Eps 4 Bara Naga - Yin Yong
Baca online Bara Naga - Yin Yong
Cersil Bara Naga - Yin Yong.
"Ai. Siang-heng. mungkin apa yang kukatakan terlalu takabur, harap Siang-heng jangan kecil hati. Cayhe kira Hek jiu-tong adalah kawanan badut yang tidak perlu ditakuti......."
"Hek jiu-tong tidak perlu dikuatirkan,"
Ucap Siang Cin.
"hanya saja kita tidak boleh memandang rendah musuh, Loh-heng, sekarang silakan suruh orangmu memeriksa ke sana, kemungkinan rombongan kedua barisan itu sengaja sembunyi di dalam kelenteng. Diam2 panas muka Loh Beng cu, lekas dia menggapai ke sana, Poan hou-jiu Te Yau segera datang menghadap.
"Te Yau,"
Kata Loh Bong bu.
"gunakan isyarat dan cari huhungan dengan orang di dalam kelenteng, kalau tiga kali tanda rahasia tidak memperoleh jawaban, itu tandanya terjadi perubahan, kalian harus cepat bergerak menggerebek kelenteng itu."
Te Yaw mengangguk dan segera bedal kudanya, semua orang sama mengawasi dia melarikan kudanya keluar hutan.
Tiba2 terdengar suara lengking panjang yang berkumandang, mirip ringkik kuda juga seperti lolong serigala.
Siang Cin tahu inilah cara untuk saling memberitahu jejak masing2 dari Bu-siang-pay yang turun temurun, dengan tenang dia menunggu reaksi dari sebelah depan, sementara Loh Bong-bu di sebelahnya kelihatan menahan napas dengan tegang.
Maka terdengarlah suara lolong panjang yang sama bergema menyambut lolong tadi, tapi bukan berkumandang dari kelenteng dan bukan dari dalam hutan, tapi bergema dari celah2 lembah di sebelah kiri bukit, di mana tumbuh pepohonan yang lebat.
Akhirnya Loh Bong-bu menarik napas panjang, dengan lega dia tertawa katanya.
"Lo Siang dan keparat she Kim itu memang pandai permainkan orang, tidak kumpul di tempat yang ditentukan, malah sembunyi di lembah yang dingin, bukankah menyiksa diri sendiri malah?"
Sejenak mendengarkan pula dengan cermat, akhirnya Siang Cin berkata.
"Mungkin ada terjadi apa2 sehingga mereka harus ganti batuan dan menyembuniykan diri di sana Loh-heng, mari kita temui mereka."
Loh Bong-bu manggut2, ia memberi aba2 terus keprak kudanya maju bersama Siang Cin, tampak Pon-hoan jiu sedang bedal kudanya mendatangi, serunya.
"Lapor Cuncu, orang kita sudah tiba, tapi sembunyi di lembah .. ....."
Sambil mengiakan Loh Bong bu membedal kudanya ke arah lembah, empat puluhan kuda ikut berlari di belakangnya, derap kaki kuda yang gemuruh menggebu bukit dan menimbulkan gema yang keras.
Mengitari kelenteng bobrok itu mereka menyusuri jalanan kecil yang biasa dilalui pencari kayu, maka tampak sebuah lembah sempit yang diapit dinding gunung tinggi se-olah2 Iembah ini hasil dari bacokan kampak raksasa, mulut lembah penuh semak belukar, kalau tidak diperhatikan sukar juga untuk mencari jalan masuknya, tapi puluhan laki2 berkuda dengan seragam yang sama telah muncul di mulut lembah, dengan tangkas mereka menyingkirkan perintang yang sengaja mereka atur di mulut lembah itu.
Loh Bong bu melompat turun dan teriaknya.
"Di mana Siang dan Kim-cuncu?" 137 Puluhan laki2 itu beramai memberi hormat kepada Loh Bong bu, belum sempat mereka menjawab dari dalam lembah sudah berkumandang gelak tawa yang keras, lalu lima orang tampak keluar. Lima orang ini dipimpin seorang laki2 tua berwajah bersih berperawakan kurus tinggi, jenggotnya sudah memutih perak, seorang lagi di sebelahnya berwajah merah, matanya besar terang, sikapnya gagah perkasa. Melihat kedua orang ini Loh Bongbu lantas tertawa ter-bahak2, serunya.
"Kalian tua bangka yang belum mampus ini, bukankah kelentleng bobrok itu lebih nyaman daripada lembah lembab ini? Main sembunyi segala, bikin kami kuatir saja."
"Paras elok, memang kau sok membual, kau sendiri datang terlambat, sepanjang jalan aku sudah banyak menderita kelaparan dan kedinginan, kau tidak menghiburku tapi malah mengoceh tak keruan, kau harus dipukul."
Laki2 muka merah juga cekakakan, katanya.
"Betul, memang harus dihajar, belasan hari kami berkuatir bagimu, kalau kau tidak tahu diri begini, lebih baik kami sembunyi saja supaya kau keparat ini mencari ubek2an."
Loh Bong-bu mendekati mereka dan berjabatan tangan, katanya.
"Memangnya kau kira rombongan kami tidak menderita? Kalian datang diam2, kami harus berjalan terang2an, golok tajam orang2 Hek-jiu tong seluruhnya ditujukan padaku, sedang kalian enak2 langsung tiba di sini dengan aman, pahala menghancurkan musuh kelak harus diserahkan seluruhnya padaku."
Orang tua berjenggot putih memukul pundak Loh Bong-bu, katanya tertawa.
"Jangan mengagulkan diri, ketahuilah selama belasan hari ini orang2 Hek jiu tong telah lima kali menggeledah daerah ini? Di tengah jalan pernah juga bentrok dengan barisan pelopor kita, tiap waktu kita harus menunggu sambil menahan napas, kami juga kuatir bila musuh mengirim orang2nya mencegat kalian, kalau sampai demikian, kelak Ciangbunjin pasti akan mendamperat kami, lebih celaka lagi binimu itu bisa minta ganti suami padaku."
Laki2 muka merah ter-gelak2, katanya.
"Sebelum berangkat, binimu itu pesan wanti2 padaku agar memperhatikan kesehatanmu, jangan sampai kedinginan dan telat makan, jaga badan dan lekas pulang dan banyak lagi, haha ...."
Mendadak dia berhenti tertawa, dia menatap Siang Cin yang berdiri di belakang. Dengan terseyum Siang Cm mengangguk. Loh Bong-bu baru ingat, cepat ia berteriak.
""ah, aku jadi lupa dan telantarkan tamu agung. He, kawan, biar kuperkenalkan kalian dengan seorang tokoh besar."
Siang Cm melangkah maju, laki2 tua berjenggotpun memapak maju, katanya sambil menjura.
"Siang Kong-ceng, pejabat Thi-ji-bun Bu-siang-pay."
Laki2 muka merah juga maju sambil merangkap kedua tangan, katanya.
"Wi-ji-bun Kim Bok dari Bu-siang pay"
Siang Cin membungkuk dengan gayanya yang lembut, katanya.
"Cayhe Siang Cin."
"Apa?"
Si jenggot perak Siang Kong-ceng dan si muka merah Kim Bok sama berteriak, keduanya tanya berbareng.
"Siang Cin, Siang Cin si Naga Kuning?"
"Tidak berani, memang Cayhe adanya,"
Sahut Siang Cin. Kedua tangan Loh Bong-bu menepuk pundak Siang Kong-ceng dan Kim Bok, katanya dengan tertawa.
"Meski dunia ini sangat luas, masa ada dua si Naga Kuning Siang Cin? Hahaha, kalian tua bangka ini mimpipun tak pernah menyangka bukan?"
Siang Kong-ceng menggeleng kepala, sekian lama dia mengawasi Siang Cin, ia bergumam.
"Siang Cin si tangan gapah sangat terkenal di Bu lim, tentang wataknya yang nyentrik, dingin dan angkuh lagi, semula kukira dia berparas jelek dan buas ... ."
Kim Bok juga berkata tergagap.
"Tidak nyana dia masih semuda ini ......" 138
"Jangan menilai orang dari wajah dan usianya, kalau bicara soal gagah perkasa, kau tua bangka she Kim ini boleh menjadi pelopornya."
Siang Cin tertawa, katanya.
"Sudah lama Loh-heng menyebut nama besar kalian, kaum persilatan umumnya juga sangat kagum terhadap kalian, hari ini dapat bertemu, sungguh Cayhe sangat gembira dan amat bangga."
Hwi-ih ( si sayap terbang ) Kim Bok membuka mulut tapi urung bicara, seperti senang tapi juga kikuk. Sementara Liat-hwe-kim-lun ( si roda emas berapi ) Siang Kong-ceng mengelus jenggot, katanya.
"Siang-lote terlalu memuji, nama kami berdua meski digabung mungkin belum ada setengahnya ketenaranmu, terutama tidak kusangka bahwa engkau masih begini muda."
"Siang-cuncu terlalu memuji,"
Ucap Siang Cin.
""Cayhe hanya bernama kosong saja......""
Loh Bong-bu lantas menarik Siang Kong-ceng dan Kim Bok ke samping serta ber-bisik2 kepada mereka, belum lagi Siang Kong-ceng memperlihatkan reaksinya, Kim Bok lantas berjingkrak dan tergelak2.
"Siang-lote, jadi kau datang hendak membantu kami? Bagus sekali, biarlah kita berjuang berdampingan, setelah berhasil merebut kembali puteri Ciangbunjin, orang she Kim akan ajak kau minum seratus cangkir."
Siang Kong-ceng mendekat dua langkah, katanya sambil menjura dalam2.
"lote, terima kasih akan kesudianmu membantu."
Cepat Siang Cin balas menghormat, katanya.
"Inilah kewajiban setiap insan persilatan, menghadapi kelaliman siapapun pantang berpeluk tangan, buat apa pakai terima kasih segala?"
Siang Kong-ceng tertawa, serunya sambil menoleh.
"Pek-yang, Siu-cu, Piau-cu, hayo kalian berkenalan dengan Siang-tayhiap."
Tiga orang yang sejak tadi berdiri di belakang itu kini maju bersama, seorang berwajah pucat, sorot matanya hijau mengkilat seperti kunang2, pemuda ini menjura serta memperkenalkan diri.
"Jan Pek -yang."
Siang Cin pandang pemuda ini dengan tajam, dia tahu, pemuda ini adalah Tok-ciang (si pukulan sakti) dari Thi-ji-bun yang terkenal aneh wataknya dan berangasan lagi.
Di sebelah Jan Pek-yang adalah pemuda yang bersikap angkuh, alis tebal dengan bibir tipis, dia memberi hormat dan berkata.
"Thi-tan (peluru besi) Ang Sin cu."
Menyusul laki2 bertubuh tambun berkulit hitam dengan selebar mukanya mengkilap berminyak tertawa lebar, suaranya kasar serak.
"Aku ini Khu Hok-kui, Hok artinya rejeki, Kui artinya agung."
Siang Cin balas menjura, ketiga orang lantas mundur pula ketempatnva semula. Sambil mengelus jenggot Loh Bong-bu berkata dengan heran.
"Lo Kim, mana anak buahmu, kenapa satupun tidak kelihatan?"
Kim bok mendengus, katanya.
"Memangnya harus gegabah seperti kau? Mereka membawa orang menyebar ke Cap-ji-koay, kalau Hek-jiu-tong boleh mengintip gerak-gerik kita, kenapa kita tidak mengawasi tingkah laku mereka?"
Dengan kuatir Loh Bong-bu berkata.
"Si jagal dan jenggot merah berwatak jelek, jangan2 menggagalkan urusan ...."
Kim Bok mendengus.
"Dia berani? Sudah kupesan Lo-kian-tui untuk mengawasi dia, setiap gerak geriknya harus patuh akan petunjuk Lo-kian-tui."
Berpikir sebentar, Loh Bong-bu berkata pula.
"Berapa banyak anak buah yang kalian bawa kemari?"
"Masing2 seratus orang,"
Sahut Kim Bok.
"Lalu berapa orang yang ditugaskan ke Cap-ji-koay?"
Tanya Loh Bong-bu pula. Siang Kong-ceng tertawa, dia mewakili Kim Bok menjelaskan.
"Seluruh anak Thi-ji-bun yang datang kemari telah dikerahkan semuanya, hanya dia seorang yang masih ber-malas2an di sini." -Sampai di sini Siang Kong-ceng berpaling ke arah 139 Siang Cin, katanya.
"Siang-lote, silahkan masuk ke lembah dulu untuk istirahat."
"Betul,"
Seru Loh Bong bu sambil menyeret Siang Cin, katanya sambil berjalan.
"Memang gegabah, kenapa hanya berdiri makan angin di luar?"
Lalu dia berpaling dan berkata.
"Te Yau, panggil anak2 masuk ke lembah, suruh Jan Pek-yang ikut mengatur ....Murid2 Hiat-ji-bun di bawah pimpinan Te Yau mulai membagi diri, Tok-ciang Jan Pek yang ikut mengatur. maka suasana yang semula hening menjadi ramai oleh gelak tawa mereka. Melewati mulut lembah yang sempit dan tertutup oleh semak2 dan dahan2 pohon, akhirnya mereka memutar lagi kebelakang sebuah batu gunung, batu yang menonjol ini kebetulan mengalangi sebuah mulut gua setinggi manusia, gua ini tidak dalam, mulutnya sempit tapi di dalam cukup lebar, lantainya dialasi rumput kering yang tebal, keadaan agak gelap, enam obor besar tertancap dl dinding. Mereka, masuk gua dan berduduk. Mengawasi sekeliling gua Loh Bong-bu bertanya.
"Gua ini buntu?"
"Bukan saja buntu, lembah di sinipun lembah mati, sementara murid2 yang lain terpaksa pasang tenda di luar."
"Aku tahu, waktu nasuk tadi kulihat anak2 tersebar di mana2, tubuh sama dibungkus selimut, meski tidak berisik tapi mereka bersendau gurau dengan riang gembira."
"Siang-cuncu,"
Tiba2 Siang Cin menyeletuk.
"penjagaan di sekitar sini apakah sudah diatur baik2?"
"Dan kuda ditaruh di mana?"
Loh Bong-bu menambahkan.
"Ada sepuluh tempat penjagaan di sekeliling lembah, juga sudah diatur belasan rintangan di sepanjang jalan Hu-thau-san di tempat yang berbahaya, kalau malam nanti belum juga mulai beraksi, anak2 Hiat ji-bun kalian harus bergilir jaga. Sementara kuda kami sembunyikan di dalam lembah"
"Menurut hematku, malam ini juga dipilih beberapa orang untuk menyelundup ke Cap ji koay mencari tahu keadaan di sana, besok pagi kita tentukan waktunya yang tepat untuk menyerbu ke sarang musuh."
Siang Cin mengangguk, katanya pelahan.
"Lebih baik kalau malam nanti dikerahkan seluruh kekuatan, karena untuk menyelundup ke Cap ji-koay tanpa diketahui musuh terang tidak mungkin, lebih baik sekaligus terjang saja, dengan kerja sama luar dalam kita sapu habis seluruh musuh."
"Sayap Terbang"
Kim Bok berkeplok gembira, serunya.
"Aku setuju usul Siang-lote, sekian hari kita sembunyi di lembah ini, tentu orang2 kita sudah bosan dan gatal pula tangannya, bagaimanapun juga berilah kesempatan untuk melampiaskan kekesalan mereka."
Sambil melonjorkan kakinya Loh Bong-bu berkata.
"Kalau malam ini juga beraksi, aku harus tidur sebentar, demikian pula anak2 Hiat-ji bun perlu waktu untuk memulihkan tenaga, tak lama lagi hari pun akan gelap."
Pelan2 Loh Bong bu merebabkan diri tapi baru saja kepala menyentuh jerami, mendadak dia berjingkrak bangun pula, serunya seperti ingat sesuatu.
"Lo Siang, permainan khusus yang kita bikin itu apa sudah kau bawa lengkap?"
"Sudah kubawa lengkap,"
Ajar Sang Kong-ceng sambil tertawa.
"setiap orang kuberi jatah satu sabuk berminyak bakar, tiga biji granat belirang, sepuluh batang panah yang sudah direndam minyak, ditambah lagi Bian-hok-ci-cu (labah2) satu dos, semua itu cukup untuk membuat geger seluruh penghuni Cap ji koay ...."
Menarik napas lega pelan2 Loh Bong-bu merebahkan diri pula, sementara Siang Cin juga memejamkan mata, dalam hati dia berpikir.
"Hek-jiu-tong biasanya pandai bertempur secara gerilya, licik dan ganas pula, tapi berhadapan dengan tamu2 dari padang pasir ini mungkin mereka takkan memperoleh keuntungan, apalagi 140 perlengkapan yang dibawa Bu-siang-pay ini serba aneh, keji dan cukup memusingkan musuh,"
Tengah berpikir, tiba2 Siang Kong-ceIg berpaling ke arahnya dan menutur.
"Bian hok-ci cu adalah serangga berbisa yang hanya tumbuh di pegunungan Tiang-peksan, selamanya tak pernah dia keluar dari sarangnya, badannya putih, kira2 sebesar jari tangan, bila kulit daging orang tergigit, daliam waktu enam jam seluruh badan akan membengkak hitam dan mati setelah air kuning berbau busuk merembes keluar dari pori2. Tapi di mana ada Bian-hok-ci-cu disekitarnya pasti tumbuh sejenis rumput aneh dengan buahnya yang coklat dan dua lembar daunnya, buahnya yang coklat itu mengeluarkan bau harum memabukkan, dalam jarak beberapa tomhak dapat tercium, kalau buah itu ditumbuk dan dihaluskan menjadi bubuk, ditambah gula dan dimasak menjadi sirup, bila orang memakannya, Bian-hok-ci-cu takkan berani mendekat, malah kalau disentuh dengan tangan, dia segera mengkeret ...."
Seperti ingat apa2 Siang Cin berkata.
"Kenapa buahnya tidak dimakan langsung, tapi harus dimasak dengan gula dan dijadikan sirup?"
Kim Bok tertawa, katanya.
"Siang-lote, setiap makhluk di dunia ini satu sama lain saling mengatasi, di luar sarang Bian-hok-ci-cu pasti tumbuh rumput sejenis itu, maka binatang berbisa ini selamanya mengeram dalam sarangnya, setapakpun tak berani keluar."
"Kalau demikian, selaih dapat untuk menjaga gigitan labah2 itu, apakah buah itupun dapat menawarkan racun lainnya?"
"Khasiatnya sama,"
Sahut Siang Kong-ceng.
"sangat mujarab, kami namakan buah coklat ini Ceng-ci."
Kim Bok menyela.
"Sekali memakannya, khasiat sirup Ceng-ci ini dapat bertahan sepuluh tahun tanpa kuatir digigit Bian-hok-ci-cu, untung kanii memiliki obat mujarab ini, kalau tidak, kolesom yang tumbuh subur di Tiang-pek-san siapa yang berari memetiknya."
Bicara sampai di sini dengan keras Kim Bok bertepuk tangan dua kali, bayangan seorang berkelebat di luar gua, seorang pen-uda perawakan tinggi melangkah masuk, dengan membawa sebuah mangkok porselin hertutup.
"Lote,"
Ucap Siang Kong-ceng.
"sirup Ceng-ci sudah tersedia, silakan kau meminumnya."
Siang Cin berdiri, dari tangan pemuda dia terima mangkok itu serta membuka tutupnya, bau harum seketika merangsang hidung, dia menghirup napas panjang serta mengawasi sirup berwarna kehijauan di dalam mangkok sebentar, lalu menenggaknya habis.
"Bagaimana rasanya?"
Tanya Siang Kong-ceng tertawa.
"Em, manis dan semerbak."
Sahut Siang Cin.
"Mulai sekarang,"
Ucap Kim Bok dengan muka merah.
"Bian-hok-ci-cu hanya khusus ditujukan kepada orang2 Hek-jiu-tong saja."
Semua orang sama bergelak tertawa.
Tidak lama datanglah hidangan malam, ada ayam panggang, dendeng dan makanan kering lain, sekaleng arak keras meski rasanya kurang sedap, tapi harum dan membakar tenggorokan.
Setelah kenyang makan, haripun sudah gelap, angin pegunungan mengembus kencang hawa mulai dingin, hujan gerimis lagi.
Dalam gua sempit orang telah bersimpuh, memejamkan mata menghimpun semangat dan 141 tenaga, di luar gua, ratusan murid Bu-siang-pay juga sibuk mempersiapkan diri, mereka berteduh dalam kemah, yang kasihan adalah orang yang bertugas jaga, mereka hanya membalut badan dengan selimut yang cukup tebal.
Sang waktu terus merambat tanpa terasa, sementara angin semakin kencang, hujanpun semakin deras.
Obor yang tertancap di dinding gua semakin pendek, bau asapnya semakin menyesakkan napas.
Siang Kong-ceng yang duduk bersila tiba2 membuka mata, sekilas dia melirik keluar gua, mendadak dia tepuk tangan dua kali, katanya lantang.
"Hai, waktunya sudah tiba."
Loh Bong-bu mendahului melompat berdiri, lalu menggeliat, ia masih ngantuk, katanya.
"Begini cepat, jam berapa sekarang?"
"Mendekati kentongan pertama,"
Ujar Siang Kong-ceng.
"baiklah kita bekerja sesuai rencana tadi, selundupkan beberapa kawan ke sarang musuh untuk membikin onar, sementara barisan besar siap menyerbu dari luar, semoga berhasil menyapu habis komplotan jahat itu serta merebut kembali puteri Ciangbunjin."
"Cuaca bagus,"
Ujar Lob Bong bu sambil melongok keluar gua.
"Ya, angin kencang dan gelap gulita lagi,"
Kata Kim Bok.
"Siang-lote,"
Kata Clang Kong-ceng kepada Siang Cin.
"adakah persoalan yang belum sempat kau bicarakan?"
Siang Cin menggeleng, maka Siang Kong-ceng tepuk tangan tiga kali pula, seorang murid Bu-siang-pay berlari masuk, setelah membetulkan pakaian putihnya, Siang Kong-ceng berkata dengan lantang dan kereng.
"Perintahkan Jan Pek yang menarik seluruh murid yang dinas jaga, beritahukan pula kepada Ang Siu-cu untuk mengumpulkan semua orang di luar lembah, dalam waktu setengah sulutan dupa lagi Lo Ce harus pimpin sepluluh orang membuka jalan ke arah Cap ji-koay, beritahu mereka supaya memeriksa perlengkapan, dua sulutan dupa kemudian barisan besar harus berangkat."
Murid Bu-siang-pay itu mengiakan terus mengundurkan diri, sementara empat orang dalam gua juga sibuk bebenah, sambil menerima sebuah sabuk minyak sepanjang tiga kaki Loh Bong-bu bertanya kepada Siang Cin.
"Siang heng, Caybe ingin tanya, apakah selamanya kau tidak pernah menggunakan senjata?"
"Sampai sekarang ini memang belum pernah memakai senjata,"
Sahut Siang Cin.
"bukan Cayhe suka mengagulkan diri, soalnya permainan senjata Cayhe belum sempurna, kalau pakai senjata rasanya kurang leluasa, lebih baik bertangan kosong saja "
Siang Kong ceng melirik ke arah Siang Cin, katanya prihatin.
"Siang-lote terlalu rendah hati, kukira bila Lote menggunakan senjata, kepala musuh bisa kau penggal seperti membabat rumput ...."
"Senjata Lote tentu luar biasa,"
Timbrung Kim Bok.
"sekali dikeluarkan pasti menggemparkan Bulim.
"Hanya besi karatan, apa artinya?"
Sahut Siang Cin tertawa.
Di luar gua mulai terdengar suara berisik dan langkah orang banyak diselingi ringkik kuda, barisan sudah mulai bergerak, tujuannya adalah Cap-ji-koay, sarang utama Hek jiu-tong.
Bayangan seorang tiba2 muncul di mulut gua, itulah Thi-tan Ang Siu-cu, alisnya yang tebal bertaut kencang, serunya.
"Lapor Cuncu bertiga, segala persiapan sudah sempurna, tinggal tunggu perintah untuk berangkat."
Siang Kong-ceng mengangguk, tanyanya.
"Apakah Pek-yang dan murid2 yang dinas jaga sudah kembali?"
"Seluruhnya sudah siap di luar lembah menunggu perintah,"
Sahut Ang Siu-cu. Siang Kong ceng menyapu pandang tiga orang yang lain dalam gua, Siang Cin hanya 142 tersenyum saja, sementara Loh Bong bu dan Kim Bok sama mengangguk, Siang Kong-ceng lantas berseru.
"Perintahkan segera berangkat, murid2 Thi ji-bun di tengah, Hiat-ji-bun paling akhir, kau dan Pek-yang masing2 di sayap kanan dan kiri, hati2 jangan sampai membuat gaduh dan mengagetkan musuh."
Thi tan Ang Sin-cu mengiakan terus mengundurkan diri, mantel putihnya melambai tertiup angin, betapa gagah dan tegap langkahnya.
Barisan berkuda terus berpacu ke depan, di sebelah kanan mengalir Hu-yang-ho dengan airnya yang kemilauan.
Liat-hwe-kim lun Siang Kong ceng mendekati Siang Cin, katanya lirih.
"Setengah jam lagi akan tiba Cap ji-koay menurut laporan beberapa murid siang tadi, jalanan tempat itu terdiri dari dua belas jalan yang melingkar ke atas gunung, para petani di sekitair sini menamakan gunung itu sebagai Pik-ciok-san, karena gunung itu hanya batu2 cadas hitam melulu, di puncak gunung ada sebuah perkampungan besar yang berlapis dengan tembok2 sebagai benteng, di sanalah pusat Hek-jiu-tong ......."
Termenung sebentar, Siang Cin berkata.
"Belum pernah kupergi ke Cap-ji-koay, tapi dari namanya dapat diduga pasti sangat rumit, pihak kalian belum lagi jelas seluk-beluknya, tapi didesak oleh keadaan, terpaksa harus menempuh bahaya, bahwa mereka mendirikan perkampungan dengan batu2 besar, maka senjata berapi kalian mungkin kurang bermanfaat."
"Soal ini tak usah dikuatirkan,"
Ujar Siang Kong ceng.
"dalam perkampungan Hek-jiu-tong pasti ada bangunan dari kayu atau bambu, kalau di luar tidak bisa dibakar, membakar yang di dalam kan sama juga."
Loh Bong-bu menyusul maju, katanya lirih.
"Ada murid yang kembali memberi laporan tidak? Tempat tujuan sudah hampir sampai."
Siang Kong-ceng menjawab.
"Belum ada, mungkin sebentar lagi,"
Tengah bicara, dari arah depan terdengar kuda mendatangi.
Barisah tidak berhenti dengan kecepatan sama terus laju ke depan, kedua penunggang kuda tadi menarik kendalinva hingga kuda berdiri dengan kaki belakang, setelah berputar sekali lalu maju ke samping Siang Kong-ceng, salah satu yang berbadan agak gemuk berkata dengan cepat.
"Lapor Cuncu, penjagaan orang2 Hek-jiu-tong di Cap-ji-koay amat ketat, pos penjagaan tersebar di-mana2, barisan rondapun hilir mudik, enam jalan menuju Cap ji-koay terang benderang oleh sinar obor, sementara enam jalan berliku yang lain gelap gulita, tapi perkampungan di puncak bukit terang benderang, bayangan orang banyak kian kemari seperti ada perayaan, ramainya bukan main."
Siang Kong-ceng mendengus, tanyanya.
"Apakah mata2 yang ditugaskan menyusup ke sarang musuh tidak ketahuan jejaknya?"
"Tidak,"
Sahut orang itu.
"musuh belum tahu .. ."
"Lekas kembali dan beritahukan mereka supaya lebih waspada, jangan sembarangan bertindak, barisan besar segera akan tiba, suruh mereka siap tempur,"
Seru Siang Kong-ceng.
Murid gemuk itu mengiakan, lalu memberi tanda kepada temannya, kedua kuda kembali dibedal pergi ditelan kegelapan.
Keadaan ternyata jauh daripada perhitungan semula, mungkinkah Hek-jiu-tong mengadakan pesta besar2an pada saat situasi segenting ini?
Memangnya muslihat apa yang tengah mereka atur?
Siang Kong-ceng memeras otak, sesaat baru dia bergumam.
"Apakah mereka sengaja mau memperlihatkan bahwa mereka tidak jeri? Ataukah memberi peringatan kepada kita bahwa mereka tidak gentar sedikitpun?"
Tiba2 Siang Cin yang ada di samping 143 berkata..
"Menurut dugaanku mungkin mereka sedang mengadakan pesta pernikahan."
Siang Kong-ceng melengak, katanya dengan air muka berubah.
"Apa.....? Kau bilang mereka sedang mengadakan pesta pernikahan?"
Loh Bong-bu juga bingung katanya tergagap.
"Siang-heng, maksudmu ....."
"Betul,"
Ucap Siang Cin.
"kukira Ji ih kim-kiam Khong Giok-tik yang menculik puteri Ciangbujin kalian itu tengan melangsungkan pesta pernikahan, malam ini mereka menikah menjadi suami isteri."
Sekian lama Siang Kong-ceng melongo, mendadak dia berjingkrak murka.
"Tidak mungkin terjadi, Khong Giok-tik sedang bermimpi, mimpi yang kosong."
"Anak domba yang sudah berada di mulut harimau memangnya bisa berbuat apa?"
Ujar Siang Cin.
"Tapi Yang-ji berhati keras dan suci bersih, dia takkan menyerah begitu saja seperti gadis lemah umumnya ...."
Siang Kong-ceng marah2.
"Memang, justeru di sinilah letak persoalan ini. Nikah adalah urusan dua orang, harus suka sama suka dan tak mungkin main paksa, kalau putri Ciangbunjin kalian tidak setuju dikala upacara berlangsung dia menangis dan meronta di depan umum, tentu Khong Giok-tik akan kehilangan muka"
"Jadi maksud Siang-heng, Yang-ji suka rela?"
Tanya Loh Bong-bu.
"Cayhe tidak berani bilang begitu,"
Kata Siang Cin sambil larikan kudanya. Pucat muka Siang Kong-ceng, katanya dengan gregeten.
"Harus dicegah, perbuatan kotor dan gila, mereka memaksa dan mengancam seorang gadis yang lemah, keparat ...."
Kata Siang Cin dengan tenang.
"Jangan terbawa emosi Siang-cuncu, ini menyangkut keselamatan murid2 Bu-siang pay kalian "
Loh Bong-bu memburu maju, dia pegang tangan Siang Kong-ceng untuk menabahkan hati sang kawan. Siang Cin lantas bersuara pula.
"Sekarang lebih baik percepat perjalanan."
Maka barisan berkuda dipacu lebih kencang pula..Si Sayap terhang Kim Bok yang semula berada di belakang barisan membedal kudanya menyusul kedepan, serunya gugup.
"Kenapa mendadak dilarikan kencang? Ada kejadian apa?"
Siang Kong-ceng hanya mendengus tanpa bersuara. Mukanya tampak hijau membesi, secara ringkas Loh Bong bu menceriterakan kejadian tadi, sekilas Kim Bok melenggong, segera ia berkata.
"Mungkinkah mereka sengaja hendak memancing? Atau mencari perempuan lain sebagai gantinya untuk menipu kita? Kalau betul demikian, mereka memang terlalu menghina dan pandang rendah kita.. ."
"Semoga mereka bukan sengaja menipu ... ."
Ujar Loh Bong bu menghela napas. Habis berkata ia larikan kudanya menyusul ke samping Siang Cin, berdiam sebentar, lalu dia bersuara.
"Ai, Siang-heng, benar2 bikin rikuh ...."
Siang Cin tertawa ewa, katanya;
"Hubungan muda-mudi ada kalanya sukar diselami, cinta adalah problem yang rumit dan aneh serta lucu, Loh-heng, apakah Siang-cuncu punya anak laki2"
Loh Bong bu melenggong, dia menatap Siang Cin, akhirnya menghela napas, katanya.
"Aku takluk padamu Siang-heng, memang Siang cuncu punya seorang putera. Selama peristiwa ini, kedua muda mudi ini berhubungan amat intim, malah Ciangbunjin 144 agaknya juga setuju akan perjodohan ini ...... merandek sebentar, lalu dia bertanya.
"Bagaimana kau bisa menerka ke arah sini?"
"Ya, firasatku yang berbicara, kulihat amarahnya begitu meluap melebihi seorang pengabdi, tapi lebih mirip seorang tua yang kehilangan puteri atau menantunya dibawa lari orang ......."
Kagum Loh Bong-bu luar biasa, katanya.
"Sejak pertama kau membongkar muslihat musuh di restoran tempo hari, Cayhe sudah mulai kagum dan tunduk padamu, kali ini rabaanmu tepat pula, Siang-heng kau malang melintang dan tersohor di Kangouw, memang kebesaran namamu bukan karena kebetulan .. ...."
"Jangan kau terlalu memujiku,"
Kata Siang Cin.
"Loh-heng, dalam hal ini sebetulnya tiada sesuatu yang istimewa, tentunya kau masih ingat, waktu di restoran di Ho than toh tempo hari, kedua orang Hek-jiu-tong itu dengan nada memerintah suruh si gendut pemilik restoran mengambilkan sumpit? Pernah kau dengar ada koki yang seharusnya diperintah malah memerintah majikannya? Tapi sang majikan justeru tunduk dan menunaikan tugasnya dengan segera?"
Loh Bong-bu manggut2, ia memandang ke depan sana, di puncak sebuah gunung di depan kelihatan bayangan bangunan yang bentuknya aneh, bila maju beberapa li lagi keadaan tentu bisa terlihat lebih jelas.
Mendadak ia memberi aba2, maka barisan berkuda yang panjang ini memperlambat lari kudanya dan akhirnya berhenti, Siang Kong ceng dan Kim Bok mendekat ke depan, Loh Bong bu lantas berkata.
"Sudah sampai di Pi ciok-san."
Siang Kong-ceng masih gelisah, katanya dengan mengertak gigi.
"Lekas kita atur kekuatan, akan ku terjang ke sana untuk membantu orang2 kita."
Belum sempat orang lain menjawab, dari hutan di depan sana tampak lima bayangan penunggang kuda dilarikan ke arah sini, yang memimpin kiranya adalah Ceng-yapcu Lo Ce.
"Bagaimana?"
Tanya Siang Kong ceng sambil memapak maju. Malam yang dingin, tapi Ceng-yap-cu bercucuran keringatnya, katanya kemudian.
"Pertahanan musuh amat kuat, pos2 penjagaan berlapis. Si jagal jenggot merah dari Wi ji-bun hanya bisa mengawasi gerak-gerik musuh dari sini dan tak mungkin maju lebih dekat. Siang hari pihak Hek jiu-tong malah melepas burung2 elang dan anjing pelacak untuk menggeledah segenap pelosok gunung, murid2 Wi ji-bun terpaksa harus singkir ke sana dan sembunyi ke sini, memang susah dan melelahkan, malam ini perkampungan mereka di puncak gunung terang benderang sayup2 kedengaran suara tambur dan bunyi seruling serta musik yang mengalun gembira, seperti pesta pernikahan, tapi pertahanan dan penjagaan mereka tak pernah kendur ....... Dengan serak Siang Kong-ceng. berkata.
"Apakah si jenggot merah dan lain2 pernah menimbulkan keributan?"
"Tidak, musuh tidak menemukan apa2 Dan tidak memperlihatkan gerakan apa2."
Setelah berpikir, akhirnya Siang Kong-ceng berpaling pada Siang Cin, katanya.
"Lote, hatiku tidak tenteram, bagaimana menurut pendapatmu?"
"Turun dulu dan istirahat di sini,"
Ucap Siang -Cin tertawa.
"lalu pilihlah beberapa orang untuk menyusup ke Pi-ciok-son, tentukan pula kode rahasia, sudah tentu, sebelum serbuan dilaksanakan, lebih baik kalau diusahakan menolong puteri Ciangbun kalian lebih dulu."
Siang Kong cerrg melompat turun, katanya.
"Baik, sudah demikian saja,"
Tiba2 segera di kirim ke barisan belakang, seratus empat puluhan lebih anak buah Bu-siang-pay serempak turun dari punggung kuda, cepat sekali Lo Ce sudah pimpin lima orang anak buahnya membawa orang banyak memasuki daerah yang ditumbuhi alang2 setinggi pinggang manusia, di bagian luar teraling oleh hutan, memang tepat kalau daerah ini digunakan menyembunyikan kuda mereka.
145 Kelima anak buah Lo Ce ditugaskan menjaga kuda, sementara yang lain dengan hati2 tanpa mengeluarkan banyak suara masuk ke hutan sebelah depan, hutan pohon cemara di sini bercampur dengan semak2 pohon liar, lima murid Bu siang pay tampak berjaga di empat penjuru mengawasi berbagai arah dan tempat persembunyian.
Di antara bayang2 pepohonan, bola mata Siang Cin mencorong bagai mata binatang buas berkelap-kelip ditengah kegelapan, Loh Bong-bu mendekatinya, katanya berbisik.
"Siang-heng, apakah boleh mulai beraksi?"
Siang Cin menoleh, katanya dengan suara dingin.
"Bagaimana pendapat kalian?"
Bentrok dengan sorot mata Siang Cin, Loh Bong-bu berdebar, mendadak dia gemetar, katanya.
"Siang-heng, sorot matamu tajam luar biasa ...."
Lekas Siang Cin berkedip sehingga sorot matanya yang berkilau sirna seketika, katanya mantap.
"Apakah Siang cuncu dan Kim-cuncu berpendapat orang2mu itu dapat menyelundup ke atas gunung untuk menyambut serbuan dari luar?"
Loh Bong-bu tenangkan hatinya, katanya.
"Sebetulnya Lo Siang sendiri yang hendak menyusup ke sarang musuh, tapi tindakan ini dirasa kurang leluasa apalagi orang2 sebanyak ini harus dipimpinnya, tadi setelah kami berunding, maka diputuskan Jan Pek-yang, Ang Siu-cu dan Te Yau bertiga memimpin dua puluhan murid cekatan menyusup ke Pi-ciok-san, sementara gerakan dari luar kita serahkan kepada Siang-heng untuk bantu mengaturnya ... Siang Cin menggeleng, katanya.
"Dua puluh murid itu urungkan saja kuberangkatannya, urusan ini tidak boleh gegabah. bila sampai konangan musuh, pihak kalian akan mengalami kegagalan total dan kerugian pasti amat besar, oleh karena itu biarlah aku sendiri bersama Jan-heng bertiga yang menyusup ke jantung musuh."
"Tapi gerakan dari luar..."
Cepat Loh Bong bu berkata.
"Kalian bertiga yang harus mengatur,"
Sela Siang Cin.
"Loh heng, inilah urusan besar dan penting artinya bagi Bu-siang-pay kalian, terus terang tidak enak kuturut campur tangan,"
Setelah berherti, lalu ia menambahkan.
"Apalagi sebagai Cuncu masa kalian harus tunduk pada perintahku?"
Berpikir sejenak akhirnya Loh Bong-bu bersuara.
"Kalau demikian maksud Siang-heng, terpaksa Cayhe setuju, cuma untuk kepentingan kami Siang-heng harus ikut menempuh bahaya, terus terang hati kami tidak tenteram ...."
Tersenyum Siang Cin, katanya.
"Bersahabat harus berani berkorban, untuk ini Loh-heng tidak usah sungkan."
Loh Bong-bu melangkah keluar, tak lama kemudian dia sudah kembali bersama Liat-hwe-kim lun Siang Kong ceng dan Hwi-ih Kim Bok, Siang Kong-ceng berkata dengan gelisah.
"Siang-lote. barusan Bong-bu memberitahukan, katanva Lote hendak pimpin orang kami sebagai pelopor?"
"Betul,"
Sahut Siang Cin.
"Apakah tidak bikin repot Siang-lote, sepantasnya orang2 kami sendiri yang harus jadi pelopor ....."
Seru Sayap Terbang Kim Bok.
"Sekarang waktu sudah amat mendesak, lebih cepat lebih baik, tak perlu saling berebutan tugas, Siang-cuncu, tolong perintahkan kepada murid2 kalian yang akan ikut aku supaya menyiapkan diri."
Liat-hwe-kim-lun Siang Kong ceng menepuk pundak Siang Cin, katanya lantang.
"Baik, terima kasih lebih dulu dariku."
Lalu dia tepuk tangan tiga kali, maka Tok ciang Jan Pek yang, Thi tan Ang Siu-cu dan Poan-hou jiu Te Yau yang sudah menunggu sejak tadi segera tampil ke depan.
Sambil mengelus jenggot Siang Kong-ceng memberi pesan.
"Kalian bertiga harus ikut Siang-tayhiap menyusup ke sarang musuh untuk menyambut gerakan kita dari luar, kalian harus turut petunjuk Siang tayhiap, ingat pentingnya tugas kalian, harus berhasil dan tidak boleh gagal." 146 Ketiga jagoan Bu-siang-pay ini sama mengiakan, Siang Cin lantas menyeletuk.
"Siang cuncu, bila granat belirang kalian meledak di udara, maka kalian harus mulai menyerbu ke atas gunung."
Siang Kong-ceng menggenggam kencang tangan Siang Cin, katanya haru.
"Segalanya kuserahkan padamu, Lote."
Sambil tertawa tawar Siang Cin mengangguk kepada Kim Bok dan Loh Bong-bu, begitu badan membalik, bagai segumpal mega kuning tahu2 tubuhnya melejit tinggi ke pucuk pohon, sekali berkelebat, ia melayang jauh ke sana.
Jan Pek-yang bertiga segera ikut meluncur ke sana, hanya sekejap saja bayangan merekapun lenyap ditelan tabir kegelapan.
Mengawasi kegelapan di depannya, Loh Bong-bu bergumam.
"Ilmu ringan tubuh Hwi-liong-hian-hun (naga ter bang muncul di mega) yang hebat, kawanan Hek-jiu-tong malam ini akan memperoleh ganjarannya ...."
Terbangkit semangat Siang Kong-ceng, katanya.
"Hayolah, lekas kalian persiapkan diri."
Maka suara aba2 segera terdengar di sana sini, bayangan orang tampak bergerak di dalam hutan.
Sementara itu, dengan ringan dan pesat Siang Cin tengah mengayun langkahnya diantara bayang2 pepohonan, setiap lompatan begitu jauh dan kencang, di dalam Bu-siang pay, Jan Pek-yang bertiga juga terhitung jago2 kelas satu, kini meski mereka sudah mengerahkan seluruh kekuatan untuk mengikuti tetap ketinggalan cukup jauh.
Pi-ciok san sudah semakin dekat, cahaya lampu yang terang benderang di perkampungan di puncak bukit sudah jelas kelihatan, bangunan yang ditatah dari batu2 gunung terasa angker bagai iblis raksasa yang berduduk di tengah kegelapan.
Tiba2 dari tempat gelap sana terdengar siulan rendah bagai bunyi burung kokok-beluk, sekaligus muncul bayangan puluhan orang yang segera merubung maju dari semak2 sekitarnya.
Baru saja Siang Cin hendak beraksi, Tok-ciang Jan Pek yang yang ada di belakangnya cepat memburu maju, teriaknya dengan suara tertahan.
"Apakah saudara2 dari Wi ji bun? Jan Pek-yang, di sini!"
Seketika bayangan orang2 yang sudah bergerak maju itu menyusup lenyap pula ke dalam semak2 belukar, sementara seorang laki2 pendek dengan kedua kakinya yang melengkung bagai busur tahu2 menerobos keluar dari sana, dia terkekeh, katanya.
"Kukira siapa, tahunya kau si bocah buntung ini, kenapa lari begitu kencang, memangnya kau suka hawa sejuk di tempat ini?"
Suaranya tiba bersama bayangannya yang buntak, itulah seorang laki-saki cebol dengan kepala besar, kupingnya lebar, giginya bersiung besar, kulit mukanya yang kasar burikan lagi.
Tok-ciang Jan Pek-yang hanya mendengus, katanya dingin.
"Kalian segera akan memperoleh perintah, tunggu saja tanda kobaran api belirang di puncak Pi ciok san, kalian harus segera menyerbu ke sana, kami menyusup ke sarang musuh menyambut kalian dari dalam. Adakah teman2 kita di sebelah depan?"
Si cebol kuping lebar meringis tawa, katanya.
"setan mungkin ada, rombongan kita ini merupakan barisan yang paling dekat dengan sarang musuh, tak jauh lagi kawanan serigala Hek-jiu-tong mondar mandir, kalian harus hati2, jangan sampai batok kepala kalian kena dipancung musuh."
Sembari bicara laki2 cebol ini tanpa berkesip mengamati Siang Cin, tapi Jan Pek-yang tidak hiraukan dia, katanya sambil berpaling.
"Siang tayhiap, apakah segera berangkat?"
Siang Cin tertawa, dia bawa ketiga orang itu terus menyelinap ke semak belukar di depan. Poan hou-jiu Te Yau berjalan paling belakang, waktu lewat di depan si 147 cebol dia tertawa dan berkata lirih.
"Lo-kian-tui (kaki melingkar), hati2lah akan kedua kaki mestikamu ...."
Lo-kian-tui segera memberi aba2 kepada anak buahnya terus menyelinap ke dalam semak alang2.
Pi-ciok-san kini sudah di depan mata, dua beltas jalan berbatu yang ber-liku2 menjalar naik ke atas dari arah kiri-kanan, enam jalan yang berliku di sebelah kanan pada setiap ujung pengkolan tergantung sebuah lampion warna kuning, lampion itu dikerek tinggi bersambung ke atas puncak, sinar lampion besar yang terang benderang itu menyebabkan jalan berliku itu kelihatan jelas, bayangan tikuspun akan terlihat nyata, di bawah setiap lampion besar itu berjaga empat laki2 seragam hitam yang memeluk golok besar, di samping setiap empat laki2 ini mendekam pula seekor anjing galak.
Sementara enam jalan berliku di sebelah kiri kelihatan gelap gulita, tapi terasakan adanya ancaman yang serius dalam kegelapan itu.
Mendekam di belakang sebuah batu kelabu, dengan mengerut kening Siang Cin mengamati keadaan sekelilingnya, Poan-hou jiu menggeremet maju ke sampingnya, katanya lirih.
"Siang-tayhiap, kita naik dari arah mana?"
Memandang lekat ke depan, sesaat kemudian baru Siang Cin memberi putusan.
"Dari arah kiri yang gelap itu."
Sedikit bimbang akhirnya Poan hou-jiu berkata.
"Bukan Cayhe banyak mulut, Siang-tayhiap, kurasa keadaan jalan disebelah kiri jauh lebih berbahaya daripada sebelah kanan yang benderang itu. bukan mustahil banyak pula jebakan dan perangkap di sana ..."
"Betul,"
Ucap Siang Cin.
"tugas kita adalah menyusup ke jantung musuh tanpa konangan, kalau naik dari jalan kanan, jelas tak mungkin tidak konangan, meski mereka belum tentu mampu merintangi kita, tapi jejak kita sudah konangan dan pasti menimbulkan geger dikalangan mereka. Kalau naik dari sebelah kiri memang jauh lebih berbahaya. tapi Te-heng harus ingat, di tempat gelap memang sulit bergerak, tapi merekapun sukar merintangi kita."
Memang beralasan, maka Te Yau mengangguk.
"Ayolah maju!"
Kata Siang Cin kemudian. Selincah kucing merunduk mereka berempat berlompat maju diantara batu2 yang terserak di semak belukar."
Akhirnya mereka tiba di mulut jalan berliku yang menanjak ke atas, lebar jalan batu padas ini kira2 satu tombak.
Keadaan jalan itu gelap gulita, dua sisi dindingnya menjulang tinggi dan curam, sunyi senyap tak terdengar suara apapun.
Sejenak Siang Cin periksa keadaan sekitarnya, sebat sekali ia melejit tinggi dan hinggap di panggung batu yang terletak di antara jalan pertama dan ke dua, panggung batu ini berlumut dan ditumbuhi akar2an, batu besar ini mendekuk tidak rata, dengan hati2 sekali dia bergerak sehingga tidak menimbulkan suara apapun, dia mendekam sekian lama kemudian mengawasi kanan kiri dan depannya, kira2 lima langkah di sebelah depan ada tiga orang laki2 berseragam hitam tampak mendekam di tanah, mereka tumplek seluruh perhatian mengawasi jalan pertama di sebelah bawah, di depan ketiga orang itu terpasang peralatan panah berpegas yang sekaligus dapat membidikan anak2 panah secara beruntun, kalau tidak diperhatikan sukar diduga karena alat2 panah ini ditutupi dengan daun dan semak2 rumput, ujung panah yang kemilau biru itu tertuju ke jalan pertama di sebelah bawahnya padahal lebar jalan itu hanya setombak, dengan diberondong anak panah sekian banyak, tikuspun takkan lolos oleh panah2 beracun itu.
Siaag Cin coba menoleh ke atas, kembali ia dibikin terkejut, panggung batu di antara jalan yang satu dengan jalan yang lain lapat2 terlihat pos setiap jarak tiga tombak pasti dipasang peralatan senjata rahasia yang lihay, demikian pula di dinding jalan berliku yang tinggi itu juga dipasang berbagai macam alat rahasia yang secara otomatis dapat membidikkan senjatanya.
148 Pelan2 seperti kucing merunduk tikus Siang Cin menggeremet maju, kini didengarnya satu diantara ketiga orang penjaga itu menguap dan menggeliat, lalu menggerutu.
"Keparat, mereka sedang pesta pora makan minum sekenyangnya, yang kawin juga sedang main di kasur, kita yang sial harus makan angin dengan perut kelaparan ....."
"Sssst,"
Seorang temannya mencegah.
"jangan kau kentut melulu ..... beberapa hari ini suasana cukup tegang, kau tahu, tujuh di antara sepuluh Toako kita sudah pulang kandang, beberapa hari yang lalu Ngo-ko pimpin kawan2 Hiat-huntong melabrak musuh, kabarnya juga gugur semua."
"Cuh,"
Orang pertama menjadi uring2an.
"tak usah kau singgung Hiat-hun-tong kita, bagian yang mereka terima dan hidangan yang mereka makan selalu lebih besar dari bagian orang lain, tapi kalau menjalankan tugas selalu minta tenaga orang lain."
Seorang yang sejak tadi diam saja lantas mengomel.
"Keparat, memangnya apa yang kalian persoalkan? Buat apa kau menggerutu melulu di sini, memangnya orang gagah macam apa kau?"
Karena disemprot oleh kawannya yang satu ini, keadaan menjadi tenang sejenak, tapi sesaat kemudian si mulut usil itu menggerutu lagi.
"Jaga malam ini harus sampai pagi pula, kemarin main Paykiu kantongku sudah terkuras habis, dasar lagi sial .."
Laki2 yang menyemprot tadi mendengus, katanya.
"Kau si mulut usil ini memang harus mampus, kalau kemarin kau tidak kalah habis2an, masa malam ini kau bakal cerewet. Melihat tampangmu saja sudah muak, mendengar kau mengerutu lagi, tuan besarmu ini menjadi geregetan ... ."
Seluruh percakapan ketiga orang ini terdengar jelas oleh Siang Cin, diam2 ia geleng2 kepala.
Ketiga orang tadi terdiam pula, rumput dan ranting kering berisik diembus angin lalu, awan ber-gulung2 di angkasa menambah gelapnya malam yang mencekam ini.
Setelah berpikir sejenak, diam2 Siang Cin maklum untuk menyusup ke atas gunung tanpa konangan dan bentrok dengan para penjaga ini terang tidak mungkin, pengalaman ber-tahun2 selama ini segera terbayang kembali dalam benaknya.
Selama ini entah itu demi kepentingan pribadi atau untuk membantu kesukaran orang lain, khusus dia mengutamakan gerak "cepat".
Untuk mengganyang para penjaga di sini harus digunakan pula gerak cepat agar tanda bahaya tak sempat dikirim ke markas pusat di atas gunung.
Tanpa banyak ragu lagi, dengan pelan2 Siang Cin melorot turun dari panggung batu, ia melejit kembali ke belakang panggung batu, Jan Pek-yang dan Ang Siu-cu tengah duduk bersemadi, sementara Poan-hoan-jiu Te Yau sedang meng-gosok2 telapak tangan dengan tidak sabar.
Baru saja Siang Cin tiba Te Yau lantas bertanya lirih.
"Bagaimana Siang-tayhiip? Bisa mulai kerja?"
Siang Cin lantas menceritakan apa yang baru dilihatnya, lalu katanya tegas.
"Urusan tidak boleh terlambat, waktu sudah amat mendesak, sepanjang jalan ini kita harus bekerja secara kekerasan, bunuh seluruh orang yang ada di sini sampai di markas pusat mereka serta menolong orang kita, menurut perhitunganku, dikala musuh tahu gelagat jelek, urusanpun sudah selesai."
Jan Pek-yang dan Siu-cu diam saja tanpa komentar, tapi Te Yau ragu2, katanya lirih.
"Apa boleh buat, terserah pada petunjuk Siang-tayhiap saja..."
Siang Cin tertawa tawar, katanya tegas.
"Dikala membunuh, kalian harus gunakan gerak cepat, tanpa kenal ampun." 149 Ketiga orang mengangguk, maka Siang Cin memberi tanda untuk mulai beraksi, secepat kilat ia melejit ke punggung batu di sana. Kali ini dia tidak main sembunyi pula, baru kaki menginjak batu, ketiga laki2 itupun terperanjat, mereka membentak sambil berpaling.
"Siapa?"
Sinar mata Siang Cin mencorong setajam pisau, dia meleset lewat disamping ketiga orang itu, belum lagi ketiga oranng itu melihat jelas, telapak tangan kanan Siang Cin sudah menabas, kontan tiga batok kepala seketika mencelat dan jatuh terguling di jalan.
Belum lagi mayat ketiga orang ini roboh, tahu2 Siang Cin sudah meleset pula ke pos penjagaan di sebelah atasnya, baru saja bertiga orang yang jaga di sini merasakan adanya bahaya, tahu2 bayangan Siang Cin sudah meluncur tiba, kedua telapak tangannya terayun kontan ketiga korban inipun roboh terjungkal dengan perut dan dada remuk.
Jan Pek-yang bertiga yang menguntit kencang di kelakang hakikatnya tidak sempat bekerja, tapi setapakpun mereka tidak berani ketinggalan, kejadian demikian terus berlangsung sampai pos penjagaan keenambelas.
Kejadian yang sebetulnya tidak menimbulkan suara berisik ini, betapapun telah mengejutkan orang2 yang jaga di pos2 bagian atas, dua orang Hek-jiu-tong segera melolos golok serta memapak maju, sementara seorang lagi merogoh keluar sebuah bumbung warna perak kemilau terus dibanting ke tanah sekuatnya.
Sambil menggeram tiba2 Siang Cin melenting kedepan, kedua kakinya menyepak kedua orang yang memapak maju, di tengah berkelebatnya sinar golok, ujung kakinya menyelinap di tengah sinar golok lawan dan secara telak mengenai jidat.
kedua orang Hek jiu-tong, sambil berpekik kedua orang itupun terguling2 di jalan yang menurun itu.
Bersamaan dengan itu mata Siang Cin yang jeli juga telah melihat seorang musuh yang tengah mengayun tangan hendak membanting bumbung perak tadi, maka telapak tangannya berkelebat lebih dulu, berbareng ujung kakinya menyapu bumbung perak yang melayang jatuh itu, gumpalan darah segar seketika tersembur dari tenggorokan laki2 itu, sementara bumbung perak itu mencelat jatuh ke sana.
Ketika Siang Cin melayang lagi ke pos penjaga ke tujuh belas, bumbung perak yang menggelinding itu telah meledak, semburan api berasap menjulang tinggi ke udara, mirip kembang api yang sengaja diluncurkan ke angkasa.
Kobaran api yang besar dan menyala benderang ini menyebabkan jejak Siang Cin berempat konangan dan tak sempat menyembunyikau diri lagi.
Padahal masih enam langkah untuk mencapai pos penjagaan selanjutnya.
Tiga orang yang jaga di sini menjadi kaget, salah seorang di antaranya melihat bayangan Siang Cin yang tengah meluncur datang bagai elang menyambar kelinci.
Orang ini ketakutan, sekuatnya dia berteriak.
"Mata2, awas mata2 ...."
Tiba2 suaranya seperti ditelannya pula, dengan kedua tangan mendekap dada orang ini roboh terkulai dengan penderitaan yang luar biasa, kiranya sebatang tombak bersula telah menghujam dadanya.
Kedua orang temannya berteriak aneh, satu di antaranya mengeluarkan bumbung perak serupa yang meledak tadi.
Cepat Siang Cin menghantam dari kejauhan, belum sempat lawannya mengeluarkan senjata, tahu2 tubuhnya mencelat seperti diterjang badai, orang itupun melolong dan rnenghamburkan darah serta roboh ter guling2, bumbung perak yang telah dia keluarkan itu mencelat ke atas dan kebetulan jatuh pula menyentuh punggungnya.
"Dar", di tengah pancaran lelatu api yang berwarna warni itu, tubuh si korban hancur lebur terbakar hangus. Tiada kesempatan untuk menyaksikan adegan yang mengerikan ini, karena ledakan satu disusul ledakan yang lain pada pos penjagaan sebelah atas, malam yang gelap menjadi terang benderang oleh pancaran cahaya warna warni di angkasa. Siang Cin anggap tidak melihat, ia terus meluruk meubruk 150 maju, pada saat itulah dari jalan di sebelah bawah yang mereka lalui tadi terdengar suara meletup yang cukup keras dan menimbulkan hawa panas, ribuan lidah api sekaligus menyala, seluruh jalan2 berliku di bawah sana telah ditelan api, nyala api yang semakin besar itu terus merambat ke atas sampai di ujung jalan sana. Cepat Tok ciang Jan Pek yang melayang maju ke dekat Siang Cin, serunya gugup.
"Siang-tayhiap, musuh telah tahu kedatangan kita."
Kedua telapak tangan Poan-hou-jin Te Yau terayun beruntun, tiga orang Hek-jiu tong di depan sana dipukulnya roboh binasa, sebat sekali mereka terus menerjang.
"Terjang terus ke atas!"
Siang Cin mendorong semangat mereka.
Di atas panggung batu di sebelah depan ada dua puluhan orang Hek jiu-tong telah berjajar menunggu kadatangan mereka.
Siang Cin menghardik sekali, sebuah benda melengkung dengan memancarkan cahaya kuning kemilau kontan membabat ke depan, luncuran kencang dan ganas, hanya kelihatan cahaya kuning berkelebat, beberapa orang Hek jiu-tong yang memapak maju seketika roboh terguling dengan batok kepala copot dari lehernya, terdengar suara gedebukan diiringi golok yang berkerontangan, suasana menjadi kacau balau.
Itulah senjata rahasia khas Siang Cin, Toa-liong kak.
Menyambit dan menangkap pula, Toa-liong-kak kembali berputar balik ke tangan Siang Cin, sementara itu sisa musuh yang berjumlah delapan orang juga telah diganyang habis oleh Jan Pek-yang bertiga, darah berceceran, mayat hergelimpangan.
Kini tinggal sebuah pos penjagaan terbesar di sebelah depan, di bagian atas pos penjagaan ini sengaja dirintangi sebuah dinding, tembok dan di depan dinding inilah berjajar menunggu dengan tenang puluhan orang Hek-jiu-tong bersenjata lengkap, di sebelah kanan mereka berdiri pula enam laki2 kekar, meski keenam orang ini juga berseragam hitam, tapi pada leher mereka dihiasi oleh sebuah mainan sebesar telapak tangan manusia yang terbuat dari logam.
Siang Cin meluncur tiba sembari menyerbu ia berseru lantang.
"Kawan tangan hitam, nih penagih nyawa telah tiba."
Keenam laki2 kekar itu menggerung bengis, dari arah yang berbeda mereka merubung maju, enam senjata berbentuk aneh sekaligus menyerang.
Siang Cin menyeringai, sedikit berjongkok, Toa-liong-kak lantas menyamber, cahaya kuning berputar menyilaukan mata, dikala Toa-liong-kak berputar balik dan tertangkap kembali oleh Siang Cin, empat di antara enam musuh itu sudah berguling roboh dengan kedua kaki sebatas lutut terbabat kutung.
Dua orang yaug selamat jadi melenggong, air muka mereka menampilkan rasa ngeri, tapi dengan nekat mereka menerjang maju pula.
Tok-ciang Jan Pek-yang juga maju kedepan, pukulan dahsyat segera menyapu ke arah musuh, jengeknya.
"Kawanan tangan hitam, pergilah menghadap Giam-lo-ong."
Dua orang itu tanpa bicara segera mengayun golok Kui-thau-to dan sebatang gantolan runcing, mereka menghujani Siang Cin dengan serangan deras.
Sementara di sebelah sana Thi tan Ang Siu-cu dan Poan hou-jiu Te Yau juga sedang menghajar lawan, dalam kepungan orang banyak, senjata Ngo-poan-kim-cui (bandulan emas lima kelopak) milik Ang Siu-cu yang berat itu betul2 mengnujuk perbawanya yang hebat, di mana bandulannya, menyambar, musuh pasti dibikin tunggang langgang.
Sekilas Siang Cin tertawa senang, tiba2 dia melejlt ke atas dinding tadi, baru saja kakinya hinggap di atas tembok, dari tempat gelap di sebelah depan tiba2 terdengar suara jepretan, maka berhamburlah anak panah selebat kawanan tawon yang mengejar mangsa, bintik2 sinar perak yang gemerdep memecah udara sama tertuju ke arah Siang Cin.
151 Cepat sekali Siang Cin sudah memperhitungkan suatu posisi yang menguntungkan di pojok sana, maka begitu dia berjumpalitan, Toa liong-kak ditangannyapun tersambit dengan membawa ekor cahaya kuning.
Terdengar suara dering beradunya senjata tajam dan terseling pula teriakah orang yang meregang nyawa.
Seperti sudah diperhitungkan, tangan Siang Cin dapat menangkap pula Toa-liong-kak yang berputar balik dengan cahayanya yang kemilau kuning, Toa liong-kak yang telah berlepotan darah pula.
Puluhan tombak di sebelah sana terlihat perkampungan besar yang dibangun dari batu2 gunung, pintu gerbangnya yang tinggi terbuat dari tembaga, didepan pintu gerbang adalah undakan batu yang lebar, megah dan angker keadaannya, kini kecuali dua lampion besar yang bergantung di dua sisi pintu gerbang, lampu yang semula menyala benderang dalam suasana pesta pora tadi telah padam seluruhnya, maka keadaan perkampungan tampak gelap gulita.
Di bawah cahaya lampion besar di pinto gerbang itu Siang Cin dapat melihat sebuah pigura besar yang tergantung di depan pintu dengan ukiran huruf2 besar bertinta emas yang berbunyi.
"Bu-wi-san-ceng". Siang Cin berdiri di tempat yang miring di depan perkampungan, sementara bidikan anak panah telah berharnburan dari belakang tanggul sana. tanpa ayal Siang Cin melesat keatas tanggul rendah itu, tapi baru saja dia melangkah, dari tempat kegelapan di belakangnya terdergar suara dingin bengis berkata.""Hm, Toa-liong-kak, jadi kau ini Naga Kuning adanya?"
Sebat sekali Siang Cin membalik tubuh, tampak di atas sebuah batu padas berdrri seorang tinggi kurus tengah mengawasinya, Siang Cin menjengek.
"Kalau kau sudah tahu Toa-liong-kak, kenapa tidak kau turun tangan menolong jiwa temanmu?"
Mendengus orang itu.
"Tak perlu menolong jiwa mereka, cepat atau lambat toh utang darah ini harus ditagih?"
"Baiklah, boleh coba kau tagih,"
Bentak Siang Cin, Toa-liong-kak tiba2 menyamber pula dengan suara mendesing kencang, Toa-liong-kak berputar terus membahat lebar.
Lawannya kelihatan terkejut, sedikit miring tubuh, berbareng sebilah pedang kemilau menyampuk Toa liong-kak yang menyamber tiba.
Tapi mendadak Toa-liong-kak berputar memancarkan cahaya kemilau dan berkisar turun membabat ke paha orang itu.
Se-konyong2 sinar kemilan bertebaran, pedang panjang orang itu berputar kencang, Toa-liong-kak tersampuk dan akhirnya jatuh berkerontang.
Bagai bayangan setan.
"ser, ser"", dua Toa-liong-kak tahu2 menyerang tiba pula, dikala orang itu menyadari bahaya tengah mengancam, sementara kemilau Toa liong-kak sudah menyamber tiba di depan mata. Tetapi orang itu tidak gugup sedikitpun, cepat ia berkisar ke samping, pedang berputar kencang dan rapat, tapi Toa-liong-kak seperti benda hidup saja, berulang kali kena dibentur pergi, tapi berulang kali pula memutar balik menyerang lagi dari berbagai arah.
"Bagus sahabat, kau memang berisi,"
Puji Siang Cin.
Pada setiap katanya segera sebuah Toa-liong-kak tersambit pula, Toa-liong-kak yang "meluncur akhirnya berjumlah sembilan buah.
Orang itu merasakan betapa berat tekanan sembilan batang Toa-liong-kak dari berbagai arah.
Se-konyong2 jerit kaget kesakitan tercetus dari mulut orang itu, bagai orang gila sekuatnya dia putar pedang sekencangnya, berbareng ia berusaha berkelit, sinar pedangnya yang memanjang seperti rantai perak membungkus sekujur badannya.
Tapi Toa-liong-kak memang senjata ampuh dan aneh, berulang kali terketuk pergi tapi bukan saja tidak jatuh, andaikan jatuh juga masih melejit lagi dan berputar pula menerjang balik pada lawannya, se olah2 sebelas batang Toa liok-kak ini 152 dikendalikan oleh seseorang yang lihay saja.
Benturan beberapa kali menimbulkan percikan api, kejadian hanya sekejap belaka, belum lagi pancaran kembang api itu sirna, se konyong2 terdengar rintih yang mengerikan, orang yang bersenjata pedang itu tampak berputar dengan langkah sempoyongan, tiga di antara sebelas Toa-liong-kak kena diketuknya jatuh dan tak mampu bergerak pula, tapi delapan yang lain ternyata telah menghujam ke tubuhnya, kepala, dada, perut, punggung, kaki dan tangan, dengan pedang menyangga tanah, pelan2 orang kurus tinggi itu robot terjungkal.
Secepat angin Siang Cin memburu maju memunguti Toa liong-kak, lalu menghampiri korbannya, karena badan dihiasi delapan Toa-liong-kak, keadaan orang itu boleh dikatakan sangat mengenaskan, wajahnya sudah tidak pada bentuknya semula, darah tampak meleleh dari mulutnya, dengan rebah telentang, sekujur badan berkelejetan, sinar matanya pudar, tapi masih menatap Siang Cin tanpa berkedip, mulutnya megap2 kepayahan.
Orang itu juga mengenakan seragam hitam, juga memakai kalung mainan berbentuk telapak tangan manusia warna hitam, cuma berbeda dengan kalung orang lain, tepat di tengah telapak tangan kalung orang ini terbingkai sebentuk batu warna merah sebesar buah kelengkeng.
Dikala Siang Cin melihat batu merah pada kalung ini, segera ia tahu bahwa kedudukan dan jabatan orang ini tentu jauh berbeda dengan para korbannya yang terdahulu, belum lagi pikirannya bekerja, tiba2 dilihatnya bayangan orang berkelebat di sebelah sana, didengarnya seorang berteriak ngeri dan sedih.
"Celaka ....Cit-ko ....Cit-ko dibunuh musuh!"
Siang Cin terkesiap, kiranya orang ini adalah pentolan ketujuh di antara kesepuluh gembong Hek-jiu-tong, permusuhan kini jadi lebih mendalam lagi, sambil menunduk dia berkata dengan suara berat.
"Kau bukan tandinganku. mestinya kau tidak perlu mengorbankan jiwa. Kau mati penasaran, tapi kau memang seorang laki2 sejati"
Pucat muka orang itu, ia menatap Siang Cin, kerongkongannya berkeruyuk, akhirnya kepala terkulai miring tak bergerak lagi, sepasang matanya tetap mendelik, agaknya dia mati penasaran, dengan terlongong Siang Cin mengawasi pipi kiri orang yang terdapat tahi lalat sebesar kacang berwarna kehitaman.
Suara ribut2 menyentak lamunan Siang Cin, waktu ia memandang ke sana, ratusan orang2 Hek-jiu tong telah merubung datang mengepung dirinya, semuanya bersenjata golok besar, wajah mereka tampak bengis, sorot matanya memancarkan dendam kesumat.
Dengan cepat Siang Cin mencabut delapan Toaliong-kak dari tubuh korbannya, seluruhnya dia rangkap di sebelah tangannya, dengusnya kemudian.
"Suruh pimpinanmu keluar, sembunyi bukan cara untuk menyelesaikan persoalan ini, kawanan tangan hitam, jangan biarkan darah kalian mengotori Bu wi san ceng ini dengan percuma."
Sebelum gema suara Siang Cin lenyap, dari belakang rombongan kawanan tangan hitam yang ratusan jumlahnya ini tampak tiga bayangan orang tengah meluncur datang secepat angin, di antara gerakan lompatan ketiga bayangan ini tampak pula kemilau senjata tajam.
Dalam waktu yang sama dari arah tembok yang mengalang jalan sana juga berkumandang lengking suara panjang, beruntun muncul pula tiga bayangan orang, setelah celingukan sejenak, serempak mereka meluncur ke arah Siang Cin.
Maklum bahwa suatu pertempuran besar dan banjir darah bakal terbentang di depan mata, pelan2 Siang Cin memasukkan Toa-liong kak ke dalam sarungnya di ikat pinggang.
Tiga orang yang muncul dari arah tembok tadi adalah Jan Pek-yang, Ang Siu-cu dan Te Yau, badan mereka berlepotan darah, dengan napas sedikit memburu mereka 153 melayang turun di kanan kiri Siang Cin, setelah menarik napas panjang Te Yau berkata lirih.
"Kawanan tangan hitam di atas batu sana berhasil kami babat habis, hanya lengan Ang Siu-cu saja yang terluka, tapi tidak parah, Cayhe dan Pek-yang tidak kurang suatu apapun ."
"Musuh sudah mengepung dan akan terjadi pertempuran babak terakhir di sini, Te-heng tolong kalian bertiga menyusup ke dalam perkampungan musuh dan mencari jejak puteri kesayangan Ciangbunjin kalian, Cayhe akan segera memberi tanda supaya bala bantuan kita dibawah segera menyerbu ke atas."
Te Yau melenggong, katanya.
"Tapi di sini hanya Siang-tayhiap sendiri ...." --------------------------------Pertarungan maut apa yang akan terjadi antara Siang Cin dengan gembong2 Hek-jiu-tong? Dapatkah puteri ketua Bu-siang-pay diselamatkan dan apa yang telah terjadi atas diri anak dara itu? -Bacalah
Jilid ke -9 -
Jilid 09 Kawanan tangan hitam yang berjumlah ratusan itu sudah berhenti di depan, sementara tiga sosok bayangan orang di di belakang itu dalam sekejap telah melayang lewat melampui kepala barisan manusia itu dan hinggap di depan barisan, mereka melotot gusar ke arah Siang Cin berempat.
Mendadak Siang Cin angkat tangannya, meluncurlah sebuak benda hitam bundar ke udara, ketika mencapai ketinggian belasan tombak benda itu meledak, kembang api yang berwarna warna menjadikan pemandangan udara yang indah, sesaat menatap ke atas, Siang Cin menoleh ke arah Jan Pek yang bertiga, katanya.
"Tak lama lagi situasi pasti berubah dan akan lebih baik daripada keadaan yang kita hadapi sekarang"
Kawanan Tangan Hitam di depan mereka mulai menampakkan reaksi, tapi tiada satupun yang berani bertindak tanpa perintah, sementara ketiga orang itu masih berdiri tegak tak bergeming, mata mereka tetap melotot tak berkesip.
Satu diantaranya yapg berperawakan kasar dan berhidung besar tampil kedepan, serunya dengan suara lantang.
"Anak muda, sudah cukup kau takabur, apakah Lo-jit kau yang membunuhnya?"
Siang Cin tersenyum, katanya;
"Kau inikah Si Biruang Lu Tat, pentolan keenam dari kesepuluh gembong Hek-jiu-tong?"
Bentuk mata laki2 kasar ini mirip mata ular, hidung besar seperti hidung singa, mulutpun lebar dengan bibir yang tebal pula, serunya dengan gusar.
"Akulah yang tanya kau, apakah Lo jit mati ditanganmu?". Mendengus Siang Cin dan balas bertanya.
"Kalau betul mau apa?"
Hidung laki2 kasar itu menjadi merah, hardiknya beringas.
"Siapa kau?"
Siang Cin berseru lantang.
"Napa Kuning Siang Cin."
Nama julukan ini bagai suara guntur di siang hari bolong, sekujur badan laki2 itu tampak bergetar, rona mukanyapun berubah, teriaknya.
"Bagus, Siang Cin, kiranya kau!"
Seorang laki2 setengah umur di samping yang berperawakan sedang tapi kurus menyeringai dingin. katanya.
"Liok-ko, jenazah Jit-ko belum lagi dingin, memangnya setelah dia kaku baru kau akan menuntut balas kematiannya?"
Seorang laki2 yang juga berusia pertengahan dengan alis tipis menimbrung.
"Orang she Siang, majulah kau, aku Siok-lokiu akan mengiringi kematianmu ke akhirat."
Tenang2 mengawasi ketiga orang di depannya, Siang Cin berkata kalem.
"Ya, kalian pentolan2 Hek jiu tong, Lo-liok Si Biruang gunung Lu Tat, Lo-pat Si alap2 hitam Dian Ki dan Lo-kiu Siang-to-toh-hun (sepasang golok perenggut sukma) Mo Siong telah 154 datang sekaligus, maaf kalau aku masih asing dengan kalian, maklumlah sebelum ini memang kita belum pernah jumpa, setelah kalian memperkenalkan urutan kedudukan tadi baru kutahu akan nama kalian."
Ketiga orang ini tetap berdiri tegak tanpa bergerak, sementara itu dari bawah gunung sudah terdengar suara gaduh serbuan orang2 Bu-siang-pay, kadang terdengar juga suara ledakan keras, sementara semprotan minyak berapi masih menerangi jalan berliku di sebelah bawah, gelagatnya pertempuran cukup seru atas serbuan pasukan Bu-siang-pay itu.
Tanpa mengunjuk perasaan si Biruang gunung Lu Tat menoleh danm mengawasi kedua saudara angkat di kanan kirinya, akhirnya tatapan matanya tertuju pada saudaranya yang sudah menggeletak menjadi mayat di atas tanah sana, pelan2 dia berkata.
"Siang Cin, manfaat apa yang kau terima dari pihak Bu-siang-pay, sampai kau rela menjual nyawa bagi mereka?"
Bertaut alis Siang Cin, katanya tak acuh.
"Soalnya satu sama lain segera cocok sekali bertemu, dan yang lebih penting, aku merasa muak melihat sepak terjang dan perbuatan keji kalian."
Alap2 hitam Dian Ki segera menggerung, ia memaki.
"Kentut makmu busuk!"
Lu Tat segera mengulap tangan menghentikan caci maki Dian Ki, katanya tandas.
"Siang Cin, kau sudah main terjang ke gunung kini dia main bunuh, Hek jiu tong tidak akan memberi ampun padamu. Dan lagi tak usah kau mengharapkan bala bantuan orang Bu-siang-pay di bawah gunung itu, baiklah sekarang kami bicara blak2an saja, kawanan tikus Bu-siang-pay itu takkan mampu membobol berbagai rintangan berat yang telah kami atur dengan baik, umpama berhasil menerjang kemari juga takkan luput dari kematian oleh serangan beberapa saudara tua kami."
"Apa ya?"
Siang Cin mengejek.
"Marilah kita coba2 saja."
Sambil menggeram Lu Tat menahan rasa gusarnya seperti mengharapkan sesuatu dia menengadah melihat cuaca. Dengan tenang Siang Cin berkata.
"Kalian memang boleh juga, sebelum kawan2 Busiang-pay menerjang tiba kalian sudah tahu akan serbuan mereka ...."
Si Biruang Lu Tat menyeringai dam melangkah maju, katanya.
"Tepat sekali, dan sekarang marilah kita mulai saja."
Siang Cin memberi tanda gerakan tangan kepada Jan Pek-yang bertiga yang ada dibelakangnya, habis itu mendadak ia menerjang ke sana, telapak tangannya setajam golok membabat tenggorokan Lu Tat.
Hampir pada saat yang sama, Tok-ciang Jan Pek yang tiba2 melejit maju dan melemparkan granat belerang ke udara.
"Tarr", kembang api bercampur asap biru keputihan seketika berhamburan berjatuhan ke dalam rombongan orang2 Hek jiutong. Biruang gunung Lu Tat menggerung keras, cepat ia menghindari serangan Siang Cin, berbareng sebatang toya perak sepanjang tiga kaki sudah tergenggam di tanganya, segera ia balas menerjang ke arah Siang Cin, Tanpa bersuara Alap2 hitam Dian Ki juga menyelinap maju, telapak tangan tegak miring menggempur punggung lawan. Segera Jan Pek-yang berteriak.
"Maju!"
Mereka bertiga terus menerjang masuk ke Bu-wi-san ceng. Tapi baru saja mereka melompat maju, empat golok segera memapak dari kiri-kanan, si golok perenggut sukma Mo Siong lantas membentak.
"Marilah gebrak dulu bebera jurus denganku"
Thi tan Ang Siau cu segera menyongsong serangan musuh, bandulan beruas berkelopak lima sekaligus melancarkan belasan gerakan, ayunan bandulannya menderu bagai gelombang samudra.
Tapi Jan Pek-yang dan Te Yau sedikitpun tidak tertunda gerakannya, beruntun beberapa kali lompatan, tanpa menemui banyak rintangan mereka sudah melampaui pagar dan meluncur masuk ke dalam perkampungan.
Tiga puluhan anggota Tangan Hitam roboh bergulingan, api sama berkobar di tubuh 155 mereka, bau hangus kulit daging manusia tercium keras, pekikan puluhan mulut berpadu seperti berlomba seram mengerikan.
Dengan enteng dan tangkas, Siang Cin meluputkan diri dari sergapan Dian Ki, telapak tangan berkelebat, ia balas membabat kearah musuh yang licik ini, sementara tangan kanan bergerak menciptakan bayangan ceplok2 dan tak teraba ke mana arahnya tahu2 menyongsong serangan Lu Tat.
Maka, tiga orang sama berlompatan menyingkir, terdengar Siang Cin mendengus, sebuah pukulan sakti terus dilontarkan, seketika udara seperti penuh ditaburi bayangan telapak tangan.
Tapi Biruang gunung Lu Tat juga tak mau kalah tangkas, iapun ingin pamer ilmu kebanggaannya yang telah digemblengnya selama puluhan tahun, yaitu Cui-si-cap lak-sian (enam belas kali berkelebat mengejar bayangan) dikombinasikan dengan permainan toya pendeknya yang berat itu, ia balas menyerang dengan gencar, sementara Dian Ki dengan telapak tangan kosong selalu main menyerang secara bergerilya, sehingga pertempuran tiga orang ini berjalan seru dan menegangkan, apalagi gerakan mereka sama cepat dan tangkas, masing2 sama melontarkan tipu serangan berbahaya.
No-poan-kim-cui yang diyakinkan Thi-tan Ang Siu-cu boleh dikatakan sudah cukup sempurna, selama ber-tahun2 dia tumplek segala ketekunan dan tekadnya untuk memperdalam permainan senjata bandulan yang satu ini, entah itu dikala fajar atau senja, Ho-hou cui-hoat yang punya tiga puluh enam jurus ini tak pernah lupa dilatihnya secara rajin, kini seorang diri dia menghadapi Sian ce-to-toh-hun Mo Siong, pentolan kesembilan dari Hek-jiu-tong.
Kawanan Tangan Hitam yang tidak terluka masih ada tujuh puluhan orang lebih, kecuali belasan orang yang ditugaskan memberi pertolongan kcpada para korban, sisa yang lain di bawah pimpinan beberapa Thaubak tetap merubung maju mengepung Siang Cin dan Ang Siu-cu di tengah arena.
Beruntun Siang Cin menyerang pula dengan jurus It siau-siang itu yang hebat, dikala musuh menggerung gusar seraya berkelit pergi, dengan telak kakinya mendepak roboh seorang musuh, waktu telapak tangan kirinya menyelonong ke depan, seorang lawan kena ditonjoknya terpental dengan muntah darah.
Sambil melompat kesana Siang Cin membentak kereng.
"Ang heng, kenapa mestikamu tidak segera kau gunakan?"
Dikala bicara itulah terasa deru angin mengemplang batok kepalanya, tiba2 ia melengkung badan, berbareng tangan memukul balik beberapa kali, menyusul dengan jurus Ngo mo-sio-bing langsung dia me nbelah ke arah Dian-Ki, di tengah samberan angin kencang secepat kilat itulah, tujuh kawanan Tangan Hitam telah terjungkal robob binasa.
Ang Siu-cu mengertak gigi dan melabrak Mo Siong mati2an, mendengar peringatan Siang Cin mendadak dia menyurut mundur, tapi Mo Siong bagai bayangan ikut mendesak maju, sementara sepasang goloknya yang kemilau tajam itu menyamber bersilang dari atas dan samping, sedetikpun tidak memberi kesempatan kepada lawan, malah ejeknya.
"Orang gagah dari Bu-sang-pay, hayolah maju lagi"
Bicara sejujurnya di kalangan Bu siang-pay dalam barisan Thi ji bun.
Ang Siu-cu sebetulnya terhitung jago kosen kelas wahid.
orang yang terkenal dan dijunjung tinggi martabatnya di dalam Bu siang-pay.
Kungfunya memang hebat, cerdik pandas juga pemberani, tapi kali ini ia berhadapan dengan salah satu gembong Hek-jiu tong.
nama Siang-to toh hun cukup disegani juga di kalangan Kangouw, maka Ang Siu cu dipaksa tumplek seluruh bekal kepandaiannya untuk menghadapi lawan yang hebat ini, meski dalam waktu singkat Mo Siong tak mungkin mengalahkan atau membunuh Ang Siu-cu, tapi untuk mengalahkan lawannya, Ang Siu-cu jelas juga tiada harapan.
Ang Siu-cu tak berani takabur atau lena untuk mendesak lawan, sehingga Bian-hokcuci dan pelor belerang yang disimpan dalam bajunya sama sekali tak sempat dikeluarkannya, dengan nekat di samping melayani rangsakan lawan, iapun harus selalu waspada akan serangan kawanan Tangan Hitam yang membokong sehingga 156 keadaannya cukup gawat.
Siang Cin cukup jelas akan keadaan yang dihadapi kedua musuhnya, sementara Lu Tat dan Dian Ki juga bertekad bertempur sampai titik darah terakhir untuk mengerubut si Naga Kuning, bukan saja jurus serangan mereka keji, se-olah2 merekapun rela mengorbankan jiwa raga sendiri asal gugur bersama musuh, apalagi tingkat kepandaian kedua orang ini dapat dinilai lebih unggul daripada Mo Siong.
Berkepandaian tinggi dan bernyali besar, tapi bukan tugas enteng bagi Siang Cin untuk merobohkan kedua lawannya dalam waktu singkat kecuali menggunakan jurus sakti yang tiada taranya.
padahal uutuk melancarkan jurus sakti ini dia sendiripun harus menyerempet bahaya.
Terdengar jeritan, seorang kawanan Tangan Hitam yang berbadan tinggi besar tampak terpental roboh dengan kepala remuk, sementara Mo Siong terdengar mengumpat.
"Kunyuk Bu-siang-pay, biar tuan besarmu membeset kulit dan menelan dagingmnu ...."
Tiba2 Siang Cin melambung tinggi ke atas, di tengah udara ia menukik dengan tubrukan keras, si Alap2 hitam Dian Ki berpekik aneh, kedua telapak tangan sekaligus memukul beberap kali, deru angin pukulan menyampuk bagai kisaran angin puyuh.
Tidak berkelit, tidak menghindarkan membalik, Siang Cin tetap menukik lurus ke bawah menubruk Dian Ki, dikala angin pukulan lawan hampir menyentuh tubuhnya, bagaikan mega mengambang di angkasa, dia meluncur lewat dengan jurus Gwat bong-ing, lalu disusul pula dengan tipu Ngo mo so hing, kekuatan telapak tangannya setajam golok, bagai kilat menyambar Dian Ki.
Cepat Dian Ki berusaha menyurut mundur, tapi Siang Cin tetap mengejarnya.
Pada saat itulah si Biruang gunung Lu Tat menggerung keras, toya peraknya dengan kemplangan keras terayun tiba."
Mendadak Siang Cin batalkan kejarannya kepada Dian Ki, badan melengkung, kaki mendepak di udara, gerakannya begitu indah, gesit dan tangkas, yang terlihat hanyalah segulung bayangan yang membal balik, padahal toya perak Lu Tat dengan sekuatnya telah menyabet, jelas tak mungkin ditarik balik, saking gugupnya, dengan tumit kaki dia berusaha memutar, berbareng toya perak ditarik rendah terus menjojoh.
Tapi baru ia melakukan setengah gerakan, telapak tangan Siang Cin dalam sekejap itu bagai kilat telah beberapa kali menghajar dadanya, begitu cepat sampai orang tidak sempat melihat jelas, dikala Lu Tat merasakan dadanya tergetar keras dan napas menjadi sesak oleh pukulan sekeras godam, tahu2 Siang Cin sudah berjumpalitan ke sebelah sana.
Wajah yang beringas dan kasar itu menjadi pucat dan berkerut menahan kesakitan, si Biruang gunung yang kekar ini tak kuasa lagi berdiri tegak, langkahnya sempoyongan, kerongkongan terasa amis dan tersemburlah darah segar.
Tanpa menghiraukan korbannya Siang Cin melesat ke sana, di tengah udara badannya kembali membalik, beberapa kali pukulan dahsyat sekaligus dilancarkan menyongsong Dian Ki yang memburu maju hendak menolong saudaranya.
Sambil rnenggembor marah Dian Ki melontarkan belasan jurus pukulan, tapi gerakannya tetap tertahan dan malah terdesak mundur, belum lagi sempat dia melakukan gerakan susulan, kawanan Tangan Hitam yang lain sama menjerit dan berteriak2; Liok ko roboh ......Hai kawan2, Liok ko telah ajal ..."
Dian Ki kaget seperti disambar geledek mendengar teriakan ramai itu, sesaat dia terlongong, tapi Siang Cin tidak pernah merandek sedikitpum, dengan menjengek tiba2 dia menyelinap maju, telapak tangan tegak miring membelah batok kepala orang.
Bayangan pukulan berkelebat bagai setan perenggut nyawa, Dian Ki tersentak kaget, cepat dia menekuk pinggang seraya menunduk, berbareng kedua tangan menepuk ke atas.
Akan tetapi ia tetap tak dapat menahan pukulan Siang Cin yang dahsyat.
"Prak", suara tulang terpukul patah, tulang pipi Dian Ki terpukul pecah, ia terpental ke samping, sementara tangan kanan Sang Cin membelah pula kuduk orang, kontan 157 Dian Ki menggelepar di tanah. Tanpa merandek sedikitpun, Siang Cin terus meluncur maju pula, sebilah Toa-liongkak tertimpuk, di mana kemilau cahaya berkelebat, lima pasang kaki orang yang.menerjang maju sama terbabat kutung. Mo Siong yang lagi melabrak Ang Siu-cu dapat melihat jelas, darah tersirap, dengan bola mata merah membara, sepasang goloknya berputar sekencang kitiran, mulut ber-kaok2 seperti serigala kelaparan, dengan kalap tanpa hiraukan diri sendiri dia cecar lawannya yang bersenjata bandulan ini. Dasar si Bandul besi Ang Siu-cu juga berwatak angkuh, kini musuh menyerang semakin gencar, maka bandulan emasnya juga tak mau kalah gencar dengan keras pula dia layani amukan Mo Siong Hanya beberapa gebrak saja Siang Cin yang mengamuk di sana terjang ke tengah rombongan kawanan Tangan Hitam, tiga puluhan orang sekaligus dibikin tunggang langgang, jerit tangis mereka tak terperikan, darah muncrat kemana2, sisanya yang masih segar lari pontang-panting, tapi segera mereka merubung maju pula dengan mengertak gigi dan nekat melotot penuh dendam. Tangan Siang Cm terpentang sebat sekali dia memburu ke arah Siang-to-toh-hun yang mencecar Ang Siu-cu itu, sekilas Mo Siong melirik Siang Cin, suketika jantungnya serasa pecah, takut tapi juga gusar dan dendam, akhirnya dia nekat, golok kanan dengan keras menyampuk bandulan Ang Siu-cu sementara golok di tangan kiri mengikuti gerakan tubuhnya melingkar miring menyelonong ke samping Ang Siu-cu. Thi tan Ang Siu cu berusaha menarik balik bandulannya, dengan tangan kanannya membelah ke dada lawan, Kejadian berlangsung cepat, se-olah2 baru saja mulai dan segera pula berakhir, belum sempat Siang Cin memburu tiba, cepat dia berteriak.
"Awas Ang-heng, mendekam ......."
Sayang baru saja suaranya keluar dari mulut.
"trot", golok Mo Siong telah menusuk masuk sela2 tulang iga Ang Siu cu, hampir pada waktu yang sama telapak tangan Ang Siu cu dengan telak juga membelah dada kiri orang.
"Trang", bandulannyapun berhasil membentur pergi golok kanan Mo Siong, di tengah percikan lelatu api, kedua orang sama terpental roboh ke belakang. Begitu tubuh Ang Siu-cu menyentuh tanah, kawanan Tangan Hitam yang merubung disekitar gelanggang segera memburu maju sambil menghujani bacokan golok mereka. Sementara itu Siang Cin telah menerjang tiba, di mana lengannya menggaris, telapak tangannya menyerempet tenggorokan tiga musuh yang memburu maju, semburan darah segera menyemprot tinggi, sementara Siang Cin menggasak pula dua lawan yang lain, dua orang kawanan Tangan Hitam ini melolong keras, golok mereka mencelat, tulang dada patah dan remuk, jiwa melayang seketika. Ang Siu-cu jatuh tengkurap dengan napas kempas kempis, tangan kiri menekan luka pada iga kiri, tapi darah tetap merembes dari celah2 jari tangannya. Setengah berjongkok Siang Cin bertanya dengan cemas.
"Ang heng, bagaimana keadaanmu?"
Dengan suara serak Ang Siu-cu menjawab.
"Sia ng ..... Siang-tayhiap .......aku tak kuat lagi."
Waktu berpaling ke sana, terlihat oleh Siang Cin kawanan Tangan Hitaan tampak memapah Mo Siong yang kelihatan bermuka pucat menuju kedalam perkampungan.
Sambil angkat tubuh Ang Siu cu, segera Siang Cin membentak.
"Mo Siong, serahkan jiwamu. ....."
Di tengah kumandang suaranya Siang Cin melayang ke sana, terjun ke tengah gerombolan musuh, beberapa kawanan Tangan Hitam yang memapah Mo Siong sama berteriak kaget, ada beberapa orang angkat golok terus menerjang maju.
Sekali Siang Cin geraki tangan kanan, dua musuh melolong kesakitan dan menyernburkan darah segar, kematian mereka teramat mengenaskan.
158 Mo Siong menjadi kalap dan beringas, dia dorong orang2 yang memapahnya, dengan langkah sempoyongan dia menyerbu maju seraya berteriak deagan suara serak, dua bilah goloknya memancarkan sinar kemilau membabat miring, mengarah leher dan dada Siang Cin.
Mencorong bola mata Siang Cin, ia menghardik bengis.
"Bayarlah hutang jiwamu, Mo Siong!"
Sepasamg golok baru menyamber setengah jalan.
"Nyek", tiba2 Mo Siong terpukul mencelat, badannya jungkir balik di udara celakanya kepalanya membentur tanah lebih dulu dan pecah. Dua orang yang memapahnya tadi berdiri melongo ketakutan, kaki mereka seperti berakar di bumi, tenaga untuk angkat langkah seribupun sudah tiada lagi. Bola mata Siang Cin merah membara melotot kepada kedua orang yang ketakutan ini, pelahan dia berkata.
"Kalian bunuh diri saja sekarang!"-Tiba2 bergidik seperti tersentak bangun dari lamunan mereka, kedua orang ini putar badan terus hendak melarikan diri, Siang Cin mendengus sekali, di mana tangannya bergerak.
"Serr", sebatang Toa-liong-kak dia sambitkan, terdengar kedua orang itu mengeluh tertahan, Toa-liong-kak tahu2 sudah berputar kembali pula ke tangan Siang Cin. Tanpa ayal lagi Siang Cin melompat ke atas tanggul dan turun di baliknya baru dia rebahkan Ang Siu-cu yang dipanggulnya, keadaan Ang Siu-cu sudah kempas kempis, napasnya sudah lemah dan tinggal menunggu ajal belaka. Menggosok telapak tangan yang gemetar Siang Cin berteriak dengan suara serak.
"Ang-heng . .....bala bantuan kalian akan segera tiba, kuatkan hatimu, pertahankan dirimu ......takkan lama tentu ada orang akan memberi pertolongan padamu"
Pelahan2 membuka matanya yang pudar, wajah Ang Siu-cu yang pucat mengulum secercah senyum tawar, bibirnya gemetar, suaranya terdengar rendah "Mung ...kin tak kuat lagi, Siang-tayhiap ....aku kuatir ......setengah hidupku berkecimpung di kalangan Kangouw ......hari ini memperoleh ganjaran ......yang setimpal, memang demikianlah ......sebab dan akibat, ini memang .....sudah kuduga sebelumnya ., .., ..."
Menggeleng pilu Siang Cin, katanya dengan suara lirih.
"Gara2ku yang tidak becus membantumu, Ang-heng. Ai, apa pula yang bisa kukatakan?"
Beberapa kali tubuh Ang Siu-cu bergetar dan berkelejetan, matanya terbeliak, sementara sinar matanya sudah mulai pudar, Siang Cin sudah sering melihat keadaan macam begini, dia tahu laki2 yang gagah perwira dihadapannya ini tak lama lagi bakal mangkat mendahuluinya menuju alam baka.
Tengorokannya bersuara rendah, jari tangan Ang Siu-cu yang gemetar dan terasa mulai dingin menggenggam kencang tangan Siang Cin, kulit mukanya berkerut, sekuatnya dia menarik napas, lalu berkata dengan tersendat.
"Suruh ...., suruh mereka ......membawa pulang abu tulangku ke padang rumput ....... ."
"Ya, pasti kulakukan,"
Sahut Sing Cin.
Ang Siu-cu berkelejetan beberapa kali, lalu tak bergerak lagi, namun bola matanya tetap terbelalak, matipun agaknya dia tak mau meram.
Tanpa bersuara Siang Cin berdoa mengawasi jenazah dihadapannya, dia menghela napas, lalu dia pondong jenasah Ang Siu-cu dan ditaruh di tempat yang agak tersembunyi, lalu dia lari ke arah Bu-wi-san-ceng.
Dinding tembok yang dibangun dari batu gunung tampak begitu tinggi dan tebal, musuh yang datang kemari pasti akan ciut nyalinya, tapi Siang Cin sedikitpun tidak gentar, dia melayang ke atas, bagai seekor burung raksasa di tengah udara dia meliuk dengan badan melengkung, dia melayang turun seringan daun jatuh.
Tempat berada Siang Cin adalah sebuah serambi panjang luas yang dialasi batu marmer hijau, maju ke depan lagi adalah deretan rumah yang di bangun dari batu gunung.
Tepat di tengah sana adalah ruang pendopo, delapan buah pintu yang diatur segi delapan dengan daun pintu terbuat dari tembaga seluruhnya terpentang 159 lebar, cahaya lampu tampak terang benderang di dalam pendopo, di payon kiri kanan rumah bergantungan dua belas lampu kaca yang mengkilap, sebuah huruf "GI" (setia) yang besar berwarna merah darah tergantung tepat di tengah dinding ruangan, di bawah huruf besar ini, tepat di kaki tembok terdapat sebuah meja panjang, dua batang lilin besar tampak menyala terang.
Dalam suasana segenting ini tiada tampak bayangan seorangpun didalam ruang pendopo ini, Siang Cin memandang ke seluruh penjuru, perhatiannya tertuju pada pigura besar tepat tergantung di tengah ruangan, pigura ini berwarna dasar putih, tanpa tulisan sehurufpun, hanya ada lukisan tangan manusia berwarna hitam yang kelihatannya seram.
Agaknya baru saja berlangsung dalam ruang pendopo ini perjamuan pernikahan.
Diam2 Siang Cin menghela napas kasihan akan nasib anak perempuan itu, juga merasa ikut malu pula bagi pihak Bu-siang-pay, padahal pasukan sudah dikerahkan, peperangan yang menimbulkan banjir darahpun telah terjadi, betapa banyak jiwa telah dikorbankan, memangnya apa tujuannya?
Tidak lain hanya ingin melampiaskan rasa penasaran belaka?.
Pelan2 Siang Cin menaiki undakan dan maju ke depan, memasuki ruang pendopo, harumnya dupa dan baunya arak masih merangsang hidung, permadani merah digelar sejak dari pintu memanjang ke arah meja sembahyang di tengah ruang sana, suasana gembira ria masih terasakan.
Menjelajah ke seluruh ruangan, tiada jejak mencurigakan yang ditemukan oleh Siang Cin, lalu dengan langkah hati2 dan penuh perhitungan Siang Cin membelok ke kiri menyusuri serambi menuju ke belakang, di sana terdapat sebuah kamar duduk yang dipajang dengan serasi dan asri.
Kamar ini terdapat tiga buah pintu, satu di antaranya menembus ke belakang pula, sementara pintu di kanan-kiri menembus ke kamar lain, setelah berpikir sejenak, Siang Cin tidak memeriksa lebih lanjut, dia membelok ke pintu kanan.
Di sini terdapat serambi yang liku2, di ujung serambi adalah sebuah rumah yang terbuat dari batu gunung pula, keadaan gelap gulita dan tidak terdengar apa2, dengan enteng Siang Cin meluncur ke depan, kira2 setengah perjalanan serambi berliku itu, tiba2 ia belok keluar serambi, sekali melenting, dia melejit tinggi dan hinggap di atap rumah.
Di atap serembi panjang ini pada kedua sisinya terdapat payon yang bertalang tempatnya yang dekuk cukup pas untuk mendekam seorang.
Segera kuping Siang Cin yang tajam mendengar suara "klik"
Sangat pelahan, payon yang kedua sisi terbuat dari lempengan besi itu mendadak terbalik dan mengatup, baru sekarang disadari oleh Siang Cin bahwa payon besi ini ternyata tajamnya luar biasa.
Sigap sekali tangan Siang Cin menepuk ke bawah sehingga badannya mencelat ke atas, dikala badannya tegak kembali di atap serambi itu, hujan panahpun memapak dirinya.
Dalam kegelapan Siang Cin masih bisa melihat bahwa hujan panah dibidik keluar dari barisan jendela di deretan rumah pertama ujung serambi sana, cepat Siang Cin melayang ke sana sembari ayun sebelah tangannya, sebuah kotak kayu warna merah dia timpukkan dengan deru suara yang kencang melayang masuk melalui jendela ke dalam rumah pertama.
Suara kotak kayu itu jatuh dan pecah berantakan sekejap saja didengarnya kegaduhan mulai timbul di dalam rumah.
"Waduh, O, apa ini yang menggigitku"" ---"Aduh biang, sakit sekali .....
"Celaka, dari mana labah2 sebanyak ini? Aai, minggir, jangau kau mendesak ke arahku ......" -"To-thauling, aduh, aku digigit ....... .."
Siang Cin menyeringai, mendadak ia membalik tubuh, sebuah sabuk kain berminyak bagai seekor ular panjang tiba2 meluncur, dengan tepat menghantam lampu kaca yang paling ujung.
"Prang pyaaar", ditengah suara berisik berhamburnya pecahan kaca, suara nyala api yang segera berkobar terdengar mengerikan, sabuk minyak yang mengandung belerang itu seketika menimbulkan kebakaran yang hebat. 160 Setelah menarik napas panjang, Siang Cin pentang tangan dan mengapung ke atas hinggap di atap paling tinggi dari bangunan itu. Api berkobar semakin besar di sebelab bawah, segera Siang Cin melayang ke sana pula, dikala hampir tiba di samping bangunan tinggi besar ini, dari arah kanan dilihatnya dua orang tengah baku hantam dengan sengit, keduanya bergebrak dengan gerak cepat dan cekatan. Lapat2 Siang Cin mengenali kedua orang yang lagi berhantam di atap rumah itu satu di antaranya adalah Poan-hou-jiu Te Yau, lawannya adalah seorang yang berjubah merah. Baru saja ia hendak menerjang kesana membantu Te Yau, tiba2 ia punya pikiran lain, umumnya orang2 kawanan Tangan Hitam, sekalipun dia seorang gembong yang punya kedudukan tinggi, semuanya mengenakan warna hitam, memangnya dari mana pula jago kosen berjubah merah ini? Memangnya di dalam waktu singkat ini pihak mereka telah mengundang jago2 dari aliran lain untuk bantu menghadapi serbuan orange Bu-siang-pay? Kalau hal ini betul, betapa banyak jago2 silat yang telah tiba? Bagaimana tingkat kepandaian mereka? Kini di mana pula mereka menyembunyikan diri? Siang Cin tidak ayal lagi, cepat dia melesat ke sana, dari jauh angin pukulannya segera melanda musuh yang berjubah merah menyolok itu. Sebat sekali orang berjubah merah itu berkisar, pergi, Poan-hou-jiu Te Yau berteriak riang.
"Siang-tayhiap, jejak Siocia sudah ditemukan, Pek yang sedang ......"
Belum habis dan bicara laki2 ubah merah telah melompat maju ke kanan-kiri, dalam gerakan ke kiri-kanan ini, tiba2 sebelah tangannya menggablok ke arah Siang Cin, sedang tangan yang lain memukul Te Yau tenaga pukulannya kuat luar biasa.
Diam2 Siang Cin mendongkol, main kepalan dirinya adalah paling ahli, kenyataan lawan berani main hantam dihadapannya.
Sembari menghardik tangannya bergerak setengah melingkar, lingkaran kecil terus meluas menjadi sebuah lingkaran besar, di tengah lingkaran besar inilah tersembunyi pukulan hebat, se-olah2 sebuah jala besar yang tidak kelihatan terus mengurung ke arah musuh.
Maka si jubah merah merasakan adanya gencetan berat dari dua arah yang berbeda, begitu tahu gelagat tidak menguntungkan cepat dia menyurut mundur, tapi ujung jubahnya terobek oleh telapak tangan Siang Cin.
Bagai bayangan.
Siang Cin memburu maju dengan serangan tiga puluh tujuh jurus pukulan, sementara kedua kakinya berganti menendang secara berantai, gaya pukulannya yang keras bagai gelombang yang ber-gulung2, bayangan kakinya secepat kilat, rangsakan yang dahsyat ini sekaligus mendesak si jubah merah mundur sampai di pinggir atap rumah.
Siang Cin melejit mundur seraya mendengus, lalu ia berseru.
"Te-heng, apakah Janheng mengejar musuh?"
Te Yau menyahut.
"Betul, tadi Cayhe juga ikut mengejar, tapi dicegat keparat ini."
Dalam percakapan singkat ini, laki2 jubah merah telah menubruk balik, begitu berhadapan kedua tangannya kembali melancarkan bayangan pukulan yang bersusun dan tebal menggulung kearah Siang Cin.
Kini Sang Cin telah melihat jelas tampang lawannya, ternyata orang ini berwajah cakap, seorang pemuda yang gagah kekar, sikapnya kelihatan angkuh, sorot matapun tajam.
Sambil bcrputar, se konyong2 bayangan jubah kuning Siang Cin berkelebat, seolah2 sekaligus telah berubah menjadi ribuan Siang Cin, dari arah yang sukar diduga ini, sekaligus ia menggempur musuh dengan tak kalah gencar dan sengitnya.
Deru angin pukulan meledak saling bentur, bayangan pukulan beterbangan tanpa kenal ampun lagu ia menggempur laki2 jubah merah itu.
Siang Cin telah keluarkan Bong-li-mo (iblis dalam ini api), salah satu dari kesembilan keahliannya, selama terkenal di Kangouw jarang Siang Cin menggunakan jurus yang lihay ini Karena Bong-li-mo dan Win jian san merupakan tipu pukulan yang paling ganas diantara sembilan jurus ilmu pukulannya yang hebat, seluruhnya telah 161 memeras tenaga dan pikiran Siang Cin selama enam tahun baru berhasil diyakinkannya ilmu pukulan ini.
Maka terdengar si jubah merah menjerit kaget, sekuatnya dia melompat sejauhnya, sembari melompat kedua tangannya masih bergerak membuat pertahanan yang kukuh bagai dinding, sekuatnya dia berusaha membendung serangan gencar musuh yang memberondong tiba dari berbagai penjuru, serentetan suara keras menggetar, tubuh si jubah merah tampak terjungkal ke bawah.
Sebat sekali Poan-hou jiu Te Yau memburu maju, serunya sambil tepuk tangan.
"Siang tayhiap, kau memang hebat, tidak lebih dari tiga jurus sudah kau bikin bocah itu terjungkal ke bawah, padahal sudah hampir ratusan jurus Cayhe bergebrak dengan dia ."
Siang Cin tersenyum, katanya.
"Te-heng, tahukah kau ketiga jurus ilmu yang kugunakan tadi telah memeras keringat, tenaga dan pikiranku selama tujuh tahun?"
Melenggong sejenak, lalu Te Yau tertawa kikuk.
"Kungfu anak muda tadi ternyata cukup lihay,"
Demikian kata Te Yau kemudian.
"bicara terus terang Siang tayhiap, kalau dilanjutkan mungkin aku tidak dapat mengalahkan dia."
Sambil menepuk pundak Te Yau, dengan rasa was2 Siang Cin berkata.
"Gelagatnya kurang beres, si jubah merah tadi jelas bukan anggota kawanan Tangan Hitam, sejauh ini kita belum tahu berapa banyak musuh telah mengundang bantuan dari golongan lain, sedang bala bantuart Bu siang pay kalian sampai sekarang belum juga menyerbu tiba di sini, padahal jejak puteri Ciangbunjin kalian belum .juga ada kepastiannya, malah ......em, herannya gembong2 kawanan Hek jiu-tong yang lain sampai sekarang belum juga muncul ........."
Tanpa sadar hampir saja Siang Cin menceritakan tentang kematian Ang Siu-cu, tapi dia tahu dalam detik2 yang masih gawat ini, berita duka cita ini sekali2 tidak boleh dia sampaikan, supaya tidak mempengaruhi semangat juang orang2 Bu-siang-pay, jika sampai kalap dan bertempur tanpa menggunakan pikiran sehat, urusan tentu bisa runyam.
Agaknya Poan-hou-jiu Te Yau tidak perhatikan bahwa Ang Siu-cu sudah tiada di samping Siang Cin, dengan rasa kuatir dia berkata.
"Kekuatiranmu memang beralasan, Siang-tayhiap, Pek-yang sudah mengejar ke sana, perumahan dalam perkampungan itu seluruhnya gelap gulita, bangunannya sambung menyambung seluas ini, untuk mencari jejak Pek yang memang bukan soal mudah ......"
Berpikir sejenak, Siang Cin berkata pula.
""Apa boleh buat, terpaksa kita berpencar mencarinya, peduli dapat tidak menemukan Jan-heng dan puteri Ciangbunjin kalian, dalam waktu sesulutan dupa kita harus sudah tiba dan menunggu di pintu ruang pendopo sana."
Baru saja Te Yau manggut, tiba2 seperti ingat apa2 dia bertanya.
"O, ya, Siang tayhiap, mana Siu-cu?"
Kebetulan Siang Cin sudah putar tubuh, sahutnya dengan tertawa getir.
"Dia terpisah denganku. Hayolah sekarang kitapun berpencar."
Habis bicara Siang Cin mendahului terjun ke tempat gelap.
Sejenak Te Yau berdiri melenggong, ia geleng kepala, iapun melompat ke sana.
Suasana dalam perkampungan yang luas gelap ini sunyi senyap, dalam kesunyian ini terasa adanya ancaman yang amat berbahaya dan membuat orang merinding, Tanpa berhenti Siang Cin terus meluncur ke barat, matanya menjelajah dan memeriksa dengan cermat setiap tempat dan setiap sudut, tapi kecuali kesunyian dan kepekatan, perkampungan besar ini hampir boleh dikatakan sudah tidak dihuni oleh makhluk hidup lagi.
Tiba pada sebuah taman bunga yang kelihatan teratur dan terawat baik, berbagai jenis bunga seruni tumbuh di dalam pot2 yang berjajar di sekeliling empang yang berbentuk sabit, sebuah jembatan berliku tampak melintang di atas empang yang panjang dan luas ini, sebuah gardu mungil berada di tengah empang sana Siang Cin memandang sekilas ke sana, baru saja ia hendak berlalu, tiba2 ia mendengar suara 162 kresekan lirih di dalam gardu.
Tergerak hati Siang Cin, lekas dia mendekam, dengan tajam dia mengawasi gardu itu, sesaat kemudian, dari dalam gardu kembali didengarnya suara pakaian yang bergesek, batok kepala seorang tampak menongol keluar serta celingukan ke kanan kiri.
Mendadak Siang Cin pentang tangan, secepat kilat tiba2 dia menubruk kepala yang menongol itu.
Sudah tentu kejadian mendadak ini membuat orang itu kaget dan menjerit takut, belum lagi sempat dia memberi reaksi, sekali raih dan jambak Siang Cin sudah angkat orang itu ke atas, orang ini berpakaian hitam dengan kulit muka benjal benjol, wajah yang bengis dan jerih, ini memang cocok sebagai anggota kawanan Tangan hitam.
Sembari menjerit kaget, golok yang dipegang orang itupun terlepas jatuh dan bersuara nyaring.
Sekencang tanggam Siang Cin jambak leher baju orang itu, katanya dengan menyeringai.
"Pasukan besar Bu-siang-pay telah menyerbu ke atas Pi-ciok-san, sepuluh gembong kalian sudah gugur separuh, anak buah juga tak terhitung banyaknya yang binasa, yang masih hidup sudah ngacir menyelamatkan diri, dan kau sahabat, kini juga tiada harapan hidup lagi."
Saking tegang dan ketakutan orang itu tampak pucat mukanya, napasnya terasa sesak, mulutnya megap2, sekujur badan gemetar dan basah oleh keringat dingin, sedikit mengendurkan jari2nya Siang Cia berkata pula.
"Di mana kalian sekap puteri Ciangbunjin Bu-siang-pay?"
Sekuatnya orang itu menarik napas sahutnya tersendat.
"Aku ......aku tidak tahu."
Setajam pisau sorot mata Sang Cin di tempat gelap, jengeknya mengancam.
"Sekarang kau akan mampus secara sia2, Hek-jiu-tong sudah hancur, tiada orang yang akan memuji dan mengenangmu, kematianmu tak ubahnya seperti babi atau anjing yang tak berharga, tapi kau tak usah kuatir, kawan2mu sudah bubar, tiada orang yang akan membuat tuntutan dan mencari kesulitanmu, maka beritahukan saja padaku sejujurnya, nanti kuberi seratus tahil perak sebagai imbalan jasamu, ehm?"
Daging benjal-benjol di muka laki2 bermuka buruk ini tampak ber gerak2, ia mengawasi Siang Cin dengan ragu.
"Bagaimana?"
Siang Cin mendesak pula. Orang itu celingukan ke kanan-kiri, lalu berkata dengan suara lirih.
"Baiklah, kuberitahu padamu, nona dari Bu-siang-pay kalian itu dikurung dalam kamar rahasia di bawah gardu ini ..... ."
Siang Cin menatapnya lekat2, tanyanya.
"Cara bagaimana membuka pintu kamar rahasia?"
Sejenak bimbang akhirnya orang itu berkata.
"Meja batu di tengah gardu itu diputar ke kanan kiri masing2 tiga kali, meja batu itu akan bergeser dan terbuka sebuah lubang yang menjurus ke bawah dengan undakan batu, setelah melewati lorong sempit panjang akan tiba di kamar tahanan itu."
"Siapa yang menjaga nona itu?"
Tanya Ciang Cin pula. Setelah menelan liur baru orang itu menjawab ragu2.
"Ada ....Pat-ko Dian Ki dan lima orang Thaubak."
Dingin sinar mata Siang Cin, katanya.
"Bagus, kau memang jujur dan mau terus terang, sekarang biar aku memberi persen padamu."
Mulut si muka burik tampak menyungging senyum.
tangannya terulur untuk menerima dua ratus tahil yang dijanjikan Siang Cin.
Siang Cin merogoh saku mengeluarkan uang yang dijanjikan, malah jumlahnya satu kali lipat lebih banyak, tapi begitu uangnya tergenggam ditangan orang, tiba2 dia tertawa ter kekeh2 aneh, bernada kejam dan mengancam, seketika orang bermuka buruk itu merasakan gelagat jelek, belum lagi dia menggenggam kencang dua keping uang perak itu, tahu2 uang itu terebut pula oleh Siang Cin, sekali gablok, 163 kedua keping uang perak itu ambles masuk ke sela2 tulang pundak orang itu.
"Huuaaah,"
Laki2 buruk rupa itu menjerit, saking kesakitan muka yang jelek dan hitam itu tampak pucat kelabu. Siang Cin menjambaknya pula, sepatah demi sepatah dia berkata.
"Bicaralah terus terang padaku, di mana nona itu disembunyikan?"
Sambil menahan sakit dan keringat dingin gemerobyos, kata orang itu dengan gemetar.
"Aku... aku sudah beritahu ....beritahu padamu ....aku .., . sudah bicara terus ....terus terang "
"Tapi kau lalai akan satu hal,"
Jengek Siang C,a.
"ketahuilah Pat-ko kalian si Alap2 hitam Dian Ki sudah modar, malah aku sendirilah yang merenggut nyawanya."
Laki2 itu berdiri melongo dengan badan tetap gemetar, mungkin saking kaget sampai dia lupa merintih kesakitan maka sedikit tekan uang perak yang menusuk di tulang pundak orang itu, Siang Cin mengancamnya pula.
"Di mana?"
Keruan orang itu menjerit pula seperti babi disembelih saking kesakitan suaranyapun berubah serak, katanya sambil menahan sakit.
"Me ... , memang betul ....berada ....di dalam kamar batu ...."
"Bohong!"
Bentak Siang Cin.
Telapak tangannya bekerja pulang-pergi, dia gampar muka orang beberapa kali, laki2 itu mundur sempoyongan serta roboh telentang, waktu merangkak bangun tangannya berusaha memungut goloknya yang terlempar jatuh di lantai tadi terus hendak membabat kaki Siang Cin.
Baru saja sinar golok berkelebat, mendadak kaki Siang Cing terayun, belum lagi golok orang menyamber tiba, kakinya telah menendang Thay yang-hiat dengan telak, bersama goloknya orang itu mencelat ke atas dan "byuuur"
Kecebur ke dalam empang.
Sejenak mengawasi mayat yang terapung dipermukaan air, mendadak Siang Cin membalik badan.
Dalam gardu entah sejak kapan sudah berdiri seorang laki2 tua berpakaian hitam dengan jenggot putih panjang terurai di depan dada.
Sorot mata orang tua ini setajam kilat, lama dia pandang Siang Cin lekat2, Siang Cinpun balas menatap orang dengan dingin, dalam kegelapan dia sudah mengerahkan Lwekangnya siap bertindak untuk menjatuhkan musuh lebih dulu.
Dengan lantang orang tua ini berkata.
"Biarlah Lohu saja yang beritahu di mana puteri Ciangbunjin Bu-siang-pay sekarang berada."
"Siapa kau?"
Bentak Siang Cin. Orang tua itu menyeringai dan berkata.
"King Ji-seng."
Mendengus Siang Cin, katanya.
"Lama kudengar namamu yang tersohor, sahabat tua, Kunsu (guru atau penasihat) dari Hek-jiu-tong, si bijak yang pandai membakar rumah dan membunuh orang."
Marah tapi King Ji seng tertawa, katanya.
"Kelihatannya Lohu memang welas asih, tapi bila perlu aku bisa melakukan kekejaman, sebaliknya kau, membunuh orang seperti memotong sayur, jadinya sahabat muda, kau tiada ubahnya seperti diriku"
Siang Cin menjengek.
"Kalau dua durjana berhadapan, maka dia harus menentukan antara mati dan hidup."
Sambil mengelus jenggot, sikap King Ji-seng tampak tenang, katanya.
"Akan tetapi, apakah kau tidak pikirkan lagi tentang jiwa puteri Ciangbunjin Bu-siang pay?"
"Baiklah, silakan bicara,"
Ucap Siang Cin. Setelah berdehem lalu King ji-seng berkata dengan pongah.
"Puteri CiangbunJin Busiang-pay Thi Yang-yang sudah suka sama suka dan menjadi jodoh yang setimpal dan takkan terpisahkan dengan Losam kami, mereka sudah melangsungkan pernikahan secara resmi petang tadi, keduanya sudah berjanji kepada bumi dan langit untuk hidup sampai tua ....."
"Apakah ada comblang dan saksi dari kedua pihak?"
Jengek Siang Cin.
"Sudah tentu ada!"
Siang Cin mencibir, katanya.
"Siapa saksinya? Apakah bapak ibu Thi Yang yang telah memberi izin? Ini hanyalah permainan kotor kalian sepihak, kalian harus tahu, aku dan Bu-sang-pay bukan kaum lemah yang mudah ditipu dan dipermainkan." 164 Sedikit berubah air muka King Ji-seng, tapi sekuatnya dia menahan emosi, katanya tawar.
"Terserah bagaimana penilaianmu, tapi kau juga harus maklum akan satu hal, jika Thi Yang-yang sendiri tidak menyetujui perjodohan ini, siapapun tak kuasa memaksanya untuk melangsungkan pernikahan ini, malahan terus terang, meski baru sekarang resminya mereka melangsungkan pernikahan, hakikatnya sebelumnya hubungan suami-isteri lahir batin telah mereka lakukan."
Diam2 Siang Cin menghela napas, hal ini memang sudah dalam dugaannya, tapi dia tetap ngotot menurut pendapat dan pandangannya, katanya.
"Yang jelas pernikahan ini diadakan secara sepihak oleh Hek-jiu-tong kalian, Khong Giok-tik membalas budi kebaikan dengan kejahatan, bukan saja tidak berterima kasih akan pertolongan jiwanya terhadap Bu-siang-pay, malah menculik orang dan mencuri pusaka, puteri penolongnya dipikat dan dibawa lari, dia telah menyalahi kebenaran, kepercayaan dan kesetiaan, karena itu sahabat tua, umpama benar Thi Yang-yang sendiri sukarela melangsungkan pernikahan ini, ehm, yang terang perjodohan ini tanpa restu orang tua dan tak dapat dianggap resmi."
King Ji-seng mendengus, katanya sinis.
"Sahabat muda, itu adalah pandangan kalian, kini bentrokan telah berlangsung secara terbuka, umpama kalian hendak mengakhiri pertikaian ini juga tidak boleh jadi, Lohu hanya ingin membeber persoalan sebenarnya, jadi bukan mengharapkan sesuatu yang mustahil. Dan lagi dendam kematian Lo-jit dan Lo-pat belum kami tuntut dari kedua tanganmu yang berlepotan darah itu, maka kau harus membayar utang jiwa ini dengan kematianmu."
"Memang sudab kupertimbangkan cara tuntut balas kalian ini,"
Ucap Siang Cin.
"bagaimana hasilnya segera akan kita buktikan bersama, sudah tentu akan terjadi banjir darah, darah kalian atau darahku."
Menatap Siang Cin sekejap pula, tiba2 King Ji-seng membalik badan pada saat tubuhnya ber-gerak itulah tahu2 bayangannya lantas lenyap.
tapi Siang Cin sudah melihat bahwa dua langkah di belakang King Ji-seng berdiri itu, lantai bergerak merapat, jadi King Ji-seng melenyapkan diri ke bawah lorong.
Menerawang sebentar keadaan, Siang Cin terus putar balik keluar, dia harus cepat mengirim berita ini kepada orange Bu-siang-pay, selain itu iapun merasakan firasat jelek, ia merasa tidak semestinya para gembong Hek-jiu-tong sejauh ini tidak menampakkan batang hidungnya, se-olah2 di balik suasasana ini tersembunyi suatu muslihat yang keji dan jahat.
Pertama, kenapa gembong2 Hek-jiu-tong tidak muncul seluruhnya membendung serbuan musuh?
Adalah lucu bila mereka lupa bahwa memecah kekuatan adalah memperlemah pertahanan sendiri.
Kedua, meski Busiang-pay telah melakukan serangan besar, sejauh ini pertempuran tetap berkecamuk di daerah jalan dua belas liku sana, di puncak Pi-ciok san, terutama dalam Bu-wi-san-ceng tidak nampak suasana tegang sedikitpun, apalagi pertahanan di sinipun terlampau lemah, jelas ini bukan tindakan kawanan Hek-jiu-tong yang biasanya cukup cermat dan lihay.
Ketiga, siapa pula laki2 jubah merah tadi?
Apakah Hek-jiu tong sudah simpan jago2 silat golongan lain yang telah diundang untuk membantu?
Berbagai pertanyaan ini, semakin dipikir semakin terasa ruwet dan mencurigakan.
Sebat sekali dia meluncur keluar rumah, dari sini dia melihat ke arah pendopo yang tetap terang benderang, tapi tetap tidak kelihatan bayangan orang, demikian pula pintu gerbang Bu wi-san ceng tetap tertutup rapat.
Baru saja Siang Cin hendak melompat pula ke sana, teriakan pertempuran yang gegap gempita segera berkumandang ke atas gunung, suara ledakan dan kobaran api belirang dengan asapnya yang tebal, sayup2 terdengar pula benturan senjata dan jerit lolong yang menjadi korban.
Tadi di dalam dia tidak mendengar apa2, maklumlah jaraknya terlalu jauh, tapi dalam sekejap ini kenapa pihak Bu-siang-pay dapat menyerbu dan naik ke puncak gunung begini pesat, boleh dikatakan serbuan meraka amat mudah tanpa rintangan?
Memangnya muslihat apa yang diatur musuh?
Tanpa ayal Siang Cin melayang ke dalam Bu-wi-san-ceng, baru saja dia hinggap di 165 balik pagar tembok, dia melihat orang2 Bu-siang-pay dengan golok sabit mereka yang kemilau itu sudah menerjang tiba dari jalan berliku yang terang benderang itu, hanya masih beberapa gelintir saja kawanan Hek-jiu-tong yang tetap bertahan mati2an.
dalam kegelapan tampak rombongan besar orang Hek-jiu-tong sedang mundur ke arah utara.
Di tengah kobaran api dan asap tebal yang bergulung itu, si Sayap terbang Kim Bok tampak memburu datang, perawakannya yang tinggi besar tampak menyolok, tiga puluhan orang Bu-siang pay yang berseragam putih dengan gelang emas melingkar di jidat tampak ikut menyerbu di belakangnya.
Cepat Siang Cin memapak maju.
Muka kim Bok tampak merah berdarah, noda darah mengotori sekujesr badannya, Cuncu Wi ji-bun dari Bu siang-pay ini tampak memburu napasnya, rambutnya awut2an, pakaiannya hangus terbakar di beberapa tempat, melihat Siang Cin segera dia girang.
"Lote, tiga barisan kita seluruhnya telah menyerbu tiba, bagaimana keadaan di sini?"
Siang Cin tertawa, katanya.
"Kim-cuncu, kenapa kalian bisa menyerbu datang secepat ini?"
Hui-ih Kim Bok tertawa, katanya.
"Tidak begitu cepat, dimulai sejak melihat tandamu, keparat Tangan hitam itu bertahan mati2an, baru setengah jalan sudah dua puluhan anak buah barisanku yang gugur, si jenggot merah yang jagal itupun terluka, tapi musuh mungkin tahu tak mampu melawan, ketika kami berhasil menduduki lagi beberapa pos penjagaan mereka, tahu2 mereka mundur dan melarikan diri, maka dengan leluasa tanpa banyak rintangan kami, serbu sampai di sini."
Setelah menghela napas, Kim Bok memandang sekitarnya dengan senyum lebar, bayangan yang bergerak semuanya berpakaian putih, mereka adalah orang2 Busiang-pay yang telah menduduki puncak gunung sebelah luar, maka dengan puas Kim Bok bertepuk tangan, katanya.
"Lote, marilah kita langsung serbu ke sarang mereka?"
"Kim-cuncu,"
Ucap Siang Cin sambil menggeleng.
"kurasa gelagat kurang wajar, serbuan harus segera dihentikan."
Terbelalak Kim Bok, serunya kaget.
"Dihentikan? Dengan susah payah kita menyerbu ke sini, mana boleh dihentikan? Kalah menang bukan soal, yang penting jangan merosotkan semangat juang mereka."
"Kim-cuncu,"
Kata Siang Cin gelisah.
"gembong2 musuh yang muncul sampai detik ini hanyalah kaum keroco yang tidak berarti, jago2 kosen yang berkepandaian tinggi belum ada satupun yang muncul, keadaan dalam Bu-wi-san-ceng juga kosong dan sunyi senyap tanpa kelihatan bayangan seorangpun, Cayhe memergoki pula jago2 kosen dari aliran lain yang membantu mereka, melihat gelagatnya, betapapun kita harus bertindak hati2 ......"
Setelah memeriksa sekelilingnya Siang Cin segera menambahkan pula.
"Semula mereka bertahan dengan segala kekuatan, tapi mendadak kekuatan mereka ditarik dan mengundurkan diri, situasi yang sukar dijelaskan ini dapat disimpulkan bahwa di balik hal aneh ini pasti ada muslihatnya, bukan mustahil mereka sedang mengatur perangkap keji."
Kim Bok rnendengarkan dengan melongo, diam2 iapun merasakan gejala2 yang tidak beres ini, tapi tatkala mana ada dua puluhan murid Bu-siang-pay di bawah pimpinan laki2 gundul bertubuh gemuk sedang menggempur pintu gerbang Bu-wisan ceng, dengan mengacung tinggi golok sabitnya, si kepala gundul gemuk besar itu tengah memberi komando kepada anak buahnya, jenggotnya yang merah, matanya melotot, alisnya tebal, mulut ber-kaok2, kelihatan beringas dan buas.
"Kim-cuncu,"
Teriak Sang Cin, `lekas perintahkan anak buahmu menghentikan aksinya."
Kim Bok mengangguk, segera ia bersuit panjang, dua puluhan murid Bu-siang-pay yang sedang menggempur pintu segera mundur dan menghentikan aksinya, dengan bingung mereka saling pandang lalu berpaling ke belakang.
Cepat sekali dua bayangan orang tampak meluncur tiba, yang di depan adalah Liat hwe-kim-lun Siang Kong-ceng.
di belakangnya adalah Ceng-yap cu Lo Ce.
166 Belum lagi tiba dari kejauhan Siang Kong ceng sudah berteriak marah.
"Lo Kim, memangnya kau sudah keblinger? Kemenangan sudah di depan mata, kenapa kau perintahkan mereka berhenti?"
Belum lagi Kim Bok menjawab Siang Cin sudah menapak maju, katanya dengan tenang. Siang cuncu, Cayhelah yang minta kepada Kim-cuncu untuk sementara menghentikan penyerbuan."
Begitu melihat Siang Cin, amarah Siang Kong-ceng yang sudah meledak terpaksa ditahan, dengan tertawa dia bertanya.
"lote, apakah ada sesuatu yang kurang benar? Secara ringkas Siang Cin ceritakan hasil penyelidikannya, lalu dia menambahkan.
"Siang-cuncu, Hek-jiu tong terkenal licik dan keji, betapapun mereka takkan mundur setelah jatuh korban begini banyak, kurasa mereka pasti tengah mengatur muslihat, situasi belum lagi kita jajaki, jika menyerbu masuk ke perkampungan secara gegabah, kukuatir terperangkap oleh jebakan mereka."
Sambil mengelus jenggot, Siang Kong-ceng berkata tak acuh.
"Kukira belum tentu seperti apa yang Lote kuatirkan, situasi seperti sekarang ini, terus terang tidak terpandang olehku. Yang jelas Hek-jiu tong mengalami gempuran hebat dan jatuh banyak korban, nyalinya sudah pecah, mereka ngacir menyelamatkan jiwa, kesempatan baik ini mana boleh diabaikan begini saja? Lote, lebih baik kita teruskan gempur sampai ke sarang mereka."
Diam2 Siang Cin menghela napas, katanya.
"Kim-cuncu, Cayhe masih muda dan cetek pengalaman, jelas tak dapat dijajarkan dengan Siang cuncu, tapi setulus hati Cayhe mengutarakan pendapatku, harap para Cuncu bertindak lebih cermat."
Liat-hwe-kim lun Siang Kong-ceng menyengir, katanya.
"lote terlalu merendah hati, tadi Lohu terlalu memberanikan diri, kuharap Lote jangan berkecil hati ...."
"Mana berani,"
Ucap Siang Cin.
"terlalu berat ucapan Cuncu."
Siang Kong-ceng memandang sejenak kearah Bu wi-san ceng tanpa bersuara. akhirnya ia ambil keputusan.
"Baiklah, akan segera kuperintahkan menggempur sarang musuh."
Dengan bimbang Liat-hwe kim lun yang ada di sampingnya berkata.
"Lo Siang apa yang dikatakan Siang-lote cukup beralasan, kukira hal ini harus dipertimbangkan lagi."
Dengan kurang senang Siang Kong-ceng ber-kata.
"Bimbang bukan putusan bijaksana bagi seorang pimpinan di medan laga, Lo Kim, jika kau merasakan gelagat menguatirkan, murid2 Wi-ji-bun kalian boleh tidak ikut menyerbu ke dalam."
Berubah air muka Kim Bok, katanya gusar.
"Siang Kong-ceng, kau kau mengoceh apa?"
Siang Kong-ceng mendengus terus membalik badan, ia bersuit melengking pendek beberapa kali, maka teriakan gegap gempita serbuan murid2 Bu siang pay segera bergema pula, murid2 Bu-siang-pay yang telah menduduki puncak gunung serempak menyerbu ke arah Bu-wi-san-ceng, malah ada puluhan bayangan orang telah melompati pagar tembok.
Sambil mengulap tangan Siang Kong-ceng bawa Ceng-yap-cu memburu ke sana, Kim Bok menghela napas, katanya lirih.
"Lote, begitulah ciri orang she Siang yang suka bertindak menuruti panasnya hati, wataknya memang congkak, jangan kau berkecil hati ....."
Siang Cin tertawa tawar, katanya rawan.
"Aku sudah bekerja sekuat tenaga. Biarlah Thian yang memberikan putusannya."
Tengah bicara, suara gempuran keras terdengar, pelan2 pintu gerbang Bu-wi-san ceng telah bobol, sambil berteriak riuh rendah murid2 Bu-siang-pay yang kesetanan segera menyerbu ke dalam.
Kim Bok tertawa getir, katanya.
"Lote, hayolah kita susul mereka?"
Siang Cin mendahului meleset ke depan, ujarnya.
"Memangnya kita tidak membantu?"
Kim Bok tidak mau kalah cepat, dia lari mendampingi, katanya.
"Lote, agaknya tidak ada apa2 . ..." 167 Terbayang rona dingin pada wajah Siang Cin, katanya prihatin.
"Aku berharap demikian."
Dalam percakapan ini kedua orang sudah melambung keatas pagar tembok, sebagian besar murid2 Bu-siang-pay telah menyerbu masuk ke Bu-wi-san-ceng, teriakan mereka masih terdengar, tapi teriakan lantang mereka yang keras itu seperti kekurangan sesuatu apa di medan pertempuran.
Seketika Siang Cin merasakan adanya keganjilan semua teriakan tanpa sambutan dari musuh, sehingga teriakan yang gegap gempita itu terdengar rada sumbang.
Menghela napas, Siang Cin berkata.
"Marilah kita masuk, Kim-cuncu."
"Sudah tentu,"
Ucap Kim Bok tertawa.
"mungkin kali ini kau salah perhitungan Lote."
Reaksi yang mendadak dan diluar dugaan agaknya memang, disiapkan khusus menyambut serbuan orang2 Bu-siang-pay, dikala Kim Bok baru selesa berkata, sebuah ledakan yang dahsyat menggoncangkan seluruh puncak gunung, dibarengi dengan semburan jalur2 api yang menyala dengan bau belirang dan minyak yang menusuk hidung, jalur2 api seperti laba2 yang menyembur dari dalam bumi menjulang tinggi menjilat apa saja yang dapat terbakar, rumah2 yang ada di seluruh Bu-wi-san-ceng bukan saja ditelan lautan api, satu persatupun telah runtuh oleh ledakan yang ber-turut2, suasana kacau balau se-olah2 dunia telah kiamat, seluruh Bu-wi san-ceng hancur lebur karena ledakan keras dan menjadi lautan api.
Dikala ledakan pertama menggelegar, sebat sekali Siang Cin tarik Kim Bok berjumpalitan keluar, remukan batu yang berhamburan selebat hujan muncrat kemana2.
Siang Cin bawa Kim Bok berguling sejauh mungkin.
sementara semburan api menjulang tinggi ke angkasa sehingga puncak gunung terang benderang.
Asap tebal berbau belirang menyesakkan napas, sambil batuk2 Kim Bok merangkak berdiri, mukanya yang memang merah kini semakin merah, tanpa hiraukan kotoran di mukanya dia ber-ternak?
serak.
"Habis ..... kita betul2 tertipu ....keji ...."
Pakaian Siang Cin tergores sobek di beberapa tempat, dengan lengan baju dia kebut kotoran di badannya, dengan tenang dia saksikan kobaran api yang menelan seluruh Bu-w-san-ceng, katanya.
"Api berkobar begini besar, di dalam perkampungan tentu dipasang dinamit dan bahan bakar, Kim cuncu, anak buah kalian mungkin sudah gugur sebagian besar."
Mendadak Kim Bok berjingkrak gusar, teriaknya.
"Biar Lohu adu jiwa dengan mereka."
Cepat Siang Cin menarik lengan Kim Bok, katanya.
"Kim-cuncu jangan gegabah, bukan cuma main ledakan dan membakar saja, musuh pasti mengatur siasat lain, bukan mustahil orang2 mereka akan segera menyerbu keluar."
Sambil memukul dada dan menggentak kaki Kim Bok mencak2, teriaknya.
"Lepaskan aku, Siang lote, lepaskan aku, biarpun mereka berkepala tiga berlengan enam, dengan mempertaruhkan nyawa orang she Kim juga akan ganyang mereka."
"Kalau demikian, kenapa tidak bersabar sebentar,nanti kita sergap mereka,"
Kata Siang Cin. Bagai orang gila Kim Bok berteriak kalap.
"Peduli amat, biar Lohu adu jiwa sama mereka ... ."
Di tengah kobaran ani, dari dalam Bu-wi-san-ceng tiba2 berlari keluar belasan orang dengan langkah sempoyongan, malah ada yang merangkak, langkahnya limbung, tubuhnya bergontai, ada pula yang sekujur badan terjilat api.
Keruan Kim Bok semakin panik, teriaknya sambil meronta dari pegangan Siang Cin.
"Lohu akan menolong mereka, Siang Cin jangan kau merintangi aku!"
Bagai harimau mengamuk Kim Bok memburu maju, baru saja dia berlari lima enam langkah, dari sisi perkampungan di tempat gelap sana mendadak terdengar suara tambur ditabuh dan bende di pukul ber-talu2, disambut meluncurnya panah api yang membawa percikan kembang api melesat ke angkasa, ratusan kawanan Tangan Hitam serempak menyerbu keluar dari tempat gelap, bagai air bah mereka membanjir maju.
168 Orang2 Hek jiu-tong yang memburu datang mendadak melihat bayangan raksasa hitam yang menukik dari angkasa, serentak mereka berteriak kaget dan ketakutan, di tengah jeritan mereka itulah golok sabit Kim Bok telah bekerja, dalam sekejap saja, di mana goloknya berkelebat, puluhan batok kepala orang2 Hek jiu-tong telah dipenggal.
Tapi keadaan ini hanya berlangsung sekejap saja selanjutnya Kim Bok telah terkepung di tengah lingkaran orang Hek jiu-tong, Dengan melotot dan otot hijau memenuhi dahinya, Kim Bok menyerbu musuh bagai harimau mengamuk, golok sabitnya menyamber dan membubat kian kemari, jerit tangis para korbau terdengar saling susul, tapi kalau yang di depan roboh, yang di belakang segera tampil ke muka, Kim Bok tetap terkepung di tengah orang2 Hek-jiutong seolah2 bukan lagi manusia, tapi sekelompok binatang yang tidak kenal artinya mati.
Sekali golok berputar, tiga kawanan Tangan hitam tertabas kutung sebatas pinggang, darah sudah mengotori sekujur badan Kim Bok, mendadak dia berputar pula, baru saja dia hendak menyerbu, tiba2 dari belakang barisan orang2 Hek jiu-tong berkumandang gelak tawa yang aneh, geliak tertawa itu bergema laksana datang dari tempat jauh, suara gaduh seketika kelelap oleh suara gelak tawa aneh ini.
Tergerak hati Kim Bok, se-konyong2 suatu benda yang dingin mengkilap tahu2 sudah berada di depan matanya, tak ubahnya cakar iblis yang hendak merenggut nyawa.
"Wut", badan Kim Bok yang tinggi besar tiba-tiba melayang ke atas, di tengah udara ia ber salto sekali, belum lagi dia sempat melihat wajah si pembokong, gelak tawa orang itu berkumadang pula di belakangnya. Golok sabit Kim Bok menyabat dengan mengeluarkan deru angin yang kencang, berbareng dia mengisar, terasa oleh Kim Bok bahwa serangan goloknya mengenal tempat kosong, tahu2 senjata lawan telah mengepruk pula batok kepalanya, kali ini Kim Bok melihat jelas, itulah sebatang Long-ge-pang (gada gigi serigala), tongkat panjang yang penuh dihiasi gigi yang runcing. Sebat sekali golok sabitnya memapak ke atas.
"trang", benturan keras sekali, Kim Bok bersalto dua kali, sementara lawanpun berjumpalitan ke sana. Orang ini ternyata berperawakan pendek, kedua lengannya justeru teramat panjang sebatas lutut, kepalanya hanya ditumbuhi beberapa utas rambut, bentuk dan wajah orang inii bukan saja jelek juga aneh sekali. Belum lagi Kim Bok memperoleh kesempatan ganti napas, bayangan musuh telah berkelebat maju, tujuh batang golok menyamber pula dari sekelilingnya, dikala dia menangkis dan balas menggasak pengeroyok ini, Laki2 pendek berlengan panjang itu tertawa ter-gelak2, katanya dengan suara melengking.
"Kim Bok setan tua, memangnya kau kira Pi-ciok-san adalah tempat boleh dibuat sembarangan olehmu? Kalau tuan besarmu hari ini tidak mencacah tubuhmu dan mayatmu kujadikan makanan anjing, jangan anggap tuan besarmu ini gembong nomor dua dari Hek jiu tong."
Kim Bok mengamuk semakin kalap, sinar goloknya mendampar seperti gelombang samudera, menari naik turun, empat di antara tujuh musuh yang menyerbu maju disikatnya roboh binasa, tapi musuh se olah2 damparan ombak yang tidak kenal berhenti, gugur satu maju dua, golok setan musuh bergantian secara berantai merangsak maju.
Dua puluhan murid Bu siang-pay yang beruntung dapat meloloskan diri dari kobaran api dan ledakan dahsvat di dalam Bu wi san ceng kini sudah terkepung oleh tiga ratusan kawanan Tangan hitam, yang memimpin orang2 Hek-jiu-tong adalah King Ji seng dan si hidung merah Kau Pui pui, gembong nomor lima.
Dua puluhan orang gagah Bu-siang-pay tiada satupun uang tidak terluka, di antara dua puluhan orang ini temasuk si jagal jenggot merah dan Cengyap cu Lo Ce, tapi Liat-hwe-kim-lun Siang Kong ceng dan Cap-kau-hwi-ce Loh Bong-bu tidak kelihbatan bayangannya.
169 Pundak kiri Ceng-yap-cu Lo Ce tampak hangus dan melepuh, demikian pula mukanya tampak hitam berair di beberapa tempat, rambutnya tidak keruan dan menjadi keriting karena terbakar, sementara jidat si jenggot merah berlepotan darah, daging pahanya pun dedel, namun demikian, kedua orang sedikitpun tidak menjadi jeri, sambil mengertak gigi dan mata melotot mereka pimpin sisa kawan2nya mengadakan perlawanan dengan gigih pada musuhnya yang sepuluh kali lebih banyak.
Siang Cin sudah dapat meneropong situasi di depan mata, sayang untuk sementara dia tidak mampu memberikan bantuan, karena waktu dia hendak mengikuti jejak Kim Bok terjun ke tengah musuh, dari lereng Bu-wi-san-ceng sebelah kanan tiba2 menerobos keluar lima puluhan orang2 Hek-jiu-tong dan mencegatnya, lima puluh orang ini semuanya mengenakan hiasan kalung berbandul telapak tangan yang terbuat dari logam, ternyata mereka merupakan tulang punggung kesatuan Hek jiu tong yang paling diandalkan keberanian dan kepandaiannya, barisan gagah berani Hian-hun-tong yang terkenal.
Siang Cin pandang kelima puluh orang yang semua berwajah beringas buas, pelan2 di antara lima puluhan orang ini tampil seorang laki2 berperawakan tinggi kurus, bermuka pucat, berusia setengah umur, di depan dada orang ini juga mengenakan mainan kalung tangan hitam, cuma di telapak tangan mainan kalungnya itu masih dihiasi sebentuk batu warna merah yang mencorong terang, sekilas pandang Siang Cin lantas maklum bahwa orang ini tentu salah seorang gembong penting dari Hekjiu-tong.
Laki2 muka pucat yang bersikap ramah ini mengangguk dengan tersenyum kepada Siang Cin, ditengah kedua alisnya yang hampir tersambung itu tampak lekukan segi tiga yang menyolok, suaranya terayata keras dan kasar.
"Siang Cin si Naga Kuning?"
Siang Cin mengangguk, sahutnya kalem.
"Betul!"
Laki2 setengah umur mengelus batu di tengah telapak tangan mainannya, katanya tenang.
"Aku yang tak becus ini adalah Si-thauling (gembong keempat) dari Hek-jiutong, pimpinan Hian-hun-tong, kawan persilatan memberi julukan Siau-long (serigala tertawa) Ji Bu."
Siang Cin gosok2 tangannya, katanya.
"Memang sesuai dengan nama julukannya, selamat bertemu."
Laki2 pertengahan umur, yaitu serigala tertawa Ji Bu memandang sekelilingnya, lalu katanya.
"Situasi di depan mata kurasa tidak menguntungkan bagi pihak kalian, betul?"
"Kelihatannya memang demikian,"
Sahut Siang Cin tak acuh.
"Bicara terus terang,"
Kata Ji Bu sambil melangkah maju.
"aksi kalian yang tidak bersahabatnya sukar baginya untuk menolong kekalahan pihak Bu siang-pay. Dengan tertawa Ji Bu berkata pula.
"Di bawah gunung kalian juga meninggalkan sekelompok orang persiapan bila perlu akan memberi bantuan ke atas, hal ini juga sudah dalam perhitungan kami, oleh karena itu saudara ke sepuluh kami bersama Jik-san-tui bergabung untuk menggasak mereka, sisa kekuatan kalian itu hanya dipimpin oleh si kaki melengkung, memangnya mereka mampu menghadapi pasukan Hian hun tong yang berjumluh ratusan orang itu?"
Sekilas lirik Siang Cin melihat Kim Bok tengah bergebrak sengit melawan laki2 pendek berlengan panjang itu, perawakan Kim Bok kekar kuat, Lwekangnya tangguh, tapi lawannya ternyata bergerak sangat lincah, serangannyapun licik dan keji, maka sejauh ini pertempuran kedua orang tetap seru dan belum tampak pihak mana bakal unggul, sementara sebagian besar orang2 Hek-jiu-tong sama mengurung Ceng-yapcu dan lain2.
"Bagaimana Siang-heng, sudah paham akan penjelasanku?"
Jengek Ji Bu.
"Aku menjadi kasian, betapa sukar Siang-heng angkat nama, sayang harus gugur di Piciok-san yang tidak berarti ini, kami pihak Hek jiu-tong ikut merasa berduka cita."
Kini, setiap saat berada dalam pengawasan dan pengintaian pihak kami, baru 170 sckarang kalian insaf situasi tidak menguntungkan, sebaliknya pihakku, hm, sebelumnya sudah kami ramalkan nasib apa yang bakal menimpa kalian bila menyerbu ke sini"
Setelah mengunjuk sikap kasihan dan simpatik Ji Bu berkata lebih lanjut.
"Dengan pasukan sekecil ini menyerbu ke sarang musuh yang jauh adalah siasat paling tidak menguntungkan, hal ini tentunya Siang-heng maklum. Sayang sekali, sudah tahu sengaja dilanggar, bukankah ini terlalu goblok, memang pihak kami juga banyak jatuh korban, tapi pihak kalian? Mungkin jauh lebih parah, Thi-ji-bun dan Wi ji-bun dari Bu-siang pay boleh dikatakan sudah musnah seluruhnya, sementara Hian ji-bun yang bertugas menyerbu dari balik gunung juga sudah di dalam cengkeraman kami, pintu belakang Bu-wi-san-ceng terbuka lebar untuk menyambut kedatangan mereka, kini mereka telah menikmati betapa segarnya dipanggang di tengah kobaran api, mungkin sudah mangkat ke surga."
Baru sekarang Siang Cin tahu apa yang terjadi, dia belum melihat bayangan Loh Bong-bu, kiranya dia menyerbu naik dari arah lain, kini kecuali diam2 berdoa bagi para pahlawan Bu-siang-pay itu, rasanya tiada upaya lain yang dapat dilakukannya"
Mengawasi jubah kuningnya yang berlepotan darah yang sudah mengering, lapat2 hidung Siang Cin mengendus bau amis, ia meraba noda darah itu, ia maklum bahwa darah yang melekat di sekujur badannya malam ini takkan menjadi kering karena darah baru dari para korban yang akan datang pasti akan membasahi badannya pula.
Setelah berdebem dua kali, Serigala tertawa Ji Bu tersenyum, katanya.
"Siang-heng, kupandang kebesaran namamu, tak tega aku menyaksikan nasibmu yang mengenaskan lebih baik begini saja, biar aku bertanggung jawab dan ambil keputusan sendiri, asal Siang-heng suka bunuh diri, aku jamin jenazahmu akan tetap utuh dan kami kebumikan dengan upacara kebesaran ......"
Tiba2 Siang Cin menyeringai, katanya .
"Apa betul ucapanmu?"
Melihat tawa Siang Cin yang aneh menyeramkan ini, melonjak jantung Ji Bu, tanpa terasa dia menyurut mundur selangkah, dia berlagak simpatik, subutnya.
"Sudah tentu, dengan martabat dan kebesaranku aku berjanji ......"
Mata Siang-Cin memandang ke angkasa nan gelap, dikala orang bicara sampai kata "janji", kedua tangannya mendadak bergerak, dua batang Toa-liong-kak yang kemilau kuning secepat kilat menyamber ke depan.
Begitu sinar kuning menyambar, lekas serigala tertawa Ji Bu mendekam ke bawah sambil tetap tersenyum dan berteriak.
"Serbu!"
Lima puluhan orang Hiat-hun tong serempak ber-teriak2 sambil angkat senjata terus menyerbu kalap, bagai harimau kelaparan mereka ingin melalap mangsanya.
Padahal Toa-liong-kak dengan deru suaranya yang membising telah menyambar tiba, maka terdengarlah suara "cras, cras", dalam sekejap mata tujuh orang terjungkal dengan kepala protol, dikala kedua Toa-liong kak menyamber maju pula, tiba2 dua laki2 menggembor kalap dan melompat maju, seorang terus memeluk Toa-liong-kak yang menyamber tiba, maka senjata tajam yang melengkung bagai sabit itu menghunjam ke dada mereka, tenaga samberannya yang dahsyat menyebabkan kedua korban nya tertolak balik dan jatuh terbanting, meski jiwa sudah melayang tapi kedua orang ini tetap memeluk kencang senjata yang merobek dada mereka.
Golok setan yang besar tebal dari tiga orang tahu2 menderu tiba, mata golok yang kemilau mengincar tubuh Siang Cin dari arah yang berbeda, sedikit miring tubuh serta berputar, telapak tangan kiri Siang Cin bergerak, cukup sekali gerakan, tapi ketiga musuh yang merangsak maju roboh dua di antaranya, seorang lagi sambil mengeluarkan suara "ngek", mukanya pecah berdarah dan terpental mundur.
Ji Bu yang memang suka tertawa segera menyelinap maju, entah sejak kapan dia telah memegang sebilah pedang pandak sepanjang dua kaki, lebarnya juga hanya tiga senti, baru bayangannya terlihat oleh Siang Cin, sementara pedang pandak yang kemilau tajam telah mengancam iga Siang Cin.
Cepat Siang Cin menggeser ke samping, kedua tangannya bekerja sekaligus, dua laki2 dipukulnya roboh dengan mandi darah, pada saat itu pula terpaut serambut 171 saja pedang pandak si serigala tertawa Ji Bu menyamber lewat.
Siang Cin lantas melambung ke atas, di tengah udara dia berjumpalitan, kedua kakinya menyepak dan menendang, dua kapak besar yang membelah tiba kena ditendangnya mental balik menghunjam dada kawan sendiri, sementara tulang dada orang ini juga tersodok remuk oleh gagang kapak yang menerjang balik.
Tanpa bersuara Serigala tertawa Ji Bu tetap menyerbu dengan tangkas luar biasa, pedang pandaknya menggulung ke depan dengan keji, cepat dan ganas.
Sinar mata Siang Cin mencorong terang, secepat kilat ia menghindari damparan sinar senjata musuh, padahal antara serangan pertama dengan serangan berikutnya boleh dikatakan tiada peluang sedikitpun, tapi dengan menakjubkan Siang Cin menyelinap lewat di antara sela2 sinar pedang musuh se-akan2 tubuhnya itu tak berisi.
Loh si-kiu-kiu-kiam-hoat adalah ilmu pedang andalan si serigala tertawa Ji Bu yang terkenal sejak dia malang melintang di Kangouw, dia mengira ilmu pedangnya ini tiada bandingan, kini sembilan puluh sembilan jurus dari ilmu pedangnya telah dilancarkan, tapi jangankan melukai lawan, menyentuh tubuhnya saja tidak mampu.
Berkutet sekejap bayangan kedua orang lantas terpencar pula, dengan sebat sekali keduanya sama2 melambung tinggi dan bentrok pula secepat kilat, kembali Ji Bu lancarkan belasan jurus serangan, katanya tertawa.
""Siang-heng, Kungfumu memang tangguh sekali."
Tubuh Siang Cin menggeliat ke kanan-kiri, begitu cepat menghindari tabasan tusukan pedang lawan, sembari berkelit itu serentak ia balas menyerang sembilan belas pukulan dan empat kali tendangan, jubah kuning yang longgar bekibar, katanya kaku.
"Kawan, kau bukan lawanku"
Pedang Ji Bu mendadak menaburkan bayang2 sebesar kepalan, seperti kunang2 besar saja bayangan terang ini bertaburan di udara, setiap kuntum bayangan merah ini menyambut pukulan dan tendangan lawan, jelas bahwa setiap kuntum bayangan serangan lihay itu membawa tajamnya pedang Ji Bu.
Belum lagi orang tahu apa yang terjadi, kedua orang sudah terpisah pula, dengan ramah Ji Bu berkata.
"Siang-heng, siapa kuat siapa lemah, kini masih terlalu pagi untuk diputuskan." --------------------------------Dapatkah pihak Bu-siang-pay lolos dari perangkap Hek jiu-tong? Kisah cinta apa di balik persoalan Khong Giok tik, gembong kelima Hek jiu tong yang membawa lari puteri ketua Bu-siang-pay itu? -Bacalah
Jilid ke -10 -
Jilid 10 Sambil menghardik Siang Cin sekaligus lontarkan tiga belas kali pukulan.
Sambil tertawa Ji Bu menyingkir mundur, Siang Cin menarik napas panjang, baru saja ia hendak memburu, tiba2 sebuah suara lolong panjang yang mengerikan menarik perhatiannya.
Waktu dia berpaling, dilihatnya orang2 Bu-siang pay yang masih bertahan sudah kurang dari sepuluh orang, jeritan mengerikan itu keluar dari mulut orang Hek-jiutong, bola mata orang ini tercolok buta, bola matanya masih bergelantung di mukanya karena urat matanya belum putus, tapi golok setan miliknya juga menembus dada seorang Bu-siang-pay, dikala Siang Cin menoleh ke sana, kedua orang sedang roboh pelahan dan binasa.
Rangsakan Serigala tertawa Ji Bu segera bertambah gencar dan sengit, katanya tertawa.
"Menusuk perasaan bukan?"
Sebat sekali Siang Cin balas menyerang, katanya tawar.
"Kawan, marilah kita bertempur besa2an saja bagaimana? Suruhlah anak buahmu mengeroyok maju, supaya pertempuran lekas berakhir." 172 Tantangan ini kelihatan menusuk hati Ji Bu, tampak sikapnya rada beruba, dia maklum kalau anak buahnya ikut maju mengeroyok, sedang kekuatan lawan begini tangguh, jelas anak buahnya akan banyak jatuh korban, lawan lebih sukar dikendalikan pula. Maka ia tak berani menjawab. Sementara itu Siang Cin telah lancarkan pukulan lagi, ejeknya. Jangan tegang, semakin banyak orang yang bertempur bukankah lebih ramai?"
Pedang pandak Ji Bu, berputar kencang, katanya.
"Orang she Siang, kupandang kau sebagai laki2 sejati maka kulayani kau dengan aturan persilatan, satu lawan satu menentukan mati-hidup, jika kau sudah jeri dan ingin merat, bukanlah nama besarmu yang sudah tersohor itu akan ludes dalam waktu singkat ini."
Seperti terbang Siang Cin berputar ke kanan kiri, jengeknya.
"Kawan, jangan kau memancing kemarahanku dengan cara yang bodoh ini, bukan maksudku menghindari bertempur satu lawan satu dengan kau, aku yakin kau maklum ke mana maksud tujuanku yang sebenarnya."
Ji Bu menjadi beringas, mendadak dia berteriak kalap.
"Murid2 Hian-hun, cacah keparat ini."
Bagai anak panah lepas dari busurnya, tubuh Siang Cin mendadak melenting tinggi ke atas, begitu cepat dan tangkas, sehingga tiada seorangpun yang sempat merintangi, dikala dua puluhan orang2 Hek-jiu-tong menubruk ke tengah arena, mereka saling membacok dan saling tindih sendiri, sementara Siang Cin sudah melayang pergi tiga tombak jauhnya.
Sambil menggembor si Serigala sekuat tenaga mengapungkan tubuh mengudak ke atas, sementara di belakangnya tiga puluhan kawanan Tangan Hitam dari Hiat-hun tong segera putar haluan memburu ke arah sana pula.
Di tengah udara Siang Cin jumpalitan dengan indah, dengan enteng ia meluncur turun ke depan pintu gerbang Bu-wi-san-ceng, keadaan Ceng-yap-cu Lo Ce dan si jagal jenggot merah sudah teramat gawat, dalam sekejap ini mereka tinggal enam orang saja yang masih bertahan mati2an.
Luka baru kembali menghias badan Cengyap-cu Lo Ce, tapi dia seperti tidak merasakan sakit, padahal ratusan orang Hek-jiutong mengepung mereka, sinar golok setan musuh berseliweran disekitar tubuh.
Dengan menggertak gigi dia putar golok sabitnya, keringat bercampur darah membasahi sekujur badan, pandangannya berubah beringas, rasa murka dan dendam kesumat membakar sanubarinya, dia tidak lagi menghiraukan keselamatan sendiri, yang terpikir hanyalah mengganyang musuh se-banyaknya.
Keadaan si jagal jenggot merah yang gundul lebih payah lagi, si hidung merah Kau Pui-pui justeru mengincar dia dengan berbagai serangan keji, hampir seratus orang mengepungnya, darah luka2 di tubuhnya telah bikin jubah putih yang dipakainya berubah warna merah seluruhnya.
Di samping itu masih ada kira2 tiga ratusan orang Hek jiu-tong memagari gelanggang di bawah pimpinan Kunsu King Ji-seng, mereka siap menyergap bila perlu.
Empat murid Bu siang-pay yang lain saling beradu punggung berdiri di samping Ceng-yap-cu, semangat juang mereka ternyata tidak menjadi padam meski badan terluka dan musuh mengepung sedemikian rapat, jenazah saudara2 mereka yang telah gugur bergelimpangan disekitar kaki mereka, semuanya mati dalam keadaan yang mengerikan, pahlawan2 padang rumput yang tadinya segagah harimau mengamuk itu kini sudah saling tindih menjadi mayat.
Bagai segumpal mega kuning bayangan Siang Cin meluncur dari udara, tiga ratusan orang Hek-jiu-tong yang memagari gelanggang sama berteriak sampai sang Kunsu King Ji-seng mau tidak mau juga melenggong, dari belakang suara si Serigala tertawa Ji Bu segera berkumandang.
"King losu, cegat dia!"
Mendadak King Ji-seng menghardik, ia melejit ke atas memapak kedatangan gumpalan mega kuning, dia timpukkan segenggam Oh-ling-soh, dikala pasir hitam berhamburan ke depan, Thi kut-san (payung kerangka besi) di tangannyapun ikut menjojoh.
173 Segesit burung menukik di angkasa tubuh Siang Cin tiba2 melingkar laksana seekor naga kuning, di dalam gerakan melingkar dan mengapung inilah secara aneh dia meluncur pergi.
Jenggot King Ji seng mendadak berjingkat.
tapi sebelum dia sempat beraksi, Siang Cin sudah bertindak lebih dulu, empat batang Toa liong kak dengan membawa sinar kuning ber putar2.
menyerang orange Hek-jiu-tong.
Serigala tertawa Ji Bun menubruk tiba pada saat itu, melihat samberan Toa liong kak yang berbahaya itu, lekas dia berteriak.
"Semua lekas tiarap ... ."
Sayang luncuran Toa liong-kak yang tajam itu ternyata lebih cepat, daripada suara peringatannya, dua puluhan batok kepala sekaligus copot dari batang leher, sementara keempat batang Toa -liong-kak itu masih terbang ber putar2 mencari sasaran yang lain, setelah melingkar satu kali.
"tring, tring", Toa-liong kak saling bentur menimbulkan daya pental yang keras sehingga luncurannya terlebih kencang, sekaligus tujuh belas orang Hek-jiu-tong tertabas putus pula kepalanya. Gerakan Siang Cin ternyata tidak kalah cepat dari luncuran Toa-liong kak, begitu menubruk tiba, tangannya terayun.
"plak, plok", beruntun batok kepala beberapa orang hancur, entah bagaimana kedua tangannya bergerak, tapi korban berjatuhan saling susul, tiga belas nyawa mampus dalam sekejap pula, golok setan di tangan merekapun mencelat beterbangan melukai teman membinasakan teman sendiri. Angin berpusar bagai badai mengamuk, Siang Cin putar tubuh dalam lingkaran lebar menerjang ke samping, di mana dia tiba, telapak tangannya tajam bagai golok, sementara kakinya menendang bagai samberan geledek, jerit dan teriakan orang2 Hek-jiu tong terjadi di sana-sini, darahpun muncrat berhamburan. King Ji-seng, sang Kunsu yang tua dan keji ini matanya melotot, dia mengudak di belakang Siang Cin, tapi betapapun keji dan deras serangannya, selalu terpaut serambut dan tak berhasil menyandak musuh. Sekuat tenaga Serigala tertawa Ji Bu berusaha mencegat dan merintangi Sang Cin, tapi gerak geriknya menjadi kurang leluasa karena teralang oleh anak buahnya sendiri, secara terang2an orang2 Hek jiu-tong itu tak berani ngacir ke belakang, tapi sedapat mungkin mereka menjauhi gelanggang, maklumlah mereka berjumlah terlalu banyak dan berjubel lagi, menghadapi pertarungan yang seram ini, hati siapa yang takkan panik? Maka suasana menjadi kacau balau, tampak bayangan orang saling berdesakan, tindih menindih dan saling cacimaki sendiri, kalau orang2 yang di depan berusaha mundur mencari salamat, maka yang berada di belakang justeru mendorong maju kawan2nya yang mendesak mundur itu, tidaklah heran kalau aksi Siang Cin berhasil membikin musuh kocar kacir dan tak terkendali pula. Jenggot King Ji-seng tampak tak taratur lagi, dia berteriak.
"Saudara2 Tangan Hitam, dengarlah, sekuat tenagamu kepung dan bunuh keparat ini, siapapun dilarang mundur, ke mana dia pergi sambut dengan golok kalian."
Siang Cin yang terjun ke tengah2 musuh seperti harimau mengamuk dalam gerombolan domba, setiap kali tangan bergerak, jiwa musuh pasti direnggutnya, tendangan kakinya saban juga mencabut nyawa orang.
Suatu ketika dia berkelit menghindari bacokan lima golok musuh, berbareng kedua tangannya bergerak.
"plak, plok", disertai suara menguak seperti sapi hendak disembelih dua jiwa musuh kembali melayang. Sebat sekali Siang Cin melompat maju ke sana, kaki kanannya menyapu, enam orang Hek-jiu-tong kembali disapunya tunggang langgang. Kini dia sudah dekat dengan kawanan Tangan Hitam yang mengepung Ceng-yap-cu Lo Ce. Di tengah orang banyak yang kacau balau sana, Serigala tertawa Ji Bu kembali mengumandangkan suaranya yang melengking gusar.
""Orang2 Hiat-huntong, putar ke samping, untuk apa kalian berdesakan di dalam? Memangnya kalian gentong nasi semua!"
Dalam pada itu Ceng-yap-cu telah meluputkan diri dari bacokan golok, berbareng galok sabit di tangannya tiba2 menyabet.
"cret,"
Dengan telak dia bacok putus lengan seorang musuh, sigap sekali ia menubruk maju sembari menusukkan golok sabitnya, 174 dada seorang musuh kembali ditembus goloknya dan binasa.
Tapi satu diantara empat murid Bu-siang-pay yang berdiri beradu punggung pelahan2 juga tersungkur roboh, luka bekas bacokan penuh menghiasi badannya, darah segar masih mengucur.
Orang lain tidak ambil pusing, tiada orang yang menolongnya karena semua orang sedang sibuk mengadu jiwa dan mempertahankan hidup.
Cepat Siang Cin menerjang masuk ke tengah gerombolan musuh, kebetulan di sampingnya ada seorang musuh berperawakan kasar seperti kerbau, segera orang itu menyerang, lalu menyurut mundur sambil mencaci maki.
Siang Cin meraba enam batang Toa-liong-kak yang masih berada dalam sarungnya, jengeknya.
"Tapi kau harus mampus lebih dulu."
Tanpa ampun kepalan kanan Siang Cin menggenjot.
"bluk", tubuh segede kerbau itu mencelat terbang, batok kepalanya pecah, tubuhnya menindih kawan2nya. Tanpa berhenti sedikitpun kedua tangan Siang Cin bekerja pula, kontan empat orang Hekjiu-tong kembali dirobohkan, bilamana kaki kanannya menyerampang pula, perut lima orang ditendangnya pecah dan isi perutnya terburai, dalani sekejap dia sudah membobol kepungan musuh. Lekas Ceng-yap cu Lo Cc menerjang keluar.
"sret", mendadak punggungnya terbacok hingga sobek, tapi seperti tidak merasa sakit sedikitpun, kakinya balas mendepak kebelakang, seorang musuh ditendangnya jungkir balik, goloknya mencelat melukai teman sendrri. Tiga murid Bu-siang-pay yang masih bertahan melihat kepungan yang bobol ini. Serempak mereka menghardik terus menerjang ke sana, tapi baru bergerak dua langkak, satu diantaranya segera terbacok roboh oleh para pengepungnya. Siang Cin kembali merobohkan dua musuh cepat dia menyongsong Ceng-yap-cu yang memburu ke sampingnya, teriaknya.
"Lo heng, mendekatlah ke sampingku . ..."
Agaknya Ceng-yap-cu Lo Cc sudah kalap, hakikatnya dia tidak mendengar seruan Siang Cin, mendadak ia menyerang Siang Cin malah.
Dengan tangkas Siang Cin tangkap pergelangan Lo Ce yang memegang golok, Lo Ce melonjak kaget, serta merta sebelah kakinya teraangkat dan menyodok dengan dengkulnya.
Sembari menghardik Siang Cin geser langkah sambil tarik tangan Lo Ce terus diputarnya.
"Cret, cret", ujung golok sabit berhasil merobek perut dua musuh yang menubruk maju. Baru sekarang Lo Ce sadar dan melihat jelas siapa orang didekatnya. Tenggorokannya berbunyi "krok, krok", dengan suara serak dia menjerit.
"Siang .... Siang-tayhiap ..... Siang Cin lepaskan tangannya, sekali membalik telapak tangan.
"plok", batok kepala seorang musuh yang menyergap di hantamnya remuk, katanya dongan kereng.
"Ikuti aku, terjang mereka, babat habis mereka."
Golok sabit Lo Ce kembali bekerja seperti kesetanan, haru, sedih dan dendam membakar hati Lo Ce, katanya dengan tersendat "Habis semuanya ....Siangtayhiap . .. .semuanya habis . ..."
Siang Cin menerjang kian kemari, sekali putar sekaligus dia pukul roboh tujuh musuh.
Tiba2 dua murid Bu-siang-pay yang terkepung tadi ikut menerjang maju ke arahnya, sambil menghadang hardik satu diantaranya mengayun golok memenggal kepala seorang musuh, tapi dalam waktu yang hampir sama, golok setan seorang musuh dengan telak berhasil menusuk pundak kanannya dari arah bawah.
Wajah murid Bu-siang-pay yang berlepotan darah ini tampak berkerut menahan sakit, sembari menggembor dia putar goloknya dan membacok.
"cras"
Pembokong itu ditabasnya mampus.
Siang Cin melompat maju dan binasakan beberapa musuh yang masih mengeroyok seorang murid Bu-siang-pay.
Golok murid Bu-siang-pay inipun merobohkan lima lawan, akhirnya dia tarik ujung goloknya yang terbenam di dada seorang musuh, matanya tampak melotot beringas, dengan langkah sempoyongan dan memburu ke samping Siang Cin, teriaknya serak.
"Terima kasih, kawan ....". 175 Siang Cin tarik dan terus melompat jauh ke sana, laki2 yang sudah lemas kehabisan, tenaga dengan luka2 di sekujur badannya terseret setombak lebih sambil masih berkaok2.
"Lepaskan aku, kawan ..... aku hendak bunuh . ..... ."
Golok sabit Ceng yap-cu Lo Ce baru saja membabat lewat di leher seorang musuh, semburan darah membikin muka dan sekujur badannya basah kuyup, Siang Cin menyeret murid Bu-siang itu ke sampingnya, terus membentak.
"Lo-heng, hayolah kita terjang kepungan."
Sekujur badan Lo Ce bergetar, ia menyeringai dan berkata.
"Tidak, Siangtayhiap ..... tidak, bukan mustahil masih ada kawan2 kita yang masih hidup dalam perkampungan, tak boleh kita tinggal pergi tanpa menghiraukan mereka......."
Siang Cin merobohkan pula beberapa orang musuh yang menggempur datang, serunya gusar.
"Kini jiwamu sendiri belum tentu bisa selamat, mana ada waktu untuk pikirkan keselamatan orang lain?"
Berlinang air mata Lo Ce, katanya tegas.
"Siang tayhiap, kumohon padamu, biarlah kami mati seluruhnya di sini mengadu jiwa dengan musuh ... ."
Saking dongkol Siang Cin membanting kaki, belum lagi dia bicara lebih lanjut, bayangan orang tampak berkelebat, suara si Serigala tertawa Ji Bu mengejek.
"Orang she Siang, main kucing2an dan takut mati, apakah tidak keliru perhitunganmu."
Sikap Siang Cin tetap dingin, tapi otaknya bekerja cepat.
Di tengah kumandang suaranya, Serigala tertawa Ji Bu tampak menubruk tiba seperti bayangan setan.
Sembari teriak kalap Lo Cc angkat golok terus membacok ke arah musuh, Serigala tertawa Ji Bu mengekeh tawa, pedang pandaknya yang lebar itu tampak berkelebat menciptakan bayangan sinar yang ber-lapis2.
sekaligus dia lancarkan belasan serangan pada Lo Ce..Gerakan kedua pihak sama2 tangkas, sayang Lo Ce sudah kehabisan tenaga, gerakannya kalah cepat, untunglah Siang Cin yang berhasil merobohkan enam musuh sempat menolongnya, telapak tangannya segera menabas pelipis Ji Bu.
Sudah tentu Ji Bu harus menyelamatkan jiwa sendiri lebih dulu, sebelum sempat menusuk musuh cepat dia berputar pergi.
Mengusap mukanya yang basah oleh keringat dan darah, wajah Lo Ce yang cakap kelihatan letih dia menarik napas panjang, katanya lemas.
"Terima kasih ......Siang tayhiap ......"
Siang Cin hindarkan samberan dua golok, ia berseru gelisah.
"Lo-heng, siapkan dirimu untuk menerjang keluar."
Lo Ce mengeluh dengan rasa pedih, katanya serak.
"Tapi ......tapi........"
"Prak", telapak tangan kanan Siang Cin berkelebat, tiga batok kepala musuh dikepruknya pecah, sambil mengertak gigi Siang Cin berseru.
"Jangan banyak omong, Lo-heng, seorang laki2 harus pandai membawa diri."
Secepat angin Siang Cin berputar ke sana, murid Bu siang pay yang tak jauh di sampingnya terbacok luka pula pahanya, sebelum tubuh orang ambruk Siang Cin sudah menariknya mundur.
Tanpa bersuara si Serigala tertawa Ji Bu menyelinap maju pula, diam2 Siang Cin juga telah memperhitungkan waktunya, tiba2 Gwat bong-ing dia lancarkan, berbareng kakinya bergerak deras, Tau-ce-tui.
Serigala tertawa memang licik dan licin, dibawah hujan bayangan pukulan dan tendangan, segesit belut tiba2 dia menyurut mundur, ia tahu serangan musuh tak mungkin dapat dihadapinya, maka dia menghilang di balik tubuh anak buahnya.
Mendadak Siang Cin memburu maju, sambil menepuk pundak Ceng-yap-cu dia berkata lirih.
"Ikuti aku!"
Lalu iapun mengundang murid Bu-siang pay yang tinggal satu itu.
Tapi waktu dia berpaling, kebetulan dilihatnya murid Bu-siang-pay itu tengah menatapnya sambil menyeringai lucu, pahlawan padang rumput yang gagah perwira ini, golok sabitnya itu membacok masuk dari pundak kanan sampai perut seorang Hek-jiu-tong tapi golok Kui thau-to murid Tangan Hitam itu juga menembus dadanya.
Di tengah teriakan gegap gempita murid2 Tangan Hitam kembali merubung maju 176 bagai air bah.
Siang Cin meraih tangain kiri Lo Ce yang berlepotan darah, sekali lompat dia melayang tinggi ke atas.
Di tengah bayangan orang banyak yang saling tubruk dengan kacau balau itu, didengarnya suara teriakan Serigala tertawa Ji Bu memberi aba2.
"Bidik dengan panah, incarlah yang tepat, mereka hendak lari."
Di tengah udara Siang Cin dan Lo Ce saran berjumpalitan dua kali, mata Siang Cin yang tajam dapat melihat si Sayap terbang Kim Bok di sebelah sana sedang dalam keadaan yang teramat gawat.
Jelas Cuncu Wi-ji-bun Bu siang-pay ini sudah kehabisan tenaga, keringat membasahi tubuh sampai pakaiannya lengket ditubuh, uap tampak mengepul dari kepalanya yang kelimis, musuhnya yang utama adalah laki2 pendek dengan lengan panjang dan secomot rambut kuning menghias batok kepalanya, lawan tengah melontarkan pukulan yang dahsyat, sementara kawanan Tangan Hitam di sekitarnya secara licik maju mundur menyergap, roboh satu maju dua.
Kawanan Tangan Hitam di sana sudah beramai mengudak kemari, malah anak panahpun berseliweran, tapi bidikan panah ini sudah terlambat, dikala hujan panah berlangsung, sementara itu Siang Cin dan Lo Ce sudah terjun ke dalam arena yang mengepung Kim Bok.
Tombak Lo Ce sudah sejak tadi hilang, sehingga dia tidak kuasa menyerang musuh dari jarak jauh, tapi goloknya masih bekerja lincah dan ganas, sekaligus dia merobohkan tiga musuh, ia berteriak lantang.
"Cuncu, kami datang ........."
Sekuat tenaga Kim Bok menahan musuh di sekelilingnya, bukannya dia tidak mampu melarikan diri, namun demi dendam dan karena penasaran dia tidak rela tinggal pergi begini saja, teriakan Lo Ce seketika membakar semangatnya, iapun berteriak.
"Lo Ce, tidak lekas kau terjang keluar kepungan, tunggu apa lagi?"
Seiring dengan teriakannya, puluhan kawanan Tangan Hitam tak jauh di sekitarnya sama jungkir balik dan menjerit, sesosok bayangan tinggi menyelinap maju, katanya dingin.
"Kim-cuncu, sebelum kau sendiri pergi, siapa berani pergi mendahuluimu?"
Golok sabit Kim Bok sekaligus menyerang belasan jurus, waktu ia mengerling, segera ia berteriak girang.
"Siang-lote, kaupun datang ...."
Yang menerjang datang ini ialah Siang Cin, sekali pukul dia binasakan seorang musuh, sahutnya dingin.
"Sudah tentu."
Kim Bok tidak berhenti, ia bergerak ke kanan kiri, golok sabitnya menciptakan goresan sinar kemilau, teriaknya lantang.
"Siang-lote, apakah masih ada harapan?"
Sebelum Siang Cin menjawab, laki2 pendek )awan Kim Bok itu ter-kekeh2, sapanya dengan tertawa aneh.
"Naga Kuning?"
Sekaligus Siang Cin lancarkan pukulan dan tendangan berantai, dalam satu kali tarikan napas sebelas jiwa musuh telah diganyangnya, setelah itu dia menengadah dan menjawab dengan sinis.
"Kenapa?"
Sembari pergencar serangannya, laki2 pendek lengan panjang itu bergelak tertawa, serunya.
"Sungguh kasihan, kau yang terkenal cerdik ini, ternyata juga bodoh dan ceroboh ...."
Tersembul senyuman dingin di wajah Siang Cin, katanya.
"Aku tahu kau adalah gembong kedua dari Hek jiu tong Thong thian-wan (lutung meraih langit) Ban Lok, meski namamu amat tersohor di Kangouw, tapi otakmu puntul dan tampangmu jelek."
Golok Kim Bok membacok ke depan terus membabat ke samping, dia ter gelak2, serunya.
"Tepat sekali pujianmu, Siang lote."
Laki2 pendek bertubuh aneh ini memang betul gembong kedua dari Hek jiu tong, setiap insan persilatan bila menyebut nama Thong-thian-wan Ban Lok pasti mengerut kening.
Secomot rambut kuning di kepalanya se-olah2 berdiri, gada gigi serigala di tangannya segera berputar, di tengah deru samberan angin yang kencang, dia mengamuk dan mencaci maki "Naga Kuning, kau harus mampus karena olok2mu ini."
Siang Cin tertawa tenang, dia balas menyerang, sahutnya dingin.
"Orang she Ban, 177 kau belum setimpal untukku." -Pada akhir katanya di lihatnya bayangan beberapa orang telah mengudak tiba. satu di antaranya yang bergerak paling gesit diketahui adalah Serigala tertawa Ji Bu.. Siang Cin menyurut mundur, dengan suara lirih dia berbisik.
"Kim-cuncu, biar Cayhe bertahan dibelakang, bawalah orang2mu yang masih hidup untuk meloloskan diri."
Golok sabit Kim Bok menyamber bagai halilintar, sesaat ia tampak bimbang, katanya kemudian.
"Tapi ... , Siang lote, kemungkinan masih ada orang2 kita di dalam sana... ."
Keringat sudah membasahi jidat Siang Cin, sambil mengertak gigi dia pukul musuh yang berusaha menerjang maju, katanya tegas.
"Kim-cuncu, anggap saja mereka sudah ajal."
Melenggong sekejap, Kim Bok berseru bingung."
"Tapi ....Siang-lote ...."
Dengan jurus Kui so-hun mendesak mundur Serigala tertawa Ji Bu yang menubruk tiba, lalu Siang Cin berkata pula.
"Kim-cuncu, apakah kau masih ingin meresapi suatu pengajaran?"
Setelah ragu sejenak mendadak Kim Bok menggembor.
"Baiklah!"
Siang Cin melangkah maju, katanya.
"Jangan melupakan orang gagah yang berjenggot merah itu, mundurlah cepat!"
Ber-kaca2 kedua mata Kim Bok, aiisnya bertaut kencang, sembari menarik Ceng yap cu Lo Ce, golok sabit berputar sekencang kitiran, serunya.
"Lo Ce, hayolah."
Di tengah suaara gerungannya, Ceng-yap-cu mendadak menjatuhkan diri terus menggelundung ke sana, golok sabitnya membabat miring, dalam sekejap saja puluhan pasang kaki manusia sama ditabasnya kutung, jerit kesakitan mengerikan mendirikan bulu roma, dikala Lo Ce melompat berdiri pula, lekas Kim Bok memapahnya terus dibawa melompat ke udara, ketika tubuh terapung itulah, tombak pendek yang terselip di depan dada Kim Bok mendadak menyamber dalam waktu yang sama, sekotak penuh berisi Bun tui-ti to (labah2) ditaburkan dengan gerakan "bidadari menyebar bunga".
Maka jerit kaget kesakitan berpadu pula, bagai disapu badai orang2 Hek jiu-tong yang berjubel itu sama roboh bergelimpangan, ada pula yang berjingkrak sambil mengebut dan memukul, sementara puluhan orang lari sambil menjerit ngeri, suasana menjadi kacau-balau.
Thong-thian-wan..
Ban Lok mendadak memburu maju, serunya.
""Siang Cin, kau licik!"
Tidak jadi mundur Siang Cin malah memapak maju, sekaligus dia lontarkan beberapa jurus pukulan lihay, ,bayangan telapak tangan beterbangan laksana air bah yang lolos dari tanggul yang dadal.
Begitu dahsyat daya pukulan Siang Cin, keji dan mematikan lagi, betapapun Thongthian wan Ban Lok takkan mampu menghadapinya, terpaksa ia meraung penasaran sambil melompat menyingkir sejauh mungkin.
Serigala tertawa Ji Bu yang tetap tertawa tampak berlari hendak membantu si hidung merah Kau Pui-pui di sana, tapi Siang Cin lebih cepat lagi, sebelum orangnya tiba, tenaga pukulannya yang dahsyat sudah membacok musuh.
Serigala tertawa Ji Bu putar pedang pandaknya, cahaya pedangnya yang kemilau berwujud lapisan dinding cahaya yang kukuh untuk membendung damparan angin pukulan lawan, maka terjadilah benturan angin pukulan dan pertahanan cahaya pedang, begitu dahsyat benturan ini, Ji Bu sampai tertolak mundur dua langkah, wajahnya yang pucat tampak merah padam.
Gerakan kedua pihak berlangsung cepat, dikala dua batang Toa liong-kak berputar dengan desing suaranya yang memekak telinga menyamber tiba, si sayap terbang Kim Bok dan Ceng-yap-cu Lo Ce kebetulan terjun ke tengah rombongan orang2 Hek-jiu-tong.
Bagai iblis yang haus darah, kedua batang Toa-liong kak menyamber kian kemari dengan cahaya kemilauan, suaranya yang membising mengaburkan perhatian orang banyak pula, sehingga orang salah duga bahwa kedua senjata melengkung aneh ini 178 seperti benda hidup.
Jerit orang banyak terus bersahutan, korban berjatuhan, puluhan batok kepala manusia sama terpental, kalau Toa liong-kak kemilau cahayanya, adalah golok sabit Kim Bok juga menaburkan cahaya benderang, dalam dua kali gebrak delapan nyawa direnggut oleh golok sabitnya.
Kaki lengan dan kepala sama protol, isi perut sama terburai, dada dan perut robek oleh tabasan golok.
Kepala gundul yang berjenggot merah itu sudah payah kehabisan tenaga, serta melihat kedatangan sang pimpinan yang menerjang datang seperti banteng ketaton, seketika bangkit pula semangat tempurnya, entah dari mana datangnya kekuatan baru, dengan nekat dia cecar si hidung merah Kau Pui-pui, lalu dengan suara menggelegar dia berseru.
"Cuncu, aku si jagal hari ini akan mengadu jiwa, dua puluh tahun lagi akan menitis pula sebagai laki2 gagah perkasa ......."
Si Hidung merah Kau Pui-pui melayaninya dengan gerakan cepat dan tangkas pula, permainan telapak tangannya masih tetap mantap, sorot matanya membara, katanya.
"Betul ucapanmu, dua puluh tahun lagi, kau mungkin laki2 sejati ... ..."
Jenggot merah si jagal se-akan2 kaku tegak, golok di tangan laki2 gemuk ini mendadak berputar kencang, keringat sudah membasahi sekujur badan, dengan suara kasar dan sengit dia berkata.
"Tapi kau keparat tua boneka ini harus mengiringi aku bertamasya ke neraka ......."
Hidung Kau Pui pui yang tinggal secuil daging yang benjol merah itu tampak bergerak2, dengan sengit dia lontarkan sembilan jurus pukulan, serunya murka.
"Kematian sudah di depan mata masih berani jual lagak!"
Sambil menabas dan membacok, golok si gemuk terus bekerja tak kurang kencangnya, dia tergelak2, serunya pongah.
"Jika kau sendiri tahu malu, kau mahluk aneh yang tidak punya hidung ini tentu merasa malu mengeroyok diriku dengan bantuan begundalmu sebanyak ini."
Wajah Kau Pui pui yang jelek dan beringas itu tampak semakin buruk, sekaligus dia lontarkan beberapa jurus pukulan dan tendangan, dikala tangan dan kaki bekerja, timbul pusaran angin yang kencang.
Tanpa jeri si gemuk, tetap putar golok sabitnya balas menyerang, di tengah gempuran yang beradu cepat itu, terdengar suara "bret"
Yang menusuk telinga, jubah si gemuk yang putih itu tampak sobek sebagian.
Di tengah suara sobekan ini, dari samping selarik sinar golok melengkung membacok ke punggung si hidung merah Kau Pui-pui.
Berteriak kaget lekas Kau Pui-pui menggeser ke samping, waktu ia berpaling, serta-merta ia berteriak melengking.
-"Kim Bok!"
Kim Bok mencecar lawan pula, katanya penuh hebencian.
"Kau Pui pui, sejak tadi kau memang pandai menghindari bentrokan langsung dan main sergap mencari lawan yang lemah, kini kau tidak akan bernasib mujur lagi."
Sambil berkelit dengan gesit dan tangkas, Kau Pui-pui berhasil lolos dari serangan golok Kim Bok, tapi dikala badannya menyelinap menghindar kian kemari itu, ia sempat melihat sembilan puluhan anak buahnya lebih dari separo sudah roboh binasa oleh amukan golok musuh.
Keruan tidak kepalang kagetnya, belum lagi otaknya sempat bekerja, Kim Bok yang menjadi lawannya ini telah mendesaknya lebih ketat, kembali dia melompat mundur, tapi Kim Bok ternyata tidak mengejarnya, dikala dia berdiri tegak pula, tahu2 bayangan seorang sudah melayang ke samping kirinya dengan bayangan seorang lagi.
Sedikit melenggong lekas Kau Pui-pui memandang ke sana, ternyata laki2 gemuk kepala botak yang berjenggot merah yang menyatakan ingin jadi laki2 gagah pula pada penitisan dua.puluh tahun yang akan datang telah menerjang ke arah kiri, seketika Kau Pui-pui sadar, lekas dia berteriak.
"Mereka hendak lari, cegat mereka ...."
Kejadian berlangsung cepat sekali, belum lagi orang2 Hek-jiu-tong menyadari maksud teriakan sang pemimpin, sekali gebrak, di bawah samberan golok kedua orang Bu siang-pay ini, sepuluh orang sudah roboh menjadi korban.
Kim Bok tergelak2, dengan memimpin Ceng yap cu Lo Ce dan si jagal jenggot merah mereka 179 terus menerjang membobol kepungan.
Baru saja ketiga orang lolos dari kepungan, belum ada tiga tombak jauhnya, di depan sudah mengadang seorang laki2 tua berjenggot panjang dan memimpin tiga puluhan orang Hek-jiu-tong yang mengenakan mainan kalung telapak tangan di depan dada, mereka adalah jago2 Hiat-hun tong yang siap menyambut mereka.
Kim Bok mendelik, teriaknya gusar.
"Kita ganyang mereka?"
Laki2 tua berjenggot putih itu bukan lain adalah si cerdik pandai dari Hek-jiu-tong, jago yang tadi dipaksa jungkir-balik oleh Siang Cin yaitu King Ji-seng.
Belum lenyap gerungan Kim Bok, badannya yang besar itu mendadak meloncat tinggi ke udara, mirip seekor burung raksasa dengan badan menukik dia langsung menubruk ke arah King Ji seng.
King Ji-seng tertawa melengking bagai suara kokok-beluk, payung ragang besi di tangannya melingkar satu bundaran, ujung payung yang runcing tiba2 menjojoh ke depan laksana pagutan ular berbisa.
Sambil mengertak gigi golok pendek di kedua tangan Kim Bok sekaligus membacok gagang payung lawan, selicin belut mendadak King Ji seng melompat mundur sambil menarik payung, hardiknya.
"Kepung mereka."
Tiga puluhan murid Hiat-hun-tong yang sejak tadi berdiri berjajar itu serentak menggembor, bagai serigala haus darah, dengan tangkas dan terlatih mereka merubung maju.
Dalam hati Kim Bok diam2 mengeluh, dia pikir malam ini mungkin teramat sukar untuk menjebol kepungan musuh dan lolos turun gunung.
Tapi baru saja tiga puluhan murid2 Hiat hun-tong yang berani mati itu menerjang maju beberapa langkah, dari udara meluncur turun sesosok bayangan orang, belum lagi orang banyak sempat melihat gerakannya, enam orang Hiat-hun-tong yang terdepan sudah menggelepar roboh, semuanya pecah kepalanya."
"Siang-tayhiap,"
Sambut Ceng-yap-ce Lo Ce dengan girang sambil mengayun goloknya.
Yang baru datang memang si Naga Kuning Siang Cin, wajahnya yang cakap bersih tampak berlepotan darah dan keringat, begitu kaki menginjak bumi Siang Cin segera susuli lagi dengan pukulan telapak tangan, tiga jiwa musuh direnggutnya pula, teriaknya dengan serak.
"Lekas pergi, biar aku tahan mereka."
Mendengar seruan ini Kim Bok menjadi haru dan berduka pula, teriaknya.
"Sianglote!"
Mendadak Siang Cin berjongkok menghindari sabetan lima batang golok setan lawan, waktu dia menegak pula, telapak tangannya telah memapas patah lengan dua orang, ditengah hamburan darah segar itulah, kembali dia meraung gusar.
"Lekas pergi!"
Mau tak mau terpaksa Kim Bok, tarik Ceng yap-ce Lo Ce dan si jagal jenggot merah, bertiga mereka sama2 melompat ke depan sejauh mungkin, selagi mengapung di udara, mendadak kedua kaki Kim Bok memancal, kedua sayap buatan di bawah ketiaknya segera berkembang, seperti burung raksasa yang pentang sayapnya, mereka melayang turun ke bawah gunung.
Orang2 Hek-jiu-tong hanya ber-teriak2 dengan melongo saja, hampir mereka tidak percaya akan pandangan mata sendiri, manusia apalagi dengan muatan dua orang, bagaimana mungkin bisa mela yang terbang seperti burung di angkasa?
Sungguh kejadian yang luar biasa.
Siang Cin sendiri menjadi lega seperti bebas dari suatu tugas berat, sementara di sana King Ji-seng sedang mencak2 seperti kebakaran jenggot, teriaknya kalap.
"Losu, Loji, Longo, lekas kejar, lekas ....."
Serigala tertawa Ji Bu dan Kau Pui-pui segera memburu ke bawah gunung, beberapa tombak di sebelah sana Thong-thian-wan Ban Lok juga pimpin ratusan anak buahnya ikut menguber ke bawah gunung, Siang Cin ter-gelak2 sambil menengadah, serunya.
""King Ji seng, tunggulah pembalasanku."
Beringas pandangan King Ji-seng, ia mengayun payung besinya dan berteriak kepada murid2 Hiat-hun tong yang berdiri disekitarnya.
"Kalian tunggu apa lagi? Mau 180 pura2 mampus? Puluhan jago Hiat-hun-tong tersentak kaget serentak mereka bergerak, seperti gerombolan serigala yang kelaparan tanpa pikir keselamatan sendiri mereka menyerbu ke arah Siang Cin. Waktu itu Thong-thian-wan Ban Lok dengan ratusan anak buahnya sudah lari beberapa tombak ke bawah gunung, beberapa langkah lagi akan tiba di balik gundukan tanah dan lenyap di balik sana. Dengan menyeringai Siang Cin kerahkan seluruh kekuatannya, kedua tangan terayun bersama, dua batang Toa-liong-kak menyamber keluar, suara mendenging seperti jerit tangis setan penagih sukma, begitu cepat membabat ke arah Thong-thian-wan Ban Lok di kejauhan itu. Baru saja Toa liong kak menyambar keluar, Siang Cin lantas melompat ke balik gundukan dan mendekam ke bawah, mendadak ia berputar, telapak tangannya yang tajam membabat satu lingkaran. Tiga belas jago Hiat-hun-tong yang menubruk maju tiba2 sama merasakan perut kesakitan, sebelum mereka menyadari apa yang terjadi, serta merta mereka sama menunduk memandang perut masing2 entah sejak kapan isi perutnya ternyata sudah kedodoran menjebol perut. Gaya serangan Siang Cin yang menakjupkan ini merupakan salah satu jurus dari San-jiu yang lihay, sehingga tiga belas musuh yang terbelah perutnya tidak merasakan sakit padahal isi perut sudah berlimpah keluar. Maka berpadulah jerit tangis sekarat ketiga belas orang yang berkelejatan itu, semuanya membuang senjata dan mendekap perut sambil ter-guling2, wajah mereka yang tadinya buas kasar itu kini tampak pucat berkeringat. Tanpa hiraukan nasib anak buahnya, serigala tertawa Ji Bu, hidung merah Kau Puipui Ban Lok, King Ji-seng menubruk dari tiga arah yang berlainan, Siang Cin sudah memperhitungkan waktu dan mengincar sasaran dengan baik, mendadak ia jumpalitan, dua Toa-liong-kak yang tersisapun dia sambitkan dengan desing suaranya yang memekak telinga, tiga musuh yang merangsak maju sementara teralang oleh "tanduk naga"
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 7
Baca Juga: Rajawali Emas 7