Ceritasilat Novel Online

Bara Naga 1

Eps 1 Bara Naga - Yin Yong

Baca online Bara Naga - Yin Yong

Cersil Bara Naga - Yin Yong.

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com /

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com BARA NAGA Oleh .

Yin Yong Disadur .

Gan KL ** Kisah suka duka dari Si Naga Kuning Siang Cin dalam membela kebenaran, bersama teman karibnya Pau Seh-hoa dalam membela An-Lip yang dari cengkeraman Siang-gi-pang serta bersama Seebun Tio Bu dan Jin Jin berjuang membantu para pahlawan padang rumput Bu Siang-pay melawan Hek Jiu-tong.

Termasuk kisah percintaannya dengan teman mainnya masa kecil, perempuan tercantik di kota Tiang-an Kun Sim-ti yang penuh dengan suka dan duka.

Karya Gan K.L

Jilid 01 Gunung itu hitam, batu2 gunung yang berbentuk aneh itupun hitam, bunga dan rumput yang tumbuh di sela2 batupun berwarna hitam.

Semuanya serba hitam, serba gelap, sehingga suasana bertambah kelam dan dingin..

Gunung itu tidak tinggi, tapi suasana di sini membuat orang berdiri bulu romanya merinding dengan jantung berdetak..

Pohon cemara yang berjajar enam di pucuk gunung juga berwarna hitam, keenam cemara ini sanaa menjulurkan cabang dahannya laksana enam raksasa yang pentang tangan hendak menerkam mangsanya.

Cuaca terasa lembab, mendung mega mengambang rendah dan tebal.

Waktu itu musim rontok, angin menghembus kencang, men-deru2 seperti orang menangis, suaranya menambah misteriusnya keadaan sekeliling-nya.

Segumpal darah tiba2 muncrat dari balik batu hitam sebelah sana, terhembus angin kencang hingga tercecer ke mana2, seorang laki2 tinggi besar dengan langkah sempoyongan seperti orang mabuk berputar dua kali terus jatuh terpelanting, batok kepalanya ternyata sudah remuk, darah tercampur otak meleleh keluar, keadaannya tampak mengenaskan.

"Wut", sesosok bayangan orang melambung tinggi ke atas laksana sebatang galah besar yang di luncurkan ke udara dengan keras menumbuk dinding gunung, lalu terpental balik pula, membentur batu padas hitam di belakangannya suara "pletak"

Dari tulang2 yang patah terdengar jelas sampai jauh, batu gunung hitam yang dingin 2 dan berlumut kini dilapisi cairan darah, dengan cepat batu gunung itu telah menyerapnya sehingga warnanya semakin hitam rnenyeramkan.

Angin gunung seperti mengamuk sehingga ke enam cemara di pucuk gunung itu menari2 lebih keras seperti raksasa yang marah, lebih seram dan mengerikan, suasana tegang mencekam alam pegunungan.

Di balik batu2 padas besar sana, di tengah sebuah tanah lapang yang tidak begitu luas, tujuh orang berjubah warna hitam, semuanya berusia setengah umur, wajah mereka tampak dingin kaku dan kejam, mereka berdiri setengah bundar, bola mata mereka mendelik memancarkan sinar dingin, tak ubahnya binatang buas yang mengincar mangsanya, yaitu sesosok bayangan orang berwarna kuning muda.

Orang ini berdiri tepat di tengah lingkaran, jubahnya yang kompreng berwarwa kuning me-lambai2 tertiup angin, biji matanya bening memancarkan cahaya cemerlang hidungnya mancung, bibirnya yang tebal merah laksana cabai, warna kuning jubah yang dipakai tampak sangat serasi, tenang dan mantap, kuning angsa ini se-olah2 memancarkan cahaya keagungan, dilandasi kulit badannya yang putih halus dengan sikapnya yang gagah perwira.

Kedelapan orang ini berdiri berhadapan dan saling tatap, sementara tidak kelihatan ada sesuatu gerakan, dua orang yang telah binasa tadi se-olah2 tiada sangkut paut dengan mereka.

Pelan sekali orang berbaju hitam yang berdiri paling kiri mulai bergerak sedikit, pemuda jubah kuning itu tampak mengulum senyum dengan santai, kedua tangannya yang panjang berpangku di depan dada, orang berbaju hitam itu kelihatan amat jeri, kulit muka mereka yang kasar dan berkeringat itu kelihatan tegang dan rada pucat.

Mata tunggal orang berbaju hitam di sebelah kanan tampak mendelik sebesar jengkol, dengan keras hidungnya mendengus sekali, maka si baju htam di sebelah kiri seketika menggertak gigi, laksana kilat menyambar, sebat sekali dia melompat maju, bayangan telapak tangan beterbangan di udara serapat jala, dengan enteng dan cepat menerjang ke arah pemuda jubah kuning.

Seiring dengan gerakan orang di sebelah kiri enam orang yang lain serempak menubruk maju pula, masing2 melancarkan serangan yang berbeda, angin pukulan segera membadai, bayangan hitam saling sambar menyambar.

Kejadian hanya sekejap saja, sekejap orang mengedipkan mata, maka tertampak sesosok bayangan orang se-olah2 kehilanga imbangan badannya seperti sekeping batu yang dilontarkan ke udara, seperti kedua orang yang mendahului tadi, tanpa bertenaga sedikitpun meluncur menumbuk batu gunung yang runcing.

"Bluk", Suaranya menusuk telinga, keadaan lekas sekali kembali tenang seperti semula, dalam posisi setengah lingkar mergelilingi pemuda jubah kuning, cuma jumlah kawanan baju hitam sekarang tinggal enam orang. Tidak kelihatan perubahan perasaan sedikitpun pada wajah pemuda jubah kuning, tenang dan mantap, setenang permukaan air empang, se-akan2 dunia kiamat juga tidak membuatnya gugup dan risau. Kedua pihak sementara lama berdiam diri, mendadak bayangan orang kembali saling tubruk dan berkelebat silang menyilang, tertampak sesosok bayangan orang seperti dilontarkan oleh kekuatan yang maha besar mencelat jauh dan terbanting keras, lekas sekali keadaan menjadi tenang kembali pada posisi semula, sudah tentu orang berbaju hitam yang berdiri setengah lingkar itu kini bersisa lima orang saja. Pemimpin orange baju hitam ini mungkin ialah si laki2 mata tunggal setengah baya itu, mukanya tampak kurus tirus, tulang pipinya menonjol, alisnya jarang, setiap kali dia menyeringai, dua gigi taringnya tompak menongol keluar, mata tunggalnya kini semakin mendelik, putih matanya sudah merah membara, demikian pula air muka keempat temannya, tegang dan jeri, tapi nekat, mukanya sudah basah kuyup oleh keringat, sinar mata mereka mulai menampilkan kegoyahan hati mereka yang tidak tenteram lagi. Si mata tunggal menyapu pandang sekilas ke arah teman2nya, kalau permainan 3 dilanjutkan dengan cara terdahulu, maka sekarang tiba giliran orang nomor satu dihitung dari sana yang harus bertindak lebih dulu, orang ini berusia setengah umur juga, perawakannya kekar, jambang lebat, tapi laki-laki kekar ini tampak menggigit bibir, biji lehernya naik turun menelan ludah, sorot matanya tampak memancarkan rasa cemas dan ketakutan. Memang, bagi seorang normal biia tahu jiwa raga yang dikaruniai oleh bapak-ibu dalam sekejap ini akan musnah, maka betapapun besar hatinya pasti juga akan merasa berat untuk meninggalkan kehidupan ini. Pemuda jubah kuning tenang2 saja memandanginya, ujung mulutnya menjungkit seperti tertawa tapi tak tertawa, dia menarik napas panjang, cahaya matanya yang cemerlang seketika berubah dingin kejam, sorot mata dingin kejam ini justeru menatap tajam muka laki2 berjambang dengan sinis. Mendadak laki2 berjambang menggerung murka, tiba2 ia melompat maju sambil berputar dan meliuk beberapa kali, dengan gerakan aneh dan gaya yang lucu ia menerkam. Pemuda jubah kuning tertawa lebar, cepat ia bergerak, dikala keempat musuh yang lain serempak ikut menyerang dan belum lagi mencapai posisi yang dapat melukai dirinya, di tengah bayangan telapak tangan musuh yang menari turun naik, kedua telapak tangannya yang setajam golok telah menabas dengan gerak cepat yang sukar diikuti oleh mata telanjang, tahu2 laki2 berjambang menjerit ngeri, seperti kawan2 nya yang mendahuluinya, badannya mencelat tinggi, dalam sekejap itu, telapak tangan musuh dengan telak telah bersarang enam belas kali di tubuhnya, tapi hanya dia saja yang tahu, selamanya iapun tak dapat menceritakan penderitaanya ini kepada siapapun juga. Posisi kembali seperti semula, sisa empat orang laki baju hitam ini tidak mungkin dapat mengurung lawan dengan melingkar lagi, kini mereka berdiri berjajar menjadi satu baris, keringat membasahi seluruh badan sampai pakaian hitam mereka melekat kencang di atas tubuh, dengus napas mereka yang berpadu memperdengarkan ketegangan perasaan mereka yang sudah mulai panik, takut dan putus asa, mati dan hidup segera akan menentukan nasib mereka. Dengan gerakan kalem dan indah si pemuda jubah kuning mengebaskan lengan jubahnya yang kuning, warna kuning jubahnya menampilkan rona bersih dan suci, ia mendongak memandang langit, sikapnya tak ubahnya seperti anak sekolahan yang lembut dan ramah, se-olah2 sedang menikmati panorama nan indah. Tatkala dia mendongak itulah, sinar kemilau berkelebat, sesosok bayangan orang tiba2 menubruk tiba, pada waktu yang sama tiga bayangan orang lain dari tiga jurusan yang berbeda juga serentak menyerang ketiga arah yang mungkin akan digunakan mengundurkan diri. Tapi anak muda itu tidak bergerak, bergemingpun tidak, hampir sulit dilihat mata telanjang, tahu2 kedua tangannya bergerak, gerakan yang mempesona, karena gerakan itu sedemikian aneh dan luar biasa, begitu kejam dan keji, bersamaan waktunya ketika musuh yang rnenubruk tiba itu dipukul mental dengan keras, gerak tangan dengan landasan kekuatan hebat pemuda baju kuning ternyata masih berlebihan untuk menyerang, pula ketiga musuh yang serempak tiba dari tiga jurusan. Dua bayangan dengan empat telapak tangan saling bentrok, di tengah bentrokan sekejap itu, keadaan menjadi runyam, seorang roboh telentang, celakalah temannya yang Lwekangnya tidak setangguh dia, baru dia menyadari situasi tidak menguntungkan, telapak tangan kanan si pemuda jubah kuning setajam golok tahu2 membelah tiba menyerempet lehernya, hanya gerakan enteng dengan serempetan yang ringan saja, tapi akibatnya sungguh fatal, batok kepalanya terpanggal mencelat entah ke mana. Aksinya terjadi dalam sekejap dan berakhir dalam sekilas pula, si pemuda jubah kuning tampak menggendong tangan dengan kepala tetap mendongak, dengan napas yang terhela enteng terasa wajar se-olah2 sejak tadi ia hanya menikmati panorama dan tak pernah terganggu oleh apa dan siapapun. Hanya Thian yang tahu, dalam gerakan sekejap itu, dua jiwa telah melayang direnggut elmaut. 4 Kini tinggal dua orang lagi, keduanya berdiri memaku bagai patung, sorot mata mereka yang redup bagai titik sinar kunang2 yang sudah mulai pudar, sisa cahayanya hampir padam, terasa betapa besar ketakutan, dendam dan benci hati mereka. Dingin dan tawar pandangan si pemuda jubah kuning mengawasi kedua orang di depannya, wajahnya trdak menampilkan rasa puas dan senang karena menang, tiada rasa beruntung, sikapnya lebih mirip seorang yang merasa memang patut menerima anugerah kemenangan dari akhirnya suatu pertempuran. Kedua orang baju hitam beradu pandang sekejap, si mata tunggal yang mendelik garang dan buas tadi kini telah kuncup nyalinya, temannya yang tinggal satu ini berperawakan gemuk dan tinggi besar, wajah laki2 raksasa ini sangat jelek, mukanya penuh daging lebih yang bergelantungan di selembar mukanya, di bawah dagunya ada tahi lalat besar warna hitam, ujung tahi lalat ini tumbuh tiga lembar rambut kasar yang bergoyang gemetar, karena jelek mukanya sehingga tidak kentara betapa besar perubahan air mukanya, tapi dari gerak tiga utas rambut di tahi lalatnya itu dapat diketahui bahwa laki2 raksasa ini sudah mulai goyah keberaniannya. Sejak mula sampai detik ini belum pernah si pemuda jubah kuning bersuara barang sekecap, namun sorot mata dan air mukanya menampilkan kepandaian silatnya yang maha tinggi, se-olah2 dia sudah yakin akan akhir dari pertempuran seru ini, sikapnya yang gagah dan perbawanya yang angker menampilkan pula suatu kekuatan yang tak terlawan oleh siapapun. Hampir tidak terasakan oleh siapapun, lambat dan lambat sekali, akhirnya kedua orang baju hitam itu diam2 menyurut mundur. inilah gerak otomatis dari rasa takut, tak pernah terbayang dalam benak mereka bahwa hidup yang biasa mereka kenyam dengan segala kejayaan selama ini, kini segalanya akan sirna. Si pemuda jubah kuning melengos ke sana, dengan tenang dia menatap keenam pucuk pohon cemara di belakangnya yang serba hitam itu, dahan pohon cemara masih bergerak turun naik tertiup angin seperti sedang menari, gumpalan awan bergulung2 di angkasa menambah suasana menjadi semakin seram. Pelan2 si jubah kuning menghela napas, sekonyong2 ia berseru nyaring dan berkumandang bagai datang dari tempat nan jauh sekali.

"Nay-hosan ini sungguh sunyi, rimbun dan menyeramkan!"

Diam2 bergidik kedua orang baju hitam, tanpa sadar mereka saling adu pandang sekejap, pelan2 si jubah kuning berpaling kembali, sorot matanya memandang jauh ke bawah gunung yang kelam sana dan bergumam pula.

Kehidupan di dunia memang terus berputar, ada hidup juga ada mati, siang dan malam saling berganti, tukar menukar tak putus2, tiada sesuatu apapun dalam kehidupan duniawi ini yang kekal, bunga ada saatnya berkembang dan layu, manusia dilahirkan dan akan menjadi tua, musim berganti, siang berganti malam, kejadian hari ini pasti berbeda dengan esok, bunga akan layu dan gugur, meski akhirnya mekar lagi, tapi sudah bukan bunga yang semula itu.

Demikian pula manusia, sekali dia mangkat, selamanya dia tidak akan kembali dalam keadaan semula meski ada inkarnasi, dan sekarang .........

Bening dan tajam matanya menatap kedua orang baju hitam bergantian.

"Hari ini akan menjelang, selamanva hari ini takkan berulang, senja hari memang elok laksana gambaran dalam syair yang melukiskan suatu akhir nan abadi, bila manusia mangkat di kala senja ini, dia akan membawa kenangan yang khidmat, baru dan tenang."

Sungguh memelas, dalam keadaan seperti ini sudah tentu kedua laki2 baju hitam tiada minat buat mendengarkan kata2 bersanjak si pemuda jubah kuning, tanpa sadar kembali mereka menyurut mundur, tiga bola mata mereka tak berani berkedip menatap si pemuda jubah kuning.

Tertawa tawar pemuda jubah kuning dan berkata pula.

"Nama gunung ini tidak baik, dia bernama Nay-ho, (apa boleh buat), tentunya kalian juga tahu, di neraka terdapat 5 pula sebuah jembatan yang bernama Nay-ho-kio?"

Naik turun pula biji leher si mata tunggal, setelah mengerang gusar, dia berkata dengan suara serak.

"Siang Cin, kau kejam sekali ...."

"Tidak,"

Ajar pemuda jubah kuning.

"aku tidak kejam, manusia hidup di dunia fana ini jangan selalu dirundung kesusahan, kalau derita hidup terlalu menekan jiwa, lebih baik dilupakan saja, sudah tentu tidak mudah melupakan derita nestapa itu, tapi aku punya suatu cara yang terbaik, kalau tidak melupakan dendam hari ini, inipun merupakan derita batin, akan kugunakan cara yang terbaik itu untuk melenyapkan penderita kalian, bukankah sikap dan tindakanku ini amat arif bijaksana, hm?"

Laki2 gendut itu tiba2 menbanting kaki, teriaknya dengan menggerung gusar.

"Koko, apa pula yang kita tunggu? Kau kuatir setelah kita mati tiada orang akan menuntut balas bagi kematian kita?"

"Pasti ada,"

Timbrung pemuda jubah kuning "bila nasib kalian mujur, kalian tidak akan mati sia2 di sini."

Bola mata si mata tunggal melotot buas, napasnya mulai memburu, si jubah kuning menegakkan alisnya, tiba2 dia berkelebat maju, sejak pertempuran di mulai tadi, baru pertama kali ini dia bertindak menyerang musuh lebih dulu.

Warna kuning berkelebat bagai cahaya lalu, baru saja si mata tunggal dan si gendut terperanjat tahu2 bayangan orang sudah berada di depan mereka, bergegas keduanya melompat mundur ke kiri kanan, empat telapak tangan serempak menebas miring, tapi serangan mereka msngenai tempat kosong, seperti menyerang sebuah bayangan belaka, belum lagi sempat mereka menarik tangan dan ganti serangan, si gendut tiba2, menguik keras seperti sapi digorok lehernya, mulutnya menyemburkan darah segar, ia ter-huyung2 dan jatuh tersungkur.

Jantung si mata tunggal serasa beku demi mendengar pekik si gendut menjelang akhir hayatnya tak sempat memperhatikan temannya, sigap sekali kedua tangannya menyodok, menyusul kedua kaki menendang secara berantai.

Tapi sayang sekali, dalam suatu gerak kisaran yang aneh, pemuda jubah kuning tahu2 sudah menangkap kedua kakinya malah, seperti seorang atlit pelempar peluru, tubuh si mata tunggal diputar sekali, se-olah2 ingin melampiaskan dendamnya, badannya ia lempar sekuatnya.

Si mata tunggal me-ronta2 di tengah udara, se-akan2 ingin melepaskan diri dari daya luncuran keras yang bakal merenggut jiwanya.

Tapi dia gagal, dikala kaki tangannya mencak2 di udara itulah, sang waktu telah menjadikan penyesalan dan dendamnya secara abadi, punggungnya dengan telak dan keras menunduk dinding batu gunung yang hitam itu, daya tolak benturan itu membuat badannya mencelat balik ke arah yang berlawanan hingga sejauh tujuh kaki.

Dengan tenang si jubah kuning saksikan adegan ngeri ini, sesaat dia terdiam, lalu pelan2 menghampiri si mata satu yang kempas kempis menunggu ajal, muka si mata satu selintas pandang kelihatan lucu dan aneh, kerut2 kulit mukanya mirip kulit binatang yang dikeringkan sehingga tak mirip wajah manusia lagi, mulutnya terbuka lebar, dua gigi siungnya mencuat keluar, alisnya yang jarang2 tampak gemetar mengikuti dengus napasnya yang tinggal satu dua, selebar mukanya berlepotan darah, sekujur badanpun bernoda darah, bola mata tunggalnya seperti hampir mencotot keluar mendelik ke arah pemuda jubah kuning.

Tenang si jubah kuning balas menatapnya, katanya kalem.

"Ko Kuh, kalau kau menderita, maka derita ini akan segera berakhir."

Berkeriut kerongkongan si mata satu, bola mata tunggalnya terbalik memutih, sekuatnya dia menggerakan mulut yang megap2.

"Siang ......Siang Cin ......kau .....kau memang pantas ......di..... dijuluki durjana."

Si jubah kuning, dia bernama Siang Cin, dengan tawar mengawasi Ko Kuh, suaranyapun tawar.

"Yang kuat menang yang lemah mampus, ini sudah hukum alam. Ko Kuh, mungkin akan datang suatu ketika akupun akan terjungkal entah di mana, memang kondisi dan keadaan kita berbeda, tapi akhirnya akan sama, cepat atau lambat kita pasti akan bertemu di Nay-ho-kio."

Bola mata Ko Kuh membalik, sorot matanya sudah pudar, badannya tampak 6 mengejang, sekuatnya dia berteriak.

"Menunggumu ..... kami Kian-pau-kiuliong ........seluruhnya akan menunggu kedatanganmu."

Bahwa suaranya yang sumbang masih bergema terbawa angin lalu, tapi jiwa si pembicara sudah melayang setelah berkelejetan beberapa kali.

Siang Cin meluruskan badan, pandangannya menyapu keenam pucuk pohon cemara raksasa hitam dan bergumam.

"Musim rontok hampir berselang, hawa mulai dingin ......" -Pelan2 dia membalik tubuh terus turun gunung, bagai segumpal awan kuning, mengambang enteng, melayang secepat terbang dan lenyap tak berbekas. Nay-ho-san tetap berdiri tegak menjulang angkasa dibungkus mega setenang raksasa yang tidur pulas, keadaan remang2, suasana mulai dingin mencekam, seolah2 tidak menyadari arti kehidupan, dia tidak mengenal hidup yang merana dan derma manusia dalam pergulatan kehidupan ini, yang jelas dia hanya tahu bahwa segala yang terjadi adalah "apa boleh buat". 0-0-0-0-0-0-0-0-0 Angin sepoi2 menerobos jubah kuning yang halus melambai, Siang Cin tengah beranjak di tanah tegalan yang cukup luas di lereng pegunungan, pohon randu yang memagari sepanjang jalan tinggal rantingnya yang kering. Sebuah sungai ber-liku2 menembus hutan cemara di sebelah depan, pohon2 cemara yang mulai gundul itu tetap tumbuh di musim rontok yang hampir berselang ini. Alis Siang Cin tampak terpentang lebar, langkahnya kalem dan mantap, akhirnya menuju ke tepi sungai dan duduk dengan tenang, ia melamun mengawasi air yang mengalir hening, begitu khusuk, begitu tenang, se olah2 dia tengah menanti dan ingin menangkap sesuatu apa di tengah air yang gemericik itu, entah apa yang ingin ditangkapnya itu sudah lalu atau akan datang. Tiba2 terdengar derap langkah yang ter-seok2, langkah yang gugup dan tak teratur, tanpa melihat orang akan tahu bahwa orang yang tengah ber-lari2 ini sedang diburu oleh rasa kebingungan, takut dan kesakitan. Sekilas Siang Cin mengerling ke sana, di jalanan sana tampak bayangan seorang tengah bersempoyongan, orang ini berjambang, kulitnya hitam dengan alis gombyok dan mata besar, tapi keadaannya sekarang sungguh amat mengenaskan, sekujur badan berlepotan darah, rambut awut2an, mukanya menampilkan penderitaan yang luar biasa, bola matanya yang mendelik menunjuk keberangan hatinya, mulutnya megap2, buih berhamburan dari mulutnya, keadaannya sungguh amat menyedihkan. Mendadak laki2 besar itu terbanting ketanah, cepat dia merangkak bangun, tapi kembali jatuh tersungkur mencium tanah, di tengah bunyi cambuk yang menggeletar di udara, punggung orang itu segera dihiasi tanda silang berdarah dari bekas luka2 cambukan. Waktu Siang Cin memandang ke belakang orang itu, kiranya beberapa tombak di sebelah sana ada seorang laki2 berpakaian pelajar dengan jubah putih bertubuh tinggi dengan tangan kiri memegang sebuah cambuk kulit sepanjang sembilan kaki, sikapnya adem ayem seperti sedang melepaskan lelah sehabis makan, se-akan2 cuma menghajar seekor anjing yang telah mencuri ayam peliharaannya, laki2 besar itulah yang menjadi bulan2an cambuknya, agaknya laki2 besar itu sudah dihajarnya babak belur sepanjang jalan. Dengus napas laki2 besar itu bagai binatang yang meregang jiwa di ambang pejagalan, agaknya dia sudah menahan segala siksa derita yang tak terperikan itu. tak urung mulutnya masih mengeluh tertahan juga, sekuatnya dia berusaha merayap bangun sambil berusaha menghindari cambuk orang, begitu besar siksa deritanya, tapi pemuda pelajar itu sedikitpun tak mengenal kasihan, ujung cambuknya masih terus menggeletar menghujani punggungnya. Cuilan pakaian laki2 besar yang basah oleh cairan darah berhamburan seperti kupu terbang, matanya melotot gusar, giginya menggigit kencang bibirnya sampai berdarah, darah muncrat ke mana2 terbawa lecutan cambuk, tapi sekuatnya laki2 besar itu mengertak gigi, sedikitpun dia pantang merintih dan minta ampun. 7 Pemuda pelajar itu mencibir, ia menengadah ke atas, cambuknya terayun melingkar di udara.

"Tar", tahu2 ujung cambuknya membelit leher laki2 itu, sekuatnya dia menyendal sehingga badan laki2 yang besar itu terbawa mencelat jauh dan terbanting keras. Rebah celentang di tanah dan kelejetan badan laki itu, kaki tangannya menggelepar, luka di sekujur badan yang berlepotan darah menjadi kotor tercampur debu dan pasir, keringat membasahi pakaian yang sudah ter-koyak2, tapi kedua matanya tetap melotot, tetap mendelik menatap pemuda pelajar itu tanpa berkesip, sorot matanya menampilkan bara dendam yang tak terperikan. Pemuda pelajar balas menatapnya dengan kalem dan penuh rasa kemenangan, katanya dingin.

"An Lip, jalan yang kau tempuh tak jauh lagi, akhirnya kau akan tiba di tempatnya, di sana akan datang seorang yang memberikan ganjaran setimpal padamu."

Beberapa kali laki2 besar itu kelejetan, sekuatnya dia angkat kepala dan memperdengarkan tawa kering, suaranya serak.

"Orang she Gui, tak ....tak usah kau temberang, aku .... An Lip ....tidak ....tidak sudi ....minta ampun padamu." . Pemuda pelajar she Gui mendengus dongkol, ucapnya, bengis.

"Minta ampun juga tak berguna, An Lip sudah puluhan tahun kau menjadi anggota Pang kita, tak tersangka kau lupa diri dan khianat, diam2 kau melakukan perbuatan serong dengan gundik Pangcu yang tersayang. An Lip, sungguh aku ikut malu akan perbuatan kotormu, tak kira di Siang-liong-gi-pang bisa muncul orang seperti dirimu."

Laki2 besar bernama An Lip menampilkan rasa hambar dan pedih, dengan penuh rasa duka nestapa dia pejamkan mata, kerongkongannya berkerok2, sekuatnya dia menelan ludah, tapi dia tak membantah atau membela diri atas tuduhan orang.

Memangnya dalam keadaan seperti sekarang ini, membantah dan membela diri demi kebersihan nama pribadinya tetap akan sia2 belaka.

Dengan gagang cambuk kulit ular ditangannya, pemuda pelajar she Gui menggaruk2 pipinya, katanya dingin.

"Aku Gui Ih sejak menjabat kepala bendera merah Siang gi pang, boleh dikatakan cukup akrab dengan kau, tentunya kau cukup kenal perangaiku, aku paling benci pada manusia cabul dan segala kejahatan seks dan yang membuatku serba susah sekarang adalah orang yang harus kuhukum sesuai hukum yang berlaku di dalam Pang kita justeru talah kau"

An Lip tampak kelejetan sekali lagi, tapi dia tetap tak bersuara, pelajar itu, Gut Ih, berkata lagi, suaranya agak tawar.

"Tak mungkin aku menolongmu membebaskan penderitaan ini, karena aku harus menjalankan perintah, loyalitasku terhadap Sianggi-pang tak terpengaruh oleh persahabatanku dengan kau, terpaksa kaulah yang harus bersabar sepanjang jalan ini, setelah tiba di tempat tujuan, gundik Pangcu akan sama2 dibakar bersama kau, waktu itu kau tidak menderita lagi, cepat sekali segalanya akan menjadi tenang dan tenteram." -Tiba2 ia menarik muka, suaranya berubah kereng dan melengking.

"Sekarang, bangunlah kau!"

An Lip mengertak gigi, pelan2 dia merayap bangun, baru dua langkah dia bertindak sempoyongan, tanpa bicara lagi Gui Ih ayun cambuknya menghiasi dua jalur lecutan berdarah di punggungnya pula, ujung cambuk mengeluarkan suara nyaring, tatkala merobek kulit daging punggung An Lip.

Kontan An Lip terhuyung maju beberapa langkah, tapi dia tidak jatuh, seperti orang mabuk langkahnya sempoyongan dan setengah berlari ke depan, kini dia sudah hampir mendekati tempat di mana Siang Cin duduk santai di tepi sungai.

Seringan kapas terembus angin Gui Ih melangkah dibelakangnya, cambuk kulit kembali terayun melingkar kekanan-kiri, tanpa mengenal kasihan sedikitpun dia terus menghajar laki2 besar alias An Lip yang terhuyung ke depan itu, sekilas matanya mengerling ke arah Siang Cin dengan tatapan waspada.

Lecutan pecut kembali menghajar batok kepala An Lip, kontan An Lip mendekap kepala sambil menjerit tertahan, ia terjerembab jatuh ke depan, sekujur badannya tampak mengejang, giginya gemeratak menggigit tanah berpasir di depannya, 8 kesepuluh jarinyapun mencakar ke dalam tanah saking menahan sakit yang tak terkatakan.

Gui Ih mendekatinya, dengan suara ketus dingin ia membentak.

"An Lip, berdirilah."

Dengan sisa tenaganya An Lip coba merangkak bangun, tapi sayang tenaga tidak memadai keinginannya, tiga kali dia mengulangi usahanya, tapi tetap tak mampu merangkak bangun, muka Gui Ih semakin membesi, sekali sendal cambuknya kembali melingkar membawa deru angin berkesiur "Tar, tar, tar".

puluhan kali kembali dia menghajar An Lip sampai ter-guling2, kaki tangan menggelepar sekujur badan mengejang.

Tiba2 terdengar suara mantap tenang mengandung sindiran berkumandang.

"Tentu kau tahu, hajaran cambuk yang mengenai badan serupa itu tentu menimbulkan derita yang tak terperikan betul tidak?"

Dengan sigap Gui Ih menarik tangan seraya melompat mundur, sorot matanya yang tajam menyapu ke arah datangnya suara, di pinggir sungai, di samping jalan sana, di tempat yang mendekuk turun, Siang Cin tengah mengawasinya dengan pandangan lucu, bibirnya tampak mencibir mengandung cemooh yang sinis.

Secara naluri Gui Ih merasakan adanya ancaman serius, lapat2 terasakan kedatangan orang yang tak dikenal ini teramat aneh dan tak terduga, nadanya tidak bersahabat sama sekali.

Sedikit miringkan tubuh, Gui Ih menengadah, kedua tangan mengepal dengan gaya atas dan bawah di depan dada.

Inilah gaya Siang gi-pang yang khusus ditujukan kepada orang luar agar orang tahu akan asal usul dan jabatannya dalam Pang.

Dinging saja sikap Siang Cin sambil mengangkat alis, dengusnya.

"Aku mengerti, kau ini sahabat dari Siang-gi-pang."

Gui Ih seketika menarik muka, katanya.

"Tentunya tuan juga segolongan, Siang-gipang tengah menghukum anggotanya yang melanggar aturan, tuan adalah manusia yang bisa berpikir, harap minggir dan tidak mencampuri urusan kami."

Siang Cin mengawasi An Lip yang masih menggelepar menahan sakit di tanah, katanya tenang.

"Kupikir, kau harus membebaskan dia."

Berubah hebat air muka Gui Ih, dengan bengis dia menatap orang, katanya ketus.

"Aturan Kang-ouw tidak tuan hiraukan lagi? Kau berani mencampuri urusan keluarga orang lain? Ketahuilah Sianggi-pang bukan golongan lemah yang boleh dibuat permainan."

Aneh kerlingan mata Siang Cin, katanya pelahan sambil menghampiri.

"Sekarang, akan kucoba dirimu untuk membuktikan ucapanmu barusan."

Entah mengapa, tanpa terasa Gui Ih mundur setapak, sekuatnya dia menahan gejolak amarahnya, teriaknya bengis.

"Berhenti sahabat, mungkin kau belum tahu apa akibatnya dari kesemberonoanmu ini?"

Siang Cin tidak berhenti karena ancaman orang, dia tetap berlenggang menghampiri semakin dekat, katanya dengan tenang.

"Aku tahu, malah lebih tahu daripada kau sendiri."

Sambil mengertak gigi, mendadak Gui Ih berkisar setengah lingkaran, badan bagian atas bergerak enteng, sementara cambuk kulit di tangan kanan mendadak tertuding lempeng kaku seperti galah, menusuk ke ulu hati lawan.

Se-akan2 tidak memperlihatkan, gerakan apa2, tapi kenyataan Siang Cin sudah menggeser tiga kaki, sukar dilihat bagaimana dia bergerak, se-olah2 sejak tadi dia memang sudah berdiri di situ, maka ujung cambuk ular Gui lh yang mendesis kencang menusuk tempat kosong.

Jantung Gui Ih betul2 hampir melompat keluar dari rongga dadanya, seketika Gui Ih rasakan kepulanya sedikit pening dirangsang darah mendidih tak sempat memikirkan langkah selanjutnya, badan melengkung bagai busur tiba2 melambung ke atas setombak lebih, tatkala badannya terapung itulah, cambuk kulit ular bagai hujan lebat berderai menghajar musuh.

Sukar untuk dipercaya, sungguh menakjubkan, Siang Cin dengan warna kuningnya yang anggun ternyata dapat berkelit pergi datang di tengah sambaran cambuk yang 9 deras dan kencang, gerak geriknya halus gagah mempesona.

Sambil berjumpalitan di udara, cambuk Gui Ih kembali melingkar dengan deru angin kencang menyapu tiba.

Siang Cin berdiri tegak sekukuh gunung, sedikit memiringkan badan, mendadak dia balas menerjang.

Gui Ih menjadi gugup dan secepatnya melompat minggir, tapi dalam gebrakan sekilas yang berlangsung secepat kedipan mata itu, tahu2 cambuk di tangan sudah berpindah ke tangan lawan, sekilas matanya sempat melirik, hanya terlihat sebuah tangan dengan jari yang putih halus menepuk pundak kirinya, tak sempat dia berpikir, telapak tangan putih itu tahu2 sudah menyentuh tubuhnya, semacam tenaga kuat seketika membuatnya terpental beberapa tombak jauhnya, terus ter-guling2..

Sebagai kepala bendera merah Siang-gi-pang, betapa tinggi Kungfu dan Lwekang Gui Ih, begitu badan menyentuh tanah, dengan sigap sekali dia hendak melejit bangun, tak terduga sebuah kaki dengan sepatu warna kuning tahu2 sudah menginjaknya rebah di tanah pula, kaki orang tepat menginjak di punggungnya.

Suara orang tetap tawar dan dingin, berkata.

"Gui Ih, pulanglah dan laporkan kenada majikanmu Sam bak siu su Tam Kip, katakan akulah yang membawa orangmu."

Dengan susah payah Gui Ih memalingkan kepalanya ke atas, selebar mukanya berlepotan lumpur, dia mengerung gusar.

"Kunyuk, tinggalkan namamu"! Punggung tiba2 terasa enteng, kaki yang menginjak punggungnya tahu2 sudah berpindah, sebuah suara berkumandang di kejauhan terdengar jelas olehnya.

"Gelombang bergulung, mega berlapis, hujan membadai, angin menderu, semuanya bagai gumpalan asap berlalu ...."

Sekujur badan Gui Ih tiba2 merinding dan gemetar, bola matanya mendelik, bibirnya bergetar, gumamnya jeri.

"Ui liong Siang Cin ... Oh, Thian, dia adalah Siang Cin si Naga Kuning ...."

Dalam sekejap ini, laki2 yang disiksanya tadi telah lenyap, sudah tentu dia dibawa kabur oleh Siang Cin alias si Naga Kuning.

-o0-oo-Oo -Malam telah larut, tiada sinar rembulan, hanya kerlip bintang2 yang jarang2 di cakrawala, angin musim rontok terasa mengiris kulit, keheningan malam terasa menghantui sanubari orang.

Itulah sebuah rumah mungil yang dibangun dengan rangka kayu cemara dan usuk bambu kuning, rumah mungil itu dikelilingi pepohonan randu di tepi sebuah sungai yang mengilir tenang bening, di depan dan di belakang rumah penuh di taburi tanaman bunga seruni, meski di malam hari, warna-warni seruni yang menyolok dengan bau harumnya yang semerbak amat melegakan perasaan.

Sebuah jembatan bambu tiga lekukan menembus ke belakang menambah gaya bangunan rumuh mungil ini tampak lebih artistik.

Malam semakin kelam, sesosok bayangan berkelebat dengan kecepatan yang luar biasa, begitu enteng laksana kapas meski sebelah tangannya menyeret seorang lagi, tapi gerakannya tetap lincah dan gesit, hanya tiga kali lompatan dia telah melampui jembatan bambu itu dan tanpa bersuara hinggap di pelataran depan rumah.

Orang itu mengenakan jubah kuning angsa, kedua bola matanya tampak bercahaya di malam gelap.

Dia adalah si Naga Kuning Siang Cin, pelan2 dia membaringkan laki2 besar yang di tolongnya tadi, lalu dia mengetuk pintu.

Menyusul terdengar suara nyaring merdu bak kicau burung kenari berkumandang dari dalam rumah.

"Siapa itu?"

Siang Cin mengedip, katanya dengan suara tertahan.

"Raja naga kembali ke istana dengan kebesarannya."

Suara cekikikan lantas terdengar di dalam rumah, tawa riang yang mengandung rasa terhibur dan lega, pintu rumah yang terbuat dari bambu kuning berkeriut terbuka pelan2, bayangan semampai dengan menenteng sebuah pelita minyak berdiri di ambang pintu, begitu pelita terangkat, matanya memandang ke arah Siang Cin, seketika mulutnya bersuara kaget heran, katanya kemudian.

"Cin, kau membuat onar lagi?" 10 Siang Cin tersenyum lebar tanpa bersuara, laki2 besar tadi dipapahnya masuk ke rumah, di bawah penerangan pelita minyak wajah pemegang pelita tampak cantik molek, secantik bidadari dalam lukisan. Dalam ruangan yang tidak begitu besar terdapat seperangkat meja kursi dari bambu, lukisan kerai bambu tampak tergantung di dinding, asap dupa wangi mengepul dari Hiolo kecil di meja sembahyang di bawah jendela sana, sebuah harpa terletak di atas meja, di samping harpa terletak sebatang pedang, seprei yang bersulam indah warna warni melembari permukaan dipan bambu, di depan dipan beraling sebuah pintu angin yang berukir indah, suasana serba tenteram, bersih tak berdebu, indah mengesankan. Setelab menaruh pelita di atas meja pelan2 pemegangnya membalik badan dan menghampiri Siang Cin yang tengah memapah laki2 tadi duduk di kursi bambu, kedua bola matanya yang bundar besar tampak jeli bercahaya, manis mesra lagi, tanyanya dengan suara lembut.

"Siapakah Congsu ini, Cin?"

Siang Cin membasahi bibirnya dengan lidah, sahutnya .

"Dia bernama An Lip, orang Siang gi-pang, karena main patgulipat dengan gundik Pangcunya, dia dihukumi dera yang berat dan akhirnya akan dibakar hidup2, tatkala kulihat dia dihajar sedemikian rupa oleh pelaksana hukum Siang gi-pang ."

Alis yang lentik laksana bulan sabit di atas mata si cantik tampak berkerut, katanya dengan prihatin.

"Aduh kasihan ........dia pingsan?"

Siang Cin menghela napas, katanya setelah duduk di kursi sebelah.

"Luka2nya sudah kucuci dan kububuhi obat, dia dihajar begitu rupa, tapi dia memang laki2 sejati, jangankan minta ampun, mengeluhpun tidak pernah, menyatakan terima kasih padaku juga belum sempat lantas jatuh pingsan, kupikir setelah terang tanah baru keadaannya akan lebih baik."

Bola mata nan bening jeli si cantik menatap Siang Cin, katanya lembut.

"Kau tentu amat capai juga Cin, kuseduhkan secangkir teh untukmu, lalu kubuatkan makanan ......."

"Ci, tak usah repot,"

Ujar Siang Cin dengan tertawa.

""Bibi Ciu kan ada? Biar dia ....."

Hidung si cantik yang mancung tampak mengernyit, katanya manja.

"Hui, kau ini, kalau sudah ngelayap, paling cepat 10 hari atau setengah bulan baru mau pulang, kalau pulang pasti di tengah malam buta, memangnya bibi Ciu harus selalu menunggu kedatanganmu, kecuali aku kakakmu yang bodoh ini ...."

Siang Cin menggosok mukanya dengan telapak tangan, ia berkedip lalu memicingkan matanya, katanya.

"Ya, sudah kutahu kau selalu menanti kepulanganku, maka akupun tidak tega membikin repot kau ...."

Sinar mata si cantik menjadi redup, ter-sipu2 dia alihkan sorot matanya, katanya masgul.

"Aku tahu akan diriku ....dik, aku tidak akan menuntut berlebihan, kau sudah cukup baik terhadapku ...."

Siang Cin berdiri, tanyanya dengan tenang.

"Ci jangan kau singgung kejadian masa lalu, soal itu sudah berselang, sekarang bukankah kita baik2 saja?"

Si cantik terharu katanya sambil menggeleng rawan.

"Kehidupan yang tenteram seperti ini takkan lama kita nikmati, Cin, sudah tiba masanya kau berumah tangga, kelak bila kau sudah mempersunting isterimu, aku, diriku yang menjadi kakakmu ini terhitung apa pula."

Pelan dan lembut Siang Cin tarik tangan yang halus dingin itu, ucapnya pelahan.

"Ci dalam hatimu kautahu bahwa aku Siang Cin bukan laki2 seperti yang kaukatakan, walau kita bukan saudara sekandung, tapi selama ini kupandang kau sebagai kakak kandungku sendiri ...."

Bergetar badannya, pelahan si cantik angkat kepala sambil mengulum senyum, walau dia tahu senyum getir ini mengandung rasa resah, hambar dan kehilangan. Katanya kemudian.

"Cin, aku senang mendengar omongan ini, sungguh, hatiku amat terhibur ... ."

Sembari bicara lekas2 dia putar. tubuh beranjak ke dalam, katanya dengan rada gugup.

"Cin, kau istirahat sebentar, biar kuseduhkan teh untukmu." 11 Jelas terasa oleh Siang Cin nada perkataan si cantik yang mengandung isak tangis tertahan, pertanda betapa pilu dan rawan hatinya, diapun mengawasi bayangan semampai nan menggiurkan itu lenyap dibalik pintu, akhirnya dia menghela napas. Angin berkesiur di luar jendela, malam semakin larut, kabut semakin tebal, bunga api pelita di atas meja tampak memanjang lalu mengkeret dan menyala terang benderang pula. Benak Siang Cin sukar menahan gejolak keresahan, dia mengerti dari mana datangnya keresahan ini, yaitu dari kakak angkatnya ini, perempuan tercantik di kota Tiang-an -Kun Sim-ti. Pelahan2 Siang Cin mengembuskan napasnya yang panjang, masih segar dalam ingatannya pada enam tahun yang lalu betapa nekat dan mati2an Kun Sum-ti menolak keputusan sang ayah yang ingin mengawinkan dia. Ayahnya sudah lanjut usia -Kun Keh-boh, seorang pujangga yang memperoleh gelar tertinggi dalam kalangan pejabat pemerintah, dengan kekerasan telah menghajarnya dengan sebatang pentung dan menyeretnya naik ke tandu, akan diusungnya ke rumah keluarga Oh, salah seorang bangsawan ternama di kota Tiang-an untuk dikawinkan dengan puteranya yang bungsu. Belakangan dia mendapat kabar, setelah masuk kerumah mertuanya itu Kun Sim-ti mogok makan dan minum, sepanjang hari tak pernah berucap sepatah katapun, tapi suaminya, Oh Hian, justeru berpesta pora dengan perempuan2 cantik di luaran, setiap malam pulang seteiah mabuk serta menganiaya dan menyakitinya, belum ada setahun sejak pernikahan itu. Oh Hian ditemukan mati tidak wajar di kamarnya, maka keluarga Oh sama menuduh Kun Sim-ti sebagai pembunuh suami, maka nasibnya lantas terjerumus ke dunia yang lebih mengenaskan, sejak itu dia hidup dalam kegelapan yang tak pernah melihat sinar matahari, tak kenal apa itu hidup riang dengan tawa gembira, sampai suatu ketika Siang Cin telah menolongnya. Itulah kejadian tiga tahun yang lalu. Seribu hari lebih ini terasa berlalu dengan cepat, kejadian dulu bagai baru berlangsung kemarin dulu. Dalam waktu singkat Siang Cin yang semula masih hijau pelonco telah menjadi tokoh persilatan yang sudah kenyang liku2 kehidupan Bu-lim. Tanpa terasa Siang Cin mengulum senyum hambar, yang betul, sudah lama dirinya terhitung seorang tokoh persilatan, cuma jarang orang tahu bahwa dia membekal Kungfu luar biasa. Akhirnya Siang Cin geleng2 kepala, baru sekarang lubuk hatinya yang paling dalam menyadari kenapa dulu Kun Sim-ti rela mati daripada dikawinkan dengan pemuda yang tidak dicintainya, sebab tidak lain karena dia sudah cinta padanya, begitu murni dan suci dan begitu besar cintanya dengan segala pengorbanannya. Sorot matanya rada kabur, Siang Cin menggigit bibirnya sambil melamun, terbayang ketika Kun Sim-ti menceritakan kejadian itu sambil sesenggukan, se olah2 bunyi guntur di siang bolong seketika dia melenggong dan berdiri kaku. Keluarganya memang kenal turun temurun dengan keluarga Kun Sim-ti, orang tua merekapun adalah saudara angkat. biasanya kalau iseng, sering dia keluyuran ke rumah keluarga Oh. dia suka bergaul dengan kakak angkat yang lemah lembut dan welas asih ini, betapa dia menikmati raut wajahnya nan mekar mengulum senyum manis dengan sikapnya yang agung suci setiap gerak geriknya terasa indah bak lukisan tapi tak pernah terbayang dalam benaknya soal "cinta", lebih tak pernah terpikir olehnya bahwa kakak angkat yang lebih tua empat tahun ini betul2 jatuh cinta ke-pati2 padanya. Waktu itu Siang Cin hanya menghela napas maklum saat itu dia baru berusia lima belas, tapi bukankah biasanya dia suka mengagulkan diri berpengetahuan dan pengalamannya cukup banyak dan luas? Apa betul begitu banyak yang di ketahuinya? Tidak, kadang2 dia memang suka melamun, sering berkhayal yang muluk2, khayalan yang lucu dan menggelikan ....... Tiba2 terdengar suara lembut menyadarkan lamunannya.

"Cin, apa yang kau pikirkan?"

Entah kapan Kun Sim-ti sudah berdiri di sampingnya, wajahnya nan molek tampak pucat, matanya tampak merah seperti habis menangis, tangannya menjinjing 12 nampan berwarna hitam, sebuah cangkir porselin yang terukir indah terletak di nampan, air teh di dalam cangkir masih mengepul, terendus bau teh yang harum sedap.

Bergegas Siang Cin berdiri menerima cangkir itu, katanya pelahan.

"Ci, kaupun duduklah."

Kun Sim-ti menatapnya penuh tanda tanya, pelan2 dia duduk di samping, sementara Siang Cin sudah menghirup tehnya seteguk, katanya memuji".

"Wah, wangi, betul."

"Inilah oleh2 yang kau bawa tempo hari ....."

Sambil menatap lembut raut muka orang, Siang Cin berkata pelan.

Teh seperti ini sering juga aku meminumnya di luaran, tapi selalu kurasakan teh yang kuminum di rumah jauh lebih sedap dan menyegarkan, cukup lama juga aku ber-pikir2, akhirnya baru kusadari apa sebabnya .."

Kun Sim ti mengedipkan matanya yang jeli, tanyanya.

"Sebab apa?"

Siang Cin tertawa riang, ucapnya.

"Sebabnya karena orang yang menyeduh teh ini berlainan."

Merah jengah muka Kun Sim ti, omelnya malu"

"Ah, kau memang banyak tingkah, dik, senakal masa kecilmu dulu .."

Tiba2 Siang Cin memandangnya dengan terlongong, pandangan yang polos dan membawa rasa kehangatan yang menimbulkan pikiran yang suci tanpa memikirkan hal2 yang tidak senonoh, walaupun hakikatnya Siang Cin sudah menahan bara nafsunya yang telah sekian lama bergejolak dalam sanubarinya.

Memang badan sedikit gemerinjing, tapi tanpa berkedip, tanpa malu dan takut Kun Sin-ti balas menatapnya lekat2, bibirnya nan tipis merah bagai delima merekah seolah2 menantang, memang rasa kesalnya selama ini selalu mengganjal dalam hati, menjadikan pikiran suka murung dikala berada seorang diri, selalu dia penuh harap, harapan yang dilandasi keinginan yang berkobar mendekati gila, semoga Siang Cin suatu ketika bisa memberikan sesuatu padanya, meski sesuatu itu terlalu kecil artinya.

Dulu sering juga mereka berdiri berhadapan saling tatap, tapi mereka sama tahu dan dapat menyelami alam pikiran masing2, se-akan2 ada sebuah dinding tak kelihatan yang menjadikan penghalang yang tak tertembuskan untuk ini, mereka tahu selain rasa jengkel memang masih banyak pula alasan dan sebabnya.

Seperti biasanya, pelan2 akhirnya Siang Cin mengalihkan sorot matanya, dengan perasan berat dia habiskan teh secangkir yang masih panas itu.

Maka Kun Sim-ti lantas tahu bahwa kali ini dia tidak akan memperoleh apa2 lagi.

Betapapun dia adalah seorang perempuan yang berperasaan halus, perempuan yang harus jaga harga diri, sungguh tak berani dia menurunkan pamor sendiri untuk memohon sesuatu itu kepada Siang Cin, yang dia doakan hanyalah suatu ketika Siang Cin akan memberikan peluang, memberi kesempatan untuk dia melimpahkan perasaan hatinya yang selama ini terpendam dalam hati.

Memang dia merasa benci juga, dia paham tanpa menyatakan isi hatinya tentu juga Siang Cin sudah tahu..

tapi kenapa sikapnya selama ini tetap begitu dingin, kurang agresif, meski sikapnya selalu mesra penuh kasih sayang, tapi cepat sekali mencair dikala keadaan hampir mendekati titik beku.

Siang Cin duduk bersandar di kursi, setelah menghela napas panjang dia meluruskan kaki dan tangannya, katanya hambar.

"Ci, masihkah kau ingat pohon cendana di taman belakang rumahmu itu?"

Diam2 Kun Sim-ti menyeka air mata, ia mengangguk pelahan, meski Siang Cin tengah menengadah memandangi langit2, tapi gerakan sekecil apapun tak lepas dari pengawasannya, dia paham apa yang menyebabkan orang berlaku demikian, dengan tenang melanjutkan.

"Sekarang tiba musimnya kayu manis itu berkembang biak, aku amat suka mencium baunya yang manis harum, bila aku menyedot napas panjang sambil memejamkan mata, seolah2 rebah bergelimang di tumpukan bunga di tengah awang2, sungguh nyaman segar. Kuingat, suatu ketika kakak Seng dari tetangga sebelah pernah memaksa kita menjadi pasangan pengantin dan . .. ." 13 Kun Sim-ti tertawa rawan, katanya pilu.

"Waktu itu aku menerima saja paksaannya, tapi kau tidak punya keberanian, seperti kejadian beberapa tahun kemudian dikala aku dipaksa kawin, kaupun tidak punya keberanian menerima aku .... .."

Mengejang jantung Siang Cin, lekas dia batuk2 lirih untuk menutupi perasaannya yang tertusuk katanya.

"Waktu itu aku masih kecil, Ci, sungguh, aku tidak tahu bahwa kau sangat suka dengan permainan itu ...."

Kun Sim-ti menunduk, dengan suara lirih dan selembut sutera ia berkata.

"Akhirnya kau tahu juga, tapi sudah terlambat ...."

Tergetar perasaan Siang Cin, cangkir diangkatnya dan diteguk hingga habis seluruh isinya, hanya dia sendiri yang tahu asmara yang terpendam selama ini dalam hatinya, tapi cintanya itu memang sudah terlambat?

"Ci ..

.."

Dia membasahi bibir dengan ujung lidahnya dengan suara semakin rendah.

"pergilah kau istirabat, biar aku istirahat di sini saja."

Kun Sim-ti menatapnya, lama dan lama sekali, akhirnya dia menghela napas, lalu memutar tubuh dan masuk kedalam.

Letak rumah itu jauh di luar kota, di sini tiada kentongan tanda waktu, tapi dari perasaan dan pengalaman yang dimiliki Siang Cin dapat meraba saat itu sudah menjelang kentongan keempat, tidak lama lagi fajar akan menyingsing.

Pelan2 dia berdiri, laki2 besar yang terluka parah itu tiba2 menggeliat miring di atas kursi dan mengeluarkan keluhan lirih, Siang Cin mengawasinya, pelan2 kelopak mata orang itu mulai bergerak, maka terbayang oleh Siang Cin akan bola mata orang yang melotot sebesar mata sapi siang tadi.

Agaknya kelopak mata An Lip, laki2 besar ini, seberat ribuan kati rasanya, sekuatnya dia berusaha membuka mata, tapi rasa kantuk tak kuasa ditahannya lagi, didengarnya suara tawar lembut mengiang di telinganya.

"Sudah siuman?"

Sekuatnya An Lip menggerakkan kepala, pelan2 dia membuka secercah kelopak matanya, tampak remang2 sebuah wajah ganteng yang putih halus berbentuk lebar wajah yang gagah ini seperti pernah dilihatnya entah di mana, rasanya seperti sudah lama sekali.

Siang Cin berdiri dihadapan orang, dengan cermat dia awasi rona muka orang, katanya kemudian dengan tertawa.

"Rona merah di bola matamu sudah pudar, sahabat, sungguh siksaan yang lumayan beratnya untukmu."

Mengejang dan bergetar sekujur tubuh An Lip, seketika dia terbayang pada adegan yang seram dan menyakitkan itu, seketika pula dia teringat akan keadaan sendiri sekarang, sekuatnya dia rneronta bangun dan berteriak haru.

"Inkong, Inkong (tuan penolong), terimalah sembah hormatku ...."

Lekas Siang Cin memapahnya, katanya ramah.

"Bila kau ingin berterima kasih padaku, akupun akan menerimanya dengan senang hati, maka tak perlu kau banyak adat lagi."

An Lip menghela napas lega, katanya sambil mencucurkan air mata.

"Inkong kalau bukan pertolongan Inkong, jiwa An Lip ini tentu sudah sejak kemarin melayang, Inkong ...."

Bertaut kedua alis Siang Cin, suaranya rendah berat.

"Aku bernama Siang Cin."

"Siang Cin", nama ini laksana ular berbisa yang tiba2 memagut ulu hati An Lip, kaget sampai badannya gemetar, ia melongo dan lidaiinya terjulur, sesaat dia tergagap.

"Siang ... , Siang Cin ....naga .... naga kuning?"

Mulut Siang Cin berkecek sekali, lalu berkata.

"Agaknya kau rada tegang? Sahabat, kedua tangan orang she Siang memang berlepotan darah, tapi masih bisa membedakan antara jahat dan baik." . Meski berjambang lebat tapi wajah An Lip yang merah masih kelihatan, sikapnya tampak tersipu, katanya.

"Tidak Inkong, bukan begitu maksudku, jangan salah paham ....Nama besarmu yang amat tersohor ...."

"Namaku tersohor?"

Siang Cin menyeringai.

"yang benar sudah beberapa kali pada saat2 aku harus mampus ternyata nyawaku ditarik balik hidup2. Kau tahu, manusia siapapun tentu tidak mau mati, betul tidak?" 14 Sejenak An Lip melenggong, lalu meng-angguk2, Siang Cin mengucek hidung dengan dua jarinya, katanya pula.

"Kenapa Siang-gi-pang menyiksamu begitu rupa ehm?"

Melenggong sebentar An Lip dan menunduk, laki2 besar ini ternyata mencucurkan air mata, Siang Cing melengos sedikit, katanya kemudian.

"Kabarnya kau main serong dengan gundik Pangcu mereka?"

Mendadak An Lip angkat kepala, kulit mukanya berkerut, teriaknya tak terkendali.

"Main serong? Dia yang merebut calon isteriku, menghancurkan masa depanku yang bahagia, setiap hari aku harus munduk2 di depan moncongnya yang cengar-cengir seperti tertawa iblis, selalu memperoleh lirikan dingin dan cemooh yang memalukan dari bakal isteriku, tapi aku harus tetap pura2 membusungkan dada sebagai laki2 pemberani. O, Thian, senyuman yang dipaksakan, wajah ayu nan layu, aku terpaksa hanya mengawasinya dengan mendelong, dia jatuh ke pelukan laki2 lain, yang dapat kulakukan hanya berdoa, menelan liur, aku harus memaki diriku sendiri sebagai manusia pengecut, kenyataan dia sudah menjadi gundik Pangcu ... ."

Bicara punya bicara, laki2 yang kekar yang dihajar tanpa mengeluh ini ternyata pecahlah isak tangisnya.

Siang Cin menarik sebuah kursi bambu lalu duduk di depannya, sambil bertopang dagu, dia biarkan saja orang menangis dan melepaskan duka nestapanya.

Sudah tentu Siang Cin sendiri juga dapat meresapi betapa besar sedih dan rasa dendam orang, meski bukan pengalaman sendiri, tapi dia cukup dapat merasakan juga penderitaan semacam ini, kadangkala banyak persoalan di dunia ini yang sukar diresapi dan dirasakan sendiri, tapi asal kau bisa berpikir dengan bijak, maka kau akan dapat menyelaminya.

Lama juga baru An Lip menghentikan tangisnya, agaknya dia teramat letih dan kehabisan tenaga, apalagi setelah melimpahkan rasa duka dan dendamnya, badan menjadi lunglai.

Tanpa bicara Siang Cin angsurkan selembar sapu tangan sutera warna kuning, sambil menyeka air mata, An Lip berkata malu2 dengan mata merah.

"Inkong, An Lip tak kuasa mengendalikan perasaan, harap dimaafkan ....."

"Bukan salahmu,"

Ucap Siang Cin tertawa, sejak jaman dahulu kata cinta memang suka menyiksa manusia."

An Lip tertunduk, air mata masih bercucuran maka cepat dia seka dengan sapu tangan. Siang Cin berkata pula.

"Saudara, Pangcu kalian itu sebetulnya punya berapa isteri dan gundik?"

"Seluruhnya ada tujuh gundik."

Sahut An Lip gemas. Siang Cin tertawa lagi, katanya.

"Apa yang kau katakan barusan seluruhnya benar?"

Bola mata An Lip yang sebesar mata sapi melotot pula, katanya sambil menuding langit dan bumi, bersumpah.

"Inkong, jiwa An Lip telah Inkong tolong, masa An Lip berani membual dihadapan Inkong? Kalau sepatah kataku tidak benar, boleh Inkong penggal kepalaku."

Siang Cin mengangguk dan berkata.

"Kalau demikian calon isterimu itu sudah digagahi orang, apa kau masih rela mengawininya? Ehm, maksudku, sudah tentu kalau dia masih mau ikut padamu."

Sejenak An Lip melenggong, mendadak ia berteriak.

"Sekalipun dia menjadi pelacur murahan juga selamanya aku tidak akan melupakan dia."

Se-konyong2 Siang Cin merasa kepalanya menjadi pusing.

beberapa patah kata orang terasa pedas dan menusuk sanubarinya.

Dengan tajam dia tatap laki2 yang lahiriah kelihatan kasar itu dengan suara pelahan ia bertanya.

"Kenapa?"

An Lip menelan liur, sedikit gagap dan tersengal, tanpa ragu dia berkata.

"Bila engkau mencintai seseorang sepenuh hati, cinta yang murni dan suci pasti takkan luntur, apapun yang pernah terjadi tak perlu dipertimbangkan lagi."

Sekian lama Siang Cin terlongong, katanya lirih.

"Baik saudara, akan kubantu rebut kembali bakal isterimu."

Saking haru dan senang, bergemetar badan An Lip, mulutnya terpentang, katanya. 15

"Betul? Tapi .... tapi Inkong, itu berarti kau harus menyerempet bahaya dan bermusuhan dengan Siang gi pang ....."

Siang Cin tertawa pongah, katanya.

"Memangnya kenapa, masa si Naga Kuning Siang Cin tidak mampu menghadapi para kurcaci Siang-gi-pang itu? Lalu bagaimana anggapanmu?"

Lekas An Lip geleng kepala, katanya bingung.

"Tidak Inkong, bukan begitu maksudku, aku hanya mengira ..... demi persoalanku seorang apakah perlu sampai menimbulkan keonaran besar ....."

Siang Cin menarik napas, katanya tawar.

"Kalau kurasa perlu, maka hal itu pasti cukup berbobot."

Bergolak darah di rongga dada An Lip, beribu kata ingin dia utarakan, maksud hati yang tak terbatas ingin dia tuturkan, tapi terlalu banyak dan luas, terlalu tebal untuk dicairkan dalam sekejap ini, kecuali mencucurkan air mata tak kuasa dia mencurahkan isi hatinya.

Api pelita di atas meja ber-goyang2, sinarnya yang kelap kelit terasa seram, bayangan kedua orang di sisi rumah memanjang di dinding sampai ke tanah.

Mereka tiada yang buka suara lagi, biarlah suasana hening lelap ini mencekam keadaan, tapi di dalam kesunyian ini, keduanya merasakan adanya saling pengertian dan ketulusan antar sahabat.

Siang Cin berkedip, katanya.

"Kalau letih boleh saudara istirahat saja di atas kursi, aku akan keluar melihat keadaan."

An Lip tersentak kaget, katanya sambil mengawasi tajam.

"Keadaan? Inkong, memangnya ada sesuatu yang tidak beres? Keadaan sekeliling terasa tenang dan tenteram ....."

Sembari berdiri Siang Cin menggeleng, katanya.

"Justeru terasa tidak aman, kudengar suara lambaian pakaian yang tertiup angin serta daun kering yang terinjak kaki, ada beberapa orang tengah berlari ke mari. jumlahnya cukup banyak."

Jantung An Lip seketika berdebur, katanya tegang.

"Mungkinkah, mungkinkah orang2 Siang-gi-pang memburu kemari?"

Sejenak berpikir, Siang Cin menyabut.

"Mungkin saja, tapi tidak jadi soal."

Sekuatnya An Lip himpun tenaga dan menarik napas, ia hendak meniup padam pelita di atas meja, cepat Siang Cin mencegah.

"Biarkan lampu tetap menyala, saudara, aku senang akan sinar pelita yang remang2 hening ini."

Dengan rasa heran An Lip berpaling mengawasi Siang Cin, sungguh dia tidak habis mengerti dan sukar menyelami kenapa laki2 yang disegani kaum persilatan ini sekarang melakukan tindakan yang melanggar kebiasaan Kangouw umumnya tapi hanya sekejap itu, dikala dia dengar suara kesiur angin dan berpaling itulah, dalam rumah sekarang hanya tinggal dia seorang diri.

Bukan melalui pintu, juga tidak lewat jendela yang setengah terbuka, tapi Siang Cin telah melam bung ke atas belandar, di atas belandar ada sebuah keranjang bambu yang dapat digeser dan bergerak bebas, dari lubang keranjang di atap rumah inilah dia menerobos keluar.

Menjelang fajar, hawa terasa dingin menusuk tulang.

Begitu keluar dan mencapai wuwungan, Siang Cin lantas mendekam diam tak bergerak.

Alam gelap gulita, hening lelap, hanya suara keresakan daun pohon yang dihembus angin, manakala hari hampir terang tanah, alampun terasa menjadi lebih gelap, umumnya tidur manusia pada waktu itupun lebih nyenyak.

Sebuah bayangan samar2 tampak berkelebat, selincah kucing, seenteng burung walet dia berlompatan hinggap dipagar bambu di atas jembatan, di belakangnya menyusul dua bayangan orang pula, kedua bayangan ini lantas terpencar ke sisi rumah, pelita dalam rumah tetap menyala, sinarnya terasa tenang, suasana terasa mantap.

Kecuali tiga orang yang berkelebat datang dengan gerak-gerik sembunyi2, menyusul datang pula seorang yang berlenggang seperti tuan besar, langsung menuju ke atas jembatan bambu, lalu tampak sesosok bayangan lain, langkahnya lembut teratur dan 16 sopan mengikut dibelakangnya.

Bayangan orang yang bersikap congkak ini membalik, dengan hormat dia menjura kepada bayangan lembut dan sopan itu, lapat2 kelihatan bayangan lembut sopan itu adalah seorang pemuda berusia likuran tahun, jubahnya serba biru, dandanan perlente ini lebih mirip anak seorang bangsawan.

Pemuda itu tampak memberi anggukan kepala kepada orang di depannya, maka orang itu beranjak pula dengan langkah yang pongah, kiranya dia memang kepala besar, kepalanya yang gede itu bila diukur pasti tidak lebih kecil daripada kepala keledai, tiba di ujung jembatan segera dia pentang mulut memperdengarkan suaranya yang seruk keras bagai gembrang.

"Perhitungan lama di Sia-mo-nia harus diselesaikan, orang she Siang, payah juga Sin-losu mencarimu."

Suara orang itu serak sumbang, logatnya sukar dimengerti, suaranya terdengar seperti bunyi pasir yang rontok menusuk telinga, kedua membusung tangannya bertolak pinggang, perutnya yang gendut itu mirip perut babi.

Siang Cin mendekam di atas wuwungan mengerut kening, diam2 ia menghela napas, tanpa suara pula dia melayang turun dari atap rumah bagai bayangan setan pelan2 mengapung turun ke depan laki2 tambun itu.

Begitu bayangan muncul, seperti membawa bau anyirnya darah, si kepala besar memancarkan sorot matanya yang masih ngantuk, sikapnya yang pongah tadi seketika lenyap, tanpa disadari dia menyurut mundur tiga tindak, jembatan bambu yang terinjak kakinya sampai berkeriut hampir patah.

Ujung mulut Siang Cin menyungging senvuman aneh yang mencemooh, lengan jubahnya yang gondrong kuning mengebas, katanya dengan nada tawar seperti biasa.

"Sin-suya, dunia ini rupanya cuma sebesar daun kelor, tak nyana kita bertemu pula di sini."

Muka babi Sin-suya itu tampak pucat lesi, kulit daging pipinya tampak mengencang, bola matanya yang mirip mata kura2 mendelik, ter sipu2 dia membetulkan letak jubahnya yang kesempitan membungkus badannya yang gendut, katanya sambil menyegir.

"Orang she Siang, dirodok kau, hakikatnya aku tiada permusuh apa2 dengan kau, urusanku dengan Kik Cu hong dari Tay hian pay di Siau-mo-nia kan tiada sangkut pautnya dengan kau, tapi kau mencampuri urusanku, bukan saja memunahkan Kungfu dua saudara angkatku, kau bikin aku kehilangan tempat berpijak di Siau-mo-nia, perhitungan ini orang she Siang, terserah bagaimana kau hendak membereskannya padaku."

Seperti sedang mengingat2 Siang Cin menengadah, katanya kemudian.

"Kik Cuhiong dari Tay-hian-pay ada hubungan intim denganku, dulu gurunya pernah berdampingan denganku memukul mundur delapan belas Lama kasa merah di perbatasan Tibet, maka tak mungkin aku berpeluk tangan melihat Sin-suya bertiga mengeroyok dia seorang, terpaksa kubantu dia sekadarnya."

Saking murka daging tubuh Sin-suya tampak bergetar, raungnya.

"Membantu sekadarnya? Memangnya makmu yang suruh kau sekaligus menamatkan jiwa dua saudaraku?"

Pancaran sinar mata Siang Cin yang semula bening tiba2 berubah dingin tajam, suaranya bernada mengancam.

"Sin-losu, dikalangan Kangouw kau memperoleh gelar Tho-san-sin, sudah sekian tahun kau malang melintang di Kangouw, seharusnya kau juga paham apa akibatnya berani kau bertingkah di depan Naga Kuning."

Seperti dikemplang tongkat besi Sin-losu menyurut mundur, baru saja mulutnya terpentang mau bicara, pemuda yang sejak tadi berdiri di seberang jembatan sana tiba2 tertawa lebar, katanya menimbrung.

"Menyaksikan sikapmu yang gagah dan congkak ini, maka tahulah aku bahwa saudara tentu si Naga Kuning Sang Cin adanya."

Terangkat alis Siang Cin, suaranya tetap tawar.

"Mana berani, setelah kulihat lagakmu ini, akupun lantas tahu bahwa kau ini Giok-mo-cu (iblis kemala ) Keh Kisin." 17 Pemuda yang berpakaian ketat warna biru tua itu memang benar adalah Giok-mo-cu Keh Ki-sin yang baru muncul tiga tahunan di daerah Thian-lam. Dia murid didik Singkok-bun di Thian-lam, belakangan dia berguru pula pada jago kosen nomor satu di perbatasan Hun-lam Hoan-jit-kiam-khek Han Siau-kan, Setelah lulus dari perguruan dia angkat saudara dengan It-tiau-tay Mo Kim, Cengcu dari Gih-tay-ceng yang kenamaan di Bu-lim, malah adik Mo Kian yang masih perawan Mo Hun-cu telah main cinta dengan Giok-mo-cu yang kabarnya pernah merobohkan Tiam-jong-ngo-eng (kelima jagoam Tiam-jong-pay), menurut kabar yang tersiar di kalangan Kangouw sejak lulus perguruan dan berkelana di Bu-lim Giok-mo-cu belum pernah menemukan tandingan. Giok-mo-cu Keh Ki-sin tertawa lantang, katanya.

"Pandangan saudara memang tajam, julukan Naga Kuning ternyata tidak bernama kosong."

Siang Cin mendengus, katanya.

"Sin-suya, malam begini gelap, hawa dingin lagi, jauh2 Suya meluruk kemari, memangnya kau mau bikin perhitungan lama di Siaumo-nia dulu?"

Sin-suya berkecek mulut, matanya mengerling ke arah Giok-mo-cu Kch Ki-sin tanpa berani memberi komentar, maka Giok-mo-cu tertawa, katanya kalem.

"Memang begitulah menurut pendapatku."

Mendadak Siang Cin tertawa juga, katanya kepada Keh Ki-sin.

"Saudara, kau datang untuk membantu Sin-suya?"

Wajah Giok mo-cu menyungging senyuman ramah, katanya mengangguk.

""Betul, seperti pula waktu saudara membantu Kik Cu-hong dari Tay hian-pay di Sian-mo-nia dulu."

Dengan tak acuh Sang Cin mengebaskan lengan bajunya, katanya.

"Saudara Keh, tahukah kau, selama tiga tahun ini, tidak mudah kau mengejar nama dan mengangkat gengsi?"

"Sudah tentu aku tahu,"

Sahut Koh Ki-sin tertawa. Siang Cin menepekur sejenak sambil menengadah, katanya.

"Kau tahu apa akibat dari sikapmu yang temberang ini?"

""Sudah tentu,"

Sahut Koh Ki-sin sambil manggut.

"Baiklah, Cukup sampai di sini peringatanku, sebabai seorang pandai, kuharap kau tidak melakukan tindakan bodoh, sekarang kalau kau ingin mengundurkan diri masih kuberi kesempatan ...."

Senyum lebar yang menghias muka Keh Ki-sin seketika lenyap, desisnya.

"Siang Cin, sejak hari ini, tidak akan ada tempat berpijak lagi dalam Bu-lim untukmu, sampaikan saja kotbahmu kepada bini di rumahmu."

Sin-suya ter-loroh2 geli, serunya.

"Orang she Siang, jangan di sini kau memupur wajahmu sendiri, nanti kupenggal kepalamu dan kujadikan bola untuk main tendangan."

Diam saja Siang Cin, pandangannya menjelajah keempat penjuru, katanya.

"Sinsuya, ingatlah, turun tangan harus cepat, laksana meteor melanglang angkasa."

Seperti tersengat Sin-suya menghentikan tawanya, cepat ia bergerak, tahu2 ia mengeluarkan sebilah Siang-jin-jan (pacul dua muka) sepanjang dua kaki, matanya yang sipit sebesar kacang tampak mendelik menatap Siang Cin, Mundur selangkah Siang Cin berkata.

"Musim rontok adalah musimnya daun pohon rontok ....ucapan "rontok"

Terulur memanjang bergema di angkasa, belum lagi gema suara ini lenyap, bayangan telapak tangan tiba2 menyambar ke arah Sin-suya, cepatnya bagai halilintar.

Menggerung keras bagai kerbau gila, dengan sigap Sin-suya berkelit, meski tambun badannya, tapi selicin belut tiba2 dia berkisar lima kaki jauhnya, paculnya yang mengkilap berputar membawa sinar panjang bagai rantai menggulung maju, tapi bayangan telapak tangan lawan mendadak menciut, bagai iblis tahu2 menyelinap masuk ke tengah lingkaran pacul yang diputar kencang itu.

18 Giok-mo-cu Keh Ki sin tertawa dingin, mendadak dia menyergap maju, jelas dia melihat bayangan kuning angsa ada di depannya, tapi belum lagi dia sempat menyerang, deru angin telapak tangan yang maha kuat tahu2 sudah menyerampang tenggorokannya dengan cepat dan setajam golok.

Kedua tangan Keh Ki-sin membalik, ia melancarkan pukulan yang aneh, tapi kupingnya sempat mendengar suara "bret", suara kain pakaian yang robek, diiringi jeritan Sin-losu.

"Kunyuk kurangajar, kau memang keji ...."

Belum lagi raungan Sin-suya buyar, bayangan pukulan telapak tangan tahu2 sudah menyambar lewat pipi Keh Ki-sin, sampukan anginnya yang tajam serasa mengiris pipi Keh Ki-sin tujuh kali.

Sudah tentu jantungnya berdetak keras, diam2 Keh Ki sin mengumpat, gerak tubuh apakah ini?

Ilmu pukulan telapak tangan apa pula?

Kenapa begitu cepat?

Mungkinkah manusia dapat mencapai gerak cepat yang luar biasa ini?

Keh Ki-sin mengertak gigi, mendadak dia melompat menyingkir, tapi begitu dia menyingkir, sebat sekali dia melejit balik pula, pulang-pergi ini dilakukan hampir dalam waktu yang sama, berbareng sebilah pedang tajam yang memancarkan cahaya warna-warni, bagai pelangi yang menyorot turun dari tengah angkasa, dengan cepat luar biasa menusuk lurus ke arah Siang Cin.

Bayangan kuning tampak berkelebat memutar mengiris ke cahaya warna-warni pedang tajam itu, belum sempat Keh Ki-sin melanjutkan jurus kedua, bayangan telapak tangan yang berada tahu2 sudah menempel pakaiannya, saking kejut lekas dia menjengking ke belakang sekuatnya, tak urung dia tetap terdorong dua langkah oleh tenaga pukulan lawan itu.

Pacul dua muka Sin-suya segera menyerampang dari samping, mata paculnya yang tajam kemilau, terasa dingin, keadaan Sin-suya yang lengan baju kirinya sukah koyak itu amat runyam, keadaannya lucu dan menggelikan, dengan menggreget dia ingin menelan bulat2 lawannya baru terlampias dendamnya.

Kelam rona muka Siang Cin, kedua tangan menepuk sekali, tiba2 ia bergoyang ke kiri-kanan sehingga pacul dua muka itu menyamber lewat, berbareng sebelah tangan seperti tak acuh dan menyongsong dada Sin-losu yang gembur penuh daging berminyak itu.

Melengking keras jeritan kaget Sin-losu, sekuatnya dia berusaha menggelinding ke samping, tak urung kulit daging pundak kanannya laksana dipapas tajam golok, darah muncrat keluar dari kulit dagingnya yang terbeset.

Dengan sebat sekali kembali Siang Cin menghindarkan libatan sinar pedang warnawarni yang menggulung tiba, malah sempat pula dan melontarkan cemooh kepada Sin-losu.

"Suya, tahanlah kesabaranmu." --Di tengah berkata itu, sekaligus ia melakukan tujuh belas kali pukulan jarak pendek yang luar biasa, selintas pandang dia hanya sekali menggerakan tangannya, sasarannya menepuk punggung pedang Keh Ki-sin, tapi kenyataan Keh Ki-sin sendiri merasakan batang pedangnya bergetar tujuh belas kali sampai lengannya terasa kemeng, sementara pukulan telapak tangan terakhir lawan tahu2 sudah menyelonong menggempur batok kepalanya. Menghadapi serangan kilat ini, cepat2 Giok mo cu gunakan ujung pedangnya menutul tanah, tubuhnya bertolak mundur kebelakang, didengarnya Sin losu tengah mencak2.

"Hayo kawan2 maju semua, ganyang durjana ini!"

Seiring dengan aba2nya, dari kolong jembatan sesosok bayangan tiba2 melompat keluar, selincah kucing tiba2 menerkam, dengan senjata bernama Ci-kim-to (golok tebal) di tangannya membawa sejalur sinar dingin segera membacok.

Bayangan kuning muda kembali berkelebat kurang jelas cara bagaimana jadinya.

"Trang", tahu-tahu Ci-kim-to mencelat ke udara, sementara bayangan tubuh itu seperti ingin berlomba kecepatan, diiringi jeritan yang menyayat hati ikut mencelat terbang ke udara, darah menyembur deras dari mulutnya. Dari dua sisi rumah kembali menerjang keluar dua bayangan orang, hampir dalam waktu yang sama pula dari seberang jembatan bambu ber-turut2 jaga muncul empat puluhan orang yang bersenjata lengkap, cahaya warna-warni kilauan pedang kembal 19 menderu tiba, otak Siang Cin bekerja cepat, sesekali dia melejit ke depan rumah, di sana didengarnya Sin-suya lagi ber teriak2.

"Sin-losu bersumpah kepada ibubapaknya kalau kali ini tak bisa membabar akar orang she Siang, kita takkan berkecimpung lagi di Kaugouw. Hayo gasak, bakar juga rumahnya!"

Dalam kegelapan cahaya pedang warna-warni itu tampak menyolok, hawa pedang yang tajam kembali berhamburan, Siang Cin berkelit beruntun sembilan kali, mautidak-mau dia harus memuji kehebatan lawan.

"Saudara Keh, Han Siau-kan ternyata tidak sembarang mengajarkan ilmu pedangnya padamu."

Siang Cin tahu bahwa Giok-mo-cu Keh Ki-sin kini telah keluarkan keahlian ilmu pedangnya, Hoan-jit kiam-hoat.

Bayangan empat puluhan orang bagai gelombang ombak samudera mendampar tiba, yang datang mendahului adalah lima orang laki2 setengah umur yang berperawakan kurus tinggi laksana galah, sekilas pandang Siang Cin lantas menyambut mereka dengan tertawa lebar.

"Ngo-heng-ciok-cu, permusuhan kita agaknya sukar diakurkan."

"Cis!"

Laki2 paling depan yang berjenggot pendek berludah, gada ditangannya menari memenuhi udara, serunya.

"Siang Cin, hari ini kau mengaku kalah saja."

Siang Cin tidak menanggapi, sebat sekali ia menerjang keluar cahaya pedang warna-warni terus membuntuti gerakannya, tapi tiga-empat bayangan orang belum lagi sempat berteriak tahu2 sudah jungkir balik sejauh beberapa kaki.

Senjata tampak bersimpang siur dengan kilauan cahayanya yang serabutan.

bayangan orangpun saling terkam dan tubruk, dalam sekejap itu, tujuh delapan jiwa kembali melayang direnggut maut.

Tiba2, selarik sinar merah menjulang tinggi ke atas, lalu diiringi ledakan yang cukup keras disertai percikan api yang terus berkobar menjilat apa saja yang gampang terbakar.

Sekali tempeleng Siang Cin bikin laki2 berikat kepala hitam terbanting mampus dengan kepala pecah, sekilas melirik ke sana, dilihatnya rumah bambu yang mungil kesayangannya itu sudah dijilat jago merah, asap yang mengepul tinggi semakin membara sehingga alam sekeliling yang semula gelap menjadi terang benderang.

Bibirnya terkancing rapat, sebat sekali dia menggenjot tubuh, ia meluncur ke sana, tapi cahaya pedang warna-warni itu masih terus membayanginya.

Waktu Siang Cin tiba di depan rumahnya hawa panas cukup membuat sesak napas manusia, sesosok bayangan orang sejak tadi sudah mendekam di sana, kini mendadak dia melejit maju sambil ayun sebatang Liang-gin-kau (ganco perak bercahaya) mengincar perut Siang Cin.

--------------------------------Siapakah dan apa latar belakang pembakaran rumah bambu Siang Cin ini?

Bagaimana nasib Kun Sim ti dan An Lip masih berada di dalam rumah itu?

Jilid 02 Perhatian Siang Cin ditujukan untuk memadamkan api, dalam keadaan kepepet tanpa siaga, tak ada peluang baginya untuk berkelit, apabila berkelit berarti membuang waktu, se-olah2 tangan kirinya memang sejak tadi sudah mencengkeram ujung ganco perak lawan, tahu2 dia seret laki2 yang menyergap ini, mulutnyapun menyeringai seram.

"To ciok-cu, serahkan saja jiwamu."

Pembokong dengan ganco perak ini memang salah satu dari lima laki2 kurus tinggi yang berjuluk Ngo heng-ciok-cu tadi, dia orang nomor empat dari kelima Ngo-heng yang bergelar To-ciok-cu Phoa Lik, saking kaget dan ketakutan, baru saja dia hendak melempar senjatanya, tahu2 jiwanya sudah melayang, batok kepalanya dikepruk hancur oleh Siang Cin.

Baru saja Siang Cin hendak menerobos masuk, hawa pedang berwarna-warni itu menyambar pula ke seluruh badannya, situasi yang dia hadapi kini cukup jelas, jika dia balik menghadapi Hoan-cit kiam hoat Keh Ki-sin, itu berarti dia akan tertahan dan membuang waktu, bila dia langsung menerjang ke dalam rumah yang sudah terjilat api, akibatnya cicinya pasti akan cidera.

Pikiran bekerja dengan cepat, Siang Cin segera mengambil keputusan, gerakannya tetap kencang dan tak berhenti, ia tetap meluncur maju, sesaat sebelum badannya terjun ke tengah kobaran api, dikala badannya, masih terapung dan menarik diri itulah, dia merasakan sakit di bawah ketiaknya, tapi beberapa jurus pukulannya juga telah di lontarkan dalam waktu sesingkat itu, dengan telak iapun merasakan telapak tangannya mengenai sesuatu yang keras, tak sempat dia perhatikan, tapi dia tahu bahwa dia sudah mendapat imbalannya.

Gubuk bambu yang dibangun serba sederhana dan mungil ini, kini sudah ditelan si jago merah, asap mengepul dan api menjilat kian kemari suara bambu yang dimakan api berkretekan menyebabkan Siang Cin kebingungan dan tak bisa membuka mata karena pedas oleh asap yang tebal.

Dua putaran Siang Cin lari kian kemari di tengah lautan api sambil berteriak sepertiorang gila.

"Cici ....bibi Ciu ....An Lip ...."

Jawabannya adalah suara bambu pecah yang terjilat api, suara wuwungan gubuknya yang mulai ambruk, sementara di luar orang ber teriak2 mencaci maki dengan sengit.

Sejak malang melintang di Kangouw Siang Cin tak kenal, gugup atau gelisah, tak pernah merasa tegang dan kuatir, reaksi di kancah pertempuran besar yang menimbulkan banjir darah, di tengah malam buta di tanah pekuburan yang sepi menyeramkan, di tengah kepungan musuh yang ber-lapis2, tak pernah ia merasa tegang, gugup dan gelisah, tapi sekarang, dalam sekejap ini, dia telah meresapi, dia paham-betapa pahit getirnya pengalaman seperti ini.

"Cici ....oh ....cici ...."

Seperti orang gila dia menerjang ke belakang, dimana adalah kamar tidur Kun Sim-ti, tiang yang telah terjilat api, kebetulan runtuh menimpa kepalanya, sekali pukul dia bikin tiang itu mencelat menjebol atap, tanpa pedulikan api yang menyambar kian kemari, tanpa hiraukan api sudah mulai menjilat badannya, seperti kehilangan ingatan dia terus menerjang masuk, dilihatnya Kun Sim-ti telah rebah di lantai, pakaiannya yang bersih itu kini sudah berlepotan darah, dinding hangus yang telah berkobar kebetulan runtuh hampir menindih badannya.

Mata sudah membara, laksana diburu setan, sekuatnya ia menubruk maju, begitu 21 cepat sehingga sukar melukiskan gerakannya, sesaat sebelum dinding bambu yang ambruk hampir menindih badan Kun Sim-ti, dengan punggung dia tahan dinding bambu yang terbakar itu, sekilas ia melihat An Lip yang telah terjilat api tengah berguling2 di lantai, laki2 kekar ini lagi mencekik leher seorang laki2 besar berbaju putih, laki2 baju putih ini sudah mendelik matanya, lidahnyapun terjulur keluar, rambutnya sudah mulai di jilat api, sementara badiknya menembus dada An Lip di bawah tulang pundaknya.

Seluruh rumah sudah terjilat api, Siang Cin mengertak gigi, dengan tangan kanan memeluk Kun Sim ti, sedikit miringkan tubuh, tangan kirinya meraih leher baju An Lip, matanya menjelajah keadaan sekitarnya, di bawah penerangan api yang berkobar, hawa di dalam rumah sudah mencapai suhu yang paling tinggi, dilihatnya sepasang sepatu hitam terjulur keluar disebelah sana.

"Bibi Ciu...."

Ia berteriak.

Tersendat suara Siang Cin, itulah mak inang yang mengasuh dan membesarkannya sejak kecil, sekian tahun berkelana di Kangouw, dengan bekal kepandaian yang tiada taranya ini, ternyata mak inang yang membesarkannya tak mampu dilindunginya.

Sungguh pedih serta luluh hatinya.

Akhirnya dia ambil putusan, dengan kedua tangan mengempit dua orang laksana panah yang menjulang ke angkasa dia terjang atap rumah yang ber kobar2 terus meloncat keluar, tujuh tombak tingginya dia meluncur meninggalkan kobaran api yang beterbangan diembus angin.

"Hari belum terang tanah, cuaca masih gelap, badan Siang Cin yang masih berkobar itu menjadi sasaran pandangan yang jelas, maka hujan panahpun berhamburan ke arahnya dari berbagai penjuru, begitu kencang, rapat dan tak terhitung jumlahnya. Sedikit miring dan mendak, dengan cepat luar biasa badan Sang Cin anjlok turun ke bawah, kira2 masih tiga tombak dari tanah, tahu2 ia berkisar laksana baling2 sehingga tubuhnya doyong miring ke sana dan meluncur turun ke sungai.

"Byuur", api yang menjilat tubuh mereka seketika padam mengepulkan asap dan lenyap diembus angin, di-tengah jerit kaget dan keheranan orang -banyak, tiba2 dengan badan basah kuyup itu Siang Cin meluncur keluar dari air terus melompat ke daratan, belum lagi hinggap di tanah, kedua kakinya dengan tepat mendepak dada dua laki2 yang tengah mengayun golok di tepi sungai. Sesosok bayangan kurus tinggi tiba2 muncul, Kim-kung-tui (bandulan emas) sebesar kepala bayi menderu tiba, dengan rambut yang sudah awut2an, Siang Cin mengegos ke samping, bandulan emas itu menyempet lewat dalam detik2 yang singkat ini, sikut kiri Siang Cin menyodok telak lambung si penyerang.

"Ngek", darah menyembur dan muncrat beterbangan, sambil merendahkan badan sebelah kaki Siang Cin terayun pula, empat laki2 yang menyerbu tiba kena disapunya jatuh lintang pukang dengan kaki "patah, semuanya menjerit kesakitan dan terguling2 di tanah. Meski kedua tangan mengempit dua orang, tapi gerak-gerik Siang Cin masih tangkas, lincah dan cekatan laksana pusaran angin, dalam sekejap mata, enam laki2 kembali terbaring tanpa nyawa, kalau bukan didepak pecah kepalanya, pasti tertendang remuk dadanya. Bayangan orang tampak berkelebat memburu datang, tapi darah korbannya mengalir semakin banyak, tubuh manusia gelimpangan tanpa nyawa, tapi mereka tidak merasa jeri, se-olah2 tak melihat dan mendengar, yang satu roboh, dua menubruk tiba, inilah lukisan nyata dari neraka, di mana jagal manusia tengah berlangsung. Tegang dan ketakutan Sin losu terbelalak kedua bola matanya, sungguh tak pernah dibayangkannya bahwa si Naga Kuning ternyata betul2 mempunyai kekuatan terpendam yang bukan olah2 hebatnya, tekad juangnya begitu gigih dan tak terpadamkan. Giok-mo-cu Keh Ki-sin tampak duduk di bawah pohon, wajahnya pucat pasi, napasnya ter-engah2 kedua tangan mendekap dada, butiran keringat dingin bercucuran, dengan suara lemah serak dia bertanya.

"Su ....Suko, apa di depan sana? Sin-losu bergidik seram, suaranya tergagap.

"Siang Cin ternyata tidak kabur......." 22 Berkilau sorot mata Giok mo cu, serunya.

"Dia mampus?"

Sin-losu menelan liur, sahutnya hambar.

"Tidak ....dia.... dia menyerbu kembali dan banyak korban ......"

"Huuuaaah,"

Sekumur darah tertumpah dari mulut Keh Ki-sin, badan yang menggelendot itu seketika menjadi lunglai, lekas Sin losu memburu datang, sekilas bola matanya jelilatan, lalu dia membanting kaki penuh kebencian, mendadak ia berkelebat ke dalam kegelapan, dikala Sin-losu ngacir ...

yang terjadi..itulah, satu di antara Ngo heng ciok cu kembali terjungkir balik sejauh dua tombak.

Se konyong2 seorang menjerit melengking.

"Mana Sin-suya? Mana Keh-kongcu? Mereka melarikan diri."

"Ngacir? Keparat, kita ditinggalkan mengadu jiwa di sini ......"

Suara caci maki yang bernada gusar segera saling sahut.

Dalam pada itu dengan sebat Siang Cin telah hindarkan bacokan Hou thau-to, sekali sodok dengan sikutnya dia bikin laki2 penyerang itu terpental dengan muntah darah, suara ribut berkumandang di mana2, bayangan orang berlarian dan lenyap di tempat gelap, sekejap saja semuanya sudab lari mencawat ekor.

Dengan langkah sempoyongan Siang Cin berusaha menegakkan badannya, sekilas matanya menjelajah sekelilingnya, segera dia berlari pula ke depan terus melejit tinggi hinggap di pucuk pohon beringin yang tinggi lebat.

Tak lama kemudian fajarpun menyingsing, cahaya mentari yang keemasan memancar cemerlang, cuaca pagi yang cerah, hawa sejuk, tapi keadaan di sini sungguh mengerikan.

Bersandar di dahan pohon beringin yang lebat, dengan hati2 dan pelan2 Siang Cin merebahkan An Lip, laki2 kekar ini mengalami luka2 yang cukup parah, untungnya badik yang menembus dada itu menusuk miring ke atas, sehingga luka2nya tidak fatal.

Siang Cin mencabut keluar badik itu, karena tidak membawa obat, untuk mencegah darah keluar terlalu banyak dia balut luka2 itu dengan sobekan kain bajunya, kini orang tengah tidur lelap, kalau tidak tentu sudah meraung kesakitan dan jatuh semaput waktu badik itu dicabut keluar dari dadanya.

Siang Cin paham bahwa luka2nya sendiri juga tidak ringan, tapi sementara ini dia tidak sempat urus diri sendiri, Kun Sim-ti telah lelap dalam pelukannya, wajahnya nan jelita bak bidadari kini telah melepuh merah berair, bukan di pipinya saja, juga di pundak, lengan dan sekujur badannya terbakar.

Siang Cin merasa syukur bahwa pertolongannya tepat pada waktunya, dia tahu asal dirawat dan istirahat untuk waktu yang cukup lama.

Wajah Kun Sim-ti pasti tidak akan menimbulkan cacat apa2, tapi bila setengah langkah dia terlambat, wajah nan jelita ini pasti rusak, akibatnya sungguh tak berani Siang Cin membayangkan.

Selain luka2 terbakar pundak Kun Sim-ti juga terbacok golok, lukanya cukup dalam, darah sudah berhenti, membeku hitam membiru, semakin dipandang perasaan Siang Cin menjadi pedih seperti di sayat2.

Rumah bambunya yang mungil itu, kini telah tinggal puing2nya saja, sisa bambu yang masih terbakar mengepulkan asap, taman di pekarangan depan rumahnya kini sudah acak2an tak keruan, mayat tampak bergelimpangan di sana darahpun berceceran.

ditambah berbagai alat senjata yang berserakan, pemandangan sungguh amat mengerikan.

Siang Cin menarik napas panjang, di bawah ketiak kanannya ada sejalur luka panjang, tapi kulit daging sekitarnya kini sudah pati rasa, cuma luka terbakar dipunggung yang kini masih menyiksanya, rasanya seperti ditusuk ribuan jarum, atau di gigit ribuan semut.

Siang Cin menjadi kehilangan akal, padahal yang luka parah harus selekasnya diberi pertolongan, tapi umpama dia sanggup menyeret kedua orang luka parah ini dan mencari tabib, kan bisa celaka kalau jejaknya sampai konangan musuh?

Siang Cin tahu, selama beberapa tahun belakangan ini, permusuhan yang dia ikat selama berkecimpung di Kangouw jauh lebih banyak dari pada teman2 yang dikenalnya.

Dikala memeras otak itulah, derap kaki kuda yang mencongklang pesat sayup2 23 datang dari kejauhan, derap kaki kuda terdengar kacau dan berpacu kencang, naluri Siang Gin segera merasakan adanya gejala tidak menguntungkan bakal tiba.

Tak lama kemudian, derap kuda itu berhenti di luar hutan, dengan cepat dua puluhan orang dengan mengenakan seragam abut ketat muncul dari balik pohon sana, semuanya adalah laki2 yang bermuka bengis dan jahat, gerak-gerik mereka cukup tangkas terus menyebarkan diri, tak lama kemudian muncul pula lima puluhan orang yang berseragam sama ber-bondong2 memasuki hutan, tanpa di beri aba2 mereka langsung memecah diri menjadi sebuah lingkaran, busur panah siap di tangan mereka sama diarahkan kegelanggang seperti sedang menghadapi pemandangan yang seram.

Baru saja ke delapan puluhan orang di sini selesai membenah diri, muncul pula dua puluhan orang dengan dandanan yang beraneka ragam, meluncur tiba dari berbagai penjuru hutan, lalu muncul pula seorang laki2 berusia tiga puluhan, bibir merah gigi putih, dengan jubah mentereng yang di bagian dada bersulam huruf "GI", empat laki2 yang berwajah kereng mengiring di belakangnya, di belakang ke empat orang ini beranjak pula seorang laki2, dia bukan lain adalah Gui Ih yang kemarin menghajar An Lip dengan cemetinya, Gui Ih adalah pelaksana hukum dari seksi bendera merah Siang-gi-pang.

Siang Cin menyengir getir, sungguh amat kebetulan, dalam keadaan seperti ini, pihak Siang-gi-pang ternyata meluruk datang pula hendak membuat perhitungan dengan dirinya.

Agaknya laki2 jubah kelabu dengan huruf "Gi"

Yang tersulam di depan dada itu menjadi melenggong menyaksikan pemandangan di depan mata, wajahnya yang cakap itu mengernyit, terlihat bekas luka di jidatnya, codet ini sebesar mata uang, kini kelihatan bersemu merah, sekilas dia menyapu pandang sekitarnya, lalu berkata dengan suara kereng.

"Gui-angki, selama enam belas jam ini, dengan berbagai daya upaya dan mengerahkan puluhan tenaga terpercaya baru kita berhasil menemukan alamat si Naga Kuning, tapi sekarang kita hanya menemukan puing2 dengan mayat yang tak mampu berbicara lagi.". Agaknya Gui Ih juga tertegun sekian saat dia melongo, sahutnya kemudian.

"Bahwa gubuk yang terbakar itu jelas adalah tempat tinggal orang she Siang, bocah itu terlalu banyak mengikat permusuhan, bukan mustahil para musuhnya telah mendahului kita mengobrak-abrik tempatnya ini ...."

Tangan si jubah kelabu mengelus hurus "Gi"

Di depan dadanya, dengusnya dengan kurang senang.

"Menurut penyelidikanmu, berapa banyak anak buah Siang Cin yang tinggal bersama dia?"

Berpikir sebentar Gui Ih menjawab dengan suara lirih.

"Kecuali seorang mak inang rasanya tiada orang lain yang tinggal bersama dia, selamanya dia malang melintang seorang diri ...."

Mendelik mata si jubah kelabu, katanya keras.

"Ada puluhan mayat menggeletak di sini, sukar dipercaya dengan seorang diri dia mampu menjagal orang sebanyak ini, apalagi mereka bersenjata semuanya." -Sampai di sini dia berpaling ke kanan dan berkata kepada laki2 tua berjenggot pendek.

"Jing-sim tong Cui tongcu, kau pimpin beberapa orang, geledah sekeliling sana."

Laki2 tua itu membungkuk sambil mengiakan, lalu melompat ke depan, sepuluhan orang anak buahnya segera ikut berlari di belakangnya, mereka mulai memeriksa semua mayat satu persatu, dari kejauhan tiba2 laki2 tua itu menjerit.

"Hah, bukankah ini Cui ciok-cu Ong Bu, orang ketiga dari Ngo-heng-ciok cu." -Belum lenyap gema suaranya kembali ia menjerit pula.

"Heh, inikan Bok-ciok-cu Phoa-lat. Ah. ini Tio Wijiang. Cong-thau-bak dari Thian-king-kau, Wah, Cap-ji-hwi-so dari Lam-bu-san juga menggeletak seluruhnya. Ini Nyo Cayseng, guru pelatih dari Ban-keh po. Ai, ini Liang Tam, Hupangcu dari Ui-hong pang di Toa-ih-ho ..."

Setiap kali mendengar teriakan si laki2 tua, air muka si jubah kelabupun berubah semakin kelam, akhirnya dia tidak tahan lagi, serunya.

"Cui tongcu, carilah mayat orang she Siang." ---Sampai di sini dia melotot, pula ke arah Gui Ih dengan muka 24 merah cepat Gui Ih berlari ke sana ikut bantu mencari, perhatiannya hanya tertuju pada mayat Siang Cin saja. Sesaat kemudian, dengan tangan berlepotan darah Cui-tongcu kembali, katanya sambil menggeleng.

"Lapor Pangcu, seluruhnya ada tiga puluh dua mayat, semuanya jago2 silat yang punya nama di tiga propinsi utara, paling tidak mereka sudah cukup disegani oleh sesama kaum persilatan, beberapa tahun belakangan ini kita sudah cukup luas bergaul di Kangouw, di. antara 32 mayat dt sini ada dua puluhan lebih yang kukenal ...."

Setelah menghela napas dia menyambung.

"Umpama Nyo Cay-seng, Nyo-lote, dua hari yang lalu masih minum arak bersamaku, tak tersangka hari ini aku harus mengubur mayatnya di sini."

Si jubah kelabu melotot tanpa bersuara, tak lama kemudian Gui Ih pun telah balik, katanya dengan ragu2.

"Di bawah puing terdapat dua mayat yang sudah menjadi arang, satu laki dan satu perempuan, dari pakaiannya jelas si perempuan itu adalah mak inang ....."

Si jubah kelabu menggentak kaki, tanyanya gusar.

"Dan yang laki2?"

Gus Ih ragu2, sahutnya kemudian.

"Sudah menjadi abu dan sukar dikenal lagi, cuma pakaian yang dikenakan tampaknya bukan warna kuning ....."

"Hayo, geledah seluruh pelosok!"

Teriak si jubah kelabu dengan mendelik.

Delapan puluhan orang serempak mengiakan mereka lantas memencar mengobrak abrik ke mana saja yang dipandang bisa digunakan bersembunyi.

Cui-tongcu dari Jing-sim-tong itu agaknya.

berkedudukan cukup tinggi, ia berdiri di depan si jubah kelabu dengan nada berat dia berkata.

"Pangcu, bicara terus terang, betapa tinggi kepandaian si Naga Kuning Siang Cin belum pernah kita saksikan, paling tidak juga pernah kita dengar, pemandangan di depan mata merupakan bukti nyata, maka menurut pendapatku jika Pangcu suka bersabar, urusan ini kiranya bisa disudahi saja....."

Codet di jidat si jubah keiabu tampak semakin merah, sedapat mungkin dia menekan amarahnya,katanya kurang senang.

"Cui-tongcu, peristiwa ini menyangkut nama dan wibawa Siang gi-pang kita, jika kita harus berpeluk dengan menghadapi usik orang lain tanpa memberi sedikit hajaran padanya, memangnya Siang gi pang masih punya wibawa untuk bertengger di kalangan Kangouw, bagaimana kita dapat memimpin anak buah yang berjumlah sekian banyak?"

Cui tongcu mengelus jenggot, katanya kalem.

"Ucapan Pangcu memang tidak salah, tapi kita juga harus menimbang, gengsi dan wibawa yang akan kita pertahankan harus kita rebut, kalau sebaliknya, kukira ini bukan cara yang baik."

Mendelik si jubah kelabu, dingin suaranya.

"Cui tongcu ini sudah menjadi keputusan Pang kita yang tak boleh diubah, peduli betapapun besar pengorbanan yang harus kita pertaruhkan, sakit hati ini tetap harus kita tuntut."

Cui tongcu tak bersuara lagi, diam2 dia mengundurkan diri ke samping.

Di pucuk pohon beringin Siang Cin dapat mertyaksikan semua ini dan mendengar pula dengan jelas, dengan senyuman getir ia mengawasi orang2 Siang gi-pang yang mondar mandir menggeledah kian kemari.

Cepat sekali sang surya naik semakin tinggi, Si jubah kelabu menunggu dengan tidak sabar lagi, sambil menggendong tangan dia mondar-mandir tidak tenang, keempat laki2 kekar berdiri berjajar di belakangnya dengan meluruskan tangan.

Siang Cin tahu keempat orang ini adalah Su-koay-Cu yang kenamaan dari Siang-gipang, mereka adalah pengawal pribadi Sam-bak-siu-su Tan Sin, Pangcu Siang-gipang.

Si jubah kelabu Sam-bak-siu-su Tan Sin, mendadak mengayun tangan ke atas, teriaknya dongkol.

"Sudah, berhenti! Semuanya pulang saja! Aku tidak percaya orang she Siang itu mampu terbang ke langit atau selulup ke bumi,"

Lekas Cui-tongcu menepuk tangan, serunya.

"Perintah Pangcu, penggeledahan dihentikan."

Orang2 yang sudah menyebar luas ke dalam hutan itu segera putar balik dan berkumpul di tempat semula, belum lagi mereka sempat membentuk formasi lingkaran tadi, dari luar hutan tiba2 terdengar suara "pletak-pletok", suara beradunya 25 papan kayu..Baru saja Tan Sin berpaling dengan pandangan heran, anak buahnya di luar hutan sudah menghardik.

"Berhenti saudara di depan itu Siang-gi-pang sedang ada perkara di sini. Bendera kami berkibar di sana, memangnya saudara tidak melihatnya?"

Suara "pletak-pletok"

Tak terdengar lagi, diganti suara aneh yang bernada melengking.

"Eh, maknya dirodok, di siang hari bolong juga berani main begal di sini? Penyamun keroco juga pasti melihat tempat dan waktu bila mau beroperasi, kalian ini penyamun keparat dari mana yang tidak bisa melihat gelagat? Untung tuan besarmu hanya membawa batok kepala yang bertengger di leher tok, tiada sekeping uang yang bisa kau peras dari badanku, memangnya kalian mau berbuat apa terhadapku."

Hardikan di luar kembali berkumandang.

"Saudara yang baik, tentunya kaupun sudah kenyang berkecimpung di Kangouw, jangan bertingkah dan berlagak pilon di depan kami, kalau tahu diri lekas menyingkir saja."

Suara aneh seperti orang banci tadi berteriak pula.

"Wah aneh, tuanku sudah biasa berkeliaran main terobos rumah dan selundup dalam hutan, ke langit bisa terbang, ke bumi aku, bisa selulup, kemana aku suka pergi boleh sesuka hatiku, siapapun tiada yang berani mengusik seujung rambutku, memangnya kalian tetap mengadang di tengah jalan ini dan tidak mau menyingkir?"

Tan Sin menarik muka, jengeknya.

"Keparat ini jelas sengaja mencari gara2, suruh mereka biarkan dia kemari, akan kulihat ke mana dia mau pergi."

Seorang laki2 baju abu2 segera berlari keluar hutan, tak lama kemudian, suara "pletak-pletok"

Seperti ketokan kayu penjual bakmi berkumandang pula Eh ternyata beranjak kemari, menuju ke arah orang banyak ini.

Siang Cin yang ada di pucuk pohon dia sudah menjadi gelisah, dia tahu orang yang suka mengetok kepingan kayu bila berjalan ini adalah teman karibnya sehidupsemati, pendekar aneh yang bergelar Liang kui pan dari Hou-keh-can, namanya Pau Seh-hoa.

Tingkah lakunya lucu dan aneh, bajik dan dermawan, kini dia mengenakan celana panjang biru yang sudah luntur, ikat pinggungnya adalah seutas tali rami yang kelihatan mengkilap karena kotor berminyak, kakinya pakai sepatu rumput yang butut dan sudah berlubang alasnya, rambut yang awut2an laksana sarang ayam tersunggih di atas kepalanya, matanya yang sipit seperti kurang tidur tumbuh di bawah jidatnya yang lebar, hidung besar, mulutnya yang lebar dengan gigi kuning prongos, mulutnya selalu kerkecap mengiringi bunyi pletak-pletok dua keping kayu yang bergantung di belakang pantatnya, papan kayu warna hitam terbuat dari kayu kenari.

Dengan tajam Tan Sin tatap kedatangan tamu yang tak di undang ini, Pau Seh-hoa unjuk tawa lucu kepada Pangcu besar ini dengan gigi yang prongos, tiba2 matanya melirik dan mulut yang lebar itu menciut, katanya-"Rumah di sini sudah dibakar?"

Dingin tatapan Tan Sin, katanya.

"Memangnya kenapa?"

Pau Seh hoa mengernyit hidung, seperti tawa tidak tertawa dia berkata;

"Kalian yang melakukan?"

Tan Sin menengadah, jengeknya.

"Kalau benar mau apa?"

Pau Seh-hoa pandang sekelilingnya, mendadak sikapnya berubah, suaranya bukan saja dingin kaku, katanya ketus.

"Lalu bagaimana dengan saudaraku Siang Cin?"

Tan Sin menjengek.

"Aku justeru ingin tanya padamu tentang dia."

Sekilas melengak, mendadak Pau Seh-hoa terbahak2.

"Slut", dia membuang ingus, lalu miringkan kepala dan berkata sambil menuding Tan Sin.

"Ya, ya, aku tahu kawan, dengan bekal kemampuan kalian yang tak becus ini. terbukti dengan korban yang gelimpangan itu sekarang berbalik kau tanya pada tuan besarmu malah Hahaha, hohoho Siang-lote O, Siang-lote, memang hebat kau, kau benar2 hebat ...."

Dikala gema tawanya masih mendengung, tiba2 dari sebelah sana menggeledek 26 suara hardikan, seorang laki2 baju hijau dengan jambangnya yang kasar mengayun golok besar menubruk tiba, goloknya membacok ke muka Pau Seh-hoa.

"Hait, kurang-ajar! Tidak pakai aturan ...."

Demikian seru Pau Seh-hoa, tapi tanpa bergeming sedikitpun, malah kepalapun tidak tampak bergerak, entah bagaimana, tahu2 kedua tangannya bergerak.

"pletak".

"klontang", golok besar si penyerang tahu2 terbang ke angkasa, sementara laki2 penyerang itu terlempar ke belakang jatuh terduduk dengan kaki tangan mencak2. Tangan Pau Seh-hoa tampak bergerak membalik dua keping kayunya entah sejak kapan tahu2 sudah berada di tangan dan kini sedang dilempar naik turun buat mainan, sambil geleng2 kepala kembali ia mengoceh dengan nada nyentrik.

"Keparat yang tidak tahu adat, hari ini sekedar kuhajar kau supaya selanjutnya tahu sopan santun . .."

Mulutnya mengoceh, sikapnyapun tak acuh, malah kelihatan pongah, tapi dengan jelas dilihat Pau Seh hoa betapa hebat perubahan air muka Tan Sin, mukanya sedingin es dan membesi hijau, anak buah Siang-gi-pang di sekelilingpun serentak memegang gagang senjata, panah terpasang di busur siap menanti aba2 untuk menyerang, suasana cukup tegang.

Cui-tongcu yang berjenggot kambing itu batuk2, katanya dengan suara ketus.

"Saudara ini kiranya seorang kosen, siapa benar dan siapa salah kenyataan yang akan membuktikan, sekarang saudara boleh sebutkan namamu dulu."

Mata sipit Pau Seh hoa terbelalak, lidahnya terjulur menjilat bibir dari kiri ke ujung kanan, suaranya kini berganti dingin dan kasar.

"Hm. Siang gi-pang terhitung perkumpulan kentut apa? Pau-loya sudah cukup bersikap ramah, tapi kalian justeru mau main kayu? Main serang secara serampangan, memangnya Pau-loya ini anak kura2? Dengarkan dengan baik.

"dua keping kayu-Pau Seh-hoa ialah orang yang berdiri di depan kalian ini."

Manusia punya nama, pohon ada bayangan, peribahasa ini memang tepat.

Seketika berdetak jantung Cui tongcu demi mendengar orang memperkenalkan diri, sekilas ia tertegun.

Pau Seh-hoa tidak hiraukan sikap orang, mulutnya ber kecek2 lalu berkata dengan mimik tertawa tidak tertawa.

"Bagaimana? Tan-toapangcu agaknya masih penasaran?"

Sam-bak sin-su Tan Sin belum pikun, sudah tentu dia tahu macam apa tokoh "dua keping kayu"

Dari Hou keh-san ini, beberapa tahun yang lalu dengan dua keping kayunya itu Pau Seh hoa pernah menyapu habis kaum berandal Toa-lo-cian, hongpian dan "Sam-wi tui dari Sam jay seng yang berkuasa di Kwan tang.

Memangnya siapa yang berani mengusik Hou eng (elang harimau) yang menunggui Ui-ji-eng, semacam rumput sakti yang dapat memunahkan ratusan macam racun di Hian-busan?

Tapi seorang diri dengan senjata dua keping kayunya Pau-siansing ini telah sikat elang2 ganas itu, puluhan elang telah dibinasakan, dengan senang Pau Sehhoa memboyong Ui ji-eng turun gunung dengan kemenangan gemilang.

Kejadian baru tahun yang lalu pentolan It tia liong, Liu-to Ce Seng sek mengajak Pau Seh hoa duel sampai mati.

dalam tujuh belas jurus orang she Pau ini telah mengetuk remuk batok kepala lawannya.

Nama Ce Seng sek cukup disegani di utara sungai besar, anak kecil yang menangispun seketika berhenti ketakutan bila mendengar namanya.

Begitulah, Tan Sin tampak guram, katanya sambil menahan marah.

"O, kiranya kau Pau ... .. Pau-tayhiap dari Hou-keh-san."

Pau Seh-boa tertawa lebar, katanya.

"Ah, jangan begitu sungkan, memangnya macam apa tokoh Tayhiap itu? Merampas yang kaya membantu si miskin, mendukung si lemah menumpas yang jahat, dia harus punya wibawa dan gagah perkasa, nama kebesarannya mampu menggoyahkan gunung, darahnya yang panas dapat meluluhkan musuh, berjiwa baja bernyali besi, orang seperti Siang loteku itu baru boleh disebut Tayhiap. Kalau aku orang she Pau ini, aku ini cuma gelandangan kaum Kangouw saja."

Mengawasi puing2 di depan sana, Tan Sin bertanya dengan suara rendah.

"Ada hubungan apa antara tuan dengan orang she Siang itu?" 27 Pau Seh-hoa unjuk gigi prongosnya yang kuning, katanya.

"Sahabat sehidup semati."

Bergetar badan Tan Sin, teriaknya.

"Jadi tuan mau memikul perbuatan busuknya?"

Berkedip mata sipit Pau Seh-hoa seperti orang mabuk, jengeknya.

"Andai kata Siang-gi-pang kalian bermusuhan dengan Siang-lote, boleh kau membuat perhitungan dengan aku orang she Pau."

Pelan2 Tan Sin menyurut selangkah, tampak perubahan pada air mukanya, diam2 ia menimang kekuatan sendiri serta mempertimbangkan kira2 sampai di mana kemampuan musuh, bila kekuatan dan kemampuan ini saling bentrok betapa pula akibatnya.

Secara iseng Pau Seh hoa memainkan keping kayunya secara akrobatik, kepingan kayunya itu menari naik turun ber-putar2 secara menakjubkan, hidungnya yang besar ikut ber-gerak2 seperti mengejek menambah kocak permainannya.

Keadaan menjadi beku, pihak Siang gi pang banyak orang dan kekuatanpun besar, tapi mereka juga mengerti, musuh yang mereka hadapi adalah seekor ular sakti berbisa, ular berbisa yang pandai tertawa.

Lekas Cui tongcu beranjak maju ke samping Tan Sin, lalu ber-bisik2 di telinganya, jelas kelihatan rona muka Tan Sin berubah berulang kali dan tampak semakin jelek, tapi sedapat mungkin dia menahan gejolak marahnya.

Pelan2 akhirnya Tan Sin melangkah keluar hutan dengan muka bersungut, lima-enam langkah kemudian tiba2 dia berpaling, katanya.

"Saudara Pau!"

"Hm, ada apa, aku sudab pasang kuping?"

Tan Sin menarik napas, katanya.

"Kejadian hari ini pasti akan selalu kami ingat dan akan membuat perhitungan kelak."

Pau Seh-hoa cekikikan, suaranya tak kalah dingin.

"Sudah tentu, ingin dilupakan juga tidak bisa, ya toh?"

Tanpa bersuara lagi Tan Sin mengulap tangan, cepat sekali dia undurkan diri membawa seluruh anak buahnya, Gui Ih jalan paling belakang, sebelum keluar hutan dia berpaling sambil mendelik ke arah Pau Seh-hoa.

Mulut Pau Seh hoa ber kecek2.

"Pletak"

Dia adu kedua keping kayunya seraya mengejek dengan suara melengking.

"Awas batok kepalamu, bantal."

Gusar tapi tak tahu apa maksud ucapan orang, Gui Ih hanya mendelik murka. Hal ini malah mendatangkan gelak tawa Pau Seh-hoa, serunya.

"Memangnya bantal salah? Eh, menyulam!"

Dengan tatapan kebencian, lekas Gui Ih melangkah pergi.

Hutan kembali menjadi sunyi mencekam dan seram.

Sang surya tetap memancarkan cahayanya, suhu panasnya semakin mengeringkan noktah2 darah yang berceceran, bau anyirnya darah lekas sekali terembus angin lalu, Mayat2 yang bergelimpangan itu ada yang mendelik, ada yang membentang mulut, satu dan lain berbeda tapi sama mengerikan, memang beginilah kehidupan insan persilatan yang berkecimpung di Kangouw, tak kenal persaudaraan, tak kenal sesama manusia, sekali bermusuhan, mati adalah akhir dari persengketaan itu.

Mata Pau Seh hoa yang sipit itu menampilkan rasa hambar yang sukar diraba, dia mendongak seperti melihat cuaca, lalu pelan2 duduk tersimpuh di tanah, akhirnya ia menengadah ke arah pohon beringin di depan sana, di mana Siang Cin sembunyi dibalik dedaunan yang rimbun.

Katanya.

"Dengarkan Siang-tayhiap, sang naga di angkasa, lekaslah kau turun saja, memangnya enak berayun di atas dahan pohon yang bergontai?"

Siang Cin yang sembunyi dibalik dedaunan tertawa, akhirnya dia menyingkap daun serta melongok keluar, katanya.

"Lo Pau, amat kebetulan kedatanganmu, tepat pula waktunya kehadiranmu."

Hidung Pau Seh-hoa yang besar mengendus2, katanya.

"Kau terluka?"

Siang Cin tertawa, katanya.

"Tidak terlalu parah, malah Kun-cici dan seorang kawan yang terluka cukup parah."

Cepat berdiri dan langsung Pau Seh-hoa melejit ke atas pohon, dahan pohon 28 berkeresek sekian lama, akhirnya dia gendong An Lip melompat turun.

Dengan penuh perhatian dan hati2 sekali Siang Cin juga bawa Kun Sim-ti melayang turun, sementara Pau Seh hoa sudah keluarkan obat serta membalut luka2 An Lip, katanya dengan suara lirih.

"Kondisi kepala besar ini cukup baik, mujur nasibnya. kalau badik itu sedikit menceng ke bawah, terpaksa dia harus menitis kembali pada kelahiran yang akan datang."

Dengan menggigit bibir Siang Cin menatap wajah Kun Sim-ti yang terbakar hangus itu, sungguh pedih hatinya, sementara Pau Seh hoa tengah membersihkan noda darah di pundak An Lip, tanpa berpaling dia berkata.

"lote di pinggangku tergantung sebuah kotak rotan, di dalam ada tiga kaleng bubuk, yang warna merah untuk obat luar, yang warna hijau boleh diminum, sedang sekaleng lagi yang putih boleh kau gunakan sendiri untuk membubuhi luka2mu."

Tanpa bicara Siang Cin menghampiri mengambil kotak yang disebut, Kun Sim ti dibopongnya ke bawah pohon yang lebih terlindung, dengan hati2 dia baringkan Kun Sim ti, dengan seksama dia mencuci bersih luka2 serta membubuhi obat, gerak geriknya ringan dan lembut.

Hening sesaat lamanya, akhirnya Siang Cin membuka pertanyaan.

"Lo Pau, obatmu ini diracik dari bahan apa?"

Pau Seh-hoa tertawa, cemoohnya.

"Kenapa? Memangnya tidak manjur?"

Kumandang tawa Siang Cin, katanya.

"Bukan, malah manjur sekali, rasanya dingin nyaman meresap kulit daging."

Pau Seh-hoa tengah mencekok sebotol obat cairan ke mulut An Lip, katanya tawar.

"Ui ji-eng, rumput sakti dari Hiun-bu-san, binatang buas elang harimau saja menjaganya, merekapun tahu kasiat rumput ini, apalagi manusia?"

Dengan langkah enteng Siang Cin muncul dari balik pohon, raut mukanya yang tampan memancarkan cahaya terang, lukanya ternyata juga telah terbalut cukup rapi.

"Lo Pau, sebelum kau sempat mengerjakan dua keping kayumu aku bisa memberi persen dua kali tamparan ke mulutmu sebagai hukuman bagi mulutmu yang ngoceh tak keruan tadi, kau percaya?"

Lekas Pau Seh-hoa goyang kedua tangannya, serunya .

"Percaya, percaya, seribu kali percaya. Orang she Pau tak pernah jeri menghadapi siapapun juga, tapi terhadap tamparanmu itu aku paling takut. Wah, tak pernah kulupakan demontrasi yang pernah kau pamerkan di sarangku di tengah sungai Hwi-yang-kang dulu, sebelum batu seberat lima puluh kati yang kau lempar ke udara itu jatuh ke bawah, dengan kedua tanganmu sekaligus kau dapat menyampuk jatuh seratus tiga puluh tujuh ekor burung gereja ......."

Tertawa lebar Siang Cin, ia berkata.

"Soalnya di Hou-keh san tempat kediamanmu Itu tiada burung gereja lebih banyak lagi, kalau tidak, dalam waktu sesingkat itu bisa lebih banyak lagi burung gereja yang dapat kupukul jatuh."

"Crot", Pau Seh-hoa berludah, matanya melotot, serunya.

"Ha, baru dipuji sudah lantas mau makan hati? kau memang takabur."

"Lo Pau,"

Ucap Siang Cin sambil menggosok hidungnya.

"omong2, sejak kini Sianggi pang mungkin tidak akan berpeluk tangan lagi terhadap dirimu."

Pau She-hoa menggeliat, katanya.

"Ya, Kongcu, semua itu kan hadiahmu padaku?"

Terpancar sinar dingin pada sorot mata Siang Cin, katanya tenang.

"Kuharap jangan karena persoalan ini Siang-gi pang sampai mengalami keruntuhan."

"Karena soal apa?"

Tanya Pau Seh-hoa. Secara ringkas Siang Cin ceritakan pengalaman An Lip. Pau Seh-hoa berdiam sebentar, katanya kemudian.

"Lote, kau ini memang keterlaluan, bukan saudaramu ini suka cerewet, kau memang suka bunga, mega, rumput, sanjak, lukisan dan segala keindahan, tapi semua ini serba menyebalkan bagiku. Kau mem-buang2 tenaga hanya demi persoalan sepele ini, kukira tidak setimpal, perempuan bukan melulu ...."

Tajam tatapan Siang Cin, bola matanya yang bening memancarkan cahaya yang 29 lembut dan tulus, tapi Pao Seh hoa yang ditatapnya menjadi kikuk sendiri, serunya.

"He, kenapa kau pandang aku begitu rupa?"

Siang Cin tersenyum, katanya dengan suara rendah.

"Jangan terlalu nyentrik Lo Pau, perempuan yang pernah kau cintai dua belas tahun yang lalu memang tidak bersalah, kau sendiri yang salah. Tidak pantas lantaran dia meninggalkan kau lantas kau lampiaskan rasa sirikmu kepada perempuan yang lain, kalau dunia ini tanpa perempuan, hidup ini akan terasa tawar dan tiada artinya."

"Sudahlah Lote, jangan bicara soal itu lagi,"

Ujar Pau Seh-hoa.

"perempuan itu, hm, memang tidak punya liangsim, kalau dia punya perasaan tidak seharusnya dia merat, bila suatu ketika dia kutemukan, kalau tidak kubeset kulitnya hidup2 jangan panggil aku orang she Pau."

Siang Cin tertawa, katanya.

"Siapa suruh kau bermain patgulipat dengan perempuan lain di luar tahunya? Ini namanya kau tidak setia terhadap kekasihmu."

"Tidak setia?"

Pau Seh-hoa berteriak.

"Busyet, itu kan cuma iseng saja. Memangnya laki2 mana yang tak pernah berbuat iseng di luaran? Memang nya soal beginian juga harus dibuat perkara, malah main minggat segala? Kalau tidak bicara soal ini aku sih tidak marah, sekali menyinggung soal perempuan itu, ingin rasanya aku mencacahnya serta membakarnya menjadi abu ...."

Siang Cin geleng2 kepala dan tak bicara lagi, dia menghampiri Kun Sim-ti, Pau Sehhoa mengawasi dengan melenggong, perasaannya hampa seperti kehilangan apa2.

Mendadak dia memanggil Siang Cin ingin bicara, tapi ragu2, akhirnya dia ganti haluan.

"Lote, mayat bergelimpangan, kau belum lagi menjelaskan apa yang telah terjadi?"

Siang Cin bersenyum, katanya.

"Karena persoalan di Siau-mo-nia dulu itu, Sin-suya meluruk kemari. Kau masih ingat kejadian dulu itu?"

"Mereka meluruk kemari,"

Pau Seh-hoa bergumam sambil celingukan.

"tapi meninggalkan sekian banyak mayat ...."

Di balik pohon sana pelan2 Siang Cin beg jongkok menatap muka Kun Sim-ti yang dibalutnya hingga cuma sepasang matanya saja yang masih kelihatan, kedua matanya terpejam, namun bulu matanya yang panjang melengkung kelihatan elok dan indah.

Tiba2 badan Kun Sim-ti sedikit bergeming, lekas Siang Cin, memanggil dengan suara halus "Cici..."

Pelan2 kelopak mata itu bergerak, sorot matanya yang sayu masih membayangkan adegan seram menakutkan semalam, ia pandang Siang Cin, lama dia menatap tanpa berkedip, akhirnya ujung matanya mulai basah.

Sekuatnya Siang Cin mengunjuk senyum, katanya lembut "Ci, kau sudah baik?

Segalanya sudah lalu ...."

Mata Kun Sim-ti terpejam sebentar lalu terpentang pula, sorot matanya mengandung rasa kuatir dan prihatin, Siang Cin mengerti, lekas dia berbisik.

"Aku tidak apa2, hanya sedikit terluka bakar."

Rasa lega dan terhibur jelas kelihatan dari sorot matanya, hal ini dapat di resapi oleh Siang Cin, setelah menelan liur dia berkata.

"Kau lapar tidak? Biar kusuruh bibi Ciu .... suruh bibi Ciu membuat sarapan untukmu ...."

Pelahan Kun Sim-ti menggeleng, butiran air matanya akhirnya menetes di atas kain perban, lekas Siang Cin bantu menyekanya dan katanya.

"Kau amat letih, tidurlah lagi, aku selalu menunggu di sisimu. Oh, ya, Pau-toako juga datang, bentuknya masih seperti dulu, tetap berkepala pengemis."

Tersenyum rawan pada wajah yang sayu, Kun Sim-ti pejamkan matanya, bukan lantaran dia ingin mengejar impian, tapi dia ingin menyimpan persaan hangat dalam hatinya yang hampa.

Musim semi hampir berlalu, sinar surya mulai terasa panas menyengat kulit dengan belaian lembut Siang Cin bikin Kun Sim-ti kelelap dalam tidurnya, lalu ia keluar sambil membopongnya, di luar An Lip sudah siuman, dia tengah berbincang dengan Pau Seh hoa.

30 Melihat Siang Cin, bergegas An Lip hendak berbangkit, tapi Pau Seh-hoa lekas mencegah, katanya.

"Eh, kau si berewok ini kenapa begini bandel? Sekujur badan terluka masih banyak tingkah? Kongcuya datang, sikapmu yang hormat sudah cukup diresapi olehnya."

Siang Cin pandang wajah si berewok yang pucat dan lemah itu, katanya.

"Kalian sudah berkenalan?"

An Lip mengangguk, sahutnya;

"Berkat kerendahan hati Pau-cianpwe, beliau sudi memperkenalkan nama besarnya ......."

"Persetan!"

Omel seru Pau Seh-hoa "kalian sama sebangsa kutu buku yang suka main kalimat......"

Siang Cin anggap tidak dengar ocehan orang, katanya.

"Lo Pau, mari kita cari tempat lain untulk istirahat, nanti malam aku masih ada urusan."

Pau Seh-hoa baru saja berdiri, katanya keheranan.

"Ada urusan, memangnya badanmu ini berotot kawat dan bertulang besi? Lukamu separah itu, kau masih mau urus apa lagi?"

Siang Cin tertawa, katanya.

"Malam nanti aku akan menolong kekasih An Lip itu."

Bersinar mata An Lip,.tapi ia menjadi kuatir, katanya.

"Jangan ..... tak perlu tergesa2, luka Inkong (tuan penolong) sendiri tidak ringan ...."

Berkedip mata Siang Cin, katanya.

"Memang, kalau bisa aku memang tidak perlu terburu2, cuma kulihat Tan Sin teramat penasaran, saking dongkol dan masgulnya mungkin dia akan melampiaskannya kepada calon isterimu itu ...."

Bergidik An Lip, mulutnya melongo dan tak mampu berbicara, ia tahu ini bisa saja terjadi, dia cukup tahu betapa watak Tan Sin, bila kekuatiran itu betul2 terjadi, maka imbalan yang telah dia pertaruhkan menjadi sia2 belaka.

Pau Seh-hoa menjilat bibirnya, katanya.

"Sekarang sudah lewat lohor, kita memang harus cari tempat untuk berteduh dan cari makanan untuk isi perut, kalau tetap tinggal di sini, salah2 bisa celaka."

Siang Cin manggut2, katanya sambil menerawang sekelilingnya, lalu mendahului beranjak ke luar hutan, Pau Seh-hoa lantas berjongkok, jangan kira badannya kurus kering, tubuh An Lip segede itu, segera digendongnya, keruan An Lip merah jengah, serunya gugup.

"Jangan, tidak usah Cianpwe, biar aku jalan sendiri."

Tanpa hiraukan seruan orang segera Pau Seh-hoa beranjak mengikuti langkah Siang Cin, sekeluar dari hutan, seperti lomba lari saja dia berpacu sekencang angin dengan Siang Cin, meski sama menggendong orang, tapi gerak langkah mereka ternyata tak kalah kencang daripada lari kuda.

Siang Cin memilih jalan yang ber-liku2 yang menembus ke puncak gunung, arahnya ke timur, kabut tebal beterbangan di lereng gunung, keadaan menjadi remang2 dan sukar menentukan arah.

Mereka berlari berjajar, Pau Seh-hoa berteriak.

"Anak muda, memangnya mau ke mana kau? Apakah kau kuat menahan luka2mu?"

Tanpa mengendorkan larinya Siang Cin menjawab dengan suara keras pula.

"Dua puluhan li dari sini ada sebuah tempat yang indah, kita sementara menetap di sana saja untuk beberapa hari. Lukaku memang tidak ringan, tapi setelah dibubuhi obat mujarab milikmu, kini sudah jauh lebih baik ......."

Pau Seh hoa ter-gelak2 bangga, dia kayuh langkahnya lebih kencang, serunya.

"Dua puluhan li kemudian, tempat apakah itu?"

Siang Cin menyeka keringat di mukanya, katanya dengan tertawa.

"Tempat nan indah permai, kau pasti kerasan dan berat meninggalkan tempat itu. Kedua orang harus memanjat lereng gunung yang cukup tinggi pula, kini mereka mulai menyusuri jalan pegunungan yang naik turun dan berbatu terus menerobos ke dalam hutan lebat. Pau Seh hoa berludah kental sambil menggerutu.

"Dirodok, setengah tahun tak melihatmu, sekali bertemu kau ajak lomba lari dan main teka teki lagi, pegunungan belukar seperti ini mana ada tempat indah segala .... ..."

Siang Cin tersenyum, mereka langsung menuju ke hutan, keadaan di sini remang2, lebatnya daun hampir seluruhnya menutupi cahaya sinar matahari sehingga keadaan 31 di sini menjadi lebih gelap, suasana hening pula, yang terdengar hanya kresekan dedaunan yang diembus angin.

Langkah Siang Cin mulai diperlambat di antara tumpukan reruntukan daun kering sehingga mengeluarkan suara gemerisik, dengan penuh perhatian Pau Seh-hoa mengawasinya, tanyanya.

"Apakah kau tak merasa letih."

Siang Cin menyeka keringat, setelah menghambur napas dia berkata.

"Rasa sakit dilukaku seperti membetot syarafku......."

"Istirahat saja sebentar?"

Kata Pau Seh hoa. Siang Cin menggeleng dan menjawab dengan tertawa.

"Tidak, istirahat setiba di tempat tujuan saja, sudah tidak jauh lagi."

Tahu akan watak Siang Cin yang keras dan tekadnya yang besar, maka Pau Sehhoa tidak banyak kata lagi, tanpa bersuara mereka terus berlari dalam hutan.

Tak lama kemudian, di kejauhan sana tampak pemandangan yang jauh berbeda dengan keadaan di luar hutan sana.

Sebuah gunung dengan angker laksana sengaja diadangkan di situ, begitu angker dan kelihatan perkasa sekali, puncaknya nan tinggi mencakar langit ditelan mega, dari pinggang gunung, ada dua belas jalur air terjun yang mencurahkan airnya laksana rangkaian rantai perak.

Di atas pinggang gunung, pemandangan sekeliling diliputi kabut tebal, kebetulan angin mengembus buyar kabut tebal hingga kelihatan sebuah tebing yang menonjol keluar di atas pinggang gunung, letaknya kebetulan berada di atas jalur2 air terjun, warnanya serba menghijau.

Dapatlah dibayangkan betapa bahagia dan menyenangkan bila menetap di atas sana, pagi hari menyaksikan matahari terbit di ufuk timur, bila magrib melihai sang surya terbenam di balik pegunungan yang berhawa sejuk seperti ini, memangnya siapa yang tidak kerasan tinggal di sini.

Pau Seh-hoa ber-kecek2 kagum, serunya memuji.

"Kongcu, tempat ini memang luar biasa, indah permai, sungguh aku tak habis mengerti cara bagaimana kau bisa menemukan tempat ini."

Menengadah memandang ke atas, sikap Siang Cin tampak lega, katanya dengan tenang.

"Serba puitis bukan suasana di sini."

Pau Seh hoa ter-kekeh2, katanya.

"Memang senang hidup di tempat ini, cuma terlalu sepi ...."

Tanpa bicara lagi Siang Cin mulai memanjat ke atas, langkahnya tetap secepat terbang, Pau Seh-hoa tetap mengintil tak ketinggalan, teriaknya.

"Naik dari mana, Lote?"

Siang Cin berpaling sambil memberi tanda gerakan tangan, dia membelok masuk ke sebuah lekukan seperti selokan gunung, dalam selokan yang menjurus semakin tinggi itu kiranya ada sebuab jalan kecil beralas batu putih, orang mengira ini buatan manusia yang benar memang ciptaan alam, begitu aneh jalan berliku ini melingkar naik makin tinggi ke atas, tak ubahnya seekor ular raksasa yang melingkari gunung.

Berjalan di alas batu yang tidak rata ini ternyata sedikitpun tidak makan tenaga, maka Pau Seh-hoa berteriak heran.

"Kongcu, apakah kau yang suruh sang malaikat membuat jalan pegunungan ini?"

Siang Cin mengendurkan langkahnya serta mengencangkan ikat pinggang, katanya.

"Bukan begitu, tapi sang malaikat yang tahu kalau aku akan menetap di atas sini, maka pada ribuan tahun yang lalu ketika menciptakan alam permai ini sekalian membuat jalan pegunungan ini."

Pau Seh-hoa ter-gelak2 geli, sambil menikmati pemandangan di kedua sisi jalan, batu berserakan, dahan kering sama bergantungan, tampak pula bekas lumut mengering tanda derasnya air yang mengalir di sini, di waktu hujan jalan gunung ini memang merupakan selokan kecil yang mengalirkan air ke bawah gunung.

Setelah berputar sekian lamanya mengitari lamping gunung, akhirnya mereka menjurus ke jalan lurus menembus ke lembah pegunungan, Siang Cin memilih jalan ke arah kanan, di mana ada sederetan pohon Siong yang berjajar menjulang tinggi ke angkasa, di sini Sang Cin menghentikan langkah, katanya sambil menoleh.

"Lembah kecil tadi kunamakan lak-kui-kok (lembah kenangan), bagaimana pendapatmu tentang nama ini?"

"Lembah Kenangan Apa maksudmu?"

Tanya Pau Seh-hoa.

"Hidup di sini kan tidak perlu pikirkan urusan tetek-bengek lagi. Tapi manusia kan harus hidup bermasyarakat bukan."

Pau She-hoa manggut2, bersama Siang Cin dia menyusuri deretan pohon terus membelok ke kiri, pemandangan di sini berubah seratus delapan puluh derajat, kembang seruni mekar bak permadani membentang luas di embus angin pegunungan, bau harum semerbak laksana menyambutmu dengan senyum dikulum.

Tiada manusia yang menanam serta merawatnya, tapi bunga serum di sini hidup subur dan mekar segar.

Di ujung rumpun seruni sebelah sana, terdapat sebuah kolam kecil yang letaknya membelakangi tebing, sumber air mengalir dari atas tebing, kolam itu ternyata seluruhnya terbuat dari batu putih, airnya jernih, siapapun pasti ingin minum airnya yang dingin dan sejuk.

Di samping kolam terdapat dinding yang besar melintang datar, di balik dinding tembok gunung inilah terdapat sebuah rumah mungil yang dibangun dengan kayu pohon cemara, pagar kayu mengelilingi rumah, semuanya serba merah gelap.

Di balik tembok panjang di depan pekarangan rumah mungil itulah letak tebing dengan air terjun tadi.

Dari sini terlihat jelas di samping tebing sana tumbuh subur sepucuk pohon flamboyan dengan bunganya yang lagi mekar, kembangnya yang berwarna merah kekuningan itu beterbangan ditiup angin gunung.

berdiri di atas tebing dapat memandang puncak2 gunung di kejauhan yang berbentuk aneka ragam dan aneh2, tangan terjulur dapat menjamah mega yang mengambang tak berujung pangkal, seperti tinggal di atas langit rasanya, meski hawa di sini agak dingin, tapi kehidupan di alam permai seperti ini laksana hidup dewa di kahyangan.

"Aku menetap di sini seorang diri,"

Ucap Siang Cin sambil melepas pandang ke seluruh pelosok.

"maksudku sering kemari, jadi bukan selama itu terus hidup di sini. Di sini antara langit dan bumi rasanya sambung menyambung, manusiapun hidup laksana dewata, hidup di sini dapat merenungkan banyak persoalan yang tak mungkin di selami khalayak ramai di tengah kehidupan kota, betul tidak Lo Pau."

Pau Seh hoa ter-kekeh2, katanya.

"Kongcuya, orang she Pau tak semahir kau menggunakan istilah muluk2. Sekarang yang penting lekas cari makanan untuk tangsal perut yang sudah keroncongan ini."

An Lip yang digendongnya lantas berkata dengan rikuh.

"Pau cianpwe, sekarang boleh kau turunkan Cayhe."

Pau Seh hoa mengiakan, pelan2 ia turunkan An Lip serta bertanya.

"Jalan pegunungan naik turun, tentu bergoncang keras, luka2mu kambuh tidak?"

"Tidak, tidak,"

Sahut An Lip tertawa sambil menggeleng dengan muka merah.

"Sudah jauh lebih baik ......"

Sekilas Pau Seh-boa meliriknya dengan senyum di kulum, lalu dia berpaling hendak ajak Siang Cin bicara, tapi melihat keadaan Siang Cin segera dia telan pula kata2 yang sudah hampir terlontar dari mulutnya.

Siang Cin tampak termenung, seperti melamun tapi juga seperti tengah memusatkan perhatian, pandangannya tertuju ke dalam rumah, sorot matanya tampak ganjil.

Diam2 Pan Seh hoa mendekati serta berbisik.

"Kenapa Lote, ada gelagat yang tidak beres?"

Sorot mata Siang Cin tak beralih, katanya dengan suara tertahan.

"Dalam rumah ada orang."

Pau Seh-hoa terperanjat, tanyanya gugup.

"Darimana kau tahu?"

Mundur selangkah Siang Cin berkata.

"Lumut di undakan di depan pintu tampak ada bekas tapak kaki, pegangan pintu menjuntai turun, pagar kayu itupun kelihatan terbuka dengan paksa."

Pau Seh-hoa mengangguk, katanya dengan suara dingin.

"Kalau begitu gusur saja 33 keluar dan lemparkan ke bawah tebing."

Sejenak berpikir Siang Cin berkata pula.

"Kukira bukan cuma seorang saja."

Dengan tertawa Pau Seh-hoa segera menuju ke muka pintu serta berteriak kedalam.

"Kalau ada orang di dalam rumah, lekaslah menggelinding keluar. Pau loya baru datang, kebetulan dapat melemaskan tulang dan mengendurkan otot di sini."

Pintu yang terbuat dari kayu pohon siong tetap tertutup rapat, tiada reaksi apa2. Pau Seh-hoa melangkah maju dan berteriak pula.

"Maknya, tidak mau keluar, memangnya perlu kuseret keluar? Jangan sok jadi kura2 ..... .."

Pelan2 dan hati2 sekali Siang Cin baringkan Kun Sim-ti di atas rumput, tapi dia tetap mengawasi ke dalam rumah.

Pau Seh-hoa juga mengawasi ke dalam rumah dengan pandangan menyelidik, sesaat kemudian dia berpaling memberi lirikan kepada Siang Cin, ia menepuk pinggang sendiri, lalu mulutnya memberi tanda pula.

Sedikit bimbang, akhirnya Siang Cin mengangguk.

tangan kanan merogoh saku di balik jubah kuningnya yang sudah koyak.

Melihat gerakan orang, Pau Seh hoa tertawa lebar, seperti merasa puas segera dia menghadap ke arah rumah dan ber-kaok2.

"Nah ini dia, hai, orang di dalam rumah, kalau tidak lekas keluar, orang she Pau akan menyeretmu keluar ........"

Pelan2 Part Seh-hoa menaiki undakan batu, sekonyong2 dia menerjang ke arah daun pintu, tapi sedetik sebelum badannya menjebol daun pintu, pintu yang semula tertutup rapat itu mendadak terpentang, sebatang cundrik warna kuning kemilau tahu2 menyamber keluar laksana ular memagut menusuk jidatnya.

Pau Seh-hoa menjerit kaget, cepat ia doyong kebelakang, tapi dikala badannya mendoyong ke belakang itu, tanpa mendengar adanya kesiur angin, tak terlihat bayangannya.

"Trang", terjadi bentrokan keras memekak telinga, cundrik baja yang menjulur keluar itu tahu2 tersampuk mental ke samping oleh sesuatu benda yang menerjang tiba tepat pada waktunya..Dalam waktu sesingkat itu pula, tampak Pau Seh-hoa selicin belut sudah menyingkir jauh, belum sempat dia menarik napas lega, ujung matanya sempat melirik ke arah Siang Cin, tampak orang tengah memegang sebatang pisau melengkung berkilau berbentuk seperti arit. Benda yang menyampuk balik cundrik itu kiranya adalah senjata melengkung tajam yang dipegang Siang Cin itu, benda itu berbentuk arit kecil yang tidak bergagang, tipisnya laksana kertas, tajamnya tidak menimbulkan cucuran darah bila tubuh, terpapas, senjata ini terbuat dari baja murni campur emas, tajam dan lihay sekali, Siang Cin memiliki dua belas batang senjata rahasia semacam itu, namanya Toa liong-kak (tanduk naga besar). Dengan senjata Toa liong-kak ini entah sudah berapa banyak jago kosen persilatan yang terbunuh oleh Siang Cin, tapi selamanya dia jarang dan tidak suka pamer di depan umum, karena sekali dia turun tangan dengan senjata ampuh ini membunuh orang segampang membabat rumput. Sambil pegang Toa liong kak yang melengkung itu. Siang Cin tenang2 mengawasi ke rumah, katanya.

"Saudara yang ada di dalam, sudah saatnya kau keluar."

Pau Seh-hoa seka keringat dingin. serunya gusar.

"Maknya dirodok, kalau tuan besarmu hari ini tidak mencincang tubuhmu, anggaplah aku dilahirkan kuntilanak."

Cundrik yang mental balik tadi menyentuh pintu sehingga kayunya tergores, pelan2 terdengar suara kresekan di dalam rumah, Siang Cin tetap bersikap tenang dan prihatin, sebaliknya Pau Seh hoa sudah keluarkan kedua keping kayunya, dengan memaki gusar ia menerjang ke depan pintu pula.

Bayangan seseorang pelan2 muncul dari dalam rumah dan berdiri di ambang pintu, itulah seorang laki2 tua berbadan reyot dan berwajah kurus kusut, pakaiannya yang berwarna kelabu luntur itu sudah bertambal di sana sini, mukanya kuning, rambut ubanan dengan kerut keriput di kulit mukanya, langkahnya terseret, berdiripun menggelendot di pinggir pintu.

Pau Seh hoa merandek, dia tatap laki2 tua ini, serunya.

"Hai, orang tua, kau tadi 34 yang membokong tuan Pau ini dengan senjatamu itu?"

Dengan pandangan sayu si orang tua menatap Pau Seh hoa, sesaat baru dia bersuara dengan serak.

"Aku Kiang Kiau hong karena menghindari kejaran musuh, secara kebetulan menemukan tempat kalian ini, saking kepayahan tanpa pikir terpaksa kami pinjam tempat kalian untuk berteduh sementara. Untuk kelancangan mana harap tuan suka memberi maaf ..."

Mendengar orang bicara dengan ramah, rasa marah Pau Seh hoa buyar sebagian, dua kali hidungnya mendengus, katanya.

"O, omonganmu memang beralasan, cuma kelancanganmu tadi memang keterlaluan, untung kau berhadapan dengan orang she Pau, kalau orang lain, bukankah jiwanya sudah melayang di tanganmu?"

Belum lagi laki2 tua itu menjawab, di belakangnya kembali muncul bayangan seorang yang ramping, eh, kiranya seorang gadis remaja yang jelita.

Wajahnya bulat kwaci, alisnya melengkung, bola matanya yang jeli diimbangi mulutnya yang kecil seperti delima merekah itu menambah manis wajahnya.

Usianya masih kurang dari 20, berbaju putih dengan gaun panjang yang kelihatan sedikit kotor, tapi justeru memperlihatkan kesederhanaannya.

Sikapnya tampak kuatir, begitu muncul di belakang si orang tua, dengan suara tersendat dia berkata.

"Cong ....Congsu, hal itu tidak bisa salahkan ayahku, aku ....aku, soalnya aku belum sempat melihat jelas ...."

Pau Seh hoa melirik dingin ke arah gadis remaja ini, kemudian dia tertawa terkekeh, ujarnya.

"Kiranya tadi perbuatan nona? Serangan telak, tenaga hebat, tak kira nona memiliki kepandaian dan tenaga selihay itu, .sungguh harus dipuji ... ."

Wajah si gadis seketika menjadi jengah, ingin bicara tapi ragu dan takut2, dia menunduk pula sambil memain ujung baju. Siorang tua menarik napas panjang, katanya.

"Terlampau lama kami ayah beranak menderita lahir batin, bak umpama burung yang takut mendengar suara busur, karena mengira musuh mengejar tiba, maka puteriku turun tangan tanpa kenal ampun, tuan ini orang bijak, harap suka maklum dan maaf .."

Pau Seh-hoa tak enak mengoceh lagi, dia berpaling menatap Siang Cin, dilihatnya Siang Cin tertawa tawar, maka Pau Seh-hoa membalik ke arah ayah beranak itu, katanya.

"Tempat ini amat tersembunyi, entah bagaimana kalian bisa menemukannya?"

Gemetar bibir si orang tua, katanya serak;

"Karena terdesak dan demi mencari hidup, hutan belantara dan gunung betapapun tingginya juga harus kami jelajahi, asalkan dapat menemukan tempat untuk berteduh dan aman, kebetulan kami sampai di sini, kami tak bermaksud jahat, untuk ini harap tuan2 maklum."

"Saudara sedang sakit?"

Tanya Pau Seh-hoa. Guram wajah si orang tua, katanya dengan lemah.

"Dulu pernah aku menderita sakit rematik, beberapa hari ini buron tanpa kenal lelah dan kelaparan lagi, darah tertumpah tak tertahankan. Ai, sudah tua, tulang2 inipun sudah reyot rasanya."

Di belakang sana dengan kalem Siang Cin berkata.

"Kalau begitu, Lo Pau, biarkan Lotiang ini tinggal di sini beberapa hari, di belakang masih ada kamar kosong, cuma kalian harus tinggal di tempat seadanya."

Wajah Pau Seh hoa masih menampilkan rasa ragu, sebentar dia berpikir, lalu berkata.

"Saudara ini, siapa nama besarmu?"

Siorang tua rada melenggong, katanya.

"Tadi sudah kusebutkan, aku Kiang Kiau hong."

Mulut Pau Seh hoa mengulang nama orang, katanya.

"Belum pernah kudengar nama ini, saudara tua, tolong tanya lagi, kau termasuk aliran atau perguruan mana?"

Si orang tua bimbang sejenak, katanya kemudian.

"Lohu adalah guru silat dari Siau-Kong-pa di Lok-te, beberapa murid pernah kuajari kepandaian, tapi tak pernah berkecimpung di kalangan Kangouw, sudah tentu tuan tidak tahu nama Lohu yang rendah ini?"

Pau Seh-hoa berdehem dua kali, katanya.

"Lalu, siapakah musuh besarmu itu?"

Terunjuk serba susah di wajah Kiang Kiang-hong, bibirnya bergerak tapi tak keluar 35 sepatah kata. Pau Seh-hoa tertawa melengking, katanya.

"Memangnya musuhmu itu seekor Naga Kuning?"

Dengan keheranan Kiang Kiau hong menelan ludah katanya tergagap.

"Naga Kuning? Naga Kuning yang mana? Harap saudara suka menjelaskan ...."

Siang Cin melangkah maju beberapa tindak, Toa liong kak telah dia simpan, katanya sambil menjura pada Kiang Kiau-hong.

"Cayhe Siang Cin, silakan Lotiang duduk di dalam."

Haru dan terima kasih Kiang Kiau-hohg, ia menjura pada Siang Cin, katanya.

"Engkoh muda ini sungguh bajik dan bijaksana, Lohu sungguh merasa lega dan bersyukur, bila penyakitku tidak kumat lagi, kami akan segera berangkat, se-kali2 tak berani bikin repot engkoh muda ini ...."

"Jangan sungkan,"

Ucap Siang Cin.

"kamar di sebelah kanan itu boleh tetap kalian tempati. bila Lotiang perlu apa2, silakan bilang saja, sama2 orang yang hidup berkelana, bila menghadapi kesukaran adalah jamak, kalau kita saling bantu."

Beruntun Kiang Kiau-hong menjura dua kali, anak gadisnya lalu membimbingnya masuk ke kamar. Setelah bayangan mereka lenyap, Pau Seh boa menyeka mulut serta berkata lirih.

"Lote, tidak pantas kau terima mereka begini saja. Menurut dugaanku, kakek itu rada mencurigakan, jangan2 dia sengaja main tipu ........"

Siang Cin tertawa tawar, katanya .

"Kuharap tiada kejadian apa2, kalau tidak, mereka akan menyesal setelah kasip " -Lalu dia putar balik, dengan hati2 dia pondong Kun Sim-ti ke dalam rumah, An Lip berjalan mengikutinya. Itulah ruang tamu yang sederhana dan membawa harum kayu cendana, beberapa kursi dan bonggol pohon asli yang di ukir sedemikaan rupa sehingga tampak sangat indah, meja kayu yang ceplok2 kuning di pojok sana terdapat sebuah pedupaan yang masih mengepulkan asap dupa yang harum.

"Lo Pau "

Ucap Siang Cin sambil berpaling.

"kau dan An Lip sementara istirahat dulu di sini."

Pau Seh-hoa mengendus2 dengan hidungnya, katanya sambil duduk dengan santai.

"Lekas pergi, aku tahu kamar tamu yang serba antik ini pasti akan menjadi tempak tinggalku."

Siang Cin tak bicara lagi, dia lantas masuk ke kamar sebelah kiri, kamar ini ternyata juga sederhana, bau kayu cendana juga merangsang hidung, di dinding bergantung buah beberapa lukisan, sebuah dipan kayu berkasur dan beralaskan tikar anyaman, rotan, selimut bantal tersedia lengkap.

Pelahan Siang Cin rebahkan Kun Sim-ti, sekian lama dia menatap wajah orang tanpa berkedip matanya nan indah itu masih terpejam, tenang tanpa membayangkan rasa kesakitan.

Setelah termenung sekian saat, akhirnya Siang Cin mengemuli badan Kun Sim-ti.

diam2 dia mengundurkan diri keluar.

Pau Seh-hoa duduk di kursi sana, melihat dia keluar lantas berkaok.

"O, tuan besarku, sudah kukatakan perut telah berkeruyukan, rasanya sungguh tersiksa, kau sebaliknya masih enak2 seperti tak kenal lapar saja, memangnya kau ingin membikin kita lekas menuju sorga?"

"Sssst", Siang Cin mencegah orang berkaok2 lagi, sekali tarik dia ajak Pau Seh-hoa keluar, dia melihat cuaca, memandang gumpalan awan di kejauhan sana. katanya kemudian.

"Lo Pau, nanti akan kutraktir kau makan panggang bebek, kau suka makan yang tua atau yang masih muda?"

"Panggang bebek?"

Teriak Pau Seh-hoa menelan ludah, tapi lekas dia geleng kepala, katanya tidak percaya.

"Panggang bebek kentut, ditempat seperti ini mana ada panggang bebek? Jangan kau menggelitik seleraku, kalau ada semangkuk nasi putih dengan sayur asin saja sudah lebih cukup bagiku sekarang."

Belum lagi dia habis bicara, tiba2 didengarnya suara kebasan angin yang ramai disertai suara burung belibis dari kejauhan, tampak di udara di kejauhan sana tengah terbang mendatangi sekelompok belibis liar.

Keruan Pau Seh-hoa melengak, serunya keheranan.

"Eh, ternyata ada bebek liar, untuk apa belibis ini jauh2 terbang ke tempat ini? Wah, sungguh menarik, semuanya 36 gemuk2."

Siang Cin membasahi bibirnya, tuturnya.

"Kolam kecil di depan itu kunamakan Cengsim ti (kolam pembersih hati), rasa airnya harum dan agak hangat, di tengah bunga seruni yang tumbuh secara liar di pinggir kolam terdapat semacam rumput yang berbatang coklat ke-hitam2an sebesar jari kelingking, buahnya berwarna merah, kelompok bebek liar itu setiap hari pasti terbang kemari melalap buah2 merah dari tetumbuhan liar yang aneh itu serta minum air kolam itu, agaknya mereka amat suka pada ke dua macam makanan dan minuman ini."

Sementara itu sayap gerombolan bebek liar itu telah hampir menutupi angkasa di atas rumah, tak kurang dari seratusan bebek liar yang sekaligus hinggap di puncak tebing, kelompok bebek liar itu tak pernah kacau saling berebut makanan gerak langkah mereka cukup teratur dan rapi, cuma suaranya yang berisik itu memang agak menusuk pendengaran.

Mulut Pau Seh-boa terpentang lebar, sambil pentang lengan bajunya dia siap menubruk maju menangkap barang dua tiga ekor, tapi Siang Cin lekas menariknya, katanya pelahan.

"Jangan buru2, biar aku saja yang bekerja." -Lalu dia melangkah ke tembok batu gunung raksasa itu, tangan terulur ke dalam sebuah lubang, dari situ dia merogoh keluar beberapa utas benang putih kemilau, entah benang terbuat dari apa, yang terang benang itu kuat dan bisa mulur, pada setiap ujung benang tergantol satu biji buah merah, Siang Cin memberi tanda kedipan mata pada Pau Seh-hoa, sekali sendal, benang lemas ditangannya itu tiba2 menjadi lempeng lurus seperti kawat baja meluncur ke depan, benang2 itu bergontai pergi datang di tengah rombongan bebek liar itu, maka lima bebek sekaligus pentang sayap mengejar buah merah itu hendak mematuknya. Siang Cin tersenyum, ketika dia tarik balik ke lima jalur benangnya itu lima ekor bebek itupun ikut hinggap di bawah tembok, sedikitpun tidak menimbulkan suara berisik. Lekas Pau Seh-hoa memburu ke sana serta memeriksa, ternyata kelima utas benang perak itu telah tembus menusuk badan bebek laksana jarum, semua itu dilakukan tanpa menimbulkan keributan pada rombongan bebek liar itu. Siang Cin ikut memunguti bebek itu serta menyimpan benang peraknya, katanya tertawa.

"Karena selamanya aku tak pernah menangkap mereka secara kasar atau membunuhnya secara terang2an, maka mereka percaya bahwa aku bersikap baik dan bersahabat, setiap hari mereka datang kemari tanpa hiraukan diriku. Dan harus disesalkan aku justeru menggunakan daging mereka sebagai hidanganku setiap hari, kalau aku gunakan caramu tadi menangkap dan mengudak mereka, umpama dapat menangkap beberapa ekor, selanjutnya merekapun takkan berani kemari lagi."

Sambil mengangguk Pau Seh-hoa melelet lidah, katanya.

"Sudahlah, tak usah banyak komentar tuan muda, anggaplah kau yang benar dan pandai, sekarang lekas kita panggang saja."

Siang Cin tertawa geli melihat kelakuan temannya yang kocak itu.

mereka lantas bawa bebek itu ke dalam rumah, dengan giat Pau Seh hoa bantu Siang Cin menyalakan api di tungku, memasak air dan mencabuti bulu, tanpa terasa air liurnya bertetesan.

Sambil menahan sakit An Lip juga maju membantu, cukup lama juga mereka bekerja, tahu2 bau bebek panggang yang sedap merangsang hidung.

Menghirup napas panjang Pau Seh-hoa bersuara seperti merintih.

"O, sedapnya, sekaligus aku bisa menghabiskan dua ekor ....."

Sambil, membalik sundukan bebek panggang An Lip tertawa, katanya.

"Selera Paucianpwe sungguh besar, kalau Cayhe mungkin setengah ekor saja tidak habis ......"

Pau Seh hoa tergelak2, katanya sambil menuding An Lip.

"Anak muda, hatimu lagi melayang jauh ke tempat bekas binimu itu, mana ada selera makan minum segala? Haha ......"

Sementara itu Siang Cin sedang membubuhi bumbu pada bebek panggang, timbrungnya tertawa.

"Lo Pau, memangnya mulutmu itu tidak bisa bicara hal2 yang 37 baik?"

Pau Seh hoa mulai sibuk menyobek daging bebek panggang yang besar dan dijejal ke dalam mulut, sambil ber-kecap2 dan mengunyah tak hentinya dia memuji betapa lezat bebek panggang itu.

Di kala dia melalap bebek panggang itulah, pintu kamar di sebelah kanan terbuka, anak perempuan jelita tadi tampak keluar dengan malu2, tanpa terasa iapun mengernyitkan hidung, memandang SiangCin, lalu berpaling ke arah bebek panggang yang sedang dilalap Pau Seh-hoa, bibirnya bergerak seperti hendak mengatakan apa2, tapi urung.

Dengan menjilat minyak di bibirnya, Pau Seh-hoa bertanya.

"Eh, ada keperluan apa anak manis?"

Sesaat lamanya anak perempuan itu bimbang, lalu berkata dengan malu2.

"Ayah ....ayahku, beliau kurang enak badan, kupikir, kupikir bolehkah kumohon sedikit kuah panas, supaya sesak napas ayah lekas berkurang."

Siang Cin meraih poci dan diangsurkan, katanya tertawa.

"Ambillah, ini air teh yang baru diseduh."

Dengan malu2 anak perempuan itu menerimanya, sekilas ia mengerling ke arah Siang Cin, kerlingan yang mengandung makna mendalam, kerlingan yang aneh, tiada perasaan lembut, tapi lebih cenderung pada perasaan kesal, tak nampak sikapnya yang lembut dan malu2 tadi.

Siang Cin tak pernah lepas perhatiannya atas gerak-gerik si nona, sekilas dilihatnya orang melenggong, dikala dia menoleh dan memperhatikan, orang lantas menunduk sambil menyatakan terima kasih terus mengundurkan diri..

Mendadak Pau Seh hoa panggil anak perempuan itu, tanyanya.

"He, anak manis, siapa namamu?"

Anak perempuan tampak itu melengak, dia menunduk, sahutnya lirih.

"Aku Kiang Ling ...."

Sambil mengunyah daging bebek, Pau She-hoa mengangguk seraya berceloteh.

"Em, bagus, namamu memang enak didengar ...."

Suara batuk di kamar sebelah terdengar semakin keras dan men-jadi2, lekas anak perempuan itu mengundurkan diri setelah mengangguk kepada orang banyak. Mengawasi punggung orang An Lip berkata lirih.

"Anak perempuan ini sungguh berbakti terhadap ayahnya, lemah lembut lagi ......"

Pau Seh-hoa menyeringai dan menyambung " ..... dan wajahnya ayu, dada montok dan menggiurkan."

Siang Cin menaruh seekor bebek yang habis dipanggangnya di atas baki, lalu menyunduk pula dua ekor, dia sibuk sendiri tanpa memberi komentar apa2.

Kembali Pau Seh boa merenggut paha bebek di tangan kanannya, katanya dengan mulut kecap2.

"Kongcuya, kenapa tidak kau utarakan pendapatmu? Kau toh cukup ahli dalam menilai perempuan."

Siang Cin tertawa tawar, katanya.

"Aku sedang me-nimang2, apakah kiranya penilaianku cukup setimpal atau tidak terhadap manusia atau sesuatu yang ada di depan mata."

Seperti terketuk hati Pan Seh-hoa oleh kata2 ini, sekilas dia melenggong, akhirnya dia menunduk tanpa bercuit lagi.

Maka keadaan sesaat menjadi sunyi, semua berdiam diri, hanya suara minyak panggang bebek yang terbakar yang gemericik, lekas sekali bau sedap bebek panggang yang sudah masak merangsang hidung, kelima ekor bebek itu sudah selesar dipanggang, warnanya coklat ke-kuning2an dan berminyak, sungguh menimbulkan selera yang tak terhingga.

An Lip dan Pau Seh-hoa mendapat jatah satu ekor, Siang Cin antarkan seekor ke kamar sebelah kanan, dengan prihatin dia mengetuk pintu, tak lama kemudian daun pintu pelan2 terbuka, anak perempuan yang bernama Kiang Ling itu menongol keluar, sikapnya kelihatan ragu dan takut2 penuh tanda tanya.

Siang Cin tertawa ewa, katanya.

"Bebek panggang yang seekor ini kami berikan kepada nona untuk dimakan bersama ayahmu." 38 Kiang Ling melengak, agaknya dia tidak mengira akan pemberian ini, dengan malu2 lekas dia menunduk, katanya.

"Ini . ...mana boleh kami terima? Bikin repot Congsu saja ...."

Siang Cin angsurkan baki ditangannya, tanpa berkedip dia berkata.

"Sesama hidup dirantau harus saling membantu, nona tidak usah sungkan." -Habis berkata dia putar tubuh menyurut mundur, mendadak Kiang Ling memanggilnya dengan suara lirih, terpaksa Siang Cin berhenti, tanyanya.

"nona masih ada pesan apa?"

"O,"

Sengaja Kiang Ling menarik panjang suaranya, dia unjuk senyum manis, katanya.

"Siang hiapsu . ..."

Siang Cin menggoyang tangan, katanya;

"Tidak berani, Cayhe, adalah orang liar, kaum Kangouw yang hidup bergelandangan."

Dia membalik dan kembali ke tempat duduknya.

Sementara itu Pau Seh-hoa sudah hampir habis sikat seekor bebek.

Tanpa terasa sang surya sudah mulai doyong ke barat, hari sudah dekat maghrib.

---------------------------------Siapakah si orang tua Kiang Kiau-hong dan anak perempuannya yang bersembunyi di tempat Siang Cin ini?

Cara bagaimana Siang Cin akan bantu rebut kembali pacar An Lip?

-Bacalah

Jilid ke-3 -

Jilid 03 Pelan2 Siang Cin menggeliat melemaskan otot, setelah mengisi sekedar perutnya, Siang Cin masuk kamar berganti seperangkat pakaian ketat dengan jubah kuning di bagian luarnya.

An Lip menatapnya, katanya dengan lirih.

"Inkong, sekarang juga mau berangkat?"

Siang Cin mengangguk, katanya. Ya, apakah markas pusat Siang-gi-pang berada di atas Ji-long-san?"

"Betul, Ji long san kelihatan tidak angker, tapi keadaan di sana amat berbahaya, penjagaan pihak Siang-gi-pang juga sangat ketat, markas pusatnya berada di sebuah rumah yang digali di dalam sebuah batu gunung raksasa."

Pau Seh-hoa menyemburkan sekerat tulang dari mulutnya, katanya.

"Kongcuya, jangan kau terlampau pongah akan kemampuanmu.. jika kau betul2 ingin menolong perempuan itu, baiklah, biar aku saja yang mewakili kau."

Sang Cin tersenyum, katanya.

"Terima kasih, Kun-cici kutinggalkan disini. mohon kau suka merawat dan menjaganya baik2, sebelum tengah malam nanti aku pasti pulang."

An Lip kelihatan bimbang, katanya dengan kikuk dan tidak tenteram.

"Inkong, luka..... lukamu belum lagi sembuh, aku ..... aku merasa......"

"Tidak jadi soal"

Ujar Siang Cin sambil mengulap tangan.

"luka2 seringan ini masih kuat kutahan, tolong kau bantu menjaga rumah ini."

"Lote,"

Seru Pau Seh hoa sambil berdiri.

"luka2 mu itu tidak boleh dibilang ringan, 39 nanti malam kau harus menempuh bahaya, bukan mustahil harus mengadu jiwa pula, jika terjadi apa2 di luar perhitungan lalu bagaimana? Biar aku ikut bersamamu."

Mengawasi Pau Seh-hoa. Siang Cin berkata kalem.

"Lo Pau, sungguh aku sangat berterima kasih akan kesediaanmu, tapi kita berdua tidak boleh pergi semua meninggalkan rumah ini, satu di antara kita harus jaga rumah dan melindungi Kuncici. Kau kenal akan watakku, sesuatu persoalan yang sudah dijanjikan untuk dibereskan oleh Pendekar Naga Kuning selamanya tidak pernah dijilat kembali, pula toh aku bukan orang, yang gampang kecundang."

Pau Seh-hoa berkata dengan mendongkol.

"Bukan aku ingin menambah beban padamu, kalau kau dalam keadaan sehat tentu aku tak peduli akan sepak terjangmu, tapi kondisi badanmu sekarang, betapapun aku tak tega melepasmu pergi begini saja."

Siang Cin menggeleng, katanya tegas;

"Pendek kata, Lo Pau, kau tidak boleh ikut, Kun-cici memerlukan perlindunganmu "

Sambil membanting kaki Pau Seh hoa berteriak gusar;

"Baiklah, aku tidak akan pergi biar aku menunggu gubuk kura2 ini." -Dengan gregetun dia duduk pula di kursinya. Pada saat itulah daun pintu kamar sebelah kanan kembali terbuka, Kiang Ling tampak beranjak keluar membawa baki poci teh, melihat Pau Seh-hoa yang bersungut2, dilihatnya pula sikap An Lip yang serba susah, sekilas dia tatap dengan hambar, lalu dia serahkan baki dan poci itu kepada Siang Cin dan berkata.

"Terima kasih, Siang-hiapsu."

Dengan tak acuh Siang Cin terima baki dan poci itu dan ditaruh di atas meja. dia hanya mengangguk pada Kiang Ling, lalu menjura ke arah Pau Seh hoa, katanya.

"Lo Pau, aku akan berangkat, nanti malam kita berkumpul lagi." --Lalu dia putar badan dan keluar. Tapi baru dia sampai di ambang pintu, tiba2 `Pau Seh-hoa memburu ke depannya, dengan lekat dia tatap muka orang, sesaat kemudian baru berkata dengan lirih.

"Jangan marah padaku saudaraku."

Siang Cin tertawa lebar, jawabnya.

"Sudah tentu."

"Perhatikan akan luka2mu sendiri,"

Pesan Pau Seh hoa pula. Dengan pandangan tulus Siang Cin balas tatap mata orang. Habis itu mendadak ia berkelebat keluar. An Lip melenggong memandang keluar jendela, gumamnya.

"Thian selalu melindungimu, Inkong ....."

Kiang Ling juga tertegun, pandangannya terarah keluar pula, suasana seketika menjadi hening, sorot matanya se-olah2 ada sesuatu yang tak terkatakan, membawa perasaan hampa, risau dan masgul.

Pau Seh-hoa menghela napas, dengan tawar dia lirik kearah Kiang Ling lalu berkata tak acuh.

"Penyakit bapakmu sudah baikan tidak? Bocah ayu?"

Merah muka Kian Ling, sahutnya malu2.

"Sudah agak mendingan, cuma ayah memang sukar dilayani."

Pau Seh-hoa berdehem sambil duduk, katanya.

"Di daerah Loh, terutama Siau-angpa tempat tinggalmu itu, ada sebuah jembatan gantung dari rantai, apakah sampai sekarang masih terpasang membentang di atas sungai Gun-cui-ho?"

Kiang Ling tertegun sebentar, tapi segera dia tertawa, katanya.

"Ya, jembatan itu masih ada, cuma sudah jauh lebih rusak dari dulu, rantainya sudah karatan."

Dinging saja Pau Seh-hoa menatap Kiang Ling, sorot matanya mengandung perasaan sinis, katanya pula.

"Apakah ribuan sirip batu diseberang sungai itu juga tetap utuh?"

Kiang Ling menjulurkan lidahnya yang kecil membasahi bibir, katanya pelan2.

"Ada apa Congcu, kenapa mendadak engkau menanyakan semua ini?"

Pau Seh-hoa tertawa, sikapnya tampak tenang, katanya kalem.

"Bapakmu bilang kalian datang dari Siau-ang-pa. Em, orang she Pau ini dulu pernah melancong ke tempat itu, maka sambil lalu kutanya secara iseng, mungkin kau jarang perhatikan hal itu di Siau-ang-pa?" . 40 Berkedip Kiang Ling. kembali dia mengunjuk sikap malu2 seorang gadis remaja, katanya.

"Bukannya tidak memper-hatikan, cuma pertanyaan Congsu terlalu janggal, aku dibesarkan di Siau-ang-pa, mana mungkin tidak tahu akan hal2 itu?"

Pau Seh-hoa tertawa pula, katanya.

"Bocah ayu, pergilah istirahat, kalau perlu apa2 boleh panggil kami saja, tidak usah sungkan."

Sekilas mata Kiang Ling mengerling ke arah poci teh di atas meja sana, tanpa bersuara pelan2 dia kembali ke kamarnya, tinggal An Lip yang masih duduk melongo kebingungan, kelihatan curiga tapi tidak mengerti.

Setelah Kiang Ling menutup pintu kamarnya lekas An Lip bersuara.

"Pau-cianpwe, barusan ....."

Lekas Pau Seh-hoa memberi tanda kedipan mata, katanya sambil ter gelak2.

"Barusan sengaja kugoda genduk ayu itu, wajahnya cantik, perawakannya padat menggiurkan bukan?"

An Lip segera tutup mulut, nalurinya merasakan adanya sesuatu yang tidak beres dalam tanya jawab tadi, cuma dia tidak berani utarakan, dilihatnya Pau Seh-boa menuding ke arah pintu kamar kanan dan memberi tanda kedipan mata, maksudnya supaya dia bantu mengawasi.

Suasana kembali menjadi tenang sunyi, dengan perasaan sedikit tegang, tanpa berkedip An Lip memperhatikan pintu kamar kanan, sementara Pau Seh-hoa duduk memejamkan mata, tidur2 ayam, tapi jelas kelihatan bulu matanya masih ber-gerak2.

"Apakah bakal terjadi sesuatu peristiwa besar? Paling tidak saat ini masih sulit untuk merabanya, tapi suasana yang hening terasa mencekam. Pe-lahan2 di dalam rumah mulai guram, haripun sudah petang, maklumlah musim rontok, malam hari biasa datang lebih cepat, terasa sekali perbedaan ini di atas gunung yang tinggi ini. Tanpa bersuara, pintu kamar kanan mulai bergerak, pelan2 kepala Kiang Ling menongol ke luar pintu, di tangannya tampak memegang baki tempat bebek panggang tadi, masih ada sisa setengah ekor malah. Segera An Lip menelan air liur, dengan suara serak dia berkata.

"O, nona, ada apa?"

Kiang Ling terjingkat, katanya sambil mendekap dada.

"O, kukira Congau berdua sudah tidur, di luar begini sunyi ....apakah aku yang membangunkah kalian ..An Lip berdiri, katanya.

"Tidak apa, serahkan saja baki itu padaku."

Kiang Ling mengerling ke arah Pau Seh-hoa, katanya lirih.

"Apakah Congsu itu sudah pulas?"

Sambil menerima baki An Lip menjawab dengan suara tertahan.

"Ya, sehari ini Paucian pwe bekerja berat, terlalu letih, baru saja tidur ...."

Mengawasi kain balutan di badan An Lip, Kiang Ling bertanya.

"Congsu sendiri terluka?"

An Lip menyengir, katanya.

"Ah, hanya luka2 ringap saja, tidak apa2"

Bola matanya menjelajah keadaan ruang tamu ini, agaknya Kiang Ling, sengaja mencari kesempatan untuk berdiam lebih lama di sini, dasar An Lip orangnya lugu, tidak bicara kalau tidak diajak omong, maka keduanya tetap berdiri diam tanpa bersuara, suasana menjadi serba kikuk.

Tiba2 Pau Seh-hoa menggeliat, matanyapun terbuka, katanya.

"Ada apa bocah ayu?"

Dengan sikap was2 Kiang Ling bersenyum kearah Pau Seh-hoa.

"Tidak apa2, aku mengembalikan baki."

Baru saja Pau Seh-hoa mau buka suara, mendadak dilihatnya tubuh Kiang Ling sempoyongan ke depan, lekas Pau Seh-hoa ulur tangan hendak memapahnya, tapi mendadak dia tarik kembali tangannya, sementara kedua tangan Kiang Ling terpentang ke depan seperti hendak menangkap sesuatu untuk menahan diri, syukurlah hanya beberapa langkah dia sudah dapat menguasai diri.

Perasaan curiga Pau Seh -hoa terlebur dalam tawanya yang lebar dengan mengunjuk giginya yang kuning, katanya.

"Kenapa kau bocah, ayu?" 41 Tangan Kiang Ling menyeka keringat di jidatnya, sabutnya lemah.

"Kepalaku mendadak pusing ..mungkin beberapa .hari ini terlalu kerja berat, kurang, tidur lagi ....pandanganku terasa berkunang2."

Seperti tertawa tidak tertawa Pau Seh-hoa mencibir, katanya.

"Kalau begitu lekaslah tidur, jangan kian kemari, kalau bapak-anak sama2 ambruk kan berabe."

Seperti memperoleh firasat apa2 dari perkataan Pau Seh-hoa, muka Kiang ling tampak tegang sebentar lalu mengeridor pula dengan langkah lemas pelan?

dia mengundurkan diri, agaknya badannya memang kurang sehat.

Mendadak Pau Seh-hoa mengendus2 seperti anjing pelacak, keningnya berkerut, lalu geleng2 kepa)a.

pandangannya penuh tanda tanya merijelajah sekelilingnya, akhirnya mulutpun menggumam.

"Memangnya ada apa sih, kelihatannya tidak beres, hatiku terasa tidak tenteram......."

Ji-long-san, kira2 lima puluhan li jauhnya dari tempat tinggal Siang Cin, luka2 Siang Cin sudah dibalut rapi dan takkan mengganggu gerak-geriknya yang cekatan bagai terbang.

Dua gugusan gunung yang berbentuk aneh dengan batu2 runcing berbagai bentuk tampak di depan mata, di tengah kedua gugus gunung itu membujur satu jalur gundukan tanah yang tidak begitu tinggi se olah2 sebatang pikulan yang memikul kedua gugus gunung.

Siang Cin mengatur pernapasan sambil duduk di atas batu, lukanya kembali terasa sakit, sebetulnya dia tahu dengan kondisinya sekarang, dia perlu istirahat dan tak boleh menguras tenaga, tapi iapun tahu kalau tidak lekas bertindak mungkin urusan bisa terlambat, dia sadar membantu orang harus cepat hingga beres.

Markas pusat Siang-gi-pang sudah berada di depan mata, lebih baik kalau tidak terjadi pertumpahan darah.

Berpikir demikian serta merta hidungnya mengendus bau anyirnya darah, napas serasa sesak dan mual.

Laksana seekor kucing di tempat gelap dia bergerak tanpa mengeluarkan suara.

Sebuah jalan beralas batu hijau ber-liku2 menuju ke atas gunung, kecuali orang tolol, kerapun akan tahu bahwa jalan beralas batu hijau ini tidak boleh sembarang dilalui.

Tenang2 Siang Cin, periksa keadaan sekitarnya, dengan hati2 dan penuh perhitungan ia terus menggeremet ke atas gunung, lekas sekali dia sudah selamat melewati enam pos penjagaan.

Dengan hati2 dia melompati seutas tali benang sutera, pada tali ini terikat beberapa kelintingan tembaga, ujung tali terikat pada setumpukan batu besar yang akan menggelundung jatuh dan menindih orang2 yang coba menyelundup ke atas, lebih hebat lagi di atas terpasang pula karung2 kapur yang akan ditembakkan melalui pegas batang pohon yang diatur sedemikian rupa.

Di sebelah depan yang tinggi, pagar pasanggerahan yang terbikin dari barisan batang2 pohon telah kelihatan.

Enam belas laki2 kekar berseragam abu2 berjaga di depan pintu gerbang, ada tiang yang terpasang sebuah panji yang berwarna kelabu tersulam huruf 'GI"

Yang besar, panji besar itu ber-kibar2 tertiup angin, di atas pagar sana kelihatan bayangan orang mondar-mandir, sinar golok kemilau di tengah kegelapan, penjagaan di sini ternyata sangat keras dan ketat.

Siang Cin terus menggremet maju ke sana, akhirnya tiba di bawah pagar kayu yang cukup gelap dan tidak tersinari oleh lampu yang terkerek tinggi di payon dengan mendekam Siang Cin pegang kaki pagar, sedikit kerahkan tenaga pelahan2 pagar kayu sebesar paha itu yang terikat dengan kawat telah berhasil dibongkarnya, tali kawat itu dengan mudah dipuntirnya putus pula tanpa mengeluarkan suara, cuma pagar kayu yang terbongkar dan berlubang itu sedikit miring.

Selicin belut Siang Cin menerobos ke dalam dilihatnya puluhan bangunan rumah besar kecil, ada yang berloteng tapi semuanya terbangun dari papan kayu pilihan yang kukuh dengan pondasi batu, di kejauhan sana ada gundukan bukit kecil, di atas tanah bukit inilah bertengger sebuah bangunan gedung yang mentereng dan angker, gedung ini berkapur putih bersih.

Siang Cin terus menyelinap ke depan tanpa di ketahui, akhirnya dari depan 42 dilihatnya seorang laki2 kekar sedang mendatang dengan langkah gopoh, lekas Siang Cin sembunyi di tempat gelap, dikala laki2 itu lewat di sampingnya, secepat kilat dia tutuk Hiat to pinggang orang.

Tanpa mengeluarkan suara, laki2 itu diseret Siang Cin ke pojok tembok, sorot mata orang kelihatan kaget, ketakutan tercampur heran pula.

Pelahan Siang Cin menepuk punggungnya, lalu berkata dengan suara lirih kereng.

"Kalau kau masih ingin hidup, jangan berteriak, kalau tidak, besok pagi kau tak bisa melihat matahari lagi"

Laki2 itu membuka mulut tapi tiada suara yang keluar, akhirnya dia manggut2. Siang Cin berkata dingin.

"Calon isteri An Lip di mana?"

"Calon isteri... isteri siapa?"

Tanya laki2 itu dengan bingung.

"An Lip,"

Ulang Siang Cin.

"An Lip yang berewok itu."

"O, ya,"

Ajar laki2 itu.

"dia ..... memberontak ..... gendaknya itu kini disekap di penjara bawah tanah ..... letaknya di rumah batu tak jauh di sana itu."

Siang Cin memandang ke tempat yang ditunjuk, memang di sana ada sebuah rumah batu, kelihatannya seram dan menyendiri di sebuah tanah lapang yang kosong.

Setelah menelan air liur, laki2 itu berkata pula.

"Kentongan kedua malam ini, gendak An Lip itu akan menjalani hukuman, mungkin akan dibakar hidup2."

Dengan heran Siang Cin tatap laki2 ini, dia tidak tanya soal ini, mengapa dia malah bercerita? Agaknya laki2 itu maklum akan sorot mata Siang Cin yang mengandung pertanyaan, maka dia menambahkan.

"Terus terang Hohan, perkara An Lip telah menjadi rahasia umum bagi seluruh anggota Sianggi-pang kami, siapa benar siapa salah, dalam hati masing2 sama tahu, apalagi sejak kecil aku sangat intim dengan An Lip, aku tahu bahwa Hohan ke mari hendak menolong calon isteri An Lip, perempuan itu memang bukan orang bejat."

"Kalau demikian, aku tidak akan menyakiti kau,"

Ucap Siang Cin tertawa.

"Cuma untuk sementara biarlah engkau ngendon saja di sini." ---Lalu dia tutuk Hiat-to orang, tanpa bersuara laki2 itu jatuh pingsan. Dengan beberapa kali lompatan Siang Cin melayang ke samping kiri rumah batu itu, karena rumah batu ini dibangun di tengah lapangan, maka tiada tempat untuk sembunyi, empat laki2 memeluk golok tampak berdiri tegak di depan rumah, sementara puluhan orang lagi yang juga bersenjata lengkap mondar-mandir di halaman, maka bukan soal mudah untuk mendekati rumah batu, apalagi lagi lapangan kosong itu ada puluhan tombak. Baru saja Siang Cin hendak berdiri, tiba2 kepalanya terasa pusing, pandangan menjadi gelap, cepat dia geleng2 kepala serta memijat jidat, mengapa dalam keadaan segenting ini dia pusing kepala? Memangnya terlalu letih dan terlalu banyak keluar darah karena luka2nya pagi tadi? Sejenak dia berdiam serta menenangkan perasaan, akhirnya dia melangkah keluar dari tempat gelap, dengan langkah berlenggang dia menuju ke rumah batu itu, baru saja beberapa langkah, dua kali suara tepukan tangan sudah berkumandang dari depan disusul suara orang menghardik.

"Siapa?"

Segera Siang Cin balas bertepuk tiga kali seraya, menyahut dengan suara tertahan.

"Aku!"

Agaknya pihak sana melenggong, sementara itu Siang Cin telah berkelebat maju, katanya.

"Kalian tentu lelah, saudara2, segera Pangcu akan tiba."

Bayangan seorang tampak memapak ke arahnya, katanya penuh rasa curiga.

"Saudara dari mana? Kenapa jawaban sandimu tadi tidak cocok?"

Dalam pada itu Siang Cin lantas melangkah maju semakin dekat, dengan tenang dia menjawab.

"Baru saja sandi dirubah, kenapa tidak cocok? Pangcu suruh kutanya apakah peralatan hukuman sudah disiapkan?"

Masih dalam jarak dua tombak, orang itu masih curiga, katanya.

"Berganti sandi? Kenapa aku tidak diberitahu?"

Siang Cin terkekeh pelahan, tahu2 dia sudah berada di samping orang, tak kelihatan cara bagaimana dia turun tangan, tahu2 laki2 itu sudah roboh menggeletak, bagai angin puyuh dia bergerak, dua laki2 yang berada di kanan-kirinyapun sekaligus 43 dibikin tak berkutik, hakikatnya mereka tidak melihat jelas siapa pendatang yang turun tangan ini!

Baru saja keempat laki2 yang jaga di depan rumah merasakan gelagat jelek, belum sempat mereka bersuara, tahu2 bayangan orang berkelebat, seperti orang mabuk saja mereka sama jatuh saling tindih.

Sekali kelebat Siang Cin menerobos masuk, dua laki2 yang duduk di belakang sebuah meja serentak menubruk maju sembari menghardik.

Siang Cin mendengus dan mengisar tangannya terayun serta menebas miring, sekali putar lagi, seperti orang di luar tadi, kedua orang inipun jatuh mencium lantai tanpa mengeluarkan suara.

Inilah sebuah ruangan kosong melompong, tanpa pajangan apapun, di kiri-kanan ada sebuah pintu, pintu terbuat dari batu dan tertutup rapat.

Siang Cin langsung menerjang ke pintu kanan, telapak, tangannya menggempur dengan sekali hantam "Byar", pintu batu itu dipukulnya hancur, di dalam adalah sebuah lorong gelap, pada kedua sisi lorong terdapat delapan kamar tahanan, dengan suara tertahan Siang Cin berteriak.

"Siapa calon isteri An Lip? Lekas jawab pertanyaanku."

Beruntun tiga kali dia bersuara, reaksinya malah suara keributan pada kedelapan kamar tahanan itu, tahu waktu amat mendesak, lekas Siang Cin membalik menerjang ke pintu sebelah kiri, sekali pukul dia runtuhkau pintu batu pula, belum lagi taburan debu mereda dia sudah menerjang masuk seraya berteriak pula.

"Siapa calon isteri An Lip? Kudatang menolongmu, lekas jawab pertanyaanku."

Dua kali dia berteriak, pada ujung kamar sana mendadak seorang perempuan berteriak dengan suara meratap.

"Aku ....aku inilah...."

Tanpa pikir dan sangsi lagi, Siang Cin langsung menerjang ke sana, belum lagi kakinya menginjak tanah, tangannya sudah mematahkan jeruji kamar tahanan yang terbuat dari kayu, keadaan di sini gelap remang2, walau keadaannya compancamping dan tidak terurus, tapi kelihatan sesosok tubuh yang ramping, bayangan seorang perempuan tampak bergerak dengan langkah lemah, kiranya kaki tangannya terborgol rantai.

Siang Cin kerahkan tenaga pada telapak tangap, sekali tabas ia putuskan rantai itu serta bertanya dengan suara gugup.

"Apakah kau tunangan An Lip?"

Perempuan itu manggut2 dengan menahan isak, sabutnya serak,.

"Tan ....Tan Sin akan ....akan membakarku malam ini ...."

"Dia takkan membunuhmu,"

Ucap Siang Cin, sekali raih dia kempit orang, secepat kilat dia melayang keluar.

Tapi baru saja dia keluar dari pintu batu yang digempurnya hancur itu cahaya obor yang terang benderang tahu2 menyilaukap matanya, di luar rumah tanpa bersuara sudah dipagari banyak laki2 seragam abu2 yang tak terhitung jumlahnya, senjata mereka tampak berkilau dibawah sinar obor, wajah mereka rata2 tampak sadis, terasa suasana amat tegang.

Yang berdiri dan menjadi pimpinan pengepungan ini kiranya bukan lain daripada Sam-bak-siu-su Tan Sin adanya, jago2 kelas tinggi Siang-gi-pang telah dikerahkan.

Codet di tengah alias Tan Sin tampak membara, sorot matanya menatap dingin, lama dia menatap Siang Cin tanpa bergerak.

Perempuan yang terhimpit di bawah ketiak Siang Cin tampak gemetar ketakutan, mukanya pucat, kaki-tangannya lunglai, agaknya dia amat ketakutan, semula dia kira selekasnya akan lolos dari segala siksa derita, tak tahunya elmaut justeru sudah mengadang didepan mata.

Terangkat alis Tan Sin, dengan ketus ia berkata.

"Orang she Siang akhirnya toh kau terlambat setindak."

Dengan tenang Siang Cin menggelendot di dinding batu, sikapnya yang tenang itu se-akan2 tidak tahu situasi yang tegang mendebarkan jantung ini.

"Terus terang, kalian yang tidak beruntung, kenapa lebih cepat kalian datang kemari"

Menyeringai Tan Sin dan berkata.

"Siang Cin, malam ini kukira kau takkan bisa pergi seenak perutmu sendiri."

Sang Cin mengejek.

"Jangan takabur Tan Sin, kau akan memperoleh ganjaran yang 44 setimpal "

Seperti mekar hidung Tan Sin, secapat mungkin dia menekan amarahnya, katanya penuh kebencian.

"Jangan kau hina orang keterlaluan orang she Siang, kau ingin bertingkah di tempat Siang-gi-pang, hm, kau belum cukup punya kemampuan, orang lain takut terhadapmu, tapi orang she Tan tidak memandang sebelah mata padamu."

Siang Cin menarik napas, kembali rasa pening merangsang dirinya, dadapun terasa mual.

"Tan Sin,"

Ucapnya kemudian.

"perempuan ini milik orang lain, kenapa kau sengaja bikin mereka tercerai berai? Kalau kau tidak peduli mati hidup perempuan ini, orang lain kan mengharapkan dapat hidup rukun dan bahagia sampai hari tua ..... ."

"Tutup bacotmu,"

Bentak Tan Sin murka.

"An Lip memelet gundikku. dosanya pantas dihukum pancung, kini kau keparat ini berani hantu dia menculik orangku, kau kira Siang-gi-pang kami boleh sembarangan dihina."

Siang Cin mendengus, katanya.

"Jangan emosi, Tan Sin, demi seorang perempuan, bila kau terjungkal kan tidak setimpal."

Dibarengi suara gerungan, Gui Ih tampak muncul di samping Tan Sin, dia mengangguk pada Tan Sin, lalu berputar menghadapi Siang Cin, katanya dengan gemas.

"Siang Cin segera kau sendiri akan maklum siapa yang bakal terjungkal gara2 seorang perempuan."

Rasa pening yang merangsang kepala Siang Cin bertambah berat, sekerasnya Siang Cin geleng kepala, suaranya sudah berubah serak.

"Tan Sin, sekali lagi kutegaskan, kau mau memberi jalan tidak? Tan Sin menyeringai, katanya.

"Gampang saja memberi jalan asalkan kau mampu mencabut nyawa seluruh orang Siang-gi-pang."

Tiba2 Siang Cin tertawa aneh, katanya.

"Tan-toapangcu, kau kira Siang Cin tidak mampu melakukannya?"

Mendengus hina Tan Sin menantang.

"Kami sedang menunggu aksimu itu."

Siang Cin memperlihatkan tawanya yang acuh tak acuh, dengan langkah lambat seperti orang malas dia beranjak ke arah pintu.

Tan Sin meraung seraya mengulap tangan, orang2 Siang gi-pang yang memagari pintu serentak memecah diri lompat ke samping, di belakang mereka masih ada tiga puluhan orang berbaju abu2 yang bertiarap, tangan setiap orang sama memegang bumbung perak sepanjang dua kaki, tampak jelas alat di ujung bumbung bagian belakang siap ditarik untuk melancarkan serangan, entah bahan peledak atau senjata rahasia apa.

Terkesiap Siang Cin, tapi dengan tenang ia berkata.

"Tan Sin, kau siap bertindak kasar dan nekat?"

Otot hijau di jidat Tan Sin tampak membesar, suaranya mendesis dari deretan giginya yang gemeretuk geram.

"Turunkan perempuan itu, tutuk pula Hiat-to pelemasmu sendiri."

Siang Cin tertawa, katanya.

"Kau tahu bahwa saat ini tak mungkin kulakukan Toapangcu."

Dingin sorot rnata Tan Sin, sekilas ujung bibirnya bergetar, maka Siang Cin lantas tahu apa yang akan dilakukan orang.

Selama ber-tahun2 ini Siang Cin sudah biasa dengan tradisinya sendiri yaitu turun tangan lebih dulu, adalah logis kalau kali ini iapun tidak mau kalah cepat bertindak daripada lawan2nya yang sudah menguasai situasi.

Sesosok bayangan kuning laksana anak panah melesat ke pinggir pintu, hampir pada waktu yang sama di bawah gerungan kasar serta makian kalang kabut terdengar suara jepretan yang bersahutan ber-gulung2 gumpalan asap yang membara membawa ekor cahaya panjang memapak luncuran bayangan kuning itu.

Hampir tak terikuti oleh mata telanjang, bayangan kuning itu mendadak jatuh menelungkup di belakang pintu, tidak jelas cara bagaimana tiba2 dia bisa berdiri pula, tapi ketika bayangan kuning itu berdiri, dua Thocu Siang-gi-pang meraung keras dengan badan terlempar tiga tombak jauhnya.

Baca Juga: Pendekar Sadis 6

Baca Juga: Kasih Diantara Remaja 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert