Ceritasilat Novel Online

Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat 7

Eps 7 Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat - Gan Kh

Baca online Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat - Gan Kh

Cersil Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat - Gan Kh.

"Bukan secara terang-terangan ia mengajak Yau-ji untuk membantunya?"

"Sebelumnya memang sudah direncanakan, kusuruh Yau-ji dan Tay-seng pergi ke rumahnya menyambut kau pulang siapa tahu malam itu secara diam-diam mereka berdua mengeluyur pergi tanpa pamit, tulisanpun Yau-ji tidak meninggalkan untuk aku !"

Sedapat mungkin Lu Tang-wan menghibur diri, katanya .

"Mungkin Yau-ji takut kau rintangi, maka secara diam-diam mengajaknya meluruk ke Lou-keh-ceng ? Yau-jie jelas jatuh hati kepada Ling Tiat-wi, hal ini aku tahu Cin Liong-hwi adalah sutenya, dalam keadaan terdesak untuk menolongnya adalah jamak kalau mereka memburu waktu kesana janganlah kau menilai mereka terlalu buruk !"

Tapi terdengar Lu-hujin tertawa dingin katanya .

"Anggapan Cin Liong-hwi dan Ling Tiat-wi berhubungan begitu kental laksana saudara sepupu layaknya? ketahuilah begitu sampai disini lantas ia mengobral mulutnya menjelek-jelekkan nama baik suhengnya !"

Lu Tang-wan menjadi heran dan curiga katanya .

"Apa saja yang dia katakan ?""Katanya Tiat-wi sudah kepincut pada seorang putri bangsa Mongol, sekarang sudah menyerah pada Mongol, dan siap berangkat ke Holin menjadi menantu raja di sana."

"Putri Mongol mana yang dimaksudkan ?"

"Siluman perempuan yang bergelar In-tiong-yan yang suka menimbulkan geger di kalangan persilatan beberapa tahun belakangan ini. Betapa waktu yang lalu kabarnya masih berada di Lou-keh-ceng."

Lu Tang-wan bergelak tertawa, ujarnya .

"Mana ada kejadian itu, aku ada di...."

Lekas-lekas Lu-hujin mendesiskan mulutnya, katanya menukas .

"Perlahan sedikit, suaramu mungkin didengar oleh mereka !"

Mana suami istri ini tahu diatas atap kamar mereka Sip It-sian sedang mendekam mencuri dengar percakapan mereka, soalnya Sip It-sian sendiri merasa kurang tentram karena persoalan Cin Liong-hwi, ingin ia mengetahui apa saja yang telah dikatakan Cin Liong-hwi kepada Lu-hujin.

Ia melihat sikap dan air muka Lu-hujin yang kurang wajar tadi, maka sengaja ia datang untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.

Dengan suara lirih Lu Tang-Wan berkata .

"Mana ada kejadian itu ? Waktu di Lou-keh ceng aku sendiripun pernah melihat In-tiong-yan itu !"

"Sudah tentu aku tahu bahwa ucapannya itu bodong belaka, kalau tidak masa Ling Tiat-wi bisa pulang bersama kau ? kuceritakan kepada kau supaya kautahu bahwa Cin Liong-hwi itu membual dan membuat laporan palsu untuk menipu Putri kita,"

Bahwasanya yang membuat dan memberi laporan palsu masih ada Khu Thay-seng seorang, namun hal ini ia tutupi keadaan suaminya. Sungguh kejut dan gusar pula Lu Tang-wan dibuatnya, katanya .

"Keparat ini berani berbuat tidak senonoh terhadap puteri kami? Dihadapan Ling-twako dan ayahnya aku pernah menyinggung soal perkawinan Tiat wi dan Yau ji keparat inilah juga aku."

Lu hujin mandah tertawa dan mengejek, katanya.

"Begitu bocah ini datang lantas aku tahu maksudnya yang tidak baik. Sepasang matanya yang kurang ajar ini selalu menatap Yau-ji dengan jelalatan, mana dapat mengelabui aku? Maka kuutus Tay seng seraya ikut mereka menyambut kau siapa duga mereka minggat pada tengah malam tanpa setahuku."

Lu Tang-wan menjadi gelisah, katanya.

"Bagaimana baiknya Cin Hau siau menanam budi besar telah menolong jiwaku, bila anak itu benar salah melakukan perbuatan terkutuk menodai nama baik kita, betapapun aku tidak bisa bertindak terhadapnya."

"Jadi putri kita mandah kena rugi begitu saja?"

"Meskipun Yau ji tidak mengenal betapa culasnya hati manusia, tapi dia seorang yang mengerti tata krama dan pandai menjaga diri kemungkinan dia tidak akan melakukan perbuatan yang terkutuk denganbocah keparat itu!"

Ucapan ini tidak lebih untuk menghibur hatinya sendiri.

"Semoga begituIah!"

Jengek Lu hujin dingin;

"bahwasanya aku memang tidak setuju kau jodohkan Yauji dengan Ling Tiat wi. Sekarang terjadi peristiwa yang memalukan ini, maka betapa juga putri kita tidak mungkin dinikahkan kepada keluarga Ling. Coba kau pikir keluarga Ling dan Cin punya hubungan kental sejak nenek moyang mereka, bila Yau ji menikah dan masuk keluarga Ling, setiap hari harus bersua dengan bocah she Cin itu. Apakah tidak malu?"

Entah berapa banyak Lu Tang wan pernah menghadapi persoalan besar kecil yang cukup rumit, namun belum pernah terjadi peristiwa seperti halnya terjadi sekarang ini yang cukup membuatnya serba runyam, hatinya gundah dan gugup, katanya.

"Sekarang yang terpenting segera mencari Yau-ji kembali, soal perkawinan kita bicarakan kelak !"

"Soal ini tidak boleh tersiar keluar. Besok panggil Tay seng kemari dia ikut bantu mencari !"

Lu Tang wan kehilangan pegangan terpaksa menyahut sejadinya. Tanpa disadari olehnya justru sang istri sudah punya pegangan dalam penyelesaian soal ini. Kata Lu hujin pula.

"kau pulang bersama sekian banyak tamu, adakah orang luar yang tahu??""Semua orang Lou keh ceng tahu, kenapa?"

Kata Lu Tang wan geregetan.

"Lou Jin cin adalah begal besar yang sudah cuci tangan, apa yang diucapkan pihak pemerintah belum tentu mau percaya, lebih baik kau berusaha mengantar para tamumu pulang secepatnya. Kelak bila diusut, masa kita bisa mungkir??"

Lu Tang wan menjadi gusar, katanya.

"Jiwaku ini toh mereka yang tolong, masa aku tega mengeluarkan kata kataku?"

"Kau punya keluarga, punya harta benda, punya istri punya anak kau mau berlaku nekad sendiri demi kesetiaan kawan tanpa kau hiraukan keluarga, harta benda dan anak istrimu ?"

Sebaliknya Lu Tang wan membatin.

"Putrimu sudah pergi dan yang kau pikirkan melulu kepentinganmu sendiri."

Tapi ia tidak berani membuat ribut dengan istrinya, bila sampai bertengkar bukan mustahil suara mereka bakal terdengar oleh para tamu. Lu hujin berkata pula.

"Betapa jerih payah kita untuk mengumpulkan kejayaan ini, kau sendiri tempo hari pernah bilang, dunia kangouw penuh bahaya kejahatan, kau sendiri sudah tidak mau lagi keluntang-kelantung diluar, kecuali kau antar para tamumu pulang, hidup selanjutnya baru bisa aman sentosa.""Cobalah kau tidak cerewet lagi,"

Sentak Lu Tangwan lagi mendongkol.

"Cobalah beri waktu untuk aku berpikir,"

Dalam hati ia membatin.

"Ai kenapa semakin lama ia tak dapat melihat gelagat dan suasana, siapa tidak mendambakan hidup sentosa dan sejahtera tapi bila melakukan perbuatan terkutuk terhadap sahabat sendiri, masa aku Lu Tangwan masih ada muka bertemu dengan para kawan?"

Sip It-sian mendekam diatap rumah, mencuri dengar sampai disini ia berpikir.

"Dugaanku ternyata betul. Istrinya tidak senang akan kedatangan para tamu yang tidak diundang ini. Tapi tidak perlu heran, perempuan mana yang tidak pernah takut mendengar nama "Pelarian". Demi sahabat dan keluarganya, kita tidak seharusnya merembet dan bikin susah mereka."

Lalu berpikir pula.

"Urusan Liong hwi sementara ini terpaksa harus dirahasiakan terhadap Cin toako dan Ling-toako."

Hari kedua pagi pagi benar, mendadak Cin Hou siau beramai-ramai menemui Lu Tangwan dan mohon diri bersama, keruan saja Lu Tang wan terperanjat, batinnya.

"Apakah perkataan ibu Yau ji semalam dapat didengar oleh mereka ?"

Dengan ngotot ia menahan para tamunya. Dengan suara lirih Cin Hou-siau berkata.

"Hong hiantit mendapatkan satu

Jilid Ping-hoat, kita harus membantunya menyerahkan kepada kepala pimpinan laskar pergerakan dalam waktu sesingkat mungkin.Maka setelah dipikirkan secara masak, terpaksa kami harus segera mohon diri kepadamu.

Toh waktu masih panjang, kelak kami masih bisa datang kemari."

Ternyata Cin Hou-siau beramai memang mendapat nasehat dari Sip It sian, sehingga mereka berkeputusan untuk segera meninggalkan rumah Lu Tang-wan ini.

Alasan yang dikemukakan ini memang tepat.

Memang alasan tepat dan keperluan memang penting, Lu Tang-wan sendiri mengetahui pula persoalan Ping-hoat itu, hatinya curiga tapi toh ia kewalahan menahan tamu tamunya, akhirnya ia berkata;

"Kalau begitu, Tiat-wi Hiantit sementara biar tinggal di sini saja, luka lukanya kan belum sembuh seluruhnya?"

Ling Hou berkata;

"Terima kasih atas kebaikan Lu toako, penyakit anakku sudah kuperiksa rasanya tidak bakal kambuh lagi. Gurunya minta segera ia pulang untuk mengurus Bukoannya di kampung jejak sutenya itu juga perlu bantuan untuk ikut mencari."

Melihat sikap Ling Hou banyak lebih kaku dan dingin dari kemarin, Lu Tang-wan jadi lebih sedih dan terketuk perasaannya.

Tapi pikiran lain lantas berkelebat dalam benaknya, ia sendiri belum punya keputusan akan menikahkan putrinya kepada Hong thian lui, istrinyapun ingin agar para tamunya ini lekas-lekas meninggalkan rumah, apa boleh buat.Lu Tang wan mengantar para tamunya sampai kepintu depan, Khu tay seng melangkah masuk dari pintu belakang.

Segera Lu hujin membawa masuk kekamar dalam katanya berbisik.

"Piaomoaymu sudah ada beritanya."

Khu Tay seng kegirangan.

"Berita apa?"

Tanyanya.

"Ternyata mereka pergi ke Lou keh ceng."

Khu Tay-seng terkejut benar, katanya kemudian.

"Piauwmoay begitu besar nyalinya, berani dia meluruk kesana untuk menolong bocah itu!! Ah!! Ilmu silat Lou Jin cin bukan kepalang lihaynya apakah Piauwmoay kena tertawan oleh Lou keh ceng?"

"Bukan begitu,"

Lu hujin menjelaskan.

"Kabarnya mereka sudah berhasil meloloskan diri, apakah kau melihat para tamu yang diantar Kohtiomu? Diantara mereka ada ayah Ling Tiat wi dan ayah bocah she Cin itu!!"

Dengan ringkas segera ia beritahukan tentang Cin, Ling dan lain lain yang membuat keributan di Lou-keh ceng, serta Sip-it sian melihat Lu Giok-yau pula dimana akhirnya Khu Tay seng berkata.

"Piauwmoay tidak berani pulang, darimana bisa tahu kemana mereka melarikan diri?"

"Ada sebuah sumber penyelidikan, coba kau susul dia kesana.""Dimana tempat itu??"

Tanya Khu Tay-seng tersipu-sipu. Tutur Lu hujin.

"Hari itu Cin Liong hwi berbohong mendapat pesan ayahnya memberi kabar kemari kuduga iapun tidak berani pulang. Aku jelas akan wataknya Piauw-moaymu, betapapun besar nyalinya tak akan berani keluyuran dengan seorang laki-laki sembarangan. Mungkin dia masih belum tahu bahwa Ling Tiat hwi sudah tertolong keluar oleh ayahnya tapi dia menyirapi berita. Cobalah kau susul kerumah ibu inangnya, kecuali aku ibu inangnya ini paling sayang padanya setelah lolos dari Lou keh-ceng tiada tempat lagi untuk meneduh pasti ia menuju kerumah inangnya itu."

Setelah perundingan rahasia antara bibi dan keponakan ini selesai Lu Tang wan baru masuk kedalam, segera Khu Tay-seng menghadapi sekedarnya, lalu bergegas tinggal pergi.

Apa yang menjadi perundingan mereka tadi sekecap pun tidak disampaikan kepada Lu Tang-wan.

O^~dwkz^hendra~^O Setelah meninggalkan rumah keluarga Lu, Ling Hou dan rombongannya menempuh perjalanan dengan langkah cepat, masing-masing memikirkan urusannya sendiri, terutama Ling Hou kelihatan rada murung dan kesal.Segera Cin Hou siau membujuknya .

"Pernikahan ini, bilamana jadi itulah baik kalau batalpun tidak menjadi soal. Bukan aku suka menggagalkan muridku, ilmu silat dan martabat Tiat-wi sukar dicari keduanya, seorang laki-laki kenapa kuatir tidak bisa memperoleh seorang isteri yang cantik dan bijaksana ?"

"Bukan aku menyayangkan pernikahan yang belum menentu ini."

Demikian Ling Hou menjelaskan.

"Aku menyayangkan tindakan Lu-toako seorang laki-laki, seorang enghiong yang gagah perkasa, kenapa berkuping lemah. Ai, aku mengajukan pinangan untuk anak Wi, mungkin tindakanku rada ceroboh."

Perkataan "kuping lemah"

Yang dimaksud adalah takut bini, segala sesuatunya percaya akan obrolan sang istri. Sip It-sian tertawa, selanya .

"Belum tentu Lu Tang-wan itu selalu tunduk pada ucapan istrinya. Yang terang istrinya tidak senang hati terhadap kita, sehingga kita sendiri yang tak enak tinggal terlalu lama dirumahnya, semalam waktu kucuri dengar percakapan mereka kelihatannya Lu Tang-wan sangat menyetujui Tiat-wi, bocah itu belum tentu soal pernikahan ini tiada harapan."

"Kalau tidak mendapat simpatik dari sang mertua, menantu ini tidak jadi saja, soal pernikahan Tiat-wi, selanjutnya akupun tidak perlu menyinggungnya pula kepadanya !"Tidak enak bagi Hong-thian lui untuk ikut membicarakan persoalan perkawinannya, dasar sifatnya yang keras kepala dan tinggi hati ia merasa ucapan ayahnya sangat benar dan mencocoki seleranya. Sekonyong-konyong bayangan Lu Giok-yau berkelebat dalam benaknya, tanpa merasa sekujur badannya terasa bergidik.

"Selama beberapa hari beberapa malam tanpa mengenal lelah dan tidur, makan tidak bisa tidur Giok yau meladeni aku, merawat lukanya sampai sembuh. Apakah lantaran sedikit perselisihan dengan ibunya lantas aku tidak mau hiraukan dia lagi ?"

Terpikir pula oleh Hong tian-lui.

"Giok yau adalah Giok-yau, ibunya adalah ibunya, lain ibu lain anak. Kalau bibi Lu tidak senang kepadaku, apa sangkut pautnya dengan dia ? Yang terang dia kan suka kepadaku ..."

Teringat akan kelakuan Giok yau yang begitu mesra dan prihatin terhadap dirinya selama ia sakit, teringat akan sikap dan rasa berat serta mata yang berkaca kaca karena cinta kasihnya ...

sama-sama itu, cukup jelas membuktikan betapa murni cintanya terhadap dirinya.

Serta merta jantung Hong Thian lui berdegup dengan amat kerasnya, lapat-lapat ia merasakan pula ucapan ayahnya yang tidak bisa diterima akan kebenarannya.

Ling Hou tidak suka memperbincangkan persoalan Lu Tang-wan suami istri.

Segera ia putar haluan dan ajak bicara kepada Hek swan-hong dan Geng Tian, katanya .

"Hong hiantit, Geng hiantit, bila kalianberdua tidak ada urusan lain yang penting, kuharap kalian suka mampir ke rumahku barang beberapa hari? Anak anak muda sulit mendapat sahabat karib yang sehaluan dan setujuan, berilah kesempatan kepada putraku untuk mendapat pengalaman lebih banyak dari kalian ?"

"Memang aku ingin berkumpul beberapa hari lagi dengan Tiat-wi, tapi aku harus segera menuju Tayloh untuk menemui Liok pangcu dari Kaypang untuk memberikan laporanku dalam perjalanan ke Liang san tempo hari, dan yang terpenting menyerahkan Pinghoat itu kepada beliau supaya beliau suka memberikan keputusannya. Terpaksa harus ditunda lain kesempatan untuk menyambangi paman ?"

Ling Hou tahu betapa penting tugasnya itu maka ia berkata tertawa;

"Kalau begitu aku pun tidak akan paksa kau !"

Mendadak Hong thian lui angkat bicara.

"Yah, aku ingin ikut Hong toako pergi ke Taytoh untuk melihat lihat dan mencari pengalaman bagaimana pendapatmu?"

"Bukannya tidak baik, kuatirku pengalamanmu terlalu cetek, badanmu belum sehat seluruhnya, begitu berada di ibu kota negeri Kim segala sesuatunya perlu kewaspadaan yang berlebihan, apakah kau tidak membebani orang lain ?"

Hong thian lui tertawa, katanya .

"Toh bukan seorang saja yang pergi ada pula Hong toako yangakan memberi petunjuk kepadaku, lukaku sudah delapan puluh persen sembuh, luka luka luar yang belum sembuh ini tidak bakal mempengaruhi diriku. Perjalanan ke Taytoh dari sini paling cepat memakan waktu satu bulan. Dalam jangka sebulan masa takkan sembuh seluruhnya?"

"Liok pangcu adalah sahabat lama yang sudah tak pernah jumpa beberapa tahun,"

Demikian Cin Hou-siau ikut menimbrung.

"Dengan kesempatan ini biarlah Tiat wi ikut menyambangi dia sekaligus menyampai salam dari kita."

Hong thian-lui berjingkrak kegirangan, serunya.

"Saudara Geng, kau bagaimana?"

"Aku justru punya urusan lain. Mungkin aku tidak bisa ikut kalian pergi ke Taytoh bersama!"

Demikian sahut Geng Tian, lalu ia berpaling dan katanya pula .

"Sam-wi Locianpwe, aku tanya, apakah kau tahu seorang pangcu Ceng-liong-pang yang bernama Liong Jiang-poh ?"

"Kau kenal dengan Liong pangcu ?"

Tanya Cin hou-siau.

"Beliau adalah bekas bawahan ayahku!"

Demikian sahut Geng Tian.

"Siautit sendiri belum pernah ketemu dengan beliau, entahlah dimana letak kedudukan Ceng-liong-pang itu."

Kata Cin Hou-siau.

"Aku kenal dengan Liong Jiang-poh itu, tapi sudah sekian tahun aku tidakkelana didunia kang-ouw, entah dimana markas besar Ceng-liong-pang itu !"

Sekarang Sip It-sian campur bicara .

"Berita tentang Ceng-liong-pang aku pernah dengar sedikit, semula markas besarnya didirikan di Hu-gu-san, konon kabarnya tahun yang lalu sudah hijrah ke Ki-lian-san."

"Wah ! pindah sedemikian jauhnya !"

Seru Cin Hou-siau.

Perlu diketahui Hu-gu-san terletak di Tiong-ciu wilayah Holam, sebaliknya Ki-lian-san terletak di Kam-siok daerah barat laut, jarak kedua gunung ini terpaut beberapa ribu li jauhnya, sebab Cin Hou-siau tahu bahwa Ceng Liong-pang merupakah satu perkumpulan rahasia yang melawan kerajaan Kim, dengan memindahkan markas besarnya ke Ki-liansan berarti mempersukar segala pergerakan dan fasilitas maka ia mengajukan pertanyaan yang mengherankan itu.

Sip It-sian menjelaskan .

"Justeru karena rahasia Ceng-liong pang sudah diketahui oleh pihak kerajaan Kim. Komandan Gi-lim-kun dari kerajaan Kim yang bernama Wanyen Tiang-ci hendak mengirim pasukannya untuk menumpas mereka, begitu mendapat kabar ini, Liong Ciau tahu bahwa Hu-gu-san tidak mungkin kuat untuk bercokol Iebih lama pula, maka jauh-jauh mereka pindah ke Ki-lian-san, disana mereka hendak menyusun kekuatan pula!!""Beritamu ternyata cukup aktuil. Rahasia yang sangat penting ini, darimana kau dapat dengar?"

Cin Hou-siau bertanya sambil bergurau. Sip It sian tertawa, tuturnya .

"Kalau dibicarakan berita rahasia ini aku jauh lebih dulu mendapat tahu dari Liong Jiang poh sendiri. Gundik kelima dari Ciangkun yang bercokol di Aiciu mempunyai serenteng Ya-bing-cun seharga puluhan laksa tail perak yang dibeli dari seorang pedagang dari Persia. Mendapat kisikan dari seorang ahli sebetulnya aku berniat mencuri serenteng mutiara itu tidak kuduga belum lagi rentengan mutiara itu berhasil kucuri justru surat perintah Wanyen Tiang ci kepada panglima di Ai-ciu itu berhasil kucomot!"

Cin Hou siau bergelak tertawa, serunya.

"Hasilmu ini jauh lebih berharga dari nilai serenteng Ya-bing-cu itu!"

"Secepatnya aku segera mengirim berita ini ke Hu ga-san,"

Demikian Sip It sian melanjutkan.

"Tatkala itu memang Liong Jiang-poh sudah mendapat sedikit berita, tapi tidak sejelas seperti yang kuperoleh. Setelah melihat surat rahasia itu baru dia berkepastian untuk memindahkan tempat tinggal markas besarnya itu. Tapi waktu itu hanya diputuskan untuk pindah tempat dan belum mendapat kepastian tempatnya. Baru belakangan ini aku mendapat tahu mereka sudah pindah ke Ki liansan. O^~dwkz^hendra~^O

Jilid 19

"Dan bulan yang lalu aku bertemu dengan Nyo Sugi, tertua dari anak buahnya yang mendapat gelar Su-tay-kim-kong, katanya Liong-jiang-poh sangat kangen kepadaku, minta aku suka mertamu kesana."

Geng Tian menjadi girang, katanya.

"Kiranya Sip lociang punya hubungan begitu kental dengan Liong-pangcu, kalau sudi kesana bersama Wanpwe itulah bagus sekali."

Sip It-sian tertawa, ujarnya;

"Aku masih punya urusan jual beli besar yang perlu segera kulaksanakan. Undangan Liong-pangcu terpaksa harus kutundakan setengah tahun lagi baru bisa kupikirkan. Lote, dihadapan Liong pangcu harap kau suka sampaikan salamku kepadanya."

Geng Tian ingin tahu lebih banyak mengenai seluk beluk Ceng-liong-pang ini, maka ia bertanya lebih lanjut.

"Aku hanya tahu Ceng-liong-pang mempunyai seorang pangcu entah masih punya tokoh tokoh penting siapa lagi?"

"Umpamanya yang kusebut sebagai Su-tay-kim-kong itu tadi,"

Sahut Sip It-sian, lalu ia jelaskan nama, raut wajah serta usia dari Su-tay kim kong itu satu persatu kepada Geng Tian.

Setelah semua bicara jelas, beramai ramai mereka ambil perpisahan di tengah jalan.Geng Tian ingin selekasnya menemui Liong Jiang-poh.

Maka malam hari ia menempuh perjalanan.

Hari itu ia tiba disebuah kota kecil, dalam kota kecil itu hanya terdapat sebuah penginapan, baru saja Geng Tian menuju kerumah penginapan itu, tahu-tahu didepan pintu kelihatan segerombolan petugas hukum yang menunggang kuda sedang mengepung rumah penginapan itu.

Agaknya rumah penginapan itu seperti ada menyembunyikan seorang gembong penjahat yang sedang diburu oleh para opas itu.

Didepan penginapan ini terdapat sebuah warung minuman, lekas-lekas Geng Tian masuk kedalam dan sembunyi disana, sembari menikmati air teh dengan seksama ia memperhatikan kejadian didepan itu.

Tatkala itu sebagian petugas opas itu sudah meluruk masuk kedalam, mereka mulai mengadakan razia dengan segala kegaduhan, tidak luput pemilik rumah penginapan itu menjadi sasaran berbagai pertanyaan dan ancaman.

Dari tempat duduknya didalam warung kecil itu Geng Tian dapat mendengarkan dengan jelas sekali.

Mendadak terdengar sebuah bentakan nyaring, sebuah suara serak berteriak.

"Ong losan kau tahu apa dosamu?"

Geng Tian tak melihat orang berada disebelah dalam, dalam hati ia membatin.

"Orang itu pasti kepala opas karena mendengar sikapnya yang begitu garang ternyata tidak lebih seorang penyakitan yarg diluar kelihatan kuat sebenarnya dalamnya sudahkeropos. Hai, didengar dari nada nada katanya, kelihatannya belum lama ia pernah terluka dalam. Kalau penginapan itu benar ada sembunyi sebangsa perampok yang berkepandaian tinggi, kepala opas macam dia mana melaksanakan tugasnya!"

Selanjutnya terdengar pula suara Ong lo-san yang gemetar.

"Hamba membuka rumah penginapan ini dengan modal kecil, selamanya bekerja untuk ketentuan ketentuan yang ada entah dosa apa sebenarnya yang telah kami perbuat ?'' Kepala opas itu membentak.

"Coba buka matamu lebar-lebar lihat siapa aku? Huh, hmm kenal tidak? Dengan mata kepalaku sendiri kulihat kau menyembunyikan bangsat bangsat pelarian dari Ceng-liong-pang, berani kau mungkir dan main debat apa segala?"

Ternyata penginapan ini adalah tempat dimana In-tiong-yan dan Su-tay-kim-kong tempo hari menginap, dan kepala opas ini tidak lain tak bukan adalah orang yang dilukai oleh In tiong-yan malam itu.

Kini setelah luka lukanya rada sembuh tahu bahwa orang orang Ceng liong pang itu pasti sudah tiada didalam penginapan itu, sengaja ia datang untuk mencari gara gara melampiaskan kemendongkolan hatinya dan tak lupa tentunya ia sudah memeras sipemilik rumah penginapan demi keuntungan kantongnya.Mendengar nama Ceng liong pang, Geng Tian menjadi girang dan terkejut pula pikirnya.

"Bila pemilik rumah penginapan ini punya hubungan erat dengan Ceng liong pang bagaimana juga aku tak bisa berpeluk tangan!"

Terdengar sipemilik penginapan itu sedang berkata.

"Harap Tayjin suka periksa dengan adil, sesuai dengan fungsi sebagai penginapan adalah jamak kalau aku menerima para tamu dari luar daerah, hari itu aku hanya tahu kedatangan empat orang tamu seperti lazimnya orang orang yang melakukan perjalanan jauh mana hamba tahu dia dari pihak Ceng liong pang atau Ui liong pang?"

Kepala opas itu menyeringai dingin jengeknya;

"Apa benar kau tidak tahu asal usul mereka? Lalu siluman perempuan baju hitam itu kau juga tidak tahu siapa dia?"

Geng Tian semakin heran pikirnya.

"Pihak Ceng liong pang yang datang ada empat orang? Dua hari yang lalu Sip Lo cianpwe ada bilang tentang Suthay kim kong apakah mereka ini yang dimaksud? Masa bisa begitu kebetulan? Aku sedang mencari tahu berita mereka bila hal ini benar benar aku tak perlu susah lagi mencari kemana mana. Tapi siapa pula siluman perempuan baju hitam itu?"

Baru hilang pikirnya terdengar kembali pemilik rumah penginapan itu menyambung lagi dengan suara terputus putus;

"Aku...aku... aku lebih tidak tahu soaldia."

Kiranya saking ketakutan badan gemetar suaranya tenggelam ditenggorokan. Kepala opas agaknya semakin mendapat angin jengeknya lagi.

"Bila kau tidak hubungan erat dengan dia mana kau sudi memberikan tempat kepada seorang muda belia yang kelenteng kelenteng diluaran seorang diri? Hmm malah kudengar kau ada menumpah barang barang curiannya! Hayo bicara terus terang dihadapan hukum jangan kau main mungkir lagi!"

Gigi pemilik penginapan berkerutukan saking ketakutan sahutnya.

"Mana....mana ada..... kejadian itu. Mana ada kejadian itu......!"

"Berani mungkir lagi?"

Bentak kepala opas.

"Emas yang melong melong dan perak yang gemerlapan ada orang yang menjadi saksi bahwa begal perempuan itu mencerahkan kau!"

Mendengar tekanan opas itu semakin garang mau tak mau Geng Tian berpikir.

"Entah siapakah siluman perempuan baju hitam itu. Tapi toh ia berada sama orang orang Ceng liong pang, terang dia adalah kaum pendekar yang mengamalkan bhaktinya. Tidak mungkin orang orang Ceng liong pang itu ada menyembunyikan harta curian apa segala dalam penginapan ini, jelas adalah fitnah belaka dari para opas itu untuk memeras. Hm mungkin para cecurut hukum ini akan menggunakan kompresnya, sudah saatnya aku turun tangan."Baru saja Geng Tian hendak menerjang kesana melabrak para opas itu diluar dugaan percakapan dalam rumah penginapan itu mendadak menjadi sirap dan tak terdengar lagi. Sebagai seorang yang pernah melatih kepandaian senjata rahasia ia menegakkan telinganya untuk mendengarkan dengan cermat samar samar didengarnya suara tawa kesenangan dari kepala opas itu. Dan tamu yang duduk di meja sebelah terdengar sedang berbisik bisik kata salah seorang.

"Menurut hematmu apakah benar Ong lo san ketiban rejeki nomplok?"

Seorang yang lain menyahut.

"Mana mungkin ada kejadian itu. Ong losan seorang yang takut kena perkara kalau hanya tanpa akan persenan kecil mungkin jadi menerima hasil rampokan kuduga dia mana berani?"

"Kenapa ia tidak membela diri?"

Cepat kawannya ini angkat pundak katanya tertawa.

"Kau tanya aku mana aku tahu? Pendek kata aku percaya akan kebersihan hati Ong losan.'' Geng Tian juga menjadi serba salah pikirnya.

"Kenapa kepala opas itu berubah lunak dan tidak mengompresnya lebih lanjut, tidak terdengar suara siksaan?"

Ternyata pemilik penginapan itu mendadak memperoleh ilham teringat olehnya akan sebuah pepatah yang berkata, menghabiskan harta bendauntuk membendung malapetaka pikirnya.

"Mungkin dia tahu bahwa nona itu ada memberi aku sebutir kacang emas sangkanya entah berapa banyak persen yang kuperoleh. Ah, sebetulnya sebutir kacang emas itu taju."

Segera ia keluarkan kacang emas itu lalu disesepkan ketangan kepala opas serta memberi keterangan seperlunya ditambah lagi dengan seluruh uang kontan yang ada didalam lacinya.

Mengingat penginapan kecil yang tidak mungkin diperasnya lebih lanjut, kepala opas itu akhirnya menerima hasil yang cukup.

Setelah menerima uang sogokan kepala opas itu pura pura membentak pula dengan suara garang.

"Jadi kau benar benar tidak tahu kemana larinya perampok itu ?"

"Hamba benar benar tidak tahu,"

Sahut pemilik penginapan setelah sogokannya berhasil hatinya menjadi besar dan bangkit pula nyalinya suaranyapun lebih tenang dan keras. Kepala opas itu berkata lantang.

"Baik kuberi ampun kau kali ini. Sebaliknya para tamu dalam penginapan ini perlu diperiksa hayo giring semua kekantor untuk diperiksa."

Begitu perintah itu dikeluarkan suasana penginapan menjadi ribut akhirnya pemilik penginapan itu pula yang turun tangan mohon keringanan.

setiap tamu semuanya mengeluarkan uang sangunya buatmenyogok kepala opas itu baru urusan tidak berkepanjangan.

Setelah tiba dan bikin gaduh dipenginapan itu setengah harian meski hasilnya tidak memuaskan tapi hitung hitung ada hasil juga, paling mereka sudah melaksanakan tugas walau tidak semestinya, mereka bisa pulang memberikan laporan kepada atasan.

Maka dibawah pimpinan kepala opas itu mereka segera mengundurkan diri pulang kekota.

Setelah rombongan opas sudah jauh, bergegas Geng Tian memasuki penginapan itu.

Dengan sikap lesu pemilik penginapan maju menyambut tamunya dalam hati ia merasa heran pikirnya.

"Apakah dia tidak tahu kejadian tadi kenapa tidak takut kena urusan?"

Maka selanjutnya ia bekerja lebih cermat ditanyakan nama pekerjaan datang dari mana dan lain lain keterangan kepada Geng Tian. Geng Tian tertawa katanya.

"Opas tadi takkan datang lagi. Kau legakan saja hatimu. Aku seorang pedagang tulen uang sewa kamar tidak akan kulunasi seluruhnya."

Walau pemilik penginginapan ini rada was was dan bimbang tapi ia bisa berpikir panjang bagaimana juga usaha dagang ini masih harus dilanjutkan terpaksa ia terima pemintaan Geng tian, memberinya sebuah kamar besar paling bagus.Dengan suaranya yang sember seperti biasanya pemilik penginapan bertanya.

"Apakah kamar ini memuaskan?'' "Bagus, cukup memuaskan!"

Sahut Geng Tian dengan suara kalem. Waktu berkata tiba tiba ia menutup pintu kamar rapat rapat. Karuan pemilik penginapan terkejut setengah mati serunya;

"Tuan kau....kau apa yang kau lakukan?"

"Tidak apa apa mari kita mengobrol sebentar. Silahkan duduk!"

Jarinya yang kecil menggatel sebuah kursi lalu diletakkan di-hadapannya.

Kursi dalam penginapan itu terbuat dari kayu jati yang berat dan tebal meski tidak seberat bahan besi tapi melulu digantol dan dijinjing dengan sebuah jari kecil saja orang biasa mana mampu melakukan.

Pemilik penginapan semakin kejut tapi lantas ia berpikir.

"Harta yang kumiliki sekarang tinggal barang perabot dan bahan pakaian seumpama dia seorang garong harta apalagi yang dapat kuberikan kepadanya?"

Maka tanpa sangsi lagi segera mendeprok duduk dengan hati hati ia bertanya;

"Tuan ada petunjuk apa? Baru saja aku mengalami kesulitan keadaan yang morat marit ini belum lagi dapat pekerjaan."

"Justru aku ingin bicara soal ini,"

Kata Geng Tian.

"Bagianmu tidak kecil bukan?"

"Tidak, tidak menjadi soal!"

Sahutnya tergugup."Aku bukan orang yang suka gegares dengan rakus kau tak usah takut,"

Ujar Geng Tian pula.

"Dalam dunia ini mana ada kucing yang tidak suka makan amis, rombongan opas sekarang serigala itu berkunjung kedalam penginapan masakan tidak kena dirugikan?"

Pemilik penginapan menghela napas ujarnya;

"Harap tuan suka maklum, aku sudah terima uang kamar dari beberapa tamu aku jadi bingung kemana besok aku harus cari uang untuk membeli beras buat mereka makan?"

Secara tidak langsung ia bermaksud.

"Uang sewa kamarmu lebih baik bayar dulu?"

Geng Tian tersenyum lebar katanya.

"Tak perlu kuatir, nah terimalah selembar cekku ini anggaplah pembayaran sewa kamarku ini. Ambilah!"

Dia mengusahakan penginapannya ini selama puluhan tahun belum pernah menerima pembayaran dari tamunya dengan cek, setelah menerima dan diteliti seketika itu mulutnya terbuka lebar dan terkejut melongo.

Kiranya itulah sebuah cek dengan tarikan uang sebesar lima ratus tail.

"Kau kuatir kalau cekku ini palsu?"

Geng Tian menegas.

"Cobalah kau periksa cek keluaran dari bank Thong ki liong diseluruh kota kota besar dalam wilayah besar dalam lima provensi daerah Utara ini dapat ditukarkan dengan uang kontan."

Bank Thong ki liong berpusat di Taytoh disetiap kota kota besar yang tersebar diberbagai propensidaerah utara ada didirikan berbagai cabang merupakan usaha perbankan yang terbesar pada jaman itu.

Meski pemilik penginapan belum pernah menerima cek dengan nilai sebegitu besar nilainya tapi banyak diantara para tamunya yang menginap pernah ia melihat cek yang bernilai puluhan tail uang perak setelah diteliti cap bentuk dan tanda gambarnya memang bukan palsu mau tidak mau ia harus percaya akan ketulenan cek ditangannya itu.

Saking kaget dan takutnya dengan gemetar pemilik penginapan menyodorkan kembali cek itu, katanya.

"Tuan, jangan kau membuat aku celaka tidak berani menerima cekmu ini!"

Geng Tian tertawa katanya.

"Kau kuatir kalau cekku ini hasil curian?"

"Tidak, tidak sewa kamarmu tidak dibayar begini banyak."

Sebenarnyalah memang ia kuatir kalau cek itu hasil rampokan.

"Legakan hatimu!"

Ujar Geng Tian sambil mendorongnya pelan pelan.

"Kau terima saja!"

Lalu dikeluarkan pula beberapa tail uang receh.

Sudah tentu pemilik penginapan itu sambil takut dan tak berani menerima.

Terpaksa Geng Tian sesapkan cek dan uang receh itu kedalam sakunya, katanya tertawa .

"Mari duduk dan dengarkan, kau punya sanak kadang tidak?""Aku orang tua sebatang kara, tiada punya istri dan putra putri dan tidak punya sanak famili pula. Cuma seorang keponakan bekerja dikota Ai-seng yang jauh dari sini, beberapa tahun belum tentu jumpa sekali."

"Apakah keponakanmu dapat dipercaya ?"

"Keponakanku seorang jujur dan polos cuma kurang berbakti pada leluhur, sudah likuran tahun usianya masih belum menikah!"

Melihat bicara Geng Tian sopan santun dan kenal peradatan rasa gugup dan takut hatinya lambat laun menjadi berkurang.

Namun dalam hati ia bertanya-tanya untuk apa Geng Tian menanyakan urusan keluarganya serta tetek bengek lainnya.

Geng Tian tertawa lebar, ujarnya.

"Aku kuatir kau kehabisan uang kontan maka kuberi uang receh tadi sebagai sangu diperjalanan. Dalam satu dua hari ini kau harus menjual penginapanmu ini, pergilah kekota Ai-seng dan dirikan pula sebuah penginapan di-sana yang lebih mewah dan mentereng, suruhlah keponakanmu menjadi pembantu di Ai-seng kau tidak perlu kena diperas oleh para opas lagi, lima ratus tail uang perak sebagai modal cukup berkelebihan bukan?'' "Cukup! Dengan dua ratus tail uang perak cukup untuk mendirikan sebuah penginapan yang mewah. Tapi..'' "Kelebihannya dapat kau gunakan sebagai perongkosan mengawinkan keponakanmu."Pemilik penginapan jadi berpikir.

"aku cukup punya alasan setelah diperas oleh para opas itu untuk menghentikan usahaku dan pindah ketempat lain, tanggung tidak menimbulkan curiga orang lain."

Maka ia segera berkata.

"Terima kasih banyak pada siang-kong yang telah memberikan segala bantuan ini, tapi aku orang tua sungguh tidak berani menerima hadiah ini tanpa berjasa. Entah Siangkong punya pesan atau petunjuk apa silahkan katakan saja.'' "Memang aku punya sebuah persoalan yang akan kutanyakan kepada kau!"

Pemilik penginapan menjadi gugup pula katanya;

"Entah apakah orang tua macam aku ini dapat memberikan bantuan."

"Kau tidak usah takut, aku cuma tanya beberapa patah kata saja dan tidak akan kukatakan kepada orang lain. Empat orang tamu yang menginap dipenginapanmu malam itu, mereka ada pernah bicara apa dengan kau??"

"Semula mereka minta dua kamar besar kelas satu, tapi akhirnya yang sebuah di-antaranya diberikan kepada seorang gadis remaja berpakaian serba hitam, malam itu aku orang tua tiada mempunyai kesempatan untuk bicara dengan mereka."

Geng Tian membatin.

"Naga-naganya pemilik penginapan ini ada tiada sangkut pautnya dengan pihak Ceng-liong-pang,"

Maka ia berkata.

"Kalaubegitu coba kau tuturkan kejadian malam itu sejelasnya!!"

Setelah mendengar peristiwa malam itu, Geng Tian bertanya.

"Apakah kau tahu kemana mereka melanjutkan perjalanannya??"

"Sejujurnya aku orang tua tidak tahu sama sekali!"

"Kau takut aku dari petugas pemerintah yang berpakaian preman??"

"Siangkong begitu baik terhadapku. Kalau petugas dari kalangan pemerintah, mana kenal aturan? Malam itu begitu gugup dan takut aku dibuatnya, sehingga aku bersembunyi di-kolong meja, bagaimana akhirnya akupun tak berani tanya kepada mereka!"

Geng Tian menjadi kecewa, sedang ia berpikir.

"Anggap saja kelima ratus tail uangku itu sebagai sumbangan untuk menolongnya."

Tiba-tiba pemilik rumah penginapan berseru sambil menepuk pahanya.

"Hah teringat olehku sekarang!"

"Teringat apa?"

Tanya Geng Tian kegirangan.

"Kudengar gadis berpakaian hitam itu ada menyebut nama seorang Enghiong dari ciatkang timur, dia suruh keempat laki-laki itu pergi mencari putrinya."

"Siapakah Lo-enghiong yang dimaksudkan itu?"

"Seperti bernama Lu Tang-wan kalau tidak salah !"Kiranya nama besar Lu Tang-wan sudah begitu tenar, ratusan li dalam daerah di-sekeliling rumahnya tiada seorang yang tidak kenal akan kebesaran namanya. Setelah para opas itu pergi pemilik penginapan masih ketakutan dan repot mengumpulkan perabot rumah makannya yang bercerai berai dan banyak rusak itu, sudah tentu ia tiada minat untuk para tamunya bicara, setelah mendengar In-tiong yan menyinggung nama Lu Tang-wan, baru ia ada perhatian. Soalnya dia merasa waswas dan kuatir maka ia tidak berani bicara secara tegas, sebelum menyebut nama Lu Tang-wan malah harus ditambah dengan kata kata ''seperti'' dan akhirnya ditambah pula dengan "kalau tidak salah". Geng Tian menjadi sadar batinnya.

"Tak salah lagi gadis berpakaian hitam itu pasti In tiong yan adanya. Dari mulut Hong thian lui, ia tahu Lu Tangwan pernah melindungi aku di masa lalu maka dia suruh Suthay kim kong pergi kerumah keluarga Lu untuk mencari berita tentang diriku. Tapi kenapa tidak dikatakan untuk mencari Lu Tangwan justru disuruh mencari putrinya? Apakah mungkin In tiong yan sudah tahu bahwa Lu Giok yau tidak bakal pulang kerumahnya?"

Soal ini ia hanya dapat meraba sebagian saja dan sebagian lainnya salah terkaan.

Yang jelas bahwa Suthay-kim kong sebenarnya memang mendapat perintah dari pangcu untuk mencari Lu Tangwan.Kata Geng Tian.

"Coba kau ingat ingat lagi apa pula yang mereka perbincangkan?"

"Agaknya gadis itu ada pula menyebut nama sebuah tempat kalau tidak salah bernama ....bernama Hong hong san!"

Geng Tian mengerutkan keningnya, katanya.

"Agaknya Lu Tangwan tidak tinggal di Hong hong san bukan?"

Demikian ia menirukan logat sipemilik penginapan. Pemilik penginapan itu berkata;

"Hong hong san terletak diperbatasan antara keresidenan Ceng tian dan Ui wan, merupakan gugusan sebuah pegunungan kecil yang belukar hanya ada beberapa keluarga yang bertempat tinggal disana. Masa mudaku dulu aku pernah berkelana menjual dagangan kecil kecilan mengembara sampai keplosok plosok."

Sampai disini ia berhenti seperti mengingat-ingat lalu sambungnya;

"Tatkala itu aku pun rada heran keluarga Lu tidak tinggal di Hong hong san? Tapi kenapa perempuan itu suruh mereka pergi menyusul ke Hong hong san? Maka waktu kau tanya padaku tadi akupun belum berani memberi penjelasan kalau salah mungkin kau akan mencurigai aku tidak bicara sejujurnya."

Akhirnya ia memang sudah bicara secara jujur. Diam diam Geng Tian menjadi geli, batinnya;

"Kalau siang siang sudah tahu lebih baik aku tetap tinggal dirumah keluarga Lu, meski dibenci oleh istriLu Tangwan sekarang jadi berabe harus putar balik lagi mengejar mereka."

Setelah mendapat keterangan yang diinginkan, Geng Tian mengantar pemilik rumah penginapan keluar dari kamarnya.

Dengan tenang dan nyenyak dia tidur semalam suntuk.

Hari kedua pagi pagi benar ia sudah melakukan perjalanan menelusuri jalan yang sudah dilalui waktu datang kemarin.

O^~dwkz^hendra~^O Sejak berada dirumah ibu inangnya Lu Giok yau merasa kesepian tahu tahu empat hari telah berlalu, maklum ibu inang Lu Giok yau itu sudah berusia lanjut dan berbadan lemah lagi kebetulan waktu Lu Giok yau tiba penyakit asmanya sedang kambuh!

Putra dan mantunya sedang repot menuai padi disawah ladang mereka diatas gunung, Lu Giok yau menjadi rikuh untuk mengganggu mereka terpaksa ia beralasan untuk menyambangi ibu inangnya dalam hati ia sudah memperhitungkan setelah penyakit ibu inangnya rada sembuh baru ia akan memberi penjelasan.

Tak terduga tepat pada hari keempat piaukonya sudah menyusul datang.

Lu Giok yau pun sudah kangen akan keadaan keluarganya melihat datangnya sang Piauko sudah tentu ia merasa senang tapi pun rada heran dan curigatanyanya.

"Piauko dari mana kau bisa tahu aku berada di sini?"

"Paman ada bilang katanya ada orang melihat kau melarikan diri dari Lou keh ceng tunggu punya tunggu kau belum lagi pulang kerumah maka beliau suruh aku mencari tahu,"

Demikian Kho Tay seng memberi penjelasan.

"Hah ayah sudah pulang?"

Seru Lu Giok yau kegirangan.

"Beliau tidak kurang sesuatu apa bukan!"

"Luka luka sudah sembuh kembali tepat pada malam itu melarikan diri dari Lou keh Ceng itu bersama beberapa orang teman temannya beliau membuat keributan dan menggegerkan Lou keh ceng Ling Tiat wi juga berhasil tertolong keluar."

Hampir saja Lu Giok yau berjingkrak kegirangan katanya.

"Kenapa dia tidak kemari bersama kau?"

"Ling toako hanya tinggal semalam esok harinya lantas berangkat lagi secara tergesa-gesa."

Lu Giok yau menjadi lemah dan kecewa tanyanya.

"Kenapa?"

Dalam hati ia membatin.

"Mungkin karena peristiwa tempo hari itu ia masih rada sirik terhadap ibu. Kan seharusnya tunggu aku pulang."

"Aku tidak tahu,"

Sahut Kho Tay seng dengan angkat pundak.

"Aku pernah bujuk dia supaya tunggu kau pulang tapi mukanya masam tak mau bicara.""Sungguh mengherankan kenapa dia uring uringan dan agaknya marah padaku?"

"Menurut dugaanku justru sebaliknya, bukan dia marah atau uring uringan adalah dia sendiri yang malu menemui kau."

Dengan kata katanya ini sengaja ia hendak mengatakan bahwa Ling Tiat wi sudah ingkar janji dan memberikan cintanya kepada orang lain.

"Kan dia tidak pernah berbuat kesalahan terhadapku soal dia gendak dengan In-tiong yan apa segala kan merupakan kabar angin atau issue orang lain belaka."

"Apakah kau sudah jelas duduk perkaranya waktu berada di Lou Keh ceng tempo hari ?"

Soalnya asal usul In tiong yan merupakan suatu rahasia, maka Lu Giok yau segan membicarakan soal ini kepada Piaukonya, apalagi soal pertemuan dengan In tiong yan maka ia menyahut tegas;

"Tak perlu cari tahu lagi aku percaya kepadanya."

"Baik sekali kalau percaya,"

Sahut Khu Tay seng.

"Maaf kalau tadi aku banyak mulut!"

Sebenarnya Khu Tay seng kuatir bila bualannya diketahui Lu Giok yau.

"Setelah ayah pulang apakah orang orang Lou-keh ceng ada meluruk datang cari perkara?"

"Tidak!""Kalau tahu begitu, siang-siang aku sudah pulang, ai!! Piauko, apa yang sedang kau pikirkan; marilah kami pamit pada ibu inang!"

"Piauwmoay!"

Tiba-tiba Khu Tay-seng berkata.

"Cuma kau seorang yang tinggal di sini?'' "Putera dan mantunya sedang bekerja diladang, saat ini belum pulang."

"Bukan anak dan mantunya yang kumaksud."

"Maksudmu bocah she Cin itu?"

Mendengar orang menyebut Cin Liong-hwi dengan sebutan kasar "bocah she Cin,"

Khu Tay seng menjadi tertawa senang, ujarnya.

"Benar, malam itu bukankah kau kabur bersama dia ke Lou keh-ceng?? Kenapa kalian bertengkar?"

"Bocah keparat itu bukan orang baik-baik, selanjutnya jangan singgung keparat itu."

Khu Tay seng mengiakan. Hatinya merasa senang dan takut, pikirnya.

"Ling Tiat wi bocah itu sudah pergi, dan sibocah Cin Liong-hwi itu juga sudah tidak memperoleh simpatik dari piauwmoay, dengan hilangnya kedua penghalang ini, harapanku jadi lebih besar. Cuma rencana sudah kuatur itu menjadi gagal total, entah bagaimana aku mempertanggung jawabkan persoalan ini."

Begitulah Lu Giok yau ajak Khu Tay-seng masuk kedalam gubuk.

Ternyata penyakit asma ibu inangnyamasih kumat dan rebah diatas ranjang.

Waktu Khu Tay seng tiba tadi kebetulan ia sudah tertidur, sekarang kebetulan ia sudah siuman.

Mendengar suara pembicaraan mereka, dengan bersanggah tongkatnya ibu inangnya merangkang terus keluar dengan gentayangan katanya.

"Piausiauya kaupun datang. Kenapa tidak menginap semalam saja, sekarang juga hendak berangkat?!"

"Ayah sudah kembali, beliau suruh aku pulang,"

Demikian Lu Giok-yau memberikan alasannya.

"Beberapa hari lagi biar kami datang kemari."

"Ai aku selalu mengharap kedatangan kaIian, sungguh berat rasanya kalian tinggalkan,"

Demikian keluh ibu Inang. Mendadak Khu Tay seng menyela.

"Ibu inang begitu sayang kepada kau, engkau boleh tinggal dua hari lagi disini biar aku kembali memberi lapor kepada Ih-tio."

Lu Giok yau menjadi heran.

"Piauko, bukankah tadi kau katakan ayahku sangat mengharap kedatanganku?"

Khu Tay seng jadi tergagap, sahutnya.

"Ini kupikir bila beliau tahu kau berada di rumah ibu inang sini, pasti beliau berlega hati, pulang dua hari rada terlambat kukira tidak mengapa.""Tidak!"

Kata Lu Giok-yau tegas.

"sebaliknya aku sangat kangen kepada ayah. Bukankah luka lukanya baru saja sembuh?"

Dan soal yang paling ingin diketahui adalah berita mengenai diri Hong-thian lui, cuma hal ini tak enak ia utarakan.

Melihat betapa bakti Lu Giok-yau terhadap ayahnya, ibu inang menjadi rikuh untuk menahannya lagi, katanya.

"Kalau begitu, kau boleh pulang dulu, kalau senggang kemari lagi nanti!"

Lu Giok yau mengiakan, lalu sambungnya.

"Kau orang tua harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran, setiba dikota akan kucarikan tabib kemari untuk memeriksa penyakitmu!"

Ibu inang batuk-batuk, katanya sambil tertawa.

"Penyakitku ringan begini masa perlu diperiksa tabib segala, cukup makan ramuan obat-obatan rumput saja pasti sembuh."

Setelah Lu Giok-yau pamit pada ibu inangnya, segera ia pulang bersama sang piauko.

Sepanjang jalan ini Khu Tay-teng selalu celingak celinguk; air mukanya masam kelihatannya hatinya kurang tentram.

Lu Giok yau berjalan didepan, saban saban ia berpaling kebelakang, melihat roman muka Khu Tay-seng yang ganjil itu ia menjadi heran, tanyanya.

"Piauwko, apa yang sedang kau amati??"Khu Tay seng tak sempat menyembunyikan tingkah lakunya yang kurang wajar, ia jadi gelagapan, sahutnya mengada ada.

"Oh! oh! tidak apa-apa, sudah lama aku tak pernah masuk desa, melihat-lihat pemandangan saja."

Lu Giok yau tertawa geli, ujarnya.

"Gugusan bukit yang gundul plontos dalam lurah sempit begini ada pemandangan apa yang enak dinikmati?"

Untuk pulang kedalam kota dari rumah ibu inang Lu Giok-yau memang harus lewat sebuah bukit yang jarang pepohonan, lembah didalam lurah ini kira kira sepanjang empat lima li.

Belum lama mereka berjalan tiba tiba tampak beberapa orang yang gerak geriknya sangat mencurigakan Lu Giok yau terkejut, pikirnya.

"Daerah yang tandus dan belukar rumput alang alang begini, untuk apa orang-orang itu main sembunyi-sembunyi disana, apakah mereka itu kawanan perampok?"

Belum lagi lenyap pikirannya, orang itu sudah menerobos beramai ramai mencegat ditengah jalan.

Kiranya mereka adalah serombongan pasukan tentara negeri, yang lebih mengejutkan lagi setiap orangnya menghunus senjata tajam ada pula yang memasang busur dan panah seperti sedang menghadapi musuh besar.

Dalam kejap lain mereka sudah terkepung ditengah jalan oleh pasukan negeri itu.

Segera muncul seorangperwira yang membentak kepada mereka.

"Mana Cin Liong hwi bocah itu?"

Khu Tay Seng jadi berdiri melongo seperti jago keok selang sesaat baru ia sempat menenangkan gejolak hatinya sahutnya tercekat.

"Bahwasanya Cin Liong hwi tidak pernah datang kemari. Aku menjemput Piauwmoayku pulang tiada sangkut pautnya dengan keparat Cin Liong hwi itu, harap Koau tiang (komandan) suka memberi jalan untuk pulang."

Perwira itu tertawa dingin jengeknya.

"Oo, jadi kau main main dengan kami? Apa yang pernah kau laporkan kepada kami ?"

Lu Giok yau tercengang katanya.

"Piauko, apakah kau kenal mereka? Apa pula yang kau laporkan?"

"Ti....tidak!"

Sahut Khu Tay seng sambil berkedip kedip memberi isyarat kepada Perwira itu. Tapi perwira tidak perduli, langsung ia mencercah.

"Apa berani bilang tidak? Bukankah kau memberi lapor kepadaku supaya kita meluruk kemari membekuk Cin Liong hwi anak Cin Hou siau itu turunan kawanan bandit dari Liang san? Hm sekarang bocah itu tidak kelihatan lantas kau mau mungkir, masa seenak udelmu sendiri kau hendak lepas dari pertanggungan jawab dari laporan palsumu! Hayo bekuk bocah ini!"

Ternyata Khu Tay seng menyangka Cin Liong hwi bersama Piaumoaynya melarikan diri dan menginapdirumah ibu inangnya, dia anggap Cin dan Ling dua orang ini sebagai musuh asmaranya demi menjebol penghalang ini tak segan segan ia masuk kebalai kota memberi lapor kepada residen untuk menangkap Cin Liong hwi, perwira ini adalah salah seorang anak buah Wanyen Tiang-ci yang dimutasikan ke keresidenan sini menjabat komandan tertinggi.

Sebelumnya ia sudah berjanji dengan perwira ini cuma meringkus Cin Liong hwi seorang sedang dia bersama piaumoay pura pura melawan dan berhasil melarikan diri.

Tidak terduga melihat buronannya tidak ada, perwira ini main garang sekarang dirinya malah dijadikan sasaran untuk menemukan jejak Cin Liong hwi itu, yang lebih celaka rahasia dirinya memberi laporan telah dibocorkan didepan Giok yau.

Sudah tentu terkejut Lu Giok yau bukan main seketika ia menjerit kaget.

"Apa? Piauko kau... bagaimana bisa melakukan perbuatan rendah ini?"

Meski ia sangat benci terhadap pribadi Cin Liong hwi tapi Khu Tay seng sekongkol dengan pasukan pemerintah, perbuatannya ini berarti jauh lebih jahat.

Sementara itu pasukan tentara sudah beramai ramai menyerbu maju.

Khu Tay seng serba salah apakah melawan atau tidak namun tangan tentara itu sudah beramai ramai mencengkeram ke berbagai tubuhnya sekuat tenaga ia berontak tapi sekali ketok dari perwira itu berhasil memukulnya jatuh kontan ia diringkus dan dibelenggu.Beberapa tentara yang lain memburu ke arah Giok yau salah seorang diantaranya cengar cengir katanya.

"Gendak ini cukup rupawan!"

Dan seorang yang lain menanggap.

"Jangan kesusu gendak ini adalah putri Lu Tang wan. Kita harus mendengar petunjuk Congping dulu."

Maka terdengar perwira itu berseru.

"Peduli Lu Tangwan atau setan ringkus saja!"

Lu Giok yau jadi naik pitam pedang dilolos keluar bentaknya.

"Kalau tidak diberi hajaran rupanya kalian anggap nonamu gampang dibuat permainan." ... Sret, sret sret ! cukup tiga kali tebasan pedangnya kontan beberapa orang terjungkel roboh bergelundungan. Untung ia masih punya rasa kasihan tak mau main bunuh cukup ia tutuk berbagai jalan darah mereka dengan ujung pedangnya. Perwira itu menjadi gusar, bentaknya ;

"Budak yang kejam, biar kau rasakan kelihayanku!"

Perwira ini adalah salah seorang anak buah Wanyen Tiangci yang gagah berani ilmu silatnya sangat tinggi, senjatanya merupakan sebilah golok baja yang besar dan berat.

Lu Giok-yau dapat mengembangkan kelincahan tubuhnya dengan gerak pedangnya yang tangkas dan gesit, tapi ia tidak mampu menembus pertahanan musuh, setiap kali pedangnya kebentur dengan senjata berat lawan, pergelangan tangannya tergetar sakit dan senjata sendiri hampir terpental lepas.Tiba2 dari pasukan pemerintah itu berjalan keluar dua orang laki laki tua dan muda yang berpakaian preman.

Begitu tiba digelanggang pertempuran, siorang tua itu lantas bergelak tertawa, serunya.

"Nona ini adalah keponakanku, harap Koantiang suka memandang mukaku, biar dia kubawa pulang diserahkan kepada bapanya supaya diberi hajaran."

Orang tua ini bukan lain adalah Teng-cu Lou-keh-ceng Lou Jin cin. Perwira itu lantas tertawa.

"Tidak pandang muka Hwesio harus pandang Budha jadi Lou cengcu adalah sahabat Lu Tang wan, baik kupandang muka Lou-cengcu kubebaskan dia dari persoalan ini!"

Lalu ia sentakkan goloknya mendesak mundur Lu Giok-yau serta katanya pula .

"Lou-cengcu menanggung kau, lekas ucapkan terima kasih dan ikut Lo-cengcu pulang.'' Lu Giok-yau menjadi gusar makinya.

"Lou Jin cin kau ini musang berbulu ayam, sekali gagal kau ingin mencelakai aku lagi ? lebih baik aku mati ditanganmu. Jika aku mati pasti ayah menuntut balas bagi aku!'' "Aduh kenapa kau berkata demikian,"

Lou Jin-cin menarik suaranya.

"mau ditolong malah mentung."

Lu Giok-yau menjengek dingin, ujarnya.

"Kau ini anjing galak yang selalu ingin menggigit orang tanpa menunjukkan gigimu?"Perwira itu mencak mencak gusar timbrungnya.

"Budak liar ini tidak tahu diuntung berani ia kurang ajar terhadap orang tua, kuserahkan dia pada kau orang tua untuk membereskannya.'' Lou Jin cin mengiakan lalu bersama pemuda itu ia maju lebih lanjut, katanya .

"Keponakanku yang baik, agaknya kau masih marah karena peristiwa malam itu, Hehe, soalnya Cin Liong-hwi bocah keparat itu datang bersama kau, mana aku tahu bahwa kawanmu itu seorang manusia berhati binatang kenapa pula kau salahkan aku. Tapi meski begitu paling tidak aku juga punya kesalahan tidak becus melindungi kau, hari ini aku sengaja menyusul kemari bersama putraku ini, supaya ayahmu tidak terlalu berkuatir."

Sembari berkata ia beranjak maju lebih dekat sampai dihadapan Lu Giok yau, Lu Giok-yau diam saja tiba-tiba ujung pedangnya menyelonong maju menusuk ke tenggorokan orang bentaknya .

"Cin Liong hwi bukan orang baik-baik, tapi kau jauh lebih jahat dari dia! Anggapan aku gampang kau tipu!"

Lou Jin cin angkat tangannya menjentik.

"Treng!"

Ceng kong-kiam Giok yau diselentik mental kesamping dengan sikap tawa tidak tertawa mulutnya mengoceh lagi .

"Kau tidak tahu kebaikan, masa aku harus berpandangan seperti bocah ingusan. Kalau kau ingin berkelahi biarlah anakku ini mengiringi kehendakmu. Hehe, kalian belum pernah ketemu, kalau tidak berkelahi tentu tidak akan kenal,hayolah kalian belajar kenal dengan adu kepandaian silat!"

Ternyata setelah mendapat laporan rahasia Khu Tay seng sebagai keturunan bandit bandit Liang-an tentu kepandaian Cin Liong hwi cukup lihay kuatir dirinya tidak mengatasi maka sengaja ia undang Lou Jin-cin dan putranya untuk membantu.

Putra Lou Jin cin ini bernama Lou Ing hou, kebetulan malam itu ia sedang keluar, maka Lu Giok yau belum pernah melihatnya.

Lou Ing hou cengar cengir katanya.

"Adik she Lu aku mohon petunjuk barang beberapa jurus, harap adik suka berbelas kasihan?"

Alis Lu Giok-yau menegak, biji matanya mendelik, makinya.

"Tidak tahu malu siapa adikmu, ketahuilah pedangku ini tidak punya mata dan tidak tahu belas kasihan!"

"Sret"

Beruntun ia tebaskan pedangnya tiga kali.

"Ai tidak kenal belas kasihan,"

Goda Lou Ing hou;

"baiklah engkohmu goblok ini rela kau tabas sekali saja!"

Dimulut ia bicara, tiba-tiba ia kembangkan kepandaian Khong-jin-jiat pek to, dengan bertangan kosong ia berusaha merampas pedang Lu Giok yau.

Tiba tiba tubuhnya berkelebat kesamping kanan; kedua jarinya dirangkapkan tahu-tahu menyelonong hendak menyolok kedua biji mata Lu Giok-yau.Terdengar Lou Jin cin pura pura mengomeli putranya.

''Berlatih dengan adikmu jangan terlalu main kekerasan dan gunakan tipu tipu ganas!'' Lou Ing hou lantas tertawa, sahutnya.

"Legakan hatimu ayah! Aku hanya main main saja dengan adik keluarga lu, masa aku tega melukainya!"

Sudah tentu Lu Giok yau tidak mau percaya akan ucapannya, disaat musuh menyerang dengan jurus Ji liong-jiang-cu (dua naga berebutan mutiara), dengan cepat ia gunakan jurus Hong tiam-thau (burung Hong menunduk) untuk berkelit berbareng melancarkan serangan balasan Ceng-kong kiam ikut berputar terbawa gerakan badannya, dengan tipu To kwa cu lian (menggantung kerai mutiara), pedangnya menukik kebawah membabat dengkul Lou Ing-hou, bentaknya.

"Bagus! Coba kau main main dengan aku!"

Gerak serangan balasan ini tepat sekali, tipu serangannya ganas pula, tapi karena dari bertahan balik menyerang, meski kekuatan serangannya cukup dahsyat dan cepat, maka pertahanannya menjadi kendor.

Cepat Lou Ing hou menunjukkan permainan silatnya yang tangkas dengan gaya menekuk pinggang menusuk dahan liu, ia biarkan ujung pedang musuh menyambar lewat dibawah pinggangnya berbareng telapak tangannya membacok pergelangan tangan Giok-yau.Untung gerak-gerik Lu Giok yau cukup lincah dan gesit, segera ia mendakkan tubuhnya, ujung pedang lantas dijengkitkan keatas memapak maju, sementara tubuhnya berputar sambil menggeser kedudukan kesebelah samping.

Walaupun ia cukup cepat merubah permainan silatnya, tidak urung lengan kirinya merasa kesemutan keserempet ujung jari lawan.

Terpaksa Lou Ing-hou harus juga menarik tangannya dan memutar tubuh pula, maka serangan Lu Giok-yau dengan jurus Ki-hwe-liau-thian jadi menusuk tempat kosong.

"Nona Lu!"

Seru Lou Ing-hou tertawa.

"Jurus pedangmu kiranya cukup ganas. Kami hanya jajal kepandaian belaka, jangan kau anggap adu jiwa lho!!"

Melihat Lu Giok-yau dipermainkan sampai mencak-mencak oleh Lou Ing hou, pasukan tentara itu semuanya pada tertawa dan bertepuk tangan seolah-olah mereka nonton pertunjukan yang menggelikan.

Malah perwira itu lantas berseru memuji;

"Lou-siheng hebat benar kepandaianmu!!'' Lu Giok-yau masih cukup tabah, pedangnya dimainkan untuk membela diri, kadang-kadang ia balas menyerang satu dua jurus soalnya kepandaian Lou Ing hou memang jauh lebih matang dari dirinya, apalagi Kim-na-jiu-hoat yang dimainkannya cukup hebat, puluhan jurus kemudian keadaan Lu Giok-yau semakin parah, ia terdesak dibawah angin...Melihat orang cengar cengir mempermainkan dirinya Lu Giok-yau semakin sengit, dalam jengkelnya dia berpikir.

"Betapapun aku pantang menyerah, mandah dipermainkan oleh keparat ini!"

Segera ia kertak gigi, baru saja ia hendak melancarkan satu dua jurus serangan yang nekad untuk gugur bersama sementara dalam hati ia menimang nimang.

"bila seranganku kali inipun gagal untuk tidak berhasil melukai lawan sedikitpun, lebih baik aku bunuh diri saja."

Lu Giok-yau tahu bahwa kepandaiannya terpaut jauh dibandingkan lawannya.

Adalah diluar tahunya, bahwa kelihatannya sikap Lou Ing hou seperti acuh tak acuh mempermainkan dirinya, sebenarnya dia sudah mengembangkan seluruh kemampuannya cuma ia pandai berpura-purakan bermuka-muka untuk mengelabui lawan saja.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar derap tapal kuda yang ramai, tampak empat ekor kuda tinggi perkasa sedang dibedal kemari secepat angin terbang seorang yang menunggang dipaling depan bertubuh tinggi kekar segera berteriak dari kejauhan.

"Apakah nona Lu Giok-yau adanya?"

Sebenarnya Lu Giok-yau sedang menusukkan pedangnya, mendengar teriakan itu ia menjadi heran pikirnya.

"Siapakah dia? dari mana dia tahu namaku?"

Sedikit perhatiannya terpencar, tahu kedua jari Lou Ing-hou menyelonong maju menggatol pergelangantangan, cepat Lu Giok-yau berkelit kesamping namun gagang pedangnya sudah terjepit oleh jari-jari lawan, dan sekali sendal Ceng kong-kiam ditangannya kontan terbang ketengah udara.

Namun tepat pada saat itu pula terdengarlah suara senjata rahasia menyamber datang dari kejauhan.

Dua butir batu kerikil tahu2 sudah menyamber datang kearah mereka.

"Ting'', sebutir diantaranya tepat sekali membentur Ceng kong-kiam itu terpental balik pula ketanah dan persis jatuh didepan kaki Lu Giok yau. Tanpa ayal dan membuang waktu atau tenaga gampang sekali Lu Giok-yau dapat menjemput pula pedangnya. Sementara sebutir kerikil yang lain melesat kearah Lou Ing-hou, tenaga sambitan yang menyerang Lou Ing hou ini ternyata jauh lebih kuat karena dilandasi tenaga dalam yang hebat, batu ini terbang mengeluarkan desiran angin yang keras seperti suitan melengking. Kepandaian Lou Ing hou walaupun tidak sematang latihan ayahnya namun diapun seorang ahli dalam bidang persilatan yang cukup berpengalaman luas begitu mendengar samberan angin senjata rahasia ini lantas ia tahu bahwa Lwekang orang yang menyambitkan senjata rahasia ini jauh lebih tinggi dari dirinya tak berani ia menyambut dengan kekerasan cepat ia menerungkup kedepan sebelah badan atasnya hampir saja menyentuh tanah untung iabisa bertindak dengan cepat krikil itu menyambar lewat dari atas kepalanya. Ternyata keempat orang penunggang kuda yang mendatangi ini bukan lain adalah Sutay kim kong dari Ceng liong pang itu. Kedua butir batu krikil itu adalah hasil sambitan Nyo Sugi itu tertua dari Sutay kim kong. Cara sambitan kedua krikil itu teramat menakjubkan terutama krikil yang mementalkan balikkan Ceng kong kiam itu, sambitannya boleh dikata sangat aneh dan tenaga yang digunakan pun tepat. Semua pasukan pemerintah jadi melongo kesima. Sampai Lou Jin cin sendiri juga merasa takjub dan tergetar hatinya. Adalah perwira itu yang menghardik gusar.

"Brandal dari mana kalian berani membuat keributan disini? Lihat panah!"

Semua pasukannya menjadi tersentak sadar beramai ramai mereka pasang busur dan melepaskan anak panah, kontan Sutay-kim-kong disambut dengan hujan panah.

Dalam pada itu jarak mereka sudah cukup dekat, gesit sekali Su-tay kim kong turun dari atas kudanya.

Kedua telapak Nyo Sugi dimainkan dengan dilandasi tenaga dalamnya yang hebat, seketika angin menderu berputar disekitar badannya.

Demikian juga Pek Kian bu, Lou Hou wi dan Ong Beng-im sama putar senjatanya masing-masing menyampok jatuh anak panah yang menyerang mereka.

Mereka maju terusmenerjang kearah pasukan pemerintah.

Tunggangan mereka adalah kuda perang yang sudah terlatih, cepat mereka lari masuk kedalam hutan.

Maka panah panah pasukan pemerintah ini tiada satupun yang mengenai mereka.

"Yang datang apakah Su-tay-kim-kong dari Ceng liong pang?"

Demikian bentak Lou Jin-cin.

Ternyata pengalaman Lou Jin-cin memang cukup luas meski ia belum pernah jumpa dengan mereka, tapi melihat usia keempat orang ini dan senjata yang digunakan serta kepandaian silat mereka yang begitu lihay seperti apa yang pernah dia dengar dari penuturan sementara kaum persilatan, lantas dia dapat menebak dengan jitu akan asal usul mereka.

Lou Jin-cin bicara dengan sembunyi di-antara kerumunan pasukan pemerintah sehingga Nyo Su gi tidak melihat siapa orangnya yang angkat bicara, apalagi ia sedang repot menangkis dan menyampok berjatuhan anak anak panah yang menghujani dirinya.

Cuma terasa suara orang ini cukup keras seperti gembreng ditalu, dapat menekan suara keributan para tentara pemerintah yang bertempur sambil berkaok kaok kedengarannya menusuk kuping, tanpa terasa tercekat hatinya, batinnya.

"Sungguh tak nyana dalam pasukan pemerintah ada seorang tokoh selihay ini, aku harus hati hati!"

Seiring dengan pikirannya ini tiba tiba ia mengembangkan kedua tangannya meraup kedepan.Tepat sekali ia menangkap dua tumbak yang menyambar dari depan, terus diputar dan disambitkan kembali.

Kontan terdengar jeritan yang mengerikan, dua tentara yang berada paling depan seketika roboh terpantek ditanah dadanya tertembus tombak, senjata makan tuan.

Pasukan yang lain menjadi ketakutan, dan lari serabutan berpencar keempat penjuru.

Terdengar Nyo Su gi balas membentak.

"Benar, inilah kami Suthay kim kong dari Ceng liong pang yang meluruk kemari hendak memberantas gerombolan setan dan menundukkan kaum iblis."

Perwira itu menjadi terkejut, kiranya ia pun sudah menerima perintah rahasia Wanyen Tiang cin yaitu perintah untuk menggasak dan menggerebek kaum pemberontak dari Ceng liong pang memang sudah lama ia dengar.

Dalam hati ia jadi berpikir.

"Mereka adalah pentolan bandit yang jauh lebih penting untuk diringkus dibanding keturunan bangsat dari gerombolan Liangsan ini!"

Waktu Nyo Sugi berhasil membobol jalan berdarah sementara Lau Hou wi sudah menerjang tiba dihadapan perwira itu teriaknya.

"Jika mengejar musuh panah dulu kudanya, menangkap gerombolan ringkus dulu pentolannya!"

Loji Pek Kian bu saat mana sedang dikepung empat orang opsir rendah pedang panjangnya sementara sudah berhasil menusuk roboh dua lawannya jelasdalam sekejap tentu dia bisa menerjang keluar kepungan.

Terdengar perwira tinggi itu membentak.

"Pemberontak kurang ajar, jangan kalian bertingkah!"

Golok besarnya lantas membacok turun dari atas kepala dengan jurus Tok pi hoa san. Lou Hou wi mandah tertawa lebar serunya;

"Sikapmu memang kelihatan gagah dan kereng entah bagaimana kepandaian silatmu sejati!"

Senjata yang digunakan Lo Hou wi adalah golok baja biasa dibanding golok yang digunakan perwira tinggi itu jauh lebih pendek dan ringan begitu golok besar dan kecil saling bentur.

"Trang!"

Lelatu api berpercikan.

Semula perwira tinggi itu menyangka sekali bacok saja cukup kuat untuk melepaskan golok kecil lawan, tak nyana begitu kedua senjata saling bentrok bukan saja golok kecil lawan tidak terlepas sebaliknya pergelangan tangannya sendiri yang kesakitan.

Namun tercekat juga hati Lo Hou wi batinnya.

"Tenaga anjing perwira ini cukup hebat. Jumlah musuh terlalu banyak. Pertempuran harus gerak cepat untuk mencapai kemenangan total."

Maka goloknya lantas dimainkan secepat angin seperti kitiran.

Menyambar nyambar laksana kilat sekaligus dalam satu kali sedotan napas ia melancarkan tujuh sampai delapan belas jurus serangan kilat berantai, golokbesar perwira tinggi itu seolah olah tidak mampu lagi melindungi pemiliknya.

Setelah menusuk roboh dua opsir rendah yang mengeroyoknya dua orang opsir yang lain tidak berani lagi menyerang Pek kian bu dengan cepat mereka mundur, Pek kian bu jadi punya peluang menerjang langsung kedepan seraya berseru.

"Benar meringkus bandit harus membekuk pentolannya lebih dulu!"

Sreet!

pedangnya kontan ditusukkan ke jalan darah Hong hu hiat dipunggung perwira tinggi itu benar benar dia melaksanakan kata katanya.

Si perwira tinggi jadi terkepung dan diancam dua senjata dari depan dan belakang disaat siperwira tinggi hampir tertutuk pedang Pek kian bu mendadak Lou Jin cin membentak maju.

"Biar aku belajar kenal dengan Su tay kim kong."

Kejap suaranya badannya pun sudah menubruk tiba tepat sekali kedatangannya.

Berlainan dengan watak Pek kian bu, setiap kali Lo Hau wi bertempur melawan musuh selain mesti berlaku gagah berani dan pantang mundur tapi dalam hal pengalaman memang Pek kian bu jauh lebih luas maka ia lebih tenang dan mantap begitu mendengar adanya sergapan dari belakang lantas dia tahu kedatangan lawan tangguh tusukan pedangnya sebenarnya bisa melukai perwira tinggi itu terpaksa ia harus cepat cepat memutar balik untuk membela diri lebih dulu, yang penting diri sendiri selamat tanpa mengejar kemenangan lebih dulu.Justru permainan membalik pedang Pek kian bu ini merupakan ilmu pedang yang cukup ampuh dan hebat sekali dalam mempertahankan diri terkandung pula tipu balas menyerang yang teramat cepat cuma sayang kali ini kebentur dengan Lou Jin cin.

Kepintaran Lou Jin cin justru melancarkan Kim na jiu hoat, gerak geriknya jauh lebih cekatan dari padanya.

Justru membalik pedang yang bertujuan melukai musuh justru dia sendirilah yang dipercundangi oleh lawan.

Terdengar Lou Jin cin tertawa ujarnya.

"Kiranya Sip hun kiam dari keluarga Pek. Jadi saudara adalah Loji Pek Kianbu dari Suthay kim kong bukan?"

Sembari bicara tahu tahu tangannya sudah mencengkeram jari jari tangan lawan.

Sebenarnya Pek Kianbu juga pandai mendengarkan suara membedakan senjata rahasia, soalnya punggungnya tidak punya mata sekali bentrok dengan lawan besar, betapapun ia jauh lebih lemah dari pada bertempur secara berhadapan.

Sesaat setelah ia merasakan rangsakan musuh telah tiba, seketika pergelangan tangannya terasa panas dan pedas kesakitan.

Untung gerak perubahan permainannya cukup gesit jadi pergelangan tangannya tidak sampai tercengkeram oleh musuh.

Menggunakan gaya Ouw wi seng menekuk badan memutar tubuh dengan sebuah kakinya dijadikan poros pemutaran badannya.

"Sreet sreet"

Beruntuntiga kali pedangnya membabat dan membacok kearah musuh demi menjaga jiwa maka permainan pedangnya ini kelihatan cukup hebat.

Sebagai seorang tokoh persilatan mata dan kuping pendengaran Lou Jin cin sudah tentu amat tajam, sewaktu waktu ia bersiaga menjaga bila Nyo Sugi itu pentolan dari Su tay kim kong yang berkepandaian paling tinggi juga menyerbu kearah dirinya.

Melihat tabasan berantai lawan dilancarkan cukup tangkas dan ganas pula betapapun ia tidak berani terlalu mendesak dan nekad.

Namun demikian tak urung ujung pedang Pek Kian Bu sedikit mampu menyentuh ujung bajunya, karuan hatinya menjadi amat gugup dan was was.

"Toako lekas kemari!!"

Demikian teriak Pek Kian Bu.

Tapi Nyo Sugi sendiri sementara itu sedang repot sehingga tidak sempat melayani teriakannya, adalah Lo Hou wi yang segera meninggalkan perwira tinggi itu, tanpa melukai lawan segera ia bergegas menubruk datang untuk menolong saudara tuanya, beruntun secepat kilat goloknya membacok bergantian kearah atas dan tengah badan Lou Jin cin.

"Hebat! Cukup cepat!'' demikian puji Lou Jin cin.

"inilah Ngohou-toan-bun-to dari keluarga To di Jiang-chiu bukan? Konon kabarnya ilmu golok dari keluarga To ini sudah lenyap dan putus turunan sungguh tidak kuduga hari ini aku dapat menyaksikan malahberkenalan secara langsung, sungguh beruntung lohu hari ini!'' Sementara mulutnya mengoceh sepasang tangannya masih melancarkan Kim na-jiu-hoat dengan jurus Jiu hwi-ngo-hian (jari memetik lima senar) sekaligus dengan cara yang gampang ia punahkan sejurus tujuh kembangan dari serangan golok Lo Hou wi yang teramat rumit itu. Lo Hou wi terkejut batinnya.

"Siapakah orang ini? Begitu gampang dan enak saja ia berhasil memunahkan serangan ilmu golokku? Naga-naganya kepandaian silat orang ini tak disebelah bawah si Elang Hitam Lian Tin-san."

Bahwasanya ia tidak tahu sebenarnya Lou Jin-cin sendiri mengeluarkan sekemampuan dan kepandaiannya untuk menyelamatkan dirinya dari gempuran musuh.

Walaupun Pek Kian-bu dirangsang ketegangan untuk melawan musuh, namun serta dia mendengar pujian Lou Jin cin akan Ngo hou-toan bun-to ini, mau tidak mau tergerak hatinya, pikirnya.

"Ternyata Samte memang mengelabuhi aku, aneh, dari mana ia berhasil mempelajari ilmu golok yang sudah lenyap dan putus turunan ini?"

Demikian ia bertanya dalam hati.

Dengan sepasang kepelan tangannya Lou Jin cin harus menghadapi golok dan pedang kedua musuhnya meski belum terdesak dibawah angin, lambat laun ia mulai kerepotan juga.

Beberapa jurus kemudian dalam suatu kesempatan tiba-tiba ia mencelat keluar dariarena pertempuran, wuut!!'' tahu tahu segulung angin menyamber diatas kepala, entah kapan ternyata tangannya sudah memegang seutas pecut panjang, dimana ia putar pecutnya dengan angin menderu-deru langsung memecut kearah Pek dan Lou berdua.

Ternyata senjata pecutnya yang lemas ini bila tidak digunakan suka dilibatkan dipinggang sebagai sabuk.

Dengan mengunakan senjata keadaan Lou Jin cin jauh lebih enak, sekilas pandang dapatlah dilihat dalam gebrak-gebrak selanjutnya ia sudah dapat menempatkan dirinya dalam posisi yang menguntungkan, serangan senjatanya bertubi-tubi menghujani kedua musuhnya sehingga lawan berloncatan mencak mencak seperti monyet joget.

Cara permainan pecutnya ini jauh berbeda dengan ilmu pecut umumnya, begitu dia kembangkan ilmu pecutnya, laksana lengan seperti jari jari senjatanya begitu hidup seperti kepala ular pula, bergerak lincah dan gesit mematuk dan menusuk bergantian, dan yang paling berbahaya pula dapat melibat senjata lawan.

Seolah olah lengan manusia yang bisa mulur sampai setombak lebih, dapat menutuk, memukul, memecut, membetot, membelit, menyapu dan menotok banyak ragam perobahan serangannya.

Secara tidak langsung dengan pecutnya yang panjang dan lemas ini seolah-olah ia dapat melancarkan ilmu Kim-na-jiu hoatnya yang hebat dan lihay itu.Dengan pecut lemas melancarkan permainan Kim-na-jiu hoat adalah ilmu tunggal dari perguruan Lou Jin-cin.

Sudah tentu Lo dan Pek dua lawan mudanya ini belum pernah menyaksikan atau menghadapi langsung permainan silat yang lucu dan aneh ini, meski ilmu golok Lou Hou wi amat cepat dan lihay, walau ilmu pedang Pek Kian-bu cukup tinggi pula soalnya mereka tidak tahu bagaimana untuk menghadapi permainan musuh yang aneh ini, maka seringkali golok dan pedang mereka kena terbungkus dan hampir tidak bisa berkutik oleh rangsekan sinar pecut lawan yang gesit.

Lou Jin cin terbahak-bahak serunya.

"Su-tay kim-kong dari Ceng-liong-pang kiranya juga cuma begini saja kepandaiannya!'' tengah ia mengumbar mulutnya, tiba-tiba terasa segulung angin keras menerpa kearah mukanya. Kiranya Nyo Su-gi sudah berkesempatan menyerbu kearah dirinya, belum lagi orangnya sampai, tenaga pukulan Bik gong ciangnya sudah dilancarkan dari kejauhan. Lekas-lekas Lou Jin cin menggentakkan pecutnya, laksana naga hidup tiba-tiba pecutnya menyambar turun terus melecut kearah kedua kaki Nyo Sugi, seraya serunya.

"Apakah yang datang ini adalah Nyo Tayhiap dari tertua Suthay-kim-kong? He, he, Tiat-cian-kay-pi Nyo Sugi memang tidak bernama kosong, lohu tadi berlaku tekebur mengobras mulut sekarang terpaksa harus kujilat kembali ludahku!"Telapak besi Nyo Sugi segera menekan turun menjepit kearah ujung pecut musuh, berbareng kakinya sebat sekali menggeser maju terus menyerbu dengan serangan gencar. Tiba tiba ujung pecut Lou Jin cin itu seperti kepala ular bisa mendongak keatas mematuk kearah jalan darah dipergelangan tangannya. Cepat cepat Nyo Sugi berkelit kesamping dengan telapak tangannya ia membacok miring kearah ujung pecut. Sementara disebelah sampingnya Lou Hou wi juga beruntun membacok tiga kali sedang Pek Kianbu juga tidak mau ketinggalan menusukkan pedangnya pula dengan kekuatan gabungan mereka barulah berhasil mendesak mundur Lou Jin cin, mau tak mau ia menarik mundur pecutnya untuk menangkis dan melindungi dirinya terlebih dahulu. Bersama kedua saudara angkatnya Nyo Sugi baru berhasil memukul mundur Lou Jin cin mau tidak mau dalam hati ia mengeluh dan rada kecewa bentaknya.

"Apakah kau Lou Jin cin cengcu dari Lou keh ceng?"

Lou Jin cin mendongak sambil bergelak tawa ujarnya.

"Nyo tayhiap tidak malu diangkat sebagai pentolan dari Su tay kim-kong, pengalaman dan pengetahuanmu cukup luar sekilas pandang saja lantas dapat mengelabui asal usul lohu. Benar memang akulah Lou Jin cin dari Lou keh ceng."

"Lou cengcu!"

Demikian seru Nyo Sugi.

"Kau pun terhitung seorang tokoh dalam dunia persilatankenapa kau bantu kelaliman dan menjadi kaki tangan bangsa penjajah untuk menindak kawan segolongan?"

"Sejak lama aku sudah tutup pintu dan menyimpan senjata tak pernah berkecimpung dalam Bulim, masa kau belum tahu?"

O^~dwkz^hendra~^O

Jilid 20 Pek Kian-bu menjengek dingin selanya .

"Tutup pintu simpan senjata apa segala. Yang terang kau sekarang bantu pasukan pemerintah penjajah, apakah ini yang dinamakan tutup pintu simpan senjata ?"

"Aku cuma kemari menyambut keponakan perempuanku ini!"

Demikian Lou Jin-cin membela diri dan mengada-ada.

"Asal kalian tak menganggap dalam air keruh ini aku orang she Lou tidak suka cari perkara dengan Ceng-liong-pang kalian !"

Ia tahu bahwa Su-tay kim kong tidak akan mau menyudahi persoalan ini demikian saja, dasar pintar bermuka-muka dan bermulut manis, ia mengadu-ngadu dengan alasan kekeluargaan yang lepas dari persoalan atau aturan Kangouw.

Lo Houw-hwi menjadi gusar, bentaknya.

"Kau bangsat tua ini memang bukan orang baik-baik. Toako perlu apa kau putar lidah membujuk manusia rendah ini !"Lou Jin-cin mendengus gusar serunya .

"Benar memang aku bukan sehaluan dan segolongan dengan kalian dari Ceng-liong-pang. Kan Nyo-tayhiap sendiri tadi yang mengagulkan diriku. Terima kasih !"

Si perwira tinggi itu juga berkesempatan membuka suara katanya .

"Tepat, Su-tay-kim-kong dari Ceng-liong-pang sebenarnya merupakan buronan dari pemerintah pusat, lekas kau bantu ringkus mereka jasamu tentu tidak kecil !"

Ia kuatir Lou Jin-cin suka mengikat persahabatan dengan musuh, maka setelah mendengar Lou Jin-cin menjelaskan pendiriannya, sengaja ia mengumpak dengan pahala dari pemerintah untuk memperuncing situasi.

Sebetulnya tanpa dipesan juga Lou Jin-cin akan bekerja sekuat tenaga, senjata pecutnya sudah dimainkan dengan seluruh kemampuannya, sedemikian kuat tenaga yang ia kerahkan sehingga senjatanya mengeluarkan angin menderu-deru, pasir dan debu beterbangan.

Pasukan pemerintah yang mengepung disekelilingnya sama terdesak mundur sempoyongan, tiada satupun yang mampu mendesak maju untuk membantu.

Mendengar orang menyinggung Lu Giok-yau, Lo Hou-wi lantas tersentak sadar, cepat ia berseru .

"Nyo toako, betapapun jangan sampai nona Lu kena terjatuh ditangan musuh !"

"Site, sudah bantu kesana,"

Demikian seru Nyo Su-gi, sambil melirik kearah sana tapi segera pula iaberseru terkejut .

"Hah, celaka. Site mungkin bukan menjadi lawan mereka, Pek-loji lekas kau kesana bantu dia."

Ternyata setelah berhasil mendesak mundur Lu Giok-yau, Lou Ing-hou lantas memapak maju ke arah Ong Beng-im yang menyerbu datang.

Sedang si perwira tinggi mengganti kedudukannya melawan Lu Giok-yau.

Kepandaian silat Lou Ing hou setingkat alias sama kuat lawan Ong Beng-im, namun Lou Ing hou mendapat bantuan dari pasukan pemerintah yang mengepung diluar kalangan, meski kepandaian mereka rendah betapapun tusukan-tusukan dan hantaman-hantaman tombak dan bacokan golok mereka merupakan ancaman juga bagi Ong Beng-im.

Bukan saja Ong Beng-im harus melayani Kim na-jiu-hoat Lou Ing-hou yang banyak ragamnya itu sekali tempo ia harus pula menyelamatkan diri dari samberan anak panah musuh, maka tidak perlu dibuat heran dalam gebrakan selanjutnya ia semakin terdesak kerepotan, berulang kali ia menghadapi ancaman elmaut.

Dasar Pek Kian-bu memang rada jeri menghadapi Lou Jin-cin, menjadi kebetulan malah ia disuruh membantu Ong Beng-im.

Tapi justru Lou Jin-cin tidak mau melepas dirinya, disaat ia bersikap hendak menerjang keluar dari kepungan, sekonyong-konyong ujung pecut Lou Jin-cin melingkar menyelubungi seluruh badannya.Diam-diam Nyo Su-gi kerahkan seluruh tenaga dalamnya, setelah tangannya mengincar tepat tiba-tiba sebelah tangannya terayun membacok miring, jurus Tiat ciang-kay-pi memang bukan alang kepalang hebatnya.

Meskipun pecut lemas Lou Jin-cin terbuat dari baja tulen yang gemblengan, seketika kena disampok mental kesamping oleh pukulan telapak tangannya.

Namun permainan pecut Lou Jin-cin memang sangat menakjubkan, begitu aneh dan lihay pula, begitu terpental sekalian ia menyendal terus mengayun kebawah dan kaki "plak"

Tepat sekali mengenai punggung telapak tangan Pek Kian-bu.

Cuma karena sudah terkena dorongan pukulan tangan besi Nyo Su-gi sehingga tenaganya sudah banyak berkurang, meski dengan telak mengenai punggung tangan Pek Kian-bu permainan tiga gelombang lingkaran selanjutnya menjadi sukar dimanfaatkan.

Sementara itu meski punggung tangan kena kesambet, tapi Pek Kian-bu berhasil juga menjebol keluar.

Ong Beng im memang sudah kepayahan kedatangan Pek Kian-bu tepat pada waktunya, beruntun tusukan dan tabasan pedangnya berhasil merobohkan beberapa pasukan negeri yang mengepung diluar kalangan lalu dengan Swan-hong-kiam-hoat ia berhasil pula memukul mundur Lou-ing-hou.

Dalam lain kejap, mereka berdua sudah berhasil menerjang keluar dari kepungan, lalu menerjangkelompok disampingnya dan bergabung bersama Lu Giok-yau.

Jumlah pasukan negeri teramat banyak mereka menjadi sulit untuk menerjang keluar perwira tinggi itu tidak bisa menggunakan Ginkang tapi golok yang besar dari berat itu dimainkan sedemikian mahir, ilmu goloknya berat dan merupakan tekanan yang harus dilayani juga.

Lu Giok yau sendiri sudah kehabisan tenaga, napaspun ngos ngosan.

Pek Kian-bu juga sudah terluka tinggal sebelah tangannya saja yang masih dapat memainkan senjatanya.

Maka si perwira tinggi dan Lou Ing hou sudah cukup berkelebihan untuk mereka bertiga, ditambah pasukan negeri yang mengepung rapat diluar kalangan dengan senjata lengkap mereka semakin menjadi sulit untuk menjebol keluar.

Dengan berkurangnya tenaga Pek Kian bu keadaan Nyo Su-gi dan Lo Hou wi menjadi jauh lebih berbahaya meski permainan golok cepat Lo Hou wi cukup hebat dan ganas, sayang lwekangnya terpaut terlalu jauh dibanding Lou Jin cin, lebih mendingan keadaan Nyo Su-gi kepandaiannya cuma kalah setingkat tapi permainan pukulan tangan besinya menjadi kewalahan dan kepayahan.

Sepasang tangan besinya memang cukup kuat menangkis dan menghadapi pecut baja lawan, soalnya ia pun harus meladeni bagian badan lainnya yang cukup berbahaya, untung Lo-Hou wi bisa bekerja sama dengan rapi, seumpama anak kambing yang tidaktakut pada seekor harimau ia bertempur dengan nekad dan mati-matian hingga Lou Jin cin harus berjaga-jaga menghadapi golok kilatnya.

Sedang cara permainan Nyo Su-gi justru berlainan selama itu ia bisa bermain tenang dan mantap setiap ada lobang tentu ia merabu dan merangsek dengan serangan yang berbahaya, perhatian Lou Jin-cin lebih dicurahkan untuk menghadapi permainan pukulan tangan besinya yang lihay itu dari pada golok kilat Lo Hou-wi, oleh karena itu dia harus berada diatas angin, namun ia tidak berani terlalu mendesak dan pandang enteng kedua lawannya.

"Trang"

Sekonyong-konyong terdengar benturan senjata yang sangat keras lalu disusul pula suara kerontangan, ternyata golok Lo Hou-wi kena dipukul jatuh oleh pecut baja lawan pergelangan tangannyapun tergores luka luka panjang oleh senjata lawan.

Lo Hou wi mendorongkan badannya ke-samping sambil mundur, tapi secepat itu pula ia sudah mendesak maju tapi kali ini tangannya sudah menggenggam sebilah belati meski ukuran pendek tapi cukup dibuat senjata untuk melawan.

Dengan senjata pendek ditangan ia bertempur lebih berani dan semakin gigit.

Tapi betapapun belati ini kurang mencocoki seleranya seperti golok yang merupakan gaman bawaannya, keadaannyapun menjadi semakin payah.Lo Jin cin terbahak-bahak lagi serunya;

"Sutay-kim kong menjadi seperti dewa lempung, dewa lempung lewat sungai jiwa sendiri belum tentu dapat diselamatkan, maka kunasehati kalian janganlah turut campur urusan orang lain!"

O^~dwkz^hendra~^O Geng Tian menempuh perjalanan tanpa mengenal lelah, larinya dikebut seperti mengejar setan tepat sekali ia tiba pada waktunya.

Dari jarak yang jauh ia mendengar seruan Lou Jin-cin akan nama Su-tay kim kong keruan girangnya bukan main, sebat sekali badannya melayang maju lalu teriaknya lantang .

"Lou Jin-cin menurut hematku justru kaulah yang menjadi "dewa patung"

Yang belum dapat menyelamatkan jiwamu sendiri."

Lenyap suaranya tiba pula orangnya, tahu-tahu Lou Jin-cin merasa kesiur angin menyerbak kemukanya, kiranya kipas Geng Tian sudah disebatkan dihadapan mukanya, dengan gesit Lou Jin-cin menghindar dengan gaya Hong-thin-thay (burung hong manggut-manggut), sementara sebelah tangannya membalik terus melancarkan Kim-na-jiu-hoat mencengkeram senjata lawan, cepat-cepat Geng Tian merangkapkan kipasnya terus menutuk jalan darah Kiu-hiat di lengannya.

Terpaksa Lou Jin-cin menekuk tangan menurunkan pundaknya, dengan sejurus tipu Kim-na-jiu-hoat yang khusus untuk berkelahi dalam jarakdekat ia membebaskan diri.

Dalam pada itu Nyo Su-gi dan Lou hou wi menjadi berkesempatan melancarkan serangan gencar bertubi-tubi sehingga lawan terdesak mundur berulang-ulang.

Melihat Geng Tian mendadak muncul, Lu Giok-yau menjadi kegirangan, segera teriaknya .

"Geng toako !"

Begitu mendengar teriakan Lu Giok-yau, Nyo Su-gi jadi ikut kegirangan, cepat ia bersuara .

"Geng kongcu, harap tanya, apa hubunganmu dengan Kanglam Tayhiap Geng Ciau ?"

Geng Tian tersenyum, sahutnya .

"Beliau adalah ayahku !"

"Geng kongcu !"

Teriak Nyo Su-gi tak tertahan lagi.

"Betapa sulit dan susah payah kami mencari kau !"

Dalam berkata-kata itu kipas Geng Tian sedang mengancam dulu hati Lou Jin-cin yang sudah siap hendak menyerbu lagi.

Tadi Lou Jin-cin sudah belajar kenal akan kehebatan permainan senjata kipasnya, kini melihat orang selalu bergerak mendahului menekan lawan dengan tipu-tipu aneh dan lihay mau tak mau ia harus berpikir.

"Berkelahi satu lawan satu, aku tidak akan terkalahkan oleh dia, soalnya Nyo Su-gi dan Lou Hou wi membantu dari samping dengan sergapan yang berbahaya, sekali seranganku gagal pasti aku bakal celaka!"

Maklum bagi tokoh persilatan tingkat tinggi bila berkelahi pantang salah menggunakan tipu permainandan harus dapat memanfaatkan peluang yang ada, pihak orang yang merangsak terutama harus dapat menduduki posisi yang menguntungkan, tapi dalam hal pertahanan juga harus diperhatikan, karena jika pihak sendiri sedang menyerang adalah lumrah jika pertahanan diri sendiri menjadi lemah, kelemahan ini paling gampang digunakan oleh lawan untuk balas menyergap dan menemukan kelemahan pihak sendiri.

Dalam keadaan yang demikian, bila satu lawan satu masih boleh dicoba-coba.

Tapi sekarang keadaannya lain, pihak musuh masih ada dua tokoh kosen yang bisa selalu memberikan tekanan berat pada dirinya, betapapun aku tidak boleh sembarangan bergerak tanpa perhitungan, demikian pikirnya.

Siperwira itu tidak kenal siapa Geng Tian dan ia tidak tahu akan kelihayannya begitu mendengar orang adalah putra Kang-lam Tayhiap Geng Ciau, tak tahan lagi segera ia berteriak .

"Lou Ceng-cu bocah she Geng itu jauh lebih penting dari pada bandit-bandit dari Ceng-liong-pang, hayo bekuk dia kenapa kau tidak maju lagi? Mari kubantu kau !"

Tanpa pedulikan Lu Giok-yau dan lain-lain sambil menenteng golok cepat ia memburu kearah Geng Tian. Geng Tian tertawa, ujarnya .

"Nona Lu, tempo hari waktu aku bertandang ke rumahmu, aku datang dengan bertangan kosong tanpa oleh-oleh apapun hari ini biarlah kuberikan sebuah kado padamu untuk menebus kesalahanku tempo hari."Terdengar Lou Jin-cin berteriak kaget .

"Tayjin, awas !"

Bicara lambat terjadinya justru teramat cepat sekonyong-konyong secepat kilat Geng Tian sudah mencelat lewat dari atas kepalanya lekas-lekas Lou Jin cin mengayun pecutnya keatas, pecut panjangnya melingkar ditengah udara terus menggubat turun kearah dua kaki Geng Tian, Tapi Nyo Su-gi dan Lo Hou wi tidak tinggal diam, golok Lo Hou-wi yang berhasil dijemputnya kembali secepat kilat membacok kearah lengan kiri sedang telapak tangan besi Nyo Su-gi menepuk ketengah dadanya, sedang Geng Tian yang melayang ditengah udara juga tidak mandah diserang kipasnya yang terangkap itu mengetuk ke ubun diatas batok kepalanya.

Lekas Lou Jin-cin merendahkan badan, sementara cambuk lemasnya ditarik dengan naik turun, didalam waktu yang singkat saja ia sudah berhasil menyampok golok cepat Lo Hou-wi serta melindungi dada sendiri, untunglah ia berlaku sigap sehingga dirinya tidak kena pukulan tangan besi Nyo Su-gi.

Kalau dalam pertarungan ini ia satu lawan satu, cambuk lemasnya itu pasti berhasil melilit badan Geng Tian, tapi golok cepat Lo Hou-wi dan telapak besi Nyo Su-gi merangsek datang bersama dari dua arah, terpaksa dia harus menyelamatkan diri lebih dulu.

Tentara perwira itu sedang memburu datang kearah Geng Tian, kebetulan memapak kedatangan Geng Tian yang melambung tinggi melampaui kepala Lou Jin-cin.Ditengah udara Geng Tian gunakan gaya burung dara jumpalitan, meski perwira itu sangat mahir menggunakan golok panjangnya diatas kuda, namun bicara soal ilmu silat sudah tentu ia belum pernah melihat kepandaian ginkang yang begitu menakjubkan, belum lagi senjatanya bekerja hatinya sudah kaget dan ciut nyalinya.

Maka disaat golok besarnya terayun dengan jurus Soat-hoa-kay-ing (bunga salju menutupi kepala) kalau kepala bisa terlindung sebaliknya dadanya terbuka lebar belum lagi goloknya mampu menyentuh ujung baju Geng Tian tahu-tahu ia rasakan badannya kesemutan dan lemas, ternyata sudah kena ditotok oleh Geng Tian.

Geng Thian mainkan gaya kera berjoget seperti menjinjing anak ayam saja ia angkat perwira itu diputar putar terus dilontarkan ketengah udara, lalu disambernya pula tengkuk orang serta mengancam.

"Kalau ingin hidup lekas tarik pasukanmu!"

Semula perwira itu hendak main keras kepala, tapi setelah dilontarkan turun naik dua kali ketengah udara, arwahnya serasa copot dari badan kasarnya, saking ketakutan badan lemas lunglai, terpaksa ia memberikan perintahnya.

"Berhenti kalian lekas mundur !"

Kata Geng Tian.

"Jiwamu boleh kuampuni, tapi kalau tidak kuberi sedikit hajaran mungkin kau bisa mencari keributan pula !"

Jari tengahnya lantas menutuk dengan ilmu tunggal seperguruannya,seketika perwira merasa seluruh badannya kesakitan seperti dicocoki ribuan jarum, badan tidak mampu bergerak, tapi mulut masih bisa bicara.

"Ampun Hohan, segera kutarik pasukanku dan pulang kekota, sekali tidak berani kemari lagi!"

"Kau tidak akan mampus, dua belas jam kemudian jalan darahmu akan bebas sendiri. Kalau kau tidsk tahan derita boleh kau suruh Lou Jin cin bantu membuka tutukan Hiat tomu."

Dalam sekejap saja pasukan pemerintah itu sudah keluar lembah dan semakin jauh, Nyo Su-gi undang ketiga saudaranya untuk memberi hormat kepada Geng Tian, katanya.

"Kita mendapat perintah dari pangcu untuk memapak kedatangan Kongcu, tidak nyana Kongcu telah tiba lebih dulu. Markas pusat kita ada di Ki-lian-san. Kongcu kalau tiada urusan penting lainnya, silahkan pulang bersama kita."

"Aku memang harus menemui Liong pangcu kalian, tapi kita harus mengantar nona Lu ini pulang lebih dulu!"

Ditengah jalan bertanyalah Lu Giok-yau.

"Geng toako, darimana kau bisa tahu kalau aku berada disini?"

"Secara tidak langsung In tiong yan yang memberi tahu kepadaku!"

"Secara tidak langsung? Apakah In tiong yan suruh orang memberitahu kepada kau?"Dua tahun belakangan ini nama In tiong yan sudah cukup tenar di Kangouw, Su-tay-kim kong pun pernah mendengar kebesaran namanya, kata Nyo Su gi.

"Geng kongcu, kau baru saja tiba di Tionggoan, cara bagaimana kau bisa kenal dengan perempuan iblis itu?"

"Apakah kau tidak kenal dia?"

Tanya Geng Tian tertawa.

"Sudah lama kudengar namanya, cuma belum pernah bertemu muka."

"Bukanlah beberapa hari yang lalu kalian pernah bersama dia, itulah gadis pakaian hitam yang sepenginapan dengan kalian. Peristiwa didalam hotel yang kalian alami aku sudah tahu dari penuturan pemilik hotel."

Baru sekarang Nyo Sugi sadar, katanya.

"Jadi gadis itukah yang bernama In-tiong yan yang tenar itu, tak heran si Elang Hitam Lian Tin san pun kena digertak lari terbirit birit!"

"Geng toako,"

Tiba tiba Lu Giok-yau menimbrung bicara.

"Aku hendak tanya mengenai diri seseorang terhadap kau......."

Belum ia habis bicara, Geng Tian sudah tertawa dan menukas.

"Kau hendak mencari tahu keadaan Ling Tiat-wi bukan? Beberapa hari dia pernah menetap dirumahmu, sekarang mungkin sudah pulang bersama ayahnya."

Lalu ia ceritakan cara bagaimanamereka berhasil menolong Hong thian lui dari Lou-keh ceng. Sesaat Lu Giok-yau terlongong, ujarnya.

"Kiranya dalam peristiwa ini Kho toako tak menipu aku."

Mau tak mau Lu Giok-yau menerka didalam hati.

"Pasti sikap ibu yang kurang simpatik terhadap para tamu, maka Ling-toako dan lainnya meninggalkan pergi dengan rasa dongkol."

Teringat ibunya begitu sayang dan percaya kepada sang Piauko yang ternyata terima diperbudak dan menjadi mata-mata musuh, tanpa merasa ia merinding dibuatnya.

Geng Tian beramai-ramai mengantar Giok-yau sampai didepan rumahnya, mendadak ia ingat sesuatu katanya.

"Kita tidak usah masuk, harap nona tolong sampaikan salam kami kepada ayahmu!"

"Kenapa???"

Tanya Lu Giok-yau melenggong.

"Sudah didepan pintu kalian tidak mau mampir, kalau diketahui ayah, pastilah aku yang dimarahi."

"Kukira ayahmu pasti tahu dan paham akan kesulitan kami."

Nyo Sugi pun tersenyum, ujarnya.

"Betul lebih baik tidak usah mampirlah."

Bahwa tamu tamunya tidak mau masuk Lu Giok-yau tidak bisa memaksa mereka, terpaksa ia menghaturkan banyak terima kasih dan berpisah didepan rumahnya.O^~dwkz^hendra~^O Lu Tang Wan suami isteri sedang menunggu dengan hati gundah dan was was, untunglah puterinya akhirnya pulang juga tanpa kurang suatu apa.

Lu Hujin segera bertanya.

"Dimana Piaukomu? Bukankah dia yang menemukan kau dan membawamu pulang? Kenapa tidak pulang bersamamu?"

"Bu, masih kau tanyakan dia menyinggung dia menjadi aku marah saja!'' Lu Hujin mengerut kening katanya.

"Jelek jelek dia adalah Piaukomu dalam soal apa dia berbuat salah terhadapmu?"

"Khu Tay seng tidak pernah berbuat salah kepadaku malah dia selalu menjilat dan mengambil hatiku!"

"Nah kenapa kau marah marah kepadanya?'' "Bu kalau kukatakan janganlah kau kaget. Coba kau terka. Orang macam apa keponakanmu itu?"

Lu hujin melenggong katanya.

"Orang macam apa dia bukankah dia Piaukomu?"

"Benar dia adalah keponakanmu tidak dapat tidak harus memanggilnya Piauko. Bu, tahukah kau bahwa dia itu seorang penghianat bangsa yang terima menjadi mata mata musuh penjajah?"Lu hujin amat kaget selebar mukanya pucat pias serunya.

"Apa katamu dia adalah mata mata musuh?"

"Benar dia adalah mata mata musuh!"

Sahut Lu Giok yau tegas. Adalah kaget dan gusar Lu Tang wan jauh melebihi isterinya.

"Brak!"

Tiba tiba ia menggeprak meja katanya;

"Urusan macam ini tidak boleh sembarangan dibicarakan. Jikalau benar kalau ibumu tidak mau membersihkan keluarga akulah yang akan mewakili dia menghukumnya. Coba katakan kau punya bukti apa?"

"Dia mengundang pasukan pemerintah untuk meringkus Cin Liong hwi tetapi Cin Liong hwi tidak seperjalanan dengan aku. Karena tidak berhasil menangkap Cin Liong hwi maka pasukan itu malah menangkap dia karena dituduh memberikan laporan palsu."

Lu Hujin semakin ketakutan serunya gemetar.

"Hanya dia kena ditangkap oleh pasukan pemerintah?"

Meski kaget namun hatinya menjadi lega pikirannya.

"Untung dia ditangkap pasukan pemerintah terang Yau jie tidak bisa membunuhnya!"

Melihat sikap ibunya yang nampak bukan dilakukan pura pura maka ia membatin.

"Agaknya sebelum ini ibu memang belum tahu akan hal ini."

Maka ia ceritakan duduk perkaranya kepada ayah bundanya.Mendengar puterinya bersama Su tay kim kong dari Ceng liong pang dan Geng Tian melabrak pasukan pemerintah sungguh kejut Lu Hujin lebih besar dan cepat pula katanya membanting kaki.

"Ai kau budak ini memang tidak tahu urusan beruntun mengadakan bencana cara bagaimana baiknya,.,.,? bagaimana baiknya?"

Berkata Lu Tang wan dengan nada berat.

"Urusan sudah terlanjur tiada gunanya kau mengomel panjang lebar. Kalau bicarakan keponakan mestikamu Khu Tay senglah yang menjadikan gara, Yau ji tidak bersalah. Sebagai gadis perawan masakah ia harus menyerah ditelikung dan dijamah oleh kawanan tentara?"

Lu Hujin tidak terima katanya.

"Dalam hal ini Tay-sengpun tidak bisa disalahkan, Cin Liong-hwi bocah keparat itu bukan manusia baik baik adalah pantas kalau Tay-seng melaporkan dia. Belum tentu dengan perbuatannya ini lantas dituduh sebagai cakar alap alap kerajaan. Bukankah kau sendiri pun ada hubungan dengan penjabat pemerintah?"

Lu Tang-wan menjadi gusar semprotnya;

"Aku ada hubungan dengan penjabat pemerintah hanyalah untuk bermuka-muka saja kan belum pernah aku bantu melakukan sesuatu demi kepentingan mereka, yang benar Cin Liong hwi itu bukan anak baik tapi Khu Tay seng melaporkan dia sebagai keturunan daripahlawan Liang san kepada pemerintah apalagi kalau tidak dituduh sebagai cakar alap-alap?"

Lu Hujin belum pernah melihat sang suami marah sedemikian besar, keruan ia jadi malu dan jengkel pula, ia jadi kebingungan juga, terpaksa ia gunakan siasat halus katanya;

"Urusan sudah terjadi tiada gunanya kau marah marah. Sekarang bencana sudah meluruk keatas kepala kita, yang penting lekas mencari cara untuk menghadapinya."

"Mencari cara apa, dalam keadaan ini terpaksa harus menyingkir sejauh mungkin."

"Masakan tidak bisa dicari daya upaya lainnya?"

Tanya Lu Hujin lemah lembut.

"Coba kau punya daya apa, ayo kemukakan."

"Untunglah Cin Liong-hwi tiada hadir, Sutay-kim kong dari Ceng-liong-pang dan Geng Tian baru terakhir dijumpai kalau masih bisa mencuci bersih kesalahan Yau-ji."

"Memangnya mereka mau dengar alasan ini? Dan lagi Lou Jin-cin si bangsat tua itu masakah dia mau memberi kelonggaran kepada kita?"

"Meski Lou Jin cin ada sedikit salah paham dengan kau sama-sama orang sekampung masakan dia tidak sudi memberi sedikit muka kepada kau, bukankah Yau-ji tadi ada bilang sikapnya semula amat sungkan?""Sikapnya itu hanya pura pura untuk menipu aku, aku saja tidak percaya kepadanya. Bu, kau yang lebih tahu seluk beluk kehidupan kenapa kau suka percaya kepadanya?"

"Bukan aku percaya kepadanya, tapi kita bisa mencari jalan damai kepadanya, ketahuilah dia punya pegangan terhadap kita untuk bertindak."

"Hm, hm kau ingin aku berdamai kepadanya?"

"Kalau kau tak mau jadi damai kepadanya, carilah jalan lain, lekas kau cari hubungan dengan para penjabat, rubah dulu urusan besar ini menjadi urusan kecil."

"Pikiranmu terlalu muluk muluk,"

Demikian jengek Lu Tang-wan dingin.

"coba ingin kudengar cara bagaimana mencari hubungan seperti apa yang kau katakan."

"Jangan kau main sindir kepadaku meski aku kamu bawa belum tentu kehabisan akal, waktu ulang tahun kelahiranmu tempo hari bukankah datang kawan dan seorang tamu dari utusan walikota Hangciu? Kalau tidak salah kau memanggilnya sebagai Ong-lohucu benar tidak?'' Lu Tang-wan menahan gusar, katanya, ''Kau suruh aku cara bagaimana meminta-minta kepadanya?"

"Antarlah bingkisan besar kepadanya, mintalah supaya dia mohonkan keringanan kepada walikota, kedudukannya cukup tinggi sejajar dengan Cong-pingTayjin cuma yang satu sipil yang lain militer, jabatannya sejajar dan setingkat. Kukira perwira itu mau tidak mau harus beri muka pula sejawatnya."

Lu Tang wan hanya mendengus hidung tanpa buka suara.

Lu Hujin dapat membaca isi hati orang dari perubahan air muka orang, ia tahu meski sang suami masih marah, betapapun sedang menimbang usulnya ini, maka ia melanjutkan, ''Sebetulnya mereka bukan hendak menangkap Yau-ji, boleh dikata dia hanya kerembet saja.

Dengan menerima sekedar sogokan berarti, pastilah ia suka kesampingkan persoalan kita.

Dan lagi Ong lohucu itu sendiri memang ingin mengambil hatimu, sayang kau mengagulkan gengsi tidak sudi bergaul dengan dia."

"Yah!"

Timbrung Lu Giok yau.

"Memangnya kita harus menjilat-jilat kepada pejabat anjing?"

"Betul kalau kita toh harus mohon bantuan, haruslah minta bantuan para Enghiong para Hohan!"

Demikian ujar Lu Tang-wan.

"Sayangnya urusan yang menyangkut kita ini dapat dilerai oleh Enghiong pujaanmu itu, kehadiran mereka malah membikin urusan semakin kacau balau. Terserahlah kau tidak mau terima usulku terpaksa meninggalkan rumah ngungsi ketempat jauh. Tapi ingin kutanya kepada kau, ketempat mana kau bisa menyembunyikan diri.""Kita bisa bergabung dengan pihak Ceng liong pang; aku tahu markas besar mereka berada di Ki lian san,"

Demikian rengek Giok yau. Lu Hujin tertawa dingin, katanya .

"Puluhan tahun ayahmu berkecimpung dalam kangouw betapa sulitnya baru berhasil membangun rumah dan membentuk keluarga ini, sebaliknya kau paksa ayahmu dihari tuanya melakukan pekerjaan memberontak kepada pemerintah? Tahukah kau justru karena sudah bosan kehidupan kangouw maka ayahmu menyepi diri membangun rumah disini ?"

Lu Tang wan menghela napas ujarnya .

"Kalau terpaksa apa boleh buat berkecimpung lagi didunia persilatan ?"

"Tapi sekarang belum tiba waktunya terpaksa kenapa kau tidak coba menjalankan usulku tadi ?"

"Bu, kalau kau berkukuh demikian, berarti kau merelakan putrimu menyerahkan diri kepada mereka."

Lu Hujin menjadi gusar dampratnya .

"Kau budak ini memang terlalu kuumbar dan kelewat kusayang sehingga berwatak begitu kukuh dan nakal, memangnya sudah keras sayapmu, berani kau tidak dengar nasehat ibumu lagi ?"

Lu Tang wan menggoyangkan tangan, katanya .

"Kalian tak perlu ribut biar kupikir-pikir, ucapan Yau-ji memang cukup beralasan pula.""Eh, memangnya kau hendak membiarkan putrimu menyerahkan diri ?"

Desak Lu Hujin.

"Bukan begitu maksudku, biarlah dia minggat dan pergi ketempat jauh menurut keinginannya sendiri."

Keruan Lu Giok-yau berjingkrak kegirangan, serunya .

"Yah, kau setuju menyingkir saja bersama aku."

"Bagus ya, kalian ayah beranak bisa terbang pergi, tinggalkan aku seorang saja !"

Demikian omel Lu Hujin patah semangat.

"Bu, kenapa kau berkata demikian? Sudah tentu kita pergi bersama."

"Aku sudah terlalu tua untuk melakukan perjalanan jauh, apalagi ilmu silat sudah banyak kulupakan masa aku bisa bantu pihak Ceng-liong-pang memberontak main pedang, main golok segala ? Terserah bagaimana jalan pikiranmu, yang terang aku lebih suka diam dirumah, biar mati juga harus berada dirumah sendiri. Kalau kalian tidak ingat hubungan kita selama ini, silahkan pergi saja."

Bahwa Lu Hujin berkukuh tidak mau meninggalkan rumah, adalah karena dia merasa sayang meninggalkan harta benda dan rumahnya, dan ada pula sebab lain, yaitu dia tidak tega meninggalkan keponakannya begitu saja.

Famili dari keluarganya hanya tinggal seorang keponakan ini, apalagi pemuda itu pandai mengambil hatinya, maka ia pandangkeponakan ini sama sebagai anak kandung sendiri, sebenarnya dia jauh lebih menyayangi keponakan ini daripada putrinya sendiri.

Kini Khu Tay-seng ditangkap pasukan pemerintah, bahwasanya dia tidak tahu bahwa keponakannya itu secara sembunyi-sembunyi ada sekongkol dengan pasukan pemerintah, pastilah kelak ada orang yang menanggungnya keluar (apa yang diceritakan putrinya dia tidak mau mempercayainya), kalau keponakan itu belum bebas mana dia bisa berlega hati meninggalkan kampung halaman ini.

Maka dia mengusulkan rencananya itu supaya memperingan urusan putrinya, sekaligus dapat membebaskan keponakannya dari tahanan.

Sudah tentu dia tidak akan membiarkan keponakannya begitu bebas lantas menemui Lu Tang-wan, diam-diam dia sudah memperhitungkan setelah amarah suaminya reda barulah pelan-pelan dia akan merujukkan persoalan ini.

Adalah Lu Giok-yau tidak dapat menyelami kekukuhan ibunya ini, keruan ia jadi melenggong kebingungan.

Tak nyana diluar dugaannya pula, tiba-tiba Lu Tang-wan batuk-batuk lalu katanya .

"Belum lagi kau jelas apa yang kukatakan lantas mengumbar amarah, coba dengarkan penjelasanku, maksudku biar Yau-ji sendiri yang pergi, aku kan tetap tinggal dirumah !"

Lu Giok-yau kaget, serunya .

"Apa ayahpun tidak mau pergi ?"Agaknya Lu Hujin pun merasa heran, katanya.

"Usia Yau-ji masih terlalu muda belum pernah pergi jauh lagi, memangnya kau tidak kuatir dia pergi seorang diri ? Menurut hematku lebih baik kita semua tidak keluar pintu. Besok siapkanlah bingkisan besar, bekerjalah menurut usulku tadi kutanggung urusan tidak akan salah !"

"Aku hanya dapat menerima separoh dari usulmu,"

Demikian kata Lu Tang-wan.

"Justru karena Yau-ji tidak pernah keluar pintu kecuali orang-orang dari Lou-keh-ceng, cakar alap-alap lainnya tiada yang kenal dia. Dia boleh menyamar sebagai laki-laki asal bertindak amat hati-hati, kukira perjalanannya jauh lebih aman dari pada kita pergi bersama-sama."

"Kenapa kau ijinkan dia pergi sendirian?"

"Terus terang, aku tidak begitu percaya pihak pemerintah,"

Demikian ujar Lu Tangwan.

"maka terpaksa kugunakan dua caranya berlawanan rusak gara-gara perbuatan Yau-ji, kalau dia menyingkir kamilah yang harus berusaha dengan mereka dan tiada sesuatu yang harus kita kuatirkan bisa membawa puteri kita pulang. Sebaliknya kalau mereka tidak mau memberi muka, terpaksalah berlaku nekad, biar kita labrak mereka saja, kita menjadi suami-isteri sudah puluhan tahun, maka kau pun harus dengar separo dari aturanku ini.""Baik kita masing-masing mengalah separo. Tapi Yau-ji masih gadis perawan mana boleh kau suruh dia bergaul dengan kawanan pemberontak macam Su-tay-kim-kong itu ?"

"Siapa bilang aku hendak suruh dia ikut memberontak dengan pihak Ceng liong-pang ?"

"Lalu kau suruh Yau-ji kemana ?"

Lu Tang-wan berkata pelan-pelan sambil tersenyum .

"Pergi kerumah paman Lingnya itu."

Lu Giok-yau berjingkrak girang, serunya .

"Kau suruh aku mencari ayah Ling Tiat-wi ?"

"Ya hubungan kita dengan keluarga Ling jauh lebih kental dari pada orang orang Ceng liong pang dan lagi kau pasti kurang bebas bila berada di Ceng liong pang."

Lu Hujin mengerut alis katanya.

"Bukan kau sudah bilang kepadaku rumah keluarga Ling sudah terbakar? Malah Ling Hou dan Cin Hou siau juga orang orang dari keturunan dari pahlawan gagah Ling san meski tidak memberontak terang terangan mereka kan setali tiga uang sama orang orang Ceng liong pang?"

"Para tetangga dalam kampung mereka sangat baik asal Yau ji kesana dan tanyakan salah satu murid mereka tentu dengan gampang menemukan jejak mereka. Aku tahu mereka tidak jauh menyingkir ketempat lain."

Sesaat lamanya Lu Hujin masih menepekur dan tidak bersuara. Maka Lu Tang wanberbicara lebih lanjut.

"Kalau berdua bersama dengan paman Lingnya disana ia bisa mendapatkan suatu manfaat, ketahuilah keluarga Ling dan Cin menetap bersama dalam satu kampung, kepandaian silat Cin Hou siau masih lebih tinggi dari aku kalau terjadi sesuatu beliau masih kuasa melindunginya. Meski Ling thiat wi dan Hong Thian yang menuju ke kota raja cepat atau lambat toh mereka akan pulang juga. Yau ji bukankah kau ingin bertemu dengan Ling toakomu? Pergilah kerumahnya dan menetap disana beberapa waktu lamanya bagaimana menurut pendapatmu sendiri?"

Ternyata setelah Ling Hou ayah beranak pergi Lu Tang wan berpikir pikir panjang pendek kesimpulannya ia amat menyesal dan sungkan terhadap mereka.

Bahwa sekarang dia suruh putrinya menyusul kerumah keluarga Ling maksudnya memang hendak menyempurnakan perjodohan putrinya dengan Hong thian lui, sekaligus ia hendak menjauhkan dengan keponakannya yaitu Khu Tay seng.

Bahwa dirinya disuruh pergi kerumah keluarga Ling bagi Giok yau justru diminta mintapun sulit terlaksana segera ia menunduk malu dan menjawab lirih.

"Bukannya aku berkukuh kau harus pergi ke Ceng liong pang terserah kepada kehendak ayah!"

Lu Tang wan terbatuk batuk ujarnya.

"Baik, kami putuskan demikian saja. Setelah ketemu denganpaman Ling dan Cin sampaikan salam dan minta maafku kepada mereka."

Lu Giok yau mengiakan sambil mengangguk lalu menambahkan.

"Bu, segera aku berangkat!"

Meski tidak suka putrinya pergi kerumah keluarga Ling namun karena keponakan kesayangannya sudah terlibat perkara meski Lu Hujin hendak menentang juga tidak bisa apa apa maka iapun tidak menyinggung persoalan pernikahan puterinya, apa boleh buat ia melepas putrinya pergi dengan rasa berat.

Lu Giok yau menyamar menjadi seorang lelaki malam itu juga dia berangkat, terbayang olehnya bahwa dalam waktu tidak lama lagi ia bakal berkumpul sama Ling Thiat-wi, seketika tersimpul senyum manis pada wajahnya.

Tak nyana dua hari kemudian ditengah jalan ia mengalami suatu peristiwa diluar dugaan.

Maklumlah sebagai putri pingitan yang belum pernah keluar pintu apa lagi menempuh perjalanan jauh.

Sementara Lu Tang wan menyangka tiada orang yang bakal mengenal samarannya ini siapa nyana hari itu kebetulan ia baru saja beranjak keluar dari perbatasan karesidenan kampung halamannya ditengah jalanan justru ia bersua dengan seorang yang mengenal dirinya.Orang ini adalah si laki laki jubah hitam yang pernah ditemuinya diatas gunung tempo hari waktu ia masih bersama dengan In tiong yan.

Lu Giok yau menempuh perjalanan melewati sebuah jalan gunung kecil disaat ia berlenggang itulah tiba tiba didengarnya sebuah tertawa dingin dan Jing bau khek itu tiba tiba menyusul didepannya katanya.

"Anak muda yang ganteng sekali, o, kiranya kau nona Lu, he he aku kenal kau apakah kau masih teringat siapakah aku?"

Kontan Lu Giok yau melolos pedang dampratnya.

"Apa kehendakmu?"

Sudah tentu Jing bau khek tidak pandang sebelah matanya katanya terbahak bahak.

"Nona cilik kalau kau undang ayah kau untuk bantu melawan aku mungkin masih setanding, kau tidak akan mampu melawan aku. Tapi akupun tidak berniat menindas kau, aku hanya ingin menyerapi jejak seseorang, kalau kau suka bicara secara jujur aku tidak akan mempersulit dirimu dimana In tiong yan yang kemarin dulu bersama kau?'' Kaget dan dongkol pula hati Lu Giok yau dibuatnya tapi dasar wataknya lebih keras kukuh dari ayahnya segera ia menjawab dengan ketus.

"Aku tidak tahu meski tahu juga tidak sudi beritahu kepada kau."

"Bagus kau tidak mau beritahu kepadaku terpaksa biar kuundang kau pergi ke Lou-keh-ceng saja."

Ternyata hari itu ia melarikan diri karena digertak olehIn tiong-yan, setelah ia bertemu dengan Liong-siang Hoatong barulah diketahui bahwa In-tiong yan sedang minggat tanpa pamit.

Liong siang Hoatong sendiri ingin segera kembali ke Mongol maka ia minta bantuannya untuk menyirap jejak In tiong yan.

"Siapa sudi pergi bersama kau?"

Bentak Lu Giok-yau.

"Sret"

Pedangnya lantas menebas kepergelangan orang yang diulurkan hendak menyengkeram lengannya.

"Memangnya kau belum tahu akan kelihayanku ya?"

Demikian jengek Jing bau-khek, dimana ia membalikkan pergelangan tangan, sebat sekali mencengkeram pergelangan Lu Giok yau yang memegang pedang, secara kekerasan ia hendak merampas senjata orang.

Tak duga meski kepandaian Lu Giok-yau terpaut amat jauh tingkatannya, namun permainan pedangnya cukup lihay dan lincah ganas lagi jurus serangan ini justru merupakan satu jurus ilmu pedangnya yang paling dibanggakan.

Begitu tiga jari Jing bau khek mencengkeram datang, sebat sekali Lu Giok yau memutar tajam pedangnya kebawah dan hampir saja berhasil memapas kutung jari-jarinya lekas Jing-bau-khek menarik tangan kedalam lengan bajunya, dengan lengan bajunya itu dia mengibas dan menggulung ujung pedang orang terus membentak.

"Lepas pedang."

Tanpa kuasa pedang Lu Giok-yau benar-benar tertarik jauh dari cekalannya tapi semula Jing-bau-khek berniat dalam satu jurus dapat meringkusnya, toh usahanya gagal.

Begitu senjatanya terlepas jatuh, dengan mengerutkan dada dan jumpalitan ditengah awan Lu Giok yau mencelat mundur satu tombak lebih kebelakang.

"Nona cilik,"

Ejek Jing bau khek.

"Memangnya kau bermain petak dengan aku! jangan harap kau bisa lolos."

Lu Giok-yau lari menuju kelereng bukit dan berputar-putar diantara batu-batu gunung yang berserakan dimana mana, dalam waktu dekat jelas Jing bau khek tidak akan mampu membekuk dia.

Tiba tiba dari jalan dibawah sana didengarnya derap kaki bertapal mendatangi semakin dekat, dari ujung jalan gunung sana tampak seorang gadis berpakaian serba hitam mendatangi menunggang seekor keledai.

Melihat diatas lereng ada orang sedang berkelahi, bukan tidak segera menyingkir malah dia menghentikan tunggangannya dan melompat turun maju mendekati.

Sebagai kawakan kangouw melihat gadis ini bernyali begitu besar, diam diam bercekat hati Jing bau khek, pikirnya.

"Dilihat dari dandanannya mungkinkah dia ini yang baru-baru ini sekaligus menundukkan kelima Pangcu dari sungai besar sepanjang sungai Huangho yang bergelar Sian moli?"

Disaat ia berpikir itulah, didengarnya gadis baju hitam itu membuka suara lantang.

"Cici ini apakahbukan putri kesayangan Lu Tang wan Lu lo enghiong yang bernama Lu Giok-yau?"

Lu Giok yau melengak heran batinnya.

"Belum pernah aku melihat orang ini, dari mana ia bisa tahu namaku. Tapi dari nada bicaranya kelihatannya amat mengindahkan terhadap kebesaran ayah, kiranya tidak mengandung maksud jelek."

Maka segera ia menjawab.

"Benar memang akulah Lu Giok-yau."

"Bagus, kalau begitu biar kubantu kau melabrak bangsat tua ini."

Kedatangannya secepat kilat pertama kali bicara ia masih berada di bawah lereng belum lagi ia habis bicara tahu tahu bayangannya sudah berkelebat didepan Jin bau khek.

Melihat gerakan badan orang begitu sebat dan cepat Jing-bau-khek tidak memandang ringan musuhnya, lekas kaki kanannya melangkah setapak, sementara kepalan kiri dia jotoskan memapak kedatangan orang, langsung ia menyerang lebih dulu.

Sebetulnya mengandalkan kedudukan dan nama gengsinya didalam Bulim menghadapi seorang angkatan muda seharusnya dia memberi kesempatan kepada gadis baju hitam untuk menyerang lebih dulu, meski ia berusaha menyergap lawan dan mengambil inisiatif penyerangan paling tidak ia harus bersuara memperingati lawannya lebih dulu.

Soalnya kedatangan gadis baju hitam ini teramat cepat, terpaksa ia harus bertindak cepat tanpa sempat memberi aba peringatan lebih dulu.

Dari sini dapatlahkita bayangkan betapa jeri dan takut hatinya menghadapi gadis baju hitam ini.

Menunggu kepalan orang sudah dekat kira kira satu dim didepan mukanya barulah gadis baju hitam dengan tangkas dan lemah gemulai menggerakkan pinggangnya, seraya mengulapkan punggung telapak tangannya.

Maka kedua belah pihak jadi saling serempet lewat begitu saja, kepalan masing-masing tidak saling sentuh sedikitpun juga.

Jing-bau-khek mengeluarkan seruan tertahan, agaknya ia amat heran dan kaget.

Ternyata kepandaian ilmu pukulan, ilmu pedang, ilmu golok ataupun semua ilmu yang dia yakini merupakan ilmu tunggal yang tiada keduanya dari lain cabang ilmu dari golongan sesat yang cukup keji dan ganas beracun lagi jauh berlainan dengan ilmu kepandaian aliran ini.

Kelima jarinya yang terkepal itu kekuatan jari jarinya tidak merata diantara jari tengah, jari telunjuk dan jari manisnya itu masing-masing terselip dan menonjol keluar tiga lembar senjata rahasia yang berbentuk segi tiga, tiga biji senjata rahasia yang berbentuk segitiga ini,dapat digunakan untuk memukul Hiat to lawan.

Ibu jarinya terjulur keluar khusus untuk mengerahkan tekanan tenaga luar biasa dari ilmu Toa jiu in dari ajaran Mi ciong dari Tibet.

Toa Jiu in dari Mi ciong mengutamakan serangan tenaga dalam dari tekanan ibu jarinya itu, dapat melukai urat nadi dan Hiat-to mematikan di badan lawan meski ia hanya menggunakan sebuah ibujarinya sama saja dapat membawa akibat yang fatal bagi lawannya.

Ilmu pukulan beracun dan keji itu biasanya jarang ia gunakan kecuali menghadapi lawan tangguh, sudah sepuluh tahun dia tidak menggunakan jurusnya ini, soalnya ia sudah jeri terhadap gadis baju hitam ini maka begitu bentrok lantas dia keluarkan ilmu simpanannya itu.

Sangkanya dalam satu gebrakan secara tak terduga pasti ia berhasil mengerjain lawannya, siapa tahu dengan gampang saja gadis baju hitam ternyata dapat memunahkan serangannya.

Dengan punggung telapak tangan gadis baju hitam menyerang musuh, ilmu permainannya itu dinamakan Toa-su-kun didalam permainan kerasnya mengandung daya lunak yang amat besar prabawanya, ilmu macam ini berasal dari India, dalam wilayah Tionggoan belum pernah ada orang yang mampu menggunakan ilmu ini, celakanya Toa su kun ini justru lawan mematikan bagi ilmu pukulan menutuk Hiat to dari seperguruannya.

Waktu Jing bau khek masih muda dan belajar silat dengan gurunya, pernah dia melihat gurunya mendemontrasikan Toa su kun ini.

Menurut omongan gurunya, beliaupun hanya mengenal kulitnya saja tentang ilmu ini, belum pernah mempelajarinya secara mendalam, maka permainannya itu boleh dikata mencontoh saja, supaya para muridnya tahu kira kirasampai di mana tingkat kelihayan dari ilmu pukulan ini kelak bila kebentur bisa berjaga jaga.

Jing bau khek tahun ini berusia lima puluh tujuh, diwaktu gurunya mempertontonkan Toa su kun dulu ia baru berusia tujuh belas, sampai sekarang sudah empat puluh tahun.

Selama empat puluh tahun ini, belum pernah ketemu seorang yang bisa memainkan Toa-su-kun, sungguh tidak nyana justru hari ini ia bentrok dengan seorang gadis remaja yang berumur dua puluh tahun mahir gunakan ilmu Toa su kun.

Jing bau khek menginsyafi bahwa Toa-su kun adalah lawan mematikan dari ilmu silat ajaran perguruannya, maka mengandal latihan lwekangnya yang lebih tangguh ia menyerang dulu menempatkan posisi yang menguntungkan, pikirnya.

"Setelah tenaganya terkuras menjadi lemas, barulah kugunakan Kim na jiu-hoat meringkusnya. Kalau aku hanya membela diri tanpa balas menyerang dalam waktu dekat tentu dia tidak akan bisa menemukan titik kelemahanku."

Gadis baju hitam itu mentertawakannya.

"Kenapa baru gebrak lantas ketakutan?"

Dalam berkata-kata itu selincah kupu kupu yang menari diantara rumpun kembang bagai kecapung menutul permukaan air, baru saja ia mengucapkan sepatah kata tahu-tahu sudah berpindah delapan tempat menyerang dua puluh empat jurus.Karena tahu pukulan lawan merupakan lawan mematikan dari ilmu silatnya, takut didahului dan disergap titik kelemahannya terpaksa Jing bau khek harus mengerahkan seluruh kekuatannya.

Dia tidak berani ikut lompat maju menyerang, meski ia bisa menutup diri dengan rapat, namun tenaganya yang terkuras ternyata jauh lebih besar dari gadis baju hitam.

Berarti pula bahwa strategi perkelahiannya ternyata mengalami timbal balik dari rencana semula.

Disaat pertempuran mencapai puncaknya tangan Jing bau-khek seolah-olah seperti diganduli barang seberat ratusan kati, setiap jurus mempermainkannya kelihatan amat lamban kelihatan payahnya ia mengerahkan tenaga.

Sampai Lu Giok yau yang berada satu tombak diluar kalangan pun merasa angin kencang dan kuat menyampok mukanya, hendak ikut membantu juga tidak mungkin bisa melangkah saja.

Sebaliknya sikap gadis berbaju hitam tetap tenang dan wajar, seperti kupu-kupu yang menari diatas kuntum-kuntum bunga, sambil berlincahan ia memutar mengelilingi lawan serta menyergap dengan berbagai serangan lihay.

Tangannya yang halus memiliki jari-jari yang runcing dan manis dengan cakar kukunya yang panjang-panjang terawat baik sekali, setiap kali jari jarinya berkembang laksana duri-duri kembang yang selalu mengarah hiat-to mematikan dibadan lawan dibarengi dengan gerak gerik yang lemah gemulai yang mempesonakan lagisungguh enak dipandang, lama kelamaan Lu Giok yau sampai mendelong dan terbelalak dibuatnya.

Selintas pandang memang sikap gadis baju hitam kelihatan acuh tak acuh, secara kenyataan sebetulnya dia sendiripun sudah mengerahkan segala kemampuannya, hatinya pun kaget dan sedang menerawang.

"Kalau sebelumnya aku tidak mengetahui asal usulnya serta mempelajari ilmu pukulan itu mungkin aku bukan menjadi tandingannya."

Walaupun ia berada diatas angin namun untuk menang dia sendiri tidaklah yakin.

Dalam pada itu Jing bau-khek sudah basah kuyup oleh keringatnya, sorot matanya memancarkan rasa gusar yang meluap luap.

Lu Giok-yau yang menonton diluar gelanggang menjadi jeri melihat tampang itu.

Mendadak gadis baju hitam itu tertawa terkikik serunya.

"Kau suheng Lou Jin cin yang bernama Sat Hiu jong bukan! Kabarnya kau menyembunyikan diri di gunung, sudah berhasil meyakinkan Tok si ciang kenapa tidak kau gunakan ilmu simpanannya?"

Haruslah diketahui bahwa namanya saja Sat Hiu jong adalah suhengnya Lou Jin cin adalah kepandaian silat Lou Jin cin semua ia pelajari dari suhengnya Sat Hiu-jong yang mewakili gurunya.

Maka tiga ilmu tunggal perguruannya yang amat hebat Lou Jin cin hanya dapat mempelajari Kim na jiu saja.

Lu Giok yau amat heran mendengar percakapan ini, adalah Jing-bau khek sendiri bukan kepalang kejutnyamendengar kata-kata gadis baju hitam, ternyata sudah dua puluh tahun dia mengasingkan diri dan menyembunyikan nama dan asal usul, baru beberapa bulan yang lalu ia muncul kembali didunia kangouw.

Pikirnya.

"Aneh, usianya masih begini muda, dari mana ia bisa tahu nama asliku? Tidak soal bisa tahu namaku, malah dia tahu aku sudah berhasil meyakinkan Tok sa ciang."

Bagi tokoh silat tingkat atas yang paling ditakuti adalah bahwa ilmu tunggal perguruannya yang diyakinkan diketahui seluk beluknya oleh lawan, mau tidak mau timbul rasa curiga Jing bau khek.

"Dia membongkar ilmu rahasiaku yang beracun, dan menantang supaya digunakan, mungkinkah dia sudah punya pegangan dan cara untuk mematahkan Tok sa-ciangku?"

Ternyata Tok sa ciang yang diyakinkan Jing bau khek adalah ilmu sesat beracun yang dia turunkan kepada Cing Liong hwi, setiap pemakai ilmu pukulan beracun ini, adalah untung kalau Iwekang sendiri belum mencapai tingkat tinggi, bagi yang sudah lihay keyakinannya, bila tidak kuasa melukai musuh, hawa racun bisa membalik dan menerjang jantung dan melukai badan sendiri akibatnya tentu amat fatal.

Bahwa gadis baju hitam itu bisa memecahkan ilmu pukulan tunggal perguruannya, siapa tahu jika orang pun bisa memecahkan ilmu telapak tangannya?

Maka setelah seluk beluk sendiri dibongkar oleh lawan Jing-bau-khek menjadi jeri dan tak berani menggunakan ilmu itu.Mendadak Jing bau khek melompat keluar kalangan, entah apa tahu tahu tangannya telah mencekal seutas cambuk lemas, katanya.

"Bertanding pukulan tiada artinya lagi, marilah kita sudahi pertandingan ini dengan menggunakan senjata!"

Cambuk lemasnya itu ternyata biasa ia gunakan sebagai ikat pinggang. Gadis baju hitam tertawa, katanya.

"Terserah apapun yang kau kehendaki, pasti kuiringi permintaanmu."

Ia melolos sebuah gelang tangan, begitu kedua tangannya saling tarik kedua arah, gelang membundar itu tahu tahu sudah mulur menjadi seutas cambuk perak yang panjang dan kecil, gelang menjadi cambuk perak senjata ini benar lebih aneh dari cambuk lawan yang peranti untuk ikat pinggang.

Jing bau khek yang banyak pengalaman tak urung mengawasi mendelong, pikirnya ;

"Perempuan siluman ini memang serba aneh."

"Sambut seranganku !"

Gadis baju hitam membentak, tangan sedikit menggentak cambuk peraknya yang lembut itu tanpa suara menyabet kearah lawan, berkerut alis Jing-bau-khek, lekas iapun ayunkan cambuk lemasnya dari bawah memapak keatas tujuannya hendak menggubat cambuk perak orang.

Gadis baju hitam maklum bahwa lwe-kangnya setingkat lebih rendah, cambuk lemas lawanpun bobotnya lebih berat dan kasar kalau kedua senjatasaling bentrok dan gubat menjadi saling tarik, tentu pihak sendiri yang mendapat rugi, lekas pergelangan tangannya sedikit berputar dan menyendal cambuk lembutnya bagai seekor ular sakti menerjang miring, menghindar dan merangsak lekas Jing-bau-khek menggunakan Ih Sing-hoat-wi mencari posisi lain seraya memainkan senjata cambuk lemasnya yang berbunyi menderu kencang, cambuk kasar yang lemas itu mendadak menjadi kaku seperti sebuah tombak menusuk ke arah dadanya, bahwa cambuk lemas dapat dibuat kaku seperti tombak itu menandakan bahwa lwekangnya sudah cukup hebat dan tinggi.

Panjang cambuk kedua pihak ada setombak lebih, cambuk perak gadis baju hitam lebih lembut dan panjang, masing-masing menyerang kepada lawan dengan serangan keji meski beberapa jurus sudah berselang, senjata kedua pihak masih belum pernah menggubat.

Tapi dalam beberapa jurus serang menyerang itu, kedua pihak sama menghadapi serangan-serangan berbahaya, sedikit lena saja darah pasti akan membasahi bumi, sungguh cepat dan menggiriskan.

Cambuk lemas milik Jing-bau-khek itu dengan jarak tertentu ada beberapa bundelan yang menonjol keluar menyerupai tulang-tulang jari manusia permainan ilmunya juga berlainan dari ilmu cambuk umumnya, bundelan yang menonjol keluar itu bisa digunakan untuk memukul Hiat-to orang.

Tapi cambuk perak gadis baju hitam itu lebih aneh danmenakjubkan lagi, begitu lembut sebesar ujung kaki, pergi datang tidak membawa jejak dan tak berbekas lagi membuat orang sulit untuk berjaga-jaga dari segala kemungkinan.

Jing-bau-khek kejut dan heran pula dibuatnya, pikirnya.

"Kabarnya waktu Sian-moli menundukkan para pangcu dari lima sindikat besar dari sungai Huangho, menggunakan Ngo ho-toan-ban-to-hoat, tak nyana permainan cambuknya ternyata begini mahir juga, aku sendiripun belum pernah lihat dan dengar entah dari aliran mana. Mungkinkah mereka terdiri dari dua orang yang berlainan. Ai dua puluh tahun tidak muncul di kangouw tak nyana generasi muda semakin banyak dengan bekal kepandaian yang amat tinggi pula."

Memang diluar tahunya gadis baju hitam ini memang murid dari maha guru silat yang maha tinggi dan agung, delapan belas macam senjata pernah dipelajari ilmunya, terutama permainan cambuk dan golok merupakan keahliannya.

Meski Jing bau khek membekal ilmu cambuk yang lihay, betapa pun masih kalah seurat dibanding ilmu cambuknya itu.

Bahwa Jing-bau khek tidak berani menggunakan Tok-sa ciangnya malah mengajak adu senjata, ini berarti membuat yang panjang menggunakan yang pendek.

Sekejap saja pertempuran yang sengit sudah mencapai ratusan jurus, jurus aneh dan keji dari permainan cambuk lembut si gadis baju hitam terusberdatangan dengan gaya yang indah tak berkeputusan.

Meski cambuk Jing bau khek dapat memukul Hiat-to, apa pula gunanya walau toh dia sendiri tak kuasa menyentuh ujung baju orang.

Ditengah pertempuran seru itulah, sekonyong-konyong terdengar gadis baju hitam berseru .

"Kena !"

Jing-bau khek melihat sinar perak berkelebat, tahu bahwa sulit untuk meluputkan diri iapun berlaku nekad ikut membentak .

"Lepaskan cambukmu !"

Cahaya seperti pecah berderai menangkap bahaya, menggunakan kecepatan gerak tangan cakar tangannya terjulur mencengkeram cambuk perak orang.

Tak tertahan Lu Giok yau yang menonton dengan asyik dan melongo itu tiba tiba menjerit kaget sambil menutup mulut sendiri.

Belum lenyap suaranya, tiba-tiba dilihatnya cambuk panjang bagai seekor naga hidup terbang ketengah udara, tapi terang bukan cambuk perak sigadis baju hitam.

Kiranya meski Jing bau-khek berhasil menangkap cambuk peraknya, tapi batang cambuk itu terlalu kecil dan lembut, sedikit gadis baju hitam menarik dan menyendal, belum lagi mencengkeram tangannya mengekang, telapak tangannya sudah terasa panas dan sakit, tahu-tahu cambuk perak sudah membrosot lepas dari sela jari jarinya malah ujungnya seperti kepala ular mematuk kepergelangan tangannya yangmemegang cambuk, sekali lagi gadis baju hitam memperlihatkan kemahirannya, sebelah tangan kirinya menggantol dan menarik, maka cambuk lemas orang kena ia rebut dan dilempar ketengah udara.

Gadis baju hitam terkikik-kikik, serunya.

"Kau masih punya senjata apa lagi, apapun yang kau gunakan akan kuikuti, pasti kulayani sesuka hatimu."

Beruntun mengalami kekalahan, mana Jing-bau-khek berani melanjutkan pertempuran, tanpa hiraukan cambuk lemasnya lagi, segera ia putar badan terus ngacir sipat kuping.

Kembali gadis baju hitam melinting cambuk peraknya menjadi gelang tangan dibelitkan di lengan atasnya, katanya tertawa.

"Nona Lu, bikin kau kaget saja. Sekarang kita bisa bicara lebih leluasa."

"Terima kasih akan pertolongan Lihiap entah dari mana Lihiap bisa tahu namaku ?"

Demikian ujar Lu Giok-yau.

"Belum lagi aku mohon tanya nama besarmu ?"

"Kau kan putri tunggal Ciatkang Tay-hiap Lu Tang-wan yang termasyur itu, mana aku tidak kenal kau ?"

Lalu ia menambahkan.

"Jangan kau panggil aku Lihiap apa segala, kedengarannya menusuk kuping. Tahukah kau, orang lain memaki aku sebagai Siau-moli (iblis perempuan kecil). Aku she Nyo, usiaku mungkin rada tua sedikit, baiklah kau padaku panggil Nyo cici saja. Aku ingin tanya seseorang kepada kau.""Siapa yang hendak Nyo cici ketahui?"

Tanya Lu Giok-yau.

"San-tian-jiu Geng Tian yang datang dari Kanglam, kabarnya dia pernah mertamu kerumahmu."

"Benar, tapi itu terjadi kira-kira satu bulan yang lalu."

"Kabarnya akhirnya kau masih pernah bertemu sama dia pula."

"Memang, ucapanku toh belum selesai tadi,"

Demikian ujar Lu Giok-yau geli.

"Beberapa hari yang lalu aku pernah melihatnya lagi, cuma kali ini dia tidak tinggal dirumahku."

"Kemana dia, apa kau tahu ?"

"Dia menuju ke Ki-lian-san bersama Su-tay-kim-kong dari Ceng-liong-pang."

"Haah, jadi dia sudah bertemu dengan Su-tay-kim-kong. Apa kau baru kenal pada Su-tay-kim-kong ?"

"Yaa, disaat mereka datang pula bersama Geng toako itulah baru aku sempat berkenalan dengan mereka."

"Apa kau tahu sigolok cepat Lo Hou-wi orang ketiga dari Su-tay-kim-kong ?"

"Tentu tahu, golok cepatnya memang bagus sekali. Kau sahabatnya ?"Gadis baju hitam tidak mengakui dan tidak menyangkal, tanyanya malah .

"Adakah Lo Hou-wi pernah membicarakan mengenai seorang perempuan she Nyo dengan kau ?"

"Tidak. Dalam waktu singkat kenal lantas berpisah secara tergesa-gesa, tiada kesempatan banyak bicara lagi."

Agaknya gadis baju hitam rada kecewa katanya.

"Baiklah terpaksa aku harus cepat menyusul ke Ki-lian-san, selamat bertemu lain kesempatan."

Habis berpisah langsung ia cemplak keledainya, tenaga kaki keledainya itu ternyata tidak kalah kuat dari tenaga kuda yang tinggi kekar dalam sekejap saja, bayangannya sudah kelihatannya kecil.

Mengantar bayangan orang yang semakin jauh, terpikir Lu Giok-yau .

"Tindak tanduk Nyo cici ini amat aneh, tapi ilmu silatnya memang benar-benar hebat, mungkin Ling-toako dan Geng-toako masih sedikit dibawah tingkatannya."

Seorang diri gadis baju hitam keprak keledainya berlari kencang kedepan, hatinya malah gundah dan tidak tenteram, lapat-lapat dia mulai mengenang suatu kejadian pada delapan tahun yang lalu.

O^~dwkz^hendra~^O

Jilid 21 Waktu ia berusia tiga tahun, ayahnya meninggal, sampai ia menanjak usia tiga belas ibunyapun terserang suatu penyakit berat.

Meski usianya masih kecil, namun otaknya encer dan pandai pula, tidak kenal siang atau malam dengan tekun dan rajin ia merawat ibunya.

Suatu malam kira-kira menjelang kentongan ketiga, tiba-tiba ibunya siuman dari pingsannya, semangatnya jauh lebih baik dari biasanya.

Di luar tahunya bahwa hal itu sudah merupakan pertanda ajal ibunya semakin dekat, hatinya malah senang dan katanya .

"Bu, biar obat kuseduh lagi, menurut pesan Ong-toako racikan obat ini harus digodok berturut-turut tiga kali. Agaknya obatnya cocok dengan penyakitmu."

"Tidak, tak usah minum obat lagi. Jangan kau menyingkir aku hendak cerita kepadamu !"

Hatinya yang masih kecil diam-diam merasa heran, sungguh ia tidak paham kenapa baru saja penyakit ibunya rada baikan lantas timbul hasratnya untuk bercerita menyuruh dirinya mendengarkan.

Maka ia membujuk supaya ceritanya ditunda setelah penyakit ibunya sembuh betul-betul.

Meski pun sejak kecil sebetulnya dia suka mendengar dongeng.

Dengan tersenyum, ibunya mengelus rambutnya katanya .

"Ceng-ji, kau sudah tahu urusan. Tapi cerita yang hendak kukisahkan ini ada menyangkut keluarga kita.. Tahukah kau siapa ayahmu sebenarnya ?"Sejak ia usia tiga tahun ayahnya sudah meninggal, ia hanya tahu bahwa ayahnya seorang pendekar, kini melihat ibunya bertanya hal itu dengan mimik sungguh-sungguh, sudah tentu hati kecilnya amat ingin tahu, maka iapun tidak menghalangi maksud ibunya malah tanyanya .

"Siapa ayah sebenarnya ?"

"Ayahmu adalah seorang pahlawan penentang penjajah Kim."

Demikian ujar ibunya.

Sejak kecil ia sudah dididik secara kekeluargaan, hatinya nan kecil sudah tahu membenci bangsa Kim yang menyerbu dan menjajah negeri sendiri, mendengar sang ayah adalah seorang pahlawan menentang penjajah, hatinya menjadi girang dan berteriak, katanya .

"Bu, kenapa tidak sejak dulu kau beritahukan kepadaku, bukankah hal itu cukup membanggakan keluarga kita ?"

Ibunya tertawa lebar, ujarnya .

"Sebetulnya setelah kau berusia delapan belas tahun baru akan kuberitahukan kepada kau sekarang kuberitahukan padamu, ini sudah terlalu pagi. Maka jangan sekali-kali kau bicarakan hal ini dengan orang lain."

"Bu, anggapanmu aku bocah ingusan yang tidak tahu urusan ? Aku tahu bangsat Kim menjajah negeri kita, kalau kukatakan ayah sebagai pahlawan penentang mereka, tentu aku bisa ditangkap dan celakalah aku,"

Demikian jawabnya."Bagus kau tahu diri, sungguh membuat aku senang. Sekarang hendak kuberitahu siapakah Sucoumu itu ?"

Sekilas ia melengak, lalu tanyanya.

"Bukankah ilmu silat kami ajaran leluhur ? Pernah kudengar kau berkata bahwa ayah adalah ahli waris tunggal dari Ngo-ho-toan-bun-to jadi Sucou adalah kakek bukan ?"

"Benar, ajaran golok itu adalah warisan leluhur. Tapi ayahmu punya seorang guru lainnya, kepandaian silat yang dipelajari dari gurunya lebih hebat dari ajaran leluhurnya sendiri, sayang usiamu masih kecil, aku hanya bisa mengajarmu satu babak ilmu golok itu, kepandaian lain yang diyakinkan ayahmu, aku paham hanya separonya, sekarang tidak sempat kuajarkan kepadamu pula."

"Siapakah Sucou itu, beliaupun seorang penentang penjajahan Kim?"

"Betul, tigapuluh tahun yang lalu Su-couwmu itu guru silat kenamaan di Siok-ciu yang bernama Cin Tiong. Beliau wafat ditangan jago penjajah. Kisah yang hendak kututurkan kepadamu adalah cerita mengenai keluarga Sucouwmu itu."

"Bu, mari minum dulu secangkir teh panas ini."

Setelah minum teh panas ibunya melanjutkan kisahnya .

"Sucoumu Cin Tiong membuka Bu-koan (perguruan silat) dikampung halamannya, dia sudah menerima sepuluh murid didikan. Tapi yang betul-betul mendapat ajaran aslinya hanya dua orang saja. Salah satu adalah muridnya terbesar bernama Le Keh-cun, seorang yang lain adalah ayahmu yaitu Nyo Yan-sing."

"Apakah Sucou tidak mempunyai putra atau putri ?"

"Hanya punya seorang putri, bernama Cin Liong-giok. Sudah tentu kepandaian silat Sukomu ini jauh lebih tinggi, dia adalah lihiap yang pernah menggetarkan selatan dan utara sungai besar pada duapuluh tahun yang lalu. Sekarang sebagai isteri seorang panglima perang."

"O, sekarang jadi nyonya penggede ?"

"Suaminya adalah panglima perang kerajaan Song, bukan penjabat tinggi dari pihak penjajah. Kepandaiannya jauh lebih tinggi dari isterinya, merupakan seorang tokoh panglima perang melawan penjajah yang paling tenar. Beliaupun seorang tokoh kosen yang sangat disegani oleh kaum persilatan, dia yang diagungkan sebagi Kang-lam Tayhiap Geng Cian."

"Dia adalah keponakan Sucoumu, setelah mengalami berbagai kesukaran dan derita barulah kedua saudara misan itu berhasil mengikat perjodohan, sayang aku tiada tempo mengisahkan cerita mereka yang tersendiri. Hanya secara ringkas aku bisa memberitahu kau. Dua puluh tahun yang lalu dialah yang memimpin sepasukan tentara yangdinamakan pasukan harimau terbang berhasil memukul mundur dan melabrak pasukan negeri Kim kocar-kacir akhirnya menjadi panglima tertinggi digaris depan yang melawan serbuan pasukan penjajah. Merupakan pasukan yang paling kuat dan pandai berperang dari kerajaan Song." (Kisah Geng Cian bacalah Pendekar latah). Begitu pesona dia mendengar kisah keperwiraan dari Kanglam Tayhiap ini, maka ia mengajukan pertanyaan.

"Bu, kau sengaja mengisahkan keluarga Sucou adakah mereka hubungan dengan kami?"

Tersulam senyum manis pada wajah ibunya, katanya sambil menggenggam tangan.

"Benar kau memang pintar, sekali tebak lantas kena. Sekarang aku lanjutkan pada ceritaku yang kedua cerita ini bukan saja ada hubungan dengan keluarga kita terutama ada sangkut pautnya dengan kau."

"Aduh cerita apa itu. Kenapa ada sangkut pautnya dengan aku?"

"Itulah kisah yang menyangkut Geng Ciau suami istri, ayahmu pernah menjadi bawahan atau pembantunya yang paling dekat, sebentrok pertama dengan pasukan musuh dia orang terluka, maka tidak ikut menyerang keselatan mengikut pasukan besar, kini pasukan harimau terbang itu diselatan sungai."

"Tatkala itu tentu aku belum lahir bukan?""Sudah tentu belum lahir. Malah itu waktu ayahmu belum lagi menikah denganku."

"Lalu kenapa dikatakan cerita mereka ada hubungannya erat dengan aku?"

Ibunya tersenyum geli ujarnya.

"Kau dengar saja kelanjutan cerita ini, nanti kau tentu akan paham sendiri."

"Geng hujin adalah saudara seperguruan dengan ayahmu, sejak lama memang sudah berkenalan pula dengan aku, pernah suatu ketika menetap dirumah kita."

"Bukankah tadi kau katakan bahwa Geng Tayhiap sudah menyeberang keselatan?"

"Akhirnya dia pernah menyelundup pulang sekali. Waktu itulah ia menikah dengan Piaumoaynya. Karena waktu itu masih belum aman, peperangan saling terjadi, isteri-nya sudah keburu bunting sedang ia harus buru-buru pulang keselatan menunaikan tugas penting, terpaksa dia meninggalkan isterinya dirumah kami, akhirnya dia melahirkan seorang putra, dinamakan Geng Tian. Cengji kau harus selalu mengingat nama ini namanya adalah Geng Tian, tian yang berarti kilat."

"Geng Tian,"

Dia mengulangi nama ini lalu katanya pula tertawa.

"Nama yang begini gampang memangnya kau takut aku bakal melupakannya? Syair ajaranmu toh ratusan bait yang berhasil kuhapaIkan.Tapi kenapa pula kau haruskan mengingat ingat nama ini?"

"Bocah itu berusia empat tahun lebih tua dari kau, kini kira-kira sudah tujuh belas. Kabarnya tahun yang lalu sudah berhasil kembali kesamping ayah ibunya. Ai entah bisakah kelak dia kembali untuk bertemu dengan kau?'' kata ibunya tidak langsung menjawab pertanyaannya, malah mendadak menarik napas rawan.

"BiIa bertemu atau tidak kenapa harus dirisaukan. Asal aku tahu ada orang yang seperti kau katakan sudah cukup!"

"Tidak, kau harus bisa menemukan dia."

"Kenapa?"

Walau pintar betapapun dia masih seorang gadis kecil, baru ia tiga belasan masih belum bisa menangkap arti kata kata ibunya, relung hatinya yang kecil itu penuh diliputi kecurigaan.

"Dengarlah penjelasanku. Tanpa terasa Geng Hujin dan putranya tiga tahun menetap dirumah kami. Dalam tiga tahun itu kebetulan aku sedang bunting kau, entah bagaimana pihak musuh berhasil menyelidiki tempat tinggal kami, suatu malam datanglah tujuh delapan orang penjahat dari musuh, mereka adalah rata rata jago-jago lihay yang kuat, suatu pertempuran sengit tak dapat dihindari lagi, untunglah Geng Tian tidak sampai terebut oleh musuh namun ayahmu terluka parah, aku sendiripun sedikit terluka. Karena luka-luka beratnya itulah yang tidakbisa disembuhkan lagi, tidak lama setelah kau dilahirkan beliau lantas wafat. Selanjutnya badanku semakin lemah dan sering kejangkitan penyakit mungkin pula karena luka luka waktu itu penyebabnya."

"O, jadi begitu, bu, apakah kau rada membenci bocah itu? kalau bukan karena dia kukira ayah tidak akan selekas itu meninggal dunia."

"Anak bodoh mana bisa aku menyalahkan bocah itu? ayahnya berjuang demi nusa dan bangsa, meninggalkan istri dan anaknya bahwa kami bisa sedikit membantu kesulitan mereka seumpama pada waktu itu ayah dan ibumu sampai ajal di medan laga juga setimpal kularang kau mengucapkan kata-kata seperti itu lagi."

"Bu, akupun berpikir demikian. Sedikit pun aku tak pernah membenci dia, aku cuma bertanya sambil lalu saja."

"Baik kau bisa berpikir sehaluan seperti ibumu, sungguh aku girang,"

Ibunya minta minum teh secangkir lagi, lalu melanjutkan ceritanya.

"Geng Hujin harus pulang ke Kanglam untuk membantu perjuangan suaminya, tidak bisa dia menempuh bahaya ini sambil membawa anaknya. Jejak kami sudah konangan lagi, kalau anaknya ditinggalkan di rumah kami juga kurang aman. Akhirnya Geng Hujin teringat akan seorang familinya yang miskin dan sedikitpun tidak pandai main silat putranya itumemang cepat dan baik kabarnya sampai tahun yang lalu, bocah itu masih menetap bersama guru sekolah kampungan itu, untung jejaknya tidak sampai konangan musuh. Tapi sejak dia umur tiga tahun dan berpisah sampai sekarang aku tidak pernah berjumpa lagi. Nah usianya lebih besar empat tahun dari kau, mungkin sekarang dia sudah dewasa, menjadi seorang pemuda yang gagah dan kekar. Mungkin meski dia berada didepanku tidak akan mengenalnya lagi."

"Bu, kau amat kangen kepadanya?"

"Sudah tentu, apalagi demi kau, masih aku tidak merisaukannya?"

"Kenapa? Waktu dia pergi, kan aku belum lagi lahir."

Teka teki ini akhirnya terjawab juga, kata ibunya lebih lanjut dengan kalem.

"Sebab di waktu kau masih dalam kandunganku, aku sudah menjodohkan kau kepadanya."

Gadis kecil berusia tiga belas tahun meski belum mekar dan akil balik tapi toh tahu rasa malu juga.

Cepat ia menunduk dengan muka merah jengah, sementara hatinya diam diam bersorak senang.

Ayahnya adalah Panglima perang melawan penjajah yang amat termasyur agaknya diapun seorang gagah yang berwibawa.

Ibunya tersenyum pula katanya pula.

"Kau mendapat seorang suami baik, ibu boleh merasatenteram dan syukur. Cuma mungkin bocah itu sendiri masih belum tahu bahwa dia sudah punya calon seorang istri."

"Mungkin kau ingin mengetahui duduk persoalannya?"

Demikian ibunya menambahkan;

"Beginilah kejadiannya. Setelah berhasil memukul mundur Geng Hujin tahu bahwa aku sedang mengandung, maka lantas bicara dengan aku.

"Tidak lama lagi aku harus pulang keselatan ada sebuah keinginanku yang perlu kubicarakan dengan kau."

"Sudah tentu, sekaligus aku melulusi bantu melaksanakan keinginan hatinya itu. Maka dia berkata lebih lanjut.

"Hubungan kita sebagai saudara sekandung, kami ibu beranak pun menerima budi pertolonganmu, semoga hubungan kekeluargaan kami bisa terikat lebih akrab dan dekat."

Kukatakan anak dalam kandunganku belum lagi diketahui laki laki atau perempuan. Dia berkata.

"Kalau laki-laki biar mereka terikat sebagai saudara angkat, kalau perempuan biarlah kelak mereka menjadi suami istri."

Begitulah akhirnya kami menentukan hari depanmu."

"Waktu itu aku sudah berjanji padanya, setelah anakku lahir, aku akan berdaya mencari orang untuk mencari kabar kepadanya. Tak disangka setelah kau lahir tidak lama kemudian penyakit ayahmu kambuh, selalu rebah diatas pembaringan, kemana pula aku harus mencari seseorang yang dapat dipercaya untuk mengerjakan janjiku itu ? Waktu kau berusia tigatahun ayahmu meninggal, disusul peperangan antara Mongol dengan negeri Kim disusul negeri Kim berperang pula dengan kerajaan Song. Untuk menghindari kejaran para cakar alap-alap, terpaksa kita sembunyi diatas gunung, situasi lebih tidak memungkinkan kami mencari hubungan dengan mereka."

"Tiga bulan yang lalu aku pernah turun gunung membeli beras kebetulan bertemu dengan seorang murid Kaypang kuketahui Li-supekmu berada di Kim-ki-nio, setelah aku mangkat boleh kau pergi ke Kim-ki-nio mohon perlindungan supekmu, setelah kau dewasa baru pergi ke Kanglam untuk mencari Geng Cian."

"Bu, kau sendiri hendak kemana ?"

"Anak bodoh, kemana ibu bisa pergi, sudah tentu pulang kealam baka. Nak, kau harus menjaga dirimu baik-baik, jangan kau terlalu bersedih, setiap manusia pasti akan mati, mana ibu bisa menemanimu seumur hidupmu ? Semoga kau bisa selekasnya bertemu dengan Geng Tian, setelah masa depanmu mendapat saudara, barulah ibu merasa lega."

Ternyata setelah ibunya menjelaskan hal ikhwal itu semua malam itu juga lantas meninggal dunia, sesuai pesan ibunya meski usianya masih kecil, dia menggantikan pakaian laki-laki menyamar sebagai bocah minta-minta, sepanjang jalan menahan lapar dan kedinginan, kalau terpaksa menjadi pencuri, kalautiada yang bisa dicuri terpaksa menjadi pengemis.

Begitulah selama setengah tahun dia mengalami kehidupan minta-minta, baru akhirnya sampai di kim-ki-nio, dan bertemu dengan Supeknya Li Keh-cun.

Cecu dari Kim-ki nio adalah lihiap Liu Jing-yau yang digelari Hong-lay-mo-li oleh kaum persilatan, namanya amat tenar dan disegani kaum persilatan.

Li Keh-cun adalah salah satu Thaubak dibawah pimpinannya.

Hong-lay-mo-li amat menyukai perempuan kecil itu tapi karena nona cilik tidak elok dipandang orang berada didalam markas, maka dia serahkan kepada seorang teman baik suaminya yaitu Sau-go-kan-kun Hoa Kok-han yang bergelar Bu-lim-thian-kiau untuk dijadikan murid, supaya Tan Ih-tiong suami istri menerimanya sebagai anak angkat.

Julukan Tan Ih-tiong adalah Bu-lim-thian-kiau (Bandit budiman dunia persilatan), terhadap ilmu silat tiada yang tidak dipahaminya setelah usianya menanjak dewasa sering pula jalan-jalan ke Kim-ki-nio dimana sering berkumpul orang-orang gagah dari berbagai penjuru, maka walaupun usianya masih muda namun dia sudah paham menggunakan delapan belas macam senjata.

Kenangan lamanya mendadak tergugah oleh derap kaki kuda yang berlari kencang, ternyata dua orang serdadu membedal kuda tunggangannya sambil dilecuti berulang-ulang, dia baru turun gunung dan belum tiba dijalan raya, agaknya kedua orang itu adamembawa tugas penting untuk mengantar berita maka tiada kesempatan mereka untuk memperdulikan dirinya.

Gadis baju hitam melarikan keledainya seenaknya dijalan raya, kembali ia terbayang waktu gurunya menyuruh dirinya turun gunung.

Hari itu gurunya bertanya .

"Dikalangan Bulim terdapat Ceng-liong-pang, apakah bibi Liumu pernah membicarakan dengan kau ?"

"Tahun yang lalu waktu aku berada di Kim ki-nio, pernah mendengar beliau menyinggung soal Ceng-liong-pang ini."

"Pangcu dari Ceng-liong-pang Liong Jiang-poh adalah teman baikku, dia punya empat pembantu yang paling diandalkan, dinamakan Su-tay-kim-kong. Diantaranya terdapat orang yang bernama Lo Hou-wi, orang ketiga dari Su-tay-kim-kong, usianya mungkin lebih tua beberapa tahun darimu, aku pernah berhutang budi terhadap ayahnya."

Sungguh ia tidak mengerti kenapa gurunya sengaja menyinggung orang ini, maka sambil lalu ia bertanya.

"Oh, begitu ? Lalu suhu sudah membalas kebaikan budinya itu ?"

Bu-lim-thian-kiu tertawa getir, lalu katanya .

"Ayahnya sudah meninggal, budi kebaikannya itu terpaksa harus dibayarkan kepada putranya. Ceng-ji, selama delapan tahun kau belajar silat kepadaku,bekal permainan Suhu sudah kuturunkan seluruhnya kepada kau, sejak hari ini kau boleh berkelana sendiri di kangouw, setelah kau turun gunung, boleh kau yang membayarkan hutang budiku itu kepadanya."

Mendengar uraian gurunya dia jadi melengak, hatinya menjadi bingung dan hampa tanyanya .

"Suhu, cara bagaimana aku harus membayar hutang budimu itu ?"

"Ngo-hou-toan-bun-to-hoat yang pernah kuajarkan kepada kau dulu, apakah kau masih ingat ?"

"Tentu masih ingat !"

"Coba kau mainkan biar Suhu menilainya."

Setelah dia mainkan selintas permainan Ngo-hou-toan Bun-to hoat itu, Bu-lim thian-kiau tersenyum lebar sambil mengelus jenggotnya katanya .

"Kecuali dua tiga gerak perubahan yang belum kau latih dengan sempurna, permainanmu sudah cukup baik. Nah ajarkanlah Ngohou-toan Bun-to-hoat ini kepada orang ketiga dari Su-tay-kim-kong yang bernama Lo Hou-wi itu."

"Apa ?"

Gadis baju hitam menjerit geli dan terkikih-kikih katanya .

"Aku sendiri toh belum tamat belajar sama kau, mana bisa menerima murid ?"

"Dengarkan penjelasanku,"

Demikian ujar Bu-lim-thian-kiau.

"Ayah Lo Hou-wi adalah murid seorang guru silat dari Ciang ciu yang dikenal sebagai Tobusu. Ngo hou-toan bun to itu sebetulnya adalah ilmu golokdari warisan leluhur keluarga Toh itu, sayang sudah lama sekali putus turunan. Toh Busu tidak memperoleh ajaran murni dari ilmu golok leluhurnya yang hilang itu, selama hidup ia amat menyesal dan merasa diri dia tidak punya anak, hanya seorang murid she Lo itu, sebelum ajal ia ada berpesan kepada muridnya supaya mewarisi cita citanya melanjutkan pencariannya terhadap ajaran golok peninggalan leluhur yang hilang itu."

Baru sekarang ia paham seluruhnya, katanya.

"Kukira ayah Lo Hou wi juga tidak berhasil menemukan ajaran ilmu golok yang sudah putus turunan itu bukan?"

Bulim thian kiau manggut manggut katanya.

"Kau memang pintar tebakanmu tidak salah, ajaran ilmu golok itu setelah ia meninggal secara tak sengaja aku dapat menemukannya didalam koleksi buku buku rahasia pelajaran silat seorang Cianpwe. Maka kuminta kau mengajarkan ilmu golok itu kepada putranya. Letak rumah keluarga Lo berada disebuah kampung di Siok cio."

Setelah Bulim thian kiau menjelaskan alamat Lo Hou wi kepada putrinya ia berkata lebih lanjut.

"Menurut apa yang kuketahui didalam Ceng liong pang tenaga Lo Hou wi amat dihargai merupakan pembantu yang amat dipercaya. Kabarnya sekarang dia mendapat tugas keluar mungkin sedang berada di Tay toh. Tay toh tidak jauh dari Siok ciu setelahtugasnya selesai di Tay toh mungkin dia akan mampir pulang ke kampung halamannya. Inilah kesempatan paling baik bagi kau untuk menurunkan ilmu golok itu disana. Seperti kau sejak kecil Lo Hou-wi pun sejak kecil sudah ditinggal mati ayahnya punya seorang guru lain. Bahwa pelajaran ilmu golok keluarga Toh yang putus turunan itu bisa dia memainkan dengan baik kalau diketahui orang kemungkinan sekali mereka dapat menimbulkan keributan. Maka kau harus wakili aku berpesan wanti wanti kepadanya supaya jangan sembarangan dipertontonkan dihadapan sembarang orang. Kelak kalau saatnya sudah tiba akan kupersiapkan suatu pertemuan besar mengundang para Ciangbun dari berbagai golongan menjelaskan duduknya perkara, tatkala itu barulah diangkat secara resmi supaya ia menjadi Ciangbun dari aliran Ngo hou to sudah tentu kaupun harus menganjurkan ilmu golok ini secara rahasia kepadanya. Sesuai menurut pesan gurunya memang di rumah keluarga Lo di Siok ciu itu ia menemukan Lo Hou wi, itulah kejadian satu tahun yang lalu, teringat akan pengalamannya yang dulu itu sampai sekarang ia masih tertawa geli. Semula Lo Hou wi tidak mau percaya akan omongannya malah anggap orang sengaja hendak mempermainkan dirinya. Setelah dia menggunakan Ngo hou toan bun to mengalahkannya barulah dia terima kalah lahir bathin malah begitu tinggi rasahormatnya sehingga ia hendak berlutut angkat guru kepadanya. Dikatakan orang sudah melaksanakan cita cita ayahnya meski hanya wakil mengajarkan ilmu golok itu kepadanya tapi boleh dianggap sebagai guru juga. Sudah tentu tidak mau menerima setelah mengeringkan lidahnya barulah ia berhasil membujuk dan mengikat persahabatan sebagai teman setingkatan. Teringat kepadanya Lo Hou wi seketika terkulum senyum geli pada wajah gadis baju hitam pikirnya.

"Benar benar seorang pemuda yang polos jujur dan lugu, kabarnya diapun pandai melaksanakan tugasnya. Ha, menggelikan benar kalau dia menjadi muridku, memang sebetulnya aku mengharap punya seorang abang besar seperti dia itu. Usianya lebih tua empat tahun, hem, kebetulan sebaya dengan Geng Tian."

Teringat akan Geng Tian, gadis baju hitam itu merasa rikuh dan sungkan tapi rikuh dan sungkan terhadap Lo Hou wi.

Ternyata mewakili gurunya gadis baju hitam mengajarkan ilmu golok kepada Lo Hou wi dan menetap dirumahnya selama setengah bulan, selama itu mereka selalu gaul bersama, sejak mula Lo Hou wi menghormatinya, patuh akan segala petunjuknya belum pernah terjadi suatu perbuatan yang tidak senonoh namun gadis baju hitam itu sendiri merasakan bahwa diam diam Lo Hou wi telah menaruh hati kepadanya.

Perasaan yang aneh ini tidak usah diucapkan dengan kata kata.

Setiap lirikan dan senyuman, sebuah kata kata yang diucapkan tanpasengaja dapatlah menggetarkan sanubari seorang gadis yang tajam perasaannya.

"Mungkin Geng Tian belum tahu bahwa didunia ini terhadap seorang Nyo Wan ceng macam aku ini. Tapi ikatan jodoh dengan menunding perut entah sudah dia ketahui belum? Cara bagaimana aku harus membuka mulut bicara dengannya?"

Terpikir pula oleh Nyo Wan ceng.

"Setelah Lo Hou wi bertemu dengan dia entah menyinggung tentang diriku tidak? Meski dia pernah dipesan supaya tidak membocorkan soal pelajaran ilmu goloknya itu tapi hubungan Geng Tian dengan mereka bukanlah sembarang hubungan, dia adalah majikan muda mereka. Sayang sebelum ini aku belum tahu akan asal usul Liong-pangcu dari Ceng liong pang, kalau tidak perlu aku menghadapi Geng Tian sendiri dengan sikap yang kikuk dan malu malu."

Sepanjang jalan pikirannya timbul tenggelam tanpa terasa ia sudah menempuh puluhan li jauhnya. Tiba-tiba didengarnya dentingan beradunya senjata dari arah depan sana.

"eh siapakah yang bertempur disiang hari bolong ?"

Karena ingin tahu segera ia keprak tunggangannya menyusul kedepan untuk melihat dari dekat.

Setelah dekat dilihatnya dua orang perwira sedang mengerubuti laki-laki pertengahan umur yang memelihara jenggot kambing.

Kedua perwira itu adalah dua orang militer yang melarikantunggangannya seperti mengejar angin waktu tadi ia turun gunung.

Seorang menggunakan Hou thau hou (gaitan kepala harimau) seorang lain bersenjatakan golok panjang yang melengkung, ilmu silat mereka agaknya tidak lemah.

Nyo Wan ceng amat kaget teriaknya .

"Paman Toh."

Melihat kedatangannya sungguh laki laki pertengahan umur itu amat girang, iapun berteriak.

"Nona Nyo, sungguh kebetulan kedatanganmu itu."

Sebelum ucapan orang itu selesai diucapkan Nyo Wan ceng sudah melayang turun dari punggung tunggangannya dan memburu datang, teriaknya pula .

"Baik Toh sioksiok, kau mundurlah istirahat, biar kuwakili mengajar adat kedua cakar alap alap ini."

Ternyata laki laki berjenggot kambing ini bukan lain adalah seorang Toa thau-bak dari Kim ki-nio yang bernama To Hok, waktu itu badannya sudah terluka ditiga tempat, sebentar lagi terang tidak akan kuat bertahan.

Melihat gadis remaja nan ayu itu bagai bidadari dan mendatangi perwira yang bergaman golok melengkung itu tidak tega turun tangan bentaknya.

"Apa kau cari mampus ? Lekas menyingkir saja."

Bicara lambat kejadian justru berlangsung amat cepatnya tahu-tahu Nyo Wan ceng sudah menyerbu tiba dengan menyilangkan kedua tangannya, diamelancarkan Khong-jiu ji-pek-to (bertangan kosong merebut senjata lawan).

Adalah perwira yang menggunakan gantolan kepala harimau itu segera berteriak kejut.

"Awas ! Dia Siau-moli !"

Belum lenyap suaranya, terdengarlah.

"Trang"

Golok si perwira itu dengan membacok kearah lengannya Nyo Wan-ceng. Si perwira menyangka dengan bacokan yang telak itu, lengan Nyo Wan-ceng terang tertabas putus, baru saja hatinya mengeluh .

"Sayang !! Kasihan!"

Tak nyana mendadak ia mendengar suara "Traang"

Pula, karuan dia kaget dibuatnya.

Ternyata bacokannya ia sedikitpun tidak melukai kulit lengan Nyo Wan ceng, goloknya tepat sekali mengenai gelang perak yang melingkar dilengannya itu, meninjau tenaga bacokan lawan yang keras kuat ini, Nyo Wan-ceng mencelat mundur satu tombak, gelang perak itu sudah ditariknya memanjang menjadi seutas cambuk lembut, disaat hati perwira itu belum lagi tenang, ujung cambuk peraknya itu sudah berhasil menggubat golok melengkung lawan.

Ternyata melihat kepandaian silat kedua perwira ini tidak lemah, maka ia berkeputusan untuk bertindak cepat secara kilat mengakhiri pertempuran, apalagi dilihatnya Toh Hok sudah terluka maka ia menggunakan permainannya yang aneh untuk mengalahkan kedua musuhnya.Perwira yang bersenjatakan Hou-thau-kau segera menubruk datang berusaha menolong temannya, Nyo Wan-ceng tertawa serunya .

"Nih, kuberikan kepada kau !"

Cambuk peraknya terayun, golok melengkung yang digubatnya melayang dan kebetulan ujung cambuk menggubat gagang golok sehingga tajam golok yang berkilauan itu memapak kearah leher lawan.

Kapan si perwira pernah melihat permainan yang aneh dan menakjubkan ini saking kaget ia menjadi gugup dan tersipu-sipu, tapi kepandaian silatnya yang cukup baik dalam keadaan gugupnya itu, lekas ia gunakan Ki hwe-liau-thian (mengacungkan obor menerangi langit) dimana ujung kepala harimaunya yang merupakan gantolan itu mengait dan ditarik, tepat sekali mengait ujung golok melengkung, serta menariknya kebawah, tapi cambuk perak Nyo Wan-ceng yang lemas itu dapat bergerak segesit belut dan setangkas ular sakti, kalau golok itu kena digaet jatuh, ujung cambuk itu tiba-tiba mulur kedepan dan berhasil menggubat lehernya.

"Li enghiong am .... ampun !"

Belum lagi kata-kata 'ampunnya' sempat diucapkan napasnya sudah berhenti dan putuslah jiwanya.

"Tinggalkan jiwanya!"

Seru Toh Hok mencegah.

"Ai ... sayang."

"Kan masih ada seorang yang masih hidup, paman Tok Hok tidak usah kuatir."Adalah perwira yang bergaman golok melengkung ini adalah ternyata seorang yang tabah dan keras kepala, tahu bahwa bukan tandingan Nyo Wan-ceng, ia jemput golok melengkungnya itu terus digorokkan keleher sendiri. Sudah tentu nona Nyo tidak membiarkan orang bunuh diri. 'Tar' begitu cambuknya terayun berhasil ia menggulung jatuh golok melengkung itu, sekali ia menggentak lagi, cambuknya berhasil menutuk Hiat-tonya, katanya .

"Aku hanya suka membunuh orang yang takut mati, kau tidak seperti temanmu takut mati, aku jadi tidak tega membunuhmu malah !"

"Nona Nyo,"

Ujar Toh Hok tertawa.

"Baru satu tahun berpisah kepandaianmu lebih maju lagi. Apa gurumu baik-baik ?"

"Baik paman Toh, bagaimana luka-lukamu, mari biar kububuhi obat."

"Luka seringan ini tidak menjadi soal, terlambat sedikit dibubuhi obat tidak menjadi halangan,"

Demikian kata Toh Hok, lalu ia jinjing perwira yang tertutuk Hiat-tonya kedalam hutan, segera ia mengompres keterangannya .

"Kau diutus oleh Wanyen Tiang-ci bukan? Kemana ? Untuk tugas apa ? Bicaralah terus terang !"

Perwira itu hanya tertutuk Hiat tonya, sebetulnya masih bisa bicara tapi ia tutup mulut tidak mau bersuara.Toh Hok sudah menggeledah seluruh badannya yang mati, namun tidak menemukan apa-apa, lalu iapun menggeledah seluruh badan perwira yang masih hidup ini, hasilnyapun nihil.

Akhirnya Toh Hok hilang sabar dan membentak .

"Masa kepalamu lebih keras dari golok baja ini ! Katakan tidak ?"

"wuutt"

Golok terayun terus membacok batok kepalanya.

"Trang"

Lekas Nyo Wan-ceng menjemput golok melengkung orang untuk menangkis golok baja Toh Hok, katanya .

"Orang ini adalah seorang gagah, seorang Enghiong, lepaskan saja dia pergi !"

Sebetulnya bacokan Toh Hok itu hanya gertakan saja, tadi ia berpura-pura mengukuhi pendapatnya, katanya;

"Keponakan yang baik, kau tidak tahu orang ini membawa surat penting, hari ini kebentur di tangan kami masakah harus melepas pergi begitu saja ?"

"Lebih baik tidak mendapatkan surat penting itu, orang gagah macam kaya dia, harus kita hargai."

"Yah, apa boleh buat kupandang mukamu biar kulepas bangsat ini tapi kudaku terpanah mati oleh mereka, maka kuda tunggangan itu harus kutahan."

Segera Nyo Wan ceng membuka tutukan Hiat-to orang itu, katanya;

"Tiada urusanmu lagi pergilah !"Agaknya orang itu tak menduga bahwa jiwanya akan selamat tak kurang suatu apa terutama Nyo Wan ceng menyuruh pergi, dia malah ogah pergi. Berkata To Hok tawar.

"Keponakanku kau melepasnya pulang mungkin sesampainya di Tay-toh, Wanyen Tiang ci pun tidak akan mengampuni jiwanya."

"Soal itu tidak perlu kita risaukan, dia mau tidak pulang ke Tay toh adalah urusannya. Memangnya Bulim thian kiau Tan pwecu juga sudi tinggal di Tay toh?"

Lalu ia berpaling kepada siperwira, katanya.

"kau seorang pintar, semoga kau paham akan maksudku."

Perwira itu melenggong sebentar, mendadak berkata.

"Nona Nyo, apakah gurumu Bulim thian kiau Tan ih-tiong?"

"Benar, guruku memang adalah Tam-pwecu kalian."

Siperwira kertak gigi, katanya nekad.

"Nona, kau menghormati aku satu kaki, kubalas satu tombak; gurumu adalah tokoh yang selalu kukagumi pula, mengandal kata-katamu tadi, surat penting dan rahasia itu biarlah kuserahkan kepadamu. Silakan kau bongkar pelana itu, surat penting itu kusembunyikan disana."

Habis berkata terus putar tubuhnya tinggal pergi.Ternyata siperwira amat heran akan penghargaan Nyo Wan ceng terhadap dirinya.

Seperti pula kata kata Toh Hok, dengan kehilangan teman dan surat penting itu pastilah Wanyen Tiang ci akan menjatuhkan hukuman sesuai dengan undang undang militer.

Bahwa Toh Hok hendak menahan tunggangannya, rahasia pada pelana itu cepat atau lambat konangan, lebih baik ia merelakan saja dengan memperlihatkan kebesaran jiwanya kepada Nyo Wan ceng sebagai imbalan.

Ditambah sebab keempat, ia tahu guru Nyo Wan-ceng adalah Pwecu (pangeran) negeri Kim, dan dia sendiri masih punya ikatan famili sebagai angkatan muda dari Tan pwecu ini.

"Keponakanku memang kau amat pintar !"

Demikian puji Toh Hok tertawa.

"kepandaian kedua perwira ini cukup tinggi, Wanyen Tiang ci mengutus mereka mengirim surat urusan pasti menyangkut persoalan besar dan penting."

Segera ia bekerja memecah pelana itu dan benar juga didalamnya itu mendapatkan segulung kertas, setelah membacanya tiba tiba Toh Hok berseru kaget dan heran.

"Paman, apa yang tertulis dalam surat itu ?"

"Kurasa rencana untuk menghadapi Kim-ki nio kita, ternyata bukan, mereka hendak menghadapi Ceng-liong-pang."

Nyo Wan ceng terkejut tanyanya.

"Cara bagaimana mereka hendak menghadapi Ceng-liong-pang?""Lihat, surat rahasia Wanyen Tiangci yang ditujukan kepada Li In siu penguasa kota Liangciu dianjurkan supaya menyiapkan pasukan dan bergerak secara rahasia pada waktu Tiong-chiu bergabung dengan para jagoan yang bakal didatangkan dari Taytoh, bersama menyergap markas besar Ceng liong-pang di Kim lian san."

"Kalau begitu kita harus segera menyampaikan kabar ini ke Ceng liong pang."

"Itu sudah tentu, tapi dalam wilayah dekat sini tiada orang orang dari Kim ki nio kita!"

Ternyata luka luka Toh Hok walaupun tidak berat, tapi juga tidak ringan, untuk menempuh perjalanan yang begitu jauh menuju ke Kim lian san, jelas kondisi badannya tidak mengijinkan.

"Paman Toh, kenapa kau berkata demikian memangnya aku bukan orang sendiri? Meski aku tidak menjadi anggota secara resmi, tapi hubunganku dengan bibi Liu dan para paman yang lain seperti keluarga sendiri bukan? Apakah kau tidak bisa anggap aku sebagai orang sendiri dari kerabat Kim ki nio?"

Memangnya Tok Hok hendak memancing kata katanya ini, ujarnya sambil tertawa.

"Baik akupun tidak perlu sungkan2 lagi kepadamu, biarlah menyulitkan kau sekali ini."

Lalu dia serahkan gulungan surat itu kepadanya.Baru saja Nyo Wan ceng hendak berangkat, mendadak Toh Hok teringat suatu urusan, serunya.

"Tunggu dulu!"

"Paman Toh masih ada pesan apa?"

"Tahukah kau orang macam apa Li Ih siu penguasa kota Liang-ciu itu ?"

"Tidak tahu!"

"Asalnya dia adik raja dari negeri Sehe, setelah Sehe dicaplok oleh negeri Kim, sebagian tanah wilayah kerajaan Sehe dibelah menjadi keresidenan, dikembalikan nama aslinya sebagai Liang-ciu seperti dulu. Raja Sehe sudah dihukum mati, raja Kim lalu angkat adik raja dari Sehe Li Ih siu sebagai penguasa keresidenan Liang ciu."

"Jadi apakah Li Ih siu ini pura pura menyerah kepada negeri Kim, sebetulnya sedang memikul tugas berat dan secara sembunyi untuk bangkit dan berontak memulihkan kerajaan Sehe lama?"

"Kukira tidak demikian, karena tindak tanduknya tidak pernah menunjukkan gejala macam itu. Dia sudah begitu tunduk dan patuh kepada Wanyen Tiang ci, maka Wanyen Tiang-ci amat mempercayainya. Barulah dia dapat menjabat penguasa tertinggi di Liang-ciu, karena secara diam diam Wanyen Tiang-cilah menjadi tulang punggungnya."

"Memangnya kenapa sekarang paman menyinggung dia?""Lain bapak lain anak, putranya itu berhaluan lain dengan bapaknya yang terima diperbudak itu."

"Secara rahasia dia ada mengikat hubungan dengan Yalu Hoan-ih diluar tahu ayahnya. Yalu Hoan ih adalah putra komandan pasukan Gi-lim-kun negeri Sehe dulu setelah negerinya runtuh, ia menduduki gunung mendirikan pangkalan sebagai raja. Dengan Kim-ki nio kita diapun sering berhubungan."

"Kiranya begitu, lalu maksud paman Toh ?"

"Marilah kita menggunakan cara sekali gempur dua sasaran."

"Apa maksudmu dengan sekali gempur dua sasaran?"

"Sepihak kita bersiap-siap melawan serbuan musuh, dipihak lain kita memperalat dan mengadu domba sesama musuh. Tapi cukup asal kaujelaskan kepada Liong pangcu bahwa Li Ih-siu dan putranya berlainan haluan. Liong-pangcu sebagai seorang yang berambek besar dan berotak cerdas, sudah tentu ia akan tahu sendiri coba bagaimana ia harus bertindak. Tidak perlu kita memberikan saran dan usul kepadanya."

Setelah mereka berpisah, Nyo wan ceng menyimpan gulungan surat itu terus menempuh perjalanan, hatinya disamping girang ia-pun merasa risau dan kebat kebit.

Baca Juga: Si Tangan Sakti 1

Baca Juga: Jodoh Rajawali 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert