Eps 9 Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat - Gan Kh
Baca online Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat - Gan Kh
Cersil Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat - Gan Kh.
Lekas ia kerahkan Jian kin tui dan gerakkan Ciong-jiu-hoat yang ampuh, kedua kakinya bagai terpaku diatas bumi kedua lengannya didorong lempang kedepan mengadu kekuatan secara keras kepada lawannya.
Terdengar "Blang!"
Yang keras batu dan pasir berterbangan.
Kaki Nyo Sugi amblas tiga dim kedalam tanah, sementara kepala rampok itu hanya bergeming dan tergeliat saja.
Gelar Nyo Su gi adalah Thi-ciang kay pi (pukulan besi memecah pilar), tapi tenaga pukulannya tidak ungkulan menghadapi musuh, keruan kejutnya bukan kepalang.
Dalam pada itu Lo Hou wi dan Ong Beng im masing-masing menghadapi keroyokan empat lawan.
Segera Lo Hou wi kembangkan Ngo-hou-toan-bun to yang baru dipelajarinya itu gerakan goloknya cepat dan ganas meski dikeroyok empat, dalam sekejap masih mampu bertahan sama kuat, serang menyerang dengan gencar.
Sementara Ong Beng im bersenjata Boan koan pit menghadapi empat lawannya, sedapat mungkin dia masih kuat bertahan.
Ternyata kepala rampok ini bukan lain adalah wakil komandan Gi-lim-kun negeri Kim yaitu Cian Tiang jun adanya.
Anak buahnya bukan lain adalah jagojago tinggi dari gedung kegubernuran Liang-ciu yang sudah mendapat pesan dari Gubernur Li Ih-siu untuk membantu dan mendengar perintahnya.
Sekali berkelebat tiba-tiba Cian Tiang jun mengundurkan diri dari arena pertempuran terus melesat kearah kereta dorong.
Karena kaki Nyo Su gi terpendam dalam tanah dalam waktu singkat tidak mungkin dapat keluar, keruan saja kagetnya bukan kepalang.
Kaget dan gusar pula Pek Kian-bu dibuatnya, teriaknya.
"Kau permainkan aku orang terluka, terhitung orang gagah macam apa?"
Cian Tiang-jun tertawa.
"Biar kuperiksa luka yang kau derita, biar kuobati."
Kereta ia jumpalitkan, sekali jinjing dia seret Pek Kian bu dari atas kereta.
"Biar aku adu jiwa sama engkau!!"
Pek Kian bu membentak dan "Sreeet......."
Pedangnya lantas menusuk. Cian Tiang-jun bergelak tertawa, serunya.
"Termasuk nasibmu baik, aku tidak pernah bunuh orang yang sudah terluka."
Seumpama belum terluka Pek Kian-bu terang bukan tandingan Cian Tiang-jun, ingin adu jiwa segala sudah tentu tidak mungkin.
Cukup sekali mengebas sebelah tangannya, seketika Pek Kian-bu rasakan telapak tangannya panas pedas dan linu, pedang seketika terpetal jatuh.
Secepatnyasaja Cian Tiang jun terus menotok jalan darahnya dan meringkusnya dengan mudah.
Setelah Nyo Su gi berhasil menarik kedua kaki dari dalam tanah, memburu datang dengan cepat Cian Tiang-jun kempit Pek Kian-bu dibawah ketiaknya, dengan sebelah tangan ia tandangi serangan Nyo Su gi.
Nyo Su gi menguras seluruh tenaga, kepalan kiri dengan telapak tangan kanan, berbareng membacok dan menghantam "Blang", Cian Tiang-jun tersentak mundur tiga tindak, darah bergolak dirongga dadanya.
Sambil tertawa lekas ia putar badan Pek Kian-bu merangsek ke arah Nyo Su gi serta membentak.
"Ayolah, coba kau pukul pula."
Sepasang pukulan tangan Nyo Su gi setingkat lebih unggul dari pukulan tangan tunggal Cian Tiang-jun, tapi setelah beradu pukulan yang kedua kalinya ini ia merasakan dadanya ada sesak dan sakit.
Kini Cian Tiang jun menggunakan badan Pek Kian-bu sebagai perisai untuk menangkis dan menyongsong pukulannya, barulah Nyo Su gi menarik balik serangannya.
Terdengar Cian Tiang jun tertawa terbahak bahak, teriaknya.
"Sudah ketangkap seseorang hidup hidup sudah cukup untuk mengompres keterangannya, marilah kita pulang saja."
Saking gusarnya Nyo Su-gi meludah dan mendamprat.
"Cis, tidak tahu malu!"
"Apa kau tidak terima?"
Mengejek Cian Tiang jun.
"Datanglah ke Lian Chiu, aku berada digedunggubernuran, kutunggu disana untuk bertanding satu lawan satu!!"
Waktu Nyo Su gi berpaling dilihatnya Lo Hou wi dan Ong Beng im penuh berlepotan darah, ternyata saking gemas dan gugup untuk menolong Pek Kian-bu, Lo Hou-wi telah berhasil melukai dua orang pengeroyoknya tetapi ia sendiri terkena sekali bacokan golok lawan.
Demikian pula Ong Beng im, luka lukanya malahan lebih berat, pahanya terkena tusukan tombak, dan lengan kanannya terkena bacokan golok pula.
Meski sudah terluka, namun mereka masih mau mengejar musuh.
Nyo Su-gi menghela napas, katanya;
"Samte, site, kita mengaku kalah saja. Mari lekas pulang lapor kepada Pangcu."
Tatkala itu Cian Tiang-jun dan orang orangnya sudah pergi jauh. Segera Nyo Su gi keluarkan obat membubuhi luka2 Lo dan Ong berdua dengan Kim Jong-yok. Berkata Lo Hou wi;
"Ternyata gerombolan ini bukan kawanan berandal golongan hitam, kira-kiranya jago2 silat dari Gubernuran Liang Chiu."
"Keparat itu mengaku bertempat tinggal di Gubernuran Liang Chiu, entah benar tidak sulit diketahui. Kalau betul, jejak Jite sudah dapat kita ketahui, kelak rada gampang untuk menolongnya."
"Jika sekarang didalam gedung Gubernuran Liang Chiu bukankah semakin sulit untuk menolongnya malah?"
Sela Ong Beng lm."Bagaimana keadaan luka luka kalian, perjalanan masih dua hari lagi, apakah kalian bisa berjalan pulang?"
Untunglah luka luka Lo dan Ong berdua tidak sampai mengenai tulang, katanya bersama.
"Demi menolong Jiko selekasnya, meski harus berjalan empat hari lagi, kami pasti masih bisa jalan. Cuma Toako kau..."
"Kita harus bertindak cepat bersama kalian boleh pulang memberi laporan kepada Pangcu biar aku menuju Liang chiu berusaha menolong Pek Kian-bu!"
Lo Hou wi terkejut serunya.
"Toako mana boleh kau senekat itu. Kau seorang diri menuju sarang harimau...."
Nyo Su-gi tertawa besar, tukasnya.
"Kalian tidak usah kuatir, aku tidak akan main kekerasan kepada musuh. Setelah tiba di Liang-chiu aku akan bekerja melihat gelagat."
Ternyata Nyo Su gi tahu bahwa putra Gubernur Liang chiu Li Ih siu tidak sehaluan dengan jalan yang ditempuh ayahnya, meski tiada hubungan dengan Ceng-liong pang namun ada ikatan erat dengan pasukan pergerakan yang dipimpin Yapi Hoan ih.
Tapi karena rahasia ini pernah dipesan oleh Geng Tian sebelum tiba saatnya terpaksa tidak memberitahu kepada Lo Hou-wi dan Ong Beng-im.Kedua adik angkat ini tahu akan watak Toako mereka hilang satu tidak akan menjadi dua dari sikap dan nada bicaranya kelihatan bahwa dia punya keyakinan penuh, meski tidak tahu apa latar belakang dari sikapnya ini, terpaksa mereka menurut saja akan pesan dan tugas yang diberikan.
Saat itu juga mereka lantas berpisah Lo dan Ong langsung pulang kemarkas pusatnya Ceng-liong-pang di Ki-lian-san.
Sementara seorang diri Nyo Su-gi menuju ke Liang chiu sepanjang jalan sudah tentu ia amat kuatir bagi keselamatan Pek lian bu.
O^~dwkz^hendra~^O KALAU ditengah jalan Nyo Su-gi sedang kuatir bagi keadaan Pek Kian bu, sebaliknya Pek Kian bu yang saat itu sudah berada didalam gedung Gubernuran Liang chiu sedang mendapat pelayanan istimewa.
Cian Tiang jun menempatkan dirinya pada sebuah kamar mewah yang mentereng, tak lama kemudian datang dua dayang perempuan melayani dirinya ganti pakaian.
Berpikir Pek Kian bu.
"Mungkin mereka ingin mempermainkan aku sepuasnya, baru akan membunuh aku!"
Seketika timbul amarahnya, ingin ia menyobek pakaian baru, melihat dia marah kedua dayang itu semakin hati-hati dan prihatin melayaninya, katanya sambil unjuk tawa manis.
"Toaya kalau kau marah silahkan pukul kami saja,jangan kau robek pakaian baru ini. Kalau tidak Cian Tayjin akan menimpakan dosa pada kami sebagai tak becus meladeni kau, sungguh kami tidak kuasa memikul dosa ini. Ehm! pakaian baru ini kebetulan pas dengan perawakan Toaya apakah tidak enak mengenakan pakaian baru??"
Mendengar ucapan mereka, Pek Kian-bu menjadi tidak enak hati dan tidak tega apa lagi ada hasrat tapi tenaga lemah, jangan kata hendak merobek pakaian itu, untuk bangkit duduk saja rasanya sudah setengah mati terpaksa ia diam saja, terserah apa ingin diperbuat kedua dayang ini.
Tak lama setelah kedua dayang ini melangkah pergi muncullah seorang kucung yang membawa senampan besar makanan serba enak dan lezat, arak bagus tidak ketinggalan baunya sungguh sedap dan membuat air liur naik turun di tenggorokan.
Berpikir Pek Kian bu.
"Yang terang aku sudah tidak punya harapan untuk lolos dengan jiwa hidup. Peduli ada racunnya atau tidak gegares lebih dulu biar nanti aku jadi setan gentayangan yang sudah kenyang saja."
Perut kencang dan mabuk arak lagi, begitu rebah Pek Kian bu lantas lelap dalam tidurnya.
Hari kedua pagi-pagi benar terasa bukan saja semangatnya pulih rasa sakit pada lukanyapun berkurang.
Semula ia mengira makanan dan arak itu dibubuhi racun kini benar diluar dugaan semula.Belum lama ia bangun, tampak seorang yang berdandan sebagai tabib berjalan masuk dengan sikap dibuat-buat katanya.
"Semalam sudah kuganti Kim jong yok pada luka-lukamu, jalan darahmu yang tertutupan sudah dibebaskan, bagaimana perasaanmu rada baikkan bukan?"
Pek Kian bu tertawa dingin.
"Apa yang kau ingin lakukan?"
"Cian Tayjin berpesan supaya aku menyembuhkan luka-lukamu selekas mungkin. Toaya, kuharap kau suka percaya kepadaku. Secawan teh obat ini harap kau minum, kutanggung besok pagi kau pasti akan sudah sehat seperti sedia kala."
Berpikir Pek Kian bu.
"Mana mungkin mereka begitu baik terhadapku, secawan teh obat ini pastilah racun. Tapi kalau tidak berani kuminum nanti disangka aku takut kepada mereka. Ya, boleh buat seorang laki laki harus berani mati jangan aku menurunkan derajat dan nama baik Su-tay-kim-kong dari Ceng-liong-pang."
Segera ia tertawa katanya.
"Meski kau beri aku racun memangnya aku takut? baik mari kuminta cawan teh obat itu."
Direbutnya terus ditenggak sampai habis katanya keras.
"Kembalilah, kau terimalah pahalamu kepada Cian Tayjin."
"Omitohut!"
Tabib itu bersabda budha.
"Seorang tabib berpegang pada perikemanusiaan mana bisa mencelakai kau malah? Kau tak percaya, terserahpadamu. Untungnya dalam waktu dekat kau sendiri akan paham."
Betul juga tidak lama kemudian keringat dingin membanjir keluar.
Terasa oleh Pek Kian bu tenaganya perlahan lahan mulai pulih kembali, ia mencoba menggerakkan tangan mengulurkan kaki, luka-luka pada dengkulnyapun sudah tidak sakit lagi.
Kasiat obatnya ternyata lebih cepat dari apa yang dikatakan oleh si tabib, berpikir pula Pek Kian bu.
"Dilihat gelagatnya tidak sampai besok pagi Lwekangku mungkin sudah pulih seluruhnya. Kiranya tabib itu tidak berbohong, aneh, mereka melayaniku sedemikian baik entah apa maksudnya?"
Belum habis berpikir, tampaklah Cian Tiang jun sudah melangkah masuk sambil tertawa, serunya.
"Aku pernah berjanji kepadamu untuk mengobati lukamu. Sekarang kau baru percaya bahwa aku tidak menipu kau bukan?"
Jengek Pek Kian bu.
"Aku terjatuh ke tanganmu, mau bunuh silahkan bunuh, tidak perlu kau gunakan permainan licik untuk menghina aku."
"Pek jiko setulus hati aku ingin berusaha dengan kau, jangan kau banyak curiga."
"Kau toh sudah tahu siapa diriku, salah seorang Su-tay-kim-kong dari Ceng liong-pang memangnya sudi bertekuk lutut kepada kau?""Pek-jiko kau salah paham. Sebagai Enghiong aku menghargai seorang Enghiong ingin aku bersahabat dengan kau, bukan hendak menghina atau menundukkan kau."
"Kau ingin bersahabat dengan aku memangnya siapakah kau?"
Jengek Pek Kian-bu dingin.
"Bicara terus terang aku adalah wakil komandan pasukan Gi lim kun dari negeri kim. Tiang jun adalah namaku, kukira kedudukan dan ketenaranku tidak akan merendahkan derajatmu bila bersahabat dengan aku bukan?"
"O, kiranya Cian Tayjin, maaf aku tidak berani menjajarkan diri dengan orang berpangkat."
"Kau tidak sudi bersahabat dengan aku pun tidak akan memaksa. Baiklah kulepaskan kau pulang saja bagaimana?"
Pek Kian bu tahu urusan pasti tidak segampang itu, katanya pula dingin.
"Aku terjatuh ketangan kau, aku sudah bertekad untuk gugur di sini dan tidak akan pulang dengan hidup."
Pelan pelan ia bangkit berdiri, katanya pula.
"Marilah, aku lebih suka mati ditanganmu!"
"Kau ingin berkelahi dengan aku? Bicara rada sungkan penyakitmu sudah sembuh seluruhnya kalau terkalahkan ditanganku toh terhitung tidak sebagai penghinaan. Lebih baik silahkan kau duduk kembali,"
Dengan enteng tangannya menepuk, tenaga Pek Kianbu tak kuasa dikerahkan untuk bergebrak, terang tidak mungkin terpaksa ia duduk kembali. Cian Tiang jun pura pura menghela napas, katanya;
"Semut saja takut mati, kau adalah seorang laki laki sejati kalau mati begitu saja masakah tidak sayang."
"Kalau aku takut mati masakah sesambat menjadi salah satu Sutay kim kong,"
Seru Pek Kian bu lantang.
"Mau bunuh silahkan kau bunuh jangan cerewet!'' Cian Tiang jun geleng-gelengkan kepala katanya.
"Sama sekali kau salah paham bukan aku ingin bunuh kau. Perkataan orang she Cian pasti dapat dipercaya, aku sudah bilang hendak melepas kau pergi sekarang juga silahkan kau boleh pergi sekali-kali aku pasti tidak akan merintangi kau."
Timbul rasa curiga Pek Kian bu, pikirnya.
"Naga naganya ia memang bersikap menghargai orang gagah. Tapi kenapa pula ia mengatakan sayang bila aku mati? Kalau toh dia rela melepasku pergi tanpa syarat bagaimana pula aku bisa mati?"
Tengah ia tenggelam dalam pikirnya terdengar Cian Tiang jun tertawa dingin dan katanya.
"Aku tidak akan bunuh kau demikian pula anak buahku tidak akan mengganggu seujung rambutmu. Tapi setelah kau kembali ke Ceng liong pang kukira orang-orangmu sendiri belum tentu mau menerima kau tanpa curiga sedikitpun.""Apa maksudmu ini? Hm kau akan menjebak dan mencelakai aku? aku tidak takut."
Sementara dalam hati ia membatin;
"Dia sudah menyembuhkan luka lukaku tidak memaksa aku menyerah pula lantas melepaskan pulang begitu saja, soal itu betul-betul bisa menimbulkan rasa curiga dari saudara. Tapi aku sendiri tahu jelas tidak pernah melakukan perbuatan durhaka akan datang saatnya mereka akan tahu duduk perkara sebetulnya, kelak Toako pasti akan percaya juga kepadaku,"
Katena pikirnya ini segera ia kertak gigi dan bergegas bangkit serunya.
"Kalau kau betul betul melepasku pergi sekarang juga aku pergi tanpa sungkan-sungkan lagi!"
Cian Tiang jun tertawa lebar katanya;
"Nanti dulu kita masih ada omongan."
"Aku tahu memang kau tidak setulus hati melepas aku pergi, sekali coba ternyata sekarang terbukti."
"Setelah kau dengar apa yang kukatakan belum terlambat kau tinggal pergi!"
"Baik lekas katakan!'' Cian Tiang jun menyeringai dingin katanya.
"Buka mulut tutup mulut kau selalu mengagulkan Su tay kim kong kukira belum tentu Nyo Su gi Lo Hou wi dan lain lainnya anggap kau sebagai saudara meraka yang betul betul sepaham."Pek Kian bu tertawa besar serunya.
"Kau hendak menggunakan tipu adu domba? Kau kira Nyo toako itu seorang goblok? Mana bisa dia tertipu olehmu?"
"Tidak perlu aku main adu domba adalah perbuatan rahasiamu yang terkutuk sudah terbongkar seluruhnya."
Berjingkat Pek Kian bu sedapat mungkin dia coba tenangkan diri dan mendampratnya gusar.
"Sering kudengar orang bilang Loji dari Su tay kim kong Ceng liong pang berotak cerdik dan pintar ternyata kau sedemikian gegabah dan goblok sekali. Coba kutanya dua hari yang lalu kau pernah terluka oleh sambitan senjata orang siapakah orang itu apa kau sudah tahu?"
Pertanyaan ini tepat mengenai borok Pek Kian bu seketika ia terlongong ditempatnya, ujarnya.
"Memangnya kau malah sudah tahu?"
"Sudah tentu aku tahu ! Mungkin kau menyangka perbuatan Siau pwelek kami Wanyen Hou bukan ? Tapi kenapa tidak kau pikir mengandal kedudukan dan derajat Siau-pwe-lek, memangnya dia sudi menyerempet bahaya untuk membokong kau ?"
"Lalu siapa orang yang kau maksud ?"
"Orang yang membokong kau adalah seorang gadis yang cantik ayu. Dia bukan lain adalah murid penutup Bulim thian kiau !"Pek Kian-bu melenggong, katanya gemetar.
"Omong kosong, omong kosong !"
Lahir dia berkata demikian, sementara batinnya sudah rada percaya.
"Siau mo-li ini bersama dengan pemuda she Geng. Pemuda itu berusia kira kira dua puluhan tahun rupanya cakap halus, Gin-kangnya teramat tinggi, genggamannya adalah sebatang kipas lempit. Siapa pemuda ini kukira kalian Su tay-kimkong sudah mengenalnya bukan ? He, he, siapa sebetulnya pemuda itu toh bukan karangan cerita bohongku melulu, masih berani kau katakan aku omong kosong ?"
Terbungkam mulut Pek Kian bu, semakin dengar kata-kata orang hatinya semakin mencelos. Batinnya.
"Bukankah pemuda yang dimaksud adalah Geng Tian ? Tak heran sikap Geng Tian malam itu rada ganjil kiranya dia sudah bertemu dengan Siau-mo-li yang membokongnya ternyata aku dikelabui mentah-mentah. Tapi agaknya Nyo Toako sendiri masih belum tahu duduk perkara sebenarnya? Kalau tidak masakah dia masih bersikap begitu prihatin terhadapnya ?"
Secara diam-diam Cian Tian jun perhatikan sikap perobahan roman mukanya tahu ia bahwa orang sudah tujuh delapan bagian percaya segera ia menambah lagi dengan tertawa dingin.
"Bagaimana kau masih berani pulang tidak ?"Pek Kian bu kepepet terpaksa ia mengeraskan kepala katanya .
"Kenapa aku tidak berani pulang ? Seumpama dua orang yang kau sebut tadi bukan karanganmu sendiri, apa yang kau katakan tadi toh tetap membual. Kau hanya bisa menipu bocah cilik, mana bisa menggertak aku."
"Apa ya ? Kalau begitu ingin aku mendengar pembelaanmu."
"Kedua orang yang kau sebut tapi sekali-kali tiada alasan untuk membokong aku."
"Apa sebabnya?"
Ternyata Pek Kian bu cukup cerdik katanya tertawa dingin .
"Kau hendak mengorek keteranganku memangnya aku gampang kau tipu mentah mentah ?"
"Kau tidak bisa mengatakan apa sebabnya dia harus membokong kau, sebaliknya aku malah bisa menjelaskan kepada kau. Pek Kian bu perbuatan rahasiamu yang terkutuk sudah menjadi rahasia umum, apa kau belum tahu ?"
"Kau, kau, kau memperoleh apa ?"
Bentak Pek Kian bu gemetar.
"Selamanya aku berbuat secara..."
Sebetulnya dia masih mengandai hendak bersikap orang gagah, namun toh kata kata terang terangan tidak kuasa ia katakan. Cian Tiang-jun menyeringai ia tukas kata orang .
"Perbuatan tercela apa yang pernah kau lakukan kau tahu sendiri, cara bagaimana kematian adik KhongCeh, yang bernama Khong Ling itu, kenapa Siam pak-siang-hiong dan Ih tiong siang-sat hendak menuntut balas kepada kau, bukankah lantaran persoalan ini ?"
Pucat pasi selembar muka Pek Kian bu, dengan lemas ia meloso duduk pula, desahnya .
"Sudah kau ketahui semua?"
Cian Tiang jun tertawa senang, ujarnya.
"Masih ada yang tidak kau ketahui ? Siau-mo li itu adalah sahabat Khong Ling, sebetulnya dia ingin bunuh kau, malam itu dia hanya melukai kau saja, terhitung nasibmu cukup baik."
Pek Kian bu kertak gigi, serunya .
"Orang she Cian, bunuhlah aku saja !"
"Kenapa aku harus bunuh kau, biar Nyo Sugi belum tahu, Siau-moli pasti akan memberi tahu kepadanya. Kalau Siau-moli tidak membawa rahasia ini biar aku yang memberitahukan kepadanya."
Gemetar seluruh badan Pek Kian bu, mendadak ia mencabut pedang terus menusuk ke dada sendiri tapi tangannya gemetar hanya pakaiannya saja yang tergores sobek tahu-tahu pedangnya sudah terpukul jatuh oleh kebutan lengan baju Cian Tiang jun.
Ciang Tiang-jun tahu bahwasanya orang tidak punya keberanian untuk bunuh diri katanya.
"Asal kau suka menurut segala petunjukku, tidak perlu kau mencari jalan pendek malah banyak manfaat yang dapat kau peroleh!"Bergetar suara Pek Kian bu katanya .
"kau apa yang harus kulakukan ?"
Dalam hati ia menimang.
"Jelek jelek aku ini salah satu Su-tay kim-kong dari Ceng-liong pang, kalau dia ingin aku menyerah kepada Tatcu menghianati pang kita sampai matipun aku tidak akan sudi."
Agaknya Cian Tiang-jun seperti tahu jalan pikirannya, katanya tertawa .
"Legakan hatimu, aku tidak akan membuat kau susah asal kau setulus hati suka bersahabat dengan aku, kelak pasti akan datang kesempatan kau bisa lolos pulang. Umpamanya, kalau ada orang datang menolongi kau, aku tidak akan berusaha merintangi, sampaipun kau membunuh beberapa penjaga Liang chiu, dan berhasil meloloskan diri, akupun tidak akan menyalahkan kau, dengan demikian, siapa lagi yang akan menaruh curiga kepadamu ?"
"Lalu bagaimana dengan Siau-mo li dan Geng kongcu yang kau katakan itu ? Kedua orang ini ..."
"Ya kedua orang ini memang tahu rahasiamu, kalau tidak melenyapkan kedua orang ini kelak memang merupakan bibit bencana!"
Air muka Pek Kian bu berubah, katanya.
"Sedikitpun aku tiada bermaksud demikian."
"Tidak bunuh merekapun boleh. Ada dua cara, pertama kau harus mengambil kepercayaan mereka, biar mereka menganggap didalam persoalan itu kau hanya kena difitnah belaka, untuk ini aku bisamembantumu. Kedua, yaitu berusaha supaya mereka tidak sampai bertemu dengan Liong Jiang-poh, maka rahasiamu tidak terbongkar diantara kalian. Boleh aku beritahu sedikit berita bocoran kepadamu, bocah she Geng itu terang tidak akan bisa tiba di Ki lian-san, maka tinggal Siau mo li seorang saja yang menjadi incaran kita !!"
"Kenapa Geng kongcu tidak akan berhasil tiba di Ki lian-san ?"
"Setelah kami menjadi orang sendiri nanti akan kuberitahu kepada kau. He he, kan kau belum lagi menyetujui persoalan yang kuajukan tadi."
Pek Kian-bu kertak gigi, katanya.
"Kau memberi kelonggaran sehingga aku bisa lolos pulang dengan tidak kehilangan muka, sudah tentu pandang kau sebagai sahabat. Tapi apa sebenarnya yang kau ingin supaya kukerjakan ? Kuharap kau bicara terus terang, setelah kau terangkan baru akan kusetujui."
Cian Tiang-jun bergelak tertawa, ujarnya.
"Kau memang cerdik dan cukup ulet juga, tapi kami sudah bersahabat, memangnya aku mau mencelakai kau ? Seumpama minta kau melakukan sesuatu, aku toh akan mengaturnya sedemikian rupa pasti tidak akan diketahui orang luar, sekarang aku hanya mau tahu apa kau betul-betul setulus hati ?"
"Kalau kau berpikir demi kepentinganku maka akupun rela bersahabat dengan kau.""Bagus kalau begitu biar kutanya sebuah hal, kalau kau menjawab sejujurnya itu membuktikan bahwa kau memang punya iktikad yang baik."
"Hal apa yang ingin kau ketahui?"
"Orang apa bocah she Geng, datang darimana, apa pula hubungannya dengan Ceng-liong pang kalian?"
Pek Kian bu menerawang .
"Mendengar nada bicaranya, asal usul Geng Tian tentulah sudah diselidikinya juga. Pertanyaan ini memang hanya mencoba hatiku saja. Kalau toh dia memang sudah tahu tiada halangannya."
Mana Pek Kian bu tahu bahwa apa yang dia reka hanya sebagian kecil saja, yang ternyata Cian Tiang jun dapat melihat dari luka luka di dengkul Pek Kian-bu siapa sebenarnya yang melukai dirinya.
Seperti diketahui guru Nyo Wan Ceng adalah Bulim thian kiau Tam Ih-tiong.
Tam Ih-tiong sebenarnya adalah pangeran negeri Kim sebelum dia memberontak kepada raja negerinya yang dhalim, pernah menyelidiki rahasia ajaran dari Hiat-to-tong-jin yang bernama Wanyen Tiangci itu komandan Gi-lim-kun dari negeri Kim.
Adalah Cian Tiang-jun merupakan tangan kanan Wanyen Tiangci sudah tentu ia pun cukup paham pelajaran tunggal ini, hari itu Nyo Wan-ceng bergebrak dengan dirinya, orangpun pernah menggunakan ilmu itu.Sebetulnya dia pun tahu gelaran Nyo Wan-ceng adalah Siau-mo li, terhadap asal usul dan namanya sebetulnya tidak tahu menahu.
Setelah bergebrak baru tahu kalau orang adalah murid Bulim-thian kiau.
Nama dan asal usul Geng Tian diapun belum tahu hari itu waktu Nyo Wan-ceng berteriak menyuruh Geng Tian melarikan diri ada memanggilnya sebagai Geng-toako, maka ia hanya bilang kepada Pek Kian-bu.
"Bocah she Geng yang bersama dengan Siau-mo-li."
O^~dwkz^hendra~^O
Jilid 25 Mana Pek Kian bu pernah menduga bahwa orang sebenarnya hanya tahu orang she Geng belaka, sebaliknya dia menyangka orang sudah menyelidiki riwayat hidup Geng Tian.
Tapi perbuatan tercela yang pernah dilakukan Pek Kian bu memang kenyataan dia tahu amat jelas.
Kenapa dia bisa tahu, biarlah kelak kami paparkan dalam kesempatan lain.
Setelah dia periksa luka-luka Pek Kian-bu, dia berani pastikan pasti kena dilukai oleh Siau mo li, tapi Siau mo-li sebaliknya adalah murid Bulim-thian kiau, kejadian ini mau tidak mau membuat dia heran dan tertarik.
Bolak balik ia menganalisa akhirnya diaberkepastian sembilan puluh prosen kejadian ini pasti ada sangkut pautnya dengan perbuatan tidak seronok yang pernah dilakukan oleh Pek Kian bu.
Maka setengah pura-pura setengah sungguh-sungguh, dia mengarang dan alasan mengancam dan membujuk secara halus kepada Pek Kian bu.
Benar juga Pek Kian bu berhasil diancam ketakutan dan mau membuka rahasia.
O^~dwkz^hendra~^O Hari itu Gubernur Liang ciu Li Ih siu amat risau den gelisah.
Semalam putrinya pernah memancing kepada isi hatinya, pagi hari ini, waktu dia mengatur rencana bersama putranya cara masuk menyerbu Ceng liong-pang, putranya itu juga menasehati kepadanya.
Untuk kedua persoalan inilah hatinya gelisah dan was-was.
Tatkala itu ia sedang mondar mandir di dalam kamar kerjanya, pikirnya .
"Anak anak yang belum tahu urusan mana boleh aku memberontak ? Dulu betapa tinggi ilmu dan bakat Yalu Ciangkun dari padaku, dia memimpin pasukan dalam negeri akhirnya toh kena dibikin kocar kacir sehingga mereka runtuh keluarga berantakan, sekarang aku hanya mempunyai bala tentara yang sekecil ini mana mampu melawan kekuatan tentara negeri Kim yang begitu besar ? Dan lagi seumpama berhasil membangun negeri Liau kembali, apa pulamanfaatnya bagi diriku ? Aku tidak lebih sebagai rakyat jelata kalau negeri Liau sudah berdiri pula masakah mereka menjadi giliranku menjadi raja, ada lebih mending sekarang aku menjabat Gubernur di Liang ciu, lebih bisa hidup mewah dengan pangkat yang tidak rendah."
Disaat ia mondar mandir dengan tak tenteram itu, mendadak seorang mendorong pintu melangkah masuk.
Kamar kerjanya merupakan daerah terlarang, sebelum mendapat ijinnya, siapapun dilarang masuk kemari, saking kejutnya begitu berpaling mulutnya membentak.
"Siapa ..."
Belum lagi 'kau' sempat diucapkan, dia sudah melihat jelas siapa yang masuk kekamar kerjanya. Orang itu bergelak tertawa, katanya .
"Li-congkoan maaf bila aku menjadi tamu tak diundang."
Ternyata orang ini adalah tamu agung wakil komandan Gi lim-kun dari negeri Kim, tak lain tak bukan Cian Tiang jun adanya. Melihat orang masuk tanpa pamit, mencelos hati Li Ih-siu, pikirnya .
"Apakah di balik dinding ada kuping, percakapanku dengan anak keparat itu kena dicuri dengar oleh orang dan dilaporkan kepadanya ?"
Segera ia tertawa dibuat buat, sapanya .
"Kiranya Cian tay-jin, Cian tayjin malam malam berkunjung, entah ada petunjuk apa ?"Berkata Cian Tiang-jun pelan-pelan.
"Sengaja aku kemari untuk menyampaikan ucapan selamat kepada kau."
Li Ih-siu tertegun, katanya .
"Ucapan selamat dari mana ?"
"Kabarnya putramu berhasil meringkus seorang tawanan penting."
Ternyata seorang perwira bawahan Li Hak siong kemaruk harta, secara diam diam ia lapor kejadian Li Hak-siong meringkus Geng Tian kepada Cian Tiang-jun.
Sudah tentu maksud tujuan serta asal usul dan kedudukan Geng Tian perwira ini masih belum tahu sama sekali.
Mendengar orang melukiskan raut muka Geng Tian, ia tahu pastilah bocah yang bersama dengan Siau-mo li itu maka kemaren ia mengorek keterangan Pek Kian-bu.
Setelah Pek Kian-bu memberikan semua keterangan yang diperlukan, barulah dia tahu duduk persoalannya.
Li Ih siu heran, katanya .
"Apa ya, aku sendiri malah belum tahu hal ini ? Siapakah tawanan itu ?"
"Negeri Song mempunyai seorang panglima bernama Geng Ciau, apa Li-tayjin tahu?"
"Maksudmu adalah komandan tertinggi dari pasukan Hwi-hou kun (pasukan macan terbang) negeri Song.""Benar. Sebelum ia naik pangkat, semula dia kaum persilatan, orang memberi gelar Kanglam Tayhiap kepadanya."
Li Ih-siu menjadi sebal katanya;
"Geng Ciau sebagai Panglima besar negeri Song, mempunyai gelar Kanglam Tayhiap lagi ilmu silatnya pastilah amat tinggi, mana mungkin dia datang ke Liang ciu ? Mana mungkin ?"
"Bukan Geng Ciau yang tertangkap oleh putramu, anaknya Geng Ciau yang bernama Geng Tian."
"Walau kedudukan Geng Tian tidak sepadan dengan ayahnya dia merupakan seorang tokoh penting juga. Mungkin kau masih belum tahu, Liong Jiang poh Pangcu dari Ceng liong pang itu dulu adalah bekas pembantunya yang setia, kepergiannya ke Ki lian-san kali ini, kabarnya Liong Jiang-poh minta dia mewarisi jabatan Pangcu itu."
"Hee... heee, tujuan kita sekarang memang hendak menghadapi Ceng-liong-pang, putramu berhasil menangkap tokoh yang hendak diserahi kedudukan oleh Liong Jiang poh, bukankah merupakan jasa besar?"
Li Ih siu adalah seorang tua yang sudah kenyang makan asam garamnya penghidupan semula ia girang tapi lambat laun hatinya menjadi kaget pikirnya.
"Urusan yang penting begini kenapa Siong ji tidak memberi laporan kepadaku? Sebaliknya Cian Tiang-jun bisa tahu lebih dulu?"Belum habis ia berpikir betul juga didengarnya Cian Tiang jun sedang menyeringai dingin katanya.
"Putramu merahasiakan kejadian ini apakah Li tayjin merasa heran? Hee... hee sebetulnya kejadian isi patut dapat pujian dan diberi selamat itu tergantung pada bagaimana penyelesaian Tayjin sendiri!"
Semakin mencelos hati Li Ih siu, katanya dengan cepat.
"Yaa, memang aku rada heran harap Cian tayjin suka maklum dan memberi petunjuk!"
Berkata Cian Tiang jun perlahan.
"Ketahuilah putramu itu begitu baiknya dengan bocah she Geng itu! Li tayjin kiranya kau sudah paham bukan?"
Bergetar suara Li Ih siu, katanya tergagap.
"Dia lantas dia, dia kenapa dia..."
"Kenapa dia menangkapnya? He he mungkin memang sengaja berbuat demikian supaya Geng Tian pinjam rumah gedungmu itu untuk merawat luka lukanya."
Lekas Li lh siu menutup pinta kamarnya, pintanya dengan suara tertahan.
"Cian Tayjin, seluruh jiwa keluargaku kuserahkan kepada kau. Kuharap kau suka menaruh belas kasihan biarlah aku sendiri yang menghukum bocah keparat tersebut!"
"Lo tayjin setia demi negara sungguh harus dipuji! Harap tanya untuk menghukum putramu?"
Li Ih siu hanya punya seorang putra, pikirnya.
"Kalau kubunuh anak binatang itu, putriku tidak akandapat melanjutkan keturunanku."
Sesaat mulutnya terbungkam katanya dengan suara gemetar.
"Cian tayjin, aku mohon kau suka mengampuni jiwanya, bagaimana hukumannya kau lihat saja kenyataannya."
"Lo tay jin tidak perlu gugup, pepatah berkata kau hormati aku sejengkal aku balas satu depa. Persoalan ini tak akan kubocorkan malah bisa memberi kesempatan kepada putramu untuk merebut pahala."
Li Ih siu kegirangan katanya.
"Budi kebaikan Cian tay jin, Siau koan tidak akan lupa seumur hidup. Siau koan rela mendengar petunjuk Tayjin."
"Lo tayjin begitu sungkan terhadapku, aku jadi rikuh dan tidak berani terima. Menurut pendapatku begini saja. Soal ini tidak usah kau beritahu kepada putramu, hari ini juga kita gerakkan pasukan lebih cepat dari waktu yang ditentukan, begitu dia meninggalkan tempat ini segera kuluruk kesana menjinjing bocah itu keluar langsung akan kugusur ke Tay toh. Peristiwa ini masih merupakan bahaya besar kalian ayah beranak."
Kiranya Cian Tiang jun inipun seorang cerdik cendekia yang pintar mengatur tipu daya didalam gedung Gubernur Liangciu ini dia seumpama burung yang terkurung di dalam sangkar maka dia harus merangkul Li Ih siu kepihaknya sementara memberikan budi pertolongan kepadanya, dia kelak setelah pulang ke kota raja baru akan melaporkan kesalahan orang.
Dia minta Li Hak siong pimpinpasukan besar berangkat lebih dulu maksudnya tidak bentrok langsung dengan dirinya.
Mendapat perintah ayahnya berpikirlah Li Hak siong .
"Tadi pagi aku baru saja membujuk ayah, mana mungkin dia lega hati membiarkan aku menjadi pasukan pelopor?"
Tetapi lantas terpikir juga.
"Beginipun baik, aku menjadi pelopor jauh lebih baik dari pada orang lain. KaIau ada kesempatan dengan diam-diam aku malah bisa memberikan kabar rahasia kepada pihak Ceng liong pang !"
Luka-luka Geng Tian sudah sembuh tujuh bagian, Li Hak siong berpesan kepada adiknya.
"Setelah aku berangkat kau harus merawat Geng heng baik baik terutama harus lebih hati-hati jangan sampai diketahui orang luar."
"Aku sudah tahu,"
Sahut Li Ci hong.
"Apakah Cian Tiang jun juga ikut pergi ke Ki lian san?"
"Dia sebagai panglima tinggi sudah tentu dia pun akan pergi."
"Lebih baik kalau begitu legakan saja hatimu."
"Aku kuatir ayah sudah curiga kepada kami seandainya Geng toako sampai terlihat oleh pelayan kepercayaannya urusan pasti bakal celaka."
"Kalau kau masih kuatir biarlah dia sembunyikan didalam kamarku, pelayan mana yang berani masuk.""Memang akal yang bagus. Kau sembunyikan didalam kamar tidurmu, jangan kata pelayan meski ayah sendiripun takkan berani masuk kedalam kamarmu tapi...."
"Tapi apa?"
Seperti tertawa Li Hak siong memandangnya, katanya.
"Tahun ini kau sudah sembilan belas lho tanggal enam belas bulan yang akan datang hari lahirmu.'' "Memang kenapa?"
"Beberapa hari yang lalu kudengar ayah dan ibu sedang berunding katanya hendak mencarikan calon suami bagi kau."
"Memangnya aku sudi mereka carikan jodoh ?"
"Benar, pilihan ayah bunda masa lebih cocok dari orang yang kau pandang sendiri. Moay moay, bagaimana menurut pendapatmu tentang Geng kongcu ini?"
Seketika Li Ci hong merengut, katanya.
"Koko, kemana sih jalan pikiranmu? Aku sudi menolongnya lantaran untuk kebaikanmu, kau malah menggoda aku, selanjutnya aku tidak mau perduli lagi."
Li Hak siong segera meminta minta dan menjura, katanya.
"Adikku tidak usah marah, aku hanya kelakar saja tapi ..."Semakin dongkol Li Ci hong dibuatnya, semprotnya.
"Tapi apa lagi?'' "Geng toako orang bangsa Han, bangsa Han mempunyai adat istiadat mereka sendiri, aku sendiri tidak tahu apakah dia terlalu mengkukuhi adatnya sendiri? Mungkin kita harus main bujuk kepadanya."
"Serba menyulitkan juga aku tidak perdulikan."
"Menolong orang harus menolongnya sampai sembuh, ayohlah..."
Setengah menyeret ia bawa adiknya ke kamar dimana Geng Tian sedang merawat luka lukanya.
Mendengar rencana mereka betul juga Geng Tian seketika menunjukkan rasa kikuk dan malu.
Gadis muda ini bermaksud baik kalau dia menolaknya kemana pula muka sang gadis harus ditaruh?
Terpaksa ia menjawab.
"Lukaku sudah sembuh tujuh bagian, lebih baik biarlah aku menyerempet bahaya di saat hari petang secara diam diam mengeloyor keluar supaya kalian tidak kerembet."
"Tidak mungkin. Aku harus segera berangkat tiada kesempatan mengutus seseorang yang tepat untuk membawa kau keluar, penjagaan dalam gedung ini amat keras dan ketat, kau pasti tak bisa lolos. Kalau kau mau lari harus tunggu tiga hari lagi setelah ilmu silatmu benar benar sudah pulih seluruhnya baru boleh kau meloloskan diri."Li Ci hong ikut berkata.
"Geng toako jangan kau kira aku tidak tahu adat istiadat bangsa Han kalian, aku tahu kau hendak menghindari hubungan bebas antara pria dan wanita, betul tidak? Biarlah kujelaskan kepada kau, kuberikan kamar tidurku kepadamu dan di belakang kamar tidur terdapat kamar pelayanku, pelayan ini adalah kepercayaanku biar aku pindah tidur bersama dia."
Li Ci hong bicara terus terang tanpa tedeng aling-aling, terpaksa Geng Tian menerima kebaikannya. Katanya sambil bersoja.
"Kalian mengatur sedemikian rapinya demi keselamatanku, entah cara bagaimana aku harus menghaturkan terima kasih kepada kalian. Terutama nona Li, aku .., aku..."
Li Ci hong tertawa geli katanya.
"Aku bukan orang Han, aku tidak takut perbedaan laki perempuan, sudahlah jangan berlarut larut menyamarlah jadi pelayanku, ayo jalan! Koko juga harus segera berangkat."
Berkata Geng Tian.
"Li toako setelah sampai di Ki lian san, seumpama bertemu dengan Nyo Su-gi, Lo Hou wi dan Ong Beng im atau salah satu dari mereka boleh kau bicara terus terang kepadanya. Tapi kalau mereka bersama orang lain, sekali kali jangan kau membocorkan rahasiaku."
Geng Tian hanya menyinggung nama tiga orang dari Su tay kim kong tanpa menyebut nama Pek kian bu karena dia mengharap dengan meminjam muIut LiHak siong untuk memberitahu kepada tiga orang lainnya bahwa Pek Kian bu kurang dapat dipercaya.
Sudah tentu itu semua hanya bila ada kesempatan bertemu.
"Baik akan kuingat betul, Geng Tian masih ada pesan apa ??"
"Tiada lagi."
"Masih ada seorang Iagi bukan? Kenapa tidak kau singgung dia?"
"Siapa maksudmu?'' tanya Geng Tian melengak.
"nona Nyomu itu?"
Berdebar jantung Geng Tian.
"Kenapa dia bicara hal itu?"
Dengan muka merah ia menyahut.
"Betul, Li-toako sukalah kau mencarikan kabarnya, apakah dia sudah tiba di ki lian san?"
O^~dwkz^hendra~^O GENG TIAN sedang menguatirkan keadaan Nyo Wan ceng, ia pun was was akan keselamatan Nyo Su gi dan yang lain lain.
Di luar tahunya bahwa kedua orang ini sudah tiba kembali di Liangchiu.
Dalam pada itu dengan menyamar sebagai orang desa yang ingin menengok familinya dikota, diwaktu Nyo Su gi tiba di Liang-chiu kebetulan dia bertemu dengan pasukan pelopor yang dipimpin Li Hak siong.
Nyo Su gi sembunyi di pinggir jalan dilihatnya yangmemimpin pasukan ini adalah perwira muda.
Diam diam kecut hatinya kekuatiran berkecamuk dalam hatinya.
Ceng-liong pang punya agen rahasia yang bernama Ong Kiat yang membuka warung tahu dikota Liang ciu, melihat ia datang, Ong Kiat girang bukan main, lekas ia menempelkan secarik kertas yang bertuliskan.
"Perbaikan dapur tutup sehari", lantas ia tutup warung tahunya, katanya.
"Nyo hiangcu kenapa seorang diri kau kemari?"
"Urusanku nanti kujelaskan kepada kau, katanya kau dulu tahukah kau pasukan tadi keluar kota tahukah kemana tujuannya ?"
"Memangnya kemana lagi kalau tidak untuk menyerbu pangkalan kita di Ki lian san."
"Perwira muda yang memimpin pasukan itu, tahukah kau siapakah dia ?"
"Kabarnya adalah putra gubernur Liang ciu li ih-siu."
Yang dikuatirkan menjadi kenyataan, diam diam Nyo Su-gi mengeluh dalam hati dengan lemas ia duduk di kursi pikirnya;
"Kedatanganku sungguh tidak kebetulan."
Ong Kiat heran katanya.
"Kabarnya putra Li Ih siu punya kepandaian lumayan tapi mengandal kekuatan bocah itu masak ia mampu menggempur Ki lian-san kita ?''"Kau tidak tahu kedatanganku ini secara diam diam ingin bertemu dengan dia."
Semakin heran Ong Kiat dibuatnya, tanyanya.
"Nyo hiangcu, bukankah dia yang menjadi pelopor menempur Ki lian san ? untuk apa kau menemui dia??"
"Dengarkan penjelasanku."
Lalu dia menuturkan apa yang perlu diberitahukan kepada Ong Kiat. Baru sekarang Ong Kiat mengetahui betapa penting urusan ini, sungguh diluar dugaannya.
"Dalam gedung gubernuran ada tidak agen kita?"
"Ada saudara kita yang didalam warung arang sebagai tukang kirim, beberapa hari sekali pasti mengirim bahan bakar kesana, tugas tugas di dalam sih tiada orang kita yang dipendam disana."
"Baiklah mari kita menemui saudara itu, mohon dia mencari kabar didalam sana yang penting ada jejak berita Geng Kongcu."
"Yang dia kenal hanyalah orang orang kecil, urusan rahasia yang penting ini kukira sulit untuk mendapatkannya."
Nyo Sugi tertawa getir katanya.
"Memangnya aku tidak tahu, kaIau toh tiada sumber lain yang dapat kita lakukan, terpaksa dicoba dulu."
Baru saja Ong Kiat hendak membuka pintu keluar, tiba tiba didengarnya suara gembreng dipukul bertalutalu, seseorang berteriak lantang.
"Tutup pintu tutup? Ada orang agung lewat semua orang dilarang keluar."
Tak jauh dibelakangnya mendatangi sebarisan tentara yang bersenjata lengkap, suara mereka membentak dan mengumpat caci mengusir orang-orang dipinggir jalan supaya lekas pulang.
Berkerut alis Nyo Su gi, katanya.
"Orang agung siapa yang Iewat, perlu mengadakan penjagaan yang begini ketat perlu menabuh gendrang segala untuk membuka jalan?"
Tak lama kemudian keadaan dijalan raya sepi lengang, terdengarlah derap kaki kuda yang riuh semakin mendatangi dari kejauhan.
Diam diam Nyo Sugi mengintip keluar melalui celah pintu, dilihatnya seorang panglima muda menumpang seekor kuda tinggi besar lewat didepan pintu rumah.
Sekilas pandang semula ia sangka putranya Li Ih siu tapi setelah ia tegas, baru tahu terkanya meleset.
Dibelakang perwira muda ini mengintil dua pengikutnya, terasa oleh Nyo Su gi seolah olah pernah mengenal, tiba tiba teringat olehnya, seketika jantungnya berdebar.
Ternyata orang itu bernama Sebun Cu-Ciok seorang keponakan dari iblis besar Sebun Bok ya!
Beberapa tahun yang lalu Nyo-Sugi pernah bentrok sekali dengan orang itu.Berpikir Nyo Sugi.
"Keparat ini adalah tokoh dari golongan hitam kenapa rela menjadi pengikut orang agung apa segala?"
Tengah ia mereka2, terdengar Sebun Cu ciok berkata.
"Li Ih siu situa bangka itu kiranya cukup sungkan terhadap kita, dia anggap kita sebagai duta besar."
Perwira muda itu berkata.
"Cian Tiang-jun seharusnya sudah berada di Liang ciu, kenapa tidak terlihat dia keluar menyambut?"
Tak terasa mencelos pula hati Nyo Sugi, pikirnya;
"Besar juga mulut pemuda ini. Cian Tiang jun sebagai wakil komandan Gi lim kun negeri Kim, nada bicaranya seolah olah anggap Cian Tiang jun sebagai hamba dalam rumah."
Setelah rombongan berkuda ini lewat, jalan raya itu kembali ramai seperti sedia kala. Ong kiat keluar mencari kabar pulang ia berkata.
"Nyo hiangcu, coba kau terka siapa perwira muda itu?"
"Apakah dia kerabatnya dari bangsawan negeri Kim?"
"Betul dia adalah putra komandan Gi lim kun yang menjadi paman raja negeri Kim yang bernama Wanyen Tiang ci."
Bercekat hati Nyo Sugi, katanya .
"Oo, jadi dia itulah Wanyen Hou, tidaklah heran mulutnya begitu besar."
Pikirnya.
"Ilmu silatnya Wanyen Hou amattinggi, kedatangannya ke Liang-ciu ini pasti menetap digedungnya kegubernuran, untuk menolong Geng Tian mungkin bertambah sulit."
Karena kedatangan Wanyen Hou seluruh kota Liang ciu dijaga ketat, setelah keadaan diizinkan normal kembali, hari sudah menjelang magrib.
Waktu Nyo Sugi dan Ong Kiat mencari saudara pengangkut arang itu, seperti dugaan semula sedikitpun tidak tahu menahu akan beritanya Geng Tian, orang orang yang dia kenal di dalam gedung gubernur tidak Iebih hanya kawanan kacung kacung atau tukang kebun dan tukang masak, tidak mungkin bila menyerapi berita seseorang disana.
Terpaksa Nyo Su gi memberi pesan kepadanya.
"Besok kirim arang kesana, coba kau mencari alasan untuk tinggal lebih lama disana dan hati-hatilah mendengar percakapan mereka. Bukan mustahil kau mendapat berita yang kami inginkan!"
Tiba di warung tahu Ong Kiat, seorang kakek tua penjual sayuran tetangga disebelah datang, katanya tertawa .
"Lo ong, warung tahumu sekarang cukup tenar ya, hari ini ada orang tamu perempuan dari jauh yang sengaja datang ingin membeli tahumu. Kukatakan kepadanya, warungmu sedang mengadakan perbaikan hari ini kebetulan tutup. Sebelum pergi dia menyatakan besok mau datang lagi."Bercekat hati Ong Kiat tanyanya.
"Darimana kau tahu dia tetamu yang datang dari tempat jauh?"
"Logatnya berlainan dengan penduduk kota sekali dengar aku lantas tahu; akhirnya katanya dia tinggal dimana betul juga ternyata menetap didesa. Ternyata dia budak dari sebuah keluarga besar di desa, katanya mendapat perintah majikannya kemari untuk membeli tahumu."
Ong Kiat tertawa.
"Piausiokku justeru tamu yang datang dari tempat jauh, dia datang dari tempat yang jauhnya tiga ratus li."
Kakek tua itu mengawasi Nyo Sugi katanya meleletkan lidah.
"O, begitu jauh kenapa belum pernah kudengar mengatakan punya famili seperti dia ?"
"Jaman seperti sekarang kaum melarat, siapa yang suka bepergian menyambangi famili? Sudah puluhan tahun aku tidak berhubungan Piausiokku ini. Bicara terus terang, kalau hari ini dia tidak kebetulan datang, kukira sudah lama dia meninggal dunia."
"Memangnya jangan dikata dari tempat jauh, saudara dekat yang tinggal dalam satu kota sebesar ini sajapun setahun belum tentu datang sekali."
"Ada sebuah urusan mohon kau orang tua suka membantu,"
Kata Ong Kiat.
"Sebagai tetangga tua, kalau dapat kukerjakan aku suka membantu katakan saja.""Ketahuilah familiku ini paling takut berurusan dengan para penjabat, maklum orang desa. Malam ini Piausiok tinggal dirumahku, aku tidak ingin pergi lapor kepada kepala desa. Mohon kau orang tua jangan bercerita kepada orang luar kalau hal ini sampai bocor kawanan opas itu pasti bikin gara gara lagi ditempatku."
Kakek tua itu tertawa bergelak sambil manggut-manggut mengiakan. Kata Ong kiat pula.
"Toasiok, aku bukan guyon lho, aku benar benar rada kuatir."
"Kukira persoalan pelik apa, kiranya minta aku tidak banyak bicara, orang sering berkata penyakit masuk dari mulut bencana keluar dari mulut, meski kau tidak berpesan kepadaku aku pun tidak akan cerewet kepada orang lain."
Setelah kakek tua pergi, Ong Kiat menutup warungnya, katanya;
"Urusan ini rada janggal Nyo-hiangcu, lama aku meninggalkan pangkalan, keadaan pang kita aku sudah rada asing, entah apakah datang Thaubak perempuan yang baru?"
"Tidak pernah!'' sahut Nyo Sugi, katanya pula.
"Terang perempuan itu tidak khusus kemari untuk membeli tahumu, tapi golongan mana dia akupun bisa meraba. Malam ini, kita harus lebih waspada adakah tempat cocok untuk sembunyi didalam rumahmu ini?""Kamar adanya tahu disebelah barat sana dindingnya boboI gede aku belum sempat menyumbatnya. Sebelah sana adalah gudang kayu milik Thio-toasiok, kalau terjadi sesuatu boleh kau sembunyikan kesebelah dulu. Nanti sebentar kita pasang tiga batu bata darurat disebelah luarnya ditumpukan beberapa keranjang kacang kedelai, keranjang besar setinggi manusia kebetulan dapat menutupi lobang tembok itu."
"Nanti membawa kesulitan bagi Thio-toasiok?'' "Dibelakang pintu rumah keluarga Thio adalah jalan gelap yang menembus keluar kota, kau tidak usah tinggal dirumahnya langsung saja merat dari sini."
"Kalau begitu pergilah kau berunding sama dia, kalau tidak diijinkan jangan kita lakukan hal itu."
"Thio toasiok orang baik, dia pasti setuju. Kalau sebelumnya minta ijinnya segala, mungkin malah menimbulkan kecurigaannya, asal usul kami sekali kali tidak boleh diketahui oleh dia, menurut pendapatku kita hanya mempersiapkan diri saja, kalau kejadian benar benar berlangsung barulah kau menerobos ke sana secara mendadak. Kita toh hanya pinjam jalan saja."
Berkerut alis Nyo Sugi, katanya.
"Meski hanya pinjam jalan harus dilakukan secara terang terangan. Kukira kurang leluasa kalau kami kelabui dia."Apa boleh buat terpaksa Ong-kiat berkata;
"Baiklah kalau Hiangcu ingin begitu, biar aku kesana berunding sama dia. Tapi orang tua biasanya suka tanya asal usul orang kalau kami kelabuhi dia."
"Kalau terpaksa boleh kaujelaskan asal usulku kepadanya."
Tengah bicara terdengar derap kaki kuda yang berlari kencang dari kejauhan lewat dijalan raya didepan warung tahu Ong Kiat.
Akhirnya ketiga kuda itu berhenti, jelas sekali mereka berhenti didepan warung tahu Ong Kiat dan melompat turun.
Dua diantara tiga penunggangnya membawa obor, dari celah celah pintu, Nyo Sugi dan Ong Kiat mengintip keluar, perwira rendah yang tidak membawa obor itu, bukan lain adalah pengikut Wanyen Hou dalam perjalanan ke Liangciu ini yaitu Sebun Cuciok.
Ong Kiat tertawa getir, katanya.
"Sudah terlambat lekas kau menerobos kesana."
Belum habis ia bicara, didengarnya Sebun Cu-ciok sedang berkata.
"Apakah warung tahu ini?"
Dua perwira lebih rendah yang membawa obor itu mengenakan seragam busu kota Liang ciu, mereka menyahut bersama.
"Di jalan ini hanya terdapat satu warung tahu saja, tidak akan salah.'' Busu dari gedung gubernuran menggerebek sebuah warung tahu yang kecil ini jarang sekali terjadi malahpengikut dari tamu agung gubernur sendiri ikut dalam tugas rahasia ini sungguh kejadian yang luar biasa. Bilamana menghadapi Ong Kiat seorang, tentunya tidak perlu Sebun Cu ciok ikut turun tangan, sudah tentu Nyo Su gi tahu bahwa mereka meluruk datang bertujuan menangkap dirinya. Diam diam ia membatin.
"lnilah benar benar apa boleh buat, tiada jalan lain terpaksa melakukan perbuatan selundup secara kasar."
Secara diam diam Nyo Su gi menyusul masuk ke gudang kayu sebelah melalui lobang tembok, suara gedoran pintu sebelah sana sudah menggelegar seperti guntur.
"Buka pintu, ada pemeriksaan."
Daun pintu dari warung tahu yang tipis itu mana kuat menahan gedoran keras kedua busu itu? "Brang"
Kedua daun pintu itu akhirnya semplak dan roboh berantakan.
Setelah membereskan seperlunya dikamar adonan, pura-pura baru bangun dari tidurnya untung Ong Kiat masih sempat menyongsong kedepan.
Kedua busu itu segera membentak.
"kenapa begitu lama baru mau buka pintu, apa di dalam kau menyembunyikan buronan ya?"
"Ah, tidak, para Koantiang kalau tidak percaya silahkan masuk menggeledah."
"Jangan kau gertak dia,"
Ujar Sebun Cu-ciok tertawa.
"Biar kutanya dia."Sambil membungkuk kedua Busu itu mengiakan, katanya pula.
"Kalau begitu perlu tidak kami menggeledah kedalam?"
"Tidak perlulah kulihat dia orang jujur tentu suka bicara terus terang."
Kata ini sungguh diluar dugaan Ong Kiat, tak tahu dia kenapa Sebun Cu ciok bersikap halus, katanya.
"Terima kasih akan pujian Tayjin, entah apa yang ingin Tayjin tanyakan?"
"Ada seorang nona muda yang berparas ayu jelita, dia temanmu ataukah familimu?"
Tanya Sebun Cu ciok sementara kedua busu itu menggerakkan kaki tangan melukiskan bentuk dan wajah nona muda itu. Ong Kiat pura pura baru sadar.
"Oh kiranya mereka sedang menyelidiki tamu perempuan itu sudah tentu dia tidak akan menginap di warung tahuku tak heran Sebun Cu ciok berkata tidak usah menggeledah."
Lalu terpikir olehnya.
"Agaknya mereka masih belum tahu bahwa Nyo-hiangcu berada disini, lebih gampang rasanya aku layani mereka."
Maka dengan sejujurnya ia menjawab.
"Aku tidak kenal nona itu."
Mendengar jawaban ini bertaut alis Sebun Cu-ciok, katanya.
"Kau tidak kenal nona itu? Lalu kenapa dia tadi pagi mencari kau?"
Ong Kiat pura-pura merasa heran, ujarnya.
"Ada seorang nona mencari aku? Aku kok tidak tahu. Tungku apiku rusak sejak tadi siang aku sudah tutupwarung, aku keluar untuk memperbaiki tungku itu baru saja pulang."
"Aku tahu itu, waktu kau tiada dirumah, tapi ada orang melihat sendiri nona muda itu datang kewarung ini mencari kau, kejadian ini terang tidak akan salah, kalau dia tiada sanak bukan kadang dengan kau, kenapa datang dari jauh mencari kau? hm, lekas bicara terus terang saja."
"Tamu perempuan hendak beli tahu adalah kejadian biasa, orang yang memberi kabar kepadamu itu mungkin salah faham."
"Brak!"
Mendadak Sebun Cia ciok menggebrak meja, makinya.
"Bagus ya kuberi muka kau tidak mau arak suguhan tidak minta arak hukuman?'' begitu tangannya menepuk meja kayu berterbangan permukaan meja meninggalkan cap tangan yang dalam dan menyolok mata.
"Terus tarang hamba tidak tahu apa2, darimana aku harus memberi keterangan?"
"Siau moli itu datang ke Liang ciu dengan diam-diam memangnya hanya ingin membeli tahumu? Berani kau mengatakan kau tidak kenal dia? Omonganmu dapat mengelabui siapa?"
"Siau moli apa? tayjin omonganmu semakin membuat aku bingung.""Masih pura-pura pikun,"
Damprat Sebun Ciu ciok.
"Lekas katakan dimana Siau moli menyembunyikan diri!"
"Tamu perempuan yang kau katakan aku sendiri belum pernah melihatnya mana bisa tahu dimana jejaknya ?"
"Dia kemari mencari kau itu terbukti bahwa kau pasti sekomplotan dengan dia. Baik seumpama kau tidak tahu jejaknya, dia she apa, siapa namanya, untuk apa mencari kau tentunya kau tahu betul bukan?"
"Tayjin tidak lebih aku hanya penjual tahu, selamanya tidak turut campur urusan. Kata-katamu ini sungguh membuat aku bingung dan heran."
"Kau masih pura pura, baik biar kau rasakan dulu hajaranmu untuk menyegarkan otakmu ini!"
Baru saja ia hendak menghajar Ong Kiat tiba tiba didengarnya sebuah suara nyaring berkata.
"Aku tamu perempuan itu untuk apa kalian mencari aku?"
Kaget sekali Sebun Cu ciok dibuatnya, dilihatnya di ambang pintu berdiri seorang perempuan berpakaian hitam seolah-olah sudah pernah dikenalnya. Sementara kedua Busu dari Liang ciu sudah membentak.
"Iblis perempuan yang bernyali besar berani kau meluruk kemari malah!"
Gadis baju hitam itu tertawa, katanya;
"Bukankah kalian yang ingin mencari aku, kalau aku tidak datang kau bikin celaka orang lain."Sembari membentak kedua Busu itu sudah menubruk maju, bentaknya pula.
"Kau berani muncul menghadapi kita marilah ikut kami kembali kegedung gubernur."
Maka terdengarlah, Blang blum beruntun dua kali tahu-tahu kedua Busu itu sudah terjengkang jatuh menghadap kelangit. Gadis baju hitam itu tertawa dingin, jengeknya.
"Gubernur Liang ciu yang kecil itu tidak masuk dalam pandanganku berani kalian mentang mentang dihadapanku."
Sebun Cu ciok adalah ahli silat, sungguh kejutnya bukan kepalang belum lagi kedua Busu itu sempat menyentuh ujung baju orang tahu tahu sudah roboh terguling, inilah ilmu tingkat tinggi yang dinamakan Can ih-cap pwe thiat (menyentuh baju jatuh delapan belas kali).
Semua hal lain yang membuat Sebun Cu ciok bertanya dalam hati adalah wajah gadis baju hitam ini jauh berlainan dengan laporan yang diterima mengenai diri Siau mo li itu agaknya malah seseorang dulu pernah dilihatnya entah dimana.
Kedua Busu merangkak bangun mengandal kekuatan Sebun Cu ciok mereka mencak mencak gusar;
"Siau mo li, biar kami adu jiwa dengan kau."
Keduanya melolos senjata hendak menubruk maju pula.Mendadak Sebun Cu ciok membentak.
"Jangan ribut minggir kesamping!"
Kuncup nyali kedua Busu itu segera mereka menyingkir kesamping, melihat Sebun Cu ciok bersikap begitu menghormat kepada gadis baju hitam ini bukan kepalang kejut hati mereka.
Terdengar Sebun Cu ciok berkata.
"Nona agaknya kita pernah bertemu entah di mana kau... kau adalah ..."
"Terhitung matamu melek meski kau hanya seorang hamba waktu di Holin, agaknya kamipun pernah menyambut kau anggap kau sebagai tamu. Sekarang begini sikapmu kepadaku beginikah caramu menyambut tamu?"
Sebun Cu ciok kaget bukan main, teriaknya.
"Ternyata kau adalah Pe.....Pele....."
"Cukup kau sudah tahu, tidak usah kau banyak mulut diluaran, tiada halangan kau tetap memanggilku Siau mo li."
Sebutan kiongcu yang hendak diucapkan Sebun Cu ciok telah ia telan kembali, katanya.
"Tidak berani!! Hamba tidak tahu bila nona sudah tiba, harap nona suka maafkan keteledoranku ini."
Ternyata gadis baju hitam ini bukan lain adalah keponakannya Ogotai, raja agung dari Mongol, yaitu In-tiong yan yang mendapatkan anugerah sebagai Pele kiongcu.Tiga tahun yang lalu, Sebun Cu ciok pernah mengiringi Wanyen Hou pergi ke Mongol dan pada waktu berburu binatang pernah melihatnya sekali.
Diam-diam Sebun Cu ciok berpikir.
"Kabarnya setelah kami pulang dari Mongol, Dulai lantas mengutus keponakannya menyamar sebagai perempuan Han menyelundup kedaerah Tionggoan menyelidiki strategi militer di sana, demi usahanya untuk menyerbu keselatan. Namun demikian, sekali kali aku pantang berbuat salah terhadapnya, maklumlah kekuatan Mongol amat besar sampai berkembang sampai kenegeri Kim, politik luar negeri Kim saat itu justru hendak merangkul dan minta damai kepada pihak Mongol. In tiong yan tertawa dingin katanya.
"Bukanlah kau kemari sengaja hendak menangkap aku? Kenapa pura-pura berkata tidak tahu akan diriku?'' "Sekali kali kami tidak menduga bila nona adanya, apalagi nona suka merendahkan diri berkunjung ketempat yang jorok ini. Orang-orang kami mengira orang lain adanya maka sengaja kemari untuk menyelidiki biar benar, harap nona suka maafkan kesalahan ini."
"Tahu buatannya ini memang paling enak, sudah lama aku mendengarnya. Ingin aku minum secawan wedang tahu, apa pula yang harus dibuat heran? Membuat kalian geger dan bikin ribut disini?"Sebun Cu ciok mengiakan berulang ulang sambil nunduk-nunduk, pikirnya.
"Jelas aku tidak boleh berbuat salah kepadanya, namun urusan ini jelas rada ganjil, urusan tidak boleh anggap beres demikian saja, bagaimana baiknya aku bertindak?'' karena kepepet maka terpikir juga sebuah akal olehnya, katanya;
"Pangeran Wanyen sedang berada digedung gubernuran, dia tahu nona ada datang kekota Liang-ciu, sudah tentu mengharap kedatangan nona. Harap nona suka memberi muka silahkan kesana bersama hamba."
"Ooo, jadi kau ingin supaya aku menyerahkan diri secara sukarela, baru kau tidak ambil perduli kepada pemilik warung ini?"
Sebun Cu ciok pura pura gugup dan menyengir kikuk, katanya.
"Nona sekali kali jangan salah paham. Kalau aku tidak mampu mengundang nona, Pangeran tentu akan menghukum aku, mohon nona suka memberi bantuan sekedarnya."
Berpikir ln-tiong-yan kalau dirinya tidak segera berlalu pasti pemilik warung ini terang kerembet perkara, segera ia berkata.
"kalau Wanyen Hou betul disini memang perlu aku menemuinya. Tapi..."
"Tadi apa??"
Tanya Sebun Cu ciok.
"Dari jauh aku kemari tujuanku mau mencicipi wedang tahu kalau belum sempat minum harus berlalu bukankah menyia-yiakan perjalanan belaka?""Warung ini hari ini tidak jualan karena kerusakan tungkunya!!"
Mendengar perkataannya In tiong yan, Ong Kiat lantas paham, katanya tertawa.
"Tungku besar untuk dagang rusak, tungku kecil didapur untuk memasak nasi masih bisa dipakai. Nona, kau hanya ingin mencicipi secawan wedang tahu, gampang sekali segera dapat kusiapkan."
"Baik, pergilah kalian bantu dia membuat api,"
Sebun Cu ciok menyuruh kedua Busu itu. Tak lama kemudian wedang tahu Ong Kiat sudah selesai, waktu keluar masih mengepul asap berbau segar. Berkerut alis In tiong yan, katanya.
"Tabiatku kau sudah tahu belum?"
Sebun Cu ciok melengak, batinnya.
"Tidak kau katakan dari mana aku bisa tahu?"
Katanya unjuk tertawa.
"Entah maksud nona adalah..."
"Aku tidak senang ada orang berdiri mengawasi aku makan, kalian semua keluar."
Apa boleh buat, kata Sebun Cu ciok.
"Baik kami tunggu nona diluar! Ayo keluar!"
Sambil berkata ia menarik Ong Kiat sekalian.
"Aku tidak menyuruh dia keluar, kenapa kau menyeret. Dia sebagai pemilik warung memangnya aku harus mengusir pedagangnya?"Terpaksa Sebun Cu ciok melepas Ong-Kiat bersama kedua Busu ini ia keluar lalu berputar kesamping rumah kuping ditempel kedinding mencuri dengar. In tiong yan tahu mereka pasti mencuri dengar diluar, katanya tertawa.
"Wedang tahumu memang enak sekali rasanya, enak nikmat menyegarkan semangat, cara bagaimana membuatnya, bolehkah kasih tahu padaku?"
Sembari mengobrol dengan Ong Kiat, dengan sumpit yang dia basahi kuah wedang, menulis beberapa huruf dipermukaan meja, tulisan itu berbunyi.
"Ada omongan apa yang perlu kau sampaikan kepadaku, lekas katakan?"
Walau Ong Kiat tidak tahu asal usulnya tapi ia berpikir.
"Dia membantu kesulitanku sudah tentu orang sendiri."
Mengikuti perbuatan orang diatas meja dia pun menulis demikian, ''Geng kongcu kena tertangkap mereka mungkin disergap didalam gedung gubernuran."
In tiong yan kaget tulisnya.
"Apakah Geng Tian?"
Ong Kiat manggut. In tiong yan menulis pula.
"Baik soal ini kau serahkan padaku saja."
Setelah menghabiskan wedang kacangnya ln tiong yan menghapus tulisan diatas meja, katanya.
"Lekas kau perbaiki tungkumu, besok biar aku kemari minum wedang tahumu pula."Bicara sampai besok tangannya digoyang goyangkan, maksudnya memberi tanda supaya malam ini juga dia melarikan diri, besok jangan tinggal diwarung ini. Sebetulnya Ong Kiat hendak memberitahu bahwa Nyo Su gi pun berada di sini, tapi In tiong yan sudah keburu keluar. Setelah mendengar derap langkah, Sebun Cu ciok dan lain lainnya pergi jauh, baru Ong Kiat berlari masuk kedalam kamar adonan sebelum dia menyelinap kesebelah melalui lobang tembok itu, dilihatnya Nyo Sugi sudah menunggu dirinya dikamar adonan. Ong Kiat melengak, tanyanya.
"Nyo-hiangcu kenapa begitu cepat kau sudah kembali pula?"
"Sejak tadi aku sembunyi dirumah keluarga Thio belum sempat lari."
Ong Kiat kaget, tanyanya.
"Kenapa tidak sampai lari? Tadi sungguh berbahaya! Kini meski cakar alap alap itu sudah pergi mungkin akan datang kemari lagi."
"Sebelum aku hendak bertindak sesuai rencanamu semula, merat dari pintu belakang Thio toasiok. Begitu aku menyelinap kesana lantas kulihat Thio Toasiok sedang berdiri di sana. Belum aku sempat bersuara dia lantas berkata kepadaku.
"jalan gelap dibelakang pintu belakang itu sudah penuh sesakdijaga tentara pemerintah, dia minta aku sekali sekali jangan lari dari sana."
"Wah, tidak pernah terpikir olehku soal itu."
"Thio toasiok tidak bertanya apa-apa kepadaku, lalu menyembunyikan aku. Katanya main main untung-untungan saja sembunyi disana umpama cakar alap2 itu menggerebek rumahnya, ia bisa berusaha melayani mereka."
"Lalu Thio toasiok dimana?'' ''Katanya mau keluar melihat keramaian. Setelah aku mendengar orang orang itu pergi baru aku menerobos keluar, tidak sempat aku memberitahu dia."
"Tak nyana tua bangka itu bernyali begitu besar. Nyo hiangcu, disebelah adakah kau dengar kejadian disini?"
"Semua dengar !"
"Siapakah perempuan tadi, tahukah kau?"
"Perempuan itu bernama In tiong yan dan asal usulnya, aku sendiri masih belum tahu dengan jelas."
"Jadi dia bukan orang kita?"
"Naga naganya dia adalah seorang yang punya asal usul rahasia Mongol, tetapi meskipun dia bukan orang Han, namun dia pernah membantu kesulitanku boleh kita anggap sebagai teman."Ong Kiat merasa lega hati, katanya.
"Kalau demikian kukira tiada halangannya bila aku memberi tahu kabar Geng kongcu kepadanya."
"Ada sebuah hal yang membuat aku heran."
"Hal apa?"
"Rahasia dari warung tahumu ini hanya Liong pangcu dan aku saja yang tahu, cara bagaimana dia bisa mencari kamu?"
Baru saja bicara sampai disini terdengar suara ketukan pintu.
"Memangnya dia kembali lagi ?"
Kata Ong Kiat, tanyanya;
"Siapa?"
Orang itu tertawa sahutnya;
"Sudah aman lekas buka pintu, inilah aku."
Kiranya Thio toasiok adanya. Nyo Sugi membuka pintu menarik Thio-toasiok kekamar adonan katanya.
"Toasiok, harap maaf aku tidak bicara sejujurnya kepada kau urusanku padahal harus diterangkan kepada kau."
"Tidak usahlah,"
Ujar Thio toasiok tertawa.
"Orang sering berkata miskin bantu miskin, kaya bantu kaya. Kalian dikejar-kejar cakar alap alap tentunya orang baik. Mana boleh aku tidak membantu kau?"
"Thio toasiok kau benar-benar seorang baik. Belum lagi aku mengucapkan terima kasih kepada kau."
"Terima kasih apa, kata katamu ini malah anggap aku ini orang luar saja. Asal-usulmu tidak perlu kaukatakan kepadaku sebaliknya ada sesuatu hal yang perlu kuberitahu kepada kau."
Melihat roman muka tiba-tiba menunjukkan rasa gelisah dan hambar seolah olah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, keruan Ong Kiat bercekat dibuatnya, tanyanya.
"Urusan apa?"
"Tadi aku ada mengintip dari celah-celah pintu perempuan baju hitam itu pergi dengan perwira perwira itu, aku melihatnya dengan jelas."
"Memangnya kenapa?'' "Tapi dia bukan perempuan yang hendak beli tahu tadi pagi,"
Suara Thio toasiok lirih tertekan. Ong Kiat keheranan.
"Aneh benar Ialu siapakah tamu perempuan itu?"
"Perempuan itu mengenakan pakaian merah usianya mungkin sebaya dengan perempuan baju hitam tapi raut mukanya jauh berbeda. Coba kalian ingat ingat adakah pernah kenal dengan perempuan semacam begini?"
Pikir punya pikir Nyo Sugi sendiri menjadi bingung malah, katanya.
"Entah orang macam apa perempuan itu tapi kalau toh Sebun Cu ciok meluruk kembali hendak menangkap dia, pastilah diapun orang sehaluan dengan kita. Soal ini kelak kami selidiki perlahan-lahan, tugas yang penting sekarang harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini. Thio toasiok,tentara digang belakang itu apakah sudah ditarik mundur semua?"
"Sudah kuperiksa semua, semua sudah ditarik mundur."
Ong Kiat berdiri menjura kepada Thio toasiok, katanya.
"Toasiok, mungkin aku tidak akan kembali, beberapa tahun ini banyak terima kasih berkat perlindunganmu,tiada yang bisa kuberikan kepada kau sebagai balas budi warung tahu ini...."
Sebetulnya Ong Kiat hendak memberikan warung tahu ini kepadanya, tapi Thio toasiok keburu menukas, katanya.
"Hal itu toh belum tentu, kalau penjajah terusir pergi, bukankah kau bisa kembali? Pergilah dengan lega hati, akan kujaga warung tahu ini."
"Ucapan Thio toasiok memang benar,"
Ujar Nyo Sugi bergelak tertawa.
"Setelah penjajah kita usir biar aku tengok kau kemari."
"Apakah kalian punya tempat untuk menyembunyikan diri?"
"Kami akan sembunyi dirumah seorang kawan. Ah ya alamat ini kuberikan kepada kau, kalau tamu perempuan itu datang pula secara diam diam boleh kau beritahu kepadanya."
Kawan yang disebut Ong Kiat adalah kuli pengangkut orang yang ditanam dalam warung arang itu oleh pihak Ceng liong pang.Dengan serombongan besar tentara yang tetap kacau balau, Sebun Cu ciok mengiringi In tiong yan.
Sembari jalan geli dibuatnya, pikirnya.
"Siau moli itu aku sendiri belum pernah melihatnya, tidak nyana sekarang aku harus nyaru jadi dia."
Kiranya kejadian diwarung tahu miliknya Ong Kiat hanya secara kebetulan saja kebentur oleh In tiong yan.
Sejak lama In tiong yan mendengar ketenaran nama Siau moli, mendengar orang orang itu mengorek keterangan Ong Kiat mengenai seluk beluk dan jejaknya Siau mo li maka diapun berpikirlah.
"Siau mo li dapat membuat semua Busu busu dari negeri Kim ketakutan kepadanya meski hanya mendengar namanya sayang aku tiada ada kesempatan berkenalan dengan dia. Em, sekarang temannya menghadapi kesukaran, inilah kesempatan bagiku untuk mengulur tali persahabatan padanya."
Lantaran ingin berkenalan dengan Siau-moli maka In tiong yan menolong Ong Kiat, mengenal kabar berita Geng Tian yang didengarnya dari Ong Kiat hanyalah secara kebetulan saja diperolehnya.
"Geng Tian adalah kawan baik Hek swan hong, dia terkurung digedung gubernuran Liang ciu, tidak bisa tidak aku harus mengurus soal ini. Tapi aku baru bertengkar dengan Koksu, paman dulai juga minta aku lekas pulang. Wanyen Hou punya mata kuping yang tersebar dimana mana, soal ini entah dia sudahtahu belum? Lain pula dengan Sebun Cu ciok, seumpama bocah keparat itu belum tahu akan persoalan ini bila aku menggertaknya dengan kedudukan tuan putriku mungkin belum mampu menakuti dia. Untuk menolong Geng Tian belum tentu aku bisa bekerja memperalat dia, lebih baik aku mencari jalan lain,"
Demikian batin In tiong yan. Melihat In tiong yan mendadak menghentikan langkah, Sebun Cu ciok melengak dibuatnya, lekas ia bertanya.
"Tidak jauh lagi sudah sampai. Tuan putri agar ingin ganti tunggangan?"
Dia kira In tiong-yan sebagai tuan putri tidak sesuai jalan kaki memasuki gedung gubernuran.
"Majikanmu aku pasti akan menemui dia, tapi sekarang aku tidak ingin menemui dia."
"Kenapa?"
Tanya Sebun Cu ciok kaget.
"Paling tidak aku toh harus ganti pakaian dulu.'' "Kukira tidak perlulah tuan putri, pakaianmu ini sudah cukup baik!'' ln tiong-yan tiba tiba menarik muka, jengeknya dingin.
"Apa kau hendak menggusur aku sebagai tawanan kesana?"
"Tidak berani ..."
"Kalau tidak berani kenapa kau pentang bacot ! Bicara terus terang memangnya aku tidak senang pergi kesana dengan cara seperti ini."Habis kata-katanya In tiong yan tahu-tahu sudah melejit tinggi terbang keatap rumah. Sebun Cu ciok kebingungan dan melongo, dalam sekejap itu iapun tak berkeputusan apakah harus merintangi atau membiarkan orang pergi. Tentara yang berada dibarisan belakang tidak tahu asal usul In tiongyan, beberapa orang diantaranya segera lepas panah kearahnya, In-tiong-yan meraih dua batang panah, diantaranya terus disambitkan balik makinya;
"kalian punya mata tidak bisa melihat apa pula gunanya?"
Kedua batang panah ini kebetulan mengenai mata kedua tentara yang melepas panah tadi, untung yang satu kena sebelah kiri yang lain mata kanannya picak. Lekas Sebun Cu-ciok membentak.
"Jangan kurang ajar."
Sekejap saja In-tiong-yan sudah terbang melampaui wuwungan rumah penduduk. Dan Sebun Cu ciok berteriak.
"Tuan putri silahkan kembali, marilah bicarakan baik baik,"
Belum habis bicara bayangan ln-tiong yan sudah tidak kelihatan lagi. Tapi dari kejauhan terdengar suara menjawab.
"Pulanglah, suruh Wanyen Hou menunggu kedatanganku, aku mesti datang menemui dia!"
Sengaja ia berputar kearah yang berlawanan, lalu putar haluan menuju langsung ke gedung Gubernuran Liangciu.
Sebun Cu ciok malah ketinggalan jauh dibelakang.
O^~dwkz^hendra~^O TATKALA ITU didalam kamar tidurnya dalam gedung gubernuran Li Ci-hong sedang ajak Geng Tian ngobrol.
Geng Tian sudah berganti pakaian berkatalah Li Ci-hong sambil tertawa.
"Apakah kau merasa direndahkan derajatmu menjadi budak pelayanku? Ditempatku ini kukira tidak akan ada bahaya lagi tapi untuk menjaga segala kemungkinan mungkin kau harus menyamar."
Merah muka Geng Tian katanya.
"Aku sih tidak merasa direndahkan seorang laki-laki harus menyamar jadi pelayan perempuan, gerak gerik yang halus dan jalan lenggak-Ienggoknya itu yang membuat aku risi dan kikuk !"
Li Ci hong terkikik geli, katanya;
"Memangnya kau melihat akupun demikian?"
"Kaukan satria dalam kalangan hawa mana bisa dibandingkan dengan budak perempuan. Tapi aku toh tidak mungkin menyamar sebagai kau."
Mendapat pujiannya hati Lin Ci hong terasa manis mesra katanya.
"Baiklah, terserah bagaimana keinginanmu. Em semoga saja Thian melindungi,sekali kali jangan sampai diketahui oleh ayah ada laki laki yang sembunyi didalam kamarku."
"Li siocia melindungiku seperti ini sungguh tak tahu aku bagaimana harus berterima kasih kepada kau."
"Nah merengek lagi, sudah berapa kali kau ucapkan kata katamu ini, bukankah sering kuberitahu kepada kau, aku bukan gadis pingitan seperti orang orang Han, kalian takut mana kesucian gadis perawan tercemar segala. Em, sampai mana tadi pembicaraan kita ?"
"Katakan kau adalah satria dari kalangan hawa."
"Pujianmu ini seharusnya kau haturkan kepada orang lain."
Geng Tian pura-pura tidak tahu tanyanya;
"Kepada siapa?"
"Nona Nyomu itu toh satria dari kalangan hawa hanya dia yang setimpal julukan ini."
"Kalian berdua sama sama adalah patriot, cuma...."
"Cuma apa?"
"Aku dan nyonya Nyo adalah kawan biasa,"
Tiba tiba hati Geng Tian rada nyesal mengatakan hal ini.
"Kenapa aku harus menjelaskan kepadanya, terserah kalau dia sendiri salah faham.""Betul hanya kawan biasa? Kulihat sikap dua hari ini tidak tentram dan sering melamun bukankah kangen kepadanya?"
"Aku sedang berpikir ingin cepat cepat meninggalkan tempat ini, penyakitku toh memang hampir sembuh."
"Kukira buang saja keinginanmu itu ada hal yang baru saja kuketahui belum sempat kuberitahukan kepada kau."
"Urusan apa?"
"Semalam Cian Tiang jun sudah kembali lagi."
Geng Tian terkejut katanya.
"Bukankah dia sebagai panglima ? Kenapa tidak ikut berangkat ke Ki Lian san?"
"Seorang pangeran dari negeri Kim berkunjung ke Liang ciu, kedudukan pangeran ini agaknya amat tinggi, ayahnya adalah paman raja sebagai komandan Gi lim kun lagi."
"O, kiranya putra Wanyen Tiang-ci yang bernama Wanyen Hou."
"Kau kenal dia ?"
"Pernah kudengar dari penuturan Nyo Su gi Toako. Memangnya kenapa kalau dia datang ?"
"Waktu dia datang, kebetulan Cian Tiang-jun berangkat bersama koko. Cian Tiang-jun sebagai panglima tertinggi belum jauh ia berangkat. Ayahmengutus orang mengejarnya memanggil Cian Tiang jun kembali."
"Kenapa tidak memanggil engkohmu pulang?"
"Koko menjadi pelopor, dia jauh di depan. Dan lagi Cian Tiang jun sebagai wakil komandan gi lim kun negeri Kim, Wanyen Hou justru majikan kecilnya. Mungkin ayah merasa perlu memanggilnya pulang untuk menyambut majikannya."
Timbul rasa curiga Geng Tiang, katanya.
"Cian Tiang Jun diutus ke Liang ciu, mengerahkan bala tentara ayahmu untuk serang Ki lian-san, inilah rencana dari Wanyen Tiang ci. Mana bisa hanya karena menyambut anaknya, lalu mereka menarik pimpinan besarnya? Seumpama ayahmu gegabah, Wanyen Hou dan Cian Tiang jun pasti tidak begitu ceroboh, kenapa Wanyen Hou tidak mencegahnya, sementara Cian Tiang jun mandah menurut perintah belaka ?"
"Kau curiga dalam hal ini ada latar belakangnya ?"
"Kukira Cian Tiang jun pasti sudah mendapat kabar lebih dulu, dia tahu kapan Wanyen Hou bakal datang. Dia memimpin pasukan keluar kota hanyalah sandiwara yang dimainkan bersama ayahmu."
"Kenapa pula harus berbuat demikian?"
"Supaya engkohmu meninggalkan rumah dengan hati lega."Li Ci hong terkejut katanya.
"Maksud bahwa Cian Tiang-jun sudah tahu bahwa kau disembunyikan oleh kami kakak beradik maka sengaja memancingnya pergi ?"
"Mungkin hanya terkaanku saja, dan semoga memang begitu."
"Pendek kata Cian Tiang jun sudah kembali, penjagaan diperketat, tidak mungkin dalam keadaan yang gawat ini kau mau meninggalkan tempat ini. Geng toako legakan hatimu bagaimana juga aku tidak akan membiarkan kau terjatuh ketangan penjajah Nurchen."
Sembari bicara tanpa sadar ia menggenggam tangan Geng Tian erat erat. Tiba2 Geng Tian berkata .
"Seperti ada orang mencuri dengar diluar."
Li Ci hong melongok keluar katanya kemudian .
"Mana ada bayangan orang ? Tempatku ini kecuali pelayan kepercayaanku, tidak ada orang luar, mungkin kau hanya terbayang bayang saja ! Seumpama pelayan mencuri dengar, pasti dia tidak berani kurang ajar, tentu kau yang salah dengar."
Pada saat itulah seorang pelayan kecil menerobos masuk dengan napas tersengal-sengal. Li Ci-hong melengak, tanyanya .
"Eeh kenapa begitu cepat kembali, mana kembangnya ?"Ternyata pelayan itu sudah ia suruh memetik kembang ketaman bunga untuk dimasukkan kedalam vas buat pajangan.
"Siocia, aku tidak bisa keluar keruang tengah !!!"
"Kenapa ???"
"Pintu besar ruang tengah sudah tertutup rapat hubungan luar dan dalam menjadi terputus. Kabarnya mereka sedang mengadakan pemeriksaan kamar demi kamar di bagian luar sana, kamar buku dan kamar tidur kongcu sudah diperiksa. Siau an cu dari kamar buku Kongcu secara diam diam memberitahu kepadaku lewat pintu angin disudut tembok barat, kabarnya orang she Cian dari suku Nurchen itu sendiri yang memimpin pemeriksaan ini, buat apa maksud dan tujuan mereka aku sih tidak tahu."
Geng Tian tertawa getir, katanya .
"Tak usah tanya, terang rahasia ini sudah bocor. Cian Tiang-jun hendak menutup semua pintu untuk mencari aku."
"Memangnya dia pun berani main periksa di kamarku, kau tidak perlu kuatir.'' demikian jengek Li Ci-hong menghibur diri, namun demikian urusan sudah cukup gawat, di mulut ia suruh Geng Tian tidak usah kuatir sebetulnya telapak tangannya sudah berkeringat dingin. Tengah mereka kebingungan, terdengar pula suara seseorang pelayannya berseru lantang disebelah luar ."Lo hujin datang menengok Siocia."
Pelayan ini memang berjaga di bagian luar. Kejut Li Ci-hong sungguh bukan kepalang, pikirnya .
"Kenapa ibu justru datang pada saat seperti ini, mungkinkah diapun sudah tahu rahasia didalam kamarku ?"
Kejadian berlangsung secara mendadak, tiada tempo buat Li Ci hong banyak pikir, lekas ia dorong Geng Tian masuk kekamar dalam, itulah kamar pelayannya yang berdampingan dengan kamarnya, dipojokan sana ada dibuatkan pintu rahasia untuk keluar masuk.
Pelayan ini cerdik dan pintar Li Ci hong sudah berpesan kepadanya, supaya dia menyembunyikan jejak Geng Tian meski kepada siapa saja.
Pikirnya .
"Ibu tidak membawa orang lain, biasanya dia paling pegang gengsi, mungkin tidak akan sudi main terobosan kekamar pelayanku."
Begitu melangkah masuk kekamar tidur putrinya seketika timbul rasa curiga Lo hujin .
''Biasanya kalau aku datang meski pelayan berseru memberitahu, tapi tidak pernah berteriak sekeras itu dari jauh.
Hong ci sampai begini lama baru membuka pintu, apakah kabar itu memang benar ?
Masa dia begitu begini tidak tahu malu, menyembunyikan laki laki liar didalam kamar tidurnya sendiri ?"
"Bu, barusan badanku rada kurang enak, baru saja hendak tidur, tak nyana kau datang ada urusan apa?"
Lo-hujin menjelaskan pandangannya keseluruh kamar, dilihatnya tempat tidur masih tertata rapi,diam2 ia membatin.
"Kalau dia baru bangun, tidak mungkin membereskan tempat tidurnya dulu baru menemui aku,"
Rasa curiganya lebih tebal namun akhirnya tetap tenang, katanya .
"Mereka berkata ada mata mata musuh yang menyelundup kegedung, apa kau sudah tahu ?"
Li Ci-hong pura pura kaget, tanyanya.
"Ada kejadian itu ? Benar benar nyali mata-mata itu."
"Maka itu, aku buru buru kemari memperingatkan kau supaya hati-hati."
"Tempatku ini burungpun tidak akan bisa masuk, bu, kau tidak usah kuatir."
"Mata-mata sembunyi dalam gedung pastilah ada mata kaki tangannya yang bantu menyembunyikannya. Sekarang bagian luar sudah diperiksa, hasilnya tetap nihil."
"Bu, kau berkata begitu, seolah-olah mencurigai aku inilah kaki tangan musuh?"
Ia pura-pura bersikap berkelakar, namun jantung berdebur keras. Lo hujin geleng geleng kepala, katanya;
"Kau budak yang tidak tahu urusan ini, bukan kau yang kumaksud, tapi itu pun harus memperhatikan pelayan pelayanmu sendiri."
Sementara dalam hati ia membatin pula.
"Kalau dia betul menyembunyikan laki-laki liar bila sampai disuruh keluar, tentulah kita semua ikut mendapat malu. Kalau urusan tidakdiselidiki biar beres ayahnya menjadi sulit memberi pertanggungan jawab kepada Wanyen Siau-ong ya."
O^~dwkz^hendra~^O
Jilid 26 Catatan . Pada
Jilid 26 ini, buku yang kami terima...Mulai halaman 33 sampai tamat pada buku aslinya semua bagian bawah kiri dan kanan, maka saya mencoba merangkai sendiri kata-katanya.
Semoga kagak jauh menyimpang dari buku aslinya.
Thanks, Kangzusi "Pelayanku sejak kecil sudah mengasuh aku, memangnya mereka punya nyali sebesar gajah berani main menyembunyikan mata-mata.
Kukira hanya kabar angin belaka, bahwasanya tidak pernah ada mata-mata menyelundup kegedung gubernuran, mereka hanyalah orang-orang goblok yang ketakutan pada bayangannya sendiri."
"Semoga begitu, semua boleh merasa lega dan tenteram."
Melihat ibunya tiada niat memeriksa kamar pelayannya, rada lega hati Li Ci hong. Mendadakberkata pula Li hujin.
"Hong ji kedatanganku bukan hanya karena urusan mata-mata saja."
"Masih ada urusan apa lagi?"
"Urusan ini jauh lebih penting daripada persoalan mata mata itu bagi kau."
Waktu bicara roman mukanya mengunjuk mimik tertawa tidak tertawa. Li Ci hong memonyongkan mulut katanya.
"Bu, kenapa sih kau hari ini bicara plagak pleguk, sebetulnya ada urusan besar apa?"
"Betul pertanyaanmu mengenai urusan masa depanmu. Pangeran Wanyen sedang menetap dirumah kita, apa kau tahu?"
Kaget dan dongkol pula hati Li Ci hong teriaknya.
"Bu, kau apa katamu?"
"Sstt, kenapa ribut ribut biar kuberitahukan perlahan-lahan."
Mulut Li Ci hong menyungging senyuman dingin, katanya;
"Kalian anggap pangeran Wanyen sebagai barang mustika, sebaliknya aku tidak perduli barang apa dia adanya. Baik katakan apa keinginanmu?"
Ia tahu ia bikin ribut juga tidak berguna, pikirnya;
"Tentara datang kita tangkis air datang kita bending, aku harus tahu diri dan jelas pihak lawan, biar kulihat perhitungan apa yang hendak mereka perlihatkan kepadaku supaya aku bisa mencari jalan untuk menghadapinya."Lo hujin mengerut alis, katanya.
"Ci hong semakin besar kenapa kau menjadi tidak tahu aturan, untung kau berkata dalam kamarmu sendiri. Tahukah kau siapa yang memberi jabatan gubernur Liang ciu ayahmu ini? Biar kuberitahu kepada kau. Anugerah langsung diterima dari raja Kim, tapi yang angkat bicara dan menjadi juru bicara, serta menjadi sanderanya bukan lain adalah ayah dari pangeran Wanyen ini."
Berpikir Li Ci hong dalam hati.
"Ayah terima menjabat pangkat kerajaan Kim itu berarti merendahkan derajat dan martabatnya sendiri."
Sebetulnya dia ingin mendebat dan bikin ribut dengan ibunya, tetapi karena Geng Tian sembunyi dikamar belakang, terpaksa ia tekan perasaannya.
Melihat putrinya tidak gembar gembor, Lo-hujin anggap putrinya sudah terbujuk oleh kata-katanya, maka dengan riang gembira dia pun melanjutkan perkataannya;
"Syukurlah kalau kau paham beruntunglah nasibmu karena pangeran Wanyen suka pandang dirimu."
Li Ci hong berkata dingin.
"Aku belum pernah melihatnya cara bagaimana dia bisa melihat diriku."
"Jangan kau main debat melulu. Meskipun dia belum pernah melihatmu namun sudah amat kangen dan kepincut olehmu."
"Ooo aneh ya, aku kan bukan tokoh kenamaan dan dia tinggal dikota raja lagi, cara bagaimana bisa tahudiriku, malah kangen dan kepincut segala kepadaku??"
"Siapa suruh kau tidak mau menjadi putri bangsawan dengan baik baik, sebaliknya malah suka menjadi gadis liar. Kau sering kelayapan kemana-mana, main terobosan dengan engkohmu bukan mustahil bila orang pernah mendengar namamu? Tetapi liarmu juga ada baiknya hal ini betul betul diluar dugaanku. Apa kau tidak ingin tahu bagaimana pangeran Wanyen memuji dirimu???"
"Baiklah, cobalah ibu ceritakan kepadaku."
"Kemarin begitu bertemu dengan ayahmu dia lantas menanyakan perihal kalian kakak beradik. Ayahmu memberitahu bahwa engkohmu sudah pimpin pasukan pelopor berangkat ke Ki lian san, lalu dia memuji katanya putramu seorang pemuda yang berbakat dan punya masa depan yang cemerlang putrimu adalah kesatria dikalangan kaum hawa secara panjang lebar dia memuji muji kau. Jelas sekali agaknya dia mengharap bisa bertemu sekali dengan kau."
"O, masa dia punya maksud demikian? Mungkin ayah sendiri yang main tebak maksud hati orang lain. Bukankah orangpun memuji koko ?"
"Budak bodoh dia memuji engkohmu hanya untuk melengkapi basa basi saja, justru kau adalah orang yang betul betul ingin dia jumpai. Bukan saja dia ingin bertemu dengan kau mungkin juga ada hasrat hendak meminangmu. Setelah dia mengobrol panjangIebar, Cian tayjin segera ikut menimbrung secara kelakar dikatakan bahwa pangeran sampai sekarang masih belum mempunyai jodoh, coba kau pikir kenapa dia harus berkata demikian? Orang yang bodohpun pasti paham kemana juntrungan kata-katanya."
Li Ci-hong menjadi rada lega, pikirnya.
"Untung dia masih belum mengajukan pinangan secara resmi."
"Ayahmu sudah merundingkan hal ini dengan aku, betul betul perjodohan anugerah Thian. Maka sengaja aku kemari untuk memberitahu hal ini kepada kau, asal kau menganggukkan kepala segera aku siap minta Cian tayjin untuk menjadi comblangnya."
"Aku tidak setuju."
"Pasangan yang setimpal yang sulit dapat kau temukan meski kau memasang obor mencari kemana-mana, kau tidak setuju?"
"Kalian ingin menjilat dia, itu urusan kalian sendiri. Aku tak mau perduli."
Kaget dan jengkel pula Lo-hujin dibuatnya, katanya gelisah.
"Mereka telah memberikan bisikan, eh bagaimana baiknya?"
"Orang she Cian itu toh belum menjadi comblang, kenapa harus memberikan jawaban segala? Anggap saja pura-pura tidak tahu atau masa bodoh habis perkara."Bertaut alis Lo hujin, katanya.
"Omongan bocah bodoh, kau boleh pura pura bodoh memangnya ayahmu mana bisa pura pura bodoh?"
"Peduli bagaimana kalian menghadapi mereka, pendek kata aku bersumpah tidak sudi menikah dengan Wanyen Hou!"
"Baik, kalau begitu kuturuti keinginanmu, soal pernikahan ditunda sementara. Tapi sekarang kau harus ikut aku keluar dulu."
"Untuk apa keluar?"
"Hanya untuk bertemu muka dengan dia saja!"
"Aku tidak mau!"
"Orang sudah menanyakan dirimu kau hanya keluar menemuinya saja. Inikan cuma sopan santun?"
Dalam hati ia berpikir.
"Setelah melihat ketampanan Wanyen Hou yang gagah ganteng itu bukan mustahil hatinya bakal tergerak."
Maka terpaksa ia mengalah dan menggunakan akal hendak menipu putrinya. Tak nyana Li Ci hong tetap berkata.
"Memang aku gadis liar yang tidak sopan santun, tidak mau ya tidak mau!"
Keruan Lo hujin menjadi gelisah dan uring uringan dengan cara halus gagal terpaksa menggunakan kekerasan.
"Ayahmu yang suruh kau keluar berani kau tidak mendengar perintah ayahmu?"Li Ci hong menjadi dongkol juga katanya nekad.
"Kau anggap aku ini seekor anjing atau kucing boleh dituntun keluar untuk diperlihatkan kepada pembeli?"
Berubah air muka Lo hujin, katanya dengan gemetar;
"Kau mana boleh kau bicara demikian, ayah-bunda mengasuhmu sampai besar sekarang kau tidak ambil perduli lagi terhadap kami?"
Tak tertahan bercucuran air mata Li Ci hong katanya.
"Bu, biasanya kau paling sayang padaku. Orang menghina kau malah bantu orang menghina anakmu? Bu, apakah kaupun menghargai pribadiku?"
Mendengar kata katanya ini tidak tertahan lagi meleleh air mata Lo hujin, tiba tiba dia menghela napas, katanya.
"Anakku, memangnya kau kiranya aku rela direndahkan? Aih tapi kau tidak tahu ...."
"Tidak tahu apa?"
Loh hujin ulapkan tangannya menyuruh pelayan Li Ci-hong keluar, dia menutup pintu dan berkata lirih.
"Kulakukan ini demi kebaikanmu tahu tidak?"
Li Ci hong sangka ibunya masih hendak membujuk dirinya menyetujui perjodohan ini, katanya dingin.
"Mungkin demi kepentingan ayah belaka."
"Hongci yang kubicarakan sekarang bukan soal jodoh. Kau harus bicara sejujurnya kepadaku."
Terkejut Li Ci hong tanyanya.
"SoaI apa aku harus jujur?"Apa yang dia kuatirkan ternyata tercetus juga dari mulut ibunya.
"Bocah she Geng itu apakah benar kau yang menyembunyikannya?"
Merah mata Li ci hong, rengeknya.
"Bu dari mana kau dengar obrolan ini? Kau anggap orang macam apa putrimu sendiri ini?"
Lekas Lo hujin memeluknya, katanya berbisik dipinggir kuping;
"Aku ingin melindungi kau, jangan kau bikin ribut biar kubicara terang terangan dengan kau."
Semula Li Ci hong hendak tetap mungkir serta mendengar kata kata ibunya seketika ia menjublek dibuatnya. Lo hujin menghela napas, katanya menyambung.
"Kalau tidak itulah baik. Kalau mata-mata itu ketangkap basah di tempatmu ini, urusan pasti menjadi besar. Bukan saja kami ibu beranak malu bertemu dengan orang mungkin ayahmupun bakal ketimpa malang.'' "Berani Wanyen Hou hendak memeriksa kamarku?"
"Terhitung dia suka memberi sedikit muka kepada ayahmu, dia suruh ayahmu turun tangan sendiri!"
"Oh, jadi ayah minta aku keluar menemui Wanyen Hou, disaat aku tiada dikamar baru dia menyuruh para anak buahnya masuk menggeledah?"
"Ayahmu sudah merundingkan hal ini dengan aku mungkin memang hanya itulah cara satu-satunya supaya kedua pihak tidak mendapat malu. Coba kaupikir kalau kau hadir disini mata-mata itu berhasil diringkus dikamarmu betapa runyam dan memalukan keadaan waktu itu!"
"Apa Wanyen Hou tahu dan yakin kalau mata mata musuh pasti berada didalam kamarku?"
"Tidak perlu kau merahasiakan lagi, ada orang memberi laporan rahasia kepada Cian Tiang jun, katanya mata mata itu kalian kakak beradik yang menyembunyikan. Mereka sudah menggeledah kamar engkohmu; hasilnya nihil maka sasaran berikutnya adalah kamarmu itu. Tapi dikata Wanyen Hou menyukai kau memang benar, oleh karena itu kalau kedua pihak menghindarkan diri dalam keadaan serba runyam itu meski mereka berhasil menangkap mata mata itu dikamarmu paling hati masing tahu sama tahu. Bukan saja kau tidak mendapat malu ayahmu pun terlindung masa depannya. Sekarang waktunya sudah mendesak lekas kau ikut aku keluar."
"Berani benar Wanyen Hou membatasi waktuku untuk keluar menemui dia? Kalau aku tidak mau keluar mau apa?"
"Wanyen Hou memberi waktu setengah jam kalau kau tidak keluar dia yang akan datang menemui kau!'' Naik ke kepala amarah Li Ci hong serunya.
"Terlalu menghina orang berani dia kemari biar aku adu jiwa sama dia!""Untung ruginya sudah kujelaskan kepada kau kenapa kau masih begitu kukuh? Sudahlah kau mengalah sedikit dari pada orang main geledah dihadapanmu, bikin malu kau sendiri."
"Sudah kukatakan paling paling aku adu nyawa sama dia!"
"Omongan bocah cilik, adu jiwa memangnya bikin beres urusan? Jangan kata kau tidak mampu melawan dia apalagi bila kau melabraknya bagaimana kau suruh ayahmu ambil tindakan?"
Tak tahan suara Li Ci hong semakin keras.
"Kenapa tidak mampu melabraknya, heran sungguh aku tidak habis mengerti kenapa ayah begitu takut kepadanya? Asal ayah bisa ambil putusan dan sikap yang teguh meski ilmu silat Cian Tiang jun lihay dengan Wanyen Hou cuma dua orang saja! Disini adalah liangciu kekuasaan ayah, toh bukan kotaraja negeri Kim mereka!'' Mendengar putrinya hampir saja mengatakan berontak saja saking kagetnya pucat pasi muka Lo hujin. Lekas ia tutup mulut putrinya, katanya.
"Sekali2 jangan kau sembarang bicara ayo ikut aku keluar, keluar!"
Tetapi sudah terlambat, saat itu mereka sudah mendengar suara percakapan Wanyen Hou dan ayahnya yang sedang mendatangi.Terdengar ayahnya berkata.
"Siau-ongya, budak itu tidak tahu sopan santun terpaksa harus bikin susah kau untuk menemuinya, sungguh membuat aku malu!"
Li Ih siu bicara menarik suara jelas ia sengaja supaya didengar oleh putrinya. Wanyen Hou tertawa ngakak katanya.
"Lopek, kita sudah sekeluarga kenapa main sungkan. Siauwtit sungguh tak berani terima. Aku terhitung setingkat dengan putrimu bersahabat dengan orang setingkat adalah pantas kalau sang tamu yang menyambangi tuan rumah. Apalagi sudah lama kudengar nama harum putrimu hari ini ada jodoh bertemu, sungguh beruntung tiga turunan."
Sambil bicara mereka terus melangkah kedepan setelah habis kata Wanyen Hou, mereka sudah melewati ruangan, dan masuk kekamar tiba didepan kamar tidur Li Ci-hong.
Li lh siu mengharap putrinya tahu diri, siapa tahu setelah mendengar kata-kata Wanyen Hou yang menjijikkan itu semakin berkobar amarahnya.
Li Ih siu berteriak dengan gugup.
"Hong ci, Siau Ongya menengok kau, kau belum..... Haya kau apa apaan kau ini..."
Ternyata belum sempat Li lh siu mengucapkan buka pintu, pintu kamar tidur Li Ci hong sudah terbuka, bukan saja terbuka, dilihatnya pula Li Ci hong dengan rambut awut awutan berdiri tegakdiambang pintu, tangannya mencekal dua bilah golok baja yang berkilauan.
Karuan Li Ih siu tertegun saking kaget, demikian pula Lo hujin yang berada didalam kamar ketakutan.
"Oh anakku jangan........"
Gerak gerik Li Ci hong cukup cepat, Lo hujin hendak merintangi sudah terlambat. Belum lenyap suaranya "Blang"
Cepat sekali Li Ci hong sudah menutup pintu kamarnya, ibunya terkurung didalam kamar desisnya.
"Yah, aturan dari keluarga mana ini ? kalau terima dihina dan direndahkan, aku tidak sudi dihina dan diremehkan."
"Anak celaka,"
Teriak Li Ih siu saking kaget dan marah, kedua kakinya ternyata tidak turut perintah hendak maju menarik putrinya tapi tidak mampu bergerak.
Selintas Wanyen Hou tercengang, tapi lekas sekali ia sudah dapat membawa sikap, katanya tertawa.
''Kabarnya perempuan Han sering mengajukan persoalan untuk menguji calon suaminya!
kami bukan orang sekolahan, putrimu hendak menguji aku dengan kepandaian ilmu silatkan sama saja !
Sekali kali Lopek jangan marah kepadanya."
"Mulut anjing tidak tumbuh gading, lihat golok !"
Damprat Li Ci hong, pikirnya tumben ada kesempatan, ganyang saja Wanyen Hou supaya ayah terdesak untuk berontak.Ia tahu ilmu silat Cian Tiang jun amat tinggi, melihat orang tidak ikut datang maka ia tidak pandang sebelah mata kepada Wanyen Hou.
Adalah diluar tahunya bahwa warisan iImu silat keluarga Wanyen Hou amat lihay kepandaiannya, bahwasanya sudah lebih tinggi dari Cian Tiang jun.
"Baik nona Li jikalau aku lulus dari ujianmu aku tidak akan minta lainnya kecuali kau mengijinkan aku masuk kamar tidurmu."
"Menggelindinglah pergi !"
Bentak Li Ci-hong dengan jurus Heng-hun-toan hong, golok panjangnya menusuk tenggorokan orang sementara golok pendeknya memapas pergelangan tangan, sekali mengebas lengan baju Wanyen Hou menggubat goloknya, tanpa kuasa Li Ci hong terseret berputar setengah lingkaran, dengan sendirinya tusukan golok panjangnya mengenai tempat kosong.
"Letakan kedua golokmu !"
Ujar Wanyen Hou tertawa, belum habis bicara tiba tiba "Trit"
Lengan tergores gores oleh golok pendek, berhasil menyabet goloknya lekas Li Ci hong membentak sengit.
"Hari ini ada kau tiada aku !"
Ternyata meski Iwekang Li Ci hong jauh lebih asor dari Wanyen Hou tapi Wanyen Hou kuatir melukai orang, maka orang tidak mengerahkan tenaga.
Ilmu golok Li Ci-hong cukup lihay dan lincah, begitu lolos dari kepungan, goloknya lantas membacok dari atas, sementara golok pendek menusuk lambung daribawah keatas.
"Sret sret sret"
Beruntun beberapa kali menyerang dengan jurus jurus yang ganas dan berbahaya, Wanyen Hou kena didesak mundur tiga langkah.
Kebat kebit jantung Li Ih siu melihat kekurang ajaran putrinya bentaknya gemetar.
"Budak celaka ingin bikin aku mampus saking jengkel !"
Wanyen Hou tertawa katanya.
"Putrimu hanya ingin jajal ilmu silat saja kenapa Lopek harus marah ?"
Belum habis bicara tiba-tiba terdengar "Trang"
Kedua golok Li Ci hong lepas terpental bersama jatuh berkerontangan dilantai.
Ternyata setelah sepuluh jurus, Wanyen Hou telah dapat meneliti jalan permainan goloknya, didapati sebuah titik kelemahan sigap sekali ia sudah berhasil menotok jalan darah pelemas ditubuhnya.
Li Ci hong tidak kuasa berdiri tegak, badannya terhuyung mundur beberapa langkah dan lututnya terasa lemas, akhirnya jatuh duduk di atas tanah.
Wanyen Hou nyengir katanya.
"Kesalahan tangan belaka harap nona tidak marah!"
"Berani kau menyentuh aku biar aku mati dihadapanmu !"
Mendengar ancaman orang Wanyen Hou tidak berani sembarang bertingkah, katanya.
"Mana Siau ong berani kurang ajar, silahkan nona beristirahat !"Maki Li Ci hong.
"kau berani terobosan kedalam kamarku, bukan saja kurang ajar kau pun tidak tahu aturan ! Ibuku berada didalam kau tahu tidak ? Bu, kau harus tahan di luar !"
Li Ih siu berlega hati, Li Ci hong secara kebetulan merangkak bangun, tahu-tahu tangannya sudah dipegang kencang oleh ayahnya. Li Ih siu berbisik kepadanya.
"Siau ongya sudah memberi muka kepada kau, jangan kau bikin gara-gara lagi !"
Hiat-to Li Ci hong tertutuk, maka tenaga tidak bisa dikerahkan, didengarnya "Brak", Wanyen Hou sudah mendorong terbuka pintu kamarnya, katanya tertawa.
"Tadi sudah kami bicarakan, jangan kau salahkan aku. Aku tahu Pekbo didalam, kebetulan aku hendak menghaturkan selamat kepada dia orang tua."
Saking marah kedua mata Li Ci hong melotot memutih, namun apa boleh buat terpaksa ia awas orang masuk kekamarnya.
Sudah tentu ibu Li Ci hong tidak melihat kejadian diluar, tapi kupingnya dapat mendengar tahu putrinya terhina, batinnya sungguh amat terpukul, waktu Wanyen Hou melangkah masuk, kebetulan ia berpaling menyeka air mata.
Sikap Wanyen Hou memang teramat hormat, bersoja dalam, katanya .
"Terpaksa Siautit harusterobosan dikamar putrimu ini, harap Pek bo maafkan sekarang kuhaturkan selamat sejahtera kepada kau !"
"Putriku berlaku kurang ajar kepada pangeran, kitalah seharusnya yang mohon maaf kepadamu."
"Adakah jejak mata-mata itu sudah ketemu?"
Tanya Wanyen Hou merendahkan suara.
"Pindahkan ranjang ini sebelah belakang ada pintu rahasia. Disana adalah kamarnya pelayan, coba kau masuk melihatnya."
Ternyata waktu Lo hujin terkurung sendiri di dalam kamar itu, ia sudah menemukan pintu rahasia itu, sudah tentu iapun curiga bila mata-mata disembunyikan didalamnya.
Tapi diapun tidak berani masuk memeriksanya, maka dia hanya memberitahukannya kepada Wanyen Hou.
Dihadapan orangtuanya Wanyen Hou menghina dan mempermainkan putrinya, sudah tentu hatinya amat dongkol dan kurang senang.
Akan tetapi betapapun dia harus membantu Wanyen Hou, tidak mungkin malah dia bantu mata-mata itu.
Pikirnya.
"Bencana sudah terjadi karena kesalahan putriku sendiri, lebih baik biar Wanyen Hou menangkap mata mata itu dan paling tidak hanya bisa meringankan kesalahan dan mendapat ampun."
Disebelah luar Li Ci hong mendengar Wanyen Hou sedang menggeser ranjangnya ia tahu bahwa ibunya sudah menemukan rahasia itu dan memberitahukepada Wanyen Hou.
Semula ia mengharap ibunya suka bantu dirinya merahasiakan, tak nyana ibunyapun menjual kepercayaan.
Saking marah seketika ia jatuh semaput.
O^~dwkz^hendra~^O In Tiong Yan kembangkan ginkangnya yang tinggi, malaikat tidak tahu setanpun tidak merasa tahu sudah masuk kegedung gubernuran Liang-ciu.
Disaat Ciang Tiang jun mengadakan penggeledahan besar besaran disebelah luar secara diam2 ia sudah masuk kehalaman dalam.
Disaat Li Ci-hong dan Geng Tian berunding secara rahasia didalam kamar, In-tiong yan sudah mendekam diluar jendela mencuri dengar.
Diam diam ia tertawa geli, batinnya .
"Agaknya Geng Tian mendapat rejeki nomplok, ternyata putri Gubernur Liang-ciu ini jatuh cinta kepadanya. Nona Nyo yang dia katakan itu tentu Siau-moli adanya ? Tak nyana nona bangsawan ini juga jelus kepada Siau moli, mungkin Siau-moli sendiri masih belum tahu malah ?"
Tengah berpikir pikir, tiba tiba didengarnya suara tertawa dingin, In tiong-yan kaget, cepat benar gerakan orang itu.
"Oh kiranya seorang perempuan !"
Dilihatnya diujung gerombolan kembang sana, lapat lapat menonjol keluar ujung baju warna merah.
In-tiong-yan menduga pasti perempuan itu adalah Siau-moli, tapi dalam keadaan seperti itu tidak mungkin ia unjuk diri untuk bertemu dengan orang.
Didengarnya Li dan Geng berdua yang ada dikamar, juga main curiga, semakin geli hatinya.
Tak lama kemudian Lo-hujin pun datang disusul Wanyen Hou ikut masuk.
In tiong yan lekas berkeputusan, disaat Wanyen bergebrak dengan Li Ci hong, perlahan lahan ia dorong jendela kamar pelayan itu terus melompat masuk.
Pelayan itu sedang memperhatikan keributan diluar dengan hati kebat kebit, In-tiong-yan sudah berada di belakangnya sedikitpun ia tak tahu Ing tiong yan lalu menotok Hiat-tonya dengan ulapan tangan ia memberi tanda kepada Geng Tian supaya jangan bersuara, lalu dia bopong pelayan itu keatas ranjang dan kemudian menurunkan kelambu, lalu ia buka pintu rahasia itu, berjalan keluar dengan lenggang kangkung.
O^~dwkz^hendra~^O Baru saja Wanyen Hou menggeser ranjang itu, baru saja ia mencari tombol cara membuka pintu rahasia itu tiba tiba didengarnya suara berkeriut, daun pintu rahasia itu tiba-tiba membuka sendiri, disusul seorang gadis beranjak keluar.
Sudah tentu kejut Wanyen Hou bukan kepalang.
Teriaknya tak tertahan.
"Tuan putri kaukah ini?"In tiong-yan tertawa cekikikan, katanya.
"Seharusnya kau tahu aku adanya, aku toh sudah beritahu kepada Sebun Cu ciok, kukatakan hendak menemui kau disini. Memangnya dia berani tidak lapor kepada kau ?"
Wanyen Hou unjuk tawa dibuat buat, katanya .
"Sebun Cu ciok sudah menyampaikan pesan tuan putri kepadaku, semula aku masih belum percaya bahwa tuan putri betul betul hendak berkunjung kepadaku."
"Memangnya kau kira aku orang yang suka membual, kalau sudah kukatakan hendak mengunjungimu, tentu aku datang!"
"Tidak berani kuterima kehormatan sebesar ini, tetapi sungguh aku tidak habis pikir tidak menduga ..."
"Kau tidak menduga aku bakal muncul di dalam kamar ini bukan ?"
"Ya, aku betul betul tidak menyangka."
"Dengan Li siocia aku teman kental, dia menjadi tuan rumah disini, sudah tentu aku harus menemuinya dulu baru menemuimu. Kukira untuk ini tidak perlu harus memberitahu dulu kepada dirimu bukan???"
Wanyen Hou tahu apa yang dikatakan itu hanyalah bualan belaka namun ia tidak berani membongkar bualan orang, ia terpaksa hanya mengiakan saja, katanya dengan serba kikuk.
"Ya ya ya, harapmaafkan aku tak mengetahuinya bila tuan putri berada disini, jadi membuat ribut dan kaget saja !!"
Melihat Wanyen Hou bersikap hormat dan munduk kepada In tiong yan, serta memanggil tuan putri segala, Li Ih siu tercengang heran, pikirnya.
"Entah tuan putri dari negeri mana dia? Cara bagaimana putriku bisa berkenalan dengan dia ?"
Terpaksa ia lepas pegangan putrinya, lalu melangkah maju sambil menyapa sebagai tuan rumah.
"Li congkoan,"
Katanya.
"Mari kukenalkan nona ini adalah tuan putri Polesi dari negeri Mongol."
"Hanya tuan putri sudi berkunjung ketempatku yang kotor ini. Siau kong sungguh sangat bangga dan mendapat kehormatan tinggi. Hong-ji, kau sudah lama kenal dengan tuan putri, kenapa tak pernah beritahu pada aku?"
Sementara dalam hati ia membatin.
"Kiranya dia tuan putri dari mongol, tidak heran Wanyen Hou harus munduk munduk kepadanya."
Li-ci hong keheranan tapi dia cukup cerdik dan pandai melihat gelagat ia tahu bahwa In tiong yan sedang bantu dirinya, maka katanya.
"tuan putri tidak suka dipublikasikan, bila sejak lama kuberitahukan kalian tidak mau percaya mungkin bisa anggap dia sebagai mata-mata."
Kata In tiong yan tertawa;
"Sejak lama mereka anggap aku sebagai mata mata. Hm, Wanyen Hou tadi kau datang dengan sikap begitu garang dan mentangmentang, bukankah kau hendak menggeledah kamar menangkap mata-mata?"
Wanyen Hou menyengir tawar sahutnya.
"Dalam gedung gubernuran ada tersiar kabar angin, kabarnya ada mata mata musuh menyelundup masuk kemari."
"Mata mata itu adalah aku."
Jengek In tiong yan dingin.
"Aku sendiri tidak suka jejakku diketahui orang banyak, secara diam diam sudah beberapa kali aku menemui Li siocia. Aku sendiri tidak tahu apakah kedatanganku pernah dilihat orang, mungkin juga salah paham anggap aku sebagai mata mata."
Terpaksa Wanyen Hou unjuk tawa pula, katanya.
"Memang aku terlalu gegabah tuan putrid, kuharap kau tidak berkecil hati?"
"Tidak tahu tidak berdosa sudah tentu aku tidak akan menyalahkan kau, tapi kau membuat keributan ini hal ini terlalu memalukan bagi temanku. Coba pikir seumpama benar ada mata mata memangnya Li siocia orang yang suka menyembunyikan mata-mata musuh? Hehehe, bukan aku sendiri banyak mulut tapi demi kawanku terpaksa aku harus menyalahkan tingkah lakumu yang tidak genah tadi."
Li Ih siu ikut keluar sebelum ia berpesan kepada istrinya,"
Putrimu kuserahkan."
Li Ci hong menarik muka katanya dingin.
"Memangnya aku sudi berkenalan dengan kau, ayo lekas keluar.""Hong Ji, jangan kurang ajar!"
Bentak Lie ih siu.
"Li tayjin bukan putrimu yang kurang ajar!"
Sahut In Tiong yan mulut bicara dengan Li Ih-siu, tapi matanya menatap Wanyen hou. Tersipu-sipu Wanyen hou mengiakan pula;
"Ya ya akulah yang kurang ajar!"
"Baik juga kalau kau sudah tahu,"
Ujar In tiong-yan.
"Aku memang kemari hendak menemui kau, kau kan tidak pantas menemui tamumu dikamar tidur Li Siocia."
Wanyen Hou menahan sabar, pikirnya.
"kupandang kau sebagai tuan putri dari Mongol sementara biar kuberi muka nanti sebentar akan kubuat kau tahu kelihayanku."
Maka ia unjuk tawa pula.
"Peringatan tuan putri memang benar memang aku ingin mengundang tuan putri datang ketempat penginapanku untuk bicara disana."
Li Ih siu ikut keluar sebelum pergi ia berpesan kepada istrinya,"Putriku kuserahkan kepada kau, kau harus mendidiknya baik baik."
Setelah tiba ditempat kediaman Wanyen Hou berkata In tiong yan.
"Lo tayjin kau sudah cukup baik sebagi tuan rumah, silahkan."
Terpaksa Li Ih-siu mohon diri dan berlalu. Wanyen hou menyilahkan orang masuk kekamar buku lalu menutup pintu, ln tiong yan melengak, bentaknya.
"apa yang kau lakukan?""Aku kuatir ada kuping dibalik tembok, kami harus berlaku hati-hati."
"Oh, jadi apa yang hendak kau katakan kepadaku, takut dicuri dengar orang lain?"
"Betul, kabarnya sudah dua tahun tuan putri meluruk ke Tiong-goan ini, sayang ongya baru baru ini mendapat tahu aku jadi kehilangan muka sebagai tuan rumah."
"Betul sudah dua tahun aku berada dinegeri Kim kalian, memangnya kenapa?"
"Tidak apa apa tapi belakangan ini aku mendapat sebuah kabar yang bersangkut paut dengan tuan putri. Aku tidak tahu cara bagaimana aku harus bertindak harap tuan putri suka memberi petunjuk."
"Beritamu cukup cekatan, juga aku harus berterima kasih kepada kau begitu prihatin akan segala beritaku. Katakan saja, soal urusan apa, agaknya mempersulit kau sampai tidak berani sembarangan bertindak?"
Wanyen Hou unjuk tertawa kering, katanya.
"Kim tiang Busu dari negerimu bulan yang lalu pernah menemui aku, dialah yang menyinggung persoalan tuan putri. Dia membawa pesan dari Koksu negeri kalian Liong siang Hoatong, minta supaya aku bantu kesulitannya. Oleh karena itu daripada dikatakan sebagai kenyataan yang membuat aku serba salah."Diam diam mencelos hati In tiong-yan, tapi lahirnya ia bersikap tenang dan wajar, katanya dingin.
"Dia minta kau bantu apa?"
"Kabarnya tuan putri tidak mau pulang, Umong mendapat perintah dari Khan agung negeri kalian, untuk menyambut kau pulang, kau tidak pulang, cara bagaimana dia harus menunaikan tugasnya. Liong-siang Hoatong adalah gurunya, sudah tentu mau tidak mau ia ikut ambil perhatian akan hal ini."
"Alah, katakan saja terus terang mereka ingin kau berbuat apa?"
"Umong membawa perintah Koksu kalian supaya aku bantu menyelidiki jejak tuan putri. Bilamana aku bertemu dengan sang putri tinggal sementara Umong juga berkata, inipun maksud dari pada Khan agung negeri kalian."
"O, jadi kau ingin menahanku disini?"
"Tidak berani. Tapi tuan putri harus tahu, negeri kita selamanya amat menghargai negeri kalian, sebagai negeri kecil tak berani tidak kami harus mematuhi pesan dari negaramu yang besar dan kuat tapi soal "menahan"
Kedengarannya terlalu dipaksakan, aku hanya mengharap tuan putri sudi berdiam beberapa hari disini, setelah urusanku disini beres, segera kuantar pulang."
"Terima kasih akan kebaikanmu tidak perlu aku mendapat bantuan fasilitasmu.""Tuan putri tidak suka aku mengantar, biarlah Koksu kalian sendiri yang datang menjemput kaupun bolehlah. Beliau sekarang sedang berada di Giok-bun koan bersama Umong, jaraknya paling paling hanya tiga empat hari disini."
Bicara pulang pergi pendek kata tidak mengijinkan In tiong-yan pergi demikian saja. Berpikir In tiong-yan.
"Kepandaian Wanyen Hou tidak lemah dari aku ditambah Cian Tiang jun, aku bukan tandingan mereka. Untuk meloloskan diri, aku harus menggunakan akal, jangan pakai kekerasan."
Tiba-tiba tergerak hatinya, katanya.
"Terima kasih kau memberitahukan banyak hal ini akupun punya sebuah berita yang punya sangkut paut amat erat dengan kau, apa kau ingin tahu?"
Wanyen Hou tertegun batinnya.
"Coba muslihat apa yang ingin dia mainkan terhadapku?"
Maka katanya.
"Silakan tuan putri jelaskan."
"Dua tahun aku berada dinegerimu, mungkin kau sudah tahu apa saja tugasku selama ini?"
"Untuk ini Siau-ong tidak berani main tebak."
"Biar aku bicara terus terang kepada kau, aku kemari karena mendapat tugas dari pamanku Dulai untuk menyelidiki keadaan dalam negeri kalian."
Rahasia sudah lama Wanyen Hou mengetahui, tapi tidak ia sangka In tiong yan berani bicara secara berhadapan terus terang kepadanya, katanya tertawa getir.
"Negeri kita selalu setia terhadap negeri kalian,namun negerimu masih begitu curiga kepada kita, kita hanya mengharap hidup damai dan sejahtera, memangnya kita berani main kayu dengan pasukan terhadap negerimu yang kuat dan jaya? Untuk ini harap tuan menyampaikan kepada pamanmu panglima Dulai."
"Dalam hal ini bukan lantaran mencurigai kalian. Bicara mengerahkan pasukan, kukira kalian tidak akan berani. Paman suruh aku menyelidiki situasi negerimu, dalam hal ini ada latar belakang lainnya."
"O, latar belakang apa? mohon jelaskan."
"Kita ingin mencari seorang pengurus rumah tangga yang dapat dipercaya dan pandai bekerja, kau tahu tidak ?"
Wanyen Hou terperanjat, katanya.
"Maaf akan kebodohan Siau ong, apa maksudnya ?"
"Masih belum mengerti ?"
Kata In tiong yang dingin.
"Seperti juga kalian menghadapi negeri Sehe, Li Ih siu bukankah menjadi Pengurus rumah tangga dinegeri Sehe yang kalian bimbing ?"
Seketika Wanyen Hou unjuk rasa kaget katanya.
"Maksudmu negerimu hendak mencaplok negeri Kim kita ?"
"Tidak perlu sampai sedemikian parahnya, bolehlah kami berikan yang jauh lebih baik dari nasib negeri Sehe. Asal negeri Kim kalau suka tunduk dan menjadinegeri jajahan kita, kalian orang she Wanyen sama saja boleh raja negeri Kim tapi...."
Wanyen Hou menjadi tegang, tanyanya.
"Tapi apa ?"
"Tapi raja kalian sekarang, agaknya tidak memperoleh simpatik rakyat maksud paman adalah supaya diganti seorang raja yang lain. Maka salah satu tujuan beliau suruh ke Tionggoan adalah supaya aku menyirapi dan memperhatikan, kira-kira raja mana yang kelak bisa cocok diangkat sebagai penguasa di negeri Kim ini?"
Setengah percaya setengah tidak, hati Wanyen Hou berpikir.
"Kabarnya ln-tiong yan sangat disayang oleh pamannya Dulai, sementara kekuasaan Dulai di Mongol jauh lebih besar dari Khan agungnya, soal ini lebih baik dipercaya dari pada tidak."
Maka dengan perasaan kurang tentram, ia bertanya .
"Bahwa pamanmu punya maksud demikian apakah tuan putri sudah mendapat calon pilihan yang kau anggap cocok ?"
"Sudah kutemukan, yaitu ayahmu."
Kejut dan girang hati Wanyen Hou katanya.
"Oh, ayahku ?"
"Betul, ayahmu pegang kekuasaan militer, sebagai paman dari sang raja, paman mengganti keponakan adalah suatu hal yang jamak dan masuk akal, kelak negerimu untuk mencaplok negeri Song, dalam hal inimasih perlu bantuan kalian ayah beranak untuk membantu, he he, asal kalian ayah beranak suka dengar petunjuk, jabatan raja negeri Kim, aku berani tanggung ayahmu pasti dapat mendudukinya dengan anteng anteng."
Kalau ayah menjadi raja, anaknya jadi pangeran atau calon raja yang akan datang.
Mimpipun Wanyen Hou tidak pernah membayangkan kedudukan agung dan tinggi ini bakal terjatuh ketangannya, mabuk kesenangan menjadi otaknya butak, cepat ia bertekad.
"Keduddukan raja, kami ayah beranak sebenarnya tidak berani mengharap. Tapi pamanmu dan tuan putri begitu ingin menghargai kami, Siau ong benar benar takluk dan berterima kasih, aku bersumpah untuk membalas budi kebaikan ini."
"jadi maksudmu kau suka mendengar petunjuk kita ?"
"Asal persoalan tidak menyulitkan Siau-ong silahkan nona memberi pesan saja!"
Meski dimabuk bayangan muluk-muluk, kata katanya ternyata mempunyai ukuran. Batinnya.
"Kalau dia minta aku melepasnya pergi, biar kugunakan perintah dari Khan besar mereka dan Koksunya untuk menangkapnya."
In-tong-yan sudah dapat meraba jaIan pikirannya, katanya tawar .
"Soal pengganti raja dari negerimu, merupakan rahasia besar Khan Agung dan Koksu kami sendiri tidak mengetahuinya. Sekarang urusandinas dan urusan pribadi belum lagi bisa kubereskan, tak mungkin kujelaskan pula kepada Koksu, maka sengaja aku tidak mau pulang."
Bahwa urusannya tidak mungkin dijelaskan kepada Koksunya, sudah tentu tidak mungkin dikatakan kepada Wanyen Hou pula. Berpikir Wanyen Hou .
"Kabarnya ia mencintai laki laki yang bergelar Hek swan hong, mungkin karena soal asmara, maka ia tidak mau pulang."
Maka dengan suara tergagap gagap ia berkata .
"Ini... soal ini kami sulit untuk aku memberi keputusan sendiri!!"
Berubah air muka In tiong yan, katanya.
"Baik, kau hendak mempersulit aku, terserah kepadamu !"
Wanyen Hou ragu ragu, katanya .
"Mana berani aku mempersulit tuan putri, aku kan masih perlu bantuan tuan puteri."
"Baik juga kalau kau tahu."
"Cuma perintah dari Khan besar kalian, Siau ong sekali-kali tidak berani membangkang. Bagaimana pula Siau ong harus menjelaskan dihadapan."
"Perintah Khan besar kau tidak berani membangkang. Jadi kau berani ingkar terhadap kemauan pamanku? Sudah kujelaskan kepada kau, aku bekerja bagi paman Dulai, tidak perlu dengar perintahnya Khan besar, apalagi pesan Koksu segala."
Bercucuran keringat Wanyen Hou, katanya.
"Ya, ya, Siau ong tidak berani.""Sebetulnya bila kau sendiri tidak membocorkan hal ini, darimana Koksu bisa tahu kau melepaskan aku? Apa pula yang harus kau pertanggung jawabkan? He he, kau minta supaya aku bicara demi kebaikan kalian ayah beranak dihadapan paman Dulai, sekarang kau menahan aku, bagaimana aku harus berbuat demi kepentinganmu? Coba kau pikirkan kalau tidak kau teken kontrak hutang dagang ini terserah kepada kau sendiri!"
Wanyen Hou kertak gigi, batinnya .
"Omongannya jelas tidak bisa dipercaya sepenuhnya, tapi seumpama apa yang dia katakan memang kenyataan, pamannya Dulai hendak mencopot kedudukan raja sekarang menggantikan yang baru yaitu ayahku, bila aku sampai berbuat salah kepadanya, urusan bisa runyam. Ya apa boleh buat, anggap saja sebuah perjudian, kulepas dia tidak membawa kerugian buat aku, kalau urusan menjadi kenyataan, berarti menang pertaruhan besar."
Karena pikirannya ini segera ia ambil ketetapan, kata Wanyen Hou sambil berdiri.
"Baik marilah kuantar tuan putri keluar. Harap tuan putri maafkan akan keteledoranku, dihadapan pamanmu, sukalah bicara baik bagi kami."
"Legakan saja, boleh kau tunggu saatnya untuk menjadi raja kelak, tapi kaupun tidak perlu antar aku biar Li siocia yang antar aku pergi."Wanyen Hou melengak, tanyanya .
"Kau hendak keluar bersama Li siocia?"
"Apa, kau tidak mengijinkan ? Dia adalah temanku, aku akan minta dia menemani aku bertamasya di Liang-ciu."
Berpikir Wanyen Hou.
"Aku sudah berkeputusan untuk bertaruh, kenapa aku harus membuat dia kurang senang ? Memangnya Li Ci hong berani membawa seorang laki Iaki meninggalkan gedung gubernuran itu ?"
Maka segera ia unjuk tawa, katanya .
"Statusku disini pun sebagai tamu mana berani mengurus gerak gerik tuan rumahnya, apalagi Li-siocia adalah teman baikmu. Tuan putri, terlalu berat kata-katamu."
In tiong yan tertawa.
"terhitung kau masih paham aturan. Baik sekarang aku pergi."
Sampai disini pembicaraan mereka, tiba2 didengarnya orang mengetuk pintu, Wanyen Hou lantas membentak.
"Siapa?"
"Inilah aku!"
Sahut suara Cian Tiang Jun diluar. Berkerut alis Wanyen Hou, pikirnya.
"Kenapa Tiang jun tidak tahu urusan, sudah kupesan siapapun dilarang mengganggu aku."
Tapi karena Cian Tiang jun adalah wakil ayahnya, paling tidak masih setingkat lebih tinggi dari dirinya, apalagi urusan besar yang dirundingkan dengan In Tiong yan memang sudah akur, tidak perlu kuatir diketahuiorang, terpaksa dia menahan marah, membuka pintu dan biarkan orang masuk.
Ternyata penggeledahan besar besaran didalam gedung gubernuran kali ini Wanyen Hou mengurus bagian dalam, Cian Tiang jun mengurus bagian luar.
Setelah penggeledahan selesai, dia sendiri pula yang berjaga dipintu besar diluar maka apa yang terjadi dibagian dalam, dia masih belum tahu.
Wanyen Hou berunding didalam kamar rahasia dengan In tiong-yan, meski mereka sudah berpesan kepada penjaga dilarang orang mengganggu, tapi Cian Tiang jun adalah atasan mereka sendiri, dia punya urusan penting yang perlu segera dilaporkan kepada Wanyen Hou lagi, maka para penjaga tidak berani merintangi.
Melihat In tiong yan sudah tentu Cian Tiang junpun amat kaget, lekas ia menyapa tuan putri menyampaikan selamat.
Kata In Tiong yan tertawa .
"Aku dan Siau-ongya kalian sudah jadi orang sendiri, kau ada omongan apa silahkan katakan saja."
Sebetulnya Wanyen Hou ingin lekas lekas mengantar In Tiong yan pergi, karena kata-kata In tiong yan ini, tidak mungkin dia menyingkirkan orang lebih dulu, terpaksa ia berkata.
"Ya, tuan putri adalah orang kita sendiri. Paman Cian, ada urusan apa yang hendak kau rundingkan dengan aku, kebetulan aku bisa mohon petunjuk pula kepada tuan putri."
Cian Tiang jun tahu urusan rada ganjil, tetapi urusan ini mau tidak mau harus Wanyen Hou sendiriyang ambil putusan, pikirnya.
"Geng Tian dan Ceng liong pang bukan saja musuh negeri Kim, menjadi musuh Mongol juga, agaknya tiada halangan dia mengetahui persoalan-persoalan ini."
Maka katanya.
"memang ada urusan yang perlu kami sampaikan kepada Siau ongya, Li hujin dan putrinya barusan meninggalkan gedung gubernuran."
Wanyen Hou kaget, katanya.
"Mereka ibu dan anak sama keluar? Adakah membawa pengikut?"
"Tidak tahu."
"Kenapa tidak tahu?"
"Mereka keluar menunggang sebuah kereta, Lo hujin berada didalam kereta, kami jadi tidak leluasa menggeledah. Entah ada orang sembunyi didalamnya atau tidak."
"Siapa yang pegang kendali?"
"Seorang laki-laki bermata besar beralis tebal, agaknya bukan bocah she Geng itu."
In tiong yan tertawa, katanya.
"Memang ia sudah berjanji hendak tamasya keluar kota dengan Li siocia, mungkin tidak sabar menunggu diriku, maka dia berangkat dulu menanti di tempat yang sudah dijanjikan."
"Siau ong, apakah perlu mengutus orang untuk mengejarnya kembali?"
Maklumlah soal inimenyangkut istri dan putri Li Ih Siu, sudah tentu Cian Tiang jun tidak berani ambil putusan sendiri. Berpikir Wanyen Hou.
"Tadi aku sudah berjanji kepada In tiong yan, biarlah dia keluar bersama Li Ci Hong, biar aku menjadi orang baik sekali ini, bocah she Geng itu masih berkesempatan untuk menangkapnya."
Maka katanya.
"bukankah kau dengar tuan putrid sudah ada janji dengan nona Li? Kalau toh mata-mata itu sudah lari keluar, tidak akan mungkin sembunyi di dalam kereta mereka. Tidak usah kita cape-cape mengubernya dengan sia-sia."
Cian Tiang jun hanya mengiakan saja, hanya dalam hati ia menggerutu.
"Apa yang dikatakan ln-tiong-yan terang hanya bualan belaka, kalau dia hendak keluar tamasya dengan budak itu kenapa Lo Hujin harus mengiringi ?"
"Tapi kejadian ini entah Li tayjin sendiri sudah tahu belum ? Pergilah kau memberitahu kepadanya."
Demikian suruh Wanyen Hou. Cian Tiang jun jadi sadar, pikirnya.
"Betul, biar Li Ih siu sendiri yang mengurus anak bininya saja kenapa aku harus mencapaikan diri."
"Ya! akupun perlu minta diri kepada tuan rumah. Cian ciangkun mari kami bersama menemui Li tayjin."
Apa boleh buat terpaksa Cian Tiang jun dan Wanyen Hou mengiringi In tiong yan menemui Li Ih-siu.
Begitu tiba ditempat kediaman Li Ih siu, seorang Wisu (penjaga) segera memberitahukan kepada Wanyen Hou.
"Li Hujin sudah kembali, dia hanya pulang sendirian. Didalam mereka suami istri sedang bertengkar."
Kiranya meski Lo hujin suka bantu suaminya untuk mempertahankan kedudukan dan pangkatnya namun toh dia amat sayang kepada putrinya.
Setelah kejadian memalukan tadi ia tahu putrinya sulit hidup tenteram didalam gedung besar ini.
Apalagi mata-mata itu sembunyi didalam kamar putrinya, kalau tidak segera diantar keluar kelak akan menjadi bibit bencana.
Maka dibawah tekanan putrinya akhirnya dia nekad, ia sembunyikan Geng Tian didalam kereta, dia sendiri pula yang mengantar meninggalkan gedung gubernuran.
Li Ih siu sedang mencak mencak gusar menyalahkan bininya, tiba tiba didengarnya Wanyen Hou dan tuan putri Mongol berkunjung, tahu bahwa urusan sudah terbongkar, terang mereka datang hendak menuduh perbuatan keluarganya yang memalukan, apa boleh buat terpaksa ia menebalkan muka keluar menyambut.
Tidak menunggu Wanyen Hou buka suara In tiong yan mendahului.
"Kabarnya putrimu sudah keluar kota, apa betul?"Saking ketakutan Li Ih siu pucat pias sahutnya tersendat.
"Ya, ya, aku memang hendak menyusulnya, menyusulnya kembali!"
"Lopek, biarlah putrimu menemani aku tamasya dua tiga hari, kutanggung putrimu tidak akan kurang seujung rambutnya, lusa dia pasti kembali."
Li Ih siu melongo, katanya.
"Omongan tuan putri........."
"Putrimu adalah teman baikku, kami sudah berjanji hendak tamasya beberapa hari diluar kota Liang-ciu. Kami tidak ingin hal ini diketahui orang banyak kami hanya ingin menghibur diri saja terpaksa harus mengelabui kau orang tua."
"Jadi putriku pergi kali ini......."
"Akulah yang menyuruhnya. Hal ini sudah kuberitahu kepada pangeran Wanyen Hou, tidak perlu kau mengutus orang untuk mengejar jejaknya kalau begitu kami kurang senang dan puas bertamasya."
Kalau Wanyen Hou tidak mempersulit dirinya, Li Ih siu sudah amat puas segera berpaling kepada Wanyen Hou ikut mengadu.
"Ya tuan putri bertamasya dengan putrimu tidak suka diketahui orang banyak, bolehlah kau merahasiakan soal ini saja."
Sudah tentu ini membuat Li hujin teramat girang, katanya tertawa .
"Nah, sudah kukatakan akumengantarkan putrimu keluar sudah tentu ada alasannya, masih hendak bikin ribut dan curiga?"
Li Ih siu tahu kata kata istrinya mengandung arti lain, terpaksa diapun tidak memperpanjang urusan, katanya unjuk tawa.
"Ya, ya. Aku tidak tahu hal ini adalah kehendak tuan putri, sungguh aku bikin ribut sendiri dan bikin reka saja."
Setelah menolong kesulitan Li Ih siu diam-diam In tiong yan amat geli, waktu Wanyen Hou mengantar dia sampai dipintu besar, dengan langkah gemulai seenaknya ia beranjak kegedung gubernuran.
Setelah berada diluar In tiong-yan berpikir.
"Li Ci-hong menolong Geng Tian, pastilah langsung menuju ke Ki lian san. Hal ini Nyo Su gi belum tahu, aku harus memberikan kepadanya."
Nyo Su gi dan Ong Kiat sembunyi dirumah seorang anggota Ceng liong pang maka In-tiong yan mencarinya kesana sesuai alamat yang diberikan Ong Kiat kepadanya.
Maklum sebagai kuli orang, rumah tinggalnya adalah gubuk pendek yang terbuat dari tanah liat, para tetangganya semua adalah orang orang miskin yang hampir sama kehidupannya, rumah disinipun dibangun seragam.
Untung Ong Kiat ada memberitahu suatu tanda rahasia yang lain dari yang lain, tanda itu adalah guntingan kertas merah yang menggambarkan seekor kupu kupu ditempelkan pada pintu jendela.
Maka dengan mudah ia menemukannya.Waktu sudah dekat dan melihat tanda rahasia itu, mau tidak mau timbul rasa curiganya.
Memang daun jendela ditempel sebuah kertas merah kupu-kupu, tapi waktu ia lihat kupu kupu itu sudah tersobek separo, bekas ditempel pula dengan lem, ditengahnya nampak sekali ada bekas bekas sobekannya.
ln tiong yan membatin.
"Mungkinkah terjadi sesuatu? Kalau tidak kenapa guntingan kertas itu harus disobek lalu ditempelkan pula? kupu-kupu yang tersobek pertanda adanya apa apa. Ong Kiat tidak menjelaskan."
Tapi In tiong yan mengandalkan ilmu silatnya tinggi maka nyalinya besar, kedua Wanyen Hou memerlukan tenaganya seumpama bentrok dengan anak buahnya iapun tak perlu takut, perduli apa yang terjadi di dalam segera ia melesat terbang melewati pagar tembok pendek masuk hendak memeriksa keadaan didalam.
Keluarga yang menyamar diri sebagai kuli orang ini menempati rumah yang bobrok dan serba kekurangan, bagian belakang adalah dapur dan bagian luar adalah sebuah pekarangan kecil, bagian tengah hanya terdapat sebuah kamar tidur, selintas pandang keadaan dalam rumah, dapat dilihat jelas tampak keadaan dalam rumah morat marit tiada bayangan seorangpun.
In tiong yan menyalakan pelita, dengan cermat ia memeriksa akhirnya menemukan di bawah bantal selembar kertas dijemput.
Diatas kertas ada dua baristulisan kecil yang berbunyi;
"Tempat ini sudah diperhatikan cakar alap, jangan tinggal terlalu lama."
In tiong yan berlega hati pikirnya.
"Mereka sudah tahu bila tempat ini tidak aman lagi sudah tentu pindah ketempat lain."
Jadi Nyo Sugi bukan tangkap sudah tentu In tiong yan berlega hati.
Disaat ia hendak tinggal pergi tiba tiba didengarnya kesiur lambaian pakaian orang berjalan malam melesat lewat diatas genteng.
In tiong yan mengira cakar alap alap musuh yang meluruk datang, pikirnya.
"cakar alap alap hanya seorang, biarlah aku tidak usah menyebutkan diriku biar kuhajar."
Tengah ia menimang nimang orang itu sudah melompat turun dari atap rumah, pikir In tiong yan pula.
"Ginkang orang ini lumayan juga."
Diam diam tangannya sudah menggenggam tiga butir kacang kuning yang diraihnya dari gentong didalam kamar terus ditimpukkan ke arah bayangan hitam itu.
Walau dia tidak menguasai kepandaian memetik daun kembang terbang untuk melukai dan membunuh orang, tapi karena butir kacang kuning ini bila telah menyerang Hiat to orang cukup dapat membuat orang pingsan beberapa jam lamanya.
Dia tidak menggunakan senjata rahasia memang dia tidak ingin melukai orang.
Lekas orang itu mengebaskan lengan bajunya ketiga butir kacang kuning itu kena digulung danjatuh ketangannya.
Agaknya orang itu tidak menduga senjata rahasia hanya kacang kuning kelihatan melengak.
Sekarang itu tanpa terasa iapun melongo.
Ternyata pendatang itu adalah gadis baju merah.
Kedua pihak sama tidak menduga dengannya sama sama perempuan keruan sama melengak tapi kilas Iain mereka pun sudah paham.
Pikir In tiong yan kemudian.
"Gadis baju merah yang kemarin berkunjung ke warung tahu Ong Kiat tentulah dia ini. Jadi pasti dia inilah Siau moli adanya."
Nyo Wan cengpun berpikir.
"Perempuan ini pastilah orang yang menerobos masuk kekamar Geng Tian tadi. Dia bantu menyembunyikan jejak Geng Tian tapi berhubungan begitu intim pula dengan Wanyen Hou, entah dia teman atau lawan."
Ternyata Nyo Wan ceng sembunyi dalam gerumbulan kembang tidak melihat jelas keadaan kamar Geng Tian, ia pun tidak melihat raut muka In tiong yan, hanya dari bayangan punggung In tiong yan ia tahu kalau dia seorang perempuan.
Waktu itu Li Ih siu dan Wanyen Hou pun sudah datang sementara para centeng gedung mengadakan pemeriksaan besar besaran didalam kebun, tahu dirinya tidak bisa tinggal lama-lama di tempat itu, terpaksa Nyo Wan ceng tinggal pergi sebelum jejaknya ketahuan.
Diwaktu dia melayang naik keatas pohon lapat-lapat dia dengar suara percakapanWanyen Hou dengan seorang perempuan, dalam keadaan yang kepepet sudah tentu tidak sempat lagi ia menaruh perhatian cuma yang diketahuinya bahwa perempuan yang bicara itu jelas bukan Li Ci hong pastilah perempuan yang baru saja masuk ke kamar Geng Tian tadi demikian ia menerkanya dalam hati.
Nyo Wan ceng tidak tahu In tiong yan kawan atau lawan, pikirnya.
"Nyo Sugi tidak kelihatan guntingan kertas di jendelanya pernah tersobek lagi, itulah tanda rahasia khas dari Ceng liong pang. Kebanyakan perempuan ini pasti musuh adanya!"
KIRANYA Nyo Wan-ceng sampai di Ki lian san setelah menghadap Liong pangcu baru ia putar balik menyusul ke liang ciu pula.
Maka dia tahu alamat Ong Kiat, meninggalkan warung tahunya, pernah memberitahukan alamat barunya kepada tetangganya Thio toasiok iapun berpesan dengan jelas alamat barunya ini hanya boleh diberitahukan kepada perempuan baju merah yang tadi pagi mencari dirinya keluar dari gedung gubernuran.
Nyo Wan ceng segera menuju kewarung Ong Kiat kebetulan Thio thoa berjaga disana dan dia segera memberitahu alamat baru itu.
Karena dia harus mampir kerumah Ong-kiat dulu, maka In tiong yan malahan lebih cepat tiba ditempat ini.
Bimbang hati Nyo Wan ceng.
"Sret!"
Dia meloloskan goloknya serta membentak.
"siapa kau?"
"Seperti kau, akupun sedang mencari Nyo-sugi !"Kaget dan heran Nyo Wan ceng dibuatnya, bentaknya.
"Darimana kau bisa tahu Nyo Sugi sembunyi disini? Sebetulnya siapa kau?"
"Kau tidak tahu siapa aku, sebaliknya aku tahu siapa kau !"
"Kau tahu siapa aku?"
Nyo Wan ceng menegaskan.
"Kau siau moli bukan?"
"Kalau benar mau apa?"
In tiong yan tertawa dingin, jengeknya.
"Hm, besar benar nyalimu, Siau moli, tadi berani menyelundup kedalam gedung gubernuran, kau sangka aku tak tahu ya. Biar kujelaskan aku mendapat perintah untuk membekuk dirimu!"
Nyo Wan ceng gusar hardiknya.
"Bagus! Tangkaplah aku!"
Sembari bicara secepat kilat beruntun tiga kali ia membacok kepada In-tiong yan.
Dengan gerakan Hong biau loh hoa, dalam detik-detik yang amat gawat itu In tiong yan berhasil meluputkan diri dari tiga bacokan Nyo Wan-ceng.
Seketika timbul sifatnya ingin menang sendiri, sekonyong-konyong dia ayunkan tangan seraya membentak.
"Sambutlah senjata rahasiaku ini!"
Dengan tangan Nyo Wan ceng memainkan Hong-thiam thau tak nyana In tiong yan hanya main gertak sambal belaka, mana ada senjata rahasia?
Disaat Nyo Wan ceng bergerak berkelit dari sambaran senjatarahasia, tiba tiba In tiong yan enjot tubuhnya melejit keatap rumah.
"Mau lari kemana kau?"
Teriak Nyo Wan Ceng.
"Tempat ini tidak cocok untuk tempat berkelahi, kalau berani kejar aku!!"
Tantang dan olok In tiong yan.
In tiong yan memang ingin menjajal sampai dimana tingkat kepandaian silatnya Siau moli yang sudah ternama itu, sebab lain karena dia tahu rumah ini sudah dibawah pengawasan musuh, maka ia harus memancing Nyo Wan ceng ke tempat lain, baru enak ngobrol.
Sudah tentu Nyo wan ceng tidak tahu isi hati orang, ia menyangka orang sebagai musuh yang diutus untuk mengintil jejaknya.
Maka sebat sekali iapun berkelebat kerahkan ilmu ginkangnya tingkat tinggi menyandak dengan kencang, bentaknya.
"lari keatas langitpun aku tidak akan melepas kau. Ayo mari kita coba kau yang dapat membekuk aku atau aku yang bisa meringkus kau."
Keduanya sama memiliki ginkang yang tinggi, menerjang naik melompat kebawah, begitulah seperti kelinci lari berloncatan beberapa lorong jalan panjang.
Jalan jalan, meski ada pasukan ronda yang mondar-mandir namun mereka hanya melihat dua sosok bayangan putih yang melesat lewat diatas wuwungan rumah, malah ada yang kaget sampai melongo,disangka dirinya melihat setan siluman, ada pula yang anggap pandangan kabur kucek kucek mata, tahu-tahu kedua sosok bayangan itu sudah lenyap.
Begitulah kejar mengejar berlangsung amat cepatnya sekejap mata saja mereka sudah tiba dibawah tembok kota, tatkala itu kebetulan tepat kentongan kelima kira-kira setengah jam lagi hari bakal terang tanah, pintu kota belum tentu lagi dibuka.
In tiong yang menggenjot kaki melambung tinggi, seraya meloloskan Pok-kiam.
"cras"
Ujung pedangnya menusuk amblas ke dalam tembok untuk menahan berat badannya, sementara sebelah tangannya yang lain menekan pedang terus jumpalitan naik keatas tembok.
Dua tentara yang berjaga diatas tembok segera berteriak.
"Hai, ada maling terbang! Ayo lekas tangkap!"
Tidak menunggu mereka meluruk datang, In tiong yan mendahului memapak maju.
"Plak plak"
Kontan ia gampar kedua orang ini sampai terjungkal kebawah tembok. Katanya berpaling kebawah.
"kau mampu naik tidak ? Perlukah kubantu?"
"Siapa sudi kau bantu ?"
Damprat Nyo Wan ceng, segera ia mencopot gelang peraknya terus dibesat sekali menjadi seutas cambuk panjang yang lembut, sekali lompat tinggi berbareng ia ayun cambukIembutnya tepat sekali ujung cambuknya membelit batang bendera diatas tembok begitu kedua kakinya menjejak tembok badannya lantas naik melambung berjumpalitan seperti burung dara sigap sekali ia sudah tiba di atas tembok.
Sebelumnya ia sudah siaga bokong atau sergapan In tiong yan, maka diwaktu ia jumpalitan naik keatas tembok, segera golok pendeknya dikembangkan memainkan jurus Ya pat hong, tak nyana begitu ia berdiri tegak diatas tembok, dilihatnya In tiong yan sudah melompat turun disebelah luar.
Karuan Nyo Wan ceng melenggong heran dan tak habis mengerti, pikirnya.
"kalau dia agen utusan Wanyen Hou kenapa memukul roboh penjaga kota malah ? Tidak menyergapku pula?"
Seketika ia mulai bimbang bahwa orang belum tentu musuh seperti yang ia duga semula tapi untuk mencari tahu sebenarnya, terpaksa ia telah ikuti perbuatan In tiong yan melompat turun kebawah dan melakukan pengejaran kencang pula.
Para penjaga tembok lainnya segera menghujani anak panah, sembari berlari Nyo Wan ceng putar cambuk lembutnya beruntun ia pukul jatuh anak panah, kejap lain anak panah itu sudah tidak mampu candak dirinya.
Cahaya keemasan sudah mulai menongol diufuk timur, sang fajar sudah mendatang.Mereka masih kejar2an dengan kencangnya, saat mana kira kira sudah puluhan lie diluar kota Liang ciu, In tiong-yan angkat langkah lebih dulu sejak mula jarak mereka masih tetap terpaut puluhan tombak jauhnya.
Terhadap Ginkang Nyo Wan ceng yang tinggi itu diam-diam amat kagum dibuatnya, pikirnya.
"Larinya rada tertunda beberapa kejap oleh serangan hujan panah, namun masih bisa mempertahankan jarak puluhan tombak dengan aku, Siau mo li ini memang tidak bernama kosong."
Nyo Wan ceng mengejar terus memasuki hutan, bentaknya.
"Siapa kau sebenarnya ?"
"Siapa she dan nama besarmu aku sendirikan belum tahu juga?"
"Bukankah kau sudah tahu kalau aku ini Siau-moli?"
"Itulah gelaran yang diberikan oleh musuh musuhmu, yang ingin kuketahui adalah she dan nama aslimu?"
"Bukankah kau bersahabat dengan Wanyen Hou? Kenapa kau simpatik kepada bangsa mereka?"
"Akupun punya gelaran yang dinamakan In tiong yan. Tentunya kaupun sudah tahu siapa sebenarnya aku ini?"
Nyo Wan ceng kaget, pikirnya.
"Kabarnya In tiong yan datang dari Mongol perempuan yang kurang jelasasal-usulnya. Ada pula yang bilang bahwa dia seorang tuan putri, apa benar tidak kabar ini?"
"Bukankah kaupun sahabat karib Geng-Tian? Memangnya dia tidak pernah menjelaskan asal usulku kepada kau ?"
Merah muka Nyo Wan ceng, terpaksa ia memperkenalkan diri lebih dulu.
"Aku she Nyo bernama Wan ceng. Apakah kau orang Mongol ?"
Disamping itu timbul juga rasa curiganya.
"Kalau dia kawan Geng Tian kenapa harus menanyakan namaku?"
"Betul,"
Sahut In tiong yan.
"nama Mongolku yang asli adalah Pelosi."
Seketika berubah air muka Nyo Wan Ceng, katanya.
"Ternyata kau memang tuan putri dari Mongol, tidak heran kalau Wanyen Hou harus menyanjung puji kepada kau."
Heran ln tiong yan dibuatnya, katanya.
"Apa kau baru berkenalan dengan Geng Tian?"
Sementara dalam hati ia membatin.
"Kukira hubungannya dengan Geng Tian sudah luar biasa, kenapa dia tahu namaku, kok belum tahu hubunganku sebenarnya dengan Wanyen Hou?"
Berkata Nyo Wan ceng dingin.
"Dengan modal apa kau mencari tahu asal usul diriku ? Bagus, akupun ingin tanya kau, sebenarnya apa yang ingin kau lakukan atas diri Geng Tian dengan Wanyen Hou?"In tiong yan tahu orang salah paham sengaja ia hendak bikin orang marah, katanya.
"Memangnya mengandal apa pula kaupun mencari tahu seluk belukku?"
Nyo Wan ceng tidak sabar lagi.
"Set"
Segera ia menyabet dengan cambuknya. Serunya.
"Ginkang tadi sudah kita lombakan, sekarang bisa aku mohon petunjuk ilmu silatmu."
"Baik, jadi kau mengandalkan cambuk lemasmu ini hendak main tanya denganku? Begitupun baik, mari kita bertanding lagi."
Dalam bicara itu beruntun ia sudah berkelit dan balas menyerang.
Nyo Wan ceng menyerang tiga cambukan, diapun membaIas tiga tusukan pedang, cambuk dan pedang masing-masing tidak mampu menyentuh badan lawannya.
"Ilmu cambuk bagus !"
In tiong yan memuji, mulut bicara pedang berputar menurut gerak badannya, dia mendesak maju kedalam serangan cambuk lawan.
Dengan jurusnya Pat hong ho, pedangnya berhasil menyampokkan pula cambuk lawan kesamping.
Sementara itu pula tangan kiri tiba-tiba menyelonong maju mencengkram pergelangan tangan Nyo Wan ceng.
Jurus ini adalah tipu Siau kim-na ciu yang berarti dilancarkan dalam pertempuran jarak dekat.
Cara bermainnya harus dilakukan sambil menyerempet bahaya, namun serangannya cukup ganas, cepat dan lincah.Dalam pada ini, cambuk lemasnya Nyo Wan ceng sudah keburu dilecutkan keluar dengan sigap terpaksa dia mempergunakan Sip-hiong ciau hoan-hyu, badannya jumpalitan kebelakang, kurang serambut jari-jarinya In-tiong yan mengenai badannya, sedang cambuk lemasnya sudah melingkar menggulung diri In tiong yan.
Dengan tangkasnya In tiong yan melambungkan badannya keatas, maka cambuk lawan hanya menyamber di bawah kakinya, terpaut sedikit tumit kakinya kena digubat cambuk lawan.
Begitu gebrak selanjutnya berlangsung lagi, kedua pihak sama-sama mengeluh didalam hatinya, pikir Nyo Wan ceng.
"Tadi dia sudah merebut inisiatif pelajaran, sebenarnya ia masih mampu melancarkan serangan-serangannya yang lebih lihay, entah kenapa tadi ia tidak melanjutkannya?"
In tiong-yan pun membatin.
"Keadaannya tadi amat gawat, dalam keadaan demikian seharusnya melancarkan jurus-jurus nekad yang mematikan untuk gugur bersama, mungkinkah dia sudah tahu bila aku tiada niatan untuk melukai dia maka serangannya tidak diteruskannya? Ataukah diapun punya pikiran yang sama dengan diriku hanya ingin mencoba kepandaianku melulu?"
Ternyata Nyo wan ceng ingin jajal kepandaian silatnya, diapun ingin tahu sebetulnya In tiong yan dari pihak lawan atau kawan, hal inilah yang menjadi tujuannya.
Bahwa In tiong-yan benar sebagai tuanputri Mongol sudah menimbulkan kecurigaannya, tetapi waktu keluar kota tadi, sengaja orang membukakan jalan bagi dirinya bukankah hal itu jelas sekali tidak mengandung maksud jahat?
Apalagi kini setelah kedua belah pihak bergebrak beberapa jurus dilihatnya In-tiong yan selalu batal melancarkan jurus jurus tipu ilmu pedangnya yang amat lihay, maka hatinya menjadi heran, curiga, dan tidak habis mengerti.
Akan tetapi meski mereka membuang serangan ganas yang lihay toh masing masing berkeinginan menang sendiri, maka jurus hebat yang menakjubkan beruntun diboyong keluar seluruhnya tak putus putus.
Sekejab saja puluhan jurus telah lewat, masih belum ada perbedaan siapa unggul mana yang asor, kebetulan In-tiong yan mendapat suatu kesempatan, dilihatnya titik lobang kelemahan cepat sekali ia merangsek mendekat, kedua jarinya terangkap keras menotok urat nadi lengannya orang, lekas Nyo wan ceng melintangkan golok pendek ditangan kiri serta melintirnya berputar, ejeknya.
"Kau bisa menotok memangnya aku tidak bisa?"
Golok dibuangnya, dengan kedua jari tangannya iapun balas menotok menggunakan King sin ci-hoat ajaran gurunya yang tunggal.
In-tiong-yan bersuara heran dan kaget, sebat sekali ia berkelebat berkelit, tahu-tahu ia sudah melompat keluar dari gelanggang, katanya.
"Agaknya sulit kitamembedakan siapa lebih unggul, pertandingan ini tak perlu dilanjutkan lagi, siapa gurumu?"
Kiranya ilmu totokan King sin ci-hoat yang dipelajari oleh Nyo wan ceng itu adalah sumber pada pedoman gambar lukisan Hiat-totong jin, dikolong langit ini hanya ada dua keluarga saja yang mewarisi ilmu ini.
Yaitu Wanyen Tiang Ci yang menurunkan kepada Wanyen Hou sementara yang lain adalah guru Nyo Wan ceng yaitu Bu-lim-thian-kiau yang mewariskan kepadanya, In-tiong yan banyak pengalaman dan luas pengetahuan, sejak mula ia sudah dapat meraba ilmu silat Nyo Wan ceng jauh berbeda dari ilmu silat dari golongan manapun di Tionggoan, kini berhadapan langsung dengan Kim-sin-ci hoat, segera ia dapat menerka siapa guru Nyo Wan ceng.
"Perduli siapa guruku!"
"Betul manusia hanya dibedakan antara baik dan buruk, kau belajar dengan guru siapa itu tidak penting. Orang Kim, orang Han atau orang Mongol, Masing masing boleh saja untuk mencari guru atau sahabat kita, betul tidak menurut pendapatmu?"
Kata-kata ini seolah-olah mengetuk sanubari Nyo Wan ceng dan menyadarkan pikirannya, kemudian dia berpikir.
"Benar, ia punya darah seorang pangeran dari negeri Mongol, tidak jauh berbeda dengan asal usulku, pangeran negeri Kim boleh menjadi gurukuyang berbudi, tuan putri dari Mongol kenapa pula tidak boleh menjadi sahabat baikku?"
"Sudahlah kita tidak usah berkelahi,"
Ujar In tiong yan.
"Tadi apa yang hendak kautanyakan padaku?"
"Bagaimana keadaan Geng Tian?"
Tanya Nyo Wan ceng. Sebetulnya tadi dia bertanya.
"Apa yang kau lakukan atas Geng-Tian dan Wanyen Hou? Kini ia gunakan separohnya dari pertanyaan semula jelas rasa permusuhannya sudah hilang sebagian besar, tetapi perasaan curiga yang sejak semula dalam hatinya belum lenyap seluruhnya.
"Yaa, akupun harus kasih tahu kepadamu supaya hatimu tidak selalu kebat kebit. Kau mau tahu keadaan Geng kongcu ketahuilah bahwa dia sekarang sudah keluar dari gedung gubernuran!"
Sungguh kejut dan girang sekali hati Nyo Wan ceng, namun ia masih setengah percaya setengah tidak, pikirnya.
"Tok Hok pernah bilang bahwa putra-putri Li tayjin secara diam-diam ada kontak dengan mereka, nona Li itu sudah dan bisa menyembunyikan Geng Tian didalam kamar pribadinya sendiri sudah tentu sepihak dia dengan engkohnya. Tapi dia kenal dengan Geng Tian mungkin hanya karena persoalan hubungan pribadi mereka. Tapi kabar ini tak dapat dipercaya, belum bisa seratus persen aku mempercayai obrolannya."
"Kau tidak percaya penjelasanku?""Seumpama benar Li Siocia mengantarnya keluar, kukira urusan tidak sedemikian gampang bukan?"
Baru saja In tiong yan hendak menjelaskan duduk perkara sebenarnya, tiba-tiba didengarnya langkah kaki orang berlari mendatangi, berubah air muka Nyo Wan ceng, bentaknya.
"Siapa itu?"
Sesaat ia menyangka dirinya sudah terjebak oleh tipu muslihat In tiong yan.
Belum hilang suaranya orang itu secepat kilat sudah berlari datang dihadapan mereka.
Barulah Nyo Wan ceng berlega hati setelah melihat jelas siapa orang itu, ternyata dia bukan lain adalah Nyo Sugi tertua dari Su tay kim kong Ceng liong pang.
Nyo Wan ceng kenal Nyo Sugi sebaliknya Nyo Sugi tidak mengenalnya.
Tapi melihat pada orang berpakaian merah dalam hati ia dapat menebak siapa adanya segera ia berkata.
"In Lihiap ternyata benar kau adanya dan nona ini ...."
"Nona Nyo !"
Ujar In tiong yan.
"Kemarin kan pernah mengunjungi warung tahu Ong kiat bukan ?"
"Eeeh ! Dari mana kau tahu?? Paman Nyo, aku bernama Wan-ceng. Kebetulan aku sedang mencari kau."
"Apakah mendiang ayahmu adalah Nyo Yan seng Nyo Tayhiap ?"
"Benar, beliau adalah ayahku."Baru sekarang Nyo Su gi sadar dan paham katanya.
"Samte Hou-wi pernah berkata kepadaku, tetapi aku masih belum menduga kau adanya. Dari mana kau bisa tahu warung tahunya Ong Kiat itu adalah milik Ceng liong pang kita ?"
"Aku sudah sampai di Ki-lian-san, bertemu dengan Pangcu kalian."
"Cara bagaimana kau bisa kemari ?"
Tanya In-tiong yan.
"Biarlah kuberitahu sebuah berita buat engkau, Geng kongcu sudah lolos dari mara-bahaya!!"
"Apakah kabar itu dapat dipercaya?"
Tanya In tiong yan.
"Dengan cara bagaimanakah dia bisa lolos?"
"Pasti dapat dipercaya. Saudara Ong Kiat pula yang bekerja dalam usaha pengangkutan arang, kebetulan sering memberi jatah arang kegedung gubernuran, setiap dua tiga hari pasti mengirim arang kesana. Kabarnya kemarin malam gubenuran menutup pintu mengadakan razia besar besaran hendak menangkap mata mata, dan melarang orang keluar masuk namun istrinya Li Ih-siu dan putrinya justru menunggang kereta keluar kota, tak lama kemudian terlihat hanya istrinya saja seorang diri yang pulang. Mata mata tidak berhasil ditemukan, putrinya Li Ih-siu malah hilang, bukankah hal ini amat menyangsikan ? Menurut apa yang kuketahui, secara diam diam putri Li Ih-siu itu secara diam diammembantu Geng kongcu, kini terjadi peristiwa ini, dapatlah dibayangkan pastilah nona Li itu sendiri yang mengantarnya keluar kota."
Mendengar penjelasan orang mirip apa yang diuraikan In tiong-yan, hati Nyo Wan ceng menyesal pula, katanya kemudian.
"Paman Nyo kabar yang kau ceritakan mungkin Hun-cici inipun sudah tahu, karena dari semalam diapun berada digedung Li Ih-siu, dalam soal ini mungkin diapun ada menyumbangkan tenaga dan pikirannya."
Nyo Su-gi tertawa, katanya .
"O, aku maIah anggap sebagai berita segar. Kalau tahu demikian akupun tidak perlu banyak bicara lagi."
"Aku sendiri tahu dari penuturan Cian Tiang jun, mungkin kurang tepat. Maka sengaja kutanya kepada kau, untuk membuktikan kebenaran berita ini."
Lalu iapun bercerita akan pengalaman yang dialaminya semalam. Ia duga asal usul dirinya Nyo Sugi pasti sudah tahu, maka iapun tidak perlu main sembunyi sembunyi lagi.
"Kabar kalian yang diperoleh oleh saudara kita itu, adalah bahwa tempat tinggalnya itu sudah diperhatikan oleh cakar alap-alap, semalam sebetulnya Li-sia hendak mengurus para opasnya merazia itu, tapi karena dalam gedung gubernuran sendiri terjadi keributan adanya penyelundupan mata-mata, terpaksa ditunda beberapa waktu lagi, In Lihiap kau pernah mendatangi rumah itu bukan ?""Memang kebetulan aku bertemu dengan nona Nyo di rumah itu, guntingan kertas kupu kupu yang kau sobek itupun juga kami lihat,"
Demikian ujar In-tiong-yan.
"Persembunyiannya mungkin sudah ketahuan musuh, kini Geng kongcu sudah lolos, maka pagi hari ini, aku bergegas keluar kota. Tak duga bertemu kalian disini. Apakah kalian tadi bentrok dengan musuh ?"
"Ah, tidak !"
Sahut Nyo Wan ceng.
"Kenapa kudengar benturan senjata tajam, apakah kupingku yang salah dengar?"
Ternyata karena mendengar suara benturan senjata inilah, maka Nyo Su-gi menyusul datang menurut arah datangnya suara. In-tiong yan tertawa, ujarnya .
"Aku yang sedang saling ukur kepandaian silat disini hanya main-main saja. Tapi untunglah kami main jajal-jajalan, kalau tidak, pasti tidak begini kebetulan bisa bertemu dengan kau. Nyo Tayhiap menurut dugaanmu, kemana Geng-kongcu akan pergi ??"
TAMAT
Baca Juga: Raja Pedang 5
Baca Juga: Siluman Gua Tengkorak 2