Eps 12 Hong Lui Bun - Khu Lung
Baca online Hong Lui Bun - Khu Lung
Cersil Hong Lui Bun - Khu Lung.
Ditengahjalanpedangnya berobah denganjurus Pek-coa tosim ( ularputih menjulurkan lidah ) menusuk lurus keJiau-kin hiat dipundak Le Bun.
"Dengan melangkah Ling-hipou Le Bung mengegos ke kanan sambil mengendap tubuh, berbareng tangan kanan menggentak seruling putih untuk mengetuk pedang lawan. Padahal serangan Hoan Kiang .soat hanya gertakan belaka, serangan ditengahjalan sementara seruling lawan sudah mengetuk tiba, lekas dia melintir pedangnya sambil menarik mundur, berbareng kaki pindah posisHingga tubuh berputar, maka pedangnya bergerak dengan perubahanjurus Sip llto-so menusuk cacat nadi dipergelangan tangan Le Bun. Seruling Le Bun menyerang tempat kosong, sementara ujung pedang lawan sudah balik mengancam dirinya, lekas dia mengendap badan menarik tangan sambil berkelit kekanan, berbareng seruling ditangan kanan terangkat menutuk Thay-yang-hiat Hoan Kiang soat. Gerak geriknya aneh cepat lagi, serulingnya membawa desing suara melengking, ternyata Le Bun mulai kerahkan Ka H-le-ciH-kh i didalam permainan serulingnya. Belum sempat Hoan Kiang-soat menarik pedang, seruling lawan sudah menutuk tiba, cepat dia kembangkan Ginkang tunggal tiada bandingnya Bu-ing-pcu (langkah tanpa bayangan) berkelebat delapan kakijauhnya tutukan seruling Le Bun berhasil dihindarkan, Bahwa dirinya dua kali terancam hati Hoan Kiang-soat naikpitam, segera dia kerahkan tenaga dalamnya, pedangnya seperti dibanduli benda berat, batang pedangnya memancarkan cahaya biru kemilau seluas dua kilo. Ditengah hardikannya cahaya biru yang mencorong berkelebat, untuk kedua kali dia merangsak maju. Le Bunjuga kembangkan Ginkangnya berseliweran diantara samberan cahaya biru, setiap serulingnya terayun desing suaranya cukup memekak telinga seperti berkutet dengan cahaya biru lawan. Maka kedua pihak sama mengembangkan kecepatan, keduanya s a ling merebut kesempatan ingin dahulu mendahului. Saking cepat gerakan mereka, hakikatnya tidak melihat lagi bentuk bayangan mereka. Yang terang cahaya biru makin menyala, sinar seruling putihjuga berkilauan seperti dua naga yang saling gubat dengan sengit. Lima puluh jurus. Setiap gerakpermainan kedua pihak makin deras dan besar perbawanya, keduanya sudah menampilkan berbagai corak ragam gerakan danpermainannya, namun lawan terdesak dirinyapun terancam, sehingga kedua pihak sama-sama sering menghadapi bahaya yang meng a nca m j iwa. Tanpa terasa seratus jurus sudah mereka beri hantam. gerakan masih cepat dan tangkas, seperti tidak kenal lelah, tiga tombak sekitar gelanggang. hawa seperti bergolak oleh hamburan angin kencang yang ditimbulkan oleh permainan senjata kedua orang yang lagi bertempur. Sekonyong-konyong terdengar suara hardikan nyaring, Dua bayangan orang yang berkutet mendadak melompat berpencar. Kalau Hoan-Kiang-soat tampak tersengal-sengal. Demikian pula Le Bun juga kelihatan payah, Maklum mereka beejuang demi mempertahankan kebesaran nama perguruan. sebelum ada ketentuan siapa kalah dan menang, pertempuran ini tak boleh berhenti. Terutama Hoan Kiang-soat dalam hal tenaga dalam dia insaf dirinya masih kalah setingkat dibanding lawan. namun dia masih punya keyakinan tebal dengan Ginkangnya yang khusus dan tunggal disertai permainan ilmu pedangnva yang aneh menakjupkan, lawan akan diajak bertempur sampai titik da rah terakhir. Ditengah cekikik tawanya yang merdu, tak kelihatan dia menggerakan badan, hanya sekali berkelebat. tubuhnya sudah melambung delapan kaki tingginya. Ditengah udara menekukpinggang hingga tubuhnya berputar laksana seekor burung merakseindah bidadari menari lengan ka nanny a bergerak, cahaya birupedangnya mencorong benderang menabas turun keatas kepala Le Bun. Mata Le Bun silau oleh cahaya biru yang menyala benderang, seolah-olah ada ratusan batang pedang yang sekaligus memberondang dirinya hingga susah dibedakan bagian mana ditubuhnya yang diserang. Lekas dia kembangkan gerakan Lian-hoan-yau-pou,jurus penyelamat jiwa dari Ling-hi-po yang paling lihay, beruntun tubuhnya berkelebat lalu melayang keluar setombakjauhnyai Mau tidak mau Le Bun kagum dan membatin.
"Kiam-hoat darijenis apakah sedemikian lihay ?"
Tengah Le Bun kebingungan, Hoan Kiang-soat sudah mengejar tiba bagai setan gentayangan menyergap dari belakang, dengan deru yang keras ujung pedangnya mengancam Giok-sin-hiat dibelakang batok kepala Le Bun.
Mendengarsuara angin membedakan serangan, Le Bun melenggong sekilas, untung dia tidak pernah gugup meski terancam, sebelum kakinya menyentuh tanah.
mendadak dia menarik napas, kedua tangan menekan kebelakang sehingga tubuh yang melorot turun berhasil didorongnya maju dua kaki sehingga tusukan lawan luput.
Meski melenggong oleh serangan lawan yang lihay tadi, Le Bun naikpitam dan membakar keinginannya merebut kemenangan.
Begitu ujung kaki menutul bumi tubuhnya sudah melejit setombak tingginya, di tengah udara berputar selingkar tubuhnya rebah celentang laksana naga memutar kepala mengegos ekor, dia berbalik menubruk ke a rah Hoan Kiang-soat.
Gerak tubuhnya indah gemulai tidak kalah indah dari gerakan Hoan Kiang-soat tadi.
Ginkang Bu iu-khek memang tunggal dan tiada bandingan, terkenal sejakpuluhan tahun lamanya, Hoan Kiang-soat adalah ahli warisnya yang sudah mempelajari seluruh ilmunya.
Dalam pertemuan di Uisan ini dia kira dengan langkah tanpa bayangan ajaran gurunya yang menunggal diBulim, disertaipermainan pedangnya yang lihay, yakin dapat menundukkan lawan-lawannya serta menjunjung tinggi wibawa perguruannya.
Tak kira setelah beri hadapan dengan Le Bun, baru dia sadar kemampuannya masih kalah seurat dibanding Le Bun, karuan perasaannya menjadi dingin.
semangat tempurnyapun tidak segigih tadi.
Sedikit lena bis a berakibat fatal bagi seorang kosen yang lagi berhantam ditengah arena.
Sekilas melengak itulah seruling putih Le Bun sudah menutuk kepundak kirinya.
Kan le-cin-khi mampu menghancurkan batu keras, begitu serangan yang mampu meretakan batu pilar di lontarkan, dengan senrtirinya kekuatan tenaga dalamnya ikut memberondang keluar karuan Hoan Kiang-soat seperti dicocoki jarum dingin sekujur badannya.
Serangan teramat cepat, untuk berkelit sambil berputar jelas tidak keburu, terpaksa dia kerahkan seluruh tenaga murninya diujung pedang, sekali sendal dengan jurus Hunhoa-hud-liu dengan kekerasan dia menyampuk seruling lawan.
"Cring""
Tidak keras benturan kedua senjata, namun cahaya biru seketika kuncup satu kaki lebih kecil, bayangan orangpun melorotjatuh di tengah gelanggang.
Kan le-cin-khi adalah lwekang sakti dari ajaran murni aliran I fian-bun, Lwekang biasajelas takkan kuat menandangi, tak heran Hoan-Kiang-soat yang mengerahkan seluruh kekuatan diujung pedangnya tak mampu menandingi pertahanannya yang kokoh.
Untung Lwekangnya juga tinggi begitu membentur dan merasakan gelagatjelek lekas dia alihkan getaran pedangnya miring satu kaki, begitu tenaga dalam yang dikerahkan buyar kontan dia jatuh ditengah arena.
Le Bun kira gebraksejurus ini cukup menjatuhkan lawan, tak nyana dikala bahaya pedang lawan berkelebat itulah, Kan-lecin khi yang dikerahkanjuga mendadak macet ditenganjalan.
Mau-tidak mau diapun kagum akan Lwekang lawan yang tinggi.
Bahwa lawan berhasil dipukul mundur sudah tentu semangat tempurnya makin menyala.
Mumpung tubuh Hoan-Kiang-soat melorot turun itulah seruling putihnya terangkat, dengan Kan-le-cin-khi dia merangsak dari belakang.
Serangan susulan ini laksana kilat menyambar, dikala kehabisan tenaga, betapapun Hoan Kiang-soat sukar berkelit menyelamatkan diri, dikala kepepet dan tersudut itulah, secara reflek dia berusaha menolongjiwa dengan menudingkan pedang keatas.
"Cring"
Dering nyaring bergema diangkasa sampai lama, pedang panjangnya ternyata mencelat terbang, Cahaya biru dari pedangnya Hoan-Kiang-soat meluncur satu tombak menancap diatas batu.
gagang pedangnya masih bergoyang dengan g eta ran keras.
Saking kaget Hoan Kiang soat menjerit ngeri dengan muka pucat, keduamata sudah terpejam menerima nasib.
Tujuan daripertemuan inHanyalah bertanding mengukur kepandaian, setelah satu pihak ada yang kalah maka pertempuranpun harus diakhiri, apalagi lawan sudah dilucuti senjatanya, maka sambil melintangkan seruling dan berdiri lurus, Le Bun berkata dengan tertawa.
"Terima kasih, Cici sudi mengalah kepadaku."
Hoan Kiang-soat kira jiwanya takkan selamat dalam pertarungan ini, kenyataannya lawan bukan saja tidak menyakiti dirinya, malah bersikap ramah dan rendah hati, tidak malu sebagai murid guru ternama, timbullah rasa simpatiknya, katanya dengan tawa getir.
"Akulah yang harus terima kasih kau menyelamatkan jiwaku, setulus hati aku mengagumimu, kelak bila ada jodoh, pasti akan kuminta pula petunjuk darimu, sekarang biar aku mohon diri saja"
Setelah menjura hormat segera dia melejit tinggi meluncur kebawah gunung seenteng burung walet.
Untuk merangsak dengan permainan serulingnya barusan Le Bun harus kerahkan Kan lecin-khi dan menguras banyaktenaga maka badan terasa capai.
Disaat dia mengatur napas itulah Yu-ling Kongcu beranjak maju ketengah gelanggang dengan sikap munaflk dia berkata "Sungguh tak nyana.
hanya berpisah beberapa bulan.
kemajuan Lwekang nona sungguh sukar diukur.
Sejak bertemu pertama kaki tempo hari, selalu terbayang wajahmu dilubuk hatiku, pertarungan sering merenggangkan hubungan, maka kuanjurkan pertandingan ini dibatalkan saja-Selanjutnya kita bersama melanglang-buana sebagai sepasang pendekar muda, menjagoi dikalangan Bulim, Adik bagaimana menurut pendapatmu?
Berdiri alis Le Bun, sikapnya seperti muak danjijik, bentaknya marah.
"Kuminta kau tahu diri dan bersikap sopan, siapa adik mu, kalau cerewet lagi jangan menyesal kalau nona turun tangan keji kepadamu."
Yu-ling Kongcu malah berseri tawa katanya.
"Adik Bun kenapa marah dan gelisah, ketahuilah Ping-kokomu sekarang sudah ditangkap dan digusur kekota raja untuk dijatuhi Hukuman, sekarang mungkin sudah berada dalam penjara, Kwi-hun-ceng sudah ditumpas habis olehpasukan negeri, sekarang Se-bong sudah runtuh, Ham ping-kiong dan Lo-huto sudah gugur, dalam Bulim sekarang hanya Tanng ling-s inkiong yang akan menjadi pimpinannya, kuharap adik Bun berpikir lagi ' Ngeri perasaan Le Bun mendengar orang berulang memanggil "adik"
Kepadanya, amarahnya makin membara, apalagi mendengar berita tentang Ping-kokonya, entah betul atau tidak, yang terang kabar ini sudah membuatnya sedih dan sakit hati, a ma rah yang tak terkendali segera dia tumplek kepada Yu-ling Kongcu "Anjing kurap."
Bentaknya beringas.
"lihat serangan."
Seruling putih terayun lurus kedepan menotok Hoakay-hiat didada Yu ling Kongcu. Yu ling Kongcu menyeringai tawa sadis, katanya.
"Tidak sukar untuk berkelahi, baiklah biar Kongcu menemani kau berlatih beberapa jurus"
Sembari mengoceh kaki kiri menggeser kebelakang meluputkan diri dari serangan lawan.
Disaat tubuhnya bergerak itulah tangannya sudah memegang sebatang kipas lempit yang terbuat dari besi, dengan jurusJlo ci-thian lam (menuding langit selatan dengan tertawa) menjojoh urat nadi tangan kanan Le Bun.
Berkelit, mengeluarkan kipas serta balas menyerang dilakukan serempak, memang tidak malu sebagai anak tokoh lihay.
Dengan kesebatan langkahnya Le Bun menarik tangan berputar kepinggir Yu ling Kongcu seruling putih mendesing, tajam berputar disekeIiiing badan Yu-ling Kongcu.
Agaknya amarahnya sudah memuncak, benci dansengit lagi mendengar ocehanpemuda bajul ini, maka serangannya menggunakanJitcoat siau kebanggaan Lam-coat.
Untuk mengembangkan kemurnianJit-coat-siau yang sejati dituntut bekal Ginkang yang tinggi di landasi tenaga Kan le cin khi yang ampuh baru betul -betul dapat memperlihatkan perbawanya.Jangan kata jurus permainannya aneh menakupkan, desing suaranyapun cukup membisingkan telinga bagi yang Lwekangnya rendah, dalam jangka setengah jampasti akan jatuh semaput.
Untung Lwekang Yu-1ing Kongcu cukup tinggi, pengalaman tempurnyapun cukup banyak, tahu lawan yang dihadapi memiliki latihan Lwekang kelas tinggi dari a lira n murni, maka dia tidak berani lengah, seluruh perhatian ditujukan menghadapi permainan seruling lawan-Ginkang ajaran "Tang-ling juga menjagoi kalangan persilatan, dalam setahun ini Yu-ling Kongcu juga berlatih dengan giat dan tekun, sehingga Lwekang bertambah Kungfu makin tinggi, sepenuh tenaga danperhatian dia menghadapi serangan Le Bun, ternyata keadaan sama kuat alias setanding.
Kedua lawan yang bertarung ini merupakanjago-jago top kelas tinggi, permainan mereka cukup cepat dan lihay, begitu cepat gerakan mereka sehingga yang kelih atan hanya dua bayangan hitam dan hitam, perbedaan yang menyolok seperti dua ekor naga yang lagi bergelut dengan sengit, masingmasing mengembangkan ketangkasan, kecerdikan dan kemampuan merebut inisiatif menyerang.
Setiapjurus permainan mereka adalah tipu-tipu lihay yang aneh dan simpanan dari perguruan masing masing, takpernah mereka melancarkan serangan sepenuh tenaga saking cepat mereka bergerak dan menghadapi reaksi lawan disaat menghadapi serangannya, sungguh merupakan pertempuran yang berbeda dengan kebanyakan pertempuranjago-jago silat umumnya.
Lekas sekali seratus jurus telah tercapai.
Le Bun termakan oleh obrolan Yu ling Kongcu sehingga menguatirkan keselamatan sang kekasih, makin serang makin ganas nafsu membunuh telah membakar sanubarinya, kekuatan kan-le-cin-khi dia tambah dua bagian lagi.
Karena itu situasi menunjukan sedikit perobahan-terpaksa oleh Yu-ling Kongcu permainan silat lawan seperti tidak habishabis permainannya, gerak tubuhnya cepat laksana angin lesus yang terlihat hanya bayangan putih tidak kelinatan bentuk badannya.
Lebih celaka lagi desing seruling yang melengking tajam memekak telinga dan seperti menyedot sukmanya.
Karena terdesak, jantung juga tegang, maka seluruh perhatian Yu-ling Kongcu tumplek untuk menghadapi serangan lawan disamping mengendalikan diri terhadap gangguan suara serulingnya dengan berbagai daya upaya dia terus berjuang mempertahankan diri menyelamatkan diri, tidak menyerang tapHanya membela diri saja.
Saat itu hari sudah terang benderang, mereka sudah beri hantam dua ratus jurus banyaknya.
Semestinya mereka sudah merasa lelah danpayah.
Terutama Le Bun yang harus bertempur dua babak, untuk Seng-si-koan dalam tubuhnya sudah tembus, tenaga dalamnya seperti punya sumber yang tak pernah habis saja, maka dia hanya merasa sedikit lelah, tapi tidak sampai kepayahan.
Sebaliknya setelah dua ratus jurus kemudian Yu-ling Kongcu betul-betul sudah letih dan payah, namun rangsakan Le Bun teramat gencar sehingga dia tumplek seluruh perhatian maka tidak disadarinya bahwa kondisinya sudah makin lemah.
Tapi otaknya cerdas banyak akal muslihatnya, dalam keadaan terdesak melulu, dia membatin.
"Kalau begini terus, keadaanku makin payah, bukansaja tiada harapan menang, kesempatan melarikan diripun mungkin tiada lagi."
Setelah mengambil ketetapan mendadak dia berkelebat mundur setombakjauhnya, kedua lengan terulur, ditengah gerungannya, kedua telapak tangannya mendadak berobah hijau lalu meng hitam, maka mengepullah dua gulung kabut gelap dari kedua telapak tangannya.
Makin lama kabut hitam itu makin tebal dan banyak.
setelah dia himpun tenaga dan mendorong maju telapak tangannya, kabut hitam itu menerpa ke a rah Le Bun.
Dari mulut Liok Kiam-ping, Le Bun pernah dengar kelihayan Heksat-ciang dari Tang-ling jahat dan ganas, namun karena baru sekarang dia menghadapinya, maka hatinya bimbang dan setengah percaya, diluar tahunya bahwa ilmu yang dilancarkan Tangling Kongcu sekarang adalah Heksat-ling-lanling yang paling ganas dari Heksat-ciang.
Bila tubuh manusia tersentuh oleh pukulan ini, seluruh tubuh akan membusuk dan jiwapun melayang.
Melihat kabut hitam bergulung-gulung makin melebar memenuhi angkasa, keadaannya lebih hebat dibanding apa yang diceritakan oleh Liok Kiamping, maka tahulah Le Bun bahwa lawan telah memboyong ilmu simpanannya, maka Le Bun tidak meremehkan serangan lawan, lekas dia kerahkan seluruh Lwekangnya, dasarotaknya cerdik danpandai melihat gelagat, Kan-le-cin-khi pun telah dikembangkan untuk melindungi bad an-Untung sebelumnya dia sudah waspada, bila kabut hitam itu sudah menyentuh badan baru dia mengerahkan Kan-le-cin-khi tentu sudah terlambat.
Kabut tebal hitam itu bergolak setengah kaki disekitar badan Le Bun, seperti tertahan oleh dinding baja yang tidak kelihatan lalu buyar tertiup angin lalu.
Walau dia berhasil menahan damparan kabut hitam yang bergolak keras itu, namun IHeksat lan-ling yang membungkus sekujur badannya itu buyar keempatpenjuru.
celaka adalah penonton yang menjadi korban, tidak sedikit yang terjungkal roboh keracunan, ada yang mati seketika tapi tidak sedikit yang sekarat.
sisa yang lain la ri kocar kacir turun gunung.
Melihat Heksat-lang-lin yang paling di andalkan juga tidak mampu merobohkan lawan, Yu-ling Kongcu menjadi nekad, tekadnya mengalahkan musuh makin besar, mendadak dia menggerung keras sambil menghamburkan napaspanjang berulang kali, apipospor laksana kunang-kunang yang diterbitkan oleh pukulan tangannya bukan saja di bawah landasan tenaga dalamnya, didorong oleh tiupan mulutnya yang keras, karuan seluruhnya membrondong kearah Le Bun selebat hujan deras.
Melihat betapa gencar dan dahsyat serangan musuh, kejut dan kuatir hati Le Bun, lekas dia duduk bersimpuh, memusatkan pikiran dan semangat mengembangkan Kan-lecin-khi sampai pada puncaknya untuk menahan serangan musuh.
Betapapun tinggi Lwekangnya, karena sudah bertempur dua babak.
lama kelamaan dia kehabisan tenaga dan makin lemah, untung Seng-si-koan sudah tembus, maka sekuat tenaga dia masih kuat melawan.
Tapi damparan kabut hitam segencar gelombang pasang, makin lama menindih makin berat, jarak yang semula bertahan setengah kaki kini tinggal dua dim lagi sudah akan menyentuh tubuhnya, mungkin setengah jam lagi, kalau tidak mati Le Bun pasti terluka parah.
Disaat genting itulah Liok Kiam-ping tiba dipinggir arena, diapun melihat keadaan Le Bun yang gawat dan berbahaya, lekas dia kerahkan Kim -kong-put-hoay-sin-kang.
selangkah demi selangkah beranjak ke tengah gelanggang.
Kim-kong-put-hoay-sin-kang memang bukan olah-olah saktinya.
dimana dia bergerak kabut hitam yang disertai api kunang-kunang yang beterbangan itu seketika padam dan buyar, sirna tanpa bekas, seperti uap air mendidih yang sirna ditengah udara.
Padahal Yu ling Kongcu sudah tertawa lebar, dia yakin dirinya pasti menang lawan akan dikalahkan dan dibekuk, hanya tinggal waktunya saja, tak nyana disaat yang menentukan itulah ternyata Liok Kiam-ping muncul menggagalkan rencana dan usahanya, setelah melihat yang datang adalah Liok Kiamping, dendam lama sudah membakar hati.
sakit hati baru lebih membakar sanubari, maka dalam hati dia bertekad, hari ini Harus menentukan kalah menang, kalau tidak bisa menang juga harus gugur bersama musuh.
Mendadak dia kerahkan pula tenaganya, seluruh Lwekang yang pernah diyakinkan dia kerahkan sepuluh bagian, maka kunang-kunang biru bertambah banyak dan sinarnyapun makin terang, kekuatannya selipat lebih dahsyat dari tadi.
Akan tetapi Kim-kong-put-hoay-sin-kang adalah ilmu sakti dari aliran Hud yang tiada taranya, umpama Yu-ling Kongcu memiliki Lwekang berlipat ganda dari yang telah dimiliki sekarang juga jangan harap Heksat lan-ling dapat menyentuh badan orang.
Kejap lain Liok Kiam-ping sudah berada didepan Le Bun, legalah hatinya, namun dia harus perhatikan juga Heksat langling-Yuling-Kongcu.
maka belum berani dia buka suara mengajak kekasihnya bicara.
Padahal Le Bun sudah hampir kehabisan tenaga, mendadak dia merasakan tekanan disekitar tubuhnya menjadi kendor, dia tahu seorang telah membantu dirinya, waktu dia mendongak dan membuka mata, Liok Kiamping seperti datang dari tengah angkasa, sungguh senang hatinya bukan kepalang, seperti kejatuhan rejeki nomplok saja layaknya, namun dia sadar kondisinya sudah cukup payah, maka lekas dia pejamkan mata pula dan samadhi memulihkan kekuatan.
Yu-ling Kongcu sudah kerahkan seluruh kemampuannya sehingga Heksat-lan-ling umpama banteng ketaton yang mengamuk, namunjangan kata unggul, ternyata dia merasa terdesak malah.
Maklum diapun sudah banyak keluar tenaga setelah ratusanjurus bertempur lawan Le Bun tenaga dan semangatnya juga sudah loyo, maka Heksat-lan-ling makin terdesak dan kuncup.
Insaf dirinya tiada harapan menang, mendadak kedua bolamatanya melotot beringas, seperti jago ayam dan keok ditengah aduan, tanpa pikirkan keselamatan jiwa raga sendiri, selangkah demi selangkah dia mendesak kearah Liok Kiamping malah.
Tujuannya mendesak masuk ke dalam pertahanan Kim kong-put-hoay-sin kang lawan, lalu dengan kerahkan setaker tenaga racun pospor ditubuhnya mengajak gugur bersama Liok Kim-ping.
Tapi makin dekat pertahanan Kim kong-put hoay-sin-kang langkahnya terasa makin berat, dadanya seperti ditahan oleh tangan raksasa-yang kokoh kuat hingga tubuhnya tak kuasa maju lebih dekat lagi.
Kebetulan saat itu Le Bun selesai bersemedi, semangatnya sudah pulih pikiranpun jernih lekas dia ayun seruling, Kan-le -cinkhi yang dikerahkan membuat seruling putih mencorong cemerlang, laksana bintang sapu yang jatuh menyambar lurus ke dada Yu-ling Kongcu.
Padahal Yu-ling Kongcu sedang kerahkan seluruh tenaganya ingin mendesak maju, tak mungkin dia mampu menghadapi serangan lain yang dilancarkan dari luar, apalagi tenaganya juga hampir ludes, maka dia tidak mampu berkelit, cahaya benderang meluncur tiba, mau berkelit juga tidak mampu lagi.
Kontan mulutnya menjerit kesakitan seperti binatang liar yang tertembus peluru jantungnya.
Seruling jade putih Le Bun amblas menembus dada Yu ling Kongcu "Bluk"
Badannya roboh terkapar, jiwa melayang seketika.
Selincah burung walet pulang kesarangnya Le Bun menubruk ke dalam pelukan Liok Kiam-ping.
keduanya berpelukan dengan kencang, mungkin karena diburu emosi, sekujur badan Le Bun bergetar, mata terpejam, namun air mata meleleh membasahi pipi.
Entah berapa lamanya mereka berpelukan, seolah dunia milik mereka bersama, akhirnya mereka bergandeng tangan saling berpandangan penuh kasih mesra.
Kejap lain mereka sudah berlari bagai terbang turun gunung sambil bergandeng tangan langsung kembali ke Kwi-hun-ceng.
Bila mereka, tiba di Kwi-hun-ceng, markas besar telah terbuka dan diperbaiki pula, pasukan negeri sudah ditarik kembali atas perintah Ka cin-ong.
Sudah tentu bersorak sorai seluruh anggota Hong-lui-pang menyambut pulangnya sang Pangcu bersama Le Bun.
Mendengar Ping-koko pulang sudah tentu Siau Hong tidak mau ketinggalan dengan langkah lebar lekas dia menyongsong maju seraya berteriak senang.
"Ping-koko. Bun-cici, kalian sudah pulang. Baikkah kalian? Terhadap adik cilik yang mungil dan jenaka serta welas asih ini, Le Bun amat sayang, gemas lagi, segera dia peluk Siau Hong dengan penuh pengertian, lalu bertiga mereka bergandengan tangan, Siau Hong disebelah kiri, Le Bun disebelah kanan, mereka berpandangan penuh bahagia. Beberapa hari kemudian Kwi-hun ceng dipajang secara semarak. hari yang telah ditentukan untuk merayakan pernikahan Pangcu mereka Liok Kiam-ping yang sekaligus mempersunting dua gadis jelita pujaan hatinya, yaitu Siau Hong dengan Le Bun. Dunia persilatan aman sentosa Kwi-hun-ceng makin menjulang namanya. Liok Kiam-ping diakui sebagai tokoh yang disegani dan terpandang. TAMAT
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Baca Juga: Pisau Terbang Li Gu Long
Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 12