Eps 6 Bara Naga - Yin Yong
Baca online Bara Naga - Yin Yong
Cersil Bara Naga - Yin Yong.
"Apakah Nyo Cin di sana? Kau keparat ini mungkin terlalu banyak tenggak air seni kuda ya, masa suara tuan besarmu juga tidak kau kenal lagi."
Sejenak keadaan di balik pepohonan menjadi hening, tapi segera terdengar lagi suara lebih kereng.
"Jangan kelakar, kau anak buah siapa?"
Sebun Tin bu berludah, semprotnya gusar.
"Kunyuk, masa suaraku tidak kaukenal? Memangnya kau yang berkuasa di sini ...."
Dari balik pohon berkelebat keluar bayangan seorang tinggi besar, dengan mendelik ia menatap tajam Sebun Tio-bu, katanya pula dengan ketus "Memeluk harimau di Pan hou ceng."
Dalam hati Sebun Tio-bu mengumpat, sungguh tak kira bahwa orang akan main teka-teki, bila hanya gertakannya tidak mempan, Tapi dia tetap melangkah maju, sengaja dia berseru dengan nada gusar.
"Keparat, kau kira tuan besarmu tak bisa menjawab bahasa rahasiamu, Aku justeru tidak mau menjawab, coba apa yang dapat kaulakukan atas diriku?"
Bayangan tinggi itu menyeringi, tiba2 serunya tegas.
"Tangkap dia!"
Mendengar aba2nya, empat bayangan orang segera menerobos keluar dari tempat gelap, bagai serigala kelaparan saja mereka menubruk ke arah Sebun Tio-bu.
Sebun Tio-bu sudah nekat, ia tidak melawan, mendadak dia malah lempar kedua kampaknya ke jalan yang beralas batu gunung sehingga menimbulkan suara berkerontangan, sambil bertolak pinggang Sebun Tio bu meraung gusar.
"Siapa berani bergerak? Kalian berani bertingkah, keparat piaraan anjing, tidak bisa membedakan lawan atau kawan sendiri, mau main kekerasan terhadap tuanbesarmu ini?"
Karena gertakan Sebun Tio-bu ini, keempat laki2 itu melenggong sejenak dan merandek, mereka saling pandang dengan bingung. Sementara itu Sebun Tio bu masib terus berkaok2.
"Baru saja tuan besarmu ini pulang dari arah Liok-sun-ho sana, badan capai mulut kering, ingin selekasnya memberi laporan dan minta arak pada Toa-thauling, tapi kalian anak kura2 ini mencegatku di sini, memangnya kalian mau apa?"
Keempat laki2 itu sama berdiri bingung dan serba susah, sementara laki2 tinggi besar di belakang tadi lantas maju.. Sebun Tio-bu tetap bertolak pinggang, serunya dengan marah2.
"Kebetulan kau kemari, keparat, aku orang she Sebun hari ini ingin melihat kau keparat yang sinting ini hendak berbuat apa atas tuan besarmu ini."
Laki2 gede berpakaian merah itu berusia empat puluhan, wajahnya lebar gemuk merah, tapi air mukanya tampak kaku dingin, matanya yang tajam mengamati Sebun Tio bu dengan seksama, katanya dengan suara kaku.
"Apakah kau anak buah Toathauling?"
"Kalau bukan, memangnya aku ini anak buahmu?"
Damprat Sebun Tio bu. Laki2 baju merah itu menarik muka, hardiknya bengis.
"Kawan, mulutmu harus kenal sopan santun, meski kau anak buah Toa-thauling yang tersayang juga tak dapat menggertakku, jika kau tak mampu menjawab kode rahasia malam ini, maaf, Aku 224 orang she Pui terpaksa harus menahanmu"
Sebun Tio-bu menyeringai, jengeknya.
"Bagus. aku orang Sebun hendak pertaruhkan gentong nasiku untuk memenangkan penahanan ini, tapi bilamana urusan sampai terbengkalai, dihadapan Toa_thauling nanti kau yang harus bertanggung jawab akibatnya."
Laki2 baju merah itu menjadi ragu, jelas dia tetap gusar, akhirnya berkata dengan uring2an.
"Tinggalkan namamu."
Sambil mendengus, Sebun Tio-bu lantas berseru.
"Sebun Tio bu!"
Laki2 baju merah tampak tertegun, jelas dia seperti ingat nama ini, tapi kesannya tidak mendalam dan tidak ingat siapa gerangan tokoh yang bernama Sebun Tio bu ini, setelah berpikir sebentar, akhirnya dia mengulap tangan, serunya.
"Pergilah kita catat namamu."
Dengan menyeringai Sebun Tio-bu melangkah ke sana, katanya.
"Boleh, coba saja siapa yang salah dalam persoalan ini."
Tapi baru beberapa langkah, laki2 gede itu tiba2 membentak gusar.
"Berhenti!"
Berdebur jantung Sebun Tio-bu, tanyanya sambil menoleh.
"Ada apa?"
Laki2 gede itu mencak2, serunya.
"Didepan sana adalah tempat menyekap tawanan Hek-jiu-tong dan musuh kita, ada apa kau menuju ke sana?"
Hampir saja tergelak2 saking senang hati Sebun Tio-bu, sambil berpikir sementara mulutnya balas menjengek.
"Memangnya perlu kau mengoceh, aku juga tahu di mana tawanan Hek-jiu-tong dikurung, kalau dilarang pergi ke sana, memangnya aku orang Sebun berani terobosan ke sana."
Saking gusar laki2 gede baju merah itu mendelik, dengan gemas dia membanting kaki, serunya beringas.
"Baik, anggaplah mulutmu memang hebat, lihat saja nanti."
Sebun Tio bu menyeringai dan melangkah ke depan, tidak jauh, di balik pohon sana tampak bayangan tembok tinggi, jalanan kecil inipun tampak melebar.
Tanpa sangsi Sebun Tio-bu mengikuti arah jalan itu, baru saja dia hendak menerobos ke sebelah sana dari tempat gelap mendadak berkumandang hardikan;
"Siapa?"
Sebun Tio-bu berteriak gusar.
"Pau-hou-ceng memeluk harimau, lekas jawab."
Lima bayangan orang tampak melompat keluar dari tempat gelap, seorang yang terdepan sebagai pimpinan segera menyahut gugup.
"Hasrat terkabul di Ji-Ih hu. Eh, kiranya orang sendiri ......."
Sambil mendengus Sebun Tio-bu bertanya.
"Ada kejadian apa di sini!"-Lagaknya seperti orang gede. Kelima orang itu cepat menghampiri, seorang yang berpakaian merah menyahut.
"Tiada apa2, engkau tentu lelah, sudah malam, begini masih ronda?"
Sebun Tio-bu menghela napas ujarnya. Makan gaji tentu harus menjalankan tugas, apa boleh buat? Keparat, apakah tawanan di dalam menimbulkan keributan? Kalian harus lebih hati2."
Laki2 itu tertawa, katanya.
"Tanggung beres! Lapisan pintu pertama adalah batu raksasa ribuan kati, dirangkap lagi papan besi tebal, lalu tiga pintu terali besi lagi, umpama rombongan gajah yang di kurung di dalam juga takkan mampu menerjang ke luar, apa lagi mereka manusia biasa?"
"Kupikir demikian juga, apalagi keparat itu sudah cukup payah setelah disiksa sedemikian rupa. Tapi situasi beberapa hari ini semakin tegang, kuatirnya bila bala bantuan Bu-siang-pay akan menyerbu kemari."
Orang itu berkedip, tanyanya lirih.
"Saudara, kabarnya ada mata2 musuh menyelundup masuk di depan?"
Sebun Tio bu celingukan sebentar, lalu merendahkan suara seperti penuh rahasia, katanya.
"Memang, kepandaian bocah itu ternyata amat lihay, beberapa jago kita ternyata tidak mampu membekuknya meski sudah dikeroyok, malah Ciang-samya dari Jit ho-hwe terluka, kudengar enam orang kitapun sekali gebrak telah terbunuh, wah. kalau bicara soal ini aku jadi ngeri ...."
Kelima laki2 itu ikut terkesiap, yang memimpin itu berkata dengan suara serak. 225
"Kalau demikian, lawan agaknya sukar dilayani, padahal hanya seorang musuh dan kita sudah dibikin kelabakan, kalau datang beberapa orang lagi, entah apapula yang akan terjadi di sini ..."
"Memang ... ."
Ucap Sebun Tio-bu.
"Mendingan di sini, ada tembok tebal dan dinding tinggi, dipasangi peralatan rahasia lagi, kemanapun kalian masih bisa sembunyi, kita yang di depan harus membendung serbuan musuh mana kuat menghadapi golok tajam mereka ...."
Orang itu menghela napas, katanya dengan muka masam.
"Soal alat rahasia segala kan hanya mendengar saja, kapan kita pernah melihatnya? Entah bagaimana bentuknya, apakah betul kuat membendung serbuan musuh, juga masih merupakan tanda tanya .."
Sebun Tio bu agak kecewa karena tak dapat memancing keterangan yang penting, katanya tawar.
"Siapa saja yang terkurung di dalam, apa kalian tahu?"
Orang itu menggeleng, katanya.
"Ini soal penting, kecuali beberapa pemimpin besar, kurasa tiada yang mengetahui, bagi kita siapa mereka tidak soal, yang penting bila tiba waktunya cara bagaimana harus mencari jalan hidup ....."
Sebun Tio-bu tertawa, katanya.
"Betul, hanya terima beberapa keping duit masakah harus mempertaruhkan jiwa ... Sudahlah, kalian tentu lelah, aku akan periksa sebelah depan."
Lima orang itu segera menyingkir memberi jalan, si baju merah berpesan.
"Harap periksa dengan seksama, saudara."
Dengan langkah enteng Sebun Tio-bu beranjak ke depan sambil mengiakan, tiba di pinggir hutan sebelah sana, keadaan gelap dan sunyi, dari pucuk pohon di dengarnya suara Siang Cin.
"Tangkeh ...."
Waktu Sebun Tio-bu mendongak, seenteng burung Siang Cin telah meluncur turun di sebelahnya, katanya.
"Percakapanmu sudah kudengar. Kini tugas pertama kita harus berdaya cara bagaimana menerjang masuk ke sana, kupikir aku perlu meniru caramu merebut seperangkat pakain mereka, bila perlu gunakan kekerasan dan terjang ke dalam dengan kerja kilat, jangan sampai menimbulkan suara berisik, supaya mereka tidak sempat lapor dan mengirim tanda bahaya ...."
Sebun Tio-bu menepuk paha, tatanya.
"Bagus, sekali kerja beres seluruhnya, memang itulah cara kerja Naga Kuning. Hayolah kita mulai."
Siang Cin tepuk pundak orang serta menyeretnya masuk ke dalam hutan cemara, katanya memperingatkan.
"Hati2, di sana ada pos penjagaan, ada dua penjaga di sana."
Tapi sengaja mereka berjalan terang2an supaya kedatangan mereka diketahui orang, tak jauh mereka maju, tampak cahaya bergerak di sebelah depan, dua bayangan orang segera muncul dengan suara bentakan.
"Siapa itu? Berhenti!"
Jilid 13 Siang Cin mendengus, mendadak dia melejit ke depan, hanya kelihatan berkelebat, belum lagi kedua orang itu sempat melihat jelas siapa yang datang, tahu2 keduanya sudah tersungkur binasa.
Dengan gerak cepat Sang Cin belejeti pakaian salah seorang terus dipakainya, kerudung muka dibuang, dengan tertawa ia berkata.
"Hayolah, segalanya beres dan lancar."
Cap-pi-kun-cu Sebun Tio bu mengacung-kan jempol, katanya memuji.
"Cepat benar!" 226 Segera mereka maju lebih jauh, tujuannya adalah gedung besar yang ada di belakang hutan, setelah menghindarkan tujuh pos penjagaan, akhirnya mereka tiba di depan gedung batu, yang berbentuk segi empat. Gedung segi empat yang besar ini hanya terdapat delapan jendela, setiap jendela luasnya kira2 satu kaki dipasangi terali besi sebesar lengan pula, celah2 terali besi itu hanya selebar kepalan tangan. Pintu gerbangnya berwarna kuning dengan hiasan paku besar yang mengkilap, daun pintu tertutup rapat, tembok batu berwarna coklat tua terasa betapa kukuh bangunan gedung ini, suasana terasa seram dan menyesakkan napas. Dua batang obor besar tertancap miring di atas tembok, bunga api sering terpercik berjatuhan bercampur tetesan minyak bakar. Sepuluh laki2 berdiri di kanan-kiri tanpa bergerak, sekeliling sunyi senyap. Siang Cin menoleh sambil tertawa pada Sebun Tio-bu, dengan langkah tegap mereka keluar dari balik pohon, langsung mereka menuju pintu depan gedung persegi itu. Sorot mata kesepuluh laki2 baju merah yang berjaga di depan, pintu segera tertuju ke arah mereka, sorot mata mereka tampak curiga dua orang yang di depan serentak mengangkat tangan dan menegur.
"Berhenti sebentar."
Siang Cin menjura, katanya dengan tertawa;
"Malam dingin, angin kencang, tentunya kalian capai dan menderita."
Tanpa memperlihatkan perasaan apa2, kedua orang itu mengangkat kepala, lalu yang di sebelah kiri bersuara.
"Malam selarut ini kalian datang kemari, entah ada kepentingan apa?"
"Ya, memang ada keperluan,"
Sahut Siang Cin tenang dan wajar.
"Toa-thauling suruh kami mengadakan pemeriksaan khusus, adakah sesuatu yang tidak beres di sini? Soalnya ada mata2 musuh yang telah menyelundup ke bagian depan ...."
Kedua orang itu saling pandang, orang yang bersuara itu berkata pula.
"Kalau Toathauling ada perintah, kami semua tentu memberikan kelonggaran, tapi apakah kalian membawa medali perunggu Pau-hou-ceng dari Toa-thauling, siapapun yang akan masuk ke penjara harus memperlihatkan medali perunggu itu."
Dalam hati diam2 Siang Cin mengumpat, tapi sikapnya tetap biasa, katanya.
"ToaBARA NAGA-Koleksi
KANG ZUSI 227 thauling hanya berpesan secara lisan, buru2 lagi sehingga tak sempat kami membawa medali perunggu yang diperlukan, tapi apakah pesan Toa-thauling secara langsung juga tidak berlaku di sini?"
Dengan menarik muka kedua orang itu menggeleng kepala, katanya sinis.
"Ketahuilah kawan, menurut perintah, kami hanya boleh memberi jalan berdasarkan medali perunggu, tanpa medali perunggu Pau-hou-ceng, umpama kakek-moyangku, sendiri juga tidak boleh masuk, ini bukan urusan main2, bila terjadi sesuatu, memangnya siapa yang bisa bertanggung jawab?"
"Apa betul demikian?"
Siang Cin menegas dengan tertawa aneh.
"Sudah tentu,"
Jengek laki2 itu.
"tiada yang harus diberi kelonggaran secara khusus di sini."
Sambil mengulap tangan Sebun Tio-bu maju selangkah, katanya dengan tertawa.
"Tanpa medali perunggu Pau-hou-ceng, apa benar bapakmu sendiri juga tidak kau beri kelonggaran?"
Merasa nada pembicaraan orang yang kaku mengancam tanpa terasa laki2 itu menyurut mundur, katanya waspada.
"Ya, begitulah, kau ...."
Belum habis dia bicara, mendadak Sebun Tio-bu ter gelak2, serunya..
"Baik sekali, kini boleh kau anggap kami berdua adalah kakekmu."
Kedua orang itu seketika naik hitam, tapi belum lagi sempat mereka bertindak, Siang Cin tiba2 sudah mendahului.
"blang", tubuh orang itu jungkir balik setombak jauhnya. Dikala telapak tangan kirinya melayang itulah, tangan kanan Siang Cin juga menggenjot laki2 yang lain sehingga menyemburkan darah dari mulutnya. Dalam waktu yang sama Sebun Tio-bu, melejit tinggi ke atas. sekaligus kaki tangan bekerja, empat musuh telah dirobohkan, empat orang yang masih hidup menjerit ngeri, dua di antaranya menubruk ke arah Sebun Tio-bu, seorang menerjang Siang Cin, dan seorang lagi lari sipat kuping menuju ke pintu gerbang terus hendak menarik sebuah gelang hitam yang tergantung di atas pintu. Mendadak kampak besar yang kemilau membacok kepala Siang Cin, tapi Siang Cin berkelebat maju memapak, kedua kakinya terayun, sekali pancal, menyusul tubuhnya melejit ke sana, berbagai gerakan ini dilakukan secara serentak, dikala orang roboh 228 terbanting sebat sekali Siang Cin sudah melayang jauh ke sana dan tiba di samping laki2 yang hendak menarik gelang hitam di pinto gerbang. Seperti cakar iblis telapak tangan Siang Cin tahu2 membabat, kepala laki2 itu kontan menggelinding jauh ke sana, darah menyembur dari lehernya yang putus, sekali depak mayat tanpa kepala itu ditendang roboh oleh Siang Cin. Dalam pada itu, kedua laki2 yang menubruk ke arah Sebun Tio-bu juga telah dibinasakan, cara kematian kedua orang ini sama, leher mereka bolong sebesar kepalan tangan. Dari mulai sampai kesepuluh orang itu menggeletak binasa hatinya berlangsung dalam waktu yang amat singkat. Dengan menyeringai Sebun Tio-bu menggosok kedua telapak tangannya. katanya.
"Cepat juga, ya?"
Siang Cin mengangguk serunya.
"Hayo kita terjang ke dalam."
Sebun Tio-bu lantas menggedor pintu sekerasnya, teriaknya.
"Buka pintu, lekas ada perintah khusus dari Toa-thauling."
Malam sunyi, maka suara gedoran terdengar keras sekali, dengan cepat daun pintu besi yang tebal dan berat itu lantas terbuka pelan2.
Dari celah2 pintu yang terbuka sedikit menongol keluar seraut wajah kurus, teriaknya tak sabar.
"Ada urusan apa? Malam buta begini ber-kaok2 bikin geger saja."
Kedua jari Siang Cin sekeras ujung tombak secepat kilat menjojoh leher laki2 muka kurus itu, dengan leluasa Siang Cin lantas seret keluar tubuh orang serta melemparkannya ke belakang.
Sebun Tio-bu terus menyelinap masuk, sorot matanya yang tajam mendapatkan di belakang pintu besar adalah sebuah kamar jaga persegi seluas satu tombak lebih, di dalam kamar terpasang enam buah lampu kaca, ada empat laki2 di dalam kamar, dua di antaranya rebah bermalas-malasan di atas dipan, dua orang lagi duduk berhadapan sedang bermain kartu, dari cara mereka yang asyik memperhatikan pada permainannya, se-olah2 jiwa sendiripun berani dipertaruhkan.
Begitu menyelinap masuk Sebun Tio-bu lantas angkat tangan seraya menyapa.
"Haha, senang betul kalian, sebaliknya kami yang harus bekerja berat dari fajar sampai malam gelap, sungguh menyebalkan,"
Kedua laki2 yang tengah berjudi itu tanpa menoleh, satu di antaranya yang menang bersuara kemalas2an.
"Mau periksa penjara lagi? Sialan, memangnya bui gelap gulita 229 seperti neraka ini jauh lebih penting daripada penjara di kota raja, sehari semalam berapa kali diadakan pemeriksaan, bukankah hanya beberapa keparat saja yang disekap di sini?"
Sambil tertawa Sebun Tio-bu berkata.
"Tapi jika terjadi sesuatu yang tidak beres, memangnya kalian dapat berbuat apa di sini?"
Merasakan jawaban yang kurang sedap orang yang bicara itu menoleh, ia jadi melenggong tanyanya kemudian.
"Eh, ,siapa kau? Kita belum pernah melihatmu ...."
Dalam pada itu Sebun Tio-bu sempat menjelajah keadaan kamar batu ini, Ruangan yang sumpek ini di bagian dinding sebelah kanan terlihat ada guratan pintu yang biasa dikerek turun-naik, maka dia menyeringai dingin, katanya.
"Siapa bilang kau pernah melihatku? Tuan besarmu memang baru pertama kali ini kemari."
Seorang lagi segera berjingkrak bangun, serunya gusar.
"Hai, kau ini anak buah Thauling yang mana? Bicaramu kenapa begini angkuh? Maknya, mau periksa bui saja harus bertingkah segarang ini?"
"Sudah tentu,"
Ujar Sebun Tio-bu sambil tertawa.
"kini tugasku yang utama adalah mengantar kematianmu."
Keruan kaget orang itu, teriaknya;
"Apa, apa kata mu?" ... Kedua tangan Sebun Tio bu bergerak melingkar terus ditarik pelan2 dan didorong, serangkum tenaga lunak yang tidak kelihatan mendadak menyambar, kontan laki2 itu mencelat, kepalanya menumbuk dinding dan roboh binasa dengan kepala remuk. Keruan teman judinya itu terkesima saking ngeri, ia ingin berteriak tapi suara tidak dapat keluar saking panik.
"Kau ... .mat ....mata2.."
"Peletak", tangan kanan Sebun Tio-bu menggenjot dada orang, suara tulang patah dan remuk menusuk pendengaran dalam suasana yang sepi ini sehingga dua orang yang rebah di dipan melompat kaget sambil kucek mata, mereka celingukan dengan bingung, tapi sebat sekali Sebun Tio-bu sudah melompat tiba, tanpa ampun kedua laki2 yang tersentak dari tidurnya kontan menjerit dengan tubuh terkulai dan tak bernyawa lagi. Dalam pada itu Siang Cin telah menyelinap masuk serta merapatkan pintu, langsung dia menghampiri alat rahasia di tembok sana, katanya dengan mengedip mata.
"Tangkeh, kenapa tidak kau taya dulu cara membuka pintu rahasia ini."
Sebun Tio bu diam saja, sesaat baru bersuara setelah berpikir.
"Kita gempur dengan kekerasan saja."
Siang Cin tertawa, katanya.
"Mungkin akan terlalu banyak membuang tenaga." 230 Sebun Tio-bu berkata tak acuh.
"Apa boleh buat, Siang-heng, marilah kita bergiliran, aku mulai lebih dulu, setelah lelah nanti ganti kau yang menggempur."
"Bolehlah,"
Ucap Siang Cin tertawa.
"mumpung ada kesempatan, aku ingin menyaksikan kekuatan Tay-lik-kim-kong-ciang Tangkeh yang menggemparkan dunia persilatan itu."
Codet di muka Sebun Tio-bu mendadak bersemu merah, katanya dengan sikap kereng. Orang she Sebun selamanya tidak ber-muka2, Siang heng boleh kau saksikan."
Mendadak dia melompat maju, kedua tangannya menghantam sekaligus, pintu batu tebal itu seperti ditimpa godam raksasa, maka menggelegarlah suara keras.
Di tengah getaran keras pintu batu tampak bergoyang, kerikil debu beterbangan, Sebun Tio-bu kembali susuli pula dengan pukulan kedua, kembali terjadi goncangan keras, beruntun melancarkan belasan pukulan berat baru Sebun Tio-bu menyurut mundur, keringat tampak membasahi ujung hidung dan pelipisnya, setelah menarik napas dalam2 akhirnya dia berkata sambil menggosok tangan.
"Siang-heng, kini giliranmu."
Pintu batu yang tebal di jepit diantara batu2 gunung yang kukuh itu kini sudah tak keruan bentuknya seperti habis digempur oleh kampak, batu tebal yang semula rata kini tampak melesak ke dalam, rontokan batu tampak memenuhi lantai.
Tay-lik-kimkiongciang yang dilontarkan Sebun Tio-bu memang dahsyat dan tak bernama kosong.
Siang Cin tersenyum, katanya.
"Tangkeh, Tay-lik-kim-kong-ciangmu ini mengutamakan kekerasan, mungkin Cayhe tidak memiliki kekuatan se hebat mu"
"Siang-heng,"
Iekas Sebun Tio-bu berkata.
"bukan saatnya bicara sungkan, silahkan kau turun tangan saja, setelah istirahat nanti kuganti menggempurnya pula ...."
Sambal berteriak, air muka Sang Cin tampak beringas, di tengah teriakan keras itu secepat kilat seperti beradu cepat sekaligus dia telah melancarkan berpuluh kali pukulan, begitu cepatnya pukulan ini sehingga orang sukar menghitungnya.
Di tengah suara gemuruh disertai debu pasir beterbangan, pintu batu yang tebal itu ternyata tergempur hancur dan runtuh, tanpa bicara segera Siang Cin menyelinap masuk ke sana.
"Jik sia-ciang yang hebat!"
Sera Sebun Tio-bu kagum.
Di kala melayang masuk itulah kuping Siang Cin mendengar suara gemuruhnya alat rahasia yang bekerja, Sekilas matanya menjelajah, seketika hatinya mengeluh, ribuan ujung panah ternyata tengah berhambur memapak tubuhnya dalam lorong yang sempit seluas beberapa kaki, anak panah ini memberondong keluar dari lubang bumbung besi yang terbenam merata di dinding, ujung panah memancarkan cahaya biru tanda 231 mengandung racun jahat.
Segera terdengar teriakan Sebun Tio-bu di belakangnya memperingatkan.
"Awas panah beracun, lekas menyingkir."
Gemeretak gigi Siang Cin, air mukanya kembali berubah kelam, se-konyong2 ia melambung tinggi keatas, kedua kaki memancal, begitu keras dan kencang pukulan telapak tangannya sehingga hawa udara dalam lorong berderai seperti luber.
Maka ramailah suara denging anak panah yang berhamburan patah dan hancur, kiranya ratusan anak panah yang sama ditujukan ke satu sasaran dalam waktu sesingkat itu telah hancur luluh banyak pula yang berkisar arah oleh damparan angin pukulan yang dahsyat itu.
Di tengah gelak tertawanya Sang Cin terus melesat maju dan hinggap di depan sebuah pintu besi warna hitam, di tengah bentakannya yang menggelegar kembali ia menggempur lagi.
Entah bagaimana kejadiannya, mungkin pukulannya menyentuh tombol alat rahasia sehingga menimbulkan dering keliningan yang gencar di mana2, begitu dering kelintingan berbunyi, dari balik pintu besi itu se-konyong2 melesat keluar bacokan sebuah golok melengkung yang panjang dan besar.
Untung Siang Cin cukup waspada dan keburu mengegos, tapi dalam detik itu pula golok melengkung yang panjang tebal itu membal balik, dan lenyap di balik pintu Keruan Siang Cin meraung dongkol.
Di tengah bentaknya kembali dia menerjang maju, dalam sekejap saja, Jik-sin-ciangnya kembali ratusan kali menggempur pintu besi tadi.
Lambat laun daun pintu besi itu tampak bergeming dan akhirnya bergoncang keras dengan mengeluarkan suara gemuruh, golok tebal melengkung yang terselip di sela2 pintu tahu2 membacok keluar pula, kali ini Siang Cin sudah siap, pada waktu golok itu membacok keluar, sebat sekali dia mendahului melompat mundur, ketika golok melenting balik itulah beruntun Jik-sik-ciang juga menggempur pintu besi.
Pada gempuran berikutnya daun pintu besi itu akhirnya semplak dan ambruk, dikala golok yang dipasangi pegas itu membacok pula, Siang Cin kerahkan sisa tenaga pukulannya, dia bikin golok itu patah dan tidak bekerja lagi.
Sebun Tio-bu berkeplok tangan, teriaknya memuji dengan tertawa.
"Hebat sekali saudaraku, kau memang patut dipuji."
Tanpa berhenti Siang Cin memberi tanda terus menerjang masuk lebih dahulu, tapi belum lagi dia angkat kepala.
"Wuut, wuut", delapan kampak raksasa tiba2 232 membacok turun mengincar batok kepalanya, cepat Siang Cin mendak ke samping terus berputar setengah lingkar, menyusul kaki kanannya terus menyapu, segera bayangan merah tampak berkelebatan disertai jerit kaget dan pekik kesakitan, tujuh-delapan laki2 seperti bola saja sama ter-guling2. Kembali Siang Cin berada di lorong panjang sempit yang sama seperti depan tadi, di ujung lorong mengadang pintu berterali besi. Enam dari delapan laki2 yang tersapu roboh itu sudah patah tulang kakinya, yang terluka sama menjerit dan merintih sambil memeluk kaki, dua orang lagi yang selamat seperti serigala lapar yang tidak takut mati segera menerjang maju pula dengan nekat. Siang Cin mendengus, belum lagi bertindak, mendadak Sebun Tio-bu melesat lewat ke depan, begitu dia berkelit ke kiri serta mengegos ke kanan, kedua tangannya bergerak, kontan beberapa orang Jik san-tui yang masih ketinggalan itu sama jatuh tersungkur. Waktu berpaling, sementara suara kelintingan tanda bahaya tadi masih bergema, tapi bayangan orang belum kelihatan, maka Siang Qu berseru gugup.
"Lekas, Tangkeh."
Ditengah teriakannya itu, Sebun Tio bu sudah berada di depan pintu terali besi, segera dan pasang kuda2 dan mengerahkan tenaga, pelan2 kedua tangan mendorong ke depan, lalu ditarik cepat serta didorong pula secara beruntun, hanya empat kali gerakan, empat jeruji besi sebesar lengan bayi di pintu itu telah dibikin bengkok.
Cepat keduanya menyelinap masuk lebih jauh, beruntun dan pintu berterali besi telah mereka jebol pula, kini mereka telah tiba di ujung lorong, di mana terdapat enam kamar kurungan.
Keruan Siang Cin berseru girang.
"Nah itulah Tangkeh, akhirnya ketemu juga."
Mengawasi pintu kamar kurungan yang seluruhnya tertutup rapat, dirasakan pula suasana di lorong ini sedemikian sunyi, Sebun Tio-bu menjadi ragu2, katanya.
"Musuh suara tanda bahaya, tapi sejauh ini belum kelihatan muncul mencegah atau merintangi kita, apalagi kamar tahanan di sini tertutup ber lapis2 pintu besi, tapi setiba di sini keadaan justeru kosong melompong tanpa seorang penjagapun, Siang heng, apakah kau tidak merasa adanya gejala yang ganjil?" 233 Siang Cin mengangguk, katanya.
"Beralasan ucapan Tangkeh, tapi ibarat anak panah sudah dipasang dibusur serta dipentang, tinggal membidikkan nya, kita sudah terlanjur bertindak sejauh ini, sudah kepalang tanggung, terpaksa tetap bekerja, hayolah jebol pintu2 penjara itu."
Sebun Tio-bu tampak prihatin, mendadak dia berteriak lantang.
"Kepada sahabat Busiang-pay yang berada di sini, jawab seruanku ini, Kami sengaja menerjang kemari untuk menolong kalian. Waktu sudah teramat mendesak, sukalah para sahabat lekas berusaha dan memperkenalkan diri."
Suaranya bergema hingga sekian lama di dalam lorong, tapi ditunggu sesaat lamanya tetap tiada jawaban apapun, beruntun dua kali Sebun Tio-bu berteriak, tapi kamar2 tahanan itu tetap sunyi tidak ada suara apapun.
Dengan gemas Sebun Tro-bu meraung.
"Siangheng, perduli gunung golok atau wajan minyak mendidih, hayolah kita terjang saja."
Perhatian Siang Cin tertuju ke kamar ke enam di ujung sana, katanya tenang "Baiklah, terpaksa kita mencobanya."
Sebun Tio-bu menarik napas panjang, seluruh kekuatan dia himpun pada kedua lengan, ia mengawasi Siang Cin, tanyanya.
"Terjang kamar yang mana?"
"Kamar yang itu saja", ucap Siang Cin sambil menuding kamar terakhir di ujung lorong sebelah kiri Melangkah ke kamar tahanan yang di tunjuk itu, mendadak Sebun Tio-bu menggeram seperti harimau mengamuk, kedua tangan terayun ke depan, serangkum angin dahsyat langsung menerjang pintu kamar tahanan. Kekuatan pukulan Tay-lik-kim-kong ciang memang luar biasa, hanya sekali gempur pintu besi yang tebal itu telah dipukulnya jebol dan roboh. Tapi setelah pintu besi ambruk tidak tampak adanya bayangan orang yang dikurung di dalam, yang membanjir keluar adalah ribuan ular ber bisa yang sama menenggak kepala 234 dan meleletkan lidah, ular2 itu terdiri dari berbagai jenis, kepalanya segi tiga dengan warna-warni yang berbeda, baunya yang amis dengan suaranya yang mendesis menimbulkan rasa muak. Keruan Sebun Ti-bu berjingkrak kaget, teriaknya.
"Celaka, ular melulu."
Sekali ayun tangan Siang Cin menyapu mampus ular2 yang menerjang maju paling depan. Lekas Se-bun Tio-bu mundur ke belakang, teriaknya.
"Sungguh mengerikan, pantas tiada reaksinya, kiranya ular berbisa seluruhnya."
Beruntun Siang Cin lancarkan empat kali pukulan, ular2 yang membanjir keluar memenuhi lantai itu dipukulnya beterbangan, tapi yang di depan tersapu mampus, yang di belakang tanpa kenal takut segera membanjir maju pula.
Ular saling tindih, berdesakan dan saling gigit, dengan suara mendesis yang seram.
Sebun Tio bu segera bantu menghantam dengan pukulan dari jarak jauh, dengan gabungan kekuatan pukulan bersama, ratusan ular berbisa telah mereka bunuh di lorong sempit itu.
Sekali injak.
Siang Cin bikin remuk kepala seekor ular yang merayap ke depannya, katanya kuatir.
"Peralatan rahasia yang d pajang di sini, tak ubahnya dengan yang ada di Ceng siong "Ban-cent, semuanya serba keji di luar perikemanusiaan ."
Sebun Tio-bu berseru gemas.
"Siang-heng, sekuatnya kau tumpas ular2 ini, biar aku menggempur kamar tahanan yang lain di balik daun pintu ini."
Kedua tangan Siang Cin memang tak pernah berhenti, kawanan ular mencelat dan beterbangan dilanda angin pukulannya, beruntun dia melontarkan puluhan kali pukulan, masih sempat pula dia berseru.
"Hati2 loh Tangkeh."
Dalam pada itu Sebun Tio-bu telah melompat mundur ke sana.
"Blang", terdengar gempuran keras disertai suara pecah berderai, begitu daun pintu remuk dan roboh, dari balik kamar segera menerjang barang cairan yang berwarna hitam biru, entah air apa yang mengalir keluar dan berbau busuk ini, yang terang hidung segera terasa pedas, kepala pening dan mata ber-kunang2. Untung Sebun Tio bu keburu melejit ke atas seraya berseru memperingatkan.
"Lekas menyingkir Siang heng, air busuk ini berbisa."
Dengan lincah Siang Cin melompat ke atas, cepat air kental warna biru hitam mengalir dan menggenangi seluruh lorong, kawanan ular2 yang masih hidup kini semuanya terapung dan bergulat di dalam air kental ini, tapi lambat laun gerakan mereka bukan lagi 235 meronta semakin keras, sebaliknya semakin meregang jiwa, desis suaranyapun seperti menderita kesakitan yang luar biasa, ular2 yang berlepotan air kental hitam itu sama terapung di permukaan air tanpa bergerak lagi, badan ular yang semula berwarna-warni itu cepat sekali berubah hitam.
Dengan-punggung melengket di langit2 lorong Siang Cin dan Sebun Tio bu gunakan ilmu cicak menyaksikan ular2 itu mampus keracunan, setelah memandang keluar lorong Sebun Tio-bu berkata lirih.
"Siang-heng, air ini terang beracun, genangan airnya tidak dalam tapi kita tak bisa lama2 di sini, menurut hematku, marilah sekali lagi coba tempuh bahaya saja."
"Baik"
Ucap Siang Cin.
Sebun Tio-bu periksa keadaan di bawah, hampir saja ia berteriak kaget waktu Siang Cin mendadak ke bawah, diam2 diapun terkesiap, kiranya bangkai ular yang terapung di permukaan air kental tadi kini sudah lenyap, daging kulit sampai tulang belulangnya telah luluh seluruh tercampur bersama air hitam itu.
Berludah sekerasnya, Sebun Tio-bu mencaci dengan gemas.
"Orang2 Pau-hou-ceng benar2 kelewat keji Neneknya, untung kita menyingkir dengan cepat, bila sampai kecipratan setetes saja, tentu daging kita bisa membusuk sebagian"
Siang Cin berkata dengan mengerut kening.
"Sejauh ini musuh belum kelihatan beraksi, jelas masih ada jebakan lain ayolah Tangkeh, kita dahului menggempur lagi."
Segera Sebun Tio bu mendahului melayang ke bawah dikala tubuhnya masih terapung di udara itulah, dari dinding di kanan-kiri depan sana mendadak menjeplak terbuka empat lubang kecil segi empat tiada kesempatan untuk berpikir apa sebenarnya yang terjadi dengan ke empat lubang kecil ini, tahu2 dari lubang itu menyembur minyak bakar yang berwarna kuning kotor.
Semburan minyak bakar ini cukup keras, jelas jumlah minyak yang tersedia cukup banyak, dengan suaranya yang gemeretak minyak bakar itu terpancur ke bawah tercampur dengan air beracun di dalam lorong.
Sebun Tio bu tetap meluncur ke sana dan hinggap di dinding sebelah kiri, kali ini dia berlaku lebih hati2 serta memperhatikan keadaan sekeliling dinding, tepat dia berhenti di depan sebuah pintu berterali dari sebuah kamar kurungan.
Tanpa ayal ia himpun 236 tenaga terus menggempur pintu berterali yang kukuh itu, Tay lik-kim-kong-ciang kembali memperlihatkan kedahsyatan, daun pintu itu kembali ambrol berantakan, kali ini ternyata tiada peralatan jebakan malah kamar tahanan ini betul2 menyekap tiga orang tawanan.
Ketika tawanan sedang duduk bersimpuh di atas rumput kering, rambut semrawut mukanya kotor dekil, bajunyapun compang camping, kaki tangan dan lehernya diborgol.
Sebun Tio bu melompat turun di depan pintu, teriaknya cepat.
"Apakah kalian kawan2 dari Bu siang-pay? Jangan membuang waktu percuma kami datang menolong kalian. lekas bersiap untuk meloloskan diri ...."
Di kala berteriak2 itulah Sebun Tio bu mendengar langkah lirih dibelakangnya, maka tanpa menoleh mendadak dia miringkan badan seraya membalik sebelah tangan menampar ke belakang.
"Huaah,"
Seorang laki2 baju merah mendadak menjerit keras, badannya meliuk memeluk perut serta terlempar jauh ke atas, kampak terlempar dan darah segar tersembur dari mulutnya, seorang berbaju merah yang lain sambil meraung kalap mengayun kampaknya segera membabat ke perut Sebun Tio bu.
Sembari mencaci mendadak Sebun Tio-bu menggeser ke samping, kampak lawan kena disampuknya pergi, sekali Sebun Tio bu menabas.
"peletak", suara tulang patah terdengar, ternyata tulang lengan lawan telah patah, kampaknya jatuh berkerontangan. Dengan gemas Sebun Tio-bu melompat maju sembari angkat tangannya hendak mengepruk batok kepala orang, sedih dan putus asa orang itu berkata dengan menahan sakit.
"Sahabat, tidak perlu kau turun tangan keji pula."
Sebun Tio bu batalkan pukulannya, dampratnya gusar.
"Kau keparat, memangnya dengan kekuatan kalian berdua berani main sergap, Apa kau minta mampus?"
Orang yang telah tak berdaya itu terbatuk2 sekian lamanya, dengan napas memburu dia berkata.
"Kawan. umpama aku kau bunuh, antara kematianku dan kematianmu hanya berbeda soal waktu saja. Takkan lama, kau sendiri juga akan menyusul arwahmu ke alam baka."
Keruan Sebun Tio bu melenggong, katanya.
"Apa maksud ucapanmu?"
Jawab orang itu.
"Coba kau periksa kamar tahanan ini ...."
Sekilas Sebun Tio-bu pandang keadaan sekelilingnya, kiranya itulah sebuah kamar 237 yang dibangun dengan balok2 batu besar dan kukuh, kecuali dua lubang angin sebesar kepalan tangan, tiada jendela atau pintu, di mana tempatnya berdiri sekarang adalah sebuah lorong di luar terali besi, di ujung lorong sana terdapat sebuah pintu angin yang terbuat dari bambu, kiranya kedua orang penyergap ini sejak tadi bersembunyi di balik pintu angin itu.
"Jadi di sini hanya sebuah kamar batu saja?"
Sebun Tio-bu menegas ?"
Orang itu manggut, katanya.` "Betul, tiada jalan keluar lainnya."
Sebun Tio-bu mendengus, katanya.
"Memangnya Locu tidak dapat menerjang balik ke sana tadi? Jangan kira air beracun dan minyak bakar itu bisa merintangi aku."
Dengan gemetar orang itu berkata sambil terbatuk2.
"Kawan ....... dikala kalian membobol pintu terali kedua tadi tanda bahaya di sini segera bekerja sehingga seluruh peralatan rahasia di sini bergerak serentak, pintu yang tebal dan ribuan kati beratnya itu berhasil kalian gempur sampai runtuh, tapi segera pintu cadangan yang serupa yang semula terpendam di bawah dengan sendirinya terkerek naik dan tetap menyumbat jalan itu....... ini berarti bahwa jalan mundur kalianpun sudah buntu ... ."
Dengan menyeringai Sebun Tio bu berkata.
"Kalau kami bisa masuk kemari tentu juga bisa keluar. Apa susahnya untuk meruntuhkan pintu itu."
Menggeleng dengan perasaan pilu, orang itu berkata.
"Tak mungkin bisa keluar, obor yang dinyalakan dengan belirang akan di lempar masuk kemari ......minyak bakar yang memenuhi lorong di luar itu akan berkobar ke mana2, daya bakarnya begitu panas dan cepat, umpama kau hendak menyingkir juga takkan keburu lagi ......"
Sebun Tio-bu menelan ludah, katanya.
"Kalau demikian, lalu bagaimana kalian?"
Dengan tartawa sedih orang itu berkata.
"Kami memang sudah ditugaskan untuk jaga dan membunuh musuh, bila gagal harus gugur bersama musuh ... ."
Kesiur angin terasa menyampuk punggungnya, terdengar suara Siang Cin yang bernada kuatir berkata.
"Tangkeh, apa yang dikatakannya memang betul."
Waktu Sebun Tio-bu menoleh, dilihatnya Siang Cin sedang tertawa getir kepadanya, 238 akhirnya Sebun Tio bu berkata pula kepada orang itu.
"Memangnya kau keparat ini hanya terima nasib begini saja!"
Menghela napas panjang, orang itu berkata.
"Kalau tidak demikian, di luarpun kami tak bisa hidup ......."
Hawa di dalam kamar tahanan semakin terasa sumpek dan genah, bau minyak, belerang serta darah dan bangkai ular sangat menusuk hidung sehingga orang2 di dalam kamar merasa pernapasan semakin sesak.
Mendadak Siang Cin melangkah mendekat, tanyanya dengan gelisah.
"Kawan, apakah ada orang Bu siang pay yang dikurung di sini?"
Pertanyaan ini menyentak pikiran Sebun Tio-bu, lekas Siang Cin menoleh ke dalam terali besi di mana ketiga orang tawanan bersimpuh tadi, katanya.
"Ketiga orang itu bukan?"
"Bukan, mereka bukan,"
Kata Siang Cin.
Lekas Sebun Tio bu mendekati terali besi, dia mengawasi ketiga orang itu sekian lamanya, sebetulnya usia orang2 ini baru empat puluhan, tapi karena lama dikurung di tempat gelap yang tak pernah melihat cahaya matahari sehingga usia mereka tampak lebih enam puluhan.
Kalau Sebun Tio bu mengawasi mereka dengan seksama, ketiga orang itupun balas memandang Sebun Tio bu dengan sorot mata pudar, sikapnya kaku seperti orang linglung.
Sekuatnya menggoncang terali besi Sebun Tiobu meraung keras "Kalian ini kenapa?
Ditanya diam saja, memangnya bisu semuanya ........"
Si baju merah yang rebah di tanah itu tiba2 tertawa sambil terbatuk keras, katanya dengan serak.
"Tidak salah, mereka memang bisu ......."
Tertegun seketika Sebun Tio-bu, serunya kaget.
"Apa, mereka bisu semuanya,?"
Senyum getir terbayang di ujung mulut si baju merah, katanya.
"Ketiga orang ini sebetulnya adalah kawan kami sendiri, karena melanggar peraturan maka dikurung di sini, kuatir mereka lolos dan membocorkan rahasia, maka lidah mereka telah dipotong, beberapa orang Bu-siang pay memang pernah disekap di sini, tapi lima hari yang lalu, sudah di pindah entah ke mana, kedatangan kalian sia2 belaka. lebih celaka lagi adalah kalian harus terkubur di sini ....."
Sebun Thio bu berkata dengan gemas.
"Kau keparat ini jangan menyindir, urusan belum tentu seperti yang kau bayangkan." 239 Seru Siang Cin tiba2.
"Tangkeh, minyak sudah mengalir masuk ke sini."
Waktu Sebun Tio-bu melirik, memang betul minyak bakar sudah mulai mengalir masuk ke kamar batu ini. Laki2 baju merah yang masih rebah itu berkata dengan menahan sakit.
"Bila minyak sudah mengenangi kamar batu ini, api akan segera di sulut, waktu itu segalanya ...."
Sikap Siang Cin tetap tenang, tanpa mengunjuk sesuatu perasaan ia mengawasi minyak ke-kuning2 an yang terus merembes masuk membasahi lantai kamar, sementara dengan mencaci maki Sebun Tio-bu memukul dan menendang tembok di sekelilingnya, diharapnya akan menemukan sesuatu tempat yang dapat dijebol untuk lolos keluar.
Mendadak Siang Cin menyeringai, katanya.
"Tangkeh ...."
"Kenapa?"
Tanya Sebun Tio-bu sambil menoleh. Siang Cin memonyongkan mulut ke arah si baju merah yang rebah di tanah itu, lalu katanya.
"Sahabat, kuharap kau bicara sejujurnya, tentunya kau juga ingin umur panjang!"
Sebun Tio bu bertepuk tangan, katanya.
"Bila kau mau bekerja sama, kutanggung tulangmu yang patah akan ku sambung dan kuobati."
Lelaki itu memicingkan mata, katanya dengan licin.
"Tak usah kalian membujukku, bila bisa lolos dan hidup, biarpun kedua lenganku buntung juga tidak menjadi soal. Cuma sayang mungkin aku tak bisa membantu sesuatu pada kalian."
Tiba2 Siang Cin bertanya.
"Kalian berjaga disini, lalu rangsum untuk setiap hari bagaimana di antar kemari?"
Laki2 itu menggeleng, katanya.
"Jangan berpikir ke arah itu, rangsum memang selalu diantar melalui lubang kecil di atas pintu angin bambu itu, tapi lubang kecil itu ditutup dengan papan besi, lebarnya hanya setengah kaki, paling2 kepala bayi saja yang bisa keluar ...... ."
"Keterangan bagus,"
Seru Siang Cin tertawa.
"Sahabat, justeru lubang sebesar kepala bayi itulah yang kami perlukan."
Dengan tak acuh si baju merak berkata "Di belakang dinding bilik bambu tergantung sebuah gelang tembaga, dengan menggerakkan gelang tembaga ini maka orang di luar segera akan membuka tutup lubang dan tanya keperluan kami ......."
"Kini jelas takkan ada orang membuka tutup lubang, tanya keperluan kami, hehe, kami 240 sendirilah yang akan membuka tutup lubang itu dan minta sesuatu kepada mereka,"
Kata Sebun Tio bu dengan tertawa.
Dalam pada itu Siang Cin sudah lari menuju ke belakang bilik bambu, betul didapatinya sebuah gelang tembaga yang diikat pada langit2 dinding.
Mendadak Siang Cin, menghardik sekali; ditengah gema suaranya, kedua tangannya mendadak di dorong ke atas dengan membawa tenaga yang dahsyat, gempuran ini mengenai dinding batu di atas dan menggelegar, langit2 batu itu seketika ambrol berhamburan.
Maka batu buatan orang itupun turut hancur ber keping2, kini tinggal papan besi yang berada di atasnya.
Dengan tertawa Sebun Tio bu mengejek si baju merah yang rebah di tanah.
"Dalam pandanganmu batu itu sekokoh baja, tapi di mata kami tak lebih hanya selapis kertas belaka, sesuatu yang tidak mungkin kau laksanakan, bagi kami segampang membalik telapak tangan, itulah sebabnya kenapa selama ini kami bisa malang melintang dan menggemparkan Kangouw dan kau tetap kaum keroco."
Dikala Sebun Tio-bu bicara, sementara dengan Jik siang-ciang Siang Cin telah menggempur papan di atas itu dengan gencar.
"Tang, tang, tang", suaranya keras bergema seperti palu menghajar genta raksasa. Sambil menggosok telapak tangan, Sebun Tio-bu berkata dengan tertawa.
"Segera kami akan keluar, coba bayangkan saudara, cahaya mentari yang hangat, angin musim semi yang sepoi2 sejuk, ratusan jenis bunga mekar bersama, burung2 berkicau gembira, betapa indahnya, sayang kau tidak akan bisa menikmatinya."
Di tengah sikap melenggong si baju merah tampak secercah sinar harapan pada sorot matanya, mulutnya melongo lebar, kulit mukanya ber-kerut2.
Baru saja Sebun Tio bu mau bicara lagi, dari atas ujung lorong sana mendadak didengarnya suara gemuruh sebuah ledakan.
Berjingkrak kaget, laki2 baju merah seketika berubah hebat air mukanya, teriaknya panik dan ketakutan.
"Celaka, mereka menyulut api."
Gema suaranya belum lenyap, suhu papas yang membakar mendadak mendampar tiba dengan membawa bau busuk yang menyesakkan napas.
Sekilas tertegun, sigap sekali Sebun Tio-bu tarik dada si baju merah terus dijinjingnya, 241 laki2 itu meraung kesakitan, waktu Sebun Tio-bu memburu ke terali besi hendak menolong ketiga tawanan linglung itu, suara Siang Cm yang melengking telah memanggilnya;
"Tangkeh, lekas kemari."
Nyala api yang berkobar besar sudah mulai menjalar ke lorong di luar kamar, begitu minyak dijilat api, cepat sekali menyala dan mengeluarkan suara gemuruh.
Apa boleh buat Sebun Tio-bu batalkan niatnya, padahal wajah ketiga tawanan linglung tadi tengah memandangnya dengan harap2 cemas, mulut yang terbuka lebar tak kuasa meminta tolong.
Tiada tempo lagi bagi Sebun Tio-bu untuk menolong mereka, api sudah menjalar tiba, untuk menolong ketiga orang itu sudah tidak mungkin lagi, malahan ujung bajunya sendiri sudah terjilat api.
Di tengah kobaran api dan asap tebal itu terdengar seruan.
"Tangkeh, papan besi sudah jebol, masih tunggu apalagi kau?"
Sebun Tio-bu ter batuk2 serunya.
"Tenang saja, Siang-heng."
Bilik bambu itupun sudah terbakar, di atas langit2 memang sudah terbuka sebuah lubang besar dan cukup untuk keluar masuk seorang normal. Sambil menahan napas Sebun Tio bu berteriak.
"Siang-heng, kau naik .."
Sekuatnya Siang Cin pegang pinggang Sebun Tio-bu serta mengangkatnya, serunya.
"Lekas naik, bukan saatnya main sungkan."
Dengan tenaga dorongan Siang Cin, Sebun Tio-bu meloncat ke atas, di tengah asap yanq bergulung, baru saja tubuhnya mendekati lubang di atas, terasa hawa dingin menyambar tiba, empat tombak bergantol tahu2 menusuk bersama di mulut lubang.
Tapi Sebun Tio-bu mendadak memutar badan, dengan kaki di atas dan kepala di bawah, kedua kakinya mendadak memancal, empat batang tombak itu seketika patah berkeping2, semuanya kena dikerjai oleh kedua kaki Sebun Tio-bu dengan gaya yang aneh itu, lalu dengan cepat ia menerobos keluar, padahal tangan kirinya tetap menjinjing si baju merah yang sudah pingsan.
Di atas kiranya adalah sebuah kamar batu yang luas, di kedua sisi berjajar dipan kayu yang rapi.
kiranya di sinilah tempat istirahat para petugas penjara.
Waktu itu ada tiga puluhan laki2 baju merah tersebar di dalam ruangan, yang berhadapan langsung dengan Sebun Tio-bu adalah seorang nyonya muda baju hitam yang bersolek berlebihan.
Kain ikat kepala Sebun Tio bu dan bajunya sudah terbakar di beberapa tempat, muka 242 dan kulit badannya juga terbakar hangus, keadaannya agak mengenaskan.
Di tengah2 alis nyonya setengah umur yang bersolek berlebihan itu terdapat sebuah tahi lalat merah sebesar kacang, begitu melihat Sebun Tio-bu keluar, dengan tertawa sinis dia mengejek.
"Setan gentayangan, sampai kapan kau masih bisa bertingkah di sini."
Segera lima bilah kampak menyerang tiba, sembari berteriak Sebun Tio-bu geser selangkah ke samping sementara itu dua kampak lagi telah membacok kepalanya.
Dengan muka masam nyonya baju hitam itu ber-kaok2 memberi aba2 kepada anak buahnya.
"Cari sesuatu untuk menutup lubang itu, asap terlalu tebal.."
Bergerak bagai angin Sebun Tio-bu hindarkan bacokan kampak yang membelah kepala, sementara sebelah kakinya menyepak dua orang yang berusaha menarik kampaknya, di sebelah sana empat laki2 tengah menarik sebuah babut besar yang dibasahi air hendak menutup lubang yang keluar asap itu.
Dengan melirik menghina nyonya baju hitam mengawasi Sebun Tio bu, jengeknya.
"Hm, tak nyana, kiranya kau berisi juga ...."
Belum habis ucapannya, ke empat orang yang tengah membentang babut itu tahu2 sudah terguling sembari menjerit, di tengah semburan darah yang bercipratan itu sesosok bayangan dibungkus asap tebal secepat kilat menerjang keluar dari dalam lubang.
Seorang laki2 berbaju merah berteriak kaget ketakutan.
"Celaka, di bawah masih ada satu!"
Belum lenyap suara orang ini, sekali bayangan orang itu berputar, lima laki2 baju merah sama terguling binasa dengan batok kepala pecah.
"Blang, blang"
Empat laki2 terlempar jatuh pula, semuanya patah tulang, dadanya, mereka menjadi korban pukulan maut Sebun Tio-bu..Baru kini nyonya baju hitam menampilkan rasa kaget, dikala dia tertegun itulah, ketiga laki2 anak buahnya telah roboh binasa pula.
Bayangan yang baru menerjang keluar dari dalam lubang itu sudah tentu adalah Siang Cin, dia menepuk tangan, katanya dengan tertawa.
"Kau baik2 saja Tangkeh"
Kaki Sebun Tio-bu tengah melayang, seorang musuh kena didepaknya mencelat bersama kampaknya, kaitan menumbuk dinding sehingga kepalapun pecah.
Tanpa mengedip kembali tangan kanan Sebun Tio-bu bekerja membendung tiga musuh yang menyerbu tiba, mulutnya sempat ter-gelak2, katanya.
"Tidak apa2, hayolah layani 243 mereka."
Saking gusar wajah si nyonya baju hitam yang berpupur tebal itu tampak semakin ketat, sembari menghardik nyaring dia menubruk ke arah Siang Cin, selarik sinar hitam dari sebuah benda mirip jala tiba menabur tiba.
Sekilas lirik Siang Cin sudah melihat jala yang menyambar dirinya ini dihiasi ribuan benda runcing bergantol mirip pancing, sebat sekali ia menggeser mundur, lalu dengan gerakan yang lebih cepat pula ia mendesak maju pula, sekali bergerak, sepuluh jurus pukulannya secara berantai telah dilancarkan.
Begitu cepat pukulannya, ganas dan keji, semuanya mengincar tempat yang mematikan.
Kaget si nyonya baju hitam dan melompat menyingkir dengan menjerit heran.
Segera Sebun Tio-bu doyong ke samping, ke dada seorang yang menerjang maju kena dikepruknya remuk, dengan cara yang sama kembali dia merobohkan seorang lawan, di tengah suara gedebukan gara2 korbannya yang terbanting roboh itu, dia bergelak tertawa.
"Janda hitam, Lo-sat-bong (jala kuntilanak) andalanmu ini jangan harap akan menjaring sang jejaka ganteng seperti dia."
Wajah si nyonya baju hitam yang kaku menghijau seketika berubah jengah, beruntun ia mainkan jaringnya, dengan gusar dia membentak.
"Kau, siapa kau? Darimana kau mengenalku'"
Sebun Tio-bu tertawa, katanya.
"Siapa yang tidak kenal adik tua perempuan To hayliong Giam Ciang, tertua Sio-lian-su-coat dari Pek-hoa-kok?, Sungguh kasihan, usia masih begini muda sudah menjadi janda sungguh mengharukan ....."
Keruan seruan bersungut wajah si nyonya baju hitam, dengan gemas jalanya segera diputar kencang hingga menderu, ternyata permainan jalanya ini merupakan kepandaian khas, jala yang lemas panjang ini kadang2 disabetkan sebagai cambuk, tapi juga bisa dibuat mengepruk seperi toya, menggubat seperti tali, tiba2 bertebaran pula seperti hendak menjaring ikan terutama duri2 bergantol seperti pancing itu dengan sinarnya yang kemilauan membingungkan orang, setiap serangannya cukup keji dan mematikan.
Siang Cin memperlihatkan kegesitannya, ia bergerak pergi datang dengan lincah, begitu cepat laksana bayangan sehingga sukar diduga ke arah mana dia bakal bergerak, kelihatan dia hendak melompat ke depan, tapi kenyataan sudah berada di samping, lebih hebat lagi di 244 tengah gerak geriknya yang sebat itu sering dia melancarkan pukulan gencar, angin pukulannya se akan2 mendampar dari berbagai arah, malah angin pukulan yang mendampar ini ber-lapis2 seperti gelombang laut sehingga lawan yang memainkan jala itu hampir2 tak dapat bergerak.
Napas nyonya itu mulai memburu, keringat telah membasahi wajahnya, kini dia hanya mampu membela diri atau bertahan melulu, kalau keadaan seperti ini berlangsung lebih lama lagi, jelas dia tidak kuat bertahan lagi.
Tiga laki2 baju merah yang masih bertahan kelihatan masih berkepandaian lebih tinggi daripada kawan2nya yang mampus lebih dulu, tapi melawan Sebun Tio bu yang gagah perkasa segarang harimau mengamuk, dalam sekejap saja dua di antaranya telah dibinasakan, tinggal seorang lagi mukanya sudah berlepotan darah, cepat dia berlutut dan minta ampun pada Sebun Tio bu.
Sebun Tio-bu ter-gelak2, orang yang terluka dan dijinjingnya sejak tadi itu dia serahkan kepada laki2 yang berlutut di depannya, lalu dengan kereng dia berkata.
"Temanmu ini terluka karena berani melawan tuan besarmu, tapi dia jauh lebih baik daripada kau yang gentong nasi ini, lekas panggul dia pergi dan diobati, ingat selanjutnya jangan bertingkah sebagai orang gagah kalau kau memang tidak becus. Nah, lekas menggelinding pergi, jangan bikin tuan besarmu marah melihat tampangmu."
Laki2 yang sudah pucat dan kaki tangan gemetar itu dengan ter-gopoh2 pondong temannya terus ngeloyor pergi hingga lupa mengucapkan terima kasih lagi cepat bayangannya lenyap di balik batu di luar sana.
Sebun Tio bu menghela napas lega, katanya sambil menarik alis.
"Siang-heng, kini boleh kau robohkan perempuan genit ini, buat apa kau main2 saja dengan dia?"
Di tengah pembicaraan itulah, tampak kedua bayangan orang yang lagi bertempur mendadak seperti merapat, tapi cepat sekali terpisah lagi.
"wut", jala si nyonya tampak menyambar lewat di alas kepala Siang Cin, dalam sekejap ini terdengar nyonya itu mengeluh tertahan, tubuhnya berputar terus roboh terbanting. Dengan tajam Siang Cin tatap lawannya yang meringis kesakitan dengan butiran keringat di dahinya. jengeknya.
"Bila kulihat kau lagi pada kesempatan lain, nasibmu takkan sebaik sekarang ini biasanya aku tidak sudi melabrak kaum perempuan, tapi hanya sekali ini saja aku memberi kelonggaran."
Sebun Tio-bu mengulap tangan sambil berteriak.
"Hayolah pergi, bantuan musuh 245 telah tiba."
Memang bunyi tambur dan gembrengan yang gencar terdengar ber-talu2 di luar sana, suara senjata serta teriakan dan derap langkah mereka yang berlari tengah memburu ke arah sini.
Baru saja Siang Cin hendak beranjak, nyonya baju hitam yang duduk mendeprok di lantai itu mendadak berseru dengan mengertak gigi.
"Bajingan tengik, kau kalau berani, sebutkan namamu."
Mencorong sorot mata Siang Cin, jawabnya dengan dingin.
"Akulah si Naga Kuning Siang Cin."
"O,"
Teriak si nyonya tertahan sambil mendekap mulut, mukanya yang pucat tampak semakin pucat, dengan kaget dan bingung ia pandangi Siang Cin, seperti tidak percaya pada pendengarannya sendiri..
Sebun Tio-bu tertawa lebar, katanya.
"Genduk ayu, tak usah takut, Siang-heng ini takkan tega membunuh kau, mungkin kau ingin juga tahu nama julukan tuan besarmu ini? Haha, tapi takkan kuberitahu, biarlah kau menduga2 saja."
Habis berkata kedua orang terus lari ke arah undakan batu di sebelah kamar kanan, sekali membelok ke sana jejaknya lantas lenyap.
Habis menaiki tangga batu, di atas adalah sebuah panggung datar, dari tempat ketinggian ini terlihat jelas puluhan obor bagai rantai memanjang dengan kerlipan senjata yang tengah bergerak mengikuti bayangan orang banyak menuju ke bangunan gedung di sini suara caci maki, teriakan dan bentakan bercampur-aduk, suasana tampak kacau balau.
Ada sepuluh bayangan orang yang melambung ke atas, dengan tangkas menubruk ke arah kamar batu itu, dari gerak gerik mereka yang gesit, jelas semuanya memiliki Ginkang tinggi, belasan orang ini terang adalah tokoh2 silat kelas tinggi.
Sebun Tio-bu menyeringai, katanya lirih.
"Sebetulnya ingin aku melabrak mereka, apa boleh buat, sekarang bukan waktunya."
Siang Cin mengangguk, katanya.
"Hayolah kita tempuh arah yang berlawanan"
Maka bayangan kedua orang segera melenting tinggi ke depan, di tengah udara keduanya membelok terus meluncur lebih cepat lagi, begitu cepat serta indah gaya mereka, dalam sekejap saja telah lenyap di telan kegelapan .
....."
Toa ho-tin sudah berada di depan pula. Sebun Tio bu dan Siang Cin yang berlari 246 kencang bagai terbang mengerahkan langkahnya, akhirnya keduanya menghela napas lega, kata Sebun Tio bu.
"susah juga semalam ini, sayang tak berhasil menolong seorangpun, tapi jelas ada beberapa anggota Bu-siang-pay yang masih hidup sejak kekalahan mereka di Pi-ciok-san tempo hari."
"Betul,"
Ucap Siang Cin.
"entah bagaimana nasib mereka kini?"
Sebun Tio-bu mengusap keningnya katanya.
"Kupikir nasib mereka takkan seburuk anjing yang dijagal."
Siang Cin menggeleng dan berkata.
"Menurut dugaanku, mereka akan menyandera beberapa orang itu, bila pihak mereka terdesak, para tawanan itu akan dijadikan jaminan untuk menyelamatkan diri."
"Dugaan tepat,"
Sera Sebun Tio bu.
"pasti begitulah, tapi kita tidak tinggal diam, harus gagalkan maksud mereka itu."
Siang Cin tidak menanggapi, ia sedang menatap ke arah pohon cemara di sebelah kiri jalan berlumpur sana, sebagai kawakan Kangouw yang sudah berpengalaman Sebun Tio-bu bisa lihat gelagat, dirasakan adanya gejala yang tidak sehat di sebelah sana, dengan tertawa dia mendahului melangkah ke depan, ia sengaja berseru keras.
"Sia2 berjerih payah semalam suntuk, hasilnya nihil dan jiwa nyaris melayang, sungguh menjengkelkan."
Sembari bicara dia merogoh saku, tapi sebelum dia menarik tangannya, dari arah hutan cemara di sebelah kiri terdengarlah gelak tertawa lantang, sesosok bayangan tampak melayang keluar.
Sekilas melengak segera Sebun Tio bu menggerutu.
"Neneknya, kiranya Kin Jin."
Pendatang ini memang Kim-lui-jiu Kin Jin, agaknya diapun sudah kepayahan, rona mukanya menampilkan rasa letih dan lesu, begitu berhadapan dengan Sebun Tio bu dan Siang Cin, dengan gerak ke-malas2an dia mengulap tangan kepada Sebun Tio bu, katanya.
"Sebun-heng, Thi-mo-pi (lengan besi iblis) yang tersimpan di sakumu itu jangan kau keluarkan, dari kejauhan kulihat kau merogoh saku, segera aku tahu niat apa yang hendak kau lakukan ...."
Sambil ngakak Sebun Tio-bu keluarkan tangannya, katanya.
"Kukira keparat mana yang belum kapok, berani main cegat dan main sergap di sini, tak tahunya kau."
Sambil menggeliat malas, Kin Jin berkata.
"Sejak tadi Cayhe main kucing2an dengan mereka supaya ada peluang untuk kalian lolos keluar beraksi di belakang, ternyata mereka 247 menyangka hanya aku seorang saja penyatronnya, bukan saja pendopo itu dikepung berlapis2, jago merekapun semua dikerahkan ke sana, terpaksa seorang diri aku melawan tujuh belas jago mereka, bicara terus terang, aku sudah kepayahan dan tak kuat bertahan lama lagi, untunglah pada detik2 genting itu seorang berlari masuk dari luar, entah apa yang dilaporkan, tapi sebagian besar jago yang mengerubut diriku segera menjadi ribut serta mengundurkan diri, kupikir pasti kalian sudah mulai bereaksi, setelah kulabrak mereka beberapa kejap lagi aku lantas menerjang keluar kepungan, untung lawan sudah berkurang sehingga dengan leluasa aku dapat meloloskan diri."
Setelah menghela napas, ganti Sebun Tio-bu menceritakan pengalamannya secara ringkas, lalu dia menambahkan.
"Berjerih payah semalam suntuk, tapi hasilnya nihil, cuma pihak musuh dapat kita bikin porak-poranda, terhibur juga hatiku."
Hening sejenak akhirnya Kin Jin berkata pula.
"Biarlah masih banyak waktu buat kita bergerak lagi."
Memandang cuaca Siang Cin berkata.
"Sekali gebrak tak berhasil berarti sudah bikin musuh waspada, untuk pergi lagi ke sana jelas takkan membawa hasil apa2, maka menurut hematku, mari sekarang kita menuju ke Liok-sun-ho saja."
Mendadak Sebun Tio bu berkata sambil gosok2 tangannya.
"Siang heng, bila kita bertindak sesuatu, apakah pihak Bu-siang pay tidak akan merasa di langkahi?"
"Coba Tangkeh terangkan dulu urusan apa?"
Tanya Siang Cin.
"Kalau kukerahkan Jian ki-bing untuk membantu bagaimana?"
Ucap Sebun Tio-bu. Lama Siang Cin tatap muka orang, katanya kemudian dengan nada terharu.
"Tangkeh, sekali bertemu kita seperti saudara sendiri, engkau sudi membantuku, aku sangat berterima kasih, demi hubunganku dengan pihak Bu-siang-pay, kau rela mengerahkan seluruh kekuatanmu, sungguh tidak tahu apa yang harus kuucapkan. Tapi untuk kali ini, betapapun Cayhe tidak bisa membenarkan bila jiwa anak buahmu harus ikut dipertaruhkan."
Lama Sebun Tio-bu mengawasi Siang Cin, akhirnya dia menghela napas, katanya.
"Lalu bagaimana menurut pendapat Siang-heng . ......"
Tenang suara Siang Cin.
"Kali ini Bu-siang-pay mengerahkan seluruh kekuatannya, apa yang mereka perlukan sekarang kukira lebih mengutamakan bantuan jago2 seperti kita ini, pertempuran yang akan terjadi, kekuatan pasukan memang juga mengesankan, tapi kemampuan individu lebih diutamakan lagi, entah bagaimana pendapat "Tangkeh?" 248 Kata Sebun Tio-bu sambil angkat pundak.
"Kau lebih tahu Siang-heng, terserah bagaimana keputusanmu saja."
Tiba2 Kin Jin menyela.
"Sebun-tangkeh, apa yang dikatakan Siang-heng memang betul, tugas ini biarlah kita bertiga saja yang melakukan, kalau terlalu banyak tenaga bukan mustahil akan banyak jatuh korban, boleh diputuskan begitu saja, sekarang marilah kita berangkat ke Liok-sun-ho."
"Khabarnya pihak Bu-siang-pay telah menyeberangi sungai,"
Ucap Sebun Tio bu. Berpikir sejenak Siang Cin berkata.
"Aku heran, konon Liok-sun-ho amat dalam dan berbahaya untuk di seberangi, musim dingin airpun tidak membeku, sepanjang tahun arus air selalu deras, tempat itu merupakan daerah yang berbahaya, kenapa pihak Hek jiu tong dan Jik-san-tui tidak-pasang perangkap atau mengatur jebakan di sana untuk membendung serbuan Bu-siang-pay dikala mereka menyeberang sungai?"
Kin Jin tersenyum, katanya.
"Arus Liok-sun-ho memang sangat deras, kedua tepi sungai dipasang rantai sebagai peluncur rakit, batu karang memenuhi pinggir sungai sehingga tiada tempat datar, bahwa di sana tidak leluasa untuk melakukan pertempuran terbuka, hanya orang2 yang berkepandaian tinggi saja yang mampu berjaga di sana, kukira pihak Hek-jiu-tong dan Jik san-tui juga sudah memikirkan keadaan yang serba sulit itu sehingga mereka tidak berpikir untuk mengatur perangkap di sana." . Sebun Tio-bu menggeleng, katanya.
"Analisa Kin-heng yang pertama memang betul, tapi perkiraanmu selanjutnya kukira kurang tepat. Kekuatan Hek jiu-tong dan Jik-san tui di daerah sini sangat besar, urusan sekecil apapun takkan luput dari pengawasan mereka, apalagi gerakan besar2an dari Bu siang-pay?"
"Ya, betul,"
Sela Siang Cin.
"kecuali Liok-sun-ho, adakah tempat lain yang berbahaya untuk menyergap musuh?"
Sekilas Sebun Tio bu tertegun, akhirnya dia berteriak.
"Pertanyaan bagus. Kin-heng, empat puluh li di sebelah timur Toa ho-tin bukankah ada suatu tempat yang dinamakan Ceciok-giam? Di sana bisa dipendam pasukan besar, tempatnya mudah dipertahankan dan leluasa untuk menyerang, daerah itu merupakan tempat penting yang harus dilalui bila hendak menuju ke Toa-ho tin lewat Liok-sun-ho. Bukan mustahil musuh sedang menghimpun seluruh kekuatannya di sana?"
Siang Cin dan Kin Jin manggut bersama, Siang Cin bertanya pula.
"Kecuali Ce ciokgiam, adakah tempat lain yang berbahaya pula?"
"Kecuali Ce ciok giam, sampai dengan Toaho tin adalah tanah ladang yang datar." 249
"Baiklah, sekarang kita lewat Ce-ciok giam langsung menuju ke Liok-sun-ho, sambil lalu memeriksa keadaan di sana apakah ada sesuatu yang mencurigakan, supaya pihak Busiang-pay bisa mempersiapkan diri."
Sebun Tio-bu manggut2, katanya.
"Siang-heng, di Pau-hou-ceng, pemimpin utama dan kedua mereka tidak keluar, sementara Sio-lian-su-coat dari Pek-hoa-kok yang datang juga hanya Kui-kok khek Pa Cong si saja yang keluar, pihak Toa to-kau juga cuma Han mo siang-kiu saja yang tampil ke muka, sedang Jit ho hwe hanya Ciang Heng si setan tua itu saja, pentolan utama mereka boleh dikatakan tiada yang hadir di sana ......"
"Betul, belakangan pihak Toa-to-kau memang datang lagi empat Kiu-thau, sementara Losu (orang ke empat) dari Sio lian-su-coat, Tang-bong Se Siau juga tiba, tapi tokoh2 penting mereka tetap tidak tampak, menurut hematku, mereka pasti sedang mengatur perangkap ....."
Menepuk paha Sebun Tio bu berseru.
"Siangheng, tunggu apalagi sekarang?"
Dengan tenang Siang Cin berkata.
"Tangkeh, kau lapar tidak?"
Sebun Tio-bu tertawa, katanya.
"Memang, baru sekarang cacing pita dalam perutku minta diberi makan, cuma tidak bawa rangsum, ke mana kita cari makan?"
"Kira2 tiga li di depan ada sebuah warung,"
Demikian ucap Kin Jin "disana ada bubur kacang dan wedang tahu, marilah sekedarnya isi perut di sana."
Lalu dia, mendahului melesat ke depan, Siang Cin dan Sebun Tio-bu segera menyusul di belakangnya, tiga bayangan orang berkelebat laksana gumpalan kabut, cepat sekali lenyap di telan kegelapan bayang2 pohon.
Fajar sudah hampir menyingsing, entah apa pula yang akan terjadi setelah terang tanah?
Kedua ekor kuda dibedal kencang keluar hutan sebelah sana, tampak Siang Cin bersama Kin Jin menunggang seekor kuda, sementara Sebun Tio bu menunggang kudanya sendiri.
Cepat sekali tanpa terasa padang lalang yang memagari kedua sisa jalan berlumpur ini sudah tertinggal jauh di belakang.
Pada ujung tanah belukar di depan sana terbentang sebuah sungai yang sudah kering, sungai kering ini melingkar dari selatan ke utara membelah padang lalang ini.
Di tengah sungai berserakan banyak sekali batu2 besar 250 kecil yang beraneka ragamnya, anehnya batu2 di sini semuanya berwarna coklat, begitu luas dan tak terhitung banyaknya batu2 coklat itu, bertumpuk dan malang melintang tidak keruan.
Siang Cin mengawasi sungai kering ini dengan terkesiap, katanya.
"Tempat ini memang berbahaya."
"Kalau tidak, berbahaya takkan dinamai Ce Ciok-giam,"
Ucap Kin Jin. Sebun Tio-bu yang berada di depan berteriak sambil menoleh.
"Sudah sampai, Siangheng sudah kau saksikan bukan? Selokan ini panjangnya ratusan li, lebarnya hampir setengah li, selokan ini merupakan peninggalan sungai besar di jaman purba, bila dia mau mencaplok manusia, meski laksaan jiwa juga bisa dilalapnya sekaligus."
Siang Cin tersenyum, katanya.
"Belum terlihat tanda mencurigakan, Tangkeh mari coba putar ke arah lain."
Mereka terus membelok ke kanan, setelah beberapa kali lompatan, akhirnya kedua kuda tiba pada sebuah tanah lekukan, kecuali ada tiga batang pohon yang setengah gundul, tiada rumput atau pepohonan lain yang tumbuh di sini.
Sebelum kuda berhenti berlarinya, Siang Cin segera melayang turun ke pinggir tanah lekukan itu, lalu ia melompat ke sana dan berhenti di belakang sepotong batu cadas besar warna coklat.
Segera Sebun Tio-bu dan Kin Jin juga menyusul tiba, dalam jarak ratusan langkah, tepi Ceciok-giam sudah berada di depan mereka.
Dengan mengerut kening Sebun Tio bu berkata, ke mana saja kawanan anak kura2 itu bersembunyi?
Memangnya kita yang salah arah?
Tapi sepanjang jalan ini tidak terlihat adanya sesuatu yang tidak benar?
Memangnya Hek-jiu tong dan Jik-san-tui bernyali kecil dan cuma bersembunyi di Pau-hou-ceng atau Toa-ho tin?"
"Tidak akan salah, disinilah tempatnya,"
Ucap Siang Cin. Kin Jin juga berkata dengan tertawa.
"Em betul, ada beberapa batu besar itu kelihatan ber-gerak2 ..... ."
Lekas Sebun Tio-bu mengawasi dengan seksama, memang benar, di dekat pinggir selokan memang dilihatnya sebuah batu bisa bergerak merambat, meski pelahan gerakannya, bila tidak diperhatikan orang takkan tahu akan kepalsuan dari batu itu.
251 Sebun Tio bu berseru.
"Keparat, permainan macam apa ini?"
"Tangkeh,"
Ucap Siang Cin sambil bersandar pada sebuah batu besar di sampingnya.
"Jian-ki-beng pimpinanmu biasanya bergerak secara terang2an, dalam menyelesaikan urusan juga suka blak2an, bila urusan bisa didamaikan pasti pantang angkat senjata, sebaliknya kalau bertempur akan berjuang sampai titik darah terakhir. Sepak terjang ini jelas jauh berbeda dengan orang2 Hek-jiu-tong serta Jik-san-tui, tak heran laki2 yang gagah berani seperti kau juga mudah dikelabui oleh kelicikan musuh."
Sebun Tio-bu tertawa, katanya.
"Batu, besar yang aneh2 bentuknya itu berwarna sama, di antaranya memang banyak yang tiruan ......."
Setelah mengawasi sebentar akhirnya Kin Jin menanggapi pelahan.
"Batu2 tiruan itu semuanya terbuat dari kulit binatang yang keras serta diwarnai, di dalamnya bersembunyi manusia, sayang batu yang berserakan dan bertumpuk tindih itu sangat banyak sehingga sulit juga membedakan mana yang tulen dan mana yang palsu, batu2 tiruan itu memang dibikin oleh tangan ahli, kalau tidak diteliti memang mudah dikelabui ....". Siang Cin mengangguk, katanya.
"Jangan sampai musuh tahu akan jejak kita, kini waktu sudah mendesak, hayolah berangkat."
Setelah mengawasi sekian lamanya pula batu2 yang berserakan di kejauhan sana, Kin Jin berkata.
"Terpaksa kita harus putar balik saja supaya tidak menimbulkan curiga mereka, bukan mustahil kedatangan kita sudah diketahui mereka."
Mendadak Sebun Tio-bu mendekam serta ber-kata dengan suara tertahan.
"Awas, ada serombongan orang."
Lekas Siang Cin dan Kin Jin ikut berjongkok, lalu mereka mengintip, kira2 lima ratusan langkah disana, tampak dua puluhan orang Jik-san tui yang bersenjata kampak dengan memanggul busur dan panah dengan sikap tegang dan waspada sedang merunduk maju seperti tengah menghadapi musuh.
Sambil membungkuk menggeremet maju, tapi arah mereka sedikit melenceng, maka mereka terus lewat di sebelah Siang Cin bertiga sehingga jejak mereka tidak sampai konangan.
Sambil menahan napas mereka mengawasi orang2 Jik-san tui ini turun ke selokan, diam2 Sebun Tio-bu mendengus.
"Untung mereka tidak kemari, kalau tidak, cukup sekali gebrak, saja tanggung seluruhnya akan kubereskan." 252
"Malah semuanya akan mampus dengan leher berlubang,"
Demikian goda Siang Cin tertawa. Sebun Tio bu tertawa dan berkata.
"Darimana kau tahu, Siang-heng?"
"Bagi insan persilatan yang berkecimpung di Kangouw, siapa yang tidak tahu cara khas Cap-pi kun cu melukai orang? Sepuluh korban sepuluh lubang di tenggorokan mereka,"
Merandek sejenak lalu Siang Cin menambahkan.
"semula Cayhe masih berpikir, kenapa waktu di Pau-hoa-ceng sasaran Tangkeh sedikit meleset? Kini tahulah aku ....."
Sebun Tio-bu tertawa, ucapnya.
"Bila sebelum mereka tahu akupun terlibat dalam pertikaian ini, selain bakal menambah kesukaran bagi kita, tentu juga tiada manfaat yang dapat kita peroleh."
"Memang begitulah, hayo berangkat,"
Kata Siang Cin...
Lekas mereka cemplak kuda terus membelok dan mengitari selokan ini.
Kuda terus dibedal menyusuri jalanan kecil di pinggir selokan yang menonjol menyerupai tanggul yang sempit Dengan cepat mereka sudah hampir mencapai seberang selokan di depan sana.
Kin Jin menoleh dan berkata.
"Tidak meleset perhitunganku, untunglah mereka tidak mencegat."
Siang Cin menjawab.
"Terlalu kencang lari kuda kita, bukan saja sukar dirintangi, tapi mereka sendiri juga tidak ingin rahasianya diketahui orang lain"
Setelah membelok ke kiri mereka terus menyusur tegalan, suasana di sini amat sepi, padang tegalan masih diliputi kabut, tapi cepat sekali akhirnya menembus ke jalan raya.
Dikatakan jalan raya karena tanah yang berlapis salju tipis kini sudah tampak bekas jalur roda kereta dan tapak kaki orang, sementara hutan yang lebat masih memagari kedua sisi jalan.
Sebun Tio bu membuka jalan di depan, tiba2 ia menarik kendali, kudanya berjingkrak sambil meringkik panjang.
Cepat Kin Jin juga menghentikan lari kudanya, segera Siang Cin bertanya.
"Ada apa?"
Sebun Tio-bu menunduk sambil memejamkan mata, mendadak dia terbeliak dan berkata.
"Di sini terasa ada sesuatu yang tidak beres Siang-heng, indera ke enamku merasakan sesuatu yang tidak enak, menurut pengalaman, bila timbul perasaan begini tentu akan terjadi sesuatu yang tidak menguntungkan diriku."
Siang Cin menjelajah keadaan sekelilingnya, katanya. `"Aku percaya perasaan Tangkeh 253 itu, kadang2 perasaan begitu timbul tepat pada waktunya."
Dengan sorot tajam Kin Jin juga sedang menyapu pandang sekitarnya, katanya tenang.
"Suasana di sini memang rada ganjil ..... terlampau sunyi ... ."
Benar juga, tanpa mengeluarkan suara, di antara gundukan salju yang meninggi di kedua sisi jalan raya sama pelahan2 berjalan keluar sebarisan orang2 berbaju putih, pakaian putih mereka mirip warna salju, sampaipun muka mereka juga ditutupi kedok kain putih, bilamana barisan ini tidak bergerak, sungguh orang takkan mengetahui kehadiran manusia2 serba putih ini.
Barisan orang2 berbaju putih ini ternyata tampil ber-turut2, semuanya berbaris teratur, posisi mereka setengah lingkaran, setiap orang memegang tiga batang bumbung bundar warna hitam, pangkalnya dipasangi suatu benda aneh yang berbentuk seperti sayap tapi melengkung laksana busur, lubang kecil pada bumbung bundar hitam itu mengincar dan ditujukan ke arah Siang Cin bertiga.
Sebun Tio-bu mendengus, pelan2 dia merogoh saku, Kin Jin juga siap, tiba2 Sebun Tio-bu berseru tertahan.
"Mari terjang kepungan mereka, Kin-heng jaga kuda kesayangan kita."
Belum lagi Kin Jin menjawab, tiba2 Siang Cin menghela napas lega, lekas dia memberi tanda dan berkata.
"Jangan bergerak, coba perhatikan gelang emas di atas kepala mereka yang kemilau itu."
Memang benda yang melingkari kain kerudung orang2 berbaju putih adalah gelang kuning kemilau. Dengan bergelak tertawa Sebun Tio-bu berkata.
"Para kawan Bu-siang-pay, sudah lama kukagumi dan ingin bertemu."
Buru2 Siang Cin lompat turun dari kuda dan mendekat dengan langkah cepat, serunya lantang.
"Apakah kalian anak murid Bu siang-pay yang datang dari padang rumput."
Orang2 berbaju putih menggeremet maju dengan formasi mengepung itu kelihatan sama melengak dan bingung, tapi sorot mata mereka yang tajam tetap menatap dengan curiga.
Siang Cin mendekat beberapa langkah lagi, katanya dengan keras.
"Murid Bu-siangpay dengarkanlah, kami adalah teman2 kalian, kedatangan kami khusus untuk 254 bergabung dengan kalian ....."
Dari lingkaran orang2 berbaju putih itu tampil seorang yang berperawakan kekar, sembari maju dia menarik kain kedoknya, maka tertampaklah seraut wajah yang lebar dengan mimik kaku dingin, sesaat dia berdiri mengawasi Siang Cin, suaranya tenang dan mantap.
"Tuan ini siapa?"
Dengan tenang Siang Cin berkata.
"Ada seorang yang berjuluk Naga Kuning Siang Cin, apakah pernah tuan mendengarnya?"
Bergetar tubuh si baju putih, ia terbelalak kagum, namun nadanya masih curiga.
"Kau, kau inikah Naga Kuning?"
Siang Cin berkata dengan tertawa.
"Benar, memang Cayhe adanya."
Si baju putih lantas maju lebih mendekat, serunya gugup.
"Jadi tuanlah yang sekaligus menjagal enam gembong Hek jiu tong di Pi-ciok-san? Ratusan orang2 Hek jiu tong mampus di tanganmu? Tuan pula yang membantu dan ikut berjuang bahu membahu dengan saudara kita dari Bu-siang-pay?"
"Hanya kebetulan bersua di tengah jalan, bantuan itu bukan apa2 . ...."
Terunjuk sikap kagum, hormat dan penyesalan pada wajah si baju putih, tiba2 dia berlutut terus menyembah, serunya.
"Murid tertua Say-cu-bun Siang Goan-kan dari Busiang-pay menyampaikan sembah hormat kepada Siang susiok yang berbudi."
Hal ini betul berada di luar dugaan Siang Cin, sekilas melengak lekas dia menyingkir, sembari memapah bangun Siang Goan kan, serunya gugup.
"Siang heng. usiamu sebaya denganku, bolehlah membahasakan saudara saja, kau menjunjung tinggi diriku seperti ini sungguh tak berani kuterima."
Tanpa kuasa Siang Goan-kan kena dipapah berdiri oleh Siang Cin, katanya.
"Bukan maksud Tecu ingin menjunjung tinggi Siang-inkong, soalnya Ciangbunjin ada perintah, seluruh murid Bu-siang pay untuk selanjutnya harus menghormati Siang-inkong sebagai susiok yang telah menolong kebesaran nama kita, memang betul Siang-inkong bukan sealiran dengan Bu siang pay, namun sebutan `In-susiok` (paman guru berbudi) adalah pantas untuk menandakan bahwa Siang-inkong ada hubungan yang karib dengan Bu-siangpay kita."
Dengan sikap kikuk Siang Cin menjawab.
"Ini ... wah Cayhe menjadi serba susah 255 dan tidak berani terima kehormatan besar ini ....Ciangbunjin kalian sungguh terlalu sungkan ... ."
"Tiga hari yang lalu,"
Ucap Siang Goan kan pula.
"laskar kita telah duduki Liok sun-ho dan menyeberang dengan selamat kecuali menemui beberapa rombongan orang yang patut dicurigai, sepanjang jalan ini belum pernah mengalami kesulitan apapun, kini barisan sudah disebar, mata2 kita juga telah diutus menyelidiki daerah yang cukup berbahaya di sebelah depan, tadi waktu Siang-inkong dan kedua teman ini mendekati daerah sini, tecu sudah lantas memperoleh berita, sungguh mimpipun tidak terpikir oleh kami bahwa Sianginkong sendiri bakal kemari ...."
Dengan prihatin Siang Cin bertanya.
"Untuk kali ini, berapa banyak jumlah pasukan yang dikerahkan Bu-siang pay kalian?"
Siang Goan kan menjawab dengan pelahan.
"Hwi cu-bun, Say cu-bun dan Bong-cubun serta murid2 yang langsung dipimpin oleh Cengtong (pusat) kali ini dikerahkan seluruhnya, jumlah seluruhnya ada tiga ribu lima ratus orang lebih."
Mendengar jumlah yang besar ini, Siang Cin merasa kaget, belum lagi dia menunjukkan sikapnya Siang Goan kan sudah menambahkan.
"Sementara anak buah Thi, Hiat dan Wi ji-bun karena kehilangan pimpinan, dikuatirkan dalam kesedihan karena gugurnya para saudara yang lain sehingga bekerja diburu emosi, maka mereka tidak diizinkan ikut datang, untuk sementara waktu Lan cian tong diserahi tugas untuk menguasai keadaan di padang rumput."
Siang Cin menarik napas, katanya.
"Jadi Ciang bunjin kalian Thi-cianpwe juga datang?"
Siang Goan kan mengangguk hormat. Siang Cin berkata pula dengan terharu.
"Dari padang rumput jauh di kaki Kiu-jin-san pasukan besar kalian berbondong kemari, betapa besar dan kekuatan barisan ini, apalagi kalau sampai enam Bun dan satu Tong dikerahkan seluruhnya, mungkin kekuatan besar Bu-siang-pay mampu menggetar bumi dan menggoncang langit."
"Ya,"
Ucap Siang Goon-kan.
"jumlah seluruhnya mendekati selaksa orang."
Siang Cin menoleh ke belakang, Kin Jin dan Sebun Tio-bu masih bercokol di atas kuda dan mengunjuk senyum. Kata Slaug Cin kemudian.
"Ayolah kalian turun, marilah temui Ciangbunjin Bu siang-pay." 256 Cepat Siang Goan-kan memberi pesan kepada anak murid Bu-siang-pay, dalam waktu singkat sebuah suara sempritan yang melengking tinggi berkumandang sampai jauh, baru saja suara sempritan tajam di sini berhenti, suara sempritan yang sama terdengar melengking ditempat kejauhan, begitulah dari satu tempat kelain tempat suara sempritan ini terus bersahutan. Siang Cin amat kagum dan menyenangi cara mengirim berita dengan suara sempritan khusus dari orang2 padang rumput ini, suara nyaring ini sekaligus membawakan suasana yang hidup bebas penuh gairah perjuangan di pedang rumput. Dalam pada itu Siang Cin telah perkenalkan Sebun Tio-bu dan Kin Jin dengan Siang Goan-kan, lalu Siang Cin dengan tetap setunggangan dengan Kin Jin, sedang Siang Goankan lantas setunggangan dengan Sebun Tio-bu, empat orang dua kuda segera kabur ke arah timur dengan kecepatan yang luar biasa. Di tengah tegalan yang masih remang2 itu, derapan kaki kuda berdetak memecah kesunyian. Meski di atas kuda yang berlari sekencang itu, tapi Sebun Tio-bu tetap waspada memeriksa sepanjang jalan yang dilalui, dia berharap dengan ketajaman matanya dapat menemukan orang2 Bu-siang-pay yang disebar sekitar sini untuk mendirikan perkemahan atau pos penjagaan tertentu. Tapi hasilnya nihil, ia rada kecewa, sejauh ini dia tidak melihat adanya tanda atau bekas apa2. Sementara Kin Jin yang mencongklang kudanya di sebelah belakang telah membisiki Siang Cin.
"Siang-heng, betapapun licik dan licin orang2 Hek-jiu-tong, tapi Bu-siang pay dengan peralatan perangnya yang serba lengkap, dengan semangat juang yang tinggi serta terlatih pula, tentu bukan lawan yang enteng."
"Betul, mereka sudah biasa hidup dalam semangat yang tinggi di padang rumput, jujur dan sederhana di samping kecerdikan otak dan kecermatan kerja, maka tidaklah heran kalau gelang emas dan baju putih orang2 Bu-siang-pay terkenal di manapun."
Jilid 14 257 Tiba-tiba Sebun Tio-bu membelok ke arah kiri terus menerjang ke semak2 rumput dan berlari di jalanan kecil yang sudah lama tak pernah dilalui manusia, langsung menuju ke sebuah pohon cemara di kejauhan sana.
Kin Jin terus menguntit dengan kencang, sekejap saja mereka sudah tiba di pinggir hutan.
Di luar hutan ternyata sudah menunggu belasan orang berbaju putih dengan gelang emas melingkar di kepala, mereka adalah pahlawan2 padang rumput dari Bu-siangpay, semuanya menyambut dengan meluruskan kedua tangan.
Setelah berputar kedua kuda itu segera berhenti.
Empat orang penunggang kuda terus melompat turun, Siang Goan kan memberi hormat lalu mereka di bawa masuk ke dalam hutan, belasan laki2 baju putih itu berdiri di dua sisi dan membungkuk memberi hormat.
Kira2 puluhan langkah memasuki hutan, Siang Cin yang bermata tajam sudah melihat banyak kemah kecil yang tersebar di bawah pohon, tempat sembunyi macam orang2 Bu-siang-pay ini sudah cukup dikenalnya dengan baik, sekian banyak kemah2 itu menandakan betapa banyak pula jumlah orangnya, tapi tiada seorangpun yang kelihatan malah kalau tidak memasuki hutan, dari luar orang jangan harap beritahu bila di dalam hutan ini bersembunyi sekian ribu orang, kiranya Bu-siang-pay memang mahir mencari tempat yang strategis untuk dijadikan sebagai markas darurat.
Cukup lama juga mereka putar kayun di dalam hutan lebat ini, akhirnya tiba di depan tiga pucuk pohon cemara yang tua dan besar, waktu Siang Cin bertiga angkat kepala, kiranya diantara ketiga pohon cemara raksasa yang kebetulan berposisi segi tiga telah dibangun sebuah gubuk kayu, jadi gubuk kayu ini seperti bergantung di tengah2 pohon, jelas gubuk yang cukup besar ini baru dibangun, karena bau kayu cemara masih terasa merangsang hidung.
Kira2 lima belas langkah di depan gubuk itulah Siang Goan-kan lantas berhenti, belum lagi dia buka suara, pangkal batang pohon cemara sebelah kanan tiba2 bergerak dan terbentanglah kulit pohonnya, tampak empat orang berpakaian putih dengan langkah gesit muncul dari dalam batang pohon raksasa yang kosong itu.
Dengan suara rendah Siang Goan-kan berkata.
"Harap laporkan kepada Tayciangbun 258 bahwa ada tamu agung yang datang."
Ke empat laki2 itu segera menarik golok serta mundur selangkah, kata seorang yang berada di kanan.
"Barusan sudah diperoleh berita sempritan akan kedatangan tamu agung, Tay-ciangbun sudah berpesan agar ditanyakan tamu agung dari mana, harap Siangsuheng menerangkan."
"Harap sampaikan kepada Tay-ciangbun, katakan bahwa Napa Kuning Siang Cin telah datang beserta dua sahabatnya."
Begitu mendengar nama Naga Kuning Siang Cin, ke empat orang itu melengak, serentak mereka menoleh dengan pandangan kagum dan hormat, sikap mereka menampilkan perasaan "beruntung dapat berhadapan dengan tokoh besar".
"Para saudara,"
Kata Siang Goan-kan kurang sabar.
"kalian masih tunggu apalagi?"
Paras wajah ke empat orang itu, pemimpinnya lantas menjura dan berkata.
"Ya, segera kami laporkan ke atas...."
Tapi sebelum orang2 ini bergerak lebih lanjut, daun pintu rumah di atas pohon itu telah terbuka, muncul seorang laki2 pertengahan umur berpakaian ala pelajar, muka putih cakap bersih, sorot matanya tajam, tiga untai jenggot menjuntai di bawah dagunya, jubah panjang yang dipakainya juga berwarna putih, di bagian pinggang mengenakan sabuk lebar dengan hiasan batu permata, sikapnya wajar dan santai, tapi menampilkan wibawa kebesaran ...."
Begitu melihat orang ini, segera Siang Goan-kan bersama ke empat laki2 baju putih tadi bertekuk lutut memberi hormat, serunya bersama.
"Sembah hormat kepada Tayciangbun."
Laki2 yang agung berwibawa ini memang pentolan yang paling berkuasa di padang rumput di luar perbatasan, Ciangbunjin Bu-siang-pay yang disanjung puji, tokoh yang mirip dongeng dalam setiap pembicaraan orang, yaitu Pek-ih coat-to (si golok sakti berbaju putih) Thi Tok-heng.
Sudah lama Siang Cin bertiga mendengar nama Thi Tok-heng, kini terasa bahwa wibawa laki2 ini memang jauh lebih besar dan angker daripada apa yang pernah didengarnya, sikapnya yang agung membuat orang akan tunduk dan patuh.
Sambil menjura, dengan suara mantap Siang Cin berkata.
"Naga Kuning Siang Cin bersama Siang-liong thau dari Jian-ki beng, Cap-pi kuncu Sebun Tio-bu, beserta Kim luijiu Kin Jin dari Tan ciu, menyampaikan selamat bertemu kepada Tay-ciangbun."
Cepat Thi Tok heng balas menjura, katanya dengan suara lantang.
"Tidak tahu bakal kedatangan tamu2 agung, Thi Tok-heng tidak mengadakan penyambutan yang layak, 259 harap kalian suka memberi maaf,"
"Mana berani membikin repot Tay-ciangbun,"
Kata Siang Cin tertawa.
"Bahwa Tayciangbun sudi membuka pintu dan keluar menyambut, ini sudah merupakan kehormatan besar bagi kami bertiga. Terima kasih!"
Thi Tok-heng tertawa nyaring dan berkata.
"Orang bilang Jon-ciang si Naga Kuning betapa hebat dan mengejutkan kepandaiannya, tampaknya memang betul, tapi mereka tidak tahu bahwa betapa tajam ucapannya ternyata tidak lebih lemah dari pada Kungfu yang dimilikinya."
"Ah, Tay-ciangbun terlalu memuji,"
Ucap Siang Cin dengan rendah hati. Thi Tok-heng berkata lebih lanjut.
"Gubuk ini di bangun di tengah2 pohon, karena letak dan bangunannya yang serba sederhana, maka tidak menggunakan tangga atau tali gantung untuk naik turun, untuk kekurangan ini, Tok heng mohon maaf, silahkan kalian loncat ke atas saja."
Siang Cin lebih dulu mengucapkan terima kasih kepada Siang Goan-kan dan murid2 Bu-siang-pay lainnya, lalu dia memberi tanda kepada Sebun Tiobu dan Kin Jin, bertiga mereka melompat ke atas dengan ringan.
Setelah basa-basi ala kadarnya mereka dipersilahkan masuk ke dalam rumah.
Rumah ini terdiri dari dua ruangan, ruangan depan cukup besar, di sini lantainya dilembari babut yang terbuat dari kulit binatang, demikian pula dindingnya dipajangi kulit beruang, di tengah terdapat sebuah meja kayu, sebuah lilin besar yang tertancap ditatakan tembaga terletak di atas meja, sebuah badik tertancap di sebelahnya, di samping itu terdapat delapan buah kursi kayu pula, semua kursi dilapisi kulit binatang yang berbulu tebal, kecuali itu tiada pajangan apapun lagi.
Sementara ruangan di sebelah dalam yang lebih kecil adalah kamar tidur Thi Tok-heng.
Baru saja mereka berduduk, lantai yang dilembari kulit biruang di pojok sana tiba2 tersingkap, dari bawah menongol keluar kepala seorang terus beranjak naik, kedua tangannya membawa sebuah baki dengan empat cangkir porselin yang berisi teh wangi, setelah menekuk lutut memberi hormat orang ini menyuguhkan teh di atas meja terus mengundurkan diri.
Siang Cin melihat jelas bahwa batang ketiga pohon cemara raksasa ini 260 sudah dikorek kosong bagian tengahnya, di sana dibuatkan tangga dan ruangan khusus tempat tinggal para tamu pembantu pribadi Thi Tok-heng.
Setelah menyilakan para tamunya minum, dengan sikap serius Thi Tok-heng berkata.
"Siang-tote sudi berjerih payah demi kepentingan Pay kami, beberapa kali harus mengalami pertempuran antara hidup dan mati, badan terluka dan mencucurkan darah, untuk semua itu dengan setulus hati aku menyatakan terima kasih dan selalu akan mencatat budi kebaikan yang luhur ini."
Siang Cin bersoja, katanya.
"Tidak berani, Cayhe hanya berbakti demi kawan sehaluan, Tay-ciangbun, menurut Siang-heng murid kalian, khabarnya pasukan besar kalian yang dikerahkan kemari sekali ini ada tiga ribu lima ratus lebih banyaknya?"
Thi Tok heng mengangguk, sahutnya.
"Betul, tepatnya tiga ribu lima ratus empat puluh orang."
"Bagaimana kekuatan pihak Hek-jiu-tong dan Jik-san-tui, apakah Tay-ciangbun telah memperoleh bahan2 yang perlu diketahui?"
"Hanya beberapa berita yang masuk secara tersendiri dan seluruhnya belum pasti lagi, oleh karena itu kami berdiam diri, belum bergerak sebelum persoalannya menjadi terang, pahlawan2 padang rumput menempuh perjalanan sejauh ini bersama Tok-heng, betapapun aku tak boleh gegabah bertindak, setiap urusan harus diselidiki dan diperhatikan dengan seksama, supaya murid2 Bu-siang pay tidak gugur menjadi korban kelalaianku sendiri.. ...."
Merandek sebentar lalu ia melanjutkan.
"Waktu menyeberangi Liok sun ho, pihak kami menggunakan Sin-siok-kiu ( jembatan gantung ) khusus ciptaan orang2 padang rumput, jadi tidak menggunakan rakit, perahu atau peralatan lain, sebelum pasukan bergerak, lebih dulu dikirim tujuh murid Say-cu-bun dengan dua ratus anak buahnya menyelundup ke seberang, di luar dugaan mereka tidak menemui rintangan apapun, maka dengan mudah enam buah Sin siok-kiu segera kami pasang sehingga seluruh pasukan besar menyeberang melalui jembatan darurat ini dengan selamat, setelah itu kami bagi pasukan menjadi lima kelompok dan maju lebih lanjut, kemudian berhenti di sini, mata2 sudah kami sebar untuk 261 mencari berita, cuma laporan yang kami terima satu sama lain masih merupakan berita sendiri2 sehingga sukar dianalisa menjadi suatu rumusan, memangnya Tok-heng sedang gelisah, syukurlah Thian telah mengirimkan Siang-lote bertiga kemari"
Sebun Tio-bu dan Kin Jin yang sejak tadi diam saja, baru sekarang sempat bicara, kata Sebun Tiobu dengan tertawa.
"Tay-ciangbun, kami bertiga semalam suntuk telah mengobrak-abrik Pau-hou ceng, sayang usaha menolong anak murid Bu-siang-pay kalian tidak membawa hasil apapun."
Lalu secara ringkas Siang Cin menceritakan kejadian semalam, dijelaskan pula keadaan pihak musuh yang. mereka ketahui, akhirnya dia menambahkan.
"Seratus li di sebelah depan adalah Ceciok-giam, tempat itu amat berbahaya dan strategis, jelas pihak Hek-jiutong dan Jik-san tui telah mengatur perangkap di sana menunggu kedatangan kita, bahwa mereka tidak pasang perangkap di Liok sun-ho mencegah pasukan kalian, tapi memilih Ce ciok giam, pasti di balik hal ini ada rahasia yang perlu diperhatikan."
Thi Tok-heng berpikir, jarinya mengetuk meja, katanya kemudian.
"Jit ho-hwe dan Toa to kau terjun juga ke dalam barisan mereka, hal ini sudah kudengar sebelumnya, bagaimana sepak terjang Siolian-su-cuat dari Pek-hoa kok belum pernah kudengar, tapi laporan mengatakan mereka telah menunjang kejahatan. Hek-jan-kong dari Ji-gi-hu jelas adalah tulang punggung Jik san-tui, dia menunjang Jik-san-tui adalah logis, bahwa Tianghongpay juga memusuhi kita hal ini sungguh di luar dugaanku. Mereka punya hubungan baik dengan Kun-lun-pay, karena pertikaian ini, urusan pasti akan menjalar dan berbuntut panjang ....."
Setelah mengelus jenggot, lalu ia menyambung.
"Bahwa di Ce giok giam nanti bakal berhadapan dengan musuh memang sudah kuduga, cuma belum berani kupastikan, karena menurut penyelidikan orang2 kita, tiada gerak-gerik apapun yang mencurigakan di sana, beruntung kini memperoleh keterangan dari kalian, kalau tidak mungkin kami akan meremehkan tempat penting ini, Siang-lote .......".
"Ada petunjuk apa?"
Tanya Siang Cin.
"Kecuali Jit-ho hwe, Toa-to-kau, Sio-lan-sucoat dan Tiang-hong-pay, apakah kalian tahu ada pihak lain lagi yang membantu pihak lawan"
Siang Cin menggeleng, katanya.
"Sejauh ini hanya itu yaag kami ketahui, tapi kita harus tetap waspada dan ber-jaga2, pandanglah musuh lebih kuat daripada 262 meremehkannya."
"Betul,"
Ucap Thi Tok-heng.
"Siang-lote, kalian tahu Jik-san-tui telah menyekap beberapa orang Bu siang-pay di Pau-hou-ceng, apa kalian tahu siapa2 kiranya yang ditahan di sana?"
"Hal itu belum sempat kami selidiki ..., .."
Sela Sebun Tio-bu. Kin Jin menghela napas, katanya.
"Kami maklum kalau Tay-ciangbun menguatirkan keselamatan para saudara yang tertawan musuh."
Thi Tok-heng tertawa ewa, katanya.
"Kin-hiante, setiap murid Bu-siang-pay tumbuh dewasa di padang rumput, hati mereka terjalin erat dengan sanubariku, hubungan kami bagai saudara atau anak kandung sendiri dan mirip sebuah keluarga besar, dua kali kami meluruk kemari, tapi semua ini hanya menyangkut urusan pribadiku dalam keluarga. Tunas muda yang gagah berani terkubur di negeri orang, mereka juga punya anak bini, tapi demi urusan pribadiku mereka harus ikut mempertaruhkan jiwa raga, setiap kali merenungkan hal ini, sungguh seperti disayat hatiku."
Setelah menghela napas Thi Tok-hong berkata, pula dengan nada semakin berat.
"Kekalahan di Pi-ciok-san boleh dikatakan kegagalanku pula, sesungguhnya kami menilai rendah kekuatan musuh dengan mengutus sejumlah pasukan kecil untuk menyerbu sarang musuh yang kuat, sebaliknya aku tetap berada di padang rumput dan anggap Busiang pay sanggup menaklukan siapapun juga. Kenyataan tiga ratus anak buah telah gugur di Pi-cioksan, jago2 kosen kita banyak yang menjadi tawanan musuh pula, kalau dipikirkan sungguh bertambah besar dosaku seorang, betapa aku ada muka untuk berhadapan dengan anak didikku ....."
Bola mata Siang Cin yang hening menampilkan cahaya lembut, katanya.
"Tayciangbun, untuk hal ini pandanganku justeru berbeda dengan Tay-ciangbun. Seorang ketua adalah simbol kekuasaan dan kewibawaan sesuatu ikatan, secara langsung menyangkut mati hidup perkumpulannya, persoalan Tayciangbun adalah persoalan seluruh perkumpulan pula, oleh karena itu urusan yang menimpa nama baik Ciangbunjin harus dibela mati2an oleh seluruh anggota perkumpulan, demi mencuci noda dan menolong puteri kandung sendiri, adalah jamak kalau mengerahkan seluruh kekuatan perkumpulan, jadi tidak seharusnya tanggung jawab ini dipikul oleh Ciangbunjin sendiri, umpama utusan serupa 263 menimpa pada anggota yang lain juga harus ditempuh cara yang sama. Maklumlah jiwa ksatria kaum persilatan se-kali2 pantang ternoda, janji setia insan persilatan tidak boleh diingkari, demi keadilan dan kebenaran, meski harus mempertaruhkan jiwa juga setimpal, untuk ini Tay-ciangbun boleh melegakan hati saja."
Dengan rasa haru Thi Tok-hang menatap Siang Cin, katanya kemudian dengan menghela napas.
"Lote, meski baru pertama kali ini Tok-heng bertemu dengan kau, tapi sudah kurasakan adanya ikatan batin ...."
"Untuk ini Cayhe sungguh merasa beruntung dan bersyukur ...."
Ucap Siang Cin sambil merangkap kedua tangan. Thi Tok-heng angkat cangkir mengajak minum tamunya, setelah menghabiskan tiga cangkir, lalu dia menghela napas panjang, katanya dengan suara serak.
"Yang-yang adalah putriku satu2nya, ibunya sejak terkena penyakit lumpuh, sepanjang tahun rebah di ranjang dan tak pernah keluar dari kamarnya, demi kasih sayangku terhadap putriku ini aku tidak menikah lagi, seluruh kasih sayangku dan perhatianku ku tumplek pada dirinya, sejak kecil memang terlalu kumanjakan, segala permintaannya tidak pernah kutolak, sungguh tak nyana sikapku yang terlalu memanjakan dia ini menjadikan sifatnya binal dan liar, sampai bibinya yang biasa mengurusi segala keperluannya sering dibuat jengkel olehnya. Sebagai ayah selalu ku anggap anak ini masih terlalu kecil, masih kanak2, jenaka dan menyenangkan, oleh karena itu meski sering ada orang memperingatkan aku, tapi aku tidak tega untuk memarahinya. Tak terduga justeru lantaran dia terlalu bebas inilah urusan menjadi terlanjur dan tak terkendali lagi. Entah bagaimana bayangan iblis seorang laki2 telah menyusup dalam hatinya, entah cara bagaimana Khong Giok tek si keparat itu memikatnya sehingga dia rela minggat meninggalkan ayah-ibunya yang amat mengasihinya, maka dapatlah dibayangkan betapa marah, penasaran dan kecewaku atas kejadian yang memalukan ini "
Tertekan juga perasaan Sebun Tio-bu bertiga, katanya.
"Tay-ciangbun, menurut pendapatku, urusan belum sampai separah itu? Asalkan puterimu dapat direbut kembali, Hek-jiu-tong dan Jik-san-tui kita hancurkan, kalian ayah dan anak pasti akan berkumpul kembali"
Dengan tertawa getir Thi Tok-heng berkata.
"Puteriku itu kini mungkin sudah ternoda, kudengar dia sudah melangsungkan pernikahan dengan Khong Giok-tik secara 264 sukarela, dari sini dapatlah dimengerti bahwa laki2 keparat itu telah mengisi hatinya menggantikan kedudukan ayah-bundanya, perduli apakah dapat kita merebutnya kembali, yang terang dia tidak akan bersyukur dan berterima kasih kepadaku ayahnya, malah sebaliknya dia merasa benci dan dendam karena kami akan menghancurkan kebahagiaannya bersama kekasih yang dicintainya itu ......."
Melongo juga Sebun Tio-bu mendengar uraian ini, analisa Thi Tok-heng memang mendekati kebenaran dan kenyataan, tapi juga bernada dingin dan kejam, urusan sudah terlanjur, demi mempertahankan gengsi dan melampiaskan penasaran, jiwa boleh di sabung, raga boleh dipertaruhkan, tapi apa yang akan dihasilkan dari pertempuran besar ini?
Entah sejak kapan bunga salju beterbangan di angkasa, embusan angin barat menderu kencang terasa dingin Hujan salju semakin lebat, derap kaki kuda yang tak terhitung jumlahnya itu berdetak di tanah berlumpur, rombongan demi rombongan orang berbaju putih dengan gelang emas melingkar di kepala tengah menuntun kuda masing2 keluar dari hutan belukar sana, gerak-gerik mereka tampak cekatan dan lincah.
Pek-ih coat-to Thi Tok heng tampak bertengger di punggung seekor kuda yang gagah kekar dan tinggi, kuda ini berwarna hitam dengan bulunya mengkilap.
Sungguh kuda yang hebat, kepalanya besar, telinga panjang berdiri, keempat kakinya panjang dengan bulu putih menghiasi ke empat tapalnya, sikapnya yang gagah sungguh mempesona.
Thi Tok-heng memandang ke arah Siang Cin dengan senyuman lebar.
Kini Siang Cin sudah berganti naik seekor kuda coklat yang besar dan kekar pula, sementara Sebun Tiobu, Kin Jin masing2 tetap menunggang kuda kesayangannya sendiri.
Kira2 setengah tanakan nasi, di tegalan belukar itu sudah terkumpul sekitar delapan ratus penunggang kuda yang semuanya berpakaian putih, tanpa banyak suara mereka bergerak ke barisan masing2, semuanya berdiri di tempat yang telah ditentukan.
Saat itu adalah pagi hari kedua sejak kedatangan Siang Cin bertiga.
Lima penunggang kuda tampak tampil dari tengah barisan dan menuju ke depan Thi 265 Tok-heng, pemimpin kelima penunggang kuda ini adalah seorang tua kecil kurus, karena tubuhnya betul kurus kerempeng, perawakannya kecil lagi, seragam putih yang dipakai orang lain kelihatan gagah dan kereng, baginya jadi kelihatan komprang dan lucu.
Dalam perundingan semalam, Siang Cin bertiga sudah melihat laki2 tua kurus kecil ini diundang hadir, dia adalah kepala pengawal pusat, Yu-hun-kou cay ( si sukma gentayangan berjari satu ) Ho Siang-gwat.
Empat penunggang kuda di belakangnya, seorang yang berkepala besar dengan muka merah berbadan gemuk, ialah pahlawan utama di bawah Ho Siang-gwat, namanya Soanpoh-jiu (si kampak) Tong Yang-seng.
Sementara laki2 yang bermuka kuning seperti orang sakit adalah Ping-long (serigala gering) Pau Thay-kik, orang ketiga berbibir merah bergigi putih, berwajah cakap, berusia masih muda, dia adalah Pek-ma-gih-cui (si gurdi berkuda putih) Kang Siu-sin, sedang orang ke empat yang berperawakan besar kekar adalah Koanjit-khek (si kilat) Mo Hiong.
Keempat orang ini semalam Siang Cin sudah melihatnya, Ho Siang gwat yang berbiji mata besar itu lantas berseru lantang.
"Ciangbun Suheng, segalanya sudah beres dipersiapkan, tinggal menunggup perintah untuk bergerak."
Thi Tok-heng mengangguk, katanya kereng.
"Ke empat pasukan yang lain, apa sudah kau hubungi mereka?" . Ho Siang-gwat tertawa, katanya.
"Sejak tadi sudah kukirim kabar kepada mereka, merekapun sudah mempersiapkan diri, malah setengah jam lebih dini dari pada kami, sekarang mungkin sudah hampir sampai di tempat yang ditentukan, memangnya siapa yang berani main2 dengan keputusan rapat semalam?"
Sampai di sini Ho Siang-gwat menoleh ke arah Siang Cin dan menambahkan.
"lote, hari ini kami ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri akan kehebatan Kungfumu, betapa cepatkah gerakanmu ...."
"Mungkin Toa-houcu akan kecewa nanti,"
Ucap Siang Cin dengan tertawa. Ho Siang gwat tergelak, katanya..
"Lote, jangan, jangan sungkan ...."
"Toahoucu,"
Sela Thi Tok-heng.
"Orang2 Siang Goan-kan sudah ditarih kembali, apakah pasukan Say cu-bun juga sudah kembali ke pasukan induknya?"
"Sudah ditarik kembali sebelum kita berkumpul tadi,"
Sabut Ho Siang-gwat. Segera Thi Tok-heng menggentak kudanya dan berseru.
"Hayo berangkat!" 266 Ho Siang-gwat mengiakan sambil mundur, ia memberi tanda, maka suara tanduk lantas berbunyi menggema angkasa, barisan berkuda dengan dengan penunggang serba putih mulai bergerak dalam formasi yang teratur. Thi Tok-heng mengulap tangan, katanya.
"Kalian juga silahkan."
Maka Siang Cin bertiga lantas mengiringi Thi Tok-heng berada di belakang pasukan besar, dalam pada itu di bawah pimpinan Ho Siang-gwat, kelima orang tadi sudah larikan kudanya menuju ke barisannya masing2.
Pasukan berkuda ini hanya dilarikan pelan2 saja, sorot mata Thi Tok-heng menampilkan cahaya yang aneh mengagumkan, katanya sambil menoleh kepada Siang Cin.
"Lote, waktu semalam kau mengumumkan kematian Siu-cu, semua pimpinan barisan yang hadir dalam pertemuan itu merasa sedih, dendam serta gegetun, maklumlah Siu Cu bergelar Thi-tan, tak nyana dia tewas dalam usia muda."
Guram air muka Siang Cin, katanya menyesal.
"Waktu itu Cayhe pernah berjanji kepadanya untuk membawa pulang tulang belulangnya ke padang rumput, tak terduga karena situasi waktu itu, tak sempat aku menyelamatkan jenazahnya, ....Tapi bahwa aku sudah pernah berjanji, maka pesannya pasti akan kulaksanakan, betapapun sulitnya aku pantang ingkar janji, kalau tidak, di alam baka juga Ang heng tidak akan tenteram ...."
Setelah menghela napas rawan, Thi Tok-heng berkata.
"Begitu berita kekalahan tempo hari tersiar ke padang rumput, aku lantas merasakan firasat jelek, tapi masih kuharapkan berita itu hanya kabar angin saja, tak kira murid yang kuutus mencari berita belum lagi pulang, dua orang murid dengan luka parah sudah pulang ke rumah ....Kemudian It-cohcan Hoan Tam juga kembali dalam keadaan runyam, maka keputusan untuk mengerahkan pasukan besar Bu-siang-pay kita juga lantas diputuskan ....Siang-lote, bicara soal ini, mau tidak mau aku menjadi gemas, tidak kepalang dendam dan kebencianku ... ." .
"Tay-ciangbun, sekian tahun Cayhe berkelana di Kangouw, selamanya belum pernah aku menyiksa diri dengan bara dendam, karena bila Cayhe berkeputusan, maka pembalasan dendam segera kulaksanakan,"
Berhenti sebentar, Siang Cin menambahkan. 267
"Sekarang Tayciangbun, tibalah saatnya untuk menuntut balas sakit hati."
Bercahaya mata Thi Tok-beng, seketika ia membusungkan dada serta berkobar semangat juangnya, serunya dengan tepuk tangan.
"Betul, ucapanmu memang betul saudaraku, kini tibalah saatnya untuk membalas dendam kesumat ini."
Sebun Tio-bu bergelak tertawa, serunya.
"Kalau begitu, kenapa Tay-ciangbun tidak suruh mereka mempercepat lari kuda dan mengadakan serbuan besar2an."
Untuk pertama kalinya Thi Tok-heng tertawa lebar dan segar, serunya.
"To Wankang, perintahkan untuk mempercepat laju barisan"
Salah seorang penunggang kuda yang sejak mula selalu mengikut di belakang segera membedal kudanya ke depan, dia memutar satu lingkaran dan memberi tanda, maka barisan besar segera membedal kuda dan berlari kencang ke depan.
Dengan senang Thi Tok-heng berkata.
"Empat penunggang kuda yang selalu mengiringi perjalananku, ini adalah pengawal pribadiku, mereka dinamakan Jik tansu kiat ( empat pahlawan setia ), yang kusuruh menyampaikan perintah tadi bernama To Wankang, orang pertama dari Jik tan-su-kiat,"
Siang Cin tertawa, katanya.
"Kali ini tiga Bun dan Cong-tong ikut datang di bawah pimpinan Tay-ciangbun, entah berapa jumlah jago2 kosennya. pertemuan semalam agaknya mereka belum, hadir seluruhnya?"
Dengan tertawa lebar Thi Tok-heng berkata.
"Jago kosen ada dua puluh tiga dengan anak buah tiga ribu lima ratus lebih, Siang-tote, kalau mereka berjuang mati2an, kukira musuh akan pusing kepala dan dibikin kocar-kacir."
Belum Siang Cin menanggapi, Sebun Tio-bu sudah bergelak tertawa.
"Bukan hanya kepala pusing saja, malah sukma akan terbang dan nyalipun pecah, melihat barisan serba putih ini dengan kemilau gelang emas di kepala, golok sabit bagai hutan lebatnya, derap kuda yang gemuruh, tanggung Hek jiu-tong dan Jik san-tui akan lari ketakutan."
Dengan lantang Thi Tok-heng berkata.
"Sebun lote jangan memuji, Jian-ki-beng pimpinanmu itu bila beraksi mungkin jauh lebih hebat daripada ini ......."
Sebun Tio-bu tertawa, katanya.
"Ah, hanya sinar kunang2 belaka, mana dapat dibandingkan dengan cahaya rembulan, hehe .......
" . Kin Jin melirik ke arah Sebun Tio-bu, godanya.
"Tangkeh, sejak kapan kaupun pandai merendah diri?"
Di tengah gelak tertawa orang banyak barisan besar ini terus maju sampai hari menjelang malam baru berhenti dan berkemah.
268 Hari kedua, menjelang terang tanah udara mendung, angin barat daya mengembus kencang, menyapu segala benda di bumi yang dapat digulungnya, pada menjelang fajar yang dingin ini, menambah perasaan tegang dan mengobarkan semangat tempur..Siang Cin, Thi Tok-heng dan lain2 membungkus diri dengan mantel masing2, kecuali muka mereka yang kelihatan, seluruh badan terbungkus di dalam mantel tebal, namun demikian hawa dingin masih membuat badan menggigil.
Pemuda cakap bergelar Pek ma-gin cui Kang Siu-sim sering mondar-mandir membawa berita, kini dia berlari datang pula dengan gerakan lincah.
Thi Tok-heng lantas bertanya.
"Siu-sim ke empat pasukan yang lain apakah sudah berkumpul?"
Dengan suara serak Kang Siu-sim berkata.
"Pasukan Bong ji-bun, di bawah pimpinan Utti Han-poh Cuncu baru saja tiba, mereka berada di samping kanan Ce-ciok giam, jadi empat pasukan besar seluruhnya sudah terkumpul?"
Thi Tok heng bertanya pula.
"Apakah kurir yang diutus ke Cu ji wa untuk memanggil Kim cuncu sudah kembali?"
"Belum,"
Sahut Kang Siu sim.
"kemungkinan mereka terlambat, tak sempat mengikuti pertempuran di sini."
Thi Tok-heng berpaling memohon pendapat Siang Cin.
"Siang lote, menurut pendapatmu apa perlu kita menunggu kedatangan Kim cuncu baru mulai bergerak?"
Berpikir sebentar, Siang Cin berkata.
"Lebih cepat lebih baik, supaya musuh tidak bersiaga, kukira biarlah kita bergerak lebih dulu saja."
"Betul,"
Timbrung Sebun Tio bu setelah menguap.
"hawa sedingin ini, kalau tidak melemaskah otot, orang2mu bisa beku di sini. Tay-ciangbun, bila tiba saatnya menyerbu Pao-hou-ceng, berilah kesempatan kepada Kim-cuncu untuk unjuk kebolehannya."
Cuaca masih gelap, bunga salju bertebaran di angkasa, sekuntum bunga salju melayang jatuh di muka Thi Tok hong, seketika cair menjadi butiran air terus meleleh ke dagunya, pelahan mengusap air di mukanya Thi Tok-heng berkata.
"Baiklah, Siu-sim, perintahkan kepada pasukan kita siap menyerbu."
Kang Siu sim mengiakan, setelah memberi hormat, selincah kelinci dia melompat ke sana melaksanakan tugas.
Hujan salju semakin lebat, hawa tambah dingin dan hening.
Pelahan tanpa terasa secercah cahaya kuning mulai terbit di ufuk timur, seperti diselimuti awan tebal, garis kuning yang mulai tampak itu menjadi remang2.
Thi Tok-heng membuka ikatan sebuah buntalan panjang melengkung yang 269 digenggamnya sambil berkata rawan.
"Inilah hari yang menegangkan urat syaraf, alam semesta se-olah2 jikut prihatin ..... ."
Siang Cin tertawa, katanya dengan nada rendah.
"Tay-ciangbun, hari yang mengesankan ini akan selalu terukir dalam sanubari setiap orang, Ce ciok-giam akan direbut dengan cucuran darah ......."
Thi Tok heng menghela napas, katanya serak.
"Sebelum pertempuran berlangsung, cuaca justeru seburuk ini, memberi alamat situasi yang bakal kita hadapi akan lebih mengenaskan lagi . .......Tapi seperti apa yang Siang-lote katakan tadi, hari2 yang akan datang ini akan terukir dalam sanubari kita, betapa banyak jiwa raga yang akan terkubur di tegalan ini, membeku di bawah timbunan salju...."
Tengah bicara tampak sesosok bayangan orang melompat datang pula, dia adalah Kang Siu sim. Dengan kereng Thi Tok-heng berkata.
"Siu-sim, sudah siap seluruhnya?"
Wajah Kang Siu-sim yang putih cakap kelihatan merah bersemangat dan berkeringat, sahutnya cepat.
"Seluruh barisan sudah siap melaksanakan penyerbuan ke arah yang sudah ditentukan, tinggal menunggu perintah Tayciangbun untuk mulai bergerak."
Setelah mengawasi angkasa sesaat, kemudian Thi Tok-heng ambil keputusan dan mengangguk.
"Perintahkan bergerak menurut siasat yang telah direncanakan semalam."
Dengan penuh semangat kembali Kang Siu-sim berlari ke sana, sekejap itu pula bunyi terompet mengalun tinggi bergema di udara.
Belum lagi suara terompet yang satu ini berhenti, dari berbagai penjuru menyusul bunyi terompet yang sama pula, paduan suaranya yang keras dan bergelombang terdengar gagah bersemangat, membakar tekad juang setiap insan yang mendengarnya.
Maka ribuan kuda serentak bergerak, suara lantang seorang lantas berteriak.
"Seluruh anak2 Say-cu-bun dengarkan, tibalah saatnya baju putih Bu-siang-pay dari padang rumput menyerbu Toa ho tin, gunakanlah darah kita untuk menebus utang musuh terhadap para saudara yang telah gugur". Ribuan suara serempak menanggapi seruan lantang itu.
"Serbu!" -Suara yang dihinggapi emosi, penuh rasa dendam dan duka. Seekor kuda mendahului menerjang ke depan dengan melambaikan mantelnya yang berkibar, golok melengkung teracung di atas kepalanya, di belakangnya ribuan kuda segera mengejar dengan kencang menuju ke Ce-ciok-giam, cahaya golok berkilau berpadu 270 dengan kemilau cahaya kuning emas, tapal kuda berderap di tanah bersalju sehingga terasa bumi seperti bergoncang, raut muka setiap orang tampak merah bersemangat dan tidak kenal takut. Empat penunggang kuda berjajar di belakang dengan tenang Thi Tok-heng mengawasi pasukan Say-cu bun bergerak maju, wajahnya tidak memperlihatkan perasaan apa2, katanya.
"Para Lote, yang memimpin barisan pelopor kita itu adalah Seng si-to Ih Ce, Toacuncu dari Say-cu-bun."
Siang Cin mengangguk dan memuji.
"Orang ini gagah berani."
Tengah bicara, pasukan berkuda yang terdepan mendadak terjadi keributan, jeritan, teriakan, caci maki campur aduk dengan ringkik kuda, barisan kuda yang berderap ke depan menjadi kacau-balau, berlompatan, saling himpit dan tumbuk, para penunggangnya tampak berusaha mengendalikan kuda masing2, tapi tidak sedikit yang sudah terjungkal jatuh, sementara barisan yang di belakang masih terus menerjang maju, kuda sama berdiri dan saling tindih, tak sedikit pula yang terluka oleh golok sendiri, dalam sekejap mata belum lagi pertempuran berlangsung, pasukan kuda ini sudah roboh sebagian besar.
Sikap Thi Tok-heng tetap tenang dan tidak terpengaruh sedikitpun oleh perubahan mendadak ini, tapi Sebun Tio-bu yang berangasan tak tahan lagi dan mencaci.
"Maknya, apa yang terjadi?"
Siang Cin diam saja, perhatiannya tumplek ke arah depan, dilihatnya dari samping kanan sana seekor kuda tengah dibedal balik ke sini.
Karena ucapannya tidak ditanggapi, Sebun Tiobu berludah, teriaknya.
"Thi-ciangbun, biar aku menerjang ke sana, akan kubeset kulit dan mencacali tubuh para keparat itu."
Thi Tok-heng tersenyum, katanya kereng.
"Harap tunggu sebentar, Sebun-lote, kalah atau menang sekarang masih terlalu pagi untuk dikatakan. Sementara itu si penunggang kuda itu sudah dekat, penunggangnya adalah seorang laki2 berkepala besar, mukanya berewokan, cuaca sedingin ini tapi keringat tampak membasahi seluruh badannya sampai pakaian lengket, napasnya memburu, melihat Thi Tok-heng dia lupa memberi hormat, dengan cepat dan gugup ia berteriak.
"Lapor Tayciangbun, dua puluhan tombak sebelum Ce ciok-giam, musuh menggali perangkap sepanjang ratusan kaki dengan lebar delapan kaki, dalam lubang jebakan penuh dipasangi bambu runcing, tiga ratus pasukan pelopor kita ada dua ratusan yang kejeblos perangkap 271 musuh, dikala mereka terjungkal jatuh itulah, dari atas Ce-ciok-giam beterbangan ratusan kantong kapur untuk menimbun lubang perangkap, para saudara yang jatuh ke dalam perangkap mungkin tiada seorangpun yang selamat ....."
"Bagaimana keadaan Ih-cuncu?"
Tanya Thi Tok-heng dengan suara dingin.
"Cuncu selamat,"
Sahut orang itu. Thi Tok-heng mengangguk, katanya.
"Perintahkan, maju terus!"
Laki2 itu mengiakan dan putar kudanya, tapi baru kudanya mau dibedal, selarik sinar terang panah berapi mendadak menjulang tinggi ke angkasa.
Maka barisan kuda yang sudah kacau balau itu segera bergerak melebar, lekas sekali mereka membuat setengah lingkaran, seorang penunggang kuda tampak berdiri di tengah lingkaran, orang ini bukan lain ialah Seng-si-to Ih Ce.
Padahal jaraknya lebih dari satu li, tapi teriakan Ih Ce yang gagah itu kedengaran lantang.
"Serbu! ... ."
"Serbu! ...."
Serempak pasukan berkuda pun menerjang dengan suara gegap gempita, laksana air bah dahsyatnya.
Ketika pasukan berkuda yang hebat ini tiba di depan parit galian, mereka tidak langsung melompat maju dan menyerbu lebih lanjut, barisan yang terdepan segera menarik kendali membelokkan arah kudanya terus berputar balik dari arah lain, dikala membelokkan kudanya itu, tampak ratusan larik sinar kemilau beterbangan, tombak2 bersula tampak berseliweran ditimpukkan ke arah Ce-ciok-giam sederas hujan lebat.
Baru saja barisan pertama berkisar pergi, rombongan kedua menerjang maju pula, kembali hujan lembing meluncut ke atas Ce ciok-giam, begitulah seterusnya sampai tujuh kali, sementara rombongan pertama yang berputar ke belakang mulai menerjang maju pula terus melompati parit langsung menerjang ke Ce-ciok-giam.
Jauh di belakang dengan seksama Thi Tok-heng mengawasi medan pertempuran, pelahan dia berkata.
"Kukira urusan tidak semudah ini ....."
Siang Cin manggut, ucapnya.
"Ya, pasti masih ada perangkap lagi ...."
Belum habis dia bicara, suara ribut berkumandang dari depan, ringkik kuda bercampur jerit dan pekik para penunggangnya.
Cepat Siang Cin, dan lain2 memandang ke depan, kiranya pasukan berkuda yang menerjang ke Ce-ciok-giam semuanya roboh terjungkal, tiada seekor kudapun yang tetap berdiri tegak, seluruhnya jatuh bergulingan dipandang dari 272 kejauhan, yang memiliki mata tajam dapat melihat jelas ada dua ratusan orang berpakaian merah entah muncul dan mana, semuanya tengah menarik jaring yang sejak mula telah direntang, tidaklah heran bila dua ratusan pasukan berkuda itu sama terjungkir balik di dalam jaring.
Dari balik batu Ce-ciok-giam sana lantas terjadi hujan panah, seluruhnya di arahkan kepada pasukan berkuda Bu-siang-pay yang sudah bergelimpangan di tengah jaring, kontan separuh lebih roboh menjadi korban.
Patut dipuji sisa pasukan yang masih hidup, meski ada yang terluka mereka tetap tenang, ada yang rebah diam saja, ada pula yang sembunyi dibalik kuda yang berjingkrak, serentak berpuluh batang tombak bersula batas menyerang ke arah musuh yang masih terus berusaha menjaring mereka.
Dalam sekejap puluhan orang penarik jaring itu sama terjungkat roboh, sambil berteriak kaget dan panik semuanya lantas kabur, tidak sedikit pula yang terhunjam mampus oleh tombak bersula.
Thi Tok-heng menghela napas gegetun, katanya.
"Tombak itu seluruhnya dilumuri racun, begitu badan tergores ujung tombak, dalam tujuh langkah jiwa pasti melayang."
"Bagus, ini baru sedap,"
Sorak Sebun Tio bu.
Serbuan pasukan berkuda be dalam Ce-ciok giam untuk sementara menjadi terhalang, maklum kuda dan para penunggangnya yang terjaring dan menjadi korban kelicikan musuh ini, menjadikan penghalang barisan belakang yang hendak menerjang lebih lanjut, kini pasukan Say-ji-bun sudah terbagi empat baris, sayang dalam waktu dekat sulit bagi mereka untuk menyerbu lebih lanjut.
Dingin berwibawa sorot mata Thi Tok-heng, katanya sambil menoleh.
"Siang-lote, dalam keadaan seperti ini, kalau menurut pendapatmu, cara bagaimana agar dapat mengatasi situasi?"
Siang Cin berucap dengan kalem.
"Turun dari kuda, menerjang dengan berjalan ... ."
Belum lagi berakhir tanggapan Siang Cin, pasukan berkuda yang terbagi menjadi empat baris itu serempak melompat turun dari kuda masing2, bagai banteng ketaton, semuanya angkat senjata terus melompati parit dan menyerbu ke dalam Ce-ciok giam.
"Pendapat bagus,"
Puji Thi Tok-heng sambil tersenyum. Dengan tak sabar Sebun Tio-bu berkata.
"Tay-ciangbun, kupikir, kini tiba saatnya kita ikut terjun ke medan laga ...."
"Harap tunggu lagi sebentar,"
Kata Thi Tok-heng dengan tersenyum.
Sorak sorai gegap gempita penyerbuan besar2an bergema menggoncang bumi, orang berbaju merah itu semuanya berwajah bengis, bukan saja pakaian merah ketat, ikat pinggangnyapun merah, banyak yang bertubuh kuat dan bertelanjang dada dengan kampak di kedua tangan, bagai orang gila tanpa mengenal, takut merekapun menyambut serbuan golok sabit murid2 Bu-siang-pay.
Munculnya orang2 Jik san-tui memang terlalu mendadak, jumlahnya juga berlipat ganda daripada orang Bu-siang-pay, dalam sekejap pertempuran terbuka berlangsung dengan sengit, Ce-ciok-giam menjadi ajang pertempuran adu jiwa.
Murid2 Say-cu-bun dari Bu-siang-pay menjadi terkepung di tengah orang Jik san tui, tapi mereka tidak gentar, dengan tabah mereka menerjang sambit mengerjakan golok sabit, sekuat tenaga dan mengerahkan segala kemampuan untuk melabrak musuh dari kejauhan tampak jelas, betapa tangkas dan gesit bayangan putih yang berkutet di tengah musuh yang serba merah, perbedaan warna yang menyolok ini membuat arena pertempuran dapat disaksikan dengan jelas dari kejauhan, meski menang dalam jumlah, tapi orang2 Jiksan-tui menjadi kacau-balau diserbu musuhnya yang kesetanan, tak sedikit korban jatuh dipihak musuh.
Thi Tok-heng memejamkan mata sekejap, katanya kemudian.
"Baiklah, kini tiba saatnya kita bergerak."
"Tay-ciangbun,"
Sekilas pikir Siang Cin berkata.
"kukira tidak seharusnya Tayciangbun sendiri terjun ke arena, situasi medan pertempuran ini harus dalam kekuasaanmu, mereka masih memerlukan petunjukmu, bila pihak kalian kehilangan pegangan, situasi bisa berbalik menguntungkan musuh."
Berpikir sebentar, akhirnya Thi-Tok heng mengangguk katanya.
"Pendapat bagus, aku memang ceroboh, tapi terpaksa harus menyusahkan kalian bertiga saja."
Lalu dia berputar dan mengangkat sebelah tangannya ke arah Jik-tan-su-kiat yang berjajar di belakangnya, 274 Tok Wan kang yang tertua segera larikan kudanya, suitan nyaring seketika berkumandang, suitan disusul suitan terus bersambung ke medan tempur, suaranya semakin melengking tinggi, dikala suara suitan itu mencapai titik tertinggi di kejauhan, mendadak bergema balik lalu sirna.
Maka pasukan berkuda lain yang sejauh ini bersembunyi serempak bergerak, bunga salju berhamburan sehingga tanah tegalan yang luas dikejauhan sana seperti dibungkus kabut tebal, pasukan berkuda serba putih dalam sekejap telah berbaris rapi dengan gagah perkasa.
Memandang ke sana sebentar, mendadak Siang Cin berseru kaget.
"Tay-ciangbun, apakah pasukan yang langsung di bawah komando Cong-tam juga akan diterjunkan ke medan sana?"
Lekas Thi Tok-heng menjelaskan.
"Betul, memang Hwi ji bun sudah kupersiapkan sebagai pasukan belakang, barisan Bong-ji-bun kujadikan pasukan sayap kanan kiri, sementara pasukan yang langsung di bawah komando Cong-tam kusimpan untuk membantu Say-cu-bun sebagai kekuatan inti untuk melabrak musuh, waktu berkemah tadi Hwi ji-bun sudah kubagi jadi dua kelompok yang berkedudukan di dua tempat, kini mereka sudah kupendam di dua sisi Ce ciok-giam, bila tidak penting dan diperlukan, kedua kelompok pasukan ini tidak akan kukerahkan."
"Itu baik sekali. Tay-ciangbun,"
Ucap Siang Cin.
"Sekarang kami akan maju... !"
Baru saja dia hendak ajak Sebun Tio-bu dan Kin Jin berangkat. tiba2 Thi Tok-heng berkata "Siang-lote .. .."
"Apakah Tay-ciangbun masih ada petunjuk?"
Tanya Siang Cin. Sepasang mata sang pemimpin besar yang bijaksana ini memancarkan rasa terimakasih, haru dan simpatik, suaranya rendah mantap.
"Harap kalian menjaga diri baik2, seluruh anak murid Bu siang pay yang terjun ke medan laga kuserahkan kepadamu untuk memerintah mereka."
Bimbang sejenak, akhirnya Siang Cin menjura, katanya.
"Dalam waktu segenting ini, tak perlu Cayhe main sungkan. Tay-ciangbun, biarlah Naga Kuning memberanikan diri menerima beban berat ini."
Thi Tok-heng balas menjura, katanya. Tok-heng amat berterima kasih."
Bersama Sebun Tio bu dan Kin Jin, Siang Cin segera keprak kudanya ka depan, tapal kuda berderap maju segencar bunyi tambur ber talu2, di antara lambaian baju2 putih 275 pasukan berkuda yang langsung di bawah komando Cong-tam segera bergerak.
Sebun Tio bu melongok ke arah Ce-ciok giam didepan, lalu berpaling ke belakang ke arah pasukan berkuda, akhirnya dia menghela napas, katanya dengan nada kagum "Siangheng, bahwa Bu-siang-pay terkenal di seluruh jagat, menggetarkan dunia persilatan, kesuksesan mereka kiranya bukan secara kebetulan, coba kau lihat, dengan perbawa seperti ini, gagah berani, setia dan bersemangat tinggi, semua ini menandakan betapa keras disiplin mereka, sungguh patut dipuji."
Siang Cin sependapat, katanya.
"Benar, hari ini baru terbuka mata kita ......."
Kin Jin yang jarang bicara kini ikut tertawa, katanya.
"Jangan suka mengagulkan orang lain melulu, Tangkeh perserikatan Jian ki beng (ribuan penunggang kuda) di bawah pimpinanmu itu kan juga bukan pelita yang remang2."
Tertawa Sebun Tio-bu dan berkata.
"Bagus, cukup sepatah katamu ini, aku Sebun Tio bu selama hidup ini akan mengikat kau sebagai sahabat Siang Cin dan Kin Jin hanya tersenyum saja, pada saat itu Congtong Toa-houcu Ho Siang gwat dari Bu-siang pay telah memacu kudanya mengejar tiba. Cepat Sebun Tio-bu berteriak.
"Ho-toahoucu, ada apa?"
Ho Siang-gwat ter gelak2, katanya.
"Mohon tanya kepada kalian, kita tetap menggempur dengan pasukan berkuda atau menyerbu berjalan kaki?"
Seperti punya perhitungan yang meyakinkan Siang Cin menjawab.
"Serbu dengan berjalan kaki, tapi tiga ratus pasukan berkuda harus tetap dipertahankan di luar parit."
Ho Siang-gwat tidak banyak bicara lagi, ia memberi tanda ke belakang, maka lima puluhan anak buahnya di bawah pimpinan Ping long (serigala penyakitan) Pau Thay ki segera memacu kudanya ke depan, dua puluhan orang penunggang kuda membawa papan sepanjang setombak lebih dengan lebar lima kaki, kedua sisi papan ini tampak dipasang gelang besi dan gantolan sebesar jari.
"Toa-houcu,"
Tanya Siang Cin lirih.
"apakah itu?"
Ho Siang-gwat tertawa, katanya.
"Itulah Sin-siok-kio ciptaan khas Bu-siang-pay kita yang tiada keduanya di dunia ini."
"O, jadi dengan permainan inilah kalian berhasil menyeberangi Liok-sun-ho tanpa kurang suatu apapun?"
Ho Siang gwat mengangguk dengan bangga, sahutnya.
"Ya, betul."
Dikala mereka bicara Pau Thay ki dan lain2 sudah tiba di depan parit, tampak sepanjang tanah galian penuh berserakan bambu2 yang patah dan tikar rusak serta 276 rumput2 kering.
Pau Thay-ki tahu bambu, tikar dan rumput2 kering inilah yang telah mengelabui pasukan Say-ji-bun sehingga banyak jatuh korban, tanah galian sedalam dua tombak, keadaan yang porak-poranda masih mengepulkan debu kapur yang terhembus angin, sementara jerit rintih serta ringkik kuda masih terdengar dari dalam lubang, bila diawasi lagi ujung bambu runcing yang dipasang tegak lebat itu banyak berlepotan darah, manusia dan kuda sama terhunjam mampus oleh bambu runcing ini, semuanya gugur dalam keadaan yang mengerikan.
Di gundukan tanah di sepanjang tepi parit ini, mayat bergelimpangan, yang terluka parah atau enteng, semua dalam keadaan payah, para korban sebagian besar adalah orang Bu-siang-pay.
Betapa ngeri dan pedih hati Pau Thay-ki dan lain2, tapi dengan mengertak gigi segera dia memberi aba2.
"Pasang jembatan!"
Lima puluhan prajurit berkuda serempak melompat turun, mereka tampak sedih, tapi rasa dendam tampak pula membakar mereka, tanpa bicara dengan cekatan mereka bekerja secara terlatih, mereka bekerja dengan menahan, rasa pilu dan dendam, dengan cepat sekali papan2 panjang yang bergantolan itu disambung satu dengan yang lain, ada yang pasang tiang serta mengayun palu, lembaran papan segera tersambung terus membujur ke depan, sampai akhirnya papan terdepan menyentuh tanah di seberang sana.
Lekas sekali beberapa buah Sin-siok-kio telah berhasil dipasang, Pau Thay-ki berpaling ke belakang, sementara itu pasukan besar berkuda juga telah tiba, lima ratusan murid Busiang-pay sekali mendapat aba2, seluruhnya melompat turun, dengan tenang dan teratur mereka membentuk dua barisan besar, cepat dan tangkas terus lari ke seberang melewati jembatan yang telah terpasang.
Di samping itu masih ada tiga ratusan pasukan berkuda berdiri diam dalam tiga barisan tersendiri.
di bawah pimpinan Kang Siu-sim, mereka tetap menunggu perintah lebih lanjut.
Cepat2 Ho siang-gwat mendekati Pau Thay-ki, katanya.
""Bawalah dua puluhan anak buahmu, kumpulkan kuda kawan2. Coba lihat, semua lari serabutan, mereka memang 277 sudah keranjingan membantai musuh hingga kuda masing2 tidak dihiraukan lagi."
Pau Thay-ki mengiakan, dengan suara tersendat dia berkata pula.
"Toa-houcu, saudara2 yang ada di dasar parit ...."
Ho Siang-gwat mendengus, omelnya.
"Aku sudah tahu, apa yang harus disedihkan?. Begitulah akhir kehidupan seorang pahlawan, memangnya kita harus mati dalam pelukan perempuan, menangis ter-gerung2 seperti kaum lemah?"
Mata Ho Siang-gwat mendadak mencorong merah, desisnya pula dengan penuh kebencian.` "Utang darah ini akan kita tagih dengan rentenya.
selamanya Bu-siangpay tegas membedakan budi dan dendam .....
Thay-ki, jangan lupa, tolong para saudara yang luka2."
Hanya sejenak ini sudah lebih dari separuh lima ratusan murid Bu siang-pay itu telah menyeberangi Sin-siok-kio. Siang Cin yang sejak tadi mengawasi segera menghampiri, katanya dengan tenang.
"Toa-houcu, Sebun-tangkeh dan Kin-heng sudah menungguku di tepi parit sana, kulihat anak buahmu di bawah pimpinan Thong Yang seng dan Mo Hiong itu seluruhnya gagah berani, kupikir sekarang juga boleh mulai mengadakan serbuan besar2an."
Lekas Ho Siang-gwat berkata pula.
"Terserah akan putusan Lote saja."
"Sekarang juga ku pergi, setelah seluruh barisan menyeberang Toa-houcu boleh segera menyusul."
Ho Siang-gwat mengiakan.
Siang Cin menarik napas lega, tanpa kelihatan dia membalik tubuh, tahu2 dia mumbul ke atas terus melayang ke seberang sana seringan burung terbang.
Sebun Tio-bu yang sudah menunggu di depan sana sampai terpesona, ia berseru memuji.
"Siang-heng, sungguh Ginkang yang hebat."
Siang Cin menanggapi dengan tawar.
"Ah, biasa saja."
Kin Jin yang berada di sebelah Sebun Tio bu segera berseru.
"Wah, betapa ramainya di depan sana, hayolah jangan kita buang2 waktu."
Lekas Siang Cin berpaling ke sana, di dasar Ce-gok-giam banyak batu2 besar dan kecil dengan aneka ragam bentuknya, bentrokan-langsung pasukan kedua pihak ternyata telah mencapai puncaknya, murid2 Bu-siang-pay bertempur dengan gagah berani bagai harimau 278 yang haus darah, dengan gigih mereka melabrak musuh yang jumlahnya berlipat ganda, suara pertempuran menggetar bumi, sinar berbagai senjata menyilaukan mata, darah muncrat menghiasi salju yang putih, kaki-tangan terkutung, kepala terpenggal, dada berlubang, isi perut berceceran, korban terus berjatuhan.
Kedua pihak terus berhantam saling merobohkan tanpa ampun se-akan2 mereka sudah kerasukan setan, tiada perasaan perikemanusiaan, tiada kenal kasihan dan maaf, setiap insan yang lagi adu jiwa sudah dibakar emosi dendam, suara sudah serak, tapi mulut mereka tetap berpekik dan mencaci, hanya satu yang terpikir dalam benak mereka, ganyang musuh sebanyak mungkin sebelum kau sendiri dibunuh musuh.
Semua pahlawan Bu-siang-pay telah menyeberangi Sin-ciok-kio dengan tenang, tanpa kelihatan sikapnya yang gelisah berderet menjadi lima baris, Swan poh-jiu Thong Yangseng dan Koan-jit-khek Mo Hiong dengan tidak sabar tengah celingukan ke sana Thong Yang-seng, memegang kampak raksasa yang lebar melengkung, tangan kiri menyeret rantai besi, sementara Koan-jit-khek Mo Hiong membekal senjata tradisi Bu-siang-pay, yaitu golok sabit, Ho Siang gwat berada di paling belakang.
Siang Cin mengangguk serta bersuara lantang"
"Boleh mulai !"
Sebun Tio-bu ter-bahak2, serunya.
"Ini dia, saksikan aku orang she Sebun ini mempelopori kalian menagih jiwa musuh." -Sembari berseru, dia mendahului menubruk ke depan. Siang Cin memberi tanda, serunya.
"Ikuti dia!"
Swan-poh-jiu Thong Yang-seng dan Koan-jit khek Mo Hiong segera ikut melompat ke depan, keduanya meraung.
"Hayolah saudara2, gunakan golok sabit membalas dendam, sebelum mati takkan berhenti."
Sebun Tio-bu menerjang di paling depan, puluhan musuh telah dirobohkan, di tengah pertempuran yang gaduh itu, dari arah gundukan batu sebelah kanan, dalam jarak tiga tombak, mendadak serumbun anak panah selebat hujan memberondong ke arahnya.
Sambil gelak tertawa Sebun Tio-bu tidak menyingkir, dia malah melejit maju, di mana kedua telapak tangannya di dorong, segulung angin pukulan yang dahsyat terus menderu kedepan, 279 maka batu2 gunung di dasar Ce-ciok-giam seluas lima tombak sama tersapu remuk berkeping2.
di jengah tebaran batu pasir itu, tujuh-delapan sosok tubuh manusia ikut terlempar, darahpun muncrat, panah yang menyambar datang itupun tersapu rontok berjatuhan.
Siang Cin melesat lewat sambil menepuk pundak Sebun Tio bu, serunya.
"Tay-lik kim kong-ciang yang hebat!"
Baru terdengar suaranya, tahu2 Siang Cin sudah melesat sejauh belasan tombak, di tengah udara tubuhnya berputar, mendadak kedua kakinya memancal, maka dua potong batu besar tiruan dengan dua orang didalamnya belum lagi sempat memberikan reaksi, keduanya sudah menjerit dan roboh binasa.
Dengan tergelak Sebun Tio-bu memburu maju, mendadak puluhan batu di sekelilingnya menjeplak terbuka, puluhan orang berbaju hitam segera menyerbu.
Codet dimuka Sebun Tio-bu mendadak bersemu merah, di tengah gerungan mendadak dia berputar, dikala badan mendak sambil berputar inilah, sebuah senjata panjang dengan lima jari yang terpentang diujung senjata bewarna hitam ini lantas menyambar, hampir bersamaan dengan munculnya senjata aneh ini, puluhan orang berbaju hitam yang menubruk itu sama terjungkal roboh sambil melolong keras darah muncrat, yang mengerikan adalah leher mereka semuanya tercoblos bolong.
Tanpa berhenti Sebun Tio-bu melompat ke sana, waktu mash terapung di udara, tangan sedikit menyendal, jari2 tangan yang terbuat dari besi di ujung senjatanya itu kembali menderu kencang.
"Blang". diselingi erangan tertahan, seorang berbaju merah bertubuh tinggi besar sudah roboh dengan kepala remuk. Kin Jin tahu2 sudah berada di samping Sebun Tio-bu, dengan tertawa dia berkata.
"Thimo-pi (lengan iblis besi) sungguh mengerikan."
Sementara itu pahlawan Bu-siang-pay di bawah pimpinan Thong Yang-seng dan Mo Kiong juga telah menyerbu tiba, tanpa menunda waktu terus menerjang musuh, hanya dalam sekejap saja, ratusan orang berbaju merah telah diganyang habis.
Siang Cin terus berkelebat kian kemari, di mana dia lewat tubuh manusia lantas beterbangan darahpun berhamburan, jerit para korban yang meregang jiwa berpadu dengan denging senjata yang riuh rendah.
Ganas sekali Thi-mo pi milik Sebun Tio bu itu, kalau bukan leher bolong pasti kepala remuk, kembali sepuluh korban telah binasa, sementara Se-bun Tio-bu sudah melejit tiba di 280 samping Siang Cin, teriaknya.
"Siang heng, carikan lawan yang setimpal, hanya mengganyang kaum keroco beginian rasanya kurang memenuhi selera. Keparat, memangnya ke mana para pentolan yang biasanya suka tepuk dada, kenyataan kini menjadi kura2?"
Baru saja Siang Can mau menanggapi, tiba2 dilihatnya dua pahlawan Bu-siang-pay telah roboh, sambil memeluk dada, padahal jelas bagi Siang Cin di mana pahlawan Busiang pay tadi berada, sekelilingnya tiada kelihatan bayangan musuh, hanya tak jauh di sebelah sana terdapat sebuah batu besar.
Dengan tertawa dingin Siang Cin berkata.
"Tangkeh, batu di depan itu apakah kau lihat?"
Sekilas melirik Sebun Tio-bu sudah mengerti maksudnya, katanya tertawa.
"Memangnya kenapa?"
Siang Cin mendesis.
"Gunakan Thi-mo-pi milikmu itu, renggutlah nyawa dari kejauhan,"
Sebun Tio-bu lantas berputar.
"Wut", Thi-mo-pi yang ujungnya terpasang jari2 tangan besi itu mendadak menyambar ke arah batu di depan sana, maka terdengar suara "Cret", jari besi itu mendadak ambles ke dalam batu, sekali sendal dan tarik, batu besar itu terbawa terbang, di bagian bawahnya kelihatan dua kaki manusia tengah mencak2. Sekuatnya Sebun Tio-bu menyendal pula, seperti main bandulan saja, batu besar itu dilemparnya lima tombak jauhnya.
"Wut", jari2 besi itu tertarik balik, kelima jari besinya yang masih terpentang tampak berlepotan darah segar dan cuilan daging.
"Bagus, Tangkeh,"
Puji Siang Cin tenang.
"mainan tangan besi milikmu entah terbuat dart bahan apa?"
"Terbuat dari anyaman rambut manusia serta kulit badak,"
Demikian Sebun Tio bu menerangkan dengan tertawa.
"Bagus,"
Ucap Siang Cin tertawa.
"sekarang mari kita cari musuh yang lebih setimpal."
"Memang begitulah maksudku,"
Seru Sebun Tio-bu bersemangat. Maka keduanya melayang ke sana, Siang Cin sempat berkata pula.
"Lima puluhan tombak di belakang batu sebelah kanan itulah." -Dia mendahului menubruk ke sana. Batu raksasa ini tingginya ada dua tombak, lebarnya ada setombak lebih, bentuknya mirip benteng yang sudah ambruk, di belakang batu adalah sebuah tanah lapang, di sinilah sedang terjadi pertempuran sengit. Waktu Siang Cin berkelebat tiba di samping batu raksasa itu, baru dia melihat jelas, kiranya dua pahlawan Bu-siang-pay dengan pakaian mereka yang khas tengah melabrak 281 empat jagoan Hek-jiu-tong, kedua pahlawan Bu-siang-pay ini, seorang berperawakan kekar, dada bidang, jenggotnya pendek kaku seperti sapu lidi, mata besar mulut lebar, air mukanya kuning, gerak geriknya memperlihatkan betapa gagah perwira dan garangnya. Seorang lagi berkepala kecil lonjong, tubuh kurus kecil, mata sipit hidung pesek, kulitnya putih, tapi setiap gerak serangannya ternyata ganas dan keji mematikan, kedua orang ini sama bersenjata golok sabit, gaman yang menjadi simbol kebesaran pahlawan2 padang rumput. Dua dari ke empat lawannya berpakaian hitam, dua lagi berpakaian serba merah, jelas mereka dari Jik-san-tui, satu di antara kedua orang baju merah ini sudah pernah di lihat oleh Siang Cin, dia bukan lain ialah Toh-gwat-coh-jin Pek Wi-bing, Sam-thauling atau gembong ketiga Jik-san-tui. Pertempuran kedua pihak sudah mencapai babak yang menentukan, tapi jelas meski pihak Hek-jiu tong berjumlah lebih banyak, namun mereka justeru tak mampu memungut keuntungan. Sebaliknya meski pahlawan2 Bu-siang-pay itu dua lawan empat, mereka justeru berada di atas angin. Sekilas menerawang, Siang Cin lantas berkata.
"Tangkeh, ke empat orang ini seorang diripun aku mampu menyikat mereka, kupikir biar aku saja tampil untuk menggantikan kedua pahlawan Bu siang-pay itu ....."
"Jangan "
Sela Sebun Tio-bu.
"biar aku saja yang mencobanya, Lwekang ke empat keparat ini tidak lemah, tak berani aku mengatakan mampu mengalahkan mereka, tapi untuk bertahan beberapa kejap tanggung tidak menjadi soal."
Siang Cin tertawa, katanya.
"Baiklah, usaha ini kuserahkan kepadamu."
Setelah membetulkan pakaian, Sebun Tio-bu dan Siang Cin unjuk diri.
Sudah tentu berbeda sikap kedua pihak yang lagi bertempur itu, begitu kedua orang ini muncul, kedua pahlawan Bu-siang pay itu tertawa kegirangan, semangat tempur mereka semakin menyala.
Sebaliknya ke empat musuh yang berpakaian hitam dan merah itu berubah hebat air mukanya, semuanya menjadi pucat.
Dengan tertawa.
Siang Cin berkata.
""Saudara dari Bu-siang ini harap sebutkan nama kalian. Aku Naga Kuning Siang Cin." 282 Laki2 setengah baya berperawakan tinggi kekar dengan berewok pendek itu tergelak2, serunya.
"Sungguh beruntung bertemu di sini, aku yang tak becus ini adalah Seng si-to Ih Ce."
Yang berperawakan kurus itu sekaligus membacok tujuh kali mendesak mundur musuhnya, lalu berteriak.
"Cayhe Pek-wan (lutung-putih) Siang Kong, arak buah Say-jibun Bu-siang-pay."
Siang Cin menjura, katanya.
"Kiranya Ih-cuncu dan Siang-heng, silahkan kalian mundur dan istirahat, biarkan temanku ini menjajal kemampuan musuh."
Dengan tertawa lebar Ih Ce berkata.
"Baiklah!"
Segera Sebun Tio-bu melompat maju, sekali bergerak tahu2 semua senjata lawan kena disampuknya pergi. Hanya segebrak saja, baik kawan maupun lawan sama berteriak kaget.
"Thi-mo-pi!"
Sebun Tio-bu bergerak pula, Thi-mo-pi menyambar dengan tenaga dahsyat, angin menderu kencang mendampar ke arah empat musuh. Di luar arena Siang Cin tengah berkata dengan tertawa.
""Ih cuncu, pasukan berkuda di bawah pimpinan Ho-toa-houcu telah menyerbu tiba, silakan Ih cuncu dan Siang-heng pimpin mereka mengganyang musuh."
"Kalau demikian, biarlah musuh di sini Siang-heng dan Sebun-heng yang membereskan,"
Demikian ucap Ih Ce.
"ke empat orang ini termasuk pentolan musuh, sekali2 tidak boleh di lepaskan ...."
"Cuncu jangan kuatir, kedatangan kami memang untuk mengucurkan darah dan mencabut nyawa, bagaimana mungkin mereka dilepaskan begini saja?"
Demikian ucap Siang Cin.
Ih Ce memberi tanda kepada Siang Kong, keduanya lantas melompat ke atas terus meluncur ke sana.
Siang Cin memandang ke arena, dengan santai ia menyaksikan jagonya berhantam.
Tatkala itu Pek Wi-bing tengah putar kencang gelang baja di tangan kanan dan golok ditangan kiri, deru kedua senjatanya menimbulkan suara yang memekak telinga, gelang baja dengan golok melengkung pendek itu ternyata dapat menciptakan cahaya kemilau, indah dan menakjubkan permainan kombinasi kedua senja,ta yang berlainan ini, pantas dia berjuluk Toh-gwat-coh-jim (menyanggah rembulan dan golok kiri).
Kawannya yang juga berpakaian merah adalah laki2 berusia empat puluhan, pendek 283 gemuk bagai guci, gerak geriknya lincah dan tangkas, gamannya adalah garu yang bergagang panjang, ternyata permainan senjatanya yang lain dari pada yang lain ini cukup lihay dan ganas pula, kelihatannya dia sudah nekat dan siap mengadu jiwa.
Kedua laki2 baju hitam sama berperawakan kurus tinggi seperti tonggak, mukanya yang tirus kehijauan tanpa mengunjuk perasaan, kedua orang sama menggunakan sepasang Hou than kau (gantolan kepala harimau), maju mundur dan menyerang dapat mereka bekerja sama dengan baik.
Di antara ke empat orang ini, hanya Pek Wi-bing seorang yang dikenal Siang Cin, tiga yang lain masih asing baginya, tapi tak perlu diragukan bahwa mereka adalah jago penting dari Hek-jiu-tong-atau Jik san-tui.
Meski satu menghadapi keroyokan empat musuh, bukan saja tidak gugup atau terdesak, Sebun Tio-bu yang telah mengembangkan cakar-besinya, malah sering menyerang daripada bertahan, musuh didesak dan dicecarnya, betapa lihay dan kuat ke empat lawannya, lambat laun mereka semakin terdesak dan hanya mampu bertahan saja.
Dengan mencibir Siang Cin berkata.
"Pek Wi bing, sudah lama kudengar namamu, bukankah kau pun tak asing akan nama julukanku?"
Keringat sudah bercucuran, sembari putar senjata membendung serangan lawan, Pek Wi-bing meraung dengan napas tersengal2.
"Siang Cin kau membantu kejahatan. tanpa hiraukan keadilan dan kebenaran kaum persilatan, kali ini kau tidak akan luput dari tuntutan."
Mendadak Sebun Tio-bu menggentak.
"Wut"", Thi-mo pi serta merta menyamber, lekas Pek Wi-bing menyampuk dengan gelang baja di tangan kanan.
"Traang", bunga api melentik, hampir saja senjatanya mencelat terbang. Mengawasi tingkah laku Pek Wi-bing yang menahan sakit dengan meringis itu, Siang Cin tertawa, katanya.
"Waktu di Pau-hoa-ceng tempo hari, Pek Wi-bing, seharusnya kau tahu gelagat serta harus lekas ngacir saja, tapi kau justeru penasaran, sekarang menyesalpun terlambat."
Beruntun membacok tiga kali, Pek Wi-bing balas menyerang sambil berkelit, teriaknya.
"Siang Cin ..., dulu kau membantu Bu-siang-pay menyerbu Hek-jiu-tong, lalu bantu mereka pula menghadapi Jik-san-tui ......kau, kau sampah persilatan, antek BuBARA NAGA-Koleksi
KANG ZUSI 284 siang pay ..... .."
"Trang", senjata kedua orang berbaju hitam tersampuk pergi, sementara Thi-mo-pi menyerempet lewat di atas kepala Pek Wi-bing, samberan anginnya yang keras hampir saja menyebabkan Sam-thauling Jik-san-tui ini sesak napasnya, dengan wajah pucat kehijauan, cepat dia melompat mundur dan hampir saja roboh terjengkang. Menyusul Thi-mo-pi memukul pergi garu lawan yang lain, dengan tertawa Sebun Tiobu berkata.
"Orang she Pek, kau ini paling2 baru terhitung jago kelas tiga, berani buka mulut menghina sang Naga Kuning yang disegani? Kalau kau dibandingkan dia, umpama kau diharuskan menjilati telapak sepatunya saja masih belum setimpal."
Saking murka hampir saja Pek Wi-bing mati kaku, dengan nekat dia menerjang maju, gelang dan golok berputar bersama, seperti harimau gila dia mencecar Sebun Tio-bu.
Thi-mo pi di tangan Sebun Tio-bu mendadak mencengkeram, se-olah2 berubah menjadi ratusan jumlahnya, cakar tangan besi ini seperti berubah menjadi wajah setan yang beringas.
Inilah jurus ke tujuh yang dinamakan Jian-jiukim-liong (seribu tangan meringkus naga), salah satu jurus lihay dari Hek-sat cap-it pi Sebun Tio-bu yang termasyhur.
Maka bayangan cakar tangan bertaburan di angkasa mengaburkan pandangan orang, tampak Pek Wi-bing memutar kedua senjatanya bergetar sekali seperti dipagut ular, mendadak badannya mencelat dan terbanting puluhan langkah jauhnya.
Begitu keras dia terbanting, tapi dengan bandel dia berusaha melompat bangun, tapi akhirnya dia terkulai pula dengan lemas, kiranya pundak kiri dan depan dadanya sudah terluka, kulit dagingnya terkelupas, darah berlumuran, malah tulang pundaknya yang patah itu tak menongol keluar dari balik bajunya.
Hanya sekejap itu, bagai elmaut membayangi sukma para musuhnya, Sebun Tio-bu bersiul aneh, dia terus tubruk ketiga musuhnya serta menyerang lebih gencar.
Siang Cin tertawa dingin, serunya.
"Tangkeh, hayolah lekas akhiri!"
Terdengar Sebun Tio bu berseru.
"Baik, satupun tak boleh ketinggalan hidup."
Selangkah demi selangkah Siang Cin menghampiri Pek Wi bing, sorot matanya dingin tajam.
Merinding Pek Wi-bing, dengan napas tersengal, dia menatap Siang Cin lekat2, 285 sekujur badan terasa dingin, jantung berdetak keras, begitu tegang dan paniknya sampai luka di pundak dan dadanya tidak terasakan sakit lagi olehnya.
Dengan sikap ramah Siang Cin berhenti di depan Pek Wi-bing, katanya dengan nada bersahabat.
"Pek Wi-bing, dalam keadaan seperti ini, tiada ampun dan tak mengenal kasihan lagi, bijaksana kepada musuh berarti menyusahkan diri sendiri, betul tidak?"
Berhenti sebentar, dia tertawa dan berkata pula.
"Aku tidak ingin berlaku kejam terhadap diriku sendiri, oleh karena itu terhadapmu akupun tak boleh menaruh belas kasihan, di Pauhou-ceng tempo hari, beruntung kau lolos dari Kim-lui-jiu Kin Jin, tapi hari ini kau takkan lolos dari Jian-ciang yang kulancarkan."
Rasa ketakutan jelas kelihatan di muka Pek Wi-bing, bibirnya tampak gemetar, bola matanya terbelalak, gelang bajanya yang kemilau tajam terangkat di depan dada, dengan suara gemetar ia berkata.
"Kau ....apa kehendakmu?"
Tertawa penuh arti, Siang Cin berkata.
"Kuat hidup kalah mampus, ini adalah hukum yang berlaku di kalangan kalian, hakekatnya kalian tidak perduli akan harkat manusia, tanpa peri-kemanusiaan kalian bekerja asal menang untuk hidup, kini biarlah aku meniru cara yang biasa kalian tempuh, kini aku adalah si kuat dan kau adalah si lemah ....."
Dengan suara serak Pak Wi-bing berteriak.
"Kau, kau ....Siang Cin, kau hanya memungut keuntungan di kala orang kesusahan."
"Terserah apa yang hendak kau katakan, tentunya kaupun maklum, sekalipun kau tidak terluka, kau tetap bukan tandinganku."
Baru saia Pek Wi-bing mau bicara lagi.
"cret". sebuah suara berkumandang dari sana, lekas dia berpaling ke arah datangnya suara, kiranya kawannya yang bersenjata garu itu tengah sempoyongan dengan kedua tangan memeluk batok kepala yang sudah mumur dan akhirnya terjungkal binasa. Dengan tenang Siang Cin menyaksikan urat hijau menonjol di pelipis Pek Wi bing, katanya dengan santai.
"Kau sendiri yang turun tangan atau perlu kulayani?"
Napas semakin memburu, keringat dingin mengucur semakin deras, mata Pek Wibing seperti hampir melotot keluar, tubuhnya bergetar, berada di antara mati dan hidup, sekarang baru dia tahu rasanya takut, bahwa dia hakekatnya juga seorang yang takut mati.
Dengan sorot mata tajam Siang Cin berkata pula.
"Kalau aku yang turun tangan, 286 cepat saja, kau takkan menderita, karena gerakan tanganku melebihi samberan kilat cepatnya ...."
Pek Wi-bing betul2 pecah nyalinya, dia tidak tahan rasa sakit luka2nya, Iebih2 tak tahan menghadapi ancaman elmaut yang bakal merenggut nyawanya, dengan lunglai dia berteriak serak.
"Siang Cin, aku ....aku mohon kepadamu, lepaskan aku pergi ....ini dapat kau lakukan, kenapa kau harus membunuhku? kau kan tidak bermusuhan dengan aku, semua ini hanya untuk orang lain ... ."
"Lepaskan kau? Andaikata aku yang menjadi kau sekarang, apa kaupun mau melepaskan aku?"
Biji leher Pek Wi-bing tampak turun naik, ia meratap.
"Jangan begitu Siang Cin, mohon ampunilah diriku, aku akan berterima kasih, aku takkan lupa pada kebaikanmu ......"
Diam sebentar, akhirnya Siang Cin berkata "Kalau kau ingin hidup boleh, tapi beberapa pertanyaanku harus kau jawab sejujurnya, setelah menjawab pertanyaanku boleh kau pergi."
Setelah menarik napas panjang, akhirnya Pek Wi-bing mengangguk, katanya rawan.
"Baik, kau boleh tanya, akan kujawab seluruhnya..."
"Di Ce ciok-giam ini, perangkap dan muslihat apa yang telah kalian rancang?"
Dengan menggertak gigi Pek Wi-bing menerangkan.
"Empat ratus orang2 Hek jiu tong dan dua ribu anak buah Jik-san tui dipendam tersebar di seluruh dasar Ce ciok giam ini, Hek jin tong langsung dipimpin oleh sang ketuanya bersama ke tujuh thau-ling, pihak Jiksan-tui di bawah komandoku bersama dua puluhan Jong-tai, di samping itu pihak Hek jiutong dibantu pula oleh kedua Hwi ki su, sedang akupun menyertakan Toan-san je Ting Bu ...."
Berpaling ke arena pertempuran sana Siang Cin bertanya pula.
"Hwi ki su adalah kedua orang itu? Sedang Toan-san-je adalah orang yang telah mampus itu?"
Pek Wi-bing mengangguk dengan lesu. Siang Cin bertanya lebih lanjut.
"Jadi, kecuali menggunakan parit dan memasang jaring, kapur dan panah, perangkap apa pula yang telah kalian rencanakan?" 287 Bimbang sejenak, akhirnya Pek Wi-bing berkata.
"Dua ribu batu tiruan yang dibuat dari kulit2 tebal tersebar di dasar Ce-ciok-giam, algojo kami bersembunyi di dalam batu2 tiruan itu, mereka akan keluar dan beraksi bila tiba saatnya ."
Lekas Siang Cin menukas.
"Hal ini sudah ku ketahui, maksudku adakah muslihat lainnya?"
Kembali Pek Wi-bing ragu2 sekian lamanya. Dengan suara kereng Siang Cin mengancam.
"Bila kau tidak menepati janji, Pek Wi bing, aku juga boleh ingkar janji "
Terpaksa Pek Wi-bing menerangkan pula.
"Di tepi Ce-ciok-giam di seberang sana sudah terpendam banyak obat peledak, bila situasi tidak menguntungkan pihak kami, setelah pasukan kami mundur seluruhnya, sumbu akan di sulut ........"
"Lalu siapa yang berkuasa memberikan perintah di sini?"
Dengus Siang Cin.
"Aku atau Can-lomo (ketua Hek jiu tong )"
Sahut Pek Wi-bing lesu. Berpikir sebentar, Siang Cin bertanya pula.
"Di luar Ce-ciok-giam, masih ada perangkap keji apa yang telah kalian rancang?"
Kali ini cukup lama Pek Wi bing berdiam, uap mengepul dari deru napasnya, pakaiannya yang basah kuyup lengket dengan badannya, kulit mukanya tampak berkerut, wajah yang pucat menampilkan rona yang mengerikan .....
.."
Seperti menyadari sesuatu Siang Cin mendesak.
"Pek Wi-bing, waktu tidak banyak lagi."
Menatap Siang Cin dengan bola mata membara, penuh rasa dendam dan kebencian Pek Wi-bing mendesis gemas.
"Siang Cin, apa yang kubocorkan sudah cukup parah bagi pihakku, sudah cukup aku menjual sekian banyak jiwa raga kawan2 ku, kau tetap tidak memberi kelonggaran kepadaku, dengan keji kau masih memaksaku ...
"Kan mending daripada mampus,"
Jengek Siang Cin. Dengan menyeringai sedih Pek Wi-bing berkata.
"Caramu ini jauh lebih kejam daripada kau membunuhku, kau ingin bikin aku mampus dan tak tenteram di alam baka, kau ingin supaya kawanku menggali liang kuburku, mencacah lebur jasadku .....""
Tanpa mengunjuk perasaan apa2 Siang Cin berkata.
"Memangnya kau punya cara lain yang lebih sempurna untuk menghindari kematian?"
Tiba2 Pek Wi-bing mendelik beringas, gelang baja yang terpegang di tangan kanan tiba2 ditimpukkan sekuatnya ke leher Siang Cin, begitu cepat dan mendadak serangan ini, dikala sinar gemerdap berkelebat, gelang baja yang tajam itupun sudah meluncur tiba di depan leher Siang Cin.
Jilid 15 288 Siang Cin tidak berkelit atau mengegos dia tetap berdiri tenang kedua tangannya mendadak bergerak naik, dengan punggung tangan menyongsong ke atas.
"trang!", gelang baja yang tajam berputar itu tahu-tahu mencelat melampaui batu raksasa dan entah jatuh di mana. Sorot mata Siang Cin semakin mencorong sadis, tapi dengan beringas Pek Wi-bingpun tetap mendelik kepadanya, badan yang sudah setengah jongkok pelahan-lahan ambruk, darah merembes dari ujung bibirnya, dia telah bunuh diri dengan menusuk ulu hati sendiri. Rasa heran dan penyesalan timbul dalam hati Siang Cin, sekian lama dia melongo mengawasi jenasah Pek Wi-bing, ketika suara Sebun Tio-bu berkumandang di belakangnya baru dia tersentak sadar dan pelan-pelan berpaling kesana. Sebun Tio-bu tengah menyeka keringat dijidatnya, katanya.
"Kenapa kau melongo? Keparat she Pek itu bunuh diri?"
Dengan termangu-mangu Siang Cin berkata.
"Sebetu lnya dia tidak perlu bertindak nekat begini, mestinya aku tidak akan membunuhnya..."
"O, kau akan membebaskan dia?"
Seru Sebun Tio bu heran.
"bukankah berarti kau menyusahkan dirimu sendiri? Keparat, menangkap harimau lebih mudah dari pada melepaskannya, walau keparat she Pek ini bukan tokoh yang harus disegani, tapi dia cukup licik dan jahat, syukur kalau dia sudah bunuh diri."
Waktu Siang Cin menoleh ke sana, kedua Hwi ki su, Hek jiu-tong tadi sudah menggeletak mampus dalam keadaan yang mengerikan, leher keduanya berlubang besar.
Sambil menenteng Thi-mo-pi Sebun Tio-bu berkata dengan tertawa.
"Kedua keparat ini boleh juga, kalau mereka tidak gugup, mungkin masih kuasa bertahan beberapa kejap lagi."
Lalu Siang Cin ceritakan rahasia yang berhasil dia korek dari mulut Pek Wi-bing.
Sebun Tio-bu mengumpat "Keparat, keji amat, Siang-heng, urusan tidak boleh lambat, lekas kita beritahukan kepada pihak Bu-siang-pay."
Maka kedua orang lantas berlari ke sana, pertempuran sementara itu sudah berkobar ke seberang, jelas pihak Hek-jiu-tong dan Jik-san-tui sudah mulai terdesak mundur, kiranya pasukan inti Bu-siang-pay yang langsung dibawah komando Congtong dan tepat pada waktunya sehingga situasi segera berubah.
Kini para pahlawan baju putih dari padang rumput dengan golok panjang melengkung ke lihatan memburu dan membabati musuh yang berusaha melarikan diri, Bagai air bah yang tak terbendung, orang-orang Hek-jiu-tong dan Jik-san-tui sama mundur dan sembunyi di antara celah-celah batu, mayat bergelimpangan, darah mengalir bagai air sungai, keadaan sungguh amat mengerikan.
Secepat terbang Siang Cin dan Sebun Tio bu memburu ke depan, belum lagi mereka terjun ke tengah rombongan besar Bu-siang-pay, sesosok bayangan kurus kecil tampak melayang tiba dari arah samping.
Sembari memutar, mata Siang Cin yang tajam sudah melihat jelas pendatang ini, serunya.
"Ho-toahoucu ..." 289 Pendatang ini memang Yu hun-kou-cay Ho Siang gwat si kakek kurus kecil ini tertawa, golok sabit ditangannya segera disarungkan, katanya sambil menggosok telapak tangan.
"Betul tidak, kalian sudah bentrok dengan jago-jago kosen mereka?"
Mengawasi jubah putih Ho Siang-gwat yang berlepotan darah, Siang Cin menjawab pelahan.
"Ya."
"Bagaimana keempat orang itu?"
Tanya Ho Siang Gwat.
"Sudah kuganyang semua,"
Sahut Sebun Tio-bu.
"memangnya Toahoucu mau memelihara mereka?"
Memandang medan pertempuran di depan sana, Siang Cin bertanya.
"Toahoucu, bagaimana hasil pertempuran ini?"
Dengan gagah Ho Siang-gwat menengadah katanya.
"Sebelum tengah hari, kuyakin sudah dapat menghancurkan musuh, paling tidak pasti akan mendesak mereka keluar dari Ce-ciok-giam ini."
Maka Siang Cin lantas menjelaskan rahasia yang berhasil dia korek dari Pek Wi-bing kepada Ho Siang-uwat, Keruan Ho Siang-gwat berjingkat kaget, serunya.
"Wah, bisa celaka."
Cepat dia memanggil seorang murid Bu-siang-pay serta berpesan.
"Lekas laporkan kepada lh-cuncu, katakan ada perintah penting dari Siang-susiok, setelah memukul mundur musuh, dalam jarak seratus langkah dari tepi seberang dilarang mengejar lebih lanjut, barang siapa melanggar perintah ini akan dihukum pancung."
Murid Bu-siang-pay itu mengiakan terus berlari pergi, Ho Siang-gwat menyeka keringat sambil menyatakan syukur kepada Siang Cin.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba di seberang Ce-ciok-giam sana terdengar suara tambur ditabuh keras-keras, begitu gencar suara tambur ini menyebabkan orang merasa tegang dan panik, keruan orang-orang Hek-jiu-tong dan Jik-san-tui yang lagi berhantam itu lantas putar tubuh dan melarikan diri.
Pasukan yang kalah dan mundur ini sungguh laksana air bah yang tak terbendung lagi, Memangnya anggota Hek-jiu-tong biasanya sebuas serigala dan selincah harimau, kejahatan apa saja yang tak pernah mereka lakukan?
Kini demi mencari selamat sendiri, yang di belakang mendorong yang di depan terdesak roboh dan di injak-injak kawan sendiri, maka terjadilah saling injak dan saling dorong, keadaan menjadi semakin kacau dan ribut.
Mengawasi keadaan yang kemelut itu, Sebun Tio-bu mendadak menoleh dan bertanya.
"Siang-heng, tahukah di mana letak sumbu peledak musuh?"
Siang Cin maklum maksud Sebun Tio-bu, namun dia menggeleng sahutnya.
"Tadi tak sempat kutanyakan."
Dengan gegetun Sebun Tio-bu berkata pu la.
"Bila tahu tentu menguntungkan kita bisa mendahului pasukan musuh yang mundur ini, bila sumbu kita sulut sekarang pihak mereka sendiri yang bakal menjadi korban malah, tapi kini sudah terlambat ..." 290
"Tempatnya pasti amat dirahasiakan, kalau tidak, ini memang cara yang setimpal untuk membalas kelicikan mereka."
Tatkala mana keadaan orang-orang Hek-jiu-tong dan Jik-san-tui tampak runyam sekali, banyak yang merangkak-rangkak berebut mencapai tepi Ce ciok-giam, pahlawan-pahlawan Bu-siang-pay terus mengudak dan membabat musuh seperti membabat rumput, kira-kira dua puluhan tombak mendekati seberang Ce-ciok-giam, pada saat genting itulah, tiba-tiba lengking suara tiupan tanduk yang mengalun panjang berirama sendu bergema di angkasa Ce ciok-giam.
Maka pahlawan-pahlawan Bu-siang-pay yang tengah mengamuk di tengah-tengah musuh sama berhenti dan melongo, jelas kelihatan mereka teramat heran dan menyesal, wajah mereka yang sudah beringas seperti binatang buas yang mencium darah tampak penasaran dan gusar, tapi mereka teramat berdisiplin dan patuh pada perintah atasan, meski tak boleh menyerbu lebih lanjut, tapi tombak bersu la di tangan mereka segera ditimpukkan musuh, maka musuh yang lagi lari sipat kuping dan merambat naik ke atas tanggul itu banyak pula yang menjadi korban, tombak menghujam punggung, leher, pinggang atau kaki tangan, ada pula yang batok kepalanya pecah, lebih mengenaskan lagi ada orang yang tubuhnya terpantek tombak pendek yang berat itu.
Di kejauhan sana lh Ce tampak berdiri di atas sepotong batu besar, di sampingnya berdiri tiga anak buahnya yang gagah perkasa, tak jauh di sebelah sana Kim-lui-jiu Kin Jin tampak berdiri dengan santai, gagah dan berwibawa.
Thong Yang-seng yang sekujur badannya berlepotan darah tampak masih berada di dalam rombongan orang banyak entah apa yang sedang dia bicarakan dengan Coan jit kek Mo hiong.
Sisa orang-orang Hek-jiu-tong dan Jik-san-tui sementara itu sudah naik ke atas tanggu l, syukur pahlawan-pahlawan Bu-siang-pay tidak mengganyang mereka lebih lanjut, maka semuanya ngelesot di tanah, ada yang duduk, ada yang rebah celenteng, semuanya lemah lunglai dengan napas tersenga l, yang terluka sibuk membalut luka, ada pula yang merintih dan meraung, yang tersisa tiada seorangpun kuat berdiri lagi.
Melihat keadaan Ce-ciok-giam yang penuh bergelimpangan mayat dan orang yang terluka parah, lama juga Siang Cin termenung, kalanya kemudian.
"Yang gugur dan terluka dari kedua pihak ternyata tidak sedikit jumlahnya."
Hong Siang-gwat menghela napas, katanya.
"lni kan petempuran, kalau tidak membunuh tentu dibunuh, jumlah orang-orang yang gugur dan terluka sebentar lagi akan ada laporan yang jelas."
Dari depan sana bayangan seorang yang kurus kecil tengah berlari datang, sekilas pandang Siang Cin melihat yang datang ini adalah si Lutung putih Siang Kong. Ho Siang-gwat terbelalak heran, teriaknya.
"Lo Siang, kenapa kau tergesa-gesa?"
Muka Siang Kong basah penuh keringat, dengan napas, tersengal dia memberi hormat kepada Siang Cin serta Sebun Tio-bu, lalu berkata kepada Ho Siang-gwat.
"Lapor Toahoucu, Cuncu bertanya bagaimana tindakan selanjutnya?" 291 Ho Siang-gwat berpaling ke arah Siang Cin. Dengan tenang Siang Cin berkata.
"Bagi menjadi beberapa kelompok dan siap siaga setiap saat, untuk sementara boleh istirahat tolong dulu yang terluka adalah tugas utama."
Siang Kong mengiakan terus berlari balik ke sana, Ho Siang-gwat memanggil seorang murid serta berpesan.
"Laporkan kepada Toaciangbun, katakan bahwa Ceciok-giam sudah kita duduki, karena musuh menanam bahan peledak di atas tanggul sana, maka sementara kedua pihak mengadakan gencatan senjata tidak resmi, jangan lupa secepatnya suruh barisan penolong kemari."
Murid itu mengiakan terus berlari pergi bagai terbang, Ho Siang-gwat berpikir sejenak, lalu berkata kepada seorang murid Bu-siang-pay tak jauh di sampingnya.
"Sampaikan kepada Pau-suheng, katakan kuperintahkan mereka tetap bertahan di luar Ce ciok-giam, sebelum ada perintah tak boleh sembarang beraksi."
Murid inipun pergi dengan langkah cepat, Ho Siang gwat menghela napas, katanya dengan nada heran.
"Eh, hujan salju sudah berhenti. Kapan sih berhei'tinya?"
"Dikala kita mulai terjun ke medan laga tadi,"
Ucap Siang Cin dengan tertawa. Dalam pada itu dua murid Bu-siang pay telah membentang dua selimut yang tebal di antara batu krikil, maka Siang Cin, sebun Tio-bu dan Ho Siang-gwat sama duduk istirahat.
"Menurut perhitunganku,"
Demikian ucap Siang Cin.
"Yang gugur dan terluka dari kedua pihak mungkin melebihi tiga ribu orang."
"Ya, kira-kira sebesar itu,"
Kata Siang gwat.
"Barusan Loh lh beritahu kepadaku, bahwa anak buah Say-ji-bun yang dipimpinnya ada separo yang gugur dan terluka, murid-murid yang dikuasai Congtong juga gugur dua tiga ratusan."
Menghela napas, Siang Cin berkata "Pertempuran besar-besaran begini, akibatnya sudah tentu serba kejam."
Dengan rasa dongko l Sebun Tio bu melirik Siang Cin, katanya.
"Memangnya si Naga Kuning juga bicara persoalan kekejaman?"
"Kan aku juga manusia biasa, hatiku tidak sekejam seperti yang tersiar di luaran, betapapun harkat manusia masih kuhargai, cuma dalam menghukum orang jahat, caraku turun tangan memang keji, adalah jamak mereka yang pernah kutindas sama menggambarkan diriku bagai iblis laknat. Yang betul, akupun punya kasih sayang sesama manusia, aku menghargai orang lain seperti aku menghargai diriku sendiri, ini terbukti jumlah manusia yang pernah kutolong, dari macam-macam kesulitan yang jauh lebih banyak daripada korban yang pernah kubunuh, kecuali kejahatannya memang sudah kelewat takaran, biasanya pasti kupertimbangkan dulu apakah patut orang itu kubunuh."
Ho Siang-goat manggut-manggut, katanya.
"Untuk ini akupun bisa merasakab, aku setuju dan bisa menerima penjelasan ini..."
"Akupun setuju,"
Kata Sebun Tio-bu.
"Hendaklah Siang heng jangan salah paham..." 292
"Persahabatan harus dilandasi kejujuran serta kebajikan, Tangkeh, masakah aku gampang dibuat salah paham?"
Ucap Siang Cin sambil menatap Sebun Tio-bu."
Lalu dia kerkata pula kepada Ho Siang-gwat.
"Toahoucu, untuk kali ini apakah kalian ada membawa senjata api?"
"Ada, Liat yam-kiu dan Hwe-piau buatan khas kami sendiri,"
Sahut Ho Siang-gwat.
"Bian-hok-ti-cu juga kalian bawa bukan?"
Tanya Siang Cin pula.
"Sudah tentu,"
Sahut Ho Siang-gwat tergelak.
"pusaka ini pasti selalu kami bawa."
Berpikir sejenak lalu Siang Cin berkata.
"Kalau tidak dipelihara orang di musim sedingin ini, berapa lama binatang ini kuat dan bertahan hidup?"
"Bian-hok-ti-cu (labah2 perut sutera) ini biasanya kami pelihara dalam kotak batu kemala yang hangat, jika tidak dipelihara dan berada musim sedingin ini, mungkin hanya kuat bertahan setengah hari, daya hidup labah-labah macam ini sebetulnya amat kuat, bila labah-labah jenis lain, begitu musim dingin akan datang, mungkin siang-siang sudah menggali liang sembunyi dan tak berani bergerak lagi."
Lalu dia bertanya.
"Apakah kau ada akal baik, Lote?"
"Biarlah kupikirkan sebentar, supaya rencanaku lebih sempurna..."
Maka Ho Siang-gwat tidak mengganggu pula konsentrasi Siang Cin, sementara Sebun Tio-bu sudah merebahkan diri, Thi-mo-pi dia jadikan bantal.
Tak lama kemudian, lima ekor kuda mencongklang kencang mendatangi tiba di pinggir parit lantas berhenti, lima orang dengan langkah cepat tampak menyeberangi Sin-siok-iuh menuju ke sini.
Ho Siang gwat berkata pelahan.
"ltulah Tay-ciangbun telah datang."
Dengan tertawa Siang Cin berdiri, demikian juga Sebun Tio-bu melompat bangun.
Memang betul Thi Tok-heng dibawah pengawalan Jik tan-su-kiat tengah mendatangi mereka.
Jelas pada saat pertempuran berlangsung tadi, Thi Tok-heng sendiri tidak pernah istirahat.
Melihat Siang Cin bertiga, dia mempercepat langkah dengan tersenyum, dengan erat dia pegang lengang Siang Cin dan Sebun Tio-bu, katanya dengan suara terharu.
"Lote, tentunya kalian sudah lelah."
"Tidak apa-apa, mungkin Tay ciangbun yang terlalu banyak berpikir ..."
"Tayciangbun,"
Sela Sebun Tio-bu "mukamu kelihatan kurang sehat, mungkin terlalu tegang. Memang, dalam saat2 seperti ini siapapun pasti tegang."
"Untunglah ...."
Ucap Thi Tok-heng dengan tertawa.
"sementara ini situasi boleh dikatakan aman, dalam gebrak pertama ini kita sudah unggul, tapi untuk maju lebih lanjut tidak sedikit aral melintang yang harus kita hadapi, pihak musuh jelas takkan berpeluk tangan."
"Sudah tentu,"
Kata Siang Cin. 293 Thi Tok-heng berkata pula.
"Siang-lote, menurut pendapatmu, bagaimana melanjutkan serbuan seterusnya?"
Berpikir sebentar Siang Cin berkata.
"Di atas tanggul diseberang Ce-ciok-giam musuh memasang bahan peledak dalam jumlah besar, maka langkah pertama kita harus menghancurkan peledak yang terpendam itu, lalu perintahkan Say-ji-bun berjagadi sini, supaya Ce-ciok-giam kita jadikan benteng yang kukuh untuk maju atau mundur bila perlu di samping kekuatan inti kita terus maju ke depan beberapa kelompok yang lain harus terus gempur pertahankan musuh secara bergiliran supaya musuh tidak ada waktu ganti napas, dengan cara demikian bukan saja tenaga kita bisa dipertahankan semangat juang tetap berkobar, bila perlu seluruh kekuatan masih dapat dikerahkan sekaligus..."
"Analisa yang tepat,"
Ucap Thi Tok-heng.
Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 2
Baca Juga: Rajawali Emas 5