Eps 3 Bara Naga - Yin Yong
Baca online Bara Naga - Yin Yong
Cersil Bara Naga - Yin Yong.
Tapi dia menjerit kaget, tiba2 dia menyelinap keluar pula secepat kilat bagai melihat setan, menyusul dari balik pintu terdengar suara mendesis riuh ramai, ular2 kecil sebesar ibu jari sepanjang tiga kaki berwarna merah darah berlomba merayap keluar, begitu besar jumlah ular yang merayap ini sungguh menggiriskan, lidahnya yang menjulur keluar, baunya yang amis memualkan, siapa yang takkan ngeri?" .
Begitu jelek dan menjijikkan, kepala segi tiga binatang melata itu, ekornya kasar, matanya memancar biru, jelas seluruhnya ular2 beracun, Bagai air mengalir saja ular2 itu merayap memenuhi lantai lorong.
89 Belum kaki sempat menyentuh lantai Siang Cin langsung mengapung ke atas, dengan punggung lengket di langit2 lorong tak ubahnya seekor cicak dia awasi ular2 merah di bawah, ular2 itupun mendongak sambil meujulurkan lidahnya, lidah yang bercabang itu mendesis keluar masuk, mau tidak mau Siang Cin menjadi merinding.
Seluruh lorong dipenuhi ular, sedikitnya ada ribuan, tempat luang untuk berdiri saja tidak ada, lalu bagaimana baiknya?
Memangnya dia harus bergantung terus di atas dinding?, Ia coba menggeser mendekati obor yang tertancap di dinding, dia cabut batang obor dia, bikin remuk gagang obor yang terbuat dari kayu cemara serta dipuntirnya pula, gagang kayu menjadi hancur berkeping, kepingan kayu yang tak terhitung jumlahnya ini disulut oleh Siang Cin, setelah api menyala dia ayun tangannya, membawa deru api yang memancar terang, kepingan kayu itu berhamburan laksana panah berapi.
Ular2 yang ada di lorong seketika menjadi kalut, desis suaranya semakin keras sehingga hawa terasa amis dan memualkan, kepingan kayu cemara yang runcing kecil serta menyala itu melukai ular2 yang ada di lorong, ular yang terluka dan terbakar itu menjadi panik dan terguling kesakitan, terjang sana gigit sini, keadaan menjadi kacau antara sesama ular saling gigit, ular merah ini terhitung kecil, tapi taringnya panjang dan melengkung bagai kaitan.
Melihat usahanya berhasil mengacaukan barisan ular, maka Siang Cin bekerja lebih lanjut, dari atas dinding dia menggeremet maju, obor kayu cemara ternyata merupakan senjata yang ampuh untuk mengalahkan barisan ular, setiap kali dia mengayun obor, ular sama menyurut mundur dan lari serabutan, tidak sedikit pula yang terbakar, ular2 itu dipaksa menyingkir ke mana saja asal ada tempat luang, maka gajah bersayap yang lagi mengamuk di dalam sangkarnya itu kini menjadi musuh kawanan ular berbisa ini.
Gajah besayap dalam sangkar mengamuk semakin jadi, ular2 kecil itu sama merambati keempat kakinya dan menggigit kulit dagingnya yang tebal, terang kawanan ular ini terasa menganggu, gajah bersuara semakin keras, kakinya menggentak2, kedua sayapnyapun menggelepar, maka tidak sedikit kawanan ular yang terinjak hancur.
Sekuatnya Siang Cin timpuk pula dua batang obor, kini tinggal dua batang obor lagi yang tertancap di dinding, maka cahayanya jauh lebih gelap, tapi sebatang lagi dia cabut, setelah menarik napas, pelan2 lalu dia melayang masuk ke balik pintu.
Di balik pintu ternyata adalah sebuah kamar yang tidak keruan bentuknya, di lanta penuh serakan rumput busuk tercampur najis ular yang tak sedap baunya, Siang Cin tidak berani bernapas di sini kuatir hawanya mengandung bisa, maka tanpa ayal ia terus melayang pula ke depan menerjang dinding di sebelah depan, waktu jarak tinggal satu kaki, tinjunya segera menggempur ke arah dinding, di tengah gemuruhnya dinding yang terpukul retak, badan Siang Cin terpental balik ke belakang, Jumpalitan sekali di udara, Siang Cin tidak jatuh di lantai, tapi kedua kaki terus memancal di tengah udara, kembali tubuhnya melesat maju pula kedepan, kini dinding kena dipukulnya runtuh berantakan, secercah cahaya segera menyorot masuk lewat lubang dinding yang jebol, di sebelah sana kiranya juga sebuah lorong.
Siang Cin menyelinap keluar, dengan gaya yang indah dia meluncur ke pengkolan sebelah kiri, belum lagi dia melayang turun, matanya sudah melihat dua orang raksasa aneh dengan rambut kuning gonderong tengah melotot padanya.
Kedua raksasa aneh ini hanya memakai cawat kulit harimau kumbang, bulu panjang tumbuh di sekujur badannya.
jidat lebar, hidung pesek, bibirnya mencuat keluar, giginya yang kuning gede itu meringis keluar bibir, tampangnya buas dan jelek sekali, lebih mirip orang hutan dibanding manusia.
Dengan enteng Siang Cin melayang turun, sorot matanya menatap dingin kedua raksasa yang berwajah kaku ini, bukan saja berbulu badan kedua raksasa ini, ternyata mengkilap seperti berminyak, tinggi besar tak ubahnya sebuah bukit.
90 Sambil menggerung serentak kedua raksasa ini mendorong bangku yang semula mereka duduki, seorang langsung menyambar senjatanya, yaitu sebatang gada besar penuh paku runcing, gada sebesar paha itu cukup kuat untuk mengemplang manpus seekor biruang.
Siang Cin menjura, katanya.
"Selamat bertemu tuan2, apakah kalian tidak ingin ngobrol denganku?"
Dengan langkah yang berat kedua raksasa maju menghampiri, mendengar Siang Cin bicara, mereka berhenti dan saling pandang dengan tak mengerti, wajah mengunjuk rasa heran.
Siang Cin tertawa pula, katanya.
"Apakah kalian tidak mengerti maksud ucapanku? Ini bukan soal, boleh kalian duduk saja di sana, nanti setelah aku menyelesaikan urusanku, pasti akan kujelaskan kepada kalian."
Habis bicara dia coba maju selangkah, seketika kedua raksasa berjingkrak dan menggeram, keduanya mencegat di tengah lorong, gada berpaku terangkat tinggi, taring mereka tampak seram menjijikkan.
Pelahan Siang Cin menggeser ke pinggir, dengan jari telunjuk dia memberi tanda pada kedua raksasa itu, lalu ia kerahkan tenaga, ujung jarinya menjojoh dinding batu yang keras.
Kedua raksasa berteriak kaget, matanya melotot seperti ingin menikmati tontonan yang menarik.
Siang Cin membuat tanda2 yang bersahabat, telunjuknya dia tarik keluar, lalu dia menarik napas panjang2, badannya yang ramping segera merayap lurus ke atas setinggi lima kaki, kemudian melayang turun pula pelan2.
Kedua raksasa itu menyaksikan dengan mata terbeliak sambil bersorak gembira, Siang Cin tepuk2 tangan lalu memberi gerakan tangan pada mereka, supaya merekapun mencobanya.
Agaknya mereka ragu2, tapi setelah saling bercowetan sebentar, mereka membuang gada masing2.
Yang satu menirukan cara Siang Cin menjojok dinding dengan jari, sementara yang lain ber-jingkrak2 ingin mengapung dengan mulut terkekeh geli, keduanya mirip sekali anak2 nakal.
Siang Cin menghela napas lega dengan rasa letih, pelan dia menggeremet maju ke sana, dia tepuk bahu kedua raksasa serta tersenyum manis penuh persahabatan, lalu menyelinap di tengah2 mereka langsung menuju ke ujung lorong, di sini memang terdapat sebuah pintu batu yang besar.
Setiba di depan pintu Siang Cin menoleh kearah kedua raksasa yang masih bermain dengan asyik sekah.
Dia coba mendorong pintu batu ini bagai gunung yang kukuh tak bergeming sedikitpun.
Ia mengerut kening, tenaganya memang sudah banyak terkuras, kalau setiap kali harus menggempur dengan seluruh kekuatan, mungkin dia takkan sanggup bertahan lebih lama lagi, maklumlah manusia terdiri dari tulang dan darah daging, bukan terbuat dari kawat dan besi.
Sebetulnya Siang Cin tidak ingin mengganggu kedua raksasa yang bermain begitu asyik, dia lebih suka membuka pintu ini tanpa mengeluarkan suara berisik dan tanpa susah payah menolong kawan2nya, tapi kenvataan sekarang tak mungkin terjadi demikian, tanpa kunci untuk membuka gemboknya, pintu tak mungkin bisa dibuka, kecuali menggunakan kekerasan menggempurnya rasanya tiada jalan lain lagi.
Dengan menggertak gigi pelan2 dia himpun semangat dan kerahkan tenaga, akhirnya seluruh kekuatan dia pusatkan pada kedua lengan, ketika dia menghembuskan napas diiringi gertakan, pukulan yang dahsyat segera menggempur pintu batu itu.
Ditengah suara gemuruh yang bergema sampai lama, batu dan debu sama muncrat, tapi suara gemuruh ini sekaligus membuat kaget kedua raksasa yang lagi ber-main2 itu, sekilas tampak mereka kaget serta berhenti main, dengan pandangan bingung mereka membalik ke sini mengawasi Siang Cin.
Tanpa menunggu kedua raksasa ini memaklumi apa yang terjadi, cepat Siang Cin menggempur pula beberapa kali, pintu batu itu lambat laun tergempur runtuh dan ber goyang2, pintu batu yang tebal dan berat ini boleh dikatakan sudah retak parah, kini 91 mudah dijebolnya.
Tiba2 kedua raksasa itu meraung gusar, suaranya mirip serigala kelaparan, seperti badak menyeruduk keduanya menerjang datang sambil angkat gada terus mengepruk, sebat sekali Siang Cin menyingkir, sekilas ia lihat mata kedua raksasa yang beringas tak mengenal persahabatan lagi.
Sebuah gada menyambar dari samping.
Kembali Siang Cin berkelit, sementara raksasa yang lain juga menyerbu tiba dan ber-teriak2 gusar, gada berayun serabutan menimbulkan kisaran angin lesus yang kencang.
Siang Cin berkelit kian kemari sambil menyelinap di antara kedua raksasa yang lagi mengamuk ini, serunya dingin.
"Kalian mundur saja, aku tidak ingin melukai kalian, tahu tidak? Lekas mundur ..."
Kedua raksasa ini adalah manusia liar, mereka meraung2, suaranya lebih mirip binatang buas, sorot matanya yang ber-kunang2 lebih mirip mata elang yang buas, tak kelihatan adanya sifat2 kemanusiaan, maka Siang Cin mengerti sekarang kecuali mengalirkan darah, tiada jalan lain yang dapat dimengerti oleh mereka.
Badan yang kasar sebesar kerbau itu tiba2 menerjang maju, bau badan yang apek rnenyusup ke hidung Siang Cin, sementara gada besar teiah mengemplang batok kepalanya, berbareng sebelah kakinya mendepak iganya pula.
Sungguh tak nyana bahwa raksasa liar ini juga pandai berkelahi dengan macam2 tipu serangan.
Siang Cin menghela napas, dia menyelinap ke samping, mepet dinding, begitu punggung menyentuh dinding, secepat kilat badan membal balik, tiada kata2 yang dapat melukiskan kecepatan gerakannya, tahu2 raksasa di depannya meraung keras seperti babi disembelih.
"Duk, duk, duk", ia terhuyung mundur menyusul telapak tangan Siang Cin yang sudah ditarik keluar dari rongga dada si raksasa, telapak tangan berlumuran darah. Tiada peluang bagi raksasa yang lain untuk menyerang maju pula, tangan Siang Cin yang berlepotan darah itu sudah bekerja pula, selagi gada besar si raksasa menyambar lewat di atas kepala Siang Cin, dalam waktu sekejap ini Siang Cin menyarangkan tangannya belasan kali di antara dada dan perut lawan. Rintihan raksasa di kaki dinding sana masih berkelejetan, raksasa yang lain sudah menyusul dengan jeritannya yang menyayat hati, badannya yang sebesar kerbau me-liuk2 sambil ber-putar2 dan akhirnya menumbuk dinding, lalu jatuh tersungkur dengan kepala menyeruduk lantai. Siang Cin mencibir sambil menggeliat letih, tanpa hiraukan kedua korbannya lekas dia beranjak maju, beruntun beberapa kali pukul dia menggempur daun pintu, di tengah gemuruhnya debu dan pasir, daun pintu batu itupun runtuh ber keping2. Sebelum kepulan debu mereda, bayangan Siang Cin sudah menyelinap masuk. Di belakang pintu adalah sebuah kamar yang remang2 dengan sebuah lampu minyak, di atas jerami yang mulai membusuk berduduk empat orang, itulah "dua keping papan"
Pau Seh hoa, An Lip, lalu calon isterinya serta ....Kun Sim-ti yang tampak kurus dan lemas. Jantung Siang Cin seperti mengejang, sekuatnya dia tekan emosinya, katanya.
"Lo Pau, aku telah datang!"
Pau Seh hoa mengawasinya dengan pandangan melongo, tatapannya seperti berlapis kabut, sorot matanya seperti memancarkan rasa ngantuk, lelah luar biasa, bagai melihat seorang asing yang tak dikenalnya.
Pelan2 Siang Cin berjongkok di depan Pau Seh hoa, dia terkejut didapatinya tubuh Pau Seh-hoa penuh berlepotan darah yang sudah mengering berwarna hitam, rambutnya yang memang awut2an bagai rumput itu tampak lebih kotor dan tak keruan lagi, Siang Cin menarik napas, lalu memanggilnya pula dengan suara pelahan.
"Lo Pau, aku inilah, Siang Cin ...."
Berjingkat seperti kena lecutan Pau Seh-hoa, dia terkejut, pada saat lain tubuh Pau Seh-hoa seperti tersentak sadar dari impian buruk, sekuatnya dia geleng2 kepala, Siang Cin di tatapnya lekat2, se-akan2 sudah puluhan tahun tak melihatnya, suaranyapun kaget, girang dan gemetar.
"Kongcuya ...... betulkah kau ....oh, oh, 92 memang betul kau, kukira aku sedang bermimpi ...."
Derita macam apakah yang telah menyiksa jago kosen yang tak kenal takut ini?
Dengan cara keji apa pula laki2 sekeras baja ini dibikin loyo dan linglung begini?
Gemertak gigi Siang Cin saking dendam, sesaat dia berdiam diri.
satu persatu dia puntir putus borgol di tubuh Pau Seh-hoa, lalu berganti membebaskan An Lip, perempuannya, keadaan An Lip jauh lebih mending dibanding Pau Seh-hoa waktu Siang Cin memuntir putus borgol ditubuhnya, laki2 kasar dan keras hati yang berewok ini, berkata penuh haru.
"Inkong, akhirnya kau datang juga, tahukah kau dengan cara apa mereka menyiksa Pau-cianpwe ... kedua binatang liar di luar itu tiga kali setiap hari di suruh menghajar Pau-cianpwe ..... hanya sekeping roti kering pula setiap hari Pau-cianpwe diberi makan, dan yang paling mengenaskaan, setiap malam seorang nenek jahat membawa masuk seekor kelelawar raksasa yang jelek untuk mengisap darah segar Pau-cianpwe ....masih ada lagi, masih ada ...."
"Hai,"
Seru Pau Seh-hoa dengan serak.
"An Lip, memangnya kau tak bisa bungkam saja."
Dengan pelahan Siang Cin menepuk bahu Pau Seh-hoa, katanya lirih.
"Jangan marah Lo Pau, ingatlah selalu, derita dan siksa yang kita alami sekarang akan kita tagih dengan imbalan yang berlipat ganda dari mereka."
Habis berkata dia ke sana menghampiri Kun Sim-ti, pelan2 dan hati2 dia membuka borgol di tubuhnya, pembalut di muka Kun Sim-ti sudah terbuka, wajah yang tadinya ayu segar bak kuntum bunga baru mekar itu kini dihiasi segumpal daging warna ungu menjadikan wajahnya kelihatan kurus, kuyu dan harus dikasihani.
terpancar perasaan pilu, sedih tak terlampias dari wajah pucat itu, sejak Siang Cin datang sampai sekarang, Kun Sim-ti tetap memejamkan mata, tidak bergerak dan tidak mengeluarkan sepatah kata, tidak memperhatikan gejolak perasaan-nya, dia hanya diam saja, diam keputus-asaan.
Bahwa terakhir Siang Cin baru memeriksa orang yang paling diperhatikan dan dikasihinya, justeru karena terlampau besar perhatiannya, dia tidak ingin cepat2 tahu betapa hebat siksa derita yang dialaminya, meski akhirnya toh dia akan tahu, malah iapun tahu bahwa derita itu telah terjadi dan tak mungkin dihindarkan lagi.
Setelah memuntir putus borgol yang membelenggu kedua kaki Kun Sim ti, pelan2 Siang Cin mengelus jalur membiru yang melingkar di kakinya, dengan suara serak dan tersendat dia berkata.
"Ci, kau terlalu menderita ...."
Kun Sim-ti menggeleng, dia tetap memejamkan mata, Pau Seh-hoe menjilati bibirnya yang kering pecah, katanya.
"Luka terbakar nona Kun belum lagi sembuh, dengan kasar mereka membuka pembalut-nya, tidak diberi obat dan tidak dibersihkan lagi, justeru hal2 demikian inilah yang paling dikuatirkan untuk luka2 terbakar ...."
Siang Cin menengadah, wajahnya tampak tenang, ia memandang langit2, tapi Pau Seh hoa justeru gemetar, ia tahu, ia paling dapat meresapi apa arti kelakuan sahabatnya ini, tentu banjir darah akan terjadi pula.
-------------------------------Dapatkah Siang Cin menyelamatkan kawan2nya dan cara bagaimana meloloskan diri ?
Pengalaman pahit apapula yang akan menimpa mereka?
-Bacalah
Jilid ke 6 -93
Jilid 06 Akhirnya Pau Sek-hoa bersuara serak.
"lote, apa pula yang kau pikirkan?"
Siang Cin menatap datar ke arah Pau Seh-hoa, dia menggeleng, katanya dengan tertawa rawan.
"Tiada yang kupikirkan Lo Pau, kau tahu, tiada yang kupikirkan."
Ragu2 sejenak lalu Pau Seh hoa berkata pula hati2.
"Bekas hitam di wajah nona Kun itu lantaran lukanya dulu tidak dirawat baik2 sehingga menimbulkan borok begitu, kelak bila diobati lagi ada harapan akan sembuh seperti sediakala lote, jangan timbul nafsumu membunuh pula, lote ...., ."
Siang Cin berdiri, katanya menyimpangkan persoalan.
"Lo Pau, kau sendiri apa bisa bergerak?"
Pau Seh hoa menghela napas, sahutnya.
"Sekuatnya masih bisa."
Siang Cin berputar ke arah An Lip dan bertanya.
"Bagaimana kau An Lip?"
An Lip sudah berdiri, dia membusungkan dada, katanya dengan tegas.
"Boleh saja!"
"Dengan menggendong calon isterimu?"
Siang Cin menambahkan. An Lip mengertak gigi, katanya.
"Tidak jadi soal."
Maka tanpa bicara lagi Siang Cin membopong Kun Sim-ti, sekalian dia tarik Pau Seh-hoa. Badan Pau Seh-hoa yang kurus tinggal kulit membungkus tulang itu terhuyung, katanya dengan ketus.
"Tak usah membimbingku, Lo Pau bukan kakek yang sudah loyo"
Lima orang beriring keluar dari pintu, Pau Seh-hoa melihat raksasa yang menggeletak mampus dalam keadaan yang mengenaskan, melihat pula dinding yang ambrol dan terali besi yang jebol, setelah menarik napas dia berkata.
"Kongcuya, dengan tangan kosong kau menggempur masuk."
Sambil memeriksa lorong yang dilewati, dengan tawar Siang Cin menjawab.
"Menurut pendapatmu, memangnya aku harus membawa pasukan?"
An Lip menggendong isterinya berdiri di samping, dengan penuh kebencian dia berludah pada mayat kedua raksasa, katanya gemas.
"Mereka memang patut dibunuh, 94 Inkong, setiap hari kedua babi ini menghajar Pau cianpwe ...."
Dengan tenang Siang Cin berkata.`Kalau begitu, kematian cara begini masih untung bagi mereka."
Pau Seh-hoa mengusap muka, baru mau bicara, dari ujung lorong sana sayup2 terdengar suara ribut diselingi teriakan kaget dan ketakutan. Terbelalak An Lip, katanya gelisah.
"Inkong .... kudengar suara orang..."
Siang Cin sibuk memeriksa lorong, katanya tenang.
"Mereka takkan kemari dalam waktu dekat, di sana penuh ular2 merah beracun, kukira mereka akan sibuk setengah harian ....."
"Kongcu,"
Ucap Pau Seh-hoa setelah ragu2 se-jenak;
"apa yang sedang kau cari?"
Siang Cin mengencangkan gendongan Kun Sim-ti, katanya.
"Kupikir, tahanan di bawah tanah ini tak mungkin hanya ada sebuah jalan lorong saja, mereka pasti ada jalan rahasia untuk melowati ketiga kerangkeng binatang itu, tak mungkin mereka terjang masuk kemari seperti caraku tadi ...."
Pau Seh hoa mengangguk, katanya.
"Kalau begitu, para keparat itu sebentar akan kemari."
Wajah Siang Cin yang masih membiru hitam itu tampak kaku, katanya.
"Betul, akan segera datang."
Mereka berdiri diam di depan pintu, mereka seperti mengharapkan entah di mana nanti tiba2 dinding akan terbuka, lalu orang2 yang bersenjata berbondong menyerbu masuk, mereka sedang menantikan datangnya pertempuran besar.
Suara gemuruh bergesernya barang2 berat sayup2 terdengar, seperti di bawah tanah, tapi juga seperti di sebelah atas, Tiba2 Siang Cin tertawa, dia berkata.
"Lo Pau, setelah pertempuran ini, bila kita masih hidup, aku akan membuat neraca dan daftar untung rugi betapa banyak aku telah membunuh mereka."
Pau Seh hoa memandangnya lekat2, katanya getir.
"Kongcu, keganasanmu sudah kuketahui, di situlah letak yang tak bisa kutiru."
Siang Cin tertawa, ucapnya.
"Waktu mereka menyedot darah segarmu dengan kelelawar, apakah kau tak pernah menyesal telah berlaku bajik terhadap mereka? Lo Pau. ketahuilah, penghuni Cengsiong-san ceng ini tiada satupun manusia baik2, mereka adalah hewan yang bertopeng manusia belaka."
Dengan beringas An Lip berteriak.
"Inkong, biar nanti kuobrak abrik kawanan bangsat itu."
"Bagus,"
Puji Siang Cin mengangguk.
"kau akan memperoleh imbalan berlipat ganda An Lip, ganyang saja, tabahkan hatimu, kesempatan hidup kita jauh lebih besar daripada mereka."
Suara Kun Sim ti, yang digendong Siang Cin seperti berkumandang dari kejauhan, lemah dan lirih sekali, hanya Siang Cin saja yang mendengar.
"Dik..."
Bergetar tubuh Siang Cin, dia sediktt menengadah sebagai tanda mendengar, suara Kun Sim-ti yang lemah dan sedih terdengar pula.
"Dik, apakah kita masih ada harapan?"
Berpikir sebentar, baru Siang Cin berkata penuh keyakinan.
"Kita akan berjuang, Ci, kau tahu, kita berlima tiada seorangpun yang segar bugar."
Tiba2 Kun Sim-ti terisak, lekas Siang Cin berkata.
"Kak ......"
Suara sedih lirih Kun Sim-ti berkata.
"Dik, apapun yang akan terjadi, ada omongan yang ingin kusampaikan padamu, kata2ku ini mungkin sudah kau ketahui, sebab sudah kita sembunyikan dalam relung hati sekian tahun lamanya ......aku, aku tidak setimpal, tapi ..... , tetap, tetap akan kuberitahukan padamu ......"
Siang Cin bergetar seperti kedinginan dia menggertak gigi, rintihnya dengan rawan.
"Kak . ....."
Kepala Kim Sim-ti mendekap di pundak Siang Cin, secara langsung dia dapat merasakan dengus napasnya yang tersengal, dengan air mata yang melefeh ia berbisik.
"Dik, aku ......aku cinta padamu ... ." 95 Hati Siang Cin tergetar, bibirnya rada pucat, dia mengangguk pelahan. Ya, kata2 inilah yang telah sekian tahun tersimpan dalam sanubari mereka. Sebelum ini, bila mereka duduk berhadapan di bawah penerangan lilin, dikala ber jalan2 menyongsong datangnya musim semi, secara polos bodoh mereka lewatkan suasana yang romantis itu, kini yang tertinggal hanya kenangan pahit melulu? Tapi isi hati ini akhirnya terlimpahkan, dinyatakan dengan tulus dan suci. Siang Cin pejamkan mata, suaranya tegas dan tandas laksana, kukuhnya gunung .
"Kak, akupun demikian, malah sudah sejak lama ......"
Girang dan haru Kun Sim-ti tak tertahan lagi, dia rapatkan mukanya kepunggung Siang Cin.
Sekuatnya Pau Seh-hoa mengangkat badannya, laki2 yang keras hati ini menahan air matanya yang hampir meleleh, tapi ia sengaja berkelakar.
"Nah, bagus sekali, seharusnya sudah sejak lama kalian nikah tamasya dan hidup bahagia ......"
Kini terasakan juga sesuatu mengetuk sanubarinya, sesuatu yang tak terlupakan selama hidupnya, selama setengah umurnya ini dia hidup sebatangkara, selama kehidupan yang merana ini dia selalu mencari sesuatu yang dapat membuat hidupnya bercahaya, kini dia telah menemukannya, meski sesuatu ini bukan diperoleh bagi dirinya sendiri, tapi dia merasa puas, paling tidak dia sudah membuktikan bahwa di dunia fana ini memang ada cinta murni yang luhur dan di atas segalanya.
An Lip menyeka air mata terharu, katanya tiba2.
"Inkong, seperti ada gerakan ....."
Siang Cin memang sedang memperhatikan dinding di sebelah kiri, sebuah batu persegi tampak sedang bergerak tergeser keluar, mayat raksasa pertama yang dibunuhnya tadi kebetulan berada di bawah batu yang bergerak itu.
Pau Seh hoa mengernyit dahi, katanya.
"Kongcuya, kita bertindak menurut petunjuk tadi, jika kita tak dapat menerjang keluar, paling tidak kita harus melakukan apa saja sekuat tenaga."
"Sudah tentu,"
Dingin suara Siang Cin.
"mereka takkan melupakan kejadian ini, karena peristiwa di sini akan menimbulkun bayangan takut selama hidup mereka"
Di sebelah sana dengan langkah berat An Lip tengah menggeser mencari posisi, kini dia berdiri disudut yang paling mudah untuk menggempur musuh yang akan keluar dari lubang dinding itu.
Pelaban Pau Seh-hoa juga duduk bersimpuh tepat di bawah batu yang sedang bergerak itu, ke dua matanya melotot, kedua telapak tangan siap di atas lututnya.
Mundur selangkah Siang Cin berkata pelahan kepada Kun Sim ti.
"Kak, keadaan amat mendesak, kita berada di lorong yang buntu ini, semuanya terluka lagi, musuh mungkin menggunakan cara yang paling keji untuk menghadapi kita. Kak, maafkan bila kau harus ikut terseret dalam kancah pertarungan ini, tapi aku berjanji sekuat tenaga akan melindungi keselamatanmu . , ..."
Lirih dan rawan Kun Sim-ti berkata.
"Kenapa kau bilang begini? Kau tahu aku selalu akan mendampingimu, aku tidak takut, betul2 tidak takut...
Se-konyong2 Pau Seh-hoa mendesis.
"Nah sudah datang, orang pertama yang akan kupukul mampus keluar."
Bongkah batu besar yang lagi bergerak itu akhirnya terbuka, sesosok bayangan tampak merambat keluar, rnembulat mata Pau Seh hoa., tubuhnya yang bersimpuh tiba2 setengah berdiri, bagai seekor ular yang semula melingkar tiba2 hendak memagut mangsanya, telapak tangan terangkat.terus hendak menggempur..Padahal bayangan itu baru saja keluar, keruan bayangan itu menjerit ngeri, untung mata Siang Cin amat tajam, sekilas dia sudah melihat jelas siapa yang menerobos keluar dari lubang batu itu, ia tak sempat berseru mencegah serangan 96 Pau Seh-hoa, segera dia tutul sebelah kakinya, seeepat kilat ia sempat menahan tangan Pau Seh-hoa, arah pukulan Pau Sehhoa menjadi menceng.
"Plak", pukulannya mengenai dinding, batu dinding muncrat berhamburan, merekapun tertolak ke samping. Pau Seh-hoa lantai menggerutu gusar.
"Lote, kau gila ......kau......."
Siang Cin menggeleng, lalu berpaling ke arah orang tadi yang menggelendot lemas di kaki dinding sana, rasa kejut masih terbayang di wajahnya.
Wajahnya nan jelita tampak pucat, napasnya juga memburu, kedua bola matanya terbelalak, tanpa berkesip memandangi Siang Cin.
Dia bukan lain daripada Sek Pin, adik Sek Kui, Wancu (ketua perkampungan) pertama dari Ceng siong san ceng.
Dengan tertawa, tenang saja Siang Cin menyapa.
"Manusia hidup di mana2 selalu bersua nona!". Sek Pin mengenakan pakaian ungu ketat, gaun panjang dengan ikat pinggang sutera warna putih, bagian luarnya mengenakan mantel kulit rase, topi kain yang lebar, wajah yang pucat bagai orang yang baru sembuh dari sakit, keringat basah di ujung hidung, sikapnya tampak gelisah dan takut. Pelan2 dia merangkak bangun dan mengelus dada, katanya gugup.
"Siang Cin, besar amat nyalimu, seorang diri berani kau menerobos ke Lo-koh-ce gunung palsu ini, kini Cengcu dan lain2 sudah tahu perbuatanmu, seluruh kekuatan dikerahkan, daerah ini sudah terkepung rapat .. ... ."
Siang Cin mengangguk, katanya.
"Hal ini memang sudah kuduga."
Suara orang ribut2 dari lorong di mana kamar ular dan gajah bersayap semakin dekat, terdengar pula suara benda2 dipukul, obor bergerak dengan bunga apinya yang bertebaran.
Melihat keadaan kelima orang dihadapannya, terbayang rasa iba dan simpatik pada muka si nona, tapi sikapaya tampak teguh untuk bertindak menuruti nuraninya yang suci murni, sekilas dia berpaling ke lorong gana, lalu tanpa ragu berkata.
"Siang Cin, waktu sudah mendesak, bawalah orang2mu ikut aku."
Sedikit melengak dan ragu2, Siang Cin berkata dingin.
"Tentunya ini bukan sebuah jebakan?"
Ujung bibir Sek Pin tampak mencibir sinis, wataknya yang keras seketika meledak mengobarkan amarah dan penasaran, katanya merasa terhina.
"Kalau betul begitu, tak perlu aku bersusah payah kemari."
Siang Cin menatap tajam pada Sek Pin, akhirnya ia mengangguk, katanya.
"Baik, tunjukkan jalannya."
Tanpa bicara lagi Sek Pin membalik dan menerobos ke dalam lubang darimana tadi dia datang, Siang Cin ikut di belakangnya, lalu An Lip yang memayang isterinya, terakhir adalah Pau Seh hoa.
Di balik batu undakan sebelah kanan menurut petunjuk Sek Pin, Siang Cin menginjak sebuah tombol rahasia, maka pintu batu yang bergeser tadi pelan2 bergerak merapat.
Lorong bawah tanah ini seperti menjurus ke pusar bumi, miring turun, terasa lembab dan dingin agaknya sudah sekian tahun tak terpakai lagi, bau apek busuk yang umumnya hanya tercium di tempat gelap yang jarang terkena sinar matahari menyesakkan pernapasan, tanah licin berlumut, jauh dekat tak bisa dibedakan, karena gelap gulita, Sek Pin terus menggremet maju sambil me raba2, sepatah katapun tak bersuara..Siang Cin melangkah maju lebih dekat, dengan suara lirih dia berkata.
"Nona Sek, nona sudi menyerempet bahaya menolong kami, tak peduli Siang Cin dapat keluar dengan hidup atau mati, bila masih.ada kesempatan pasti takkan kulupakan budi luhur nona."
Sek Pin maju terus tanpa bersuara, sesaat kemudian baru dia berkata rawan.
"Tak 97 usah kau berterima, kasih, memang ini kehendakku sendiri."
Terketuk hati Siang Cin, ia menyesal, katanya kemudian.
"Jangan berkata begitu nona, pengorbananmu teramat besar . ...."
Lalu Siang Cin menambahkan dengan nada berat.
"Nona, apakah engkohmu tahu apa yang kau lakukan sekarang? Kecuali dirimu adakah orang lain yang tahu akan tindakanmu malam ini?"
Sek Pin menahan isak tangisnya, katanya sedih.
"Engkohku tidak tahu, tapi cepat atau lambat akhirnya dia akan tahu juga. Dia tidak akan mengakuiku lagi sebagai adik, ia pasti akan menghukum aku ... aku dan Hoan-gwat ...."
"Siapakah Hoan-gwat?"
Tanya Siang Cin. Sek Pin terpeleset ditanah yang licin dan hampir saja jatuh, lekas Siang Cin memapaknya, Sek Pin berkata sotelah menghela napas.
"Hoan-gwat adalah pelayan yang paling kusayang, kami tumbuh dewasa bersama sejak kecil."
Berjalan beberapa jauh lagi baru Siang Cin berkata pelahan.
"Lorong rahasia ini terang sangat panjang, tembus ke mana?"
Kini Sek Pin berjalan lebih hati2, katanya.
"Hampir lima tahun lorong ini tidak dipakai lagi, letaknya antara dua puluh kaki di bawah tanah, panjangnya dua li, karena tanahnya yang sering longsor, maka pembangunan lorong rahasia ini sudah dihentikan lima tahun lalu, lorong ini tembus ke gunung di belakang perkampungan . ..."
"Mungkinkah ergkohmu takkan curiga akan lorong rahasia yang terbengkalai ini? Tidak curiga bahwa kau yang menolong kami? Kecuali lorong rahasia ini, adakah jalan rahasia lain untuk masuk ke Lo-koh-ce?"
Berpikir sekian lama baru Sek Pin berkata pula.
"Sudah lima tahun lorong ini tidak terpakai, banyak orang tahu bahwa lorong ini sudah buntu dan tak bisa digunakan lagi, bulan yang lalu, tanpa sengaja Hoan-gwat dengan . ...dengan temannya bertemu di sini, didapatinya longsoran tanah di sini ternyata sudah bergerak lagi, sehingga terbuka sebuah terowongan selebar tiga kali. Waktu itu secara diam2 Hoan-gwat beritahukan padaku, semula tidak kuperhatikan, tak nyana hari ini begini besar manfaatnya, menolong kau sekaligus juga mencelakakan diriku ...."
Siang Cin geleng2, baru saja dia mau bicara Sek Pin sudah menyambung.
"Engkohku pasti tidak tahu kalau lorong di sini masih dapat digunakan dan lebih penting lagi bahwa dia tak menduga akan perbuatanku yang durhaka ini, oleh karena itu, dalam waktu singkat mereka takkan memburu kemari, tapi bila mereka telah masuk lewat jalan rahasia lain dan kehilangan jejak kalian, pasti mereka akan menduga kalian telah kabur lewat lorong rahasia yang terbengkalai ini."
Berpikir sebentai, tiba2 Siang Cin berkata.
"Menurut perhitungan waktu, seharusnya mereka segera akan tiba di tempat kurungan kami dari jalan rahasia yang lain, tapi kenapa setelah kita pergi sekian lama masih belum kelihatan bayangan mereka?"
Sek Pin menunduk malu, sesaat baru dia bersuara pula.
"Aku kuatir mereka tiba lebih dulu maka ....maka kunci pintu yang disimpan engkohku telah kucuri ...."
Siang Cin mengangguk maklum, sebabnya orang2 Ceng-siong-san-ceng ribut dilorong tempat binatang buas itu ialah karena pintu jalan rahasia yang lain terkunci dan tak bisa dibuka, terpaksa mereka harus masuk menurut jalan yang ditempuh Siang Cin, walau harimau bertanduk sudah mati tapi gajah bersayap yang terluka dan ular2 merah itu mungkin menjadi rintangan bagi mereka.
Jalan semakin datar, maka langkah mereka bertambah cepat pula, tiba2 Siang Cin berkata pula dengan setulus hati.
"Nona Sek, kami sangat berterima kasih atas pengorbanan dan pertolongan . ......."
Tanpa berpaling Sek Pin berkata dingin.
"Sekarang kalian harus berusaha meninggalkan Cengsiong-san-eeng secepatnya, satu jam yang lalu Im-bing long-kun 98 Ih King-hok telah tiba, mungkin sekarang dia sudab berada dalam barisan orang2 Cengsiong san-ceng."
Mendengar nama ini mau tak mau Siang Cin terkesiap, tanyanya.
"Ih King-hok? Ih King-hok dari Ang-tong-nia itu?"
Sek Pin juga terperanjat mendengar nada ucapan Siang Cin, langkahnya diperlambat, tanyanya heran.
"Sudah tentu, memangnya di dunia ini ada Ih King hok kedua?"
Setelah merandek sebentar, dia berkata pula kuatir.
"Kau juga kenal dia? Siang Cin, belum pernah aku melihat kau seprihatin ini ... .. orang ini membuatmu takut?"
Sambil tertawa tawar Sang Cin berkata.
"Tidak, mungkin ada orang yang mampu mengalahkan Naga Kuning, tapi TIada seorangpun yang mampu membuat Naga Kuning jeri. Aku hanya merasa heran, Ih King-hok bertabiat aneh, tinggi hati, sUka menyendiri. tak pernah mencampuri urusan duniawi, bagaimana mungkin sekarang dia bergaul dengan orang2 Ceng -siong -san ceng yang terkenal jahat dan sampah dari kaum persilatan ini?"
Dengan mendengus Sek Pin berkata kurang senang.
"Hm, bicaralah yang bersih, kaum jahat dan sampah persilatan apa? Setiap orang punya pendiriannya. Kau menjelekkan orang lain, belum tentu orang akan memuji sepak terjangmu ......"
Tertawa Siang Cin dan berkata..
"Ya, memang, kalau tidak, mayat takkan bergelimpangan sebanyak itu."
Saking dongkol Sek Pin membanting kaki langkahnya dipercepat, Siang Cin menarik lengan Kun Sim-ti dalam gendongannya, lalu memberi tanda ke belakang sambil menyusul dangan langkah cepat, jalan rahasia sepanjang dua li itu mungkin sudah akan tiba di ujung.
Kini terasa jalan yang mereka tempuh mulai menanjak naik, turun dan naik pula, tidak lama kemudian, dari depan sudah terasa ada embusan angin yang segar.
Menarik napas panjang, Siang Cin berkata.
"Sudah sampai."
Sek Pin mangangguk sambil menuding kedepan, Siang Cin pusatkan perhatian memandang ke sana.
Tertampak sebuah tangga batu berputar naik ke atas, mulut terowongan tertutup oleh sesuatu benda yang hitam gelap.
Siang Cin tertawa, dia tahu itulah tumpukan rumput kering, karena dari sela2 lubang tumpukan benda hitam itu dia dapat melihat sinar bintang yang kelap-kelip di cakrawala.
Setiba di undakan Sek Pin tampak tegang dan gelisah, setelah menarik napas, sekilas ia bimbang dan takut, akhirnya dia menepuk tangan dua kali, cepat dari luar mulut lorong berkumandang pula dua kali tepukan balasan.
Sek Pin berteriak tertahan.
"Hoan-gwat ....."
Benda hitam yang menutup mulut terowongan tampak digeser ke pinggir, ternyata memang tumpukan rumput kering, seorang dara jelita segera menongol, tanyanya gugup dan tegang.
"Siocia, sudah datang semua?"
"Ya,"
Sahut Sek Pin.
"Hoan-gwat, bagaimana keadaan di luar?"
Wajah jelita di atas itu tampak takut2 dan ngeri.
"Hampir saja aku mati ketakutan, sinar pedang dan golok gemilapan di dalam dan luar kampung, bayangan orang simpang siur, baru saja kulihat The moacu membawa sebarisan anak buahnya berlari lewat di depan sana. Siocia, lekas kalian naik kemari ...."
Mendadak Siang Cin melangkah maju, katanya..
"Untuk Menjaga kemungkinan, biar aku naik lebih dulu."
Habis berkata ia terus melayang ke atas, baru saja tubuhnya muncul, seorang nona berpakaian hitam di mulut gua itu segera hendak menjerit kaget.
Tapi Siang Cin sempat mendekap mulut si gadis yang hampir menjerit, katanya tenang.
"Jangan berisik, aku Siang Cin."
Gadis itu mengenakan pakaian serba hitam, dengan kerudung warna hitam pula, 99 wajahnya bundar kwaci manis dan mungil, usinya sekitar delapan belasan, kalau tidak lantaran kaget sehingga mukanya tampak pucat, mungkin dia akan kelihatan lebih jelita.
Siang Cin unjuk tawa ramah kepada dara remaja ini, lalu dia membalik bantu menarik Sek Pin keluar, disusul An Lip dan isterinya lalu Pau Seh-hoa.
Mulut gua ini berada di sisi sebuah batu gunung, sekelilingnya adalah rumput alang2 yang tumbuh tinggi setengah badan orang, bayangan puncak tinggi tampak berdiri tegak di kejauhan, angin malam meniup kencang sehingga rumput dan pepohonan bergerak mengeluarkan suara berisik, suasana pegunungan yang liar dan sepi ini terasa seram dari menggiriskan.
Pau Seh hoa memandang sekelilingnya dan menarik napas panjang ber-ulang2 untuk menghirup hawa segar.
Siang Cin juga memandang jauh ke kegelapan alam, katanya lirih.
"Lo Pau, pegunungan ini merupakan tempat sembunyi paling baik bagi kita."
Pau Seh hoa memegang dagu, sahutnya dengan serak.
"Ya, untuk sementara saja, memangnya kita berani pelesir di jalan raya sekarang?"
Pelan2 Siang Cin berpaling pada Sek Pin, Si nona tengah mengawasinya dengan tatapan tajam, katanya pelahan.
"Siang Cin, kau boleh pergi."
Menghela napas masgul, Siang Cin berkata;
"Apakah engkohmu akan menghukummu?"
Tampak senyum aneh menghias wajah Sek Pin, tapi senyum ini lantas beku oleh kerongkongan yang seperti tersumbat, lekas dia berpaling, lalu berkata dengan sedih.
"Tergantung betapa banyak yang dia ketahui ......."
Sampai di sini dia membalik pula, deagan lagak tenang ia menyambung.
"Paling tidak, sekarang dia belum tahu, atau mungkin bila aku bisa menutupi perbuatanku dengan baik, mungkin selamanya dia tidak akan tahu "
Siang Cin rnemandangnya, dia tahu orang senugaja menghibur diri, urusan tak mungkin begitu mudah, orang2 Ceng siong-san-ceng tidak bodoh, terutama Sek Kui si durjana itu.
Pau Seh hoa menghampirinya, katanya serak.
"Kongcuya, sekarang kita boleh berangkat bukan?"
Siang Cin menengadah memandang angkasa, bibirnya bergetar, sesaat kemudian baru berkata.
"Kami akan berangkat nona Sek, kau harus jaga dirimu baik2, demikian pula nona Hoan gwat."
Sek Pin diam saja, sinar matanya tampak kabur, dengan berat dan seperti tak terasa dia mengangguk, se-olah2 mengandung derita batin yang tak terperikan, takut karena dirinya telah melakukan suatu kesalahan atau jeri menghadapi hukuman yang bakal menimpa dirinya?
Atau mungkin karena menyesal akan perbuatannya sendiri?
Sedikit membungkuk kepada Sek Pin sebagai tanda hormat, Siang Cin lantas melangkah pergi, baru beberapa langkah dia berjalan, tiba2 Sek Pin memburu maju tanyanya dengan muka pucat dan suara gemetar.
"Kau ..... Siang Cin, apakah kau akan datang lagi?"
Diam sebentar, akhirnya Siang Cin berkata.
"Aku akan kembali, nona Sek, aku pasti akan datang lagi."
Sek Pin menyurut mundur dengan perasaan ngeri, badannya gemetar menghadapi tatapan Siang Cin yang penuh rasa dendam membara, tubuhnya gemetar mendengar nada ucapnya yang kaku dingin itu, katanya pula dengan duka nestapa.
"Kembali dengan kedua tanganmu yang berlepotan darah itu?"
Menguwasi muka orang Siang Cin berkata dengan tegas.
Kau tahu aku pasti berbuat 100 begitu, nona Sek, aku juga takkan melupakan kebaikan dan pertolonganmu malam ini, sejak masih bocah Siang Cin sudah pandai membedakan antara budi dan sakit hati."
Langkah Siang Cin berlima semakin jauh, jalan yang mereka tempuhpun semakin jelek dengan batu gunung yang runcing dan licin.
Pau Seh-hoa berpaling, dilihatnya Sek Pin berdiri ditempatnya seperti dibungkus kegelapan, pelayannya Hoan-gwat masih tetap mendampinginya, Pau Seh-hoa dapat meresapi betapa masgul hati si nona yang terpencil dalam kesunyian.
Pau Seh-hoa berjalan dengan payah, lama sekali baru dia berkata.
"Kongcuya, apa kau akan naik ke puncak gunung?"
Siang Cin menggeleng, katanya tawar.
"Tidak, kita hanya berputar melalui kaki gunung."
Di atas punggungnya Kun Sim-ti menghela napas lelah, katanya lirih.
"Dik, kau tidak letih?"
Berdetak jantung Siang Cin, dengan haru dia usapkan telinganya ke pipi si nona, dia tahu bukan hanya soal sepele ini yang ingin diajukan oleh Kun Sim-ti, dalam hatinya tentu ingin tahu siapakah Sek Pin.
Tapi dia tidak bertanya, di sinilah letak kebesaran jiwa Kun Sim-ti dan dalam hal ini dia lebih unggul dari wanita yang lain.
Siang Cin memandang jauh ke bawah, ke arah Ceng-siong-san-ceng, cahaya obor masih kelihatan bergerak kian kemari, perkampungan besar itu seperti diliputi suasana tegang dan dibungkus kabut hitam, se olah2 mereka ingin mengaduk setiap jengkal tanah di sana untuk menemukan jejak Siang Cin.
Pau Seh hoa menepuk pundaknya, katanya.
"Kongcuya, tak perlu memandang ke sana lagi, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan. Sekarang lebih penting kita cari tempat untuk menyembuhkan luka2 ini, apalagi kita harus sembunyi dan menghindari kejaran musuh."
Memandang bayang2 hitam di puncak kejauhan Siang Cin mengangguk, katanya dengan rasa lelah.
"Kau betul, memang itulah yang kita perlukan sekarang."
Dengan tertatih saling gandeng mereka, maju terus di lereng pegunungan yang belukar ini, lambat dan sukar sekali perjalanan yang harus mereka tempuh.
tapi mereka tetap maju ke depan, menuju ke pinggir gunung, ke arah datangnya sang fajar.
Ya, tak lama lagi hari akan terang tanah.
Lereng bukit itu berserakan batu2 gunung, di belakang lereng sana adalah sebuah bukit yang penuh semak belukar, di bawah lereng adalah sebidang hutan yang daun pohonnya sudah sama rontok, di antara hutan dan serakan batu2 gunung itu terdapat sebuah jalan pegunungan yang melingkar menjurus ke atas.
Tatkala itu, suasana sekeliling sunyi senyap.
Di antara batu2 yang berserakan di lereng itu terdapat sebuah batu padas besar yang datar licin, bagian atasnya mencuat keluar seperti tergantung di tengah lereng, di bawah batu padas raksasa ini ada pula puluhan batu2 besar kecil yang ditumpuk mirip sebuah dinding yang tidak teratur, sementara batu padas yang mencuat keluar kebetulan mengalingi sinar matahari, dapat untuk berlindung dari angin dan hujan, dilihat dari luar sukar diketahui apa dan bagaimana keadaan di balik tumpukan batu itu, tapi dari celah2 batu orang dapat melihat keadaan di luar dengan jelas.
Sekarang Siang Cin, Kun Sim-ti, Pau Seh hoa berlima tengah beristirahat di sini, Siang Cin menggelendot pada sebuah batu, ber-malas2 dengan setengah memejamkan mata.
Kun Sim ti rebah tenang di sampingnya, An Lip dan bakal isterinya duduk setengah rebah di ujung kaki 101 batu, sedang Pau Sehhoa mondar mandir sambil menggerutu entah apa yang membuatnya gelisah.
Hawa sejuk nyaman, kadang kala terdengar juga kicau burung, tapi gema suaranya seperti berada di tempat jauh.
"Sret". Pau Seh-hoa berludah, dengan gelisah dia mendekat ke samping Siang Cin, lalu berduduk, Siang Cin membuka mata memandangnya, muka Pau Seh-hoa bukan saja kurus kering tapi juga berwarna kuning dan kuyu, bibirnya yang pecah tampak putih tak berdarah, sementara kedua matanya tampak cekung, rambut yang memang awut2an itu tampak bagai rumput kering, sikap dan gerak geriknya kelihatan loyo dan lemas. Siang Cin menghela napas, katanya.
"Lo Pau, melihat keadaanmu, sungguh aku ikut bersedih."
Pau Seh-hoa tergelak2 dengan suara kering, katanya sambil unjuk giginya yang kuning.
"Sudahlah, kau yang cakap ini kini juga tidak lebih bagus daripadaku, pendeknya, derita yang kita alami sudah cukup kenyang."
Siang Cin mengawasi angkasa dengan memicingkan mata, agak lama kemudian baru dia berkata.
"Memang benar, Ceng-siong san-ceng memang teramat kejam, tapi akupun lebih suka berhadapan dengan musuh macam begini, karena hal itu akan membuatku tidak mengenal kasihan lagi dikala menuntut balas kelak. Memang mereka bekerja dengan sempurna, sempurna dalam kekejaman."
Pau Seh-hoa menggeram tertahan.
"Kongcu,"
Katanya kemudian,"
Kau hanya tahu bahwa mereka menghajarku tiga kali, saking kelaparan mataku ber-kunang2, mereka membawa kelelawar untuk menghisap darahku, tapi masih ada satu yang belum kau ketahui ......."
Tenang Siang Cin memandang Pau Seh-hoa, tanyanya.
"Apa pula yang satu ini?"
Muka Pau Seh hoa tampak berkerut, dengan penuh dendam dia mengepal kedua tinjunya, pelan-pelan kepalanya tertunduk, rambutnya yang panjang awut2an menutupi jidatnya, sementara matanya terlongong mengawasi ujung kaki tanpa bergeming, belum pernah Siang Cin melihat kelakuan Pau Seh-hoa seperti ini selama dia kenal dan bergaul dengan dia selama puluhan tahun.
Dia tahu kecuali temannya ini mengalami suatu pukulan lahir batin yang kelewat batas, atau mungkin suatu penghinaan besar, jelas dia tidak akan bersikap seaneh ini.
Pelan2 Siang Cin mengusap bahunya, katanya.
"Ceritakan padaku, Lo Pau, pengalaman yang satu itu. Bila ada yang terhina dan hal yang memalukan, biar aku ikut meresapi dan memperoleh bagiannya."
Pelan2 Pau Seh hoa angkat kepalanya yang bergetar, sekuatnya dia menekan gejolak emosinya, lama kemudian baru dia membuka mulut sambil tertawa.
"Bukannya tak boleh kuceritakan pengalamanku itu, cuma setiap kali aku teringat adegan itu, sungguh ingin rasanya aku membenturkan kepalaku supaya mampus saja seketika."
"Katakan Lo Pau, dengan cara apa mereka menyiksamu?"
Menarik napas dalam2, seperti berusaha menekan darahnya yang mendidih, setelah bungkam sekian saat, Pau Seh-hoa mengawasi Siang Cin dengan tersenyun getir, lalu katanya.
"Mereka paksa aku menelan pil berwarna merah, setiap kali ada orang yang masuk bersama. Ternyata kepandaian kedua keparat ini tidak lemah, mereka menutuk Hiat-toku lebih dulu sehingga aku tak bisa meronta, pil merah itu rasanya getir dan wangi, karena pernah aku mempelajari ilmu pengobatan, maka aku tahu bahwa obat itu kemungkinan adalah obat perangsang pembangkit nafsu, cuma tak pernah kuduga bahwa mereka bakal menggunakan obat perangsang yang khasiatnya 102 begitu besar dan kuat, apalagi sekaligus mereka mencekok aku lima butir, lalu aku diseret keluar lorong, di sana ......sudah menunggu tiga orang perempuan yang genit, secara kekerasan mereka membelejeti pakaianku, di tengah tawa cekikik jari tangan yang halus menggelitik badanku, satu persatu aku membawakan adegan yang memalukan, lebih rendah daripada hewan, aku merasakan lebih terhina dari seekor anjing, lebih bodoh dari babi, sungguh aku hampir kehilangan perikemanusiaan ......."
Siang Cin mendengarkan dengan diam dan tenang, tidak menampilkan perasaan apapun, sesaat kemudian baru dia berkata perlahan.
"Mereka sengaja hendak menguras tenaga murnimu sekaligus untuk menghinamu pula, Lo Pau, beberapa kali mereka memaksamu melakukan hal itu setiap harinya?"
"Timbul rona merah pada muka Pau Seh hoa yang kempot, giginya gemertak, katanya dengan geram.
"Empat kali atau lima kali."
Menatap lembut dan lengang, Siang Cin baru berkata.
"Lo Pau, aku tidak senang menghibur dengan kata2 yang tak berguna, memang suatu penghinaan yang kelewat batas, bila aku sendiri yang mengalami, akupun tak tahan, apakah beberapa perempuan itu tahu akan cara mengisap sari kejantananmu?"
Gemetar kulit muka Pau Seh-hoa yang kurus, katanya mengangguk.
"Mungkin saja, setelah berakhir, aku pasti merasa amat letih, kehabisan tenaga sampai pingsan beberapa kali, tulang sekujur badan seperti terlepas, ada kalanya untuk bernapaspun terasa sesak."
Diam sesaat lamanya, akhirnya Siang Cin bertanya.
"Apakah Kun cici dan isteri An Lip tahu akan hal ini?"
Pau Seh-hoa menggeleng, katanya.
"Tidak tahu, tapi An Lip agaknya dapat meraba."
Terbayang tekad menuntut balas pada sorot mata Siang Cin, katanya penuh pengertian.
"Waktu kau dipaksa melakukan itu. kecuali ketiga perempuan itu siapa pula di antara mereka yang menonton dari samping? Maksudku mereka yang tersangkut langsung dengan kejadian ini."
"Kecuali ketiga perempuan itu, yaitu kedua raksasa dan dua orang keparat yang memaksaku menelan pil merah itu, kedua jahanam itu berperawakan tinggi kurus, seorang bercodet di ujung kanan matanya, seorang bermuka burik, usianya sekitar tiga puluhan, wajah kedua orang jelas tak bermoral ...."
"Kau tidak salah lihat dan keliru mengingatnya?"
Siang Cin menegas. Menggeram dalam tenggorokan Pau Seh-hoa.
"Umpama mereka hancur lebur jadi abu tetap bisa kukenali wajah kedua binatang yang berkedok manusia itu, selama aku tidak mati, pasti takkan pernah kulupakan."
Siang Cin mengangguk, ujarnya.
"Makhluk aneh penjaga pintu sudah kusingkirkan, kini tinggal kedua orang berwajah buruk itu yang masih hidup, kecuali itu, kita harus mencari tahu siapa orang di belakang layar yang menjadi biang keladi kejadian ini?"
Seperti mendadak maklum ke mana arti perkataan Siang Cin, Pau Seh-hoa bertanya pelan.
"Menurut pendapatmu, Kongcuya?"
"Maksudku mereka takkan lama mengenang kejadian itu, mereka harus melupakannya, cara untuk membikin mereka melupakan hal itu amat mudah kukira tak usah kujelaskan, tentunya kau sudah mengerti."
"O, ya, Kongcuya, kulihat kau se-olah2 terbungkus darah, kenapa jarimu bengkak dan membusuk? Demikian pula kulit daging dadamu seperti terkelupas ......."
Siang Cin menekuk jarinya dan berkata.
"Mereka menusuk kuku-jariku dengan jarum baja yang telah dilumuri racun, menggunakan semacam alat penghisap untuk 103 menyedot kulit dagingku. lalu garam dipoleskan pada luka2 badanku, masih ada pula cara2 keji lain, segan aku membicarakannya ...."
Gemeretak gigi Pau Seh hoa menahan dendam kebencian, desisnya beringas.
"Kita akan mencuci dendam dan penghinaan ini dengan darah mereka...."
Secara ringkas Siang Cin ceritakan pengalamannya dan bagaimana dia berhasil lolos kembali, akhirnya dengan letih dia berkata.
"Racun bius yang mereka gunakan dalam gubuk mungil itu amat lihay, boleh dikatakan tidak berbau dan tak berwarna, tahu2 kita semua sudah terpedaya, lain kali kita harus jauh lebih hati2 dalam hal ini ...."
Pau Seh-hoa mengangguk dan berkata.
"Gadis tadi kau memanggilnya Sek Pin? Apakah dia adik Sek Kui, si anjing buduk itu?"
Siang Cin tertawa.
"Betul"
Sahutnya.
"Kenapa dia suka rela menempuh bahaya menolong kita, semua ini sungguh luar biasa ...."
Setelah menepekur agak lama dia angkat kepala. Melihat Siang Cin seperti lagi tertawa tapi tidak tertawa, maka tokoh Kangouw yang keras hati ini lantas berseloroh.
"Nah, tentu kau bocah bergajul ini yang memikat anak perawan orang, orang hanya tahu bahwa tanganmu gapah terhadap musuh, tapi tiada yang tahu bahwa dalam main pat-gulipat kau juga cukup ahli, dalam keadaan begitu kau masih sempat mengembangkan bakatmu, sungguh aku tak berani membayangkannya. Dari sikapnya terhadapmu, menurut pengamatanku, se-olah2 kalian sudah bersahabat puluhan tahun."
Mengawasi kesepuluh jari2nya yang bengkak menghitam, Siang Cin berkata prihatin.
"Lo Pau, apakah luka di muka Kun-cici bisa disembuhkan?"
Serta merta Pau Seh-hoa menoleh ke arah Kun Sim-ti yang rebah di sebelah sana, sahutnya ragu2.
"Sukar dikatakan, tapi besar kemungkinan bisa disembuhkan ...."
Menggigit bibir, Siang Cin berkata sungguh2.
"Peduli dengan imbalan apapun atau dengan segala pengorbanan harus kuperjuangkan harapan yang ada itu Lo Pau, ini bukan untukku, tentunya kau tahu, bagi seorang perempuan betapa besar arti wajahnya, karena kecantikan menyangkut watak pembawaan perempuan."
"Aku mengerti,"
Ujar Pau Seh hoa sambil meng-gosok2 tangan "Kongcuya, aku akan berusaha,"
Lalu dia meraba2 perut, kebetulan perutnya berkeruyukan, dengan tertawa dia berkata.
"Kongcu, perut yang kurangajar ini mulai menggerutu ... ."
Belum habis Pau Seh-hoa bicara, tiba2 Siang Cin memberi tanda supaya dia menaruh perhatian, lalu berpaling serta mendengarkan dengan seksama.
Dengan hati2 Pau Seh hoa merambat ke sana dan mengintip lewat celah2 batu, kecuali beberapa kali terdengar kicauan burung, di luar sepi dan kosong tak terlihat apapun.
Tapi Siang Cin masih mendengarkan penuh perhatian, sikapnya serius tak bergerak.
Sembari melongok Pau Seh-hoa berkata lirih.
"Kukira kau melihat setan di siang hari bolong, tiada gerakan apa2 di luar sana ....."
Belum lenyap suaranya, kulit mukanya tiba2 mengencang, tidak salah, sayup2 memang didengarnya suara derap tapal kuda yang lagi mendatangi, masih jauh sekali se-akan2 derap kuda yang datang dari balik awan.
Berpaling cepat, Pau Seh-boa menuding ke arah datangnya suara, Siang Cin sedikit manggut, katanya.
`Berapa jauh kira2 tempat ini dari Ceng siong-san-ceng?"
Berpikir sebentar akhirnya Pau Seh-hoa berkata.
"Kurang lebih dua puluh li atau tiga puluh li."
Ber-kedip2 Siang Cin, katanya lirih.
"Apa kau masih mampu beraksi, Lo Pau?"
Pau Seh-hoa meringis, katanya.
"Sudah tentu, cuma jauh tidak sehebat biasanya."
Siang Cin tertawa getir, katanya.
"Kalau yang datang musuh, lindungilah Kun-cici, kalian harus mundur ke atas gunung biar aku yang mengadang mereka, 104 jangan membantah, soalnya kondisiku sekarang lebih kuat daripadamu dan lagi untuk lari aku bisa lebih cepat, betul tidak?"
Bergetar bibir Pau Seh-hoa, apa boleh buat akhirnya dia berkata.
"Baiklah, tapi kau harus tahan hidup, aku tidak mengharapkan kawan yang masih muda, belum lagi menikmati kebahagiaan berumah tangga sudah mangkat . , .."
Menepuk bahu Pau Seh-hoa, Siang Cin tertawa, ucapnya.
"Sudah tentu, memangnya aku ingin mati."
Maka Pau Seh-hoa mendekati An Lip berdua supaya mereka bersiap, Sang Cin juga membangunkan Kun Sim ti, kini suasana terasa mencekam, hawa pegunungan seperti menjadi beku, lapat2 bau anyir darah seperti tercium pula.
Derap tapal kuda yang ramai itu semakin nyata dan keras beradu dengan batu2 pegunungan, dengan cermat Siang Cin mengintip keluar dari celah2 batu, Kun Sim-ti menggelendot di sampingnya, sekujur badan terasa lemas dan gemetar.
Nah, itu dia, sudah datang semakin dekat, kini sudah kedengaran dengus napas kuda yang kepayahan.
Pau Seh hoa menggertak gigi sambil menengadah, sinar matanya memancarkan rasa dendam kesumat, jari2nya terkepal kencang se-akan2 ingin meremas hancur batok kepala musuhnya.
Di bawah lereng bukit yang terdapat batu berserakan itu, pada jalan pegunungan yang melingkar berliku itu, dari pengkolan sebelah kiri tertampaklah debu mengepul tinggi, penunggang kuda pertama kini sudah kelihatan.
"Nah itu, sudah terlihat,"
Ucap Siang Cin lirih sambil berpaling memberi tanda.
Lekas dia berpaling ke sana lagi, dalam sekejap itu dilihatnya sepuluhan penunggang kuda telah muncul, di belakang masih ada, dari suaranya kemungkinan ada lima puluhan lebih penunggang kuda.
Semua penunggang kuda mengenakan pakaian ringkas warna putih mengkilap terbuat dari sutera, semuanya mengenakan mantel seragam dari warna yang sama, semuanya memelihara rambut panjang, hingga semampir di belakang pundak, jidat dilingkari gelang emas, di belakang punggung mereka memanggul jenis senjata yang sama pula, yaitu golok besar yang melengkung dengan sarung kulit harimau, tumbak pendek bersula dua terpegang miring di depan dada, kelihatan dandanan rombongan orang ini amat aneh dan menyolok, tapi barisan ini nyata membawa wibawa keperkasaan.
Pemimpinnya adalah tiga orang yang luar biasa, seorang bermuka putih halus, berkumis dan jenggot hitam, berusia pertengahan umur, seorang pemuda berwajah bersih dengan sikapnya yang dingin, orang ketiga mungkin buta sebelah matanya, dengan secuil kain bundar yang bertali dia menutup matanya itu, tepat di tengah alisnya melintang kebawah pipi sebuah garis bekas luka yang berwarna merah, diantara ketiga orang ini, tampang orang terakhir inilah yang paling jelek, tak ubahnya seekor binatang liar yang ganas, buas dan sukar dijinakkan.
Memang rombongan berkuda ini ada lima puluhan lebih, setiba di bawah lereng batu berserakan itu, laki2 pertengahan umur yang memelihara jenggot pendek itu tiba2 mengangkat tinggi tangan kanannya, maka barisan berkuda itupun berhenti, dengan pandangan penuh tanya matanya menjelajah ke arah lereng, lalu kepada dua orang di kanan-kirinya entah membisiki apa2.
Cahaya mentari nan cemerlang di pagi hari ini menerangi barisan berkuda ini, pakaian mereka yang putih mengkilap memancarkan cahaya bersih yang menyilaukan mata.
Mengerut kening Siang Cin di belakang batu, katanya pelahan.
"Mereka bukan orang Ceng siong-san ceng ... ." 105 Sambil berjongkok Pau Seh-hoa berkata dingin.
"Mereka sudah berhenti?"
Sorot mata Siang Cin tertuju keluar, katanya bingung.
"Ya, kita tidak meninggalkan jejak apa2 sehingga menimbulkan perhatian mereka bukan? Dandanan orang2 ini rada aneh, selamanya belum pernah kulihat dan belum pernah dengar. .. ."
Pelan2 Pau Seh hoa mendekat, iapun mengintip keluar, sesaat kemudian baru berkata penuh curiga.
"Aneh, memangnya mereka ini orang2 gagah dari mana? Gelagatnya mereka akan naik kemari mengadakan pemeriksaan, memangnya mereka suka iseng ...."
Sembari berpikir Siang Cin berkata pelan2.
"Berhadapan dengan mereka lebih mending dari pada orang2 Cong siong-san ceng. Kukira, bila mereka bukan makhluk2 aneh yang bertabiat nyentrik, mungkin kita bisa mengadakan kontak dan bicara secara damai ...."
"Crot", Pau Seh-hoa berludah, desisnya benci.
"peduli mereka siapa, bila berani cari gara2, biar dia nanti rasakan kelihayanku ..."
Tiba2 Siang Cin mengulap tangan, katanya.
"Awas hati2, mereka sudah naik kemari."
Pau Seh-hoa coba melongok ke bawah lereng, setengah dari penunggang seragam putih itu sudah turun dari kuda, di bawah pimpinan si pemuda berwajah kaku dingin, mereka membentuk setengah lingkaran terus merambat ke atas.
Diam dan seksama Siang Cin mengawasi orang2 baju putih yang tidak terang asal-usulnya dari tumpukan batu, setengah lingkaran itupun menyurut kecil, kini jelas terlihat muka mereka, mimik muka yang sukar dijajaki ke mana alam pikiran mereka tertuju.
"Apa keinginan mereka?"
Tanya Pau Seh-hoa sambil menelan ludah.
"Apa pula yang hendak dilakukannya?"
Se-konyong2 salah seorang berbaju putih menjerit girang, waktu Siang Cin menoleh kesana, tangan orang itu tengah teracung tinggi memegang sebuah benda, itulah sobekan ujung pakaian warna hijau pupus yang berlepotan darah, secuil kain dari sobekah baju perempuan.
Dari warna kain itu jelas itulah sobekan dari gaun yang dipakai Kun Sim-ti.
Kun Sim-ti yang ada di samping Siang Cin bergetar, dengan jari2nya yang halus runcing dia meraba bagian gaunnva yang robek, memang di bawah ujung kiri terobek secuil.
"Tak usah kuatir,"
Siang Cin menepuk bahu Kun Sim-ti.
"Kak, urusan toh harus diselesaikan, tiada yang perlu ditakuti."
Orang2 baju putih di luar itu sudah berhenti, pandangan mereka penuh waspada akan keadaan sekeliling, pandangan mereka tertuju ke arah tumpukan batu yang melingkar di atas sana, entah sejak kapan golok besar melengkung di punggung mereka sudah dicabut keluar, jenis golok melengkung panjang besar ini, berpunggung tebal dan berat, mata goloknya tajam luar biasa, dari pinggang golok sampai keujungnya berbentuk melengkung bak bulan sabit, sekilas pandang kelihatan jauh lebih menyeramkan dari senjata umumnya.
--"
Dengan golok yang mengkilap tajam itu mereka berdiri pada posisi yang paling menguntungkan, leluasa dan cepat untuk melancarkan serangan ke dalam sela2 batu yang berserakan itu.
Posisi macam ini cukup dimengerti oleh Siang Cin, dengan penuh perhatian dia mengawasi gerak gerik orang2 baju putih.
"Kongcu,"
Kata Pau Seh-hoa dengan suara tertahan.
"agaknya takkan terhindar ... ." 106
"Memangnya, kapan kita pernah menghindar,"
Jengek Siang Cin.
"kita hanya menunggu, Lo Pau, hanya menunggu kesempatan."
Mendadak di luar berkumandang sebuah suara, suara kasar, kaku dan dingin.
"Sahabat di balik batu berserakan itu, dengarkanlah, bila kalian kawanan gerombolan Hek-jiu-tong. silakan lekas keluar saja, muslihat kalian takkan bisa mengelabuhi Bu-siang-pay dari padang rumput di kaki Kiu-jin-san."
"Bu-siang-pay", ketiga huruf ini laksana tiga bola emas yang menggelinding masuk telinga Siang Cin, sekilas dia melenggong, katanya pelahan.
"Inikah orang2 Bu-siang-pay? Em, pernah kudengar namanya, cuma tiada kesempatan melihat ....""
Pau She hoa membasahi bibir, denga serak ia berkata.
"Keparat, apakah Bu-siang-pay kurang puas merajai sekitar Kiu-jin-san dan padang rumput, untuk apa pula lari ke sini dan berkaok2 lagi?"
Belum Siang Cin menjawab, suara kaku dingin tadi berkunrandang pula.
"Bila sahahat di belakang batu bukan orang2 Hek-jiu-tong, maka silakan buktikan bahwa kalian tidak bermusuhan, silakan keluar untuk berbincang beberapa patah kata"
Kembali Pau Seh hoa memaki dengan suara palahan.
"Bedebah. bocah ingusan berani bertingkah di sini ...."
Setelah menepuk kedua pipi Kun Sim-ti, lalu Siang Cin berkata kepada Pau Seh-hoa.
"Lo Pau, perhatikan baik2, aku akan keluar."
"Hati2 ...."
Lekas Pau Seh-hoa berseru.
Sekali enjot tubuh, dengan enteng Siang Cin melejit ke atas tumpukan batu, pakaiannya yang rombeng melambai tertiup angin, mengelus luka2 di muka dan badannya yang masih berlepotan darah kering, tak ubahnya seorang panglima perang yang baru saja berhasil menjebol kepungan musuh.
Orang berbaju putih seketika terbeliak, serentak mereka menggeram, golok melengkung serempak bergerak melintang di depan dada dan siap tempur.
Dingin saja Siang Cin memandang orang2 baju putih itu, sikapnya kelihatan gagah, keras dan angkuh.
Pemuda berwajah kaku dingin itu agaknya terpengaruh juga oleh sikap perwira Siang Cin, sesaat dia melenggong, lalu maju selangkah ke depan, katanya dengan ketus.
"Sahabat, mohon tanya siapa namamu yang mulia?"
Sekilas menatap muka orang, Siang Cin menjawab dengan tenang dan singkat.
"Aku she Siang."
Bimbang sebentar, pemuda itu bertanya pula.
"Kawanan Hek-jiu-tong apakah ada sangkut paut dengan saudara Siang?"
"Apa itu Hok jiu-tong, selamanya tidak kenal,"
Sahut Siang Cin dengan tersenyum.
Si pemuda lantas memandang ke bawah, ke arah kawan2nya, terpancar cahaya kemilau dari gelang emas yang melangkar di kepalanya, orang2 baju putih yang berada di lereng bukit agaknya juga sudah tahu keadaan di atas, bayangan seorang tampak melompat turun dari kuda dengan beberapa kali lompatan secepat terbang terus melambung ke atas.
Mata Siang Cin amat tajam, sekilas pandang dia sudah melihat jelas, pendatang ini adalah laki2 pertengahan umur bermuka putih dengan jenggot pendek itu.
Cepat sekali laki2 ini sudah hinggap di samping si pemuda, sikapnya gagah, lekat2 dia menatap Siang Cin, lalu berkata lirih dengan si pemuda, akhirnya di menghadap kemari serta menjura, katanya "Cayhe Loh Bong-bu, Cuncu Hiat ji-bun dari Bu siang-pay di padang rumput di kaki Kiu jin san"
Mendengar orang memperkenalkan diri, timbul rasa simpatik Siang Cin, tapi juga meningkatkan kewaspadaannya, dia tahu Bu siang-pay adalah organisasi besar, berdisiplin keras dan terkordinir dengan baik dan rapi, jago2 kosen tak terhitung jumlahnya, kekuatannya besar dan pengaruhnya luas, ,jabatan Cuncu dalam Bu-siang-pay kira2 setingkat dengan jabatan Tongcu dari Pang atau Pay yang 107 ada di Tionggoan, jabatan yang tinggi, agung dan berwibawa, kalau tidak memiliki Kungfu yang lihay takkan mungkin bisa menduduki jabatan tinggi ini.
Setelah membalas hormat, Siang Cin berkata kalem.
"Sudah lama kudengar kebesaran Bu siang-pay, syukur hari ini berjumpa di sini."
Loh Bong-bu tertawa ramah, katanya.
"Dari laporan kawan kami, Ceng yap-cu, katanya tuan she Siang?"
"Ya, itulah she ku yang asli,"
Sahut Siang Cin tersenyum. Berpikir sebentar, dengan hati2 Loh Bong-bu berkata pula.
"Seharusnya tidak pantas kutanyakan, tapi bolehkah Cayhe tahu kenapa keadaan Siang-heng begini rupa, kelihatan letih dan kotor?"
Dari rangkaian kata orang yang hati2 diucapkan, Siang Cin merasa geli dan menaruh simpatik, segera Siang Cin berkata.
"Soal sederhana, di tengah jalan bentrok dengan musuh, dalam keadaan terkepung oleh musuh yang berjumlah lebih banyak, adalan jamak kalau mengalami cidera seperti ini, beginilah jadinya keadaan kami."
Loh Bong-bu mengawasi Siang Cin dengan rasa kasihan dan kagum, katanya dengan tulus hati.
"Siang heng, meski kita baru saja kenal, tapi pepatah bilang di empat penjuru lautan semuanya adalah saudara, Apalagi bila di tengah jalan melihat keadaan ganjil lantas melolos senjata dan memberi bantuan adalah kewajiban setiap insan persilatan kita, mungkin Cayhe terlalu semberono, tapi bila Siang-heng ada kesulitan, Cayhe ingin sekadar membantumu. Siang-heng, melihat keadaanmu sekarang, agaknya ada kesulitan apa2 yang tidak ingin kau utarakan ......."
Tanpa berkesip Siang Cin pandang orang, demikian dengan tulus Loh Bong-bu balas memandangnya, keduanya saling menyelami relung hati masing2 yang paling dalam.
Lama sekali, akhirnya Siang Cin tersenyum, katanya.
"Loh-cuncu, lebih dulu Cayhe menyampaikan rasa terima kasih."
Loh Bung-bu tertawa, katanya riang.
"Tidak, sebaliknya Cayhe yang harus berterima kasih dan bersyukur bahwa Siang-heng sudi merendah diri bersahabat denganku, bolehkah Caybe tahu nama besar Siang heng?"
Siang Cin tertawa, lekas dia merangkap kedua tangan, katanya.
"Siang Cin."
Dua patah kata yang datar ini bagi pendengaran Loh Bong-bu seperti bunyi guntur di siang bolong, ia tergetar melongo, katanya kemudian.
"Siang ........Siang Cin? Siang Cin si Naga Kuning?"
"Itulah julukan yang diberikan teman2 Kangouw, jangan dianggap ......."
"Siang-heng,"
Tukas Loh Bong-bu sambil mengawasi Siang Cin.
"tak perlu Cayhe mengagulkan kau, nama orang dan bayangan pohon, semua ini tak mungkin dipalsukan, nama besar Siang-heng menggetarkan Bu lim, tersiar luas di utara dan selatan sungai besar, sekalipun ada yang tidak tahu keperkasaan Naga Kuning menjagoi tiga sungai lima danau, tapi siapa pula yang tidak maklum bahwa keganasan Naga Kuning justeru menggetar nyali setup insan persilatan? Tapi Siang-heng, siapa pula yang mampu membuatmu begini rupa?"
Dengan tertawa getir Siang Cin berkata.
"Berkecimpung di kalangan Kangouw, logis kalau adakalanya mengalami nasib jelek, ini tidak terhitung sia2 ..."
"Mohon penjelasan,"
Pinta Loh Bong-bu. Sambil menggosok telapak tangan, tenang2 Siang Cin mulai bicara.
"Cayhe ada dua musuh, suatu ketika menyamar sebagat orang yang terluka dan dikejar musuk serta minta perlindungan padaku, Cayhe menerima mereka. Tak nyana kami terjebak oleh muslihat yang menggunakan obat bius berkadar keras, tidak kepalang derita yang kami alami, tapi dengan akal akhirnya Cayhe berhasil menjebol penjara. Sudah tentu setelah mengalami pertempuran sengit, dalam kondisi yang payah kami mengalami luka2 seberat ini."
Loh Bong-bu naik pitam setelah mendengar cerita Siang Cin, katanya.
"Membokong 108 orang dengan cara keji dan rendah semacam itu mana boleh dianggap Enghiong? Siang-heng, kawan dari aliran manakah yang melakukan perbuatan rendah dan kotor itu?"
Siang Cin berkata pelahan.
"Ceng-siong-san-ceng!"
"Ceng-siong-san-ceng? Sungguh memalukan,"
Teriak Loh Bong-bu dengan mendelik gusar.
"Ha It can juga terhitung tokoh yang disegani dalam Bu lim, sampai hati juga dia berbuat sehina ini, Siang-heng, cara bagaimana kau sampai bermusuhan dengan mereka?"
"Ha It cun Cengcu dari Ceng siong-san ceng adalah saudara angkat Kongsun Kiau-hong, Kongsun Kiau hong ada permusuhan dengan Cayhe, Ha It-cun hanya bantu menuntut balas. Di samping itu, masih ada pula seorang nona yang bernama Kiang Ling, mungkin putera Ha It-cun ada main cinta dengan budak ini, pantas kalau dia ikut campur permusuhan ini."
Berpikir sejenak akhirnya Loh Bong-bu berkata.
"Siang-heng, orang bersahabat mengutamakan keluhuran budi dan kejujuran, meski kita buru berkenalan, tapi sudah lama Cayhe mengagumimu, jika Siang-heng sudi, Cayhe akan pimpin anak buahku ke Ceng-siong-san-ceng untuk bantu kau menuntut balas."
Lekas Siang Cin merangkap kedua tangan, katanya haru dan berterima kasih.
"Loh cuncu, orang she Siang menerima tawaranmu dengan senang hati, cuma permusuhan ini akan Cayhe selesaikan sendiri, Ceng siong-san-ceng bukannya sarang harimau rawa naga, paling2 mereka hanya pandai main muslihat, tak perlu Loh-cuncu merepotkan diri"
Loh Bong-bu menggoyang tangan, katanya "Siang heng, jangan berkata demikian, maksudku hanya ingin mempererat persahabatan, bagaimana kalau Cayhe perintahkan anak buahku bantu teman-teman Siang-heng turus gunung dan merawat luka2nya di kota?"
Siang Cin melengak, tanyanya.
"Dari mana Cuncu tahu kalau temanku perlu perawatan?"
Loh Bong-bu ter gelak2, katanya.
"Bukankah Siang-heng tadi menjelaskan bahwa teman2mu juga tersangkut dalam perkara ini? Kita bicara sekian lamanya, belum juga terlihat teman2mu muncul, mungkin karena luka2nya cukup berat. Kalau tidak tentu sejak tadi sudah keluar."
Siang Cin tertawa tawar, katanya.
"Baiklah, terima kasih."
Dengan tertawa Loh Bong bu lantas berseru kepada anak buahnya.
"Lo Ce, perintahkan membawa usungan kulit biruang kemari, siapkan tenaga untuk membawa Siang tayhiap dan kawan2nya."
Lalu dengan tertawa dia berkata kepada pula Siang Cin.
"Siang heng, berapa temanmu?"
"Empat orang,"
Sahut Siang Cin. Loh Bong-bu berpaling pula ke arah si pemuda yang berjuluk Ceng-yap cu(si daun hijau) dan bernama Lo Ce, katanya.
"Siapkan empat usungan."
Cepat Lo Ce mengiakan dan lari ke bawah, sekali bergerak Loh Bong-bu melompat naik ke samping Siang Cin, maka iapun dapat melihat keadaan di balik tumpukan batu. Tertawa getir Siang Cin berkata.
"Lo Pau, inilah Loh cuncu, ketua Hiat ji-bun dari Bu-siang-pay."
Dengan payah Pau Seh-hoa menggeser badannya, katanya.
"Kami ini Lung pan cu Pau Seh-hoa terimalah hormatku."
Lekas Loh Bong-bu balas menghormat, serunya girang.
"Bagus, kiranya pendekar 109 aneh dari Hau-keh-san, Pau heng, selamat bertemu."
Setelah menghela napas Pau Seh hoa berkata.
"Jangan sungkan, sejak lama aku juga sudah dengar nama besar Cap kau-hwi-ce Loh-cuncu, cuma sayang sekarang bertemu di tempat dan dalam keadaan begini, sungguh Lo Pau amat menyesal."
Loh Bong-bu melompat turun, katanya sambil membungkuk.
"Pau-heng, terlalu berat kata2mu. kaum persilatan mana yang tak pernah kecundang? Bahwa kau masih bisa bangkit kembali itulah seorang Enghiong sejati."
Sementara itu Ceng-yap cu Lo Ce telah kembali dengan membawa puluhan laki2, tiap dua orang membawa sebuah usungan yang terbuat dari kulit biruang. Sejenak melihat cuaca, Loh Bong bu berkata.
"Siang heng, apakah sekarang juga kita boleh berangkat?"
"Cayhe masih kuat bertahan, tak perlu lima usungan, empat saja cukup."
Kata Siang Cin.
"Siang heng,"
Bujuk Loh Bong bu.
"lukamu sendiri juga tidak ringan ...."
Dengan tegas berkatalah Siang Cin.
"Selama hidup manusia harus berani mengalami pukulan lahir batin, kalau sanggup bertahan, maka bertahanlah sekuat tenaga, kalau tidak, sekali ambruk, untuk merangkak bangun lagi tentu akan memakan banyak tenaga."
Lekat tatapan Loh Bong bu, dari kata2 Siang Cin ia seperti memahami sesuatu, tapi Loh Bong-bu tidak bicara, segera dia perintahkan anak buahnya memapah Kun Sim ti, An Lip dan isterinya ke atas tandu, semula Pau Seh-hoa menolak, tapi akhirnya dia menurut juga.
Setelah berputar keluar dari serakan batu di samping gunung, anak buah Bu-siang-pay yang memikul usungan, di bawah pimpinan Ceng-yap-cu Lo Ce dengan tenang mereka turun dari lereng bukit itu, Siang Cin dan Loh Bong-bu berjalan di belakang.
Sementara itu, si mata satu dari anak buahnya yang masih menunggu di bawah sana sudah turtrn dari kuda dan menyambut kedatangan mereka.
Loh Bong-bu memanggil si mata tunggal, katanya sambil tertawa.
"Te Yau, kuperkenalkan seorang Enghiong."
Si mata tunggal hanya menatap Siang Cin sekejap tanpa memperlihatkan perasaan apa2, codet di mukanya tampak berkerut, dengan langkah ogah2an dia melangkah maju dan menjura, katanya.
"Poan-hou-jiu Te Yau dari Hiat ji-bun Bu-siang-pay."
Timbul juga perasaan iba Siang Cin, sedikitpun tiada rasa marah akan sikap orang, karena dia maklum, seorang yang badannya mengalami cacat atau kekurangan pasti akan mempunyai tabiat yang aneh pula, entah suka menyendiri atau bersikap kaku dingin, yang terang mereka punya kebiasaan tidak suka bergaul dengan orang banyak, kebanyakan mereka memencilkan diri, seperti membangun lingkungannya sendiri, untuk menutupi kekurangan pribadinya ini, maka sikapnya sering angkuh dan kasar.
Loh Bong-bu melotot kurang senang, sekalipun Siang Cin sudah merangkap tangan, katanya, menjura.
"Sungguh beruntung dapat bertemu dengan To heng, Cayhe Naga Kuning Siang Cin."
Mata kanan Te Yau yang tunggal mendadak terbeliak, terpancar cahaya aneh dari mata tunggalnya, itulah pancaran rasa kaget, heran dan terharu pula, dengan darah bergolak dia maju setapak, Siang Cin ditatapnya lekat2, sesaat kemudian, sikapnya berubah bagai seorang lain, serunya riang.
"Kau, kau ini Naga Kuning?" 110 . Loh Bong-bu membentak gusar.
"Te Yau, jangan kurang ajar."
Siang Cin mengangguk, katanya ramah.
"Betul, memang Cayhe adanya."
Tenggorokan Te Yau berbunyi keruyukan saking terharu, lekas dia berputar ke arah Loh Bong-bu dan memohon dengan sangat.
"Cuncu, kukira kini saatnya tiba untuk melampiaskan keinginanku yang terkatung selama beberapa tahun ini, harap Cuncu suka meluluskan ...."
Loh Bong-bu mengerut kening, katanya serba susah.
"Tidak boleh, tidakkah kau lihat Siang-heng dalam keadaan terluka ... ."
Tergerak hati Siang Cin, sedikit banyak dia dapat menangkap arti percakapan kedua orang, maka dengan tenang dia berkata.
"Loh-cuncu, bile Te-heng memerlukan tenaga bantuanku, boleh silakan terangkan saja, sedikit luka luar ini tidak terhitung apa2"
Ragu sebentar, Loh Bong bu mengelus jenggot, lalu katanya pelan2.
"Siang-heng, soal ini agak ....ya, agak menyulitkan, ada Ngo-coat (lima kampiun) di bawah pimpinanku, bicara terus terang setiap orangnya memiliki kepandaian khas yang tidak lemah, tapi persoalan justeru terletak pada kepandaian khusus itulah, apa lagi usia mereka masih muda, berdarah panas lagi, di samping sombong dan jumawa ....suatu ketika, kira2 tiga tahun yang lalu, seorang diri Te Yau berlatih di lapangan di pinggir hutan di padang rumput besar, Poan hou-jiu yang dia yakinkan memang cukup terkenal, di kala dia berlatih itulah, Ho-lothau yang suka iseng mendadak berlari datang serta tertawa sambil tepuk tangan, Te Yau tanya apa yang dia tertawakan, dengan suara yang di-bikin2 Ho-lothau menerangkan.
"Te lote, Kungfu yang kau yakinkan memang cukup lihay. Tapi bila Poan-hou jiu yang kau latih ini kebentur dengan Joan-ciang si Naga Kuning Siang Cin, pasti kau akan kecundang. Poanhou-jiu yang kau yakinkan ini mengutamakan kecepatan dan sukar diraba, tapi Joan-ciang yang diyakinkan si Naga Kuning Siang Cin itu juga mengutamakan cepat dan aneh, tapi Kungfu yang orang latih justeru jauh lebih hebat daripada apa yang kau latih sekarang"
Sudah tentu mendengar olok2 ini Te Yau amat marah, ia lupa berlatih dan berlari pulang.
Sejak tiga tahun yang lalu ke mana saja dia berada pasti mencari jejakmu, begitu besar keinginannya untuk bertanding, untuk ini entah berapa kali aku pernah menegurnya, tapi tekadnya begitu besar ...."
Siang Cin tertawa, katanya.
"Ah, Te-heng terlalu percaya obrolan orang lain, Cayhe hanya bernama kosong belaka, terhitung apa kepandaian yang kuyakinkan ini, mana bisa dijajarkan dengan Kungfu Te-heng?"
Merah muka Te Yau, katanya penuh permohonan.
"Tidak, Siang tayhiap terlalu sungkan, bagaimana juga Cayhe mohon kepada Siang-tayhiap untuk memberi kesempatan menjajal ilmu yang pernah kuyakinkan ini, supaya hatiku bisa tenteram dan takluk lahir batin."
"Te-heng"
Kata Siang Cin dengan rendah hati.
"kukira urungkan saja niatmu, kau akan kecewa? Dengan kecewa Te Yau memandangi Loh Bong-bu. Loh Bong-bu menggeleng, katanya.
"Ah dasar Ho lothau yang banyak mulut, banyak tingkah ... ."
"Lo-cuncu,"
Tanya Siang Cin.
"siapakah Ho-lothau yang kausebut itu?"
Belum Lo Bong bu menerangkan Te Yau sudah mendahului.
"Ho-lothau adalah Yu hun-hou-cay Ho Siang-gwat, Cong-tong cu dari Bu siang-pay kami."
Dengan tertawa getir Siang Cin berkata.
"Usia Ho Siang-gwat sudah 70, beliau adalah Locianpwe, kenapa dia membuat gara2 terhadap angkatan muda."
Losiansing ini juga terlalu tinggi menilai Cayhe?"
"Siang-heng,"
Ucap Loh Bong-bu sungguh2.
"Ho-lothau memang bertabiat aneh, senang dan marah tidak 111 menentu, sampaipun Ciangbunjin kami juga kewalahan terhadapnya. Tapi terhadapmu dia betul amat kagum, kalian belum pernah ketemu, tapi dalam kehidupan se-hari2 dia selalu menyatakan kekagumannya terhadapmu, semua ini memang kenyataan, bukan dihadapan Siang hrng sengaja aku membual?"
Siang Cin hanya angkat pundak saja. Maka Te Yau mendesak pula.
"Siang-tayhiap, harap engkau suka memberi muka padaku, jangan tolak permohonanku ....."
Siang Cin berpaling ke arah Loh Bong-bu, dilihatnya Loh Bong-bu tertnwa, katanya kikuk.
"Andaikata Siang-heng mau memberi petunjuk, baiklah, boleh kau hajar adat bocah ini ...., cuma, tentunya akan menyulitkan Siang-heng ....."
Baru Siang Cin mau bicara, Te Yau telah menimbrung pula sambil menjura.
"Siangtayhiap, kecuali kagum pada kepandaianmu yang tinggi, dengan ini akan sekaligus menguji sampai di mana taraf kepandaian yang telah kuyakinkan selama ini, se-kali2 tiada niat buruk apa2, untuk ini harap Siangtayhiap maklum dan suka memberikan pelajaran untuk memperluas pandanganku yang cupet ini ... ."
Bong-bu berdehem, katanya.
"Siang-heng cobalah kau pertimbangkan apakah bisa kau terima .... ."
Pau Seh hoa rebah di usungan di sebelah, tak tahan lagi ia menyeletuk.
"Kongcuya, coba kau perlihatkan dua gerakan saja, kan tidak suruh kau menggantung diri, cara ini juga biasa bagi setiap insan persilatan yang berkecimpung di Kangouw, peduli kalah atau menang nanti, cukup dia kali bergelak tawa dan urusanpun berakhirlah?"
Loh Bong bu tertawa, katanya.
"Ucapan Pau-heng memang tepat, anggaplah untuk menambah pengalaman kita semua."
"Terlalu berat kata2 Loh-cuncu ......"
Ucap Siang Cin, lalu dia berpaling kepada Te Yau, katanya.
"Te heng, kuharap nanti kau tidak kecewa . Te You berjingkrak girang, serunya.
"Jadi engkau meluluskan?"
Kata Siang Cin terpaksa.
"Begitu besar hasrat kalian, Cayhe jadi tidak enak untuk menolak?"
Te Yau berseru girang dengan merangkap kedua tangan.
"Kalau begitu, terimalah hormatku."
Ia membungkuk tubuh, tidak tampak tubuhnya bergerak, lutut juga tidak tertekuk, tapi bagai busur melenting tahu2 tubuhnya meluncur ke depan dengan gerakan yang indah dan hinggap di atas batu padas.
Pelan2 Siang Cin melangkah maju, sementara Loh Bong bu memberi aba2 kepada anak buahnya agar minggir sehingga terluang tanah lapang sebagai arena.
Lima puluhan pasang mata tanpa berkedip tertuju ke dalam arena, semua tahan napas dan menunggu dengan berdebar, wajah mereka tampak serius, meski katanya pertandingan ini hanya saling ukur kepandaian, tapi bagi setiap orang persilatan sama tahu kalah menang dari hasil pertandingan ini akan sama dengan pertempuran umumnya.
Sebelah kaki Siang Cin memancal enteng, dengan ringan tubuhnya lantas melayang ke atas sebuah batu yang berjarak dengan tempat Te Yau berdiri kira2 setombak lebih.
Hawa masih sejuk, mentari masih memancarkan cahayanya yang hangat, Tapi ujung hidung Poan-hou-jiu Te Yau telah basah oleh butiran keringat kecil2, mantel luarnya sudah dicopot, kedua mata tanpa berkesip mengawasi Siang Cin, gelang emas di jidatnya tampak mengkilap tersorot sinar matahari.
Rebah di atas usungan, dengan penuh perhatian Kun Sim-ti juga menonton, sebetulnya ia tidak menginginkan pertandingan seperti ini dikala kondisi Siang Cin masih seburuk itu.
Loh Bong-bu mengelus jenggotnya yang pendek, pelan2 dia menggeser mendekati Siang Cin, dengan suara rendah dan memohon dengan setulus hati.
"Siang-heng, cukup saling sentuh saja."
Siang Cin berpaling dengan tertawa, katanya lirih.
"Harap Te-heng bermurah 112 hati."
Loh Bong bu mundur keluar gelanggang, di mana Te Yau telah menjura, katanya.
"Silakan Siangtayhiap."
Siang Cin angkat sebelah tangan, katanya tertawa.
"Silakan Te-heng."
Badan yang kurus sedikit berjongkok, kaki Te Yau seperti terpasang pegas yang berdaya pantul keras, tiba2 ia melenting ke atas, dengan membawa segulung angin yang dahsyat ia menubruk turun, betapa cepat dan tangkas gerakannya.
Siang Cin berdiri tegak dan tenang, setelah bayangan lawan melambung ke atas dan menukik ke arahnya, baru Siang Cin sedikit goyang tubuh ke kanan, pada saat itu Te Yau telah menghardik seraya melontarkan pukulannya, selarik cahaya setengah lingkar menyambar dengan ganas, begitu Siang Cin bergoyang ke kanan, cahaya itupun ikut berganti haluan ke kanan, sambil terapung di udara ternyata kedua kaki Te Yau dapat bergerak dengan leluasa, ia memancal lalu tubuhnya bergulung dalam lingkaran kecil di udara, sementara telapak tangannya kembali menghantam, dalam sekejap sudah berada di pinggir telinga Siang Cin.
Siang Cin mengegos, hanya sekejap Te Yau merasa pukulan lawan yang berlapis dan bersusun rapat itu bagai gelombang samudra menerpa ke arahnya, cepat dan berputar ke kiri terus melayang ke sana, bayangan tangan yang bergerak sambung menyambung itu tahu2 sirna, keduanya bergerak sama cepat dan menakjubkan sekali, memang nyata jago kosen sama2 tinggi ilmunya.
Maka telapak tangan saling gempur dengan telapak tangan di udara, bayangan saling gubat di angkasa, terdengar rangkaian suara tepukan yang ramai, di tengah bayangan yang menari itu, dua sosok bayangan orang tahu2 melorot turun kedua arah yang berlawanan serta jumpalitan dengan gaya masing2 yang mempesona, belum lagi kaki menyentuh bumi, tahu2 keduanya berputar balik dan saling labrak pula.
Sementara itu, tanpa berkedip Loh Bong-bu mengikuti pertempuran di udara itu, diam2 ia menggeleng kepala.
Bayangan kedua orang di udara bagai gumpalan asap samar2 saling berkelebat, belum lagi pandangan penonton sempat mengikuti apa yang terjadi, kedua orang ini sudah melayang turun dengan gagah indah dan tenang, baru kaki mereka menyentuh tanah, berkumandang suara tepukan yang keras, ini berarti kecepatan gerak mereka sudah melampaui kecepatan suara, maka setelah mereka turun baru ledakan pukulan berkumandang di udara.
Nampak jelas butiran keringat di wajah Te Yau, air mukanya tampak bersemu merah, deru napasnya juga lebih kasar dari biasanya, dalam dua kali bentrokan singkat ini, keduannya seperti baru saja mengalami suatu pertempuran sengit yang lama dan menghabiskan seluruh kekuatannya, dia lesu dan nampak pula merasa malu.
Sementara Siang Can berdiri tenang di samping sana, sikapnya wajar dan adem ayem seperti tak pernah terjadi apa2, se olah, sejak tadi dia memang berdiri di sana dengan bebas tanpa bergeming sedikitpun.
Kini dia tengah mengebut debu yang melekat dipakaiannya yang telah koyak2 itu, sikapnya.
ke-malas2an tapi juga gagah.
Bergelak tawa Loh Bong-bu memapak maju sambil mengacungkan jempol, serunya."Bagus, bagus, sekali, Siang-heng, Cayhe hari ini betul2 terbuka matanya, dalam gerakanmu tadi cepatnya bagai terbang.
Haha, se-olah2 sekaligus ada puluhan orang yang bantu kau menggerakkan tangan kakimu .....
"Loh-cuncu terlalu memuji," ,ucap Siang Cin.
"Soalnya Te heng sudi mengalah padaku." 113 Semakin jengah Te Yau, ia mengencangkan ikat pinggangnya, dengan tergagap ia berkata.
"Siang-tayhiap, apa yang dikatakan Ho-cuncu memang tidak salah, engkau memang jauh lebih kuat daripadaku."
Sambil menggoyang tangan Siang Cin berkata.
"Pelajaran silat hakekatnya tiada batasnya, masing2 memiliki kelebihan kelihayannya sendiri2, siapapun takkan berani menyatakan dia lebih unggul daripada yang lain. Te-heng, dengan tarap yang telah kau capai ini, sudah harus dibanggakan."
Dengan rasa ikhlas dan kagum Te Yau melangkah maju, katanya dengan hormat.
"Siang-tayhiap, dalam pertempuran tadi meski dua kali kita saling gempur, hakikatnya aku telah mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuanku, seluruhnya Cayhe melancarkan sembilan kali pukulan, tapi engkau melancarkan belasan kali, dalam waktu yang sama, dalam situasi dan kondisi yang sama pula, jelas sekali bahwa taraf kepandaianmu jauh melampauiku, sungguh2 Cayhe merasa tunduk lahir batin, malah menurut hematku, engkau belum lagi mengerahkan seluruh kekuatanmu ......"
Siang Cin tersenyum, katanya.
."Ya, kira2 hantya begitu sajalah, bahwasanya Cayhe juga tidak memiliki apa2 yang melampaui orang lain ......" -------------------------------Apakah Siang Cin menerima bantuan pihak Bu siang-pay untuk menuntut balas pada Ceng siong san-ceng?
Organisasi macam apakah Hek jiu-tong atau gerombolan tangan hitam dan apa latar belakang permusuhannya dengan pihak Bu siang-pay?
Bacalah
Jilid ke 7 -114
Jilid 07 Sesungguhnya apa yang dirasakan Te Yau memang tepat dan benar2 terjadi, dikala bertanding tadi Siang Cin memang belum lagi mengerahkan seluruh kekuatannya, paling2 dia hanya melancarkan salah satu kepandaiannya yang lihay dan aneh, yaitu Kui-ing cap sa-sek (tiga belas gerak bayangan setan) untuk menandingi Poan-hou-jiu kebanggaan Te Yau, hakikatnya dia belum menggunakan Joanciang yang khas, karena dalam Bu-lim orang hanya tahu bahwa Joan-ciang (ilmu pukulan lunak) yang diyakinkannya itu sangat hebat, aneh dan mengerikan, tapi jarang orang tahu bila dia sudah mengembangkan Joan-ciang, sebelum tangannya mencium darah takkan berhenti.
Dalam pertandingan persahabatan ini.
jelas bukan tempat baginya untuk mengembangkan Joan-ciang.
Loh Bong-bu tertawa, katanya;
"Te Yau, adakah terasa olehmu bahwa tak ada tapi tenaga tidak memadai pada dirimu? Terutama gerak kaki tangan se akan2 terkekang oleh lawan dan tak mampu mengembangkannya."
Merah muka Te Yau, tapi dia mengangguk dengan jujur, dengan nada malu2 dia berkata.
"Sekarang baru benar2 kusadari apa yang diibaratkan seperti kunang2 dibanding rembulan ......"
Loh Bong-cu ter-gelak2, katanya.
"Anak muda, kecundang di tangan Siang-heng bukanlah hal yang memalukan, betapa banyak jago kosen yang pernah roboh di tangahnya, di antaranya tidak sedikit pula tokoh2 jauh lebih hebat daripadamu."
Cepat Siang Cin berkata.
"Ah, Loh-cuncu, laki2 sejati tidak perlu mengagulkan diri, soal ini tidak perlu dibicarakan pula ......"
Te Yau membungkuk hormat, katanya.
"Siang tayhiap, kalau tidak ke pesisir takkan tahu betapa luasnya langit, kalau tidak memanjat gunung takkan tahu betapa tingginya gunung, banyak terima kasih atas pengajaranmu ini, selanjutnya Cayhe pasti akan rajin berlatih untuk mengejar kemajuan yang lebih tinggi."
Lega hati Siang Cin melihat watak Te Yau yang berjiwa besar ini, dia genggam tangan Te Yau, katanya.
"Bicara soal watak sebagai manusia, Te-heng, kau jauh lebih tinggi daripada kepandaian silatmu."
Ingin Te Yau bicara, tapi dirasakannya tangan Siang Cin yang menggenggam tangannya menjejalkan sesuatu entah apa, diam2 dia memeriksanya, ia terkejut, kiranya ujung tombaknya yang telah putus sebagian, letak kutungan ujung tombak itu tampak rata dan licin seperti dibacok putus oleh sebuah golok pusaka.
Tapi Te Yau tahu yang memapas kutung ujung tombak pasti bukan golok pusaka, tapi adalah telapak tangan Siang Cin.
Sudah tentu dia lebih maklum lagi, bila Siang Cin mau mencelakai jiwanya, maka sejak tadi dia sudah takkan berdiri di sini, 115 dia menatap Sang Cin, mata tunggalnya tampak mencorong penuh rasa kekaguman.
haru, terima kasih, heran dan kaget pula.
Di sana Loh Bong-bu telah melihat cuaca pula, katanya.
"Siang-heng, kita boleh berangkat, kalau tertunda lebih lama kita bisa terlambat tiba dikota."
Sampai di sini seperti tidak tahu apa2, dia menambahkan.
"Te Yau, lekas kau kenakan mantelmu, pakaianmu basah kuyup melekat badan, nanti masuk angin."
Te Yau melengak segera dia maklum, ia menyengir lekas dia membalik mengambil mantel serta mengenakannya.
kini Te Yau tahu bahwa Loh Bong-bu sudah melihat ujung tombaknya terpapas kutung.
Bahwa Cap-kiu-hwi-ce dapat mencapai kedudukannya yang tinggi sekarang, pandanganya tentu saja sangat tajam.
Seorang laki2 baju putih menghampiri dengan menuntun seekor kuda kuning yang gagah, setelah mengucap terima kasih Siang Cin segera mencemplak ka punggung kuda, Loh Bong-bu memberi aba2 agar rombongannya berangkat, di belakang ada delapan kuda dengan masing2 dua kuda mengangkut satu usungan, karena kuda2 itu sudah terlatih baik maka orang2 yang rebah di atas usungan bisa tidur tenang dan tidak merasakan goncangan keras.
Dengan gembira Loh Bong bu berkata.
"Siangheng, tiga puluh li lagi kita akan tiba di Ho thau-toh, di sana kita bisa makan dan istirahat, kemudian kita dapat bermalam di Lam-tin, di sana ada beberapa hotel besar bersih dengan serpis yang memuaskan."
"Baiklah.."
Ucap Siang Cin.
"keadaanku memang perlu mencari tempat untuk melepaskan lelah."
Sampai di sini tiba2 dia menambahkan.
"Loh-cuncu, agaknya kalian bermusuhan dengan Hek-jiu-tong (komplotan tangan hitam)?"
"Betul,"
Ucap Loh cuncu setelah berdiam sebentar.
"kalau dikatakan memang memalukan. Di padang rumput yang luas itu kami mendirikan sebuah Toa-bong-ceng (perkampungan). Bahwasanya Toa bong-ceng merupakan pusat kekuasaan Busiang pay kami, Bu-siang-lan-tai di depan Toa-bong-ceng dan Ceng-hun kek d! Kiu jin-san hanya merupakan cabang belaka ......."
Setelah berpikir sejenak kemudian Loh Bong-bu berkata pula.
"Se giok lau di Toa bong-ceng adalah tempat tinggal pribadi Ciangbunjin yang terlarang bagi siapa saja, sementara keluarga Ciangbunjin seluruhnya tinggal di Se-giok-lau itu ....."
Agaknya Loh Bong bu ragu2 untuk melanjutkan uraiannya, setelah batuk2 dua kali akhirnya dia berkata pula.
"Ai, soal ini sebetulnya tidak enak dibicarakan, walau dalam Bu lim sekarang sebagian telah dengar berita jelek ini, tapi kami mendapat perintah sedapat mungkin menutup persoalan ini."
"Kalau begitu, lebih baik tak usah kau terangkan,"
Kata Siang Cin. Loh Bong bu tertawa kikuk, katanya.
"Siangheng jangan salah mengerti, umpama sekarang Cayhe tidak bicarakan soal ini dengan kau, cepat atau lambat Siang heng juga akan tahu, cuma Cayhe merasa bila membicarakan soal ini, hati menjadi dongkol dan penasaran ........"
Setelah celingukan dia melanjutkan dengan suara lebih lirih.
"Tiga tahun yang lalu dalam perjalanan pulang ke Toa-bong-ceng, Ciangbunjin pernah menolong seorang yang rebah terluka di tengah hujan salju, orang itu sudah kempas-kempis tinggal menunggu ajal, tapi Ciangbunjin menolongnya dan dibawa pulang, dengan susah payah merawat dan mengobati luka2nya sampai sembuh, dia memang seorang yang cakap dan ganteng, berotak encer dan cerdik pandai, bibir merah gigi putih, siapa saja pasti merasa senang dan simpatik padanya, maka Ciangbunjin menjadikan dia kacung di kamar bukunya, kerjanya hanya meladeni segala keperluan pribadi Ciangbunjin di Se-giok-lau. Ai, siapa tahu bahwa pemuda cakap itu hanya luarnya manis hatinya jahat, manusia rendah budi berhati binatang. Selama tiga tahun 116 ini, bukan saja dengan akalnya yang licin dan mulutnya yang manis ......ah, lebih tepat kalau dikatakan menghasut dan memikat, bukan saja keparat itu berhasil memikat puteri tunggal Ciangbunjin malah Ci-giok-cu ( mutiara ungu ) milik Ciangbujin yang disimpan ditempat rahasia itupun dicurinya. Sudah tentu bukan kepalang gusar Ciangbunjin, maka kami beramai memperoleh perintah untuk mengejar keparat itu, Ciangbunjin ada pesan, mati atau hidup kami harus menyeretnya pulang ......."
Lalu apa sangkut pautnya soaI ini dengan Hek-jiu-tong?"
Tanya Siang Cin. Loh Bong-bu meng-geleng2 katanya.
"Hasil penyelidikan kami setelah menghabiskan banyak tenaga dan pikiran, eh, kiranya bocah keparat itu adalah tokoh ketiga Hek-jiu-tong. Bahwa dia rebah terluka di atas salju dulu itu bukan lantaran dilukai oleh kawanan begal melainkan terluka oleh musuh yang mencegatnya di tengah jalan. Dua bulan yang lalu, kami bertiga kelompok ditugaskan mengejarnya ke Tionggoan, tapi selama ini bayangan bocah itu tak pernah kami jumpai, pada hal sudah tujuh kali kami bentrok secara langsung dengan orang2 Hek jiu-tong, komplotan jahat itu memang mahir menggunakan senjata rahasia beracun dan menyerang dengan akal licik pula. Tadi waktu kami lewat dilereng bukit, karena melihat keadaan di sana cukup berbahaya, kuatir terjebak musuh, maka kami berhenti mengadakan pemeriksaan ala kadarnya, rupanya memang ada jodoh dan berkenalan dengan Siang-heng ...."
Berpikir sebentar, Siang Cin berkata.
"Tahukah siapa nama bocah yang menipu dan membawa minggat puteri tunggal Ciangbunjin kalian?"
"Ji-ih-kim-kiam Khong Giok-tek."
Siang Cin menopang dagu, katanya.
"Agaknya pernah kudengar nama ini. Em, tentunya dia amat licik dan banyak muslihatnya?"
"Memang "
Kata Loh Boh-bu dengan gregeten, betapa cerdik dan hati2 Ciangbunjin kami, akhirnya toh kena dikelabui dan tertipu mentah2.
Pernah beberapa kali Cayhe melihat dia, sikapnya memang ramah dan sopan santun, mulutnya manis dan pandai ber-muka2, lahirnya dia bekerja dengan giat dan rajin, hakikatnya tak pernah terbayang dalam benak kami bahwa ada orang luar yang berani main kayu dalam markas pusat kami, biasanya dia pura2 lembut, keberanian menyembelih ayampun tiada, kalau bicara halus dan munduk2, sopan dan pemalu seperti gadis pingitan ...."
Siang Cin berkata.
"Mohon tanya, ke mana tujuan perjalanan Loh-cuncu kali ini?"
Loh Bon-bu berkata setelah menghela napas.
"Menyerbu langsung ke sarang komplotan tangan hitam."
Siang Cin menggeleng, katanya.
"Loh-cuncu, bukan Cayhe banyak mulut dan berkomentar, bila hanya dengan kekuatan yang kau bawa ini, Bu-siang-pay hendak menyerbu ke sarang Hek-jiu-tong, ku kira kekuatan kalian jauh daripada memadai, keadaan pihak Hek-jiu-tong memang Cayhe tidak tahu, tapi pernah juga Cayhe dengar tentang mereka, kekuatan mereka memang tidak sebesar Bu-siang-pay, tapi juga tidak lemah, jago2 kosen Hek-jiu-tong cukup banyak, anak buah merekapun jahat dan kejam, apalagi mereka berhubungan erat dengan komplotan hitam lainnya, dengan tenaga yang tidak memadai ini kalian hendak menyerbu ke tempat yang jauh itu, mungkin tidak akan memperoleh keuntungan ..."
Alis Loh Bong-bu bertaut, katanya dengan prihatin.
"Apa yang Siang-heng katakan sudah Cayhe pikirkan, tapi perintah Ciangbunjin mana kami berani membangkang? Pertama Cayhe hanya ingin paksa Khong Giok-tek menyerahkan orang dan benda mestika yang dicurinya, jadi tidak harus menumpahkan darah. sementara bala bantuan dari markas kami, yaitu Thi ji-bun dan Wi-ji-bun dalam waktu tujuh hari ini akan berkumpul di kaki Au-than-san, setelah merundingkan strategi yang akan kami tempuh baru akan bergerak, menurut hematku, kekuatan kami akan cukup besar." 117 Siang Cin mengawasi pernandangan alam nan permai, alam pikirannya melayang pada sebuah persoalan yang lain, sesaat lamanya, baru dia berkata pula.
"Loh-cuncu, kukira Khong Giok tek tidak akan sudi menyerahkan apa yang kalian tuntut."
Dengan tertawa getir Loh Bong-bu berkata.
"Memang mungkin, tapi dia harus siap menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatannya."
"Apakah kalian hanya ingin mengajak orang pulang serta merebut mestika saja?"
Tanya Siang Cin.
"Itu langkah pertama, bila sekiranya tidak sampai menimbulkan akibat lain, maka langkah kedua adalah menawan hidup2 Khong Giok tek, hal ini tadi sudah kuterangkan."
"Kalau demikian perhitungan kalian, mungkin pertempuran besar dan banjir darah tidak terhindar lagi ..... ."
"Inipun sudah dalam perhitungan kami, kalau situasi menghendaki demikian, ya apa boleh buat, tapi tak peduli bagaimana hasil tujuan perjalanan yang terang Bu-siang-pay takkan memberi kesempatan pada Hek-jiu-tong untuk bernapas, umpama kami harus gugur di medan laga, jago2 Bu-siang-pay kami akan ber-bondong2 keluar dari padang rumput dan menyerbu ke sana."
"Kalau Hek-jiu-tong tahu kekuatan tidak memadai, mereka pasti minta bala bantuan dari komplotan lainnya, beroperasi tidak di daerah kekuasaan sendiri betapapun Bu-siang pay pasti akan mengalami pukulan yang berat juga, maaf Cayhe bicara secara blak2an, harap Loh-cuncu tidak berkecil hati."
"Kenyataan memang demikian, seharusnya aku berterima kasih akan petunjuk Siang-heng, masa aku menyalahkan kau malah?"
Sampai di sini Loh Bong bu lalu menambahkan lagi.
"Persoalan ini, biarlah kita bicarakan lain waktu saja, yang penting sekarang harus selekasnya cari tempat untuk merawat luka2 Siang-heng dan teman2mu."
"Ya, benar,"
Ucap Siang Cin.
Derap tapal kuda berdetak di tanah pegunungan yang keras, seketika Loh Bong-bu melirik Siang Cin, sorot matanya mengandung permohonan yang sangat, bibirnya sudah bergerak sedikit, tapi akhirya dia telan kata2 yang ingin dilontarkan, alisnya berkerut dan wajahnya tampak murung, masgul dan gelisah.
Sebetulnya Siang Cin tahu sikap Loh Bong-bu itu, iapun tahu apa yang ingin diutarakan olehnya.
Hal inilah membuat Siang Cin serba susah, ia tahu jelas macam apakah gerombolan Hek-jiu-tong, apa yang dia beritahukan kepada Loh Bong-bu tadi hanya sekelumit keadaan luarnya saja, jadi keadaan sebenarnya dalam Hek jiu-tong belum dia beberkan.
Sementara pihak Bu-siang-pay kelihatannya hanya melihat bentuk luarnya saja dari Hek-jiu-tong, tidak tahu seluk beluk di dalamnya, padahal Hek-jiu-tong adalah salah satu komplotan penjahat yang paling ganas di Bu-lim, pentolannya ada sepuluh orang, satu lebih kejam dari yang lain.
Kungfu merekapun termasuk kelas wahid, kekuatan Hek-jiu-tong sudah melebar sampai di propinsi Ho-pak dan Ho-lam, usaha mereka ialah penyelundupan garam gelap dan membegal, bila perlu merekapun main bunuh secara kejam, umumnya mereka tidak mematuhi aturan Kangouw, tak mengerti apa itu keadilan dan kebenaran, demi keuntungan pihak sendiri mereka tidak peduli siapa lawan, asal sikat dan ganyang, cara yang digunakanpun melampaui batas perikemanusiaan.
Oleh karena itu, sesama kaum Kangouw tiada yang berani mengusik dan mencari perkara pada mereka, padahal mereka jarang beroperasi keluar daerah kekuasaan sendiri, sejak Hek-jiu-tong berdiri, selama 10 tahun ini bukan saja mereka tidak pernah mengalami musibah besar, malah 118 kekuatan mereka semakin berkembang dan melebar kemana2.
Sejak keluar kandang, meski Naga Kuning Siang Cin malang melintang dan disegani orang, tapi selama ini belum pernah dia bentrok dengan pihak Hek jiu-tong.
Bagaimana keadaan Hek-jiu-tong sering didengarnya dari cerita orang, jadi seluk-beluk mereka banyak yang dia ketahui.
Bu-siang-pay memang besar dan kuat, tapi mereka berada jauh di padang rumput sana, sebagai harimau galak yang meninggalkan gunungnya, bila betul2 harus bertempur jauh dari sarang sendiri, betapapun mereka harus berpikir lebih matang sebelum bergerak.
Cepat sekali rombongan besar ini sudah berderap di jalan pegunungan yang kecil dan berliku naik-turun, tak lama lagi mereka akan keluar dari lekuk gunung dan menempuh perjalanan di jalan raya.
Sambil membetulkan rambut panjangnya ke beIakang kepala Loh Bong-bu berkata.
"Siang-heng ....."
Siang Cin menoleh, katanya.
"Ada petunjuk apa Loh-cuncu?"
Menatap jauh ke depan, Loh Bong-bu berkata serba rikuh.
"Ada suatu hal, ingin Cayhe ......"
Diam2 Siang Cin menghela napas, dia tahu apa yang hendak diajukan orang, apakah dia harus menerima permintaan orang?
Walau baru bertemu di tengah jalan dan baru berkenalan, tapi kaum persilatan mengutamakan setia kawan, apalagi sikap orang begini simpatik dan murah hati?
"Silakan berkata,"
Sahut Siang Cin kemudian. Setelah berpikir sekian lama dengan sikap serba susah, akhirnya Loh Bong-bu berkata getir.
"Siang heng, Cayhe, Cayhe ....ai, sukar untuk kuutarakan ...."
Akhirnya Siang Cin berkata tegas.
"Baiklah, orang she Siang tidak akan berpeluk tangan dalam persoalan ini ...."
Loh Bong-bu berjingkrak girang dan hampir jatuh dari kudanya mendengar janji Siang Cin, seperti ketiban rejeki matanya terbeliak, mulutnya megap2.
"Siang-heng, kau maksudmu sudi bantu kami untuk menghadapi Hek-jiu-tong?"
"Cayhe kira, begitulah maksud Cuncu semula,"
Ucap Siang Cin dengan tertawa. Loh Bong-bu tertawa gembira, katanya.
"Tentu tentu, cuma baru berkenalan, Cayhe tidak enak memohon bantuan kepada Siang heng, tapi Siang heng memang pandai menerka isi hati orang, sungguh tak terkira rasa terima kasibku ...."
Pelan2 menepuk kepala kudanya, Loh Bong bu tak bersuara pula, sesaat kemudian baru berkata pula.
"Siang-heng, pihak Hek jiu tong mungkin juga akan bermusuhan dengan kau ...."
Dengan tajam Siang Cin pandang orang, katanya.
"Loh-cuncu, berkelana di Kangouw, bahaya demikian siapapun sukar menghindarkannya, kalau sudah hidup di Kangouw, sebagai insan persilatan, maka dia harus berani menghadapi tantangan yang penuh liku2 kekejaman, kalau tidak ya jangan terjun ke dunia persilatan."
Loh Bong-bu berkeplok tangan, serunya memuji.
"Komentar bagus!"
"Ah, tidak, hanya sekedar menghibur diri belaka,"
Kata Siang Cin.
Tanpa terasa rombongan besar ini sudah tiba di bawah bukit dan mulai menempuh perjalanan di jalan raya, sebelah kiri adalah sawah ladang yang luas dan subur, sebelah kanan adalah hutan lebar yang rimbun, jalan raya ini lurus lempeng, maka dari kejauhan kelihatan bangunan rumah yang tersebar di sepanjang sungai sana.
Menuding ke rumah2 di kejauhan itu Loh Bongbu berkata.
"Nah, di sana itulah Ho thau-toh, kutahu di sana ada sebuah restoran yang baik."
Siang Cin manggut2, tiba2 dia berkata.
"Oh, ya, bagaimana letak kota itu dari Ceng siong-san-ceng?"
Lob Bong-bu menerawang sekitarnya, katanya kemudian.
"Pagi tadi kita mengitari Ceng-siong-san-ceng jadi Ho-thau-toh terletak tepat di sebelah selatannya."
"Jadi kota ini masih dalam lingkungan kekuasaan pihak Ceng-siong-san-ceng, Loh 119 cuncu, kita harus lebih berhati2."
Kuharap mereka tidak mencari kesulitan untuk diri sendiri,"
Ujar Loh Bong bu.
Kini sang surya sudah tinggi di cakrawala, maka kerongkongan mereka mulai terasa kering, ingin minum dan istirahat.
Setengah jam kemudian setelah menyusuri sungai akirnya mereka naik keatas tanggul dan memasuki Kota tambangan yang tidak begitu besar ini, mengawasi arus sungai dengan airnya yang keruh menguning, Siang Cin berkata pelahan, Loh-cuncu.
"Apa nama sungai ini?"
Loh Bong bu sedang mengatur anak buahnya yang membawa usungan untuk menyeberang, cepat ia menoleh dan menjawah.
"O. namanya Se-jiang-ho sawah ladang seluas ribuan ha di kedua sisi sungai tumbur subur karena air sungai ini, setiap musim semi air pasang hampir setinggi tanggul."
Tanpa menunjukkan perasaan Siting Cin manggut-manggut.
"Loh Bong-bu sibuk mengatur anak buahnya pula, dengan barisan yang rapi dan teratur rombongan besar ini memasuki kota, melalui jalan raya yang hanya satu2nya di kota kecil ini. Para petani yang bekerja di ladang sama menoleh dan memandang keheranan, demikian pula penduduk kota ber-bondong2 keluar menonton barisan besar berkuda ini, wajah mereka sama menampilkan rasa heran dan curiga, maklum kota sekecil ini penduduk jarang melihat rombongan besar berkuda berseragam lengkap dengan senjata lagi. Barisan akhirnya berhenti di depan sebuah rumah makan, dua anak buah Bu-siang-pay yang di tugaskan kemari lebih dulu tampak sudah menunggu di depan restoran, tanya Loh Bong bu.
"Restoran itu masih buka tidak?"
Salah seorang laki2 itu membungkuk. sahutnya.
"Lapor Cuncu, masih buka, Tecu sudah pesan hidangan yang cukup untuk makan enam puluh orang."
"Ehm,"
Loh Bong-bu bersuara singkat lalu menoleh dan berkata.
"Siang-heng, marilah turun."
Dengan enteng Siang Cin melompat turun, para penunggang kuda yang lain juga turun be ramai2, dengan suara lirih Loh Bong-bu memberi pesan apa2 kepada Ceng-yap-cu Lo Ce, setelah Kun Sim-ti, Pau seh-hoa dan lain2 digotong masuk baru Siang Cin masuk terakhir.
Ruang restoran ini cukup lebar, lantainya dari batu marmer, seorang laki2 gemuk dengan kain putih melingkar di depan perut beranjak keluar dengan langkah tergopoh.
Mengawasi si tambun ini, Loh Bong-bu tertawa katanya.
"Gui-poancu (Gui si gemuk), melihat tampangmu yang merah gembira ini, mungkin kau sudah tambah rejeki?"
Gui poancu adalah taukeh atau majikan pemilik restoran ini, dengan ter gelak2 ia berkata.
"Loh-ya, engkau memang suka berkelakar, restoran sekecil ini di kota yang serba miskin pula, kalau tidak gulung tikar sudah mending, mana bisa tambah rejeki segala? Kalau bisa mencari sesuap nasi untuk kehidupan keluarga sudah lebih dari lumayan."
Loh Bong-bu menggeleng katanya.
"Poancu, kau memang pandai bicara."
Sembari silakan tamunya duduk.
Gui poancu perintahkan juga para pelayan meladeni tamunya, dari luar restoran ini kelihatan kuno, tapi keadaan di dalam ternyata rapi dan bersih, tempatnya juga amat luas, lima belas meja berjajar menjadi sebuah meja panjang di tengah ruang, kursinya dari bangku panjang, di luar jendela tampak Se-jing-ho dengan pemandanganya nan permai.
Loh Bong bu persilakan Siang Cin dan Kun Sim-ti duduk di dekat jendela, sementara pelayan yang hanya tiga orang muda sibuk bekerja sesuatu petunjuk si gemuk, menyuguh minuman dan menyiapkan piring mangkok.
"Sebelum ini pernah engkau datang kemari Lohcuncu?"
Tanya Siang Cin setelah 120 melihat sekelilingnya "Pernah lewat dua kali,"
Sahut Loh Bong bu tertawa.
"setiap kali si gendut itulah yang menyediakan hidangan untuk kami."
Berpikir sebentar Siang Cin berkata pula.
"Apakah orang ini dapat dipercaya? Maksudku mungkinkah dia menaruh apa2 di dalam hidangan?"
Serta merta Loh Bong-bu melirik ke arah si gendut yang lagi sibuk di sana, katanya;
"Kupikir, tak mungkin ......""
"Hati2 lebih baik,"
Ucap Siang Cin sambil tersenyum. Pau Seh hoa mengertak gigi, katanya.
"Kalau ada yang berani main licik sekotor itu, orang she Pau pasti akan mengunyahnya hancur."
Melirik kepada Pau Seh-hoa, belum lagi Siang Cin bicara, Gui-poancu sudah datang, katanya dengan tertawa lebar.
"Loh-ya, engkau orang tua dan para tuan2 ini hendak pesan makanan apa?"
"Hidangar apa yang paling baik dalam persedianmu boleh kau keluarkan seluruhnya, yang terang setelah kami makan kenyang kau boleh tutup restoranmu saja."
"Loh-ya memang malaikat pembawa rejeki bagi kami, kalau Loh-ya bisa datang setiap hari, restoranku ini pasta kubangun menjadi tingkat tiga, hahaha ......"
Sembari bicara dia terus mundur berlari masuk dapur.
Pelan2 Loh Bong-bu tanggalkan mantel, sambil menghabiskan waktu mulailah mereka bicara bebas sambil berkelakar.
Tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat, kira2 setengah jam kemudian, hidangan masih belum juga disuguhkan, malah ketiga pelayan yang semula mondar-mandir keluar masuk kini juga jarang unjuk diri, apalagi Gui-poancu, dia seperti lenyap ditelan bumi.
Setelah meneguk secangkir teh, perut yang tambah keroncongan lagi, Loh Bong-bu bersuara heran, katanya dengan kereng pada seorang pelayan yang kebetulan beranjak keluar.
"Siau-ji-ko, memangnya kenapa majikan kalian? Sekian lamanya kenapa hidangan belum lagi disuguhkan? Memangnya kau masak pakai api lilin?"
Pelayan ter sipu2 mengiakan terus berlari ke belakang, kebetulan Gui poancu tengah beranjak keluar dari dalam, tampak kedua tangannya mengusung sebuah baki besar, di atas baki penuh berisi daging ayam, itik, ikan dan udang goreng saus, lengkap dengan cabai, tomat, dan acar.
Dua laki2 berpakaian kotor penuh minyak ikut di belakang Gui-poancu, dandanannya mirip koki, kepala dibungkus kain hitam kedua orang ini juga membawa dua nampan besar, isinya adalah berbagat macam masakan yang berbeda.
Loh Bong-bu mendengus keras2.
"Goi-poancu, cepat juga kau menyiapkan hidangannya."
Gui-poancu minta maaf dengan tertawa ngakak, dia taruh baki di atas meja.
Diam2 Siang Cin memperhatikan sorot matanya yang kelihatan guram, tawanya juga kaku dan suaranya sumbang, jelas yang tidak wajar.
Ia melirik pula kedua koki yang mengintil di belakang Gui-poancu, cara kedua orang ini membawa nampan ternyata amat mahir dan kelihatan gesit, padahal isi nampan begitu banyak dan penuh, langkahnya cekatan bergerak di antara bangku2, cara kerjanya juga cepat tak ubahnya seperti koki di restoran lain.
Sambil menerima sumpit yang diangsurkan Gui-poancu, Loh Bong-bu berkata dengan tertawa.
"Nah, ayam, itik, ikan dan daging, semuanya lengkap, Loui, jangan lupa, bawakan dua poci untuk kami, bakpau pangsit juga keluarkan, lihat, ada tamu perempuan, mereka suka makanan yang empuk2."
Gui-poancu mengiakan, tapi tampak agak ragu, tiba2 salah seorang koki tadi berteriak.
"Ciangkui, sumpitnya masih kurang berapa pasang."
Orang ini bicara sambil menaruh mangkuk piring, sementara mukanya menoleh ke sini mengawasi gerak-gerik si gendut. Gui-poancu seperti gemetar sedikit katanya tersipu.
"Oh, ya, sebentar kuambilkan ...." 121 Beberapa patah percakapan ini seketika mengetuk hati Siang Cin, tanpa diketahui hadirin yang lain diam2 ia mengawasi kedua koki, tapi badan orang tidak menunjuk sesuatu tanda yang mencurigakan. Siang Cin menjadi bimbang, apakah dugaannya meleset. Lalu di mana kedua pelayan muda yang tadi meladeni tamu2nya? Sementara itu Gui-poancu tampak keluar pula dengan membawa sumpit, dikala dia membagikan sumpit, Siang Cin sudah perhatikan muka orang yang penuh butiran keringat segede kacang, padahal kini bukan musim panas. Arak disuguhkan oleh koki yang lain, orang ini bermuka putih dengan handuk melingkar di leher, sebuah tahi lalat warna merah tumbuh di ujung mata kirinya, dua helm bulu panjang tumbuh menjuntai, kedua tangannya tampak berotot kasar, mengkilat berminyak, dikala menyuguhkan arak, selalu dia unjuk tawa lebar, tak ubahnya pelayan yang ramah untuk menarik simpatik para tamunya. Mengawasi orang Siang Cin bertanya.
"Mana kedua pelayan tadi? Kenapa tidak disuruh bantu di luar"
Orang kami terlalu banyak, kalau hanya mengandal tenaga kalian, kapan kami baru bisa melanjutkan perjalanan?"
Koki ini menjura, katanya tertawa.
"Maksud tuan mungkin Siau-gu dan Ah-mao? Mereka adalah tenaga baru, belum mahir dan hanya disuruh mengerjakan tugas kasar, kalau melayani tamu sebanyak ini, mungkin bisa berantakan, maka mereka kini ditugaskan di dapur "
Siang Cin tertawa, katanya.
"O, lidahmu ternyata lincah berbicara."
Si Koki menunduk, lekas dia mengundurkan diri tanpa bicara, tapi dikala dia menunduk itulah, mata Siang Cin yang tajam sekilas dapat menangkap waiah si koki yang putih itu ber-kerut2, itulah pertanda perasaan yang menaruh dendam.
Sebagai tuan rumah Loh Bong-bu mendahului angkat cangkir araknya, katanya.
"Siang-heng, Pau-heng, An-heng dan kedua nona mari habiskan secangkir arak ini."
Siang Cin juga angkat cangkirnya, bola matanya bentrok dengan pandangan Pau Seh-hoa, tampak terpancar sinar aneh dari matanya seperti memaklumi sesuatu dia tatap Siang Cin, dan diluar tahu siapapun ia mengangguk pelahan.
Loh Bong-bu berkata pula.
"Hadirin sekalian, marilah kita habiskan secangkir ini."
Siang Cin serba salah, ia tak sempat memberi tanda, hatinya gelisah, baru saia dia hendak mencegah, dilihatnya Loh Bong bu telah angkat cangkirnya yang sambil menengadah dia tuang arak yang berwarna kuning itu.
Tapi arak bukan dituang ke dalam mulut, melainkan dituang ke dalam lengan bajunya yang longgar itu.
Maka Siang Cin lantas tertawa lebar, katanya gembira.
"Bagus, bagus sekali !"
Bersama Pau Seh hoa iapun tiru cara orang. Di bawah meja jari Siang Cin menulis di telapak tapak tangan Kun Sim-ti, dengan maksud.
"Kau jangan minum, kau dan istri An Lip tidak usah minum."
An Lip dan istrinya tampak ragu2, Pau Seh hoa sengaja berkata.
"Tidak, Lo An harus minum secangkir, aku orang she Pau yang menyuguh."
An Lip menjadi gugup, ia bilang tak berani minum, sementara Ceng yap cu tampak mendatangi dan berdiri di samping meja, katanya.
"Lapor Cuncu, mohon diberi izin para Tecu boleh mulai makan."
"Sudah tentu,"
Seru Loh Bong-bu ter gelak2, katanya.
"Lain kali ingat, disiplin di padang rumput tidak perlu dilaksanakan di luaran"
Ia merandek sejenak, lalu menambahkan.
"Tapi kalian harus ingat peraturan lama Bu-siang pay kita bila menginap di mana saja. Nah, ayam sudah berkokok, elang terbang datang dari langit, golok tersembunyi di bawah payon, membabat bayangan nan tidak kelihatan itu ...."
Waktu Loh Bong-bu mengucapkan kata2 yang aneh ini, sikapnya tampak kaku dan kereng, sudah tentu An Lip, Kun Sim-ti bertiga merasa heran, lekas Ceng-yap cu membalik badan, secepat angin dia sudah berkisar ke sana, dikala badannya berputar itulah, kedua telapak tangannya secara beruntun telah bertepuk lima kali.
Perubahan berlangsung dengan cepat, selagi gema tepuk tangan Ceng-yap-cu yang 122 nyaring masih berkumandang di dalam ruangan, semua anak buah Bu-siang pay serempak melompat berdiri, golok melengkung di punggung serentak tercabut ke luar.
Tiada sedikitpun rasa ragu dan bimbang, puluhan anak murid Bu-siang pay mendadak menerjang ke luar jalan raya, sekelompok menyebar kedua sisi rumah, sementara sisanya menyebar ke berbagai pojok ruangan, sehingga terbentuklah sebuah lingkaran besar, hanya sekejap mereka telah menduduki posisi yang menguntungkan, bayangan beberapa orang berkesiur kencang, meja kursi sama tertumbuk roboh, dikala kedua koki itu menyadari apa yang terjadi, tahu2 mereka sudah terkepung di tengah lingkaran.
Saat mana Gui-poancu tengah mengangkat daging panggang, seperti mendadak terserang angin duduk, seketika dia berdiri kaku mematung, mukanya yang gemuk penuh daging menonjol itu sungguh lucu, seperti tertawa tapi juga mirip orang menangis seperti ketakutan tapi juga girang.
Mulutnya melongo lebar, sementara kedua matanya melotot.
Kedua koki itu berdiri tepat di tengah ruangan mereka celingukan bingung, dengan sorot mata mohon bantuan mereka menoleh ke arah si gendut she Gui yang berdiri mematung dan gemetar di sana.
Pelan2 Loh Bong-bu berdiri, katanya mengejek.
"Te Yau, periksa ke belakang."
Poan hou jiu Te Yau mengiakan, sebat sekali ia melesat ke pintu belakang, sementara Loh Bong-bu letakkan cangkir ke atas meja, katanya sambil memandang Gui gendut.
"Lo Gui, apakah kau di paksa?"
Bergetar tubuh Gui gendut yang penuh daging itu, serta merta ia mengerling ke arah kedua koki, kedua orang yang dipandang diam saja tanpa unjuk perasaan apa2.
Mendadak Loh Bong-bu menggebrak meja, teriaknya bengis.
"Untuk apa kau lihat mereka? Kau kira golok lengkung Bu siang-pay kurang tajam?"
Dengan menyengir kulit daging si gendut tampak ber-goyang2 saking ketakutan, mulutnya terpentang lebar, tapi sepatah katapun tak mampu bicara sungguh kasihan keadaannya. Siang Cin tertawa, katanya.
"Loh-cuncu, Guiponcu terang dipaksa, kita tidak perlu mendesak dia, kukira kedua koki ini bisa memberi keterangan, karena merekalah biang keladinya."
Seketika kedua koki itu ketakutan, mereka meratap.
"Ciangkui, sudah sekian tahun kami membantumu, seingatku kecuali sering mencuri minum dua cangkir arak selamanya tak pernah berbuat salah, Ciangkui, tolonglah kau memberikan kesaksian, kami kan tak pernah melakukan kejahatan apa2 ..... ."
Gui-poancu seka keringatnya dengan lengan bajunya, jari2nya tampak gemetar, sesaat kemudian baru dia dapat bersuara dengan tersendat.
"Tidak ..... tidak salah, Loh-ya, mereka ....... mereka berdua."
Dengan tersenyum Siang Cin mengulap tangan katanya.
"Sahabat baik, dihadapan orang jujur tidak perlu membual, cara kalian ini hanya bisa rnenggertak si lemah dan mengelabui yang bodoh, dihadapan kami kau tak perlu main sandiwara, tak berguna"
Semakin hijau muka koki tadi, katanya sedih.
"Tuan ini, sudilah engkau suka menjelaskan, hamba kan bekerja baik2 dan tidak berbuat salah, mendadak tuan2 mencabut senjata dan mengepung kami, memangnya kami pernah melakukan kejahatan apa? Umpama membunuh orang kan juga harus dibikin terang persoalannya, entah kesalahan apa yang telah hamba lakukan?"
Melotot gemas dan dendam Loh Bong-bu, bentaknya gusar.
"Keparat yang licik."
"Kesalahan sih ada,"
Ucap Siang Cin dengan tertawa.
"cuma arak, hidangan yang kalian masak ini rasanya koh ganjil sekali, kalian kan koki di restoran ini, nah, silakan kalian cicipi dulu hasil karya kalian sendiri, kalau apa yang 123 kukatakan terbukti benar, maka kalian harus lekas bikin lagi hidangan yang lain."
Seketika berubah air muka kedua koki, sekuatnya mereka seperti menahan diri, si muka putih yang bernama Mao-ci menelan air liur, katanya dengan serak.
"Tuan .. Ini kan hidangan untuk tuan2 sekalian, mana hamba berani mencicipinya lebih dulu ........."
"Hm."
Loh Bong-bu menggeram.
"disuruh makan, maka kalian harus mencicipi dulu, nanti kubayar dua kali lipat."
Sudah tentu tambah buruk air muka kedua koki ini, mereka bimbang dan saling pandang, koki yang bermata juling mengertak gigi hendak bergerak, tapi koki muka putih bernama Mao-ci menggeleng kepala.
Golok besar melengkung telah terhunus mengelilingi mereka dengan sinar yang gemerdep demikian pula tombak pendek bersula telah terpegang di tangan kiri, agaknya Mao ci cukup tahu diri nelihat situasi dihadapan mata, sedikit bergerak tanpa perhitungan, jelas mereka akan menjadi sasaran empuk bidikan tombak2 pendek bersula itu.
Berkejang muka Mao-ci, tiba2 sikapnya berubah tenang, katanya.
"Baiklah, kalau demikian pesan tuan2, biarlah hamba mencicipinya."
Waktu menoleh ke arah temannya, sorot matanya seperti mohon diri, seperti juga menyesali nasibnya yang jelek.
Lalu dengan langkah lebar dia menghampiri meja Siang Cin, ia mencomot sepotong paha ayam serta menjemput cangkir arak di depan Loh Bongbu, sekilas ragu2, lalu dia angkat paha ayam ke mulutnya.
Tiada orang bersuara, puluhan pasang mata tertuju ke muka Mao-ci, suasana terasa seram.
Dengan menyengir Mao-ci pentang mulutnya, Sikap Siang Cin tampak dingin kaku, sorot matanya ber kilat2, dengan tajam diawasi gerak-gerik orang.
Lagaknya Mao-ci mau makan paha ayam itu tapi ketika paha ayam itu hampir menyentuh bibirnya, tangan kirinya tiba2 menggentak, arak itu dia siramkan ke muka Loh Bong-bu, sementara paha ayam mendadak juga dilempar ke arah Siang Cin, begitu barang2 di kedua tangannya disambitkan, sigap sekali ia berputar, tahu2 tangan kanan sudah mencabut sebilah belati yang tajam berkilau.
Hanya sedikit mengegos dengan mudah Siang Cin hindarkan, samberan paha ayam, perawakannya yang kurus bergerak gemulai, hampir tidak kelihatan melakukan gerakan apapun, tahu2 Mao-ci menjerit keras, tubuhnya berputar dan darahpun terhambur dari mulutnya.
Sebat sekali Siang Cin melompat maju, dikala badan Mao-ci masih berputar2, telapak tangan kirinya terayun, kembali darah muncrat, Mao-ci mencelat tinggi membentur langit2.
"klotak", dengan keras ia terpental balik dan jatuh terguling di lantai, dengan berlepotan darah. Siang Cin menghardik.
"Jangan bergerak!"
Baru saja koki bermata juling hendak menubruk maju dengan belatinya, hardikan Siang Cin bagai bunyi guntur telah membikinnya bergetar, sedikit merandek itu, tujuh batang golok sabit telah menyamber tiba, puluhan tombakpun meluncur datang dengan deru angin yang kencang, orang merasa pandangan mendadak kabur, dikala dia menggerakkan belatinya itu, kaki Siang Cinpun menyapunya, golok sabit dan tombak berdering saling bentur, mendadak Siang Cin melambung ke atas, berbareng ia tarik baju kuduk orang itu serta diangkat ke atas, Sekali tendang Loh Bong bu bikin meja kursi jungkir balik, lalu dia sudah berkelebat maju, beruntun dia gampar laki bermata juling itu beberapa kali, keruan gigi rompal bibir pecah dan darahpun berhamburan dari mulut orang itu.
Sekali raih Loh Bong-bu menjambak rambut orang, hardiknya gusar.
"Keparat, betapa tinggi kepandaianmu, berani membokong Cuncu Bu-siang-pay? Katakan, dari aliran setan atau golongan iblis mana kau?"
Melotot bola mata laki2 yang juling (keroh) itu, Loh Bong bu mendengus, telunjuk tangannya mencolok, secara mentah2 dia cukil keluar sebuah biji mata orang.
Raung kesakitan bergema, kaki tangan berkelejetan seperti orang terserang ayan, 124 wajah Loh Bongbu biasanya putih bagai batu jade kini berubah hijau kelabu, sekali raih pula dia betot biji mata orang yang bergelantung di pipi orang, kembali dia hendak cukil biji mata orang yang sebelah kiri.
Lekas Siang Cin menarik mundur orang itu, katanya.
"Loh-cuncu, biarkan dia hidup, nyawanya lebih berguna dari pada membunuhnya."
Loh Bong bu menggerutu.
"Bangsat, kalau tidak kuremukkan tulang belulangnya, sungguh tak terlampias amarahku."
Siang Cin tersenyum, katanya.
"Cepat atau lambat dia pasti mati, sekarang lebih baik mengompes keterangannya. Loh-cuncu, sampai sekarang kita belum tahu dia dari aliran mana." -Sembari bicara Siang Cin mencengkeram baju leher orang, katanya dingin.
"Sahabat baik, apa yang harus kau katakan, kini sudah tiba saatnya kau beberkan."
Sekujur badan orang itu gemetar, mukanya berkerut dan berlumuran darah, keadaanya sungguh seram dan mengerikan.
"Anak muda,"
Tiba2 Loh Bong-bu tertawa.
"ini baru mulai, bila setiap pertanyaan tidak kau jawab dengan jelas, sedikit akan kusiksa kau hingga mangkat ke alam baka."
Mendadak mata tunggal orang itu mendelik, katanya dengan meraung penuh dendam.
"Loh Bong bu, kalau tuan besarmu mati, beribu anggota Hek jiu tong akan menuntut balas bagi kematianku, kau anjing tua ini akan mati lebih mengenaskan daripadaku, kalau berani, hayo bunuhlah sekarang, buktikan saja apakah anggota Hek-jiu-tong memang takut mati seperti omonganmu."
Ceng-yap-cu Lo Ce yang berdiri di samping menghardik, golok sabit di tangannya tiba2 membacok, bentaknya.
"Baik, coba rasakan ini!"
Sekali tarik Siang Cin singkirkan tawanannva.
"Siiuut", golok sabrt menyamber lewat dan "crat"
Bangku panjang di sebelah tertabas kutung menjadi dua, dengan mata membara Lo Ce putar badan serta mengayun golok pula, lekas Siang Cin mencegah.
"Berhenti dulu, Lo-heng ...."
Lekas Loh Bong-bu angkat tangan mencegah Lo Ce, Katanya kemudian.
"Sahabat baik, mulutmu ternyata berbisa juga. Baiklah Cap kau hwi ce Loh Bong-bu ingin menyaksikan sendiri kawanan anjing Hek-jiu-tong dapat berbuat apa terhadapku?"
Siang Cin mengertak gigi, jari2nya yang mencengkeram kuduk orang semakin mengencang.
"Sahabat, kalau kau tidak ingin disiksa, maka bicaralah, masih ada berapa banyak kaki-tangan Hek-jiu-tong di sekitar sini? Di mana mereka sembunyi? Siapa pula yang jadi pemimpin? Dengan cara licik apa pula kalian hendak mencelakai kami? Bagaimana gerakan orang2 Hek-jiu-tong akhir2 ini?"
Orang itu malah memejamkan mata, dengus napasnya berat, dadanya turun-naik, mukanya kotor berlumurah darah yang mulai mengering, jelas sekuatnya dia menahan derita, sepatah katapun dia tidak jawab pertanyaan Siang Cin.
Loh Bong-hu berseru gusar.
"Siang-heng, ganyang saja dia."
Berpikir sejenak Siang Cin berkata.
"Sahabat, akan kuberi waktu selama satu sulutan dupa, bila kau menjawab beberapa pertanyaanku tadi, segera kau boleh meninggalkan tempat ini."
"Cuh,"
Tiba2 orang itu menghamburkan darah di mulutnya, katanya sambil tertawa.
"Kau ....ingin aku menjual Hek-jiu-tong? Haha jangan menilai! Kau ingin aku menjawab pertanyaanmu, anak muda, boleh kau tunggu bila mentari terbit dari barat ...."
"Ciiiiaaaat" -"Bluk", mendadak telapak tangan Loh Bong-bu mendarat di dada orang itu, terdengar suara tulang retak dan patah, orang itu meraung se-keras2nya, gumpalan darah tertumpah dari mulutnya, darah yang tercampur gumpalan2 merah, karena dada terpukul keras sehingga isi dadanya remuk dan ikut tersembur keluar. 125 Siang Cin menghela napas, sekali dorong "Byuuuarr", mayat orang itupun terlempar keluar jendela dan tercebur ke dalam sungai. Kun Sim-ti menunduk kepala dan menutup mukanya dengan kedua tangannya di meja sana, pundaknya tampak ber-goyang2, dulu dia tidak tahu apa yang dinamakan kejam, apa yang dinamakan dendam kesumat, sekarang dia dapat meresapinya. Bahwa derita yang menimpa manusia bukan cuma pukulan batin melulu, derita yang nyata di depan mata sekarang juga cukup mengerikan dan amat menyedihkan pula, kiranya demikianlah kehidupan insan persilatan yang kecimpung di Bu lim. Tanpa bersuara Siang Cin mengawisi jari2nya yang masih membengkak hijau ke-biru2an, pelan2 dia menggeleng kepala serta berkata.
"Hek-jiu-tong dapat menggembleng anak buahnya sehebat ini, memang bukan kerja yang gampang. Yang kusangsikan sekarang apakah setiap anggota Hek-jiu-tong juga keras kepala dan tak takut mati seperti kedua orang ini?"
Loh Bong-bu berkata sinis;
"Siang heng. Cayhe sudah bentrok beberapa kali dengan orang2 Hek-jiu-tong, aku harus mengakui bahwa mereka memang punya keberanian yang luar biasa, tapi tidak semuanya demikian."
Bercahaya sorot mata Siang Cin, katanya.
"Kalau demikian, Loh cuncu, boleh kita tandangi Hek jiu-tong secara besar2an, cuma untuk itu, mungkin harus mengalami banyak kesukaran."
"Cayhe mengerti,"
Ucap Loh Bong-bu baru tapi penuh semangat.
"kami harus bertempur dengan segala kekuatan, kamipun mohon supaya Siang heng suka membantu."
Tertawa tawar Siang Cin berkata.
"Kalau Cayhe sudah berjanji, pasti akan kutepati sampai titik darah terakhir."
Terhibur hati Loh Bong-bu, lekas dia menjura, sementara seorang tampak berlari masuk, sekujur badannya berlepotan lumpur, basah kuyup oleh keringat dan air kotor, langsung dia memburu kearah Loh Bong bu serta berteriak.
"Loh cuncu, mata2 Hek-jiu-tong telah menyelundup ke restoran ini, dua koki dan dan pelayan restoran mereka gantung di belakang, waktu Tecu beramai menolongnya turun, kami sempat lihat beberapa orang berlari menyusuri tepi sungai ke arah barat, Te toa-suheng membawa beberapa orang telah mengejar ke sana, dengan susah payah akhirnya musuh dapat disusul dan terjadilah baku hantam sengit, baru beberapa gebrak mereka ngacir pula, Toa-suheng suruh Tecu pulang memberi laporan ....."
Loh Bong bu mendengus, tanyanya.
"Mereka juga perkenalkan diri sebagai anggota Hek-jiu-tong?"
Dengan napas tersengal2 murid Bu-siang-pay itu mengangguk.
"Ya, peminpinnya seorang yang tidak punya hidung .... perawakannya gemuk ... ."
Tiba-Siang Cin menepuk paha, sikapnya tampak gelisah dan gugup, katanya.
"Celaka, Loh cuncu, lekas kita susul mereka, kalau terlambat mungkin bisa celaka semuanya."
Sikap Siang Cin yang gugup membuat Loh Bong bu tegang juga, katanya dengan nada curiga.
"Siang heng, apa yang tidak beres?"
Sembari melangkah keluar Siang Cin memberi tanda, katanya ter-gesa2.
"Tinggalkan beberapa orang tunggu di sini, Loh heng, sisanya yang lain lekas ikut kita, laki2 gemuk tak berhidung yang di terangkan saudara ini adalah salah satu pentolan Hek jiu tong, yaitu Ang bin-cu (hidung malam) Kau Hui-hui, orang kelima dari Hek jiu-tong.""
"Kau hui hui?"
Loh Bong-bu mengulang nama yang aneh ini, mendadak dia berpaling, serunya.
"Lo Ce kau pimpin dua puluh Tecu bertugas jaga di sini, sisanya ikut 126 aku mengejar musuh."
Ceng yap-cu Lo Ce mengiakan, bayangan orang bergerak, derap orangpun beranjak keluar, di bawah pimpinan Siang Cin dan Loh Bong bu, dengan cepat sebarisan orang berlari menuju kebelakang.
Di ujung serambi adalah dapur dan gudang rangsum, di belakang dapur ada undakan batu yang menjurus turun ke tepi sungai, dimusim rontok air sungai tak pernah pasang maka pesisir membentang panjang dengan pasirnya yang menghitam legam, tapak kaki tampak acak2an di atas pasir menjurus ke arah barat.
Siang Cin membetulkan pakaiannya yang koyak, sakali narik napas, segera ia melayang ke depan secepat terbang.
"Ginkang yang hebat!"
Loh Bong-bu berseru memuji, sambil memberi tanda, bagai anak panah melesat iapun menyusul dibelakang Siang Cin, sekejap saja kedua orang ini sudah melayang jauh ke depan, anak buahnya jauh ketinggalan di belakang.
Pesisir sungai ini berbelak-belok, ada kalanya teraling oleh batu karang yang menjurus ke tengah sungai, tapak kaki masih tampak acak2an ke arah depan, sejauh mata memandang bayangan Te Yau dan lain2 belum lagi kelihatan.
Siang Cin berlari kencang berdampingan dengan Loh Bong-bu mulai menampilkan rasa gelisah, diam2 ia seka keringat yang membasahi hidung, katanya gemas.
"Te Yau keparat itu memang sembrono terlalu serakah mengejar pahala dan suka menang sendiri, kalau sekali ini dia terjungkal, coba nanti kalau aku tidak membeset kulitnya ..... ."
Sambil melompati gundukan pasir Siang Cin berkata.
"Anak muda semuanya demikian, tapi dengan bekal kepandaian Te-heng, untuk bisa merobohkan dia musuh harus memeras keringat dalam waktu yang cukup lama juga, untuk ini Loh-heng tidak perlu kuatir."
Mendadak Loh Bong-bu berteriak kaget, tarnpak di atas pasir di depan sana tiga orang seragam putih menggeletak di pinggir sungai, muka mereka terbenam dalam pasir, sekujur badan berlepotan darah, air sungai membasahi tubuh mereka, air sungai berubah merah, jiwa mereka terang sudah melayang.
Dengan kencang Siang Cin tarik tangan orang serta menyeretnya lari ke depan tanpa memeriksa ketiga orang itu, gigi Loh Bong-bu gemeretak menahan gejolak hatinya.
Tanpa berhenti Siang Cin terus seret orang berlari, sikapnya tenang2 seperti tak pernah terjadi apa2, katanya.
"Sudah kulihat, Loh-heng, yang perlu dipikirkan sekarang ialah cara bagaimana menagih dan mencari imbalan untuk dendam sakit hati ini."
Menggigit kencang bibirnya, Loh Bong-bu tidak bersuara, mereka berdua harus mengitari sebuah batu karang besar yang menongol di depan, di balik sana kiranya adalah rawa dengan rumput gelagah yang tumbuh subur dan membentang luas sepanjang sungai.
Sekilas memandang.
"Nah, itulah,"
Serta merta Siang Cin berseru lirih, berbareng ia melayang ke sana, kiranya di tengah semak2 rumput sana beberapa bayangan orang tengah saling tubruk dan bertempur dengan sengit.
Tampak seorang murid Bu siang-pay yang bergelang emas di kepalanya tengah meronta2 roboh ke dalam air, dadanya berlubang dan berdarah, menyusul seorang laki2 berpakaian abu2 juga melolong roboh dan kelejetan di tengah semak2, sebilah golok sabit menembus perutnya, isi perutnya ikut kedodoran keluar.
Siang Cin melompat maju di tengah udara sebelah kakinya sempat menendang jatuh seorang laki2 kurus berbaju hitam.
Masih ada tiga murid Bu-siang-pay yang bertempur sengit melawan lima orang anak buah Hek-jiu-tong yang berpakaian 127 warna-warni.
Sekilas pandang Siang Cin lantas melihat Poan-hou-jiu Te Yau, dengan ilmu pukulan kebanggaannya Te Yau tengah bertempur mati2an melawan seorang laki2 berpinggang besar, muka penuh daging menonjol dan berperawakan tinggi, sepasang mata laki2 itu melotot beringas, sikapnya sadis, yang lebih mengerikan lagi ialah laki2 besar ini ternyata tidak punya hidung.
Dari depan mukanya kelihatan rata, kedua lubang hidungnya tampak buruk dan menjijikkan.
Laki2 gemuk ini ternyata memiliki kepandaian yang ganas dan keji, iapun main dengan kepalan tangan, setiap gerak tangannya membawa deru kekuatan yang dahsyat, tipu serangannya juga aneh dan banyak perubahan, rumput berterbangan, air muncrat ke sana-sini, Poan-hou-jiu Te Yau sudah terdesak, jelas kelihatan Poan-hou-jiu Te Yau sudah kewalahan dan tak mampu melawan lebih lama lagi, meski sekuat tenaga dia tetap berjuang dengan gigih.
Bagai burung raksasa Siang Cin langsung menubruk ke arah laki2 tidak berhidung itu, dengan jurus Gwat-bong-ing tangan bergerak maju tapi sebat sekali lantas ditarik balik pula, cepat laki2 gemuk itu berputar.
"bret", tahu2 juga biru yang dipakainya sobek tepat di depan dadanya, Tidak kepalang kejut si gemuk, cepat ia melompat mundur, ia menatap tajam ke arah Siang Cin. Siang Cin berdiri di tengah lumpur, sapanya sambil unjuk senyum.
"Kau Hui-hui, selamat bertemu."
Daging yang benjal benjol di selebar muka Kau Hui-hui ber-gerak2, dengan gusar dia tatap Siang Cin sekian lamanya, katanya dengan suara serak pecah seperti gembreng.
"Kau, siapa kau?"
Poan hou jiu sempat ganti napas, dengan serak dia memaki.
"Kau Hui-hui, dia inilah raja akhirat yang akan mengantar nyawamu ke neraka."
Dengan rasa hina dan mengejek Kau Hui-hui berludah, jengeknya.
"Katakan, siapa kau?"
Mendadak sesosok bayangan berkelebat di udara, seringan daun jatuh Loh Bong bu telah melayang turun, dia mengawasi Te Yau sebentar, tanyanya kereng.
"Terluka tidak?"
Paras muka Te Yau, dia betulkan letak tutup matanya, sahutnya dengan tergagap.
"Tidak, tidak apa2 ...."
"Tunggu apa lagi kau di sini, lekas bantu para saudaramu berantas kawanan binatang tangan hitam itu!"
Demikian seru Loh Bong-bu gusar.
Te Yau mengiakan dan cepat lompat ke sana.
Kau Hui hui melotot, dia maju setapak ke depan, Siang Cinpun tersenyum, dia juga maju setapak lebih dekat.
Otot hijau yang merongkol di jidat Kau Hui-hui bergerak2, mukanya yang tak berhidung tampak menjijikan, ia melotot beringas ke arah Siang Cin dan berkata lantang.
"Orang yang berani merintangi sepak terjang Kau Hui hui pasti seorang yang punya asal-usul, anak muda, sebutkan namamu?"
Sorot mata Siang Cin menatap luka jari2nya yang telah mulai mengering, katanya tawar.
"Naga Kuning Siang Cin dari angkatan muda memberi salam hormat kepada Cianpwe Kau-longo."
Mata Kiau Hui hui mendelik lebih lebar, lama dia mengawasi Siang Cin kataaya kemudian"
"Orang she Siang, gerangan apa yang menimbulkan hasratmu main2 dengan orang Hek jiu-tong, apakah sudah kau pikirkan apa akibat dari campur tanganmu ini?"
Alis terangkat, Siang Cin berkata tenang.
"Sudah tentu, paling2 jiwa melayang."
Merandek sebentar, lalu disambungnya dengan tertawa.
"Tapi, jiwaku ini harus diimbali, beberapa jiwa kalian, malah bukan mustahil, hm, kau sendiri harus ikut serta ke alam baka." 128 Gigi Kau Hui-hui gemeratak, pada saat itu sebuah jeritan, berkumandang dari sebelah sana, tapi dia seperti tidak mendengar, katanya pula.
"Siang-Cin,, kau akan menyesal ...."
Siang Cin, menjawab.
""Entah sudah berapa tahun dan betapa banyak urusan telah kubereskan, tapi selamanya Naga Kuning tidak pernah menyesal."
"Hayolah, Kau Hui-hui"
Loh Bong-bu meraung tidak sabar.
"Biarlah cuncu dari Bu Siang-pay menghadapimu."
Sekilas ia melirik Loh Bung bu, Kiau Hui-hui berkata sinis.
"Orang she Loh, tak perlu kau menampilkan diri, sudah lama Kiau longo tahu siapa kau keparat ini."
Ditengah gelak tawanya mendadak Loh Bong bu menubruk maju secepat kilat, sekaligus dia lontarkan sepuluh pukulan dan tujuh belas kali tendangan.
"Ciiiaat"
Kau Hui hui menggembor keras, badannya yang besar tangkas luar biasa berkelit ke samping, sementara kedua telapak tangannya dengan gencar membelah dan menabas, Serangan balasan ini membawa damparan angin angin kencang, ekuatannya mampu membelah batu mematah pilar.
Di tengah muncratnya air dan daun yang melayang, golok sabit Loh Bong-bu menyambar kian kemari, terjadilah pertempuran sengit dengan Kau Hui hui yang melawan dengan bertangan kosong.
Dengan tawar Siang Cin berkata.
"Kau Hui-hui, ilmu pukulanmu nyata memang lumayan, tapi kurang cepat, ingatlah pertempuran jago kosen mengutamakan ketangkasan, terpaut sedetik saja akibatnya jiwapun bisa melayang."
Golok Loh Bong-bu bergerak semakin gencar, lincah dan mantap, dengan tangkas Kau Hui-hui berkisar ke samping, kedua telapak tangan berputar cepat menimbulkan gejolak angin keras, jengeknya dingin.
"Orang she Siang, kau boleh terjun sekalian, Kau-longo tidak akan mundur karenanya."
Dengan memicingkan mata Siang Cin saksikan kedua orang saling serang lagi puluhan jurus, katanya kemudian.
"Jangan gelisah saudara, mungkin nanti kau masih punya kesempatan."
Darah tampak berhambur dari belakang semak2 sana, seorang laki2 berpakaian warna hitam dengan sulaman benang putih sebagai hiasan tampak terhuyung beberapa langkah, mungkin telah kehabisan tenaga, pelan2 dia tersungkor roboh ke dalam air, di kuduknya tampak merekah besar sebuah luka tabasan golok yang mengerikan, darah masih menyembur deras, jiwa anak buah Hek jiu-tong ini jelas akan menyusul teman2nya yang telah mangkat lebih dulu.
Kau Hui hui sedikitpun tidak terpengaruh, seperti tidak mendengar dan melihat, dia tetap bergerak lincah menempur Loh Bong bu dengan sengit, bayangan mereka berlompatan naik turun di antara semak2 gelagah, sekejap saja mereka telah bertempur tiga puluhan jurus.
Dinilai secara menyeluruh, Loh Bong-bu adalah orang pertama dari Hiat ji-bun di Bu-siang-pay, dalam Bu-siang-pay tingkat kepandaiannya termasuk kelas wahid, kaum persilatan di utara bila menyinggung nama Cap-kau-hwi-ce (sembilan belas bintang terbang) pasti akan mengacungkan jempol dan memuji "bagus", Si-bun-cap-sa-sek, ilmu goloknya dikombinasikan dengan tiga belas biji senjata rahasia bintang terbang segi enam yang dibuat dari baja asli, entah telah merobohkan berapa banyak tokoh2 persilatan.
Tapi kini menghadapi Kau Hui hui dia harus menguras tenaga, walaupun lambat-laun sudah menempatkan dirinya di atas angin.
Jauh di luar semak2 sana terdengar derap langkah orang banyak berlari datang dengan cahaya kemilau senjata tajam, dua puluhan murid Bu-siang-pay baru sekarang menyusul tiba, dengan golok sabit mereka membabat rumput dan membuka jalan maju ke-semak2 cepat sekali sisa2 orang2 Hek-jiu-tong yang masih hidup telah terkepung oleh mereka.
129 Tiba2 Kau Hui-hui bergontai ke kanan kiri, ketika golok lawan menyambar lewat, berbareng ia pun menghantam sambil bersuara keras memberi aba2.
"Anak2 tangan hitam, lekas lari"
Empat anak buah Hek-jiu-tong bagai memperoleh pengampunan serentak mengembor sambil angkat langkah seribu ke arah semak2 yang lebih lebat.
Golok sabit Poan-hou-jiu Te Yau sempat membacok tempat kosong, teriaknya bengis.
"Setengah lingkar, cepat!"
Beberapa murid Bu-siang-pay yang tengah mengudak serentak berhenti, cepat mereka menyingkir kedua samping mengambil posisi setengah lingkaran, Te Yau diam sejenak mengawasi keempat orang Hek-jiu-tong yang lari seperti dikejar setan itu, mendadak ia memekik panjang, tumbak bersula di tangannya tiba2 meluncur bagai lembing memecah udara, dua puluhan murid Bu-siang-pay serentak juga menimpukkan tumbak masing2, keempat orang Hek-jiu-tong yang sedang lari itu satu persatu melolong terus roboh berkelejetan kesakitan di tengah semak, entah kepala, punggung, kaki tangan keempat orang itu sama tertusuk tumbak bersula, sebelum ajal mereka tetap berusaha melarikan diri, namun rasa sakit tak tertahan lagi darah mereka mewarnai air yang sudah keruh ini.
Di bawah rangsakan golok sabit Loh Bong-bu, Kau Hui-hui terus bertahan dengan serangan balasan yang gencar, dia tahu kematian seluruh anak buahnya, tapi tampangnya yang kelihatan beringas sadis itu sedikitpun tidak menampilkan rasa murka dan dendam, gerak-geriknya tetap tangkas, meski air merendam sebatas lutut, mereka terus mengembangkan kegesitan masing2 dan saling labrak dengan sengit kembali tiga puluh jurus telah berselang.
"Kau Hui-hui,"
Siang Cin berseloroh dengan menggosok telapak tangan.
"apa kau tidak ingin menyelamatkan jiwa?"
Mendadak Kau Hui-hui melancarkan pukulan dahsyat Siang jong-ciang dikala Loh Bong-bu melompat berkelit, dia berkata dengan menyeringai.
"Siang Cin, kalau Kau-longo ingin pergi, kalianpun tak kuasa merintangi."
"Sudah tentu,"
Siang Cin mengedip mata.
"tapi kau boleh coba."
Cap-kau-hwi-ce Loh Bong-bu menghardik lantang, golok sabit membabat ke kanan-kiri lalu membacok naik-turun, begitu gencar dan ganas rangsakannya, hawa di sekitar gelanggang seperti berpusar menimbulkan angin lesus, denging suara yang timbul dari sambaran goloknya laksana tangisan setan.
Inilah jurus ilmu golok Tan-hun-liok-hoan ( enam gelang mega mendung ) dari Liong-hun-cap-sa-sek yang lihay.
Dengan gelak tertawa Kau Hui-hui melompat naik turun, serunya.
"Loh Bong-bu, beginilah baru memenuhi seleraku."
Mendadak golok menusuk lurus kedepan, pada hal bagian atas tubuh Loh Bong-bu doyong ke belakang, namun dalam gerakan singkat itu, entah bagaimana tahu2 tiga benda sebesar kepalan tangan, yaitu bintang segi enam kemilau biru laksana kilat melesat mengincar leher perut dan selangkang Kau Hui hui, baru saja ketiga bintang terbang ini berkelebat di udara, kembali ia menimpuk lagi tiga bintang terbang dan mengincar kanan kiri kepala musuh.
"Heit,"
Tiba2 Kau Hui-hui melompat ke atas, badannya yang besar bagai gentong air itu melayang ke samping, kedua tangannya berbareng memukul, di tengah samberan bintang2 yang lebat, dengan golok sabit tergigit di mulut Loh Bong-bu ayun tangan ber-ulang2, tiga belas biji bintang terbang memancarkan cahaya biru berhamburan seperti hujan.
Kau Hui-hui yang terapung di udara tampak bergetar sekali, tiba2 dia menggeliat, bagai anak panah terlepas dari busurnya tubuhnya melenting beberapa tombak jauhnya.
130 Siang Cin menyeringai, serunya.
"Kau-longo, kau takkan bisa lolos."
Di tengah kumandang suaranya, Siang Cin terus menubruk ke arah Kau Hui hui.
Kau Hui-hui masih berusaha menahan tubuhnya di udara, sekilas tampak mukanya telah berubah pucat menghijau, kedua matanya melotot berdarah ke arah Siang Cin.
sekali menyendal lengan kanan, seutas sabuk sutera tiba2 melecut kencang ke depan, sabuk ini ternyata berisi terbagi beberapa ruas yang diikat kencang, laksana ular hendak membelit tubuh Siang Cin.
Siang Cin tertawa ejek, telapak tangannya berkelebat dengan kecepatan tinggi, berbareng dia miringkan tubuh ke kanan.
Sabuk itu tiba2 berbunyi bagai ledakan, kabut putih seketika berhamburan di udara, begitu dihembus angin seketika melebar bagai kabut tebal tapi bersamaan dengan itu terdengar pula rintihan tertahan, meski lirih masihi sempat didengar Siang Cin, lekas dia menahan napas serta berteriak.
"lekas menyingkir."
Dengan bergerak melawan arah angin Siang Cin melambung setingginya, dari tempat ketinggian ia menyapu pandang sekelilingnya, orang Bu-siang pay di bawah tampak lari pontang panting menyingkirkan diri, semua menutup mulut dan hidung sementara Loh Bong-bu berusaha mengitari kabut dan mengudak musuh.
Di tengah udara Siang Cin mendatarkan tubuh dan berputar lambat2 dengan kedua tangan terpentang, sementara kedua kaki memancal, tubuhnya yang kurus seketika meluncur bagai anak panah, matanya tidak lepas mengawasi keadaan semak2 sekitarnya, tapi setelah bubuk kapur putih sirna tertiup angin, kecuali rumput yang bergontai tertiup angin, mana lagi ada jejak musuh.
Dengan ringan Siang Cin melayang turun, berdiri diam dan pasang kuping mendengarkan dengan seksama, arus sungai di kejauhan terdengar gemercik, suasana sunyi senyap, entah di mana si hidung merah menyembunyikan diri.
Terlihat Loh Bong-bu lari mendatangi, katanya dengan napas memburu.
"Siang-heng, kau melihat dia? Siang Cin menggeleng, katanya.
"Mungkin melarikan diri dengan menyelam kalau Kau Hui hui tidak jaga gengsi, tentu dia sudah selulup dan berenang ke tengah sungai"
Loh Bong-bu mengawasi air keruh dan berbau busuk, kalau harus lari dengan menyelam di air seperti ini, wah, cukup nekat juga dia ...."
"Demi menyelamatkan jiwa sudah tentu Kau Hui-hui tidak peduli air kotor atau berbau,"
Ucap Siang Cin tertawa.
"Hahaha,"
Loh Bong bu bergelak tertawa, katanya.
"Siang heng, menurut pandanganku keparat tak berhidung itu agaknya terluka."
Siang Cin manggut2, katanya.
"Betul, dia terkena tiga biji bintang terbangmu. Loh-heng, kepandaian menimpuk senjata rahasia yang kau yakinkan sungguh hebat dan dapat dikatakan sebagai ahli."
Lekas Loh Bong-bu goyang tangan, katanya.
"Mana, permainan begini mana dapat disebut sebagai ahli? Dihadapan Siang-heng mana berani kuterima pujian yang berlebihan."
"Loh-heng jangan merendahkan diri sendiri, sekarang silakan Loh-heng menoleh ke belakang ....... Dengan ragu2 Loh Bong bu menoleh, seketika berubah air mukanya. Ternyata tempat pertempuran di mana tadi Kau Hui-hui menebar bubuk kapur putih, tetumbuhan rumput telah layu menguning, permukaan air yang keruh itu dilapisi kapur putih yang ikut terombang-ambing oleh riak air, di antara kapur putih yang terapung itu tampak bangkai ikan dan udang. Hanya sekejap saja kadar racan bubuk putih itu telah memperlihatkan kekuatannya yang ganas.
"Keji amat ...."
Loh Bong-bu mendesis dengan mengertak gigi. 131 Siang Cin menepuk pundaknya, katanya.
"Tak usah marah, Loh-heng, beginilah permusuhan dan pertempuran, sesungguhnya apa yang kita lakukan tadi juga tidak kalah ganas daripada musuh."
Menyarungkan golok sabitnya Loh Bong-bu berkata.
"Tapi kan harui ada batasnya, kekejaman orang2 Hek-jiu-tong boleh dikatakan sudah melampaui takaran."
Siang Cin tak bersuara lagi, di sana Poan hou-jiu tengah ber teriak2 dan lari datang.
"Cuncu, kami harus pulang atau terus mengudak musuh?"
Loh Bong-bu mendelik ke arah anak murid Bu siang-pay yang masih berdiri menjublek, semprotnya dongkol.
"Nasib kalian lebih mujur, hayo lekas urus saudara2 yang gugur, kenapa melamun..."
Te Yau membungkuk sambil mengiakan, ia memberi gerakan tangan dan memimpin anak buahnya mengundurkan diri. Mengawasi mereka pergi, Loh Bong-bu menghela napas, katanya.
"Lima orang kembali gugur dalam pertempuran ini ....Ai, mereka adalah anak2 pilihan dari padang rumput..."
Pelahan Siang Cin beranjak ketepi, katanya.
"Mati atau hidup soal biasa, Loh-heng, sudah kodrat alam, siapapun takkan terhindar. Cuma ada perbedaan dalam cara saja bagi masing2 orang, tapi akhir dari segala yang berbeda inipun sama juga ......."
Sepanjang jalan kedua orang terus berbincang hingga memasuki restoran, tiga jenazah murid Bu siang pay sudah dibawa pulang, waktu mereka menaiki undakan restoran, Ceng-yap-cu Lo Ce memapak maju, katanya serak dengan menahan suara.
"Lapor Cuncu, tadi kedatangan petugas hukum dari pejabat setempat, maka menurut hemat Tecu lebih baik kita lekas berangkat, dengan obat khusus bikinan kita Yong-ki-hoe-kut-san (puyer pelebur tulang) Te-suheng telah mencairkan ketiga jenazah saudara . kita yang gugur tadi ... ."
"Sudah dimasukkan dalam kaleng belum?"
Tanya Loh Bong-bu.
"Sudah disimpan baik2,"
Sahut Ceng-yap-cu dengan suara tersendat.
Loh Bong-bu mengangguk lalu ajak Siang Cin masuk ke dalam, Gui-poancu yang bertubuh gerrbrot dengan koki dan pelayannya sama duduk di kursi pojok sana dengan melamun.
Loh Bong-bu mendekatinya, begitu melihat wajah Loh Bong-bu yang kereng, seketika gemetar si gendut, katanya dengan suara gemetar.
"Loh-ya ....engkau orang tua ..sukalah ....memberi ampun ...."
Loh Bong-bu memapahnya bangun, katanya ramah.
"Tak usah takut, Lo Gui, peristiwa ini bukan salahmu, aku tahu kau diancam mereka, kalau aku sendiri juga terpaksa berbuat demikian"
"Apa ....apa benar bukan salah hamba?"
Si gendut masih gemetar.
"Loh-ya, hamba memang diancam. Dia ....mengancam leherku dengan belati... pelayan dan koki juga mereka belenggu dan digantung....lalu menuang bubuk merah ke dalam hidangan ....hamba tahu pasti musuh tuan menaruh racun dalam makanan, tapi ....ai, hamba memang pantas mampus, hamba tidak berani buka mulut, belati yang tajam kemilau itu terasa seperti masih mengancam tenggorokan.... kedua orang itu bilang, kalau hamba berani membocorkan rahasia ini, akan ....akan disembelih.
"Sekarang kau tidak usah takut lagi,"
Ucap Loh Bong-bu tertawa.
"orang2 itu sebagian besar sudah tak bisa melihat matahari lagi. Nah, Lo Gui, sediakan pula hidangan yang tiada racunnya."
Gui-poancu mengiakan, dua pelayannya segera memapahnya berdiri, koki diperintah menyiapkan hidangan baru, sambil menunggu masakan Loh Bung-bu berkata kepada 132 Ceng-yap-cu.
"Tadi apakah sudah kau bereskan kedua mayat orang Hek-jiu-tong?"
Kata -Lo Ce dengan tersenyum.
"Sudah tentu, untuk mayat kedua orang itu telah menghabiskan setengah botol obat bubuk milikku."
Tak lama kemudian tampak Gui-poancu muncul dengan penuh keringat membawa daging panggang, ayam panggang, ikan goreng dan lain2 yang dijinjing kedua pelayannya di atas baki besar, si gendut juga menenteng keranjang yang berisi bakpao yang masih mengepul hangat, setelah menaruh hidangan di atas meja, si gendut berkata dan mohon maaf.
"Loh-ya, inilah sisa yang semula siap untuk jualan besok, persediaan tidak lengkap, silakan tuan2 makan seadanya, mumpung masih panas, kalau sudah dingin rasanya tidak enak ........"
Lalu dia comot sebuah bakpau terus digerogoti lebih dulu, setelah menelan beberapa kerat bakpao, dengan tertawa dia berkata pula.
"Rasanya cukup enak, tidak beracun ......Mengawasi si gendut Loh Bong-bu tertawa, katanya.
"Lo Gui, kau memang pedagang yang cerdik, hatimupun baik."
Sambil melirik Ceng-yap-cu Lo Ce, Loh Bong-bu menambahkan.
"Lo Ce, suruh saudara2 kita lekas tangsal perut, selekasnva kita harus berangkat."
Lo Ce mengiakan, dengan teratur anak murid Bu-siang-pay mulai sibuk makan dan minum sekenyangnya, saat mana tampak Te Yau bersama beberapa murid Busiang-pay yang kelihatan kehabisan tenaga beranjak masuk, badan masih berlepotan darah dan lumpur, tampak lesu dan berduka cita, langsung mereka mendekati meja mengambil makanan masing2 dan dimakan tanpa bicara.
Semula Loh Bong-bu sudah siap mendamperat mereka, tapi melihat keadaan mereka terpaksa dia urungkan maksudnya, sementara itu dengan suara pelan Siang Cin ceritakan kejadian barusan kepada Pau Seh-hoa dan lain2, Pau Seh-hoa lantas berkomentar.
"Kelompok orang2 Hek-jiu-tong memang pengecut, kalau merasa kuat mereka melawan dengan gigih, kalau merasa kewalahan lantas ngacir, aku orang she Pau merasa sebal dan kesal bila lihat tampang mereka, kalau luka2ku sudah sembuh nanti, coba saja kalau tidak kucari mereka dan mengganyangnya habis2an."
Loh Bong-bu berduduk pula, katanya tertawa.
"Mengganyang orang2 Hek-jiu-tong berarti melatih tinjumu, baiklah engkau pasti akan memperoleh bagiannya."
Dalam sekejap hidangan sebanyak itu telah dimakan habis, si gendut dengan langkah cepat membawa keluar poci teh yang hangat serta mengisi cawan masing2, sebelum dia membalik, Loh Bong-bu telah menyuapkan sebuah kantong kulit kecil ke telapak tangannya, si gendut lantas tertawa berseri, sejenak jari2nya bergerak meraba dan memijat, dia lantas tahu bahwa isi kantong adalah lima belas bentuk uang emas murni.
Si gendut bergelak tertawa, katanya sambil munduk2.
"Ai, masa sebanyak ini, padahal pelayanan yang sederhana, tapi Loh-ya telah membayar seroyal ini, ai, memangnya ...."
Loh Bong-bu tertawa, katanya.
"Tak usah sungkan, terima saja, hari ini mungkin kau sudah dibikin ketakutan setengah mati."
Dengan tertawa lebar si gendut menjura terus mengundurkan diri, cepat sekali dia sudah keluar pula menyuguhkan teh ke meja2 lain, seorang diri dia telah menyuguhkan teh pada lima puluhan tamu-tamunya.
Kata Siang Cin setelah termenung.
"Setelah meninggalkan Ho-thau-toh, Loh heng, ke mana, pula tujuan selanjutnya?"
Kata Loh Bong-bu lirih.
"Memasuki daerah Hek-yang menyusuri sungai menuju ke hulu, tiba di Hu-than-san, pada sebuah kelenteng bobrok kita akan bergabung 133 dengan dua kelompok kawan kita, lalu langsung menyerbu ke sarang Hek-jiu-tong."
"Berapa luasnya Hu-thau-san?"
Tanya Siang Cin.
"Tidak begitu besar, luasnya sekitar tiga li, letak kelenteng bobrok itu di sebelah sayap kiri gunung di belakang hutan cemara, dulu dinamakan Lo kun san, sekarang keadaannya sudah tak terurus lagi, beberapa tahun yang lalu pernah aku lewat di sana."
Berpikir sejenak Siang Cin, berkata.
"Tiga puluh li setelah melewati Hu-yang-ho akan tiba Cap-ji-koay, pusat sarang Hek-jiu-tong, Cayhe belum pernah ke sana, tapi pernah kudengar bahwa tempat itu terkenal sangat berbahaya, pihak Hek-jiu-tong kini tentu sudah menambah kekuatan penjaganya, maka kita semua harus membuat suatu rencana penyerbuan yang betul2 baik dan sempurna."
Loh Bong-bu mengangguk, Kata Siang Cin lebih lanjut.
"Menggempur musuh ditempat yang jauh akan banyak makan tenaga kita sendiri dan akan banyak menimbulkan kerugian, maka menurut pendapat Cayhe, lebih baik gunakan akal menyelundup kesarang musuh untuk menimbulkan keributan di dalam sarang mereka, apalagi beberapa kawan Cayhe ini perlu perawatan baik disuatu tempat yang tenteram ....."
"Kongcu,"
Teriak Pau Seh hoa.
"jangan kau menggunakan cara yang bodoh ini, dapat bergerak tidak aku cukup tahu sendiri, memangnya perlu kau pikirkan tempat aman persembunyian diriku segala?"
"Hm,"
Jengek Siang Cin.
"jangan kau bertingkah, ini bukan tugas melancong menonton keramaian seminggu lagi akan kucoba kepandaianmu, kalau kondisimu sudah pulih, aku pasti takkan merintangi kau."
Sudah tentu Pau Seh-hoa menggerutu, dia terus menggeragot sebuah bakpau dan melalapnya dengan mendongkol.
Cepat sekali mereka sudah makan kenyang, di bawah aba2 Loh Bong-bu, barisanpun segera meninggalkan restoran, setiba di jalan raya luar kota, kuda mulai dilarikan, karena perut kenyang, orang dan kuda sama bersemangat tinggi, maklumlah, perjalanan ke depan lagi akan lebih sukar di tempuh.
--------------------------------Dengan cara bagaimana Siang Cin akan membantu pihak Bu-siang-pay mengobrakabrik Hek-jiu-tong ?
Rahasia apa di balik peristiwa permusuhan Hek-jiu-tong dan Bu-siang-pay yang menyangkut kisah cinta anak murid mereka itu ?
Bacalah
Jilid ke-8 -
Jilid 08 Hu-yang-bo mengalir dengan tenang di musim rontok yang hampir berakhir ini, suasana terasa sunyi, salju akan turun tak lama lagi.
Alam seakan kelabu, gunung gemunung tinggi menjulang ke angkasa dibalut kabut tebal.
Cap-kau hwi ce Loh Bong bu menghentikan kudanya, dia memeriksa sekitarnya, Huyang bo di sebelah kiri, sebelah kanan adalah hutan gundul, empat puluhan murid2 Bu siang pay dengan kuda mereka menyelinap ke dalam hutan, itulah sebuah jalanan yang tidak begitu lebar dan bercabang dua jurusan.
jalan sebelah kiri memanjang miring ke sebuah bukit batu yang curam, dilihat dari kejauhan tak ubahnya 134 seperti sebuah kampak raksasa.
Siang Cin bercokol di punggung kuda berwarna cokelat, setelah membersihkan kotoran di badannya, kini dia mengenakan jubah kuning kemilau, wajahnya yang masih pucat mulai bersemu merah, sinar matanya begitu terang dan cerah.
Sambil mengerut kening Loh Bong-bu berkata.
"Mengitari daerah hutan gundul sebelah kiri itu, perjalanan akan lebih dekat ke Hu thau-san. Lokun san terletak di tengah hutan di bawah gunung itu, Hu-than san mirip kepala orang yang botak, tapi beberapa pucuk pohon masih dapat tumbuh di situ .."
Siang Cin berkata tenang.
"Menyusur Hu-yang-ho dan tiba di Hu-than-san, jarak ke Cap-ji-koay kurang dari tiga puluh li, di sini sudah termasuk daerah yang sering turun hujan, bergerak di daerah seperti ini harus lebih hati2 dan waspada kedua kelompok Bu siang pay kalian yang lain tentunya sudah tiba di sana."
Loh Bong bu mengangguk sahutnya.
"Dua bulan yang lalu, hanya terpaut beberapa waktu saja kami meninggalkan padang rumput, kecuali tertunda sepuluhan untuk menempatkan kawan2 Siang-heng di tempat yang aman, selama ini perjalanan tidak pernah tertunda, kukira mereka pasti sudah tiba lebih dulu."
Siang Cin, mengawasi kedua tangannya yang kini telah mengenakan sarung tangan kulit menjangan, katanya kemudian.
"Mari, maju lebih lanjut, kalau tiada alangan apa2, pastilah bala bantuan kalian sudah tiba Ehm, setelah sepuluh hari merawat diri, kesehatanku terasa sudah pulih, bagi pihak Hek-jiu-tong tentu hal ini adalah kabar jelek"
Loh Bong bu bersiul sekali, kuda dikeprak ke depan, katanya sambil menoleh.
"Sudah tentu, terutama selama sepuluh hari ini Cayhe telah membuat sebuah peta, dengan susah payah membuat pula dua belas Toa liong kak, kalau orange Hek Jiu-tong tahu, pasti pecah nyali mereka."
Siang Cin juga larikan kudanya pelan2, Loh Bong-bu berkata pula.
"Siang-heng, mungkin kau tidak tahu betapa sukarnya membuat dua belas Toa-liong-kak sesuai dengan permintaanmu, tak boleh lebih panjang, atau lebih pendek meski satu mili, tidak boleh lebih tebal. juga tidak boleh lebih tipis, bagian yang tajam juga harus diasah, di tengah batangan harus diukir Naga, untuk membuatnya dengan baja murni sungguh sukar dicari, untung di Thay-goan-hu berhasil kukumpulkan sembilan pandai besi, lima hari lima malam mereka kubayar lipat untuk menyelesaikan permintaanmu, tapi sekali kau coba ternyata masih kau cela, bobotnya kurang berat, Wah, serba berabe ......."
Memandang jauh ke puncak Hu-than-san, kata Siang Cin.
"Untuk membikin Toa-liong-kak, caranya memang lain daripada yang lain dan tak pernah kubocorkan kepada siapapun, kalau bukan lantaran untuk menghadapi Hek jiu tong, sebetulnya Cayhe tidak ingin cepat2 rnembikinnva lagi, selama ber-tahun2 orang yang membikinkan Toa-liong-kak yang kuperlukan adalah seorang pandai besi tua yang dulu pernah menjadi kepala pandai besi di istana raja, hasil karyanya memang luar biasa, dan yang terpenting adalah pandai besi tua ini selamanya tutup mulut, tak pernah membocorkan rahasa pembuatan Toa-liong-kak."
Loh Bong-bu bertanya ragu2.
"Siang-heng, ada satu hal yang tersiar di kalangan Kangouw entah benar ........
"Soal apa, katakan saja,"
Sahut Sing Cin.
"Konon orang yang pernah ajal dibawah Toa liong-kak Siang-heng itu jumlahnya sudah mencapai lima ratus lebih, malah tidak sedikit di antaranya adalah jago2 ternama dari Bu-lim ......"
"Tidak sebanyak itu,"
Ucap Siang Cin.
"tapi kalau tiga ratusan mungkin ada ......."
Rombongan berkuda itu kini beranjak di tegalan berumput yang jarang dilalui manusia, kecuali suara berisik rumput yang terinjak, hanya suara embusan angin sepoi2.
Tidak lama kemudian, Hu-thau-san yang gundul tampak berdiri menjulang itu semakin dekat, ada beberapa pucuk pohon yang setengah hijau setengah 135 menguning daunnya kelrhatan tumbuh di celah2 batu di atas bunung, dipandang dari kejauhan, tanah pegunungan yang kelabu, penuh mirip sekali dengan warna tulang manusia yang mulai membusuk.
Siang Cin tak bersuara di punggung kudanya, wajahnya kaku, kuda yang berjalan naik turun menyebabkan badannya ikut bergontai, biji matanya nan bening memancarkan cahaya yang kemilau.."Apa yang kau pikirkan Siang-heng?"
Tanya Loh Bong-bu.
"Kun Cici,"
Sahut Siang Cin dengan blak2an.
"Kun cici?"
Loh Bong-bu melengak, tapi segera dia ketawa geli, katanya.
"Apakah nona pendiam karena luka terbakar itu.?"
Siang Cin mengangguk, sahutnya.
"Betul, memang dia."
Seperti biasa suka mengelus jenggotnya, Loh Bong-bu tertawa.
"Apakah kalian saling mencintai?"
Sekilas melirik, Siang Cin berkata pelahan.
"Ya, sudah sejak beberapa tahun yang lalu."
Tanya Loh Bong-bu dengan heran .
"Kalau demikian, kenapa kalian tidak menikah?"
Siang Cin mengebaskan lengan baju, katanya lirih.
"Loh-heng, cinta bukan suatu hal yang mudah untuk dilanjutkan menjadi suami isteri, masih banyak sebab dan aral rintangan, ada yang nyata, ada pula yang tak kelihatan ....."
Siang Cin menjilat bibir, lalu tanyanya.
"Dan kau Loh-heng, kau sudah menikah?"
Loh Bong-bu menghela napas, katanya.
"Terus terang, sudah sepuluh tahun aku berkeluarga, sudah punya dua anak, laki dan perempuan."
"Loh-heng, memang kau lebih beruntung,"
Ucap Siang Cin dengan tulus. Loh Bong-bu menghela napas, katanya.
"Ai, tapi itu merupakan beban yang tidak ringan, beban keluarga merupakan beban lahir batin, kalau tidak, sejak beberapa tahun lalu aku sudah mewarisi jabatan Lan-cian-tong Cuncu dari Bu-siang-pay kami."
"O."
Hanya sepatah ini keluar dari mulut Siang Cin, dia tidak bicara lagi, dia tahu apa tugas Lan-cian-tong dari Bu-siang-pay, yaitu tugas khusus mengurus keluar masuknya rangsum, hasil pertanian dan peternakan suku bangsa mereka di padang rumput nan luas itu.
Padang rumput adalah tanah warisan Bu-siang-pay turun temurun, sawah ladang berlaksa ha, ternak tidak terhitung banyaknya, setiap tahun pada waktu yang telah ditentukan mereka menjual hasil panen mereka keluar perbatasan, dibarter, dengan barang2 keperluan suku bangsa mereka se-hari2, itulah tugas khusus Lan-cian-tong.
Dalam Bu-siang-pay, Cuncu Lan-cian-tong amat terpandang dan kaya raya pula.
tapi kerjanya cukup berat, berbahaya lagi, setiap tahun lebih sering tugas keluar dan jarang kumpul dengan keluarga.
Barisan kuda mulai mengitari kaki bukit, di sini ada lereng, batu yang menjulur jauh ke sana laksana naga terbang menembus awan, di bawah batu2 raksasa.
yang bergelantung itulah letak kelenteng bobrok di kaki bukit, pohon2 beringin yang sudah tua dan besar berbaris di depan kelenteng.
Loh Bong bu menghentikan kudanya, dengan cermat dia awasi kelenteng bobrok itu dari kejauhan, sesaat kemudian baru dia berkata.
"Siang-heng, tiada tanda apa2 di kelenteng itu, mungkin kedua kelompok barisan bantuan kami belum tiba menurut waktu yang ditentukan?". Siang Cin memandang ke depan dengan tenang, katanya kalem.
"Tujuh hari menurut ketentuan sudah lewat, mereka seharusnya sudah tiba lebih dulu, betapa besar kekuatan gabungan dari kedua kelompok barisan itu, umpama kebentrok dengan pihak Hek jiu-tong juga, tak mudah kalah dalam waktu singkat, apalagi hal ini tak mungkin ...."
"Siang-heng, memang mungkin, tapi juga sukar,"
Hek-jiu-tong tak boleh main2 terhadap mereka, Thi-ji-bun dipimpin langsung oleh 136 Liat-hwe kim-lun Siang Kong ceng sebagai Cuncunya.
Demikian pula Wi-ji-bun dipimpin sang Cuncu Hwi-ih Kim Bok, Anak buah sang cuncu ada Tok-ciang, Thi tan dan Hek-oh cu, sementara anak buah Kim cuncu ada Ang oh, To-hu dan Lo-kian-tui, semuanya adalah jago2 kosen yang sukar dilayani, kalau Hek-jiu-tong ingin merobohkan mereka, ha, mungkin cuma mimpi di siang bolong ....
.."
"Ya, aku cuma kira2 saja,"
Ajar Siang Cin tertawa.
"Nama Bu-siang-pay betapa besarnya, sudah lama Cayhe mendengar"
Loh Bong-cu tertawa rikuh, katanya.
Baca Juga: Pedang Pusaka Naga Putih 1
Baca Juga: Jodoh Rajawali 9