Eps 3 Pendekar Bodoh - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Bodoh - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Bodoh - Kho Ping Hoo.
Di bawah hiolouw itu ternyata terdapat sebuah lubang yang cukup besar.
Hek Moko menjenguk dan ia segera meloncat sambil memperdengarkan suara ketawanya yang aneh.
Sementara itu, Pek Moko yang juga ikut menjenguk melihat keadaan lubang, lalu membalikkan tubuh memandang ke arah Bu Pun Su.
Kedua kakak beradik yang aneh itu berdiri bagaikan patung dan memandang ke arah Bu Pun Su yang masih berdiri tak mengacuhkan sama sekali.
"Bu Pun Su tua bangka menyebalkan! Kembali kau mempermainkan kami!"
Pek Moko berseru dan suaranya juga kecil dan tinggi, tidak sesuai dengan tubuhnya yang besar.
"Biarlah sekali laqi kami mencoba-coba kelihaianmu!"
Teriak Hek Moko dan tiba-tiba Iblis Hitam ini menggunakan kedua tangannya memegang kaki hiolouw dan sekali ayun saja hiolouw itu melayang ke arah Bu Pun Su!
Cin Hai merasa terkejut dan ngeri sekali.
Ia dan Ang I Niocu berdiri dekat Bu Pun Su hingga hiolouw itu tidak saja mengancam Si Kakek Jembel, tetapi juga sekaligus mengancam mereka berdua!
Hiolouw raksasa itu demikian berat hingga sebelum datang, anginnya telah menyambar ke arah mereka.
Benda kuno itu beratnya seribu kati lebih, kini dilontarkan dengan tenaga raksasa hingga dapat dibayangkan betapa hebat jika tertimpa hiolouw terbang ini!
Akan tetapi di depan Ang I Niocu dan Bu Pun Su, Cin Hai tidak mau memperlihatkan sikap takut atau ngeri, maka ia tidak meloncat pergi untuk menghindarkan diri dari serangan hiolouw, hanya berdiri dengan urat-urat seluruh tubuhnya tegang dan mata terbelalak.
Ang I Niocu biarpun telah memiliki kepandaian tinggi, namun ia mengerti bahwa tenaganya masih belum cukup untuk menyambut datangnya hiolouw, maka ia hanya bersiap untuk menolak benda itu ke samping apabila jatuhnya menimpa dia atau Cin Hai.
Gadis ini tentu saja cukup tahu diri dan tidak bergerak karena di situ terdapat kakek gurunyat takut kalau-kalau dianggap lancang tangan.
Akan tetapi, alangkah heran dan terkejutnya Cin Hai ketika melihat bahwa Bu Pun Su yang berdiri miring agaknya sama sekali tidak mempedulikan datangnya hiolouw yang menyambar k arah dirinya!
Keringat dingin mulai keluar membasahi jidat pemuda ini, karena betapa tabah pun hatinya, menghadapi bahaya maut di depan mata tanpa kuasa menghindarkannya membuat ia merasa cemas sekali.
Ketika hiolouw itu menyambar dekat sekali hingga Ang I Niocu telah mengangkat kedua tangan hendak menolak benda itu ke samping, tiba-tiba Bu Pun Su melangkah maju dua langkah dan ia menyambut hiolouw itu dengan kepalanya!
Heran sekali, ketika kaki hiolouw itu menimpa kepalanya maka kepala Bu Pun Su seakan-akan besi sembrani yang menarik hiolouw itu hingga kaki hiolouw menempel pada kulit kepala dan berdiri lurus tanpa bergoyang-goyang sedikit pun.
Hiolouw itu kini terletak di atas kepala Bu Pun Su, seakan-akan benda yang ringan dan yang diletakkan dengan hati-hati di atas kepala!
Tidak hanya Cin Hai yang terpaksa meleletkan lidah tanpa merasa lagi saking kagum dan herannya, tetapi juga Ang I Niocu memandang dengan mata kagum karena baru sekarang ia menyaksikan sucouwnya mendemonstrasikan kekuatan lweekangnya yang tak terbatas tingginya itu.
Kedua Iblis Hitam Putih juga tertegun.
Terdengar kakek tua itu tertawa ha-ha hi-hi, lalu berkata dengan suara lemah lembut.
"Hek Pek Moko, hiolouw adalah benda suci tempat orang memuja dan bersembahyang maka harus dihormati. Apalagi benda ini umurnya telah ribuan tahun, jauh lebih tua daripada kalian atau aku, maka tidak boleh kita merusakkannya. Baiknya kau melemparkan dengan hati-hati dan tidak sampai menumpahkan isinya. Kalau tidak, tentu aku takkan mengampunimu, Hek Moko!"
Setelah berkata demikian, Bu Pun Su dengan hiolouw masih berdiri di atas kepala lalu berjalan seenaknya menuju ke tempat di mana hiolouw itu tadi berdiri.
Hek Moko dan Pek Moko melangkah ke kanan kiri dan kedua iblis ini segera bergerak cepat.
Mereka memang maklum bahwa kepandaian Bu Pun Su masih jauh lebih tinggi daripada kepandaian mereka sendiri dan biarpun mereka mengeroyoknya, belum tentu mereka akan berhasil merebut kemenangan.
Akan tetapi, sekarang melihat bahwa kakek jembel yang lihai itu sedang berjalan dengan kepala membawa beban yang berat sekali, mereka melihat keuntungan bagus.
Untuk dapat menahan beban seberat itu di atas kepala, orang harus mengerahkan tenaga lweekangnya dan kakek itu biarpun tenaga lweekangnya sangat hebat, namun sedikitnya harus mempergunakan tenaga itu tiga perempat bagian untuk dapat membawa hiolouw di atas kepala.
Dan keadaan ini tentu saja amat menguntungkan mereka, maka mengapa tidak mempergunakan kesempatan baik ini?
Biarpun mereka tidak menyatakan isyarat sesuatu, namun jalan pikiran mereka agaknya tak berbeda jauh karena ketika Bu Pun Su berjalan lewat di dekat mereka, tiba-tiba keduanya lalu mengayun tangan mengirim serangan dari kanan kiri!
Serangan kedua iblis ini lihai dan berbahaya sekali karena mereka tidak hanya bermaksud untuk main-main.
Hek Moko dari kiri menyerang dengan tangan kanan dimiringkan dan menampar jalan darah di leher, sedangkan Pek Moko dari kanan menggunakan tangan kiri menotok urat kematian di iga belakang!
Ang I Niocu mengeluarkan jerit tertahan sedangkan Cin Hai berseru.
"Sungguh curang!"
Akan tetapi dengan tenang sekali Bu Pun Su menggerakkan kepalanya dan hiolouw itu terlempar ke atas dan pada saat yang hanya sekejap itu ia telah mementang kedua lengannya dengan jari tangan terbuka dan mendahului mengirim totokan ke arah pergelangan tangan kedua iblis yang memukulnya!
Bukan main kagetnya Hek Moko dan Pek Moko karena mereka tak menduga sedikit pun bahwa Bu Pun Su memiliki kecepatan tangan sedemikian rupa.
Kalau mereka meneruskan serangan mereka, maka sebelum pukulan tangan mereka mengenai sasaran, tentu terlebih dahulu pergelangan tangan mereka akan tertotok.
Cepat mereka menarik kembali tangan mereka untuk disusul dengan lain serangan!
Mereka berpikir bahwa kali ini Si Jembel Tua takkan dapat menyelamatkan diri lagi, karena serangan tidak hanya datang dari mereka yang menyerang dari kanan kiri tetapi juga dari atas, karena hiolouw yang tadi terlempar ke atas kini melayang turun lagi akan menimpa kepala Bu Pun Su!
Kini Ang I Niocu tak terasa lagi berseru.
"Celaka!"
Dan tubuhnya merupakan bayangan merah berkelebat ke arah tempat pertempuran, sedangkan Cin Hai lalu membungkuk untuk memungut kembali sepotong tulang raksasa yang tadi telah dilepaskan ke tanah!
Kini Hek Moko menyerang dengan pukulan ke arah dada dan Pek Moko menyerang dari atas ke arah kepala Bu Pun Su!
Sementara itu, hiolouw yang berat itu makin cepat meluncur ke bawah hendak menimpa kepala kakek jembel itu hingga anginnya telah membuat rambut kakek itu berkibar.
Bu Pun Su tidak saja lihai, tetapi juga ingin memegang teguh ucapannya.
Tadi ia telah mengatakan bahwa orang harus menghormat hiolouw itu, maka biarpun berada dalam keadaan yang sangat berbahaya, sekali-kali ia tidak mau membiarkan hiolouw itu jatuh terbanting ke tanah hingga tumpah isinya atau rusak.
Kalau ia tidak menyayangi hilouw itu, mudah saja baginya untuk menangkis dan balas menyerang kepada kedua lawannya.
Dengan sekali lompatan saja ia akan berhasil mengelak dari serangan Hek Moko dan Pek Moko.
Akan tetapi, kalau ia melakukan ini, tentu hiolouw itu akan terbanting di atas lantai dan rusak.
Akan tetapi tidak percuma kakek jembel ini pernah dijuluki orang sebagai ahli silat terpandai di kolong langit.
Memang ada jalan ke dua baginya untuk menyelamatkan diri daripada serangan kedua lawannya, yakni dengan membarengi mengirim pukulan maut sebagai serangan balasan, akan tetapi ia tidak sudi menjatuhkan tangan besi dan mengotorkan tangannya dengan pembunuhan.
Tiba-tiba saja ia mengeluarkan seruan keras sekali hingga seluruh ruangan itu menjadi tergetar dan tengkorak-tengkorak raksasa yang berdiri itu bergoyang-goyang mengeluarkan suara berkelotekan karena tulang-tulang beradu.
Kedua iblis itu pun menjadi terkejut dan hawa yang keluar dari tenaga khikang ini membuat mereka tertegun dan memperlambat datangnya pukulan mereka.
Kesempatan yang hanya beberapa detik ini digunakan oleh Bu Pun Su dengan baiknya karena tiba-tiba saja, tanpa dapat terlihat oleh mata bagaimana ia menggerakkan tubuhnya, tahu-tahu tubuhnya itu telah rebah terlentang di atas lantai, melintang di antara kedua lawannya dan sekaligus ia terlepas daripada kedua serangan maut itu.
Perhitungan Bu Pun Su memang tepat sekali.
Hiolouw itu menyambar turun makin cepat dan oleh karenanya hampir saja menimpa tangan Hek Moko dan Pek Moko yang terulur ke depan dalam menjalankan pukulan mereka tadi.
Dengan terkejut kedua iblis itu menarik kembali pukulannya sambil melompat mundur, takut kalau-kalau tertimpa hiolouw yang berat itu.
Akan tetapi mereka bergirang hati, kini Si Jembel tua telah rebah terlentang dan hiolouw itu dengan kecepatan luar biasa melayang ke arah dadanya!
Tentu akan remuk tubuh si Jembel tua yang mereka takuti itu.
Akan tetapi kini mereka semua disuguhi pertunjukan yang benar-benar hebat.
Karena tiada kesempatan untuk melompat bangun dan menyelamatkan hiolouw itu, Bu Pun Su sambil rebah terlentang lalu mengangkat kedua kakinya berdiri lurus ke atas, kemudian setelah menyentuh hiolouw yang menyambar turun dengan cepat sekali, melebihi kecepatan luncuran hiolouw, kaki itu bergerak ke bawah dan membuat gerakan melengkung sedemikian rupa hingga hiolouw itu terayun dan kekuatan hebat yang ditimbulkan oleh gaya beratnya dan karena tekanan luncurannya dibelokkan oleh ayunan ini.
Arah tekanan yang mula-mula meluncur ke bawah ini dengan indahnya telah dibelokkan ke samping oleh kedua kaki Bu Pun Su, kemudian kaki itu menendang sedikit hingga luncuran kini dibelokkan ke atas kembali!
Hiolouw itu bagaikan kena ditendang dan meluncur ke atas lagi dengan tenaga yang sudah patah hingga tidak sangat laju jalannya.
Sementara itu Bu Pun Su telah meloncat berdiri dan kembali dengan kepalanya ia menerima hiolouw itu!
"Aduh, hebat!
Aduh...
hebat!!"
Cin Hai bersorak memuji, sedangkan Ang I Niocu menarik napas panjang karena kecemasan yang tadi memenuhi dadanya telah lenyap.
Hek Moko dan Pek Moko hanya saling pandang saja dan tidak berani sembarangan bergerak ketika Bu Pun Su dengan tenang bagaikan tak pernah terjadi sesuatu, berjalan terus dan setelah tiba di tempat hiolouw, ia memegang kaki hiolouw itu dengan kedua tangan dan dengan sikap hormat dan berhati-hati sekali ia meletakkan hiolouw itu kembali ke tempatnya.
Hiolouw itu berdiri dengan angker dan angkuh di tempatnya dan asap putih masih mengepul keluar dari renggangan tutupnya.
Setelah itu barulah Bu Pun Su membalikkan tubuh menghadapi Hek Moko.
"Sungguh kalian dua iblis tua sangat sembrono hampir saja kalian merusak hiolouw itu."
Bu Pun Su menegur dengan suaranya yang halus.
Cin Hai merasa terheran-heran.
Kakek tua itu baru saja terlepas daripada bahaya maut dan ia tidak menegur kedua iblis itu untuk penyerangan mereka tetapi hanya menegur karena mereka hampir merusak hiolouw.
Agaknya kakek aneh ini lebih mementingkan hiolouw daripada tubuh dan nyawanya sendiri!
Hek Moko dan Pek Moko yang sudah datang dari tempat yang ribuan li jauhnya, tentu saja merasa penasaran dan tidak mau tunduk dengan demikian mudah.
Berbareng mereka lalu mencabut senjata mereka yang luar biasa, yaitu sebatang pedang yang bercabang di ujungnya di tangan kanan dan seikat tasbeh di tangan kiri.
Pedang di tangan mereka itu lihai sekali karena ujungnya yang bercabang itu dapat digunakan untuk menjepit senjata lawan kemudian diputar hingga senjata lawan akan terampas.
Akan tetapi tasbeh di tangan kiri itu tidak kalah berbahayanya.
Tasbeh ini terbuat dari batu-batu hitam yang keras dan tidak dapat terputus oleh senjata tajam, sedangkan ikatannya dapat dilepas hingga memanjang merupakan pian dari batu yang lihai.
Masih ada lagi keistimewaannya, yaitu apabila batu-batu hitam itu dilepas dari untaiannya, ia dapat digunakan sebagai senjata rahasia yang ampuh dan ganas!
"Eh, eh, kalian masih mau main-main seperti anak-anak nakal?
Boleh, boleh.
Kalian menghendaki pertempuran dan hendak merusak tubuhku, silakan.
Asal saja jangan kalian mencoba merusak hiolouw!"
Mendengar kata-kata yang diucapkan dengan halus dan sabar ini, kedua iblis itu berbesar hati.
Masih baik bagi mereka kalau kakek jembel ini tidak marah, akan tetapi kata-katanya membuat Pek Moko merasa penasaran dan heran hingga ia tidak dapat bertahan untuk tidak bertanya.
"Eh, tua bangka. Agaknya kau lebih menyayangi hiolouw besar itu daripada tubuhmu sendiri!"
Kini jawaban Bu Pun Su terdengar sungguh-sungguh.
"Tentu saja, tentu saja! Tubuhku yang sudah tua dan lapuk ini apakah gunanya? Kalau tubuhku ini rusak binasa, tidak akan ada yang dirugikan, dan kalau masih ada pun takkan ada gunanya bagi manusia. Sebaliknya, hiolouw ini telah ribuan tahun umurnya dan telah banyak jasanya bagi manusia, dan ratusan atau ribuan tahun kemudian setelah tubuhku ini lenyap menjadi kerangka seperti yang berdiri berderet-deret di tempat ini, hiolouw itu akan tetap berdiri dan berguna bagi manusia yang masih hidup, karena ia menjadi perantara dan saksi akan kehendak manusia yang hendak berhubungan dengan Tuhan."
Cin Hai tertegun mendengar filsafat yang terdengar sederhana tetapi mengandung arti yang dalam ini, dan diam-diam ia memutar-mutar otaknya mencari ujar-ujar kuno yang sesuai dengan filsafat ini, akan tetapi tetap tidak dapat ia menemukan.
Sementara itu, Bu Pun Su lalu melangkah ke tengah-tengah ruangan dan di situ kakek jembel ini lalu duduk bersila lalu berkata kepada Cin Hai.
"He, gundul totol, muridku. Lemparkan ke sini senjata keramat di tanganmu itu!"
Cin Hai terkejut.
Apakah yang dimaksudkan oleh Bu Pun Su?
Yang dipegangnya hanyalah sepotong tulang besar, mungkin tulang bagian lengan atau kaki raksasa, maka ia lalu melemparkan tulang itu ke arah Bu Pun Su yang menyambut dengan muka berseri.
Kemudian dengan memegang tulang itu di tangan kanan, Bu Pun Su lalu meramkan mata dan tak mengacuhkan lagi keadaan di sekelilingnya!
Cin Hai merasa makin heran tetapi diam-diam ia girang juga karena ternyata kakek yang lihai itu tidak marah kepadanya.
Hanya ia mendongkol mengapa sampai sekarang ia disebut tolol!
Ia lalu berpaling kepada Ang I Niocu yang sedang memandang kepadanya dan alangkah herannya pemuda itu kenapa kedua mata Ang I Niocu basah dengan air mata!
Cepat ia melangkah maju dan hendak memegang tangan dara itu akan tetapi Ang I Niocu menggerakkan tangan mengelak.
Baru teringat oleh Cin Hai bahwa mereka tidak berada berdua saja di tempat itu dan bahwa di muka umum tak pantas baginya memegang tangan Ang I Niocu walaupun dara itu seorang yang sangat dikasihinya, bahkan satu-satunya orang di dunia ini yang disayangnya.
"Niocu, ada apakah?"
Bisiknya. Tetapi Ang I Niocu dengan perlahan menggeleng-geleng kepalanya yang cantik, lalu menundukkan mukanya. Pada saat itu terdengar suara Hek Moko yang keras dan parau.
"Bu Pun Su, kau terlalu menghina kami! Ketahuilah, kami hendak mengadu ilmu dengan kau, tak peduli kau mau melayani kami atau tidak!"
Akan tetapi Bu Pun Su tidak menjawab dan tetap duduk tak bergerak bagaikan patung batu diam saja menyaingi diamnya tengkorak-tengkorak yang berdiri di situ merupakan saksi mati daripada segala peristiwa yang terjadi di ruangan itu.
Cin Hai dan Ang I Niocu lalu berpaling memandang dengan kuatir sekali, mereka melihat betapa kedua iblis itu dengan senjata-senjata mereka yang mengerikan telah berdiri di depan dan belakang Bu Pun Su!
"Niocu, mari kita turun tangan membantu Suhu..."
Bisik Cin Hai. Tetapi Dara Baju Merah itu tersenyum sedih dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Hai-ji, kau belum mengenal Susiok-couw. Diamlah dan mari kita menonton saja."
"Bu Pun Su, awas, akan kuhancurkan kepalamu!"
Pek Moko berteriak dari belakang kakek itu, lalu ia mengayun tasbehnya memukul ke arah belakang kepala Bu Pun Su!
Dalam detik-detik ketika senjata hebat itu menyambar, jantung Cin Hai berhenti berdetak karena kuatirnya dan tanpa terasa lagi tangannya memegang tangan Ang I Niocu dan jari-jari tangan mereka saling genggam dengan erat.
Akan tetapi, bagaikan ada mata di belakang kepalanya, ketika tasbeh itu telah menyambar dekat, tiba-tiba Bu Pun Su menundukkan kepala hingga tasbeh itu memukul angin!
Legalah dada Ang I Niocu dan Cin Hai dan teringatlah mereka bahwa mereka saling berpegang tangan, maka buru-buru mereka melepaskan tangan mereka.
Ternyata Bu Pun Su bukan sedang bersamadhi sebagaimana yang mereka semua kira.
Kakek jembel ini sebetulnya hanya duduk memusatkan pikiran dan kini segala pikiran dan perasaan dipusatkan menjadi satu hingga tanpa memandang atau bergerak, ia telah dapat tahu akan datangnya sebuah serangan dari mana pun datangnya!
Pek Moko dan Hek Moko menjadi marah sekali.
Mereka merasa dipandang rendah sekali oleh kakek tua ini.
Dulu, lima belas tahun yang lalu, biarpun mereka dirobohkan oleh Bu Pun Su, akan tetapi mereka dikalahkan dalam sebuah pertempuran yang hebat.
Sedangkan semenjak kekalahan mereka dulu itu, mereka berdua melatih diri dan bahkan mereka telah menambah senjata pedang mereka dengan sebuah senjata tasbeh yang lihai.
Dan apakah yang dilakukan oleh Bu Pun Su sekarang untuk menghadapi mereka?
Hanya dengan duduk diam sambil meramkan mata dan memegang sebuah...
tulang!
Ini adalah penghinaan yang tiada taranya bagi mereka, maka di dalam kemarahannya, kedua iblis itu mengambil keputusan untuk berkelahi sampai mati!
Hek Moko segera mengirim serangan dengan pedangnya, sedangkan Pek Moko dari belakang juga mengirim serangan-serangan kilat yang mematikan.
Betapapun juga, Cin Hai dan Ang I Niocu masih merasa kuatir akan keselamatan Bu Pun Su, karena mereka, terutama Ang I Niocu, maklum bahwa kepandaian kedua iblis ini cukup hebat dan lihai, masih lebih hebat daripada kepandaian orang-orang gagah yang tadi datang ke gua itu.
Lebih tinggi tingkat kepandaiannya daripada Hai Kong Hosiang, atau Kanglam Sam-lojin, bahkan masih lebih lihai daripada Biauw Suthai sendiri!
Dan Bu Pun Su hanya menghadapi mereka sambil duduk bersila dan meramkan mata dengan sepotong tulang di tangan.
Akan tetapi, setelah melihat agak lama tidak hanya lenyap perasaan kuatir mereka, bahkan mereka menjadi tertarik sekali berbareng heran dan kagum!
Ternyata bahwa dengan tangkisan tulang dan gerakan kepala mengelak serangan, Bu Pun Su dapat membela diri dengan sangat baiknya!
Kakek jembel ini tidak melakukan banyak gerakan, hanya duduk diam tanpa bergerak.
Setelah datang sebuah serangan, barulah ia bergerak sedikit, yaitu untuk mengelak atau menangkis!
Serangan yang ditujukan ke arah kepalanya, dapat ia kelit dengan mudah dan serangan yang mengarah tubuhnya tentu saja tak dapat ia elakkan, maka lalu ditangkisnya dengan tulang.
Biarpun ada empat buah senjata menyerang berbareng dari empat jurusan, masih dapat ia tangkis dengan putaran tulang yang berubah menjadi senjata yang lihai itu!
Kedua iblis itu makin marah dan penasaran.
Telah puluhan jurus mereka membacok, menusuk, memukul dan melakukan serangan bermacam-macam akan tetapi selalu sia-sia hasilnya.
Benarkah mereka takkan berhasil mengalahkan seorang tua yang hanya melawan mereka dengan duduk sambil meramkan mata dan tanpa membalas sedikit pun!
Ah, sungguh memalukan!
Mereka mengertak gigi dan menyerang lebih gencar dan hebat.
Sementara itu, melihat betapa Bu Pun Su hanya mempertahankan dan membela diri saja tanpa mau membalas sedikitpun Ang I Niocu dan Cin Hai penasaran sekali.
Akan tetapi, apakah daya mereka?
Untuk membantu, Cin Hai merasa bahwa kepandaiannya masih jauh daripada kuat untuk melawan kedua iblis yang lihai itu, sedangkan Ang I Niocu yang merasa sangat tunduk dan takut kepada susiok-couwnya, tidak berani turun tangan tanpa diperintah.
Cin Hai berpikir, kalau suhunya itu bertahan terus saja, apakah ia tidak akan lelah dan akhirnya terkena serangan juga?
Ia lalu memutar-mutar otaknya, dan tiba-tiba dengan suaranya yang nyaring ia mengucapkan ujar-ujar yang dulu dipelajarinya.
"Seorang budiman hanya mencabut pedang untuk mempertahankan kehormatan dan nama. Mengadu senjata untuk memperebutkan benda dan kesenangan diri, bukanlah perbuatan orang gagah, hanya dilakukan oleh anak-anak dan orang tolol!"
Kemudian dengan suara yang lebih nyaring lagi Cin Hai menambahkan kata-katanya sendiri.
"Aku masih bingung memilih nama untuk Hek Pek Moko, apakah mereka ini anak-anak ataukah orang tolol??"
Karena suasana di situ sunyi dan hanya terdengar suara senjata kedua iblis itu yang kadang-kadang beradu dengan tulang di tangan Bu Pun Su, maka suara Cin Hai terdengar jelas dan nyaring, bahkan bergema di dalam ruang yang luas itu.
Tentu saja kedua iblis itu mendengar sindiran ini dan wajah mereka memerah.
Biarpun hanya menduga-duga saja, ternyata kata-kata Cin Hai bahwa mereka sedang "memperebutkan benda"
Adalah tepat sekali.
Cin Hai memang belum tahu mengapa tokoh-tokoh kangouw itu berturut-turut menyerbu ke Gua Tengkorak, akan tetapi ia dapat menduga bahwa mereka tentu sedang menghendaki dan memperebutkan sesuatu yang amat penting dan berharga.
Akan tetapi, mana kedua iblis itu mau mendengarkan nasihat-nasihat yang keluar dari mulut seorang pemuda?
Mereka bahkan memperhebat serangan mereka karena merasa malu dan gemas.
Cin Hai menjadi bingung.
Ia melihat bahwa biarpun Bu Pun Su masih dapat membela diri dengan baik, namun kulit muka gurunya itu mulai memerah, tanda bahwa kakek itu telah mempergunakan tenaga untuk melayani serangan-serangan berbahaya dari kedua lawannya yang tangguh.
Maka pemuda ini lalu berteriak kembali, kini lebih keras daripada tadi.
"Nabi yang agung pernah berkata bahwa kebaikan harus dibalas dengan kebaikan pula, akan tetapi kejahatan harus dilawan dengan keadilan. Orang menyerang secara jahat dan tak kenal kasihan, kalau didiamkan saja tanpa memberi hajaran kepada penyerang itu, apakah adil namanya?"
Biarpun Cin Hai berteriak dengan keras, namun Bu Pun Su tidak terpengaruh oleh kata-katanya.
Cin Hai tidak putus asa, ia mengulangi lagi kata-katanya dengan suara makin keras sehingga lehernya menjadi kering dan sesak.
Akan tetapi pada saat itu Bu Pun Su harus mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menghadapi serangan kedua lawannya.
Kalau ia membagi perhatiannya sedikit saja kepada hal lain, maka kedudukannya akan berbahaya sekali dan pertahanannya akan menjadi lemah.
Oleh karena itu, maka teriakan-teriakan Cin Hai hanya merupakan kegaduhan yang hanya terdengar sayup-sayup olehnya dan tidak menarik perhatiannya.
Cin Hai menjadi makin panik dan bingung.
Juga Ang I Niocu mulai mendapat kenyataan bahwa keadaan suciok-couwnya berbahaya sekali dan gerakan-gerakan orang tua itu makin lemah, sebaliknya kedua iblis itu makin ganas dan mendesak makin hebat!
Dara Baju Merah ini telah melolos pedangnya dan bersiap sedia membantu Bu Pun Su.
Kalau nanti kakek itu benar-benar berada dalam bahaya, maka ia akan berlaku nekad dan membelanya, biarpun untuk itu ia akan mendapat marah sekalipun!
Cin Hai lalu berjalan ke arah tumpukan tulang-tulang yang berserakan di sudut.
Ia memilih-milih dan akhirnya mendapatkan sepotong tulang yang tipis berlubang, agaknya tulang paha yang sudah lapuk.
Setelah memeriksa baik-baik, ia lalu lari ke arah Ang I Niocu dan berbisik.
"Niocu, lekas buatkan suling dari tulang ini untukku!"
Biarpun merasa heran, akan tetapi Ang I Niocu tidak banyak bertanya, karena percaya penuh bahwa dalam saat yang tegang itu tentu Cin Hai mempunyai alasan kuat untuk mendapat sebatang suling.
Dengan ujung pedang ia menggunakan lweekangnya untuk melubangi tulang itu dan sebentar saja jadilah-sebatang suling terbuat dari pada tulang itu.
Sungguh merupakan sebuah suling yang istimewa dan bentuknya sangat sederhana.
Cin Hai merasa girang sekali dan melihat betapa keadaan Bu Pun Su pada saat itu telah sangat terdesak, ia segera meniup sulingnya.
Alangkah heran dan bingungnya ketika suling istimewa itu mengeluarkan suara yang ganjil dan sukar sekali diikuti nadanya!
Akan tetapi Cin Hai mengerahkan kepandaiannya dan mencurahkan seluruh perhatiannya hingga bunyi ganjil itu dapat juga berlagu!
Maksudnya ialah hendak menarik perhatian Bu Pun Su agar orang tua itu dapat mendengar kata-katanya.
Maksudnya ternyata berhasil baik!
Mendengar suara yang aneh sekali ini, Bu Pun Su tak dapat bertahan lagi untuk memusatkan perhatiannya dan mau tidak mau ia terpaksa menggunakan sedikit perhatian untuk mendengar dan memperhatikan suara suling yang nyaring ini!
Dan sangat untung baginya karena tidak saja dia, bahkan juga kedua orang lawannya tertarik oleh bunyi suling dan bahkan perhatian Hek Pek Moko setengah bagian terpengaruh oleh bunyi suling.
Kalau tidak demikian halnya, maka akan celakalah Bu Pun Su yang sudah berkurang daya tahannya karena perhatiannya terbagi.
Akan tetapi, karena kedua iblis itu pun terpecah perhatiannya, maka biarpun pertahanan Bu Pun Su mengendur semua ternyata daya serang kedua itu pun banyak mengendur pula!
Melihat betapa ketiga orang itu kadang-kadang melirik ke arahnya tahulah Cin Hai bahwa usahanya berhasil baik, maka cepat ia menunda sulingnya dan mengulangi kata-katanya tadi dengan suara nyaring dan keras sekali.
"Nabi yang agung pernah berkata bahwa kebaikan harus dibalas dengan kebaikan pula, akan tetapi kejahatan harus dilawan dengan keadilan! Orang menyerang secara jahat dan tidak kenal kasihan, kalau didiamkan saja tanpa memberi hajaran kepada penyerang itu, apakah ini dapat dinamakan adil?"
Suara suling tadi memang nyaring dan ganjil hingga ketika tiupannya ditunda, maka keadaan menjadi hening dan sunyi, maka suara ucapan Cin Hai terdengar terang dan keras sekali hingga Bu Pun Su dapat mendengarnya dengan baik.
Tiba-tiba kakek jembel ini tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Hek Pek Moko,"
Katanya dengan suaranya yang halus sabar.
"bicara tentang kebijaksanaan, kau masih belum ada sepersepuluhnya juga daripada muridku yang bodoh! Sekarang apakah kalian tidak mau lekas pergi dan menunggu aku seorang tua turun tangan?"
Akan tetapi Hek Pek Moko yang tadi telah melihat betapa usaha mereka hampir berhasil, maka mana mereka mau mengundurkan diri. Mereka bahkan menyerang lebih hebat lagi! "Siancai, siancai!"
Bu Pun menyebut dan orang tua itu kini menggerakkan tangan kirinya yang sejak tadi hanya terletak di atas pangkuannya saja.
Sekali tangan kirinya bergerak, maka ia berhasil menangkap tasbeh Pek Moko yang menyambar ke arah lehernya.
Ia menggunakan tenaganya membetot dan putuslah tasbeh itu hingga biji-biji batu hitam itu terlepas dari untaiannya dan jatuh berserakan!
Bu Pun Su lalu memunguti batu-batu kecil itu dan tangan kirinya bergerak pula menyambit.
Terdengar jeritan-jeritan karena dengan tepat sekali batu-batu itu mengenai pergelangan tangan Hek Pek Moko yang memegang senjata hingga pedang di tangan kanan Pek Moko, serta kedua senjata di tangan kanan kiri Hek Moko terlepas dari pegangan mereka dan jatuh berdering-dering ke atas lantai!
Bukan main terkejutnya Hek Pek Moko menyaksikan kelihaian Bu Pun Su yang masih duduk bersila sambil tersenyum.
Kedua iblis ini lalu menjura dan berkatalah Hek Moko dengan suara parau dan hampir menangis karena kecewa dan gemasnya.
"Orang tua, kepandaianmu memang hebat dan kami sekali lagi mengaku kalah!"
Bu Pun Su hanya tersenyum dan membiarkan kedua iblis itu mengambil senjata mereka kembali dan kemudian tanpa banyak cakap lagi kedua iblis itu melompat keluar dari Gua Tengkorak dan melarikan diri.
Ang I Niocu kagum dan girang sekali melihat akal Cin Hai yang telah berhasil menolong orang tua, maka ia lalu maju dan berlutut sambil menyebut.
"Suhu..."
"Susiok-couw, ampunkan teecu yang telah lancang keluar dari tempat persembunyian."
"Sudahlah, sudahlah..."
Bu Pun Su menghela napas.
"Kalian orang-orang muda memang paling doyan berkelahi!"
Kemudian kakek ini memandang kepada Ang I Niocu dan berkata dengan suara yang halus akan tetapi terdengar jelas penyesalannya.
"Kiang Im Giok, sekarang kaupergilah ke timur dan mencari Sucimu di daerah itu. Kalau sudah bertemu sampaikan teguranku karena kesembronoan dan keganasannya itu membikin malu saja. Beri peringatan kepadanya atau kalau ia masih belum insyaf, bawa ia ke mari. Dan kau sendiri, anak baik, berhati-hatilah terhadap kelemahanmu sendiri!"
Ang I Niocu mengangguk-anggukkan kepala dan berkata perlahan.
"Baik, Susiok-couw!"
Kemudian Dara Baju Merah itu mengerling ke arah Cin Hai dan berkata lagi.
"Apakah teecu harus berangkat sekarang juga?"
"Ya, pergilah sekarang juga. Mau tunggu apa lagi?"
Ang I Niocu memberi hormat lagi lalu berdiri dan hendak bertidak pergi, tetapi Cin Hai tiba-tiba berkata.
"Niocu, kau pergi, dan bilakah kita akan bertemu kembali?"
Suaranya terdengar pilu dan terharu, hingga Ang I Niocu menahan kakinya dan berpaling. Ternyata wajah Dara Baju Merah itu pucat sekali! "Niocu!"
Cin Hai berdiri dan memburu kepadanya tanpa mempedulikan suhunya! "Anak tolol, kau ternyata masih belum dewasa!"
Bu Pun Su menegur Cin Hai. Kemudian kakek ini berdiri lalu berkata kepada Ang I Niocu yang hendak melanjutkan tindakan kakinya.
"Im Giok, tunggu dulu. Aku masih ragu-ragu, apakah kalau Sucimu membangkang, kau cukup kuat untuk menundukkannya. Coba kauperlihatkan kepandaianmu, hendak kulihat sampai di mana kekuatan Sianli Kiam-hwat!"
Ang I Niocu tidak berani membantah, lalu melolos pedangnya.
Kemudian ia mulai menjalankan ilmu silat pedangnya yang lihai.
Cin Hai merasa kecewa sekali bahwa pada saat itu ia tidak mempunyai suling bambu yang baik untuk mengiring tarian pedang Ang I Niocu!
Sementara itu, setelah gerakan Ang I Niocu menjadi cepat hingga tubuhnya lenyap tertutup sinar pedang, Bu Pun Su tiba-tiba berkata.
"Tahan! Coba ulangi gerakan-gerakanmu yang ke tiga puluh sampai ke lima puluh, tetapi lambat saja. Kau mempunyai kelemahan-kelemahan di bagian itu!"
Ang I Niocu merasa heran sekali dan ia mengulangi gerakannya, akan tetapi kini dengan lambat hingga ia seperti benar-benar sedang menari.
Dan heranlah Cin Hai ketika melihat betapa Bu Pun Su juga menari bersama-sama Ang I Niocu sambil berkata.
"Coba kauserang aku dengan betul-betul, akan kuperlihatkan kelemahanmu!"
Sungguh pemandangan yang indah ketika kakek itu pun mulai menari di dekat Ang I Niocu, karena tarian kakek itu ternyata sesuai dan cocok sekali dengan tarian Ang I Niocu hingga mereka merupakan sepasang penari ulung yang mendemonstrasikan kepandaiannya!
Sayang sekali bahwa penari prianya sudah kakek-kakek.
Coba kalau yang menari seperti Bu Pun Su itu seorang pria muda, tentu akan indah dan cocok sekali!
Cin Hai tak melihat kelemahan-kelemahan yang disebutkan oleh Bu Pun Su tadi, akan tetapi, setelah Bu Pun Su bersama-sama menari, terkejutlah Ang I Niocu.
Benar saja, pada tiap gerakan, ternyata kakek yang lihai itu telah dapat mencari dan dengan gerakan tangannya yang bagaikan menari-nari itu menyerang melalui lubang-lubang dan kelemahan-kelemahan yang terbuka pada saat ia bersilat!
Ia maklum bahwa dalam pertandingan sungguh-sungguh, maka tangan kakek itu tentu sudah berhasil merobohkannya dengan mudah!
Tiba-tiba kakek itu berhenti menari.
"Nah, kau sudah tahu kelemahan dari gerakan-gerakanmu tadi? Ingat, kau terlalu menitik-beratkan kepada keindahan gerakanmu hingga kau lupa bahwa dalam setiap keindahan itu tentu terdapat kelemahan karena perhatianmu terganggu oleh rasa bangga dan keinginan memperlihatkan kepandaian atau keindahan tarianmu! Kalau lawanmu terpesona oleh keindahan gerak tarianmu tentu ia takkan dapat melihat kelemahan-kelemahan itu, akan tetapi kalau waspada, maka kau tentu akan celaka. Nah, kau perhatikanlah dan pada waktu kau bersilat dengan jurus ke tiga puluh sampai ke lima puluh, kau harus mengurangi gerakan menyerang dengan pedang dan siku tangan yang memegang pedang jangan terlampau lebar terbuka, sedangkan tangan kirimu harus membuat gerakan Bunga Sembunyi di Bawah Daun atau Ikan Berenang di Bawah Permukaan Air untuk menjaga agar jangan sampai kau dapat terserang pada tempat-tempat terbuka yang diadakan oleh gerakan serangan pedangmu. Mengertikah kau?"
Ang I Niocu mengangguk-angguk dan menghaturkan terima kasihnya. Kemudian kakek itu menyuruhnya berangkat dengan segera.
"Kalau tidak salah, Sucimu itu kini berada di kota Lok-bin-si. Pergilah kau ke sana. Cin Hai mulai saat ini akan tinggal di sini dengan aku!"
Mendengar disebutnya nama pemuda itu, tiba-tiba wajah Ang I Niocu berubah merah.
Agaknya kakek yang luar biasa ini telah dapat menduga akan isi hati dan perasaannya terhadap pemuda itu!
Maka tanpa berani memandang kepada Cin Hai lagi, Dara Baju Merah itu lalu berlari cepat meninggalkan tempat itu, dilihat oleh Cin Hai dengan pandangan mata sedih.
"Nah, anak bodoh! Mulai sekarang kau harus berlatih dan belajar silat dengan rajin. Ketahuilah, aku orang tua selamanya belum pernah mempunyai murid, dan sekali aku mengambil murid maka ia harus belajar dengan baik-baik agar tidak akan memalukan yang mengajarnya. Dan kau dulu sudah berjanji hendak menurut segala perintahku, bukan?"
Cin Hai lalu berlutut di depan suhunya untuk memberi hormat.
"Teecu akan menurut segala perintah Suhu."
"Bagus, sekarang pertama-tama kau harus menceritakan semua pengalamanmu semenjak kau meninggalkan rumah keluarga Kwee. Jangan ada yang kau sembunyikan!"
Cin Hai dengan jelas lalu menuturkan semua pengalamannya tanpa mengurangi sedikit pun, akan tetapi setelah ia selesai bercerita, Bu Pun Su berkata.
"Hanya satu hal yang kusayangkan, yaitu pertemuan dan perkenalanmu dengan Kiang Im Giok!"
Cin Hai tertegun lalu memandang kepada suhunya dengan penasaran dan heran.
"Suhu, apakah sebabnya maka hal itu harus disayangkan? Bukankah Ang I Niocu seorang yang berhati mulia dan berwatak gagah berani?"
Bu Pun Su menghela napas.
"Itulah sebabnya mengapa aku merasa sayang. Perhubungan itu dapat meracuni hati kalian berdua!"
Cin Hai memang mempunyali sifat pemberani dan pantang mundur menghadapi siapa juga apabila ia merasa bahwa pihaknya benar, maka ia lalu berkata lagi.
"Suhu, apakah yang Suhu maksudkan dengan racun itu? Menurut teecu, perhubungan teecu dengan An I Niocu itu, hanya mendatangkan perasaan kasih sayang suci. Mengapa tidak? Teecu yang sebatang kara dan hampir semua orang telah memperlakukan teecu dengan buruk dan jahat dan hanya Ang I Niocu seorang yang telah berlaku baik sekali terhadap teecu! Salahkah kalau teecu mempunyai rasa kasih sayang yang besar kepadanya yang timbul karena perasaan terima kasih? Ujar-ujar pernah menyatakan kasih sayang yang timbul karena hutang budi adalah suci murni!"
Melihat betapa pemuda itu bicara dengan bernafsu, kakek itu menggeleng-geleng kepala dan tersenyum, lalu berkata tenang.
"Cin Hai, kau terlalu banyak menghafal ujar-ujar kuno hingga kepalamu yang besar itu penuh dijejali segala macam ujar-ujar. Ketahuilah, kenyataan hidup ini jauh sekali bedanya dengan keindahan kata-kata yang disebut ujar-ujar itu, dan bahkan segala macam ujar-ujar yang indah itu ternyata tak dapat memperbaiki sifat manusia, bahkan lebih rusak! Pernahkah kau melihat orang-orang yang mempergunakan segala keindahan ujar-ujar untuk menutupi kesalahan dan kejahatannya?"
Cin Hai tertegun dan teringatlah ia kepada gurunya yang dulu mengajarnya kesusastraan.
Memang, sifat gurunya itu ganjil sekali, dan apa yang keluar dari mulutnya sama sekali tidak cocok dengan perbuatannya "Cin Hai, kau masih terlalu muda untuk mengerti semua.
Memang bagimu aku tidak merasa kuatir, akan tetapi aku lebih kuatir akan Kiang Im Giok.
Kasihan sekali kalau anak itu menjadi korban daripada kelemahan hatinya sendiri..."
Cin Hai mengerutkan keningnya akan tetapi karena memang tubuhnya saja yang telah nampak dewasa dan tinggi tegap akan tetapi sebenarnya batinnya masih lebih bersifat kanak-kanak, maka ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh suhunya.
Pada waktu itu usianya telah lima belas tahun lebih akan tetapi dalam hal pengertian pergaulan pria wanita ia masih bodoh dan hijau.
"Sekarang kau harus memperhatikan pelajaran silat dan jangan pikirkan hal lain lagi. Ketahuilah, bahwa pikiran yang bercabang takkan dapat menghasilkan ilmu yang baik. Dan kulihat kau telah mempelajari Liong-san Kun-hwat dan Sianli-kun-hwat. Juga Ngo-lian-hwa Kiam-hwat telah kau pelajari dari Im Giok. Ketahuilah bahwa segala macam ilmu silat yang ada di dunia ini, pada dasarnya sama dan berpokok satu, yaitu menyerang dan membela diri. Betapapun tinggi ilmu silat seseorang, namun apabila pokok dasarnya tidak kuat, ilmu silatnya itu akan sia-sia belaka. Segala macam ilmu silat yang dipelajari oleh orang hanya ada tiga ratus enam puluh gerakan yang dasarnya sama, hanya gaya dan kembangnya saja yang berbeda, sedangkan kaki hanya ada seratus delapan puluh. Jika engkau dapat mempelajari dasar dan pokok semua gerakan tangan dan kaki ini, maka menghadapi ilmu silat dari cabang mana pun juga, kau akan dapat melawannya dengan mudah."
Demikianlah, semenjak hari itu, Cin Hai digembleng oleh Bu Pun Su dan mempelajari sari dan pokok gerakan silat.
Dengan menerima pelajaran yang hebat dan merupakan rahasia khusus dari pada semua ilmu silat, maka boleh dikata sama halnya bagi Cin Hai dengan mempelajari semua ilmu silat yang ada di dunia ini!
Kini ia mengerti dan terbukalah matanya bahwa Bu Pun Su boleh disebut tokoh persilatan tertinggi yang mempunyai kepandaian maha hebat!
Dengan kepandaiannya yang telah dapat memecahkan semua rahasia pergerakan tangan dan kaki, maka menghadapi seorang lawan yang bersilat bagaimanapun juga, Bu Pun Su dapat meniru semua gerakan itu dengan sama baiknya, biarpun ia belum pernah mempelajari ilmu silat ini, oleh karena ia telah tahu akan pokok-pokok gerakannya!
Tentu saja, setelah dapat mengetahui silat dan pokok gerakan lawan, mudah saja untuk menghadapinya.
Akan tetapi, pengertian saja masih belum merupakan syarat untuk mengalahkan lawan itu, masih ada dua hal yang terpenting yang harus dimilikinya, yaitu kecepatan dan tenaga!
Oleh karena ini, di samping mempelajari pokok-pokok rahasia gerakan silat Cin Hai juga mendapat latihan ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang membuatnya dapat bergerak gesit bagaikan seekor burung walet dan latihan lweekang dan khikang yang membuatnya memiliki tenaga dalam yang hebat dan dapat menghadapi kekuatan lawan yang kasar maupun halus.
Juga untuk latihan ginkang, lweekang ataupun khikang, Bu Pun Su mempunyai cara yang khusus dan istimewa, karena ia memberi pelajaran dasar dan pokoknya.
Menurut kakek jembel yang luar biasa dan aneh ini, tenaga-tenaga ginkang, lweekang maupun khikang berpusat pada pusar di mana menjadi tempat tiantan yang mengatur semua tenaga gaib yang tersembunyi dalam diri manusia.
Oleh karena ini, maka latihan-latihan yang diberikan kepada muridnya itu hanya ditujukan untuk memperkuat daya tiantan ini dengan jalan bersamadhi dan mempertebal iman.
Jika iman manusia kuat dan tebal, dan batin yang disebutnya "bunga api dari Tuhan"
Menjadi bersih, seimbang dan tidak mudah goyah, maka tenaga dalam akan menjadi kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh segala macam nafsu yang hanya akan melemahkan tubuh dan batin.
Cin Hai mempunyai dasar-dasar dan bakat yang baik, maka tanpa banyak mengalami kesukaran ia dapat menangkap pelajaran yang diberikan oleh suhunya hingga Bu Pun Su merasa girang sekali.
Waktu berjalan cepat sekali dan tanpa terasa lagi Cin Hai telah menerima gemblengan dan latihan selama tiga tahun!
Usianya telah delapan belas tahun dan ia telah menjadi seorang pemuda dewasa yang bertubuh tinggi dan tegap dengan wajah tampan dan gagah.
Akan tetapi sinar matanya yang jujur itu masih saja nampak bodoh dan mukanya yang lebar tidak mengurangi "tampang bodohnya"!
"Cin Hai,"
Kata gurunya pada suatu hari.
"kini kau telah dapat menangkap intisari daripada ilmu silat dan agaknya kau tentu akan dapat menghadapi ilmu silat yang bagaimanapun juga. Akan tetapi, kau juga maklum bahwa ilmu ini hanya dapat digunakan pada waktu menghadapi seorang lawan dan sama sekali tidak dapat digunakan untuk memamerkan kepandaian. Kau hanya bisa menjatuhkan seorang lawan apabila diserang. Karena kau tidak belajar cara melakukan serangan. Ini baik sekali, muridku, dan ketahuilah bahwa aku sendiri pun selama hidup belum pernah menyerang orang. Aku hanya bergerak apabila diserang. Tahukah kau? Kau mengerti dan hafal akan ujar-ujar yang baik, maka pakailah ujar-ujar itu sebagai pedoman dan jangan kau menyombongkan kepandaianmu! Maka, julukan "Pendekar Bodoh"
Harap kaupakai untuk selamanya. Bukankah ada ujar-ujar yang berkata bahwa orang-orang yang sesungguhnya pintar adalah dia yang insyaf akan kebodohan sendiri?"
Cin Hai mengerti dengan baik akan maksud suhunya ini dan semenjak berlatih ilmu di dalam Gua Tengkorak itu makin terbukalah matanya akan rahasia-rahasia hidup.
Kini ia tahu akan maksud suhunya yang dulu memperingatkan bahaya yang akan ada dalam perhubungannya dengan Ang I Niocu.
Ia maklum bahwa bahaya itu adalah "cinta"
Yaitu cinta dari pihak Ang I Niocu yang usianya jauh lebih tua dari padanya.
Kalau dara itu sampai tergoda cinta kepadanya sedangkan perjodohan di antara mereka tidak dapat dilangsungkan, bukankah hal ini akan merupakan siksa dan derita bagi Ang I Niocu?
Ia sendiri masih merasa suka dan rindu kepada Ang I Niocu akan tetapi perasaannya ini hanyalah perasaan kasih seorang adik kepada kakaknya, atau kalau mau disebut lebih lagi, seperti kasih seorang anak kepada ibunya.
Akan tetapi, siapa tahu isi hati Dara Baju Merah itu?
Ia diam-diam bergidik dan menaruh hati iba terhadap Ang I Niocu.
Pernah ia bertanya kepada suhunya akan segala peristiwa yang terjadi di Gua Tengkorak itu dan mengapa banyak tokoh persilatan menyerbu ke situ.
Bu Pun Su tersenyum dan menceritakan seperti berikut.
"Gua ini dulu dibuat oleh seorang menteri Kerajaan Tang yang bernama Lu Pin. Ketika Raja Hian Tiong mengangkat seorang Tartar bernama An Lu San menjadi panglima, hal ini tidak disetujui oleh Menteri Lu Pin karena menteri yang waspada ini maklum akan bahayanya mengangkat seorang asing menjadi panglima yang menguasai tentara. Akan tetapi nasihatnya tidak dipedulikan oleh kaisar. Akhirnya, setelah Panglima Tartar ini menjadi panglima di tiga kota timur laut dan berkedudukan di Hopei, lalu memberontak dengan sejumlah tentara lima belas laksa orang dan memukul ke selatan! Kaisar yang tidak becus mengurus pemerintahan ini tak berdaya karena semua pejabat dan panglimanya hanya mengutamakan kesenangan dan pelesiran saja, hingga dengan mudah barisan kerajaan dapat dimusnahkan oleh An Lu San dan kaisar sendiri lalu mengungsi ke Secuan. Ibu kota lalu diduduki oleh An Lu San semenjak itu. Di mana-mana seluruh rakyat bangkit melakukan perlawanan secara bergerilya. Lu Pin sendiri yang merasa sangat menyesal dan kecewa lalu melarikan diri karena ia dicari-cari oleh An Lu San untuk dibunuh. Seluruh keluarganya terbunuh dan hanya ia sendiri yang dapat melarikan diri ke daerah ini. Lu Pin adalah seorang terpelajar yang memiliki kepandaian seni ukir yang tinggi. Setelah menemukan gua ini dan memperbaikinya hingga menjadi sebuah tempat tinggal yang besar dan aman, ia lalu mengumpulkan tulang-tulang binatang besar yang banyak terdapat di gua ini, peninggalan dari jaman purba, lalu dengan kepandaiannya ia membuat tulang-tulang binatang yang besar itu menjadi tengkorak-tengkorak seperti yang berdiri berderet-deret itu! Jangan dikira bahwa itu benar-benar tengkorak-tengkorak manusia, semua itu hanyalah tulang-tulang binatang yang diukir dan dibentuk sebagai kerangka manusia! Dari sini dapat dibayangkan betapa hebatnya keahlian seni ukir menteri she Lu itu! Dalam pelariannya, Lu Pin berhasil membawa banyak barang-barang berharga dari dalam istana, karena ia khawatir kalau-kalau barang-barang itu terjatuh ke dalam tangan musuh. Dan karena ini pulalah maka An Lu San mencari-cari menteri yang setia itu. Akan tetapi ternyata, berkat pertolongan tengkorak-tengkorak ini yang dipasang di depan dan di dalam gua, tidak ada tentara pemberontak yang berani memasuki gua dan Lu Pin selamat dan tinggal di sini sampai datang hari ajalnya dan oleh kawan-kawan senasib ia dikubur dibawah hiolouw itu. Kemudian, hal ini akhirnya dapat diketahui oleh tokoh kang-ouw dan mereka menyerbu ke sini. Akan tetapi mereka tidak menyangka bahwa di dalam gua ini terlebih dahulu telah tinggal seorang yang tidak mereka sangka-sangka, yaitu keturunan dari Lu Pin hingga usaha mereka gagal!"
Cin Hai mendengarkan cerita ini dengan heran.
"Suhu, siapakah keturunan dari Lu Pin yang bernasib malang itu?"
Bu Pun Su tersenyum.
"Masih belum dapat mendugakah kau, anak bodoh? Siapa lagi kalau bukan Suhumu sendiri?"
Dengan terharu Cin Hai lalu berlutut di depan suhunya.
Tidak tahunya bahwa kakek jembel ini adalah keturunan seorang menteri di jaman ahala Tang yang bershe Lu?
"Tetapi sebenarnya usaha para tokoh kang-ouw itu sia-sia belaka.
Harta benda itu telah lama tidak berada di sini pula dan digunakan oleh Lu Pin untuk membiayai usaha perjuangan para patriot yang melakukan perlawanan gigih terhadap pemberontakan An Lu San.
Yang tertinggal hanyalah sebatang pedang kuno dan inilah barang itu!"
Bu Pun Su lalu memberikan pedang kuno itu kepada Cin Hai.
Pedang itu biarpun buruk rupanya dan sudah tua sekali, akan tetapi masih berkilau dan sangat tajam.
Di dekat gagangnya terukir dua huruf, yaitu Liong Coan.
Inilah Liong-coan-kiam yang termasyur dan yang dulu pernah menjadi pedang pusaka Kerajaan Tang itu.
"Pedang ini kuberikan kepadamu, muridku."
"Akan tetapi, Suhu. Untuk apakah teecu diberi pedang ini? Bukankah pedang ini hanya menjadi alat pembunuh dan melukai sesama manusia belaka? Bukankah dulu Suhu pernah berkata bahwa pedang tak pantas berada di tangan seorang pendekar gagah dan hanya pantas dibawa-bawa oleh seorang algojo atau pembunuh?"
Bu Pun Su tersenyum.
"Bagus, Cin Hai, kau ternyata masih ingat akan semua nasihatku. Akan tetapi, sebenarnya bukan pedanglah yang harus dipersalahkan dalam soal pembunuhan, akan tetapi orang yang memegangnya. Segala benda di dunia ini mempunyai sifat sama, dan semuanya sempurna. Buruk atau baik hanyalah terjadi karena akibat daripada perbuatan orang dan hanyalah merupakan pandangan seseorang terhadap benda itu. Kalau pedang ini dipergunakan untuk maksud baik, maka ia menjadi pusaka keramat, akan tetapi kalau dipergunakan untuk maksud buruk, ia berubah menjadi senjata laknat!"
Setelah Cin Hai menerima pedang Liong-coan-kiam itu, Bu Pun Su lalu berkata kembali.
"Sekarang sudah waktunya kau pergi meninggalkan gua ini, Cin Hai. Ingat baik-baik semua pelajaranmu di sini dan pesanku terakhir . Jangan sembarangan menjatuhkan tangan kejam kepada sesama manusia. Kalau terpaksa kau harus membinasakan seorang lawan, maka lawanmu itu haruslah seorang yang telah melanggar tiga pantangan besar, pertama membunuh orang tak berdosa, ke dua melanggar kesusilaan dan mengganggu anak bini orang, dan ke tiga pengkhianat-pengkhianat yang telah mengkhianati bangsa sendiri. Terhadap mereka ini pun kalau kiranya masih ada jalan lain, jangan kau sembarangan membunuh karena mengambil nyawa bukanlah pekerjaan orang!"
Cin Hai lalu berlutut dan menghaturkan terima kasih lalu pergi meninggalkan gua di mana telah tiga tahun ia tinggal dan mempelajari ilmu dari Bu Pun Su, kakek jembel yang lihai itu.
Ketika meninggalkan Gua Tengkorak, suhunya telah memberinya sekantung emas murni hingga Cin Hai tidak kuatir tentang biaya perjalanannya.
Tujuan perjalanannya hanya dua macam, pertama mencari Ang I Niocu, dan ke dua hendak kembali ke Tiang-an menemui ie-ienya.
Biarpun ia sama sekali tidak mempunyai niat hendak bertemu muka kembali dengan ie-thionya, yaitu Kwee-ciangkun, namun ia tidak dapat melupakan ie-ienya dan ingin sekali ia menengok bibinya itu.
Di dalam dunia ini, selain suhunya, hanya ada Ang I Niocu dan bibinya yang menempati hatinya dan merupakan orang-orang yang dikasihinya.
Beberapa pekan kemudian tibalah ia di daerah utara Sungai Huang-ho dan pada suatu hari ketika ia sedang berjalan dalam sebuah hutan pohon pek yang indah, tiba-tiba ia mendengar suara orang bertempur.
Cin Hai mempercepat tindakan kakinya dan di suatu tempat terbuka ia melihat empat orang sedang bertempur hebat sekali.
Cin Hai bersembunyi di balik sebatang pohon besar sambil mengintai dan ketika ia memandang dengan penuh perhatian, terkejutlah ia karena ia dapat mengenal muka seorang diantara mereka.
Orang ini tak salah lagi tentu pamannya, Kwee-ciangkun atau Kwee In Liang!
Biarpun muka pamannya telah berubah kurus dan rambutnya telah banyak uban, namun Cin Hai tidak pangling melihat wajahnya.
Ia heran sekali mengapa pamannya mengenakan pakaian petani biasa!
Kwee In Liang bertempur melawan seorang perwira Sayap Garuda yang berbaju putih, tanda pada pinggir pakaiannya menyatakan bahwa ia adalah seorang tingkat tiga, hingga lagi-lagi Cin Hai merasa terheran.
Mengapa pamannya yang juga serang panglima, bertempur melawan perwira istana kaisar?
Aneh sekali!
Kemudian ia memperhatikan orang yang menjadi lawan pamannya dan yang juga bertempur dengan hebat.
Orang ini adalah seorang gadis muda yang memiliki kepandaian sitat, gesit dan hebat, bahkan sekali pandang saja tahulah Cin Hai bahwa kepandaian gadis muda ini jauh melebihi kepandaian Kwee-ciangkun sendiri.
Gadis ini mengenakan pakaian yang atasnya berwarna hijau muda dan bagian bawah bergaris-garis merah dan putih.
Tubuhnya kecil ramping dan wajahnya manis sekali.
Rambutnya dikuncir dua dan rambut itu panjang dan hitam, diikat dengan sepasang pita merah.
Kedua lengan tangannya yang telanjang karena lengan bajunya hanya sampai di siku, memakai gelang emas yang berkilauan.
Dara manis ini bertempur melawan seorang perwira Sayap Garuda tingkat satu yang berkepandaian hebat sekali!
Cin Hai menduga-duga, siapa adanya dara jelita yang biarpun berusia muda tetapi berkepandaian setinggi itu?
Ia lalu memperhatikan lawan gadis itu yang mengenakan baju merah kehitam-hitaman.
Ia menjadi terkejut karena kepandaian perwira Sayap Garuda tingkat satu ini benar-benar lihai dan barangkali tidak berada di bawah kepandaian Kanglam Sam-lojin!
Ilmu silatnya model Mongol, yaitu ilmu pukulan yang dicampur dengan ilmu gulat.
Kedua lengan tangan perwira baju merah ini merupakan cengkeraman harimau yang menyerang dengan buasnya.
Gadis manis itu nampak terdesak hebat!
Sebaliknya, Kwee-ciangkun dengan ilmu silatnya dari cabang Kun-lun, dapat mendesak lawannya yang hanya menduduki tingkat tiga di kalangan barisan Sayap Garuda.
Lambat tetapi tentu ia mendesak lawannya hingga pada suatu saat yang baik, ketika lawannya menggunakan gerakan nekad menubruk dan berhasil menangkap lengan tangannya, Kwee-ciangkun cepat memutar lengan dan tubuhnya berada di belakang tubuh perwira itu.
Sekali saja ia menggentakkan lengannya yang tertangkap, maka terlepaslah cengkeraman lawannya hingga perwira itu terhuyung-huyung ke depan.
Kwee-ciangkun tak menyia-nyiakan kesempatan ini dan ia lalu menangkap baju perwira itu di punggung dan siap melemparkannya!
Pada saat Kwee-ciangkun berhasil menangkap lawannya, ternyata perwira baju merah itu pun telah berhasil pula mengalahkan dara itu!
Ia menggunakan gerakan Ular Menyambar dari Bawah Rumput dan berhasil menotok jalan darah dara muda itu dengan tiam-hwa (ilmu totok) model Mongol akan tetal cukup lihai hingga berhasil membuat lawannya tak berdaya!
Melihat betapa kawannya telah tertangkap oleh Kwee-ciangkun, maka Perwira Sayap Garuda kelas satu itu lalu memegang pundak gadis tadi dan hendak dilarikannya!
"Keparat she Boan, jangan kauganggu anakku!"
Kwee-ciangkun membentak dan melemparkan perwira yang telah dikalahkannya tadi, ia segera memburu.
Cin Hai yang mengintai di balik pohon ketika mendengar betapa Kwee-ciangkun menyebut dara itu sebagai anaknya, menjadi tercengang dan memandang lebih memperhatikan.
Maka setelah melihat wajah manis itu teringatlah bahwa gadis itu bukan lain ia Kwee Lin atau Lin Lin anak perempuan yang dulu diculik oleh Biauw Suthai!
Hampir saja Cin Hai berseru memanggil nama Lin Lin karena girangnya.
Entah mengapa ketika melihat wajah Kwee-ciangkun tadi, ia tidak mempunyai niat untuk membantu atau menjumpainya, akan tetapi kini setelah tahu bahwa dara muda itu adalah Lin Lin, anak perempuan yang dulu sangat jenaka dan nakal itu, timbut kegembiraan luar biasa di dalam hatinya.
Untung ia dapat menahan lidahnya dan kini ia memandang dengan penuh perhatian.
Perwira baju merah itu ketika melihat Kwee-ciangkun bergerak menyerang untuk menolong Lin Lin, segera mendahului dengan serangan kakinya hingga Kwee-ciangkun kena tersapu oleh kaki itu dan terlempar!
Ternyata bahwa Kwee-ciangkun bukanlah lawan perwira yang kosen ini.
"Ha, ha, ha! Orang she Kwee, aku hendak membawa puterimu, kau mau apa? Kautolak pinanganku yang kuajukan dengan halus, baik! Sekarang aku menggunakan cara kasar, lihat, kau bisa berbuat apa?"
Sehabis berkata demikian, ia lalu memondong tubuh Lin Lin hendak dibawa kabur!
Akan tetapi tiba-tiba dari balik pohon menyambar tiga buah benda kecil ke arah perwira itu!
Orang she Boan ini memang lihai, maka ia mengelak sambaran pertama yang mengarah lehernya itu dengan miringkan tubuh ke kiri, akan tetapi benda ke dua cepat telah menyambar tepat ke arah pundak kirinya.
Hampir saja benda itu mengenai sasaran akan tetapi perwira ini masih dapat menyelamatkan diri dengan merendahkan tubuh.
Sungguh tak pernah diduganya bahwa baru saja tubuhnya merendah tanpa dapat dikelit pula, benda ke tiga telah menyambar pundak kanannya!
Ia tidak merasa sakit karena benda yang menyambarnya itu lunak, akan tetapi karena yang disambar adalah urat penting di bagian pundaknya, maka lengannya menjadi lemas kesemutan hingga terpaksa ia melepaskan tubuh Lin Lin.
Dan pada saat yang sama, kembali melayang dua benda lunak itu ke arah pundak dan lambung Lin Lin dan sekaligus Lin Lin terlepas dari totokan perwira itu oleh dua sambaran benda lunak tadi.
Lin Lin yang merasa telah bebas cepat melompat ke samping dan menolong ayahnya yang ternyata mendapat luka ringan di kaki karena babatan kaki perwira she Boan itu tadi.
Perwira itu ketika melihat bahwa benda yang menyambarnya hanyalah sebutir buah kecil bulat yang banyak bergantungan di pohon besar yang tumbuh di depannya itu merasa kaget sekali, dan ia maklum bahwa tentu ada seorang pandai yang mempermainkannya.
Ia tahu bahwa penyerang itu tentu berada di balik pohon besar, maka sekali ini ia menggerakkan tubuh, ia telah meloncat ke belakang, pohon itu mencari.
Tetapi aneh, di situ tidak terdapat seorang pun!
Ia celingukan dan mencari-cari dengan matanya, tetapi sia-sia saja.
Keadaan di hutan itu sunyi dan tak terdapat orang lain kecuali mereka berempat!
"Orang she Kwee!"
Kata perwira itu marah.
"Kali ini aku ampunkan kau, tetapi, tunggulah kedatanganku pada pesta ulang tahunmu untuk memberi selamat!"
Kwee-ciangkun tidak tahu bahwa gadisnya telah tertolong oleh orang lain dan mengira bahwa benar-benar orang she Boan itu berlaku murah, maka ia lalu berkata.
"Boan-enghiong, mengapa kau masih saja merasa penasaran? Ketahuilah, bahwa anakku ini bukan jodohmu dan semenjak kecil telah kupertunangkan dengan orang lain!"
"Tak perlu merundingkan hal ini sekarang,"
Jawab perwira itu.
"Nanti saja di pesta ulang tahunmu. Kita berunding kembali dengan baik-baik."
Setelah berkata demikian, perwira itu mengajak kawannya pergi dari situ dengan cepat. Kwee In Liang menghela napas dan berkata kepada Lin Lin.
"Baiknya ia berlaku murah hati dan tidak mau mengganggu kita."
Lin Lin memandang kepada ayahnya dan menjawab.
"Ayah, kau tidak tahu. Kalau tidak ada orang pandai yang membantu, entah bagaimana jadinya dengan kita.". Ia lalu menceritakan betapa ia telah dibebaskan dari totokan dengan sambitan dua butir buah angcho, sedangkan perwira she Boan itu pun telah kena diserang sambaran buah angcho yang lihai! "Sayang, orang pandai itu menolong dengan sembunyi-sembunyi, agaknya ia tidak mau berkenalan dengan kita,"
Kata Lin Lin dengan kecewa, karena sebetulnya ia ingin sekali melihat siapa orangnya yang demikian lihai. Mendengar ucapan puterinya, Kwee In Liang terkejut dan segera ia berseru dengan suara keras.
"Enghiong yang telah membantu kami, silakan keluar agar kami dapat menyatakan terima kasih kami!"
Akan tetapi, biarpun telah berkali-kali ia berseru, tak seorang pun muncul atau menjawab.
"Sudahlah, Ayah. Agaknya ia benar-benar tidak mau bertemu muka dengan kita. Ayah, bangsat itu agaknya masih merasa penasaran dan ia telah menyatakan hendak datang nanti pada hari ulang tahunmu. Kurasa ia tak mempunyai maksud baik. Kita harus berhati-hati dan berjaga-jaga."
Kwee In Liang menghela napas.
"Kau benar, memang Boan Sip itu kurang ajar benar sekali. Tetapi aku masih ragu-ragu apakah ia akan bersikap begitu kurang ajar menimbulkan gara-gara dan mengacau dalam pestaku."
"Orang macam itu mungkin melakukan segala perbuatan busuk, Ayah. Baiknya aku pergi minta pertolongan Guruku. Akan tetapi, Ayah... apa yang kaumaksudkan dengan kata-katamu tadi bahwa... bahwa aku telah... dipertunangkan...?"
Tiba-tiba wajah gadis manis itu menjadi merah karena malu.
Ayahnya tersenyum.
Ia memang tahu bahwa anaknya ini selain manja juga suka berkata terus terang hingga tidah malu-malu bertanya tentang hal pertunangan.
"Tidak, Lin Lin, itu hanya alasan kosong untuk mencegah ia mendesak lebih jauh."
"Ayah, mengapa kau menggunakan alasan itu? Tak perlu kiranya kita terlalu takut!"
Kata Lin Lin dengan gemas.
"Kalau Guruku atau suciku bisa kuajak datang membantu, aku akan mengajar adat kepada bangsat rendah itu!"
Sambil bercakap-cakap mereka melanjutkan perjalanan keluar dari hutan itu.
Ketika mereka tiba di luar hutan, tiba-tiba dari jauh mereka melihat seorang pemuda berjalan mendatangi.
Pemuda itu berjalan perlahan sambil membawa sebuah bungkusan pakaian yang terbuat dari pada kain berwarna kuning.
Pakaiannya sederhana seperti pakaian seorang petani dengan baju luar yang lebar dan besar.
Tubuhnya tinggi tegap dan rambutnya yang hitam tebal itu diikat dengan kain pita kuning.
Jubahnya berwarna biru dan celananya putih.
Kwee In Liang memandang pemuda yang datang itu dengan penuh perhatian karena ia seakan-akan merasa sudah kenal kepada pemuda ini sedangkan Lin Lin hanya mengerling sekali tanpa perhatian.
Akan tetapi, ketika pemuda itu telah berada di hadapan mereka, tiba-tiba pemuda itu tampak terkejut dan berdiri diam, lalu ia menjura di hadapan Kwee In Liang sambil berkata.
"Maaf maaf! Bukankah aku sedang berhadapan dengan Kwee-ciangkun?"
Kwee In Liang memandang tajam dan juga Lin Lin kini memandang penuh perhatian kepada pemuda ini.
"Betul, aku adalah Kwee In Liang, dan siapakah Tuan yang telah mengenal padaku?"
Tiba-tiba pemuda itu melepaskan buntalan pakaiannya dan memberi hormat sambil menjura.
"Ie-thio, terimalah hormatku. Aku yang rendah adalah Cin Hai!"
"Cin Hai... ?"
Kwee In Liang berseru terkejut, akan tetapi matanya mengeluarkan sinar dingin.
"Engko Hai...!"
Lin Lin berteriak girang sekali.
"Eh, kau sekarang tidak gundul lagi!"
Mendengar kata-kata yang lucu ini, Cin Hai memandang dan ia tidak dapat menahan geli hatinya hingga ia tertawa gembira, juga Lin Lin tertawa senang sambil memandang dengan sepasang matanya yang bening dan indah seperti mata burung Hong itu.
"Engko Hai, bertahun-tahun ini kau pergi ke mana saja?"
Tanya Lin Lin.
"Aku... aku hanya merantau tak tentu arah tujuan. Bagaimana Ie-thio, apakah selama ini Ie-thio dan seluruh keluarga baik-baik saja? Harap Ie-thio sudi memaafkan aku yang telah lama tidak dapat menghadap."
"Tidak apa, tidak apa, Cin Hai, kau sekarang sudah besar dan dewasa. Agaknya kau telah mendapatkan banyak kemajuan, syukurlah."
Kata-kata ini sederhana sekali hingga Cin Hai maklum bahwa pamannya ini masih saja tidak suka kepadanya, maka ia pun tidak banyak bicara, hanya berkata singkat.
"Sebenarnya, aku pun hendak pergi ke Tiang-an dan mengunjungi Ie-ie. Apakah ia baik-baik saja?"
"Dia sehat dan selalu merindukanmu, Engko Hai. Tetapi, kami sekarang tidak tinggal di Tiang-an lagi, telah hampir tiga tahun Ayah pindah ke Sam-hwa-bun. Tahukah kau, Engko Hai? Ayah sekarang tidak menjabat pangkat lagi dan kami telah menjadi orang-orang biasa dan hidup sebagai petani!"
Berita ini benar-benar tak terduga oleh Cin Hai. Ia memandang kepada Ie-thionya dengan mata terbelalak dan mengandung penuh pertanyaan. Akan tetapi, Kwee In Liang menegur puterinya.
"Lin Lin, tak perlu kita bicarakan hal itu di sini. Cin Hai, kau sekarang hendak ke manakah?"
Ucapan ini bukanlah merupakan sebuah undangan, maka Cin Hai juga tidak hendak merendahkan diri hingga ia menjawab.
"Aku hendak pergi ke Tiang-an, akan tetapi karena Ie-thio tidak tinggal di sana lagi, aku... aku akan melanjutkan perantauanku..."
"Eh, Hai-ko, kau harus mengunjungi kami. Alangkah akan girangnya hati lbu!"
Memang anak-anak Kwee In Liang semua menyebut ibu kepada Loan Nio bibi Cin Hai. Karena tidak ada ucapan dari orang tua itu yang mengundangnya, Cin Hai hanya menjawab sederhana.
"Baiklah, Adik Lin. Kalau kebetulan aku lewat di Sam-hwa-bun tentu aku akan mampir."
"Kebetulan? Ah, Engko Hai, apakah kau benar-benar telah melupakan Bibimu, melupakan kami? 0, ya! Nanti pada hari ke lima belas bulan ini, jadi sepuluh hari lagi kami akan mengadakan sedikit perayaan guna memperingati hari ulang tahun ayah yang ke enam puluh. Kau harus datang menghadiri pesta itu, Engko Hai!"
"Apakah ini merupakan sebuah undangan?"
Tanya Cin Hai sambil memandang kepada Kwee In Liang hingga terpaksa orang tua ini berkata.
"Benar, Cin Hai, kau datanglah. Bibimu telah lama mengenangmu. Lin Lin, sudahlah jangan kita ganggu Cin Hai lebih lama lagi! Ia tentu mempunyai keperluan penting. Hayo kita pergi!"
Maka berpisahlah mereka, akan tetapi sekali lagi Lin Lin berpaling sambil berkata keras-keras.
"Engko Hai, jangan lupa hari ke lima belas, dan... kau masih pandai bersuling, bukan? Jangan lupa bawa serta sulingmu!"
Setelah mereka pergi jauh, Cin Hai duduk di bawah pohon sambil mengenangkan kedua orang tadi.
Jelas bahwa Kwee In Liang masih mempunyai perasaan tidak suka kepadanya dan sikap orang tua itu sungguh dingin hingga ia segan sekali untuk mengunjungi rumahnya.
Akan tetapi, Lin Lin mendatangkan perasaan gembira dan hangat di dalam dadanya.
Dara itu sekarang sungguh cantik jelita dan manis sekali!
Dan sikapnya masih sama seperti dulu.
Lincah, jenaka dan gembira.
Alangkah indahnya mata gadis itu.
Dan kepandaiannya juga tidak rendah.
Pantas Lin Lin menjadi murid Biauw Suthai yang lihai.
Diam-diam ia bersyukur dan girang sekali melihat bahwa gadis itu telah mewarisi kepandaian yang tinggi.
Haruskah ia datang pada hari ke lima belas nanti?
Sikap Kwee In Liang demikian dingin, apalagi nanti sikap Kwee Tiong dan yang lain-lain.
Bagaimana kalau ia tidak dilayani dan dianggap sepi?
Akan tetapi, ia harus melihat ie-ienya yang telah lama ia rindukan.
Biarlah, biar mereka menghina atau menganggap rendah kepadanya, karena ia tidak butuh dengan mereka.
Di sana masih ada bibinya, dan juga ada Lin Lin yang tentu akan menyambut kedatangannya dengah tamah.
Dan yang lebih penting pula, pada hari ke lima belas itu, Lin Lin terancam bahaya!
Perwira she Boan itu akan datang mengacau dan melihat kepandaian perwira itu, agaknya sukar bagi Lin Lin untuk menyelamatkan diri.
Ia harus datang, dan akan melihat-lihat saja dulu, kalau Lin Lin berhasil memperoleh bantuan gurunya dan lain-lain orang pandai, ia hanya akan menjadi penonton saja.
Akan tetapi kalau sampai gadis manis itu terancam bahaya, mau tidak mau ia terpaksa harus turun tangan!
Cin Hai lalu berdiri dan melanjutkan perjalanannya.
Ia merasa heran sekali mengapa wajah Lin Lin yang manis itu selalu membuat ia tersenyum gembira.
Akan tetapi, ketika ia teringat akan kata-kata Kwee In Liang bahwa Lin Lin sudah dipertunangkan dengan pemuda lain, tiba-tiba ia merasa kecewa dan tidak senang, heran sekali!
Diam-diam Cin Hai menegur perasaannya sendiri yang tidak layak ini.
Seharusnya ia ikut gembira mendengar akan pertunangan Lin Lin, mengapa ia harus merasa tidak senang?
Ada hak apakah dia?
Pikiran ini membuat hatinya menjadi dingin dan ia berusaha sekuatnya untuk mengusir bayangan wajah Lin Lin dari pikirannya, akan tetapi tidak berhasil!
Ia lalu melayangkan pikirannya kepada Ang I Niocu.
Telah tiga tahun ia tidak bertemu dengan Dara Baju Merah yang telah berlaku baik sekali kepadanya itu.
Ia rindu kepada Ang I Niocu dan ingin sekali bertemu kembali.
Bu Pun Su dulu menyuruh Ang I Niocu mencari sucinya, yaitu Kim Lian atau yang dijuluki Giok gan Kuibo Si Biang Iblis Bermata Intan.
Hari ke lima belas masih sepuluh hari lagi dan selama sepuluh hari itu ia akan mencoba mencari Ang I Niocu.
Ia masih ingat bahwa Ang I Niocu disuruh pergi ke Lok-bin-si, sebuah kota yang letaknya tidak jauh dari situ.
Untuk pergi ke sana pulang pergi, paling lama hanya membutuhkan waktu lima hari.
Masih ada waktu baginya, maka dengan hati tetap Cin Hai lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke Lok-bin-si, sebuah kota di lereng pegunungan yang banyak hutannya.
Setelah menerima perintah dari Susiok-couwnya, Ang I Niocu pergi mencari sucinya ke Lok-bin-si.
Akan tetapi, ketika ia tiba di situ, ia mendengar bahwa Giok-gan Kui-bo telah lama pergi meninggalkan daerah itu dan kabarnya merantau ke arah barat.
Ang I Niocu sebetulnya ingin lekas-lekas kembali ke Gua Tengkorak karena semenjak meninggalkan tempat itu, hatinya tertinggal di sana bersama Cin Hai, pemuda yang telah merebut seluruh isi hatinya itu.
Akan tetapi ia tidak berani kembali dan bertemu dengan susiok-couwnya sebelum bertemu dengan sucinya.
Ia maklum bahwa susiok-couwnya itu sangat bengis, keras dalam hal memberi tugas.
Sebelum tugas itu diselesaikan, maka ia tidak boleh kembali membuat laporan.
Oleh karena ini, ia lalu menyusul ke barat, mencari sucinya.
Daerah barat sangat luas sehingga tidak mudah mencari seorang yang tidak diketahui jelas di mana tinggalnya, walaupun orang itu begitu terkenal seperti Giok-gan Kui-bo sekalipun!
Oleh karena ini maka Ang I Niocu merantau sampai dua tahun lebih belum juga dapat bertemu dengan Giok-gan Kui-bo.
Hatinya bingung dan sedih sekali.
Ia merasa amat rindu kepada Cin Hai, akan tetapi apa dayanya?
Pemuda itu sekarang berada dengan susiok-couwnya dan ia sekali-kali tidak berani menghadap Bu Pun Su sebelum tugasnya selesai.
Oleh karena memang berwatak baik, di sepanjang jalan Ang I Niocu tiada hentinya mengulurkan tangan menggunakan kepandaiannya untuk menolong mereka yang menderita, membela kaum tertindas dan membasmi para penjahat yang mengganas.
Maka di daerah barat namanya pun menjadi terkenal sekali.
Setelah ia tiba di sebuah kota yang disebut Bok-chiu, akhirnya ia mendapat keterangan tentang nama sucinya.
Ternyata sucinya terkenal sekali di kota ini karena dengan seorang diri saja Giok-gan Kui-bo telah menghajar habis-habisan kepada kawanan Piauwsu Harimau Kuning yang terkenal sekali di kota Bok-chiu.
Pertempuran ini terjadi ketika para piauwsu itu bermusuhan dengan seorang piauwsu baru yang belum lama membuka perusahaan piauwkiok (kantor pengirim barang) di kota itu.
Memang Oei-houw-piauwkiok terkenal mempunyai barisan yang terdiri dari jago-jago silat berkepandaian tinggi dan karenanya ditakuti oleh semua orang di kota itu, juga para penjahat dan perampok yang biasa mencegat di hutan-hutan dan gunung-gunung apabila melihat bendera warna kuning dengan gambar kepala harimau, tidak ada yang berani mengganggu.
Akan tetapi Oei-houw-piauwkiok memasang tarip terlalu tinggi untuk biaya pengiriman dan pengawalan barang.
Oleh karena itu ketika piauwsu yang baru itu membuka perusahaannya, para saudagar yang mengirim barang mulai mempercayakan barang-barangnya kepada piauwsu yang bernama Ong Hu Lin itu.
Hal ini membuat para piauwsu dari Oei-houw-piauwkiok menjadi marah sekali dan terjadilah permusuhan.
Ong Hu Lin adalah seorang piauwsu yang masih muda dan berwajah tampan.
Ilmu silatnya lumayan juga dan ia memiliki ilmu golok yang lihai.
Almarhum ayahnya juga seorang piauwsu yang ternama di daerah barat dan ia hanya menggantikan kedudukan ayahnya oleh karena tidak dapat mencari pekerjaan lain.
Dengan mengandalkan kepandaiannya, ia mencari nafkah dengan mengawal barang-barang berharga dan mendapat upah sekedarnya.
Pada suatu hari, Ong Hu Lin mendapat kepercayaan dari hartawan Lui untuk mengawal kiriman segerobak cita yang mahal harganya.
Ketika melalui sebuah hutan, tiba-tiba ia diganggu oleh kawanan perampok yang terdiri dari belasan orang.
Ong Hu Lin menghadapi kepala rampok itu dan berkata.
"Sahabat, harap kalian jangan mengganggu aku yang sedang mencari nafkah. Kalau kalian menghargai persahabatan, maka sepulangku dari tempat ke mana barang ini harus kukirim, aku akan singgah untuk memberi hormat dan akan membawa sekedar barang hadiah sebagai tanda penghormatan."
Akan tetapi Ong Hu Lin sama sekali tidak tahu bahwa perampok-perampok itu bukan lain adalah kaki tangan para piauwsu di Oei-houw-piauwkiok yang sengaja menyewa tenaga mereka untuk mengganggu Ong Hu Lin.
Maka tentu saja kata-katanya itu ditertawakan saja oleh kawanan perampok, dan kepala perampok yang tinggi besar itu membentak.
"Piauwsu hijau jangan banyak cakap. Tinggalkan barang-barang ini di sini dan kau pergilah kalau kausayangi jiwamu. Orang macam kau tidak pantas menjadi piawsu, dan lebih baik kaututup saja perusahaanmu itu! Ha-ha-ha!"
Ong Hu Lin marah sekali.
Dicabutnya golok yang tergantung di pinggangnya dan ia lalu dikeroyok.
Akan tetapi, ternyata bahwa kepandaian Ong-piauwsu cukup tangguh hingga tak lama kemudian beberapa orang anggauta perampok telah roboh mandi darah.
Dengan ilmu goloknya yang lihai ia dapat mendesak sekalian perampok itu.
Pada saat itu, tiba-tiba muncul tiga orang yang membantu para perampok mengeroyok Ong-piauwsu dan mereka ini bukan lain adalah para piauwsu Oei-houw-piauwkiok!
Ternyata kepandaian ketiga orang piauwsu ini lihai juga dan sebentar saja Ong-piauwsu terdesak hebat dan jiwanya terancam.
Pada saat itu, terdengar suara wanita tertawa yang terdengar halus merdu tetapi mendirikan bulu tengkuk karena tidak terlihat orangnya dan tahu-tahu berkelebat bayangan menyambar para pengeroyok itu.
Sebentar saja habislah para perampok berikut tiga orang piauwsu itu disapu oleh seorang wanita yang bergerak menari-nari dengan cepat dan ganas.
Di mana saja tangan atau kakinya menyambar, tentu seorang perampok terlempar dan bergulingan sampai jauh!
Akhirnya semua perampok lari tunggang langgang sambil membawa kawan-kawan yang terluka.
Ong Hu Lin berdiri memandang dengan kedua mata terbelalak.
Ternyata yang menolongnya dengan kepandaian luar biasa itu adalah seorang wanita yang cantik dengan sepasang mata genit dan liar mengerling kepadanya.
Mulut wanita itu tersenyum manis.
Rambutnya hitam panjang dibiarkan tergantung di punggungnya, bajunya berwarna hijau dan celananya putih.
ONG Hu Lin sadar dari keheranannya dan buru-buru ia menjura memberi hormat.
"Lihiap yang gagah perkasa, siauwte sungguh berhutang budi dan tidak tahu bagaimana harus membalasnya."
"Ong-piauwsu, janganlah kau terlalu sungkan. Bukankah kita adalah orang-orang sekaum di kalangan kang-ouw dan sudah seharusnya saling menolong?"
Wanita itu menjawab dengan suaranya yang merdu. Ong Hu Lin terkejut.
"Bagaimana Nona bisa mengetahui namaku?"
"Bukankah kau Ong Hu Lin, piauwsu muda yang membuka perusahaan di Bokchiu?"
Kata wanita itu yang bukan lain adalah Giok-gan Kui-bo adanya.
"Kebetulan sekali aku bertemu dengan ketiga orang Piauwsu dari Oei-houw-piauwkiok itu dan mendengar mereka membicarakan engkau. Mana bisa aku membiarkan saja mereka berlaku sewenang-wenang?"
"Terima kasih banyak, Lihiap. Tetapi siapakah nama Lihiap yang lihai seperti bidadari ini?"
Giok-gan Kui-bo mengerling dengan gaya yang manis dan genit dan memandang wajah yang tampan itu dengan tajam.
"Namaku Kim Lian dan orang menyebut aku Giok-gan Lihiap (Pendekar Wanita Bermata Intan)."
Melihat gerak-gerik dan lagak wanita cantik ini, tahulah Ong Hu Lin bahwa ia berhadapan dengan seorang wanita yang genit, maka ia lalu berlancang mulut berkata sambil tersenyum manis.
"Sungguh nama dan julukan yang indah dan manis, sesuai benar dengan orangnya."
Giok-gan Kui-bo berpura-pura marah dan memandang dengan mata melotot, tetapi bibirnya tetap tersenyum! "Lihiap, harap kaujangan kepalang menolong orang."
Kata Ong Hu Lin.
"Apa maksudmu?"
"Sudah jelas bahwa diriku yang tiada kawan ini dimusuhi oleh kawanan Oei-houw-piauwkiok yang terdiri dari orang-orang pandai. Kalau tidak ada engkau yang lihai, Lihiap, tentu aku telah binasa. Maka sudilah kau mengawani aku berjalan bersama-sama sampai di tempat tujuan agar mereka itu tidak berani mengganggu lagi."
"Kalau aku mau apakah upahnya?"
Kim Lian bertanya sambil tertawa genit.
"Apa yang kauminta, Lihiap, biar jiwaku sekalipun akan kuberikan kepadamu."
Jawab Ong Hu Lin yang ternyata pandai bermain kata-kata.
Demikianlah semenjak saat itu mereka berdua menjadi kawan baik yang tidak berpisah lagi.
Ketika Ong Hu Lin bersama Kim Lan kembali ke Bok-chiu, mereka ditunggu oleh kawanan piauwsu dari Oe-houw-piauwkiok dan dikeroyok, tetapi semua piauwsu itu dengan mudah saja dapat dihajar oleh Giok-gan Kui-bo!
Akhirnya piauwsu-piauwsu itu menyatakan takluk dan semenjak itu, Ong Hu Lin yang menjadi pemimpin piauwkiok itu.
Sebaliknya Giok-gan Kui-bo tetap menjadi kawan baik Ong Hu Lin.
Akan tetapi, karena memang sudah biasa merantau dan tidak kerasan tinggal di dalam sebuah rumah dan mengurus rumah tangga, Kim Lan lalu meninggalkan Ong Hu Lin dan membuat tempat tinggal sendiri di dalam sebuah gua di gunung yang dekat dengan kota Bok-chiu.
Gua ini ia jadikan tempat beristirahat dan kadang-kadang saja ia pergi menemui Ong Hu Lin di rumahnya.
Giok-gan Kui-bo sama sekali tak pernah menyangka bahwa Ong Hu Lin sebetulnya telah mempunyai seorang isteri!
Dan isterinya ini bukanlah seorang sembarangan karena isterinya ini adalah Pek bin Moli Si Iblis Wanita Muka Putih, yaitu puteri tunggal dari Pek Moko!
Ong Hu Lin bertemu dengan Pek Moko dan puterinya dan Pek-bin Moli jatuh cinta kepadanya hingga akhirnya dipaksa kawin dengan Pek-bin Moli.
Sebetulnya kalau melihat orangnya, setiap pemuda pasti akan bersedia dengan senang hati untuk menjadi suami Pek-bin Moli yang selain muda dan cantik, juga memiliki kepandaian silat tinggi, karena dalam hal kepandaian silat, selain menerima pendidikan dari ayahnya, Pek Moko, ia juga menerima pendidikan dari supeknya, ialah Hek Moko yang lihai!
Akan tetapi celakanya, Pek-bin Moli yang cantik jelita ini berotak miring!
Gadis ini menjadi gila karena suatu penyakit panas hingga betapapun cantiknya, akhirnya Ong Hu Lin tidak tahan melihat keadaan isterinya dan menjadi jijik dan takut!
Oleh karena ini, maka pada suatu hari Ong Hu Lin berhasil melarikan diri dan minggat dari isterinya yang gila ini hingga sampai di Bok-chiu dan bertemu dengan Giok-gan Kui-bo yang biarpun kecantikannya tidak melebihi Pek-bin Moli, akan tetapi sikapnya menarik hati dan tidak gila!
Suami yang meninggalkan isterinya ini sama sekali tak pernah mimpi bahwa pada saat itu, isterinya yang gila telah menyusulnya dan berhasil mengetahui tempat tinggalnya!
Bahkan isteri yang gila akan tetapi mewarisi kecerdikan ayahnya ini telah mengetahui pula akan perhubungannya dengan Giok-gan Kui-bo!
Kalau saja ia tahu, tentu ia akan lari pergi karena ia takut setengah mati kepada isterinya ini dan sudah maklum akan kepandaian isterinya yang lihai sekali.
Pada suatu malam, ketika Ong Hu Lin dengan enaknya tidur di dalam kamarnya, tahu-tahu jendela kamarnya terbuka dari luar dan suara yang sangat dikenal dan ditakutinya memanggilnya.
Ong Hu Lin membuka matanya dan ia menggosok-gosok mata karena mengira bahwa ia sedang bermimpi.
Ternyata bahwa sambil tersenyum-senyum manis tetapi dengan sepasang mata bersinar menakutkan, di depan pembaringannya telah berdiri Pek-bin Moli, isterinya yang berotak miring itu!
Pek-bin Moli memakai baju kotak-kotak lucu sekali dan celananya berwarna kuning gading.
"Kau...?"
Ong Hu Lin berseru.
"Hi-hi, kau sudah rindu kepadaku, suamiku yang manis?"
Pek-bin Moli tertawa dan menghampiri hingga diam-diam Ong Hu Lin menggigil ketakutan.
"Hayo kauberitahukan padaku di mana adanya sundal yang menjadi kekasihmu itu?"
"Sia... siapa... yang kau... kaumaksudkan...?"
Ong Hu Lin bertanya gagap.
"Hi-hi, siapa lagi kalau bukan Giok-gan Kui-bo? Hayo kau lekas turun dan antar aku menemuinya. Atau haruskah aku menggunakan paksaan?"
Biarpun suara isterinya terdengar merdu, akan tetapi sinar matanya mengeluarkan ancaman hebat hingga mau tidak mau Ong Hu Lin terpaksa menyanggupi.
Ia dapat membujuk-bujuk isterinya yang gila itu untuk menanti sampai besok pagi, karena tidak mungkin malam-malam yang gelap itu mencari gua tempat Giok-gan Kui-bo.
Karena Pek-bin Moli sangat mencinta suaminya, maka ia menurut dan malam itu Ong Hu Lin terpaksa menuturkan cerita bohong, dan mengatakan bahwa ia pergi karena hendak merantau dan meluaskan pengalaman.
Setelah malam berganti pagi, maka Ong Hu Lin terpaksa mengantarkan isterinya itu mengunjungi gua di mana Giokgan Kui-bo tinggal!
Semua piauwsu di situ terheran-heran karena tidak tahu bilamana datangnya seorang wanita cantik yang bersikap dan berpakaian aneh itu dan tahu-tahu wanita itu telah keluar dari kamar bersama-sama Ong Hu Lin.
Setelah Ong-piauwsu memberitahukan bahwa wanita itu adalah isterinya, semua orang terkejut sekali tak seorang pun berani banyak bertanya.
Kebetulan sekali pada hari itu juga Ang I Niocu tiba di Bok-chiu dan mendengar tentang perhubungan sucinya dengan Ong Hu Lin.
Ia pergi menyelidik dan mendengar semua peristiwa mengenai diri Giok-gan Kui-bo yang sekarang kabarnya tinggal di dalam sebuah gua di gunung yang berada tak berapa jauh dari kota itu.
Maka ia pun lalu menyusul ke sana!
Giok-gan Kui-bo sedang duduk seorang diri di dalam gua tempat tinggalnya, menanti mendidihnya air yang dimasak, ketika tiba-tiba tirai bambu yang dipasang di depan guanya itu terbuka.
Seorang wanita muda yang cantik dan berpakaian aneh telah berada di depannya sambil tertawa ha-ha-hi-hi.
Kim Lian memperhatikan wanita ini.
Ternyata bahwa rambut wanita ini pun terurai ke belakang dan di atasnya diikat dengan pita hijau.
Bajunya kotak-kotak hitam dan nampak lucu sekali.
"Siapa kau?"
Tanya Kim Lian tak acuh karena menyangka yang datang hanyalah seorang gadis dusun yang ingin menemuinya.
"Hi-hi-hi. Inikah Giok-gan Kui-bo? Inikah sundal tak tahu malu yang merampas suamiku? Ha, ha!"
"Kau... kau gila!"
Kim Lian memaki marah sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Kau yang gila! Kau, bukan aku!"
Tiba-tiba wanita itu menuding dengan jari telunjuknya yang runcing.
"Kau harus mampus!"
Setelah berkata demikian Pek-bin Moli menampar dengan tangannya ke arah pipi Lim Lian.
Giok-gan Kui-bo marah sekali dan menggerakkan tangannya hendak menangkap tangan yang menampar itu, akan tetapi alangkah herannya ketika tangan yang menampar itu dapat berkelit dan melanjutkan tamparannya dari lain jurusan dan "plak!"
Pipinya kena tampar!
Bukan main marahnya Giok-gan Kuibo.
Selama merantau di dunia kang-ouw belum pernah ada orang berani menghinanya, apalagi menamparnya!
"Anjing betina!
Siapakah kau berani main gila di depanku?"
Bentaknya dengan dada turun naik karena marahnya.
"Hi, hi. Sakit ya?"
Kata Pek-bin Moli sambil tertawa.
"Kau belum kenal aku? Kau belum pernah mendengar tentang Pek-bin Moli?"
Terkejutlah Giok-gan Kui-bo mendengar nama ini.
"Kau yang disebut Pek-bin Moli? Jadi kau ini puteri Pek Moko? Mengapa kau datang-datang memaki dan menamparku?"
Tanyanya heran hingga untuk sesaat ia melupakan kemarahannya.
"Hi, hi, hi! Kau main gila dengan suamiku dan kau masih bertanya mengapa aku menamparmu? Ha, ha, suami orang tidak bisa dibagi-bagi!"
Giok-gan Kui-bo melirik keluar gua dan melihat bayangan Ong Hu Lin berdiri dengan wajah pucat dan tubuh menggigil.
"Hm, jadi orang she Ong itu suamimu? Tetapi ia tidak pernah bilang bahwa ia suamimu."
"Ha, ha, ha! Ia terlalu cinta padaku, mana ia mau mengobral namaku disebut-sebut kepada sembarang orang? Hi, hi, hi!"
"Pek-bin Moli! Kau sudah datang ke sini dan jangan kaukira aku Giok-gan Kui-bo takut kepadamu. Sekarang kau mau apa?"
"Eh, eh, kau mau melawan? Baik, kau mampuslah!"
Setelah berkata demikian, Pek-bin Moli lalu menyerang dan keduanya lalu bertempur hebat di dalam gua yang sempit itu!
Kalau Giok-gan Kui-bo lihai sekali gerakan tangannya yang seperti menari-nari dengan buasnya itu, adalah Pek-bin Moli yang bermuka putih halus itu luar biasa lihainya mempergunakan kedua kakinya!
Harus diketahui bahwa di dalam sepatu, tepat di bawah telapak kakinya, tersembunyi besi baja yang menambah kelihaian tiap tendangan dan sepakan wanita ini.
Selain itu, Pek-bin Moli memiliki ginkang luar biasa dan tubuhnya seakan-akan melayang-layang ke atas sambil mengirim tendangan bertubi-tubi bagaikan kedua kakinya tak pernah menyentuh tanah.
Akan tetapi Giok-gan Kui-bo melawan dengan sungguh-sungguh.
Pertempuran itu sungguh menarik dan hebat sekali.
Tendangan dan pukulan sampai menimbulkan angin mendesir dan suaranya keluar dari gua itu membuat tirai bambu yang berada di luar bergoyang-goyang seakan-akan terhembus angin besar.
Ong Hu Lin berdiri dengan muka pucat dan tubuh menggigil.
Tiba-tiba dari jauh tampak oleh Ong Hu Lin setitik bayangan merah yang naik ke tempat itu dengan cepat sekali.
Ia cepat menyelinap ke samping gua dan bersembunyi karena maklum bahwa yang datang itu tentu seorang yang berkepandaian tinggi.
Setelah dekat, ia melihat bahwa yang datang itu adalah seorang wanita berbaju merah yang luar biasa cantiknya.
"Ong-piauwsu, kau keluarlah, tak usah bersembunyi karena aku sudah melihatmu!"
Kaget sekali Ong Hu Lin mendengar ini dan dengan muka makin pucat ia keluar dari tempat persembunyiannya.
"Dimana adanya Giok-gan Kui-bo?"
Ang I Niocu dengan suara keren. Ong Hu Lin makin heran. Siapakah wanita ini yang agaknya memiliki kepandaian hebat dan yang datang-datang menanyakan Giok-gan Kui-bo?"
"Kau siapakah?"
Ia memberanikan diri bertanya.
"Tak usah kau tahu. Lekas katakan di mana adanya Giok-gan Kui-bo!"
Ang I Niocu membentak marah hingga Ong Hu Lin merasa takut.
"Dia... dia sedang bertempur melawan isteriku..."
"Isterimu? Siapakah dia?"
"Pek-bin Moli..."
Mendengar nama ini, Ang I Niocu memandang ke arah tirai bambu yang tergantung di depan gua yang kini bergoyang-goyang karena sambaran angin pukulan dari dalam gua.
Ia segera melompat dan menggunakan tangan kiri menyingkap tirai itu.
Pada saat itu, dengan Ilmu Tendangan Siauw-ci-twi, Pek-bin Moli sedang mendesak hebat kepada Giok-gan Kui-bo yang berkelit ke sana ke mari mengelak tendangan maut yang datang bertubi-tubi itu.
Tepat pada saat Ang I Niocu membuka tirai memandang, sebuah tendangan kaki kiri telah melanggar pundak kiri Giok-gan Kuibo yang mengeluarklan seruan tertahan dan tubuhnya terhuyung ke belakang.
Pek-bin Moli mengejar hendak mengirim tendangan maut, akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan merah dan tahu-tahu tendangannya itu tertangkis oleh sebuah lengan tangan yang kuat sekali.
Pek-bin Moli kaget dan melompat mundur sambil memandang Dara Baju Merah yang menghalang-halangi serangannya tadi.
"Pek-bin Moli, harap kau suka bersabar dan tenang sedikit. Maafkanlah Suciku kalau ia bersalah. Kesalahannya tidak sangat besar hingga kau tak perlu menjatuhkan tangan maut!"
"Siapa kau?"
Tanya Pek-bin Moli dengan mata berputar-putar hebat.
"Aku Sumoinya."
Setelah memutar otaknya dan melihat pakaian itu, agaknya Pek-bin Moli teringat.
"Hi, hi, kau tentu Ang I Niocu bukan? Kau memang cantik jelita!"
"Pek-bin Moli,"
Kata Ang I Niocu yang maklum bahwa wanita di depannya itu memang berotak miring maka percuma saja diajak bicara panjang lebar "sekarang aku putuskan.
Kau pergi dari sini membawa suamimu sebelum ia lari lagi, atau kaubiarkan suamimu lari pergi dan kau bertempur melawan aku?"
Kedua mata Pek-bin Moli terbelalak "Apa? Suamiku lari pergi lagi? Mana dia...? He, Ong Hu Lin...! Tunggu...!"
Dan wanita gila ini berlari keluar sambil berteriak-teriak memanggil nama suaminya.
Setelah bertemu di luar, ia lalu menggandeng tangan suaminya itu dan diajak pulang.
Ong Hu Lin hanya menurut saja seperti seekor kerbau ditarik tali hidungnya.
Ang I Niocu menghampiri Giok-gan Kui-bo yang merintih-rintih.
Luka di pundaknya walaupun tidak membahayakan jiwanya, tetapi terasa sakit sekali.
"Suci, telah dua tahun aku mencari-carimu di mana-mana. Tidak tahunya di sini kau memperebutkan seorang laki-laki dengan wanita gila itu!"
Mendengar kata-kata keras ini, Giok-gan Kui-bo tidak menjawab hanya menundukkan kepala.
Ang I Niocu menghela napas, karena tahu bahwa jika berhadapan dengannya, Kim Lian selalu memperlihatkan sikap lemah dan mengalah.
Ia maklum bahwa sucinya ini mempunyai kebiasaan buruk dan genit hingga banyak orang kang-ouw menganggap ia sebagai perempuan lacur, akan tetapi sebenarnya, di dalam hati ia tak begitu jahat.
"Suci, kalau saja kau berada di pihak benar, belum tentu kau kalah oleh wanita gila itu. Akan tetapi kau telah berlaku sesat dan membiarkan dirimu dengan mudah saja tergoda oleh laki-laki, maka sedikit luka itu anggaplah saja sebagai hukuman. Aku datang atas perintah Susiok-couw!"
Mendengar disebutnya susiok-couw terkejutlah Giok-gan Kui-bo hingga wajahnya berubah pucat.
"Tidak, jangan kau takut. Susiok-couw belum menjatuhkan putusan pendek dan tegas. Akan tetapi beliau minta supaya aku memberi peringatan kepadamu. Kau telah berkali-kali melanggar pantangan sebagai orang gagah dan melakukan perbuatan-perbuatan rendah. Kau mencuri, merampok, menculik pemuda-pemuda dan kau mencemarkan nama perguruan kita. Sekarang jawablah, bagaimana pikiranmu?"
Dengan muka masih tunduk Giok-gan Kui-bo menjawab.
"Im Giok, memang aku telah bersalah... tetapi apa dayaku? Aku sebatangkara, hidupku merana menderita. Kalau aku tidak mencari kesenangan sendiri, siapakah yang dapat memberi kesenangan kepadaku? Apakah aku harus melewatkan hidupku dalam kesunyian dan mati dengan hati menderita?"
Ang I Niocu merasa terharu mendengar ini, akan tetapi ia mengeraskan suaranya ketika berkata dengan tegas.
"Suci, kau juga tahu bahwa di dunia ini ada dua macam kesenangan. Kesenangan yang buruk dan jahat dan ada pula kesenangan yang baik, bersih. Mengapa kau menurutkan nafsu hatimu yang jahat? Apakah kau tidak mempunyai cukup tenaga untuk mengekang nafsu jahatmu dan apakah kau tidak memiliki lagi kebersihan batin seorang wanita yang sopan dan menjunjung tinggi kesusilaan?"
"Sudahlah, sudahlah..."
Tiba-tiba Giok-gan Kui-bo menjatuhkan diri sambil menangis.
"Kau mana tahu tentang kasih sayang, mana tahu tentang cinta! Selama hidupmu agaknya kau tidak pernah menderita dan merasa bagaimana celakanya hati yang tergoda rasa rindu. Agaknya hatimu terbuat daripada batu!"
Kim Lian memandang sumoinya dengan mata basah.
Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa kata-katanya itu bagaikan mata pedang tajam menusuk uluhati Im Giok hingga Ang I Niocu menundukkan kepala dengan wajah pucat.
Dara Baju Merah ini teringat akan perasaan hatinya terhadap Cin Hai!
Ah, Suci, kalau saja kau tahu betapa berat rasa hatiku karena pemuda itu, pikirnya.
"Im Giok, aku memang telah bersalah. Beritahukan saja kepada Susiok-couw bahwa semenjak hari ini aku Kim Lian akan mencukur rambut dan menjadi nikouw (pendeta wanita) dan bertapa di gua ini. Aku takkan mencampuri urusan dunia lagi dan hanya ingin bertapa menebus dosa!"
Ang I Niocu tidak tahan lagi menahan keharuan hatinya.
Ia maju menubruk dan memeluk sucinya dan mereka berdua sama-sama menangis.
Ang I Niocu merasa girang mendengar akan keinsyafan sucinya ini, akan tetapi kata-kata Ki Lian tadi benar-benar menusuk hatinya.
"Im Giok, mudah-mudahan kau takkan sampai tersesat seperti aku,"
Kata Kim Lian sambil mengusap-usap rambut sumoinya yang halus.
"Suci... aku pun hanya seorang manusia biasa saja yang tidak terbebas dari kesesatan..."
Giok-gan Kui-bo dapat menetapkan hatinya yang terharu, lalu dengan tiba-tiba ia mencabut pedang yang tergantung di punggung Ang I Niocu.
Gerakannya cepat sekali dan tahu-tahu rambutnya yang panjang hitam dan tergantung riap-riapan di punggungnya itu telah dipotongnya!
Ang I Niocu hanya dapat memandang dengan hati terharu sekali.
Setelah kedua kakak beradik seperguruan itu bercakap-cakap melepaskan rindu, Ang I Niocu lalu meninggalkan Kim Lan.
Dara Baju Merah ini berjalan secepatnya karena ia ingin segera sampai di Gua Tengkorak dan memberi laporan kepada Bu Pun Su tentang tugas yang telah diselesaikannya itu.
Padahal sebetulnya karena ingin segera bertemu dengan Cin Hai, maka ia melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa itu!
Ketika dengan hati berdebar-debar Ang I Niocu memasuki Gua Tengkorak itu, ia melihat Bu Pun Su duduk bersila menghadapi hiolouw yang mengepulkan asap putih.
Ia tidak melihat Cin Hai di situ dan diam-diam ia merasa kecewa dan kuatir.
Segera ia menjatuhkan diri berlutut dan berkata.
"Susiok-couw, teecu datang menghadap."
"Bagus, Im Giok, kau telah kembali. Bagaimana dengan usahamu mencari Kim Lian?"
Dengan panjang lebar Ang I Niocu menceritakan pengalamannya dan ketika ia menceritakan keputusan sucinya yang nekad dan mencukur rambut untuk masuk menjadi nikouw, tak tertahan pula ia mengucurkan air mata.
Bu Pun Su mengangguk-angguk dan menghela napas.
"Baik juga keputusannya itu. Betapapun dosa seseorang, asal dia dapat insyaf dan kembali ke jalan benar untuk selanjutnya menebus kekeliruan yang sudah-sudah dengan tindakan-tindakan sempurna, maka ia boleh disebut seorang bijaksana."
Kemudian, setelah berdiam untuk beberapa lama sambil memandang wajah gadis yang tunduk itu dengan tajam, tiba-tiba Bu Pun Su berkata dengan suara sungguh-sungguh.
"Im Giok, kalau aku tidak salah sangka, luka di hatimu akibat gagalnya perjodohanmu dengan pemuda pilihanmu dulu agaknya sekarang telah sembuh dan kulihat kegembiraan hidupmu telah kembali. Anak, bagi seorang wanita, mendirikan rumah tangga yang baik dan penuh damai adalah jalan yang terutama untuk membebaskan diri dari pada godaan dunia dan untuk memenuhi tugas kewajiban sebagai seorang manusia. Lihatlah contohnya Sucimu itu, karena ia sebagai seorang gadis hidup seorang diri dan tidak mendirikan rumah tangga, maka banyak penggoda menyesatkan jalan hidupnya. Aku maklum bahwa kau mempunyai iman yang kuat dan batin yang bersih, akan tetapi, apa perlunya menyiksa diri dengan hidup menyendiri? Kau tidak mempunyai jodoh untuk menjadi seorang pendeta wanita yang takkan kawin selama hidupnya!"
Ang I Niocu mendengarkan kata-kata orang tua itu dengan hati berdebar, karena kata-kata itu memang tepat dan seakan-akan susiok-couwnya dapat membaca isi hatinya.
Akan tetapi karena merasa malu, ia tidak berani mengangkat muka dan tetap bertunduk.
"Im Giok, baiklah kita berterus terang saja. Kau perlu mendapat seorang suami yang baik sekali, dan aku telah melihat seorang pria yang agaknya akan cocok untuk menjadi kawan hidupmu selamanya."
Tiba-tiba wajah Ang I Niocu memerah dan hatinya makin berdebar.
Timbul harapan yang diliputi kekuatiran di dalam hatinya.
Siapakah orang laki-laki yang dimaksudkan oleh susioknya ini?
Apakah Cin Hai??
Ia tak berani bertanya dan masih tetap tunduk.
"Kalau kau setuju, aku bersedia menjadi perantara, Im Giok. Biarlah aku akhiri masa hidupku untuk menjadi seorang comblang yang menghubungkan dua orang manusia sehingga menjadi suami isteri yang hidup rukun dan penuh kebahagiaan."
Terpaksa Ang I Niocu menjawab dengan suara hampir tak terdengar.
"Susiok-couw, bagaimana teecu dapat menjawab kalau teecu tidak tahu siapa... orang yang dimaksudkan itu?"
"Ha-ha, Im Giok. Bukan orang yang tidak kaukenal, bahkan hubunganmu dengan dia akrab sekali!"
Makin berdebarlah hati Im Giok dan ia mendengar dengan penuh perhatian.
"Orang itu bukan lain ialah Kang Ek Sian! Aku telah tahu benar-benar akan perhubunganmu dengan dia dan telah kuketahui bahwa ia benar seorang baik dan patut dipuji. Bagaimana pendapatmu tentang hal ini, Im Giok?"
Bukan main kecewa rasa hati Ang I Niocu.
"Maaf, Susiok-couw, teecu... tidak... belum ingin mengikat diri dengan perjodohan!"
"Im Giok, jawabanmu ini sama artinya dengan penolakan! Katakanlah! Apakah Kang Ek Sian bukan seorang laki-laki yang baik?"
"Dia memang seorang baik, Susiok-couw, akan tetapi... bagaimana teecu dapat menjadi isteri seorang yang tidak... teecu cinta... ?"
"Aha, anak muda sekarang!"
Bu Pun Su berseru.
"Cinta membutakan mata, anak. Bukti-bukti telah menyatakan bahwa kerukunan dan saling mengerti dapat mendatangkan rasa cinta yang jauh lebih sempurna daripada cinta muda yang hanya terdorong oleh nafsu semata! Aku maklum bahwa kau telah tertarik hatimu oleh Cin Hai. Betulkah?"
Bukan main terkejutnya hati Ang I Niocu mendengar ini.
Bagaimana kakek ini dapat mengetahui segalanya?
Dapat mengetahui tentang segala persoalannya dengan Kang Ek Sian dan dapat tahu pula rahasia hatinya terhadap Cin Hai?
Ia tak berani mengangkat muka dan hanya tunduk dengan muka sebentar pucat sebentar merah.
"Im Giok, kau telah mendekati jurang yang curam dan berbahaya! Kau boleh menaruh hati sayang kepada Cin Hai, akan tetapi bukan kasih sayang seorang wanita terhadap laki-laki. Seharusnya kasih sayangmu itu kaudasarkan atas rasa kasihan dan kecocokan tabiat. Ingatlah, berapa usiamu sekarang, dan berapa usia Cin Hai? Harus kuakui bahwa kau memang masih nampak muda sekali berkat telur burung rajawali putih dan berkat kecantikanmu, akan tetapi lewat sepuluh tahun lagi saja, kau akan menjadi tua dan Cin Hai masih tetap muda. Apakah hal ini tidak akan mendatangkan kepincangan sehingga akan merupakan gangguan hebat terhadap kebahagiaanmu? Pikirlah masak-masak dan sekarang pergilah!"
Mendengar kata-kata yang terus terang dan menusuk-nusuk hatinya ini, Ang I Niocu menangis tersedu-sedu hingga tubuhnya berguncang-guncang.
Ia tidak melihat betapa Bu Pun Su memandangnya dengan sinar mata penuh iba hati.
"Im Giok, kelak kau akan ingat bahwa aku memberi semua nasihat ini semata-mata untuk kebaikanmu sendiri dan kau akan mendapat kenyataan bahwa semua kata-kataku benar belaka. Sekarang gunakanlah imanmu dan kuasailah hatimu kembali. Kau boleh pergi dan apa pun yang menjadi keputusanmu aku tidak melarang. Aku takkan mencampuri urusan orang muda, tetapi sewaktu-waktu kalau kau setuju dengan usulku tadi, kau boleh mencariku."
Ang I Niocu lalu menghaturkan terima kasih dan mengundurkan diri lalu keluar dari gua itu diikuti pandangan mata Bu Pun Su yang menggeleng-gelengkan kepala, karena kakek ini diam-diam merasa kasihan sekali.
"Nafsu, nafsu... kau memang kejam dan suka mempermainkan hati orang muda!"
Katanya perlahan kepada asap putih yang mengepul di depannya.
Setelah keluar dari gua itu, diam-diam Ang I Niocu mengingat-ingat segala ucapan Bu Pun Su dan setelah berada di tempat terbuka hingga hawa sejuk mendinginkan kepalanya, ia merasa betapa tepat dan betulnya nasihat kakek itu.
Biarpun ia tidak diberi tahu, akan tetapi ia dapat menduga bahwa Cin Hai tentu telah turun gunung.
Tentu saja ia tidak berani bertanya kepada Bu Pun Su tentang anak muda itu, setelah Bu Pun Su secara tepat dapat membongkar rahasia hatinya terhadap Cin Hai.
Ang I Niocu sama sekali tidak pernah menyangka bahwa Cin Hai baru beberapa hari yang lalu meninggalkan Gua Tengkorak itu.
Ia hanya menyangka bahwa pemuda itu tentu kembali ke rumah bibinya, yaitu di Tiang-an, karena pemuda itu pernah menceritakan riwayatnya kepadanya.
Oleh karena ini, secepatnya ia menuju ke Tiang-an untuk menyusul Cin Hai.
Betapapun juga ia harus bertemu dengan pemuda itu, karena ia tak dapat menahan rindu hatinya lagi.
Setelah mencari Ang I Niocu di Liok-bin-si dengan sia-sia, Cin Hai lalu kembali ke Sam-hwa-bun untuk mengunjungi rumah keluarga Kwee In Liang.
Dan sebuah hal yang tak terduga-duga terjadi!
Ketika ia tiba di sebuah kaki gunung di jalan yang sunyi senyap, tiba-tiba ia melihat titik merah mendatangi dengan sangat cepat dari depan!
Hatinya berdebar girang karena hanya seorang manusia berpakaian merah di dunia ini yang dapat bergerak seperti itu!
Ia segera mengendurkan tindakan kakinya karena ia tidak mau memperlihatkan kepada Ang I Niocu bahwa ia sekarang telah memiliki ilmu gin-kang yang hebat.
Benar saja dugaannya, tak lama kemudian Ang I Niocu tiba di hadapannya.
Ang I Niocu tiba-tiba berhenti bagaikan ditahan oleh tenaga raksasa ketika ia melihat pemuda yang berdiri memandangnya dengan wajah berseri-seri itu!
Ia hampir pangling melihat Cin Hai dan tak pernah disangkanya bahwa waktu yang tiga tahun lamanya itu telah mengubah Cin Hai dari seorang kanak-kanak menjadi seorang pemuda yang cakap dan tegap!
"Kau...
kau...
Hai-ji...?"
Bisiknya.
"Niocu!"
Cin Hai tertawa lebar, dan maju memegang tangan Ang I Niocu.
Kegirangan besar membuat ia lupa akan kesopanan dan ia memegang tangan Dara Baju Merah itu dengan erat bagaikan bertemu dengan seorang yang telah lama dirindukannya.
Sebenarnya perasaan Cin Hai ketika itu terhadap Ang I Niocu hanyalah perasaan kasih sayang terhadap orang yang dianggapnya paling baik di dunia ini.
Akan tetapi sikapnya telah dipandang salah oleh gadis itu.
Ang I Niocu mengira bahwa Cin Hai mempunyai perasaan yang sama terhadap dirinya, maka kalau tadinya ia merasa ragu-ragu dan selalu kata-kata Bu Pun Su bergema di dalam telinganya hingga ia tidak ingin memperlihatkan kesukaan hatinya karena pertemuan ini, maka sekarang hatinya meluap-luap karena girangnya.
Ia balas memegang lengan tangan Cin Hai yang kuat itu dan berkali-kali berbisik.
"Hai-ji... Hai-ji..."
Mereka lalu pergi duduk di pinggir jalan sambil saling pandang dengan mesra.
"Hai-ji, kau telah tiga tahun belajar kepandaian dari Susiok-couw, tentu sekarang telah memiliki kepandaian tinggi."
"Ah, Niocu, kepandaian apakah yang dapat kupelajari dengan baik? Suhu hanya memberi pelajaran menari!"
Sambil berkata demikian, Cin Hai mencabut sebatang suling dari pinggangnya dan mengangkat suling itu tinggi-tinggi sambil tertawa. Ang I Niocu juga tertawa girang.
"Kalau begitu, tentu kau sekarang telah dapat menarikan Tari Bidadari?"
Tanyanya sambil memandang muka yang tampan dengan hiasan rambut yang hitam bagus.
"Barang kali saja dapat. Aku pun telah lama ingin sekali melihat kau menari, Niocu. Bagaimana kalau kita menari bersama-sama? Aku akan mencoba mengikuti gerakanmu."
Dengan girang sekali Ang I Nioct berdiri, diikuti oleh Cin Hai yang segera meniup sulingnya.
Memang pemuda ini selama belajar silat pada Bu Pun Su, tak pernah lupa untuk meniup sulingnya yang menjadi kesukaannya.
Bahkan gurunya sendiri suka sekali mendengar tiupan sulingnya yang merdu.
Maka terdengar tiupan suling yang indah dan merdu di kaki gunung itu.
Ang I Niocu lalu menari dengan gerakan yang indah dan gemulai dan Cin Hai yang sudah mempelajari pokok-pokok segala silat, sekali lihat saja dengan mudah dapat mengimbangi tarian itu!
Memang Tarian Bidadari bukanlah sembarang tarian dan pada hakekatnya adalah sebuah ilmu silat yang lihai.
Sepasang pemuda-pemudi itu menari dengan indahnya di tempat yang sunyi itu, gerakan kaki mereka cocok sekali bagaikan memang diatur sebelumnya, hanya kalau sepasang lengan tangan Ang I Niocu bergerak dengan lincah indah, maka kedua tangan Cin Hai tidak digerakkan karena ia menggunakan untuk memegang suling yang ditiupnya untuk mengiringi tarian itu.
Bukan main senangnya hati Ang I Niocu dan ia juga merasa kagum sekali karena gerakan kaki Cin Hai sungguh tepat dan tidak ada salahnya.
Gadis ini merasa sangat bahagia dan gembira hatinya hingga ia menari-nari sambil tertawa-tawa girang dan memandang wajah Cin Hai dengan sinar mata penuh rasa cinta!
Sebaliknya, Cin Hai juga gembira, akan tetapi ia menari dengan tenang dan wajahnya yang tampan itu tidak memperlihatkan perasaan apa-apa, hanya girang dan gembira.
Setelah selesai menari, mereka kembali duduk di atas batu di pinggir jalan.
"Hai-ji, kau hebat sekali! Dalam tiga tahun saja kau telah dapat meniru Tarian Bidadari demikian sempurnanya! Kau tentu telah mempelajari ilmu silat yang tinggi sekali dari Susiok-couw! Coba kauperlihatkan pelajaran ilmu silatmu itu untuk kukagumi."
"Sesungguhnya, Niocu. Aku tidak mempelajari apa-apa, hanya tarian-tarian itu saja. Bahkan tarian itu pun baru dapat kulakukan jika kau menari bersamaku, kalau aku disuruh menari seorang diri aku takkan sanggup melakukannya."
Ang I Niocu memandang heran, akan tetapi ia percaya bahwa Cin Hai tidak berbohong.
Ia hanya menyangka bahwa pemuda ini memang agak bodoh hingga susiok-couwnya tidak memberi pelajaran lain ilmu silat yang tinggi.
"Biarlah, kau jangan kecewa, Hai-ji. Mulai sekarang, aku akan memberi pelajaran silat kepadamu!"
"Terima kasih, Niocu kau memang baik sekali."
"Sekarang, kau hendak ke mana, Hai-ji? Apakah kau telah bertemu dengan Bibimu dan keluarga Kwee?"
"Aku sudah bertemu dengan Ie-thio, akan tetapi belum bertemu dengan Ie-ie. Sebetulnya aku pun sedang menuju ke sana untuk menghadiri pesta perayaan ulang tahun Ie-thio."
Cin Hai lalu menceritakan pengalamannya dan pertemuannya dengan Kwee In Liang. Ang I Niocu mengerutkan alisnya yang bagus.
"Kalau begitu, keadaan mereka berbahaya sekali. Aku mendengar bahwa perwira-perwira Sayap Garuda adalah lihai sekali. Apakah kau hendak membantu mereka? Kalau begitu biarlah aku ikut dengan kau untuk membantu mereka!"
Cin Hai merasa girang sekali mendengar ini.
Demikianlah mereka bercakap-cakap dengan gembira sekali dan Ang I Niocu telah lupa sama sekali akan pesan susiok-couwnya setelah bertemu dengan Cin Hai!
Mereka mengambil keputusan untuk datang di Sam-hwa-bun pada saat pesta dilangsungkan.
Pada bulan itu juga tanggal lima belas, di rumah Kwee In Liang yang besar tetapi sederhana itu diadakan perayaan untuk memperingati hari ulang tahun ke enam puluh dari Kwee In Liang.
Sebenarnya orang she Kwee ini tidak hanya khusus merayakan hari lahirnya untuk bersenang-senang saja, akan tetapi ia mengandung lain maksud.
Puterinya Lin Lin, semenjak kembali dari perguruan telah memiliki kepandaian tinggi sekali dan telah berusia tujuh belas tahun.
Putera-puteranya yang berjumlah lima orang itu telah dipertunangkan, kecuali Kwee An yang tetap tidak mau dicarikan jodoh.
Kini Kwe In Liang mengadakan perayaan dan mengundang orang-orang gagah yang telah dikenalnya, dengan maksud sekalian hendak mencari-cari seorang calon mantu yang cocok untuk Lin Lin.
Mengapa Kwee-ciangkun meletakkan jabatan dan menjadi orang biasa?
Hal ini juga terpengaruh oleh kembalinya Lin Lin.
Memang Kwee-ciangkun tadinya terkenal sebagai seorang panglima yang setia dan gagah.
Ia mematuhi perintah dan menunaikan kewajibannya tanpa ingat akan kepentingan dan perasaan sendiri.
Oleh karena ini jasanya besar sekali dan ia mendapat penghargaan dari kaisar.
Akan tetapi, ketika Lin Lin pulang dengan diantar oleh Biauw Suthai, wanita gagah ini dan muridnya lalu mengadakan percakapan dengan Kwee In Liang dan membujuk supaya Kwee-ciangkun tidak membantu lagi kaisar yang sebenarnya lalim dan tidak adil itu.
Dengan alasan-alasan kuat Lin Lin membujuk ayahnya, disertai penuturan Biauw Suthai tentang pengalaman-pengalamannya yang membongkar semua rahasia kejahatan kaki tangan kaisar, terutama barisan Sayap Garuda yang mengganggu dan memeras rakyat.
"Kalau Ayah tidak mengundurkan diri, aku kuatir sekali kelak kita akan dimusuhi oleh orang-orang gagah sedunia!"
Kata Lin Lin dengan bujukannya.
Akhirnya Kwee In Liang menginsyafi kedudukannya yang berbahaya dan akan keadaan di dunia luar.
Ia adalah seorang yang berhati tabah dan pemberani, dan sama sekali ia tidak takut akan ancaman orang kangouw karena kedudukan sebagai panglima.
Yang ia takuti ialah bahwa karena membantu dan berada di pihak tidak benar, maka jangan-jangan namanya akan dikutuk orang dan akan meninggalkan nama busuk setelah meninggal kelak.
Kedua kalinya, ia ini telah tua dan sudah merasa bosan dan capai untuk memegang pangkat.
Oleh karena ini, ia lalu mengajukan permohonan berhenti dari pekerjaannya dengan alasan sudah terlalu tua dan lemah.
Atasannya menerima permohonannya dan ia berhenti dengan hormat, lalu pindah ke Sam-hwa-bun, membeli beberapa mou sawah dan hidup bertani.
Pada hari itu, rumah keluarga Kwee telah dihias dengan kertas warna-warni dan kembang.
Tampak putera-putera keluarga Kwee, yakni Kwee Tiong, Kwee Sin, Kwee Siang dan Kwee Bun.
Yang seorang lagi yakni Kwee An, tidak tampak di antara mereka.
Telah lebih dari empat tahun yang lalu, Kwee An pergi meninggalkan rumah ketika ia bertengkar dan berkelahi dengan Kwee Tiong.
Pemuda ini hanya meninggalkan surat dan memberitahukan kepada ayahnya bahwa ia hendak pergi merantau.
Keempat putera keluarga Kwee yang hadir di situ nampak gagah dan bersemangat.
Terutama Kwee Tiong yang nampak gagah dan cakap dalam pakaiannya yang indah mentereng.
Mereka ini oleh ayah mereka dilatih ilmu silat, bahkan akhir-akhir ini mereka berguru kepada seorang hwesio yang bernama Tong Kak Hosiang dari Kelenteng Ban-hok-tong di luar tembok kota Tiang-an.
Hwesio ini adalah seorang perantau yang akhirnya bertempat tinggal di Ban-hok-tong.
Oleh karena ini, maka kepandaian keempat putera Kwee In Liang ini boleh dibilang tinggi juga, terutama Kwee Tiong yang memiliki tenaga besar.
Hanya Kwee An yang telah pergi merantau tiada kabarnya itu saja yang agaknya tidak mendapat kemajuan dalam pelajaran silat, karena pemuda itu lebih mengutamakan ilmu kesusasteraan.
Para tamu datang berbondong-bondong hingga tak lama kemudian penuhlah ruang yang disediakan untuk tempat pesta.
Kwee In Liang sendiri bersama empat orang puteranya duduk di ruang depan dan menyambut datangnya para tamu dengan sikap ramah dan menghormat.
Lin Lin sibuk membantu ibu tirinya di belakang dan setelah semua hadir, baru mereka berdua keluar dan menyambuti tamu-tamu wanita yang banyak juga menghadiri pesta itu.
Di antara tamu-tamu wanita terdapat pula Biauw Suthai yang diminta datang oleh Lin Lin untuk mengharapkan bantuannya karena mungkin sekali akan...
ada bahaya mengancam dari pihak perwira Sayap Garuda yaitu Boan Sip.
Perwira she Boan ini adalah pengganti Kwee-ciangkun dan menjadi kepala penjaga keamanan kota Tiang-an, dan ia adalah seorang perwira Sayap Garuda yang terkenal memiliki kepandaian tinggi.
Ketika melihat kecantikan Lin Lin, orang she Boan itu mengajukan lamaran tetapi yang ditolak keras oleh Kwee In Liang dan Lin Lin.
Oleh karena inilah maka ia menaruh hati dendam hingga beberapa hari yang lalu ia sengaja mengganggu Lin Lin dan ayahnya di dalam hutan.
Oleh karena ini maka kedatangan Biauw Suthai dalam pesta itu tidak hanya menggirangkan hati Lin Lin, tetapi juga membuat Kwee In Liang bernapas lega.
Selain Biauw Suthai, di situ nampak juga seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahun dan berpakaian serba putih.
Sikapnya pendiam dan tak banyak bicara, akan tetapi sinar matanya berpengaruh.
Ini adalah murid pertama dari Biauw Suthai yang bernama Bwee Leng dan yang memiliki kepandaian tinggi hingga terkenal dengan nama Pek I Toanio atau Nyonya Gagah Baju Putih.
Bwee Leng adalah seorang wanita yang telah menjadi janda.
Juga nyonya ini berhasil dibujuk oleh Lin Lin yang menjadi sumoinya.
Memang, baik Biauw Suthai maupun Bwee Leng sangat sayang kepada Lin Lin.
Perjamuan berjalan dengan gembira diselingi oleh datangnya tamu-tamu yang mengucapkan selamat kepada tuan rumah.
Arak wangi dan hidangan-hidangan dikeluarkan oleh pelayan yang sibuk melayani para tamu.
Tiba-tiba seorang di antara para tamu, seorang kakek yang berpakaian sebagai seorang petani yang telah terkenal di antara para tamu sebagai seorang pendekar tua dari selatan yang bernama Bhok Ki Sun, berdiri dari tempat duduk nya.
Sambil menjura kepada tuan rumah yang duduk tak jauh dari situ, ia berkata.
"Kwee-enghiong, aku orang tua selain menghaturkan selamat kepadamu dengan doa supaya kau diberkahi panjang umur, juga menyatakan kegirangan hatiku mendengar bahwa kau telah bertemu kembali dengan puterimu yang baru kembali dari belajar silat. Kau memang beruntung sekali, Kwee-enghiong, karena puterimu telah menjadi murid dari Biauw Suthai yang terkenal lihai, dan yang kulihat hadir di sini. Kuharap Kwee-enghiong suka berlaku murah dan memberi kepuasan kepada sepasang mataku yang tua ini untuk menikmati keindahan ilmu silat Kwee-siocia. Bagaimana Cuwi sekalian, apakah usulku ini tidak cukup baik?"
Tanyanya kepada semua yang hadir.
Di tempat itu hadir banyak pemuda-pemuda yang telah mendengar tentang puteri keluarga Kwee yang tersohor cantik jelita dan kabarnya telah mempelajari ilmu silat tinggi, maka tentu saja mereka merasa gembira sekali dan menyambut dengan tepuk sorak gembira.
Sebetulnya di luar tahunya semua orang, Kwee In Liang yang cerdik telah minta bantuan Bhok Ki Sun yang menjadi kawan baiknya, untuk sengaja mengeluarkan usul ini agar terbuka jalan baginya mencari seorang mantu yang cocok.
Maka sekarang, sambil tersenyum lebar ia berdiri dari tempat duduknya dan menjura kepada semua tamunya sambil berkata.
"Cuwi sekalian, Bhok-enghiong terlalu memuji, apakah kebisaan anakku yang muda? Tetapi karena di pesta ini tidak ada hiburan apa-apa, sudah menjadi kewajiban kami untuk mengadakan sesuatu yang kiranya dapat menghibur dan menggembirakan Cuwi sekalian. Lin Lin, kaupenuhilah permintaan Bhok-enghiong setelah mendapat perkenan dari Gurumu!"
Lin Lin adalah seorang gadis yang lincah dan tabah.
Menghadapi sekian banyak mata yang memandang ke arahnya, sedikit pun ia tidak merasa gugup.
Dengan tenang ia minta ijin dari gurunya dan setelah Biauw Suthai memberi persetujuannya, dara ini dengan tabahnya menuju ke tempat bersilat yang memang sudah disediakan di tempat itu, tepat di tengah-tengah ruang yang luas itu.
Setelah menjura sebagai pemberian hormat kepada semua yang hadir, Lin Lin lalu mulai bersilat dengan gayanya yang indah dan cepat.
Ia memainkan ilmu Silat Pat-kwa-kun-hwat atau Ilmu Silat Pat-kwa yang mempunyai gerakan selain indah, juga cepat sekali hingga sebentar saja mata orang yang tak begitu tinggi ilmu silatnya menjadi kabur dan melihat seakan-akan tubuh gadis itu berubah menjadi tiga empat orang.
Tepuk sorak terdengar riuh rendah menyambut ilmu silat yang memang hebat ini.
Tiba-tiba baru saja Lin Lin menghentikan ilmu silatnya, terdengar suara orang tertawa mengejek dari luar.
Suara tertawa ini terdengar nyaring sekali hingga semua tamu menengok keluar.
Juga Kwee In Liang memandang keluar dan ia menjadi pucat karena yang datang adalah Boan Sip dan empat orang lain yang juga memakai tanda Sayap Garuda pada topi mereka dan kesemuanya memakai jubah merah, tanda bahwa mereka ini adalah perwira-perwira kelas satu.
Yang menarik hati ialah bahwa di antara mereka ini terdapat seorang perwira yang usianya telah lebih dari lima puluh tahun tetapi tampaknya masih gagah dan kuat.
"Sungguh bagus, orang-orang bergembira dan berpesta pora sampai lupa mengundang sahabat!"
Perwira tua itu berkata keras dan dialah yang tadi mengeluarkan suara ketawa itu.
Kwee In Liang sudah kenal kepada perwira tua ini, karena dia ini adalah Ma Ing, seorang yang terkenal sekali karena memiliki kepandaian tinggi dan menjadi salah seorang di antara para perwira terkemuka di istana.
Diam-diam orang she Kwee ini merasa terkejut sekali karena ia maklum bahwa pihak musuh sangat kuat dengan adanya Ma Ing ini.
Akan tetapi ia dapat menetapkan hatinya dan cepat-cepat maju menyambut sambil menjura memberi hormat.
"Ngo-wi yang mulia, silakan duduk di dalam."
Boan Sip sambil tertawa menyeringai mendahului masuk diikuti oleh kawan-kawannya.
Mereka berlima masuk ke ruang itu sambil mengangkat dada dan dengan tindakan kaki lebar, sama sekali tidak memandang mata kepada sekalian yang hadir.
Boan Sip langsung menghampiri Lin Lin yang masih berdiri ditengah ruang tempat bermain silat dan sambil menyeringai ia berkata.
"Kwee-siocia, ilmu silatmu tadi sungguh-sungguh indah dipandang dan manis sekali!"
Lin Lin memandang dengan mata melotot dan gadis ini marah sekali karena teringat betapa beberapa hari yang lalu ia telah tertangkap oleh orang she Boan ini dan hampir saja diculik pergi!
Hampir saja ia tak dapat menahan kesabaran hatinya dan memaki atau menyerangnya akan tetapi pada saat itu dari luar terdengar suara yang nyaring.
"Ie-ie!!"
Lin Lin cepat menengok dan melihat Cin Hai, diikuti oleh seorang gadis cantik jelita berbaju merah.
Cin Hai langsung berlari menghampiri Loan Nio atau Nyonya Kwee yang duduk di bagian tamu wanita.
Loan Nio yang belum diberitahu oleh suaminya tentang perjumpaannya dengan Cin Hai, berdiri memandang dengan mata terbelalak kepada pemuda tampan yang menghampirinya, Cin Hai menjatuhkan diri berlutut sambil berkata.
"Ie-ie, aku Cin Hai menghadap. Apakah selama ini Ie-ie baik-baik saja?"
"Cin Hai, kaukah ini?"
Loan Nio menubruk dan mengangkat bangun anak itu, sementara tak tertahan lagi air matanya mengucur keluar dari kedua matanya.
Cin Hai juga mengeluarkan air mata dari kedua matanya karena terharu dan girang.
Kemudian ia memperkenalkan Ang I Niocu kepada ie-ienya.
"Ie-ie, ini adalah Nona Kang Im Giok yang sangat berbudi dan telah banyak menolongku."
Loan Nio memandang Ang I Niocu dengan kagum dan mempersilakan gadis itu duduk di bagian tamu wanita. Ketika bertemu dengan Biauw Suthai lalu berkata.
"Eh, tidak tahunya Ang I Niocu yang datang. Silakan, silakan, aku masih ingat akan pertolonganmu di gua dulu itu!"
Dengan ramah Biauw Suthai memperkenalkan Ang I Niocu kepada Pek I Toanio dan mereka segera bercakap-cakap dengan gembira.
Sementara itu, Lin Lin juga lari menghampiri mereka dan diperkenalkan dengan Ang I Niocu, sedangkan Cin Hai lalu menghampiri ie-thionya untuk memberi hormat dan mengnaturkan selamat.
Dengan ramah Kwee In Liang lalu menyuruh pemuda itu duduk di tempat tamu.
Sementara itu, Boan Sip dan kawan-kawannya melihat kesibukan tuan rumah karena datangnya seorang pemuda dan seorang gadis baju merah, menjadi tidak puas dan merasa betapa mereka dipandang ringan dan tidak dilayani seperti tamu agung.
"Eh, eh apakah tuan rumah lebih mementingkan kedatangan budak itu dari pada kami?"
Boan Sip dengan sikap sombong berkata sambil bertolak pinggang. Ketika Kwee In Liang memandang ke arahnya, ia berkata.
"Kwee Lo-enghiong, kau telah tahu akan maksud kedatanganku. Maka sekarang juga aku minta keputusanmu dan marilah kau memberi sedikit pengajaran kepadaku, untuk melanjutkan main-main yang kita lakukan di dalam hutan beberapa hari yang lalu. Aku telah berjanji akan datang, apakah kau tidak berani menyambutku?"
Bukan main marahnya hati Kwee In Liang mendengar kata-kata orang yang tidak sopan dan sikap yang kasar menantang ini.
Ia maklum bahwa kepandaiannya masih kalah jika dibandingkan dengan perwira muda ini, akan tetapi ia tidak mau memperlihatkan kelemahannya.
"Orang she Boan! Agaknya kau telah melupakan kesopanan dan sengaja datang membawa kawan-kawanmu untuk mengacau pestaku!"
Orang tua ini lalu bertindak maju. Akan tetapi, tiba-tiba Lin Lin telah mendahului ayahnya dan dengan sekali lompatan ia telah menghadapi Boan Sip.
"Orang she Boan, engkau menjabat pangkat tetapi tidak mengenal aturan! Kami tidak mengundang akan tetapi engkau telah menebalkan muka untuk datang di pesta kami. Apakah engkau tidak malu? Kalau hendak datang mengajak pibu, apakah engkau tidak dapat memilih lain hari?"
"Ha, ha, ha!"
Boan Sip tertawa mengejek.
"Kalau mengadu kepandaian hanya mengandalkan keberanian, tak perlu memilih waktu dan tempat. Sekarang kebetulan sekali, banyak orang menjadi saksi, kalau pihak Tuan rumah mempunyai kegagahan, silakan maju memperlihatkan kepandaian!"
"Bangsat, apa kaukira kami takut kepadamu?"
Lin Lin berseru dan meraba punggung untuk mencabut senjatanya akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan putih yang datang dari pihak tamu wanita dibarengi bentakan.
"Manusia sombong jangan jual banyak tingkah di sini!"
Bayangan itu ternyata adalah Pek Toanio yang mewakili sumoinya dan langsung ia menyerang dengan tamparan keras ke arah pipi Boan Sip.
Akan tetapi Boan Sip siang-siang sudah dapat memaklumi akan kelihaian wanita ini karena tamparannya mendatangkan angin pukulan dahsyat dan gerakannya ketika melompat tadi ringan sekali.
Ia mengangkat tangan menangkis dan sepasang lengan beradu keras.
Boan Sip terkejut sekali karena ia terdorong ke samping sampai terhuyung-huyung!
Sementara itu Lin Lin mengundurkan diri dan duduk di dekat gurunya yang memandang dengan sikap tenang.
Kwee Tiong dan ketiga orang adiknya ketika melihat sikap Boan Sip yang sombong dan sengaja datang mengacau itu, menjadi marah sekali dan mereka berempat sambil mencabut pedang lalu maju menghampiri dengan sikap mengancam.
Akah tetapi Kwee In Liang yang maklum bahwa kepandaian mereka ini masih terlampau rendah untuk menghadapi Boan Sip, segera membentak.
"Jangan kurang ajar, kalian mundurlah dulu!"
Kwee Tiong merasa penasaran sekali akan tetapi ia tidak berani membantah ayahnya, maka bersama adiknya ia lalu berdiri dan bersiap sedia menghalau musuh yang kurang ajar itu.
Boan Sip yang melihat hal ini lalu tertawa bergelak-gelak.
"Ha, ha! Kwee Lo-enghiong agaknya tahu akan kebodohan putra-putranya, maka tak mengijinkan anak-anaknya maju, bahkan telah mengumpulkan orang-orang gagah untuk mewakilinya! Sungguh cerdik!"
Kemudian ia berkata kepada Pek I Toanio.
"Tidak tahu siapakah Lihiap yang begitu baik hati mewakili tuan rumah menyambutku?"
"Orang she Boan, kalau sikapmu tidak begini menjemukan dan kesombonganmu tidak begitu besar, siapa yang sudi melayanimu? Akan tetapi engkau telah lupa akan sopan santun dan tidak memandang mata kepada tuan rumah dan para tamunya. Apakah kau kira engkau seorang saja yang memiliki kepandaian? Orang lain boleh engkau hina, tetapi aku Pek I Toanio tak sudi menerima hinaan dari orang macam engkau!"
Memang Pek I Toanio biarpun pendiam, akan tetapi kalau sudah mengeluarkan kata-kata, selalu tajam dan berterus terang.
Boan Sip pernah mendengar nama ini dan maklum akan kelihaiannya, akan tetapi ia tidak takut.
"Hmm, apakah benar-benar engkau hendak mencoba kepandaianku?"
Tanyanya.
"Siapa yang sedang main-main padamu?"
Jawab Pek I Toanio dengan senyum mengejek hingga kemarahan Boan Sip makin meluap.
"Kalau begitu kau mencari penyakit sendiri!"
Bentaknya dan ia lalu maju menyerang.
Pek I Toanio cepat berkelit dan membalas menyerang hingga sebentar saja mereka berdua bertempur dengan seru.
Sementara itu, Cin Hai semenjak datang dan duduk di kursi terdepan, beberapa kali bertukar pandang dengan Lin Lin dan gadis yang sedang marah itu apabila terbentur pandangan matanya dengan Cin Hai, lalu tersenyum seakan-akan minta maaf bahwa ia tidak bisa menyambut sebagaimana mestinya karena terganggu oleh para perwira kasar itu.
Kebetulan sekali Kwee Tiong dan ketiga orang adiknya berdiri di dekat tempat ia duduk.
Kwee Tiong hanya mengerling kepadanya tanpa ambil peduli.
Cin Hai tahu akan hal ini, akan tetap ia tersenyum dan berdiri pula lalu menghampiri mereka.
"Tiong-ko, bagaimana, apakah engkau mendapat kemajuan besar?"
Tanyanya dengan manis. Kwee Tiong memandang ke arahnya dengan acuh tak acuh, tetapi untuk kesopanan ia menjawab juga.
"Biasa saja, dan engkau sendiri telah belajar apakah?"
Kebetulan sekali Kwee Tiong dan ketiga orang adiknya berdiri di dekat tempat ia duduk.
Kwee Tiong hanya mengerling kepadanya tanpa ambil peduli.
Cin Hai tahu akan hal ini, akan tetap ia tersenyum dan berdiri pula lalu menghampiri mereka.
"Tiong-ko, bagaimana, apakah engkau mendapat kemajuan besar?"
Tanyanya dengan manis. Kwee Tiong memandang ke arahnya dengan acuh tak acuh, tetapi untuk kesopanan ia menjawab juga.
"Biasa saja, dan engkau sendiri telah belajar apakah?"
Juga Kwee Sin, Kwee Siang dan Kwee Bun menghampiri Cin Hai untuk melihat dan bertanya kepada anak muda ini.
Sikap mereka tidak seangkuh Kwee Tiong, akan tetapi rata-rata mereka memandang rendah kepada Cin Hai.
"Aah, aku tidak belajar apa-apa,"
Jawab Cin Hai sederhana. Ketika Cin Hai sedang bercakap-cakap dengan Kwee Bun, Kwee Tiong menegur mereka.
"Sudahlah, jangan banyak cakap. Sekarang bukan waktunya mengobrol. Lihat tamu kita bertempur untuk kita, tidak pantas kita hanya mengobrol saja!"
Memang benar ucapan Kwee Tiong ini, karena pada saat itu pertempuran sedang berlangsung hebat.
Boan Sip sungguh lihai dan gerakan-gerakannya selain cepat, juga mantap dan keras hingga Pek I Toanio harus mengeluarkan segenap kepandaiannya untuk melayani lawan yang kosen ini.
Cin Hai hanya memandang sebentar tetapi ia tidak tertarik melihat pertempuran itu.
Sebaliknya ia celingukan ke sana ke mari mencari Kwee An dengan matanya.
Mengapa ia tidak melihat Kwee An?
Ia lalu menowel lengan Kwee Bun dan ketika pemuda ini berpaling, ia bertanya sambil berbisik.
"Di manakah adanya Saudara Kwee An?"
"Dia pergi merantau, sudah empat tahun belum kembali."
Ketika Cin Hai hendak bertanya lagi, Kwee Tiong menengok kepada mereka dengan pandangan tak senang, hingga Cin Hai dan Kwee Bun tidak melanjutkan percakapan mereka.
Sebetulnya pada saat itu, perhatian Kwee Tiong tidak tertuju sepenuhnya kepada pertempuran yang sedang berlangsung dengan hebatnya, akan tetapi sebagian besar tertuju kepada Dara Baju Merah yang duduk di dekat ibu tirinya.
Dalam pandangan matanya, Ang I Niocu nampak demikian cantik dan ayu hingga sepasang matanya seakan-akan tertarik oleh besi sembrani, ingin sekali Kwee Tiong memperlihatkan kegagahannya dan melawan musuh agar dapat menarik perhatian dan kekaguman gadis jelita itu.
Ia merasa heran sekali mengapa Cin Hai, anak tolol itu dapat datang bersama-sama dengan seorang gadis demikian cantiknya!
Ang I Niocu ketika melihat jalannya pertempuran, di dalam hati juga merasa terkejut.
Baginya, kepandaian Pek I Toanio cukup tinggi dan hebat, akan tetapi ternyata bahwa orang she Boan itu lebih lihai lagi dan gerakan-gerakannya diperhebat oleh ilmu cengkeraman dari Mongol yang sukar diduga gerakannya, hingga beberapa kali kalau tidak berlaku cepat tentu lengan Pek I Toanio sudah kena dicengkeram!
Diam-diam Ang I Niocu menguatirkan keadaan paman dari Cin Hai, karena baru seorang lawan saja sudah begini tinggi kepandaiannya, belum lagi yang empat lainnya!
Ia maklum bahwa di situ ada Biauw Suthai yang berkepandaian tinggi, akan tetapi sampai di manakah tingkat kepandaian kawan-kawan Boan Sip yang duduk dengan muka tenang dan sombong itu?
Ia mengerling ke arah Cin Hai yang duduk sambil memandang ke sana ke mari dan yang tidak memperhatikan jalannya pertempuran, dan pada saat Ang I Niocu memandang kepada Cin Hai, pandangan matanya terbentur dengan pandangan mata Kwee Tiong.
Ia terkejut dan cepat mengalihkan pandangan matanya dan hatinya merasa tak senang.
Ia tahu bahwa pemuda tinggi tampan itu adalah putera dari Kwee In Liang karena tadi ia melihat betapa Kwee Tiong dan adik-adiknya hendak turun tangan tetapi mereka dicegah oleh Kwee In Liang.
Mengapa pemuda itu memandangnya begitu macam?
Apakah kebetulan saja?
Sekali lagi Ang I Niocu mengerling ke arah Kwee Tiong dan tetap saja ia melihat betapa pemuda itu menatapnya dengan pandangan mata penuh arti!
Ang I Niocu merasa sebal dan marah, akan tetapi diam saja dan sama sekali tidak mau memandang ke arah anak muda itu lagi.
Pertempuran itu benar-benar berjalan seru dan hebat.
Pek I Toanio adalah murid pertama dari Biauw Suthai dan memiliki kepandaian tinggi dan sudah hampir mewarisi kepandaian gurunya, maka dapat dibayangkan betapa lihainya.
Akan tetapi Boan Sip adalah seorang Perwira Sayap Garuda kelas satu hingga tentu saja kepandaiannya sudah cukup tinggi, karena kalau tidak berkepandaian tinggi, ia yang masih muda tidak akan dapat menduduki pangkat yang besar itu, Karena rata-rata Perwira Sayap Garuda kelas satu adalah orang-orang yang telah berusia tinggi dan sedikitnya berusia hampir lima puluh tahun.
Setelah bertempur beberapa puluh jurus dengan hebat, tiba-tiba Boan Sip merubah gerakannya dan sekarang ia mulai menyerang dengan limu Golok Keledai Gila Bergulingan.
Tubuhnya berguling-guling ke arah lawan dan sambil bergulingan tubuhnya tertutup dan terlindung oleh perisai, sedangkan golok menyambar-nyambar ke arah kaki lawan!
Ilmu gerakan ini benar-benar berbahaya dan cepat dan ke mana saja Pek I Toanio loncat menghindar, selalu Boan Sip dengan cepat mengejar sambil bergulingan dan melancarkan serangan berbahaya.
Ia tidak hanya bergulingan sambil menyerang kaki akan tetapi secara tiba-tiba ia bangun dan menyerang dengan golok itu kemudian bergulingan pula!
Diserang secara begini, Pek I Toanio menjadi gugup sekali dan tidak berdaya melancarkan serangan balasan.
Ia menjadi gemas dan penasaran lalu melakukan sebuah gerakan dan serangan nekad.
Sambil berseru nyaring Pek I Toanio lalu menjatuhkan diri bergulingan dalam gerak tipu Daun Kering Tertiup Angin!
Ia mengimbangi gerakan lawan dan sambil bergulingan ia membabat dengan pedangnya dari samping dan karena serangannya ini hampir menempel lantai, maka tak mungkin tertangkis dengan perisai.
Pada saat itu terdengar teriakan kaget dan ternyata bahwa Cin Hailah yang berteriak itu.
Seperti lakunya seorang yang bingung dan gugup pemuda ini menyambar bangku yang didudukinya dan melemparkan bangku itu dengan sambaran ke arah mereka yang sedang bertempur sambil bergulingan!
Kwee Tiong dan adik-adiknya serta orang-orang lain yang duduk dekat Cin Hai merasa heran sekali melihat perbuatan pemuda ini.
Sementara itu, pada saat Cin Hai melemparkan bangkunya, Pek I Toanio setelah pedangnya kena tangkis, lalu bergulingan pergi menjauhi Boan Sip yang telah siap untuk melempar goloknya.
Ketika mendapat kesempatan baik dan pada saat tubuh Pek I Toanio yang bergulingan pergi membelakanginya, ia lalu menyambitkan goloknya ke arah punggung lawan!
Akan tetapi, tepat pada saat itu, bangku yang dilempar oleh Cin Hai telah tiba di antara mereka hingga sebelum golok itu terlepas dari tangan Boan Sip, ia keburu menahan gerakannya kembali dan tidak jadi melontarkan goloknya.
Boan Sip melompat berdiri dengan marah sekali, sedangkan Pek I Toanio juga sudah bangun berdiri.
Boan Sip sambil bertolak pinggang memandang sekeliling, lalu menegur dengan suara nyaring.
"Tuan rumah tidak kenal malu dan sengaja membantu secara diam-diam! Siapakah yang begitu berani mati melempar bangku tadi?"
Sementara itu, dengan marah Kwee Tiong menegur Cin Hai.
"Cin Hai, engkau bodoh dan lancang tangan! Apa maksudmu melemparkan bangku tadi?"
Cin Hai pura-pura gugup dan bingung.
"Aku... aku merasa ngeri melihat pertempuran itu dan berusaha memisahkannya!"
Semua orang yang mendengar ini tertawa geli dan diam-diam Kwee Tiong mentertawakan Cin Hai.
Mengapa ia masih begini bodoh, pikirnya!
Di antara semua orang merasa heran dan mentertawakan Cin Hai karena ketololannya, hanya Biauw Suthai dan Pek I Toanio saja yang mempunyai pikiran lain.
Pek I Toanio insyaf akan kesalahan gerakannya tadi yang membuka punggungnya ketika ia bergulingan dan hal ini pun diketahui baik oleh gurunya, dan mengapa secara kebetulan sekali pemuda itu melemparkan bangku pada saat yang demikian tepat hingga jiwa Pek I Toanio terbebas dari ancaman?
Bahkan Ang I Niocu sendiri tidak tahu akan hal ini karena ia tidak kenal gerakan-gerakan Pek I Toanio, dan Gadis Baju Merah ini pun merasa agak heran melihat perbuatan Cin Hai.
Sekali lagi Boan Sip berseru.
"Tuan rumah berlaku curang! Hayo keluarkan dia yang telah berani mengganggu,"
Katanya dengan lagak sombong, sementara itu, atas isyarat gurunya, Pek I Toanio kembali ke tempat duduknya setelah menjura kepada Kwee In Liang dan menyatakan penyesalannya karena tidak berhasil mengalahkan lawannya.
Tiba tiba Kwee Tiong yang diikuti oleh ketiga orang adiknya meloncat dengan pedang di tangan sambil membentak.
"Orang she Boan jangan sombong! Yang melempar bangku adalah adik keponakanku yang tolol dan bodoh, tak perlu engkau memusuhi dan menantangnya. Kalalu engkau memang gagah, aku Kwee Tiong yang akan melawanmu!"
Boan Sip memandang kepada Kwee Tiong dengan senyum sindir.
Pemuda ini mengeluarkan ucapan gagah, akan tetapi ternyata sekali maju membawa tiga orang adiknya.
Melihat gerakan mereka, Boan Sip memandang sebelah mata dan berkata sambil tertawa.
"Ha, ha, kalian ini putera-putera Kwee In Liang? Aneh, Harimau itu ternyata hanya mempunyai putera-putera berupa kucing yang hanya pandai mengeong!"
Kwee In Liang hendak memanggil putera-puteranya, akan tetapi Kwee Tiong sudah tak dapat menahan lagi marahnya.
Ia lalu berseru keras dan menubruk dengan pedangnya diikuti oleh ketiga orang adiknya yang menyerang dengan berbareng.
Boan Sip mengeluarkan suara di hidung dan gerakkan goloknya menangkis.
Sekali tangkis saja, dua dari empat buah pedang saudara-saudara Kwee itu terlempar.
Dan Boan Sip melanjutkan gerakannya dengan serangan pembalasan.
Baiknya perwira muda ini masih ingat bahwa keempat anak muda ini adalah kakak-kakak dari Lin Lin yang ia rindukan, maka tidak berniat mencelakakan mereka, hanya ingin menggoda dan memperlihatkan kegagahannya saja.
Maka serangan-serangannya hanya nampak hebat mengerikan karena goloknya menyambar nyambar hebat, akan tetapi tidak digerakkan cepat hingga keempat anak muda itu masih dapat berkelit ke sana ke mari dengan wajah pucat.
Tiba-tiba Cin Hai memegang sebuah bangku yang ditinggalkan oleh dua orang tamu yang berdiri karena tegangnya menonton pertempuran itu dan dengan bangku di tangan, Cin Hai lari menuju ke tempat pertempuran.
Lalu ia menyerang Boan Sip secara membabi buta sambil berseru berkali-kali.
"Jangan membunuh kakak-kakakku, jangan mencelakakan kakak-kakakku!"
Mendapat serangan kacau-balau itu, Boan Sip terkejut dan melihat penyerangnya.
Karena ia tujukan perhatiannya kepada penyerang baru ini, maka keempat saudara Kwee dapat mundur, sedangkan Cin Hai masih terus mengobat-abitkan bangkunya.
Boan Sip ketika melihat bahwa pemuda inilah yang tadi menghalangi kemenangannya atas Pek I Toanio menjadi marah sekali.
"Orang tolol, engkau mencari mampus!"
Bentaknya dan ia lalu menggunakan goloknya menyerang.
Akan tetapi Cin Hai mengobat-abitkan bangkunya yang cukup panjang hingga Boan Sip menjadi bingung.
Gerakan pemuda ini tidak teratur dan kacau balau, bahkan seperti gerakan orang gila mengamuk, akan tetapi justru inilah yang membingungkan Boan Sip.
Gerakan silat dapat diduga karena teratur, akan tetapi gerakan-gerakan menggila ini sungguh membingungkan dan sebelum ia dapat menyerang, sebuah kaki daripada bangku yang diobat-abitkan itu telah mengenai tubuh belakangnya hingga terdengar suara "buk!"
Karena bokongnya kena dihajar kaki bangku.
Semua orang tertawa geli melihat tingkah laku Cin Hai yang mereka anggap sebagai seorang pemuda tolol itu, akan tetapi karena pemuda itu dalam ketololannya berani membela keempat pemuda Kwee, biarpun mereka mentertawakannya, akan tetapi di dalam hati mereka suka kepadanya.
Maka bersoraklah para tamu melihat betapa tanpa disengaja kaki bangku itu dapat memukul bokong Boan Sip yang sombong.
Sementara itu, Cin Hai sambil mengobat-abitkan bangkunya berkata kepada Kwee Tiong dan adik-adiknya.
"Engko Tiong, kauajaklah adik-adikmu mundur, biar aku tahan mengamuknya babi hutan ini!"
Kembali terdengar suara orang-orang tertawa karena pemuda yang dari gerak-geriknya ternyata bahwa ia tidak mengerti ilmu silat itu dengan sikap gagah sekali membuka mulut besar dan hendak membela keempat saudara Kwee dan menghadapi Boan Sip yang lihai.
Sungguh satu pemandangan yang lucu mengherankan!
Akan tetapi, keadaan ini merupakan tamparan hebat bagi keangkuhan dan kesombongan Boan Sip.
Kembali ia menyerang sambil memaki-maki.
Ketika bangku itu menyambar kembali, dengan gemas Boan Sip membacok kaki bangku dengan goloknya.
Mana bisa kayu itu dapat menahan bacokan golok Boan Sip.
Dengan mudah saja kaki bangku itu terbabat putus.
Akan tetapi sungguh malang bagi Boan Sip, yakni dalam pandangan semua orang yang menonton pertempuran itu, ketika kaki bangku itu terbabat putus ternyata saking tajam golok yang membabat, kaki bangku itu melayang dan kebetulan sekali dapat menampar pipi Boan Sip!
Terdengar suara "plok!"
Dan pipi Boan Sip yang kena dilanggar potongan kaki bangku itu menjadi merah kulitnya dan terasa pedas sekali!
Hal ini terlihat jelas oleh semua orang dan kembali terdengar sorak riuh rendah karena ternyata biarpun tolol dan tidak mengerti ilmu silat, agaknya pemuda tolol itu sedang "hok-khi" (beruntung), maka secara kebetulan sekali lawannya kena tamparan kaki bangku yang dipotongnya sendiri!
Pada saat itu, di bagian tamu di mana tadi Cin Hai duduk, terjadilah lain hal yang menimbulkan tertawa geli.
Ternyata dua orang tamu yang tadi berdiri melihat pertempuran seru antara Kwee Tiong dibantu adiknya dan Boan Sip hingga bangku mereka diambil oleh Cin Hai di luar tahu mereka, ketika melihat betapa dua kali Boan Sip kena terpukul kaki bangku, mereka begitu gembira hingga sambil tertawa terkekeh-kekeh, mereka menjatuhkan diri di atas bangku di belakang mereka.
Akan tetapi suara mereka segera terganti seruan kaget dan kesakitan karena mereka berdua ternyata menjatuhkan diri ke belakang yang kosong dan tidak ada bangkunya lagi, maka tentu saja mereka terjengkang dan jatuh tunggang langgang!
Orang-orang di sekitarnya tertawa bergelak dan kedua orang itu berdiri sambil meringis kesakitan, akan tetapi ketika mereka mengetahui bahwa bangku yang berhasil menghajar Boan Sip adalah bangku yang tadi mereka duduki, maka berserilah wajah mereka!
Boan Sip marah sekali dan ia menyerang bagaikan kerbau gila.
Bangku di tangan Cin Hai sudah tak karuan lagi macamnya bekas bacokan golok.
"Eh, eh, tak tahu malu! Menyerang orang yang tidak memegang senjata!"
Cin Hai memaki dengan suara mengejek.
Kata-kata ini mengingatkan Boan Sip bahwa jika ia nanti membunuh anak muda tolol yang tak bersenjata ini dengan goloknya, maka ia tentu akan dipandang rendah oleh orang-orang gagah.
Pula untuk menyingkirkan bangku dari tangan pemuda bodoh ini, lebih mudah menggunakah tangan kosong.
Maka, ia lalu membanting golok dan perisainya di atas lantai hingga mengeluarkan suara berkerontangan, lalu sambil mendelikkan mata ia memaki.
"Baik, aku telah membuang senjataku, orang gila! Tunggulah aku akan mencekik lehermu!"
"Mengapa bermain cekik-cekikan? Kita bukan sedang bermain adu gulat!"
Jawab Cin Hai dengan muka lucu hingga kembali semua orang tertawa.
Sementara itu, Lin Lin merasa heran sekali, dan juga kagum.
Ia heran dan kecewa melihat bagaimana Cin Hai setelah dewasa berubah menjadi seorang pemuda tolol, akan tetapi ia juga merasa kagum melihat betapa dalam ketololannya, Cin Hai ternyata mempunyai hati yang tabah, bersemangat, dan berani membela kakak-kakaknya!
Juga, Kwee In Liang menggeleng-gelengkan kepala karena ia ikut merasa malu mempunyai seorang keponakan setolol itu.
Bahkan Biauw Suthai yang mempunyai pemandangan tajam dan pengalaman luas dapat pula dikelabuhi oleh aksi Cin Hai yang ketolol-tololan hingga diam-diam wanita tua ini bersiap sedia menolong jiwa anak muda yang tolol tapi pemberani itu, Loan Nio duduk dengan wajah pucat, hendak mengeluarkan suara saking terperanjat, dan kuatirnya.
Ketika Cin Hai mengangkat bangku menyerang kembali, Boan Sip menyambut bangku itu dengan kedua tangannya dan ia membetot.
Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika ternyata bahwa ia tidak mampu membetot bangku itu dari tangan Cin Hai!
Ia terkejut dan heran sekali.
Apakah mungkin pemuda tolol ini memiliki tenaga sebesar itu?
Ia membetot kembali dan Cin Hai mempertahankan sambil mengeluarkan suara "uhh...
uh..."
Dan demikian keduanya saling membetot mempertahankan, sedikit pun tak mau mengalah!
Bangku itu sebentar terbetot ke kanan, sebentar terbetot, ke kiri hingga seakan-akan kedua orang itu sedang mengadu tenaga membetot-betot bangku hingga air muka keduanya berubah merah!
Yang merasa gembira sekali adalah para penonton.
Mereka bersorak riuh rendah dan lupa bahwa kedua orang itu sebenarnya sedang berkelahi dan lupa pula bahwa Boan Sip sedang marah besar dan dari kedua matanya mengeluarkan nafsu membunuh karena benci dan marahnya kepada pemuda tolol itu!
Pada saat itu mereka merasa seakan-akan sedang menonton dua orang mengadu tenaga dengan menarik-narik bangku sebagai gantinya tambang yang biasa digunakan untuk mengadu tenaga bertarik-tarikan!
Maka terdengarlah suara-suara yang memihak kepada Cin Hai sambil berteriak-teriak.
"Hayo, tarik... tarik...! Keluarkan tenagamu..."
Jika bangku itu terbetot ke arah Cin Hai, maka semua orang berseru gembira.
"Hayo... lebih keras lagi... tarik...!"
Akan tetapi apabila bangku itu terbetot ke arah Boan Sip, terdengar teriakan-teriakan lain yang mengandung kekuatiran.
"Awas... pertahankan... jangan sampai kalah...!"
Untuk beberapa lamanya kedua orang itu saling tarik, saling betot dan saling keluarkan tenaga, Boan Sip makin marah dan penasaran saja.
Tenaganya untuk membetot bangku ini lebih dari pada tujuh ratus kati, akan tetapi sungguh aneh sekali bahwa pemuda tolol ini dapat mempertahankannya sedemikian rupa.
Ia lalu mengerahkan seluruh tenaganya dan dengan tenaga yang tidak kurang dari seribu kati kuatnya.
Dan tiba-tiba Cin Hai mengendurkan pegangannya hingga dengan cepat sekali bangku itu terbetot ke arah Boan Sip dan terbawa tubuhnya yang terhuyung-huyung ke belakang ini.
Akan tetapi Cin Hai tidak melepaskan pegangannya hingga tubuhnya ikut terbetot dengan bangku itu.
Tarikan Boan Sip kian kerasnya hingga karena tenaga bertahan dilepas secara tiba-tiba, tidak mampu lagi perwira itu bertahan dan terlempar ke belakang terhuyung-huyung ke belakang dan akhirnya jatuh terjengkang dengan bangku dan tubuh Cin Hai menimpa di atasnya.
Orang-orang tertawa geli dan berrak-sorak.
Akan tetapi pada saat itu Lin Lin sudah melompat ke tempat itu karena gadis ini yakin bahwa ketika tubuh Cin Hai menimpa di atas tubuh Boan Sip, maka perwira itu dapat memberi pukulan maut kepada pemuda itu.
Dan alangah herannya Lin Lin ketika tanpa terlihat, tahu-tahu Ang I Niocu juga berada di situ dan cepat sekali Dara Baju Merah ini telah memegang tangan Cin Hai dan membetotnya!
Ternyata bahwa Ang I Niocu juga kena ditipu oleh ketololan Cin Hai dan menguatirkan keselamatan pemuda ini.
Akan tetapi, ketika orang-orang melihat Boan Sip merangkak bangun, ternyata dari mulut perwira muda itu mengalirkan darah dan ia berdiri dengan terhuyung-huyung.
Karena terlalu menghabiskan tenaga dan tiba-tiba bangku dilepas, maka tenaganya membalik dan telah melukainya sendiri hingga ia mendapat luka dalam yang hebat juga!
Kawan-kawannya segera menghampiri dan menuntunnya duduk di atas sebuah bangku.
Ma Ing segera mengetuk pundak dan mengurut-urut dadanya, dan memberinya sebuah pil untuk ditelan.
Boan Sip lalu duduk diam dan mengatur napas untuk memulihkan tenaganya kembali.
Lin Lin dan Ang I Niocu kembali ke tempat duduk masing-masing dan Cin Hai dengan mendapat sambutan tepuk tangan dan tertawa geli, dipanggil oleh ie-ienya, yakni di bagian para tamu wanita.
Ketika Biauw Suthai memandang pemuda itu, teringatlah wanita gagah ini, ia lalu berdiri dan menghadapi Cin Hai.
"Bukankah kita pernah bertemu?"
Tanyanya mengingat-ingat.
"Sudah, Suthai,"
Jawab Cin Hai.
"Sudah empat kali kita bertemu."
"Empat kali?"
Biauw Suthai mengingat-ingat.
"Ya, empat kali. Pertama kali ketika engkau menculik Adik Lin Lin. Ke dua kalinya ketika engkau menolongku dari serangan Biauw Leng Hosiang, ketiga kalinya di dalam Gua Tengkorak, dan ke empat kalinya... sekarang ini!"
Biauw Suthai tertawa senang.
"Ah, benar... pantas saja kalau begitu. Memang semenjak dulu engkau telah memiliki keberanian yang besar!"
Lin Lin memandang kepada Cin Hai dengan kagum, lalu berkata.
"Hai-ko, kau benar-benar gagah berani!"
Dan aneh sekali, mendengar pujian dan melihat sinar mata gadis ini Cin Hai merasa demikian girang hingga ia tersenyum dan tiba-tiba mukanya menjadi merah.
Ang I Niocu dari tempat duduknya melayangkan pandang tajam ke arah kedua anak muda ini.
Sementara itu, Kwee Tiong dan adik-adiknya merasa iri hati dan jengkel melihat betapa Cin Hai yang tolol itu mendapat pujian dari orang-orang.
"Sungguh menjemukan, sungguh menyebalkan...!"
Kwee Tiong bersungut-sungut.
Pada saat itu seorang perwira lain yang bertubuh pendek dan bermuka hitam, meloncat masuk ke dalam arena.
Dengan tertawa dingin ia menggulung lengan bajunya ke atas hingga nampak sepasang tangannya yang pendek dan berkulit halus putih, jauh berbeda dengan warna kulit mukanya.
Ia memandang ke sekeliling dan berkata kepada Kwee In Liang.
"Kwee-ciangkun..."
"Aku bukan seorang pembesar lagi, jangan kau menyebutku ciangkun."
Kwee In Liang memotong. Perwira kate itu tertawa.
"Kwee Lo-enghiong,"
Katanya lagi.
"Pertempuran antara Boan-sute dan Pek I Toanio, berakhir dengan seri karena kedatangnya gangguan dari pemuda tolol tadi, dan pertempuran antara Boan-sute dan pemuda itu tidak termasuk hitungan karena itu bukanlah pertempuran. Jadi keadaan pihak kami masih belum ada yang kalah belum ada yang memang. Sekarang kuharap kau suka maju, atau boleh kau mengajukan pemuda tolol setengah gila tadi untuk menghadapiku, dalam sebuah pertempurah sungguh-sungguh! Tetapi, tentu anak bodoh itu tidak berani!"
"Siapa yang tidak berani?"
Tiba-tiba Cin Hai berteriak.
"Mentang-mentang mukanya hitam, jangan membuka mulut besar!"
Terdengar orang-orang tertawa keras karena geli mendengar ini. Muka perwira yang hitam itu menjadi lebih hitam lagi karena darah mengalir ke mukanya.
"Anjing tolol, jangan kau suka berbuat kepada lain orang sesuatu yang kau sendiri tak suka orang lain berbuat kepadamu! Kau datang-datang memaki orang, mengapa kau tidak suka mendengar disebut muka hitam?"
Sambil berkata demikian, Cin Hai bangun berdiri hendak menyambut tantangan orang itu, akan tetapi Loan Nio yang duduk di dekatnya lalu memegang pundaknya dan mencegahnya membuat onar lebih jauh.
Tiba-tiba Ang I Niocu berdiri sambil tersenyum.
Ia mengangguk kepada Biauw Suthai, lalu menghampiri Kwee In Liang dan bertanya.
"Kwee Lo-enghiong, bolehkah aku mewakili Saudara Cin Hai?"
Kwee In Liang yang merasa bahwa ia sendiri tidak berdaya, hanya menganggukkan kepala dengan bingung.
Setelah mendapat perkenan Kwee In Liang, dengan sekali gerakan kaki tubuhnya, melayang cepat dan tahu-tahu telah berdiri di depan perwira muka hitam tadi.
Semua orang memuji keindahan gerakan ini dan perwira muka hitam itu terkejut sekali.
Ia maklum bahwa ia menghadapi seorang lawan yang lihai dan tangguh, maka ia tidak berani main-main dan segera menjura dengan hormat.
"Tuan rumah telah berhasil mengumpulkan pembela-pembela yang pandai. Bolehkah kiranya aku mengetahui nama Lihiap dan apa hubungan Lihiap dengan Kwee-enghiong?"
Ang I Niocu tersenyum dan orang-orang heran mendengar betapa tiba-tiba Ang I Niocu mengucapkan sajak.
"Berkawan sebatang pedang Menjelajah ribuan li tanah dan air Tanpa maksud, tiada tujuan, Hanya mengandalkan kaki dan hati. Kau hendak bertanya nama? Lihat pakaian dan pedang. Dan cari sendiri siapa namaku!"
Perwira itu memikir-mikir sebentar sambil memandang pakaian Ang I Niocu dengan penuh perhatian. Kemudian ia berkata dengan kaget.
"Ah, bukankah Lihiap ini Ang I Niocu?"
Ang I Niocu tersenyum manis, dan sekalian orang yang hadir, juga Kwee In Liang, Kwee Tiong dan semua adiknya terkejut sekali.
Telah lama nama ini sangat tersohor akan tetepi tak seorang pun pernah menyangka bahwa orangnya sedemikian muda dan cantiknya!
"Apakah artinya nama bagi kita?
Hal itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan pibu yang kita hadapi.
Dan tentang perhubungan dengan keluarga Kwee yang kautanyakan tadi, terus terang saja aku pun hanya seorang tamu biasa bahkan tamu yang tak diundang seperti juga kalian!
Akan tetapi, karena maksudku baik aku diterima dengan baik pula, tidak seperti kalian hanya datang mengacau!"
"Maaf, maaf! Tidak tahu bahwa Lihiap adalah Ang I Niocu maka berlaku hormat. Pertempuran ini tak dapat dilanjutkan!"
Kata Si Muka Hitam.
"Bukan karena aku tidak menghormat Lihiap, akan tetapi karena kami datang khusus untuk mengadu kepandaian dengan keluarga Kwee, maka aku Tan Song takkan mau melayaninya!"
Mendengar kata-kata ini, Ang I Niocu tak berdaya dan ia tak dapat memaksa, maka ia lalu bertindak ke tempatnya semula setelah berkata.
"Kalau begitu, masih kuharapkan lain kali kau suka memperlihatkan kepandaianmu yang membuat kau sombong ini, Tan-ciangkun!"
Tan Siong merasa malu dan marah mendengar sindiran ini, akan tetapi ia memang cerdik dan pura-pura tak mendengar sindiran yang disengaja oleh Ang I Niocu itu.
"Hie, orang she Kwee, bagaimanakah? Apakah kau dan kaum kerabatmu tidak berani menghadapi aku? Mana pemuda gila yang menjadi keponakanmu tadi, suruh ia keluar, jangan sembunyi di dalam pelukan ibunya saja!"
Bukan main hebatnya hinaan ini dan Cin Hai sudah bermaksud hendak bertindak memperlihatkan kepandaian, akan tetapi pada saat itu dari luar berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu seorang pemuda berpakaian seperti seorang sasterawan telah berada di situ.
Pemuda ini langsung menuding muka Tan Siong dan berkata.
"Manusia sombong yang suka mengacau! Jangan kau menghina Ayahku, aku putera ke lima siap menghadapimu!"
"An-ji..."
Kwee In Liang dan Loan Nio berseru hampir berbareng, akan tetapi karena pada saat itu Kwee An sedang menghadapi musuh, maka mereka hanya memandang dengan girang dan juga kuatir.
Apalagi Kwee An hanya memiliki kepandaian silat yang masih rendah saja.
Hanya saja cara melihat masuknya Kwee An tadi timbul harapan baru dalam hatinya.
Ia sendiri yang berkepandaian cukup, hampir tak melihat gerakan Kwee An yang demikian cepat!
Cin Hai dengan jelas dapat melihat bahwa ketika masuk tadi, Kwee Ang telah mempergunakan Ilmu Loncat Naga Sakti Mengejar Mustika dan bahwa ilmu loncat ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang mempelajari keng-sin-sut atau ilmu berlari cepat dan telah memiliki ginkang tinggi.
Maka ia tahu bahwa Kwee An telah mempelajari silat dari orang pandai.
Juga Ang I Niocu, Biauw Suthai, Pek I Toanio, dan Lin Lin mengetahui hal ini hingga mereka menjadi girang.
Akan tetapi, Cin Hai adalah seorang yang sangat teliti dan hati-hati.
Biarpun maklum bahwa Kwee An memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi ia masih merasa kuatir dan pada saat yang tegang itu, tiba-tiba ia berlari-lari menghampiri Kwee An sambil berteriak,-teriak "Kwee An...
Kwee An..."
Kwee An cepat berpaling dan wajahnya yang cakap itu berseri girang melihat Cin Hai.
"Cin Hai, engkau juga datang??"
Mereka lalu berpelukan karena memang dengan Kwee Ang, semenjak dahulu Cin Hai mempunyai perhubungan yang akrab. Ketika mereka berpelukan, dengan perlahan sekali Cin Hai berbisik.
"Dia mempunyai Pek-mo-jiu."
Akan tetapi dengan suara keras ia berkata.
"Kwee An, engkau begini gagah perkasa! Ah, Si Muka Hitam ini sebentar lagi akan bermuka biru!"
Setelah berkata demikian, Cin Hai lalu bertindak kembali ke tempat duduknya.
Semua orang tertawa mendengar olok-oloknya kepada Muka Hitam.
Diam-diam Kwee An heran melihat sikap Cin Hai yang ketolol-tololan, padahal bisikan tadi menyatakan bahwa mata Cin Hai tajam sekali.
Ia sendiri kalau tidak diberi tahu tentu tak akan tnenyangka, karena memang seorang yang memiliki Pek-mo-jiu, tidak nampak dari luar, tidak seperti halnya Hek-seejiu atau Ang-see-jiu, karena orang yang memiliki ilmu ini, tangannya hitam atau merah.
Pek-mo-jiu atau Tangan Iblis Putih adalah semacam ilmu yang dipelajari dengan melatih tangan dan lengan sedemikian rupa menggunakan bubuk perak putih yang dicampur obat-obat kuat dan digosok-gosokkan ke seluruh lengan tangan, juga melatih dengan memukul-mukul bubuk perak kasar hingga kebal dan keras dan memiliki tenaga luar biasa!
Pertempuran antara Kwee An dan Tan Song segera dimulai dan dalam beberapa gebrakan saja Cin Hai dapat tahu bahwa Kwee An telah mempelajari ilmu silat dari Kim-san-pai, sebuah cabang persilatan dari Go-bi-san yang mempunyai banyak cabang persilatan itu.
Pernah dulu Bu Pun Su memberi tahu kepadanya tentang cabang persilatan ini yang biarpun kurang ternama, akan tetapi sesungguhnya memiliki ilmu silat yang tinggi.
Dan sekarang Cin Hai membuktikan sendiri hingga ia merasa girang sekali karena Kwee An yang baik hati dan sederhana itu ternyata memiliki kepandaian silat yang tidak saja lebih tinggi dari Lin Lin, akan tetapi agaknya tak kalah dengan kepandaian Si Muka Hitam ini!
Benar saja seperti dugaan Cin Hai semula, Tan Song yang maklum bahwa lawannya yang masih muda ini memiliki kepandaian tinggi dan merupakan lawan yang tangguh, lalu berusaha mencapai kemenangan mengandalkan kedua tangannya yang memiliki tenaga Pek-mo-jiu.
Ia mengerahkan tenaga dan kepandaian melancarkan seragan kilat yang dapat membawa maut.
Akan tetapi Kwee An berlaku hati-hati sekali.
Ginkang pemuda ini sudah mencapai tingkat tinggi dan ia memiliki ilmu meringankan tubuh yang lebih tinggi daripada lawannya maka ia mempergunakan ginkangnya untuk bergerak ke sana ke mari demikian cepatnya laksana seekor burung kepinis!
Orang-orang bersorak gembira melihat pertunjukkan ini, karena pertempuran mereka seakan-akan seekor ular yang mengejar burung yang terlalu gesit dan cepat untuk dapat dicaploknya.
Kwee An mengeluarkan ilmu silat Kim-san-pai yang lihai dan balas menyerang dengan totokan-totokan ke arah urat dan jalan darah lawan.
Pernah terjadi kelambatan pergerakan Kwee An yang hampir saja mencelakakan anak muda ini karena Tan Song mempergunakan kesempatan itu untuk mengirim sebuah pukulan maut yang keras ke arah dada Kwee An.
Semua orang terkejut, bahkan Ang I Niocu mengeluarkan seruan tertahan.
Kwee An merasa betapa angin pukulan Pek-mo-ciang ini mengiris kulit dadanya, akan tetapi berkat kegesitannya, ia segera melempar diri ke belakang sambil menggerakan kedua kakinya menendang ke depan bergantian.
Untung saja ia mempergunakan Ilmu Gerakan Kera Jatuh Dari Cabang ini, karena kalau saja ia tidak mempergunakan gerakan ini dan tidak menendangkan kedua kakinya, tentu lawannya akan menubruk maju dan mengirim serangan ke dua.
Cepat sekali Kwee An menggunakan kedua tangan menekan lantai hingga tubuhnya dapat mencelat ke atas kembali dan kini ia menghadapi lawannya yang tangguh dengan lebih hati-hati.
Setelah bertempur seratus jurus lebih, lambat laun Tan Song mulai terdesak.
Kwee An yang muda dan bertenaga kuat itu melancarkan serangan-serangan yang terlihai dari Kim-san-pai dan karena cabang persilatan ini memang tak banyak dikenal orang, maka Tan Song menjadi bingung menghadapi gerakan-gerakan yang aneh ini.
Cin Hai merasa gembira sekali dan ia bersorak-sorak gembira sambil berseru-seru "Hayo, Kwee An, hantam terus...
hantam terus..."
Semua penonton melihat dan mendengar Cin Hai ikut merasa gembira karena mereka ini hampir semua berpihak kepada tuan rumah dan membenci perwira-perwira Sayap Garuda yang terkenal jahat.
Kwee In Liang merasa girang sekali melihat bahwa puteranya yang tadinya disangka bodoh dan paling lemah di antara semua puteranya yang lain, ternyata kini datang-datang membawa pulang kepandaian yang sangat tinggi, bahkan mungkin lebih tinggi daripada Lin Lin!
Ketika mendapat kesempatan baik, pada saat lawannya terhuyung mundur karena serangan yang datang bertubi-tubi, Kwee An lalu melangkah maju dan memukul dengan tangan kiri ke arah mata lawan.
Tan Song cepat mengelak tetapi segera berteriak kaget karena tiba-tiba kaki kanan Kwee An melayang dan menendang lawan yang tidak menyangka dan sedang berada dalam posisi yang lemah itu.
Tak ampun lagi dada Tan Song berkenalan dengan ujung sepatu Kwee An dan perwira pendek itu berteriak kesakitan lalu roboh sambil memegangi dadanya!
Kawan-kawannya lalu datang menolong dan mengangkatnya ke pinggir.
Kwee In Liang lalu menghampiri Kwee An.
Ayah dan anak ini berpelukan.
Lalu Kwee An digandeng oleh ayahnya menuju ke tempat duduk Loan Nio dimana Kwee An disambut oleh Loan Nio dengan terharu dan girang.
Juga saudara-saudaranya lalu datang menyerbu menghujani pertanyaan dalam suasana gembira.
Mereka ini merasa bangga sekali akan kepandaian Kwee An.
"Nah, inilah baru disebut kepandaian aseli,"
Kata Kwee Tiong sambil mengerling ke arah Cin Hai.
"diam-diam engkau mengeluarkan tenaga dan dengan jujur engkau mengalahkan orang she Tan yang tangguh itu. Engkau sungguh hebat, An!"
Kwee Tiong menepuk-nepuk pundak adiknya dengan wajah bangga sekali.
Pada saat itu perwira ke tiga masuk ke dalam arena adu silat.
Perwira ini bertubuh tinggi kurus dan gerak-geriknya lambat tetapi penuh mengandung tenaga sedangkan sepasang matanya tajam berpengaruh.
Melihat sepintas lalu saja Cin Hai dapat mengetahui bahwa orang ini adalah seorang ahli lweekeh yang tangguh.
Perwira ini sebenarnya adalah kakak Tan Song dan bernama Tan Bu, sedangkan kepandaian ilmu silatnya masih jauh lebih tinggi daripada Tan Boan Sip.
Tetapi adatnya pendiam dan tidak sombong.
Setelah berdiri di tengah-tengah arena, Tan Bu lalu menjura ke arah Kwee In Liang dan berkata dengan suaranya yang besar.
"Kwee-enghiong, puteramu tadi sungguh lihai, kalau kiranya tidak terlalu lelah dan sudi memberi pelajaran kepdaku yang bodoh, aku akan merasa gembira sekali!"
Kwee An hendak maju lagi, tetapi ia ditahan oleh Kwee In Liang.
"Kau terlalu lelah, baru saja datang sudah bertempur dengan musuh tangguh. Kalau sekarang kau maju lagi, maka kau akan terlalu letih. Lebih baik beristirahat dulu."
"Habis siapa yang akan maju melayani perwira itu?"
Tanya Kwee An. Tiba-tiba Bhok Ki Sun yang menjadi kawan Kwee In Liang berdiri dan berkata.
"Biariah aku yang tua ikut meramaikan pesta ini dan mencoba-coba tenaga."
Muka Kwee In Liang berseri. Ia maklum bahwa kepandaian Bhok Ki Sun jago tua dari selatan ini cukup lihai dan lebih tinggi daripada kepandaianya sendiri, maka ia cepat menjura sambil berkata.
"Kalau kau sudi membantu, aku merasa berhutang budi besar sekali."
Bhok Ki Sun lalu bertindak maju dan menghampiri Tan Bu. Jago tua yang berpakaian seperti seorang petani sederhana ini lalu menjura dan berkata.
"Belum tahu siapa nama Ciangkun dan apakah pendirian Ciangkun sama dengan pendirian Tan-ciangkun bahwa orang luar tidak boleh membantu Tuan rumah? Aku Bhok Ki Sun karena menjadi kawan baik dari Kwee In Liang, maka mengajukan diri untuk melayanimu."
Berbeda dengan Tan Song, Tan Bu ini mempunyai pendirian yang lebih adil, maka ia menjawab.
"Aku bernama Tan Bu dan maafkan ucapan adikku yang berpikiran pendek tadi. Kalau Bhok Lo-enghiong hendak turun tangan, aku merasa gembira sekali dan marilah kita bermain-main sebentar!"
Bhok Ki Sun adalah seorang anak murid dari Kun-lun-pai, maka ia pun memiliki tenaga lweekang yang cukup sempurna.
Setelah keduanya menjura dan saling memberi hormat, pertempuran segera dimulai.
Keduanya bergerak lambat-lambatan dan lemas, seperti biasa ahli-ahli lweekeh bergerak.
Akan tetapi setelah beberapa kali beradu lengan dan mendapat kenyataan bahwa pihak lawan sama kuatnya, mereka lalu mempercepat gerakan mereka dan tidak hanya mengandalkan tenaga lweekang semata.
Mereka lalu mengeluarkan kecepatan dan kelihaian ilmu silat masing-masing, maka pertempuran segera berubah cepat dan hebat.
Dan beberapa puluh jurus kemudian ternyatalah bahwa Bhok Ki Sun bukanlah lawan Tan Bu karena orang tua itu segera terdesak hebat.
Ilmu silat Tan Bu benar-benar mengagumkan karena selain sukar diduga, juga mempunyai pecahan dan perubahan gerakan yang banyak sekali macamnya dan yang kesemuanya dilakukan dengan gerak cepat.
Beberapa kali Bhok Ki Sun hampir celaka karena serangan lawan hingga akhirnya ia pikir lebih baik mundur sebelum terluka dalam pertempuran yang sebetulnya lebih bersifat mengukur kepandaian ini.
Dengan gerakan Ikan Hiu Menerjang Ombak Bhok Ki Sun meloncat ke belakang dan berjumpalitan hingga tubuhnya terpental jauh.
Ia turun sambil merangkapkan kedua tangannya dan berkata.
"Tan-ciangkun, kepandaianmu sungguh luar biasa dan aku Bhok Ki Sun mengaku kalah!"
Ia lalu menjura kepada Kwee In Liang sebagai pernyataan maafnya karena tak berhasil membela nama keluarga Kwee.
Pek I Toanio tertarik sekali melihat kepandaian Tan Bu, maka setelah mendapat perkenan dari gurunya, ia lalu maju menggantikan Bhok Ki Sun.
"Ingin sekali aku merasai kelihaian Tan-ciangkun bermain senjata,"
Kata Pek Toanio sambil mencabut pedang di tangan kanan dan mengeluarkan juga sebuah hudtim (kebutan) di tangan kiri.
Nyonya baju putih ini memang pernah mempelajari ilmu memainkan hudtim dan pedang dari gurunya.
"Baik, baik. Aku pun telah melihat permainanmu yang lihai tadi dan ingin sekali mencobanya,"
Jawab Tan Bu yang segera mengambil senjatanya, yakni sebatang toya panjang yang ujungnya dipasangi kaitan.
Setelah saling memberi hormat, maka kedua orang ini lalu menggerakkan senjata masing-masing dalam pertempuran, yang jauh lebih hebat dan seru dari pada ketika Tan Bu bertempur melawan Bhok Ki Sun dengan tangan kosong.
Sinar pedang Pek I Toanio bergulung-gulung dibarengi menyambarnya hudtimnya yang cukup lihai, hingga permainannya mendatangkan pemandangan yang menarik sekali.
Akan tetapi permainan toya dari Tan Bu juga mengagumkan, dan berbareng mengerikan.
Toya itu sangat berat dan digerakkan dalam putaran yang demikian cepatnya hingga mendatangkan angin berkesiur yang dirasai oleh semua penonton yang duduk di situ!
Baru anginnya saja sudah memiliki tenaga hebat hingga menggerakkan pakaian dan rambut orang di sekitarnya, apalagi jika terkena kemplang toya yang berat dan digerakkan cepat ini!
Baru bertempur dalam beberapa belas jurus saja, Pek I Toanio telah maklum bahwa jika ia mengadu tenaga, maka ia tentu akan kalah.
Maka ia lalu berkelebat ke sana ke mari menghindarkan diri dari sabetan toya, sambil menggunakan kesempatan-kesempatan baik untuk membalas menusuk dengan pedang atau memukul jalan darah dengan ujung kebutan.
Ketika Tan Bu menggunakan gerak tipu Hing-sau-chian-kun atau Serampang Bersih Ribuan Tentara dan tiba-tiba memutarkan toyanya ke arah Pek I Toanio sambil berseru keras, nyonya itu melompat ke atas melewati kepala lawannya.
Akan tetapi cepat bagaikan kitiran angin, toya Tan Bu telah mengejar tubuh yang di atas itu dan cepat menusuk ke arah Pek I Toanio!
Serangan ini berbahaya sekali hingga semua orang menahan napas.
Akan tetapi, Pek I Toanio benar-benar memiliki ginkang yang sempurna.
Baca Juga: Suling Naga 13
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 1