Eps 11 Hong Lui Bun - Khu Lung
Baca online Hong Lui Bun - Khu Lung
Cersil Hong Lui Bun - Khu Lung.
"Pangcu, menghadapi segala persoalan harus sabar, persoalan ini besar akibatnya, kita harus menghadapi dengan waspada dan hati-hati tempat ini bukan untuk bicara, marilah kita pulang dulu ke kota. Liok Kiam-ping mengangguk. maka mereka beriring keluar dari hutan balik kekota dari arah datangnya tadi. Baru saja mereka tiba diluar kota pintu timur, mendadak terdengar suitan panjang dari dalam kota. Lwekang mereka tinggi mata tajam, dari kejauhan mereka sudah melihat bayangan orang yang bergerak dari berbagai arah meluruk kepintu kota. Tapi langkah Kiam ping bertiga tidak berhenti, mereka terus maju kearah kota, setelah makin dekat tampak orang terdiri dari lima baris ada Tosu, Hwe-sio dan preman dari berbagai perguruan menghadang jalan mereka. Liok Kiam-ping tidak kenal takut, kapan dia pernah gentar menghadapi keroyokan, kumpulnya banyak orang mengadang jalannya ini justru menimbulkan rasa benci dan marah. Setelah kedua pihak beri hadapan dengan jarak dekat, dari barisan Hwesio, yang terdepan tampil seorang Hwesio tua berusia tujuh puluhan denganperawakan yang tegap dan kereng. Ai-pong-sut kenal Hwesio tua ini adalah Hoan-pun Siansu, padri agung dari Siaulim si yang menjabat ketua Lohan-tong, kedudukannya hanya dibawah Hong-tiang Siaulim-si saja, pada hal jarang dia keluar dari tempat tugas nya, apalagi keluar dari Siau-lim-si dan hari ini mereka harus beri hadapan sebagai musuh. Setelah bersabda Hoat-pun Siansu berkata kepada Liok Kiam-ping.
"Apakah Sicu ini adalah Patpi-kim-liong Liok Kiamping ketua Hong lui-pang yang baru-baru ini menggetarkan dunia persilatan?"
Liok Kiam-ping rangkap kedua tangan menjura, katanya.
"Tak berani cayhe mendapat pujian, julukan Pat-pi-kim-liong adalah anugrah sesama kaum persilatan, orang she Liok cetek pengalaman dan pergaulan mohon Lo siansu memberi petunjuk."
Wajah Hoat-pun Siansu berobah serius, katanya.
"Ada sebuah pertanyaan Lolap mohon penjelasan Sicu."
"cayhe pegang peraturan patuh pada pesan leluhur, dalam setiap langkah dan sikap selalu mengutamakan kebajikan kepada sesamanya. Lo-siansu ada omongan apa silakan katakan, kalau tahu orang she Liok pasti memberi penjelasan-"
"Syukurlah, ternyata Sicu memang bajik, setulus hati lolap mengagumimu. Mohon tanya, apakah Wi-liong-ciang-hoat adalah ajaran yang hanya diwariskan kepada ciangbun-jin Hong-lui-pang saja, dan selama ini belum pernah diajarkan kepada orang lain?' Liok Kiam-ping tertawa bingar, katanya. 'Wi-liong-ciang memang ajaran tunggal Hong-lui-pang kita Tapi dua puluh tahun yang lalu Wi-liong-pit-kip ternyata lenyap dicuri orang sehingga Hong-lu-pang mengalami keruntuhan total, belum lama berselang baru kita berhasil membangun lagi warisan leluhur dan merebut kembali Wliong-pit-kip itu, maka sejauh mana Wi-liong-pit-kip itu jatuh ditangan musuh, apakah pelajarannya telah-dicuri orang, sukar kita mengatakan."
Jik-ciok Tojin dari Butong yang berdiri ditengah orang banyak tertawa dingin, tiba-tiba bertanya.
"Pandai juga Sicu menghibahkan kesalahan kepada orang lain-mohon tanya, selama dua puluh an tahun ini adakah orang lain,yang pernah menggunakan Wiiliong -ciang-hoat ?"
"Ya, rasanya belum pernah ada."
Liok Kiam-ping menjawab. Jik-clok Tojin gelak-gelak, katanya.
"Lha, kan sudah jelas, apa yang sicu lakukan hatimu sendiri yang jelas, memangnya perlu tanya kepada orang ?"
Lalu menoleh kearah Hoatpun Siansu.
"Lo-siansu tak perlu merenungkan persoalan ini, bukti sudah di depan mata, kenapa harus perang mulut lagi, biarlah dia gorok leher sendiri saja, supaya tidak membuang waktu."
Menyala sorot mata Hoat-pun Siansu, katanya tertawa.
"Harap Toyu tidak marah dan tergesa-gesa. setelah Lolap bicara habis dan jelas, belum terlambat kita ambil keputusan-"
Lalu berkata kepada Liok Kiam-ping.
Selama setengah bulan ini, di mana saja Sicu berada, apakah kau bisa memberikan alibimu.' Waktu Liok Kiam-ping angkuh, kapan pernah didesak seperti terdakwa, dihadapan umum lagi, namun menghadapi padri agung Siau-lim-si, apapun dia tidak berani berlaku kasar, katanya dengan muka serius.
'Selama setengah bulan ini kami berada di Keng-tong san karena menepati undangan Khongtong-koay-khek, dalam perjalanan pulang dicegat lagi oleh Ham-ping Lomo beserta kamrat-kamratnya, sepanjang jalan tidak sedikit perangkap dan rintangan yang kami Hadapi Hingga terlambat sampai Hari ini.
Itulah keterangan cayhe sejujurnya, jikalau kalian tiada urusan lain, cayhe harus menempuh perjalanan, maaf kalau tidak punya waktu untuk bicara lebih jauh."
Pek Clok Tojin tertawa dingin, jengeknya.
"Sebelum persoalan dibikin jelas, bocah keparat, tidak gampang kau ingin pergi."
Berdiri alis Liok Kiam-ping. katanya tajam.
"cayhe sudah memberi keterangan sejujurnya, kalau kalian sengaja Cari gara-gara boleh kita tentukan siapa benar siapa salah dengan kepandaian kalian-"
Hoat-pun Siansu bersabda Budha, katanya tertawa.
"Mohon Sicu sabar, soalnya selama setengah bulan ini ada seorang dengan Wi-liong-ciang-hoat melakukan pembunuhan atas murid-murid lima perguruan kita. Padahal ilmu pukulan ini adalah ajaran tunggal dari Hong-lui-pang kalian-maklum kalau kita curiga terhadap Sicu."
Liok Kiam-ping orang cerdik, dia tahu apa maksud perkataan Hoat-pun Siansu, katanya.
"sebagai orang yang terfitnah cayhe wajib menemukan orang yang memalsu diriku melakukan kejahatan, mohon cayhe di beri tenggang waktu setengah bulan untuk mengusut perkara ini, bila sudah kubekuk durjana itu akan kugusur ke Siau-lim dan terserah bagaimana pihak kalian akan menghukumnya, entah bagaimana pendapat Siansu?"
"Ternyata Liok-sicu rela mengorbankan diri sendiri untuk kepentingan umum, patut di puji dan dihargai, Lolap mengucap banyak terima kasih, baiklah setengah bulan kami akan menunggu Sicu di Slong-san."
Lalu dia menjura kearah jago-jago silat dari empat perguruan lain, katanya.
"Kalau kalian punya pendapat, boleh diutarakan secara terbuka, maaf Lolap mohon diri lebih dulu."
Habis bicara dia mengebas lengan jubahnya lalu membawa para Hwesio Siau-lim putar balik kedalam kota.
Maksud Pek-clok hendak menghasut orang banyak dan mengobarkan amarah mereka, sekaligus untuk membalas sakit hati lama.
melihat Hoat-pun Siansu tinggal pergi, ingin mencegah sudah terlambat.
Apa boleh buat, terpaksa dia menggantungkan harapannya kepada tiga perguruan yang lain untuk mengeroyok Liok Kiamping bertiga, maka dia bersuara lantang.
"Kita sudah menghabiskan banyak tenaga mengorbankan banyak jiwa, melacak ribuan li. pembunuh durjana ini baru kita pergokHari ini, sadar tidak dapat meloloskan diri, dengan mulut manis hendak membuat alibi yang tidak masuk akal, sayang sekali Hoat-pun Siansu percaya obrolan manisnya. Pada hal bocah ini licik adan licin, ganas dan kejam, kalau sekarang tidak mengganyangnya bersama, kelakpasti menimbulkan bibit bencana yang lebih besar. Demi menegakkan keadilan dan kesejahteraan umat persilaian, sebagai kaum pendekar wajib kita menumpas kejahatan, bagaimana pendapat kalian ?"
Kong-tong-pay baru saja mengalami musibah, rasa dendam masih membara, tekad menuntut balas mereka amat besar, maka mereka mendahului angkat tinju menyatakan akur.
Pihak Go-bi sejak kematian Hoat-liau Siansu, sampai sekarang juga belum terbalas sakit hatinya, maka merekapun setuju saja.
Pihak Hoa san masih pikir-pikir, kehadiran mereka semula hanya ingin melihat gelagat bila perlu menonton saja, namun diantara jago-jago yang hadir semua menyatakan akur dan bersuara bulat, terpaksa mereka juga menangguk tanpa bersuara.
Melihat hasutannya berhasil sengaja Peksclok Tojin berkata dengan nada bengis kepada Liok Kiam-ping.
"Kalau Liok-sicu tahu Wi-liong-ciang-hoat ajaran tunggal kalian dicuri orang dan untuk mengganas, dapatkah kau memberitahu siapa pengganas itu ?"
Liok Kiam-ping tertawa dingin, katanya.
"Baru sekarang aku tahu adanya seorang pengganas dengan Wi liong-ciang-hoat, mana aku tahu siapa pengganas itu. orang she Liok tidak becus, tapi aku yakin dalam setengah bulan pasti dapat membongkar kasus ini."
Pek-clok Tojin bergelak tawa, katanya.
"Wi-liong-ciang adalah ajaran tunggal yang hanya diwariskan kepada ciang bun, ini kenyataan yang tidak biaa dipungkiri, kau menghibahkan kejahatanmu kepada orang lain tidak bisa menyebut siapa duplikatmu itu, umpama lidahmu berkembang teratai juga jangan harap menentramkan hati kita semua."
Liok Kiam-ping mulai naik pitam desisnya dengan menegakkan alis.
"Kalian mendesakku dan sengaja mencari perkara, orang she Liok bukan penakut, katakan saja cara bagaimana kalian ingin membereskan persoalan ini, aku tidak akan mundur setapakpun"
Ketua Kong-tong-pay Kay-pi-tong The Hong. Sute Koantong-koay khek Seng ih hun berjiwa sempit dan berangasan, dendam merasuk dalam hatinya, maka dia berteriak lebih dulu.
"Bagus, kau memang pemberani, tidak malu menjadi seorang Pangcu, hayolah kita maju bersama."
Lalu dia ulap tangan hendakpimpinorang-orangnya melabrak. Pek-liau Siansu kedua G-bi-pay mendadak angkat kebutannya mencegah, katanya dengan tertawa.
"Harap Sicu tidak terburu nafsu babak pertama ini Harap memberi muka kepada Pinceng untuk menuntut balas kematian Hoat-liau Sute yang meninggal di Kwi-hun-ceng. Terima kasih atas kemurahan The-sicu."
Kay-pi-tong The Hong bergelak tawa, katanya."
Lo-siansu tak usah sungkan, kita harus berpadu menghadapi musuh, sepantasnya tiada perbedaan aku dan kau, kalaupihak kalian ingin jadi pelopor, kita semua siap menjadi ca dang an boleh Lo-siansu silakan."
Pek-liau mengangguk lalu berkata dalam kepada Liok-klamping.' sicu tak bisa diajak kompromi, mengagulkan kepandaian, pihak kita ada sejenis barisan, kami memberanikan diri mohon petunjuk sicu beberapa jurus kalau Sicu anggap kurang selera, boleh ganti dengan cara lain."
Lawan sudah menantang didepan umum sebagai Hong Luipang Pangcu Liok Kiam-ping pantang mundur, katanya tersenyum."
Kami adalah perguruan terkenal dan besardi Bulim, punya nama sejak ratusan tahun.
barisan yang tercipta tentu bukan olah-olah lihainya.
biar orang she Liok yang tidak becus ini mengiringi permainan barisan Siansu,"
Waktu bicara bibirnya mengulum senyum sinis, mata melirik, sikapnya menghina. Melihat betapa congkak sikap orang, berkerut alis Pek-liau siansu, bentaknya.
"Bentuk barisan-"Dua belas Hwesio segera tampil dari belakang Pek-liu Siansu, setiap Hwesio memegang sebatang kebut, usianya mereka rata2 empatpuluhan, Thay
yang-hiat menonjol tinggi, jelas semuanya punya latihan Lwekang tangguh, Dua belas Hwesio berbaris dua di depan Pek liau Siansu lalu serempak membungkuk hormat kepada Pek-liau.
sebat sekali mereka bergerak ke berbagai arah mendudukiposisi masing-masing, Liok Kiam-ping terkepung ditengah barisan.
Apa nama barisan lawan Liok-Kiam ping tidak tahu dan belum pernah menghadapinya meski berkepandaian tinggi, namun dia tidak berani gegabah, segera dia mengkonsentrasikan diri siap tempur.
Mendadak terdengar aba-aba.
"Lihat serangan."
Dua belas batang kebut mendadak terulur lurus keras, seperti kupu-kupu yang beterbangan diatas kuntum kembang simpang slur menusuk kearah Liok Kiam-ping.
Hebat memang tenaga para Hwesio itu, gerakan kebut mereka yang lurus itu laksana potlot baja mengeluarkan desing suara yang semrawut, oukup hebat memang perbawa serempak ini.
Liok Kiam-ping kembangkan Ling hi-pouputar kiri belok kanan, dengan kesebatan gerak tubuhnya tetap tak kuasa menerobos keluar dari lingkaran lawan-Mendadak dia menggeram lirih, tenaga kaki diperbesar sehingga gerak tubuhnya dengan Ling-hi-pou mencapai puncaknya, dengan langkah berkisar dan badan berputar berhasil dia menerobos beberapa rintangan dan hampir saja lolos dari kepungan.
Perlu diketahui Kiam-hoat Go-bi-pay sejak dulu sudah terkenal di Bulim.
kini mereka menggantipedang dengan kebutan di tambah permainan Thian-kan-tin ini memang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa, betapapun tinggi Ginkang Liok Kiam-ping, dalam waktu Singkat sukar dia meloloskan diri atau balas menyerang Tapi otaknya encer, meski sukar meraba inti permainan lawan, namun untuk menjaga dan menyelamatkanjiwa masih cukup berkelebihan bagi dirinya.
Tampak gerak tubuhnya selembut benang sutra, selincah kelinci selulup timbul diantara samberan kebut yang kelihatannya semrawut, namun lama kelamaan meski permainan barisan tidak banyak perobahan, namun ruang gerak lawan yang berputar dan melintir itu semakin sempit sehingga gerak gerik Liok Kiam-ping makin tidak leluasa.
Sebagai pemuda angkuh, sadar bahwa dirinya seorang ciangbun lagi, mana Kiam-ping mau terdesak dibawah angin, otaknya terus bekerja mencari daya untuk menjebol kepungan.
Tapi sebelum dia, berbuat banyak barisan mendadak telah berobah pula, kebut yang semrawut samber menyamber ketengah dengan pelintiran yang ulet tadi kini berganti gerakan berputar diluar garis.
Perobahan terjadHanya sekejap.
tapi seketika itu Liok Kiam-ping rasakan hawa di sekitar tubuhnya seperti menggencet dari berbagai penjuru, makin Cepat dia bergerak tekanan hawapun makin besar.
Mau tidak mau Liok Kiam-ping berpikir.
"Apakah barisan ini dilandasi permainan Bu-kek-kh-kang yang sudah terkenal sejak lama dari G-bi-pay ?"
Terpaksa diapun kerahkan Kimkong-put-hoay-sin-hoat supaya tekanan hawa kearah dirinya tertahan mundur.
Maka terjadilah gesekan hawa yang menimbulkan desis suara yang ramai seperti ada ban gembes.
Ternyata dua belas Hwesio yang lari berputar diluar kalangan itupun terdesak mundur satu kaki, dada merekapun terasa sesak.
Dua belas Hwesio yang bergerak menurut irama barisan ini memang berlandaskan Bu-khek-ki kang yang dikombinasikan dalam Thian-kan-tin ciptaan tunggal Go-bi-pay.
Khikang jenis ini penggunaannya dikendalikan dengan kekuatan Lwekang yang bergabUng secara menyeluruh dari dua belas orang yang bergerak seirama, betapapun tinggi Lwekang seorang takkan kuat bertahan setengah jam dibawah tekanannya, kalau tidak putus napas dengan muntah da rah, pasti semaput kehabisan napas lihaynya luar biasa.
Hanya Pan yok-sin-kang dan Kim-kong-put-hoay-sin-kang saja yang mampu menandingi.
Karena terdesak satu kaki, dua belas Hwesio itupun merasakan tekanan balik yang membuat napas sesak dada sakit, karuan mereka mengeluh dalam hati.
Tapi mereka insaf lawan muda ini memiliki ilmu sakti yang luar biasa, meski mereka memiliki Lwekang tangguh, dengan kekuatan Thian-kan-tin juga belum tentu dapat mengalahkan lawan-Pada hal lawan sudah terkepung seperti binatang buas masukperangkap.
disaat detikpenentuan kalah menang sudah mencapai titik terakhir, apapun mereka tidak mau berhenti sebelum ada yang roboh.
Sekonyong-konyong terdengar pula sebuah bentakan abaaba.
kebut dua belas Hwesio bergerak pula serabutan membawa deru keras yang menggetar laksana guntur, perbawa barisan saka langit ini memang luar biasa.
Dua belas orang mengerahkan seluruh kekuatan, sehingga gerak kebut mereka menimbulkan pusaran angin puyuh yang keras tajam mengiris kulit, siapa yang tidak mengkirik dan pecah nyalinya melihat perbawa barisan yang jarang ada tandingannya ini.
Merasakan tekanan makin dahsyat Liok Kiam-ping terbakar amarahnya, ditengah lengking suitannya, mendadak lengan kanannya meroboh kebelakang, cui-le-kiam terlolos satu gertakan yang menimbulkan getaran sinar lembayung dua kaki panjangnya.
Kiamping kerahkan tenaga dipusar, lalu dipusatkan kedua lengan, tangan kanan mengacungkan pedang.
Dimana sinar lembayung berkelebat "Krak.
krak"
Dua kebut terpapas putus.
Seluruh ilmu pedangnya berhasil mematahkan senjata lawan, bangkit semangat tempur Kiam-ping, maka gerak pedangnya dipergencar dimana sinar pedangnya berkelebat pergi datang, suara patahnya kebut bertambah banyak.
Untung Liok Kiam-ping, tidak ingin menumpuk dosa maka serangan pedang nya diperhitungkan, kalau mau dua belas jiwa musuhnya itu sudah dibabatnya habis dalam sekejap.
"Berhenti."
Mendadak Pek-liau-Siansu membentak. Dua belas Hwesio Go bi itu segera berhenti serta kembali ketempatnya semula. Pek-liau-Siarasu memberi hormat kepada Liok Kiam-ping, katanya.
"Ilmu sakti Liok sicu memang hebat, Lolap amat kagum, kelak bila ada jodoh biar kita mohon petunjuk lagi selama gunung menghijau, biar airpun mengalir. Selamat bertemu Liok-sicu."
Lalu dia berpaling kearah Jik clok Tojin, katanya.
"Lolap tidak becus, tidak mampu mengembangkan kejayaan perguruan, sekarang juga akan pulang gunung dan menghukum diri menghadap dinding menebus dosa. mohon maaf lolap akan pulang lebih dulu."
Tanpa menunggu reaksi orang banyak. segera dia pimpin dua belas muridnya meninggalkan tempat itu"
Pek clok Tojin seperti kehilangan sebelah lengan yang amat dipercaya, sikapnya tampak gelisah dan gugup, Tampak Liok Kiam-ping berdiri angkuh ditengah gelanggang, hakikatnya tidak pandang sebelah mata kepadanya.
Maju dua langkah Pek-clok batuk-batuk kering lalu berbisik bisik dengan Kay-pitong The Hong.
Akhirnya kedua orang mengunjuk senyum lebar dan sejuk.
Kay-pi-tong The Hong terkial-kial, katanya sinis.
"Tuan mengagulkan kepandaian menindas orang, mau menang dengan alasan yang tidak masuk akal, kalau malam ini kalian tidak memberi pertanggunganjawab.jangan harap..."
Ai-pong-sut yang sudah menekan diri sejak tadi tak tahan lagi, tanyanya tersenyum.
"Jangan harap apa?" .Kalian bertiga jangan harap bisa pergi dari sini."
Berdiri alis Liok Kiamping.jengeknya. 'Kalian yakin dapat menahan kita?"
Pek-clok Tojin menyeringai sadis. katanya.
"Yakin memang sih tidak, tapi kalau kamu sudah membakar kemarahan masal, terpaksa..."
Liok-Kiam-ping tertawa besar, jengeknya.
"Kawanan serigala, kalian maju bersama saja."
Sambil berkata kedua tangannya digendong dibelakang, sikapnya congkak dan mencemooh. Kay-pi-tong The Hong naik pitam, bentaknya beringas.
"Keparat, hayo maju."
Dibawah seruannya puluhan orang dari Bu-tong dan Kong-tong serentak merubung maju mengurung Liok Kiam-ping bertiga, mereka dihujani pukulan dari berbagai arah yang menimbulkan gejolak udara hingga terciptalah pusaran angin lesus yang keras..
Meminjam daya sedot angin lesus yang mumbul keatas, Liok Kiam-ping menjejak kaki.
tubuhnya melambung lima tombak, Pukulan serempak dari puluhan orang itu menyambar lewat dibawah kakinya, diudara Kiam-ping menekuk pinggang dengan gerakan indah dia menukik turun sambil menggentak kedua telapak tangan, maka jurus Liong-hwi-kiu-thianpun dilontarkan.
Wi liong ciang sejarah kuno yang sakti, sebelum tenaga pukulan mengenai sasaran, hawa udara telah menekan sang korban, ribuan bayangan telapak tangan bertaburan beriapislapis Jago-jago dari kedua pay itu hanya melihat bayangan orang berkelebat, disusul telapak tangan yang bertaburan disaat mereka melongo, angin kencang sudah menindih dari atas.
Ditengah jeritan yang disertai suara "Plaks plok"
Keras berapa tubuh orang terbang mencelat disertai Hamburan darah yang tercecer.
Rasa gusar Liok Kiam-ping agaknya tak terbendung lagi, karena musuh mengeroyoknya, maka serangan tidak mengenal ampunpun lagi, disaat tubuh menukik turun, mendadak dirasakan dua jalur angin pukulan yang dahsyat menggencet dari kiri kanan-Tak sempat melukai lawan lebih banyak, lebih dulu Kiam-ping membela diri telapak tangan yang terkembang mendadak ditariknya bila telapak tangan didorong pula kekanan kiri, maka terjadilah benturan keras "Blang bluk", Pek-clok Tojin dan The Hong terlempar mundur tiga kaki, beg itu keras goncangan yang mereka rasakan sehingga lengan pega l linu, darah hampir tertuang dari mulut, dalam hati mereka mengeluh bahwa segebrak mereka Sudah jatuh koban, mana berani maju lagi, sambil memberi tanda lekas mereka ngacir bersama murid-muridnya .
Walau musuh dipukul mundur tapi mengingat tugas yang diembannya semakin besar dan berat, Liok Kiam-ping betulbetul prihatin, maka perjalanan diteruskan dengan langkah berat.
Malam itu mereka menginap dikota Happui.
kentongan kelima dini hari mereka sudah siap berangkat, Liok Kiam -ping memberi tugas kepada Pang-yu setempat untuk menyebar berita supaya semua kumpul danseluruh kekuatan Hong luipang dipusatkan dimarkas besar Sepanjan jalan tak lupa dia pun mencari tahu siapa sebetulnya pengganas yang menggunakan Wi liong ciang.
Cuaca masih remang-remang Liok Kiam-ping berdua sudah kembangkan Ginkang berlari bagai terbang ditengah tegalan diluar kota mereka lewatjalan kecil untuk mempercepat perjalanan, pegunung an makin tinggi, makin sukar ditempuh, untung mereka memiliki kepandaian tinggi, menjelang lohor mereka makin masuk pedalaman yang tak pernah dijelajah manusia.
Kini mereka berjalan dengan kecepatan tinggi, bayangan mereka laksana dua burung raksasa yang melesat kencang susah diikutipandangan mata.
Sudah enampuluh tahun, Ai-pong sut meyakinkan Ginkang, dan yakin selama itu jarang ketemu tandingan di Kangouw, maka dia ingin menjajal sampai di mana kekuatan lari sang Pangcu yang masih muda ini Dia kira betapapun tinggi dan tangguh kekuatannya, setelah diajak adu lari secepat dan sejauh ini, orang pasti ngos-ngosan napasnya.
Tapi kenyataan meleset, dalam jangka dua jam mereka sudah menempuh seratus li lebih, waktu Ai-pong-sut melirik kekiri, dilihatnya Liok Kiamping masih berlari dengan santai, nafas tidak memburu, wajah tetap segar, hanya keringat yang membasahi jidat dan hidungnya.
seolah-olah lari marathon ini tidak memeras tenaganya sedikitpun.
Dengan tertawa Ai-pong-sut memuji.
"Tenaga dalam Pangcu memang tangguh sekali Losiu sungguh kagum sekali."
Liok Kiam-ping mengangguk kalem, katanya.
"Ginkang Tianglo juga tiada bandingan dijagat ini, Kiam-ping belum pernah ketemu tandingan sehebat ini."
Lekas sekali mereka sudah tiba di Thio-keh-wan, sebuah kota kecil yang terletak di utara coh-ouw.
Di sini sudah banyak orang lalu lalang, maka mereka kendorkan lari mereka dan berjalan seperti orang biasa.
coh-ouw penghasil ikan yang subur, pen-duduknya sebagian besar hidup dari hasil ikan, penduduk sekitarnya hidup makmur dan sentosa.
Thio keh-wan.
kota kecil tapipusat perdagangan banyak rumah makan, warung dan kedai berjajar sepanjang lalan raya, di dermaga tidak sedikitpula perahu-perahu pelancongan yang beri himpitan.
Liok Kiam-ping masuk kesebuah warung minuman, setelah melepas dahaga, mereka bertanya bagaimana menempuh perjalanan lewat air kearah selatan, lalu menyewa kapal.
Tengah mereka menikmati seca ngkir teh panas, tangga loteng berderap.
dan laki-laki setengah umur muncul dari bawah, dari d and a nan mereka seperti orang dari golongan hitam.
Setiba diatas loteng, sekilas mereka lantas menjelajah pandang keseluruh ruang.
Seorang bersuara runcing terdengar memanggil.
"Nah Jit-ko sudah datang, kita pasti mendapat berita gembira. Jit ko silakan duduk.
"Lalu ditariknya sebuah kursi, Seluruh tamu yang ada diatas loteng menoleh kearah mereka. Laki-laki yang jalan didepan mengunjuk rasa puas dan bangga, katanya tertawa.
"Tidak ada apa-apa, kalian jangan sungkan."
Sembari bicara dan duduk dikursi yang disediakan.
Laki-laki yarg dipanggil Jit-ko ini memicing matanya lalu melirik kepada teman yang datang bersama dirinya, lalu berkata lirih dan hanya dapat didengar orang-orang disebelahnya.
"Kejadian ini kurasa agak ganjil.padahal belum pernah kita bermusuhan, apalagi dengan pimpinan kita ada sedikit hubungan . kabarnva sesepuh Kun-lun-pay Bian-ciang Auwyang Tekspoh akan datang hari ini. Besok pasti akan ada tontonan ramai."
"Jit-ko,"
Laki-laki suara melengking tadi berkata "jangan jual mahal. Ada berita apa, coba katakan dihadapan kawan-kawan pokoknya makan minummu hari ini kami yang traktir."
Laki-laki yang dipanggil Jit-ko bergelaktawa katanya."
Bukan Hoa-coa (ular kembang) Li Jit seperti diriku ini suka membual, berita ini amat segar, masih baru dan belum pernah terjadi selama seratus tahun di Bulim, dalam wilayah Thiokeh-wan ini yakin belum ada orang kedua yang tahu akan hal ini"
Sampai di sini sengaja dia berhenti mengangkat cangkirnya minum seteguk teh.
"Sebetulnya ada peristiwa apa yang akan terjadi?"
Desak laki-laki suara runcing.
Hoa-coa Li Jit berkata kalem.
'Peristiwa besar.
Pasti menggemparkan seluruh wilayah cohouw kita.
cau-congkoan yang berkedudukan di Lo-san sedang pusing tujuh keliling karena adanya kejadian ini, maka dia pergi ke Lam Jiang mengundang Susloknya Bian Ciang Auwyang Tek-pok untuk membantunya, apakan bencana ini dapat mereka hindari, sekaligus menolong bencana yang akan menimpa seluruh rakyat dalam wilayah cohouw kita, besok tengah hari baru bisa kita ketahui"
Jit-ko peristiwa besar apakah itu, kenapa harus ngelantur panjang lebar, hayolah langsung saja katakan."
Desak pula laki-laki bersuara runcing tadi. Hoa coa LiJit berkata lebih kalem.
"Kau memang selalu ribut. Urusan kan ada kepala dan adapula buntutnya, apa yang kukatakan baru permulaan, selanjutnya baru mulai kepersoalan."
Kembali dia meneguk air tehnya baru menarik suara dan berkata.
"Dalam setengan bulan belakangan ini dalam kalangan Kangouw muncul seorang pernuda yang memiliki Lwekang tinggi, jejaknya tidak menentu, dia mengaku Sute dari Pat-pi kim-liong, dengan alasan hendak menuntut balas sakit hati perguruan, dengan Wi liong-ciang membunuh banyak kaum persilatan dari berbagai perguruan sehingga menimbulkan gelombang kegemparan di Bulim. Sebulan yang lalu dia kirim surat kepada cau-tong keh di Losan, menantang berkelahi, kalau tidak datang penguasa di coh-ouw akan dibabat habis, karuan cau tang-keh tak enak ma kan tak bisa tidur. untung dia mendengar kabar bahwa Susloknya Bianciang Auwyang Tek-pok berada di Lam ciang, maka buru-buru dia menyusulnya kesana, konon Auwyang Tek-pok pernah berkenalan dengan Pat-pi-kim-liong, maka bantuannya diminta untuk mendamaikan persoalan ini, mungkin besok slang mereka sudah kembali."
Mendengar cerita orang diam-diam Liok Kiam-ping saling pandang dengan Ai-pong-sut disamping lega juga bersyukur bahwa durjana itu akhirnya kepergok tanpa sengaja.
Maka mereka menginap dikota kecil ini, besok pagi akan berangkat ke Los an melihat keadaan.
Pagi Harinya cuaca cerah.
Liok Kiam-ping berdua menyewa perahu langsung menuju Ke Losan.
Losan adalah sebuah pulau kecil yang berada ditengah danau.
Perahu pesiar biasanya berjalan lamb at, maka sehari baru bisa sampai ketempat tujuan, namun Liok Kiamping memberi upah dua kali lipat mendesak tukang perahu melajukan perahunya lebih cepat.
Untung cuaca baik perahu didorong angin buritan lagHingga sebelum tepat lohor mereka sudah tiba dipinggir pulau Losan-Losan terletak dipusat coh-ouw, sejauh mata memandang air berpadu dengan langit.
Markas Jik-coh-thi-ciang cau Hang dari Kun-lun-pay yang berkuasa diperairan coh-ouw, selama jadi penguasa dia memimpin secara adil, budiman dan derma wan-Pulau kecil yang biasanya sepi Hari ini ternyata amat ramai, terutama kaum persilatan berduyun-duyun keatas pulau ini.
Liok Kiam-ping suruh tukang perahu mendaratkan perahunya ditempat yang agak sepi, lalu beranjak kearah tengah pulau.
Mengikuti arus orang banyak yang berbondong-bondong, Kiam-ping tiba disebuah lapangan luas didepan sebuah perkampungan, disebelah utara berdiri dua tiang bend era yang besar dan tinggi, Dari kejauhan sudah kelihatan rumahrumah gedung yang tersebar luas dengan aneka bentuknya yang megah dan artistik.
Dikanan kiri lapangan besar di bangun empat buah barak darurat, barak itu sudah penuh sesak.
yang tidak kebagian tempat malah berdiri berdesakan dipinggir lapangan-Menunggu setengah jam lamanya, daripintu gerbang perkampungan yang terbentang lebar, beranjak keluar dua laki-laki seragam ketat memasuki lapangan besar lalu berdiri di kanan kiri barak sebelah timur.
Ditengah tampik sora kpara hadirin, berbondong keluar pula serombongan orang-orang persilatan-Seorang yang jalan disebelah kiri bertubuh kekar dada lebar, lengan berotot, rambut alis.jeng got sudah beruban, wajahnya bersih dan putih.
semangatnya tampak masih menyala, usianya pasti sudah menjelang delapan puluh.
Begitu melihat kakek tua ini Liok Kiam-ping lantas kenal, siapa lagi kalau bukan Bian-ciang Auwyang Tek-pok yang pernah angkat saudara dengan dirinya.
Liok Kiam-ping pemuda supel dan suka bergaul, melihat sang engkoh tua berada di sini, dia sudah siap melompat keluar menemuinya, namun Aipong-sut telah menariknya, katanya perlahan.
"Tujuan kami kemari membekuk durjana itu, sebelum durjana itu muncul, jangan kau unjuk dirimu dimuka umum."
Liok Kiam-ping baru sadar maksud kedatangannya, betapa penting arti dari tindakannya hari ini, maka dia mengangguk sambil tersenyum.
Sebelah kanan Auwyang Tekspok adalah laki-laki berusia lima puluhan, tubuhnya juga kekar namun agak pendek.
wajahnya merah, bila tertawa suaranya lantang, namun terasa kedua alisnya selalu berkerut menandakan bahwa hatinya dirundung rasa kuatir, melihat sikap dan tutur katanya, laki laki inilah yang bernama cau Hong atau, cengu dari perkampungan diatas pulau Losan ini.
Dibelakang kedua orang ini berbaris serombongan pemudapemuda gagah sambil membusung dada, semangat mereka tampak menyala, wajahnya menampilkan rasa penasaran, jelas mereka adalah pembantu cau Hong yang berkuasa diperairan coh-ouw.
Rombongan ini langsung menuju kebarak timur, mereka berduduk sesuai urutan.
Bila setangkaHlo terbakar habis, seorang pemuda pakaian ringkas berlari kearah barat timur, sebelah lutut bertekuk memberi hormat serta berseru.
"Lapor cengcu, sekarang tepat tengah hari."
Thi-ciang cau Hong mengulap tangan lalu berdiri, sambil menjura keempatpenjuru dia berkata lantang dengan tertawa.
"Hari ini tuan-tuan meluangkan waktu berkunjung keperkampungan kita, sehingga pulau kecil yang biasa sepi ini ramai dan penuh sesak. sungguh suatu kehormatan dan patut dibuat senang, terimalah ucapan terima kasihku."
Kata sambutannya mendapat keplok ramai seluruh hadirin. Dengan tertawa cau Hong berkata pula.
"Berkat kerja sama sesama sahabat Bulim selama ini sehingga kami dapat mencari sesuap nasi dengan aman dan damai di sini, seluruh anak buahku adalah nelayan yang hidup sahaja, belum pernah melanggar atau berbuat salah atas kepentingan orang lain, apalagi bermusuhan dengan pihak manapun.
"Kali ini seorang yang mengaku Sute Pat-pi-kim liong yang Pangcu Hong-lui-pang mengundang orang she cau berunding, terus terang cayhe keheranan dan tidak habis mengerti, padahal pihak kami tidak pernah berbuat salah terhadap Hong-lui-pang.
"Sekarang waktu yang dijanjikan telah tiba. lawan belum juga datang, kemungkinan ingkar janji, maka diharap seluruh hadirin menjadi saksi, supaya kelak..."
Belum habis dia bicara mendadak seorang membentak dari arah sebelah barat.
"Sejak tadi tuan muda sudah berada disini, kalian punya mata tak bisa melihat,"
Belum habis bicara bayangan putih berkelebat meluncur ketengah lapangan-Betapa Cepat gerak tubuhnya menandakan bahwa Ginkangnya tidak rendah.
Kini Hadirin melihat jelas pemuda ini berusia dua puluhan, tampan dan gagah.
alisnya gombyok matanya sipit memancarkan sinar sadis, wajahnya yang selalu tersenyum ejek kelihatan buas dan kejam.
Begitu berdiri ditengah lapangan pemuda ini melirik kebarak timur sambil bertolak pinggang, sikapnya angkuh seperti menunggu jawaban.
Bergegas cau Hong berdiri lalu tampil beberapa langkah.
katanya menjura kepada pemuda itu.
"Apakah Siauhiap adalah sute Pat-pi-kim-liong?". Pemuda itu mendengus, jengeknya.
"Tuan sudah tahu buat apa tanya lagi?"
Cau Hong menekan amarah, tanyanya.
"coba Siauhiap terangkan maksud kedatanganmu."
Sejak berdiri ditengah lapangan pemuda itu memejam mata. baru sekarang dia membuka mata, katanya dengan tertawa besar.
"Bagus, tidak banyak permintaan siauya, hanya satu yaitu batok kepalamu, lalu bubarkan seluruh anggotamu. cayhe hanya menjalankan perintah, segala pertanggungan jawab, boleh tanya kan kepada Suhengku Pat-pi-kim-liong. cengcu, waktu jangan dibuang percuma, bagaimana pertandingan ini diadakan, boleh kau saja yang memilih Caranya."
Habis bicara kembali dia terkial-kial, sikapnya begitu pongah seolah-olah cau Hongpasti dapat dikalahkan dengan mudah.
Karuan cau Hong gusar mencak-mencak seperti kebakaran jenggot, matanya melotot bundar, hadirinpun banyak yang ma rah dan mengepal tinju, terutama Liok Kiam-ping juga gemetar saking murka.
Ingin rasanya dia lompat kegelanggang dan pukul mampus pemuda kurang ajar ini.
sebelum dia bertindak Ai-pong-sut sudah menekan pundaknya.
Katanya.
"Tonton dulu permainannya dari alira n mana, belum terlambat nanti kau turun tangan."
Sementara itu pertandingan sudah dimulai.
Thi-ciang cau Hong menggunakan Liok-hap Ciang, dia bertahan secara ketat, setiap serangannya bertenaga kuat dan kokoh, latihan pukulannya memang sudah matang.
Tapi pemuda itu kembangkan Ginkangnya yang tinggi berlompatan kian kemari, dia layani serangan cau Hong dengan santai, seperti tidak banyak mengeluarkan tenaga, sikapnya yang pongah sungguh menyebalkan, namun gerak geriknya memang lincah dan sebat, meski diserang gencar hanya main kelit saja, belum pernah balas menyerang.
Makin serang makin sengit cau Hong, ia mainkan Liok-hayciang dengan seluruh tenaganya, yang dijotos dan digenjot adalah Hiat-to mematikan ditubuh lawan, setiap pukulannya membawa deru angin, tinjunya memberondong dari enam penjuru yang menjurus kesatu titik sasaran-"Serangan bagus."
Pemuda itu membentak enteng, tubuhnya berkisar dengan gerakan gemulai, padahal Thi-ciang cau Hong sudah menyerang sepenuh tenaga, namun ujung pakaian lawanpun tak mampu disentuhnya Memang pernah terjadi pemuda itu berkelit seCara kaget dan melompat dengan gerakan gugup menghindari serangan mematikan cau Hong.
namun setiap kali dia balas menyerang, cau Hong didesaknya mundur.
Tiga puluhjurus kemudian Telapak besi cau Hong makin Ciut nyalinya, dia tahu kalau pertempuran berlangsung lebih lama pasti dirinya yang Celaka akhirnya, maka dia bertekad untuk mengeluarkan pan-yok-ciang yang tidak pernah dia mainkan kepada lawan mendadak dia menghardik.
"Awas Siauhiap lihat seranganku.' telapak tangan bergerak sebelum mulutnya habis bicara, bayangan telapak tangan bagai Hujan lebat memberondong dari sudut yang tak terduga oleh sipemuda hingga berbagai Hiat-to ditubuhnya terancam."
"Nah, kan begini.' ucap sipemuda tertawa enteng. Seba tsekali diapun merobah gerakan, dari timur mendadak dia berkelebat ke barat, gerak geriknya secepat angin dan yang terlihat hanya bayangan putih yang mengelilingi bayangan telapak tangan lawan-Pan-yok-ciang adalah ajaran tunggalpelindung gunung Kun-lun-pay, sejak lama pernah menjagoi Bulim, murid yang tidak punya bakat dan kecerdikan luarbiasa, tak diperbolehkan mempelajari ilmu pukulan ini, pukulan ini berlandaskan kekuatan tenaga dalam, dalam arena setombak terlingkup dalam kekuatan angin pukulan, bila ilmu ini diyakinkan mencapai paling top. dengan pukulan tangan kosong sudah mampu bikin lawan semaput karena sesak pernapasannya, maka para murid sudah diperingatkan, kalau tidak teramat genting dilarang menggunakan pukulan lihay ini. Mengingat Ginkang dan permainan silat pemuda baju putih ini amat lihay, urusan menyangkut mati hidup ratusan penduduk pulau Los an dan ribuan rakyat dalam wilayah cohouw, demi keselamatan jiwa raga sendiri pula, terpaksa cau Hong keluarkan ilmu simpanan perguruannya. Namun betapapun cau Hong merangsak sekuat tenaga dengan segala kemampuannya, tetap tak mampu mendesak lawannya. Disamping heran, kaget pula hati Liok Kiam-ping dan Aipong-sut yang menonton dari pinggir lapangan, sejauh ini mereka belum berhasil menyelami dari aliran mana permainan silat sipemuda. Maklum karena pemuda ini jarang balas menyerang, padahal Ginkang tinggi dimiliki oleh banyak perguruan, kelincahan pemuda seperti mencakup kepandaian berbagai perguruan, jadi sukar diraba asal usulnya. Liok Kiam-ping memeras otak. lalu menepekur, akhirnya teringat olehnya gerakan tubuh seorang mirip pemuda ini, terutarna di kala berputar, namun kenyataan hal itu tidak mungkin, karena jing san-biau-khek adalah murid penutup dari Ham-ping Lomo, sejauh ini belum pernah dengar dia punya seorang Sute. Namun jantung Liok Kiam-ping berdebardebar, wajahnyapun mengulum senyum lebar, mulutnya menggerutu perlahan.
"Ya, pasti dia, pasti dia"
Sementara itu perobahan telah terjadi ditengah gelanggang. Mendadak pemuda baju putih membentak.
"Awas perhatikan, cayhe akan balas menyerang."
Belum habis bicara lengan kanannya sudah berputar lalu menegak tinggi didepan, maka terlontarlah serangan jurus Liong-kiap-sin-gan.
Tampak bayangan telapak tangan bertaburan diudara memberondong dari berbagai jurusan kearah cau Hong.
Angin menderu, perbawa serangannya memang hebat.
Jelas tulen adalah ajaran Wi-liong-pit kip..
Cau Hong berdiri kebingungan tak tahu bayangan telapak dari arah mana yang harus disambutnya, mendadak didengarnya suara lantang berkata.
"Sutit jangan kaget, lekas mundur."
Lenyap suaranya orangnyapun tiba, segulung tenaga sedahsyat amukan gelomban pasang menerjang kearah pemuda baju putih.
Dalam detik gawat ini terpaksa Auwyang Tek pok turun gelanggang menolong jiwa murid keponakannya.
Meski usia sudah lanjut namun tenaga dalamnya masih cukup tangguh, untuk menolong jiwa Sutitnya lagi maka serangan menggunakan setaker tenaga.
Mendengar peringatan sang Susiok lekas cau Hong menjatuhkan diri menggelundung kebelakang sejauh dua tombak.
Syukur jiwanya selamat, ramun badannya sudah mandi keringat.
"Byaar"
Ditengah ledakan dahsyat.
Pemuda baju putih tergentak mundur satu langkah.
Sementara Auwyang Tekspok tertahan turun dan anjlok ditanah.
Berdiri alis pemuda baju putih, mukanya bengis desisnya menyeringai.
"Membokong dan menyergap terhitung jago macam apa, kakek tua bangka, sebutkan dulu namamu."
Auwyang Tek-pok tertawa besar, katanya.
"Bergebrak di arena, yang menang itulah yang kuat, Losiu Auwyang Tekspok untuk menolong jiwa Sutitku, terdesak oleh keadaan, terpaksa bcrtindak diluar garis, bahwasanya tidak bertujuan membokong siauhiap buat apa kau ma rah-ma rah"?"
Pemuda bajuputih mendengus, serunya.
"oh, maaf kurang hormat, kiranya cianpwe dari Kun lun-pay. gelagatnya persoalan hari ini kaupun turut Campur, begitupun baik, menambah keramaian malah."
Tegak alis Auwyang Tek-pok, dia tahan amarahnya, katanya serius.
"Mohon tanya Siauhiap. dimana Suhengmu Pat-pi kim-liong. Tahun lalu dikota Lam-ciang pernah bertemu dengan Lohu, entah Siauhiap tahu tidak akan hubungan dengan dia, kuharap kau bicara sejujurnya, supaya tidak timbul salah paham."
Pemuda baju putih tertawa pongah, katanya dengan nada sinis.
"Suhengku sudah ke utara, belum pernah aku dengar dia berkenalan dengan kau, Siauya hanya menunaikan tugas. segala persoalan boleh kau tanya dan dia yang akan bertanggung jawab bila dia kemari."
Liok Kiam-ping sudah tidas tahan lagi, untung Ai-pong-sut masih membujuknya, maka dia hanya hanya kertak gigi sambil menggereget saja.
M enurut pandangan Ai-pong-sut, meski pemuda baju putih berkepandaian tinggi, rasanya tidak akan kuat melawan pukulan Auwyang Tek-pok, biar dia dihajar dan dikalahkan, setelah orang pergi baru mencegatnya, namun Ginkang pemuda ini cukup tinggi, jika lena celaka kalau sampai dia meloloskan diri, kelak pasti sukar membereskan dia.
"Pongah betul kau bocah kemaren sore ini."
Seru Auwyang Tek-pok tertawa gusar,"
Terpaksa Losiu mewakili suhengmu memberi hajaran kepadamu." ' "Apa kemampuanmu keluarkan saja, buat apa cerewet. Masih banyak urusan yang harus Siauya selesaikan, tiada tempo aku menunggu lama."
Demikian semprot si pemuda. Sudah delapan puluh tahun usia Auwyang Tek-pok. kapan ada orang berani kurangajar kepadanya, namun dia menahan sabar, bentaknya.
"Anak muda, lihat serangan-"
Kedua tangan perlahan dia dorong kearah si pemuda, dorongan kedua tangannya menimbulkan segulung tenaga lunak yang kuat.
Disinilah letak keistimewaan Bian-ciang, kelihatannya tenaga pukulannya lunak atau empuk.
pada hal kokoh kuat dan ulet, jikalau lawan memukul balikpula, semakin besar tenaganya daya lawannyapun bertambah besar malah sambung menyambung sehingga lawan tak berkesempatan ganti napas, lihaynya luar biasa.
Ternyata pemuda baju putih juga kenal kelihayan pukulan lawan, maka dia tidak balas memukul, namun berkelebat menyingkir dari daya capai pukulan lawan-Begitu kaki menyentuh tanah secepat kilat tubuhnya berkisar, lengan kanan melingkar lalu tegak didepan, dari samping jurus Liong kiap sin-gan dia lontarkan.
Melihat lawan melompat menyingkir, Auwyang Tek-pok lantas mengendorkan pukulannya, namun apapun dia tidak menduga bahwa gerak geriknya pemuda ini bukan saja cepat lagi tangkas, reaksinyapun cekatan-Untung dia berpengalaman, Lwekang tinggi lagi, terutama tiga jurus permulaan Wi-liong ciang-hoat, pernah dia memperoleh penjelasan lisan dari Liok Kiam-ping, meski diserang sedikitpun dia tidak gugup, serangan lawan dihadapi dengan tabah.
Namun serangan memang teramat cepat dan tangkas, maka waktu berkelit kelihatan gerak geriknya sedikit gugup, Sebelum dia menegakkan badan.
Pemuda baju putih kembali membentak.
"Sambut lagi jurus ini."
Lenyap suaranya kakinya menjejak tanah orangnya melambung ke udara, kali ini dia melancarkan jurus Lionghwi-kiu-thian, seiring dengan tubuhnya yang menukik turun, bayangan telapak bertaburan diudara mengurung beberapa kaki disekitar tubuh Auwyang Tek-poh.
Bian-ciang Auwyang Tek-pok sadar bahaya mengancam jiwanya, sebelum dia bersiaga bayangan telapak tangan sudah menindih turun, dalam gugupnya masih sempat dia kerahkan dua belas bagian tenagan balas memukul keatas.
Ditengah led akan keras, kedua kaki Auwyang Tek-poh tergetar amblas tiga dim kedalam tanah, sekuatnya masih mampu dia mempertahanhan dirinya, namun bulu kuduk sudah berdiri.
Pemuda baju putih berputar sekali Hinggap ditanah, namun sekali tutul tubuhnya mencelat maju pula sambil melontarkan jurus Liong-iau-king-thian, kali ini serangan dilontarkan tanpa memberi peringatan.
Padahal Auwyang Tek-poh tak mampu banyak bergerak sementara angin pukulan sudah melanda dari belakang, dia tahu bahwa dirinya takkan terhindar dari renggutan elmaut.
Sedetik lagi jiwanya kalau tidak mampus pasti luka parah.
Pada detik yang gawat itulah mendadak menggelegar bentakan seorang.
"Lo kokojangan kaget, biar Siaute membereskan sampah persilatan ini."
Belum habis suara itu bicara, segulung tenaga dahsyat telah memburu tiba dari atas sehingga gerakan sipemuda baju putih tertahan.
Merasa pukulan dahsyat lawan, mendadak tertahan lekas Auwyang Tek-poh melompat minggir sambil menoleh, dilihatnya Liok-Kiam-ping adik muda nya meluncur turun dari tengah udara Pemuda baju putih kaget terbeliak.
perasaannya menjadi dingin, batinrya.
Kamu bocah keparat itu masih diutara, kenapa bisa muncul disini, mungkin hari ini ajalku akan tamat disini."
Sambil mengerut kening, benaknya sudah merancang bagaiman dia harus melarikan diri, namun dia bersikap wajar, katanya.
"Siapa tuan, kenapa mencampuri urusan kami, terimalah saran cay he, lekas menyingkir saja supaya kau tidak ikut celaka. Amarah Liok Kiam ping sudah hampir meledak sejak tadi, bentaknya.
"Hong lui-pang tiada permusuhan apa dengan kau, bukan saja menfitnah kita, kaupun menimbulkan amarah berbagai perguruan, siapa biang keladi perbuatanmu, dari manapula kau belajar Wi-liong-ciang bicaralah sejujurnya, Pangcu tidak akan menarikpanjang urusan, memberikan hukuman sepantasnya kepadamu."
Ciut nyati pemuda baju putih melihat perbawa Liok Kiamping, namun diapun punya watak angkuh, kapan dia pernah tunduk kepada orang lain, dihadapan umum mana dia mau dimaki dan disalahkan.
saking gusar dia lupa untung rugi dari perbuatannya selama ini katanya sambil tertawa ding an.
"cayhe mendapat budi kebaikan leluhur Wi liong-ciang-hoat diwariskan kepadaku, mengemban tugas perguruan cayhe mengembara di Kangonw untuk menuntut balas deadam perguruan, maka jabatan ciang bun sepantasnya akulah yang menjabatnya, kau berani memalsu diri mengaku sebagai Pangcu segala, berarti meremehkan undang-undang perguruan kalau tahu diri lekas bunuh diri saja. sungguh tidak tahu malu kau berani unjuk diri dihadapan umum."
Sebelum Liok Kiam ping mencercahnya, orang sudah menuduhnya malah, karuan seperti api disiram minyak amarah Liok Kiam-ping, bentaknya.
"Bedebah tidak tahu malu, sebelum dihajar kau takkan kapok dan mengakui kesalahan.
"Baiklah akan kubekuk kau dan dihukum sesuai perbuatanmu, kalau kau bebas berkelana, bagaimana Hong-lui-pang bisa tegak di Bulim, nah kurcaci serahkan nyawamu."
Maju selangkah dua tangan lantas menyerang dengan jurus Liong -kiap-sin-gan.
Karena gusar serangannya sepuluh bagian tenaga, apa lagi Liok Kiam-ping, memperoleh ajaran lebih murni dari perguruan lwekangnya tangguh lagi, maka serangannya ini sedahsyat gugur gunung, perbawanya jelas berlipat ganda dari keampuhan pukulan pemuda putih tadi.
Pemuda baju putih terbeliak kaget, mana dia berani menyambut, lekas dia kembangkan kesebatan gerak tubuhnya.
menuyingkir dari damparan angin pukulan lawan untung dia sendiri juga menguasai pukulan ini, tahu cara bagaimana harus menyelamatkan diri, kalau tidak jiwanya sudah melayang.
Liok Kiam-ping tahu hanya sejurus belum mampu membekuk lawan, begitu lawan berkelebat minggir dia susuli lagi dengan jurus Lloug-hwi-kiu-thian dan Liong-jiauking-thian sekaligus.
Kali ini serangannya dilancarkan serempak dengan kecepatan tinggi lagi.
hingga hadirin tiada yang melihat jelas bagaimana Liok Kiam-ping melancarkan serangannya.
Ginkang pemuda baju putih memang memiliki kelihayannya sendiri, disaat dia menyingkir meskijiwanya selamat, namun dia juga insaf jiwanya hampir saja direnggut elmaut.
Maka setelah tiga jurus serangan Liok Kiam-ping dapat dihindarkan dia berpikir "Wi-liong-ciang hanya tiga jurus, coba lihat masih punya simpanan ilmu apa yang dapat kau gunakan."
Sayang sebelum pikirannya ini lenyap dalam benaknya, kedua lengan Liok Kiam-ping sudah berputar dari kanan kiri lalu berpadu ditengah dalam jurus Wi-liong-ting-gak.
yang jarang digunakan telah dilancarkan.
Maka terdengarlah "Blang"
Yang keras, bayangan putih mencelat terbang setombak jauhnya.
Perlu diketahui bahwa ajaran tunggal suatu perguruan yang putus turunan umumnya harus dipelajari sendiri berdasarkan bakat dan kecerdasan penemunya.
dahulu Kiu-thian-sin-liong cianpwe dari Hong-lui bun dan Lui Giok juga hanya berhasil menyelami tiga jurus saja, jurus keempat Wi-liong-tin-gak ini adalah hasil ciptaan Liok Kiam-ping sendiri berdasarkan penemuannya, selama ini jarang dia gunakan, maka kaum Bulim umumnya mengira bahwa Wi-llon-ciang hanya terdiri tiga jurus, tak heran kalau pemuda baju putih kecundang disaat tidak siaga.
Begitu terbanting jatuh pemuda baju putih menghamburkan darah segar, kaki tangan kelejetan sebentar lalu jatuh semaput.
Maka Liok Kiam-ping menghampiri Auwyang Tekskok serta memperkenalkan kepada Ai-pong-sut orang banyak merubung maju menunggu perkembanganselanjutnya.
Sesaat kemudian baru pemuda baju putih sadar, tahu dirinya terluka parah, untuk lolos jelas tidak mungkin, maka matanya hanya dipicingkan uutuk memandang orang-orang disekelilingnya, setelah menghela napas, dia pejam mata pula.
Liok Kiam-ping tidak tega, katanya dengan nada kalem.
"Siauhiap ada kesulitan apa, boleh kau terus terang saja, bila persoalan memang masuk diakal dan patut dipertimbangkan, kami pasti bertindak secara adil kepadamu."
Pemuda baju putih berkata rawan.
"Kalian tentu masih ingat.Jing-san biau khek?"
"Maksudmu murid Ham-ping Lomo yang paling disayang itu? pernah apa dia dengan Siauhiap ? Kecut tawa pemuda baju putih, katanya.
"Dia adalah engkohku, waktu dia pulang membawa luka parah dulu, sempat dia ajarkan tiga jurus Wi-liong-ciang kepadaku, diapun berpesan supaya kelak aku menuntut balas sakit hatinya, maka aku giat berlatih, namun sudah kekuatan sendiri tidak mencukupi, untung bulan lalu Ham-ping-kiong memberi petunjuk supaya dengan Wi-liong-ciang aku membunuh murid-murid lima perguruan besar dengan melimpahkan dosa-dosa ini kepihak Hong-lui-bun. sementara seluruh kekuatan mereka beserta jago-jago silat yang berhasil mereka kumpulkan langsung meluruk kemarkas besar musuh di di Kwe Hun ceng. Sekarang cayhe tertaw n, mau bunuh atau disembelih terserah, kalian boleh turun tangan-"
Liok Kiam-ping menghela napas, katanya.
Demi mengejar keinginan pribad isaudara tak segan melakukan kejahatan, walau persoalan sudah jelas, namun orang orang kelima perguruan besar masih menunggu penyelesaian, untuk ini Hong-lui-pang kita tidak bisa membantu dirimu menyelesaikan."
Lalu Kiam-ping berpaling kearah Auwyang Tekspoh, katanya.
"Karena peristiwa ini, hampir saja Siaute bentrok dengan kelima perguruan besar itu, syukur Hoat-pun Siansu berpikir secara obyektif. beri hati luhur dan bajik, maka kujanjikan setengah bulan untuk membongkar perkara ini, dalam jangka waktu yang kujanjikan itu akan memberi pertanggungan jawabku ke Siau-lim-si. Sekarang markas besar kita sedang terancam bahaya, aku kuatir pihak Ham
ping-kiong sudah meluruk keselatan maka Siaute harus lekas kembali ke Kwe-hun-ceng, waktu tidak mengizinkan Siaute pergi ke Siau-lim-si, untuk ini aku mohon bantuan Lokoko mewakili aku ke sana."
Auwyang Tekspoh bergelak tawa katanya.
"Tugas ini boleh kau serahkan kepadaku, jangan kuatir pasti kuselesakan dengan baik, besok juga aku akan berangkat ke Siau lim si.' Setelah mengucap terima kasih Liok Kiam-ping menjura lalu mohon diri bersama Ai pong-sut mereka naik perahu kembali kekota. Ingin rasanya tumbuh sayap supaya segera terbang kembali ke Kwi-hun-ceng, untunglah kembalinya mereka naik kapal besar milik cau Hong, kalau datangnya setengah hari perjalanan pulangnya hanya memerlukan duajam, Hari telah petang malam itu mereka menginap disebuah hotel, maklum us ia sudah lanjut, setelah hilir mudik satu hari, beg itu masuk kamar Ai-pong-sut lantas tidur mendengkur. Sebaliknya Liok Kiam-ping banyak pikiran, hatinya gundah tak bisa tidur. Seolah-olah terbayang dalam benaknya Hamping Lomo dan kamrat-kamratnya sedang menggempur KwHun Ceng, korbantelah berjatuhan, makin dipikirperasaan makin tak karuan. Mendadak Liok Kiam-ping melompat bangun sambil membangunkan Ai-pong-sut, katanya.
"Hayo berangkat,"
Ai-pong-sut juga tidak banyak bicara, begitu bangun segera dia ikuti Liok Kiam-ping melompat keluar lewat jendela setelah meninggalkan sekeping uang diatas meja.
Jalan yang mereka tempuh tetap pegunungan yang belukar, selama beberapa hari menempuh perjalanan tanpa istirahat, betapapun tinggi Lwekang mereka, akhirnya merasa payah juga.
Pada sebuah kota kecil, pagHari itu mereka mengisi perut sambil mencari berita.
Sejak Hong lui-pang berdiri, dalam wilayah ciat-kang, dikota besar kecil atau desa desa sekitarnya iidak sedikit Liok Kiam-ping menanam anggotanya yang dipimpin oleh kader-kader pilihan yang telah digembleng dari markas besar, tidak heran kalau Hong-luipang berkembang pesat dan berkenan dihati rakyat karena mereka membela kebenaran, mendukung pihak lemah demi kesejahteraan hid up mereka.
Di mana saja dalam wilayah ciat-kang siapa-siapa tidak unjukjempol bila membicarakan Hong-lui-pang.
Hari ini mereka tiba dikota Hing-an, kota sedang initerletak dipersimpangan jalan antar kota, maka perdagangan di sini Cukup ramai, penduduknya hidup makmur, di sini Hong-luipang juga mendirikan Cabang, namun situasi sekarang agak genting, waktu Liok Kiam-ping tanya tentang Hong-lui-pang kepada seorang penduduk.
yang di tanya ternyata menggeleng ketakutan terus menyingkir namun Kiam-ping tidak putus asa dia masihputar kayuh keberbagai tempat yang strategis namun tanda rahasia Pang mereka juga tidak ditemukan.
Mereka tahu situasi telah berobah genting, bukan mustahil seluruh anggota Hong-lui-pang telah mengundurkan diri atau sudah mengalami bencana, sore itu mereka mengisi perut sekedarnya, lalu cari hotel dan masuk kamar istirahat.
Menjelang kentong ketiga Ai-pong-sut kembali meletakan sekeping perak diatas meja, bersama Liok Kiamping mereka melesat keluar lewat jendela menuju kearah barat laut, keduanya mengembangkan Ginkang tinggi, maka gerak tubuh mereka seperti jalur asap yang memanjang putih, laksana kilat meluncur kedepan.
Duajam kemudian seratus li lebih telah mereka capai, saat itu fajar sudah hampir menyingsing, kota Kim-hoa sudah kelihatan tak jauh didepan, kota ini penduduknya padat, perdagangan tidak kalah ramainya dari kota Hing-an yang lebih kecil, apa lagi Hari itu hari pasaran, maka banyak pedagang yang sepagi itu sudah siap berangkat dan banyakpula yang sudah menjublek didepan pintu kota.
Makin dekat kota orang makin banyak, maka Kiam-ping berdua tak berani mengembangkan Ginkang lagi, mereka membelok ketimur lalu kembangkan Ginkang pula memutar kota menuju keselatan lewat tanah tegalan yang belukar, namun kecepatan jalan mereka dua lipat dari orang biasa.
Sehari ini mereka tidak istirahat atau masuk kota, menjelang magrib mereka sudah memasuki wilayan ceng-than, semakin dekat mereka merasa perlu mencari tahu situasi, maka mereka masuk kota, disuatu tempat mereka tengah Celingukan mencari tanda-tanda rahasia yang amat mereka perlukan.
Dari tempat gelap dipojok sana mendadak muncul seorang pemuda berpakaian ketat, secara lihay dia menggerakan tangannya memberi tanda khas kearah Liok Kiam-ping lalu menyelinap ketempat gelap.
Liok Kiam-ping adu pandang dengan Ai-pong-sut, mereka maklum apa arti tanda rahasia itu, dengan kalem segera mereka menuju ketempat gelap itu.
Beberapa puluh langkah kemudianpemuda pakaian ketat itu mendadak berhenti serta membalik tubuh terus menekuk sebelah lututnya serta memberi hormat kepada Liok Kiam-ping, katanya dengan suara sedih.
"Hamba ong Siang, atas perintah Jin-hong-tong Tongcu, sudah lama menunggu kedatangan Pangcu di sini."
Liok Kiam-ping tahu bahwa perobahan telah terjadi markas besar, lekas dia tanya.
"Jangan banyak adat, lekas tuturkan kepadaku apa yang telah terjadi."
Ong Siang mundur selangkah lalu berdiri tegak. katanya dengan muka getir.
"Selama beberapa minggu sejak Pangcu berangkat keutara, keadaan aman sentosa, namun sejak minggu lalu mendadak muncul belasan jago-jago kosen dari golongan hitam dan aliran putih yang menyatakan akan menumpas dan menghancurkan Hong-lui-pang kita, tanpa memberi pernyataan resmi, mereka langsung meluruk kemarkas besar"
Syukur para Tong-cu, kita berjuang mati
matian baru musuh berhasil dipukul mundur. Malam itu juga beberapa murid kita diutus keberbagai tempat untuk memberi kabar disamping mengirim kabarpula kepada Pangcu.
"Tiga hari yang lalu, jago-jago Ham-ping-kiong dan Lo-huto di Lamhay meluruk bersama, situasi makin tegang dan mendesak, berbagai cabang yang berdiri diberbagai kota, secara berencana telah ditumpas habis oleh mereka, beritaberita buruk susul menyusul berdatangan. Jago-jago Ham-ping-kiong dan -Lo-hu-to amat bengis dan kejam, mereka turun tangan secara telengas, tidak sedikit korbanjatuh dipihak kita, pada haltenaga yang ada dimarkas besar amat terbatas, menjaga yang ini kehilangan yang itu, maka sebagian bangunan telah dibakar dihancurkan musuh, tapi korban dipihak musuh juga tidak sedikit.
"Gelagatnya pemimpin besar mereka belum tiba, maka setelah bertempur semalam suntuk, lekas sekali mengundurkan diri, namun menyatakan dalam tiga hari mereka pasti akan membumi Hangus seluruh markas besar kita, anjing ayampun takkan ketinggalan hidup.
"Para Tongcu kuatir bila iblis laknat pimpinan musuh tiba, kekuatan yang ada dipusat jelas takkan kuat melawannya, maka dipilih beberapa anggota berani mati dlutus keluar markas menyelundup keluar, kepungan musuh menunggu kedatangan Pangcu. Agaknya Tecu mendapat anugrah dari Thian Yang Maha Kuasa, syukurlah harapan kita terkabul, api Sekarang sudah menjelang waktu yang dijanjlkan, kemungkinan pertempuran sudah berlangsung dimarkas pusat."
Betapa murka Liok Kiam-ping mendengar laporan ong Siang, Sambil mengertak gigi dia mendesis.
"Kurcaci yang tak habis diberantas, hayolah cepat."
Belum habis bicara tubuhnya sudah mendahului meluncur ketengah udara.
Ai -pong -sut tidak mau ketinggalan, sekali jejak diapun melesat kencang kearah Kwi-hun ceng.
Hanya dalam waktu setanakan nasi, Kw-hun-ceng sudah kelihatan di kejauhan, suara pertempuran yang gaduh juga sudah mulai terdengar.
Liok Kiam-ping kembangkang Ginkang Eng-ih-kiu-coan, tubuhnya melambung makin tinggi sambil berputar meluncur dipucuk pohon terus menukik turun, melompati sungai pelindung perkampungan, secepat kilat dalam dua tiga kali lompatan jarak jauh dia sudah terjun keajang pertempuran.
Pertempuran berlangsung diluar perkampungan, mayat sudah bergelimpangan, darah mengalir, jeritan demijeritan menambah korban.
Liok Kiam-ping tarik napas, tenaga murni dipusar dikerahkan lalu menghardik.
"Berhenti."
Lwekangnya yang tinggi dikerahkan, sehingga Say-cu-hong (auman singa) yang di lancarkan laksana geledek menggelegar, seluruh hadirin yang lagi baku hantam seperti pekak kupingnya, ternyata semua melompat mundur dan pertarunganpun berhenti.
Melihat Liok Kiam-ping datang laksana malaikat yang terjun dari langit, sungguh bukan kepalang girang orang-orang Hong-lui-pang, serempak mereka bersorak menyambut.
"Pangcu."
Beramai mereka merubung maju.
Lekas Kim-ji-tay-bong pentang kedua tangannya meredakan suasana haru dan girang ini, langsung dia maju kedepan Liok Kiamping, sejak dia berdiam diri menekan emosinya yang masih menggejolak sanubarinya, namun mata menjadi merah, tenggorokan seperti disumbat, lidahpun kelu tak mampu bicara.
Dengan sabar dan penuh semangat Liok Kiamping tepuk pundaknya, katanya.
"Aku sudah tahu, kalian tidak perlu bersedih, hari ini kita akan menuntut keadilan kepada mereka, kau boleh istirahat dan tolong yang terluka."
Tersipu Kim ji-tay-tay-beng mengiakan sambil memberi hormat lalu mengundurkan diri.
Sementara musuh yang menyerbu juga mengumpul jadi satu diluar kampung, jumlah mereka jauh lebih banyak.
kirakira seratus orang.
Agaknya kedatangan Liok Kiam-ping cukup menggetar nyali mereka.
Liok Kiam-ping mendekat dan berhenti tak jauh didepan Ham-ping Lomo, saking murka dia dapat menekan perasaannya malah, katanya dengan tertawa ramah.
"Sungguh tak nyana. setua ini kau dapat bertindak lebih cepat dari cay he, mohon tanya siapakah kedua orang tua ini, siapa nama julukannya ?"
Hamping Lomo juga tertawa ramah, katanya. Siaute, tempo hari kuampuni jiwamu, hari ini jangan harap kau dapat meloloskan diri, dendam kesumat kita harus dibereskan hari ini."
Lalu dia tuding orang tua di sebelah kiri, bertubuh gemuk bera lis putih.
"Inilah Hu-to sin-kun yang berkuasa di Hu-lo-to di Lam hay."
Lalu dia tuding nenek tua bertubuh krempeng memegang tongkat besi di sebelah ka nanny a.
"inilah sumoay Hu-losin-kun yang dijuluki Bok-bin-sin-po anak muda, boleh kau berkenalan dengan mereka ber dua."
Liok Kiam-ping bergelak tawa, serunya.
'Maaf cayhe kurang hormat.
Agaknya kalian datang dengan maksud tertentu.
Syukurlah kedua pihak dapat kumpul hari ini, persoalan kedua pihak harus dibereskan secara tuntas hari ini, Sin-kun betul tidak menurut pendapatmu.?' Memicing kata orang tua gemuk.
katanya dengan seringai dingin.
'Ya, itulah maksud perjalanan Lohu beramai kemari Anak muda, Kalau kau tahu jumlah kami lebih banyak.
boleh kau sebutkan Caranya, Losiu pasti akur saja."
"Tamu mengikuti kehendak turun rumah, namun orang she Liok tidak akan merugikan kalian"
Demikian ucap Liok Kiamping.
"tapi sebelum pertarungan dimulai, ada beberapa persoalan cayhe mohon penjelasan dari pihak Ham-pingkiong."
Lalu dia menoleh kearah Ham-ping Lomo. katanya lebih lanjut.
"Pepatah ada bilang ada hutang harus dibayar, hutang darah dibayar darah, demikianlah kehidupan insan persilatan, untuk membereskan sakit hati dan permusuhan digunakan cara berkelahi, kepandaian menentukan, siapa kuat dan menang, permusuhan kita memang sudah bertumpuk maka penyelesaian boleh dilakukan secara terbuka. Apa la cur, kau menganjurkan adik Jing-san-biau-khek meminjam kebesaran nama kita membunuh murid-murid lima perguruan besar dengan tujuan mengadu domba mereka dengan kita sehingga kaum Bulim takkan hidup dalam suasana damai, apakah perbuatan kotor dan keji serta memalukan ini tidak meruntuhkan pamor Hamping-kiong yang sudah puluhan tahun?"
"Adik Jing-san-biau-khek belum pernah muncul di Kangouw. Muncul dan perbuatannya di Bulim belum diketahui orang, apakah kedoknya sudah terbongkar dan dibekuk lawan, kalau dia tidak mengaku mana lawan tahu rahasia ini?"
Demikian batin Ham-ping Lomo dengan rasa kejut.
Tapi dia tab ah, Licik dan licin, sengaja dia terloroh loroh, katanya.
Jing-san biau-khek adalah murid penutup Lohu, setahun yang lalu sudah kau pukul mati, dendam ini belum terbalas sampai sekarang.
Tentang adiknya aku tidak tahu juga bukan murid kita, Siau-pwe, jangan kau memfitnah, nanti kau rasakan betapa lihay tindakan kami."
Liok Kiam-ping menyeringai dingin, katanya.
"Tua bangka tidak tahu malu. jelas kau yang jadi biang keladi, namun memungkir dan cuci tangan-Biarlah kuberitahu kepadamu, pengganas yang menyamar anggota Pang kita membunuh murid-murid lima perguruan besar itu sudah kubekuk dan kugusur ke Slong-san, biar lima perguruan besar yang akan menghukumnya. Iblis laknat, kukira dalam kasus itu kaupun terlibat atau mungkin biang keladinya pula."
Betapapun licik dan tabah Ham-ping lomo kini tak kuat lagi dia menahan amarah, mukanya memberi dilembari nafsu membunuh. bentaknya.
"Siaupe, tutup bacotmu, jangan membual, kalau tidak..."
""Kalau tidak kenapa ?"
"Kwi-hun-ceng akan kuratakan dengan tanah"
"He, apa mampu ?"
Jengek Liok Kiam-ping.
"selama Honglui-pang berdiri tak pernah terjadi onar dan permusuhan, kita bisa hidup berdampingan secara damai dengan berbagai golongan dan aliran2 lain-Tapi adik Jing san-biau-khek yang pernah mencuri belajar tiga jurus Wi-liong-ciang ternyata menteror murid-murid lima perguruan besar, sehingga menimbulkan amarah masal, syukurlah pengganas itu sudah berhasil kubekuk dan telah diserahkan kepada Hoat-pun Siansu di Siau-lim-si, sudah pula kami kirim kabar kepada perguruan lain yang bersangkutan, maka kuanjurkan kepada pihbak-pihak yang bersangkutan di sini, kalian datang atas perintah dan ingin menuntut balas, duduk perkaranya sudah jelas, silakan mundur saja kepinggir."
Anjuran Liok Kiam-ping membawa reaksi yang menguntungkan, orang-orang dari Kong-tong, Go-bi.
Hoa-san segera mundur dari kelompok besar Ham-ping-lo-mo.
Butong pay yang dipimpin Pek-clok Tojin mundur paling akhir.
Kini yang masih bersitegang leher didepan perkampungan hanyalah jago-jago Ham-ping-kiong dan Lo hu-to, jumlahnya sekitar empatpuluh orang.
Maka Liok Kiam-ping menoleh kearah rombongan anak buahnya, yang tersisa hanya belasan orang saja.
kekuatan kedua pihak jelas terpaut amat jauh, maka dia berpikir.
"Kalau terjadi pertarungan besar, pihak kita sukar mengalahkan mereka yang berjumlah lehih banyak. lebih baik diadakan pertandingan secara beraturan dalam beberapa babak, tapi iblis laknat itu cukup licin, mungkin tak mudah ketipu..."
Mendadak Ham-ping Lomo membentak.
"Kurcaci ini bertangan gapah. jahat dan telengas, Hamping-kiong bersumpah tak mau berjajar dengan kau, hayolah kita maju bersama."
Dengan gerakan kilat mendadak dia mendahului memukul satu jurus kepada Liok Kiam-ping.
Lwekangnya yang tangguh sudah diyakinkan enam puluhan tahun, jagosilat yang masih hidup didunia ini mungkin sudah, tiada yang kuat melawan pukulannya yang hebat.
Dua pukulan telapak tangannya menimbulklan gelombang pasang yang hebat seperti gugur gunung.
Betapapun tinggi Lwekang Liok Kiam-ping, karena lawan menyerang mendadak.
sukar dia melayani dengan serangan balasan terpaksa dia kembangkan Ling-hi-pou berkelebat setombak kepinggir.
begitu kaki menyentuh tanah, kontan Kiam-ping menggerakan kedua tangan, bentaknya.
"Kaupun rasakan seranganku."
Iblis tua berpengalaman, begitu serangan pertama luput, serangan susulan sudah disiapkan-melihat Kiam-ping mendorong kedua lengannya, diapun songsong pukulannya dengan dorongan telapak tangan pula.
"Blam"
Udara seluas satu tombak seperti mendadak bergolak menjadi angin lesus yang membumbung tinggi keangkasa.
Liok Kiam-ping tergetar keras..
hingga tubuhnya bergontai.
Sementara Ham-ping Lomo tertolak setengah langkah.
Pada hal usia iblis tua ini sudah mendekati se abad, betapa hebat latihannya, nama besarnyapun sudah disegani puluhan tahun, dalam adu kekutan kali ini ternyata kecundang oleh seorang pemuda ingusan, betapa hatinya takkan kaget dan sedih, apapun dia tidak mau terima akan kenyataan ini Kejadin berlangsung cepat dan hanya sekejap mata saja.
Begitu kedua orang ini mulai bentrok, maka orang-orang lainpun tak mau ketinggalan-Baru saja Lo-hu-sin-kun menggerakan kaki, Ai-pong-sut Thong caU sudah menghadangny serunya bergelak tawa.
"Eh, mau ke mana kau, bukankah di sini juga baik."
Sebelum lawan bicara dia sudah menepukkan kedua telapak tangannya.
Lo-hu-sin-kun seorang pemimpin yang berkuasa di daerahnya, Kungfunya jelas mempunya keistimewaannya sendiri, Lwekangnya pun tinggi, merupakan jago kosen yang tak pernah ketemu tandingan di Lam-hay, Hukong-king-ingpou ciptaannya dan Lo-hu-sha-cap-lak-sek merupakan dua ilmu tunggal yang pernah menjagoi Bulim.
Sebelum pukulan Ai-pong-sut mengenai tubuhnya Lo-hu sin-kun sudah menjengek dang in, kakinya menggeser kepinggir tangan menggaris bundar lurus balas menepuk.
Tak nyana serangan Ai-pong-sut ternyata gertak samber belaka, tangan bergerak tanpa menyalurkan tenaga, begitu lawan menyong-song pukulannya, lekas dia kembangkan gerak tubuhnya yang aneh, sekali berkelebat bayangannya ternyata lenyap dari pandangan muka.
Terasa pandangan kabur, ternyata bayangan lawan lenyap.
karuan Lo-hu-sin-kun melenggong dibuatnya, tiba-tiba angin tajam menindih tiba dari arah kiri.
Mendadak diapun menghardik, segera diapun kembang-kan Hun-kong-kinging-pou, gerak tubuhnya-pun tidak kalah lincah dan pesat seperti samberan kilat Maka kedua orang ini adu tipu, adu ginkang, kejar mengejar, tubruk menubruk.
yang satu tendang yang lain sepak.
semua gerakan dilancarkan dengan kecepatan tinggi, yang terlihat hanya dua bayangan yang berseliweranpergi datang.
Gaya pertarungan kedua orang ini merupakan tontonan gratis yang menakupkan dari ajang pertempuran lain yang terus berlangsung.
Melihat sang Suheng takkan bisa menang dalam waktu singkat, Bok-bin-sin-po yang nenek berangasan ini tidak sabar menunggu, sudah berulang kali dia ingin terjun ke arena membantu, maka pelan-pelan kakinya sudah bergerak kepinggir gelanggang.
Kim-ji-tay-beng masih dendam karena adiknya Gin-jaybeng masih tersiksa dalam sakitnya oleh pukulan Ham -pinging-sat musuh, sejak lama dia sudah bertekad menuntut balas, melihat pertempuran sudah mulai, diapun tak mau ketinggalan.
Sebelum lawan menaantang dia sudah membentak.
"Lihat serangan."
Telapak tangannya sudah berobah kuning emas, begitu bergerak langsung dia menyerang kepada Bok-bin-sin-po.
Memangnya Bok-bin sin-p sudah gatal tangannya dan ingin terjun ke arena, merasa pukulan yang melanda diri, seketika dia terkekeh senang, serunya.
"Serangan bagus."
Tubuhnya mengendap kedepan dengan miring hingga luput dari serangan telak, berbareng tongkat kepala burung hantu ditonjokkan dengan jurus Kiau-liong-jut-cui mengetuk Jiankin-hiat dipundak Kim-ji-tay-beng.
Serangan kedua tangan Kim-ji-tay-beng tidak sepenuh tenaga, begitu tongkat lawan mengancam pundaknya lekas dia kendorkan tenaga terus melompat tinggi keudara mengembangkan Hwi-eng-sin-hoat, tubuhnya celentang datar dengan kaki tangan terpentang persia seekor burung raksasa yang pentang sayap terus menukik turun, telapak tangannya yang menguning membawa cahaya gemilau mengepruk batok kepala.
Bok-bin-sin.p bukan lawan enteng, melihat lawan memiliki gerakan tubuh selihay ini, dia tak berani ayal, sikapnya kini serius, tongkatnya ditarik balik terus dirobah gerakan ou-liongjeng-tha ujung tongkatnya yang berkepala burung itu mematuk ke telapak tangan Kimji-tay-beng.
Grak gerik Kim-ji-tay-beng setangkas naga, kedua kaki tertekuk lalu menjejak, tubuhnya yang terapung berputar sehingga patukan tongkat lawan dihindarkan, kini dia berkelebat kebelakang lawan, dengan tenaga penuh kedua telapak tangannya menggablok dari udara.
Gak tubuhnya memang tangkas lagi lincah, kecepatannyapun diluarperhitungan lawan-Bok-bin-sin.p memang terdesak kaget.
sukar dia mengimbangi kecepatan lawan-Apa lagi tongkat besi itu beratnya delapanpuluh kati, untuk memutar dan memainkan ilmu tongkatnya diperlukan landasan tenaga dalam yang besar, padahal usianya sudah lanjut, maka dalam setiap perobahan gerakan tongkatnya selalu membawa gerak lamb an.
Namun sejak muda dia sudah meyakinkan ilmu tongkatnya dan sudah terkenal puluhan tahun, meski terdesak tidak mudah dirobohkan, merasa punggung diserang lawan, lekas dia hentikan gerak tongkatnya terus miring kan tubuh ke sebelah kanan, begitu gablokan lawan luput dia menghardik sengit terus putar tongkatnya dengan ilmu Lo-kong-koayhoat, ilmu tongkatnya terdiri sembilan puluh satujurus, begitu kencang dia memutar tongkatnya laksana kitiran, dalam waktu singkat dia masih kuat bertahan meski sedikit terdesak, namun belum kalah.
Dalam pada itu Jian-li-tok-hengJin Hou maju beberapa langkah dan menantang kepada Tay-bok-it-siu.
"Sahabat lama, kenapa menonton saja, hayolah mau menambah keramaian' sambil tertawa dia pasang kudakuda siap menunggu serangan-Tay-bok-it-siu juga jago yang sudah punya nama, meski tahu dirinya bukan tandingan lawan, tapi ditantang didepan umum, betapapun dia pantang menyerah dengan muka mas am dia menjengek.
"Ya, Lohu juga sudah sebal menunggu, ternyata kau antar jiwamu, hayolah maju memangnya siapa takut kepadamu."
Habis bicara langsung dia menyerang lebih dulu.
"Nah kan begitu."
Seru Jian-li-tok-heng tertawa riang, kaki menggeser tubuh berkelit, sebat sekali dia membalik arah sambil menyilang kedua tangan lalu balas membentak.
"Kaupun rasa kan pukulanku.' serangan ini menggunakan tinju dilandasi kekuatan dalam lagi maka tinjunya sampai menderu keras. Serangan Tay bok-it-siu belum ditarik balik, sementara pukulan lawan sudah mengancam dirinya, untung Lwekangnya cukup tinggi, mendadak dia berputar segesit tupai, sambil mengendap tubuh kedua tangan menyongsong maju lawan-"Plak"
Benturan menimbulkan ledka, keras Jian-li-tok-heng bergoyang mundur.
Sementara Tay-bok-it siu menangkis dengan tergesa maka tenaganya tidak sepenuhnya, maka dia tertolak mundur dua langkah baru berdiri tegak pula.
Sejurus berhasil memukul mundur lawan, Jian li-tok-heng tidak memberi hati, sambil tertawa dia mengejek pula.
"Sahabat lama sudah sekian lama tidak bertemu, ternyata tiada kemajuan sama sekali."
Disamping mengembangkan kelincahan gerak tubuhnya dia pun lancarkan Sian-tian ciang hoat (pukulan kilat).
Tay-bok-it-siu pernah merasakan kelihayannya, maka diapun melawan dengan Loh-ce-siang-hoat yang terkenaljuga.
Sesaat mereka masih beri hantam seru dan sama kuat.
Dalam pada itu dengan Ginkang yang tinggi, karena sengsi-koan dalam tubuhnya juga sudah tembus, tenaga dalamnya terus mengalirtakputus-putus, maka begitu melabrak maju, dua jiwa murid Lo-hu-sin-kun dibabatnya mampus.
Sekali serangan berhasil menamatkanjiwa musuh, Suma Ling-khong semakin kerasukan setan, dengan bekal kepandaiannya dia ingin melabrak musuh serta membabat seluruh murid-murid Lo-hu dan Ham-ping.
Si gede siang wi selama beberapa hari ini nganggur, sejak serangan Ham-ping-kiong tiga hari yang lalu, sifat buasnya kambun lagi, maka hari ini diapun melabrak musuh sejadijadinya, untung tubuhnya kebal senjata, kalau tidak mungkin dia sudah mampus terpukul Ham-ping-ciang yang beracun dingin, sekarang dia bisa mengumbar amarahnya dengan membabat musuh sebanyak mungkin, dengan Suma Lingkhong mereka sudah mengikat janji, berlomba membunuh musuh sebanyak mungkin, melihat Suma Ling-khong sudah membunuh beberapa jiwa musuh, segera dia tak mau ketinggalan, serunya.
"He, tunggu aku."
Menenteng tongkat besinya segera dia kembangkan Nukang-cappwe-lak.
dengan langkah lebar dia menghampiri rombong an besar musuh.
Setelah adu tiga kali pukulan dengan Ham-ping Lomo, berkat rejeki yang selalu nomplok kepada Liok Kiam-ping, ternyata tenaga dalamnya masih lebih unggul dari lawan-lb lis tua yang sudah lama bersimaharaja ini dipukulnya tergetar mundur dengan rambut dan jenggot berdiri kaku, mata melotot mulut menyeringai.
Seperti binatang buas kelaparan yang kalau merebut mangsa, jari-jari tangannyapun terkembang seperti cakar slap merobek mangsanya.
Sebagai tokoh bangkotan dia tahu hanya berlandas kekuatan dalam, dirinya takkan bisa mengalahkan anak muda ini, terpaksa dia harus mengerahkan Hiam-ping-im sat untuk mengadu jiwa, syukur lawan dikalahkan, namanya yang sudah diangkat selama puluhan tahun baru a kan dipertahankan-Setelah tetap hatinya, dia menyeringai sambil kertak gigi, kedua lengan perlahan diangkat, telapak tangannya makin memutih bening mengeluarkan uap putih, begitu dia kerah kan tenaga uapputih mulur makin panjang dan melesat kencang bagai rantai menerjang Liok Kiam-ping.
Liok Kiam-ping tahu kelihayan ilmu lawan, maka dia kerah kan Kim-kong-put hoay-sin-kang untuk melindungi badan sambil mencari akal untuk melawan-Jalur uap putih itu ternyata terbendang tiga kaki disekitar tubuh Liok Kia m-ping, seperti tertahan oleh tembok kaca maka buyarlah uapputih itu.
Ham-ping Lomo makin murka, ditengah gerungannya, dia tambah tenaga sambil melangkah maju setindak.
Uap putih itupun mendesak majusatu kaki lebih dekat.
Ternyata Kiamping hanya tersenyum saja, diapun tambah kekuatan hingga gumpalan asap putih maju mundur dan tertahan tiga kaki lagi, di sini mereka berkutet adu kekuatan-Di sana mendadak terdengar ledakan keras, ajang pertempuran mendadak berobah.
Ternyata dengan Ginkangnya yang lebih unggul Kim-ji-taybeng melabrak Bok binsinpo, gerak geriknya selincah naga yang menari diudara, apalagi Kim coa ciang terkenal keampuhannya di Bulim, dilandasi tenaga dalam yang sudah dilatihnya puluhan tahUn, permainan la near dan deras, perbawanya memang menciutkan nyali lawan-Ditengah berkelebatnya sinar emas disertai angin keras, memberondang dari atas keseluruh tubuh Bok-bin-sin po.
Dikalangan Kangouw Bok-bin-sin-po termasukjago lihay yang disegani, ilmu tinggi Lwekang tangguh, dia terkenal bertangan gapah hati telengas, tiada musuh yang selamat ditangannya.
Selama dua puluh tahun entah berapa banyak kejahatan yang dilakukan, maka kaum persilatan di Tlonggoan tidak sedikit yang ingin mengganyangnya, maka dia menyembunyikan diri dan mengasingkan diri di Lo-hu-kiong di Lam-hay.
Kali ini dia ikut sang Suheng kembali ke Tlonggoan dengan harapan dapat menegakkan wibawanya pula dengan Lwekang yang diyakinkan serta ilmu tongkat yang makin sempurna.
Tak nyana dia kebentur dengan Kim-ji-tay-beng, lawan tangguh yang terkenal tidak mau kompromi dengan musuh, celaka lagi lawan memiliki Ginkang luar biasa sehingga permainan tongkatnya mati kutu.
Belum ada tiga puluh jurus mereka bertarung, Bok-bin-sin po sudah merasapayah dan kecapaian, putaran tongkatnya terasa berat dan makin lambat, keringat sudah membasahi tubuh.
Saat itu dia menghindari serangan Kim-ji-tay beng yang dilontarkan dari udara, tubuhnya menjorok maju selangkah, tongkatnya bergerak dengan jurus Ui-liong-hoansi (ular sanca membalik tubuh), mengikuti gerak tubuh yang berputar tongkatnya mengepruk kepund Kim-ji-ta y-b eng .
Keprukan tongkatnya mengeluarkan deru angin, betapa besar tenaganya karena serangan luput, mendadak tongkat lawan sudah menyerang pundak dari sis i kiri, Kim-ji-tay-beng mend eng us dingin, kedua kaki memancal, diudara tubuhnya berputar kencang seperti roda, telapak tangan kiri sempat menekan ujung tongkat lawan, sehingga daya pukulan tongkat lawan tertahan, berbareng tangan kanan yang sudah dilandasi tenaga menyapu miring kekanan.
Baru setengah jalan serangan tongkat Bok-bin-sin.p mendadak tongkatnya tertahan, padahal tubuhnya belum lagi terbalik, telapak tangan kanan lawan sudah menindih turun pula.Jelas dia takkan bisa terhindari dari serangan lawan-Untung pengalaman tempurnya cukup luas, perlawanannyapun gigih, tahu tongkatnya terlalu berat untuk diputar balik untuk menolong juga terlambat, terpaksa dia bertindak nekad melepaskan tongkatnya, begitu tongkatnya jatuh ditanah, sigap sekali dia memutar tubuh terus memukul dengan kedua tangan-"Blang"
Tubuh Kim-ji-tay-bong hanya tertolak naik sedikit, kebetulan dia harus ganti napas karena tenaga murninya sudah habis, maka dengan enteng dia anjlok turun-Karena secara reftek menghadapi serangan tak terduga sehingga tangkisannyapun gugup, Bok-bin-sin-po tergetar mundur tiga langkah baru berdiritegakpula.
"Nenek bawel,"
Seru Kimjit-tay-beng bergelak tawa.
"rasa kan lagi pukulanku.' Sebelum lawan menjawab, kedua tangan terpentang dengan mengembangkan Kim-soa-ciang dia menubruk majupula. Bayangan telapak tangan yang ceplokceplok emas itu memberondong gencar dari bagian sudut yang tidak terduga. Pucat muka Bok-bin-sin.p rasa kejut belum hilang, kini dirabu lagi oleh pUkulan lawan, mana berani dia melawan secara keras, lekas dia g una kan gerakan khusus dari perguruannya. Hu-keng-klng-ing-pou secara tangkas dia bergerak ditengah samberan pukuian lawan dalam waktu dekat masih kuat dia bertah an. Dibabak lain Ai-pong-sut Thong cau yang melawan Lo-hu sin-kun merasa payah dan beratpertarungan mereka tidak kalah s eng it. Lwekang mereka seimbang, kedua nya memiliki Ginkang istimewa lagi, maka gerak gerik mereka dalam kecepatan yang luar biasa sehingga mirip duajalur asappanjang yang b erg elut secara ketat, hakekatnya sukar membedakan bayangan mereka. Aipong-sut adalah Tianglo satu-satunya dari hong lui-pang yang masih hidup, tekadnya menuntut balas dendam perguruan yang sudah terbenam dua puluh tahun lama nya. Seorang lagi adalah gembong persilatan yang menjagoi kalangan Bulim di Lam-hay, diapun bertarung mati-matian demi mempertahankan kebesaran namanya yang telah dibinanya puluhan tahun. Hanya sekejap keduajago kelas wahid ini telah beri hantam lima puluh jurus. makin lama gerak gerik mereka makin cepat laksana setan, setiap gerakan kaki dan tangan disertai kekuatan yang hebat sehingga terkadang mereka berpencar untuk saling tubruk lagi. Mau tidak mau Ai-pong-sut. Berpikir.
"Lo hu sin-kun merupakan lawan tertangguh yang pernah kuhadapi selama hid up, kalau berjalan terlalu lama, pertempuran ini kapan berakhir, kalau tidak menggunakan akal, celaka kalau aku berlaku lena."
Diam-diam diperhatikan permainan lawan serta mencari daya upaya untuk mematahkan serangannya.
Makin beri hantam Lo-hu-sin-kun juga tersirap darahnya, usianya juga sudah amat lanjut.
namun dengan kekuatan lwekang yang diyakinkan lebih dari setengah abad ternyata tak berhasil mendesak lawan, kalau tidak menggunakan ilmu jahat simpanannya, jelas sukar dia mencapai kemenangan.
Serta merta kedua kakinya menjejak bumi, tubuhnya melejit ke udara, pinggang ditekuk tubuh berputar, laksana kilat menubruk tubuh dengan menukik sepuluh jarinya tertekan laksana cakar, gaya tubrukannya mirip elang menerkam kelinci kiranya dia sudah kembangkan Hwei eng-sha-cap lak-sek, ilmu andalannya yang sudah terkenal.
Tiga puluh enamjurus pukulan elang ini dilandasi tenaga dalam dan Ginkang yang tinggi, bila sudah dikembangkan lawan takkan diberi, kesempatan balas menyerang.
Sebaliknya bila permainan dihentikan setengah jalan awak sendiri bis a terancam bahaya karena timbulnya aliran sungsang dalam tub uhny a sehingga melukai isiperut sendiri, maka sekali pukulan sudah dilancarkan, maka dia pantang mundur dan berhenti, kalau lawan tidak roboh maka diri sendiri yang akan terjungkaL Selama hidup baru dua kali Lo-hu-sin-kun menggunakan ilmunya ini, disamping ganas pukulan ini memang teramat kejam.
Saat mana tubuhnya menubruk kebawah serangannya laksana kilat lawan dibendung oleh keseb atan gerak tangannya, Disamping Ginkang tinggi Lwekang Ai-pong-sut juga tangguh, pengalaman tempurnya luas, tapi selama hidup juga baru sekali ini dia menghadapi permainan seperti ini, karuan dia keripuhan gugup, Untung Ginkang nya tidak kalah dibanding lawan, secara nekad dengan seluruh kekuatan dia berkelit syukur selamat, namun nya liny a sudah ciut, ha nya tiga jurus makin dilawan keadaannya makin terdesak.
Namun makin tua jahe makin pedas, setelah beruntun mengalami bahaya, ternyata perlawanannya makin mantap dan akhirnya tersimpul dalam benaknya akal untuk mematahkan serangannya.
Ternyata kelihayan tiga puluh enamjurus pukulan elang ini terletak pada serangkaian serangan yang dilancarkan dari tubrukan di udara secara berantai gerak tubuh juga lincah dan tangkas sehingga lawan terdesak keripuhan.
Tapi untuk menubruk kebawah, setiap kali Harus ada senggang waktu yang sama, dan untuk mempertahankan tubrukan menukik ini, cuma gaya tubrukannya itu tidak boleh keburu nafsu dan terlalu rend ah, maka serangannya selalu mengincar seputar kepala, pundak dan dada atau punggung pokoknya diatas perut.
Setelah tahu rahasia permainan lawan Ai-pong-sut tertawa dingin.
Mendadak dia menjatuhkan diri terus mengembangkan Te-tong kui, kaki dan sikut bekerja, tubuh berputar sekencang roda bergelundungan kian kemari.
Akal yang digunakan melawan musuh oleh Ai-pong-sut memang membuat Lo-hu-sinkun bingung dan mati kutu, karena jarak kedua pihak menjadijauh, betapapun gencar dan telak serangannya juga susah mencapai sasaran lagi.
Setelah menubruk turun naik beberapa kali lagi, hatinya menjadi tidak sabar, maka serangan mencengkeram dia robah menjadi tepukan dengan kekuatan pukulan telapak tangan dia hendak memukui lawan muntah darah, Padahal menubruk dari udara harus berulang kali berputar danjungkir balik diudara.
sementara Te tong-kui adalah ilmu tunggal Ai-pong-sut Thong cau yang belum pernah diajarkan kepada siapapun, maka permainannya sekarang justru leluasa.
Perkembangan justru menjadikan kedua lawan setanding ini bertarung dalam kedudukan sama kuat juga.
Jian-li-tok-heng dan Tay-bok-it-siu adalah musuh bebuyutan, sejak muda mereka sudah sering labrak permainan lawan sudah terlalu apal, mereka tahu dalam jangka pendek tak mungkin merobohkan lawan, maka serang menyerang dilakukan dengan setengah tenaga, maka permainan mereka tidak begitu tegang malah.
Lawan menyerang segera dipatahkan dengan jurus lihay, memangnya permainan mereka tiada yang dilancarkan sepenuh tenaga, seperti main perak saja mereka serang menyerang silih berganti, tidak layak kalau dikata mereka adujiwa, lebih mirip kalau mereka sedang latihan.
Padahal mereka juga mengkonsentrasikan pikiran, kelihatannya bertempur secara santai, namun benak mereka tidak pernah mengabaikan kesempatan, bila ada kesempatan ingin mereka merebut peluang untuk meroboh kan lawan, maka kedua lawan itutiada yang berani lena.
Lima puluh jurus telah lewat, mendadak Tay-bok-it-siu menghardik permainan telapak tangan juga berobah laksana hujan derasnya, dia memberondong sengit, ternyata dia bertekat melancarkan Loh-ce-ciang -hoat yang mempunyai keistimewaan menjatuhkan lawan, perobahan pukulan bintang jatuh initeramat ruwet, serangan kilat betapapUn cUkup membuat lawan gUgup, Jian li-tok-heng takpernah memandang remeh permainan lawan, serangan ini tidak membuatnya jeri, ditengah tawa dinginnya, dia kerahkan tenaga ditumitnya, Ginkang nya yang tinggi dikembangkan sepenuh tenaga, laksana burung burung camar yang menerobos gelombang badai ditengah samudra raya.
bira ada peluang, pukulan kilatnya balas menyerang.
Berkat keuletannya, perobahan mulaiterjadipada permainan mereka, semula kedua orang ini bermain secara lambat dan santai seperti berlatih saja, mendadak terjadi adu kecepatan dengan serang an, kilat sehingga sukar dirasakan dengan jurus apa lawan menyerang.
Dengan Kim kong put-hoay-sin-kang yang digdaya Liok Kiamping melawan Hian-ping-im-sat, kedua pihak sudah menguras b any a k tenaga, namun Liok Kiamping, ha nya bertahan tidak pernah balas menyerang, sudah tentu keadaannya lebih mending, walau Hamping Lomo kerahkan seluruh kekuatannyajuga tak berhasil mendesak lawan, maju setengah langkahpun tidak mampu.
Diam-diam Liok Kiam-ping menerawang pertempuran, dia insyaf dalam waktu singkat musuh sukar ditundukan, terpaksa dia pergencar tenaga pertahanan sambil memperhatikan permainan lawan-Dia menduga Ham-ping Lomo pasti punya jurus lihay yang mematikan belum dilontarkan, padahal jiwanya yang jahat dan banyak akalnya pernah kecundang lagi, kalau tiadapun bekal yang meyakinkan tak mungkin dia berani meluruk ke sini Hendak adu jiwa lagi.
' Melihat Hian-ping-im-sat tak mampu menundukkan lawan, sementara tenaga sendiri makin terkuras malah, keringat sudah basah dijidatnya.
Sebagai jago kawakan silat yang licik, dia juga tahu kalau pertempuran bertahan seperti ini terus, padahal tenaga sendiri hampir habis, bila Liok Kiam-ping balas menyerang, dirinya mana kuat melawan.
Mumpung masih kuat dan lawan masih bertahan, lekas dia merobah permainan-Ditengah loroh tawanya dia mundur serta menarik balik serang an Hian-ping-im-sat.
lalu menyurut mundur tiga langkah.
Dengan bekal Lwekangnya yang tangguh, ha nya memejam mata sebentar sambil mengatur napas.
tenaga dalamnya sudah pulih sebagian besar, semangat besar.
Mendadak dia bergerak dengan Bit-cong-pau-hoat, secara aneh dia menyelinap maju sambil angkat kedua telapak tangan memukul kearah Liok Kiam-ping.
Pukulannya ini mengunakan delapanpuluhprosen kekuatannya.
begitu dahsyat perbawanya lima tombak sekitar gelanggang seperti disapu badai lalu.
Dia pikir lawan masih muda, betapapun keuletannya tak sekuat dirinya, bila disergap secara lihay, jelas takkan kuat melawan gempurannya.
Kenyataan justru terbalik dari perhitungannya.
Melihat iblis laknat ini menarik pukulan Ham-ping-im-sat, Liok Kiam-ping menduga lawan akan melancarkan serangan gelombang kedua yang lebih keji, mumpung lawan mengkonsentrasikan diri, lekas diapun mengerahkan kekuatannya siap menyambut.
Bila pukulan lawan dilancarkan, Kiam-ping mendengus geram, tenaga pusar dikerahkan, tenaga dalam sudah disalurkan kedua lengan, kaki, sepasang kuda-kuda, lutut setengah tertekuk tubuh mengendap turun, Kiam-ping juga kerahkan delapan puluh prosen tenaga nya menyongsong pukulan lawan.
"Glegar."
Ada pukulan dahsyat ini menimbulkan pusaran angin lesus yang membumbung ke angkasa.
cukup lama baru keadaan mereda.
Liok Kiam-ping tergentak mundur selangkah, darah hampir tumpah dari mulutnya.
Sementara Ham-ping Lomo terjengkang dua langkah, kakinya melesak satu dim kedalam tanah, sekuatnya dia bertahan supaya darah segar yang sudah hampir menyembur ditelannya lagi.
Sungguh tak pernah terbayang dalam benak Ham-ping Lomo, dengan tenaga latihan hampir sepertiga abad, ternyata dirinya tetap bukan tandingan pemuda didepannya ini.
Sungguh hatinya lebih sedih, lebih pilu dari pada mati seketika.
Betapapan Cerdik pandai otaknya, tapi dirangsang oleh amarah yang tak terkendali, sehingga kesadarannya hilang.
tak terpikir lagi bahwa dirinya sudah terluka dalam meski ringan-Dengan melotot gusar dia membentak.
"Kuraci, rasakan lagi pukulan Lohu."
Sebetulnya Liok Kiam-ping juga kagum akan pukulan Hamping Lomo yang dahsyat ini, belumpernah dia melawan musuh setangguh ini, melihat orang menyerang dengan berang, tak ayal Kiam-ping kerahkan tenaga balas menyerang dengan sepuluh bagian kekuatannya.
"Plak"
Laksana letusan granat yang menggoncang bumi.
Tubuh Ham-ping Lomo yang gede tinggi terlempar delapan kakijauhnya, dengan lunglai roboh terkapar ditanah.
Darah mengalir deras dari mulutnya, jelas tidak ringan luka dalamnya.
Liok Kiam-ping tertolak mundur tiga langkah tubuh nya sempoyongan, darah sudah menyembur ketenggorokan, lekas dia menarik napas lalu menelannya pula.
Dengan bekal Lwekangnya sekarang, luka-luka ini sebetulnya tidak menjadi Halangan baginya, sekali terjang dia mampu menambah sekali pukul menamatkan jiwa lawan-Tapi sebagai seorang ksatria, pemuda berjiwa pendekar seperti Liok Kiam-ping tidak sudi melakukan perbuatan kotor dan hina, kalau dia mau sepuluh Ham-ping Lomo juga saat itu sudah amblas jiwanya.
Hanya satu tekadnya, yaitu mengalahkan musuh secara jantan, biar orang mengaku kalah lahir batin-Mumpung iblis tua itu bersamadi menyembuhkan luka-luka dalam tubuh nya, Liok Kiam-ping juga kerahkan hawa murninya untuk menyembuhkan luka ringannya.
Disamping Lwekangnya tinggi, diapun menguasai ilmu pengobatan, setelah hawa murninya berputar satu lintasan, rasa sakit danpegal ditubuhnya sudah tidak terasa lagi.
Sementata itu Ham-ping Lomo sudah membuka mata, dilihatnya Liok Kiam-ping masih berdiri tegak didepannya tanpa bergerak.
senyum menghias wajahnya, seketika mencelos hatinya.
Betapapuan licik dan licin hatinya, dalam keadaan seperti dirinya dia hanya menghela napas rawan dan gegetun-Sebetulnya Liok Kiam-ping sudah tidak ingin meneruskan pertempuran, namun terbayang akan dendam perguruan yang tertunda duapuluh tahun, darah mulai mendidih pula dalam benaknya, sambil angkat alis dia menyeringai.
"Dendam dua puluh tahun yang lalu di Tay-pa-san tentu masih segar dalam ingatanmu, cayhe mewarisipesan leluhur, belumpernah melupakan sakit hati ini, sejak dahulu hutang darah dibayar dengan darah, hari ini aku harus menuntut hutang darahmu."
Ham-ping Lomo menyengir sadis, katanya.
"Lohu akan mengabulkan keinginanmu, namun belum pasti kau mampu menagih hutangku dulu."
Suaranya ren ah dan sumbang.
Mendengar suara orang yang bergetar, Liok Kiam-ping tahu luka dalam orang teramat parah, bahwa orang masih nekad melawan seperti binatang yang mengamuk dalam perangkap.
namun kemenangan yakin dipihak dirinya.
maka Kiam-ping tertawa ejek.
katanya.
"cayhe sih terserah saja, apa keinginanmu boleh kau katakan saja. Iblis tua aku akan memberi keadilan kepadamu."
Ham-ping Lomo insaf situasi sekarang menyudutkan dirinya, luka dalamnya Cukup parah, tenaga juga sudah banyak terkuras, meski sekuatnya dia masih mampu mengendalikan kondisi badan dengan mempertaruhkan keperkasaan dirinya sejak puluhan tahun yang lalu, kalau tidak bis a mengalahkan musuh, sungguh hati amatpenasaran.
Maka timbul satu tekad dalam benaknya yaitu mengadujiwa.
syukur bisa gugur bersama.
otaknya secara kilat sudah memperoleh akal bagaimana dia harus menghadapi lawan, ditengah seringainya dia tertawa terkial-kial, suaranya membuat orang merinding.
Belum lenyap gema tawanya, dengan kecepatan yang luar biasa mendadak Ham-ping Lomo mengembangkan kedua lengan, disaat tubuhnya meluncur dengan tubrukan harimau kedua tangannya terangkap didepan muka terus menggempur dengan seluruh kekuatannya kepada Liok Kiam-ping.
Setombak sekitar gelanggang, udara seketika membeku, rasa dingin membuat siapa pun menggigil.
Agaknya Ham-ping Lomo sudah kerahkan Ham-ping ciang dengan sisa tenaganya.
Betapapun tinggi Lwekang Liok Kiam-ping, dia tersirap kaget oleh perbawa serang an lawan-Untung otaknya cerdik, sebat sekali dia kembangkan Ling hi-pou, sekali berkelebat dua kali lompatan, seperti layar berkembang perahu laju ditengah hembusan angin lalu, dengan Wi-liong-ciang Liok Kiam-ping siap balas menyerang.
Kali ini dia tidak mengejar keuntungan, dia harus mengalahkan musuh bangkotan ini dengan tenaga asli kepandaian sejati.
Kedua orang ini sama-sama jago paling top didunia saat ini, masing-masing membekal kepandaian hebat yang tiada taranya, mereka saling merebut kesempatan untuk merobohkan lawan, sungguh merupakan pertempuran yangjarang terjadi.
Sementara itu Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay dengan permainan Pat kwa-ban-seng-to yang disertai permainan tinju kiri menghadapi duajago Ham-ping-kiong.
Semula permainannya yang lihay masih mampu mengimbangi serangan kedua lawan, namun tiga puluh jurus kemudian, permainannya sudah diselami musuh, maka mereka lebih banyak menyerang dari pada bertahan-Lima puluh jurus kemudian, keadaannya sudah terdesak dibawah angin, untung dia memiliki tenaga kuat, dalam waktu dekat masih mampu mempertahankan diri.
Si gede Siang Wi dengan kekebalan tubuh nya mengamuk dengan Nu-kang-cap-pwe-bak, murid-murid Lo-hu-kiong dihajarnya kocar kacir, tanpa kenaltakut dia terjang sana hajar sini.
Karuan murid-murid Lo-hukiong lari berpencar menyelamatkan diri.
Hal ini justru membuat riang si gede, sambil tertawa besar dia berkaok-kaok.
"Hei sahabat, kenapa lari, perlahan sedikit, tunggu aku."
Hayo gebrak lagi tiga ratus jurus,"
"dengan langkah lebar dia mengudak orang-orang Lohu-to yang melarikan diri. Mendadak dua orang membentak bersama.
"Keparat, jangan pongah, lihat serangan-"
Empat jalur angin pukulan melanda dari ka nan kiri.
Si gede tidak peduli apakah lihay, mendadak dia putar tubuh sambil menyerampang dengan pentung besinya.
Penyerangnya adalah duajago kosen Ham-ping-kiong.
Melihat si gedepunya tenaga raksasa, mana mereka berani menangkis tongkatnya, namun mereka juga tahu permainan tongkat orang sederhana, ditengah jengek tawa mereka, empattelapak tangan mendadak ditarik sambil menggeser kaki berputar, kembali mereka menyelinap kekanan kiri lawan-Sekarang pukulan dirobah tutukan, dua jari mereka serempak menutuk Jian-kin-hiat dipundak.
Melihat serangan lawan tidak menerbitkan angin, si gede memandang enteng, tanpa berkelit tangannya malah terbalik, dengan jurus Lam-king-goat-bak mendadak menjojok kesebelah kiri.
Terasa pandangan kabur, bayangan orang disebelah kiri tahu-tahu sudah lenyap.
Maka Jian-kin kiat dipundak kirinya dengan telak terkena tutukan lawan-Tapi dia hanya merasa sedikit linu dan gatal, seketika dia tertawa geli, katanya.
"Kalian sudah tua bangka, bukan bini mud aku, kenapa main gelitik segala. Ucapannya yang lucu menggelikan lagi, karuan kedua jago Ham-ping-kiong itu malah tertawa terpingkel-pingkel. Mulut bicara ternyata kaki tangan si gede tak pernah berhenti, tapi sikapnya jelas agak simpatik terhadap jago Ham-ping-kiong disebelah kiri, maka pentungnya lebih sering menyerang lawan disebelah kanan, kali ini dia kerahkan tenaga hingga pentungnya menderu keras. Ginkang kedua jago Ha m-ping-kiong jauh lebih tinggi, maka mereka berkelit kian kemari seperti kucing mempermaikan tikus, meski mereka sering diserang, tapi si gede tak mampu menyentuh pakaian mereka. apalagi mereka lebih berpengalaman, kerja sama dengan baik lagi, lama kelamaan si gede merasa pusing sendiri. Dengan Te tong-kui Ai-pong-sut Thong cau menghadapi tiga puluh enam jurus pukulan elang Lo-hu-sin-kun, makin lama perbawanya makin kentara. Walau dia tidak mampu balas menyerang, tapi dalam kelincahannya dia bergerak. Lohu-sin-kun yang meng emb a ngkan pukulan elang itu lama kelamaan merasa lelah dan kehabisan tenaga. Maklum, pukulan elang sebanyak tiga puluh jurus ini Harus, dilancarkan secara berantai tak boleh teri hambat, supaya lawan kececar dan terdesak tak mampu balas menyerang. Padahal daya serang nya tidak boleh terlalu kendor dan sasaranpun tidak boleh rend ah, kalau harus menyerang secara beruntun tubuh nya harus mumbul turun berulang kali, putaran tubuhnyapun tak boleh berhenti. Diantara tenggang waktu d is a at dia turun naik itu, Aipong-sut dengan kelincahan tubuhnya sedang bergulingan kearah lain bebas dari sasarannya. Karena itu betapapun licin permainan Lo-hu-sin kun, merobah tepukan menjadi cengkraman atau tab as an tetap tak mampu melukai Ai-pong-sut Thong cau. Pada hal tiga puluh enamjurus sudah hampir habis, namun Ai-pong sut sudah tidak sabar lagi. Sebagai jago kelas tinggi yang sudah terkenal puluh an tahun, betapapun malu harus bertempur sambil bergulingan di tanah, apalagi diserang melulu namun diamati kutu, tak habis-habis otaknya berpikir mencari akal bagaimana mematahkan serangan lawan, kecuali menggunakan Te-tong-kui. Disaat dia bergulingan itulah, mendadak dadanya terasa ganjal sesuatu benda bulat, ternyata tangan yang mendekap dada kebetulan meraba pelor besi didalam kantongnya, seketika tergerak hatinya, rasa senang menghias wajahnya, diam-diam diapun menyesali diri sendiri kenapa lena dan bodoh, lupa akan senjata ampuh yang sudah angkat namanya digelanggang persilatan ini. Dengan sepasang bandulannya ini bukankah lebih cocok dan ampuh untuk melawan serangan musuh dari udara. Sementara itu Lo-hu-sin-kun sedang melancarkan jurus Thiih lui-to (sayap besijatuh ditanah), tekanan napas terakhir didalam dada mendadak dia sedot pula sehingga tubuh yang seharusnya melorot turun berhasil diangkatnya kembali, dengan kecepatan bagai kilat menyambar, mendadak menyergap. Untung sebelum mengeluarkan kedua bandulannya. Aipong-sut sudah perhatikan dulu gerak gerik lawan yang sedang menyerang secara berantai dengan pukulan elang nya. Melihat Lo hu-sin-kun menubruk dengan seluruh kekuatannya, lekas dia menggelinding keluar lalu melej it sehingga bebas darijangkauan angin pukulan lawan-Disaat tubuh melejit itulah, tangan kanan terangkat, sejalur bayangan hitam gemerdep segera meluncur kearah Lo-hu-sinkun yang sedang melayang turun. Padahal, Lo-hu-sin-kun amat yakinjurus terakhir yang dilancarkanpasti berhasil membunuh atau membuat lawan luka pa rah. Tak nyana selicin belut lawan berhasil lolos keluar sehingga dirinya kehilangan s as a ran, diam-diam hatinya sudah mengeluh, betuljuga angin kencang terasa melesat dari kiri. Untung dia memiliki Lwekang tangguh, permainannya sudah seiring denganjalan pikirannya, meski terancam bahaya sedtkitpun tidak gugup, disaat ujung kakHampir menyentuh bumi, kedua lengannya dikembangkan keluar dengan gentakan tenaga besar sehingga tubuh yang sudah melorot itu terangkat naikpula tiga kaki. Luncuran bayangan hitam secepat kilat itu kebetulan lewat dibawah kakinya. Walau indah gerakan tubuhnya untuk menyelawatkan diri, namun keringat dingin telah membasahi sekujur badan. Tak nyana sebelum rasa kejut hilang., Ai-pong-sut tidak memberipeluang lagi kepadanya kembali tangan kiri terayun, bayangan hitam kembali meluncur dengan deru suaranya yang keras menerjang tiba. Padahal tubuhnya baru saja terangkat mumbul, hawa murni dalam tubuhnya baru timbul setelah dia ganti napas, dalam keadaan kepepet begini jelas sukar dia menyelamatkan diri daripelor besi lawan-Apapun Lo-hu-sin-kun memiliki latihan dan gemblengan luar biasa yang tidak dimiliki orang lain, disaat yang paling kritis itu mendadak dia menghardik.
"He."
Mengh embus napas mengeluarkan suara, kedua kaki s a ling pijak.
dengan sisa tenaga murni dalam tubuhnya, sekuatnya dia memaksa tubuhnya doyong miring kekiri.
Pelor besi lawan menyerempet kuping untung tidak terluka, namun s a king kaget dan ngeri, pandangan menjadi gelap.
hampir saja dia terjungkaljatuh.
Sekilas disaat dia berdiri melenggong, mendadak didengarnya suara "Duk"
Yang keras menyusul sesosok tubuh ditengah jeritan yang melengking terlempar satu tombakjauhnya.
Da rah beri hamburan diudara dan tercecer ditanah, sungguh mengerikan.
Ternyata setelah tongkat Bok-bin-sin-po terlempar, dengan Hu-kong-king-inpou ajaran tunggal perguruannya, nenek galak ini melawanpukulan Kim-soa-ciang Kim-ji-tay-beng dengan gigih.
Langkahnya memang aneh dan hebat sehingga dia mampu mengimbangipermainan lawan-Suatu ketika dia coba menangkis pukulan lawan, terasa tenaganya amat besar,jelas dirinya bukan tandingan, maka dia hanya membela diri saja karena didesak dan di rangsak oleh Kim-ji-tay-beng.
Tiga puluh jurus kemudian, serangan Kim-jitay-beng semakin gencar dan berat sehingga dia susah bernapas.
Sudah puluhan tahun pengalaman tempurnya, belum pernah dia didesak seperti ini, kalau terus terdesak begini, dirinya pasti celaka, makin dipikir makin kuatir, karena kuatir jadi makin jeri, dengan sendirinya gerak geriknya makin kacau dan lamban-Pertarungan dua jago tak boleh lengah, kalah menang hanya ditentukan dalam sedetik saja.
karena kehilangan inisiatif, rasa jeri sudah menghantuHatinya lagi, maka permainannya makin tidak karuan, adalah jamak kalau dia dirobohkan-Peng a la man tempur Kim-ji-tay-beng juga sudah puluh an tahun, melihat saatnya sudah matang, kesempatan tidak disiasiakan lagi, mendadak dia menghardik sekali, tubuhnya melambung keudara.
Gerakan tubuhnya meleset miring dari pinggir, kedua tangannya terayun kedepan dan belakang, dengan jurus Seng-tong-kik-say (bersuara ditimur menggempur barat) seranganpun melanda sedahsyat serudukan kepala kerbau.
Bok-bin-sin.p sedang pesona kaget oleh gerakan lawan, mendadak bayangan berkelebat, tahu-tahu angin kencang menerjang dari kiri, mukanva seperti diiris oleh sampukan angin pukulan ini.
Sudah tentu nenek tua ini tidak berani ayal, dengan gugup dia membanting tubuh ke kanan sambil memutar tubuh, dia pikir serangan inHarus dihindari dulu.
Tak nyana dikala tubuh berputar itulah, sinar emas berkelebat dari sebelah kanan, dengan telak Jam-sin-hiat di bawah ketiak telah terpukul telak.
Serangan Kim Ji-ta y-beng menggunakan sepenuh tenaga, pukulannya seberat ribuan kati.
Karuan Bok-bin-sin.p terpukul terbang keudara, isi perutnya remuk darah menyembur disaat tubuhnya masih terapung diudara.
"Bluk,"
Begitu terbanting jatuh, jiwanyapun melayang.
Setelah membunuh Bok-bin-sir.
Kimji-tay-beng menentramkan hati mengatur napas, matanya menjelajah ajang pertempuran, dilihatnya Tan Kian-thay terdesak oleh kedua lawannya, jiwanya terancam bahaya.
Lekas dia memburu kesana sambi membentak.
Jitong-cu, Jangan kaget, sementara mundurlah kau, biar kubereskan kedua kurcaci ini."
Mungkin di buru dendam adiknya yang masih terluka, terhadap orang-orang Ham ping-kiong bencinya bukan main, sudah tentu kedua orang ini tidak diberi ampun lagi.
Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay mengundurkan diri, setelah napasnya teratur, sambil menenteng golok besarnya dia memburu kearah si gede yang lagi dipermainkan kedua musuhnya.
Seorang diantaranya segera dia bacok dengan golok tunggalnya.
Kini keadaan banyak berobah.
Sebetulnya pihak Ham-ping-kiong dan Lohu-to berjumlah lebih banyak, Hong-lui-pang yang berkekuatan berapa orang itujelas bukan tandingan, namun amukan si gede ternyata merobohkan beberapa jago lawan hingga jumlah musuh banyak susut, tapi kalau pertarungan dilanjutkan Hong-luipang tetap dipihak yang kalah.
Untung Liok Kiam-ping dan Aipong-sut tiba tepat pada saat genting, sehingga keadaan menjadi berimbang, apalagi setelah Kim-ji-tay-beng berhasil membunuh Bok-bin-sin-p, Lo-hu-sin-kun sang suhengpun pecah nya linya.
Disaat dia tersirap kaget dan mundur sempoyongan, mendadak Ai-pong-sut menggelundang tiba seperti bola, kedua kakinya menjejak bagian bawah tubuh Lo hu-sin-kun.
Serangan lihay dan tak terduga ini jelas tak mungkin diluputkan lagi, itu berarti tulang patah otot keseleo.
Tak nyana kedua kaki Ai-pong-sut yang menjejak ini ternyata seperti menyerang setumpuk kapuk kapas yang empuk, hingga jejakannya seperti sirna tak berbekas, tahu gelagatnya agak ganjil, dengan sekuat tenaga dia menggelundang minggir terus melejit jauh secepat kilat..
Ternyata kedua kaki Lo-hu-sin-kun berpijak ditanah, beg itu lawan menjejak tiba jelas tak sempat berkelit lagi, lekas dia kerahkan Bong gu-kang melindungi tubuh bagian bawah.
Bila Bong gu-kang (ilmu weduk kerbau) dikembangkan seluruh kekuatan tenaga daldam dipusatkan pada satu tempat, sehingga kulit dagingnya menjadi lunak, lembut, seempuk daging kerbau, betapapun besar kau memukulnya, tenagamu akan sirna tak berbekas.
Tapi kalau melawan senjata tajam sudah tentu tidak berani, maklum lwekangjenis inHanya peranti membela diri tak bis a melukai lawan-Beg itu Ai-pong-sut melonjak berdiri, Lo-husin-kun yang sudah slap segera membalikan sepasang telapak tangannya menepuk kedua kaki Ai-pong-sut.
Serangan ini dilandasi tenaga yang sudah disimpan sejak tadi, betapa dahsyat pukulannya, kalau kedua kaki Ai-pong-sut terpukul telak.
bukan saja kaki putus, jiwapun melayang seketika.
Aipong-sut cerdas tangkas, reaksinyapun reftek, lekas dia kembangkanpula Te-tong-kui dengan jurus penolang jiwa Kian-kun-sam-coan, sebat sekali tubuhnya berputar pergi.
"Blang"
Tepukan tangan Lo-hu-sin-kun menjadikan tanah di mana barusan Ai-pongsut berada berlobang besar, debu pasir beterbangan akibat pukulan dahsyat ini, matHidup hanya terpaut segaris, betapapun tabah dan luas peng a la man Aipong-sut, tak urung mukanya pucat, napas memburu, bulu kuduk mengkirik pula.
Tapi dia seorang tokoh kosen yang ternama, dimedan laga pantang menyerah atau mundur.
Lekas dia tenangkan diri sekali lompat dia menerjang pula sepenuh tenaga.
Dalam segala hal kedua lawan ini setanding, maka pertarungan mereka juga terhitung yang paling sengit, gerak gerik mereka juga paling cepat dan tangkas, setiapjurus serangan pasti mematikan.
Tidak jarang pula terjadi adu jotosan dan tamparan.
Sementara itu hampir seratus jurus Liok Kiam-ping melabrak IHam-ping Lomo, kedua pihak kerahkan seluruh tenaga, sedikitpun tidak berani lengah.
Meski sudah kerahkan seluruh kemampuannya, namun Ham-ping Lomo tetap tak berhasil mendesak lawannya, makin tempur perasaannya makin tak karuan.
Mendadak dia incar Liok Kiam-ping yang saat itu sedikit lena karena harus meng era hkan tenaga pula.
Mendadak pakaiannya melembung seperti balon yang berisi angin.
"Wess"
Ledakan lirih tapi suaranya memanjang, seiring dengan ledakan itu udara seketika menjadi dingin beku, ternyata Hamping-lomo kerahkan hawa dingin dari latihannya yang sudah puluhan tahun dengan meledakkan tubuh sendiri, maka jalurjalur hawa dingin menyembur dari berbagai urat nadi tubuhnya, pakaian remuk tubuhpun koyak-koyak.
Itulah muslihat paling keji dari Hian-ping-im-sat, meng himpun seluruh hawa dingin yang mengeram dalam tubuh sejak latih an puluhan tahun, lalu didesak keluar dengan tekanan tenaga dalam yang dahsyat hingga meledak lewat urat nadi dan Hiatto disekujur badan-Ham ping-lomo sudah memperhitungkan, Kim-kong-puthoay-sin-kang Liok Kiam-ping memang kuat menahan Hianping-im-sat, namun bila serangan mendadak disaat hawa pelindung Liok Kiarn-ping belum bersiaga, dalam waktu singkat kalau Liok Kiam-ping tak sempat menjaga diri, akhirnya pasti ajal oleh serangan gelapnya ini.
Memang disergap oleh serangan yang tak masuk nalar ini, Liok Kiam-ping tidak sempat kerahkan hawa s a kti pelindung badan, begitu tersapu hawa dingin hampir saja diajatuh pingsan-Untung Lwekangnya tinggi, sejak tadi dia sudah perhatikan gerak gerik lawan, Begitu melihat lawan menunjukkan gerakan yang mencurigerakan, lekas dia kembangkan Ling-hi-pou deagan jurus Lian-hoan you-pou (melangkah berantai) sejauh setombak).
Betapa sigap reaksinya, namun dia sudah menghirup sedikit hawa dingin beracun, seketika dia bergidik dan menggigil kedinginan, langkahnyapun sempoyongan
Syukur Kiam-ping mahir pengobatan, disaat tubuh mengigil dan belumj atuh pingsan dia berhasil mendesak hawa dingin itu kesuatu tempat, lalu mengerahkan Kui-sip-tay-hoay menutup berbagai Hiat-to besar disekujur badan, terutama jantung yang dilindungi.
Lalu dengan lunglai dia bersimpuh ditanah.
Belum lama dia duduk bersimpuh "Bluk"
Tubuh kekar Hamping Lomo yang kejam itupun roboh berdentam karena ledakan bawa dingin beracun dalam tubuhnya.
Tujuannya adalah mengajak lawan gugur bersama.
Setelah hawa murni dingin dalam tubuhnya buyar, berarti seluruh kekuatannya suduh ludes.
keadaannya tak ubahnya seperti orang lumpuh, maka perlahan diapun terjungkal roboh.
Untuk menyembuhkan luka-luka dalamnya, harus diobati secara intensip selama lima tahun, namun Kungfunya takkan bisa dipelajari lagi, Jiwa sudah diambang maut, tenaga habis, keadaan sudah payah, tapi jiwa yang jahat masih tak lupa ingin melukai atau membunuh musuhnya.
Dilihatnya Liok Kiam-ping duduk lunglai takjauh didepannya seperti orang semaput, Ham-ping Lomo tahu, pemuda inipun sedang tersiksa oleh hawa dingin beracun serangannya, maka mengera hkan sisa tenaganya, dia mulai merangkak kedepan-Dari jarak lima kaki lambat laun makin dekat, tiga kaki, dua kaki, kini tinggal satu kaki lagi, bila dia ulur tangan boleh dikata sudah dapat menyentuh Liok Kiam-ping.
Dengan seringai getir perlahan dia angkat tangannya yang berat mengincar Bing-bun-hiat Liok Kiam-ping terus hendak digabloknya sekali.
Meski perlahan bila tangannya menyentuh Bing-bun-hiat, maka jiwa Liok Kiam-ping pasti melayang seketika.
Untung tenaga Ham-ping Lomo sudah habis dan lemah, gerakannya lambat, disaat genting itu, Liok Kiam-ping sudah mendesak hawa dingin itu kebawah kakinya, mendadak dia tersentak sadar, musuh tak jauh dari dirinya, betapapun tak boleh lena, seketika pikiran jernih, perlahan dia membuka mata.
Ternyata sebuah telapak tangan gede sudah terangkat dan tinggal dua senti diatas Bing-bun-hiatnya, saking kejut dia berteriak sambil menjatuhkan diri terus menggelundung pergi.
Celakanya karena dia harus mengerahkan tenaga, hawa dingin yang didesaknya turun itu ternyata berontak mumbul pula keatas, hawa dingin seketika membuatnya menggigil tak tertahankan lagi.
Untung otaknya masih bekerja, masih teringat olehnya Soat-lian yang tersimpan dikantong bajunya, sambil menahan rasa sakit, perlahan dia gerakan tangan merogoh saku mengeluarkan sekelopak Soat-lian terus dimasukan kedalam mulut.
Soat lian adalah obat mujarab yang tumbuh ditengah salju tahan dingin.
Tapi Hawa dingin beracun yang diyakinkan Hamping Lomo memang teramat jahat, meski Soat-lian sudah masuk tenggorokan, namun sesaat belum mau lumer dan tertahan dileher.
Dengan susah payah Liok Kiam-ping harus kerahkan Lwekang untuk mendorong dan mendesaknya lambat tapi berhasil hawa dingin itu didesaknya kesudut pula.
Kini khasiat Soat-lian sudah bekerja sehingga Lwekang yang dikerahkan berjalan makin lancar mengalir ke berbagai badan, tubuhnya yang menggigit kedinginan mulaHangat dan bertahan pada suhu biasanya, sementara hawa dingin merembes keluar dari pori-pori berobah uap putih.
Hampir dua jam Liok Kiam-ping harus berjuang secara gigih mengusir hawa beracun dalam tubuhnya bila dia membuka mata lagi, segera dia bangkit berdiri, lututnya masih goyah, maklum tenaganya terkuras amat besar.
Bila dia menoleh kepinggir, melihat jenazah Ham-ping Lomo, tanpa merasa dia menghela napas sedih, hatinya tidak tega melihat kematian orang tua jahat ini.
Ternyata setelah gagal dalam usahanya membunuh Liok Kiam-ping disaat ajal sendiri sudah didepan mata.
Ham-ping Lomo tahu jiwanya tak mungkin diselamatkan lagi padahal sebagai gembong iblis yang ditakuti selama puluhan tahun, mana dia mau menjadi tawanan musuh.
Setelah menghela napas panjang dia gigit putus lidah sendiri, bunuh diri, darah mancur dari mulutnya.
Dalam pada itu Kim-ji-tay-beng yang menggantikan Tan Kian-thay sedang menghadapi dua jago Ham-ping-kiong dengan gigih.
Tenaga dalamnya luar biasa, diburu amarah lagi, maka serangannya tidak kenal ampun, tampak sinar gemerdep kuning berkeleb atan menindih badan, Kim-soaciang memang bukan olah-olah lihaynya.
Kedua jago Ham-ping-kiong tahu kelihayan Kian-soa-ciang, tapi kedatangan Kim-ji-tay-beng memang diluar dugaan, serangannya gencar lagi dahsyat sehingga mereka kehilangan pegangan dan kesempatan membela diri.
Kalah menang pertarungan jago kelas tinggi hanya ditentukan faktor waktu dan kecermatan, terpaut serambut sudah fatal akibatnya, setelah terdesakoleh kecepatan serangan lawan, untuk mengembalikan posisi yang lebih lumrah sudah tidak mungkin lagi.
Apalagi Kim-ji-tay-beng sudah kebacut benci dan dendam.
Mendadak dia menggeram sekali, dua kaki melangkah maju dengan memb anting berat tubuhnya lantas melejit keudara, mencapai ketinggian yang dikehendaki dia menekuk ping gang membalikkan tubuh, dua kaki memancal keatas, sehingga tubuhnya menukik turun dengan kepala dibawah, laksana meteor jatuh dia menubruk turun-Dua telapak tangan memukul serentak dari sudut yang tidak terkira.
Kedua jago Ham-ping-kiong itu sudah kerahkan seta ker tenaga ny a berkelebat kepinggir delapan kaki jauhnya, meski selamat, namun saking kaget dan ngeri, tubuh basah kuyup oleh keringat dingin-Tak nyana belum lagHilang rasa kagetnya, angin pukulan sudah mendera tiba pula dari belakang, seperti bayangan bergerak mengikuti bentuknya, Kim-ji-tay-beng menguntit dibela ka ng ny a .
Seperti diketahui kemahiran Kim-ji-tay-beng dengan Kimsoa-ciang menyerang lawan dengan tubuh terapung diudara, sekaligus tanpa ganti napas dia mampu menubruk sembilan kali, kemanapun lawan menyingkir tetap tak bis a lolos dari serangannya.
Kedua jago Ham-ping-kiong tidak tahu seluk beluk ilmunya yang ampuh ini, setelah melompat kepinggir, mereka kira jiwanya sudah selamat, paling tidak harapan untuk melarikan diri sudah terbentang didepan mata.
Tak nyana sebelum has rat timbul dalam dalam benak mereka, punggung masingmasing sudah kena pukulan telak.
Ditengah jeritan menyayat hati dua tubuh kedua orang orang itu terlempar lima kaki, darah menyembur dari mulut mereka.
"Bluk, Bluk"
Keduanya terbanting untuk tak bangun lagi.
Deng an seluruh tenaganya Ai-pong-sut sedang melabrak Lo-hu-sin-kun yang setanding dengannya, pertarungan mereka juga tidak kalah sengit, ditengah deru angin kencang, tak j a rang terdengar benturan telapak atau tinju mereka yang beradu.
Saat mana mereka sudah bergebrak mendekati dua ratusjurus.
Keringat sudah membasahi jidat Ai-pong-sut.
Demikianpula napas Lo-hu-sin-kun sudah memburu.
setelah merobohkan kedua jago Ha mping-lo-mo, sambil bertolak ping gang Kimji-tay-beng melepas pandang keseluruh gelanggang pertempuran, leg a hatinya karena kemenangan akan segera tercapai.
Hanya Ai-pong-sut Thong cau saja yang masih bertarung gigih dan kelihatan mulaipayah.
Darisamping dia menonton dengan tenang, dilihatnya bolamata Lo hu-sinkun berputar dia tahu orang sedang Cari kesempatan untuk melarikan diri.
Grmbeng jahat yang terlalu keji ini, Kim-ji-tay
beng sudah kebacut benci, dia bertekad takkan membiarkan mereka lolos, maka dia bersiaga.
Sepuluh jurus telah lalupula, beruntun Lo-hu-sin-kun menyerang limajurus, Ai-pongsut didesaknya mundur tiga langkah.
Mendadak dia menjejak kaki, tubuhnya melambung mundur setombakjauhnya.
Tapi sebelum tubuhnya turun dan kaki belum menyentuh bumi.
Mendadak didengarnya bentakan nyaring.
Jangan lari sahabat."
Segulung angin pukulan tahutahu melanda tiba menindih dirinya, pada hal tubuhnya masih terapung, lekas dia gunakan daya berat sehingga tubuhnya melorot turun ditengah jalan, begitu kaki menyentuh bumi, tenaga dikerahkan dikedua tangan terus menyongsong gempuran musuh.
Setelah ledakan dahsyat terjadi, kedua orang tergetar mundur selangkah.
Dalam keadaan tergesagesa, Lo-hu-sin-kun harus menyelamatkan diri, sehingga tenaga pukulannya tidak sepenuh hati.
maka akhir adu pukulannya ini mereka seimbang.
Tak nyana begitu tubuhnya tergentak mundur, dari belakang menerjang tiba pula segulung tenaga raksasa, dia tahu Ai-pong-sut menggencetnya dari belakang.
Ditengah gerungan gusarnya, lekas dia gunakan Hu-kongking-in-pou melayangkan tubuhnya keluarjangkauan pukulan lawan-Sebetulnya Kim-ji-tay-beng segan menyerang lagi, namun mengingat Lo hu-sin-kun sudah keliwat takaran melakukan kejahatan didaerahnya, dirinyapun disergap berulang kali, celakanya sang adik terluka parah, matHidupnya masih merupakan teka teki.
Dendam lama ditambah sakit hati baru membakar amarahnya, maka dia tidak hiraukan aturan Kangouw lagi, Sambil angkat alis, segera dia menubruk ketengah arena.
Maka tiga orang serang menyerang lebih seru, mereka ada la hja go top dunia persilatan, permainan bebas sesUai jalan pikiran, ditengah berkelebatnya bayangan mereka yang sa ling tubruk dan melompat, membuktikan betapa tinggi taraf kepandaian sungguh mena k upka n.
Permulaan Lo-hu sin-kun masih mampu mengimbangi keroyokan kedua lawannya dengan kelihayan Hu-kong-king-inpou (langkah cahaya melampaui sinar).
Tidak jarang diapun balas menyerang.
Tapi dua puluh jurus kemudian, serangan kedua lawannya makin lihay dan selalu mengunci gerakannya.
Lohu-sin-kun dituntut mengkonsentrasikan seluruh pikiran dan semangatnya untuk melayani mereka, namun keadaannya sudah terdesak hingga tak mampu balas menyerang.
Sebetulnya sUkar ditemukan tokoh silat kosen dalam dunia Kangouw sekarang yang mampu melawan keroyokan Ai-pong sut dan Kim-ji-tay-beng lebih dari dua puluh jurus.
Betapapun tinggi Lwekang Lo-hu-sin-kun, apalagi tenaganya sudab banyak terkuras setelah beri hantam dengan Ai-pong-sut, lambat laun tenaganya lemah, permainannya makin kacau.
Namun mengingat jiwa sendiri terancam dan sang sumoay sudah ajal ditangan musuh, maka dia nekad adujiwa untuk menuntut balas kematianBok-bin-sin-popula, maka tak heran kalau dia kuat bertahan dua puluhanjurus.
Namun hal ini disebabkan serangan Ai-pong-sut dan Kim-jitay-beng tidak sepenuh hati.
Tiga puluh jurus kemudian tetap belum mampu merobohkan Lo-hu-sin-tun perasaan mereka mendelu, kalau kejadian ini tersiar dikalangan Kangouw, pamor mereka akan tersapu bersih, dihadapan murid-murid Hong-luipang sendirijuga sukar menelan rasa malu ini.
Sekilas mereka adu pandang, tanpa janji keduanya lantas pergencar serangan-Bahwa Lo hu-sin-kun kuat bertahan dua puluhanjurus adalah luar biasa, namun berulang kali jiwanya sudah terancamjuga, berdasarkanpengalaman meski terdesak dibawah angin dia masih mampu bertahan sambil meng era hkan Bong-gu-kang, seluruh Hiat-to mematikan terlindung oleh ilmu weduk kerbau ini.
Mendadak Kim-ji-tay-beng melompat tinggi, secepat kilat tubuhnya menukik turun pula dengan serangan Tui-poh-cuilong (mendorong ombak mengejar gelombang), kedua tangannya secara beruntun menepuk bergantian.
Sementara itu Lo-hu-sin-kun harus menghindari serangan Ai-pong-sut yang lihay, sebelum gerak tubuhnya brputar, angin kencang sudah menindih tiba, bergegas dia menurunkanpundak berkelit kekanan, sehingga serangan berhasil dihindari.
Diluar tahunya serangan sepasang telapak tangan Kim-jitay-bng ternyata hanya serangan gertak sambel yang didepan, serangan telak berada dibelakang mengikuti gerak perobahan lawan yang menyingkir kepinggir.
maka telapak tangan Kim-jitay-beng secara tepat menepuk Jian-kin-hiat dipundak ka nanny a.
Bong-gu-kang meski untuk melindUngi Hiat-to, namun terkena pukulan berat seperti ini, ternyata tidak menunjukan reaksi yang diharapkan.
Begitu tepukan telak kesasarannya, tak urung Lo hu-sin-kun mengerang kesakitan, segera pecah ny a liny a.
Langkahnya mundur sempoyongan.
Tapi setiap manusia mempunyai gerak reftek dalam mengejar kehidupan, meski sudah terluka pa rah, makin besarpula niatnya melarikan diri.
Mungkin dimabuk rasa senang bahwa lawan yang tinggal satu ini tahan dibekuk hid up, hid up, tak pernah terbayang oleh mereka bahwa dalam keadaan kepepet dan hampir kehabisan tenaga, Lo-hu-sin-kun masih mampu melontarkan serangan sedahsyat ini, tanpa janji serentak mereka melompat kepinggir.
Tak nyana begitu serangan dilontarkan, sebelum jurus kedua disusulkan, Lo-hu-sinkun kembangkan IHu-kong samking, salah satu gerakanpaling lihay dari ilmu ginkangnya, hanya sekali berkelebat, laksana kilat tubuhnya sudah meluncur tiga tombak jauhnya.
Hampir meledak dada Kim-ji-tay-beng, matanya membara, padahal diapun ahli Ginkang, maka diapun mengudak dengan kecepatan tinggi seraya membentak.
"Belum ada yang kalah dan menang, kenapa sahabat mau lari,"
Habis perkataannya kakinyapun sudah melompat jauh, namun gerakan musuh lebih dulu beberapa kati lompatan bayangannya sudah menyelinap masuk kedalam hutan dan sukar disusul lagi.
Terpaksa Ai-pong-sut beramai berpeluk tangan membiarkan musuh yang satu ini lolos.
Menolong kawan sendiri memang lebih penting, maka beramai mereka saling bimbing masuk kedalam perkampungan, yang masih segar dan kuatsegera mengurus jenazah para saudara yang gugur.
Liok Kiam-ping sudah dipapah kedalam kamarnya, hawa beracun dingin dari pukulan Ham-ping Lomo memang teramatjahat, walau sebagian besar hawa beracun sudah terdesak keluar, tapi karena dia kehabisan tenaga, dalam waktu dekatjelas diapun sukar memulihkan kondisinya semula.
Mendengar Liok Kiam-ping sudah pulang sudah tentu girang Siau Hong bukan main, bergegas dia berlari masuk kedalam kamar, hidupnya sudah pasrah kepada perjaka pujaan hatinya sejak kecil, melihat keadaan Kiam-ping yang begitu pa rah, taktertahan air matanya bercucuran, untung Jian-li-tok-heng keburu menariknya, kalau tidak dia sudah menubruk kedalam pangkuan Liong Kiam-ping, hal ini bisa mengakibatkan Jau-hwejip-mo bagi Liok Kiam-ping yang sedang samadi dan pantang diganggu.
Dengan halus Jian-li-tok-heng membujuk dan memberi penjelasan kepada Siau Hong, namun gadis jelita ini berkukuh ingin menunggu disamping Liok Kiamping.
Hampir setengah hari Liok Kiam-ping baru sadar dari samadinya, keadaannya sudah jauh lebih segar, perlahan dia turun dari pembaringan-Siau Hong menjerit girang terus menubruk kedalam pelukannya, saking girang air mata berlinang dikedua kelopak matanya.
Setelah makan malam orang banyak berkumpul, Liok Kiamping mendengarkan laporan mereka satu persatu, disadari bahwa kini mereka berada disebuah gua besar dibelakang gunung untuk menghindari pertumpahan darah yang tak ada faedahnya dengan pasukan negeri.
Ternyata menjelang petang, pasukan besar dari kota karisidenan yang berjumlah ratusan orang telah mengepung Kwi-hun ceng dengan memasang sepucuk meriam didepan pintu gerbang perkampUngan, panglima pemimpin pasukan besar itu mengancam supaya mereka menyerah kalau tidak perkampungan akan dibumi Hanguskan.
Saat itu Liok Kiam-ping masih dalam keadaan tak sadarkan diri, maka Ai-pong-sut ambil keputusan supaya seluruh warga Hong-luipang lewat jalan rahasia mengosongkan perkampungan ngungsi kedalam gua, dibelakang gunung ini.
Liok Kiam-ping tidak sedikit para saudara anggota Hong-luipang yang rebah berjajar didalam gua, mereka terluka pa rah atau ring an, yang gugur telah dikebumikan.
Kondisi Liok Kiam-ping masih teramat lemah, padahal rombongan mereka tak boleh tanpa pimpinan, situasi masih cukup genting, setelah dirundingkan bersama diputuskan Aipong-sut dan Kim-ji-tay-beng membantu sang Pangcu menyembuhkan luka-luka dalamnya secara kilat, Liok Kiamping masih akan menolak.
tapi dibawah desakan orang banyak terpaksa dia izinkan Aipong-sut memeriksa dirinya.
Dibawah pemeriksaan cermat Ai-pong-sut sekujur badan Kiamping tiada luka-luka, namun denyut nadinya terasa lemah seperti arus yang tersumbat, dia tahu sang Pangcu terlalu capai, tenaga murninya berkurang ditambah amarah membakar hati sehingga hawa murni yang buyar susah dihimpun kembali, cukup lama dia semaput lagi.
Maka Kiamping dipapah duduk bersila, Ai-pong-sut dan Kim-ji-tay-beng duduk dikanan kirinya, telapak tangan mereka menekan Khihay-hiat di kiri kanan badannya, perlahan mereka mulai menyalurkan hawa murni ketubuhnya.
Sejam kemudian, uapputih mengepul di atas kepala mereka..
Lwekang kedua orang ini sudah terlatih dengan sempurna, dari aliran murni lagi, maka dengan mudah dua jalur hawa murni mereka bersatu padu dalam tubuh Kiam-ping terus berputar keseluruh tubuhnya.
Satu jam lagi kedua arus tenaga hebat yang mengalir dalam tubuh Liok Kiam-ping baru berhasil menjebol seluruh rintangan dan menerjang ke dalam Khi -hay -hiat pula, terus mengalir kedalam pusar, hawa racun dingin dalam tubuhnya justru mengeram disini, maka terjadilah perang tanding antara hawa dingin dan hangat, beberapa kali tubuh Liok Kiam-ping melonjak-lonjak.
Sayang tenaga Kiam-ping sendiri belum pulih, hawa dinngin cukup meresap keseluruh tubuhnya, maka tak kuasa dia menguasai dua jalur hawa hangat itu untuk mendesak keluar hawa ding Tiba-tiba Ai-pong-sut mengerang tertahan, tenaga dalam dikerahkan seluruhnya.
Demikian pula Kim-ji-tay-beng juga menambah tenaganya, tangan kiri memelukpunggung Ai-pong sut dengan cara gabungan jembatan langit untuk menyalurkan hawa murni mereka menjadi satu kekuatan yang tangguh.
cara yang ditempuh Kim -ji-tay-beng memang besar manfaatnya, terasa oleh Liok-Kiam-ping masuknya segulung hawa panas yang lebih kuat, menindas dan memberantas hawa dingin yang masih tersisa didalampusar.
Kering at sudah berketes-ketes diselebar muka Liok Kiam-ping, air mukanya yang semula pucat mulai bersemu merah.
Setanakan nasi kemudian, hawa murni dalan tubuhnya sudah mulai lancar, lewat Koan-goan, masuk Tlong-kek menjebol Seng-si-koan dan berakhir kedalam pusar pula.
Di bawah bantuan Ai-pongsut dan Kim-ji-tay-beng, atiran darah Kiam-ping makin lancar sehingga samadi mereka mencapai puncak pati rasa.
Kembali satu jam telah lewat, rasa sakit disekujur badan Liok Kiam-ping sudah tidak terasa lagi, seorang diri dia sudah mampu menggerakkan tenaganya, ini menandakan kesehatannya sudah pulih seluruh nya.
Waktu dia membuka mata, dilihatnya Ai-pong-sut dan Kimji-tay-beng masih samadi, dia tahu untuk menolong dirinya kedua orang ini sudah memeras segala tenaga hingga hawa murni merekapun terbuang.
"Ping.-ko,"
Seru Siau Hong girang sambil menggenggam tangan Kiam-ping "kau sudah sehat kembali, tadi kita semua menguatirkan dirimu."
Liok Kiam-ping tersenyum, katanya.
"Adik Hong, membuatmu gelisah saja. Sekarang aku sudah sembuh."
Lalu dia beranjak kesana menghampiri Gin-jitay-beng yang terluka oleh hawa racun pukulan dingin, satu persatu dia memeriksa keadaanpara korban yang lain serta memberikan obat "Terakhir dia menghampiri Gin-jitay-beng pula lalu memapahnya duduk.
dia duduk dibelakang orang, dengan tenaga murninya dia siap memberi pertolongan.
Tapi sebelum tangannya menekan Bing-bun hiat Gin-jl-aybeng, seorang berkata d belakangnya.
"Pangcu kau sendiri baru sembuh, tak boleh mengerahkan tenaga lagi, biarlah serahkan kepadaku saja."
Tanpa menoleh Liok Kiam-ping kenal suaranya yang bicara adalah Jian-li tok-heng, tanpa menunggu jawabannya, segera dia gantikan tempat duduk Kiam-ping.
Kiam-ping juga tidak banyak bicara, malah dia jelaskan bagaimana Jian-li-tok-heng harus memberi pertolongan, lalu menyingkir dari tempat itu.
Setelah bersusah payah sehari semalam, mereka sudah payah dan letih, maka semua pergi beristirahat.
Hari sudah terang tanah, baru orang banyak bangun dan duduk membundar didalam gua merundingkan persoalan pelik yang mereka hadapi.
Liok Kiam-ping membuka perundingan, katanya.
"Peristiwa tak terduga ini menyangkut mati Hidup Hong lui-pang kita selanjutnya, mohon perhatian para saudara untuk memikirkan cara bagaimana kita mengatasi kejadianpelik ini, kita harus bersatupadu menjernihkan persoalan sekalian mengembalikan nama baik Pang kita yang sudah berkenan dihati masyarakat."
Kim-ji tay-beng berkata. 'Menurut perhitungan waktunya, amat jelas pasukan negeri ini kemungkinan mendengar hasutan pihak Ham-ping-kiong dan Lo hu-to, atau ada persekongkolan gelap diantara mereka."
Berkerut alis Jian li-tok-heng, katanya.
"Kukira itu hanya gejala yang kebetulan saja, dibalik persoalan ini ada liku-liku yang amat rumit. Padahal Hong-lui-pang kita cukup baik didalam tata laksana kepentingan bersama, kaum Bulim juga mengagumi kita, dengan pihak pemerintahan juga kita punya hubungan dan pengertian yang baik. Maka kehadiran pasukan negeri yang mengepung perkampungan seperti Hendak menangkap kawanan bandit sungguh sangat disesalkan, aku tidak habis mengerti."
Sejak tad i Ai-pong-sut tenggelam dalam alam pikirannya, mendadak dia menoleh kepada Kim-ji-tay beng tanyanya.
"Belakangan ini bagaimana keadaan dan kabar cabang-cabang kita dibagian luar."
Kim-ji-tay-beng menghela napas, sahutnya.
"Berita yang kita terima sungguh amat menguatirkan, situasi cukup genting, menurut penyelidikan, beberapa pimpinan cabang yang menduduki jabatan penting ternyata banyak yang ditahan dan diawasi gerak-geriknya, padahal tiada tuduhan dosa apa yang pernah mereka lakukan."
Itu yang terjadi dalam wilayah ciat-kang, diluar propinsi bagaimana keadaannya ?"
Tanya Liok Kiam-ping.
"Sejauh ini belum diperoleh kabar, diketahui bahwa komunikasi dua a rah dari pusat dengan berbagai cabang diluar daerah telah terputus seluruhnya."
Demikian penjelasan Kim ji-tay beng. Coh-siang-hwi lb Tiau hiong Cerdik dan pandai berpikir, dengan terse nyum dia angkat bicara.
"Menurut keadaan dapat disimpulkan, persoalan memang ditangani langsung oleh pihak penguasa, karena itu aku usul hal ini Harus diselidiki mulai dari kantor kabupaten, tahap demi tahap kita selesaikan baru menentukan langkah apa yang harus kita tempuh."
Ai-pong-sut Thong cau keplok tangan, dia menyatakan setuju.
Thi-pi-kim-to Tan Kian-thayjuga berpendapat untuk menyelesaikan peristiwa ini Harus membereskan pangkalnya lebih dulu, diapun menyatakan akur.
Demikian pula Gin-jaybeng, P-lik-jiu ciu Khay, si gede Slang Wi menyatakan siap menunaikan tugas.
Dengan tersenyum Jian-li tok-heng berkata dengan nada prihatin.
"Tugas ini menyangkut kepentingan mati Hidup Hong-lui-pang kita, betapapenting dan besarpengaruh dari tugas penyelidik ini, sekali-kati tidak boleh kepergok supaya tidak mengejutkan pihak sana. akibatnya bis a mendatangkan bencana yang lebih besar."
Dengan tertawa Coh-siang-hwi ih Tiau-hong berkata.
"Kalau demikian kunci persoalannya berada di kabupaten di sana pasti berkumpul orang-orang pandai, penjagaan ketat, bentrokan mungkin sukar dihindarkan, maka kuajurkan semua yang bertugas harus mengenakan kedok hitam untuk sementara menyembunyikan asal usul sendiri."
"Thipi-kim-to Tan Kian thayjuga berkata.
Jikalau dikuntit diluar kesadaran kita, bukan mustahil jejak kita konangan.
Untuk menjaga segela kemungkinan, kurasa sepanjang perjalanan menuju ketempat kita dalam wilayah pegunungan ini perlu diadakanpenjagaan dan penceg ata n."
Liok Kiam-ping menyatakan akur oleh usul Tan Kian-thay.
Maka mereka membagi tugas dan siap berangkat.
Liok Kiamping dan Jian-li-tok heng seperjalanan meluruk kekantor kabupaten sementara Ai-pong-sut Thong cau, Kim-ji-tay-beng dan Gin-jl-ay-beng berpencar ditempat yang telah ditentukan untuk mencegat penguntit.
Liok Kiam-ping bersama Jian-li-tok-heng langsung berangkat kekota Un-ciu, Gnkang mereka tinggi, badan bergerak secepat panah dalamjangka satujam mereka sudah tiba kota Un-ciu.
Senja mend ata ng, penduduk kota mulai memasang lampu, jalan raya penuh sesak hilir mudiknya kuda kereta danpejalan kaki.
Kiam-ping berdua sudah apal jalan dikota ini, namun mengingat waktu masih pagi, maka mereka putar kayun menyusuri jalan-jalan raya sambil menonton keramaian.
Tanpa terasa kentongan satu telah tiba, jalanjalanjuga mulai sepi, maka Kiam-ping berdua menuju kesuatu tempat sepi mengenakan kedok muka langsung melompat tinggi keatas rumah bagai segulung asap meluncur ketembok kota.
Sekilas Liok Kiam-ping menerawang keadaan, lalu melompat j uh meluncur kearah timur, Jian-li-tok heng terus mengikuti dibelakangnya.
Gedung kabupaten memang berada disebelah timur kota, hanya sekejap mereka sudah tiba disebelah kanan lapangan di depan gedang Kabupaten.
Didepan pintu gerbang ada tiang bend era besar tinggi mengibarkan bend era kebesaran bupati, penjagaan tampak keras dan ketat, peronda hilir mudik.
Tapi gedung Sebesar itu ternyata sepi lengang, gelap lagi, membuat orang mengkirik.
Liok Kiam-ping siap menerjang, lekas Jian-li-tok-heng menekanpundaknya, bisiknya.
"Gelagatnya agak ganjil, jangan gegabah, kami brpencar dari depan dan belakang, saling bantu danjaga keselamatan."
Lalu dia jemput sebutir batu dan ditimpukkan kearah dinding Sebelah kiri.
"Tak"
Suara lirih menimbulkan reaksi yang tak terduga, dari kanan kiri Sudut tembok mendadak menerjang keluar dua bayangan.
"Lekas masuk."
Bisik Jian-li-tok-heng sambil menarik Liok Kiamping, mereka meluncur ke a rah kanan melompati tembok menyelinap kedalam.
Beg itu berada didalam tembok mereka lantas brpencar, Kiam-ping membelok ke kiri terus menyelinap ketempat gelap.
penjagaan dalam gedung ternyata juga amat keras, jelas bahwa perslapan mereka cukup matang, hal ini menandakan adanya pihakpengalaman ikut menangani persoalan ini, seorang Bupati biasanya tidak ikut campur urusan tetek bengek.
Ginkang Kiam-ping teramat tinggi untuk diketahui jejaknya oleh para penjaga itu.
Saat mana dia berada di belakarg sebuah gunungan, mendadak didengarnya suara lirih dari sebelah kanan di mana terdapat sebuah lobang.
Sigap sekali Kiam-ping menyelinap ketempat gelap lalu pasang kuping, didengarnya seorang mondar-mandir didalam lobang itu, secara gesit Kiam-ping melompat kedepan lobang lalu melongok kedalam.
Tampak seorang opas berusia empatpuluhan memegang sebatang golok besar sedang bolak balik.
Waktu orang itu membalik badan membelakangi dirinya.
Kiam-ping incar Hiat-to dipunggungnya terus menutuk dari kejauhan.
orang itu mengeluh periahan lalu meloso jatuh lemas tak bergerak lagi.
Setangkas kera Liok Kiam-ping menyelinap kedalam lobang.
Dia tutuk pula hiat-to orang lalu menunggu dipinggir sambil memeluk dada.
Lekas sekali opas itu sudah sadar, ingin berdiri tapi badan lemas, waktu dia mendongak seketika dia terbeliak kaget.
Liok Kiam-ping tertawa dingin, katanya.
"Saudara menjabat apa dalam kabupaten ini? Siapa biang kelad ipenyerbuan pasukan negeri ke Kwi-hun ceng ? Bicaralah terus terang, aku tidak akan mengganggu jiwamu."
"Hamba hanya seorang opas yang bertugas dalam kota, hari ini atas perintah ditugaskan jaga malam di sini, penyerbuan ke KwHun ceng konon lantaran laporan seorang pengkhianat yang kemaruk jabatan, maka perintah rahasia dari kota raja terpaksa harus kita jalankan. Bagaimana dudu kperkara sebenanya, aku tidak begitujelas."
Mendengar "laporan pengkhianat"
Liok Kiam-ping melenggong dibuatnya, namun hal ini tak sempat dia pikirkan, katanya.
"Saudara bicara sejujurnya, aku tak perlu mempersulit dirimu, masih ada urusan lain harus kubereskan. sementara kau tidur saja di sini, Hiat-tomu akan terbuka sendiri."
Setelah tutuk Hiat-to penidur orang Kiam-ping berputar ke kiri lalu lompat keatas pohon, sejenak dia meneliti keadaan lalu kembangkan Ling-hi-pou melesat kesebelah dalam.
Betapa cepat luncuran tubuh Liok Kiamping, penjaga dan peronda yang tidak pernah belajar silat hanya melihat berkelebatnya bayangan orang, tiada yang tahu apakah bayangan yang mereka lihat manusia atau burung, ada pula yang kucek-kucek mata mengira pandangannya kabur, Hal ini dianggap biasa, apalagi malam gelap maka mereka tidak ambil perhatian.
Dalam berapa kali lompatan berjangkit Liok Kiam-ping sudah meluncur kederetan rumah-rumah bagian dalam.
Ditempat gelap dia mendekam menunggu kesempatan sambil memeriksa keadaan sekelilingnya.
Dalam pada itu setelah berpisah dengan Liok Kiam-ping, Jian-li-tokheng berputar ke kanan memasuki serambi panjang, pengala-mannya luas, sedikit banyak tahu seluk-beluk gedanggedang pemerintahan, maka dia memilih tempat-tempat gelap dan sepi, namun tidak jarang dia kepergok oleh penjaga yang takpernah diduga sembunyi ditempat yang tidak menyolok, namun dengan kesebatan gerakannya, beberapa orang berhasil dia robohkan dengan menutuk Hiat-tonya.
Jian li-tok-heng maju lebih lanjut memasuki bilangan belakang, sekalijejak dia melesat keatas wuwungan seberah gedung besar, perlahan dia merambat kepinggir payar lalu menggelantung terbalik dengan kedua ujung kaki menggantol genteng, dengan jungkir balik begini dia mengintip kedalam rumah.
Tampak seorang berusia lima puluhan berpakaian preman duduk dibelakang sebuah meja besar, diatas meja bertumpuk berkas-berkas dan buku serta alat-alat tulis, mungkin laki-laki inilah Bupati adanya.
Tak jauh disamping meja berduduk seorang laki-laki berpakaian pelajar berusia tigapuluhan, mungkin dialah sekretaris Bupati.
Didengarnya Bupati sedang bertanya.
"Sudah berapa hari Yong-toksi menggerebek Kwi hun-ceng, belum juga berhasil menduduki-nya, kurasa dibelakang persoalan in ada yang tidak beres. Bagaimana menurut pendapat-mu Bong hucu?"
Laki-laki usia tiga puluhan itu membungkuk badan serta menjawab hormat.
"Kurasa Kwi-hun-ceng adalah tempat berkumpulnya orang-orang gagah, terhadap pasukan negeri mereka tidak berani bertindak melawan juga hanya untuk membela diri, jelas mereka tidak bermaksud jahat, tapi keadaan mendesak sebelum persoalannya dibikin terang, mereka takkan mau menyerah."
Menurut laporan dan sudah kuperiksa bahan-bahanyang kuterima, selamanya belum pernah mereka melanggar hukum meski termasuk suatu organisasi besar, juga tergolong lurus, tapi perintah rahasia dari kota raja menugaskan kita menangkap dan menumpas mereka, sungguh membuat heran.
Padahal menurut apa yang saya baca dari buku, kaum persilatan umumnya paling memegang teguh kepercayaan dan kesetiaan hanya menggunakan kebijaksanaan dan kebajikan kita memberi penjelasan baru bisa menundukkan mereka.
kalaupakai kekerasan kurasa akibatnya akan fatal bagi kita.
Kurasa Yong-toksi belum mampu menunai-kan tugas nya, lebih baik tarik saja pasukannya, utus saja beberapa petugas yang cekatan untuk mengawasi gerak gerik mereka, disamping suruh orang berunding dengan mereka."
"Kalau bertahan terus begini, bukan saja membuang waktu tenaga dan finasial secara sia-sia, kalau melampaui waktu yang ditentukan kitapun akan ketimpa salah dari atasan. Bagaimana pendapat Tayjin."
Berkerut alis orang tua itu, katanya kemudian setelah merenung.
"Memangnya aku sedang pusing lantaran kejadian ini, baiklah jalankan saja sesuai usul Bong-hucu, mandat kuserahkan kepadamu untuk membereskannya"
Bong-hu cu berdiri serta menjura, katanya.
"Terima kasih akan kepercayaan yang diberikan kepadaku, aku akan bekerja sekuat tenaga, namun mengutus siapa untuk berunding dengan mereka kurasa perlu mengundang ong cong bu-thau (kepala opal) untuk membicarakan hal ini"
Lalu dia menoleh keluar dan berseru.
"Kiat Him, lekas panggi ong-cong buthau."
Seorang mengiakan diluar pintu lalu langkahnya makinjauh.
Tak lama kemudian cong-bu-thau ong An-dian sudah melangkah masuk.
setelah memberi hormat kepada Bupati dia berdiri dipinggir.
Bong-hucu segera menjelaskan rencananya."
Kepala opas ong An-dian mengunjuk sikap kurang senang katanya.
"Menurut apa yang kudengar kumpulan macam bandit seperti mereka tidak boleh dikasih hati, apalagi kita bertindak atas perintah atasan, perundingan kurasa takkan membawa hasiL"
Sang bupati berkata.
"Menurut situasi yang bertahan begini, batas waktu bakal tiba, tak berani aku bertanggungjawab. Bagaimana menurut pendapat cong-buthaw dengan Cara apa baru berhasil membereskan persoalan ini?"
Ong An-dian menjura, katanva.
"Menurut pendapatku. selekasnya beri laporan keatas bahwa kawanan berandal itu melawan, tenaga kita kurang dan mohon bantuan beberapa jago silat kosen supaya usaha kita berhasil. Perlu saya laporkanpula, menurut laporan petugasjaga, sudah ditemukan jejak mata-mata musuh yang menyelundup kegedung kita ini, kepandaiannya lihay, bukan mustahil dia utusan kawanan brandal yang hendak mengganas di sini."
Bupati dan Bong-hucu berjingkrak kaget, terutama sang Bupati setelah memberi pes an bergegas dia mengundurkan diri.
Maka ributlah gedung Bupati, obor dipasang orang bergerak hilir mudik.
Jian li-tok-heng tertawa geli, tugas nya sudah tercapai, maka dia melejit naik keatas genteng, untuk bergabung dengan Liok Kiam-ping dia malah berlari kearah depan-Begitu dia berdiri di wuwungan, orang-orang di bawah lantas melihat jejaknya, maka ributlah teriakan-teriakan tangkap ma ling, tangkap pembunuh.
Berkepandaian tinggi nyali Jian-li-tok-heng besar, dia tidak hiraukan keributan dibawah, sambil meluncur dia malah bersuit panjang, suaranya melengking tinggi, maksudnya memberitahu kepada Liok Kiam-ping supaya mengundurkan diri.
Sudah tentu para pengejarnya ketinggalan jauh dibelakang.
Liok Kiam-ping yang sedang sembunyi ditempat gelap sudah tidak sabar lagi, untung sebelum dia bertindak suitan Jian-litok heng sudah kumandang diudara, tahulah dia bahwa tugas Jian-li-tok-heng sudah selesai, maka diapun melompat keluar dan berlari kencang keluar gedung, Hanya sekejap bayangan kedua orang ini sudah lenyap ditelan kegelapan-Diluar gedung Liok Kiam-ping bergabung dengan Jan-li-tokheng, dengan Ginkang tinggi mereka terus meluncur keluar kota.
Kira kira satu li kemudian, terasa dibelakang mereka ada dua bayangan orang mengejar dengan kencang.
Gerak gerik kedua pengejar itu cukup lincah dan tangkas, jaraknya bertahan dua puluh an tombak jauhnya dibelakang Kiamping berdua.
Namun seorang yang dikanan mungkin Lwekangnya lebih lemah, lama kelamaan dia ketinggalan dibelakang, napasnya yang ngos-ngosan juga terdengarjelas darijauh.
Sebagai jago-jago silat top sudah tentu mereka meluncur bagai bintang jatuh, bagi yang berkepandaian rendah, pastitakpercaya kalau yang dilihatnya adalah bayangan manusia yang berlari kencang.
Lekas sekali mereka sudah lima li jauhnya, baru saja membelok keselatan hampir memasuki pegunung an Liok Kiamping berdua melompat jauh terus menghilang.
Pengejar yang tinggal seorang itu bersuara heran, setiba didepan hutan dis celingukan.
Mendadak didengarnya seorang berseru diatas batu tinggi.
"Sahabat, tengah malam buta, untuk apa kau keluyuran di sini, tiada jal nan di sini kecuali ke neraka, silakan kembali saja."
Sebelum habis bicara, mendadak segulung tenaga pukulan menyapu datang dari samping.
Pengejar ini berkepandaian tinggi, mendengar angin menerjang datang, dia menyingkir kekiri sambil membundar lengan terus digentak keluar memapak serangan.
Blang"
Keduanya menyurut selangkah kebelakang. Bila bayangan berkelebat mana muncullah seorang kakek tua pendek bundar berkedok, katanya sambil gelak tawa.
"Siapa nyana Lo-hu-sin kun yang berkuasa di Lam-hay ternyata bertindak seperti panca longok mengintip gerak gerik orang meminjam kekuasaan pemerintah, menindas rakyat apa tidak malu kau."
Lohu-sin-kun melenggong, setelah diperhatikan lantas tahu siapa pencegatnya, jengeknya dingin.
"Kawanan tikus yang malu dilihat orang, berani memutar balik persoalan, seorang diri berani kau mencegat jalanku, cari mampus ya"
Pencegat ini adalah Aipong-sut, bentaknya.
"Siapa cari mati, hayolah buktikan."
Habis bicara mendadak kedua tangannya menyodok dan menggenjot, Lo-hu-sin-kun tertawa dingin, sebat sekali dia miring tubuh, berbareng tangannya menggenjot naik, agaknya dia sengaja menjebak Ai-pong-sut.
Padahal kekuatan mereka berimbang, setelah menghindar jotosan keras lawan baru Lohu-sinkun balas menyerang.
Karuan Ai-pong-sut tersirap, namunpengalamannya cukup membuat hatinya tabah, dua tangan yang kebacut memukul kedepan ditariknya terus menyikut sambil melompat mundur, tenaga jotos an lawan berhasil dipunahkan sebagian, namun demikian dia terdesak mental setombakjauhnya, untung lompatannya sejurusan dengan pukulan lawan sehingga tidak terluka.
"Bluk"
Dengan keras pantatnya beradu dengan tanah. Lo -hu -sin -kun segera menubruk majupula.
"Berhenti."
Seorang mendadak menghardik dengan suara yang menggetar bumi, jelas Lwekangnya hebat luar biasa, seiring dengan berkelebatnya bayangan putih, tinju seorangpun telah menyelonong tiba.
Terasa oleh Lo-hu-shi-kun, betapa dahsyat pukulan ini, tersipu dia mengembangkan Hu-kong-king-in-pou, meski berhasil menyelamatkan diri, setelah berdiri teg a kpula, matanya terbeliak kaget.
Maklum kedudukannya di Bulim boleh dikata sudah cukup top.
jago kosen dalam Bulim yang mampu menandingi dirinyajuga bisa dihitung dengan jari.
Tapi serangan orang ini mampu membuat dadanya sesak.
hal ini belum pernah terjadi, betapa takkan mengejutkan hatinya.
Waktu dia angkat kepala dilihatnya seorang berpakaian jubah putih berkedok hitam tengah meluncur turun dari lamping gunung yang curam sana, langkahnya enteng seperti terbang berjalan diudara.
Itulah Ginkang tingkat tinggi, yang tiada taranya, Ling-hi-pou yang sudah termashur sejak ratusan tahun lalu.
Setinggi ini Ginkang lawan Jelas dirinya harus memeras keringat dan mempertaruhkan jiwa raga.
Namun dengan berani dia maju selangkah, jengeknya.
"Entah siapakah cianpwe ini, bolehkah cayhe tahu gelaranmu yang mulia' Pendatang ini bergelak tawa, katanya. 'cianpwe apa, dihadapan Sin-kun aku hanya ingin menjajal beberapa jurus kepandaian sekaligus menyelesaikan persoalan lama.' Lo-hu-sin-kun melengak. namun kejap lain dia sudah tertawa besar, katanya. 'Sudah dua puluh tahun Losiu tidak keluar dari Lo-hu-to, persoalan lama apa yang kau maksud aku tidak mengerti, apa kau tidak salah a lamat.' 'Sin-kun bersimaharaja di Lam-hay seorang Cikal bakal dari suatu aliran namamu besar disegani, mana mungkin aku keliru mencari musuh. Maklum setelah jadi pemimpin besar sin-kun sudah melupakan masa lalu.' "Permusuhan dalam Bulim sudah jamak kalau hutang darah dibayar darah,' demikian seru Lo-hu-sin-kun berang, , kalau tidak lekas jelaskan persoalannya, Losiu tiada tempo cerewet di sini.' Orang berkeduk itu terkial-kial, suara tawanya bergelombang mengalun dia lam pegunungan, desisnya dengan tekanan penuh dendam.
"Peristiwa pengeroyokon di Tay-pa-san dua puluh tahun yang lalu, kurasa belum kau lupakan bukan?' Lo-hu-sin-kun melenggong, sebetulnya peristiwa itu pernah membuatnya menyesal, tapi urusan sudah terjadi, cerewet juga tidak ada gunanya, katanya. 'Agaknya kau pimpinan besar Hong-lui-pang, menurut pendapatmu, bagaimana kita selesaikan persoalan lama itu?' 'cara apapun boleh saja, yang terang hari inHarus dibereskan sampai tuntas.' "Betul, Cekak dan gamblang. Baiklah Losiu akan iringi kehendakmu, nah, silakan turun tangan.' lalu dia bergaya dan pasang kuda-kuda, Liok Kiam-ping tertawa, katanya. 'Selamanya cayhe tidak berani mendahului, silakan serang saja.' "Baiklah, Losiu bertindak lebih dulu, Lihat serang an.' tangannya merogoh pinggang melolos sebatang ruyung emas berbentuk mulut ikan gurami, sekali sendal ruyung lemas ini menjadi kaku, menutuk lurus kemuka Liok Kiam-ping. Kejadian hanya sekejap. melolos ruyung menyerang dengan gerakan lincah dilakukan sekaligus. memang tidak malu Lo-hu sin kun sebagai gembong silat yang disegani. Di sinilah letak kecerdikan dan kemahirannya, tadi dia sudah saksikan sendiri betapa hebat ilmu Liok Kiam-ping, pukulannya kokoh kuatjelas sukar dilawan, maka dia menggunakan senjata. pikirnya hendak mengalahkan musuh dengan permainan ruyungnya yang lihay. Ruyung emasnya ini dibuat khusus dan istimewa, panjangnya ada lima kaki, sebesar buah pir yang keseluruhannya dibuat dari emas murni. Dengan lincah dia menuding sambil menggentak sehingga ujung ruyung emas yang berbentuk seperti mulut ikan mendadak terpentang, mulut yang terpentang iniperanti mengunci atau meng gig it senjata lawan, namunjuga bis a digunakan menutuk hiat-to. Liok Kiamping tidak kira lawan bersuara seranganpun telah mengancam dirinya, cepatnya tak kalah dari berkelebatnya kilat, terasa sinar emas mengaburkanpandangan, angin menderu sudah mengancam mukanya. Betapa tinggi kepandaian Liok Kiam-ping, tak urung mencelos juga hatinya, lekas dia berjongkok kekanan menghindari tusukan, berbareng tangan kanan merogoh kebelakang melolos cui-le-kiam. Tenaga dikerahkan pada ujung pedang, sekali gerak Cahayapedang mulur setengah kaki balas menutul kearah lawan-Beg itu tusukan ruyungnya luput, ujung pedang lawan sudah balas menusuk dirinya, lekas tangan kanan menarik, tangan kiri menekan badan ruyung, berbareng turun berputar maka ruyungnya menyamber kepinggang Liok Kiam-ping, gerakan sebat serangan laksana angin puyuh sasaranpun tepat. Liok Kiam-ping tertawa ringan, kaki menjejak tubuh melambung keudara. sekali jumpalitan tubuhnya anjlok kebelakang Lo-hu-sin-kun. Permainan pedangnya lincah dan enteng. kaki mendesak maju, pedangnya menus uk ci-tonghiat dipunggung Lo-hu sin-kun. Dua kali serangan ruyungnya luput, kembali dirinya diancam tusukan dari belakang, lekas Lo-hu-sin-kun kembangkan Hu-kong-king-in-pou, sekali berkelebat dia menyingkir delapan kaki, kini ruyungnya diputar kencang melancarkan Hian-tampian-hoat yang keseluruhnya terdiri sembilan kali sembilan delapan puluh satu jurus. Ruyung emasnya bergerak laksana ular sakti yang hidup terbang diudara menggubat Liok Kiam-ping dengan gemerdep cahaya emasnya. Liok Kiam-ping membentak sekali, cahaya pedangnya molor lebih panjang lagi satu kaki. diapun kembangkan Ling hi-pou, gerak geriknya setangkas tupai bertompatan kian ke mari diantara samberan ruyung lawan-Dengan ketangkasannya takjarang dia balas menyerang dengan pedang pusakanya, setiap kali dia balas menyerang, Lo hu-sin kunpasti dibuatnya mundur dengan permainan kacau balau. Yakin dirinya lebih unggul Kiam-ping pusatkan perhatiannya, kini dia bermain santai tapiperbawa serangannya bertambah besar malah. Tiga puluhjurus kemudian, pecah nyali Lo hu-sin-kun, saking kepepet terpaksa dia keluarkan permainan cambuknya yang baru dicipta sendiri bernama Soan-hong pian-hoat (ilmu ruyung angin puyuh) dengan kecepatan luar biasa dia serang Liok Kiam-ping dengan sengit. Terasa oleh Kiam-ping ruyung lawan seperti berobah ribuan banyaknya, ribuan batang ruyung sekaligus memberondong dari berbagaipenjurusehingga napas terasa sesak. Tahu permainan ruyung lawan sang at lihay, kembali Uok Kiam-ping jejak kaki melejit tinggi, dengan kelincahan tubuhnya, tenaga dalam yang tangguh, cui le-kiam sampai meneorong benderang menyilaukan mata. Dengan Ling-hi-pou Liok Kiamping berjalan di udara, maka lawan dicecarnya pontang panting. Betapapun lihay Lo hu-sin-kun, kapan pernah menghadapi musuh setangguh Liok Kiam ping, terasa mata berkunangkunang, pandang makin gelap saking silau, hakikatnya dia tidak melihat lagi di mana musuhnya berada. Tapi dengan Hukong-king-in-pou yang tunggal juga dalam Bulim, semula dia masih kuat melawan-Tapi limajurus kemudian, tidak demikian keadaannya. Mendadak Liok Kiam-ping tambah tenaga, perbawa ilmu pedangnyapun berlipat ganda. maka cahaya pedang yang cemerlang berkembang, hawa pedang melingkup gelanggang Dada Lo-hu-sin-kun betul-betul seperti ditindih benda ribuan kati beratnya, napas sesak gerak gerikpun seperti teri halang, begitu merasa gelagat jelek baru dia sadar dan berteriak kaget dan ngeri. Tapi pedang sudah menabas turun. Ditengah jerit kesakitan yang menyayat hati, lengan kirinya ternyata sudah tertabas buntung tepat dipundaknya, saking kesakitan sekujur badan bergetar, namun dia kertak gigi yang berkerutukan, tubuhnya sempoyongan. Lekas dia tutuk beberapa Hiat-to dipundaknya. Tangan kanan terayun ruyung emasnya segera dia timpuk kearah Liok Kiam-ping. Setelah menimpuk senjatanya sekuat tenaga, lekas dia hilang dari tempat itu. Setelah menabas lengan Lo-hu-sin-kun, terhitung terlampias dendam perguruan, baru saja dia menarik napas setelah kerahkan tenaga nya melancarkan ilmu pedangnya, wajahnya juga pucat dan napaspun ngos-ngosan Begitu ruyung ditimpukan, secara reftek dia miring kan tubuh ke kanan, namun gerakannya kalah cepat, lengan baju kirinya tergores belong. Jian-li-tok-heng kuatir keadaan Liok Kiam-ping, maka dia tidak mengejar Lo hu-sin-kun yang melarikan ke dalam hutan-Untsung Liok Kiam-ping hanya terlalu banyak menggunakan tenaga, setelah istirahat sejenak tenaganya sudah pulih pula. Kejap lain bersama Jian-li-tok-heng, Ai-pong-sut bertiga mereka meluncur kearah barat hilang dibalik rimbunnya pepohonan. Tidak lama setelah ketiga orang ini pergi, dari semak rumpus dilereng gunung sana, menongol keluar seraut wajah lebar beralis tebal mulut lebar, setelan celingukan dia berdiri sambil menarik napas lega, pandangannya tertuju kearah Liok Kiam-ping bertiga pergi. Lakl-laki yang sembunyi disemak rumput ini bukan lain adalah kepala opas kota Un ciu ong An-dian adanya. Dia sudah saksikan sendiri betapa tinggi kepandaian para penyatron malam ini. seluruh jago-jago yang ada dikabupaten tiada yang kuat melawan sejuruspun, apa lagi Lo hu-sin-kun yang menjadi tulang punggungnya sudah buntung dan melarikan diri. namun sejauh ini dirinya sudah menguntit jejak musuh. rasanya enggan putar balik, apa lagi dia punya pedoman keras, kalau tidak berani masuk gua, bagaimana dapat menangkap anak harimau. Maka percaya akan kecerdikan sendiri dia bertekad menguntit jejak musuh. Segera diapun berlari kearah ke mana tadi Liok Kiam ping bertiga pergi. Satu jam kemudian dia sudah makin tinggi naik gunung dan berada dipedalaman yang belukar. dilihatnya ketiga bayangan di depan itu masih terus meluncur dengan tangkas dan cepat seenteng burung terbang. Tahu Lwekang Liok Kiam-ping amat tinggi, maka kepala opas ong An-dian tidak berani menguntit terlalu dekat, dia hanya melongok dari kejauhan, ke mana mereka pergi dia terus saja menguntit saja dibelakang. Waktu itu dia sudah mencapai sebuah puncak dan mulai membelok kearah puncak yang lain-Mendadak sebuah bentakan kereng mengejutkan hatinya. 'Sahabat, tengah malam buta keluyuran diatas pegunungau menguntit orang lagi. kalau tahu diri menyerah saja."
Yang menegor adalah Kim-ji-tay beng, begitu melompat mencegat langsung dia hantam kepala orang dengan Kim-soa-ciang.
Kepala opas ong An than adalah murid didikan Kong-tongpay yang mempunyai kepandaian lumayan, setengah hidupnya bekerja di kalangan pemerintahan, menjadiopas atau polisi jaman sekarang, pengalamannya tentang kuntit menguntit jejak orang amat luas, apa lagi kali ini yang dikuntit adalah orang berkepandaian tinggi, maka dia sudah bertindak secara hati-hati, sudah tentu sebelumnya diapun sudah mempersiapkan diri bila dirinya kepergok.
Mendengar bentakan dia sudah berhenti lalu melompat sehingga pukulan lawan luput sambil melompat itulah dia ayun kedua tangannya menimpukkan segenggam pasir hitam kearah tubuh Kim-ji-tay-beng...
Setelah memukul dan luput Kimji-tay-beng sudah slap menubruk pula, mendadak kabut hitam bertaburan didepan matanya.
Dia tahu lawan menaburkan senjata rahasia ringan dan lembut sejenis pasir besi beracun lekas dia menjengkang tubuh terus bersalto kebelakang sejauh lima tombak.
Tanah berumput dimana tadi dia berdiri seketika mengepulkan asap hitam dan hang us oleh taburan pasir besi yang lihay beracun itu.
Karuan tersirap darah Kim-ji tay-beng "Sungguh berbahaya, kurcaci ini tidak boleh diampuni."
Dengan amarah yang meluap segera dia menubruk kearah depan, Tapi bayangan lawan sudah tidak kelihatan, dengan penasaran dia masih mencari dan mengobrak-abrik tempat itu, namun musuh sudah ngacir apa boleh buat terpaksa dia kembali ke tempat penjagaannya.
Sementara itu di didalam goa besar, orang banyak duduk bersimpuh diatas tanah, wajah mereka kelihatan prihatin-Setelah menghela napas, Liok Kiam-ping membuka suara lebih dulu.
"Belum lama Hong lui-pang berdiri, tak nyana sudah ada orang yang mengkhianati kita, sehingga terjadilah musibah ini, kejadian ini amat mengecewakan dan membuatku menyesal sekali."
Selanjutnya Jian-li-tok heng berkata.
"Menurut nada pembicaraan mereka, pengkhianat itu adalah anggota di bagian luar. Suma-Ling-kong berkata.
"Markas besar adalah pusatpemerintahan dari organisasi kita, tempat dimana wibawa ditegakkan, disiplin tinggiperaturan ketat. kalau betul ada pengkhianat pasti mudah diketahui, apalagi penguasa setempat sebelum ini tidak tahu, dan ada niat menggerebek kita, maka dapat dibuktikan bahwa pengkhianat itu bukan dari anggota luar di markas besar."
Coh-siang-hwi fh Tian hiong berkata.
"Dokumen yang memuat Daftar anggota luar disimpan secara rahasia oleh seorang Thocu,jelas tidak mungkin bocor, dari peristiwa ini dapat dirasakan bahwa tata laksana organisasi kita perlu diadakanperombakan."
Selanjutnya Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay juga akan bicara.
"Anggota luar tersebar di beberapa daerah, banyak yang baru didirikan seluruh anggota yang masukj elas sukar diseleksi seCara tuntas, padahal Cabang tersebar luas dimana-mana, lalu dari cabang mana kita harus mulai penyelidikan ini.' Ai-pong-sut seperti biasa mengerut alisnya yang sudah putih jarang-jarang, katanya. 'Urusan sudah mendesak jikalau diselidiki ulang, jelas temponya tidak keburu, memangnya apa yang bisa kita lakukan sekarang" 'Ucapan Tianglo memang betul,' ucap Liok Kiam-ping. Jikalau hal ini diselidiki dari anggota bagian luar, bukan saja memakan waktu, membuang tenaga, kemungkinan bisa membuat kapiran malah.' Kim-ji-tay beng berseru. 'Diselidiki tidak bisa, daripada kita duduk berpeluk tangan-kurasa langsung kita luruk ke Kabupaten dan tanya langsung kepada Bupati, seperti orang Sakit, kalau tahu macam apa penyakitnya, dengan mudah kita akan memberikan obatnya baru lebih lanjut kita pikirkan langkah apa yang harus kita lakukan."
P-likjiu ciu Thay keplok tangan, Serunya.
"Nah. begitu lebih pantaS. Cara paling mudah juga mudah dilakukan-' It cu-kiam Koan Yong berkata.
"Situasi Cukup mendesak. bagi kita tidak boleh ulur waktu Supaya urusan tidak tertunda dan akibatnya bisa Celaka bagi Hong-lui-pang kita."
Ai-pong-sut berkata lagi.
"Kudukung ucapan Sipg tongcu (maksudnya Koan Yong), kamHarus bekerja lebih Cermat dan teliti. sekarang tidak boleh terburu nafsu, lebih penting kita segera bicarakan cara bagaimana kita hadapi persoalan ini lalu mengambil langkah tepat."
Mendadak Jian-li-tok-hang menepuk paha, katanya tegas.
"Soal ini tak perlu ditangani dari dalam organisasi kita sendiri, kalau perintah rahasia ini datang dari kota raja, maka kita harus mulai penyelidikan ini darisana, kurasa jalan yang kita tempuh lebih pendek dan tepat mengenai sasaran, hasilnya tentu juga lebih tuntas."
Ginjitay-beng yang diam saja sejak tadi, berseru gusar.
"Betul. kalau surat perintah itu datang dari kota raja, mari kita serbu ke kota raja dan hancurkan istana raja."
Si gede Siang Wi ternyata tidak mau ketinggalan, dengan gelak tawa diapun berkata.
"Menghancurkan kota raja, hahaha. suruh Baginda menarik tentaranya kan beres. Kalau dia melawan serahkan kepadaku, biar kuhajar pantatnya dengan pentungku ini."
Maka ramailah suasana, semua mengajukan diri untuk menunaikan tugas ini kekota raja.
Karena si gede menyebut nama "Baginda", Liok Kiam-ping lantas ingat kejadian yang pernah dialami di kota raja dulu, segera dia bisik-bisik dengan Ai-pong sut, lalu berkata dengan tawa lebar.
"Kejadian tak boleh diulur panjang, waktu sudah mendesak biarlah aku sendiri yang pergi ke kota raja. Perjalanan akan disertai Tianglo, maka segala urusan di markas besar kupercayakan kepada para Tongcu untuk mengurusnya. Sebelum mendapat kabar, kuharap tidak terjadi bentrokan langsung dengan pas ukan negeri, bila terpaksa boleh menyingkir saja danpertahankan sisa kekuatan kita yang tak seberapa ini."
Bahwa Liok Kiam-ping akan menempuh perjalanan jauh lagi, karuan Siau Hong gUgup dan gelisah, katanya dengan air mata berlinang.
"Ping-koko. kau mau pergi lagi?' Terpaksa Liok Kiam-ping harus membujuknya, untung Siau Hong cukup dewasa danpandai melihat suasana, kepentingan umum harus diutamakan, maka dia berkata.
"Baiklah, kau harus jaga dirimu, hati-hatilah dijalan."
Setelah istirahat Liok Kiam-ping dan Ai-pong-sut bebenah, lalu pamitan dengan orang banyak dari belakang gunung mereka berputar ke utara"
Ginkang mereka tinggi berjalan dipegunungan yang beri hutan lebat tidak menjadHalangan bagi mereka.
Selama tiga haritiga malam mereka terus melakukanperjalanan, menjelang fajar hari keempat mereka sudah tiba disekitar kota Ling-an.
Ling an adalah ibukota dynasti Song selataan, letaknya dimuara ci-ong-kang, tembok kotanya tinggi lebar, penduduknya padat.
pusatperdagangan kehidupan makmur merupakan, kota penting ditenggara kora raa.
Di kota inijuga ada markas Cabang Hong-lui-pang mereka, maka Liok Kiam-ping merasa perlu mencari tahu situasi di kota ini sekaligus mencari informasi tentang anggota mereka yang tercerai berai, meski menyerempet bahaya juga berani dilakukan.
Bahwasanya kalangan pemerintah yang ditunjang para opas adalah orang-orang biasa yang tidak pandai silat, maka mereka tidak terpandang dalam hatinya, namun supaya tidak menimbulkan efek yang tidak diinginkan, slang hari itu mereka istirahat diluar kota yang sepi.
Magrib telah tiba, penduduk mulai memasang lentera.
cuaca sudah gelap.
maka Liok Kiam-ping berdua leluasa mengembangkan Ginkang lewat daerah yang sepi terus meluncur kedalam kota.
Didalam kota amat ramai, ditengah hilir mudiknya pejalan kaki Kiam-ping berdua mencampurkan diri ditengah orang banyak.
arahnya kemarkas tentara dikota ini.
Markas besartentara kota Ling-an merupakansentralpimpinan daerah pas ukan negeri diwilayah tenggara, maka gedungnya besar dan meg ah serta angker, tiang berdera yang berada dikedua pinggir menjulang tinggi puluhan tombak.
Didepan pintu berderet dua baris pasukan berseragam biru tua dengan senjata teri hunus, sikap kereng dada membusung.
Pasukan ronda hilir mudik terdiri beberapa group, Liok Kiam-ping dan Ai-pong-sut menyelinap kesebuah gang kecil yang takjauh letaknya dari markas besar itu, kedok hitam dikenakan sambil memberi tanda mereka berputar kebelakang mengitari tembok tinggi.
Baru setengah iingkar mereka meny us uri tembok tinggi, kebetulan dilihatnya dahan pohon besar yang menjorok keluar tembok.
Kiam-ping tertawa riang, tanpa janji keduanya melompat tinggi mencapai dahan lalu melompat keataS pohon dan tiba dibagian dalam.
Tembok tinggi itu memagari Sebuah taman besar yang rimbun dan teratur baik.
Mereka tidak perhatikan keadaan Sekelilingnya.
langSung berlompatan diantara bayang-bayang pohon menuju kesebuah gedung besar berloteng.
Dibawah rimbunnya dedaonan pohon, bayangan orang tampak bergerak, derap langkah mereka amat lembut, Segalanya Serba tegang dan Sunyi.
Entah peronda atau petugas jaga, tiada yang bertugas dengan baik, namun Kiamping berdua tidak ambil peduli tidak konangan dan menimbulkan keributan terpaksa mereka berputar agakjauh lewat pucuk pohon menyelinap ke balik tembok dengan Ginkang tinggi.
Setengah jam kemudian gedung besar berloteng itu sudah didepan mata.
Tinggi gedung loteng ini ada enam tujuh tombak.
berdiri gagah dan angker ditengah gelup, seperti raksasa yang hendak menerkam orang saja.
cahaya lilin terang benderang didalam gedung seperti slang hari, bayangan orang bergerak-gerak.
sering terdengar suara keras dan lantang.
Tanpa banyak pikir Kiam-ping berdua melesat ke kiri kanan dan hinggap dipagar loteng terus mendekam diatas belandar.
Bagi orang biasa, jarak setinggi enam tombak tak mungkin dicapai, tapi bagi Kiam-ping berdua biasa saja, seperti berjalan di tanah lapang, tanpa membuang tenaga.
sedikit menutul tubuhnya melesat seperti anakpanah, tangan meraih belandar kakitangan bekerja seperti kera sehingga tubuhnya bergelantung dibawah pohon, setelah membuat lubang dijendela kertas lalu mengintip kedalam.
Ternyata itulah ruang kerja yang berukuran sedang saja, perabot serba antik, alas tulis lengkap diatas meja, tapi tiada bayangan seorangpun.
Suara percakapan lantang itu berkumandang dari luar kamar sedang ini, agaknya masih ada kamar lain disebelahnya.
Demi Hong-lui-pang dan keselamatan para kawan, sebetulnya Liok Kiamping segan masuk kekamar orang, tapi keadaan mendesak.
terpaksa dia menyongkel jendela melayang masuk.
Selama hid up barupertama kali ini dia menyelundup kekamar orang tanpa idzin, semula hatinya kurang tentram tapi lekas dia tekan perasaannya..
Dengan berindap dia menuju kebelakang pintu, perlahan dia menarikpintu hingga terbuka segaris serta mengintip keluar, diluar adalah serambi lebar, kanan kiri diapit kamar, kemungkinan kamar-kamar kerja daripara menteri.
Suara percakapan kumandang dari salah satu kamar ditengah serambi sana.
Melihat sekitarnya tiada orang, sekali berkelebat Liok Kiamping meluncur kearah datangnya suara.
Gerak geriknya memang enteng seperti barung walet, sekali berkelebat lantas lenyap.
Dengan cerdik Kiam-ping memasuki sebuah kamar kecil disamping kamar besar ditengah, dari kamar kecil ini ada jendela penghuhung dipajangi Vas bunga kembang..
dari balik Vas kembang inilah Liok Kiam-ping mengintip kekamar sebelah.
Dalam ruang besar ini terdapat sebuah meja tinggi besar, dibelakang meja duduk lima orang yang tampangnya miripperwira tinggil usianya rata sekitar lima puluh lebih.
Disebelah bawah lagi duduk dua baris yang berdiri belasanperwira kelas rendah,jadi bentuk meja duduk mereka mirip leter "T", kelihatanperundingan sedang berjalan.
Pewira tua yang duduk ditengah diantara empat rekannya disebelah atas sedang bicara.
"Laporan datang dari Un-ciu, bahwa Kwi-hun-ceng tak berhasil diduduki, orang-orang Hong
)ui-pang menyingkir kepedalaman, Pasukan tak mungkin mengejar karena kekurangan tenaga, kalau bertahan terlalu lama.
kuatir melampaui batas waktu yang ditetapkan maka mereka minta bantuan.
Kalau hal ini benar, ciangkun mungkin jua takkan berani bertanggung jawab."
Seorang pewira muda yang duduk disebelah bawah berkata dengan tersenyum.
"Hong-lui-pang belum lama berdiri dikalangan Kangouw, kekuatannya masih terbatas kalau mau digrebek semestinya tidak perlu banyak banyak tenaga dan mengalami kesukaran.
Apalagi menurut berita yang tersiar bahwa mereka mematuhi Hukum dan bertujuan baik, rasanya tak mungkin melawan pasukan pemerintah, kurasa kasus ini masih banyak seluk beluk yang harus kita selidiki, tak perlu bertindak dengan tangan besi."
Seorang Perwira tua disebelah kiri berkata.
"Akupun punya pendapat demikian-tapi surat dari Un-ciu hanya menyebut minta bantuan tidak menjelaskan sebabnya, Ciangkun sendiripun ragu-ragu untuk bertindak."
Perwira disebelah kanan berkata juga."
Sejak mula kasus ini cukup membingungkan, surat perintah dari kota raja hanya suruh menangkap tanpa disertai dosa kesalahan, kurasa kasus ini menyangku tpermusuhan kaum persiI atan."
Perwira yang duduk dipaling tengah rnengangguk, katanya.
"Ya, kemungkinan demikian, menurut pendapat Losiu. sementara kita tidak memberi reaksi, hanya surat dikirim kemarkas Un-ciu untuk membantu tenaga ikut mengepung sajabila duduk persoalannya sudah jelas baru kerahkan pasukan besar, kita harus menghindari pemborosan yang tiada gunanya. Apalagi orang persilatan paling mengutamakan kesetiaan. memandang mati seperti pulang ke haribaan Thian Yang Maha Kuasa, bila kita salah langkah, bukan mustahil keluarga kita yang ketimpa musibah balas dendam mereka, apakah tidak konyol.."
Dua baris perwira rendah yang duduk dibagian bawah berkeplok bersarna dan menyatakan akur. Perwira tua ditengah itu angkat tangannya menghentikan suara ramai, katanya.
"Tic-ciangkun, giliran ronda dan petugas malam inHarus diperketat dan lebih hati-hati, katanya kemaren malam ada mata-mata yang menyelundup ke gedung kita, beberapa jago silat yang kita undang membantuj uga terluka waktu mengejar musuh, maka kita harus bersiaga. terutama kawanan brandal Hong-lui-pang yang berada dipenjara itu, harus dilayani selayaknya dan dijaga keras, Segala Sesuatunya jangan gegabah."
Seorang perwira muda berdiri serta mengiakan membungkuk, katanya.
"Baik, sekarang juga akan kuadakan inspeksi."
Mendengar mereka anggap Hong Luipang sebagai brandal, keki Liok Kiam-ping bukan main, hampirsaja dia menerobos keluar dan mencaci mereka serta memberi penjelasan, namun mengingat kepentingan Hong-lui-pang dia tak berani bertindak secara gegabah, sia-sia nanti tugas perjalanannya kali ini, serta mendengar perwira muda itu hendak keluar, seketika hatinya bersorak.
Kesempatan tak boleh diabaikan, dengan berindap-indap dia keluar serambi dan sembunyi ditempat gelap.
Terdengar langkah berat mendatang, pintu ruang besar terbuka, sesosok bayangan orang berjalan keluar, lalu menuju kearah dalam dengan langkah tegap dan cepat.
Sekali lompat Liok Kiam-ping menguntit dibelakangnya.
Sekarang kita ikut Ai-pong-sut Thong-Cau yang berputar kearah lain-Pengalamannya jauh lebih banyak, keadaan gedung ini seperti sudah amat apal baginya, dalam waktu setengah jam dia sudah tiba dibelakang dalam.
Jangan kira tubuhnya tambun pendek.
namun gerak geriknya cepat laksana panah, tangkas seperti kera.
Saat itu kentongan satu baru saja lewat dia mendekam ditempat gelap dibawah jendela dengan ujung jari dia membasahi kertas jendela lalu mengintip kedalam.
Perabot dalam rumah ini serba antik.
meja kursi berukir indah.
gordin sutra tebal bersulam, takjauh dipinggir jendela terdapat sebuah meja panjang, sebatang lilin sebesar lengan menyala diujung meja kanan, dibelakang meja besar panjang itu terdapat sebuah kursi besar lebar beralas kasur beludru dengan sulaman yang bagus dinding kamar dihiasi banyak lukisan kuno, rak buku ditata rapi, orang akan merasa nyaman dan lega berada dikamar ini.
Tiba-tiba terdengar suara batuk dari luar.
Muncul seorang bocah lima belasan tahun menyingkap kerai menyingkir kepinggir.
Seorang tua berusia limapuluhan dengan pakaian preman melangkah masuk sambil menggendong tangan, mukanya putih bersih, alisnya sudah memutih matanya masih bergairan, wajah dan sikapnya tampak kereng berwibawa Langsung orang tua ini duduk dikursi besar itu, katanya.
'Kinbin, bawa kemari berkas perkara itu.' Kacung cilik yang menyingkap kerai tadi mengiakan, lalu menuju kealmari sebelah kanan mengambil berkas berkas dokumen lalu ditaruh diatas meja.
orang tua itu membalik balik selembar demi selembar sambil membaca serta pegang pensil membubuhkan tanda tangannya.
Mendadak dia berseru heran katanya.
'Lho, kenapa begini?"
Sekilas melenggong lalu dia berkata lirih.
'Undang Li suya kemari.' Kacung cilik itu mengiakan terus melangkah keluar.
Tak lama kemudian dia menyingkap kerai pula menyilakan seorang laki-laki tua setengah uban berusia enampuluhan masuk.
dengan langkah gopoh orang tua ini mendekat kedepan meja serta menjura, katanya.
'Entah ada keperluan apa Ciangkun Tayjin memanggil hamba.' Ciangkun itu sedikit mengangguk, katanya tertawa.
"Lilohucu, tak usah banyak adat, silakan duduk"
Li-suya menjura pula lalu duduk dikursi. Ciangkun mengangsurkan dokumen yang dibacanya tadi kehadapan Li-suya, katanya.
"silakan Lo lohucu baca dokumen ini lalu bagaimana pendapatmu."
Dengan cermat Li-suya baca dokumen itu, lalu menepekur sejenak katanya kemudian dengan tersenyum.
"Menurut pendapat hamba, kalau perintah ini langsung diturunkan oleh Cin-ong sendiri, dibalik kasus ini kurasa ada didukung oleh kekuasaan istana, lebih baik kita ulur saja perkara ini sambil menunggu reaksi dari kota raja, pedoman kita adalah jalan tengah, tidak menyalahi pihak manapun. Ciangkun bimbang, katanya kemudian.
"Tapi kalau tertunda lama, Kwi-hun-ceng belum juga berhasil direbut, jikalau pihak istana marah dan menjatuhkan hukumannya yang ketimpa bencana bisa merembet keberba pihak, langkah ini Harus dilakukan hati-hati.' "Harap Tayjin periksa."
Ujar Li-suya, 'kalau kota raja mendesak. kitapun bisa mendesak dan hibahkan persoalan ini kepihak penguasa setempat, dua pihak harus kita layani secara baik."
Ciangkun manggut-manggut, katanya.
"Baiklah, untuk ini boleh Li-suya laksanakan saja."
Lalu dia ambil berkas berkas surat itu diserahkan kepada Li-suya terus mengundurkan diri.
Dengan laku hormat Li-suya menerima, lalu membebernya diatas meja, dengan teliti dia periksa dokumen dokumen itu sambil geleng-geleng kepala lalu menepekur.
Dengan ketajaman mata Ai-pong-sut dia dapat melihat dari tempat yang agak jauh.
kebetulan Li Su-ya membelakangi dirinya, maka diapun dapat melihat dokumen yang dipegangnya, seketika dia melenggong, karena surat perintah itu datang dari Kiu bu-te-tok sesuai kop surat yang terlihat olehnya, tentang apa isi perintahnya, karena tulisan lebih kecil dia tidak melihat jelas.
Pada hal sudah enampuluh tahun dia berkecimpung dikalangan Kangouw, pengalaman luas, hati tabah dan pemberani lagi, setelah melihat surat perintah itu, mau tidak mau hatinya mencelos dan kuatir pula setelah melihat tulisan Kiu-bun-te-tok itu.
Apa yang dilihatnya ini sudah cukup dijadikan bahan penyelidikan mereka di kota raja.
tujuan sudah tercapai, tiada persoalan lainpula yang perlu diselidiki di sini, maka dia mengundurkan diri dan menyelinap pergi kearah kamar tahanan-Kamar ta ha nan terletak dibilangan kiri dari gedung besar ini, kentonganpertama baru lalu, namun kamar penjara yang besar dan luas ini sudah sunyi senyap.
keadaanserba gelap.
yang terdengar hanyalah gerosan para tahanan yang tidur pulas dan suara kentong para peronda.
Bayangan orang tampak bergerak pulang pergi didepan pintu penjara, langkah lembut mereka tidak pernah berhenti, Ai-pong-sot berputar kebelakang kamar tidur para penjaga, menyelusuri tembok tinggi lalu melompat masuk kedalam.
Kamar tahanan terdiri dua bilangan, setiap bilangan terdiri tiga puluh kamar, dari pintu besar memandang kedalam, suasana tampak remang-remang dibawah senter minyak yang terganturg diatas dinding, suara rantai yang gemerincing membuat siapapun mengkirik seperti berada didalam neraka.
Tapi Ai-pong sut bernyali besar, dengan hati-Hati dia menyelinap masuk lewat jeruji yang terpasang dijendela atas terus melongok kearah tengah Di kamar besar yang terletak ditengah itulah, para pimpinan cabang Hong-lui pang diwilayah ciat-kang ini dikurung, mereka terdiri pimpinan tinggi semua, ada yang duduk ada yang meringkel, jelas keadaan mereka amat iseng.
Ai-pong-sut maklum.
diluar mereka adalah pemimpin yang Cekatan dan Cermat bekerja.
wajah mereka juga amat dan kenal, namun siapa nama mereka satu persatu sukar diingatnya.
Seorang lakl-laki brewok berusia tiga puluhan dengan suaranya yang kasar berkata.
"Tanpa alasan kenapa kita dikurung semua di sini. Maknya, memangnya menjadi anggota suatu organisasi juga melanggar hukum ?"
Seorang pemuda bermuka bersih berkata, 'Peduli amat, besok akan kutanyakan biar jelas, kalau tiada jawaban, biar kuhajar mereka.' seorang tun berjenggot hitam berkata.
"Kalian jangan gelisah, kasus ini sudah menggemparkan seluruh Bulim, usaha pembebasan kita pasti sudah dilakukan oleh markas besar. Maka kita harus bersabar meski agak menderita di sini, jangan urusan kecil menggagalkan urusan besar, yakinlah dalam beberapa hari lagi, pasti ada kabar baik dari markas pusat."
Seorang berkumis pendek. bertubuh sedang kekar berkata.
"Kalau ngomong sih demikian padahal kejadian mendadak. belum ada perintah dari markas besar, jelas kita tak berani, melawan pemerintah, sehingga terpaksa meringkuk disinitanpa alasan, kalau mau berontak memangnya kita beberapa orang ini boleh dibuat permainan "
Orang tua berjenggot hitam tertawa, katanya.
"Memang demikian, kami sudah bersabar sampai sekarang, kalau mereka tidak menyiksa dan bermaksud jahat, buat apa kita gelisah sendiri kalau bertindak secara gegabah, urusan juga tidak akan segera selesai, kemungkinan hanya mendatangkan kesukaran danbebanbagi markas besar."
Sungguh lega bukan main hati Ai-pong-sut mendengar percakapan mereka,, diam-diam bersyukur bahwa anggauta Hong-lui-pang adalah orang-orang yang punya pandangan obyektif, pengertian mendalam dan ketat menjaga disiplin danperaturan, patuh kepada hukum yang berlaku maka dia yakin tidak akan sukar kasus ini di bereskan selekasnya.
Disaat dia hendak putar tubuh, mendadak dilihatnya sesok bayangan putih melesat bagai kilat, dari arah samping.
Gerak gerik pendatang ini cepat bagai kilat, jikalau bukan Ai-pongcut Thong cau yang punya Lwekang tinggi, sukar melihat jelas bahwa yang datang adalah Liok Kiam-ping.
kalau orang lain tentu bayangannyapun sukar melihatnya.
Hanya sekilas dia melenggong, bayangan itu sudah meluncur tiba didekatnya, katanya lirih.
"Tiada urusan disini, hayo pergi."
Dengan Ginkang tinggi bagai kilat mereka meluncar keluar meninggalkan markas tentara kota Ling an ini.
Diluar kota mereka istirahat gejenak saling menutur apa yang berhasil mereka selidiki, akhirnya diputuskan bersama, mereka cepat harus menuju kekota raja.
ditempat itu mereka samadi, menjelang fajar mereka sudah berlari-laripula diantara alas pegunungan menuju utara."
"Begitulah selama lima hari mereka terus tancap gas berlari dengan Ginkang tinggi, bila lelah cukup samadi.
dan istirahat makan minum sejenak lalu berangkat pula, untung mereka memiliki Lwekang tangguh sebagai penunjang pula sehingga hari kelima kota Pakkhia sudah jauh kelihatan didepan sana.
Untuk menyembunyikan jejak.
mereka menginap disebuah hotel kecil diluar kota pintu selatan.
Sesudah hari menjadi gelap baru mereka menyamar pelancongan memasuki kota.
Kota Pakkhia amat besar berkeliling kota cukup menghabiskan banyak waktu, tanpa merasa mereka sudah berada d id a erah sekitar kantor Kiu bun te tok, dengan cermat mereka meneliti gedung itu, lalu mencari suatu tempat sepi dan gelap.
istirahat sambil menunggu waktu.
Kiu bun te-tok bertugas menjaga keselamatan seluruh warga kota, keamanan berada di kekuasaannya, maka markas besarnya cukup mentereng, dan angker, para petugas piket didepan gedung kelihatan gagah danperkasa, seragamnya barusenjata lengkap.
penduduk kota tiada yang berani berjalan lewatpos penjaga, semua tunduk danjalan cepat cepat.
Satu hal yang menarik perhatian adalah markas besar ini amat luas, bukan soal untuk menyelidiki didalam gedung sebesar itu, apalagi markas besar Kiu-bun-te-tok tak boleh dibanding markas tentara.
dikota-kola besar umumnya, pospos penjagaan terbagi rata dari kontak satu dengan yang lain amat cepat dan segera, sekali lena bukan mustahiljiwa bisa terancam bahaya.
Maka Kiamping berdua memerlukan banyak waktu untuk berputar memilih tempat strategis untuk melompat ketembok pelindung, sambil merunduk mereka majuterus kedalam.
Tiga puluhan meter kemudian mereka tiba dibawah tembok yang sekelilingnya tumbuh pohon-pohon rimbun.
Aipong-sut celingukan, sekitarnya tiada bayangan orang, segera dia memberi tanda ulapan tangan kepada Liok Kiam-ping lalu mendahului melejit keatas tembok.
Lekas sekali Liok Kiamping sudah berdiri disebelahnya.
Aipong-sut pasang kuping, pekarangan sebesar ini ternyata sunyi senyap.
menurut pengalamannya yang luas, terasa olehnya keheningan yang mencekam ini agak ganjil dan tidak beres.
Setelah berpikir segera dia berbisik kepada Liok Kiamping.
Dengan enteng mereka meluncur pula ketempat gelap menuju kearah barat.
Dengan mengembangkan Ginkang Ai
pong-sutjalan didepan, arahnya selalu ketempat-tempat gelap yang tak mud ah dilihat orang.
Liok Kiam-ping terus mengintil dibelakangnya, namun dia mencari jalannya sendiri Jarak mereka sekitar tiga puluhan-Lekas sekali Ai-pong-sut sudah meluncur seratusan tombak jauhnya.
Sekonyong konyong sesosok bayangan gelap menerjang keluar dari tempat gelap sambil menyalak terus menubruk kearah Ai-pong-sut.
Sigap sekali A -pong sut mengitar langkah berputar kebelakangnya, tangan sudah terayun bendak memukul.
Mendadak dirasakan samberan angin dari luncuran dua senjata tajam dari kiri kanan, terasa bahwa penyerang ini punya tenaga yang cukup besar.
Ai-pong-sut tertawa ringan menegakkan pinggang kedua tangan menekan kebawah, tubuhnya melompat tinggi delapan kaki, senjata rahasia meluncur lewat dibawah kakinya.
Ditengah udara dia berputar sekali kedua kaki memancal sebelah tinju menjotos sehingga tubuhnya melengkung dengan luncuran setengah bundar, seperti bola tertendang saja tubuhnya membal setombak jauhnya.
Tapi baru saja kedua kaki menginjak tanah, samberan angin yang lebih besar telah menerjang mukanya pula.
Sergapan lihay ini membuat Ai-gong-sut naikpitam, ditengah dengusannya, tubuhnya berkisar ke kiri tangan kanan menepuk "Plak"
Sebuah senjat rahasia besi dipukulnya jatuh membentur batu menerbitkan lelatu api.
Baru saja berputar hendak angkat kaki.
benda hitam yang menubruk tadi telah menerjang tiba dengan gerungan gusar.
Amarahnya makin menyala, kali ini dia tidak menyingkir, dengan kedua tangan yang bertenaga besar dia menepuk turun memapak terjangan bayangan hitam itu.
Ternyata yang menubruk dengan garang ini adalah sekor anjing besar bermoncong pendek dengan taring panjang menyeramkan, sekali tepuk pecah kepalanya jatuh terguling setombak jauhnya, kakinya berkelejetan sambil mengerang kesakitan, jelas luka-lukanya berat, jiwanya sekarat.
Dari tempat gelap terdangar seorang membentak.
"Sahabat, hebat betul pukulanmu, sayang digunakan memukul binatang apa tidak keterlaluan?"
Belum lenyap suaranya, tiga bayangan orang sudah meluncur turun.
Ai-pong-sut tenangkan diri, dengan seksama dia perhatikan, setombak jauhnya tiga orang berdirijajar, semuanya orang tua yang berperawakan tinggipendek tidak rata, sambil tolak ping ang bersikap angkuh mereka mengawaSi dirinya.
Hwe-giam-lo Siu-Jan ternyata satu diantara ketiga orang ini.
dengan mata mendelik mengawasi dirinya.
Melihat manusia yang satu ini, terbukalah pikiran Ai-pong sut, pikirnya.
"sembilan puluh prosen aku berani bertaruh bahwa kas3us ini terjadi pasti gara-gara kelicikan orang ini. Karena keki dengan tertawa dia berkata.
"Wah, kurang hormat, sungguh tak nyana Siu tangkeh sekarang bertugas disini entah sejak kapan kau bertugas dibawah Kiu bun-te-tok. dunia seluas ini, namun orang hidup dimanapun bisa bertemu"
Terangkat ails Hwe-giam-lo, jengeknya dengan suara berat.
"setan cebol, jangan cerewet, malam ini, hehehe..."
"Hehehe... kenapa ?"
"Disinilah tamat riwayatmu"
"Kurasa tidak semudah yang kau kira' 'Mudah atau tidak boleh sebentar kita buktikan"
Belum habis bicara dengan langkah menyesatkan mendadak dia menubruk sambil menggerakkan kedua tangan-Memangnya bencinya sudah kepat-pati terhadap orang Hong-lui-pang.
Dia pernah terjungkal habis-habisan ditangan Liok Kiam-ping tempo hari waktu lawannya ini meluruk ke istana, jiwanya hampir amblas.
Setelah istirahat tiga bulan baru kesehatannya pulih.
Kasus penggrebekan markas besar Hong-lui-pang oleh pasukan negeri memang adalah muslihatnya yang hendak menghancurkan musuh dengan kekuatan pemerintah, musuh hendak ditipunya pula datang kekota raja, di sini dia sudah memasang jaring, malam ini musuh betul-betul datang sesuai yang diharapkan.
maka begitu turun tangan dia menyerang dengan geram.
Kepandaian dan lwekang memang tinggi termasuk jago top dikalangan Bulim, serangan sekuat tenaga ini sudah tentu hebat bukan main Tapi Ai-pong-sut tidak pandang sebelah mata lawan yang pernah keok ditangannya namun malam ini lawan sudah slap seolah-olah ada kaitannya dengan penyerbuan pasukan negeri kemarkas besar mereka di Kwihun ceng, apapun yang akan terjadi, kasus ini Harus dibereskan malam ini juga.
Hati berpikir kaki tangan tidak nganggur, begitu serangan lawan menindih tubuh, mendadak dia berkelit kepinggir, dengan langkah pindah posisi selicin belut dia merobah kedudukan kesebelah kiri, kedua tangan diayun meninju dengan tenaga raksasa.
Perbawa pukulannya kira-kira selipat lebih dahsyat dari serangan Hwe-giam-lo Siu-Jan tadi.
Hwe-giam-lo Siu-Jan juga seorang yang berkepandaian tinggi, sudah tentu dia tahu betapa lihay pukulan si kate ini, lekas dia bergerak dengan langkahnya yang menyesatkan pandangan lawan, mengegos minggir, dia meluputkan diri dari serangan telak lawan-Sejurus dapat mendesak lawan-Ai-pong-sut tidak memberi hati, serangan susulan sudlah, siap dilontarkan.
Pada saat itulah seorang membentak dibelakang.
"Rasakan juga pukulanku."
Keras sekali deru serangan lawan yang menerjang punggung Ai-pong-sut.
Sudah tentu menyelamatkan jiwa sendiri lebih utama, tak sempat melukai musuh lekas Aipong sut kembangkan gerak tubuhnya yang ajaib seperti gangsingan dia berputar kesebelah kanan satu tombak jauhnya, dengan tawa ejek dia mencemooh kepada pembokongnya.
"Tuan bukan kaum kroco, kepandaianmu begini tinggi, tapi berbuat serendah ini, coba sebutkan siapa nama juluka nmu"
Orang tua yang membokong ini bergelak tawa, katanya.
"Berbuat kotor adalah kaum kroco, kenapa harus kusebutkan nama jelekku tapi menghadapi kurcaci sekejam kau lain persoalannya. Setan kate, serahkan jiwamu malam ini."
Aipong sut tahu percuma adu mulut dengan mereka, saking gusar dia menyeringai sadis, desisnya.
Agaknya kalian memang sudah membuat rencana matang, baiklah kalian maju bersama saja menyingkat waktu menghemat tenagaku."
Habis berkata kepala mendongak kedua tangan digendong dibelakang pantatnya.
sikapnya tak acuh seperti tidak pandang sebelah mata ketiga lawan-Ketiga orang tua ini terhitung jago-jago kosen yang terkenal di bulim, selama malang melintang di Kangouw, kapan pernah dHina dan diremehkan seperti ini.
terutama Hwe-giam-lo Siu-Jan, dendamnya memangnya sudah membara, amarah memuncak lagi.
Maka dia berteriak beringas.
"Saudara Kiong dan Yau, marilah kita ganyang bersama, terhadap kawanan brandal seperti ini diberi keadilan juga sia-sia belaka marilah kita tentukan mati hidup dengan kepandaian sejati. ' Dibawah aba-abanya tiga orang menyerang serentak. enam telapak tangan berebut memukul ke-arah Ai-pong-sut dengan tipu serangan lihay masing-masing. Ai-pong-sut mandah tertawa ejek. dia kembangkan langkah ajaibnya berlompat setombakjauhnya, beg itu beldiri tegak kedua tangannya terbuka menyerang dua prang di kanan kirinya.
"Blang. blang"
Dua benturan keras menyebab tiga orang tergentak mundur, kekuatan mereka berimbang.
Karena serangan tiga orang serempak mengalami kegagalan, Siu-Jan bertiga saling pandang lalu mengerdip mata, dari tiga jurusan pula mereka menerkam buas.
Rasa gusar sudah merasuk hati mereka, maka serangan menggunakan setaker tenaga, perbawa serangan gabungan mereka memang cukup mengejutkan.
Mau tidak mau Ai-pong sut berpikir.
"Menurut gelagatnya, mereka sudah kerahkan segala kemampuan, aku seorang diri kalau dikeroyok begini terus, lama kelamaan tentu kehabisan tenaga, terpaksa aku harus melawan dengan ketangkasan gerak tubuh main petak sambil balas menyergap merobohkan lawan satu persatu. segera dia kembangkan Ginkangnya bergerak lincah ditengah samba ran pukulan ketiga lawannya. Ternyata permainan nya cukup lincah dan leluasa. Liok Kiam-ping saksikan bagaimana Ai-pong-sut layani tiga pengeroyokan dengan berimbang, maka dia berpikir.
"Mumpung ada kesempatan, kalau tidak sekarang aku bertindak. bila bala bantuan musuh datang lebih banyak. tentu lebih b era be."
Segera dia kembangkan Ling-hi-ou melompat tinggi keatas wuwungan rumah terus bergerak dengan kecepatan tinggi menuju kesebelah dalam.
Tidak sedikitpetugasjaga yang melihat bayangannya, namun mereka tidak curiga bahwa bayangan yang mereka lihat itu adalah manusia.
Liok Kiamping tiba diantara deretan rumah-rumah pendek.
disini Liok Kam-ping memperlambat luncuran tub ah nya lalu mendekam ditempat gelap.
sinar lampu masih terlihat menyorot keluar dari beberapa kamar dibawah, bayangan orang juga bergerak didalam kamar, terdengar pula gerutu serapah orang.
Ginkang Liok Kiam-ping amat tinggi, seringan daon jatuh dia melompat turun dipinggir sebuah jendela lalu mengintip kedalam.
Keadaan kamar ini semrawut tidak karuan, serba orok yang ada hanya sebuah pembaringan dan satu meja dua buah kursi, diatas dinding dipasang lentera minyak yang guram cahayanya, dindingnya juga sudah banyak yang gugur dan belong.
Kamar besar ini kelihatan kosong, agaknya jarang ditempati orang.
Satu persatu Kiam-ping periksa kamarkamar itu.
Dikala dia mendekati kamar terakhir diujung belakang, didengarnya percakapan orang.
Seorang berkata serak.
"Maknya sontoloyo, locu (tuan besar) memikul tanggung jawab begitu besar dengan menempuh bahaya lagi baru berhasil menunaikan tugas, tapi laporan memperoleh jasa direbut mereka semua, sekarang dengan alasan untuk menjaga keselamatanku dari grebekan orang-orang Hong-lui pang, aku dikurung di sini dan diawasi begini ketat, memangnya aku harus menunggu setelah brandal-brandal Hong-lui-pang itu dibrantas semua baru aku boleh bergerak bebas dan mendapat anugerah."
Seorang laki berkata dengan suara lantang.
"Bukan begini persoalannya, ketua kita bermaksud baik terhadapmu, kuatirnya bila kau muncul didepan umum segala rencananya akan berantakan, maka diminta kau suka bersabar beberapa hari lagi, untungnya dalam waktu dekat brandal-brandal Honglu-pang itu sudah berhasil ditumpas habis, bila tiba saatnya ketua kita menguasai dunia persilatan, bukankah kaupun akan mendapat pangkat dan kedudukan dan hidup senang. Dengan nada curiga suara serak itu balias bertanya.
"Waktu aku berangkat menunaikan tugas jadi splon didalam markas mereka, bukankah begitu janjinya kepadaku, sekarang tugasku sudah selesai dan berhasil, gerak-gerik malah dibatasi dan diawasi lagi. coba, siapa tidak penasaran, memangnya aku harus disekap seumur hidup disini?' Kini Liok Kiam-ping sudah melihat jelas diatas pembaring an Celentang, seorang laki-laki tiga puluhan tahun, kedua matanya melotot besar menatap seorang tua berseragam perwira berusia lima puluhan-Sekalian Liok Kiamping menepekur, dapat dia simpulkan bahwa biang keladi terjadinya musibah bagi Hong lui-pang adalah orang ini, perwira yang berdiri diambang pintu sedang menjaga dan mengawasinya. Mendadak Kiam-ping peroleh akal, tiba-tiba dia melejit tinggi keatas genteng sengaja waktu menginjak genteng dia gunakan tenaga lebih besar sehingga mengeluarkan suara, namun sigap sekali dia lantas mendekam. Laki-lakitua yang berada didekatpinlu mendengar suara diatas, lekas dia berdiri dengan waspada menyelinap keluar serta menutup pintu dari luar, sekali lompat langsung dia memburu kearah datangnya suara. Tak nyana baru saja tubuhnya terapung diudara, sebelum dia bergaya, sejalur angin sudah menyambar pinggangnya, tubuh seketika merasa lemas dan "Bluk"
Dia terbanting jatuh ditanah. Deng an gerakan kilat Kiamping menutuk Hiat-tonya dari jarak jauh, begitu lawan terbanting jatuh dia membuka pintu lalu menyelinap masuk kedalam kamar.
"orang diatas pernbaringan itu baru saja berjingkat berdiri, tiba-tiba bayangan orang berkelebat, kontan dia kehilangan kesadaran-Sekali raih Liok Kiam-ping mengempitnya di bawah ketiak. berlari keluar dan menjejak kaki meluncur kearah datangnya tadi. Lwekang nya tangguh Ginkang tinggi, meski mengepit seorang, Kiam-ping berlari secepat mengejar angin, hanya sekejap dia sudah melompati tembok. Diatas tembok itulah dia mencebir bibir mengeluarkan siulan panjang sambil masih terus berlari menuju keistana cin-ong Meski melawan tiga musuh, dalam waktu dekat Ai-pong-sot masih mampu mengimbangi, namun permainanya pantang lena sedikitpun, dia hanya berkelit sana lompat ini, sukar memperoleh kesempatan balas menyerang. Lima puluh jurus kemudian, dia menjadi tidak sabar, pikirnya.
"Kalau bertempur cara begini kapan berakhir, kalau tidak kerahkan tenaga mana mampu merebut kesempatan, celaka kalau terlalu lama kehabisan tenaga. maka beruntun dia cecar musuh nya sembilan jurus pukulan tiga jurus tendangan. Karena tidak menduga Siu-Jan bertiga terdesak mundur. Tapi mereka cepat menyadari keadaan yang tidak menguntungkan, serentak mereka merubung majupula. Tak nyana Ai-pong sut bertindak lebih cepat, mendadak kedua tangan terayun, dua jalur bayangan hitam meluncur dari tangannya, ternyata dia mengeluarkan sepasang bandulan pelor besinya, terpaksa Siu-Jan bertiga melompat sambil berkelit, ternyata bandulan pelor besi itu seperti bermata, ke mana mereka menyingkir, pelor itu bisa mengejar dengan cepat.
"Aduh"
Seorang tua di sebelah kanan terjungkal roboh ditengah jeritannya, tulang pundak kanannya remuk tertimpuk bandulan besi, saking kesakitan dia bergulingan ditanah.
Siu-Jan baru saja selamat dari samberan pelor besi ini, seketika dia melonjak kaget oleh jeritan rekannya-Pada saat itulah, pelor besi Hitam itu sudah putar balik menerjang dirinya pula dari belakang.
'Duk' telak sekali benturan keras ini Hingga tulang punggung Siu-Jan patah, darah kontan menyembur dari mulutnya, tubuh nya tersungkur jatuh.
Sisa seorang tua yang masih selamat lekas melompat jauh menyelinap ke tempat gelap seraya berteriak keras.
'Mundur lepas panah"
Maka terdengarlah suara jepretan-jepretan busur panah, anakpanah beri hamburan selebat hujan-Tapi Ginkang Aipong-sut amat tinggi, dengan kecepatan larinya, sebelum panah meluruk tiba dia sudah menyelinap kedalam hutan.
Dia kuatirkan keadaan Liok Kiam-ping yang diperkirakan memerlukan bantuannya.
maka dia jadi bingung kearah mana dia harus mencarinya.
Disaat dia sedang bingung itulah didengarnya suara siulan Liok Kiam-ping, tahu sang Pangcu tentu berhasil, hatinya amat senang, tanpa pikir dia kembangkan Ginkangnya melesat kearah hutan lebat terus mengundurkan diri.
Tak nyana baru saja tubuhnya bergerak, anakpanah telah memberondong ke arahnya.
Ditengah gerungannya kedua tangan menarikan lengan baju, anak panah disampuknya jatuh seluruhnya, disaat tubuh melorot turun dia kebas pula lengan baju kebelakang sehingga tubuhnya melengkung turun serta melesat pula kedepan secepat kilat, sekali berkelebat bayangannya sudah lenyap tidak kelihatan lagi.
Begitu keluar dari bilangan gedung Kiu-bun-te-tok.
Aipongsut menentukan arah terus berlari kencang kearah yang sudah dijanjikan, dari luar kota dia putar balik melompati tembok terus meluncur kepusat kota dan berhenti ditengah rimbunnya pepohonan pendek.
Dia bersiul yang segera dijawab siulan pula oleh Liok Kiamping.
Dalam hutan kecil ditengah kota itulah mereka berunding sejenak.
lalu Hiat-to tawanan mereka dibebas kan dengan tertawa Aipong-sut berkata.
"Kau dari cabang mana, sejak kapan kau menjadi matamata musuh? Kenapa pula mengkhianat dan bagaimana kau berhasil menyerap rahasia? Kuharap kau bicara sejujurnya dan gamblang, tebuslah kesalahanmu dengan penyesalan dan pengakuan, kami akan memberi keringanan hukum kepadamu, kalau bandel hukum Hong-lui-pang tidak memberi ampun kepadamu."
Mendengar Ai-pong-sut bilang hukum Hong-lui-pang seketika pucat muka laki-laki itu, katanya sedih.
"Tecu Ya-eng (elang malam) Ang Seng, atas anjuran Ham-ping Lomo, masuk jadi anggota Hong-lui-pang di Thong-koan-Waktu Ham-ping Lomo meluruk ke selatan tempo hari markas cabang direbut, Tecu dipaksa untuk menyerahkan daftar rahasia anggota dan diserahkan kepada Hwe-giam-lo Siu-Jan-Secara diam-diam Siu-Jan masuk istana terlarang membunuh beberapa anggota bayangkari dan sengaja meninggalkan dokumen rahasia dari Hong-lui-pang, sehingga pihak Kiu-bun-te-tok turun tangan mengusut perkara ini.
"Tapi entah bagaimana, pristiwa ini didengar oleh Baginda raja, sehingga urusan tertunda sampai sekarang .Tecu dipaksa menjalankan perintah, kejadian inipun sudah membuatku kapok dan menyesal, tapi kesalahan sudah kulakukan, mohon Pangcu memberi hukuman setimpaL"
Sejak dikalahkan total segala muslihat Siu-Jan di istana Kacin-ong dulu, syukur jiwanya masih dapat diselamatkan, dikota raja tiada tempatnya berpijak lagi, maka dia sembunyi disuatu tempat merawat luka-luka, namun secara diam-diam dia masih mengadakan kontak dengan anak buahnya yang masih bercokol dalam dinas mereka berusaha menuntut balas, kebetulan Ang Seng berhasil diperalat mencuri dokumen rahasia Hong-lui-pang, suatu malam dia menyelundup keistana terlarang, membunuh dengan kejam beberapa bayangkari dan memfitnah Hong-lui-pang sebagai pelaku kejahatan itu.
Karuan Liok Kiamping benci luar biasa katanya menggereget.
"Jelek-jelek Siu-Jan dan kamprat-kampratnya punya kedudukan dan nama di Bulim, ternyata tak segan melakukan-perbuatan kotor dan sehina ini, manusia ma cam ini tidak boleh diberi ampun."
Thong cau tertawa lebar, katanya.
"Ya setiap kejahatan pasti memperoleh ganjaran setimpal, rencana jahat Siu-Jan jelas sudah gagal total, jiwa nya sudah melayang dibawah Bandulan pelor besiku. Untuk merehabilitir nama baik Hong lui-pang kita terpaksa..."
Sampai disini dia tarik Kiamping lalu membisiki beberapa patah baru melanjutkan.
"Ang Seng, syukur kau mengaku dan menyatakan tobat dan menyesal, harapan masa depanmu masih baik, Hong-luipang akan memberi pengampunan kepadamu, untuk itu kau sendiri yang harus mencuci bersih fitnah kotor ini, Hong-luipang harus dipertahankan kesuciannya, maka kau harus ikut kami ke ong-hu mempertanggungjawabkan perbuatanmu dihadapan Ka-cin ong, percayalah bahwa kau tidak akan memperoleh hukuman berat."
Mendapat pengampunan sang Pangcu, sudah tentu senang dan lega hati Ang Seng, katanya.
"Memang itu tugas Tecu, terima kasih akan kemurahan Pangcu, sekarang juga boleh kita berangkat."
Liok Kiam-ping mengangguk.
kiri kanan Kiam-ping dan Thong caupegang tanganAng Seng terus meluncur cepat kearah istana Ka-cin-ong.
cepat sekali mereka sudah tiba didepan pintu istana Ka-cinong.
Waktu itu sudah menjelang kentong ketiga, pintu gerbang istana ong-hu masih tertutup, keluar masuk harus lewat pintu samping.
Liok Kiamping pernah masuk kemari maka tidak banyak kesukaran mereka menemukan pintu samping disebelah timur.
Ai-pong-sut Thong cau menjura kedalam serta berkata.
"Kami bertiga datang dari Kwi-hun-ceng dikota Un-ciu, ada urusan penting mohon menghadap Ka cin-ong, mohon petugas piket bantu menyampaikan permohonan kami."
Lalu dia Angsurkan kartu nama warna merah. Dari balik pintu seorang bersuara serak tua betkata.
"Belakangan ini ongya tidur lebih dini, boleh kalian tunggu sebentar, diterima atau tidak tergantung keb eruntung a nmu."
Semasakan air kemudian, dari dalam pintu keluar seorang laki-laki setengah baya berpakaianpengurus rumah tangga, setelah menjura kepada Liok Kiam-ping bertiga berkata.
"Silakan ikut cay he."
Mereka melewati sebuah kebon besar, menyusuri jalan krikil tiba didepan sebuah ruang kembang.
tampak Ka-cin-ong sendiri datang menyambut menuruni undakan.
Liok Kiam-ping bertiga memburu maju serta menekuk sebelah lutut memberi hormat katanya.
"tengah malam mengganggu, dosanya sudah tidak ringan, mana berani kami disambut sebesar ini."
Ka-cin-ong tertawa lebar, katanya.
"Liok siansing seorang serba pintar, Baginda amat rindu kepadamu, hari ini aku dapat menerima kedatanganmu, sungguh senang hatiku, kalian adalah orang-orang gagah pada jaman ini, marilah tidak usah banyak peradatan, silakan masuk."
Lalu dia mendahului jalan di depan, Liok Kiam-ping mengintil dibelakangnya. Setelah berada didalam rumah Liok Kiam-ping berdiri dan menjura, katanya.
"Hamba beramai kena fitnah dan perkara masih terkatung-katung, sehingga seluruh anggota kita terlunta-lunta diluar, sekarang duduk perkaranya sudah jelas, sengaja kami kemari mohon kemurahan Tayjin untuk membantu meredakan suasana dan membersihkan nama baik kami. Ka-cin-ong menepekur, katanya kemudian.
"Hal inipun amat diperhatikan dan dikuatirkan oleh Baginda, begini saja, kalian boleh istirahat saja di sini malam ini, bila sidang pagi tiba, Liok-siansing boleh ikut aku menghadap langsung dan melaporkan kejadian ini kepada Baginda, kurasa urusan akan lebih cepat dibereskan."
Liok Kiam-ping mengiakan dengan rasa lega.
Kira-kira kentongan kelima Ka-cin-ong masuk ke istana raja bersama Liok Kiam-ping, sementara Ai-pong sut dan Ang Seng menunggu diistana Ka-cin ong.
Setelah fajar menyingsing Liok -Kiam-ping baru pula ng ke istana Ka-cin-ong dengan seri tawa lebar dan semangat menyala, katanya kepada Ai-pongsut.
"Syukurlah kita berhasil menunaikan tugas dengan baik, kini tinggal menunggu kabar baik saja."
Hari itu juga mereka mohon pamit terus ber ngkat pulang ke Un-ciu.
Ditengah jalan Liok Kiam-ping teringat akan janjinya dengan Le Bun, hitung-hitung waktu yang dijanjikan sudah dekat didepan mata, maka dia langsung berangkat menuju ke Te-sat-kok.
Ang-Seng disuruh pulang membawa kabar gembira.
Kala itu musim rontok hampir berakhir, menjelang fajar angin ternyata menghembus kencang hawapun dingin.
Siang malam Liok Kiam-ping dan Thong Cau menempuh perjalanan, menjelang mag rib hari keempat.
mereka sudah tiba didepan mulut selat Te-sat-kok diBu-tong-san-Batu-batu gunung yang berserakan dimulut selat yang menyesatkan dulu terasa segar dan sudah apal baginya.
Dengan mud ah tanpa menemui kesulitan sed ikitpun Liok Kiam-ping langsung masuk kedalam lembah.
Terasa mesra dan indah keadaan lembah nanpermai dan beri hawa sejuk ini, terbayang oleh Kiam-ping disaat dirinya meninggalkan lembah ini dengan Le Bun dulu, timbul rasa manis mesra direlung hatinya.
Terbayang lagi takkan lama lagi dirinya akan segera berjumpa dengan sang pujaan-semakin bergairah semangatnya, langkahnyapun tegap dan gagah.
Tanpa terasa sudah sehari semalam Liok Kiam-ping berada didalam Te-sat kok, namun sang pujaan belum juga kunjung pulang, mau tidak mau perasaannya menjadi mendelu dan kuatir.
Pikirnya.
"Biasa nya Le Bun amat teliti dan hati-hati setiap menghadapi persoalan dan boleh dipercaya. Pertemuan di Ui-san hanya untuk bertanding Kungfu, demi menepati janji tiga puluh tahun yang lalu, apa lagi Tang-ling sudah putus sayapnya, Se bong juga sudah kecundang,jelas mereka takkan mampu melawan Lam-coat, hanya keturunanBu in-khek dariBok-pak (padang pasir utara) saja yang mampu bertanding dengan dia, namun Seng-si-koan Le Bun sudah tembus, Lwekangnya jelas lebih unggul dibanding generasi mud a yang sekarang berkecimpung didunia Kangouw, yakin takkan sukar mengalahkan lawannya.' Dengan jari dia menghitung waktu, perjanjian di Ui-san sudah d iamb ang mata. namun sang kekasih belumjuga kunjung pulang mau tidak mau rasa gugup hatinya menjadi curiga, namun dia menghibur diri, mungkin ditengah jalan tersangkut suatu perkara yang tidak terduga, maka Kiamping menunggu lagi dengan menekan sabar. Malam itu Liok Kiam-ping gundah gulana, hingga fajar menyingsing dia tidak memejam mata. Saat itu mondar mandir gelisah diruang tengah. Sejak berada di Te-sat-kok kegemaran Ai-pong-sut minum arak ternyata angot, selama beberapa hari ini dia mabukmabukan, celentang diatas ranjang tidak ingat diri. Entah kenapa hari itu pikirannya jernih, begitu siuman dia membelalakan mata serta berteriak.
"Lho, ciangbun, kenapa kau tidak tidur."
Liok Kiam-ping hanya sedikit mengangguk, wajahnya hanya unjuk senyum getir sebagai ban. Ai-pong-sut Thong cau tertawa lebar, katanya.
"Dari sini ke Ui-sanjauhnya ada ribuan li, meski kita orang pesilat yang memiliki kungfu tinggi, sukar diramalkan melakukan perjalanan sejauh itu tidak akan mengalami aral rintang, adalah logis kalau kita bakal terlambat tiba ditempat tujuan."
Liok Kiam-ping hanya geleng-geleng, perasaannya makin tertekan, ditunggu lagHingga mag rib hari kedua, bayangan Le Bun tetap tidak muncul. Liok Kiam-ping tidak sabar lagi", katanya kepada Ai-pong-sut.
"Kurasa dia terlib at suatu urusan ditengah jalan hingga taksempat pulang kemari."
Sehari iniAi-pong-sutpantang minum arak. pikiran jernih, maka dia merasakan hal ini memang agak ganjil, namun dia tidak memberi komentar, setelah menepekur, akhirnya dia berkata sambil geleng kepala.
"Dengan bekal kepandaian Lam-coat, kurasa dalam kalangan Bulim sekarang sukar dicari tandingan, kurasa tiada alasan orang mencegat mereka. Kata Liok Kiam-ping.
"Kalau demikian, bukan mustahil mereka menghadapi musibah di Ui san?"
Lalu dia berjingkrak berdiri, 'kumohon Tianglo sudi bantu aku menjaga tempat ini, dalam lima hari kalau nona Le Bun belumjuga pulang, boleh silakan kau pulang kemarkas besar di Kwi-hun-ceng, bagaimana pendapat Tianglo?' Ai-pong -sut mengangguk sambil mengiakan saja.
Gugup dan gelisah hati Liok Kiam-ping, saat itu juga dia mohon diri terus bera ngkat.
Sekali jejak tubuhmya meluncurkeluar selat.
Saat itu baru saja kentongan satu, Liok Kiam-ping, tidak pedulikan keadaan sekelilingnya untuk mengejar waktu, dia kembangkan Ginkang sekuat tenaganya, semalam suntuk dia melakukan perjalanan-Dengan kecepatan larinya ternyata menjalang fajar hari ketiga dia sudah tiba di-Sikssin hong dipuncak Ui-san-cuaca masih gelap.
hawa pegunungan nan dinginpenuh kabut, kunang-kunang masin kelap kelip beterbangan diudara.
Lwekang Liok Kiam-ping amat tinggi, pandangannya tajam, meski kabut tebal, kunang-kunang berterbangan, namun dia masih bis a melihat keadaan sekitarnya.
Dilihatnya Le Bun duduk bersimpuh ditengah lapangan, tunduk kepala memejam mata seperti sedang sarnadi, sekitar tubuhnya dibungkus uap nutih yang bergulung gutung kunang-kunang yang kebetulan terbang menyentuh uapputih itu seketika padam dan mati.
Semula Liok Kiam-ping tidak ambil perhatian, namun kejap lain dia merasakan adanya gejala yang tidak beres, kabut hitam makin tebal, kunangkunang juga makin banyak seperti sengaja memberondong kearah Le Bun-sehingga pertahanan uapputih Le Bun semakin susut mengecil, wajah Le Bun nampak pucat Napasnya tersengal-sengal, kelihatan sudah kepayahan.
Sesaat lagi Liok Kiam-ping perhatikan, akhirnya dia sadar bahwa Le Bun kekasihnya sedang terkurung didalam barisan, tanpa terasa dia menjerit kaget "Yu-ling ling-ho-tin"
Seperti diketahui dibagian depan cerita ini, Le Bun diambil murid oleh Jit-Coat Suseng dan menetap di Ling-lam, dengan raj in dan tekun dia meyakinkan Kan le cin-khi dan Jit-Coatsiau.
Untung Seng-si-koan dalam tubuhnya sudah tembus, sejak kecil dia sudah dididik gurunya yang asli menggunakan seruling, maka untuk mempelajari jit Coat siau dia tidak menemukan banyak kesulitan, kemajuannya malah lebih pesat dari yang diperhitungkan semula.
Dalam jangka seratus haridia sudah mahir menguasai Kan le ciH-khi didalam tiupan serulingnya.
Setengah tahun kemudian sesuaijanji yang ditentukan, dia sudah berhasil menguasai Kan le cin-khi, dengan irama serulingnya dia dapat membunuh orang tanpa disadari oleh lawannya, kepandaiannya memang sudah cukup mengejutkan.
Jit Coat Suseng amat lega dan senang bahwa murid didiknya menjelang akhir hayatnya ini mampu mewarisi seluruh kepandaiannya.
Maka tiga hari menjelang hari yang dijanjikan Jit-Coat Suseng perintahkan Le Bun berangkat menuju ke Ulsan.
Sudah tiga bulan mereka hidup bersama, laksana kakek dan cucu, hari ini mereka harus berpisah, sungguh amat berat dan mengharukan.
Jit-Coat Suseng bergelak tawa, katanya.
"Anak bodoh, manusia mana yang takkan berpisah dalam kehidupan dunia fana ini. Kelak Suhu akan selalu mampir ke Kwi-hun-ceng, berkumpul dengan kalian, dengan bekal kepandaianmu sekarang, cukup berkelebihan untuk menepatijanji. Nak, berangkatlah dengan hati leg a dan lapang."
Mendengar Suhunya menyebut Kwi-huu-ceng, seketika teringat oleh Le Bun akan kekasihnya tak lama lagi mereka akan segera bertemu, seketika syuurr hatinya, maka bergegas dia berlutut dan menyembah kepadalam-Coat terus minta diri dan berlari keluar gua turun gunung.
Lwekangnya sekarang sudah berlipat tinggi taraf kepandaiannya termasuk kelas wahid karena hatinya girang tanpa merasa dia tancap gas, berlari dengan kecepatan tinggi laksana kilat.
Sejak kecil dia menetap di Te satkok, sudah biasa hid up dipegunungan, maka dia menempuh peejalanan lewatjalan dekat meski yang dilaluijurang dan selat atau lembah dan gunung curam sekalipun.
Setelah dua hari dua malam menempuh peejalanan, akhirnya dia tiba di Ui-san, setengah hari lebih dan dari waktu yang dyanjikan.
Betapapun tinggi Lwekangnya setelah menempuh peejalanan cepat dan makan banyak tenaga capaijuga Le Bun dibuatnya.
Maka dia mencari tempat sepi bersamadi menghimpun tenaga dan memulihkan semangat, setelah badan segar baru dia mulai bergerak kearah Sik sin-hong.
Pertemuan di Ui-san yang kedua kali ini setelah tiga puluh tahun yang lampau, sebelumnya hanyajanji pertemuan dan saling mengukur kepandaian dari Su coat secara pribadi.
tapi entah bagaimana tentang janji pertemuan ini bocor dan tersiar luas dikalangan bulim, golongan hitam atau aliranputih asal seorang pesilat yang mempunyai nama didunia persilatan.
Meski jauh juga meluruk datang ingin menonton.
vvaktu Le Bun tiba diatas puncak, ribuan orang sudah berjejal diatas puncak, Ditengah tanah lapang yang masih kosong, di empatpenjuru sudah disiapkan empat buah batu besar dalam bentuk sama, batu diarah timur dan utara sudah diduduki dua orang pemuda lakiperempuan, keduanya duduk bersimpuh memejam mata seperti menanti dengan sabar.
Sekilas tampak oleh Le Bun, pemuda yang duduk di sebelah timur adalah Yu ling Kongcu, yang duduk disebelah utara adalah gadis jelita yang berusia dua puluhan, belum pernah Le Bun melihat gadis ayu ini, tapi dari tempat duduknya disebelah utara maka dapat diduga bahwa dia murid keturunan Bu-iukhek dari padangpasir.
Mengingat waktu sudah mendesak begitu tiba Le Bun langsung melompat tinggi mengembangkan Ling-hi-pou yang pernah diajarkanLiok Kiam-ping kepadanya, dengan enteng dia meluncur turun dibatu sebelah selatan.
Betapa indah gemulai gaya Ling-hi-pou yang di demonstrasikan Le Bun,jaun lebih luwes dan lembut dari gerakan Liok Kiam-ping biasany a, kapan hadirin pernah melihat pertunjukan Ginkang sehebat itu, karuan kehadirannya mendapat tampik sorak yang gegap gumpita.
Bila mentari sudah tepat bercokol ditengah cakrawala, Yuling Kongcu mendahului berdiri sebelum bicara dia menjura keempatpenjuru.
"Cayhe Yu-ling Kongcu dari Tang ling-kiong, atas perintah orang tua datang menghandiri pertemuan besar di Uisan ini, sekarang waktu yang dyanjikan sudah tiba, tinggal murid keturunan Bong Siu dari barat yang belum tiba. Maka anggaplah dia gugur dan tidak ikut dalam pertemuan ini. Bagaimana pendapat nona berdua? "
Gadis yang duduk disebelah utara atau murid Bu-ing khek tertawa katanya.
"Aku yang rendah Hoan Kiang soat, atas perintah Bu-in khek guruku hadir-dalam pertemuan ini, mungkin karena perjalanan jauh hingga murid Bong Siu dari barat belum tiba, mungkin sebentar lagi akan tiba, hari baru tepat lohor, kurasa boleh kita tunggu beberapa kejap lagi, setelah ditunggu tetap tidak datang, anggaplah dia gugur dan tiada hak ikut dalam pertandingan ini"
Kecuali memperkenaikan dirinya, sudah tentu Le Bun juga menyatakan akur saja.
Karena kalah suara terpaksa Yu ling kong-cu duduk kembali.
Setengah jam kemudian, tiga orang ini mulai berunding, menentukan urutan dari pertempuran mereka.
Babak pertama Pak-ong melawan Lam-Coat, pemenang dari pertarungan babak pertama ini diteruskan bertanding dengan Tang-ling.
Diam-diam Yu-ling kongcu bersyukur dan merasa lega.
beruntung dirinya akan turun gelanggang dibabak kedua.
Le Bun dan Hoan Kiang-soat melangkah maju beberapa langkah ke tengah gelanggang, keduanya berdiri beri hadapan di tengah arena.
Setelah mengkonsentrasikan diri keduanya menjura sambil berkata.
"Silakan."
Sebelah tangan Hoan Kiang-soat merogoh kebelakang pundak.
"Sret"
Selarik cahaya kemilau biru melesat, Pedang panjangnya telah dicabutnya keluar.
Berhadapan dengan musuh tangguh Le Bun tidak berani gegabah atau memandang enteng lawan, sebat sekali dia mengegos miring, seruling batujadeputih ditangannya sudah terpegang ditangan.
Keduanya mengembangkan gerak kilat menuju ketimur dan baratujadi mengelilingi arena s a ling berganti tempat, sejenak mereka berhenti.
tanpa beejanji keduanya melompat maju ketengah arena.
Pedang panjang Hoan Kiang soat menepis miring dan berteriak.
"Lihat serangan."
Baca Juga: Pendekar Kembar 10
Baca Juga: Pisau Terbang Li 5