Eps 5 Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat - Gan Kh
Baca online Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat - Gan Kh
Cersil Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat - Gan Kh.
Kiranya bukan karena anaknya bohong saja, sehingga Cin Hou siau merasa sedih, yang utama adalah dibawah tekanan Jing hou khek itu dihadapannya dia masih begitu tunduk dan rela menyerah tanpa mau melawan sedikitpun, malah membujuk dirinya supaya tidak bertengkar dengan gurunya, sifatnya yang pengecut ini sungguh berbeda sangat jauh antara bumi dan langit dibanding watak Hong thian lui yang jantan dan perwira itu.
O^~dwkz^hendra~^ODikempit dibawah ketiak Jing-hou-khek Cin Liong hwi dibawa lari pesat, angin menderu dipinggir kupingnya seperti naik awan mengambang saja rasanya, sungguh hatinya bingung dan gelisah.
Entah berapa lama dan berapa jauh sudah Jing hou-khek tiba tiba menurunkan dirinya.
Setelah itu berdiri tegak, dengan muka yang welas asih Jing hou khek menepuk pundaknya, ujarnya.
"Liong-hwi membuat kau kaget saja? Apa kau salahkan gurumu?"
"Mana Tecu berani salahkan Suhu,"
Cepat Cin Liong hwi menjura.
"Tindakanku ini demi kebaikanmu juga, rahasia kita sudah konangan oleh ayahmu, selanjutnya pasti dia akan melarang kau berlatih Lwekang perguruanku, bila kau tidak kuseret keluar, bukankah menyia-nyiakan bakatmu ?"
"Tecu paham akan jerih payah Suhu,"
Kata Cin Liong-hwi, jantungnya masih mendebur keras, meski ia mengiakan menurut nada perkataan Jing hou-khek, tapi jelas kelihatan rada terpaksa. Jing hou khek tertawa loroh loroh, serunya.
"Bagus, untuk selanjutnya kita guru dan murid akan lebih leluasa bicara. Aku ingin kau bicara terus terang sesuai dengan isi hatimu, jangan kau kelabui aku. Kaliini aku buat kalian ayah beranak berpisah, apakah kau sendiri tidak merasa kuatir ?"
"Ya, aku kuatir ayah bakal tidak memberi ampun pada aku !"
"Baik, kau mau bicara terus terang, aku senang. Kesukaranmu pasti aku akan bantu membereskan."
Sampai disini Jing-hou khek lantas menepekur seperti berpikir pikir apa, kira-kira sesulutan batang hio baru ia berkata pelan.
"Keadaan ayahmu selanjutnya kau tidak perlu kuatir, kelak setelah pelajaran tamat, berhasil angkat nama dan menjunjung tinggi gengsi perguruan, dan lagi tidak mengalami bahaya seperti yang diduganya itu, pasti dia akan maklum akan kesalahan pendapatnya, pasti kau akan dimaafkan. Yang kukuatirkan padamu hanyalah soal lainnya !"
Mendengar uraian orang cukup beralasan Cin Liong hwi jadi berpikir .
"Memang urusan sudah terlanjur sedemikian jauh, terpaksa aku harus selesaikan latihanku dulu, nanti bila benar sudah ternama baru pikirkan tindakan selanjutnya."
Tapi serta mendengar kata kata terakhir Jing-hou khek serta merta hatinya dirundung kekuatiran pula, cepat ia bertanya.
"Apa yang Suhu kuatirkan?"
Kata Jing-hou khek.
"Lu Tang-wan dengan ayahmu dan Ling Hou merupakan sahabat lama, aku pernah melukai dia, dan kau sekarang adalah muridku, adanya hubungan ini, apalagi ayahmu seorang yangmemberati sahabat dan paling menjunjung tinggi gengsi pribadi, mungkin karena alasannya ini ia tidak mau lagi mengakui kau sebagai putranya.'' Dingin perasaan Cin Liong-hwi, katanya.
"Lalu cara bagaimana baiknya?'' "Bahwasanya aku tiada permusuhan yang mendalam dengan Lu Tang-wan, tujuanku hanya ingin menjajal kepandaiannya belaka, sedikit lena aku telah melukai dia, akupun sangat menyesal. Ai, pertikaian ini kelak masih mengharap kaulah yang melerainya."
Cin Long hwi tertawa getir, katanya.
"Diriku sendiri sukar mendapat pengampunan ayah cara bagaimana bisa melerai permusuhan Suhu?"
Tiba-tiba Jing-hou khek tertawa, tanyanya.
"Liong hwi, kau sudah mengikat jodoh belum?"
Cin Liong hwi melengak, katanya.
"Belum. Suhu untuk apa kau tanyakan hal ini?"
"Perawan kampungan sudah tentu tidak cocok menjadi pasanganmu,"
Demikian kata Jing hou-khek.
"Untung ayahmu belum mengikat jodohmu, kalau tidak aku merasa sayang bagi kau. Ehm, muridku, kau ingin tidak meminang seorang perawan yang cantik jelita dan pintar lagi.'' "Suhu, apakah kau tidak menggoda aku? Kita sedang membicarakan urusan penting.""Yang kukatakan ini juga cukup penting. Coba kau dengar penjelasanku."
Kata Jing-hou khek.
"Lu Tang wan punya seorang putri bernama Giok-yau, tahun ini berusia delapan belas. Bukan saja ilmu silatnya sudah mendapat gemblengan langsung dari ayahnya, main kepalan atau gunakan senjata sama lihaynya. Apalagi pintar membaca dan main tetabuhan, semuanya serba pandai. Soal paras dan perawakan, bukan aku memujinya, selama puluhan tahun aku kelana di Kangouw, belum pernah kulihat nona yang jelita dan rupawan seperti dia."
Sampai disini ia pandang Cin Liong hwi dengan mimik tertawa tidak tertawa serta katanya.
"Perempuan begitu cantik dan pintar lagi, seumpama kau menyulut pelita mencari kemana-mana juga sukar didapat. Kau ada maksud tidak?"
"Kalau dia pergi sendiri, bila ketemu Tiat wi, bukankah Tiat-wi bisa memberikan penjelasannya?"
"Waktu dia menuju Yo ka-thong menyirapi berita itu, saat mana Ling Tiat-wi sudah dalam perjalanan menuju ke Mongol bersama In-tiong-yan yang dia tahu melulu Ling Tiat-wi bersama In tiong-yan pernah menginap bersama dirumah keluarga Lu itu. Apalagi masih dapat diduga, dia tidak akan pergi sendiri tentu mengutus keponakannya untuk mencari berita ini. Keponakannya itu jauh lebih benci pada bacot goblok itu dari kau, kalau pulang pasti akan menambahibumbu dan memutar lidahnya untuk menjelekkan Ling Tiat wi.'' "Kenapa dia bisa berbuat begitu?'' "Sebab keponakan itu juga jatuh hati terhadap Piaumoaynya itu. Tapi kau boleh melegakan hati, bocah ini bukan tandinganmu. Sudah sekian banyak aku memutar lidahku, kau dengar nasehatku saja, tanggung tidak akan salah dan kecewa. Aku selalu membantu kau secara sembunyi."
Akhirnya Cin Liong-hwi kena terbujuk juga secara gegabah ia lantas beranjak menuju ke Ciat-kang timur dikediaman keluarga Lu.
Sejak Hong-thian lui pergi, setiap hari Lu Giok-yau menjadi bersedih selalu murung.
Karena hal itu entah berapa kali selalu marah-marah pada ibunya.
Hari-hari berlalu dengan cepat siang malam Lu Giok yau berharap ayahnya lekas pulang, membawa berita Hong-thian lui.
Ayahnya berkata hendak menyambangi ayah Hong thian-lui, bila Hong-thian lui sudah tiba dirumah dan ayahnya belum lagi pulang, tentu mereka bertemu disana.
Tak duga harap punya harap tanpa terasa tahu tahu sebulan sudah berlalu, namun ayahnya belum juga kunjung pulang.
Selama ini sudah tentu merupakan kesempatan baik bagi Khu Tay-seng untuk unjuk muka dan menjual lagak dihadapan sang Piaumoay, namun Lu Giok-yauselalu acuh tak acuh, tak mau hiraukan dia, kadang kala diajak bicarapun segan dan tinggal pergi malah.
Bukan karena sengaja dia hendak menjauhi sang Piauko, soalnya dia tiada minat ditemani orang bermain.
Pada suatu hari kebetulan Khu Tay-seng baru pulang dari main-main diluar, mereka ibu beranak sedang bercakap cakap.
Begitu melihat sang keponakan Lu hujin lantas memanggil.
"Tay seng, kebetulan aku hendak tanya kau. Bukankah sudah lama kau tidak latihan silat dengan Giok-yau?"
Khu Tay seng tertawa, katanya menekuk jari.
"Coba biar kuhitung dulu. Dalam bulan ini tidak lebih Piaumoay berlatih dua kali dengan aku, yang paling belakangan terjadi pada setengah bulan yang lalu."
Kata Lu-hujin sambil mengerut kening.
"Giok-yau, bukan aku suka ngomeli kau. Sejak Ling Tiat wi pergi, kau selalu bermuram durja, kelihatannya segan bicara dan berlatih lagi, terhadap aku kaupun tak sudi omong lagi. Soal bicara sih tidak menjadi soal, namun latihan silatmu menjadi terbengkalai, bila ayahmu pulang dan menguji kepandaianmu, mungkin akupun akan ditegurnya karena tidak mengawasi kau."
"Berlatih dengan Piaukopun tidak akan mendapat kemajuan berarti,"
Demikian ujar Giok-yau.
"bila ayah pulang, biarlah beliau marahi aku saja. Aku sendiri yang berbuat salah biar aku pula yang menerima makiannya, tiada sangkut pautnya dengan piauko."Kata-katanya, latihan dengan piaukopun tidak akan mendapat kemajuan bagi pendengaran Khu Tay seng laksana sembilu menusuk ulu hatinya, pikirnya.
"Jelas kau mencela ilmu silatku terang tak ungkulan dibanding bocah gendeng itu."
Batinnya mendelu, namun lahirnya tetap berseri tawa, katanya.
"Sayang orang yang punya kepandaian silat tinggi sudah pergi."
Tak tahan lagi segera Lu hujin menegur.
"Tay-seng, coba lihat, Piaumoaymu masih merengek padaku, tidak seharusnya Ling Tiat-wi digebah pergi, kan bukan aku yang mengusirnya pergi, coba katakan apakah tuduhannya itu masuk akal dan beralasan ?"
Mendadak Khu Tay seng tersenyum, ujarnya.
"Piaumoay, biar kuberitahu padamu sebuah berita baik, selanjutnya boleh kau tidak usah kuatir bagi Ling toako."
Kata Lu Giok-yau.
"Dia pulang membawa sakit yang belum sembuh, perjalanan ini begitu jauh, bagaimana aku tidak akan kuatir bagi dirinya. Piauwko, kau selalu menggoda dan tertawakan diriku. Baik, kabar apa yang telah kau dengar, coba beritahu padaku."
"Begitu mendengar kabarnya kau lantas begitu gugup, kemana kau main pura-pura lagi,"
Demikian goda Khu Tay seng.
"Tapi, bukan sengaja aku hendak goda kau, soalnya aku sendiri juga prihatin akan kesehatannya."Lu Giok-yau menjadi sebal mendengar ucapannya ini, katanya merengut.
"Sudah tidak usah banyak cerewet, sebetulnya ada berita apa lekas katakana."
Dengan kalem sepatah demi sepatah Khu Tay-seng berkata.
"Ling toakomu itu bahwasanya tidak pernah pulang kerumahnya, sekarang dia masih berada di Yo-ka-thong, jarak tempat itu tidak lebih tiga perjalanan."
Tersentak hati Giok yau, katanya.
"Tidak mungkin dia pasti langsung pulang, di Yo ka-thong tidak punya sanak kadang, buat apa dia kesana?"
O^~dwkz^hendra~^O
Jilid 13
"Tiada sanak tiada kadang memang benar, tapi seorang sahabat ada disana."
Ujar Khu Tay-seng penuh teka-teki.
"Dirumah siapa dia tinggal di Yo-ka-thong ?"
Lu-hujin menyela bertanya.
"Dirumah seorang she Lou."
"Apa tinggal dirumah orang she Lou itu ?"
Teriak Lu Giok-yau terkejut.
Ini membuat orang semakin tidak percaya, ternyata Lou Jin cin adalah gembong penjahat besar yang sudah cuci tangan dan menghentikan prakteknya, walaupun keluarga Lu tidak pernah saling hubungan, namun Lu Giok-yaukenal akan orang macam apa adanya orang she Lou ini.
Kata Lu-hujin tawar;
"Kejadian didunia ini kadangkala diluar dugaan manusia. Piaukomu berkata begitu tegas dan gamblang, kukira kabar ini bukan kabar angin belaka."
Lu Giok-yau masih sangsi, katanya .
"Piauko, darimana kau dengar berita ini ? Siapa pula yang kau maksudkan sahabat Ling Tiat-wi itu?"
Air muka Khu Tay-seng rada aneh, seperti tertawa tidak tertawa, katanya sinis .
"Sahabat karibku itu adalah seorang perempuan, she apa dan siapa namanya aku sendiri belum tahu. Yang kutahu hanya julukannya In-tiong-yan !"
Sekarang ganti Lu-hujin yang berjingkrak kaget sambil menepuk paha, katanya .
"In-tiong-yan nama ini seperti aku pernah dengar dari penuturan ayahmu, konon adalah maling perempuan terbang yang baru dua tahunan ini menonjol dikalangan Kangouw. Wajahnya ayu jelita, ilmu silatnya tinggi lagi, sayang tiada seorangpun yang tahu asal usulnya."
Lu Giok-yau menjadi gelisah, tanyanya.
"Piauko, sebetulnya cara bagaimana kau mendapat kabar ini?"
Kata Khu Thay seng pelan pelan .
"Apakah kau masih ingat Siau-seng-cu yang kekar dalam kampung kita itu ? Sekarang dia menjadi pegawai masa panjang dirumah keluarga Lou Jin cin, kemaren kebetulanmendapat perlop dan pulang rumah, tadi aku bertemu dengan dia, menurut katanya dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat Ling Tiat-wi dengan perempuan itu berpasangan keluar masuk di rumah Lou Jin-cin."
Lu-hujin menimbrung .
"Siau-seng cu itu seorang bocah jujur, selamanya tidak pernah bohong. Waktu ayahmu berulang tahun tempo hari, diapun ikut membantu dirumah kami, dia kenal siapa Ling Tiat-wi adanya, kukira dia tidak akan salah lagi."
"Piaumoay,"
Kata Khu Tay-seng.
"bila kau tidak percaya, boleh panggil Siau-seng-cu kemari untuk kau tanya sendiri."
"Suruhlah Lo-ong pergi panggil Siau-seng-cu kemari supaya Yau ji mengetahui lebih jelas lagi."
Lo ong adalah pembantu tua keluarga Lu. Tak lama Lo ong pergi, diluar sana lantas terdengar ketukan pintu, Lu-hujin menjadi heran, katanya .
"Siau seng-cu bertempat tinggal diujung kampung sana, kenapa begitu cepat Lo-ong sudah kembali?"
Kata Khu Thay seng.
"Didengar dari derap langkah diluar pintu, nada-nadanya pendatang ini hanya seorang. Apa mungkin Lo-ong tidak berhasil mengundang Siau-seng-cu ?"
Belum lagi rasa heran mereka hilang tampak penjaga pintu diluar sudah masuk menuntun seorang pemuda mendatangi. Laporannya.
"Lapor Hujin, Cin-kongcu ini katanya sahabat Ling-kongcu, beliau baru tiba dari Soa-tang !"
Penjaga pintu ini sudah puluhan tahun bekerja dirumah Lu, sejak kecil iapun ikut mengasuh Lu Giok-yau hingga besar, dia tahu akan isi hati nona majikannya maka begitu mendengar Cin Liong-hwi sebagai sahabat Ling Tiat wi dan bisa mengajukan buktinya lagi, lantas dia membawanya masuk tanpa memberi lapor terlebih dahulu.
Dengan laku hormat Cin Liong hwi memberi sembah hormat kepada Lu-hujin, katanya .
"Harap maaf atas kunjungan Siau-tit yang mendadak ini. harap Pek-bo (bibi) suka memberi maaf yang sebesar-besarnya."
Sudah lama Lu Giok-yau tahu Cin Liong-hwi adalah sahabat karib Ling Tiat-wi yang paling kental, melihat orang datang keruan bukan kepalang girang hatinya, cepat ia berkata .
"Tiat-wi sering bercerita tentang kau, dia adalah murid ayahmu yang terbesar bukan?"
"Benar,"
Sahut Cin Liong-hwi.
"Dia adalah Suhengku."
"Waktu kau datang kemari, apakah dia sudah sampai dirumahmu ?"
Tanya Giok-yau.
Mendengar Cin Liong-hwi sebagai sahabat karib Ling Tiat-wi, Lu-hujin menjadi kurang senang, serta melihat orang berlaku hormat dan tahu sopan santun,lambat laun ia menjadi ketarik juga.
Katanya tertawa .
"Giok-ji, seharusnya kau tanyakan dulu perihal ayahmu."
Giok-yau seperti sadar, serunya.
"Benar, Cin toako, apakah ayahku sudah sampai di-rumah keluarga Ling belum ? Kira-kira dua bulan yang lalu dia sudah berangkat. Kabarnya kedua keluarga kalian tinggal dalam satu kampung, tentu kau tahu, bukan ?"
Cin Liong hwi pandang Lu Giok yau sebentar, dalam hati membatin .
"Kiranya Suhu memang tidak ngapusi aku, nona Lu ini benar-benar secantik bidadari dari kahyangan. Baik, akan kucari akal untuk bergaul lebih dekat lagi dengan dia."
Dalam batin berpikir mulutnya lantas menyahut.
"Justru sekarang aku diutus oleh ayah kemari untuk memberi kabar tentang ayahmu. Secara tidak terduga ayahmu telah terluka ditengah jalan saat ini masih merawat luka-lukanya dirumah keluarga Ling."
"Siapakah orangnya yang telah melukainya ?"
Tanya ibu dan anak bersama.
"Seorang aneh yang tidak diketahui namanya,"
Sahut Cin Liong-hwi.
Sudah tentu dia tidak berani menceritakan keadaan peristiwa yang sesungguhnya, dia hanya menceritakan pengalaman Lu Tang wan malam itu.
Lu-hujin juga seorang persilatan mendengar ceritanya itu, iapun maklum akan kebenaran ceritanya itu.Lu-hujin menghela napas lega, ujarnya.
"Terima kasih akan bantuan ayahmu membantu dia mengobati luka-lukanya, sekarang sudah sembuh?"
"Sudah banyak baikan, tapi paling tidak harus istirahat satu dua bulan lagi,"
Jawab Cin Liong hwi.
"Maka ayah mengutus Siauwtit kemari untuk memberi kabar, harap Pekbo suka mengirim seorang kembali bersama aku untuk menjemputnya pulang. Soalnya ayah dan paman Ling tidak leluasa berkelana di-kalangan kangouw, kepandaian Siautit sendiri kurang becus seorang diri kuatir kurang kuat untuk melindunginya pulang."
Sebetulnya luka-luka Lu Tang wan sudah sembuh tujuh delapan bagian, dia mampu pulang sendiri.
Cin Liong-hwi sengaja menggambarkan penyakit Lu Tang wan sedemikian berat dan memerlukan orang menjaga dan mengantarkan pulang tujuannya memang untuk mendekati dan bergaul lebih akrap dengan Lu Giok yau.
Menurut jalan pikirannya Lu-hujin perlu menjaga dan mengatur rumah tangga, orang yang perlu diutus satu-satunya hanyalah putrinya sendiri.
Betul juga lantas terdengar Lu-hujin berkata.
"Yau ji, bersama Piauko besok kau ikut Ci siheng menyambut pulang ayahmu."
Cin Liong hwi rada kecewa namun hatinya cukup terhibur juga, pikirannya.
"Menurut kata Suhu kepandaian silat dan kecerdikan otak bocah ini jauh tidak memadai dibanding aku. Namun dengan adanyanona Lu dalam perjalanan ini, kenapa aku kuatir bocah ini berani menjadi batu penghalang bagi rencanaku?"
Kata Lu Giok yau.
"kemana aku tidak dengar kau menyinggung diri Tiat-wi, apakah dia belum pulang kerumah ?"
Cin Liong hwi mengunjuk lagak serba sulit bicara, katanya terpaksa.
"Ling suheng telah mengalami suatu kejadian yang benar benar diluar dugaanku. Ini ... ini ...."
"Aku anggap Tiat-wi sebagai keponakanku sendiri, tiada kalangannya kau tuturkan kepada kami."
Demikian ujar Lu hujin.
"Tapi bila ayahmu dan paman Lingmu melarang kau bicara, akupun tidak enak memaksa !"
Cin Liong-hwi menghela napas rawan, ujarnya.
"Waktu aku kemari paman Ling memang ada berpesan supaya aku tutup mulut. Katanya kejelasan rumah tangga sendiri jangan dibeber keluar. Tapi Pekbo adalah orang sendiri bila akan menutupi rahasia ini rasanya kurang enak malah."
Lu Giok yau terperanjat, tanyanya.
"Kejelekan rumah tangga apa ?"
"Ling-suheng kepincut oleh paras cantik, menurut kabar yang diperoleh katanya dia bergaul erat dan keluntang keluntung dengan seorang perempuan siluman yang bernama In-tiong-yan.""Apakah benar kejadian itu ?"
Tanya Lu Giok yau menegas.
"Piau-moay,"
Jengek Khu Tay seng dingin.
"kali ini kau mau percaya."
Melihat mereka tidak begitu kaget akan heran, Cin Liong hwi lantas meneruskan obrolannya.
"Ha, jadi kalian sudah tahu akan berita ini. Jadi siapakah sebenarnya In tiong-yan itu tentu kalian sudah tahu ?"
"Aku hanya tahu bahwa Ling Tiat wi memang benar berada dirumah keluarga Lou di Yo ka-thong bersama siluman perempuan In-tiong-yan itu. Soal asal usulnya aku masih belum jelas,"
Demikian jawab Khu Tay-seng. Lagi lagi Cin Liong-hwi menghela napas meneruskan sandiwaranya, katanya pelan pelan.
"Siluman perempuan yang punya julukan In-tiong-yan ini sebenarnya adalah tuan putri Tartar Mongol !"
Keterangannya ini kontan membuat Lu Giok yau berjingkrak kaget, teriaknya tak tertahan lagi;
"Apa, Ling toako kepincut oleh tuan putri bangsa Mongol?"
"Justru hal inilah yang dianggap sebagai kejelekan rumah tangganya oleh paman Ling!"
Demikian tutur Cin Liong-hwi pula. Lu Giok-yau geleng-geleng kepala, katanya.
"Kejadian ini betapapun aku tidak mau percaya.''Lu hujin berkata tawar.
"Tahu anak hanyalah ayahnya. Ayah Ling Tiat hwi sendiri percaya akan peristiwa ini, kenapa kau masih mau membela dia?"
"Cin-toako,'' ujar Lu Giok-yau tidak mau terima, ''darimana kau peroleh berita ini?"
"Aku punya seorang paman terdekat yaitu simaling sakti nomor satu diseluruh jagat yang terkenal itu, beliau bernama Sip It-sian. Dialah yang membawa berita ini. Beliau pernah menyelidiki sendiri di yo ka thong, dengan perempuan siluman itu.'' Sejenak ia merandek mengunjuk rasa sayang dan gegetun lalu melanjutkan.
"Sudah tentu aku sendiri mengharap berita ini tidak benar. Untung Yo-ka thong itu kotanya tidak terlalu juga letaknya; dari sini kalian mengutus seseorang untuk menyirapi kesana.'' Bicara sampai disini kebetulan pembantu tua yang diutus keluar tadi sudah kembali membawa Siau seng-cu yang dicari itu. Kata Lu hujin.
"Tidak perlu jauh-jauh kesana lagi, Siau seng cu ini menjadi pengawal kontrak dirumah Lou Jin-cin, marilah kita mencari tahu lebih jelas dari keterangannya."
Setelah masuk keruang tamu, dengan laku ketakutan dan tergopoh-gopoh Siau-seng cu berlutut kepada Lu hujin, serunya.
"Apakah Hujin memanggilku untuk minta keterangan soal Ling siangkong? Apa yang aku tahu sudah kututurkan semua kepada Khu siauya. Besok pagi aku harussegera pulang kerumah keluarga Lou, harap Hujin suka memakluminya.'' "O, jadi kau takut diketahui oleh Lou Jin-cin bahwa kau telah membocorkan rahasianya?"
Tanya Lu-hujin. Kata Sian-seng cu.
"Meskipun aku belum pernah melihat dia membunuh orang dengan tangannya sendiri, menurut cerita seorang kawan, majikan kami itu ternyata cukup kejam dan telegas, membunuh orang tanpa mata berkedip, tampangnya memang kereng dan menakutkan. Setiap kali melihat tampangnya jantungnya pasti berdebar takut."
"Siau seng-cu,"
Ujar Lu hujin.
"apakah kau mau menjadi pengawal kontrak dirumah keluarga Lou selama hidupmu?"
"Siapa yang rela menjadi kuli kontrak seumur hidup. Soalnya keluargaku miskin, kalau tidak mau bagaimana keluargaku masih hidup.'' "Bagus, kau tunggu sebentar,"
Seru Hujin lalu ia mau masuk kekamarnya dan keluar lagi membawa sebuntal uang perak, katanya lagi.
"Disini terbungkus seratus tail uang perak, cukup untuk modal dagang kecil-kecilan."
Siau-seng cu terkejut, katanya.
"Hujin apa maksudmu ini? Sedikitpun Siau-jin tidak pernah membuat pahala atau jasa betapapun tidak berani terima hadiah besar ini.""Kau boleh terima uang ini dan pergi jauh jangan pulang lagi,"
Kata Lu hujin.
"pergilah kedaerah lain untuk berdagang, dengan kurang seorang pegawai macam kau, Lou Jin-cin tidak akan mengusut lebih lanjut. Sekarang kau boleh ceritakan sejelasnya keadaan Ling siangkong waktu berada dirumah gedung Lou Jin cin bukan?"
"Benar,"
Sela Khu Tay-seng.
"kau tiada punya orang tua lagi, saudaramu hanya seorang adik perempuan, dengan adikmu kan bisa pergi jauh dan menghilang, apa pula yang kau kuatirkan dan berati disini?"
Kata Siau-seng cu, ''Begitu baik dan prihatin Hujin terhadap Siaujin, seumpama aku harus ketimpa bencana apapun aku harus membuka mulut sekarang.
Harap Hujin tidak salahkan hamba terlalu cerewet.
Menurut apa yang kutahu, mungkin Ling-siangkong itu bukan seorang baik."
Bertaut alis Lu Giok-yau, tanyanya kurang senang.
"Darimana kau tahu?"
"Siau seng cu,"
Ujar Lu hujin.
"kau tidak usah takut atau kuatir, bicara saja sejelasnya."
"Hari itu dia datang bersama seorang perempuan kerumah Lou Jin cin. Kecuali mereka berdua masih ada lagi empat Busu. Hujin coba kau terka orang macam apakah keempat Busu itu?"
Demikian tutur Siau seng cu."Mana aku tahu coba kau jelaskan,"
Sahut Lu Hujin.
"Bermula akupun tidak tahu asal usul mereka. Akhirnya kudengar mereka bicara dengan bahasa asing yang tidak pernah kudengar, sekecappun aku tidak tahu apa yang tengah mereka perbincangkan, menurut seorang kawanku, baru aku tahu bahwa mereka adalah orang-orang Mongol."
Lu Giok yau terkejut bathinnya.
"Orang she Cin ini berkata bahwa In tong yan adalah tuan puteri Tartar Mongol, kiranya benar adanya."
Terdengar ibunya sedang bertanya.
"Lalu siapa pula perempuan itu? Apakah bangsa Mongol juga?"
Tutur Siau seng cu.
"perempuan itu bicara dengan bahasa Han malah. Tapi bila bicara dengan para Busu itu menggunakan bahasa Mongol juga. Mereka kelihatan sangat hormat dan segan kepadanya. Ada pula sebuah berita lain, sebelum rombongan perempuan dan para busu itu datang, sebelumnya ada datang seorang Lama dirumah Lou Jin cin itu, menurut kabarnya adalah Koksu (imam negara) bangsa Mongol. Kalau Koksu ini berani membentak dan bicara kasar terhadap para Busu itu, tapi terhadap perempuan itu ia berlaku sangat sayang dan sopan santun."
"Cin toako,"
Tiba-tiba sela Khu Tay seng.
"Beritamu itu tepat dan benar seluruhnya. In tiong yan diiringi dan dilindungi oleh para Busu. Koksu jugalemah lembut terhadapnya, apa pula kedudukannya kalau bukan tuan putri?"
Sembari bicara dengan sinis ia melirik kearah sang Piaumoay, terlihat Lu Giok-yau tengah tunduk menepekur entah sedang memikir apa. Dalam hati Khu Tay-seng membatin.
"Hatinya tentu sangat sedih dan mendelu, tak enak aku menggodanya lagi."
Mana dia tahu meskipun Lu Giok yau tahu apa yang dituturkan Siau seng cu itu bukan bualan belaka, namun betapapun juga ia tidak mau percaya bahwa Hong thian-lui sudi bergaul dan kepincut terhadap tuan putri bangsa Mongol itu.
Terdengar Lu hujin tengah berkata lagi.
"Bagaimana keadaan dan pergaulan Ling siangkong dengan putri Mongol itu dirumah keluarga Lou ? Menurut apa yang kau lihat atau dengar coba tuturkan seluruhnya kepada kami !"
"Aku hanya seorang pembantu rendahan, bila tiada kepentingan tidak boleh masuk ke ruang dalam. Tapi dari mulut Siau-kan yang suka bercerita itu memang ada kudengar beberapa kejadian."
"Siapa pula Siau-kan yang kau maksudkan itu ?"
Tanya Lu hujin.
"Siau-kan adalah murid tukang kebun yang berkuasa ditaman rumah Lou, kerjaannya sehari-hari memelihara dan menanam kembang !"
Sahut Siau-seng-cu."Emangnya tukang kebon lantas boleh masuk kedalam ruang besar?"
Sela Lu Giok-yau dengan mengejek.
"Tidak, Siau kan ini bersahabat kental dengan salah seorang pelayan pribadi istri besar Lou Jin cin yang bernama Siau Cui."
"O, jadi Siau-cui memberitahu Siau kan dan Siau kan memberitahu kau. Apa yang dia katakan ?"
Tanya Lu-hujin.
"Menurut katanya,"
Demikian tutur Siau-seng-cu lebih lanjut.
"Sang bangsawan itu sering seorang diri memasuki kamar Ling-siangkong. Pernah terjadi pada suatu malam, kira-kira tiba kentongan ketiga, dia mendapat perintah dari majikannya masuk dapur memasak bubur kolesom, kebetulan lewat kamar-kamar tamu dipekarangan luar. Dengan mata kepalanya sendiri dia melihat perempuan itu baru saja keluar dari kamar Ling siangkong itu."
Betapa pedih dan pilu hati Lu Giok-yau, namun dalam hati ia membatin.
"Cerita mulut orang yang berlidah tidak bertulang, belum tentu dapat dipercaya."
Dalam batin ia berkeukuh pendapat namun tidak bisa tidak tergerak juga hatinya, pikirannya.
"Mungkin benar Ling-tiat-wi telah kena dipincut oleh siluman perempuan itu? Ai, peribahasa mengatakan seorang pahlawanpun akhirnya bakal tekuk lutut dipelukan wanita cantik. Bukan mustahil Ling Tat wipun mengalami kesalahan langkah ini.""Ada kejadian apa lagi yang diketahuinya?"
Tanya Lu hujin lebih lanjut.
"Tiada kejadian apa-apa lagi,"
Sahut Siau seng-cu.
"Baik, uang itu kau bawa pulang dan lekas bawa adikmu pergi ketempat yang jauh malam ini juga kalian harus berangkat."
Setelah Siau seng cu pergi; segera Lu-hujin membujuk dan menghibur putrinya.
"Ling Tiat-wi melakukan kesalahan besar yang memalukan ini kaupun tidak perlu bersedih bagi dia, yang penting besok kau harus pergi menyambut ayahmu pulang. Sekarang masuklah istirahat sekalian bersiap untuk berangkat besok pagi."
Lu Giok-yau mengiakan, katanya.
"Mengenai persoalan Tiat wi itu, betapa pun dia adalah penolong keluarga kita."
"Lalu apa kehendakmu atas diriku, kau minta aku menyeretnya kemari? Bukan saja aku tidak bisa kelayapan diluar, seumpama aku benar kesana menggelandangnya pulang paling tidak harus melabrak dulu, siapapun perempuan itu, hubungan mereka sudah begitu mesra, masa dia mau kembali lagi?"
Segera Khu Tay seng ikut menambahi.
"Tadi Siau Seng cu sudah menjelaskan seluruhnya. Menyirapi ke Yo-ka-tong, juga tiada membawa manfaat lagi. Piaumoay kunasehatkan kau lupakan saja kejadian memalukan ini.""Piauko, apa yang kau cerewetkan?"
Omel Lu Giok yau uring-uringan.
"Aku hanya ingin menyelidiki kebenaran berita ini, kau kira aku mementingkan hubungan pribadi melulu. Piauko, jangan kau lupa Ling Tiat-wi juga pernah menolong jiwamu dari renggutan elmaut tahu!"
Merah padam selebar muka Khu Tay seng, ingin dia mendebat, namun dihadapan sang Bibi ia menjadi kuncup nyalinya, pikirannya.
"Ling Tiat wi bocah keparat itu tidak mungkin bakal kembali lagi kemari. Cepat atau lambat Piaumoay bakal menjadi istriku, sekarang dia sedang uring-uringan dan jengkel buat apa aku bertengkar mulut dengan dia?"
Karena pikirannya ini maka dengan menyengir kecut ia berkata.
"Piaumoay, aku berkata demi kebaikanmu. Mungkin kata-kataku tadi rada menyakiti hatimu, maafkanlah! Ehm, Ling Tiat-wi sendiri yang melakukan kesalahan yang memalukan ini, seumpama kita harus membantu dia juga menjadi serba runyam!"
"Sungguh, jangan singgung lagi soal Tiat-wi,"
Sela Lu hujin merengut.
"Giok-yau, mari kau ikut aku pulang kamar, Tay seng, siapkan sebuah kamar untuk tempat tinggal Cin-siheng ini, hari ini harus istirahat lebih pagi."
Dalam hati Tay seng menepekur.
"Orang she Cin ini meski Sute Ling Tiat-wi, kelihatannya iapun membenci perbuatan Suhengnya yang memalukan itu."
Karena Cin Liong hwi membawakan berita yangmenjelekkan nama baik Ling Tiat-wi, maka Khu Tay seng merasa simpatik terhadapnya.
Segera ia layani segala keperluan orang dengan tekun dan ramah tamah, katanya.
"Saudara Cin, silahkan kau istirahat. Besok pagi pagi kita berangkat bersama."
Setelah segala keperluan Cin Liong-hwi diatur beres, ia mengundurkan diri kembali ke ruang dalam menemui bibinya untuk mencari berita lebih lanjut. Kata Lu-hujin.
"Untung Piaumoaymu dapat kubujuk dan putuskan pikirannya terhadap bocah gendeng itu, sekarang dia sudah kembali tidur, jangan kau ganggu dia. Kau sendiri lekas pergi tidur dan tidak usah banyak pikiran."
Tidur seorang diri Cin Liong-hwi gulak-gulik diatas ranjang tidak bisa pulas, hatinya gundah gulana, sampai kentongan ketiga matanya masih belum meram.
Sekonyong-konyong didengarnya ketokan lirih dua kali diatas papan jendela kamarnya Cin Liong-hwi tersentak sadar lalu melompat bangun, bentaknya lirih.
"Siapa itu?"
Dari luar terdengar sahutan suara perempuan berkata.
"Cin toako, jangan keras keras, akulah adanya. Giok yau!"
Kejut dan girang pula hati Cin Liong-hwi, cepat ia mengenakan pakaian lalu membuka pintu menyilahkan Giok yau masuk, katanya.
"Nona Lu tengah malam buta rata kau kemari, entah ada urusan apakah?""Cin toako. Sejak kecil kau dibesarkan bersama Ling Tiat wi, apa kau percaya benar bahwa dia bisa kepincut akan paras cantik dan menyerah kepada Tartar Mongol?"
"Ini...ini..."
Cin Liong-hwi tersekat, dalam hati ia membatin.
"Aku harus mengambil hatinya, jangan sekali-kali aku membicarakan kejelekan Ling Tiat-wi dihadapannya lagi. Aku harus bersabar dan menggunakan akal untuk memeletnya supaya dia berobah hati, akan tiba suatu hari kau harus jatuh hati kepadaku."
Untuk sesaat ia menjadi tergagap tidak menemukan kata-kata untuk diucapkan. Lu Giok yau menjadi gugup, katanya mendesak.
"Cin-toako, kau harus berkata sejujurmu kepadaku."
"Nona Lu, kau sedemikian percaya kepadaku ! Masa aku berani aku bicara ngelantur pada kau,"
Demikian kata Cin Liong-hwi.
"Watak Ling toako aku tahu, menurut adatnya yang polos itu tidak mungkin terjadi hal seperti itu. Tapi dia itu terlalu perasa, entah cara bagaimana siluman perempuan itu menggunakan akalnya untuk melet dia, ai... apalagi bila dia dipengaruhi oleh perasaan, sulit dikatakan lagi."
"Menurut apa yang kau katakan ini, jadi kau sendiri juga belum berani memastikan jadi masih ada kecurigaan?"
Cin Liong hwi tahu orang berpikir ke arah yang lurus, ketujuan yang baik, karena sungkan bicara terlalu bebas terbuka, terpaksa ia manggut manggut,sahutnya.
"Benar, semoga apa yang dilihat dan didengar oleh Sip lt-sian dan Siau-seng-cu tidak benar semua. Atau mungkin dibelakangnya ada kejadian lain yang belum kita ketahui."
"Baik. Cin toako kalau begitu aku mohon bantuanmu !"
Cin Liong-hwi tercengang, katanya.
"Mengenai urusan apa ? Asal aku dapat ..."
"Cin-toako, mari kau ajak aku ke Yo-ka-thong, kita selidiki sendiri kesana,"
Demikian ajak Lu Giok-yau. Cin Liong-hwi terperanjat, katanya.
"Bukankah Siau-seng cu ada bilang ada seorang Koksu bangsa Mongol berada disana ? Kepandaian silat Lou Jin cin juga tidak lemah, apalagi masih ada beberapa Busu Mongol lainnya ..."
Berkerut kening Lu Giok-yau, katanya.
"Ling Tiat hwi adalah tuan penolong keluarga kami, seumpama aku harus berkorban juga aku harus mencari tahu duduk perkara sebenarnya. Justru kau sendiri adalah sutenya, apakah kau tidak rela menempuh bahaya demi Suhengmu ?"
Cin Liong-hwi menjadi tersentak sadar, pikirnya.
"Benar, demi mengambil hatinya, betapapun aku harus berbuat sedemikian rupa untuk menyenangkan hatinya, terutama jangan sampai diketahui hubunganku dengan Ling Tiat-wi sudah renggang,"untung dia seorang licik yang cukup pintar mengikuti situasi, sedikitpun tidak merah mukanya, selanjutnya ia berkata.
"Sejak kecil aku dibesarkan bersama Tiat-wi, belajar silat bersama pula seperti saudara kandung sendiri, demi menolong dia masa aku sayang mengorbankan jiwaku sendiri? Ucapanku tadi karena aku tidak ingin merembet kepada nona saja."
"Baik, kami punya maksud dan tujuan yang sama, maka marilah segera berangkat,"
Demikian ajak Lu Giok-yau.
"Entah apakah nona sudah minta ijin kepada ibumu?"
"Aku harus mengelabuinya. Bila sampai diketahui ibu tentu dia melarang aku pergi."
"Jika begitu rasanya kurang enak malah?"
Bertaut pula alis Lu Giok yau, katanya.
"Kau ini kenapa plintat plintut? kami berangkat dulu ke Yo ka-thong, biarlah piauko-ku yang menjenguk ayahku kerumahmu."
"Bukan aku cerewet, soalnya masih banyak urusan cukup menguatirkan."
"Soal apa lagi yang menguatirkan ?"
"Berapa lama mereka menetap di Yo-ka thong tidak kami ketahui, bukan mustahil sekarang Ling Tiat-wi dan siluman perempuan itu sudahmeninggalkan tempat itu dan tengah menempuh perjalanan ke Holin."
Kata Lu Giok-yau dengan tegas dan kukuh.
"Tapi betapapun kami harus meluruk kesana dulu untuk menyaksikan sendiri, seumpama tidak ketemu juga bisa menentramkan pikiran."
Cin Liong-hwi jadi berpikir.
"Perjalanan ke Yo-ka-thong ini aku bisa seperjalanan dengan dia, jauh lebih baik bertiga dengan Khu Tay seng pun lebih leluasa. Menurut penuturan Suhu, kebanyakan Ling Tiat wi dan In tiong-yan tentu sudah meninggalkan rumah keluarga Lou. Begitu sampai di Yo-ka thong aku dapat mencari kebenaran berita ini, lantas aku bisa pulang bersama dia. Betapapun aku harus berani menempuh bahaya ini,"
Setelah tetap pikiran hatinya segera ia berkata.
"Baiklah aku sendiri juga mengharap dapat menyelidiki secara jelas dan gamblang. Sekarang juga kami berangkat."
O^~dwkz^hendra~^O Cin Liong-hwi menyangka Ling Tiat wi dan In tiong-yan sudah berangkat pulang ke Mongol, diluar tahunya justru mereka masih berdiam dirumah keluarga Lou di Yo ka thong.
Sebetulnya memang Liong-siang Hoatong sudah ajak In tiong-yan pulang ke Holin, dasar pintar dansuka aleman In tiong-yan dapat membujuknya sehingga mereka menetap lebih lama disana.
Kepada Liong siang Hoatong, In tiong yan menceritakan cara bagaimana Sip It-sian berhasil mencuri Pinghoat yang digembolnya, katanya.
"Koksu, Sisiok (paman keempat, yang dimaksud Dulai), menyuruh aku merebut Pinghoat itu, meskipun kita berhasil menawan Ling Tiat-wi, kukira juga tidak bakal memperoleh penghargaan yang setimpal, bila pulang bagaimana kita harus menjelaskan kehilangan ini?"
"Aku pernah dengar simaling sakti nomor satu sejagat Sip it sian itu jejaknya tidak menentu kemana lagi kita harus mencarinya,"
Kata Liong siang Hoat-ong.
"Koksu,'' ujar In-tiong-yan tertawa.
"Kau seorang cerdik melebihi orang lain, kenapa kau lupa bahwa kita memegang umpan yang berharga, masa kau takut mangsa yang kita incar tidak bakal kepancing datang?"
"Maksudmu Ling Tiat wi bocah itu?"
"Benar Ling Tiat wi menjadi umpan kita. Kepandaian silat Sip It sian tidak becus, sedang guru dan ayah Ling Tiat wi tidak bisa harus meluruk datang untuk menolongnya. Sudah tentu mereka harus datang bersama Sip It sian."Liong-siang Hoat-ong menjengek dingin, ujarnya.
"Tepat mengulur benang untuk mengail ikan besar. Meski caramu ini belum tentu dapat membuat Sip It-sian masuk ke-dalam jaring yang kita pasang paling tidak ada setitik harapan, tak berhasil meringkus Sip It-sian, bila dapat membekuk ayah dan Guru Ling Tiat-wi juga bolehlah. Tapi mengenai Tiat wi bocah itu cara bagaimana kita harus menghadapi dia, cara halus dan kasar tidak mempan meluluhkan tekadnya."
"Aku sudah dapat menyelami wataknya,"
Ujar In-tiong-yan.
"Dia memang seorang yang teguh dalam pendirian secara kekerasan mungkin tidak akan berhasil, baiklah kita gunakan ulur waktu jangka panjang untuk meluluhkan imannya."
"Begitupun baik, kuserahkan bocah itu kepada kau. Biar kami berlaku sebagai orang jahat dan kejam, kau boleh menjadi orang baik dan welas-asih menolong dia mungkin usahamu ini bisa sukses."
Hari kedua Liong-siang Hoat-ong suruh Umong menghajar Ling Tiat wi habis-habisan sampai babak belur dan jatuh pingsan, malamnya ia suruh In-tiong-yan membawa obat untuk mengobati luka-lukanya itu.
Itulah sebabnya pelayan pribadi istri Lou Jin cin yang bernama Siau-cui pernah melihat In-tiong-yan keluar dari kamar tahanan Ling Tiat-wi.
Tujuan Liong siang Hoat-ong supaya In tiong-yan dapat membujuknya supaya bocah kukuh itu merubah haluan, sesuai dengan keadaan dan kesempatan itu Intiong yan diam-diam berunding mencari cara untuk meloloskan diri, namun pikir punya pikir selama itu mereka belum menemukan cara yang sempurna.
Malam itu In-tiong yan mendatangi kamar tahanan Ling Tiat hwi lagi.
Luka-luka Hong-thian lui boleh dikata hampir sembuh seluruhnya, tinggal luka-luka kulit bekas hajaran Umong saja yang memburuk dan berbau busuk, namun dengan tekun In-tiong-yan merawat luka lukanya itu tanpa canggung atau takut akan baunya yang busuk.
Hong-thian-lui sendiri akhirnya menjadi risi dan tidak enak, katanya.
"Biarlah aku sendiri yang melakukan."
"Luka disebelah depan kau bisa melakukan pengobatan sendiri, luka dipunggungmu ini harus akulah yang bantu membubuhi obat. Sudah tidak usah main sungkan sebentar beres seluruhnya."
"Ai, sebagai seorang tuan putri yang berkedudukan agung masa kau harus merawat aku yang kotor ini. Entah cara bagaimana aku harus membalas kebaikan budimu ini."
In-tiong yan tersenyum lebar, katanya.
"Kau masih menyinggung kedudukan agung dan tuan putri apa segala, bukankah karena kedudukanku ini sehingga kau pernah hendak membunuh aku ? Yang kuharap selanjutnya kau tidak maki aku sebagai 'siluman perempuan' lagi."
Hong thian-lui menjadi menyesal, katanya.
"Memang akulah yang salah, mataku buta melek,tidak tahu kebaikan hati orang. Bila kau selalu menyinggung soal itu, sungguh membuat aku malu sekali."
"Aku hanya kelakar saja, kenapa kau anggap serius ?"
Goda In tiong yan.
"Sebetulnya pandangan Hek-swan-hong jauh lebih tajam dari aku. Sayang aku tiada kesempatan jumpa dengan dia, bila ketemu aku akan terima salah padanya."
"Bicara baik-baik kenapa ngelantur kepada Hek swan-hong, untuk soal apa sehingga kau terima salah kepadanya ?"
"Urusan terjadi pada hari pertama aku berkenalan dengan dia itu, hubungan kami begitu akrab seperti sahabat lama saja layaknya."
Demikian tutur Hong-thian lui.
"Waktu pembicaraan berkisar mengenai dirimu, kami masing-masing punya pandangan yang berbeda mengenai dirimu. Tatkala itu belum lama kau membawa lari Pinghoat itu, dia masih begitu percaya kepada kau. Sebaliknya secara langsung dihadapannya aku mengumpat caci padamu, malah kubujuk dia supaya tidak kecantol dan kena tipu muslihatmu."
Sebenarnya Hek-swan-hong sendiri waktu itu juga rada curiga terhadap In-tiong-yan, kata kata Hong thian-lui mengenai sangat percaya, sudah tentu rada berlebihan dan mengumpak belaka.Namun bagi pendengaran In-tiong-yan hatinya menjadi manis, katanya.
"Apakah benar Hek swan hong begitu percaya kepada aku ?"
"Kapan aku pernah membual? Sayang aku terkurung disini tak bisa keluar. Bila aku bisa bertemu dengan dia betapa baiknya. Aku akan ceritakan segala pengalamanku selama ini tuturkan kepadanya, supaya jauh lebih jelas mengenai pribadimu. Maka kekuatirannya yang terakhir itupun bakal tersapu bersih!"
In tiong-yan menghela napas, ujarnya.
"Aku sendiri juga ingin bertemu dengan dia, sayang keadaanku sekarang kurang bebas aku kuatir selama hidup ini sukar dapat bertemu lagi dengan dia,"
Ternyata kedatangan Liong siang Hoat-ong kali ini membawa serta perintah Dulai, setelah segala urusan disini dapat dibereskan, diperintahkan supaya In-tiong-yan pulang, tiba-tiba bentaknya.
"Siapa itu ?"
Orang diluar menyahut tertawa dengan suara lirih.
"Orang yang ingin kau temui !"
Hampir saja In tiong-yan tidak percaya akan pendengarannya, sejenak ia tertegun, Hong thian lui sudah berjingkrak bangun teriaknya .
"Hek swan-hong, benarkah kau telah datang?"
Saking kegirangan Hong-thian-lui lupa akan luka-lukanya yang belum sembuh, begitu meloncat bangun, begitu kedua dengkulnya kesakitan, tanpa kuasa ia terbangkit, roboh lagi.
Tak sempat menunggu In-tiong-yan membuka pintu, sekali pukul Hek swan-hong merusak jendela terus menerobos masuk.
In-tiong-yan masih tertegun dan belum tenang pikirannya, cepat berkata.
"Hek-swan-hong, kenapa begitu besar nyalimu, lekas pergi, lekas pergi !"
Hek-swan hong menyambut tertawa.
"Mari kita merat bersama."
"Tidak, tidak mungkin !"
Seru In-tiong-yan gugup.
"kau tidak tahu Liong-siang Hoa-tong sangat lihay, dengan memanggul seorang betapapun kau tidak bisa mampu lolos. Lekaslah kau lari, jangan sampai konangan mereka, kelak aku masih punya kesempatan membantu Ling toako meloloskan diri."
"Tak mampu lolos juga harus dicoba,"
Hek-swan-hong berkukuh.
"Hek-swan-hong,"
Hong-thian-lui menyela bicara.
"Dengarlah nasehat nona In! Aku tidak mampu bergerak, akupun tidak sudi kau bawa lari."
Lantas dia duduk bersila dan berpeluk tangan supaya Hek-swan-hong tidak kuasa memanggulnya pergi. Pada saat itulah mendadak terdengar seseorang membentak diluar.
"Ada maling, hayo lekas datang, tangkap maling!"
Itulah suara Umong.
"Celaka, tidak sempat lagi,"
Keluh In-tiong-yan. Sekonyong-konyong tergerak hatinya, cepat ia lolos pedangnya "Sret !"
Ia serang Hek-swan hong dengan sebuah tusukan, sembari berkata lirih.
"Lekas ringkusaku!"
Lalu ia berteriak keras.
"Umong lekas datang, malingnya disini!"
Serangan tusukan pedang itu dilancarkan cukup tepat dan sempurna sekali, sekaligus ia membuat lobang beberapa tempat dibaju dada Hek-swan-hong sehingga kelihatan bahwa mereka sudah bergebrak dengan sengit, namun sedikitpun tidak melukai kulitnya.
Sebagai orang cerdik, sejenak melengak Hek-swan hong lantas paham duduknya perkara, cepat ia tarik pergelangan tangan In-tiong-yan terus menjinjingnya menerjang keluar.
Kebetulan Umong dan Cohaptoh memburu datang melihat In-tiong-yan teringkus oleh Hek-swan hong; mereka tertegun kaget hingga sesaat mereka menjublek tidak tahu harus berbuat apa.
Hek-swan-hong menjengek dingin.
"Kalian menawan sahabatku, apa boleh buat terpaksa akupun ringkus tuan putri kalian sebagai sandera."
Lekas Umong berteriak.
"Cepat lepaskan tuan putri, ada urusan apa boleh dirundingkan secara baik baik."
"Untuk melepas dia gampang saja. Terlebih dulu kalian juga harus melepas kawanku itu."
Umong menjadi mencak-mencak gelisah, katanya.
"Untuk hal ini aku tidak berani ambil putusan sendiri."
"Baik, kalau kau tidak berani ambil putusan, terpaksa kutinggal pergi."Sekonyong-konyong didengarnya seorang menjengek dingin.
"Mau pergi masa begitu gampang?"
"Suhu!"
Teriak Umong kegirangan.
"tepat kedatanganmu."
"Koksu lekas tolong aku,"
In-tiong-yan juga pura-pura berteriak. Tahu yang dihadapi ini adalah Liong-siang Hoatong Koksu Mongol Hek-swan hong tertawa lebar malah, serunya.
"Bukan saja aku harus pergi, malah konon Koksu menyapaikan diri menyediakan kuda tunggangan dan antar pula aku sejauh sepuluh li baru akan kulepas tuan putrimu ini untuk bertukar dengan sahabatku itu."
"O, jadi kau hendak menukar tuan putri kami dengan Hong thian lui bocah gendeng itu, perhitunganmu sungguh sangat muluk!'' Hek-swan hong berkata tawar.
"Kalau diperinci hitung dagang ini kami masih kena kerugian malah. Mau tukar atau tidak terserah pada kamu."
"Baik, aku setuju akan jual beli ini, tapi jadi tidak saling tukar, harus ditentukan dulu oleh kepandaianmu."
Bicara sampai "kepandaianmu' mendadak Liong siang Hoatong mengayun tangan. Semula Hek swan hong menyangka orang menyambitkan senjata rahasia menyerang dirinya, maka ia berteriak.
"Baik, kauberani melukai tuan puterimu!"
Tidak duga bukan senjata rahasia yang menyerang tiba sebaliknya adalah segulung tenaga dalam hebat yang dilancarkan dengan pukulan Bik-khong ciang jarak jauh, sungguh lihay dan aneh sekali gelombang pukulan yang menerpa datang ini seolah-olah sebilah pisau tajam, luar biasa secara kekerasan mengiris langsung di antara In tiong yan dan Hek swan hong, kekuatan pukulan yang dahsyat itu sedikitpun tidak melukai In tiong yan, sebaliknya Hek-swan hong merasa seperti diiris sembilu pergelangan tangannya, tanpa kuasa tangannya kesakitan dan melepas cengkeramannya, kontan In tiong yan meluruk jatuh ditanah.
Keruan bukan kepalang kejut In tiong-yan, dasar cerdik tiba tiba timbul akal cerdiknya, lekas ia mengerahkan hawa murni untuk melukai badan sendiri, kontan mulutnya terpentang terus menyemburkan darah segar.
Begitu melancarkan pukulan yang lihay ini Liong siang Hoatong lantas menerjang maju hendak meringkus Hek swan hong, serta melihat semburan darah In tiong yan itu seketika ia terkejut dan gugup ketakutan, menolong orang lebih penting, tersipu-sipu ia memburu maju memayang bangun In tiong yan dengan sebelah telapak tangannya ia tekan jalan darah penting dipunggungnya terus mengerahkan hawa murni membantu pengobatan luka lukanya.Dalam pada itu, Umong dan Cohaptoh sudah menyerbu bersama, kontan Hek swan hong sambut mereka dengan dua kali pukulan berat, betapa lihay dan hebat permainan ilmu pukulannya, tahu tahu pundak Cohaptoh kesakitan kena digenjot.
Tapi kepandaian Cohaptohpun tidak lemah, lekas ia lancarkan kepandaian gulatnya, begitu mendakkan pundak terus menekuk pinggang, ia cengkeram Hek swan hong terus hendak dibantingnya ketanah.
Tapi tenaganya tiba-tiba mandek ditengah jalan tak mampu dikerahkan lebih lanjut.
Sekali tendang Hek swan hong menendangnya terjungkal jungkir balik.
Kiranya pukulan Hek swan hong tadi sekaligus melancarkan Hun kin joh-kut hoat, itulah ia gunakan cara serangan lawan untuk merobohkan lawan pula.
Ilmu gulat Cohaptoh yang lihay itu memang mengandung cara permainan Hun-kun joh-kut yang lihay, namun dibanding kemampuan Hek swan hong masih terpaut jauh sekali.
Dilain pihak begitu adu pukulan dengan Hek swan hong, tubuh Umong tergetar mundur tiga langkah, tapi Ginkang Hek swan-hong jauh lebih tinggi sekali putar tubuh ia mencelat naik melompati tembok terus menghilang dibalik tembok, Umong tidak sempat mengejarnya.
Dengan muka merah malu, Umong putar balik memberi lapor.
"Tecu tidak becus, bocah keparat itu berhasil lari."Pelan pelan Liong siang Hoatong berkata.
"Hong-thian-lui masih berada ditangan kita, kerugian yang kita derita tidak terlalu besar."
"Bagaimana luka luka tuan putri....?"
Tanya Umong kuatir.
"Tidak menjadi soal. Tapi luka tuan putri ini rada janggal dan mengherankan,"
Demikian ujar Ling siang Hoatong curiga. In-tiong yan pura-pura tidak mengerti, tanyanya.
"Koksu, bagaimana cara lukaku ini, kenapa mengherankan ?"
Liong-siang Hoatong menjelaskan.
"Liong-siangkang yang kugunakan tadi aku percaya kulancarkan secara tepat dan persis benar, tidak mungkin melukai kau. Bila bocah keparat itu yang turun tangan, dihitung waktunya juga tidak sempat lagi."
"Lalu cara bagaimana aku bisa terluka?"
Liong siang Hoatong geleng-geleng kepala, ujarnya.
"Aku sendiri juga heran, tuan putri, cara bagaimana kau terluka semestinya kau sendiri yang coba kau ceritakan perasaanmu tadi ?"
"Diwaktu kau melancarkan Bik khong ciang, mendadak aku rasakan punggungku kesakitan luar biasa, tahu-tahu sudah terbanting ditanah, Koksu, seumpama kau yang melukai aku tanpa sengaja, akupun tidak akan salahkan kau. Tapi bila menuruturaianmu tadi, kemungkinan besar Hek-swan honglah yang turun tangan secara keji. Koksu, mungkin kau terlalu ringan menilai musuh, kepandaian Hek swan-hong bahwasanya jauh lebih tinggi dari penilaianmu semula."
"Suhu,"
Umong menimbrung bicara.
"Kepandaian Hek swan hong bocah itu memang hebat sekali, konon kabarnya diatas karang kepala harimau berturut-turut ia berhasil mengalahkan puluhan jago jago kelas tinggi utusan kerajaan Kim."
Karena dia kecundang oleh Hek-swan-hong demi menutupi malunya, sengaja ia katakan kepandaian Hek-swan-hong berkelebihan. Diam-diam Liong-siang Hoatong juga berpikir.
"Bagaimana taraf kepandaian Hek-swan-hong aku dapat merabanya. Tapi bila aku mengukuhi pendapatku bahwa Hek swan hong tidak mungkin dapat melukai Tuan putri bukankah aku sendiri yang harus menanggung dosa melukai Tuan putri ?"
Harus maklum, meski samar-samar ia curiga, terpikir olehnya bahwa In-tiong yan mungkin melukai dirinya sendiri, tapi siapa yang mau percaya akan keterangan ini, terpaksa ia tekan perasaan curiganya ini didalam sanubarinya.
O^~dwkz^hendra~^O Dalam pada itu, setelah berhasil lolos dari Lou keh ceng, sungguh hati Hek swan-hong sangat menyesal, pikirannya.
"Tak nyana kepandaian silat KoksuMongol ini ternyata begitu lihay. Perbuatanku yang gegabah ini berarti menggebuk rumput mengejutkan ular. Untung In tiong-yan cukup cerdik dan cekatan, semoga tidak membuatnya cidera dan mengalami kesulitan."
Menurut anggapannya setelah adanya peristiwa malam ini, untuk menyelundup masuk ke Lou-kee ceng tentu berpuluh kali lebih sulit.
Pikir punya pikir, akhirnya ia berkeputusan untuk memberi laporan kepada Guru Hong thian-lui lebih dulu.
Tidak diketahui olehnya bahwa Guru Hong-thian-lui saat mana tengah dalam perjalanan kemari.
Tengah ia berjalan kedepan dengan pikiran kusut, kebetulan sebelum ia keluar dari hutan, lapat-lapat didalam hutan pohon siong lebih dalam sana terdengar percakapan dua orang.
Salah seorang terdengar berkata.
"Betina itu adalah putri Lu Tang-wan ? Apa kau kenal dia? Tidak salah lihat ?"
Suara seorang yang lain menyahut.
"Dalam perayaan ulang tahun Lu Tang wan yang keenam puluh tempo hari aku juga salah seorang tamu undangannya, jelas aku pernah melihat putrinya itu, masa bisa salah ?"
Temannya itu tertawa, katanya.
"Kalau benar begitu, putri Lu Tang-wan benar2 sedang diburu sakit rindu kepada Hong-thian-lui bocah gendeng itu. Kalau tidak, tidak mungkin ia memburu datang ke Yo-ka-thong."
Temannya yang lain menyahut.
"Benar, maka segera aku lari balik untuk memberi laporan. Mosamko, cara bagaimana Cengcu suruh kau menghadapi betina ayu itu ?"
Orang yang dipanggil Mo samko itu berkata.
"Cengcu berkata . Lu Tang-wan merupakan tetangga dekat kami jangan kau terlalu mempersulit dia. Suruh kita jangan menyebut kebesaran nama Lou-keh ceng cukup kalau menggertaknya lari saja. Tapi entah siapakah pemuda yang seperjalanan dengan dia itu. Beliau suruh kami menyelidiki sejelasnya baru turun tangan."
Laki laki itu berkata.
"Pemuda itu cukup ganteng, bicara logat daerah lain. Putri Lu Tang-wan itu memanggilnya Cin Toako, entahlah sanak kadang yang mana dari keluarga Lu itu ?"
Mo samko berkata.
"Sanak famili Lu Tang-wan kebanyakan kutahu, tapi tiada yang she Cin. Heran, seharusnya genduk ini datang bersama Piaukonya Khu Tay-seng, kenapa ganti bocah she Cin ini ?"
"Iya. Konon kabarnya istri Lu Tang wan sudah merestui perjodohan putrinya dengan Khu Tay seng itu, kenapa dia rela membiarkan putrinya ikut pemuda lain melakukan perjalanan jauh ?"
"Genduk itu aleman dan nakal. Mungkin kepergiannya ini mengelabui ibunya. Tapi, kami tidak usah harus segala tetek bengeknya ini."
Demikian ujar Ma-samko itu.Laki-laki yang lain lantas tertawa, kaTanya.
"Tidak bisa kau berkata begitu. Bila benar Khu Tay-seng sendiri yang datang, tentu kita tidak bisa main kekerasan terhadap mereka."
"Kenapa ... ?"
Tanya Mo-samko.
"bocah Khu Tay-seng itu orang macam apa sih ...?"
"Rahasia ini baru beberapa lama berselang kuketahui,"
Sahut laki laki itu.
"Memang Khu Tay-seng bocah itu bukan tokoh kenamaan atau orang yang menakutkan, tapi yang jelas bahwa dia sealiran dan segolongan dalam sumber yang sama dengan kita."
Mo-samko menjadi ketarik, tanyanya.
"Sejak kapan ia gabung menjadi orang kita sendiri ?"
"Bicara sesungguhnya belum boleh terhitung orang kita sendiri.'' tutur laki-laki itu.
"dedengkot yang mengasuh bocah baru itu punya hubungan yang sangat intim dengan Lou Cengcu, maka bolehlah terhitung segolongan dalam satu sumber dengan kita."
Melihat orang bicara memutar kayun, tahu dia bawa ada sesuatu rahasia dibalik rahasia ini, maka Mo-samko tidak tanya lagi lebih lanjut. Katanya.
"Kalau yang datang itu bukan Khu Tay seng, kita tidak usah pusing kepala, bocah she Cin ini sukar diketahui asal usulnya, jangan bunuh dia, cukup ditawan dan bawa pulang saja supaya Cengcu sendiri yang menjatuhi hukumannya, supaya kita tidak kesalahan tangan.""Benar, begitu saja kita bertindak."
Kata laki-laki itu.
"Mari kita cegat mereka di persimpangan jalan itu menanti bocah itu masuk perangkap."
Ginkang Hek-swan-hong sangat lihay, dengan diam-diam ia menguntit dibelakang mereka tanpa konangan, setelah mendengar percakapan mereka, lapat lapat ia sudah maklum kemana juntrungan sepak terjang mereka yang jahat itu.
Dalam hati ia berpikir .
"Kiranya kurcaci ini adalah utusan Lou Jin cin. Nona Lu itu meluruk datang karena Hong thian lui, tidak bisa tidak aku harus mencampuri urusan ini. Tapi Lu Tang-wan seorang tokoh silat yang kenamaan dan lihay, putrinya tentu berkepandaian cukup tinggi. Biar kutonton dulu dari samping, bila mereka benar kewalahan baru aku turun tangan membantu."
O^~dwkz^hendra~^O Selama dua hari Cin Liong-hwi menempuh perjalanan bersama Lu Giok-yau, tanpa terasa hari itu mereka sudah memasuki wilayah Yo ka-thong. Cin Liong-hwi berkata .
"Nona Lu, adakah orang yang kenal kau di Yo ka-thong ?"
"Aku belum pernah kemari, tapi memang banyak orang-orang sini yang kenal ayahku, atau mungkin juga ada orang yang melihat aku."
"Kalau begitu, kita muncul didaerah ini pasti ada orang segera memberi lapor pada Lou Jin cin. Lebihbaik kita jangan memasuki kota dan lewat jalan raya, mari kita sembunyi saja didalam hutan sana, setelah malam nanti baru kita menyelundup kesana untuk menyelidiki, bagaimana ? Bukan aku bernyali kecil, lebih baik berlaku hati hati."
Belum habis ia berkata tiba tiba terdengar orang membentak.
"Hm. Kalian mau sembunyi kemana ?"
Cin Liong hwi terperanjat, hardiknya.
"Siapa itu ?"
Mo samko bergelak tawa, serunya .
"Kau bocah ini apakah jabang bayi yang baru lahir? Sudah lama kita beroperasi disini, emangnya kau kira kita mau menyambut kalian sebagai sanak kadang ?"
Lu Giok-yau sudah punya pengalaman kelana di Kangouw, mendengar obrolan orang ia menjadi sangsi, pikirnya .
"Bila benar hanya kepergok bangsa perampok kecil macam mereka, tak perlu melukai jiwa mereka."
Karena pikirannya ini segera berkata.
"Saudara perampok, harap maklum kita tidak membekal uang banyak lho!'' Laki laki yang lain itu pelerak pelerok, katanya menyeringai.
"Tak ada hasil yang diperas juga tidak menjadi soal nona kecil, cantik benar kau, kebetulan dapat kupersembahkan kepada Toako kami menjadi gundiknya yang ketiga. Bocah ini berpakaian serba parlente, bila kubelejeti dia, paling tidak pakaiannya itu berharga beberapa tail perak.""Kentutmu busuk!'' maki Cin liong-hwi gusar, dia pernah dengar soal perampokan dijalan, pikirnya dua begal kecil saja masa punya kepandaian apa, sengaja dia ingin unjuk gagah-gagahan dihadapan Lu Giok-yau.
"Wutt !"
Langsung ia lancarkan pukulan kemuka laki-laki itu.
Tak nyana gerak-gerik laki laki itu ternyata cukup gesit, sedikit miringkan tubuh ia menghindari pukulan Cin Liong-hwi.
Belum lagi pukulan Cin Liong-hwi yang lain memberondong tiba, tahu-tahu dia sudah melolos keluar sepasang senjatanya, gamannya adalah sepasang potlot baja, ujung potlotnya berbalik sudah mengancam jalan darah mematikan di tubuh Cin Liong-hwi.
Timbul amarah Lu Giok-yau mendengar perkataan kotor laki-laki itu, bentaknya.
"Kalian berani membuka mulut kotor, agaknya memang kalian mencari kematian sendiri.'' "sret!'' sekaligus ia tangkis sepasang potlot laki-laki itu. Melihat permainan pedang Lu Giok-yau yang lihay, Mo Samko tidak berani berpeluk tangan lagi, seraya memuji tiba-tiba kedua tangannya menjulur maju seperti kera mengulur cakarnya, kelima jarinya seperti cakar besi mencengkeram kearah Lu Giok-yau. Lu Giok-yau tahu, inilah serangan lihay dari salah satu tipu Hun-kin joh-kut-jiu hoat, kaget ia dibuatnya, hardiknya.
"Kalian orang dari Lou-keh-ceng bukan?""Nona, kau salah raba."
Ujar Mo-samko.
"tapi Lou-keh ceng tenar diempat penjuru, sedikit seluk beluk keluarga mereka ada sebagian kami ketahui. Dari pertanyaanmu ini nona jelas kau hendak ke Lou-keh-ceng bukan? Kunasehati lebih baik kau jangan ke-sana, dari pada kau diinjak-injak orang Mongol lebih baik ikut kami menjadi gundik Tocu bisa hidup senang.'' Di mulut bicara manis, tapi kaki tangannya bergerak sangat cepat, beruntun ia lancarkan pukulan berantai yang sengit sehingga Lu Giok-yau terdesak mundur berulang ulang, marahnya bukan kepalang. Lu Giok-yau sendiri terdesak dibawah angin, untuk membela diri saja sangat kerepotan, sudah tentu tiada kesempatan hiraukan keadaan Cin Liong hwi. Sepasang Boan-koan pit laki-laki itu cukup lihay, kedua senjatanya itu bergerak begitu lincah seperti ular hidup selulup timbul disekitar badannya. Dilihat keadaannya kedudukan jauh lebih berbahaya dibanding Lu Giok yau. Dari tempat sembunyinya diam-diam Hek swan-hong membathin.
"Nona Lu itu dapat bertahan lagi beberapa lama, bocah she Cin itu mungkin tidak akan kuat bertahan sepuluh jurus. Aneh, permainan pukulannya itu persis benar dengan Bi-lek-ciang, kenapa begitu buruk permainannya?"
Baru saja ia hendak turun tangan, mendadak terdengar laki-laki itu menggerung keras, sekonyong-konyong tubuhnya roboh kaku seperti tonggak kayu yang keropos, perubahan mendadak yang terjadi ini benar benar di luar dugaan Hek-swan hong.
Ternyata mula2 Cin Liong hwi gunakan kepandaian warisan keluarganya menghadapi rangsekan sepasang senjata musuh, lambat-laun ia terdesak dan terancam bahaya, tanpa sadar tahu tahu ia gunakan ajaran Lwekang yang diajarkan oleh Jing-hou-khek itu, hawa murni dalam tubuhnya berpencar keempat kaki tangannya, laksana kapas tangannya menepuk ringan kearah dada musuh.
Laki-laki itu menyangka sudah kehabisan tenaga, maka tidak ambil perhatian sehingga telapak tangan Cin Liong-hwi mengenai dadanya, kontan dadanya tergetar remuk dan roboh binasa.
Sekali pukul membawa hasil yang tidak terduga, keruan bukan kepalang girang hati Cin Liong-hwi, teriaknya.
"Nona Lu, jangan takut, biar kuhajar keparat ini!"
Sudah tentu Mo-samko sangat kaget, pikirnya.
"Bocah ini jelas bukan tandingan saudara Keh, bagaimana bisa saudara Keh mendadak terpukul mampus olehnya?"
Dikata lambat kenyataan sangat cepat, sementara itu Cin Liong hwi sudah memburu tiba dengan cepat. Mo samko lantas membentak.
"Bocah keparat kau harus menebus nyawanya juga!"
Seraya berkata ia mengegos kekiri menghindari pukulan Cin Liong hwi, berbareng Ma Samkogunakan dengan cara Hung kin joh-kut, cakarnya berhasil mencengkeram tulang pundak Cin Liong-hwi.
Saking kejutnya Lu Giok-yau cepat tusukan pedangnya, Mo Samko kebutkan lengan bajunya menggubat batang pedang seraya membentak.
"Lepaskan!"
Kontan Lu Giok yau rasakan telapak tangannya tergetar sakit dan panas, segulung tenaga menerjang datang ke-pergelangan tangannya, jelas Ceng-kong-kiam hampir tak bisa dipegangnya lagi.
Mendadak terdengar Mo-Samko menjerit ngeri, gelombang tenaga yang menerjang tiba itu mendadak sirna tanpa bekas, sehingga Lu Giok-yau lebih leluasa membabatkan pedangnya kebawah persis dapat membabat putus kelima jari orang.
Dengan bermandikan darah Ma Samko roboh tersungkur.
Kiranya tepat pada saat ia mencengkeram tulang pundak Cin Liong-hwi, pukulan tangan Cin Liong-hwi kebetulan juga mendarat dilambungnya baru saja ia hendak kerahkan tenaga, tahu tahu Lwekangnya sudah hancur berantakan oleh pukulan beracun Cin Liong-hwi.
Untung tulang pundak Cin Liong-hwi tidak sampai teremas hancur tapi rasa sakitnya membuatnya menderita, dengan gusar ia menyeringai.
"Nah, baru sekarang kau tahu kelihayan Cin sauyamu bukan?"
Baru saja ia hendak tambahi sebuah pukulan tiba-tibaLu Giok-yau berseru mencegah.
"Cin toako, jangan bunuh dia, kita kompas keterangannya dulu."
Anggapan Lu Giok yau orang hanya terluka oleh pukulan Cin Liong hwi serta tabasan pedangnya berhasil mengutungi kelima jarinya, hatinya menjadi tidak tega, segera ia keluarkan obat untuk membalut luka luka orang, sembari membubuhi obat ia berkata.
"Bila kau mau bicara terus terang kuampuni jiwamu. Kau begundal dari Lou-keh ceng bukan. Ada seorang bernama Ling Tiat wi apakah benar menetap disana?"
Mo Sam coba kerahkan tenaga seketika kepala pusing tujuh keliling, matapun berkunang kunang, yang lebih hebat seluruh badan kesakitan seperti ditusuk ribuan jarum, sebagai seorang ahli silat tahu dia bahwa nyawanya sulit dipertahankan lagi, keruan ia menjadi gegetun dan makinya murka.
"Budak busuk, tuan besarmu tidak perlu kebaikanmu yang palsu ini? Ling Tiat-wi sudah berbulan madu dengan In-tiong-yan masa dia sudi gubris perempuan busuk macam kau ini."
Habis berkata mendadak ia merangkak bangun terus menerjang kesamping sana menumpukkan kepalanya diatas sebuah batu besar kontan kepalanya pecah dan putus nyawanya.
Untuk menghindari yang lebih berat, maka dia nekad bunuh diri, namun sebelum ajal sengaja ia ucapkan kata-katanya yang fitnah itu untuk menjengkelkan Lu Giok-yau.Saking kaget dan jeri Lu Giok-yau menutup muka dengan kedua tangannya, tak berani melihat keadaan yang mengerikan itu.
Kata Cin Liong-hwi membujuk.
"Keparat ini berani bicara kotor, memang setimpal kematiannya. Tadi dia mengatakan Ling Tiat-wi sudah pergi bersama In-tiong-yan, apakah ucapannya dapat dipercaya?"
"Ucapan orang macam begini mana dapat dipercaya?"
"Tapi juga belum tentu, seseorang yang dekat ajal kata-katanya cukup bijaksana dan dapat dipercaya. Buat apa dia harus ngapusi kau?"
"Cin toako, bukankah kau tidak percaya bahwa Tiat wi benar menyerah kepada Tartar Mongol ? Kenapa pula kau begitu gampang percaya obrolan orang ini. Pendek kata bagaimana juga, aku harus berhadapan langsung kepada dia, akan kutanyakan langsung kepadanya duduk perkara sebenarnya. Seumpama benar dia sudah pergi, aku juga harus ke Lou keh ceng. Cin-toako, ilmu silatmu begitu lihay, apakah perlu kau begitu ketakutan ?"
Terbayang oleh Cin Liong-hwi akan adegan yang berbahaya tadi, hampir saja tulang pundaknya hancur dan cacat seumur hidup, untuk beberapa lama ia menjadi sangsi, sulit mengambil keputusan.
Sebetulnya memang Cin Liong-hwi sangat takut.
Tapi dihadapan Lu Giok-yau terpaksa dia harusmengeraskan kepalanya, pura-pura sebagai orang gagah, katanya.
"Sudah tentu tidak perlu takut kepada mereka. Tapi pukulan Bi lek-ciangku ini begitu kena lantas mampus. Bila Ling Tiat-wi benar sudah berangkat bersama In tiong yan, rasanya tiada harganya kita membuat keributan di Lou-keh ceng, supaya tidak membawa banyak korban, bila sampai terjadi pertikaian bukankah membawa buntut permusuhan keluarga Lu kalian dengan Lou Jing cin ?"
Lu Giok-yau berkata.
"Ucapanmu memang benar, tapi bila aku tidak menyelidiki sampai jelas duduknya perkara, aku tidak akan lepas tangan. Begini saja, kita menyelundup masuk ke Lou keh ceng melihat dengan mata kepala sendiri, bila tidak sampai turun tangan itulah baik, seumpama harus berkelahi kuharap kau sedikit mengurangi tenaga pukulanmu supaya tidak membikin jiwa orang melayang, cara demikian akan mengurangi kesukaran nanti."
Cin Liong-hwi tertawa getir, ujarnya.
"Bicara memang gampang, sayangnya latihan Bi-lek-ciangku ini belum sempurna, sulit aku dapat mengendalikan tenagaku dalam perkelahian yang cukup sengit."
Lu Giok yau menjadi heran, tanyanya.
"Aku pernah saksikan pertempuran Tiat wi melawan Hek Eng Lian tin san, perkelahian itu sungguh sangat mendebarkan dan gesit sekali. Pukulan Bi-lek-ciang yang dia mainkan kelihatannya jauh berbeda denganpermainanmu tadi, meskipun sangat liehay, tapi tidak berisi, melukai orang sampai mati. Apakah sebabnya?"
Cin Liong-hwi pura-pura tertawa sinis, dengan bangga ia berkata.
"Nona Lu, banyak hal yang belum kau ketahui. Meskipun Ling Thiat wi terhitung Suhengku, tapi keampuhan latihan Bi-lek-ciangnya masih belum setanding dibanding kemampuanku. Kepandaiannya itu bagus dipandang tapi tidak berisi, maka dengan mudah ia kena dilukai oleh Lian Tin-san. Bila aku sendiri yang menghadapi musuh tanggung Lian Tin-san sudah mampus ditanganku. Ketahuilah latihan Bi-lek-ciang terbagi dalam tiga tingkat, ayahku sendiri sudah tentu sudah mencapai tingkat tertinggi, Lwekangnya dapat dilepas dan ditarik sesuka hatinya. Aku sendiri masih terlalu jauh dibanding kemampuan ayah, sekali turun tangan pasti bikin mampus nyawa. Sebaliknya Ling suheng baru mencapai taraf permulaan dibanding latihanku masih terpaut beberapa jauh lagi."
Cin Liong hwi memang pintar membual tapi Lu Giok yau percaya akan obrolannya, katanya.
"O, jadi begitu."
Dalam hati ia berpiker.
"Putra lebih dekat dari murid, guru Ling-toako pilih2 kasih, kejadian yang jamak. Tapi dia mengatakan kepandaian Ling toako cuma kembangan dan tidak berisi, kenapa pula jurus permainannya kelihatannya jauh dibawah kepandaian Ling-toako ? Apakah kepandaian berisi dari pelajaran keluarganya memang lebih jelek dipandang?"
LuGiok-yau menjadi uring-uringan dan kurang senang karena orang merendahkan kepandaian silat Ling Tiat-wi. O^~dwkz^hendra~^O
Jilid 14 Tapi kenyataan memang tenaga pukulan Liong hwi jauh lebih lihay dan jahat dari Ling Tiat wi, Lu Giok-yau tidak tahu seluk beluk intisari panca indra pelajaran Bi-lek ciang, maka iapun segan banyak tanya lagi.
Sebaliknya Hek swan-hong yang sembunyi dan mengintip gerak-gerik mereka menjadi bertanya-tanya dalam hati.
Sebagai seorang ahli silat, pandangannya sudah tentu lebih tajam dari Lu Giok yau; apalagi dia sendiri pernah gebrak langsung dengan Ling Tiat wi.
Sekali pandang saja lantas dia dapat melihat keganjilan pukulan Bi-lek-ciang yang dilancarkan Cin Liong-hwi.
Setelah Lu Giok-yau pergi jauh, diam diam ia keluar dan memeriksa mayat kedua orang itu.
Tampak panca indra kedua mayat itu sama mengeluarkan darah, jelas tidak mungkin mampus karena kekuatan pukulan Bi lek ciang yang bersifat keras dan kasar itu, yang benar adalah akibat pukulan jahat yang berbisa.
Hek-swan-hong berpikir.
"Cin Hou-siau sebagai tokoh silat, apalagi Bi-lek-ciang merupakan ilmu lurusyang kenamaan, mana bisa melukai orang sampai begitu rupa ? Apakah bocah itu menyamar sebagai putra Cin Hou siau? Tapi keluarga Lu dan keluarga Ling merupakan sahabat kental sejak kakek moyang mereka, bila bocah ini benar samaran masa bisa mengelabui ibu dan anak keluarga Lu ?"
Lantas terpikir pula olehnya.
"Seumpama bocah ini benar Sute Ling Tiat-wi, kelihatannya juga bukan orang baik-baik. Dari ucapannya tadi bukan saja berlaku kurang hormat terhadap sang suheng, jelas pula tiada niat hendak menolong Suhengnya. Sayang nona Lu itu terlalu cetek pengalaman sehingga tidak tahu bahwa dirinya diapusi."
Karena rasa kecurigaan inilah maka selanjutnya secara diam-diam Hek swan-hong menguntit dibelakang mereka, pikirnya.
"Bila bocah ini benar punya nyali masuklah ke Lou keh ceng, secara diam diam aku harus bantu mereka."
Setelah melampaui hutan ini jalan selanjutnya menjadi lapang, supaya tidak konangan jejaknya, Hek swan hong memperlambat jalannya, entah berapa lama kemudian ia tiba disebuah pengkolan jalan, sekonyong konyong didengarnya suara desiran senjata rahasia, itulah sebutir batu kerikil yang menyambar kearah Hek-swan-hong.
Sudah tentu Hek-swan-hong terkejut, batinnya .
"Entah siapakah orangnya, belum lagi tampak orangnya senjata rahasianya sudah menyambar tiba kepandaiannya ini tidak lemah, tapikenapa sasarannya bisa nyeleweng, apakah dia sengaja hendak memancing diriku ?"
Karena rasa ingin tahunya segera ia melesat kearah datangnya kerikil sana. Tampak seorang laki laki berjubah hijau berdiri diatas gundukan tanah tinggi dipinggir jalan sana, katanya tertawa.
"Hek-swan-hong, bila kau berani mari ikut aku !"
Kelihatannya orang tidak bermaksud jahat, maka Hek-swan hong berpikir.
"Mengandal kemampuannya untuk melukai nona Lu dan bocah she Cin itu segampang membalikkan telapak tangan. Dia membiarkan mereka lewat, agaknya hendak membuat perkara padaku saja. Seumpama dia memang hendak mencari perkara masakah aku takut padanya ?"
Mereka sama memiliki Ginkang tingkat tinggi, sekejap saja Jing hou khek sudah membawa Hek-swan hong memasuki hutan lebat. Kata Hek-swan-hong.
"Disini tiada orang. Siapakah tuan ini, ada petunjuk apa, silahkan katakan saja ?"
Jing hou-khek terbahak bahak sambil memutar tubuh, ujarnya.
"Hek-swan-hong, kau tidak kenal aku, sebaliknya aku tidak kenal kau. Baru saja kau terusir keluar dari Lou-keh ceng bukan ?"
"Apakah kau dari Lou-keh-ceng ?""Lou-keh-ceng tiada sangkut pautnya dengan aku. Tapi aku paling benci melihat orang turut campur urusan orang lain."
Hek-swan hong melengak, jengeknya dingin.
"Jadi kau memang hendak membela kepentingan Lou Jin cin ?"
"Sudah kukatakan aku tidak suka turut campur urusan orang lain. Lou Jin-cin juga tidak perlu orang menalangi kepentingannya."
"Lalu apa maksudmu kau ajak aku kemari ?"
"Aku tidak turut campur urusan orang lain. Tapi urusan yang bersangkut paut dengan diriku tidak bisa harus kuurus. Hek-swan hong, katakan, kenapa kau menguntit muridku ?"
"Siapakah muridmu itu ?"
"Cin Liong-hwi yang berjalan sama putri Lu Tang-wan itulah."
Hek swan-hong terkejut, serunya.
"Cin Liong-hwi bukankah dia putra Cin Hou-siau?"
"Benar, kau tahu asal usulnya, kenapa pula menguntit dia, jelas kau bermaksud jahat bukan?"
"Nanti dulu, coba kau jelaskan. Putra... Cin Hou-siau bagaimana bisa menjadi muridmu ?"
"Kenapa tidak bisa ? Dia sudah berlutut dan menyembah angkat aku jadi gurunya, sudah tentu dia menjadi muridku."Hek-swan-hong menjadi sangsi hatinya. Sebagai seorang cikal bakal sebuah aliran silat tersendiri masa Cin Hou-siau rela membiarkan putranya angkat guru pada orang lain. Malah ilmu yang dipelajari adalah pukulan jahat yang berbisa lagi ? namun serta ia melihat ucapan Jing-hou-khek begitu yakin dan sungguh-sungguh, ia menjadi ragu-ragu dan setengah percaya. Maka ia menjengek dingin.
"Seumpama Cin Liong-hwi itu benar menjadi muridmu, lantas kau mau apa?"
"Sebagai muridku, aku tidak mudah membiarkan orang lain mencelakai jiwanya."
Hek-swan-hong tertawa besar, serunya.
"Kau sendiri belum jelas duduknya perkara, dari mana kau tahu bahwa aku hendak mencelakai jiwanya ?"
"Kau main sembunyi dan menguntit mereka jelas bermaksud jelek."
"Justru kaulah yang mengukur orang lain dengan pribadimu sendiri yang rendah. Bicara terus terang aku ingin melindungi mereka malah."
"Orok umur tiga tahun juga tidak bakal percaya obrolanmu. Masa kau berhati begitu baik. Kenapa tidak terus terang saja bicara dihadapan muridku ?"
Hek-swan-hong segan mengutarakan rasa curiganya terhadap Cin Liong-hwi, katanya.
"Kau mau percaya tidak terserah. Aku harus segera menyusul ke Lou keh ceng, selamat tinggal.""Tak boleh pergi !"
Tiba-tiba Jing-hou-khek menghardik.
"Memangnya kau mau apa?"
Jengek Hek-swan hong gusar.
"Justru karena tidak percaya kau masa kubiarkan kau pergi mencelakai muridku. Hm, muridku itupun tidak perlu kau yang melindungi."
Sebagai seorang yang berpengalaman luas dalam kalangan Kangouw, Hek swan hong menjadi sadar, pikirannya.
"Keparat tua ini ajak adu mulut disini, mungkin sengaja hendak mengulur waktuku supaya orang-orang Lou-khek ceng meringkus putri Lu Tang wan itu."
Karena kekuatirannya ini ia menjadi berlaku hati hati.
Memang rekaannya tidak jauh meleset.
Kiranya Jing-hou-khek sengaja hendak membiarkan Cin Liong-hwi bekerja menurut rencananya semula, supaya Lu Giok yau terjebak kedalam tipu dayanya.
Ya tapi tiada maksudnya supaya mereka diringkus oleh orang orang keluarga Lou.
Setelah membongkar tipu daya orang, Hek swan hong lantas tertawa dingin katanya.
"Aku Hek swan hong bebas kemana aku suka pergi atau datang. Kalau kau mampu coba rintangi aku !"
Jing hou khek mengenakan kedok muka wajahnya membeku dingin tak berexpresi, jengeknya.
"Hek swan hong, dihadapanku tak kubiarkan kau bergerak bebas sesuka hatimu. Tidak percaya cobalah!"Belum lenyap suaranya tampak Jing hou khek berkelebat, tahu tahu sudah melejit tiba dihadapan Hek swan hong. Dengan jurus Ji liong jing cu kontan Hek swan hong balas dengan serangan ganas, kedua jarinya terangkap untuk mencukil kedua biji mata musuh. Tapi Jing hou khek melintangkan telapak tangannya yang setajam golok itu untuk memapas pergelangan tangannya. Lapat lapat terendus oleh Hek swan hong bau amis yang memualkan perutnya. Tergetar perasaan Hek swan hong, pikirannya.
"Pukulan jahatnya ini sudah tentu jauh lebih lihay dari Cin Liong hwi bocah itu,"
Sebelum menjajaki tinggi rendah ilmu kepandaian lawan, betapapun Hek swan hong harus berlaku sangat hati-hati, segera segesit kera dengan gerak tubuh Hong biau loh hoa, ia menyurut mundur berkelit dari samberan pukulan musuh yang berbisa itu.
Jing hou khek bergelak tawa, serunya.
"Kukatakan kau tak akan bisa lari, sekarang percaya tidak ?"
Sekonyong-konyong Hek swan hong merubah permainannya, sebuah pukulan berubah menjadi dua, dua pukulah berubah menjadi empat pukulan, seketika dari delapan penjuru angin kelihatan telapak tangannya menari dan meraba secepat kilat, sasarannya tepat dan mematikan.
Keruan Jing hou khek sangat kaget.
Batinnya.
"Hek swan hong ternyata tidak bernama kosong, ilmu pukulannya ini benar hebat. Tak heran dia beranimencuri masuk kegedung Wanyen Tiangci menggondol pergi konsep rahasia yang sangat berharga itu. Usianya sekarang baru likuran tahun, kepandaiannya sudah begini hebat, beberapa tahun kemudian pasti aku bukan tandingannya lagi. Bila hari ini tidak kumampuskan dia kelak tentu merupakan perintang yang sangat berat."
Seketika timbul napsunya membunuh. Jengeknya dingin.
"Hek swan hong, meski kepandaianmu lihay, untuk lolos dari tanganku betapapun kau takkan mampu."
Hek swan hong tertawa tantang, ujarnya, ''Sekarang aku jadi percaya bahwa Cin Liong hwi itu memang muridmu. Ternyata kalian guru dan murid sama pandai membual dan suka mengagulkan diri."
Belum lenyap suara tawanya, mendadak terasa bau amis yang berbau busuk menyampok mukanya, meski Lwekang Hek swan hong cukup tinggi tak urung ia rasakan dadanya sesak dan muak.
Begitu merupakan ilmu pukulannya kedua telapak tangan Jing hou khek bergerak membundar, bundar membundar bergantian membawa kekuatan pukulan yang dahsyat bagai gelombang samudra yang berderai tak kenal putus.
Keruan bercekat hati Hek swan hong.
"Kecuali pukulannya berbisa, keparat ini ternyata punya kepandaian sejati. Aku tak boleh pandang rendah lawan."
Segera Hek swan hong kembangkan kehebatan Ginkangnya, ia berputar berlari dan berloncatanmengitari lawan, bertempur secara gerilya, ia berlaku sangat cermat dan hati-hati, selalu ia menghindari bertahan secara kekerasan melawan pukulan berbisa musuh.
Sekejap saja lima puluh jurus telah berlalu.
Sekonyong konyong Jing hou khek membalikkan tangan memukul dadanya sendiri, kontan darah segar menyembur dari mulutnya, tubuhnya pun sempoyongan hampir roboh.
Permainan aneh yang lucu dan mendadak ini benar-benar sangat mengejutkan Hek swan hong, selama hidup ini belum pernah ia saksikan atau dengar permainan silat macam ini, sesaat ia menjadi melongo dan berpikir.
"Mana ada aturan pukul sendiri melukai badan."
Belum lenyap pikirannya, mendadak Jing hou khek membentak.
"Kena !"
Tiba-tiba pukulannya menyelonong tiba dari jurusan yang terduga oleh Hek swan hong.
Sebat sekali Hek swan hong berkelit dan melejit menyingkir dari samping musuh, tiba tiba ia merasakan telapak tangannya kesemutan, seketika ia rasakan darah bergolak di-rongga dadanya.
Ternyata meskipun ia berkelit secara cepat, betapapun ia harus melawan secara kekerasan untuk menangkis pukulan musuh yang tidak mungkin dihindari lagi.
Kiranya permainan jurus aneh dari Jing-hou khek ini merupakan ilmu jahat berbisa dari aliran sesat yang dinamakan Tukhiat-cian (panah darah berbisa),dimana setiap kali mulutnya menyemburkan darah, maka telapak tangannya akan mengandung bisa yang berlipat ganda, jurus aneh itu gunanya memang untuk membingungkan pihak lawan.
Untung Hek swan hong cukup berpengalaman, bila ganti orang lain, melihat orang pukul diri melukai sendiri, tentu segera menyerbu dan merangsak lebih hebat, perbuatan ini justru terjebak oleh musuh dan termakan oleh pukulan berbisa musuh malah, seumpama tidak mati pasti terluka berat.
Memang tadi Hek swan-hong merasa heran, namun ia cukup cerdik, ia duga tentu lawan mengandung maksud tertentu dalam cara permainan melukai diri sendiri ini maka segera ia siap waspada, sedikitpun ia tidak temukan kemenangan.
Begitu pukulan kedua belah pihak saling bentur cepat ia gunakan tenaga 'kisar' untuk memunahkan beberapa bagian kekuatan pukulan lawan, sehingga luka-lukanya berbisa tidak terlalu berat.
Tapi meski tidak terluka berat, gebrak selanjutnya Hek-swan-hong merasa kepalanya semakin pening dan pusing, pertahanannya semakin lemah dan tenagapun terkuras habis.
"Hek-swan-hong,"
Jing hou khek terkial-kial.
"sudah rasakan kelihayanku belum ? Seharusnya kau tahu diri dan tak mungkin dapat lolos dari sepasang tanganku ini. Demi keselamatan jiwamu, lekas kau berlutut angkat aku sebagai guru saja. Setelah kaumenjadi muridku, bukan saja jiwamu dapat kuselamatkan, seluruh kepandaianku inipun akan kuturunkan kepada kau."
"Kentutnya busuk,"
Maki Hek-swan hong gusar, sambil menggertak gigi ia melawan dengan sengit dan nekad, bila perlu biar gugur bersama. Jing-hou khek menjadi gentar pikirnya.
"Untuk membunuhnya tidak sukar, tapi bila aku berhasil membunuh dia, betapapun aku terluka berat pula."
Jing-hou-khek beranggapan bahwa dirinya jelas dapat menang, maka ia bekerja mengulur waktu, pikirnya.
"Setelah ia kehabisan tenaga baru aku turun tangan mencabut jiwanya. Buat apa aku harus menghadapinya secara kekerasan sekarang ?"
Karena cara tempur mengulur waktu yang dianggap sempurna oleh Jing-hou-khek ini sehingga Hek-swan-hong dapat melanjutkan perkelahiannya sampai tiga puluhan jurus lagi, namun keadaannya sudah cukup payah.
Lambat laun matanya semakin berkunang-kunang kepalanya juga semakin berat, penglihatannya menjadi samar-samar.
Dalam keadaan yang gawat ini tiba-tiba didengarnya seseorang membentak.
"Ee, kiranya kau bangsat tua jubah hijau ini mengganas lagi di sini."
Waktu Hek-swan-hong pentang matanya dan melihat tegas, tampak dihadapannya tahu-tahu tambah seorang pemuda berpakaian sastrawan bermuka cakap.Terdengar Jing-hou-khek juga menjengek dingin.
"Kau sudah pernah keok ditanganku, untung kau lari menyelamatkan diri, sekarang kau berani datang lagi mencari kematian ?"
Pemuda pelajar itu berkata.
"Saudara ini silahkan mundur, biar kulawan keparat tua ini untuk menentukan siapa jantan dan siapa betina."
Dimana kipas ditangannya berkembang dan dilempit lagi, sembari bicara secepat kilat sekaligus ia sudah lancarkan tujuh serangan kilat, setiap jurus tipunya mengarah tempat berbahaya ditubuh Jing-hou khek.
Begitu tekanan menjadi kendor baru Hek-swan-hong berkesempatan menghirup napas segar, pikirannya.
"Pemuda ini sangat cekatan, terang kepandaiannya tidak lemah. Tapi bila seorang diri melawan bangsat tua ini mungkin tak dapat memperoleh kemenangan."
Maka segera ia buka suara.
"Menghadapi bangsat tua macam iblis ini buat apa menggunakan aturan Kangouw apa segaIa?"
Melihat Hek-swan-hong masih kuat melabrak musuh dengan mati matian pemuda itu terkejut dan heran.
Dia menyuruh Hek swan hong mundur bukan karena hendak menurut aturan Kangouw menempur sendiri sibangsat tua ini, soalnya karena ia melihat Hek swan hong sudah terluka.
Latihan Lweekang Hek-swan-hong dari aliran Hian-bun yang halus, ilmu ini sangat aneh dan mustajab sedikit berkesempatan mengatur napas danmemulihkan tenaga meski belum dapat memulihkan Lweekang semula, tapi sudah kuat dan mampu melabrak sibangsat tua keparat ini lagi.
Tipu permainan sipemuda itu ternyata juga aneh dan menakjubkan, bila kipasnya itu dikembangkan dapat dibuat senjata pedang melancarkan Ngo heng-kiam, bila dikatupkan kipasnya dapat digunakan menutuk jalan darah, tunjuk timur menghantam barat, serang selatan menggempur utara, serangannya beraneka ragam dan banyak perubahannya.
Jing hou-khek menjadi kerepotan dan terdesak untuk melancarkan serangan yang mematikan merobohkan Hek-swan hong sudah tidak mungkin lagi.
Dalam pertempuran yang sengit itu tiba tiba terdengar suara "brek !"
Jubah didepan dada Jing-hou-khek berlobang sobek kena tutukan ujung kipas sipemuda, jalan darahnya juga terasa sedikit kesemutan dan sakit. Mau tak mau Jing hou-khek harus berpikir.
"Bila melanjutkan pertempuran, mungkin tiada untungnya bagi aku. Lebih baik tinggal lari saja, untung Hek swan-hong sudah terluka masa dia mampu mengejarku. Dalam tempo satu jam takkan mampu dia menyusul ke Lou-keh-ceng."
Setelah tetap ambil keputusan tiba-tiba ia memutar tubuh terus menyelinap masuk ke hutan yang gelap dan menghilang. Hek-swan-hong menenangkan hati, katanya.
"Terima kasih akan bantuan saudara ini?""Hah,"
Hek-swan-hong berjingkrak kaget serunya girang.
"jadi saudara Geng adalah San-tian jiu dari Kanglam itu, Siaute she Hong bernama Thian-yang. Belum lama ini aku baru dengar nama besar saudara dari Liok-pangcu dari Kaypang."
Geng Tian juga terkejut, serunya.
"Ternyata saudara adalah Hek-swan-hong yang kenamaan menggetarkan kangouw itu, sudah lama aku kepingin bertemu."
Hek swan-hong tersenyum kecut, tanyanya.
"Entah untuk apakah saudara Geng sampai ditempat ini, secara kebetulan lewat atau sengaja menyusul kemari."
Kata Geng Tian, ''Ada seorang kawan she Ling berjulukan Hong Thian-lui, apakah saudara Hong kenal dia?"
"Maksudmu Ling Tiat-wi bukan justru dia kawan karibku."
Geng Tian terbahak bahak ujarnya.
"Justru karena Hong thian-lui itulah aku kemari."
Lalu Geng Tian bercerita cara bagaimana ia berkenalan dengan Hong thian-lui, selanjutnya ia menambahkan.
"Sejak aku berpisah dengan Sip it sian sebetulnya hendak memburu kekampung halaman Ling-toako untuk memberi tahu ditengah jalan aku bentrok dengan Jing-bau-lokoay tadi, entah dari golongan mana dia, dia tahu bahwa aku hendak pergike rumah keluarga Ling untuk memberi kabar, turun tangan melukai aku, kalau dibicarakan sungguh harus disesalkan, aku kena pukulannya berbisa, untung masih dapat berlari sipat kuping, sehingga jiwa ini tidak berkorban sia-sia."
"Pukulan berbisa Lokoay itu memang hebat dan ganas,"
Demikian ujar Hek-swan-hong.
"saudara Geng, kau dapat sembuh demikian cepat, dalam jangka setengah bulan lantas kau mampu menyusul kemari dan melabraknya pula, sungguh Siaute sangat kagum."
"Saudara Hong,"
Kata Geng Tian.
"Setelah terluka kau masih mampu bergebrak sekian lama melawannya, Siaute lebih kagum lagi."
"Terhitung aku yang untung, luka lukaku tidak terlalu berat,"
Hek-swan-hong menjelaskan.
"Aku ada membawa beberapa butir Siau-hoan tan, pemberian dari Hong tiang Siau-lim kepada ayahku. Meski tidak usah kuatir terkena racun jahat itu lebih baik saudara menelan sebutir saja supaya tidak membahayakan kesehatan badan kelak."
Siau hoan tan buatan Siau lim memang obat mustajap nomor satu khusus untuk mengobati penyakit keracunan.
Sebagai seorang polos dan jujur setelah mengetahui Geng Tian juga sahabat kental Hong-thian-lui Hek swan-hongpun tidak sungkan lagi menerima pemberian obatnya.Kata Geng Tian selanjutnya.
"Mengandal Siau hoan tan ini aku berobat diri dari pukulan berbisa itu, namun juga memakan dua hari lamanya baru bisa bergerak. Karena ketinggalan dua hari inilah waktu aku memburu kekampung saudara Ling kedatanganku sudah terlambat."
Hek-swan hong menjadi kuatir, tanyanya.
"Jadi kau tidak ketemu ayah dan Suhu Ling toako?"
"Entah mengapa rumah keluarga Ling sudah terbakar habis tinggal puing-puingnya. Sedang seluruh kerabat keluarga Cin locianpwe juga sudah mengungsi entah pindah kemana. Menurut kata penduduk setempat, sehari sebelum kedatangan Siaute itu, rumah itu terbakar dan lapat lapat terdengar suara pertempuran, namun karena malam dan bernyali kecil mereka tiada yang berani keluar."
Hek-swan-hong semakin was-was, katanya.
"Bila aturan dari kerajaan pasti tak perlu meluruk pada tengah malam dan melepas api. Bila musuh besar dari kaum persilatan, masa mengandal kepandaian silat Cin dan Ling berdua Locianpwe mandah membiarkan mereka mengganas sesuka hatinya."
"Akupun berpikir demikian, semoga mereka lolos dari bahaya dan selamat. Peristiwa ini kelak kita selidiki duduk perkara sebenarnya. Tugas yang terpenting sekarang adalah menolong Ling toako keluar. Saudara Hong apakah kau pernah ke keluarga Lou?"Hek swan-hong tertawa getir, sahutnya.
"Baru kemarin malam aku terusir keluar dari Lou khek Ceng. Sungguh menyesal, aku sudah berjumpa dengan Ling toako, tapi hampir saja jiwaku sendiri amblas direnggut musuh, tiada sempat pula aku menolong keluar.'' Geng Tian terkejut, tanyanya.
"Ada tokoh lihay macam apakah dalam Lou keh Ceng?"
"Orang lain sih tidak kukuatirkan. Koksu dari Mongol itu benar-benar lihay luar biasa."
"Bukankah julukan pendeta asing itu adalah Liong siang Hoatong? Bagaimana kepandaiannya jika dibanding Jing bau khek?"
"Hakikatnya tidak bisa disejajarkan."
Ujar Hek swan hong.
"Jing bau khek melulu mengandal pukulan yang berbisa, Lwekangnya memang sedikit lebih unggul dari Siaute."
"Lalu Liong siang Hoatong?'' "Belum lagi aku gebrak dengan dia lantas kena dikalahkan. Menurut hematku mungkin Lwekangnya setingkat masih lebih unggul dibanding Liong pangcu dari Kaypang. Mana bisa Jing-bau khek dibanding dia?"
Ialu ia ceritakan pengalaman, dimana dengan sekali pukulan jarak jauh ia berhasil ikut mencelos dan bergeduk jantungnya. Kata Geng Thian.
"Betapapun lihay kepandaian musuh, tetapi harus menerjang ke Lok-keh-ceng.""Sudah tentu. Seumpama tak berhasil menolong Ling-toako, kami juga harus melindungi nona Lu itu."
Geng Tian jadi terkejut pula, katanya.
"Maksudmu putri Lu Tang wan?"
"Ya, dia kesana bersama bocah she Cin. Bocah itu mengaku sebagai Suheng Ling toako, namun menjadi murid Jing-bau khek pula, agaknya bukan seorang baik-baik. Kuharap sebelum mereka memasuki Lou-keh-ceng kita berhasil menyusul mereka dan membongkar kedok pemalsuan bocah keparat itu, supaya nona itu tidak tertipu olehnya."
"Lu Tang wan adalah tuan penolong Siaute,"
Geng Tian menjelaskan.
"Menurut apa yang kutahu, nona Lu ini menaruh simpatik dan mungkin jatuh cinta pada Ling toako, entah bagaimana dia bisa berjalan sama bocah she Cin ? Mari lekas kita susul mereka."
Dalam perjalanan Hek-swan-hong tuturkan apa yang dia cari dengan percakapan Cin Liong-hwi dengan Lu Giok-yau kepada Geng Tian. Baru sekarang Geng Tian jelas duduknya perkara, katanya tertawa.
"Jadi bocah itu membual dan mengagulkan diri, sebaliknya menjejakkan Ling-toako, Saudara Hong, waktu dengar bocah keparat itu membual seharusnya kau keluar menghajar adat padanya dan memberi tahu kepada Nona Lu akan kemunafikannya. Seharusnya kau menjelaskan bahwa kaulah justru yang menjadi kekasih tulen In tiong yan. Bukankah bisa meringankan beban pikirannya?"Merah jengah muka Hek swan hong, katanya.
"Saudara Geng, dari mana kau dengar kabar tak genah itu?"
"Kukira ini bukan kabar angin belaka? kupingku sendiri yang dengar dari penuturan In tiong yan."
Kejut dan girang pula perasaan Hek Swan Hong, tanyanya.
"Kau pernah bertemu dengan In tiong Yan?"
Dalam hati ia berpikir.
"Tapi masa ln tiong Yan bisa memberi tahu perihal itu kepada kau?"
Kata Geng Tian.
"Tepat pada waktu Ling toako kena perkara itulah aku jumpa dengan dia."
Lalu ia ceritakan pertemuannya dengan ln tiong Yan.
"didalam hutan itu akhirnya dia tidak katakan bahwa kau adalah pujaan hatinya, namun dari nada perkataannya aku orang luar inipun merasakan, jelas dia sangat rindu dan perhatian dirimu. Bila tidak buat apa dia mencari tahu keadaan dan jejakmu. Menurut katanya dia hendak menyerahkan se
Jilid Pinghoat kepada kau."
Melihat orang benar mengatakan rahasia ini, Hek swan hong baru mau percaya, sungguh syur dan hangat hatinya, pikirannya.
"Sejak mula sudah kuduga, dia bukan orang jahat. kiranya betul !"
Kata Geng Tian pula.
"Untung ada In tiong Yan di Lou keh ceng mungkin Ling toako dapat memperoleh keuntungan dalam kemalangannya.""Ya, secara langsung dia sudah berkata padaku, begitu ada kesempatan ia hendak berdaya upaya untuk menolong membebaskan Hong thian lui, tapi aku menjadi kuatir setelah adanya peristiwa semalam paling tidak bakal menimbulkan rasa curiga Liong siang Hoatong terhadap dirinya."
Hek swan hong mengharap sebelum Lou Giok yau sampai memasuki rumah Keluarga Lou dapat menyusul mereka, bila dalam keadaan biasa, mengandal Ginkangnya bersama Geng Tian dapat saja ia mengejar waktu.
Sayang baru saja ia terluka oleh pukulan berbisa Jing bau khek, meskipun sudah menelan Siau hoa tan paling tidak Ginkangnya rada berkurang, akhirnya ia menjadi kecewa karena tidak terlaksana keinginannya.
O^~dwkz^hendra~^O Dalam pada itu, dengan perasaan kurang tentram dan was was, malam itu kira kira pada kentongan kedua, akhirnya Cin Liong-hwi dan Lu Giok yau sampai juga di Lou-keh-ceng.
Sama sebagai kaum keroco yang belum punya pengalaman kangouw, dengan diam diam mereka menyelundup masuk ke kebon bunga belakang keluarga Lou.
Tampak demikian besar dan luas bangunan gedung dan taman keluarga Lou ini, sedikitnya ada puluhan bangunan petak banyaknya,entah cara bagaimana mereka harus menyelinap kesana menyelidiki.
Betapapun Cin Liong-hwi memang rada pintar dan cerdik, dia menyeret Lu Giok yau sembunyi di belakang sebuah gunung gunungan palsu, dengan suara berbisik ia berkata, ''Kita harus bersabar menanti disini; begitu ada pelayan lewat lantas kita sergap dan dikompas menanyakan dimana letak Hong-thian-lui disekap.
Demi jiwanya tentu dia akan mengaku terus terang, Seumpama Hong-thian-lui memang masih berada di Lou keh ceng, meski harus menyerempet bahaya juga harus menolongnya keluar.
Sebaliknya bila dia sudah pergi sama siluman perempuan itu, maka kita pun tidak perlu membuat keributan dan mencari kesukaran ditempat ini."
Kiranya Cin Liong-hwi percaya pada Jing-bau khek yang memberitahu Hong-thian-lui sudah berangkat ke Mongol sama ln tiong yan maka dia berani menempuh bahaya ini. Pikirnya.
"Meringkus salah seorang pelayan kiranya tidak sukar, asal dapat mencari kebenaran berita itu saja supaya genduk ini tidak merecoki aku lebih lanjut."
Lu Giok yau hanya menurut saja akan usulnya itu, katanya.
"Caramu ini meski rada bodoh bisa dilaksanakan. Seumpama tak berhasil menolongnya keluar, paling tidak dapat jumpa sekalipun bolehlah!"
Secara tegas ia masih mengukuhi pendapatnya sendiri bahwa Hong thian lui tidak mungkin pergi ke Mongolsama ln tiong yan, maka caranya berpikir sudah tentu jauh berlainan dengan jalan pikiran Cin Liong hwi.
Beberapa saat kemudian, benar juga dilihatnya sesosok bayangan orang berjalan lewat dari hadapan mereka.
Diam-diam Cin Liong hwi menjadi girang.
"Thian benar-benar mengabulkan permohonan umatnya, orang ini sendirian, aku mesti dapat membekuknya sebelum dia mengetahui tempat sembunyi kita, cukup dengan sekali tutuk pasti robohlah dia."
Lalu ia menekan pundak Lu Giok-yau serta berbisik.
"Kau jangan bergerak, biar aku turun tangan!"
Diluar dugaannya orang ini bukan pelayan atau kacung dari keluarga Lou tapi adalah salah satu Kim-tiang Busu dari Mongol, dia tak lain tak bukan adalah Cohaptoh yang sama angkat nama bersama Umong itu.
Cohaptoh adalah jago gulat kelas wahid yang berkepandaian tinggi, begitu mendengar kesiur angin dibelakangnya, dengan gaya Cin-kin-sek tiba-tiba kedua tangannya balik kebelakang mencengkeram terus menariknya ke-depan, kontan Cin Liong hwi melayang terbang dari atas kepalanya terus terbanting keras diatas tanah.
"Bocah bernyali besar. Siapa kau?"
Bentak Cohaptoh.
Dengan gaya ikan gabus melentik Cin Liong-hwi melejit bangun, terasa seluruh tulang dan urat nadinyasakit dan lalu cepat ia kerahkan Lwekang ajaran Jing-bau khek, tanpa banyak bicara ia kirim kepalannya menghantam muka Cohaptoh.
Cohaptoh menggeram gusar, jengkelnya.
"Tak kira bocah kau ini berisi juga, hm, bantinganku tidak membikin kau mampus tapi kau berani menyerang apa mau cari mati?"
Dalam bicara kedua tangannya diulur odot pulang pergi tahu tahu ia sudah cengkeram Cin Liong hwi serta membantingnya sekali lagi.
Kali ini gunakan ilmu Han-kin-joh-kut-hoat, maka tangan kiri Cin Liong hwi sampai keseleo dan sakit luar biasa, kali ini ia tidak mampu bangun lagi.
Tapi tak urung lengan kanan Cohaptoh sendiri juga kesemutan dan sakit gatal terkena pukulan berbisanya.
Bersamaan waktu Cohaptoh menjengkelit jatuh Cin Liong-hwi, dalam kejutnya Lu Giok-yau segera menubruk keluar, di mana pedangnya bergerak ''sret", ia menusuk ke lambung lawan.
Cohaptoh menyeringai tawar, serunya.
"Bagus! Ternyata masih ada genduk jelita berani menyerang aku pula!'' dengan tipu Yu-liong-tam-jiau (naga mengeliat menjulur cakar), ia mengulur tangan orang tujuannya hendak membekuk bocah perempuan ini hidup-hidup. Maka terdengarlah suara "Bret!"
Yang panjang, lengan baju Lu Giok-yau kena dijambret sobek, untung tidak kena tercengkeram.
Keruan kejut dan gusar Lu Gok-yau dibuatnya.
Ceng-kong-kiam di-tangannya segera dibolang-balingkan secepat kilat, main bacok dantikam secara serabutan, cara permainannya menjadi kacau balau karena gugup dan terburu nafsu.
Sementara itu, Cohaptoh merasa sakit linu dan gatal dilengan kanannya semakin merambat naik dan melebar sampai kepundak, keruan bercekat hatinya.
Tapi kepandaiannya lipat ganda lebih tinggi dari kemampuan Lu Giok-yau, dalam suatu kesempatan ia mencari lobang kelemahan gerak pedang lawan terus balas merangsak maju, dimana kedua jarinya menjentik bergantian "Creng"
Tepat sekali menjentik batang pedang lawan, kontan Ceng-kong-kiam Lu Giok-yau tak mampu melawan dan bertahan, kuatir kena dibekuk oleh musuh segera ia putar tubuh terus angkat kaki melarikan diri.
Pertempuran ini meski berlangsung dalam waktu singkat, namun seluruh penghuni keluarga Lou sudah sama mendengar dan memburu keluar.
Baru saja Lu Giok-yau lari puluhan langkah, dari berbagai penjuru sudah memburu tiba enam tujuh laki-laki terus mengepungnya ditengah.
Demi menjaga gengsi Cohaptoh diam diam saja tak mau maju mengeroyok.
Dengan kesempatan ini diam-diam ia kerahkan Lwekangnya melancarkan urat nadinya dan memulihkan jalan darahnya.
Disaat Lu Giok yau hampir kena dibekuk oleh kerubutan beberapa orang itu, mendadak tampil seorang tua membentak.
"Berhenti!'' ia maju kedepan Lu Giok-yau dan mengamati dengan seksama, tiba-tiba mengunjuk rasa kejut serunya.
"Bukankah kau keponakan Giok yau ?"
Mendengar orang memanggil dirinya keponakan, Lu Giok yau menjadi tercengang malah, tanyanya.
"Siapakah paman ini?"
Orang tua itu bergelak tawa, ujarnya.
"Akulah Lou Jin-cin majikan disini. Meskipun ayahmu jarang berhubungan dengan aku namun perkenalan kami juga cukup kental. Aku pernah melihat kau tapi kau sendiri yang belum kenal pada aku,"
Bicara sampai disini segera dia ulapkan tangannya serta bentaknya kepada beberapa laki-laki itu.
"Kenapa kalian main kerubut terhadap nona Lu? Hayo lekas bubar!"
Kecuali Cohaptoh seorang seluruh hadirin bubar mengundurkan diri.
"Keponakan aku yang baik,"
Kata Lou-Jin cin.
"Siapakah engkoh cilik ini?"
Lu Giok-yau tahu bahwa Lou Jin cin bekas begal tunggal yang sudah cuci tangan dan mengasingkan diri, bila bicara soal pribadinya selalu ayahnya mencerca kebrutalannya. Dalam hati ia berpikir.
"Hubungan kental apa dia dengan ayahku. Yang terang kau segan dan takut akan kebesaran nama ayahku, baru kau bicara manis dan menarik simpatikku? Cin Liong-hwi sudah terluka bila aku tidak putar haluan dan mengikuti situasi, betapapun kami berdua takkan bisa lolos dari sini !"
Karena pikirannya ini segera ia berkata.
"Cin toako ini adalahangkatan muda ayahku yang dekat, dia temani aku kemari hanya untuk mencari tahu seseorang. Sebenarnyalah tiada maksud kami mencari perkara pada kalian. Harap Cengcu bermurah hati suka memaafkan kecerobohan kami ini."
Lou Jing cin bergelak tawa pula, ujarnya.
"Keponakan main sungkan segala. Masa aku harus main kekerasan dan mempersukar angkatan muda dari kenalan dekat ayahmu. Marilah ikut aku kedalam!"
Lou Jing cin bisa beberapa patah kata bahasa Mongol, mulutnya bicara tanganpun bergerak entah ucapan apa yang dia katakan kepada Cohaptoh, sepatah patahpun Lu Giok yau tidak tahu apa yang sedang mereka perbincangkan.
Tapi lambat laun kelihatan rasa gusarnya telah hilang, lalu ia ulapkan tangannya terus tinggal pergi.
Kiranya latihan pukulan berbisa Cin Liong hwi masih terlalu cetek, setelah Cohaptoh berhasil melepaskan otot dan melancarkan jalan darahnya, baru diketahui bahwa dirinya tidak keracunan lagi, baru dia mau ampuni jiwa Cin Liong-hwi.
Sudah tentu karena dia menetap dirumah orang sedang Lou Jin-cin sebagai tuan rumahnya, maka ia tidak mengulur panjang persoalan.
Lou Jin-cin unjuk seri tawa, katanya, ''Maaf saudara Cin.
Mari silakan istirahat di dalam, nanti Lohu bantu mengobati luka lukamu, keponakan Giok yau kebetulan akan kedatanganmu ketempatku yangbobrok ini, paman Lou harus layani kalian sepuasnya, nanti kupanggil bibimu untuk temani kau ngobrol.
Malam ini terpaksa katakan kalian menginap semalam disini."
Kata Giok yau.
"Aku hanya ingin mencari seseorang saja. Setelah luka Cin-toako diobati segera kami harus pulang."
Lou Jin cin tertawa lebar, katanya, ''Hari sudah larut malam, mau pulang juga harus besok pagi.
Apalagi saudaramu Cin ini terluka, mungkin dia tak kuasa pulang bersama kau.
Setelah berada dirumahku anggaplah dirumah sendiri kenapa main sungkan sungkan lagi.
Paling tidak kau harus temui dulu bibimu bukan?"
Dengan menebalkan muka Lou Jin cin menarik orang sebagai kenalan kental yang terdekat.
Meskipun Lu Giok-yau tidak senang, soalnya orang tadi telah membebaskan dirinya dari keroyokan anak buahnya, apalagi Cin Liong hwi memang terluka, tak mungkin segera melanjutkan perjalanan pulang, dan lagi ia punya keinginan belum tercapai untuk mengetahui kabar berita Hong-thian-lui yang sebenarnya, maka tak enak ia menampik undangan tuan rumah.
Terpaksa ia berkata.
"Aku berusia muda tidak tahu adat, harap Lou cengcu tidak salah paham."
Dalam hati ia membatin, ''Malam ini aku harus berlaku hati hati.
Dia suruh istrinya menemani aku, mungkin takkan terjadi sesuatu yang merugikan."Betul juga setelah memasuki sebuah ruang pendopo terlihat seorang perempuan setengah umur yang bersolek berkelebihan menyambut kedatangan mereka, begitu bertemu lantas menarik tangan Giok-yau serta memuji tak habis-habisnya.
"Orang sering berkata bahwa nona merupakan perawan tercantik didaerah Ciat-kang timur, Lu-tomoaycu, sudah lama aku ingin melihatmu, namun pamanmu selalu segan kerumahmu, sekarang sungguh beruntung harapanku bisa terkabul melihat kecantikanmu yang tiada tandingannya ini. Toa-moaycu, kau sudah punya calon mertua belum?"
Kapan Lu Giok yau pernah menghadapi keadaan yang runyam ini, keruan merah jengah selebar mukanya mulutpun terkancing tak kuasa bicara. Lou Jin cin tertawa, katanya.
"Coba lihat kau bikin orang menjadi malu. Orang datang dengan tujuan tertentu, kau malah menggodanya. Ei benar, keponakan, tadi kau seperti hendak mencari tahu seseorang, siapakah dia ?"
Kata Lu Giok yau.
"Ada seorang pemuda muka hitam beralis tebal berusia likuran tahun. Dia adalah kenal kental ayah, beberapa bulan yang lalu dia datang menyampaikan selamat ulang tahun pada ayah, tinggal beberapa bulan, belum lama ini baru ia tinggalkan rumah kami..."
Belum lagi Lu Giok yau selesai menjelaskan, Lou Jin-cin tertawa lantang, selanya.
"Orang yangkeponakan maksudnya bukankah pemuda gagah bernama Ling Tiat wi yang pernah mengalahkan Hek ing Lian Tin-san dan sekarang sudah menggetarkan Kangouw itu bukan?"
Sebetulnya Lu Giok-yau rasa benci dan memandang rendah martabat Lou Jin cin, namun mendengar orang begitu mengagulkan dan memuji Ling Tiat-wi mau tak mau kesan buruknya menjadi rada berkurang.
Segera ia menjawab.
"Benar, yang kumaksudkan memang Ling Tiat-wi adanya. Konon setelah meninggalkan rumahku dia langsung menuju kemari, entah apakah benar berita itu ?"
"Sayang kalian setindak telah terlambat,"
Ujar Lou Jin cin. Istri Lou Jin-cin sebaliknya berkata.
"Suamiku, menurut aku perkataanmu itu harus diralat kembali. Bila aku yang berkata untung Toamoaycu cari keluarga Lu ini tidak datang lebih cepat setindak."
Jantung Lu Giok yau berdebar keras, tanyanya.
"Bibi apa maksud perkataanmu ini ?"
Nyonya ini terkekeh genit, katanya.
"Toamoaycu, watakku suka bicara blak-blakan, setelah dengar penjelasanku kuharap kau tidak marah lho."
"Kabar kau dengar itu memang salah, bila kemaren kau sampai disini tentu kau bisa jumpa dengan Ling Tiat-wi, baru pagi tadi dia berangkat. Tapi, Loamoaycu, entah benar tidak jalan pikiranku ini,menurut hematku, lebih baik kau tidak melihatnya saja."
"Kenapa?"
Tanya Lu Giok-yau. Sahut istri Lou Jin cin.
"Waktu datang Tiat-wi bocah itu ditemani seseorang demikian juga waktu ia pergi menggandeng seorang pula. Orang yang digandeng itu seorang perempuan cantik jelita, konon adalah putri bangsawan dari bangsa Mongol. Dia punya nama samaran bahasa Han yaitu In tiong yan. Ai kau tidak melihat jadi kau tidak tahu. Dirumah kami ini hubungan mereka begitu mesra begitu intim sekali, keluar masuk bersama, bak umpama bayangan mengikuti bentuknya, seolah-olah penganten baru saja."
"Bicara secara adil, menurut pandanganku mesti In tiong-yan itu cukup cantik, tapi bila dibanding dengan kau Toamoaycu, masih terpaut terlalu jauh. Ling Tiat wi bocah itu, ai, bicara soal ilmu silat memang lihay dan tinggi, sayang martabatnya terlalu rendah. Toamoaycu jangan kau menjadi sedih dan berduka bagi orang yang rendah budi dan tak mengenal kebaikan itu."
Bila Lu Giok yau hanya mendengar obrolan istri Lou Jin cin saja sudah tentu dia tidak akan mau percaya.
Tapi apa yang dia dengar sekarang ternyata tepat dengan uraian Cin Liong hwi dan cerita Siau-seng cu, mau tidak mau ia harus percaya.Dilain pihak Cin Liong hwi juga merasa terhibur dan senang setelah mendengar obrolan istri Lou Jin cin, timbrungnya .
"Kalau Ling toako sudah pergi bersama In-tiong-yan, kami tidak akan dapat mengurungnya kembali. Nona Lu, terhitung kau sudah berbuat sekuat tenaga, batalkan saja niatmu semula. Besok pagi kita harus segera pulang kerumahmu."
"Lou ceng ku,"
Kata Giok yau.
"Orang yang bergebrak dengan kami tadi apakah benar orang Mongol ?"
"Keponakanku, kau hendak salahkan aku karena melayani tamu bangsa Mongol ? Ai, aku sendiri terpaksa menyambut kedatangan mereka. Kau tahu riwayat hidupku, dulu obyekku mengerjakan dagang tanpa modal (begal) seluruh harta benda hasil rampasanku di Tionggoan kebanyakan kujual keluar negeri melalui negeri Mongol. Maka aku bisa berkenalan dengan imam negeri Mongol yang bersama Liong siang Hoatong. Kali ini Liong siang Hoatong pimpin anak buahnya meluruk ke Tionggoan sini. Emangnya aku bukan tandingannya, pula betapapun aku harus memberi muka padanya terpaksa kuterima kedatangan mereka."
"Lou cengcu, bukan hal ini yang kumaksud,"
Demikian kata Giok yau, sudah tentu ia tahu bahwa Lou Jin cin ini bukan orang baik baik maka tidaklah perlu dibuat heran bila dia punya hubungan kentaldengan bangsa Mongol, yang ingin dia ketahui hanyalah keadaan Hong thian lui dan ln tiong yan sesungguhnya, maka iapun segan mencampuri urusan Lou Jin cin sendiri, jelas sekali dia kurang puas akan hasil yang dia ketahui sekarang.
''Ah, lalu apa maksud keponakan?"
Ujar Lou jin cin.
"Katamu Ling toako dan ln tiong yan kemaren sudah meninggalkan rumahmu kenapa masih ada orang Mongol yang tetap tinggal disini?"
Tanya Giok yau.
"Aku sendiri juga tidak tahu kemana hanya mereka berdua saja yang tinggal pergi,"
Demikian sahut Lou Jin cin, lalu ia tertawa dibuat serta katanya pula.
"Mungkin In tiong yan hanya ingin Hong thian lui seorang yang temani dia? Sebagai orang Tuan putri dari bangsa Mongol, bila dia hanya ingin pergi bersama Hong thian lui, sudah tentu Liong siang Hoatong tidak enak merintangi keinginannya."
Istri Lou Jin cin berlagak sedih, katanya menghela napas.
"Lu toamaoycu kuharap kau tidak bersedih karena laki laki yang tidak kenal budi itu."
Merah muka Lu Giok yau katanya sungguh sungguh.
"Harap Cengcu hujin jangan salah paham, Ling Tiat wi adalah tuan penolong keluarga kami, waktu dia meninggalkan rumah kami badannya sedang sakit, terpaksa aku harus mengejar kemari mencari tahu keadaannya saja."Nyonya bawel itu tertawa lebar menunjukkan giginya yang prongos, katanya, ''Toa-moaycu kau seorang nona yang kenal budi dan kasih, tidak salah bukan ucapanku tadi. Tapi untunglah kau tidak anggap dia sebagai kekasihmu, aku menjadi lega bagi kau. Waktu sudah larut malam, mari kau tidur di kamarku saja. Jin cin malam ini kau temani Cin kongcu tidur diluar kamar saja!" ''Aku harus membubuhi obat sekali lagi pada luka luka Cin kongcu, mungkin malam ini harus sibuk bekerja dan tak sempat tidur lagi."
"Benar,"
Sela Cin Liong hwi.
"nona Lu, kau tak usah temani aku lagi, lekaslah kau pergi istirahat saja."
Meskipun merasa sebal bersama sinyonya bawel ini tapi Giok yau lebih benci berada sama Lou Jin cin, akhirnya ia pikir.
"Bila mereka mau mencelakai aku, sejak tadi sudah bisa turun tangan, selanjutnya aku harus waspada berlaku hati hati. Nyonya bawel ini kan bukan harimau betina takut apa."
Terpaksa ia menurut saja ikut sinyonya bawel kembali ke kamarnya.
Sejak tadi Lou Jin cin sudah menyambung tulang lengan Cin Liong hwi yang keseleo.
Setelah Lu Giok yau mengundurkan diri, ia mengganti obat baru lagi dengan tekun dan penuh perhatian ia melayani keperluan Cin Liong hwi sehingga pemuda ini merasa risi dan kikuk.Diam diam Cin Liong hwi membatin.
"Kenapa Lou cengcu ini begitu baik terhadapku?"
Belum lenyap jalan pikirannya tiba-tiba didengarnya Lou Jin cin bertanya padanya.
"Siapakah nama ayahmu?"
"Ayah bernama Cin Hou siau,"
Sahut Cin Liong hwi singkat dalam hati ia membatin lagi.
"Mungkin dia segan terhadap ayah maka ia layani aku sedemikian telatennya."
Benar juga dilihatnya Lou Jin cin tersenyum lebar katanya.
"Kiranya putra Cin tayhiap. Nama besar ayahmu, sudah lama Lohu kenal dan dengar. Tak nyana malam ini aku bisa jumpa dengan Kongcu sungguh sangat beruntung."
Cin Liong hwi mengira dugaannya benar, hatinya menjadi terhibur dan senang baru saja ia hendak mengucapkan sekedar basa-basi Luo Jin cin telah bicara lagi.
"Ayahmu seorang tokoh persilatan yang kenamaan meski Lohu tiada jodoh berkenalan dengan ayahmu menjadi heran dan ada persoalan yang belum kuketahui, harap Kongcu suka memberi petunjuk!"
"Silahkan Cengcu katakan saja."
"Kenapa ilmu pukulan yang dilancarkan Kongcu tadi bukan Bi-lek-ciang, mungkinkah Kongcu punya guru lain?"
"Ini... ini..."
Cin Liong hwi tergugup.
Maklum Jing bau khek pernah berpesan padanya supaya tidak membocorkan rahasia ini, sekarang rahasia sudahdiketahui oleh Lou Jin cin, mengira tak bisa mengelabuhi orang maka sesaat lamanya ia menjadi kememek tak bisa menjawab.
Lou Jin cin tertawa lebar ujarnya.
"Apakah gurumu itu Jin bau khek? Jangan sekali-kali kau ceritakan pada orang lain bahwa kau telah angkat beliau sebagai guru. Terhadapku tidaklah menjadi soal."
Cin Liong hwi tercengang katanya.
"Dari mana Lou cengcu bisa tahu?"
"Cin kongcu,"
Ujar Lou Jin cin menyeringai.
"Apa kau tahu siapa aku sebenarnya?"
Cin Liong hwi tidak tahu kemana justru dengan kata-katanya ini namun tanpa menanti jawabannya, Lou Jin cin sudah menjawab pertanyaan sendiri.
"Jing bau khek waktu menyuruh kau datang kemari mungkin beliau tidak memberi tahu padamu. Ketahuilah bahwa dia sebenarnya adalah Suhengku."
Cin Liong hwi tersentak kaget, tersipu-sipu ia berdiri, serunya.
"Kiranya Susiok, harap maaf Wanpwe kurang hormat."
Lou Jin cin menekan pundaknya, ujarnya.
"Malam ini hampir saja salah paham orang sendiri tidak kenal pada keluarga sendiri. Untung kau bersama putri Lu Tang-wan itu, waktu berkelahi melawan Cohaptoh tadi kau gunakan pula ilmu ajaran Suheng yang tunggal itu, aku baru tahu bahwa kau adalah Sutitku."Tanpa merasa Cin Liong-hwi menjadi heran dan bertanya-tanya dalam batin.
"Tidaklah heran bila dia dapat kenal pukulan yang kulancarkan itu adalah ajaran perguruannya. Namun kenapa pula datangku bersama nona Lu juga merupakan suatu kesalahan pula? Ada apa pula hubungannya soal aku menjadi Sutitnya?'' Agaknya Lou Jin cin seperti dapat meraba jalan pikirannya, katanya tertawa.
"Sekarang kita terhitung orang sendiri, ada omongan apa masa kau takut katakan kepada Susiokmu?"
"Entah apakah yang ingin Susiok ketahui?"
Mendadak Lou Jin cin menjadi serius, tanyanya.
"Sutit, apakah kau menyukai nona Lu itu?"
Kontan merah jengah selebar muka Cin Liong hwi jawabnya tersendat.
"Susiok, kau menggoda Sutit saja."
"Kupercaya mata tuaku ini belum lamur, rasa cintamu terhadap nona Lu itu, sekilas pandang saja lantas dapat kuketahui. He he, kita kan orang sendiri, kenapa kau kelabui aku lagi? Ketahuilah gurumu sudah ceritakan hal ini kepada aku."
Cin Liong-hwi tertegun, katanya.
"Jadi Susiok sudah tahu peristiwa yang bakal terjadi malam ini?"
Lou Jin-cin manggut-manggut, sahutnya.
"Jing-bau-khek Suheng kemaren pernah kemari, katanya dia baru saja menerima seorang murid, dan diceritakanpula akan kesukaran yang tengah kau hadapi, yaitu harus mempersunting putri Lu Tang-wan sebagai isterimu, supaya dapat merubah rasa permusuhan menjadi hubungan kekeluargaan yang dekat, benarkah?"
Mendengar bicara orang tepat dengan kenyataan terpaksa Cin Liong-hwi mengakui terus terang, katanya.
"Suhu memang pernah berpesan demikian, tapi..."
"Gurumu sudah berpikir secara rapi demi kepentinganmu segala urusan pasti akan berjalan dengan lancar dan tak mungkin salah lagi,"
Demikian tegas Lou Jin Cin. Lalu sambungnya.
"Katanya cepat atau lambat kau akan berkunjung kemari bersama nona Lou itu, dia minta aku bantu kau. Hehe, sungguh tidak kunyana malam ini kau datang begini cepat. Hahaha, segala urusan sudah bicarakan secara blak-blakan, apa kau ingin aku bantu kau tidak?'' Cin Liong hwi baru sadar akan duduknya perkara, batinnya.
"Tak heran begitu melihat aku datang bersama nona Lu lantas dia tahu bahwa aku adalah Sutitnya. Tanpa melihat cara perkelahianku tadi."
"Eh, kenapa tidak bicara?'' goda Lou Jin cin.
"Ini kan urusan besar Susiok, kau tidak usah malu malu."
Berdetak jantung Cin Liong-hwi, katanya lirih.
"Entah bagaimana rencananya Susiok untuk membantu aku?"Dengan kerlingan penuh arti Lou Jin cin melirik dirinya, seperti tertawa tidak tertawa ia berkata sepatah demi sepatah.
"Cara yang sepele saja yaitu Nasi sudah menjadi bubur."
Cin Liong hwi terperanjat, serunya.
"Ini... ini Susiok. apakah maksudmu ini?'' "Kau seorang cerdik pandai, masa belum jelas? Maksudku malam ini juga kau boleh kawin dengan nona Lu itu."
Jengah dan panas pula muka Cin Liong-hwi, jantungnya seperti hendak meloncat keluar saking keras bergoncang, suaranya gemetar.
"Dia, apakah dia mau?"
Lou Jin cin terkekeh-kekeh, katanya.
"Bibi gurumu seorang ahli menggunakan obat bius, pasti nona Lu itu sekarang sudah tidur pulas tak tahu diri lagi. Peduli dia mau atau tidak, yang terang penganten laki-laki seperti kau sudah pasti jadi."
Betapapun Cin Liong-hwi dari keturunan keluarga baik-baik, hati nuraninya masih lurus dan dapat berpikir secara jernih, rasa malu masih terkandung dalam benaknya, mendengar ucapan yang kotor dan menusuk kuping ini seketika merah jengah seperti kepiting direbus, katanya.
"Ini, ini kurang baik bukan?"
"Pepatah ada bilang nyali kecil bukan seorang lelaki, kalau tidak jahat bukan seorang jantan, apalagiapa yang kuajarkan kepadamu ini toh bukan perbuatan jahat, malah menguntungkan bagi kau. Apa kau rela nona secantik bidadari itu dicaplok oleh Hong-thian lui bocah gendeng itu? Asal nasi sudah menjadi bubur, menyesalpun sudah kasep, kutanggung dia akan tunduk dan menurut seperti sapi yang kau cocok hidungnya. Kalian merupakan pasangan yang setimpal, yang pria tampan yang perempuan ayu jelita, coba kau katakan adakah jeleknya akalku ini? Kesempatan ini jangan kau abaikan, lekaslah mari kuantarkan."
Seperti kena sihir Cin Liong-hwi berdiri dengan hambar, ternyata dengan linglung ia ikut berjalan masuk. Lou Jin cin membawanya masuk kedalam sebuah kamar, katanya tertawa.
"Silakan kau masuk sendiri, aku tidak bisa temani kau didalam."
Kamar tidur ini cukup lebar, diterangi sebuah pelita kecil, tampak olehnya Lu Giok yau tengah tidur telentang diatas ranjang dengan pakaian lengkap, kelihatannya nyenyak dan tertidur pulas dalam alam mimpi.
Dengan suara lirih Cin Liong-hwi coba memanggil.
"Nona Lu..'' sedikitpun ia tidak bergerak atau mendengar. Jantung Cin Liong-hwi mendebur keras seperti gelombang samudra yang mendampar pantai.
"Ai, dapatkah aku melakukan perbuatan yang tercela ini?"
Demikian sanubarinya tanya pada dirinya, dalamkeadaan gawat antara nafsu binatang yang menyesatkan pikiran dan kejernihan pikirannya saling bertentangan ini, seluruh badannya menjadi basah kuyup oleh keringat dingin.
Dikala Lu Giok-yau terbius mabuk dan tidur pulas inilah, Hong thian-lui juga sedang gulak gulik tak bisa tidur dikamar tahanannya.
Dalam keheningan malam yang semakin larut ini dari kejauhan ia dengar suara ribut ribut.
Hatinya lantas berpikir .
"Mungkinkah Hek-swan hong meluruk datang lagi ?"
Dia tahu bahwa bangunan Lou-keh-ceng ini sangat besar dan Iuas, meski suara itu kedengaran rada jauh, namun pasti masih didalam lingkungan Lou-keh-ceng.
Sekonyong-konyong dilihatnya sesosok bayangan orang berindap indap memasuki kamar tahanannya, Hong-thian-lui kaget, terdengar bayangan itu berkata lirih .
"Jangan gugup, inilah aku."
Tiba-tiba pandangannya menjadi terang, orang itu sudah menyulut sebuah pelita, kiranya In-tiong-yan adanya. Hong-thian-lui menjadi heran, tanyanya.
"Untuk apa kau datang pada malam begini ?"
"kubawakan obat untuk luka-lukamu. Bagaimana masih sakit tidak lukamu ?"
"Luka luar sih tidak menjadi soal, hanya tenagaku saja yang belum pulih."
"Telanlah pil ini tak lama kemudian tenagamu akan pulih kembali.""Maksudmu aku telah keracunan ?"
"Ya, mereka mencampurkan Siau-kut-san didalam air minuman. Sebelum aku berhasil mencuri obat pernunahnya, tak berani kuberitahu kepadamu."
"Ha, jadi kau curi obat pemunahnya ini ?"
"Benar kucuri dari kamar Liong-siang Hoa-tong. Sulit mencari kesempatan untuk mencuri obat ini diwaktu ia keluar dari kamarnya."
Hong-thian-lui menjadi kaget, katanya.
"Bila konangan, bukankah kau akan kena perkara malah ?"
"Tak peduli lagi. Lekaslah kau telan obat ini, setelah tenagamu pulih, segera kau dapat meloloskan diri."
"Tidak, aku tidak bisa membuat kau kena rembet."
"Jangan bodoh kau, perkara sudah kebacut, obat sudah kucuri, apa kau minta aku menempuh bahaya mengembalikan obat penawar ini lagi ? Legakan, betapapun mereka tidak akan berani mempersukar diriku."
Hong-thian-lui percaya akan kata-katanya terakhir ini, katanya .
"Kalau begitu mari kau ikut aku lari."
"Kenapa ? Jangan kau lupa, aku tuan putri dari Mongol."
Mendengar alasan ini Hong thian-lui menjadi tidak enak untuk membujuk, sesaat ia terlongong, lalu tanyanya .
"Ada terjadi apakah diluar sana ?""Kedengarannya ada orang menyelundup masuk, tapi urusan sudah dapat dibereskan."
"Siapakah yang datang itu ?"
"Katanya dua orang muda mudi. Orang-orang Lou-keh-ceng semula mereka adalah pembunuh gelap, akhirnya baru diketahui bahwa mereka ternyata kenalan dari Cengcu. Sekarang mereka sedang dijamu oleh Ceng-cu, kesempatan ini bisa kaugunakan untuk lari."
"O, kawan Cengcu? tahukah kau siapa-siapa nama mereka ?"
"Kejadian ini cohaptoh yang memberitahu padaku, entahlah siapa nama mereka, Iebih baik kau jangan urus segala tetek bengek."
Perasaan Hong-thian-lui menjadi hambar sahutnya.
"Tidak apa apa cuma tanya saja."
Namun dalam hati ia membatin .
"Muda-mudi mungkinkah perempuan muda itu Giok-yau adanya ? Bila benar dia adanya, tentu yang lelaki itu adakah Khu Tay-seng ? Keluarga Lu bertetangga dalam dua daerah yang berlainan dengan keluarga Lou, tidak perlu heran bila Lou Jin cin kenal mereka. Atau mungkin memang dia adanya yang kemari untuk mencari kabar beritaku ? Ai... lebih baik aku tidak usah ribut memikirkan mereka, masa ada kejadian yang begitu kebetulan ? Selamanya ia jarang keluar pintu, mana dia bisa tahu bahwa aku disini mengalami kesukaran ?""Eeh, apa yang kau pikirkan ?"
Goda In-tiong yan. Selamanya Hong thian-Iui belum pernah bohong namun bagaimana juga jalan pikiran ini tak enak diceritakan pada orang. Keruan merah jengah mukanya, akhirnya ia mengada-ngada.
"Obatmu ini mujarab benar, tenagaku sudah pulih kembali. Nona In, aku menjadi tidak tahu cara bagaimana harus membalas bantuan besar yang kau berikan ini ?"
In tiong yan tertawa, katanya.
"Jadi kau memikirkan hal itu. Kau adalah kawan Hek swan-hong, sudah semestinya aku bantu kau, cukup asal kelak kau ketemu Hek swan-hong sampaikan padanya bahwa Pinghoat itu sudah kuserahkan kepada Sip It-sian, bantuanmu ini akan kuanggap balas budi yang paling setimpal. Tenagamu sudah pulih lekaslah kau berangkat."
"Aku pasti laksanakan pesanmu. Baik, segera aku berangkat."
Setelah berada dipekarangan luar In-tiong-yan berbisik ditelinganya .
"Malam ini giliran Cohaptoh yang jaga malam, baru saja ia berkelahi, melihat tiada kejadian lain, tentu sekarang sudah bermalas-malasan di-dalam kamarnya, legakan hatimu, kau boleh jalan lewat kebon belakang."
Kiranya watak Cohaptoh itu suka suka menangnya sendiri, ketus dan congkak dia harus bersemedi di-tempat yang sunyi untuk menghilangkan sisa racun yang mengeram dalam tubuhnya sudah tentu kejadian ini ia rahasiakansupaya tidak ditertawai orang, maka ia pun tidak mencari wakil untuk mengganti tugasnya.
"Aku pasti hati-hati silahkan kau kembali ..."
Ujar Hong-thian-lui. Tak duga baru saja ia sampai dikaki tembok, sebelum ia melompat naik tiba-tiba terdengar suara dingin menjengek dibelakangnya.
"Tak mungkin lolos kau kembali saja !"
Sungguh kejut Hong thian-lui bukan kepalang.
Ternyata orang itu bukan lain adalah Liong siang Hoatong yang ditakutinya itu.
Tampak Liong siang Hoatong berdiri tegak ditengah pekarangan tanpa bergerak atau memburu maju cukup kedua tangannya terangkat kedepan dan dari kejauhan jari jemarinya mencengkram, kontan Hong thian lui rasakan tubuhnya seperti ditarik orang dan tersedot mundur tanpa kuasa.
Beruntun Liong-siang Hoatong mencengkeram tiga kali Hong thian-lui pun tersurut mundur tiga tindak.
Saking kaget In-tiong-yan menjadi gugup setengah mati, tak tertahan lagi ia menjerit kejut.
Tatkala itu ...
Umong dan Cohaptoh pun sudah memburu keluar.
Baru sekarang Liong siang Hoatong pura-pura melihat kehadiran In-tiong-yan, serunya.
"Eh, Pile kongcu, kenapa kaupun berada disini ...? Cohaptoh lekas antar tuan putri kembali."
Untuk menjaga nama baik In-tiong-yan. Tapi perintahnya itu hakikatnyaadalah menyuruh Cohaptoh mengawasi gerak-gerik selanjutnya. Segera Cohaptoh menjura katanya hormat.
"Tuan putri tak usah khawatir, ada Koksu disini, betapapun bocah keparat itu takkan dapat Iolos. Harap Tuan putri kembali kekamar istirahat."
Setelah tersurut mundur tiga tindak lekas-lekas Hong thian-lui kerahkan tenaga berat Jian-kin-tui, yang ia kerahkan memang hebat, seakan-akan kedua kakinya seperti terpaku dan tumbuh akar diatas tanah.
Tenaga cengkeraman keempat yang dikerahkan Liong Siang Hoa-tong menjadi tak kuasa menggeser kedudukan kakinya lagi, semula Hong-thian-lui tercengkeram mundur tiga tindak dari kejauhan karena obat pemunah dalam tubuhnya belum menunjukan khasiatnya, paling-paling tenaganya baru pulih enam tujuh bagian saja.
O^~dwkz^hendra~^O
Jilid 15 Melihat cengkeraman keempat kalinya tidak menggemingkan tubuh orang, Liong-siang Hoa-tong sendiripun merasa diluar dugaan, batinnya .
"Tak heran Umong pernah kecundang olehnya, bila Lwekangnya sudah pulih seluruhnya, Liong-jiau-jiu yang kulancarkan ini betapapun tidak dapat mengapa-apakan dia, kecuali melabraknya tiada jalan lain untukmembekuknya."
Segera ia kerahkan beberapa lipat tenaganya, jari-jarinya mencengkram ditengah udara dari jarak jauh.
Tubuh Hong-thian-lui hanya bergoyang gontai, sedikitpun kakinya tidak bergeming.
Meski tidak bergeser, namun ia sudah merasa sangat payah, kepalanya basah kuyup oleh keringat.
Terdengar Liong-siang Hoatong tertawa dingin, ejeknya .
"Bocah kau ini bila main kekerasan, aku tidak akan segan lagi membuatmu terluka."
Tepat pada saat itu juga sekonyong-konyong seseorang menghardik keras laksana guntur menggelegar .
"Siapa berani melukai muridku."
Terdengar suaranya orangnyapun sudah meneriang tiba, segulung angin pukulan yang keras dan kuat sekali, laksana gugur gunung menerpa kearah Liong-siang Hoatong.
Liong-siang Hoatong merubah cengkeraman tangan menjadi pukulan telapak tangan, kontan ia dorong telapak tangannya menyongsong serangan musuh, kekuatan pukulannya menderu keras, lapat-lapat terdengar gemuruh geluduk.
Begitu dua tenaga pukulan saling bentrok, jubah kedodoran Liong-siang Hoatong berkembang seperti layar yang dihembus angin badai, orang yang menjadi lawannya itupun bergoyang gontai, kalau dibanding secara kenyataan, kekuatan pukulan Liong-siang-Hoatong masih setingkat lebih menang.Liong siang-Hoatong bergelak tawa, serunya .
"Bi-lek ciang memang tidak bernama kosong, yang datang ini tentu Cin tayhiap adanya. Lolap sudah lama kagum, sungguh kebetulan kedatangan Cin-tayhiap untuk memberi petunjuk."
Seiring dengan gelak tawanya ia kerahkan seluruh kekuatan Liong-siang kang sampai tingkat kesembilan.
Liong-siang-kang memang terbagi sembilan tingkat, tingkat demi tingkat lebih lihay berlipat ganda, bila kekuatan dikerahkan sampai tingkat kesembilan boleh dikatakan sudah mengembangkan Liong-siang-kang pada tingkat tertinggi dan hebat sekali perbawanya, seolah-olah gelombang bergelombang, gelombang yang belakang lebih tinggi dan lebih hebat dari gelombang yang duluan, tak kenal putus lagi.
Liong-siang Hoatong percaya bahwa dirinya mampu untuk merobohkan Cin Hou-siau, tak duga tengah ia girang dan bangga akan pertunjukkan kekuatannya, sekonyong-konyong segulung tenaga menerpa pula dari arah lain, rangsangan tenaga kali ini jauh berbeda dengan Bi-lek-ciang Cin Hou-siau yang mengandung tenaga keras dan kasar itu, sebaliknya tenaga ini adalah sedemikian lunak dan empuk, datang secara mendadak dan tanpa suara lagi.
Meskipun lunak namun kekuatannya ternyata sangat ganas, sambung menyambung menjadi satu, begitu liat dan tak terputuskan.
Begitulah antara keras dan lunak ini masing-masing mempunyai keunggulan dankehebatannya sendiri-sendiri, sama-sama Lwekang tingkat tinggi yang cukup berkelebihan untuk menghadapi dan melawan Liong-siang-kang yang hebat.
Sungguh kejut dan girang pula Hong-thian-lui dibuatnya, hampir ia tidak mau percaya akan pandangan matanya sendiri.
Kiranya dua orang yang beruntun datang dan menghadapi Liong-siang Hoatong ini bukan lain adalah gurunya Cin Hou siau, sedang yang lain adalah ayah Lu Giok-yau yaitu Lu Tang-wan adanya.
"Wi-tit, awas !"
Tiba-tiba Cin Hou-siau berteriak dalam kesibukan tempurnya.
Bicara lambat kenyataan sangat cepat, tahu-tahu Umong sudah menubruk tiba dari samping merangsak Hong-thian-lui.
Beberapa lama ini Hong-thian-lui sudah kenyang dihina dan dianiaya oleh Umong, kinilah saatnya untuk membalas dendam, dengan gusar dia membentak .
"Anjing Tartar...! Berani kau menghina aku...!"
Begitu membalik tangan ia labrak Umong habis-habisan.
Pukulan tangan Hong-thian-lui ini cukup membuat pergelangan tangan Umong sakit, keruan kagetnya bukan main, tapi terasa olehnya kekuatan pukulan lawan jauh berkurang dibanding dulu, setelah rasa kejutnya hilang nyalinya semakin besar.
Dalam hati ia berpikir.
"Kiranya tuan putri memang benar telahmencuri obat pemunahnya. Untung Lwekangnya belum pulih seluruhnya, seumpama tidak bisa menang dalam waktu dekatpun takkan bisa terkalahkan olehnya. Nanti setelah Suhu membereskan kedua lawannya yang tua-tua itu, pasti dapat membekut keparat ini pula... ."
Segera ia pusatkan perhatian dan melimpahkan semangatnya untuk menempur Hong-thian-lui dengan sengit, benar juga sekian lama ia bertahan dan bertempur dengan seru sulit dibedakan siapa bakal unggul atau asor.
Menurut anggapan Umong Suhunya pasti bisa, diluar tahunya justru Liong-siang Hoatong sedang mengeluh.
Dengan kekuatan gabungan Cin Hou-siau dan Lu Tang-wan, masing-masing mainkan kekerasan dan kelunakan, kekuatannya menjadi berlipat ganda.
Meski Liong-siang Hoatong sudah kerahkan Liong-siang-kang sampai tingkat kesembilan toh masih terdesak dibawah angin.
Pengetahuan silat In-tiong-yan sudah cukup tinggi, sekali pandang saja ia tahu, bahwa betapapun Liong-siang Hoatong tidak gampang bisa menang maka dengan lega hati ia memutar tubuh, pikirannya Hong-thian lui malam ini pasti berhasil meloloskan dengan tertawa dingin ia menjengek.
"Aku sendiri bisa jalan tak perlu kau jaga aku."
Ia tinggalkan Cohaptoh dan masuk kedalam seorang diri.
Cohaptoh menjadi melongo ditempatnya, tak tahu ikut masuk kedalam atau harus membantu Umong.Meskipun tadi ia mendapat perintah dari koksu, namun kata-kata Tuan putri masa dia berani membangkang.
Tengah ia sangsi dan kebingungan mendadak didengarnya orang berteriak.
"Lu toako, putrimu juga ada disini, lekas datang, lekas datang!"
Disusul seorang lainpun berteriak.
"Hayo kemari lekas ada musuh!"
Orang yang berteriak ''Lu-toako"
Adalah Sip It sian.
Seorang yang lain adalah Lou Jin cin.
Mendengar suara panggilan Lou Jin-cin ini Cohaptoh jadi punya alasan untuk segera memburu kearah sana.
O^~dwkz^hendra~^O Dalam pada itu Cin Liong hwi seorang diri berada didalam kamar Lou Jin-cin memandangi Lu Giok yau yang terpulas diatas ranjang, tengah hatinya dak dik-duk dan gelisah, disaat batin kemudian ia berperang nafsu kebinatangannya, sekonyong konyong jendela kamar itu terbuka sendiri tanpa ada angin menghembus, segulung pasir ditimpukan masuk kekamar, Cin Liong hwi terperanjat.
"Siapa?"
Bentaknya. Orang itu tidak bersuara, sebaliknya Luo Jin-cin membentak keras.
"Maling bernyali besar, kemana lari!"
Kiranya Cin Hou siau, Lu Tang-wan, Ling Tin dan Sip It-sian bersama tiba di Lou kehceng, empat orangini berpencar membuat penyelidikan sendiri-sendiri.
Secara kebetulan Sip It-sian menyelundup masuk keruang belakang bagian kamar-kamar tidur secara kebetulan pula ia pergoki perbuatan Cin Liong hwi.
Melihat Cin Liong hwi menjublek berdiri didepan ranjang, seakan-akan tidak berani turun tangan berbuat pelanggaran susila, maka iapun tidak membuatnya terlalu runyam, cukup ia taburkan segenggam pasir untuk memberi peringatan saja.
Begitu ia taburkan segenggam pasirnya itu, dua orang didalam dan diluar kamar terkejut.
Orang yang didalam kamar adalah Cin Liong hwi sedang yang diluar adalah Lou Jin cin yang berjaga diluar.
Lou Jin cin bekas begal tunggal dari golongan hitam yang sudah punya pengalaman kangouw puluhan tahun, segala permainan kasar halus atau kelicikan dunia persilatan sedikitpun tidak bisa mengelabui matanya, kali ini ternyata sampai digerayangi Sip It-sian sampai kekamar tidurnya tanpa diketahui sebelumnya, keruan kagetnya bukan main, sebab sekali ia menubruk kearah bayangan hitam yang muncul di bawah jendela sana.
Untuk lari lagi Sip It sian adalah segampang membalikkan tangan, namun Lu Giok-Yau masih berada dimulut harimau, dia sendiri tidak tahu apa akibatnya taburan segenggam pasirnya itu, mana dia berani tinggal pergi tanpa kuatir sedikitpun?
Apalagi setelah ia melihat jelas adalah Lou Jin cin yangmeluruk pada dirinya hatinya semakin curiga dan heran, lapat terasa olehnya bahwa urusan agaknya jauh lebih buruk seperti apa yang dibayangkannya tadi.
Bagaimana mungkin Cin Liong hwi melakukan perbuatan tercela yang memalukan ini?
Bagaimana pula Lu Giok yau bisa terpulas diatas ranjang Lou Jin cin?
Apakah Cin Liong-hwi bocah ini sudah tersesat dan menyeleweng?
Menjadi begundal Lou Jin cin?"
Belum lenyap jalan pikirannya, terasa angin keras menyampok dating, kiranya Lou Jin cin sudah menubruk tiba sambil kirim pukulan dahsyat, belum lagi orangnya tiba kim khong ciang sudah menggetar mundur tubuhnya.
"Biarlah aku melibatnya disini."
Demikian pikir Sip It-sian, setelah ambil keputusan dengan gaya Ui-ho-cong-sian (bangau terbang menembus langit) kakinya menjejak tanah, tubuhnya lantas melambung tinggi melampa di atas rumah untuk menghindari pukulan Lou Jin-cin ini.
Lou Jin cin membentak lagi.
"Maling kecil menggelundunglah!"
Berbareng tangannya mencomot sebuah genteng terus dicengkeramnya hancur beberapa keping kontan ia sambitkan senjata rahasia cadangan ini ke arah Sip It sian, Ginkang Sip It sian memang hebat, kepandaiannya sejati justru sangat rendah diatas atap ia kembangkan kelincahan tubuhnya meski tidak kena kesambit tak urung kakinya jadi tidak bisa berdiri tegak, akhirnya terpaksa harus loncat ketanah kembali.Setelah melihat tegas yang dihadapi ini adalah Sip It sian, Lou Jin cin sendiri juga terkejut batinnya.
"Keparat ini sangat lihay selulup timbul laksana dewa elmaut kalau tidak ungkulan tinggal lari, mungkin aku tidak mampu meringkus dia, tapi bagaimana juga aku pantang membuatmu lolos meninggalkan rumahku ini."
Sebaliknya Sip It-sian juga sedang berpikir.
"Untuk melawan jelas aku bukan tandingannya, siapakah yang harus kupanggil untuk membantu?"
Betapapun ia masih sayang dan prihatin pada Cin Liong hwi bila sampai diketahui perbuatan puteranya yang tercela ini oleh Cin Hou Siau, mungkin beliau bisa memukulnya sampai mampus.
Akhirnya, ia berkeputusan pura-pura hanya menemukan jejak Lu Giok-yau seorang, dan memanggil ayahnya yaitu Lu Tang-wan.
Disaat ia berteriak memanggil Lu Tang wan supaya lekas datang itulah bertepatan pula dengan teriakan Lou Jin-cin memanggil orang minta bantuan.
Begitu mendengar suara Sip It-sian yang sedang memanggil Lu Tang-wan, serasa arwah Cin Liong-hwi copot dari badan kasarnya, takutnya bukan main.
Pikirnya.
"Jangan sampai aku kepergok olehnya ayahnya disini. Apalagi bila sampai mereka ayah beranak bertemu bualanku tentu terbongkar, bagaimanakah baiknya?"
Sebetulnya otaknya cerdik berpikir, sedikit mengerut kening segera terpikir sebuah akal olehnya.
Disaat Lou Jin-cin mengundak dan menempur Sip It sian, dan Lu Tang-wan belummemburu tiba segera ia jinjing tubuh Lu Giok-yau yang masih tertidur pulas itu terus meloncat keluar dari jendela belakang, dengan berindap-indap ia melompat keluar dari kebon belakang terus melarikan diri.
Pekarangan gedung Lou Jin-cin ini sangat luas ada beberapa gunung gunungan palsu yang tersebar dimana-mana dengan lari mengitari gunung-gunungan palsu ini ia ajak Lou Jin cin bermain petak.
Sebagai maling sakti nomor satu diseluruh dunia sudah tentu Sip It sian sangat jeli kupingnya tajam luar biasa.
Malam ini cuaca sangat gelap anginpun berembus agak keras ada gunungan palsu pula yang mengelilingi pandangan matanya dia tidak melihat bahwa Cin Liong-hwi sudah membolos keluar dan melarikan diri tapi Cin Liong-hwi lari sambil memanggul seorang derap langkahnya yang berat itu jelas terdengar oleh ketajaman kupingnya, tapi dia tidak berani pastikan apakah benar Cin Liong hwi adanya.
Tengah ia berusaha membebaskan diri dari libatan Lou Jin-cin dan mengejar kesana, bantuan pihak Lou Jin-cin sudah keburu tiba.
Itulah isyarat Lou Jin cin dan empat dayangnya.
Nyonya bawel ini bersama Thio Jay-giok, asalnya seorang begal perempuan pula.
Sebelum menikah dan menjadi gundik Lou Jin-cin, pernah satu kali bekerja sama dengan Sip It-sian, melakukan dagang tanpa modal (merampok), yang dirampok adalah penjabat korup.Begitu melihat Sip It-sian, Thio Jay-giok lantas cekikak cekikik tertawa genit serunya.
"Kukira siapa, ternyata kau, ketika sama golongan dan sehaluan kenapa kau malah menggerayangi milik suamiku malah?"
Sip It-sian tertawa dingin, jengeknya.
"Aku hanya mencuri harta benda, tak seperti kalian suami istri, bisa mencuri perawan orang lain."
"Jadi kau bukan jadi maling malam ini. Membongkar rahasia maksudmu?"
"Benar, bila kau bicara demi kepentingan golongan, lekas kau serahkan putri Lu Tang-wan padaku ! Hm, kau tahu tidak, lawan sudah datang."
Thio Jay-giok pura kaget dan sesambatan seperti penasaran, serunya.
"Sip It sian darimana kau dengar kabar angin ini. Seumpama nyaliku setinggi langit juga tidak berani mencari perkara dengan Lu Tang-wan."
"Kabar angin apa ?"
Semprot Sip It-sian gusar.
"mata kepalaku sendiri yang melihat kenyataan."
Thio Jay-giok menggeleng kepala, sahutnya.
"Tak pernah terjadi, mungkin kau salah lihat orang."
Sip It-sian tersentak sadar, pikirnya.
"Mungkinkah perempuan bawel ini main ulur waktu untuk memberi kesempatan kaki tangannya menyembunyikan nona Lu serta suruh Cin Liong hwi melarikan diri ?"
Rekaannya ini memang benar separo.Cin Liong-hwi melarikan diri menggondol Lu Giok yau meski bukan mendapat petunjuk mereka suami istri, namun memang mendapat bantuan perempuan bawel ini secara diam diam.
Dia tahu bahwa Cin Liong-hwi melarikan diri, dan karena ia memberi perintah sehingga Cin Liong-hwi dapat leluasa melarikan diri tanpa mengalami rintangan sedikitpun.
Kalau tidak mengandal Ginkang Cin Liong hwi, memanggul seorang lagi, mana mungkin dia berhasil lolos keluar dari Lou keh ceng !
Dapat membongkar kelicikan orang, Sip It sian tertawa dingin, jengeknya.
"Baik, kau kata aku salah lihat orang. Kalau begitu ingin aku melihat lebih tegas malah."
Terdengar angin menderu kencang kiranya Thio Jay giok telah mengirim cemeti panjang ditangannya merintangi jalannya, serunya.
"Kau tidak percaya ucapanku, jangan salahkan aku tidak bicara mengenal aturan lagi. Hehe, kau sendiri yang tidak menurut aturan, setelah datang kau tidak bertandang secara wajar malah menyelundup mencari perkara. Masa aku harus membiarkan kau seenaknya saja pergi datang? Kalau kau tahu diri silakan turun dan minum arak dan istirahat didalam suka mari bicara secara blak-blakkan."
Mulutnya bicara namun tangannya tetap menggerakkan senjata, serangannya semakin gencar malah.
Bila hanya menghadapi salah satu diantara suami istri Lou Jin-cin untuk meloloskan diri, dan lari bagi Sip It sian adalah semudah membalikkan tangannamun di bawah kerubutan kedua orang ini dia menjadi kerepotan dan tidak mampu lari lagi.
Namun Sip It-sian pandai mencari kesempatan dan dapat bergerak lincah dalam suatu kesempatan diperolehnya suatu lobang kelemahan musuh, ia berhasil bolos keluar dari celah-celah kelemahan serangan kedua suami istri ini.
Tak duga baru saja ia berhasil loncat turun dari gunung-gunungan palsu, tampak bayangan orang berkelebatan, bebareng beberapa buah pecut panjang rnenari-nari disekitar badannya.
Menerobos ketimur kebarat keselatan atau ke timur selalu kebentur oleh libatan pecut panjang musuh, suara cemeti saling bersahutan ditengah udara menambah suasana pertempuran semakin riuh rendah.
Kiranya keempat dayang Thio Jay giok sejak tadi sudah sembunyi di empat penjuru, memang mereka khusus disiapkan untuk merintangi Sip It-sian bila dia berhasil lolos.
Keempat dayang ini memiliki kepandaian yang lumayan, biasanya mereka terdidik langsung olek suami istri Lou Jin cin, keempat pecut panjang mereka dapat bergerak begitu tapi bekerja sama rapat sekali, tiada sedikit pun lobang kelemahannya.
Dalam waktu dekat betapapun tinggi Ginkang Sip It-sian, ia menjadi mati kutu tak mampu melarikan diri lagi.
"Ikan sudah masuk jala, masih ingin lari lagi?"
Terdengar Lou Jin cin mengejek dari luar kalangan.
Cepat mereka suami isteri merabu lagi bersama,keempat dayangnya segera mundur dan berpencar keempat penjuru lagi.
Tapi pecut masing-masing masih dimainkan secepat kitaran untuk mengepung jalan keluar Sip It sian seolah-olah mereka sudah membentuk sebuah barisan pecut panjang.
Pertempuran kali ini dilakukan ditanah lapang, tak bisa menggunakan alingan gunung-gunungan palsu lagi, sekejap saja kepungan semakin diperketat.
Dilain pihak, dari teriakan Sip It sian itu, tahu Lu Tang-wan bahwa dua orang telah menemukan putrinya disana, keruan kaget dan gugup benar hatinya.
Kejutnya bukan karena tidak tahu cara bagaimana putrinya bisa disarang Lou Jin cin, yang dia gugup justru karena musuh ternyata begitu tangguh meski dikeroyok bersama Cin Hou-siau, paling paling mereka baru sedikit diatas angin.
Liong siang Hoatong ini sungguh hebat, bila dirinya tinggal pergi kesana mungkin Cin hou siau tak mampu bertahan lagi.
Tapi Cin Hou-siau tahu akan kegugupan orang, segera ia berkata.
"Menolong putrimu lebih penting, lekaslah pergi !"
Sekonyong konyong ia gertak gigi beruntun ia melancarkan tiga gelombang pukulan Bi-lek-ciang, sungguh dahsyat perbawa kekuatan pukulan tiga berantai ini, seolah-olah angin topan dari prahara telah memberondong tiba sekaligus, betapapun liehay dan dalam Lwekang Liong siangHoatong, ia tak kuasa menyambut ketiga pukulan dahsyat ini, beruntun ia tersurut mundur tiga langkah.
Kesempatan tidak boleh disia-siakan, sebat sekali Lu Tang-wan segera melompat mundur dari kalangan pertempuran, tanpa pikir ia berseru.
"Saudara Cin, aku pergi sebentar, segera aku kembali!"
Cohaptoh sedang berlari kencang kedepan.
Sekonyong-konyong Lu Tang wan memberosot lewat dari sampingnya sembari memukulkan telapak tangannya kebelakang, Cohaptoh mana kuat menahan kekuatan pukulannya, kontan ia terjengkang roboh terguling, untung tenaga dalamnyapun tidak lemah, Lu Tang-wanpun hanya menggunakan Bik-khong-ciang lat, meski bantingannya cukup keras, untung ia tidak terluka berat.
Sementara Cohaptoh merangkak bangun, terdengar Liong siang Hoatong berteriak.
"Umong, lekas kalian susul ke sana!"
Karena melihat Umong kewalahan melawan Hong-thian lui, dia sangka dengan kekuatan dirinya kiranya cukup berkelebihan menghadapi keroyokan Cin Hou-siau dan Hong-thian lui.
Sebaliknya belum tentu Lou Jin-cin kuat melawan Lu Tang wan maka segera ia perintahkan Umong menyusul kesana memberi bantuan.
Sebenarnya Umong memang sedang terdesak dan keripuhan, sungguh sangat kebetulan pesan gurunya ini gesit sekali ia mengundurkan diri.
Disebelah sana Liong siang Hoatong telah lancarkan pula Liong-siangkang sampai tingkat kesembilan.
Cin Hou siau dan Hong-thian lui segera terlibat dalam lingkungan kekuatan angin pukulannya yang hebat itu.
Kedatangan Lu Tang-wan tepat pada waktunya, melihat Sip It sian terkepung dalam barisan pecut musuh segera ia melabrak dengan kedua pukulannya.
Bentaknya.
"Lou-Jin cin, berani kau aniaya putriku ya?"
Seiring dengan suaranya angin pukulannyapun memberondong tiba, sekali hantam ia serang kearah Lou Jin-cin.
Lou Jin-cin membalikkan tangan mencengkeram kebelakang.
Cengkeramannya ini mengandung delapan macam perobahan termasuk tekan tepuk telikung jelentik cengkeram sobek dan cengkeram, sewaktu-waktu dapat diubah menurut kemauan dan keadaan.
Sungguh merupakan Tay-kim-na-jiu hoat dari pecahan Eng-jiau jiu yang sangat lihay sekali.
Waktu pukulan Lu Tang wan mendadak merubah sasaran di tengah jalan, ia ganti pukulan In ciang menjadi pukulan Yang ciang yang kokoh kuat dan kasar, telapak tangannya terarah kedepan dan jari-jari terkembang, seperti menatap laksana mengunci, diam-diam jari tengahnya teracung kedepan, tepat mengarah jalan darah Lou khong hiat ditelapak tangan musuh.
Kontan segulung tenaga lunak yang mengandung kekuatan dahsyat mengalir keluar dan menerpa kedepan tanpa bersuara kearah musuh.Namun Lou Jin-cinpun seorang ahli silat yang cukup punya pengalaman luas, sudah tentu cengkeramannya tidak berani dilanjutkan.
Ternyata Lu Tang wan sudah lancarkan pukulan Ban-ciang yang sudah sempurna latihannya, kelihatannya jurus serangannya itu sepele dan gampang saja seperti main kembangan dibanding cengkeraman Lou Jin cin yang mengandung delapan macam perubahan yang rumit itu.
Tapi permainan yang sepele ini justru sangat lihay dan menakjubkan, cukup dengan sejurus tipu yang sederhana ini, berkelebihan untuk mengatasi rangsakan balasan Lou Jin cin yang mengandung delapan perubahan itu.
Pukulan Lan ciang bila dilatih sempurna sampai tingkat yang tertinggi, sekali tepuk saja cukup membuat batu keras menjadi tepung.
Lou Jin-cin memaklumi kelihayan ini.
Bila adu kekerasan seumpama dirinya kalah tenaga dalam akibatnya justru lebih parah, seumpama tidak tewas juga pasti luka parah.
Maka sebat sekali iapun tunjukan permainan pukulan tangannya yang lihay, dengan sodokan sikut dan kebasan lengan bajunya ia punahkan serangan tenaga musuh terus mundur beberapa langkah dan berdiri diam menanti dengan siap siaga.
Melihat orang dapat melayani pukulannya begitu sempurna diam diam Lu Tang wan rada terkejut mau tak mau berpikir.
"Bangsat ini dulu malang melintangdi Kangouw. Kepandaiannya cukup lihay, aku tidak bisa memandang ringan padanya. Tapi untuk mengalahkan dia, mungkin harus memakan waktu sampai ratusan jurus kemudian."
Karena pikirannya ini, sekonyong-konyong ia melesat lewat dari samping tubuh Lou Jin-cin!
Gerakan kedua belah pihak sama sama cepat, dalam tempo sekilas kilat berkelebat, dikata lambat terjadinya begitu cepat, melihat orang memberosot lewat kontan istri Lou Jin-cin mengayun cambuknya.
"Wut"
Ujung cambuknya menggulung kearah kaki Lu Tang wan. Tubuh Lu Tang-wan masin terapung di tengah udara segera jumpalitan dan untuk membebaskan diri seraya menjentik jari tengah.
"Cras"
Ujung cambuk kena keselentik mental balik meluncur turun ketanah berbareng kakinya lantas menginjak kebawah, tepat sekali menindih ujung cambuk istri Lou Jin cin.
Lou Jin cin tersipu sipu memburu maju menolong, gerakkan kedua belah sama gesit, begitu kakinya berhasil menginjak cambuk lawan, berbareng tubuh Lu Tang wan terus mendak kebawah sembari mengulur tangan meraih, terdengar suara orang menjerit kesakitan, tulang pundak seseorang telah sekali kena dicengkeram terus menjinjing tinggi-tinggi.
Semula Lou Jin cin terkejut, namun detik lain ia tertawa gelak gelak malah, serunya.
"Lu Tang-wan,kenapa kau aniaya dayangku, terhitang orang gagah macam apa kau ini."
Ternyata tujuan Lu Tang-wan hendak membekuk istri Lou Jin cin, namun Thio Jay-giok cukup licin dan licik, cepat ia buang senjata cambuknya sembari melejit kesamping berbareng ia tarik dan dorong seorang dayang disampingnya, sehingga kesayangannya ini, menjadi korban cengkeramannya Lu Tang-wan, keruan dongkol dan gemes pula Lu Tang-wan dibuatnya.
"Dimana putriku? Bila tidak kau serahkan, aku orang she Lu akan membuat perhitungan habis habisan pada kau!"
"Yang kau ringkus hanyalah dayangku masa harus kuganti dengan putrimu ? Apakah kau tidak terlalu rendah menilai putrimu sendiri ?"' demikian ejek Lou Jin cin sambil tertawa menyeringai, berbareng ia merangsak maju pula dengan serangan telapak tangan dan tutukan jari yang berbahaya, sedikitpun ia tidak hiraukan mati hidup dayangnya lagi. Lu Tang wan kuatir melukai sidayang malah, segera ia babatkan tangannya kesamping melemparkan tubuh sidayang keluar kalangan sejauh tiga tombak, bentaknya.
"Kau sangka aku tidak mampu meringkus istri bawelmu ini ?"
Tiba-tiba tubuhnya melejit maju seperti bayangan mengikuti bentuknya, ia kejar kearah Thio Jay-giok.
Setelah kehilangan cambuk panjangnya, Thio Jay-giok menjadi bertangan kosong dan tidak mampu melawan.Cepat Lou Jin-cin harus mengudak tiba menolong, beruntun ia melancarkan tujuh pukulan berantai, namun semua terpaut beberapa senti dari sasarannya, ujung baju Lu Tang-wan saja ia tidak mampu menyentuhnya.
Karena kerepotan menghadapi rangsakan Lu Tang-wan, Lou Jin-cin suami istri tak sempat lagi merintangi Sip It-sian.
Begitu lepas dari kepungan segera Sip It-sian melesat menuju kekamar Lou Jin-cin.
Seketika timbul akal Lou Jin-cin, bentaknya.
"Sip It-sian, betapa tinggi kepandaianmu berani kau menerjang masuk kedalam kamarku ! Hehe, kebetulan aku bisa menjebak sibulus masuk perangkap."
Tanpa membantu istrinya mengerubut Lu Tang-wan sebaliknya ia putar tubuh terus mengejar ke arah Sip It-sian.
"Lu Tang-wan,"
Terdengar Thio Jay-giok mengolok dengan suara yang menyebalkan.
"Kau selalu mempersukar pada nyonya orang lain, apa kau tidak hiraukan lagi badan suci putrimu?"
Beberapa gebrak lagi pasti Lu Tang-wan berhasil membekuk Thio Jay-giok serta mendengar olok-olok itu ia menjadi terkejut, batinnya.
"Sip It sian hendak menerobos masuk kekamar itu, apakah putriku berada di-sana? Mereka hendak menodai kesucian anak Yau ?"Lou Jin-cin mengejar Sip It-sian hanyalah tipu belaka untuk menolong kebebasan istrinya. Sudah dalam perhitungannya bahwa Lu Tang-wan pasti tidak akan tinggal diam. Betul juga Lu Tang-wan kena digebrak olehnya, segera ia putar balik tanpa perdulikan istrinya lagi. Sip It-sian sedang mendorong pintu, teriaknya.
"Lu toako, kau gebah mereka saja, biar aku yang periksa kedalam."
Soalnya ia belum berani memastikan apakah Cin Liong hwi benar sudah melarikan diri, kuatir kepergok oleh Lu Tang-wan, seumpama Lu Tang-wan tidak mencabut nyawanya, mungkin ayahnya sendiri yang akan membunuhnya.
Bila ia masuk lebih dulu, tentu berkesempatan menyuruh Cin Liong-hwi sembunyi atau melarikan diri untuk melindungi jiwanya.
Dari sebelah belakang Lou Jin cin berteriak.
"Sip It sian akan masuk, sambut dengan senjata rahasia !"
Dia sudah tahu bahwa Cin Liong-hwi sudah melarikan diri namun sengaja pura-pura berteriak seolah-olah didalam ada orang, sehingga Lu Tang-wan harus mengudak lebih cepat lagi.
Dengan langkah lebar Lu Tang wan menyusul kedepan.
"Wut"
Kontan ia hantam Lou Jin-cin sampai tergentak mundur tiga tindak, bentaknya.
"Seujung rambut saja putriku kena cidera, awas jiwa anjingmu !"Setelah berada didalam kamar terlihat oleh Sip It-sian jendela sebelah belakang sudah terpentang lebar, kamar itu kosong melompong, baru sekarang ia sadar.
"Kiranya suara yang kudengar tadi benar adalah derap lari Cin Liong-hwi yang memanggul Lu Giok-yau!"
Belum lagi ia sempat menutup lagi jendela itu, Lu Tang wan sudah memburu masuk.
"Mana putriku ?"
Tanya Lu Tang-wan. Tergerak hati Sip It-sian, dasar cerdik segera ia menunjuk jendela dan menjelaskan.
"Mungkin putrimu sudah lari lewat jendela itu."
"Adakah kau tadi lihat dalam kamar ini... ada orang lain ? Apakah putriku kena dibelenggu ?"
Demikian tanya Lu Tang-wan lebih tegas.
"Agaknya Lou Jin-cin tidak berani terlalu menyiksa putrimu, dia hanya dikurung dalam kamar ini belaka. Akupun tidak melihat orang lain, mungkin ada orang gagah dari mana yang secara kebetulan telah menolong putrimu."
Demikian Sip It-sian menjelaskan lebih lanjut dengan mengada ada.
Maklum Sip It-sian punya hubungan kental sejak leluhur mereka dengan keluarga Cin.
Apalagi Cin Liong-hwi belum terbukti melakukan perbuatan tercela, demi melindungi nama baik keponakannya; apa boleh buat terpaksa ia berbohong mengarang cerita.
Lu Tang-wan rada lega, pikirnya.
"Kiranya Lou Jin-cin hanya menggertak aku belaka. Entah darimanaanak Yau mendapat kabar bahwa Hong thian-lui kena disekap di rumah keluarga Lou ini sehingga kemari mencari tahu, dan kena dibekuk oleh mereka, tujuannya tak Iain sebetulnya ingin menjadikan anak Yau sebagai sandera."
Belum lenyap pikirannya terdengar suara gelak tawa Lou Jin-cin diluar, serunya.
"Lu Tang-wan, putrimu sudah lari, dan jangan harap kau sendiri bisa lari."
Maka terdengarlah suara "Clap clep"
Berulang diatas dinding papan kamar, dari depan dan belakang luar jendela banyak anak panah melesat serabutan kedalam kamar.
Kiranya Lou Jin cin sudah memendam belasan orang pemanah diluar kamar untuk mengepung dengan rapat.
Betapa tinggi kepandaian Lu Tang wan, masa begitu gampang kena dilukai oleh panah itu ?
Seenaknya saja ia meraih kearah ranjang mencopot sehelai selimut terus ditarikan dengan kencang, seketika hujan panah bertaburan diatas lantai, tiada sebatangpun yang mengenai dirinya.
Celaka bagi Sip It sian yang tiada mempunyai kepandaian silat sejati itu terpaksa ia harus berjongkok mepet dinding, dimana tempat sembunyinya tidak sampai kena sambitan panah.
Tanpa sengaja Sip It-sian menjemput sebatang panah tampak ujungnya yarg runcing itu berwarna hitam mengkilap, waktu diendus didepan hidungterasa berbau amis yang cukup keras, tanpa merasa mulutnya lantas berteriak kejut.
"Awas ! Panah itu beracun!'' "Benar! Itulah panah beracun!"
Dengar seorang berseru menanggapi sambil bergelak tawa, itulah Lou Jin cin yang sedang memberi aba aba kepada anak buahnya, serunya pula.
"Kalau berani marilah silahkan terjang keluar, kutanggung cukup tertoblos satu batang saja, kalian kontan melayang!"
Mengandal kepandaian Lu Tang-wan yang hebat itu mungkin ia masih mampu menerjang keluar dari hujan panah serangan musuh.
Tapi tidak mungkin Sip lt sian bisa lolos.
Berapapun cepat dan tinggi Ginkangnya masa bisa melebihi kecepatan anak panah ?
Dibawah berondongan puluhan panah sekaligus, bukan mustahil satu diantaranya bisa mengenai dirinya.
Sip It-sian segera berkata.
"Lu toako, terjanglah keluar, tak usah kau hiraukan aku!'' Lu Tang-wan tertawa getir, sahutnya.
"Dua kepalan susah melawan empat tangan musuh, aku sendiri juga tidak punya pegangan dapat selamat menerjang keluar. Sip heng, bencana ini harus dapat kita tanggulangi bersama, jangan kau bicara begitu sungkan. Sekarang terpaksa kita hanya mampu main ulur waktu saja!"
Dikala Lu Tang wan terkurung dan Sip It-sian terkurung didalam kamar itulah secara kebetulan Hek-swan-hong dan Geng Tianpun sudah menyelundup masuk kedalam rumah Lou Jin cin.
Letak pertempuran Cin Hou siau melawan Liongsiang Hoatong dipekarangan bagian belakang, sedang kamar tidur Lou Jin cin ini terletak di depan rumah bagian barat, bangunan gedung Lou keh ceng ini sangat besar, jarak antara kedua pekarangan ini paling tidak juga ada satu li jauhnya.
Begitu berada dipekarangan Lou-keh ceng segera Hek-swan hong memasang kuping mendengarkan dengan cermat, katanya.
"Dibagian timur dan barat sama ada orang sedang bertempur kemana dulu kita harus menuju?"
Tiba tiba Geng Tian berkata tertahan.
"Ada orang dating !"
Belum lagi lenyap suaranya, dari sebelah sana sudah terdengar seorang membentak.
"Bocah keparat yang bernyali besar, kiranya kau adanya!'' cepat sekali Geng Tian sudah melompat turun dari atas tembok terus bergebrak dengan orang itu. Ternyata pendatang ini bukan lain adalah Cohaptoh dan Umong. Mereka datang dari belakang menuju kedepan untuk memberi bantuan kepada Lou Jin-cin dua belah pihak tanpa sengaja bentrok ditengah jalan. Malam itu waktu Geng Tian berbicara dengan In tiong yan didalam hutan, Cohaptoh dan Umong datang menyambut kedatangan tuan putrinya, maka mereka kenal pada Geng Tian.Geng Tian berjuluk San-tian-jiu atau si tangan kilat, sudah tentu cara turun tangannya cepat luar biasa, begitu saling gebrak pada babak pertama ia sudah lantas berhasil menutuk Umong. Sementara Cohaptoh keluarkan kepandaian ilmu gulatnya, sekali cengkeram ia jinjing Geng Tian terus hendak disengkelit dengan gaya Kiam-jiu-sek, kejadian adalah begitu cepat, sebelum Geng Tian kena terbanting dan tubuh masih terayun di tengah udara secepat angin lesus Hek swan hong telah menubruk tiba sekali hantam dengan pinggir telapak tangannya membacok leher Cohaptoh. Tapi belum lagi bacokan telapak tangannya mengenai sasarannya, Cohaptoh sudah tersungkur kedepan. Kiranya bagi pemain gulat yang menggunakan gaya Kiam jiu-sek ini cara geraknya harus cukup ganas telak dan cepat, dengan kombinasi gerak yang sekaligus dilancarkan baru akan berhasil merobohkan musuh, yang penting tidak memberi kesempatan bagi musuh untuk balas menyerang. Tubrukan Hek swan-hong dengan serangan mengerah leher itu betapapun telah mengejutkan hatinya sehingga konsentrasinya terbuyar, secara reflek ia bergerak untuk berkelit, pula disaat itu ia sedang menjinjing tubuh Geng Tian yang punya julukan sebagai si tangan kilat pula, belum lagi ia terbanting ditanah, telunjuk jarinya lebih dulu sudah berhasil menutuk jalan darah Hoan-thiau-hiat didengkul Cohaptoh.Hek-swan-hong lantas bergelak tawa, serunya.
"Saudara Geng, hebat kau, kemana tidak mengalah diberikan satu padaku."
Belum lenyap suaranya tiba-tiba Geng Tian berteriak.
"Awas!"
Kontan Hek-swan hong membalikkan telapak tangannya memukul kebelakang.
"Blang !"
Ia pukul pembokong itu terpental mundur tiga langkah.
Orang yang membokong dari belakang ini bukan lain adalah Umong.
Kiranya sebagai murid terbesar Liong-siang Hoatong, Umong punya kepandaian yang cukup tinggi terutama Lwekangnya sangat lihay, setelah kena tertutuk oleh Geng Tian lekas-lekas ia berusaha mengerahkan tenaga menjebol dan berhasil membebaskan diri dari pengaruh tutukan yang melemaskan badan itu, secara kebetulan jalan darahnya terbebas diwaktu Hek-swan-hong menubruk datang tadi.
"Bagus !"
Bentak Hek-swan-hong.
"Kemaren malah kau mengandal tenaga banyak orang mengeroyok aku, sekarang marilah kita tentukan siapa jantan dan siapa betina."
Umong sudah pernah merasakan kelihayan Hek-swan-hong, satu lawan satu belum tentu dirinya menang apalagi pihak Hek-swan-hong masih ada Geng Tian, pula Geng Tian yang telah berhasil menutuk jalan darahnya dalam satu gebrak saja, tahu dia bahwa kepandaian Geng Tian tentu tidak lemah, kemungkinan lebih lihay dari Hek swan-hong, karenagentar mana berani ia menentukan antara jantan atau betina lagi ?
Tanpa bicara lagi segera ia putar tubuh terus ngacir sambil menjinjing tubuh Cohaptoh, sambil lari segera mulutnya berkaok-kaok memanggil bala bantuan.
Hek-swan-hong dan Geng Tian menguatirkan keselamatan Hong-thian-lui, tiada banyak waktu untuk mengejar lagi.
Kata Geng Tian .
"Didengar dari suara pertempuran dari arah barat dan timur itu agaknya melulu satu dua orang yang lagi berkelahi. Kuduga mungkin ada orang lain yang datang pula untuk menolong Ling toako."
"Baik, mari sekarang kita berpencar untuk memberi bantuan pada mereka....."
Segera Hek-swan-hong mengusulkan.
"Begitupun baik. Kau ketimur dan aku ke barat!"
Demikian sahut Geng Tian.
O^~dwkz^hendra~^O Tatkala itu Lou Jin-cin sedang kesenangan memimpin para pemanahnya untuk mengepung dan menghujani anak panah kearah Lu Tang wan berdua yang terkurung didalam kamar, terdengar ia berseru takabur.
"Lu Tang-wan sampai kapan kau mampu bersembunyi. Hehe, apakah selama hidup ini kau ingin menjadi kura kura yang menyurutkan kepala kedalam batoknya?''Lu Tang-wan menjadi gusar, makinya.
"Bangsat tua macam kau pintarmu cuma menggunakan akal licik dan rendah. Berani kau takabur dan mengagulkan diri? kau sangka aku tidak mampu berbuat apa apa atas dirimu ?"
"Ya, kau punya keberanian mari silahkan keluar!"
Tantang Lou Jin cin.
"Lu toako!"
Seru Sip It sian gugup.
"Jangan kau tertipu olehnya! Coba lihat! Hah ada orang datang!"
Tengah Lou Jin cin kegirangan, mendadak dilihatnya sesosok bayangan hitam laksana seekor burung raksasa langsung menubruk kearah barisan pemanah yang sembunyi diatas gunungan palsu bagian jendela belakang sana, kontan terdengarlah jerit dan pekik kesakitan berulang kali, sekejap mata delapan orang telah terjungkal roboh.
Barisan pemanah bagian jendela belakang sedemikian kacau balau.
Sudah tentu bukan kepalang kejut Lou Jin cin, cepat ia berlari maju bersama istrinya untuk menghentikan sepak terjang Geng Tian, Lu Tang-wan dan Sip It sian sudah keburu menerjang keluar dari jendela.
Cambuk panjang Thio Jay-giok melingkar-lingkar panjang dari bawah terus melilit tiba, bentaknya.
"Robohlah!"
"Lepas cambuk!"
Bersamaan Geng Tian-pun membentak seraya melempit kipas dan menyendalnyakeatas.
Cara turun tangan kedua belah pihak sama teramat cepat, tujuan cambuk adalah hendak melilit sepasang kaki Geng Tian, serta kena tersendal oleh kipas Geng Tian kontan membelit kencang diatas batang kipasnya itu kedua belah pihak lantas sama mengerahkan tenaga dalam dan saling tarik cambuk panjang itu menjadi terentang lempang.
Geng Tian tidak sampai roboh dan cambuk Thio Jay-giok juga tidak terlepas dari tangannya.
Melihat adanya kesempatan ini sebat sekali Lou Jin cin segera menubruk maju, berbareng ia kembangkan ilmu Tay kim-na-jiu-hoat, cakar tangannya mencengkeram Biba-kut atau tulang pundak Geng Tian.
Secara kebetulan Lu Tang-wang pun sudah melesat tiba tepat pada waktunya, terdengar ia menjengek dingin.
"Orang she Lou mari kita tentukan siapa jantan atau betina!"
Lou Jin cin maklum bahwa ilmu bian ciang lawan sangat liehay dan sudah mencapai tingkat yang dapat menepuk batu keras menjadi tepung, mana ia berani berniat melukai Ceng Tian pula, menyelamatkan diri sendiri ada lebih penting?
Gerak-geriknya memang cukup gesit juga, tahu-tahu cengkeraman tangannya sudah menyelonong balik balas menyerang maka gebrak lain mereka sudah saling tubruk dan berloncatan mencari posisi yang lebih menguntungkan, untuk melanjutkan perkelahian yang seru.Dalam pada itu Thio Jay giok sedang membalikkan pergelangan tangan, cambuk panjang mengikuti gerakan tangannya, mendadak menjentik keatas dan lepas dari lilitan kipas lawan, dengan jurus Giok-tay wi yau (cambuk melibat pinggang) tahu-tahu menukik ke bawah dan menyerang dengan lebih gesit pula.
Justru Giok tay wi-yau ini berlainan dari letak dipertengahan sengaja melejit naik menyerang, bagian atas yang diarah adalah melilit leher untuk menyesakkan tenggorokan musuh.
Cara permainan ilmu cambuknya yang lincah dan tangkas ini sungguh menakjubkan.
Tapi gerak-gerik Geng Tian betapapun lebih gesit dan cekatan dari lawan.
Secara mendadak dua belah pihak mengganti tipu untuk menyerang, keruan cambuk panjang Jay Giok mengenai tempat kosong, sedang kipas Geng Tian mendadak menindih kebawah terus melesat maju memapas kearah jari lawan yang memegang gagang cambuk.
Pinggiran kipas Geng Tian ini terbuat dari baja murni dan tipis, bila dikembangkan dapat digunakan sebagai senjata tajam sebangsa pedang pendek.
Keruan Thio Jay-giok tersentak kaget seperti disengat kala, lekas-lekas ia menggeser kaki sambil memutar tubuh berkelit jumpalitan satu setengah tombak jauhnya.
Mengandal keuntungan dari panjang cambuknya, ia ayun dan memutar-mutar senjatanya menyerang dari jarak jauh, begitu kencang putarancambuknya sehingga penjagaannya cukup rapat, umpama hujan airpun tak tertembuskan.
Dilain pihak keempat dayang Thio Jay giokpun sedang mengerubutinya Sip It-sian, empat cambuk panjang mereka ditarikan begitu lincah dan bergulungan naik turun laksana ombak samudra mengalun tinggi rendah, seolah olah Sip It-sian sudah terkurung dalam jala dari taburan empat cambuk panjang musuh.
Untung Sip It-sian dapat mengandal kelincahan Ginkangnya main selulup dan terobos kian kemari menyelamatkan diri.
Dalam waktu dekat terang ia tidak akan mampu menjebol kepungan musuh untuk meloloskan diri.
Keadaan pertempuran sudah menjadi kalang kabut dan saling berkutat menjadi satu.
Para pemanah itu menjadi kerepotan dan was was untuk membidikkan anak panahnya, beramai ramai mereka segera mengundurkan diri, supaya tidak menjadi korban secara konyol terkena senjata nyasar.
Baca Juga: Pendekar Sakti 12
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 11