Ceritasilat Novel Online

Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat 8

Eps 8 Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat - Gan Kh

Baca online Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat - Gan Kh

Cersil Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat - Gan Kh.

Girang karena dengan mengantar surat kemarkas besar Ceng liong-pang diKi lian san ini, disana ia bakal bisa bertemu dengan Geng Tian, tidak perlu mencari alasan lainnya.

Tapi setelah bertemu muka dengan Geng Tian, cara bagaimana ia harus buka mulut, ini merupakan persoalan pelik pula bagi dirinya.

"Dia belum lagi tahu bahwa didunia ada orang macamku ini, bahwasanya mungkin belum tahu akan perjodohan kami ini, lalu bagaimana baiknya ?"

Dia merasa malu dan kikuk untuk mengemukakan persoalan ini, disamping girang adalah jamak kalau Nyo Wan-ceng merasa risau dan kebat kebit.

Rekaan Nyo Wan ceng hanya betul separo saja.

Memangnya Geng Tian tidak tahu bahwa didunia ini ada orang macam dirinya.

Tapi sebetulnya dia sudah tahu akan persoalan perjodohan itu.

Bersama dengan Su-tay kim kong dari Ceng liong pang, mereka dari Ciatkang timur langsung menuju ke Liang ciu, sepanjang jalan mereka mengobrol panjang lebar, masing-masing bertukar pikiran dan pengalaman, tidak sedikit masing masing mendapat tambahan pengetahuan untuk memperkaya perbendaharaan ilmu masing masing, sedikitpun mereka tidak merasa kesepian.

Tapi selama perjalanan itu, belum pernah Geng Tian kemukakan isi hatinya.

Dari keempat orang dari Ceng liong-pang ini, hanya Lo Hou wi yang sebaya dengan Geng Tian, hobby dan tutur katanya juga lebih cocok.

Lapat-lapat Lo Hou-wi tahu bahwa Geng Tianada menyembunyikan isi hatinya demikian pula Geng Tian pun merasakan Lo Hou-wi tidak seluruhnya jujur terhadap dirinya.

Hari itu mereka mulai memasuki wilayah perbatasan Liang ciu, menurut perhitungan kira kira empat lima hari lagi mereka bakal sampai di Ki lian san.

Karena sibuk menempuh perjalanan sehingga malam itu mereka kehilangan kesempatan menginap setelah magrib hujan rintik-rintikpun turun; untunglah diatas pegunungan yang belukar itu mereka bisa mendapatkan sebuah biara kuno untuk berteduh meski biara bobrok dan tidak terurus sementara bisa juga untuk menyembunyikan diri dari hujan bayu ini.

Mereka mengumpulkan ranting-ranting kering dan membuat api unggun ditengah ruangan biara bobroknya, ranting-ranting yang basah kena air hujan membuat api unggun sukar menyala dan mengepulkan asap hijau yang tebal, sehingga pernapasan mereka menjadi sesak.

Tapi dimalam hujan deras seperti itu beberapa kawan sehaluan dan seperjuangan duduk-duduk mengobrol sambil menghadapi api unggun merupakan kejadian yang menggembirakan juga bagi mereka.

Geng Tian tiba-tiba tenggelam dalam alam pikirannya, menggunakan ranting kayu yang dipegang ia mengorek-ngorek api unggun, sampai kayu yang masih membara mengenai tangannya baru dia berjingkat kaget."Geng kongcu,"

Ujar Nyo Su gi tertawa.

"Pekerjaan membuat api memasak nasi tentu kau belum biasa melakukan, mari biar kulakukan saja."

"Ketahuilah!"

Kata Geng Tian tertawa.

"Sejak kecil aku sudah biasa hidup melarat dan menderita, tadi hanya kebetulan kurang hati hati saja."

Lo Hou wi mendadak menimbrung.

"Entah Geng kongcu sedang memikirkan apa tadi?"

Terpaksa Geng Tian mengakui.

"Benar aku sedang terkenang kenang seorang sahabat ayahku."

"Entah siapa Cianpwe yang kau maksudkan itu?"

"She Nyo bernama Yan-jing. Beliau adalah murid Gwakong (kakek luar)ku."

"Belum pernah aku bertemu dengan dia, tapi dia punya seorang suheng bernama Li-Keh cun, sekarang sebagai salah seorang Toa-thaubak, hubungannya cukup baik denganku, tahun yang lalu aku berkumpul beberapa lama dengan Li Keh-cun."

"Adakah dia pernah menyinggung soal Sutenya terhadapmu?"

Nyo Sugi manggut manggut, ujarnya.

"Menurut katanya, sutenya itu sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu."

"Entah adakah dia meninggalkan putera atau puterinya?""Hal itu dia tak mengatakan maka aku tidak tahu. Apakah ayahmu menyuruhmu mencari jejak mereka ?"

Geng Tian menghela napas, tuturnya.

"Ketika aku masih kecil, bersama ibu menyembunyikan diri dirumah mereka. Ketika kami berpisah dengan paman Nyo, usiaku belum genap empat tahun, tapi lapat lapat aku masih ingat keadaan waktu itu, mereka amat miskin setiap datang hujan, sekeluarga pasti sibuk menyingkirkan barang barang mengatasi kebocoran, semalam suntuk tidak bisa tidur, karena tiada tempat yang kering. Mereka kuatir aku kedinginan, selalu membuat api unggun menghangatkan badanku. Sering mereka duduk mengelilingi api unggun itu sambil mengobrol seadanya. Keadaannya persis seperti sekarang ini. Cuma kalau dulu didalam rumah bobrok, sekarang didalam kelenteng reyot. Bila terbayang akan kegetiran hidup masa lalu betapa aku tidak akan terkenang kepada mereka? Ai sayang aku tidak akan bisa berterima kasih lagi kepada paman Nyo."

"Gampang saja untuk menyirapi berita keluarga Nyo itu setelah kami tiba di Ki lian-san, tulislah sepucuk surat biar kuantarkan ke Kim ki nio mintalah Li Keh cun datang menjenguk kau."

"Biar setelah aku berhadapan dengan Liong pangcu, aku akan menyambangi paman Li di Kim ki-nio saja, cara ini kukira rada kelihatan menghargai beliau sebagai orang yang lebih tua.""Menurut maksud Liong pangcu, seperti yang kuketahui, beliau hendak minta kau sementara mewakili jabatan Pangcu itu, mungkin dalam waktu dekat kau tidak akan ada tempo meninggalkan tempat kami."

"Aku masih terlalu muda cetek pengalaman lagi, mana setimpal menjadi Pangcu segala? Nyo toako, harap kau suka bantu membujuk pangcu, sekali-kali membatalkan niatnya itu."

"Kita toh belum sampai di Ki lian-san kelak kita bicarakan lagi setelah tiba di sana."

Dimana mereka bercakap cakap mengenai keluarga Nyo ini Lo Hou wi tidak membuka suara, hatinya sedang risau dan gundah sejak beberapa kali nama Nyo Wan ceng sudah sampai diujung mulutnya, namun toh tidak sampai terucapkan olehnya.

Sambil menunduk ia mengorek ngorek api, tanpa ia sadari ia mencontoh perbuatan Geng Tian tadi, malah abu panas mengenai punggung tangannyapun belum disadarinya.

"Sam ko tadi kau katakan aku kurang hati hati, kenapa kaupun tak hati hati?"

Demikian goda Geng Tian.

"Lihatlah, lengan bajumu sudah berlobang termakan api."

Tiba-tiba tergerak hatinya katanya pula.

"Samko apa yang sedang kau pikir? Kami sedang membicarakan almarhum Nyo Yan sing Nyo Lung hiong, apa kau tahu?""Waktu Nyo Yan sing meninggal dia belum lagi kelana, mana bisa tahu?"

Demikian ujar Nyo su gi tertawa. Hampa pikiran Lo Hou wi pikirnya.

"Haruskah kuberitahu kepadanya?"

Setelah ragu sejenak, ia lantas menyahut.

"Tidak apa apa, Geng Tian mendengar kau menyisihkan kehidupanmu yang getir diwaktu kecil mau tak mau menimbulkan kenangan lamaku pula."

"Apa kau pun dilahirkan dalam keluarga miskin?"

Tanya Geng Tian. Pek Kian bu tertawa, selanya.

"Dia sih keturunan guru silat yang kenamaan, soal miskin sih tidak. Cuma sejak kecil sudah kematian ayahnya, keluarganya menjadi berantakan."

Diluar tahunya bahwa gejolak hatinya Lo Hou wi jauh lebih rumit dan kacau dari apa yang mereka bayangkan. Geng Tian mendongak melihat cuaca, dilihatnya hujan sudah reda, katanya.

"Habis hujan cuacapun terang, lihatlah betapa indah rembulan. Biar aku keluar mencari hidangan untuk tangsel perut ya? Dua hari ini selalu makan rangsum kering sudah membosankan. Baik nanti bikin binatang panggang dan diiringi minum arak, semalam ini tidak usah tidur."

"Baru saja hujan keadaan diluar tentu sulit buat jalan.""Benar, habis hujan, burung dan binatang liar sama sembunyi disarangnya, kukira tidak gampang buat menangkap mereka,"

Demikian timbrung Pek Kianbu.

"Memburu burung atau binatang liar aku cukup berpengalaman,"

Ujar Geng Tian.

"Kalian tidak percaya nanti buktikan saja, biar kutunjukkan kepandaian khususku ini."

Pek Kian-bu tertawa, katanya.

"Kongcu digelari San-tian jiu (tangan kilat). Ilmu ginkangmu mesti seenteng burung dara secepat angin masakah berani kami tidak percaya akan kepandaianmu! Tapi kalau kau yang harus mencari makanan untuk kami beramai, wah rasanya rikuh dan tak berani terima, biar kami saja yang pergi!"

"Persediaan air dalam kantong itupun hampir habis,"

Sela Geng Tian.

"Pek jiko silahkan kau cari air saja bagaimana? Lo-sam-ko mari kau temani aku berburu, Nyo-toako kau tinggal saja di tempat ini bersama Site."

"Memangnya aku tinggal gegares tanpa bekerja mana boleh jadi,"

Kata Nyo Su-gi. Lo Hou-wi tertawa katanya;

"Sejak kecil memang akupun senang berburu. Toako jangan kau berebutan dengan aku lho."

Nyo Su gi tahu akan hubungan mereka yang lebih akrab, maka iapun mengalah agar tidak mengganggu kesenangan hati mereka.Adalah timbul rasa jelus dalam hati Pek Kian bu katanya.

"Samte memang pandai mengambil hati orang agaknya dalam pandangan Geng Kongcu cuma dia seorang saja. Hm, tugas berat mencari air diberikan kepadaku, tanpa sungkan sungkan losam terima saja pembagian tugas itu. Jika Geng Kongcu betul akan menjabat Ciangbun kita, mungkin Losam bakal menjadi perintangku yang terbesar dan berkedudukan lebih tinggi dari aku."

Meski rasa jelusnya amat menghayati pikirannya, katanya;

"Samko kabarnya tahun yang lalu kau ada pergi ke Tay-toh pernahkah kau pergi ke Siok ciu?"

"Memangnya aku ini kelahiran Siok ciu."

"Kalau begitu diwaktu Gwakongku meninggal, meski kau belum lahir kukira pernah mendengar orang membicarakan beliau bukan? Tahukah kau akan kedua murid beliau?"

"Geng tian, ada sebuah persoalan seharusnya kuberi tahu kepada kau cuma maaf tadi tidak leluasa kukemukakan kepada kau."

"Soal apa?"

"Soal ini tentu berada diluar dugaanmu. Orang yang sedang dicari cari adalah guruku!'' "Apa katamu?"

Tanya Geng Tian melengak.

"Bukankah kau hendak mencari orang-orang keluarga Nyo?''"Bukankah paman Nyoku itu sudah meninggal, cara bagaimana kau bisa angkat guru kepadanya? Oya... aku paham, apakah kau murid dari bibi Nyo?'' "Keluarga Nyo Yan sing toh bukan hanya terdiri dari isterinya saja? Sudah lama keluar Nyo meninggalkan Siok ciu sampai detik ini juga aku belum pernah bertemu dengan Nyo hujin."

"Lalu siapa yang kau maksud? Apakah..."

Ia membatin dalam hati.

"Apakah putra atau putrinya?"

Waktu dia meninggalkan rumah keluarga Nyo, anak dalam kandungan Nyo hujin belum lagi lahir maka seakan Geng Tian ini tidak dikemukakan.

"Kau tahu didunia persilatan terdapat seorang dijuluki Siau mo li?"

"Apakah In tiong yan maksudmu?"

"Munculnya rada akhir dari In tiong yan, kepandaian mesterius mereka sama sama membuat musuh meringkik dan ketakutan. Tapi ada semacam tindak tanduknya yang berlainan dengan In tiong yan. In tiong yan khusus membunuh buaya darat atau sampah persilatan belum pernah dengar dia membunuh kaum bangsawan Kim atau Tartar Mongol, sebaliknya Siau mo li ini pernah membunuh jago jago kosen dari negeri Kim pernah membunuh juga para Kim tiang Busu dari Mongol. Julukan Siau mo li (Iblis perempuan kecil) justeru diberikan oleh orang orang Mongol. Sepak terjang In tiong-yan masih sulit kita raba tapi tindak tanduk Siau mo lidapatlah kami pastikan bahwa dia berdiri pada golongan pendekar dan pejuang nusa dan bangsa!'' "Asal usul In tiong yan masih belum kau ketahui hanya secara diam diam ia bermusuhan dengan Wanyen Tiang ci, hal ini pun baru kuketahui dari penuturan Hek swan hong,"

Demikian batin Geng Tian karena tidak leluasa membeber riwayat hidup In tiong yan kepada Lo Hou wi maka ia berkata.

"Tak perlu kita membicarakan In tiong yan. Bahwa lihiap yang kau katakan ini bukan In tiong yan memangnya siapa dia sebenarnya?"

"Dia bukan lain adalah orang yang sedang kau cari yaitu guruku."

Heran dan kaget Geng Tian dibuatnya, tanyanya.

"Maksudmu dia putri Nyo Yan sing? Bagaimana dia bisa menjadi gurumu?"

"Bukan guruku yang kuangkat secara resmi dia sih hanya mewakili gurunya mengajarkan Ngo hou toan bun to hoat kepadaku. Sudah tentu dia tidak mau mengakui sebagai guru namun didalam sanubariku dia kuanggap sebagai guruku berbudi disamping seorang teman yang baik hati."

Setelah mendengar cerita cara bagaimana Nyo Wan-ceng datang kerumah Lo Hou-wi dan mengajarkan ilmu golok itu, maka berkatalah Geng Tian .

"Bukankah tahun ini dia baru genap berusia dua puluh tahun ?""Benar. Dari mana kau bisa tahu?"

"Waktu aku berusia empat tahun meninggalkan rumah keluarga Nyo, dari penuturan ibu katanya waktu itu bibi Nyo sedang mengandung. Dihitung-hitung jadi aku lebih tua lima tahun dari dia."

"Kalau begitu jadi ibumu belum tahu dia itu laki atau perempuan bukan, kelak kalau kalian bertemu muka dan membicarakan hal ini tentu lucu dan menggelikan."

Geng Tian merasa hampa dan kesal katanya .

"Ya, memang tidak kuduga sebelumnya."

Diam-diam Geng Tian membatin dalam hati .

"Dari nada bicara agaknya ia amat patuh dan tunduk benar terhadap nona Nyo, setiap menyinggung namanya, wajahnya selalu mengulum senyum simpul. Dikatakan nona Nyo sebagai guru berbudi dan teman paling baik, em persahabatan yang melebihi kenalan biasa. Nona Nyo menetap hampir satu bulan dirumahnya setiap hari ketemu dan belajar bersama dari rasa hormatnya itu bukan mustahil berubah menjadi cinta, kejadian ini adalah jamak."

"Geng-heng,"

Ujar Lo Hou-wi.

"Jangan terlalu asyik bicara sehingga melupakan berburu. Coba lihat ..."

"Lihat apa ?"

"Disini terdapat lobang kelinci, pepatah bilang kelinci licin tiga lobang, sarang lobangnya ini tentumenembus ke lobang yang lain, coba kau periksa kesebelah belakang sana, biar kusumbat lobang disini dengan asap."

"Lo-heng kau memang seorang pemburu yang berpengalaman."

Segera Lo Hou-wi mengumpulkan ranting kayu dan daun daun kering lalu menyusut api dan diselesapkan kedalam lobang, Geng Tian sedang berjaga dan belum lagi menemukan lobang yang lain, tiba2 dilihatnya dua ekor kelinci muncul disemak-semak rumput sana, sigap sekali Geng Tian lantas menerkam kesana, cukup sekali cengkeraman ia berhasil menangkap salah satu diantaranya, disusul dengan gerakan burung dara jumpalitan, kembali ia berhasil menangkap kelinci kedua dengan tubrukan yang indah secara kilat.

Lo Hou-wi segera berseru memuji .

"Geng-heng, gerak badan yang cukup indah dan menakjubkan."

"Hasil ini berkat jasa baikmu, kalau tidak kau gebah keluar dari sarangnya, lorong ketiga dari sarang kelinci licin ini, kemana harus kucari ?"

"Cara menangkap kelinci dengan gabungan tenaga dua orang ini dapat kupelajari dari nona Nyo itu, Geng-heng ginkangnya sukar tandingannya di dunia ini. Tapi Ginkang nona Nyo itu kukira setanding dengan kau. Beberapa menangkap di Pak bong san bersama dia, setiap kali seperti keadaanmu tadi, sekaliterkam pasti berhasil menangkap kelinci-kelinci yang diingininya."

Kalut dan gundah hati Geng Tian katanya tertawa dibuat buat .

"Kan dia murid Bu-lim-thian kau, sudah tentu dalam berbagai kepandaian ia jauh menonjol dari orang lain,"

Mulut bicara sementara hati sedang membatin.

"Soal perjodohan yang dikatakan ibu, peduli dia tahu atau belum, yang jelas Lo-toako amat menaruh simpatik dan cinta kepadanya, setelah kuketahui hal ini memangnya aku tega menerjang ditengah mereka merebut cintanya ? Bila nanti ketemu dia, kalau dia tidak menyinggung, lebih baik aku pura-pura bodoh saja kalau dia benar-benar menyinggung, biarlah kuanggap perkataan dan janji ibuku dulu sebagai kelakar saja habis perkara."

"Geng heng, apa yang sedang kau pikirkan?"

Geng Tian tersentak sadar, katanya.

"Coba kau dengar, agaknya seperti ada suara apa-apa di sebelah sana !"

"Benar, aku juga sudah dengar, memang ada suara ganjil."

Sebetulnya Geng Tian hanya mengada ada saja, tak nyana begitu suaranya menjadi hening, betul juga lapat-lapat mereka mendengar suara seperti benturan senjata-senjata keras.

Keruan Geng Tian kaget serunya .

"Mungkin musuh meluruk datang Pek jiko.."Belum habis dia bicara, terdengarlah lengking sebuah suitan panjang bergema diatas pegunungan dari kejauhan sana. Lo Hou wi segera berteriak kaget .

"Memang itu suitan Pek-jiko, mari lekas susul kesana !"

Cepat Geng Tian memburu kearah datangnya suara itu, ginkangnya jauh lebih tinggi dari Lo Hou wi, tanpa sadar, ia tinggalkan Lo Hou wi jauh disebelah belakang.

O^~dwkz^hendra~^O Sementara itu Pek Kian bu sedang mendayung air disebuah aliran sungai kecil, sebetulnya sungai ini sudah kering dan dangkal.

Setelah hujan lebat turun, air menjadi banjir dan meninggi, tapi toh hanya sedalam dengkul saja.

Tanah disekitar aliran sungai ini sangat licin dan becek, sulit tancap kaki kalau tidak jalan hati2.

Terpaksa Pek Kian-bu membenamkan kedua kakinya kedalam air lalu memasukkan kantong airnya ke dalam air.

Untunglah ditengah-tengah sungai terdapat batu keras yang menonjol agak tinggi, dengan berdiri diatas batu mengisi air, sehingga bajunya tidak sampai basah.

Baru saja ia berhasil mengisi satu kantong, mendadak ia mendengar sebuah siulan yang menusuk kuping, dari gerombolan semak rumput bermunculanempat orang laki-laki pakaian hitam-hitam.

Keempat orang ini adalah musuh besar Pek Kian bu.

Pek Kian bu tahu bahwa keempat orang ini masing masing mempelajari ilmu tunggal perguruannya jangan kata mereka maju bersama, hanya yang tertua saja seorang meski Pek Kian-bu melawan dengan satu lawan satu juga bukan tandingan orang.

Sudah tentu kejut Pek Kian bu bukan kepalang tapi sebagai seorang yang cerdik banyak aksinya, ia bersikap tenang dan menjengek dingin.

"Bagus ya, Gi pak siang-hiong dan Siam-tiong siang siat bergabung hendak main keroyok, aku orang Pek hari ini naga naganya harus menyerah kalah saja. Dengan main keroyokan melawan aku seorang, apakah kalian tidak takut ditertawakan sesama sahabat Kangouw ?'' Laki-laki baju hitam yang memimpin rombongan keempat orang itu tertawa dingin.

"kau boleh maju, lawanlah aku seorang."

Orang kedua segera menimbrung.

"Bukankah kalian juga berempat? Hai, hai, asal teman-temanmu tidak turut campur kami pun tidak akan membantu. Kalau kau tidak berani melawan Toh toako mari melawan aku saja."

Dua orang yang insyaf kepandaian masing-masing tidak lebih unggul dari Pek Kian-bu namun justru permusuhan mereka jauh lebih mendalam kepada Pek Kian bu, maka mereka berkata bersama.

"Menghadapi manusia rendah macam kau ini perlu apa pegangperaturan Kangouw segala, kebiasaan kami Sian-tiong-siang-sat toh kau sudah tahu, melawan satu orang kami maju bersama, melawan sepuluh orang juga kami maju bersama!'' Segera Pek Kian bu pegang kelemahan dari kata orang orang ini, jengeknya .

"dua orang atau empat orang sama saja, aku tidak bisa mempercayai obrolan kalian, sebagai laki gagah harus melihat gelagat, maaf, aku tidak mengiringi keinginan kalian !"

Habis kata katanya, Pek Kian bu lantas melompat jauh dari batu pertama kebatu yang lain, didalam sungai memang banyak berserakan batu-batu besar, begitulah dengan berlompatan diatas batu menuju kehulu sungai ia melarikan diri.

Memang cara melancarkan diri jauh lebih cepat dari pada berlari didalam air.

Kedudukan dan ketenaran Siam tiong-siang-sat tidak sebanding dengan Gi-pak siang-hiong di kalangan Kangouw, namun bara balas dendam yang membakar dada mereka jauh lebih besar dari Gi pak siang hiong, melihat Pek Kian bu melarikan diri, tanpa berjanji mereka lompat bersama kedalam air, mereka mengudak kencang mencontoh cara Pek Kian bu juga, ujung kakinya hanya main diatas permukaan batu batu yang menonjoI keluar.

O^~dwkz^hendra~^O

Jilid 22 Sembari bicara ia melejit tinggi melompat kearah batu disebelah depan, namun belum lagi kakinya menyentuh batu itu, sebatang piauw terbang memapak kedatangannya, sigap sekali dia menarik kaki dan meliukkan pinggang dengan paksa terus jumpalitan dan kaki terpaksa tercebur kedalam air.

"Tring"

Piauw terbang itu menancap diatas batu yang diincar dari tempat kakinya berpijak, dipermukaan air berpercikkan kembang api yang meletik kemuka. Keruan Pek Kian bu amat kaget, batinnya.

"Untung aku melihat gelagat, kalau tidak aku biarkan dengkulku termakan oleh piauw terbang musuh."

Seketika ia mengumpat caci;

"Sungguh mengecewakan kalau digelari Gi-pak-siang-hiong ! kiranya juga suka membokong orang dengan senjata gelap, orang gagah macam apa kalian?"

Bahwa ia terserang senjata rahasia sehingga jatuh ke-dalam air, pakaiannyapun kotor dan basah meski tidak lebih runyam dari dua lawan pengejarnya tadi. Siam-tiong siang-sat tertawa bergelak, serunya;

"Toako, sangat bagus hajaranmu."

Belum lenyap suara mereka, terdengarlah suara mengaung seperti desiran kumbang terdengar, disebelah depan dua batang piauw, sebelah kiri dua batang anak panah kecil, serangan gencar senjata rahasia ini memaksa Pek Kian-bu harus berkelit susahpayah di-dalam air, tapi ia kecele, karena keempat senjata rahasia itu tidak menyerang langsung kearah dirinya, disaat ia putar kencang pedangnya untuk melindungi badan, senjata-senjata rahasia itu melayang lewat dan jatuh disamping kira-kira satu kaki disana.

Laki-laki tertua bajunya hitam itu membentak pula.

"Kembali!"

Mengandal kekuatan timpukan Gi pak-siang hiong, tidak mungkin didalam jarak yang dekat ini tak mampu menimpukkan senjata gelapnya kepada sasarannya.

Baru sekarang Pek Kian bu insyaf bahwa orang memaksanya buat naik keatas darat.

Didalam air sudah tentu tidak sama seperti didalam hutan, sekitarnya tiada tempat buat sembunyi, terpaksa Pek Kian bu memang naik kedarat, sambil mengeluarkan suitan dari bibirnya.

Pikirnya.

"Asal aku bisa bertahan sebentar, Toako dan lain-lainnya keburu tiba, tidak perlu aku takut kepada mereka."

Sam-tiong siang-sat sudah menunggu diatas tanah, katanya.

"Toako, biar kami berdua melabraknya lebih dulu."

Dengan sejurus Yu yan pat hong, Pek Kian bu mainkan pedangnya menerjang ke depan membuka jalan, bentaknya.

"Apakah kalian menepati janji yang telah kalian katakan?"

Pedangnya menangkis dan menahan sepasang golok Siam-tiong siang sat.

Kedua tenaga gabungan itu cukup berat, ia sendiri baru sempat berdiri dan pasang kuda-kuda hinggabadannya tergetar mundur dan kakinya terpeleset masuk kedalam lumpur.

"Kata yang pernah kuucapkan sudah tentu kutepati,"

Demikian jengek laki laki tertua serba hitam itu.

"Kalau kau mampu menghadapi keroyokan mereka, mari kau lawan aku seorang diri."

Pek Kian bu tahu akan kelihayan laki-laki baju hitam ini, ia lebih rela melawan dua musuhnya dari Siam-tiong-siang-sat dari pada menghadapi orang yang jauh lebih lihay dan berbahaya.

Maka tanpa bicara lagi pedangnya dimainkan merangsek gencar sebab begitu naik kedarat, kakinya lantas kejeblos kedalam lumpur.

Siam tiong siang sat menempati posisi yang lebih menguntungkan, dengan gencar golok menyerang sehingga Pek Kian bu dirabu kerepotan.

Semakin tempur bercekat hati Pek Kian bu, kiranya Siam-tiong-siang sat berhasil meyakinkan semacam ilmu golok, masing-masing menggunakan tangan kiri dan kanan memegang goloknya, satu menyerang melindungi dan menjaga diri begitulah ganti berganti dengan permainan perpaduan kerja sama rapat dan ketat serta serasi, sehingga bukan saja serangannya yang gencar, pertahanan merekapun cukup tangguh.

Meski Pek Kian-bu sebelumnya belum terjeblos kedalam posisi yang tidak menguntungkan, belum tentu ia mampu menghadapi paduan serangan golok mereka.Siam tiong-siang-sat bergelak tertawa, katanya.

"Berani kau mengaguIkan diri sebagai salah satu Sutay-kim kong dari Ceng-liong-pang segala, menurut pandanganku, menjadi seekor ular airpun kau tidak setimpal kalau menjadi belut kiranya rada cocok bagi kau!"

Belum lenyap suaranya mendadak terdengar sebuah suara dingin mencemooh berkata.

"Anjing menjalak harimau, udang mempermainkan naga. Memangnya orang orang gagah dari Ceng-liong-pang berpandangan sesempit kalian kawanan anjing buduk."

Pertama kali suara itu berkumandang jaraknya seperti jauh tapi mendadak berubah begitu keras seperti jarum menusuk telinga sehingga kuping Siam-tiong siang sat mendengung sakit.

Karuan mereka sangat kaget, waktu menoleh tampak sesosok bayangan orang sudah menembusi hutan meluncur datang.

Benar-benar hebat, kumandang suaranya tiba orangnyapun tiba, kecepatannya sungguh sukar dilukiskan dengan kata kata.

Laki-laki tua baju hitam yang jadi pemimpin itu segera membentak.

"Apakah engkau Nyo Su gi??"

Ia lihat kepandaian silat pendatang ini cukup tinggi, maka ia sangka ketua dari Su-tay kim kong yaitu Nyo Su gi adanya, maka dengan cepat ia melangkah maju sambil merangkap kedua tangan menjura, yang digunakan adalah jurus Thong-cu-pay-koan-im.Karena Nyo Su-gi merupakan tokoh terkenal yang punya kedudukan baik di Bu-lim, maka tidak bisa tidak dia harus unjukkan sedikit rasa hormatnya.

Tetapi lahirnya saja jurus yang dia gunakan itu menjura, bahwasanya dia berusaha merintangi orang.

"Blaaang!!"

Telapak tangan kedua belah pihak bentrok dengan keras, luncuran tubuh orang itu seketika terhenti, sedang laki-laki baju hitam itupun terhuyung dua kali.

Baru sekarang dia melihat dengan tegas, bahwa pendatang ini kiranya seorang pemuda berusia dua puluh tahun.

Merah jengah sampai kekupingnya roman laki laki baju hitam, bentaknya.

"Kau Lo Hou wi atau Ong Beng im?'' Sementara dalam hati ia membatin.

"Masakah Losam atau Losi dari Ceng liong-pang ini membekal Iwekang yang begini hebat?"

Terlihat oleh Geng Tian, Pek Kian bu sudah keteter keadaannya. Cukup gawat, dibuktikannya pula orang yang mencegat dirinya berkepandaian tinggi tiada tempo ia melayani pertanyaan orang, bentaknya.

"Siapa sudi berkenalan dengan kau minggir!"

Kedua tangan kiri, telapak tangannya menyodok ke Tiong-kiong dengan kekerasan ia hendak menerjang lewat. Laki baju hitam itu tertawa serunya.

"Sudah puluhan tahun aku orang she Toh malang melintang di Kangouw, Nyo Sugi melihat aku pun tidak berani bertingkah kau bocah ini ternyata kurang ajar main bentak lagi kepadaku?"Dalam sekejap kedua pihak sudah saling serang puluhan jurus dengan cepat sekali Geng Tian merangsek gencar dengan pukulan mautnya tenaga pukulan lawan pun cukup kuat dan kokoh mesti tidak secepat permainannya namun bagai tembok baja ia menghadang di depan Geng Tian, setapakpun tidak memberi peluang kepadanya. Tetapi serangan gencar Geng Tian toh hanya mendesak lawan mundur tiga tapak dalam gebrakan puluhan jurus itu. Diam2 mencelos juga hati Geng Tian, batinnya.

"Musuh Pek jiko kiranya begitu liehay."

Di luar tahunya kalau toh ia kaget lawannya lebih kaget pula.

Laki laki baju hitam she Toh dan laki-laki baju hitam lainnya yang dipanggil orang Gi pak siang hiong (dua orang gagah dari Hopak) mereka sudah malang melintang di Kangouw puluhan tahun belum pernah menemukan tandingan kecuali pernah satu kali mereka bentrok dengan pendekar kelana yang terkenal yaitu Jio cu kan kun Hoa Kok ham, mereka berdua maju bersama, selamanya tentu satu lawan satu.

Semula laki laki she Kong itu masih berpeluk tangan menonton dari samping namun semakin mengikuti pertempuran saudaranya semakin terkejut hatinya, pikirnya.

"Kalau sampai Toako dikalahkan oleh anak muda dari angkatan muda itu masakah nama Gi pak siang hong masih bisa kumandang di kalangan kangouw?"

Seketika timbul nafsunya membunuh, pikirnya.

"Mumpung Nyo Sugi belumkeburu datang biar kubunuh dia biar tutup mulut."

Menurut perhitungan Pek Kian bu pasti dapat dibunuh oleh Siam tiong siang sat asal Geng Tian berhasil dibunuhnya siapa pula yang bakal tahu bahwa Gi pak siang hiong pernah menindas anak muda dari angkatan mendatang secara keroyokan.

Begitu timbul nafsunya membunuh orang she Kong ini lalu beranjak maju ketengah gelanggang, katanya dingin.

"Satu kaki kau menghormati aku kubalas satu tombak, kau bocah ini tidak kenal aturan berani memandang rendah kami Gi pak siang hiong, kami pun tidak perlu mematuhi aturan Kangow segala."

"Baik sekali!"

Jengek Geng Tian.

"Silahkan kalian maju bersama ingin aku lihat sebetulnya kalian ini orang gagah atau binatang sebangsa anjing atau binatang."

Dalam berkata kata ini tahu tahu tangan kiri sudah mengeluarkan kipas lempitnya, begitu cakar orang she Khong mencengkeram tiba, kipas Geng Tian segera menutuk kejalan darah dipergelangan tangan orang.

Orang she Khong mencemooh dengan suara dingin lalu berseru.

"Cepat benar!"

Sigap sekali ia merubah jurus serangannya, kedua jarinya terangkap bagai jepitan besi seraya membentak.

"Diberi tidak membalas kurang hormat kau bisa main main tutuk memangnya aku tidak bisa?"

Laki laki she Toh itu membarengi dengan dua kali pukulan telapak tangannya yang menderu, anginpukulannya bergelombang menyampuk miring kipas Geng Tian, kejadian berlangsung teramat cepat, jari-jari orang she Khong itu sudah hampir mengenai Teciang hiat Geng Tian.

Walaupun dua orang turun tangan bersama barulah orang she Khong bisa meluputkan dari tutukan tunggal kipas Ceng Tian tapi Ceng Tian itu dengan dijuluki San tian jiu tangan kilat begitu ujung kipasnya terapung miring maka tutukannyapun tidak mengenai sasarannya namun gerak kemampuannya ini sudah cukup hebat juga.

Dua pihak saling berloncatan segesit kelinci selincah burung kutilang, dua pihak sudah saling menjajaki dalam gebrakan pertama ini Geng Tian harus melawan kedua musuhnya bagaimana juga ia terdesak di bawah angin.

Tapi matanya yang jeli dan kupingnya dipasang mendengarkan situasi sekitarnya, dilihatnya Pek Kian bu dirabu Siam-tiong-siang-sat kepayahan, apalagi kedua kakinya kejeblos kedalam lumpur, sehingga gerak-geriknya tidak leluasa, hendak laripun tidak mungkin lagi.

Jiwanya diambang kematian, keruan hatinya amat gugup.

Pertempuran tokoh tokoh silat tingkat tinggi mana boleh perhatian terpencar ?

Terdengar suara "Plak !"

Yang rada keras, kipas ditangan Geng Tian tepat kena diselentik oleh jari orang she Kong, sehingga terpental terbang dari cekalannya."Bagus,"

Teriak Geng Tian.

"Biar aku adu jiwa dengan kalian!"

Sigap sekali gerakan kedua telapak tangannya, telapak tangan bergerak membundar kekanan, sementara tangan kanan bergerak kearah yang berlawanan pula keduanya tergabung menjadi sebuah lingkaran bundar besar, kelihatannya tidak menggunakan tenaga dan tidak membawa kesiur angin sedikitpun, namun kekuatan yang menerjang keluar justru bagaikan gugur gunung dahsyatnya menerjang kearah kedua laki laki baju hitam.

Kontan kedua pihak tersurut mundur tiga langkah besar, Geng Tian merasakan dadanya sesak oleh darah yang bergolak, seolah-olah di perutnya jungkir balik dan sakit luar biasa.

Toh dan Khong dua orang itupun mengalami penderitaan yang tidak ringan, terutama orang she Khong yang Lwekangnya lebih rendah, merasa mata berkunang kunang kepala pusing tujuh keliling sampai sekian lamanya baru dia bisa membuka mata dan pandangan menjadi jernih kembali, keruan mencelos hatinya.

Ternyata dengan gabungan kekuatan mereka berdua meski setingkat lebih unggul tetapi orang she Khong ini tahu bahwa kerugian yang diderita Geng Tian jauh lebih besar dari pihaknya, tak urung ia menjadi jera.

Bahwa orang she Khong sudah teramat kaget, justru Toakonya, orang she Toh itupun jauh lebih kaget dari dia.

Tapi orang she Toh ini bukan hanyakaget oleh kekuatan pukulan Geng Tian yang kokoh dan kuat, yang lebih dikejutkannya adalah bahwa orang melancarkan sejurus Tay-gao-pat-sek.

Sekilas ia menenangkan hati, disaat orang she Khong itu sudah siap hendak menubruk lagi.

Cepat ia berseru mencegah .

"Tunggu sebentar !"

Orang she Khong melengak, tanyanya.

"Toako, kenapa ? Memangnya kau hendak melepas bocah ini ? Belum tentu kita bisa dikalahkan olehnya !"

Berkata laki-laki baju hitam itu dengan nada berat;

"Tanyakan jelas dulu baru dilanjutkan."

Lalu ia berpaling kepada Geng Tian dan tanyanya .

"Harap tanya kau she Siang atau she Kongsun?"

Nada ucapannya rada lembut. Mendengar pertanyaan itu sekilas Geng Tian melengong katanya .

"She Siang atau Kongsun tiada yang mempunyai sangkut paut dengan diriku kalau kau hendak tanya sanak atau kadang, salah kalau kau mencari aku."

"Oho kalau begitu tentu kau she Geng,"

Seru laki laki baju hitam pula .

"Kanglam Tayhiap Geng Ciau pernah apamu ?"

O^~dwkz^hendra~^O TERNYATA serangan yang dilancarkan oleh Geng Tian tadi adalah salah satu jurus dari Tay gan-pat-sek.

Tay-gan pat sek adalah ilmu silat warisan keluargaBulim Cianpwe Siang-Kian thian.

Siang Kian thian tidak punya putera hanya punya dua anak putrid.

Kedua putrinya ini berturut turut akhirnya menikah sama seorang yang bernama Kongsun Ki.

Bagi orang orang Bulim yang tidak tahu seluk-beluknya secara mendalam hanya tahu bahwa kedua putri Siang Kian thian sama kawin dengan Kongsun Ki maka warisan ilmu keluarga Siang yaitu Tay-gan pak-sek selanjutnya pastilah akan menurun ditangan mereka.

Harus diketahui bahwa Tay gan-pat-sek dari keluarga Siang ini sebetulnya tidak diturunkan kepada orang luar, tapi ayah Geng Tian yaitu Geng Ciau secara tak terduga karena kebetulan ketiban rejeki jadi mempelajari Tay-gan pat-sek, terjadilah suatu ketika untuk menyelamatkan jiwa Geng Ciau, putri kedua keluarga Siang sebelumnya tidak diberi penjelasan, menipunya mempelajari Tay gan-pat-sek itu kejadian jurang atau orang Kang-ouw yang mengedahului sampaipun Geng Tian hanya tahu bahwa Tay-gan pat sek bersumber dari keluarga Siang, cara bagaimana ayahnya bisa mempelajarinya, diapun tidak tahu.

(untuk mengetahui hubungan Geng Ciau dengan keluarga Siang, bacalah pendekar latah) Sekarang putri Siang Kun thian dan Kongsun Ki sudah meninggal, dalam dunia ini yang bisa menggunakan Tay gan-pat sek hanyalah Geng Ciau ayah beranak dan Siang Ceng hong ibu beranak empat orang saja.(Kongsun sendiripun tidak pernah meyakinkan Tay gan pat-sek karena latihan Lwe-kang Siang Ceng Long kurang tinggi, latihan Tay gan pat-seknya pun kurang matang malah putranya Kongsun Bok mendapat didikan langsung dari Geng Ciau yang mewakilinya.

Cuma usia Kongsun Bok lebih tua dari Geng Tian, waktu Geng Tian kembali ke kanglam, Kongsun Bok sudah lama meninggalkan rumah keluarga Geng) Yang aneh bahwa laki laki baju hitam ini tidak tahu bahwa Tay-gan-pat-sek sudah putus turun diantara keluarga Siang sendiri bukan setiap orang ada meyakinkan (oleh karena itulah maka tadi ia bertanya apakah Geng Tian she Siang atau she Kongsun).

Tapi ia tahu bahwa ayah Geng Tian ada meyakinkan ilmu tunggal keluarga Siang.

Untunglah Geng Tian sendiripun tidak begitu jelas mengenai asal usul Tay gan-pat sek ini yang diherankan hanyalah dari mana laki-laki baju hitam ini bisa tahu ilmu yang digunakan tadi adalah Tay gan-pak-sek, malah berani memastikan bahwa dirinya tentulah orang she Geng.

"Apakah dia kenalan baik ayah?"

Demikian batin Geng Tian.

Namun rasa permusuhan meski belum lenyap mendengar orang dikalangan menyinggung nama ayahnya, menggunakan sebutan Kanglam Tayhiap dengan sikap yang hormat terpaksa Geng Tian harusmerubah sikap sahutnya sopan.

"Tidak berani, Kanglam Tayhiap yang kau maksud adalah ayahku!"

Laki laki she toh berbaju hitam itu segera berseru tertahan, katanya;

"Jadi kau Geng Kongcu adanya, sungguh kami bertindak kelewat batas!"

Ucapannya semakin sungkan dan hormat, menyusul ia menghela napas serta ujarnya.

"Sayang, sayang!"

"Sayang apa?"

Tanya Geng Tian keheranan.

"Ayahmu adalah pendekar besar yang dihormati dan dikagumi orang orang Bulim sebaliknya kenapa kau bergaul dengan manusia rendah yang dina ini?'' Dalam seribu kerepotannya, Pek Kian bu masih sempat berteriak.

"Geng Kongcu, jangan kau percaya obrolan mereka!"

Siam tiong siang-sat menjadi gusar dampratnya.

"Perbuatan yang pernah kaulakukan berani kau memungkirnya?"

Sepasang golok mereka menyerbu lebih gencar lagi.

"Bret !"

Lengan baju Pek Kian-bu terpapas sobek oleh golok lawan, celaka dia lengan kirinya tergores luka sepanjang tiga dim, untung tidak sampai mengenai tulangnya.

"Sukalah kau suruh kedua temanmu itu berhenti lebih dulu,"

Pinta Geng Tian.

"Baik,"

Sahut laki she toh baju hitam itu.

"Hiantit berdua sementara tak usah kalian turun tangan keji, marilah dengar apa yang hendak diucapkan oleh Geng Kongcu.""Jangan turun tangan keji dan berhenti, berlainan artinya. Siam tiong-siang-sat mendengus bersama katanya.

"Kulihat muka Toako biar nanti sebentar kubereskan jiwamu."

Sinar golok ditangan mereka tiba tiba melingkar lingkar rapat, gerak gerik Pek Kian-bu masih terbungkus didalam sinar goloknya.

Cuma serangan-serangan ganas yang mematikan tidak dilancarkan untuk sementara memang jiwa Pek Kian bu tidak perlu dikuatirkan.

"Perbuatan apa yang pernah dilakukan oleh Pek jiko, kalian memakinya begitu rendah dan hina?"

Tanya Geng Tian. Laki-laki berbaju hitam she toh itu menjawab.

"Malu aku menjelaskan biar kutanya kau lebih dulu, cara bagaimana kau bisa mengikat persahabatan dengan dia?"

"Dia kan salah satu dari Su-tay-kim-kong dari Ceng-liong-pang, bukankah kalian sudah mengetahuinya?'' "Memangnya kenapa dengan Ceng-liong-pang?"

Jengek laki laki she Khong itu. Geng Tian itu melengak tanyanya.

"Apakah kalian tidak kenal Liong pangcu dan Ceng liong pang?'' "Pernah kudengar dia bernama Liong-Jiang-poh,"

Ujar laki laki she toh dengan nada tawar."Kalau kalian sudah tahu Liong Jiang-poh memangnya kalian tidak tahu apa saja yang dilakukan oleh Ceng-liong-pang?"

"Tidak tahu,"

Lagi-lagi lelaki she Khong itu menanggapi dengan nada dingin.

"Ceng liong-pang merupakan organisasi rahasia dibawah tanah yang melawan penjajah bangsa kim, tapi golongan pendekar dari kalangan kangouw banyak yang tahu akan tujuan mereka."

Berpikir Geng Tian;

"Agaknya mereka tidak kenal dan tak ada hubungan dengan paman Liong mungkin pula tidak pernah bergaul dengan golongan pendekar!"

Sebetulnya rahasia ini Geng Tian tidak boleh membocorkan kepada orang luar, tapi melihat orang she Toh itu bersikap hormat, dan menyegani ayahnya apalagi kalau tak dijelaskan mungkin jiwa Pek Kian-bu sulit diselamatkan.

Sebentar Geng Tian berpikir, lalu ambil putusan memikul tanggung jawab ini, katanya.

"Liong Jiang-poh adalah sahabat lama ayahku, pertempuran di Jay-ciok ki dia memberikan pahala paling besar. Ia mendirikan Ceng Liong-pang atas anjuran ayahku. Disaat Ceng Liong pang berdiri, Pek jiko sudah ikut berjuang selama ini, ia menjadi pembantu Liong pangcu."

Tampak laki-laki she Toh itu melenggang lalu menegas.

"Betul ucapanmu?!""Memang aku berani menggunakan nama baik ayahku menipu kau?"

Laki laki she Toh menghela napas ujarnya.

"Kupandang Geng kongcu dan Liong pangcu. Jiwi Hiante biarkan bajingan itu pergi."

"Toako, sakit hatiku tak terbalas,"

Teriak Siam tiong siang sat.

"Balas tidak sakit hati ini akan kita lihat dari sepak terjang bocah keparat itu kelak,"

Kata laki laki she Toh itu.

"He! Pek Kian bu dengar peringatan kami bahwa kau sudah suka membantu perjuangan Geng kongcu maka bekerjalah baik baik kalau kau mau bertobat dan benar benar membina diri sebagai laki laki sejati sakit hati itu boleh kami anggap impas saja. Kalau sebaliknya, hm kejadian seperti hari ini akan terulang lagi!"

"Bocah she Pek kau harus ingat peringatan Toako,"

Demikian seru Siam tiong siang sat uring uringan.

"Kupandang muka Geng kongcu dan Toh toako hari ini sementara kami mengampuni jiwamu."

Lalu mereka lari keatas berempat bergabung, seru laki she Toh itu.

"Geng kongcu, selamat bertemu lain kesempatan."

Sekejap saja mereka sudah pergi jauh. Geng Tian membatin.

"Dari nada bicara orang she Toh agaknya mereka dari golongan pendekar juga. Apakah Pek jiko benar benar melakukan sesuatu kesalahan yang memalukan terhadap mereka?"Pek Kian bu tahu Geng Tian sudah mulai curiga terhadap dirinya, ingin ia segera naik keatas memberi penjelasan namun dalam waktu dekat belum bisa ia merangkai suatu cerita bohong maka hatinya menjadi gugup dan gelisah, sehingga kedua kaki seakan akan tidak mau dengar perintah lagi. Ternyata dalam menghadapi serangan gencar Siam tiong siang sat, tenaganya sudah terkuras habis, kedua kaki tertanam didalam lumpur lagi sampai ke dengkul begitu ia kerahkan tenaga melompat malah terjerumus jatuh semakin dalam. Kebetulan Lo Hou wi sudah memburu tiba melihat keadaannya itu keruan terkejut dan berteriak.

"Jiko kenapa kau?"

Lekas ia memburu kesana menolong Pek Kian bu dan diseret keluar dari lumpur. Tapi pakaiannya sudah kotor belepotan lumpur sudah tentu keadaannya amat runyam, katanya;

"Untung Geng Kongcu datang tepat pada waktunya sehingga engkohmu yang bodoh itu tidak sampai terluka. Samte terima kasih atas perhatianmu!"

Secara tidak langsung kata kata itu mengenali kedatangan Lo Hou wi yang terlambat sehingga dirinya serba runyam dan tidak enak dipandang mata.

Tak pernah terpikir bahwa ginkang Lo Hou wi bahwasanya jauh ketinggalan dibanding Geng Tian.

Lo Hou wi seorang polos, jujur, dan lucu lagi sedikitpun tidak mendengar nada saudara tuanya.Dengan air sungai Pek Kian Bu mencuci kotoran lumpur lalu dengan terpincang pincang merembet naik keatas.

Kata Lo Hou wi;

"Jiko, biar kubawakan kantong air ini, tadi apa yang telah terjadi?"

Melihat napas Pek kian bu sudah reda, barulah ia berani mengajukan pertanyaan.

"Nanti kuceritakan setelah bertemu Toako,"

Sahut Pek Kian bu, kebetulan dari dalam hutan berlari keluar seseorang dan dua orang itu kiranya Nyo Sugi adanya.

Karena melihat Pek Kian bu pergi sekian lamanya tidak pulang pulang mengambil air toh tidak perlu beberapa lamanya, kenapa harus tertunda sekian lamanya maka segera ia menyusul datang.

Seru Lo Hou wi girang.

"Toako sudah dating, kau tidak tahu barusan jiko bentrok dengan penjahat."

"Dimana para penjahat itu? Orang orang macam apa saja mereka?"

Tanya Nyo Sugi.

"Mereka sudah digebah lari oleh Geng kongcu,"

Sahut Lo Hou wi.

"Tidak,"

Sela Geng Tian.

"Mereka sendiri yang menghentikan pertempuran dan tinggal pergi. Entah orang orang dari golongan mana mereka kukira tidak bisa dikatakan penjahat."

"Memangnya siapa mereka sebenarnya?"

Nyo Sugi menegas.

"Mereka, mereka ... '' Pek Kian bu tergagap. Melihat orang susah bicara Geng Tian segeramenjawab.

"Pek jiko kau istirahat saja. Biar aku yang menjelaskan."

"Geng kongcu,"

Tanya Nyo Sugi.

"Kau kenal kawanan penjahat itu ?"

"Kenal sih tidak mereka menamakan dirinya Gin pak siang hiong dan Siam tiong siang sat."

Nyo Sugi melengak kaget, katanya.

"Jite kenapa kau bisa bermusuhan dengan Gi-pak siang hiong dan Siam-tiong siang sat?"

"Cukup panjang kalau kujelaskan persoalan ini biar sebentar kuterangkan kepada Toako,"

Demikian sahut Pek Kian bu.

"Baiklah mari kita kembali kebiara dan bicara disana saja, aturlah dulu pernapasanmu,"

Lalu ia genggam tangan Pek Kian bu terasa olehnya meski urat nadinya berdenyut keras, tapi tiada tanda-tanda luka-luka dalam, barulah lega hatinya. Pikirnya.

"Menghadapi Siang-tiong siang sat, ternyata Pek-jie tidak sampai terluka boleh juga."

"Orang macam apa sebenarnya Gi pak-siang hiong dan Siam-tiong siang-sat itu??"

Tanya Geng Tian. Nyo Su-gi lalu menjelaskan .

"Gi-pak siang hiong yang tua bernama Toh Hoa, seorang yang lain bernama Khong Ceh, walau kedua orang ini bukan dari golongan pendekar, nama mereka cukup harum dan ternama juga di kangouw. Sebetulnya sudah beberapa tahun yang silam Liong pangcu sudahhendak hubungan dengan mereka. Beliau suruh aku mencari jejak mereka, sayang aku tidak berhasil menemukan mereka."

"Lalu Siam-tiong siang sat ?"

"Siam-tiong siang sat mereka bernama Tio Thong dan Siu Ge ilmu silat yang mereka latih berbeda tapi digabung sama, merupakan aliran tersendiri."

"Dari golongan mana mereka ?"

"Aku sendiri tidak begitu jelas akan asal usul mereka. Kabarnya mereka adalah tokoh-tokoh yang setengah sesat dan setengah lurus. Namanya tidak seharum Gi pak-siang-hiong, tapi mereka agaknya tidak terlalu banyak kejahatan."

Disaat Nyo Su gi menjelaskan asal usul Siang hiong dan Siangsat itu, Pek Kian-bu tidak menyela bicara.

Tanpa terasa mereka sudah tiba didalam biara bobrok itu.

Melihat mereka kembali bersama, Ong Beng Im lantas bertanya .

"Geng kongcu, tadi adakah kau pernah kembali ?"

Geng Tian melengak, sahutnya heran .

"Tidak !"

"Kenapa kau bertanya demikian ?"

Tanya Nyo Sugi.

"Kutunggu-tunggu kalian tidak kunjung pulang baru saja aku hendak mapan tidur, tiba tiba mendengar suara keresekan, waktu aku angkat kepalaterlihat diluar lobang itu seperti ada sebuah bayangan hitam berkelebat cepat, aku mengejar keluar, namun apapun tidak kelihatan. Kalau bayangan orang, maka ginkang orang itu betul-betul hebat."

"O, maka kau sangka bayangan itu adalah Geng kongcu ?"

Oleh Lo Hou-wi tertawa. Kalau dia menggoda akan kesalahan prasangka Ong Beng-im, sementara dalam hati ia sendiri juga sedang menerka.

"Mungkinkah dia ?"

"Memangnya, kukira kalian diluar bentrok dengan musuh, Geng-kongcu kembali minta bantuan. Melihat Toako tiada, tahu bahwa sudah pergi membantu, maka ia tidak sempat masuk lagi,"

Demikian tutur Ong Beng im.

"Kalau Geng kongcu meski tidak melihat Toako tentu kau akan diajaknya,"

Demikian goda Lo Hou wi pula.

"Aku tahu bahwa terkaanku ini terlalu goblok, tapi ginkang orang itu memang teramat lihay, sulit kubayangkan kecuali Geng-kongcu, siapa pula yang punya ginkang sedemikian tinggi,"

Demikian Ong Beng-im menjelaskan kesalahannya. Pek Kian-bu menyela sambil tertawa.

"Site, waktu itu kau sudah ngantuk bukan, mustahil bayangan sudah kabur ?"Ong Beng-lm sendiri memang sulit memastikan diri, katanya;

"Maksudmu karena ngantuk sehingga aku terbayang baying."

"Biarlah kuperiksa dulu. Bolong yang mana ?"

Tanya Nyo Su-gi.

Biara kuno ini memang sudah bobrok dan tidak terawat lagi.

Dindingnya sudah banyak lobang dimana-mana.

Tapi lobang yang ditunjuk Ong Beng Im itu memang rada lain keadaannya, jauh lebih besar pula dari lobang lobang lainnya.

"Benar, memang ada orang mengintip disini,"

Kata Nyo Su gi pasti.

"Darimana kau tahu ?"

Tanya Pek Kian bu.

"Lihatlah ada runtuhan tembok yang baru jatuh dilantai. Lobang ini terang dikorek lebih besar oleh seseorang menggunakan senjata tajam, mungkin karena lobangnya yang semula dianggap terlalu kecil dan kurang jelas melihat keadaan didalam."

Kata Geng Thian.

"Menurut pendapatmu, mungkinkah bantuan Siang-hiong atau Siang-sat?"

"Kukira bukan, Siang-hiong dan Siang-sat pasti yakin kuat menghadapi kami berempat jika dia hanya hendak menuntut balas kepada jite, kukira tidak perlu mereka mendatangkan bantuan lainnya. Seumpama benar mengundang bala bantuan, toh tidak perlu main intip ditempat?"

Kata Nyo Su gi menganalisa."Jadi musuh lainnya mungkin?"

Tanya Geng Tian pula.

"Kukira bukan. Coba pikir kalau Ginkang orang itu begitu tinggi ilmu silatnya tentu tidak begitu lemah. Seorang diri Site berjaga di sini, kalau orang itu musuh bukankah kebetulan malah bisa meringkusnya dan dibawa pergi ?"

"Ucapan Toako tidak salah!'' Geng Tian memberikan suaranya.

"Kalau orang itu teman kita sepantasnya mengunjukkan diri. Dia pergi setelah mengintip, agaknya bukanlah teman. Bukan musuh bukan pula teman, ini betul rada aneh dan mengherankan."

"Siapa orang itu, tidak perlu kami persoalkan,"

Demikian ujar Nyo Sugi.

"Ji te, napasmu sudah teratur belum?"

"Ya sebab musabab dari permusuhanku dengan Siang sat dan Siang hiong sudah saatnya kututurkan kepada Toako.'' "Terlalu panjang untuk menjelaskan persoalan ini, Khong Ceh dari Gi-pak-siang-hiong punya seorang adik perempuan yang bernama Khong Ling, Toako tahu bukan?"

"Menurut cerita orang,"

Demikian kata Nyo Su-gi.

"konon adiknya perempuan itu juga pernah muncul di Kangouw malah memperoleh nama yang cukupterkenal. Tapi beberapa tahun belakang ini sudah tidak pernah kabar ceritanya."

"Mewakili orang tuanya Khong Ceh ini sebagai wali menjodohkan adiknya perempuan itu kepada Gan dari Siam tiong-siang-sat."

"O, jadi mereka keluarga bersama,"

Demikian kata Nyo Sugi.

"Memangnya kenapa ?"

"Soal ini harus kujelaskan dari peristiwa lainnya,"

Demikian tutur Pek Kian bu lebih lanjut.

"Suatu ketika aku pernah mendapat perintah dari pangcu, sebagai wakilnya merestui dan memimpin pembukaan berdirinya cabang di Jiong cia, kau masih ingat bukan ?'' "Benar, kejadian itu sudah lima tahun yang lalu. Tugas yang kau jalankan mendapat sukses besar, bukankah tidak pernah terjadi keributan apa?"

"Tidak, pernah terjadi sedikit keributan. Cuma kejadian itu tidak enak kulaporkan kepada Liong pangcu."

"O, keributan apa?"

"Jiang ciu terdapat seorang buaya darat yang dijuluki Hwe-gian lo, pemilik tanah ribuan bahu, membuka puluhan pegadaian. Menindas petani, memeras orang orang miskin dengan pajak berat sehingga rakyat amat marah kepadanya. Waktu aku tiba di Jiang-ciu kebetulan sebentar rakyat yang kelaparan sedang menyerbu datang kerumahnyahendak membongkar gudang makanannya. Maka setelah aku selesai memimpin peresmian berdirinya cabang dan segala selesai, para saudara anggota dan cabang Jiang ciu mohon kepadaku untuk tinggal sementara waktu, bantu mereka menggempur Hou keh-po."

"Hm, terhitung tidak mengabaikan harapan para saudara disana, aku ikut menyumbangkan tenagaku, dengan kerja sama dari dalam dan luar, akhirnya kami berhasil membobol benteng Hwe giam lo, dan sekali golok raja tanah itu kami bunuh."

"Memberantas kejahatan membunuh buaya darat, membela yang lemah demi kepentingan khalayak ramai adalah perbuatan yang harus dipuji bagi golongan kita. Pek jiko, tidak salah kau bunuh Hwe giam lo itu!"

Demikian Geng Tian memberikan suaranya.

"Bukankah urusan itu pernah kau laporkan kepada Liong-pangcu?"

Kata Nyo Sugi.

"Dalam kejadian ini ada terbelit persoalan lain yang tidak enak kulaporkan."

"Kalau memang tidak leluasa dikatakan tidak usah kau jelaskan. Aku percaya kepada kau !"

"Permusuhanku dengan Siang-sat dan Siang-hiong ini, meski Toako percaya akan kebenaran dipihakku, tapi kalau tidak kujelaskan, kukira sulit menghilangkan rasa curiga para saudara.""Ji-ko,"

Timbrung Ong Beng-im.

"minumlah dulu membasahi tenggorokannya."

Pek Kian-bu melanjutkan .

"Waktu itu karena pertahanan dan bangunan benteng Hou-keh-po amat kukuh dan sukar dijebol, maka sebelumnya sudah kami sepakatkan, secara diam-diam aku menyelundup kedalam benteng membunuh buaya darat itu, setelah berhasil barulah kami akan bergerak serempak dari dalam dan luar."

Nyo Su-gi manggut-manggut, ujarnya .

"Betul, memang harus begitu. Pertahanan benteng Hwe-giam-lo itu mungkin terlalu ketat dan kuat sekali, bagaimana kau bisa berhasil ?"

"Didalam benteng ada beberapa orang agen kami yang dipendam disana, menurut gambar yang dilukiskan kepadaku, aku menemukan kamar tidurnya, sudah tentu gampang saja kutemukan tanpa banyak keluar tenaga. Cuma, ada sebuah hal yang betul betul diluar dugaanku."

"Ilmu silat Hwe-giam-lo itu cukup tinggi ?"

Sela Lo Hou-wi.

"Waktu aku menemukan kamarnya dia sedang tidur memeluk seorang perempuan genit yang berdandan molek."

"Hartawan besar yang suka hidup foya-foya, tidaklah heran kalau punya tiga istri empat gundik tidur bersama dengan para gundiknya adalah kejadianbiasa. Dalam hal apa yang berada diluar dugaanmu ?"

Tanya Geng Tian.

"Hwe-giam-lo sendiri hanya bisa ilmu cakar ayam, biasa saja ilmu silatnya. Sebetulnya perempuan pesolek itu teramat tinggi kepandaiannya aku kena timpukan pisau terbangnya dan hampir saja jiwaku melayang. Tapi akhirnya toh aku berhasil membunuh mereka. Toako, coba kau tebak siapa perempuan pesolek itu. Ternyata dia adalah Khong Ling adik Khong Ceh itu atau calon istri Siu Gie."

Sebentar Nyo Sugi melengak, katanya .

"Hah, jadi begitulah kau mengikat permusuhan dengan mereka. Tak heran belakangan ini tidak pernah kudengar orang menyinggung Khong Ling kiranya kau sudah bunuh ?"

"Khong Ceh tahu tidak kalau adiknya melakukan perbuatan rendah dan kotor itu?"

Tanya Geng Tian.

"Sudah kujelaskan kepadanya, tapi ia tidak percaya. Siu Ge lebih membenci dan dendam kepadaku, malah dia menuduh aku hendak memperkosa calon istrinya, karena gagal lantas membunuhnya."

"Ada tidak orang lain yang menjadi saksi waktu kejadian itu berlangsung ?"

Tanya Nyo Sugi.

"Waktu itu aku belum tahu kalau dia itu Khong Ling, setelah laskar rakyat menyerbu masuk ke Hou-keh-po dan membongkar gudang makanan, lantas menyulut api dan membakar Hou-keh-po menjaditumpukan puing Hwe-giam lo dan Khong Ling ikut terbakar didalam api. Para saudaranya hanya tahu bahwa yang kubunuh adalah Hwe giam-lo dengan gundiknya."

Nyo Su-gi mengerut alis, katanya.

"Sang korban sudah mati dan tiada bukti atau saksi, sungguh sulit juga untuk menyelesaikan persoalan ini."

"Justru karena Gi-pak-siang-hong punya nama harum di Kangouw, maka kalau hal ini sampai bocor dan tersiar diluar, bukan saja menjatuhkan pamor mereka, tentunya merusak persahabatan pula. Maka aku terima difitnah mereka dan tidak akan kubongkar borok ini dihadapan orang banyak,"

Demikian Pek Kian-bu membela diri. Nyo Su-gi menepekur sebentar, lalu katanya.

"Betul, demi gengsi dan nama baik, kita terima mengalah saja, toh kebenaran memang dipihak kita, kalau aku sendiri yang terlibat dalam persoalan ini, akupun akan berbuat demikian. Tapi, kaupun tidak perlu risau, perkara pasti dapat dibikin jelas, pelan saja akan kucarikan daya upaya. Suatu ketika pasti Siang-sat dan Liang-hong dapat kuberi pengertian."

Maksud Nyo Su-gi sebagai seorang tertua adalah baik dan jujur dan demi kepentingan mereka bersama, namun mendengar janji Toakonya itu, hati Pek Kian-bu menjadi was-was dan tidak tenteram.

"Mungkin Toako hanya sekedar omong saja. Dengan cara apa ia dapat menyelidiki perkara ini sampai terang."Sebetulnya mereka hendak mengobrol semalam suntuk, namun karena Pek Kian-bu barusan bertempur sengit gara-gara perkara yang runyam itu, maka hilanglah semangat mereka untuk mengobrol lebih lanjut, berkata Nyo Su-gi .

"Jite harus istirahat dulu, marilah tidur semua. Kelinci itu biar kita panggang besok pagi."

Walau menghibur diri sendiri, namun karena Pek Kian-bu dibayangi perbuatan sendiri yang selalu mengganjel dalam sanubarinya, semalam suntuk ia gulak-gulik tidak bisa tidur pulas.

Demikian juga Geng Tian dirasakan pikiran yang timbul tenggelam, semalaman ia pun tidak bisa tidur, pikirnya.

"Seorang laki laki sejati tidak merebut kesenangan orang lain, aku sudah tahu kalau Lo Hou wi menaruh hati terhadap nona Nyo, soal merunding turut mengikat perjodohan, ah, tak usah dibicarakan saja."

Sedang pikirannya melayang layang itulah mendadak didengarnya suara "Plok"

Melayang masuk sebutir batu. Geng Tian dan Pek Kian bu sama tidak tidur, maka mereka berdua yang berjingkrak kaget lebih dulu Pek Kian bu membentak.

"Siapa? Aduh ....'' ia sangka Siang-sat putar balik hendak menuntut balas pula kepadanya, namun baru saja ia membentak kontan ia menjerit kesakitan, karena ketimpuk sebutir batu yang telah mengenai urat nadinya yang penting, saking kesakitan ia bergelindingan dilantai.Sebat sekali Geng Tian melesat keluar dilihatnya sesosok bayangan bagai meteor jatuh melesat kesana. Geng Tian rada kaget batinnya.

"Ginkang orang begitu lihay mungkin, mungkinlah ..."

Tapi ia berpikir pula.

"Tidak mungkin, kalau betul dia, mana mungkin dia melukai Pek-jiko dengan senjata rahasia?"

Kiranya iapun mencurigai bayangan hitam itu adalah bayangan yang mengintip dan dilihat Lo Hou-wi tadi, dia bukan lain adalah putrinya Nyo Yan-sing yang bernama Nyo Wan-ceng.

Malam amat gelap berada ditengah hutan lebat lagi sehingga sulit Geng Tian membedakan laki-laki atau perempuan bayangan yang dikejarnya itu.

Melihat orang berlari begitu kencang timbul ingin menang sendiri dalam hatinya.

"Baik biar kami bertanding menjajal Ginkang siapa lebih unggul."

Segera ia kembangkan Pat-poh-han-tan (delapan langkah mengejar tonggeret) bagai menunggang angin ia mengudak dengan kencang.

Sekejap saja mereka masuk kehutan yang lebih dalam dan lebat, tanpa bersuara orang itu terus kembangkan Ginkangnya melarikan diri.

Lapat2 terdengar oleh Geng Tian, Nyo Su-gi sedang berteriak kepadanya di bawah sana.

"Geng kongcu kembalilah!"

Ternyata Nyo Su-gi insaf ginkang sendiri tidak akan mampu menandingi mereka tapi berkuatir seorang diri Geng Tian bisa terjebak muslihat musuh, maka dia berteriak supaya kembali saja.Sudah tentu Geng Tian tidak hiraukan seruannya, kakinya malah dipercepat.

Tak jauh didepan sana didalam kegelapan tampak selebat lamping gunung curam yang mencuat naik tak kelihatan berapa tingginya, untunglah lamping gunung ini tidak licin malah diberbagai tempat tampak batu besar yang menonjol dan lekukan tanah yang tidak merata menginjak batu2 dan lekukan-lekukan tanah itulah dengan mengembangkan Ginkangnya orang itu terus berlari naik keatas seperti memanjat tangga.

Sambil berlompatan seenteng burung setelah kira-kira tujuh delapan tombak ia berpaling melongok kebawah.

Sekonyong-konyong Geng Tian tersentak sadar dan waspada pikirannya.

"Dia diatas aku dibawah, waktu aku berlompatan naik keatas cukup ia menghamburkan batu batu gunung, bukankah aku bakal mati konyol dengan badan hancur?"

Disaat ia bimbang dan berkeputusan itulah sambil menoleh kebawah orang itu menjengek.

"Tidak berani mengejar kemari ya?"

Suaranya melengking tinggi dan cepat sekali kata-katanya diucapkan dari mulutnya terang sekali orang sengaja bicara dengan mengecilkan nada merubah suara aslinya.

Karena olok-olok ini Geng Tian panas hatinya bentaknya.

"Kau bisa naik akupun bisa, memangnya kau anggap aku takut?"

Mengeraskan kepala segera ia manjat naik keatas lamping gunung yang curam itu.

Diluar dugaannya ternyata orang itu tidak berusahamengganggu atau merintangi dirinya dengan bokongan, sambil bertolak pinggang ia berkata dari tempat diatas.

"Hebat benar memang kau punya keberanian."

Setelah berdiri tegak Geng Tian mengerahkan pandangan matanya dibawah sinar bulan sabit yang redup sinar-sinarnya, dilihatnya orang berperawakan kurus kerempeng mengenakan topi beludru, topinya tertekan dalam sampai menutupi alisnya, demikian juga mukanya mengenakan cadar hanya terlihat sepasang matanya.

"Siapa kau?"

Tanya Geng Tian curiga.

Belum lenyap suaranya tiba-tiba matanya kabur akan kelebatnya selarik sinar perak tahu-tahu orang itu sudah mencekal sebatang cambuk panjang lemas lencir berwarna putih kemilau.

"Sret"

Tanpa bicara ia terus menyabet kepada Geng Tian jengeknya dingin.

"Kabarnya kau dijuluki Lan-cian jiu ingin aku menjajal kepandaianmu?"

Karena tidak menduga hampir saja Geng Tian kena sapuan cambuk lawan, sigap sekali dengan rasa gugup dia memutar langkah melintir badan berkisar kesamping orang itu, maka terdengarlah suara "Cret'' meski ia berkelit dengan cepat, tak urung pakaiannya tersobek sobek.

Namun sambil berkelit Geng Tian melancarkan serangan balasan, gerak geriknya sungguh teramat cepat dan cekatan sekali.

Kejadian berlangsung amatcepat, orang itu menggunakan jurus Wi hong sau yap (angin lepus menyapu daun) cambuk peraknya menyabet datang pula, tahu tahu Geng Tian sudah mengeluarkan kipas lepitnya dengan tipu Huit han hun (hujan deras membalik awan), ia sampok cambuk lawan kesamping.

Kedua orang sama menggunakan senjata tunggal masing masing dan sengitlah pertarungan adu kepandaian ini.

Kalau kipas Geng Tian dikembangkan bisa digunakan sebagai Ngo heng kiam kalau dilepit bisa digunakan sebagai Boan koan pit didalam penggunaannya yang keras itu terdapat kelembutan demikian pula sebaliknya kalau bergerak cepat laksana kilat atau geledek menyambar, setiap jurus tipunya mengarah Hiat to penting dibadan lawan.

Kalau bergerak tenang dan lamban, sekokoh gagang bercokol diatas bumi meski kipasnya kecil dan pendek, namun dapat dimainkan sedemikian rapatnya, seumpama hujan deraspun tidak akan bisa tembus.

Tapi ilmu cambuk orang itu pun teramat lincah dan enteng bagai bulu melayang, cambuk panjangnya, sebaliknya kipas lempit Geng Tian pendek didalam penggunaan senjata dia lebih jauh lebih unggul dan menguntungkan.

Begitulah kedua pihak serang menyerang menjaga diri sama sama mengembangkan ilmu silat masing masing dengan berbagai variasi yang tidak kurang ratusan rupa banyaknya.

Selama iniGeng Tian harus mengakui kehebatan lawan, karena keadaan masih tetap berimbang sama kuat.

Dalam pertempuran yang menanjak sampai puncaknya, Geng Tian melancarkan Lwekang dan ilmu pukulan dari Tay gan pat sek yang tinggi didalam berkelebatnya bayangan kipas diselingi oleh ribuan pukulan telapak tangannya, mendadak jarinya meraih dan telak sekali ia pegang ujung cambuk lawan.

Begitu kipas dilepit menyusuri badan cambuk yang menerjang itu kipasnya memapas keatas kepergelangan tangan lawan.

Jurus permainan ini amat aneh dan mendadak pula, agaknya orang itu tidak menyangka kalau Geng Tian bukan bergerak menempuh bahaya tanpa pikirkan resikonya dalam gugupnya sudah tentu cambuknya tidak mempan dibetot lepas, dalam seribu kerepotannya sigap sekali ia doyongkan badannya kebelakang sehingga pinggulnya melengkung hampir menyentuh tanah, sehingga ia terhindar dari papasan kipas lawan.

Betapa cepat gerak tangan Geng Tian serangannya ini sebetulnya bisa melukai orang namun ia lantas berpikir.

"Tadi dia tidak membokong aku secara menggelap, mana boleh aku melukainya !"

Maka ia membentak .

"Lepas cambukmu !"

Bagai pisau yang tajam pinggir kipasnya memapas kejari tangannya.

Bagi pertarungan silat tingkat tinggi yang direbutnya hanyalah inisiatip menyerang lebih dulu,kalau dalam melancarkan serangan ini Geng Tian membungkukkan badan menusuk ketenggorokan lawan meski tidak sampai membahayakan jiwa orang, paling tidak ia bisa menundukkan lawan.

Tapi karena perubahan pikiran dan sedikit merandek, peluang yang mungkin bahaya berlangsung sepersepuluh detik, namun cukup digunakan lawan untuk balas menyerang.

Didengarnya lawan menjengek dingin.

"Belum tentu."

Tiba tiba terasa telapak tangannya panas dan sakit, ujung cambuk perak lawan tahu tahu sudah terlolos lepas dari sela sela jarinya Gen Tian.

Dengan jumpalitan membundar miring, orang itu mencelat bangun.

"Sret"

Cambuknya tertarik lewat dari bawah kaki Geng Tian.

Reaksi Geng Tian cukup cepat pula lekas ia gunakan gerakan Ui ho cion thian (burung bangau melesat kelangit), sedikit ujung kakinya menutul bumi, badannya lantas terapung tinggi ketengah udara.

Tapi samberan cambuk lawan lebih cepat dari gerakannya, ujung cambuk orang seperti lidah ular yang hidup, tahu tahu ikut mendongak keatas telapak kaki Geng Tian toh terkena lecutan juga.

Sungguh heran, sedikitpun Geng Tian tidak merasakan sakit oleh lecutan cambuk orang yang cukup keras itu, seolah olah lawan hanya bermain main saja sekejap lain cambuk orang sudah ditarik balik dari bawah kakinya, ujarnya.

"Sekarang siapapun tidak berhutang kepada siapa, mari diteruskan !"Melihat gerakan lawan begitu cepat diam diam kagum Geng Tian dibuatnya pikirnya.

"Tadi kalau aku benar benar melancarkan serangan ganasnya, mungkin dia dapat meloloskan diri juga. Sebaliknya serangan cambuk itu toh tidak pernah memutuskan tulang kakiku. Agaknya memang dia tidak mengandung hati jahat !"

Disaat ia berpikir pikir itulah, bagai hujan bayu yang deras, cambuk lawan telah menyerang datang pula, seru Geng Tian.

"Ilmu cambukmu memang hebat aku yang rendah terima kalah saja. Siapa kau sebenarnya, dapatkah aku mengetahui ?"

Karena berbicara perhatiannya terpencar.

"Sret !"

Cambuk mengenai punggung Geng Tian, bentaknya.

"Tidak usah mengalah, hari ini harus bertanding mencapai menang atau kalah. Kau berhutang sekali cambukanmu, lain kali aku tidak akan mengenal kasihan lagi."

Cambukan yang mengenai Geng Tian itu hanyalah serangan pura pura belaka maka Geng Tian tidak merasa sakit. Timbul rasa dongkol Geng Tian, pikirnya.

"Baik, kalau toh kau memaksa hendak bertanding sungguhan terpaksa aku mengiringi kehendakmu!"

Orang itu sudah menempatkan dirinya pada posisi yang menguntungkan, Geng Tian sulit melepaskan diri dari rabuan lawan yang gencar dalam sekejap saja telah puluhan jurus berlangsung.Selalu Geng Tian melihat disaat keadaan sudah mencapai saat saat genting yang bakal menentukan lawan sengaja mengabaikan kesempatannya yang amat baik itu.

Batinnya dalam hati.

"Mulutnya berkata tidak akan menaruh kasihan, kenapa agaknya dia kuatir melukai aku ?"

Demikian pula orang itu sedang berpikir.

"Lwekangnya lebih unggul tidak kurang satu tingkat lebih tinggi, kenapa disaat saat yang menentukan dia tidak menggunakan Tay gak pat sek untuk mengadu kekerasan dengan aku. Belum tentu dia tahu siapa aku mungkin karena tadi aku sengaja tidak melukai dia maka dia-pun membuang kesempatan menggunakan tangan kejinya kepadaku. O bajik dan cinta kasih juga hati orang ini, menurut watak ayahnya sebagai keluarga pendekar yang berjiwa besar dan luhur!"

Dua pihak sama memuji dan kagum terhadap lawannya tiba tiba timbul rasa ingin tahu Geng Tian.

"Kenapa dia tidak berani mengunjukkan muka aslinya ?"

Mendadak ia mendapat akal tiba tiba mendesak maju mendekat dan melancarkan satu serangan dengan menempuh bahaya dan resiko, ujung kipasnya menuding ketimur memukul ke barat menutuk keselatan memukul ke utara, bagai kilat sekaligus ia mencecah dengan puluhan jurus tipu tipunya yang keji dan telengas.

"Bagus ya memangnya kau hendak adu jiwa ?"

Demikian bentak orang itu. Belum lenyap suaranya terdengar "Craaas"

Lalu "Craaas"

Lagi lagi Geng Tian terkena lecutan cambuk lawan.

Agaknyaorang benar benar mengerahkan tenaganya sehingga lengan Geng Tian berbekas merah memanjang tapi topi beludrunya kena tersampok jatuh oleh Geng Tian malah pinggir kipasnya yang tajam itupun ditekan menurun dan mengiris cadar mukanya itupun kena digores lepas.

Ternyata memang Geng Tian nekad dan terima dicambuk oleh lawan, barulah dia berhasil mendesak maju kedepan orang dan berhasil menggigalkan topi dan cadar dimuka orang.

Gerakan Geng Tian memang sudah diperhitungkan sehingga pinggir tulang kipasnya yang tajam itu sedikitpun tidak melukai kulit mukanya.

Maka tampaklah rambut orang yang panjang terurai semampai dengan seraut wajah bundar telur yang bersemu merah, sepasang matanya bening bagai mata burung Hong, bibirnya kelihatan rada cemberut agaknya menahan kedongkolan hati, orang ternyata adalah seorang gadis jelita yang menawan.

Sekilas Geng Tian melenggong, cepat ia menjura minta maaf.

"Aku, aku tidak tahu kalau kau, kau adalah..... aku berbuat salah pada nona, harap nona sekali sekali tidak marah!"

Sebetulnya ia hendak berkata.

"Aku tahu kalau kau perempuan", melanjutkan kata katanya itulah sinona lantas bertanya.

"Bagus, apakah kau sudah tahu siapa aku sekarang?"

Sembari bicara ia menggulung cambuk peraknya itu menjadi gelang yang bundar terus dipakai dilengannya.Geng Tian berpikir.

"Ginkang nona ini begitu lihay, naga naganya usianya belum cukup dua puluh tahun, cocok pula dengan yang digambarkan Lo Hou wi, apakah dia benar-benar nona Nyo itu?"

Gadis itu terkikik geli, katanya.

"Apakah Lo Hou wi tidak pernah bicara dengan kau mengenai diriku?"

Mendengar pertanyaan ini, barulah Geng Tian sadar bahwa dugaannya ternyata tidak meleset, sahutnya.

"Jadi kaulah yang dipanggil nona Nyo?"

"Betul! Akulah Nyo Wan ceng,"

Sahut gadis itu. Sungguh girang, kaget dan curiga pula Geng Tian dibuatnya, kemudian serunya .

"Nona Nyo, aku memang sedang mencarimu!"

Berdebarlah jantung Nyo Wan-ceng, tanyanya.

"Untuk keperluan apa engkau mencari-cariku?"

"Waktu aku masih kecil, kami ibu beranak pernah berulang kali mendapat bantuan dan pertolongan ayah ibumu!"

"Waktu itu, aku sendiri belum lagi lahir tidak perlu kau berterima kasih kepadaku!"

"Ayah ibuku sering berpesan kepadaku wanti wanti, katanya aku harus berdaya supaya menemukan kalian langsung mengucapkan terima kasih secara berhadapan dengan beliau. Tak nyana ayahmu sudah meninggal terpaksa minta nona suka antar aku kedepan kuburan beliau supaya aku berziarah kesana."Sebetulnya, Nyo Wan ceng ingin orang mengatakan sebab musababnya mencari dirinya, mendengar orang hanya membicarakan hal hal yang tidak diinginkan, tanpa terasa hatinya menjadi gundah dan risau. Mana dia tahu bahwa Geng Tian sudah curiga bahwa dirinya sudah mengikat janji dengan Lo Hou wi maka soal perjodohan sudah tentu tidak enak disinggung lagi. Sebaliknya meski ia berjiwa pendekar yang bersifat gagah dan terbuka. Betapapun sebagai anak perempuan kalau pihak laki laki tidak menyinggung soal perjodohan, sudah tentu ia tidak leluasa menyinggungnya lebih dulu. Sesaat mereka berdiam diri, berkatalah Nyo Wan ceng tawar.

"Ayahku dikebumikan di Pak-bong-san mana berani menulutkan Kongcu kesana. Maksud baik Kongcu, biarlah lain kesempatan kulaporkan dihadapan pusaran ayah saja."

"Sudah sepantasnya aku sendiri berziarah kesana, tapi mungkin nona tiada tempo menemui aku terpaksa biarlah mencari kesempatan lain saja setelah aku menghadap kepada ibumu."

"Geng kongcu bukankah kau hendak pergi ke Ki lian san? Banyak persoalan dalam Ceng liong pang yang perlu segera kau bantu menyelesaikan, kukira kau tak perlu banyak peradatan, kau main sungkan saja!""Nona Nyo, kukira kau yang terlalu sungkan, Ayah bunda kami adalah saudara angkat kenapa kau memanggilku demikian?"

Seperti tertawa tidak tertawa, berkata Nyo Wan ceng;

"Lalu kau minta aku memanggil apa kepada kau? Oh ya, usiamu lebih tua dari aku, biarlah aku memanggilmu Toako saja bagaimana?"

Geng Tian tahu sedang menjajal dan hendak mengorek isi hatinya, begitulah ia sedang meraba raba maksud hati orang, dan pikirannyapun terlalu berbelit-belit.

"Entah ia tahu tidak persoalan menuding perut mengikat jodoh tapi maksudnya itu terang hendak menentukan hubungan kakak adik dengan aku, untuk menghindari rasa kikuk dan curiga."

Maka ia segera menjawab.

"Sebetulnya aku tidak berani terima, tapi mengingat hubungan kedua keluarga kami sebetulnya kami boleh dianggap sebagai kakak adik sekandung kalau begitu akupun tidak perlu sungkan-sungkan memanggilmu Hian moay saja!"

"Orang memanggilku sebagai iblis perempuan cilik, panggilanmu itu tidak cocok dengan kenyataan, panggilan engkoh dan adik dihadapan orang banyakpun tidak enak didengar lebih baik kau panggil namaku saja."

Demikian kata Nyo Wan-ceng dengan tertawa dibuat-buat.

"Baik, adik Wan ceng mari pulang dulu dan bicarakan disana sudah sekian lama aku keluar mungkin mereka sangka aku menghadapi apa apakalau kau datang bersama aku, tentu membuat mereka lega."

"Pulang kemana maksudmu?"

Geng Tian melengak katanya;

"Bersama Lo Hou-wi beramai kami menempati sebuah biara bobrok bukankah kau pernah kesana, tentu Lo Hou-wi juga ingin bertemu dengan kau, apakah kau tidak ingin bertemu dengan mereka?"

"Memang aku hendak beritahu kepada kau, aku tidak ingin bertemu dengan mereka. Ada dua hal, kuharap kau menyampaikan kepada Nyo Su-gi di saat tiada orang ketiga hadir."

Geng Tian serba heran dan tidak mengerti, katanya;

"Aku pun ingin tanya kau, bukankah kau tadi yang melukai Pek jiko dengan senjata rahasia? Karena kedua halmu itu, maka kau tidak ingin bertemu dengan mereka ?"

"Betul itulah sebab pertama, tentu kau amat heran kenapa aku melukai Pek Kian bu dengan senjata rahasia bukan?"

"Ya, memang aku amat heran."

"Itu hanya hukuman yang ringan mengingat Nyo Su gi dan Lo Hou-wi. Tapi hal ini sementara janganlah kau beritahukan kepada mereka."

"Geng Tian kaget tanyanya.

"Apakah Pek Kian-bu orang jahat?""Siam tiong siang sat dan Gi pak siang hiong hendak menuntut balas kepadanya, kau pernah membantu kesulitannya bukan?"

"Benar! Apa itu waktu kaupun ada di-sana?"

"Aku justru sembunyi dibelakang pohon besar itu dan mengintip perkelahian kalian hanya saja kau tidak tahu. Dalam hal ini apa yang Pek Kian bu jelaskan kepada kalian?"

Geng Tian lantas menuturkan penjelasan Pek Kian bu kepada Nyo Sugi beramai itu secara ringkas berulang ulang Nyo Wan-ceng mengulum senyum mengejek dan tertawa dingin.

Geng Tian heran dan tak habis mengerti melihat sikap orang, tanyanya.

"Apakah kau tahu duduk perkara yang sebenarnya?"

"Apa yang dikatakan Siang hiong dan Siang sat jauh berlainan dengan cerita Pek Kian bu itu."

Ternyata sebelum ini ia sudah bertemu muka dengan Siang hiong dan Siang sat baru putar balik. Sedikit lega hati Geng Tian katanya.

"Pepatah ada bilang keburukan rumah tangga pantang tersiar keluar. Demi menjaga nama baik adiknya, adalah jamak kalau Khong Ceh bicara dengan nada Iain. Dalam hal ini agaknya kami tidak perlu percaya begitu saja terhadap kata sepihak!"

"Bukan aku hanya percaya ucapan Khong Ceh saja. Tetapi... .""Tapi kenapa?"

"Khong Ling adik Khong Ceh itu adalah kawanan karib Suciku, dia tahu karakter Khong Ling sekali kali tidak sebejat itu apa lagi cabul seperti yang diceritakan Pek Kian bu. Cuma sampai sekarang kami belum mendapatkan bukti akan perbuatan perbuatan kotor dari pek Kian bu."

Hati Geng Tian mencelos hatinya.

"Kalau Pek Kian bu itu benar benar membuat betul betul dia manusia kotor dan hina dina."

Kata Nyo Wan ceng lebih lanjut;

"Meski kami belum mendapatkan bukti yang nyata tapi sudah kudapat sumber penyelidikan akan datang suatu ketika perkara ini dapat diselidiki dengan terang. Cuma kau harus hati hati terhadapnya."

Agaknya Nyo Wan ceng tidak enak menjelaskan secara gamblang atau masih ada sesuatu yang disembunyikan karena perkara ini menyangkut gengsi dan nama baik seorang maka tidak enak ia banyak tanya.

Berkata pula Nyo Wan ceng.

"Sementara jangan kau katakan juga kepada Nyo Su gi tapi boleh kau beri bisikan bahwa Pek Kian bu kurang dapat dipercaya agar dia hati hati. Tapi kalau dia minta kau punya bukti bukti apa apa katakan saja bahwa utusan Toh Hok dari Kim ki nio yang suruh menyampaikan hal ini kepadanya. Kau tahu Hok dari Kim ki nio?""Pernah kudengar dari ayah bahwa dia adalah salah seorang Toa thaubak kepercayaan Liu lihiap."

"Ya, Maka katakan saja bahwa aku adalah utusan dari Toh Hok tetapi harus kau sampaikan kepada Nyo Sugi bahwa kau hanya berduaan saja."

"Bagaimana kalau Lo Hou wi bertanya kepadaku? Boleh tidak kukatakan kalau aku bertemu dengan kau?"

"Tadi sudah kukatakan, sementara harus mengelabui Nyo Sugi mana boleh kau beritahu kepada Lo Hou wi segala?"

Geng Tian berpikir.

"Kuduga hubunganmu dengan Lo Hou wi tentu lain dengan orang lain."

Tapi melihat Nyo Wan ceng menarik muka, mereka baru bertemu muka pertama kali ini Geng Tian melengak maka ia tidak berani menggoda lebih jauh.

"Urusan kedua ini jauh lebih penting dari persoalan Pek, langsung dengan Nyo Su gi saja."

"Urusan penting apa?"

Nyo Wan ceng mengeluarkan surat rahasia itu, katanya.

"Surat dinas ini adalah tulisan Wanyen Tiang ci yang ditujukan kepada Li Ih siu penguasa kota Liang ciu utusan yang mengirim surat ini kebetulan kepergok olehku ditengah jalan."

Setelah membaca surat itu Geng Tian-pun amat terkejut, katanya.

"Wah kiranya mereka sudah tahubahwa markas besar Ceng liong pang berada di Ki lian san, untung kau keburu merampas surat ini ditengah jalan."

"Putra Li Ih siu secara diam diam bergerak di bawah tanah menentang penjajah Kim ada hubungan erat dengan Yau hoan ih. Setelah sampai di Ki lian san boleh kau beritahukan kepada Liong pangcu. Ditengah jalan kalau tiada kesempatan bicara berhadapan dengan Nyo Sugi lebih baik tidak usah kau katakan saja."

Setelah menyimpan surat itu berkata Geng Tian tertawa.

"Kau pernah berpesan sekali masih ada pesan apa lagi?"

"Sudah tiada,"

Ujar Nyo Wan ceng tertawa dibuat buat.

"Sebenarnya aku sendiri hendak..."

O^~dwkz^hendra~^O

Jilid 23

"Sudah tiada,"

Ujar Nyo Wan ceng tertawa dibuat buat.

"Sebenarnya aku sendiri hendak pergi ke Ki-lian-san, tapi kau bisa mewakili aku mengantar surat itu, aku bisa hemat tenaga, tak usah pergi jauh. Eh, kau harus segera pulang, aku tidak perlu banyak cerewet lagi,"

Sikapnya kurang wajar. Geng Tian tersentak sadar batinnya.

"Aku terlalu lugu, mungkin dia salah paham terhadapku,"

Tapibertemu baru sekali, sungkan pula rasanya ia melimpahkan perasaan hatinya.

"Aku tidak katakan kau cerewet, tinggallah sebentar lagi sambil mengobrol,"

Terpaksa dengan mendelong ia awasi punggung orang yang semakin jauh, sekejap saja sudah hilang dari pandangan mata.

Seorang diri Nyo Wan ceng turun gunung pikiran kalut dan perasaan gundah rada rada senang, namun banyak kecewa pula akhirnya hatinya terasa hambar.

Yang disenangi, karena Geng Tian sang kekasih yang selalu dibayangkan itu ternyata jauh lebih baik kenyataannya, bukan saja berwajah tampan, tegap, ilmu silatnya pun lebih tinggi dari dirinya.

Kecewa kareka sejak mula sampai berpisah, orang tidak menyinggung sepatah kata-pun mengenai perjanjian jodoh oleh ibu masing-masing yang menuding perut merangkap perjodohan mereka.

Bahwa tadi ia terlambat pergi, adalah menunggu Geng Tian membicarakan hal itu, tak nyana dari nada bicara Geng Tian rasanya menyuruh dirinya lekas pergi saja.

"Apakah dia tidak tahu akan hal ini? Ataukah dia membenci aku. Hm, dia tidak menghiraukan aku, memang aku pingin disanjung puji olehnya, anggap saja tidak pernah terjadi hal itu. Tapi aku perlu tidak menuju ke Ki-lian-san?"

Karena jengkel dan merengek itulah ia jadi menyesal kenapa sengaja ia datang kemari untuk menemui Geng Tian.Ternyata ditengah jalan ia mendapat jejak Siang-sat dan Sam tiong hendak menuntut balas kepada Pek-kian bu, kuatir bisa merembet yang lain lain sehingga Nyo Sugi dan Geng Tian beramai ikut bentrok dan terluka, maka sengaja ia kuntit dan mengikuti terus jejak mereka sampai di sini.

Secara sembunyi tadi ia sudah saksikan permainan ilmu silat Geng Tian dalam beberapa kilauan saja maka tak tahan ia pancing orang keluar untuk menjajal sendiri.

Kalau menurut rencana semula ia langsung menuju ke Ki lian san, kesempatan untuk bertemu dengan Geng Tian akan jauh lebih banyak, tapi sekarang setelah ia bertemu dengan Geng Tian, menjadi sungkan dan kikuk untuk pergi ke Ki-lian-san.

"Perlukah aku pergi ke Ki lian san?"

Timbul pikiran didalam benaknya mendadak ia seperti menemukan rahasia relung hatinya, ternyata bahwa begitu besar keinginannya mengharap bertemu lagi dengan Geng Tian.

Bukan saja ia marah dan gemas pada diri sendiri, maka hatinya semakin hambar dan risau.

Mendengar bayangan orang yang menghilang dibalik hutan hati Geng Tianpun hambar.

Teringat oleh Geng Tian waktu ia hendak meninggalkan rumah ibunya memberitahu tentang ikatan jodoh ini waktu itu ia malah berkata.

"Toh belum diketahui anak yang dilahirkan bibi Nyo putra atau putri, kenapa kau bersitegang leher ?"

Ibunya berkata.

"Pendek kata kalau laki laki, kalian harus mengikat persaudaraan,jika putri kau harus mengawininya sebagai istrimu, keluarga Nyo besar budinya terhadap kami, sekali-kali jangan kita melupakan kebaikan dan membalas air susu dengan air tuba."

Bagaimana juga daya tarik anak muda jauh lebih besar apalagi persoalan mengenai pernikahan atau hidup masa depannya, sejak tahu bahwa dirinya mungkin sudah punya calon istri, tak urung selalu ia berpikir dalam hati.

"kalau kebetulan putri, entah bagaimana keadaannya bagaimana ilmu silatnya. Seumpama dia tidak mencocoki seleraku, apakah aku harus patuh akan perintah orang tua?"

Tapi meski dalam hati ia pernah memikirkan kekuatiran ini, namun ia sudah mengambil keputusan secara diam diam.

"Ucapan itu memang tidak salah, mereka begitu baik dan berbudi besar terhadap kami, memangnya kami harus ingkar janji terhadap budi kebaikan mereka. Meski seburuk kuntilanakpun, aku harus mengawininya."

Malam ini diluar dugaan ia bertemu dan kelihatannya secara berhadapan, raut wajahnya cantik rupawan, ilmu silatnya betul betul amat mengesankan.

Sayang ia bertemu dengan kekasih yang dibayangkan ini setelah ia tahu bahwa hubungan orang dengan Lo Hou wi adalah begitu baik dan intim, meskipun hatinya girang dan kejut, mau tidak mau perasaan dan tindak tanduknya sudah jauh berlainan dengan sebelum ini.Dengan hati hambar, ia terlongong sekian lamanya tiba tiba terpikir olehnya, ''Mengandal kepandaian Ginkangnya, sejak tadi ia sudah berada disini, kenapa ia tidak langsung mencari Lo Hou wi, sebaliknya memancing aku kemari?

Waktu itu bukankah Lo Hou-wi belum menyusul tiba?

tiada orang lain disisinya, bukankah merupakan kesempatan yang baik.

Ah, toh sebelum ini kami masih asing satu sama lain, kenapa dia begitu percaya kepadaku, dua persoalan rahasia yang pantang diketahui oleh Lo Hou wi, dia bocorkan dan memberitahu kepadaku?"

Tiba-tiba berdebar jantung Geng Tian, pikirnya pula.

"Kenapa aku memikirkan sampai kesitu? Apakah aku mengharap sikapnya jauh lebih baik terhadapku dari pada terhadap Lo Hou-wi? Geng Tian, oh Geng Tian, disinilah letak kesalahanmu! Sebagai laki laki sejati mana boleh kau bertindak begitu rupa merugikan kepentingan sesama sahabat ? Lebih baik biar aku membangkang dan durhaka terhadap ayah ibu sendiri saja!"

Waktu pikiran kalut dan bimbang itulah tahu tahu Lo Hou wi sudah muncul di hadapannya. Melihat Geng Tian, Lo Hou-wi kegirangan serunya dari kejauhan.

"Geng-heng terkejar tidak orang itu?"

Serba sulit bagi Geng Tian.

"Perlukah kuberi tahu kepadanya? Persoalan Pek Kian-bu boleh tidak usah diberikan kepadanya. Tapi nona Nyo adalah sahabatnya. Masa aku tidak perlu memberi tahukepadanya bahwa dia tadi sudah datang? Memang nona Nyo sendiri pernah berpesan kepadaku tidak usah memberitahu kepadanya.Tapi siapa tahu kalau nona Nyo itu kuatir jejak hatinya konangan maka sengaja ia berpesan demikian."

Lo Hou wi sudah memburu dekat tiada kesempatan berpikir bagi Geng Tian, katanya.

"Sungguh menyesal tidak kecandak!"

Akhirnya ia menuruti pesan Nyo Wan ceng. Di mulut berkata menyesal terpaksa harus berbohong kepada Lo Hou wi.

"Mengandal Ginkangmu masih tidak terkejar? Orang itu laki atau perempuan?"

Geng Tian tertawa.

"Kau sangka Nyo itu. Kalau kukatakan mungkin membuat kau kecewa saja, dari bayangannya kulihat bahwa dia adalah laki laki."

Terpaksa dan ketelanjur Geng Tian tetap membual. Merah muka Lo Hou wi katanya.

"Sudah tentu bukan nona Nyo masa boleh dia melukai Pek jiko dengan senjata gelap? Tapi bicarakan terus terang Ginkang orang itu begitu lihay sebelum dia menyerang Pek-jiko dengan senjata gelap memang aku menyangka dia adalah nona Nyo."

"Orang sering berkata selalu dipikirkan malamnya menjadi impian setiap detik kau tidak bisa melupakan nona Nyo itu adalah tidak heran kalau selalu mengharap kedatangannya,"

Demikian goda Geng Tian sambil tertawa dibuat buat.Semakin merah muka Lo Hou wi, tiba tiba ia berkata sungguh sungguh.

"Geng heng, jangan kau menggoda aku, bicara sejujurnya memang aku amat kagum dan berkesan baik terhadap nona Nyo tapi masakan aku cocok sama dia? Didalam hatiku dia hanyalah guruku dan sahabat baikku saja, tidak pernah berani aku berangan-angan untuk mempersunting dia. Sebaliknya Geng heng hubungan keluarga kalian begitu dekat dan mendalam bicara cara soal ilmu silat perjodohan kalian cukup setimpal."

"Jangan kau seret diriku dalam persoalanmu Lo-heng, mana boleh kau berkata tidak cocok berpasangan sama dia. Kalau sudah jatuh cinta masa kemana memangnya cinta harus membedakan baik buruk bentuk wajah seseorang?"

Sementara dalam hati ia berpikir.

"Dia berkata demikian lebih jelas memperlihatkan betapa dalam rasa cintanya terhadap Wan-ceng. Ai seorang Kuncu harus rela berkorban demi kesempurnaan hidup lain orang. aku, aku ..."

Merah selebar muka Lo Hou wi seperti kepiting direbus, baru ia hendak membuka mulut tiba tiba didengarnya suara Nyo Sugi berteriak.

"Ah kalian sudah pulang!"

Ternyata tanpa terasa mereka sudah beranjak hampir sampai dibiara bobrok itu. Mendengar derap kaki mereka yang mendatangi lekas Nyo Sugi menyambut keluar.Tergerak hati Geng Tian katanya.

"Sam-ko, Kim jong-yok ini ambillah dan bubuhkan pada luka-luka Jiko, aku hendak omong beberapa patah kata kepada Toako."

Nyo Sugi dan Lo Hou wi melengong bersama. Nyo Sugi keluar menyambut kedatangan mereka jaraknya kira-kira puluhan langkah dari luar pintu. Dengan berbisik-bisik Geng Tian berkata.

"Aku bertemu dengan utusan Toh Hok, dia ada sepucuk surat penting minta disampaikan kepada Liong pangcu harap setelah kau baca simpanlah baik baik tapi dalam soal dia ada pesan supaya jangan diberitahu kepada orang ketiga."

Waktu ia berbicara dengan Nyo Sugi ini Lo Hou wi sudah melangkah masuk kedalam biara. Setelah membaca surat itu Nyo Sugi amat kaget, pikirnya.

"Benar berita yang amat penting sekali."

Tapi ia tidak habis mengerti, kenapa utusan Toh Hok berpesan supaya merahasiakan hal ini terhadap tiga saudara mudanya, tanpa terasa ia mengawasi Geng Tian, sorot matanya menampilkan rasa heran dan bertanya-tanya.

Baru saja Geng Tian hendak memberi bisikan supaya jangan terlalu percaya kepada Pek Kian bu, dari dalam terdengarlah keluhan Pek Kian-bu.

"Mari masuk dulu,"

Kata Nyo Sugi, pikirnya.

"kalau Toh Hok berpesan demikian tentu ada latar belakangnya, kalau ada selalu bertanya kepada Geng-kongcu bukankah menunjukkan sikap curigaku kepada Toh Hok dan tidak menghormati pesannya."

Dalam berpikir ini dia sudah melangkah masuk kedalam biara, terpaksa Geng Tian mengintil dibelakangnya.

Baik buruk mengenai pribadi Pek Kianbu sebelum Geng Tian sendiri mendapatkan bukti bukti yang nyata ia masih rada kuatir akan dugaan ataupun ucapan Nyo Wan-ceng yang bersumber sepihak saja.

Maka begitu melihat Pek Kian bu rebah dilantai sambil merintih rintih segera ia maju dan bertanya;

"Pek jiko bagaimana luka lukamu?"

Kata Pek Kian bu penuh kebencian.

"Sungguh celaka bangsat itu melukai orang dengan senjata gelap bikin mampus jiwaku sih mending, sekarang pahaku luka demikian rupa mana aku bisa bergerak dan jalan jalan? ai celakanya pangcu mengutus kita menyambut kedatangan kongcu maksudnya agar lekas pulang, dengan luka-luka pahaku ini bukankah menggagalkan urusan besar?"

Melihat orang dapat bicara panjang lebar Geng Tian tahu bahwa orang lukanya tidak terlalu berat legalah hatinya katanya.

"Terlambat bertemu satu dua hari dengan Liong pangcu tidak menjadi soal, toh bukan urusan besar segala perjalanan dari sini kira kira cuma tiga hari meski harus menggendong kau paling terlambat satu dua hari.""Geng kongcu,"

Tiba tiba Nyo Sugi bersuara.

"Lebih cepat kau tiba di markas lebih baik, hal itu merupakan hal yang penting, menurut hematku terpaksa kita harus merubah rencana semula!"

Geng Tian tersentak sadar, ia maklum akan maksud kata kata Nyo Sugi, betapa penting surat rahasia itu, sang waktu akan menentukan kehidupan dari seluruh Ceng Liong-pang maka dia tidak boleh terlambat datang bertemu dengan Liong Jiang-poh untuk membicarakan sebuah masalah, karena pikiran ini, segera ia berkata.

"Aku memang kurang pengalaman, ucapan Toako benar. Lalu bagaimana menurut maksud Toako?"

"Maksudku supaya kau Geng kongcu berangkat lebih dulu."

Pek Kian bu berpura-pura katanya;

"Apa, kau suruh Geng-kongcu seorang diri pulang ke markas besar, ini...ini kukira kurang hormat. Bukankah Pangcu suruh kami menyambut kedatangannya?"

"Tapi kita harus bisa bekerja menurut gelagat, kita tidak bisa meninggalkan dia demikian saja, sementara Geng kongcu harus cepat bertemu dengan Liong pangcu. Hanya beginilah cara satu satunya untuk kepentingan bersama. Untungnya kepandaian Geng-kongcu jauh lebih tinggi dari kami, berarti Ginkangnya lebih tinggi lagi, kalau kami menemani dia juga tidak akan bisa membantu kesulitannya."Geng Tian malah bimbang dan sulit berkeputusan, diam diam ia menerawang.

"Pek Kian-bu terluka, kukira tidak akan melakukan tindakan yang nyeleweng.Tapi kalau kubiarkan berangkat bersama rasanya kurang lega. Kalau tahu keadaan serba sulit begini lebih baik surat rahasia itu tidak kuperlihatkan kepada Nyo Sugi lebih dulu."

Sembari bicara Nyo Sugi mengeluarkan sebatang anak panah perintah diangsurkan kepada Geng Tian katanya.

"Setiba di Ki-lian san, kau akan diperiksa oleh saudara saudaraku disana, keluarkan panah kuasa ini, tentu kau tak akan menghadapi rintangan yang berarti."

Terpaksa Geng Tian terima panah itu, katanya.

"Baiklah aku segera berangkat, selamat bertemu di Ki lian san."

Tatkala itu fajar telah menyingsing, setelah mohon diri Geng Tian lantas berpisah dengan Nyo Sugi beramai.

O^~dwkz^hendra~^O WAKTU itu seorang diri Nyo Wan ceng sedang melenggang dijalan pegunungan, semula ia punya seekor kuda tunggangan, kuda itu adalah kuda rampasan dari perwira yang membawa surat rahasia itu, kuda itu ia sudah jinakkan dan menjadi tunggangannya, waktu naik gunung ia tinggalkankudanya itu makan rumput dilereng bukit sana, semula karena harus menguntit jejak Siang-hiong berempat maka ia tinggalkan dibawah gunung.

Tak nyana waktu ia turun gunung, kuda tunggangannya itu sudah tidak kelihatan lagi jejaknya.

Heran Nyo Wan ceng dibuatnya, pikirnya.

"Dalam atas pegunungan yang sepi ini mana ada orang, kuda itu tidak akan sembarangan mau ikut orang lain, begal kuda umumnya mana kuasa menundukkan kebinalannya."

Nyo Wan-ceng bersuit panjang namun kuda tunggangannya tidak muncul juga, segera ia kembangkan ginkangnya berlari turun gunung.

Semalam turun hujan lebat, maka jejak kaki kuda nampak jelas dijalan raya yang becek dan basah itu, kelihatan dua kuda berlari menuju arah barat.

"Satu diantaranya entah apakah kuda tungganganku. Biar kukejar kearah sana,"

Pikir Nyo Wan-ceng, kuda tunggangannya itu adalah kuda jempolan yang pilihan didalam pasukan Gi lim kun negeri Kim.

Wanyen Tiang ci sengaja suruh perwira itu menunggang kuda, supaya lekas menyampaikan suratnya ke Liang ciu, meski ginkang Nyo Wan ceng tinggi, terang tidak mungkin bisa menyandaknya namun karena ia merasa enak kepada kuda tunggangannya itu, maka ingin mencoba mengadu untung.Ia mengharap orang yang mencuri kudanya itu akhirnya beristirahat disebuah warung makan untuk menangsel perut, siapa tahu ia masih bisa mengejar.

Tak nyana dalam pengejaran ini bukan saja ia tidak menemukan warung arak, sebaliknya kuda tunggangannya itu lebih dulu ia pergoki.

Disebelah depannya, ada seorang perwira menunggang seekor kuda lain yang tinggi tegap, sementara kuda tunggangannya mengintil disebelah belakang.

Nyo Wan ceng menjadi keheranan, pikirnya.

"Aku sudah menjinakkan kuda itu, kenapa dia mau ikut orang lain?"

Akhirnya ia sadar juga, pikirnya.

"Ya, betul, mungkin orang itu adalah perwira dari pasukan Gi lim kun, sebelumnya sudah kenal baik dengan kuda itu, melihat orang lewat dibawah gunung, maka ia terus mengintil pergi."

Kuda tunggangan didepan itu dicangklong pelan pelan, naga naganya mereka tidak buru-buru menempuh perjalanan.

Dengan bekal kepandaiannya yang tinggi, besar pula nyali Nyo Wan ceng, segera ia kembangkan ginkang delapan langkah mengejar tonggeret mengudak kedepan seraya membentak.

"Begal kuda yang bernyali besar, berani kau mencuri kudaku!"

Perwira itu bergelak tertawa, sambil berpaling ia mengamat amati Nyo Wan ceng katanya.

"Memang aku sedang menunggu kau pencuri kuda ini muncul, kau budak belia bernyali besar, mencuri barang orang,kebentur pemiliknya malah kau berani menuduh aku sebagai pencuri. Hm sungguh menggelikan, kuda penunggang ini kau curi atau kau rebut dari orang lain? kemana pula Kiam Chit yang semula menunggang kuda ini? Apakah sudah kau bunuh? Ayo lekas mengaku!"

Kiranya perwira yang menyerah dan diampuni itu bernama Kiam Chit.

Agaknya perwira ini belum tahu akan duduk perkara sesungguhnya apakah kedua bawahannya itu menyerah atau sudah dibunuh musuh, maka ia ajukan pertanyaannya untuk mengorek keterangan Nyo Wan ceng.

Nyo Wan ceng tertawa dingin, jengeknya.

"kalian bangsa nudhen (negeri Kim) menjajah tanah perdikan bangsa Han kita, termasuk kudamu ini boleh dikata sebagai barang kotor! berani kau main tanya hendak mengorek keteranganku, bukankah justru kau yang menggelikan?"

Perwira itu tidak menjadi marah, sambil tertawa besar ia melompat turun dari punggung tunggangannya, sekali ulapkan tangan kedua kuda itu lantas lari masuk kedalam hutan.

Kata perwira itu setelah menghentikan tawanya.

"Mungkin kau inilah Siau-mo-li yang selalu mencari gara gara dengan pihak kami? Begitu liar kau bicara, sungguh belum pernah kulihat anak perempuan segalak kau!"

"Nah biarlah hari ini kau tahu dan berkenalan dengan aku,"

Demikian jengek Nyo Wan ceng, diam-diam ia waspada dan mengamat amati perwira dihadapannya ini, dilihatnya Thay ang-hiat dipelipis orang menonjol keluar, matanya berkilat, terang bahwa Lwekangnya cukup tinggi, tak heran orang berani bersikap garang terhadap dirinya yang biasa dipandang sebagai momok oleh kalangan mereka.

Perwira itu bergelak tertawa pula ujarnya.

"Biarlah kubelajar kenal kepandaianmu! kalau aku kalah boleh kau bawa kedua kudaku ini, kalau kau yang kalah, he he...kau harus menyerah dan patuh mengikut aku ke kota raja."

Nyo Wan ceng menyeringai dingin, katanya.

"Bukan saja aku akan merampas kedua kuda itu jiwanyapun akan kurampas sekalian."

"Baik, senjata apa yang kau gunakan, silahkan keluarkan, biar aku mengandal sepasang tangan dinginku ini! Usiaku lebih tua, jangan sampai nanti dikatakan situa menindas anak muda!"

Sikapnya yang wajar seolah olah punya bekal berkelebihan sehingga tidak perlu gentar terhadap musuh, meski sudah tahu yang dihadapi adalah Siau mo li yang disegani, toh dia tidak pandang sebelah matanya.

Ternyata perwira ini bukan lain adalah tokoh kedua dari Gi lim kun kerajaan Kim, yaitu wakil Komandan Cian Tang jun.

Melihat kedua utusannya tidak pulang memberikan laporan akan tugasnya maka Wanyen Tiang ci sengajamengutus dia turun tangan sendiri menyusul ke Liang ciu.

Nyo Wan ceng menjadi gusar, segera ia turun tangan lebih dulu, begitu pergelangan tangan melintir, dimana sinar perak berkelebat tahu tahu gelang peraknya sudah ia sendal menjadi seutas cambuk perak yang panjang.

"Sret"

Kontan ia menyabet kearah Cian Tang jun. Cian Tang jun menyembunyikan kedua tangannya didalam lengan bajunya yang panjang dan kedodoran. Lekas ia kebutkan lengan bajunya sambil menjengek.

"Bagus!"

Belum lagi ia turun tangan lengan bajunya sudah berhasil menggubat cambuk perak Nyo Wan-ceng bentaknya.

"Lepaskan!"

Hampir saja Nyo Wan ceng tidak kuasa pegang cambuknya lagi, keruan ia kaget dibuatnya, lekas ia kerahkan Lwekang ajaran gurunya, tidak mundur malah merangsak maju, meminjam tenaga menggunakan tenaga cambuk peraknya itu disentak melempang seperti seutas kawat kaku.

"Cret"

Ia berhasil menusuk lubang lengan baju orang dan bebas dari kungkungan lawan. Setelah itu barulah dia ada kesempatan mengejek.

"Mengandal kepandaian begini hendak merebut cambukku keluarkan saja cakar anjingmu!"

Dimulutnya mengejek dan mengolok musuh, dalam hati ia sudah insaf bahwa kepandaian lawan berada diatas dirinya.Bahwa lengan bajunya tertusuk berlubang oleh ujung cambuk lawan, hal ini membuat Cian Tang jun heran dan terkejut, batinnya.

"Siau-moli memang mempunyai kepandaian yang berarti."

Seraya ia berkata serunya.

"kau sangka aku tidak mampu merebut cambukmu? Coba lihat!"

Tahu tahu kedua cakar tangannya terjulur maju dimana angin pukulannya menekan, cambuk perak itu kena tersampok miring kesamping, lekas Cian Tiang jun ulurkan tangan meraih.

Permainan cambuk Nyo Wan ceng cukup lihay, sedikit menyendal gagang cambuknya ia putar menutuk Jian kin hiat orang, lekas Cian Tiang jun merubah cengkeraman tangannya menjadi jepitan dengan kedua jarinya, laksana gunting memapak kedatangan gagang cambuk lawan.

Tapi kejadian memang berlangsung amat cepat sekali, Nyo Wan ceng sudah merubah permainan cambuknya, dari tipu Pa ong-pian ciok Hun sam wu cambuk peraknya yang panjang melingkar lingkar bundar sambung-menyambung menggulung kearah Ciang Tian jun.

Lekas Ciang Tiang jun tepukkan tangan kiri sementara kedua jari tangan kanan terjulur keluar hendak menggunting, maka terdengarlah suara.

"Tas"

Ujung cambuk peraknya kena tergunting putus sebagian.

Meski hanya putus sebagian saja namun hal ini sudah membuat Nyo Wan ceng kaget bukan kepalang.Tapi meskipun terdesak, Nyo Wan ceng masih mampu balas menyerang, begitu ujung cambuknya putus, seiring dengan gerakan susulannya ia gentakkan batang cambuknya ke samping, terus ditarik kembali dengan kecepatan bagai kilat, lagi-lagi ia berhasil menusuk berlobang lengan baju Ciang Tian jun.

Nyo Wan ceng lompat mundur tiga tapak katanya;

"Kau menggunting putus cambukku, aku melobangi lengan bajumu, masing-masing tidak kena digulingkan, mari dimulai lagi!"

Sebetulnya memang sama sama rugi, namun kerugian Nyo wan ceng lebih besar. Ciang Tian jun tidak menyinggung soal ini, ia berkata tawar;

"Biar kubikin cambuk panjangmu menjadi cambuk pendek!"

Kedua telapak tangannya bergerak membundar seperti gelang menggelinding dan menjojoh maju, tampak pakaiannya tahu tahu melembung besar, laksana layar dihembus angin keras.

Nyo Wan-ceng tahu bahwa lawan sudah mengerahkan Lwekangnya tingkat tinggi meski cambuk bisa mengenai sasarannya juga tidak bisa melukainya.

Mau tidak mau berpikir Nyo Wan-ceng.

"Biar aku ajak dia bertempur main petak, asal dia tidak mampu merebut cambukku, sampai lima tujuh puluh jurus kemudian kusampaikan sekedar kata-kata ancamanmenjaga gengsi, tinggal pergi habis perkara toh tidak terhitung kalah olehnya."

Setelah hati berketetapan cambuk peraknya mendadak melengkung lalu molor kedepan, gerak geriknya lincah diselingi gerakan perubahan yang serba ragam, beruntun Cian Tiang-jun coba mencengkeram namun selalu gagal.

Sayang Nyo Wan ceng harus jaga gengsi, kalau dia mau segera tinggal pergi masih ada kesempatan meloloskan diri, namun dia bergebrak lagi, kejadian terbalik dari keinginannya, tanpa terasa dia sudah terkekang oleh kekuatan Lwekang Cian Tiang jun.

Lima jurus kemudian Lwekang Cian Tiang jun yang disalurkan kedalam pukulannya semakin kuat dan deras, setiap kali Nyo wan ceng berlompatan.

Lama kelamaan ia merasakan adanya daya rintangan yang menghambat gerak geriknya, sehingga lambat laun gerak geriknya tidak segesit dan selincah semula.

Semakin lambat gerak geriknya semakin payah ia kerahkan tenaga sehingga keringat bercucuran membasahi badan terdengarlah suara "Tas"

Ujung cambuknya kena digunting pula sebagian oleh kedua jari Ciang Tian-jun.

Karena tidak mampu lolos terpaksa Nyo Wan ceng kertak gigi dan menempur semakin sengit, dalam sekejap saja cambuk peraknya itu sudah kena digunting lagi beberapa kali kini cambuknya kena tergunting satu kaki lebih Cian Tiang-jun tertawagelak-gelak.

"Ha ha ha, akan kulihat apa pula yang dapat kaulakukan dengan cambuknya ini."

Cambuk-cambuk yang terputus satu kaki lebih sudah tentu daya tempur dan kekuatannya menjadi rada berkurang, semula Cian Tiang-jun harus bertahan dari jarak satu tombak melawan dirinya, sekarang gelanggang pertempuran mengkeret semakin kecil, ia berani mendesak maju merangsek lebih dekat.

Suatu ketika Cian Tiang-jun mendapatkan sebuah peluang akan titik kelemahannya yang nyata sigap sekali cakar tangannya menyelonong maju mencengkeram ke arah tulang pundak kanannya seraya terloroh loroh.

"Budak kecil ikut aku saja."

Sementara itu seorang diri Geng Tian menempuh perjalanannya meski ia berusaha mengekang perasaan hatinya toh tak kuasa merindukan Nyo Wan ceng, caIon istrinya yang baru sekali saja dilihatnya.

Disaat berjalan dengan pikiran melayang layang itulah mendadak didengarnya diluar hutan sana ada suara orang bertempur, waktu itu Cian Tiang-jun sedang membentak keras sementara tak kuasa Nyo Wan-ceng menjerit kuatir.

Tersirap darah Geng Tian pikirnya;

"Ternyata seorang perempuan sedang bertarung melawan penjahat disini, suara itu sudah amat kenal mungkinkah, mungkinkah dia nona Nyo? Masakah bisa mungkin begini kebetulan?"

Sebetulnya dia sedang menunaikan tugas penting tiada niatnya turutcampur urusan orang lain.

Tapi begitu rasa ketariknya seperti mengkilik kilik hati tanpa banyak pikir segera ia melesat terbang kedalam hutan dan meluruk kearah datangnya suara.

Kedatangannya memang tepat pada waktunya kebetulan Cian Tiang jun sedang turunkan tangan kejinya terhadap Nyo Wan ceng.

Begitu cakar tangan Cian Tiang jun itu diturunkan, mendadak ia merasa segulung angin kencang menerjang punggungnya, kejadian berlangsung amat cepat tahu-tahu ujung kipas Geng Tian sudah mengancam Hiat terbesar dipunggungnya.

Serangan ini memaksa musuh untuk menyelamatkan jiwa sendiri lebih dulu.

Cian Tiang jun menghardik keras, sebelah telapak tangannya memukul balik kebelakang.

Pinggiran kipas Geng Tian setajam pisau maka dari menjojoh ia ganti dengan gerakan mengiris, gerak kedua pihak menjadi begitu cepat, jaraknyapun begitu dekat siapapun tidak menduga bahwa kepandaian lawan sama sama lihay dan hebat, akhirnya kedua pihak sama menderita luka yang cukup parah.

Pergelangan tangan Cian Tiang jun tepat pada urat nadinya teriris luka oleh ketajaman pinggir tulang kipas Geng Tian.

Sementara dada Geng Tian kena terpukul telapak tangan lawan dengan telak.

Mendapat peluang ini lekas Nyo Wan ceng sapukan cambuknya menggubat kedua kaki Cian Tiang junsehingga Cian Tiang jun tersungkur kedepan terus menggelundungkan badan.

Nyo Wan ceng tidak kuasa membekuk lawan sementara cambuknya menggubat kencang kedua kaki lawan terpaksa ia lepaskan cambuknya.

Geng Tian berdiri limbung dua kali terus hendak mengejar, lekas Nyo Wan ceng memburu kearahnya seraya berseru.

"Bangsat itu sudah lari tak usah dikejar, Geng Toako kenapakah kau?"

"Tidak apa apa jangan kita lepaskan anjing penjajah ini!"

Demikian jawab Geng-Tian. Cian Tiang jun terkejut batinnya.

"Begitu hebat Lwekang bocah itu, Thi seciangku ternyata tidak mampu melukainya sedikitpun ?"

Karena urat nadi pergelangan tangannya teriris luka, tiada minat ia meneruskan pertempuran.

Sekali tendang dan sendal ia bebaskan kakinya dari libatan cambuk terus lari kedalam hutan, mencemplak kuda tunggangan terus melarikan diri.

Kuda tunggangan Nyo Wan-ceng itupun lari mengintil dibelakangnya.

Melihat orang sudah lari jauh, barulah Geng Tian bergelak tertawa, serunya.

"Berbahaya, sungguh berbahaya."

Nada suaranya sumbang dan otot hijau menonjol diatas jidatnya.

"Apanya yang bahaya ?"

Tanya Nyo Wan ceng mendadak ia menjadi kaget, teriaknya kuatir .

"Geng-toako . ."Kebetulan angin kencang menghembus lewat tampak baju didepan dada Geng Tian berpeta sebuah telapak tangan yang amat jelas sekali, sedikit Geng Tian menyentuh dadanya, kain pakaian ditengah cap telapak tangan itu seketika hancur luluh, kelihatan lapisan pakaian sebelah dalam juga mengecap telapak tangan yang sama, cuma tidak sejelas cap tangan yang berada diluar. Nyo Wan-ceng mencelos hatinya, katanya.

"Geng-toako, jangan kau ngapusi aku, bukankah kau terluka ?"

"Memang lihay ! Tapi tidak perlu kuatir, aku tidak akan mampus. Luka sih memang ada, namun dalam tiga lima hari mendatang pasti kuat aku bertahan."

Sebetulnya luka pukulan didada Geng Tian tidak ringan, untunglah ia meyakinkan lwekang murni, sudah mencapai tingkatan yang lumayan, maka ia masih kuasa bertahan.

Tadi ia pura pura seperti tak terjadi sesuatu atas dirinya, bergelak tertawa lantang lagi, memang dia harus berbuat demikian barulah dapat menggebah lari Cian Tiang-jun dengan ketakutan.

Kata Nyo Wan ceng mengerut kening .

"Geng-toako, setelah terluka jangan kau bawa adatmu sendiri, nih aku punya sebutir Siau-hoan-tan, telanlah dulu. Mari kubawa kau ke kota disebelah depan, nanti kami cari tabib umum mengobati luka-lukamu. Kalaulukamu sudah sembuh baru melanjutkan perjalanan lagi."

Geng Tian menelan pil itu, katanya .

"Apakah ini Siau-hoan tan buatan Siau lim-si ?"

"Benar, Hong tiang Siau lim si sendiri yang memberikan kepada guru."

"Adanya Siau hoan-tan ini tentu tidak akan perlu kuatir lagi akan luka-lukaku. Mana aku punya waktu menyembuhkan luka-luka lagi ?"

"Kalau Siau hoan-tan dapat menyembuhkan luka-luka, tapi toh bukan obat dewa, mana boleh kau tidak istirahat dulu satu dua hari ?"

"Kau tidak tahu punya urusan penting harus cepat cepat bertemu dengan Liong-pangcu di Ki lian san."

"O ya, aku belum tanya kau, dimana Nyo Su gi dan saudara-saudaranya?"

"Kau melukai Pek Kian bu sudah tentu mereka tidak bisa meninggalkan dia begitu saja!"

Nyo Wan ceng jadi menyesal, katanya .

"Kalau tahu begitu, tidak perlu aku melukai Pek Kian bu dengan senjata rahasia. Jadi karena itu, maka seorang diri kau harus meIanjutkan perjalanan pikirnya .

"Dia terluka, tanpa ada orang yang merawatnya, bilamana ditengah jalan kebentur musuh lagi, bukankah berarti aku yang mencelakai dia?""Hoan ceng, kemana kau hendak pergi ? Selamat bertemu dilain kesempatan, baiklah kami berpisah disini saja."

"Geng toako, biar aku bersama kau berangkat ke Ki lian san."

Kejut dan girang pula Geng Tian dibuatnya, serunya .

"Kau...kau juga kesana ? Bukan lantaran aku terluka saja toh ?"

"Nyo Su-gi tidak bisa meninggalkan Pek Kian bu begitu saja, memangnya aku harus tidak menghiraukan lukamu? Kitakan saudara angkat, tidak perlu main sungkan dan malu malu segala." ''Benar urusan lebih penting jangan uruskan tetek bengek,"

Demikian pikir Geng Tian.

"Aku sudah terluka cukup parah kalau bangsat rendahan sih masih mampu kuhalau mereka, jika kebentur musuh seperti tadi, mungkin aku tidak akan bisa sampai ke Ki lian san."

Maka ia berkata tertawa.

"Baik harap kau menjadi pelindungku !"

Begitulah sambil bercakap cakap dan senda gurau mereka berangkat, sehingga sepanjang jalan tidak merasa kesepian.

Geng Tian ingin cepat cepat tiba di Ki lian-san, tak nyana semakin hatinya gugup larinya semakin lamban malah lama-kelamaan tidak kuat lagi.

Nyo Wan ceng segera membujuk .

"Toako dengan membekal luka begini mana bisa kau tiba lebih cepat dari biasanya, kalau tanpa hiraukan jiwa sendiri kauharus mengembangkan ginkang berlari begini kencang, bagaimana kalau kau jatuh sakit?"

Apa boleh buat Geng Tian harus dengar nasehatnya.

Hari itu mereka menempuh seratusan lebih perjalanan.

Hari kedua lebih payah lagi belum lama mereka berangkat Geng Tian merasa kepalanya pening mata berkunang.

Tapi ia tidak berani memberitahukan kepada Nyo Wan ceng, sedapat mungkin ia mengempos semangat dan bertahan sampai hari menjelang magrib, hari itu mereka hanya menempuh delapan puluh lie perjalanan, raut mukanya sudah semakin pucat bagai kertas.

Meski ia berusaha menutupi keadaannya, toh Nyo Wan ceng sudah melihat akan keadaannya yang semakin parah.

Menurut keinginan Nyo Wan ceng, semula hendak masuk kota mencari tabib supaya memeriksa luka lukanya, namun Geng Tian tidak mau menurut nasehatnya, alasannya bila menunda perjalanan dan membuang waktu kedua jejaknya konangan oleh musuh.

Dengan logat bicara orang dari luar daerah menempuh perjalanan jauh bersama berlainan jenis lagi, kalau mencari tabib untuk memeriksa penyakitnya, bisa menimbulkan kecurigaan dan menarik perhatian orang banyak.

Dan lagi daerah itu merupakan wilayah kekuasaan Li Ih siau yang bercokol di Liang ciu."Marilah cari tempat untuk istirahat saja, jangan terlalu capai menempuh perjalanan,"

Demikian bujuk Nyo Wan ceng.

Akhirnya didalam sebuah hutan mereka menemukan sepucuk pohon yang rindang daunnya, di mana mereka dapat terhindar dari hujan angin dibawah pohon.

Nyo Wan ceng membuat api unggun, lalu memasak air dan memberikan makanan kering kepada Geng Tian, setelah beristirahat dan mengisi perut barulah semangat Geng Tian rada baikan.

Nyo Wan ceng paksa dia untuk tidur, Geng Tian malah tertawa, katanya.

"Sebetulnya aku ingin melanjutkan perjalanan dimalam hari sekarang sudah dengar nasehatnya, biarlah besok saja melanjutkan perjalanan. Masakah begini pagi aku harus tidur, mana aku bisa pulas ?"

Sebelum tengah malam cuaca mendung dan akhirnya hutan rintik mulai turun, Nyo Wan ceng mengerutkan kening, katanya.

"Dalam tiga hari ini sudah hujan dua kali sungguh menyebalkan. Tapi hujan hari ini kulihat tidak akan sebesar tempo hari, kuharap hanya hujan lalu saja."

"Kejadian didunia ini sering diluar perhitungan manusia, kemaren malam waktu turun hujan, aku bersama Lo Hou-wi beramai melek semalam suntuk sambil mengobrol panjang pendek hampir sama dengan keadaan malam ini, cuma yang menjadi temanku ngobrol ganti orang lain.""Apa saja yang kalian bicarakan malam itu ?"

"Tiada yang perlu dibuat perhatian kau, hanya membicarakan hubungan kedua keluarga kami dulu."

Sebetulnya Geng Tian hendak membicarakan kata kata yang diutuskan Lo Hou wi, tapi setelah ia pikir rasanya kurang pantas ia mengemukakan persoalan itu secara terang mengenai hubungan kaum remaja.

"Waktu kau berada dirumahku, aku belum lagi lahir kejadian lama apa yang kalian bicarakan?"

"Waktu itu dua keluarga kami sama menempati sebuah rumah bobrok kalau datang hujan ibuku dan ibumu pasti sibuk, aku justru merayap di tanah bermain air."

"O, begitu, jadi waktu kecil tentu kau amat nakal. Sayang aku tidak pernah melihat keadaanmu waktu masih kecil."

"Ya memang aku sering nakal maka membuat ibuku marah dan dimaki maki, untunglah ibumu selalu melindungi aku, kalau tidak tentu aku kenyang dihajar."

"Kalau begitu ibu itu amat sayang kepada kau. Aku pun telah mendengar ceritanya, waktu kecil kau amat mungil dan menyenangkan tapi belum pernah beliau menyinggung kenakalanmu."

"Apa saja yang pernah ibumu tuturkan kepadamu tentang diriku?""Kabarnya kau pulang keselatan, waktu kau masih berumur empat tahun, waktu itu aku masih berada dalam perut ibu,"

Bicara sampai disini tak terasa merah jengah selebar mukanya. Berdegup jantung Geng Tian, katanya.

"Betul tak nyana ibumu masih ingat hal itu begitu jelas. Lalu kenapa sih?"

Nyo Wan ceng menunduk kepala, katanya lagi.

"Tidak apa karena aku sendiri belum pernah melihat kau, apa yang diceritakan ibumu mengenai kejadian sedikitpun tidak kuketahui, maka ia pun tidak banyak bercerita. Malam ini kau menyinggungnya, aku jadi ketarik dan ingin mendengar ceritamu. Coba kau ceritakan sejelasnya kepadaku."

Sekilas muka Geng Tian menampakkan rasa kecewa katanya tawar.

"Usiaku masih terlalu kecil, tidak banyak yang bisa kuingat."

Mereka saling memancing dan main korek keterangan masing masing.

Keduanya sama mengharap pihak lain lebih dulu membicarakan hubungan persoalan perjodohan mereka.

Tapi sebagai kaum hawa sudah tentu Nyo Wan ceng malu dan segan untuk membuka mulut lebih dahulu.

Akan tetapi sebaliknya Geng Tian sendiri serba curiga dan ragu-ragu sebelum dia berkepastian kepada siapa cinta Nyo Wan ceng dia limpahkan sulit dia membuka mulut, akhirnya mereka menanggung perang batin, keduanya sama kecewa.

Sebetulnya Nyo Wan-cenghendak bertanya.

"Tidak banyak yang bisa kau ingat, tapi apa yang pernah dikatakan ibumu kepada kau tentu tidak lupa bukan?"

Tapi setelah dipertimbangkan lagi, jelas perkataan ini akan terlalu menyolok, maka ia telan kembali pertanyaan yang sudah diujung mulut.

Keadaan yang hangat dan serba romantis semula, sekarang menjadi serba kaku dan dingin tanpa bersepakat kedua orang berpandangan, lekas lekas Nyo Wan ceng menunduk kepala.

Sementara Geng Tian melengos, masing-masing kehilangan kata-kata sudah tentu keadaan menjadi runyam dan kikuk.

Sekian lama barulah Geng Tian membuka mulut.

"Ranting kering sudah habis lekaslah mencari ranting-ranting kering untuk membesarkan api."

Mendadak Nyo Wan-ceng bangun dan berkata lirih.

"Jangan pergi kau dengarkanlah."

Nyo Wan ceng tidak sakit maka pendengarannya tajam katanya.

"Mereka menuju kearah sini, kira-kira ada dua tiga puluh orang, langkah kaki mereka tidak teratur, jelas ada sementara yang Ginkangnya cukup lumayan yang lain cuma melangkah dengan hati hati saja tapi toh tidak bisa menghilangkan derap langkah mereka. Diatas pegunungan belukar begini darimana rombongan orang banyak ini, mungkin sengaja menggerebek kita, biar kupadamkan api ini, lekas kau menyembunyikan diri.""Aku toh terserang penyakit berat, memangnya aku sedang kesal, biar rombongan penjahat kecil ini menjadi bulan bulananku, melemaskan otot ototku, masakah aku harus berpeluk tangan melihat kau melabrak mereka?"

Tiba-tiba terendus bau harum merangsang hidung. Kiranya Nyo Wan ceng mendekat dan pegang tangannya, katanya berbisik di pinggir kupingnya.

"Toako dengarlah nasehatku, kularang kau turun tangan!"

Betapa besar prihatin akan keselamatan sekaligus dilimpahkan dengan kata-kata halus yang merdu ini, syur dan hangat hati Geng Tian serta merta ia manggut-manggut mengiakan.

Nyo Wan ceng girang, lekas ia padamkan api unggun itu.

Setelah menempatkan Geng Tian sembunyi dibelakang pohon, dia sendiri terus melompat keatas pohon tidak lama kemudian tampak obor berjejer mendatangi tahu-tahu rombongan orang itu sudah meluruk tiba.

Diam diam Geng Tian mengintip, dilihatnya tiada perwira yang bertarung tempo hari maka legalah hatinya.

Yang pimpin rombongan ini adalah seorang perwira muda-muda, katanya.

"Eh, barusan kulihat sinar api disini kenapa tidak kelihatan orangnya?"

Lekas ia maju memeriksa seorang perwira lain yang mengintil di belakangnya berkata.

"Api unggun ini masih panas terang pasti baru dipadamkan. Orangnya tentu sembunyi disekitar sini,"

Seorang perwira lainlagi ikut menimbrung.

"Kalian lihat bekas kakinya, ini satu besar satu kecil, mungkin terdiri laki-laki dan perempuan. Menurut hematku pasti benar adalah dua orang yang dimaksudkan Cian Tayjin itulah."

Perwira muda itu tertawa dan lalu berkata.

"Tidak perlu kalau main tebak, siapa tahu mereka adalah muda-mudi yang sedang bercumbu rayu dengan gelap-gelap disini. Jangan kalian buat mereka ketakutan. Hai kalian keluarlah asal kalian bukan penjahat, setelah kami minta keterangan akan kami lepas kalian pulang."

Geng Tian berpikir.

"Cian Tayjin yang dikatakan itu mungkin adalah penjajah yang kami gebuk lari itu. Rombongan penjajah itu, ternyata meluruk kepada kami, tapi perwira muda ini agaknya bermartabat baik."

Sebaliknya Nyo Wan ceng yang sembunyi di pohon berpikir.

"Perwira muda ini kelihatannya hanyalah putra hartawan mana yang lemah lembut, kepandaiannya pasti terbatas. Menangkap penjahat meringkus kepalanya lebih dulu, biar kuringkus dia saja supaya menghemat tenaga."

Melihat seruannya tiada mendapat reaksi baru saja perwira muda itu hendak mengeluarkan perintah untuk memeriksa sekitarnya, Nyo Wan ceng mendadak loncat turun dari atas pohon, katanya tertawa.

"Aku disini memangrya matamu sudah picak?"Bagai burung terbang dan kecepatan bagai kilat di tengah udara Nyo Wan ceng gunakan jurus burung berkelahi ditengah awan, jari-jarinya langsung mencengkeram kearah perwira muda itu. Semula ia sangka sekali serang tentu membawa hasil tak nyana kepandaian si-perwira benar benar berada diluar perhitungannya. Begitu jari jari Nyo Wan ceng mencakar datang sebat sekali ia menunduk kepala menghindar. Dengan sejurus Hud kun-jiu kedua telapak tangannya mendorong ke atas. Maka terdengarlah suara.

"Plok!"

Topi kulit musang diatas kepala si perwira kena tercakar jatuh, tenaga cengkeraman Nyo Wan ceng kena tertangkis miring.

Tanpa kuasa badannya terbang meluncur kesamping.

Hebat memang kepandaian Nyo Wan-ceng didalam kepungan musuh seketika ia memperlihatkan ilmu Ginkangnya yang hebat, di tengah udara ia jumpalitan segesit burung dara, sementara cambuk peraknya sudah terbang melingkar-lingkar, begitu kakinya menginjak tanah empat tentara yang menyerbu datang masing-masing kena disabet sekali dan bergelung dengan sambil mengerang kesakitan.

Seorang tentara lain yang bersenjata golok besar sebetulnya sudah menyerbu datang melihat Nyo Wan ceng begitu lihay saking kaget ia menjadi gugup sendiri dan berteriak ketakutan.

"Siau mo li !"

"Benar,"

Seru Nyo Wan ceng tertawa besar.

"Memang akulah Siau mo li yang suka membantaipasukan anjing penjajah macam kalian."

Dimana cambuknya disendal dan melingkar seketika pergelangan tangan tentara itu seperti terbelit putus kontan golok besarnya terbang tinggi ketengah udara, tentara yang lain segera bersorak ketakutan dan mundur terbirit birit.

Sebat sekali Nyo Wan ceng putar tubuh tahu tahu cambuk peraknya sudah menyabet kearah siperwira muda itu.

Tujuannya seperti semula hendak meringkus pemimpin mereka lebih dulu.

Mengandal pedangnya siperwira muda melindungi badannya, bayangan cambuk menari selulup timbul sementara cahaya pedang membundar menggubat badan, serangan cambuk dilancarkan dengan gencar dan cepat namun pertahanan pedang siperwira cukup kokoh dan rapat sementara waktu kedua pihak kelihatan sama kuat setanding.

Agaknya siperwira belum pernah lihat permainan cambuk yang dilancarkan lambat laun ia terdesak mundur beberapa langkah tapi setiap kakinya melangkah mundur tekanan serangan Nyo Wan ceng pasti kena dipunahkan sebagian besar selama itu belum bisa cambuk Nyo wan ceng mengenai lawan.

Tiba tiba seorang muda lainnya melompat keluar dari rombongan orang banyak, bentaknya.

"Jangan bertingkah biar aku hadapi kau Siau moli ini!"

Suaranya nyaring dan melengking meski sedangmemaki tapi kedengarannya cukup jeIas dan menusuk kuping.

Kedatangan musuh cukup kuat belum lenyap kata katanya tahu tahu Nyo Wan-ceng sudah merasakan tekanan angin kencang dari sambaran senjata berat yang menyerang punggungnya.

Lekas Nyo wan ceng sabetkan cambuknya kebelakang, kembali ia lancarkan tipu melilit pergelangan merebut senjata dari permainan ilmu cambuknya tapi perwira muda ini tidak bisa dibanding tentara yang bersenjata golok besar tadi, dengan tangkas lawan menggeser kaki pindah kedudukan lalu dengan jurus Jiay hong to hu (burung merak merebut sarang) dua bilah liu yap tonya ternyata balas menyerang secara sengit dan tangkas.

Baru sekarang Nyo Wan ceng dapat melihat jelas bahwa perwira muda yang kedua ini adalah seorang perempuan.

Tak heran suaranya tadi melengking nyaring dan aneh kedengarannya.

Heran dan tidak mengerti Nyo Wan-ceng, pikirnya.

"Tak nyana dalam pasukan anjing penjajah ini terdapat anak perempuan yang berkepandaian lihay."

Tidak berani ia pandang rendah musuh dengan cepat ia kembangkan Lian goan sam pian (tiga pecutan berantai).

Begitu perempuan itu bentrok langsung dengan Nyo Wan ceng lantas dia menginsafi bahwa kepandaian sendiri masih setingkat lebih asor cumadia berwatak suka menang apa Iagi kuatir ditertawai oleh sekian bawahan bahwa dirinya kena dikalahkan oleh Siau mo li karena gugup segera ia berseru.

"Toako kenapa tidak kau bantu aku? Memang kau sudah kepincut oleh parasnya yang cantik?"

Nyo Wan-ceng gusar, bentaknya.

"Tidak tahu malu."

Sret sret gerak cambuknya selincah naga terbang, kelihatannya memukul bagian atas, namun mendadak menggulung kesebelah bawah.

Gadis itu dirabunya mencak-mencak kerepotan namun mulutnya masih usil balas memaki.

"Siapa tidak tahu malu kau Siau mo li ini justru tidak tahu malu. Mana laki-laki liarmu kenapa tidak lekas keluar?"

"Awas dik!"

Tiba-tiba perwira muda itu berseru memperingatkan, terdengarlah "cras'' dimana cambuk perak Nyo Wan ceng menyambar sebagian pakaiannya kena disambar hancur berkeping keping.

Semula perwira itu segan main keroyokan melihat adiknya kewalahan menghadapi Nyo Wan-ceng, dengan gugup segera ia maju kedepan membantu.

Sebetulnya Geng Tian tidak ingin ikut turun tangan, tapi setelah melihat beberapa gerakan ia tahu bahwa Nyo Wan ceng sekali kali bukan tandingan mereka berdua, maka tanpa hiraukan luka-lukanya, sambil membentak segera ia melabrak keluar.

Geng Tian mendadak menerobos keluar, gerak geriknya cepat luar biasa, waktu para tentara bersorakdan merubung maju hendak mencegat, lenyap suaranya orangnyapun tiba langsung ia menubruk kearah perwira muda itu.

Perwira muda itu melintangkan pedangnya menangkis namun gerakan Geng Tian sungguh cepat luar biasa, tiba tiba kipasnya bergerak miring terus menyerang dari posisi yang tidak terduga sebelumnya, lekas perwira muda mengayun pedang membuat bundaran bundaran kecil, tapi belum lagi bundaran kecil itu tertutup Geng Tian gunakan suatu gerakan pura-pura memancing lawan, sementara kipasnya dengan kilat menyelonong masuk dari lobang sela sela bundaran pedangnya yang belum terkatup itu menutuk kepadanya, yang diarah adalah Ih-khi hiat dilambungnya.

Kontan terdengar siperwira menggerung pendek dan tersurut mundur tiga langkah serunya memuji.

"Gerakan bagus yang amat cepat! Siapa kau?"

Ternyata ia tidak jatuh oleh tutukan kipas Gang Tian.

Kiranya meski tutukan Geng Tian tepat mengenai sasarannya tapi ternyata yang dikerahkan terlalu lemah maka tutukannya itu tak berhasil menghentikan jalan darah orang dan lagi latihan Lwekang perwira muda sudah cukup matang, sedikit menekuk dada dan mengembang kempiskan perutnya, apalagi terpaut selapis pakaiannya maka tenaga tutukan Geng Tian yang Iemah itu dengan gampang dapat ia punahkan.

Namun demikian ia rasakan lambungnya sakit juga.Dalam pada itu dua perwira lain yang berkepandaian rada tinggi segera menyerbu bersama maksudnya hendak membantu atasannya.

"satu keparat ini pastilah bocah she Geng itu !"

Berpikir perwira muda itu.

"Serangan teramat lihay dan menakjupkan cuman tenaga murninya kenapa begitu kendor, apakah dia terluka?"

Tapi dia malah tidak mau unjuk kelemahan dihadapan sekian banyak anak buahnya, katanya bergelak tertawa.

"San tian ju memang tidak bernama kosong kalian mundur biar aku hadapi dia sendiri."

Cepat sekali Geng Tian sudah putar badan kipasnya menjojoh ketimur menutuk kebarat dengan gayanya yang indah ia menyerang keperwira yang berada di sebelah kiri tapi mendadak tahu sudah menerjang perwira yang disebelah kanan.

Sebetulnya kepandaian siperwira ini tidak lemah, senjatanya sebatang tombak panjang dalam waktu gawat tidak sempat ia tarik badan untuk melindungi badan.

Tahu tahu ia rasakan separo badannya kesemutan, pergelangan tangannya pun keseleo kena dicengkeram dengan Hun-kin joa kut hoat oleh Geng Tian.

Waktu kaki Geng Tian gentayangan sementara perwira satunya sudah menubruk tiba agaknya Geng Tian seperti sukar mengembalikan badannya lagi untuk berdiri, dan terjatuh kedalam pelukannya.

Perwira ini menggunakan gaman sepasang gantolanbegitu kedua gantolannya dikatupkan, tapi gerakan Geng Tian lebih cepat lagi, begitu jarinya menjojoh ia berhasil menusuk Hiat to orang lebih dulu.

Mesti kedua gantolannya sudah sirna maka hanya melobangi pakaian Geng Tian saja.

Melihat beberapa gerakan dengan berlincahan seperti kelinci saja, orang sudah berhasil merobohkan kedua pembantunya yang paling diandalkan, karena terkejut perwira muda itu tanpa perduli orang terluka atau tidak cepat ia boyong seluruh kepandaiannya, dengan Loan pi hong kiam hoat ia cecar Geng Tian dengan tiga serangan pedang berantai.

Keruan Nyo Wan-ceng amat kuatir, teriaknya;

"Geng toako, lekas kau lari! Kenapa kau tidak patuh akan nasehatku?"

Geng Tian berhasil punahkan dua jurus serangan lawan, teriaknya.

"kaulah yang dengar kataku, lekas kaulari beri kabar kepada Liong pangcu."

Jurus ketiga ia sudah kehabisan tenaga kipasnya kena ditangkis dan tersampok jatuh oleh golok perwira muda itu.

Sekumur darah segar kontan menyembur dari mulut Geng Tian, seketika ia jatuh tersungkur dan jatuh semaput.

Agaknya ia sudah kehabisan tenaga, belum lagi musuh membekuk, dia sudah roboh lebih dulu.

"Berani kau bunuh toakoku biar kurenggut juga nyawamu!"

Demikian teriak Nyo Wan ceng mengancam, meski kepandaian si-gadis itu lebih asordari dia, namun dalam waktu dekat, terang ia tidak mampu membebaskan diri dari libatan lawan.

Perwira muda segera menjinjing badan Geng Tian dan meraba hidungnya, katanya tertawa.

"Nona tak usah gagap, Toakomu hanya jatuh pingsan, belum meninggal. Mungkin sebelum ini ia sudah terluka bukan,"

Nada bicaranya lemah lembut, betul betul diluar dugaan para tentara yang dibawanya, namun kilas lain mereka lantas membatin.

"Siau mo li ini berwajah begitu cantik seperti bidadari mungkin Kongcu kita ini sudah terpincut olehnya!"

Demikian juga Nyo Wan-ceng sendiri merasa heran, mendadak ia teringat sesuatu, tak tertahan berdetak jantungnya.

Waktu itu perwira yang bersenjatakan gantolan itu sudah ditolong oleh temannya, kepandaiannya tidak lemah, tapi dalam gebrak permulaan tadi, ia lantas terjungkal oleh tutukan Geng Tian sudah tentu malunya bukan main, begitu tutukan jalan darahnya bebas segera ia meluruk maju bantu gadis itu mengerubut Nyo Wan ceng.

Diam diam Nyo Wan ceng menerawang.

"Ucapan Geng toako memang tidak salah, memberi kabar ke Ki lian san memang merupakan tugas yang amat penting, naga naganya perwira muda ini tidak bermaksud melukai jiwa Geng toako, entah apakah dia ini orang yang dimaksud oleh Toh Hok itu?"

Lalu terpikir pula olehnya;

"Kepandaian mereka bersaudara cukup hebat, seorang diri aku tidak akan kuat melawankeroyokan mereka, aku sendiripun takkan bisa menolong Geng toako. Lebih baik aku mematuhi seruannya biar aku pergi ke-Ki Lian san menemui Liong pangcu lebih dulu, beramai ramai kita tentu dapat menolongnya keluar."

Karena pikirannya ini.

"Sret"

Cambuknya menjadi kaku menusuk kena perwira yang bersenjata gantolan itu, jurusnya ini dinamakan Lam to cit sing ujung cambuknya bergetar tujuh kali, memecahkan tujuh cahaya perak yang membundar seperti kuntum kembang, betul betul menyerupai bintang yang kelap kelip menyolok mata.

Lekas perwira itu katupkan kedua gantolannya kemuka untuk melindungi badan tak nyana serangan Nyo Wan ceng ini hanyalah gertakan belaka mendesak orang mundur, tiba-tiba ia putar badan sambil menyapu dengan cambuknya, disaat gadis itu menangkis dengan kedua sayap goloknya, bagai burung terbang menjulang ke langit, Nyo Wan ceng sudah mencelat pergi dari samping tubuhnya.

"Siau mo li,"

Seru gadis itu.

"kita belum menentukan siapa menang dan kalah, kalau suka berkelahi mari diteruskan sampai puas!"

"Bagus kalau kau berani mari kesini satu lawan satu. Kalian main keroyok, maaf aku tidak sudi melayani!"

Dalam berkata-kata itu ia sudah melesat keluar dari kepungan, mana para tentara itu mampu menghalangi dia ? Dari kejauhan Nyo Wan cengberpaling dan berseru pula.

"Seujung rambut saja kalian mengusik Toakoku, jangan harap kalian bisa tidur lelap! Berani bicara tentu berani kulaksanakan, akan datang kesempatan kubuat perhitungan pada kalian."

Perwira bergaman sepasang gantolan itu segera cemplak seekor kuda, serunya.

"Menghadapi siluman wanita macam dia buat apa bicara soal aturan kangouw segala? Betapapun tinggi ginkangnya, masakah lebih cepat dari kudaku ini, mari kita kejar dia."

Seruan ini mendapat tanggapan ramai.

Beberapa yang lain yang merasa kepandaiannya tidak rendah beramai cemplak kuda ikut mengudak.

Meski gadis itu mendongkol karena Nyo Wan-ceng memandang rendah dirinya tapi mengingat satu lawan satu dirinya bukan tandingan orang, kalau main keroyok, menurun derajatnya dan gengsinya maka ia hanya mengkerut kening tidak ikut mengejar.

Perwira muda itupun mengerut kening, tapi ia berpikir.

"Kalau aku cegah mereka mengejar, mungkin bisa menunjukkan rasa curiga dan tak senang mereka. Nona itu berkepandaian tinggi, kukira mereka tidak akan membekuknya."

Maka segera ia tertawa katanya.

"Baik, adikku, mari kita ikut melihat lihat saja tidak harus turun tangan."

Waktu itu cuaca sudah terang benderang tak lupa setelah rombongan besar ini maju ke-arah barat, tiba tiba tampak dua ekor kuda berlari mendatangikeduanya sama ditunggangi orang.

Semula ada lima orang yang mengejar, kini cuma empat orang dan dua kuda yang kembali, tak perlu dijelaskan, terang kuda kuda mereka binasa ditengah jalan.

Kiranya satu diantara lima perwira yang mengejar Nyo Wan ceng itu seorang diantaranya adalah ahli panah yang kenamaan di Liang ciu, kuda tunggangannya besar kekar dan berlari paling cepat lagi, dia mendahului berhasil mengejar Nyo Wan ceng.

Ia tahu kepandaian Nyo Wan ceng tinggi maka tidak berani bertempur diatas kuda, maka didalam jarak ratusan langkah, segera ia kembangkan keahliannya "Sret, sret"

Beruntun tiga kali ia lepaskan anak panahnya.

Dua batang anak panah yang terdahulu kena dihindari oleh Nyo Wan ceng, panah ketiga mengenai tepat dan robohlah sasarannya.

Perwira itu kegirangan lekas ia turun dan hendak membekuknya.

Tak duga mendadak Nyo Wan ceng mencelat bangun, malah berhasil membekuk perwira itu dan merebut kuda tunggangannya pula.

Ternyata ia hanya pura para saja kena dipanah, soalnya hari masih remang remang kelihatannya panah itu mengenai tenggorokannya, sebetulnya kena digigit oleh giginya.

Empat perwira yang lain segera mengejar tiba, karena kudanya dimuati dua orang, meski kuda bagus lambat laun terkejar keempat kuda yang lain.

Makaberkata Nyo Wan-ceng tertawa dingin.

"Diberi tidak membalas kurang hormat biar kalianpun berkenalan kepandaianku memanah kuda,"

Kalau panah berantai sekaligus bisa dilepas tiga kali sudah merupakan kepandaian yang hebat, namun ia beruntun melepaskan empat batang panah.

Perwira bergaman gantolan itu berkepandaian paling tinggi, ia berhasil menangkis jatuh panah yang mengincar kudanya, seorang lain yang ahli menunggang kuda juga berhasil meluputkan diri, dua ekor yang lain kena otaknya dan roboh binasa, dua perwira penunggangnya ikut terjungkal jatuh dengan luka-luka ringan.

Setelah melaporkan keadaan sebenarnya, perwira bergaman gantolan itu berkata pula.

"Karena harus menolong sesama kawan, kami tidak bisa mengejar Siau-mo-li pula. Terpaksa kembali saja, harap Kongcu memberi ampun."

"Untunglah kalian tidak sampai terluka berat, terhitung kalian beruntung,"

Demikian ujar perwira muda itu.

"Siau-mo li hanya menahan kuda tidak mengejar orang, agaknya dia memberi keringanan kepada kalian."

Mereka malu muka para perwira itu kata bergaman gantolan itu.

"Tapi Yapi Ciangkun kena ditawan olehnya."

"Itulah yang membuatku heran,"

Demikian ujar perwira itu menepekur.

"Dia menawan seorang kita entah apa maksudnya?"Gadis itu menimbrung bicara.

"Mungkin hendak tukar tawanan."

"Tapi Ciangkun adalah guruku memanah, jikalau dia benar benar minta kami menukar tawanan, wah membuatku serba sulit juga."

Perwira bergaman gantolan berkata.

"Bocah she Geng ini kabarnya adalah buronan yang ingin ditangkap oleh Wanyen Ongya, sudah tentu tidak boleh ditukar."

Sebetulnya perwira muda ingin mencari alasan supaya kelak bisa menukar tawanan, namun mendengar tanggapan bawahannya, ia urungkan niatnya terpaksa harus mencari jalan lain. O^~dwkz^hendra~^O

Jilid 24 Disaat ia berpikir itulah tiba-tiba dilihatnya seseorang berlari lari ditengah jalan di-kejauhan sana, mata siperwira muda ini paling tajam ia lihat lebih dulu, setelah berseru heran ia berkata .

"Coba lihat bukankah itu Yapi Ciangkun ?"

Cepat semua orang memapak maju setelah dekat barulah mereka melihat jelas, memang jelas Yapi Ciangkun adanya.

Tampak badannya basah kuyup oleh keringatnya, napasnya ngos-ngosan berlarikehadapan siperwira muda.

Berbareng orang banyak mengajukan berbagai pertanyaan kepadanya.

"Aturlah dulu napasmu baru bicara,"

Kata perwira muda. Yapi mengeluh lebih dulu, lalu jawab pertanyaan para sejawatnya.

"Bukan aku berhasil melarikan diri karena mengandalkan kepandaianku, kalau dikatakan sungguh harus disesalkan Siau mo-li sendirilah yang melepaskan aku pulang."

Orang ini adalah seorang Busu yang biasanya terlalu mengagulkan diri, namun dia punya sifat-sifat lain yang tidak dibekali orang lain, dia suka memuji dan patuh kepada seseorang yang berkepandaian lebih tinggi dari pada dirinya, bicara jujur dan apa adanya secara blak-blakan, tanpa tedeng aling-aling lagi.

"Kenapa dia mau melepaskan pulang?"

Tanya perwira bergegaman gantolan itu. Jawab Yapi .

"Dia hanya mengajukan pertanyaan, setelah kujawab dia lantas menyuruh aku kembali.'' Gadis itu mengerutkan kening, tanyanya .

"Apa yang dia tanyakan ?"

"Tuan putri tidak usah kuatir, bukan dia menyelidiki situasi militer, dia cuma tanya-tanya asal usul dan nama kalian kakak beradik. Kupikir, hal ini tidak begitu penting, maka aku lantas menerangkan kepadanya."Gadis itu melengak, katanya .

"Untuk apa dia ingin tahu asal usul dari mana kami ? apa hendak menuntut balas kepada kami kakak beradik ?"

"Wah ! Siau-mo li itu ginkangnya hebat, pergi datang tanpa jejak, bukan saja harus berjaga jaga dia meluruk datang menuntut balas, kita harus berjaga-jaga juga kalau dia main serobotan di istana,"

Demikian timbrung perwira bergegaman gantolan.

"Kami tidak perlu takut dia datang !"

Demikian ujar sigadis.

"Kalau dia datang malah kebetulan aku bisa bertanding pula dengan dia !"

Sebaliknya tergerak hati siperwira muda.

"kenapa dia ingin tahu asal usul dan nama-nama kami, lalu melepaskan tawanannya pulang ? Memangnya dia sudah tahu rahasiahku ?"

"Koko, apa yang sedang kau pikirkan ?"

"Aku sedang berpikir, bagaimanakah caranya untuk membereskan bocah she Geng ini?"

"Apa yang hendak kaulakukan atas dirinya ?"

"Untuk sementara kita harus merahasiakan kejadian hari ini kepada Cian Tiang-jun."

"Kenapa ?"

Berkata perwira muda itu.

"Pertama, dengan susah payah baru kami berhasil menangkap orang ini, kenapa harus diserahkan dia untuk mendapatkan pahalanya ? Kedua, aku sendiri ingin mengompressedikit keterangan mengenai seluk beluk Ceng liong-pang, supaya ayah lebih dapat leluasa untuk menghadapi mereka. Cian Tiang-jun kena dilukai oleh dia pasti membencinya sekali, kalau diserahkan kepadanya, bila Cian Tiang-jun membunuh secara diam2, bukankah kami kehilangan sumber penyelidikan dari mulutnya. Maka peristiwa hari ini kuharap sekali-kali jangan bocorkan kepada siapapun jua."

Orang-orang itu adalah anak buah kepercayaannya, serempak mereka mengiakan, serunya bersama .

"Ucapan Kongcu memang betul, bangsat tua she Cian itu mengagulkan diri sebagai utusan resmi kerajaan, sikapnya yang angkuh dan pongah itu sungguh menyebalkan ada jasa-jasa baik kenapa harus diserahkan kepadanya ? Kongcu tidak usah kuatir, kejadian hari ini adalah kami beberapa orang saja yang tahu sekali-kali tidak akan bocor dan diketahui orang lain."

Berkata pola Yapi-ciangkun seorang diri .

"Bahwasanya negara kita hancur, rumah tanggapun akan berantakan, hari ini kita hanya bisa bercokol di Liang chiu daerah kecil yang terpencil pula, memangnya kita harus terima nasib begini saja? ya, kita harus mandah dihina dan dipermainkan demi urusan dan tugas yang lebih berat. Kita semua orang sendiri, berani kuutarakan isi hatiku, kukira musuh kita yang utama, musuh yang sejati bukanlah kawananberandal Ceng liong-pang berpangkalan di Ki-liansan itu tapi adalah ..."

Perwira muda itu segera menukas dan mencegah orang melanjutkan kata katanya.

"Yapi suhu, ucapanmu ini tidak boleh sembarangan kau katakan cukup asal hati kita masing-masing mengerti saja."

Setelah cuaca terang baru mereka tiba di rumah, perwira muda itu langsung membawa Geng Tian kedalam dan merawatnya disebuah kamar rahasia, katanya berbisik kepada adiknya .

"Bukan saja kami harus mengelabui Cian Tiang jun, persoalan ini jangan sampai diketahui oleh ayah. Moay moay kau harus membantu aku."

Gadis remaja itu mengedip-ngedipkan mata, sikapnya seolah-olah sudah paham akan kata-kata engkohnya yang penuh arti, seketika tersungging senyuman mekar pada roman mukanya, katanya.

"Kenapa sih, bukankah tadi kau katakan kepada mereka, supaya ayah sendiri yang mengompres keterangan orang ini ?"

"Memang sengaja orang ini tidak akan kuberitahukan kepada ayah. Kelak akan kujelaskan kepada kau."

"Koko kulihat kau pasti mempunyai rahasia apa yang takut diketahui ayah. Kau minta aku bantu usahamu maka sekarang juga kau harus jelaskan kepadaku.""Ayah menjadi pejabat tinggi negeri Kim, bagaimana menurut pendapatmu?"

"Memangnya perlu dikatakan pula? Sudah tentu sikapku seperti Yapi ciangkun dan lain lain aku tidak puas melihat sepak terjang ayah selama ini."

"Bagus sekali baiklah kuberitahukan kepada kau ...apa yang mereka bicarakan biarlah kita tunda dilain kesempatan."

Dalam pada itu perlahan-lahan Geng Tian sudah mulai siuman, cuma pandangan dan ingatannya masih samar samar, terasa seseorang sedang duduk disampingnya dan menunduk mengawasi dirinya.

Karena ia masih dalam keadaan setengah sadar, entah dalam keadaan mimpi.

Tapi hidungnya terasa terangsang bau harum, agaknya orang disampingnya ini adalah seorang perempuan.

Geng Tian mencoba menggigit bibirnya, rasanya sakit terbukti bahwa ini bukan dalam impian, rasa sakit itu sendiri seketika banyak membuat kesadarannya pulih sebagian besar lekas ia bersuara.

"Adik Ceng tempat apakah ini?"

Lapat lapat masih teringat olehnya pada waktu dirinya jatuh pingsan, ia sangka pasti Nyo Wan cenglah yang berhasil menolongnya dari tempat bahaya.

Perempuan itu tertawa geli, pelita segera dibikin terang, katanya.

"Adik Cengmu belum lagi tiba, coba kau lihat siapa aku ini!"Kali ini Geng Tian sudah melihat jelas, keruan kagetnya bukan kepalang, teriaknya.

"Kau, apa yang hendak kau lakukan atas diriku?"

"Kubawa pulang, akan kusembuhkan luka lukamu!'' sahut gadis itu. Geng Tian bersungut-sungut, ocehnya.

"Lebih baik aku mati ditangan musuh, siapa mengharap kebaikan hatimu yang palsu itu!"

Ia meronta berusaha bangun, namun ia tidak kuasa bergerak. Gadis itu tersenyum manis ujarnya.

"Darimana kau tahu bahwa aku adalah musuhmu?"

Geng Tian gusar dampratnya.

"Kau jangan menggoda aku. Kalian meluruk datang menangkap aku, memangnya kalian hendak anggap aku sebagai sahabat?'' "Sekarang memang bukan sahabat kelak kemungkinan menjadi kawan seperjuangan."

Geng Tian jadi ragu ragu, tanyanya serba curiga.

"Siapakah kalian sebenarnya?"

"Kau yang harus beri tahu dahulu kepadaku apakah ayahmu adalah Kanglam Tayhiap Geng Ciau??'' Mendengar orang menyebut ayahnya sebagai Kanglam Tayhiap, berpikir Geng Tian.

"Memangnya kejadian salah paham, tapi bukan mustahil dia sedang menipu keteranganku."

Maka segera ia menjawab.

"Kalau benar kenapa?""Jadi kau inilah yang bergelar Sian Tian-jiu Geng Tian!'' "Seorang laki laki sejati tidak mengganti nama, dan tidak menukar she. Benar memang akulah Geng Tian. Geng Tian memang aku adanya, kau mau apa?"

"Bagus kalau begitu sekarang kita boleh menjadi sahabat akrab. Perkenankanlah aku orang she Li bernama Ci heng."

Tergerak hati Geng Tian, katanya.

"Kau she Li, lalu siapa nama engkohmu?"

"Sudah tentu engkohkupun she Li, dia bernama Hak-siong!'' Geng Tian tersentak kaget, serunya.

"Li Hak-siong? Lalu siapa ayah kalian?"

"Kenapa kau suka mengorek seluk beluk keluarga orang lain, baik biar kuterangkan seluruhnya. Ayahku adalah penjabat penguasa dari kota Liang-chiu yang bernama Li Ih-siu. Apakah kau perlu tanya asal-usul kakekku sekalian?"

Baru sekarang Geng Tian sadar dan mengerti, pikirnya.

"Ternyata engkohnya adalah orang yang dikatakan oleh Tok Hok itu!"

"Bagaimana ?"

Desak gadis itu.

"Kau bisa anggap kami bersaudara sebagai sahabat tidak?"

"Bisakah kau usahakan supaya aku bertemu dengan engkohmu?""Baik, kau tunggu sebentar. Ha, kebetulan sekali, tuh dia datang!"

Bahwasanya ia tidak tahu bahwa sejak tadi sebetulnya engkohnya sudah tiba.

Memang sengaja ia mengintip adiknya merawat Geng Tian dengan teliti diam-diam ia merasa geli dan nanti hendak menggodanya, maka ia tinggal diam diluar kamar tidak segera masuk.

Setelah masuk kedalam kamar, langsung Li Hak-siong unjuk hormat dan minta maaf kepada Geng Tian.

"Geng-heng, kejadian semalam keadaanku pada waktu itu terpaksa aku harus bertindak menurut suasana!"

"Aku tahu, Tok Hok juga sudah memberitahu kepadaku."

Li Hak siong menjadi girang katanya.

"Kiranya kau sudah bertemu dengan Toh Hok, kalau begitu menghemat tenaga dan ludahku untuk menjelaskan kepada kau, bagaimana luka-lukamu? Ah, sungguh aku menyesal dan tidak enak diri!"

"Aku terluka kena pukulan Cian Tiang-jun tidak sangkut paut dengan kau, sekarang pun sudah banyak baikan!"

"Geng-heng tentramkan hatimu dan rawatlah luka lukamu disini dengan baik, jangan kau hiraukan segala urusan lain.'' "Cara bagaimana aku bisa berlega hati?"

Ujar Geng Tian menghela napas.

"Untuk tujuan apa kedatanganCian tayjin yang kaukatakan tadi memangnya belum kau ketahui."

"Dia minta ayah mengerahkan bala bantuan untuk menggempur Ki-lian san, waktunya belum ditentukan,'' sampai disini ia menepekur sebentar mendadak ia berkata pula.

"Moay-moay, ayah paling sayang kepada kau. Malam nanti biar kuiringi kau pergi membujuk ayah suruh dia mengubah sikap permusuhan dengan Ceng-liong pang menjadi persahabatan bunuh saja Cian Tiang-jun itu, kita angkat panji pergerakan di Liang chiu ini bagaimana?"

"Aku kuatir ayah sudah ketelanjur sesat dan tak bisa diinsyafkan!'' "Kalau begitu kita turun tangan sendiri, bunuh Cian Tiang jun dan paksa ayah untuk menurut kehendak kita menurut situasi."

"Kuatirnya pula ilmu silat Cian Tiang jun teramat tinggi belum tentu kami kuasa melenyapkan jiwanya.'' "Sebelum mendapat persetujuan ayah kalian kukira jangan kalian bertindak secara gegabah. Kita perlu memikirkannya secara masak."

Demikian sela Geng Tian. Berkata Li Hak siong.

"Kita masih bisa menempui cara lain, di saat bala tentara dikerahkan, biar aku mohon diangkat sebagai pimpinan pasukan pelopor, secara diam diam biar kita pelan-pelan menggagalkanusaha ini, paling tidak kita harus sengaja membocorkan rahasia kemiliteran, supaya waktunya tertunda beberapa lamanya."

Timbrung Li Ci heng.

"Sekarang aku punya tiga tipu akal, marilah kami diskusikan bersama cara pemecahannya. Pertama sudah tentu berusaha membujuk ayah sampai mau mendengar nasehat kita. Kedua, kita harus ikut dalam gerakan pembersihan ini didalam pasukan besar, dan berusaha menghambat dengan menggagalkan dengan berbagai cara, ketiga secara diam-diam kita bunuh Cian Tiang jun. Seumpama kita berhasil melenyapkan dia, Wanyen Tiang ci pasti akan mengutus kurirnya yang lain. Apa lagi banyak anak buah ayah yang tidak setia untuk membantu usaha kita. Bilamana pergerakan ini gagal, luka luka Geng toako belum sembuh, bukankah malah membuat kesulitan padanya."

"Akal pertama kau sendiri tidak punya kepastian dan pegangan,"

Demikian ujar Li-Hak siong.

"Akal kedua hanya akan mengulur waktu beberapa lamanya, kalau usaha itu menemui jalan buntu, terpaksa kita harus melaksanakan akal ketiga saja!"

"Nona Nyo yang bersama aku itu, apakah dia sudah melarikan diri?"

Tanya Geng Tian pula.

"Aku tahu kau paling perhatikan keselamatannya, jangan kuatir seujung rambutpun kami tidak melukai dia.Sekarang mungkin dia sudah tiba di Ki lian san!"Lega hati Geng Tian, dan katanya.

"Kalau Ceng-liong pang sudah punya persiapan tentu keadaan tidak akan terlalu parah dan gawat bagi mereka."

"Marilah sekaligus kita laksanakan ketiga akal tadi biar sekarang aku pergi menyelidiki maksud hati ayah, kalau tidak berhasil kita harus berusaha merangkul para anak buah coba lihat ada beberapa banyak yang suka juga mengikuti jejak kita. kalau akal kedua tak mungkin dilaksanakan, terpaksa harus menjalankan akal ketiga!!"

Li Hak-siong tertawa katanya.

"Peduli kita menjalankan akal pertama, kedua atau ketiga, Geng-heng kuharap kau merawat luka lukamu disini lekaslah kau sembuhkan luka lukamu."

Geng Tian maklum bahwa mereka kakak beradik memang setulus hati dan sejujurnya akan membantu dirinya, hatinya amat haru dan senang.

Terpaksa dengan menekan perasaan ia merawat luka-lukanya digedung kediaman Liang-ciu yang tertinggi.

Terpaksa harus mengesampingkan pula keadaan Geng Tian yang sedang merawat luka-lukanya ini.

Marilah kita ikuti pengalaman Su tay kim kong ke Ceng liong pang.

Setelah Geng Tian meninggalkan mereka malam itu diam-diam timbul rasa curiga Pek Kian-bu, batinnya.

"Kenapa Toako mendesak Geng kongcu untuk pulang lebih dulu? Kalau dikata supaya Pangcu bertemu lebih pagi dengan dia, seharusnya sejak beberapa hari yanglalu sudah suruh dia berangkat dulu, apa lagi ginkangnya jauh lebih tinggi dari kami berempat, mungkin sekarang dia sudah tiba di Ki lian san. Kenapa begitu kebetulan setelah dia kembali mengejar musuh gelap itu lantas mendesaknya untuk berangkat lebih dulu? Apakah dalam hal ini ada sesuatu persoalan lain?"

Karena rasa curiganya itu, secara cermat ia berpikir dan menganalisa, berturut-turut ditemuinya titik persoalan yang mencurigakan.

Waktu Geng Tian pulang dengan Lo Hou wi, Nyo Sugi menyongsong mereka keluar, tak lama kemudian Lo Hou-wi masuk lebih dulu sesaat kemudian Nyo Sugi barulah beranjak masuk bersama Geng Tian.

Meski Pek Kian bu tidak mendengar apa yang dibicarakan mereka diluar, tetapi dapat dia bayangkan pastilah mempunyai persoalan rahasia yang perlu dibicarakan berduaan saja makanya Geng Tian suruh Lo Hou-wi masuk lebih dulu.

Sebagai seorang yang pernah melakukan kejahatan, semakin pikir semakin mencelos hati Pek Kian-bu.

"Orang itu tidak membokong orang lain kecuali aku, mungkin bukan perbuatan Siang hiong atau Siang-sat atau sahabat mereka. Geng kongcu berkata tidak menemukan jejak orang itu, kukira dia hanya membual, bukan mustahil dia sudah tahu duduk perkara sebenarnya lalu memberi tahu kepada Toako?"

Lalu terpikir pula olehnya.

"Kenapa pula dia harus mengelabuhi Lo Hou-wi? Menurut watak toako biasanya, kalau dia sudah tahu perbuatanku dulupastilah tidak akan memendam perasaan lantas mengompres dan menanyai aku. Tapi sikapnya tetap begitu manis dan prihatin terhadapku, sekali-kali amat berbeda dengan sepak terjang Toako!"

Karena pikirannya ini, hatinya rada lega, pikirannya pula.

"Mungkin hanya terkaan saja yang meleset, tapi seumpama mereka tidak membicarakan rahasiaku pastilah ada persoalan rahasia lainnya, pendek kata mereka harus merahasiakan persoalan itu kepadaku."

Sebagai seorang kawakan kangouw yang pintar mengatur siasat dan licik, meski dalam hati sudah menaruh curiga namun sikapnya musti wajar, sedikitpun tidak menunjukkan gerak gerik yang mencurigakan, iapun tidak bermaksud mencari tahu kepada Lo Hou wi.

Watak Nyo Sugi memang polos jujur dan lapang dada meski Geng Tian sudah memberi sedikit kisikan, namun sedikitpun ia tidak menaruh rasa curiga dan kewaspadaan terhadap Pek Kian bu malah ia kuatir bagi luka-lukanya itu.

Setelah Geng Tian berangkat Nyo Su-gi lantas berkata.

"Jite tidak bisa berjalan kami bergiliran menggendongnya masih bisa menempuh perjalanan, tapi lebih baik bila kami bisa menyewa sebuah kereta, supaya tidak menyolok mata diperjalanan."

"Sepanjang jalan ini teramat sepi dan jarang sekali dilalui manusia, untuk menyewa kereta dari milik parapetani kukira bukan soal yang gampang,"

Demikian ujar Ong Beng-im.

"Begini saja ditempat ini banyak pepohonan, aku sendiri pernah jadi tukang kayu, maka biarlah sebentar kubuatkan kereta untuk Jiko, kira-kira setengah harian pasti sudah dapat kuselesaikan!"

"Baik biar kubantu kau mengerjakannya,"

Seru Ong Beng-im. Nyo Su-gi manggut manggut katanya.

"Baiklah sekarang juga kalian boleh mulai kerja, dan sekaligus bisa menjaga pintu diluar sana, biar aku yang mengobati luka-luka Jite."

Melihat mereka begitu prihatin dan membuang tenaga tanpa terasa hatinya menjadi menyesal !

Saat itu juga Lo dan Ong mulai bekerja diluar membuat kereta.

Sementara itu Nyo Su-gi mengurut dan memijat badannya Pek Kian-bu untuk melancarkan jalan darah dan membetulkan urat nadinya yang menyeleweng, semalam suntuk ia tidak tidur sibuk menyembuhkan luka-luka Pek Kian-bu sambil mengerahkan hawa murninya, setelah bersusah payah satu setengah jam, jalan darah Pek Kian-bu yang membeku dan melepuh besar itu sudah berhasil disembuhkan.

Nyo Su gi berkata sambil menghela napas;

"Kepandaian menimpuk senjata rahasia dari orang itu sungguh amat lihay, untung tidak sampai melukai Siauw-yang-king-meh dikakimu, kini darah mati telahkeluar dan berjalan lancar kembali, dua hari lagi pasti sembuh seluruhnya. Jitee kau tidurlah,"

Lalu ia membubuhi obat luka pada kaki Pek Kian bu, dalam hati ia membatin.

"Mengandal kepandaian senjata rahasia orang itu, jelas bahwa dia menaruh belas kasihan, kalau sambitannya mengincar jalan darah kematian, masakah jiwa Jitee bisa selamatkan? Seumpama tidak mengincar jalan darah mematikan cukup asal ia menambah sedikit tenaga, dan menimpuk Siauw yang king meh dikakinya, pastilah Jitee akan menjadi cacat seumur hidup. Aneh siapakah orang itu?"

Darah mati yang membuat luka-lukanya itu melepuh sekarang sudah dikeluarkan, bila luka luka ini sembuh keadaan Pek Kian-bu sudah akan pulih kembali seperti sedia kala, dan tidak akan menjadi cacad.

Sungguh terharu dan berterima kasih Pek Kian-bu, katanya.

"Toako, kau pun perlu istirahat."

Ong Beng-im berjalan masuk sambil menyikap seonggok kayu kering, katanya.

"Setengah jam lagi kereta pasti sudah selesai, cuaca sudah hampir terang tanah. Toako kau harus lekas tidur. Kumpulkan tenaga dan semangat untuk perjalanan besok pagi."

Sembari bicara ia menambahkan ranting-ranting kering kedalam api unggun.

"Sate memang cermat, baiklah kalau kereta kalian sudah selesai lekas bangunkan aku lho,"

Pinta Nyo Su gi tertawa.

Mungkin memang sudah terlalu penat,tidak merasa curiga, tak menaruh syakwasangka pada Pek Kian bu hari pun menjelang pagi, diluar ada Lo dan Ong yang bekerja, sambil menjaga pintu maka tiada suatu yang dikuatirkan.

Begitu memejamkan mata Nyo Su-gi lantas tidur pulas seperti bayi menggeros.

Sebaliknya Pek Kian bu yang membawa ganjelan hati bolak balik tidak bisa tidur, namun ia pura pura tidur nyenyak, setelah mendengar Nyo Su gi sudah mendengkur keras, ia membalik badan sambil pura pura mengeluh karena luka lukanya kambuh sakit, melihat Nyo Su-gi tetap mendengkur tidak ada reaksi segera ia membesarkan nyali mengulurkan tangan merogoh kedalam saku Nyo Su gi.

Kebetulan terogoh oleh Pek Kian-bu sampul surat rahasia itu, cepat cepat ia membacanya sekali lalu dikembalikan pula kedalam saku Nyo Su-gi, disamping itu rasa was was dan berkuatiran selama ini pun hilang, dan legalah hatinya.

"Kiranya begitulah persoalannya !"

Yang paling ia takuti bahwa perbuatan jahatnya dulu sudah diketahui oleh Geng Tian dan Nyo Su gi.

Meski surat rahasia ini menyangkut urusan penting, tapi tiada sangkut pautnya dengan persoalan pribadinya, maka lega dan hilanglah kekuatirannya.

Meski hati sudah lega namun nuraninya amat dongkol dan marah.

"Persoalan besar yang begini penting menyangkut urusan Pang kita tapi merekamengelabuhi aku, bukankah jelas anggap diriku orang luar? Memang merekapun mengelabuhi Lo Hou wi dan Ong bandingkan diriku? Hampir dalam waktu yang bersamaan aku bersama Nyo toako menjadi anggota Ceng liong-pang jelek-jelek toh aku berjasa juga dalam perjuangan selama ini. Hm, tak nyana Nyo toako masih tidak percaya kepadaku!"

Semakin dipikir semakin marah, tanpa terasa hari sudah terang tanah.

Kereta kayu sementara itupun sudah selesai dibuat, segera mereka berangkat.

Pek-Kian bu rebah diatas kereta dorong itu, sementara Nyo Su gi, Lo Hou-wi dan Ong Beng im bertiga bergiliran mendorong kereta itu.

Lo dan Ong semalam suntuk bekerja keras, tanpa tidur lagi, Pek Kian bu amat rikuh dan sungkan terhadap mereka.

Tapi teringat hubungan Lo Hou-wi yang lebih intim dengan Geng Tian, sementara Nyo Su gi merahasiakan surat rahasia pemberian Geng Tian kepada dirinya sudah tentu ia jadi uring-uringan dan mendongkol.

Beberapa saat setelah menempuh perjalanan Nyo Su gi beranjak diam seperti sedang merenungkan sesuatu, dia diam saja, maka Lo Hou wi mendekati dan bertanya.

"Toako apa yang sedang kau pikirkan ?"

Nyo Su gi berkata.

"Sepuluh tahun yang lalu, Bulim-thian kiau Tam Ih-tiang pernah menyambangi pangcu kami. Liong pangcu minta beliaumenunjukkan permainan Keng sin-pit-hoat yang amat menakjupkan waktu itu saya hadir dan menonton."

Lo Hou wi tidak mengerti kenapa orang menyinggung persoalan lama, ujarnya.

"Keng sin pit-hoat memang kepandaian tunggal yang tiada taranya di Bulim, sungguh untung toako dapat menyaksikannya."

"Permainan ilmu potlotnya itu dapat digunakan pula didalam permainan senjata rahasia. Waktu itu, Bulim thian kiau sudah berhasil memilih diri pada ilmunya menyambit daun menerbangkan kelopak bunga untuk melukai orang! aku mohon beliau lihatkan kepandaian menyambit senjata rahasia itu untuk membuka mataku. Waktu itu aku bicara sambil berdiri seenaknya saja tahu-tahu tangannya meraih memetik selembar daun kembang didalam pekarangan, sedikit digulung lantas dicentilkan perlahan sambil berkata.

"Saudara Nyo tidak usah sungkan sungkan, silahkan duduk! seketika aku merasa dengkulku menjadi kesemutan dan lemas tanpa merasa aku lantas meloso berduduk. Ternyata, Hoan tian hoat didengkulku sudah tertimpuk oleh jentikan daun kembangnya itu!"

"Begitu lihay,"

Ong Beng im meleletkan lidah. Lo Hou wi mendadak teringat serunya.

"Bukankah semalam jiko juga kena kesambit Hoan tian-hiat didengkulnya?"Pek Kian bu kaget katanya.

"Betul cuma senjata rahasianya adalah sebutir krikil kecil. Toako, kejadian yang kau ceritakan ini apa kau sangka ...'' Nyo Sugi tertawa tukasnya.

"Sudah tentu Bu lim-thian-kiau tidak akan melukai kau dengan senjata rahasia. Tapi aku pernah mendapat penjelasannya bahwa orang yang pandai menggunakan Keng-sin-pit hoat dan kepandaian menimpuk senjata rahasia kembang atau daun masih ada komandan tertinggi dari pasukan Gi lim kun dari negeri Kim yang bernama Wanyen Tiangci. Semalam waktu kuobati luka lukamu, cara timpukan orang itu pada jalan darahmu persis benar dengan perubahan yang dicangkok dari Keng sin pit hoat."

"Mengandal kedudukan Wanyen Tiangci kukira tidak mungkin seorang diri ia bakal meluruk kemari hanya untuk melukai Pek-jiko saja!"

Demikian timbrung Ong Beng im. Sebaliknya Lo Hou wi melengak, pikirnya.

"Toako tidak tahu bahwa Bulim-thian-kiau sudah menerima Nyo Wan ceng sebagai murid penutupnya. Memangnya orang yang semalam melukai Jiko adalah dia? Tapi apa alasannya dia harus melukai Jiko?"

Berkata Nyo Sugi.

"Wanyen Tiangci punya seorang putra tunggal yang bernama Wanyen Hou, kabarnya sudah berhasil mendapat pelajaran tunggal ayahnya. Jite apa kau pernah bertempur dengan Wanyen Hou?""Tidak,"

Sahut Pek Kian bu.

"Tetapi kabarnya dia ada sedikit persahabatan dengan Siang hiong dan Siang sat, bukan mustahil bila dia diminta untuk membokong kepadaku."

Sebetulnya hal ini adalah cerita bohong karangannya sendiri sengaja ia hendak menista dan memfitnah Siang hiong dan Siang sat yang main sekongkol dan bokong kepada dirinya.

"O, jadi Siang hiong dan Siang sat ada persahabatan dengan Wanyen Hou. Dari siapa kau mendengar berita ini? Kukira tidak mungkin."

Pek Kian bu menjelaskan secara samar samar.

"Mungkin kabar angin yang kudengar dikalangan kangouw. Tapi betapapun kami harus hati hati dari pada kena dikelabui?"

Nyo Sugi manggut manggut ujarnya.

"Benar ucapanmu!"

Lo Hou wi kurang tentram rasanya kurang enak bila ia mengelabui Toako dan Jiko maka katanya;

"Toako menurut apa yang kuketahui kau tidak salah. Bulim thian kiau punya seorang murid penutup perempuan."

Sementara dalam hati ia berpikir.

"Nyo-Wan ceng adalah murid perempuan Bu lim thian kiau hal ini semua orang orang Kim keh-nia sudah tahu, belakangan ini Toako dan Jiko jarang berhubungan orang orang Kim-keh-nia maka ia belum tahu tapi cepat atau lambat pasti mereka akan mendapat tahu juga. Nona Nyo pernah pesankan padaku supaya merahasiakan dia mewakili suhunya mengajarkanilmu golok kepadaku, kalau aku hanya memberitahukan asal usul perguruannya kepada Toako, kukira tidak berhalangan.

"Siapakah murid perempuannya itu?"

Tanya Nyo Sugi.

"Dalam sahabat baik Geng kongcu yaitu putri tunggal Nyo Yak seng kabarnya nama harusnya adalah Nyo Wan ceng."

Sejenak Nyo sugi melengak katanya.

"Semalam Geng kongcu mencari tahu kabar berita keluarga Nyo, kenapa tidak kau beritahukan hal ini kepadanya?"

"Semula aku ingin memberitahu dia setelah tiba di Ki lian san saja, toh aku juga mendengar kabar saja belum tentu berita ini dapat dipercaya. Waktu kami meninggalkan markas pusat, Pangcu ada bilang beliau sudah suruhan orang mengikat hubungan dengan pihak Kim keh nia, pasti beliau akan mengutus orangnya kemari. Bila kita tiba di rumah nanti kukira kuatir dan Kim keh nia itu sudah datang lebih dulu. Apakah benar berita yang kudengar ini orang dari Kim keh nia itu tentu dapat memberikan kesaksian."

Nyo Sugi memang seorang jujur, mendengar penjelasan yang masuk akal ini ia pun tidak merasa sangsi lagi katanya;

"Kalau toh dia putri Nyo Yan seng murid penutup Bu lim Thian kiau lagi, nona Nyo itu pastilah bukan orang yang membokong Jite dengan senjata gelapnya itu.""Memangnya akupun berpikir begitu,"

Sela Lo Hou wi.

"Tapi hal ini perlu kubicarakan kepada Toako berdua.'' "Betul ada lebih baik bila mengetahui sedikit banyak persoalan. Tapi menurut dugaanku pastilah orang itu adalah Wanyen Hou putra Wanyen Tiang ci!"

Tapi Pek Kian bu merasa penjelasan Lo Hou wi rada dipaksakan, satu sama lain saling bertentangan, diam diam timbul rasa curiganya.

Tapi ia tidak enak bicara apa apa, sepintas saja ia ikut meramaikan pembicaraan ini.

"Memang benar ucapan Toako. Sudah tentu bukan perbuatan nona Nyo itu akupun yakin pasti perbuatan Wanyen Hou."

Tengah mereka bicara, tiba-tiba terdengar suara mengaung, sebatang panah bersuara tiba tiba melesat keluar dari gerombolan semak belukar dilereng sana kearah mereka. Nyo Su gi segera berseru nyaring.

"Kawan dari aliran mana itu?'' tempat mana sudah termasuk wilayah kekuasaan Ceng-liong-pang di Ki-lian-san selamanya tidak ada orang-orang gagah dari kaum persilatan yang beroperasi didaerah ini, maka Nyo Sugi merasa heran sebaliknya Lo Hou wi dan Ong Beng-im acuh tak acuh kata mereka.

"Perampok berani membegal kami, inilah yang dinamakan air bah melanda biara raja naga."Belum habis mereka bicara, tampak dari gerombolan semak rumput sana beruntun melompat keluar tujuh delapan orang bentaknya.

"Siapa saja kalian ini, ayo berhenti biar kami periksa!'' "Kami adalah kaum petani, teman kami inipun sedang sakit, kami sedang mengantar pulang kerumah.'' demikian seru Nyo Su gi.

"Para Hohan (orang gagah) harap suka memberi keringanan!"

"Tidak bisa."

Bentak pimpinan perampok itu.

"Orang sakit harus kami periksa juga lebih dulu,"

Dari nada bicaranya terang dia bukan kepala perampok tapi kepala opas pemerintah yang sudah biasa berbuat sewenang-wenang menindas rakyat kecil. Nyo Sugi mengerut kening, pikirnya.

"Entah orang-orang dari golongan mana mereka ini, kelihatannya bukan kawanan berandal yang punya pangkalan tertentu.'' Sebagai anak muda yang berdarah panas tak tahan lagi segera Ong Beng-im menjengek dingin.

"Kau ini kawanan dari golongan mana? Tokoh-tokoh kenamaan dari golongan hitam sudah banyak yang pernah kulihat, tapi belum pernah kulihat manusia liar macammu ini yang tidak punya sopan-santun!"

"He, memangnya kalian adalah sahabat dari aliran yang sama? Kalian dari aliran mana?"

Tanya kepala rampok itu.Sebetulnya Nyo Sugi segan memperkenalkan diri, tapi Ong Beng im sudah keterlanjur membuka suara, terpaksa ia tampil kedepan katanya.

"Kami adalah para pembantu Pangcu dari Ceng-liong pang, sahabat, kuharap kau pandang pihak Ceng liong-pang kami biarlah kami lewat saja."

Kata kepala rampok itu.

"Kalian berempat, em, apakah kalian adalah Su tay-kimkong dari Ceng liong pang?"

Sahut Ong Beng im dengan angkuh;

"Betul, itulah gelaran yang diberikan sahabat sahabat Kangouw kepada kami!"

Kepala rampok itu seketika mengunjuk kegirangan mendadak bergelak tertawa serunya.

"Bagus sekali memang aku sedang mencari kalian Su-tay kimkong untuk berangkat menghadap Giam lo-ong bersama.'' habis berkata ia beri aba aba kepada anak buahnya serempak tujuh delapan orang itu menyerbu bersama. Nyo Su-gi bermaksud meringkus rampok harus membekuk kepalanya lebih dulu.

"Wut"

Telapak tangannya berkembang tegak, langsung ia menjotos kearah kepala rampok itu lebih dulu, tak nyana kepandaian silat kepala rampok ini ternyata sangat tinggi dan aneh pula lekas ia ulur ketiga jari tangannya untuk mencengkeram urat nadi pergelangannya sementara tangan kanan menghantam ke lengan atas.

Nyo Su gi menarik tangan merubah permainan sambil berkelit ia balas menyerang pula.Meski ia bergerak begitu cepat, tak urung lengan bajunya kena terserempet ujung jari lawan seketika lengan bajunya teriris sobek memanjang seperti tertebas pisau tajam.

Nyo Su gi insaf bahwa hari ini terbentur musuh tangguh.

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 16

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert