita hanya untuk mengelabui orang, tujuannya adalah mencari berita tentang keadaan pihak Bu siang pay. Baru saja mereka kembali dari menunaikan tugas, mereka sama mengumpat, soalnya lima orang yang diutus ke sana kini tinggal dua orang saja yang kembali. Nah itulah mereka, kalian sudah melihatnya, tiga orang temannya sudah menghadap Giam lo ong. dan kau masih bertingkah di depan orang, apa kau sengaja mencari penyakit?"
Kek losam ditariknya ke pinggir, lalu si hidung pesek berkata dengan suara tertahan.
"Ucapannya memang masuk diakal, Kek losam, herannya kenapa mereka tidak menggunakan jalan rahasia itu tapi malah main2 disini mencari kesulitan?"
Kek losam menarik muka, katanya.
"Bi thaubak, bicara soal kedudukan di dalam Kau kita memang kau lebih tinggi, tapi soal pengalaman, kau Bi An bukan apa2 bagiku, usiaku juga lebih tua. Coba kau pikir, dengan mengenakan pakaian kita, kalau tidak pulang lewat daerah kekuasaan kita sendiri, lalu mereka akan lewat mana? Meski mereka tahu kode rahasia yang digunakan di mana2, namun seragam mereka jelas berbeda, memangnya orang tidak menaruh curiga terhadap mereka? Apalagi Toa-ho tin boleh dikatakan sudah terjaga ketat, setiap langkah berbahaya, apa betul ada jalan rahasia khusus seperti apa yang kau maksudkan, itupun urusan pihak atas, memangnya kau juga harus diberi penjelasan? Lalu jalan rahasia macam apa lagi? Kan bisa bocor, bukan mustahil pihak Bu siang pay pun akan tahu rahasia ini ....."
Si hidung pesek yang bernama Bi An menggosok telapak tangan, dia memang sudah percaya akan uraian Kek losam, tapi dia masih belum terima, katanya.
"Kek losam, masih ada yang belum kumengerti, bahwa mereka adalah orang dari Ji ih hu, kenapa kau yang dicari mereka?"
Kek losam mendengus gusar, semprotnya.
"Apa? Memangnya aku Kek Sam ini keroco, tidak setimpal mengikat hubungan dengan mereka? Hanya Thaubak macam kau ini yang berbobot bersahabat dengan mereka?"
"E eh, memangnya kenapa kau ini?"
Lekas Bi An menariknya.
"aku hanya tanya sambil lalu saja, kenapa harus naik pitam? Sedikitnya kau juga harus pikirkan kepentinganku, kan aku harus memberi laporan pada atasan, suara sempritan tadi juga sudah kau dengar, pihak atas sudah tahu adanya kejadian, bila aku tidak bisa memberi laporan lengkap dan jelas, coba hukuman apa yang akan menimpa diriku?"
Melihat mereka bisik2 tak habis2. Kin Jin yang berada di belakang segera menghampiri, katanya dengan sikap gelisah.
"Losam, Toa ah ko dari Ji ih hu marah2, dia suruh kutanyakan kalian apa maksud kalian sebenarnya, apakah sengaja hendak mempersulit kerja mereka?" 314 Belum Kek Sam menjawab, Bi An cepat berkata.
"Lote, sukalah kau memberitahukan, katakan kami hanya tanya2 sambil lalu, tiada maksud apa2, sekarang kalian boleh pergi, kami tidak ada maksud menahan"
Lalu dia angkat golok tiga kali serta diputar satu lingkaran, maka orang2 Toa to kau yang siaga sejak tadi segera mengundurkan diri.
Di atas loteng, di sekeliling tempat itu serempak terdengar suara daun jendela ditutup, tidak ada suara menggerutu, pedang golok diletakkan, busur yang sudah terpasang panah juga diturunkan.
Dengan sikap kereng Sebun Tio bu lantas menghampiri, katanya.
"Kek Sam, dia sudah tanya belum? Apa kami hendak di tahan dan diadukan ke Ji ih-hu? Atau digusur ke hadapan Han mo siang kiu?"
Sudah tentu semakin mengkeret nyali Bi An mendengar omongan ini, kini dia lebih yakin bahwa beberapa orang ini memang jago2 lihay dari Ji-ih hu, kalau tidak masa berani bersikap garang seperti ini.
Siang Cin yang sejak tadi diam saja kini ikut bicara juga, malah sikapnya lebih meyakinkan lagi.
"Kalian masih cerewet apa dengan dia, sampai sekarang orang kita belum juga masuk kemari, kalau terlambat siapa yang akan di marahi Jan kong nanti? Kiau Hiong dan lain2 juga sedang menunggu"
Lekas Sebun Tio bu berlagak gelisah, katanya.
"Ya Toako, urusan sudah selesai, hanya keparat2 di sini yang bikin ribut ... ..."
Ter sipu2 Bi An menjura, katanya.
"Harap Toa-ah ko maafkan kepicikan hamba, maklumlah menjalankan tugas tidak boleh lalai, tentunya Toa ah-ko juga maklum, sukalah memberi kelonggaran untuk kali ini."
Sebun Tio bu melirik hina, bentaknya.
"Lekas suruh orangmu menyambut kawan kami itu"
Bi An seperti tersadar, lekas dia mengulap ke belakang seraya memaki.
"Gui poan cu, Siau Ian bik, lekas kalian sambut kedua Toako itu, kenapa melongo saja melihat tontonan apa?"
Dua orang yang disebut namanya segera tampil dari barisan, tanpa diperintah lagi mereka lari ke sana memberi petunjuk kepada Le Tang dan Loh Hou yang sedang kelabakan mencari jalan ke sini.
"Bi taubak"
Ucap Sebun Tio bu tidak sabar.
"tanah lapang di depan ini adalah daerah kekuasaan kalian, perangkap di sini juga kalian yang mengaturnya, kau sendiri apal tidak akan seluk beluk di sini? Maksudku dari arah mana boleh lewat dan disebelah mana yang terlarang?"
Bi An unjuk tawa, katanya.
"Toa ah ko, bicara terus terang, tempat ini dikerjakan bersama dengan orang2 Hek jiu tong, keadaan seluruhnya aku sendiri kurang jelas, tapi bagian yang tidak berbahaya dapat kutunjukkan. Tentunya engkau juga tahu, kecuali gantolan baja, jala sutera dan tanduk menjangan yang dapat melukai orang atau merintangi serbuan musuh, yang lain2 adalah benda2 mati, asal sedikit hati2, pasti takkan terjadi apa2."
Sekilas dia melirik Sebun Tio bu, lalu menyambung dengan lagak sok tahu.
"Tapi bila semua perangkap itu digerakkan, ditambah tenaga manusia kita yang bersembunyi diberbagai tempat, bila musuh berani terjang kemari, haha, itu berarti mereka 315 menerjang ke neraka, maklumlah, karena kekuatan perangkap yang akan digerakkan itu terlampau dahsyat."
Sebun Tio bu berkata dengan tidak sabar.
"Bi-thaubak, se akan2 kau ini tahu betapa besar kekuatan perangkap2 itu?"
Bi An menyengir kikuk, katanya.
"Ah, hamba memang tidak tahu persis, tapi ....tapi apa yang hamba uraikan rasanya takkan selisih jauh dengan keadaan sebenarnya."
Dalam pada itu Loh Hou dan Le Tang sudah berhasil menyusuri lapangan yang berbahaya itu meski dengan hati kebat kebit dan mandi keringat.
Melihat kedua orang ini berambut panjang terurai di pundak, Bi An bersuara heran dan menyatakan rasa sangsinya.
Cepat Sebun Tio bu pura2 mendamperat.
"Tolol, kalau mereka tidak menyamar begini, cara bagaimana mereka dapat menyusup ke Bu siang pay untuk mencari berita? Hayolah, sekarang lekas kita berangkat, jangan buang2 waktu untuk mengobrol tugas lebih penting."
Lalu ia mengangkat tangan sebagai tanda memberi salam kepada Bi An, segera ia membawa Le Tang dan Loh Huo serta Ke Sam melangkah ke arah Siang Cin sana.
Diam2 Kin Jin tertawa geli, dengan membusungkan dada ia lantas ikut di belakang mereka.
Ber turut2 mereka masuk ke ruangan loteng, baru saja Kin Jin menutup pintu, serentak Ke Sam berlutut sambil rneratap.
"Mohon betas kasihan tuan2, janganlah kalian meninggalkan hamba, betapapun hamba harus diikutkan bersama kalian, kalau tidak, jiwa hamba pasti akan melayang di sini ...."
Siang Cin membangunkannya dengan tertawa katanya.
"Jangan kuatir, jasamu tidak kecil, apalagi sudah kujanjikan akan mencarikan jalan hidup bagimu, apa yang dikatakan Naga Kuning tak pernah dijilat kembali."
"Hah, jadi engkau si Naga Kuning Siang . .... Siang toaya?"
Seru Ke Sam dengan terkesiap.
"Wah, jika demikian, hamba lebih2 harus ikut serta bersama kalian."
"Sekarang kau tidak dapat ikut kami,"
Sela Kin Jin.
"Kami masih harus menerjang ke Ji ih hu."
Ke Sam tampak putus asa, keluhnya.
"Wah, jika demikian, jelas jiwa hamba tak ....tak tertolong lagi."
"Tidak, kau takkan mati,"
Kata Siang Cin.
"Loteng ini kan ada lagi langit2nya, boleh kau sembunyi di situ, besok pagi keselamatanmu tidak perlu disangsikan lagi."
"Mak ....maksud Siang toaya ..."
Dengan bingung Ke Sam memandang Siang Cin dan mohon penjelasan.
"Besok pagi2 pasukan berkuda Bu Siang pay akan menyerbu ke Toa ho tin sini,"
Tutur Siang Cin.
"Tapi ....tapi anak buah yang tinggal di loteng ini sebentar lagi akan pulang, bila mereka mengetahui kejadian di luar sana ...." 316 Belum habis ucapan Ke Sam, mendadak Bebun Tio bu mendesis pelahan, segera Siang Cin juga mendengar suara langkah orang di luar, dari suaranya yang riuh mungkin ada berpuluh orang banyaknya.
"Me ....mereka sudah pulang,"
Ke Sam menjadi kelabakan dan tampak tegang.
"Kenapa mesti takut, kan sudah dalam dugaan?"
Ujar Siang Cin dengan tertawa.
Dalam pada itu suara berisik orang bicara kedengaran sudah mendekat, segera pintu didorong orang, serombongan lelaki berbaju biru terus membanjir masuk.
Begitu masuk, serentak mereka menerjang ke atas loteng, ada sebagian menuju ke kamar samping semuanya tampak lelah dan kotor sambil mengomel dan menggerutu be ramai2 mereka mencari air minum sehingga tiada yang memperhatikan malaikat elmaut sedang menantikan mereka di belakang pintu.
Sudah barang tentu, dengan mudah dan singkat rombongan orang yang naik ke atas itu disikat habis oleh Siang Cin.
Sisanya di serambi bawah juga di bereskan oleh Loh Hou dan Le Tang.
Sebun Tio bu mengebut baju sambil menggerutu katanya.
"Keparat, bikin kotor tangan melulu."
Habis berkata ia memberi tanda, mereka terus menyelinap keluar, dengan gesit seperti kucing mereka berlima terus menyusur ke depan dalam kegelapan.
Setiba di suatu pengkolan jalan, dengan cepat mereka mendekam ke bawah, dengan pandangan tajam mereka menyelidiki keadaan sekitarnya.
Dengan suara tertahan Sehun Tio bu bertanya.
"Siang heng, apakah kautahu jelas arah letak Ji ih hu?"
"Tidak jelas,"
Siang Cin menggeleng.
"Ji ih hu pasti sangat mentereng bangunannya, asalkan kita menemukan gedung yang paling megah di situ, pasti tidak keliru lagi,"
Bisik Kin Jin. Setelah berpikir sejenak, Siang Cin berkata.
"Betul juga. Sekarang kita membagi diri menjadi tiga kelompok dan maju ke depan secara ber turut2 aku sendiri membuka jalan, Sebun tangkeh dan Le Tang satu kelompok, Kin heng dan Loh Hong satu kelompok. Dengan cara begini jejak kita takkan terlalu menyolok, bila perlu juga mudah saling membantu."
Keempat orang mengangguk setuju, segera Siang Cin melayang ke depan, hanya sekali berkelebat saja ia sudah berada beberapa tombak jauhnya.
Sebun Tio bu menepuk pundak Le Tang, segera mereka menyusul ke sana.
Habis itu Kin Jin dan Loh Hou juga ikut melayang maju.
Siang Cin sudah melintasi sebuah jalan melintang, di sebelah sana ada sederetan barak pendek, di seberang barak sana adalah pepohonan yang lebat.
Di balik rumpun pohon yang rindang sana tampak bayangan sebuah gedung yang megah dengan kerlipan cahaya lampu yang tak terhitung banyaknya.
Selagi Siang Cin hendak berpaling untuk memberi tanda kepada kawan2nya, tiba2 didengarnya suara langkah orang di balik deretan barak sana, cepat ia menempelkan tubuhnya ke dinding.
317 Benar juga, segera muncul dua regu lelaki berbaju merah dengan senjata terhunus, barisan ronda ini kelihatan bertugas dengan tegang, dengan cepat barisan ronda inipun berlalu ke sana.
Baru saja Siang Cin merasa lega, tiba2 dilihatnya dari arah jalan melintang sana berlari datang pula satu barisan orang, sayup2 terdengar pula suara pernapasan binatang yang ter engah2.
Cukup cepat reaksi Siang Cin, begitu mendengar suara itu segera ia tahu gelagat jelek, suara napas itu jelas suara binatang buas sebangsa anjing pelacak yang ganas.
Karena waktunya sudah mendesak, Siang Cin tidak sempat berpikir panjang lagi, cepat ia bertepuk tangan dua kali, lalu menyongsong barisan ronda musuh yang datang itu.
Barisan ini berseragam ungu coklat, baik baju maupun celana terbuat dari kulit, berjumlah 20an orang.
Delapan orang di depan masing2 menuntun seekor anjing belang yang kekar sebesar anak sapi.
Kawanan anjing ini cukup menakutkan, kepala besar hidung pesek, mulut lebar dengan taringnya yang menyeringai, warna bulunya yang kuning hitam dan ber tutul2 dengan suaranya yang galak, tampaknya menjadi seperti harimau total.
Dari jauh kawanan anjing itu sudah mencium bau Siang Cin, seketika kawanan anjing itu meronta, delapan pasang mata terus mengincar ke arah Siang Cin, sambil menyalak buas.
Tampaknya orang2 berseragam baju kulit itupun sudah terlatih baik dan berpengalaman, begitu melihat tanda2 mencurigakan, serentak mereka memencarkan diri.
Tapi Siang Cin tidak memberi kesempatan pada mereka untuk bertindak, secepat kilat ia telah melayang tiba.
Salah seorang lelaki yang bermuka bengis dengan golok terhunus segera memapak maju sambil membacok, berbareng iapun berseru.
"Kepung dia!"
Kedelapan ekor anjing buas itupun segera dilepaskan, serentak kawanan anjing itu menggonggong dan menubruk maju.
Pada saat itu juga Siang Cin sudah berhasil mengerjai lelaki tadi, sedikit mengegos ia dapat menghindarkan bacokan musuh, berbareng telapak tangannya menabas, kontan lelaki itu mencelat dan tak bangun lagi.
Dengan gerak cepat Siang Cin merobohkan beberapa orang pula sebelum kawanan anjing itu menerjang tiba, Malahan seorang kena dipegangnya terus digunakan untuk menyerampang kawanan anjing buas itu, anjing pertama mengaing kesakitan dan terguling, menyusul Siang Cin terus menubruk maju, sekali tangannya menabas, dua ekor anjing menggeletak pula dengan perut pecah dan usus kedodoran.
Keruan orang2 berseragam baju kulit itu menjadi panik, seorang di antaranya berteriak.
"Lekas siarkan tanda bahaya, ada mata2 ......"
Belum habis ucapannya, orang inipun terguling didepak oleh Siang Cin.
Pada saat lain, seorang yang bermaksud menyergap Siang Cin dari belakang, tak terduga 318 mendadak Siang Cin berputar dan sekali sodok, kontan orang inipun mencelat jauh dan sekarat.
Seketika terdengar jeritan orang dan gonggongan anjing yang ramai, tanpa ampun Siang Cin masih terus main babat, hanya dalam waktu singkat baik orang2 itu maupun kawanan anjing itu telah dibereskan seluruhnya.
Pada saat itu jnga baru terdengar di kejauhan ada suara langkah orang sedang berlari ke arah sini, agaknya peronda di sana telah merasakan sesuatu yang mencurigakan yang terjadi di sini.
Sekilas Siang Cin memandang kawanan anjing yang sudah menggeletak itu, cakar anjing2 itu tampak mengkilap.
Ia mendengus, cepat ia melayang kembali ke tempatnya tadi.
"Bagaimana, Siang heng?"
Terdengar suara Sebun Tio bu bertanya.
"Beres,"
Jawab Siang Cin.
"Di balik hutan sana pasti Ji ih hu."
Tetap terbagi menjadi tiga kelompok, segera mereka melintasi deretan barak tadi, hanya sekejap saja suara bentakan dari bayangan orang di tempat kekacauan tadi sudah ditinggalkan jauh.
Kini mereka sedang mendaki tebing yang menuju ke hutan sana.
Pada ketinggian tebing itu ada beberapa bagian yang mendekuk ke bawah, jelas di situlah pos penjagaan tersembunyi.
Siang Cin memberi tanda ke belakang, habis itu secepat terbang ia terus melayang ke atas, sekali melejit lagi di udara ia terus lenyap ke dalam hutan.
Tentu saja penjaga di tanah yang mendekuk itu terkesiap dan sama mendongak, mereka sama ragu2 barang apakah yang melayang lewat barusan.
Pada saat itu juga Sebun Tio bu dan Le Tang sudah menggeremet tiba, mendadak mereka menubruk para penjaga itu.
Ada tiga orang penjaga di sini, karena sedang melongo kesima oleh bayangan Siang Cin tadi, tahu2 mereka disergap sehingga sama sekali tidak sempat bersuara dan berkutik.
Pada saat yang sama Kin Jin dan Loh Hou juga telah membereskan pos penjaga yang lain.
Tempat di tepi hutan di bagian lebih atas sana juga ada sebuah pos jaga.
Agaknya ketiga orang disitu mendengar sesuatu yang tidak beres, satu di antaranya berteriak menegur.
"Siau loji, ada apa di sana?"
Sudah tentu tiada orang menyahut, keruan orang yang bertanya itu merinding sendiri. Belum lagi ia buka suara pula, tiba2 terdengar orang menjawab dengan suara tertahan.
"Ada makanan enak, kaupun perlu merasakan."
Cepat juga reaksi orang ini, begitu mendengar suara tidak beres, segera ia angkat golok terus membacok.
Dia memang cepat, tapi Siang Cin terlcbih cepat baru saja golok terangkat, kepalan Siang Cin sudah mampir dulu di dadanya, Kontan ia tumpah darah dan roboh 319 terkulai.
Dua temannya menjadi kaget, sebelum mereka bertindak, yang satu sudah kepala pecah dan yang lain isi perut berhamburan.
Rupanya setelah Siang Cin memancing munculnya penjaga2 di depan tadi, lalu ia sendiri menyergap pos penjaga terakhir ini.
Selesai ia kerjai musuh, sementara itu Sebun Tio bu dan lain2 juga sudah memburu tiba.
"Beres?"
Tanya Kin Jin kepada Siang Cin.
"Kan tidak terlalu sulit?"
Jawab Siang Cin sambil tersenyum dan mengangguk.
"Langkah berikutnya kukira harus langsung menuju Ji ih hu,"
Ujar Sebun Tio bu.
"Ya, tampaknya bangunan megah di balik hutan sana itulah Ji ih hu."
Kata Siang Cin.
"Kita tetap terbagi menjadi tiga kelompok dan saling melindungi. Bertindaklah menurut keadaan."
Tanpa menunggu jawaban, segera Siang Cin mendahului melayang ke sana, hanya sekali berkelebat saja ia sudah lenyap ke dalam hutan.
Setiba di bawah pohon besar, dari balik pohon Siang Cin mengintai ke sana.
Terlihat bangunan di depan memang sangat besar dan luas.
Di depan gedung megah itu ada sebuah tugu yang terukir tiga huruf besar "Ji ih hu".
Ji ih hu ini berbentuk benteng segi empat, tampaknya sangat kukuh, letaknya di tanah yang tinggi dan menghadap Toa ho tin yang agak miring di bagian bawah.
Benteng ini jelas sangat strategis, untuk menjebol benteng demikian jelas tidak mudah kalau tidak terjadi banjir darah lebih dulu..Siang Cin berkerut kening melihat betapa kuatnya sarang musuh ini.
Sebun Tio bu dan lain2 juga sudah menyusul tiba.
Merekapun terkesiap melihat tcmpat yang luar biasa itu, Sebun Tio bu lantas menggerutu.
Setelah berpikir sejenak, Siang Cin berkata.
""Kalau bisa membobol pintu gerbang atau menjebol beberapa jendela, mungkin keadaan akan mendingan, tapi kalau harus menyerbu secara terbuka, apalagi cuma tenaga kita beberapa orang ini, jelas tak berguna."
"Siang heng,"
Kata Sebun Tio bu tiba2.
"apa sudah kau perhatikan, sekeliling tembok benteng Ji ih hu tiada nampak bayangan seorangpun."
"Ya, kukira penjaga mereka pasti bersembunyi pada tempat2 tertentu,"
Ujar Siang Cin. Sejenak kemudian ia menyambung pula.
"Jalan paling baik sekarang agaknya aku harus menyerempet bahaya sekali lagi. Biar akn sendiri menyusup ke dalam benteng diam2 akan kusiapkan sebuah tempat luang agar kalian dapat menyusup ke dalam. Habis itu kita akan memperhitungkan waktu penyerbuan Bu siang pay nanti, lalu kita berusaha membobol pintu untuk membantu serbuan mereka."
Karena tiada jalan lain, semua orang tentu saja menerima gagasan Siang Cin ini.
"Hendaknya Siangheng bertindak hati2, Ji ih hu bukan tempat sembarangan, lawan2 tangguh juga tak terhitung banyaknya,"
Demikian pesan Sebun Tio bu. 320
"Aku tahu,"
Ujar Siang Cin dengan tersenyum dan penuh keyakinan.
Habis bicara, dengan gesit ia lantas melayang ke depan.
Begitu cepat gerakan Siang Cin, tugu berhuruf emas besar itu telah dilintasinya, dari situ ia terus melayang ke atas tembok benteng yang tingginya sekitar lima tombak itu.
Baru saja ia hinggap di jalan berlingkar di dalam tembok benteng, segera didengarnya suara "krek krek"
Yang pelahan, cepat ia mendekam.
Hah, kiranya beberapa langkah di sebelah sana, sebotong batu lantai mendadak bergeser, menyusul dua kepala manusia lantas menongol dan celingukan kian kemari, seorang di antaranya mendesis pelahan.
"Keparat apakah kau lihat dengan jelas? Mana ada bayangan orang segala?"
Temannva tampak ragu2 sejenak, katanya.
"Dari balik jendela rahasia kulihat bayangan berkelebat, lantaran terlalu cepat, akupun tidak berani bilang ....."
Orang pertama tadi mendengus, omelnya.
"Mungkin kau lihat setan."
Habis itu batu tadi lantas merapat kembali.
Maka selamatlah Siang Cin.
Segera turun dari tembok benteng dan melayang ke arah beberapa bangunan megah di tengah sana.
Kini Siang Cin sudah dapat memperkirakan keadaan seluruh bangunan Ji ih hu.
Tempat ini memang betul sebuah benteng persegi, di tengah2 ada tanah lapang, di situ ada tujuh bangunan bersusun, tampaknya ketujuh gedung itu berdiri sendiri, tapi satu dan lain sebenarnya dihubungkan dengan serambi panjang.
Antara loteng satu dan loteng yang lain juga dihubungi dengan jalan tembus.
Di sekeliling gedung2 ini ada kolam ikan, gunung2an buatan, bunga mekar dengan indahnya, Siang Cin langsung menuju ke gedung yang paling megah, diam2 iapun merancang tindakan apa yang akan dilakukannya.
Pikirnya.
"Hek jan kong yang mendiami Ji ih hu ini tampaknya tidak cuma tinggi Kungfunya, tapi juga sangat memperhatikan kenikmatan hidup se-hari2. Melulu dari bangunan bentengnya saja dapat diperkirakan dia pasti bukan sembarangan tokoh Kangouw."
Sembari berpikir, dengan cepat Siang Cin menyelinap ke balik gerombolan gunung2an palsu.
Sekelilingnya sangat gelap dan sunyi, tiada nampak seorang perondapun.
Sebagai seorang yang sudah belasan tahun berkecimpung di dunia Kangouw, Siang Cin sudah banyak menghadapi bahaya apapun.
Dia tahu, kesunyian yang dihadapinya ini bukan alamat baik.
Lawan jelas bukan orang bodoh, dalam suasana pertempuran begini mustahil tinggal adem ayem begini.
Yang pasti, tentu segala sesuatu telah diatur secara tersembunyi, dalam kegelapan pasti menanti perangkap2 maut yang setiap saat dapat menjebaknya.
Dari tempat sembunyinya Siang Cin coba meneliti sekitarnya dengan cermat, cukup lama juga, akhirnya dapatlah dia menemukan sesuatu permainan kecil yang menarik.
Maka tertawalah dia.
rupanya dilihatnya bahwa di tempat2 yang tak menyolok, antara satu dan lain telah digandeng dengan seutas tali sutera warna ungu.
Tempat yang dirintangi tali sutera itu justeru adalah tempat yang biasa dilalui orang pejalan malam, pada ujung tali 321 sutera itu ada yang tertanam ke dalam tanah, ada yang menghilang di semak2 rumput, ada juga yang lenyap di celah2 gunung buatan.
Siang Cin tahu, bilamana tali sutera itu tersentuh, maka sedikitnya akan menimbulkan dua akibat.
Kalau tidak menimbulkan tanda bahaya, tentu akan menimbulkan bekerjanya alat perangkap.
Diam2 ia menghela napas lega, untung dia cukup cermat, kalau tidak, bukan mustahil akan menimbulkan malapetaka.
Setelah mengaso sejenak, mulailah Siang Cin beraksi pula.
Dengan hati2 ia menggremet ke depan, akhirnya ia sudah dekat dengan undak2an batu di depan gedung besar itu.
Sudah tentu ia tidak berani langsung menerjang ke dalam, maka ia berjongkok di bawah pagar serambi dan merunduk maju dengan pelahan.
Se konyong2 terdengar suara tindakan orang dari ujung serambi sana.
Seketika Siang Cin berhenti di tempat.
Diam2 ia memperhatikan arah datangnya suara.
Sejenak kemudian muncul dua sosok bayangan orang.
Kedua orang ini bertubuh tinggi besar, setengah baya.
Yang satu berwajah dingin, seorang lagi bermuka tirus, keduanya sama bungkam tanpa bersuara, dengan langkah cepat mereka lalu di tempat sembunyi Siang Cin dan menuju ke pintu gedung bertingkat di depan sana.
Siang Cin benar2 seorang cermat, dari gerak-gerik kedua orang itu serta cara mereka melangkah tanpa bersuara, akhirnya dapat diketahui pula oleh Siang Cin sesuatu yang menarik.
Rupanya lantai serambi panjang itu terdiri dari ubin dua warna, putih dan kelabu.
Anehnya langkah kedua orang tadi selalu berpijak pada ubin putih yang agak menonjol, sedangkan ubin kelabu yang agak ambles ke bawah sama sekali tidak disentuhnya.
Jelas ini bukan secara kebetulan saja.
Sementara itu.
kedua orang tadi sudah sampai di depan pintu, daun pintu itu sangat besar dan terbuat dari kayu Tho yang berat.
Kedua orang itu tidak mengetuk pintu, tapi pintu lantas terbuka sendiri, di balik pintu berdiri seorang lelaki kekar sedang membungkuk tubuh memberi hormat kepada kedua orang.
Sesudah pintu tertutup pula, segera Siang Cin memeras otak dan mulai mencari tahu sebab musababnya.
Kedua orang tadi berjalan tanpa bersuara, juga tidak memberikan sesuatu tanda rahasia apa2, tapi orang di balik pintu seperti sudah tahu siapa yang datang.
Mengapa bisa begini?
Jawabnya cuma satu, yakni sepanjang perjalanan kedua orang itu, baik bangun tubuh dan wajah mereka sudah dapat diketahui oleh pesawat rahasia yang tepasang di tempat tersembunyi, dengan lain perkataan, yang datang ini kawan atau lawan sudah diketahui sebelum tiba di pintu sana.
Lalu berada di manakah alat rahasia itu dipasang?
Benda apakah itu?
322 Pelahan, sejengkal demi sejengkal Siang Cin terus menggremet maju dan memeriksanya dengan sangat teliti.
Akhirnya, hampir saja ia berteriak gembira.
Aha, kiranya permainan begini!
Rupanya di bawah atap serambi panjang itu, pada setiap sepuluh langkah tentu bergantung sebuah lampu kaca yang besar.
Cahaya lampu sangat terang sehingga sepanjang serambi inipun terang benderang Sedangkan di sepanjang lankan (pagar) serambi, setiap pilar dan setiap belandar atap serambi, banyak terhias kepingan tembaga berbentuk bulat sebesar baskom.
Tembaga ini kuning mengkilap dan seperti diberi bergambar, kalau dipandang sepintas lalu akan disangka sebagai benda hiasan belaka.
Tempat kepingan tembaga kuning gilap itupun aneh, jarak dan urutannya tidak teratur, namun didasarkan pada sudut pantulan sinar yang dapat dicapai.
Jadi kepingan kuningan itu serupa sebuah cermin saja, asalkan ada orang lalu di bawahnya, bayangannya akan tercermin ke dalam kepingan tembaga itu terus dipantulkan ke arah kepingan tembaga yang lain, lalu dari kepingan tembaga berikutnya dipantulkan lagi lebih lanjut dan begitu seterusnya.
Dengan demikian, maka penjaga yang tersembunyi akan dapat mengetahui dengan jelas pendatang ini kawan atau lawan.
Siang Cin tersenyum memandangi kepingan tembaga yang terpaku di tepi jendela di atas loteng sana.
Ia sangat kagum kepada pencipta alat rahasia yang hebat ini, sungguh jenius si pencipta ini.
Cuma sayang, bakat yang sukar dicari itu bisa jadi akan hancur dalam semalam ini.
Selagi Siang Cin hendak mencari akal untuk maju ke sana, tiba2 terdengar pula suara orang berjalan di belakang, yaitu di balik gunung2an palsu tempat sembunyinya tadi, tahu2 dari sana muncul belasan bayangan orang, agaknya sedang mencari jejaknya dengan memeriksa tanah yang dilaluinya tadi.
Terdengar seorang di antaranya mengomel.
"Keparat, jelas2 ada bayangan orang berkelebat di sini, mengapa tidak kelihatan sekarang?"
"Jangan banyak curiga, mungkin matamu sudah lamur, tapi lagakmu seperti orang yang paling awas,"
Gerutu temannya.
"Ya, mana ada bayangan orang?"
Sambung yang lain.
"Bayangan setan saja tidak ada. Di depan Kin bing tian ( (istana kaca emas) terdapat tujuh genta dan 16 batang pipa pengintai, para penjaganya saja tidak melihat apa2, masa matamu lebih awas daripada puluhan orang lain?"
Begitulah setelah olok berolok, lalu orang2 itupun meninggalkan tempat itu dan lenyap dalam kegelapan.
Berdasarkan ucapan orang2 tadi, Siang Cin mulai men cari2 pula di halaman situ, benar juga ditemuinya belasan batang pipa yang terjulur ke arah yang ber beda2, pipa itu cuma menonjol beberapa senti di permukaan tanah dan entah menembus ke mana.
Mungkin inilah yang disebut pipa pengintai?
Tadi Siang Cin tidak tahu ada pipa2 begini, tapi mengapa jejaknya belum diketahui musuh?
Mungkin saking cepat gerakannya, alasan lain tidak ada.
323 Setelah berpikir sejenak, dengan kecepatan kilat Siang Cin melayang ke pipa pengintai yang terletak di ujung kiri sana.
Setiba di situ, secara iseng ia gunakan telapak tangannya untuk menutup mulut pipa, dengan santai ia menunggu reaksinya.
Benar juga, tidak seberapa lama terdengarlah suara gempar di bawah.
meski teraling oleh selapis tanah juga dapat didengar Siang Cin suara seorang sedang meraung gusar.
"Dirodok, siapa yang berani bergurau dengan menutup mata pipa? ......Poa Keng, coba naik sana, periksalah apa yang terjadi. Besar kemungkinan si keparat Co Liang ....."
Terdengar suara seorang mengiakan dengan samar2, lalu di belakang pipa pengintai ini, permukaan tanah seluas tiga kaki mulai ber gerak2, dengan cepat tertampaklah celah2 lubang dan sebuah kepala lantas menongol keluar.
Belum lagi melihat jelas apa yang terdapat di luar, lebih dulu ia sudah mencaci maki.
"Hei, Co Liang, kau keparat, apakah kau cari mampus? Kaukira ini waktunya bergurau, mengapa kau tutup mata pipa? Jika terjadi sesuatu kepalamu bisa berpisah dengan tuanmu?!". Siang Cin tertawa.
"sret", sekali telapak tangannya terayun, kontan orang itu terkulai ke bawah tanpa mengeluarkan suara, tubuhnya terus terperosot jatuh ke bawah. Menyusul Siang Cin lantas menyusup juga ke dalam liang tanah itu. Liang di bawah tanah itu luasnya kira2 dua tombak dan diberi tangga tanah ke lubang liang, penutup lubang liangnya terbuat dari batu, di tepi tangga tanah itu ada sebuah lubang kecil, sebuah pipa besi menembus masuk dari situ, seorang tampak memicingkan sebelah mata sedang mengintai ke atas. Selain itu ada pula belasan orang sedang bertiduran seperti babi mampus. Orang yang dihantam mati oleh Siang Cin tadi terperosot jatuh ke bawah dan meringkuk di samping tangga, namun teman2nya tiada yang ambil pusing, seorang yang berhidung besar malah mendamperat.
"Keparat, Poa Kong, barangkali kau sudah terlalu banyak menenggak air kencing makanya tangga setinggi itu saja tidak mampu mendakinya, biarlah kau mampus terjatuh."
Dengan pelahan Siang Cin menutup lubang itu, lalu melangkah turun dengan lagak kawan sendiri, katanya dengan tersenyum.
"Memang, dia benar2 telah mampus terjatuh."
Si hidung besar hanya mendengus saja sambil mengomel.
"Biarkan mampus, peduli amat!"
Tapi mendadak ia terus berbangkit dan memandang Siang Cin dengan terbelalak, sejenak kemudian baru menegur.
"Kau . ...kau siapa?"
"Kudatang untuk mencabut nyawa anjing kalian!"
Jawab Siang Cin dengan tak acuh. Seketika si hidung besar seperti disengat tawon, ia melompat bangun sambil berteriak.
"Ada mata2 musuh!"
Dengan tenang Siang Cin mengangguk, ia membalik tubuh, sekali hantam ia bikin orang yang sedang mengintai itu terkapar, menyusul si hidung besar juga terpental kena ditendang olehnya.
Hanya sekejap saja belasan orang telah dibinasakan seluruhnya.
324 Tanpa ayal Siang Cin membelejeti seragam kulit salah seorang dan dipakainya sendiri, lalu ia keluar dari lubang itu, Setiba di ujung serambi tadi dengan berlenggang lenggok ia terus menuju ke pintu gerbang sana melalui ubin putih tadi.
Ketika hampir sampai di depan pintu, tanpa diminta pelahan2 daun pintu lantas terbuka.
Seorang lelaki berusia tiga puluhan menatapnya dengan dingin serta menegur dengan ketus.
"Ada urusan apa, saudara?"
Siang Cin balas menatap dengan tidak kurang dinginnya, jawabnya dengan nada galak.
"Ada berita pertempuran penting harus dilaporkan!"
Orang itu mengamat amati Siang Cin sejenak, katanya pula.
"Saat ini Jan kong sedang rapat dengan para pimpinan, mungkin tiada waktu menerima kau. Pula, mana kaupunya Ji ih long (lencana)?"
Seketika jantung Siang Cin berdetak, tapi lahirnya ia tetap tenang2 saja, ia malahan berlagak kurang senang dan menjawab.
"Apakah tanpa Ji ih long aku dapat masuk ke sini? Masa saudara mengira aku ini palsu?"
"Aku tidak peduli kau tulen atau palsu,"
Jengek orang itu.
"Yang penting peraturan harus kita pegang teguh. Tanpa Ji ih leng, maaf kecuali Jan kong sendiri, siapapun dilarang masuk."
Diam2 Siang Cin mengeluh, tapi di mulut ia tetap keras, katanya.
"Saudara, hendaklah ingat, ini urusan maha penting, jika ada persoalan, kau harus bertanggung jawab."
Orang itu melirik Siang Cin sekejap, katanya kemudian.
"Tapi kalau mata2 musuh yang masuk, tanggung jawab ini lebih2 tak dapat kupikul. Pokok nya Ji ih leng harus kau perlihatkan padaku."
Siang Ciu pura2 menunduk dengan lagak sukar untuk menjelaskan persoalannya, katanya kemudian.
"Toako, bicara terus terang, Ji ih leng tidak ku bawa saat ini, soalnya ......."
"Habis siapa kau?"
Jengek orang itu. Siang Cin menggeser maju selangkah. lalu bisiknya dengan suara tertahan.
"Terus terang, tadi kami datang berdua. Tapi temanku itu ...., Ai, aku menjadi sukar untuk bicara. Soalnya dia ada main dengan si Melati di gedung sebelah itu, tapi untuk kesana kan juga diperlukan Ji ih leng, maka terpaksa kupinjamkan Ji ih lengku kepadanya. Eh, Toako, demi kepentingan teman, kan pantas kalau kita berkorban ....."
"Si Melati?"
Demikian lelaki itu mengulang nama itu dengan ragu.
"Ya, Melati, itulah, pelayan genit Kiu ih thay (selir kesembilan) yang memang manis itu."
"Di gedung yang mana?"
Tanya orang itu pula dengan menarik muka.
"Itu,"
Sekenanya Siang Cin menuding ke belakang. 325 Orang itu mengamat amati Siang Cin pula, lalu bertanya dengan bengis.
"Kau anak buah siapa?"
"Gui Kong, Gui toako,"
Jawab Siang Cin tanpa pikir.
"Gui Kong?"
Orang itu mengulang pula nama itu. Siang Cin pura2 menghela napas kesal, katanya.
"Ya, Gui toako itulah yang ditugaskan mencari berita, di bawah pimpinannya, anggota regu kami benar2 kenyang makian, maklumlah, wataknya keras dan bicaranya kasar ....."
Selagi orang masih ragu2, cepat Siang Cin menambahkan pula.
"Toako, tolonglah, urusan kawan kita ini jangan kau katakan kepada orang lain, bilamana sampai diusut, tentu kawanku itu bisa celaka, bahkan aku sendiripun akan ikut kena getahnya."
Akhirnya orang itu mengangguk dan berkata.
"Baiklah, kuberi kelonggaran sekali ini, setelah masuk nanti jangan kau sembarangan menerobos, di atas loteng ada rapat, kau harus melihat gelagat."
Begitulah Siang Cin lantas masuk ke dalam gedung megah itu.
Ia rada kesima melihat ruangan itu sedemikian luasnya dengan macam2 perabotnya yang gemilapan, lantainya diberi permadani tebal, ada sebuah meja panjang di tengah ruangan dengan barisan kursinya yang indah.
Dinding sekeliling dihiasi lukisan dengan bingkai emas, langit2 diberi ukiran Liong dan Hong yang sangat hidup tampaknya.
Belasan lampu kristal menyorotkan cahayanya yang gemilang.
sungguh suatu ruangan pendopo yang indah dan megah.
Siang Cin memandang sekelilingnya sejenak, lalu mulai melangkah ke sebuah jalan tembus samping berdekatan dengan tangga.
Baru saja ia hampir lewat, tahu2 sesosok bayangan orang menuruni tangga batu itu tanpa bersuara.
Dengan kepala tertunduk Siang Cin bermaksud percepat langkahnya agar tidak menimbulkan kerewelan lagi.
Tak tecduga mendadak suara nyaring dingin seorang telah membentaknya.
"Berhenti, kau!"
Siang Cin pura2 tidak mendengar dan melangkah maju pula, tapi segera terendus bau harum, suara nyaring garang tadi sudah berkumandang pula, di samping telinganya.
"Kubilang berhenti! Kaudengar tidak?"
Terpaksa Siang Cin berhenti dan berpaling, ia menjadi terkejut.
Kiranya orang yang berdiri di depannya adalah seorang perempuan berumur tiga puluhan, ia kenal perempuan ini pernah bergebrak dengan dia di Pau hou ceng tempo hari, yaitu Lo sat li Hek kwa hu, si janda hitam, adik perempuan tertua Sok lian su coat dari Pek hoa kok yang sudah janda itu.
Sedapatnya Siang Cin bersikap tenang, ia pandang orang dan diam2 berdoa semoga macan betina yang terkenal cantik tapi ganas ini tidak mengenalnya lagi, kalau tidak perjalanannya ini pasti akan sia2 belaka.
Lo sat li mengamat amati Siang Cin, wajahnya yang cukup cantik itu sedingin es, selang sejenak baru mendengus.
"Kau hendak ke mana? Kukira tempat ini boleh sembarangan berkeliaran bagimu?" 326
"O, Toasoh ini ....."
"Sialan, siapa Toasohmu?"
Damperat Lo sat li dengan melotot.
"O, ya, Toaci ini ........"cepat Siang Cin ganti panggilan. Tapi kembali Lo sat li mngomel dengan marah2.
"Persetan, siapa pula Toacimu?!"
Untuk sejenak Siang Cin melengak, tapi segera ia paham kehendak orang, cepat ia berucap pula.
"Ya, ya, nona ..... nona."
Baru sekarang air muka Lo sat li tampak berubah senang, lalu mendengus pula.
"Pertanyaanku tadi belum lagi kau jawab."
Cepat Siang Cin menyambung.
"O, ya. Cayhe diperintahkan Gui toako agar melaporkan berita pertempuran. Konon Jan loyacu sedang rapat, maka Cayhe tidak berani naik ke atas dan terpaksa mencari suatu tempat istirahat dulu "
"Cari tempat istirahat?"
Omel Lo sat li dengan mengerut kening.
"Tahukah kau siapa yang tinggal di kamar serambi sana?"
"O, Caybe tidak tahu,"
Jawab Siang Cin dengan lagak gugup.
"Di sana tempat tinggalku bersama nona Bwe, masa boleh sembarangan dibuat keliaran orang macam kau?"
Jengek Lo sat li pula.
"Untung kulihat, kalau tidak, lalu bagaimana jadinya bila dilihat orang lain?"
"Ya, sesungguhnya Cayhe memang tidak tahu, mohon nona memberi maaf,"
Kata Siang Cin dengan memberi hormat. Kembali Lo sat li mendengus, lalu bertanya.
"Siapa namamu?"
"Go Ji,"
Jawab Siang Cin pelahan.
"Go Ji""
Lo sat li mengulang nama itu sambil mengernyitkan kening. Kembali ia pandang Siang Cin lekat2, sampai lama barulah ia bergumam.
"Tampaknya seperti sudah kenal, cuma lupa entah di mana?"
Siang Cin menunduk lebih rendah lagi, diam2 ia berdoa semoga orang tidak ingat kejadian tempo hari. Diam2 iapun siap siaga, bila perlu segera lawan akan dirobohkan lebih dulu.
"Eh, Go Ji, tampaknya pernah kulihat kau? Apakah kau ingat pernah bertemu denganku sebelum ini!"
Tanya Lo sat li. Cepat Siang Cin menjawab.
"Mungkin dalam sesuatu pertemuan di sini. Akhir2 ini Cayhe selalu dinas luar. Situasi pertempuran cukup genting, Cayhe sendiri kuatir entah bagaimana kesudahannya nanti .....
"Masa kau kuatir, sudah tentu kita pasti menang,"
Ujar Lo sat li penuh keyakinan.
"Bu siang pay mengerahkan pasukannya ke tempat jauh, ini jelas tidak menguntungkan mereka. Di Ce ciok giam mereka sudah mengalami kerugian besar, dari Ceciok giam 327 ke sini masih banyak rintangan dan jebakan, mungkin sebelum tiba di Toa ho tin ini pasukan Bu siang pay sudah dihancur leburkan pasukan kita."
"Perkiraan nona pasti tidak jauh dari kenyataan, semoga dalam waktu singkat musuh dapat kita hancurkan,"
Tukas Siang Cin untuk membesarkan hati orang. Mendadak Lo sat li menatap Siang Cin lekat2, lalu bertanya.
"Eh, Go Ji, kau tahu siapa diriku!"
Siang Cin berlagak seperti kikuk, jawabnya.
"Cayhe . ti ... tidak tahu."
"Hm, masa tidak tahu,"
Jengek Lo sat li.
"Aku bernama Giam Ciat, adik perempuan To hay long Giam Ciang, itu tokoh utama Sok lian su coat dari Pek hoa kok, orang memberi julukan Lo sat li padaku."
"Dan alias Hek kwa hu (si janda hitam),"
Demikian batin Siang Cin, sudah tentu tak diucapkannya, sebaliknya ia malah menyanjung.
"Ya, nama harum nona sudah lama kudengar, sungguh beruntung sekarang dapat bertemu dengan nona yang cantik dan anggun."
Lo sat li tertawa senang, tapi tidak urung ia pura2 mengomel "Ah, tampaknya mulutmu juga pintar mengumpak.
Eh rapat mereka pasti akan berlangsung lama, tidak leluasa kita berdiri saja di sini, marilah duduk dulu ke tempatku."
Tergerak hati Siang Cin, tapi akhirnya ia pura pura serba rikuh, jawabnya.
"Wah, kan tidak baik kalau dilihat orang, nona Giam? kedudukan Cayhe terlalu rendah, mana boleh masuk tempat nona yang terhormat situ?"
"Eh, apa2an kau ini?"
Omel Giam Ciat.
"Sesama orang Kangouw, masa kita pakai aturan tetek bengek begitu? Apalagi aku yang mengundang kau dan bukan kau yang sembarangaa masuk ke tempatku, kita bertindak secara terang2an, takut apa?"
Diam2 Siang Cin bergirang, tapi di luar ia pura2 kikuk, katanya.
"Jika ....jika demikian, terpaksa Cayhe menurut saja."
Giam Ciat lantas mendahului melangkah ke sana dengan gaya yang gemulai, Siang Cin ikut di belakangnya, tercium bau harum semerbak teruar dari tubuh Giam Ciat dan membuat pikirannya rada terguncang.
Setelah menyusuri serambi dan menembus sebuah pintu bundar, benar juga di sana terdapat petak kamar yang indah.
Pelahan Giam Ciat mendorong pintu sebuah kamar sambil menuding kamar yang lain, katanya.
"Itu tempat tinggal nona Bwe, dia sangat sibuk dan sedang pergi ke Pau hou ceng"
Sembari bicara iapun menyilakan Siang Cin masuk kamar.
Ruangan kamar dibatasi tabir kain sutera kembang yang indah, mungkin di balik tabir itulah tempat tidur si nona.
Kamar inipun sangat indah dengan macam2 hiasannya, asap cendana wangi mengepul memenuhi ruangan kamar.
328 Giam Ciat lantas merapatkan pintu, habis itu ia menyingkap tabir pemisah sehingga kelihatan sebuah tempat tidur yang mentereng.
Dengan pandangan sayu genit Giam Ciat menatap Siang Cin, katanya dengan suara lembut.
"Go Ji ......."
Siang Cin mengiakan dengan lurus tegak. Giam Ciat tersenyum genit, dengan suara yang lembut menggetar sukma ia berkata pula.
"Go Ji, coba kemari, ingin kulihat ......"
Meski Siang Cin juga seorang lelaki normal, tapi untuk mengekang diri, dalam hal seperti sekarang ini bukan soal baginya. la mendekati Giam Ciat dengan tertawa, tanyanya pelahan.
"Ada petunjuk apa, nona?"
Giam Ciat menepuk sisi tempat tidurnya dan berkata dengan pandangan sayu.
"Sini, duduklah di sini... ."
Tapi Siang Cin tetap berdiri saja, jawabnya sambil menggeleng.
"Ah, Cayhe tidak berani."
Mata Giam Ciat setengah terpicing, ucapnya dengan suara genit.
"Duduklah, turutlah perkataanku, takkan kubikin susah padamu."
Tapi Siang Cin tetap berdiri tegak, ucapnya.
"Apakah takkan merusak nama baik nona nanti?"
Agaknya ucapan ini menyinggung perasaan Giam Ciat, ia menjadi marah, omelnya.
"Go Ji, apa maksudmu? Kaupandang nonamu ini orang macam apa?"
Lekas2 Siang Cin memberi hormat dan menjawab.
"O, mana berani Cayhe bermaksud buruk terhadap nona. Soalnya Cayhe ini orang kecil, kuatir membikin susah nona sendiri, makanya bicara terus terang, mohon nona maklum."
Karena ucapannya cukup beralasan, mau tak mau Giam Ciat menjadi kikuk sendiri. diam2 iapun menaruh simpatik terhadap "keroco"
Yang tahu diri ini. Segera ia berduduk tegak dengan berkata.
"Betul juga ucapanmu, Go Ji. Sesungguhnya aku cuma bersimpatik padamu karena kau kelihatan lain daripada yang lain, makanya kuajak kau mengobrol, tak tersangka kau terlalu banyak pikir ..... Eh, Go Ji, apakah susah bertugas di garis depan?"
Seketika Siang Cin membusungkan dada dan menjawab.
"Ah, susah apa, ini kan tugas, Mana dapat dikatakan susah. Demi kejayaan Ji ih hu di Toa ho tin, demi kebesaran nama Jan kong, adalah pantas jika kita bersusah sedikit. Eh, nona Giam, menurut pandanganmu, apakah pertempurun ini dapat kita atasi?"
"Melihat gelagatnya, seharusnya kemenangan pasti di pihak kita,"
Ujar Giam Ciat dengan tersenyum genit.
"Keempat kakakku sudah maju juga ke garis depan. sebagian besar pasukan Toa to kau juga sudah dikerahkan, begitu pula Jit ho hwe, sedangkan Jik san tui dan Hek jiu tong seluruhnya bertahan di Pau hoa ceng ...."
Dia merandek sejenak, lalu menyambung pula.
"Konyol juga Hek jiu tong itu, ada ribuan orang sisa kekuatan mereka dari Pi ciok san, kecuali yang terluka dan cacat, yang dapat bertempur cuma delapan ratus orang. Sudah separo kekuatan mereka dikirim ke Ce ciok-giam, tapi hampir satupun tiada yang kembali dengan hidup. Kedua ribu prajurit Jik san tui juga kocar kacir seluruhnya, konon karena terjebak 329 oleh bahan peledak yang sebenarnya ditanam kita sendiri. Malahan pemimpin ketiga Jik san tui, Pek Wi-bing juga gugur, begitu pula dua jagoan Hek jiu tong juga mati konyol di sana . Siang Cin mendengarkan saja dengan tenang, katanya kemudian.
"Menurut Can lomo dari Hek jiu tong, katanya perajurit pihak lawan juga musnah sebagian besar. Jika betul begini, kan kita belum rugi."
"Can lomo memang lari pulang dalam keadaan mengenaskan, siapa berani bilang keterangannya itu benar atau tidak?"
Jengek Giam Ciat.
"Eh, Go Ji, tentunya kau tahu, kabarnya si Naga Kuning dan gerombolannya yang memimpin pertempuran di Ce ciok giam, apa betul?"
Diam2 Siang Cin merasa geli, tapi iapun membenarkan dengan mengangguk. Gam Ciat termenung sejenak katanya kemudian.
"Di Pau hoa ceng pernah kugebrak satu kali dengan Naga Kuning itu ....."
"Apa?"
Siang Cin berlagak melengak "Nona pernah bergebrak dengan Naga Kuning?" .
"Betul,"
Jawab Giam Ciat dengan gemas.
"Keparat ini sangat menjemukan, mulut tajam dengan keji, tapi Kungfunya memang benar2 menakutkan orang ...."
Seperti membayangkan apa yang terjadi dahulu, sejenak kemudian ia menyambung pula.
"Empat jago Jik san tui yang tinggi besar, hanya sekejap saja telah dirobohkan, sampai2 cara bagaimaka turun tangannya tak terlihat jelas. Konon sejak muncul di Kangouw orang ini hanya menggunakan kedua tangan kosong untuk menghadapi siapapun juga, banyak tokoh ternama yang telah terjungkal di bawah telapak tangannya."
Siang Cin hanya ber kedip2 saja tanpa menanggapi.
Dalam keadaan demikian, seorang nona cantik sedang bercerita mengenai dirinya, betapapun terasa rada lucu.
Setelah menghela napas gegetun, Giam Ciat bercerita pula.
"Biasanya kuanggap kepandaianku sudah tergolong kelas satu, siapa tahu sekali kebentur si Naga Kuning, hampir saja aku terjungkal habis2an, yang lebih menyakitkan hati adalah olok2nya yang tajam itu. Waktu itu dia memakai baju seragam Jik san-tui, rambut kusut masai, muka kotor dan habis membobol penjara Pau-hou ceng yang termashur kuat ..... sampai saat ini aku sendiri tidak tahu bagaimana wajahnya yang sesungguhnya, konon dia sangat cakap ."
Dengan agak canggung Siang Cin menanggapi.
"Lain kali kalau kepergok lagi harus hajar adat padanya." .
"Huh, bicara mudah, kalau benar sudah bertemu baru kautahu rasa,"
Ujar Giam Ciat.
"Jika tiada si Naga Kuning, mana bisa pihak Hek jiu tong mengalami kekalahan besar begini? Mana mungkin Jik san tui mengalami kehancuran total dan penuh borok? Terus terang, biarpun pasukan Bu siang-pay juga sangat kuat, tapi tidak sulit untuk dihadapi, yang menakutkan ialah si Naga Kuning ini. Dia banyak tipu akalnya, tindak tanduknya sukar diraba, kepandaian sejatinya juga sangat tinggi, dia benar2 merupakan suatu penyakit bagi kita ....."
Setelah merandek sejenak, lalu ia menyambung.
"Cuma, sekarang Jan kong sedang rapat membicarakan siasat selanjutnya, salah satu soal yang diperbincangkan adalah cara bagaimana 330 menghadapi si Naga Kuning. Setahuku, pihak kita sudah khusus menyiapkan beberapa tokoh terkemuka untuk menghadapi dia."
"O, siapa2 saja?"
Tanya Siang Cin.
"Akupun tidak jelas, mungkin tugas ini akan diserahkan kepada orang2 Tiang hong pay dan Ceng-siong san ceng."
"Tiang hong pay?"
Siang Cin menegas.
"Ya, nona Bwe di sebelah adalah tokoh Tiang-hong pay,"
Tutur Giam Ciat.
"Jangan kau kira dia masih muda belia, mungkin dua Giam Ciat juga bukan tandingannya."
"Tokoh Tiang hong pay kan terdiri dari tujuh orang lelaki, darimana bisa timbul scorang perempuan?"
Ujar Siang Cin heran.
"None Bwe adalah puteri angkat ketua Tiang-hong pay, dengan sendirinya Tiang hong pay yang dikenal umum tidak termasuk dia. Cuma, kepandaiannya memang sangat tinggi dan tidak di bawah beberapa paman gurunya itu."
"O, jika begitu, ketujuh tokoh Tiang hong-pay telah datang semua?"
"Ya, sudah datang semua, masa kau tidak tahu? Kan tempo hari Jan loyacu sendiri yang menyambut kedatangan mereka dengan upacara besar."
Cepat Siang Cin berkata.
"O, barangkali waktu itu Cayhe sedang dinas luar ...."
Giam Ciat menguap ke-malas2an, katanya dengan tertawa.
"Ehm, ngantuk rasanya."
Siang Cin tahu waktu sudah mendesak, sudah sekian lama ia menyusup ke Ji ih hu, berita yang dapat dikoreknya juga tidak sedikit.
Tapi bagaimanapun akibatnya, dua hal penting perlu juga diselidiki.
Maka dengan lagak prihatin Siang Cin lantas berkata dengan suara tertahan.
"Nona Giam, bahwa Hek jiu tong mengalami kekalahan besar, Jik san-tui juga hancur, konon persoalannya hanya karena menyangkut seorang nona cantik saja."
"Hm, memang,"
Jengek Giam Ciat.
"Siapa lagi kalau bukan puteri kesayangan ketua Bu siang-pay, namanya Thi Yang yang."
"Ah, perempuan benar2 air bencana."
Ujar Siang Cin dengan menyesal.
"Hm, dasar perempuan murahan,"
Jengek Giam Ciat.
"Ayahnya sedang mengerahkan pasukan dan bertempur mati2an baginya, tapi sepanjang hari dia cuma berdekapan melulu dengan Khang Giok tek, sungguh aku menjadi gemas bila melihat mereka. Kita sedang jual nyawa, apa tujuannya? Coba kalau tidak ingat Jan loyacu serta saudara2 Jik san tui dan karena urusan sudah meluas begini, orang Kangouw harus mengutamakan setia kawan. Kalau tidak, untuk apa kita melibatkan diri di dalam persengketaan adu nyawa ini?"
"Apakah kedua orang itu berani bertingkah secara terbuka begitu di Pau hou ceng?"
Tanya Siang Cin. 331
"Mana di Pau hou ceng,"
Jawab Giam Ciat "Mendingan kalau mereka berada di sana, mereka justeru tinggal di Hwe im kok di sebelah sana, seperti pengantin baru saja."
Diam2 Siang Cin meng ingat2 tempat yang di sebut itu, lalu ia bertanya pula.
"Apakah nona Giam pernah melihat Thi Yang yang itu?"
"Pernah dua kali, memang boleh juga wajahnya, tapi juga tidak luar biasa, hanya matanya yang bening2 basah itu memang rada2 menggiurkan,"
Tutur Giam Ciat.
"Apakah Khang Giok tek cuma ngendon di Hwe im kok melulu?"
"Ya, barangkali kedua orang itu sudah buta cinta sehingga kegemparan yang terjadi di luar tak tergubris oleh mereka. Beberapa hari akhir2 ini mungkin Khang losam itu diomeli kakaknya, maka terkadang juga keluar. Padahal, hm, sisa Hek jiu-tong tinggal beberapa ratus orang, kukira cepat atau lambat pasti juga akan tamat di tangan Khang-losam."
"Nona Giam, menurut pendapatku, kemungkinan kalah bagi kita juga tidak perlu di cemaskan."
"Memangnya apa maksudmu?"
Tanya Giam Ciat.
"Bukankah kita masih ada suatu langkah terakhir, langkah mematikan ini kalau kita keluarkan, betapa lihaynya Bu siang pay juga pasti akan mati kutu. Tentunya nona tahu, di Pi ciok san tempo hari pihak Hek jiu tong telah menawan beberapa pentolan Bu siang pay. Orang2 ini berkedudukan tinggi di Bu siang pay, jika keadaan kepepet, kita menggunakan sandera ini sebagai tameng."
"Ya, betul juga, hal ini memang sudah kita atur, sebab itulah maka tadi kubilang Bu siang pay tidak perlu ditakuti. Tentunya merekapun tahu orang2 di Ji ih hu ini bukan manusia yang kenal belas kasihan, dalam keadaan kepepet, biarlah kita bikin habis2an. Tempo hari si Naga Kuning telah salah hitung dan bermaksud membobol penjara Pau hou-ceng, ia tidak tahu bahwa beberapa tawanan itu oleh Hek jiu tong sudah dikirim ke sini!"
"Tapi tempat tahanan mereka apakah cukup kuat?"
Siang Cin berlagak kuatir.
"Kalau mereka sampai lolos, sungguh kerugian besar bagi kita."
"Aku cuma tahu mereka ditahan di Ji ih hu sini, di mana tempatnya akupun tidak jelas. Bahkan Toako juga ttdak tahu, hanya Jan loyacu dan beberapa orang tertentu saja yang tahu. Mungkin Kiau lotoa dari Jik san tui dan pentolan Hek jiu-tong juga tahu."
Sebenarnya Siang Cin ingin tanya pula keadaan pertahanan di benteng ini, tapi sukar mencari alasannya untuk bertanya.
Maklum, sekarang ia menyamar sebagai orang Ji ih hu, jika keadaan benteng sendiri juga tidak tahu, kan bisa mencurigakan.
Sedang bimbang, tiba2 Giam Ciat menegurnya..
"Eh, Go Ji, kau mengelamun apa?"
Siang Cin terkesiap, cepat ia menjawab dengan menyengir.
"O, entah mengapa, selama beberapa hari ini rasanya lesu, pikiran seperti tertekan ... ."
"Hal inipun lumrah,"
Ujar Giam Ciat.
"Suasana setegang ini, setiap orang merasa kesal dan tertekan." 332 Baru Siang Cin mau bicara apa lagi, tiba2 terdengar suara orang berjalan pelahan mendatangi, setiba di depan pintu lalu terdengar suara ketokan pelahan beberapa kali.
"Siapa?", bentak Giam Ciat dengan suara tertahan.
"Bwe Sim,"
Sahut suara nyaring di luar.
"Sudah tidur, Giam cici?"
Giam Ciat tertawa, katanya.
"Kiranya nona Bwe. Silakan masuk. aku belum tidur."
"Cayhe ...."
Siang Cin menjadi serba susah.
"Tidak soal,"
Ujar Giam Ciat.
"Kita tidak berbuat apapun, apa yang harus ditakuti? Pula nona Bwe cukup akrab dengan diriku, dia pasti percaya padaku."
Tengah bicara, daun pintu sudah didorong terbuka, seorang gadis jelita melangkah masuk.
Sungguh cantik nona ini, matanya yang jeli, hidungnya yang mancung, mulutnya yang mungil berpadu dengan raut wajah potongan daun sirih, sungguh serasi dan sangat menarik.
Potongan tubuhnya juga menggiurkan, kulit badannya putih mulus, apabila ada yang perlu dicela, mungkin cuma alisnya yang agak tebal sedikit, terlalu tebal sehingga kelihatan agak garang.
Begitu masuk, nona bernama Bwe Sim itupun melenggong, tak disangkanya di kamar Giam Ciat bisa terdapat seorang lelaki, Bahkan lelaki yang gagah dan tampan.
Seketika Bwe Sim merasa kikuk, dengan muka merah ia berkata.
"O, ma ..... maaf, Giam cici, aku tidak tahu engkau ada tamu ... ."
Giam Ciat lantas berbangkit dan menarik tangan Bwe Sim. katanya dengan tertawa.
"Tidak apa2, Go Ji inipun orang kita sendiri, dia baru pulang dari tugas, maka kutanyai dia."
Siang Cin lantas memberi hormat kepada Bwe Sim.
Dengan likat nona itupun balas menghormat sambil melirik sekejap.
Dengan tertawa Giam Ciat lantas menarik Bwe Sim berduduk di tepi tempat tidur dan bertanya.
"Bukankah kau pergi ke Pau hou ceng? Bagaimana keadaan di sana?"
Air muka Bwe Sim tampak gelap demi mendapat pertanyaan itu, ia pandang Siang Cin sekejap. Giam Ciat tahu maksudnya, cepat ia berkata pula.
"Ceritakanlah, orang sendiri, Go Ji anak buah Gui Kong."
Diam2 Siang Cin merasa geli..Tapi Bwe Sin tampaknya merasa lega setelah mendapat keterangan dari Giam Ciat, ia menghela napas pelahan. lalu berkata.
"Kekuatan Hek jiu-tong sekarang hanya lima ratusan orang terdiri dari barisan berani mati Hiat hun ciang, petang tadi mereka sudah bersumpah darah dan bertekad akan bertempur sampai titik darah penghabisan, kusaksikan adegan yang mengharukan itu. Pasukan Jik-san tui juga hancur di Ce ciok giam, sisa kekuatan nya juga cuma dua tiga ratus orang saja. 333 Merekapun berkumpul di Pau hou ceng dan siap bertempur mati2an dengan pihak Bu siang pay."
"Masa suasana begitu gawat?"
Tanya Giam Ciat.
"Berita dari gadis depan yang baru diterima jelas cukup gawat, meski Bu siang pay juga banyak jatuh korban, tapi mereka masih terus mendesak maju, apalagi mereka membawa senjata api yang ampuh, semuanya bertempur dengan nekat. Pasukan Jit ho hwe yang bertahan di garis pertama sudah runtuh dan mundur, kini barisan tameng Ceng-siong san ceng dan pasukan berkudanya sedang bertahan ... ."
Ia merandek sejenak, setelah melirik sekejap pada Siang Cin, lalu melanjutkan.
"Ji ih hu juga telah mengerahkan kekuatan intinya sambil menghimpun kembali sisa anak buah Jit ho hwe untuk melancarkan serangan balasan. Melihat gelagatnya pertempuran besar2an segera akan berkobar pula."
"Masih berapa jauh jika pihak Bu siang pay ingin mencapai Toa ho tin?"
Tanya Giam Ciat.
"Antara 30 li,"
Jawak Bwe Sim.
"Apakah kakak2ku baik saja?"
Tanya Giam Ciat.
"Mereka tidak mengalami cidera apapun, tapi yang lain ada ribuan yang terluka berat dan ringan,"
"Sekarang cara bagaimana Jan loyacu akan bertindak?".
"Tampaknya sedang dirundingkan dalam rapat,"
Kata Bwe Sim.
"Ai, sudah sekian lama hidup tegang, pedih juga rasanya ."
Siang Cin hanya mendengarkan saja di samping. Tiba2 Giam Ciat bertanya.
"He, Go Ji, apa yang kau pikirkan?"
Siang Cin menyengir, jawabnya.
"Cayhe pikir, makan nasi Kangouw memang tidak mudah, harus dilakukan dengan cucuran darah dan bila perlu mengorbankan nyawa, hari depan suram, hidup ini hari belum tentu bisa hidup esok pagi."
Tampaknya Bwe Sim rada tertarik oleh komentar Siang Cin yang lain daripada lain itu, dengan kikuk ia bertanya.
"Go Ji, kau ..... kau bernama Go Ji?"
"Ya, itulah namaku,"
Jawab Siang Cin.
"Akhir2 ini kalian tentu sangat lelah bukan?"
Kata Bwe Sim pula dengan agak malu2.
"Ah, kan sudah sepantasnya begitu?"
Ujar Siang Cin dengan membusungkan dada.
"Apalagi kalau para nona seperti kalian juga ikut mencurahkan tenaga dan pikiran, bagi orang seperti kami ini kan bukan apa2."
"Manis amat mulutmu,"
Giam Ciat berseloroh.
"Go Ji, tentunya banyak anak gadis terpikat oleh mulutmu yang manis ini." 334
"Nona, selamanya Cayhe jarang bergaul dengan jenis lain,"
Jawab Siang Cin dengan sungguh2. Giam Ciat mengangguk, katanya pula dengan tertawa.
"Wah, tampaknya kau seorang ksatria sejati, entah nona keluarga mana yang beruntung mendapatkan suami seperti kau ...."
Mendadak wajah Bwe Sim tampak merah jengah dan menunduk. Giam Ciat lantas mendorongnya pelahan dan mengomel.
"Nona Bwe, kenapa malu? Ai, apapun juga kau masih terlalu muda. Maklum pada usia sebayamu sekarang akupun malu malu begitu, tapi setelah mengalami macam2 gemblengan, hidup ini bagiku menjadi hambar, sejak si pemabukan itu mampus, hidupku bertambah dingin ...."
Bwe Sim masih gadis suci, di depan seorang lelaki asing pula, ia menjadi kikuk mendengar ucapan Giam Ciat itu cepat ia menyela.
"Giam cici ....."
"Ya, baiklah, aku tidak bicara lagi,"
Kata Giam Ciat dengan tertawa. Lalu ia berpaling dan berkata kepada Siang Cin.
"Eh, Go Ji, mungkin rapat Jan loyacu sudah selesai, apakah kau tidak jadi memberi laporan?"
"O, ya, sekarang juga Cayhe mohon diri,"
Cepat Siang Cin menjawab. Tapi sebelum dia melangkah keluar, tiba2 terdengar suara gaduh di luar sana. Tentu saja Giam Ciat dan Bwe Sim melengak.
"Biar kulihat keluar, beberapa hari ini memang macam2 urusan yang selalu membikin tegang saja,"
Kata Bwe Sim sambil berbangkit. Giam Ciat termenung menyaksikan kepergian Bwe Sim itu, gumamnya.
"Kehidupan tegang begini sungguh bisa membikin gila orang. Hanya urusan kecil saja bisa jadi akan menimbulkan kegegeran, hati menjadi kesal dan jiwa tertekan ..... ."
"Betul, Cayhe sendiri merasakannya,"
Tukas Siang Cin.
"Eh, Go Ji,"
Tiba2 Giam Ciat berkata dengan lembut.
"bilamana urusan di sini sudah selesai, maukah kau berkunjung ke Pek hoa kok, kau akan menjadi tamuku yang terhormat."
Siang Cin tertawa dan menjawab.
"Bilamana hamba diberi umur panjang, Cayhe pasti akan penuhi undangan ini."
"Ai, kenapa kau bicara begini?"
Ujar Giam Ciat.
"Menurut ilmu nujum, tampangmu yang cerah ini pasti akan panjang umur."
"Terima kasih, semoga nona juga panjang umur,"
Jawab Siang Cin.
"Ah, hatiku terasa semakin kesal dan dibakar, jangan2 ....alamat tidak baik ......."
Belum habis ucapan Giam Ciat, mendadak pintu kamar terbuka pula. Bwe Sim melangkah masuk dengan muka pucat. setelah merapatkan pintu, segera ia berkata.
"Giam cici, urusan rada gawat ... ." 335
"Urusan apa?"
Tanya Giam Ciat dengan tegang. Dengan suara gugup Bwe Sim menutur.
"Menurut laporan, ada beberapa pos penjagaan disergap oleh penyusup, juga sebuah liang rahasia di depan Kim bin tian telah dihancurkan, belasan penjaga terbunuh. Sekarang di luar sedang sibuk mencari mata2 musuh serta memberi lapor kepada Jan-kong ..."
Untuk sejenak Giam Ciat tertegun, tanyanya kemudian.
"Jadi maksudmu ada ......ada mata2 musuh menyusup ke Ji ih hu?"
"Begitulah menurut laporan,"
Jawab Bwe Sim "Wah, berani amat orang ini?!"
Gumam Giam Ciat. Siang Cin sedang memeras otak, ia pikir sekarang saat yang tepat untuk angkat kaki. Segera ia berkata.
"Kedua nona, suasana cukup gawat, keadaan agak kacau, demi tugas, Cayhe tidak boleh tinggal lebih lama di sini, sekarang juga kumohon diri."
Seperti merasa berat Giam Ciat berkata.
"Go Ji, meski baru kenal, rasanya kita bisa saling cocok. Bila ada tempo luang silakan datang untuk mengobrol lagi."
Ber ulang2 Siang Cin mengiakan.
Diam2 ia merasa geli, jangankan tempo luang, mungkin dalam waktu singkat Ji ih hu akan hancur lebur.
Segera iapun melangkah ke pintu, tapi belum lagi dia membuka pintu, terdengar Bwe Sim berseru.
"Tunggu sebentar, Go Ji ....."
Siang Cin melengak, jawabnya sambil menoleh.
"Ada petunjuk apa, nona Bwe?"
Muka Bwe Sim tampak merah, dengan likat ia menjawab.
"O, sebentar ......sebentar akupun dinas ronda malam, kupikir engkau lebih paham keadaan sekeliling istana ini, bila engkau tiada urusan lain, dapatkah ..... dapatkah engkau mengiringi aku ... ."
Melengak juga Siang Cin oleh permintaan orang. Agaknya Giam Ciat juga tercengang. Tapi ia lantas berkata dengan tertawa.
"He, Go Ji, jika kujadi kau, tentu berjingkrak kegirangan dapat mengiringi nona Bwe ......"
"Giam cici,"
Sela Bwe Sim dengan muka merah. Giam Ciat tertawa, katanya.
"Baiklah, Giam-cici hanya bergurau saja. Nah, Go Ji, lekas kau pergi dulu dan lekas kau kembali, nona Bwe akan menunggu kau di sini."
Dalam pada itu Siang Cin telah putar otak dan mengambil keputusan. Ia memberi hormat dan berkata.
"Baik, Cayhe menurut saja, setelah laporan selesai segera Cayhe kembali ke sini."
Habis berkata, cepat ia melangkah keluar kamar itu.
Sudah tentu ia tidak menuju ke ruangan pendopo sana, tapi melalui serambi samping, lalu menyelinap ke atas belandar gudang kecil di ujung serambi.
Di sinilah dia duduk santai menghimpun tenaga.
Kira2 setanakan nasi lamanya, lalu ia meninggalkan tempat itu, dia mendatangi pula kamar Giam Ciat dan rnengetok pelahan.
336 Ketika pintu terbuka, Bwe Sim berdiri di depannya.
Melihat Siang Cin, nona ini menjadi jengah dan jantung berdebur keras.
Giam Ciat telah mendekat dan mendorong Bwe Sim, desisnya.
"Baiklah, lekas berangkat, jika tidak cepat2, sebentar Go Ji mungkin harus menunaikan tugas juga. Nah, Go Ji, jagalah nona Bwe dengan baik."
Habis berkata, ia dorong Bwe Sim keluar pintu sambil memicingkan sebelah mata, lalu pintu dirapatkan kembali. Sejenak Bwe Sim terdiam, lalu berkata.
"Kita mengambil jalan tengab atau melalui pintu samping, Go Ji?"
Siang Cin pura2 berpikir, jawabnya kemudian.
"Kukira lebih baik pintu samping saja."
Tanpa sangsi lagi Bwe Sim lantas membawa Siang Cin menuju ke serambi samping sana.
Keluar lagi adalah halaman berpagar tembok, empat penjaga tampak mondar mandir di situ.
Rupanya Bwe Sim sudah cukup dikenal di situ, para penjaga hanya menyapa sekadarnya dan tidak bertanya lebih lanyut meski melihat di samping si nona ada seorang yang tidak dikenal, namun mereka tak berani menegur mengingat kedudukan Bwe Sim yang tidak perlu diragukan.
Setelah membuka sebuah pintu besi kecil di pojok halaman, keluarlah mereka dengan pelahan.
Siang Cin sengaja mengintil sedikit di belakang si nona.
Tampaknya sebagai tanda hormatnya, tapi sebenarnya ia sengaja menggunakan Bwe Sim sebagai perisai, baik menghadapi penjaga maupun ketemu jebakan yang diatur di mana2 tanpa kelihatan itu, tentu akan dapat diatasi si nona.
Ketika sampai di samping Kim bin tian, Bwe Sim menunjuk halaman di depan istana dan berkata pelahan.
"Go Ji, di liang pengintai sana, belasan penjaga telah disergap mata2 musuh."
"Ya, Cayhe tahu di sana ada pipa pengintainya,"
Jawab Siang Cin. Bwe Sim semakin percaya karena Siang Cin dapat menanggapi persoalannya dengan jitu. Mereka lantas berjalan ke depan, sambil berjalan si nona berkata pula.
"Di sini boleh dikatakan penuh perangkap, kalau tidak hati2 mungkin senjata akan makan tuan sendiri ......Eh, Go Ji, mengapa kau bernama Go Ji, tidak cocok dengan orangnya"
Siang Cin berlagak malu dan bingung, jawabnya.
"Mengapa tidak cocok, nama ini pemberian orang tua, karena aku nomor dua, maka aku diberi nama Ji. Aku sendiri merasa nama ini sangat baik."
"Kulihat tampangmu lain daripada yang lain, gerak-gerikmu juga menarik, kukira kau pantas mendapat kedudukan yang lebih baik. Eh, Go Ji, apa tugasmu di Ji ih hu sini?"
"Masa ada tugas lain kecuali pesuruh, ikut Gui-toako,"
Jawab Siang Cin. 337
"Ah, seharusnya kau mendapatkan tugas yang sesuai,"
Ujar Bwe Sim.
"Eh, Go Ji, apakah ..... apakah kau mau ber ......berkawan denganku?"
Siang Cin berlagak kaget dan takut2 girang, jawabnya dengan ter gagap2.
"Ber ......berkawan dengan nona? Aku ..... aku ..... dapat bicara dengan nona saja sudah beruntung, mana-mana ....."
"Go Ji, mcngapa kau ketakutan begini? Masa seorang lelaki lebih penakut daripada seorang perempuan, kita kan sama2 sudah dewasa, masa tiada kebebasan sama sekali dalam hal berkawan? Eh, baiklah, kita coba memeriksa di sana, mungkin waktumu sudah tidak banyak lagi."
"Nona Bwe, apakah kita juga akan melongok tembok benteng sana?"
Tanya Siang Cin.. Bwe Sim memandang Siang Cin dengan rada heran, katanya.
"Tembok benteng? Kenapa kau menyebutnya tembok benteng? Bukankah setiap orang di Ji ih hu ini menyebutnya tembok istana?"
Berdetak juga hati Siang Cin karena salah omong ini, tapi sedapatnya ia tenangkan diri, sahutnya dengan tak acuh.
"Ya, tapi aku sendiri biasanya menyebutnya tembok benteng, bukankah tembok itu memang sekukuh benteng?"
"Ya, memang betul juga,"
Ujar Bwe Sim dengan tersenyum, Ia memandang sekelilingnya, lalu berkata.
"Baiklah, boleh juga kita longok keadaan disana."
Begitulah kedua orang lantas menuju ke tembok benteng.
Dapat jalan berjajar dengan Siang Cin yang gagah, betapapun timbul semacam perasaan suka ria dalam hati Bwe Sim.
Dia mengira Siang Cin sudah tidak merasa rendah harga diri lagi dan mau lebih berdekatan dengan dia.
Ia tidak tahu bahwa Siang Cin justeru menggunakan kelemahannya itu untuk mencapai maksud tujuannya, yaitu memancing Bwe Sim membawanya ke tempat yang dituju, tempat yang paling dekat dengan persembunyian Sebun Tio bu dan lain2.
Sambil membicarakan suasana yang menegangkan itu, tidak lama kemudian mereka sudah mencapai undakan batu yang menuju ke atas tembok benteng, malam yang sunyi dan dingin menambah seramnya keadaan.
Memandangi si nona yang dikenalnya tanpa sengaja tapi tampaknya jatuh hati kepadanya ini, samar2 timbul semacam perasaan haru dan sayang dalam benak Siang Cin.
la menyesal bahwa pertempuran yang kejam ini harus melibatkan nona cantik seperti ini.
"Nona Bwe,"
Kata Siang Cin kemudian dengan pelahan.
"apakah kau pernah ....pernah membunuh orang?"
Tercengang Bwe Sim, jawabnya kemudian "Mengapa mendadak kau bertanya hal ini?" 338 Kata Siang Cin dengan tertawa.
"Sebab kau sangat cantik, lemah lembut, seperti tidak tahan ditiup angin, se-akan2 seekor tikus saja dapat membuat kau ketakutan. Tapi, engkau ternyata orang persilatan, pula kudengar ilmu silatmu sangat tinggi."
Bwe Sim tertawa manis, katanya.
"Janganlah kau nilai orang dari bentuk luarnya. Ketahuilah, seorang yang tinggi besar tidak berarti dia pasti pemberani, seorang perempuan kurus kecil tidak berarti nyalinya kecil. Jangan kaukira tubuhku ini lemah dan meremehkan diriku, hm, bilamana aku sudah gregeten, aku bisa berubah menjadi sangat.. sangat kejam ....."
"Apa betul? Jadi kau pernah membunuh orang?"
Kata Siang Cin dengan tertawa. Bwe Sim mengangguk, katanya.
"Ya, pernah tiga orang."
"Wah, tiga orang macam apakah itu?"
Tertarik Juga Siang Cin. Sementara itu mereka sudah sampai di atas tembok benteng, sudah berada di jalanan melingkar di atas tembok, mereka mulai berjalan ke depan. Bara Naga
Jilid 17
"Kejadian itu sudah cukup lama ...."
Demikian Bwe Sim berkisah.
"yaitu pada waktu aku berusia 17, kurang lebih empat tahun yang lalu. Seorang diri kucari semacam rumput obat di belakang gunung, di sanalah mendadak aku disergap tiga orang lelaki yang tak kukenal, dalam keadaan panik, terpaksa aku membela diri sedapatnya, tak terduga hanya sekali gebrak saja telah dapat kurobohkan mereka. Darah segar mancur dari tubuh mereka. Aku menjadi ketakutan dan lari pulang. Ayah angkat dan ketiga pamanku menjadi heran dan bertanya apa yang terjadi, kuceritakan pengalamanku dan mereka menjadi gusar, serentak mereka memburu ke tempat kejadian, tapi sepulangnya mereka lantas tertawa dan memuji kehebatanku, kemudian baru kuketahui bahwa ketiga orang itu sudah kubinasakan seluruhnya."
Dia merandek sejenak, lalu bertanya.
"Apakah kau ingin tahu dengan cara bagaimana kubunuh mereka?"
"Ya, coba ceritakan,"
Jawab Siang Cin. Bwe Sim lantas menjulurkan kedua tangannya dan tertawa misterius terhadap Siang Cin, se konyong2 terdengar suara "creng creng"
Dua kali, sinar dingin berkelebat, tahu2 dua bilah pedang pandak yang sepanjangnya tiada dua kaki melentik keluar dari lengan bajunya dan tepat tergenggam di tangannya.
"Pedang bagus!"
Puji Siang Cin dengan tersenyum. Waktu Bwe Sim sedikit mengangkat tangannya, kedua bilah pedang pandak lantas meluncur balik ke tengah lengan bajunya. Terdengar "klik klik"
Dua kali, semuanya telah kembali asal seperti semula.
Rupanya kedua bilah pedang itu tersimpan di dalam pipa yang berpegas sebingga dapat mulur dan mengkeret menurut kehendak pemakainya.
Menghadapi musuh, 339 bilamana pedang pandak itu mendadak menjeplak keluar, betapapun lihaynya musuh pasti takkan menduga dan sukar menghindar.
"Sungguh hebat senjata rahasia ini,"
Puji Siang Cin.
Sementara itu mereka sudah sampai di tembok benteng yang tepat berdekatan dengan tempat Sebun Tio bu dan kawan2nya.
Bwe Sim hendak melanjutkan perjalanan kedepan, tapi Siang Cin lantas berhenti di situ dan berkata.
"Nona Bwe, apakah kita tidak perlu memeriksa penjagaan kamar rahasia di bawah?"
Bwe Sim tampak heran, katanya.
"Mengapa kau membikin istilah sendiri, kamar penjaga di bawahkan bernama liang panah, mengapa kau menyebutnya kamar rahasia? Ji ih hu kalian ini memang diatur dan dirancang sedemikian rapinya sehingga tidak perlu kuatir akan digempur musuh dengan cara bagaimanapun. Sepanjang tembok benteng penuh `liang panah`, bila pasukan musuh berani menyerbu tiba, sekali aba2, serentak beribu panah akan berhamburan, betapapun kuatnya pasukan musuh juga akan terbasmi."
Diam2 Siang Cin merasa ngeri juga mendengar betapa kuatnya pertahanan Ji ih hu ini.
Pantas pihak mereka tidak gentar meski di gadis depan sana ber ulang2 mengalami kekalahan, rupanya inti pertahanan mereka yang sebenarnya terletak di Ji ih hu sini.
"He, Go Ji, kau mengelamun apa?"
Tegur Bwe Sim ketika melihat Siang Cin berdiri diam di situ.
"O, kupikir ....aku sedang membayangkan betapa menariknya bilamana pasukan Bu siang pay dijungkir balikkan oleh hujan panah nanti,"
Jawab Siang Cin dengan rada gelagapan.
"Tapi, kalau pertahanan kita sudah jelas sedemikian kuatnya, mengapa nona Bwe kelihatan cemas pula?"
Bwe Sim terdiam sejenak, jawabnya kemudian.
"Entahlah, aku sendiripun tidak tahu, aku seperti mempunyai firasat yang tidak enak, batinku serasa tertekan, aku merasa kuatir . .. .. ."
"Ah, kukira nona Bwe tidak perlu kuatir, betapapun Bu siang pay pasti akan mengalami kehancuran di sini, yang penting kita harus waspada,"
Kata Siang Cin.
"Bicara tentang kewaspadaan, aku menjadi ingin menjenguk liang panah di bawah ini. Keparat2 ini biasanya suka teledor, bila tidak ada pengawas, mereka lantas minum arak, berjudi atau tidur sesukanya ......"
"Wah, tampaknya kau sendiri biasanya juga sering begitu?"
Bwe Sim berseloroh.
"Sering sih tidak, jelek2 anak buahku juga ada likuran orang, kan harus jaga gengsi,"
Ujar Siang Cin dengan tertawa. Selagi Bwe Sin hendak mengaraknya ke bawah, mendadak tiga sosok bayangan orang melayang tiba, berbareng lantas menegur.
"Siapa itu?"
Berdebar juga hati Siang Cin, segera ia bersiap2 menghadapi segala kemungkinan. Tapi Bwe Sim tetap tenang2 saja, jawabnya ketus.
"Bwe Sim di sini!"
Ketiga pendatang itu tampaknya cukup lihay, belum lagi mereka melompat ke atas tembok benteng, ketiganya lantas berpencar dan melayang ke atas dari tiga arah.
340 Seorang tampak bermuka hitam dan berhidung pesek, kedua temannya yang satu tinggi besar dan berjenggot, orang ketiga bermuka pucat dan bertubuh kurus sehingga mirip mayat hidup.
Bwe Sim memberi salam kepada orang pertama tadi dan berkata.
"Kiranya Toh toako, adakah sesuatu yang kau temukan dalam tugasmu?"
Sikap orang she Toh yang mula2 kelihatan garang itu lantas berubah ramah, ia tertawa sambil membalas hormat Bwe Sim, katanya.
"Ah, rupanya nona Bwe juga sedang ronda. Cuma ....... cuma kita sama2 menunaikan tugas masing2, betapapun peraturan ......"
Bwe Sim tahu maksud orang di balik ucapannya itu, dengan tenang ia berkata.
"O, tidak apa2 memang seharusnya begitu. Tentu yang dimaksudkan Toh toako adalah Kim koan leng?"
Sembari bicara Bwe Sim lantas mengeluarkan sebentuk lencana emas, besar lencana ini cuma beberapa senti persegi, berukir kopiah jago silat, buatan nya sangat indah.
Melihat Kim koan leng atau lencana mahkota emas ini, cepat orang she Toh berkata dengan tertawa.
"O, maaf, harap nona jangan marah, hanya sekadar memenuhi kewajiban saja ......"
"Memang harus begini, tak perlu Toh toako sungkan,"
Ujar Bwe Sim dengan tertawa.
"Apakah saudara ini ikut datang bersama nona?"
Tanya orang itu sambil melirik sekejap Siang Cin yang berdiri di belakang Bwe Sim.
"Ya,"
Jawab Bwe Sim sambil mengangguk.
Mestinya dia hendak bilang Siang Cin adalah anak buah "Gui Kong", tapi lantaran mendongkol atas sikap orang she Toh itu, ia jadi malas untuk bicara lebih banyak.
Orang she Toh itu lantas berpesan kepada Siang Cin dengan lagak orang besar.
"Kau harus melayani nona Bwe dengan baik, tahu?"
Siang Cin sengaja mengiakan dengan munduk2. Maka setelah menyalami lagi Bwe Sim, ketiga orang itu lantas menghilang pula di bawah tembok benteng sana.
"Hm, dasar budak, sok berlagak,"
Omel Bwe Sim setelah ketiga orang tadi pergi.
"Tidak heran,"
Ujar Siang Cin.
"Mandor selamanya lebih galak daripada majikan."
Setelah menyimpan kembali Kim hoan leng, Bwe Sim berkata kepada Siang Cin.
"Go Ji, marilah kita melongok ke bawah, habis itu kitapun pulang saja."
Mereka lantas mendekati pojok tembok benteng sana, Bwe Sim memilih sepotong ubin tembok itu dan mengetuknya beberapa kali dengan tungkak kakinya.
Tidak lama kemudian, ubin itu lantas bergeser dan terbukalah sebuah lubang, sebuah kepala menongol keluar sambil bertanya.
"Siapa?" 341
"Aku, dari Sing ci sit (kamar piket), pemeriksaan biasa,"
Desis Bwe Sim. Orang itu menengadah dan memandang Bwe Sim, tanyanya pula.
"Apakah ....."
"Pakai apa segala, dinas pemeriksaan, kau rewel apalagi?"
Segera Siang Cin mendahului membentak. Agaknya orang itu jadi keder, cepat ia menjawab.
"O, ya, silakan, silakan turun!"
Lalu ia mengkeret masuk ke bawah. Ber turut2 Bwe Sim dan Siang Cin lantas merambat turun melalui lubang itu. Rupanya "Liang panah"
Yang dikatakan itu adalah sebuah ruangan sempit, ada sebuah tangga yang menembus ke lubang keluar masuk tadi.
Di depan dinding yang menghadap keluar ada sebuah kerangka besi, sepuluh pasang busur ber turut2 terpasang di situ dan siap dibidikkan.
Namun tembok yang mengalingi barisan panah itu agaknya harus disingkirkan lebih dulu bilamana hendak melepaskan panah, hanya pada kedua sisi ada beberapa lubang kecil yang ditutup dengan kain hitam, agaknya sebagai lubang hawa dan juga untuk mengintai.
Di dinding lain menempel sebuah lampu minyak dengan cahayanya yang guram.
Lantai hanya dilapisi tikar.
Ada lima penjaganya, kecuali orang yang menongol keluar tadi masih ada lagi empat orang sedang bertiduran, lima buah golok tampak tergeletak di pojok ruangan sana.
Melihat seorang nona cantik masuk ke situ, serentak keempat orang itu merangkak bangun, seketika mereka cengar cengir dan segera ada yang mau menggoda, tapi keburu dikedipi oleh kawannya dan dibentak.
"Awas, pengawas dari Sing ci sit!"
Mendengar itu, seketika mereka melenggong, lekas2 mereka berdiri dengan sikap hormat dan tidak berani bersikap bangor lagi.
Sebelum menuruni tangga tadi, Siang Cin sempat merapatkan kembali tutup lubang itu, setiba di bawah, segera ia menegur.
"Kalian cuma berlima di sini? Mengapa malas2 begini, tidur melulu! Tentunya kalian mabuk2an lagi."
Kelima orang itu tidak berani menjawab, akhirnya orang pertama tadi berkata dengan takut2.
"Lapor Toako, kami ....kami terlalu iseng dan cuma ....cuma minum satu dua ceguk, sekedar menghilangkan dahaga saja."
""Keparat, damperat Siang Cin.
"Satu ceguk saja tidak boleh. Jika pada saat yang sama musuh merayap masuk, dalam keadaan limbung apakah kalian mengetahuinya? Hm, dasar tak becus semuanya."
Kelima orang itu benar2 tidak berani menjawab lagi, mereka sama menunduk.
"Lain kali bila ketahuan kalian tidak patuh pada tugas masing2, awas kepala kalian bisa berpisah dengan tuannya,"
Kata Bwe Sim. Mendadak Siang Cin membentak.
"Tidak ada lain kali lagi!"
Selagi kelima orang itu dan juga Bwe Sim melengak heran, tahu2 Siang Cin sudah menubruk maju, kontan salah seorang di antaranya roboh terkulai.
342 Belum lagi yang lain tahu apa yang terjadi, mendadak terdengar suara gedebugan ramai, empat sosok tubuh telah tertumbuk dinding dan satu persetu roboh terkapar.
Dengan sorot mata dingin Siang Cin memandangi kelima sosok mayat itu, sikapnya tenang seperti tidak terjadi apa2.
Sesudah tenangkan diri, Bwe Sim menjadi gusar dan rada gemetar, katanya dengan suara terputus2.
"Go Ji, kau....kau begini kejam? Dengan ....dengan hak apa kau bunuh mereka? Kesalahan mereka tidak sampai harus dihukum mati . .. ."
Siang Cin pura2 gugup dan melangkah maju, katanya.
"Ya, nona Bwe, aku terburu nafsu dan ...."
"Jangan mendekat aku, kau setan ...."
Belum habis teriakan Bwe Sim, se konyong2 nona cantik ini merasakan pinggangnya kesemutan, baru dia menyadari gelagat jelek, tahu2 tubuhnya sudah lumpuh dan roboh terkulai.
Dengan cemas ia pandang Siang Cin, teriaknya.
"Ap ....apa yang kaulakukan? Berani amat kau ...."
"Jangan ber teriak2 nona Bwe,"
Jengek Siang Cin dengan pandangan dingin.
"Hendaklah kautahu, aku sama sekali bukan oaang yang kenal belas kasihan, akupun tidak kenal ampun pada orang perempuan, sebaiknya kita harus menghadapi dengan kepala dingin."
Bwe Sim berkeringat dingin, dengan melotot ia menjerit.
"Apa yang akan kaulakukan terhadap diriku? Go Ji, kau ...."
"Namaku bukan Go Ji,"
Kata Siang Cin dengan ketus.
"Akupun bukan orang Ji ih hu, aku tidak ingin berbuat sesuatu apa2 terhadapmu, kau tidak perlu kuatir. Cuma saja, kaupun takkan beruntung sebagaimana pengalanaanmu empat tahun yang lalu itu."
Bingung dan kejut Bwe Sim di samping gusar pula, teriaknya cemas.
"Habis siapa ....... siapa kau?"
Pelahan Siang Cin menanggalkan seragam kulitnya, lalu membalik jubah yang dipakainya, tertampak warna jubahnya yang kuning telur mencorong itu.
"Nah, sekarang tentunya kautahu siapa diriku bukan?"
Terbelalak lebar mata Bwe Sim, terbayang lukisan seorang sebagaimana pernah didengarnya dari cerita orang lain dengan tanda2nya yang khas.
Seketika tubuhnya menggigil, mukanya menjadi pucat, serunya kejut.
"Naga Kuning?"
"Betul, itulah diriku!"
Kata Siang Cin dengan tersenyum tenang.
Seketika Bwe Sim merasa dirinya terjeblos ke jurang yang tak terkira dalamnya, rasa takut, bingung dan putus asa disertai murka memenuhi rongga dadanya.
Tamat, habislah segala harapannya, segala masa depannya, seluruhnya runtuh di tangan si Naga Kuning yang terkutuk ini.
Saking gemas air matapun bercucuran.
"Nona, kita berdiri di dua pihak yang berlawanan, jangan kausalahkan tindakanku yang licik dan kejam, kukira perbuatan orang Ji ih hu akan berlipat ganda lebih kejam daripadaku,"
Kata Siang Cin kemudian sambil mengintip keluar melalui lubang kecil 343 di pojok dinding sana. Lalu sambungnya.
"Kawanku yang berada di luar segera akan menyusup masuk kemari, pasukan berkuda Bu siang pay juga akan segera menyerbu datang. Nona Bwe, kukira firasatmu memang tidak keliru, pertempuran ini pasti akan bikin tamat riwayat Ji ih hu seluruhnya."
Dengan air mata berlinang Bwe Sim melototi Siang Cin, ucapnya dengan penuh rasa dendam.
"Siang Cin, boleh kau ....kaubunuh saja diriku, kalau tidak, kapan dan di manapun, pada suatu saat pasti akan kubunuh kau ... ."
Siang Cin memandangnya dengan sorot mata yang menghina, ucapnya sambil mencibir.
"Hah, sudah sekian lama aku berkecimpung di dunia Kangouw, orang yang pernah terjungkal di tanganku sudah tak terhitung jumlahnya, kata2 seperti ucapanmu inipun sudah kenyang kudengar. Terserah padamu, asalkan malam ini tidak kubunuh kau, hari selanjutnya adalah milikmu, terserah apa yang akan kaulakukan, siapapun tiada yang akan merintangimu ....Cuma, kukira usahamu hanya akan sia2 belaka."
Dengan menggreget Bwe Sim berkata.
"Tunggu saja kau!"
Siang Cin tersenyum tak acuh, kembali ia mengintai keluar melalui lubang kecil itu, dari situ iapun menyiarkan suara "kuk kuk"
Seperti bunyi burung hantu. Habis bersuara begitu, ketika ia berpaling pula, mendadak sikapnya berubah kereng, ucapnya dengan bengis.
"Bwe Sim, ingat, jangan bersuara, jangan sembarangan berbuat apapun, hatiku cukup kejam apapun dapat kulakukan. Sebaliknya, tentu kauingin hidup lebih lama lagi bukan?"
Bibir Bwe Sim tampak ber kerut2, ia menyeringai dan berkata dengan bandel.
"Segera kuberteriak minta tolong ...."
Tapi belum habis ucapannya, tahu2 angin mendesir, Hiat to bisu di tubuh Bwe Sim terusap, kontan mulutnya membungkam dan tak dapat bersuara lagi.
"Ingat, satu kali ini saja dan tiada lain kali. bila terjadi lagi jiwamu pasti melayang!"
Jengek Siang Cin.
Sembari bicara ia mengintai pula melalui lubang kecil tadi.
Dilihatnya beberapa sosok bayangan orang telah menyelinap keluar dari hutan sana dan secepat terbang melayang ke kaki tembok benteng sini.
Hampir pada saat yang sama, tiba2 Siang Cin mendengar dinding kanan kiri tempatnya berada itu bergema suara "duk duk duk", tiga kali cepat dan tiga kali lambat, ia menoleh dan tanya kepada Bwe Sim.
"Apa artinya itu?"
Dengan gemas Bwe Sim melototinya dan memejamkan mata, tampaknya dia sudah nekat takkan memberi keterangan apapun andaikan jiwanya harus melayang sekalipun.
Mendadak tergerak pikiran Siang Cin, cepat ia menerobos keluar ruangan itu, lebih dulu ia menuju sebelah kanan, ia menirukan cara Bwe Sim tadi dan mengetuk ubin batu pada pojok tembok yang lain.
Suasana sunyi senyap, tapi dengan cepat ubin batu itu lantas bergerak, namun sehelum ada orang mengnongol keluar, secepat kilat Siang Cin menerobos ke 344 dalam, hanya sekejap ia menghilang di dalam lubang itu, menyusul lantai terdengar suara gedebukan beberapa kali disertai suara jeritan tertahan.
Sekejap kemudian Siang Cin sudah melompat naik lagi ke atas, jubahnya yang kuning tampak berlepotan darah.
Lalu ia mengetuk lagi ubin batu sebelah kiri, baru saja sebuah kepala hendak menongol keluar, kontan dia tabok batok kepala orang itu hingga terjungkal ke bawah, menyusul iapun menerobos masuk, selagi orang2 di siru terkejut oleh jatuhnya kawan mereka, tangan Siang Can terus bekerja dan serentak tiga orang telah dibinasakan pula.
Sampai ajalnya keempat orang itu sama sekali tidak tahu siapa yang membunuh mereka.
Sisa seorang lagi kaget setengah mati dan berdiri melenggong seperti patung.
Siang Cin tidak lantas membunuhnya lagi, tapi ia gampar muka orang dua kali sehingga orang itu megap2 dan darah mengucur keluar dari ujung mulutnya.
Gamparan itu se akan2 menyadarkan orang itu dari impian, cepat ia berlutut dan menyembah sambil memohon.
"Ampun ..... ampun hohan ..... ."
"Apa yang kalian lihat barusan? Apa artinya ketukan dinding tiga kali cepat dan tiga kali lambat itu?"
Tanya Siang Cin dengan bengis. Dengan muka pucat dan menggigil ketakutan orang itu menjawab.
"Tadi ..... tadi Li Gun seperti ..... seperti melihat beberapa bayangan orang, dia, ragu2 pada ..... pada pandangannya sendiri dan tidak ......tidak berani rnenyiarkan tanda bahaya, maka ......maka lebih dulu menggunakan tanda rahasia untuk bertanya jawab dengan liang panah yang lain, tapi..... tapi sebelum ada suara jawaban apa2, tahu2 hohan sudah ..... sudab datang....."
Diam2 Siang Cin menghela napas lega, sekali tendang ia bikin orang itu pingsan, lalu ia keluar lagi dan merapatkan kembali kedua liang itu, ia melongok keluar tembok benteng dan mengeluarkan suara "kuk kuk"
Pula.
Maka beberapa sosok bayangan yang mendekam di kaki tembok lantas melayang ke atas bagai burung raksasa.
Nyata orang2 ini adalah Sebun Tio bu, Kin Jin, Loh Hou dan Le Tang.
Tanpa banyak omong Siang Cin menuding liang panah tempat sembunyinya tadi dan berkata.
"Turuh ke sana!"
Dengan cepat mereka berlima lantas menghilang ke dalam liang itu. Mereka merasa lega setelah berada di dalam.
"Apa gunanya ruangan sesempit ini, Siang-susiok?"
Tanya Le Tang.
"Mereka menyebut ruangan ini `liang panah", tutur Siang Cin dengan tertawa.
"Di sekeliling Ji-ih hu seluruhnya ada ratusan tempat panah begini, asalkan mendapat aba2, serentak akan terjadi hujan panah, perancangan busur panah ini sangat bagus dan caranya juga sangat keji ......"
Begitulah secara ringkas ia lantas menceritakan apa yang diketahuinya dengan macam2 perangkap yang terpasang di Ji ih hu ini, selain itu iapun menyatakan pendapatnya bahwa bukan mustahil di sini juga ada bahan peledak terpendam seperti apa yang terdapat di Ce ciok giam, hal ini harus mendapat perhatian sepenuhnya.
345 Lebih jauh Siang Cin menyatakan salah satu di antara mereka harus menyusup keluar kembali untuk memberi laporan kepada Thi Tok heng dan pimpinan Bu siang pay yang lain.
"Bagaimana kalau bikin capai Kin beng?"
Katanya terhadap Kim lui jiu Kin Jin dengan tersenyum.
"Baik,"
Jawab Kin Jin tanpa pikir.
"Tapi Kin heng harus selalu ingat suatu hal pokok, yakni tugasmu ini maha penting dan menyangkut keselamatan be ribu2 orang Bu siang pay, sepanjang jalan hendaklah engkau jangan terlibat dalam pertempuran dengan musuh, tujuanmu ialah lolos dan mencapai tempat tujuan."
"Jangan kuatir, kalau dikejar, aku akan lari, kuyakin kepandaianku ini cukup dapat diandalkan,"
Ujar Kin Jin dengan tertawa.
"Baiklah, urusan jangan tertunda, sekarang juga silakan Kin heng berangkat,"
Kata Siang Cin.
"Nah, selamat jalan!"
"Selamat tinggal! Sampai bertemu pula!"
Jawab Kin Jin sambil memberi salam kepada semua orang.
Setelah merapatkan kembali tutup lubang itu, Siang Cin melihat Loh Hou sedang mengintai keluar melalui lubang kecil di samping sana dan sedang berkata.
"Ha, sungguh cepat gerak tubuh Kin-tayhiap, ia meluncur seperti anak panah cepatnya ...."
Baru saja Siang Cin hendak menjawab, terdengar Sebun Tio bu berseru heran sambil mennding Bwe Sim yang menggeletak di atas tikar itu, katanya.
"He. di sini masih ada seorang betina? Busyet, boleh juga mukanya ...."
"Dia ini anak angkat ketua Tiang hong pay,"
Kata Siang Cin dengan hambar.
"Mengapa dia berada di sini dan kena kau kerjai?"
Tanya Sebun Tio bu. Dengan kikuk Siang Cin menjawab.
"Kupancing dia ke sini, lalu kututuk roboh dia."
Sebun Tio bu yang lebih berumur sudah dapat menduga apa yang terjadi, ucapnya.
"Hebat, jika aku yang menjadi kau, matipun mungkin dia tidak sudi ikut ke sini. Haha, Naga Kuning memang unggul dalam segala hal, kagum, aku benar2 menyerah."
"Tangkeh, pujianmu hendaklah diberi sisa sedikit,"
Cepat Siang Cin menimpali.
"Sekarang sudah waktunya bergerak, hayolah agar tidak terlambat."
"Baik, silakan memberi penjelasan,"
Jawab Sebun Tio bu. Dengan kereng Siang Cin lantas menutur.
"Tindakan kita yang pertama adalah menghancurkan liang panah Ji ih hu ini, di sekeliling benteng ini ada 120 tempat panah, sekilas tadi sudah kuperiksa, pada setiap pilar tembok adalah sebuah liang panah. Jika mau menyerbu, sebaiknya pasukan Bu-siang pay menyerbu melalui hutan tempat sembunyi kita tadi. Dengan perkataan lain, liang panah yang menghadap ke hutan ini harus dibasmi seluruhnya. Ji ih hu ini berbentuk persegi, 346 120 liang panah terbagi empat berarti satu sisi ada 30 tempat. Kita sudah menghancurkan tiga tempat, jadi bagian sini tertinggal 27 tempat lagi. Ke 27 tempat ini harus kita hancurkan sebelum pasukan Busiang pay tiba."
Setelah berhenti sejenak, dengan prihatin Siang Cin menyambung pula.
"Dan tugas menghancurkan ke 27 liang panah ini kuserahkan Sebun tangkeh dan Loh heng untuk melaksanakannya. Le heng hendaklah melakukan sergapan kilat kepada ka 90 liang panah yang lain, hancurkan sedapatnya, berapa banyak bisa d)hancurkan boleh dikerjakan sebisanya. Bunuh dan bakar, laksanakan dengan cara apapun juga.. Sebun Tio bu bertiga sama mengangguk. Lalu Siang Cin menyambung pula.
"Setiap liang panah ini dijaga lima orang, semuanya kaum keroco, asalkan dilakukan dengan gerak cepat, jangan sampai memberi kesempatan pada mereka untuk menyiarkan tanda bahaya, kukira pekerjaan ini tidak sulit dilaksanakan ......."
"Nanti dulu,"
Tiba2 Sebun Tio bu menyela.
"sejak tadi agaknya belum kaujelaskan cara bagaimana inenggunakan barisan panah ini, padahal teraling oleh dinding, melalui mana panah mereka akan dibidikkan?"
Siang Cin menunjuk sebuah pegangan pada pojok dinding sana, katanya.
"Menurut dugaanku, bisa jadi pegangan itu ditarik dan segera dinding di depan akan bergeser, mungkin ke atas atau ke bawah sehingga ada peluang untuk jalan panah,"
"Ya, kukira begitu,"
Ujar Sebun Tio bu, berbareng iapun melirik sekejap Bwe Sim yang masih menggeletak tak bisa berkutik itu. Dengan gemas nona itu melengos ke sana. Maka Siang Cin berkata pula dengan tertawa.
"Setelah kita berpencar nanti, ada tiga urusan penting harus kukerjakan. Pertama aku akan menuju ke loteng yang bernama Hwe im kok itu untuk mencari puteri Thi ciangbun, sudah tentu bila kepergok Khang Giok tek, bocah itu pasti juga takkan kulepaskan. Kedua, sudah kuketahui tempat tahanan orang Bu siang pay yang tertawan itu, mereka harus kubebaskan dengan cepat. Ketiga, sedapatnya akan kuhanaurkan berbagai perangkap yang tersebar di Ji ih-hu ini."
"Wah, semuanya tugas berat, apakah kau dapat melaksanakannya sendirian?"
Tanya Sebun Tio bu.
"Siang heng, kukira salah satu satu diantara kami bertiga ini ikut membantumu ..... .."
"Tidak perlu,"
Sela Siang Cin.
"Sendirian akan lebih leluasa bertindak, andaikan gagal juga tak perlu kukuatirkan terkepung musuh. Tambah orang tentu akan menambah beban pikiranku malah."
"Tapi dengan demikian, bukankah akan menggegerkan selurah Ji ih hu?"
Tanya Sebun Tio bu.
"Ya, terpaksa dan sukar dihindarkan,"
Kata Siang Cin.
"Menurut perkiraanku, besok pagi Bu siang pay sudah dapat mulai menyerbu Toa ho tin, jadi sudah dekat waktunya."
"Lalu bagaimana tindakan kita selanjutnya setelah urusan di sini sudah beres?" 347
"Sederhana, kacaukan suasana di Ji ih hu sini dan menyambut penyerbuan Bu siang pay,"
Kata Siang Cin dengan tertawa.
"Cuma ingat, jangan terlibat dalam pertempuran terbuka melainkan main gerilya saja."
"Dan bagaimana dengan betina itu?"
Tanya Sebun Tio bu sambil melirik Bwe Sim yang masih meringkuk di pojokan sana.
"Menurut pendapat Sebun tangkeh .
"Tutuk saja Hiat tonya dan ampuni jiwanya, anak perempuan, kukira bukan orang jahat yang tak terampunkan."
"Tepat, terus terang, aku memang tidak bermaksud membunuhnya."
Lalu Siang Cin mendekati Bwe Sim, katanya dengan pelahan.
"Nona Bwe, kami tidak ingin membunuh kau, tapi rencana gerakan kami sudah kau dengar semua, bila kami tinggaikan kau di sini, jangan2 setelah kau temukan mereka, rahasia gerakan kami akan kau laporkan kepada mereka, kan bisa susah buat kami. Maka akan kututuk Hiat to tidurmu dengan caraku yang khas, setengah hari kemudian kau akan sadar dengan sendirinya. Nah, silakan istirahat dulu, selamat tidur, selamat bermimpi."
Bwe Sim ingin meronta, tapi percuma karena tak bisa berkutik sama sekali, secepat kilat Siang Cin menutuk Hiat to yang membuatnya tidur pulas dengan caranya yang khas.
Lalu katanya kepada Sebun Tio bu bertiga.
"Nah, sekarang silakan kalian mulai melakukan tugas masing2."
"Baik, kami segera berangkat, Siang heng sendiri diharap hati2,"
Jawab Sebun Tio bu sambil memberi hormat.
Cepat mereka menerobos keluar ruangan tembok benteng itu dan terpencar pergi melaksanakan tugas masing2.
Siang Cin juga lantas menyelinap kembali ke sisi Kim bian tin, ia ragu2 sejenak, lalu merunduk maju menyusuri serambi yang menghubungkan antar gedung itu.
Lantaran sudah tahu perangkap2 apa yang teratur di Ji ih hu, maka dengan selamat dapatlah ia menghindari beberapa regu patroli dan melintasi beberapa gedung.
Sekarang telah dilihatnya sebuah loteng kecil yang terletak di belakang gedung ketujuh, di sebelahnya ada sebatang pohon Siong raksasa.
Dengan gesit ia terus cnenyelinap ke depan, dengan cepat ia sudah mendekati loteng pojok itu, beberapa kali hampir saja ia tersangkut oleh tali sutera yang melintang di bagian2 tertentu.
Sesudah di bawah loteng itu, ia mendongak, hampir Siang Cin berjingkrak kegirangan, ternyata di atas pintu ada sebuah papan kecil dengan tulisan "Hwe im kok".
Inilah tempat yang dicari, di sinilah Thi Yang yang, puteri ketua Bu siang pay itu berada.
Belum lagi dia menemukan jalan untuk naik ke atas loteng, se konyong2 terdengar orang membentak.
"Siapa itu?"
Cepat Siang Cin mendekam di tempatnya tanpa bergerak, ia pasang kuping mengikuti keadaan tempat datangnya suara itu.
Untuk sejenak suasana menjadi 348 sunyi, lalu ada suara omelan seperti beberapa orang sedang bertengkar.
Suara itu ternyata datang dari atas pohon Siong di samping Hwe-im kok ini.
Siang Cin tetap bertiarap tanpa bergerak, tempat sembunyinya sekarang berada di tengah semak2 rumput kering.
Sambil mendekam di situ iapun mendengar apa yang diributkan orang2 itu.
Jarak tempat sembunyi Siang Cin dengan pohon itu ada 30 an langkah jauhnya, tapi suara bisik2 orang itu dapat didengarnya meski cuma sepotong sepotong, terdengar seorang sedang berkata.
" ....jelas barang putih2 itu cuma seonggok rumput kering ....Keparat, hanya bikin kaget saja ....persetan kau ...."
"Tapi semula kan tiada benda begitu, kulibat benda itu bergerak ...."
"Coba kau dekati dan periksa sendiri ....cuma nyap nyap melulu di sini, apa gunanya ...."
Begitulah para penjaga itu rupanya merasa sangsi pada apa yang dilihatnya sehingga bertengkar sendiri.
Sekilas Siang Cin sudah dapat memperkirakan jarak puncak poison Siong itu, diam2 ia menghimpun tenaga, ia pikir setiap tindakannya harus berhasil dengan sekali gempur, kalau tidak urusan bisa runyam.
Setelah incar baik2 tempat yang dituju, mendadak ia mengapung ke atas laksana burung raksasa, dengan ringan ia hinggap di pucuk pohon, ia lihat sedikit dibawahnya, di antara dahan pohon yang bercabang dibuat sebuah panggung kayu beratap dan diberi pagar pengaman, tiga orang berseragam kulit sedang ribut mulut.
Ketika mendadak mendengar suara kresekan daun pohon, mereka sama mendongak, tapi sebelum tahu apa yang terjadi, tahu2 dada setiap orang telah kena ditonjok laksana digodam, sama sekali tidak sempat bersuara, tiga sosok tubuh lantas terkapar.
Panggung penjaga yang dibangun di atas pohon itu ternyata sangat baik untuk batu loncatan menuju ke loteng Hwe im kok.
Diam2 Siang Cin bergirang, cepat ia melayang keemper jendela loteng itu.
Daun jendela ternyata dipalang dari dalam.
la mengerahkan tenaga dalamnya dan mendorong pelahan.
Palang jendela tergetar patah dan terbukalah jendela itu.
Meski cuma menerbitkan suara yang sangat pelahan karena patahnya palang jendela, tapi hal itu sudah cukup membuat terkejut orang di dalam.
Terdengar suara nyaring halus bertanya dengan terkejut.
"Siapa itu?"
Pelahan Siang Cin mendorong daun jendela dan menyelinap ke dalam, ia rapatkan kembali jendelanya, lalu dengan gerak cepat ia melayang ke depan tempat tidur yang tertutup oleh kelambu indah itu.
Tanpa ragu2 ia menyingkap kain kelambu, sekali tarik ia seret seorang perempuan muda dari dalam selimut.
Di bawah cahaya lampu yang cukup terang kelihatan wajah perempuan muda yang terkejut ini memang cantik, putih mulus tubuhnya.
Pada detik sebelum dia diseret meninggalkan tempat tidurnya itu, sebelah tangannya sudah hampir menyentuh tali 349 sutera yang terikat di samping pembaringannya.
Itulah tali pembunyi genta tanda bahaya.
"Kau ..... siapa kau?!"
Tanya perempuan muda itu dengan kejut dan takut2, kedua tangannya bersilang menutupi dadanya yang setengah terbuka itu.
Siang Cin tiddk lantas menjawab, dengan tajam ia memandang gadis itu, mendadak ia pegang dagunya dan didongakkan ke atas, maka tertampaklah sebuah tahi lalat merah di samping bawah dagu gadis itu.
"Kau Thi Yang yang bukan?"
Tanya Siang Cin. Gadis itu terbelalak, jawabuya dengan ragu2.
"Ya, siapa kau?"
"Ehm,"
Siang Cin manggut2.
"Memang kau yang kucari."
"Kau mencari diriku? Apakah ..... apakah ayah yang menyuruhmu ke sini?"
"Betul,"
Kata Siang Cin.
"Lantaran kau, banyak orang Bu siang pay yang bergelimpangan di Pi-ciok can, sekarang Hek jiu tong teldh bergabung pula dengan Jik san tui, Toa to kau, Jit ho bwe, Tiang hong pay, Ji ih hu serta Ceng siong san ceng untuk menghadapi Bu siang pay, Setelah gagal di Pi ciok san, di bawah pimpinan langsung ayahmu kini Bu siang pay akan menyerbu kemari, pertempuran sudah berlangsung selama dua tiga hari. Semua hanya gara2 dirimu seorang. Khang Giok tek itu lebih2 tak terampunkan, sikapmu juga sangat mengecewakan ayahmu."
Thi Yang yang termenung sejenak, ucapnya hemudian dengan rawan.
"Aku ....aku sendirilah yang rela ikut pergi bersama Giok tek, kini aku sudah menjadi milik Giok tek, harap engkau suka menyampaikan kepada ayah agar beliau anggaplah tidak pernah mempunyai anak seperti diriku ini ........"
Siang Cin menjadi gusar, katanya dengan mendongkol.
"Kau dibesarkan orang tua, disayang dan dimanjakan, akhirnya kau kabur bersama orang begitu saja?"
Dengan air mata berlinang Thi Yang yang berkata.
"Aku sudah cukup dewasa ..... aku berhak memilih cara hidupku sendiri, aku cinta Giok tek, dia juga cinta padaku ......Kami sudah terikat menjadi suami isteri, mengapa ..... mengapa ayah hendah memisahkan kami?"
Siang Cin mendengus, katanya dengan menahan rasa gusarnya.
"Hm, Khang Giok tek membalas air susu dengan air tuba, ditolong malah mentung. Dia juga membawa minggat kau, inilah kesalahan pertama. Dia juga mencuri harta pusaka ayahmu. satu kotak Ci giok cu, inilah dosa kedua. Tanpa lain ayahmu dia menggagahi kau, inilah dosa ketiga. Belum lagi wibawa ayahmu yang tercemar, kehormatan Bu siang pay yang dirusak serta tata adat yang di langgarnya, semua ini tidak kalian hiraukan lagi, apalagi sekarang telah banyak menimbulkan korban jiwa, dendam berdarah ini menjadikan dosa kalian bertambah besar."
Dengan ter guguk2 Thi Yang yang berkata pula.
"Kami berbuat begini karena kami kuatir ayah tidak menyetujui kehendak kami ..... tentang sekotak Ci-giok cu itupun aku sendiri yang membawanya sekadar biaya perjalanan, sebab ......."
"Sudahlah, kukira sekarang sudah terlambat uutuk berbicara hal2 ini,"
Ujar Siang Cin dengan hambar.
"Habis bagaimana ...... bagaimana kebendak ayah?"
Tanya si nona dengan menangis.
"Dendam berdarah harus dituntut dengan darah pula, semua ini kini sudah berlangsung,"
Jawab Siang Cin.
"Dan akan ..... akan kau apakan diriku?"
Tanya Yang yang sambil menyurut mundur.
"Akan ku serahkan dirimu kepada ayahmu,"
Jawalk Siang Cin tegas, berbareng tangannya rnenjulur, secepat kilat ia tutuk si nona sehingga roboh terkulat.
"Maaf nona Thi, kukira kita harus berangkat sekarang,"
Bisik Siang Cin sambil meraih selimut di tempat tidur itu untuk membungkus tubuh Thi Yang yang. Pada saat ia hendak memanggul si nona, tiba2 di luar pintu kamar ada orang bertanya.
"Ada kejadian apa nyonya muda?"
Karena tidak mendapat jawaban, orang di luar mulai mengetuk pintu dan bertanya pula.
"Nyonya muda, apakah ....apakah engkau mengigau... ."
Siang Cin mendekati pintu, mendadak ia membuka daun pintu, kedua tangan bekerja sekaligus, terdengarlah suara gemuruh, dua lelaki baju hitam terguling ke bawah loteng.
Sekilas kelihatan lencana di dada mereka, kiranya anggota Hiat hun-tong, barisan berani mati dari Hek jiu tong.
Karena suara gemuruh itu, seketika seluruh Hwe im tong menjadi geger, terdengar orang banyak memburu ke sini.
Siang Cin merapatkan kembali daun pintu, ia harus cepat meninggalkan tempat ini.
Dia ambil lampu minyak dan dilemparkan ke atas tempat tidur, hanya sekejap saja api lantas berkobar menjilati kelambu dan kasur terus menjalar sekitarnya.
Di tengah gelak tertawanya Siang Cin memanggul tubuh Thi Yang yang, berbareng ia depak meja besar di depan tempat tidur dan tepat memapak empat lelaki yang sementara itu telah menerjang masuk dengan mendobrak pinto.
Pada saat lain Siang Cin lantas menjebol daun jendela dan melayang keluar.
Sementara itu Ji ih hu telah diliputi suasana sibuk dan tegang, walaupun begitu tidak menjadi kacau, terdengar suara bende ber talu2 diseling suara genta yang nyaring.
Dalam kegelapan bayangan orang berlarian kian kemari dengan senjata terhunus.
Setelah melayang keluar Hwe im kok, Siang Cin tidak lantas kabur jauh, ia melompat ke panggung penjaga yang berada di atas pohon Siong itu, dari situ ia dapat memandang keadaan sekelilingnya.
Sementara itu ia telah tutup Hiat to tidur Thi Yang yang sehingga nona itu tak sadarkap diri.
la memilih suatu tempat, lalu melayang turun ke sana, yaitu di samping sebuah sumur yang berada di kaki dinding.
351 Ia pasang telinga dan merasa tiada suara orang di sekitarnya, cepat ia mulai menggali tanah dengan kedua taagannya.
Karena diselimuti salju, maka tanah di situ tidak keras, tanpa banyak buang tenaga Siang Cin dapat menggali sebuah lubang yang cukup untuk membujur sesosok tubuh manusia.
Dengan pelahan Siang Cin membaringkan Thi Yang yang di liang panjang itu, lalu diuruk sedikit tanah bersalju, bagian mukanya yang tertutup selimut disingkapnya kemudian ditutupnya dengan seonggok rumput kering.
Di sekelilingnya diberi pula beberapa potong batu agar rumput kering itu tidak tersingkit oleh tiupan angin atau kena diinjak kaki orang.
Tanpa ayal ia melayang ke arah lain, kini Kim-bin tian yang langsung dituju, kini iapun tidak perlu menyembunyikan jejaknya lagi.
Jalan yang ditempuhnya adalah jalur aman yang telah dikenalnya.
Sesudah dekat dengan tempat tujuan, diketahuinya ada beberapa bayangan yang memiliki Ginkang tinggi sedang memburu datang.
Pada saat itu juga, se konyong2 di belakang Kim bin tian berkobar cahaya terang, api menjulang tinggi, entah gedung mana yang tertimpa bencana lagi.
Suasana menjadi panik, terdengar suara jerit kaget di sana sini, dua di antara kelima bayangan orang yang mengejar Siang Cin itu memburu ke arah berkobarnya api, tiga yang lain tetap mengejar ke arah Siang Cin.
Diam2 Siang Cin mendengus, ia sengaja memilih ke tempat yang sepi dan sampai di suatu gardu di tepi sebuah kolam yang kering, di situlah ia berdlri tegak menantikan datangnya musuh.
Dengan kencang ketiga orang itu memburu tiba, ketika melihat orang yang mereka kejar berbalik berhenti menunggu kedatangan mereka, keruan mereka jadi melengak.
Tapi merekapun jago kawakan, meski terkejut tidak menjadi gentar.
Sekali bersuit, serentak ketiga orang menghadapi Siang Cin dari tiga arah.
Baca Juga: Pendekar Sadis 7
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 4