Eps 5 Bara Naga - Yin Yong
Baca online Bara Naga - Yin Yong
Cersil Bara Naga - Yin Yong.
Ini. begitu sinar kuning muncul, Serigala tertawa Ji Bu segera berteriak kalap.
"Lo-ngo, adu jiwa!"
Si hidung merah Kau Pui-pui menyahut.
"Baiklah!"
"Siuutt", sebuah Toa liong-kak dengan membawa cucuran darah menyamber tiba, Kau Pui-pui tidak menyingkir, mendadak dia menjatuhkan diri terus berputar.
"Cret", tanduk naga dengan telak menancap di pundaknya, tapi dengan berputar tadi iapun sudah mengelinding ke samping Siang Cin. Hal ini memang di luar dugaan Siang Cin, baru saja tanduk naga disambitkan, tahu2 orang yang meski terluka sudah mendesak tiba, sungguh dia tidak menduga musuh berani nekat mengadu jiwa. Sekilas dia melenggong, sementara telapak tangan Kau Pui-pui sudah terayun membelah dadanya, sedang tanduk naga yang lain melayang diatas kepala si Serigala tertawa Ji Bu, dasar licik, dengan menyelamatkan jiwa sendiri, sigap sekali Ji Bu tarik seorang anak buahnya terus dilempar ke arah tanduk naga yang menyamber tiba, terdengar jeritan ngeri, tanduk naga yang tajam itu sudah ambles ke dalam perut murid Hek jiu-tong itu. Tak sempat berpikir, lagi Siang Cin melenting ke atas, pada saat yang sama, tanpa hiraukan keselamatan sendiri King Ji-seng juga menyelinap maju seraya menjojoh iga kiri Siang Cin dengan ujung payungnya yang runcing itu.
"Pletak", suara tulang remuk disusul "bluk"
Yang keras pula, si hidung merah Kau Pui-pui terpental ber-guling2, sementar Siang Cin terhuyung mundur tiga langkah, wajah King Ji-seng tampak beringas seram, ujung payungnya yang runcing itu baru dicabut keluar dari paha Siang Cin.
Bayangan orang segera berkelebat, sebat sekali si Serigala tertawa Ji Bu menubruk maju sambil berteriak, lantang.
"Bunuh dia!" -Baru saja dua patah kata ini terlontar dari mulutnya, Ji Bu mendoyong ke depan.
"Ngum", pedang pandaknya bergetar, 181 dengan keji ia menusuk. Inilah serangan maut ilmu pedang si Serigala tertawa Ji Bu yang tiada taranya. Tak mau ketinggalan gagang payung besi King Ji-seng srgesit ular juga mematuk tiba, cuma untuk kali ini ujung payung yang runcing itu tidak langsung menusuk ke arah Siang Cin, tapi menjojol, di sebelah belakang Siang Cin. Dalam waktu sekejap ini dua gembong utama Hek-jiu-tong sekaligus melancarkan serangan bersama, kali ini mereka tidak main sergap atau bertempur dari jarak jauh, tapi bergebrak dalam jarak dekat, malah serangan yang dilancarkan juga lebih ganas. Siang Cin insyaf detik2 yang menentukan dari pertempuran terakhir ini sudah di depan mata, dia tahu akibat kalah dan menang pertempuran sengit ini tentu teramat besar bagi kedua pihak, hanya antara mati dan hidup. Serangan gencar kedua pihak begitu dahsyat, Siang Cin tiba2 memicingkan mata, perawakannya yang jangkung itu tiba2 setengah berjongkok. Bong li-mo ( iblis dalam impian ) dan Hian jian-sin ( darah menciprat hati ), dua jurus dari sembilan jurus serangan maut sekaligus dilancarkan, dikala bayangan telapak tangannya beterhangan dengan deru angin yang kencang, dua jurus lihay yang lain dari Gwatbong-ing dan Ban-thian hong menyusul pula. Hampir tidak terasakan gerakan Siang Cin yang begitu cepat dan tangkas, baru empat jurus serangan ini ber-gulung2 di udara, empat jurus susulan yang lebih dahsyat lagi telah diberondong keluar pula, keempat jurus susulan ini adalah Kui-sow bun ( setan menagih nyawa ), Hay-swan-boh ( pusaran air laut ), Ing-poh long (elang menerjang ombak )dan Liong kik-hun ( naga naik ke mega ), angin menderu menjadikan pusaran yang kencang, debu pasir beterbangan, gaya Siang Cin yang setengah berjongkok tiba2 tegak kembali, maka jurus terakhir dari sembilan tipu pukulan yang paling ganas, yaitu Kan-thian bun ( menggetar pintu langit ) didorong ke luar pula. Betapa hebat kekuatan pukulan berantai ini, boleh dikatakan hampir tak mungkin dilakukan oleh manusia biasa. Serangan berantai dilancarkan dalam sekejap dari jurus pertama sampai jurus kesembilan, damparan angin semakin bertambah hebat. Bersamaan dengan serangan sembilan jurus berantai Siang Cin ini. Jenggot King Jiseng tampak bergerak, kedua matanya melotot besar, gagang payung besi yang mengatup itu tiba2 terbuka, di tengah suara "cret"
Yang keras, enam belas batang ruji payung besi itu melesat bersama kedepan, berbareng si Serigala tertawa Ji Bu juga memutar senjatanya seperti kitiran, keduanya menyusup ke tengah arus tenaga pukulan Siang Cin yang dahsyat itu.
Jubah kuning dan lengan baju warna hitam beterbangan, tiga pasang tangan dan kaki tengah melakukan gerakan cepat yang tidak mungkin dilakukan oleh tiga ratus orang, gebrakan berlangsung dalam sekejap dan sebat, sekali lantas terpencar pula ke arah masing2.
Begitu melompat ke belakang Serigala tertawa Ji Bu sudah tidak mampu berdiri lagi dia jatuh tertunduk, pakaian hitam di sekujur badannya sudah hancur ber-keping2, rambutnya yang gondrong semrawut, darah tampak membasahi jidat dan belakang lehernya bercampur dengan keringat yang gemerobyos, mukanya pucat menguning, napasnya tampak ter-sengal2, mukanya menampilkan rasa kesakitan yang luar biasa.
Di sebelah sana King Ji-seng juga terlempar keluar dua tombak jauhnya, masih terguling2 lagi, akhirnya rebah telentang tanpa bergerak lagi, sekujur badan dibasahi noda darah, kulit muka mengkeret, darah meleleh dari hidung dan kuping serta mata, kulit badannyapun berubah biru hitam.
si cerdik pandai dari Hek-jiu-tong yang lihay otaknya ini meringkuk tak bergerak lagi, jenggot putih dibawah dagunya juga kelihatan guram dan kotor oleh keringat yang tercampur darah, sungguh mengenaskan sekali keadaannya.
Lima tombak dari arena, tampak Siang Cin berdiri kaku laksana patung, bola matanya tampak melotot memancarkan cahaya cemerlang di dalam kegelapan, air mukanya tetap dingin dan kaku, jubah kuningnya itu juga tampak berderai di bagian 182 bawahnya, noda2 darah bercipratan di sekujur badan, tiga batang ruji payung yang tajam kemilau tampak jelas menusuk di paha, pundak dan iganya, sementara pedang pandak si Serigala tertawa terselip di antara tulang pundak kirinya, namun Siang Cin kelihatan tetap tenang se-akan2 derita ini bukan tumbuh di atas badannya, dia seperti sudah pati rasa.
Serigala tertawa Ji Bu maklum betapa parah luka2nya kini, dalam gebrak menentukan barusan, dia terkena lima kali tendangan dan satu pukulan, pukulan yang teramat berat.
Sisa2 orang Hek-jiu-tong yang masih hidup berdiri terpencar di berbagai penjuru, semuanya berdiri menjublek, tak tahu apa yang harus dilakukan, sungguh mereka ngeri menyaksikan kejadian yang mengenaskan ini, hampir2 semuanya tidak percaya atas penglihatan masing2, bahwa tiga gembong pimpinan mereka yang diandalkan selama ini telah ambruk pada waktu yang sama, mampus dengan mengerikan.
Pelahan sesosok bayangan orang tampak bergerak dari balik bukit sebelah sana, langkah orang ini teramat pelahan, di belakangnya ada delapan puluhan murid Hekjiu-tong, sementara di atas tanah bergelimpangan mayat kawan mereka yang tak berkepala, dua batang Toa-liong-kak tampak menancap di atas tanah padas dan dada seorang musuh, sang korban tampak mendelik sambil memeluk dada.
Bayangan orang itu semakin dekat, kini kelihatan jelas, dia adalah Thong-thian-wan Ban Lok, pada bagian pundak kiri pakaian hitamnya tampak basah oleh goresan senjata yang mengeluarkan darah, di belakangnya juga ada goresan panjang di punggung, darah masih mengucur keluar dan mengalir sampai ke ujung kaki.
Ada beberapa murid Hek-jiu-tong yang menyingkir jauh di sana, berjongkok sambil memeluk perut, tak jauh dari mereka si hidung merah Kau Pui pui meringkuk lemas tak bergerak dikelilingi anak buahnya.
keadaannyapun kelihatan parah.
Pelahan Thong-thian-wan melangkah maju dan berhenti tiga tombak di depan Siang Cin, air mukanya menampilkan rasa lelah, lama dia menatap musuh bak iblis di depannya ini, dengan suara serius akhirnya dia berkata.
"Siang Cin, kau memang tersohor bertangan ganas di Bu lim, semula aku tak percaya, kini baru terbukti kau memang setimpal dengan julukan itu, kau memang buas, ganas dan keji, kalau tidak tentu sejak lama kau sudah mampus ...."
Aneh pancaran sinar mata Siang Cin, katanya kalem.
"Untuk adu jiwa, orang she Siang tidak gentar menghadapi keroyokan iblis2 laknat seperti kawanan Tangan Hitam kalian. Ban Lok, pihak kalianla yang menarik keuntungan, tapi pernahkah kau menaruh belas kasihan terhadap musuhmu?"
Secomot rambut kuning di kepala Thong-thian wan Ban Lok tampak melekat di depan jidatnya yang basah keringat, kedua lengannya yang panjang bergontai lemas di samping tubuhnya, dengan susah dia menelan ludah, lalu berkata dengan suara serak.
"Gambaranmu teramat seram, Siang Cin, kau memang pantas dipuji sebagai pengganas nomor satu, tapi kau harus mengerti, utang jiwa harus dibayar dengan jiwa."
Menyeringai Siang Cin menahan rasa sakit yang menusuk tulang sungsumnya, katanya berat.
"Sudah tentu, orang she Siang selalu siap untuk ini, entah sekarang atau kelak, kau atau orang2 lain."
Dengan lidah kaku Thong-thiau wan menjilat bibirnya, katanya serak.
"Siang Cin, biarlah sekarang saja?"
Siang Cin menggeleng dan berkata.
"Ban Lok, kau sendiri maklum aku tidak akan menyerah mentah-mentah, kita sama2 mempunyai kesempatan, betul tidak?"
"Betul, tapi kesempatanmu tak banyak ...."
Ban Lok menyeringai. Siang Cin mendengus.
"Benar, tapi kau sendiri, dengan tipu muslihatmu kau sudah berhasil mencapai sedikit dari apa yang kau harapkan. Ban Lok, jika menurut kebiasaan watakmu, sejak tadi tentu sudah melabrakku mati2an, tapi kenapa tidak kau lakukan? Sebab kau sendiri sudah terluka parah, kau sudah menyaksikan betapa Lwekangku, para pembantumu sudah modar, tiada satupun yang setimpal 183 menjadi pembantumu untuk mengalahkan aku, maka kau sengaja menunggu, mengulur waktu dengan ocehanmu, kini orang2mu tengah memanggil bantuan. kalau ingatanku tidak keliru, pihak Hek-jiu-tong kalian masih ada Lotoa (tertua) Dian Gun, Losam ( yang ketiga) Mo Giok yang belum muncul, betul tidak?"
Untuk menyembunyikan perasaannya Ban Lok mengusap pipi dengan telapak tangan, katanya.
"Siang Cin, kau memang pintar dan ini tidak menguntungkan dirimu."
Siang Cin menggeleng, katanya.
"Hatimu tentu gelisah, kenapa bala bantuan yang kau harapkan tidak kunjung tiba. Mereka akan segera tiba, mungkin sudah dalam perjalanan, kau ingin sekarang juga melabrakku, tapi takut tak mampu merintangiku, betul tidak? Ban Lok, tak usah kuatir, kelak masih banyak kesempatan."
Hampir tidak terlihat cara bagaimana Ban Lok memberi-aba2, tapi orang2 Hek-jiutong yang tersebar itu mulai bergerak di bawah komandonya. Dengan tertawa Siang Cin berkata.
"Kau ingin segera mulai? Tapi aku ingin lekas pergi, pertikaian ini agaknya tak bisa selesai malam ini, Ban Lok selamat bertemu pada kesempatan lain."
Mendadak Ban Lok berteriak sengit.
"Siang Cin, kau terhitung orang gagah di kalangan Kangouw, pada saat menang kalah akan ketahuan kau justeru ngacir mencawat ekor? Di mana akan kau taruh pamormu?"
"Betul, kau tahu Siang Cin adalah laki2 sejati, tapi kau harus lebih tahu bahwa aku bukan laki2 goblok, aku tidak sebodoh itu untuk terperangkap oleh muslihatmu,"
Habis kata2nya, segera Siang Cin membalik tubuh. Biji mata Ban Lok memancarkan nafsu membunuh, sambil menggertak gigi dia mendesis.
""Seluruh anak2 Tangan Hitam, kepung dia!"
Orang2 Hck-jiu-tong yang memang sudah bersiap segera merubung maju dari berbagai penjuru, golok besar ditangan mereka sama teracung. Mendadak Siang Cin angkat tangan seraya menghardik.
"Awas Toa-liong-kak!"
Thong-thian-wan Ban Lok sudah bergerak maju, dia pernah merasakan betapa rasanya samberan "tanduk naga"
Yang tajam ini, keruan ia kaget dan jeri, ia merandek, sementara gada bergigi serigala dia putar sambil menggeser ke samping.
Hanya sekejap ini sudah cukup bagi Siang Cin, di tengah gelak tawanya, kedua kakinya memancal bergantian, empat orang yang menubruk maju ditendangnya mencelat, sebelum badan musuh2nya terbanting ke bumi, bagai burung terbang Siang Cin menjulang tinggi ke udara, sekali berputar ia terus meluncur ke sana dan lenyap di telan kegelapan.
Thong-thian-wan Ban Lok meraung dan memburu, tapi segera dia menghentikan langkahnya, mukanya merah padam, sambil membanting kaki ia mencaci maki.
"Kalian semua gentong nasi, mampus semuanya....."
Serigala tertawa Ji Bu yang duduk lemas di sana tiba2 menengadah sambil tertawa seram, biji matanya melotot memandang ke arah menghilangnya bayangan Siang Cin, darah segera menyembur dari mulutnya.
"bluk". akhirnya dia roboh terkulai. Keruan anak buah Hek-jiu-tong menjadi ribut dan kacau, ada pula yang berteriak.
"Siko meninggal ....Siko sudah meninggal ...."-Setiap patah kata itu laksana ujung jarum menusuk hati Ban Lok, setiap patah kata itu se-akan2 guntur menggelegar di pinggir telinganya, keringat dingin bercucuran, otot di jidatnya merongkol keluar, seperti orang linglung dia berdiri tak bergerak dan bersuara lagi, dalam waktu semalam yang singkat ini dia seperti sudah lebih tua puluhan tahun. Dari kejauhan, di samping Bu-wi san-ceng yang sudah menjadi puing itu, tampak bayangan ratusan orang tengah berlari secepat terbang, mereka lari seperti memburu waktu, Tong-thian-wan Ban Lok mendengar gemuruh langkah orang banyak ini, dia tahu siapa yang datang, tapi segalanya sudah terlambat. Mukanya yang kuning mengulum senyum pilu, matanya berlinang air mata, pelan2 Ban Lok terkulai duduk di atas tanah, pertempuran banjir darah malam ini memangnya pihak mana yang kalah atau menang? Betapa banyak nyawa menjadi 184 korban? Langit di ufuk timur mulai menampakkan secercah cahaya, lambat laun fajarpun menyingsing, suasana pagi dengan hawa segar tercium pula bau anyir darah yang tebal. Hawa pegunungan di waktu pagi sedemikian sejuknya, segumpal awan tipis mengambang rendah di kejauhan sana, seperti melayang di permukaan Gak-yangho. Dengan langkah limbung Siang Cin sedang berjalan seorang diri, luka2 di tubuhnya sedemikian sakit, tapi dia tetap bersemangat dan memperhatikan keadaan sekelilingnya, dia maklum, dalam keadaan sekarang sedikit lena akan mendatangkan akibat yang fatal baginya, wataknya tidak suka menyesal pada apa yang sudah terjadi, bahkan masih banyak urusan yang harus dia kerjakan, ya, banyak sekali ......... Di kejauhan dia sudah melihat hutan itu, di hutan mana semalam mereka bersembunyi sebelum menyerbu ke atas Pi-ciok-san, di sebelah samping yang teraling hutan, yaitu di tanah lekuk itu, kuda tunggangan mereka disembunyikan di sana, entah sekarang apakah masih ada di situ? Ia istirahat sebentar bersandar pohon sambil memejamkan mata, lalu dengan penuh kewaspadaan dia menyelinap ke hutan itu, dia balut lukanya ala kadarnya, darah telah membasahi kain pembalut dari lengan bajunya, pedang pandak yang menyelip tulang pundaknya sudah dia cabut, sedang ketiga ruji payung besi itu dia tidak berani mengusiknya secara gegabah, hanya Thian yang tahu betapa dalamnya besi2 runcing itu menancap ke dalam dagingnya, Siang Cin kuatir bila sekarang dia mencabutnya, mungkin dia takkan kuat beranjak lagi. Setelah dekat hutan, pelan2 Siang Cin merebahkan diri, dengan payah dia merangkak maju dengan kedua sikunya, dikala dia menggeremet tiba di semak rumput yang subur itu, tiba2 ia mendengar suara percakapan beberapa orang. Dengan hati2 Siang Cin mengintip dari celah2 dedaunan, terlihat beberapa tombak di depan sana ada delapan laki2 seragam merah tengah berbicara, semua bersenjata kapak dua muka, pakai ikat kepala kain merah pula. Setelah membasahi bibirnya yang kering, Siang Cin merunduk ke tempat lain, dalam hutan dilihatnya masih ada beberapa orang, pakaian mereka ada yang merah ada pula yang hitam, agaknya mereka sedang mencari dan menggeledah hutan ini, cuma kelakuan mereka tidak begitu serius, gerak-geriknya acuh tak-acuh, senjata mereka dibuat membabat rumput dan tetumbuhan yang merintangi jalan mereka, itulah sikap pemenang setelah mengalahkan musuhnya. Siang Cin bertiarap dan diam saja, dari percakapan beberapa orang ini, kira2 dia tahu situasi pertempuran di bawah gunung dan bagaimana akhirnya. Jelas bahwa aksi Bu siang pay menyerbu kesarang Hek jiu-tong ini sudah gagal total, Kegagalan atau kekalahan ini dengan sendirinya juga menyangkut Siang Cin pula, meski sekuatnya dia sudah berjuang untuk memperkecil kekalahan, tidak sedikit pula musuh yang diganyangnya, tapi akhirnya tetap sama, darah yang tercecer, nyawa yang tercabut, semuanya sudah terjadi dan telah berlalu. Kebetulan bagi Siang Cin, ia merebah di tempatnya untuk melepaskan lelah, entah berapa rombongan orang telah pergi, lama kelamaan suasana dalam hutan menjadi sepi, tiada terdengar suara percakapan, tak terdengar langkah kaki orang, sampaipun kicau burungpun tak terdengar lagi, begitu sunyi seperti di tanah pekuburan. Menunggu lagi sekian lama, dengan pedang pandak menyangga badan, pelan2 dia melangkah ke hutan sebelah sana. Sambil jalan pelahan pikiran Siang Cin bergolak, dia menguatirkan keselamatan si sayap terbang Kim Bok bertiga, entah mereka sudah lolos dari kepungan dan kejaran musuh atau tidak? Liat-hwe kim lun Siang Kong ceng dan lain2 sama memiliki Kungfu yang tangguh, tentunya tak mudah terkubur hidup2 di tengah kobaran api? Demikian pula Cap-kau-hwi ce Loh Bong-bu, Jan Pek-yang, Te Yau dan lain2, biasanya mereka cerdik dan cekatan, berjuang penuh semangat, asal ada setitik harapan tentu mereka rebut untuk mempertahankan hidup. 185
"Pletak". tanpa sengaja kakinya menginjak patah ranting kering, suara ini cukup mengejutkan lamunan Siang Cin, lekas dia menyelinap ke belakang pohon, dengan waspada dia celingukan, dilihatnya sudah tiba di pinggir hutan, sebelah depan adalah ladang belukar. Dari balik pohon Siang Cin mengawasi keadaan sekeliling, tak jauh di depan sana dilihatnya mayat2 yang ratusan jumlahnya berjajar dan bertumpuk, ada yang berpakaian merah, hitam dan putih, menandakan para korban campur aduk dari tiga pihak, tapi kini mereka sama2 sudah mati, berlepotan darah dan mengerikan, semuanya rebah tenang berdampingan, tiada dendam dan bermusuhan. Dua orang laki2 kekar tampak menjaga mayat2 itu, mereka berdiri jauh dari tumpukan mayat, seperti takut orang2 mati itu bangkit kembali menagih jiwa kepada mereka, dari sikap mereka, jelas kelihatan bahwa mereka merasa sebal dan jijik serta penasaran akan tugas mereka ini. Dengan langkah sempoyongan Siang Cin menggeser keluar hutan, Kedua laki2 baju merah itu entah sedang mengerutu apa, satu di antaranya yang menghadap ke sini tiba2 berjingkat kaget seperti melihat setan. Maklumlah keadaan Siang Cin sekarang memang seram dan mengerikan. karena tidak menduga, laki2 yang bernyali kecil ini ingin berrteriak tapi yang keluar dari kerongkongan hanya suara "uh, uh", kampak yang dipegangnya juga terjatuh. Melihat kelakuan temannya, seorang lagi seketika berubah pucat, cepat dia berpaling, saking kagetnya ia melongo seperti patung. Dengan langkah ter seyot2 Siang Cin terus mendekati, sikapnya tampak sedih, lama dia menatap mayat yang berjajar seperti udang dijemur ini, akhirnya dia menoleh dan memandang kedua orang hidup yang kesima bagai patung itu. Terbeliak mata kedua laki2 ini dan mulut ternganga, tak tahu apa yang harus dilakukan, sesaat mereka adu pandang dengan Siang Cin, kemudian seorang di antaranya memberanikan diri, dengan suara gemetar dia berkata.
"Kau ... .. kau...... apa kerjamu di sini?" . Menuding mayat yang berjejar di tanah itu, Siang Cin berkata tenang2.
"Aku adalah teman salah seorang di antara mereka."
"Mereka..... mereka siapa?"
Tanya orang itu. Siang Cin tertawa, katanya.
"Mereka yang berpakaian putih, orang2 Bu-siang-pay."
Kedua laki2 baju merah melonjak kaget, keduanya sama menyurut mundur, orang yang kehilangan senjata tadi lekas memungut pula kampaknya, dengan membesarkan nyali ia berteriak.
"Kau, kau, besar sekali nyalimu! Ke sorga kau tidak mau pergi, malah kau menuju akhirat yang tak berpintu. Memangnya aku tidak kau Bu-siang-pay sudah tertumpas habis2an? Berani kau keluyuran kemari dan pura2 jadi setan menakuti kami? Lekas buang senjatamu, biar tuan besarmu menelikungmu, kalau tidak terpaksa kucincang tubuhmu ."
Mengawasi pedang pandak ditangannya, Siang Cin berkata dengan suara berat.
"Biarlah aku memanjatkan doa untuk para pahlawan Bu-siang-pay yang mendahuluiku ini, kemudian ada beberapa persoalan yang ingin kutanyakan pada kalian, setelah itu aku akan segera berlalu, tanpa mengganggu seujung rambut kalian."
Kedua laki2 ita melongo, salah seorang mendadak menjadi beringas, teriaknya.
"Eh, keparat, kau yang turut perintahku atau kami yang menurut omonganmu? Serdadu yang sudah kalah pantasnya menjadi tawanan, memangnya berani kau bertingkah segala? Hayo berlutut, biar kuikat, kalau main senjata kau bisa celaka ....... Siang Cin menyeringai aneh pada kedua orang ini, katanya.
"Jangan gembar gembor, tutup mulut kalian coba kalian pikir, jika aku takut pada kalian. memangnya aku berani keluyuran ke sini?"
Kedua orang saling pandang sekejap, tapi mereka sudah melihat luka2 Siang Cin, maka nyali mereka menjadi besar pula, keduanya lantas melangkah maju malah, yang di sebelah kanan segera berkata dengan marah.
"Kunyuk, tak usah berlagak, buang pedangmu dan menyerah saja . ...." 186 Siang Cin menggeleng, katanya.
"Kalian memang bodoh, Jik-san-tui sudah habis orangnya, memangnya kalian bisa berbuat apa lagi?"
Kedua orang saling memberi isyarat dan siap beraksi, tiba2 Siang Cin tertawa pedang pandak tahu2 menjamber ke depan, sebatang pohon sebesar pelukan orang di depan sana seketika tertabas kutung, sinar pedang yang gemilap dan menyilaukan mata masih meluncur dan berputar satu lingkaran terus melesat balik, waktu Siang Cin angkat tangannya, pedang pandak yang tajam luar biasa ini sudah kembali ke tangannya.
Demonstrasi Kungfu yang tiada taranya ini membuat kedua orang ketakutan sampai ter-kencing2.
"Hah", mulut mereka ternganga dan kaki menyurut mundur, mata juga terbelalak lebar. Siang Cin tertawa, katanya.
"Berdiri, diam saja, tunggulah pertanyaanku, kalian masih bisa hidup lama, jangan bertingkah, nanti nasibmu seperti pohon yang tertabas itu."
Lalu Siang Cin membalik tubuh serta menundukkan kepala, dia memanjatkan doa bagi para pahlawan Bu-siang-pay, dengan suara berat ia ber-uncap.
"Kepada arwah saudara2 Bu-siang-pay yang tengah menuju alam baka, dendam sakit hati hari ini, aku Siang Cin bersumpah menuntut balas bagi kalian ...."
Sesaat kemudian baru ia angkat kepala serta menghampiri kedua laki2 yang masih kesima itu, beberapa langkah di depan mereka ia berhenti.
Kedua laki2 itu semakin gemetar ketakutan, keringat dingin memenuhi selebar mukanya, saking takut kedua lutut terasa lemas dan hampir tak kuat berdiri, betatapapun mereka ngeri membayangkan pohon sebesar pelukan manusia yang sekali tabas kutung jadi dua, betapapun mereka tidak ingin mengalami nasib sial seperti pohon itu.
Siang Cin berdiri diam dan menatap kedua orang yang sudah ketakutan setengah mati ini, dengan suara yang penuh kemarahan yang meluap dia bertanya.
"Siapa yang memimpin Jik-san-tui mengepung pihak Bu-siang-pay kali ini?"
Kedua orang saling pandang, bibir sudah bergerak, tapi bimbang untuk bicara, pelan2 Siang Cin angkat pedang pandak ditangannya, dengan jari telunjuk dia mengelus mata pedangnya yang kemilau, katanya tawar.
"Siapa yang ragu2 menjawab, batok kepalanya akan terpenggal ...."
Baru saja kata "penggal"
Diucapkan Siang Cin, kedua laki2 baju merah ini seperti berlomba saja segera berteriak gugup.
"Di bawah pimpinan Kiu kui hwi-ce Kiau Hiong, Toa-thauling kami . ..."
Memandang ke arah hutan yang sunyi, wajah Siang Cin yang berlepotan darah tampak kelam, ia mendengus, lalu menegas.
"Kiau Hiong? Apa hubungannya dengan Hek-jiu tong?"
Kedua laki2 baju merah tetap ragu dan serba susah, terpaksa Siang Cin mengancam.
"Dengar tidak pertanyaanku?"
Laki2 yang bertubuh lebih tinggi agaknya menjadi nekat, katanya dengan menggertak gigi.
"Toa-thauling adalah saudara angkat Liongthau (ketua) Hek-jiu tong ...."
Mencorong sinar mata Siang Cin, dia tatap laki2 yang agak pendek, katanya.
"Berapa banyak kekuatan yang kalian kerahkan? Berapa orang pula yang memimpin?"
Merinding laki2 pendek ini, tanpa sadar dia menyurut selangkah, seperti memohon bantuan dia melirik kepada temannya, laki2 yang berkepala besar itupun sudah menggerakkan bibir, tapi Siang Cin mendahului dengan nada dingin.
"Siapa yang kutanya dialah yang menjawab."
Terpaksa laki2 pendek ini berkata dengan suara serak.
"Eh ......eh, seluruhnya dikerahkan lima ratus orang ... ...di bawah pimpinan Kiau toa-thauling sendiri, dibantu oleh To ji-thauling dan Pek sam-thauling yang terbagi tiga barisan, barisan pertama sembunyi di jalan belakang gunung, barisan kedua dipendam di sekitar Buwi-san-ceng, sementara barisan ketiga bersama kawan2 Hek jiu tong yang dipimpin 187 Can-lomo menyapu bersih sisa musuh yang ditinggal di bawah gunung ........kami termasuk barisan terakhir itu, setiap barisan kira2 berjumlah seratus lima puluh orang ......."
"Sudah cukup,"
Bentak Siang Cin. Seperti mendapat pengampunan kedua orang itu berseru bersama.
"Hohan, jadi ..... jadi kami boleh pergi?"
Siang Cin menggeleng dan berkata.
"Tidak, akulah yang akan pergi." -Lalu dia putar tubuh dengan pedang pandak sebagai tongkat dia beringsut pergi. langkahnya berat terseret, kelihatan betapa dia keletihan dan kehabisan tenaga, umpama ada orang mendorongnya pelahan tentu akan roboh dia. Tapi kedua laki2 itu tak berani dan tak pernah membayangkan akan melakukan hal ini, maklum mereka sudah telanjur ketakutan, betapapun mereka tak ingin mencari kesulitan melainkan mencari jalan selamat saja. Setelah meninggalkan hutan dan mayat2 itu dengan menahan segala derita Siang Cin terus maju melalui tanah pegunungan yang belukar dan sepi dari keramaian, memang jalan semak belukar inilah yang dipilihnya untuk menghindari pengejaran musuh. Mentari sudah makin tinggi, hawa tambah panas, Siang Cin menyeka keringat di jidatnya, pelahan2 dia duduk dengan gerakan sukar tiga ruji payung masih bergoyang2 menancap di badannya, dan setiap getaran yang membuat ruji payung itu bergoyang tentu menambah deritanya, tampak mukanya semakin pucat, bibir menghijau. Panjang ruji payung itu ada dua kaki dan lebih dua inci nancap ke dalam daging, ruji payung terbuat dari baja, putih mengkilap memancarkan cahbaya dingin, untung yang menusuk di ketiaknya agak miring, jika sedikit lurus saja tentu jantungnya tertusuk dan jiwanya melayang. Setelah istirahat sejenak, Siang Cin mulai mengatur pernapasan, setelah merasa tenaga sedikit pulih, dengan dibantu pedang pandak kembali dia merangkak berdiri. Baru saja kedua kakinya menegak dari lereng bukit di belakang sana, tiba2 didengarnya suara teriakan dan hardikan, suaranya cukup jauh tapi dapat didengar jelas, malah menuju kemari. Pandangan Siang Cin segera tertuju ke sana, gumamnya.
"Memangnya, orang2 dari golongan mana? Dari suaranya agaknya sedang mengejar pelarian ... ."
Se-konvong2 seperti ingat sesuatu, badan yang sudah tegak itu cepat2 merebah pula, ia mengawasi lereng bukit di kejauhan sana, mungkin karena tergesa2 merebahkan diri sehingga luka2nya pecah dan mengeluarkan darah, rasa sakitnya bukan kepalang, tapi dia tidak sempat pikirkan luka2 sendiri, perhatiannya tertuju ke sana, kemungkinan suatu peristiwa bakal berlangsung di depan matanya.
Sejenak kemudian, dari semak belukar sana, tampak muncul sebagian badan manusia, dengan cepat badan bagian bawah orang inipun terlihat jelas, tapi Siang Cin lantas dibuat melongo heran, kini jaraknya semakin dekat, apa yang dilihatnya ini memang ganjil.
Kiranya dua orang bersusun menjadi satu, orang yang dipanggul memiliki kaki yang kecil pendek, mungkin sakit folio, mirip segumpal daging belaka.
tapi kedua lengannya ternyata sangat panjang, besar dan kekar.
Sementara kaki orang yang menggendongnya kelihatan normal, malah tampak kukuh kuat, kebalikannya kedua lengannya justeru sangat aneh, lemas lunglai, tak ubahnya seperti dua potong kayu yang kaku.
Dengan bergendongan begini, yang tidak punya kaki dipanggul yang kakinya kukuh, sehingga sekilas pandang dari kejauhan, dua makhluk bersusun ini kelihatan seperti satu orang saja, satu sama lain saling menambal kekurangan masing2, malah kelihatan tiada kekurangan apa2, lengan panjang, kaki kukuh, lebih kuat dan tinggi dari pada orang biasa.
Kini ""orang jangkung"
Ini tengah berlari dengan gopoh ke arah sini.
wajah kedua orang kelihatan mirip sekali, keduanya sama2 bermuka kemerah2an, dengan daging 188 menonjol, hidung pesek dan mulut lebar, jidatnya dilingkari gelang emas kemilau, dilihat dari dandanan dan gelang emas itu, kiranya kedua orang ini adalah kawan dari Bu siang-pay.
Yang bercokol di atas pundak kawannya sedang ber kaok2 sambil menoleh kebelakang.
"Loh Hong, bisa cepat sedikit tidak? Kura2 di belakang sudah dekat ........"
Maka orang yang di bawah lantas mempercepat langkahnya, tapi napas sudah ngos2an, serunya penasaran.
"Sudah, tak usah mengoceh yang lari kan bukan kau, memangnya kau tahu betapa rasanya? bicara sih enak, kau kira pinggang tidak pegal? Coba saja kau yang ganti memanggulku "
Yang di atas kelihatan murka dan meraung.
"Dalam saat begini kau masih mau bertingkah"
Memangnya belum cukup kau kecundang? Kunyuk, jika kura2 itu mengejar tiba, memangnya kita berdua tidak akan dicacah mampus?"
Pada waktu kedua orang ini adu mulut, di kejauhan sana terdengar suara kaki kuda, dua puluhan penunggang kuda tengah membedal kudanya ke arah sini, di punggung kuda itu semuanya duduk orang2 yang berpakaian merah, semula mereka sudah kehilangan arah, tapi mendadak sama menarik kendali serta membelokkan.
kuda mereka ke semak belukar dan mengejar ke sini dengan formasi setengah melingkar.
Manusia "dua menjadi satu"
Yang aneh tadi mencaci kalang kabut, jelas musuh telah mengejar dekat, maka yang bercokol di atas berseru kuatir.
"Celaka, padahal tadi mereka telah kehilangan jejak kita. Loh Hong, jangan kau tinggalkan aku dan lari sendiri, kalau mau mati biar kita mati bersama saja."
Sambil berlari dengan napas ter-sengal2, yang di bawah balas menyemprot.
"Jangan kentut melulu, sejak kapan tuan besarmu pernah lari sendiri? Sejak hampir terang tanah tadi, kalau aku tidak berhasil menerobos kepungan, memangnya sekarang kau masih bisa ngoceh?"
Yang di atas mendengus, katanya.
"Jangan membual, kalau tidak ada aku kaupun sudah dicacah hancur oleh musuh, yang terang kita sama2 memerlukan bantu membantu."
Sambil lari mereka terus ribut mulut, lebih jauh di belakang lagi, tampak muncul pula tiga puluhan penunggang kuda yang ikut mengejar ke sini dengan formasi setengah lingkar pula.
Kira2 beberapa tombak dari tempat sembunyi Siang Cin, kedua orang yang bergendongan ini mendadak berhenti, orang yang di bawah dengan kedua kaki yang kukuh itu memandang ke depan dan belakang, akhirnya dia berkata dengan lesu.
"Tak perlu lari lagi, laripun tiada jalan, sedangkan pengejar sudah dekat, lari juga tak bisa lolos, malah akan diejek sebagai pengecut lagi, kakak yang tak punya kaki, biarlah kita adu jiwa saja dengan mereka."
Setelah memeriksa keadaan sekelilingnya, yang bertengger di atas menghela napas, katanya.
"Tampaknya memang tiada harapan, semoga saja kau yang she Loh bernama Hong ini masih ingat akan persahabatan selama lima belas tahun ini, kelak jangan lupa pasang hio-soa (dupa) dan bakar beberapa lembar kertas perak, supaya dinerakapun tuan besarmu ini merasa tenteram dan berterima kasih akan kebaikanmu."
Yang bernama Loh Hong berludah, serunya dongkol.
"Jangan kau ber-olok2, memangnya kau kira aku ini tidak kenal kebaikan, bila kau kejeblos ke neraka, memangnya aku akan naik ke sorga? Biarlah kita mendaftar bersama, tiba saatnya kita sama2 masuk dalam satu liang kubur, jadi siapapun takkan bikin susah siapa2 untuk membakar kertas perak segala."
Di tengah pembicaraan ini, para pengejar yang merubung dari berbagai arah itupun telah mendekat.
"Sret", suaranya nyaring berdering, orang cacat yang bercokol di atas mendadak mencabut golok melengkung, ia berseru.
"Loh Hong, sedikitnya kita harus minta rente beberapa jiwa supaya isi peti jenazah sama padat."
Yang di panggil Loh Hong mendengus, katanya.
"Baiklah, kerahkan segala daya 189 kekuatanmu, aku sih tidak percaya pada nasib."
Waktu itu orang2 berbaju merah yang mengepung itu telah berhenti kira2 tiga tombak di depan, sekali aba2 semuanya lantas melompat turun dari punggung kuda, seorang laki2 bermuka merah berjambang hitam melangkah maju, serunya.
"Apakah di sana adalah saudara2 anak buah To-ji-thauling?"
Rombongan tiga puluhan orang baju merah yang menyongsong dari arah berlawanan muncul seorang Iaki2 kurus kecil, berusia setengah umur, dengan suara melengking dia berseru.
"Apakah di sana Ho Ceng, anak buah Pek-sam-thauling?"
Laki2 bertambang ter gelak2, katanya.
"O, kiranya Siang loko, kalian mengejar dari arah sana? Baik sekali, di sini kita sama2 memergoki buronan ini, hayolah kita bekuk mereka hidup2."
Laki2 kurus itu menyeringai, serunya pongah.
"Sudah tentu, Ji-thauling bilang hendak membikin sebuah sangkar raksasa untuk memelihara makhluk aneh ini ......"
Kedua rombongan orang berbaju merah bertanya-jawab dari jauh, se-olah2 kedua orang pelarian yang sudah terkepung di antara mereka itu pasti akan tertawan, betapa tengik sikap mereka sungguh membikin orang mendongkol.
Kedua manusia aneh tadi betul2 terbakar amarahnya, mata mereka mendelik dan otot hijau merongkol di jidat, orang yang di atas segera mengempit kedua kakinya yang kecil serta meraung dengan murka.
"Kawanan anjing Jik-san-tui, kalau berani hayolah terjang maju, untuk apa cuma membacot saja"
Laki2 muka merah itu ter-gelak2, katanya.
"Pelarian Bu siang pay, ibarat ikan dalam jaring, masih berani kalian bermulut besar, sungguh menggelikan. Hari ini kalian akan kami bekuk hidup2, setelah puas kami kerjai, kalian akan kami jadikan umpan anjing liar."
Keruan kedua orang aneh itu berjingkrak gusar, yang di atas meraung pula.
"Majulah, kunyuk2 Jik-san, kalian penjilat Hek jiu tong, sampah persilatan, hayolah maju, biar tuan besarmu kirim kalian ke akhirat."
Laki2 berjambang menarik muka, hardiknya bengis.
"Keparat bermulut kotor, kalian sudah bosan hidup?"
Yang bernama Loh Hong meludah, makinya.
"Memangnya kalian bersih? Orang suci? Jangan jual lagak, tidak tahu malu. Biarpun seorang kacung atau babu dalam Bu siang-pay kami tetap lebih unggul daripada kalian manusia2 sampah ini."
Sambil membanting kaki si muka merah mengangkat tangan, serunya.
"Ringkus dia". Serentak dua puluhan anak buahnya mengiakan, sambil mengacungkan kampak mereka terus menyerbu maju, kampak dua muka yang kemilau menderu kencang mengerikan. Dua orang aneh itu meraung bersama, yang di sebelah bawah mendadak melejit ke atas, di tengah udara kedua kakinya terus menendang berantai, dua puluhan musuh yang menerjang maju itu berusaha berkelit atau menyingkir, tapi pada saat itu pula sinar kemilau menyamber, golok melengkung yang dipegang orang di atas pundak membacok tiba.
"Crek", tiga batok kepala orang seketika mencelat dari lehernya. Darah menyemprot, terutama laki2 muka merah yang berada di depan tersembur basah kuyup selebar mukanya, dengan gelagapan dia menyurut mundur, sekilas dia kebingungan sambil menyeka muka, akhirnya ia berjingkrak murka pula, teriaknya.
"Terjang, terjang maju! untuk apa kalian berdiri nonton saja?" --------------------------------Siapakah kedua manusia aneh yang selalu lengket menjadi satu ini ? Pertarungan sengit apa pula yang akan terjadi dan bagaimana tindakan Siang Cin ? -Bacalah
Jilid ke -11 -------------------
Jilid 11 190 Orang2 berbaju merah di sekeliling serentak berteriak sambil menyerbu, kampak terayun dan menyamber seliweran.
Tapi dua orang aneh itu dapat bergerak lincah, lompat ke sana dan kelit ke sini, dengan tangkas merekapun menyerang dari atas dan bawah sekaligus, dalam sekejap enam orang berbaju merah telah dirobohkan lagi.
Si muka merah menjadi murka, segera dia sendiri menyerobot maju dan mendamprat.
"Kalau tuan besar tak mampu membeset kulit kalian hidup2, jangan panggil aku hek-bin-hou ( harimau muka merah ). Kedua orang aneh itu tiba2 memutar, yang di sebelah atas dengan leluasa memainkan goloknya naik turun, beberapa musuh kembali dibacoknya mampus, lalu iapun mengejek.
"Hm, kukira kau lebih pantas dinamakan babi gemuk berpantat merah."
Di tengah makian lawan inilah, si laki2 muka merah sudah menubruk maju, sekaligus dia menyerang tujuh jurus dengan kampaknya, pada waktu yang sama, orang2 berbaju merah yang lainpun ikut menerjang, maka terjadilah hujan serangan kampak yang sengit.
Golok melengkung orang aneh yang di atas itu mendadak diputar, ia balas membacok, menabas dan menusuk, sementara telapak tangan kiri ikut mengepruk dan menampar, sedang orang yang berada di bawah dengan ketangkasan gerak kakinya menendang kian kemari serta menyapu roboh pula, dua orang ternyata dapat bergerak dengan teratur dan saling mengimbangi, di tengah benturan senjata yang ramai, lelatu api bercipratan, kekuatan kedua pihak ternyata seimbang.
Di sebelah lain, sambil meraba kulit mukanya yang kering seperti kulit jeruk terjemur, laki2 kurus kerdil tengah umur itu menyeringai lebar sehingga kelihatan barisan giginya yang kuning katanya.
"Hayolah anak2, tiba saatnya kitapun terjun ke dalam arena, jangan biarkan anak buah Ho-ya berhasil meringkus hidup2 kedua makhluk ini, kita harus bagi pahala sama rata."
Tanpa bersuara tiga puluhan orang berbaju merah menggeremet maju sambil mengacungkan kampak, dari arah yang berbeda serentak mereka menyerang dengan gencar.
Golok melengkung panjang itu masih sempat menangkis kiri dan bacok kanan, kedua orang aneh itu bertempur dengan gigih pantang mundur meski musuh berjumlah banyak, seperti berlomba mengejar pahala, orang2 Jik san tui terus mengayun kampak dan menyerang serabutan, tanah pegunungan yang belukar dan tidak rata, jumlah orang yang terlalu banyak membuat mereka berjubel dan saling mengganggu gerakan masing2, meski tekad mereka sama untuk merobohkan lawan serta menawannya hidup2, tapi keadaan yang tidak terkontrol ini malah menguntungkan musuh yang dikeroyok.
Pelan2 laki2 kurus tadi mengusap mata kampaknya, ia melangkah maju sambil menyeringai.
"Aku ini orang yang paling suka keramaian. Hehe, dalam suasana seperti ini memangnya aku harus berpeluk tangan? Nah, kalian juga boleh maju semua."
Sementara kedua orang aneh masih berlompatan kian kemari, golok di tangan yang berada di atas sekaligus menyerang belasan jurus, tiga kampak yang menyerang datang dipapasnya kutung, sekali memutar dia tangkis pula serangan laki2 muka merah, sementara kedua kaki orang yang di bawah menyepak dan menendang, seorang lawan kontan menjerit sanibil memegang perut dan menggelinding pergi.
Setelah menyeka keringat, kembali orang yang di atas memutar golok sabit serta memaki.
"Boleh kau maju, coba apakah Locu tidak anggap kau sebagai barang mainan belaka."
Si kurus kembali mendekat beberapa langkah, katanya dengan suara melengking aneh.
"Jangan kuatir, biarlah kalian hidup sejenak lagi ...."
Belum lenyap suaranya, tiba2 dia melompat maju, kampak dua mukanya membawa sinar tajam terus membelah batok kepala lawan.
Lekas orang di bawah menggeser ke pinggir, sementara golok yang di atas berputar 191 menangkis ke atas, pada detik yang menentukan itulah suatu kejadian aneh telah terjadi, kampak besar yang tajam kemilau itu tahu2 tergetar mengeluarkan suara nyaring di susul pekik nyaring seperti raungan binatang yang hendak dijagal.
Dengan melengak kedua orang aneh sama mengawasi musuhnya.
Busyet, entah mengapa laki2 kurus itu kelihatan berdiri bingung dengan sorot mata rawan tertunduk mengawasi gagang pedang yang entah sejak kapan telah menembus dadanya, sungguh lucu juga mengerikan.
Pelan2 tubuhnya ambruk ke tanah, sudah tentu orang2 berseragam merah di sekeliling gelanggang sama merasa seram dan menyurut mundur.
Tapi tidak demikian dengan laki2 muka merah yang telanjur kalap dan menyerang secara membabi buta, melihat anak buahnya menyingkir dia lantas memaki.
"Ada apa? Siapa berani lari kubunuh dan!"
Agaknya dia belum tahu akan nasib kawannya. Dikala menangkis bacokan golok melengkung tadi, hampir saja laki2 muka merah terserampang jatuh oleh kaki lawan yang di bawah, teriaknya kaget.
"Keparat, memangnya kau hanya pandai main jegal?"
"Crot", orang yang di atas berludah, sementara goloknya berputar dengan sinarnya yang kemilau.
"Cras", batok kepala seorang musuh, kembali dipenggalnya.
"Berpalinglah saudara yang garang, coba lihat nasib temanmu yang sudah mampus,"
Kedua orang sinting itu ber olok2. Meraung sambil berkelit kesamping, laki2 muka merah kembali balas menyerang, serunya dengan gusar.
"Anak jadah, segera kau akan tahu siapa yang bakal mampus."
Belum lagi lenyap suaranya, anak buah di belakangnya sudah sama berteriak kaget dan ngeri.
"Wah, celaka, Song-ya sudah mati. Dadanya ditembus pedang."
Kali ini si muka merah mendengar jelas, keruan jantungnya serasa dipalu wajahnya yang merah kasap itu seketika berubah kelam, beruntun dia merangsak empat jurus, lalu melompat mundur, teriaknya kaget.
"Siapa yang melakukan? Lekas tangkap dia."
Belum habis dia berkaok, kembali terdengar "blang, prak", suara tulang patah dan remuk, kembali lolong kesakitan membuat ramai suasana pertempuran yang seru ini.
"Ada musuh tersembunyi, dua saudara kita mati lagi ... ."
Si muka merah menjadi bingung, serunya gugup.
"Tangkap dia, kalian memang gentong nasi semua, akan kubunuh kalian."
"Aduh,"
Kembali seorang berteriak kesakitan, disusul seorang berteriak ngeri.
"Wah hanya dengan dua butir lempung bisa meremukkan batok kepala orang ....betul2 . kejam dan menakutkan, setan penjaga hutan telah muncul dan menghukum kita, wah celaka!"
Agaknya si muka merah menjadi semakin kalap, sekaligus dia menendang dan membacok dengan kampak beberapa kali, teriaknya mencaci.
"Dirodok, hanya teriak melulu, memangnya makmu bisa menolong? Lekas tangkap musuh gelap itu."
Sambil memaki, kakinya menyapu dua kali, tapi mengenai tempat kosong, karena terlalu bernapsu dengan serangan kampaknya sehingga serangannya luput seluruhnya.
Belum lagi sempat menyusuli seranigan lain, sinar golok lawan tiba2 menyambar.
"Cret", dikala dia melompat mundur, pundak serasa kesakitan setengah mati, kiranya tergores golok lawan sampai kulit daging pundaknya terpapas.
"Waah,"
Saking kesakitan dan ngeri melihat luka sendiri, tanpa terasa dia menjerit, kembali ia mendengar suara tulang patah dan remuk di susul jeritan mengerikan dari mulut anak buahnya.
Diam2 kedua orang sinting itupun maklum bahwa ada orang pandai telah membantu mereka, maka semakin berkobar semangat tempur mereka bagai harimau galak mereka terjang sana dan seruduk sini, dalam sekejap saja dua puluhan musuh telah dijagalnya, sisanya yang masih hidup sama lari menyingkir, keadaan jelas berada dalam genggaman kedua orang sinting ini, maka serangannya tidak tanggung2 lagi.
Hampir saja laki2 muka merah semaput melihat luka dipundak sendiri yang parah sampai tulang pundaknya yang putih kelihatan.
Seorang lari menghampiri, teriaknya 192 dengan berkeringat.
"Komandan, terus bertempur atau bertahan? Situasi sudah jelas, separo teman2 kita sama menggeletak, musuh di tempat gelap belum lagi muncul, entah berapa banyak musuh yang terpendam di sekitar sini."
Saking kesakitan, mata si muka merah berkunang2, katanya sambil merintih.
"Tidak boleh mundur, keparat, Jik san tui kita semuanya adalah orang gagah ......gagah perwira."
"Komandan."
Seru orang itu gelisah.
"berlagak gagah kan harus lihat waktu dan keadaan, kalau sekarang tidak mundur sebentar lagi jiwapun ikut melayang ..... komandan sendiri terluka, ini bisa dipertanggung-jawabkan kepada atasan...."
Pada saat itu, seorang laki2 baju merah di sana kembali menjerit roboh dengan kepala remuk, keruan bergidik si muka merah, dengan mengertak gigi akhirnya dia berseru.
"Baiklah, mundur. Tapi kalian yang minta padaku ......"
Laki2 di sebelahnya ini tidak pedulikan lagi, sambil mengacung kampaknya dia terus berteriak.
"Ada perintah dari komandan, lekas mundur."
Sembari berteriak, dia mendahului aogkat langkah seribu, sekali cemplak langsung ia melompat ke punggung kuda.
Si muka merah menggerutu, lekas iapun lari ke sana menarik seekor kuda terus merangkak ke punggungnya dengan menahan sakit, sudah tentu sisa anak buahnya yang lain menjadi kacau balau, semuanya saling caci-maki dan lari mencawat ekor.
Sebetulnya kuda cukup banyak, sayang sudah terpencar ke sana-sini karena pertempuran gaduh tadi, yang masih ada menjadi rebutan di antara sesama kawan demi menyelamatkan diri, tapi yang simpatik mau juga membantu temannya, sehingga seekor kuda sekaligus ditunggangi tiga orang, cepat sekali seperti digulung angin lesus sebentar saja mereka sudah lari semua.
Kedua orang sinting jadi bingung dan tertegun di tempatnya, melihat musuh sudah lari, hanya mayat saja yang masih tertinggal, perasaan mereka menjadi hambar, orang yang di atas geleng2 kepala, katanya serak.
"Loh Hong, apa sebetulnya yang terjadi? Seperti menggiring bebek?"
Menghela napas, yang di bawah berkata.
"Kan bukan kita yang menggiring, yang jelas ada orang pandai telah membantu, jangan kau pura2 bodoh, memangnya cuma beberapa jurus cakar kucingmu mampu menggiring bebek sebanyak ini?"
Mengawasi mayat yang bergelimpangan, yang di atas menghela napas, katanya.
"Loh Hong, mari panggil sahabat yang bersembunyi itu untuk bicara. jangan nanti bilang orang Bu-siang-pay tidak tahu aturan."
Yang bernama Loh Hong berputar memandang sekeliling, katanya kemudian.
"Sebetulnya, setelah musuh lari, orang pandai itu sudah harus keluar menemui kita, memangnya dia tidak sudi unjuk muka dan telah tinggal pergi."
Mendadak terdengar suara tertawa di belakang gundukan tanah, dengan muka yang penuh noda darah dan pakaian yang tidak keruan Siang Cin muncul di depan mereka, baru saja melihat bayangannya, kedua orang sinting ini sama menjerit kaget.
"Eh, jadi kau ini ...."
Dengan terbelalak yang di atas bertanya ragu.
"Sahabat, apakah kau yang barusan membantu kami?"
Dengan langkah berat Siang Cin maju dua langkah, jawabnya.
""Kukira demikian, apakah kalian melihat ada orang lain?"
Dengan kikuk lekas orang di atas menyarungkan goloknya, ia memberi hormat, katanya.
"Kami orang Bu-siang-pay, karena suatu hal bentrok dengan pihak Hek-jiutong, musuh berjumlah terlalu banyak sehingga begini keadaan kami, untung tuan sudi membantu kami, kalau tidak entah bagaimana nasib kami selanjutnya .... Sungguh kami bersaudara sangat berterima kasih akan budi pertolongan ini. Ai, entah tuan penolong sudi memberitahu siapa namamu yang mulia supaya kelak kami bisa selalu mengenangnya"
Dengan tertawa Siang Cin berkata.
"Sebetulnya, kita bukan orang luar."
"Bukan orang luar?"
Gwan Hoan menegas. Gwan Hoan adalah nama orang yang di bawah. 193 Setelah memeriksa sekelilingnya, pelan2 Siang Cin memperkenalkan diri.
"Aku she Siang, bernama Cin, ada kalanya orang memanggilku Naga Kuning, demikian pula Kim Bok, Loh Bong-bu dan lain2, mereka juga menyebut nama julukanku."
Kedua mahkluk aneh ini seperti mendengar guntur di siang hari bolong, seketika kedua-nya melongo, sampai sekian lama baru mereka seperti sadar dari mimpi, kata mereka.
"Ah, kiranya Siang-tayhiap, kami bersaudara memang buta, betapa besar nama Siang-tayhiap, tapi kami tak mengenalmu ..."
Siang Cin menggeleng, katanya.
"Apakah kalian yang dijuluki "dua sinting"?"
Gwan Hoan mengangguk, katanya.
"Betul, tentunya Siang-tayhiap dapat menerka setelah melihat tampang kami ini?"
""Bentuk kalian memang aneh, sekali pandang orang akan tahu siapa kalian, selama ini belum pernah melihat kalian, tapi namamu sudah kudengar ... ."
Gwan Hoan tertawa mendengar umpakan Siang Cin.
Segera Siang Cin mendekat ke sana dan mencabut pedang pandak dari dada si laki2 setengah umur, setelah menyeka darah di tubuh orang, dia membalik dan berkata.
"Sekarang, lekas tinggalkan tempat ini, apakah kalian terluka?"
Dengan langkah lebar Loh Hong mendekat, katanya sambil geleng kepala.
"Kami tiada yang terluka, sayang kami tidak tahu bagaimana nasib si jagal berjenggot merah dan si kaki bengkok ....anak buah yang kami bawa telah tercerai, semuanya ada tiga puluhan orang ."
Sembari bicara mereka terus pergi, kata Gwan Hoan setelah menghela napas.
"Sebenarnya kami ditugaskan mengikuti rombongan Loh-cuncu menyerbu dari belakang gunung, tapi sampai di tengah jalan, belum lagi bertemu dengan barisan Loh cuncu kami telah dicegat musuh, jumlah mereka ada dua ratusan orang dalam pertempuran besar ini hanya kami berdua yang berhasil menjebol kepungan dan melarikan diri."
Lekas Loh Hong menambahkan.
"Tapi kami tidak bikin malu Bu siang pay kita, dalam pertempuran itu sedikitnyn separo musuh berhasil kami robohkan."
"Jadi tiada orang lain lagi yang pernah kalian temukan?"
Tanya Siang Cin prihatin.
"Kecuali kau Siang-tayhiap, tiada satupun yang pernah kami lihat,"
Sahut Gwan Hoan. Diam sebentar, Siang Cin berkata pula.
""Kim-cuncu dari Wi-ji-bun, Ceng-yap-cu Lo Ce dan si jenggot merah sudah lolos dari kepungan musuh."
Serentak Loh Hong berteriak gembira.
""Si jagal gundul berjenggot merah itu ialah Le Peng. Aku tahu keparat itu memang berumur panjang, tak mungkin mampus semudah itu."
Gwan Hoan tertawa cekikikan dan menimbrung.
"Kim cuncu selalu pesan kepada kami supaya selalu mengawasi dia agar tidak menimbulkan onar, tak nyana keparat ini lebih licin malah dan berhasil selamat lebih dulu ...."
Bimbang sesaat, kemudian Loh Hong bertanya pula.
"Siang-tayhiap, apakah kau tahu bagaimana nasib Loh-cuncu dan Siang cuncu serta yang lain2? Tentunya mereka juga selamat."
Muram air muka Siang Cin, katanya sambil menengadah.
"Aku tidak melihat mereka, tapi kutahu mereka terkepung ditengah kobaran api di daliam Bu wi-san-ceng ....melihat gelagatnya, tak sulit dibayangkan bagaimana nasib mereka."
Kedua orang sinting jadi melenggong, sesaat kemudian Gwan Hoan berkata pelahan.
"Siang-tayhiap, apa yang terjadi dengan kebakaran besar itu?"
Siang Cin menggeleng dan ceritakan apa yang terjadi, kedua orang aneh ini sama menggreget penuh dendam, mata melotot dan mencaci kalang kabut. Akhirnya Siang Cin menambahkan.
"Siang cuncu kalian terlalu terburu nafsu untuk merebut pahala, agaknya dia lupa bagaimana kebiasaan sepak terjang orang2 Hekjiu-tong, setiap gerakan tentu sudah dirancang dengan keji, mana mungkin mereka dapat dikelabui. Sayang dia tak mau dengar nasihatku, memangnya sebagai orang luar, apa yang dapat kulakukan?"
Gwan Hoan dan Loh Hong diam saja, sampai sekian lama setelah menempuh perjalanan cukup jauh, baru Gwan Hoan berkata pula.
"Biasanya tindak-tanduk 194 Siang-cuncu sangat hati2, dulu dia tidak pernah ceroboh, tapi kali ini mungkin lantaran puteri Ciangbunjin kita ada hubungan yang erat dengan dia ....tentunya Siang-tayhiap maklum juga hal ini, sekali urusan menyangkut pribadinya, maka kacau pula pikirannya, memang sejak beberapa hari ini kurasakan sikap Siangcuncu beda dengan biasanya ......."
Loh Hong ikut bersuara.
"Biasanya sikapnya ramah terhadap siapapun, tempo hari karena sedikit salah, Pek-yang pernah di makinya habis2an, karena itu Pek-yang sampai murung selama beberapa hari ...."
Dengan pedang pandak sebagai tongkat, Siang Cin berjalan ter-tatih2, katanya tawar.
"Apakah pernah diantara kalian berjanji akan kumpul di mana bila urusan di sini berhasil?"
Gwan Hoan melenggong sebentar, katanya.
"Waktu itu diputuskan, setelah berhasil menduduki sarang musuh, kita diharuskan berkumpul di depan pintu gerbang Bu-wisan-ceng.".
"Itu menurut perhitungan bila kalian menang dalam penyerbuan ini,"
Ujar Siang Cin tertawa, apakah tidak kalian pikirkan sebelumnya bagaimana bila kalian yang kalah?"
Menyengir sedih, Gwan Hoan berkata.
""Tidak, siapa kira bahwa kami akan kalah.."
Maka berkata Siang Cin.
"Selamanya aku suka bicara secara blak2an. Setelah mengalami pengajaran nyata kali ini, kurasa perlu aku memberi wejangan. Yakin akan kesanggupan sendiri adalah syarat utama bagi setiap insan persilatan, tapi keyakinan itu harus disertai rencana yang cermat dan pemikiran yang matang, kalau bertindak serampangan dan di luar garis kebijaksanaan, sekali salah hitung, akibatnya tentu runyam dan menyedihkan."
Gwan Hoan dan Loh Hong mendengarkan dengan diam saja, meski hati merasa tertusuk, tapi apa yang dikatakan memang benar dan tepat. Setelah menghela napas, Siang Cin berucap pula.
"Aku tahu dengan kata2ku ini secara langsung telah menyinggung wibawa Bu-siang-pay kalian, tapi aku bicara dari relung hatiku yang paling tulus, dengan rasa setia kawan lagi, terima atau tidak terserah kepada kalian."
"Siang-tayhiap, akhir katamu terlalu berat untuk kami resapi,"
Ucap Gwan Hoan cepat.
"ini adalah nasihat emas yang amat berharga, belum lagi kami sempat berterima kasih kepadamu, mana berani mencela malah? Kamipun senang mendengar kritikmu ini." -Merandek sejenak, lalu Gwan Hoan berkata pula.
"Biasanya petuah yang menusuk kuping memang sukar diterima, kalau bukan teman baik, memangnya siapa sudi memberikan nasihat yang bisa menimbulkan salah mengerti? Siang-tayhiap, untuk ini jangan kau salah paham..."
Siang Cin hanya tertawa tanpa bicara lagi, bertiga mereka terus menyusuri lereng bukit dan tiba di balik gunung sana, tampak di sini seluruhnya adalah semak2 welingi.
"Siang-tayhiap,"
Ujar Gwan Hoan dengan hormat.
"bagaimana kalau kita istirahat sejenak di semak2 welingi itu?"
Menghela napas lelah, Siang Cin berkata.
"Baiklah, aku memang sangat letih."
Loh Hong lantas mendengus, katanya.
"Hai, kaki buntung, kukira kau kunyuk ini lupa daratan karena terlalu enak bercokol di atas punggung tuan besarmu?"
Gwan Hoan hanya terkekeh saja tanpa memberi tanggapan.
Dengan pedang sebagai tongkat Siang Cin terus maju dengan langkah ter-seyot2, napasnya rada terengah, badanpun ter-bungkuk2, sungguh payah dan menderita sekali keadaannya.
Baru saja mereka tiba di puncak bukit, belum sempat Siang Cin istirahat, dari balik dedaunan welingi menyongsong keluar sesosok bayangan besar terus menubruk seperti serigala kelaparan, sebilah golok melengkung tahu2 membacok batok kepalanya.
Secara refleks Siang Cin miringkan tubuh.
"trang"
Dengan pedang pandak dia tangkis golok melengkung itu, tidak sampai di sini saja gerakan pedang pandak itu, secepat kilat ujung pedangnya terus menusuk pula ke dada orang.
Baru sekarang kedua orang sinting di sebelah belakang menjadi gugup, Gwan Hoan 195 lantas meraung "Tahan Siang-tayhiap ......sesama keluarga sendiri ......."
"Si jagal jenggot merah ..... ."
Loh Hong juga berteriak gugup. Dengan mendongkol Siang Cin menarik kembali serangannya, rasa sakit pada luka2nya membuat keringat dingin membanjir keluar. katanya.
"Saudara, sebelum turun tangan hendaklah lihat dulu siapa orang yang akan kau serang."
Pembokong ini memang si jagal jenggot merah Le Ping, pedang pandak Siang Cin baru saja ditarik mundur dari depan dadanya, keruan mukanya merah jengah, katanya gugup dan menyesal.
"Terlalu tegang, Siang-tayhiap, sampai tidak kulihat jelas engkau adanya, harap suka memaafkan."
"Sudahlah,"
Ucap Siang Cin.
"mana Kim-cuncu dan Lo Ce, Lo-heng."
Menunjuk ke balik semak si jagal berkata.
"Semua ada di sana, setelah lolos kami putar kayun setengah malam sampai di sini, setelah makan ala kadarnya semua tak mampu bergerak lagi, terpaksa kami rebah melepaskan lelah dulu ...."
Kedua orang sinting mendekat maju, dengan sedikit membungkuk Gwan Hoan menggaplok pundak si jagal, teriaknya.
"Jagal pikun, kami kira kau sudah menjadi daging panggang, kobaran api di puncak gunung membuat benderang langit, syukurlah kau berumur panjang ...."
Si Jagal jenggot merah mengelus batok kepalanya yang gundul kelimis, katanya sambil menyengir.
"Jangan ber-olok2, jika tiada bantuan Siang-tayhiap, mungkin satupun tiada yang lolos dengan hidup, Cuncu dan Lo Ce sama2 terluka parah."
Gwan Hoan berkata.
"Kamipun lolos kepungan berkat pertolongan Siang-tayhiap. Kalau tidak, kali ini tak mungkin kau bisa bertemu dengan kami bersaudara."
Wajah si jagal yang kasap itu mengunjuk rasa kagum dan hormat serta tunduk, katanya.
"Mungkin kalian belum tahu apa yang telah terjadi di atas gunung?" . Sekilas melirik ke arah Siang Cin yang tertatih2 melangkah ke dalam semak2 welingi, Gwan Hoan menelan liur, tanyanya dengan gelisah.
"Apa yang terjadi?"
Si jagal juga melirik ke punggung Siang Cin, lalu katanya sungguh2.
"Enam diantara sepuluh gembong2 Hek-jiu-tong telah disikat mampus oleh Siang tayhiap seorang diri, seorang lagi luka parah, demikian pula ahli perang mereka yang bernama ....King apa yang tua bangka itu juga dimampuskan, apalagi kaum keroco Hek jiu-tong, ada ratusan yang mampus di tangan Siang-tayhiap."
Begitulah sambil menyibak daun welingi mereka terus menerobos semak2 lebih dalam, beberapa tombak kemudian, tampak si sayap terbang Kim Bok dan Ceng yap-cu Lo Ce duduk di tanah, sementara Siang Cin sudah duduk di hadapan mereka.
Dalam semalam ini, agaknya terlampau besar penderitaan mereka, wajah Kim Bok yang semula merah bersemangat kini kelihatan lesu, pucat menghijau, kerut mukanya yang biasa tidak kelihatan kini tampak banyak, dalam semalam ini dia seperti tambah tua puluhan tahun.
Demikian pula keadaan Ceng-yap cu Lo Ce, pucat, lemas keletihan, mirip laki2 yang baru sembuh dari sakit parah, sekujur badan berleporan darah, bibirnya yang kering merekah, sorot matanya yang pudar kelihatan seperti orang mengantuk.
Kedua orang sinting maju memberi hormat kepada Kim Bok, dengan kepayahan Lo Ce, membalas saja ala kadarnya, Gwan Hoan tepuk pundak Loh Hong, katanya.
"Baiklah, biar aku turun dnduk di tanah, supaya kau bisa istirahat sebentar ...."
Begitu Loh Hong berjongkok Gwan Hoan tepuk pundak orang terus melompat turun dan berduduk dengan ringan, kedua kakinya yang kecil lantas terjulur datar di tanah.
Loh Hong menggeliat sambil menekuk pinggang, menepuk pundak serta memijit leher, kelubiiya.
"Ai, tugas menjadi kuda tunggangan begini entah kapan baru akan berakhir ......."
Si Sayap terbang Kim Bok mengerling ke arah Loh Hong, katanya dengan serak.
"Bukankah kalian bersama It-coh san Hoan Kiang? Mana Hoan Kiang?"
"Hoan Kiang?"
Kedua orang sinting saling pandang, kata Gwan Hoan gugup.
"Bukankah dia menyusul Cuncu bersama dua puluhan saudara setelah barisan besar bergerak ke atas gunung?"
Terbeliak mata Kim Bok, serunya gusar.
"Siapa suruh dia pergi? Memangnya ke 196 mana pula kalian waktu itu?"
Lekas Gwan Horn menjawab.
"Sebelum bergerak Loh-cuncu memberi pesan agar dia bantu menggempur kebelakang gunung, tapi ditengah jalan dicegat musuh, hanya kami berdua saja yang berhasil lolos, Lo Hoan berpisah dikala kami bergerak ke atas hendak membantu Loh-cuncu, karena waktu itu pertempuran di atas gunung teramat ramai dan gaduh, sebaliknya di bawah gunung tiada tugas penting apa2, kuatir tenaga pihak kita tidak mencukupi, maka Lo Hoan lantas membawa orang2nya menerjang ke atas, semula kami kira dia sudah gabung bersama Cuncu sekalian ......"
Saking gusar Kim Bok mengertak gigi, raungnya.
"Gentong nasi, semuanya gentong nasi."
Kedua orang sinting tak berani bersuara lagi, keduanya tunduk tak berani bergerak, dengan mengepal tinju Kim Bok berkata.
"Kali ini kita betul2 memperoleh ganjaran setimpal, Thi, Hiat dan Wi tiga barisan besar Bu-siang-pay kita sama dikerahkan, tiga ratus tenaga inti yang terdidik baik seluruhnya gugur di tangan orang Hek--jiu-tong, sisanya yang masih hidup bercerai berai, cara bagaimana harus mempertanggungjawabkan hal ini kepada Thi-ciangbun? Bagaimana pula harus memberi penjelasan kepada tiga barisan yang lain yang masih ada di pusat? Kalau kalian tidak tahu malu, aku justeru tiada muka berhadapan dengan mereka, jiwa pahlawan padang rumput kini sudah ternoda oleh kalian ... ."
Siang Cin membuka matanya yang terpejam, katanya pelahan.
"Kim-cuncu jangan marah, ada beberapa kata ingin kusampaikan."
Lekas Kim Bok unjuk tawa, katanya.
"Silakan, silakan."
Diam sejenak baru Siang Cin membuka suara.
"Perubahan kehidupan Kangouw memang sukar diramalkan, dalam waktu sedetik keadaan dapat berubah menjadi buruk, entah itu seorang pribadi, suatu aliran atau perguruan, jika dia ingin bercokol abadi dalam percaturan Bu-lim, jelas bukan suatu usaha yang mudah, perbedaan antara kalah menang, kuat dan lemah hanya terpaut segaris saja, kalau melampaui garis tegas ini maka berarti berakhirlah riwayatnya. Tiada dalam sejarah Bu-lim seorang pahlawan yang abadi, selama beratus tahun belum pernah tertulis dalam sejarah adanya suatu aliran atau perguruan silat yang tak pernah runtuh atau kalah, begitu pula tiada bedanya seseorang dan suatu aliran, di dalam menghadapi berbagai masalah tak mungkin mereka selalu berada di atas angin, karena sering sesuatu terjadi di luar perhitungan dan dugaan, maka peristiwa yang telah terjadi tak perlu lagi disesalkan, sebaliknya harus menjadikan kekalahan itu sebagai cambuk untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi ........"
Merandek sejenak lalu Siang Cin meneruskan dengan tertawa tawar.
"Siang Cin masih muda usia, cetek pengalaman dan dangkal pengetahuan, dengan rangkaian nasihat ini, sebetulnya aku telah berlaku sembrono, untuk ini harap Kim-cuncu tidak ber-kecil hati."
Sekian lama mengawasi Siang Cin, akhirnya Kim Bok menghela napas panjang, ucapnya.
"Nasihat Siang-lote memang betul, tapi , ... ai, kenyataan memang demikian, bila dendam tak terlampias, memangnya dapat kupulang menemui Ciangbunjin?"
Siang Cin berkata.
"Biarlah soal itu kita bicarakan lagi kelak, kini yang penting harus mencari tempat untuk memulihkan kesehatan."
Seperti teringat apa2, tiba2 Kim Bok berkata.
"Lote, lukamu cukup parah, lebih penting menyembuhkan luka2mu dulu .... Lote, untuk kepentingan Bu-siang-pay, betapa besar pengorbananmnu ...."
Tertawa tawar, Siang Cin berkata.
"Seorang ksatria rela mati demi persahabatan, Cuncu, hal ini jangan diperbincangkan lagi."
Merah muka Kim Bok, katanya gegetun.
"Begitu besar setia kawan Lote terhadap Bu-siang pay membantu dengan mempertaruhkan jiwa raga lagi, tapi Bu-siang-pay kita memang terlalu ceroboh dan bodoh, jerih-payah dan nasihat Lote yang berharga tak pernah kita resapi, bila Siang-loheng mau mendengar nasihatmu di Pi-ciok-san, 197 nasib kita tentu tidak akan seburuk ini ....Ai"
Siang Cin berkata.
"Hal ini tak bisa menyalahkan Siang-cuncu, dia terialu emosi waktu itu, kabarnya biasanya Siang-cuncu tidak begitu gegabah, maka Cuncu tidak usah menyalahkan dia "
Tapi Kim Bok masih juga menggerundel.
"Tak usah lote membela dia, kelak bila kembali berhadapan dengan Ciangbunjin, aku akan membuat perhitungan dengan dia, coba saja siapa yang benar."
Sampai di sini tiba2 ia melenggong, sekian lama dia termenung, lalu menghela napas, katanya rawan.
"Cuma, entah bagaimana nasib tua bangka ini, apakah aku masih sempat membuat perhitungan dihadapan Ciang-bunjin.."
Siang Cin memejamkan mata, katanya lesu.
"Mati hidup ada di tangan Thian, kuyakin Siang-cuncu juga tidak berumur pendek, menurut hematku, kesempatan hidupnya masih besar ...."
Kim Bok menghela napas katanya.
"Ya, begitulah harapan kita, demikian pula Bongbu, tidak pantas dia gugur di medan laga dalam usia yang masih muda ....di antara pimpinan Bu-siang-pay, usianya terhitung yang paling muda . ..."
"Aku tahu, biasanya kalian suka mempoyoki `pipi halus` padanya,"
Ucap Siang Cin.
"Ya, hubungan mereka suami-isteri juga penuh kasih sayang,"
Ucap Kim Bok.
"Loh-cuncu pernah bicara hal ini, demi hubungan suami-isteri inilah sehingga dia menolak jabatan di Lan cian-tong?"
Ber kaca2 mata Kim Bok, lekas ia melengos, katanya pilu.
"Yang membuatku teramat sedih adalah Yang-yang ....budak itu, berarti dia mengkhianati ayahnya dan leluhurnya, mengingkari seluruh Bu-siang-pay ... dia sungguh bodoh, teramat bodoh. ."
Tiba2 Ceng-yap cu ikut bicara.
"Kalau hal ini betul, menurut watak Ciangbunjin ....kemungkinan Siocia akan mengalami hukuman yang berat,"
Kim Bok menoleh seraya berkata.
"Bukan saja akan dihukum, aku berani bertaruh, Ciangbunjin malahan bisa membunuhnya."
Siang Cin berkata.
"Kalau benar demikian tindakan Ciangbunjin kalian atas puterinya, kukira persoalannya menjadi mudah."
Kim Bok melenggong, tanyanya heran.
"Sukalah Lote menjelaskan?"
"Bicara terus terang,"
Ucap Siang Cin.
"jika betul Ciangbunjin kalian ingin mengakhiri pertikaian ini dengan kematian puterinya, atau hanya untuk melampiaskan penasaran-nya, maka persoalannya menjadi mudah diselesaikan."
Terbelalak Kim Bok, sekian lama dia menatap Siang Cin.
Tapi Siang Cin menggeleng, katanya prihatin.
Hubungan lahir batin ayah dan anak tak mungkin diselesaikan hanya dengan hukuman melulu, masih banyak pertimbangan lain2, umpama benar Ciangbunjin kalian ingin membunuh puteri sendiri, kukira dia sendiripun akan menderita batin."
Sedikit banyak Kim Bok kini sudah maklum, katanya.
"Maksud Lote ...."
"Maksud Cayhe, Ciangbunjin kalian akan sukar memberi keputusan, malah hatinya juga akan sedih."
Lama Kim Bok meresapi kata2 ini, akhirnya ia manggut2, katanya.
"Betul, ucapanmu memang betul lote, nama Naga Kuning yang kauperoleh kuyakin bukan melulu karena kehebatan ilmu silatmu, cara berpikirmu ternyata juga melebihi orang banyak ...."
"Ah, Cuncu terlalu memuji ujar Siang Cin dengan tertawa. Kini kedua orang sudah duduk bersimpuh, perasaan mereka sama berat dan prihatin, Siang Cin menengadah mengawasi daun welingi, daun yang bergoyang menari ditiup angin lalu, mengeluarkan suara berisik yang berpadu menjadikan irama yang menga-syikan juga, sayang suara ini terasa hampa, terasa memilukan. Entah berapa lamanya, akhirnya Kim Bok bersuara.
"Lote, marilah kita berangkat?"
"Baiklah,"
Siang Cin sadar dari lamunan-nya dan tertawa. Segera Kim Bok melompat berdiri, katanya kepada si jenggot merah.
"Le Ping, kemari kau, gendong Siang tayhiap." 198 Si Jenggot merah mengiyakan dan menghampiri dengan langkah lebar. Lekas Siang Cin mengoyang tangan, katanya gugup.
"Tak usah, tak usah! Cayhe sendiri masih sanggup berjalan, apa lagi ruji payung yang menghiasi tubuhku ini belum lagi kucabut, kurang leluasa kalau digendong ...."
"Lalu bagaimana baiknya?"
Ujar Kim Bok prihatin.
"Lote, aku sendiri merasa ngeri melihat luka2 sekujur badanmu, apalagi kau yang langsung merasakannya? Kalau aku yang terluka parah seperti itu, pasti tak kuasa bergerak dan sudah di atas usungan."
"Seperti apa yang Cuncu katakan sendiri, kalau Naga Kuning Siang Cin tidak memiliki kelebihan yang luar biasa daripada manusia umumnya, mana mungkin aku memperoleh gelar Naga Kuning? Ketahuilah bukan saja aku mahir menghajar dan menyiksa, jiwa ragaku sendiripun tahan akan segala macam siksa derita."
Kim Bok tertawa geli, suasana yang kurang menyenangkan tadi seketika tersapu lenyap seluruhnya, kata Kim ,Bok.
"Kalau demikian, marilah jalan pelan2."
Sambil menyibak semak2 welingi mereka berenam berjalan keluar, cuaca tampak mendung, hawa terasa dingin, mereka berjalan di tanah pegunungan yang belukar, pandangan mereka meneliti setiap gerakan di sekeliling mereka, maklumlah daerah ini masih dalam pengaruh orang2 Hek-jiu-tong.
Setelah jalan sekian lama, si jenggot merah mendekati Siang Cin, katanya lirih.
"Siang-tayhiap, apakah perlu kugendong kau saja?"
"Tak usahlah,"
Ujar Siang Cin.
"kau sendiri juga sudah payah."
Menggaruk batok kepalanya yang gundul kelimis, laki2 kasar yang dijuluki jagal ini berkata.
"Siang-tayhiap, terima kasih atas pertolonganmu semalam. Siang-cuncu dan lain2 putus hubungan dengan kami di tengah kobaran api yang besar itu, padahal rencana semula sudah dipikirkan dengan rapi, tapi kenyataan serba mengenaskan ....kalau tidak mendapat bantuan Siang-tayhiap, tak berani aku membayangkan akibatnya, mungkin satupun tiada yang bisa lolos, lalu siapa yang akan mengirim kabar buruk ini. ."
Padahal langkah Siang Cin cukup berat, jalan sambil bertongkat pedang, tapi suaranya tetap ramah.
"Tidak apa2, Le-heng, sakit hati ini kelak pasti dapat ditagih seluruhnya."
Kim Bok menoleh, timbrungnya tertawa.
"Lote, bila tiba waktunya, jangan kau lupa memberitahu kepadaku, kita semua akan patuh dan tunduk akan pimpinanmu."
Siang Cin tertawa, katanya.
"Jangan berkata demikian Cuncu."
Jalan punya jalan akhirnya mereka tiba di tanah bukit yang menurun, seluas mata memandang, jalan raya tampak berliku menjalar di kejauhan sana, mendung tambah tebal, tiada bayangan manusia atau binatang, keadaan sunyi hening.
Menelan liur si jagal berkata.
"Cuncu, ke mana tujuan kita selanjutnya?"
Berpikir sejenak Kim Bok berkata.
"Jalan raya itu menuju ke Kia tin, tapi kota kecil itu terlalu dekat dari Pi ciok-san, bukan mustahil di sana ada mata2 musuh, kita pergi saja ke Gu-keh-wa di sebelah timur sana ...."
"Giu keh-wa?"
Tanya Siang Cin.
"tempat apakah itu"?"
"Sebuah dusun kecil, letaknya dihimpit gunung di timur sana, kira2 ada seratusan keluarga, semuanya hidup bercocok tanam sebagai petani yang sederhana dan berkecukupan. Kira2 lima tahun yang lalu pernah aku mampir ke sana, panorama di sana permai, tak mungkin ada kaum persilatan yang mondar-mandir ke sana, tempat itu amat cocok untuk istirahat menyembuhkan luka2 kita."
Menghela napas kesal, Siang Cin berkata.
"Masih berapa jauh letak dusun itu?"
Setelah mengira2 Kim Bok menjawab.
"Kurang dari tiga puluh li, kalau jalan lebih cepat sedikit, kira2 dua jam akan tiba di tempat tujuan."
Dalam keadaan Siang Cin sekarang, perjalanan dua jam ini sungguh terasa amat berat dan menyiksa.
Tapi semangat jantannya menunjang wataknya yang keras kepala, meski lebih parah lagi dia juga tetap menempuh perjalanan ini tanpa sudi dibantu oleh siapapun.
oo0 000 Ooo 199 Dusun kecil yang letaknya dihimpit dua gunung ini dilingkari sebuah anak sungai yang jernih airnya, pada ujung depan dan di belakang dusun ini ditumbuhi hutan bunga Bwe yang cukup rindang, seratusan rumah penduduk berderet menjadi beberapa baris, jalan kampung yang beralas krikil tampak bersih dan terawat baik, inilih Gu-keh-wa.
Selama sebulan lebih, menempati rumah penduduk yang terletak di ujung belekang dusun kecil itu, Siang Cin berenam benar2 mengecap kehidupan tenang dan tenteram, hidup teratur dan terawat pula kesehatan mereka.
Pagi nan cerah, hawa sejuk mengandung bau harum bunga Bwe yang menambah semangat.
Pagi hari itu Siang Cin mengenakan jubah kuning yang baru dipesannya pada seorang penjahit di dusun kecil itu.
Sambil menggendong tangan seorang diri Siang Cin jalan2 ke hutan Bwe, kebetulan dilihatnya Kim Bok tengah keluar dari hutan.
Melihat bayangan kuning Siang Cin, sejenak dia melenggong akhirnya dia menghela napas serta menyapa.
"Siang-lote ........"
Bergegas dia menghampiri. Tenang2 Siang Cin menoleh, katanya tertawa.
"Selamat pagi Kim-cuncu, pagi betul kau sudah bangun."
Kim Bok tertawa, Siang Cin ditariknya duduk di bawah pohon katanya.
"Lote, Gu-keh wa memang tempat yang baik bukan?"
"Ya, memang,"
Ucap Siang Cin.
"berkat pertolongan tabib tua itu, luka2 kita sudah dapat disembuhkan seluruhnya."
Kim Bok manggut2, air mukanya mengelam, pandangannya menjadi rawan menatap puncak gunung di kejauhan sana, seperti teringat sesuatu yang menyedihkan, dia menghela napas. Siang Cin bertanya.
"Apakah Cuncu teringat pada orang2 yang hilang di Pi-ciok-san tempo hari?"
Kim Bok tertawa getir, katanya.
"Ya ......aku jadi bingung cara bagaimana harus pulang memberi laporan kepada Ciangbun-jin? Sebulan telah berselang, dusun kecil yang terpencil ini jauh dari keramaian dunia, tak pernah mendengar berita apapun selama ini, entah bagaimana keadaan dan perkembangan di luar sana?"
Berhenti sebentar lalu meneruskan.
"Hidup di sini memang tenang namun hati gelisah seperti dibakar. Ai ......"
"Kim-cuncu, bagaimana jika Ciangbunjin kalian memperoleh berita tentang kegagalan kalian ini, apa pula yang bakal dilakukan?"
Kata Kim Bok dengan nada penuh keyakinan.
"Ciangbunjin pasti akan mengerahkan pasukan untuk menggempur sarang Hek-jiu-tong, malah dengan seluruh kekuatan yang tersedia."
"Apakah tiada yang perlu dikuatirkan?"
Tanya Siang Cin setelah berpikir.
"Tiada,"
Sahut Kim Bok tegas.
"Apakah Bu-siang-pay kalian terdiri dari enam `Bun" ( pintu ) dan satu `Tong" ( seksi )."
"Betul, keenam Bun itu terdiri dari Hwi (terbang), Say (singa), Thi (besi), Wi (lindung), Hiat (darah) dan Bong (rumput). Satu Tong yaitu Lan-cian-tong, di samping itu didirikan pula Cong-tong ( pusat pimpinan), Cong-tong secara langsung mengepalai atau menguasai keenam Bun dan satu Tong ini. Di dalam Cong-tong ada beberapa Toa-hucu, jabatan Toahucu kira2 setingkat dengan ketua Bun dan Tong ..... .."
Berpikir sebentar Siang Cin bertanya.
""Apakah susunan keenam Bun dan satu Tong itu seperti yang barusan Cuncu uraikan"
"Ya, begitulah, Hwi ji-bun berada paling atas, yang terendah adalah Bong-ji bun, tapi itu hanya urusan untuk mempermudah perbedaan belaka, yaag penting adalah para pimpinan tertinggi setiap Bun dan Tong, itu disesuaikan dengan usia mereka, dalam tugas masing2pun menerima bagian yang berbeda satu sama lain, tiada perbedaan tinggi atau rendah ......"
Sampai di sini Kim Bok lalu menambahkan.
"Tentang Lan-cian-tong, secara langsung berada di bawah komando Ciangbunjin, jadi urutannya tidak berada dalam keenam Bun, maklumlah tugas Lan cian tong memang agak khusus dan cukup berat tanggung jawabnya......." 200 Setelah berdiam sejenak Siang Cin berkata pula.
"Kalau demikian, kali ini kalian menderita keruntuhan Thi, Wi dan Hiat, ketiga Bun, tapi ketiga Bun dan satu Tong yang masih ada, kekuatannya pasti tak boleh dipandang enteng juga ..... ...
Sedikit diumpak, senang hati Kim Bok, katanya ter gelak2.
"Betul, Thi, Wi dan Hiat, tiga Bun ini hanya merupakan sekelompok kecil dari seluruh kekuatan Bu-siang-pay yang belum dikerahkan, bukan maksudku hendak mengatakan bahwa kekuatan Busiang-pay mampu menggetar langit dan menggoncangkan bumi, tapi kekuatan besar kami memang bukan omong kosong."
"Bu-siang-pay di padang rumput kaki bukit Kiu-jin-san memang sudah lama tersohor di luar perbatasan, di manapun, entah di gunung, di sungai, di hutan atau di kota, asal gelang emas berbaju putih muncul, kebesaran Bu-siang-pay pasti memperoleh sambutan hangat dari khalayak ramai, hal inipun Cayhe sudah lama mendengarnya."
Senang sekali Kim Bok, ujarnya.
"Oleh karena itulah, meski kami pulang dengan kekalahan besar, tapi keyakinanku masih belum pudar, bila gelang emas dan jubah putih keluar pula padang rumput, dengan orang2ku, kami akan menyerbu kembali ke Pi-ciok-san."
Lama Siang Cin menatap Kim Bok, katanya kemudian dengan pelahan.
"Kim-cuncu ada beberapa usul ingin kusampaikan, entah boleh tidak kuutarakan."
Melengak Kim Bok, katanya sungguh2.
"Silakan bicara, akan kudengarkan dengan penuh perhatian,"
"Pertama,"
Ujar Siang Cin.
"selama terpencil di dusun ini, putus hubungan dengan dunia luar, entah kapan bala bantuan Bu-siang-pay kalian akan tiba? Kedua, bagaimana pula keadaan Hek-jiu-tong selama sebulan lebih ini? Umpamanya, setelah sarang mereka musnah, apakah meraka tidak boyong ke tempat lain? Bukan mustahil merekapun mengundang banyak bala bantuan dan menambah kekuatan mereka? Mungkin pula telah mengatur tipu muslihat keji dan lain sebagainya. Maklumlah, Hek-jiu-tong juga tahu bahwa Bu siang-pay masih punya kekuatan terpendam di padang rumput yang tak boleh di pandang ringan. Ketiga, bilamana benar Bu siang-pay mengerahkan seluruh kekuatannya, hal ini pasti menggemparkan kaum persilatan entah itu di dalam atau di luar perbatasan, sementara ketahanan di padang rumput sendiri tentu kosong dan lemah, hati orang Kangouw sukar diraba, apakah tidak mungkin pusat pertahanan kalian akan diduduki musuh? Semua ini perlu direnungkan."
Bercucuran keringat dingin Kim Bok mendengarkan uraian Siang Cin, katanya tergagap.
"Betul, masuk akal, memang tidak pernah kupikirkan sejauh itu ..... .tapi waktu sudah berselang sekian lama, apakah masih keburu mengirim kabar ke padang rumput?"
Dengan penuh kepercayaan, Siang Cin berkata.
"Hal ini tidak perlu dikuatirkan, dalam hal ketahanan, kukira Ciangbunjin kalian dan para pimpman tertinggi Bu siang-pay yang lain tentu sudah mengaturnya dengan baik. yang penting kini adalah hal pertama dan kedua, untuk kedua hal inilah kita harus lebih banyak memeras pikiran dan tenaga."
"Lalu bagaimana?"
Tanya Kim Bok.
"Untuk ini Cayhe tidak akan berpeluk tangan,"
Ujar Siang Cin. Lekas Kim Bok goyang tangan, katanya.
"Tak boleh, luka lote belum sembuh, tenagamu belum pulih, mana boleh membikin susah kau? Menurut pendapatku, biarlah suruh Lo Ce dan Le Ping saja yang melaksanakan tugas ini."
"Urusan sudah telanjur sejauh ini, Cayhe tidak perlu main sungkan lagi. Kim-cuncu, bicara terus terang, untuk menunaikan tugas ini Cayhe yakin lebih mantap, lebih kuat dan dapat dipercaya dari pada Lo dan Le, biarlah Cayhe sendiri yang pergi,"
"Kalau demikian,"
Ujar Kim Bok.
"biarlah lohu pergi bersamamu ...."
"Urusan ini bukan perang tanding, terlalu banyak orang malah tidak menguntungkan, apalagi Kim-cuncu perlu pegang peranan di sini, siap menghadapi segala perubahan, begitu memperoleh kabar dan menghadapi perkembangan apapun, Cayhe akan 201 segera memberi kabar ...."
Apa boleh buat, akhirnya Kim Bok berkata.
"Kalau demikian baiklah pasrah kepada Lote saja, entah kapan Siang-heng akan berangkat, ke mana pula tujuanmu?"
Siang Cin tertawa, katanya.
"Sekarang juga kuberangkat, langsung menuju ke Piciok-san."
"Tapi ..."
Kata Kim Bok gugup.
"pagi ini kau belum sarapan ..."."
Mendadak bayangan kuning berputar, tahu2 Siang Cin sudah melayang pergi, di tengah udara gelak tawanya berkumandang, katanya dari kejauhan.
"Mendapat tugas penting, mana ada selera makan lagi? Kim cuncu, sampai bertemu pula ...."
Seperti tanpa mengerahkan tenaga, kecepatan Siang Cin sungguh amat mengejutkan, hanya kelihatan bayangan kuning berkelebat, tahu2 sudah lenyap tak kelihatan.
Cepat sekah Pi ciok-san sudah semakin dekat, kini Siang Cin sudah tiba di semak2 welingi, dia sudah berada di semak belukar dimana tempo hari dia menolong kedua orang sinting itu, kini di kejauhan tampak sebidang hutan cemara, maju ke depan lagi adalah tempat di mana tempo hari orang2 Bu siang pay bersembunyi sebelum bergerak ke atas gunung.
Entah mengapa secara aneh hidungnya seperti mengendus bau anyirnya darah, pemandangan seram di puncak gunung seperti terbayang di depan mata.
Sekali lompat Siang Cin berjumpalitan di udara, terus meluncur jauh kedepan, baru saja dia hendak melejit lebih jauh, tiba2 dari tempt yang agak jauh di sana terdengar suara pujian yang lantang-"Gerakan Hun-jiau hoan-bun yang hebat."
"Serr", tubuh Siang Cin yang sudah melambung berputar arah, dilihatnya diluar hutan cemara sana berdiri seorang laki2 berusia 30-an berpakaian seperti pelajar, dengan sikapnya yang santai tengah mengawasi dirinya dengan tersenyum. Laki2 ini mengenakan jubah warna hijau, di tengah dada bersulam lingkaran huruf "Siu" (panjang umur) warna putih, mengenakan sepatu kulit bersol tinggi, ikat kepalanya berwarna hijau pula, tepat di atas jidat pada ikat kepalanya dihiasi sebentuk batu jade warna hijau tua, matanya gemerlap bak bintang kejora, mulutnva merah lebar tapi tipis, sikapnya gagah dan berwibawa. Terpaksa Siang Cin menghentikan gerakan, dengan hambar dia awasi laki2 aneh yang muncul mendadak ini, orang itu mendekat beberapa langkah, sapanya sambil menjura.
"Kin Jin dari Tanciu kebetulan datang kemari, mohon tanya siapakah she dan nama besar saudara ini?"
Terunjuk rasa curiga pada sorot mata Siang Cin, tapi lahirnya tetap sopan dan balas menghormat, katanya.
"Bertemu di tengah jalan, belum kenal lagi, anggaplah tidak melihat saja, untuk apa saudara tanya she dan namaku!"
Pelajar yang mengaku bernama Kin Jin tersenyum, katanya.
"Meski sandara tidak sudi memperkenalkan nama, sedikit banyak Cayhe juga sudah dapat meraba, jika saudara tidak anggap Cayhe kurang ajar rasanya Cayhe bica menebaknya."
Tersenyum tawar Siang Cin berkata.
"Selamanya tak kenal, darimana saudara bisa tahu namaku?"
Kin Jin menggeleng, katanya serius.
"Tidak kelihatan orang sudah tampak bayangannya, seluas jagat raya ini, orang yang mampu mengembangkan Liongsiang-toa-pat-sek sehebat ini, kecuali kau saudara kukira tiada orang keduanya lagi."
Berkedip Siang Cin, katanya.
"Kalau demikian, rupanya saudara ini seorang ahli."
"Di hadapan Siang-heng, mana berani aku mengagulkan diri, bikin orang tertawa saja."
Tiba2 Siang Cin menarik muka, sikapnya dingin, katanya.
"Tempat apakah ini ?"
Tenang2 saja, Kin Jin balas bertanya.
"Kenapa Siang-heng tanya soal ini ?"
"Di pegunungan yang belukar ini, saudara menyendiri di tempat ini, mencegat perjalanan dan menyapaku, kukira bukan hanya ingin berkenalan dengan si Naga Kuning Siang Cin bukan?"
Tetap tenang dan wajar Kin Jin berkata.
"Habis kalau menurut pendapat Siang-heng, untuk tujuan apa aku berada di sini?" 202 Siang Cin mendengus.
"Kukira saudara pasti berkomplot dengan pihak Hek-jiu-tong dan Jik san-tui?"
Sekilas tampak Kin Jin melengak, lalu tertawa, katanya.
"Hek-jiu-tong? Jik-san-tui? Siang-heng, kukira kau kurang cepat memperoleh berita. Memang sebulan yang lalu sarang Hek-jiu-tong berada di Pi-ciok-san tak jauh di depan sana, tapi kini mereka sudah boyong ke lain tempat, bahwasanya Cayhe tiada sangkut paut dengan mereka, kalau tidak kenapa berada di sini seorang diri? Memangnya Cayhe mau menikmati pemandangan belukar yang sepi ini? Siang heng seorang pandai, tentu dapat berpikir."
Siang Cin menegas.
"Anggaplah demikian, lalu untuk apa saudara berada di sini?"
Dengan senyum dikulum Kin Jin tatap Siang Cin, katanya.
"Tiada lain karena ingin menepati sebuah janji pertemuan."
Memandang sekelilingnya Siang Cin tidak bersuara. Kin Jin tertawa, katanya pula sambil malangkah maju selangkah.
"Apakah Siang-heng tahu maksud perjanjian pertemuanku ini?"
Siang-Cin menggeleng, katanya.
""Bertemu di tengah jalan, untuk apa main selidik urusan orang lain? Tapi, menurut hematku, bukan mustahil itu pertemuan untuk menentukan mati hidup."
Kin Jin memperlihatkan rasa kaget dan heran, katanya kagum.
"Pandangan tajam, tebakan yang tepat, cara bagaimana Siang-heng dapat meraba bila Cayhe menunggu pertemuan mati hidup di sini?"
"Sorot mata saudara setajam kilat, sikapmu gagah, bayangan wajahmu menampilkan rasa dendam, tapi sebagai seorang pengelana yang tidak mempunyai tanggungan apa2, tampaknya engkau terlalu tawar menghadapi kehidupan ini, padahal saudara gagah perkasa, seorang laki2 yang patut mendarma baktikan tenaganya bagi umat manusia umumnya, tidaklah pantas bersikap tak acuh terhadap hal2 di dunia fana ini."
Kin Jin diam sebentar, akhirnya dia menghela napas, katanya.
"Orang bilang Naga Kuning teramat lihay, kali ini aku Kim-lui-jiu ( tangan geledek emas ) betul2 meresapinya."
"Kim-lui jiu?"
Seru Siang Cing sambil mengernyitkan kening.
"Tidak berani, itulah julukanku,"
Sahut Kin Jin.
"Dengan siapakah Kin-heng janji bertemu di sini?"
Tanya Siang Cin.
"Siang heng lama berkecimpung di Kangouw, tentunya pernah dengar Cap pi kuncu?"
Bertaut alis Siang Cin, katanya.
"Maksud Kinheng Cap-pi-kuncu Sebun Tio-bu dari Jian ki-beng?"
"Benar,"
Sahut Kin Jin mengangguk.
"dialah orangnya."
Mendekat dua langkah Siang Cin berkata.
"Pernah dua kali Cayhe bertemu dengan Sebun Tio-bu, orangnya kekar, gagah dan angkuh, dialah orang yang paling angkuh kaum persilatan tulen, cara bagaimana Kin heng bermusuhan dengan dia?"
Bimbang sejenak akhirnya Kin Jin bicara terus terang.
"Hanya soal sepele, anak buah Sebun Tio-bu pada suatu malam memasuki Tan cin dan menuntut balas pada sebuah keluarga hartawan kenalanku, mereka mohon bantuan padaku, terpaksa Cayhe ikut campur urusan mereka. Setelah kembali dengan kegagalannya, orang itu lapor kepada pimpinannya, Sebun Tio bu lantas kirim utusan mengancamku supaya keluar dari pertikaian ini, tapi sebagai seorang insan persilatan yang menjunjung tinggi keadilan, apa lagi menyangkut gengsi, jelas aku tidak mau mundur, oleh karena itu hari ini Sebun Tio-bu menjanjikan pertemuan denganku di sini."
Siang Cin mengerut kening, tanyanya.
"Waktu Kin-heng ikut campur urusan itu di Tao-ciu, apakah Kin-heng melukai orang2 Jian-ki-beng?"
"Orang bilang kalau perang mulut tentu keluar kata2 yang tak pantas, adalah janggal kalau berkelahi tiada yang terluka. Waktu itu mereka begitu garang dalam jumlah besar lagi, jelas tak mungkin bisa dilerai?"
"Jadi Kin heng melukai orang2 mereka?" 203
"Waktu itu ada tujuh belas orang mereka yang kulukai.."
Siang Cin tertawa, katanya.
"Sekarang Sebun Tio-bu mengajakmu kemari untuk bertanding dengan cara apa? Satu lawan satu atau berkelahi dengan cara bebas?"
"Tidak, hanya satu lawan satu, sebelum salah satu pihak ada yang ajal pertempuran takkan berhenti."
Siang Cin berkata dengan menghela napas.
"Secara terus terang, di kalangan Bu-lim kini Kin-heng dan Sebun Tio bu sama2 ternama, kalau duel sampai mengorbankan jiwa, akibataya dapatlah dibayangkan. Kalian sama2 berkuasa di wilayah masing2, kenapa pula hanya lantaran soal sepele harus mempertaruhkan segalanya?"
"Cayhe tahu akibat dari pertempuran ini jelas tidak menguntungkan kedua pihak, tapi urusan sudah telanjur sejauh ini.". Siang Cin maju beberapa langkah pula, baru saja dia hendak buka mulut, dari kejauhan dibelakangnya terdengar derap kaki kuda yang berlari kencang mendatangi. Sikap Kin Jin yang semula santai itu sekilas tampak membayangkan ketegangan, alisnyapun sedikit berkerut, katanya dengan nada berat.
"Nah, itu dia Sebun Tio-bu telah datang."
Waktu Siang Cin berpaling, di antara padang belukar sana tampak seekor kuda putih yang gagah tinggi sedang mencongklang pesat ke arah sini, pelananya putih, penunggangnya juga berpakaian serba putih.
Hanya satu kuda dengan seorang penunggang, tanpa pengawal dan tidak membawa teman, dengan kecepatan yang mengejutkan kuda putih itu membedal semakin dekat dan kelihatan lebih nyata.
Penunggangnya memiliki raut wajah putih bersih, alisnya tebal hitam, hidungnya mancung, bibir tipis, di atas pipi kanannya dihiasi codet merah, lebih mengejutkan lagi adalah sepasang bola matanya yang mencorong terang.
Pendatang ini memang penguasa Jian-ki beng, Cap-pi-kun-cu (laki2 sejati berlengan sepuluh) Sebun Tio bu yang tenar di kalangan Kangouw.
Kira2 lima tombak jauhnya kuda putih itu berhenti, bagai burung elang penunggangnya itu melompat tinggi ke atas terus meluncur turun ke tanah.
Tatapan mata yang tajam langsung tertuju ke arah Kin Jin, suaranya terdengar bengis dan kereng.
"Kin Jin, entah masih berapa banyak lagi bantuan yang kau bawa?"
Sambil mengebas lengan baju Kin Jin menjawab.
"Hanya Cayhe seorang Sebuntangkeh, jangan kau salah lihat."
Dengan sikap menghina Sebun Tio-bu mengerling ke arah Siang Cin, tapi pandangannya seketika terbeliak, terasa wajah orang seperti pernah dilihatnya, waktu dia memandang lebih jelas, tiba2 ia maju mendekat serta berteriak kaget.
"Naga Kuning!"
Lekas Siang Cin menjura, katanya tertawa.
"Selamat bertemu, sekian tahun tak berjumpa, kukira Sebun-tangkeh sudah tidak mengenalku lagi ...."
Si baju putih memburu maju dan genggam tangan Siang Cin dengan kencang, serunya kegirangan.
"Ai, karena ada persoalan sehingga tidak kuperhatikan, atas kelalaian ini harap Siang-heng suka memaafkan, sudah lima tahun lebih bukan? Betapa besar rasa rinduku selama ini, bukan saja Siang-heng tidak kelihatan tua, malah kelihatan gagah bersemangat ...."
"Sebun tangkeh terlalu memuji, kehidupan selama seribu enam ratusan hari ini memang sulit, waktu yang sekian lama ini, manusia mana yang tidak bertambah tua?"
Demikian ucap Siang Cin berkelakar. Si baju putih Sebun Tio-bu, bergelak tertawa, katanya.
"Kalau demikian, Siang-heng kan baru berusia dua puluh limaan, bila kau bilang sudah tua, aku yang sudah loco ini kan lebih pantas masuk liang kubur? Hahahaha ...."
Kemudian Siang Cin berkata dengan suara tertahan.
"Kim lui jiu Kin-heng berada di sana, apakah perlu kukenalkan."
Sebun Tio-bu seketika menarik muka, tapi segera dia berubah sikap dan tersenyum lebar, katanya.
"Tak berani merepotkan Siang-heng, dengan Kin-tayhiap sudah lama kukenal." 204
"Melihat gelagatnya, ada perselisihan dengan Kin heng,"
Ujar Siang Cin. Sebun Tio bu mendengus, katanya dongkol.
""Memang kedatanganku ini hendak membuat perhitungan dengan dia."
Terangkat alis Siang Cin, katanya.
"Apakah Sebun-tangkeh tidak pikirkan bahwa dua harimau berkelahi apa pula akibatnya?"
"Meski harus gugur bersama telur busuk ini, betapapun harus melampiaskan rasa dendamku ini."
Sejenak berpikir, Siang Cin berkata pula.
"Kebetulan Cayhe pergoki persoalan ini, sudilah kiranya Tangkeh memberi muka padaku, marilah bicara sebagamana lazimnya para sahabat berbincang dan jangan saling labrak dulu."
Ragu2 sejenak akhirnya Sebun Tio-bu berkata.
"Untuk ini aku sih tiada pendapat apa2, Silakan Siang-heng tanya orang she Kin itu."
Kin Jin yang berdiri beberapa langkah di sana segera menanggapi dengan tertawa.
"Cayhe sudah tentu setuju saja, sekarang atau nanti persoalan antara kau dan aku jelas harus diselesaikan, tak perlu ter-buru2."
"Syukurlah, sebelum saling gebrak bolehlah kita ber-bincang2 soal apa saja asalkan baik, kalau tidak, setelah saling labrak hubungan tentu sudah tegang, mana ada kesempatan untuk beramah tamah?"
Kedua orang yang bertentangan ini dipaksa unjuk tertawa, Siang Cin sengaja menengadah melihat cuaca, katanya kalem.
"Sebun-tangkeh, perselisihanmu dengan Kin-heng barusan sudah kudengar dari penuturan Kin-heng, memang berkecimpung di dunia persilatan, yang diperjuangkan hanya nama dan gengsi, tapi untuk perjuaugan nama dan gengsi toh harus dinilai pula segi untung-ruginya, harus dipertimbangkan betapa besar imbalan yang harus dipertaruhkan hanya untuk melampiaskan rasa dongkol belaka?"
Sebun Tio-bu dan Kin Jin diam saja, Siang Cin meneruskan.
"Umpamanya kalian, sebagai orang yang lebih muda, dalam segala bidang jelas aku tak dapat dibandingkan kalian, sesungguhnya tak berani ku jadi juru pemisah ........"
"Ah, Siang-beng terlalu rendah hati . ..... tanpa merasa Kin Jin dan Sebun Tio-bu menyela. Sebun Tio-bu lantas berkata pula.
"Mana mungkin kami tidak memberi muka kepada Siang-heng? Selamanya aku sangat kagum dan memujamu ...."
Kin Jin juga menyela.
"Jangan sungkan Siang-heng, urusan apapun asal Siang heng yang memberikan petunjuk, pasti kupatuhi?"
Mendadak keduanya menutup mulut dengan telapak tangan, sekilas keduanya saling pandang, tiba2 mereka menyadari di tempat dan saat seperti ini, mereka bicara demikian rasanya jadi amat janggal.
Tapi Siang Cin tidak membuang kesempatan baik ini, segera dia ter bahak2 katanya.
"Banyak terima kasih bahwa kalian suka menghargai diriku. Kalau Cayhe tidak mengeluarkan isi hatiku, kan seperti aku menghendaki kalian bentrok. Pepatah ada bilang, permusuhan .lebih mudah terikat daripada dilerai. Dikatakan pula, tanpa berkelahi orang gagah tidak akan saling berkenalan. Sebagai orang gagah harus saling menghargai. Tentang perselisihan kalian, tidak lebih juga hanya soal gengsi, Sebun tangkeh jengkel karena anggap Kin-heng mencampuri urusan keluarganya, sebaliknya Kin-heng anggap Sebun tangkeh tidak memberi muka kepadanya. Hanya karena soal sepele ini kalian sampai harus duel di sini, kurasa tindakan ini kurang bijaksana. Coba pikir, sejak Sebun-tangkeh mendirikan perserikatan pemilik kuda, betapa jerih payah yang telah dikorbankan sehingga memperoleh kebesaran seperti sekarang? Kalau hanya karena soal ini, umpama Sebun-tangkeh sampai mengalami sesuatu yang tidak diinginkan, bukan saja ketenaran akan hanyut, usaha besar selama inipun akan bangkrut. Demikian pula halnya Kin-heng, Tan-ciu merupakan wilayah tersendiri yang luas, jika hari ini kau runtuh, betapa mengenaskan nasib seluruh rakyat di Tan-ciu, kepada siapa pula mereka harus bersandar? Kepada siapa pula keluarga Kin-heng sendiri akan bernaung? Untuk ini sebelum kalian bertindak, 205 sukalah pikirkan dulu untung ruginya dengan kepala dingin."
Setelah menyampaikan cetusan sanubarinya, pelan2 Siang Cin memejamkan mata, namun diam2 ia melirik reaksi kedua orang yang tenggelam dalam pikiran masing2.
Tanpa terasa kedua orang sama menggosok telapak tangan.
Cukup lama, kemudian Siang Cin berdehem pelahan, katanya dengan suara mantap.
"Dengan nama pribadiku, ingin Cayhe melerai pertikaian kalian supaya hubungan kalian selanjutnya bisa damai dan lebih bersahabat, sudah tentu jika kalian sudi mendengar dan memberi penghargaan kepadaku."
Cukup lama juga perang batin kedua orang itu, akhirnya dengan nada berat Sebun Tio-bu berkata.
"Siang-heng, apa yang kau uraikan memang beralasan, cuma ......ada belasan anak buahku yang dirugikan oleh orang she Kin ini, kalau aku pulang begini saja, bagaimana aku harus memberi keterangan kepada mereka ......."
Siang Cin mengangguk, katsnya.
"Kekuatiranmu memang beralasan, tapi bilamana Sebun-tangkeh memberikan penjelasan seperti apa yang kuuraikan tadi sementara ongkos pengobatan mereka boleh dipikul seluruhnya oleh Kin-heng. Kukira persoalan ini tidak usah ditarik panjang lagi."
Lalu dia berpaling dan bertanya kepada Kin Jin.
"Cayhe mendahului keputusan ini, apakah Kin heng mau menerimanya?"
Kikuk Kin Jin, katanya.
"Sudah tentu Cayhe menurut saja."
Tapi Sebun Tio-bu masih ragu2.
"Namun ....ai ...."
Siang Cin berkata pula dengan sungguh2.
"Mungkin Sebun-tangkeh masih belum mempercayai diriku?"
Melenggong sebentar, akhirnya Sebun Tio-bu rnembanting kaki, katanya.
"Ya, sudahlah, siapa suruh aku bertemu dengan Siang-heng di sini?"
Maka Siang Cin mendesak lebih lanjut.
"Jadi Kin-heng dan Tangkeh sudi mengakhiri pertikaian ini?"
Apa boleh buat, Sebun Tio-bu berkata.
"Kalau tidak demikian, memangnya Siangheng merasa puas?"
Tersenyum lebar Siang Cin dan tanya Kin Jin.
"Bagaimana pendapat Kin-heng?"
"Sudah tentu, aku tiada pendapat lain,"
Sahut Kin Jin.
"Kalau begitu,"
Ucap Siang Cin, dia tarik sebelah tangan Sebun Tio-bu untuk menjabat tangan Kin Jin. katanya.
"Marilah berjabatan tangan sebagai tanda berakhirnya pertikaian ini, dan selanjutnya harap bersahabat se-baik2nya,"
Terpaksa keduanya berjabatan tangan dengan menyengir2, semula keduanya merasa kikuk, tapi tanpa terasa genggaman tangan mereka menjadi erat.
Suatu pertikaian berakhir berkat usaha Siang Cin yang mendamaikan, suasana yang semula tegang kini berubah gembira, dua jagoan yang bermusuhan dalam sekejap berubah menjadi sahabat karib.
Siang Cin tertawa riang, katanya.
"Bahwa kalian sudi memberi muka, Siang Cin teramat senang, bersama ini terimalah ucapan selamat dan terima kasihku."
Kin Jin dan Sebun Tio-bupun tertawa riang, kata Sebun Tio-bu.
"Siang-heng, hari ini kami telah kau permainkan, kau harus dihukum."
"Sudah tentu,"
Ucap Siang Cin.
"Cayhe sendiri juga merasa patut dihukum."
"Siang-heng,"
Kata Sebun Tio-bu.
"sepuluh li ke arah barat dari sini ada sebuah desa, di sana ada sebuah warung arak vang menjual daging2 binatang buruan, kau harus traktir kami berdua, di sana kau akan kami hukum makan-minum?" .
"Baik, silakan Tangkeh tunjukkan tempatnya,"
Sambut Siang Cin dengan senang hati.
Sebun Tio-bu lantas menghampiri kudanya, sementara Kin Jin bersuit nyaring, maka terdengariah ringkik kuda di dalam hutan, tampak seekor kuda berbulu kelabu membedal tiba.
Memangnya kuda jempolan, tiga orang berkuda dua, tanpa sesuatu rintangan kedua ekor kuda terus menerobos semak dan hutan yang lebat, dalam sekejap saja, tak jauh di depan sudah kelihatan melambai secarik kain hijau yang dikerek tinggi di atas galah, di tengah kain yang panjang satu meter itu tertulis sebuah huruf "Ciu" ( arak ).
Sebun Tio-bu terus larikan kudanya memasuki desa dan dibedal menuju ke warung arak itu.
Belum lagi kudanya berhenti Sebun Tio-bu sudah melompat turun, serunya.
"Hai, Ciangkui, sambutlah tamu!"
Seorang laki2 berusia empat puluhan berbadan gemuk berkulit putih dengan tertawa lebar bergegas lari keluar menyambut, sementara itu Kin Jin dan Siang Cinpun menyusul tiba.
Meja kursi dalam warung terbuat dari bambu kuning, sebuah lukisan bunga teratai menghias dinding, dipojok sana terdapat sebuah guci arak besar, hanya itulah yang ada di dalam ruangan sempit ini, namun suasana terasa nyaman.
Mereka memi!ih sebuah meja, Sebun Tio-bu pesan lima macam daging binatang buruan, lima kati arak dan beberapa macam nyamikan, si Ciangkui ( pengurus ) mengiakan terus lari masuk menyiapkan pesanan.
Setelah menyeka keringat di mukanya Sebun Tio-bu berkata dengan suara lantang.
"Jangan kau kira Tauke warung ini hanya mencari nafkah di dusun kecil ini, dahulu dia pernah lulus sebagai Siucay, bukan saja pandai tulis, juga mahir melukis."
Lalu dengan tertawa dia menoleh kepada Siang Cin.
"Siang-heng, sejak berpisah di Lokyang dulu, sudah lima tahun berselang, urusan apa yang menarik perhatianmu sampai kau berada di tempat ini?"
Siang Cin menjawab.
"Membantu teman dan menyelesaikan urusan"
Tertegun sejenak, lalu Sebun Tio-bu bertanya pula.
"Apakah ada hubungan dengan Hek-jiu-tong?"
Siang Cin bertanya heran.
"Darimana Tangkeh tahu?"
Dengan tertawa Sebun Tio-bu berkata.
"Berita yang tersiar di Kangouw sangat cepat, waktu yang lalu Bu-siang pay menyerbu sarang Hek jiu tong di Pi ciok-san, berita diluar mengatakan mereka berhasil mengalahkan Bu-siang-pay, tapi keadaan mereka sendiri juga mengenaskan, peristiwa ini merupakan topik pembicaraan setiap insan persilatan, kebetulan Siang heng muncul di sini, memangnya tiada sangkut pautnya dengan Hek-jiu-tong?"
Siang Cin mengangguk membenarkan. Kin Jin lantas menambahkan .
"Malah, kurasakan bahwa Siang heng bertentangan dengan pihak Hek-jiu-tong?"
Sesaat Siang Cin diam saja, katanya kemudian.
"Ya, betul."
Terbeliak Sebun Tio-bu, katanya pelahan.
"Jadi kedatangan Siang-heng ini adalah untuk kepentingan Bu siang pay?"
"Betul,"
Siang Cin terus terang.
"Tiga "bun"
Dari Bu-siang-pay hancur seluruhnya dalam pertempuran di Pi ciok-san, hanya lima dari tiga belas jago2nya yang lihay masih hidup, kecuali sudah terbukti meninggal, sisanya yang lain tidak diketahui nasibnya, tiga ratusan anak buahnyapun tiada satupun yang lolos, maka tugasku kali ini adalah mencari orang yang hilang itu."
"Sebulan yang lalu Hek-jiu-tong sudah mem-boyong sisa2 miliknya ke tempat lain, keadaan Pi-ciok san tinggal puing belaka, beberapa kuburan memang tersebar di beberapa tempat, tiada makhluk hidup lagi di Pi-ciok-san"
Demikian Kin Jin menerangkan. Mengawasi Kin Jin, Siang Cin berkata dengan cemas.
"Hal ini memang ingin kuminta penjelasan kepada Kin-heng apakah kautahu ke mana Hek-jiu tong pindah sarangnya? Daerah subur di kedua pinggiran sungai besar adalah tanah yang mereka buka sebagai sumber penghasilan terbesar, menurut hemat Cayhe, tak mungkin mereka rela meninggalkan tempat itu begitu saja, apalagi pindah ke tempat lain yang jauh?"
"Memang beralasan, baru kemarin di tengah jalan aku bertemu seorang kawan dan mendapat kabar dari dia, katanya Hek-jiu-tong pindah ke Toa ho tin, kira2 tiga ratus li dari sini, Pau hou-ceng di Toa ho tin adalah sarang lama Jik-san-tui yang dipimpin Kiau Hong."
Mendadak Siang Cin menggebrak meja dan berkata.
"Tidak salah lagi, waktu Busiang-pay menyerbu Pi ciok-san, kedapatan orang2 Jik-san-tui ikut membantu Hekjiu-tong."
Sebun Tio-bu berkata.
"Kiau Hiong memang kenalan lama pihak Hek-jiu tong, bahwa mereka berserikat tidak perlu dibuat heran, Hek jan-kong (aki berewok) yang 207 berkuasa di Toa ho tin adalah bapak angkat Kiau Hong, umum juga tahu mereka bersekongkol melakukan berbagai kejahatan, begitu sisa2 Hek-jiu tong pindah kesana seketika Toa ho-tin menjadi ramai, untung kota itu tidak sampai terbalik."
Berpikir sejenak, Siang Cin bertanya.
"Hek-jan-kong? Siapa dia?"
"Masakah Siang-heng tidak tahu iblis kemaruk paras elok ini?"
Seru Sebun Tio-bu heran. Siang Cin menggeleng dan menjawab.
"Belum pernah kudengar namanya."
Ter-kekeh Sebun Tio bu menjelaskan dengan suara tertahan.
"Di depan Pau-houceng ada sebuah bangunan gedung yang megah, tapi gedung serba antik ini bukan milik pembesar, tapi milik Hek-Jan-kong itulah, tua bangka ini sudah berusia 70-an, bini dan gundiknya tidak terhitung banyaknya, hidupnya mewah dan ber-foya2, berbuat mesum di hadapan umum tanpa tedeng aling2. Tapi dasar tua bangka itu memang sudah tinggi ilmunya, kaki tangannyapun banyak dan tersebar di mana2, maka Toa ho-tin se-olah2 menjadi daerah kekuasaannya ...."
Kin Jin tertawa, katanya.
"Maka tempat kediaman Hek-jan-kong itu lantas dinamakan Ji-ih-hu."
"Em, mungkin tua bangka itu selalu terkabul segala keinginannya, setua ini masih doyan pelesir, pantas dia namakan gedungnya itu Ji ih-hu (gedung suka ria),"
Kata Siang Cin. Dengan tertawa Sebun Tio-bu berkata.
"Haha, orang kira Naga Kuning berwajah dingin, sifatnya nyentrik dan kaku, siapa tahu kalau bicara juga begini binal." -. Sampai di sini tiba2 sikapnya serius.
"Tapi, Hek jan kong memang seorang lawan teramat tangguh, tingkat kedudukannya amat tinggi di Bu-lim, sedikitnya setingkat lebih tinggi daripada kita, dia mahir menggunakan ilmu Tiang kwa-ciang-kian-kiu sek dan Jin-ho-khi, sampai kini ilmu pukulan dan Lwekangnya ini belum ada yang mampu menandinginya ...."
""Itu tak menjadi soal"
Ujar Siang Cin.
"paling mempertaruhkan jiwa dan gugur bersama, yang dikuatirkan pertaruhan sudah dikorbankan, tapi urusan masih belum bisa beres, orang tua selihay ini mendukung kejahatan, betapapun memang agak menyulitkan ..... ."
Sementara itu hidangan telah diberangsur keluar, ada daging kelinci panggang, daging menjangan rebus dan sebagainya. Di tengah makan minum itulah Siang Cin bertanya.
"Tangkeh, anak buahmu banyak dan tersebar luas, tahukah kau pihak Bu-siang-pay akhir2 ini ada gerakan apa?"
Sebun Tio-bu menjawab sambil geleng kepala.
"Maksud Siang heng bala bantuan Bu-siang-pay dari padang rumput? Agaknya belum terlihat ada tanda gerakan apa2, selama ini tidak kudengar ada orang membicarakannya, entah Kin-heng?"
Kin Jin juga menggeleng, ujarnya.
"Tidak, umpnama berita cepat disampaikan, perjalanan pulang pergi ke padang rumput sedikitnya makan waktu dua puluh hari, jadi kira2 setengah bulan lagi baru bisa terlihat gerakan mereka."
"Siang-heng,"
Ucap Sebun Tio-bu setelah menenggak secawan arak pula.
"apakah, orang2 Bu-siang-pay pasti akan datang menuntut balas?"
Ya, pasti,"
Sahut Sang Cin tegas.
"Jadi bakal ada pertempuran besar lagi,"
Ucap Sebun Tio-bu sambil menggosok telapak tangan.
"sifat orang2 Hek-jiu-tong memang kejam, kejahatan sudah menjadi kehidupan mereka se-hari2, bahwa mereka berhadapan dengan Bu-siang-pay pertanda mereka bernasib sial, tapi betapapun fatal akibatnya, jelas pihak Hek-jiutong takkan undur setapak pun, apalagi mereka dibantu Jik-san-tui, demikian pula Hek-jan-kong takkan berpeluk tangan, jadi Toa-ho-tin bakal menjadi arena pertempuran yang menggemparkan ......." --------------------------------Apakah bala bantuan Bu-siang pay segera akan tiba? Apapula yang dilakukan kawanan Hek-jiu tong di tempat hijrahnya yang baru? Tokoh macam apakah Hek-jan-kong? 208 -Bacalah
Jilid ke-12 ---------------------------------
Jilid 12
"Memang begitulah kehidupan Kangouw,"
Ujar Siang Cin sambil meletakkan sumpitnya.
"kalau manusia sama berhati bajik baru dunia ini akan damai."
Setelah menghela napas, Sebun Tin bu berkata dengan tertawa.
"Siang-heng, apakah engkau juga terjun dalam arena perternpurao di Pi-ciok-san?"
"Ya, malah tak ringan lukaku,"
Kata Siang Cin. Kin Jin unjuk rasa gusar, tanyanya.
"Perbuatan siapa antara orang2 Hek-jiu-tong itu?"
Dengan tertawa Siang Cin berkata.
"Tujuh di antara sepuluh gembong mereka, ditambah seorang King Ji seng."
"Setan tua bangka keparat ini,"
Damperat Sebun Tro bu.
"Tapi ..... konon King Ji-seng sudah mampus?"
Tanya Kin Jin. Setelah meneguk arak, Siang Cin membenarkan.
"Kau yang mengganyang dia, Siang-heng?"
Tanya Sebun Tio bu.
"Ya, tujuh gembong mereka yang melabrakku juga enam mati dan satu terluka."
Keruan kedua jago yang namanya sudah menggetar Bu-lim ini seketika terbeliak kaget dan kagum, sekian lamanya baru Sebun Tio-bu berseru dengan nada tak percaya.
"Maksud Siang-heng, seorang diri engkau menggasak mereka bertujuh""
"Ya,kira2 demikianlah."
Ujar Siang Cin tertawa. Kin Jin jadi tegang, tanyanya.
"Apakah si Serigala tertawa Ji Bu, pentolan Hiat-hun tong di Hek-jiu-tong itu juga mampus?"
Siang Cin mengangguk, katanya.
"Orang ini memang sukar dilayani, beruntung aku menang."
Tiba2 Sebun Tio-bu berseru.
"Bagus kau Siang Cin, orang bilang kepandaian Naga Kuning setinggi langit, sifatnya sebuas serigala, sepak terjangnya tegas, semula aku ragu2, hari ini baru betul2 aku percaya "
Kedua orang berdiam sejenak, kemudian Kin Jin berkata pula "Jadi, bila Bu-siangpay melakukan serbuan besar2an kepada Hek-jiu tong lagi, Siang-heng akan membantu pihak Bu siang pay?"
"Sudah tentu, tiada alasan untuk ingkar janji"
Sahut Siang Cin tegas. Mata Kin Jin memancarkan cahaya terang, katanya.
"Bila Siang-heng sudi menerima, Cayhe bersedia membantu."
Agaknya di luar dugaan, sesaat kemudian baru Siang Cin berkata pelahan.
"Kinheng, maksud baikmu sungguh mengetuk sanubariku, banyak terima kasih, cuma soal ini bukan urusan sepele, akibatnya cukup besar pula, kalau sampai Kin-heng terlibat dalam pusaran rumit ini, sungguh hatiku tak bisa tenteram."
Kin Jin tertawa, katanya.
"Kalau sudah demikian tekadku, kenapa harus takut terlibat ke dalam pertikaian ini, jika Siang-heng tidak anggap rendah kepandaianku, biarlah aku selalu berdampingan dengan Siang-heng,"
Bimbang sesaat, akhirnya Siang Cin berkata.
"Tapi, kenapa Kin-heng mau menempuh bahaya untuk membantu Cayhe? Meski sekali berkenalan lantas akrab persahabatan kita, tapi untuk hal ini rasanya Kin-heng terlalu besar mempertaruhkan modalmu ... ...."
Kata Kin Jin dengan mantap.
"Persahabatan tidak terletak pada nilai tingginya kebendaan, akan tetapi terletak pada hati nurani yang murni, betapa besar dunia ini, sulit untuk memperoleh seorang sahabat yang sejati, sahabat yang dapat dipercaya, di samping itu ikatan persahabatan itu sendiri juga bergantung pada jodoh, meski baru saja kita berkenalan, tapi naluriku berbicara dan kuyakin Siangheng betul2 sahabat sejati yang menitik beratkan kasih sayang, kesetiaan, dan kepercayaan."
"Kin-heng, kau terlalu memujiku,"
Ucap Siang Cin.
"Hai, kalian asal omong sendiri saja, memangnya aku.tidak dianggap lagi,"
Tiba2 209 Sebun Tio-bu, menyeletuk.
"Kalau Kin-heng dapat membantu Siang-heng, memangnya orang Sebun hanya berpeluk tangan dan kurang sembabat untuk ikut membantu."
"Baiklah kita putuskan demikian, marilah habiskan tiga cawan sebagai tanda perserikatan kita bertiga,"
Kata Kin Jin. Sekali tenggak Sebun Tio-bu habiskan dulu isi cawannya, teriaknya.
"Memangnya kenapa kau Siang heng, masih ragu2, apakah kami berdua kurang setimpal menjadi kawan seperjuanganmu?"
"Mana berani, terus terang aku sangat senang dan rada2 terkejut malah,"
Kata Siang Cin, lalu iapun menenggak araknya.
Sang surya telah doyong ke barat dengan cahayanya yang kuning merah, hari sudah menjelang magrib.
dengan dua ekor kuda Siang Cin bertiga menuju ke kota Toa-ho tin.
Setelah membelok ke sebuah pengkolan jalan, tak jauh di depan tertampak bangunan rumah penduduk yang ber deret2, sementara jalan raya yang mereka lalui terletak di tengah deretan rumah2 itu.
Lekas Sebun Tio-bu mengendurkan lari kudanya, katanya.
"Dusun ini merupakan pos terdepan Toa-ho-tin, kira2 tiga puluh li di luar Toa ho-tin akau kelihatan tembok kotanya, maka lebih baik kita menyelundup ke sana setelah hari gelap."
"Baik, marilah istirahat saja di dusun ini sambil memupuk tenaga,"
Ujar Siang Cin.
"Menurut pendapatku,"
Deniikian kata Kin Jin sambil memandang ke depan.
"lebih baik jangan masuk ke dusun itu, bukan mustahil di situ ada mata2 Toa-ho-tin, siapa tahu kalau jejak kita dilaporkan ke sarang musuh."
"Alasan Kin heng memang benar, biarlah kita istirahat di balik hutan di belakang dusun itu, setelah malam gelap, sekadarnya kita habiskan rangsum yang tersedia ini, baru nanti kita bertindak lebih jauh, bagaimana?"
Kata Siang Cin.
Kuda mereka lantas membelok menuju ke hutan sebelah kiri, dengan cepat mereka sudah sampai di tempat tujuan, Sebun Tio-bu melompat turun, matanya yang tajam memeriksa keadaan sekitarnya, sementara Siang Cin dan Kin Jin sudah melompat turun, katanya dengan ber-malas2.
"Tangkeh, tiada sesuatu yang menarik bukan?"
Sebun Tio bu menggeleng sambil menambat kudanya, katanya.
"Tidak ada, sekarang marilah kita isi perut lebih dulu?"
Dia mengeluarkan dua bungkusan kertas minyak, isinya ternyata empat potong kue kering dan dua potong ayam panggang, belasan telur asin, sepotong paha babi panggang, lalu dari kantong pelananya kembali dia keluarkan sebuah guci arak kecil, katanya tertawa.
"Bagaimana? Arak dan daging sudah lengkap, mau makan tidak?"
Siang Cin mengedip mata, katanya.
"Hidup berkelana seperti ini sungguh nikmat bila punya kawan seteliti Tangkeh, paling sedikit dalam waktu singkat pasti tidak menjadi kurus karena kurang makan."
Sebun Tio-bu ter-bahak2 mendengar banyolan Siang Cin, mereka lantas duduk dan makan minum dengan lahapnya, cuaca sudah remang2, hawa mulai dingin, angin barat menderu kencang.
Habis makan, mereka istirahat dengan tenang untuk menghabiskan waktu ketiganya sama tenggelam dalam pikiran masing2.
Sementara itu, suasana yang memang sepi menjadi gelap, malam telah tiba.
Bertepuk tangan sekali, Sebun Tio-bu mendahului berbangkit dan berseru..
"Siangheng, hayolah berangkat."
"Tidak perlu naik kuda, bagaimana pendapat kalian?"
Usul Siang Cin.
"Ya, supaya tidak rnengejutkan mereka,"
Ucap King Jin.
Mereka tepuk2 kuda masing2 dan membelai bulu surinya, kedua orang ini sama sayang terhadap kuda tunggangan masing2, begitu besar cintanya terhadap binatang itu seperti terhadap anaknya sendiri.
Segera mereka mengembangkan Ginkang masing2, jarak tiga puluh li tanpa terasa sudah dicapai dalam waktu sekejap saja, sinar pelita yang kelap kelip mulai tampak di ke jauhan sana, itulah Toa-ho-tin.
210 Kurang lebih dua ribu rumah penduduk Toa-ho tin, semuanya masih membuka pintu, lampu masih menyala, orang mondar-mandir, suasana kota mash ramai, toko2 juga masih buka, tanpa banyak perhatian orang, diam2 mereka menyelinap ke sebuah gang kecil yang sepi dan gelap, di sini mereka berunding membuat rencana kerja.
Sehabis pembicaraan mereka, dengan berlenggang, mereka menuju ke jalan raya yang masih ramai orang berlalu lalang, di sana sini, orang bicara seenak sendiri, semuanya menggunakan bahasa rahasia kaum persilatan, rombongan orang2 Jik san tui yang berpakaian merah tampak mondar-mandir, tidak sedikit pula orang2 Hek-jiu-tong yang mengenakan seragam khas mereka yang hitam itu.
Sembari bicara dan berkelakar Sang Cin bertiga terus menerobos diantara orang banyak.
Tiba2 Kin Jin menarik lengan baju Sebun Tio-bu semburi berbisik.
"Awas!"
Mata Siang Cin cukup celi, sekilas dilihatnya di bawah emper rumah sana, di sebuah warung makan kecil berdiri dua laki2 berpakaian merah dengan mata jelalatan sedang mengawasi mereka dengan penuh perhatian, wajah mereka menampilkan rasa heran dan curiga.
Sebun Tio-bu menoleh ke sana, sambil mendengus ia berludah, sikapnya jumawa, dia sengaja mencemooh dan memaki orang Jik san tui.
Tiba2 bayangan orang berkelebat, kedua orang itu tahu2 sudah mengadang di depan mereka, seorang diantaranya menyapa dengan suara kasar.
"Sahabat, kau datang dari garis mana? Di sini tempat apa, memangnya kau boleh bertingkah dan menugoceh seenak perutmu sendiri."
Sebun Tio-bu tahu kedua laki2 inilah yang memperhatikan mereka di emper warung tadi "Crot", setelah berludah Sebun Tio-bu bertolak pinggang, dengan sikap yang angkuh dia meraung.
"Eeh, kalian mau apa? Kalian antek2 kecil ini berani garuk kepala tuan besarmu. Memangnya tuan besarmu yang telanjang kaki ini takut kalian yang pakai sepatu? Hayolah maju, biar kuhajar adat kalian yang tidak tahu diri ini. Nanti akan kucari pentolanmu untuk menuntut keadilan."
Kin Jin juga menyingsing lengan baju, teriaknya.
"Ya, kebetulan, memangnya kita ingin tanya pentolan mereka, kenapa barang antaran milik kita sudah sekian lama belum jupa dikirimkan, sekarang kalian malah mencari gara2 lagi."
Sudah tentu kedua laki2 itu jadi melenggong, muka mereka pucat seketika, untung yang berbadan lebih jangkung memiliki otak lebih encer, melihat gelagat jelek, tersipu2 dia tertawa sambil munduk2, katanya.
"Sabar tuan2, tolong tanya kalian ini sahabat terhormat dari gunung mana? Temanku ini barusan terlalu banyak minum, melihat kalian ngelantur seperti di rumah sendiri pula, karena emosi lantas tanya sedikit keterangan, harap sesama orang sendiri jangan sampai salah paham ...."
"Salah paham?"
Teriak Sebun Tio-bu.
"Salah paham kentut. Tuan besarmu ini dengan Pek-sam-thauling kalian umpama bukan teman karib juga boleh dikatakan tamu undangan, setelah dia menerimn panjar delapan ratus tahil perak sebagai ongkos antaran, sejauh ini belum juga berangkat menyampaikan barang milikku itu, memangnya siapa yang tidak dongkol. Sekarang kalian kawanan anjing buduk ini berani mengusikku lagi, biar Tuan besarmu pergi ke Pau-hou-ceng menuntut keadilan pada majikanmu, coba saja apa yang akan dikatakan Pek-losam."
Dari samping Kin Jin pura2 membujuk, katanya.
"Sudahlah, anggaplah kita sendiri yang sial, lebih baik kembali saja ke Ji-ih-hu dan laporkan hal ini kepada Jan-kong Loyacu, biar beliau memberi keputusan yang adil, beberapa hari di Toa-ho-tin, sungguh kenyang aku dibuat jengkel ..."
Pandai juga kedua orang ini bermain sandiwara, padahal tak pernah latihan, sudah tentu Siang Cin sudah menyingkir ke samping dan hampir saja tertawa ter-pingkal2, tapi kedua orang Jik-san-tui ini menjadi gemetar.
dan pucat ketakutan, yang bertubuh pendek kurus lekas munduk2, katanya tergagap2.
"Para ......O, tuan2 .....harap maaf akan keteledoran kami tadi ....sesama orang sendiri, tidak ....tidak perlu bertengkar, ada persoalan apa belehlah dibicarakan baik2 ...."
Mendelik mata Sebun Tio-bu, damperatnya.
"Orang sendiri apa? Kalian kaum keroco 211 juga berani bicara tentang "orang sendiri?"
Berkeringat dingin orang itu dicaci sedemikian rupa, dia tidak berani bersuara lagi setelah menelan ludah dengan cengar-cengir dia meratap.
"Cian ....Cianpwe ....anggaplah memang mataku ini buta dan tak tahu siapa sebetulnya engkau orang tua, mohon ampun seribu ampun, mohon engkau jangan memaki lagi ...."
Tapi Sebun Tio-bu bertambah murka, teriaknya.
"Apa? Memangnya kau tidak terima kumaki? Kurangajar, Lo Kin, biar kutunggu di sini, lekas kau pulang ke Ji ih hu, panggilkan Hoan-wi-jit-so Nyo Kam, Nyo-lote kemari, katakan bahwa anak celurut Jik-san-tui ini berani main gila, kalau Nyo-lote tidak ada, boleh kau seret Pa-te-ki Toh Cong kemari kalau tidak ketemu, pergilah ke Pau hou-ceng. carilah Pek Wi bing, bila perlu temui To Yau atau Kiau Hiong juga boleh ...."
Semakin ciut nyali kedua orang Jik-san-tui itu, nama2 yang disebut terakhir ini bukan saja tokoh-tokoh pihak sendiri, malah satu dan lain lebih tinggi kedudukannya, tarnpaknya orang memang tidak main gertak, kalau tidak masa kenal begitu banyak pentolan2 dari pihak sendiri?
Jika sampai hal ini dilaporkankan bisa celaka?
Maka cepat2 mereka memohon.
"Lo ....Locianpwe, kalian adalah orang2 besar yang bijaksana, maafkan kesalahan kami yang tidak sengaja, betapapun selanjutnya kami tidak berani kurangajar lagi."
Sebun Tio-bu mendengus keras2, sambil menengadah ia tidak menggubris mereka.
Sementara orang yang berlalu lalang ada yang berhenti dan mengerumuni mereka, di antaranya sudah tentu ada orang Hek jiu-tong, ada Pula dari Jik-san-tui, tahu karena ada yang tahu duduk persoalannya, mereka segan turut campur, maka sekian lamanya tiada orang yang berani melerai.
Kembali kedua orang itu memohon.
"Baiklah tuan2, memang kami bersalah, mohon sudilah engkau ....."
Sebun Tio-bu mendelik, jengeknya.
"Hm, baru sekarang kau bicara seperti manusia. ketahuilah Toa-ho-tin terhitung tempat tinggalku juga, setiap kedatanganku selalu mendapat pelayanan istimewa dari Jik-san-tui? Toh-loko dan Nyo-lote pasti menjamu padaku. Baru setengah tahun tidak kemari sudah ketemu keroco yang berani mengusik kesenanganku?"
Kin Jin pura2 membujuknya.
"Saudaraku, begini saja, biar aku yang traktir minum beberapa cangkir arak, suruhlah kedua saudara ini melayani beberapa cangkir padamu ....""
"Memangnya urusan segampang ini?"
Scbun Tio bu menggeleng.
"aku toh tidak marah padamu, kenapa kau yang harus keluar duit? Tidak bisa. tidak boleh ....."
Kedua laki2 baju merah menjadi gelisah pula, katanya.
"Apa yang diucapkan Cianpwe ini memang betul, sudilah Cianpwe suka memberi muka, biarlah anggap kami yang menjamu kau orang tua, bilamana Cianpwe sudi menerima, legalah hati kami ...."
Mendengus dua kali, dengan lagak ogah2an Sebun Tio-bu berkata.
"Tidak bisa mana boleh begitu? Itu artinya aku meucari keuntungan dari kalian ...."
"Mana boleh dikatakan begitu, anggaplah sebagai penghormatan kami, untuk ini mohon Cianpwe betul2 sudi memberi muka, mumpung ada kesempatan ini, kalau tidak kapan kami dapat menyuguh secangkir arak kepada engkau orang tua ......."
Sengaja berpikir sejenak dan berlagak ragu2, akhirnya Kin Jin pura2 membujuk pula.
"Hayolah, terima saja ajakan baik ini, jangan nanti orang bilang kau ini berjiwa sempit ........"
Seperti apa boleh buat, akhirnya Sebun Tio-bu berkata.
"Baiklah, kuterima perrnohonan kalian. Kin-lote, memang kau yang berhati lemah, masa kau malah ikut membujukku segala."
Kedua laki2 baju merah berjingkrak girang, sambil munduk2 mereka mempersilakan Sebun Tio-bu dan Kin Jin jalan di muka, mereka berempat terus menuju ke arah timur, di sana pasar malam sedang ramai.
212 Sekilas Kin Jin melirik ke sana, dilihatnya Siang Cin tetap mengintil dari kejauhan.
Setelah ajak bicara sekadarnya kepada kedua orang baju merah, akhirnya Kin Jin coba memancing.
"Katanya saudara2 dari Hek-jiu-tong juga hijrah keperkampungan sini, bukankah kalian harus hidup berhimpitan."
Dengan munduk2 laki2 baju merah yang tinggi menjawab.
"Berhimpitan sih tidak, perurnahan di sebelah timur dan selatan seluruhnya diperuntukkan mereka, sementara Jiong gi tong juga diserahkan ke pada orang2 Hiat-hun-tong, sedang anak buah Ji-thauling dan Sam-thauling dipindah keluar perkampungan, di sana baru beberapa bulan terakhir ini didirikan tiga deretan perumahan yang luas, jauhnya hanya dua li, pemandangan amat indah di sana ..."
Semua ini diingat baik2 oleh Kin Jin, lalu dia bertanya lebih jauh.
"Kabarnya kali ini Hek jiu tong berhasil mengalahkan Bu-siang-pay, sungguh hebat mereka, tentunya sepanjang hari mereka terus merayakan kemenangan gilang gemilang ini?"
Orang itu celingukan sebentar, lalu berkata dengan merendahkan suara, seperti soal yang hendak dibicarakannya amat rahasia.
"Kebetulan Cianpwe yang tanya, kalau orang lain terus terang kami tidak berani memberi keterangan. Memang kawan2 Hek-jiu-tong berhasil melebur penyatron dari Bu-siang-pay, tapi musuh yang menyerbu datang hanya sekelompok kecil saja, masih besar bala bantuan mereka dari padang rumput yang belum tiba, jika musuh betul2 menyerbu secara besar2an, entah bagaimana pula situasi mendatang nanti. Padahal pihak Hek-jiu-tong sendiri kali ini juga serba runyam, anak buah mereka yang mati dan terluka ada tujuh ratusan orang, malah enam dari sepuluh gembong pimpinan merekapun gugur di medan laga, demikian pula saudara kita yang diperbantukan ke sana juga rontok ratusan banyaknya . ......"
"O, jadi keadaan mereka sekarang cukup runyam juga?"
Tanya Kin Jin.
"Betul, orang2 Hek jiu-tong yang hijrah kemari ada seribu lebih, empat ratusan di antaranya terluka parah atau ringan, keadaan mereka memang cukup mengenaskan, padahal mereka harus ber siap2 menghadapi serbuan pasukan besar Bu siang-pay, sehingga para pimpinannya harus mempersiapkan ini dan itu, maka kota inipun menjadi sibuk pula, yang celaka adalah penduduk yang tidak tahu apa2 harus ikut tegang dan hidup tertekan, kemarin ada berita bahwa bala bantuan besar dari padang rumput telah melewati Liok-sun ho, naga2nya pertempuran besar bakal berlangsung tak lama lagi . ...."
Kin Jin pura2 bergumam.
"Liok-sun-ho, Liok-sun ho ......"
Dengan keheranan orang itu berkata, kepada Kin Jin.
"Liok sun ho terletak di arah timur sana, kira2 tiga ratusan li jaraknya, apakah Kin-cianpwe tidak pernah lewat sana? Sungai itu cukup besar dan luas."
"Aku tahu, kalau demikian, Hek-jiu tong dan Pek losam kalian kan harus mencari kawan untuk membantu, memangnya kenapa masih berdiam di sini saja?"
"Sejak beberapa waktu lamanya orang2 sudah disebar untuk mengundang bantuan, cuma belum diketahui siapa dan berapa banyak jumlah bantuan yang diundang."
Dengan tak acuh Kin Jin memberi komentar.
"Soal penting dan rahasia begini kalian kaum keroco mana bisa tahu? Bila sampai membocorkan rahasia kan bisa berabe ......"
Mungkin karena diremehkan, maka laki2 ini menjadi uring2an, katanya dengan nada misterius.
"Ah, belum tentu, meski kami orang2 rendah, tapi punya jalannya sendiri untuk mencari berita, tak seluruhnya kami tahu, tapi sedikit banyak tentu tahu juga."
"Tidak mungkin, aku tidak percaya,"
Ucap Kin Jin menggeleng. Orang itu merasa penasaran, katanya.
"Bukan aku sengaja mau menyombongkan diri, aku berani bertaruh, apa yang Cianpwe ketahui belum tentu lebih banyak daripada apa yang kuketahui. Mungkin Cianpwe hanya tahu Ji ih-hu yang akan memberi bantuan, padahal orang2 Ceng -siong-san ceng juga akan datang, mungkin pula Cianpwe belum tahu bahwa Jit-ho-hwe dan Toa-to-kau juga setuju untuk berserikat, malahan Sio lian-su-coat yang bersemayam dl"
Pek hoa-kok juga diundang keluar.
Hal yang lebih penting adalah Tiang-hong pay juga akan mengutus 213 orangnya kemari, sungguh suatu usaha besar yang tak kepalang tanggung, tiba waktunya pasti amat ramai ......"
Rahasia yang tak sengaja terkorek ini sungguh membuat jantung Kin "Jin berdetak keras, maklumlah aliran dari goIongan yang disebut ini semua diketahui jelas olehnya.
Terutama Tiang hong pay, perkumpulan yang menempati Ki hong nia di Ong-ju-san ini merupakan Pay yang paling aneh dan misterius, pimpinan mereka seluruhnya ada tujuh orang, julukan mereka semuanya menggunakan, huruf "Ang" (merah).
Ketujuh makhluk aneh yang biasanya jarang berhubungan dengan dunia ramai ini melarang siapapun berkeluyuran di sekitar Ki-hong-nia, apalagi ketujuh orang ini masing2 memiliki watak aneh yang berbeda pula, konon Kungfu mereka sangat tinggi, sungguh tak nyana bahwa Hek-jiu-tong dan Jik-san-tui bisa mengundang mereka keluar dari sarangnya, sungguh sukar dibayangkan dengan cara bagaimana mereka bisa dipancing keluar?
Satu hal lagi yang membuat Kin Jin ngeri adalah ketujuh makhluk aneh dari Tiang hong-pay ini punya hubungan intim dengan Kun lun-pay, karena Ciangbunjin Tiang hong-pay adalah adik kandung Ciangbunjin Kun-lun pay, jika bermusuhan dengan mereka, tentu pihak Kun-lun-pay takkan berpeluk tangan.
Melihat Kin Jin hanya mengerut alis tanpa bicara, laki2 baju merah menjadi bingung, tanyanya.
"Cianpwe, apakah Cianpwe kurang enak badan?"
Setelah menghela napas, Kin Jin berkata.
"Ya, rasanya jadi kurang enak badanku, apalagi setelah mendengar ceritamu ini, hatiku ikut kebat-kebit. Tapi tak apalah. Ah, bukankah Sebun-toako sudah masuk ke sana? Itulah Jay-sing-tiu-lau (rumah makan Petik Bintang)?"
Dengan hormat yang berlebihan orang itu menyilakan Kin Jin masuk dan naik ke loteng, Sebun Tio-bu dan laki2 baju merah yang lain sudah menempati sebuah meja.
Cepat sekali masakan telah di hidangkan, merekapun makan minum sekenyangnya, terutama Kin Jin dan Sebun Tio bu, mereka tahu malam ini tugas mereka cukup berat, perut harus di isi sekenyangnya supaya tidak meruntuhkan semangat tempur mereka.
Setelah turun dari Jay-cing-siu-lau, sepanjang jalan mereka masih ngobrol dan tidak sedikit keterangan yang berhasil dikorek pula oleh Sebun Tio-bu dan Kin Jin, setelah meninggalkan kedua laki2 baju merah yang mabuk itu, Sebun Tio-bu dan Kin Jin tertawa geli sambil saling pandang, kata Kin Jin.
"Sudah sekian lamanya, mungkin Siang-lote sudah tidak sabar menunggu lagi."
Sebun Tio-bu segera menariknya ke arah barat, kini orang yang berlalu di jalan raya sudah jauh lebih sepi, maklumlah waktu menjelang tengah malam, toko2pun telah tutup, demikian pula pedagang kaki lima sudah mulai mengukuti barang2 dagangannya.
Tidak jauh mereka meninggalkan rumah makan itu, tahu2 Siang Cin muncul dari gang sebelah depan sana, dengan menengadah santai ia berjalan berlenggang, tak ubahnya seperti pelancongan yang sedang menikmati panorama nan indah permai.
Kin Jin segera mendekati, sapanya.
"Bikin Siang-heng menunggu terlalu lama."
"Tidak perlu ter-gesa2, pasti tidak sedikit berita yang berhasil kalian peroleh?"
Ucap Siang Cin dengan tertawa.
"Memang."
Sahut Kin Jin.
"supaya tidak mengejutkan musuh, maka kami tidak pakai kekerasan, terpaksa main sandiwara untuk menipu keterangan mereka."
Sebun Tio bu celingukan ke kanan kiri lalu katanya.
"Situasi kurang meguntungkan Bu-siangpay, dari padang rumput mereka sudah mengerahkan seluruh kekuatannya, kini sudah melintasi Liok-sun-ho, diperhitungkan dari kecepatan jalan mereka paling lama dua hari lagi pasti sampai di sini ....."
"Mumpung ada kesempatan, daripada menunggu terlalu iseng, barusan aku pergi ke Pa-hou-seng, jaraknya kira2 tiga li, pagar temboknya dibangun dari batu2 hijau besar, perumahan di dalamnya cukup banyak dan tersebar luas, pada setiap bagian dibangun taman dan hutan buatan yang terawat baik, agaknya keadaan di sana 214 memang amat berbahaya, sekian lamanya aku memeriksa dari atas tembok. Bayangan orang tampak mondar mandir di dalam kampung, senjata tajam kelihatan kemilauan, cahaya lampu tampak masih menyala dibanyak rumah2 di sana, penjagaan cukup ketat, suasana terasa tegang, naga2nya mereka sudah sejak beberapa hari ini mempersiapkan diri untuk menyongsong serbuan musuh ......"
Sementara itu, mereka sudah membelok ke gang samping yang gelap, sambil berjalan secara singkat Kin Jin ceritakan kejadian tadi serta berita apa yang berhasil mereka korek itu kepada Siang Cin.
Mengawasi bintang2 di langit yang berkelip, Siang Cin berpikir sejenak, katanya kemudian.
"Arah pasukan Bu-siang-pay jelas tertuju ke Toa-ho-tin, pertempuran besar segera akan berlangsung, agaknya malapetaka dan penderitaan sukar lagi terhindar."
Ketiga orang sama2 prihatin, Siang Cin seperti hendak bicara, tapi tiba2 didengarnya derap kaki orang banyak lari lewat di jalan raya sana, terdengar suara aba2, bentakan dan caci-maki, tapi segera suara dan derap langkah barisan ini semakin jauh dan akhirnya tidak terdengar lagi.
Sebun Tio-bu berkata.
"Agaknya Jik-san-tui menemukan apa2, atau mungkin menyadari tindak tanduk kita yang mencurigakan tadi, maklumlah, beberapa hari terakhir ini mereka hidup dalam suasana tegang. Lalu bagaimana tindakan kita selanjutnya? Menghajar musuh atau menyingkir saja secara diam2? Kin Jin memberi tanda, cepat mereka melesat ke tempat yang lebih gelap, dengan suara lirih Siang Cin berkata.
"Jika mau pakai kekerasan, tadi tak perlu kalian main sandiwara segala."
Baru saja mereka mendekam di tempat gelap, puluhan orang tampak berlari mendatangi, senjata mereka tampak kemilau serta mengeluarkan suara gemerantang, secara membabi buta mereka mengadakan pemeriksaan di gang sempit gelap ini sambil menggerutu, sudah tentu mereka tidak memperoleh apapun yang diharapkan.
Sambil berludah dan mencaci maki akhirnya mereka mengundurkan diri.
Setelah orang2 itu pergi, Sebun Tio-bu mengomel, katanya.
"Siang-heng, sekarang kita terjang ke Ji-ih-hu atau menyelundup ke Pau-hou-ceng?"
Siang Cin menjawab.
"Ke Pau-hou-ceng saja."
Dengan tertawa Sebun Tio-bu bertanya.
"Apa tidak perlu berkedok?"
"Ya, harus berkedok,"
Ucap Siang Cin. Mengawasi jubah kuning Siang Cin, Kin Jin berkata.
"Berkedok atau tidak sama saja, jubah kuning yang Siang-heng pakai ini sangat menyolok, memangnya siapa yang tidak kenal bahwa Siang-heng berjubah kuning?"
"Kukira tidak jadi soal, malam terlampau gelap, bila gerak-gerikku cukup cepat, tanggung mereka tak bisa mengenalku lagi,"
Demikian ucap Siang Cin.
Sebun Tio-bu mengeluarkan sapu tangan sutera putih, dia tutupi hidung dan mulut sendiri, sementara Kin Jin keluarkan kain hijau untuk membalut kepala, demikian pula Siang Cin keluarkan sapu tangan kuning untuk menutupi mukanya, mereka saling pandang dengan tertawa geli, di bawah aba2 Siang Cin mereka segera berlalu dari tempat itu.
Dengan gaya yang indah dan ringan Siang Cin melayang ke atas rumah.
Sudah tentu Kin Jin dan Sebun Tio bu tidak mau ketingalan, merekapun ingin pamer kepandaian masing2, seperti berlomba saja ketiganya segera melesat ke depan.
Pada wuwungan terakhir di dalam kota Toa-ho-tin, pada saat mereka mengapung tinggi di udara itu, Sebun Tio-bu dan Kin Jin sama melihat Pau-hou-ceng yang terletak di balik hutan sebelah timur sana.
Pau-hou ceng memang amat luas, bangunan gedungnya tinggi dan megah, pagar tembok yang mengelilingi perkampungam juga amat tinggi.
Sinar lampu ber kelip2 di sana-sini tersebar jauh, se-akan2 mata setan yang selalu mengintip gerak gerik orang luar yang menyelundup ke dalam kampung.
Menuding ke depan Siang Cin berkata lirih.
"Itulah Pau hou-ceng," 215 Sebun Tio bu berludah sambil mencaci. Sebaliknya Kin Jin berkata dengan tertawa.
"Semoga perjalanan kita malam ini membawa hasil yang memuaskan." ********** Halaman 27 -28 hilang ********** sudah siap, Siang Cin meraih dua ranting pohon dan di sambitkan. Malam gelap, tapi terdengar jelas kedua ranting kayu itu menerbitkan deru angin mencicit, dikala ranting kayu itu hampir tiba di depan pintu gerbang, mendadak membelok ke kiri-kanan. Dua puluh empat laki2 yang bertugas jaga itu sama melengak, sigap sekali mereka memburu ke kiri-kanan, pada waktu yang sama Siang Cin bertiga lantas melijit tinggi ke atas, tanpa bersuara dan tiada rintangan apapun mereka meluncur masuk ke Pau-hoa-ceng. Begitu melampaui pintu gerbang, kembali Siang Cin memberikan tanda, mereka tidak hinggap ke bawah, tapi langsung melayang ke pohon besar yang berada di kanan pintu gerbang. Tertampak sebuah jalan lapang mengkilap beralas batu hijau menjurus lurus ke sebelah dalam dan berakhir pada undakan batu hijau pnla di depan sebuah gedung besar dan angker, begitu megah bangunan gedung ini, bentuknya serba antik, semuanya serba ukiran dan berwarna warni lagi, dua ekor singa batu di kanan-kiri pintu menambah angkernya gedung ini. Dari ketinggian pucuk pohon mereka memeriksa keadaan sekitarnya tanpa menghiraukan keributan para penjaga yang menggerundel tadi, Sebun Tio-bu bersuara tertahan.
"Siang-heng, gedung besar itu seperti markas mereka untuk bersidang atau pusat kekuasaan mereka ...."
"Betul, itu berarti dari sana pula mereka mengambil keputusan dan mengeluarkan perintah,"
Demikian Siang Cin menambahlcan. Kin Jin ikut menimbrung dengan nada meyakinkan. Kukira di dalam gedung itu dibangun juga alat perangkap dan lorong bawah tanah ....."
"Sebun Tio-bu sependapat, katanya.
"Tentu pula dengan akal licik dan keji ... ."
Berpikir sebentar, Siang Cin berkata.
"Bagaimana? Mulai beraksi?"
Sebun Tio-bu dan Kin Jin mengangguk bersama, mereka terus meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa.
Dikala mencapai pucuk .pohon yang terdekat dengan gedung besar itu, mendadak Siang Cin bertiga melambung lebih tinggi ke atas, baru saja kelihatan bayangan berkelebat, tahu2 sudah lenyap pula.
Teringat pengalaman di Pi-ciok-san dulu, Siang Cin kali ini tidak sia2kan payon yang lebar panjang itu untuk menyembunyikan diri, perawakannya yang tinggi semampai berjumpalitan di udara, seenteng burung walet, dengan enteng ia hinggap di puncak tiang besar di depan gedung megah itu, maka Sebun Tio bu dan Kin Jin juga meniru caranya, merekapun hinggap dan menempel di tiang yang lain seperti tiga ekor cicak raksasa.
Kungfu yang mereka lakukan ini sebetulnya sangat makan tenaga, umumnya di dunia persilatan ilmu ini dinamakan Pia-hou-kang (ilmu cicak), ilmu ini memerlukan ketahanan napas yang dikendalikan oleh tenaga dalam sehingga badan seperti lengket pada benda apapun yang ditempelinya, bagi yang Lwekangnya tinggi sekaligus orang akan kuat ber-tahan ber-jam2, yang ilmunya rendah terpaksa harus dibantu dengan kaki tangan untuk bertahan.
Pintu gedung megah yang bertatah paku tembaga putih sebesar telur angsa itu setengah terpentang, secercah cahaya guram tampak menyorot keluar dari dalam, tapi keadaan di dadam juga sunyi senyap, Dengan cermat Siang Cin pasang kuping mendengarkan, sejenak kemudian dia berkata lirih.
"Awas, kalian harus hati2, di dalam ada orang."
Sebun Tio-bu mengangguk, sahutnya.
"Betul, ada empat orang."
Kin-Jin juga berkata.
"Agaknya mereka tengah berunding di ruangan sana, suaranya juga bisik2 tapi jelas yang dibicarakan cukup penting, jarak pembicaraan mereka dari 216 pintu kira2 dua puluhan tombak."
Dengan tersenyum Siang Cin berkata.
"Biar kumasuk lebih dulu, kalian menyusul bergantian."
"Silakan!"
Ucap SebunTio bu.
Tubuh Siang Cin yang menempel di pilar itu tiba2 melorot ke bawah, tatkala mencapai setengah ketinggian pilar itu mendadak ia melenting ke depan dan melayang masuk melalui pintu yang setengah tertutup itu.
Begitu berada di dalam ruangan, sekilas matanya menjelajah, diam2 ia terkesiap, kiranya ruang ini adalah pendopo besar yang panjang, ada dua belas pilar besar yang berjajar di kanan-kiri pendopo, lantainya adalah marmar putih yang besar dan mengkilap, pada ujung pendopo sana di sebelah kanan kiri ada dua undakan batu yang menuju ke atas sebuah panggung, di atas panggung terdapat belasan kursi besar berukir yang berlapis kulit harimau, tepat di tengah dinding di belakang panggung, terdapat ukiran seekor harimau yang terbuat dari tembaga.
Lampu di pendopo seluruhnya dipadamkan, hanya enam pelita yang menyala di atas panggung, ada empat orang sedang duduk berkeliling sambil bicara bisik-bisik, sementara di bawah panggung, menghadap ke arah pintu besar ada dua puluhan laki2 kekar berpakaian merah sama duduk bersimpuh.
Begitu menerobos masuk dan belum lagi kaki menyentuh lantai, dalam hati Siang Cin sudah mengeluh, tapi sebat sekali dia bergerak.
"Wut", langsung ia melejit ke atap ruangan dan hinggap di belandar. Belasan orang di antaranya merasa pandangan kabur, sementara bayangan Siang Cin berkelebat di tengah keremangan, dua di antaranya lantas melonjak berdiri seraya berteriak.
"Ada mata2!"
Empat orang yang tengah berunding di atas panggung serentak berpaling, pada detik itulah kebetulan menjadi giliran Kin Jin menerobos masuk ke dalam peodopo, sudah tentu jejaknya menjadi konangan serta menarik perhatian semua orang yang berada dalam pendopo.
Delapan laki2 lain yang masih duduk di lantai serentak meraung gusar terus menubruk maju, senjata kampak mereka tampak kemilau, sebat dan tangkas sekali gerak-gerik mereka, baru saja Kin Jin berdiri tegak, mereka telah mengerubutnya.
Sungguh runyam keadaan Kin Jin waktu itu, maju-mundur serba susah.
pada detik itulah, sepuluh laki2 baju merah yang lainpun memburu tiba sambil mengayun senjata mereka.
Kin Jin jadi nekat, ia berdiri tegak sambil bertolak pinggang di tengah pintu, tangannya terangkat serta berseru lantang.
"Tunggu sebentar!"
Puluhan laki2 baju merah itu segera mengepungnya, seorang yang bertubuh tinggi kekar segera tampil sambil meraung.
"Sahabat, tanggalkan kedokmu, tekuk lututmu pula menyerah dan terima dibelenggu saja, supaya tuan2 besarmu di sini tidak perlu bercapai lelah membekukmu dengac kekerasan."
Sekilas Kin Jin melirik, dilihatnya Sebun Tio-bu tidak ikut masuk, dia tahu kawan ini telah melihat gelagat jelek, dengan dingin dia pandang orang2 yang mengepungnya, katanya kasar.
"Kentut makmu, kalian kaum keroco ini juga berani membual dihadapanku? Memangnya darimana kau tahu kalau aku mata2 dan bukan kawan sendiri?"
Laki2 kekar itu mengejek, cemoohnya.
"Kalau kawan sendiri memangnya berdandan seperti tampangmu ini? Begini pula caramu keluar-masuk di rumah orang? Jangan kira kami ini dapat kau tipu. Dalam pada itu orang2 yang berunding di atas panggung itupun sudah berdiri, di bawah penerangan api, tampak seorang berwajah merah, perawakannya tinggi besar berjenggot hitam panjang, laki2 tua ini melangkah maju setapak, suaranya rendah tapi sekeras guntur.
"Pasang lampu, biar kami berkenalan dengan sahabat yang tak diundang ini."
Laki2 kekar baju merah itu mengiakan sambil mengundurkan diri.
"Wut"
Secepat kilat tiba2 Kin Jin melayang ke sana, dikala kedua tangannya bergerak dengan kecepatan 217 yang sukar diikuti pandangan mata, dua laki2 baju merah di kanan-kirinya sudah melolong roboh sambil memeluk perut, darah menyembur dari mulut mereka.
Gerakan Kin Jin tidak berhenti, secara beruntun dia mendesak kedepan, di mana kedua telapak tangannya menabas, tampak bayangan tangan menyambar dan mengeluarkan deru kencang, kontan dua laki2 baju merah kembali terlempar roboh dengan menyemburkan darah dari mulutnya.
Perubahan yang mendadak ini membuat enam Iaki2 baju merah yang lain melenggong, tapi dering senjata yang jatuh berkerontang diatas lantai, seketika menyentak sadar pikiran mereka.
Tapi begitu bayangan telapak tangan menyambar, seorang kawan mereka terjungkal binasa pula dengan dada remuk.
Sejak Kin Jin beraksi hingga jiwa lima korban melayang hanya berlangsung dalam sekejap mata belaka.
Maka terdengarlah geram murka dari atas panggung, empat bayangan orang laksana empat ekor kelelawar pengisap darah, cepat dan seram sekali melayang tiba dengan kecepatan,yang amat mengejutkan.
Tak terlukiskan bagaimana hebat dan tangkas gerakan Kin Jin, ia menyelinap di antara sambaran senjata musuh yang gencar dan rapat itu, ujung pakaiannya tak tersentuh sedikitpun oleh serangan lawan, seorang musuh menjadi kalap, kampaknya berputar dan tiba2 menubruk maju, sekaligus ia menyerampang dan membabat kedua kaki Kin Jin.
Tertawa dingin Kin Jin, tiba2 ia meluncur mundur seperti orang bermain ski, tapi empat kampak musuh sekaligus menghujani tubuhnya pula, terpaksa dia memutar lengan kiri, sementara telapak tangan kanan menekan ke bawah dengan gentakan kuat, sungguh tak dapat dilukiskan betapa indah dan sebat gerakannya, tahu2 bayangan berkelebat.
"pletak", suara tulang patah berkumandang diselingi lolong panjang kesakitan. Bacokan empat kampak itupun mengenai tempat kosong, menghancurkan lantai marmer malah, sehingga muncratlah lelatu api, sementara dengan gerakan yang gemulai Kin Jin telah melayang ke pinggir sana. Tapi gerakan ke pinggir ini justeru memapak kedatangan laki2 tua bermuka merah yang melayang turun dari panggung tadi, dengan mata mendelik, jenggot hitam tampak berkembang, nyata gusarnya tak terkatakan. Kin Jin yang masih terapung itu mendadak balas menyerang balik ke belakang. dalam sekejap itu terdengarlah serentetan suara adu telapak tangan yang nyaring. Hawa udara dalam pendopo seketika bergolak. Bayangan kedua orang seketika terpental dan anjlok ke bawah. wajah laki2 merah itu seketika berubah pucat kelabu, jenggot yang panjang itu bertaburan kaku, tubuh yang besar itu terus terbanting ke bawah. Untung di belakangnya seorang laki2 setengah umur berkepala gundul sempat memburu maju dan memapahnya. Menyusul dua orang laki2 berperawakan sedang juga menerjang tiba, salah satu yang sebelah kupingnya tinggal separo menerjang maju, serunya.
"Cianglo, apakah masih kuat bertahan?"
Orang tua yang bermuka merah tampak gemetar, kedua tangannya melepuh besar mirip paha babi, kulit daging hitam membiru.
Laki2 pertengahan umur yang memapah laki2 tua ini, melirik benci ke arah Kin Jin, sejenak baru dia bersuara dingin.
"Sahabat, tak perlu kau tutupi mukamu, kami sudah tahu siapa kau adanya, memangnya kurang senang kau tinggal di Tan cin, jauh2 datang ke Toa ho tin mencari setori."
Mendadak laki2 tua itu menarik napas panjang, dengan melotot dia berteriak serak.
"Kim lui jiu, aku telah memperoleh pelajaranmu."
Kin Jin membuka kedoknya, katanya.
"Cianglo, maaf akan kekurang ajaranku barusan, tapi Cianglo sendiri kenapa tidak ongkang2 saja di markas Jit-ho hwe sebagai pentolan ketiga di sana, untuk apa pula kalian bisik2 sepanjang malam di sini, sungguh membuatku tidak habis mengerti." 218 Jenggot hitam laki2 tua tampak bergoyang, katanya dengan napas tersengal.
"Orang she Kin, di Tanciu kau boleh bersimaharaja, urusan Jit ho-hwe kami tak perlu kau mencampurinya ... .. untuk apa kehadiranku di Pau-hou-ceng ini, memangnya kau ingin mengetahui?"
Sambil tersenyum Kin Jin menjura, katanya.
"Hanya karena ingin tahu saja. Tapi kalau Cianglo tidak mau menerangkan, ya apa boleh buat, biarlab Cayhe mohon diri saja."
Dada si orang tua naik turun, napasnya terengah2, bibirnya bergerak ingin bicara, tapi agaknya dia menguatirkan sesuatu, maka batal bersuara, dengan gemas akhirnya dia melengos ke arah lain.
Adalah laki2 gundul itu ternyata berperangai kasar dan berangasan, dia meraung beringas.
"Kin Jin, biarpun Kim-lui-jiu sudah menggetar dunia, memangnya kau boleh bertingkah dan datang pergi seenakmu sendiri? Kin Jin, jangan kaukira kami boleh dihina."
Kin Jin sudah memutar badan, lekat dia membalik lagi, katanya dengan tertawa ramah.
"Kalau tidak keliru, tuan ini pastilah Kui kok khek Pa Cong-si, salah satu So lian su -coat yang bersemayam di Pek-hoa-kok itu?"
Tidak menampakkan perubahan air mukanya, Iaki2 gundul ini malah menjengek.
"Orang gunung macam diriku ini mana dapat dijajarkan dengan Kim lui jiu yang tergolong tokoh besar?"
Tidak marah, Kin Jin malah bersikap tenang, katanya.
"Ah, Pa-heng terlalu memuji."
Sorot matanya berubah beringas, salah satu dari Sio lian-su-coat ini berkata kasar.
"Kau orang she Kin pasti paham akan aturan Kangouw, enam jiwa manusia ditambah luka2 Ciang-lo, lalu orang she Kin mau tinggal pergi hanya menjura begitu saja, apakah kau tidak terlalu meremehkan kami di sini?"
Pelahan Kin Jin berkata.
"Lalu, apa kehendak Pa heng?"
"Gampang.saja,"
Jengek Pa Cong-si.
"tinggalkan batok kepalamu"
Seketika Kin Jin menarik muka, desisnya.
"Pa Cong-si, terhadap siapa kau sedang bicara?"
Pa Cong-si ter-bahak2 dan berkata.
"Terhadap kau keparat yang bernama kosong dan tak tahu diri ini."
Sikap Kin Jin tetap tenang dan sabar, katanya.
"Jika demikian, Pa Cong-si, boleh kau turun tangan saja. Batok kepalaku akan kutinggalkan di sinni asal kau mampu mengambilnya."
Mencorong sinar mata Pa Cong-si, segera ia pasang kuda2. Dengan gaya santai Kin Jin mengebas lengan baju, katanya.
"Silakan!"
Tapi laki2 yang disebut Ciang-lo, yang terluka tangannya itu, mendadak mengadang di tengah mereka, teriaknya serak.
"Tunggu sebentar Pa lote ....."
Pa Co ng-si melengak dan menyurut mundur, serunya heran.
"Ciang-lo, kau ...."
Menggeleng dengan napas tersengal, si orang tua membalik menghadapi Kin Jin, katanya dengan suara serak.
"Kin-heng ...."Ciang-lo terlalu sopan,"
Kata Kin Jin tenang2.
"entah ada petunjuk apa?"
Si orang tua berkata.
"Dalam waktu dekat ini seluruh kekuatan Jik-san-tui tengah dipersiapkan untuk menghadapi cerbuan Bu-siang-pay, situasi dalam Pau-hou-ceng cukup tegang ....hal ini tentunya Kin-heng cukup maklum ...."
"Ya, kutahu,"
Ucap Kin Jin. Kata si orang tua menghela napas.
"Kami mempunyai hubungan erat dengan Jiksan-tui, betapapun kami tidak boleh berpeluk tangan melihat manusia padang rumput itu menginjak kedaulatan kita di sini ....dalam keadaan yang serba sulit ini, malam2 mendadak Kin-heng berkunjung kemari, malah sekali turun tangan membunuh enam nyawa anak buah Jik-san-tui, sungguh aku tidak mengerti apa maksud sepak terjangmu ini,"
Kin Jin menjelaskan dengan kalem.
"Barusan sudah kujelaskan, ini hanya salah paham belaka, hakikatnya kami tidak bermaksud mencari setori, bila kalian mau menyudahi persoalan sampai di sini, segera kami akan pergi." 219 Pa Cong si dari Kui kok khek berseru gusar.
"Kin Jin, jangan kau meremehkan persoalan, bagaimana perhitungan jiwa enam orang dan luka2 Ciang-lo. Kin Jin menarik muka, katanya.
"Baiklah. akan kutunggu kalian menagihnya padaku."
Kedua orang berperawakan sedang tadi seketika naik pitam, orang yang sebelah kupingnya hilang separo itu membentak bengis.
"Kin Jin, keangkuhanrnu kelewat batas, umpama Han mo-siang kiu (sepasang alap2 dari padang pasir) harus mempertaruhkan jiwa, hari ini ingin kami menumpas kesombongan kau keparat ini."
"Han-mo-siang-kiu?"
Dengan nada sinis Kin Jin mengulang nama julukan orang, mendadak dia tergelak2, katanya.
"O, kiranya kalian adalah guru Kungfu dari Toa-tokau. Syukurlah jika kalian ada selera, Kin Jin dengan senang hati akan mengiringi keinginan kalian."
Bola mata Han-mo-siang-kiu terbelalak merah, kembali yang telinganya cacat mendengus gusar serunya sambil menoleh.
"Ciang-lo, akan kami ringkus dia."
Lekas orang tuts itu berseru dengan napas memburu.
"Nanti dulu, tunggu sebentar, asal usulnym belum jelas, betapapun tak boleh bertindak serampangan."
"Tapi jiwa enam orang yang menggeletak ini memangnya dianggap sia2?"
Seru Pa Cong-si gusar. Muka si orang tua semakin pucat, iapun berteriak.
"Pa-lote, musuh besar sudah di depan mata, mana boleh sembarang mencari musuh baru? Cepat atau lambat peristiwa ini pasti ada penyelesaiannya secara adil, buat apa harus terburu nafsu?"
Tapi Kui kok khek Pa Cong-si tetap ngotot, serunya.
"Ciang lo, tengah malam buta orang ini menyelundup kemari, tujuannya sudah jelas, tentu bermaksud jahat yang tidak menguntungkan pihak kita, kau sendiri sudah terluka, demikian pula korban enam jiwa, bila dia bukan mata2 musuh apa pula kerjanya di sini?"
Sudah tentu si orang tuta juga maklum akan hal ini.
Tapi iapun maklum akan asalusul dan kelihayan Kim-lui-jiu Kin Jin bukan saja Kungfunya tinggi, luas pengalaman, di daerah Tan-ciu dia tak ubahnya seperti raja kecil di sana, anak buahnya ribuan dan tersebar luas di mana2, hubungan luas dan banyak kawan, Kin Jin benar2 seorang tokoh yang sukar dilayani dan tak boleh diusik.
Kini Bu-siang-pay sudah berada di ambang pintu, pihak sendiri harus mengerahkan seluruh kekuatan untuk menghadapinya, mana boleh mencari musuh lain pula di dalam kandang sendiri?
Oleh karena itu dia pikir biarlah telan dulu kerugian dan penasaran ini, setelah pertikaian dengan Bu-siang-pay usai, pelahan cari kesempatan lain untuk membuat perhitungan dengan Kin Jin Tapi Kui-kok-khek Pa Cong-si dan Han mo-siang-kui ternyata keras kepala dan kukuh pendapat, dengan ngotot hendak membuat penyelesaian sekarang juga, soal menang dan kalah sukar diramalkan, yang pasti permusuhan ini jelas takkan menguntungkan.
Kin Jin menarik muka, katanya.
"Ciang Heng, walau dalam Jit ho hwe kau terhitung pentolan nomor ketiga, mengingat usiamu lebih tua maka kumenghormatimu, oleh karena itu silakan kau minggir saja, bila Kui-kok-khek dan Han-mo siang-kiu ingin mencoba kelihayanku, biarkan mereka maju."
Kui-kok-khek dan Han mo-siang-kiu segera menubruk maju.
Se konyong2 pendopo besar yang semula remang2 menjadi terang benderang, dua obor raksasa tahu2 menyala dalam ruangan, berbareng terdengar suara lantang berkumandang.
"Kin Jin, hidupmu akan berakhir di Pau-hou-ceng ini. Ketahuilah, Tan ciu yang kau kuasai memangnya mampu melebarkan sayanpnya ke Toa-ho-tin sini?"
Cepat Kin Jin menoleh ke sana, dalam waktu sekejap ini puluhan obor telah menyala benderang dan terus bertambah banyak, entah sejak kapan, ke dua sisi pendopo panjang ini sudah berbaris orang berbaju merah yang mengangkat obor.
Di bawah penerangan obor kelihatan betapa beringas muka mereka dengan senjata terhunus, seketika suasana bertambah tegang.
Dengan tenang Kin Jin berkata.
"Wah, cepat juga kalian kemari, hanya dalam sekejap, ruangan besar ini sudah menampilkan pameran yang boleh juga"
Sembari bicara, benak Kin Jin bekerja cepat, jelas sejauh ini pihak musuh belum dapat 220 meraba keadaan pihaknya, ada berapa temannya yang ikut menyelundup kemari.
Mungkin mereka pernah pergoki jejak Siang Cin tapi Kin Jin yakin seketika itu pula orang yang memergokinya itu pasti dibuat bungkam dan menggeletak, kalau tidak, tak mungkin musuh mengerahkan seluruh kekuatan dan perhatiannya kepada dirinya seorang saja.
Dia merasa senang kini ada kesempatan untuk pamer kepandaian dan menggasak musuh, biar situasi di sini menjadi gaduh dan ribut, supaya Siang Cin dan Sebun Tio-bu punya peluang menggerebek seluruh pelosok sarang musuh.
Suara dingin tadi berkumandang pula.
"Kin Jin, mengakulah terus terang, kau mata2 darl pihak mana? Bu siang-pay atau Siang Cin?"
Kini pandangan Kin Jin tertuju ke arah orang yang berbicara, di bawah penerangan obor terlihat jelas wajah orang itu lebar bundar menyerupai baskom, perawakannya kekar gagah, air mukanya menampilkan rona sinis dan banyak muslihatnya, beberapa kali mulut Kin Jin berkecek, tanyanya kemudian.
"Siapa kau?"
Wajah yang lebar itu tertawa, katanya sambil melangkah maju.
"Ah, aku hanya kaum keroco saja.. Pernahkah kaudengar di dalam Jik-san-tui ada seorang yang bernama Pek Wi bing?"
"O, kiranya Toh gwa-coh-to Pek-sam-thauling, sudah lama kudengar namamu,"
Seru Kin Jin. Sam-thauling (pentolan ketiga) dari Jik-san-tui itu seperti tertawa tapi tidak tertawa, setelah mendengus dia menoleh, serunya.
"Ciang-lo!"
Muka Ciang Heng dari Jit-ho-hwe tampak bersemu kuning, lekas dia mendekat dan bertanya.
"Bagaimana Pek-lote?"
Pek Wi-bing berkata dengan suara tertahan "Aku tahu maksud Ciang-lo, tapi urusan sudah telanjur sejauh ini, menurut pendapatku, orang she Kin jelas mata2 yang dikirim kemari oleh Bu-siang-pay, bila malam ini kita tidak menahan dia, bila dia bekerja sama dengan orang2 Bu-siang-pay dan menyerbu datang, maka urusan tentu sukar dibayangkan."
Ciang Heng menjadi ragu, katanya.
"Tapi ..... Kin Jin tak boleh dipandang enteng ...."
"Jangan kuatir,"
Pek Wi bing menyeringai.
"keadaannya sekayang ibarat harimau yang kesasar masuk kampung."
Kata2nya yang terakhir sengaja diucapkan dengan nada tinggi, maka Kin Jin dapat mendengar jelas, mendadak dia tertawa serta menyambung.
"Oleh karena itu, dia digonggong anjing!"
"Orang she Kin tak usah menyindir,"
Jengek Pek Wi-bing dongkol.
"sebentar lagi ingin berteriakpun kau tak bisa lagi "
Tiba2 mencorong terang bola mata Kin Jin, dingin tajam dan sadis. katanya tenang.
"Pek Wibing, sebelum kau turun tangan, lebih baik kau berpikir dulu dua belas kali, jangan sampai mayat bergelimpangan, tetap kau tidak memperoleh keuntungan apa2."
Wajah yang lebar itu tampak merah gusar, Pek Wi-bing berjingkrak, semprotnya.
"Lebih baik pikirkan nasibmu sendiri, memangnya kaukira Jik san-tui dapat kau gertak?"
"Sedikit angkat kedua tangannya Kin Jin berkutat tawar.
"Kalau demikian, malam ini kalian harus belajar kenal dengan kelihayan Kim-lui-jiu."
Han-mo-siang-kiu segera tampil ke muka, si telinga cacat segera meraung.
"Keparat, kami kakak beradik akan jajal dulu betapa bobot kepandaianmu."
Kain hijau yang membungkus kepala tampak melambai, baru saja perhatian orang banyak tertarik akan lambaian kain kedok ini, tiba2 Kin Jin melejit bagai anak panah cepatnya, tiada seorang pun yang jelas melihat bagaimana dia beraksi, di tengah suara gemerentang, yang memekak telinga, belasan orang berbaju merah sama jungkir balik dengan kepala hancur atau dada remuk.
Sementara gema suara para korban masih mengalun dalam ruangan besar itu, secepat kilat Kin Jin sudah putar balik, kedua tangannya berubah laksana dua gada emas yang kemilau terang, sekali 221 telapak tangan terbuka, mendadak dia dorong kedua tangannya ke arah Pek Wi-bing.
Toh gwat coh to Pek Wi-bing adalah jago kosen juga dalam Bu lim, dia tahu serangan ini tidak boleh dilawan dengan keras, sembari berteriak dia terus melompat ke samping.
Kedua telapak tangan yang melancarkan kemilau kuning itu mendadak terpencar terus membelah lurus ke arah Han-mo-siang-kiu.
Melihat gelagat jelek, kedua kakak beradik ini lekas2 menegok ke kiri dan kanan, namun demikian pukulan yang mengumandangkan suara gemuruh ini tetap menyerempet lewat tubuh mereka, lantai marmar di kaki merekapun sampai pecah sehingga debu krikil beterbangan.
Sekonyong2 suara hardikan nyaring bergema, laksana segumpal awan menggulung dari udara, seorang menerjang ke arah Kin Jin.
Cepat Kin Jin menarik kembali tangan kiri terus mencengkeram ke perut Pek Wi-bing, sementara telapak tangan kanan menggaris setengah lingkar terus menabas kesamping, Kin Jin mendengus dan menjengek.
"Pa Cong-si, kau belum setimpal melawanku."
Pembokong licik ini memang Kui-kok-khek Pa Cong-si, salah satu dari Sio-lin-su-coat di Pek-hoakok (lembah seratus bunga).
Ubun2 kepalanya yang dekuk itu tampak berdenyut turun naik, kedua badik Pa Cong-si yang tajam mengkilap dengan sendirinya menyerang tempat kosong, sebat sekali Kin Jin menendang.
"tring, tring"
Kedua badik mencelat dari tangan Pa Cong-si dan patah menjadi empat potong.
Pada waktu yang sama, seorang mendadak menubruk tiba, sebuah gelang tembaga sebesar roda kereta mendadak berputar ke atas kepala Kin Jin, berbareng sebilah pisau melengkung tajam mendadak menusuk perutnya.
Berkerut alis Kin Jin menghadapi serangan serentak dari musuh yang licik ini.
dasar kepandaian tinggi sedikitpun dia tidak menjadi gugup, mendadak dia berjumpalitan ke belakang, lalu menjengek.
"Pek Wi bing, ternyata kaupun hanya kaum keroco saja."
Cepat sekah Pek Wi bing menubruk maju pula, ia memegang sebuah gelang tembaga yang bercahaya kebiruan, sementara pinggiran gelangnya setajam pisau, gelang yang kelihatan sederhana ini hakikatnya adalah senjata yang ganas, biasanya senjata ini diutamakan untuk menggantol leher orang.
Dikala berlompatan Kin Jin sudah memperhitungkan waktunya, baru saja Pek Wi bing memburu maju tiba2 ia melambung tinggi pula sambil berputar, menyusul ia balas menyerang dengan tidak kurang lihaynya.
Sambil berteriak Pek Wi-bing berkelit, sementara Han-mo siang kiu yang sudah menubruk maju juga dipaksa melompat minggir, cahaya obor dalam pendopo seketika ber-goyang2.
Dalam pada itu, Siang Cin yang mendekam di atas langit2 diam2 tertawa geli, timbal rasa kagumnya, selama ini dia sendiri terkenal kelihayan ilmu pukulannya, tapi Kim lui-jiu Kin Jin sekarang ternyata juga gagah perkasa, meski keduanya mempunyai kelebihan masing2, tapi bahwa Kin Jin memiliki tingkat kepandaian setarap ini, mau tidak mau Siang Cin menjadi kagum.
Siang Cin dapat menilai, dengan Kim-lui jiu yang hebat itu, ia yakin seorang diri Kin Jin masih mampu menghadapi keroyokan orang banyak di pendopo ini, meski belum tentu dapat mengalahkan musuhnya, tapi dia sendrri jelas tidak bakal terkalahkan, bahwa seluruh perhatian musuh ditujukan kepada Kim Jin seorang, kenapa kesempatan ini tidak digunakan dengan baik.
Selagi Siang Cin masih bimbang, sementara di bawah Pek Wi-bing, Han-mo-siangkiu dan Pa Cong ci berempat sudah mengeroyok Kin Jin dengan sengit, sedangkan Ciang Hong yang terluka bersiaga di pinggir gelanggang, sementara lingkaran orang2 berbaju merah dari Jik-san-tui semakin diperkecil, setiap waktu mereka siap menubruk maju bersama.
Setelah menarik napas panjang, dengan diam2 selincah kucing Siang Cin menggeremet ke pojok sana terus melorot turun ke arah jendela, dengan hati2 dia, 222 menyongkel tanpa bersuara, dengan gesit ia menyelinap keluar.
Malam dingin dan gelap, hanya diterangi kerlip bintang di langit, melompat ke atas wuwungan Siang Cin celingukan mencari jejak Sebun Tio-bu, pada saat itulah sesosok bayangan orang tahu2 menubruk dari belakangnya..
Cepat Siang Cin membalik, terlihat jelas orang ini mengenakan pakaian warna merah menyolok meski di tengah malam gelap ini, malah tangannya menenteng dua bilah kampak.
Dengan sikap angkuh Siang Cin menunggu, begitu bayangan itu mendekat, tanpa bersuara Siang Cin menabas dengan telapak tangan sembari meluncur maju.
Pendatang ini agaknya tidak menduga akan menghadapi serangan kilat begini, dengan kaget dia mendak ke bawah.
Baru Siang Cin hendak menambahkan serangan lain yang lebih ganas, dengan gugup orang itu berteriak tertahan.
"Berhenti Siang heng, aku Sebun."
Siang Cin melenggong, orang berbaju merah itu lantas melejit ke sampingnya.
Memang betul Sebun Tio bu adanya.
Dengan menyengir Siang Cin bertanya dengan suara pelahan.
Cayhe sedang mencarimu, bagaimana Tangkeh bisa salin pakaian dalam waktu secepat ini?"
Sebun Tio bu menghela napas lega, katanya.
"Masa cuma kau saja yang senang, sejak tadi aku ikut bergabung dengan para kura2 di dalam pendopo. Begitu Lo Kin masuk dan jejaknya konangan, aku lantas urung bertindak, kebetulan aku menangkap seorang anggota Jik-san-tui yang lagi buang air, kututuk dia, lalu kubelejeti pakaiannya, dengan leluasa dapatlah aku keluar masuk pendopo, semula aku kuatir akan keadaan Lo Kin, tapi setelah kuikuti beberapa gebrak, keparat itu ternyata memang lihay, diam2 aku mencarimu di sana, waktu kau menyelundup keluar dari jendela tadi kebetulan kulihat bayanganmu, kupukir kau pasti sudah ambil sesuatu keputusan, maka buru2 aku menyusul kemari, hampir saja aku menjadi korban pukulannu yang mematikan ......"
Lekas Siang Cin mohon maaf, katanya.
"Siapa suruh kau ganti pakaian tanpa menyapa pula? Kukira jejakku sudah konangan . ......Eh, Tangkeh. Kin-heng jelas tak menjadi soal meski dikeroyok, mumpung ada kesempatan mari kita beraksi selagi mereka tumplek seluruh perhatian atas diri Kin heng,"
"Baiklah, hayo mulai!"
Jawab Sebun Tio bu. Setelah menerawang keadaan sekelilingnya, akhirnya Siang Cin berkata lirih.
"Umpama nanti dipergoki musuh, Tangkeh bendaknya melawan sekadarnya, jangan se-kali2 melayani mereka sampai lama, lebih cepat berlalu lebih baik, sementara kesempatan sementara kugunakan untuk mencari tahu keadaan Pau-hou-ceng dan apakah di sini juga dikurung orang2 Bu siang pay."
Sebun Tio bu mengangguk, katanya.
"Baiklah!"
Mereka terus melayang ke wuwungan pendopo, tanpa berhenti mereka langsung berlompatan di atas wuwungan gedung yang ber-lapis2 itu menuju ke gedung berloteng yang ada di lapisan terakhir.
Bangunan gedung2 di Pau-hou-ceng ini ternyata cukup banyak, kalau tidak mau dikatakan terlalu rapat dan berhimpitan.
namun gedung2 di sini dibangun secara teratur, pepohonan yang ditanam di sinipun terletak pada sudut2 yang telah diperhitungkan secara rapi, taman bunga dan jalanan kecil beralas balok2 batu gunung.
Siang Cin dan Sebun Tio-bu sembunyi di belakang pohon besar yang ada di pojok sana, dengan jelas mereka melihat barisan berseragam merah sama ber-lari2 menuju ke ruang pendopo dari berbagai arah, semuanya bergerak lincah dan terlatih baik.
Sebun Tio bu berkata lirih.
"Pasukan Jik-san-tui seluruhnya dikerahkan untuk menghadapi Lo Kin, namun suasana perkampungan ini tetap tenang, jelas mereka mengira yang datang hanya Lo Kin seorang saja. Siang-heng, inilah kesempatan baik."
"Betul, tapi Pau hou-ceng cukup luas seperti sebuah kota kecil, belum diketahui lagi 223 di mana pusat kekuasamn mereka ....lagi, Tangkeh, Cayhe tetap berpendapat bahwa orang2 Bu-siang-pay ada yang menjadi tawanan mereka ketika terjadi pertempuran di Pi-ciok san tempo hari itu ...."
Berpikir sejenak akhirnya Sebun Tio bu memberi usul.
"Mari kita tipu mereka saja, bila perlu gunakan pula kekerasan, waktu amat mendesak, lekas sikat dan cepat akhiri."
Siang Cin mengangguk, katanya.
""Baiklah Tangkeh, akan kulindungi aksimu dari samping."
Maka dengan langkah lebar Sebun Tio-bu langsung menuju gang kecil di sebelah kiri, baru puluhan langkah dia berjalan, dari balik pepohonan di sebelah sana berkumandang suara teguran.
"Berhenti!. Sedikitpun Sebun Tio bu tidak memperlihatkan rasa gugup dan takut, ia menarik suara dan memaki.
Baca Juga: Bu Kek Siansu 10
Baca Juga: Si Tangan Sakti 2