Eps 1 Iblis Sungai Telaga - Khu Lung
Baca online Iblis Sungai Telaga - Khu Lung
Cersil Iblis Sungai Telaga - Khu Lung.
Iblis Sungai Telaga Karya . Khu lung
Jilid 1
"Benar kalau kau bilang dia berbakat sangat sempurna.
"bilangnya"
Walaupun demikian, didalam waktu sepuluh tahun, ada sangat sulit baginya untuk mencapai kepandaian itu.
Lebih benar dibilang bahwa di dalam segala hal dia menemui hal yang kebetulan, dia telah menemui jodohnya.
Seumur aku si pengemis tua tidak percaya tentang nasib atau peruntungan, tetapi melihat gerak geriknya Tek Cio si imam hidung kerbau selama setahun ini, diam-diam aku harus mengakui kelihaiannya.
Didalam sepuluh tahun Tek Cio dapat membuat It Hiong menjadi seperti sekarang ini, itulah jasanya si hidung kerbau, jasa utama.
Cuma satu hal jangan dilupakan hal penemuannya yang diluar dugaan.
Pada sepuluh tahun terdahulu di telaga Po Yang Ouw di kay hong secara tiba-tiba anak Hiong dapat minum darahnya seekor belut emas yang usianya mungkin sudah seribu tahun.
Khasiat darah itu membuat dia kuat dan ulet luar biasa melebihi hasilnya latihan sepuluh tahun.
Lalu, dia berentengan memperoleh guru pandai dalam dirinya Tek Cio si hidung kerbau itu yang mewariskan padanya ilmu pedang Khiu Bun Patkwa Kiam yang telah diciptakan dan diyakininya separuh seumur hidupnya, sedangkan dalam ilmu ringan tubuh, dia mewariskan Loncatan tenaga Mega yang luar biasa itu.
Selama ini, menurut penglihatanku, Tek Cio memperoleh kemajuan pesat, hingga dia mungkin menjadi seperti dewa atau sedikitnya separuh dewa.
Belakangan, anak Hiong diajari juga ilmu tenaga dalam Hau Bun Sian Thian Kiekang, ilmu mana tinggal dia mematangkannya.
Benar-benar sekrang sekarang ini sampai dimana sudah kemajuan anak Hiong aku tidak tahu!"
Pak Cu menjadi kagum sekali. Dia tertawa.
"Kemarin aku si pendeta tua menyaksikan perlawanan niocu terhadap Beng Leng Ciu jiu,"
Katanya.
"Aku melihat didalam halnya tenaga dan kecerdasan, niocu tak berada di bawah angin. Maka itu, melihat dari kepandaian niocu, aku merasa semua tujuh puluh dua ilmu silat Siauw Lim Sie tak akan dapat dibandingkan dengan kepandaian Tek Cio Sengjin."
Im Gwa Sian menggeleng kepala.
"Itulah belum tentu"
Bilangnya.
"Mengenai Tek Cio si imam hidung kerbau, dia memang luar biasa. Selama beberapa puluh tahun dia tak pernah meninggalkan puncak Pay Im Nia di Kim Hoa San. Mungkin dia sedang meyakinkan sesuatu yang lainnya lagi. Pelajaran Hian bun Sian Thian Khiekang itu mirip ilmu semedhi. Untuk mempelajari itu perna anak Hion menyekap diri tiga tahunlamanya. Diwaktu begitu dia tak dapat diganggu sampai aku sendiri si pengemis tua dilarang menemuinya. Karena itu pernah aku memikir mungkin si imam hidung kerbaru lagi mempelajari ilmu sesat."
Pek Cui tertarik hati, ia menghela naps kagum.
"Tak perduli dia mempelajari ilu ssat atau bukan"
Katanya.
"tetapi dia telah dianggap sebagai orang pandai dan gagah luar biasa yang nomor satu di jaman ini, sebutan itu tak memalukan dan mengecewakannya. Menyesal sekali lolap tidak pernah mempunyai ketika akan bertemu muka dengan sengjin, maka kalau kelak dikemudian hari lolap beruntung menemuinya, pasti akan lolap menghindari ............(tidak jelas) tujuh puluh dia ilmu silat partai itu memohon pengajarannya!"
Kata-kata "mohon pengajaran"
Itu diartikan dalam artian umum, itu dimaksudkan menantang secara terhormat untuk bertanding. In Gwa Sian tertawa mendengar suaranya pendeta itu.
"Tek Cio si hidung kerbau itu sangat cerdas dan banyak pengalamannya"
Katanya.
"Dapat dimengerti bahwa tak mudah untuk dia memperoleh semua kepandaiannya itu. Setahuku dia telah menyekap diri di dlam gunung Kui Hoa San buat beberapa puluh tahun, tak pernah dia turun gunung umpama kata sekalipun satu tindak. Selama tigapuluh tahun, dua kali seudah dia menutup diri setiap kalinya buat beberapa tahun lamanya. Malah dia tak pernah meninggalkan kamar samadhinya itu, yang sekrang menjadi kamar obatnya"
Pek Cui tersenyum.
"Kami dari pihak siau Lim Sie, kamipun mempunyai kebiasaan menutup diri itu"
Katanya.
"kami cuma tidak membutuhkan waktu demikian lama seperti yang diperbuat Tek Cio Totiang"
In Gwa Sian menggeleng kepala, memotong pendeta itu,"
Kita tunda halnya Tek Cio itu, tunggu saja nanti sampai kau berhasil menemuinya. Sekarang ialah soal terpenting. Bagaimana kalian hendak mengurus itu?"
"Apakah kau menghendaki kami turut denganmu, untuk kita bersama-sama melepas undangan umum kepada seluruh kaum Rimba Persilatan guna mengajak mereka berangkat keluar lautan?"
Tanya Pak Cui.
"Tak usah!"
Sahut si pengemis tertawa.
"Soal itu tak prnah lepas dari hatiku si pengemis tua. Asal kau mupakat, segera kita mengirim orang menyampaikan surat undangan. Jika kau tidak setuju, sekarang juga aku si pengemis tua hendak berpamitan darimu!"
"Lolap meminta Tio Sicu datang kemaripun guna membicarakan urusan itu."
Berkata Pek Cui.
"Kawanan bajingan dari luar lautan itu datang mengacau wibawa kami disini tanpa alasan, hingga mereka mendatangkan malapetaka. Perbuatannya itu tidak dapat dibiarkan saja. Lolap telah menghimpun para Tianglo dari Tatmo Ih dan Kam Ih, begitu kami berbicara putusan telah lantas diambil.
"Jika demikian, kita mesti bekerja cepat!"
Berkata In Gwa Sian yang dalam hal ini hilang kesabarannya. Dia memotong kata-kata orang sebelum Pek Cui bicara habis.
"Sekarang juga kita bekerja, kita menulis dan mengirim surat undangan, bagaimana?"
"Perihal surat undangan telah lolap memerintahkan lekas ditulisnya,"
Berkata pula si pendeta.
"Soalnya ialah kita harus memilih siapa-siapa saja yang di undang."
Itulah benar.
In Gwa Sian setuju, maka itu mereka lantas memikirkan kawan dan kenalan untuk dipilih siapa yang kiranya pantas diundang.
orang itu harus lihai dan sepaham, tak dapat sembarang orang mengingat lihainya pihak lawan.
Pembicaraan atau pemikiran itu meminta waktu, sebab nama-nama yang disebut harus dipilih lebih jauh, selesai memilih orang, nama-nama mereka itu lantas ditulis, tak diduganya Pek Cui mengajukan duapuluh orang pendeta muda dan lincah menyiarkan kesegala penjuru.
Di dalam surat undangan disebut tanggal bulannya, yang tinggal dua bulan lagi.
Seperginya para pendeta pesuruh itu, barulah lega hatinya In Gwa Sian.
Tadinya dia tegang sendiriny akarena dia tak sabaran, sekarang dapat dia tertawa.
"Tadi malam aku menempur It Yap Tojin si imam campuraduk diatas puncak Siauw SIt Hong,"
Katanya.
"Kami mengadu tangan hingga tiga kali. Kesudahannya aku kalah satu. Walaupun demikian, si hidung kerbau tak menang seluruhnya. Kami sampai kehabisan tenaga, maka itu kami lantas pada duduk bersila untuk beristirahat sekian lama. Ketika itu aku gunakan meminta ia mengundangnya turut pergi ke luar lautan guna menemui para bajingan!"
"Habis, dia menerima baik undangan itu atau tidak?"
Pek Cui tanya lekas.
"Jjika Heng San Kiam-kek memberikan persetujuan tak sukar buat membasmikawanan bajingan itu......"
In Gwa Sian tertawa sebelum dia menjawab. Kata dia,"
Si imam campur aduk itu masih penasaran atas kekalahannya dari Tek Cio diwaktu mengadu pedang, dia tidak menjawab menerima baik undanganku itu, dia cuma tertawa dingin beberapa kali, terus saja dia mengeloyor pergi turun dari puncak!"
"Ah!"
Pek cui menghela nafas,"
Manusia umumnya menganggap dalam hidupnya ada empat buah godaan yang paling sukar diatasi, ialah harta, paras elok, nama, dan kedudukan tinggi, tetapi diantara itu menurut pandangan lolap, nama lah yang paling banyak mencelakai orang.
Demikian dengan It Yam Tojin.
Dia dipengaruhi dengan kekalahannya dari Tek Cio Sengjin itu, dia merasa namanya runtuh, maka dia menjadi penasaran, karenanya ia sampai melupakan kesulitan dan bahaya yang mengancam keselamatannya banyak sesama rekan kaum Rimba Persilatan....."
Mendadak pendeta ini berhenti bicara, terus dia tertawa nyaring.
"Amida Buddha!"
Pujinya.
"Ah, aku si pendeta jadi berpikir sebagai manusia seumumnya!...."
Mendengar kata-kata si pendeta, hatinya It Hiong gentar sendirinya. Mendadak ia ingat sesuatu, maka juga ia kata didalam hatinya.
"Gak Hong Kun tergila-gila terhadap kakak Giok Peng, dia bagaikan orang edan dilihat dari tingkahnya itu dia seperti juga bersedia mengorbankan jiwa demi sang cinta! Aku bagaikan merampas kekasihnya itu, aku bersalah. Pantas dia sangat membenci aku!...."
Memikir begini tawarlah hatinya si anak muda.
Ia tetap merasa sulit...
Pembicaraan telah selesai sampai disitu.
In Gwa Sian merasa bahwa ia telah beristirahat cukup maka dia berpamit diri.
Dia masih letih perlu beristirahat!
It Hiong pun menggunakan saat itu untuk mengundurkan diri hanya ia menggunakan kesempatan terlebih jauhnya.
Ia berdusta bahwa keluar wilayah kuil demi untuk pergi ke tempatnya Kiauw In dan Giok Peng.
Tatkala itu kedua nona sedang duduk berdua saja depan berdepan di depannya di atas meja terletak Keng Hong Kiam pedang mustika Mengejutkan Pelangi.
Nampaknya kakak beradik itu sedang asyik sekali.
Sebab mereka sangat akur satu dengan yang lain.
Walaupun demikian mereka segera dapat melihat ketika It Hiong muncul diambang pintu kamar mereka.
Pemuda itu melangkah dengan perlahan berindapindap.
Kiauw In melirik dan tertawa.
"Mau apa kau datang secara sembunyi-sembunyi bagaikan bajingan?"
Tegurnya. It Hiong tertawa.
"Kalian tengah membicarakan urusan apa?"
Dia balik bertanya.
"Agaknya kalian asyik sekali! Dapatkan aku ini turut mendengarnya?"
Giok Pek melirik, nampak dia rada jengah. Kiauw In menunjuk kepada pedang mustika diatas meja.
"Apakah artinya ini ?"
Tanyanya.
"Sampai pun senjata tak dikehendakinya."
"Aku menyerahkan itu kepada kakak Giok Peng dengan permintaan ia tolong menyimpan dan menjaganya,"
Sahutnya.
"Siapakah yang bilang aku tidak menghendakinya ?"
Pemuda ini bersikap wajar. Kiauw In mengawasi, Giok Peng sebaliknya menghela napas.
"Aku tahu, di dalam hatimu, kau sangat penasaran terhadapku,"
Katanya.
"Dengan kakak In ini, aku justru tengah membicarakannya !"
Si pemuda menggeleng kepala.
"Bukankah urusan itu urusan umum ?"
Katanya sambil tertawa.
"Apakah yang menarik dalam urusan ini ? Mana dia Gak Hong Kun ?"
"Dia sudah pergi !"
Sahut nona Pek.
"Kenapa kau tak mengajaknya datang kemari untuk berduduk dan memasang omong ? Terhadap kita, terhadapmu dan terhadapku, dia telah melepas budi besar."
"Hm !"
Si nona memperdengarkan suara penasaran atau mendongkol.
"Tadinya aku menganggap dia orang baik-baik maka aku suka bergaul dengannya sampai akhirnya aku bentrok dengan pemuda seh Gak itu, yang marah mengharap cintanya, karena ia menganggap itu tak tepat."
Maka ia meneruskan.
"Siapa tahu, terhadapmu dia mendendam kebencian yang sangat."
It Hiong menghela napas panjang.
"Itulah sudah sewajarnya."
Katanya menyesal.
"Mana dapat dia dipersalahkan atau disesalkan."
Giok Peng melongo. Kata-kata si pemuda itu diluar dugaannya.
"Apakah maksudmu ?"
Ia tegaskan It Hiong tertawa.
"Kakak, jangan kau banyak pikiran itu !"
Katanya.
"Aku Tio It Hiong, aku bukannya si orang yang cupat pandangannya. Mulanya dia baik sekali padamu lantaran ada aku, dia menjadi terluka hatinya dan berduka karenanya. Selama tahun-tahun yang lewat, tak pernah dia melupakan kau. Seharusnya dia membencimu tetapi karena cintanya yang sangat, itu tak dapat dia lakukan. Karena itu ia berbalik membenciku !"
Parasnya nona Pek menjadi pucat, lalu berubah menjadi merah.
"Apakah kau bilang ?"
Tegurnya keras.
"Apakah kau ngaco belo ?"
It Hiong tidak bergusar. Sebaliknya dia tertawa.
"Kakak, sabar"
Katanya.
"Kau dengar dahulu perkataanku. Tak perduli bagaimana perasaan atau kesanmu terhadap Hong Kun, dia sebaliknya sangat menyintaimu hingga dia tersesat dan tak dapat sadar. Bicara dari asal mulanya, memang aku yang bersalah. Jika aku tidak bertemu denganmu, tidak nanti Gak Hong Kun menjadi gagal dalam percintaannya...."
Giok Peng mendongkol, tetapi toh dia berduka.
"Mengapa kau tidak mau berkata bahwa aku telah memeletmu membikin kau berbuat keliru dan menyesal ?..."
Katanya, airmatanya terus turun meleleh. It Hiong bingung.
"Kakak !"
Katanya.
"Kakak jangan kau salah mengerti ! Aku tahu kau mencintai aku dengan sangat."
Mendengar sampai disitu, Kiauw In membuat main bibirnya yang dimoncongkan. Ia lantas campur bicara.
"Tak dapatkah kau tidak mempupuri mukamu ?"
Tanyanya.
"Siapa sih yang mencintai kau dengan sangat ?"
Giok Peng mandi airmata, tetapi mendengar kata-katanya Kiauw In, dia tertawa. It Hiong menghela nafas. Ia tidak melayani nona Cio. Hanya dengan sabar ia kata.
"Aku tak tahu dosa bagaimana yang telah aku lakukan sebelum aku terlahir ke dunia, maka juga sekarang ini kakak berdua telah begini mencintai aku hingga cinta itu setebal berlapis-lapis gunung..."
Kiauw In tersenyum, ia melirik kepada Giok Peng.
"Adik, kau dengar !"
Katanya.
"Lihat makin lama kulit muka dia makin tebal ! Dengan kata-kata apapun dia dapat keluarkan ! Rupanya dia menganggap bahwa kita sangat menyintai dia...."
Giok Peng memupus air mata dipipinya.
"Ya, kulit muka dia sekarang berobah setebal tembok !"
Sahutnya.
"Makin dia bicara makin tebal jadinya."
It Hiong tersenyum. Ia mengawasi kedua nona itu bergantian.
"Jika bukannya aku yang melakukan perampasan, tidak nanti Gak Hong Kung membenci aku"
Katanya.
"Biar bagaimana aku toh merasa malu sendiri. Itulah sebabnya kenapa terhadap dia, aku tidak membenci sedikit juga. Kakak, jika Tio It Hiong bukan bicara dengan suara hati nuraninya, dia pasti bakal terkutuk Thian."
Giok menghela napas. Ia pun merasa bagaimana Hong Kun senantiasa bersikap baik terhadapnya.
"Apakah maksudmu maka kau bicara begini rupa kepadaku ?"
Ia tanya.
"Aku kurang mengerti...."
Itulah pertanyaan yang tak disangka-sangka It Hiong. Sejenak ia bungkam, tak dapat ia menjawabnya. Giok Peng menoleh ke pembaringan dimana Haw Yang sedang tidur nyenyak Ia tertawa hambar.
"Jangan berpura pintar !"
Katanya.
"Jangan kau sangka apa-apa yang kau pikir itulah tepat. Memang terhadapku Hong Kun belum pernah melampauinya, maka juga aku terima undangannya pergi ke lembah itu, buat berbicara sekian lama. Perbuatanku itu memang kurang tepat, jangan kata kau yang melihatnya menjadi gusar. Aku sendiri sadar akan kekeliruanku. Tak perduli apa yang dia pikir tentang aku, tetapi aku sendiri...."
Mendadak Nona Pek merasai mukanya panas. Mungkin menjadi marah. Ia lantas menoleh kepada Kiauw In, untuk berkata ."
Kakak, jangan kau tertawakan aku !
Sejak masih kecil aku biasa mengikuti ayah merantau, sendirinya tabiatku menjadi rada berandalan dan terhadap pergaulan pria dengan wanita, aku tak bersikap keras menurut adat istiadat seperti kebanyakan wanita lain...."
Nona Cio tertawa.
"Asal hati kita putih bersih dan lurus, tidak masalah kita terlalu menurut kehendak adat istiadat."
Katanya. Wajahnya Giok Peng suaram.
"Biar bagaimana, di satu saat itu aku lalai."
Bilangnya.
"Aku telah berkelakuan terlalu menuruti suara hatiku, tidak heran apabila dia menjadi curiga atau cemburu..."
"Dengan dia"
Nona ini maksudkan It Hiong. Si anak muda segera mengulap-ulapkan tangannya.
"Kakak, kau keliru !"
Katanya cepat.
"Kenapa kau menerka begini rupa terhadapku ?"
"Kau membuatku penasaran !"
Kiauw In melirik tajam kepada muda mudi di depannya itu, terus ia mengawasi Giok Peng.
"Gak Hong Kun mengundang kau datang ke lembah itu, apakah yang dia bicarakan denganmu?"
Tanyanya.
"Mungkinkah dia berkulit demikian tebal masih dia membujukimu atau mendesak hendak menikahimu ?"
"Pada mulanya, dia memang masih dapat berlaku sopan santun."
Sahut Nona Pek terus terang. Sepasang alis Nona Cio bergerak.
"Lalu ?"
Tanyanya pula, menegaskan.
"Mungkinkah dia berani berlaku kurang ajar atau ceriwis terhadapmu ?"
"Sampai disitu, belum berani dia melakukannya."
Sahut Giok Peng.
"Namun kemudian kata-katanya samar-samar mulai menjurus ke arah itu..."
Berhenti kata-katanya Nona Pek, mukanya pun menjadi merah sekali. Dengan perlahan Kiauw In menarik napas lega.
"Dia menjemukan tetapi seorang yang mencinta,"
Katanya perlahan.
"sedang bicara dari hal kepandaian terutama ilmu silat, dia tak mudah dicari lawannya. Sebenarnya dia si orang muda yang banyak nona-nona cantik mengharapinya. Dia tampan dan gagah, cintanya pun cinta abadi. Terhadapmu, walaupun telah lewat beberapa tahun hatinya tetap tak berubah...."
Giok Peng menggeleng dengan cepat.
"Kakak"
Katanya.
"Kenapa kakak berkata begini ? Aku justru benci kepadanya !"
Kiauw In menengadah langit-langit rumah. Ia tertawa hambar.
"Adik, tak ada maksud menertawai kau."
Katanya sungguhsunguh.
"Aku bicara sejujurnya. Aku sendiri sejak kecil sekali, aku menjadi besar diatas gunung, tak biasa aku menerima pujian atau kekang adat istiadat. Bicara terus terang, adat istiadat ada terlalu keras, banyak larangannya. Yang umum atau yang paling sederhana, adalah soal pernikahan. Kaum pria boleh beristri sampai tiga dan bergundik sampai empat. tetapi kita kaum wanita ? Kita dikekang oleh apa yang dinamakan tiga menurun dan empat kebijaksanaan dan lainnya. Bahkan ada yang menganggap bicara dengan sembarang pria saja sudah tak pantas sekali. Kalau diingatingat, kita kaum wanita sungguh dirugikan banyak !"
Mendengar kata orang-orang, It Hiong tertawa.
"Kakak berdua tenangkanlah hati kalian !"
Katanya.
"aku tak akan menggunakan segala aturan peradatan itu untuk mengekang kalian berdua !"
Kiauw In menoleh kepada pemuda itu, matanya dibuka lebar dipelototkan.
"Aku bicara wajar saja ! Siapa mau bergurau denganmu ?"
Katanya. It Hiong mengangkat bahunya. Ia tertawa.
"Aku juga bicara wajar sebagaimana kau"
Bilangnya.
"Jika kalian tak percaya aku, kakak, terserah !"
"Hm !"
Giok Peng memperdengarkan suara dihidungnya.
"Kau lihat, bagaimana tampangnya ! Nampaknya dia menganggap seperti benar ada sesuatu perbuatan kita yang tak memuaskan padanya !"
It Hiong melihat suasana buruk baginya, tanpa ragu pula, dengan cepat dia ngeloyor keluar ! Dengan satu gerakan tubuh yang gesit, Kiauw In lompat maju menghadang di ambang pintu.
"Eh, kau hendak pergi kemanakah ?"
Tegurnya.
"Ayah menantikan aku buat satu urusan penting."
Si anak muda mendusta.
"Aku datang kemari melongok kalian dengan aku mencuri waktu sedetik saja !"
"Aku tidak percaya !"
Nona Cio bilang.
"Kata-katamu pasti kata-kata setan belaka !"
"Jika kau tidak percaya, bagaimana kalau kau turut aku menemui ayahku ?"
Si anak muda menantang. Tak sudi ia kalah gertak. Tapi ia bicara sembari tertawa.
"Tak apa buat aku turut pergi menemui ayahmu !"
Kata pula si nona.
"Kau tentunya bakal dapat upah comelan !"
It Hiong menatap kekasih yang cantik manis itu, air mukanya berubah.
"Sebenarnya,"
Katanya sungguh-sungguh.
"aku mencuri waktu datang kemari dengan niat mengobrol dengan kalian, siapa tahu aku justru mendatangkan kecurigaanmu..."
Kiauw In dapat melihat tampang orang bagaikan orang yang tengah menghadapi sesuatu kesulitan, maka insyaflah ia bahwa tadi kata-katanya rada keras.
Ia memang bertabiat halus dan luwes.
Maka ia lantas tersenyum, dengan tangannya yang lunak ia mencekal lengan anak muda itu buat ditarik.
"Mari duduk !"
Ia mengundang. It Hiong tidak menentang.
"Kau bilang kau datang untuk berbicara denganku."
Kata si nona.
"Kenapa sebelum bicara kau sudah mau pergi pula ? Apakah kau gusar ?"
Si anak muda tertawa.
"Nampaknya kakak berdua gusar."
Sahutnya.
"mana aku berani melayani ?"
Kiauw In bergerak halus menuang air teh yang ia terus letakkan di depan orang.
"Nah, kau minumlah, juga membuyarkan amarahmu"
Bilangnya tertawa.
"Sekarang kami bersiap mendengari apa katamu !"
Dan ia duduk disisi si anak muda.
Giok Peng pun menghampiri dengan tindakan perlahanlahan untuk duduk disebelah kanan.
It Hiong menoleh ke kiri dan kanan, hingga terbukalah dihatinya.
Karena disampingnya kiri dan kanan itu ia melihat tampang-tampang yang manis, kalau Giok Peng elok agresif, Kiauw In cantik luwes, lagipula disaat itu, kedua-duanya tengah bersenyum berseri-seri, hingga kecantikannya menjadi mentereng sekali.
Atau dengan lain perkataan Kiauw In mirip bunga teratai yang muncul di permukaan air dan Giok Peng bagaikan bunga hoaw tau (paony) yang semua sedang mekar semarak.
Memandangi kedua nona hampir It Hiong lupa akan dirinya, ia bagaikan tersadar kaget kapan ia mendengar tawa merdu dari Kiauw In.
"Eh, kau sedang memikirkan apa ?"
Tegur nona itu.
"Tak hentinya kau menoleh ke timur dan barat, apakah kau tak kuatir nanti lehermu salah urat ?"
Anak muda itu melengak karena jengah, belum sempat ia menjawab ia sudah mendengar suara merdu lainnya. Kali ini Giok Peng yang tertawa dan berkata ."
Nah kakak kan lihat, ah. Sekarang dia jadi nakal dan kulitnya menjadi tebal, walaupun kakak maki dia, mukanya tak menjadi merah!"
"Ya, memang begitu,"
Tambahkan Nona Cio.
"Kulit mukanya makin lama makin jadi tebal !"
"Maka kalau nanti Houw Yan menjadi besar dan tingkahnya seperti dia, akan aku hajar dia setiap hari tiga kali."
Kata Giok Peng pula, tetapi dia tertawa. It Hiong melihat ke kiri dan kanannya, ia menggelenggelengkan kepala.
"Sungguh hebat !"
Katanya.
"Aku datang kemari untuk berbicara dengan baik-baik dengan kalian, lantas sekarang kalian mengganggu aku... !"
"Ha ha !"
Kiauw In tertawa.
"Agaknya kau telah dibikin penasaran bukan ? Nah, bilanglah apakah urusanmu itu."
It Hiong tertawa.
"Telah terjadi perkembangan baru dan sangat penting"
Katanya kemudian.
"Pek Cut Sian an dan ayahku sudah bekerja sama dengan mereka, mereka telah menyebar surat undangan ke seluruh negara mengundang sesama rekan rimba persilatan untuk nanti orang berkumpul di Tiong Gak, buat berapa merundingkan soal menghadapi kawanan bajingan dari luar lautan. Tanggal yang ditetapkan ialah tanggal lima belas bulan pertama, maka juga kita masih mempunyai waktu kira dua bulan. Karena itu kitapun tidak dapat terus tinggal disini selama dua bulan itu."
Kiauw In berdiam, otaknya bekerja.
"Bagaimana kalau kita pulang dahulu ke Kiu Hoa San ?"
Tanyanya.
"Setelah tiba saatnya baru kita pergi ke tiong Gak. Tak akan telat bukan ?"
"Waktu dua bulan sekejap saja aku sudah sampai"
Giok Peng turut bicara.
"Daripada pulang ke Kui Hoa San, kita menjadi menyia-nyiakan waktu saja. Aku pikir baiklah kita menggunakan waktu kita guna memahamkan ilmu pedang Thay-Kek Liang Gia Sam Cay Kiam. Nama paman ia dan Pak Pek Cut Siansu tersohor, pasti bakal datang banyak orangorang tersohor, dan pasti juga pertempuran bakal menjadi dahsyat sekali, karena itu jadi ada gunanya kalau kita sekarang melatih diri memahamkan ilmu pedang itu hingga sempurna."
Dua-dua It Hiong dan Kiauw In mengangguk. Mereka sangat setuju dengan pikirannya Nona Pek itu. Giok Peng puas, ia tertawa.
"Kalau begitu,"
Katanya.
"Mari kita bicara dengan paman In, untuk memberitahukan pikiran kita ini guna memohon paman tolong mintakan kepada Pek Cut Siansu agar kita diberikan sebuah tempat yang tenang disini, dimana kita dapat melatih ilmu pedang itu."
It Hiong segera berbangkit. Ia tertawa.
"Kita harus bekerja cebat, maka itu kira sekarang juga kau mau pergi pada ayahku."
Katanya.
"Aku juga ingin mendengar dari ayah, ayah sudah mempunyai rencana atau belum."
Habis berkata pemuda ini segera meninggalkan sepasang kekasihnya itu.
Tiba di kamar ayahnya ia mendapati sang ayah tengah bersemadhi.
Tak mau ia mengganggu, maka ia berdiam dipinggiran, matanya mengawasi ayah angkat itu.
In Gwan Sian duduk tegak, mukanya penuh peluh, rambutnya sedikit bergerak-gerak.
Terang sudah ia bukan cuma tengah bersemadhi hanya ia lagi mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan lukanya.
Ya, luka bekas pertempurannya dengan It Yap Tojin.
Diam-diam murid ini terkejut.
Maka ia mengawasi terus.
Lewat beberapa menit maka tampak si pengemis membuka matanya perlahan-lahan, ia berpaling hingga ia melihat anak angkat itu.
Lantas ia tertawa.
"Tenaga tangannya It Yap Tojin lihai luar biasa"
Kata ia.
"Kecuali gurumu maka seumur hidupku dialah lawanku satusatunya yang sangat tangguh."
It Hiong nampak masgul, ia menghela napas perlahan.
"Ayah, apakah ayah terluka parah ?"
Tanyanya prihatin. Ayah angkat itu mengangguk.
"Aku terhajar tangannya hingga aku mendapat luka di dalam."
Sahutnya terus terang.
"Hanya sekarang, setelah mengerahkan tenaga dalamku, aku sudah sembuh banyak."
It Hiong melirik wajah ayahnya.
Ia melihat suatu muka yang meringis pertanda orang tengah melawan rasa nyerinya.
Kembali ia terkejut.
Ia tahu baik tabiat ayahnya itu yang keras yang tidak mau mengalah yang memandang segala apa secara enteng saja.
Bukankah sekarang ayah itu tengah menderita dari lukanya ?
In Gwa Sian melihat anaknya berdiri diam In Gwan Sian melihat anaknya berdiri diam itu, ia dapat menerka kekuatiran orang.
Maka ia tertawa, walaupun tawanya hambar.
"Bukannya kau melihat bahwa hari ini kesehatanku beda daripada hari hari biasa? Tanyanya.
"Ya, ayah,"
Sahut anak itu jujur.
"Belum pernah anak melihat ayah menderita seperti hari ini......"
In Gwa Sian menarik napas panjang.
"Ya , aku si pengemis tua, benar benar aku sudah tua....."
Katanya.
"Ayah terluka sedikit,"
Kata si anak angkat, .
"aku percaya It Yap Tojin terluka juga. Ayah sudah berkelahi setengah malam, pasti ayah letih, sudah begitu ayah menempur dia sebagai tenaga, tidak heran apabila ayah kalah gesit. Aku percaya jika sama sama seger, tak nanti ayah kalah dari dia."! Mendengar kata kata anaknya itu, In Gwan Sia tertawa bergelak.
"Selama beberapa puluh tahun", katanya "kecuali gurumu , tidak ada orang lain juga yang membuat kau kagum dan takluk, maka jika orang sungai telaga menyebut gurumu aku si pengemis tua, dan It Yap si imam bulu campur aduk, sebagai Bu Lim San Toa koy. Ialah tiga orang kosen luar biasa rimba persilatan, tetapi dimataku, kecuali gurumu itu, aku sendiri tidak mempercayai bahwa aku berhak atau berderajat untuk mendapat sebutan itu, dan terhadap Hong San Kiamkek, aku merasa lebih lebih tak puas. Aku telah melihat dengan mataku sendiri bagaimana dia dikalahkan oleh gurumu , sedangkan aku sendiri, melawan gurumu itu selama tiga hari tiga malam tanpa ada yang kalah atau menang. Baru kemudian aku merasa mungkin gurumu sengaja mengalah padaku, tetapi mengalahnya itu aku kena dibuat beranggapan keliru...."
Pengemis jago ini berhenti sejenak, ia menghela napas.
"Setelah kemarin malam aku bertempur melawan It Yap Si imam bulu campur aduk itu.
"ia menambahkan kemudian.
"baru insyaf bahwa aku kalah seurat......."
"Tetapi ayah "
Sang anak menghibur.
"jangan ayah berduka karena kegagalan ayah itu, siapa tahu jika lukanya It Yap jauh terlebih parah daripada luka ayah ini !"
Bekata begitu anak ini merogo sakunya untuk mengeluarkan sebuah pil Pek Coa Hoan Hun Tin. Anak ada membekal ini obat buatan guruku"
Katanya tertawa.
"Maukah ayah memakannya?"
In Gwa Sian menyambuti obat itu, terus ia telan setelah mana ia duduk terus dengan memejamkan mata dan berdiam saja.
It Hiong mengawasi ayah angkat itu, hatinya bercekat ia mengerti lukanya ayah itu parah sekali.
Dengan berhati hati ia lari keluar kuil, untuk langsung kembali kepada kedua kekasihnya.
Kiauw In dan Giok Peng heran melihat tunangan dia pergi dan kembali demikian cepat, bahkan mereka mendapat tampang orang bingung dan berduka.
Mereka maju memapak.
Dengan matanya yang jeli, Kiauw In menatap anak muda itu.
"bagaimana?"
Tanyanya perlahan, setelah mereka sudah berdiri berhadapan dekat sekali.
"kau nampak masgul sekali, apakah kau mendapat marah dari paman in? It Hong menggoyangkan kepala.
"Bukan ,"
Sahutnya "
Sebenarnya , ayahku telah mendapat luka parah......"
Kiauw In terkejut, begitu pula Giok Peng, Mereka sampai mengigil bagaikan orang kedinginan, lalu keduanya berdiri tercengang.
"Bagaimana ia terlukanya?"
Tanya mereka kemudian... Dengan wajah muram. It Hiong mengawasi kedua nona itu.
"Ayah mengadu tenaga dengan It Yap Tojin, ia mendapat luka didalam....."
Saking terkejut dan berkuatir, kedua nona lantas saja mengucurkan air mata.
Mereka ingat budinya pengemis tua itu, sebagai muridnya Tek Cio Siangjin, Kiauw In tapinya dapat lebih cepat menenangkan diri.
"Adik,"
Ia Tanya Giok Peng.
"Dimanakah kau simpan Hosin Ouw?"
Giok Peng bagai dikejutkan, tanpa menjawab pertanyaan itu, ia lari masuk ke kamarnua, hanya sebentar ia sudah kembali bersama kotak kumalanya yang indah.
Terus tangan nya yang putih dan halus, ia angsurkan .
It Hiong mengulur tangan menyambuti obat mujarab itu, terus ia memutar tubuh buat berlari pergi.
"Tunggu!"
Kiauw In Memanggil.
"Jangan kau bingung tidak karuan!"
Si nona pun melesat menghadang anak muda itu. It Hiong heran, ia menahan diri, belum sempat ia menanya nona itu mau apa, nona Kiauw In sudah mendahului.
"Dapatkah aku bersama adik Giok pergi menjenguk ayahmu itu ?"
It Hiong segera mengerutkan alisnya, Sejak jaman dahulu, aturan Siauw Lim Sie keras sekali,"
Sahutnya.
"Kaum wanita terlarang masuk keruang dalam...... tapi, kalau kalian berdua statusnya lain, sebagai suami-isteri, Kalian telah menolak musuh dan menolong mereka dari ancaman musuh besar, maka itu kalau kakak berdua memaksa mau pergi, aku percaya mereka tidak akan mencegah , hanya inilah perbuatan memaksa, inilah kurang selayaknya.
"kau bicara banyak banyak, pulang pergi kau melarang aku turut padamu, kata Giok Peng tak sabaran.
"dalam urusan lain kita dapat berunding tetapi dalam urusan ini, tidak! Kami harus turut masuk! "Tapi ...."
Kata It Hiong tertahan, ia menghela napas. Kiauw In menarik tangan Giok Peng.
"Jangan kau mempersulit dia...."
Katanya. Mendadak Giok Peng tertawa sedih, lalu air matanya meleleh keluar.
"Paman In sangat baik terhadap aku,"
Katanya sedih. Budinya besar laksana gunung, sekarang aku tidak dapat merawati padanya, bagaimana hatiku tenang?... It Hiong terpaksa membiarkan "
Istrinya "
Itu , ia perlu segera kembali kepada ayah angkatnya, guna memberikan itu obat mujarab, maka juga melihat Giok Peng ditarik Kiauw In , ia lantas berlompat untuk terus lari sehingga dilain saat dia sudah berada diluar.
Lalu ia kabur secepat cepatnya menuju kekamar In Gwa Sian, hingga ia sampai didalam kamar, ia segera menekuk kedua tangannya diansurkan keatas.
Pat Pie Sin Kit sedang duduk bersemedhi, tubuhnya tak bergeming, matanya dirapatkan.
Tenaga dalam pengemis ini telah sampai puncak kesempurnaannya, ia memiliki tenaga dalam yang diberi nama Kan Goan Khi Kang, selekasnya dia mengerahkan tenaganya, seluruh tubuhnya keras bagai besi atau batu, segala macam alat senjata tidak mempan terhadapnya.
Siapa pelajaran silatnya belum sempurna, jangan kata melukai dia, memukulnya selagi ia bersemadhi saja dia akan gagal.
Maka itu hebat tangannya Heng San Kiamkok sebab dia berhasil melukai di dalam tubuhnya seorang yang demikian kadot.
Hanya itu walaupun In Gwa Sian terluka parah di dalam, It Yap Tojin sendiri terluka tak ringan.
Disaat pertempuran itu dan In Gwa Sian kena terhajar, sebenarnya darah di dalam perutnya sudah mengalir, tetapi ia malu memperlihatkan dirinya muntah darah, dengan sekuat tenaga ia menahan menyemburnya darah dari mulutnya itu.
Inilah yang membuatnya terluka lebih parah, karena darah dan napasnya tertahan, sedangkan seharusnya darah dan napas itu dapat keluar.
Lebih celaka, selagi bertempur itu, In Gwa Sian juga tidak mendapat kesempatan guna menenangkan diri buat meluruskan napas dan jalan darahnya itu sedangkan setelah bertemu dengan Pek Cut Siansu, bukannya ia menunda pembicaraan mengundang bala bantuan, ia membuang waktu dengan berbicara panjang lebar.
Hingga itu menambah memberatkan luka di dalamnya itu.
Ia tahu lukanya mengancam, ia masih tidak mau memberitahukan siapa juga, ia bertahan sampai pembicaraannya selesai, maka itu setibanya didalam kamarnya, keadaannya menjadi parah sekali.
Barulah setelah itu ia duduk bersemadhi, ia menggunakan tenaga dalamnya guna mengusir penyakitnya itu yang sudah hampir kedalam.
Kepandaian Kun Goan Khin-kang dari Pat Pie Sin Kit telah mencapai batas kesempurnaan, sudah begitu dia dibantu dengan ilmu silatnya bertangan kosong yang dinamakan CIt cap jie Sie Hang Liong Hok Hoaw Ciang hoat, yaitu ilmu menaklukan Naga Menunjuk terdiri dari tujuh puluh dua jurus, itulah ilmu silat yang menjagoi dalam Rimba Persilatan.
Selama ia merantau, belum pernah ada orang mengalahnya kecuali waktu ia menguji kepandaian TekCio Siangjie, ini pula yang membuat ia menjadi beradat tinggi atau berkepala besar, bertabiat tawar dan aneh, hingga gerak geriknya mirip orang edan.
Adat tinggi itu membuatnya menerka keliru akan kepandaian It Yap Tojin, sehingga sekarang ia terluka parah.
Ia merasai sangat nyeri di dalam seluruh tubuhnya bagian dalam ketika bermula kali ia bersemadhi, untuk mengerahkan tenaga dalamnya.
Itulah saatnya yang ia insyaf bahwa lukanya parah sekali.
Baru itu waktu ia menghela napas dan menyesal.
Tentu saja penyesalan tak datang di muka.
Maka ia jadi seperti putus asa.
Baru sekarang ia sadar dan di dalam hatinya berkata .
"Aku si pengemis tua, telah banyak aku membunuh orang, tapi aku merasa pasti belum pernah aku membinasakan orang baikbaik, maka itu jika Thian Yang Maha Kuasa mengetahuinya, hambamu mohon supaya si pengemis tua ini diperpanjang pula usianya ! Biarlah setelah selesai hambamu ini membasmi kawanan bajingan dari luar lautan itu baru hambamu mati... Bukankah itu belum terlambat."
Habis memuji itu kembali In Gwa Sian mencoba mengerahkan tenaga dalamnya.
Tiba-tiba ia menjadi sangat kaget.
Darah didalam tubuhnya bagaikan bergolak-golak, nyerinya bukan main.
Sukar untuk memperhatikan diri maka terpaksa ia menghentikan pengerahan tenaga dalam itu, membiarkan lukanya menguasai dirinya.
Ia tetap bersemedi saja.
Ia terus memejamkan matanya dan duduk tenang sedapat-dapatnya.
Itulah keadaannya si pengemis yang sedang menghebat itu, waktu It Hiong datang hingga anak angkat ini kaget tak terkirakan hingga kemudian dia memberikan obatnya.
Pek Coa Hoan Hun Tin itu.
Selagi ayah angkat itu berdiam si anak pergi keluar untuk menemui Kiauw In dan Giok Peng, hingga akhirnya ia kembali pula dengan membawa hosin ouw.
Dengan hati-hati anak ini membuka tutup kotak hingga lantas tersiar bau yang harum dari obat mujizat itu memenuhi ruang kamar.
In Gwa Sian membuka matanya ketika ia merasai bau yang luar biasa itu.
Ia melihat kepada anaknya, tetapi segera juga ia memejamkan pula matanya.
Sejak ia mengenal ayah angkatnya belum pernah It Hiong melihat ayahnya lesu begini rupa, maka juga hatinya miris, tanpa terasa air matanya bercucuran.
Ia terus berlutut sambil mengangsurkan kotak obatnya, ia memanggil perlahan .
"Ayah !"
In Gwa Siang membuka pula matanya, ia tertawa hambar.
"Kau ingin bicara anak ?"
Tanyanya lemah.
"Kau bangunlah !..."
Tak dapat It Hiong menguasai diri, ia menangis.
"Ayah"
Katanya.
"mari ayah makan dua helai obat ini. Barusan aku mendapatkan hosin ouw dari kakak Peng..."
Pat Pie Sin Kit menarik nafas perlahan. Ia mengulur tangannya, akan menjemput dua helai obat yang diangsurkan itu. Ia memakannya dengan lantas. Ia mengunyah dan menelannya.
"Beristirahatlah, ayah"
Kata It Hiong yang terus menutup dan menyimpan pula kotak obatnya.
Tapi ia tidak lantas mengundurkan diri, hanya ia berdiri diam disisi sang ayah.
Matanya terus mengawasi ayah itu guna menyaksikan perubahan apa bakal terjadi.
In Gwa Sian terus bersemedi, tubuhnya tak bergerak matanya tak terbuka.
Nampak dia tenang sekali.
Baru sesudah lewat banyak menit, mendadak dia membuka mulutnya dan menumpahkan darah hingga dua kali.
It Hiong kaget sampai ia menjerit.
Justru itu In Gwa Sian mementang matanya dan tertawa.
"Anak Hiong, pergilah kau beristirahat !"
Katanya. Itulah kata-katanya yang pertama.
"Sekarang aku sudah sembuh...."
Anak angkat itu menangis.
"Jangan ayah mendustai anakmu..."
Katanya. Biar bagaimana anak ini ragu-ragu.
"Ayah..."
In Gwa Sian tertawa pula.
"Kau lihat aku muntah darah, anak"
Katanya tersenyum.
"Bukankah menganggap itu sebagai pertanda dari lukaku yang parah sekali ?"
It Hiong mengangguk. Belum sempat ia membuka mulutnya, ayah angkatnya itu sudah berkata pula .
"Aku dilukai It Yap Tojin si imam campur aduk, inilah darahku yang tertahan sekian lama yang menyebabkan keadaanku parah, sekarang darah sudah keluar, aku sudah sembuh sebagian besar. Asal aku dapat beristirahat dua tiga hari lagi, aku akan sembuh seluruhnya. Sekarang pergilah kau beristirahat."
It Hiong mengawasi darah yang dimuntahkan itu, darah mati, baru hatinya lega.
Lantas ia membersihkan darah itu, terus ia pamitan untuk mengundurkan diri.
Tiga hari sudah lewat, selalu It Hiong merawati ayah angkatnya itu.
Tak pernah ia berkisar jauh dari ayah itu.
Selama itu tiga kali Peng Cut dan Kiauw In datang menjenguk dan Kiauw In bersama Giok Peng melongok hingga dua kali, hanya nona-nona ini tidak datang di siang hari tetapi sesudah jauh malam dan juga dengan menyelundup dengan loncat meloncati tembok !
Selewatnya tiga hari ini benar-benar kesehatannya In Gwa Sian telah pulih seluruhnya, maka itu It Hiong meminta kepada Pek Cut supaya ayahnya dapat pindah ke ruang luar.
Pek Cut Siansu tertawa dan berkata .
"Dapat, itulah dapat ! Di belakang puncak ada sebuah gubuk yang bersih dan sunyi. Itulah gubuk bekas dahulu almarhum guruku, setelah usia tua maka gubuk itu tak terpakai pula, walaupun demikian setiap bulan lolap memerintahkan orang pergi membersihkan dan merawatnya. Gubuk hanya gubuk bambu tetapi tempatnya tenang sekali. Jika sicu menyukai ketenangan silahkan pindah kesana."
It Hiong pun tertawa.
"Tempat itu bekas tempatnya bapak guru, almarhum, mana dapat aku yang rendah menempatinya ?"
Tanyanya merendah.
"Tidaklah itu suatu kelancangan dari aku ?"
Kembali Pek Cut tertawa.
"Hal tidaklah demikian adanya, sicu. Gubuk itu telah disiasiakan selama banyak tahun, didalam keadaan biasa belum pernah dipakai lainnya. Kalau sicu setuju mari lolap mengantarkan sicu kesana untuk melihat dahulu, nanti baru sicu putuskan sicu suka berdiam di sana atau tidak..."
Pendeta itu bersikap sangat ramah tamah.
"Bapak guru sangat sungkan"
Berkata It Hiong.
"Baiklah kau suka pergi ke sana ! Tapi tak usah bapak guru sendiri yang mengantarkan, cukup asal bapak memerintahkan salah seorang lainnya."
"Gubuk itu tak dikunjungi oleh lain orang kecuali lolap sendiri."
Pek Cut memberikan keterangan.
"Untuk mengawasinya, lolap cuma menugaskan seorang seebie"
Lagi-lagi si anak muda tertawa.
"Kalau demikian tolong bapak guru menyuruh bapak guru cilik saja yang mengantarkan aku !"
Katanya.
"Tak usah bapak guru sendiri yang mencapikkan hari !"
Pek Cut berbangkit, Tiba-tiba ia menghela napas.
"Seebie itu sudah kembali kepada Sang Buddha kami."
Katanya masgul.
"Dia sudah pergi ke Nirwana di Tanah Barat itu..."
It Hiong terkejut, hatinya tercekat.
"Bagaimana, eh ?"
Tanyanya heran.
"Jadi bapak guru cilik itu sudah pergi ke lain dunia ?"
"Benar..."
Dan Pek Cut mengangguk dengan perlahan.
"Dia berangkat ke lain dunia karena dia diantar pergi ke ujung kebutannya Beng Leng Ciujin..."
Sembari berkata itu, pendeta ini sembari berjalan, maka juga ia sudah lantas berada diluar kamarnya sendiri.
Diam-diam It Hiong memperhatikan wajahnya pendeta tua.
Ia mendapati oarang sangat berduka, maka ia menjadi terharu sekali.
Ia seperti turut merasai kesulitannya si pendeta.
Karena ini ia jadi membayangi pertempuran hebat malam itu.
Pikirnya ."
Kalau malam itu aku tiba lebih siang, mungkin seebie itu tidak sampai mengantarkan jiwanya ditangan Beng Leng Ciujin..."
Maka Ia terus mengintil tanpa membuka suara.
Seperti biasa dimana ia lewat, Pek Cut selalu dihormati para muridnya.
Pek Cut membawa si anak muda melewati beberapa jalan gunung, untuk itu mereka harus menggunakan ilmu ringan tubuh, sebab sulitnya jalan yang dilalui.
Walaupun demikian, mereka tak terburu-buru.
Lewat waktu sepenanakan nasi, tiba sudah mereka dikaki puncak Siauw Sit Hong.
Dari bawah, puncak tampak setinggi udara.
Puncak itu mengatasi tingginya pelbagai puncak lainnya.
"Itulah Siauw Sit Hong."
Kata Pek Cut memberikan keterangan. Ia tertawa.
"Gubuk almarhum guruku berada ditengah-tengah itu, diatas sebuah tanah datar berkarang."
Berkata begitu, pendeta ini menyingkap jubahnya, buat segera mulai mendaki.
It Hiong menggunakan ilmu ringan tubuh mengikuti terus di belakang sang pendeta.
Mereka harus jalan mengitar.
Si anak muda melihat banyak pepohonan, hingga sulit buat melihat sasarannya.
Ada pula rumput-rumput yang kering.
Selang sesaat, habis melintasi rimba pohon cemara, maka pemandangan alam disitu berubah seluruhnya.
Di depan mereka ada tanah datar yang caglok dan di sana berdirilah gubuk yang dimaksud itu, terbuat bambu seluruhnya dan atapnya atap rumput, kedua daun pintunya tertutup.
Di belakang itu terdapat jurang yang dalam seratus tombak lebih.
Lebar tempat mungkin seratus tombak bundar.
Sungguh suatu tempat yang tenang dan menyenangkan.
Pek Cut membuka pintu sambil tertawa.
Kata dia .
"Sudah satu bulan gubuk ini belum sempat dirawat. Kalau sicu setuju, akan lolap memerintahkan orang membersihkannya."
It Hiong melihat ke sekitar gubuk, Pekarang yang berpagar bambu, cukup lebar, itulah pagar bambu hidup, maka tumbuhnya tinggi dan rapat.
Ada lagi pagar bambu lainnya, yang memisahkan Pekarangan luar dari Pekarangan dalam.
Di halaman dalam tertanam banyak pohon bunga, hanya dimusim dingin begitu daun-daunnya pada rontok.
Gubuk terpecah dalam dua ruang, yang satu berkamar tiga, yang lain berkamar dua.
Yang dua ini disebelah kanan dan yang tiga itu seperti menyandar pada dinding gunung.
Pek Cut membuka pintu tengah, mengundang tetamunya masuk.
It Hiong bertindak masuk untuk segera memandang di sekitar ruang.
Paling dahulu ia melihat tergantungnya di tembok sehelai Lo Han Touw, yaitu gambarnya pelbagai lohan atau arhat.
Ada yang duduk, ada yang rebah dan lainnya sikap.
Lukisannya tidak indah tetapi bentuknya serasi.
Terang itu bukan karyanya seorang pelukis pandai.
Meja dan kursi, juga pembaringan, penuh berdebu.
Jadi benar seperti katanya si pendeta, gubuk itu sudah lama tak terawat.
Mengawasi pula Lo Han Touw, ada sesuatu yang membuat si anak muda berpikir.
Gambar itu tidak lengkap delapan belas arhat.
Baru rampung enam belas, dan yang ketujuh belas baru selesai separuh, bahkan buatannya sangat buruk.
Pada itupun tidak ada nama pelukisnya.
Pek Cut melihat orang berdiam mengawasi gambar itu, ia dapat menebak apa yang orang pikirkan.
Maka ia lantas menunjuk gambar itu dan berkata sambil tertawa.
"Itulah lukisannya almarhum guruku. Beliau tidak pandai menggambar, tetapi entah kenapa ia toh melukiskan itu. Sayang, sebelum selesai beliau membuat gambarnya, ia keburu pulang ke langit Barat......"
Mendengar bahwa lukisan itu karyanya ketua Siauw Lim Sie terdahulu, It Hiong tidak mau berkata apa-apa lagi, cuma sembari tertawa ia berkata.
"Bapak guru almarhum itu harus dipuji. Walaupun tidak pandai menggambar, toh lukisan beliau indah bentuknya."
"Guruku ini gemar menulis huruf tetapi tak suka melukis gambar,"
Kata Pek Cut tertawa.
"Maka itu, walaupun gambar belum selesai, lolap sengaja menggantungnya di sini selaku tanda peringatan. Inilah gubuk tempat guruku menutup diri dan memahamkan pelbagai kitab, bahkan guruku itu telah memesan agar tanpa perintah, siapa pun dilarang lancang datang dan masuk ke mari. Di saat guruku mau menutup mata, baru ia pulang ke kuil dan menghimpunkan para murid, selesai memberikan pesannya, malamnya ia berpulang dengan tenang. Selesai menguruskan jenazah guruku itu, baru kami datang ke mari untuk membenahi segala sesuatu sampai kami menemukan Lo Han Touw ini. Lima tahun guruku tinggal menyendiri di sini, cuma dua kali pernah beliau memanggilku untuk diberikan khotbah. Murid-murid lainnya belum pernah ada yang datang ke mari, maka juga tak diketahui kapan dimulainya pembuatan gambar-gambar ini........"
Setelah itu pendeta itu mengajak It Hiong memasuki ruang yang lainnya.
Perlengkapan sama sederhananya.
sebuah pembaringan, sebuah meja serta empat buah kursi.
Semua kamar ada kursi mejanya.
Maka itulah kamar yang cocok buat It Hiong bersama Kiauw In dan Giok Peng.
"Bagaimana, sicu?"
Tanya Pek Cut tersenyum.
"Cocokkah ini?"
"Bagus, bagus sekali!"
It Hiong menjawab dengan gembira.
"Terima kasih, bapak guru! Besok kami akan pindah ke mari!"
"Baiklah, sicu. Sebentar lolap akan memerintahkan orang untuk membersihkannya."
"Tak usah banyak berabe, bapak. Biar kami yang membersihkannya sendiri besok."
Selesai memeriksa gubuk itu, keduanya pulang.
Pek Cut lantas mengirimkan empat orang kacungnya pergi membersihkan seluruh gubuk buat menyediakan ini dan itu yang menjadi kebutuhan sehari-hari.
It Hiong sendiri pergi kepada ayah angkatnya untuk memberitahukan hal didapatnya gubuk itu buat ia bersama Kiauw In sekalian menumpang sementara waktu.
"Bagus!"
Seru sang ayah girang.
"Untuk mempelajari ilmu pedang memang baik kalian mendapati tempat yang terpencil dan sunyi itu."
It Hiong puas.
Besoknya, diantar oleh Pek Cut sendiri, It Hiong mengajak Kiauw In dan Giok Peng pindah ke gubuk itu.
Kiauw In dan Giok Peng memilih kamar sebelah kanan sebab yang kiri itu bekas gurunya Pek Cut.
Karena itu, It Hiong yang menggunakan ruang yang terlebih besar itu, yang kamar tidurnya sampai tiga buah.
Pilihannya si nona-nona memuaskan Pek Cut.
Ia memang kurang setuju kalau mereka memilih kamar bekas gurunya, cuma tadinya ia tidak berani berkata apa-apa.
Seluruh gubuk telah dibersihkan, alat-alat telah tersediakan lengkap, juga perabotan dapur dan lainnya.
Selesai mengantarkan, Pek Cut mengundurkan diri.
Selekasnya ia tidak ada, Kiauw In dan Giok Peng pergi ke kamar tidurnya It Hiong, maka mereka segera melihat gambar-gambar Lo Han Touw yang tidak lengkap itu.
Mereka pun tidak mengerti.
Saking herannya, mereka pada merapatkan alis mereka.
Hanya karena saking lucunya, maka juga mereka tertawa.
"Aneh lukisan para arhat ini,"
Katanya.
"Siapakah pelukisnya?"
It Hiong tertawa. Ia mengasih keterangan bahwa itulah karya ketua Siauw Lim Si terdahulu, yaitu gurunya Pek Cut Siansu.
"Maka itu, kakak, di depan lain orang harap kalian jangan sembarangan membicarakannya,"
Pesan pemuda itu. Kiauw In tertawa hambar.
"Eh, eh, apakah kau hendak menasehati aku?"
Tanyanya.
"Bagaimana, eh?"
It Hiong membaliki. Ia pun tertawa.
"Memangnya aku omong salah?"
Kiauw In tidak menjawab. Kembali ia mengawasi gambar lukisan itu.
"Gambar belum terlukis sempurna, tak sedap untuk digantung di sini,"
Katanya.
"Baiklah, besok akan aku melukis melengkapinya."
Nona Cio memang pandai melukis, bahkan ia pandai juga memperbarui lukisan-lukisan lama. Hal itu It Hiong ketahui.
"Mana itu dapat dilakukan, kakak,"
Katanya.
"Orang memajang lukisan ini selaku tanda peringatan kepada almarhum gurunya. Kalau kau melukis melengkapinya, tidakkah itu jadi bertentangan dengan maksudnya si pemajang?"
Nona Cio tidak memperdulikan si anak muda, tetap ia menatap lukisan arhat itu, lukisan yang belum rampung.
Nampak dia sangat tertarik hatinya sehingga sekian lama ia menatap terus dengan membisu.
It Hiong dan Giok Peng mengawasi, keduanya merasa sangat heran.
Kenapa Kiauw In demikian tersengsem?
Selang seperempat jam, baru Nona Cio bagaikan terasadar, terus ia menggeleng-geleng kepala dan berkata-kata seorang diri.
"Aneh! Aneh! Mustahil lukisan macam begini masih belum juga dapat diselesaikan sesudah menggunakan waktu beberapa tahun?"
Giok Peng heran mendengar suara kakaknya, hingga ia mengangkat alisnya.
"Kakak,"
Katanya bagaikan menegur.
"Apakah artinya katakata ini? Kenapa kau mengoceh seorang diri saja? Kau membuat orang heran!"
Kiauw In tengah menatap Lo Han Touw, lalu ia menoleh kepada adik itu. Ia pun tertawa.
"Aku berkata-kata karena aku mengherankan gambar para arhat ini!"
Sahutnya.
"Pikirkan saja olehmu, adik! Lukisan sudah diperbuat bertahun-tahun, kenapa masih ada arhat yang belum rampung?"
Dua-dua It Hiong dan Giok Peng mengawasi tajam semua arhat itu satu demi satu.
Kali ini mereka mendapat kenyataan, air baknya lukisan itu memang tidak sama.
Ada yang sudah lama sekali, ada yang belum terlalu lama, ada yang seperti masih baru.
Kenyataan itu terlihat pada warna hitamnya, ada yang gelap dan kumal, ada yang masih terang.
Pula yang sukar untuk dibedakan lama dan barunya.
Jilid 2 Kiauw In mengawasi dua orang itu, yang perhatiannya nampak tertarik, ia tertawa.
"Dilihat sekilas, semua gambar ini tidak ada bedanya satu dari lain.
"ia berkata.
"yang sebenarnya tidaklah demikian! Coba perhatikan saja baknya. Menurut penglihatanku air bak itu ada yang lama ada yang baru ada yang bedanya banyak tahun dan bulan. Tentu sekali perbedaan itu tak dapat dilihat oleh orang bukan pelukis atau penulis. Menurut penglihatanku jika mataku tidak keliru itu arhat yang separuh rebah dengan arhat yang belum rampung itu perbedaan pembuatannya masih berjarak sedikitnya lima tahun lamanya. Air bak yang disebutkan Kiauw In ialah tinta tionghoa. It Hong menjadi semakin heran "Aneh !"
Serunya "sungguh menarik hati. Kenapa orang membuat gambar arhat dengan perbedaan banyak tahun?"
Giok Peng heran tetapi ia tertawa.
"Itulah mungkin disebabkan ketika pendeta tua itu melukis gambarnya, ia menundanya sebab kebetulan ia lagi memahamkan kitabnya atau kepalanya pusing.... Maka ia mencoret sejadi jadinya dan menundanya pula, demikian seterusnya..."
"Kau benar, adik Peng"
Berkata Nona Cio.
"Jelasnya Lukisan delapan belas arhat ini dilakukan bukan terus menerus terutama itu yang belum rampung, jangka waktu tertundanya sekali, mungkin sampai satu tahun lebih, lihat perbedaan waktu air baknya itu."
Sampai disini It Hiong dan Giok Peng tidak mengatakan apa-apa lagi, Cuma tinggal rasa herannya.
Merekapun tidak memperhatikan lebih jauh.
Bahkan si pemuda terus minta kakak In nya menjelaskan kepadanya perihal ilmu pedang Thay Kek Liang Sam Cay Kiam itu.
"Ketika aku ditolongi guruku dari dalam jurang maut di belakang Kim Hoa Kiong di Leang Lam itu"
Ia berkata "
Aku langsung dibawa pulang ke Kun Hoa San dimana segera aku dikeram didalam kamar obat duduk menghadap tembok selama tiga tahun.
Sekeluarnya aku dari kamar obat itu terus aku diganggu oleh pengacauan musuh-musuh yang tangguh hingga kejadiannya tak ada kesempatan saat aku memeriksa kitab ilmu pedang dan kakak berdua sebaliknya, kalian tentu telah membaca habis dan sudah melatihnya juga.
Maka itu sekarang silakan menjelaskan kepadaku gerak geriknya pelbagai lukisan itu, nanti besok barulah aku mulai diajari cara berlatihnya"
Kiauw In tertawa sebelumnya ia menjawab.
"hebat kitab ilmu pedang guru kita ini! Sangat banyak perubahannya yang luar biasa hingga meskipun aku dan adik Peng telah diajari oleh guru kita, aku masih belum paham seluruhnya. Kami cuma mengerti tiga puluh enam jurus Cay Kek Kiam dan dua puluh empat jurus Liang Gie Kiam dengan kedua ilmu pedang itu mungkin kami dapat melayani musuh andiakata kami dihadang. Sulitnya ialah pelbagai perubahannya seperti yang aku sebutkan. Mengenai Sam Cay Kiam yang terdiri hanya dari dua belas jurus, sejuruspun kami tidak mengerti. Anehnya mulanya kami memahamkan, kami menerka mestinya mudah saja, walaupun gambarnya sederhana nampaknya. Siapa tahu setelah kami mencoba melatihnya kami dihadapi kesulitan makin lama makin sulit hingga sekarang ini sebenarnya kami tak dapat mengerti satu jurus pun." ----------------------------Halaman 7/8 Hilang ----------------------------Kiauw In dan Giok Peng merasa sangat tertarik hati, Nona yang duluan tertawa.
"Guru kita suka mengajari kau ilmu tenaga dalam itu pasti ia melihat bahwa kau berbakat dan telah memenuhi syaratnya semua."
Katanya.
"sebenarnya juga didalam halnya bakat kau menang dari kami berdua sedang juga kau sudah pandai ilmu pedang Khie Bun Patkwa Kiam, sehingga bagi kau pasti itu memudahkan mempelajari Sam Cay Kiam. Kalau Liang Gie Kiam membutuhkan juga sepasang pedang, tidak kemudian dengan Sam Cay Kiam, Sam Cay Kiam bisa dipakai sendiri dan juga bertiga berbareng, Tegasnya sebuah pedang dibantu dua yang lainnya. Selagi ada guru kita, kami berdua dapat turut melatih dengan baik asal tidak ada guru lantas kami lupa lagi, Maka itu baiklah kita bekerja sama bertiga. Setelah menempur Beng Leng , aku insyaf perihal banyaknya orang gagah lainnya, aku percaya dengan pergi keluar lantas kita bakal melakukan pertempuran hebat, sebab itu pasti bakal jadi pertempuran paling dahsyat. Kalau kita menang, nama kita naik, sebaliknya kalau kita kalah kita runtuh! Ah, entah berapa banyak korban akan roboh dan darah bakal berhamburan ...."
Kiauw In berduka hingga tanpa merasa air matanya meleleh keluar. It Hiong menghela nafas.
"Dasar kakak sangat murah hati"
Ia memuji. Ia terharu buat kemurnian dan kewelasan hatinya bakal istri itu."
Kakak aku berjanji akan memahamkan sungguh-sungguh ilmu pedang guru kita ini, semoga Tuhan yang Maha Kuasa membantu aku supaya kita berhasil melindungi keutuhannya kaum persilatan dari Tionggoan, supaya ilmu silat kita tak punah pamornya."
Berkata begitu, anak muda ini terdiam. Diam-diam ia memuji kepada gurunya dan memohon doa yang Maha Kuasa. Kemudian ia berkata nyaring.
"Biarlah Tio It Hiong tidak menyia-nyiakan harapan suhu. Semoga ia nanti dapat mengangkat nama baik Kim Hoa San!"
"Suhu"
Berarti bapak guru.
Itu sebutan untuk seorang guru kepada muridnya.
Dua-dua Kiauw Im dan Giok Peng menatap tunangannya itu.
Mereka mengawasi tajam wajah si anak muda yang ketika itu selain tampan, tampak sangat bersemangat dan gagah!
Sedetik Tio It Hiong bagaikan telah menjalin rupa, wajahnya membuat orang kagum dan menghormatinya.
Giok Peng mendekati Kiauw In untuk berbisik.
"Kau lihat kakak! Bagaimana bengis tampangnya adik Hiong! Dia bagaikan hendak membunuh orang!"
Kiauw In berdiam.
Ia cuma mengangguk.
Baru lewat sedetik lantas It Hiong sadar dengan sendirinya bahwa ia telah memperlihatkan tampang yang beda daripada biasanya.
Lantas ia tersenyum, maka segera lenyap juga tampang bengisnya itu, hingga tampak tampan dan halus seperti sediakala.
Kiauw In tetap menatap wajah orang, setelah itu ia cekal tangan Giok Peng buat diajak keluar secara diam-diam.
It Hiong sudah lantas membeber kitab ilmu silat gurunya itu "
Thay kek Liang Gie Sam Cay Kiam.
Ia menyaksikan gambar dan berbagai catatan.
Ia meneliti gambar-gambar itu dan membaca.
Berbeda dengan Nona Cio dan Pek, ia mudah mengerti.
Ini berkat kecerdasannya, karena ia telah paham Hian Bun Sian Thian Khie Kang.
Selagi memusatkan perhatiannya, hilanglah segala pikiran lain dari otaknya.
Dengan sendirinya terbukalah pintu kecerdasannya.
Mulanya It Hiong memeriksa Thay kek Kiam dengan tiga puluh enam jurusnya.
Ia merasakan lihainya ilmu pedang itu, yang dari tiga puluh enam jurus dapat berubah-ubah menjadi tiga tikaman atau babatan lainnya.
Diwaktu memikirkan berbagai gerakan, ia memejamkan mata, ia memeta-metakan dengan tangan dan kakinya, dengan gerakan tubuhnya.
Dibagian-bagian yang sulit, ia menunda, ia memikirkan lebih jauh.
Ya, ia bagai bersemadhi memikirkannya.
Paling akhir anak muda ini menutup rapat kitabnya.
Ia pikir, lebih baik dia beristirahat sebentar untuk membaca dan memahamkan.
Tengah ia duduk berdiam itu mendadak ia merasakan kepalanya pusing.
Tanpa terasa, tubuhnya limbung ke kiri dan ke kanan.
Lekas ia mencoba menguasai diri, iapun menolak daun jendela untuk memandang keluar rumah.
Malam itu gelap, ia mengira sudah jam permulaan.
Maka tahulah ia, ia baru menyelesaikan lima jurus, waktu yang digunakan sudah empat atau lima jam.
ia sampai tidak merasakan bahwa lilin diatas mejanya telah ada yang menyulutnya.
Lalu ia berjalan keluar rumah.
Masih terasa kepalanya sedikit pusing.
Ia mengira itu, disebabkan barusan ia menggunakan otaknya secara berlebihan.
It Hiong tidak merasa bahwa selama beberapa jam itu ia seperti sudah menggunakan otak selama tiga hari dan tiga malam.
Ia mengangkat kepala, mendongak melihat langit.
Bintang-bintang bertaburan dilangit yang hitam.
Sang angin menderu dari pohon-pohon cemara.
Ketika ia menoleh ke kanan ia melihat sinar api keluar dari dalam rumah.
Itu pertanda bahwa bahwa Kiauw In dan Giok Peng masih belum tidur.
Mungkin disebabkan hawa malam tiba-tiba anak muda ini merasa lapar, sedangkan sebenarnya karena dipusatkan pada pelajaran pedang tadi ia lupa segala apa, jangan kata makan, minum air seteguk pun belum.
Karena ini, ia lantas kembali ke dalam.
Belum lama tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.
Ia menoleh dengan cepat.
Maka ia melihat munculnya nona-nona itu yang berjalan dengan perlahan.
Ia tersenyum kepada mereka.
Lalu ia berkata.
"Tadi aku lupa mengatakan Pek Cut Taysu untuk disediakan barang makanan, maka sekarang ini mungkin kita bakal.."
Giok Peng tertawa memutuskan kata-kata orang.
"Bagaimana, eh ? "tegurnya.
"Perutmu sudah lapar ? Tengah malam begini mana ada barang hidangan ? Aku pikir baiknya malam ini kita ikat perut biar kenyang..."
Kiauw In tersenyum, tetapi ia lantas berkata.
"Beras, tepung dan lain keperluan dapur semua telah disediakan. Pek Cut Siansu telah mengirimkan orang membawanya kemari. Nasipun sudah dimasak matang. Bersama adik Peng tadi aku datang kemari, buat mengundang kau makan, tetapi kami melihat kau sedang tekun mempelajari ilmu pedang, kami tidak mau mengganggu. Adik Peng yang menyalakan api. Habis itu, dengan diam-diam kami keluar pula. Barang makanan untukmu telah kami siapkan didalam kamar kami, kalau kau sudah lapar mari kau pergi kesana ! Cuma kami mesti membuat kau melakukan perjalanan..."
It Hiong tersenyum tanpa mengatakan sesuatu, ia turut kedua tunangannya itu pergi kekamar kedua nona itu.
Kamar kedua nona itu telah dirawat baik sekali, hingga beda dari semula tadi.
Di atas mejapun mengepul asap yang keluar dari barang makanan.
Diatas pembaringan, Hauw Yan sedang tidur dengan nyenyak.
Sinar api lilin membuat kamar tenang dan nyaman.
Habis memandangi seluruh ruangan, It Hiong tertawa.
"Bagus kakak!"
Ia memuji.
"Kamar yang tadinya nampak buruk sekarang berubah bagaikan baru dan menarik hati."
Kiauw In tertawa.
"Sudah jangan memuji saja!"
Tegurnya.
"Hayo lekas kau makan!"
Kembali si anak muda tersenyum; Ia menghampiri meja, untuk mengangkat mangkuk kosong, guna diisikan nasi.
"Bagaimana pengamatanmu atas kitab suhu itu ?"
Tanyanya.
"Mudahkah kau mengerti ?"
It Hiong menjawab secara terus terang.
"Mulanya beberapa jurus, nampaknya tidak sukar hanya makin lama, makin tambah jurusnya, mulai sulit pecahannya. Pelbagai jurus itu seperti juga tidak ada hubungan satu dengan lain kakak, rupanya perlu aku dengar pelbagai petunjuk kalian berdua....."
"Mengenai kesulitannya kau benar, adik"
Berkata Kiauw In.
"Tiga jurus yang pertama mudah dipelajarinya, mulai yang ke empat, lantas lambat kemajuannya, benar bukan?"
It Hiong mengangguk "Tidak salah."
Sahutnya.
"didalam tiga-empat jam, aku cuma mengerti sampai jurus ketiga, mulai jurus ke empat, aku rasanya jurus ketiga dan ke empat tak ada hubungannya, bahkan seperti memudahkan lawan memperoleh lowongan guna menyerang kita...."
Nona Cio menggeleng kepala, tetapi ia tertawa.
"Demikianlah kelihatannya. Kalau kau perhatikan jurusjurus selanjutnya, hal tatkala demikian, tetapi setelah jurusjurus selanjutnya, segera akan tampak kefaedahannya.Ketika bermula aku berlatih bersama adik Peng, kami mengalami kesulitan serupa seperti kau ialah kelambatannya, tetapi setelah mengerti, kelambatan itu justru penting sekali!"
It Hiong tengah memegangi mangkuk nasinya ketika ia mendengar perkataan si nona yang terakhir. Tiba-tiba saja ia meletakkan mangkuknya itu."
Aku mengerti sekarang !"
Katanya separuh berseru "
Kelambatan itu sengaja, guna mementingkan lawan mendapat kesempatan menyerang, setelah itu kita pakai jurus yang kelima, guna merubah, demikian selanjutnya ya, kakak itulah itulah kelebihannya Thay Kek Kiam dari Khia-bun Patkwa Kiam..."
Baru ia berkata begitu, mendadak anak muda ini menjerit.
"Ah, celaka"
Terus tubuhnya mencelat bangun, terus dia kabur ke kamarnya sendiri !
Kiauw In dan Giok Peng kaget.
Mereka sangat heran.
Kenapakah pemuda itu ?
Tak sempat saling bertanya, mereka pun lari menyusul.
It Hiong kaget dan lari ke kamarnya sebab mendadak ia ingat yang kitab gurunya telah ia lupakan, ia tinggalkan itu menggeletak dimejanya.
Tatkala kedua nona sampai di kamar pemuda itu, mereka menjadi lebih heran pula.
It Hiong tampak lagi berdiri menjublak, matanya mendorong ke satu arah !
Wajahnya menunjukkan dia berduka atau putus asa.
"Kau kenapakah ?"
Tegur Giok Peng mendekati perlahan. Nona ini, juga Kiauw In heran bukan main. It Hiong tidak menjawab, hanya airmatanya meleleh keluar.
"Aku harus mati !"
Mendadak dia berseru sambil membanting kaki.
Kiauw In yang cerdas dapat menerka duduknya hal, ia juga kaget sekali, tetapi dapat berhari tenang, dapat ia menguasai dirinya.
Dengan hati memukul, ia mendekati si anak muda, dan ketika ia berbicara, suaranya lembut.
"Apakah bukan kau kehilangan kitab silat Thaykek Liang Gia Sam Cay Kiam ?"
Demikian tanyanya prihatin.
"Ya"
Sahut si anak muda, suaranya hampir tak terdengar.
"Karena aku sangat lalai, karena aku tinggalkan diatas meja ini."
Tiba-tiba anak muda ini ingat senjata mustikanya.
Segera ia menoleh ke tembok.
Di sana Keng Hong Kiam tampak tergantung di tempatnya.
Masih bersangsi, It Hiong lompat mencelat ke tembok, guna mengulur tangannya menurunkan pedang mustika itu terus ia menghunusnya.
Baru sekarang hatinya menjadi sedikit lega.
Itulah pedang yang tulen.
Tadinya ia menyangka pedang yang dipalsukan.
Cahaya pedang itu menyinari seluruh ruang, hawanya terasa dingin.
Sekonyong-konyong saja It Hiong mengibaskan pedangnya itu menebas ke samping !
"Jika aku ketahui siapa pencurinya kitab ilmu pedangku, akan aku bunuh dia dengan ujung pedang ini !"
Demikian ia berkata nyaring dan sengit.
Belum berhenti kata-kata si anak muda atau mereka bertiga mendengar tawa nyaring dan lama dari luar rumah menyusul mana diantara sinar api lilin terlihat satu tubuh berlompat masuk seperti melayang, atau segera ampak Pat Pie Sin Kit di dalam rumah.
Hanya segera pengemis ini mendelong mengawasi It Hiong.
"He, kau bikin apakah ?"
Tanyanya heran. Tak dapat anak itu mendusta, ia menarik nafas panjang.
"Anakmu harus mati ayah"
Sahutnya perlahan.
"Aku telah membikin lenyap kitab pusaka pedang Thay Kek Liang Gia Sam Cay Kiam karya guruku...."
Pat Pie Sin Kit kaget. Tetapi dasar jago tua, dapat ia segera menetapkan hati.
"Bagaimana lenyapnya itu ? tanyanya cepat.
"Lekas terangkan padaku !"
Sambil menanya itu jago tua ini menoleh kesekitarnya.
It Hiong memasuki pedang ke dalam sarungnya.
Kembali ia menghela nafas.
Habis itu baru ia memberikan keterangannya.
In Gwa Sian pun menghela nafas.
"Terang orang mencurinya justru kau sedang pergi bersantap."
Katanya.
"Menurut terkaanku si pencuri bukannya orang yang baru tiba dan lantas ia mencurinya. Aku percaya dia sudah lama berada di sini lalu dia mengintai kalian menunggu ketika buat turun tangan. Nyatanya dia berhasil!"
Terkaan itu masuk diakal.
Pula anehnya, kenapa cuma kitab itu yang dicurinya ?
Kenapa tak sekalian pedangnya ?
Kiauw In mengawasi It Hiong, ia terharu.
Ia merasa kasihan.
Tapi ingin ia menghibur.
Walaupun hatinya sendiri berat ia paksakan bersenyum.
"Kitab suhu kitab luar biasa"
Kata ia.
"maka itu walaupun si pencuri lihai, tak nanti dia dapat mempelajari itu didalam waktu yang singkat. Baik kau jangan terlalu bingung. Paling benar kita mencarinya. Coba kita periksa kamar ini, ada atau tidak sesuatu yang mencurigai.."
In Gwa Sian tertawa.
"Kau benar, anak !"
Pujinya.
"Nah, mari kita lihat !"
Tanpa ayal lagi, berempat mereka memisah diri menggeledah seluruh rumah gubuk. Sembari memeriksa itu Kiauw In berpikir.
"Kitab suhu ini rampung belum lama, tak mungkin ada orang rimba persilatan yang mengetahuinya bahkan aku percaya kecuali kita berempat tak ada seorang lain juga yang tahu itu ! Si penjahat mungkin telah mencuri dengar pembicaraan kita atau kebetulan saja dia mendengarnya maka dia lantas mencurinya. Dia sampai tak memikir membawa sekalian pedang mustika. Orang itu dapat mencuri dengar pembicaraan kita, dia pasti lihai sekali. Atau dia hanya orang yang kita tak perhatikan...."
Oleh karena berpikir demikian.
Nona Cio lantas menerkanerka siapa pencuri itu.
Ia sangat cerdas, lekas juga di depan matanya seperti berbayang si pencuri kitab itu.
Dia menyangka pada seorang wanita muda yang cantik, yang tingkahnya agak centil.
"Bukankah Giok Peng pernah menceritakan halnya Teng Hiang mencuri kitab ilmu pedang?", pikirnya lebih jauh. Maka lantas ia menerka kepada budak pelayan itu.
"Bukankah dianya si budak setan itu?"
Hanya sebentar pikiran nona itu berubah.
Bukannya kawanan bajingan telah kabur semuanya?
Mungkinkah Teng Hiang seorang diri berani berdiam lama di dekat-dekat Tiong Gak ini.
Kalau benar dia berada disini, pasti dia akan kepergok para pendeta.
Karena kesangsiannya ini mengenai Teng Hiang.
Kiaw In berpikir lain!
"Tak mungkinkah ini perbuatan salah seorang pendeta dari Siauw Lim Sie?"
Ia mengingat begini, karena pernah terjadi beberapa orang seebie menyaksikan ia berdua Giok Peng melatih diri dengan ilmu Thay kek dan Liang Gie Kiam.
Sebenarnya beberapa seebie itu bukan menyaksikan hanya mencuri menonton.
Ia tahu itu, ia membiarkan saja.
Ia anggap seorang seebie bisa apa.
hanya sekarang, timbullah kecurigaannya.
Sambil otaknya bekerja itu.
Kiaw In terus membuat penyelidikan.
Ia sampai di luar rumah, di dalam halaman yang ada pohon-pohonnya.
Tiba-tiba sinar matanya bentrok dengan satu benda putih di atas rumput yang ada di bawah sebuah pohon cemara yang besar.
segera ia lompat kepada benda putih itu, yang ternyata adalah sehelai sapu tangan putih.
Lantas ia menjemputnya.
Walaupun malam, sapu tangan itu tampak cukup jelas.
Kiauw In membeber untuk memeriksa.
Ia melihat sulaman benang hijau yang merupakan dua ekor burung kecil.
Tentu sekali ia lantas mengenali itulah barangnya Giok Peng.
Ia menjadi heran tapi ia berpikir terus.
"Sungguh aneh!"
Demikian pikirnya.
"Belum pernah adik Peng berpisah dari aku kenapa sapu tangannya jatuh di sini?"
Berpikir demikian nona ini mencelat naik ke atas pohon guna dari atas itu melihat kesekelilingnya.
Tiba-tiba saja ia mengerti!.
Pohon itu menghadap kamarnya It Hiong, bahkan karena bantuannya api, dari situ orang dapat melihat tegas ke dalamnya, kepada kursi mejanya.
"Tidak salah lagi!"
Pikirnya.
"pasti dia terus bersembunyi di sini! Dari sini dia dapat mengawasi gerak gerik adik Hiong! Pasti selekasnya dia melihat adik Hiong pergi, dia datang menyatroni kemari, dia jalan memutari gubuk dan masuk ke dalam, terus dia cari kitab pusaka itu. Dia dapat menghilang dari sini dengan pertolongan pohon-pohon lebat. Dengan bersembunyi di sini, siapakah dapat memergokinya?"
Hanya si nona masih memikir keras menerka-nerka siapa pencuri itu.
Ia tetap heran bahwa saputangannya Giok Peng bisa berada di tempat terbuka itu.
Tengah Kiauw In berpikir keras itu, tiba-tiba ia mendengar suaranya In Gwa Sian .
"Kalau si pencuri bersembunyi di atas pohon cemara besar itu, bukan saja dia dapat melihat jelas kepada gubuk dan bagian dalamnya, dia sendiri dapat bersembunyi dengan aman, tak nanti orang dapat melihat padanya."
Kiranya In Gwa Sian sampai di bawah pohon bersama-sama It Hiong, Kiauw In tidak melihatnya karena ia sedang mengawasi ke arah gubuk dan pikirannya lagi bekerja keras.
Habis mendengar suaranya sang paman guru, terus ia melompat turun.
"Paman tak menerka keliru"
Katanya setelah melompat turun itu guna membikin dua orang itu tidak menjadi kaget.
"Siapa bersembunyi di atas pohon ini, dia dapat melihat jelas kamarnya adik Hiong, hingga diapun dapat mengawasi gerak gerik orang.."
Hampir nona ini memberitahukan hal didapatnya saputangan Giok Peng itu, ia membatalkannya ketika ia ingat baiklah ia bersabar dahulu.
Maka saputangan itu ia simpan di dalam sakunya.
In Gwa Sian memandang nona Cio sejenak lantas ia berkata.
"habis pertempuran, kawanan bajingan itu telah pergi mengangkat kaki sedangkan orang-orang Siauw Lim Sie tidak nanti ada yang berani melakukan pencurian ini. Siapakah pencuri itu? Sungguh sulit untuk menerkanya.."
Tetap itu waktu, Giok Peng pun tiba. Maka berkumpullah mereka berempat menjadi satu. Kiauw In mengawasi Nona Pek.
"Adik, apakah mendapat sesuatu petunjuk?"
Tanyanya. Ia tersenyum walaupun mereka tengah berduka. Nona Pek menggelengkan kepala.
"Aku mencari dari jurusan utara itu, aku tidak memperoleh sesuatu"
Sahutnya.
Senyumannya Kiauw In lenyap dalam sekejap.
Ia ingin menanya pula madunya itu, tetapi ia batalkan tiba-tiba.
Sebaliknya, ia menghela nafas perlahan.
Seterusnya ia bungkam.
In Gwa Sian penasaran, ia lompat naik ke atas pohon.
Dari situ ia memandang keliling.
Lekas juga ia loncat turun lagi.
"Tidak salah lagi"
Katanya.
"orang pasti bersembunyi di atas pohon ini! Mari kita kembali ke rumah, untuk berbicara di sana". Dan jago tua ini mendahului membuka langkahnya. It Hiong mengikuti, diturut oleh Kiauw In dan Giok Peng. Tiba di rumah, mereka berkumpul di kamarnya si anak muda. Giok Peng lantas menuang air teh buat sang paman, setelah itu ia duduk di sisinya Kiauw In. Pat Pie Sin Kit menghirup teh itu.
"Aku si pengemis tua belom pernah melihat kitab Thay Kek Liang Gie Sam Cay Kiam itu"
Katanya.
"Tetapi aku merasa pasti itulah kitab ilmu pedang istimewa, yang buat kaum rimba persilatan merupakan ilmu yang langka. Ketika malam itu aku melihat kalian berlaga berdua menempur Beng Leng Cinjin aku kagum sekali. Aku telah menyaksikan gerak-gerik yang aneh dari pedang kalian. Jadi itulah kitab pedang yang hilang?"
Kiauw In mengangguk membenarkan, tetapi ia menambahkan .
"Sebenarnya yang aku dan adik Peng gunakan ada bahagian Liang Gie Kiam satu di antara tiga ilmu pedang yang tersimpan di dalam kitab pusaka itu"
Im Gwa Sie berdiam agaknya dia berpikir.
"Aku lihat ilmu pedang itu lebih lihai dari pada Khia bun Pat Kwa Kiam ciptaan terdahulu dari guru kalian si imam hidung kerbau itu"
Katanya.
"Maka itu kalau kitab itu tidak dapat dicari pulang, itu berbahaya sekali..."
Berkata begitu pengemis ini memejamkan matanya, alisnya dan berkenyit.
Nampaknya ia berpikir keras.
Kali ini tidak seperti biasa, ia tidak menyebut pula Tek Cio Siang jin sebagai si imam hidung kerbau.
Itulah kebiasaannya yang ia tidak bisa buang, sedangkan terhadap imam-imam lain umpamanya It Yap Tojin, ia biasa menyebut si imam campur aduk, imam capcay...
It Hiong berdiam saja.
Tak berani ia mengganggu jalan pikiran ayah angkatnya itu.
Kiauw In dan Giok Pek turut berdiam pula.
Lewat sehirupan teh, baru kelihatan Pat Pie Sin Kit membuka matanya.
"Sekitar lima ratus lie dari Siauw Lim Sie ini ada orangorangnya yang bertugas meronda"
Kata ia kemudian.
"Terutama diwaktu malam penjagaan keras sekali, maka itu hal ini tak dapat tidak, perlu kita beritahukan kepada Pek Cut Siansu supaya kita dapat minta dia memberitahukan muridmuridnya menggeledah seluruh wilayahnya itu. Dengan begitu kita akan peroleh mendusan."
Alisnya Kiauw In bergerak bangun.
"Pencuri kitab itu pastilah bukan sembarang orang"
Katanya.
"mestinya ia mengenal baik dengan wilayah ini, atau paling sedikitnya dia tentu sudah membuat penyelidikan sebelumnya dia melakukan pencuriannya ini, kalau tidak, tidak nanti dia berhasil dengan cara demikian mudah, demikian juga diwaktu berlalunya."
"Bagaimanakah ?"
Tanya In Gwa Sian heran.
"Mungkinkah kau mencurigai orang Siauw Lim Sie sendiri ?"
Nona Cio menggoyang kepala.
"Mulanya benar aku pernah menerka demikian"
Sahutnya.
"tetapi sekarang tidak..."
Kiauw In hendak menyebut juga halnya saputangan yang ia ketemukan itu atau lagi-lagi ia membatalkannya.
Ia pikir saatnya belum tiba.
Cuma kendati demikian, ia belum dapat memikir sebabnya kesangsiannya itu.
In Gwa Sian bermata sangat tajam, pengalamannya pun luas sekali, maka itu ia lantas dapat melihat keragu-raguannya nona.
Ia hanya heran kenapa nona itu beragu-ragu.
"Hm, bocah !"
Katanya kemudian dingin.
"Nyalimu sungguh besar ya ! Kenapa terhadap aku si pengemis tua kan masih main teka-teki ? Lekas kau bilang, kau sebenarnya ada menemukan sesuatu apa ?"
Sambil berkata demikian lalu Pat Pie Sin Kit juga menatap tajam.
It Hiong dan Giok Peng heran, sendirinya mereka turut mengawasi nona Cio.
Kiauw In menjublak, inilah ia tidak sangka.
Habis itu ia duduk.
"Sebenarnya aku memikir"
Katanya kemudian perlahan.
"kalau toh pencurian dilakukan oleh orang dalam, itu bukan perbuatannya salah seorang Tianglo diantaranya. Kalau orang mencuri kitab, kenapa ia tidak sekalian mencuri pedangnya adik Hiong ? Kenapa kitab melulu yang dibawa pergi? Laginya tentang kitab ini, orang mengetahuinya hampir tak ada. Menurut aku, inilah bukan pencurian secara kebetulan saja. Orang juga mesti lihai ilmu ringan tubuhnya, kalau tidak, tidak nanti dia lolos dari pandangan mata kita, apa pula adik Hiong, tak mungkin dia kena dikelabui. Setelah memiliki Hian-bun siang Thian Khie-kang, mata dan telinganya adik Hiong luar biasa jeli dan tajam. Maka si pencuri mestinya bertubuh sangat ringan dan lincah ! Siapa pandai lari diatas rumput dan baru dia dapat memasuki gubuk kita. Sebab ini, aku tak dapat mencurigai orang dalam."
Berbicaranya si nona beralasan. In Gwa Sian yang cerdik turut mempercayainya. Hanya It Hiong yang mengerutkan sepasang alisnya.
"Kakak"
Tanyanya.
"kau pandai menerka, di dalam hal ini, bagaimanakah pandanganmu ?"
Habis bersamadhi paling belakang, It Hiong mendapat kenyataan Kiauw In cerdas luar biasa, si nona cerdik, bernyali besar, hatinya mantap.
Di dalam hal itu, ia dan Giok Peng harus mengaku kalah.
Kiauw In bisa melihat bingungnya tunangan itu.
Ia berkasihan tetapi ia dapat berlaku sabar.
Untuk menghibur, ia berkata .
"Kitab pedang suhu itu istimewa, sulit buat dimengerti, taruh kata orang dapat dibawanya kabur, didalam waktu beberapa bulan saja, tak nanti orang dapat memahaminya. Sekarang ini baiklah kita jangan bingun, kita harus berlaku sabar. Perlahan-lahan saja kita mencarinya..."
Ia pula jawaban tak langsung bagi In Gwa Sian, maka si pengemis tua lantas mana menghela nafas, ia tak bertanya terus.
Hanya didalam hati ia merasa sangat tidak puas.
Bukankah ia seorang ternama dan sangat disegani ?
Selama beberapa puluh tahun belum pernah ia menemui lawan setimpal, baru sesudahnya bertanding dengan Thian Cie Lojin dari luar, pikirannya berubah sedikit tak lagi ia berkepala besar seperti tadi-tadinya.
Sedangkan paling belakang pertempurannya dengan Hang Sam Kiam Kek membuatnya mesti berpikir panjang-panjang.
Sekaranglah ia insyaf, kepandaian silat tak ada batas habisnya, batas kesempurnaannya.
Entah masih ada siapa lagi orang lihai yang ia belum tahu.
Tek Cio SIngjin sendiri membuatnya kagum bukan main.
Selagi berpikir itu lantas ia ingat akan halnya wantu ia mengantarkan Hing ke Kiu Hoa San supaya anak itu diterima sebagai murid oleh Tek Cio, disaat itu si imam telah memberikan ia nasehat untuk ia mengundurkan diri guna hidup tenang dan damai.
Hanya ketika itu nasihatnya si imam diberikan secara samar-samar.
Mengandal kepandaiannya yang lihai dan menuruti tabiatnya yang jujur tetapi keras mengingat kepada tugasnya sebagai manusia yang harus menolong sesama manusia mulanya, In Gwa Sian tidak memperdulikan nasehat Tek Cio itu, tetapi sekarang terutama disebabkan hasil pertempurannya dengan It Yap, ia mulai insyaf.
Berbarengan ia juga mau percaya mungkinlah Thaykek Liang Gia Sam Cay Kiam telah diciptakan Tek Cio guna mengamankan dunia persilatan guna membasmi atau menundukkan kawanan bajingan dari luar lautan itu.
Maka itu, bagaimana pentingnya kitab silat itu dan bagaimana celakanya apabila kitab tak dapat dicari dirampas kembali....
Hanya itu, sia-sia belaka mereka berpikir, kitab telah lenyap, bahkan pencurinya masih belum ketahui siapa adanya...
Jago tua itu duduk bersila sambil memejamkan matanya.
Ia berdiam saja.
Giok Peng berdua It Hiong duduk berhadapan, tampang mereka berduka, pikiran mereka kacau.
Kiauw In juga bingun walaupun diluarnya ia tampak tenang, inilah karena ia mencoba menguasai diri.
Ia memikir bagaimana ia harus bertindak.
Maka itu, sunyilah kamar.
In Gwa Sian yang paling dahulu membuka matanya dan berjingkrak bangun sudah lewat sekian lama.
"Kau benar anak In !"
Kata dia nyaring.
"Memang kehilangan kitab ini tak dapat diumumkan, sebaliknya kita harus mencarinya secara diam-diam. Siauw Lim Sie mempunyai aturan keras. Tetapi muridnya sangat banyak, siapa tahu kalau diantaranya ada salah satu yang buruk !"
Berkata begitu, jago tua ini bertindak keluar, jalannya perlahan.
It Hiong bangkit, terus ia menyusul ayah angkat itu, waktu ia sampai di pintu, sang ayah sudah menghilang, tak ada bayangannya lagi.
Rupanya sekeluar dari ambang pintu, dia lantas menggunakan ilmu ringan tubuhnya.
Kiauw In berpaling kepada si anak muda, ia tersenyum.
Katanya perlahan .
"Kitab sudah lenyap, percuma kita bingung tidak karuan. Sekarang mari kita melegakan hati supaya kita dapat tidur. Besok baru kita berunding pula. Dengan tubuh dan pikiran segar, mungkin kita dapat memikir sesuatu..."
Berkata begitu nona itu menarik tangan Giok Peng buat diajak ke kamar mereka.
It Hiong menengadah ke langit, ia menghela nafas.
Tak dapat ia berkata apa-apa.
Toh ia menyesal dan mendongkol sangat.
Maka ia mengangkat kepalanya mengawasi langit.
Otaknya bekerja kera.
Saking masgul, ia menghela nafas.
Ketika itu wajahnya muram dan suram.
Di dalam hati ia kata .
"Berbulan begitu kita disimpan Kiauw In, kitab itu selamat tak kurang suatu apa tetapi ditanganku belum satu malam, sudah hilang lenyap dicuri orang !"
Sekembalinya ke kamar mereka, Kiau In menutup pintu.
Ia rupanya sudah memikir tetap sebab lantas ia mengeluarkan sapu tangan putih yang ia dapat pungut itu sembari mengibarkan itu di mukanya Giok Peng, ia tanya sambil tertawa .
"Adik Peng, adakah sapu tangan ini kepunyaanmu?"
Giok Peng mengawasi sapu tangan itu. Dengan lantas ia mengenalinya. Ia mengulur tangannya guna menyambutinya. Ia tertawa dan kata.
"Terima kasih kakak ! Aku gila sekali, entah dimana aku hilangnya !"
Kiauw In menyerahkan saputangan itu tetapi ia menghela nafas.
"Coba pikir dengan sabar adik, kapankah kiranya lenyapnya saputanganmu ini ?"
Kata ia, sabar.
"Di dalam satu atau dua hari ini kau pernah memakainya tidak ?"
Ditanya begitu, hati Nona Pek tercekat.
Maka ia lantas meneliti saputangan itu.
Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sehelai saputangan yang serupa, yang ia awasi juga.
Berbareng dengan itu, otaknya bekerja.
"Kakak, dimanakah kau dapatkan ini ?"
Kemudian ia tanya, agaknya ia heran.
"Aku tidak ingat dimana pernah aku taruh atau membuatnya lenyap. Mungkinkah saputanganku ini ada sangkut pautnya dengan hilangnya kitab silat pedang itu ?"
Sebagai seorang yang cerdas, Nona Pek sudah lantas dapat menerka. Memang lenyapnya saputangan itu gelap baginya dan heran juga ia Kiauw In dapat menemukannya. Kiauw In dapat bergurau. Ia tertawa.
"Buat sekarang ini, sukar untuk memastikannya."
Sahutnya.
"Hanya tempat dimana saputangan ini diketemukan olehku sungguh mengherankan hingga itu dapat menimbulkan kecurigaan. Adik, cobalah kau pikir secara seksama, mungkin dari saputangan ini kau dapat menerka-nerka."
Lantas Nona Cio memberitahukan dimana ia menemuinya saputangan itu. Giok Peng memikir lama juga, akhirnya ia menggeleng kepala.
"Sungguh tak aku ingat dimana dan kapan lenyapnya saputanganku ini."
Katanya.
"Ada kemungkinan jatuhnya waktu kita pindah, yaitu dihalaman luar kuil."
Paras Kiauw In berubah, agaknya ia kaget.
"Kalau benar saputangan ini jatuhnya di halaman luar kuil,"
Kata ia.
"maka si pencuri kitab pedang tanpa disangsikan pula mesti salah seorang pendeta disini ! Kalau dugaan ini benar, tak sulit buat mencari pencuri itu ! Cukup asal kita minta Paman In menyampaikannya kepada Pek Cut Siansu untuk mohon Siansu memeriksa para kacungnya. Maka yang penting sekarang ialah kepastian pikiranmu apa benar-benar saputanganmu ini jatuh di halaman luar kuil."
Giok Peng berpikir pula. Keras ia menguras otaknya. Tibatiba alisnya bangun berdiri dan parasnya pun menjadi merah.
"Apakah bukannya dia ?"
Dia berseru bertanya, giginya dirapatkan keras satu dengan lainnya, suaranya sengit sekali. Kiauw In sebaliknya. Dia tenang-tenang saja. Bahkan ia dapat bersenyum.
"Kau maksudkan Gak Hong Kun, bukankah ?"
Tanyanya sabar. Giok Peng heran hingga ia melengak.
"Kakak, kakak..."
Katanya.
"Kakak, cara bagaimana kau dapat menerka bahwa aku maksudkan Gak Hong Kun?"
"Tak sulit menerkanya, adik,"
Sahut nona yang ditanya.
"Begitu aku menemukan saputangan ini lantas aku menduga dia. Itulah sebab saputangan ini tersulamkan tanda atau lambang semasa kau gemar merantau. Siapa tak mengenalmu, tidak nanti ia menyimpan saputangan ini. Atau sedikitnya orang yang telah melihat dan mengetahui tentang dirimu. Bukankah Hong Kun sangat tergila-gila padamu dan nampaknya dia tidak mau melepaskan kau ? Maka juga mestinya dialah yang menyimpan saputangan ini, sampai dia membuatnya hilang..."
Nona Cio menghela nafas, hingga kata-katanya itu jadi terputus tetapi setelah itu ia meneruskan .
"Hong Kun menyebalkan tetapi cintanya terhadapmu tebal sekali, orang yang cintanya demikian keras pantas juga dihargai...."
"Hmm !"
Giok Peng memperdengarkan hinaannya.
"Kakak, manusia tak dapat dilihat dari macamnya saja ! Hong Kun mirip seoarang sopan santun tetapi hatinya ngurak dan buruk ! Ketika itu hari dia memancing aku ke lembah di belakang gunung mulanya dia bersikap sabar dan hormat, selewatnya itu dia perlihatkan kebiadabannya! Dia berani mencoba memeluk aku ! Rupanya disaat itulah dia telah sambar saputangan ini. Selagi aku mendongkol dan gusar, wajarlah kalau aku tidak perhatikan tangan jahatnya itu !"
Kiauw In tertawa pula.
"Tetapi bagus ia mencurinya !"
Katanya.
"Kalau dia tidak mencuri sapu tangan ini, mana dapat dia meninggalkannya ? Pastilah kita tak dapat menerka dia...."
Giok Peng mengangguk.
"Dalam hal ini, kakak kau benar juga."
Bilangnya.
"Lagipula lain orang tentu tak mempunyai keberanian dan kepandaian untuk menyatroni gubuk kita ini sampai kita tidak mengetahuinya..."
Nona Pek berdiam sejenak, otaknya bekerja.
"Hanya sulitnya..."
Tambahnya kemudian.
"kemana kita harus cari dia ? Dia tidak punya rumah tangga dan rumahnya ialah empat penjuru lantas..."
Kiauw In tidak tertawa lagi, sekarang ia bicara secara sungguh-sungguh.
"Ya, memang sulit juga.
"katanya.
"Selain dari itu, kitapun belum memperoleh kepastian bahwa dialah si pencuri. Aku pikir dugaan kita ini jangan dahulu diberitahukan kepada Paman In dan adik Hiong. Paman In beradat keras, bisa-bisa dia langsung pergi ke Hong San mencari It Yap Tojin bangsa keras kepala, kalau ia menyangkal, dia bisa bentrok pula dengan paman. Itulah berbahaya buat paman atau sedikitnya keduanya bisa celaka bersama. Adik Hiong menang ilmu silatnya, latihan tenaga dalamnya masih kurang, ia sukar dipastikan tentang kalah menangnya. Disebelah itu kita pula bakal menghadapi pertempuran mati hidup dengan pihakpihak jago luar lautan, kita jadi harus mengumpulkan tenaga. Maka itu saat ini bukan saat yang tepat untuk kita melakukan pertempuran mati-matian. Masih ada satu hal lain. Diumpamakan benar Gak Hong Kun yang mencuri kitab belum pasti dia berani pulang ke gunungnya, malah mungkin sekali dia pergi menyembunyikan diri disebuah bukit atau lembah atau hutan guna dia hidup menyendiri untuk mempelajari isinya kitab. Maka itu adik, buat sementara sukarlah kita mencari kitab itu..."
Giok Peng berduka sekali, hingga sepasang alisnya rapat satu dengan lain, paras mukanya kucal dan muram.
"Hanya kakak,"
Katanya kemudian perlahan.
"mustahil kita lantas tak berdaya mencari kitab itu..."
Kiauw In juga menghela nafas.
"Sabar adik,"
Dia membujuk dang menghiburi.
"It Yap bangsa dingin dan angkuh, inilah tentu dikenal baik oleh Hong Kun, maka itu aku lebih percaya lagi yang Hong Kun tak akan pulang ke gunungnya. Asal kitab tidak terjatuh ketangannya imam itu, kita jangan berkuatir terlalu, kita jangan bingung. Aku percaya dengan kepandaiannya itu, tak nanti Hong Kun dapat pecahkan artinya setiap jurus dari kitab itu, apapula dalam waktu yang pendek. Maka itu adik, bersabarlah. Kita toh tidak dapat mencari kitab dengan menjelajah seluruh negara ?"
"Habis bagaimana ?"
Giok Peng masih mengotot.
"Apakah kita mesti duduk bertopang dagu sampai nanti orang datang sendiri menggantinya ?"
"Benar adik. Biarlah dia nanti terjeblos di dalam jebakan atau dia nanti membukakan palang sendiri ! Kalau kita pergi mencari dia, itulah sulit. Hanya, buat menanti sampai dia suka menghantarkan sendiri, kita harus mengandalkan kau, adik..."
Giok Peng heran hingga ia melengak.
"Apa ?"
Tegaskannya ia.
"Daya apakah aku punya ?"
Atau mendadak ia melengak pula. Tiba-tiba ia ingat sesuatu. Lantas ia menambahkan .
"Gak Hong Kun sangat licin, aku kuatir dia tak akan makan umpan pancing..."
"Kita harus mengatur daya supaya dia tidak curiga apaapa"
Kaa Nona Cio, yang mengasah otaknya.
"Dalam hal ini, kitapun terpaksa harus mendustai adik Hiong, agar ia tidak tahu apa-apa, hingga kalau perlu ia bagaikan mendusta diluar tahunya !"
Giok Peng mengawasi tajam.
"Daya apakah itu, kakak ?"
Kiauw In membalas menatap.
"Aku memikir untuk memakai kau sebagai umpan, adik"
Katanya kemudian.
"supaya Hong Kun menaruh kepercayaan besar dan suka datang padamu. Hanya saja daya apa itu, aku harus memikirkannya dahulu. Biar bagaimana, asal kau suka berkorban sedikit, adik. Kau harus insyaf, inilah demi kitabnya guru kita, jadi tak apa asal kau dapat bersabar dan menahan malu..."
Nona Pek tertawa hambar.
"Jangan kuatir, kakak !"
Jawabnya tegas.
"Untuk mendapatkan pulang kitab itu aku bersedia melompat ke dalam api berkobar-kobar sekali !"
Kiauw In tersenyum.
"Aku cuma memikir"
Katanya.
"Tak akan aku membuat kau menderita. Atau kalau kau pun menderita juga, itulah cuma untuk batas waktu yang pendek. Kitab lenyap ditangannya adik Hiong, apabila kemudian ini diketahui bahwa kau menderita untuk mendapatkan pulang kitab itu, mungkin dia akan merasa kasihan terhadapmu dan cintanya main mendalam."
Giok Peng merasai mukanya panas. Pasti mukanya itu merah sekali. Tapi ia lantas berkata.
"Demiku, adik Hiong telah menderita banyak, sedangkan kau kakak, kau memerlukan aku sebagai adik kandungmu sendiri. Dilain pihak, budinya guru kita besar bagaikan bukit. Maka itu jangan kata baru menderita sedikit, biarpun tubuh ragaku hancur lebur, aku rela. Aku bersedia berkorban jiwa ! Nah kakak, apakah dayamu itu ? Kau bilanglah ! Kau perintahlah aku !"
Nona Cio menghela nafas perlahan, itulah pertanda bahwa hatinya dirasakan berat.
"Ah, inilah cuma sebab aku membesarkan nyaliku"
Katanya.
"Karenanya aku memberanikan diri membuat kau menjadi umpan pancing. Ini pula disebabkan aku ingat harga besar dari kitab pedang itu. Bukankah itu karya guru kita yang membuatnya dengan susah payah ? Bukankah juga kitab itu bakal mengenai nasibnya kaum rimba persilatan seumumnya ? Gak Hong Kun cerdas dan cerdik, kalau dia menyekap diri dalam gunung atau lembah sunyi, paling lambat sepuluh tahun pasti dia dapat pahamkan ilmu pedang itu. Syukur kalau dia berbalik menjadi berbaik hati, jika sebaliknya celakalah semua orang jujur sebab sekalipun adik Hiong sudah pandai Hian boa sin Thian Khie-kang belum tentu dia dapat mengalahkan Hong Kun. Kalau adik Hiong tidak sanggup, siapa lagi yang dapat menggantikannya ?"
"Hong Kun menjemukan, tetapi aku lihat dia masih mengenal perikemanusiaan"
Kata Giok Peng masgul.
"Memang dia sangat membenci aku dan adik Hiong, tetapi untuk dia menjadi demikian jahat hingga dia mencelakai kaum rimba persilatan seumumnya, mungkin tak nanti..."
Kiauw In tersenyum.
"Gak Hong Kun itu"
Katanya.
"jika tidak ada anggapannya bahwa adik Hiong merampas kekasihnya hingga ia menjadi sangat sakit hatinya, ada kemungkinan besar menjadi seorang gagah yang berhati mulia. Dia berbakat baik dan cerdas, gurunya pun lihai, mudah buatnya meningkat naik. Sayang dia tidak cukup kuat hati buat menekan sakit hatinya itu. Ya soalnya itu memang soal sulit dan kerenanya hatinya keras, diapun sulit buat dikasih mengerti. Kita telah menjadi kakak beradik. Aku pikir tidaklah halangannya apabila kita berbicara secara terus terang. Sejak aku masih kecil sekali, rumah tanggaku sudah mengalami bencana hebat. Ibuku menutup mata siang-siang dan ayahku berasa ia gunanya kurang. Sudah pergii mengucilkan diri. Syukur bagiku, aku dikasihhani guru kita setelah sudi menerima padaku menumpang padanya. Pay In Nia tinggi dan kecil, sangat jarang orang mendakinya. Di sana aku hidup menyendiri, dalam kesunyian dan ketenangan. Tempat itu cocok bagiku. Aku memang gemar ketentraman. Karena keadaanku itu, aku telah bercitacita mencari tempat mencil dan sunyi, guna membangun sebuah gubuk di sana guna hidup menyendiri melewati tanggal, hari, bulan dan tahun. Aku merasa hidup secara demikian akan menyenangi hatiku. Siapa tahu aku justru telah bertemu dengan adik Hiong ! Adalah itu jodoh atau hutang lama yang harus dilunasi ? Selekasnya aku melihat ia, aku jatuh Cinta padanya, demikian juga dia terhadapku. Dengan demikian maka dia telah merusak atau menggagalkan citacitaku itu. Sekalipun didalam mimpi aku senantiasa ingat padanya. Demikianlah sampai terjadi itu pertempuran dahsyat di Lek Tiok Po. Coba tidak ada paman In yang membantu dia, mungkin tubuhku sudah lama terkubur didalam tanah. Dia pula yang membuatku membabat angan-anganku buat menjadi seorang suci, hingga sekarang aku hidup terombangambing di dalam dunia yang ramai dan penuh bahaya ini, guna membantu dia dari kekacauan besar, buat melindungi dan memajukan dunia rimba persilatan yang sejati. Demikian hatiku yang tadinya tawar sekarang menjadi bergelora...."
Giok Peng menghela nafas berduka mendengar kakak itu membuka rahasia hatinya.
"Dasar kakak berbakat, cerdas dan cerdik"
Ia memuji.
"Bukan seperti aku yang hatinya gelap. Aku lain daripada kau kakak. Setelah itu hari aku melihat adik Hiong, lantas aku menjadi bagaikan orang edan, aku selalu membayanginya, seperti malam itu aku duel dia sampai dikuil tua, sampai aku tertikam pada lenganku. Terang adik Hiong tidak menyinta aku, aku sendiri yang terus tak dapat melupakan padanya. Maka tibalah saatnya yang Teng Hiang si budak licin menggunakan akalnya membuat adik Hiong lupa dengan kesadarannya hingga malam itu terjadilah peristiwa yang sangat menyesalkan di loteng Ciat Yan Lauw. Malam itu kakak, sebenarnya aku sendiri sadar sesadarnya, tetapi entah kenapa aku tidak dapat menolak keinginannya selagi dia tak sadar diri itu...."
Giok Peng berhenti bicara dengan tiba-tiba mukanya menjadi merah.
Ingat peristiwa itu, ia malu sendirinya.
Ia menyesal.
Itulah peristiwa yang membuatnya melahirkan Hauw yan, anaknya yang manis itu.
Kiauw In tertawa.
Nona ini tak lagi merasa jengah.
"Kita bukan manusia luar biasa, tetapi kita toh tidak tolol"
Katanya.
"Apa yang kita alami itu rupanya ialah yang dinamakan takdir. Bicara tentang kita, kita pun harus bicara perihal Gak Hong Kun. Aku seperti merasai bagaimana dia menyesal, penasaran dan berduka...."
"Demikian adalah hal, kakak. Cuma apa aku bisa bilang ? Telah aku serahkan diriku pada adik Hiong, bahkan sekarang aku telah mempunyai anak. Tak dapatkah Hong Kun menyadari kedudukanku ? Kenapakah dia seperti juga belum mau melepaskan diriku ?"
"Bicara dari hal kepantasan memang Hong Kun tak dapat menganggu pula kau, adik. Hanya kita harus bicara dari lain sudut. Hong Kun bukan seorang manusia biasa, maka itu pasti tabiatnya juga luar biasa. Dia cerdas dan gagah, adatnya tinggi, tak heran kalau dia selalu mau menang sendiri, selayaknya itu kalau dia tak sudi mengalah terhadap siapa juga. Orang semacam dia asal dia menghendaki sesuatu tak mudah dia mundur sendirinya. Benarnya sebelum hilang nyawa belum dia mau berhenti. Hong Kun tahu kau telah mempunyai anak, dia toh tak meau melupaimu. Inilah soal yang sulit. Maka bicara tentang dia, ada dua kemungkinannya, sudut baik dan sudut buruk. Sudut baiknya itulah cintanya terhadapmu cinta suci dan kekal abadi, tak dapat dia melupaimu. Asal dia melihat kau, cintanya muncul. Sudut buruknya ialah dia sangat membenci adik Hiong dan karenanya berniat menuntut balas, guna memuasi sakit hatinya itu. Buat apa baru dia puas kalau kau dan adik Hiong sudah pecah belah atau bercelaka. Dalam hal ini dia harus dibuat takut sebab pasti dia dapat melakukan segala apa asal maksudnya dapat tercapai. Karena dia cerdik dia dapat memikir segala apa, sekalipun akal yang paling buruk. Dia dapat menjadi pendekar, dia juga dapat menjadi cabang atas jahat. Karena dia manusia luar biasa, dia harus dipandang tidak seperti manusia biasa. Maka itu sekarang bagi kita pertama-tama kita harus dapat menjaga diri baik-baik dan kedua supaya secepat mungkin kita bisa mendapati kembali kita ilmu pedang kita itu !"
Giok Peng berpikir keras, memikirkan kata-kata sang kakak.
Kiauw In bicara dari hal yang benar yang beralasan kuat.
Agaknya Nona Cio mengenal baik sifatnya Hong Kun.
Maka hal itu tidak dapat diabaikan.
"Kakak benar."
Katanya kemudian, mengangguk.
"Benarlah, biar bagaimana kitab itu harus dicari dan didapat pulang. Bagaimana pikiran kakak ? Apakah kakak telah dapat memikirkan sesuatu ? Coba tolong beritahu aku...."
"Aku telah memikirkan sesuatu hanya rasanya itu masih kurang sempurna. Masih ada bagiannya yang harus teliti. Jadi tak dapat aku pastikan pikiran itu dapat dilaksanakan atau tidak. Kau setuju memberikan aku waktu satu hari lagi, bukan ?"
"Tentu kakak !"
Sahut Giok Peng tertawa, walaupun tawanya hambar.
Ia tidak menanya menanyakan lebih jauh.
Inilah karena ia telah kenal tabiatnya kakak itu.
Dengan satu kibasan tangan Kiauw In memadamkan penerangan didalam kamarnya itu, maka juga habis itu keduanya terus naik keatas pembaringan buat merebahkan diri.
Sebelum pulas, masing-masing mereka itu berpikir sendirisendiri.
Kiauw In memikirkan bagaimana harus mengatur keruwetan diantara Giok Peng dan It Hiong, serta bagaimana caranya buat membikin Hong Kun mendengarnya dan nanti suka datang memakan pancing.
Dan Giok Peng memikirkan apa tipunya Kiauw In itu yang mau membuatnya menjadi sebagai umpan agar Hong Kun datang membantu, serta bagaimana andiakata tipu itu, tipu belaka hasil menjadi kebenaran atau kenyataan ?
Dan ia sendiri, bagaimana nanti jadinya ?
Apakah kelak dikemudian hari tak nanti orang Sungai Telaga menertawakannya ?
Jilid 3 Hebat bekerjanya pikiran kedua nona itu, sampai fajar tiba tak ada diantaranya yang dapat memejamkan mata dan tidur pulas.
Adalah Houw Yan yang tidur nyenyak telah membuka matanya.
Kapan ia mengawasi ibunya, ia tersenyum.
Ialah bocah yang belum tahu apa-apa...
Kiauw In yang lebih dahulu lompat turun dari pembaringan, ia bertindak menghampiri Giok Peng hingga bisa melihat Nona Pek sedang rebah mendelong saja.
Lantas ia tertawa perlahan.
Segera ia mendekati telinga orang untuk berkata perlahan juga "Sang surya sudah naik tinggi !"
"Oh !"
Seru Giok Peng perlahan, terkejut lantas ia turun dari pembaringannya.
Ia masih pepat pikirannya tetapi bisa ia tersenyum.
Lekas-lekas ia menyisir rambutnya dan mencuci muka, untuk terus pergi ke dapur.
Kiauw In mengempa Hauw Yan, sembari tertawa ia kata pada ibu si anak .
"Aku duga tadi malam dia pun sukar tidur nyenyak, maka itu naik kau lekas, panggil dia masuk untuk sarapan pagi !"
Giok Peng tersenyum, dengan sabar dia bertindak ke kamarnya It Hiong.
Pagi itu indah.
sisa embun bergemerlapan diantara sinar matahari.
Sang angin bersiur membawakan harumnya bunga, buah dan rumput.
Gubuk pun sangat tenang dan damai.
Selekasnya Giok Peng melihat pintu kamarnya It Hiong, ia terperanjat.
Kedua daun pintu terbuka separoh, maka dia mengernyitkan kedua belah alisnya yang lentik dan berkata didalam hati .
"Ah, dia lalai sekali. Kenapa dia tidur tanpa mengunci pintu ? "
Ia berjalan terus, ia berpikir pula ."Kalau toh dia sudah bangun, seharusnya dia menengok kakak In, aku dan Houw Yan...."
Dilain saat, si nona sudah berada di dalam kamar.
Kali ini ia terperanjat saking heran bercampur kaget.
Ia melihat pembaringan kosong, tetapi pembaringan itu rapi.
Sisa api sudah padam.
Ketika ia berpaling ke dinding disitu tak tampak Kong Hong Kiam, pedang yang mengagetkan Bianglala.
Tanpa terasa Nona Pek berlompatan ke pembaringan, maka disitu ia melihat sehelai kertas yang ada tulisannya yang tertindih bantal kepala.
Segera ia membaca .
"Kakak In dan kakak Peng yang baik ! Kitab pedang karya guru kita bukan cuma lihai tetapi juga menyangkut soal kehidupan kaum rimba persilatan seumumnya, tetapi diluar tahuku telah aku membuatnya Bielang hatiku dengan sendirinya menjadi tidak tenang. Lebih-lebih karena janji pertemuan di Tiong Gok telah mendekati, tinggal lebih kurang waktu dua bulan. Maka itu didalam waktu singkat ini, hendak aku berbuat semampuku mencari dan mendapatkannya pulang. Aku hendak mencarinya walaupun aku tahu harapannya sangat tipis. Hatiku lega sesudah aku berdaya semampuku. Lain tahun pada tanggal lima belas bulan pertama pasti aku akan berada di Tiong Gok. Kakak berdua, seharusnya aku menemui kalian guna memberitahukan maksud hatiku ini tetapi karena aku kuatir kalian mencegah terpaksa aku ambil ini jalan, pergi tanpa pamitan lagi."
"It Hiong"
Masih sekian lama Giok Peng berdiri menjublak mengawasi suratnya si adik Hiong itu, selekasnya dia sadar, dia lari kepada Kiauw In.
Nona Cio heran melihat orang datang sambil berlari-lari dan mukanya pucat.
Ia melompat bangun.
"Bukankah adik Hiong sudah pergi ?"
Tanyanya. Itulah terkaannya yang paling dahulu. Giok Peng mengangguk.
"Benar,"
Sahutnya sambil ia mengangsurkan suratnya It Hiong.
"Inilah suratnya, silahkan kakak baca !"
Kiauw In menyambuti surat itu dan membacanya dengan cepat.
"Dia tak dapat melenyapkan sifat kekanak-kanakannya,"
Kata Nona Cio kemudian.
"Dia toh tak punya endusan sama sekali ! Habis, kemana dia mau pergi mencari ?"
"Bagaimana sekarang ?"
Tanya Giok Peng, pikiran kacau disebabkan kekuatirannya bagi It Hiong.
"Perlu atau tidak kita memberitahukan Paman In ? Kita dapat minta paman memohonkan bantuannya kedua Siauw Lim Sie supaya kedua itu mengirimkan murid-muridnya mencari keperbagai penjuru...."
Kiauw In menggelengkan kepala. Ia menghela napas.
"Adik Hiong pergi sejak tadi malam, dia tentu telah melalui perjalanan seratus lie atau lebih"
Katanya.
"Jangan kata kita dapat menyusulnya, taruh kata dia tersusul belum tentu dia mau diajak pulang. Kecuali kalau paman In sendiri menyandaknya...."
Giok Peng berdiam matanya menatap sang kakak, siapa sebaliknya memandang ke arahnya hingga mereka saling mengawasi.
"Habis apakah kita membiarkan saja dia pergi ?"
Kemudian Nona Pek bertanya berduka tetap tak tenang. Kiauw In tertawa walaupun nadanya berduka.
"Apakah dayanya untuk tak membiarkannya pergi ?"
Ia balik bertanya.
"Hanya dengan kepergiannya, bukan saja ia sulit baginya untuk mendapatkan pulang kitab itu, ia juga merusak rencana yang hendak kita atur. Tidak ada jalan lain daripada kita bersabar menanti sampai lain tahun, sampai pertempuran di gunung Tiong Gak itu...."
Giok Peng berdiam.
Ia menyambuti pulang suratnya It Hiong.
Kemudian ia mengempo anaknya untuk terus duduk menghadapi Kiauw In.
Di depannya sudah sedia satu meja barang santapan guna santapan pagi, tetapi tidak ada satu diantaranya yang tertelan mengisi perutnya.
Cuma It Hiong yang mereka pikirkan dan kuatirkan.
Sang waktu berjalan cepat, sang tengah hari tiba dengan segera.
Ketika itu Pat Pie Sin Kit In Gwa Sian kembali ke rumah gubuk.
Kedua nona telah mengambil keputusan tidak berani mereka menyembunyikan kepergiannya It Hiong itu.
Maka mereka lantas memberitahukannya.
Si pengemis menepuk meja.
"Anak itu sangat sembrono !"
Katanya keras.
"Nanti aku pergi susul dia !"
"Adik Hiong telah pergi sejak tadi malam, paman."
Kiauw In mengasi tahu.
"Mana dapat paman menyusulnya ? Lagipula paman tidak tahu akan tujuannya."
In Gwa Sian diam untuk berpikir.
"Benar juga."
Katanya kemudian.
"Aku si pengemis tua hendak membantui Pek Cut Siansu menyambut para undangan. Walaupun waktu yang ditetapkan ialah tanggal limabelas bulan pertama, ada kemungkinan dalam beberapa hari ini akan sudah datang sejumlah tamu-tamu, ialah mereka yang formasi tempatnya paling dekat dengan Siauw Lim Sie. Mereka itu rata-rata kawan atau sahabatnya Pek Cat tetapi diantaranya pasti juga ada sahabat-sahabat kekalku sedangkan mereka semua pada mempunyai adat atau tabiat atau kebiasaan yang luar biasa, yang angkuh dan dingin hingga sulitlah untuk menyambut dan melayaninya jika terjadi salah bicara sedikit saja, bisa-bisa mereka nanti angkat kaki pula. Karenanya, tak dapat aku pergi dari sini."
Dia jagi tua ini menghela napas. Ia mendongkol berbareng berduka. Hanya sejenak ia menambahkan .
"Beberapa orang sahabatku itu adalah orang-orang yang sudah sekian lama mencuci tangan yang telah mengundurkan diri, hingga ada kemungkinan orang -orang muda sekarang ini cuma beberapa orang saja yang kenal atau ketahui asal usul mereka itu. Sejak malam itu aku menempur Toian Cie Loid si kepala bajingan itu, aku memperoleh kenyataan bahwa segerombolan setan cilik itu sesungguhnya tak dapat dipandang ringan. Demikianlah, tak dapat tidak, perlu aku mengundang kawankawanku itu !"
"Siapakah para tetua itu, paman ?"
Kiauw In tanya.
"Entah pernah anakda mendengeranya dari guruku atau tidak..."
Ditanya begitu, In Gwa Sian tertawa terbahak-bahak. Dia girang sekali.
"Orang-orang undanganku itu sangat jarang bergaulan dengan gurumu si hidung kerbau itu !"
Sahutnya gembira. Tak pernah dia lupa menyebut nyalu .
"sihidung kerbau."
Kalau lain oarng menyebutnya itulah ejekan untuk kaum imam (tosu atau Tojin), tetapi buat ia, itulah caranya bergurau.
Dia sendiri-sendiri selalu menyebut dirinya si pengemis tua, atau si bangkotan pemabukan.
"Karena itu tidaklah heran jika dia belum pernah atau tak pernah di depanmu. Dimata gurumu itu, sahabat-sahabatku terhitung sebagai orang-orang malang ditengah, jahat bukan, lurus bukan, sebab mereka tak suak memikir mendalam siapa salah siapa benar, mereka mudah bergirang, tapi juga gampang marah. Setahuku selama hidup mereka belum pernah mereka itu melakukan kejahatan besar, ada juga sebagai macam kejahatan atau kekejian kecil. Kalau gurumu si hidung kerbau malu bergaul dengan mereka maka mereka itupun belum tentu sudi menaruh mata kepada gurumu yang layaknya kaya dewa alim ! Ringkasnya mereka keuda pihak mirip api dengan air yang saling tak sudi memberi ampun...."
"Paman"
Berkata si nona Cio.
"ingin keponakanmu berbesar hati menambah sedikit dari pandangan paman, ialah mengenai guruku. Memang diluarnya guruku tampak pendiam dan alim bagaikan dewa serta berwibawa juga, tetapi sebenarnya guruku sangat luwes dan pemarah !...."
In Gwa Sian menggelengkan kepala dan tertawa.
"Tok Cio si hidung kerbau itu"
Katanya.
"walaupun ia pandai ilmu silat luar biasa tetapi yang membuat orang menghormatinya adalah sifatnya yang putih bersih, yang tak tamak akan nama besar dan kedudukan. Harus diakui, siapa yang lihai ilmu silatnya dan merasa dirinya dapat menjagoi kalangan rimba persilatan, kebanyakan mereka itu memandang ringan pada nama besar dan kedudukan tinggi, sebaliknya, hati mereka tawar. Dilain pihak lagi, ada orang yanglihai semacam itu tetapi tokh tak dapat mengalahi niatnya tetap berada diatas lain orang. Demikian dengan aku si pengemis tua, kalau bukannya aku mendengar kabar halnya Pek Cio Siangjin di Kiu Hoa san memiliki ilmu pedang yang luar biasa istimewa, tidak nanti aku mendatangi Pay In Nia untuk menantangnya bertanding..."
Pengemis itu berhenti sejenak, untuk menarik napas perlahan-lahan melegakan dadanya "Di masa itu aku si pengemis tua, aku istimewa sekali"
Ia melanjuti.
"Bicara sebenar, aku sangat tidak puas yang gurumu disohorkan sebagai orang gagah luar biasa yang nomor satu dalam dunia rimba persilatan maka itu aku telah menempur dia sampai tiga hari dan tiga malam, diantara kita tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang, sampai akhirnya gurumu menunda gerakan pedang dan menganjurkan aku untuk menghentikan pertarungan itu. Kemudian barulah aku pikirkan tentang pertandingan itu, lantas aku insyaf bahwa setelah bertanding selama seratus jurus aku telah kalah didalam satu jurus diantaranya. Ketika itu setahuku, ilmu Hian-bun Sian Thian Khje kang dari gurumu itu belum sempurna, begitupun belum sempurna ilmu pedangnya Patkwa Kiu bun Kiam dan ilmu ringan tubuh lompat tinggi Te In Ciong, loncatan Tangga Mega, tiga puluh tahun telah berlalu siapa tahu selain semua ilmunya itu sekarang diapun menciptakan ketiga ilmu pedangnya yang digabung menjadi satu itu yaitu Thaykeka Liang Gie Kiam, sedangkan aku, sebaliknya, aku bagaikan si nakan panah yang telah diluncurkan..."
Kiau In berkuatir. Ia melihat diwaktu berkata terakhir itu wajahnya si pengemis guram sekali, suata tanda bahwa dia insyaf dan menyesal. Maka ia lekas-lekas berkata .
"Paman, kaum rimba persilatan menyebut paman sebagai Pat Pie Sin Kit, bukankah julukan itu besar dan harum tak kalah daripada namanya guruku ?"
In Gwa Sian tertawa hambar.
"Aku si pengemis tua, telah tua kau..."
Katanya masgul.
Mendadak dia berbangkit bangun terus bertindak keluar dengan perlahan.
Kiauw In dan Giok Peng melengak.
Belum pernah dia melihat jago tua itu demikian berduka dan kelakuannya demikian aneh.
Maka mereka menerka bahwa perubahan itu pastilah disebabkan selama tahun-tahun yang belakangan ini hidupnya si pengemis aneh terlalu sunyi....
Kiauw In masih mau omong lebih banyak pula tetapi karena sang paman guru sudah pergi keluar, terpaksa ia mesti menunda, walaupun demikian, ia toh lantas berjalan mengikutinya.
Giok Peng dengan mengempo Kauw Yan mengintil di belakang si kakak In.
Kedua nona itu berjalan tanpa suara, mereka mengikuti paman itu sampai diluar gubuk sejauh seratus tombak lebih, sampai disitu baru mereka berhenti.
In Gwa Sian berjalan terus dengan tak pernah ia menoleh walaupun hanya satu kali.
Nampaknya seperti ia tidak tahu yang kedua keponakan murid itu telah mengantar keluar.
Terus Kiauw In dan Giok Peng mengawasi kepergian sang paman yang berjalan terus dan baru menghilang disuatu pengkolan gunung...
Tiba-tiba Nona Pek merasakan sesuatu, yang menggugah hatinya, maka tanpa merasa airmata itu berjatuhan ke muka anaknya...
Kiauw In mendapatkan serupa duka itu, matanya lantas menjadi merah dan mengembangkan air, hanya dia memilih dapat meneguhkan hatinya mencegah airmata itu mengucur keluar...
Lantas juga kedua nona itu berdiri diam saja, yang satu menepis air matanya, yang lain mencoba menguasai hati, buat melegakan diri.
Giok Peng terasadar paling dahulu karena tiba-tiba saja Hauw Yan memanggil .
"Mama ! Mama !"
Maka insaflan ia atas keadaan mereka. Dari itu, lekas-lekas ia menarik tangannya Kiauw In.
"Kakak, mari kita pulang !"
Ia mengajak .
"Ah.. !"
Nona Cio mengeluh.
"Sejak aku kenal paman In, belum pernah aku melihat ia seduka barusan..."
Lalu tanpa mengatakan sesuatu lagi, ia memutar tubuh untuk pulang ke gubuk mereka.
Giok Peng yang tadinya menarik tangan orang, berjalan mengikuti di belakangnya.
Cepat lewatnya sang waktu.
Sepuluh hari berlalu seperti tanpa terasa.
Selama itu In Gwa Sian belum pernah kembali.
Maka itu, untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya, sambil merawat Hauw Yan, kedua nona rajin berlatih guna menyempurnakan ilmu pedangnya itu.
Ilmu pedang itu perlu dengan latik tak putus-putusnya untuk menjadi sempurna betul-betul.
Sementara itu In Gwa Sian sebenarnya sedang repot luar biasa hingga ia umpama kata tak dapat memecah dirinya.
Namanya Pek Cut Siansu dari Siauw Lim Sie sangat kesohor, nama diapun tak kalah pamornya.
Sekarang mereka berdua membuat undangan umum.
Undangan mereka itu membuat mereka yang diundang menjadi memperoleh kehormatan besar, hingga siapa yang menerima itu hatinya menjadi girang.
Benar seperti diduga si pengemis sahabat-sahabat yang tempat kediamannya paling dekat dengan Siauw Lim Sie telah datang siang-siang.
Diantaranya haruslah disebut seorang Sungan Telaga Kang Ouw yang dianggap luar biasa, yang tinggal menyendiri bagaikan bersembunyi disuatu tempat yang bernama Kim Kok Wan, taman lembah emas, di wilayah kota Lok yong.
Ia telah membuat seluruh rumah besar (cung ie) yang pintunya senatiasa tertutup karena ia menampik datanya tamu-tamu, bahkan kunjungan orang rimba persilatan, Bu Lim ia tolak juga.
Karena itu lama kelamaan, jadi jarang orang menjenguknya, hingga akhirnya ia dilupakan kaun Kang Ouw dan Bu Lim.
Jago itu she Ngai bernama Eng Eng.
Di masanya dia malang melintang, namanya sangat tersohor.
Orang segani dia kerena dua rupa kepadiaannya, yaitu ilmu ringan tubuh berlompat tinggi dan jauh, Kang Kang Tae Ciong Sat dan senjata rahasianya yang dijulukinya Teratai Thio lian cie, yang berjumlah seratus delapan biji.
Pada empat puluh tahun yang lalu, pernah dengan seorang diri dia menempur lima ketua Kam Im dari Siauw Lim Sie, sebab ialah ia telah mencuri kitab silat tangan kosong dan ilmu pedang Siauw Lim Sie yang disimpan didalam Coang Kok Kok, lauwiang tempat menyimpan kitab.
Ia pun telah bertempur dengan Pek Cut Siansu sendiri selama tiga ratus jurus tanpa ada yang kalah atau menang.
Ketika itu Pek Cut belum diangkat menjadi ketua Siauw Lim Sie dan dia mempunyai seorang paman seperguruan yang terlebih tua.
Kapan paman itu melihat dia tidak bisa merobohkan musuh, si paman turun tangan sendiri.
Dialah Ceng In Taysu, pendeta satu-satunya yang kedudukannya setingkat lebih tinggi daripada Pek Cut.
Sedangkan gurunya Pek Cut sendiri ialah Go In Taysu.
Tatkala itu usianya Ceng In sudah seratus tahun lebih, selama hidupnya jarang dia tinggal menetap di Siauw Lim Sie.
Dia lebih gemar merantau.
Selama tiga sampai lima tahun, tak pernah ia pulang ke kuilnya.
Hanya disaat Pek Cut bertempur dengan Eng Eng kebetulan dia baru pulang.
Menyaksikan Pek Cut keteter, dia menyuruh si keponakan murid mundur, untuk dia yang menggantikan melayaninya.
Sebenarnya selama tigaratus tahun, Ceng In adalah jago Siauw Lim Sie satu-satunya.
Go In sendiri masih kalah dengannya.
Hanya tabiatnya saja yang aneh, tak betah dia tinggal didalam kuil.
Benarlah, setelah dia maju belum tigapuluh jurus, Eng Eng sudah kena ditotok hingga tak berdaya.
Pek Cut menyayangi Ngai Eng Eng, ia memintakan keampunan, maka Eng Eng dibiarkan pergi setelah dia diberi nasihat.
Tapi Eng Eng ingat budi, disaat Peng Cut mengantarkannya turun gunung, dikaki puncak Siauw li Hiong, mereka berdua mengikat janji persahabatan.
Sejak itu belum pernah mereka bertemu pula, sampai selewatnya tiga tahu Pek Cut diangkat menjadi hongthio atau ciang bunjin, ketua Siauw Lim Sie, baru Eng Eng datang untuk memberi selamat.
Kedua sahabat bertemu dengan sangat gembira.
Inilah pertemuan sesudah belasan tahun mereka terpisah.
Malam itu, mereka berdua bicara asyik sekali.
Eng Eng berkatai hatinya, ia sudah bosan dengan dunia Kang Ouw dan ingin hidup menyendiri di Kim Kok Wan, maka lain waktu ia minta Pek Cut suka berkunjung ke rumahnya itu.
Kata-katanya telah dibuktikan.
Demikia ia mencuci tangan dan membangun rumahnya di Kim Kok Wan tiu.
Bahkan ia sampai menampik kunjungannya sahabat atau orang Bu Lim lainnya.
Pek Cut menyetujui dan meuji keputusan sahabat itu mengundurkan diri, sebab memang benar dunia Kang Ouw sangat berbahaya.
Cuma satu malam sahabat itu beromong-onong, selanjutnya mereka berpisah pula.
Selanjutnya, selama Eng Eng tinggal di Kim Kok Wan, hubungan kedua sahabat bagaikan terputus.
Tapi disini itu Pek Cut merasa aneh, ia seperti mencurigai Eng Eng.
Ia mendapat perasaan sahabatnya itu menyimpan sesuatu rahasia entah apa.
Apakah perlunya rumah atau halaman demikian besar di Kim Kok Wan itu ?
Hanya itu pernah Pek Cut memikir menanyakan keterangannya si sahabat tetapi selalu ia gagal saja, ia ragu-ragu mulainya sukar dibuka.
Dan Eng Eng selama dia tidak ditanya dia pura-pura tidak tahu apa-apa.
Mulanya masih kedua sahabat suka berkunjung dengan lain, tahun lewat tahun saling berkunjung itu berkurang bahkan selama dua atau tiga tahun tak pernah sekali jua.
Hingga mereka seperti sudah saling melupakannya.
Tapi sekarang setelah Siauw Lim pay menghadapi ancaman pertempuran mati hidupnya ini tiba-tiba Pek Cut ingat sahabatnya lama itu dan segera mengirimkannya surat undangan.
Terpisahnya kota Lok yang dengan Tiong Gak cuma kira ratus lie, buat orang yang mengerti silat hal itu tidak dapat menjadi alangan suatu apa orang dapat pergi pagi dan pulang sore.
Pek Cut mengirim utusan murid Siauw Lim Sie yang terpilih maka suratnya tiba dalam satu hari.
Semenjak dilepasnya surat-surat undangan Siauw Lim Sie menjadi repot membuat persiapan menyambut kawan dan juga lawan, kamar-kamar disediakna penjagaan diseluruh halaman kuil diperketat.
Tak ada jalan yang tak dijaga.
Sementara itu marilah kita melihat dahulu kepada In Gwa Siang sejak dia meninggalkan Kiauw In dan Giok Peng berdua.
Jago tua ini merasa hatinya sangat tidak tenang.
Sudah hilang kitab ilmu pedang walaupun itu bukan kitab karyanya sendiri telah pergi pula anak angkatnya tanpa pamitan lagi.
Terutama ia berduka sekali.
Seharusnya ia menuju ke barat, buat kembali ke Siauw Lim Sie, lantaran pikirannya kusut itu ia terasasar.
Sesudah jalan kira tujuh lie baru ia ketahui bahwa ia kesasar.
Tentu sekali ia harus memutar tubuh buat kembali.
Tetapi itu waktu di depan ia, ia melihat dua pasang sepatu mana berserakan diatas rumput.
Segera timbul perasaannya ingin tahu, maka dengan satu kali lompat sampailah ia pada ke empat buah sepatu itu.
Kali ini dia bukan lagi heran, hanya heran bercampur kaget.
Diantara rumput itu tampak rebah dua tubuh pendeta yang jelas nyata dari jubahnya warna abu-abu dan disisi kedua mayat itu menggeletak masing-masing singathung, yaitu tongkat panjang dan kay To golok mereka itu.
Tetapi yang paling hebat ialah kedua pendeta itu hilang kepalanya masingmasing sebatas leher !
Tak usah disangsikan lagi bahwa kedua mayat itu ialah dua orang pendeta yang ditugaskan menjaga jalan dan sebuah jalan cagak.
Sebagai seorang jago, apapula jago tua In Gwa Siang cuma kaget sebentar.
Lantas dia sadar dan dapat menerka artinya penemuan mayat-mayat itu,.
ialah kedua pendeta itu roboh sebagai korban-korbannya tangan-tangan jahatt.
Tepatnya musuh !
Segera Pat Pie Sin Kit menghampiri mayat-mayat itu, guna meneliti terlebih jauh.
Melihat dari darah yang tidak mengucur banyak, tahulah dia bahwa kedua pendeta itu mulanya kena tertotok jalan darahnya, lalu sedang mereka tak sadar, leher mereka ditebas kutung-kutung.
Dalam penasaran, ia meraba dada orang.
Maka ia menemui masih ada denyutan jantung orang.
Maka itulah bukti bahwa orang baru saja dibunuh !
Melihat formasinya tongkat dan golok, In Gwa Sian pun mendapat kesan kedua senjata sengaja diletakkan disisi mereka itu.
Maka itu lantas otaknya bekerja .
"Dia atau mereka itu, pasti bukan sembarang orang. Tak mudah merobohkan dua orang hingga orang tak berdaya dan mayatnya dipindahkan ke tempat yang bala dengan rumput tebal dan tinggi itu dan sepatu mereka bagaikan dipertontonkan ! Kenapa kepala orang pun dikutungkan dan dibawa pergi ? Untuk apakah ? Bukankah itu bukti bahwa musuh berada atau bersembunyi disekitar sini guna melakukan pembunuhan gelap terhadap para pendeta ? Atau mungkin kalau yang jatuh bukan cuma kedua pendeta yang malang nasibnya ini..."
Tengah pendeta ini berpikir begitu, tiba-tiba ia mendengar suara berkeresek rumput di belakangnya, belum lagi ia menoleh atau melirik, kupingnya lantas mendengar ini suara yang rada parau .
"Saudara, bukankah saudara ialah Pat Pie Sin Kit In Gwa Sian yang namanya tersohor dalam dunia Sungai Telaga ?"
Cepat bagaikan kilat, In Gwa Sian memutar tubuhnya. Ia sudah lantas bersiap sedia.
"Tidak salah !"
Sahutnya cepat.
"Ya, inilah si pengemis tua ! Dan kau, tuan yang terhormat, siapakah kau ?"
Di depan pengemis ini, cuma sejarak bebeapa kaki, tampak seseorang tua yang kumis janggutnya telah putih semua bagaikan perak, tubuhnya jangkung kurus, karenanya jubahnya panjang juga, sedangkan wajahnya menunjuki dia berwibawa.
Yang aneh ialah ditangan kirinya dia itu tertenteng dua kepala orang yang terikat menjadi satu dengan rotan dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat yang terbuat dari perunggu.
Walaupun demikian dengan muka berseri-seri dia lantas menjawab pertanyaan orang.
"Aku yang rendah ialah Ngay Eng Eng dan aku datang ke Tiong Gak ini karena aku menerima undangannya pendeta Pek Cut serta kau kakak In !"
Tingkatnya In Gwa Sian tingkat tinggi, jarang orang Bu Lim rimba persilatan yang memanggilnya saudara, kakak atau adik, maka itu, mendengar orang she Ngay ini memanggil ia kakak, ia merasa tidak senang.
Walaupun demikian ia tidak mau menunjuk rasa tak puasnya itu.
Orang toh berkatai ia bahwa orang datang karena menerima undangannya.
Tak mau ia berlaku kurang hormat.
"Maaf aku kurang hormat"
Katanya sambil merangkap kedua tangannya.
"Kakak kau membawa-bawa kepala orang, kepala siapakah itu ?"
In Gwa Sian sengaja menanya meski juga ia sudah melihat tegas sekali dua kepala itu tiada rambutnya, jadi itulah kepalanya dua orang pendeta, bahkan itulah kepalanya dua orang murid Siauw Lim Sie yang tubuhnya baru ia ketemukan.
Ngay Eng Eng menghela napas.
"Aku menyesal yang aku datang terlambat satu tindak !"
Katanya sengit "karena itu kedua bapak pendeta ini telah kena orang bokong hingga mereka menerima kehilangannya secara hebat dan menyedihkan ini."
Kedua matanya In Gwa Sian mengerluarkan sinar bengis.
"Dengan begitu kakak Ngay kau telah melihat sendiri si orang jahat ?"
Tanyanya.
"entah bagaimanakah macamnya pembunuh itu ?"
"Mereka terdiri dari dua orang"
Sahut Eng Eng.
"Tubuh mereka kecil dan sangat gesit, telah aku susul ia sejauh beberapa lie, aku tidak berhasil menyandaknya. Setelah aku menyerang mereka berulang-ulang dengan teratai besiku, barulah mereka meninggalkan dua kepala orang ini. Bicara terus terang, aku menyesal dengan kegagalanku ini..."
In Gwa Sian heran tapi belum sempat ia menanya pula, ia melihat tibanya Liauw In Taysu bersama dua orang pendeta tingkat tinggi dari Tatmo ih.
Mereka itu datang sambil berlarilari.
Mulanya Liauw In melihat mayatnya kedua pendeta yang rebah tak berjiwa dan tanpa kepala, baru ia mengawasi kepala orang di tangan Ngay Eng Eng, tidak ayal lagi ia mengangkat sebelah tangannya sambil memperdengarkan pujinya.
"Siacu"
Tanyanya kemudian kepada Eng Eng.
"apakah kedua kepala orang itu kepalanya murid-murid kami ini ?"
Pendeta itu sangat jarang berada didalam kuilnya karena itu ia tidak kenal Ngay Eng Eng dan tidak tahu juga persahabatannya orang she Ngay itu dengan ketuanya, karena ini, melihat orang membawa-bawa kepalanya dua murid Siauw Lim Sie, ada dirinya ia menjadi bercuriga.
Ditanya begitu rupa, Ngay Eng Eng tertawa hambar, ia memangnya bertabiat dingin dan jumawa, pertanyaan itu yang nadanya luar biasa, membuatnya tak puas.
Ia seperti dapat menerka bahwa orang mencurigainya.
Tapi ia menjawab sambil tertawa hambar .
"Kecuali orang-orang Siauw Lim Sie di Tiong Gak sini dimana ada pendeta-pendeta lain ?"
Mendadak pendeta itu menjadi gusar, walaupun biasanya ia sabar dan tenang.
Inilah disebabkan hebatnya apa yang ia lihat kedua orang muridnya rebah terkapar tanpa kepala dan kepalanya justru terikat dan tercekal ditangan orang yang tidak kenal, sedangkan orang itu bersikap angkuh.
Tanpa pikir panjang lagi ia mengangkat tongkatnya melintang dan dengan murka.
"Jika demikian, maka Siculah yang menjadi pembunuhnya kedua murid kami ini."
Ngay Eng Eng menengadah langit dan tertawa lebar. Kata dia .
"Membunuh orang dan berbuat jahat bukanlah urusan yang terlalu berat, tak ada perlunya kalau orang menjadi kaget dan menjadi banyak berisik karenanya !"
Liauw In juga tertawa dingin.
"Sicu berani membunuh orang, rupa-rupa sicu tak takut untuk mengganti jiwa ?"
Tanyanya pula, tetap keras. Karena habis sudah kesabarannya, ia tegas menggerakkan tongkatnya untuk menerjang.
"Tahan !"
Berseru In Gwa Sian yang segera mencegah gerakan tangan orang.
Liauw In melengak saking heran.
Ia pun segera melihat pengemis itu berlompat maju, menghadang di depannya.
Hanya sambil menghadang itu, In Gwa Sian terus berkata .
"Aku si pengemis tua sudah lama mendengar nama besar dari kau, kakak Ngay, sayang tak dari siang-siang kita bertemu satu dengan lain, hari ini kau melihatmu, benarlah kau seorang gagah perkasa !"
Eng Eng tertawa bergelak.
"Pujian, hanya pujian !"
Katanya.
"Nama kakaklah justru yang besar dan telah menggemparkah seluruh Sungai Telaga ! Sudah lama aku mengkangeni nama kakak, beruntung sekali hari ini kita dapat bertemu muka hingga dengan demikian dapatlah aku penuhkan pun harapanku !"
Ia diam sejenak terus ia menambahkan .
"Didalam dunia ini tak sedikit peristiwa-peristiwa melepas budi dan penasaran dan semua ada yang terjadi karena sang kebetulan, demikian dengan taysu ini karena ia melihat aku memegangi kepala orang kontan aku dituduh sebagai pembunuhnya ! Dalamhal ini biar bagaimana aku menjelaskan rasanya sulit buat aku membersihkan diri, susah buat melenyapkan salah mengerti karenanya, karena urusan ada begini rupa, aku pikir terlebih baik bagiku untuk tidak mengadu lidah !"
Habis mengucap itu jago tua itu berpaling untuk mengawasi Liauw In dan mulutnya berulang kali mengawasi dengan tawa dingin.
Liauw In membanting kaki.
Dialah seorang sadar, maka tiba-tiba saja dia insaf akan kekeliruannya.
Maka itu lantas ia sesalkan In Gwa Sian.
"Eh, pengemis bangkotan, kau jahat sekali. Hampir-hampir kau membuat kau berbuat salah terhadap seorang sahabat !"
Katanya sengit. Si pengemis tersenyum.
"Kakak Ngay ini adalah tamu undangannya ketua Siauw Lim Sie kama."
Katanya sabar.
"Siapa suruh kau tidak mengenalnya ?"
Liauw In menggerakkan tongkatnya dari atas ke bawah, maka pancapnya tongkatnya itu kedalam tanah hingga tanahnya muncrat, setelah mana dia merangkap tangannya memberi hormat pada Eng Eng.
"Maaf, pinceng tidak mengenali kau sicu"
Katanya. Eng Eng segera membalas hormat, ia melihat usia si pendeta sudah lanjut, ia percaya pendeta itu jadi salah seorang tertua dari Siau Lim Sie dan kedudukannya pasti tidak rendah.
"Akupun minta diberi maaf."
Katanya sambil tertawa.
"Lantaran malasku, sangat jarang aku berkunjung ke Siauw Lim Sie, hingga kecuali ketua Pek Cut, bapak pendeta lainnya sangat sedikit yang kukenal."
Kembali Liauw In membalas hormat dan berkata merendah, sesudah mana ia menitahkan kedua kawannya membawa pulang kedua mayat itu, supaya mereka itu segera melaporkan kepada ketua-ketua mereka sekalian memohon petunjuk.
"Sekarang mari kita melihat-lihat disekitar ini."
In Gwa Sian mengajak.
Pemeriksaan itupun menjadi pemikirannya Liauw In, mka itu berdua mereka lantas pergi berputaran, tetapi karena tidak ada hasilnya terus mereka pulang ke Siauw Lim Sie.
Baru sampai dipintu gerbang, mereka sudah disambut Pek Cut sendiri.
Bukan main girangnya kedua belah pihak, keduanya tertawa riang.
Habis saling memberi hormat, Pek Cut berkata .
"Kakak Ngay sudah mengundurkan diri, seharusnya tak dapat aku mengganggumu akan tetapi urusan luar biasa penting, terpaksa aku mengirim surat juga kepadamu. Inilah sebab kawanan bajingan luar lautan lihai semuanya tak dapat mereka dihadapi oleh kaum rimbah persilatan seumumnya."
Eng Eng tertawa.
"Sudah beberapa puluh tahun kita bersahabat, selama itu belum pernah kita saling minta bantuan."
Kata ia.
"sekarang kau telah mengundang aku, aku sangat berterimakasih. Itulah pertanda bahwa kau masih belum melupakan sahabat lamamu. Karena itu juga begitu aku menerima suratmua, begitu aku berangkat kemari, hanya sayang aku toh terlambat satu tindak, aku tiba tanpa mampu menolong kedua muridmu itu. Karena itu, sesungguhnya aku malu sekali...."
Parasnya Pek Cut berubah menjadi suaram dengan mendadak. Ia menjadi sangat berduka.
"Itulah baru permulaan dari peristiwa-peristiwa hebat menyedihkan."
Katanya menghela napas.
"dan itu tidak sampai disini saja ! Silahkan kalian masuk kedalam, nanti kalian mendapat tahu, terutama kau, sahabatku."
Sepasang alisnya In Gwa Sian terbangun.
Ia menerka pada suatu kehebatan lain.
Sebenarnya ia hendak meminta keteranga, atau dapat ia mencegah membuka mulutnya.
Maka dengan membungkam ia turut bertindak masuk.
Pek Cut memimpin dan Ngay Eng Eng mengikuti.
Ketua Siauw Lim pay mengajak kedua teman lamanya langsung ke Tatmoto.
Ruang Bodhidarma, untuk memasuki sebuah kamar sisi yang terbuat dari batu merah.
Itulah sebenarnya, kamar peranti berobat atau istirahatnya pendetapendeta yang terluka disebabkan kecelakaan-kecelakaan latihan.
Baru mendekati tujuh atau delapan kaki dari kamar, bertiga mereka sudah mendengar rintihan tak hentinya, rintihan saling susul dari mereka yang tengah menderita.
Itu pula pertanda bahwa orang yang lagi menderita itu tak sedikit jumlahnya....
Di muka pintu ada dua orang pendeta yang bertubuh tinggi dan besar yang mengawal, selekasnya mereka melihat Pek Cut, lantas mereka memberi hormat kepada ketua itu, terus lekas-lekas mereka membukakan pintu.
In Gwa Sian menjadi tidak sabaran, dialah yang mendahului bertindak masuk, maka itu lantas ia melihat delapan orang yang masing-masing rebah diatas pembaringan kayu cemara, tubuh mereka itu dikeredongi selimut putih hingga tak tampak lukanya masing-masing.
Pek Cut mengawasi si pengemis dan sahabatnya Eng Eng, wajahnya suaram saking berduka.
"Selama beberapa ratus tahun, belum pernah Siauw Lim Sie mengalami peristiwa hebat dan menyedihkan seperti kali ini."
Kata suaranya sedih.
"Sungguh tak kusangka, justru dibawah pimpinanku bisa terjadi semua ini. Itulah bukti dari pimpinanku yang tidak bijaksana karena aku tidak mempunyai kemampuan hingga aku menyebabakan para murid ini menderita. Kalau nanti aku beruntung dapat kembali dari perjalanan kesarang bajingan luar lautan itu akan aku mengundurkan diri dan mengambil keputusan guna aku mengatur maaf kepada para leluhur dan partaian...."
Sementara itu In Gwa Sian heran. Ia tidak melihat tandatanda darah pada kain keredong yang berwarna putih itu. Maka ia kata didalam hati ."
Rintihan mereka menyatakan tentunya mereka terluka parah habis kenpa tak ada tanda daranya barang setitik juga ?"
Saking herannya, tapa merasa sebelah tangannya diulur dipakai menyingkap kain kerebong puting dari penderita yang terdekat dengannya.
Begitu ia melihat sang penderita begitu In Gwa Sian sendiri melengak, matanya mendelong, mulutnya ternganga.
Toh Pit Pin Sin Kit menjadi pengemis konsen dan luas pengalamannya.
Pendeta yang lagi menderita itu memejamkan kedua belah matanya, mukanya telah berubah menjadi biru pucat !
Itulah yang menggetarkan hatinya si jago tua.
Pek Cut menyaksikan keadaannya sahabat pengemis itu, ia menghela napas.
"Tadi aku menerima laporan."
Berkata ia sabar,"katanya dua orang kami yang berjaga-jaga diarah Barat daya, di jalan genting yang penting, kedapatan roboh tak berdaya dan merintih terus terusan, kelihatannya mereka seperti terkena racun.
Mulanya aku mengira mereka itu kurang berhati-hati dan telah kena terpagut binatang beracun maka kau memerintahkan pihak Tatmo Ih mengirim orang-orang buat membantu mereka serta berbareng menempatkan dua orang penggantinya.
Baru aku memberikan perintah itu, lantas datang lain-lain laporan yang serupa, bahwa orang-orang kami roboh tak berdaya dengan tubuh bengkak dan mukanya pucat pasi kehitam-hitaman.
Kami tidak tahu apa yang menyebabkan kecelakaan itu.
Karena itu aku minta beberapa Tianglo dari Tiam Ih serta adik Liauw In pergi melakukan pemeriksaan guna mencari sipenyerang...."
Liauw In merapatkan kedua tangannya dan berkata .
"Panco sudah menerima titah itu dan telah pergi dengan mengajak dua orang murid Tatmo Ih, tatkala kami tiba ditempat jagaan sebelah selatan, kami mendapatkan bahwa dua orang kita yang bertugas di sana sudah binasa dibunuh...."
Pek Cut menarik napas.
"Bagaimanakah duduknya itu ?"
Tanya. Kemudian setelah memperoleh jawaban, ia kata pada Eng Eng.
"Kakak Ngay, dapatkah kau mengira-ngira kedua orang musuh itu berasal dari mana ?"
Ngay Eng Eng menggeleng kepala.
"Aku tidak kenal mereka itu."
Sahutnya.
"Aku cuma melihat mereka itu bertubuh kecil dan gerak geriknya sangat gesit. Muka merekapu ditutup dengan topeng. Jika aku tidak keliru menerka, mestinya mereka itu orang-orang perempuan...."
"Apa ? Orang perempuan ?"
Tanya In Gwa Sian heran.
"Ya !"
Eng Eng tetapkan.
"Rasanya mataku tidak keliru melihat ! Senjata mereka juga bukan senjata yang umumnya dipakai bangsa pria !"
"Senjata apakah itu ?"
"Yang satu membekal pedang, hanya pedang itu jauh lebih pendek daripada pedang yagn biasa, panjang kira-kira cuma dua kaki. Yang lainnya menggunakan sepasang pisau belati panjang kira-kira satu kaki. Pasti sudah mereka masuk hitungan jago silat kelas tinggi, sebab mereka gesit dan lihai dari ilmu ringan tubuhnya mahir sekali. Waktu aku memburu kepada mereka, mereka sudah berhasil membinasakan kedua orang kurbannya dan ketika aku mengejar, mereka kabur tanpa dapat dicandak, hingga aku menggunakan senjata rahasiaku, baru mereka meninggalkan dua kepala kurbannya itu."
"Mulanya dua kali aku menghajar mereka dengan pukulan Tangan Udara kosong. Aku percaya kepandaianku dalam ilmu itu sudah enam bahagian sempurna, seranganku beras diatas lima ratus kati, tetapi heran, mereka itu dapat menangkis dengan baik. Entah mereka menggunakan tipu, entah kenapa, sehabis menyambuti dua kali seranganku itu, mereka memutar tubuh dan kabur keras sekali hingga akhirnya mereka lolos...."
Berkata sampai disitu, jago tua ini berhenti sebentar. Ia mengawasi bergantian kepada In Gwa Sian dan Pek Cut Siansu. Kemudian ia menghela napas, rupanya untuk melegakan hatinya yang pepat.
"Aku si tua, aku sangat bersyukur sudah mengundang aku,"
Ia melanjuti kemudian.
"Sebagaimana kalian ketahui, telah beberapa puluh tahun sejak aku mengundurkan diri. Siapa sangka kalian masih mengingatkan dan telah mengundangnya. Terang kalian sangat menghargai aku. Tapi aku menyesal sekali, dihadapanku, orang membuatku gagal mencegah kecelakaan sampai ada orang-orang yang bercelaka. Itulah hal yang membuatku malu hingga tak ada tempat buat aku menaruh mukaku. Coba mereka itu berhasil membawa pergi kepalanya kedua bapak pendeta itu, pasti tak ada mukaku buat menemui kalian, tak dapat aku memasuki kuil ini. Syukurlah aku mengerti ilmu lari cepat Delapan Tindak Mengejar Tonggeret. Ilmu mana aku tidak sia-siakan selama aku hidup mengasingkan diri. Sejauh dua tiga lie, masih aku menjadi bingung sendiri. Ketika itu aku makin percaya mereka bukanlah sembarangan orang. Diakhirinya terpaksa aku serang mereka dengan biji Teratai besiku. Kalau ini aku tidak gagal seluruhnya. Mereka itu terkena teratai besi, lantas mereka melepaskan dua kepala korbannya, tetapi mereka sendiri kabur terus dan lolos..."
"Saudara Ngay mengandalkan kepada pengetahuanmu yang luas, tak dapatkah menerka-nerka mereka sebenarnya dari golongan mana ?"
Pek Cut tanya. Eng Eng menggelengkan kepala.
"Tak dapat aku mengenali mereka sebab pertama-tama kami tidak sampai bertempur dan kedua mereka mengenakan topeng."
Tiba-tiba In Gwa Sian menyela .
"Saudara Ngay, melihat keterangan kau ini, mungkin mereka bukan asal Tionggoan, mestinya mereka orang luar lautan juga. Sayang aku si tua, aku datang terlambat satu tindak, jika tidak tentu aku akan mencoba membekuk satu diantaranya, guna mengorek keterangan perihal mereka !"
Sampai disitu, Liauw In pun campur bicara.
"Dalam pertempuran setengah bulan yang lalu"
Kata ia.
"walaupun pihak bajingan tidak memperoleh hasil, kita juga bukannya mendapat kemenangan, karena itu, benarlah katakatanya saudara In, kita harus ketahui jelas perihal mereka itu. Setahuku, memang kita belum mendengar perihal dua oarang pembunuh itu seperti yang dilakukan saudara Ngay."
"Mereka itu lihai, merekapun belum ketahuan siapa adanya, itulah satu soal"
Berkata Pek Cut.
"Soal lainnya ialah muridmurid kami yang terluka ini. Tubuh mereka bengkak dan muka mereka matang biru, tak tahu kami mereka terkena racun apa. Sama sekali mereka tidak terluka. Bagaimanakah kita harus menolong mereka itu ? Aku rasa ilmu pengobatan kami sulit menolongnya, jika mereka terkena senjata rahasia biasanya yang kecil dan halus seperti jarum, mesti ada tanda atau bekas-bekasnya."
In Gwa Siang dan Ngay Eng Eng menundukkan kepala, mencoba mencium-cium ke dekat tubuh para korban itu.
Mereka tidak mendapat hasil apa-apa.
Bau yang mereka dapati cuma bau baCin seperti biasa, baunya luka yang umum.
Toh merekalah orang-orang tua, orang-orang Kang Ouw kawakan.
Maka mereka jadi diam.
Lewat sekian lama, In Gwa Sian menghela napas.
"Seumur aku hidup di dalam Sungai Telaga,"
Kata ia.
"segala macam senjata rahasia hampir aku kenal semuanya, bahkan senjata rahasia hebat dari beberapa jago, aku ketahui dengan baik sekali. Ada senjata rahasia beracun yang aku belum tahu, toh pernah aku mendengarnya."
"Menurut aku, para bapak pendeta ini pasti bukan disebabkan senjata rahasia"
Kata Eng Eng.
"Aku percaya mereka dilukai oleh suatu pukulan tangan rahasia yang beracun. Dalam hal ilmu pukulan ini aku tahu tentang Yan Tio Siang Can serta Kim Lam It Tok. Kecuali mereka itu bertiga, aku rasa sukar mencari orang pandai semacam mereka yang ke empat."
Jago tua itu menyebut tiga orang ahli menggunakan pukulan beracun itu.
Yang Tio Siang yaitu "Sepasang malaikat kejam dari Yan Tio" (Honak dan Lhoasay) dan Kim Lam It Tok yakni si "Tunggal Beracun dari Kwio ciu Selatan".
In Gwa Sian menggeleng-geleng kepala.
"Kalau Yan Tio Siang Can, itulah rasanya tak mungkin"
Kata dia.
"Denganku si pengemis tua, kami mempunyai pergaulan tawar tidak tawar, rapat tidak rapat, dan berhubung dengan kepergian kita keluar lintas ini, aku telah bersedia-sedia mengirim undangan mengharap bantuannya. Mengenai Kim Lam It Tok, aku cuma pernah dengar namanya, bahwa gerak geriknya sangat terahasia, hingga hampir tak ada orang Kang Ouw yang ketahui tindak tanduknya. Pernah aku pergi ke Kwi ciu mencarinya tetapi aku gagal menemuinya. Aku sangsi kalau inilah hasil perbuatannya....."
Eng Eng tertawa.
"Sebenarnya setiap rekan rimba persilatan mengetahui perihal Kim Lam It Tok,"
Kta ia.
"cuma benar, melainkan beberapa orang saja yang pernah bertemu muka dengannya. Aku mempunyai peruntungan baik, pernah satu kali aku melihatnya."
In Gwa Sian menarik nafas dalam-dalam.
"Kim Lam It Tok terkenal diseluruh negara, tetapi tak ada orang yang tahu she dan namanya yang benar."
Katanya pula.
"orang cuma mendengar gelarannya tetapi belum pernah melihat sendiri orangnya, maka itu saudara, kalau kau pernah bertemu dengannya dapatkah kau melukiskan tentang wajahnya, tubuh dan usianya ? Semoga kalau dilain ketika aku melihat dia, dapat aku mengenalinya. Hendak aku si pengemis tua berkenalan dengan dia."
Eng Eng tersenyum.
"Dialah seorang biasa saja, tidak ada ciri-cirinya yang luar biasa atau berlainan dari orang kebanyakan."
Sahutnya.
"Tentang usianya dia seimbang dengan usiaku."
Selama dua orang itu bicara, Pek Cut dan Liauw In berdiam saja.
Sebenarnya mereka kurang setuju orang bicara melulu tetapi mereka malu hati untuk melarangnya, karenanya terpaksa mereka tunduk mendengarkan dengan hati mereka risau tidak karuan.
Kebetulan Pat Pie Sin Kit mendapat lihat kedua pendeta itu, tahulah ia apa sebabnya orang berdiam dengan tampang berduka itu.
"Aku mendapat satu pikiran."
Katanya kemudian.
"Kedua muridnya Tek Cio si hidung kerbau mempunyai obat hosinouw, entah obat itu dapat dipakai menolong membasmi racun atau tidak..."
Sebelum Pek Cut menjawab, Eng Eng sudah mendahuluinya.
"Obat itu tersohor mujarab, boleh sekali kita mencobanya,"
Kata jago tua itu.
"Dengan adanya obat itu, hendak aku mencoba membuat obat pemusnah racun itu."
"Jadinya kau mengerti ilmu pengobatan, saudara Ngay ?"
In Gwa Sian tegaskan. Eng Eng tertawa.
"Bersama Kim Lam It Tok pernah aku tinggal buat suatu waktu"
Ia menjawab memberikan keteranga.
"Dia baik sekali terhadapku, dia telah mewariskan caranya pembuatan beberapa obat pembasmi racun, sayang akulah yang tolol, tak dapat aku mempelajari semua. Inilah sebabnya kau tidak mengerti sebab musabab dari penderitaannya para bapak pendeta ini, hanya itu aku merasa, andiakata kita memiliki hosin ouw, mungkin pengobatannya tak seberapa sulit. Nah, silahkan saudara pergi mengambil obat itu nanti aku berdaya mencoba meringankan penderitaannya mereka ini...."
In Gwa Sian mengangguk. Ia memutar tubuh buat pergi keluar, tetapi baru beberapa tindak, mendadak Eng Eng memanggilnya.
"Saudara In, tunggu ! Sekarang aku tahu bagaimana harus mengobati mereka ini, tak berani aku merepotkan pula padamu !"
Pat Pie Sin Kit menoleh.
Ia merasa heran.
Begitu cepat perubahannya si orang Ngay ini.
Ia pun lantas melihat bagaimana Eng Eng sudah lantas bekerja, sedangkan Pek Cut dan Liauw In mendampinginya disisi pembaringan.
Eng Eng mengenakan sarung tangan pada tangan kirinya, tangan kanannya mencekal sebuah pisau kecil yang tajam mengkilat, dengan pisau itu ia mengkurat lengan kiri seorang pendeta, membuat luka sepanjang satu dim lebih, hingga luka itu lantas mengalirkan darah yang merah kehitaman.
In Gwa Sian segera datang menghampiri.
"Apakah saudara sudah dapat menerka racun ini racun apa?"
Tanyanya. Ngay Eng Eng tersenyum.
"Tadi aku lalai"
Sahutnya.
"hampir aku terpedayakan meraka itu ! Sekarang setelah aku melihat darahnya, aku merasa pasti bahwa semua bapak pendeta ini telah keracunan. Ya semacam ular...."
"Jadi benarkah mereka terpagut ular ?"
In Gwa Sian menanya tegas. Eng Eng tertawa, ia mengangguk.
"Jangan kata para bapak pendeta ini yang mengerti ilmu silat"
Katanya.
"sekalipun orang biasa saja, asal dia bersenjata dia dapat membela dirinya. Apa pula mereka ini berbareng kena diracuninya. Karena ular itu ular biasa, darimana datangnya ular sedemikian banyak dan munculnya pun hampir berbareng dipelbagai tempat ? Maka itu dapat diterka bahwa musuh menggunakan racun yang mulanya mereka kumpul atau simpan dahulu didalah sebuah selubung atau pipa besi istimewa, kapan mulut selubung dibuka, lantas racun ini ditimpukan seperti orang menyerang dengan senjata rahasia. Dalam hal ini, racun itu racun dicelupkan pada jarum atau pasir, setelah jarum atau pasir beracun itu mengenakan atau menempel pada tubuh, racunnya lantas bekerja mengalir ke seluruh tubuh, meresap ke dalam darah daging hingga si korban kontan bakuh beku tubuhnya dan kulitnya lantas berubah matang biru lalu didalam waktu dua belas jam tubuhnya bengkak, racun masuk ke jantung dan putuslah jiwa orang..."
In Gwa Sian heran mendengar keterangan itu.
"Dengan begini saudara Ngay"
Katanya.
"teranglah kau pandai ilmu pengobatan keracunan..."
Eng Eng tertawa pula.
"Saudara In memuji padaku !"
Katanya.
"Aku cuma belajar kulitnya saja dari Kim Lam It Tok, tak dapat aku dibilang mengerti atau pandai..."
Ia terus merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah botol, ketika ia buka tutup botol itu dari situ tersiar bau sangat tak sedap yang menyerang hidung membuat orang hendah tumpah-tumpah.
Menyaksikan semua itu In Gwa Sian, Pek Cut dan Liauw In pada mengerutkan kening.
Eng Eng kembali tertawa.
"Bicara sejujurnya saudara-saudara"
Kata ia.
"isinya botolku ini ialah racunnya kodok siam uh. Bukannya aku jumawa, apabila dipadu dengan racun musuh, racunku ini jauh lebih beracun, hanya kalau kedua racun dicampur menjadi satu sifatnya lantas berubah menjadi lunak sedang. Demikian sekarang hendak aku memakai racun siam uh untuk membantu para bapak guru ini..."
Sementara itu pendeta itu bernafas perlahan sekali bagaikan lagi menantikan tibanya sang maut...
Pek CUt dan Liauw In tidak mencegah orang she Ngay itu.
Mereka berdiri disisi seperti lagi menonton.
Demikian pula Pat Pie Sin Kit.
Eng Eng melanjuti usaha pertolongannya.
Racun siam uh itu berwarna kuning, air beracun itu dituangkan sedikit keluka guratan dilengannya sipendeta pertama, lalu menyusul dengan cepat percobaan pertolongan itu kepada tujuh orang pendeta lainnya.
Semua mereka inipun digores dahulu sedikit kulit lengannya, sesudah darahnya yang beracun mengalir keluar baru mereka dipakaikan obat racun itu.
Diakhirnya Eng Eng memberikan Pek Cut sebotol kecil obat warna putih sembari tertawa ia kata .
"Kalau sebentar satu jam kemudian mereka terasadar diri dari pingsannya, segera kasih mereka makan dua butir obat ini dengan diantar dengan air dingin. Setelah itu biarkanlah mereka beristirahat. Lewat tiga hari, dengan setiap harinya mereka makan pula dua butir, semoga mereka sudah sembuh seluruhnya. Sebaliknya apabila pertolonganku ini gagal, kedelapan bapak guru ini tak akan hidup melewati malam ini."
Pek Cut menyambuti obat sambil ia menghaturkan terima kasih, lalu menyerahkan itu lebih jauh kepada seorang muridnya yang ditugaskan menjaga dan merawati orangorang yang lagi menderita itu.
Kepada si tuan penolong, ia menambahkan ."Saudara Ngay, jangan menguatirkan apaapa, jika obat ini tidak menolong mereka terserah kepada Sang Buddha, manusia mati atau hidup sudah tertakdirkan, kita manusia tak dapat memaksakan..."
Eng Eng tersenyum.
"Tetapi toh aku percaya bahwa pengobatanku ini tidak keiru !"
Katanya.
"Amida Buddha !"
Pek Cut memuji sambil merapatkan tangannya.
"Saudara datang dari tempat yang jauh siapa sangka saudara lantas menghadapi peristiwa tak beruntung ini, maka setelah sekarang selagi pertolongan pertama ini silahkan saudara mengikutku ke dalam untuk kita berduduk beromong-omong supaya dapat aku melakukan kewajibanku sebagai tuan rumah terhadap tetamunya."
Eng Eng mengucap terimakasih.
Ia menerima baik undangan itu.
Liauw In segera berjalan di depan, untuk meninggalkan ruang Tatmo Ih itu guna memimpin tamunya ke kamar ketua.
Seorang sue bie kacung pendeta lantas muncul menyuguhkan air teh.
Habis menghirup tehnya, In Gwa Sian yang mulai membuka suara.
Kata dia .
"Dilihat dari peristiwa ini, nyata sekali kawanan bajingan masih belum berlalu dari wilayah kita ini bahkan mungkin sekali, mereka segera akan mengulangi pembokongannya dengan senjata racun yang jahat itu. Karena itu, menurut pikiranku, baiklah kita lebih dahulu melakukan penggeledahan secara besar-besaran, guna membersihkan bagian dalam, lalau kita mengirim orang-orang secara menyamar ke kaki gunung buat memata-matai musuh disetiap dusun atau kampung disekitar kita. Dengan begitu, mereka juga bisa sekalian menyambut datangnya tamu-tamu undangan kita."
Eng Eng menyetujui usul itu, yang bahkan ia puji. Pek Cut menghela napas.
"Karena keadaan ialah menjadi begini rupa, baiklah, akan aku turut saran kedua saudara"
Katanya, berduka.
Karena sebagai seorang beribadat, ia sebenarnya tak menyetujui pertempuran apa juga.
Habis berbicara, mereka bersantap.
Burung, udang, semuanya sayuran rasanya lezat.
Sesudah itu barulah ketua Siauw Lim Sie mulai mengatur orang-orangnya.
Tatmo Ih diminta memilih lima puluh orang murid pilihan, supaya mereka itu dipecah menjadi lima, setiap rombongan dikepalai oleh Liauw In bersama kelima tianglo dari Tatmo, ketua dari ruang Tohan Tong dan pengurus Chong Kong Kok.
Mereka ditugaskan menggeledah seluruh wilayah Siauw Lim Sie sekalian mengatur pula pelbagai pos penjagaan, supaya setiap jalan masuk terjaga rapi.
Dua puluh orang murid lainnya yang terpilih cerdik, dikirim berpencaran turun gunung guna sambil menyambut memasang mata kepada kawan dan lawan.
In Gwa Sian dan Ngay Eng Eng membiarkan bantuannya, mereka akan membantu ke pelbagai arah.
Untuk didalam kuil, Pek Cut yang bertanggung jawab sendiri.
Dengan cara demikian, Siauw Lim Sie bagaikan salin rupa.
Beberapa hari sudah lewat, tidak terjadi suatu apapun.
Penyerangan gelap tak terulang pula.
Eng Eng dan In Gwa Sian penasaran, sendirinya mereka menjelajah gunung, memeriksa setiap gua dan lainnya, seluas beberapa puluh lie, mereka juga tidak menemukan apa-apa.
Dilain pihak, tamutamu undangan mulai tiba, mereka disambut dengan baik dan diberikan tempat serta pelayanan sempurna.
Kalau tamu yang datang tamu teman lama, Pek Cut dan In Gwa Sian sendiri yang melayaninya.
Begitulah Siauw Lim Sie, yang tadinya sepi menjadi ramai.
Penghuninyapun menjadi beraneka ragam disebabkan bedanya cara berdandan pelbagai tamu-tamu itu.
Tanpa merasa, satu bulan telah berlalu.
Tetap tak terjadi gangguan pihak lawan.
Sementara itu, delapan pendeta yang terkena racun sudah mulai sembuh seluruhnya.
Pada suatu hari, Pek Cut datang ke kamarnya In Gwa Sian.
Ia hendak mendamaikan cara bekerja untuk menghadapi lawan nanti.
In Gwa Sian nampak repot menyambut ketua Siauw Lim Sie.
Setelah mempersilahkan duduk, ia pula mendahului menanya keadaan kedelapan pendeta korban racun musuh itu.
Pek Cut bersyukur orang sangat memperhatikan muridmuridnya.
"Syukurlah tibanya saudara Ngay"
Kata ia menjawab pertanyaan.
"kalau tidak pasti mereka itu tak akan dapat ditolong lagi..."
"Apakah saudara Ngay dapat mengatakan atau menerka siapa musuh penyerang gelap itu ?"
Tanya pula Pat Pie Sin Kit.
"Mungkinkah mereka adalah murid-muridnya Cit Mo dari pulau To Ling To ?"
"Cit Mo"
Ialah "tujuh bajingan"
Jago-jago dari To Liong To.
"Belum"
Sahut Pek Cut.
"Aku pun keras memikirkannya tanpa hasilnya. Anehnya kenapa sesudah berselang begini lama, masih belum ada tindakan lainnya dari mereka itu ?"
"Apakah Siansu menerka kepada pihaknya Kim Lam It Tok ?"
In Gwa Sian tanya. Ketua Siauw Lim Sie itu merapatkan kedua belah alisnya, ia pun menarik napas berduka.
"Jika dugaannya saudara Ngay tidak keliru, Kim Lam It Tok sudah kena tertarik kawanan bajingan itu"
Sahutnya menyesal.
"Kalau benar dialah adanya, makin sulit buat kita melayaninya...."
In Gwa Sian heran melihat pendeta itu berduka demikian rupa, sedang ia tahu Pek Cut adalah seorang jago.
Berbareng dengan itu, ia berkesan baik sekali terhadap pendeta ini.
Maka juga mengawasi si pendeta ia menatap tajam hingga matanya bagaikan bersinar menyala.
"Aku si pengemis tua, aku tidak percaya mereka itu mempunyai kepandaian sedemikian lihai hingga mereka sanggup menjagoi Tionggoan !"
Katanya keras.
"Asal aku si pengemis tua masih bernapas, tak nanti aku ijinkan mereka bertingkah polah !"
"Kau dan kawan-kawanmu saudara In, memang kalian mempunyai kepercayaan yang kuat sekali"
Berkata si pendeta.
"cumalah, buat bicara terus terang, To Liong To Cit Mo serta Kim Lam It Tok benar-benar tak dapat dipandang terlalu ringan. Ketujuh bajingan atau siluman itu sudah dua puluh tahun lamanya belum pernah terdengar menginjak pula tanah Tionggoan, maka itu, sekarang ini, mungkin mereka sudah meyakinkan entah ilmu gaib apa. Yang paling dikuatirkan adalah Kim Lam It Tok seorang. Sudah sejak tiga puluh tahun yang lampau, belum pernah dia tampak atau terdengar pula namanya dibuat sebutan. Menurut kabar angin, dia tinggal menyendiri di dalam rimba lebat terasing dikaki bukut puncak Il Kiam Hong di gunung Bin San dimana dia setiap hari hidup berdekatan dengan pelbagai macam binatang beracun, yang jadikan binatang piaraannya, hingga taklah heran andiakata dia pakai racun sebagai alat senjatanya yang istimewa. Benar sulit andiakata betul-betul dia turut memusuhi kita..."
Perkataannya ketua Siauw Lim Sie itu membuat si pengemis tua berpikir keras.
"Seumurku, aku cuma pernah mendengar nama dia tetapi belum pernah bertemu dengan orangnya sendiri."
Katanya kemudian.
"Siansu, tahukan Siansu akan asal usulnya ?"
Jilid 4 Mendapat pertanyaan itu, tiba-tiba Pek Cut ingat kepada Ngay Eng Eng, maka pikirannya .
Kenapa kau tidak mau mengundang dia datang kemari supaya dialah yang memberi penjelasan?
Dia kenal Kim Lam It Tok, mungkin dia banyak mengetahui tentangnya.
"Saudara In, kau menyadarkan aku. Bukankah saudara Ngay yang telah menolong jiwa para muridku? Ia pernah mengatakan bahwa ia pernah belajar tentang racun dari Kim Lam It Tok yang ia kenal baik, karena itu kenapa kita tidak mau minta keterangan darinya? In Gwa Sian mengangguk.
"Benar! Dari keterangannya mungkin kita bisa meraba-raba pada jago racun itu."
Pek Cut lantas menitahkan seorang kacungnya pergi untuk mengundang tamunya tersebut.
Setelah satu bulan tinggal bersama disatu tempat didalam kuil, pergaulan diantara In Gwa Sian dan Ngay Eng Eng tak lagi main sungkan, bahkan sangat erat satu dengan lain.
Demikianlah ketika tamunya tersebut muncul diambang pintu, dan ketika ia melihat hanya ada dua orang di sana, yaitu hanya tuan rumah dan si pengemis tua, maka ini agak membuat sitamu sedikit heran, ia lantas bertanya .
"Entah ada urusan apa maka Siansu dan saudara In memanggilku datang kemari?"
In Gwa Sian menghargai tamunya itu, begitu lekas ia melihat orang muncul, ia lantas berdiri buat memberi hormat sambil mengundang duduk.
Pek Cut pun menyambut secara terhormat, walau dilain pihak ia harus menjaga derajat dan kehormatannya sebagai tuan rumah.
Bersama In Gwa Sian, Eng Eng melangkah masuk kedalam kamar untuk duduk berkumpul dan tanpa basa-basi lagi Pek Cut langsung memohon keterangan perihal Kim Lam It Tok.
Eng Eng bersedia memberikan penuturannya.
Iapun telah merasa sejak semula bahwa keracunannya para pendeta mirip dengan racun yang digunakan jago dari Kwieciu Selatan itu.
Beginilah ceritanya.
Ketika Eng Eng berusia dua puluh tahun lebih, ia telah hidup merantau, maka banyak sekali kenalannya baik dari kalangan hitam maupun putih.
Iapun kadang-kadang melakukan perbuatan baik, menolong siapa yang harus ditolong.
Ia dikenal karena ilmu ringan tubuhnya yang mahir dan teratai besi Thi Lian Cie nya yang lihai yang ia peroleh dari seorang gagah.
Kemudian ketika ayah bundanya meninggal dunia warisan sawah kebunnya ia serahkan pada kakaknya, ia sendiri terus merantau.
Pada satu waktu dalam usia tigapuluh tahun lebih, ia sampai digunung Tok San di Kwieciu, kota terbesar kedua di propinsi Inlam.
Kwieciu kota yang besar, banyak penduduknya dan ramai.
Penduduknya kecuali bangsa Han asli juga banyak suku Biauw, Yauw dan Koso.
Suku-suku itu dimasa itu masih dianggap separuh sopan dan tinggalnya berpencaran dan cara hidupnya ialah membawa hasil hutan yang berupa obat-obatan kekota untuk dijual atau ditukar dengan minyak, garam , bahan pakaian dan lain-lain.
Terjadilah pada suatu hari, ketika ia sedang menunggang kuda, Eng Eng melintasi jalan besar dipegunungan Tok san itu.
Ketika itu hawa udara panas menyengat, maka disatu tempat terpisah lima atau enam lie dari kota, ia singgah untuk beristirahat dan berteduh.
disitu terdapat tak sedikit para pelancong lainnya.
Ia memasuki sebuah hutan kecil dan menambatkan kudanya pada sebuah pohon, terus ia duduk bercokol diatas sebuah batu hijau bersih.
Hawa dan angin disitu mendatangkan rasa sejuk.
Selagi ia beristirahat itu, mendadak ia mendengar suara berisik sedikit jauh di belakangnya, dibawah sebuah pohon besar.
Ia lantas menoleh dan menghampiri lalu menyelak didalam kerumunan orang banyak.
Ia melihat seorang lagi menjerit ketakutan dan menangis.
Itulah seorang wanita suku Biauw yang lagi memegangi seorang pria bangsanya yang pingsan.
Disisinya ada dua buah bekal yang penuh barang makanan dan bahan pakaian.
Si orang pingsan mengeluarkan darah dari mulutnya dan mukanya pucat kehitam-hitaman.
Dengan melihat sekelebatan saja, Eng Eng tahu bahwa orang ini telah keracunan, hanya ia tak tahu racun apa itu.
Segera timbul rasa kasihannya dan keinginannya buat menolong.
Ia memang membekal obat, maka dari kantong obatnya ia mengeluarkan sebuah pil.
Ia serahkan obat itu pada si wanita yang ia suruh masuki kedalam mulutnya si pria yang dibukanya dengan paksa.
Setelah itu tubuh si pria dipondong dan direbahkannya dibawah pohon.
Wanita itu sangat berterima kasih kepada Eng Eng.
Ia ternyata mengerti juga bahasa han, maka ia mengerti ketika sipenolongnya itu menanyakan kenapa si pria terkena racun dan apa hubungannya dengan si pria itu.
Ia menerangkan bahwa pria itu adalah suaminya dan entah kenapa barusan mendadak dia roboh pingsan keracunan.
"Obatku itu manjur."
Kata Eng Eng.
"Lihat sebentar lagi lewat satu jam, suamimu akan dapat tertolong. Aku hendak tanya kau. Bukankah kalian datang belanja diwaktu pagi, kenapa baru sekarang suamimu keracunan?"
"Memang kami pergi kekota pagi-pagi dan kamipun sehatsehat saja,"
Kata wanita itu.
"Aku tak melihat tanda apa-apa, maka itu mungkin tadi selagi berjalan pulang dia telah menyedot hawa beracun...."
"Hawa beracun? Memangnya ditempatmu ada suatu racun?"
"Kami tinggal dikaki gunung Tiam Chong San. Di belakang tempat kediaman kami ada sebuah selokan dalam berupa jurang. Baru satu bulan lalu disitu kedapatan seekor laba-laba yang besar luar biasa dan beracun, setiap pagi dia suka menyemburkan hawa beracunnya itu yang mirip uap atau halimun yang bisa mencelakai orang atau binatang yang kebetulan lewat dan terkena semburannya itu. Sudah tak sedikit orang atau ternak yang mati karena racunnya..."
Mendengar keterangan itu, Eng Eng terdiam, ia merasa obatnya tak akan sanggup memunahkan racun laba-laba itu.
Tengah ia berpikir tiba-tiba ia mendengar suara orang bernapas disisinya, segera ia menoleh dan mendapati si pria Biauw itu mendusin, kedua matanya dibuka perlahan-lahan, kaki tangannya pun turut bergerak lalu seterusnya dia merintih dan mengeluh!
"Ha!
obatku bekerja!"
Pikirnya girang. Maka ia lalu berkata pada si wanita .
"Syukur suamimu sadar, itulah pertanda bahwa obatku bekerja. Sekarang lekas kau mengajaknya pulang. Semoga aku bisa mengobatinya sampai sembuh betul."
Nyonya itu mengawasi penolongnya dan mengucapkan terima kasih banyak.
Eng Eng tidak menolong kepalang tanggung, sebab pria itu belum bisa berjalan dan istrinya tak kuat menggendongnya, ia lalu memondong dan menaikinya keatas kudanya, lalu ia menuntun kuda itu.
Si wanita jalan di muka sebagai penunjuk jalan.
Jalannya berliku-liku, kira-kira satu jam barulah mereka sampai dikaki gunung, untuk jalan lebih jauh mereka harus memasuki sebuah lembah.
Selagi mendekati kampung, ada tiga puluh orang desa datang berlari-lari seperti mau menyambut, sebab mereka heran mendengar suara kaki kuda.
Dan mereka benar-benar heran sesudah melihat keadaan si pria yang tergolek dipunggung kuda.
Seorang pria Biauw yang pakaiannya rapi dan kumisnya pendek muncul diantara rombongan, ketika si wanita melihatnya dia lari pada pria itu buat berbicara, rupanya guna menuturkan perihal suaminya serta penolongnya itu.
Setelah itu si wanita mengajak kenal dengan Eng Eng.
Kiranya dialah ketua suku Biauw dikampung itu dan namanya Minai.
Segera ketua itu menyuruh beberapa orang menolong pria yang keracunan itu, untuk digotong pulang kerumahnya dengan istrinya, dia turut bersama kemudian berbicara dengan Eng Eng.
Maka tahulah penolong ini bahwa kampung itu bernama Ceng Hong Cay dan penduduknya ialah suku "siok"
Biauw artinya suku Biauw yang sudah maju disebabkan mereka bisa bergaul dengan bangsa Han, sehingga banyak yang mengerti bahasa Han dan cara hidupnya banyak yang mengikuti cara hidup bangsa Han juga.
Jadi mereka beda dengan suku "Song"
Biauw, suku yang masih tertinggal yang hidupnya dipedalaman dan sulit buat bergaul karena masih menutup diri.
Eng Eng pun diundang kerumah siketua.
Sebenarnya itu bukanlah sebuah rumah melainkan goa.
Disini Minai membicarakan urusan laba-laba beracun itu, yang baik siang maupun malam suka menyemburkan hawanya yang beracun hingga tak sedikit orang dan binatang ternak yang mati sebagai korban racunnya.
Sia-sia belaka orang menggunakan berbagai macam obat pemunah, hingga sudah satu bulan lebih mereka terancam racun itu.
Hanya baru selang beberapa hari Minai menemui seorang yang katanya dapat membasmi racun itu, orang mana telah diundang tinggal bersama didalam dusun itu.
"Siapakah orang itu dan dimana adanya dia sekarang?"
Tanya Eng Eng menyela.
"Obatnya orang itu benar-benar manjur,"
Sahut Minai yang tak menjawab langsung,"
Sejak dia datang setiap orang yang keracunan dapat ditolong jiwanya.
Siapa minum obatnya lantas muntah sedikit air kuning yang bau.
Dia she Sia, untuk membasmi laba-laba itu mulanya dia minta diantarkan kejurang tempat mengeramnya laba-laba itu, setelah itu dia pergi sendirian saja.
Dia pergi setiap lewat tengah hari.
Menurutnya, untuk membinasakan binatang beracun itu dia harus menanti saat yang tepat."
Eng Eng heran, ia menyangsikan kepandaian orang she Sia itu.
Lalu ia mengutarakan keinginannya buat menemui orang itu untuk belajar kenal dan minta sikepala suku mengantarkannya sebagai perantara.
Tengah mereka berbicara itu, seorang pemuda Biauw datang pada ketuanya dan berbicara beberapa patah kata, setelah itu dia lantas berlalu pula.
Tak tahu Eng Eng apa yang disampaikan pemuda itu karena ia tak mengerti bahasa Biauw, tapi tuan rumah sudah lantas berkata padanya ."Pemuda barusan bernama Shapi.
Dia adalah keponakanku, ia mengatakan tentang orang yang keracunan yang tuan tolong itu, katanya korban itu pernah muntah lagi tapi tetap pingsan, maka keponakanku datang meminta obatnya Tuan Sia"
"Habis, kenapa kau tidak berikan obat itu?"
"Obat itu tak ada padaku, obat itu selalu dibawa tuan Sia"
"Orang itu perlu segera ditolong, biar aku yang pergi menemui orang she Sia itu!"
Eng Eng menawarkan jasanya.
"Tuan tidak kenal dia, taruh kata tuan bisa menemuinya, mungkin usaha tuan akan gagal,"
Kata siketua.
"Bagaimana kalau kita pergi bersama?"
Eng Eng setuju, maka pergilah mereka berdua.
Jalanan di belakang gunung itu sukar juga tetapi mereka dapat melaluinya.
Tibalah mereka dilembah sebelah kanan gunung, lembah mana sebenarnya terapit tiga buah gunung dan luasnya kira-kira satu bahu sawah.
Disebelah kanan itulah terletak sebuah jurang dalam belasan tombak yang gelap hingga tak nampak apa-apa.
Berada didekat jurang dimana angin halus berhembus, sudah tercium bau tak sedap dan amis.
Sampai disitu, Minai tak berani maju lebih jauh, katanya .
"Laba-laba itu bersembunyi didasar jurang ini, didalam sebuah goa. Nanti aku coba memanggil-manggil, entah tuan Sia berada ditempat atau tidak...."
Lalu dua kali ketua kampung ini berteriak memanggil.
Tidak ada jawaban, tetapi tidak lama tampaklah seorang setengah tua dengan baju hijau muda muncul dibawah sebatang pohon cemara, terus dia mendaki dengan cepat, gerakannya mirip gerakan seekor kera.
Eng Eng segera memasang mata, hingga ia bisa menerka orang sudah berusia kira-kira tiga puluh tahun, berkumis pendek, dahinya lebar dan matanya tajam.
Pada pinggangnya tergantung sebuah kantong piauw, paling dahulu ia memandang Minai, barulah beralih ke Eng Eng.
Minai lantas menunjuk pada Eng Eng dan berkata pada orang tua itu ."Tuan ini tadi ditengah jalan sudah membantu seorang penduduk kampung kami yang keracunan, sekarang ia minta aku mengantarkannya kemari untuk melihat bagaimana tuan akan membinasakan si laba-laba beracun"
Orang itu tidak menjawab, hanya mengawasi kedua orang itu, nampaknya dia masgul.
Melihat demikian, Eng Eng memecah kesunyian, katanya ."Tuan, apakah tuan telah melihat binatang beracun itu?
Dalam hal menolong jiwa sesamanya, bersedia aku mengeluarkan tenagaku yang tak berarti, maka seandianya tuan membutuhkan kawan pembantu, tuan perintahkan saja aku!"
Mendengar kata-kata itu, orang setengah tua itu kelihatan lenyap kemasgulannya, wajahnya menjadi sedikit terang.
"Kau baik sekali, saudara"
Katanya.
"Justru hari ini aku sedang memikirkan untuk turun tangan dan lagi kekurangan seorang pembantu, jika tuan sudi membantu, itulah bagus sekali!"
"Jangan sungkan tuan"
Eng Eng menjawab,"Bilang saja apa yang harus aku lakukan!"
"Terima kasih!"
Kata orang itu.
Sampai disitu keduanya lantas belajar kenal satu dengan yang lain.
Eng Eng tambah menghargai orang setengah tua itu sebab dialah kiranya Sia Hong dengan gelar Cek sian ciang si Tangan Merah yang tersohor.
Sementara itu Minai lantas minta obat kemudian pulang terlebih dahulu.
Setelah ketua suku itu pergi, Sia Hong berkata pada Eng Eng.
"Binatang beracun itu bakal muncul tak lama lagi, kita harus bersiap sedia sekarang, mari tuan turut padaku!"
Eng Eng mengangguk, maka keduanya lantas turun kejurang sambil merembet diatara pohon rotan.
Lewat beberapa tombak jalanannya makin sukar dan sekitarnyapun mulai remang-remang.
Sesaat kemudian, Sia Hong berdiam diatas sebuah batu karang besar, sebelah tangannya terus menunjuk ke depan sambil berkata ."Lihat arah yang kutunjuk itu, didinding tembok gunung itu ada sebuah gua kecil, itulah tempat si laba-laba bersembunyi."
Eng Eng mengawasi, ia dapat melihat goa itu yang tertutup rumput, goa itu tak akan tampak kalau tidak diperhatikan benar.
"Binatang beracun itu yang dinamakan siu cu,"
Sia Hong menjelaskan.
"Entah mengapa dia bersarang disini, sulitnya sekarang dia telah menjadi sangat besar dan racunnya menjadi sangat beracun, hingga untuk dapat didekati...."
Eng Eng mengerutkan kening.
"Habis saudara Sia, bagaimana kau hendak turun tangan?"
Tanyanya.
"Telah sekian lama aku awasi binatang itu, dia biasa keluar lewat magrib buat mencari makan. Keluarnya satu hari satu kali. Barang makanannya ialah segala kutu dan ular yang lebih dahulu ia sembur dengan racunnya yang mirip uap itu hingga bakal mangsanya menjadi pingsan dan beku. Jika terbawa angin, uap itu dapat melayang jauh dan jika mengenai orang atau binatang yang kebetulan berada dibawah angin, maka orang itu akan celaka tanpa tahu apa sebabnya. Uap itu bagaikan hawa, tak boleh tersedot oleh hidung dan bekerjanya sangat cepat, orangnya pingsan terus mati...."
Baru sekarang Eng Eng mengerti kenapa Salim, orang Biauw itu pingsan mendadak.
"Saudara, untuk membinasakan laba-laba itu, apakah telah kau sediakan obat pemunahnya?"
Tanyanya kemudian.
"Ya"
Sahut Sia Hong.
"Telah aku gunakan waktu beberapa hari mencari bahan obatnya, lalu terus aku membuatnya menjadi obat pulung, inilah dia obat itu!"
Ia merogoh kantong obatnya dan mengeluarkan sebutir pil warna kuning tua sebesar telur burung gereja, sambil mengangsurkannya pada sahabat barunya itu, ia lalu berkata "Telan ini untuk mencegah serangan uap beracun itu."
Eng Eng menyambut obat tersebut yang terus ia masuki kedalam mulutnya.
"Saudara bagaimana caranya kau hendak membasmi labalaba itu?"
Katanya.
"Itu dia sulitnya! Walaupun aku sudah sedia obat penawarnya aku masih takut datang terlalu dekat untuk menebas atau menikamnya dengan pedang. Kalau dia sedang gusar dan menyemburkan racunnya secara hebat, itu sangat berbahaya...."
"Bagaimana kalau kita serang dia dengan piauw atau panah tangan?"
Itulah jalan satu-satunya, hanya dalam hal ini kita harus menjaga supaya dia kena telak, karena kalau hanya terluka dia akan mengamuk dan itu sangatlah berbahaya.
Bicara terus terang, aku kuatir aku tak mampu menggunakan senjata itu dengan sempurna...."
"Bagaimana jika aku mempertunjukkan sedikit kepandaianku yang tak berarti, yaitu aku membantu saudara dengan peluruku?"
"Baiklah,"
Jawab Sia Hong.
Hanya Biear bagaimanapun mereka baru kenal, sehingga ia rada sangsi.
Selama itu, sang waktu terus berjalan, sang surya mulai doyong kebarat, mereka berdua terus mengawasi goa itu.
Dilain saat, sang magrib sudah tiba, ketika jagat mulai gelap, maka dari mulut goa tampak sesuatu yang tak terlihat tadi siang.
Itulah sinar hijau yang lembut, yang makin lama makin terang.
Dan ketika jagat mulai benar-benar gelap maka sinar itu lantas menjadi sepasang cahaya hijau mencorong sekali.
Karena itulah sepasang mata sebesar biji buah persik yang berada diwajah seekor laba-laba raksasa, yang sangat besar kepala dan tubuhnya berwarna hitam sedangkan kaki tangannya yang panjang semua berbulu kuning.
Sia Hong lantas menyiapkan keluar beberapa batang piauwnya (kongpiauw), sedangkan Eng Eng segera menyiapkan pelurunya.
Dengan cepat laba-laba itu sudah muncul diluar goa dengan seluruh badannya.
Selagi Eng Eng mengawasi tajam, tahu-tahu Sia Hong sudah mulai menyerang ke arah perut binatang itu.
Sang laba-laba tak mengira ada orang mengintai dan menyerangnya, dua batang kongpiaw menancap pada perutnya tetapi tidak lantas membunuhnya, dia merasa sangat nyeri dan menjadi gusar karenanya, tak ampun lagi, dia menyemburkan racunnya yang jahat yang berwarna kuning.
Tepat saat beberapa puluh biji peluru pun datang menghujaninya.
"Lekas lompat berkelit!"
Terdengar suara Sia Hong.
"Jangan menghadapinya, racunnya itu tak dapat dihadang!"
Baru Eng Eng mau bergerak, ia merasa lengan kirinya ditarik, maka ia meneruskan ikut melompat kesamping sejauh beberapa tombak, karena mereka terus berlompatan dan ketika mereka berdiri diam untuk menoleh ke belakang, sempat mereka lihat buyarnya uap kuning itu, makin lama makin tipis, sedangkan sang laba-laba sudah roboh menjadi bangkai sebab seluruh tubuhnya penuh terhajar peluru teratai besi.
Rumput dimulut goa itu pada rebah, rupa-rupanya bekas diamuk kaki tangannya si laba-laba raksasa itu.
Masih sekian lama Sia Hong diam mengawasi, baru kemudian berkata ."Syukur binatang berbahaya itu telah dapat dibinasakan, sekarang marilah kita pulang buat mengatakan kepada penduduk Biauw supaya mereka menyuruh orang untuk memendam bangkai ini.
Eng Eng setuju, maka berdua lantas berjalan pulang.
Bukan main girangnya Minai dan warganya, mereka lantas menjamu kedua orang tamunya dan mereka sangat dihormati dan dipuji, kemudian mereka berdua diminta suka berdiam beberapa hari lagi dikampung tersebut.
Selama itu hubungan antara Sia Hong dan Eng Eng makin erat, lalu Eng Eng mendapat tahu bahwa si sahabat benarbenar seorang ahli hewan beracun, hingga iapun memperoleh pengetahuan banyak tentang perihal racun, dan semua penuturan si sahabat ia ingat baik-baik.
Lewat beberapa hari barulah kedua orang itu berlalu dari Tiam Cong San, lalu mereka berduapun berpisah untuk melanjutkan perjalanan masing-masing.
Sesudah lewat beberapa tahun Eng Eng mendengar dunia Kang Ouw memuji nama Sia Hong sebagai Kim Lam It Tok, Si Tangan Beracun dari Kwiecu Selatan.
Ingin ia menemui sahabatnya itu, sayang orang tersebut tak menentu tempat tinggalnya hingga sukar mencarinya.
Karena itu belum pernah kedua sahabat itu saling bertemu lagi, sampai terjadi peristiwa hebat dikuil Siauw Lim Sie itu, sehingga Eng Eng jadi ingat pula pada sahabatnya itu, demikianlah penuturannya.
In Gwa Sian dan Pek Cut telah mendengarkan dengan penuh perhatian, dan akhirnya Pek Cut mengerutkan alisnya dan berkata masgul ."Dengan begitu teranglah Kim Lam It Tok seorang yang lurus, kenapa sekarang dia ikut kawanan bajingan dari luar lautan itu?
Sungguh aku tidak mengerti."
"Memang itu aneh tetapi sekarang kita belum mengetahui sebab musababnya."
Berkata Eng Eng.
"Dahulupun aku tak sempat bertanya perihal gurunya, tak tahu aku tabiatnya secara mendalam. Mungkin ada sebab musabab yang membuat pikirannya berubah..."
"Siapa lurus siapa sesat, itu cuma soal satu tindak kaki,"
Kata Pat Pie Sin Kit.
"Sia Hong mempunyai kepandaian istimewa itu, ia sudah kena terpikat si sesat yang hendak memanfaatkannya."
Sampai disitu mereka berbicara, tidak ada keputusan apaapa, lalu Pek cut mengajak Eng Eng mengundurkan diri dari kamarnya si pengemis luar biasa.
Besoknya tengah hari, Pek Cut menerima berita tibanya Go Hian Tojin bersama dua orang saudara seperguruannya serta empat orang muridnya.
Go Hian adalah ketua partai Bu Tong Pay dipropinsi Hopak dan kedua saudaranya itu Seng Hian dan Leng Hian.
Bu Tong Pay cuma kalah ternama sedikit dari Siauw Lim Sie.
Tingkatnya Go Hian sama dengan Pek Cut sedangkan namanya tersohor berimbang dengan nama In Gwa Sian.
Ketika undangan dikirim yang diharap ialah Go Hian akan mengirim beberapa orang wakilnya, siapa sangka dia datang sendiri.
Inilah diluar dugaan.
Maka Pek Cut dan In Gwa Sian menjadi heran.
Walaupun demikian tanpa ayal mereka menyambut dengan hormat kedatangan Go Hian, bahkan Pek Cut mengajak para Tianglo dari Kam Ih dan Tatmo Ih.
Yang luar biasa, walaupun mereka sama-sama ternama, ketiga orang itu belum pernah bertemu satu dengan lain, artinya mereka belum pernah berkenalan.
Pek Cut beramai menyambut ditempat yang jauhnya lima lie dari kuilnya.
Selagi menantikan, ia dan rombongannya melihat bagaimana dua orang muridnya yang bertugas menjaga diarah itu tengah memimpin rombongan tamutamunya, tujuh orang imam yang mengenakan Topauw, jubah keimaman serta punggungnya masing-masing menggendong pedang, cepat jalannya para tamu itu seperti lari, hingga kedua penyambutnya yang mesti mendahului mereka pada bermandikan keringat, padahal waktu itu musim dingin.
Setibanya rombongan itu, Pek Cut maju paling depan untuk menyambut, ia sudah lantas berhadapan dengan seorang imam tua dengan janggut panjang hingga ke dada dan jubahnya hijau muda, sembari tertawa ia berkata ."Lolap toh berhadapan dengan Go Hian Totiang, bukan?
Maaf muridku telah tak jelas membawa berita, hingga lolap tak tahu bahwa yang tiba totiang sendiri hingga tak dari jauh-jauh lolap menyambutnya..."
Imam itu tersenyum, ia membalas hormat sambil menjura.
"Tak berani, tak berani pinto menerima kehormatan demikian besar!"
Kata dia merendah.
"Pinto datang bersama dua saudara seperguruanku serta ke empat muridku, supaya mereka itu mudah diperintah-perintah."
"Lolap tak berani, lolap malu akan mendengar kata-kata diperintah-perintah itu."
Berkata Pek Cut merendah.
"Kedatangan totiang saja sudah membuat kami sangat girang dan bersyukur dan kami mengharap semoga berkat nama totiang yang besar kita dapat membasmi kawanan bajingan luar lautan itu supaya kita dapat melindungi kesejahateraan rimba persilatan seluruh tionggoan!"
Go Hian merendah, kemudian ia perkenalkan kedua sute, adik seperguruannya itu, maka Pek Cut pun saling memberi hormat dengan Seng Hian dan Leng Hian yang baru berusia empat puluh lebih, rambutnya hitam , matanya tajam.
Setelah itu ia yang ganti memperkenalkan para Tianglonya serta Pat Pie Sin Kit juga.
Go Hian semua pernah mendengar nama besar si pengemis aneh, ia tertawa sambil mengurut-urut janggutnya, dengan ramah ia berkata ."Sudah lama pinto tak dengar nama Tayhiap banyak disebut orang, kali ini karena ancaman terhadap kaum rimba persilatan, tayhiap sudi hadir disini, pinto bersyukur sekali.
Pasti kaum rimba persilatan juga akan bersyukur seperti pinto!"
Imam itu memanggil Tayhiap kepada pengemis cabang atas itu.
"Sebenarnya namaku itu nama kosong belaka!"
In Gwa Sian merendah.
"Tak berani aku si pengemis tua menerima panggilan Toheng ini. Adalah kami yang sangat bersyukur bahwa Toheng sebagai seorang ketua partai yang namanya besar bagaikan gunung Tay San, telah sudi menghargai kami dengan kehadiran Toheng beramai disini guna bekerja untuk kaum rimba persilatan tionggoan!"
Tiba-tiba Go Hian menghela napas.
"Sebenarnya pihak kamipun telah mendengar perihalnya kaum bajingan luar lautan itu sudah mendatangi Tionggoan,"
Katanya masgul.
"Hanya diluar dugaan kami bahwa bergeraknya mereka begini cepat. Siauw Lim Sie dan Bu Tong berasal dari satu kaum, kita bagaikan gigi dan bibir, maka itu jangan kata Siauw Lim Pay yang mengundang, biarpun cuma Pek Cut Taysu sendiri, Bu Tong Pay sudah seharusnya dapat memberi jasanya yang tak berarti. Itulah sebabnya kenapa pinto setelah menerima surat undangan, sudah lantas berangkat kemari!"
"Terima kasih, terima kasih!"
Pek Cut balas menjawab.
"Toheng beramai sudah melakukan perjalanan jauh, itulah artinya penderitaan, maka itu silahkan kita pergi kegubuk kami supaya kami dapat menyambutnya sebagaimana layaknya tuan rumah. Perkenankanlah lolap memimpin jalan!"
Berkata begitu, benar-benar Pek Cut memutar tubuh buat bertindak pergi, maka In Gwa Sian lantas mengikutinya, hingga mereka lantas diikuti oleh para tamunya.
Disepanjang jalan, asal bertemu pendeta, semua pendeta itu menghunjuk hormat dan mengucapkan selamat datang.
Mereka ini mengagumi pihak Bu Tong Pay, sebab mereka tahu nama Seng Hian dan Leng Hian sangat tersohor sebagai ahliahli pedang, kalau mereka itu lihai, pasti lihai pula Go Hian sebagai suheng dan cianbunjin partai.
Pak Cut mengajak tamunya berkumpul di Tatmo dimana sudah lantas disajikan barang barang hidangan , delapan orang kacung bersiap melayani mereka, sedang diluar ruangan berkumpul dua ratus orang pendeta sebagai pengawal kehormatan.
Pula telah diperdengarkan bunyi tetabuhan diwaktu mereka menyambut tetamu, semua memuji ."Amidha Budha!"
Itulah cara penyambutan besar dari Siauw Lim Sie terhadap tetamunya yang dipandang agung, melihat hal itu Go Hian beramai bangkit untuk mengatakan dengan merendah bahwa ia tak sanggup menerima penghormatan itu.
"Inilah melulu disebabkan bersyukurnya kami, karena seorang ketua partai besar seperti Bu Tong Pay telah sudi datang mengunjungi Tiong Gak,"
Kata Pek Cut.
"Silahkan duduk, mari mengeringi tiga cawan!"
"Biar bagaimana kedatangan kami ini adalah hal yang biasa,"
Berkata Go hian.
"Tadinya pinto sudah mengambil keputusan buat hidup menyendiri, guna menyingkir dari segala keruwetan tetapi sekarang tidak."
"Demikian juga maksud kami dari Siauw Lim Pay,"
Kata Pek Cut.
"Murid-murid kami banyak yang merantau, tetapi mereka itu telah dipesan untuk tidak sembarangan melakukan pembunuhan, siapa tahu kami toh disatroni kawanan bajingan luar lautan itu..."
Lantas ketua Siauw Lim Sie menjelaskan bagaimana muridmuridnya kena dibokong dengan racun bahkan ada dua yang dipenggal batang lehernya!
Mendengar keterangan itu, alis Go Hian terbangun, itulah tanda dari kemurkaannya.
"Kawanan bajingan itu tinggal terpisah dari kami jauhnya laksaan lie, tetapi siapa tahu mereka toh datang menyatroni,"
Pek Cut melanjutkan.
"Maka itu teranglah maksud mereka bukan untuk membasmi Siauw Lim Sie saja. Itulah sebabnya kami membuat undangan umum buat mengajak sesama kaum persilatan bekerja sama guna menantang dan mencegah berhasilnya maksud jahat rombongan itu."
"Itupula sebabnya kenapa kami datang kemari."
Go Hian memberi kepastian. Kami mengerti ilmu silat cuma kulitnya saja, karenanya kami bersedia menerima pelbagai perintah.
"Toheng hanya merendah,"
Berkata Pek Cut.
"Siapa yang tak pernah mendengar nama Bu Tong Siang Kiam? Kedatangan Toheng beramai ini membuat kami merasa sangat mendapat muka!"
"Bu Tong Siang Kiam"
Ialah sepasang jago pedang dari Bu Tong Pay. Berkata begitu Pek Cut menghela napas, lalu ia menambahkan.
"Sebenarnya, apabila tidak ada In Tayhiap yang mendesak kami, tak berani kami turut membuat undangan umum ini....."
Go Hian mengalihkan pandang matanya dari pendeta itu kepada si pengemis tua, lekas-lekas ia berkata.
"Pinto malas sekali, sudah beberapa puluh tahun tak pernah pinto merantau, karena itu pinto cuma mendengar saja nama tayhiap banyak disebut orang, tapi hari ini kita dapat bertemu muka, sungguh pinto banyak bersyukur!"
In Gwa Sian tersenyum.
"Namaku si pengemis cuma nama kosong belaka,"
Bilangnya.
"Tak berani aku menerima pujian dari Toheng."
"Dijaman ini siapakah yang tidak kenal Tek Cio Siangjin, Heng San Kiamkek dan Pat Pie Sin Kit tiga orang besar?"
Kata pula imam dari Bu Tong Pay itu.
"Pinto pun telah mendengar halnya saudara In bersahabat erat dengan Tek Cio Totiang, maka itu dalam urusan kita ini tentunya Siangjin pun turut diundang. Kapankah kiranya Siangjin bakal tiba, supaya pinto dapat bertemu dengannya?"
"Tek Cio sihidung kerbau adalah orang paling aneh,"
Sahut In Gwa Sian, yang menghela napas.
"Sudah sejak setengah tahun lalu dia telah pergi jauh."
Tiba-tiba saja pengemis ini menghentikan kata-katanya itu. Itulah disebabkan ia ingat akan sebutan "sihidung kerbau"
Itu.
Ia sudah keterlepasan ngomong.
Bukankah ketujuh tamunya ini imam seperti Tek Cio sahabatnya itu?
Ia tersenyum jengah, terus ia menutup mulutnya.
Agaknya Go Hian tidak menghiraukan kata-kata "sihidung kerbau"
Itu, dia tersenyum ketika dia melanjuti bicara. Kali ini dia tanya. Heng San Kiamkek turut diundang atau tidak.
"Katanya dia sangat lihai dengan sebatang pedangnya,"
Ia menambahkan.
"Kalau dia turut diundang, pasti kita akan berhasil membasmi kawanan bajingan luar lautan itu."
"Kami memikir buat mengundang Heng San Kiamkek, tapi tak dapat,"
Pek Cut mewakili In Gwa Sian menjawab.
"Sekarang ini ia tak ketentuan tempatnya, jadi sukar untuk mengirimkan undangan kepadanya."
Go Hian agak menyesal, tetapi ia tidak bilang apa-apa.
Demikian mereka berjamu sembari memasang omong.
Selang satu jam, perjamuan itu ditutup, terus Pek Cut mengantarkan para tetamunya kekamar yang sudah disediakan buat mereka itu.
Hingga selanjutnya Go Hian semua berdiam didalam kuil Siauw Lim Sie itu.
Waktu berjalan dengan cepat, tibalah tanggal sembilan bulan pertama.
Sekalian pendeta yang diutus menyampaikan surat undangan sudah pada pulang dengan saling susul.
Sedangkan para undangan telah datang silih berganti.
Diantaranya adalah Uan Tio Siang Can yang belum tiba.
Cuma mereka itu terhitung orang-orang dari kalangan sesat bukan luruspun bukan.."
Pada suatu hari In Gwa Sian pergi ke belakang gunung, kegubuk kedua nona.
Selekasnya dia masuk kedalam gubuk, dia jadi terkejut saking herannya.
Ini disebabkan dia mendapati mereka itu lagi bersiap berkemas untuk berangkat.
"Eh, eh, anak-anak!"
Tegurnya heran.
"Kemana kalian hendak pergi?"
Kiauw In dan Giok Peng tidak menjawab pertanyaan itu, mereka terus berkemas-kemas. Pengemis tua itu mengawasi tajam, lalu dia menengadah ke langit dan tertawa lebar.
"Kalian berdua, kalian sangat nakal"
Katanya nyaring. Dia tidak gusar walaupun dia seperti dipermainkan.
"Sekarang kalian menjadi gagu agaknya. apakah kalian mau main gila? apakah kalian memberikan teka-teki kepadaku si pengemis tua supaya aku menerkanya?"
Sekali lagi dia tertawa. Kiauw In mencibir mulutnya. Tiba-tiba diapun tertawa.
"Aku tidak gagu!"
Sahutnya. Dan ia tertawa pula.
"Jika paman hendak menebak silahkan menebak!"
Giok Peng sementara itu berulang kali mengedipkan matanya pada si kakak, maksudnya mencegah orang membocorkan "rahasia"
Supaya rencana mereka jangan gagal, akan tetapi Kiauw In berpura-pura tidak melihatnya, ia tetap dengan tingkahnya itu hingga membuat si adik Peng heran dan ragu-ragu.
Dengan sepasang matanya yang jeli Giok Peng terus mengawasi kakaknya itu.
In Gwa Sian sebaliknya tidak memperhatikan atau lebih tepat tidak memperdulikan gerak geriknya Giok Peng itu, bahkan dia sudah lantas mengulurkan tangannya mencekal Kiauw In sembari berkata keras.
"Anak In, apakah kau sangka aku tidak tahu? Hm! Kalau kalian berdua bukannya hendak pergi mencari dia, siapa lagi?"
Kiauw In tertawa seenaknya saja.
"Dia siapa?"
Tanyanya. Sedikitpun ia tak nampak likat atau jengah. Si pengemis tua tertawa lebar.
"Dia siapa?"
Ia mengulangi.
"Siapa lagi! Dialah anak Hiong!"
Kedua nona saling mengawasi, mereka tersenyum.
"Mana dapat kalian mendustai aku si orang tua?"
Berkata In Gwa Sian.
"Janganlah berpikir demikian! Ketika anak Hiong meninggalkan gunung, didalam suratnya sudah ditulis jelas bahwa lain tahun bulan pertama tanggal lima belas dia bakal kembali ke Tiong Gak, maka jika kalian hendak pergi asalasalan untuk mencarinya, pikiran kalian itu pikiran tolol!"
"Paman keliru!"
Berkata Giok Peng.
"Walaupun benar kami hendak mencari seseorang, tapi dia bukanlah adik Hiong!"
Pat Pie Sin Kit melengak sejenak, terus dia berpikir.
"Habis anak Peng, siapakah yang hendak kalian cari?"
Tanyanya.
"Lekas bilang!"
Si nona tapinya menggeleng kepala.
"Anak tak akan memberitahukan,"
Sahutnya. Pengemis tua merasa aneh. Ia mengawasi kedua nona bergantian, kebetulan Giok Peng tunduk untuk merapikan bajunya, ia lalu tarik lengan Kiauw In buat diajak pergi keluar.
"Anak In, apakah kalian hendak pergi bersama?"
Dia tanya sungguh-sungguh setibanya dihalaman luar.
"Jangan kau membohongi padaku!"
"Anak cuma akan mengantarkan dia,"
Sahut Nona Cio.
"Anak sendiri mempunyai tempat tujuan lain?"
In Gwa Sian menjadi heran, ia bingung. Ia mengurut-urut kumisnya dengan tidak tahu harus bilang apa, ia berdiam saja.
"Anak telah bicara jelas!"
Berkata Kiauw In menegaskan.
"Paman tak akan bertanya tanya pula, bukan?"
Lantas si nona membalik tubuh untuk kembali kedalam, terus ia menurunkan pedang yang tergantung ditembok lalu diletakkannya dimeja, kemudian ia membantu Giok Peng merapikan buntalannya.
In Gwa Sian sudah lantas kembali kedalam sambil bertolak pinggang, ia berdiri di depan kedua nona.
"Karena kalian tidak mau bicara, aku juga tidak akan memaksa!"
Katanya dengan suara tinggi.
"Tapi sekarang kalian harus terangkan padaku, kalian hendak berangkat hari ini atau besok?"
Giok Peng mengangkat kepalanya.
"Kami akan berangkat besok!"
Sahutnya singkat. In Gwa Sian menghela napas.
"Kalian mau pergi juga, nah pergilah, kalian bebas!"
Katanya.
"Hanya kalau nanti anak Hiong kembali kesini, apakah kata kalian? Kalian ada pesan atau tidak? Bicaralah!"
"Tidak!"
Menjawab kedua nona berbareng, singkat.
Mendengar itu, tanpa terasa si pengemis menggeleng kepala, dan tanpa bilang apa-apa lagi dengan perlahan ia bertindak keluar....
Selekasnya orang berlalu, Kiauw In tertawa, bahkan sambil bertepuk tangan, katanya.
"Adik Peng, hari ini kita dapat menggoda paman In!"
"Tetapi paman mengatakan hal yang benar"
Giok Peng bilang.
"Kalau benar adik Hiong pulang dalam beberapa hari ini, bagaimana?"
"Mungkinkah dia akan pergi mencari kita?"
Kiauw In menenangkan.
"Adik Peng, kau cuma memikirkan dia seorang, kau sampai melupakan urusan besar!"
Giok Peng menubruk kakaknya itu.
"Kakak, kakak, aku tidak mau!"
Katanya.
"Kakak kau permainkan aku! Ah, aku tak mau pergi!"
Kiauw In lantas merangkul adiknya itu, hendak ia menggoda namun dibatalkannya.
Karena Hauw Yan yang lagi tidur membalik tubuh untuk menyingkap selimutnya, terus anak itu bangun akan duduk sambil ia memanggil.
"Mama! Mama!"
Giok Peng melepaskan diri, ia lari kepada anaknya itu yang baginya bagaikan mestika. Sambil memeluk anak itu ia berkata.
"Anak, ibumu disini! Apakah kau ingin makan?"
Hauw Yan merangkul leher ibunya itu.
"Mama, kenapa ayah masih belum kembali?"
Tanyanya. Ditanya lain, ia menjawab lain.
"Mama, lekas cari ayah, ajak ayah pulang! Hendak aku mengajak ayah pergi kegunung memetik buah!"
Kiauw In menghampiri ibu dan anak itu, menepuk-nepuk lengan Hauw Yan.
"Hauw Yan"
Katanya sabar.
"Besok bersama ibumu akan aku ajak pergi mencari ayahmu, sekarang jangan kau ganggu ibumu."
"Aku tidak mau ikut"
Kata anak itu yang merangkul terus pada ibunya.
"aku hanya ingin mama mencari ayah!"
Kiauw In menyilangkan tangan di muka bocah itu.
"Kau lihat,"
Katanya.
"Kau sekarang telah berusia lima tahun! Tak malukah kau selalu mencari ayah dan ibumu?"
Hauw Yan memegang tangan orang, untuk dibawa kemulutnya buat digigit! "Haha!"
Tertawa Kiauw In.
"Kau nakal ya? Bagaimana kau hendak menggigit tangan otang?"
"Habis aku dilarang mencari ayah...."
Kata anak itu.
"Huss!"
Giok Peng mengasih dengar suara Hauw Yan lantas tertawa.
Malam itu Giok Peng meniduri anaknya, lalu ia duduk bersama Kiauw In, membicarakan rencana mereka.
Sebenarnya mereka itu disamping rencana mereka, juga mau bekerja masing-masing.
Rencananya Kiauw In begini .
Kiauw In menerka Hong Kun yang mencuri kitab, ia ingin Giok Peng yang mengambilnya kembali, caranya yaitu Giok Peng harus bersikap baik terhadap Hong Kun dan memberinya pengertian.
Kitab itu mesti didapat pulang, kesatu supaya tidak hilang, kedua agar mereka bertiga dapat bersama-sama memahami dan meyakininya.
Tak dapat isi kitab itu dipelajari orang lain karena akan sangat berbahaya bagi rimba persilatan.
Pertemuan diantara Giok Peng dan Hong Kun itupun perlu guna memutuskan tali asmara diantara mereka berdua, supaya It Hiong tidak terganggu lebih jauh.
Mulanya Giok Peng menolak rencana tersebut, akhirnya ia kena bujuk dan menyetujuinya.
Mereka akan pergi bersama, tetapi Kiauw In mau terus pulang ke Pay In Nia guna mendapat kepastian, It Hiong telah pulang kegunungnya atau tidak.
Mereka mengharap akan kembali ke Tiong Gak tanpa terlambat, agar mereka dapat menghadiri rapat besar demi membantu Pek Cut.
Rencana itu tak mau dibocorkan walaupun terhadap In Gwa Sian.
Merekapun akan berangkat besok pagi secara diam-diam.
Selesai bicara mereka memadamkan api dan terus tidur.
Tengah malam itu datang angin utara yang hebat, hingga saling beterbangan membuat hawa menjadi dingin luar biasa.
Angin itu tak mau berhenti, daun jendela diserbu berulang
KANG ZUSI website
http.//cerita-silat.co.cc/ ulang.
Hauw Yan tak dapat tidur, sebentar-sebentar dia memanggil ibunya, hingga Giok Peng turut menjadi sukar tidur pula.
Kiauw In pun mendusin dengan terperanjat.
Ia menanti sampai jam lima.
Diluar dugaan angin menderuderu lebih kencang hingga hawa menjadi dingin hampir tak dapat dilawan.
Akhirnya Giok Peng lompat turun dari pembaringannya, ia iangin menyalakan api.
Tiba-tiba dari arah pintu gerbang kuil, terdengar riuh suara genta hingga membisingkan telinga, memecah kesunyian malam dan membuat hati orang gentar...
Mengerti bahwa itulah genta kuil yang merupakan tanda bahaya, Giok Peng lantas menolak tubuh Kiauw In untuk dibangunkan, terus membisiki sang kakak agar sang kakak memasang telinga.
Alis nona Cio rapat satu dengan lain, dengan cepat ia meniup dan memadamkan api untuk terus membisiki kawannya.
"Pastilah kawanan bajingan dari luar lautan itu telah datang menyerbu pula secara membokong! Lekas kau gendong Hauw Yan, aku sendiri mau keluar untuk melihatlihat!"
"Kakak lebih baik kita pergi bersama."
Giok Peng berkata.
"Aku kira tidak ada halangannya kalau kita membiarkan Hauw Yan tidur seorang diri..."
Ia lantas menghampiri anaknya untuk membisiki telinganya, kemudian ia menjemput dua batang pedang diatas meja, satu dikasihhkan pada kakaknya.
Kiauw In menyambuti.
Lantas keduanya pergi keluar.
Habis menutup pintu mereka memecah diri ke kiri dan kanan berlalu sambil saban-saban mendekam.
Giok Peng pergi ke kiri, habis memutari rimba ia menuju kepondokan belakang yaitu Lohan Tong.
ruang Arhat tempat para pendeta belajar silat yang lantainya beralaskan batu persegi, hanya ubinnya sudah tidak rata bekas latihan keras dari banyak tahun.
Syukur ia pandai ilmu ringan tubuh dan matanya awas, ubin tak rata itu tidak menyusahkannya.
Ruang itupun mendapat penerangan dari cahaya rembulan, sebab saat itu si putri malam sedang terangnya.
Lentera didalam ruang tidak dinyalakan rupanya sudah dipadamkan, tetapi ditubuh delapan belas patung arhat nampak cahaya cukup nyata, semua berdiam ditempatnya masing-masing dalam kesunyian ruang itu.
Diluar situpun tidak ada orang, kecuali angin yang menggoyang-goyang pohon-pohon bambu dan menimbulkan suara gesekannya.
Ketika itu suara genta sudah berhenti, rupanya gantinya adalah suara berlarinya sepatu dari beberapa puluh pendeta dari dua pendopo depan berlari-lari kehalaman luar.
Suara itu tak lama lantas hilang.
Disaat Giok Peng hendak melintasi pendopo Tay Hiong Pothian mendadak ia ingar putranya, ia menjadi ragu-ragu, tengah ia berpikir matanya melihat satu bayangan berkelebat disebelah kiri pintu Pekarangan, bergeraknya sangat pesat hingga sukar dilihat dengan jelas, karena itu ia menjadi curiga, segera ia melompat menyusul, pedangnya diputar guna melindungi dirinya.
Setelah melewati pintu, Nona Pek melihat sebuah taman kecil yang berdampingan dengan sekelompok kamar pendeta.
Itulah halaman barat.
Ia melintasi halaman itu, dari sini ia memutar ke pendopo Tay Hiong Po-thian dan di depan sana letaknya pintu gerbang.
Ia lompat naik keatas genteng terus melintasinya.
genteng itu penuh salju, lantas ia tiba ditepian payon.
Dibawah itu ada sebuah pohon bwe yang bunganya putih sedang mekar.
Disini sinar putih dari salju membuat sekitarnya terang.
Selagi Giok Peng hendak lompat turun, mendadak kakinya yang sebelah terpeleset salju, berbareng dengan mana dari samping menyambar segumpal benda.
Ia menerka kepada bokongan orang jahat.
Maka ia berteriak.
"Jahanam, jangan curang!"
Sambil membentak ia berkelit seraya melompat turun kehalaman.
Baru ia meletakkan kakinya, serangan sudah datang lagi, kali ini terus bertubi-tubi.
Celakanya halaman itu penuh dengan es hingga sulit menaruh kaki disitu.
Pada saat terancam itu, Giok Peng berlaku cerdik dan cepat.
Ia putar pedang di depannya, menghalau setiap serangan gumpalan salju, dilain pihak ia lompat mundur kepohon guna melindungi diri di belakang pohon itu.
Ia berlompatan dengan gerakan "Walet pulang sarang".
Hebat serangan gelap itu, walaupun senjatanya cuma gumpalan es, batang pohon terhajar hingga terdengar suara berisik dan cabangnya pada bergoyang-goyang, hingga salju diatasnya berjatuhan bagai hujan.
Untuk menghindarkan diri lebih jauh, nona Pek berlompatan lagi kesamping, kali ini dengan gerakan "Walet Menembus Tirai".
Ia jadi berada di depan sebuah pendopo.
disitu tergantung sebuah genta yang besar yang biasa digunakan sebagai pertanda untuk para pendeta bersantap pagi dan sore.
Disitu Giok Peng berpikir dengan cepat.
Tay Hiong Po-thian sunyi, demikian juga pendopo kiri kanannya.
Kemanakah perginya semua pendeta?
Bukankah musuh tengah menyerbu?
Apakah mereka terkena tipu daya musuh "Memancing Harimau Meninggalkan Sarang"?
Itulah berbahaya.
Itu artinya kuil kosong.
Maka ia memikirkan untuk membunyikan genta.
Tapi terlalu berbahaya jika ia harus mengambil tambang yang dikaitkan sebuah martil kecil alat untuk memukul genta, ia lalu mengayun kakinya menjejak genta itu!
Segera terdengar suara nyaring berisik, berulang-ulang yang terdengar sampai ketempat yang jauh.
Hanya belum berhenti suara genta itu, tiba-tiba dari belakang pohon terdengar sebuah suara menghina.
"Nona kecil, para pendeta sudah kabur semuanya, maka itu kau biarlah aku yang melayani."
Giok Peng terkejut.
Inilah yang tidak ia sangka.
Ia menerka, suara itu tentulah dikeluarkan bayangan tadi.
Belum lagi ia memberi jawaban, kembali ia dibuat kaget sekali, kali ini dengan menyambarnya seutas tali yang panjang, yang mengancam menjerat lehernya.
Dalam kagetnya, Giok Peng membela diri.
Ia menunduk sambil pedangnya disabetkan keatas ke arah tali itu untuk memapasnya putus.
Ia menggunakan tipu tebasan "Membisakan Awan dan Halimun", karena ia mendongkol, iapun mendamprat.
"Jahanam tak punya muka! Lihat senjata nonamu!"
Orang yang bersembunyi itu tertawa mengejek, terus ia berkata.
"Haha, malam ini aku datang sengaja untuk menjengukmu nona! nona yang baik, kau tahu sendiri, para pendeta itu adalah bangsa orang suci yang tak menghendaki istri, mereka itu beda dengan aku, Haha! Nona baiklah kau ikut aku ke pulau To Liong To untuk hidup senang dan bahagia! Pulauku itu jauh lebih hebat dari pada kuil sunyi ini. Dan kau akan jauh lebih berbahagia daripada mengikuti kawanan pendeta itu!"
Kata-kata orang itu membuat nona Pek gusar sekali, hatinya amat panas, hampir ia membalas mendamprat tapi ia batalkan begitu mendengar disebutnya nama To Liong To, pulau naga melengkung.
Jadi benar penyerbu ini orang luar lautan, pastilah datang dalam jumlah besar.
Maka mereka itu tidak boleh dipandang ringan.
Para pendeta pun belum pada kembali.
"Baiklah aku layani dia bicara, barangkali saja aku bisa mendapat tahu siapa dia sebenarnya..."
Demikian pikirannya. Maka tenanglah hatinya. Maka ia melanjutkan menjejak lagi genta itu dilain pihak ia membuka suaranya, katanya.
"Kalau kau benar orang kosen dari To Liong To, kenapa kau memasuki kuil seperti maling? Bukankah selain kau masih ada konco-koncomu yang lain?"
Orang didalam gelap itu telah menarik kembali talinya, ia tahu setelah gagal kali yang pertama, yang kedua kali pasti tak ada gunanya.
Ia ternyata berada diatas pohon, dari atas itu ia mengeluarkan juga suaranya.
"Eh nona, apakah kau tak kenal sebuah pepatah kuno "Perang tak pantang haram". Kau harus ketahui, kami yang datang maksud kami tidak baik tak nanti dia datang menyambuti. Mari nona, tuan besarmu Cut Tong Kauw, Thie Siong Kang tak dapat menanti lama! Mendengar suara orang itu, tahulah Giok Peng bahwa manusia ceriwis itu ialah si "Ular Naga Keluar dari Gua" (Cut Tong Kauw), tapi belum sempat memberi jawaban musuhnya itu sudah menggunakan pula tali bandringannya. Hanya kali ini dia bukan mengarah leher melainkan hanya melayangkan talinya dari kiri ke kanan untuk melilit tubuh. Mulanya Giok Peng mau menebas, namun ia melihat ujung tali itu tanpa kepalanya yang bundar, ia lantas menerka kepada tipu daya jago To Liong to itu. Maka ia batal menebas. Ia menjejak genta untuk membuat tubuhnya melesat. Begitu lekas ia menyingkir, begitu lekas juga genta itu kena terlibat tali musuh dan tertarik keras hingga gentanya berbunyi nyaring. Menyaksikan hal itu tahulah si nona bahwa Thie Siong Kang bertenaga besar sekali. Iapun lantas memikirkan daya buat berlalu dari situ. Dengan musuh berdiam diatas dan ia dibawah , ia terancam bahaya. sebab ia kalah kedudukan yang baik. Ia lantas memutuskan untuk menanti kembalinya para pendeta... Tanpa ragu lagi Giok Peng berlompat sejauh dua tombak hingga ia berada dekat dengan pintu gerbang, lagi satu lompatan ia akan berada disebelah luar. Tapi ketika ia melihat pintu, ia heran. Disitu telah bertumpuk banyak batang pohon yang panjang dan pendek. Umpama kata mirip bukit. Pasti berabe sekali andiakata ia mesti singkirkan semua rintangan itu. Terpaksa ia mencari jalan keluar lainnya. Begitulah ia putar pedangnya sambil ia membentak.
"Jahanam hendak aku mengadu jiwa denganmu!"
Walaupun demikian ia menempelkan tubuhnya pada tembok sambil jalan dan melindungi dirinya disisi tiang pendopo.
Setelah itu ia lompat untuk sampai dipendopo Tay Hiong Pothian.
Ia hendak lewat pendopo belakang guna melintasi deretan kamar dan keluar dari situ....
Thie Siong Kang ternyata pintar sekali.
Dia telah menduga si nona telah tertutup jalan majunya dan pasti bakal mundur teratur, maka dia lantas menjaga dipendopo.
Untuk itu dengan gesit dia lompat turun dari atas pohon dan terus menempatkan dirinya.
Maka ketika Giok Peng datang mendekat, mendadak dia menggunakan tali bandringannya sambil dia berseru.
"Nona yang baik, baiklah kau letaki pedangmu, supaya dengan baik kau turuti aku! Percayaitu aku Cut Tong Kauw, tidak nanti akan menyia-nyiakanmu. Pulau To Liong To gunungnya indah permai, barang makanannya lengkap dan lezat! Semuanya sedia untuk kau cicipi dan makan sepuasnya! Anginnyapun sejuk dan gelombangnya tenang, hingga pastilah kita bergembira andiakata kita berdua naik perahu akan berpesiar bersama-sama! Setiap hari akan aku temani kau selalu! Nah, marilah kita... Tak sudi Giok Peng kena ringkus tali itu, juga tak mau ia menyambutinya dengan pedangnya, hanya setelah menanti hampir tibanya ujung tali, mendadak ia lompat mencelat untuk menjauhkan diri. Pedangnya diputar buat melindungi diri. Itulah salah satu jurus dari ilmu pedang Khie Bun Pat Kwa Kiam. Selekasnya ia bebas dari ancaman tali bandringan itu, iapun lompat melesat justru ke arah musuh itu, jago To Liong To itu justru sedang terbuka dadanya sebab dia lagi membandring si nona. Tapi dia benar-benar kosen, walaupun seperti dibokong itu masih dapat ia mengelakkan diri.
"Bagus"
Dia berseru.
Bukannya dia menangkis, dia justru mencelat pergi, berkelit dari serangan yang berbahaya itu.
Segera dia bertindak dan menatap lawannya, mtanya melirik tajam.
Menyusul itu dia bertindak maju sambil tertawa dia menantang.
"Nona yang baik, jangan kelewat kasar! Mari maju lagi!"
Kembali Siong Kang menggunakan tali bandringannya yang lihai itu.
Nampaknya dia ingin memberi hormat, sebenarnya dia bersiap untuk melanjutkan serangannya.
Disaat itu dia bersikap sombong dan wajahnya menunjukkan kejumawaannya.
Giok Peng mengawasi dengan tajam.
Ia mengerti bahwa ia terancam bahaya kalau ia kurang jeli dan kurang gesit.
Ia mendongkol maka mukanya menjadi bersemu merah.
Siong Kangpun mengawasi si nona itu yang dimatanya tampak semakin cantik dan manis.
Dia memang seorang bajingan yang berparas elok.
Baca Juga: Bakti Pendekar Binal Khu Lung
Baca Juga: Naga Kemala Putih 1