Ceritasilat Novel Online

Pisau Terbang Li 5

Eps 5 Pisau Terbang Li - Gu Long

Baca online Pisau Terbang Li - Gu Long

Cersil Pisau Terbang Li - Gu Long.

Sahut si kaki satu.

"Selain engkau, kurasa tidak ada lagi yang dapat menandingi kami."

Ia menekan tongkat besinya dan terdengar suara berderak. Tongkatnya yang dua meter itu kini satu setengah meternya tertanam dalam tanah. Si kurus berkata dengan dingin.

"Ilmu silat kelas tinggi. Tidak heran dalam Kitab Persenjataan Pek-hiau-sing, tongkat besimu ada di urutan ke delapan."

Si kaki satu pun berseru.

"Cambuk Ularmu yang terkenal itu ada di urutan ketujuh. Aku sudah lama ingin menjajalnya!"

Si kurus pun menjawab.

"Aku pun sudah menantinantikan pertempuran ini!"

Bab 29.

Cambuk yang Punya Mata Tangan si kurus menggebrak meja dan tubuhnya melayang ke udara.

Angin dingin berkelebat dan sebuah cambuk berwarna hitam mengkilat telah tergenggam di tangannya.

Ia menyentak pergelangan tangannya dan cambuk panjang itu bergelora, menghasilkan angin yang menerpa orang-orang yang berada di luar.

Terdengar suara ting ting tang tang.

Empat puluh koin jatuh ke tanah.

Keempat puluh orang itu adalah jago-jago dalam dunia persilatan, namun tidak satupun pernah melihat permainan cambuk yang begitu mengagumkan.

Ketika cambuk itu ada di tangannya, cambuk itu seolaholah menjadi hidup, seperti punya mata.

Keempat puluh orang itu saling pandang, lalu segera menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka untuk kabur.

Sebagian lari ke jalan, sebagian memanjat tembok.

Langit penuh dengan bayangan orang-orang yang berhamburan.

Dalam sekejap saja, semua sudah pergi.

Wajah si tua berjubah kuning itu memucat.

Ia membentak dengan marah.

"Kau telah mengambil Koin Pencabut Nyawa mereka. Apakah kau ingin mati menggantikan mereka?"

Si kaki satu tertawa dingin.

"Nyawa Dewa Cambuk Sebun Yu memang cukup berharga untuk menggantikan nyawa mereka semua!"

Ditariknya tongkatnya dan ia pun berdiri dengan satu kaki.

Seakan-akan kakinya itu tertancap di tanah, seperti sebatang pohon yang kuat.

Si tua berjubah kuning mengacungkan tangannya.

Dalam tangannya tergenggam sebuah Boan-koan-pit, Pensil Baja.

Siapapun yang mempunyai senjata seperti itu, pastilah mempunyai kungfu tingkat tinggi.

Empat orang mengelilingi Sebun Yu.

Si mata satu mundur beberapa langkah dan membuka jubahnya.

Tampak 49 mata tombak, ada yang panjang, ada yang pendek.

Kelima pasang mata orang itu memandang ke arah cambuk panjang Sebun Yu.

Si kaki satu lalu tertawa.

"Aku rasa kau pasti sudah tahu siapa keempat temanku ini."

Sahut Sebun Yu.

"Aku sudah tahu dari tadi."

Si kaki satu berkata.

"Kalau dipandang dari segi keadilan, kami berlima seharusnya tidak main keroyok. Tapi hari ini lain."

Sebun Yu tertawa.

"Aku sudah melihat begitu banyak orang dalam dunia persilatan menang dengan cara main keroyok. Kau pikir aku peduli?"

Si kaki satu pun menyahut.

"Awalnya, aku tidak ingin membunuhmu, tapi kau telah melanggar peraturan kami. Bagaimana mungkin kami melepaskanmu? Jika kami membiarkan peraturan kami dilanggar, kami akan jadi sekelompok pendusta. Aku harap kau bisa mengerti."

Kata Sebun Yu.

"Bagaimana jika aku mau pergi?"

Si kaki satu menjawab.

"Kau tidak bisa lagi pergi!"

Sebun Yu hanya tertawa.

"Kalau aku benar-benar ingin pergi, kalian berlima tidak mungkin menghalangiku!"

Si kaki satu menggeram, tongkatnya sudah bergerak!

Walaupun gerakannya sederhana, tenaganya sungguh tidak terkira!

Sebun Yu masih tersenyum, cambuknya meliuk-liuk dengan cepat seraya melompat ke atas.

Si mata satu mengacungkan tangannya dan 13 mata tombak mencelat, membawa segulung angin ke arah Sebun Yu.

Yang panjang disambitkan lebih dulu, namun yang pendek lebih cepat.

Terdengar suara klak klak klik klik secara beruntun, waktu cambuk itu menghalau ketiga belas mata tombak itu.

Seperti angin puyuh, Sebun Yu melayang makin tinggi, lalu tiba-tiba mencelat, menghilang dari pandangan.

Si kaki satu segera berseru.

"Kejar!"

Si kaki satu pun menutul tanah dengan tongkat besinya dan melayang ke udara.

Ilmu meringankan tubuhnya lebih baik dari orang berkaki dua.

Ia pun segera menghilang dari pandangan.

Keempat orang berjubah kuning yang lain segera menyusul, dan seketika warung itu pun sunyi senyap.

Hanya dua mayat tertinggal di situ.

Kalau bukan karena kedua mayat itu, Si Bungkuk Sun mengira bahwa itu semua hanya mimpi buruk belaka.

Si kakek tua terbangun.

Pada wajahnya tidak kelihatan tanda-tanda ia mabuk.

Ia memandang ke arah orangorang berjubah kuning itu pergi dan menghela nafas.

"Tidak heran bahwa Cambuk Ular Sebun Yu berada di urutan yang lebih tinggi daripada Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau) In Gok. Dari gerakannya, ia memang pantas disebut Si Dewa Cambuk. Pek-hiau-sing memang benarbenar tahu apa tentang persenjataan."

Si gadis berkuncir bertanya.

"Apakah betul ia adalah ahli cambuk yang paling hebat saat ini?"

Sahut si orang tua.

"Keahlian yang baru saja ditunjukkannya itu belum pernah ada di antara ahli senjata lemas dalam tiga puluh tahun terakhir ini."

Tanya si gadis berkuncir lagi.

"Bagaimana dengan si kaki satu?"

"Ia bernama Cukat Kang. Julukannya di dunia persilatan adalah Heng-siau-jian-kun’ ‘Si Penyapu Seribu Tentara’. Tongkatnya yang disebut Tongkat Baja Emas, mempunyai berat 100 kati. Senjata yang terberat yang pernah ada."

Si gadis berkuncir pun tersenyum.

"Yang satu bernama Sebun Yu. Yang satu lagi bernama Cukat Kang. Mereka memang ditakdirkan menjadi musuh." [Yu artinya lunak. Kang artinya keras.] "Meski senjata Sebun Yu termasuk lunak, tapi orangnya justru sangat lurus dan keras, sebaliknya Cukat Kang yang bersenjata keras itu justru berhati licik dan licin. Kungfu kedua orang memang saling berlawanan, perangai masing-masing juga tidak sama, namun lunak dapat mengatasi keras, bicara tentang Kungfu, Cukat Kang kalah setingkat, soal adu tipu akal Sebun Yu bisa jadi akan kecundang."

"Menurut pandanganku, si kakek berjenggot putih itu jauh lebih culas daripada Cukat Kang,"

Kata si nona.

"Orang itu bernama Ko Hing-kong, seorang ahli Tiamhiat (ilmu totok) (ilmu menutuk Hiat-to),"

Tutur si kakek.

"Sedangkan si mata satu bernama Yan Siang-hui, sekaligus ia mampu menyambitkan 49 buah lembing kecil dalam sekejap dan jarang meleset. Senjata kedua orang ini dalam daftar senjata yang disusun Pek-hiau-sing menempati urutan nomor 37 dan 46, di dunia Kangouw mereka pun tergolong jago kelas satu."

Si nona berkucir mencibir.

"Huh, masakah urutan nomor 46 juga terhitung jago kelas satu?"

"Memangnya kau tahu ada berapa juta orang di dunia ini yang berlatih ilmu silat, dan ada berapa orang pula yang namanya bisa tercantum dalam daftar yang disusun Pek-hiau-sing itu?"

"Dan orang yang bermuka pucat hijau itu menggunakan senjata macam apa? Apakah juga terdaftar?"

"Orang itu bernama Tong Tok dan berjuluk ‘Tok-tanglang’ (si belalang berbisa), senjata yang digunakannya disebut Tong-long-to (golok belalang), golok beracun, barang siapa sampai terluka oleh goloknya, dalam waktu satu jam pasti binasa tanpa tertolong."

Si nona tertawa mengikik.

"Hihi, aku jadi ingat, konon orang ini gemar makan lima macam serangga berbisa, karena hobi makannya itu sehingga sekujur tubuhnya berubah warna hijau, sampai matanya juga berwarna hijau."

"Ya, beberapa orang itu sudah tergolong jago kelas terkemuka di dunia Kangouw,"

Tutur si kakek sambil mengetuk pipa tembakaunya dan mengisi tembakau, lalu udut lagi. Setelah mengembuskan asap tembakaunya, ia menyambung pula.

"Tapi bila mereka dibandingkan anak muda berbaju kuning yang angkuh itu, mereka boleh dikatakan belum masuk hitungan."

"Benar, dapat kulihat juga orang itu memang tidak boleh diremehkan,"

Ujar si nona.

"Meski usianya paling muda, tapi dia paling sabar, senjata yang digunakannya juga lain daripada yang lain, entah bagaimana asal usulnya?"

"Pernahkah kau dengar nama Liong-hong-goan (gelang naga dan hong) Siangkoan Kim-hong?"

Tanya si kakek.

"Tentu saja pernah kudengar,"

Sahut si nona.

"Senjata andalan orang ini bernama Cubo-liong-hong-goan (gelang induk beranak naga dan hong) dan menempati urutan nomor dua dalam daftar senjata susunan Pekhiau-sing, namanya bahkan di atas pisau kilat Li-tamhoa. Orang Kangouw siapakah yang tidak kenal namanya?"

"Nah, pemuda itu bernama Siangkoan Hui, dia putra satu-satunya Siangkoan Kim-hong,"

Tutur si kakek tukang dongeng.

"Cukat Kang, Tong Tok, Ko Hing-kong dan Yan Siang-hui, mereka juga anak buah Siangkoan Kim-hong."

Si nona berkucir melelet lidah.

"Wah, pantas mereka bertindak sedemikian semena-mena, kiranya mereka mempunyai dukungan sekuat itu."

"Sudah cukup lama Siangkoan Kim-hong menghilang,"

Tutur pula si kakek.

"tapi dua tahun yang lalu mendadak dia muncul kembali, ada 17 tokoh kelas top yang termasuk dalam daftar senjata itu dicakup olehnya dan terbentuklah Kim-ci-pang (sindikat mata uang emas). Selama dua tahun ini mereka malang melintang di dunia Kangouw dan tidak terkalahkan, setiap orang Kangouw sama miring terhadap mereka, besar pengaruh mereka sekarang bahkan sudah di atas Kay-pang (serikat pengemis)."

"Kay-pang adalah organisasi terbesar di dunia persilatan, masakah sindikat yang kurang terhormat seperti mereka itu dapat menandingi Kay-pang?"

Ujar si nona. Si kakek menghela napas.

"Selama dua tahun ini, kesatria Kangouw yang hebat sudah semakin berkurang, yang baik surut, yang jahat tumbuh, apabila kaum kesatria muda tidak berusaha maju dari berjuang, entah sampai kapan dunia ini akan dikuasai Kim-ci-pang."

Sampai di sini, seperti tidak sengaja ia melirik sekejap ke arah "setan arak"

Yang masih tetap mendekap di atas meja dan belum lagi sadar itu. Nona berkucir itu menghela napas gegetun.

"Jika demikian, bila Kim ci-pang sudah ikut campur urusan ini, pihak lain terpaksa harus menonton saja di samping."

"Itu pun belum pasti,"

Ujar si kakek dengan tertawa.

"Memangnya ada pendatang baru yang Kungfunya terlebih tangguh daripada Siangkoan Kim-hong?"

Tanya si-nona.

"Meski Liong-hong-goan termasuk senjata nomor dua dalam daftar senjata, tapi pisau kilat si Li yang menempati urutan nomor tiga dan Ko-yang-thi-kiam (pedang besi Ko-yang) yang nomor empat itu, Kungfu keduanya belum pasti di bawah Siangkoan Kim-hong,"

Si kakek tertawa, lalu menyambung pula dengan perlahan.

"Apalagi di atas Liong-hong-goan juga masih ada sebatang pentung mahasakti dan serbahebat yang disebut Ji-ih-pang (pentung serbajadi)."

"Sesungguhnya di mana letak kehebatan Ji-ih-pang itu, mengapa bisa mendapatkan urutan nomor satu di dalam daftar senjata Pek-hiau-sing?"

Tanya si nona. Si kakek menggeleng.

"Ji-ih-pang juga disebut Thian-kipang (pentung rahasia alam), rahasia alam tidak boleh dibocorkan, maka selain Thian-ki-lojin (si kakek rahasia alam) yang memegang Thian-ki-pang itu, mana orang lain bisa tahu?"

Nona berkucir itu termenung sejenak, mendadak ia tertawa dan berkata pula.

"Biarpun Kim-ci-pang itu sangat hebat, tapi kurang pintar mencari nama, masa pakai nama ‘uang’ segala, kan mata duitan jadinya? Sungguh lucu dan menggelikan."

"Setan pun doyan duit, apalagi manusia,"

Ucap si kakek dengan sungguh-sungguh.

"Segala apa di dunia ini, adakah yang punya daya pikat terlebih besar daripada ‘duit’? Nanti kalau kau sudah berumur setua diriku barulah kau tahu nama ini tidak menggelikan sedikit pun."

"Tapi di dunia ini juga ada sementara orang yang tidak dapat dipengaruhi dengan duit,"

Ucap si nona.

"Ya, tapi orang macam begitu teramat sedikit, bahkan makin lama semakin jarang,"

Kata si kakek. Kembali si nona terdiam dan termenung memandangi kuku jari sendiri. Si kakek asyik udut pula, lalu dia mengetuk pipa tembakaunya di tepi meja dan berkata lagi.

"Apa yang kuceritakan ini telah kau dengar seluruhnya bukan?"

Berputar biji mata si nona, ia pun melirik si setan arak sekejap dan menjawab dengan tertawa cerah.

"Aku kan tidak mabuk, tentu sudah kudengar dengan jelas."

Si kakek manggut-manggut.

"Dan asal usul orang-orang itu tentu juga sudah kau ketahui semua?"

"Ya, tahu semua,"

Jawab si nona.

"Bagus, dengan demikian selanjutnya kau perlu hati-hati bilamana bertemu dengan mereka."

Dengan tersenyum si kakek lantas berbangkit, lalu bergumam.

"Meski arak di warung ini lumayan, tapi orang hidup kan tidak dapat senantiasa berendam di dalam guci arak dan melewatkan hidup ini secara sia-sia, jika tiba waktunya harus pergi kan harus angkat kaki juga. Betul tidak juragan?"

Kedua kakek bercucu ini bertanya jawab seakan akan sedang bercerita bagi orang lain. Sampai terkesima Sun bungkuk mendengarkan, kini ia tidak tahan, tanyanya dengan tertawa.

"Wah, tampaknya Losiansing sangat hafal terhadap segala seluk-beluk dunia Kangouw, tentu engkau jaga seorang kesatria besar, maka rekening minum kalian biarlah kubereskan bagimu."

Si kakek tukang dongeng menggeleng dengan tertawa.

"Ah, sama sekali aku bukan kesatria apa segala, paling banter aku cuma setan arak saja. Baik seorang kesatria maupun seorang pemabuk, utang harus dibayarnya sendiri, tidak boleh ingkar, juga tidak dapat menghindar."

Si orang tua mengeluarkan beberapa uang perak dan meletakkannya di atas meja.

Ia dan cucunya lalu keluar dari warung itu masuk ke dalam kegelapan malam.

Si Bungkuk Sun mengawasi kepergian mereka.

Sewaktu ia menoleh kembali, ia melihat bahwa si pemabuk pun kini sudah bangun.

Ia berjalan ke arah tempat duduk yang tadi diduduki oleh Sebun Yu.

Ia memungut surat yang ditinggalkan oleh Cukat Kang.

Si Bungkuk Sun tersenyum.

"Sayang sekali kau sudah mabuk tadi. Kau melewatkan pertunjukan yang sangat seru."

Si pemabuk tertawa, lalu menghela nafas.

"Pertunjukan yang sebenarnya belum lagi dimulai. Walaupun aku tidak ingin menonton, aku kuatir aku harus menontonnya."

Si Bungkuk Sun hanya menaikkan alisnya.

Ia merasa semua orang sangat aneh hari ini.

Seolah-olah mereka salah minum obat.

Si pemabuk membaca surat itu dalam sekejap, dan wajahnya pun berubah merah.

Ia membungkuk dalamdalam dan mulai terbatuk-batuk.

Si Bungkuk Sun bertanya.

"Apa kata surat itu?"

Sahut si pemabuk.

"Ti…tidak apa-apa."

Kata Si Bungkuk Sun.

"Kudengar mereka semua datang ke sini karena surat itu."

"O ya?"

Si Bungkuk Sun pun tersenyum.

"Mereka menyebutnyebut tentang semacam harta karun. Apa pun itu, mereka pasti hanya main-main."

Lalu ia pun bertanya.

"Kau mau arak lagi? Kali ini gratis."

Ia tidak mendengar jawaban.

Ketika ia menoleh, dilihatnya si pemabuk hanya berdiri di situ sambil menatap ke kejauhan.

Matanya tidak tampak mabuk, bahkan tersirat suatu kegagahan yang tidak biasa.

Si Bungkuk Sun mengikuti arah pandangannya.

Ia hanya dapat melihat secercah cahaya lilin di kejauhan.

Cahaya itu tampak semakin jauh karena kabut yang menyelimuti tempat itu.

*** Waktu Si Bungkuk Sun kembali ke halaman belakang, hari sudah tengah malam.

Di halaman, suasana selalu tenang.

Terlihat lilin di kamar si pemabuk masih bercahaya, namun pintunya terbuka lebar.

Melambai-lambai karena tiupan angin.

Si Bungkuk Sun pergi ke sana untuk melihat.

Ia mengetuk pintu dan bertanya.

"Apakah kau sudah tidur?"

Tidak ada suara.

Apa yang dilakukannya di luar selarut ini?

Si Bungkuk Sun masuk.

Dilihatnya ruangan itu kacau balau.

Potongan-potongan kayu tersebar di seluruh ruangan, tapi pisau kecilnya tidak nampak di mana pun juga.

Setengah guci arak terlihat masih di atas meja.

Segumpal kertas yang telah diremas-remas ada di sampingnya.

Si Bungkuk Sun segera mengenali bahwa itu adalah surat yang ditinggalkan oleh Cukat Kang.

Ia tidak tahan untuk tidak membacanya.

"15 September. Hin-hun-ceng akan menunjukkan harta karunnya. Anda diharapkan datang untuk turut menyaksikan."

Hanya tiga kalimat saja.

Lebih sedikit yang tertulis, surat itu menjadi lebih misterius dan menarik perhatian orang.

Penulisnya sungguh memahami hati manusia.

Si Bungkuk Sun mengangkat alisnya.

Wajahnya pun berubah.

Ia tahu Hin-hun-ceng adalah puri di depan warungnya.

Namun ia tidak habis pikir, apakah hubungan si pemabuk dengan puri itu?

Bab 30.

Malam yang Sangat Sangat Panjang Kabut menyelimuti keheningan malam.

Di dahan hanya terlihat satu dua lembar daun.

Kolam teratai pun penuh dengan daun-daun kering yang gugur.

Rumput di jalan setapak sudah menjadi coklat.

Dulu, bunga-bunga berwarna merah, pohon-pohon penuh dengan daunnya yang hijau lebat, harum bunga Bwe semerbak ke seluruh paviliun.

Tapi kini semua telah tiada.

Di ujung jembatan itu ada sebuah bangunan kecil, Leng-hiang-siau-tiok.

Di sini pernah tinggal pahlawan gagah dunia persilatan.

Pernah juga tinggal wanita tercantik di seluruh dunia.

Saat itu, bunga-bunga Bwe masih bermekaran dan keharumannya sungguh menawan hati.

Namun kini, sarang laba-laba terlihat di tiap sudut ruangan.

Debu tebal melapisi jendela.

Tidak ada keindahan yang tersisa.

Bahkan pohon Bwe pun sudah menjadi kering.

Dalam kegelapan malam, sesosok bayangan muncul.

Rambutnya acak-acakan, pakaiannya kusut.

Ia kelihatan seperti gembel jalanan, namun wajahnya tampak gagah, matanya bersinar terang bagai bintang.

Ia berjalan melewati jembatan sambil memandangi pohon-pohon Bwe.

Ia menghela nafas.

Pohon-pohon Bwe itu adalah sobat lamanya.

Namun kini, mereka sudah layu, sama seperti dirinya sendiri.

Tapi tiba-tiba ia melayang terbang ke sana bagai seekor burung!

Jendela di tingkat atas tertutup rapat.

Namun ada banyak guratan di jendela itu.

Dari sela-sela guratan itu, terlihatlah wajah seorang wanita yang kesepian.

Ia menghadap ke arah cahaya lilin, menjahit.

Wajahnya pucat.

Matanya yang dulu menarik bagai magnet kini tampak sayu.

Wajahnya tampak dingin, tidak berperasaan.

Seakanakan ia sudah lupa arti kebahagiaan ataupun kesedihan.

Ia duduk di sana menjahit, dan layu sedikit demi sedikit.

Lubang di baju dapat ditambal, namun lubang di hati tidak dapat ditutup….

Di sisi lain ruangan itu, tampak seorang anak lelaki berusia 13 atau 14 tahun.

Wajahnya kelihatan sangat pandai.

Matanya yang bersinar membuat dia tampak semakin pandai.

Namun wajahnya pucat, sangat pucat sampai orang akan lupa bahwa ia masih kanak-kanak.

Ia sedang berlatih menulis.

Walaupun ia sangat muda, ia sudah belajar hidup dalam kesepian.

Lelaki tua itu mengawasi mereka dari luar.

Air mata meleleh, membasahi pipinya.

Setelah sekian lama, anak itu berhenti menulis.

Ia mengangkat kepalanya dan menatap api lilin.

Si wanita pun berhenti menjahit dan memandangi putranya.

Wajahnya penuh lelembutan seorang ibu dan bertanya dengan halus.

"Siau-in, apa yang sedang kau pikirkan?"

Anak itu menggigit bibirnya dan berkata.

"Aku hanya sedang berpikir kapan ayah akan kembali?"

Tangan si wanita gemetar hebat, jarumnya menusuk salah satu jarinya. Namun sepertinya ia tidak merasa kesakitan, karena semua rasa sakitnya sudah terkumpul dalam hatinya. Kata anak itu lagi.

"Ibu, kenapa ayah tiba-tiba pergi? Sudah dua tahun dan sama sekali tidak ada kabar."

Si wanita hanya terdiam lama. Ia mendesah dan menjawab.

"Aku pun tidak tahu mengapa ia pergi."

Tiba-tiba wajah anak itu menyiratkan kebencian yang mendalam. Katanya.

"Aku tahu kenapa ia pergi."

Ibunya berkata dengan lembut.

"Kau kan masih anakanak. Kau tahu apa?"

Sahut anak itu.

"Tentu saja aku tahu. Ayah pergi karena ia takut Li Sun-Hoan akan datang untuk membalas dendam. Setiap kali ia mendengar nama Li Sun-Hoan diucapkan, wajahnya langsung berubah."

Si wanita tadinya ingin menjawab, tapi diurungkannya. Ia hanya menghela nafas. Ia menyadari bahwa anaknya memang tahu banyak hal, mungkin terlalu banyak. Anak itu melanjutkan.

"Namun Li Sun-Hoan tidak pernah datang. Mengapa ia tidak pernah menjengukmu, Bu?"

Tubuh si wanita bergetar. Ia berseru.

"Mengapa ia harus datang untuk menjengukku?"

Anak itu tersenyum.

"Aku tahu ia dan Ibu adalah sahabat karib, bukan?"

Wajah ibunya putih seperti kertas. Keningnya berkerut.

"Sudah hampir fajar, mengapa kau belum pergi tidur?"

Si anak mengejapkan matanya, katanya.

"Aku tidak mau tidur. Aku ingin menemani Ibu, sebab dalam dua tahun ini Ibu tidak pernah tidur nyenyak."

Ibunya memejamkan matanya, dan air matanya meleleh turun. Anak itu bangkit dan tersenyum.

"Tapi aku memang harus tidur sekarang. Besok adalah hari ulang tahun Ibu. Aku mau bangun pagi-pagi….."

Ia menghampiri ibunya dan mengecup keningnya. Katanya lagi.

"Ibu juga harus tidur. Sampai jumpa besok."

Ia tersenyum sambil melangkah keluar. Di luar ruangan, senyumnya langsung lenyap dan berganti dengan wajah yang penuh kelicikan.

"Li Sun-Hoan, semua orang takut padamu, namun aku tidak. Cepat atau lambat, kau pasti mati di tanganku."

Mata si wanita mengiringin kepergian anaknya.

Mata itu penuh dengan kesedihan dan kelembutan.

Putranya memang adalah anak yang pandai.

Ia hanya memiliki seorang putra.

Putranya adalah seluruh hidupnya.

Walaupun ia melakukan perbuatan yang membuatnya sedih atau marah, ia tetap akan mencintainya sepenuh hati.

Kasih seorang ibu terhadap anaknya selalu tidak terbatas, selalu tidak bersyarat.

Ia kembali duduk dan menyalakan lilin yang lain.

Setiap malam menjelang fajar, perasaan hatinya selalu teramat muram.

Suara batuk terdengar dari luar jendela.

Wajah si wanita langsung berubah.

Seluruh tubuhnya menjadi kaku seperti sebatang kayu.

Ia tidak dapat bergerak, hanya matanya yang memandang cepat ke arah jendela.

Dalam matanya terbersit kegembiraan, namun juga kesedihan….

Setelah sekian lama, akhirnya ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ke jendela.

Dengan tangan gemetar dibukanya daun jendela itu perlahan-lahan.

Ia berseru.

"Siapa di situ?"

Tidak ada setitik bayangan pun di luar sana. Si wanita memandang ke sekelilingnya, lalu berkata.

"Aku tahu kau ada di sini. Kalau sudah datang, mengapa tidak menemuiku?"

Tidak ada suara, tidak ada jawaban. Si wanita mengambil nafas dalam-dalam, lalu berkata.

"Aku tidak menyalahkanmu jika kau tidak ingin bertemu. Aku sudah bersalah padamu…."

Suaranya semakin lemah, dan akhirnya ia hanya berdiri di situ, tidak tahu harus berbuat apa.

Akhirnya ditutupnya kembali daun jendela itu.

Bumi diselimuti kegelapan.

Sesaat sebelum fajar adalah saat yang paling gelap.

Namun kegelapan pasti akan berlalu, seiring dengan munculnya secercah sinar dari arah timur.

Sesosok bayangan muncul dari balik pepohonan.

Ia telah berdiri tidak bergerak di sana cukup lama.

Rambutnya, pakaiannya, semua basah kuyup oleh air mata.

Matanya tidak pernah lepas dari jendela itu.

Ia kelihatan sangat tua, sangat kuyu, sangat lemah….

Ia adalah orang yang sama yang datang ke situ tadi malam.

Orang yang sama dengan si pemabuk daro warung Si Bungkuk Sun!

Ia tidak berbicara, namun hatinya menggapai-gapai.

Si-im, Si-im, kau tidak melakukan kesalahan apa-apa.

Akulah yang bersalah padamu….

Walaupun aku tidak melihat wajahmu selama dua tahun ini, aku selalu berada di sisimu sepanjang waktu, menjagamu.

Tahukah engkau?

Langit semakin terang.

Tangan orang ini membekap mulutnya, berusaha keras untuk tidak terbatuk.

Lalu ia berjalan menuju ke pintu.

Pintu itu tidak dikunci.

Didorongnya pintu itu.

Sewaktu pintu itu terbuak bau arak langsung menyengat hidungnya.

Kamar itu kator dan bernatakan.

Seorang laki-laki tidur di atas meja.

Tangannya menggenggam sebotol arak.

Seorang pemabuk lagi.

Ia tersenyum dan mengetuk pintu.

Si pemabuk terbangun.

Diangkatnya kepalanya dan tampaklah wajahnya burik.

Tidak akan ada yang menyangka bahwa ia adalah ayah Lim Sian-ji.

Masih setengah mabuk, ia memandang sekelilingnya.

Katanya.

"Mengapa ada yang datang pagi-pagi buta begini? Habis bertemu setan atau hantu?"

Setelah ia menyelesaikan kalimatnya, barulah dilihatnya laki-laki setengah baya berdiri dekat pintu.

"Siapa kamu? Apa kerjamu di sini?"

Si lelaki setangah baya tersenyum.

"Kita bertemu dua tahun yang lalu. Kau sudah lupa?"

Si burik menatap orang itu lekat-lekat, lalu dengan tercekat ia berkata.

"Kau Li…."

Ia bermaksud akan berlutut, namun sebelum lututnya menyentuh lantai, Sun-hoan mengangkat tubuhnya.

"Bagus juga kau masih mengenaliku. Ayo, mari kita duduk-duduk dan berbincang-bincang sejenak."

Si burik tersenyum.

"Bagaimana mungkin aku tidak mengenalimu, Tuan. Aku berjanji tidak akan berbuat seperti itu lagi. Namun, Tuan, kau kelihatan bertambah tua dalam dua tahun ini."

Sun-hoan merasa hangat di dadanya.

"Kau pun bertambah tua. Semua orang juga bertambah tua. Apa kabarmu dua tahun ini?"

Sahut si burik.

"Di depan orang lain aku bisa menyombong, tapi di hadapanmu, Tuan, aku…."

Ia menghela nafas, lalu melanjutkan.

"Sejujurnya, aku tidak tahu bagaimana aku bisa melewati dua tahun ini. Hari ini aku menjual lukisan, besok aku menjual perabot,….."

Si lelaki setangah baya mengangkat alisnya.

"Apakah seburuk itu keadaannya, sampai tidak ada uang sama sekali di sini?"

Si burik hanya menunduk. Sun-hoan bertanya lagi.

"Maksudmu, waktu Liong-siya pergi, ia tidak meninggalkan sepeser pun untuk menunjang rumah tangga ini?"

Si burik menggelengkan kepalanya. Matanya merah. Wajah Sun-hoan pun menjadi pucat lesi, dan ia mulai batuk-batuk tidak berhenti. Si burik pun berkata.

"Pada awalnya, Nyonya memiliki banyak perhiasan. Namun hatinya sungguh mulia. Ia memberikan uang pesangon pada para pelayan, supaya mereka bisa membuka usaha sendiri di luar…. Nyonya lebih baik menderita daripada melihat para pelayan menderita."

Ia mengatakannya dengan suara serak. Sun-hoan hanya terdiam sampai beberapa lama. Lalu ia berkata.

"Namun kau tidak pergi. Kau adalah orang yang setia."

Si burik tersenyum kecut.

"Aku hanya tidak punya tempat tujuan lain."

Sahut Sun-hoan.

"Kau tidak perlu menjelaskan. Ada orang yang perangainya kasar, namun hati mereka baik. Hanya sedikit orang saja yang dapat mengerti mereka."

Wajah si burik menjadi merah. Ia memaksakan seulas senyum.

"Arak ini tidak lezat, namun jika Tuan tidak keberatan, mari kita munm bersama."

Ia hendak menuangkan isi botol itu ke dalam cawan, dan baru disadarinya bahwa botol itu sudah kosong. Sun-hoan pun tersenyum.

"Aku tidak ingin minum arak saat ini, teh saja. Tidakkah kau heran bahwa aku ingin minum teh? Sudah lama aku tidak melakukannya."

Si burik pun ikut tersenyum.

"Aku akan menjerang air untuk membuat teh."

Kata Sun-hoan.

"Siapa pun yang kautemui, jangan katakan bahwa aku ada di sini."

Si burik pun menjawab.

"Jangan kuatir, Tuan. Rahasiamu aman padaku."

Ia keluar dengan hati riang, sampai lupa mengunci pintu. Sun-hoan mengerutkan keningnya sambil menggumam.

"Si-im, Si-im, kau telah mengalami begitu banyak penderitaan karena aku. Aku harus menjagamu. Takkan kubiarkan siapapun menyakitimu."

Sinar matahari telah menembus melewati jendela.

Hari sudah siang.

Tehnya sama sekali tidak sedap.

Namun selama teh itu kental, orang dapat meminumnya.

Sama seperti seorang wanita.

Selama ia masih muda, tidak akan ada yang menolaknya.

Sun-hoan minum tehnya perlahan-lahan, lalu tiba-tiba tertawa.

"Dulu aku punya teman yang pandai, katakatanya selalu tepat mengenai sasaran."

Si burik tertawa juga.

"Tuan, Anda pun pandai juga."

Kata Sun-hoan.

"Dia pernah bilang, ‘Tidak ada arak yang tidak memabukkan, dan tidak ada gadis muda yang jelek’. Kemudian dia berkata, ‘Karena dua hal inilah aku bertahan hidup’."

Matanya penuh dengan tawa. Sambungnya.

"Namun sebenarnya, arak yang baik adalah arak yang sudah disimpan lama, demikian juga wanita yang lebih tua sesungguhnya lebih baik karena mereka lebih berpengalaman."

Si burik tidak mengerti secara keseluruhan, jadi dia tidak menyahut. Ia hanya menuangkan teh ke dalam cawan lagi.

"Mengapa Tuan kembali lagi?"

Sun-hoan terdiam beberapa saat sebelum menjawab.

"Katanya di sini ada harta karun…."

Si burik tertawa.

"Harta karun? Ya, aku juga berharap ada harta karun di sini."

Tiba-tiba tawanya berhenti. Matanya menatap Sun-hoan lekat-lekat.

"Jika di sini ada harta karun, Tuan pasti tahu, bukan?"

Sun-hoan hanya mendesah.

"Walaupun kau dan aku tidak percaya kabar burung ini, kelihatannya banyak orang yang percaya."

Si burik bertanya.

"Siapa yang menyebarkan kabar burung itu? Kenapa?"

Jawab Sun-hoan.

"Ada dua alasan. Yang pertama, untuk mengundang orang-orang yang rakus datang dan saling membunuh, supaya pada akhirnya ialah yang mengeruk keuntungan."

Tanya si burik.

"Alasan yang lain?"

Sahut Sun-hoan.

"Sudah lama aku tidak muncul. Banyak orang ingin tahu di mana keberadaanku. Siapa pun yang menyebarkan kabar burung itu, pasti ingin aku segera muncul."

Kata si burik.

"Apa salahnya? Mereka akan tahu betapa hebatnya Anda."

Kata Sun-hoan.

"Namun kali ini ada beberapa orang yang tidak mampu kuhadapi."

Si burik sungguh terkejut.

"Maksudmu, ada orang di dunia ini yang kautakuti?"

Sebelum pertanyaannya sempat dijawab, terdengar bunyi orang mengetuk pintu dengan keras. Lalu terdengar suara lantang berseru.

"Apakah betul ini tempat tinggal Liong-siya? Kami datang untuk bertamu."

Kata si burik.

"Sungguh aneh. Kami tidak pernah kedatangan tamu dua tahun terakhir ini. Siapakah mereka itu?"

Setelah hampir satu jam, si burik kembali sambil terkekeh-kekeh.

"Hari ini adalah hari ulang tahun nyonya. Aku saja lupa, tapi orang-orang itu ingat. Mereka bahkan membawa hadiah."

Sun-hoan berpikir sesaat, lalu bertanya.

"Siapakah mereka?"

Jawab si burik.

"Ada lima orang yang datang. Seorang tua yang sangat modis, seorang pemuda gagah, seorang bermata satu, seorang yang sangat jelek dengan wajah hijau,…."

Sun-hoan memotong.

"Dan yang kelima adalah seorang berkaki satu, bukan?"

Si burik mengangguk.

"Betul…. Bagaimana kau bisa tahu? Tahukah kau siapa mereka itu?"

Sun-hoan terbatuk. Matanya bersinar tajam, setajam pisau. Namun si burik tidak memperhatikan, dan ia terus tersenyum.

"Walaupun orang-orang ini kelihatan aneh, hadiah mereka sungguh luar biasa. Kami tidak pernah mendapat hadiah seperti itu, bahkan waktu Liong-siya masih ada di sini."

"O ya?"

"Salah satu dari hadiah itu adalah sebatang emas murni yang beratnya paling tidak 4 atau 5 kati. Aku belum pernah melihat orang begini royal sebelumnya."

Sun-hoan mengangkat alisnya dan bertanya.

"Nyonya berkenan menerima hadiah ini?"

Sahut si burik.

"Awalnya beliau tidak mau, tapi orangorang itu terus duduk di ruang tamu dan tidak mau pergi. Mereka berkeras hendak bertemu dengan nyonya, karena mereka adalah sahabat Liong-siya. Nyonya tidak tahu harus bagaimana, jadi disuruhnya Siauya untuk melayani mereka."

Ia tersenyum. Lanjutnya.

"Tuan, walaupun Siauya masih sangat muda, ia sungguh tahu bagaimana melayani tamu, kadang-kadang lebih mahir daripada kita yang sudah dewasa. Para tamu semuanya memuji-muji kepandaiannya."

Sun-hoan hanya memandangi cawan tehnya.

"Apakah masih ada orang yang akan datang lagi, apakah masih ada orang yang berani datang?"

Cukat Kang, Ko Hing-kong, Yan Siang-hui, Tong Tok, dan Siangkoan Hui, mereka semua duduk di ruang tamu yang luas.

Mereka sedang berbicara dengan seorang anak berjubah merah.

Walaupun mereka ini adalah jago-jago silat kenamaan, mereka tidak memandang rendah pada anak ini sama sekali.

Hanya Siangkoan Hui yang duduk diam di situ, tidak berbicara sepatah katapun.

Seolah-olah tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang dapat membuat dia bicara.

Cukat Kang tersenyum sambil berkata.

"Siauya sungguh hebat sekali. Potensimu tidak terbatas. Di kemudian hari, sewaktu engkau menjadi pahlawan yang terkenal, aku harap engkau tidak akan melupakan kami yang tua-tua."

Anak itupun tersenyum dan berkata.

"Kalau nanti aku bisa mencapai setengah kesuksesanmu saja, aku sudah sangat puas. Yang pasti, aku membutuhkan pengarahan para Cianpwe di kemudian hari."

Cukat Kang bertepuk tangan.

"Siaucengcu sungguh pandai bicara. Tidak heran Liong-siya…."

Tiba-tiba ia berhenti bicara dan memandang ke luar, ke halaman di depan.

Si burik masuk lagi mengantar seseorang yang berpakaian serba hitam.

Jubah hitam, celana hitam, sepatu hitam, dan menyandang sebilah pedang panjang berwarna hitam di punggungnya.

Orang ini besar dan berotot, hampir dua kali lipat besar si burik.

Wajahnya menyiratkan hawa membunuh.

Matanya tajam, dan jenggotnya menari-nari ditiup angin.

Ia tampak angkuh, namun gagah dan tegas, juga terlihat agak liar.

Setiap orang yang melihatnya pasti sadar bahwa orang ini bukanlah orang sembarangan.

Kelima orang ini saling pandang, seakan-akan berusaha menebak identitas tamu yang baru datang ini.

Ang-hai-ji bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah orang itu, lalu membungkuk.

"Senang sekali Tuan mau berkunjung. Cayhe Liong Siau-in…."

Si jubah hitam menatapnya.

"Jadi kau ini anak Liong Siau-hun?"

Jawab Ling Siau-in.

"Ya. Cianpwe pasti sahabat lama ayah. Bolehkah aku mengenal namamu?"

Si jubah hitam menjawab.

"Walaupun kuberi tahu, kau juga tidak akan kenal."

Ia melangkah masuk ke dalam ruangan. Cukat Kang bangkit berdiri dan membungkuk.

"Aku adalah…."

Baru dua kata diucapkannya, si jubah hitam sudah memotongnya.

"Aku tahu siapa engkau. Kalian tidak perlu repot-repot berusaha mengetahui siapa diriku."

Kata Cukat Kang.

"Tapi…."

Si jubah hitam memotongnya lagi. Katanya dengan nada sedingin es.

"Aku datang untuk alasan yang berbeda dengan kalian. Aku hanya ingin menonton."

Cukat Kang tersenyum.

"Aku sangat senang mendengarnya. Setelah kami selesai dengan urusan kami di sini, kami pasti sangat berterima kasih kepadamu."

Sahut si jubah hitam.

"Aku tidak mencampuri urusan kalian. Kalian jangan ikut campur urusanku. Kita urus saja urusan kita masing-masing. Tidak perlu berterima kasih."

Ia menarik sebuah kursi, duduk, dan memejamkan matanya, beristirahat. Kelima orang itu hanya bisa saling pandang. Ko Hing-kong tersenyum.

"Katanya halaman belakang rumah ini sangat terkenal. Apakah Siauya sudi mengajak kami berjalan-jalan."

Liong Siau-in hanya mendesah.

"Sayangnya, halaman belakang kini sudah tidak terpelihara…"

Kata Ko Hing-kong.

"Ah, tidak apa-apa. Kami hanya ingin melihat-lihat."

Sahut Liong Siau-in.

"Kalau begitu, mari kutunjukkan."

Orang-orang itu berbaris keluar ke arah halaman belakang.

Yang paling depan adalah Liong Siau-in, yang paling belakang adalah si jubah hitam.

Matanya setengah terbuka, setengah terpejam, seakan-akan ia sedang menghemat tenaganya.

Liong Siau-in menunjuk ke arah hutan yang dipenuhi oleh pohon Bwe yang sudah mengering.

Katanya.

"Di sana itu adalah Leng-hiang-siau-tiok (Villa Keharuman Sejuk)."

Mata Yan Siang-hui berbinar-binar.

"Katanya dulu Li Tamhoa tinggal di sana?"

Liong Siau-in menundukkan kepalanya.

"Ya, betul."

Yan Siang-hui menggenggam mata tombaknya dan tertawa dingin.

"Ia punya pisau terbang, aku punya tombak terbang. Jika kita berdua bisa berduel suatu hari nanti, pasti sangat menyenangkan."

Si jubah hitam menyahut dari kejauhan.

"Jika kau bisa berduel dengan dia, itu baru namanya mujizat."

Yan Siang-hui menoleh cepat ke arahnya dan menatapnya dengan sangat marah. Bab 31. Pisau Kilat si Li Ketika Liong Siau-in melihat kemarahan Yan Siang-hui, cepat-cepat ia berkata.

"Pisau terbangnya hanya terbuat dari besi biasa. Sama sekali bukan senjata mustika, tapi entah mengapa orang-orang menganggapnya seperti mustika. Kadang-kadang aku pikir itu sangat menggelikan."

Si jubah hitam berkata dengan tenang.

"Kudengar ia sudah memusnahkan ilmu silatmu. Kau pasti masih sangat membencinya, bukan?"

Liong Siau-in tersenyum sambil berkata.

"Paman Li adalah seorang Cianpwe. Mana mungkin aku marah terhadap Cianpwe yang memberi pelajaran kepadaku? Lagi pula, seseorang tidak hanya memerlukan ilmu silat untuk menjadi terkenal."

Si jubah hitam memandanginya, tidak dapat mengerti jalan pikirannya. Cukat Kang kembali bertepuk tangan.

"Bagus sekali! Kau memang betul. Kau memang pantas menjadi anak Liong Siau-hun."

Liong Siau-in membungkukkan badannya.

"Cianpwe, kau sungguh berlebihan."

Tiba-tiba Siangkoan Hui buka suara.

"Katanya Lim Sian-ji juga pernah tinggal di sini, bukan?"

Ia benar-benar buka suara. Bahkan Liong Siau-in pun tidak menyangka.

"Betul sekali."

Tanya Siangkoan Hui.

"Ke mana dia pergi?"

Jawab Liong Siau-in.

"Bibi Lim tiba-tiba menghilang dua tahun yang lalu. Ia bahkan tidak membawa perhiasan ataupun pakaiannya. Tidak seorang pun tahu ke mana dia pergi. Ada yang bilang dia diculik A Fei, ada yang bilang A Fei sudah membunuhnya."

Siangkoan Hui hanya mengangkat alisnya dan tidak bersuara lagi.

Barisan orang ini terus menyeberangi jembatan dan sampailah mereka di Leng-hiang-siau-tiok.

Mata Cukat Kang bersinar lagi, seakan-akan ia sangat tertarik pada bangunan ini.

Tanya Ko Hing-kong.

"Jadi apakah tempat ini? Apakah ibumu tinggal di sini?"

"Ya."

Kata Ko Hing-kong.

"Kami sebenarnya datang untuk memberikan hadiah ulang tahun pada ibumu. Bolehkah kami naik ke atas untuk menemui beliau?"

Mata Liong Siau-in berputar dan ia pun tersenyum.

"Ibu tidak biasa menemui tamu. Bolehkah aku naik untuk menanyakannya pada beliau?"

Sahut Ko Hing-kong.

"Tentu saja."

Liong Siau-in naik ke atas perlahan-lahan. Tong Tok tersenyum.

"Sangat menakjubkan kalau anak seperti itu dapat berumur panjang."

Senyum Cukat Kang lenyap dari bibirnya. Dengan wajah serius ia bertanya.

"Apa kau yakin ini tempatnya?"

Sahut Ko Hing-kong setengah berbisik.

"Telah kupelajari surat itu dengan seksama semalam. Harta karun keluarga Li memang ada di sini. Katanya, sudah beberapa generasi keluarga ini merupakan pejabat kerajaan tingkat tinggi, jadi pastilah kekayaan mereka tidak terkira."

Sambil bicara, matanya melirik pada si jubah hitam.

Si jubah hitam berdiri di kejauhan sambil mengawasi dua jangkrik yang sedang berkelahi.

Seakan-akan ia tidak peduli sama sekali pada orang-orang ini.

Kata Cukat Kang.

"Sebetulnya harta karun itu tidak terlalu penting. Yang lebih berharga adalah lukisanlukisan berharga milik Li Tamhoa dan buku-buku silatnya."

Ko Hing-kong mengangguk. Pada saat yang sama terlihat Liong Siau-in menuruni anak tangga. Cukat Kang kembali tersenyum, katanya.

"Jadi apa jawaban ibumu?"

Liong Siau-in menggelengkan kepalanya.

"Ibu tidak ada di atas."

Tanya Cukat Kang.

"Lalu di mana?"

Sahut Liong Siau-in.

"Aku pun bingung. Ibu hampir tidak pernah meninggalkan kamarnya."

Kata Cukat Kang.

"Kalau begitu kami akan menunggu beliau di atas."

Tiga orang berjubah kuning segera menghambur ke atas.

"Kami akan membereskan kamar itu lebih dulu."

Liong Siau-in sepertinya ingin menghalangi langkah mereka, namun ia takut, sehingga akhirnya dibiarkannya mereka pergi ke atas.

Lalu terdengar bunyi ‘Wuuuut’.

Cambuk sepanjang lima meter telah membuat tiga Lingkaran, masing-masing di sekeliling leher ketiga orang itu.

Cambuk panjang itu seketika menegang, lalu mengendur.

Orang pertama tidak mengeluarkan suara sedikit pun sebelum jatuh ke tanah, mati.

Orang kedua hanya bersuara ‘Eek’, sebelum tergeletak mati.

Orang ketiga memegangi lehernya, terhuyung-huyung ke depan lalu tersungkur.

Seluruh tubuhnya bergetar hebat, ia tidak bisa bicara.

Walaupun ia tidak mati seketika, rasa sakit yang dialaminya sepuluh kali lebih buruk daripada kematian itu sendiri.

Kemampuan merubuhkan tiga orang sekaligus seperti ini sungguh mencengangkan, bahkan bagi Cukat Kang.

Hanya si jubah hitam yang tidak kelihatan terkejut.

Katanya.

"Ternyata Cambuk Ular itu terlalu dilebihlebihkan orang."

Ia menghela nafas dan kelihatan sangat kecewa.

Jikalau ilmu Sebun Yu telah mencapai kesempurnaan, ketiga orang itu akan mati seketika.

Tapi karena ketiga orang itu mati tidak bersamaan, bahkan dengan cara berbeda-beda, menandakan bahwa ilmu cambuknya belum sempurna.

Mata Cukat Kang kembali berbinar.

"Sebun Yu, kemarin kau masih beruntung bisa kabur. Namun kau pikir kau akan beruntung lagi hari ini?"

Sebun Yu tidak menjawab.

Hanya cambuknya yang menerjang.

Cambuknya tidak bersuara sedikit pun.

Hanya pada saat cambuk itu terentang, terdengar bunyi letupan kecil, seakan-akan kecepatannya melebihi kecepatan suara.

Cukat Kang segera melompat dan tongkat besinya bertemu dengan cambuk itu di udara.

Cambuk itu membelit dan meremas tongkat itu seperti ular.

Lalu terdengar dentuman keras, saat tongkat itu menghantam tanah.

Kaki Cukat Kang terarah ke atas, tubuhnya terbalik 180 derajat dan meliuk.

Tongkatnya pun ikut meliuk mengikuti gerakan tubuhnya.

Cambuk itu makin membelit tongkat itu dan menjadi semakin pendek.

Sebun Yu pun terpaksa bergerak semakin mendekat.

Kini cambuk itu hampir seluruhnya terlilit pada tongkat.

Satu tangan Sebun Yu masih memegangi cambuknya, sehingga tenaganya sangat kurang dibandingkan dengan Cukat Kang, yang seluruh kekuatannya sudah terkumpul pada tongkatnya.

Wajahnya berubah dari pucat menjadi merah, dari merah menjadi seputih kertas.

Keringat pun mulai membasahi tubuhnya.

Cukat Kang berteriak keras dan tubuhnya yang terbalik itu mencelat.

Gerakan ini mirip dengan jurusnya yang sangat terkenal ‘Sekali Sapu Seribu Tentara’.

Hanya saja kali ini, tubuhnya berperan sebagai tongkatnya, dan tongkatnya sebagai tubuhnya.

Jika Sebun Yu melepaskan cambuknya, ia pasti dapat menghindari serangan itu.

Namun ia terkenal karena cambuknya.

Bagaimana mungkin ia melepaskannya?

Jika ia tidak melepaskan cambuknya, ia hanya dapat menghadang tendangan Cukat Kang dengan tangan kirinya, dan sudah dapat dipastikan tangan kirinya pasti patah.

Namun Sebun Yu adalah salah satu jagoan di antara jago-jago silat, sehingga di saat genting seperti ini pun ia tidak kehilangan ketenangannya.

Tiba-tiba ia menggunakan ilmu meringankan tubuhnya dan mulai berputar di sekeliling tongkat itu.

Pastinya, ia ingin melepaskan lilitan cambuknya dari tongkat itu, namun Cukat Kang pun telah menduganya.

Ia pun mulai berputar.

Kakinya hanya berada sedikit di belakang tubuh Sebun Yu.

Si jubah hitam mengeluh lagi.

"Ternyata Tongkat Baja Emas pun dilebih-lebihkan orang."

Jika perhitungan Cukat Kang lebih akurat, tendangannya pasti sudah dapat membunuh Sebun Yu.

Walaupun jurus itu tidak dilakukannya dengan sempurna, tetap saja kedudukan Sebun Yu ada di ujung tanduk.

Sepertinya ia akan segera mati oleh tendangan Cukat Kang.

Tong Tok tertawa.

"Mengapa kau terus berusaha kalau sudah pasti mati? Mari, kubantu kau."

Ia menghunus senjatanya yang unik, Tang-long-to (sabit Belalang). Sekilas cahaya berkelebat, dan sabit itu tertuju ke punggung Sebun Yu."

Namun baru saja ia melakukannya, tubuhnya telah terjengkang ke belakang, seolah-olah didorong oleh tangan yang tidak nampak.

Ia terduduk di tanah.

Sebelum ia dapat berbicara, nafasnya sudah berhenti!

Karena sebilah pisau telah tertancap di tenggorokannya!

Pisau yang biasa.

Namun wajah semua orang langsung berubah.

Cukat Kang melihat pisau itu dan menjerit kaget.

"Pisau Kilat si Li!"

Pergelangan tangan Sebun Yu langsung mengejang.

Cambuk Ularnya meliuk menjauhi tongkat itu.

Cukat Kang bersalto di udara, lalu jatuh ke tanah dan terhuyung sedikit sebelum keseimbangannya pulih.

Di kejauhan tampak seseorang muncul.

Pakaian orang ini berantakan, rambutnya pun kusut masai.

Wajahnya tampak lemah, namun sinar matanya sangat tajam.

Cukat Kang mempererat genggamannya pada tongkatnya.

Teriaknya.

"Li-tamhoa?"

Orang ini tersenyum.

"Kau terlalu berlebihan."

Cukat Kang berseru lagi.

"Mengapa kau melawan kami?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Aku tidak pernah ingin melawan siapa pun, namun aku pun tidak ingin siapa pun menggangguku."

Ia memutar-mutar pisau di tangannya.

"Tidak ada harta karun di sini. Maaf, kalian sudah membuang banyak waktu. Oh, jangan lupa bawa pulang juga hadiah kalian tadi."

Cukat Kang, Siangkoan Hui, dan Ko Hing-kong hanya menatap pisau di tangannya lekat-lekat. Tenggorokan mereka seakan-akan tersumbat, tidak bisa bicara. Yan Siang-hui tiba-tiba berteriak marah.

"Bagaimana kalau kami tidak mau pergi?"

Li Sun-Hoan tersenyum.

"Sebaiknya kalian mengikuti saranku dan segera pergi."

Kata Yan Siang-hui.

"Aku selalu ingin berduel denganmu. Orang lain boleh takut akan engkau, tapi aku tidak!"

Ia membuka mantelnya dan terlihatlah dua lajur mata tombak.

Li Sun-Hoan tidak meliriknya sedikitpun.

Yan Siang-hui berteriak dan kedua tangannya bersamaan menyambitkan sembilan mata tombak.

Semuanya jatuh ke tanah sebelum sampai ke tempat Li Sun-Hoan.

Ketika orang-orang melihat ke arah Yan Siang-hui, ia sudah rebah di tanah.

Di tenggorokannya telah tertancap sebilah pisau yang berkilauan.

Pisau Kilat si Li!

Tidak ada seorang pun yang melihat kapan pisau itu tertancap di lehernya, mungkin hanya sekejap setelah ia menyambitkan mata tombaknya.

Oleh sebab itu tenaganya pun tidak penuh waktu menyambit, sehingga mata tombak itu tidak sampai ke tempat Li Sun-Hoan.

Pisau yang luar biasa cepat!

Dalam kematiannya sekalipun, Yan Siang-hui tidak percaya ada pisau yang dapat bergerak secepat itu di dunia ini.

Si jubah hitam memandang sekilas ke arah tubuh Yan Siang-hui dan tersenyum.

"Sudah kubilang bahwa kau tidak sekelas dengan dia. Kau percaya sekarang?"

Ia mengangkat wajahnya dan memandang Li Sun-Hoan. Katanya sekata demi sekata.

"Pisau Kilat si Li tidak mengecewakanku."

Kata Li Sun-Hoan.

"Dan kau adalah…."

Si jubah hitam memotongnya cepat.

"Aku telah mendengar kemashuran nama Li Tamhoa sejak lama. Sungguh beruntung kita bisa bertemu hari ini…."

Setelah selesai bicara, ia langsung mencelat.

Terdengar bunyi mendesing dan pedang pun keluar dari sarungnya.

Pedang itu seluruhnya hitam legam, tidak berkilau.

Sewaktu keluar, Lintasan hitam berkelebat membawa tenaga yang besar.

Ko Hing-kong merinding sewaktu Lintasan pedang hitam itu lewat di depan matanya.

Lintasan hitam itu seolaholah mengiris bola matanya.

Ia menutup matanya dan rasa sakit pun lenyap.

Ia jatuh ke tanah.

Cukat Kang hanya melihat pedang hitam itu menyapu ke depan dan tiba-tiba darah sudah muncrat dari tubuh Ko Hing-kong.

Ko Hing-kong tidak sempat menangkis ataupun mengelak.

Pedang si jubah hitam berbelok dan menerjang ke arah sebaliknya.

Terdengar suara ‘Tang’, dan tongkat seberat 100 kati itu pun patah menjadi dua, namun pedang itu tidak berkurang kecepatannya sedikit pun!

Cukat Kang merasa merinding sedikit, namun hanya sekejap saja.

Sekejap berikutnya, ia sudah rebah di tanah.

Semua ini terjadi dalam waktu kurang dari satu menit.

Sebun Yu menatap ke langit dan mendesah.

"Sepertinya tidak ada lagi tempat bagiku dalam dunia persilatan…."

Ia pun menghilang ke balik atap.

Di saat itu, Siangkoan Hui pun segera melompat dengan ilmu meringankan tubuhnya.

Namun Lintasan pedang hitam itu sudah mengejarnya.

Siangkoan Hui segera mengeluarkan Cincin Baja Ibu-Anaknya dan melingkarkannya pada pedang itu dan menangkisnya.

Si jubah hitam berseru.

"Bagus!"

Di saat yang sama, pedangnya bergetar dan membelah cincin itu.

Ujung pedang itu berhenti tepat di depan leher Siangkoan Hui.

Siangkoan Hui memejamkan matanya, namun wajahnya tetap dingin dan tenang.

Seolah-olah hati pemuda ini terbuat dari batu.

Si jubah hitam menatapnya dan bertanya dingin.

"Apakah kau murid Siangkoan Kim-hong?"

Siangkoan Hui mengangguk. Si jubah hitam berkata.

"Pedangku tidak pernah membiarkan siapapun hidup, namun walaupun engkau masih sangat muda, engkau sudah berhasil menangkis seranganku satu kali. Sangat mengesankan."

Ditariknya kembali pedangnya dan ditepuknya bahu Siangkoan Hui.

"Kau boleh pergi."

Siangkoan Hui tidak bergerak. Ia menatap si jubah hitam dan berkata.

"Kau tidak membunuhku, namun aku harus memberi tahu engkau satu hal."

Sahut si jubah hitam.

"Katakan saja."

Kata Siangkoan Hui.

"Walaupun hari ini kau biarkan aku hidup, suatu hari nanti aku akan menuntut balas. Saat itu, aku tidak akan melepaskanmu!"

Si jubah hitam tertawa.

"Bagus. Memang pantas kau jadi putra Siangkoan Kim-hong."

Ia berhenti tertawa, matanya menatap lurus ke arah Siangkoan Hui.

"Jika suatu hari nanti aku bisa mati di tanganmu, aku tidak akan menyalahkanmu. Aku malah akan berbahagia, karena aku tidak salah menilaimu."

Wajah Siangkoan Hui tetap membeku.

"Kalau begitu, selamat tinggal."

Kata si jubah hitam.

"Aku akan menunggumu."

Tiba-tiba si jubah hitam berseru.

"Tunggu!"

Siangkoan Hui memperlambat langkahnya, kemudian berhenti. Kata si jubah hitam.

"Ingat ini baik-baik. Kulepaskan kau hari ini bukan karena kau adalah putra Siangkoan Kimhong, tapi karena kau adalah kau."

Siangkoan Hui tidak menjawab. Ia kembali melangkah dan perlahan-lahan hilang dari penglihatan. Si jubah hitam lalu menoleh pada Li Sun-Hoan.

"Aku gembira kita bisa bertemu hari ini. Li Sun-Hoan memandangi pedangnya, lalu bertanya.

"Koyang-thi-kiam (Pedang Besi Puncak Matahari)?"

Si jubah hitam menyahut.

"Aku memang Kwe ko-yang."

Li Sun-Hoan menarik nafas dalam-dalam. Katanya.

"Koyang-thi-kiam memang sehebat apa kata orang!"

Kwe ko-yang memandangi pedangnya.

"Namun bagaimana kalau dia melawan Pisau Kilat si Li?"

Li Sun-Hoan terkekeh.

"Sebenarnya aku lebih baik tidak tahu jawabannya."

"Kenapa?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Karena…..jika kita ingin tahu jawabannya, salah satu dari kita akan menyesal."

Kwe ko-yang mengangkat kepalanya. Sebersit rasa haru tampak di wajahnya. Namun ia berseru.

"Namun cepat atau lambat kita hatus tahu, bukan?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Aku berharap kita tahu selambatnya."

Kata Kwe ko-yang tegas.

"Aku lebih suka tahu secepatnya."

"O ya?"

Kata Kwe ko-yang.

"Sampai hari kita tahu siapa pemenangnya, aku tidak akan dapat tidur nyenyak."

Li Sun-Hoan berpikir sejenak, lalu ia bertanya.

"Kapan kau ingin menyelesaikannya?"

Jawab Kwe ko-yang.

"Hari ini!"

Tanya Li Sun-Hoan lagi.

"Di sini?"

Kwe ko-yang memandang sekitarnya lalu tertawa dingin.

"Dulunya ini rumahmu. Jika kita bertarung di sini, kau akan untung, sudah tahu keadaannya."

Li Sun-Hoan terkekeh.

"Betul juga. Ditilik dari kalimatmu yang terakhir, kau memang patut disebut jago silat kelas wahid."

Kata Kwe ko-yang.

"Tapi aku sudah menentukan waktunya. Sekarang kau yang menentukan tempatnya."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Tidak perlu sungkan."

Kwe ko-yang pun berpikir lama, lalu berkata.

"Bagus. Kalau begitu, ikut aku."

Kata Li Sun-Hoan.

"Silakan jalan dulu."

Li Sun-Hoan berjalan beberapa langkah, lalu tidak tahan untuk tidak menoleh ke belakang, ke arah Leng-hiangsiau-tiok.

Dilihatnya Liong Siau-in sedang menatap kepergiannya.

Matanya penuh dengan bisa.

Tidak ada sesuatu pun, bahkan jurus pedang Kwe koyang yang luar biasa, ataupun kematian Cukat Kang dan yang lain, yang bisa menggerakkan hati anak kecil ini.

Namun begitu pandangannya bertemu dengan pandangan Li Sun-Hoan, seketika ia tersenyum dan membungkuk.

"Paman Li. Apa kabarmu?"

Li Sun-Hoan mengeluh dalam hati sambil tersenyum.

"Halo."

Kata Liong Siau-in.

"Ibu memikirkan engkau setiap saat. Kau harus datang menjenguk kami lebih sering."

Li Sun-Hoan pura-pura terkekeh. Ia selalu mengalami kesulitan menjawab anak kecil ini. Liong Siau-in datang mendekat. Ia menarik jubahnya dan berbisik.

"Orang itu kelihatan seram. Paman, mungkin kau seharusnya tidak pergi dengan dia."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Kalau kau sudah dewasa nanti, kau akan mengerti bahwa kadang-kadang kau harus melakukan apa yang tidak ingin kau lakukan."

Kata Liong Siau-in dengan memelas.

"Tapi….Tapi…..bagaimana jika paman sampai mati? Siapa yang akan mengurus ibu dan aku?"

Li Sun-Hoan mematung.

Setelah sekian lama, diangkatnya kepalanya.

Ia melihat Lim Si-im berdiri di puncak anak tangga, mengawasi mereka berdua.

Ia terlihat kuatir, namun wajahnya juga membayangkan kegembiraan.

Li Sun-Hoan merasa ulu hatinya tertusuk.

Ia menunduk lagi.

Seru Liong Siau-in.

"Ibu, lihatlah. Paman Li baru saja datang, namun ia sudah akan pergi lagi."

Lim Si-im memaksakan seulas senyum.

"Paman Li ada urusan yang penting. Dia….Dia harus pergi."

Senyumnya sangat lemah, sangat terpaksa. Jika Li Sun-Hoan melihat senyum ini, hatinya pasti akan hancur lebur. Kata Liong Siau-in.

"Ibu, tidak adakah yang kau ingin bicarakan dengan Paman Li?"

Bibir Lim Si-im bergetar.

"Itu bisa menunggu sampai dia kembali."

Bibir Liong Siau-in berkerut. Ia mengejapkan matanya.

"Tapi…..kupikir setelah Paman Li pergi hari ini, ia tidak akan pernah kembali lagi."

Lim Si-im segera menyergah dengan setengah berbisik.

"Husss! Sana pergi ke atas supaya Paman Li bisa segera berangkat."

Liong Siau-in akhirnya mengangguk. Dilepaskannya pegangannya pada jubah Li Sun-Hoan dan berkata.

"Paman Li, kau boleh pergi sekarang. Jangan kuatir akan kami. Ibu dan aku sudah terbiasa hidup kesepian. Jangan kuatir."

Ia mengusap matanya, seakan-akan air mata akan segera keluar….

Kwe ko-yang sudah berada di ujung jembatan.

Ia hanya memandangi mereka.

Li Sun-Hoan akhirnya memutar badan.

Ia tidak mengangkat wajahnya, tidak mengatakan apa pun juga.

Dalam keadaan seperti ini, kata-kata tidak akan berarti.

Lagi pula, ia memang tidak tahu harus bicara apa.

Waktu seseorang terbawa perasaan, kadang-kadang ia malah jadi terlihat tidak berperasaan.

Di luar tembok, tanda-tanda musim gugur lebih nyata.

Kedua tangan Kwe ko-yang terbungkus lengan bajunya.

Ia berjalan perlahan di depan.

Li Sun-Hoan mengikutinya dari belakang.

Jalan itu panjang dan agak sempit.

Ujungnya tidak kelihatan.

Angin musim gugur bertiup, daun-daun sudah berubah warna.

Walaupun langkahnya perlahan, langkah Kwe ko-yang lebar-lebar.

Tatapan Li Sun-Hoan lekat pada langkahnya.

Tanah yang mereka injak agak empuk, sehingga tiap langkah meninggalkan jejak.

Jejak Kwe ko-yang sama jaraknya dan kedalamannya.

Walaupun ia seperti sedang berjalan santai, ia sebenarnya sedang mengumpulkan tenaga dalam yang khusus.

Seluruh tubuhnya berirama harmonis, sehingga menghasilkan langkah-langkah yang sama persis.

Ketika ia sudah mengumpulkan seluruh tenaganya, ketika tubuhnya sudah berada dalam harmoni yang sempurna, ia akan berhenti….

Itu adalah ujung jalan ini.

Bab 32.

Mengerti Musuh Terbesar Waktu sampai di sana, salah satu dari hidup mereka akan berakhir!

Li Sun-Hoan sungguh menyadarinya.

Kwe ko-yang memang musuh yang sangat berbahaya.

Sepanjang hidup Li Sun-Hoan, mungkin inilah pertama kalinya ia berhadapan dengan musuh yang setanding.

Banyak jago silat ‘mencari kekalahan’ karena mereka berpikir bahwa selama mereka bisa bertemu dengan lawan yang setanding, walaupun kalah, mereka akan merasa bahagia.

Namun Li Sun-Hoan sama sekali tidak berbahagia.

Hatinya berdebar-debar.

Ia tahu, dalam kondisinya saat ini, kemungkinan besar ia akan kalah.

Ketika jalan ini berakhir, kemungkinan demikian pula hidupnya!

Ini bisa jadi jalan menuju ke neraka baginya.

Ia tidak takut mati, namun bagaimana bisa dia mati sekarang?

Keadaan sekeliling semakin tandus, terlihat hutan di depan sana.

Daun-daun musim gugur berwarna merah bagai darah.

Mungkinkah ini ujung jalan itu?

Langkah Kwe ko-yang makin lama makin besar, dan jejak kakinya makin lama makin dangkal.

Ini menunjukkan bahwa tenaga dalam dan tenaga luarnya sudah hampir bersatu padu mencapai puncaknya.

Saat itu, konsentrasinya, tenaganya, tubuhnya, akan menjadi satu dengan pedangnya.

Saat itu, pedangnya bukan lagi hanya sebilah logam, tapi pedang itu sudah mempunyai jiwa.

Saat itu, kekuatan pedangnya akan menjadi tanpa batas dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalanginya!

Li Sun-Hoan tiba-tiba berhenti.

Ia tidak berbicara.

Ia tidak bersuara sedikit pun.

Namun Kwe ko-yang tahu.

Ia tidak menoleh, hanya bertanya singkat.

"Di sini?"

Li Sun-Hoan diam saja sampai cukup lama. Lalu katanya.

"Hari ini….aku tidak dapat melawanmu."

Kwe ko-yang memutar badannya, dan matanya menusuk tajam menatap Li Sun-Hoan. Ia berteriak.

"Apa katamu?"

Li Sun-Hoan menunduk.

Kepalanya terasa berdenyutdenyut.

Ia tahu ini adalah tindakan pengecut, sesuatu yang dalam mimpi pun tak pernah dilakukannya.

Tapi saat ini, itulah yang harus dilakukannya.

Tanya Kwe ko-yang.

"Katamu, hari ini kau tak dapat melawan aku?"

Li Sun-Hoan hanya bisa mengangguk. Tanya Kwe ko-yang.

"Mengapa?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Karena aku mengaku kalah."

Kwe ko-yang menatapnya dengan pandangan tidak percaya. Seakan-akan tidak dikenaLimya lagi orang ini. Sampai sekian lama, akhirnya Kwe ko-yang mengambil nafas panjang.

"Li Sun-Hoan, Li Sun-Hoan, kau betulbetul pahlawan sejati!"

Li Sun-Hoan terkekeh.

"Pahlawan? Orang seperti aku disebut pahlawan?"

Kwe ko-yang menggelengkan kepalanya dan mendesah.

"Mungkin di seluruh dunia ini, hanya kaulah yang dapat disebut pahlawan sejati."

Li Sun-Hoan diam saja dan Kwe ko-yang melanjutkan.

"Kau mengaku kalah. Aku tahu betapa sulitnya mengatakan hal itu. Bagiku, mungkin lebih baik mati daripada harus mengatakannya."

Ia tersenyum, sambungnya.

"Sebetulnya, mati itu sangat mudah. Namun untuk mengakui kekalahan demi membantu orang lain, itu adalah kakrakter seorang pahlawan, seorang laki-laki sejati!"

Kata Li Sun-Hoan.

"Kau…."

Ia merasakan kehangatan dalam hatinya, dan ia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Kata Kwe ko-yang.

"Aku mengerti mengapa kau tidak dapat melawanku. Kau tidak boleh mati sekarang, karena masih ada orang yang hidupnya bergantung padamu."

Li Sun-Hoan masih tidak bisa bicara, namun air mata bahagia hampir menetes dari matanya.

Kadang kala, sahabat karibmulah yang akan jadi musuh terbesarmu.

Namun kadang kala, musuh yang paling kau takutilah yang paling mengerti tentang dirimu.

Karena hanya lawan yang sepadan, yang pantas menjadi sahabatmu.

Karena hanya lawan yang sepadan, yang sungguhsungguh mengerti apa yang kau rasakan.

Li Sun-Hoan tidak tahu apakah ia harus merasa gembira, sedih, atau berterima kasih.

Kwe ko-yang kemudian berkata.

"Tapi hari ini kita tetap harus bertempur!"

Li Sun-Hoan terperanjat.

"Mengapa?"

Kwe ko-yang tersenyum.

"Ada berapa banyak Li Sun-Hoan di dunia ini? Jika hari ini kita tidak bertempur, kapan lagi aku akan bertemu dengan lawan yang sepadan?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Waktu aku sudah menyelesaikan tanggung jawabku, aku akan melawanmu kapan pun kau inginkan."

Kwe ko-yang menggelengkan kepalanya.

"Sayangnya, jika saat itu tiba, mungkin kita tak akan bisa bertempur lagi."

Tanya Li Sun-Hoan.

"Mengapa?"

Mata Kwe ko-yang melayang ke kejauhan, lalu dengan perlahan dan pasti ia berkata.

"Saat itu, mungkin kita sudah menjadi sahabat."

Li Sun-Hoan berpikir cukup lama.

"Kau lebih suka jadi musuhku daripada jadi sahabatku?"

Wajah Kwe ko-yang menegang, lalu ia berseru.

"Aku telah mendedikasikan seluruh hidupku untuk pedangku. Kapan aku punya waktu untuk berteman? Lagi pula…."

Suaranya menjadi lembut saat ia meneruskan kalimatnya.

"Mudah sekali untuk menemukan sahabat. Namun hampir tidak mungkin untuk bertemu seorang lawan yang tenggang rasa dan penuh perhatian." ‘Tenggang rasa dan penuh perhatian’ adalah kata-kata yang biasa digunakan untuk mendeskripsikan seorang sahabat. Kwe ko-yang menggunakan kata-kata ini untuk menggambarkan seorang lawan. Sungguh janggal. Namun Li Sun-Hoan mengerti. Kata Kwe ko-yang.

"Kau bukanlah satu-satunya orang di dunia ini yang merupakan lawan setandingku dalam hal ilmu silat. Namun walaupun ada seseorang yang sepuluh kali lebih hebat daripada aku, aku tetap tidak akan terlalu menghargai dia dan aku rasa aku tidak akan mungkin merasa bahagia mati di tangannya."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Kau memang benar. Tidak mudah bertemu dengan lawan yang tenggang rasa dan penuh perhatian."

Kata Kwe ko-yang.

"Oleh sebab itu kita harus bertempur hari ini. Walaupun aku mati di tanganmu, sedikit pun aku tidak akan menyesal."

Sanggah Li Sun-Hoan.

"Tapi aku…."

Kwe ko-yang langsung memotongnya.

"Aku mengerti perasaanmu. Jika kau mati di tanganku hari ini, aku akan menyelesaikan kewajibanmu. Aku akan menjaga siapa saja yang ingin kaujaga."

Li Sun-Hoan memandang ke tanah. Lalu berkata.

"Kalau begitu, aku bisa mati dengan tenang…. Terima kasih."

Ia hampir tidak mengatakan ‘terima kasih’ dalam hidupnya. Kata ‘terima kasih’ ini diucapkannya dari hatinya yang terdalam. Kata Kwe ko-yang.

"Terima kasih kau bersedia berduel denganku. Mari mulai!"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Mari mulai!"

Jika sahabatmu memperhatikan engkau, itu hal yang biasa.

Namun jika musuhmu memperhatikan engkau, rasanya lebih dalam, lebih mengharukan.

Sayangnya, perasaan ini takkan mungkin dirasakan oleh orang lain!

Angin bertiup membawa daun-daun kering beterbangan ke antara mereka.

Suasana penuh dengan hawa pembunuhan.

Kwe ko-yang perlahan-lahan menghunus pedangnya dan memegangnya di depan dadanya.

Pandangannya tidak pernah lepas dari tangan Li Sun-Hoan.

Tangan yang sungguh menakutkan.

Li Sun-Hoan seakan-akan telah berubah menjadi orang lain.

Rambutnya masih acak-acakan, jubahnya masih kusut, namun ia tidak lagi tampak lemah.

Wajahnya telah berubah sama sekali!

Dua tahun terakhir ini, hidup Li Sun-Hoan bagaikan sebilah pedang dalam sarungnya.

Menunggu waktunya, belum menunjukkan potensi yang sebenarnya, karakter yang sesungguhnya.

Namun saat ini, pedang itu telah keluar!

Diangkatnya tangannya.

Sebilah pisau telah tergenggam di dalamnya.

Sebilah pisau yang dapat menembus tenggorokan, sebilah pisau yang tidak pernah luput, Pisau Kilat si Li!

Pedang Besi Kwe ko-yang mengikuti gerakan angin.

Selintas cahaya hitam melaju cepat ke arah leher Li Sun-Hoan.

Gulungan angin telah mendahului pedang itu dan menghancurkan segala sesuatu yang merintangi jalannya.

Li Sun-Hoan melangkah ke belakang dengan ringan.

Dengan satu hentakan saja, tubuhnya telah bergeser sepuluh meter lebih.

Sebatang pohon kini tepat berada di belakang punggungnya.

Pedang Kwe ko-yang pun berganti arah mengikuti langkah Li Sun-Hoan dalam jarak dekat.

Li Sun-Hoan sudah tidak bisa mundur lagi.

Namun kini tubuhnya mencelat naik ke atas pohon.

Kwe ko-yang ikut mengejar naik dan pedangnya terus mengikuti Li Sun-Hoan, bercahaya bagai pelangi.

Tubuh dan pedang telah menjadi satu.

Gulungan angin pedang itu membabat habis seluruh daun di pohon itu.

Pemandangan saat itu sungguh menakjubkan!

Li Sun-Hoan terus melayang di atas gulungan angin pedang itu, mengikuti daun-daun merah yang berhamburan dan kemudian perlahan-lahan melayang ke bawah.

Kwe ko-yang bersalto di udara dan menggerakkan pedangnya sedemikian sampai terlihat tabir hitam putih yang memburu ke arah Li Sun-Hoan.

Kekuatan serangan ini tidak diragukan lagi.

Bahkan dalam jarak beberapa meter di depannya, Li Sun-Hoan dapat merasakan hebatnya tekanan gulungan angin pedang itu.

Ke mana pun ia menghindar, ia akan terhempas juga.

Lalu terdengar bunyi ‘Tring’, dan terlihat percikan bunga api.

Pisau Li Sun-Hoan tepat mengenai ujung pedang itu.

Gulungan angin pedang itu langsung lenyap, dan suasana tiba-tiba hening.

Kwe ko-yang berdiri mematung di situ, memegang pedangnya.

Li Sun-Hoan pun masih memegang pisaunya.

Hanya kini, ujungnya sudah gompal.

Ia menatap Kwe ko-yang tanpa suara, Kwe ko-yang menatapnya tanpa suara.

Wajah keduanya tidak berekspresi apa-apa.

Mereka berdua tahu, pisau Li Sun-Hoan kini tak dapat meninggalkan tangannya lagi.

Pisau Kilat si Li, cepatnya bagai kilat.

Namun setelah digunakan untuk menghancurkan gulungan angin pedang tadi, ujungnya sudah patah, sehingga kalau disambitkan, kecepatannya akan jauh berkurang.

Walaupun pisau itu lepas dari tangannya, pisau itu tidak akan membahayakan siapa pun lagi!

Pisau yang tidak pernah luput, kini harus menelan kekalahannya.

Li Sun-Hoan menurunkan tangannya.

Seiring dengan gugurnya daun yang terakhir ke tanah, suasana hutan pun kembali sunyi senyap.

Sesunyi kematian itu sendiri.

Walaupun wajahnya tetap kosong, mata Kwe ko-yang berbinar sedikit, lalu katanya.

"Aku sudah kalah!"

Kata Li Sun-Hoan.

"Siapa bilang kau yang kalah?"

Sahut Kwe ko-yang.

"Aku yang bilang."

Ia terkekeh. Sambungnya.

"Sebelum ini, kupikir aku lebih baik mati daripada mengatakannya. Namun kini, aku telah mengatakannya, dan aku merasa lega, sangat lega…."

Ia menengadah ke langit dan tertawa terbahak-bahak.

Sambil masih tertawa, ia membalikkan badannya dan pergi berjalan ke luar hutan.

Li Sun-Hoan memandangi punggungnya sampai hilang dari pandangan, lalu mulai terbatuk-batuk.

Saat itu, seseorang tiba-tiba muncul dan bertepuk tangan.

"Sungguh hebat. Luar biasa. Sangat luar biasa…."

Suara itu bening dan renyah.

Li Sun-Hoan mengangkat kepalanya dan ternyata suara itu adalah milik cucu perempuan si orang tua tukang cerita.

Matanya yang besar dan jernih penuh dengan senyum yang lugu.

Katanya.

"Setelah menyaksikan pertempuran hari ini, bahkan aku pun dapat mati dengan tenang."

Mungkin perasaan Li Sun-Hoan masih begitu tegang, sehingga ia tidak menjawab apa-apa. Si gadis berkuncir pun berkata.

"Pada suatu hari, Tuan Lan Da dan Xiao Sun berduel di punak Gunung Tai. Senjata Tuan Lan Da adalah Palu Besi yang beratnya 50 kg, sedangkan Xiao Sun hanya menggunakan sabuk sutra. Ia menggunakan kelembutan untuk mengatasi kekerasan. Mereka bertarung sepanjang malam. Bahkan ada yang bilang mereka mengubah langit malam menjadi siang."

Si gadis terkekeh dan bertanya.

"Menurutmu, pertarungan itu seru atau tidak?"

Li Sun-Hoan tersenyum.

"Dengan kehebatan nona muda bercerita, aku merasa seolah-olah sedang berada di puncak Gunung Tai, menyaksikan secara langsung duel antara Xiao Sun dan Tuan Lan Da."

Si gadis berkuncir komat-kamit.

"Aku tak menyangka bahwa mulutmu lebih hebat daripada pisaumu."

Kata Li Sun-Hoan.

"Masa iya?"

Sahut si gadis berkuncir.

"Pisaumu dapat mengambil nyawa orang, namun kata-katamu dapat mengambil hati seorang wanita. Bukankah lebih sulit mendapatkan hati seorang wanita daripada nyawa manusia?"

Matanya yang besar menatap Li Sun-Hoan. Li Sun-Hoan mau tidak mau merasa tertarik padanya. Ia tidak pernah menyangka bahwa gadis semuda ini bisa begitu memikat. Tapi si gadis kembali bertanya.

"Jadi, menurutmu, apakah pertarungan tadi menarik?"

Li Sun-Hoan tidak lagi berani menjawab panjang lebar. Ia hanya tersenyum dan mengangguk.

"Sepertinya cukup menarik."

Sahut si gadis berkuncir.

"Walaupun pertarungan itu sangat terkenal dan telah menjadi legenda, pertarungan itu tidak ada artinya dibandingkan dengan pertarungan yang baru saja berakhir."

Li Sun-Hoan terkekeh.

"Walaupun aku bukan orang yang suka menyombongkan diri, aku pun bukan orang yang rendah hati. Dalam hal ini, nona terlalu melebihlebihkan."

Si gadis berkuncir menjawab dengan tegas.

"Aku hanya menyatakan fakta. Kau punya tiga kesempatan untuk membunuhnya, namun dalam tiga kesempatan itu kau tidak melakukannya. Akhirnya, kau pun kehilangan nafsu membunuh, dan juga ujung pisaumu. Pada saat itu, Kwe ko-yang dapat membunuhmu, namun ia malah mengaku kalah…."

Ia mendesah dan melanjutkan.

"Orang-orang seperti kalianlah yang disebut pria sejati. Jika kau membunuhnya atau ia membunuhmu, sehebat apapun ilmu silat kalian, sedikit pun aku tidak akan terkesan."

Kata Li Sun-Hoan.

"Kau benar. Kwe ko-yang memang pahlawan sejati."

"Dan kau?"

Li Sun-Hoan menggelengkan kepalanya.

"Aku? Aku bukan apa-apa."

Si gadi berkuncir berkata.

"Kalau begitu, aku mau bertanya. Jurus apa yang pertama kali dilancarkannya?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Hong-kui-liu-in,Angin Berhembus Memutar Awan."

Si gadis berkuncir bertanya lagi.

"Lalu jurus keduanya?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Liu-sing-tui-goat, Bintang Jatuh Mengikuti Bulan."

Dan si gadis pun bertanya lagi.

"Sewaktu berubah dari jurus ‘Hong-kui-liu-in’ ke jurus ‘Liu-sing-tui-goat’, ia melakukannya terlalu cepat, sehingga dirinya terbuka untuk serangan. Jika pada saat itu, kau sambitkan pisaumu bukankah kau dapat membunuhnya?"

Li Sun-Hoan tidak bisa berkutik. Bab 33. Percakapan yang Mengejutkan Kata si gadis berkuncir.

"Itu adalah kesempatan pertama yang tidak kau pergunakan untuk membunuhnya. Kau ingin aku melanjutkan lagi?"

Li Sun-Hoan hanya bisa terkekeh."Tidak perlulah."

Si gadis berkuncir pun berkata lagi.

"Orang-orang bilang kau adalah pria sejati, tapi menurutku kau sebenarnya agak feminin."

Seumur hidupnya, Li Sun-Hoan telah mengalami berbagai macam hinaan.

Namun ini adalah pertama kalinya ia dituduh sebagai seorang ‘feminin’.

Ia tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengarnya.

Si gadis berkuncir masih menatapnya dengan matanya yang besar dan jernih.

"Jika kau tidak tahu harus bilang apa, mengapa kau tidak mulai batuk-batuk?"

Li Sun-Hoan mendesah.

"Mata Nona Muda sangat tajam. Rasanya kau adalah seorang penting. Maafkan kalau aku tidak mengenalimu."

Si gadis segera menyergah.

"Tidak usah memuji-muji. Aku bukan siapa-siapa."

Kini Li Sun-Hoan benar-benar mulai terbatuk-batuk. Si gadis pun berkata dengan manis.

"Aku tahu kau tidak pernah menyombongkan diri dan suka sekali memuji orang lain. Ini adalah sifatmu yang terbaik, tapi juga yang terburuk. Seseorang tidak boleh terlalu merendahkan dirinya."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Nona Muda…."

Si gadis langsung memotongnya cepat.

"Sheku bukan ‘Nona’ dan Cayhe bukan ‘Muda’. Mengapa kau terusterusan memanggilku ‘Nona Muda’?"

Li Sun-Hoan tersenyum. Kini ia merasa, gadis ini memang sungguh menarik. Si gadis berkuncir menambahkan.

"Sheku adalah Sun, dan nama lengkapku Sun Sio-ang. ‘Ang’ yang berarti warna merah."

Kata Li Sun-Hoan.

"Cayhe Li…."

Si gadis kembali memotongnya.

"Aku sudah tahu namamu sejak lama. Sekarang aku menantangmu berduel!"

Li Sun-Hoan terperanjat, tanyanya.

"Duel apa?"

Sun Sio-ang pun cekikikan.

"Yang pasti bukan duel silat.Walaupun aku berlatih seratus tahun lagi, aku tidak akan mungkin mengalahkanmu. Aku ingin bertanding minum denganmu. Waktu aku mendengar seseorang lebih jago minum daripada aku, aku jadi jengkel."

Li Sun-Hoan tersenyum.

"Aku tahu semua peminum berpikiran seperti ini. Tak kusangka kau pun begitu."

Kata Sun Sio-ang.

"Tapi jika kita bertanding sekarang, aku sudah berada di atas angin."

"Kenapa?"

Sahut Sun Sio-ang dengan serius.

"Setelah pertempuran tadi, tubuhmu sudah lelah dan toleransimu terhadap alkohol sudah menurun. Pertandingan minum sama seperti pertandingan silat. Kau harus berada di tempat yang tepat, waktu yang tepat, dan kondisi yang prima untuk bisa menang. Jika salah satu dari faktor ini hilang, kesempatanmu akan berkurang drastis."

Kata Li Sun-Hoan.

"Dari jawabanmu ini, aku tahu pasti bahwa kau memang jago minum. Kalau bisa berduel dengan jago minum seperti itu, mabuk berat pun tidak jadi masalah."

Mata Sun Sio-ang yang besar dan jeli itu pun makin bersinar, menyiratkan kegembiran, menggambarkan kekaguman. Namun wajahnya masih tetap serius.

"Kalau begitu…. karena aku sudah mendapatkan keuntungan dari segi waktu, sekarang kau yang pilih tempatnya."

Li Sun-Hoan tidak dapat menahan tawanya.

"Kalau begitu, mari ikut aku."

Sahut Sun Sio-ang.

"Silakan duluan."

Beberapa jam sebelum magrib adalah waktu yang tersepi bagi warung arak.

Si Bungkuk Sun sedang duduk di depan pintu memandangi matahari yang mulai memerah.

Saat itu, datanglah Li Sun-Hoan bersama Sun Sio-ang.

Si Bungkuk Sun tak dapat mempercayai matanya.

Bagaimana kedua orang ini bisa datang bersama?

Memang aneh bahwa kedua orang ini bisa menjadi sahabat.

Li Sun-Hoan tidak melihat perubahan wajah Si Bungkuk Sun, namun ia memang menganggap keadaan ini sungguh lucu.

Gadis kecil ini tidak pernah berhenti bicara.

Sekali mulutnya terbuka, ia akan berkicau tak henti-hentinya.

Sampai-sampai sulit untuk membalas percakapannya.

Li Sun-Hoan paling sebal dengan dua hal dalam hidup ini.

Yang pertama adalah waktu ia tahu bahwa ternyata orang yang duduk makan bersamanya, satu pun tidak ada yang minum arak.

Yang kedua adalah waktu bertemu dengan seorang wanita yang cerewet.

Ia merasa, hal yang kedua itu sepuluh kali lebih menyebalkan daripada yang pertama.

Tapi anehnya, saat menghadapi gadis ini, ia tidak merasa sakit kepala sama sekali mendengar ocehannya, bahkan merasa lebih segar.

Jika seorang wanita itu pandai, cantik, dan jago minum, walaupun ia cerewet, seorang laki-laki tentu akan suka padanya…..tapi kalau tidak, seorang wanita lebih baik bicara seperlunya saja.

Selama perjalanan, Li Sun-Hoan mendengarkan gadis ini berbicara mengenai macam-macam hal.

Orang tua itu di panggil Si Rambut Putih Sun.

Ia adalah kakek Sun Sioang.

Orang tua gadis ini sudah meninggal dan ia sudah bersama dengan kakeknya sejak kecil.

Mereka hampirhampir tidak pernah berpisah.

Oleh sebab itu ia tidak bisa tidak bertanya.

"Lalu mengapa sekarang kakekmu tidak bersama dengan engkau?"

Sun Sio-ang menjawab pendek.

"Ia sedang ke luar kota mengantarkan seseorang."

Li Sun-Hoan ingin mendesak.

"Mengapa ia harus mengantar orang sampai ke luar kota?"

"Siapa yang diantarkannya?"

"Mengapa kau tidak ikut dengannya?"

Namun Li Sun-Hoan tidak pernah banyak bicara.

Lagi pula, dengan Sun Sio-ang di depannya, ia tidak akan punya kesempatan bicara.

Seakan-akan, ia memang tidak ingin membiarkan Li Sun-Hoan menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu.

Ia malah balas memberondongnya dengan segudang pertanyaan.

"Bagaimana kau mempelajari ilmu pisaumu yang legendaris itu?"

"Kudengar kau pernah punya sahabat bernama A Fei. Kecepatannya bisa dibilang setanding denganmu. Tahukah kau dimana ia sekarang berada?"

"Kau menghilang selama dua tahun. Tidak seorang pun tahu bahwa kau bersembunyi di penginapan milik Si Bungkuk Sun. Mengapa kau bersembunyi di situ?"

"Sekarang, setelah semua orang tahu di mana kau berada, apa yang akan kau lakukan?"

"Siapakah sebenarnya Bwe-hoa-cat ?"

"Jika ia sudah tertangkap, apakah kau yang menangkapnya?"

Li Sun-Hoan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Sebagian karena ia tidak ingin menjawabnya, sebagian lagi karena ia tidak tahu jawabannya.

Ia tahu bahwa Lim Sian-ji adalah Bwe-hoa-cat .

Ia tahu bahwa A Fei tidak akan tega membunuh Lim Sian-ji.

Ia tahu bahwa A Fei telah membawa pergi Lim Sian-ji.

Tapi ke mana?

Apakah kini Lim Sian-ji telah berubah menjadi wanita baik-baik?

Apakah Lim Sian-ji mencintai A Fei?

Waktu ia memikirkan ini, ia hanya dapat menghela nafas.

Ia pun tidak tahu apa yang akan dilakukannya di kemudian hari.

Mata Sun Sio-ang tidak pernah lepas dari dirinya.

Tatapan matanya bukan saja penuh dengan kekaguman, namun juga penuh pengertian.

Li Sun-Hoan mengangkat kepalanya dan menyambut tatapan matanya.

Hatinya jadi berdebar-debar.

Sun Sio-ang berkata.

"Kita mulai bertanding sekarang?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Mari."

Mata Sun Sio-ang berputar.

"Bagus. Mari kita bicarakan cara pertandingannya."

Li Sun-Hoan bertanya.

"Memang ada berapa cara bertanding minum arak?"

Sahut Sun Sio-ang.

"Tentu saja ada banyak cara. Masa kau tidak tahu?"

Kata Li Sun-Hoan.

"Aku cuma tahu satu cara, yaitu tiaptiap orang harus minum sebanyak-banyaknya. Siapa yang muntah duluan, dia yang kalah."

Sun Sio-ang terkekeh dan menggelengkan kepalanya.

"Kelihatannya ilmu minummu masih agak rendah."

"O ya?"

Kata Sun Sio-ang.

"Kalau bicara soal bertanding minum arak, secara garis besar ada dua cara. Satu. cara brutal, dua. cara terpelajar."

Tanya Li Sun-Hoan.

"Bagaimana itu cara brutal, dan bagaimana cara terpelajar?"

Sahut Sun Sio-ang.

"Cara yang baru saja kau sebutkan itu adalah cara brutal. Hanya asal masuk saja."

"Asal masuk?"

Jawab Sun Sio-ang.

"Tentu saja. Bisa disebut apa lagi, jika orang hanya memasukkan arak sebanyak-banyaknya ke dalam mulutnya."

Kata Li Sun-Hoan.

"Apa lagi yang bisa dilakukan? Apa harus dimasukkan lewat telinga?"

Sun Sio-ang tersenyum manis.

"Jika kau bisa minum lewat telingamu, aku mengaku kalah sekarang juga. Sudah pasti aku tidak bisa."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Terlalu lama kalau minum lewat telinga. Aku tidak sabar."

Kata Sun Sio-ang.

"Aku kan hanya seorang gadis kecil, bagaimana mungkin aku bertanding dengan cara brutal itu? Akan tetapi, cara terpelajar pun ada beberapa jenis."

"Bagaimana?"

Sahut Sun Sio-ang.

"Kau bisa menebak angka, bertepuk tangan, tapi cara-cara itu terlalu biasa. Bagaimana mungkin orang seperti kita bertanding dengan cara itu?"

Tanya Li Sun-Hoan.

"Lalu bagaimana?"

Jawab Sun Sio-ang.

"Ada satu cara lagi."

Li Sun-Hoan tidak bisa menahan tawa. Sun Sio-ang pun tertawa.

"Akan tetapi, cara terakhir ini bukan saja sangat unik, tapi juga sangat menarik. Walaupun ada seribu satu cara, kita akan tetap menggunakan cara ini."

Kata Li Sun-Hoan.

"Arak sudah tersedia di meja, dan aku sudah tidak tahan ingin minum. Jadi, ayo pilih cara yang kau inginkan."

Kata Sun Sio-ang.

"Dengarkan baik-baik. Cara ini sebenarnya cukup mudah."

Li Sun-Hoan hanya dapat bersabar dan mendengarkan. Lanjut Sun Sio-ang.

"Aku akan bertanya. Jika kau dapat menjawab, kau menang dan aku harus minum secawan."

Kata Li Sun-Hoan.

"Kalau aku tidak bisa menjawab? Aku kalah?"

Jawab Sun Sio-ang.

"Belum tentu. Tapi jika aku dapat menjawab pertanyaanku sendiri, barulah kau kalah."

Tanya Li Sun-Hoan.

"Kalau aku kalah, lalu aku boleh bertanya, bukan?"

Sun Sio-ang menggelengkan kepalanya.

"Tidak begitu. Yang menang boleh terus bertanya sampai dia kalah."

Kata Li Sun-Hoan.

"Jika kau bertanya pertanyaan pribadi yang hanya diketahui olehmu, kau pasti akan menang terus, bukan?"

Sun Sio-ang tersenyum.

"Sudah pasti kita tidak boleh bertanya pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Jika aku bertanya siapa nama ibuku, berapakah kakak adikku, berapakah umurku….pasti kau tidak tahu."

Tanya Li Sun-Hoan.

"Jadi pertanyaan seperti apa yang akan kau tanyakan?"

Sahut Sun Sio-ang.

"Kau akan tahu segera setelah kita mulai."

Li Sun-Hoan terkekeh.

"Baiklah. Aku sudah siap untuk kalah."

Sung Sio-ang tersenyum dan berkata.

"Siap? Ini pertanyaan pertama."

Senyumnya menghilang, matanya menatap tajam pada Li Sun-Hoan.

"Tahukah kau siapa penulis surat itu?"

Pertanyaan yang sungguh mengejutkan! Mata Li Sun-Hoan berbinar. Dengan terbata-bata ia menjawab.

"Aku tidak tahu…. Kau tahu?"

Sun Sio-ang menjawab dengan kalem.

"Kalau aku tidak tahu, buat apa aku bertanya? Orang itu adalah…."

Sun Sio-ang sengaja mengulur waktu. Lalu disambungnya.

"….Lim Sian-ji!"

Jawabannya ternyata lebih mengejutkan lagi! Li Sun-Hoan termasuk orang yang tenang, namun ia merinding mendengar jawaban itu.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

Kata Sun Sio-ang.

"Ini bukan giliranmu bertanya. Ayo minum secawan sebelum kita lanjutkan lagi."

Segera Li Sun-Hoan menghabiskan cawan arak yang pertama. Tanya Sun Sio-ang yang kedua kali.

"Tahukah kau bagaimana keadaan A Fei?"

Li Sun-Hoan harus menjawab.

"Tidak."

Sahut Sun Sio-ang.

"Walaupun ia tinggal bersama dengan Lim Sian-ji, ia tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan Lim Sian-ji."

Segera Li Sun-Hoan bertanya.

"Di mana dia sekarang?"

Sun Sio-ang menggelengkan kepalanya.

"Mengapa kau begitu tidak sabar. Tunggu sampai kau menang, baru bertanya."

Li Sun-Hoan hanya dapat menghabiskan cawannya yang kedua.

Cawan ini lebih besar daripada mangkuk sup, namun ia menghabiskannya lebih cepat daripada biasanya.

Karena ia ingin sekali mendengar pertanyaan yang ketiga.

Tanya Sun Sio-ang untuk yang ketiga kali.

"Tahukah kau mengapa Lim Sian-ji menulis surat itu?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Tidak."

Walaupun sebenarnya ia telah menduga-duga, ia tidak tahu pasti. Kata Sun Sio-ang.

"Karena ia tahu bahwa jika ada orang yang akan mengganggu Lim Si-im, kau pasti akan muncul. Ia ingin kau muncul, sehingga ia bisa mengirim orang untuk membunuhmu. Kau adalah musuh terbesarnya di dunia ini. Ia takut setengah mati terhadapmu. Selama kau masih hidup, ia tidak akan mungkin hidup bebas."

Li Sun-Hoan mendesah. Ia minum cawan yang ketiga. Sun Sio-ang bertanya.

"Tahukah kau siapa orang pertama yang menginginkan kematianmu?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Aku sudah terlalu banyak membunuh dalam hidup ini. Bagaimana mungkin aku tahu yang mana yang menginginkan nyawaku?"

Sahut Sun Sio-ang.

"Hanya dua atau tiga orang dalam dunia ini yang sanggup membunuhmu. Yang pertama adalah Siangkoan Kim-hong!"

Li Sun-Hoan tidak kaget mendengarnya. Ia minum cawan yang keempat, namun tidak tahan untuk tidak bertanya.

"Apakah ia ada di sini sekarang?"

Bab 34. Berita yang Mengejutkan Sun Sio-ang menggelengkan kepalanya dan tersenyum.

"Lihat, kau terus saja berbuat kesalahan. Tunggu sampai giliranmu."

Lalu ia menambahkan.

"Kau pasti tahu perangai Siangkoan Kim-hong. Harta karun biasa tidak akan menggerakkan hatinya. Tahukah kau apa yang diinginkannya?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Tidak."

Kata Sun Sio-ang.

"Karena ia mendengar bahwa dulu ayahnya bersahabat akrab dengan pesilat nomor satu dunia, Sim Long." [Sim Long adalah nama karakter utama dalam novel Gu Liong yang berjudul "Pendekar Baja"] Kata Li Sun-Hoan.

"Sim Long memang sahabat karib ayahku. Namun ia sudah lama mengundurkan diri dan hidup di pulau terpencil. Lalu apa hubungannya dengan peristiwa ini?"

Sun Sio-ang tersenyum.

"Kelihatannya, kalau kau tidak diberi kesempatan bertanya, kau bisa jadi gila. Baiklah, tapi kau harus minum tiga cawan terlebih dulu."

Sepertinya, ia memang ingin Li Sun-Hoan jadi mabuk.

Hanya saja, pertanyaannya sungguh mengejutkan dan jawabannya lebih mengejutkan lagi.

Walaupun Li Sun-Hoan tahu apa yang diinginkannya, ia terus saja minum.

Lalu Sun Sio-ang pun melanjutkan.

"Karena, ia mendengar bahwa sebelum Sim Long mengundurkan diri, ia memberikan dua kitab pusaka silat kepada ayahmu. Dengan belajar dari salah satu kitab itu saja, ilmu pisaumu sudah tidak ada tandingannya di dunia persilatan. Jika seseorang bisa belajar dari keduanya, bayangkan betapa hebat jadinya orang itu! Jadi bahkan Siangkoan Kim-hong sekalipun tak bisa melewatkannya."

Li Sun-Hoan terdiam sejenak sebelum menjawab.

"Jika ini memang benar, mengapa aku sendiri tidak tahu?"

Kata Sun Sio-ang.

"Ini hanyalah kabar burung yang disiarkan oleh Lim Sian-ji. Sim Long kan orang yang sangat pandai. Mengapa ia sengaja meninggalkan kitab pusaka itu untuk dijadikan rebutan orang banyak?"

Ia tersenyum dan melanjutkan.

"Sekalipun ia meninggalkan kitab pusaka, ia tidak akan meninggalkannya di rumahmu. Mengapa ia membawa kesulitan bagi sahabatnya?"

Li Sun-Hoan mendesah.

"Betul juga."

Sun Sio-ang mengejapkan matanya, lalu bertanya.

"Aku ingin memberi kesempatan padamu untuk mengajukan pertanyaan. Oleh sebab ini, kau pasti bisa menjawab pertanyaanku yang satu ini."

Matanya memandang Li Sun-Hoan dengan polos.

"Apakah ia masih satu-satunya wanita dalam hatimu? Apakah kau masih rela mati baginya? Aku tahu kau pasti paham siapakah ‘ia’ yang kumaksudkan."

Li Sun-Hoan terdiam.

Ia tidak pernah menyangka Sun Sio-ang akan mengajukan pertanyaan ini.

Siapapun yang menanyakannya, ia tidak akan menjawabnya.

Ini adalah rahasianya yang paling pahit, sakit hatinya yang paling dalam.

Mendengar pertanyaan ini sama dengan ditusuk dengan sembilu.

Ia tidak mengerti mengapa Sun Sio-ang harus menanyakannya.

Gadis-gadis muda memang selalu ingin tahu.

Apakah itu alasannya?

Ia pasti tidak ingin menyakiti Li Sun-Hoan.

Jika itu maksudnya, ia tidak mungkin memberitahukan padanya semua rahasia yang barusan diceritakannya itu.

Tapi siapakah sebenarnya dia?

Bagaimana ia bisa tahu begitu banyak?

Kakeknya sudah pasti orang yang sangat berpengaruh.

Si Rambut Putih Sun, pasti bukan namanya yang sesungguhnya.

Siapakah dia sebenarnya?

Siapa yang ditemuinya di luar kota?

Apakah Siangkoan Kim-hong?

Di manakah A Fei dan Lim Sian-ji bersembunyi?

Li Sun-Hoan rela berbuat apa saja untuk mengetahui jawaban dari rahasia-rahasia ini!

Li Sun-Hoan duduk di situ sampai sekian lama, lalu menghela nagas panjang.

"Ketika sepertinya tidak ada lagi cinta, ternyata cinta masih ada. Ketika cinta menjadi dalam, ternyata ia berubah dangkal…. Kejam? Atau sentimental? Siapa yang dapat menghakimi? Siapa yang dapat…."

Suaranya makin lama makin halus, sampai tidak terdengar lagi. Sun Sio-ang mendesah dan berkata dengan lembut.

"Mengapa kau lakukan ini pada dirimu sendiri?...Mengapa?"

Mereka terdiam cukup lama, lalu tiba-tiba Sun Sio-ang mengambil cawan arak dan meneguk isinya sampai habis. Ia tersenyum sambil berkata.

"Baiklah, aku kalah kali ini. Kau boleh bertanya lagi."

Wajah Li Sun-Hoan kini sungguh serius, dan ia bertanya.

"Di manakah A Fei saat ini?"

Sun Sio-ang tersenyum.

"Aku tahu, kau pasti akan menanyakannya. Selain dari si ‘dia’, mungkin ia adalah orang yang paling kau sayangi."

Kata Li Sun-Hoan.

"Tentu saja. Siapa pun yang mempunyai sahabat seperti dia, pasti akan menguatirkan keadaannya."

Sahut Sun Sio-ang.

"Jika seseorang dapat mempunyai sahabat seperti dirimu, bukankah mereka juga pasti akan menguatirkan keadaanmu?"

Lalu ia tersenyum penuh rahasia dan mengeluarkan sepucuk surat.

"Ini adalah tempat di mana A Fei kini tinggal. Ikuti saja peta ini dan kau pasti akan menemukan dia."

Kata Li Sun-Hoan.

"Terima kasih."

Ini adalah kali kedua ia mengucapkan ‘terima kasih’ sepanjang hari ini. Sun Sio-ang menatapnya.

"Kau tidak mengucapkan terima kasih waktu kuberitahukan padamu rahasia yang terbesar. Kau tidak mengucapkan terima kasih ketika kuberitahukan siapa yang ingin membunuhmu. Mengapa sekarang kau berterima kasih?"

Li Sun-Hoan diam saja. Kata Sun Sio-ang lagi.

"Aku tahu jawabannya walaupun kau tidak memberi tahu. Alasannya adalah bahwa dengan peta ini kau dapat menemukan A Fei. Hanya dengan cara itu kau dapat menyelamatkannya. Kau dapat menasihatinya untuk tidak mencintai orang yang tidak pantas dicintai dan merusak dirinya sendiri. Kau berterima kasih padaku demi dia."

Lanjutnya.

"Alasan ini jugalah yang membuat kau berterima kasih pada Kwe ko-yang. Demi Lim Si-im…. Pernahkah kau berterima kasih pada seseorang demi dirimu sendiri?"

Li Sun-Hoan masih diam saja. Sun Sio-ang hanya bisa mengeluh.

"Kakekku pernah bilang, jika seseorang tidak pernah hidup untuk dirinya sendiri, hidup orang itu sungguhlah menyedihkan."

Kini Sun Sio-ang pun berhenti bicara. Wajahnya tampak muram. Setelah sekian lama, terbayang senyuman di bibirnya.

"Namun jika seseorang hanya hidup untuk dirinya sendiri, betapa membosankannya hidupnya itu!"

Li Sun-Hoan minum secawan lagi, lalu bertanya.

"Kakekmu sedang mengantar siapa?"

Sahut Sun Sio-ang.

"Siangkoan Kim-hong."

Jawaban ini sungguh membuat Li Sun-Hoan terhenyak. Ia tidak tahan untuk tidak bertanya.

"Siangkoan Kimhong belum masuk ke dalam kota. Mengapa dia sudah akan pergi lagi?"

Jawab Sun Sio-ang.

"Karena kakek secara khusus ingin mengantarkan dia pergi. Bagaimana mungkin ia bisa menolak?"

Kata Li Sun-Hoan.

"Maksudmu, kakekmu adalah…."

Sampai di sini, ia mulai terbatuk-batuk lagi.

Ia membungkukkan badannya dan merasa kepalanya berkunang-kunang.

Si Bungkuk Sun sejak lama berdiri di sudut yang jauh, namun kini ia datang mendekati mereka.

Katanya pada Li Sun-Hoan.

"Kau sudah minum terlalu banyak hari ini, dan juga terlalu cepat. Lanjutkanlah permainan ini esok hari saja."

Li Sun-Hoan malah bertanya kepadanya.

"Kau tahu di mana Siangkoan Kim-hong?"

Jawab Si Bungkuk Sun.

"Aku tidak tahu. Kelihatannya aku harus minum satu cawan arak juga."

Li Sun-Hoan tertawa terbahak-bahak.

"Tidak perlu. Kau kan tidak ikut dalam pertandingan ini. Kau tidak perlu mengikuti aturannya."

Si Bungkuk Sun memandang Li Sun-Hoan dengan aneh, seakan-akan belum pernah kenal dengan orang ini sebelumnya. Kata Li Sun-Hoan lagi.

"Tapi aku tahu jawabannya. Siangkoan Kim-hong menganggap dirinya sebagai pesilat nomor satu di dunia. Ia sangat angkuh dan tidak memandang sebelah mata pada siapa pun juga. Namun kali ini, ia malah mau menuruti Si Tua Sun. Kau tahu kenapa?"

Jawab Si Bungkuk Sun.

"Tidak."

Kata Li Sun-Hoan.

"Aku juga tidak tahu. Oleh sebab itulah aku harus bertanya, karena aku ingin tahu jawabannya."

Kata Si Bungkuk Sun.

"Kau bertanya terlalu banyak. Pantas saja kau mabuk."

Li Sun-Hoan mengangkat cawan araknya dan bertanya pada Sun Sio-ang.

"Nona Sun, siapakah sebenarnya Si Tua Sun?"

Sun Sio-ang tersenyum dan menjawab.

"Si Tua Sun adalah ayah dari ayahku. Kakek kandungku."

Li Sun-Hoan terbahak-bahak.

"Betul. Betul. Kau memang betul sekali."

Ia minum secawan penuh. Setelah menghabiskannya, pandangannya menjadi kabur. Katanya.

"Aku punya pertanyaan lagi."

Mata Sun Sio-ang malah menjadi semakin terang. Ia terkekeh.

"Tanyakanlah sebelum kau benar-benar mabuk."

Tanya Li Sun-Hoan.

"Aku bertanya. Mengapa kau ingin aku mabuk? Mengapa…."

Sun Sio-ang mengisi cawan Li Sun-Hoan dengan arak, lalu menjawabnya dengan senyum lebar.

"Karena kita sedang melangsungkan pertandingan minum arak. Bukankah tujuannya adalah membuat lawan mabuk terlebih dahulu? Semua peminum suka melihat orang lain mabuk lebih dulu. Betul kan?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Itu betul, betul, betul…."

Kali ini, ia benar-benar mabuk berat.

Si Bungkuk Sun maupun Sun Sio-ang tidak bersuara.

Mereka berdua hanya menatap Li Sun-Hoan.

Mereka tidak yakin apakah dia memang benar-benar mabuk atau hanya pura-pura.

Malam pun tibalah.

Si Bungkuk Sun menyalakan lilin.

Ia berkata.

"Sudah waktunya makan malam. Mungkin akan ada pelanggan yang lain."

Sambil berbicara, ia melangkah cepat ke arah pintu dan menguncinya.

Seakan-akan ingin menahan Sun Sio-ang di situ.

Sun Sio-ang tidak merasa keberatan.

Kunci itu sangat besar.

Biasanya perlu waktu cukup lama bagi Si Bungkuk Sun untuk mengancingkannya di pintu.

Namun hari ini, kelihatannya ia tiba-tiba menjadi kuat dan mengangkat kunci besar itu bagai mengangkat bulu ayam saja.

Sun Sio-ang tiba-tiba tersenyum.

"Orang bilang Jicek (paman Kedua) bertenaga sangat besar. Sayang aku baru tahu sekarang."

Si Bungkuk Sun memutar badannya. Ia mengangkat alisnya dan bertanya.

"Siapa Jicekkmu? Apa kau juga sudah mabuk?"

Kata Sun Sio-ang.

"Aktingmu memang sangat bagus. Tapi apakah kau ingin terus berakting sampai sekarang?"

Si Bungkuk Sun hanya menatapnya.

Namun tatapannya sedingin es.

Bagaimana mungkin Si Bungkuk Sun bisa menatap seperti ini?

Jika Li Sun-Hoan melihat kedua mata ini, ia pasti akan merasa bangga, sebab ia tidak pernah melihatnya menatap orang seperti ini dalam dua tahun mereka bersama-sama.

Sayang sekali Li Sun-Hoan tidak bisa melihat apa-apa sekarang.

Kata Sun Sio-ang.

"Aku yakin hari ini dia benar-benar mabuk, bukan cuma pura-pura."

Kata Si Bungkuk Sun.

"Tahukah kau berapa besar ketahanannya terhadap alkohol? Bagaimana mungkin ia bisa mabuk secepat itu?"

Sahut Sun Sio-ang.

"Kalau seseorang sedang jengkel, ditambah dengan tubuh yang lelah, bagaimana pun besarnya kekuatan minumnya, ia pasti cepat mabuk."

Si Bungkuk Sun pun bertanya.

"Mengapa kau ingin membuatnya mabuk?"

Sahut Sun Sio-ang.

"Kau tidak tahu? Inilah yang diinginkan kakek."

"O ya?"

"Sekarang orang sudah tahu di mana ia berada. Mereka pasti akan segera datang mencarinya. Itulah sebabnya mengapa kakek ingin menyembunyikan dia untuk sementara waktu."

Sun Sio-ang menghela nafas dan melanjutkan.

"Namun kau pasti tahu sifatnya. Bagaimana mungkin kita membawanya pergi kalau ia tidak mabuk?"

Si Bungkuk Sun berkata.

"Sejujurnya, aku tidak mengerti sama sekali pikiran kekekmu."

Tanya Sun Sio-ang.

"Apa yang tidak kau mengerti?"

Kata Si Bungkuk Sun.

"Waktu Li Sun-Hoan sendiri ingin bersembunyi, kakekmu terus mendorong dia untuk muncul kembali. Sekarang, waktu dia sudah muncul, kakekmu ingin menyembunyikan dia."

Sun Sio-ang menggelengkan kepalanya.

"Inilah kesalahanmu. Kakek hanya akan menyembunyikannya untuk sementara waktu."

Lalu ia menatap Li Sun-Hoan yang tidak sadarkan diri dan tersenyum.

"Tahukah kau mengapa begitu banyak orang yang menginginkan kepalanya?"

Si Bungkuk Sun tertawa dingin.

"Siapa yang peduli? Selain Siangkoan Kim-hong, siapakah yang harus ditakutinya?"

Sahut Sun Sio-ang.

"Kau salah lagi. Setiap orang yang menginginkan kepalanya pasti tahu apa yang mereka perbuat."

Tanya Si Bungkuk Sun.

"Apa benar? Coba kau sebutkan siapa saja mereka itu."

Jawab Sun Sio-ang.

"Lupakan dulu yang pria, mari kita mulai dengan yang wanita. Ada Si Budha Perempuan Mahagembira dan Na Kiat-cu…."

Sewaktu nama-nama ini disebutkan, Si Bungkuk Sun mengangkat alisnya. Lanjut Sio-ang.

"Pek-hiau-sing berat sebelah terhadap kaum pria, sehingga Kitab Persenjataannya tidak menyebutkan para wanita. Tapi aku yakin kau pasti tahu kedua iblis wanita ini, bukan?"

Si Bungkuk Sun mengangguk. Kata Sun Sio-ang.

"Na Kiat-cu adalah kekasih Si Setan Hijau. Si Budha Perempuan Mahagembira adalah ibu angkat Ngo-tok-tongcu. Mereka telah mencari-cari Li Sun-Hoan sekian lama. Kalau mereka tahu ia ada di sini, mereka pasti akan langsung datang."

Ia mendesah, lanjutnya.

"Walaupun hanya salah satu dari mereka yang datang, Li Sun-Hoan pasti akan kerepotan."

Si Bungkuk Sun mengambil lapnya dan mulai memebersihkan meja. Setiap kali ia merasa kesal, ia berlaku seperti ini. Kata Sun Sio-ang.

"Sekarang mari kita menyebutkan yang pria."

Ia memejamkan matanya dan mengacungkan jarinya. Katanya.

"Siangkoan Kim-hong, Lu Hong-sian, Hing Bubing, dan….kau pasti tahu yang terakhir." [Bu-bing artinya Tidak Ada Kehidupan] Si Bungkuk Sun terus membersihkan meja, mengangkat wajah pun tidak. Ia bertanya singkat.

"Siapa?"

Sahut Sun Sio-ang.

"Oh Put-kiu."

Si Bungkuk Sun berhenti mengelap dan mengangkat wajahnya melongo. Tanyanya.

"Oh Put-kiu? Kau maksud Oh si gila?"

Kata Sun Sio-ang.

"Betul sekali. Orang ini memang tampak gila. Senjatanya adalah pedang bambu. Kudengar ilmu pedangnya segila orangnya. Kadangkadang tampak hebat, kadang-kadang tidak karuan, tidak pantas dilihat. Oleh sebab itu, Pek-hiau-sing tidak mengikutsertakannya dalam Kitab Persenjataan."

Si Bungkuk Sun menjawab.

"Bagian yang payah itu cuma pura-pura, bagian yang hebat itu yang sesungguhnya."

Setelah berpikir beberapa saat ia bertanya.

"Tapi orang ini selalu menyendiri. Mengapa tiba-tiba ia ingin mengganggu Li Sun-Hoan?"

Kata Sun Sio-ang.

"Kudengar, Liong Siau-hun yang memintanya. Oh si gila berhutang budi pada guru Liong Siau-hun."

Kata Si Bungkuk Sun.

"Sulit untuk menemukan orang seperti dia. Hebat juga Liong Siau-hun bisa menemukannya."

Sahut Sun Sio-ang.

"Itulah sebabnya mengapa Liong Siau-hun pergi dari rumahnya selama dua tahun ini."

Tanya Si Bungkuk Sun.

"Apakah Lu Hong-sian yang tadi kau sebutkan adalah yang berada di urutan nomor lima Kitab Persenjataan?"

Sahut Sun Sio-ang.

"Betul. Ia telah mempelajari ilmu silat yang aneh akhir-akhir ini. Dan ia ingin bertarung dengan semua pesilat yang urutannya berada di atas dia."

Tanya Si Bungkuk Sun lagi.

"Bagaimana dengan Hing…..Hing…."

"Hing Bu-bing? Hing Bu-bing adalah pesilat yang paling tangguh di bawah naungan Siangkoan Kim-hong."

Si Bungkuk Sun mengerutkan keningnya.

"Mengapa aku belum pernah mendengar namanya?"

Sahut Sun Sio-ang.

"Ia baru muncul dua tahun terakhir ini. Menurut kakek, di antara pesilat-pesilat muda, ia dan A Fei adalah yang terbaik."

"O ya?"

Kata Sun Sio-ang.

"Ia juga menggunakan pedang, dan seperti A Fei, pedangnya pun luar biasa cepat, tepat dan mematikan! Selain itu, dia punya satu sifat lagi yang sungguh berbahaya."

Si Bungkuk Sun terus menyimak dengan serius. Lanjut Sun Sio-ang.

"Ia jarang bertempur, namun sekali bertempur, ia seakan-akan tidak peduli lagi akan hidupnya sendiri. Tiap serangan adalah serangan berani mati. Karena ia disebut ‘Tidak Ada Kehidupan’, sudah tentu ia tidak peduli akan hidupnya."

Si Bungkuk Sun hanya terdiam. Lalu ia bertanya.

"Di mana kakekmu?"

Jawab Sun Sio-ang.

"Kami berjanji bertemu di luar kota…"

Ia tersenyum penuh kemenangan.

"Kakek tahu aku akan menemukan cara untuk membawa Li Sun-Hoan ke sana."

Si Bungkuk Sun hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Kau memang betul-betul gadis kecil yang penuh akal bulus."

Sun Sio-ang memonyongkan mulutnya.

"Aku sudah hampir dua puluh tahun. Mengapa kau masih memanggilku gadis kecil?"

Bab 35. Manusia Pemakan Kalajengking Si Bungkuk Sun mendesah dan berkata.

"Kau betul-betul sudah dewasa kini. Terakhir aku melihatmu, kau baru berumur lima tahun…"

Lalu ia kembali mengelap meja. Sun Sio-ang menundukkan kepalanya. Katanya.

"Jicek, kau tidak pernah pulang ke rumah selama berapa, tiga belas atau empat belas tahun?"

Si Bungkuk Sun mengangguk.

"Ya. Empat belas tahun. Beberapa hari lagi, akan genap empat belas tahun."

Tanya Sun Sio-ang.

"Mengapa kau tidak pernah pulang dan menjenguk kami?"

Si Bungkuk Sun menggebrak meja dan berseru dengan lantang.

"Aku sudah berjanji akan melindungi sebuah keluarga selama lima belas tahun. Kau boleh bertaruh bahwa aku akan melakukannya sampai genap!"

Kata Sun Sio-ang.

"Oh begitu."

Setelah sekian lama, Si Bungkuk Sun kembali mengelap meja.

Ketika ia mulai mengelap, matanya yang tajam dan bersinar terang itu langsung menghilang.

Inilah yang akan terjadi jika seseorang harus mengelap meja selama empat belas tahun.

Si Bungkuk Sun lalu bertanya pelan.

"Bagaimana kabar yang lain?"

Sun Sio-ang tersenyum.

"Mereka semua baik. Bibi Pertama dan Bibi Ketiga melahirkan tahun ini. Bibi Keempat punya anak kembar. Tahun Baru ini pasti sangat ramai."

Dari sudut matanya, Sun Sio-ang bisa melihat mata Si Bungkuk Sun yang tampak sedih. Ia langsung berhenti bicara. Lalu dengan cepat ia menambahkan.

"Semuanya berharap kau bisa pulang juga."

Si Bungkuk Sun memaksakan seulas senyum dan berkata.

"Sampaikan pada mereka semua bahwa aku pasti pulang Tahun Baru berikutnya."

Sun Sio-ang langsung bertepuk tangan. Katanya.

"Bagus sekali. Aku ingat kaulah yang paling hebat membuat kembang api."

Sahut Si Bungkuk Sun.

"Aku pasti akan membuatnya untukmu tahun depan. Sekarang, kau lebih baik pergi cepat-cepat. Kakekmu akan merasa kuatir."

Lalu ia memandang Li Sun-Hoan dan bertanya.

"Bagaimana kau akan membawanya pergi?"

Sahut Sun Sio-ang.

"Aku akan menggendongnya."

Ia lalu bangkit berdiri dan terdengarlah seseorang membentak dengan bengis.

"Kau boleh pergi, tapi si pemabuk ini harus tinggal!"

Suara ini adalah suara seorang wanita.

Si Bungkuk Sun dan Sun Sio-ang telah mengawasi pintu depan dari tadi, namun suara ini terdengar dari arah belakang.

Tidak ada yang tahu kapan wanita ini masuk.

Wajah Si Bungkuk Sun langsung tertekuk.

Dilemparkannya lapnya.

Ia sudah mengelap meja selama empat belas tahun.

Jika tiap hari ia mengelap dua puluh kali, maka dalam setahun ia sudah mengelap 7300 kali, atau 102.200 kali dalam empat belas tahun.

Siapapun yang telah mengelap meja sebanyak ini, pasti mempunyai kekuatan yang besar.

Lagi pula, Cakar Elang Si Bungkuk Sun sudah malang melintang di dunia persilatan sejak lama.

Waktu ia melemparkan lapnya, tenaganya tidak kurang daripada seorang pesilat yang melemparkan senjata rahasia.

Terdengar suara ‘Pang’, dan debu pun beterbangan ke seluruh ruangan.

Lap itu membuat lubang besar di dinding belakang, namun orang yang berdiri di depan pintu tidak terluka sedikitpun.

Kelihatannya ia tidak bergerak.

Namun jika ia benarbenar tidak bergerak, lap itu pasti sudah melubangi perutnya.

Entah bagaimana, lap itu bisa luput.

Mungkin karena pinggangnya sangat ramping sehingga mudah baginya untuk menghindar.

Yang membuat wanita ini sangat memikat bukan hanya pinggangnya yang ramping.

Kakinya panjang dan lurus.

Dan bagian tubuhnya yang seharusnya berisi, memang tidak kurus, dan bagian yang seharusnya langsing, memang tidak gemuk.

Matanya panjang dan menawan, namun mulutnya besar dan bibirnya sangat tebal.

Kulitnya putih mulus, namun kelihatan bersisik dan penuh bulu.

Ia tidak bisa dibilang wanita yang cantik, namun ia mempunyai pesona tersendiri.

Si Bungkuk Sun memutar badannya dan memandanginya.

Ia pun menatap Si Bungkuk Sun.

Dari ekspresi wajahnya, seakan-akan ia menganggap Si Bungkuk Sun sebagai laki-laki tergagah dan paling ganteng sedunia.

Seakanakan ia sedang memandangi kekasihnya.

Namun ketika matanya sampai pada Sun Sio-ang, tatapannya menjadi sedingin es.

Ia membenci semua wanita begitu rupa.

Si Bungkuk Sun terbatuk dua kali sebelum bertanya.

"Na Kiat-cu (Si Kalajengking Biru)?"

Na Kiat-cu tertawa. Waktu tertawa, matanya menjadi makin panjang dan sipit, seperti seutas benang yang panjang. Katanya sambil tersenyum.

"Kau memang orang yang berpengetahuan luas. Aku suka laki-laki seperti itu."

Si Bungkuk Sun tetap bermuka masam dan tidak menjawab. Ia tidak suka berdebat dengan wanita, karena ia tidak tahu caranya. Kata Na Kiat-cu.

"Aku pun berpengetahuan cukup luas. Aku tahu siapa dirimu."

Suara Si Bungkuk Sun menggelegar.

"Jika kau tahu, mengapa masih bercokol di sini?"

Na Kiat-cu mendesah dan berkata.

"Aku tahu kau tak akan membiarkan aku membawanya pergi begitu saja. Namun aku juga tidak ingin bertempur denganmu. Lalu bagaimana baiknya kita menyelesaikan persoalan ini?"

Tiba-tiba wanita itu melambaikan tangannya ke belakang dan berkata dengan tenang.

"Ke sini."

Si Bungkuk Sun melihat sesosok bayangan lain datang dari arah belakang.

Seorang lelaki bertubuh besar.

Ketika Na Kiat-cu melambaikan tangannya, ia masuk ke dalam.

Pakaian laki-laki ini sangat apik dan kumisnya yang kemilau tercukur rapi.

Di pinggangnya terselip sebilah golok bercincin sembilan yang mentereng.

Na Kiat-cu bertanya.

"Tahukah kau siapa dia?"

Si Bungkuk Sun diam saja, namun Sun Sio-ang menjawab.

"Aku tahu."

Na Kiat-cu sedikit heran.

"Kau benar-benar tahu siapa dia?"

Jawab Sun Sio-ang.

"Namanya Coh Siang-ih. Julukannya Hoat-pah-ong (Si Raja Perkasa)."

Na Kiat-cu memandang pada Hoat-pah-ong dan berkata.

"Ternyata kau cukup terkenal juga. Gadis kecil pun mengenal engkau."

Wajah Hoat-pah-ong terlihat sombong. Kata Sun Sio-ang.

"Aku tahu hampir semua orang terkenal dalam dunia persilatan. Yang aku tidak tahu adalah apa yang dikerjakannya dengan wanita seperti engkau."

Na Kiat-cu tersenyum dan berkata.

"Ia merayuku dalam perjalanan ke sini."

Sun Sio-ang pun tersenyumdan berkata.

"Apakah dia yang merayumu? Atau sebaliknya?"

Sahut Na Kiat-cu.

"Sudah pasti dia yang merayuku. Walaupun kau tahu bahwa ia terkenal dan ilmu silatnya pun cukup tinggi, mungkin kau tidak tahu bahwa ia juga pandai merayu wanita."

Si Bungkuk Sun mulai kelihatan gelisah. Ia lalu bertanya.

"Mengapa kau membawanya kemari?"

Sahut Na Kiat-cu.

"Coh Siang-ih adalah pesilat yang cukup tangguh. Ketika ia menggunakan jurus ‘Delapan Puluh Satu Tangan Golok Bercincin’, sebagian besar orang tidak dapat medekatinya."

Si Bungkuk Sun hanya mendengus.

"Hmmmh."

Kata Na Kiat-cu lagi.

"Jika aku bilang bahwa aku dapat membunuhnya dalam satu jurus, kau percaya atau tidak?"

Coh Siang-ih yang dari tadi berdiri dengan pongah menjadi terperanjat.

"Apa katamu?"

Si Kalajengking Britu berkata dengan lembut.

"Bukan masalah besar. Aku cuma bilang bahwa aku akan mengambil nyawamu."

Wajah Coh Siang-ih langsung memucat. Setelah raguragu sesaat, ia pun berkata.

"Ah, kau bercanda saja."

Na Kiat-cu mendesah lagi dan berkata.

"Hanya karena kita melewatkan satu malam bersama, kau tidak percaya aku akan membunuhmu?"

Sahut Coh Siang-ih.

"Bagaimana mungkin aku bisa begini buta? Di tempat tinggalku ada banyak kalajengking."

Tanya Na Kiat-cu.

"Dan kau pasti tahu kebiasaan unik kelajengking betina."

Coh Siang-ih memaksakan untuk tersenyum.

"Tapi kau kan bukan kalajengking."

Kata Na Kiat-cu.

"Kata siapa? Aku memang adalah kalajengking. Kau tidak tahu?"

Coh Siang-ih cepat melompat mundur, dan menjungkirbalikkan meja di belakangnya.

Namun keseimbangannya cukup baik, sehingga ia sendiri masih bisa berdiri.

Ia menghunus Golok Sembilan Cincinnya.

Ia sangat berpengalaman di dunia persilatan, jadi sudah pasti ia tahu siapakah Na Kiat-cu ini.

Akan tetapi, ia tidak bisa percaya bahwa seorang wanita yang begitu mudah kena rayuannya adalah Na Kiat-cu sendiri.

Na Kiat-cu masih berkata dengan kalem.

"Aku punya beberapa nasihat. Lain kali kalau kau merayu wanita, selidiki dulu latar belakangnya. Sayangnya…."

Ia mendesah lagi dan berjalan ke arah Coh Siang-ih.

"Sayangnya tidak ada lain kali."

Coh Siang-ih berteriak.

"Stop! Jika kau mendekat lagi, akan kubunuh kau!"

Kata Na Kiat-cu sinis.

"Baiklah. Bunuh saja aku. Aku sungguh berharap bisa mati di tanganmu."

Coh Siang-ih menjerit keras, dan Golok Sembilan Cincinnya menebas dengan cepat.

Angin dari golok itu menderu seperti auman harimau.

Tebasannya sungguh bertenaga kuat.

Namun inilah gerakannya satu-satunya.

Terlihat kilau biru, Lintasan cahaya berwarna hijau pupus yang dingin melesat di depan mata.

Coh Siang-ih rubuh.

Bahkan jeritannya yang terakhir, terpotong setengah.

Tidak ada luka yang terlihat di tubuhnya, hanya dua titik darah di lehernya.

Seakan-akan ia baru saja disengat kalajengking.

Si Bungkuk Sun dan Sun Sio-ang menyaksikan peristiwa itu tanpa suara.

Keduanya tidak berusaha menengahi, karena memang tidak berniat untuk ikut campur.

Siapapun yang merayu wanita di tengah jalan, pasti bukan orang baik-baik.

Na Kiat-cu terus memandangi tubuh Coh Siang-ih.

Ia memandanginya cukup lama, seakan-akan sedang mengagumi hasil karyanya sendiri.

Lalu ia tertawa.

Sambil tertawa ia berkata.

"Aku sudah bilang, aku hanya perlu satu gerakan saja. Sekarang kau percaya, bukan?"

Tidak ada yang menjawab. Lanjutnya lagi.

"Ilmu silatku cukup lumayan, bukan?"

Masih tidak ada jawaban. Na Kiat-cu pun berkata lagi.

"Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau) In Gok berada di urutan ke sembilan dalam Kitab Persenjataan. Kalau Pek-hiau-sing memasukkan aku dalam kitabnya, ia pasti jatuh paling tidak ke nomor sepuluh."

Itu benar, karena ia memang menyerang lebih cepat dan lebih mematikan daripada In Gok! Na Kiat-cu memandang Si Bungkuk Sun, lalu berkata.

"Kelihatannya ilmu silatku cukup untuk membawa si pemabuk ini pergi bersamaku, bukan?"

Si Bungkuk Sun menjawab dengan dingin.

"TIDAK!"

Na Kiat-cu mengeluh.

"Lalu aku harus berbuat apa untuk membawa pergi si pemabuk ini? Tidur denganmu?"

Si Bungkuk Sun berteriak keras dan kedua tangannya melesat ke depan.

Tangan kanannya menyerang seperti cakar dan tangan kirinya seperti tinju.

Tinju kirinya penuh dengan tenaga halilintar.

Cakarnya tampak seperti kait dan mengandung ribuan gerak tipu.

Walaupun hanya dengan tangan kosong, kekuatannya sepuluh kali lebih besar dibandingkan dengan golok Coh Siang-ih.

Na Kiat-cu meliukkan pinggangnya dan tiba-tiba lenyap.

Ketika Si Bungkuk Sun menyerang, ia segera berpindah ke belakangnya.

Untungnya, Si Bungkuk Sun adalah pesilat kelas atas.

Ia segera menarik tangannya kembali, menarik balik kekuatan tinju dan cakarnya.

Salah satu hal yang paling sulit dilakukan dalam bertempur adalah membatalkan serangan.

Karena kecepatan dan kekuatan tiap serangan, sulit untuk menghentikannya setengah jalan.

Namun Si Bungkuk Sun dapat melakukannya dengan mulus.

Jika itu orang lain, kemungkinan ia sudah terjengkang ke belakang, langsung ke dalam tangan Na Kiat-cu.

Untungnya Si Bungkuk Sun adalah seorang bungkuk.

Jadi waktu ia menarik balik serangannya, semua kekuatannya terserap oleh punuknya.

Ia mengerutkan pundaknya dan menerjang ke belakang dengan punuknya.

Ini adalah jurusnya yang terkenal itu.

Ia telah berlatih keras, sehingga punuknya telah menjadi sekeras baja.

Dan terjangannya itu membawa tenaga yang sangat kuat.

Na Kiat-cu tahu benar jurus ini.

Ia kembali meliukkan pinggangnya dan jubahnya yang panjang menari-nari di udara.

Sekejap saja ia sudah kembali ke depan Si Bungkuk Sun.

Lalu ia berkata.

"Bukan saja kau berpengetahuan luas, ilmu silatmu pun luar biasa. Katakan saja, dan aku akan mengikut engkau ke mana pun engkau pergi."

Si Bungkuk Sun pun berteriak.

"Pergi saja ke neraka!"

Na Kiat-cu tersenyum manis dan berkata.

"Jika aku mati, aku harus mati di atas ranjang!"

Di depan wanita seperti ini, setelah melihat senyum manisnya, seorang pria akan sulit mengerahkan seluruh tenaganya.

Ketika lawannya sulit mengerahkan seluruh tenaganya, tidak demikian halnya dengan dirinya sendiri.

Oleh sebab itulah, dalam sepuluh tahun ini, entah berapa laki-laki mati di tangannya.

Sayangnya, hari ini lawannya adalah Si Bungkuk Sun.

Si Bungkuk Sun tidak tertarik lagi pada wanita.

Seiring dengan teriakannya, Cakar Besi Si Bungkuk Sun pun melejit ke depan.

Na Kiat-cu mengibaskan lengan bajunya dan mundur beberapa langkah.

Lalu berkata.

"Tunggu sebentar."

Si Bungkuk Sun menarik kembali serangannya dan bertanya.

"Tunggu apa lagi?"

Kata Na Kiat-cu.

"Karena kita akan bertempur, paling tidak kau harus melihat senjataku terlebih dulu."

Sebelum kalimatnya selesai, selintas cahaya biru terpancar dari lengan bajunya, menyerang ke arah Si Bungkuk Sun.

Si Bungkuk Sun mengangkat tangannya, hendak menangkap cahaya biru itu.

Ia selalu ingin menyelesaikan pertempuran secepatnya.

Jadi, walaupun ia tahu kehebatan senjata Na Kiat-cu, ia masih berusaha menangkapnya.

Si Bungkuk Sun yakin bahwa latihan Cakar Elangnya selama empat puluh tahun akan dapat mengalahkan senjata Na Kiat-cu.

Lalu ia akan dapat mengalahkan wanita itu dengan hanya sekali pukul!

Namun mungkin ia sedikit terlalu percaya diri.

Sun Sio-ang berdiri di situ tanpa suara.

Matanya tidak pernah lepas dari lengan baju Na Kiat-cu.

Matanya sangat tajam.

Ketika Lintasan cahaya biru itu berkelebat, ia segera tahu apa itu.

Ia belum pernah melihat senjata seaneh ini sebelumnya.

Senjata itu tampak seperti ekor kalajengking raksasa, panjang dan melingkar.

Seakan lembut namun keras dan dapat meliuk dengan mudah.

Tentu saja Sun Sio-ang sangat yakin pada Cakar Elang pamannya.

Namun ia pun tahu, jika tangannya kena senjata ini, pamannya akan dimakan hidup-hidup oleh si pemakan kalajengking ini.

Namun karena kecepatan serangan Na Kiat-cu, Sun Sioang tahu, ia tidak mungkin menghalanginya.

Ia hanya tidak bisa percaya, mengapa pamannya begitu gegabah hendak memegang senjata itu langsung dengan tangan kosong.

Yang tidak disadari Sun Sio-ang adalah bahwa setelah empat belas tahun mengelap meja, Si Bungkuk Sun sudah gatal ingin bertempur.

Kini kesempatan sudah terbuka, dan Si Bungkuk Sun pun tidak bisa bertempur setengah-setengah.

Ia ingin meraih kemenangan secepatnya.

Sun Sio-ang menjerit.

Namun tangan itu bergerak lebih cepat daripada jeritannya.

Ketika ia masih berteriak, tangan itu telah menangkap tangan Na Kiat-cu.

Terdengar bunyi berdentang dan cahaya biru itu pun terkulai ke tanah.

Ketika cahaya biru itu jatuh ke tanah, Si Kalajegking Biru pun mundur beberapa langkah.

Ia bergerak mundur terlalu cepat, sehingga keseimbangannya hilang dan ia membentur dinding belakang.

Ruangan itu menjadi sunyi senyap seperti kuburan.

Semua orang hanya berdiri mematung.

Semuanya memandangi tangan itu.

Mata Na Kiat-cu bukan hanya kaget, namun juga penuh rasa nyeri yang hebat.

Tangannya telah patah!

Ia menarik tangannya kembali perlahan-lahan.

Saat itu seseorang bangkit berdiri dengan malasmalasan.

Orang ini adalah orang yang sudah mabuk berat itu, Li Sun-Hoan!

Dengan rasa gembira dan terkejut.

Sun Sio-ang berseru.

"Ternyata kau tidak mabuk!"

Li Sun-Hoan terkekeh dan berkata.

"Aku tahu aku memang sedang bersedih, dan tubuhku memang letih. Namun aku memang sangat tahan minum arak."

Sun Sio-ang menatapnya dengan perasaan campur aduk dalam hatinya.

Bahkan ia sendiri pun tidak tahu perasaan apa saja yang ada di sana.

Mungkin kaget?

Atau gembira?

Atau kagum?

Atau mungkin penyesalan?

Ternyata ia sudah gagal membuat Li Sun-Hoan mabuk.

Na Kiat-cu menatap Li Sun-Hoan dengan penuh rasa takut.

Karena dilihatnya pisau di tangan Li Sun-Hoan.

Pisau Kilat si Li!

Pisau itu menjadi sangat mengerikan selama masih berada di tangan Li Sun-Hoan.

Karena setelah pisau itu tidak ada lagi di sana, sang lawan tidak sempat lagi merasa ngeri.

Orang mati tidak lagi bisa merasa takut.

Satu-satunya suara yang terdengar di sana, adalah helaan nafas orang.

Bab 36.

Perasaan yang Aneh Keringat membasahi kening Na Kiat-cu.

Ia terus menerus gemetar sambil berteriak.

"Ayo cepat sambitkan pisaumu! Segera bunuhlah aku!"

Kata Li Sun-Hoan.

"Karena kau ingin membalaskan dendam In Gok, sudah tentu kau sangat mencintainya. Kini ia telah mati, kau pasti sangat menderita….."

Ia memandang pisau di tangannya, lalu berkata dengan tenang.

"Aku mengerti kesedihanmu. Aku sungguh mengerti…. Aku hanya ingin memberi tahu bahwa rasa sakit di hatimu tidak akan berkurang walaupun kau membunuh orang. Berapa orang pun yang kau bunuh, kesedihan itu akan tetap ada."

Pisau itu berkilat dan melesat ke depan. Menghunjam dinding tepat di samping Na Kiat-cu. Kata Li Sun-Hoan.

"Kau boleh pergi sekarang."

Na Kiat-cu hanya mematung di situ. Setelah sekian lama, akhirnya ia bertanya.

"Kalau begitu, bagaimana aku caranya mengurangi kepedihan hatiku?"

Li Sun-Hoan mendesah, lalu menjawab.

"Aku tidak tahu jawabannya. Mungkin….. Mungkin jika kau dapat menemukan penggantinya, itu bisa menolong. Aku berharap kau bisa bertemu dengan orang itu."

Na Kiat-cu menatapnya.

Air mata bergulir satu per satu di pipinya.

Sun Sio-ang juga menatap Li Sun-Hoan.

Ia belum pernah bertemu dengan pria seperti ini dalam hidupnya.

Ia tidak pernah menyangka bahwa ada orang seperti ini.

Ia memandangi tubuh Li Sun-Hoan lekatlekat, berusaha menembus dadanya dan melihat hatinya.

Na Kiat-cu pergi.

Ia pergi dengan tangis.

Pikiran Li Sun-Hoan melayang jauh sebelum akhirnya tersenyum.

Katanya.

"Kau pasti heran kenapa aku tidak membunuhnya."

Sun Sio-ang diam saja. Si Bungkuk Sun pun hanya menatap senjata aneh yang tergeletak di lantai. Ia pun diam saja. Kata Li Sun-Hoan.

"Menurutku, jika seseorang masih dapat menangis, artinya orang itu belum pantas mati."

Tiba-tiba Sun Sio-ang tersenyum. Katanya.

"Aku tahu kau tidak suka membunuh orang, jadi aku tidak begitu heran waktu kau melepaskannya. Yang ingin aku tahu, kalau kau tidak mabuk, kenapa pura-pura mabuk?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Kau kan ahli minum. Kau pasti tahu bahwa pura-pura mabuk lebih menyenangkan daripada benar-benar mabuk. Jika aku benar-benar mabuk, bukan hanya aku tidak akan menikmati acara ini, namun sakit kepala esok harinya pun sangat menyakitkan."

Sahut Sun Sio-ang.

"Mmm, masuk akal juga."

Kata Li Sun-Hoan.

"Tapi orang yang minum arak, suatu saat akan mabuk juga. Jadi kalau kau ingin melihat aku mabuk, akan ada banyak kesempatan di kemudian hari."

Sun Sio-ang mendesah, lalu berkata.

"Tapi aku tahu, karena aku melewatkan kesempatan ini, aku tak akan pernah bisa membuatmu mabuk lagi."

Kata Li Sun-Hoan.

"Sesungguhnya aku…"

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, ia melihat Si Bungkuk Sun berjalan ke balik meja dan mulai menenggak arak langsung dari guci.

Ia telah minum lebih dari setengah, sebelum Sun Sio-ang berhasil merebut guci arak itu dari tangannya.

Gadis itu menghentakkan kakinya dan berkata.

"Dia saja lebih suka pura-pura mabuk daripada benar-benar mabuk. Mengapa engkau dengan sengaja ingin mabuk?"

Si Bungkuk Sun menjawab terpatah-patah.

"Mabuk bisa melenyapkan sejuta kekuatiran. Sungguh… Sungguh lebih baik mabuk."

Tanya Sun Sio-ang.

"Kenapa?"

Si Bungkuk Sun pun berteriak kesal.

"Kau mau tahu kenapa? Mari kuberi tahu. Karena aku tidak mau berhutang budi pada siapa pun! Lebih baik dia menusukku daripada menolongku!"

Lalu ia terkulai di kursi dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

"Li Sun-Hoan, oh Li Sun-Hoan. Mengapa kau menolongku? Tidakkah kau tahu bahwa dulu nyawaku pun pernah diselamatkan orang? Tahukah kau mengapa aku berada di sini bertahun-tahun ini?"

Li Sun-Hoan ingin sekali bertanya.

"Siapakah orang yang menyelamatkanmu dulu?"

"Mengapa kau mau berjaga di sini selama lima belas tahun?"

"Apa yang sebenarnya kau jaga?"

Namun suara Si Bungkuk Sun makin lama makin lemah.

Apakah dia sudah mabuk?

Atau ia sudah mulai terlelap?

Li Sun-Hoan memandang Sun Sio-ang.

Ia pun ingin menanyakan pada gadis itu pertanyaan yang sama.

Namun ketika dilihatnya matanya yang begitu bersemangat, begitu terang, begitu hitam berkilau, ia mengurungkan niatnya.

Ia tahu ia tidak mungkin mendapatkan informasi dari gadis seperti itu.

Li Sun-Hoan hanya dapat menghela nafas panjang, lalu ia berkata.

"Pamanmu memang adalah seorang pria sejati."

Sun Sio-ang meliriknya dari sudut matanya. Ia tersenyum dan berkata.

"Maksudmu, hanya seorang pria sejatilah yang dapat menjadi mabuk begini cepat?"

Kata Li Sun-Hoan.

"Maksudku, hanya seorang pria sejatilah yang dapat menepati janjinya, apapun keadaannya. Hanya seorang pria sejati, yang tidak sudi menerima bantuan, yang mengorbankan dirinya demi kepentingan orang lain."

Sun Sio-ang memutar matanya. Katanya.

"Jadi itulah sebabnya kau juga berada di sini. Untuk melindungi seseorang, bukan?"

Li Sun-Hoan diam saja. Kata Sun Sio-ang lagi.

"Apapun yang terjadi, kau pun tidak akan pergi, bukan?"

Li Sun-Hoan tetap diam. Sun Sio-ang pun berkata.

"Apakah kau masih peduli pada A Fei? Apakah kau ingin menjumpainya? Bukankah ia sahabatmu?"

Li Sun-Hoan tetap diam sampai cukup lama. Akhirnya ia menjawab.

"Setidaknya ia dapat menjaga dirinya sendiri."

Kata Sun Sio-ang.

"Aku sudah sering mendengar bahwa Lim Sian-ji berwajah bagaikan malaikat, namun kehebatannya adalah menyeret laki-laki ke neraka."

Lalu ia melanjutkan perlahan-lahan.

"Apakah kau tidak kuatir bahwa ia akan menyeret sahabatmu ke neraka?"

Li Sun-Hoan mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Sun Sio-ang mendesah. Lalu katanya.

"Aku tahu kau tidak akan pergi. Demi ‘dia’, kau dapat melupakan apapun juga. Apapun!"

Lalu matanya penuh dengan kelembutan dan kehangatan, memandangi Li Sun-Hoan. Tanyanya.

"Mengapa kau tidak berusaha mencari penggantinya?"

Tubuh Li Sun-Hoan gemetar hebat dan ia pun mulai terbatuk-batuk lagi. Kata Sun Sio-ang.

"Jika kau tidak mau, aku tidak akan memaksamu untuk pergi. Namun setidaknya kau harus menemui kakekku."

Di sela-sela batuknya Li Sun-Hoan bertanya.

"Di…Di manakah beliau?"

Sahut Sun Sio-ang.

"Ia berada di Tiangting (paviliun panjang) di luar kota."

Tanya Li Sun-Hoan.

"Kenapa beliau ada di sana?"

Jawab Sun Sio-ang.

"Karena Siangkoan Kim-hong akan lewat di sana."

Kata Li Sun-Hoan.

"Walaupun Siangkoan Kim-hong lewat di sana, belum tentu kakekmu dapat bertemu dengannya."

Sahut Sun Sio-ang.

"Ah, sudah pasti mereka akan bertemu, karena Siangkoan Kim-hong tidak pernah naik kuda atau naik kereta. Ia sering berkata bahwa manusia punya kaki, oleh sebab itu mereka seharusnya berjalan."

Li Sun-Hoan terkekeh, katanya.

"Kau memang serba tahu."

Sun Sio-ang membalasnya dengan senyuman. Lalu katanya.

"Memang."

Kata Siangkoan Kim-hong.

"Kau bukan hanya tahu bahwa Siangkoan Kim-hong akan datang, namun kau juga tahu jalan mana yang akan dilaluinya. Kau bukan hanya tahu bahwa Lim Sian-jilah yang menulis surat itu, namun kau juga tahu di mana ia bersembunyi…."

Ia menatap mata gadis itu dalam-dalam, lalu bertanya.

"Bagaimana kau bisa tahu semuanya ini?"

Sun Sio-ang menggigit bibirnya. Lalu ia tersenyum dan menjawab.

"Aku punya cara tersendiri. Tapi aku takkan memberitahukannya padamu!" *** Malam yang gelap gulita. Langkah Sun Sio-ang ringan dan cepat, seakan-akan ia tidak mengenal kata lelah. Ia tertarik pada segala sesuatu di dunia ini. Ia sungguh-sungguh penuh dengan semangat hidup. Ia masih muda belia. Li Sun-Hoan merasa ia sangat berbeda dengan orang yang berdiri di sampingnya, bagai langit dengan bumi. Ia kagum pada gadis ini, mungkin sedikit iri hati. Waktu ia menyadari perasaan ini, ia jadi kaget sendiri. Apakah betul aku sudah setua ini? Ia tahu hanya seorang tua yang cemburu pada kebeliaan orang muda. Katanya dengan tersenyum.

"Jika aku berusia sepuluh tahun lebih muda, aku tidak akan berjalan begini dekat denganmu."

Tanya Sun Sio-ang.

"Kenapa?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Semua orang bilang aku laki-laki mata keranjang. Jika aku begini dekat dengan seorang gadis, orang-orang pasti akan berpikiran macammacam."

Ia terkekeh sebelum melanjutkan lagi.

"Untungnya, kini aku sudah tua bangka. Jika seseorang melihat kita, ia akan menyangka bahwa kita adalah ayah dan anak."

Sun Sio-ang cemberut dan berseru.

"Ayahku? Kau pikir kau setua itu?"

"Tentu saja."

Tiba-tiba Sun Sio-ang tertawa terbahak-bahak. Tanya Li Sun-Hoan.

"Mengapa kau tertawa?"

Sahut Sun Sio-ang.

"Aku menertawaimu."

"Kenapa?"

Jawab gadis itu.

"Karena aku tahu sekarang bahwa kau takut padaku!"

Kata Li Sun-Hoan.

"Apa? Takut padamu?"

Mata Sun Sio-ang bersinar terang bagai bintang di langit. Ia tertawa polos dan berkata.

"Kau berkata begitu karena kau takut padaku. Kau kuatir bahwa kau akan….akan baik padaku….Karena itu kau bilang bahwa kau adalah laki-laki tua bangka."

Li Sun-Hoan hanya dapat tertawa getir. Kata Sun Sio-ang lagi.

"Sebenarnya, jika kau adalah lelaki tua bangka, aku pun adalah wanita tua bangka."

Ia tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berkata pada Li Sun-Hoan dengan halus.

"Ketika orang merasa dirinya tua, maka saat itulah ia benar-benar menjadi tua. Kakekku tidak pernah menganggap dirinya tua. Dan kau pun belum tua. Jadi jangan pernah berpikir seperti itu lagi."

Li Sun-Hoan menatap matanya yang jernih.

Tiba-tiba ia teringat pada Lim Si-im sepuluh tahun yang lalu.

Saat itu Lim Si-im pun sangat muda dan bersemangat.

Tapi sekarang?

Li Sun-Hoan mengeluh dan menghindari tatapan gadis itu.

Ia memandang ke kegelapan yang tidak berujung, lalu berkata.

"Tiangting itu ada di depan sana, bukan? Ayo kita cepat ke sana."

Dalam kegelapan malam, secercah cahaya lilin tampak dari paviliun itu. Samar-samar terlihat bayangan orang di dekat cahaya lilin itu. Tanya Sun Sio-ang.

"Kau lihat lilin itu?"

"Ya."

Kata Sun Sio-ang sambil tersenyum.

"Kau tahu apa itu? Kalau kau tahu, aku akan benar-benar kagum padamu."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Itu kakekmu sedang mengisap pipanya."

Kata Sun Sio-ang.

"Wah! Kau memang jenius!"

Li Sun-Hoan terkekeh. Entah mengapa, di depan gadis ini ia jadi lebih banyak tersenyum dan lebih sedikit batuk. Kata Sun Sio-ang.

"Siangkoan Kim-hong sudah datang belum ya? Atau kakek sudah mengantarkannya pergi?"

Ia jadi agak gugup dan menambahkan.

"Ayo kita segera ke sana, supaya kita bisa…."

Sebelum kalimatnya selesai, Li Sun-Hoan telah menarik tangannya.

Hati Sun Sio-ang berdebar cepat, mukanya merah jengah.

Ia berusaha mencuri pandang ke arah wajah Li Sun-Hoan, dan terlihat olehnya wajah yang sangat tegang.

Matanya terpaku pada sesuatu di kejauhan.

Dua titik sinar samar-samar terlihat.

Dua lentera.

Lentera itu berwarna keemasan dan tergantung di ujung tongkat bambu yang kurus panjang.

Entah mengapa, lentera itu tampak misterius, tampak mengerikan.

Sekejap saja, Li Sun-Hoan telah membawa Sun Sio-ang bersembunyi di balik sebatang pohon dekat situ.

Sun Sio-ang berbisik.

"Kim-ci-pang (Partai Uang Emas)?"

Li Sun-Hoan mengangguk. Kata Sun Sio-ang.

"Kelihatannya Siangkoan Kim-hong baru datang. Mungkinkah mereka menemui persoalan di tengah jalan?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Mungkin karena dia hanya punya sepasang kaki, jadi ia tidak bisa jalan begitu cepat."

Di belakang dua lentera itu, dua lentera lagi datang menyusul.

Di antaranya tampak dua sosok manusia.

Keduanya tinggi besar.

Keduanya mengenakan jubah berwarna kuning.

Jubah orang yang di depan sangat panjang, hampir menyentuh tanah, namun sama sekali tidak memperlambat langkahnya.

Jubah orang yang di belakang sangat pendek, hampirhampir tidak menutupi lututnya.

Orang yang di depan bertangan kosong, sepertinya ia tidak membawa senjata apapun.

Orang yang dibelakang membawa pedang, yang terselip di pinggangnya.

Li Sun-Hoan melihat bahwa gaya orang itu menyelipkan pedangnya sangat mirip dengan A Fei.

Hanya saja A Fei menyelipkan pedangnya di tengah, dan pegangannya menghadap ke kanan.

Pedang orang ini terselip di sebelah kanan pinggangnya dan pegangannya menghadap ke kiri.

Mungkinkah orang ini kidal?

Li Sun-Hoan mengangkat alisnya.

Ia tidak suka bertarung dengan orang yang kidal.

Jurus pedang orang itu berlawanan dengan orang yang normal, sehingga lebih sulit menghadapinya.

Lagi pula, sekali pedang itu keluar dari sarungnya, kecepatannya pasti luar biasa.

Li Sun-Hoan mengetahuinya karena begitu banyak pengalamannya di dunia persilatan.

Ia tahu bahwa orang ini pasti adalah lawan yang sulit dikalahkan!

Bab 37.

Si Orang Tua Selagi perhatian Li Sun-Hoan tercurah pada jago pedang kidal itu, perhatian Sun Sio-ang tercurah pada sesuatu yang lain.

Kedua orang ini berjalan perlahan-lahan dan langkah mereka lebar-lebar.

Sekilas, langkah mereka seperti biasa saja.

Namun Sun Sio-ang merasa ada sesuatu yang janggal.

Setelah beberapa saat, barulah ia menyadari kejanggalannya.

Biasanya, dua orang yang berjalan bersama-sama akan mempunyai langkah-langkah yang seirama.

Namun kedua orang ini berbeda.

Waktu kaki orang yang pertama menginjak tanah, kaki orang kedua terangkat ke atas, tepat di tengah-tengah jejak orang yang pertama.

Jadi jejak mereka tampak seperti jejak satu orang saja.

Orang pertama melangkah pertama, lalu orang kedua melangkah kedua.

Orang pertama melangkah ketiga, dan orang kedua pun melangkah keempat.

Seluruhnya dalam irama yang sama.

Sun Sio-ang belum pernah melihat dua orang berjalan seperti ini.

Ia sungguh tertarik.

Sebaliknya Li Sun-Hoan sama sekali tidak tertarik.

Ia merasa gentar.

Langkah mereka yang seirama, menandakan pikiran mereka yang seirama pula.

Kalau mereka bersama-sama menghadapi musuh, gerakan mereka akan melengkapi satu dengan yang lain dengan sempurna.

Siangkoan Kim-hong sendirian adalah salah satu pesilat terbaik di dunia.

Tidak bisa dibayangkan apa jadinya jika Hing Bu-bing bertarung bersama-sama dengan dia.

Hati Li Sun-Hoan merosot.

Ia tidak dapat menemukan kelemahan serangan gabungan dua orang ini.

Ia juga tidak dapat menemukan cara bagaimana si orang tua di paviliun itu dapat mengantarkan dua orang ini pergi.

Tiba-tiba cahaya dalam paviliun itu menjadi sangat terang, bagaikan cahaya lentera.

Li Sun-Hoan belum pernah melihat seseorang dapat membuat cahaya seterang itu dengan pipanya.

Siangkoan Kim-hong pun melihat cahaya itu.

Langkahnya terhenti.

Lalu cahaya dalam paviliun itu lenyap.

Setelah berhenti sekian lama, akhirnya Siangkoan Kimhong mulai melangkah lagi.

Kini ia menuju ke paviliun itu, ke depan si orang tua.

Ke mana pun ia melangkah, Hing Bu-bing mengikut di belakangnya.

Seolah-olah ia adalah bayangan Siangkoan Kim-hong.

Lentera itu pun kini masuk ke dalam paviliun dan menerangi tempat itu.

Siangkoan Kim-hong tidak bersuara.

Ia menundukkan kepalanya, seakan-akan ia tidak ingin orang melihat wajahnya.

Namun matanya menatap lekat pada tangan si orang tua, mengawasi setiap inci gerakannya.

Si orang tua mengambil tembakau dan menaruhnya pada pipanya.

Lalu ia mengambil batu pemantik.

Gerakannya perlahan tapi pasti.

Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong menghampiri si orang tua dan memungut kertas api dari meja batu di situ.

Ia meneliti kertas itu baik-baik, lalu meletakkannya di dekat batu pemantik.

Kertas itu segera terbakar.

Siangkoan Kim-hong meletakkan kertas itu di dalam pipa.

Walaupun Li Sun-Hoan dan Sun Sio-ang bersembunyi cukup jauh dari paviliun itu, mereka melihat setiap gerakan di sana dengan jelas.

Tanya Li Sun-Hoan.

"Haruskah kita pergi ke sana?"

Sun Sio-ang menggelengkan kepalanya. Katanya.

"Tidak perlu. Kakekku pasti bisa membuat mereka pergi."

Suaranya penuh keyakinan, namun Li Sun-Hoan merasakan tangan gadis itu begitu dingin, sepertinya ia berkeringat dingin.

Ia tahu mengapa gadis ini sangat kuatir.

Pipa itu tidak panjang.

Siangkoan Kim-hong dapat menggunakan kesempatan itu untuk menutup Hiat-to (jalan darah) si orang tua.

Tapi ia tidak melakukannya.

Apakah ia menunggu kesempatan yang lebih baik?

Si orang tua mengisap pipanya.

Namun karena suatu hal, mungkin karena tembakaunya terlalu lembab atau terlalu padat, pipa itu tidak mau menyala.

Kertas api itu hampir terbakar habis.

Siangkoan Kim-hong memegang kertas itu dengan ibu jari dan telunjuknya.

Tiga jari yang lain, melingkar ke belakang.

Jari manis si orang tua hanya beberapa inci saja dari pergelangan tangan Siangkoan Kim-hong.

Api sudah membakar jari-jari Siangkoan Kim-hong.

Tapi Siangkoan Kim-hong seperti tidak merasa.

Saat itu, ‘Puff’, pipa pun menyala.

Sekelebat terlihat tiga jari Siangkoan Kim-hong yang bebas bergerak sedikit.

Demikian pula jari manis dan keLingking si orang tua.

Semua gerakan itu sangat cepat dan sangat ringan.

Lalu Siangkoan Kim-hong mundur beberapa langkah.

Si orang tua pun terus mengisap pipanya.

Selama itu, kedua orang itu tidak pernah saling pandang.

Saat itu juga, Li Sun-Hoan menghela nafas lega.

Dari pandangan orang awam, kejadian ini hanyalah soal menyalakan pipa.

Namun dari mata Li Sun-Hoan, ia tahu bahwa pertarungan sengit telah terjadi!

Siangkoan Kim-hong terus menunggu kesempatan.

Menunggu kelengahan si orang tua, menunggu kesempatan untuk menyerang.

Namun kesempatan itu tidak pernah datang.

Akhirnya ia tidak tahan lagi dan menyerang dengan tiga jarinya yang bebas.

Namun serangannya segera dipunahkan oleh jari manis dan keLingking si orang tua.

Pertarungan seperti inilah yang mengesankan bagi Li Sun-Hoan.

Di dalamnya terkandung seni yang tertinggi dari ilmu silat.

Di balik gerakan jari yang sederhana, tersimpan gerak tipu yang tidak terbatas.

Kini bahaya sudah berlalu.

Siangkoan Kim-hong sudah mundur tiga langkah, kembali pada posisi awalnya.

Si orang tua tersenyum, lalu berkata.

"Kau di sini?"

Sahut Siangkoan Kim-hong pendek.

"Ya."

Kata si orang tua.

"Kau terlambat!"

Sahut Siangkoan Kim-hong.

"Kau sudah menunggu di sini. Apakah kau tahu aku akan lewat sini?"

Kata si orang tua.

"Aku berharap kau tidak datang."

Tanya Siangkoan Kim-hong.

"Mengapa?"

Sahut si orang tua.

"Karena walaupun datang, kau harus pergi secepatnya."

Siangkoan Kim-hong menarik nafas panjang. Katanya.

"Bagaimana kalau aku tidak mau?"

Sahut si orang tua tenang.

"Aku tahu, kau akan pergi."

Siangkoan Kim-hong mengepalkan tangannya.

Hawa membunuh melingkupi seluruh paviliun.

Si orang tua mengisap pipanya lagi dan menghembuskan asapnya.

Asap itu keluar seperti garis lurus.

Lalu di udara, asap itu berbelok, melayang ke arah wajah Siangkoan Kim-hong.

Siangkoan Kim-hong terperanjat.

Asap itu pun segera lenyap.

Siangkoan Kim-hong membungkukkan badannya dan berkata.

"Luar biasa."

Kata si orang tua.

"Kau berlebihan."

Kata Siangkoan Kim-hong.

"Sudah dua puluh tujuh tahun sejak pertemuan kita sebelumnya. Aku tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi."

Sahut si orang tua.

"Kita tidak perlu bertemu lagi."

Siangkoan Kim-hong berpikir sejenak.

Sebenarnya ia ingin mengatakan sesuatu, namun ia diam saja.

Si orang tua kembali mengisap pipanya.

Siangkoan Kim-hong memutar badannya dan pergi dari situ.

Hing Bu-bing mengikutinya bagai bayang-bayang.

Li Sun-Hoan masih menatap paviliun itu sambil berpikir.

Sebelum Siangkoan Kim-hong pergi, ia memandang sekilas ke tempat Li Sun-Hoan bersembunyi.

Ini adalah pertama kalinya Li Sun-Hoan beradu pandang dengan mata Siangkoan Kim-hong.

Dari tatapan matanya, Li Sun-Hoan tahu bahwa tenaga dalam orang ini sungguh besar, bahkan lebih daripada yang diceritakan orang-orang!

Namun yang lebih mengerikan adalah mata Hing Bubing.

Siapapun yang memandang mata ini akan merasa tidak enak, bahkan mungkin merasa jijik.

Karena mata itu bukan seperti mata manusia, bukan pula mata mata binatang.

Sepasang mata itu seperti mata yang mayat hidup!

Tidak berperasaan, tidak ada kehidupan.

Sun Sio-ang tidak melihat semua ini, karena matanya menatap ke arah Li Sun-Hoan.

Inilah pertama kalinya ia melihat Li Sun-Hoan dari jarak sangat dekat.

Bahkan dalam kegelapan, ia dapat melihat profil wajah Li Sun-Hoan, terutama mata dan hidungnya.

Matanya besar dan bercahaya, memancarkan kepandaiannya.

Tatapannya terlihat agak lelah, sedikit ragu, namun penuh dengan kasih sayang.

Hidungnya tinggi dan lurus, seperti pikirannya, penuh kebenaran.

Di sudut matanya terlihat kerut-kerut, membuat ia tampak dewasa, menawan, dan memberikan keteduhan bagi orang lain.

Ia tampak seperti orang yang bisa dipercaya untuk menjaga nyawamu.

Ia adalah sosok laki-laki yang diimpikan setiap wanita dalam tidurnya.

Keduanya tidak menyadari bahwa si orang tua sedang berjalan menghampiri mereka dengan senyum kepuasan.

Ia memandang mereka berdua sampai cukup lama sebelum bertanya.

"Maukah kalian berdua mengobrol dengan seorang tua?" *** Bulan telah naik ke atas. Si orang tua dan Li Sun-Hoan berjalan di depan. Sun Sioang mengikuti mereka dari belakang. Ia tidak bicara apa-apa, namun hatinya ingin memekik bahagia. Karena ia hanya cukup memandang ke depan untuk melihat orang yang paling dikaguminya dan orang yang dipujanya. Hatinya berbunga-bunga. Kata si orang tua.

"Aku telah mendengar tentang engkau sejak lama. Aku pun sudah lama ingin mengundangmu minum. Dan kini setelah kita berjumpa, aku senang sekali berbincang-bincang denganmu."

Li Sun-Hoan tersenyum. Demikian pula Sun Sio-ang yang terus menyela.

"Padahal dia cuma bilang ‘Halo’."

Kata si orang tua.

"Itulah hebatnya dia. Dia tidak pernah menanyakan hal-hal yang tidak perlu. Orang lain pasti akan bertanya tentang identitasku."

Kata Li Sun-Hoan.

"Mungkin karena aku sudah tahu identitasmu."

"O ya?"

Kata Li Sun-Hoan.

"Tidak banyak orang di dunia ini yang dapat mengintimidasi Siangkoan Kim-hong."

Sahut si orang tua.

"Jika kau pikir aku dapat mengintimidasi Siangkoan Kim-hong, kau salah besar."

Sebelum Li Sun-Hoan sempat menyahut, ia sudah melanjutkan lagi.

"Kau pasti sudah dapat meraba kelihaian Siangkoan Kim-hong, juga anak muda yang mengikutinya. Kalau mereka bahu-membahu, tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat menahan lebih dari 300 jurus mereka, apalagi mengalahkan mereka."

Mata Li Sun-Hoan berkilat, lalu bertanya.

"Tidak juga engkau?"

Kata si orang tua.

"Tidak juga aku."

Kata Li Sun-Hoan.

"Tapi mereka pergi."

Sahut si orang tua.

"Mungkin karena mereka belum mau membunuhku. Atau mungkin juga, mereka tahu kau ada di situ dan mereka tidak yakin dapat mengalahkan kita berdua."

Sun Sio-ang tidak tahan untuk tidak menyela.

"Walaupun mereka tahu ada seseorang yang bersembunyi di balik pohon, bagaimana mereka tahu bahwa orang itu adalah Li…Li Tamhoa?"

Sahut si orang tua.

"Karena jika seorang pesilat tangguh seperti Li Tamhoa merasa bermusuhan dengan seseorang, ia akan memancarkan hawa membunuh."

Tanya Sun Sio-ang.

"Hawa membunuh?"

Jawab si orang tua.

"Benar. Namun hanya pesilat tangguh macam Siangkoan Kim-hong pulalah yang dapat merasakannya."

Sun Sio-ang mendesah, lalu berkata.

"Kau terlalu berbelit-belit. Aku tidak mengerti sedikitpun."

Kata si orang tua.

"Ilmu silat memang berbelit-belit. Hanya sedikit orang yang dapat mengerti."

Kata Li Sun-Hoan.

"Apapun alasan mereka pergi, aku tetap berterima kasih atas bantuanmu."

Si orang tua berkata sambil tersenyum.

"Aku hanya ingin orang-orang seperti dirimu terus hidup, karena tidak cukup banyak orang seperti engkau di dunia ini."

Li Sun-Hoan hanya tersenyum tanpa kata-kata. Kata si orang tua lagi.

"Walaupun kita baru saja bertemu, aku tahu sifat-sifatmu. Jadi aku tidak akan memaksa engkau untuk pergi."

Ia memandang Li Sun-Hoan dalam-dalam dan berkata.

"Namun aku ingin kau menyadari satu hal."

Kata Li Sun-Hoan.

"Silakan katakan."

Kata si orang tua.

"Lim Si-im tidak memerlukan perlindunganmu. Kau hanya dapat membantunya jika kau pergi."

Li Sun-Hoan bergidik. Lanjut si orang tua.

"Tidak ada seorang pun yang ingin menyakiti Lim Si-im. Jika mereka ingin menyakitinya, itu sebenarnya karena engkau, karena engkau menjaganya. Jika kau meninggalkannya, tidak ada alasan untuk menyakitinya."

Li Sun-Hoan merasa seperti dicambuk dengan cambuk. Seluruh tubuhnya merasa kesakitan. Namun sepertinya si orang tua tidak memahami kesakitannya. Ia melanjutkan.

"Jika kau kuatir ia akan kesepian, kau tidak perlu kuatir lagi. Liong Siau-hun sudah kembali. Kau hanya akan memperkeruh suasana jika kau tetap tinggal di situ."

Li Sun-Hoan menengadah ke langit malam yang gelap gulita. Ia berpikir sampai lama, lalu menghela nafas. Ia berkata.

"Aku salah, lagi-lagi salah…."

Ia membungkuk, karena ia tidak bisa lagi berdiri tegak.

Sun Sio-ang hanya dapat memandangnya dari belakang.

Hatinya penuh rasa kasihan, rasa kasih sayang.

Ia tahu kakeknya sedang berusaha membangkitkan perasaan Li Sun-Hoan, membangkitkan sakit hatinya.

Ia juga tahu bahwa hal ini baik untuk Li Sun-Hoan, namun tetap saja berat baginya menyaksikan laki-laki ini menderita begitu rupa.

Kata si orang tua lagi.

"Liong Siau-hun akhirnya pulang karena ia telah menemukan seseorang untuk membunuhmu."

Kata Li Sun-Hoan.

"Mengapa dia berbuat begitu? Aku masih menganggap dia sahabat."

Sahut si orang tua.

"Tapi ia tidak berpikir demikian. Tahukah kau siapa yang ditemukannya?"

Kata Li Sun-Hoan.

"Oh Put-kiu?"

Sahut si orang tua.

"Betul. Orang gila itu."

Sun Sio-ang menyela.

"Apakah ilmu silat orang gila itu benar-benar tinggi?"

Jawab si orang tua.

"Ada dua orang di dunia ini yang aku tidak bisa mengukur secara pasti seberapa tinggi ilmu silat mereka."

Tanya Sun Sio-ang.

"Siapakah dua orang itu?"

"Satu adalah Li Tamhoa, yang satu lagi adalah Oh si gila."

Kata Li Sun-Hoan.

"Cianpwe, kau berlebihan. Ilmu silat A Fei sama tingkatannya dengan aku. Lalu ada Hing Bubing…."

Si orang tua memotong cepat.

"Tapi A Fei dan Hing Bubing itu setali tiga uang. Mereka termasuk golongan yang tidak mengerti seni ilmu silat."

Li Sun-Hoan terhenyak.

"Kau bilang mereka tidak tahu seni ilmu silat?"

Sahut si orang tua.

"Benar sekali. Bukan hanya itu, mereka sama sekali tidak pantas bicara tentang seni ilmu silat. Mereka hanya membunuh orang. Mereka hanya tahu bagaimana membunuh orang."

Kata Li Sun-Hoan.

"Namun A Fei berbeda dari Hing Bubing."

"Apa bedanya?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Cara mereka membunuh mungkin hampir sama, tapi tujuan mereka membunuh sudah pasti berbeda."

"O ya?"

Kata Li Sun-Hoan.

"A Fei hanya membunuh jika terpaksa. Hing Bu-bing membunuh karena nafsu membunuh."

Li Sun-Hoan menundukkan kepalanya, dan menambahkan.

"Aku…."

Si orang tua menyergah.

"Jika kau ingin menemuinya, masih ada kesempatan sekarang. Atau kau akan terlambat!"

Li Sun-Hoan bangkit berdiri lalu berkata.

"Kalau begitu, aku pergi sekarang untuk menemuinya."

Si orang tua tersenyum.

"Kau tahu di mana ia tinggal?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Aku tahu."

Sun Sio-ang tiba-tiba berjalan ke depan Li Sun-Hoan dan berkata.

"Tapi mungkin kau tidak bisa menemukan tempatnya. Mari kuantarkan ke sana."

Sebelum Li Sun-Hoan menjawab, si orang tua berkata dingin pada gadis itu.

"Kau masih ada tugas lain. Lagi pula, ia tidak perlu bantuanmu."

Wajah Sun Sio-ang seperti ingin menangis. Li Sun-Hoan segera berkata.

"Selamat tinggal."

Ia ingin bicara lebih banyak, tapi akhirnya hanya itu yang diucapkannya. Si orang tua mengacungkan jempolnya. Katanya.

"Bagus sekali. Pergi jika kau ingin pergi. Itulah yang diperbuat pria sejati."

Li Sun-Hoan segera pergi. Ia bahkan tidak menoleh lagi. Sun Sio-ang hanya mengawasi kepergiannya. Kini matanya merah. Si orang tua menepuk bahunya.

"Apakah kau merasa sedih?"

Sahut Sun Sio-ang.

"Tidak."

Si orang tua terkekeh. Suaranya lembut dan menenangkan hati. Katanya.

"Gadis bodoh. Kau pikir kakekmu tidak mengerti isi hatimu?"

Sun Sio-ang menggigit bibirnya. Ia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.

"Kalau kakek tahu, mengapa kakek memisahkan kami?"

Sahut si orang tua.

"Kau harus menyadari, tidak mudah mendapatkan laki-laki seperti Li Sun-Hoan. Jika kau menginginkannya, kau harus berjuang untuk merebut hatinya. Itu bukan pekerjaan mudah. Kau harus melakukannya perlahan-lahan. Kalau tidak ia malah akan segera lari ketakutan."

Walaupun sepertinya Li Sun-Hoan berkeputusan bulat untuk pergi, dalam hatinya rasa sakit masih bergelora.

Ia tidak tahu kapan ia dapat bertemu lagi dengan Lim Siim.

Sangat menyakitkan untuk bertemu dengannya, sangat menyakitkan untuk meninggalkannya.

Dalam sepuluh tahun terakhir ini, ia hanya bertemu dengannya tiga kali.

Ketiga kali itu, ia hanya memandangnya sepintas, bahkan ada kali ketika ia tidak berbicara padanya sama sekali.

Tapi ada benang yang mengikat hati Li Sun-Hoan.

Dan Lim Si-imlah yang memegang benang itu.

Jika ia dapat memandangnya, jika ia tahu dia dekat, ia sudah sangat puas.

Bab 38.

Nenek dan Cucunya Angin musim gugur menerpa wajahnya.

Cuaca sudah seperti musim dingin.

Sisa-sisa musim gugur hanya terasa sedikit saja.

Hati Li Sun-Hoan pun seperti musim gugur, sedikit demi sedikit layu.

"Kau hanya memperkeruh suasana jika kau tinggal…."

Kata-kata si orang tua terus berdengung di telinganya.

Ia menyadari bahwa ia tidak hanya tak boleh menemuinya lagi, ia tak boleh berpikir tentang Lim Si-im.

Si orang tua adalah orang yang sungguh bijaksana.

Ia juga seorang yang misterius.

Seorang pesilat tangguh.

Ia pun tahu segala sesuatu yang terjadi di dunia ini.

Tapi siapakah dia sebenarnya?

Apakah yang disembunyikannya?

Li Sun-Hoan mengagumi Si Bungkuk Sun.

Siapa saja yang bersedia mengelap meja selama lima belas tahun untuk membalas budi, ia patut dikagumi.

Tapi apakah yang sebenarnya dikerjakannya?

Apa yang dijaganya?

Dan tentang Sun Sio-ang….

Bagaimana mungkin ia tidak tahu perasaan gadis itu?

Namun ia tidak dapat menerimanya.

Ia takut untuk menerimanya.

Satu keluarga ini sungguh penuh dengan misteri.

Penuh rahasia sampai terasa menakutkan….

*** Sebuah desa di atas gunung.

Di kaki gunung itu ada sebuah warung arak.

Araknya tidak lezat, namun sangat menyegarkan.

Pasti dibuat dengan air dari sumber mata air dekat situ.

Mata air itu ada di balik gunung, sangat jernih.

Li Sun-Hoan tahu, jika ia mengikuti aliran air itu, ia akan sampai di sebuah rumah kayu di dalam hutan.

A Fei dan Lim Sian-ji tinggal di rumah itu.

Muka Li Sun-Hoan berseri-seri saat ia membayangkan wajah A Fei yang rupawan.

Matanya yang tajam Tan Okkspresi wajahnya gagah.

Dan yang lebih tak terlupakan adalah senyumannya yang jarang terlihat, kehangatan yang tersembunyi di balik sikapnya yang dingin.

Ia tidak tahu seberapa banyak A Fei sudah berubah dalam dua tahun ini.

Ia tidak tahu bagaimana Lim Sian-ji telah memperlakukan A Fei.

Walaupun wajahnya bagaikan malaikat, ia hanya tahu cara menarik laki-laki ke lembah neraka yang paling dalam.

Jadi apakah kini A Fei sudah jatuh ke neraka?

Li Sun-Hoan tidak ingin memikirkan hal itu, karena ia memahami A Fei.

Ia tahu bahwa A Fei tidak akan keberatan hidup di neraka demi cintanya.

Hari telah mulai senja.

Li Sun-Hoan duduk di sudut gelap warung arak itu.

Ini sudah menjadi kebiasaannya, karena dari situ ia dapat melihat dengan jelas siapa yang masuk, namun orang lain tidak dapat melihatnya dengan jelas.

Ia tidak dapat mempercayai matanya, sebab yang pertama masuk adalah Siangkoan Hui.

Ia duduk di meja yang paling dekat dengan pintu.

Matanya menatap ke luar, sepertinya ia sedang menunggu seseorang.

Ia menunggu dengan tidak sabar.

Ini sungguh berbeda dari penampilannya yang dingin dan tenang saat terakhir kali Li Sun-Hoan melihatnya.

Kelihatannya ia akan menemui seseorang yang cukup penting.

Ia juga datang sendiri, tanpa satu orang pun pelayan, yang artinya, pertemuan ini adalah pertemuan yang rahasia.

Sepertinya tidak ada orang yang begitu penting yang tinggal di tempat terpencil seperti ini.

Lalu siapakah yang dinanti-nantikannya?

Apakah ada hubungannya dengan A Fei dan Lim Sian-ji?

Li Sun-Hoan menangkupkan tangan menutupi wajahnya.

Sebenarnya itu tidak perlu, karena mata Siangkoan Hui tidak pernah lepas dari pintu itu.

Akhirnya si penjaga warung menyalakan lilin.

Sikap Siangkoan Hui makin tidak sabar, semakin tampak kesal.

Saat itulah, dua buah tandu muncul di depan pintu.

Orang-orang yang mengangkat tandu itu adalah beberapa pemuda gagah.

Seorang gadis yang berusia 13 atau 14 tahun yang sangat menarik turun dari tandu yang pertama.

Ia mengenakan jubah berwarna merah.

Siangkoan Hui baru saja mengangkat cawannya, lalu segera diletakkannya kembali.

Baca Juga: Tugas Rahasia 4

Baca Juga: Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert