Eps 2 Bara Naga - Yin Yong
Baca online Bara Naga - Yin Yong
Cersil Bara Naga - Yin Yong.
Baru sekarang kobaran api yang menyala itu menerjang masuk ke dalam kamar, di 45 tengah suara ledakan dan kobaran api yang menjilat apapun, karena itu seketikapun terjilat kobaran api, padahal lapisan batu marmar biasanya tidak mempan dijilat api kini telah berkobar dengan asap tebal warna hijau kebiruan.
Maklumlah semburan bahan peledak yang mengandung minyak dan pospor itu akan menyala dimanapun bila kena hawa, siapapun bila terciprat meski cuma sedikit saja, kecuali potong bagian yang keciprat itu, kalau tidak, seluruh badan orang akan terbakar hangus.
Ternyara tiga puluhan laki2 yang menyanding bumbung perak itu cukup tabah dan yakin akan senjata ganas mereka, melihat semprotan pertama tidak mengenai sasaran, cepat mereka keluarkan sebutir bahan peledak warna merah sebesar mangga segera terus dimasukkan ke dalam bumbung .....
Sementara itu Siang Cin telah kerjakan telapak tangannya, tiga puluh satu jurus, serentak dia gempur mundur lima jago kosen Siang-gi-pang, di mana matanya melirik, sekilas dia sudah menguasai situasi sekelilingnya., cahaya keemasan yang benderang melebar dengan deru suaranya yang mirip pekik setan memberondong ke berbagai penjuru.
Cahaya keemasan itu tampak berputar, kelihatan masih jauh, tapi tahu2 batok kepala sembilan orang sudah sama putus dan bergelinding ke tanah.
Maka gemerantang pula bumbung perak yang berjatuhan, ditambah jerit kaget dan ketakutan orang banyak, suasana menjadi kacau.
Sambil mencaci kalang kabut tampak Tan Sin menerjang maju, Kek-cu-kau (gaetan kalajengking) senjata andalannya segera menyerang dengan kalap.
Dengan cepat Siang Cin berkisar sejauh lima tombak, di kala badannya berputar laksana angin puyuh itu, puluhan orang berbaju abu2 kembali roboh tak bernyawa lagi, tiada seorangpun melihat cara bagaimana musuh menamatkan jiwa mereka.
Tiga bayangan orang menubruk tiba bersama dari tiga jurusan, tenaga pukulannya kuat dan mantap, ketiga orang ini adalah para Tongcu Siang-gi-pang, yakni Bing-gitong Tongcu It-pi-kan-san (satu tangan menyanggah gunung) Ih Giam, Jing-sim-tong Tongcu Siu li ciam (jarum dalam baju) Cui Hi dan Ting-long-tong Tongcu Ci Jan (si janggut ungu) Ban Pek-hou.
Siang Cin segera pasang kuda2, kaki berdiri kukuh tak bergeming, telapak tangan bergerak melingkar, damparan angin pukulan berpusar yang tidak kelihatan segera memapak ketiga Tongcu yang menubruk tiba itu.
Suara keras benturan telapak tangan segera memecah kesunyian, tampak ketiga Tongcu Siang-gi-pang itu sama mengerang kesakitan, ketiganya tergetar mundur dengan muka pucat dan meringis kesakitan.
Sam-bak-siu-su Tan Sin kembali menerkam laksana serigala kelaparan, mulutpun ber-kaok2.
"Cincang keparat ini, meski harus banjir darah, jangan biarkan dia pergi."
Ujung kaitan kalajengking kembali menyambar, dengan gaya serangan yang aneh ia menggantol leher Siang Cin, berbareng cambuk kulit ular juga sekaligus melecut ke kaki dengan suara yang menggeletar.
Siang Cin mengencangkan kempitannya pada perempuan tadi, bersamaan dengan gerakannya ini.
sekaligus dia melejit menyingkir dari rangsakan Tan Sin, berbareng sikutnya menyodok ke arah Gui lh, si penyerang dengan cambuk itu.
Gui Ih menjerit seraya melompat pergi sejauh mungkin dengan gugup, sungguh tak terbayang olehnya, entah dengan gerakan apa tahu2 lawan tiba di depannya dan menyerang dengan sikutnya.
Dikala dia melompat menyingkir inilah, Ting-long-tong Tongcu si jenggot ungu Ban Pek-hau menggerung, dia melejit maju, sepuluh kali pukulan telapak tangan dan sembilan kali tendangan dilontarkan ke punggung Siang Cin.
Se-konyong2 badan Siang Cin berguntai ke kiri-kanan, telapak tangannya bergerak membabat ke leher lawan, jurus babatan telapak tangan ini tampaknya sepele, tapi serangan ini justeru mengejutkan Ban Pek-hao, cepat dia mengelak ke belakang, tak urung baju di pundaknya terserempet sobek, sudah tentu tak terpikir oleh si jenggot ungu Ban Pek-hou bahwa Siang Cin telah batas menyerangnya dengan jurus Kui-sohun (setan merenggut nyawa), salah satu jurus ilmu pukulan kebanggaannya.
46 Ih Giam, si penyanggah gunung, bersenjata Siang-hoan-kim-to (golok emas bergelang), ia menerjang maju dari samping dengan bacokan golok, sementara kedua kakinya laksana kitiran berbareng menyapu, pada hal Siang Cin kembali lagi diserang rasa pusing, pandangannya tiba2 menjadi gelap, untung kupingnya masih dapat mendengar suara dan membedakan arah, cepat ia berkelit, menyusul jurus Kui-so hun dia lancarkan pula untuk menggempur mundur Sin li-ciam (jarum dalam baju) Cui Hi yang merunduk dari sehelah kiri.
Berkeringat codet di jidat Tan Sin, matanya mendelik, bagai harimau kelaparan dia putar sepasang gaetan dan merangsak dengan membabi buta, sementara empat Thocu Siang-gi pang yang masib segar kinipun terjun ke arena pertempuran membantu Tan Sin.
Rasa lelah dan pening Siang Cin terasa semakin berat dan membuat kondisi badannya semakin payah, Siang Cin tahu gelagat tidak menguntungkan, disadarinya bahwa dirinya telah terkena racun, tapi sungguh dia tidak habis mengerti, kapan dan di mana dia terkena racun ini?
Bayangan Siang Cin berlompatan kian kemari menghindari serangan dari berbagai arah, di tengah gerakan yang sebat itu terasa oleh Siang Cin adanya gangguan yang menghambat gerak-geriknya, terpaksa dia lontarkan pukulan dahsyat untuk kemudian melompat ke sana sejauhnya.
Sambil ber-kaok2 Tan Sin mendahului mengudak, makinya.
"Naga Kuning, beginikah sepak terjangmu selama kau tenar di dunia Kangouw?"
Siang Cin tidak tanggapi cemooh orang, dia jawab dengan gerakan tangan, tiga jalur cahaya keemasan yang melengkung seperti sabit tahu2 meluncur dari tanganya, Toa-liong-kak tahu2 menyambar, tanpa berpaling juga dia yakin akan senjata ampuhnya ini, di mana senjata rahasia ini menyambar tiba segera terdengar jeritan ngeri, sekali lepas jarang Toa-liong-kak tidak minum darah korbannya.
Sekuatnya dia kerahkan sisa hawa murninya, dikala tenaganya rnasih bekerja dengan normal seringan asap tertiup angin, cepat sekali ia melayang jauh kesana dan menghilang.
Beruntun beberapa kali naik turun dia berlompatan, akhirnya dia tiba di selat antara kedua puncak Ji-long-san, tapi keringat sebesar kacang telah membasahi mukanya, sekuatnya dia menahan napasnya supaya tidak menderu kencang, dia tahu sekali dia mengembus napas, tenaga yang tersisa akan buyar seketika.
Perempuan yang dikempitnya agaknya jatuh pingsan, lunglai tak bergerak, kaki tangannya terjulur, rambutnya terurai awut2an, kini bobot badan orang terasa berat sekali.
Tapi Siang Cin bertahan sekuat tenaga sambil mengayun langkahnya berlari lagi bagai terbang, tenggorokan sudah terasa kering dan getir, rasa panas merangsang dada pula, sekuatnya dia mengedip mata, karena pandangannya seakan2 berselaput, sehingga alam sekelilingnya kelihatan remang2.
Jarak lima puluhan li ini, se-akan2 tidak bisa tercapai lagi, begitu lama dan jauh sekali rasanya, gunung gemunung seperti sambung menyambung tak ter-putus2, kegelapan dan dingin dengan deru angin yang seram bagai pekik tangis setan penasaran.
Dengan tangan kirinya yang kosong ia seka keringat, terasa oleh Siang Cin bahwa jantungnya memukul keras, pakaiannya yang rangkap luar dalam sudah basah kuyup oleh keringat dan melengket di bajunya.
Dia telan air liurnya yang terasa getir, kakinya segera bertambah tenaga dan berlari sekencang mungkin, tapi kakinya kini seperti terborgol oleh rantai yang berat, kaku dan susah digerakkan.
Lama sekali akhirnya Siang Cin menghela napas lega karena dia sudah lewat Sukui-kok (lembah kenangan) dan tiba di deretan pohon Siong itu, rumah kayu yang mungil itupun sudah kelihatan.
Ya, cahaya lampu yang remang2 tampak menyorot keluar dari jendela, cahaya lampu tampak redup dan tenang, ingin rasanya Siang Cin lekas masuk ke rumah dan menjatuhkan diri di ranjang dan tidur nyenyak.
Kembali dia mengencangkan kepitan perempuan di bawah ketiaknya, dengan menyeret langkahnya yang berat Siang Cin terus lari.
Syukurlah akhirnya tiba di 47 depan rumah, setelah naik undakan dan akhirnya dia menggelendot di depan pintu sekian lama untuk menenangkan hati dan mengatur napas, kemudian ia mengetuk pintu dengan rada gemetar.
"Lo Pau buka pintu, aku sudah pulang ..."
Teriakannya tiba2 berhenti, tanpa didorong tanpa dibuka daun pintu trba2 terpentang, ruang tamu sunyi senyap tak terdengar apa2, tak tampak bayanganseorangpun, sementara meja kursi tetap berada di tempatnyaa seperti waktu dia pergi tadi.
Segera dia merasakan firasat jelek, tanpa pikir segera dia menerobos masuk, sekah tendang dia bikin pintu kamar sebelah kiri terpentang.
Kun Sim ti berada di kamar ini, tapi di mana sekarang nona ini"?
Kun Sim-ti tiada di ranjang seperti waktu dia tinggalkan, sementara itu kemul menggeletak di lantai.
Bagai disambar petir seketika lunglai sekujur badan Siang Cin, terasa rumah kecil ini seperti di guncangkan oleh gempa yang keras, perabot dalam rumah seperti bergunjing, selaput tebal menyelubung pandangan matanya, rasa lelah seketika merangsang otot tulangnya, perempuan yang dia kempit tak kuasa lagi dipegangnya, ia sempoyongan, dengan menggagap dia maju beberapa langkah seperti hendak berpegang pada sesuatu, ia gugup dan cemas, ia tahu dia pantang roboh, sekali2 tidak boleh ambruk .......
Di tengab remang2 pandangan dan kesadarannya itu pelahan2 tampak seraut wajah nan molek muncul di tengah kabut, seperti amat dikenalnya, raut wajah bulat kwaci ini.
Ya, dia kan Kiang Ling, tapi wajah Kiang Ling yang semula kelihatan manis dan selalu mengulum senyum malu2 itu kini kelihatan beringas, dingin kaku dan sadis, senyum manis yang selalu menghiasi bibirnya kini berganti tawa ejek dan hina.
Rasa lelah dan pushig tak tertahan lagi oleh Siang Cin, tapi kesadarannya masih tebal, tanpa kuasa dia menyurut mundur tiga langkah, tangannya berhasil menangkap pinggir ranjang, teriaknya dengan suara serak.
"Nona Kiang ..... mana mereka? Mana orang dalam kamar ini?"
Wajah jelita yang beringas itu tampak mendekat, tidak menjawab, hanya menatapnya tajam dingin sorot matanya menampilkan rasa dendam tak terperikan.
Sekuatnya Siang Cin menggeleng, teriaknya pula dengan serak.
"Mana mereka? Kawan2ku, Ciciku, di mana mereka? Katakan di mana mereka?"
Raut wajah itu menjadi kabur, seperti berada di tempat jauh, tapi kejap lain terasa seperti berada di depan matanya, hanya terpaut setabir kabut tipis saja, seperti sudah amat dikenalnya, tapi juga seperti masih asing baginya, maka bergemalah suara yang bernada dingin kaku.
"Siang Cin, nasib mujurmu akan berakhir sekarang, pernahkah kau membayangkan nasib jelekmu seperti hari ini?"
Sekuatnya Siang Cin gosok pelipisnya, teriaknya sambil megap2.
"Kau, kau mencelakai mereka?"
Terbayang raut wajah yang menyeringai, terdengar pula suara ketus tak kenal kasihan.
"Karena kau terlebih dulu mencelakai jiwa saudara tuaku, kau membunuh calon suamiku, maka aku datang menuntut balas padamu. Siang Cin, kau iblis laknat yang bermuka cakap, tapi berhati serigala ini ... ."
Siang Cin goyang2 kepala, serunya heran tak habis mengerti.
"Siapa..... siapa itu saudara tuamu? Siapa pula calon suamimu?""
Remang2 wajah jelita yang beringas itu tanpa mendekat, suaranya mendesis penuh kebencian.
"Tak perlu diperbincangkan lagi, cuma satu hal barus helalu kau ingat Siang Cin, utang darah harus dibayar dengan darah."
Siang Cin berusaha mengerahkan tenaga, tapi dia gagal, tenaga murninya seperti sudah buyar, hampa dan tercerai berai, betapapun sukar dihimpun kembali, dia menggertak gigi, teriaknya gusar.
"Beritahukan padaku, di mana kawan2ku? Di mana Ciciku?"
Dingin suara itu menjawab.
"Kautahu bahwa neraka ada sembilan tingkat bukan, kau akan kumpul bersama mereka disana."
Siang Cin berteriak sekuatnya, sisa tenaganya dibuat melampiaskan rasa murkanya.
"Sobat!" ---Gwat-bong-ing, salah satu dari sembilan jurus San-jiu kemahirannya tiba2 dilancarkan, kedua tangannya menyambar bersama bagai dua bilah golok, begitu 48 cepat dan ganas, lapat2 masih dapat didengarnya jerit lengking yang disusul gerungan murka yang keras, tahu pikirannya menjadi kabur, pandanganpun gelap, pelan2 iapun roboh terkulai. Seperti melayang dan mengambang di angkasa, entah berapa lamanya, entah betapa penderitaannya, keadaan masih seperti di dalam kabut yang bergontai kian kemari, enteng dan hampa tanpa kuasa akan dirinya. Pelan2 Siang Cin membuka kelopak matanya, terasa berat dan sepat, tulang sekujur badan terasa sakit seperti di preteli, linu dan lemas, pelan2 dia pejamkan pula matanya, lama sekali baru dia buka mata pula. Tempat apakah ini? Per-tama2 benaknya dirangsang pertanyaan ini. Yang masuk dalam pandangannya pertama kai adalah sebuah lubang setengah bundar, lubang setengah bundar dari atap kamar tahanan ini tampak lembab dan berlumut, lentera minyak yang memancarkan sinarnya yang redup menyorot masuk dari lubang setengah bundar itu, di bawah sinar lentera redup ini dapatlah Siang Cin meneliti keadaan kamar persegi yang berdinding batu tebal, dia rebag di tumpukan jerami yang sudah membusuk, bukan saja lembab, baunya apek dan terasa gatal sehinga napas terasa sesak dan berat, sedikit menggerakkan badan segera dia mendapati kaki tangannya terborgol oleh rantai baja yang besar, pinggangnya dikalungi gelang baja sebesar lengan bayi, gelang dipinggang disambung rantai borgol di kaki-tangannya pula, semetara ujung kedua rantai terbenam di dinding sebelah sana, sedikit bergerak rantai borgol lantas bergunjing dengan suaranya yang berisik. Tempat apakah ini? Bagaimana dirinya bisa berada di sini? Siang Cin pejamkan pula matanya, pelan2 otaknya menyusuri kembali pengalamannya, meski lambat akhirnya dia berhasil ingat cara bagaimana dia menolong keluar calon isteri An Lip dari markas Siang-gi pang, cara bagaimana dalam keadaan yang sudah payah itu dia kembali ke rumah mungil itu, akhirnya dia menghadapi seraut wajah jelita yang kaku sadis, tapi jelas dia dapat memastikan bahwa itu wajah Kiang Ling, malah dia masih ingat dalam keadaan lunglai, kehabisan tenaga dia sempat melontarkan pukulan Gwat bong-ing (bayangan bulan remang2). Ia menggigit bibir dan termenung, lambat laun dia mulai menyadari sebab apa dirinya bisa berada di tempat ini, i,a menduga mungkin dulu dia pernah bermusuhan dengan Kiang Ling dan orang tua yang pura2 sakit itu, atau melukai dan membunuh sanak famili mereka, sehingga dengan daya upaya keji ini mereka berusaha menuntut balas atas dirinya, dan kini dia menjadi tawanan mereka. Terasa, susah juga untuk menggeser letak tubuhnya, Siang Cin membasahi bibirnya dengan lidahnya, rasa haus merangsang tenggorokannya yang kering, bibirpun sudah pecah, kerongkongan terasa pahit, rasa tegang dalam benaknya sudah lenyap, tapi kaki tangannya masih terasa lemas tak bertenaga, seperti baru saja sembuh dari sakit berat yang menguras habis segala kekuatannya. Tiba2 dia mendengar denging suara benda berat beradu, kejap lain sebagian dari kamar tahanan ini mulai terbuka, kiranya di sebelah sana ada sebuah daun pintu, pintu batu itu merupakan sebagian dari dinding batu kamar yang kokoh ini, tebalnya lebih dari dua kaki. Tampak empat laki2 tengah mendorong pintu supaya terbuka. Di luar pintu terdengar suara percakapan beberapa orang, setelah pintu terbuka lebar tiga bayangan orang tampak melangkah masuk, dengan memicingkan mata Siang Cin mengawasi mereka, dua di antaranya ternyata adalah Kiang Kiau-hong dan puterinya Kiang Ling, mereka mengiringi seorang laki2 terpelajar bermuka putih berusia antara setengah abad, bermuka lebar dan kuping besar, orang ini mengenakan jubah putih mulus, perawakannya gendut. Pelan2 ketiga orang ini menghampiri Siang Cin, si orang tua yaitu Kiang Kiau-hong mendepaknya sekali, katanya dingin.
"Siang Cin, sudah saatnya kau bangun."
Siang Cin membasahi bibirnya, katanya serak.
"Aku sih sudah bangun sejak tadi, Lotiang, apakah penyakit bengekmu sudah sembuh seluruhnya."
Kiang Kiau hong mendengus, jengeknya.
"Kau kira olok2mu ini amat menarik ya?" 49 Siang Cin tertawa, katanya.
"Tiada pikiranku menjurus ke situ. Cuma Lotiang, bilakah aku berbuat salah padamu?"
Baru habis dia bicara tahu2 dia merasa pandangannya kabur, serentak mukanya kena gampar pulang pergi empat kali, pipinya terasa panas pedas, Kiang Ling berdiri di depannya dengan bertolak pinggang, desisnya menahan isak dan dendam.
"Siang Cin, masih kau ingat akan Kiu tan-nay yang pernah perang tanding denganmu lima tahun yang lalu?"
Siang Cin meng-ingat2, katanya kemudian.
"Ya, masih ingat."
Air mata tak tertahankan lagi, Kiang Ling berkata dengan terisak..
"Masih ingatkah kau pada orang kedua yang mati berduel dengan kau."
Tenang suara dan sikap Siang Cin.
"Sudah tentu, orang kedua itu adalah salah satu Kiu hian dari Kiau hian-pay yang bergelar Hian-su-cu Kiang Ciau . , . ."
Mendadak dia berteriak kaget.
"Ha, dia saudara tuamu?"
Semakin keras isak tangis Kiang Ling, serunya gusar.
"Betul, masihkah kauingat setelah membunuh habis Kiu-hian (sembilan orang bijak) itu, kemudian muncul pula seorang pemuda berperawakan sedang yang melabrakmu mati2an?"
Siang Cin menghela napas, ucapnya.
"Ya, pemuda itu cakap dan gapah, sopan santun. aku tidak tega membunuhnya, tapi dia mendesakku begitu rupa, akhirnya terpaksa ...."
"Terpaksa, maka kau gunakan Pat-kian-jan yang keji itu mencacahnya hancur, betul tidak?"
Damperat Kiang Ling.
"sungguh kasihan, matipun Ji-koko tak dapat mempertahankan jazat yang utuh ...."
Siang Cin menatap Kiang Ling, katanya pelahan.
"Pemuda itu bernawa Thio Wi, apakah dia itu pacarmu?" . Semakin pilu tangis Kiang Ling, katanya sesenggukan.
"Ya, tapi kau telah membunuhnya."
Setelah merandek sejenak, kemudian Siang Cin berkata pula.
""Tahukah kau bahwa dia dulu menggunakan U-tok-sa (pasir hitam beracun) dan Wi-hue-siang (dupa penyedot sukma) serta senjata rahasiar kaum rendah untuk menyerangku secara licik? Tahukah kau sudah tiga kali aku memberi peluang padanya supaya dia insaf akan perbuatannya yang kotor?"
"Iblis laknat.
"damperat Kiang Ling.
"aku tidak peduli, aku hanya tahu kau membunuh engkohku, kau pula yang menjagal suamiku, kau menghancurkan keluargaku, menghancurkan kebahagiaan masa depanku ......Kau algojo keparat ini belum setimpal menebus dosamu dengan sekali mati ....... Siang Cin menyengir, katanya.
"Kau sendiri tidak bicara tentang kebenaran, tidak bisa membedakan salah dan benar, untuk apa pula soal ini dibicarakan?" . Tiba2 melotot bola mata Kiang Ling, sikapnya menakutkan, ia mendesis sambil membungkuk.
"Iblis laknat, akan kugunakan cara2 yang paling keji didunia ini untuk menyiksamu sampai mampus, akan kubikin kau tahu rasa segala siksa paling kejam sehingga kau mampus pelan2, akan kusaksikan kau melolong kesakitan, akan kudengarkan rintihanmu, ahhirnya akan kukorek dulu hatimu untuk sesaji pada arwah engkoh dan suamiku, akan kucacah tubuhmu untuk makan serigala."
Sedikit mengernyit alis, Siang Cin berkata malas2.
"Mungkin kau akan kecewa nona, orang she Siang tidak mudah meraung dan juga tidak akan pernah merintih kesakitan, malah kalau mungkin, tamparanmu tadi akan kubalas dengan lipat dua."
Gemetar saking murka Kiang Ling, makinya sambil menuding Siang Cin.
"Kau ..... kau...."
Pelajar muka putih setengah baya tadi melangkah maju, tanpa bicara kedua tangan langsung bekerja.
"plak-plok", entah berapa kali, yang terang selebar muka Siang Cin menjadi melepuh berdarah, mata ber-kunang2 dan kupingpun mendenging. Maki orang itu.
"Bangsat, kematian di depan mata masih keras mulut, jangan kau berlagak pahlawan di tempat ini."
Siang Cin menggoyangi kepalanya yang puyeng, sikapnya tetap tak acuh, katanya. 50
"Siapa nama besar tuan ini?"
Dengan menyeringai pelajar muka putib berkata kereng.
"Orang pertama dari Cengsiong-san-ceng Sek Kui."
Sekilas pikir Siang Cin berkata dengan tenang.
"O, kek-bin-siau (kokok beluk muka putih) Sek Kui?"
"Ya, bagaimana?"
Tanya pelajar muka putih sambil menepuk dada. Siang Cin jilat bibirnya yang berdarah, suaranya tawar dingin.
"Tidak apa2, aku cuma berpikir, paling2 kau hanya berani bertingkah segarang ini pada waktu aku berada dalam keadaan payah begini."
Melotot mata pelajar muka putih alias Sek Kui, teriaknya penuh kebencian.
"Orang she Siang, jangan kau memancing, orang she Sek tidak akan melepasmu."
Sambil mengawasi Sek Kui kemudian Siang Cin berkata.
"Aku tahu kau tidak akan melepasku, kalau dalam keadaan biasa, Sek Kui, kukira kau tidak akan berani mengusikku."
Berkerut muka Sek Kui, desisnya dingin.
"Sungguh kurang beruntung. Siang Cin waktu itu Sek-toayamu tidak berjumpa dengan kau. waktu kulihat kau, keadaanmu sudah tak ubahnya musang ,yang tertangkap basah setelah dihajar babak belur, betapapun kau garang, gagah dan tenar, tapi kenyataan kau kuhajar sampai pipi bengap dan bibir pecah..."
Siang Cin tertawa tak acuh, mungkin luka2nya terasa sakit pula, sekilas dia mengerut alis, katanya.
"Tidak apa2, meski cara yang kau gunakan tidak pantas. Kalau kau hadapi aku secara terang2an, perang tanding satu lawan satu, meski keadaanku sudah loyo begini, tetap bisa kusembelih kau tiga kali"
Mendadak Pek-bin siau Sek Kui ter-gelak2, beruntun dia kerjakan pula telapak tangannya pulangpergi sehingga kepala Siang Cin kena ditamparnya meleng ke kiri dan geleng ke kanan, darahpun bercucuran dari mulutnya.
Entah berapa lama dan berapa kali Sek Kui kerjakan kedua tangannya sampai akhirnya terasa pedas dan pegal sendiri baru dia berhenti, tanyanya sambil memicingkan mata.
"Sekarang masih keras mulutmu?"
Bibir Siang Cin pecah, kedua pipinya sudah biru, sesaat baru dia kuasa menggerakkan bibirnya, katanya dengan rada payah.
"Ini kan baru mulai, yang lebih keji jelas masih ada di belakang, bila aku tidak mampu bicara lagi baru aku tidak akan ber-olok2."
"Kiranya kau tidak goblok,"
Jengek Pek-bin-siau Sek Kui.
"Orang she Siang, siksaan yang lebih keji memang ada pada saat paling akhir."
Kini giliran si orang tua Kiang Kiau hong tampil ke depan, katanya dengan suara rendah.
"Sek-lote, baiklah sekarang kita mulai saja?"
Sek Kui manggut2, katanya.
"Kongsun-heng, agaknya kau ingin selekasnya membakar mampus keparat ini?"
Kiang Kiau hong tertawa, apa boleh buat, Siang Cin menoleh dan berkata dengan suara agak tersendat.
"Lotiang, jadi ... .. .. jadi kau tidak she Kiang?"
Pelan2 orang tua yang menamakan dirinya Kiang Kiau-bong menoleh, katanya sepatah demi sepatah.
"Aku bukan she Kiang, aku bernama Kongsun Kiau-Kong, Kiang Ling adalah keponakanku, Suteku Im yang-su cia Ciu Ciong le juga meninggal di tanganmu tiga tahun yang lampau."
Siang Cin melongo, katanya kemudian.
"Ciu Ciong-le itu Sutemu? Kali itu lantaran memperebutkan Jian-cu-jwe-hoan (gelang jamrud beribu mutiara) sekaligus dia membunuh tujuh belas orang, aku kurang senang melihat tingkah-lakunya, maka kubujuk dan kunasihati dia, ternyata akupun hendak di bunuhnya pula, maka terpaksa aku membela diri...."
Orang tua yang bernama Kongsun Kiau-bong menatap Siang Cin lekat2, katanya dengan kaku.
"Aku tidak akan menampar mulutmu Siang Cin, akan kulakukan semacam percobaan atas dirimu." -Lalu dia mengangguk ke arah Sek Kui. Sek Kui menyeringai kejam, teriaknya sembari berpaling.
"Bawa masuk!"
Maka muncul dua laki2 yang mengenakan jubah ketat dengan sikapnya .yang 51 munduk2, kedua orang memegangi sebuah kotak kayu persegi warna merah. Sek Kui mengedip mata, katanya.
"Nah, layanilah Siang tonya ini, supaya dia lebih nyaman dan merasa segar badannya."
Kedua laki2 ini membungkuk sembari mengiakan, dengan muka kaku tanpa mengunjuk perasaan mereka menghampiri Siang Cin, salah seorang membuka kotak kayu serta mengeluarkan sebilah pisau kecil berbentuk tanduk kerbau, pelan2 dicabutnya seutas rambut untuk mencoba ketajaman pisau itu, sekali tiup rambut yang menjuntai di mata pisau seketika putus menjadi dua.
Dia menyeringai puas, ujung pisau kecil itu dia celupkan ke sebuah botol kecil yang berada di dalam kotak kayu, botol kecil itu berisi cairan warna hitam, sesaat dia keluarkan pisau kecil itu, lalu ia menarik baju Siang Cin, maka dada Siang Cin yang bidang terpampang di depan mata.
Melotot mata orang itu, hidungpun seperti mekar, pelan2 dia gunakan ujung pisaunya menggores kulit daging di dada Siang Cin, Begitu tajam pisau itu, hanya sedikit gores saja, darah segera meleleh keluar dari luka goresan sepanjang beberapa senti itu.
Siang Cin setengah pejam mata, sikapnya masih tenang dan rebah adem ayem, seolah2 pisau tajam itu menggores di badan orang lain, begitu tenteram dan tenang, sampaipun kelopak matanya tidak bergerak.
Tanpa berhenti dan tidak kenal kasihan, laki2 itu terus mengerjakan pisaunya, mengiris2 dada Siang Cin dengan ujung pisaunya hingga puluhan jalur luka yang berdarah bersimpang siur, habis itu baru dia taruh pisaunya.
Siang Cin lantas merasakan luka2 goresan itu mulai perih dan gatal, rasa perih dan gatal ini semakin keras dan hebat, bagai ribuan semut yang menggerogoti kulit dagingnya, sungguh tidak kepalang siksa derita yang dirasakannya.
Diam2 ia mengertak gigi, kedua matanya tetap setengah terpejam, mukanya tidak menampilkan perasaan apapun, lama sekali baru laki2 pemegang pisau itu tahu bahwa Siang Cin tidak memperlihatkan reaksi apapun, ia menjadi bingung dan tak habis mengerti, ia mengawasi cairan obat dalam botol di kotak kayunya.
"Tak usah kau periksa lagi,"
Ujar Sek Kui dengan tertawa.
"obat itu tidak akan punah kasiatnya, cuma ketahanan tuan besar she Siang kita memang jauh lebih kuat daripada orang lain, marilah sekarang giliraumu Siau-ngo-cu, kini boleh kau tambah sedikit bumbu."
Laki2 satunya yang dipanggil Siau-ngo-cu mengiakan, dia bekerja tidak kepalang tanggung, botol berisi cairan obat kental hitam itu terus dituang seluruhnya ke dada Siang Cin yang penuh goresan luka itu.
Kontan Siang Cin merasakan kulit dadanya seperti dibakar, gatal perih bertambah puluh kali lipat, rasa sakitnya , sungguh meresap ke tulang sungsum, betapa besar siksa dertta ini sukar dilukiskan dengan kata2.
Lima pasang mata sama melotot menatap Siang Cin, tapi Siang Cin tetap setengah memejamkan mata, giginya hampir hancur tergigit, tapi mukanya tetap wajar, tenang dan tawar tidak menampilkan perubahan apa2.
Setelah tunggu sesaat lagi, Sek Kui mengucek hidung, lalu katanya.
"Siang Cin, bila Sek-toaya tidak mampu menyiksamu sampai melolong kesakitan dan meraung minta ampun, aku tidak terhitung orang terpercaya dari Ceng-siong-san-ceng ini."
Siang Cin mengulum senyum, senyuman dingin mengandung ejekan.
Kongsun Kiau-Kong naik pitam, sembari menggeram gusar dia ayun kakinya menendang pipi kanan Siang Cin, ujung sepatunya seketika basah dan berwarna darah, ternyata kulit pipi Siang Cin terkupas dan berdarah.
Siau-ngo cu yang berjongkok di samping juga bergerak dengan tangkas, dari dalam kotak kayunya dia mencomot segenggam garam terus diusapkan pada luka di pipi Siang Cin, malahan dia tambahi pula dengan sekali tamparan.
Siang Cin tetap celentang dengan tenang, kelopak matanyapun tak bergerak, sikapnya begitu tenteramnya sehingga orang lain menjadi sangsi apakah badan 52 Siang Cin sudah pati rasa?
Bertaut alis Sek Kui, segera dia memberi tanda ke arah laki2 jubah ketat yang berdiri di samping sana, laki2 itu segera maju berjongkok, kotak kayu dibuka dan mengeluarkan sebatang kayu dengan gagang warna kuning emas sepanjang dua dim, garis tengah pentung kayu pendek ini kira2 sebesar mata uang tembaga, pada ujungnya terdapat sebuah benda berlubang berwarna kelabu, rupanya semacam alat pengisap, dia tekan benda di ujung pentung pendek itu ke dada Siang Cin terus dicabutnya dengan mendadak, maka kulit daging di dada Siang Cin seketika terkelupas terbawa oleh pentung yang ditarik mendadak itu.
Agaknya laki2 ini sudah biasa akan permainannya ini, tanpa berhenti secara beruntun dia tekan terus cabut lagi puluhan kali, maka kedua lengan, dada sampai ke perut Siang Cin penuh luka2 bundar yang mengeluarkan darah, kulit dagingnya yang berwarna merah segar itu tercampur darah, kelihatannya amat seram dan mengerikan.
Siau ngo-cu yang berjongkok di samping itu menyeringai senang, iapun bantu mencomot garam, dari luka yang satu ke luka yang lain dia taburi garam dan mengulapnya pula.
Siang Cin tetap celentang tidak bergerak sedikitpun, mukanya yang penuh berlepotan darah itu tidak menampilkan perasaan sedikitpun, sampai kulit dagingnya tidak kelihatan mengejang atau gemetar, andaikata dia tidak kelihatan masih bernapas, orang lain tentu menyangka jiwanya telah melayang.
"Crot", Sek Kui meludah penuh geram ke muka Siang Cin, katanya uring2an.
"Keparat ini ternyata memang tahan uji, tapi Sek-toaya masih ingin tahu berapa lama kau kuat bertahan."
Sembari bicara dia ulurkan sebelah tangan, lalu pembawa pentung pendek segera sodorkan puluhan batang jarum baja, pelan2 Sek Kui berjongkok, dia pegang telapak tangan Siang Cin, sekian lama dia amat2i tangan orang sambil mulut ber-kecek2 memuji, katanya.
"Telapak tanganmu begini putih dan terpelihara sebagus ini, em, tak ubahnya jari jemari anak gadis yang tak suka kerja di dapur, tapi entah berapa banyak pula tangan ini telah mencabut nyawa orang, darah siapa saja yang tidak pernah berlepotan di tangan ini? Ai, sayang sekali, sekarang biar Sek-toaya menyempurnakan tangan elok ini."
Dijemputnya sebatang jarum dan dicelup dulu kecairan hitam terus ditusukkan ke sela2 kuku jari Siang Cin, dia menusuk dengan mengerahkan tenaga hingga semakin dalam jarum ambles ke-sela2 kuku orang, sementara kedua matanya menatap Siang Cin, menantikan reaksinya.
Tapi Sek Kui kecelik, Siang Cin tetap tidak mengunjuk reaksi apa2, tetap seperti orang mati yang rebah tak bergeming, tapi Sek Kui tahu, tak mungkin orang tidak punya perasaan, karena mata Siang Cin setengah terpejam, malah kulit mukanya kini juga sudah berubah pucat, warna pucat ini akan kelihatan hanya bila seseorang mengalami siksa derita yang luar biasa.
Sek Kui mengumpat kalang kabut, kini dia kerjakan jarum2 baja itu lebih cepat, sepuluh jari Siang Cin ditusuk seluruhnya, tusukkannya bukan saja keras tapi juga dalam, ingin rasanya sekali tusuk mencapai ulu hati Sang Cin.
Kongsun Kiau hong yang menyaksikan di samping sampai merinding seram, padahal dia kawakan Kangouw, pengalaman apa yang tidak pernah dia rasakan, demikian pula Kiang Ling mulutnya yang kecil ternganga, sungguh sukar dipercaya bahwa manusia di depan matanya ini memiliki ketahanan yang luar biasa dari siksa derita yang tak mungkin ditahan oleh siapapun, tapi kenyataan orang ini bukan saja tahan, malah air mukanya masih kelihatan tenang wajar, jangankan meronta dan meraung kesakitan, mengerut keningpun tidak.
Akhirnya Sek Kui kewalahan sendiri dan berdiri dengan malas, katanya penasaran.
"Kongsun heng, besok hal ini akan kulaporkan kepada Cengcu, akan kumulai dengan mencacah kaki tangannya."
Kongsun Kiau hong terkekeh, katanya;
"Bahwa rencana ini terlaksana dengan baik juga berkat bantuan dari Ceng-siong san ceng kalian, apalagi sikap putera Cengcu 53 kalian begitu baik terhadap anak Ling, kapan akan sembelih orang she Siang ini, terserah pada putusan Cengcu dan kehendakmu Lote."
Sek-Kui manggut2, katanya tertawa.
"Baiklah hari ini kita akhiri sampai di sini, apapun yang akan terjadi besok, keparat ini tidak akan kubikin mampus dengan enak, kita akan pelan2 mengerjai dia."
Lalu dia mempersilakan Kongsun Kiau-hong dan Kiang Ling. katanya menoleh.
"Siaungo-cu, lepaskan seluruh semut merah dalam kotak kecilmu itu, biarlah mereka juga mencicip betapa nikmat dan segar darah si Naga Kuning yang kosen dalam Bu lim ini. Em, memang inilah kesempatan yang sukar diperoleh."
Siau-ngo-cu mengiakan, dari dalam kotak kayunya dia keluarkan pula sebuah kotak persegi kecil dari batu jade, kotak kecil ini terdapat lubang2 kecil yang tak terhitung banyaknya, pelan2 dia buka tutup kotak kecil ini, maka semut2 merah yang kelaparan ini segera merambat keluar, bentuknya yang menjijikkan sungguh memualkan.
Sekilas menatap semut2 merah itu, tanpa terasa Kiang Ling bergidik seram, Kongsun Kiau-hong ter-bahak2, segera ia tarik Kiang Ling keluar.
Siau-ngo-cu tuang semut dalam kotak itu ke tubuh Siang Cin, begitu mencium bau darah, semut2 kecil yang jelek dan ganas ini segera berebut merambat kian kemari, akhirnya semua berkumpul di lubang2 luka yang masih berdarah segar, sekuatnya mereka mengisap darah, saling tindih dan berkelompok di sana sini, sayup2 terdengar suara rakus mereka yang tengah menggeragot kulit daging Siang Cin dengan lahapnya.
Sesaat lamanya Sek Kui menatap muka Siang Cin pula, akhirnya dia menyindir.
"Orang she Siang, hari ini anggaplah kau memang hebat, kita akan bekerja pelan2, coba saja siapa akan lebih tahan uji, apakah Sek-toaya tidak mampu bekerja atau kau yang lebih tahan siksa." -Habis berkata dia kebas lengan baju terus melangkah keluar diikuti ke dua laki2 berjubah ketat itu. Maka daun pintu batu yang tebal dan berat itupun tertutup pula. Kamar batu tahanan ini kembali dicekam kesunyian, cahaya lentera redup laksana kunang2, hawa yang sumpek terasa tebal dengan bau anyirnya darah mengandung rasa dendam kesumat yang tak terperikan, akan tetapi segalanya tetap tenteram, begitu sunyi tak ubahnya sebuah kuburan. Pelan2 dan lambat sekali Siang Cin mulai membuka kelopak matanya, pelan2 dan hati2 sekali dia menarik napas lalu menghembuskannya pula pelan2, dalam tarikan napas dan embusan napas yang lambat ini, sejenak kemudian dari setiap pori2 di sekujur badannya mengeluarkan uap, uap ini semakin tebal, seperti uap dari air mendidih, maka semut merah yang berpesta pora mengisap darahnya itu mulai lari tercerai berai, biasanya semut2 merah ini kejam dan ganas, tapi kini mereka meninggalkan hidangan lezat dan berusaha lari, tapi sudah tak sempat lagi, seperti terkurung di dalam kuali yang semakin panas, satu persatu akhirnya sama bergelimpangan dan seluruhnya mati kaku. Pelan sekali, dengan susah payah sedikit demi sedikit Siang Cin mulai bergerak, tangan menekuk sedikit, mulailah sekujur badannya bergetar, mengejang dan meliuk2. Pada hal dia hanya sedikit menggerakkan lengan, tapi tak ubahnya seorang kakek tua renta yang tengah merayap di pegunungan belukar dan batu2 padas runcing. Tapi usahanya akhirnya berhasil, tangannya yang diborgol itu kini berada di depan mukanya. Gigi gemeratak dan bibir terkancing kencang sekian lamanya, dengan gemetar dia membuka mulutnya, darah segar meleleh keluar, gusi, lidah dan kerongkongan seluruhnya berdarah karena tergigit olehnya sendiri, tadi dia sudah kerahkan setakar tenaga dan semangat yang pantang menyerah sehingga tubuhnya se-akan2 bukan miliknya lagi, dalam keadaan tersiksa itu dia coba membayangkan dirinya tengah rebah di bawah pohon yang rimbun sambil meniup seruling atau bercakap mesra bersama Kun-cici di bawah lampu nan benderang, maka dia kuat bertahan, di luar kesadarannya dia telah membuktikan suatu kekuatan batin yang luar biasa untuk 54 menandingi siksa derita fisik yang luar biasa itu. Mulutnya megap2, jarum2 yang menancap di sela2 kuku jarinya satu persatu digigitnya dan dicabut, setiap batang dicabut, sekujur badannya segera menungging dan mengejang menahan rasa sakit yang tak terhingga. Setelah dia berhasil mencabut sepuluh batang jarum baja itu, deru napasnya hampir putus di tengah keluh kesakitan. Kedua telapak tangannya berlepotan cairan hitam ungu, jarinya tampak gemetar keras, siksa derita ini sungguh menusuk tulang sungsum, ruas tulang terasa lepas seluruhnya. Luka2 yang ditabur garam itu terasa panas perih seperti dibakar sehingga akhirnya kulit dagingnya terasa beku dan mati rasa, pelan2 Siang Cin menarik napas dulu, pelan2 dengan uap putih yang dia desak keluar melalui pori2 kulitnya mulai membersihkan luka2 di badannya, memang hanya usaha inilah satu2nya upaya yang dapat dilakukan. Esok, ya esoknya, Sek Kui sudah bilang kaki dan tangannya akan dicacah, maka bila dia harus berusaha lolos, waktunya hanya nanti malam saja, tapi apakah dia mampu lolos? Berjalan saja mungkin tidak mampu. apalagi sekarang, jangankan berdiri, tenaga untuk memegang sumpitpun tidak punya. Entah bagaimana keadaan Kun cici, keselamatan jiwa Pau Seh-hoa dan An Lip juga menguatirkan, lalu di mana pula perempuan calon isteri An Lip yang sudah ditolongnya itu? Di mana sekarang mereka berada? Mereka pernah berbuat salah terhadap para musuhnya ini. Tak syak lagi mereka pasti juga merasakan derita seperti dirinya pula. Padahal luka Kun-cici dan An Lip sama belum sembuh. Terangsang oleh berbagai persoalan itu pikirannya menjadi kacau, bahwa dia kuat bertahan siksaan atas badannya, tapi dia tak kuat menahan siksaan batin, mata Siang Cin melotot, bila musuh juga menyiksa Kun-cici, menyiksa Pau Seh-hoa, An Lip dan calon isterinya, bagaimana dirinya harus bertindak? Memangnya apa pula yang dapat dilakukannya dalam keadaan seperti sekarang ini? Siang Cin menggeleng dengan pedih, kembali dia coba menghimpun hawa murni dipusarnya, ia tahu asalkan masih kuasa menghimpun hawa murni, harapan untuk keluar dari kamar tahanan ini menjadi besar. Tapi usahanya ternyata gagal, hawa murni yang biasanya dapat dikuasai dengan baik itu kini ternyata buyar dan tak bisa kumpulkan, mirip orang yang lagi sakit keras ingin mengangkat benda berat, hasrat ada, apa daya tenaga tidak sampai. Dalam keadaan putus asa matanya menjelajah keadaan kamar batu ini, akhirnya tatapannya berhenti pada lentera yang tergantung dari lubang di atas kamar itu, sinar lampu kuning buram, api yang kelap-kelip itu semakin guram, mendadak api meletik sekali, maka cahayapun menjadi sedikit terang. Aneh, kenapa begitu? Rupanya sudah terbakar habis dan menyentuh permukaan minyak sehingga menyambung nyala apinya. Bilamana sumbu lentera itu bisa berpikir, tentu ia mengira dirinya tadi akan padam, tentu dia juga menyangka dirinya tak berdaya hidup lagi, kenyataan kini dia tetap menyala tetap bercahaya, meski hanya berkelap-kelip, tapi dia terus bertahan ..... Benak Siang Cin mendadak memperoleh penerangan, pancaran sinar terang ini mendatangkan ilham dalam benaknya, tiba2 dia teringat dahulu dia pernah meyakinkan semacam ilmu semadi, dengan cara menyalurkan hawa murni untuk menyambung hidup kan juga demikian pula teorinya? Kenapa hal ini hampir terlupakan? Kenapa hampir melupakan ilmu It-sian-to-bang ini? Sedapatnya ia tahan rasa senang hatinya, Siang Cin pejamkan mata, sesaat kemudian mulailah dia menekuk kaki tangannya, pelan2 menarik napas serta mengaturnya dengan baik dan lancar, setiap tarikan napasnya dia hirup ke dalam perut, lalu pelan2 pula dia embuskan dengan teratur, setiap tarikan napasnya berhasil disalurkan ke seluruh badan dan akhirnya kembali ke pusar, dari pusar melalui sendi tulang dan urat syaraf sekujur badan terus merembes keluar melalui pori2 tubuhnya, maka kulit daging sekujur badan menjadi kendur, Hiat-to dan urat 55 nadipun mulai bekerja normal, lambat laun dia mencapai ketenangan, semadinya mencapai puncak tertinggi . -Kecuali memperlambat deru pernapasannya, tidak kelihatan Siang Cin melakukan gerakan apapun, dua jam kemudian, rona mukanya yang sudah pucat kelabu mulai bersemu merah dan lambat laun berubah seperti sedia kala. Dengan hati2 dia coba menuntun hawa murni tapi buyar pula, berulang Siang Cin menghela napes gegetun, tapi dia tidak kenal lelah, tak tahu apa arti putus asa, kembali dia ulangi ber-kali2 dengan cara yang hati2, ketika ia mencoba ketujuh belas kalinya, hawa murni itu pelan2 mulai mengikuti tuntunannya melewati lambung, dada dan akhirnya menembus seluruh urat nadi. Kedua matanya mendadak terpentang, tenaga murninya mendadak mengalir kencang ke seluruh urat nadi, begitu dahsyat aliran kekuatan tenaga murninya ini seumpama air bah yang membanjir ke sekujur badannya, lambat laun aliran tenaga murni ini semakin kukuh dan terhimpun di pusar. Senyuman kemenangan dari jerih payahnya terbayang pada wajah Siang Cin, padahal sekujur badan berlepotan darah, tapi dia tidak peduli, tenaga murni yang kian gencar itu terus disalurkan dengan tertuntun secara baik sehingga keringat bertetesan membasahi seluruh badan, dikala uap mengepul bagai kabut, pelan2 baru dia mulai menghentikan saluran tenaganya. Kini keadaannya sudah jauh, berbeda dengan dua jam sebelum ini, meski luka2 di kulit badannya tak mungkin sembuh dalam waktu singkat, tapi tenaga dalamnya boleh dikatakan sudah timbul dari sumbernya yang terpendam selama ini, begitu kuat dan hebat melebihi biasanya, terasa sekujur badan penuh diliputi tenaga, pelan2 dia coba bergerak dan mulai berduduk, ternyata leluasa, sedikit dia kerahkan tenaga dan meronta, borgol yang terbuat dari besi baja di kakinya seketika gemerantang, dia tahu, bahwa kekuatannya sekarang sudah cukup untuk membebaskan tubuh sendiri dari semua belenggu ini. Sejenak dia menggerakkan anggota badannya, lalu pelan2 merebahkan diri pula, dengan seksama dia amat2i setiap jengkal keadaaan kamar tahanan dibawah tanah ini, mendadak didengarnya suara dering benturan logam keras, daun pintu yang berat dan tebal itu pelan2 didorong terbuka dari luar, seorang,laki2 berjubah panjang melongok mengawasi dirinya dari kejauhan, Siang Cin sengaja pura2 merintih, seperti mengingau mulutnya merintih.
"Air ....air ...."
Laki2 itu tertawa.
"Crot", dia berludah, damperatnya.
"Jiwamu sudah hampir amblas, masih ingin minum air segala. Maknya, sudah kukatakan jiwanya tak gampang melayang, Siau-ngo-cu keparat itu kuatir dia mati kaku. Nah, coba kau periksa, bukankah dia masih ber-kaok2?"
Kembali orang itu meludah ke arah Siang Cin lalu mengkeretkan kepalanya, daun pintu pelan2 tertutup pula, sayup2 terdengar orang itu menggerutu.
"Kalau keparat itu mampus kan lebih baik, kita berdua tidak perlu lagi jaga di sini, bau di sini apek dan busuk lagi ...."
Waktu Siang Cin membuka matanya pula, dilihatnya tempat ini memang terlampau lembab dan berbau apek busuk, karena kamar tahanan di bawah tanah, maka tiada jendela segala.
Sasaat lamanya dia mengendurkan sekujur badannya, lalu bangkit berduduk, setelah menyedot napas, kedua pergelangan tangan mulai memelintir ke arah yang berlawanan, pelan2 borgol dipergelangan tangannya mulai mengeluarkan suara retak, makin membesar dan akhirnya berbunyi "pletak", putus menjadi dua.
Siang Cin bersenyum kemenangan, dengan cara yang sama dia putuskan pula borgol dikakinya dan gelang yang membelenggu pinggang, dia merasakan badan sedikit lelah dan tangan rada gemetar, setelah istirahat pula sekian lamanya baru dia berdiri, pelan2 dia berjalan putar kayun dalam kamar tahanan untuk mengendurkan dan memulihkan otot yang masih pegal linu itu.
Delapan Toa-liong-kak yang dibawanya telah dirampas orang kini kecuali pakaian kuning yang melekat dibadan boleh dikatakan tidak memiliki apa2 lagi.
Kembali dia periksa sekelilingnya, lalu menjemput rantai serta memutusnya seutas, 56 setelah diukur dengan jangkauan tangan, panjangnya kira2 ada lima kaki lebih.
Ya, dengan rantai inipun cukup untuk bekal perjalanan dalam usahanya meloloskan diri.
Tak lama kemudian, mendadak dia menjerit sertu meronta se kuat2nya, di tengah jeritan diseling raungan dan pekikan minta tolong, suara yang penuh derita itu, membuat merinding siapapun yang mendengar, diam2 Siang Cin merasa heran, kenapa dia bisa pura2 sedemikian mirip, mungkin lantaran siksaan yang tertahan tadi baru sekarang sempat dia lampiaskan.
Sesuai dugaannya, tak lama kemudian daun pintu yang berat itu pelan2 didorong terbuka pula, suara orang tadi terdengar mengumpat maki.
"Anak sundel piaran anjing, memangnya bacotmu hanya pintar menggonggong melulu seperti setan menangis dan serigala kelaparan ...."
Sambil memaki laki2 itupun melongok ke dalam pula, mulutnya masih tak berhenti memaki.
"Sudah, jangan kaok2 sekarat, cepat atau lambat, kau juga pasti mampus, buat apa sekarang kau gembar gembor ... He ...?"
Makiannya tiba2 berhenti dan berganti suara kejut heran se-olah2 tidak percaya akan penglihatannya sendiri..Sesaat dia berdiri melongo di ambang pintu, tapi belum lagi ia sempat berpikir apa yang telah terjadi, rantai panjang bagai seekor ular sakti tahu2 melingkar datang menggubat lehernya, seluruh badannya lantas tertarik terbang ke dalam.
Kedua tangan laki2 itu me-ronta2, dengan keras tubuhnya terbanting di lantai, belum lagi dia menyadari apa yang terjadi atas dia, sebuah suara dingin seram yang mendirikan bulu kuduk tahu2 berkumandang dipinggir telinganya.
"Sahabat baik, pada penitisan yang akan datang kau harus selalu ingat, tidak boleh sembarangan memaki orang."
Melotot sebesar jengkol mata orang itu, lidahnya melelet panjang, baru saja dia mau meronta pula, tahu2 kaki orang telah menginjak batok kepalanya.
"Prak"
Kontan batok kepala ini terinjak pecah. Siang Cin angkat kakinya serta membersihkan noda darah di badan mayat korbannya, suara seorang berkumandang pula di luar pintu.
"Gu-losam, memangnya kerja apa kau di dalam? Apa kau mampus di dalam dan tak suka keluar lagi? Sepoci arak ini biar kuhabiskan saja bersama Li-jitko ..." ----------------------------------Cara bagaimana Siang Cin akan mengerjai penjaga2 itu dan meloloskan diri? Kemana perginya Pau Seh-hoa, Kun cici dan An Lip? -Bacalah
Jilid ke-4 -57
Jilid 04 Diam2 Siang Cin menyelinap keluar, panjang lorong kira2 ada dua tombak, di ujung lorong sana ada undakan batu yang menjurus ke atas, di atas undakan tertutup oleh papan besi yang tebal.
Dua orang yang juga mengenakan jubah panjang ketat tengah berjongkok di bawah tembok, di atas meja ada sepoci arak dan beberapa piring makanan, muka kedua orang tampak merah, agaknya sudah banyak minum arak.
Begitu keluar Siang Cing langsung berludah ke arah kedua orang sambil menggerutu.
"Anak kunyuk, aku sedang membungkam mulut bocah keparat itu, untuk apa kau mengoceh kalang kabut? Bedebah ......."
Kata2 yang dingin ini terasa menusuk pendengaran kedua orang yang setengah mabuk itu, keduanya melenggong dan cepat menoleh, mereka terbeliak seperti melihat setan, saking kaget dan takut mereka melonjak hingga meja didepan mereka ke terjang jungkir balik.
Siang Cin mendengus sekali, sebat sekali ia bergerak maju, rantai ditangannya terayun menyapu roboh salah seorang, kepalanya pecah membentur tembok..
Seorang lagi belum sempat meraih senjata yang tergantung di atas tembok, waktu bayangan rantai berkelebat, tangan kanannya yang terjulur itu tahu2 terpukul hancur, orang itu menjerit dan roboh.
Kaki Siang Cin menginjak dada orang, wajahnya yang membiru berlepotan darah kelihatan seram menakutkan laksana demit, dengan tejam dia tatap orang di bawah kakinya, tanyanya;
"Tempat apa ini?"
Saking kesakitan orang itu sudab lemas lunglai, badan gemetar, biji matanya terbalik, mulutpun mengeluarkan buih dan megap2. Siang Cin, perkeras injakannya, tanyanya pula lebih kereng.
"Tempat apa ini?"
Orang itu menarik napas, sesaat kemudian baru mampu bersuara dengan meringis kesakitan.
"Ampun Hohan..... ini ..... ini, kamar tahanan bawah tanah dari pekarangan pertama Ceng-siong-sanceng yang terletak di bawah empang teratai . ... ."
Siang Cin mendengus, tanyanya pula.
"Jadi ada air di sebelah atas?"
Orang itu bernapas dengan payah, sahutnya meringis.
"Ya, ya, ada air . ..... ."
Mengerut alis, Siang Cin bertanya pula.
"Cara bagaimana untuk keluar?"
Orang itu ragu, segera Siang Cin perkeras injakannya, terpaksa orang itu berteriak.
"Baiklah kuterangkan ....di sebelah kanan papan besi ada sebuah tombol, asal kau tekan tombol itu, dari lekukan undakan di atas akan menyeplak keluar sebuah pipa besi besar yang tepat menutupi lubang undakan, memasuki pipa besi itu, pucuk pipa menembus pada sebuah batu gunung2an yang menongol di permukaan air, setiba di atas gunung2an dapat kau bebas keluar ...."
Siang Cin tertawa, tanyanya.
"Berapa kali menekan tombol itu?"
Laki2 itu ragu2 pula, segera Siang Cin mendesak lebih ketus.
"Tekan berapa kali?"
Orang itu akhirnya mengaku.
"Tujuh kali"
Siang Cin mengangguk, jengeknya "Kalau salah, aku akan kembali mencabut nyawamu lebih dulu."
Sekali melejit dia sudah melayang ke undakan sana, disebelah kanan tutup besi memang terdapat sebuah tombol sebesar ibu jari, pelan2 dia lalu menekan sambil menghitung sebanyak tujuh kali.
Suara gemeratak bunyi pegas bekerja di dalam dinding, lekas sekali papan besi yang tertutup rapat itu mulai bergerak kesamping, di luar ternyata memang terpasang sebuah pipa besi yang panjang, ujung pipa sebelah sana lapat2 kelihatan ada lubang keluar yang gelap.
Siang Cin berpaling serta bersenyum ke arah laki2 yang rebah melongo itu, katanya.
"Terima kasih saudara." 58 Mendadak laki2 itu melompat berdiri dan berteriak.
"Tolong ...."
Namun sebat sekali Siang Cin sudah mengayun rantai besi dan tepat masuk ke mulut orang yang tengah terpentang itu, kontan orang itu mencelat menumbuk dinding.
Siang Cin menghela napas lega.
pelan2 dia mulai merambat ke atas pipa besi, dalam pipa terdapat injakan untuk naik ke atas, mendadak muncul seraut wajah bengis di ujung pipa sebelah atas, terdengar suara serak kasar bertanya.
"Li-jit, ada urusan apa pula kau naik kemari? Sebelum tiba saatnya belum boleh giliran jaga kau keparat ini memang banyak tingkah, sejak tadi sudah tiga kali naik turun ...."
Siang Cin terus manjat tanpa bersuara, sementara wajah bengis itu tetap mengawasinya, tiba2 ia menjadi siaga, serunya.
"Eh. Li-jit, sejak kapan kau ganti pakaian, kenapa kau mengenakan baju kuning?"
Masih beberapa kaki akan tiba di ujung pipa Siang Cin mendongak serta menjawab tawar.
"Pakaian yang dipakai Naga Kuning memangnya sejak kapan tidak berwarna kuning?"
Wajah bengis itu seperti mendadak kena tamparan, sekilas tampak matanya melotot, mukanya menegang, ia berdiri terpaku ditempatnya, Siang Cin unjuk senyum lucu kepadanya, belum lagi orang sempat melakukan sesuatu, rantai sudah melayang ke atas, sekali tanri leher orang yang tergubat rantai itu terus ditariknya hingga jatuh lurus ke bawah.
Tanpa pedulikan korbannya, dengan enteng Siang Cin lompat keatas, di atas ternyata betul ada sebuah lorong gua gunung2an yang berliku, dari celah2 gunung2an dapatlah Siang Cin menghirup hawa segar, merasakan embusan angin sepoi2, malah diapun dapat menikmati alunan lembut permukaan air empang, memang kamar tahanan itu tepat berada di bawah empang ini.
Menyusuri lorong gua yang berliku, dengan hati2 Siang Cin beranjak keluar, kira2 puluhan langkah, dilihatnya dua laki2 tengah berjongkok di sebuah batu besar, entah soal apa yang mereka bicarakan dengan bisik2, golok terselip di pinggang mereka.
Pelan2 Siang Cin mendekati, katanya dengan tenang.
"Eh, kalian kok enak2 saja, masih ada berapa pos penjagaan di depan sana?"
Kedua orang berpaling sembari memaki.
"Sialan, pura2 bodoh, di lorong ini ada lima pos penjagaan, apa matamu sekarang sudah lamur, pakai tanya2 segala?"
Sementara itu Siang Cin sudah lebih dekat, tanyanya pula.
"Apakah Wancu (kepala kampung) ada?"
Salah seorang yang berkepala botak menyeringai, sahutnya.
"Mungkin sedang bergumul dangan gundiknya di ranjang, wah, bila kulihat kulihat perempuan yang mulus itu, sungguh membuat ngiler melulu......."
"Masa ya?"
Tanya Siang Cin. Kedua orang itu tertawa lebar, kata yang lain "Memangnya kenapa? Bedebah, siapa kau, suaramu kok mirip ayam kebiri ......"
"Aku inilah Siang Cin,"
Ujar Siang Cin, berbareng rantai ditangannya terayun gemerincing, tahu2 kedua orang terpental roboh dengan kepala pecah berhamburan.
Dengan kalem Siang Cin melangkah keluar seperti tidak terjadi apa2, sisa empat pos penjagaan dengan mudahnya dia bereskan, akhirnya dia tiba di mulut lorong gunung2an, di situ ada delapan penjaga, setiap orang bersenjata golok besar.
Sekilas Siang Cin berpikir, lalu melangkah keluar, masih ada beberapa langkah jauhnya, salah seorang tiba2 menoleh, dengan bengis menghardik.
"Siapa? Pohon besi berbunga?"
Siang Cin tahu orang menyerukan kata rahasia, maka diapun menanggapi dendan suara yang dibikin serak.
"Betul, akhirnya pohon besi juga berbunga."
Laki2 itu melengak, segera iapun meraung keras.
"Mata2!"
Siang Cin menubruk maju, rantainya melingkar, sekaligus enam golok lawan kena disapunya mencelat ke udara, berbareng telapak tangan kirinya juga menyapu miring, lima laki2 yang kehilangan senjatanya kena ditabasnya roboh.
Sudah tentu tiga orang yang masih hidup menjadi ketakutan, tanpa berjanji serentak mereka menjerit 59 terus angkat langkah seribu.
Bagai setan Siang Cin mengejar, rantainya hanya terayun setengah lingkaran maka terdengarlah suara "Prak, prak, prak", batok kepala ketiga orang sama terhantam hancur, mayat tanpa kepala itu masih terus berlari beberapa langkah lagi ke depan baru roboh tersungkur.
Kini Siang Cin berada di sebuah pekarangan yang luas dan sepi, empang dan gunung2an yang dibangun di sini ternyata hampir menelan separo dari seluruh luas taman ini di depan sana ada sebuah pintu bentuk bulan, pagar tembok mengalingi pekarangan sebelah sana, dibalik dinding tinggi itu kiranya merupakan bangunan berloteng yang berukir dan mentereng, mungkin di sanalah perumahan pertama dari Ceng siong san-ceng.
Dengan langkah lebar Siang Cin langsung mendekati rumah yang terdekat, rumah ini masih memperlihatkan cahaya lampu di salah satu kamarnya.
Di luar rumah ada tanaman bunga berpagar bambu suasana di sini amat nyaman dan serba bersih, Siang Cin berputar ke samping rumah, di sini ada sebuah jendela panjang, kain tirai yang menjuntai melambai tertiup angin, dari luar terlihat kelambu ranjang tertutup rapat.
Tanpa pikir Siang Cin terus melompat masuk mendekati jendela, dia coba menarik daun jendela, ternyata dengan mudah lantas terbuka, kiranya penghuni di dalam lupa menguncinya.
Siang Cin menyelinap masuk, tapi begitu dia berdiri tegak seketika dia tertegun, kiranya inilah kamar tidur seorang perempuan, di dekat jendela ada meja rias berkaca tembaga yang digosok bersih mengkilap, kain sulaman yang setengah jadi terletak di pinggir meja, di sana ada meja tulis serba lengkap, di tengah meja ada pot bunga lagi, semuanya jelas merupakan kesukaan kaum wanita, kelambu yang berwarna jambon menjuntai turun tertutup rapat, di depan ranjang tampak sepasang sepatu sulam.
Hidung Siang Cin juga mencium hau harum, tapi Siang Cin tidak sempat perhatikan semua ini, sekian saat dia berdiri melenggong, akhirnya dia geleng2 kepala, tanpa bersuara dia menyurut mundur.
Tapi baru beherapa langkah, dari dalam kelambu mendadak didengarnya suara nyaring berwibawa membentak.
"Berhenti, sebutkan namamu?"
Siang Cin melenggong, sahutnya setengah membalik badan.
"Kenapa?"
Suara perempuan dalam kelambu agaknya amat marah, tapi juga merasa malu2.
"Kau bajingan ini, tengah malam berani kelayapan memasuki kamar perempuan, sungguh kurang ajar dan tidak tahu malu, meski kau tidak sebutkan namamu, besok juga akan kulaporkan kepada engkoh, kau takkan terhindar dari ganjaran yang setimpal."
Siang Cin tertawa, katanya.
"Dalam hal apa aku kurang ajar? Aku toh hanya kesasar memasuki kamar ini, bukankah kau lihat aku hendak keluar?"
Agaknya perempuan itu mendongkol, serunya.
"Kalau aku tidak terjaga masa kau mau keluar? besar nyalimu, berani kau membantah ........"
Siang Cin melirik ke arah ranjang, katanya.
"Siapa kau? Kenapa aku tidak boleh membantah?"
Perempuan itu mengejek, katanya.
"Malam2 kau keluyuran di kamar tidurku, ini sudah merupakan penghinaan terhadapku, tapi kau malah berlagak dungu, lekas sebutkan namamu, sekarang juga akan kulaporkan kepada engkohku......."
Berpikir sejenak, Siang Cin bertanya .
"Siapa engkohmu?"
Bayangan orang dalam kelambu tampak bergerak, teriaknya melengking.
"Jangan pura2 bodoh, engkohku adalah kepala perumahan di sini, Sek Kui."
Siang Cin menyidi geram, segera dia menghampiri ranjang dengan langkah lebar, rantai tergenggam kencang.
Agaknya perempuan dalam ranjang juga melihat kelakuannya dengan suara melengking dia berteriak gugup.
"Kau ....berhenti ......apa yang hendak kaulakukan?"
Tiba di depan ranjaag, sebelah tangan Siang Cin menyingkap kelambu, terlihat 60 seraut wajah bundar telur nan jelita, meski wjahnya kini penuh diliputi rasa takut dan kaget, tapi tetap menggiurkan.
Denga rasa malu dia mengkeret ke dalam ranjang, kemul ditariknya untuk menutupo dada, begitu wajah Siang Cin yang berlepotan darah dan melepuh membiru itu muncul, seketika dia bergidik seram ketakutan.
Perempuan ini masih muda, gadis berusia likuran, gerakannya tampak gugup berusaha menutupi dengan kemulnya, dengan suara seram gemetar dia berteriak.
"Kau ....keluar kau . kau ....apa yang hendak kau lakukan?"
Siang Cin, menatapnya dengan sorot mata tajam, ucapnya kalem.
"Tadi kau bilang bahwa Sek Kui adalah engkohmu?"
Setelah gemetar sejenak gadis di atas ranjang baru berani menjawab.
"Betul, lekas kau enyah, dia pasti takkan memberi ampun padamu bila ... ."
Siang Cin manggut2, katanya pelan.
"Sudah tentu, seperti juga aku tidak akan mengampuni dia."
Agaknya si gadis melenggong mendengat ucapan Siang Cin yang kaku dingin dan mengancam ini, dia merasa apa yang drkatakan orang ini pasti bukan omong kosong belaka, tapi siapakah orang ini?
Setelah tenangkan diri dia bertanyn.
"Kau, siapa kau?"
Dengan tertawa tawar Siang Cin menjawab.
"Siang Cin."
Mendadak berubah rona muka si gadis, mukanya sepucat kertas, desisnya seperti orang berbisik.
"Siang ....Siang Cin?"
Siang Cin mengangguk.
"Ya, aku ini Siang Cin."
Bergetar badan si gadis katanya tergagap.
"Kau ....bukankah kau.... kau dikurung....di Liong-ong-lau (bui raja naga) ....di bawah empang itu?"
Dengan tenang Siang Cin memandangnya, katanya.
"Pernah terjadi demikian, tapi aku tak suka berdiam lama2 disana."
Dengan sorot mata menampilkan rasa takut dan ngeri, si gadis berkata.pula.
"Kau ....bagaimana kau ....bisa keluar?"
Siang Cin tertawa, tertawa yang membuat mukanya kelihatan lebih seram dan lucu, muka yang penuh bekas luka itu menjadi sedemikian jelek dan menjijikan, sekaligus menampilkan rasa dendam yang tak terlampias.
"Aku ingin keluar, maka aku lantas keluar. Kau pasti merasakan, keadaanku seperti ini teramat jelek bukan? Semua ini berkat hadiah dan karya engkohmu."
Si gadis melenggong sejenak, tanyanya lebih takut.
"Jadi kau hendak menuntut balas padanya?"
Siang Cin menjengek.
"Sudah tentu, demikian pula setiap penghuni yang ada di perumahan ini, malah seluruh orang dalam perkampungan pula, di antaranya sudah tentu termasuk kau, semuanya akan menerima ganjaran yang setimpal."
Semakin keras gemetar si gadis, katanya ketakutan.
"Tuntutanmu takkan berhasi...Ceng-siong san ceng tidak boleh dibuat permainan ...."
Tiba2 Siang Cin tertawa dingin, katanya.
"Memangnya Pendekar Naga Kuning Siang Cin juga boleh dibuat mainan?" -Merandek sebentar lalu ia menambahkan.
"Sekarang kaulah yang menjadi korbanku yang pertama."
Takut luar biasa, sedapat mungkin si gadis mengkeret lebih dalam ke belakang ranjang, tapi dia sudah mepet dinding, jelas tak bisa menyingkir lagi. dengan menggigil dia berkata penuh iba.
"Tidak, jang .... jangan Siang Cin ... jangan...."
Jerit si gadis yang penuh diliputi rasa takut ini terasa seperti tangan yang menggapai dan akhirnya menyentuh sanubari Siang Cin, terasa mengharukan dan harus di kasihani, mirip anak domba yang mengembik diambang pejagalan, memangnya gadis selemah ini, hakikatnya dia tiada kekuatan untuk meronta dan melawan.
Bimbang Siang Cin, ia menatapnya lekat2 tanpa bersuara, akhirnya dia bertanya.
"Siapa namamu?"
Tetap menggigil, si gadis menjawab dengan penuh iba.
"Sek ....Sek Pin."
Siang Cin mengerut kening, katanya.
"Sek Kui sudah setengah abad, dari mana dia memperoleh adik perempuan semuda kau?" 61 Si gadis Sek Pin termenung sejenak, katanya kemudian.
"Kami ....kami saudara satu ayah lain ibu."
Siang Cin mengangguk, katanya.
"Baik, sementara kutinggalkan kau, tapi ini tidak berarti aku akan memberi ampun padamu, bila hatiku berubah kejam kau akan tetap kuganyang juga."
Pelan2 dia lepaskan kelambu serta mundur, baru saja dia membalik, tiba2 ia menyingkap kelambu lagi, ia mengawasi Sek Pin yang masih ketakutan itu, katanya dingin.
"Ingin kutanya, di mana engkohmu mengurung dua laki2 dan dua perempuan yang ditangkapnya? Apakah mereka juga disiksa dan disakiti?"
"Aku ..... aku tidak tahu .., .
Jawab Sek Pin takut2. Mendelik mata Siang Cin, katanya.
"Kalau kau tahu di mana aku dikurung, mustahil kau tidak tahu di mana mereka disekap, kalau kau tidak mau menerangkan, bisa jadi akan kugunakan kekerasan terhadapmu ...."
Sek Pin tampak mewek2, akhirnya air matapun bercucuran, katanya.
"Siang Cin yang terkenal gagah perkasa ternyata juga menyakiti anak perempuan .. ... kalau kuterangkan .... engkohku tidak akan memberi ampun"
Siang Cin melenggong, dengan tajam dia tatap wajah Sek Pin yang berlinang air mata, tanpa sadar dia menghela napas, katanya.
"Baiklah, anggap saja kau memang tidak tahu." -Lalu dia turunkan kelambu terus beranjak ke arah jendela. Pada saat itulah, langkah kaki orang banyak yang riuh disertai suara gaduh berkumandang di taman di balik tembok sana, kejap lain suara lonceng pun bergema dan tambur ber talu2...
"Suara tanda apa itu?"
Tanya Siang Cin.. Sejenak baru Sek Pin menjawab di balik kelambu.
"Suara lonceng dan tambur untuk mengundang bala bantuan."
Siang memejamkan mata, katanya.
"Ya, sudah saatnya mereka tahu bahwa aku telah lolos."
Suara ribut dan langkah orang berlari dengan suara teriakan terus berlangsung di luar sana, rombongan yang satu saling tegur dengan rombongan yang lain.
Siang Cin berdiri tegak, dengan tenang dia mengawasi lentera yang memancarkan cahayanya yang redup di atas meja, geger dari kekalutan di luar itu se-olah2 tiada sangkut pautnya dengan dia.
Dengan rada takut dan suara gemetar Sek Pin memanggil.
"Siang Cin ...."
"Ada apa?"
Tanya Siang Cin dengan pandangan tajam.
"Kau tidak takut?"
Tanya Sek Pin kagum. Siang Cin tertawa.
"Apa yang harus kutakuti?"
"Mereka akan menangkapmu."
Memandang rantai ditangannya, Siang Cin berkata.
"Mereka takkan mampu menangkapku, entah sudah berapa kali aku pergi balik ke neraka, aku adalah tamu yang paling dikenal di sana, raja akhirat malah tidak mau menyambut kedatanganku, mungkin kuatir bila aku bikin onar di sana ......"
Suasana tenang sejenak, tiba2 terdengar langkah kaki ringan di balik kelambu sana, kata si nona.
"Siang Cin, kau pandai bicara dan suka humor." . Siang Cin ber-kedip2, katanya hambar.
"Tapi dikala aku berang, tidak sedikit orang akan celaka."
Mungkin sedang memikirkan sesuatu hal, sesaat kemudian baru Sek Pin berkata pula.
"Untuk sementara ini aku berharap kau tidak tertangkap oleh mereka."
Dengan tertawa tak acuh Siang Cin betkata.
"Karena aku suka humor?"
"Dan ..... hatimupun baik"
Mendengus Siang Cin, katanya.
"Sembarang waktu akupun bisa naik pitam dan tak kenal kasihan. Nona, sebentar kau akan menyaksikannya."
Agaknya Sek Pin sedang termenung, entah apa yang lagi dipikirnya, pada saat itulah langkah orang banyak terdengar berlari datang dan berhenti di luar, menyusul suara ketukan pintu lantas berkumandang, kejap lain pintu terbuka lalu terdengar suara 62 seorang berkata dengan kasar.
"Cui-hoa, apakah sudah tidur? Suara seorang gadis dengan rasa kesal menjawab.
"Ada urusan apa kalian ribut2? Tengah malam buta mau apa kalau Siocia tidak tidur? Lo Kim kau ini semakin tua semakin pikun, di tempat ini juga kau berani sembarang main gedor."
Suara kasar itu ngakak tawa, meski nadanya ramah tapi suaranya tetap kasar menusuk kuping, katanya.
"Jangan marah nona Cui-hoa yang baik, urusan memang cukup genting, bocah she Siang tawanan kita telah lolos dari "bui raja naga"
Tujuh pos jaga telah diobrak-abrik, tiada satupun yang tertinggal hidup, darah berceceran, borgol besi hanya sekali puntir telah diputus olehnya, kematian Gu-losam dan Li jit amat mengenaskan, seorang pecah batok kepalanya, seorang lagi mati dengan rantai tembus dari mulut ke kuduk.
hiii, sungguh mengerikan .........
Si gadis juga menjerit ngeri tertahan, katanya.
"O Thian, kejam amat orang she Siang itu? Dengan lolosnya ini pasti banyak korban akan jatuh pula, apalagi kalau dia mengamuk?"
Suara serak kasar itu ter kekeh2, katanya dengan nada pahlawan.
"Jangan takut, Cui-hoa mungil, ada aku Cun-thian-kan di sini"
Umpama orang she Siang itu memiliki enam lengan tiga kepala juga takkan berani mengusik seujung rambutmu. Hm, kalau tak percaya boleh suruh dia rasakan kelihayan gada penggetar langitku ini."
"Lo Kim yang baik,"
Terdengar Cui hoa berkata dengan rasa kuatir.
"kau harus lekas menangkapnya, jangan sampai dia lolos, lekas kau panggil orang untuk menjaga keamanan Siocia, bila ada keadaan apa2 .... .. Suara kasar itu mengiakan, lalu berkata sambil menepuk dada.
"Jangan takut, jangan kuatir, memang atas perintah Wancu aku di suruh melindungi kalian, seluruh jago dari tiga perumahan dalam perkampungan kita kerahkan, para saudara terbagi dalam beberapa kelompok dan sedang menggeledah seluruh pelosok, para kawan sekaum yang berada di luar perkampungan juga bantu memberi kabar kemana2 agar mereka bantu membekuk bocah she Siang itu, umpama dia tumbuh sayap juga jangan harap bisa lolos."
Siang Cin mendengarkan dengan tertawa tak acuh, tapi Sek Pin yang ada di dalam kelambu tiba2 berkata dengan rasa gusar dan takut.
"Siang Cin, kau membunuh orang?" .
"Em,"
Siang Cin menggerem dalam tenggorokan.
"Apa yang dikatakan itu apa benar kerjamu?"
Tanya Sek Pin. Diam sebentar, akhirnya Siang Cin mengangguk, katanya.
"Ya, seluruhnya."
Marah dan dendam suara Sek Pin.
"Kau iblis laknat, algojo yang kejam ...."
Siang Cin tertawa geli, katanya.
"Omonganmu lebih pantas kalau kau cantumkan atas nama engkohmu bila kau melihat buah tangan engkohmu sendiri."
"Aku tidak percaya!"
Seru Sek Pin,"
Umpama benar juga kau sendiri yang cari penyakit."
Siang Cin tertawa tawar, katanya.
"Betul, kita memang mencari penyakit sendiri, berkecimpung di kalangan Kangouw memang sulit untuk membedakan siapa salah dan benar. Sekarang, umpama kau mau berteriak, kau boleh berteriak sekerasnya, rneski aku bisa membunuhmu sebelum mereka menerjang kemari, tapi aku tidak akan bertindak demikian-"
"Kau kira aku takut, aku justeru mau berteriak, akan berteriak ...."
Belum habis dia bicara tiba2 dirasakan kelambu bergetar, dua bintik benda terpaut serambut menyambar lewat pipinya menancap dinding di belakangnya, cepat ia menoleh, seketika dia menjerit kaget, bintik hitam kecil yang menancap di dinding itu kiranya adalah dua kelopak bunga mawar, memang di atas meja ada pot bunga mawar yang lagi mekar.
Wahtu dia menoleh lagi, bayangan Siang Cin sudah tidak kelihatan, bagai setan saja hanya sekejap orangnya sudah lenyap entah ke mana.
Sementara itu laksana anak panah cepatnya Siang Cin melesat keluar dan melayang ke atas dinding, dengan jelas dia saksikan obor benderang di rnana2 sehingga seluruh perkampungan menjadi terang seperti siang hari, bayangan orang tampak 63 bergerak2 membawa senjata berkilau, mereka mondar mandir kian kemari, suara makian, teriakan, aba2, semuanya ribut dan tegang.
Setelah menghirup napas segar Siang Cin berdiri bertolak pinggang di atas tembok, tentu saja jejaknya segera terlihat oleh orang2 Ceng-siong-sanceng yang lari kian kemari, maka didengarnya seorang berteriak bagai melihat setan.
"Naga Kuning! Hayo kawan2, inilah dia orangnya, lekas kemari, keparat she Siang berada di sini , ... lekas kemari..."
Mendengar suara itu barisan yang tersebar di mana2 itu serentak berlari kemari, oborpun berkumpul sehingga keadaan di sini menjadi lebih benderang lagi.
Seorang laki2 berewok berperawakan besar bagai biruang dengan bersenjata gada besar mendahului menubruk tiba di bawah tembok, teriaknya memaki.
"Siang Cin, kalau kau manusia, lekas kau turun, berlutut dan bertobat di depan Kim loya, jangan bertingkah bagai pahlawan bertengger di atas tembok melulu."
Siang Cin menyeringai, katanya.
"Kalian cuma pintar rebut dan bikin geger saja, kenapa kau kuatir, orang she Siang pasti tuntut darah yang mengalir dari badan orang she Siang, siksa derita yang kualami, kalian harus membayarnya berlipat ganda ....."
Belum habis dia bicara, suara jepretan busur telah memberondang ke arahnya, jalur2 sinar perk tak terhitung banyaknya sama tertuju ke arahnya dengan deru suara mendenging.
"Mampuskan saja anak kura2 itu." -"Hayo saudara2, tambah tenaga, bidiklah yang tepat biar dia menjadi landak." -"Acungkan obor lebih tinggi, nah pegang yang kuat ......"
Terdengar teriakan dan saling memberi aba2, di tengah keributan itu, hujan panah masih terus berlangsung.
Siang Cin menghardik sekali, bagai seekor bangau raksasa mendadak dia melambung tinggi di udara lalu berkisar satu lingkaran, terus menukik dengan kecepatan luar biasa, tiada yang melihat jelas, tahu2 puluhan orang menjerit jatuh ter-guling2.
Begitu Siang Cin tancap kaki ke bawah segera ia melejit tinggi pula, kembali rantainya bekerja, puluhan orang disapunya roboh dengan kepala pecah.
Gerakannya laksana kilat, berulang kali dia lompat kian kemari, dalam waktu singkat lima puluhan jiwa telah melayang, semuanya mati dengan kepala hancur, darah berhamburan, busur panahpun tercecer di tanah.
Jerit tangis berpadu dengan teriakan gegap gempita, tak ubahnya neraka di alam fana ini, jagal manusia berlangsung tanpa kenal ampun.
Cun thian kan Kim Wi tampak terluka jidatnya, untung kepalanya hanya keserempet rantai, mukanya tampak berlepotan darah dan mengalir membasahi pundak, mengejar tidak berani, menyerang tidak mampu, terpaksa dia hanya ber teriak memberi aba2 sambil mencak2.
Masih ada ratusan orang2 Ceng-siong-san-ceng yang mengepung, tapi mereka hanya berteriak2 sambil angkat senjata di luar kalangan, tiada satupun yang berani menyerbu maju.
Wajah Siang Cin yang melepuh penuh noda darah menampilkan secercah senyum kejam, sekilas ia menyapu pandang orang2 di sekeliling yang mengepungnya.
Sekejap tampak keributan diantara orang2 yang mengepungnya, lalu dari belakang sana terdengar teriakan senang dan sambutan gegap gempita.
Di bawah penerangan obor terlihat jelas beberapa bayangan orang tengah bergerak ke arah sin dengan gerakan tangkas, dilihat dari gerak lompatan beberapa orang itu, jelas bahwa yang datang ini adalah jago2 yang berilmu tinggi.
Selama ber tahun2 sudah biasa dan merupakan tradisi yang tak berubah bagi Siang Can untuk bergerak dulu menundukkan musuh, kini iapun menyeringai, sebat sekali dia menerjang rombongan orang yang mengepungnya bagai pagar betis itu.
Cun-thian-kan Kim Wi meraung bagai harimau ngamuk, gadanya yang besar mengkilap kuning berputar membawa kisaran angin kencang terus mengepruk batok kepala lawan.
dua puluhan orang di sebelah serempak juga angkat senjata 64 menyerbu maju, golok besar yang kemilau tajam sama membacok badan Siang Cin.
Rantai di tangan Siang Cin tiba2 mengeras lurus bagai toya menyodok.
"trang", gada Kim Wi kena disampuknya miring ke samping. bagai ular sakti rantai Siang Cin kembali melingkar di udara, berbareng telapak tangan kiri Siang Cin setajam golok membabat miring, darah segera menyembur keluar, sekaligus dia sudah mencabut delapan belas nyawa, semuanya dengan dada robek, isi perut kedodoran memenuhi tanah. Belum lagi golok yang tersapu terbang ke udara dan berjatuhan, jerit dan pekik memilukan jeperti berlomba menusuk pendengaran. tujuh-deltapan batok kepala orang2 Ceng-siong-san-ceng kembali mencelat berpisah dengan lehernya. Betapa cepat gerakan Siang Cin, hebat serangannya, sungguh mirip iblis yang hendak membabat habis mangsanya. Mulut Kim Wi masih terus ber-kaok2, seperti orang linglung saja dia terus mengejar ke mana Siang Cin menerjang. Tapi seperti seekor kerbau tengah mengejar seekor burung yang berlompatan lincah kian kemari, bukan saja membuang tenaga sia2, kelakuannya juga kelihatan lucu, bodoh menggelikan. Se-konyong2 Kim-Wi merasa pundaknya ditepuk ringan, lekas dia berpaling, terasa angin berkesiur lewat di samping pipinya, kontan dia merasakun pipinya panas, pulang pergi mulutnya kena digampar ber-kali2, saking keras dan kesakitan dia terhuyung jatuh terduduk, darah bersama giginya tersembur dari mulutnya, tapi siapa yang menghajarnya, bayangannya saja dia tidak lihat. Kini keadaan betul2 kalang-kabut, obor yang masih menyala berserakan tercampur dengan berbagai macam senjata tajam, manusia berlari kian kemari secara membabi buta, mereka yang masih kuasa membawa lari badannya saling terjang dan berusaha menyingkir menyelamatkan diri dan dan cari selamatnya sendiri itu maka mereka tidak membedakan lagi kawan atau lawan, saling gasak dan gontok sendiri. Sementara Siang Cin enak2 berdiri di bawah pohon menonton musuh saling baku hantam sendiri, keadaan sekelilingnya yang serba mengerikan tidak mempengaruhi tekad juangnya, se-olah2 mereka yang sedang saling hantam untuk menyelamatkan diri itu tiada sangkut pautnya dengan dia. Tiba2 bergema bentakan keras, tampak bayangan seorang meluncur tiba, inilah si "kokok beluk muka putih"
Sek Kui. Baru saja dia meluncur turun, segera ia menghardik bagai geledek.
"Semuanya tenang!"
Belum lenyap suaranya, tujuh delapan bayangan orangpun meluncur tiba, dua diantaranya adalah pemuda berjubah biru dengan sulaman kupu2 rnerah di depan dada, empat laki2 lain berumur 40 an bertubuh kekar dengan muka kasar dan merah, seorang lagi berperawakan tinggi kurus, mukanya hitam legam, kumis pendek, sikapnya congkak.
Lekas sekali Sek Kui menemukan Kim Wi, sekali raih dia jinjing orang dari tanah serta mendesis dengan nada berang.
"Kim Wi apa yang terjadi?"
Cun-thian-kan Kim Wi geleng2 kepala menghilangkan rasa pusingnya, sahutnya kebingungan.
"Siang Cin ....keparat itu ada di sini ....hayo ganyang dia ...."
Sek Kui dorong tubuh Kim Wi sampai jatuh terjungkal, serunya sambil celingukan.
"Hayo geledah lekas temukan dia."
Tujuh orang di belakangnya segera memberi tanda, para centeng yang baku bantam sendiri tadi kini terpaksa mulai menggeledah ke segenap penjuru, sementara beberapa kelompok barisan yang bersenjata lengkap ber-bondong2 mendatangi, obor menyala terang dan terangkat tinggi.
Saking gemas Sek Kui mengertak gigi, katanya.
"Semua mengira keparat itu lari ke belakang gunung, sungguh tak terkira dia sudah inenerjang ke depan. Salah kita kenapa menugaskan Kim Wi si otak kerbau itu bertugas di sini hingga jatuh begini banyak korban ....... Laki2 kurus itu menanggapi dengan tertawa dingin.
"Biarpun tidak memperoleh keuntungan apapun, jago2 kosen kita begini banyak, dia hanya berlagak jagoan terhadap kaum keroco ...... ." 65 Sek Kui menggosok kepalan, katanya.
"Hian-te sudahkah kau suruh memanggil orang2 kita yang berada di luar?"
Laki2 kurus mengangguk, sahutnya.
"Ih-moa-cu sudah pergi, semula Wancu di perumahan tengah dan di belakang sama mengejar ke arah timur, sedang Cengcu sendiri membawa Cit-hwi-cui mengudak ke arah barat, mungkin sekarang sudah puluhan li jauhnya ......"
"Keparat yang licik dan licin,"
Omel Sek Kui dengan gemas.
"kukira setelah disiksa berat begitu rupa, ditambah bekerjanya San-kin-sip-kip-tan, luka2 dalamnya belum sembuh pula, pasti tidak akan terjadi apa2, sungguh di luar perhitungan bahwa dia mampu melarikan diri, Liong ong lau pun tak kuasa menyekapnya ......."
Selintas senyum sinis terbayang di muka laki2 kurus, katanya dingin.
"Seharusnya gorok saja lehernya, beres."
Sek Kui meliriknya sekilas tanpa bersuara, memang sekarang dia menyesal kenapa tidak mampuskan Siang Cin saja?
Namun menyesalpun sudah kasip sekarang.
Dari kejauhan tampak dua bayangan orang tengah berlari mendatangi, yang di depan adalah Kongsun Kiau-hong, si orang tua yang pura2 sakit batuk dan rematik, di belakangnya adalah si nona jelita Kiang Ling.
Belum lagi tiba dari kejauhan Kongsun Kiau hong sudah berteriak.
"Sek lote, ada orang memberitahu kepada kami, katanya Siang Cin membobol penjara dan melarikan diri?"
Dengan dingin Sek Kui mengangguk, katanya sambil menunjuk sekitarnya.
"Betul, Kongsun-heng, semua korban itu adalah buah karyanya". Kongsun Kiau hong memandang para korban yang tak terhitung jumlahnya, mau tak mau dia bergidik seram, Kiang Ling juga merinding, mukanya pucat. Setelah menghela napas Kongsun Kiau-hong berkata.
"Ilmu silat Siang Cin sungguh tak terukur tingginya, se olah2 dia memiliki kekuatan terpendam yang maha sakti . .. ... sebelum dia semaput dulu waktu di Tiang-yu-san, Ling-ji muncul dan hampir saja dia mati di bawah tabasan tangannya, kalau Lohu tidak menariknya, jiwanya tentu sudah melayang. Walaupun demikian pintu tebal yang terbuat dari kayu cemara itupun jebol berantakan, padahal dia sudah keracunan kalau dalam keadaan biasa entah betapa hebat kekuatannya ......"
Sek Kui membuka mulut mau bicara. tapi dia urungkan niatnya, malah laki2 kurus itu yang menanggapi dengan nada menyindir.
"Kongsun-toaheng, bila orang pernah digigit ular, melihat tambangpun dia ketakutan. Asal pernah selesma, melihat pohon bergoyang tertiup anginpun badan merinding kedinginan, padahal Siang Cin kan bukan raksasa berkepala tiga dan bertangan enam ...."
Mendelik mata Kongsun Kinu-Kong, tapi dia tekan hawa amarahnya, hanya hidungnya mendengus keras2. Melihat sikap kedua orang yang sama berang, lekas Sek Kui menengahi, serunya keras.
"Kim Wi, memangnya kau sudah mampus, kenapa berdiri melongo saja?" . Dua pemuda berjubah biru bersulam kembang merah di depan dadanya mendekat, seorang yang perawakan agak tinggi mengangguk kepada Sek Kui, katanya.
"Wancu, tiada terdapat jejaknya di sekitar sini, tiada seorangpun yang tahu kapan dia menyingkir, gerak-geriknya terlampau cepat ...."
Serba susah Sek Kui, katanya kemudian.
"Geledah lagi lebih cermat."
Kedua pemuda membungkuk terus mengundurkan diri. Laki2 kurus itu mendengus pula, katanya.
"Siang Cin keparat itu ternyata cepat juga kalau melarikan diri, kalau dia laki2 tulen, seharusnya menunggu kedatangan kita, betapapun cepat dan tangkas gerakannya. coba dapatkah dia menyingkir dari tangan kita ...."
Sorot mata Sek Kui kelam, baru saja dia hendak menyemprot pembantunya ini.
"sret", sesosok bayangan orang tahu2 meluncur dari pucuk pohon siong sebelah sana, hampir bersamaan seutas benda hitam panjang sudah menyambar tiba, begitu keras daya sambaran benda hitam panjang ini. Cepat Sek Kui dan lain2 melompat sejauh mungkin, begitu rantai besi tidak mengenai sasaran, suara gemerantang terasa memekak telinga, tahu2 laki2 kurus itu terhuyung kedepan, jubah bagian punggungnya tampak berhamburan, rasa 66 panas pedas membuatnya menjerit keras. Baru sekarang Sek Kui melihat jelas penyerang ini, seketika dada hampir meledak, dampratnya.
"Kunyuk, bila kau bisa keluar dari Ceng-siong-sanceng, anggaplah hidup orang she Sek sia2 selama ini."
Tetap tenang sikap Siang Cin, katanya.
"Nah, marilah kita coba?" -Lalu dia menoleh ke arah laki2 kurus, jengeknya tertawa.
"Bagaimana saudara, cukup cepat bukan?" . Laki2, kurus itu meraung gusar, matanya melotot, begitu kaki menggeser ke samping, sebilah senjata kemilau segega menusuk dada Sang Cin. Sambil mengegos Sang Cin mendengus. Hm, potlot besi keluarga Li juga cuma begini saja."
Memang laki2 kurus ini adalah adik kandung dari Ciangbunjin Thi-pit-li-keh generasi ketujuh, dalam kalangan Kangouw dia terkenal dengan julukan Ceng-pi-pit (potlot lengan hijau) Li Thi, sekarang dia merupakan salah satu jago kosen dibawah Wancu pertama Ceng-siong-san-ceng.
Sepatah kata Siang Cin saja telah membongkar asal usul lawan, segera Li Thi menerjang maju pula, serunya .
"Siaing Cin, marilah kita perang tanding ......."
Berputar laksana kilat rantai Siang Cin, rangsakan kencang dan deras ini membuat Li Thi terdesak mundur tiga langkah, Siang Cin mencemooh.
"Hah, kau masih jauh untuk bisa menandingiku."
Mendadak Sek Kui menghardik, dari kejauhan dia melontarkan lima pukulan ke arah Siang Cin, tenaga pukulannya yang kuat menimbulkan damparan angin kencang, Siang Cin berputar laksana gangsingan, tahu2 tubuhnya sudah menyingkir ke sana serta membalik pula, dilain putaran pergi datang ini, dia serang Li Thi serta balas memukul Sek Kui beberapa kali.
Kongsun Kiau-hong berteriak, sejalur sinar tahu2 menutuk tiba, tanpa mengedip Siang Cin tegakkan telapak tangan kiri dan balas mematuk terus ditarik pula.
"traang", dia sampuk balik sebatang toya baja yang runcing ujungnya. Bentakan nyaring berkumandang pula, bayangan semampai ikut berkelebat menyelinap maju diantara orang banyak, dua bintik sinar menyambar ke leher Siang Cin. Tapi rantai Siang Cin berputar membawa kisaran angin puyuh, dengan tangkas kaki tangan nya bekerja, tangkis atas dan sampuk kiri, tendang bawah tangkis ke kanan, dengan tenang dia berkata.
"Nona Kiang, kali ini Kongsun Kiau-hong tidak akan sempat menarikmu menyingkir lagi "
Kongsun Kiau-hong meraung gusar, toya runcingnya mengemplang dan menusuk sekali gerak dia lancarkan sembilan jurus serangan, sementara potlot Li Thi yang mengkilat itupun menyerang cepat dan lincah, dibantu tenaga pukulan Sek Kui yang mantap, empat orang mengepung ketat dan menyerang gencar, Kelima orang bertempur seperti bermain akrobat berlompatan dan berjumpalitan, putar sana kisar sini, kadang2 senjata kelima orang serempak saling beradu.
debu pasir beterbangan tinggi tersapu oleh pusaran angin yang ditimbulkan gerakan tangan, kaki dan senjata mereka.
Tanpa suara dan memberi peringatan, dua bayangan orang tiba2 menubruk tiba pula, di depan baju mereka tampak bersulam bunga merah, selincah kupu2 mereka menyelinap masuk, dua bilah pedang panjang yang bobotnya jauh lebih berat dari pedang umumnya segera menyerang Siang Cin dari kiri-kanan.
Dengan enteng Siang Cin meluputkan diri dari tusukan Toa-pui-kiam kedua pemuda yang main sergap ini.
"Anak muda,"
Jengeknya.
"sebutkan namamu."
Sembari menyerang pemuda yang lebih tinggi memaki gusar.
"Biar kau mampus dengan rela, aku So Gan dari Thi-kiam-siang-tiap ( pedang besi sepasang kupu2 )."
Siang Cin mencibir, rantainya menyampok potlot Li Thi, sebat sekali dia berputar, dengan tendangan gencar dia desak mundur Kongsun Kiau-hong, dengan tubuh sedikit miring dia menyelinap maju ke depan So Gan, katanya.
"Saudara So, kukirim kau ke akhirat lebih dulu."
So Gan tidak jelas cara bagaimana lawan menyelinap ke depannya, begitu cepatnya 67 sehingga belum sempat berpikir, tahu2 batok kepalanya di kepruk remuk.
"Kokok beluk muka putih"
Sek Kui melihat jelas kematian anak buahnya ini, keruan hampir meledak dadanya saking murka.
dengan suara serak dia berteriak, segera iapun melancarkan pukulan dahsyat.
Adik So Gan yang bernama So Jiang juga menusuk dengan Toa-kui-kiam, kembali Siang Cin menyampuk potlot Li Thi dengan rantai, sedikit miring badan, sekaligus dia hindarkan tonjokan toya runcing Kongsun Kiau-hong, sementara sikutnya menyodok kearah Kiang Ling, sekali sendal pula rantainya menggulung ke arah Sek Kui, hampir dalam waktu yang sama, bayangannya tahu2 sudah melejit kedepan So jiang.
Sek Kui menjerit kaget, secepatnya dia memukul tiga kali berusaha menyingkirkan sambaran rantai, sementara tangan yang lain menghantam Siang Cin, akan tetapi hanya terpaut sedetik saja, didengarnya So Jiang mernekik panjang dan roboh terkapar.
Merah bola mata Kongsun Kiau-hong, toyanya berputar bagai kitiran, ujungnya yang runcing menusuk dengan ganas, tanpa hiraukan keselamatan nyawa sendiri dia menyerbu dengan nekat.
Secepat kilat Siang Cin sendal rantainya.
"srett", sekali berkisar, dengan jurus Kui-so bun dia menubruk ke arah Kiang Ling.
"Lekas mundur Ling-ji ...."
Serasa pecah jantAung Kongsun Kiau-hong, teriakannya terasa tegang dan panik.
Sebisanya Kiang Ling menjatuhkan tubuhnya ke belakang, sementara Sek Kui menyelinap maju, bersama potlot Li Thi sekaligus mereka mencogat dan menangkis, tapi gerakan Siang Cin teramat cepat, bayangan telapak tangan tetap menyambar lewat, Kiang Ling menjerit, badannya berputar dan akhirnya jatuh terguling.
Serasa hancur hati Kongsun Kiau-hong, dengan terbeliak ia berjalan ke arah Kiang Ling, sementara itu sebat sekali Siang Cin tengah menghindari pukulan Li Thi, begitu putar badan, seperti bayangan setan tahu2 mengudak ke belakang Kongsun Kiauhong.
Kelihatan pucat pias selebar muka "Kokok beluk"
Sek Kui, sambil berteriak kalap dia menubruk maju dengan gaya macan kumbang kelaparan, di udara beruntun dia lancarkan pukulan pada Siang Cin.
Dalam waktu yang sama mendadak Kongsun Kiau-hong membalik, toya ditangannya langsung menghantam ke dada Siang Cin.
Siang Cin se-olah2 berada di tengah2 pusaran air yang berarus kencang, mendadak dia menarik diri menghentikan luncurannya, dengan cepat luar biasa telapak tangannya menyanggah ke atas terus menggentakkan pula, di tengah dengung getaran toya baja, tampak toya di tangan Kongsun Kiau-hong telah melengkung, sementara rantai Siang Cin lewat bawah ketiak langsung menusuk lurus ke arah Sek Kui yang menubruk tiba.
Beberapa jurus pukulan yang dilontarkan Sek Kui sekaligus kena dipunahkan oleh gerakan rantai lawan, keruan saking gemas kedua matanya menyala merah, sambil menggertak gigi cepat dia mengegos ke samping.
Pada saat itulah tampak empat sosok perawakan tinggi besar menerjang maju dari kegelapan, empat golok raksasa peranti membelah kayu secara bersilang membacok Siang Cin.
Sambil mengegos Siang Cin mengejek.
"Ya, sudah tiba saatnya kalian harus maju bersama."
Berbareng rantainya gemerincing menyambut bacokan keempat golok raksasa ini, belum lagi rantainya bentrok dengan senjata lawan, kembali dia menyendal, tahu2 ujung rantainya menukik balik menggulung ke arah Li Thi yang baru putar balik dari sana.
Cemas hati Sek Kui, sebegitu jauh serangan mereka tiada hasilnya, betapapun ganas dan cepat serangan mereka, selalu selangkah kalah cepat daripada lawan, keroyokan mereka ternyata sia2 belaka.
Dengan tujuh lawan satu, Siang Cin bukan saja tak terkendali, malah semakin cepat dan sukar diraba, serangannya terutama dipusatkan ke arah Kongsun Kiau hong dan Sek Kui sehingga kedua orang ini didesaknya hingga kerepotan mempertahankan diri.
68 Sementara di luar gelanggang ratusan orang Ceng-siong son-ceng dan bantuan dari luar telah memagarinya dengan rapat, nyala obor menerangi muka hadirin yang kelihatan tegang dan terpesona, semuanya bersenjata tapi tiada satupun yang berani ikut terjun ke tengah gelanggang, karena mereka tahu dengan sedikit kepandaian "cakar ayam"
Yang dimiliki, mereka jelas tiada gunanya, paling2 menambah jumlah korban pula, apalagi hal itu akan menjadikan rintangan pula bagi Sek Kui dan kawan2nya yang lagi mengerubut Pendekar Naga Kuning.
Sejak Siang Cin menggasak Sek kui dan kawan2nya sampai kini, paling2 baru semasakan air, tapi dalam jangka waktu pendek ini, bukan saja tak mampu menyentuh baju lawan, malah yang mati dan terluka parah sudah puluhan orang di pihak yang mengeroyok.
Mendadak orang2 Ceng siong san-ceng yang mengepung di luar gelanggang sama bersorak gembira seorang Thaubak berseru.
"Nah, Cengeu dan dua Wancu sudah datang."
Tujuh orang yang masih bertempur mati2an seketika berkobar semangatnya, Sek Kui menendang dan memukul beberapa jurus, raungnya;
"Bertahanlah, kepung keparat ini."
Li Thi menyerang juga, tapi dia hanya memainkan kelincahan Bak hoa pit keluarga Li yang mengutamakan kegesitan, sementara keempat lelaki besar itu dengan golok mereka bergerak rapat, membabat dan membacok.
Sementara Kongsun Kiau-hong berputar kian kemari, toyanya bergerak serba aneh, selalu dia menyelinap setiap ada peluang dengan sergapan yang mematikan.
Kini pihak mereka budah berpegang pada serangan bertahan, tidak berani merangsak secara semberono.
Sebetulnya ketahanan fisik Siang Cin belum kuat sepenuhnya, luka luar dalam belum lagi sembuh, belum tentu dia mampu menumpas habis musuh di depan mata, tapi bila mau dia bisa saja menjebol kepungan dan tinggal pergi bahwa dia masih menyimpan tenaga dan hawa murninya, sebab dia sudah ber-siap2 untuk bertempur besar2an demi kehormatan dan menuntut balas dan melampiaskan dendam, sekarang dia sengaja menunggu kedatangan jago2 musuh yang lebih kosen, dia ingin menagih utang darah bagi derita dan hina yang diterimanya ini.
Dalam pada itu cepat sekali dua puluhan orang bagai burung beterbangan terus meluncur datang langsung menubruk ke tengah gelanggang.
Sek Kui lontarkan dua jurus serangan lalu berpaling, teriaknya.
"Keparat ditengah lingkaran inilah Siang Cin."
Siang Cin mendengus, belum lagi musuh sempat hinggap di tanah, secepat kilat ia melesat maju menyongsong kedatangan musuh, di tengah udara tampak bayangan orang2 itu menjadi sedikit kacau, dua bayangan orang diiringi jentan mengerikan beserta hamburan darah terbanting jatuh.
Rantai gemerantang bergema di angkasa.
berkumandang pula suara Siang Cin yang dingin.
"Aku inilah Naga Kuning, penagih utang dari nereka ."
Suara Siang Cin bagai bunyi guntur di angkasa, tahu2 sosok tubuh orang bagai gumpalan daging melayang turun terbanting keras di tanah.
Lalu dengan gerak jumpalitan yang indah Siang Cin sekaligus menghindarkan diri dari serangan lawan, kejap lain bayangan orang2 banyak itupun sudah turun hinggap di atas tanah secara berkeliling.
Seorang tua berusia enam puluhan dengan muka lebar bersikap dingin kereng berdiri di pinggir sana, dia mengenakan jubah panjang warna putih perak dengan sulaman huruf indah, dengan tatapan dingin dia mengawasi Siang Cin.
Siang Cinpun balas menatapnya, sesaat baru orang itu berkata dengan nada angkuh.
""Kau ini Naga Kuning?"
Pelan2 Siang Cin mengusap mukanya, sahutnya tawar.
"Tidak salah."
Dingin sorot mata si orang tua, serunya bengis.
"Siang Cin, kau terlalu jumawa.".
"Ini baru mulai,"
Sahut Siang Cin ketus. Orang tua itu ter-gelak2, katanya.
"Anak muda, dengan tenagamu seorang kau ingin membantai orang2 Ceng-siong-san-ceng?" 69 Sang Cin mendengus, jawabnya.
"Ha It-cun, jangan takabur atas kemampuanmu sendiri, yang terang Ceng siong san ceng kalian takkan mampu menahan Siang Cin si Naga Kuning."
Orang tua ini adalah In-tiau (rajawali mega) Ha It-cun yang tersohor di Kangouw sebagai pemilik utama Ceng-siong-san-ceng, orang ini memiliki kepandain silat tinggi jiwanya culas, banyak akal muslihat dan keji, di wilayah barat ini dia merupakan pentolan tertinggi dari kalangan hitam.
Ha It-can manggut2 dengan wajah kaku, katanya.
"Siang Cin, kau memang tabah dan pemberani, tapi kau salah sasaran untuk keberanianmu ini."
Siang Cin membasahi bibirnya yang pecah dant kering, katanya ketus.
"Kita sama2 tahu akan kekuatan lawan, Ha It-cun, dihadapan Naga Kuning jangan kau jual ]agak sebagai orang yang lebih tua, bobotmu belum memadai untuk bertingkah di depanku. kini hanya darah yang akan mencuci bersih dendam kesumat antara kita."
Berkilat sejenak mata Ha It cun, ia menoleh ke kiri-kanan, lalu berkata dingin.
"Betul, kita akan sama2 ingat perkataan ini."
Mendadak dia menepuk tangan bentaknya.
"Cit hwi cui!"
Tujuh laki2 bertubuh kekar dengan wajah buas segera melangkah ke depan, mereka sama mengenakan seragam putih perak yang ketat, setiap tangan mereka sama memegang sebilah godam segi delapan yang tergandeng oleh rantai, mereka adalah pengawal pribadi Ha It-cun.
Siang Cin memincingkan mata, dikala kelopak matanya mengedip itulah dengan kecepatan di luar dugaan tahu2 rantai di tangannya menyerampang empat orang yang berada di sebelah kanan.
Ha It-cun berjingkrak murka, bentakoya.
"Keparat, sombong benar!"
Di tengah kumandang suaranya ini rantai Siang Cin tahu2 membelok menyapu ketiga orang di sebelah kiri, lekas ketiga orang di sebelah kiri yang diserang melompat mundur.
Sek Kui membentak, cepat iapun turun tangan dan melontarkan pukulan dahsyat.
Deru angin pukulan yang kuat berpusar bagai angin puyuh, Siang Cin tahu2 melompat mundur, sementara seorang laki2 tambun dengan perut gendut bagai gentong tengah mengayun kepalan menyerang dari belakang, berbareng tujuh godam juga mengepruk tiba.
Siang Cin menyendal rantainya balas menggempur, sementara telapak tangan kirinya bergerak mengaburkan pandangan lawan, kembali ia menggempur mundur potlot Li Thi yang hendak membokong.
Kini Siang Cin sudah bertekad membalas kekejaman dengan kekejaman, hutang darah ditagih darah, ia melayang pergi datang bagai cahaya yang sukar ditangkap dan diraba.
"Wuut". dua godam lawan melesat lewat, mendadak Siang Cin melompat mundur menerjang Li Thi, karena tak mampu menangkis, lekas Li Thi melompat ke belakang, tapi rantai Siang Cin telah terayun kaku laksana pentung dilandasi tenaga dalam.
"prak", batok kepala salah satu dari ketujuh orang bersenjata godam terkepruk hancur. Rantai yang berlepotan darah itu masih terus terayun, Li Thi menghardik, mendadak dia menubruk maju hendak merebut rantai lawan, tapi di kala tangannya masih terpaut serambut dari rantai lawan, Siang Cin yang tampaknya berada agak jauh itu tahu2 berkelebat tiba, telapak tangan yang tegak miring itupun menabas lehernya. Li Thi menggembor sambil mengkeret lehernya, potlot besi ditangan kanannya menusuk lambung orang, sementara tangan kiri tetap menarik rantai, entah mengapa, dengan mudah rantai terpegang dan tertarik, tak tahunya se-konyong2 rantai itu bagai ular terus melilit ke atas menggubat lehernya. Tadi waktu dia mengkeret leher menghindarkan tabasan telapak tangan lawan, sementara rantaipun oleh Siang Cin dibiarkan Li Thi menangkapnya, maka dibawah sendalan tenaga dalamnya, Li Thi kontan merasa lehernya seperti diganduli benda berat. Tersirap darah Sek Kui, sembari berteriak kuatir, belum sempat dia menubruk maju 70 menolong, gerakan Siang Cin ternyata lebih cepat, tahu2 badan Li Thi kena diseret dari ditempat pergi dua tombak jauh. Kongsun Kiau-hong menghela napas panjang, dia memburu ke sana, tapi Ha It can menggeleng kepala, katanya.
"Tak usah ditolong, percuma, tulang leher Li Thi telah patah dikala dia bicara ini, salah satu dari ketujuh godam itu kembali menjerit roboh dengan kedua tangan memegangi batok kepala yang pecah. Kongsun Kiau-hong nekat terjun di tengah arena, toyanya berputar bagai kitiran, rangsakannya keras dan kencang. Kongsun Kiau-hong adalah saudara angkat Ha It-cun, tapi belakangan nama Ha Itcan jauh lebih cemerlang dari Kongsun Kiau-hong di Bu-lim, persahabatan kedua orang teramat intim, dalam usahanya mencari balas kepada Siang Cin, Kongsun Kiau-hong minta bantuan Ha It-can yang secara sukarela mengerahkan seluruh kekuatan inti Ceng-siong san-ceng. tak nyana kini keadaan serba runyam, bukan saja kalah, malah pihak sendiri kena dibabat habis2an, burung yang semula sudah masuk sangkar kini terlepas dan berbalik menimbulkan korban tidak sedikit, jelas pihak Ceng siong-san-ceng telah mengalami kerugian besar, bagaimana hati Kongsun Kiau-Kong tidak sedih, malu, menyesal dan gusar. Begitu Kongsun Kiau-hong terjun pula ke tenagah arena, menyusul seorang kawannya yang berperawakan seperti kera juga menyelinap maju, bentuk dan wajah serta gerak-gerik orang ini memang mirip sekali dengan lutung, dengan gencar dia bantu menyerang Siang Cin. Rantai terayun menari pergi datang dengan suara yang berisik, begitu kencang Siang Cin memainkan rantainya, umpama hujanpun tak bisa menembus, orang sukar menduga mana serangan akan dituju, tahu2 diri sendiri yang terancam, tapi hal ini masih untung bagi mereka karena Siang Cin tidak pakai senjata andalan yang biasa dia gunakan. Kira2 semasakan air pula.
"serr, pletak", sambaran rantai diselingi suara benda terkepruk pecah, manusia kera yang lincah dan gesit itu ternyata terpukul hancur kepalanya, dia terguling lima tombak jauhnya dan jiwa melayang. Ujung mulut Ha It-can tampak mengejang, dia pandang manusia kera yang menggeletak menjadi mayat itu, dia ini adalah salah satu jago pelindung perumahan belakang Ceng-siong-san-ceng yang terkenal, yaitu Ang Kau, si lutung merah, Ma Ki. Setelah mengalami pertempuran sekian lamanya, Siang Cin juga mulai payah, badan terasa pegal dan lelah, sekuatnya dia bertahan, tetap menyerang dengan gencar. Kini yang masih mengeroyoknya ada Sek Kui, lima orang dari tujuh penggodam, Kongsun Kiau-hong dan si gendut berperut buncit Wi-jong-ciang Yu Hoat, Wancu perumahan belakang Ceng-siong san-ceng. Ha It-can sengaja bertempur dengan cara bergilir, kalau maju sekaligus mengeroyoknya, bukan saja tidak mampu mengembangkan kekuatan mereka secara serempak, malah satu sama lain kemungkinan terhambat, teralang untuk merangsak musuh, maka dari luar kalangan dia memberi aba2, roboh satu maju satu lagi secara bergiliran, dan akhirnya baru diri sendiri akan tampil ke tengah gelanggang setelah tenaga musuh terkuras. Akal ini memang licik dam keji, karena betapapun kuat tenaga seorang toh ada batasnya, diam2 Ha It-can sudah memperhitungkan kemenangan akhirnya pasti dapat dicapainya. Godam yung berantai itu mendesing simpang siur toya perak di tangan Kongsun Kiau-hong juga kemilau main tusuk, tapi hal ini justeru membuat musuh semakin berang, lawan benar2 perkasa, pertempuran besar ini entah akan bertahan dan berlangsung sampai kapan. Memangnya Siang Cin si Naga Kuning ini bertulang besi dan berotot kawat? Se konyong2 Siang Cin mengertak gigi, dia menyongsung sambaran toya Kongsun Kiau-hong, keruan Sek Kui terkejut, lekas dia berteriak.
"Awas!"
Lima buah godam melesat dengan suara mendesing ke belakang punggung musuh, 71 sementara Kiau hong cepat2 menyurut mundur, berhasil rantai Siang Cin menyampuk pergi toya orang, mendadak Siang Cin meloncat balik menubruk ke depan Sek Kui, padahal ada niat Sek Kui melontarkan pukulan, tapi jarak kedua pihak sudah tidak memungkinkan lagi.
Maka mendadak dia merendahkan tubuh, kedua telapak tangan menggentak ke atas sekuatnya, tapi dengan sedikit mengincar, sebat sekali Siang Cin layangkan telapak tangannya menggempur.
"Plak", meski Sek Kui berusaha menjengkang ke belakang, tak urung dia kena gampar sampai ter huyung2. Sambil tertawa dingin rantai bekerja pula, Siang Cin sempat mengejek.
"Orang she Sek, ini baru yang pertama."
Di hadapan umum Sek Kui mengalami tamparan, sebagai Wancu pertama dari Ceng-siong-san-ceng betapa tinggi dan berwibawa kedudukannya, kini di hina mentah2, keruan tidak kepalang murkanya, sambil menyeka darah di ujung muluti kembali dia menerjang maju membabi buta.
Melihat gelagat jelek, Ha It-can segera membentak.
"Sek-wancu jangan semberono."
Ditengah bentakannya kedua tangan Ceng-siong-san-ceng Cengcu inipun memberi tanda, maka di bawah pimpinan seorang laki2 pertengahan umur berdandan sastrawan dengan tahi lalat hitam besar di atas bibir kirinya, dua puluhan jago2 kosen Ceng-siong-san-ceng serentak menyerbu maju seraya ber-kaok2.
Baru saja anak buahnya bergerak, di tengah gelak tertawanya Ha It-can telah merogoh keluar senjata kenamaannya, yaitu Siang-hoan-liong-bun-to (golok bergelang berukir naga), iapun terjun ke arena.
Dengan sikap dingin Siang Cin mendengus menyambut kedatangan musuh utama ini, rantai menari lebih gencar, mendadak dia menubruk langsung ke arah "rajawah mega"
Ha It cun. Ha It-can ter-gelak2, goloknya bergerak, dengan berani dia memapak ke depan sambil mengejek.
"Anak muda, memangnya kau cari mampus!"
Tampak Siang Cin bergerak ke kiri-kanan di bawah sambaran sinar golok yang kemilau, beruntun dia hindarkan beberapa jurus bacokan lawan, sekah dia sempat melancarkan Kui-so-hun (setan menagih sukma), rantai ditangannya berbunyi nyaring setiap mata rantainya sama gemeratak, lepas seluruhnya, sebelas biji sama melesat berpencar, di tengah keluh dan rintihan kejut orang banyak, Sek Kui, Kiauhong dan Yu Hoat bertiga masih sempat menghindar, lima orang dari tujuh penggodam yang masih ketinggalan hidup serta jago2 yang baru terjun ke tengah gelanggang sama roboh saling tindih, sembilan jiwa sekaligus melayang bersama.
Saking murka sampai pucat muka Ha It cun, sambil ber teriak2 kalap goloknya membacok serabutan, Siang Cin menjengek, laksana anak panah tiba2 ia melambung ke udara dan berjumpalitan dua kali lalu meluncur turun jauh ke belakahg sana, sekati kaki menutul pula, bayangannya berkelebat terus menghilang tanpa bekas.
Sambil meraba pipinya yang melepuh Sek Kui berteriak geram.
"Kejar!"
Laki2 berdandan sastrawan bersama Yu Hoat dan lain segera mengudak ke sana. tapi Ha It-can sendiri justeru menghentikan langkah, sorot matanya menatap Liongbun-to, katanya dengan menghela napas.
"Tak perlu kejar, tak mungkin bisa menyusulnya."
Kongsun Kiau-hong tertunduk sedih, katanya rawan.
"Toako, Siaute yang menimbulkan kesulitanmu ini....."
Ha It-can menggeleng, katanya.
"Kenapa Hiante bilang demikian, adalah pantas kalau kita saling bantu sekuat tenaga. Kalau tidak, apa artinya kita bersumpah setia sebagai saudara?"
Diam sejenak, akhirnya Kongsun Kiau-hong berkata pula dengan muram.
"Bagaimana juga karena urusan Siaute sehingga Ceng-siong san ceng jatuh korban begini banyak, betapapun membuat Siaute tidak tenteram .... ."
Guram air muka Ha It-cun, katanya.
"Jangan dipersoalkan lagi, cukup sampai di sini, kita harus berdaya membunuh keparat itu, apa gunanya saling menyesali? Yang 72 mati toh takkan bisa hidup kembali ......."
Dari belakang tampak Sek Kui mendatangi dengan langkah lemas, sementara hadirin yang segar bugar sibuk menolong kawan2nya yang terluka dan mati, di bawah penerangan obor, keadaan masih ribut dalam suasana duka dan dendam.
Tiba di depan kedua orang, Sek Kui berkata dengan lesu.
"Cengcu, tujuh godam kepercayaanmu tiada satupun yang ketinggalan hidup."
Ha It can menyeringai, katanya.
"Biarlah, tiada peperangan yang tiada korban, seorang jendralpun akhirnya harus ajal di medan laga, beginilah insan persilatan yang berkecimpung dalam percaturan Kangouw, mati atau hidup beginilah jadinya."
Ia mendongak memeriksa cuaca, malam masih gelap, sudah hampir kentongan keempat, saat2 paling gelap sebelum fajar menyingsing. Sek Kui menghela napas katanya.
"So-keh-heng-te, Li Thi, Ang Kau Ma Ki, demikian pula Siang jiong Hoa Seng, It tiau pian Coh Yong, Sian Cu-hok semuanya gugur, masih ada pula tujuh delapan puluh korban lainnya ......."
"Suruh mereka bersihkan tempat ini, penjagaan diperketat, semua harus lebih waspada, begitu ada berita harus cepat kumpul, daerah penting harus di jaga lebih keras,"
Demikian pesan Ha It can dengan lesu.
********** Page 55 s/d 58 Hilang ********** mendekat ke tempat ini.
Sekilas pasang kuping Siang Cin lantas tahu ada tiga orang yang kemari, malah semuanya adalah perempuan..
Langkah ketiga orang berhenti di ujung sana, maka didengarnya suara merdu berkata.
"Coba lihat, kamar ini memang harus segera di bersihkan, tua bangka itu selalu melalaikan tugas dan mencari alasan belaka, beberapa hari lagi Toa-siauya dan gurunya akan segera pulang, tempat sekotor ini mana boleh ditinggali."
Sebuah suara lagi berkata lembut.
"Bong-cu, beberapa hari ini hati kita kebat kebit, suana selalu tegang. Hanya aku saja yang selalu riang dan ingin membersihkan kamar, lekaslah kau bersihkan kamar ini sekedarnya saja."
Suara merdu tadi cekikikan, katanya.
"Ah, tidak, Loya sudah berpesan surub aku membersihkan betul2, kalau kepalang tanggung aku bisa dihukum. Sian ho, pergilah kau ambil kain dan ember, akan kusapu dulu kamar ini, lalu kamar2 yang lain ..... Seorang mengiakan terus berlari pergi. Suara lembut tadi berkata pula.
"Nah kerjakan tugasmu, aku akan periksa kamar sebelah, sudah lama aku tidak kemari ..... ."
Langkahnya beranjak ke sini, tak lama kemudian seorang gadis semampai tampak muncul.
Tak heran suara gadis ini seperti sudah dikenalnya, waktu Siang Cin mengintip, yang datang ini ternyata adik Sek Kui yang mengaku bernama Sek Pin.
Sungguh kebetulan.
Tanpa hiraukan keadaan sekelilingnya yang kotor Sek Pui duduk di sebuah kursi berlapis kulit rase yang berdebu, bersandar sambil memejamkan mata seperti melepaskan lelah, kejap lain, daun pintu terdorong buka pelan2 dan mengeluarkan suara berkeriut.
Semula Sek Pin memicing mata memandang ke arah pintu, yang terbuka, tapi seperti disengat lebah dia berjingkat dengan muka tegang dan mata terbeliak mengawasi wajah Siang Cin yang melempuh berhias jalur2 luka, sampai sekian lama dia berdiri melenggong.
Dengan tersenyum Siang Cin berkata.
"Selamat bertemu, nona Sek."
Bergegas Sek Pin melangkah ke sana serta merapatkan pintu, dengan gopoh dia membalik dan berkata dengan suara tertahan.
"Hai, kau, kenapa kau masih belum lari?"
"Lari?"
Jawab Siang Cin heran "Kenapa lari?"
Sek Pin berkata dengan lirih.
"Mereka sedang mencarimu ke mana2, setiap tempat setiap pelosok ada orang mencarimu, nyalimu sungguh besar, berani sembunyi di sini, awas ..."
Siang Cin tertawa, katanya.
"Kita kan musuh, akan hidup atau mati dibunuh mereka 73 kan tiada sangkut pautnya dengan kau, buat apa kau berkuatir malah."
Sek Pin melengak, sekian saat dia berdiri menjublek, memang mereka adalah musuh, mati hidup lawan kenapa harus di perhatikan?
Tapi apa betul tiada sangkut paut?
Kenapa pula dirinya merasa kuatir?
Seharusnya dia berteriak memanggil orang, tapi kenapa tidak dia lakukan?
....Ya Tuhan, sungguh memalukan ...."
Mendadak merah mukanya, dia menunduk sambil meluruskan kedua tangan. Siang Cin mengawasinya dengan pandangan geli, katanya lirih.
"Nona Sek, pertama2 kumohon bantuanmu, carikan makanan untukku, sudah empat hari sebutir nasipun belum kumakan."
Sek Pin terperanjat, tanpa terasa hatinya pedih, katanya.
"He, hampir empat hari kau tidak makan? Ya Allah, bagaimana kau kuat bertahan? Umpama kau ingin menyiksa diri juga tidak boleh ...."
Siang Cin geleng2 kepala dengan senyum getir, katanya "aku kan bukan orang gila, masa menyiksa diri sendiri? Beginilah pelayanan engkohmu sejak aku berada di Liong-ong-lau."
"Engkohku tidak memberi makan padamu?"
Tanya Sek Pin dengan terbeliak.
"Tidak mungkin!"
"Sudahlah,"
Ucap Siang Cin.
"tak usah berbinceang soal ini, tolong nona carikan makanan dan minuman saja."
Sek Pin tertawa, katanya.
"Kau tidak takut akan kulaporkan dirimu?"
Siang Cin jatuhkan diri di atas kursi, katanya malas.
"Terserah, mereka tak mungkin menangkapku, peristiwa semalam tentunya juga sudah kau saksikan."
Berubah rona muka Sek Pin, katanya merinding.
"Kau begitu kejam, dari tempatku kudengar jeritan dan lolong kesakitan para korbanmu, sungguh menggiriskan dan mendirikan bulu roma, darah dan senjata bercecer di tanah, sampai terang tanah baru selesai dibereskan, taman di belakang perkampungan bertambah gundukan tanab, korban yang jatuh sebanyak itu, siapapun takkan percaya bahwa semua itu buah karyamu seorang ......."
Dengan lesu Siang Cin mengembus napas, katanya.
"Semula tiada keinginanku berbuat begitu, mereka yang memaksaku."
Hening sebentar, akhirnya Sek Pin berkata.
"Tunggulah sebentar, akan kucarikan makanan untukmu, tampaknya kau sangat letih ......"
"Terima kasih,"
Kata Siang Cin. Sebelum keluar Sek Pin menoleh dan berkata lirih .
"O, ya, kamar2 di sini akan dibersihkan, sebentar mereka akan kemari, lebih baik kau mencari tempat lain, tempat yang agak tersembunyi ... .."
Siang Cin menuding ke atas, katanya.
"Di atas loteng bagaimana?"
Sek Pin melirik ke atas, katanya.
"Tunggu sebentar, aku akan segera kembali."
"--Dengan hati2 dia lantas keluar serta merapatkan pintu pula. Siang Cin berdiri, tapi dia tidak segera naik ke atas loteng sekilas dia periksa keadaan kamar ini, tiba2 dia meloncat ke atas belandar yang lebarnya setengah kaki, cukup untuk mendekam di sana. Selama delapan, tahun berkecimpung di Kangouw boleh dikatakan Siang Cin sudah kenyang akan asam garam kehidupan insan persilatan, bahaya macam apa yang tak pernah dialaminya? Hubungan antar manusia, pergaulan antara sesamanya, meski lahirnya dia hadapi sewajarnya, tapi diam2 ia cukup waspada, ia tahu apa artinya perasaan dan simpatik ini tahu dalam keadaan bagaimana rasa simpatik itu akan berkembang, semua ini membuatnya lebih hati2 dan waspada, dia tidak ingin terjatuh pula ke tangan musuh dan meronta di ambang neraka. Baru semalam dia kenal Sek Pin, malah orang adalah adik musuhnya, bila dalam keadaan seperti ini Sek Pin tidak melapor engkohnya, kalau mau ditanya apa sebabnya, kemungkinan inilah rasa simpatik dan pemujaan pada seorang pahlawan atau mungkin pula limpahan rasa budi kasih terhadap sesamanya, atau mungkin pula karena adanya kontak perasaan antara laki2 dan perempuan yang sukar untuk dijelaskan? 74 Siang Cin menunggu dengan sabar, padahal lapar dan haus hampir membuatnya gila, selamanya tak pernah disadarinya bahwa betapa besar paedahnya makan dan minum bagi manusia. -----------------------------------Apapula yang ditunggu Siang Cin di sarang musuh? Siapakah dan tokoh macam apakah guru Kiang Ling? Siapa pula "budak"
Yang dimaksud Ha it-cun yang perlu dilindungi itu? -Bacalah
Jilid ke 5 -
Jilid 05 Entah apa yang tengah dilakukan oleh Sek Pin sekarang?
Memangnya dengon alasan apa pula dia akan kemari membawa makanan?
Urusan yang sepele dan mudah dilakukan pada hari2 biasa, rasanya teramat sulit dilakukan sekarang.
Kira2 setengah jam kemudian, daun pintu berkeriut terbuka, Sek Pin melangkah masuk membawa keranjang yang penuh bunga seruni, wajahnya tampak tenang, dengan hati2 dia melangkah masuk sambil menoleh sekejap ke belakang.
Sejenak Siang Cin nenunggu, tiba2 ia melompat turun dan berdiri di depan Sek Pin sambil berseri tawa.
Sek Pin berjingkrak kaget dan menyurut mundur, baru saja mulutnya terbuka hampir menjerit, lekas Siang Cin mendesis, katanya.
"Kenapa lama sekali?"
Sek Pin berkata dengan muka pucat.
"Ah, kau sering menakutkan orang cara begini?" 75 Siang Cin mengedip, ucapnya.
"Tidak, kukuatir ada orang menguntitmu."
Sek-Pin mendengus dongkol, katanya setelah angsurkan keranjang.
"Jangan kira hanya kau yang pintar..... dengan baik hati kucarikan kau makan, kau malah membikin aku kaget setengah mati."
Siang Cin terima dengan tertawa, katanya.
"Maafkan aku kalau begitu. Uh, mungkin makanan kau taruh di bawah."
"Sek Pin taruh keranjang di meja yang kotor dan lama tak terpakai, dengan hati2 ia keluarkan puluhan kuntum bunga, dilembari sehelai sapu tangan sutera, di bawahnya ada empat porsi makanan, setengah potong ayam panggang dan sepoci arak, tersedia pula handuk basah untuk cuci muka. Siang Cin menelan liur dan memuji.
"Bagus, masakan lezat yang memenuhi seleraku, terima kasih nona Sek."
Sek Pin mendengus, katanya sambil duduk di kursi tua di sebelah samping.
"Lekas makan, tak usah memuji segala, apa gunanya berucap terima kasih melulu? Siapa tahu dalam benakmu sedang merancang muslihat apa pula ...."
Dari buntalan Siang Cin keluarkan pula sepasang sumpit, dengan kalem dia mulai makan, seperti amat menarik hati Sek Pin mengawasinya dengan terlongong, katanya lirih.
"Hai, poci itu bukan berisi arak, kuatir kerongkonganmu terlampau kering, maka kubawakan air teh saja ...."
Sambil mengunyah daging ayam, Siang Cin berkata.
"Syukurlah kau berpikir secermat ini, cuma kurang cangkir untuk minum."
Melengak sebentar, akhirnya Sek Pin tertawa cekikik geli, katanya.
"Ya, aku lupa, waktu ambil masakan ini hatiku terlampau tegang ....bolehlah kau minum langsung dari mulut poci saja"
Sementara itu Siang Cin sedang menyobek sepotong daging bersaus, dengan sumpitnya dia jejalkan ke mulut, dia mengunyah dengan lambat, seperti sedang menikmati lezatnya.
Sambi bertopang dagu Sek Pin mengawasi-nya, katanya.
"Hai, kulihat kau dilahirkan dan dididik dari keluarga mampu, waktu makanpun begini kalem dan sopan, mirip gadis pingitan ....meski wajahmu sekarang kelihatan seram, namun tidak mirip manusia kejam yang suka mencabut nyawa orang, oleh karena itu menilai orang sekali2 lidak boleh diukur dari wajahnya ...."
Setelah menghirup seteguk teh panas langsung dari mulut poci, Siang Cin berkata.
"Berapa usiamu sekarang, nona Sek?"
Merah muka Sek Pin, sahutnya malu.
"Un..untuk apa kautanya soal ini?"
Siang Cin tertawa ulapnya.
"Budak masih ingusan berani menilai orang lain, sungguh tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi."
"Cis, siapa budak yang masih ingusan? Tahun depan umurku selikur ...."
Siang Cin menatapnya lekat2 dengan mulut tetap mengunyah sekerat daging ayam sambil mengangguk, lalu katanya pula dengan memicingkan mata.
"Ehm, memang cantik,"
Sudah tentu semakin merah selebar muka Sek Pin, dia menunduk, katanya lirih.
"He, kenapa kau pandang orang begitu rupa...."
Siang Cin mengangguk pula, ujarnya.
"Perut sudah hampir gendut, matapun ingin menikmati kecantikan, inilah yang dinama-kan perut kenyang terpikat paras ayu."
"Cis ...."
Semprot Sek Pin, mendadak dia bertanya.
"Hai, kau belum beritahu padaku, di mana tempat tinggalmu."
Setelah menuang air teh ke mulutnya, baru Siang Cin menjawab.
"Aku tinggal di Tiang-an."
"Tiang-an?"
Terbayang tabir kabut tipis di mata Siang Cin, katanya pula.
"Itulah tempat yang indah permai, di sana ada bangunan kuno dari kerajaan masa silam, bangunan kota yang serba antik dan artistik. Wah, pokoknya hidup di Tiang-an tidak akan pernah merasa bosan ...."
Sek Pin melenggong sekian lamanya, akhirnya dia menghela napas gegetun, 76 katanya.
"Siang Cin, tentunya tidak sedikit buku yang pernah kau baca?"
Sambil tertawa Siang Cin berkata.
"Memangnya, kenapa kalau pernah banyak membaca? Bukankah seperti insan persilatan umumnya, aku tetap seorang laki2 kasar yang hidupnya bergelandangan."
Dengan agak emosi sebetulnya Sek Pin sudah siap mengajukan suatu pertanyaan kepada Siang Cin, tapi urung, katanya kemudian.
"Siang Cin, wajahmu matang biru penuh luka2 lagi, tidak enak dipandang mata, kenapa tidak dicuci dan dibersihkan? Kukira setelah di cuci mukamu akan jauh lebih elok."
Menghentikan sumpit, berkata Siang Cin dengan tenang.
"Apa paedahnya dipandang lebih elok? Watak sejati seorang kan tidak boleh dinilai dari wajahnya, seperti apa yang tadi kau katakan, manusia tidak boleh diukur dari wajahnya."
Tertegun sambil menggigit bibit, lalu Sek Pin ubah haluan.
"Tadi aku pura2 memetik bunga sambil mencurikan beberapa makanan ini di dapur. waktu aku kemari, kebetulan Beng-cu dipanggil oleh Cengcu supaya membantu kerja di luar, lalu aku masuk kemari memeriksa adakah tempat rusak yang perlu dipanggilkan tukang untuk diperbaiki .....""
"Siapa itu Beng-cu?"
Tanya Siang Cin.
"Salah seorang gundik Cengcu, isteri Ceng-cu sudah meninggal lima tahun yang lalu."
"Siapakah yang akan tinggal di sini?"
Tanya Siang Cin. Gelagapan sejenak, Sek Pin teringat akan ucapan engkohnya tadi pagi, maka dia meng-geleng, katanya.
"Tidak boleh kukatakan."
Siang Cin tertawa, ucapnya.
"Aku tahu, orang yang diundang untuk menghadapiku, betul tidak"?"
Kelihatan Sek Pin rada gugup dan berkata.
"Jangan salahkan aku, aku tidak boleh mengkhianati engkohku, betapapun tak bisa kulakukan sesuatu yang merugikan dia..Siang Cin menarik sebuah kursi, katanya pelan2 sambil duduk .
"Sudah tentu, aku kan, tidak memaksa keteranganmu."
"Siang Cin,"
Kata Sek Pin lebih lanjut setelah bimbang sebentar.
"lekaslah kau pergi, jangan lama2 di sini, kehadiranmu di sini tidak akan menguntungkan dirimu, sekaligus merugikan perkampungan kami pula, kini mereka sudah mempersiapkan diri dengan sempurna, segalanya untuk menghadapi kau."
Duduk ber-goyang2 di kusinya, Siang Cin berkata dengan tenang.
"Engkohmu dan Kongsun Kiau-hong harus menerima ganjarannya dan pula saudara serta Ciciku terjatuh di tangan mereka, sampai sekarang jejaknya belum jelas bagiku ......"
"Cici?"
Sek Pin menegas dengan ragu.
"kau punya Cici?" .
"Sudah tentu, seperti kau mempunyai engkoh."
"Tapi engkohku bilang, di antara perem-puan yang menjadi tawanannya hanya seorang perempuan she Kun, seorang lagi entah she apa, tapi jelas tiada yang she Siang ....."
Berdebur jantung Siang Cin, katanya pelan.
"Orang she Kun itulah Ciciku, Cici angkatku." --Sekilas dia melirik Sek Pin serta menambahkan.
"Tapi tiada bedanya seperti kakak kandung, selama ini dia begitu kasih sayang dan melindungiku, meladeni segala keperluanku, sejak beberapa tahun lalu kami sudah tinggal bersama."
Tajam reaksi Sek Pin, dia sendiri tidak tahu kenapa badannya bisa bergetar, katanya pula.
"Kalian, kalian hanya tinggal bersama seperti kakak beradik umumnya?"
Mengusap mukanya yang bengap, berkata Siang Cin dengan tegas.
"Asal kami saling mencintai, mengapa kami tidak bisa hidup berdampingan seperti kakak beradik kandung? Ciciku itu baik sekali, ya baik sekali ......."
"Cinta?"
Entah mengapa tegang perasaan Sek Pin.
"Cinta macam apa itu?"
Lama Siang Cin menatapnya, akhirnya dia bertanya.
"Untuk apa kau tanyakan hal ini?"
Tersentak Sek Pin dari lamunannya, terasa pipinya panas, katanya tergagap .
"Oh, aku ....... aku hanya tanya secara iseng. Kupikir, ehm, kupikir, Cicimu tentu amat 77 baik terhadapmu ......"
"Ya, terlampau baik,"
Ujar Siang Cin "Bagaimana luka2nya? Apakah engkohmu pernah ceritakan padamu? Apakah sahabat karibku Pau Seh-hoa disiksa olehnya?"
Sek Pin mengawasinya dengan ragu, katanya.
"Entah, aku tidak tahu."
Menggeliat Siang Cin dan tidak bersuara lagi. Tiba2 Sek Pin bersuara pula.
"Siang Cin, dengan cara apa kau ingin menghadapi engkohku?"
Mengawasi wajah molek itu, berkata Siang Cin.
"Akan kurenggut jiwanya."
Bergetar badan Sek Pin, terasa hawa dingin merembes dari belakang lehernya, dengan kaget dia tatap Siang Cin, katanya getir.
"Kau ..... belum cukupkah korban yang telah kau bunuh?"
"Inilah dendam, tiada orang yang bisa mengalirkan darah si Naga Kuning dengan percuma, dia harus membayar utang dengan darahnya sendiri, begitu pula dengan engkohmu, nona Sek."
"Semalam sudah berapa banyak darah orang perkampungan ini telah kau alirkan ...."
"Tapi bukan darah engkohmu ...."
Merah mata Sek pin, bergegas dia berdiri sambil memalingkan muka, ia membereskan mangkuk piring ke dalam keranjang serta menumpuki pula dengan bunga, lalu katanya.
"Siang Cin, jangan terlalu yakin akan kekuatanmu seorang, aku harap kau lekas pergi karena aku tidak tega melihat kau gugur di sini. Kau takkan mampu melukai engkohku, Ceng-siong san-ceng bukan sembarang tempat, jika kau berkukuh pada pendapatmu, nasibmu tentu akan mengenaskan ....."
Siang Cin berdiri, wajahnya yang masih melepuh mengunjuk senyuman tawar, katanya sedikit membungkuk badan.
"Terima kasih atas rangsummu ini nona Sek, kalau ada kesempatan Siang Cin pasti membalas budi kebaikanmu"
Sek Pin membanting kaki, tak tertahan air matanya menetes, katanya terisak.
"Siapa minta balas budimu? Aku tak ingin melihatmu lagi."
Bergegas dia melangkah pergi, pintu itu dia sentakkan dengan keras, pertanda bahwa hatinya amat mendongkol.
Suasana kembali sunyi, kini sudah lewat lohor, tak lama lagi tabir malampun akan tiba apakah malam ini dia harus mulai beraksi pula?
Duduk bersandar di kursinya Siang Cin pejamkan mata dan memeras otak, dia maklum lukanya harus cepat diobati, kalau tidak bukan saja sukar disembuhkan, dikuatirkan pula akan menimbulkan penyakit sampingan.
Diam2 iapun bersyukur bahwa racun di tubuhnya hanya obat pembius yang bekerja sementara saja, kalau tidak, bagaimana akibatnya tak berani dibayangkannya.
Sang waktu berlalu tanpa terasa, sang surya semakin doyong ke barat, Siang Cin tengah merancang aksi yang akan dilakukannya malam nanti, pertama yaitu cara bagaimana berdaya menolong Kun Sim-ti dan Pau Soh-hoa yang berada dalam kurungan musuh.
Tenang2 dia memandang langit2 loteng, ia pikir langkah pertama harus mencari seorang penghuni Ceng siong-san-ceng yang punya kedudukan lumayan yang tahu di mana letak kurungan rahasia yang menyekap teman2nya, lalu mengorek keterangannya, meski harus memakai cara keji apapun.
Malampun tiba, malam gelap dengan angin menghembus kencang, musim gugur sudah hampir berlalu, daun kering rontok di embus angin, semakin malam hawa terasa makin dingin.
Sementara itu Siang Cin sudah berada di atas wuwungan loteng, dari sini dapat dilihatnya penjagaan di segala pelosok Ceng siong-san-ceng sangat keras, rombongan ronda yang berseragam hitam mondar-mandir, di mana2 terlihat kemilau senjata tajam, sering pula dilihatnya berkelebat bayangan orang yang bergerak gesit dan cepat pergi datang, terdengarlah pula suara sahut menyahut di sana sini, keadaan tegang seperti-menghadapi musuh besar..Setelah memeriksa keadaan, Siang Cin mengencangkan pakaiannya yang koyak, seringan burung dia melejit ke pucuk pohon, sedikit menutul kaki di puncak pohon, 78 segera ia hinggap di atas sebuah gardu taman yang mungil.
Baru saja dan mendekam disitu dan bayangan orang berlari datang dan berhenti di bawah gardu, mereka memeriksa dengan celingukan, pada saat itulah delapan laki2 kekar berseragam hitam ketat sama berlompatan keluar dari belakang pohon, seorang yang bersenjata Kui-thau-to menegur sambil melintangkan goloknya.
Setelah menyahut segera orang itu mendengus.
"Apakah Ci Kui keparat, bikin tegang orang saja?"
Laki2 yang bernama Ci Kui itu seorang burik, bopeng, lekas unjuk tawa. katanya.
"Apakah Ciu-losu dari perumahan tengah?"
Setelah mendengus, orang yang dipanggil Ciu-losu berkata.
"Tadi seperti kulihat ada bayangan orang di sini, hanya sekejap lantas lenyap, apa kalian melihatnya?"
Ci Kiu menggeleng, katanya.
"Tak mungkin, kami selalu jaga di sini, tikuspun tidak kami lihat, memangnya manusia bisa lewat di sini? Mungkin pandangan Ciu-losu yang kabur ...."
Dengan penasaran Ciu-losu berka.
"Mata orang she Ciu ini tidak pernah kabur, pasti ada mata2 musuh yang menyelinap kemari, kalian berjaga disini, memang kalian ini gentong nasi semua."
Waktu dimaki Ci Kiu hanya menyengir dan mengiakan, Orang she Ciu bertolak pinggang katanya angkuh.
"Kalian harus lebih wespada, bukan mustahil keparat she Siang itu malam ini akan bikin onar, keparat itu bukan anggur yang enak, kalau sampai lengah, mangkuk nasi kita bisa berantakan."
Lalu orang she Ciu melangkah pergi. Setelah bayangan lenyap di balik tembok sana, Ci Kiu berludah sambil mengejek.
"Keparat, kalau kebentur setan tanggung jiwamu melayang lebih dulu. Kunyuk, waktu terjadi pertempuran semalam kau cucunya kura2 hanya sembunyi dalam pelukan gendakmu . ..."
Seorang laki2 disampingnya segera membujuk.
"Sudahlah Kiu-ko, salah kita sendiri kenapa membekal kepandaian rendah, buat apa kau marah2 pada orang macam dia ....."
Ci Kiu berludah lagi dengan penasaran, katanaya.
"Nenek moyangnya, bagi yang tidak tahu kan menyangka kunyuk she Ciu itu jagoan lihay yang diagulkan oleh Wancu, yang benar dia itu cucunya kura2, antek yang cuma iri sesuap nasi ... ."
Siang Cin yang sembunyi di atap gardu diam2 menahan geli, setelah orang2 di bawah pergi, kembali dia kembangkan ketangkasannya, sekali lompat delapan tombak jauhnya, beruntun juga kaki menutul dan kembali dia meluncur jauh ke depan kembali terdapat dua bangunan berloteng yang kelihatan mungil, di atas loteng sinar lampu masih menyorot keluar.
Tanpa mengeluarkan suara Siang Cin melekatkan tubuhnya di jendela tingkat kedua, dengan hati2 dia membasahi kertas penutup jendela dengan ujung lidahnya, dari lubang kecil ini dia mengintip ke dalam, itulah sebuah ruang yang dipajang cukup mewah, seorang laki2 berusia empat puluhan, dengan muka sebelah kanan berwarna kelabu tengah mondar mandir sambil menggendong tangan.
Diam2 Siang Cin menilai bobot laki2 ini, dia tidak berani bertindak semberono, sebab kalau orang ini tidak tahu di mana Pau Seh-hoa dan lain2 dikurung, kemungkinan akan membuat geger sehingga rencana semula bisa gagal total.
Sesaat kemudian, Iaki2 itu mengambil secangkir teh panas serta menghirupnya seteguk, lalu dia memanggil.
"An Hok."
Seorang kacung mengiakan dan lari mendekati pintu, serunya.
"Suhu ...."
Laki2 itu berkata.
"Ingat, sebelum kentongan ketiga sampai fajar menyingsing adalah waktuku bertugas bersama Bok suhu."
An Hok mengiakan dan mengundurkan diri.
Seperti iseng orang itu menggeliat sekali lalu menutup pintu dan langkah balik ke dalam.
Pelan2 Siang Cin mencongkel kertas jendela, sekali menyelinap dan berkelebat, sekali dia sudah meloncat ke atas belandar.
Mendadak terasa angin berkesiur, laki2 itu berpaling, tapi tiada sesuatu yang dilihatnya, sekilas dia tertegun, lalu mendekati jendela dan memeriksa ala kadarnya, dia menggeleng sambil menggerundel.
"Ah, 79 terlalu takut akan bayangan sendiri, kalau keadaan seperti ini terus berlangsung, rasanya bisa gila ... ."
Seringan asap Siang Cin melayang turun ke belakang orang, katanya kalem.
"Sudah tentu, perasaan was2 memang menekan batin."
Bergetar sekujur badan orang itu, tanpa menoleh tangannya menepuk ke belakang, Tapi Siang Cin keburu bergerak maju, empat jurus pukulan di lancarkan sekaligus.
Hakikatnya orang itu tidak sempit melawan atau berkelit dikala dia menyurut kelabakan itulah Siang Cin berhasil membantingnya jatuh ke lantai.
Belum lagi sempat melompat bangun, tahu2 sebelah kaki Siang Cin sudah menginjak batok kepala orang itu.
"Jangan sembarang bergerak sahabat, kalau aku mau merenggut nyawamu, apakah kau bisa hidup?"
Muka orang itu menjadi merah padam, keringat sebesar kacang membasahi mukanya, ia berkata dengan serak.
"Kau Sang Cin, apa keinginanmu?"
Siang Cin tarik kakinya, katanya.
"Bangunlah, berdiri!"
Orang itu melompat bangun dengan terhuyung, katanya dengan gusar.
"Orang she Siang, kalau berani sebutkan caranya, kalau mau bicara, lekaslah terus terang, aku Ki Toa-bok kalau takut bukanlah laki2 sejati."
Sang Cin mendengus, katanya.
"Sahabat, dengarkan baik2 dan jangan coba main2, dalam waktu sedetik Siang Cin mampu mencabut nyawamu. Sekarang beritahu padaku, teman2ku itu dikurung di mana?"
Berubah air muka Ki Toa bok, katanya geram.
"Aku tidak tahu."
Siang Cin tertawa, katanya.
"Seorang laki2 harus bisa melihat gelagat, saudara Ki, jangan kau minta disiksa baru mau bicara."
Ki Toa-bok nenyeringai, katanya.
"Hampir dua puluhan tahun Ki Toa bok berkecimpung di Kangouw, orang she Siang jangan kau main gertak padaku, mau sembelih atau mau gantung boleh silakan, tapi jangan harap memperoleh keterangan apapun dari mulutku."
Siang Cin menarik murka, katanya pelan.
"Kau boleh menjerit, tapi kalau aku memberi kesempatan membuka mulut, anggaplah sia2 Naga Kuning dilahirkan."
Ki Toa bok menyurut mundur, keringat gembrobyos, katanya dengan napas memburu.
"Orang she Ki bukan pengecut .... ...."
"Hm,"
Siang Cin menggeram.
"berkata tidak?"
Ki Toa bok menggeleng, katanya.
"Aku tidak tahu."
Mendadak Siang Cin tertawa dan berkata.
"Sahabat akan kucukil mata kananmu."
Belum sempat Ki Toa-bok menjawab, tahu2 bayangan berkelebat, tangan Siang Cin telah mencolok, tahu2 jarinya telah menempel di kelopak mata kanannya.
"Kau terlalu bodoh sahabat, ingat gunakan cara yang paling singkat untuk mengejar waktu, sementara gerak kepalamu juga terlalu lamban,"
Ejek Siang Cin. Gemetar badan Ki Toa bok, muka kelabunya bersemu hijau, mulutnya megap2 tak mampu bicara. Siang Cin melangkah mundur, katanya tenang2.
"Jangan kau paksa aku melukaimu. Nah, beritahu padaku, di mana teman2ku dikurung?"
Ki Toa-bok berdiri menjublek bagai patung tanpa bicara, pecah nyalinya menyaksikan gerakan orang secepat dan selihay itu. Dengan tanganya Siang Cin mengusap muka, katanya.
"Ki Toa-bok, nanti kau boleh bilang aku memaksamu. Jangan bodoh, hal yang sepele itu jangan kau pertaruhkan untuk jiwa ragamu, ini termasuk Cengcu kalian Ha It-cun."
Namun Ki Toa-bok memang kepala batu, sepatah katapun tetap tak mau bicara, betapapun dia tidak mau menjadi pengkhianat Ceng-siong-san-ceng.
Melihat sikap orang, Siang Cin tahu urusan bisa runyam, bukan maksudnya ingin mencelakai orang ini, tapi kalau menggunakan kekerasan, coba bagaimana dapat menundukkan kekerasan hatinya?
Sambil menggeleng Siang Cin menegas.
"Kau betul2 tak mau menerangkan?"
Ki Toa-bok tetap tutup mulut, se-olah2 gunung runtuh di depan mata juga takkan menggoyahkan tekadnya.
"Baiklah, aku mau pergi saja,"
Pelahan Siang Cin membalik tubuh, sekilas melirik ia dapat menangkap perubahan air muka Ki Toa-bok yang merasa lega serta bangga, maka baru saia tubuhnya bergerak secepat kilat dia turun tangan, hakikatnya Ki Toabok tak sempat berkelit, kontan dia roboh terkapar.
Siang Cin menutuk Hiat-to pembisu dan pelemas badannya, sekali raih dia jinjing tubuh orang serta didudukkan di atas kursi, lalu Siang Cin berjongkok dibalik kursi, dengan suara dibikin kasar dia berteriak.
"A Hok, A Hok ...."
Setelah memanggil beberapa kali, didengarnya langkah berlari di luar, suara orang tadi berkumandang di luar pintu.
"Suhu, A Hok ada di sini!"
Dengan setengah menahan suara Siang Cin berkata.
"Panggil Bok-suhu kemari."
Agaknya A Hok yang di luar melengak, katanya lirih.
"Bukankah Bok-suhu akan ronda bersama Suhu pada kentongan ketiga nanti? Kenapa ...."
"Lekas pergi,"
Desak Siang Cin menirukan suara Ki Toa-bok. Lekas A Hok mengiakan dan berlalu cepat2, Ki Toa-bok yang duduk lemas di kursi hanya mendelik gusar. Siang Cin menepuk pundaknya, katanya.
"Kutiru suaramu, meski tidak begitu mirip, tapi nadanya sudah hampir sama, dalam keadaan seperti ini A Hok tentu tidak memperhatikan, meniru suara orang harus ingat akan satu hal yaitu bicara harus pendek dan samar2, bicaranya tidak boleh terlalu banyak, terlalu banyak bicara pasti ketahuan."
Saking gusar gemetar sekujur badan Ki Toa-bok, Siang Cin tersenyun, kursinya diputar ke arah jendela, katanya pelan2.
"Tak usah marah, laki2 keras kepala, kututuk hiat-tomu, orang lain mungkin tidak tahu, tapi Bok-suhu itu pasti tahu dari air muka dan sikapmu, nanti akan kutipu dia, memang aku juga tahu harapan mencapai tujuan hanya setengah saja."
Menunggu lagi beberapa kejap, tangga loteng di luar mulai berderap langkah orang, langkah kakinya cepat tapi mantap. Pintu diketuk pelahan, suara nyaring seorang berkata di luar.
"Ki toako, Cayhe sudah datang, Toako ada pesan apa?"
Pelahan Siang Cin membisiki Ki Toa-bok.
"Suara orang ini nyaring keras, dia pasti masih muda belia, dia memanggil kau Toako, kalau usiamu sekitar empat puluhan, maka usianya pasti cuma tiga puluhan, anak muda biasanya suka bicara terus terang dan tentu jauh lebih gampang ditipu ......"
Saking gusar dengus Ki Toa-bok bertambah cepat, sekujur badan bergetar, tapi dia tidak mampu berbuat apa2, Siang Cin tertawa, dengan suara lemah, seperti kehabisan tenaga dia berseru.
"Aku lagi kurang enak badan, Bok-lote, untuk tugas nanti boleh kau lakukan sendirian saja."
Agaknya orang she Bok di luar melengak kaget, katanya.
"Ki toako, ada beberapa tempat aku kurang apal, apalagi untuk meronda sampai ke Lokoh-ce tanpa kau aku takkan diperbolehkan melewati pos penjagaan, ini ....ini ...... Siang Cin batuk2 dua kali, serunya.
"Lo-kohce (sumur perawan tua) ...."
"Itulah tempat untuk mengurung teman2 orang she Siang,"
Kata orang di luar gugup.
"meski penjagaan diperketat dan orang she Siang juga belum tentu tahu akan tempat itu, tapi bila sampai kita tak meronda ke sana dan terjadi sesuatu, tak berani aku memikul tanggung jawabnya ...."
Siang Cin pura2 merintih lirih, katanya.
"Ha, tapi aku benar2 kurang enak badan ...."
Tiba2 orang di luar itu berkata.
"Ki toako, maukah kupanggilkan tabib Kho di depan sana untuk memeriksa penyakitmu? Sekalian kulaporkan kepada Sek-wancu dan mohon beliau menambah tenaga lain untuk menggantikan kau?"
Siang Cin berpikir sejenak, setelah batuk2 dia menjawab.
"Baiklah! Huk, huk! Malam ini terpaksa aku menderita ...."
Setelah diam sebentar, orang di luar kedengaran heran, katanya.
"Kitoako ... .suaramu seperti agak berubah? Kenapa ...."
Siang Cin tertawa serak, sahutnya megap2.
"0, tenggorokanku gatal....badan 81 terasa lemas....."
Suara orang di luar kedengaran2 ragu, katanya.
"Ki-toako, perlukah aku masuk meladenimu?"
Dengan suara dibikin parau Slang Cin menjawab.
"Tak usahlah."
"Baiklah Ki-toako. Cayhe akan kembali nanti sebelum kentongan ketiga,"
Lalu cepat ia menuruni tangga dan tak terdengar lagi. Siang Cin berdiri, dengan tersenyum dia awasi Ki Toa bok yang merah padam, katanya.
"Adakalanya manusia perlu menggunakan akal, tapi dalam mengatur akalnya itu juga bergantung pada nasib, keduanya saling berkaitan, tadi nasibku lagi baik, aku telah mencapai setengah dari pekerjaanku."
Terbeliak mata Ki Toa-bok, mukanya merah bagai kepiting direbus, keringat sebesar kacang bertetesan, napas memburu, keadaannya sungguh harus dikasihani.
Siang Cin tepuk jidat Ki Toa-bok dan berkata "Kau seperti sakit betul2 Baiklah kau tidur saja"
Besok pagi tenagamu pasti sekuat harimau, sekarang maafkan kalau aku menutuk Hek-tiam-hiatmu."
Dengan ringan Siang Cin menutuk Hiat-to yang di-sebut, Ki T'oa bok lantas merasa kelopak matanya semakin berat dan pelan2 terpejam, dia tidak ingin tidur, tapi rasa kantuk tak tertahankan lagi.
Siang Cin menghela napas lega, dia bersyukur bahwa akalnya berhasil, padahal Ki Toa-bok ini bergelar Ci-bin hwi-ja (guru terbang muka kelabu), ilmu silatnya tinggi dan keji pula, sebagai pengawas umum Ceng siong-san-ceng, kepandaiannya cukup hebat, tapi sekali gebrak dia justeru kecundang oleh Siang Cin.
Mengawasi Ki Toa bok yang tidur nyenyak.
Siang Cin membetulkan jubah orang, lalu sekali berkelebat dia menyelinap keluar dan lenyap.
Kini dia sudah tahu tempat mengurung Pau Seh-hoa dinamakan Lo keh ce, tapi dapat dibayangkan betapa keras penjagaan di "sumur perawan tua"
Itu, lebih penting lagi dia harus bisa menentukan arah mana letaknya?
Demikianlah dia mendekam di belakang sepucuk pohon serta memeras otak, terpaksa dia berkeputusan untuk menyerempet bahaya sekali lagi.
Dengan langkah lebar dia maju ke depan, baru beberapa langkah, dua laki2 kekar melompat keluar mengadangnya dengan bentakan kereng.
"Ceng-siong ....... ."
Siang Cin menjawab tenang.
"Ban-kiu." --Kata rahasia ini ditirunya dari pos penjagaan tadi. Kedua orang itu menarik senjata dan minggir. tanyanya.
"Suhu manakah yang kemari?"
Siang Cin tertawa, katanya.
"Inilah Ui-liong Siang-suhu"
Bagai petir menyambar kepala, kedua laki2 itu tersentak keget, seketika mereka berdiri kaku mematung, Sekali berkelebat bayangan Siang Cin sudah tiba di depan mereka, dengan suara lembut dia berbisik.
"Sahabat baik, malam sudah larut dan dingin, lebih baik kalian tidur saja."
Begitu Hiat-to tertutuk kedua orang lantas jatuh lemas, Siang Cin jinjing tubuh mereka melompat ke atas pohon.
Tak lama kemudian dia sudah lompat turun, kini dia berganti seperangkat pakaian seragam hitam, ikat kepala warna hitam pula, dengan menjinjing Kui-thau-to lagaknya mirip penjaga tadi.
Dia pura2 gugup dan gelisah, sambil berjalan meronda dia celingukan, dengan hati2 ia terus maju mencari tempat tujuannya -"sumur perawan tua"
Tiba di taman bunga, mendadak empat laki2 mencegatnya dan menegur.
"Hai, kau bocah ini dari pekarangan mana? Mondar-mondrr seorang diri, memangnya kau tidak takut jiwamu direnggut setan?"
Meendengar orang menyangka dirinya kawan sendiri, Siang Cin menjawab sambil menghela napas.
"Ai, atas perintah Ki-suhu, aku disuruh memeriksa kemari, jalan sendirian di malam gelap sungguh kebat-kebit dan merinding bulu romaku."
Empat laki2 itu sama mentertawakan, kata salah seorang.
"Jangan sok pintar, apa yang dapat kau lihat dan periksa, bila kebentur bocah she Siang itu, belum lagi saling gebrak mungkin kau sudah terkencing2 ketakutan .. ... ...." 82 Siang Cin pura2 takut, katanya menyengir.
"Memang, tapi Ki-suhu malah rnenyuruhku pergi ke Lo-keh-ce segala ......"
Kembali keempat laki2 itu berseloroh, kata salah seorang yang lain.
"Lo-koh-ce kan terletak di pekarangan belakang di bawah Keh-im-san, tempat yang seram itu memang menggiriskan, siang hari bolong orangpun akan merinding lewat di sana, apa lagi pada malam gulita dan dalam suasana tegang begini, memang sialmu sendiri, kenapa kau memperoleh tugas berat ini ......"
Memperoleh keterangan letak Lo-koh-ce, Siang Cin tidak ayal lagi, ia menjura terus melangkah pergi, sambil berjalan mulutnya menggerutu.
"Makan sesuap nasi orang harus turut perintahnya. Ya, apa boleh buat? Biar sekarang juga aku kesana..."
Dengan ketajaman mata dan telinga Siang Cin terus maju kedepan, sedapat mungkin dia menghindari pos penjagaan, dia mengembangkan ketangkasannya, dengan cepat ia menyusur ke depan.
Setelah melampaui pagar tembok yang dikapur putih serta melewati dua lapangan berumput yang luas, iapun tiba di pekarangan belakang, dari jauh terlihat bayangan pagar tembok yang mengelilingi sebuah bangunan.
Dia memeriksa keadaan sekeliling, di ujung kiri belakang pekarangan sana dilihatnya segundukan bayangan gelap, itulah sebuah gunung2an, gunung2an buatan ini cukup luas, kelihatannya sunyi dan angker, mungkin di sinilah letak Keh-im-san yang dicarinya itu?
Dia bergerak di bawah bayang2 berbagai benda yang ada di sekitarnya terus maju tanpa menemui rintangan, lekas sekali dia sudah tiba di tempat tujuan, bentuk dari keseluruhan Keh-im-san yang dibangun dengan pecahan batu2 yang ditata rapi dan bagus dibuat mirip dongeng neraka, ada pintu kematian, jembatan gantung, panggung kenangan, empang teratai, jalan yang menyesatkan dan puluhan macam gedung2 sidang para setan, setiap gedung atau istana dari neraka yang pernah dijadikan dongeng dalam masyarakat, semuanya ada di sini, malah disusun sedemikian rapi sehingga terbentuklah gunung2an yang menggiriskan ini, walau di sini tidak dipasang ukir2an malaikat dan setan, tapi bangunan istana bawah tanah yang mirip neraka itu terasa seram dan menakutkan.
Sekilas Siang Cin melenggong mengamati keadaan yang seram ini, sorot matanya menjelajah sekelilingnya.
dengan enteng segera dia melayang ke arah empang teratai, di tengah empang teratai ini ada sebuah empang kecil berisi air kotor warna hitam yang tenang, tak bergelombang, scperti permukaan kaca beku, di bagian tengahnya terdapat teratai yang diukir dari batu hitam, bentuknya mirip setan yang mati tenggelam dan kepala menongol keluar.
Berbagai bentuk batu2 hitam raksasa lain dan aneh2 mengelilingi empang teratai, tampak sebuah jalanan kecil yang berlandas batu2 krikil menjurus ka dalam dihimpit dua batu raksasa hitam, batu2 hitam itu tingginya ada delapan tombak, jika tidak mampu melompat ke atas, maka orang harus jalan melalui jalanan kecil itu.
Sudah tentu Siang Cin tidak sebodoh itu, setelah menarik napas dia melejit enteng tanpa mengeluarkan suara, dia hinggap di atas batu.
Di depan ternyata diadang oleh sebuah dinding batu yang miring, entah bagaimana keadaan di balik dinding batu ini, baru saja Siang Cin hendak bertindak lebih lanjut, air empang teratai di bawahnya tiba2 bersuara gemericik, tak ubahnya air yang mendidih.
Melihat uap yang keluar dari pemukaaan air, Siang Cin lantas paham, itu bukan uap biasa, tapi penguapan air hitam kotor itu sehingga mengandung hawa beracun yang jahat.
Dia tahu dirinya tak boleh terlalu lama lama berada di sini, bila hawa beracun itu sampai membumbung ke udara, siapapun takkan luput dari bencana keracunan.
Cepat Siang Cin melambungkan tubuhnya, di udara dia menukik miring serta jumpalitan sekali lagi, badannya kembali melejit dua tombak ke atas, dengan enteng dia tancapkan kakinya di atas dinding batu yang mengadang di depan itu.
Kini di depan kiranya adalah "jembatan kenangan abadi", air gemencik mengalir di bawah jembatan, diseberang jembatan berjajar puluhan ruang sidang mirip istana 83 dalam dongeng neraka, cuma di sini tidak kelihatan ada setan2 cilik yang berjaga.
Bimbang sejenak akhirnya Siang Cin meluncur turun bagai anak panah, sedikit menutul kaki di atas jembatan ia terus meluncur pula ke depan, tapi, di kala kakinya menutul jembatan, timbul reaksi yang hebat, dua pagar yang ada di dua sisi jempatan tiba2 menjeplak dan menyabet ke tengah.
"Trang", timbul"
Percikan api, ternyata di sisi pagar jembatan terpasang barisan golok baja yang tajam luar biasa, untung gerakan Siang Cin cukup sebat, setelah dia melayang pergi baru barisan golok itu mengatup.
Sebelum tiba di seberang Siang Cin membelok arah menyelinap ke tempat gelap, dia mengusap telapak sepatunya di atas batu untuh menghilangkan cairan hitam ketika kakinya menutul permukaan jembatan tadi.
Bayangan delapan orang melompat keluar dari "istana neraka"
Itu dan berlari ke arah jembatan, mereka celingukan ke sana sini, suara seorang serak mengomel.
"Keparat, pagar jembatan sudah kembali ke asalnya, barusan jelas ada orang lewat jembatan, kenapa bayangan setan saja tidak kelihatan, memangnya dia bisa terbang,"
Suara serak yang lain ikut bicara.
"Belum tentu manusia? Bisa juga kucing atau tikus, jembatan rahasia ini memang tajam daya kerjanya, barang apapun sedikit menyentuhnya pasti menimbulkan reaksi, bukankah tempo hari seekor kucing mati terkacip oleh golok2 baja itu?"
Setelah menggerutu akhirnya merekapun mengundurkan diri, keadaan kembali menjadi sunyi dengan suasana yang seram.
Dari balik sebuah batu besar Siang Cin melesat keluar, beruntun dua kali lompatan, iapun menyelinap masuk ruangan ke mana beberapa orang tadi mengundurkan diri, keadaan di sini gelap dan seram.
Kecuali sebuah panggung panjang di sini tiada perabot lainnya.
serba kosong, sejenak Siang Cin berdiri bingung, dinding batu warna hitam, lantainya juga gelap, sampai panggung itupun hitam, kecuali dari arah masuk tadi tiada kelihatan pintu atau lubang keluar lainnya, tapi jelas beberapa orang tadi masuk kemari, lalu ke mana saja mereka menghilang?
Dinding terasa dingin lembab dan berlumut, tiba2 timbul akal Siang Cin, dengan tangan dia meraba dinding pelan dan penuh perhatian, sejengkal demi sejengkal dia periksa dengan teliti, tak lama kemudian, betul juga ditemukan suatu tempat terasa kering daripada dinding disekitarnya yang lembab, kiranya di sini letak rahasianya.
Sorot matanya seketika bercahaya, pelan2 dia tolak ke dalam, lalu dijorong pula kedua kalinya, tapi tidak bergeming dan tidak menimbulkan reaksi, dia me-raba2 pula sekeliling dinding yang kering ini, akhirnya ditemukan sebuah tombol yang menonjol di bawah kaki dinding, tanpa pikir segera dia tekan tombol itu.
Bagian dinding sepanjang tiga kaki dan lebar tiga kaki tiba2 menjeplak, hanya sekejap saja terus putar kembali ke tempatuya, setelah itu baru pelan2 terbuka lagi.
Siang Cin tertawa, kalau dia ter-buru2 menerobos masuk secara sembrono, tentu tertabrak dinding yang membalik tadi, umpama tidak mampus pasti juga akan terluka.
Bagian dalam adalah sebuah lorong panjang, disebelah kanan ujung lorong ada kamar batu dan cahaya lampu, terdengar ramai suara orang di dalam..
Siang Cin tarik balok batu itu ke tempat asal nya, seringan kucing dia rnenggeremet maju ke depan kamar batu, daun pintu tebal terbuat dari kayu setengah terbuka, bau arak merangsang hidung, hawa dalam kamar terasa panas, kiranya orang2 di dalam tengah berlomba minum arak sehingga lupa daratan.
Kamar batu ini ada dua tombak persegi luasnya dan belasan orang, delapan diantaranya tengah mengelilingi sebuah meja dengan beberapa macam hidangan yang belum termakan habis, ada empat poci arak, wajah ke delapan orang ini tampak merah kelam karena terlampau banyak minum, seorang laki2 kepala besar sedang duduk dipojok sana, disampingnya ada sebuah kotak kayu.
Waktu Siang Cin melangkah masuk, seorang yang duduk menghadap pintu berkepala botak lantas melihatnya, sekilas dia tertegun, seperti dipagut ular dia berjingkrak sambil berteriak.
"Celaka, lekaa ....." 84 Di samping duduk seorang berewok yaug segera mendelik kepadanya, bentaknya.
"Kenapa kau? Keparat, memangnya kau melihat setan?"
Belum habis si berewok bicara, tiga orang yang lain juga sudah melihat Siang Cin, sikap mereka sama berubah, be-ramai2 seperti berlomba cepat mereka mencabut senjata serta melompat ke samping dan mengawasi Siang Cin dengan pandangan takut dan penuh tanda tanya, mereka tidak habis mengerti, cara bagaimana Siang Cin bisa masuk kemari?
Siang Cin gosok2 tangan, katanya.
"Saudara2, malam dingin berkabut tebal, minum arak mencari hangat di sini memang menyenangkan."
Si brewok menelan ludah, dia berseru.
"Sahabat, kau takkan bisa keluac dari sini ..... ."
Melihat sekitarnya, Siang Cin berkata dengan tertawa.
"Ini bukan soal, yang penting apakah kalian mampu menangkapku. Sekarang taruh senjata kalian dan teruskan minum arak, setelah kutanya jelas sesuatu hal, segera aku akan berlalu, takkan mengganggu kalian."
Dikala Siang Cin bicara, diam2 si kepala besar ulur tangan ke dalam kotak kayu, disitu ada sebuah genta kecil yang tergatung di dalam lubang dinding.
Tapi batu tangan si kepala besar bergerak, teasa angin menyambar, tahu2 tangan kanan yang menjulur itu sudah terbacok putus jatuh ke lantai, darah seketika berhamburan, kiranya yang membacok putus lengan si kepala besar adalah Kuithau-to yang berada di tangan Siang Cin.
Si kepala besar terbanting ber guling2 di lantai sambil menjerit.
Jeritan yang menggiriskan menggugah bangun si orang kurus kering bagai lutung yang sejak tadi tidur nyenyak di atas dipan, begitu membuka mata belum lagi sadar apa yang terjadi, langsung ia keluarkan pedang terus membacok ke arah Siang Cin.
Kasihan, belum lagi dia sempat beraksi, sekali golok Siang Cin menabas miring, kontan kepalanya mencelat..Kecuali jerit kesakitan si kepala besar, suasana mencekam semua orang, wajah mereka tampak pucat penuh rasa takut dan ngeri.
Siang Cin tertawa, katanya.
"Jangan kuatir, bila kalian mau bekerja sama denganku, orang she Siang pasti tidak akan mencelakai kalian, sekarang ingin kutanya, untuk menghindari salah satu di antara kalian dituduh sebagai pengkhianat, maka setiap pertanyaanku harus dijawab.bersama, siapa yang ragu2 dan menjawab tidak semestinya, kedua kawan kalian itu menjadi contoh yang baik buat kalian."
Sembilan orang yang berdiri mengelilingi meja itu saling pandang, mereka berdiri kaku seperti linglung, tangan pegang senjata tapi tiada satupun yang berani bergerak, mereka maklum bila tidak ingin mati, mereka harus terima syarat yang diajukan.
Siang Cin kucek2 hidung, lalu katanya pelahan.
"Di mana letak Lo koh-ce?"
Sekilas orang2 itu saling pandang pula, seperti berlomba saja mereka lantas berebut bicara.
"Di belakang lorong di luar kamar batu itulah . .... ."
Siang Cin manggut, katanya tertawa.
"Bagus, kalian mau bekerja sama, adakah benda apa2 yang menutupi Lo-koh-ce?"
Jawaban orang2 ini sekarang lebih cepat lagi, jawaban yang satu menambah terang jawaban yang lain.
"Itulah sebuah meja persegi, Lo koh-ce berada di bawah meja persegi ......"
"Meja batu persegi, beratnya ribuan kati ........
"Mejanya amat berat, di dalam sumur ada undakan batu yang menjurus ke bawah ...."
"Dasar sumur merupakan sebuah lorong panjang, ada tiga rintangan binatang buas ...."
"Tiga rintangan binatang buas masing2 terdiri dari harimau bertanduk, gajah bersayap dan ular merah ...."
"Paling akhir adalah kamar kurungan, teman2 Siang-toaya tersekap di sana ...."
"Di luar sel dijaga oleh dua raksasa segoblok babi tapi sebuas serigala ...."
Jawaban seperti berlomba cepat itu sungguh menggelikan. 85 Setelah jawaban mereka cukup lengkap, Siang Cin berkata dengan tertawa.
"Bagus sekali, kalian memang baik hati, hanya Enghiong seperti kalian ini yang bisa melihat gelagat dan tahu diri, orang she Siang sangat berterima kasih akan keterangan ini, soal ini, tanggung tidak akan kusiarkan, kalian tidak usah kuatir."
Orang2 itu diam2 merasa lega, rasa tegang merekapun mengendur, kembali mereka saling pandang dengan menyengir. Kemudian Siang Cin berkata pula.
"Cayhe akan tutuk Hiat-to pelemas kalian, satu jam kemudian akan pulih kembali, kalian boleh lapor orang she Siang menerobos masuk ke Lo-koh-ce, kepala besar itu tak menjadi soal, walau dia tidak mampus, tentunya kalian juga bisa menbayangkan betapa kesakitan bila lengan kutung."
Dengan rasa tidak tenteram orang2 itu berpaling ke arah si kepala besar yang menggeletak tak bergerak lagi.
mereka merasa lega, tiba2 terasa pinggang terasa kesemutan, bayangan orang tidak kelihatan bergerak, tapi hampir pada waktu yang sama mereka lantas roboh terkulai.
"Maaf, kalian boleh tunggu satu jam lagi."
Ucap Siang Cin.
Di tengah kumandang suaranya ia lantas meluncur keluar.
Setiba di pojok, dengan kuat kedua telapak tangan menghantam ke depan dinding di ujung lorong itu seketika pecah berhamburan, kiranya dinding itu hanya tumpukan batu yang disusun sedemikian rupa untuk mengaburkan pandangan orang.
Di bagian dalam adalah sebuah kamar batu kecil yang sumpek, tiada angin mengembus kemari, kesana tiada benda apapun kecuali sebuah meja batu yang berada di tengah ruangan, Siang Cin tidak membuang waktu, segera dia mendorong meja itu, meja batu mulai bergeser dengan suaranya yang gemuruh dan akhirnya jatuh ke tanah.
Di bawah meja ternyata berlubang, itulah mulut sumur bersegi delapan, keadaan di bawah gelap gulita.
Tanpa ragu Siang Cin lompat ke bawah, sumur ini sedalam tiga tombak, di bawah ternyata memang ada undakan batu, dinding di kedua samping lembab berlumut, tapi ada puluhan obor yang berjajar di dinding.
di bawah penerangan obor yang kehijaun itu tampak beberapa tombak di sebelah depan, di dalam sebuah kerangkeng yang mengadang, berkumandang raungan binatang buas.
Raungan binatang ini bukan saja terdengar buas, galak dan rakus sekali.
Siang Cin berdiri sejenak di tengah lorong, keadaan gelap, tiada terlihat apa2 dibalik kerangkeng, tapi raungan keras menggetar seluruh lorong itu jelas bergema dari depan.
Terdengar letupan kecil bunga api obor, lidah apinya yang berwarna merah kehijauan menambah suasana lorong terasa seram, apalagi raungan binatang buas semakin keras.
Tiba2 terasa lelah merangsang dirinya, Siang Cin menggelengkan kepalanya, selangkah demi selangkah dengan hati2 dia mendekati terali besi, dengan penuh perhatian Siang Cin awasi keadaan di balik kerangkeng sana, tapi yang dilihatnya hariya kegelapan melulu.
Bau langu busuk merangsang hidungnya, Siang Cin mengerut kening, bau langu busuk memang ini mirip bau kelek orang gemuk yang tak pernah mandi selama tiga tahun.
Pelan2 Siang Cin mendekati terali besi, dengan gerakan enteng terali besi dipentangnya hingga melengkung, segera Siang Cin menyelinap ke dalam, kemudian dua batang terali dicabutnya mentah-mentah, debu krikil sama bertebaran.
Bau langu busuk semakin tebal, Siang Cin menggigit bibir, bagai bayangan setan dia melesat maju lebih lanjut, tanah di bawah kakinya terasa lembab licin berlumut, tapi dinding kedua samping justeru mengkilap licin.
ini berarti lorong di balik terali ini kosong melompong tanpa ada apa2nya, hal ini rada ganjil.
Raung binatang buas entah kenapa knwi tidak terdengar lagi, suasana hening di balik terali besi ini terasa aneh, Siang Cin merasa merinding juga, se-olah2 ada sepasang mata setan yang sembunyi di tempat gelap tengah mengawasi gerakgeriknya, mendadak ia berpaling dan menatap lorong.
86 Di sebelah atas sana kiranya terdapat sebuah belandar batu sepanjang lima kaki dan lebar tiga kaki seperti tergantung di udara, letaknya justeru lepas dari sorotan cahaya obor, di pinggir belandar batu ini menongol keluar sebuah kepala yang ditumbuhi bulu panjang berwarna hitam dan putih, sepasang mata tampak mencorong berkedip2 di kegelapan, ujung hidungnya yang basah tampak berwarna merah mengendus2 liar, dua baris gigi putih runcing dengan kedua taringnya tampak menyeramkan, tepat di tengah batok kepalanya tumbuh sebuah tanduk setengah melengkung ke depan, warnanya kuning emas, tampangnya mirip kepala harimau, tapi juga seperti iblis yang sedang menyeringai seram.
Pelan2 Siang Cin maju selangkah, tanpa berkedip ia mengawasi kepala harimau bertanduk yang istimewa itu.
Siang Cin sengaja menggodanya, sambil menuding dan menari Siang Cin bergelak tawa, beberapa kali ia sengaja berputar tepat di bawah harimau, maka auman harimau yang kelaparan itu menjadi lebih keras dan beringas, di tengah sampukan angin kencang, segumpal bayangan putih-hitam tiba2 melayang turun menerkam Siang Cin.
Cepat Siang Cin menjatuhkan diri dan menggelinding ke sana seraya berteriak "Binatang!"
Dikala dia menjatuhkan diri itulah, terkaman harimau menyamber lewat di atas badannya, tanduknya yang runcing menumbuk dinding sehingga dinding batu ambrol berhamburan, tak ubahnya sebuah martil raksasa yang dipukulkan ke dinding yang keras.
Siang Cin melompat bangun, menyusul tangan menghantam, tapi binatang itupun sempat mengelak, dengan cepat harimau itu berputar balik serta menerkam pula dengan beringas.
Mendadak Siang Cin merendahkan tubuh, telapak tangannya tegak bagai mata golok terus menggaris ke perut harimau, tapi binatang buas yang aneh ini ternyata cukup cerdik, dengan enteng dia mengegos, berbareng ekornya yang besar panjang itu menyabet.
Setelah beberapa gebrak saling serang ini, agaknya harimau itu juga merasakan bahwa lawan yang satu ini jauh lebih kuat dan lihay daripada korban yang pernah masuk ke perutnya, kini dia mendekam sambil meng-gerung2, bola matanya memancarkan cahaya hijau, air liur berbuih meleleh dari ujung mulutnya, taringnyapun menyeringai, sungguh seram dan menjijikan tampang yang buas ini.
Siang Cin berdiri diam, menunggu dengan tenang, dengan seksama iapun amati binatang aneh yang lain dari harimau umumnya ini, panjangnya kira2 lima kaki, bulunya warna putih hitam mengkilap, badannya kekar gempal penuh kekuatan, cakarnya yang panjang melengkung tajam, berbeda dengan harimau umumnya yang sembrono asal terkam saja, di balik kepala yang bertanduk itu agaknya penuh akal muslihat yang licik dan jahat.
Tanduknya yang kuning emas itu seperti selalu tergosok mengkilap, tak ubahnya sebuah ganco, jelas merupakan senjata yang ampuh.
Kembali Siang Cin menepuk tangan, seperti menyapa kenalan baik dia berkata.
"Marilah, harimau bertanduk, marilah kita ber main2 untuk menyelesaikan perang tanding ini ........."
Pelan2 harimau bertanduk berdiri, selangkah demi selangkah mendekat ke arah Siang Cin, setiap batang bulunya tampak menegak, dengus napasnya mulai berat, matanya menatap tajam ke arah Siang Cin, tanduk yang melengkung itu seperti siap menyeruduk.
Lahirnya Siang Cin bersikap tak acuh, yang benar hatinya juga gelisah, dia tahu waktu sudah mendesak, harus secepatnya menolong kawannya, kalau musuh tahu adanya kejadian ini, situasi bisa berubah memburuk baginya, apalagi tempat seram seperti ini siapapun takkan sudi tinggal lama2 di sini.
Segera dia menyurut mundur sambil mengerahkan salah satu ilmunya yang tak pernah terpakai selama berkelana di Kangouw, yaitu "Sim-hoa-hong hiat", hawa 87 murni diam2 terhimpun.
Harimau semakin dekat, hatinya yang langu sungguh memualkan, apalagi dengus napasnya yang keras, sorot matanya yang mencorong, bulunya yang hitam putih serta cakarnya yang mengkilap tajam, semua itu cukup mengerikan.
Mendadak Siang Cin tertawa, bagai anak panah dia mendahului menubruk maju.
Hampir pada waktu yang sama harimau juga mengaum serta melompat tinggi menerkam ke arah Siang Cin, tanduknya yang kuning membawa cahaya yang menyilaukan, kuku kaki depannya setajam pisau mencakar ke dada dan perut Sang Cin, betapa garang, cepat dan kuat terkamannya sungguh luar biasa.
Siang Cin sedikit mengegos, sambil membertak telapak tangan berkelebat.
"plak", dengan telak badan harimau terpukul, menyusul telapak tangan kirinya menepuk ke arah kepala harimau, badan harimau yang besar kekar itu ber-guling2 sambil meraung2 kesakitan, tanduk menggaris tajam di lantai berbatu sampai memercikan lelatu api. Siang Cin tidak berhenti, kedua tangannya bekerja lebih kencang, suara "Plak-plok"
Saling susul, sinnentara harimau yang ganas itu terus ber-guling2 di tanah sambil me raung2, darahpun berhamburan, auman yang keras menyeramkan berkumandang menggetar seluruh lorong.
Siang Cin membentak dan menubruk maju, kedua tangannya terayun sekuat tenaganya, harimau itu kena ditamparnya mencelat, setelah terbanting dengan keras dan berkelejetan, lalu tak bergerak lais untuk selamanya.
Menarik napas panjang, pelan2 Siang Cin menyeka keringat dimukanya, matanya mengawasi harimau bertanduk yang menggeletak itu dan berguman.
"Binatang tetap binatang, kecuali tenaganya yang besar, tiada sesuatu yang patut ditakuti . .. ..."
Setelah istirahat sejenak, Siang Cin kerahkan hawa murni, cepat sekali tenaganya telah pulih, dengan mudah dia menyelinap masuk lebih lanjut ke dalam sana.
Beberapa tombak kemudian, kembali terali besi mengadang jalan, kini di bawah obor yang menyala terang dapat terlihat jelas, seekor gajah warna kelabu sebesar kerbau jantan berdiri di dalam kerangkeng, matanya yang kecil tengah mengawasi Sang Cin dengan heran, gajah kelabu ini kelihatannya jinak.
Siang Cin merasa kepalanya sedikit pening, ia bersandar pada terali besi dan menarik napas panjang, dia pandang tajam gajah kelabu di dalam sana, sang gajah juga tengah mengawasinya, sepasang matanya yang kecil, tapi daun kupingnya ternyata besar dan lebar mirip dua kipas raksasa, tidak panjang tapi gadingnya amat runcing dan mengkilah kuning menghimpit bclalainya yang ber-gerak2 naik turun, bentuknya tak ubahnya seperti gajah umumnya, cuma perawakannya sedikit lebih kecil, tapi tepat di belakang kupingnya entah terdapat benda apakah itu?
Dua lembar benda bersusun di atas punggung gajah, warnanya ungu, dan tembus cahaya, urat hijau hitam tampak membentang di seluruh lembaran itu.
"Gajah bersayap", dalam hati Siang Cin membatin, pelan2 dia berjongkok, dengan kekuatan jarinya dia hancurkan batu lantai, lalu diremasnya menjadi krikil, tubuh gajah bersayap yang besar ini kebetulan merupakan sasaran empuk dijadikan bidikan kerikilnya. Siang Cin tersenyum, katanya pelahan.
"Sahabat tua, kelihatannya kau amat sopan dan ramah, kita tiada permusuhan apa2, sebetulnya tak perlu aku memusuhimu, tapi kau berdiri di tempat yang keliru, berada di tengah jalan yang harus kulalui, oleh karena itu, terpaksa aku menyalahimu, sayang sayapmu itu ...."
Satu biji batu kecil segera meluncur kencang mendesing, gajah bersayap melengking rendah, matanya yang kecil mengedip, krikil yang mengenai badannya terpental balik dan hancur menjadi bubuk.
Melenggong sebentar, Siang Cin mencoba sekali lagi, hasilnya tetap serupa, seperti merasa gatal si gajah bersayap menggerakan kupingnya, sementara hidungnya yang panjang masih ber-gerak2 tak hentinya.
Siang Cin menggeleng, sekali lompat dia raih sebatang obor yang tertancap di dinding, katanya penuh penyesalan.
"Sahabat yang berkulit tebal, terpaksa kucoba 88 memanggang kulitmu yang gemuk."
"Wut", menerobos terali besi obor itu melayang ke arah gajah bersayap, kali ini agaknya gajah itu tahu diri, dia tidak menahan dengan kulitnya yang tebal, mulutnya menguik keras, kulit ungu di punggungnya tiba2 terpentang lebar dan mengeluarkan suara menggelepar, tubuhnya yang gembur besar itu mengapung dua kaki ke atas, obor melayang lewat di bawah perutnya, timpukan obor ini membikin gajah bersayap naik pitam, dengan beringas dia bersuara keras. Beruntun Siang Cin mencabut tiga obor lagi dengan cara yang sama dia timpuk ke dalam, dua obor dengan telak mengenai badan gajah bersayap, maka gajah bersayap ini kini betul2 marah, dengan belalai yang panjang dia memukul terali besi sambil meraung keras, akhirnya belalai membelit terali serta ditariknya sekuatnya, atap lorong sampai ambrol dan debupun berhamburan. Cepat Siang Cin menerjang maju, di mana telapak tangannya bergerak, kembali dia lontarkan jurus Sim hoa hong hiat, sepenuh kekuatannya ia menabas, darah seketika muncrat, belalai gajah yang membelit terali itu ditabasnya putus sebagian. Sudah tentu gajah bersayap itu kesakitan, dia mengamuk dan menerjang terali di depannya, sementara mulut ber kuik2 semakin keras, darah berhamburan dari kutungan belalai, sementara sayap di punggungnya terpentang dan bergerak, lambat laun terali besi sebesar lengan bayi itu kena ditariknya hingga bengkok. Siang Cin mengancing mulut, kedua tangan bekerja sekaligus.
"crat", di tengah raungan gajah yang mengamuk, tahu2 sepasang mata kecil sang gajah memuncratkan darah segar, gajah itu semakin murka karena matanya tertimpuk buta, sang gajah kini betul2 telah kehilangan kesadaran, sayapnya menggelepar, kepalanya menerjang kian kemari, raungannya diselingi darah yang berhamburan, suasana yang sudah seram bertambah mengerikan."
Sejenak bimbang akhirnya Siang Cin menarik napas dalam2, tiba2 dia menyelinap maju, secepat itu pula tahu2 dia sudah melompat balik dan begitulah secara berulang, pada setiap kali lompatannya terali besi di depannya pasti dia tekuk bengkok sehingga ruang gerak sang gajah semakin sempit karena gerak geriknya terganggu, keruan gajah itu mengamuk semakin hebat.
Setelah merapikan diri Siang Cin terus menyelinap masuk, menerobos lewat melalui sela2 terali yang melengkung selebar dua kaki itu terus melayang ke dalam.
Agaknya gajah bersayap merasakan kehadiran Siang Cin dari bau badannya, sayapnya kembali menggelepar turun naik dengan kekuatannya yang luar biasa, gadingnya yang runcing dengan belalai yang panjang sekaligus menyapu pergi datang, sementara badannya yang besar itu main tumbuk secara membabi buta.
Selincah kera Siang Cin lompat sana dan menyelinap sini dengan tangkas, pada setiap lompatannya, kedua tangan juga bekerja melukai si gajah, di samping menyingkirkan terali besi yang merintangi gerak-geriknya, meski agak payah, tapi akhirnya selicin belut dia bisa menyelinap keluar, tinggal sang gajah yang terluka parah itu masih mencak2 di dalam sangkar besi.
Waktu sudah banyak terbuang, setelah menyeka keringat, beruntun dua kali lompatan Siang Cin melayang tiba di depan sebuah pintu batu, tak peduh makhluk apa yang berada di situ, dan apapula akibatnya, dia kerahkan setaker tenaganya menggempur, beberapa kali hantaman kemudian, daun pintu yang terbuat dari balok batu besar dan tebal itupun telah rontok berhamburan, tanpa berhenti Siang Cin terus menerobos masuk.
Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 4
Baca Juga: Jodoh Si Mata Keranjang 4