Eps 6 Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat - Gan Kh
Baca online Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat - Gan Kh
Cersil Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat - Gan Kh.
Tapi ada beberapa puluh centing Lou Jin cin yang biasanya terdidik ilmu silat segera merubung maju mengepung diluar gelanggang pertempuran.
Lu Tang-wan menghardik keras.
"Wut"
Sekaligus ia memberondong tujuh kali pukulan berantai, setombak membundar sekitar gelanggang merasa dada sakit dan sesak napas.
Keruan Lou Jin cin dan isterinya termasuk keempat dayangnya merasa pernapasannyamenjadi berat, tanpa merasa mereka sama terhuyung mundur.
Dergan kekuatan pukulan Bian ciang yang sudah terlatih sempurna itu Lu Tang wan meIabrak musuhnya dengan sengit, kepungan musuh yang tadi semakin ketat dan mengecil seketika kena disapu mundur oleh kekuatan pukulannya, Sip It-sian menjadi berkesempatan lolos dari kepungan jala taburan cambuk lawan, dan sekarang bergabung menjadi satu bersama Lu Tang-wan dan Geng Tian.
Baru sekarang Lu Tang-wan berkesempatan perhatikan pemuda penolongnya terasa seolah-olah sudah dikenalnya, segera ia bertanya.
"Terima kasih Siauhiap, bukankah kau Geng-kongcu adanya?"
Kata Geng Tian.
"Wanpwee memang Geng Tian. Terima kasih atas budi pertolongan paman yang melindungi aku tempo dulu, sekarang berkesempatan untuk aku membalas budi kebaikan Cianpwe. Masih ada seorang kawan yang berjuluk Hek-swan hong segerapun akan menyusul tiba."
Kejut dan girang pula hati Lu Tang wan, batinnya.
"Siapa akan nyana seorang pelajar yang lemah waktu kecilnya dulu sekarang sudah punya kepandaian silat yang begini lihay. Hek-swan hong itu punya nama tenar dan menggetarkan Kangouw, tentu kepandaian silatnyapun tidaklah lemah."
Bahwa girangnya semangat tempurnya semakin berkobar.Begitu Lu Tang-wan kembangkan kekuatan Bian ciangnya, hawa menjadi bergolak semakin hebat laksana gelombang samudra mendebur tak kenal putus, seputar setombak di sekitar gelanggang yang berkepandaian rendah seketika terdesak mundur pontang panting.
Mengandal kegesitan gerak badannya Geng Tian berlincahan kian kemari, begitu ada kesempatan segera ia loncat menyergap musuh dan melukainya.
Meskipun Lou Jin-cin serta isterinya tak dapat dilukai, tapi beberapa anak buahnya yang bernyali besar berani merangsak maju banyak yang telah roboh ditangannya.
Lambat laun Lou Jin cin sendiri menjadi gentar dan ciut nyalinya.
Nada perkataannya menjadi lembek.
"Lu Tang-wan, putrimu kan sudah pergi, buat apa kau main adu jiwa disini? Bicara terus terang, meski kau seorang laki laki gagah betapapun takkan kuat melawan kerubutan sekian banyak anak buahku. Demi keselamatan dan keuntungan dua belah pihak, lebih baik kau menjura mohon maaf saja kepadaku, mengingat kita sebagai tetangga sekian tahun lamanya, setelah kau minta maaf akupun tidak akan mengulur panjang urusan ini. Kalau tidak Hehehe, bila Liong siang Hoatong sempat menyusul kemari beliau takkan begitu murah hati mau melepas kau pergi."
"Kentutmu busuk! Jangan kau mimpi!"
Demikian maki Lu Tang-wan.
"Kiranya kau sangat mengandalkan Koksu dari bangsa Tartar itu. Baikmarilah kita tunggu dan lihat ! Hm. Jangan kata baru Hoatong apa segala, dewa malaikatpun tidak akan mampu melindungi jiwamu lagi. Justru kaulah yang harus berlutut dan minta ampun padaku, tapi entahlah apa aku sudi memberi ampun pada kau tua bangka itu !"
Dari perkataan orang Lou Jin-cin berkesimpulan, bahwa seolah-olah Liong-siang Hoatong sendiripun dalam marabahaya, keruan bercekat hatinya, pikirnya .
"Pembantu paling lihay Lu Tang-wan sudah kuketahui melulu hanya Cin Hou-siau seorang kepandaian silat Liong-siang Hoatong begitu sakti dan lihay, mana mungkin menghadapi marabahaya ? Mungkinkah ia memanggil pula bantuan tokoh kosen lain yang belum mengunjukkan dirinya?"
Hatinya setengah percaya, akhirnya ia berkata .
"Eh, kau tidak terima suguhan arakku sebaliknya minta digebuk. Jangan kau menyesal bila aku berlaku tidak sungkan lagi terhadap kalian ! Hayo serbu berbareng !"
Kata-katanya terakhir adalah memberi aba-aba kepada seluruh anak buahnya.
Lu Tang-wan mengempos semangat, dia beradu punggung sama Geng Tian membendung segala serangan dari luar.
Betapapun banyak anak buah Lou Jin-cin dalam waktu dekat mereka takkan mampu berbuat apa-apa terhadap Lu Tang-wan bertiga.
Sebaliknya untuk menjebol kepungan dan melarikan diri pun bukanlah soal gampang bagi Geng Tian bertiga.Geng Tian merasa was-was, hatinya kurang tentram, diam-diam ia berpikir.
"Liong siang Hoatong adalah jagoan nomor satu diseluruh mongol. Hek-swan-hong sendiri pernah kecundang ditangannya, kenapa paman Lu tadi bicara begitu takabur ? Sayang dalam waktu dekat aku tidak mampu menerjang keluar kurungan untuk membantu mereka. Entahlah bagaimana kepandaian mereka sekarang ?"
O^~dwkz^hendra~^O Sekarang mari ikuti jejak Hek-swan-hong yang memburu kepekarangan belakang, kedatangannya sungguh tepat pada waktunya.
Cin Hou-siau dan Hong-thian-lui sudah terdesak hebat kepayahan, kontan Hek-swan-hong menghardik terus menubruk maju melibatkan diri dalam pertempuran yang sengit.
Liong-siang Hoatong tertawa ejek.
"Kau adalah bekas kecundangku. Berani benar kau mengantar kematianmu !"
Bagi Hong-thian-lui kedatangan Hek-swan-hong justru sangat mengejutkan dan menggembirakan hatinya, seketika berkobar semangatnya "wut"
Kontan ia memukul dengan setaker tenaga, begitu gabungan pukulan antar guru dan murid ini memberondong keluar ditambah permainan pukulan Hek-swan-hong yang penuh variasi antara lemah dan kekerasan itu, pukulannya menjadi sulit diraba juntrungannya.
Meskipun Liong-siang Hoatong sudah kerahkanLiong-siangkang sampai tingkat kesembilan tak urung badannya tersurut mundur.
Sebetulnya Liong-siang Hoatong mengurut ukuran sudah dapat mengalahkan keroyokan mereka guru dan murid tapi paling paling kepandaiannya cuma setingkat lebih unggul, kini setelah pihak musuh bertambah tenaga baru macam Hek-swan-hong justru Liong siang Hoatong kini dipihak yang terdesak berat.
Daerah pekarangan belakang sebelah timur oleh Lou Jin cin khusus disediakan untuk tempat peristirahatan kawanan tamu dari Mongol ini, seluruh anak buahnya sudah memburu keluar dan menonton dipinggir gelanggang.
Soalnya sebagai Koksu yang berkedudukan agung di Mongol merupakan jagoan nomor satu lagi, kecuali mendapat perintahnya langsung seluruh anak buahnya tiada seorang pun yang berani maju membantu.
Apalagi sebelum Hek-swan-hong datang tadi keadaan Liong-siang Hoatong berada diatas angin, sudah tentu para pembantunya itu tiada seorang pun yang menunjukkan diri, supaya tidak menyalahi aturannya.
(sebagai jagoan nomor satu sudah tentu malu dibantu oleh anak buahnya bukan) Dengan satu melawan tiga keadaan Liong-siang Hoatong semakin terdesak, beberapa pembantunya yang punya pandangan luas dan cukup berpengalaman segera merasakan firasat jelek, ada dua Kim tiang Busu segera tampil kedepan dan berseru.
"Koksu,kedua bangsat cilik ini mana ada harganya bergebrak dengan kau orang tua, berikan pada kami biar kami labrak habis-habisan!"
Liong-siang Hoatong pura-pura gemede, dengusnya.
"Bunuh ayam masa perlu gunakan golok kerbau, ya memang benar ucapan kalian. Nah labrak mereka!"
Dimana lengan bahunya yang gombrong itu dikebutkan laksana golok besar yang memapas turun kontan memisahkan Hong-thian-lui dan Cin Hou-siau, kejadian adalah begitu cepat, dilain kejap para Kim tiang Busu itu sudah saling gebrak dengan Hong thian-lui.
Tatkala Cin Hou-siau dengan Bi lek ciangnya berhasil menjebol jurus Thi siu hud bun dari Liong-siang kang yang hebat dari tingkat kesembilan, Hek swan-hong sendiri pun keburu sudah dicegat dan dihalang-halangi oleh beberapa Busu.
Kini mereka bisa saling memberi bantuan yang diperlukan.
Lwekang Hong-thian-lui tidak lebih baru pulih enam tujuh bagian, setelah mengalami pertempuran sengit ini lambat laun tenaganya terkuras pula tidak sedikit, dua Kim tiang Busu lawannya ini kepandaiannya tidak terlalu jauh dibanding Umong atau Cohaptoh, dengan menggertak gigi Hong-thian lui terus bertempur mati-matian, sekian lama mereka hanya setanding alias sama kuat.
Justru yang mengerubut Hek-swan hong melulu Busu tingkat rendahan belaka, mereka bukan tingkat Kim tiang Busu (Kim-tiang Busu terdiri dari jagoanyang terpilih diantara para Busu busu yang terpilih jadi Kimtiang Busu oleh Khan agung Mongol cuma delapan belas orang, boleh dikata kepandaian mereka merupakan aliran tingkat tinggi).
Dengan ilmu pukulan Hek swan-hong yang menakjubkan dan aneh serba variasi itu ia tempur para pengoroyoknya, keadaannya lebih mending dan berada diatas angin, sekejap saja ia berhasil menutuk dua busu.
Baru saja Hek-swan hong berhasil membobol keluar dan hendak menerjang bergabung dengan Hong-thian-lui, mendadak dilihatnya dua Busu berlari bagai terbang mendatangi, teriak mereka bersama.
"Bocah keparat. Mari kita tentukan lagi siapa jantan atau betina !"
Kedua Busu ini bukan lain adalah Umong dan Cohaptoh yang tadi berhasil telah dirobohkan oleh Geng Tian.
Ternyata tadi Cohaptoh kecundang oleh Geng Tian dan tertutuk jalan darah Hoan-tian-hiat didengkulnya.
Umong memanggulnya sembunyi disemak-semak kembang disana membebaskan jalan darahnya lalu melongok pekarangan depan sebelah barat.
Melihat Lu Tang-wan, Geng Tian dan Sip It sian sudah terkepung dan kelihatannya tak mampu berkutik lagi, kiranya seluruh kekuatan Lou-keh-ceng sudah berkelebihan untuk menghadapi mereka, dan tak perlu dibantu lagi oleh karena itu segera mereka berlari balik mencari Hek swan-hong menuntut balas.
Sekarang dengan mengandal pihak yang banyak, nyalimereka menjadi besar sudah tentu ia menjadi berani menantang untuk bertanding lagi.
"Betina atau jantan yang jelas kalian tadi sudah roboh, tidak malu kau masih berani buka mulut,"
Demikian jengek Hek-swan-hong.
"Hm, kalian hanya mengandal orang banyak, marilah maju sekalian, emangnya aku takut?"
Seiring dengan tawa dinginnya, telapak tangannya sudah menampar dan jaripun menutuk bergantian menyerang dengan gencar, kontan ia merobohkan dua Busu lagi, kini ia berhasil bergabung pula dengan Hong thian-lui.
"Kalian mundur!"
Teriak Umong kepada teman temannya yang rendahan, dua Kim tiang Busu yang lain sudah tentu masih jaga gengsi dan melabrak terus bergabung empat mengeroyok dua.
Dengan bahu membahu Hong thian-lui menjadi semakin berkobar daya tempurnya, demikian juga Hek-swan hong semakin gagah, empat Busu lawan mereka sama pernah kecundang, terutama Umong dan Cohaptoh bukan sekali dua mereka pernah dirugikan, oleh karena itu meski pihak mereka berjumlah banyak dan mendesak diatas angin, betapapun mereka rada keder dan was-was, tak berani bergerak terlalu dekat dengan ceroboh.
Pertempuran berkelompok yang terjadi didepan dan dibelakang pekarangan terus berlangsung gegap gempita, bahaya dan kritis justru pihak Cin Hou siau yang melawan mati-matian Liong siang Hoatong.Tapi daya tempur Cin Hou siau yang ulet dan perwira itu benar benar diluar dugaan Liong-siang Hoatong, tadi waktu bergabung dengan Hong-thian lui, mereka guru dan murid sudah terdesak dibawah angin, kini setelah bertanding satu lawan satu, bicara sejujurnya betapapun ia tidak akan kuat melawan Liong-siang-kang tingkat kesembilan yang dikerahkan.
Liong-siang Hoatong beranggapan tanpa banyak mengeluarkan tenaga lagi paling banyak tiga puluh jurus pasti ia berhasil mengalahkan lawannya.
Tak duga sekejap saja empat puluh jurus telah berlalu.
Meski pukulan Liong-siang Hoatong laksana gelombang samudra yang bergulung gulung tinggi, tapi Cin Hou siau tak ubahnya laksana selonjor batu padas yang kokoh kuat berdiri ditengah damparan badai, sedikitpun ia tidak bergeming karena gelombang pasang yang hebat itu.
Ternyata kekuatan pukulan dari aliran Lwekeh yang dilatihnya itu sudah mencapai puncak tertinggi dan sempurna walau dia tak sebanding Liong-siang kang yang ganas dan hebat itu, tapi bagi perlindungan dan pertahanan, cukup menjaga diri saja tanpa balas menyerang, maka daya tempurnya akan selibat lebih kuat.
Adalah Hong-thian lui yang menguatirkan keadaan gurunya, sedikit perhatian tercurah, Cohaptoh yang cerdik dan awas itu segera mendesak maju, tahu-tahu cakar tangannya sudah berhasil meraih kepundaknya, begitu kerahkan tenaga ia hendak mencengkeram remuk tulang pundak orang.
Untung Hong Thian luibisa berlaku sebat, segera pundak diturunkan berbareng sikutnya bekerja menyodok kedepan.
Bersamaan waktunya Hek swan-hong juga memapaskan telapak tangannya ke leher Cohaptoh dari samping.
Jurus ini adalah serangan yang membuat lawan harus menyelamatkan diri lebih dulu, betul juga Cohaptoh segera melompat menyingkir sehingga tidak terlaksana usahanya.
Bersamaan waktunya Umong dan seorang Busu yang lainpun telah mendorongkan telapak tangan menggempur maju memunahkan serangan-serangan Hek swan-hong itu.
Tapi Cohaptoh adalah jagoan gulat yang kenamaan dari Monggol, mesti cengkeramannya itu tidak berhasil meremas remuk tulang pundak Hong-thian-lui, tak urung bajunya sudah remuk berhamburan.
Disebelah sana Cin Hou-siau berteriak.
"Anak Wi jangan gugup, bertahan lagi sebentar, kita akan dapat lolos dari mata bahaya. Kaupun tak perlu kuatir akan keselamatanku ... !"
Liong-siang Hoatong terbahak bahak, serunya.
"Kalian ingin lari ? Cin Hou-siau, meski Bilek ciangmu tidak lemah, tak lebih kau bertempur seperti binatang dalam kerangkeng, sebentar lagi bakal terkurung dalam sangkar. Dengan cara tempurmu yang mati-matian ini, tak lebih seratus jurus pula, tidak mati ya mesti luka parah ! Hm, jiwamu sendiribelum tentu selamat masih ingin melindungi putramu apa segala?"
Hek-swan hong juga bersangsi, ia anggap ucapan Cin Hou-siau melulu untuk menghibur putranya saja, dalam hati ia membatin.
"Sudah sekian lama Geng Tian belum lagi datang, mungkin disebelah sana iapun terkurung musuh, bala bantuan dari mana pula yang bakal tiba ?"
Memang dugaan Hek-swan hong tidak salah, Geng Tian dan Lu Tang-wan memang terkepung oleh musuh.
Tapi dia tidak tahu kecuali Lu Tang wan masih ada seorang yang justru merupakan lawan terampuh bagi Lou-keh-ceng yang masih belum mengunjukkan diri.
Belum lagi ucapan Liong-siang Hoatong selesai mendadak terdengar seseorang berseru lantang.
"Lou Jin cin ! Kau dengar... !"
Orang ini berdiri diatas sebuah gunung-gunungan palsu yang terletak ditengah antara barat dan timur dari kedua pekarangan depan dan belakang itu, semua orang dari kedua belah pihak bisa dengar dan melihat dengan jelas.
Orang yang bicara ini bukan lain adalah ayah Hong-thian-lui, yaitu Ling Hou adanya.
Lou Jin-cin tahu bahwa ilmu silat Ling Hou tidak tinggi, segera ia menjengek tawa.
"Main teriak apa kau, aku sudah dengar. Tidak lebih kau menyusul tiba untuk mengantar jenazah putramu, baik akan kukabulkan keinginanmu ! Ayo tangkap orang itu!"dari samping Thio Jay-giok menambah sepatah kata.
"Bila tidak bisa diringkus hidup, serang dengan senjata rahasia !"
Tanpa perintah yang kedua kali anak buah Lou Jin cin segera berbondong-bondong memburu kearah tempat sembunyi Ling Hou malah yang lari paling depan sudah menyambitkan senjata rahasianya dari kejauhan.
O^~dwkz^hendra~^O
Jilid 16 Tapi dengan adanya alingan gunung-gunungan palsu, sembilan senjata rahasia yang berhamburan itu tiada satupun yang dapat mengenai diri Ling Hou.
Saking gelisahnya entah darimana datangnya kekuatan Hong-thian-lui, mendadak ia menghardik seperti guntur, berbareng telapak tangannya menghantam kedepan, Umong sudah kapok akan kehebatan pukulannya ini, sigap sekali ia mencelat berkelit, justru seorang Kim-tiang Busu yang berada disampingnyalah yang konyol terdampar oleh gelombang pukulan Bi-lek-ciang Hong-thian-lui, kontan tubuhnya terpental jauh tiga tombak.
Begitu meloncat keluar Hong-thian-lui lantas berteriak.
"Ayah !"Ling Hou terkejut, cepat iapun berteriak.
"Anak Wi, berhenti, jangan kemari !"
Lou Jin-cin bergelak tawa, serunya .
"Kalian ayah dan anak tumbuh sayap pun jangan harap bisa terbang, nantikan waktu untuk mengantar jiwa saja !"
Ternyata Ling Hou juga segera terbahak-bahak suara tawanya malah lebih lantang dan keras, sesaat kemudian terdengar ia berseru .
"Lou Jin-cin, berani kau melukai seujung rambut putraku, akan kubuat seluruh Lou-keh-ceng ini hancur lebur rata dengan tanah. Hayo kalian berani melangkah maju puluhan langkah lagi, akan kubuat pula kalian dedel dowel seperti perkedel !"
Lou Jin-cin tertawa dingin, ejeknya .
"Kau punya kepandaian apa, berani kau main gertak menakuti orang!"
Tapi para pembantunya mendengar ancaman Ling Hou serta merta merendahkan kakinya, sangsi dan takut pula hati mereka, lebih baik percaya dari pada menjadi korban secara konyol demikian pikir mereka, tanpa merasa beramai ramai mereka berhenti dan menonton adegan selanjutnya yang akan terjadi.
Terdengar Ling Hou berseru pelan-pelan.
"Jadi kau tidak percaya ? Baik, biar kau lihat lebih dulu."
Sambil berkata tiba-tiba tangan kanannya diayun, sebatang Coa-yam cian (panah ular berasap) segera melesat keluar.
Ujung runcing dari Coa-yam-cian ini kosong dan diisi dengan ramuan bahan peledak, begitu terjilat api lantas menyala dan meledak,umumnya kaum persilatan digunakan untuk memberi isyarat sesama kaum dan disambitkan ketengah udara.
Tapi kali ini Liong Hou menyambitkan kearah tanah.
Begitu jilatan api mengenai tanah kontan terdengar ledakan yang gemuruh, sebuah gunungan palsu dipinggir sana seketika runtuh berhamburan, batu pasir beterbangan ke tengah udara.
Untung orang-orang itu sudah menghentikan langkah dan berdiri agak jauh dari lingkaran daya ledakan yang hebat itu, meski begitu tak urung mereka merasa muka mereka seperti disampok angin badai yang panas, tak sedikit yang terluka oleh percikan batu-batu.
Terdengar Ling Hou menjengek tawa pula.
"Ini baru percobaan belaka ! Lou Jin-cin, ketahuilah, aku sudah memendam puluhan peledak disepuluh tempat yang terpendam dalam daerah lingkungan Lou-keh-cengmu ini. Tempat yang meledak ini hanya kutaruh bahan peledak yang paling sedikit !"
Ternyata keluarga Ling merupakan ahli pembuat bahan peledak yang diwaris dari leluhur mereka.
Moyang mereka tidak lain adalah Ling Tin, pahlawan gagah dari gunung Liang-san yang paling terkenal pandai membuat peledak itu.
Baru sekarang Ling Hou mengunjukkan diri, karena ia harus memilih tempat yang strategis untuk memendam bahan peledaknya itu.
Keruan Lou Jin-cin ketakutan, dengan mengeraskan kepala ia berseru.
"Seumpama kau mampumenghancur leburkan seluruh Lou keh-ceng rata dengan bumi, kalian ayah dan anak serta kawan-kawanmu juga tidak ketinggalan mati bersama !"
"Kita ayah dan anak emangnya sudah tidak ingin hidup lagi,"
Demikian ejek Ling Hou ketus.
"Hehe seluruh keluarga Lou-keh-ceng kalian yang berjumlah seratus tiga puluh tujuh jiwa bersama tamu tamu agung kalian ini bakal mengiringi kami gugur bersama. Hitung dagang ini masih menguntungkan pihak kami, Lou Jin-cin, apa kau berani bertaruh bahwa aku sungguh tidak berani melaksanakan ancamanku ?"
Tampak kedua jari tangannya menjepit pula sebatang Coa-yan-ciau, ujung panahnya berkilauan membiru diarahkan ke arah Lou Jin-cin beramai. Siap untuk disambitkan. Cepat Lou Jin-cin berseru.
"Ling-tayhiap, marilah bicara dulu, buat apa kita harus bertengkar sampai babak belur bersama ? Sebetulnya aku tiada niat mempersukar kalian ayah dan anak !"
"Bagus !"
Seru Ling Hou.
"jadi kau masih ingin berdagang lain obyek dengan aku ini ? Tapi aku kuatir kau tidak kuasa memberi keputusan."
Tatkala itu pertempuran berbagai kelompok itu sudah berhenti, cepat-cepat Lou Jin-cin memburu kepekarangan belakang sebelah barat, katanya lirih kepada Liong-siang Hoatong.
"Hoatong, kawanan musuh ini adalah kaum gelandangan yang tidak takutmati. Aku kuatir mereka bakal melaksanakan ancamannya."
Sebetulnya Liong-siang Hoatong sendiri jauh lebih gugup dan gelisah dari Lou Jin-cin, sebagai seorang Koksu, masih ada seorang tuan putri macam In-tiong-yan yang menjadi tanggungannya di Lou-keh-ceng, mana berani ia mempertaruhkan jiwa sendiri dan jiwa tuan putri untuk berjudi dengan maut gugur bersama musuh ?
Terdengar Ling Hou membentak pula.
"Aku tidak punya banyak waktu menanti kalian ngobrol bagaimana soal dengan ini? Sebelumnya aku harus bicara di muka harga yang kutetapkan tak bisa ditawar lagi."
Lekas Liong siang Hoa tong berkata.
"Beritahu padanya kita turuti kehendak mereka saja!"
"Ling tayhiap,"
Seru Lou Ji cin sambil tertawa kecut.
"silahkan kau sebutkan kemauanmu!"
"Harap kau Lou toacengcu mempersiapkan kuda dan mengatur kita keluar perkampungan cukup hanya kau seorang saja. Setelah sepuluh li baru akan kulepas kau pulang dengan selamat!"
"Mana boleh kalian mengambil aku sebagai sandera,"
Bantah Lou Jin cin.
"Kau anggap kita ini bermartabat macam tampangmu itu bicara seperti kentut busuk?"Liong siang Hoatong segera membujuk.
"Lou cengcu silakan kau antar mereka saja!"
Disebelah sana Ling Hou sudah menambahkan.
"Sebelum kita keluar dari lingkungan Lou keh ceng, semua orang dilarang sembarangan bergerak! Kalau tidak, hm... cukup aku menggerakkan tangannya pasti bisa membuat kalian hancur lebur tanpa bekas lagi!"
Ancamannya ini ditujukan pada kawanan Liong siang Hoatong yang mungkin bisa main bokong secara licik.
Meski Lou keh ceng meliputi satuan li panjangnya setelah mereka berada diluar seumpama Liong siang Hoa tong ingin mengejarpun takkan mungkin kecandak lagi.
Liong siang Hoatong tertawa dibuat buat serunya.
"tayhiap kau terlalu banyak curiga. Masa Lolap bakal membokong kalian?"
"Kuduga kaupun tak akan,"
Demikian jengek Ling Hou, segera ia memberi isyarat mengumpulkan teman temannya dengan mengepit Lou Jin cin di tengah, beruntun mereka beranjak keluar dari Lou keh ceng dengan langkah lebar.
Para centeng sudah mempersiapkan kuda yang diminta, tanpa banyak kata beramai ramai mereka menunggang kuda terus dibedal sekencangnya meninggalkan Lou keh ceng.
Setelah puluhan li kemudian sesuai dengan perjanjian mereka melepas Lou Jin cin pulang.Setelah bayangan punggung Lou Jin cin menghilang dikejauhan baru Ling Hou menengadah tertawa besar.
Hong thian lui bertanya heran.
"Ayah, apa yang kau tertawakan?"
Ayah dan anak bertemu kembali sudah tentu sangat menggembirakan tapi dia tahu tabiat ayahnya meskipun sangat senang beliau takkan melepas tawa sepuas itu, oleh karena itu ia mengajukan pertanyaan karena heran.
Tiba tiba muka Ling Hou berubah serius, katanya.
"Anak Wi adakah aku pernah berpesan padamu supaya tidak berbohong?"
Hong-thian-lui terkejut, sahutnya.
"Anak belum pernah membangkang dari ajaran ayah. Tapi bila para Tartar Mongol itu mengompres keteranganku, aku pun tidak berani bicara secara gamblang, tapi kurasa hal ini tidak terhitung membangkang dari pesan ayah bukan?"
"Sudah tentu tidak terhitung,"
Ujar Ling Hou tertawa.
"Justru aku menguatirkan kau terlalu mentah menerima ajaranku itu, maka ingin aku bicara pula padamu, sekarang kau sudah kemukakan lebih dulu apa yang akan kuucapkan."
Untuk sesaat, Hong thian lui menjadi keheranan dan garuk garuk kepala. Maka Ling Hou lantas melanjutkan.
"Sebagai manusia kita harus jujur,membual adalah merupakan pantangan berat. Tapi kita harus pandai melihat situasi dan pintar menghadapi keadaan. Ada kalanya untuk menghadapi musuh, tiada halangannya kita berbohong kepada mereka. Kenyataan sudah terjadi baru saja aku sudah menipu seluruh penghuni Lou keh-ceng itu."
Selamanya belum pernah Hong-thian-lui melihat ayahnya bicara begitu lucu dan humor, timbul rasa senang dan ingin tahunya, segera bertanya lebih lanjut.
"Cara bagaimana ayah telah menipu mereka?"
"Sebetulnya aku hanya memendam bahan peledak disatu tempat saja,"
Demikian tutur Ling Hou.
"yaitu tempat yang meledak tadi. Bahwa kukatakan telah memendam peledak dipuluhan tempat adalah gertakan sambelku belaka untuk menakuti mereka."
Baru sekarang semua orang tahu duduk perkara sebenarnya, tanpa merasa mereka sama tertawa geli. Segera Hek-swan hong menimbrung bicara.
"Lou Jin-cin memang kurang cerdik, seharusnya ia bisa berpikir, bila benar dapat memendam peledak dipuluhan tempat masa kau tidak konangan pada orang-orangnya?"
"Ya,"
Ujar Ling Hou.
"aku hanya main gertak dan bertaruh dengan mereka, seumpama mereka masih menaruh curiga, betapapun ia tidak akan berani mempertaruhkan jiwa dan seluruh harta bendanya untuk gugur bersama kita."Hong thian-lui terburu buru ingin tahu satu persoalan, setelah keadaan rada tenang segera ia bicara.
"Paman Lu, apakah kau sudah bertemu dengan putrimu?"
Lu Tang-wan mengerut alis dan bermuka kecut, sahutnya.
"Dia sudah berhasil melarikan diri. Paman Sipmulah yang telah melihatnya tadi."
"Kudengar ia datang dengan seorang lain, entah siapakah orang itu? Paman Sip, apakah kau melihat orang itu?"
Tanya Hong thian lui. Jawab Sip It-sian.
"Sebetulnya akupun tidak melihat mereka."
Demikian Sip It-sian menjelaskan.
"Aku hanya tahu bahwa keponakan Yau ada disekap dalam kamar dan kudengar suara teriakannya. Aku tidak keburu menolongnya karena harus melayani labrakan Lou Jin cin,"
Setelah bicara diam-diam ia mengeluh dalam hati, sungguh ia menyesal harus berbohong, pikirannya.
"Ling Hou mengajar anaknya supaya cuma berbohong kepada musuh saja, tapi justru aku berbohong terhadap orang sendiri. Ai, keadaanlah yang memaksaku berbuat demikian."
Kata Lu Tang-wan.
"Setelah lolos dari Lou-keh ceng tentu putriku itu segara kembali kerumah. Mari kuundang kalian menetap beberapa hari dirumahku untuk istirahat beberapa hari. Keponakan Tiat-wi, luka lukamu belum lagi sembuh, lantas kau sudah menempuh perjalanan kali ini kau harus menetap beberapa hari lagi dirumahku!"Mendelu perasaan Hong-thian-lui, dalam hati ia mereka-reka.
"Sudah tentu aku ingin segera bertemu dengan Giok yau, kuatirnya setelah berada dirumahnya, bibi akan kurang senang terhadap kami!"
Kata Lu Tang wan pula.
"Tiat wi, apa yang kau pikirkan, adakah sesuatu yang menyulitkan dirimu?"
Sebagai seorang yang berpengalaman luas, Lu Tang-wan dapat mengira-ngira, tanpa menanti pulang dirinya, Hong thian lui sudah meninggalkan rumahnya lebih pagi dari dugaannya semula, dalam hati ini tentu ada seluk beluknya.
Oleh karena itulah ia ajukan pertanyaannya.
"Paman Lu,"
Kata Hong thian-lui.
"apa kau tidak kuatir kita beramai akan melibatkan dirimu?"
Lu Tang wan menjadi kurang senang, katanya.
"Apa apaan ucapanmu ini, bila aku takut kena terlibat, tak mungkin aku menyusul kemari menolong kau bersama ayahmu."
Sebetulnya pertanyaan Hong-thian-lui justru mengenai telak ganjalan hatinya.
Waktu pertama kali Hong-thian-lui bertandang kerumahnya memang dia kuatir terlibat urusan, tapi jalan pikirannya sudah jauh berbeda dan banyak berubah sudah.
"Bocah ini tidak pandai bicara, Lu-toako kuharap kau tidak ambil hati,"
Demikian Ling Hou menyela.
"Anak Wi, sekarang paman Lu sudah termasuk orang sendiri, kau masih ragu dan menyangsikan apa lagi, ayo maju mohon maaf kepada paman Lu,"
Maksudkata katanya memberi kisikan bahwa Lu Tang wan mungkin sudah mempersetujui soal pernikahannya. Sudah tentu ini hanya anggapan Ling Hou seorang saja. Cepat Hong thian lui maju menjura mohon maaf.
"Paman Lu, aku bicara salah harap kau tidak ambil dihati."
Lu Tang wan tertawa lebar, ujarnya.
"Kutahu kau bermaksud baik asal kau mau pulang bersama aku tentu aku akan senang. Bila anak Yau melihat kau pasti dia akan berjingkrak kegirangan."
Sebagai seorang tua yang berpengalaman, setelah mendengar ucapan Hong thian-lui, ia dapat meraba kemana juntrungan ucapannya tadi pikirnya.
"Pasti ibu Giok yau yang ingin menjodohkan putrinya kepada Khu Tay seng sehingga bersikap dingin terhadap dia, sekembali dirumah nanti aku harus bicarakan persoalan ini dengan dia baik baik."
Hong thian lui setiba dirumah keluarga Lu pasti dirinya bakal bertemu dengan Giok yau legalah hatinya, katanya.
"Saudara Hong, sayang ln tiong yan tidak berani keluar bersama kita."
Sip It-sian punya ganjalan hati, kuatir orang menanyakan soal siapa yang pernah bersama In tiong yan segera ia menyela bicara sambil batuk batuk.
"Benar bicara soal In tiong yan, ada sebuah urusan yang harus kuserahkan kepada kau. Nah, inilahPinghoat peninggalan Go Yong itu, In tiong yan menitipkan padaku untuk diserahkan kepada kau."
Hek swan hong menerima Pinghoat itu, hatinya senang tapi juga rada hambar, dalam hati ia berpikir.
"Setelah mengalami peristiwa malam ini mungkin secepat mungkin In-tiong yan akan diseret Liong siang Hoatong kembali ke Holin. Selama hidup ini kapan baru kesempatan pula untuk bertemu. Ai, mungkin sesulit menganggap jarum didasar lautan."
Mana dia tahu meski In tiong yan tidak lari bersama dia tapi iapun tidak ikut Liong siang Hoatong kembali ke Holin.
Pada saat terjadi keributan di Lou keh ceng secara diam diam ia sudah lari meninggalkan tempat itu.
Jauh setengah jam dimuka ia sudah meninggalkan mereka.
Setelah suasana menjadi tentram baru Liong siang Hoatong mengetahui sudah tentu kaget dan dongkol pula hatinya, namun apa boleh buat terpaksa ia tinggalkan empat Kim tiong Busu untuk mencari jejaknya bersama Umong dan lain-lain, ia kembali lebih dulu ke Holin.
Sekarang marilah kita ikuti pengalaman Cin Liong hwi yang melarikan diri sambil memanggul Lu Giok yau, setelah keluar dari Lou keh ceng sekaligus ia berlari lari kencang dua puluhan li, tanpa terasa cuaca sudah terang tanah.
Hari masih pagi benar tapi Lu Giok yau masih belum lagi siuman.
Takut dijalan raya dilihat orang segera Cin Liong hwi sembunyi kedalam sebuah hutan, pelan pelan iameletakkan tubuh Lu Giok yau diatas tanah.
Setelah menenangkan pikiran dan mengatur napas ia tunduk mengawasi wajah Lu Giok yau masih tidur nyenyak dengan biji mata meram napasnya teratur nan enteng berbau harum.
"Sungguh cantik rupawan!"
Demikian puji Cin Liong hwi dalam hati.
Baru saja lolos dari mara bahaya tapi timbul pula sifat jalangnya, jantungnya berdegup cepat dan tanganpun berkeringat.
Mendadak didengarnya suara keresekan yang mendatangi, Cin Liong hwi terkejut dan berjingkrak bangun, tampak ujung dahan liuk melambai terhembus angin pagi nan sepoi-sepoi mana ada bayangan manusia?
Dalam hati Cin Liong hwi tertawa pahit.
"Tak heran orang sering berujar sekali pernah tergigit ular melihat rumput bergerak pun ketakutan. Paman Sip dan lain lain sedang terkepung di Lou keh ceng, betapapun tinggi Ginkangnya mungkin takkan dapat lolos. Kenapa aku ketakutan sendiri?"
Ternyata ia mengira Sip It sian sudah mengejar dan senang saat diketahui bahwa angin mengembus daun daun pohon. Setelah hilang rasa kecutnya, hati Cin Liong hwi menjadi gundah was was, pikirnya.
"Banyak tokoh tokoh kosen berada di Lou keh ceng, betapapun paman Sip takkan berhasil melarikan diri, tapi bila Lu Tang-wan benar juga sudah meluruk tiba di Lou-keh ceng, dengan memandang muka Lu Tang-wan mungkin Lou Jin-cin mau melepasnya pergi."
Waktu Cin Liong hwi melarikan diri tadi Lu Tang-wanbelum lagi menyusul tiba.
Tapi teriakan Sip It Sian yang memanggil Lu Tang-wan supaya datang menolong putrinya dapat didengar dengan jelas oleh Cin Liong-hwi.
"Kejadian semalam sudah kepergok oleh paman Sip, mana bisa aku pulang kerumah? Rumah paman Lu akupun tidak mungkin ke sana pula, kecuali nasi sudah menjadi bubur, Lu Giok-yau sudah secara suka rela mau menjadi istriku, kalau tidak mungkin Lu Tang-wan sendiri pun bakal mencabut jiwaku."
"Ai, disini aku tidak bisa menetap, rumah pun tidak bisa pulang, bagaimana baiknya?"
Sekonyong-konyong timbul pikiran jahat Cin Liong-hwi terpikir pula selanjutnya .
"Apa boleh buat, terpaksa aku harus menipunya. Akan kukatakan padanya pulang menyambut ayahnya, kukira dia tidak akan tahu jalan mana yang harus ditempuh menuju ke-kampung halamanku. Bersama dia aku akan minggat ketempat nan jauh, entah kemana asal semakin jauh dari tempat kelahiran semakin baik. Laki perempuan melakukan perjalanan jauh bersama, wajahku lebih ganteng lebih cakap dari Hong-thian lui bocah itu, disertai bakat dan kepintaranku masa aku tidak mampu memincut dan mempersunting genduk ayu ini ?"
Setelah berketetapan hati, Cin Liong-hwi lantas mendekat maju dan duduk menggelendot disamping tubuh Lu Giok-yau, dengan membongkok tubuh ia menikmati kejelitaan wajah Lu Giok-yau nan ayudiwaktu tidur nyenyak, semakin ketarik, baru saja ia menunduk hendak mencium pipinya, tiba-tiba Lu Giok-yau membuka mata kontan ia menjerit teriaknya.
"Heh, kenapa kau menyelonong masuk kekamarku?"
Kiranya sepanjang jalan ini ia dipanggul oleh Cin Liong Hwi sehingga badannya ikut bergerak tergetar, sebetulnya beberapa jam Iagi baru ia bisa siuman sekarang kasiat obat bius itu menjadi hilang dan secara kebetulan ia siuman pada waktu itu juga.
Begitu membuka mata pikirannya masih belum jernih, yang dilihat hanyalah Cin Liong hwi berada di depan matanya, ia menyangka dirinya masih rebah diatas ranjang dalam kamar istri Lou Jin cin.
Cin Liong-hwi segera mundur selangkah, ujarnya tertawa.
"Syukurlah kau sudah siuman. Coba kau lihat tempat apakah ini ?"
Lu Giok yau celingukan, katanya heran.
"Apakah yang telah terjadi? Kenapa aku bisa tidur dalam hutan belukar ini?"
"Nona Lu,"
Kata Cin Liong-hwi.
"apa kau tahu semalam hampir saja kau dicelakai orang?"
"Oleh siapa?"
Seru Lu Giok yau berjingkrak kaget.
"Bukan siapa siapa, tak lain tak bukan isteri Lou Jin-cin itulah,"
Demikian Cin Liong hwi menjelaskan.
"Mereka begitu tekun melayani kau, kiranya mempunyai maksud tertentu. Kau sangka emangnya mereka itu orang baik ?""Aku tahu mereka bukan orang baik. Tapi cara bagaimana mereka hendak mencelakai aku ? Cobalah kau jelaskan."
Cin Liong-hwi sudah merangkai sebuah cerita bohong, maka dengan kalem ia mulai menjelaskan .
"Semalam setelah istri Lou Jin cin membawa kau kedalam kamar untuk istirahat, semakin pikir aku menjadi curiga. Karena tak bisa tidur pada tengah malam diam-diam ngeloyor keluar, tujuanku hendak mencari tahu dan membuat penyelidikan, waktu sampai diluar pekarangan kamarnya secara tak disengaja kudengar percakapan rahasia mereka suami istri."
"Apakah mereka sedang berunding cara untuk menghadapi aku ?"
"Benar. Sebetulnya bukan berunding lagi yang jelas tatkala itu kau sudah terjebak dalam tipu daya perempuan bawel itu. Nona Lu, coba kau pikir dan ingat-ingat kembali, sebelum tidur adakah minum air teh atau minuman lain pemberian mereka ?"
"Tak perlu diingat lagi. Aku tahu bahwa aku telah dicekoki obat bius mereka, kalau tidak masa sampai tiba ditempat ini baru aku bisa siuman tanpa kusadari sedikitpun, sepanjang jalan sejauh ini soal apa pula yang kau curi dengar dari percakapan mereka, coba kau jelaskan."
"Lou Jin-cin berkata, kekuatan obat biusmu ini bisa bertahan berapa lama? Istrinya itu menjawab sebelumfajar atau terang tanah genduk itu tidak akan bisa siuman. Lou Jin cin berkata, bagus, kalau begitu kita bisa serahkan genduk itu kepada Liong siang Hoatong, setelah terang tanah membawanya pergi dari sini. Istrinya bertanya .
"Apa kau tidak takut pada Lu Tang wan ? Lou Jin cin menjawab.
"Pertama Ilmu silat Liong siang Hoatong jauh lebih tinggi dari Lu Tang-wan, kedua Liong siang Hoatong menggondolnya lari ke Mongol, seumpama Lu Tang wan membekal kepandaian setinggi langit juga jangan harap bisa mencarinya kesana. Ketiga bocah yang datang bersamanya itu akan segera kubunuh, supaya peristiwa ini tetap terahasia dan tidak bocor. Keempat dengan adanya Liong-siang Hoatong yang menjadi sandaran kita, kelak untuk mengejar pangkat dan harta jalan kita menjadi lapang takut apa lagi?"
Mencelos hati Lu Giok-yau, badan basah oleh keringat dingin, ujarnya.
"Sungguh berbahaya, jika tidak kau tolong, dengan enak-enak tidur kelelap, tahu-tahu aku sudah mereka antar sampai ke Mongol, seumpama tumbuh sayap juga jangan harap bisa lari. Tapi bukankah Lou Jin-cin sendiri pernah bilang bahwa Liong-siang Hoatong dan In-tiong yan sudah berangkat pulang mengajak Hong-thian lui ? Mungkinkah ucapannya ini hanya bualan belaka ? Dan lagi apa tujuan Liong siang Hoatong menawan aku kembali ke Mongol ?"
"In tiong yan dan Hong thian lui memang sudah pergi, dalam hal ini Lou Jin cin tidak berbohong. Tapiyang benar bahwa Liong siang Hoatong masih berada dirumahnya, cuma semalam ia tidak keluar. Semalam waktu kita memasuki kebon Lou Keh ceng itu bukankah kepergok dengan Busu Tartar, orang Mongol itu adalah murid Liong-siang Hoatong. Nona Lu, kuharap kau tidak memikirkan Ling Tiat wi lagi, dengan suka rela ia menempuh perjalanan ke Mongol bersama In-tiong yan, betapa jauh perjalanan yang harus mereka tempuh, betapapun hubungan mereka dapatlah kau pikirkan, kuharap kau paham akan hal ini."
"Persetan hubungan mereka, emangnya ada sangkut paut dengan aku?"
Demikian omel Lu Giok yau uring uringan.
"Pernahkah aku menyinggung Ling toako, justru kau sendiri yang punya pikiran tidak genah. Sebetulnyalah Ling toako adalah tuan penolong keluarga kami, seumpama aku menguatirkan keselamatannya adalah jamak bukan."
"Yayaya, akulah yang salah omong, harap nona tidak marah,"
Demikian kata Cin Liong hwi cengar cengir.
"Tapi aku bicara demi kebaikanmu. Ling Tiat wi adalah Suhengku, masa aku..."
"Sudahlah, kenapa menyinggung soal Ling Tiat wi lagi!"
Demikian semprot Lu Giok yau cemberut, dalam hati ia berpikir.
"bicara pergi datang soal-soal itu melulu, menyebalkan."
Soalnya ia anggap Cin Liong hwi telah menolong dirinya maka ucapan yang rada kasar ini rasa tak enak diucapkan."Benar,"
Ujar Cin Liong hwi.
"kukira kau masih ingin tahu kenapa Liong-siang Hoatong hendak meringkus kau dan digondol pergi ke Mongol bukan? Semalam waktu aku mencuri dengar pembicaraan Lou Jin cin suami istri, dapat kuketahui pula sebab sebabnya."
"Apa yang mereka katakan ?"
"Lou lin cin berkata. Liong siang Hoatong hendak mempersembahkan dirimu kepada Dulai untuk dijadikan selirnya."
Keruan Lu Giok-yau menjadi gusar alisnya menegak, serunya.
"keparat, nanti bila bertemu ayah tentu kuminta beliau menuntut balas bagi penghinaan ini. Sayang Liong siang Hoatong sikepala gundul itu sudah pergi. Tapi Lou Jin-cin kan tidak akan lari, bila ayah pulang, pertama-tama harus menghancur leburkan dulu Lou keh-ceng-nya itu untuk melampiaskan penasaran ini!"
Cin Liong hwi tertawa geli, ujarnya.
"Meskipun aku tiada mampu ikut menghancur leburkan Lou keh ceng, sedikit banyak telah memberi bantuan pada kau membalaskan sakit hati ini."
"Benar. Bagaimana kelanjutannya?"
Cin Liong hwi menjadi bangga dan angkat dada, sambungnya terus.
"Tahu bahwa mereka hendak mencelakai kau sudah tentu segera aku menerjang masuk melabrak mereka. Haha, sedemikian tenar danbesar namanya di kalangan persilatan dalam golongan sesat, tak nyana hanyalah bernama kosong belaka. Cukup sekali pukul saja ia sudah terluka parah dan lari pontang panting bersama istrinya yang bawel itu! Sayang kau tidak menyaksikan pada waktu itu, betapa runyam keadaannya waktu melarikan diri itu sungguh menggelikan !"
Lu Giok Yau menjadi terhibur dan girang, katanya.
"Bagus ! Salut akan sepak terjangmu yang gagah berani ! Cin toako, bukan karena ketidak becusan kepandaian Lou Jin-cin yang rendah, karena ilmu silatmu yang lihay dan tinggi sehingga ia dapat kau gertak dan lari terbirit-birit !"
Dia percaya akan bualan Cin Liong-hwi maka tak tertahan lagi memberikan pujiannya dengan setulus hatinya.
Adalah diluar tahunya bahwa Lou Jin-cin sesungguhnya adalah Susiok Cin Liong-hwi.
Sambil menahan gelora hatinya yang melonjak kegirangan, Cin Liong-hwi berkata tawar .
"Ah, pujianmu terlalu berkelebihan, terima kasih akan pujianmu. Aku sendiri tidak punya obat pemunah, setelah menggebah lari Lou Jin-cin terpaksa kupanggul kau melarikan diri kemari, kau tidak salahkan aku bukan?"
Merah jengah selebar muka Lu Giok-yau, katanya .
"Untuk berterima kasih padamu sekarang aku sudah terlambat masa kusesalkan kau malah. Selanjutnya jangan kau singgung pula soal ini.""Ya ya. Sekarang kau sudah mampu berjalan belum ?"
"Hendak kemana ?"
"Kenapa kau lupa, bukankah kau ingin bertemu dengan ayahmu ? Ayahmu berada dirumahku, sudah tentu pulang bersamaku !"
Baru saja mereka siap berangkat, sekonyong-konyong terdengar suara tawa dingin dari dalam hutan.
Bercekat hati Cin Liong-hwi, waktu dia angkat kepala dilihatnya seorang gadis remaja berpakaian hitam muncul dihadapannya.
Rambutnya nan hitam disanggul meninggi, alisnya lentik panjang, wajahnya nan putih halus dan rupawan begitu agung dan mempesonakan sehingga orang tak berani memandang lama-lama.
Sebetulnya Cin Liong-hwi sudah hampir mengumbar adatnya, sungguh tidak terduga olehnya bahwa yang dihadapi kiranya gadis remaja yang ayu molek, seketika ia berdiri melongo dan menjublek ditempatnya.
"Cin toanghiong !"
Seru gadis baju hitam.
"Kedatanganku mengejutkan kau ya ?"
Cin Liong-hwi menenangkan pikiran, lalu katanya .
"Siapakah nona ini? Darimana kau tahu aku orang she Cin?"
Gadis baju hitam itu berkata .
"Kau adalah sute Hong-thian-lui yang bernama Cin Liong-hwi bukan ?He, he, siapa yang tidak kenal dan pernah dengar nama besarmu ? Bicara terus terang, akulah orang yang paling kagum akan nama Cin-toanghiong yang tenar itu !"
Pengalaman Lu Giok-yau terlalu cetek, tapi iapun merasakan nada sindiran dari ucapan gadis baju hitam ini, dalam hatinya ia menggerutu .
"Perempuan ini kelihatannya kurang waras, entah siapa dia?"
Sungguh menggelikan justeru Cin Liong hwi merasa bangga dan seperti terbang melayang di awan awan oleh umpakan yang ironis itu, ujarnya.
"Terima kasih sebetulnya aku baru saja terjun dalam percaturan Kangouw. Nona, siapa namamu? Entah ada keperluan apa kau mencari diriku?"
Kata gadis baju hitam.
"Nama orang diibaratkan bayangan pohon, ada sementara orang yang selama hidupnya tidak dapat mengangkat nama dan dirinya tapi ada kalanya sekali dia kelana di Kangouw namanya laksana geledek menggelegar diseluruh kolong langit. Terbukti dengan suhengmu Hong-thian lui, sekarang kau demikian pula. Konon kepandaianmu malah jauh lebih tinggi dan lihay dari Hong thian-lui, maka sengaja kuluruk kemari untuk minta pelajaran."
Secara langsung ia jelaskan alasan kedatangannya menemui Cin Liong-hwi tapi agaknya ia segan memperkenalkan nama diri sendiri. Tergerak hati Giok-yau, selanya berkata.
"Cici ini, apakah kau pernah bertemu dengan Hong-thian lui ?"Gadis baju hitam menyahut tawar.
"Hong thian lui telah mengalahkan si Elang hitam Lian Tin-san di Lu-keh-ceng, peristiwa tenar ini sudah tersiar hebat dikalangan Kangouw."
Cin Liong-hwi semakin bangga dan menepuk dada ujarnya.
"Hong thian-lui mengalahkan Lian Tin-san, berita ini tidak perlu kau herankan, sebaliknya dari mana pula kau bisa tahu bahwa kepandaianku jauh lebih tinggi dari Suhengku itu?"
"Bukankah kau semalam telah mengalahkan Lou Jin-cin sehingga ia lari terbirit-birit? Dengan keberanian yang luar biasa kau berhasil menolong keluar nona cantik ini dari Lou-keh-ceng sarang gerombolan penjahat. Aku tahu kepandaian silat Lou Jin cin bahwasanya tidak lebih rendah dari Lian Tin san."
Cin Liong-hwi tertegun sejenak, tanyanya bergagap;
"Kaupun tahu akan kejadian itu?"
Seperti tertawa tidak tertawa gadis baju hitam itu balas bertanya.
"Apakah peristiwa itu sungguh tidak terjadi?"
Cin Liong hwi jadi berpikir.
"Mungkin bualan ceritaku tadi dapat dicuri dengar olehnya? Melihat sikapnya ini agaknya ia amat percaya akan obrolanku tadi?"
Terpaksa dengan mengeraskan kepala ia menyahut.
"Ya, ya begitulah adanya!""Akupun percaya akan kebenaran kejadian itu,"
Ujar gadis baju hitam.
"Maka sengaja kemari untuk menemui kau!"
Cin Liong-hwi tercengang, tanyanya dengan suara melengking;
"Apa-apaan maksud ucapanmu ini?"
"Dengan rasa bangga aku ingin berhadapan dengan seorang Eng-hiong, seorang pendekar besar yang gagah perwira dan mohon beberapa jurus petunjuk."
Demikian cemooh gadis baju hitam sambil tertawa cekikikan.
Baru sekarang Cin Liong-hwi sadar bahwa sanjung puji sigadis baju hitam ini bahwasanya memutar balik kenyataan dengan kata kata manis untuk mengolok dan menyindir dirinya.
"Nona,"
Sela Lu Giok yau.
"Apakah kau dari Lou-keh ceng? Apa hubunganmu dengan Lou Jin-cin ?"
Sejak bertemu dan melihat tindak tanduk orang, ia sudah merasa gadis baju hitam ini kurang waras dan serba misterius, setelah mendengar maksud maupun tujuan orang semakin besar keyakinannya akan dugaan semula, maka pikirnya;
"Konon Lou Jin-cin punya seorang puteri yang sudah menikah semalam tidak kelihatan tidak mustahil gadis yang kami hadapi inilah puterinya itu?"
Karena terkaannya ini ia lebih yakin dan berpikir lebih lanjut.
"Pasti benar adanya, kalau tidak masa ia bisa tahu begitu jelas pengalaman Cin-toako semalam? Mungkin ia menyusul kemari untuk menuntut balas kekalahan ayahnya."Mana Lu Giok yau tahu bahwa ceritera Cin Liong-hwi mengenai peristiwa semalam adalah bualan belaka. Terkaan gadis baju hitam inipun berkisar terlalu jauh dari kebenarannya. Gadis baju hitam tertawa dingin, jengeknya.
"Lou Jin cin barang macam apa menjadi budakku saja dia tidak cocok, nona Lu, tidak perlu kau sembarang main tebak. Aku cuma ingin menjajal sampai dimana kepandaian sejati Cin Tayhiap yang besar ini, sebentar kau akan tahu buktinya apakah dia seorang Enghiong tulen atau seekor anjing atau biruang belaka!"
Sangsi dan bimbang hati Lu Giok-yau batinnya.
"Seorang puteri betapapun tidak akan berani memaki ayah kandungnya, dari kata-katanya tadi tidak sulit ditebak, kalau bukan musuh besar Lou Jin cin paling tidak iapun tidak senang melihat sepak terjang dan martabat Lou Jin cin. Lalu kenapa pula ingin menjajal kepandaian Cin-toako?"
Agaknya gadis baju hitam dapat meraba jalan pikirannya lekas ia berkata.
"Yang asli tidak bisa dipalsu, yang palsu tidak mungkin jadi tulen. Bicara sejujurnya meski Lou Jin-cin bermartabat rendah dan hina, ilmu silatnya boleh kuakui cukup lumayan. Sebaliknya bila Cin Tayhiap ini mampu mengalahkan aku, baru aku akan mau percaya bahwa dia seorang Enghiong besar, seorang pendekar sejati."
Selamanya Cin Liong-hwi sangat menjunjung gengsi dan suka bermuka-muka mana ia mau dimakidan direndahkan sebagai anjing atau biruang, sebagai binatang yang rendah?
Rasa simpatiknya tadi seketika sirna seperti dihembus angin lalu terhadap gadis rupawan dihadapannya ini, sikapnyapun berubah seketika, jengeknya menyeringai.
"Tidak perlu kau mengagulkan aku sebagai pendekar sejati segala, tapi bila aku tidak melayani tantanganmu, mungkin nona Lu akan curiga bahwa aku hanya membual belaka. Baiklah, mari kita saling jajal beberapa jurus. Cuma kepelanku ini tidak punya mata, bila sampai melukai atau merusak wajahmu yang ayu bagaikan bidadari ini, aduh, betapa kasihannya, mungkin kau tidak akan laku kawin dan menjadi perawan tua, maka jangan nanti kau menyalahkan aku lho!"
Dimulut ia bicara sementara dalam hati ia membathin.
"Memang kau amat cantik rupawan, namun Lu Giok-yaupun tidak kalah cantiknya, kenapa aku harus menaruh belas kasihan segala."
Sekonyong-konyong Lu Giok yau berteriak gugup. ''Cin-toako awas!"
Dalam sekejap mata itu tiba tiba gadis baju hitam turun tangan secepat kilat.
"plok"
Tahu tahu pipi kiri Cin Liong-hwi kena digampar dengan nyaring.
Kiranya gadis baju hitam ini bukan lain adalah In tiong-yan yang semalam lari keluar secara diam-diam dari Lou-keh-ceng.
Secara kebetulan ia tengah sembunyi di dalam hutan, semua rangkaian cerita bohong Cin Liong-hwiterhadap Lu Giok yau dapat didengar seluruhnya.
Tidak mengapa bila Cin Liong hwi hanya mengabulkan diri, justru yang membuatnya jengkel bahwa tidak segan segan ia merendahkan Hong thian-lui, malah dirinyapun kena dikata katai sebagai perempuan yang membawa lari laki laki.
Karena tidak siaga dan serangan datang secara mendadak Cin Liong hwi menjadi korban tamparan yang sangat keras, meskipun tidak sampai terluka keluar darah, tapi sebelah pipinya menjadi bengap dan berwarna hijau kehitaman, sakitnya bukan kepalang.
Sudah tentu betapa gusarnya, makinya dengan murka.
"Siluman kecil. Kau ini budak dari mana, apakah tidak dididik oleh bapak mbok-mu? Belum lagi kau menikah sudah pandai pukul main kekerasan laki-laki, perempuan bawel dan galak benar, hm, ingin jajal kepandaian marilah bergebrak secara terang terangan, kenapa main bokong dan sergap."
Cin Liong-hwi mengumbar mulut dan memaki kalang kabut tidak terpikir olehnya bahwa makiannya justru menyinggung pantangan In-tiong-yan.
Sejak kecil In tiong-yan sudah yatim piatu, kematian ayah bundanya begitu menyedihkan pula.
Meskipun Khan agung yang sekarang menghargai kedudukan yang cukup tinggi sebagai "tuan puteri"
Tapi bersikap dingin terhadapnya.
Kecuali dunia tiada seorangpun dalam lingkungan keluarga kerajaan yang menaruh simpatik dan anggap dirinya sebagai tuanputeri junjungan mereka betul-betul.
Yang paling diresapi dan membuatnya sedih adalah bila orang lain menyinggung perihal ayah bundanya, apalagi kali ini Cin Liong-hwi memakinya sebagai budak yang tidak punya dijalin keluarga.
Setelah menggampar sekali dipipi Cin Liong hwi sebetulnya rasa dongkolnya sudah terlampias tapi serta mendengar makiannya yang menusuk hatinya ini seketika berkobar pula hawa amarahnya, dalam hati ia berpikir.
"Kupandang muka Hong thian lui, tak perlu kucabut nyawanya. Tapi mulut bocah brutal ini sungguh sangat kotor dan harus dihajar dan disumbat!"
Dengan menekan sabar in-tiong yan menanti makian Cin Liong hwi selesai, lalu ia menjawab dengan suara datar.
"Kau kan seorang pendekar Enghiong yang telah mengalahkan Lou Jin cin, tadi aku sudah menantang kepadamu untuk mulai bergebrak, bila kau kena kutempiling salah siapa ? Baiklah sekarang kuberi tahu kau aku akan menggampar pula sebelah pipimu yang kanan, bersiaplah kau. Bila kau tak mampu menangkis atau menghindar, anggaplah kau anjing atau biruang saja !"
Cin Liong hwi tidak kuasa mengendalikan marah lagi sembari menghardik sejurus Hek sau-liok hap (enam sambaran bergabung satu) dari pukulan Bi lek ciang merangsak hebat kearah musuh, jurus ini mengandung penyerangan yang gencar tapipunmempunyai penjagaan yang cukup rapat, dalam hati ia membatin.
"Akan kulihat cara bagaimana kau bisa pukul aku lagi !"
Tak nyana gerak-gerik In tiong-yan adalah begitu cepat dan gesit sekali sulit dilukiskan dengan kata-kata meskipun jurus serangan Bi-lek-ciang ini tipu peranti untuk menyerang dan menjaga diri merupakan ilmu terlalu cetek dan belum sempurna mana kuasa menghadapi ginkang In-tiong yan serta gerak kilatnya yang hebat itu.
Maka terdengarlah suara "plak plok"
Keadaan Cin Liong hwi jauh lebih mengenaskan dari semula, tamparan beruntun dua kali dikiri kanan pipinya begitu telak dan keras sekali, kontan selebar mukanya menjadi bengap merah padam.
"Cin-toanghiong, Cin-toahiapsu, pukulan kali ini cukup membuka kedok aslimu bukan ? Ternyata kau bukan Enghiong atau pendekar benar, kau adalah anjing, adalah biruang yang pintar membual!'' "Wak,"
Mulut Cin Liong hwi terpentang dengan menyemburkan darah segar, makinya keras.
"Siluman perempuan, aku ingin jiwamu !"
Seiring dengan makiannya.
"Wuut"
Ia kirim sebuah pukulan yang dilancarkan sekarang adalah ilmu hasil ajaran dari Jing-bau-khek.
Pengalaman In-tiong yan dalam menghadapi musuh cukup luas, begitu melihat telapak tangan orang menjadi hitam lantas dia menduga pasti pukulan orangmengandung bisa timbul kewaspadaan dirinya, cepat ia menarik tangannya kedalam lengan bajunya dengan jurus Hian-niau hoat-su dengan jari-jarinya terbungkus dalam lengan bajunya terus menggores dengan kekuatan lwekangnya ditelapak Cin Liong-hwi yang nyelonong tiba itu kontan Cin Liong-hwi rasakan telapak tangannya seperti diiris pisau, sakitnya bukan alang kepalang, sambil menjerit keras dia jumpalitan mundur kebelakang.
Bicara lambat kejadiannya terlalu cepat.
In-tiong-yan memburu pula lantas angkat kaki menendang tubuh Cin Liong-hwi kontan menggelundung jauh dan akhirnya terbanting celentang sejauh beberapa tombak.
Untung In tiong yan masih menaruh kasihan tidak melukai jalan darah Lou-kiong-hiat, kalau tidak ilmu silatnya itu sudah punah seluruhnya.
Setelah melampiaskan amarah hatinya In tiong yan jadi berpikir.
"Kupandang persahabatanku dengan Hong-thian lui, aku tak boleh bertindak terlalu kasar padanya. Tapi cara bagaimana aku harus menjelaskan kepada nona Lu ini?"
Seperti diketahui In-tiong-yan adalah putri bangsa Mongol, sejak jauh hari Hong-thian-lui mengenalnya toh baru beberapa lama saja dia mau percaya pribadinya.
Sekarang ia baru pertama kali ini jumpa dengan Lu Giok-yau, bahwasanya belum bisa dikatakannya kenal, seumpama In-tiong yan bicara terus terang menurut keadaan yang sebenarnya mana mungkin dia mau percaya begitu saja?In tiong-yan sedang berpikir cara bagaimana dia mencari alasan untuk ajak bicara pada Lu Giok-yau, mendadak Cin Liong hwi meletik bangun serta berjingkrak berdiri teriaknya.
"Suhu, Suhu! Kau orang tua lekas datang siluman perempuan ini hendak membunuh aku!"
Terdengarlah suara dingin serak berkata.
"Siluman perempuan dari mana?"
Suaranya pun hilang orangnya tiba, tiba-tiba dihadapan mereka muncul seorang laki-laki tua mengenakan jubah panjang warna hijau. In-tiong-yan tercengang hatinya.
"Adakah orang ini Cin Hou siau? Kenapa muka mereka ayah beranak jauh berbeda! Apalagi seharusnya dia memanggil ayah kenapa memanggil Suhu malah?"
Dikala Cin Liong-hwi kena disepak jumpalitan oleh In-tiong-yan dalam kejutnya segera Lu Giok-yau mencabut pedangnya, baru saja ia siap menerjang memberi pertolongan, sekonyong-konyong muncullah seorang yang dipanggil Suhu oleh Cin Liong-hwi, keruan iapun terkejut dan tertegun dibuatnya.
Kiranya karena hajaran In-tiong-yan yang bertubi tubi itu, Cin Liong hwi menjadi kaget gusar dan dongkol pula, apalagi setelah kena ditendang jumpalitan semakin takut hatinya bila In-tiong yan benar benar hendak menghabisi jiwanya, dalam keadaan panik itu segera berkaok kaok memanggil gurunya, tanpa hiraukan lagi pesan Jin-bau-khek bila dihadapan orang luar sekali-kali dilarangmembocorkan rahasia hubungan antara guru dan murid ini.
"Siapa kau ini?"
Bentak In-tiong-yan, dalam hati ia berkata.
"Bila benar dia adalah guru Hong-thian-lui, biar aku nanti minta maaf padanya."
Setelah menyambut pukulan Cin Liong-hwi tadi meski jari jarinya terbungkus didalam lengan bajunya, tak urung telapak tangannya terasa gatal dan kesemutan.
Tidak seperti Lu Giok-yau meski ayahnya seorang tokoh persilatan yang kenamaan tapi pengalaman Kangouwnya sendiri terlalu cetek dan memang belum pernah berkelana sehingga tidak punya pengetahuan seluk beluk kehidupan di luaran.
Cin Liong-hwi mengatakan pukulan tangannya yang berbisa sebagai Bi lek-ciang untuk menipunya diapun mau percaya begitu saja.
Dulu In-tiong yan pernah bertempur sama Hong-thian lui, begitu ia menyambuti pukulan Cin Liong-hwi ini lantas tahu itulah bukan Bi-lek-ciang.
"Apalagi Cin Hou siau merupakan tokoh persilatan dari aliran lurus yang berkepandaian tinggi dari warisan keluarga yang murni, masa meyakinkan pukulan berbisa dari golongan sesat? Waktu Hong thian lui membicarakan soal ilmu silat sama aku dulu belum pernah dia rnenyinggung bahwa perguruannya juga mengajarkan ilmu kepandaian macam ini!"
Karena kesangsian inilah maka In-tiong yan berani membentak tanya kepada orang tua berjubah hijau.
Setelah angkat kepala dan melihat tegas pada In-tiong-yan, bukan kepalang kaget Jing-bau-khek,katanya tersipu-sipu;
"Harap tuan putri suka mengampuni kesalahan muridku yang tak tahu diri ini, pandanglah mukaku orang tua tak berarti ini memberi ampun padanya!"
Sembari berkata ia menjura dalam. In-tiong-yan mengayun telapak tangannya mendorong kedepan, serunya;
"Siapa kau sebetulnya, kenapa aku harus pandang mukamu untuk mengampuni bocah keparat ini?"
Dorongan tangannya ini sengaja hendak menjajal Lwekang Jing-bau khek, sudah tentu Jing-bau khek tidak berani balas menyerang tapi ilmu pelindung badannya jauh berada diatas kemampuan In-tiong-yan, sekali dorongan In-tiong yan ini sedikitpun tidak membuatnya bergeming, terasa olehnya tenaga dorongannya sendiri laksana amblas kedasar lautan dan tak berbekas, insaf bahwa kepandaian orang jauh lebih tinggi dari dirinya benaknya lantas membatin.
"Untung dia masih belum tahu bahwa aku sedang melarikan diri, terpaksa sekarang harus cepat-cepat mencari akal untuk membebaskan diri."
Cin Liong hwi mengharap gurunya menuntutkan balas bagi dirinya, diluar dugaan malah gurunya berlaku hormat, dan mohon maaf pada gadis baju hitam ini dan memanggilnya ''tuan putri".
Sebagai orang yang cerdik setelah hilang rasa kagetnya lantas ia sadar dan mengerti."Apakah perempuan siluman ini In tiong yan adanya?
Bualanku mengenai pribadinya, telah didengar pula olehnya?"
Demikian ia membatin serta merta matanya melirik kearah Giok yau, tampak muka orang pucat pias, giginya menggigit bibir kencang-kencang tak bersuara mungkin karena peristiwa ini terjadi begitu mendadak sehingga perasaan hatinya bergejolak, relung hatinya belum bisa merangkai kejadian yang dihadapi ini dengan kesadaran pikirannya.
Karena adanya sang guru dan In-tiong-yan di situ, Cin Liong-hwi menjadi berhalangan untuk memberi penjelasan seperlunya kepadanya, karena ia menjadi basah kuyup sebab gugupnya sendiri.
Untuk sesaat Jing bau khek sendiri juga belum jelas duduk perkara sebenarnya, sangkanya sebelum tiba di Lou keh ceng Cin Liong-hwi sudah mengerjai Lu Giok yau, sehingga belum bertemu dengan Lou jin-cin, tidaklah perlu dibuat heran jika terjadi bentrokan dengan In-tiong yan disitu.
Dihadapan In tiong-yan sudah tentu Jing bau khek kurang leluasa menanyakan pada muridnya, terpaksa ia menjawab pertanyaan In tiong yan lebih dulu dengan tertawa dibuat-buat ia menyahut.
"Tuan puteri tidak kenal aku tapi aku sudah bertemu dengan Koksu kalian Liong siang Hoatong sekarang kebetulan memang kami hendak menuju ke Lou keh ceng untuk menemui Liong-siang Hoatong, dengan tuan puteri sungguh tak nyana bisa beruntung jumpa disini entah bagaimana muridku yang tidak becus ini membuatkesalahan terhadap tuan putri, harap tuan putri suka memaafkan atas kesalahannya. Muridku, hayo maju mohon maaf kepada tuan putri?"
Betapapun Cin Liong hwi masih punya rasa malu setelah tahu In tiong-yan adalah tuan putri bangsa Mongol, hatinya menjadi nekad, pikirnya.
"Suhu membunuh akupun tidak sudi bertekuk lutut padanya."
Batin memang berpikir demikian serta melihat gurunya mendelik kepadanya, sikapnya yang kereng itu seketika menjadi hatinya gugup. In tiong-yan mengulapkan tangannya, ujarnya.
"Kejadian sudah berlalu tak perlu minta maaf apa segala. O ya, apa benar kau hendak ke Lou keh-ceng?"
Jing bau khek mengiakan dengan laku yang sangat hormat.
"Bagus benar kedatanganmu kalau begitu,"
Demikian ujar In-tiong-yan pula.
"Lekaslah, kau bawa muridmu ke Lou keh ceng. Bila kau ketemu Liong-siang Hoatong harap beritahukan padanya katakan aku bersama nona ini, pergi kerumahnya kira-kira dua tiga hari lagi baru bisa pulang. Sudah nona Lu mari kita berangkat !"
Jing bau khek menjadi keras pikirannya, setelah bertengkar dengan Cin Liong-hwi kenapa hubungannya begitu intim dengan putri Lu Tang-wan apakah memang mereka sudah kenal sejak lama?"
Namun meski hatinya masih dirundung berbagaipertanyaan, betapapun ia tidak berani bertanya pada In-tiong-yan.
Meski pengalaman Lu Giok yau masih cetek tapi pikirannya bisa bekerja dan tidak teledor, sesaat ia terlongong lambat laun kesadarannya dapat menyimpulkan serangkaian jalan pengalamannya selama ini yang hampir saja membuat dirinya masuk kedalam tipu daya keji orang.
Terpikir olehnya;
"Tak heran ayah sering berkata hati manusia susah diduga, bocah she Cin yang mengaku sebagai sute Hong thian lui ini ternyata adalah mata mata orang Mongol !"
Soalnya ia dengar guru Cin Liong-hwi tadi mengatakan hendak menghadap pada Liong-siang Hoatong yang menjadi Koksu bangsa Mongol, apalagi kalau bukan mata-mata yang punya intrik dengan tartar Mongol?
Demikian ia menganalisa.
Adalah jamak pula bila dia menyangsikan kebenaran asal usul diri Cin Liong-hwi ini, bukan mustahil dia pun samaran belaka.
Sebetulnya Lu Giok-yau juga tidak mempercayai In tiong-yan, namun menghadapi antara untung rugi atau berat dan ringan ini, mau tidak mau ia harus berpikir.
Sekarang diriku sudah kejeblos kemulut harimau, pergi sama In thiong-yan tidak lebih masuk ke mulut harimau yang lain, betapapun menghadapi dia seorang perempuan jauh lebih baik."
Karena pikirannya ini tetaplah tekadnya ia berkeputusan untuk membebaskan diri dari belenggu Cin Liong-hwi dulu, segera ia berangkat sama In tiong-yan.Setelah jalan rada jauh In tiong-yan mengembangkan ginkangnya, sudah tentu Lu Giok yau tak mampu mengejarnya, jarak mereka semakin jauh.
Berpikirlah Lu Giok yau.
"Eh, kelihatannya dia tidak kuatir aku melarikan diri?"
Sebab kalau In tiong-yan anggap dirinya sebagai tawanan, tidak mungkin mau meninggalkan dirinya dalam jarak yang begitu jauh.
Belum lenyap jalan pikirannya mendadak kelihatan In tiong yan berlari balik lagi, lalu ia menarik tangan orang.
Keruan Lu Giok yau kaget, teriaknya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Kita harus lekas lari,"
Demikian In tiong yan menjelaskan.
"Obrolanku hanya dapat ngapusi mereka sebentar saja, bila orang orang Lou keh ceng mengejar tiba dan bertemu mereka guru dan murid di tengah jalan bualanku akan tentu konangan mereka."
Lu Giok yau tercengang keheranan, batinnya.
"Bukankah kau tuan puteri bangsa Mongol? Kenapa takut dikejar orang orang dari Lou keh ceng?"
Tapi In tiong yan menariknya lari sedemikian kencang, meski hati dirundung berbagai pertanyaan ia menjadi susah membuka mulut.
In tiong yan mengembangkan ginkang-nya yang paling tinggi menyeretnya lari seperti dikejar setan, hal ini berarti telah membantu dia.
Terasa oleh Lu Giok yau angin menderu ditelinganya, pohon pohon dipinggir jalan berkelebat laksana kilat mundur kebelakang seperti naik awan saja dirinya bergelantungan meluncur kedepan.
Tak habis heran dan kejut hatinya, pikirnya.
"Kepandaiannya begini hebat bila ia bermaksud jelek terhadap diriku, betapapun aku tidak bakal dapat lolos dari genggaman tangannya !"
Entah berapa jauh sudah mereka lari, In-tiong yan membawanya kesebuah puncak gunung baru disini ia menghentikan kakinya. Katanya.
"Kita boleh istirahat sebentar di sini. Tapi juga hanya sekejap saja kita harus berpisah disini. Kau ada pertanyaan kepadaku boleh silahkan katakan saja."
"Hah, jadi dia benar benar ?"
Tanyanya.
"Apakah kau In tiong yan?"
In tiong yan tertawa, ujarnya.
"Benar akulah In tiong yan seperti yang dikatakan keparat Cin Liong hwi telah kawin lari sama Hong thian lui. Apakah kau masih mempercayai obrolan bocah keparat itu?'' "Lalu dimana Ling Tiat wi berada?"
Tiada tempo ia mengurus persoalan Cin Liong-hwi, yang paling diperhatikan adalah keadaan Hong thian lui.
"Kau tidak perlu kuatir ayahmu akan bisa menolongnya keluar !"
"Apa ayahku sudah menyusul tiba ke Lou-keh-ceng ?"
Teriak Lu Giok-yau kaget kegirangan.
"Ya, kuduga waktu kau jatuh pulas itulah beliau sudah sampai di Lou-keh-ceng. Kudengar seseorangberteriak memanggil ayahmu untuk menolong kau dipekarangan luar disebelah timur, maka berani kupastikan akan kedatangan ayahmu. Ada pula seorang yang membantu Hong-thian-lui melawan Liong-siang Hoatong menurut rekanku orang itu betul-betul adalah Cin Hoa-siau adanya."
Tanpa merasa Lu Giok-yau merasa kuatir akan ayahnya, katanya .
"Konon ilmu silat Liong-siang Hoatong sangat lihay entah apakah mereka bisa meloloskan diri dari Lou-keh-ceng ?"
In-tiong-yan sudah lari keluar sebelum ayah Hong-thian-lui muncul, kejadian selanjutnya ia tidak tahu sama sekali. Terpaksa ia hanya bisa membujuk pada Lu Giok-yau .
"Ilmu silat Hong thian-lui sudah pulih kembali, ilmu silat gurunya jauh lebih tinggi darinya, menurut hematku seumpama mereka tidak dapat mengalahkan Liong siang Hoatong, Liong siang Hoatong juga tidak akan dapat merintangi mereka melarikan diri."
"Semoga begitulah adanya!"
Demikian Lu Giok-yau berdoa, dalam hati ia membatin .
"Bila Ling-toako bisa lolos dari marabahaya, ayah pasti membawanya pulang. Bila aku segera pulang tentu disana bisa ketemu dengan mereka."
Tak terduga justeru In tiong-yan berkata .
"Nona Lu dalam daerah yang berdekatan sini, adakah kau punya famili ? Lebih baik famili yang rada miskin,terutama keluarga terdekat yang belum diketahui oleh pihak Lou-keh-ceng."
Lu Giok-yau tercengang sebentar katanya .
"Apakah cici hendak mencari tempat untuk menyembunyikan diri ? Cobalah kupikir sebentar !"
"Bukan aku tapi kaulah! Menurut pandanganku, untuk sementara waktu kau jangan keburu pulang kerumah."
Heran Lu Giok yau dibuatnya, tanyanya.
"Bukankah tadi kau mengatakan hendak pulang bersama aku?"
Dalam hati ia membatin.
"Kalau kau tidak leluasa berkunjung kerumahku, adalah aku sendiri kenapa tidak boleh pulang?"
In tiong-yan tertawa.
"Tadi aku omong sembarangan saja untuk menipu mereka. Sudah tentu aku tak bisa kerumah, dan kaupun tidak boleh pulang."
"Kenapa?"
"Lou Jin-cin bertetangga dalam bilangan satu keresidenan, sudah tentu dia mengetahui alamat rumahmu bukan?"
Baru sekarang Lu Giok-yau sadar katanya.
"Kau kuatir mereka akan meluruk ke-rumahku mencari perkara!"
"Benar, bila Hong thian-lui dan ayahmu serta yang lain berhasil lari keluar dari Lou keh ceng, masaLiong-siang Hoatong mau berpeluk tangan dan menyudahi perkara itu? Kuduga ayahmupun tidak begitu goblok mau segera pulang kerumah,'' lalu sambungnya lagi.
"Untung dalam waktu dekat ini Liong-siang Hoatong harus segera pulang ke Mongol, untuk sementara kau harus sembunyi menghindari malapetaka, kira kira sepuluh hari atau setengah bulan setelah mendapat berita yang pasti baru pulang!"
Tak tahunya bahwa analisa In tiong-yan justru menyimpang dari keadaan yang sebenarnya.
Lou Jin cin sudah pecah nyalinya oleh bahan peledak Ling Hou, selama berpuluh tahun dalam operasi berdagang tanpa modal dalam kalangan hitam menghasiIkan harta benda dan bangunan gedung yang megah ini boleh dikata jauh lebih banyak dari milik Lu Tang-wan, mana dia sudi mempertaruhkan segala harta milik dan jiwa sendiri dalam adu perjudian yang sulit diramalkan kalah menangnya ini.
Jika sekarang dia dapat mengalahkan dan menghancurkan segala milik keluarga Lu umpamanya, masa dia tak kuatir kelak Lu Tang-wan dan Ling Hou berani menuntut balas kepadanya?
Dengan kedudukan Liong-siang Hoatong sebagai Koksu negeri Mongol, beliau takkan sudi menunjukkan diri dimuka umum.
Sebab kedatangannya ke Tionggoan kali ini mempunyai tugas yang teramat penting artinya, segala gerak-gerik dan tindak-tanduknya disini harus serba rahasia.
Cuma soal ini In-tiong-yan sendiri tidak tahu.Namun bagi In tiong-yan pengalamannya kangouw jauh lebih luas dibanding Lu Giok yau, kuatir Lu Giok-yau tidak tahu urusan maka sebelum berpisah ia telah memberi pesan wanti-wanti, inipun maksud baiknya demi keselamatannya.
Mana dia tahu bahwa maksud baiknya justru menjadikan dia anggap dirinya kepintaran, sehingga akhirnya terjadi pula peristiwa lain yang berbuntut panjang.
"Terima kasih akan petunjuk Cici,"
Kata Lu Giok-yau.
"Cici kemana kau pergi, kenapa harus berpisah di sini? Bukankah kita lebih baik jalan bersama?'' "Aku kuatir kau kena rembet perkara ini. Mereka pasti akan mencariku kemana-mana, mana boleh kau jalan sama aku?"
"Aku jadi tak mengerti, bukankah kau tuan putri? Kenapa harus takut kepada mereka?"
Ada sebuah kata yang menyuapi hati orang tak enak diucapkan, sebetulnya ia ingin bertanya, ''Kenapa pula kau mau bantu aku ?"
"Dalam waktu singkat sulit menerangkan, kelak bila kau ketemu Hong-thian-lui segalanya dapat kau ketahui!"
Belum habis kata katanya, tiba-tiba didengarnya derap langkah kaki kuda yang berlari pesat sekali, lambat laun, semakin dekat, dan menuju kearah sini. In-tiong-yan tertawa dingin.
"Cepat benar kedatangan mereka!""Bila yang datang keparat she Cin itu, kulabrak dia habis-habisan!"
Demikian ujar Lu Giok yau dengan gemas.
"Jangan ceroboh, yang datang bukan hanya satu, Em, satu dua tiga semua ada empat orang,"
Dalam hati ia membatin ;
"Tunggangan mereka sama kuda kuda jempolan dari luar perbatasan, mungkinkah keempat Kim-tiang Busu yang mengejar kita ?"
Sebagai nona yang dibesarkan dipadang rumput, dari derap kaki kuda kuda itu dapatlah ia mengukur dan menaksir kuda macam apakah itu.
Lu Giok yau maklum akan peringatan In-tiong yan tersentak hatinya, pikirnya .
"Ya, mereka bukan hanya seorang, meski ada bocah keparat she Cin itu, mana ada kesempatan aku melabrak dia?"
Diam-diam ia sangat sesalkan kepandaian sendiri yang tidak becus, sesaat ia kehilangan pegangan diri sendiri, katanya.
"Lalu bagaimana ?"
"Lekas kau sembunyi, tak perduli apapun yang terjadi jangan sekali kali kau keluar, biar aku yang hadapi mereka."
Tempat dimana berada sekarang hanyalah sebuah gugusan tanah tinggi menurut perhitungan In Tiong-yan, para pendatang itu tentu akan naik kemari dalam jangka waktu satu jam, cukup untuk memeriksa seluruh gunung untuk sembunyi juga tidak bisa lagi, paling diseret pulang pula.
Sebetulnya ia tidak sudi pulang kembali ke Holin, jadi supaya Lu Giok-yautidak jatuh ketangan musuh, tidak bisa tidak ia harus mengorbankan dirinya sendiri.
Dengan langkah ringan In-tiong-yan berjalan keluar hutan, dia siap menanti kedatangan mereka untuk mencegah mereka memeriksa kedalam hutan.
Tak terduga belum lagi ia berjalan keluar dari hutan, didengarnya derap kaki kuda yang cepat itu sudah melewati gunung dan semakin jauh dan akhirnya tak terdengar lagi.
O^~dwkz^hendra~^O
Jilid 17 In tiong-yan merasa diluar dugaan, pikirnya.
"Umong dan kawan kawannya menerima tugas Koksu mengejar aku, tindakan mereka pasti tidak begitu ceroboh, melihat pinggir jalan ada sebidang hutan, kenapa mereka tidak kemari untuk memeriksanya, mungkinkah terkaanku yang salah?"
Lu Giok yau juga menyusul keluar, katanya.
"Apakah mereka sudah pergi ?"
"Tak dapat dipastikan apakah benar mereka mengejar aku, mungkin nanti mereka bisa balik kesini. Sebelum mereka balik marilah lekas tinggalkan tempat ini, aku menuju kedepan dan kau lebih baik lari dari jurusan yang lain."Sebelum berpisah terasa berat perasaan Lu Giok yau, katanya;
"Cici, kau hendak kemana?"
In tiong-yan tertawa getir, sahutnya.
"Aku sendiri juga tak tahu. Jangan kau risaukan diriku, lekaslah berangkat!"
Apa boleh buat terpaksa Lu Giok-yau turun gunung, setelah berjalan beberapa lama melihat tiada pengejar datang, legalah hatinya, pikirnya.
"Ucapan In tiong yan memang benar untuk sementara lebih baik aku tidak pulang saja."
Teringat oleh ia punya bu inang yang bertempat tinggal diselokan bawah gunung sana, bu inang itu pasti orang orang Lou-keh ceng tidak akan mengenalnya, lebih baik aku kesana dulu sembunyi seluruh atau setengah bulan malah bisa minta bantuannya mencari berita diluar.
Siapa tahu tanpa aku keluar ayah dan Ling toako bisa menjemput aku kemari setelah mendengar beritaku."
Perhitungannya memang cukup muluk, sayang kejadian didunia ini kadang-kadang menyimpang dari kehendak manusia.
Terpaksa kita tinggalkan keadaan Lu Giok-yau, marilah kita ikuti perjalanan In tiong-yan.
Sejak berpisah dengan Lu Giok-yau batinnya terasa hambar, pikirnya;
"Setelah bersembunyi barang beberapa hari nona Lu itu masih punya rumah dan bakal jumpa pula dengan ayahnya, terlebih punya harapan bersua kembali dengan kekasihnya. Aku sebaliknya keluntang keluntung tak punya untuk menetap lagi,"terpikir pula olehnya.
"Aku sudah menitipkan Pinghoat itu kepada Sip It sian untuk diberikan kepada Hek swan-hong, tujuanku sudah terlaksana, kuduga Hek-swan hong pasti masih ingin mencari aku, tapi aku tiada minat bertemu pula dengan dia,"
Maklum dia sebagai seorang tuan putri bangsa Mongol, Mongol bakal menyerbu ke Tionggoan adalah kejadian yang pasti soalnya tinggal tunggu waktu saja.
Dan bila peristiwa sudah terjadi terang dan gamblang Hek swan hong pasti berdiri dipihak yang bermusuhan dengan dirinya.
Setelah ia menyerahkan Pinghoat itu kepada Hek-swan-hong, ia sudah bertekad untuk tidak pulang lagi kenegeri sendiri.
Tekad hatinya ini sudah merupakan suatu pengorbanan terbesar selama hidupnya, seumpama ia harus selangkah setindak lebih maju berdiri dipihak dan sejajar dalam jalan dan haluan yang sama dengan Hek swan-hong paling tidak dalam saat ini, betapapun ia belum berani mengambil keputusan ini.
Dalam hati In-tiong-yan tertawa getir.
"Meski luas bumi dan langit ini dimana tempatku meneduh? Apa boleh buat meski tiada rumah untukku menetap lebih baik kelana saja di Kangouw, hidup demikian jauh lebih bebas lebih leluasa untuk bergerak sesuka hati."
Dia berjalan seiring dengan arah keempat kuda tunggangan tadi, sangkanya pasti keempat penunggang kuda itu bakal balik kembali, namun diluar dugaan, sepanjang jalan yang dilalui ini seorangpun tidak pernah ditemuinya.Tanpa punya tujuan In-tiong-yan melanjutkan kedepan, bila sampai ditempat-tempat yang indah panoramanya tentu ia berhenti untuk menikmati alam semesta, langkahnya enteng dan kehendaknya bebas seenaknya.
Begitulah ia melanjutkan perjalanan tanpa tujuan, kira-kira tiga hari kemudian tibalah dia disuatu tempat, tiba tiba didengarnya derap langkah kuda yang dibedal kencang, dapat dilihatnya didepan mana jauh sana debu mengepul tinggi, In-tiong-yan memasang kuping dengan cermat, tahu dia bahwa yang datang ini adalah empat penunggang kuda yang hebat dibawah gunung tempo hari.
"Akhirnya mereka kembali juga, tapi tiga hari kemudian baru menyerah berbolak-balik, mungkin tujuannya bukan aku lagi."
Demikian pikir In tiong yan hatinya menjadi ketarik ingin ia melihat siapa sebenarnya keempat penunggang kuda ini.
Tapi keempat penunggang kuda itu mendadak membelokkan tunggangannya kearah sebuah jalan kecil terus dibedal pula dengan pesat.
Karena debu mengepul tinggi, In tiong yan hanya melihat samar samar saja sehingga tidak diketahui siapa mereka sebenarnya.
Tatkala itu cuaca adalah menjelang senja, setelah melakukan perjalanan pula beberapa lama dilihatnya didepan sana sebuah kota kecil akhirnya ia memasuki kota dan menginap disini.Disalah satu penginapan dilihatnya seorang pelayan sedang menuntun masuk kedalam kandang keempat ekor kuda, keempat kuda itu sama berbulu putih dan bertubuh tinggi kekar, selayang pandang cukup bagi In tiong yan untuk menilai bahwa keempat ekor kuda itu adalah kuda jempolan dari luar perbatasan.
"Mungkinkah tunggangan keempat orang itu?"
Demikian batin In tiong yan. Tengah ia membatin, betul juga lantas didengarnya dari dalam sana seseorang berseru memberi pesan kepada pelayan itu.
"Keempat kuda kita ini harap Siauko suka memberi makan rumput yang kenyang dan menyikatnya sampai bersih. Besok pagi pagi kita akan melanjutkan perjalanan."
Memang ln tiong yan hendak mencari penginapan segera ia masuk kedalam, tanyanya kepada Ciangkui (pemilik hotel).
"Adakah kamar yang baik?"
Sebagai seorang yang menyayangi binatang terutama kuda yang bagus diwaktu memasuki penginapan dan melewati kandang kuda tak urung ia berpaling beberapa kali.
Pemilik hotel sedang bicara dengan seorang laki laki pertengahan umur melihat perempuan cantik molek macam In-tiong yan mencari penginapan tak terasa ia jadi melongo heran.
Pemilik hotel ini berontak cerdik dan hati hati sekali, ia berpikir nona muda yang berparas demikian cantik keluyar keluyur diluaran tanpa seorang temanpun mungkin bukan perempuan baik baik.
"Rampok perempuan, aku tak berani mencari perkara padanya seumpama bukan begal tunggal perempuan mungkin perempuan yang minggat dari keluarganya, betapapun aku bakal kena perkara hukum."
Bagi terkaan pemilik hotel, asal usul In tiong yan tidak lepas dari dua dugaan, kalau bukan begal perempuan tentulah anak gadis orang yang minggat mencari gendaknya.
Tanpa merasakan ia mengurutkan kening dengan cermat ia mengamati In-tiong yan sahutnya.
"Maaf nona, penginapanku yang kecil ini sudah penuh. Jangan kata kamar bagus yang paling sederhana juga sudah tiada!"
In-tiong yan rada kecewa soalnya kota kecil ini hanya punya sebuah hotel ini saja. Karena kecewa ia menjadi uring uringan, desaknya.
"Apa betul? Wah sungguh jelek nasibku!"
Mendengar nada orang rada curiga akan keterangannya segera pemilik hotel menambahkan.
"Buat apa aku menolak kau ada penghasilan masa tidak akan kami terima? Kalau tidak percaya nona kau tanyakan tamuku itu."
Tak terduga laki laki pertengahan itu tiba tiba menyela bicara.
"Nona, kamar yang aku tempati justru kamar baik boleh kuserahkan sebuah kamar pada kau!""Mana boleh begitu,"
Ujar In tiong yan kikuk.
"Biar aku mencari penginapan lain saja, jangan menyulitkanmu."
"Tidak menjadi soal, kami semua berempat tanpa membawa keluarga tidur saling berhimpitan tidak mengapa. Orang sering berkata berada diluar kalau memberi kesempatan orang lain berarti memberi keleluasaan pada hati sendiri pula. Nona, kau jangan sungkan sungkan lagi,"
Demikian laki laki pertengahan itu berkata simpatik. Adalah pemilik hotel malah yang menjadi tersipu sipu, katanya.
"Nona ini hendak mencari tempat lain apalagi kalian berempat...."
Sebelum ia bicara habis laki laki itu sudah menyeretnya kesamping, katanya berbisik.
"Kau kuatir kita tidur berempat berhimpitan dan tidak leluasa bukan? Kalau begitu kau berikan pula dua kamar disamping sana yang masih kosong itu kepada kami! Aku telah membantu kau menghilangkan kerugiannya tahu tidak? Jangan kau tidak tahu diri apa perlu kubongkar kebohonganmu dihadapannya?'' pemilik hotel jadi bungkam dan tak berani banyak bacot lagi terpaksa ia manggut menyetujui. Walaupun laki laki itu bicara dengan lirih tapi dengan lwekang In-tiong yan yang tinggi itu ia dapat mendengar dengan jelas, timbullah rasa curiganya, pikirnya.
"Walau pemilik hotel ini cukup kurangajar tapi dia menolak diriku menginap disini karena punyaalasannya sendiri karena tidak mengenal asal usulku, sebaliknya laki laki itu sudi memberikan kamarnya kepadaku, entah bermaksud baik atau punya tujuan buruk? Tapi akupun tidak perlu takut pada mereka."
Sementara mereka sedang bicara, tiga laki laki yang lain tampak keluar dari kamar. Laki laki pertengahan umur itu segera menjelaskan.
"Nona tiada tempat untuk menginap, aku berkeputusan hendak memberikan sebuah kamar kepadanya!"
Ketiga orang itu mengiakan bersama.
"Ah, tak menjadi soal, kan sudah seharusnya saling bantu. Dan lagi kami tak membawa perbekalan apa apa, gampang untuk dicangking kesebelah."
Pemilik hotel menimbrung bicara.
"Sewa kamar kalian sudah bayar, apakah harus kuambilkan?"
"Tidak perlulah,"
Sahut salah satu dari ketiga orang itu. Tapi In Tiong-yan tak mau menerima kebaikan orang mentah-mentah, seenaknya ia mencomot keluar sebutir emas dan terus diangsurkan kepada pemilik hotel katanya.
"Kacang emas ini mungkin seharga beberapa tail perak kelebihannya boleh tak usah dikembalikan!"
Bisanya bagi yang kelana pada kangouw berpantang mengandal harta benda punya sendiri tapi In-tiong-yan memang sengaja berbuat begitu untuk mencoba keempat laki laki itu, apakah mereka dari golongan hitam.
Bagi pemilik penginapan dalam sebuah kota kecil, kapan pernah melihat tamuyang begitu royal mau mengandal uang, dalam hati ia berpikir lagi.
"Seumpama dia adalah begal perempuan, apa pula peduliku. Mas murni yang tulen ini setelah masuk kantong masakan aku lempar pula?'' Setelah menerima pembayaran yang berkelebihan ini terbuka lebar tawa sipemilik hotel, katanya berseri.
"Nona kau ingin makan dan minum apa? silahkan pesan saja. Meskipun warungku kecil, dan tiada makanan berharga, kami akan berusaha mempersiapkan hidangan yang paling lezat."
"Sudah jangan banyak repot, aku hanya ingin makan sayur mayur yang segar saja."
Melihat In-tiong-yan mengudal biji kacang mas, keempat orang itu seketika berobah air mukanya, tampak mereka sangat heran, tapi tiada satu pun yang buka suara.
Seorang yang paling muda diantara mendahului masuk kedalam memindahkan barang perbekalannya lantas mempersilahkan In-tiong-yan masuk.
Semula In-tiong-yan menyangka mereka bakal bicara basa-basi dengan dirinya, siapa tahu mereka bungkam saja tanpa menanyakan she dan namanya.
Setelah makan malam lantas In tiong yan merebahkan diri tanpa ganti pakaian lagi.
Sambil merebahkan diri, pikirnya melayang.
"Siapakah orang orang ini? Aku mengeluarkan uang mas tapi melirikpun tidak, kelihatannya bukan bangsa perampok yang mata duitan. Tapi aku harus tunggu sampai nanti malam baru bisa tahu."
Lalu terpikir pulaolehnya.
"Seumpama benar mereka adalah golongan hitam, bisa memiliki kuda kuda jempolan sebagai tunggangan tentu mereka bukan rampok sembarang rampok. Mungkin mereka punya incaran lain yang lebih besar lebih gemuk, sudah tentu sebutir uang mas yang berharga beberapa tail perak itu tidak menjadi perhatian mereka."
Kedua kamar yang masing masing mereka tempati kebetulan berhadapan satu sama lain, kuatir keempat orang ini tengah malam nanti menggerayangi dirinya sudah tentu In tiong-yan tak berani tidur nyenyak.
Tunggu punya tunggu tahu-tahu sampai kentongan ketiga tiba-tiba didengarnya lapat kamar sebelah ada suara bisikan dari pembicaraan mereka.
Keempat orang itu tidur berjajar diatas ranjang dan bicara berbisik dipinggir telinga tapi mereka tidak tahu bahwa ln tiong-yan justru unggul dan mahir Ginkangnya, bagi seorang tokoh yang lihay Ginkangnya, penglihatan mata dan pendengaran kupingnya tentu sangat tajam, meskipun mereka bicara bisik-bisik namun In tiong yan dapat mendengar pembicaraan mereka dengan jelas.
Terdengar salah seorang dari mereka tengah bicara.
"Samte, apakah kau kepincut pada perawan sebelah itu? Memang keayuan gendak itu luar biasa dan sukar dicari bandingannya dikolong langit ini!"
Sambil meraba gagang pedangnya, In-tiong-yan berpikir .
"Wah bila mereka adalah maling pemetikbunga (maling cabul) terpaksa malam ini aku harus tumpas dan membunuh mereka."
Tak tahunya jalan pikirannya menyimpang dari kenyataan.
"Samte"
Yang dimaksud tadi adalah laki-laki yang memberikan kamarnya itu kepada In-tiong-yan, terdengar suaranya menyahut .
"Toako, kenapa kaupun mencurigai aku ? Masakah Siauwte mau orang macam begitu yang rendah martabatnya ?"
Orang yang dipanggil Toako itu berkata.
"Dapat melihat bisa menilai, adalah jamak kalau kau ketarik pada gendak ayu itu, itupun tidak melanggar kesusilaan. Tetapi sebenarnya gendak ayu itu memang rada aneh dan mencurigakan, kau harus hati-hati terhadapnya."
Samte itu menyahut;
"Toako tadi kan sudah kukatakan aku mengalah memberikan kamar toh karena ingin membantu sekedar kesulitan orang, adalah apa bila aku mempunyai tujuan lain. Besok pagi-pagi kita boleh berjalan kearah masing-masing tidak saling sentuh atau menyinggung kenapa pula aku harus hati-hati?"
"Tapi Toakopun bermaksud baik,"
Demikian ujar Samte.
"Adanya petunjuk Toako sungguh membuat siauwte banyak tambah pengalaman. Rasanya sudah terlambat bila aku nyatakan terima kasihku sekarang. Mana aku menjadi marah atau dongkol, tapi Toakomengatakan nona itu aneh dan mencurigakan, entah kemanakah maksud juntrungannya?"
"Masa kau belum melihatnya bahwa dia pun orang kalangan persilatan?'' tanya sang Toako.
"Benar,"
Sela seorang lain.
"Dia membayar uang mas sebagai uang perak, sembilan puluh persen tentu dia dari golongan hitam."
"O,"
Samte itu bersuara lagi.
"Jiko jadi kaupun mencurigai bahwa dia sekomplotan dengan Liu Sam nio?"
"Kemungkinan Liu Sam nio sendiri belum tentu lebih unggul dari genduk ayu itu,"
Demikian sahut sang Jiko, maksudnya bahwa gadis remaja dikamar sebelah ini pasti bukan sekomplotan dengan Liu Sam nio.
"Kau toh belum melihat ia pernah menunjukkan kepandaiannya, dari mana kau dapat tahu ilmu silatnya jauh lebih tinggi dari Liu Sam nio,"
Demikian sela orang keempat yang sejak tadi tetap bungkam.
"Masa perlu turun tangan lagi, dilihat dari kilatan matanya sudah cukup!"
Demikian sang Jiko menjelaskan.
"biji matanya tampak berkilatan dan berwibawa, terang membekal Lwekang yang cukup matang. Sebaliknya Liu Sam nio hanya mahir dalam menggunakan pisau terbangnya, menurut apa yang kutahu hakikatnya dia belum pernah berlatih Lwekang."Mencuri dengar dari tempatnya tidur, bercekat hati In-tiong yan, pikirnya.
"Pandangan orang ini jitu betul, didengar dari pembicaraan mereka, agaknya mereka dari golongan lurus."
Teringat bahwa dirinya mencurigai pihak orang demikian juga pihak sana sedang mencurigai dirinya pula tak terasa ia tersenyum geli sendiri. Sementara itu si Samte sedang berkata pula.
"Toako, pengalamanmu lebih luas. Begal perempuan di Kangouw beberapa saja jumlahnya menurut anggapanmu siapakah dia adanya."
"Menurut hematku belum tentu dia seorang begal dari golongan hitam, In-tiong yan nama ini apakah kalian pernah dengar?"
Demikian sang Toako mengajukan pendapatnya. Terkejut In tiong yan dibuatnya, batinnya.
"Lihay benar Toako ini, dapat menebak asal usulku."
"O, Toako, jadi kau curiga bahwa dia itulah In-tiong-yan?"
Tanya Jiko.
"Bicaralah yang lirih jangan sampai terdengar olehnya,"
Demikian sang Toako memperingatkan.
"Kenapa In-tiong yan berada di Lou keh ceng, ada seorang Koksu yang bernama Liong siang Hoatong dari Mongol bersama dia mana mungkin dia berada disini seorang diri?"
Demikian sang Jiko menyatakan kesangsiannya meski ia sedapat mungkin berkatadengan suara sangat lirih, tapi In tiong yan memasang kuping dengan tajam ia jelas mendengar juga.
"ltu hanya terkaan saja,"
Demikian sahut Toako.
"Semoga bukan dia adanya kalau tak kuatir kita bakal mengalami kesulitan nanti."
"Sebenarnya orang macam apakah In-tiong yan itu?"
Tanya sang Samte.
"Sulit dikatakan,"
Demikian sang Toako menjelaskan.
"Ada kalanya dia melakukan dharma baktinya untuk rakyat jelata tapi selama ini belum berhubungan atau punya sangkut paut dengan golongan pendekar kita. Tapi kenyataan ia berada di Lou-keh ceng apalagi Liong-siang Hoatong itu Koksu dari Mongol. Malah boleh dikatakan mungkin dialah mata mata perempuan yang diutus pihak Mongol."
"Kiranya mereka belum mengetahui asal-usulku yang sebenarnya!"
Demikian pikir In-tiong yan. Terdengar sang Jiko berkata.
"Bukan mustahil dia adalah In-tiong yan tulen? Emh, Toako, menurut pandanganmu mungkinkah dia seorang Iblis perempuan lainnya yang punya sepak terjang serba misterius?"
Semakin dengar In tiong-yan semakin heran, batinnya.
"O, jadi di kangouw muncul pula seorang perempuan Iblis lain, mengapa aku belum tahu?"Belum lenyap pikirannya terdengar Samte itu menimbrung.
"Nona Nyo boleh dianggap seorang Iblis!"
Sang Jiko tertawa, ujarnya.
"Kudengar katanya kau pernah jumpa dengan dia, apakah kau sudah kepincut olehnya?"
Samte mendebat, katanya.
"Aku berani pastikan bahwa nona Nyo bukan macam orang yang kalian bayangkan. Jiko kuharap kau jangan membual."
Bermula suaranya cukup lirih, karena terbawa perasaannya, suaranya semakin keras, agaknya hatinya rada dongkol dan marah.
Samte itu selamanya sangat menghormati Toakonya, maka dia hanya gunakan istilah membual saja, dan hal inipun belum pernah terjadi.
Keruan Jikopun melengak juga hatinya mendelu, katanya uring-uringan.
"Sudah kau jangan berkaok-kaok lagi ? Kalau begitu coba katakan orang macam apakah dia sebenarnya ?"
"Soal asal usulnya, tidak lama lagi tanggung kalian sendiri juga bakal tahu sendiri,"
Demikian sahut si Samte dengan tawa yang mengandung arti.
Jelas maksudnya bahwa saat ini dia sengaja mau tutup mulut dan tidak sudi membeberkan rahasia ini.
Mendengar ucapan yang mengandung arti sang Toako juga menjadi keheranan, pikirnya.
"Kalau ada urusan selamanya Samte tidak pernah mengelabui kami, mengapa pertemuannya dengan iblis wanitayang merupakan urusan besar ini tidak mau memberitahukan kepada kita ?"
Demi menghindari sang Jiko merasa disepelekan, segera ia berkata sama tengah .
"Kalau samte tidak mau menyinggung soal nona Nyo itu maka tidak perlu kita bicara mengenai dirinya lagi. Yang benar urusan kita sendiri belum selesai, mana ada tempo mengurus persoalan orang lain ?"
In-tiong yan mencuri dengar disebelah justeru ketarik pada persoalan Iblis perempuan ini, dalam hati ia membatin .
"Entah urusan apakah yang mereka akan urus, apa pula yang telah dilakukan Iblis perempuan itu. Aku sendiripun pernah dianggap orang banyak sebagai iblis perempuan, semoga aku bisa tahu siapakah nona Nyo itu sebenarnya, ingin rasanya aku berkenalan dengan dia."
Karena kebentur dinding untung toako menghalangi sama tengah sehingga Jiko tidak kena malu, ujarnya.
"Benar, justeru aku menguatirkan kita tak berhasil menemukan Geng-kongcu cara bagaimana kita harus menyelesaikan tugas ini ?"
Sampai disitu tergerak hati In-tiong-yan, pikirnya .
"She Geng adalah she kecil, tokoh kangouw yang punya nama she Geng justru sangat sedikit jumlahnya. Geng-kongcu yang mereka maksudkan ini bukan mustahil adalah Sam-tian-jiu Geng Tian !"
Benar juga lantas terdengar Site yang paling sedikit bicara itu membuka pertanyaan.
"Toako apakah beritakedatangan Geng-kongcu dari Kanglam dapat dipercaya ?"
Geng-kongcu dari Kanglam sudah pasti adalah Geng Tian adanya. Kata Toako.
"Pangcu kami sendirilah yang memperoleh berita ini, sudah tentu berita ini dapat dipercaya."
Kata Site .
"Berita itu mengatakan sementara ia singgah dirumah keluarga Lu Tangwan bila berita ini dapat dipercaya mengapa Lu-hujin berkukuh mengatakan bahwa ia tak kenal dan belum pernah bertemu dengan orang itu ? Mungkinkah Lu-hujin membual ?"
Jiko mendengus selanya.
"Perempuan bawel itu setiap kali teringat dia lantas jengkel hatiku nama kita kan bukan kaum keroco dikangouw, hari itu hampir saja kita diusir keluar olehnya."
Baru sekarang In tiong yan paham, kiranya keempat orang ini pernah bertandang kerumah Lu Tangwan untuk mencari Geng Tian, tapi kena diusir oleh ibu Lu Giok-yau.
Dari penuturan Hong thian lui, In tiong yan tahu bahwa Geng tian pernah datang kerumah keluarga itu, ia berpikir.
"Kenapa Lu hujin tak mau bicara sejujurnya pada mereka? Orang orang itu begitu hormat menyebut nama Geng Tian dengan sebutan Geng kongcu, mungkin bekas anak bawahan ayahnya itu. Kalau toh mereka bukan bangsa keroco yang tidak bernama, apakah Lu hujin tak mengenal asal usulmereka? Seumpama tidak tahu juga tidak seharusnya bersikap cuci tangan tak mau ambil tahu persoalan ini malah mengusir mereka keluar rumahnya pula? Apakah ada latar belakangnya?"
Terkaan In tiong yan memang tidak salah, Lu hujin tidak mau mengaku pernah bertemu dengan Geng Tian memang ada latar belakang lainnya.
Tapi latar belakangnya justru sampai mimpi juga tak akan terduga olehnya, hal duduk perkaranya ikut curiga sang Toako itu juga sudah lama merasa curiga.
Selagi In tiong yan tenggelam dalam alam pikirannya, terdengar sang Toako bicara lagi.
"Kulihat perempuan bawel itu bukan takut urusan justru ia mengandung tujuan yang tidak genah, sengaja ia mungkir pada kami akan perkara yang sebenarnya. Untung sekarang kita sudah mendapat kabar berita yang sesungguhnya, Lu tang wan sudah pulang kandang. Untuk keduanya kita mohon bertemu dengan Lu Tangwan, kuduga Lu Tangwan tidak begitu pengecut menampik kedatangan kita!"
Si Jiko itu justru menjengek dingin;
"Toako seketika beluk hal ini, mungkin kau sendiri masih belum jelas bukan?"
"Hal apa yang kau maksud?"
"Lu Tang wan punya seorang keponakan yang bernama Khu Tay seng, apakah kau tahu tentang pemuda itu?""Bu bing-siau cat (kaum keroco yang tak bernama) masa aku bisa tahu? coba kau jelaskan bagaimana dengan bocah itu?'' Baru sampai sekian pembicaraan mereka mendadak didengarnya derap langkah orang banyak yang berbondong menerjang masuk kerumah penginapan ini. Meski In-tiong-yan tidak takut, tak urung ia terkejut juga. Pikirnya.
"Bila yang datang ini adalah kawanan rampok, wah aku bakal menonton keramaian disini.'' Benar juga lantas mendengar keributan di luar, terdengar pemilik hotel berteriak.
"Petugas hukum datang memeriksa, harap semua tamu bangun membuka pintu masing masing."
Kiranya bukan rampok ternyata adalah polisi! Sebetulnya In-tiong yan hendak ngeloyor pergi tetapi setelah dipikir kembali akhirnya ia tetap tinggal dalam kamarnya, pikirnya.
"Para petugas anjing ini bila berani mempersukar diriku terpaksa harus melanggar peraturan."
Kiranya waktu mulai mengutus dia datang ke Tionggoan melakukan tugasnya pernah berpesan wanti wanti padanya, supaya jangan sekali-kali membuka kedok aliasnya sendiri terutama jangan sampai pihak penguasa setempat (pemerintah Kim) tahu akan asal usul dirinya.
Maka selamanya ia selalu menghindari kena perkara dengan para petugas hukum.
Tapi sekarang lain hanya ia sudah berkeputusan untuk tidak pulang kembali ke Mongol,mengenai perintah dan tugas yang diberikan oleh Dulai kepadanya tidak begitu mengindahkannya lagi, soalnya iapun ingin mengetahui lebih lanjut cara bagaimana keempat orang disebelah itu menghadapi para petugas hukum ini.
Dari sela-sela pintu In tiong yan mengintip keluar, tampak si orang perwira sedang bertanya pada pemilik hotel.
"Keempat ekor kuda itu milik siapa?"
Sahut pemilik hotel.
"Milik empat tamu yang bersama soal apa kerjaan mereka aku tidak tahu, nah, mereka menetap di kamar itulah."
Baru saja In-tiong-yan mau menonton keramaian tak terduga "blang"
Justru pintu kamarnyalah yang ditendang jebol oleh seorang petugas, kontan menerjang masuk seorang opas yang bermuka tirus bertubuh kurus kecil.
Laki-laki tirus ini memicingkan mata, mulutnya berkecek kecek, dengan sikapnya yang kurang ajar ia berkata.
"Aduh genduk ayu, mana kekasihmu! Kuduga kau sudah berjanji dengan gendukmu untuk kawin lari bukan?'' "Kau kemari!'' ujar In-tiong yan menggapai tangan. Laki laki tirus itu menjadi kegirangan, katanya cengar cengir.
"Ada omongan mesra apa yang hendak kau ucapkan padaku! Genduk ayu, kau tak perlu takut, lari kawin bukan dosa yang terlalu besar, cukup asalkugeledah sekedarnya bila benar kau tidak lari dengan menggondol harta urusan tidak akan ditarik panjang."
Dalam bicara itu ia sudah maju mendekati In tiong-yan, tangannya sudah terulur hendak menjamah, tiba ia menjerit "aduh"
Kontan ia bertekuk lutut, kiranya jalan darah Hoan thiau-hiat didengkulnya telah tertutuk oleh In-tiong-yan.
Suara jeritannya itu membuat kaget orang-orang yang berada diluar, seorang laki-laki pertengahan umur yang memelihara jenggot kambing segera berseru.
"Ong losam kenapa kau?"
Dengan langkah lebar ia menerjang masuk kedalam kamar, begitu berhadapan dengan In-tiong-yan, kedua belah pihak sama melengak, ternyata laki-laki pertengahan umur tidak lain tidak bukan adalah Ciok Goan, Jicengcu dari Ciok-keh-ceng di Tay-tong-hu.
Terdengar seorang yang lain berseru tertawa.
"Losam memang selalu kepincut paras ayu dan melupakan urusan penting. Ciok cengcu tak usah kau urus dirinya, lebih penting kita bekuk empat kambing gemuk di sebelah."
Opas dari teng-ciu, Ciok Goan dan beberapa orang lainnya datang bersama membantu mereka mengadakan razia ini.
Waktu dipuncak karang kepala harimau di gunung Liang-san Ciok Goan pernah menyaksikan kepandaian In tiong-yan.
Tatkala itu dengan mata kepala sendiri ia saksikan orang mengorek biji mata murid Lian Hou-bing dan memapas kedua telinga siahli tutuk jalan darah ini, betapa telengas cara turun tangannya bila telinga Ciok Goan masih merinding dan ciut nyalinya, setelah melengak sebentar cepat ia putar tubuh serta berteriak.
"Dia, dia ...."
Kenapa In tiong yan juga terkejut, soalnya Ciok Goan sudah tahu asal usul dirinya, dikalangan Kangouw meski belum tahu bahwa dirinya adalah "tuan putri"
Dari Mongol tapi setelah tahu bahwa dirinya adalah In-tiong-yan mungkin bakal membawa kesulitan pada dirinya. Timbullah nafsunya untuk membunuh pikirnya .
"Aku terlanjur untuk aku menaruh muka di sini, baiklah kubunuh keparat ini untuk tutup mulut dan tinggal pergi beres,"
Gesit sekali ia mengejar keluar terus melancarkan serangan yang mematikan.
Ciok Goan merasakan datangnya segulung angin kencang menerpa datang kearah punggungnya, kata kata selanjutnya mana sempat diucapkan lagi ?
Tanpa menghiraukan betapa runyam keadaan saat itu, segera ia menjatuh diri terus bergelindingan ditanah dengan ilmu La-lu-ta gun (keledai malas menggelinding) beruntun ia menggelundung dua kali baru berhasil terhindar dari pukulan In-tiong yan yang mengarah jalan darah yang mematikan di punggungnya.
Begitu pukulan In tiong-yan dilancarkan saat itu juga iapun merasakan sambaran angin keras menerjang dari samping, jelas ada seorang yang menyerang kepada dirinya.
Orang ini bermuka kuruskuning, usianya kira-kira dua puluh satu tahun, tapi jurus serangan Eng-jiau-jiau yang dia lancarkan sungguh cukup ganas dan lihay, lwekang orang itu kelihatannya juga tidak lemah.
Sekali berkelebat In-tiong-yan menghindar dan berbareng tangannya menyampok balik memapas pergelangan tangan sipenyerang gelap ini dengan hebatnya.
Tapi gerakan sipenyerang juga cukup sebat, lekas telapak tangan kiri bergerak mundar-mandir memunahkan rangsangan balasan In-tiong-yan berbareng telapak tangan didorong ke depan dengan jurus Wan-kiong sia-tian (membidik memanah garuda) ia balas menyerang meski ia bergerak dan balas menyerang dengan sangat cekatan, tak urung lengan tangannya kena keserempet oleh ujung telapak tangan In-tiong-yan, terasa sakit panas dan kesemutan.
Bahwa terkejutnya ia berteriak ketakutan .
"Suhu Suhu !"
Bukan gurunya yang datang justru Ciok Goanlah yang putar balik.
Begitu mendengar orang meneriaki sang guru sekonyong2 Ciok Goan sadar, ada elang hitam berada disini kenapa aku harus takut menghadapinya!"
Begitu ia meletik bangun tubuhnya terus berputar kembali, dilihatnya kesempatan yang baik ini demi menolong muka sendiri yang kena malu tadi kontan ia ayun segenggam pasir beracun terus ditaburkan kearah In-tiong-yan.In tiong yan tertawa dingin, jengeknya.
"Waktu digunung kepala harimau untung kau dapat menyelamatkan jiwa anjingmu, sekarang berani pula kau gerakan cara lama yang licik ini."
Dalam pertempuran dipuncak karang kepala harimau digunung Liang san dulu Ciok Goan menggunakan pasir beracunnya membokong secara licik kepada Hek-swan-hong akibatnya bukan saja tidak berhasil melukai Hek-swan-hong malah senjatanya sendiri makan tuannya.
Setelah pulang ia harus mengobati luka-lukanya, selama setahun baru pulih kembali.
Sebetulnya Ciok Goanpun tahu akan kelihayan In-tiong-yan, soalnya ia mengira betapapun lihay dan tinggi kepandaian In-tiong yan tidak lebih ia sebagai kaum hawa yang mempunyai kelemahan, Iwekang atau tenaga dalamnya mesti tidak ungkulan jika dibandingkan dengan Hek swan hong, pula mengandalkan perbawa si Elang hitam yang hadir pula disitu.
Demi gengsi maka tanpa banyak pikir lagi ia taburkan segenggam pasir beracunnya.
Tepat pada saat itu pula terdengar suara.
"Blang! Blang!"
Dua kali.
Ada dua orang terlontar keluar jumpalitan dari kamar sebelah, begitu hebat tenaga lontaran ini sehingga kedua orang yang bergelindingan sejauh beberapa tombak dan akhirnya rebah celentang diluar pekarangan itu.Kedua opas itu adalah orang yang setingkat dengan kedudukan Ong losam, tapi ilmu silat mereka rada lebih kuat dan lebih tinggi dari Ong-losam.
Setelah menggoda Ong losam tadi baru mereka menerjang kekamar sebelah untuk menggeledah, tak terduga belum lagi mata melihat jelas ada berapa jumlah orang didalam kamar itu, tahu tahu tubuhnya sudah dijinjing oleh si Toako dari keempat orang itu terus dilempar keluar bergantian.
Yang datang menggerebek kehotel ini semua berjumlah enam orang tiga orang opas dan tiga orang lagi kaum persilatan.
Seorang kakek tua yang ilmu silatnya paling lihay belum lagi turun tangan.
Melihat kedua opas itu kena dilempar keluar begitu mengenaskan, meski ia berkepandaian tinggi tak urung terkejut juga.
Sikakek tua ini adalah seorang ahli silat yang cukup berpengalaman, dari gaya lemparannya membanting orang, dapatlah ia mengetahui asal usul pihak lawan.
Mau tak mau ia berpikir.
"Keempat orang ini pasti adalah Su-tay kim-kong dari Ceng-liong-pang yang kenamaan itu. Takut sih, tidak, soalnya entah mereka masih punya bantuan yang lebih kuat tidak, entahlah apakah perempuan ini merupakan komplotannya bukan?!"
Begitu segenggam pasir Ciok Goan ditaburkan, segera in tiong yan mengebutkan lengan bajunya seraya membentak;
"Nih, kukembalikan !''Waktu pertempuran dikarang kepala harimau Hwek-swan-hong menggunakan Bik khong-ciang memukul baik pasir pasir beracunnya itu sehingga melukai tuannya sendiri, meski kebutan lengan baju In tiong-yan ini tidak sekuat pukulan Bik-khong-ciang Hek swan hong tapi jarak mereka rada dekat, sekali kebut saja taburan pasir beracun itu kontan beterbangan balik laksana setabir kabut putih semua menungkrup kepala Ciok-Goan. Saking kaget dan ketakutan serasa arwah Ciok Goan sudah copot dari badan kasarnya lekas-lekas ia berteriak minta tolong ;
"Lian-lo cianpwee!"
Sikakek tua itu segera melompat maju berbareng lengan bajunya menggulung ke depan meraup taburan pasir itu, akan tetapi karena terhalang oleh kedua opas yang terlempar keluar itu, sehingga perhatiannya sedikit pecah sedikit terlambat saja meski ia berhasil menggulung banyak pasir-pasir itu, tak urung ada sebagian yang lolos belum lagi teriakan minta tolong Ciok Goan sempat diucapkan tahu-tahu beberapa butir pasir beracun itu sudah nyelonong masuk kemulut-nya, yang lebih celaka lagi ialah pasir itu langsung tertelan masuk kedalam perutnya.
Sementara itu pemuda bermuka kuning seperti berpenyakitan itu, masih menempur In-tiong yan dengan sengitnya.
Waktu In-tiong yan mengebutkan lengan bajunya menghalau balik pasir beracun, tapi,gerak serangan balasan terhadap musuh pemuda ini sedikitpun tidak berkurang kecepatannya.
Tatkala itu kebetulan ia sedang melancarkan jurus Jiu Theingo sian atau (jari lima memetik senar) berbareng kelima jarinya terpentang kedepan tiga jalan darah penting didepan dada sipemuda sudah berada dicengkeraman jari tangannya paling tidak satu di-antaranya pasti bakal kena tertutuk dengan telak.
Tepat benar kedatangan sikakek itu melihat muridnya terancam bahaya tanpa ayal ia dorong sebuah hantaman telapak tangannya, kontan sipemuda tersurung sempoyongan kesamping beberapa langkah, secara kebetulan terhindar dari tutukan jari In-tiong-yan yang telak tadi.
Kiranya dorongan tangan kakek tua ini, yang digunakan adalah tenaga lunak yang diperhitungkan lebih dulu.
Soalnya serangan In-tiong-yan terlalu cepat, bila ia gunakan cara kekerasan umumnya untuk menolong muridnya, seumpama ia berhasil melukai In-tiong-yan paling tidak muridnya akan terima akibatnya paling ringan tubuhnya bakal cacat seumur hidup.
Justru tenaga dorongan yang dia gunakan kali ini sungguh sangat kebetulan dapat menolong jiwa muridnya.
Pemuda itu laksana dijinjing kebelakang dan diletakkan lagi dengan entengnya.
Bercekat hati In tiong-yan, tahu dia lawannya ini merupakan musuh tangguh, sebat sekali ia susuli dengan gerakan mengitari pohon menerobos rumpunkembang, gerak kakinya begitu ringan dan lincah, tahu-tahu tubuhnya sudah mengitar kesamping lawan berbareng ia susuli dengan serangan Hong-biau loh-hoa (angin menghembus menjatuhkan kembang), dengan menyerang tapi penjagaannyapun merapat, beruntun ia lancarkan tiga serangan yang berantai.
Si kakek tua cukup menarik lengan baju telapak tangan nyelonong kedepan nyerempet lewat kesamping cukup sejurus saja ia berhasil memunahkan seluruh rangsekan In-tiong-yan yang bergelombang tiga ini malah tenaga dalamnya yang kuat dari samberan tangannya mendesak In tiong yan mundur, ia terpaksa melejit mundur.
Biasanya orang berkata .
Seorang ahli sekali turun tangan lantas dapat mengukur betapa tinggi kepandaian lawannya.
Demikianlah sekali kakek turun tangan, meski hanya satu jurus saja, In-tiong-yan sudah maklum bahwa kepandaian orang jauh berada diatas kemampuannya.
Baru ia menanti rangsekan pihak lawan, tak duga kakek tua itu malah berdiri tegak dan menghentikan gerakannya, terus mengangkat tangannya serta menjura, ujarnya .
"Kita datang menemui para kawan dari Ceng-liong-pang itu untuk menyelesaikan urusan umum, tidak bisa kita harus menggeledah seluruh hotel ini, karena kegegabahan mereka sampai mengganggu nona, kelakuan yang kurang hormat ini harap suka diberi maafkan."Setelah menelan pasir beracunnya sendiri lidah Ciok Goan sudah merah melepuh dan tidak kuasa bicara lagi, melihat sikakek tua yang diandalkan ternyata mencari jalan damai terhadap In-tiong-yan, hatinya terasa menjadi dongkol dan gemas, batinnya.
"Mereka hanya memikirkan mendapatkan pahala tanpa hiraukan mati hidupku pula, buat apa aku harus menjual jiwa bagi kepentingan mereka ?"
Maka tanpa bicara lagi segera ia ngeloyor keluar dan melarikan diri.
Maklum pasir beracunnya itu sangat lihay dan jahat sekali, meski ia sendiri punya obat pemunahnya, juga perlu mencari tempat untuk berobat diri.
Untung luka-lukanya ini jauh lebih ringan dibandingkan luka-luka yang ditimbulkan oleh Hek swan-hong tempo hari.
Untuk bergebrak lagi dengan musuh terang ia tidak mampu, tapi mengembangkan gin-kang untuk lari dia masih mampu melakukan.
Si kakek tua ini dapat berpikir demi kepentingan pihaknya, dan tak ingin ia membuat permusuhan lebih banyak.
Maka In-tiong-yan pun berpikir .
"Sepak terjang ke empat orang ini belum dapat kusegani seluruhnya, aku sudah menghukum kepada opas itu serta melukai Ciok Goan, selanjutnya aku tidak perlu turut campur urusan mereka lagi,"
Karena pikirannya ini segera ia membuka suara .
"Cerg-liong-pang tiada sangkut paut denganku, jalankan menurut tugas yang harus kalian lakukan, jangan mengusik diriku lagi."
Secara tidak langsung ia menyatakan bahwa untukselanjutnya ia hanya berpeluk tangan dan menonton saja. Melihat maksud hatinya tercapai si kakek tua menjadi girang, serunya .
"Kami tidak akan berani ganggu nona lagi. Harap nona suka bermurah hati membebaskan opas itu."
In-tiong-yan malah mendengus Ialu kembali kekamarnya, sekali tendang ia lempar opas itu mencelat keluar pekarangan, tendangannya ini sekaligus membebaskan jalan darahnya yang tertotok.
Keruan saja kepala Opas dan kedua temannya yang terluka itu malu dan marah sekali; namun mereka hanya berani mendelik belaka tanpa berani sembarangan bergerak lagi, hanya mulutnya saja yang komat-kamit.
Dasar kepandaian mereka memang tidak becus, akhirnya mereka saling pandang dan mengundurkan diri kesebelah samping.
Terdengar sikakek berseru lantang.
"Para kawan dari Ceng-liong-pang silahkan keluar semua!"
Pintu kamar terbuka, beruntun empat orang keluar semua. Kakek tua itu berkata lagi.
"Kalian berempat kuduga adalah saudara Nyo, Pek, Lo dan Ong empat Kim-kong besar dari Ceng liong pang bukan? Aku pernah jumpa sekali dengan pangcu kalian, demikian juga nama dan ketenaran kalian berempat sudah lama kudengar, hari ini aku beruntung dapat bertemu disini, sungguh betapa bahagia aku orang tua ini.''Kiranya Lotoa dari keempat orang ini bernama Nyo Su-gi, Loji bernama Pek Kian bu, Losam bernama Lo Hou wi dan Losi bernama Ong Beng-im. Usia keempat orang ini masing masing terpaut sangat jauh, masuknya mereka menjadi anggota Ceng-liong-pang juga mendahului. Lotoa Nyo Sugi sudah berusia hampir setengah abad, Loji Pek Kianbu sudah lebih empat puluhan, sedang Losam Houwi dan Ong Beng-im masing masing baru berusia dua puluhan. Tapi karena mereka masing-masing punya bekal ilmu silat yang sama lihay-nya, maka setelah bergabung didalam Ceng liong-pang lantas mereka dapat angkat nama bersama dan diberi julukan Su-tay-kim-kong. Dalam pada itu terdengar Lotoa Nyo Su gi menjengek dingin, katanya.
"Siapa kira siapa nyana si Elang hitam Lian Tin san yang kenamaan itu rela merendahkan diri jadi cakar alap musuh."
Dia cuma menggunakan istilah cakar alap-alap bukan mengunakan "anjing alap"
Ini sudah berlaku cukup sungkan dan menghormat pada Lian Tinsan. Baru sekarang In-tiong yan dapat mengetahui asal usul si kakek tua ini keruan ia terkejut, batinnya .
"Kiranya Elang hitam Lian Tinsan, tak heran memiliki ilmu silat begitu tinggi. Sipenyakitan ini mungkin adalah muridnya yang bersama Ko Tengo itulah. Nama Sutay-kimkong dari Ceng liong pang memang kedengarannya bisa mengejutkan hati orang,tapi belum tentu mereka kuasa melawan guru dan murid ini."
Peristiwa Hong thian lui dihajar babak belur oleh si Elang hitam Lian Tinsan sejak lama sudah diketahui oleh Ing tiong yan.
Karena alasan inilah sekarang terpaksa ia harus mengubah haluannya diam diam ia berpikir.
"Sutay kimkong dari Ceng-liong pang ini bagaimana asal usul mereka aku tidak tahu, yang terang bahwa Lian Tin san adalah musuh besar Hong thian-lui, pasti dia bukan orang baik baik. Bila Sutay kimkong tidak kuasa melawannya terpaksa aku harus ikut turun tangan."
Maka terdengarlah Ji Pek Kianbu berkata melanjutkan .
"Lian locianpwe bernama julukan Heking (elang hitam), baru sekarang aku paham, kiranya dimaksud bukan karena kelihayan ilmu silatnya,"
Sindiran ini mengandung arti maksudnya bahwa Lian Tinsan hakikatnya adalah cakar alap alap yang terima diperbudak dan menjadi antek musuh soalnya mereka tidak tahu akan rahasia ini.
Sebenarnya julukan Elang hitam yang diperoleh Lian Tinsan ini karena berkah ilmu Eng-jiau kim najiu yang lihay itu.
Justru Loji Pek Kianbu memang pandai menyindir, karuan Lian Tinsan merah padam saking gusar dan berjingkrak seperti kebakaran jenggot.
Meski gusar namun elang hitam Lian Tin san masih kuat menahan sabar, katanya tawar.
"Jangan kalian pandang orang dari sela pintu, menjadikan bentukorang itu gepeng. Memang kedatangan mereka adalah untuk menjalani tugas keamanan, tapi Lohu justru cuma ingin minta keterangan seseorang kepada kalian, seumpama kalian tak bisa menyerahkan orang ini maka kuharap kalian memberi tahu dimana sekarang dia berada."
"Siapa yang maksudkan ?"
Tanya Nyo Sugi.
"Sam-tianjiu Geng Tian yang datang dari Kanglam !"
Pek Kianbu bergelak tawa serunya.
"Kau minta padaku lalu kepada siapa aku minta dia."
"Lian-locianpwe,"
Imbrung Nyo Sugi.
"Biarlah aku bicara terus terang memang kami mendapat perintah untuk menyambut kedatangan Geng-kongcu tapi sampai sekarang masih belum mengetahui dimana jejaknya,"
Karena Lian Tinsan sudah terang-terangan mengatakan tidak sejalan dengan para opas itu maka bicaranya menjadi rada sungkan. Tapi Lian Tinsan tertawa dingin, jengeknya.
"Apa benar belum mengetahui jejaknya ? Paling tidak pasti mendapat beritanya bukan ?"
Losam Lo Hou wie yang sejak tadi tetap bungkam sekarang mendadak menyela, katanya.
"Sepuluh tahun yang lalu orang yang berusaha membegal Geng kongcu bukankah kau adanya ?"
"Kalau benar lantas mau apa ?"
Tantang Lian Tinsan dengan congkaknya.Serta mendengar kata-kata Lo Hou wi ini Loji Pek Kianbu menjadi heran dan bertanya tanya dalam hati.
Harus diketahui bahwa peristiwa itu terjadi pada sepuluh tahun yang lalu pada waktu itu Lo Hou wi dan Ong Beng im sama belum masuk menjadi anggota Ceng-liong-pang.
Pada suatu hari Pangcu Liong Jianpoh mengundang Nyo Sugi dan Pek Kiambu ke rumahnya untuk minum arak itu kejadian umum menemaninya minum arak, namun justeru kali ini ada sesuatu hal yang luar biasa.
Pek Kian bu seorang yang cermat dan serba teliti suka mengerahkan otaknya untuk berpikir, pernah ia memperhatikan bahwa belakangan ini kelihatannya Pangcu mereka seperti punya kejanggalan hati dalam suasana yang cukup meriahpun beliau selalu bermuram durja sikapnya yang wajar dan riang serta gagah perwira itu entah kemana lenyapnya.
Keadaan semacam ini berlarut-larut selama satu bulan Liong Jian poh suka minum arak, biasanya berselang beberapa hari pasti ia undang teman atau bawahannya untuk sekedar berkumpul minum arak.
Tapi kali itu merupakan undangan pertama selama satu bulan ini berselang setelah tiba dirumahnya baru mereka ketahui pula bahwa tamunya juga mereka berdua saja, suasana yang biasanya gegap gempita dari riuhnya kelakar para tamu kini tidak terdengar lagi, sungguh berbeda jauh keadaan ini.Arak memang dapat memanaskan hati dan menimbulkan semangat, begitulah setelah menenggak beberapa cawan arak, sikap Liong Jian poh berubah seperti sedia kala, melihat orang mengulum senyum tanda kegirangan hatinya, segera Pek Kian-bu mengajukan pertanyaannya.
"Pangcu adakah berita menggembirakan apa?'' Setelah menenggak secawan pula arak, Liong Jian-poh berkata tertawa.
"Memang selama satu bulan ini aku sedang menguatirkan suatu urusan. Sekarang ganjalan hatiku ini sudah buyar inilah kabar gembira yang lebih menyenangkan dari berita bahagia lainnya."
Tanya Nyo Sugi.
"Entah soal apakah itu kiranya Pangcu sudi menerangkan kepada kami?'' Liong Jian-poh tertawa, ujarnya.
"Kalian adalah kawan-kawan dekatku yang paling kental, kuundang kalian menemani aku minum arak justru karena aku terlalu kegirangan, ingin kucari dua orang yang dapat kuberitahu kabar gembira ini untuk mengecap kesenangan ini bersama. Nyo-lote, apakah kau masih ingat pada Geng-tayhiap? Urusan ini justru menyangkut dirinya."
"Sebelum Geng tayhiap hijrah keselatan tahun yang lalu, berkat kebaikan Pangculah sehingga aku bisa menghadap kepada beliau mana aku melupakan hal ini?"
Demikian sahut Nyo Su gi.
"Setelah Geng tayhiap berangkat, sepuluh tahun sudah tiada kabarberitanya. Apakah Pangcu sekarang sudah mendapat kabar beritanya?'' Ternyata kanglam Tayhiap Geng Ciau adalah pemimpin sebuah laskar pergerakan didaerah utara sungai besar akhirnya dia bawa seluruh anak buahnya menyebrangi sungai besar dan menggabungkan diri dalam pasukan kerajaan Song selatan, akhirnya barisan laskar mereka menjadi pasukan terkuat dalam setiap pertempuran, nama pasukannya diberi julukan Hwi hou-kun, pasukan barisan terbang, dalam pertempuran besar kecil melawan serbuan pasukan kerajaan Kim pernah berulang kali mendirikan pahala dan jasa-jasa besar demi kepentingan kerajaan. Akhirnya Geng Ciau sendiri naik pangkat menjadi komandan dari Hwi hou-kun ini, selanjutnya mereka menetap di Kanglam (baca Pendekar Latah). Liong Jin poh ini sebenarnya seorang perwira Geng Ciau yang paling diandalkan. Waktu Geng Ciau memimpin anak buahnya keselatan terpikir olehnya harus meninggalkan seseorang yang lihay untuk bekerja di-belakang musuh, satu pihak dapat melanjutkan pembentukan pasukan pergerakan melawan penjajah Kim, di pihak lain dapat melindungi dan menentramkan para saudaranya yang tidak bisa ikut hijrah keselatan karena punya tanggung jawab keluarga, dan pilihan ini akhirnya jatuh pada Liong Jin-poh.Dalam hal ini Liong Jin poh tidak mengecewakan harapan Geng Ciau, tapi sejak Hwi hou kun hijrah keselatan, tekanan musuh terlalu berat, malah pernah terjadi suatu ketika situasi sangat gawat, sebegitu gentingnya sehingga mereka tidak berani terang terangan membentuk laskar pergerakan secara terbuka. Dikuatirkan sebelum mereka sempat mengangkat panji pasukan pergerakan, keburu bala tentara kerajaan Kim menumpas mereka. Karena itu untuk menghindarkan perhatian dan supaya tidak menyolok pandangan umum, maka Liong Jinpoh mencari akal mengganti cara lain dalam usahanya yang mulia, yaitu ia mendirikan Ceng-liong-pang. Nyo Sugi sudah berkenalan sangat rapat dengan Liong Jinpoh sebelum Ceng-liong-pang terbentuk, dialah orang yang pertama menjadi anggota Ceng-liong-pang. Loji Pek Kianbu baru kira-kira setengah tahun kemudian mengabdikan dirinya. Maka kalau Nyo Sugi pernah bertemu dengan Geng Ciau, adalah Pek Kianbu belum pernah. Tatkala ia mendengar Geng Ciau sudah ada kabar beritanya, Nyo Sugi jadi berjingkrak kegirangan, maka ia bertanya. Liong Jianpoh tertawa, sahutnya .
"Bukan berita pribadi Geng-tayhiap, tapi adalah berita tuan kita."
Nyo Sugi rada melengak, tanyanya tak mengerti .
"Apakah putra Geng tayhiap itu sudah ketemu ?"
Kuatir Pek Kian-bu kurang paham segera iamenjelaskan ;
"Waktu Geng-tayhiap mau ke selatan, istrinya sedang hamil tua dan tidak ikut kesana. Kabarnya telah melahirkan seorang putra, sekarang kira-kira usianya sudah lima belas tahun, tapi selama ini dicari kemana-mana tidak pernah ketemu."
"Setelah Geng-hujin melahirkan iapun menyusul keselatan,"
Demikian Liong Jinpoh melanjutkan.
"Karena berabe membawa orok yang masih kecil, maka ia titipkan bocah itu disalah satu sanak familinya. Satu bulan yang lalu baru aku mendapat kabar ini."
"Kalau begitu pangcu harus segera membawa anak itu kemari dan mengajarkan kepandaian silat kepadanya."
Demikian usul Nyo Sugi.
"Tidak perlu kita banyak berabe,"
Jawab Liong Jin-poh.
"Bing cong-piauthau dari Hou-wi piaukiok sudah mengantarnya menuju ke Kanglam, kabarnya Bing Thing juga mengundang sahabatnya yaitu Lu Tang-wan itu tokoh yang menggemparkan Bulim karena kelihayan ilmu Bianciangnya ikut melindungi."
Pek Kian-bu menjadi paham, katanya .
"Jadi soal inilah yang dikuatirkan pangcu selama sebulan ini?"
"Sebelum aku mendapat kabar keselamatan mereka, hatiku selalu dirundung kekuatiran yang tak terkirakan. Aku kuatir adanya seseorang yang tahu asal usul bocah itu lantas menculiknya ditengah jalan. Untunglah meski ditengah jalan pernah sekali terjadi keributan, malah kabarnya Lu Tang-wan terlukasedikit, tapi Bing Thing dapat selamat membawa bocah itu tiba di Kanglam dan menyerahkan kepada ayahnya."
"Siapakah orangnya yang mencegat mereka ditengah jalan?"
Tanya Nyo Sugi.
"Seorang asing yang berkepandaian sangat tinggi, dari kepandaian Eng-jian-jiu orang yang lihay itu, Bing Thing mengira bahwa orang itu pasti Elang Hitam Lian Tin-san adanya."
Waktu itu Lian Tin-san sendiri baru saja muncul dikalangan kangouw, nama besarnya belum setenar sekarang.
Maka sekarang tokoh pengalaman seperti Bing Thing juga cuma mengetahui namanya dan tidak tahu julukannya.
"Konon si Elang Hitam Lian Tin-san adalah begal tunggal yang malang melintang di kangouw apakah diapun sudah tunduk dan menjadi antek kerajaan Kim ?"
Demikian tanya Nyo Su-gi.
"itu hanya terkaan Bing Thing saja dia belum berani memastikan, kalianpun jangan sembarang katakan hal ini pada orang lain,"
Demikian pesan Liong Jian-poh.
"Sikap Lu Tang-wanlah yang harus kita hargai apakah perlu kita menghaturkan terima kasih?"
Usul Nyo Sugi, sebab Bing Thing adalah sahabat kental dari Ceng liong pang lain halnya dengan Lu Tang-wan yang tidak mereka kenal, maka ia ajukan usulnya ini.
"Jangan, sekali-kali jangan,"
Cepat Liong Jian-poh menggoyangkan tangannya.
"Bing Thing sendiri pun tidak pernah menceritakan asal-usul bocah itu kepadanya, Lu Tang-wan punya rumah juga punya keluarga, dia tidak akan berani saling berhubungan dengan para kawanan Bulim macam kita ini. Bila dia benar-benar mengetahui asal usul bocah itu pastilah dia sendiripun akan merahasiakannya."
Karena mengingat pesan Pangcunya inilah maka selama sepuluh tahun ini belum pernah Nyo Su-gi dan Pek Kian-bu membicarakan rahasia ini dengan orang ketiga.
Hampir sepuluh tahun kemudian setelah Ceng-liong pang berdiri tegak dengan jaya baru Lo Hou wi dan Ong Beng-im masuk jadi anggota.
Karena usia mereka masih terlalu muda dan pengalaman masih terlalu cetek maka banyak persoalan rumit yang serba rahasia, mereka tidak diikut-sertakan dalam perundingan.
Seperti misalnya tugas untuk menyongsong kedatangan Geng Tian ini, setelah mereka berada ditengah perjalanan baru Nyo Su-gi mewakilkan Pangcu mereka untuk menjelaskan kepada mereka.
Oleh karena itulah pada waktu Lo Hou-wi secara mendadak bertanya jawab dengan Lian Tin-san tadi, sanubari Pek Kian bu menjadi bingung dankeheranan.
Dalam hati ia membatin.
"Aneh, dari mana Losam bisa tahu persoalan ini? Aku tak pernah beritahu padanya. Apalagi Nyo toako yang serba hati-hati, pesan Pangcu yang wanti-wanti sekali pantang dilanggar olehnya. Jelas tidak mungkin dia yang membocorkan rahasia ini. Sepuluh tahun yang lalu dia tak lebih merupakan bocah angon yang masih berusia dua tiga belasan, usianya lebih muda dari Geng-kongcu sendiri, tak mungkin dia bisa berkenalan dengan para sahabat yang setingkat dengan Geng-tayhiap. Lalu dari mana ia bisa mendapat tahu persoalan ini?"
Tengah ia menerka, terdengar disebelah sana Lian Tin-san sedang menjengek dengan sombongnya.
"Kalau benar mau apa ?"
Lo Hou-wi segera tertawa dingin, katanya.
"Masih untung kami tidak membuat perhitungan dengan kau, sebaliknya kau ingin mencari berita Geng kongcu kepada kita. Heheee, apakah terlalu muluk pikiranmu? Jangan kata kami tidak tahu seumpama tahu juga tak sudi beritahu kepada kau? Masa kita harus mandah membiarkan kau berbuat semena mena terhadap Geng-kongcu?'' Si elang hitam Lian Tin-san menengadah terloroh-loroh serunya.
"Bocah ingusan yang masih berbau popok bawang juga berani bermulut besar dihadapanku! Hemm tidak kau katakan akupun punya cara supaya kau mau buka bacotmu. Baik biar kaurasakan kelihaianku, nanti kau akan tahu apakah aku ini berangan angan terlalu muluk tidak?'' "Kepandaian apaan yang lihay, silahkan maju aku ingin belajar kenal !"
Demikian tantang Lo Hou wi dengan berani. Belum lagi lenyap suaranya, mendadak Nyo Sugi berteriak dari samping.
"Samte, awas!"
Seiring dengan suara teriakan ini, tampak Elang hitam Lian Tinsan tahu-tahu sudah menubruk maju laksana burung elang.
Cengkeraman cakar tangannya ini sungguh sangat cepat dan hebat, meski Nyo dan Pek dua orang saudara tertuanya berada disamping juga merasa diluar dugaan serta tidak sempat lagi memberikan pertolongannya.
Maka terdengarlah suara bret, baju Lou Hou wi tahu-tahu sudah sobek secuil.
Tapi, dalam waktu yang demikian singkat itu, Lou Hou wi juga sudah balas menyerang dengan goloknya, sekaligus ia lancarkan delapan tebasan serangan golok yang gencar.
Kedelapan golok cukup cepat dan aneh, setiap jurusnya menyerang tempat penting di tubuh Lian Tin san.
Bagi pandangan orang lain, tulang pundak Lou Hou wi seperti hampir tercengkeram hancur oleh cakar tangan Lian Tin san, keadaannya memang cukup runyam.
Tapi bagi Lian Tin-san sendiri bagaimana juga hatinya juga tercekat dan di luar dugaan.
Soalnya itu terlalu memandang ringanmusuhnya yang masih berusia terlalu muda, betapapun takkan mungkin luput dari cengkeraman bajanya yang lihay, menurut perhitungan begitu ia berhasil mencengkeram Lou Hou wi dengan siksaan yang cukup berat, ia hendak mengompas keterangan mulutnya.
Tak terduga ia hanya berhasil mencakar sobek bajunya, kulit badannya saja tidak sampai tersentuh olehnya.
Apalagi lawan masih mampu balas menyerang sekaligus delapan tebasan goloknya, kalau Lian Tin san tidak cukup gesit dan lincah gerak tubuhnya, hampir hampir saja tubuhnya sudah cedera.
Meski demikian, tak urung iapun sudah boyong keluar seluruh kemampuannya untuk berkelit dari kedelapan bacokan goloknya yang hebat itu.
Orang lain menyangka Lou Hou wi kena dipermainkan oleh dirinya, tapi dia sendiri maklum sedikitpun ia tidak berani pandang ringan pada musuh.
Begitulah kedua belah pihak saling tubruk dan mencelat maju mundur terdengar Nyo Su gi membentak gusar;
"Tua bangka menganiaya bocah, termasuk orang gagah macam apa kau?"
Pukulan besinya terus menderu hebat, dan menempiling kebatok kepala Lian Tin-san.
Dari samping Pek Kian bu juga sudah cabut pedangnya bantu mengeroyok, semua pada bergebrak musuh, namun masing-masing bekerja berlainan.
Kalau Nyo Su-gi tumplek seluruh perhatiannya menyerang musuh supaya lawan melindungi diri lebih dulu sebelum usaha penyerangan kepada musuhberhasil tercapai, adalah otak Pek Kian-bu sedang dirundung berbagai persoalan yang mengganjal benaknya.
Dalam hati Pek Kian-bu berpikir.
"Kenapa kepandaian Losam mendadak maju berlipat ganda, apakah dulu mereka belum betul-betul mempertunjukkan kepandaian dasarnya yang asli? kalau hal ini benar, sungguh licik dan licin!"
Sepihak karena ia mempunyai perasaan curiga yang berkelebihan ini, dilain pihak, karena kepandaian silat Lian Tin-san memang amat kuat.
Pek Kian bu berkelahi hanya cukup membela diri saja, sengaja ia hendak lihat sampai dimana tingkat kepandaian Lo Hou-wi yang belum pernah dilihat.
Memang tidak malu Lian Tin san mendapat gelar si Elang hitam, gerak penyerangan ilmu silatnya ternyata begitu ganas dan buas, rangsakannya beraneka ragam, terkam koyak, cengkeraman besi bergantian dengan cara kerja yang cukup keji dan tangkas sekali.
O^~dwkz^hendra~^O
Jilid 18 Kepandaian Thi-sa-ciang Nyo Su-gi sudah punya latihan selama dua puluh tahun lamanya tapi kebentur dengan Kim-na-jiu-hoat lawan menjadi mati kutu.
Memang Thi-sa-ciang pernah menyerbu secarakekerasan dan deras, tapi begitu ia bergerak dalam jarak dekat Kim-na-jiu-hoat Lian Tin san lantas mencengkeram mengarah sendi-sendi tulangnya yang berbahaya.
Posisi Nyo Su-gi menjadi sulit, setiap kesempatan menyerangnya selalu kena didahului oleh lawan.
Tapi Nyo Su-gi masih berlaku nekad, ia berkelahi dengan segala daya dan kemampuannya, begitu melihat kedua adik angkatnya menempuh langkah langkah yang berbahaya cepat ia menubruk sama tengah melabrak.
Lian Tin-san menjadi uring uringan dan kewalahan juga menghadapi cara bertempurnya yang main sergap dan nekad itu.
Losi Ong-ing Im melihat ketiga saudara tuanya mengeroyok seorang masih belum mendapat kemenangan akhirnya ia menjadi gatal cepat iapun menerjang masuk kedalam gelanggang.
Senjata yang digunakan adalah sepasang Boan-koan-pit.
Meskipun Lwekangnya rada lemah, tapi sepasang Boan-koan-pit dengan ilmu totokannya sekaligus empat jalan darah merupakan ilmu yang dibanggakan di Bulim, apalagi cara permainannya cukup mahir.
Dengan satu lawan tiga Lian Tin san rada berada diatas angin, tapi setelah satu lawan empat lambat laun keadaannya menjadi semakin runyam terdesak dibawah angin.
In-tiong-yan berpeluk tangan menonton di pinggiran, setelah gebrak kedua belah pihak berlangsung tiga puluhan jurus ia jadi berpikir ."Diantara Sutay kim kong ini, golok kilat Losamlah yang paling hebat.
Thi-sa-ciang permainan Nyo Su-gi juga tidak lemah.
Sedang ilmu pedang Loji hanya cukup untuk membela diri tanpa ada tujuan melukai musuh sungguh amat mengecewakan seperti takut dan gentar terhadap musuh.
Sedang Losu sebagai kambing kecil yang tidak takut harimau tapi ilmu totok dengan sepasang senjatanya itu cukup menarik dan mempunyai ketunggalan yang jarang bandingannya,"
Lalu terpikir pula .
"Naga-naganya pertempuran si Elang hitam lawan Su-tay-kim-kong ini cukup sebanding dan sama kuat, untuk menang tidak mungkin. Menjadi kebetulan begitu tak usah turun tangan. Tapi Lian Tin san masih punya murid yang belum turun gelanggang, kenapa bocah keparat ini tidak maju membantu gurunya?"
Belum lagi pikirannya lenyap, maka terdengarlah pemuda muka kuning yang kurus tepos itu berseru .
"Suhu, bocah yang menggunakan Boan-koan-pit ini ingin rasanya aku menjajal, dapatkah orang tua menyilahkan kepadaku saja ?"
Selamanya Lian Tin-san bersikap tinggi hati setiap kali ia bertempur dengan orang, tanpa mendapat perintahnya dilarang maju.
"Begitupun baik,"
Sahutnya.
"Pit koat bocah ini rada mirip dengan ilmu Kim na-jiu-hoat perguruan kami."Dalam berkata-kata itu mendadak ia mendesak maju berbareng jarinya menjentik kearah Tay-hiat-kiat di pelipis Pek Kian bu. Karuan Pek Kian-bu terkejut, tersipu-sipu ia gunakan Ki-hwe-liau-thian, pedangnya memapas keatas dan 'creng' jari Lian Tinsan tidak mengenai jalan darah dipelipis-nya, tapi malah pedang panjangnya yang terselentik miring mental balik. Gesit sekali begitu membobol sebuah lobang kesempatan maka muridnya yang bernama Ko Teng-ngo itu segera menubruk maju melabrak kepada Ong Beng-im. Telapak tangan Lian Tin-san sekaligus bergerak pula menampar dan jari yang lain menyodok merintangi serbuan Nyo Sugi dan mendesak mundur Pek Kian-bu pula dilain kejap dengan gerak kilat pula ia balas menyerang kepada Lo Hou-wi, sedikit-pun ia tidak beri kesempatan kepada tiga lawannya ini untuk menerobos lewat sengaja ia bagi pertempuran itu menjadi dua kelompok. Begitu terpentang kedua potlot Ong Beng im menyilang kembali, yang kiri menutuk jalan darah Ki-bun sedang yang kanan menutuk Khi-hay, kedua jalan darah ini adalah jalan darah mematikan ditubuh manusia, cara penyerangannya memang ganas dan hebat. Terdengar Ko Teng-ngo menjengek dingin.
"Keparat, boleh juga kau. Cara kerjamu cukup kejidan telengas."
Sahutnya mengoceh tapi gerak tangannya dengan Kim-na-jiu-hoat segera menerjang cepat mendadak dia kembangkan ilmu kebanggaannya, kesemua jarinya berubah seperti jepitan besi, terutama kedua jari tengahnya kelihatan mulur lebih panjang dari jari-jarinya yang lain, dinilai dari keseluruhan permainan ilmu pukulannya merupakan rangsekan Eng-jiu-kang yang paling ganas dan lihay.
Dipandang dari kedua jari tengahnya yang menggunakan permainan tutuk jari, kelihatannya mirip benar dengan paruh burung elang yang tajam itu dimana setiap kali jarinya menutuk seperti paruh burung menotol dan yang diarah justeru jalan darah Kibun dan Khi hay ditubuh Ong Beng-im pula.
In-tiong-yan membatin .
"Tak heran si Elang hitam mengatakan Kim-na-jiu-hoat perguruannya itu rada mirip dengan ilmu tutuk sepasang Boan-koan-pit lawan, kiranya "patukan jari"
Tangannya itu dapat pula digunakan untuk Hun-kin-joh-ku (memelintir urat menyeleokan tulang), tapi dapat pula digunakan sebagai ujung potlot yang piranti menutuk jalan darah!"
Sejak kecil Ko Teng-ngo sudah gemar berlatih silat, kecuali berlatih silat tiada hobby yang lain, karena itu meski usianya masih muda, namun ia sudah memperoleh seluruh pelajaran gurunya yang lihay.
Waktu guru dan murid membuat keributan di Lou-keh ceng tempo hari, seluruh murid Lu Tang-wan semua kena dirobohkan olehnya.
Waktu itu bila Hong-thianlui tidak segera tampil kedepan, Lu Tang wan pasti runyam, bagaimana mungkin ia turun gelanggang sendiri (Soalnya dengan kedudukan dan namanya mana ia sudi bergebrak dengan Ko Teng ngo) terpaksa ia harus terima kalah pada Elang Hitam, meski begitu ia masih kuat bertahan delapan jurus dari sepuluh jurus yang dijanjikan.
Seperti diketahui Hong Thian lui mempunyai tenaga sakti yang luar biasa maka dapatlah kita bayangkan sampai dimana tingkat kepandaiannya sekarang.
Usia Ong Beng-im setahun lebih muda dari Ko Teng ngo, dengan usia yang masih begitu muda tapi dapat menduduki jabatan Su-tay kim kong yang kenamaan dan disegani itu dari Ceng liong-pang, maka ilmu silatnya sudah tentu bukan sembarang tingkatan, sayang ia belum pernah menghadapi pertempuran macam Ko Teng-ngo yang aneh dan lihay itu, begitu gebrak dimulai Ko Teng ngo lantas merabu dengan berbagai tipu tipu yang hebat dan gerak cepat, meskipun ia masih mampu membela diri kadang kala balas menyerang, tapi keadaannya sudah terdesak di bawah angin.
Dalam sepuluh jurus kini cuma dapat balas menyerang dua tiga jurus dan cara balas menyerang ini juga cuma untuk menambah panjangan tubuhnya supaya lebih rapat lebih mantap.
Disebelah sana Lian Tinsan kembali dikerubut tiga orang, semakin tempur semakin sengit tapi keadaan Lian Tinsan lebih mending ia dapat mendesak ketiga lawannya.Pek Kian bu hanya berusaha membela diri supaya dirinya selamat, tak duga justru Lian Tinsan selalu mengincar dirinya dengan serangan yang lebih gencar dan berbahaya.
Dalam pertempuran sengit itu sekonyong-konyong Lian Tin-san menghardik keras pukulan kirinya mendadak terayun dengan jurus Jong thianbau, begitu keras jotosan ini mengarah jidat Pek Kian bu, berbareng telapak tangannya terkembang menampar ketelinganya sebelah kanan.
Kedua jurus jotosan dan tamparan tangan ini begitu lihay.
Inilah kombinasi serangan yang dinamakan Ciang-ko-ji-bing (genta dan tambur bertalu bersama) asal kena salah satu serangan ini, paling ringan pasti terluka parah, memang jurus kombinasi itu merupakan ilmu kebanggaan Lian Tin-san yang sudah mengangkat namanya selama ini.
Sudah tentu Nyo dan Lo dua saudaranya tidak mandah membiarkan lawan melancarkan jurusnya yang ganas ini.
Begitu cepat golok Lo Hou-wi datang menyambar laksana kilat "sreet"
Tahu tahu ia bacok punggung musuh.
Jurus serangan balasan ini memang bukan untuk menyelamatkan Pek Kian bu secara langsung tetapi musuh yang menyerang bila diserang dengan bacokan goloknya itu harus menyelamatkan diri lebih dulu sebelum berhasil melukai lawan.
Disebelah lain Nyo Sugi juga tidak kalah cepatnya, sebat sekali ia mendesak maju miring kesebelah berbareng telapak tangannya mengancam dada Lian Tin san dengan pukulan pasir besi.Sebagai seorang kawanan Kangouw Liang Tin san sudah punya perhitungan yang licik, siang siang ia sudah dapat membayangkan berbagai ragam serangan nekad kedua lawannya itu dalam usaha menyelamatkan temannya, tujuannya merabu Pek Kian bu dengan serangan ganas itu sebetulnya adalah menggunakan tipu suara ditimur menggampar di barat.
Tapi adalah di luar dugaannya bahwa Nyo dan Lo berdua ternyata berlaku begitu nekad dalam usaha menyelamatkan saudaranya.
Maka terdengarlah suara "tang!"
Golok baja Lo Hoa wi tiba tiba mental ketengah udara.
Kiranya jurus serangannya terlalu bernafsu melukai lawan, cara serangannyapun terlalu cepat tanpa perhitungan yang tepat, tahu tahu ia merasakan pergelangan tangannya kesemutan kena dicengkeram balik oleh Lian Tin san, untung hanya tersentuh jari lawan saja sehingga tidak cidera.
Dikata lambat kenyataan cepat sekali sementara telapak tangan Nyo Sugi juga sudah menggempur kedadanya, Lian Tin san baru saja memukul jatuh golok tunggal Hou wi sudah tentu ia tidak sempat lagi melancarkan Eng jiu juinya yang lihay itu terpaksa ia kerahkan tenaga kekerasan.
Berbareng ia ayunkan kedua telapak tangannya, tangan kiri menggunakan tenaga pukulan Im ciang sebaliknya tangan kanan menggunakan tenaga pukulan Yang ciang dengan jurus Jiu bui biba (jari tangan memetik harpa)langsung ia songsong pukulan Lei bit hoa san yang dilancarkan Nyo Sugi.
"Blang!"
Benturan adu tenaga dalam yang keras ini laksana ledakan bom.
Punggung telapak tangan Lian Tin san terasa kesemutan dan sakit sekali.
Ternyata kalau dibanding soal lwekang mereka berdua sama kuat dan setingkat.
Tapi ayunan punggung telapak tangan Lian Tin san menggunakan tenaga latihan Hun kin joh kutnya yang lihay maka kesudahannya Nyo Sugi masih kena dirugikan seurat.
Tiba tiba In tiong yan melangkah kedepan serunya;
"Berhenti! Siapa tidak mau berhenti, aku akan bantu pihak lawannya!"
Kerugian Lian Tin san kaget katanya;
"Nona kenapa kau harus ikut mengadu air keruh ini?"
Mengadu air keruh berarti turut campur urusan tetek bengek ini. Nyo Sugi sendiri juga menjadi was was katanya.
"Nona apa maksudmu?'' Kedua belah pihak sama keheranan dan melengak akan sikap In tiong yan tapi kedua belah pihak sementara memang berhenti bertempur.
"Samwi Toako,"
Ujar In-tiong yan.
"aku ingin merundingkan suatu urusan dengan kalian."
"Urusan apa?"
Tanya Nyo Su gi."Pertempuran kalian cukup ramai dan sengit, akupun senang menonton tapi akhirnya aku menjadi kegatalan.
Maka siIahkan kalian istirahat sebentar biarlah akupun menjajal dan bermain beberapa gebrak.
Ingin aku mohon petunjuk dengan si elang hitam yang kenamaan di Kangouw ini."
Baru sekarang Nyo Su-gi berlega hati bahwa ternyata orang membantu pada pihaknya karena mereka senang tapi juga dirundung rasa heran, dalam hati sama membatin.
"Coba kulihat cara bagaimana Lian Tinsan menghadapinya!"
Maka merekapun tidak bersuara lagi dan mundur kepinggir.
"Nona,"
Seru Lian Tinsan.
"Kenapa bicaramu plintat plintut tidak bisa dipercaya?"
"Dalam hal apa aku tidak menepati janji?"
Tanya In-tiong-yan. Kata Lian Tinsan.
"Tadi kau katakan kau dengan pihak Ceng-liong-pang tak ada sangkut paut apa-apa, kenapa kau sekarang hendak bantu mereka mencari permusuhan dengan aku?"
"Memang aku tidak kenal dengan mereka,"
Demikian sahut In-tiong-yan.
"Tapi aku toh juga tidak kenal dengan kau! Apakah kau dapat menyebutkan nama dan she ku?"
"Bukankah tadi kau mengatakan cuma menonton dan berpeluk tangan saja?""Tadi aku cuma mengatakan, asal kalian tidak sampai melibatkan diriku, aku tidak akan menghalangi tugas kalian. Kan tidak pernah aku mengatakan menonton berpeluk tangan?"
Lian Tin-san berpikir, memang dia tak pernah mengatakan cara demikian, hanya dirinya yang beranggapan demikian, maka berkerut alisnya katanya.
"Apa pula bedanya?"
"Sudah tentu berbeda sangat jauh,"
Ujar In tiong yan tertawa.
"Pertama. Orang orangmu pernah berbuat kurang ajar terhadap aku memang kau sudah minta ampun dan akupun sudah menghukum mereka, tapi aku toh tidak melulusi untuk menarik panjang urusan ini, demikian juga rasa dongkolku belum lagi terlampias. Kedua. Aku hanya ingin jajal kepandaianmu, bukan sengaja mau merintangi urusan tugasmu. Bila kau dapat kalahkan aku silahkan nanti kalian lanjutkan pertempuran, aku tidak perduli, bila kau tidak mampu kalahkan aku paling banyak cara tiga lima puluh jurus saja, tidak akan menghambat pekerjaanmu!"
Lian Tin-san menjadi berang, pikirnya.
"Kalau musuh kuat tidak kuhadapi mana bisa kubiarkan budak busuk macam kau bertingkah dihadapannya?"
Meski hatinya marah sebetulnya ia tak berani bertempur lagi lawan In-tiong-yan sebanyak tiga lima puluh jurus soalnya ia sendiri tahu tenaganya sudah banyak terkuras, seumpama dia dapat mengalahkanIn-tiong-yan, gebrak selanjutnya pasti tak mampu melawan Su tay-kim-kong dari Ceng liong pang itu.
Mendadak tergerak hati Lian Tin-san segera ia kendalikan kemarahan hatinya, tertawa tak tertawa mulutnya terbahak bahak, ujarnya.
"Kau sangka aku tak tahu asal usulmu, marilah kita bertaruh saja."
In tiong-yan melengak, tanyanya.
"Bertaruh bagaimana?"
"Kita batasi lima jurus saja. Dalam lima jurus ini aku pasti dapat rnengetahui asal usulmu!"
"Bila kau tidak tahu bagaimana?"
"Kami guru dan murid segera menghindarkan diri perkara itu pun tak perlu kita urus lagi. Tapi kalau aku bisa menyebutkan asal usulmu, kau tak boleh ikut campur dalam hal ini."
Ternyata Lian Tin-san memang banyak pengalaman dan luas pengetahuannya sekali pandang lantas ia tahu dari aliran mana permainan silat orang, ia membatasi lima jurus, menurut dugaannya sudah cukup berkelebihan.
"Baik,'' sahut In-tiong-yan.
"Jadilah taruhan ini, tapi kali ini aku harus menggunakan senjata lho?"
"Sret"
Ia lolos pedangnya.
"Nanti dulu!"
Seru Lian Tin san.
"Apa pula yang perlu kau katakan?"
"Para sahabat dari Ceng Liong-pang, muridku berhantam satu lawan satu dengan saudara kalian diamasih terhitung Siaupweku, harap kalian menepati aturan Kangouw jangan menggunakan kesempatan ini main kerubut terhadap muridku itu!"
Nyo Su gi menjadi gusar, dampratnya.
"Kau terlalu menghina orang! Kami berempat masa sudi mengerubut muridmu yang bagus ini? Baiklah kalau hatimu takut, perlu kami tegaskan lebih dulu, bila kau terkalahkan oleh Lihiap ini kami pun tak akan turun tangan lagi mengambil keuntungan."
In tiong yan tertawa geli, ujarnya.
"Wah kalian terlalu mengagulkan aku kalau begitu."
Lalu ia berpaling kepada Lian Tin san serta sambungnya tertawa.
"Nah ketiga belah pihak sudah sama aku. Awas, hati hatilah kau, aku hendak mulai. Nih jurus pertama."
"Sret", tahu ujung pedangnya sudah masuk kedepan, ujung pedangnya bergetar memancarkan tabir sinar pedang yang tajam, cara dan gaya tusukannya sangat aneh dan hebat, Lian Tinsan terkejut.
"Ilmu pedang dari aliran manakah ini?"
Meski ia berhasil memunahkan jurus serangan ini, tapi dia tak bisa menebak asal usul ilmu pedang lawan.
Kiranya pelajaran ilmu pedang In tiong yan hasil dari bibinya yaitu puteri Minghui.
Ilmu pedang pelajaran Minghui ini hasil dari pelajaran Ting-hui Sinni.
Ilmu pedang dari aliran agama Ting hui Sinni ini selamanya belum pernah muncul di kalanganKangouw, mana mungkin Lian Tinsan bisa tahu asal usulnya?
Sementara itu secepat kilat jurus kedua dari serangan In tiong yan sudah menyusul tiba.
Jurus kedua ini justru ia ubah dari pu kulan Bik-lek ciang kepandaian khusus Hong thian lui itu pada jurus ilmu pedangnya.
Pernah beberapa kali ia bergebrak dengan Hong-thian lui, waktu berada di Hou keh-ceng ia sering pula menemani dan mengobrol soal ilmu silat dengan Hong-thian lui maka ia dapat mengombinasikan ilmu pukulan Bi lekciang pada permainan jurus pedangnya.
Jurus gubahan dari ilmu pukulan menjadi jurus tipu pedang meski hanya mendapatkan gayanya saja dan belum memperoleh intisarinya namun demikian sudah dapat mengelabui mata seorang ahli macam si Elang hitam Lian Tinsan.
Benar juga Lian Tin san kena terjebak kontan ia menjerit tanpa banyak pikir.
"Jurus ketiga dan selanjutnya tidak perlu dilancarkan lagi. Aku sudah tahu asal usulmu!"
"Baik, coba kau terangkan sejelasnya, bagaimana asal usulku!"
Dengan bangga dan membusungkan dada Lian Tin san berkata.
"Kau orang she Cin bukan? Bi lekciang Cin Hou-siau itu ayahmu atau gurumu?"
Sebenarnya nama Cin Hou-siau memang cukup tenar dan cemerlang tapi diwaktu usianya menanjak ia lantas mengundurkan diri jarang kelana di Kangouw, orangyang pernah melihatnya juga cuma sedikit saja, apalagi orang yang mengetahui seluk beluk keluarganya lebih jarang pula Lian Tin san hanya tahu bahwa beliau adalah seorang tokoh lihay dalam bidang pukulan Bi ciang tapi tidak tahu sebetulnya orang punya berapa putera dan puteri.
Melihat In tiong-yan dapat mengubah pukulan Bilek-ciang kedalam permainan ilmu pedangnya ia merasa bukan saja sebagai murid mungkin genduk ini adalah putrinya Cin Hou-siau.
Terdengar In-tiong-yan terloroh loroh serunya.
"Cin Hou-siau nama ini memang pernah kudengar, tapi belum pernah melihat atau bertemu. Entah kau punya dendam permusuhan apakah dengan dia kenapa begitu kejinya kau menyumpahinya?"
Lian Tinsan melengak tanyanya.
"Siapa bilang aku menyumpahinya?"
"Ayahku sudah lama mati tadi kau katakan beliau adalah ayahku, bukankah kau menyumpahinya supaya lekas mati?"
Terdengar Nyo Sugi menyela dengan suara datar dan tawar.
"Kiranya si Elang hitam yang bernama besar dan tenar itu berpandangan begitu cupat! Biar kuberi tahu pada kau, Cin Hou siau Lunghiong cuma punya seorang putra sedang putrinya masih belum lagi lahir! Memang dikampung halamannya beliau membuka Bu-koan (perguruan silat) ada beberapa banyak murid muridnya. Tapi selamanya tidakmenerima murid perempuan. Apakah soal yang seperti ini tidak kau ketahui?'' Tiada pernah terjadi dalam kolong langit ini bila orang tuanya masih hidup, putra atau putrinya berani mengatakan beliau sudah mati. Maka seumpama Lian Tin san tidak percaya pada keterangan Nyo Sugi, tidak bisa tidak ia harus percaya akan ucapan In-tiong-yan. Mau tidak mau ia harus memeras otak berpikir kembali, waktu In-tiong yan melancarkan jurus kedua tadi, meski seperti galian dari Bi-lek ciang, tapi tidak dilandasi macam pukulan Bi lek ciang yang perlu menggunakan tenaga dalam yang ampuh, maka dapatlah dikata cuma persis kulitnya saja.
"Celaka sedikit kelalaianku, aku masuk jebakan genduk licik ini.'' bahwasanya Lian Tin san belum terkalahkan dalam permainan jurus, tapi sudah kalah muka keruan merah padam selebar mukanya. In tiong yan menggoda tertawa.
"Tebakanmu tiada punya dasar dan kurang disitu, sudah mengaku kalah saja?"
"Kau baru bermain dua jurus, kan masih ada sisa tiga jurus lagi,"
Demikian ujar Lian Tin san menebalkan muka, karena kehilangan muka dan harga diri, pada bicaranya tidak berani keras-keras dan ketus lagi.
"Baiklah,'' ujar In-tiong yan.
"Perhatikan baik baik. Jurus ketiga dimulai!"Seiring dengan peringatan ''sreet"
Kembali ujung pedangnya sudah nyelonong ke-depan.
Lekas lekas Lian Tinsan mengebutkan lengan bajunya untuk menyampok ujung pedang, In-tiong-yan mendadak putar balik sebaliknya gagang pedang menyodok kedepan maka terdengarlah suara cras kontan In tiong yan tergentak mundur tiga langkah, sebaliknya ikat pinggang LianTin-san kena tersodok putus.
Seketika berubah air muka Lian Tin-san katanya.
"Apa sebutanmu terhadap Liong-siang Hoat ong? Apa hubunganmu dengan Cohaptoh ?"
Kiranya justru yang digunakan In tiong-yan kali ini adalah ilmu gulat yang paling digemari oleh para Busu Mongol, dengan gagang pedang mewakili tangannya, sodokan dan caranya menyengkelit tadi adalah gaya dari ilmu gulat yang dinamakan To panlan-sek.
Kalau ganti orang lain dengan sodokan tadi pasti bisa menyengkelit tubuh lawan, karena itu meski Lian Tin-san membekal kepandaian silat yang tinggi, soalnya ia mimpi juga tidak menduga bahwa In-tiong yan juga mahir melancarkan jurus-jurus ilmu gumul dalam permainan ilmu pedangnya, maka sebelum ia siaga tahu tahu ikat pinggangnya sudah kena disodok putus untung celananya tidak kedodoran.
Tapi yang mengejutkan hati Lian Tin-san bukan karena kerugian kecil yang dideritanya ini, adalah ilmu pedangnya yang belum pernah dilihat atau ada diTionggoan, sebaliknya justru permainan tunggal dari bangsa Mongol.
Cohaptoh adalah pegulat kelas tinggi yang paling disegani di Mongol.
Sedang Liong-siang Hoatong adalah jago silat tiada tandingan dikolong langit, sebagai Koksu (imam negara) Mongol.
Dari Jing-bau-khek Lian Tin san ada mendapat kabar bahwa tokoh dari Mongol ini saat mana berada di Tiong-goan maka begitu melihat permainan pedang In-tiong-yan ini mendadak teringat ia akan mereka, maka beralasanlah perkataannya itu.
Dengan tawar In tiong-yan menyahut;
"Cohaptoh adalah kacung dirumahku, buat apa kau tanyakan dia??"
Tergetar hati Lian Tin-san, tanyanya pula.
"Lalu Liong-siang Hoat-ong??"
In-tiong-yan terkekeh-kekeh, katanya .
"Bila kulihat dia lantas kupanggil Hwesio gede, kalau hatiku sedang murung dan sedang malas tak kugubris juga tidak menjadi soal. Kau bertanya demikian melit, apa kau punya hubungan dengan mereka? Tapi jangan sekali-sekali kau mencari tahu asal usulku dari mereka seumpama kalian sahabat karib, mereka-pun belum tentu bernyali begitu besar berani menjelaskan kepada kau."
Mendengar ucapan In tiong yan terakhir ini, seketika pucat pasi muka Lian Tin-san, seperti jagoyang kalah diadu, segera ia berteriak.
"Teng-ngo mari kita pulang!"
"Kan masih ada dua jurus lagi apa kau tidak saksikan lebih lanjut?"
Demikian olok In tiong yan. Lian Tin-san tertawa getir, katanya.
"Anggaplah aku kalah dalam taruhan ini. Harap nona suka maafkan kecerobohanku. Perkara ini kami guru dan murid tidak akan ikut campur lagi!"
Menurut perhitungan Lian Tin-san setelah ia selesai mengerjakan tugasnya ini, segera ia hendak menyusul ke Lou-keh-ceng.
Minta bantuan sute Jin-bau khek yaitu pemilik Lou kek ceng Lou Jin cin sebagai perantara supaya bisa memperkenalkan dirinya kepada Liong siang Hoatong.
Kini setelah tahu siapa adanya In tiong yan, meski masih dirundung berbagai kecurigaan tak habis, karena sebagai tuan puteri dari bangsa Mongol kenapa membantu Su tay kim kong dari Ceng liong pang, tapi mana ia berani melawan dengan In tiong yan lagi.
Cukup hanya menggunakan tipu jurus In tiong yan berhasil menggebuk lari si Elang hitam guru dan murid yang kenamaan di Kangouw tidaklah heran kalau Su tay kim kong sama dibuat melongo dan terkejut.
Nyo dan Pek dua orang dari Su tay kim-kong memang punya pengalaman dan pengetahuan yang luas tapi mengenai dunia persilatan di Mongol mereka terlalu asing.
Sedang Lo dan Ong dua orang masihmuda yang baru beberapa tahun muncul dalam Bulim lebih tidak perlu dikatakan pula.
Pada sepuluh tahun yang lalu Liong siang Hoatong pernah datang sekali ke Tionggoan.
Para pendekar kelas tinggi dari Tionggoan kecuali beberapa orang tokoh yang benar benar kenamaan dan lihay kepandaiannya masih banyak yang belum pernah dengar namanya, lebih pula mereka tidak tahu bahwa Liong-siang Hoatong sebagai Koksu dari Mongol.
Dalam hati Nyo Sugi membatin, ''Julukan Liong-siang Hoatong ini cukup aneh mungkin sebagai Kaucu dari suatu aliran agama sesat?
Entah tokoh macam apa pula orang she Co itu ?
Aneh, begitu mendengar nama nama mereka lantas kelihatan Lian Tin san ketakutan dibuatnya.
Naga naganya dia sudah mengetahui asal usul nona cantik ini, cuma tidak berani mengetahuinya, apakah sebabnya?"
Nama Cohaptoh orang Mongol disangka orang she Co orang Han. Di luar tahunya bahwa dalam bahasa Mongol.
"Cohaptoh"
Merupakan suatu huruf yang tereja tiga nada berlainan, maksudnya yaitu gagah berani.
Bagaimana juga Su tay kim kong tidak akan mereka secara cepat meski mereka dirundung curiga sebagai lazimnya tersipu sipu mereka menyatakan banyak terima kasih kepada In tiong yan.
"Orang yang sering keluar dari pintu sudah seharusnya saling bantu membantu,"
Demikian ujar Intiong yan.
"Kalian meluangkan sebuah kamar kepadaku sampai sekarang aku belum lagi sempat menyatakan terima kasih kepada kalian."
"itulah urusan kecil kenapa diambil dalam hati,"
Lekas Lo Hou wi menjawab. Adalah Nyo Sugi tergerak hatinya, pikirnya.
"Ilmu silatnya begitu tinggi bukan mustahil percakapan kami semalam sudah dicuri dengar olehnya."
Benar juga belum lagi ia selesai berpikir lantas terdengar In tiong yan berkata sambil tersenyum penuh arti;
"Kalian selamanya aku belum pernah berkenalan dengan kalian tapi toh kalian tidak curiga kepadaku malah memberikan kamar kepadaku. Kalau kalian anggap soal kecil adalah aku tidak bisa tidak merasa terima kasih dan haru akan kepercayaan kalian kepadaku."
Ucapannya mengandung arti lain yang cukup mengerti.
Su tay kim kong maklum bahwa pembicaraan mereka malam itu terang sudah dapat didengar olehnya, seketika mereka menjadi risi dan kikuk dan tertawa menyengir.
Kata Nyo Sugi.
"Terima kasih akan bantuan nona menggebuk lari musuh. Harap maafkan akan kelancangan pertanyaan kami siapakah nama harum nona?"
In tiong yan tidak lantas menjawab pertanyaan ini sebaliknya ia balas bertanya.
"Bukankah kalianberempat sedang mencari seorang yang bernama Geng Tian Geng kongcu?"
Nyo Sugi berpikir.
"Urusan sudah kebeber, apa perlunya kami main sembunyi terhadap dia maka segera ia menjawab.
"Benar apakah nona kenal dengan Geng kongcu?"
"Tidak terhitung sahabat karib,"
Demikian sahut In tiong yan.
"Tapi bila kalian ketemu dia katanya pernah bertemu dengan seorang seperti aku pasti dia akan teringat siapa aku sebenarnya."
Secara tidak langsung ia mau katakan boleh kalian tanyakan namaku kepada pemuda bernama Geng Tian itu.
"Soalnya apakah kami dapat menemukan dia. Apakah nona tahu kabar beritanya?"
Kata Nyo Sugi pula.
"Kemana tujuan kalian untuk mencarinya?"
"Pangcu kami suruh kita kerumah Lu Tangwan mencari berita lebih dulu konon kabarnya dia pernah bertandang kerumah keluarga Lu."
"Itulah terjadi pada satu bulan yang lalu. Dimana dia sekarang aku tahu pasti. Tapi bila kalian mencarinya dirumah Lu Tang wan dapat kupastikan tidak akan bisa menemukannya."
"Harap nona suka memberi petunjuk."
"Lu Tang wan sudah mengikat permusuhan dengan Lou Jin cin, Lou Jin cin memang tak perlu ditakuti tapi orang dibelakangnya yang perlu dipikirkan maka mau tidak mau Lu Tang wan harus sembunyisementara waktu, kalau kalian mau tahu jejak Lu Tang wan kalian harus cari dulu putrinya. Beberapa hari yang lalu putrinya menuju ke arah ibu inangnya untuk menyembunyikan diri pula tahuku tempat itu termasuk bilangan Ting tau sebelah utara dimana ada sebuah lurah dalam pegunungan Hong kong san, Soal apakah nama lurah itu aku tidak tahu!"
In tiong yan mendapat tahu soal ini sebelum ia berpisah dengan Lu Giok-yau.
Soalnya waktu sangat mendesak mereka tergesa-gesa untuk berpisah maka ia bicara terlalu singkat maka ia terlupakan memberi tahu nama lurah itu kepada In tiong yan.
Dan karena In tiong yan sudah mendengar pembicaraan mereka, tahu bahwa Pangcu mereka adalah bekas anak buah ayah Geng Tian maka dengan lega ia berani memberi tahu hal ini pada mereka.
Mendapatkan sumber penyelidikan itu sudah tentu Nyo Su gi berempat sangat senang katanya.
"Diatas Hong kong-san cuma terdapat beberapa keluarga, cukup gampang buat mencarinya, terima kasih akan petunjuk nona ini."
Selanjutnya beramai ramai mereka menyatakan pula terima kasih lalu sambil berpisah.
Justru tidak diketahui oleh Su-tay kim-kong bila mana mereka langsung menuju ke rumah Lu Tang-wan tanpa susah payah mereka dapat bertemu dengan Geng Tian sekarang, karena harus berputar satu lingkaran pergi kelurah yang disebutkan itu mencariputri Lu Tang-wan maka mereka jadi kehilangan kesempatan bertemu dengan Geng Tian.
O^~dwkz^hendra~^O DALAM pada itu, setelah berhasil lolos dari mara bahaya di Lou-keh ceng bersama Ling Hou, Cin Hou siau, Sip It-sian tidak ketinggalan Hong-tian lui, Hek-swan hong dan Geng Tian bertiga ikut pula, langsung pulang kerumah Lu Tang-wan.
Ia tahu bahwa putrinya sudah berhasil lolos lebih dulu, maka harapannya setelah sampai di rumah, ia dapat bertemu dengan puterinya.
Melihat suaminya pulang membawa sedemikian banyak tamu, malah Hong Tian lui ada diantaranya Lu hujin menjadi kaget dan girang pula, tapi juga tak habis curiganya, sambil menyambut dan melayani para tamunya ia bertanya kepada suaminya;
"Dimanakah kalian bersama? Para tamu ini adalah....."
"Kalau dibicarakan cukup panjang,"
Sahut Lu Tang-wan.
"Mari kukenalkan lebih dulu. Kedua orang ini adalah Ling Toako dan Cin Toako yang sering kukatakan kepadamu dan yang ini adalah maling sakti nomor satu diseluruh jagat Sip It-sian."
Selanjutnya satu persatu ia perkenalkan juga Hek-swan hong dan Geng Tian.Geng Tian berkata dengan tertawa;
"Aku sudah bertemu dengan bibi, masih kuingat ada seorang Khu toako entah apakah masih berada disini?"
"Memang!"
Sahut Lu hujin.
"Yang kau maksud adalah keponakanku yang bernama Khu Tay-seng kemarin baru saja pulang, mungkin besok datang pula kemari."
Sengaja Ling Hou menjura sekali lagi kepada Lu hujin serta berkata.
"Selama berada disini anakku banyak mendapat perawatan dari Han-sio (ipar budiman), aku sebagai orang tuanya merasa berhutang budi dan banyak terima kasih!"
Lu hujin menjadi kikuk, sahutnya sambil tertawa dibuat buat.
"Mana, mana, kukuatirkan putramu menyalahkan pelayananku kurang cermat, maka ia tinggal pergi begitu cepat, untung sekarang kalian pulang bersama, legalah hatiku."
Ia pura-pura kelihatan senang, bahwasanya dalam hati ia menggerutu kepada suaminya.
"Mereka adalah orang orang kangouw yang sering terlibat dengan hukum, setiap orang yang sering berhubungan kental dengan mereka bukan mustahil kena bencana, sebaliknya kau bawa gerombolan orang orang liar ini pulang kerumah."
Sebagai seorang suami yang tahu sifat dan kekuatiran isterinya, suara sang istri tidak memperlihatkan rasa kurang puasnya, cepat Lu Tang-wan berkata.
"Perjalananku sekarang ini diluardugaan mengalami suatu peristiwa yang hampir saja merenggut jiwaku, untung ada Ling dan Cin toako memberi pertolongan dengan cepat kalau tidak mungkin aku sudah menemui ajalnya ditengah jalan dan tak bisa pulang menemui engkau lagi."
"Benar?"
Ujar Lu-hujin.
"katanya kau merawat luka-lukanya dirumah Ling-toako, siapakah yang melukai kau ? Apakah sudah sembuh seluruhnya ?"
"Sudah lama sembuh, siapa orang yang melukai diriku sampai sekarang belum diketahui. Peristiwa ini pelan-pelan akan kuceritakan kepadamu dilain saat,"
Demikian sahut Lu Tang-wan, mendadak ia merasa seperti heran, lalu tanyanya .
"Dari mana kau bisa tahu bahwa aku merawat luka-lukaku dirumah Ling-toako ?"
Sekilas Lu-hujin pandang kearah Cin Hou-siau, mulutnya ragu ragu bicara .
"Ini, ini ... ."
Sesaat ia menjadi serba sulit, entah cara bagaimana ia harus bicara dihadapan sekian banyak orang. Ternyata ia anggap putrinya minggat bersama Cin Liong-hwi. Ling Hou tertawa, katanya .
"Semua urusan yang tidak begitu penting baiknya dibicarakan lain waktu saja. Sekarang tibalah saatnya kau tanya soal putrimu!"
Sebetulnya memang Lu Tang wan sudah ingin menanyakan putrinya sejak tadi.
Soalnya mereka baru saja tiba dan para tamu belum dilayani sebagaimana mustinya, adalah jamak kalau mereka harus basa basisekadarnya bersama istrinya.
Setelah mendengar ucapan Ling Hou dengen tertawa baru berkata .
"Terima kasih akan perhatian kalian ayah dan anak kepada putriku. Sebelum duduk perkaranya dibikin terang, mungkin Thiat-wi Hiantit jauh lebih gelisah daripada aku."
Lalu ia berpaling kepada istrinya serta bertanya .
"Apakah Yau ji sudah pulang kerumah ?"
"Apakah kau sudah tahu ?"
Balas tanya Lu hujin.
"Maksudmu soal Yau-ji meninggalkan rumah ?"
Lu Tang wan menegas.
"Memang aku tahu dia pernah pergi ke Lou keh ceng, kusangka sekarang sudah pulang kerumah !"
"Apa pula yang telah kau ketahui?"
Lu Tang-wan tertegun, ia menjadi heran, tanyanya lagi .
"Masih ada apa ?"
Mendadak Lu hujin menekuk dengkul menjura kepada Cin Hou-siau, katanya .
"Cin-lung-hiong, harap maaf sebelumnya akan kelancanganku. Aku mau bertanya, apakah kau punya seorang putra yang bernama Liong-hwi ?"
Rada tercekat hati Cin Hou-siau, pikirnya .
"Mungkinkah bocah celaka itu pernah kemari?"
Segera ia menyahut.
"Benar putraku memang bernama Liong-hwi. Dari mana hianso bisa tahu ?"
Benar juga terdengar Lu-hujin melanjutkan .
"Dua hari yang lalu putramu baru datang kemari dia mengatakan ...""Apa katanya ?"
Cepat Cin Hou-siau mendesak. Lu-hujin melanjutkan .
"Dia berkata mendapat perintah dari ayahnya kemari untuk memberi kabar. Dari mulutnyalah baru aku tahu soal ayah Yau-ji merawat luka-lukanya dirumah kalian."
Cin Hoa-siau menjadi jengkel katanya.
"Bocah keparat itu berani kemari membual!"
Lu-hujin pura-pura terkejut katanya .
"Apakah bukan kau yang suruh putramu kemari ?"
Sip It-sian segera campur bicara bujuknya .
"Cin-twako tidak perlu naik darah, dia memberi kabar kemari kan juga soal baik."
Lu Tang-wan seperti terdebar katanya .
"Sip-twako, katamu putriku tertolong oleh seseorang, mungkinkah orang itu Liong-hwi adanya?"
Sahut Sip It-sian.
"Waktu itu aku hanya mendengar suaranya tidak melihat bentuk orangnya. Tapi menurut keadaan dan situasi waktu itu bila mereka pergi ke Lou-keh ceng bersama, bila nona Lu kena tertawan musuh, adalah jamak kalau Liong-hwi harus menolonginya keluar!"
Ia kuatir akan watak Cin Hou Siau yang berangasan pikirnya .
"Bila dia tahu duduk perkara sesungguhnya, mustahil putranya itu tidak dipukulnya sampai mampus."
Ling Hou bersifat jujur dan bijaksana, segala urusan selalu ia terpikir kearah kebaikan, setelah mendengar penuturan Sip It-sian, cepat iapun campurbicara .
"Benar, keadaannya pastilah begitu. Entah darimana keponakan Liong-hwi mendapat tahu bahwa putraku tertawan di Lou-keh-ceng, maka ia kemari mengajak nona Lu untuk menolongnya, Cin twako, Seumpama ia membual dan mengada ada, kaupun tak perlu terlalu menyalahkan dia!"
Sebaliknya Cin Hou siau tidak berani begitu saja mempercayai putranya, dengan sikap dingin ia memperhatikan, mendadak dilihatnya wajah Lu hujin menunjuk rasa hina dan senyum sinis yang memualkan, terbayang pula olehnya pandangan matanya yang aneh waktu menatap dirinya tadi, semakin besar rasa kecurigaannya itu.
"Bocah keparat itu terang tahu bahwa luka luka Lu Tang-wan sudah hampir sembuh dan segera bakal pulang ke rumah, kenapa ia memburu datang kemari memberi kabar? Jing-bau khek itu sudah menekannya menjadi muridnya, mana mungkin mandah melepaskannya pergi begitu saja?"
Segala persoalan yang tidak terjawab ini menjadi ganjalan disanubari Cin Hoa-siau samar samar ia merasakan persoalan ini rada ganjil. Dilain pihak Lu Tang wan juga sedang berpikir.
"Orang yang menolong Yau ji itu jika benar adalah Liong hwi, seumpama mereka tidak tahu peristiwa yang terjadi di Lou-keh ceng semalam seharusnya Yau-ji sudah mengajakku pulang kerumah."Karena belum mengetahui kabar berita dan jejak Lu Giok-yau berdua, perjamuan yang akan diadakan malam itu menjadi kurang meriah. Setelah perjamuan bubar dan mengantar tamunya masuk istirahat, Lu Tang wan suami istri pulang kedalam kamarnya, Lu Tang-wan berkata .
"Kelihatannya masih ada urusan apa yang masih belum kau katakan, ya bukan ?"
"Benar,"
Sahut Lu hujin.
"Dihadapan sekian banyak tamu masa enak kuucapkan ?"
Sebagai Orang berpengalaman dalam tata kehidupan hati Lu Tang-wan sudah menebak beberapa bagian, katanya ;
"Coba kau terangkan sekarang !"
"Menurut pendapatmu, bagaimana karakter Cin Liong-hwi itu?"
"Soal karakter dan ilmu silatnya kurang sebanding sama Ling Tiat-wi!'' "Tapi paras mukanya jauh lebih cakap dari Ling Tiat wi, apalagi mulutnya yang bawel itu pandai mengoceh !"
Berdetak jantung Lu Tang wan, katanya .
"Apakah Yau-ji telah tertipu olehnya ??"
"Keburukan rumah tangga sendiri pantang diketahui orang luar. Dihadapan sekian banyak tamutak enak kukatakan. Ketahuilah Yau-ji telah minggat bersama bocah itu!"
"Haaah !"
Seru Lu Tang wan terperanjat.
Baca Juga: Pemberontakan Taipeng 3
Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 10